Taisir Karimirrahman fi Tafsir Kalamil Mannan

Sabtu, 14 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

تَيْسِيرُ الْكَرِيمِ الرَّحْمٰنِ فِي تَفْسِيرِ كَلَامِ الْمَنَّانِ

Taisir Karimirrahman fi Tafsir Kalamil Mannan

(Kemudahan dari Yang Maha Pemurah dalam Menafsirkan Firman Yang Maha Pemberi)

Pengarang:
Abdul Rahman bin Nashir bin Abdullah As-Sa’di

Terjemah:
Muhamad Abid Hadlori, S.Ag.,Lc.

 

Tafsir Surat An-Naba’

{1 – 5} Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tentang apakah mereka saling bertanya? Tentang berita besar, yang mereka berselisih tentangnya. Sekali-kali tidak! Kelak mereka akan mengetahui. Kemudian sekali-kali tidak! Kelak mereka akan mengetahui. (Surat An-Naba’ ayat 1-5)

Yaitu: Tentang hal apa mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah saling bertanya? Kemudian Allah menjelaskan apa yang mereka pertanyakan, maka Allah berfirman: Tentang berita besar, yang mereka berselisih tentangnya yaitu: tentang kabar besar yang telah lama mereka perselisihkan, dan tersebar di antara mereka perselisihan tersebut dengan cara mendustakan dan mengingkarinya, yaitu berita yang tidak menerima keraguan dan tidak dapat dimasuki keragu-raguan, namun orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Tuhan mereka tidak beriman, sekalipun datang kepada mereka segala tanda hingga mereka melihat azab yang pedih.

Oleh karena itu Allah berfirman: Sekali-kali tidak! Kelak mereka akan mengetahui. Kemudian sekali-kali tidak! Kelak mereka akan mengetahui yaitu: mereka akan mengetahui ketika azab turun kepada mereka apa yang dahulu mereka dustakan, ketika mereka dipanggil ke neraka Jahannam dengan panggilan, dan dikatakan kepada mereka: Inilah nerapi yang dahulu kamu dustakan.

Kemudian Allah menerangkan nikmat-nikmat dan dalil-dalil yang menunjukkan kebenaran apa yang diberitakan oleh para rasul, maka Allah berfirman:

{6 – 16} Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak-pasak? Dan Kami ciptakan kamu berpasang-pasangan, Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, Dan Kami bangun di atas kamu tujuh (langit) yang kokoh, Dan Kami jadikan pelita yang terang-benderang, Dan Kami turunkan dari awan air yang tercurah, Untuk Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, Dan kebun-kebun yang lebat. (Surat An-Naba’ ayat 6-16)

Yaitu: Bukankah Kami telah menganugerahkan kepada kalian nikmat-nikmat yang mulia, maka Kami jadikan untuk kalian bumi sebagai hamparan yaitu: diratakan dan disiapkan untuk kalian dan untuk kemaslahatan kalian, berupa ladang-ladang, tempat tinggal dan jalan-jalan.

Dan gunung-gunung sebagai pasak-pasak yang memegang bumi agar tidak goncang bersama kalian dan tidak berguncang.

Dan Kami ciptakan kamu berpasang-pasangan yaitu: laki-laki dan perempuan dari satu jenis, agar masing-masing tenang kepada yang lain, maka terjadilah kasih sayang dan cinta, dan lahir dari keduanya keturunan, dan dalam hal ini terkandung anugerah kenikmatan berumah tangga.

Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat yaitu: sebagai istirahat bagi kalian, dan memutus kesibukan-kesibukan kalian, yang apabila terus-menerus akan membahayakan tubuh kalian, maka Allah menjadikan malam dan tidur menyelimuti manusia agar terputus gerakan-gerakan mereka yang berbahaya, dan tercapai istirahat mereka yang bermanfaat.

Dan Kami bangun di atas kamu tujuh (langit) yang kokoh yaitu: tujuh langit, dalam keadaan sangat kuat, kokoh dan keras, dan Allah telah menahannya dengan kekuasaan-Nya, dan menjadikannya sebagai atap bumi, di dalamnya terdapat beberapa manfaat bagi mereka, oleh karena itu Allah menyebutkan dari manfaatnya matahari, maka Allah berfirman: Dan Kami jadikan pelita yang terang-benderang mengingatkan dengan pelita pada nikmat cahayanya, yang menjadi seperti kebutuhan pokok bagi makhluk, dan dengan terang-benderang yang di dalamnya terdapat panas pada panasnya dan apa yang ada di dalamnya berupa kemaslahatan.

Dan Kami turunkan dari awan yaitu: awan air yang tercurah yaitu: sangat banyak sekali.

Untuk Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian berupa gandum, syair, jagung, beras, dan lainnya yang dimakan manusia.

Dan tumbuh-tumbuhan yang mencakup seluruh tumbuhan, yang Allah jadikan sebagai makanan bagi hewan ternak mereka.

Dan kebun-kebun yang lebat yaitu: kebun-kebun yang rimbun, di dalamnya terdapat dari semua jenis buah-buahan yang lezat. Maka Dzat yang menganugerahkan kepada kalian nikmat-nikmat yang besar ini, yang tidak dapat diperkirakan kadarnya, dan tidak dapat dihitung jumlahnya, bagaimana kalian kufur kepada-Nya dan mendustakan apa yang diberitakan-Nya kepada kalian tentang kebangkitan dan penghidupan kembali?! Atau bagaimana kalian menggunakan nikmat-nikmat-Nya untuk bermaksiat kepada-Nya dan mengingkarinya?

{17 – 30} Sesungguhnya hari keputusan adalah waktu yang ditetapkan (bagi mereka), (yaitu) hari (ketika) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok, Dan langit dibuka maka menjadi pintu-pintu, Dan gunung-gunung dipindahkan maka menjadi fatamorgana, Sesungguhnya Jahannam benar-benar (tempat) pengintai, Bagi orang-orang yang melampaui batas sebagai tempat kembali, Mereka kekal di dalamnya beberapa masa, Di dalamnya mereka tidak merasakan kesejukan dan tidak (pula mendapat) minuman, Kecuali air yang mendidih dan nanah, Sebagai pembalasan yang setimpal, Sesungguhnya mereka dahulu tidak takut kepada hisab, Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan pendustaan yang nyata, Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam sebuah kitab, Maka rasakanlah, maka Kami tidak akan menambah kepada kamu selain azab. (Surat An-Naba’ ayat 17-30)

Allah menyebutkan apa yang akan terjadi pada hari kiamat yang ditanyakan oleh orang-orang yang mendustakan, dan diingkari oleh orang-orang yang membangkang, bahwa hari itu adalah hari yang besar, dan bahwa Allah telah menjadikannya waktu yang ditetapkan bagi makhluk.

Ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok dan terjadi pada hari itu dari guncangan-guncangan dan kegoncangan-kegoncangan yang dapat membuat anak kecil beruban, dan hati-hati menjadi gelisah karenanya, maka gunung-gunung berpindah, hingga menjadi seperti debu yang beterbangan, dan langit terbelah hingga menjadi pintu-pintu, dan Allah memisahkan antara makhluk dengan hukum-Nya yang tidak zalim, dan dinyalakan api neraka Jahannam yang telah Allah siapkan dan sediakan bagi orang-orang yang melampaui batas, dan dijadikan-Nya sebagai tempat tinggal dan tempat kembali bagi mereka, dan bahwa mereka tinggal di dalamnya beberapa masa yang banyak dan masa menurut apa yang dikatakan banyak mufassir: delapan puluh tahun.

Dan mereka ketika masuk ke dalamnya tidak merasakan kesejukan dan tidak (pula mendapat) minuman yaitu: tidak ada yang mendinginkan kulit mereka, dan tidak ada yang menghilangkan dahaga mereka.

Kecuali air yang mendidih yaitu: air panas, yang membakar wajah mereka, dan memotong usus mereka, dan nanah yaitu: nanah penghuni neraka, yang sangat busuk, dan menjijikkan rasanya, dan mereka berhak mendapat hukuman-hukuman yang mengerikan ini sebagai balasan bagi mereka dan setimpal atas apa yang mereka lakukan dari perbuatan-perbuatan yang menghantarkan kepada hal tersebut, Allah tidak menzalimi mereka, tetapi mereka menzalimi diri mereka sendiri, oleh karena itu Allah menyebutkan perbuatan-perbuatan mereka, yang dengan perbuatan itu mereka berhak mendapat balasan ini, maka Allah berfirman: Sesungguhnya mereka dahulu tidak takut kepada hisab yaitu: mereka tidak beriman kepada kebangkitan, dan tidak (beriman) bahwa Allah akan membalas makhluk dengan kebaikan dan kejahatan, maka oleh karena itu mereka mengabaikan amal untuk akhirat.

Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan pendustaan yang nyata yaitu: mereka mendustakannya dengan pendustaan yang jelas dan terang-terangan dan datang kepada mereka keterangan-keterangan yang jelas lalu mereka membangkangnya.

Dan segala sesuatu dari sedikit dan banyak, dan baik dan buruk telah Kami catat dalam sebuah kitab yaitu: Kami tulis dalam Lauh Mahfuzh, maka para penjahat tidak perlu khawatir bahwa Kami menyiksa mereka karena dosa-dosa yang tidak mereka lakukan, dan mereka tidak menyangka bahwa dari amal-amal mereka ada yang hilang, atau terlupa dari mereka seberat dzarrah, sebagaimana firman Allah: Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya”; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorangpun.

Maka rasakanlah hai orang-orang yang mendustakan azab yang pedih dan kehinaan yang kekal ini maka Kami tidak akan menambah kepada kamu selain azab dan setiap waktu dan saat azab mereka bertambah [dan ayat ini adalah ayat yang paling keras dalam hal beratnya azab penghuni neraka, semoga Allah melindungi kita darinya].

{31 – 36} Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa disediakan tempat kemenangan, (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, Dan gadis-gadis remaja yang sebaya, Dan gelas yang penuh, Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula perkataan) dusta, (Sebagai) pembalasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup. (Surat An-Naba’ ayat 31-36)

Setelah menyebutkan keadaan orang-orang yang berdosa, Allah menyebutkan nasib orang-orang yang bertakwa maka Allah berfirman: Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa disediakan tempat kemenangan yaitu: orang-orang yang bertakwa dari murka Tuhan mereka, dengan berpegang teguh pada ketaatan kepada-Nya, dan menahan diri dari apa yang dibenci-Nya maka bagi mereka tempat kemenangan dan keselamatan, dan jauh dari neraka. Dan di tempat kemenangan itu bagi mereka kebun-kebun yaitu taman-taman yang mengumpulkan jenis-jenis pohon yang indah, dalam buah-buahan yang memancar di antara sela-selanya sungai-sungai, dan disebutkan khusus anggur karena kemuliaan dan banyaknya di taman-taman itu.

Dan bagi mereka di sana istri-istri sesuai dengan keinginan jiwa gadis-gadis remaja yaitu: gadis-gadis yang payudaranya belum kendur karena muda, kuat dan segar mereka.

Yang sebaya yaitu yang berumur sama dan berdekatan, dan kebiasaan orang-orang yang sebaya adalah mereka saling rukun dan bergaul, dan umur yang mereka alami itu adalah tiga puluh tiga tahun, pada umur muda yang paling adil.

Dan gelas yang penuh yaitu: penuh dengan khamar yang lezat bagi yang meminumnya, Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia yaitu: ucapan yang tidak ada manfaatnya dan tidak (pula perkataan) dusta yaitu: dosa.

Sebagaimana firman Allah: Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) perkataan yang menimbulkan dosa, akan tetapi mereka mendengar ucapan: “Salam, salam” dan sesungguhnya Allah memberikan kepada mereka pahala yang besar ini [dari karunia dan kebaikan-Nya]. Sebagai pembalasan dari Tuhanmu bagi mereka pemberian yang cukup yaitu: karena amal-amal mereka yang Allah beri taufik kepada mereka untuk melakukannya, dan dijadikan-Nya sebagai harga untuk surga dan kenikmatan-Nya.

{37 – 40} Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, Yang Maha Pengasih. Mereka tidak mampu meminta kepada-Nya, (yaitu) pada hari ketika Ruh dan malaikat-malaikat berdiri berbaris, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin oleh Yang Maha Pengasih dan dia mengucapkan yang benar, Itulah hari yang benar, maka barangsiapa yang menghendaki niscaya ia mengambil jalan kembali kepada Tuhannya, Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kamu (dengan) azab yang dekat, (yaitu) pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”. (Surat An-Naba’ ayat 37-40)

Yaitu: Yang memberikan kepada mereka pemberian-pemberian ini adalah Tuhan mereka Tuhan langit dan bumi yang menciptakan dan mengaturnya Yang Maha Pengasih yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu, maka Dia memelihara mereka dan menyayangi mereka, dan melimpahkan kebaikan kepada mereka, hingga mereka meraih apa yang mereka raih.

Kemudian Allah menyebutkan keagungan-Nya dan kerajaan-Nya yang besar pada hari kiamat, dan bahwa seluruh makhluk pada hari itu semuanya diam tidak berbicara dan tidak mampu meminta kepada-Nya kecuali siapa yang telah diberi izin oleh Yang Maha Pengasih dan mengucapkan yang benar, maka tidak ada seorangpun yang berbicara kecuali dengan dua syarat ini: bahwa Allah memberi izin kepadanya untuk berbicara, dan bahwa apa yang dikatakannya adalah benar, karena hari itu adalah hari yang benar yang tidak laku di dalamnya kebatilan, dan tidak bermanfaat di dalamnya kebohongan, dan pada hari itu berdiri Ruh yaitu Jibril alaihissalam, yang adalah paling mulia di antara malaikat dan malaikat-malaikat [juga berdiri semuanya] berbaris tunduk kepada Allah mereka tidak berkata-kata kecuali dengan apa yang Allah izinkan kepada mereka.

Maka setelah memberi harapan dan ancaman, memberi kabar gembira dan peringatan, Allah berfirman: maka barangsiapa yang menghendaki niscaya ia mengambil jalan kembali kepada Tuhannya yaitu: amal dan menyiapkan kebenaran yang dia akan kembali kepadanya pada hari kiamat.

Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kamu (dengan) azab yang dekat karena memang sudah mendekat datangnya dan segala sesuatu yang akan datang itu dekat.

Pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya yaitu: ini yang menjadi perhatiannya dan tempat dia berlari kepadanya, maka hendaknya dia memperhatikan hal itu di dunia ini, sebagaimana firman Allah: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan dan ayat-ayat selanjutnya.

Maka jika dia mendapati kebaikan maka hendaklah dia memuji Allah, dan jika dia mendapati selain itu maka janganlah dia menyalahkan kecuali dirinya sendiri, oleh karena itu orang-orang kafir mengharapkan kematian karena sangat menyesal dan penyesalan.

Kami mohon kepada Allah agar Dia menyehatkan kami dari kekufuran dan kejahatan semuanya, sesungguhnya Dia Maha Dermawan lagi Mulia.

Selesai tafsir surat ‘Amma, dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

 

 

Tafsir Surat An-Nazi’at

Dan surat ini Makiyyah.

{1 – 14} Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, Dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut, Dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat, Dan (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang, Dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia), Pada hari ketika bumi bergoncang keras, Disusul oleh goncangan kedua, Hati manusia pada hari itu berdebar-debar, Pandangannya tunduk, Mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami akan dikembalikan kepada kehidupan semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kami telah menjadi tulang belulang yang telah hancur luluh?” Mereka berkata: “Kalau demikian, itu adalah suatu kerugian yang nyata.” Maka sesungguhnya itu hanyalah satu teriakan saja, Maka tiba-tiba mereka hidup kembali di permukaan bumi. (Surat An-Nazi’at ayat 1-14)

Ini adalah sumpah-sumpah dengan malaikat-malaikat yang mulia, dan perbuatan-perbuatan mereka yang menunjukkan kesempurnaan kepatuhan mereka kepada perintah Allah, dan kecepatan mereka dalam melaksanakan perintah-Nya, mungkin yang bersumpah atasnya adalah pembalasan dan kebangkitan, dengan dalil datangnya keadaan-keadaan kiamat setelah itu, dan mungkin yang disumpah atasnya dan yang disumpah dengannya adalah satu, dan bahwa Dia bersumpah atas malaikat, karena beriman kepada mereka adalah salah satu dari enam rukun iman, dan karena dalam menyebutkan perbuatan-perbuatan mereka di sini terdapat yang mencakup pembalasan yang ditangani oleh malaikat ketika mati dan sebelum dan sesudahnya, maka Allah berfirman: Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras yaitu malaikat yang mencabut roh dengan kuat, dan menenggelamkan dalam pencabutannya hingga roh keluar, maka dibalas dengan amalnya.

Dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut yaitu malaikat juga, menarik roh dengan kuat dan aktif, atau bahwa pencabutan untuk roh orang-orang mukmin, dan aktif untuk roh orang-orang kafir.

Dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat yaitu: yang berulang-ulang di udara naik turun dengan cepat

Dan (malaikat-malaikat) yang mendahului yang lain dengan kencang maka mereka buru-buru untuk perintah Allah, dan mendahului setan dalam menyampaikan wahyu kepada rasul-rasul Allah sehingga tidak dicuri olehnya.

Dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia) yaitu malaikat, yang Allah tugaskan untuk mengatur banyak urusan alam atas dan bawah, berupa hujan, tumbuhan, pohon-pohon, angin, laut, janin, hewan, surga, neraka [dan lainnya].

Pada hari ketika bumi bergoncang keras yaitu terjadinya kiamat, disusul oleh goncangan kedua yaitu: goncangan yang lain yang menyusulnya dan datang sesudahnya, hati manusia pada hari itu berdebar-debar yaitu: berdebar dan gelisah karena beratnya apa yang dilihat dan didengar.

Pandangannya tunduk yaitu: hina dan rendah, telah menguasai hati mereka ketakutan, dan melenyapkan hati mereka kepanikan, dan menguasai mereka penyesalan [dan menguasai mereka] penyesalan.

Mereka berkata yaitu: orang-orang kafir di dunia, dengan cara mendustakan: Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kami telah menjadi tulang belulang yang telah hancur luluh yaitu: rusak hancur lebur.

Mereka berkata: “Kalau demikian, itu adalah suatu kerugian yang nyata” yaitu: mereka mengingkari bahwa Allah membangkitkan mereka dan menghidupkan mereka kembali setelah mereka menjadi tulang belulang yang hancur luluh, karena tidak tahu tentang kekuasaan Allah, dan berani kepada-Nya.

Allah berfirman dalam menjelaskan mudahnya perkara ini bagi-Nya: Maka sesungguhnya itu hanyalah satu teriakan saja yang ditiup padanya sangkakala.

Maka tiba-tiba seluruh makhluk di permukaan bumi berdiri memandang, lalu Allah mengumpulkan mereka dan memutuskan di antara mereka dengan hukum-Nya yang adil dan membalas mereka.

{15 – 26} “Sudahkah sampai kepadamu kisah Musa?” (An-Nazi’at: 15-26)

Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sudahkah sampai kepadamu kisah Musa?” Dan ini adalah pertanyaan tentang suatu perkara besar yang pasti terjadi. Yakni: sudahkah sampai kepadamu kisahnya. “Ketika Tuhannya memanggilnya di lembah yang suci, Tuwa. Pergilah kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka katakanlah: ‘Maukah engkau mensucikan diri? Dan aku akan menunjukkanmu kepada Tuhanmu agar engkau takut kepada-Nya.’ Lalu dia (Musa) memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi dia (Fir’aun) mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling sambil berusaha (menentang). Lalu dia mengumpulkan (tentaranya) dan berseru. Maka dia berkata: ‘Akulah tuhanmu yang paling tinggi.’ Maka Allah menyiksanya dengan siksa akhirat dan dunia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut.”

“Ketika Tuhannya memanggilnya di lembah yang suci, Tuwa” yaitu tempat di mana Allah berbicara kepadanya, dan menganugerahkan kepadanya risalah, serta mengkhususkannya dengan wahyu dan pilihan. Maka Allah berfirman kepadanya “Pergilah kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas” yakni: cegahlah dia dari kesesatan, kesyirikan, dan kemaksiatan dengan perkataan yang lemah lembut dan ucapan yang halus, mudah-mudahan dia ingat atau takut.

“Maka katakanlah” kepadanya: “Maukah engkau mensucikan diri?” yakni: maukah engkau pada sifat terpuji dan kebaikan yang indah yang diperebutkan oleh orang-orang berakal, yaitu agar engkau mensucikan dirimu dan membersihkannya dari kotoran kekufuran dan kesesatan menuju iman dan amal saleh?

“Dan aku akan menunjukkanmu kepada Tuhanmu” yakni: aku akan menunjukkan kepadamu dan menjelaskan kepadamu tempat-tempat ridha-Nya dari tempat-tempat murka-Nya. “Agar engkau takut” kepada Allah jika engkau mengetahui jalan yang lurus. Namun Fir’aun menolak apa yang Musa serukan kepadanya.

“Lalu dia (Musa) memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar” yakni: jenis mukjizat besar, maka tidak bertentangan dengan kemajemukan mukjizat tersebut “Maka dia melemparkan tongkatnya, tiba-tiba tongkat itu menjadi ular yang nyata. Dan dia mengeluarkan tangannya, tiba-tiba tangan itu putih (bersinar) bagi orang-orang yang melihatnya.” (Asy-Syu’ara: 32-33)

“Tetapi dia mendustakan” kebenaran “dan mendurhakai” perintah, “kemudian dia berpaling sambil berusaha” yakni: bersungguh-sungguh dalam menentang kebenaran dan memeranginya, “lalu dia mengumpulkan” tentaranya yakni: mengumpulkan mereka “dan berseru, maka dia berkata” kepada mereka: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi” maka mereka tunduk kepadanya dan mengakui kebatilannya ketika dia meremehkan mereka, “Maka Allah menyiksanya dengan siksa akhirat dan dunia” yakni: siksaannya menjadi dalil dan peringatan, serta penjelasan bagi siksa dunia dan akhirat, “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut” karena orang yang takut kepada Allah adalah orang yang mengambil manfaat dari ayat-ayat dan pelajaran. Maka jika dia melihat siksaan Fir’aun, dia tahu bahwa setiap orang yang sombong dan durhaka, serta menentang Raja Yang Maha Tinggi, Allah akan menyiksanya di dunia dan akhirat. Adapun orang yang rasa takut kepada Allah telah hilang dari hatinya, maka seandainya datang kepadanya segala ayat, dia tidak akan beriman.

{27 – 33} “Apakah kamu lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Dia telah membangunnya. Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya. Dan Dia menggelapkan malamnya dan menampakkan siangnya. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Dari bumi itu Dia keluarkan mata airnya dan tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya (dengan kokoh). (Semua itu) untuk kesenangan kamu dan hewan-hewan ternakmu.” (An-Nazi’at: 27-33)

Allah Ta’ala berfirman menjelaskan dalil yang jelas bagi orang-orang yang mengingkari kebangkitan dan menganggap mustahil Allah mengembalikan jasad-jasad: “Apakah kamu” wahai manusia “lebih sulit penciptaannya ataukah langit” yang memiliki massa besar, ciptaan yang kuat, dan ketinggian yang menakjubkan “yang Dia bangun”.

“Dia meninggikan bangunannya” yakni: massa dan bentuknya, “lalu menyempurnakannya” dengan rapi dan teliti yang membingungkan akal dan memukau pikiran, “dan Dia menggelapkan malamnya” yakni: menggelapkannya, sehingga kegelapan meliputi seluruh penjuru langit dan menggelapkan permukaan bumi, “dan menampakkan siangnya” yakni: menampakkan cahaya besar padanya ketika Dia mendatangkan matahari, maka manusia dapat beraktivitas untuk urusan agama dan dunia mereka.

“Dan bumi sesudah itu” yakni: setelah penciptaan langit “dihamparkan-Nya” yakni: Dia meletakkan di dalamnya manfaat-manfaatnya.

Dan Dia menjelaskan hal itu dengan firman-Nya: “Dari bumi itu Dia keluarkan mata airnya dan tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya” yakni: menetapkannya di bumi. Maka Allah menghamparkan bumi setelah menciptakan langit, sebagaimana nash ayat-ayat mulia ini. Adapun penciptaan hakikat bumi, maka itu mendahului penciptaan langit sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Katakanlah: ‘Apakah kamu benar-benar kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua hari'” hingga firman-Nya: “Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: ‘Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.’ Keduanya menjawab: ‘Kami datang dengan suka hati.'” (Fushshilat: 9-11) Maka Zat yang menciptakan langit-langit besar dan apa yang ada di dalamnya berupa cahaya dan benda-benda angkasa, serta bumi yang padat dan berdebu, dan apa yang ada padanya berupa kebutuhan pokok makhluk dan manfaat-manfaat mereka, pasti akan membangkitkan makhluk yang ditugaskan, lalu membalas mereka atas amal-amal mereka. Barang siapa berbuat baik maka baginya kebaikan, dan barang siapa berbuat buruk maka janganlah dia menyalahkan selain dirinya sendiri. Oleh karena itu setelah ini disebutkan tentang kebangkitan untuk pembalasan, maka Allah berfirman:

{34 – 41} “Maka apabila datang malapetaka yang dahsyat, pada hari (ketika) manusia teringat apa yang telah diusahakannya, dan diperlihatkan neraka Jahannam kepada siapa yang melihat. Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang yang takut kepada kedudukan Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (An-Nazi’at: 34-41)

Yakni: apabila datang hari kiamat yang besar dan kesulitan yang dahsyat yang di hadapannya setiap kesulitan menjadi ringan, maka saat itulah seorang ayah lupa pada anaknya, dan teman lupa pada temannya [dan setiap yang mencintai lupa pada kekasihnya]. “Dan manusia teringat apa yang telah diusahakannya” di dunia, berupa kebaikan dan keburukan, maka dia berharap dapat menambah seberat zarroh pada kebaikannya, dan dia sedih serta duka cita karena bertambahnya seberat zarroh pada keburukannya.

Dan dia tahu saat itu bahwa modal keuntungan dan kerugiannya adalah apa yang dia usahakan di dunia, dan terputuslah segala sebab dan hubungan yang ada di dunia selain amal perbuatan.

“Dan diperlihatkan neraka Jahannam kepada siapa yang melihat” yakni: dijadikan tampak nyata bagi setiap orang, telah tampak bagi penghuninya dan bersiap untuk mengambil mereka, menanti perintah Tuhannya.

“Adapun orang yang melampaui batas” yakni: melampaui batas dengan berani melakukan dosa-dosa besar dan tidak membatasi diri pada apa yang Allah tentukan.

“Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia” daripada akhirat, maka usahanya menjadi untuk dunia dan waktunya tersita untuk kepentingan dan syahwat duniawi, serta melupakan akhirat dan meninggalkan amal untuknya. “Maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya” yakni: tempat kembali dan tempat tinggal bagi orang yang seperti ini keadaannya, “Dan adapun orang yang takut kepada kedudukan Tuhannya” yakni: takut berdiri di hadapan-Nya dan pembalasan-Nya dengan adil, maka rasa takut ini berbekas pada hatinya sehingga dia menahan nafsunya dari hawanya yang memalingkannya dari ketaatan kepada Allah, dan jadilah hawanya mengikuti apa yang dibawa Rasul, serta dia berjihad melawan hawa nafsu dan syahwat yang menghalangi dari kebaikan, “maka sesungguhnya surgalah” [yang mengandung segala kebaikan, kegembiraan, dan kenikmatan] “tempat tinggalnya” bagi orang yang seperti ini sifatnya.

{42 – 46} “Mereka bertanya kepadamu tentang hari berbangkit: ‘Bilakah terjadinya?’ Apa urusanmu menyebut-nyebutnya? Kepada Tuhanmulah dikembalikan (pengetahuan)nya. Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya. Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” (An-Nazi’at: 42-46)

Yakni: orang-orang yang keras kepala yang mendustakan kebangkitan bertanya kepadamu “tentang hari berbangkit” kapan terjadinya “dan bilakah terjadinya?” Maka Allah menjawab mereka dengan firman-Nya: “Apa urusanmu menyebut-nyebutnya?” yakni: apa faedahnya bagimu dan mereka dalam menyebutkannya dan mengetahui waktu kedatangannya? Karena tidak ada hasil di balik itu, dan karena itulah ketika pengetahuan hamba tentang hari kiamat tidak ada kemaslahatan agama dan dunia bagi mereka, bahkan kemaslahatan justru dalam menyembunyikannya dari mereka, maka Allah menyembunyikan pengetahuan tentang itu dari seluruh makhluk dan menyendirikan ilmu-Nya, maka Dia berfirman: “Kepada Tuhanmulah dikembalikan (pengetahuan)nya” yakni: kepada-Nya berakhir pengetahuannya, sebagaimana firman-Nya dalam ayat lain: “Mereka bertanya kepadamu tentang kiamat: ‘Bilakah terjadinya?’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu ada pada Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.’ Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu hanya di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.'” (Al-A’raf: 187) “Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya” yakni: sesungguhnya peringatanmu [manfaatnya] hanya bagi orang yang takut akan datangnya hari kiamat dan takut berdiri di hadapan-Nya, maka merekalah yang tidak memikirkan selain mempersiapkan diri untuknya dan beramal karenanya. Adapun orang yang tidak beriman padanya, maka janganlah engkau pedulikan dia dan keras kepalanya, karena itu adalah keras kepala yang dibangun atas penentangan dan pendustaan. Dan jika sudah sampai pada keadaan ini, maka menjawabnya adalah sia-sia yang dinisbahkan kepada Yang Maha Bijaksana. [Selesai] dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

 

 

Tafsir Surat ‘Abasa

Dan surat ini Makkiyah {1 – 10} “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan diri (dari dosa), atau dia (ingin) mendapat pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut (kepada Allah), maka kamu mengabaikannya.” (‘Abasa: 1-10)

Dan sebab turunnya ayat-ayat mulia ini adalah bahwa datang seorang laki-laki mukmin yang buta bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan belajar darinya.

Dan datang kepadanya seorang laki-laki dari orang-orang kaya, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersemangat untuk memberi hidayah kepada makhluk, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam [condong dan memperhatikan] orang kaya itu dan berpaling dari orang buta yang fakir, dengan harapan dapat memberi hidayah kepada orang kaya itu dan berharap dia dapat tersucikan, maka Allah menegurnya dengan teguran yang halus ini, maka Dia berfirman: “Dia bermuka masam” [yakni:] pada wajahnya “dan berpaling” dengan badannya, karena datangnya orang buta kepadanya, kemudian Allah menyebutkan faedah dalam memperhatikannya, maka Dia berfirman: “Tahukah kamu barangkali ia” yakni: si buta “ingin membersihkan diri” yakni: bersuci dari akhlak tercela dan bersifat dengan akhlak yang baik?

“Atau dia (ingin) mendapat pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya” yakni: dia mengingat apa yang bermanfaat baginya, lalu dia mengamalkan nasihat tersebut.

Dan ini adalah faedah besar yang menjadi tujuan dari diutusnya para rasul, nasihat para penasihat, dan peringatan para pemberi peringatan. Maka perhatianmu kepada orang yang datang sendiri dengan membutuhkanmu adalah yang lebih pantas dan wajib. Adapun kamu bersikap dan berusaha kepada orang kaya yang merasa cukup yang tidak bertanya dan tidak meminta fatwa karena tidak ada keinginannya pada kebaikan, dengan meninggalkan orang yang lebih penting darinya, maka itu tidak pantas bagimu, karena tidak ada kewajiban atasmu bahwa dia tidak tersucikan, maka seandainya dia tidak tersucikan, maka kamu tidak diminta pertanggungjawabannya atas apa yang dia kerjakan berupa keburukan.

Maka ini menunjukkan kaidah yang terkenal yaitu: “Janganlah meninggalkan perkara yang pasti untuk perkara yang meragukan, dan jangan meninggalkan kemaslahatan yang pasti untuk kemaslahatan yang diragukan” dan bahwa sebaiknya memperhatikan penuntut ilmu yang membutuhkannya dan bersemangat padanya lebih dari yang lain.

{11 – 32} “Sekali-kali jangan! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan. Maka barang siapa yang menghendaki, niscaya ia memperhatikannya, yang (tersimpan) dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para malaikat yang mulia lagi berbakti. Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya! Dari apakah Allah menciptakannya? Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya. Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur. Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali. Sekali-kali tidak! Manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya. Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan padanya biji-bijian, anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.” (‘Abasa: 11-32)

Allah Ta’ala berfirman: “Sekali-kali jangan! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan” yakni: sungguh sesungguhnya nasihat ini adalah peringatan dari Allah, Dia mengingatkan dengan itu hamba-hamba-Nya dan menjelaskan kepada mereka dalam kitab-Nya apa yang mereka butuhkan, serta menjelaskan petunjuk dari kesesatan. Maka jika itu sudah jelas “maka barang siapa yang menghendaki, niscaya ia memperhatikannya” yakni: mengamalkannya, seperti firman Allah Ta’ala: “Dan katakanlah: ‘Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barang siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.'” (Al-Kahf: 29)

Kemudian Allah menyebutkan tempat peringatan ini, keagungannya, dan kemuliaan kedudukannya, maka Dia berfirman: “yang (tersimpan) dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan” kedudukan dan derajatnya “lagi disucikan” [dari kerusakan dan] dari dijangkau tangan setan atau dicuri mereka, bahkan ia berada “di tangan para malaikat” yaitu malaikat [yang menjadi] utusan antara Allah dan hamba-hamba-Nya, “yang mulia” yakni: banyak kebaikan dan keberkahan, “lagi berbakti” hati dan amal mereka.

Dan semua itu adalah penjagaan dari Allah terhadap kitab-Nya, bahwa Dia menjadikan para utusan di dalamnya kepada para rasul adalah malaikat-malaikat mulia yang kuat lagi bertakwa, dan Dia tidak menjadikan bagi setan jalan terhadapnya. Dan ini termasuk yang mewajibkan beriman padanya dan menerimanya dengan penerimaan yang baik, tetapi dengan demikian manusia tetap menolak kecuali kekafiran, dan karena itulah Allah Ta’ala berfirman: “Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya!” terhadap nikmat Allah dan alangkah kerasnya penentangannya terhadap kebenaran setelah jelas, dan dia itu apa? Dia termasuk yang paling lemah, Allah menciptakannya dari air yang hina, kemudian Allah menentukan penciptaannya dan menjadikannya manusia yang sempurna, serta menyempurnakan kekuatan zahir dan batinnya.

“Kemudian Dia memudahkan jalannya” yakni: memudahkan baginya sebab-sebab agama dan dunia, dan menunjukkan kepadanya jalan, [dan menjelaskannya] serta mengujinya dengan perintah dan larangan, “kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur” yakni: memuliakannya dengan penguburan dan tidak menjadikannya seperti hewan lainnya yang bangkainya di atas muka bumi, “kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali” yakni: membangkitkannya setelah matinya untuk pembalasan. Maka Allah-lah yang menyendiri dalam mengatur manusia dan mengendalikannya dengan pengendalian ini, tidak ada yang menyekutui-Nya dalam hal itu, dan dia -dengan demikian- tidak melaksanakan apa yang Allah perintahkan kepadanya dan tidak menunaikan apa yang Allah wajibkan atasnya, bahkan dia masih terus lalai di bawah tuntutan.

Kemudian Allah Ta’ala menunjukkannya untuk melihat dan merenungkan makanannya dan bagaimana sampai kepadanya setelah berulang kali melalui berbagai lapisan dan Dia memudahkannya untuknya, maka Dia berfirman: “Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit)” yakni: Kami turunkan hujan ke bumi dengan banyak.

“Kemudian Kami belah bumi” untuk tanaman “dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan padanya” jenis-jenis yang beragam dari macam-macam makanan yang lezat dan makanan pokok yang sedap “biji-bijian” dan ini mencakup seluruh biji-bijian dengan berbagai jenisnya, “anggur dan sayur-sayuran” yaitu alfalfa, “zaitun dan kurma” dan Dia mengkhususkan empat ini karena banyaknya faedah dan manfaatnya.

“Kebun-kebun (yang) lebat” yakni: taman-taman di dalamnya terdapat pohon-pohon banyak yang rindang, “dan buah-buahan serta rumput-rumputan” Buah-buahan: apa yang dimakan manusia untuk bersenang-senang, seperti tin, anggur, persik, delima, dan lainnya.

Dan rumput-rumputan: apa yang dimakan binatang dan hewan ternak, oleh karena itu Allah berfirman: “untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu” yang Allah ciptakan dan Dia tundukkan untuk kalian. Maka barang siapa melihat nikmat-nikmat ini, maka itu mewajibkan baginya bersyukur kepada Tuhannya dan mencurahkan usaha untuk kembali kepada-Nya serta menghadap kepada ketaatan-Nya dan membenarkan berita-berita-Nya.

{33 – 42} “Maka apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. Pada hari itu ada muka-muka yang berseri-seri, tertawa dan gembira ria. Dan pada hari itu ada (pula) muka-muka yang tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.” (‘Abasa: 33-42)

Yakni: apabila datang teriakan kiamat yang memekakkan telinga karena dahsyatnya dan hati berguncang karenanya pada hari itu, karena apa yang manusia lihat berupa kengerian dan kebutuhan yang mendesak terhadap amal yang telah lalu.

“Manusia lari” dari orang yang paling dicintai dan yang paling sayangnya, “dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri” yakni: istrinya “dan anak-anaknya” dan itu karena “setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya” yakni: dirinya telah menyibukkannya dan dia peduli untuk menyelamatkannya, dan dia tidak memperhatikan selainnya. Maka saat itulah makhluk terbagi menjadi dua golongan: yang berbahagia dan yang celaka. Adapun yang berbahagia, maka wajah mereka [pada hari itu] “berseri-seri” yakni: tampak padanya kegembiraan dan kebahagiaan karena mengetahui keselamatan dan kemenangan mereka dengan kenikmatan, “tertawa dan gembira ria. Dan ada (pula) muka-muka” yang celaka “pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi” yakni: diliputi “oleh kegelapan” maka ia hitam, gelap, dan suram, telah putus asa dari segala kebaikan dan mengetahui kecelakaannya dan kebinasaannya.

“Mereka itulah” yang dengan sifat ini “orang-orang kafir lagi durhaka” yakni: orang-orang yang mengkafiri nikmat Allah dan mendustakan ayat-ayat Allah serta berani melanggar larangan-larangan-Nya.

Kami memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan, sesungguhnya Dia Maha Dermawan lagi Mulia [dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam].

 

 

Tafsir Surat At-Takwir

[Surat ini] adalah Makkiyah

Ayat 1-14

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta bunting yang sepuluh bulan ditinggalkan (tidak dipedulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dijadikan meluap, dan apabila jiwa-jiwa dipertemukan (dengan pasangannya), dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh, dan apabila lembaran-lembaran (catatan amal) dibuka, dan apabila langit dikupas, dan apabila neraka Jahim dinyalakan, dan apabila surga didekatkan, maka tahulah tiap-tiap jiwa apa yang telah diperbuatnya. (At-Takwir: 1-14)

Maksudnya: apabila terjadi perkara-perkara yang mengerikan ini, makhluk akan terpisah-pisah, dan setiap orang akan mengetahui apa yang telah dipersiapkannya untuk akhiratnya, dan apa yang telah dihadirkannya di sana dari kebaikan dan keburukan. Hal itu terjadi ketika hari kiamat tiba, matahari digulung yaitu: dikumpulkan dan dilipat, dan bulan dikhusufkan, lalu keduanya dilemparkan ke dalam api neraka.

Dan apabila bintang-bintang berjatuhan yaitu: berubah dan berjatuhan dari peredarannya.

Dan apabila gunung-gunung dihancurkan yaitu: menjadi gundukan pasir yang berhamburan, kemudian menjadi seperti bulu yang dihambur-hamburkan, lalu berubah dan menjadi debu yang berserakan, dan dipindahkan dari tempatnya.

Dan apabila unta-unta bunting yang sepuluh bulan ditinggalkan yaitu: manusia pada waktu itu menelantarkan harta benda yang paling berharga yang biasanya mereka perhatikan dan rawat di setiap waktu, karena datang kepada mereka sesuatu yang melalaikan mereka darinya. Maka disebutkan unta-unta bunting, yaitu unta betina yang diikuti anak-anaknya, yang merupakan harta paling berharga bagi orang Arab saat itu menurut mereka, untuk menunjukkan semua yang serupa dengannya dari setiap yang berharga.

Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan yaitu: dikumpulkan di hari kiamat, agar Allah membalas sebagian dari mereka kepada sebagian yang lain, dan para hamba melihat kesempurnaan keadilan-Nya, hingga Dia membalas dari yang bertanduk kepada yang tidak bertanduk, kemudian Dia berfirman kepada mereka: “Jadilah tanah.”

Dan apabila lautan dijadikan meluap yaitu: dinyalakan sehingga menjadi – meskipun sangat besar – api yang menyala.

Dan apabila jiwa-jiwa dipertemukan yaitu: setiap pemilik amal dipasangkan dengan sejenisnya, maka orang-orang baik dikumpulkan dengan orang-orang baik, dan orang-orang jahat dengan orang-orang jahat, dan orang-orang beriman dipasangkan dengan bidadari, sedangkan orang-orang kafir dengan setan-setan. Ini seperti firman Allah Ta’ala: Dan orang-orang kafir digiring ke neraka Jahannam secara berombongan Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya digiring ke surga secara berombongan Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman-teman sejawatnya.

Dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya yaitu apa yang dilakukan oleh orang-orang jahiliah yang bodoh dengan menguburkan anak-anak perempuan dalam keadaan hidup tanpa alasan, kecuali karena takut kemiskinan, maka ia ditanya: karena dosa apakah dia dibunuh dan sudah diketahui bahwa ia tidak mempunyai dosa, maka dalam hal ini terdapat celaan dan teguran keras bagi pembunuhnya.

Dan apabila lembaran-lembaran yang berisi apa yang telah dikerjakan oleh para pelaku dari kebaikan dan keburukan dibuka dan dibagikan kepada pemiliknya, maka ada yang mengambil kitabnya dengan tangan kanannya, dan ada yang mengambil kitabnya dengan tangan kirinya, atau dari belakang punggungnya.

Dan apabila langit dikupas yaitu: dihilangkan, sebagaimana firman Allah Ta’ala: pada hari langit terbelah oleh awan pada hari Kami gulungkan langit sebagai menggulung lembaran untuk menulis dan bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya

Dan apabila neraka Jahim dinyalakan yaitu: dinyalakan dengan api sehingga menyala dan berkobar dengan kobaran yang tidak pernah ada sebelumnya.

Dan apabila surga didekatkan yaitu: didekatkankepada orang-orang yang bertakwa.

Maka tahulah tiap-tiap jiwa yaitu: setiap jiwa, karena datangnya dalam konteks syarat.

Apa yang telah diperbuatnya yaitu: apa yang hadir di sisinya berupa amal-amal yang telah dikerjakannya, sebagaimana firman Allah Ta’ala: dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan hadir (di hadapan mereka)

Dan sifat-sifat yang Allah gambarkan tentang hari kiamat ini, adalah sifat-sifat yang membuat hati terguncang, kesedihan semakin berat karenanya, anggota badan gemetar ketakutan, dan ketakutan meliputi semuanya, serta mendorong orang-orang yang berakal untuk bersiap-siap menghadapi hari itu, dan mencegah mereka dari segala sesuatu yang mendatangkan celaan. Oleh karena itu, sebagian salaf berkata: “Barangsiapa ingin melihat hari kiamat seakan-akan dengan mata kepala sendiri, maka hendaklah ia merenungkan surat Apabila matahari digulung.”

Ayat 15-29

Aku bersumpah demi bintang-bintang yang mundur, yang beredar dan bersembunyi, dan demi malam apabila telah hampir berakhir, dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing, sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang berkedudukan tinggi di sisi (Allah) yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. Dan kawanmu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila, dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu di ufuk yang terang, dan dia (Muhammad) tidak bakhil untuk menerangkan yang ghaib, dan Al Qur’an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk. Maka ke manakah kamu akan pergi? Al Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam. (At-Takwir: 15-29)

Allah Ta’ala bersumpah dengan bintang-bintang yang mundur yaitu bintang-bintang yang mundur, yaitu: tertinggal dari perjalanan bintang-bintang yang biasa menuju arah timur, yaitu tujuh bintang yang beredar: “Matahari”, “Bulan”, “Zuhrah (Venus)”, “Musytari (Jupiter)”, “Mirrikh (Mars)”, “Zuhal (Saturnus)”, dan “Utarid (Merkurius)”. Tujuh bintang ini mempunyai dua perjalanan: perjalanan ke arah barat bersama bintang-bintang dan falak-falak lainnya, dan perjalanan yang berlawanan dengan ini dari arah timur yang khusus untuk tujuh bintang ini tanpa yang lain.

Maka Allah bersumpah dengan mereka dalam keadaan mundurnya yaitu: tertinggalnya, dan dalam keadaan berjalannya, dan dalam keadaan bersembunyinya yaitu: tersembunyinya di siang hari. Dan mungkin yang dimaksud adalah semua bintang-bintang, baik yang beredar maupun lainnya.

Dan demi malam apabila telah hampir berakhir yaitu: pergi, dan ada yang mengatakan: datang.

Dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing yaitu: tampak tanda-tanda subuh, dan cahaya mulai merekah sedikit demi sedikit hingga sempurna dan matahari terbit.

Dan ini adalah ayat-ayat yang agung, Allah bersumpah dengannya untuk keluhuran sanad Al-Qur’an dan keagungannya, serta terjaganya dari setiap setan yang terkutuk, maka Dia berfirman:

Sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia yaitu: Jibril alaihissalam, turun dengannya dari Allah Ta’ala, sebagaimana firman Allah Ta’ala: Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan

Dan Allah mensifatinya dengan mulia karena kemuliaan akhlaknya, dan banyaknya sifat-sifat terpuji yang dimilikinya, karena ia adalah malaikat yang paling utama, dan yang paling tinggi derajatnya di sisi Tuhannya.

Yang mempunyai kekuatan atas apa yang diperintahkan Allah kepadanya. Di antara kekuatannya adalah bahwa ia membalik negeri kaum Luth beserta mereka sehingga membinasakan mereka.

Yang berkedudukan tinggi di sisi (Allah) yang mempunyai ‘Arsy yaitu: Jibril dekat di sisi Allah, ia mempunyai kedudukan tinggi, dan kekhususan dari Allah yang mengkhususkannya dengannya.

Yang ditaati di sana yaitu: Jibril ditaati di alam atas (malaikat), ia mempunyai bala tentara dari malaikat-malaikat yang dekat, perintahnya berlaku atas mereka, pendapatnya ditaati.

Lagi dipercaya yaitu: memiliki amanah dan melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya, tidak menambah dan tidak mengurangi, dan tidak melampaui apa yang ditetapkan baginya. Dan semua ini menunjukkan kemuliaan Al-Qur’an di sisi Allah Ta’ala, karena Dia mengutus dengannya malaikat mulia ini, yang disifati dengan sifat-sifat sempurna tersebut. Dan kebiasaan raja-raja adalah tidak mengutus yang mulia di sisinya kecuali untuk urusan yang paling penting, dan risalah yang paling mulia.

Setelah menyebutkan keutamaan rasul malaikat yang membawa Al-Qur’an, Dia menyebutkan keutamaan rasul manusia yang Al-Qur’an diturunkan kepadanya, dan yang mengajak manusia kepadanya, maka Dia berfirman:

Dan kawanmu yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sekali-kali bukan orang gila sebagaimana yang dikatakan oleh musuh-musuhnya yang mendustakan risalahnya, yang menuduhnya dengan tuduhan-tuduhan yang mereka inginkan untuk memadamkan apa yang dibawanya sekehendak dan sekemampuan mereka, bahkan ia adalah manusia yang paling sempurna akalnya dan paling matang pendapatnya, serta paling jujur ucapannya.

Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu di ufuk yang terang yaitu: Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melihat Jibril alaihissalam di ufuk yang jelas, yang merupakan tempat paling tinggi yang terlihat oleh pandangan.

Dan dia (Muhammad) tidak bakhil untuk menerangkan yang ghaib yaitu: dan ia tidak tertuduh atas apa yang diwahyukan Allah kepadanya dengan menambah atau mengurangi atau menyembunyikan sebagiannya, bahkan ia shallallahu ‘alaihi wasallam adalah amanah penduduk langit dan penduduk bumi, yang menyampaikan risalah-risalah Tuhannya dengan penyampaian yang jelas, maka ia tidak bakhil dengan sesuatu darinya, baik kepada orang kaya maupun orang miskin, pemimpin maupun bawahan, laki-laki maupun perempuan, orang kota maupun orang desa. Oleh karena itu Allah mengutusnya kepada umat yang buta huruf, jahil dan bodoh, maka ia tidak wafat shallallahu ‘alaihi wasallam hingga mereka menjadi ulama rabbani, dan ahli-ahli yang cerdas, kepada merekalah ujung dalam ilmu-ilmu, dan kepada merekalah berakhir dalam mengeluarkan hal-hal yang rumit dan pemahaman, dan mereka adalah para guru, sedangkan yang lain paling tinggi hanyalah menjadi murid mereka.

Dan Al Qur’an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk Setelah menyebutkan keagungan kitab-Nya dan keutamaannya dengan menyebutkan dua rasul mulia, yang melalui tangan keduanya Al-Qur’an sampai kepada manusia, dan Allah memuji keduanya dengan pujian-Nya, Dia menolak darinya setiap cacat dan kekurangan yang meragukan kebenarannya, maka Dia berfirman: Dan Al Qur’an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk yaitu: dalam keadaan sangat jauh dari Allah dan kedekatan-Nya.

Maka ke manakah kamu akan pergi? yaitu: bagaimana hal ini terlintas dalam pikiran kalian, dan ke mana hilangnya akal kalian? hingga kalian menjadikan kebenaran yang berada di tingkat tertinggi kejujuran sejajar dengan kebohongan, yang merupakan yang paling rendah dan paling hina serta paling rendah kebatilan? Bukankah ini dari pembalikan hakikat?

Al Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam mereka mengingat dengannya Tuhan mereka, dan apa yang Dia miliki dari sifat-sifat kesempurnaan, dan apa yang Dia sucikan darinya berupa kekurangan dan kehinaan. Dan mereka mengingat dengannya perintah-perintah dan larangan-larangan serta hikmahnya, dan mereka mengingat dengannya hukum-hukum takdir, syariat dan pembalasan. Dan secara ringkas, mereka mengingat dengannya kemaslahatan kedua negeri, dan meraih dengan mengamalkannya dua kebahagiaan.

(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus setelah jelas petunjuk dari kesesatan, dan hidayah dari kesesatan.

Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam yaitu: maka kehendak-Nya berlaku, tidak mungkin dilawan atau ditentang. Dan dalam ayat ini dan yang serupa dengannya terdapat bantahan terhadap dua golongan Qadariyyah yang menafikan, dan Qadariyyah yang mujabbir sebagaimana telah dijelaskan yang serupa dengannya. Wallahu a’lam wal hamdulillah.

 

 

Tafsir Surat Al-Infithar

[Surat ini] adalah Makkiyah

Ayat 1-5

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang berserakan, dan apabila lautan dijadikan meluap, dan apabila kubur-kubur dibongkar, tahulah tiap-tiap jiwa apa yang telah dikerjakannya dan apa yang telah ditinggalkannya. (Al-Infithar: 1-5)

Maksudnya: apabila langit terbelah dan retak, dan bintang-bintangnya berserakan, dan keindahannya hilang, dan lautan dijadikan meluap sehingga menjadi lautan yang satu, dan kubur-kubur dibongkar dengan dikeluarkannya orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan mereka dikumpulkan untuk dihadapkan kepada Allah untuk dibalas atas amal-amalnya. Maka ketika itu terbuka tirai, dan hilang apa yang tersembunyi, dan setiap jiwa mengetahui apa yang bersamanya berupa keuntungan dan kerugian. Di sana orang yang zalim menggigit kedua tangannya ketika melihat amal-amalnya sia-sia, dan timbangannya menjadi ringan, dan kezaliman-kezaliman mengepungnya, dan kejahatan-kejahatan hadir di sisinya, dan ia yakin dengan kecelakaan yang kekal dan azab yang abadi.

Dan di sana orang-orang bertakwa yang telah mempersiapkan amal-amal saleh beruntung dengan kemenangan yang besar, dan kenikmatan yang kekal, dan keselamatan dari azab neraka.

Ayat 6-12

Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu. Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya kamu mendustakan (hari) pembalasan, padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (amal perbuatanmu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Infithar: 6-12)

Allah Ta’ala berfirman sambil menegur manusia yang lalai dalam hak Tuhannya, yang berani melakukan kemurkaanNya: Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah Apakah karena kamu meremehkan hak-hakNya? Ataukah karena kamu meremehkan azabNya? Ataukah karena kamu tidak beriman kepada balasanNya?

Bukankah Dia Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dalam bentuk yang paling baik? dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang dan menyusun kamu dengan susunan yang kuat dan seimbang dalam bentuk yang paling baik, dan rupa yang paling indah. Maka pantaskah kamu mengingkari nikmat Yang Memberi nikmat, atau mengingkari kebaikan Yang Berbuat baik?

Sesungguhnya ini tidak lain dari kebodohan, kezaliman, kedurhakaan dan ketololanmu, maka bersyukurlah kepada Allah bahwa Dia tidak menjadikan bentukmu seperti bentuk anjing atau keledai, atau semisalnya dari binatang-binatang; maka oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu

Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya kamu mendustakan (hari) pembalasan yaitu: dengan nasihat dan peringatan ini, kalian tetap terus menerus mendustakan hari pembalasan.

Dan kalian pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah kalian kerjakan, dan Allah telah mengutus atas kalian malaikat-malaikat yang mulia yang mencatat perkataan dan perbuatan kalian dan mengetahui perbuatan-perbuatan kalian, dan termasuk dalam hal ini perbuatan hati dan perbuatan anggota badan, maka yang pantas bagi kalian adalah menghormati mereka, memuliakan mereka dan menghargai mereka.

Ayat 13-19

Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka, mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan, dan mereka sekali-kali tidak akan dapat keluar daripadanya. Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? (yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah. (Al-Infithar: 13-19)

Yang dimaksud dengan orang-orang berbakti adalah mereka yang melaksanakan hak-hak Allah dan hak-hak hamba-hambaNya, yang senantiasa melakukan kebaikan, dalam amal-amal hati dan amal-amal anggota badan, maka mereka ini balasannya adalah kenikmatan dalam hati, ruh dan badan, di dunia, di alam barzakh dan di akhirat.

Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka yang lalai dalam hak-hak Allah dan hak-hak hamba-hambaNya, yang durhaka hati mereka maka durhaka pula amal-amal mereka benar-benar berada dalam neraka yaitu: azab yang pedih, di dunia, di alam barzakh dan di akhirat.

Mereka masuk ke dalamnya dan diazab dengannya dengan azab yang paling berat pada hari pembalasan yaitu: hari pembalasan atas amal-amal.

Dan mereka sekali-kali tidak akan dapat keluar daripadanya yaitu: bahkan mereka melekat dengannya, tidak keluar darinya.

Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Maka dalam hal ini terdapat pengerikan terhadap hari yang berat itu yang membingungkan akal.

(yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain walaupun adalah kerabat atau kekasih yang akrab, karena setiap orang sibuk dengan dirinya tidak mencari kelepasan untuk yang lain.

Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah maka Dialah yang memutuskan antara para hamba, dan mengambil hak orang yang dizalimi dari yang menzaliminya. Wallahu a’lam.

 

 

Tafsir Surat Al-Mutaffifin

Surat ini adalah Makkiyah

Surat Al-Mutaffifin Ayat 1-6

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang), yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?” (QS. Al-Mutaffifin: 1-6)

“Wail” adalah kata yang menunjukkan azab dan ancaman. “Bagi orang-orang yang curang”.

Allah menafsirkan orang-orang yang curang dengan firman-Nya: “yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain” yakni: mengambil dari mereka dengan sempurna atas apa yang menjadi hak mereka “mereka minta dipenuhi” mereka meminta dengan sempurna tanpa kekurangan.

“Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain” yakni: apabila mereka memberikan kepada orang-orang hak mereka, yang menjadi hak orang-orang atas mereka dengan takaran atau timbangan, “mereka mengurangi” yakni: mereka mengurangi hak tersebut, baik dengan takaran dan timbangan yang kurang, atau dengan tidak memenuhi takaran dan timbangan, atau semacam itu. Ini adalah pencurian terhadap harta orang-orang, dan tidak adil terhadap mereka.

Dan jika ancaman ini berlaku bagi orang-orang yang mengurangi hak orang dengan takaran dan timbangan, maka orang yang mengambil harta mereka dengan paksa atau pencurian, lebih pantas mendapat ancaman ini daripada orang-orang yang curang.

Dan ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa sebagaimana manusia mengambil dari orang-orang apa yang menjadi haknya, maka ia wajib memberikan kepada mereka semua yang menjadi hak mereka dari harta dan muamalah. Bahkan masuk dalam keumuman ini adalah hujjah dan perkataan. Sebagaimana orang-orang yang berdebat telah menjadi kebiasaan bahwa masing-masing mereka bersemangat terhadap hujjahnya, maka ia juga wajib menjelaskan apa yang menjadi hujjah lawannya yang tidak diketahuinya, dan hendaknya ia melihat dalil-dalil lawannya sebagaimana ia melihat dalil-dalilnya sendiri. Dan dalam hal inilah diketahui keadilan seseorang dari kefanatikannya dan kesewenang-wenangannya, dan kerendahan hatinya dari kesombongannya, dan akalnya dari kebodohannya. Kami memohon kepada Allah taufik untuk segala kebaikan.

Kemudian Allah mengancam orang-orang yang curang, dan heran terhadap keadaan mereka dan ketetapan mereka pada apa yang mereka lakukan, maka Dia berfirman: “Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?” Yang menyebabkan mereka berani melakukan kecurangan adalah tidak beriman mereka kepada hari akhir. Seandainya mereka beriman kepadanya, dan mengetahui bahwa mereka akan berdiri di hadapan Allah, Dia akan menghisab mereka atas yang sedikit dan yang banyak, niscaya mereka akan berhenti dari perbuatan itu dan bertaubat darinya.

Surat Al-Mutaffifin Ayat 7-17

“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya kitab (catatan amal) orang-orang yang durhaka benar-benar tersimpan dalam sijjin. Tahukah kamu apakah sijjin itu? (Yaitu) kitab yang bertulis. Kecelakaan besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan. Dan tidak ada yang mendustakannya melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa, apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: ‘(Ini adalah) dongen orang-orang dahulu.’ Sekali-kali tidak! Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka. Kemudian sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka yang menyala-nyala. Kemudian dikatakan (kepada mereka): ‘Inilah (azab) yang dahulu kamu dustakan.'” (QS. Al-Mutaffifin: 7-17)

Allah Ta’ala berfirman: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya kitab (catatan amal) orang-orang yang durhaka” – dan ini mencakup setiap orang yang durhaka dari berbagai jenis orang kafir, munafik, dan orang fasik – “benar-benar tersimpan dalam sijjin”.

Kemudian Dia menafsirkan hal itu dengan firman-Nya: “Tahukah kamu apakah sijjin itu? (Yaitu) kitab yang bertulis” yakni: kitab yang tertulis di dalamnya amal-amal buruk mereka. Dan sijjin adalah tempat yang sempit dan sesak. Dan “sijjin” adalah lawan dari “‘illiyyun” yang merupakan tempat kitab orang-orang yang berbakti, sebagaimana akan datang.

Dan telah dikatakan: bahwa “sijjin” adalah bumi yang paling bawah ketujuh, tempat tinggal orang-orang durhaka dan tempat kembali mereka di akhirat.

“Kecelakaan besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan” kemudian Dia menjelaskan orang-orang yang mendustakan bahwa mereka adalah “(yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan” yakni: hari pembalasan, hari ketika Allah membalas manusia dengan amal-amal mereka.

“Dan tidak ada yang mendustakannya melainkan setiap orang yang melampaui batas” terhadap larangan-larangan Allah, melampaui dari yang halal kepada yang haram.

“Lagi berdosa” yakni banyak dosa. Maka inilah yang mendorongnya karena kedurhakaan kepada pendustaan, dan kesombongannya mendorongnya untuk menolak kebenaran. Oleh karena itu “apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami” yang menunjukkan kepada kebenaran, dan kepada kebenaran apa yang dibawa oleh rasul-rasul-Nya, ia mendustakannya dan membandel, “ia berkata” ini adalah “(dongen) orang-orang dahulu” yakni: dari omong kosong orang-orang terdahulu, dan berita-berita umat yang telah lalu, bukan dari Allah karena kesombongan dan pembangkangan.

Adapun orang yang adil, dan tujuannya adalah kebenaran yang jelas, maka ia tidak mendustakan hari pembalasan, karena Allah telah menegakkan atasnya dalil-dalil yang pasti, dan bukti-bukti yang terang, yang menjadikannya yakin yang sebenarnya, dan menjadi bagi hati mereka seperti matahari bagi mata, berbeda dengan orang yang hatinya telah tertutup oleh perbuatannya, dan ditutupi oleh maksiat-maksiatnya, maka ia terhalang dari kebenaran. Oleh karena itu ia dibalas atas hal itu, dengan dihalangi dari Allah, sebagaimana hatinya dihalangi di dunia dari ayat-ayat Allah. “Kemudian sesungguhnya mereka” dengan hukuman yang berat ini “benar-benar masuk neraka yang menyala-nyala” kemudian dikatakan kepada mereka sebagai celaan dan hardikan: “Inilah (azab) yang dahulu kamu dustakan”. Maka Dia menyebutkan bagi mereka tiga jenis azab: azab neraka, azab celaan dan cacian.

Dan azab terhalang dari Tuhan semesta alam, yang mengandung murka dan kemurkaan-Nya atas mereka, dan itu lebih berat atas mereka daripada azab api. Dan mafhum ayat menunjukkan bahwa orang-orang mukmin akan melihat Tuhan mereka di hari kiamat dan di surga, dan mereka bergembira dengan melihat-Nya lebih besar daripada segala kenikmatan lainnya, dan mereka bersuka cita dengan firman-Nya, dan mereka gembira dengan kedekatan-Nya, sebagaimana Allah menyebutkan hal itu dalam beberapa ayat dari Al-Qur’an, dan telah mutawatir tentang hal itu riwayat dari Rasulullah.

Dan dalam ayat-ayat ini, peringatan dari dosa-dosa, karena sesungguhnya dosa-dosa menutupi hati dan menutupnya sedikit demi sedikit, hingga padam cahayanya, dan mati mata batinnya, maka terbalik padanya hakikat-hakikat, sehingga ia melihat yang batil sebagai benar, dan yang benar sebagai batil. Dan ini adalah sebagian dari hukuman dosa-dosa.

Surat Al-Mutaffifin Ayat 18-27

“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya kitab (catatan amal) orang-orang yang berbakti benar-benar tersimpan dalam ‘illiyyun. Tahukah kamu apakah ‘illiyyun itu? (Yaitu) kitab yang bertulis, yang disaksikan oleh (malaikat-malaikat) yang didekatkan (kepada Allah). Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan, di atas dipan-dipan mereka memandang. Kamu dapat mengetahui di muka mereka kegembiraan kenikmatan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang masih tersegel, yang segel penutupnya adalah kasturi. Dan untuk yang demikian itu hendaklah orang berlomba-lomba. Dan campurannya adalah dari tasnim.” (QS. Al-Mutaffifin: 18-27)

Ketika Dia menyebutkan bahwa kitab orang-orang durhaka di tempat yang paling bawah dan paling sempit, Dia menyebutkan bahwa kitab orang-orang yang berbakti di tempat yang paling tinggi dan paling luas, dan paling lapang dan bahwa kitab mereka yang bertulis “disaksikan oleh (malaikat-malaikat) yang didekatkan” dari malaikat-malaikat yang mulia, dan ruh para nabi, orang-orang shiddiq dan syuhada, dan Allah memuliakan sebutan mereka di Mala’ul A’la. Dan “‘illiyyun” adalah nama bagi surga yang paling tinggi. Maka ketika Dia menyebutkan kitab mereka, Dia menyebutkan bahwa mereka dalam kenikmatan, dan itu adalah nama yang mencakup kenikmatan hati dan ruh dan badan. “Di atas dipan-dipan” yakni: di atas tempat tidur yang dihiasi dengan permadani yang indah.

“Mereka memandang” kepada apa yang Allah sediakan bagi mereka dari kenikmatan, dan mereka memandang kepada wajah Tuhan mereka Yang Mulia. “Kamu dapat mengetahui” wahai orang yang melihat mereka “di muka mereka kegembiraan kenikmatan” yakni: cahaya kenikmatan dan kecerahan dan kilauannya. Sesungguhnya berturut-turutnya kelezatan dan kegembiraan memberikan kepada wajah cahaya dan keindahan dan kebahagiaan.

“Mereka diberi minum dari khamar murni” dan itu adalah minuman yang paling baik dan paling lezat, “yang masih tersegel”

Minuman itu “segel penutupnya adalah kasturi” bisa jadi yang dimaksud adalah tersegel dari sesuatu yang masuk ke dalamnya yang mengurangi kenikmatannya, atau merusak rasanya, dan segel yang dengannya disegel itu, adalah kasturi.

Dan bisa jadi yang dimaksud adalah apa yang ada di akhir bejana, yang mereka minum darinya khamar murni endapan, dan itu adalah kasturi yang harum. Maka keruhnya, yang biasanya di dunia dibuang, akan menjadi di surga seperti ini. “Dan untuk yang demikian itu” kenikmatan yang kekal, yang tidak diketahui keindahan dan kadarnya kecuali Allah, “hendaklah orang berlomba-lomba” yakni: mereka berlomba dalam bersegera kepadanya dengan amal-amal yang mengantarkan kepadanya. Maka inilah yang paling pantas untuk mengorbankan napas yang berharga, dan paling layak untuk diperebutkan oleh para jawara untuk mencapainya.

“Dan campurannya dari tasnim”, dan itu adalah mata air “yang diminum oleh orang-orang yang didekatkan” murni, dan itu adalah minuman surga yang paling tinggi secara mutlak. Oleh karena itu ia khusus bagi orang-orang yang didekatkan, yang mereka adalah makhluk yang paling tinggi kedudukannya, dan tercampur bagi ashab al-yamin yakni: dicampur dengan khamar murni dan minuman lezat lainnya.

Surat Al-Mutaffifin Ayat 29-36

“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulu mentertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang mukmin lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedipkan mata (mengejek). Dan apabila mereka kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka berkata: ‘Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat,’ padahal mereka tidak diutus untuk menjadi penjaga bagi orang-orang mukmin itu. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman mentertawakan orang-orang kafir.” (QS. Al-Mutaffifin: 29-36)

Ketika Allah Ta’ala menyebutkan balasan orang-orang yang berdosa dan balasan orang-orang mukmin dan menyebutkan perbedaan besar di antara keduanya, Dia mengabarkan bahwa orang-orang yang berdosa di dunia mengolok-olok orang-orang mukmin, dan mengejek mereka, dan menertawakan mereka, dan saling mengedipkan mata kepada mereka ketika mereka lewat di hadapan mereka, karena meremehkan dan merendahkan mereka. Dan dengan ini kamu melihat mereka tenang, tidak terlintas ketakutan di pikiran mereka. “Dan apabila mereka kembali kepada kaumnya” pagi atau sore “mereka kembali dengan gembira” yakni: gembira dan bangga. Dan ini adalah salah satu hal yang paling besar dari tertipu, bahwa mereka menggabungkan antara puncak kejahatan dan rasa aman di dunia, hingga seakan-akan telah datang kepada mereka kitab dari Allah dan janji, bahwa mereka adalah ahli kebahagiaan. Dan mereka telah memutuskan bagi diri mereka bahwa mereka adalah ahli petunjuk, dan bahwa orang-orang mukmin sesat, dengan memfitnah Allah, dan berani berbicara tentang-Nya tanpa ilmu.

Allah Ta’ala berfirman: “padahal mereka tidak diutus untuk menjadi penjaga bagi orang-orang mukmin itu” yakni: dan mereka tidak diutus sebagai wakil atas orang-orang mukmin yang diwajibkan menjaga amal-amal mereka, hingga mereka bersemangat melempar mereka dengan kesesatan. Dan ini dari mereka tidak lain adalah keras kepala dan pembangkangan dan main-main, tidak ada dasarnya dan tidak ada buktinya. Oleh karena itu balasan mereka di akhirat sejenis dengan amal mereka. Allah Ta’ala berfirman: “Maka pada hari ini” yakni: hari kiamat, “orang-orang yang beriman mentertawakan orang-orang kafir” ketika mereka melihat mereka dalam kegelapan azab berbolak-balik, dan telah hilang dari mereka apa yang mereka dusta-dustakan, dan orang-orang mukmin dalam puncak kenyamanan dan ketenangan.

“Di atas dipan-dipan mereka memandang. Apakah orang-orang kafir itu telah diberi balasan terhadap apa yang telah mereka perbuat?” (QS. Al-Mutaffifin: 35-36)

“Di atas dipan-dipan” yaitu tempat tidur yang dihiasi, “mereka memandang” kepada apa yang Allah sediakan bagi mereka dari kenikmatan, dan mereka memandang kepada wajah Tuhan mereka Yang Mulia.

“Apakah orang-orang kafir itu telah diberi balasan terhadap apa yang telah mereka perbuat?” yakni: apakah mereka dibalas sesuai dengan jenis amal mereka?

Sebagaimana mereka menertawakan orang-orang mukmin di dunia dan melempar mereka dengan kesesatan, orang-orang mukmin menertawakan mereka di akhirat, dan melihat mereka dalam azab dan siksaan, yang merupakan hukuman kesesatan dan kesesatan.

Ya, mereka dibalas atas apa yang mereka perbuat, dengan adil dari Allah dan hikmah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

 

 

Tafsir Surat Al-Inshiqaq

Dan ia adalah Makiyyah

Surat Al-Inshiqaq Ayat 1-15

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya (patuh); dan apabila bumi diratakan, dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong, dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya (patuh), hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan dihisab dengan hisab yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (di surga) dengan gembira. Dan adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang punggungnya, maka dia akan berteriak: ‘Celaka aku!’ dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala. Sesungguhnya dia (dahulu) di antara kaumnya dalam keadaan gembira. Sesungguhnya dia menyangka bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya). Bukan demikian! Sesungguhnya Tuhannya Maha Melihat keadaannya.” (QS. Al-Inshiqaq: 1-15)

Allah Ta’ala berfirman menjelaskan apa yang akan terjadi di hari kiamat dari perubahan benda-benda langit yang besar: “Apabila langit terbelah” yakni: terbelah dan terpisah sebagiannya dari sebagian yang lain, dan berhamburan bintang-bintangnya, dan tenggelam matahari dan bulannya.

“Dan patuh kepada Tuhannya” yakni: mendengarkan perintah-Nya, dan menyimak firman-Nya, dan mendengarkan pembicaraan-Nya, dan berhak baginya hal itu, karena sesungguhnya ia ditundukkan dan diatur di bawah penguasa raja yang besar, yang tidak durhaka perintah-Nya, dan tidak menyelisihi hukum-Nya.

“Dan apabila bumi diratakan” yakni: berguncang dan bergoyang, dan dihancurkan gunung-gunungnya, dan dirobohkan apa yang ada di atasnya dari bangunan dan tanda, lalu diratakan, dan Allah Ta’ala meratakan bumi seperti meratakan kulit, hingga menjadi sangat luas, menampung ahli mahsyar dengan kekesannya, lalu menjadi dataran yang rata, tidak terlihat padanya lekukan dan tidak pula bukit.

“Dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya” dari orang-orang mati dan harta terpendam.

“Dan menjadi kosong” dari mereka, karena sesungguhnya ditiup sangkakala, maka keluarlah orang-orang mati dari kubur ke permukaan bumi, dan bumi mengeluarkan harta terpendam, hingga menjadi seperti tiang besar, yang disaksikan makhluk, dan mereka menyesal atas apa yang mereka berlomba di dalamnya. “Dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya (patuh). Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya” yakni: sesungguhnya kamu berusaha kepada Allah, dan beramal dengan perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya, dan mendekat kepada-Nya baik dengan kebaikan ataupun dengan kejahatan, kemudian kamu menemui Allah di hari kiamat, maka tidak akan kosong darimu balasan dengan karunia jika kamu beruntung, atau dengan keadilan jika kamu celaka.

Oleh karena itu Dia menyebutkan rincian balasan, maka Dia berfirman: “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya” dan mereka adalah ahli kebahagiaan.

“Maka dia akan dihisab dengan hisab yang mudah” dan itu adalah pemeriksaan yang mudah kepada Allah, maka Allah mengingatkannya dengan dosa-dosanya, hingga ketika hamba menyangka bahwa dia telah binasa, Allah berfirman kepadanya: “Sesungguhnya Aku telah menutupinya atasmu di dunia, maka Aku menutupinya bagimu hari ini.”

“Dan dia akan kembali kepada kaumnya” di surga “dengan gembira” karena dia selamat dari azab dan beruntung dengan pahala. “Dan adapan orang yang diberikan kitabnya dari belakang punggungnya” yakni: dengan tangan kirinya dari belakangnya.

“Maka dia akan berteriak: ‘Celaka aku!'” karena kehinaan dan aib, dan apa yang ia dapati dalam kitabnya dari amal-amal yang telah ia kerjakan dan tidak bertaubat darinya. “Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala” yakni: api yang menyala mengelilinginya dari setiap sisi, dan dia dibolak-balik di atas azabnya. Dan hal itu karena sesungguhnya dia di dunia “dalam keadaan gembira” tidak terlintas kebangkitan di pikirannya, padahal dia telah berbuat jahat, dan tidak menyangka bahwa dia kembali kepada Tuhannya dan dihentikan di hadapan-Nya.

“Bukan demikian! Sesungguhnya Tuhannya Maha Melihat keadaannya” maka tidak baik jika meninggalkannya begitu saja, tidak diperintah dan tidak dilarang, dan tidak diberi pahala dan tidak disiksa.

Ayat 16-25 Surah Al-Insyiqaq:

Maka sungguh, Aku bersumpah dengan senja, dan malam serta apa yang diselubunginya, dan bulan apabila jadi purnama. Sungguh, kamu pasti akan mengalami tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). Maka mengapa mereka tidak beriman? Dan apabila Al-Quran dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud, bahkan orang-orang kafir itu mendustakan (Al-Quran). Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati). Maka gembirakanlah mereka dengan azab yang pedih, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka memperoleh pahala yang tidak putus-putusnya.

Allah bersumpah di tempat ini dengan tanda-tanda malam, maka Dia bersumpah dengan senja yang merupakan sisa cahaya matahari, yang merupakan permulaan malam.

Dan malam serta apa yang diselubunginya yakni: apa yang dikandungnya dari hewan-hewan dan lainnya, dan bulan apabila jadi purnama yakni: penuh dengan cahaya saat purnama, dan itulah yang paling indah dan paling banyak manfaatnya, sedangkan yang disumpahi adalah firman-Nya: Sungguh, kamu pasti akan mengalami [yakni:] wahai manusia tingkat demi tingkat yakni: tahapan-tahapan yang beragam dan keadaan-keadaan yang berbeda, dari nutfah hingga segumpal darah, hingga segumpal daging, hingga ditiupkan ruh, kemudian menjadi bayi dan anak-anak kemudian mumayyiz, kemudian berlaku atasnya pena taklif, perintah dan larangan, kemudian dia mati setelah itu, kemudian dibangkitkan dan dibalas dengan amal-amalnya, maka tingkatan-tingkatan berbeda yang berlaku atas hamba ini, menunjukkan bahwa Allah sendirilah yang wajib disembah, Yang Maha Esa, Yang mengatur hamba-hamba-Nya dengan hikmah dan rahmat-Nya, dan bahwa hamba itu fakir lagi lemah, berada di bawah pengaturan Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, namun dengan semua ini, banyak manusia tidak beriman.

Dan apabila Al-Quran dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud yakni: tidak tunduk kepada Al-Quran, dan tidak tunduk kepada perintah-perintah dan larangan-larangannya, bahkan orang-orang kafir itu mendustakan yakni: mereka menentang kebenaran setelah jelas, maka tidak heran jika mereka tidak beriman dan tidak tunduk kepada Al-Quran, karena orang yang mendustakan kebenaran karena keras kepala, tidak ada jalan untuk menolongnya, dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan yakni: apa yang mereka kerjakan dan niatkan secara tersembunyi, maka Allah mengetahui rahasia dan terang-terangan mereka, dan akan membalas mereka dengan amal-amal mereka, karena itulah Dia berfirman maka gembirakanlah mereka dengan azab yang pedih dan dinamai kabar gembira karena ia mempengaruhi kulit baik dengan kegembiraan maupun kesedihan.

Inilah keadaan kebanyakan manusia, mendustakan Al-Quran, dan tidak beriman [kepadanya].

Dan di antara manusia ada golongan yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka mereka beriman kepada Allah, dan menerima apa yang dibawa oleh para rasul kepada mereka, maka mereka beriman dan beramal saleh.

Maka mereka inilah yang mendapat pahala yang tidak terputus yakni: tidak terputus bahkan pahala yang kekal dari apa yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia.

Selesai tafsir surah ini dan segala puji bagi Allah.

 

 

Tafsir Surah Al-Buruj

Dan surah ini Makiyyah

Ayat 1-22:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan hari yang dijanjikan, dan yang menyaksikan dan yang disaksikan, binasalah orang-orang yang membuat parit, (yaitu) api yang mempunyai bahan bakar, ketika mereka duduk di sekelilingnya, dan mereka menyaksikan apa yang mereka lakukan terhadap orang-orang mukmin. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang memiliki kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang memfitnah orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertobat, maka mereka akan mendapat azab Jahannam dan mereka akan mendapat azab (neraka) yang membakar. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapat surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Itulah kemenangan yang agung. Sesungguhnya siksaan Tuhanmu sangat keras. Sesungguhnya Dialah yang menciptakan dan menghidupkan kembali. Dan Dia Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, Yang mempunyai ‘Arsy lagi Maha Mulia, Yang berbuat apa yang Dia kehendaki. Sudahkah sampai kepadamu berita tentang bala tentara, (yaitu) Fir’aun dan Tsamud? Sebaliknya, orang-orang kafir (tetap) dalam mendustakan, padahal Allah mengepung mereka dari belakang. Bahkan Al-Quran itu adalah bacaan yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.

Demi langit yang mempunyai gugusan bintang yakni: [yang memiliki] tempat-tempat yang mengandung tempat-tempat matahari dan bulan, dan bintang-bintang yang teratur dalam perjalanannya, dengan susunan dan sistem yang paling sempurna yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah Ta’ala dan rahmat-Nya, serta luasnya ilmu dan hikmah-Nya.

Dan hari yang dijanjikan yaitu hari Kiamat, yang Allah janjikan kepada makhluk bahwa Dia akan mengumpulkan mereka di dalamnya, dan menghimpun yang awal dan akhir mereka, yang jauh dan dekat mereka, yang tidak mungkin berubah, dan Allah tidak akan menyalahi janji.

Dan yang menyaksikan dan yang disaksikan dan ini mencakup semua yang memiliki sifat ini yakni: yang melihat dan yang dilihat, yang hadir dan yang dihadirkan, yang melihat dan yang terlihat.

Dan yang disumpahi adalah apa yang terkandung dalam sumpah ini dari ayat-ayat Allah yang nyata, dan hukum-hukum-Nya yang tampak, serta rahmat-Nya yang luas.

Dan ada yang berpendapat: bahwa yang disumpahi adalah firman-Nya binasalah orang-orang yang membuat parit dan ini adalah doa agar mereka binasa.

Dan parit adalah lubang-lubang yang digali di bumi.

Dan orang-orang yang membuat parit ini adalah kaum kafir, dan di antara mereka ada kaum mukmin, maka mereka membujuk mereka untuk masuk ke dalam agama mereka, namun orang-orang mukmin menolak hal itu, maka orang-orang kafir menggali parit [di bumi], dan melemparkan api ke dalamnya, dan duduk di sekelilingnya, dan mereka memfitnah orang-orang mukmin, dan memaparkan mereka kepadanya, maka siapa yang memenuhi permintaan mereka, mereka bebaskan, dan siapa yang tetap beriman mereka lemparkan ke dalam api, dan ini adalah puncak permusuhan terhadap Allah dan golongan mukmin yang beriman kepada-Nya, karena itulah Allah melaknat dan membinasakan mereka serta mengancam mereka, maka Dia berfirman: binasalah orang-orang yang membuat parit kemudian Dia menafsirkan parit dengan firman-Nya: api yang mempunyai bahan bakar ketika mereka duduk di sekelilingnya dan mereka menyaksikan apa yang mereka lakukan terhadap orang-orang mukmin dan ini termasuk yang paling besar dalam hal kesombongan dan kekerasan hati, karena mereka menggabungkan antara kekafiran terhadap ayat-ayat Allah dan menentangnya, serta memerangi ahlinya dan menyiksa mereka dengan siksaan ini, yang membuat hati terbelah, dan kehadiran mereka saat melemparkan mereka ke dalamnya, padahal mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin kecuali karena sifat yang mereka dipuji karenanya, dan dengan sifat itulah kebahagiaan mereka, yaitu bahwa mereka beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji yakni: Yang memiliki keperkasaan yang dengan itu Dia mengalahkan segala sesuatu, dan Dia terpuji dalam perkataan, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya. Yang memiliki kerajaan langit dan bumi sebagai ciptaan dan hamba-hamba, Dia menguasai mereka dengan penguasaan pemilik terhadap miliknya, dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu dengan ilmu, pendengaran dan penglihatan, tidakkah para pemberontak ini takut kepada Allah, bahwa Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa akan menghukum mereka, atau tidakkah mereka tahu bahwa mereka semua adalah milik Allah, tidak ada seorang pun yang memiliki kekuasaan atas orang lain, tanpa izin Sang Pemilik? Atau tersembunyi dari mereka bahwa Allah meliputi amal-amal mereka, membalas mereka atas perbuatan-perbuatan mereka? Sama sekali tidak, sesungguhnya orang kafir berada dalam kebodohan, dan orang zalim berada dalam kejahilan dan kebutaan terhadap jalan yang lurus.

Kemudian Dia menjanjikan dan mengancam mereka, dan menawarkan taubat kepada mereka, maka Dia berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang memfitnah orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertobat, maka mereka akan mendapat azab Jahannam dan mereka akan mendapat azab (neraka) yang membakar yakni: azab yang keras yang membakar.

Al-Hasan rahimahullah berkata: Lihatlah kemurahan dan kebaikan ini, mereka membunuh kekasih-kekasih-Nya dan ahli ketaatan kepada-Nya, dan Dia mengajak mereka untuk bertaubat.

Dan ketika Dia menyebutkan hukuman orang-orang zalim, Dia menyebutkan pahala orang-orang mukmin, maka Dia berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan hati mereka dan mengerjakan kebajikan dengan anggota tubuh mereka mereka akan mendapat surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Itulah kemenangan yang agung yang dengannya diperoleh kemenangan dengan ridha Allah dan negeri kemuliaan-Nya.

Sesungguhnya siksaan Tuhanmu sangat keras yakni: sesungguhnya hukuman-Nya bagi pelaku kejahatan dan dosa-dosa besar [sangat kuat] keras, dan Dia selalu mengawasi orang-orang zalim sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: Dan demikianlah siksaan Tuhanmu apabila Dia menyiksa negeri-negeri yang zalim. Sesungguhnya siksaan-Nya itu sangat pedih lagi keras.

Sesungguhnya Dialah yang menciptakan dan menghidupkan kembali yakni: Dialah yang menyendiri dalam menciptakan makhluk dan menghidupkannya kembali, maka tidak ada yang menyekutui-Nya dalam hal itu, dan Dia Maha Pengampun Yang mengampuni semua dosa bagi siapa yang bertaubat, dan memaafkan keburukan-keburukan bagi siapa yang meminta ampunan kepada-Nya dan kembali kepada-Nya.

Maha Pengasih Yang dicintai oleh kekasih-kekasih-Nya dengan cinta yang tidak ada yang menyerupainya, sebagaimana Dia tidak diserupai oleh apapun dalam sifat-sifat keagungan dan keindahan, dan makna serta perbuatan-perbuatan, maka cinta kepada-Nya di hati makhluk-makhluk pilihan-Nya, yang mengikuti hal itu, tidak diserupai oleh apapun dari jenis-jenis yang dicintai, karena itulah cinta kepada-Nya adalah dasar penghambaan, dan itulah cinta yang mendahului semua yang dicintai dan mengalahkannya, dan jika yang lain tidak mengikutinya, maka itu akan menjadi siksaan bagi pemiliknya, dan Dia Ta’ala adalah Maha Pengasih, Yang mengasihi kekasih-kekasih-Nya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: Dia mengasihi mereka dan mereka mengasihi-Nya dan kasih sayang adalah cinta yang murni, dan dalam ini ada rahasia yang halus, di mana Dia menggabungkan Maha Pengasih dengan Maha Pengampun, untuk menunjukkan bahwa pelaku dosa jika mereka bertaubat kepada Allah dan kembali kepada-Nya, Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka dan mencintai mereka, maka tidak dikatakan: bahkan dosa-dosa mereka diampuni, dan kasih sayang tidak kembali kepada mereka, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian orang yang keliru.

Bahkan Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya ketika dia bertaubat, daripada seorang laki-laki yang memiliki unta, yang membawa makanan dan minumannya serta apa yang memperbaikinya, lalu dia kehilangan unta itu di tanah tandus yang membinasakan, maka dia putus asa darinya, lalu berbaring di bawah naungan pohon menunggu kematian, maka sementara dia dalam keadaan itu, tiba-tiba untanya ada di kepalanya, maka dia mengambil tali kekangnya, maka Allah lebih gembira dengan taubat hamba daripada orang ini dengan untanya, dan ini adalah kegembiraan terbesar yang dapat dibayangkan. Maka segala puji dan pujian bagi Allah, dan murni kasih sayang, betapa besar kebaikan-Nya, dan banyak kebaikan-Nya, dan berlimpah kebaikan-Nya, dan luas pemberian-Nya.

Yang mempunyai ‘Arsy lagi Maha Mulia yakni: pemilik ‘Arsy yang agung, yang karena keagungannya, dia meliputi langit dan bumi dan Kursi, maka semuanya dibandingkan dengan ‘Arsy seperti cincin yang dilempar di padang luas, dibandingkan dengan seluruh bumi, dan Allah mengkhususkan ‘Arsy dengan penyebutan, karena keagungannya, dan karena dia adalah makhluk yang paling khusus dekat dengan-Nya Ta’ala, dan ini menurut qiraat jar, maka Maha Mulia menjadi sifat ‘Arsy, adapun menurut qiraat rafa’, maka Maha Mulia adalah sifat Allah, dan kemuliaan adalah luasnya sifat-sifat dan keagungannya.

Yang berbuat apa yang Dia kehendaki yakni: apa pun yang Dia kehendaki, Dia lakukan, jika Dia menghendaki sesuatu Dia berfirman kepadanya kun maka jadilah, dan tidak ada seorang pun yang berbuat apa yang dia kehendaki kecuali Allah.

Karena makhluk-makhluk, walaupun menghendaki sesuatu, maka pasti untuk keinginan mereka butuh penolong dan penghalang, dan Allah tidak butuh penolong untuk kehendak-Nya, dan tidak ada penghalang bagi-Nya dari apa yang Dia kehendaki.

Kemudian Dia menyebutkan dari perbuatan-perbuatan-Nya yang menunjukkan kebenaran apa yang dibawa oleh rasul-rasul-Nya, maka Dia berfirman: Sudahkah sampai kepadamu berita tentang bala tentara Fir’aun dan Tsamud dan bagaimana mereka mendustakan para rasul, maka Allah menjadikan mereka termasuk yang dibinasakan.

Sebaliknya, orang-orang kafir (tetap) dalam mendustakan yakni: mereka tetap terus-menerus mendustakan dan membangkang, ayat-ayat tidak bermanfaat bagi mereka, dan nasihat tidak berguna bagi mereka.

Padahal Allah mengepung mereka dari belakang yakni: telah meliputi mereka dengan ilmu dan kekuasaan, seperti firman-Nya: Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi maka di dalamnya ada ancaman keras bagi orang-orang kafir, dari hukuman bagi mereka yang berada dalam genggaman-Nya, dan di bawah pengaturan-Nya.

Bahkan Al-Quran itu adalah bacaan yang mulia yakni: luas makna-maknanya dan agung, banyak kebaikan dan ilmu.

Yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh dari perubahan dan penambahan serta pengurangan, dan terpelihara dari setan-setan, yaitu: Lauh Mahfuzh yang telah Allah tetapkan di dalamnya segala sesuatu.

Dan ini menunjukkan keagungan Al-Quran dan kefasihan serta tingginya derajat di sisi Allah Ta’ala, dan Allah lebih mengetahui.

Selesai tafsir surah ini.

 

 

Tafsir Surat At-Thariq

Surat ini Makkiyah (turun di Makkah) {ayat 1-17}

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Demi langit dan yang datang di malam hari, tahukah kamu apakah yang datang di malam hari itu? (Yaitu) bintang yang cahayanya menembus. Tidak ada seorang pun kecuali ada penjaganya. Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada. Sungguh Allah benar-benar berkuasa untuk mengembalikannya (hidup kembali), pada hari ketika semua rahasia disingkap. Maka tidak ada baginya kekuatan dan tidak ada penolong. Demi langit yang mengandung hujan, dan bumi yang terbelah (untuk menumbuhkan tanaman), sungguh Al-Quran itu adalah firman yang memisahkan (antara yang hak dan yang batil), dan bukanlah sesuatu yang main-main. Sungguh mereka sedang membuat rencana jahat, dan Aku pun membuat rencana (pula). Maka berilah tempoh kepada orang-orang kafir, berilah mereka tempoh sebentar saja.

Allah Ta’ala berfirman: Demi langit dan At-Thariq

Kemudian Dia menafsirkan At-Thariq dengan firman-Nya: Bintang yang cahayanya menembus

Yaitu: yang bercahaya, yang cahayanya menembus dan menembus langit-langit hingga tembus dan terlihat di bumi. Yang benar adalah bahwa ini adalah nama jenis yang mencakup seluruh bintang-bintang yang menembus.

Ada yang mengatakan: bahwa itu adalah planet “Saturnus” yang menembus ketujuh langit dan menembusnya sehingga terlihat darinya. Dan disebut Thariq karena ia muncul di malam hari.

Yang dijadikan sumpah adalah firman-Nya: Tidak ada seorang pun kecuali ada penjaganya yang menjaga amal perbuatannya yang saleh dan yang buruk, dan dia akan dibalas dengan amalnya yang terpelihara atasnya.

Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Yaitu: hendaklah dia merenungkan penciptaannya dan asalnya, karena sesungguhnya dia diciptakan dari air yang terpancar yaitu: air mani yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada. Ada kemungkinan maksudnya adalah antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan, yaitu kedua susunya.

Dan ada kemungkinan yang dimaksud adalah air mani yang terpancar, yaitu air mani laki-laki, dan bahwa tempatnya yang keluar darinya adalah antara tulang sulbi dan tulang dadanya. Dan mungkin ini lebih tepat, karena Allah hanya menyifati dengan hal itu air yang terpancar, dan yang dirasakan dan disaksikan pancurannya adalah air mani laki-laki. Demikian pula lafal “taraaib” (tulang dada), karena ia digunakan untuk laki-laki, maka taraaib untuk laki-laki seperti kedua susu untuk perempuan. Seandainya yang dimaksud perempuan, niscaya akan dikatakan: “dari antara tulang sulbi dan kedua susu” dan semacamnya. Wallahu a’lam.

Maka Dia yang menciptakan manusia dari air yang terpancar, yang keluar dari tempat yang sulit ini, berkuasa untuk mengembalikannya di akhirat, dan mengulanginya untuk dibangkitkan, dikembalikan hidup, dan dibalas. Ada yang mengatakan: bahwa maknanya adalah bahwa Allah berkuasa untuk mengembalikan air yang terpancar itu ke dalam tulang sulbi. Ini – meskipun maknanya benar – bukanlah yang dimaksud dari ayat itu. Karena itu Dia berfirman setelahnya: Pada hari ketika semua rahasia disingkap yaitu: rahasia-rahasia dada diuji, dan apa yang ada di dalam hati dari kebaikan dan keburukan tampak di wajah-wajah. Allah Ta’ala berfirman: Pada hari (ketika) wajah-wajah ada yang putih berseri dan ada (pula) yang hitam muram. Di dunia banyak perkara yang tersembunyi dan tidak tampak nyata kepada manusia, adapun di hari kiamat maka kebaikan orang-orang baik dan kefasikan orang-orang fasik akan tampak, dan segala perkara menjadi terang-terangan.

Maka tidak ada baginya kekuatan untuk menolak dari dirinya dan tidak ada penolong dari luar yang dapat menolongnya. Ini adalah sumpah tentang keadaan para pelaku ketika beramal dan ketika dibalas.

Kemudian Dia bersumpah dengan sumpah kedua tentang kebenaran Al-Quran, Dia berfirman: Demi langit yang mengandung hujan dan bumi yang terbelah yaitu: langit mengembalikan hujan setiap tahun, dan bumi terbelah untuk tumbuh-tumbuhan, maka dengan itu hiduplah manusia dan hewan. Langit juga mengembalikan takdir dan urusan-urusan ilahi setiap saat, dan bumi terbelah karena orang-orang mati. Sungguh yaitu: Al-Quran adalah firman yang memisahkan yaitu: benar dan jujur yang jelas nyata.

Dan bukanlah sesuatu yang main-main yaitu: serius bukan main-main, dan itulah perkataan yang memisahkan antara golongan-golongan dan pendapat-pendapat, dan dengannya perselisihan terselesaikan.

Sungguh mereka yaitu: orang-orang yang mendustakan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dan Al-Quran sedang membuat rencana jahat untuk menolak kebenaran dengan tipu daya mereka, dan menegakkan yang batil.

Dan Aku pun membuat rencana (pula) untuk menampakkan kebenaran, meskipun orang-orang kafir benci, dan untuk menolak kebatilan yang mereka bawa. Dari ini diketahui siapa yang menang, karena manusia terlalu lemah dan hina untuk melawan Yang Maha Kuat lagi Maha Mengetahui dalam tipu daya-Nya.

Maka berilah tempoh kepada orang-orang kafir, berilah mereka tempoh sebentar saja yaitu: sedikit, maka mereka akan mengetahui akibat urusan mereka, ketika azab menimpa mereka.

Selesailah tafsir surat At-Thariq, dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

 

 

Tafsir Surat Al-A’la

Surat ini Makkiyah {ayat 1-19}

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi, Yang menciptakan, lalu menyempurnakan (ciptaan-Nya), dan Yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk, dan Yang menumbuhkan rumput-rumputan, lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman. Kami akan membacakan (Al-Quran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa, kecuali kalau Allah menghendaki. Sungguh Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi. Dan Kami akan memberikan kemudahan kepadamu untuk (mencapai jalan) yang mudah. Maka berilah peringatan, jika peringatan itu bermanfaat. Orang yang takwa pasti akan mendapat peringatan, dan orang yang paling celaka akan menjauhinya, (yaitu) orang yang akan masuk ke dalam api yang besar (neraka). Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup. Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan diri (dengan beriman), dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia shalat.

Allah Ta’ala memerintahkan untuk bertasbih kepada-Nya yang mengandung zikir dan ibadah kepada-Nya, tunduk kepada keagungan-Nya, dan tawadhu kepada kebesaran-Nya, dan hendaklah tasbih itu layak bagi keagungan Allah Ta’ala, dengan menyebut nama-nama-Nya yang husna yang tinggi di atas setiap nama dengan makna yang indah dan agung, dan menyebut perbuatan-perbuatan-Nya yang di antaranya adalah Dia menciptakan makhluk-makhluk lalu menyempurnakannya, yaitu: membuatnya kokoh dan bagus penciptaannya, Dan Yang menentukan kadar suatu takdir, yang diikuti oleh semua yang ditakdirkan lalu memberi petunjuk kepada hal itu semua makhluk.

Dan ini adalah hidayah umum, yang isinya adalah bahwa Dia memberi petunjuk kepada setiap makhluk untuk kemaslahatan-nya. Dan disebutkan di dalamnya ni’mat-ni’mat duniawi, karena itu Dia berfirman: Dan Yang menumbuhkan rumput-rumputan yaitu: menurunkan air dari langit lalu menumbuhkan dengannya berbagai jenis tumbuhan dan rumput yang banyak, maka manusia, hewan ternak, dan setiap hewan merumput di dalamnya. Kemudian setelah sempurna apa yang ditakdirkan baginya dari masa muda, tumbuh-tumbuhannya layu dan rumputnya kering, lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman yaitu: hitam, yaitu dijadikan-Nya seperti jerami yang hancur. Dan disebutkan di dalamnya ni’mat-ni’mat agama, karena itu Allah menyebutkan karunia dengan asal dan sumbernya, yaitu Al-Quran, maka Dia berfirman: Kami akan membacakan (Al-Quran) kepadamu maka kamu tidak akan lupa yaitu: Kami akan memelihara apa yang Kami wahyukan kepadamu dari Al-Kitab, dan Kami masukkan ke dalam hatimu, maka kamu tidak akan lupa darinya sedikitpun. Dan ini adalah kabar gembira yang besar dari Allah untuk hamba dan rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa Allah akan mengajarkannya ilmu yang tidak akan dia lupakan.

Kecuali kalau Allah menghendaki dari apa yang dikehendaki hikmah-Nya untuk kamu lupakan untuk kemaslahatan yang besar, Sungguh Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi dan di antara itu adalah Dia mengetahui apa yang memperbaiki hamba-hamba-Nya. Karena itu Dia mensyariatkan apa yang Dia kehendaki, dan memutuskan dengan apa yang Dia kehendaki. Dan Kami akan memberikan kemudahan kepadamu untuk (mencapai jalan) yang mudah dan ini juga kabar gembira yang besar, bahwa Allah memudahkan rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kemudahan dalam semua urusannya, dan menjadikan syariat dan agamanya mudah.

Maka berilah peringatan dengan syariat Allah dan ayat-ayat-Nya jika peringatan itu bermanfaat yaitu: selama peringatan itu diterima, dan nasihat itu didengar, baik terwujud dari peringatan itu semua yang dimaksud atau sebagiannya.

Mafhum (pengertian) ayat adalah bahwa jika peringatan itu tidak bermanfaat, dengan peringatan itu menambah keburukan, atau mengurangi kebaikan, maka peringatan itu tidak diperintahkan, bahkan dilarang. Maka dalam peringatan, manusia terbagi menjadi dua bagian: yang mengambil manfaat dan yang tidak mengambil manfaat.

Adapun yang mengambil manfaat, maka Allah menyebutkan mereka dengan firman-Nya: Orang yang takwa pasti akan mendapat peringatan kepada Allah Ta’ala, karena takwa kepada Allah Ta’ala, dan mengetahui bahwa dia akan dibalas atas amal-amalnya, mewajibkan bagi hamba untuk menahan diri dari maksiat dan berusaha dalam kebaikan-kebaikan.

Adapun yang tidak mengambil manfaat, maka Allah menyebutkan mereka dengan firman-Nya: Dan orang yang paling celaka akan menjauhinya, (yaitu) orang yang akan masuk ke dalam api yang besar (neraka) yaitu api yang menyala, yang naik ke atas hati.

Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup yaitu: disiksa dengan siksaan yang pedih, tanpa ketenangan dan istirahat, hingga mereka mengharapkan kematian tapi tidak mendapatkannya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya.

Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan diri (dengan beriman) yaitu: sungguh menang dan beruntung orang yang menyucikan jiwanya dan membersihkannya dari syirik, kezaliman, dan akhlak yang buruk, dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia shalat yaitu: bersifat dengan zikir kepada Allah, dan hatinya diwarnai dengannya, maka hal itu mewajibkan baginya beramal dengan apa yang diridhai Allah, khususnya shalat, yang merupakan timbangan iman. Maka ini adalah makna ayat yang mulia. Adapun yang menafsirkan firman-Nya menyucikan diri dengan makna mengeluarkan zakat fitrah, dan mengingat nama Tuhannya lalu shalat, bahwa itu adalah shalat Idul Fitri, maka meskipun hal itu termasuk dalam lafal dan sebagian bagiannya, tetapi bukanlah itu maknanya sendirian.

Tetapi kamu lebih menyukai kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal. Sungguh ini terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) kitab-kitab Ibrahim dan Musa.

Tetapi kamu lebih menyukai kehidupan dunia yaitu: kalian mendahulukannya atas akhirat, dan memilih keni’matannya yang tercampur keruh dan fana daripada akhirat.

Padahal kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal dan akhirat itu lebih baik dari dunia dalam setiap sifat yang dikehendaki, dan lebih kekal karena ia adalah negeri kekal, baqa, dan jernih, sedangkan dunia adalah negeri fana. Maka mukmin yang berakal tidak memilih yang lebih buruk daripada yang lebih baik, dan tidak menjual kenikmatan sesaat dengan kesedihan selamanya. Maka cinta dunia dan melebihkannya atas akhirat adalah pangkal setiap dosa.

Sungguh ini yang disebutkan kepada kalian dalam surat yang diberkahi ini, berupa perintah-perintah yang baik, dan berita-berita yang baik terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) kitab-kitab Ibrahim dan Musa yang keduanya adalah yang paling mulia di antara para rasul, selain Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Maka ini adalah perintah-perintah dalam setiap syariat, karena berkaitan dengan kemaslahatan kedua negeri, dan ini adalah kemaslahatan di setiap zaman dan tempat.

Selesailah tafsir surat Al-A’la, dan segala puji bagi Allah.

 

 

Tafsir Surat Al-Ghasyiah

Surat ini Makkiyah

Surat Al-Ghasyiyah ayat 1-16:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Apakah telah sampai kepadamu berita tentang hari pembalasan? Wajah-wajah pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan, mereka memasuki api yang menyala-nyala, diberi minum dari mata air yang mendidih. Tidak ada makanan bagi mereka selain dari pohon berduri yang beracun, yang tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar. Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri, merasa senang terhadap usahanya, berada dalam surga yang tinggi, tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia. Di dalamnya ada mata air yang mengalir, di dalamnya ada dipan-dipan yang ditinggikan, dan piala-piala yang tersedia, dan bantal-bantal yang tersusun, dan permadani-permadani yang terhampar.

Allah Ta’ala menyebutkan keadaan-keadaan hari kiamat dan bencana-bencana dahsyat yang ada padanya, dan bahwa hari itu akan menimpa makhluk dengan kesulitan-kesulitannya, lalu mereka dibalas sesuai dengan amal-amal mereka, dan mereka dibagi menjadi dua golongan: satu golongan di surga, dan satu golongan di neraka yang menyala-nyala.

Maka Allah memberitahukan tentang sifat kedua golongan tersebut, dan Dia berfirman dalam menggambarkan penghuni neraka: “Wajah-wajah pada hari itu” yaitu pada hari kiamat “tunduk terhina” karena kehinaan, kemaluan dan kerugian.

“Bekerja keras lagi kepayahan” yaitu mereka lelah dalam siksaan, diseret di atas wajah mereka, dan api menutupi wajah-wajah mereka.

Dan mungkin yang dimaksud dengan firman-Nya: “Wajah-wajah pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan” adalah di dunia karena mereka di dunia adalah ahli ibadah dan amal, tetapi karena tidak ada syaratnya yaitu iman, maka pada hari kiamat menjadi debu yang berterbangan. Dan kemungkinan ini meskipun benar dari segi makna, namun tidak ditunjukkan oleh konteks pembicaraan, bahkan yang benar dan pasti adalah kemungkinan yang pertama, karena dibatasi dengan keterangan waktu yaitu hari kiamat, dan karena yang dimaksud di sini adalah menjelaskan sifat penghuni neraka secara umum, sedangkan kemungkinan itu hanya bagian kecil dari penghuni nereka dibandingkan dengan penghuninya; dan karena pembicaraan dalam menjelaskan keadaan manusia ketika ditimpa al-ghasyiyah, maka tidak ada pembahasan tentang keadaan mereka di dunia.

Dan firman-Nya: “Mereka memasuki api yang menyala-nyala” yaitu api yang sangat panas, mengelilingi mereka dari segala tempat, “diberi minum dari mata air yang mendidih” yaitu panas yang sangat panasnya “Dan jika mereka meminta pertolongan, mereka diberi pertolongan dengan air seperti besi yang mendidih yang membakar muka” maka itulah minuman mereka.

Adapun makanan mereka maka “tidak ada makanan bagi mereka selain dari pohon berduri yang beracun yang tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar” dan itu karena tujuan dari makanan adalah salah satu dari dua hal: baik untuk mengatasi lapar pemiliknya dan menghilangkan sakitnya, atau untuk menggemukkan badannya dari kekurusan, dan makanan ini tidak memiliki salah satu dari kedua hal ini, bahkan adalah makanan yang sangat pahit, busuk dan hina, kami memohon keselamatan kepada Allah.

Adapun ahli kebaikan, maka wajah mereka pada hari kiamat “berseri-seri” yaitu telah dialiri oleh kesegaran kenikmatan, sehingga badan mereka menjadi segar, wajah mereka bercahaya, dan mereka gembira dengan kegembiraan yang luar biasa.

“Merasa senang terhadap usahanya” yang telah mereka lakukan di dunia berupa amal-amal saleh, dan berbuat baik kepada hamba-hamba Allah, “merasa senang” ketika mendapati pahalanya tersimpan dan dilipatgandakan, sehingga mereka memuji akibatnya, dan mereka memperoleh segala yang mereka inginkan, dan itu karena mereka “berada dalam surga” yang mengumpulkan semua jenis kenikmatan, “yang tinggi” dalam tempatnya dan tempat tinggalnya, maka tempatnya di ‘illiyyun yang paling tinggi, dan tempat tinggalnya adalah rumah-rumah yang tinggi, memiliki kamar-kamar dan di atas kamar-kamar itu ada kamar-kamar yang dibangun, mereka melihat dari sana apa yang telah Allah siapkan untuk mereka berupa kemuliaan.

“Buahnya mudah dipetik” yaitu banyak buah-buahan lezat, berbuah dengan buah-buahan yang baik, mudah diambil, sehingga mereka dapat meraihnya dalam keadaan bagaimanapun mereka berada, tidak perlu naik pohon, atau susah untuk mereka petik buahnya.

“Tidak mendengar di dalamnya” yaitu di surga “perkataan yang sia-sia” yaitu kata-kata yang sia-sia dan batil, apalagi pembicaraan yang haram, bahkan pembicaraan mereka adalah pembicaraan yang baik dan bermanfaat yang mengandung zikir kepada Allah Ta’ala, dan zikir nikmat-nikmat-Nya yang terus menerus kepada mereka, dan adab-adab yang baik di antara yang bergaul, yang menyenangkan hati dan melapangkan dada.

“Di dalamnya ada mata air yang mengalir” dan ini adalah nama jenis yaitu di dalamnya ada mata air-mata air yang mengalir yang dapat mereka alirkan dan arahkan sesuka mereka dan ke mana mereka kehendaki.

“Di dalamnya ada dipan-dipan yang ditinggikan” dan “as-surur” adalah jamak dari “sarір” yaitu tempat-tempat duduk yang tinggi pada dirinya, dan dengan apa yang ada di atasnya berupa permadani yang lembut dan empuk.

“Dan piala-piala yang tersedia” yaitu wadah-wadah yang penuh dengan berbagai jenis minuman lezat, telah diletakkan di hadapan mereka, dan disiapkan untuk mereka, dan berada di bawah permintaan dan pilihan mereka, anak-anak muda yang kekal mengitari mereka dengan piala-piala itu.

“Dan bantal-bantal yang tersusun” yaitu bantal-bantal dari sutera dan sutera tebal dan lainnya yang tidak diketahui kecuali oleh Allah, telah disusun untuk duduk dan bersandar di atasnya, dan mereka dibebaskan dari meletakkan dan menyusunnya sendiri.

“Dan permadani-permadani yang terhampar” dan az-zarabiyy adalah karpet-karpet yang indah, terhampar yaitu tempat-tempat duduk mereka dipenuhi dengan itu dari setiap sisi.

Surat Al-Ghasyiyah ayat 17-26:

Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka, tetapi barang siapa yang berpaling dan kafir, maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar. Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.

Allah Ta’ala berfirman untuk mendorong orang-orang yang tidak membenarkan Rasul صلى الله عليه وسلم, dan orang lain dari manusia, agar mereka merenungkan makhluk-makhluk Allah yang menunjukkan keesaan-Nya: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan?” yaitu tidakkah mereka memperhatikan penciptaannya yang menakjubkan, dan bagaimana Allah menundukkannya untuk hamba-hamba, dan menjinakkannya untuk manfaat-manfaat mereka yang banyak yang mereka butuhkan.

“Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan” dengan bentuk yang menakjubkan, terjadilah dengan itu kestabilan bumi dan kekokohannya dari goncangan, dan Allah menaruh di dalamnya manfaat-manfaat besar apa yang Dia taruh.

“Dan bumi bagaimana ia dihamparkan” yaitu direntangkan dengan rentangan yang luas, dan diratakan dengan perataan yang sempurna, agar makhluk dapat menetap di atasnya, dan mereka dapat bercocok tanam dan menanam, dan membangun di dalamnya, dan menempuh jalan-jalan yang menghubungkan kepada berbagai tujuan di dalamnya.

Dan ketahuilah bahwa menghamparkannya tidak bertentangan dengan bahwa ia adalah bola yang bulat, telah dikelilingi oleh falak-falak dari semua sisinya, sebagaimana ditunjukkan oleh dalil naql, akal, indera dan pengamatan, sebagaimana yang diketahui oleh kebanyakan orang, khususnya di zaman ini, yang mana manusia telah mengetahui kebanyakan penjurunya dengan apa yang Allah berikan kepada mereka berupa sebab-sebab yang mendekatkan yang jauh, maka sesungguhnya penghamparannya hanya bertentangan dengan kebulatan benda yang sangat kecil, yang jika dihamparkan tidak akan tersisa baginya kebulatan yang berarti.

Adapun benda bumi yang sangat besar dan luas, maka ia dapat berbentuk bulat dan terhampar, dan kedua hal itu tidak bertentangan, sebagaimana diketahui oleh ahli-ahli pengalaman.

“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan” yaitu ingatkan manusia dan nasihati mereka, dan beri peringatan dan berilah kabar gembira kepada mereka, karena sesungguhnya engkau diutus untuk mengajak makhluk kepada Allah dan mengingatkan mereka, dan engkau tidak diutus sebagai yang berkuasa atas mereka, yang berwenang yang ditugaskan dengan amal-amal mereka, maka jika engkau telah melakukan apa yang menjadi kewajibanmu, maka tidak ada celaan bagimu setelah itu, seperti firman Allah Ta’ala: “Dan kamu bukanlah pemaksa atas mereka. Maka peringatkanlah dengan Al-Quran orang yang takut kepada ancaman-Ku.”

Dan firman-Nya: “Tetapi barang siapa yang berpaling dan kafir” yaitu tetapi barang siapa yang berpaling dari ketaatan dan kafir kepada Allah “maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar” yaitu yang keras lagi kekal, “Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka” yaitu kembalinya makhluk dan pengumpulan mereka pada hari kiamat.

“Kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka” maka Kami akan menghisab mereka atas apa yang mereka kerjakan berupa kebaikan dan keburukan.

Akhir tafsir surat Al-Ghasyiyah, dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

 

 

Tafsir Surat Al-Fajr

Dan ia Makkiyyah

Surat Al-Fajr ayat 1-5:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Demi fajar, dan malam yang sepuluh, dan yang genap dan yang ganjil, dan malam apabila berlalu, apakah pada yang demikian itu terdapat sumpah bagi orang yang berakal?

Yang zhahir bahwa yang bersumpah dengannya adalah yang disumpahi, dan itu boleh dan digunakan, jika ia adalah perkara yang zhahir dan penting, dan demikian halnya dalam tempat ini.

Maka Allah Ta’ala bersumpah dengan fajar, yang merupakan akhir malam dan pendahuluan siang, karena dalam berpalingnya malam dan datangnya siang, terdapat ayat-ayat yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah Ta’ala, dan bahwa Dia sendiri yang mengatur semua urusan, yang tidak pantas disembah kecuali Dia, dan terjadi pada waktu fajar shalat yang utama dan diagungkan, pantas Allah bersumpah dengannya, dan karena itu Dia bersumpah setelahnya dengan malam-malam sepuluh, dan ia menurut yang sahih: malam-malam sepuluh Ramadan, atau sepuluh Zulhijjah, karena ia adalah malam-malam yang mengandung hari-hari yang utama, dan terjadi padanya ibadah-ibadah dan ketaatan yang tidak terjadi pada yang lainnya.

Dan dalam malam-malam sepuluh Ramadan ada malam lailatul qadar, yang lebih baik dari seribu bulan, dan pada siangnya, puasa akhir Ramadan yang merupakan rukun dari rukun Islam.

Dan dalam hari-hari sepuluh Zulhijjah, wukuf di Arafah, yang Allah mengampuni di dalamnya hamba-hamba-Nya dengan ampunan yang membuat setan sedih, maka tidak pernah terlihat setan lebih hina dan lebih terusir daripada pada hari Arafah, karena apa yang dilihatnya berupa turunnya malaikat dan rahmat dari Allah untuk hamba-hamba-Nya, dan terjadi di dalamnya banyak dari perbuatan haji dan umrah, dan ini adalah hal-hal yang diagungkan, yang pantas Allah bersumpah dengannya.

“Dan malam apabila berlalu” yaitu waktu berjalannya dan melepaskan kegelapannya kepada hamba-hamba, maka mereka tenang dan beristirahat dan tenteram, sebagai rahmat dari-Nya dan hikmah.

“Apakah pada yang demikian itu” yang disebutkan “terdapat sumpah bagi orang yang berakal?” yaitu bagi yang berakal? Ya, sebagian dari itu cukup, bagi yang memiliki hati atau yang memperhatikan sedang ia menyaksikan.

Surat Al-Fajr ayat 6-14:

Apakah kamu tidak melihat bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad? (yaitu) Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri manapun? Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah? Dan Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak? Yang berbuat sewenang-wenang di negeri, lalu mereka berbuat kerusakan yang banyak di dalamnya, karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cambuk azab. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.

Allah Ta’ala berfirman: “Apakah kamu tidak melihat” dengan hatimu dan mata batinmu bagaimana Dia berbuat kepada umat-umat yang dzalim ini, yaitu “Iram” kabilah yang terkenal di Yaman “yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi” yaitu kekuatan yang keras, dan kesombongan dan kezaliman.

“Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu” yaitu seperti ‘Ad “di negeri manapun” yaitu di semua negeri dalam kekuatan dan kekerasan, sebagaimana nabi mereka Hud عليه السلام berkata kepada mereka: “Dan ingatlah ketika Dia menjadikan kamu sebagai pengganti sesudah kaum Nuh dan Dia lebihkan kamu dalam hal tubuh dan perawakan. Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu beruntung.”

“Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah” yaitu wadi al-qura, mereka memahat dengan kekuatan mereka batu-batu, lalu menjadikannya tempat tinggal, “Dan Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak” yaitu yang mempunyai tentara-tentara yang meneguhkan kerajaannya, sebagaimana pasak-pasak meneguhkan apa yang hendak dipegangnya, “Yang berbuat sewenang-wenang di negeri” sifat ini kembali kepada ‘Ad dan Tsamud dan Fir’aun dan yang mengikuti mereka, karena sesungguhnya mereka berbuat dzalim di negeri-negeri Allah, dan menyakiti hamba-hamba Allah, dalam agama dan dunia mereka, dan karena itu Allah berfirman:

“Lalu mereka berbuat kerusakan yang banyak di dalamnya” yaitu mengamalkan kekufuran dan cabang-cabangnya, dari semua jenis kemaksiatan, dan berusaha memerangi rasul-rasul dan menghalangi manusia dari jalan Allah, maka ketika mereka sampai pada kedurhakaan yang menyebabkan kebinasaan mereka, Allah mengirimkan kepada mereka dari azab-Nya hujan azab dan cambuk siksa, “Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi” orang yang mendurhakai-Nya, Dia membiarkannya sebentar kemudian menghukumnya dengan hukuman Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa.

Surat Al-Fajr ayat 15-20:

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kenikmatan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku.” Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku.” Sekali-kali tidak! Sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta pusaka dengan memakan yang bersih dan yang kotor, dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.

Allah Ta’ala mengabarkan tentang sifat manusia dari segi dirinya, dan bahwa dia bodoh lagi dzalim, tidak memiliki pengetahuan tentang akibat-akibat, dia mengira keadaan yang menimpanya akan terus berlanjut dan tidak berubah, dan dia mengira bahwa kemuliaan Allah di dunia dan pemberian nikmat kepadanya menunjukkan kemuliaan di sisi-Nya dan kedekatannya dengan-Nya, dan bahwa jika “membatasi rezkinya” yaitu menyempitkannya, sehingga dia hanya dapat makan secukupnya tidak berlebih, bahwa itu adalah penghinaan dari Allah kepadanya, maka Allah menolak dugaan ini dengan firman-Nya “Sekali-kali tidak!” yaitu tidak setiap orang yang Aku beri nikmat di dunia adalah mulia di sisi-Ku, dan tidak setiap orang yang Aku batasi rezekinya adalah hina pada-Ku, dan sesungguhnya kekayaan dan kemiskinan, kelapangan dan kesempitan, adalah ujian dari Allah, dan cobaan yang Dia cobakan kepada hamba-hamba, untuk melihat siapa yang bersyukur dan bersabar kepada-Nya, maka Dia memberinya pahala yang besar, daripada yang tidak demikian maka Dia pindahkan ke siksa yang pedih.

Dan juga, sesungguhnya berhentinya semangat hamba hanya pada keinginan dirinya saja, adalah dari kelemahan semangat, dan karena itu Allah mencela mereka karena tidak memperhatikan keadaan makhluk yang membutuhkan, maka Dia berfirman: “Sekali-kali tidak! Sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim” yang kehilangan ayahnya dan pencarinya, dan membutuhkan penghiburan hati dan kebaikan kepadanya.

Maka kalian tidak memuliakannya bahkan menghinakannya, dan ini menunjukkan tidak adanya rahmat di hati kalian, dan tidak adanya keinginan pada kebaikan.

“Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin” yaitu tidak ada di antara kalian yang mengajak yang lain untuk memberi makan orang-orang yang membutuhkan dari orang-orang miskin dan fakir, dan itu karena kikir terhadap dunia dan kecintaan yang keras yang melekat di hati, dan karena itu Allah berfirman: “Dan kamu memakan harta pusaka” yaitu harta yang ditinggalkan “dengan memakan yang bersih dan yang kotor” yaitu dengan rakus, tidak menyisakan sedikitpun.

“Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan” yaitu cinta yang banyak dan keras, dan ini seperti firman Allah Ta’ala: “Tetapi kamu lebih menyukai kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal” “Sekali-kali tidak! Sebenarnya kamu mencintai kehidupan dunia, dan kamu melalaikan (kehidupan) akhirat.”

{21-30} Sekali-kali tidak! Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat. Dan datanglah Tuhanmu serta para malaikat berbaris-baris. Dan pada hari itu dihadirkanlah Jahannam; pada hari itu manusia teringat (akan perbuatannya), tetapi tidak berguna lagi baginya penyesalan itu. (Surat Al-Fajr ayat 21-23)

{Sekali-kali tidak} artinya: bukanlah semua yang kalian cintai dari harta benda, dan yang kalian berlomba-lomba di dalamnya dari kenikmatan, akan kekal untuk kalian, bahkan di hadapan kalian ada hari yang agung dan kengerian yang besar, di mana bumi dan gunung-gunung serta apa yang ada di atasnya diguncangkan hingga menjadi tanah lapang yang rata, tidak ada yang bengkok dan tidak pula yang bergelombang.

Dan Allah Ta’ala datang untuk memutuskan perkara di antara hamba-hamba-Nya dalam naungan awan, dan para malaikat yang mulia, penduduk seluruh langit, datang berbaris-baris, yaitu: barisan demi barisan, setiap langit para malaikatnya datang dalam satu barisan, mereka mengepung makhluk yang ada di bawah mereka, dan barisan-barisan ini adalah barisan tunduk dan hina kepada Raja Yang Maha Perkasa.

Dan pada hari itu dihadirkanlah Jahannam yang digiring oleh para malaikat dengan rantai-rantai.

Maka apabila hal-hal ini terjadi, pada hari itu manusia teringat akan apa yang telah ia kerjakan dari kebaikan dan keburukan.

Tetapi tidak berguna lagi baginya penyesalan itu karena waktunya telah berlalu dan masanya telah habis, ia berkata menyesal atas apa yang telah ia sia-siakan dalam ketaatan kepada Allah: Alangkah baiknya jika aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku yang kekal dan abadi, yaitu amal saleh, sebagaimana firman Allah Ta’ala: Dia berkata: “Alangkah baiknya jika aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku. Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang mengazab seperti azab-Nya. Dan tidak ada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya. Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Surat Al-Fajr ayat 24-30)

Dia berkata: “Alangkah baiknya jika aku dahulu mengambil jalan bersama Rasul. Aduhai celaka aku! Alangkah baiknya jika aku dahulu tidak menjadikan si fulan itu teman akrab (ku).” (Surat Al-Furqan ayat 27-28)

Dan dalam ayat ini terdapat dalil bahwa kehidupan yang sepatutnya diusahakan dalam asas dan kesempurnaannya, serta dalam melengkapi kenikmatan-kenikmatan di dalamnya, adalah kehidupan di akhirat, karena itu adalah negeri kekal dan keabadian.

Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang mengazab seperti azab-Nya bagi orang yang mengabaikan hari itu dan lupa untuk beramal untuknya.

Dan tidak ada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya karena mereka akan diikat dengan rantai-rantai dari api, dan diseret dengan wajah-wajah mereka dalam air yang mendidih, kemudian dalam api mereka dibakar, maka itulah balasan orang-orang yang berdosa. Adapun orang yang tenang kepada Allah dan beriman kepada-Nya serta membenarkan rasul-rasul-Nya, maka dikatakan kepadanya: Wahai jiwa yang tenang! dengan mengingat Allah, yang tenteram dengan cinta-Nya, yang matanya senang dengan Allah.

Kembalilah kepada Tuhanmu yang telah mendidikmu dengan nikmat-Nya, dan telah memberikan kepada-mu dari kebaikan-Nya sehingga kamu menjadi termasuk wali-wali dan kekasih-kekasih-Nya dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya yaitu: ridha kepada Allah, dan kepada apa yang telah Allah muliakan dirinya dengan pahala, dan Allah telah ridha kepadanya.

Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku dan ini diucapkan kepada ruh pada hari kiamat, dan diucapkan kepadanya ketika mati [dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam].

 

 

Tafsir Surat Al-Balad

Surat ini Makkiyyah

{1-20} Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tidak, Aku bersumpah dengan negeri ini. Dan kamu (Muhammad) bertempat di negeri ini. Dan demi bapak dan apa yang dilahirkannya. Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam susah payah. Apakah dia mengira bahwa tidak ada seorang pun yang mampu menguasainya? Dia berkata: “Aku telah menghabiskan harta yang sangat banyak.” Apakah dia mengira bahwa tidak ada seorang pun yang melihatnya? Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua mata, lidah dan dua bibir? Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (yang baik dan yang buruk)? Tetapi dia tidak mau menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) memerdekakan budak, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau kepada orang miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman serta saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka itulah golongan kanan. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu golongan kiri. Mereka berada dalam api yang terkurung rapat. (Surat Al-Balad ayat 1-20)

Allah Ta’ala bersumpah dengan negeri ini yang aman, yaitu Makkah Al-Mukarramah, negeri yang paling utama secara mutlak, terutama ketika Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di dalamnya, dan demi bapak dan apa yang dilahirkannya yaitu: Adam dan keturunannya.

Yang disumpahi adalah firman-Nya: Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam susah payah mungkin yang dimaksud dengan hal itu adalah apa yang dia hadapi dan alami dari kesulitan-kesulitan di dunia, di alam barzakh, dan pada hari ketika para saksi berdiri, dan bahwa dia sepatutnya berusaha dalam amal yang dapat meringankannya dari kesulitan-kesulitan ini, dan yang mewajibkan baginya kegembiraan dan kesenangan yang kekal.

Dan jika dia tidak melakukan itu, maka dia akan terus menghadapi azab yang keras selama-lamanya.

Dan mungkin artinya: sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling baik, dan bentuk ciptaan yang paling lurus, mampu untuk bertindak dan melakukan perbuatan-perbuatan yang berat, namun demikian, [maka dia] tidak mensyukuri Allah atas nikmat ini [yang agung], bahkan dia bersikap angkuh dengan kesehatan dan sombong kepada Penciptanya, maka dia menyangka dengan kejahilan dan kezalimannya bahwa keadaan ini akan terus berlangsung baginya, dan kekuasaan tindakannya tidak akan dicabut, dan karena itu Allah Ta’ala berfirman: Apakah dia mengira bahwa tidak ada seorang pun yang mampu menguasainya dan dia melampaui batas serta membanggakan apa yang telah dia belanjakan dari harta benda untuk hawa nafsunya. Maka dia berkata: “Aku telah menghabiskan harta yang sangat banyak” yaitu: banyak sekali, sebagian di atas sebagian yang lain.

Dan Allah Ta’ala menyebut pengeluaran untuk hawa nafsu dan kemaksiatan sebagai pembinasaan, karena orang yang mengeluarkan tidak mendapat manfaat dari apa yang dia keluarkan, dan tidak kembali kepadanya dari pengeluarannya kecuali penyesalan, kerugian, kelelahan, dan kekurangan, tidak seperti orang yang mengeluarkan dalam ridha Allah di jalan kebaikan, maka dia telah berdagang dengan Allah, dan meraih keuntungan berlipat ganda dari apa yang dia keluarkan.

Allah berfirman mengancam orang yang membanggakan apa yang dia keluarkan untuk hawa nafsu: Apakah dia mengira bahwa tidak ada seorang pun yang melihatnya yaitu: apakah dia menyangka dalam perbuatannya ini, bahwa Allah tidak melihatnya dan tidak menghisab dia atas perkara kecil dan besar?

Bahkan Allah telah melihatnya, dan mencatat amal-amalnya, serta menugaskan kepadanya para malaikat yang mulia yang mencatat, untuk semua yang dia kerjakan dari kebaikan dan keburukan.

Kemudian Dia mengingatkannya dengan nikmat-nikmat-Nya, maka berfirman: Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua mata, lidah dan dua bibir? untuk keindahan, penglihatan, berbicara, dan manfaat-manfaat penting lainnya yang ada pada keduanya, maka ini adalah nikmat-nikmat dunia. Kemudian Dia berfirman tentang nikmat-nikmat agama: Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan yaitu: jalan kebaikan dan keburukan, Kami telah menerangkan kepadanya petunjuk dari kesesatan, dan kebenaran dari kebatilan. Maka nikmat-nikmat yang besar ini, menghendaki dari hamba agar dia menunaikan hak-hak Allah, dan mensyukuri Allah atas nikmat-nikmat-Nya, dan agar tidak menggunakan nikmat-nikmat itu untuk bermaksiat kepada-Nya, namun manusia ini tidak melakukan itu.

Tetapi dia tidak mau menempuh jalan yang mendaki lagi sukar yaitu: dia tidak mau menempuhnya dan melewatinya, karena dia mengikuti hawa nafsunya.

Dan jalan yang mendaki ini sukar baginya, kemudian Dia menerangkan [jalan] yang mendaki ini memerdekakan budak yaitu: memerdekakannya dari perbudakan, dengan memerdekakannya atau membantunya untuk menunaikan kitabahnya, dan lebih utama lagi memerdekakan tawanan Muslim di tangan orang-orang kafir.

Atau memberi makan pada hari kelaparan yaitu: kelaparan yang hebat, dengan memberi makan pada waktu butuh kepada orang yang paling membutuhkan.

(Kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat yaitu: yang memadukan antara statusnya sebagai yatim, fakir yang mempunyai hubungan kerabat.

Atau kepada orang miskin yang sangat fakir yaitu: yang telah melekat dengan tanah karena kebutuhan dan kemiskinan.

Dan dia termasuk orang-orang yang beriman yaitu: beriman dengan hati mereka kepada apa yang wajib diimani, dan beramal saleh dengan anggota badan mereka. Dari setiap perkataan dan perbuatan yang wajib atau yang disunahkan. Dan saling berpesan untuk bersabar atas ketaatan kepada Allah dan menjauhi kemaksiatan kepada-Nya, dan atas takdir-takdir Allah yang menyakitkan dengan cara sebagian mereka menggalakkan sebagian yang lain untuk tunduk kepada hal itu, dan melakukannya secara sempurna dengan dada yang lapang, jiwa yang tenang.

Dan saling berpesan untuk berkasih sayang kepada makhluk, berupa memberi kepada orang yang membutuhkan, mengajar orang yang jahil, dan mengerjakan apa yang mereka butuhkan dari segala segi, serta membantu mereka dalam kemaslahatan agama dan dunia, dan mencintai untuk mereka apa yang dia cintai untuk dirinya, dan membenci untuk mereka apa yang dia benci untuk dirinya. Mereka itulah orang-orang yang memenuhi sifat-sifat ini, yang Allah beri taufik untuk menempuh jalan yang mendaki ini mereka itulah golongan kanan karena mereka telah menunaikan apa yang Allah perintahkan dari hak-hak-Nya dan hak-hak hamba-hamba-Nya, dan meninggalkan apa yang dilarang, dan ini adalah tanda kebahagiaan dan alamatnya.

Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dengan membuang perkara-perkara ini ke belakang punggung mereka, maka mereka tidak membenarkan Allah, [dan tidak beriman kepada-Nya], dan tidak beramal saleh, dan tidak mengasihi hamba-hamba Allah, dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu golongan kiri. Mereka berada dalam api yang terkurung rapat yaitu: tertutup, dalam tiang-tiang yang memanjang, telah dipanjangkan dari belakangnya, agar pintu-pintunya tidak terbuka, hingga mereka berada dalam kesempitan, kesusahan dan kesulitan [dan segala puji bagi Allah].

 

 

Tafsir Surat As-Syams

Surat ini Makkiyyah

{1-15} Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Demi matahari dan sinar paginya, demi bulan apabila mengiringinya, demi siang apabila meneranginya, demi malam apabila menutupinya, demi langit dan yang membangunnya, demi bumi dan yang menghamparkannya, demi jiwa dan yang menyempurnakannya, maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. Kaum Tsamud telah mendustakan (rasul mereka) karena kedurhakaannya, ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, lalu Rasul Allah berkata kepada mereka: “(Janganlah ganggu) unta betina Allah dan minumannya!” Lalu mereka mendustakan rasul itu dan menyembelih unta itu. Maka Tuhan mereka menimpakan azab kepada mereka disebabkan dosa mereka, lalu Dia meratakan azab itu. Dan Dia tidak takut akan akibat (perbuatan)-Nya. (Surat Ash-Shams ayat 1-15)

Allah Ta’ala bersumpah dengan ayat-ayat yang agung ini, atas jiwa yang beruntung, dan jiwa-jiwa lainnya yang durhaka, maka Dia berfirman:

Demi matahari dan sinar paginya yaitu: cahayanya, dan manfaatnya yang keluar darinya.

Demi bulan apabila mengiringinya yaitu: mengikutinya dalam tempat-tempat singgah dan cahaya.

Demi siang apabila meneranginya yaitu: menerangi apa yang ada di muka bumi dan menjernihkannya.

Demi malam apabila menutupinya yaitu: menutupi muka bumi, maka jadilah apa yang ada padanya gelap.

Maka bergantiannya kegelapan dan terang, matahari dan bulan, di alam ini, dengan keteraturan dan kesesuaian, serta tegaknya kemaslahatan hamba, adalah dalil terbesar bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, dan Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan bahwa Dia-lah Yang Maha Esa yang disembah, yang setiap sesembahan selain-Nya adalah batil.

Demi langit dan yang membangunnya mungkin bahwa “ما” adalah kata sambung, maka sumpahnya adalah dengan langit dan yang membangunnya, yaitu Allah Tabaraka wa Ta’ala, dan mungkin ia adalah masdariyah, maka sumpahnya adalah dengan langit dan bangunannya, yang merupakan puncak dari apa yang dapat dibayangkan dari kekuatan, ketepatan dan kebaikan, dan serupa dengan itu firman-Nya: Demi bumi dan yang menghamparkannya yaitu: membentangkannya dan meluaskannya, maka makhluk dapat memanfaatkannya, dengan semua cara pemanfaatan.

Demi jiwa dan yang menyempurnakannya mungkin yang dimaksud adalah jiwa seluruh makhluk hewan, sebagaimana didukung oleh keumuman ini, dan mungkin yang dimaksud dengan sumpah adalah jiwa manusia yang dibebani taklif, dengan dalil apa yang datang setelahnya.

Dan bagaimanapun, jiwa adalah ayat besar dari ayat-ayat-Nya yang layak untuk bersumpah dengannya karena ia sangat halus dan ringan, cepat berpindah [dan bergerak] serta berubah dan terpengaruh dan reaksi-reaksi jiwa, seperti gundah, keinginan, maksud, cinta, benci, dan ia yang tanpanya badan hanya sekedar patung yang tidak ada manfaatnya, dan penyempurnaannya dengan cara ini adalah ayat dari ayat-ayat Allah yang agung. Dan firman-Nya: Sungguh beruntung orang yang menyucikannya yaitu: membersihkan jiwanya dari dosa-dosa, dan membersihkannya dari cacat-cacat, serta meninggikannya dengan ketaatan kepada Allah, dan memuliakan dengan ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh.

Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya yaitu: menyembunyikan jiwanya yang mulia, yang tidak pantas untuk ditindas dan disembunyikan, dengan mengotori dengan sifat-sifat tercela, dan mendekati cacat-cacat, serta melakukan dosa-dosa, dan meninggalkan apa yang menyempurnakan dan mengembangkannya, serta menggunakan apa yang memburukkan dan mengotorinya.

Kaum Tsamud telah mendustakan karena kedurhakaannya yaitu: karena kedurhakaan dan kesombongannya terhadap kebenaran, dan pembangkangannya terhadap rasul-rasul Allah.

Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka yaitu: orang yang paling celaka dari kabilah itu, [yaitu] “Qudār bin Sālif” untuk menyembelih untanya ketika mereka sepakat untuk melakukan itu, dan mereka memerintahkannya maka dia mematuhi mereka.

Lalu Rasul Allah Saleh ‘alaihis salam berkata kepada mereka sambil memperingatkan: “(Janganlah ganggu) unta betina Allah dan minumannya” yaitu: berhati-hatilah menyembelih unta betina Allah, yang telah Dia jadikan untuk kalian sebagai ayat yang besar, dan jangan kalian balas nikmat Allah kepada kalian berupa minuman susunya dengan menyembelihnya, maka mereka mendustakan nabi mereka Saleh.

Lalu mereka mendustakan rasul itu dan menyembelih unta itu. Maka Tuhan mereka menimpakan azab kepada mereka disebabkan dosa mereka yaitu: menghancurkan mereka dan memusnahkan mereka dengan siksaan-Nya, dan mengirimkan kepada mereka suara menggelegar dari atas mereka, dan guncangan dari bawah mereka, maka mereka menjadi berlutut di atas lutut mereka, tidak ditemukan di antara mereka yang memanggil maupun yang menjawab.

Lalu Dia meratakan azab itu kepada mereka yaitu: menyamakan di antara mereka dalam siksaan.

Dan Dia tidak takut akan akibatnya yaitu: akibatnya.

Dan bagaimana takut Dia yang berkuasa, tidak keluar dari kekuasaan dan pengaturan-Nya satu makhluk pun, Yang Maha Bijaksana dalam semua yang Dia tetapkan dan syariatkan?

Selesai dan segala puji bagi Allah

 

 

Tafsir Surat Al-Lail

Dan surat ini Makkiyyah

Surat Al-Lail (Malam) Ayat 1-21

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Demi malam apabila menutupi. Dan siang apabila terang benderang. Dan demi (Allah) yang menciptakan laki-laki dan perempuan. Sesungguhnya usaha kamu berlainan. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa. Dan membenarkan (pahala) yang terbaik (surga). Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah). Dan mendustakan (pahala) yang terbaik. Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. Dan hartanya tidak dapat menolongnya apabila ia binasa. Sesungguhnya Kami yang memberi petunjuk. Dan sesungguhnya milik Kami-lah akhirat dan dunia. Maka Aku memperingatkan kamu dengan api yang menyala-nyala.

Ini adalah sumpah dari Allah dengan waktu di mana perbuatan-perbuatan hamba terjadi dalam keadaan yang berbeda-beda. Allah berfirman: Dan siang apabila terang benderang [yaitu: menutupi] seluruh makhluk dengan kegelapannya, sehingga setiap makhluk tenang di tempat tinggal dan kediamannya, dan para hamba beristirahat dari kerja keras dan keletihan.

Dan siang apabila terang benderang bagi makhluk, maka mereka mendapat cahaya dari sinarnya, dan menyebar untuk urusan-urusan mereka.

Dan demi (Allah) yang menciptakan laki-laki dan perempuan jika kata “ma” di sini adalah kata hubung, maka ini adalah sumpah dengan Dzat-Nya Yang Mulia yang disifati dengan sifat bahwa Dia adalah pencipta laki-laki dan perempuan. Dan jika kata “ma” adalah masdariyah, maka ini adalah sumpah dengan penciptaan-Nya terhadap laki-laki dan perempuan, dan kesempurnaan hikmah-Nya dalam hal itu yaitu bahwa Dia menciptakan dari setiap jenis hewan yang Dia kehendaki kelangsungannya seorang jantan dan betina, agar jenis tersebut tetap ada dan tidak punah, dan Dia mengarahkan masing-masing kepada yang lain dengan rantai syahwat, dan menjadikan masing-masing sesuai dengan yang lain, maka Maha Berkah Allah sebaik-baik Pencipta.

Firman-Nya: Sesungguhnya usaha kamu berlainan inilah yang disumpahi, yaitu: sesungguhnya usaha kalian wahai orang-orang yang dibebani taklif sangat beragam, dan itu menurut perbedaan hakikat amal-amal itu sendiri dan kadarnya serta semangat dalam melakukannya, dan menurut tujuan yang dimaksud dengan amal-amal tersebut, apakah itu wajah Allah Yang Maha Tinggi lagi kekal? Maka usaha untuknya akan kekal dengan kekal-Nya, dan pemiliknya akan mendapat manfaat darinya, ataukah tujuan yang akan hancur dan fana? Maka usaha akan batal dengan batalnya dan hancur dengan kehancurannya.

Dan inilah setiap amal yang dimaksudkan untuk selain wajah Allah Ta’ala, dengan sifat ini. Oleh karena itu Allah Ta’ala merinci para pekerja dan menyifati amal-amal mereka, maka Dia berfirman: Adapun orang yang memberikan [yaitu] apa yang diperintahkan kepadanya dari ibadah-ibadah yang berkaitan dengan harta, seperti zakat, kafarat, nafkah, sedekah, infak di jalan kebaikan, dan ibadah-ibadah jasmani seperti shalat, puasa dan semacamnya.

Dan yang terdiri dari keduanya, seperti haji dan umrah [dan semacamnya] dan bertakwa terhadap apa yang dilarang, dari yang haram dan maksiat, dengan berbagai macam jenisnya.

Dan membenarkan (pahala) yang terbaik yaitu: membenarkan “La ilaha illa Allah” dan apa yang ditunjukkannya, dari semua akidah-akidah agama, dan apa yang menyusul darinya berupa balasan akhirat.

Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah yaitu: Kami mudahkan baginya urusannya, dan Kami jadikan dimudahkan baginya setiap kebaikan, dimudahkan baginya meninggalkan setiap keburukan, karena dia telah datang dengan sebab-sebab kemudahan, maka Allah mudahkan baginya hal itu.

Dan adapun orang yang bakhil dengan apa yang diperintahkan kepadanya, lalu meninggalkan infak yang wajib dan mustahab, dan jiwanya tidak rela menunaikan apa yang diwajibkan Allah, dan merasa dirinya cukup dari Allah, lalu meninggalkan penghambaan kepada-Nya, dan tidak melihat dirinya sangat membutuhkan kepada Tuhannya, yang tidak ada keselamatan baginya, tidak ada kemenangan dan tidak ada keberuntungan, kecuali dengan Dia menjadi yang dicintai dan disembahnya, yang dia tuju dan menghadap kepada-Nya.

Dan mendustakan (pahala) yang terbaik yaitu: mendustakan apa yang Allah wajibkan kepada hamba-hamba untuk membenarkannya dari akidah-akidah yang baik.

Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang sukar yaitu: untuk keadaan yang sukar, dan sifat-sifat tercela, dengan dimudahkan baginya kejahatan di mana pun dia berada, dan disediakan baginya perbuatan-perbuatan maksiat, semoga Allah memberikan keselamatan.

Dan hartanya tidak dapat menolongnya yang membuatnya sombong dan merasa cukup dengannya, dan dia bakhil dengannya ketika dia binasa dan mati, karena sesungguhnya yang menyertainya hanyalah amal salehnya.

Adapun hartanya [yang tidak dikeluarkan kewajiban darinya] maka itu akan menjadi bencana baginya, karena dia tidak mempersiapkan sesuatu pun dari hartanya untuk akhiratnya.

Sesungguhnya Kami yang memberi petunjuk yaitu: sesungguhnya petunjuk yang lurus adalah jalan-Nya, yang mengantarkan kepada Allah, dan mendekatkan kepada ridha-Nya, adapun kesesatan, maka itu adalah jalan-jalan yang tertutup dari Allah, tidak mengantarkan pemiliknya kecuali kepada azab yang pedih.

Dan sesungguhnya milik Kami-lah akhirat dan dunia sebagai kepemilikan dan penguasaan, tidak ada yang bersekutu dengan-Nya dalam keduanya, maka hendaklah orang-orang yang berharap berharap kepada-Nya dalam meminta, dan terputuslah harapan mereka dari makhluk-makhluk.

Maka Aku memperingatkan kamu dengan api yang menyala-nyala yaitu: yang berkobar dan menyala. Tidak akan memasukinya kecuali orang yang paling celaka. Yang mendustakan dan berpaling. Dan akan dijauhkan daripadanya orang yang paling takwa. Yang memberikan hartanya untuk membersihkan (jiwa). Dan tidak ada seorang pun yang mempunyai nikmat di sisinya yang (harus) dibalas. Kecuali karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar akan merasa puas.

Tidak akan memasukinya kecuali orang yang paling celaka yang mendustakan berita dan berpaling dari perintah.

Dan akan dijauhkan daripadanya orang yang paling takwa yang memberikan hartanya untuk membersihkan (jiwa) dengan maksudnya adalah membersihkan jiwanya, dan menyucikannya dari dosa-dosa dan cacat-cacat, bermaksud dengan itu wajah Allah Ta’ala. Maka ini menunjukkan bahwa jika infak mustahab mengandung meninggalkan kewajiban, seperti hutang dan nafkah dan semacamnya, maka itu tidak disyariatkan, bahkan pemberiannya ditolak menurut banyak ulama, karena dia tidak membersihkan diri dengan melakukan mustahab yang melewatkan kewajiban.

Dan tidak ada seorang pun yang mempunyai nikmat di sisinya yang (harus) dibalas yaitu: tidak ada seorang pun dari makhluk yang memiliki nikmat terhadap orang yang paling takwa ini yang harus dibalas kecuali dia telah membalasnya, dan mungkin masih tersisa baginya kelebihan dan budi baik kepada manusia, sehingga dia benar-benar menjadi hamba Allah, karena dia adalah budak kebaikan-Nya semata, adapun siapa yang masih tersisa padanya nikmat dari manusia yang tidak dia balas dan dia balas, maka dia pasti meninggalkan untuk manusia, dan berbuat untuk mereka apa yang mengurangi [keikhlasannya].

Dan ayat ini, meskipun mencakup Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu, bahkan telah dikatakan bahwa ayat ini turun karena sebabnya, karena dia radhiyallahu anhu tidak ada seorang pun di sisinya yang memiliki nikmat yang harus dibalas, bahkan tidak juga Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, kecuali nikmat Rasul yang tidak mungkin dibalas, yaitu [nikmat] dakwah kepada agama Islam, dan mengajarkan petunjuk dan agama yang haq, karena sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya memiliki budi baik kepada setiap orang, budi baik yang tidak mungkin ada balasan atau imbangannya, maka sesungguhnya ayat ini mencakup setiap orang yang memiliki sifat mulia ini, sehingga tidak tersisa bagi seorang pun dari makhluk nikmat yang harus dibalas, maka tinggallah amal-amalnya murni untuk wajah Allah Ta’ala.

Oleh karena itu Allah berfirman: Kecuali karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar akan merasa puas orang yang paling takwa ini dengan apa yang Allah berikan kepadanya dari berbagai kemuliaan dan pahala, dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

 

 

Tafsir Surat Adh-Dhuha

Dan ini adalah surat Makkiyah (turun di Makkah) Ayat 1-11

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Demi waktu dhuha. Dan demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tidak meninggalkan kamu dan tidak (pula) membenci. Dan sesungguhnya akhirat itu lebih baik bagimu daripada permulaan (dunia). Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati)mu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardik. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.

Allah Ta’ala bersumpah dengan siang hari ketika cahayanya menyebar pada waktu dhuha, dan dengan malam ketika sunyi dan kegelapannya pekat, atas perhatian Allah kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam, maka Dia berfirman: Tuhanmu tidak meninggalkan kamu yaitu: tidak meninggalkanmu sejak Dia memperhatikanmu, dan tidak mengabaikanmu sejak Dia memelihara dan merawatmu, bahkan Dia senantiasa memeliharamu dengan pemeliharaan terbaik, dan mengangkatmu dari derajat ke derajat.

Dan tidak (pula) membencimu Allah yaitu: tidak membencimu sejak Dia mencintaimu, karena menafikan lawan menunjukkan penetapan lawannya, dan penafian murni tidak menjadi pujian, kecuali jika mengandung penetapan kesempurnaan. Maka inilah keadaan Rasul shallallahu alaihi wa sallam yang lampau dan sekarang, keadaan yang paling sempurna dan lengkap, cinta Allah kepadanya dan kelangsungannya, dan pengangkatannya dalam tingkat-tingkat kesempurnaan, dan kesinambungan perhatian Allah kepadanya.

Adapun keadaannya yang akan datang, maka Allah berfirman: Dan sesungguhnya akhirat itu lebih baik bagimu daripada permulaan (dunia) yaitu: setiap keadaan yang terlambat dari keadaan-keadaanmu, maka memiliki kelebihan atas keadaan sebelumnya.

Maka beliau shallallahu alaihi wa sallam senantiasa naik dalam tingkat-tingkat kemuliaan dan Allah memantapkan baginya agamanya, dan menolongnya atas musuh-musuhnya, dan membetulkan keadaan-keadaannya, hingga dia wafat, dan telah sampai kepada keadaan yang tidak akan dicapai oleh orang-orang terdahulu dan kemudian, dari keutamaan-keutamaan dan nikmat-nikmat, dan kesejukan mata, dan kegembiraan hati.

Kemudian setelah itu, jangan tanya tentang keadaannya di akhirat, dari rincian penghormatan, dan jenis-jenis nikmat, oleh karena itu Allah berfirman: Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati)mu menjadi puas dan ini adalah perkara yang tidak mungkin diungkapkan kecuali dengan ungkapan yang menyeluruh dan mencakup ini.

Kemudian Allah mengingatkan kepadanya dengan apa yang diketahuinya dari keadaan-keadaannya [yang khusus] maka Dia berfirman:

Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? yaitu: mendapatimu tidak ada ibu dan ayah, bahkan ayah dan ibunya telah meninggal sedangkan dia tidak dapat mengurus dirinya sendiri, maka Allah melindunginya, dan kakeknya Abdul Muththalib memeliharanya, kemudian ketika kakeknya meninggal Allah menjadikan pamannya Abu Thalib memeliharanya, hingga Allah menolongnya dengan pertolongan-Nya dan dengan orang-orang mukmin.

Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk yaitu: mendapatimu tidak mengetahui apa itu Kitab dan tidak pula iman, maka Dia mengajarmu apa yang tidak kamu ketahui, dan memberimu taufik untuk amal-amal dan akhlak terbaik.

Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan yaitu: fakir lalu Dia memberikan kecukupan dengan apa yang Allah bukakan untukmu dari negeri-negeri, yang hartanya dan kharajnya dikumpulkan untukmu.

Maka Dzat yang menghilangkan darimu kekurangan-kekurangan ini, akan menghilangkan darimu setiap kekurangan, dan Dzat yang mengantarmu kepada kekayaan, dan melindungimu serta menolongmu dan memberimu petunjuk, balaslah nikmat-Nya dengan syukur.

[Oleh karena itu Allah berfirman:] Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang yaitu: jangan berlaku buruk terhadap anak yatim, dan jangan sempit dadamu kepadanya, dan jangan menghardiknya, bahkan muliakanlah dia, dan berikanlah kepadanya apa yang mudah, dan berbuatlah kepadanya sebagaimana kamu suka diperlakukan terhadap anakmu setelahmu.

Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardik yaitu: jangan keluar darimu kepada pengemis perkataan yang mengandung penolakan dari apa yang dimintanya, dengan hardikan dan buruknya akhlak, bahkan berikanlah kepadanya apa yang mudah ada padamu atau tolak dia dengan cara yang baik [dan ihsan].

Dan ini mencakup pengemis harta, dan pengemis ilmu, oleh karena itu guru diperintahkan untuk berakhlak baik dengan murid, dan memperlakukannya dengan penghormatan dan kasih sayang kepadanya, karena dalam hal itu ada pertolongan baginya untuk maksudnya, dan penghormatan kepada siapa yang berusaha dalam manfaat hamba-hamba dan negeri.

Dan terhadap nikmat Tuhanmu [dan ini mencakup] nikmat-nikmat agama dan dunia maka hendaklah kamu siarkan yaitu: pujilah Allah dengannya, dan khususkan dengan penyebutan jika ada maslahat.

Dan jika tidak maka siarkanlah nikmat-nikmat Allah secara mutlak, karena menyebarkan nikmat Allah mendorong untuk mensyukurinya, dan mewajibkan tercintanya hati-hati kepada Yang memberi nikmat dengannya, karena hati-hati memang tercipta untuk mencintai yang berbuat baik.

 

 

Tafsir Surat Alam Nasyrah

Dan ini adalah surat Makkiyah Ayat 1-8

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu. Yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

Allah Ta’ala berfirman -dengan menyebutkan nikmat kepada Rasul-Nya-: Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? yaitu: melapangkannya untuk syariat-syariat agama dan dakwah kepada Allah, dan bersikat dengan akhlak mulia, dan menghadap kepada akhirat, dan memudahkan kebaikan-kebaikan, sehingga tidak sempit dan terhimpit, hampir tidak patuh kepada kebaikan, dan hampir tidak didapati lapang.

Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu yaitu: dosamu, yang memberatkan punggungmu sebagaimana firman Allah Ta’ala: Agar Allah mengampuni bagimu dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang.

Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu yaitu: Kami angkat derajatmu, dan Kami jadikan untukmu pujian baik yang tinggi, yang tidak dicapai oleh seorang pun dari makhluk, sehingga tidak disebut Allah kecuali disebut bersama Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam, seperti dalam masuk Islam, dan dalam adzan, iqamah, khutbah, dan selain itu dari perkara-perkara yang Allah tinggikan dengan itu sebutan Rasul-Nya Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Dan ada dalam hati umatnya dari cinta dan penghormatan dan pengagungan apa yang tidak ada untuk seorang pun selainnya, setelah Allah Ta’ala, maka Allah membalas dia terhadap umatnya dengan sebaik-baik balasan seorang nabi terhadap umatnya.

Dan firman-Nya: Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan adalah kabar gembira yang besar, bahwa setiap kali ada kesulitan dan kesukaran, maka kemudahan menyertainya dan bersamanya, hingga seandainya kesulitan masuk lubang biawak pasti kemudahan masuk kepadanya, lalu mengeluarkannya sebagaimana firman Allah Ta’ala: Allah akan mengadakan sesudah kesulitan itu kemudahan dan sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam: “Dan sesungguhnya kelapangan bersama kesempitan, dan sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

Dan penyebutan “kesulitan” dengan “al” dalam dua ayat, menunjukkan bahwa itu satu, dan men-tankirkan “kemudahan” menunjukkan terulangnya, maka satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.

Dan dalam penyebutannya dengan “al” yang menunjukkan keseluruhan dan keumuman menunjukkan bahwa setiap kesulitan -meskipun mencapai tingkat kesukaran apa pun- maka di ujungnya kemudahan menyertainya.

Kemudian Allah memerintahkan Rasul-Nya secara asal dan orang-orang mukmin secara mengikut, untuk mensyukuri-Nya dan menunaikan kewajiban nikmat-nikmat-Nya, maka Dia berfirman: Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain yaitu: apabila kamu telah selesai dari kesibukan-kesibukanmu, dan tidak tersisa dalam hatimu apa yang menghalanginya, maka bersungguh-sungguhlah dalam ibadah dan doa.

Dan hanya kepada Tuhanmu saja hendaknya kamu berharap yaitu: besarkan harapan dalam dikabulkan doamu dan diterimanya ibadah-ibadahmu.

Dan jangan menjadi dari mereka yang apabila senggang dan luang bermain dan berpaling dari Tuhan mereka dan dari dzikir-Nya, maka menjadi dari orang-orang yang rugi.

Dan telah dikatakan: bahwa makna firman-Nya: maka apabila kamu telah selesai dari shalat dan menyempurnakannya, maka bersungguh-sungguhlah dalam doa, dan hanya kepada Tuhanmu berharaplah dalam meminta kebutuhanmu.

Dan orang yang berpendapat dengan pendapat ini beristidlal atas diisyaratkannya doa dan dzikir setelah shalat-shalat fardhu, dan Allah lebih mengetahui hal itu, selesai dan segala puji bagi Allah.

 

 

Tafsir Surat At-Tin

Dan surah ini Makkiyyah (turun di Makkah) {1-8}

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Demi (buah) tin dan (buah) zaitun * Dan demi Bukit Sinai * Dan demi negeri (Makkah) yang aman ini * Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya * Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya * Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya * Maka apa yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan setelah (adanya keterangan) itu? * Bukankah Allah hakim yang paling adil? (Surat At-Tin: 1-8)

{At-Tin} adalah buah tin yang dikenal, demikian juga {Az-Zaitun} adalah buah zaitun. Allah bersumpah dengan dua pohon ini karena banyaknya manfaat pohon dan buahnya, dan karena kekuasaan keduanya berada di tanah Syam, tempat kenabian Isa bin Maryam alaihissalam.

{Dan Bukit Sinai} yaitu Bukit Sinai, tempat kenabian Musa shallallahu alaihi wasallam.

{Dan negeri yang aman ini} yaitu Makkah Al-Mukarramah, tempat kenabian Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Allah Ta’ala bersumpah dengan tempat-tempat suci ini yang telah dipilih-Nya dan dari mana diutus kenabian-kenabian yang paling utama dan mulia.

Yang disumpahi adalah firman-Nya: {Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya} yaitu sempurna penciptaannya, seimbang anggota tubuhnya, tegak tubuhnya, tidak kehilangan sedikitpun dari apa yang dibutuhkannya baik lahir maupun batin. Dengan nikmat-nikmat besar ini, yang seharusnya manusia bersyukur karenanya, namun kebanyakan makhluk menyimpang dari bersyukur kepada Yang Memberi nikmat, sibuk dengan hiburan dan permainan, telah ridha bagi diri mereka dengan hal-hal yang rendah dan akhlak yang buruk. Maka Allah mengembalikan mereka ke tempat yang paling rendah, yaitu bagian paling bawah neraka, tempat orang-orang durhaka yang memberontak kepada Tuhan mereka, kecuali orang yang diberi anugerah Allah berupa iman, amal saleh, dan akhlak mulia yang tinggi. {Maka bagi mereka} dengan itu tempat-tempat yang tinggi dan {pahala yang tidak ada putus-putusnya} yaitu tidak terputus, bahkan kenikmatan yang berlimpah, kegembiraan yang berkesinambungan, dan nikmat yang berlipat ganda, dalam keabadian yang tidak hilang dan kenikmatan yang tidak berubah, makanannya kekal dan naungannya.

{Maka apa yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan setelah (adanya keterangan) itu?} yaitu hal apa yang membuatmu dustakan wahai manusia terhadap hari pembalasan atas amal perbuatan, padahal kamu telah melihat tanda-tanda Allah yang banyak yang dengannya kamu memperoleh keyakinan, dan nikmat-nikmat-Nya yang mewajibkan kamu untuk tidak mengingkari sedikitpun dari apa yang diberitakan-Nya kepadamu.

{Bukankah Allah hakim yang paling adil?} Apakah hikmah-Nya menghendaki untuk meninggalkan makhluk begitu saja tanpa diperintah dan dilarang, tanpa diberi pahala dan hukuman?

Ataukah Dia yang menciptakan manusia dalam fase demi fase, dan menyampaikan kepada mereka nikmat, kebaikan, dan kebajikan yang tak terhitung, dan mendidik mereka dengan pendidikan yang baik, pasti akan mengembalikan mereka ke negeri yang menjadi tempat tinggal dan tujuan mereka, yang kepadanya mereka menuju dan ke arahnya mereka beriman. Selesai, dan segala puji bagi Allah.

 

 

Tafsir Surat Al-Alaq

Dan surah ini Makkiyyah {1-19}

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan * Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah * Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia * Yang mengajar (manusia) dengan pena * Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya * Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia benar-benar melampaui batas * Karena dia merasa serba cukup * Sungguh, hanya kepada Tuhanmulah tempat kembali * Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang * Seorang hamba ketika dia melaksanakan salat? * Bagaimana pendapatmu jika dia (yang melaksanakan salat itu) berada dalam petunjuk * Atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)? * Bagaimana pendapatmu jika dia (yang melarang itu) mendustakan dan berpaling? * Tidakkah dia tahu bahwa Allah melihat (segala perbuatannya)? * Sekali-kali tidak! Sungguh, jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya * (Yaitu) ubun-ubun yang dusta dan durhaka * Maka biarlah dia memanggil golongannya * Kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniah * Sekali-kali tidak! Janganlah kamu patuh kepadanya, dan sujudlah serta dekatkanlah (dirimu kepada Allah) (Surat Al-Alaq: 1-19)

Surah ini adalah surah Alquran pertama yang turun kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Surah ini turun kepadanya pada permulaan kenabian, ketika dia tidak tahu apa itu kitab dan iman. Maka datanglah Jibril alaihissalam dengan risalah dan memerintahkannya untuk membaca. Dia menolak dan berkata: “Aku tidak bisa membaca”. Jibril terus mendesaknya hingga dia membaca. Maka Allah menurunkan kepadanya: {Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan} seluruh makhluk, kemudian mengkhususkan manusia, dan menyebutkan awal penciptaannya {dari segumpal darah}. Dia yang menciptakan manusia dan memperhatikan pengaturannya, pasti akan mengaturnya dengan perintah dan larangan, yaitu dengan mengutus rasul kepada mereka dan menurunkan kitab-kitab kepada mereka. Karena itu disebutkan setelah perintah membaca, penciptaan-Nya terhadap manusia.

Kemudian Allah berfirman: {Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia} yaitu banyak sifat-sifat mulia dan luas, banyak kemuliaan dan kebaikan, luas kedermawanan, yang dari kemuliaan-Nya adalah Dia mengajar dengan ilmu.

{Yang mengajar (manusia) dengan pena * Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya} Sesungguhnya Allah Ta’ala mengeluarkannya dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apapun, dan menjadikan baginya pendengaran, penglihatan, dan hati, serta memudahkan baginya sebab-sebab ilmu.

Dia mengajarkannya Alquran, mengajarkannya hikmah, dan mengajarkannya dengan pena, yang dengannya ilmu-ilmu terjaga, hak-hak terkontrol, dan menjadi utusan bagi manusia yang menggantikan percakapan mereka. Maka segala puji dan karunia bagi Allah, yang telah memberi nikmat kepada hamba-hamba-Nya dengan nikmat-nikmat yang tidak mampu mereka membalasnya dengan balasan atau syukur. Kemudian Dia memberi nikmat kepada mereka dengan kekayaan dan luasnya rezeki, namun manusia -karena kebodohan dan kezalimannya- jika melihat dirinya kaya, dia melampaui batas, berbuat aniaya, dan sombong dari petunjuk, lupa bahwa hanya kepada Tuhannya tempat kembali, dan tidak takut pembalasan. Bahkan mungkin sampai pada keadaan dia meninggalkan petunjuk sendiri dan mengajak orang lain untuk meninggalkannya, maka dia melarang salat yang merupakan amal iman paling utama.

Allah berfirman kepada pemberontak yang durhaka ini: {Bagaimana pendapatmu} wahai orang yang melarang hamba ketika salat {jika} hamba yang salat itu {berada dalam petunjuk} yaitu ilmu tentang kebenaran dan mengamalkannya, {atau dia menyuruh} orang lain {bertakwa}.

Apakah pantas melarang orang yang seperti itu sifatnya? Bukankah larangannya termasuk permusuhan terbesar kepada Allah dan peperangan terhadap kebenaran? Karena larangan itu hanya ditujukan kepada orang yang dirinya tidak dalam petunjuk, atau dia menyuruh orang lain dengan selain takwa.

{Bagaimana pendapatmu jika} yang melarang itu {mendustakan} kebenaran {dan berpaling} dari perintah, apakah dia tidak takut Allah dan takut siksa-Nya?

{Tidakkah dia tahu bahwa Allah melihat} apa yang dia kerjakan dan perbuat?

Kemudian Allah mengancamnya jika dia terus dalam keadaannya, berfirman: {Sekali-kali tidak! Sungguh, jika dia tidak berhenti} dari apa yang dikatakannya dan diperbuatnya {niscaya Kami tarik ubun-ubunnya} yaitu Kami akan memegang ubun-ubunnya dengan keras, dan itu pantas baginya, karena ubun-ubun itu {ubun-ubun yang dusta dan durhaka} yaitu dusta dalam perkataannya, salah dalam perbuatannya.

{Maka biarlah} orang yang pantas mendapat hukuman ini {memanggil golongannya} yaitu orang-orang majlisnya, sahabat-sahabatnya, dan orang-orang di sekelilingnya untuk menolongnya terhadap apa yang menimpanya. {Kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniah} yaitu penjaga neraka jahannam untuk menangkap dan menghukumnya. Maka lihatlah manakah dari dua golongan yang lebih kuat dan berkuasa?

Itulah keadaan si pelarang dan ancaman hukuman yang diterimanya. Adapun keadaan yang dilarang, Allah memerintahkannya agar tidak mendengarkan pelarang ini dan tidak tunduk kepada larangannya, berfirman: {Sekali-kali tidak! Janganlah kamu patuh kepadanya} karena dia hanya menyuruh dengan apa yang di dalamnya kerugian dua alam. {Dan sujudlah} kepada Tuhanmu {serta dekatkanlah (dirimu kepada Allah)} dalam sujud dan lainnya dari jenis-jenis ketaatan dan ibadah, karena semua itu mendekatkan pada ridha-Nya dan mendekatkan kepada-Nya.

Ini berlaku umum untuk setiap pelarang kebaikan dan yang dilarang darinya, meskipun turun berkenaan dengan Abu Jahal ketika dia melarang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari salat, mengganggu dan menyakitinya. Selesai, dan segala puji bagi Allah.

Tafsir Surat Al-Qadr

Dan surah ini Makkiyyah {1-5}

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Sungguh, Kami telah menurunkannya (Alquran) pada Lailatul Qadr * Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadr itu? * Lailatul Qadr itu lebih baik dari seribu bulan * Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan * Sejahtera (malam itu) sampai terbit fajar (Surat Al-Qadr: 1-5)

Allah Ta’ala berfirman menerangkan keutamaan Alquran dan tingginya kedudukannya: {Sungguh, Kami telah menurunkannya pada Lailatul Qadr} sebagaimana firman Allah: {Sungguh, Kami telah menurunkannya pada malam yang diberkahi}. Yang demikian itu karena Allah Ta’ala memulai penurunannya pada Ramadan di Lailatul Qadr, dan Allah merahmati hamba-hamba-Nya dengannya dengan rahmat yang umum, yang hamba-hamba tidak mampu mensyukurinya.

Disebut Lailatul Qadr karena besar kedudukannya dan keutamaannya di sisi Allah, dan karena pada malam itu ditentukan apa yang akan terjadi dalam setahun dari ajal, rezeki, dan takdir-takdir qadari.

Kemudian Allah mengagungkan urusannya dan membesarkan kedudukannya, berfirman: {Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadr itu?} yaitu urusannya agung dan kedudukannya besar.

{Lailatul Qadr itu lebih baik dari seribu bulan} yaitu menyamai dalam keutamaannya seribu bulan. Amal yang dilakukan padanya lebih baik dari amal selama seribu bulan yang kosong darinya. Ini termasuk hal yang membuat akal tercengang dan pikiran terkejut, di mana Yang Maha Berkah dan Tinggi memberikan nikmat kepada umat yang lemah kekuatan ini dengan malam yang amal padanya dapat menyamai bahkan melebihi seribu bulan, umur seseorang yang berumur panjang lebih dari delapan puluh tahun.

{Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh} yaitu banyak turunnya mereka pada malam itu {untuk mengatur semua urusan * Sejahtera (malam itu)} yaitu selamat dari segala bencana dan kejahatan, karena banyaknya kebaikannya, {sampai terbit fajar} yaitu permulaan dari terbenamnya matahari dan akhirnya terbitnya fajar.

Hadits-hadits tentang keutamaannya telah mutawatir, dan bahwa malam itu di bulan Ramadan, pada sepuluh malam terakhirnya, khususnya pada malam-malam ganjilnya, dan malam itu tetap ada setiap tahun sampai hari kiamat.

Karena itu Nabi shallallahu alaihi wasallam melakukan i’tikaf dan memperbanyak ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan, dengan harapan mendapatkan Lailatul Qadr, wallahu a’lam.

 

 

Tafsir Surat Al-Bayyinah

Dan surah ini Madaniyyah {1-8}

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata * (Yaitu) seorang rasul dari Allah yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan * Di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus * Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang diberi kitab melainkan setelah datang kepada mereka bukti yang nyata * Padahal mereka tidak diperintah kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus * Sesungguhnya orang-orang yang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke dalam neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk * Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itulah sebaik-baik makhluk (Surat Al-Bayyinah: 1-8)

Allah Ta’ala berfirman: {Orang-orang kafir dari Ahli Kitab} yaitu Yahudi dan Nasrani {dan orang-orang musyrik} dari berbagai golongan umat lainnya.

{Tidak akan meninggalkan} kekafiran dan kesesatan yang mereka alami, yaitu mereka akan tetap dalam kesesatan mereka, tidak menambah berlalunya tahun-tahun kecuali kekafiran.

{Sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata} yang jelas dan dalil yang terang, kemudian Dia menafsirkan bukti itu dengan berfirman: {seorang rasul dari Allah} yaitu yang diutus Allah, mengajak manusia kepada kebenaran, dan diturunkan kepadanya kitab yang dibacanya untuk mengajarkan hikmah kepada manusia, mensucikan mereka, dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Karena itu Allah berfirman: {yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan} yaitu terjaga dari gangguan setan, tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan, karena lembaran itu dalam tingkatan tertinggi dari kalam.

Karena itu Allah berfirman tentangnya: {Di dalamnya} yaitu dalam lembaran-lembaran itu {terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus} yaitu berita-berita yang benar dan perintah-perintah yang adil yang membimbing kepada kebenaran dan jalan yang lurus. Jika bukti ini datang kepada mereka, barulah terlihat pencari kebenaran dari orang yang tidak bertujuan mencarinya, maka binasalah yang binasa atas dasar bukti yang jelas, dan hiduplah yang hidup atas dasar bukti yang jelas.

Jika Ahli Kitab tidak beriman kepada rasul ini dan tidak tunduk kepadanya, itu bukanlah hal baru dari kesesatan dan kedurhakaan mereka, karena mereka tidak berpecah belah, berselisih, dan menjadi golongan-golongan {kecuali setelah datang kepada mereka bukti yang nyata} yang mewajibkan pengikutnya untuk berkumpul dan bersatu, namun karena kejelekan dan kehinaan mereka, petunjuk tidak menambah mereka kecuali kesesatan dan penglihatan yang jelas tidak menambah kecuali kebutaan, padahal kitab-kitab semuanya datang dengan satu pokok dan satu agama.

Mereka tidak diperintah dalam semua syariat kecuali untuk menyembah {Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama} yaitu menujukan semua ibadah lahir dan batin kepada Allah, dan mengharap kedekatan kepada-Nya, {dengan lurus} yaitu berpaling dari semua agama yang menyalahi agama tauhid. Allah mengkhususkan salat dan zakat dengan menyebutnya meskipun keduanya termasuk dalam firman {supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan} karena keutamaan dan kemuliaannya, dan karena keduanya adalah dua ibadah yang barangsiapa menegakkannya maka dia menegakkan seluruh syariat agama.

{Dan yang demikian itu} yaitu tauhid dan keikhlasan dalam agama, {itulah agama yang lurus} yaitu agama yang lurus yang mengantarkan ke surga kenikmatan, dan selain itu adalah jalan-jalan yang mengantarkan ke neraka.

Kemudian Allah menyebutkan balasan orang-orang kafir setelah datang bukti yang nyata kepada mereka, berfirman: {Sesungguhnya orang-orang yang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke dalam neraka Jahannam} yang telah dikelilingi oleh siksa dan keras hukumannya, {mereka kekal di dalamnya} tidak diperingan siksa dari mereka, dan mereka di dalamnya putus asa. {Mereka itulah seburuk-buruk makhluk} karena mereka mengetahui kebenaran lalu meninggalkannya, dan rugi di dunia dan akhirat.

{Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itulah sebaik-baik makhluk} karena mereka menyembah Allah dan mengenal-Nya, serta beruntung dengan kenikmatan dunia dan akhirat.

Balasan mereka di sisi Tuhan mereka adalah surga-surga ‘Adn (surga yang kekal) yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (QS. Al-Bayyinah: 8)

Balasan mereka di sisi Tuhan mereka adalah surga-surga ‘Adn, yaitu surga tempat tinggal yang kekal, tidak ada kepergian di dalamnya dan tidak ada perpindahan, tidak ada pencarian untuk tujuan yang lebih tinggi lagi, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Allah ridha kepada mereka karena apa yang telah mereka lakukan untuk meraih keridhaan-Nya, dan mereka ridha kepada-Nya karena apa yang telah Allah sediakan untuk mereka berupa berbagai macam kemuliaan dan pahala yang berlimpah. Yang demikian itu balasan yang baik adalah bagi orang yang takut kepada Tuhannya, yaitu bagi orang yang takut kepada Allah, sehingga menahan diri dari bermaksiat kepada-Nya dan menunaikan kewajiban-kewajibannya.

[Telah selesai dengan segala puja dan puji bagi Allah]

 

 

Tafsir Surah Az-Zalzalah

Surah ini Madaniyah

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan yang dahsyat, dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?” Pada hari itu bumi menceritakan berita-beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia ke luar dari kubur dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebagai berat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS. Az-Zalzalah: 1-8)

Allah Ta’ala mengabarkan tentang apa yang akan terjadi pada hari kiamat, bahwa bumi akan berguncang, bergetar dan bergoyang, sehingga jatuh apa yang ada di atasnya berupa bangunan dan tonggak-tonggak.

Maka gunung-gunungnya akan hancur, bukit-bukitnya akan rata, dan bumi akan menjadi tanah lapang yang rata, tidak ada lembah di dalamnya dan tidak ada bukit.

Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, yaitu apa yang ada di perutnya, berupa orang-orang mati dan harta-harta terpendam.

Dan manusia bertanya ketika melihat kejadian besar yang menimpanya sambil merasa heran: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”, yaitu: hal apa yang terjadi padanya?

Pada hari itu bumi menceritakan berita-beritanya, yaitu bumi bersaksi atas para pelaku amal dengan apa yang mereka kerjakan di permukaannya berupa kebaikan dan kejahatan. Sesungguhnya bumi termasuk di antara para saksi yang bersaksi atas hamba-hamba dengan amal perbuatan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya, yaitu memerintahkannya untuk mengabarkan apa yang dikerjakan di permukaannya, maka bumi tidak durhaka terhadap perintah-Nya.

Pada hari itu manusia ke luar dari tempat perhimpunan kiamat, ketika Allah memutuskan perkara di antara mereka dalam keadaan yang bermacam-macam, yaitu berkelompok-kelompok yang berbeda-beda. Supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka, yaitu agar Allah memperlihatkan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan berupa kebaikan dan kejahatan, dan memperlihatkan kepada mereka balasannya secara sempurna.

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebagai berat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. Dan ini mencakup secara umum semua kebaikan dan kejahatan, karena jika seseorang melihat seberat dzarrah yang merupakan sesuatu yang paling hina, dan diberi balasan karenanya, maka yang lebih dari itu tentu lebih utama dan lebih layak, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Pada hari ketika setiap jiwa mendapati segala kebajikan yang dikerjakannya dihadapkan (kepadanya), dan segala kejahatan yang dikerjakannya, ia ingin kalau kiranya antara ia dengan kejahatan itu ada masa yang amat jauh.” Dan: “Mereka dapati (catatan) apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis)”.

Ayat ini mengandung dorongan yang sangat besar untuk berbuat kebaik walaupun sedikit dan ancaman dari berbuat jahat walaupun remeh.

 

 

Tafsir Surah Al-‘Adiyat

Surah ini Makkiyah

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Demi kuda perang yang berlari terengah-engah, dan kuda yang memercikkan bunga api (dengan pukulan kuku kakinya), dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, maka menerbangkan debu, lalu menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh, sesungguhnya manusia itu sangat ingkar (tidak bersyukur) kepada Tuhannya, dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur? (QS. Al-‘Adiyat: 1-9)

Allah Tabaraka wa Ta’ala bersumpah dengan kuda, karena di dalamnya terdapat ayat-ayat Allah yang nyata dan nikmat-Nya yang tampak, yang diketahui oleh makhluk-Nya.

Dan Allah Ta’ala bersumpah dengannya dalam keadaan yang tidak ada yang menyamainya dari jenis hewan yang lain, maka Allah berfirman: “Demi kuda perang yang berlari terengah-engah”, yaitu kuda yang berlari dengan lari yang cepat dan kuat, yang menimbulkan suara nafas terengah-engah di dadanya ketika berlari kencang.

“Dan kuda yang memercikkan” dengan kuku-kukunya pada batu-batu yang diinjak “bunga api”, yaitu memercikkan api dari kerasnya kuku-kukunya dan kekuatannya ketika berlari, “dan kuda yang menyerang” terhadap musuh “dengan tiba-tiba di waktu pagi”. Ini adalah kebiasaan umum, bahwa serangan biasanya dilakukan di waktu pagi, “maka menerbangkan debu”, yaitu dengan larinya dan serangannya menimbulkan “debu”, “lalu menyerbu ke tengah-tengah”, yaitu dengan penunggangnya “kumpulan musuh”, yaitu masuk ke tengah-tengah gerombolan musuh yang diserang.

Dan yang disumpahi adalah firman-Nya: “Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar (tidak bersyukur) kepada Tuhannya”, yaitu sangat pelit terhadap kebaikan yang seharusnya dia berikan kepada Tuhannya.

Tabiat manusia dan pembawaannya adalah jiwanya tidak mau memberikan hak-hak yang seharusnya dia tunaikan dengan sempurna dan penuh, bahkan tabiatnya adalah malas dan pelit terhadap hak-hak yang wajib atasnya baik hak harta maupun hak badan, kecuali orang yang diberi petunjuk Allah dan keluar dari sifat ini menuju sifat dermawan dalam menunaikan hak-hak. “Dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya”, yaitu sesungguhnya manusia atas apa yang dia ketahui dari dirinya berupa pelit dan ingkar menjadi saksi akan hal itu, dia tidak mengingkarinya dan tidak menyangkalnya, karena itu adalah perkara yang jelas dan nyata. Ada kemungkinan juga bahwa kata ganti kembali kepada Allah Ta’ala, yaitu: sesungguhnya hamba sangat ingkar kepada Tuhannya, dan Allah menyaksikan hal itu, maka di dalamnya terdapat ancaman dan intimidasi yang keras bagi orang yang ingkar kepada Tuhannya, bahwa Allah menyaksikannya.

“Dan sesungguhnya dia”, yaitu manusia “sangat bakhil karena cintanya kepada harta”, yaitu sangat cinta kepada harta.

Cintanya terhadap hal itu adalah yang menyebabkannya meninggalkan hak-hak yang wajib atasnya, mendahulukan syahwat nafsunya daripada hak Tuhannya. Dan semua ini karena dia membatasi pandangannya pada negeri ini dan lengah dari akhirat, oleh karena itu Allah berfirman untuk mendorongnya agar takut kepada hari ancaman:

“Maka apakah dia tidak mengetahui”, yaitu mengapa orang yang tertipu ini tidak mengetahui “apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur”, yaitu ketika Allah mengeluarkan orang-orang mati dari kubur-kubur mereka untuk dikumpulkan dan dibangkitkan. “Dan dihimpun apa yang tersimpan di dalam dada. Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka.”

“Dan dihimpun apa yang tersimpan di dalam dada”, yaitu tampak dan jelas apa yang ada di dalamnya dan apa yang tersembunyi di dada berupa kebaikan dan kejahatan yang tersimpan, maka yang rahasia menjadi terang-terangan, dan yang batin menjadi zahir, dan tampaklah pada wajah makhluk hasil amal perbuatan mereka.

“Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka”, yaitu mengetahui amal perbuatan mereka yang zahir dan batin, yang tersembunyi dan yang terang-terangan, dan memberi balasan kepada mereka karenanya. Dan Allah mengkhususkan pengetahuan-Nya pada hari itu, padahal Dia Maha Mengetahui keadaan mereka di setiap waktu, karena yang dimaksud dengan itu adalah pemberian balasan atas amal perbuatan yang muncul dari pengetahuan Allah dan pengawasan-Nya.

 

 

Tafsir Surah Al-Qari’ah

Surah ini Makkiyah

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Hari kiamat, apakah hari kiamat itu? Dan tahukah kamu apakah hari kiamat itu? Pada hari ketika manusia seperti anai-anai yang beterbangan, dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan. Adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat tinggalnya adalah neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas. (QS. Al-Qari’ah: 1-11)

“Hari kiamat” adalah salah satu nama hari kiamat, dinamakan demikian karena hari itu mengetuk manusia dan mengejutkan mereka dengan kehebatan-kehebatnnya. Oleh karena itu Allah membesarkan perkaranya dan mengagungkannya dengan firman-Nya: “Hari kiamat, apakah hari kiamat itu? Dan tahukah kamu apakah hari kiamat itu? Pada hari ketika manusia” karena dahsyatnya ketakutan dan kehebatan, “seperti anai-anai yang beterbangan”, yaitu seperti belalang yang bertebaran, yang berdesak-desakan satu sama lain. Anai-anai adalah hewan-hewan yang ada di malam hari, berdesak-desakan satu sama lain tidak tahu mau ke mana tujuannya. Jika dinyalakan api untuknya, mereka berdatangan kepadanya karena lemahnya akal mereka. Inilah keadaan manusia yang berakal. Adapun gunung-gunung yang keras dan kuat, maka akan menjadi “seperti bulu yang dihambur-hamburkan”, yaitu seperti wol yang dihambur-hamburkan, yang menjadi sangat lemah, yang bisa diterbangkan oleh angin sekecil apa pun. Allah Ta’ala berfirman: “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.” Kemudian setelah itu, menjadi debu yang berterbangan, lalu lenyap dan tidak tersisa darinya sesuatu yang bisa dilihat. Maka ketika itulah ditegakkan timbangan-timbangan, dan manusia terbagi menjadi dua bagian: yang berbahagia dan yang celaka. “Adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya”, yaitu kebaikannya lebih berat daripada kejelekannya “maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan” di surga-surga yang penuh nikmat.

“Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya” karena dia tidak memiliki kebaikan yang bisa mengimbangi kejahatannya.

“Maka tempat tinggalnya adalah neraka Hawiyah”, yaitu tempat kembali dan tempat tinggalnya adalah neraka, yang salah satu namanya adalah Hawiyah, yang akan menjadi baginya seperti ibu yang selalu menyertainya sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya azab neraka itu adalah kerugian yang kekal.”

Ada yang mengatakan bahwa makna itu adalah: maka ubun-ubun kepalanya terjerembab ke dalam neraka, yaitu dia dilemparkan ke dalam neraka dengan kepala di bawah.

“Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?” Dan ini adalah pengagungan terhadap perkaranya, kemudian Allah menjelaskannya dengan firman-Nya, yaitu: “(Yaitu) api yang sangat panas”, yaitu api yang sangat panas, yang panasnya melebihi panas api dunia tujuh puluh kali lipat. Kami berlindung kepada Allah darinya.

 

 

Tafsir Surah At-Takathur

Surah ini Makkiyah

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Jangan begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu), dan jangan begitu, kelak kamu akan mengetahui. Jangan begitu, kalau kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu akan melihat neraka Jahim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu peroleh di dunia). (QS. At-Takathur: 1-8)

Allah Ta’ala berfirman sambil mencela hamba-hamba-Nya karena kesibukan mereka dari apa yang untuk itu mereka diciptakan yaitu beribadah kepada-Nya semata tanpa sekutu, mengenal-Nya, kembali kepada-Nya, dan mendahulukan cinta kepada-Nya daripada segala sesuatu: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu” dari hal yang disebutkan itu “Bermegah-megahan”. Dan Allah tidak menyebutkan apa yang dimegah-megahkan, agar hal itu mencakup semua hal yang dimegah-megahkan oleh orang-orang yang bermegah-megahan dan dibanggakan oleh orang-orang yang membanggakan, berupa bermegah-megahan dalam harta, anak-anak, penolong-penolong, tentara, pelayan, kedudukan, dan lain-lain yang dimaksudkan untuk saling berbangga satu sama lain, dan bukan dimaksudkan untuk ikhlas karena Allah Ta’ala.

Maka terus berlanjut kelengahan dan kesenangan kalian hingga “sampai kamu masuk ke dalam kubur”. Maka tersingkaplah bagi kalian ketika itu tabir, tetapi setelah tidak mungkin lagi bagi kalian untuk mengulanginya.

Dan firman-Nya: “sampai kamu masuk ke dalam kubur” menunjukkan bahwa barzakh adalah negeri yang dimaksudkan untuk menuju kepada negeri yang kekal, bahwa Allah menyebut mereka sebagai pengunjung dan tidak menyebut mereka sebagai penghuni tetap.

Maka hal itu menunjukkan kebangkitan dan pembalasan atas amal perbuatan di negeri yang kekal tidak akan binasa. Oleh karena itu Allah mengancam mereka dengan firman-Nya: “Jangan begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu), dan jangan begitu, kelak kamu akan mengetahui. Jangan begitu, kalau kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin”, yaitu kalau kalian mengetahui apa yang ada di hadapan kalian dengan pengetahuan yang sampai ke hati, niscaya bermegah-megahan tidak akan melalaikan kalian, dan kalian akan bersegera kepada amal-amal saleh.

Tetapi tidak adanya pengetahuan yang hakiki menyebabkan kalian sampai kepada apa yang kalian lihat, “niscaya kamu akan melihat neraka Jahim”, yaitu kalian akan datang pada hari kiamat, maka kalian akan melihat neraka Jahim yang Allah sediakan untuk orang-orang kafir.

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin”, yaitu dengan penglihatan mata, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan orang-orang yang berdosa melihat neraka, lalu mereka meyakini bahwa mereka akan masuk ke dalamnya, dan mereka tidak memperoleh tempat lari daripadanya.”

“Kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan” yang kalian nikmati di negeri dunia, apakah kalian menunaikan syukur atasnya dan menunaikan hak Allah di dalamnya, dan tidak menjadikannya sebagai penolong untuk bermaksiat kepada-Nya, maka Allah akan memberi kalian nikmat yang lebih tinggi dan lebih baik darinya.

Ataukah kalian tertipu dengannya dan tidak menunaikan syukur atasnya? Bahkan mungkin kalian menjadikannya sebagai penolong untuk bermaksiat kepada Allah, maka Allah akan memberi balasan kepada kalian karena hal itu. Allah Ta’ala berfirman: “Dan (ingatlah) hari ketika orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan): “Kamu telah menghabiskan rezeki yang baik-baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan.”

 

 

Tafsir Surah Al-Ashr

[Dan ia] adalah surah Makkiyyah {ayat 1-3}

{Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Demi masa * Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian * Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling menasihati supaya mentaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran} – Surah Al-Ashr ayat 1-3.

Allah Ta’ala bersumpah demi masa, yaitu malam dan siang, yang merupakan tempat perbuatan dan amal para hamba, bahwa setiap manusia itu merugi, dan orang yang rugi adalah lawan dari orang yang untung.

Dan kerugian itu memiliki tingkatan yang beragam dan berbeda-beda: Bisa jadi kerugian yang mutlak, seperti keadaan orang yang merugi di dunia dan akhirat, kehilangan kenikmatan, dan berhak mendapat neraka.

Dan bisa jadi rugi dalam beberapa segi tanpa segi yang lain, karena itulah Allah mengumumkan kerugian untuk setiap manusia, kecuali yang memiliki empat sifat:

Iman terhadap apa yang Allah perintahkan untuk diimani, dan iman tidak akan ada tanpa ilmu, karena ia adalah cabang darinya yang tidak sempurna kecuali dengannya.

Dan amal shaleh, ini mencakup semua perbuatan baik, yang zhahir dan batin, yang berkaitan dengan hak Allah dan hak para hamba-Nya, yang wajib dan sunnah.

Dan saling menasihati dengan kebenaran, yaitu iman dan amal shaleh, maksudnya: sebagian mereka menasihati sebagian yang lain dengan hal tersebut, dan mendorong kepadanya, serta menganjurkannya.

Dan saling menasihati dengan kesabaran terhadap ketaatan kepada Allah, menjauhi kemaksiatan kepada Allah, dan terhadap takdir Allah yang menyakitkan.

Dengan dua perkara pertama, manusia menyempurnakan dirinya sendiri, dan dengan dua perkara terakhir ia menyempurnakan orang lain, dan dengan menyempurnakan keempat perkara tersebut, manusia akan selamat dari kerugian dan beruntung dengan keuntungan yang besar.

 

 

Tafsir Surah Al-Humazah

Dan ia adalah surah Makkiyyah {ayat 1-9}

{Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kecelakaan besarlah bagi setiap pengumpat lagi pencela * Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya * Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya * Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah * Tahukah kamu apakah Huthamah itu? * (Yaitu) api (azab) Allah yang dinyalakan * Yang (membakar) sampai ke hati * Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka * Dalam tiang-tiang yang panjang} – Surah Al-Humazah ayat 1-9.

{Kecelakaan besar} yaitu: ancaman, dan bencana, dan siksa yang keras {bagi setiap pengumpat lagi pencela} yang mengumpat manusia dengan perbuatannya, dan mencela mereka dengan ucapannya. Al-Hammaz adalah orang yang mencela manusia dan mencaci mereka dengan isyarat dan perbuatan, sedangkan Al-Lammaz adalah orang yang mencela mereka dengan ucapannya.

Dan dari sifat pengumpat pencela ini adalah tidak ada perhatian baginya selain mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya serta bangga dengannya, dan tidak ada keinginan baginya untuk membelanjakannya di jalan-jalan kebaikan dan silaturahmi, dan semacam itu. {Dia mengira} karena kebodohannya {bahwa hartanya dapat mengkekalkannya} di dunia, karena itu usaha dan jerih payahnya semua dalam mengembangkan hartanya, yang dia kira dapat memperpanjang umurnya, dan dia tidak tahu bahwa kekikiran dapat memperpendek umur dan merusak rumah, dan bahwa kebaikan menambah umur.

{Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan} yaitu: akan dicampakkan {ke dalam Huthamah. Tahukah kamu apakah Huthamah itu?} untuk mengagungkannya dan menakut-nakutinya.

Kemudian Allah menafsirkannya dengan firman-Nya: {(Yaitu) api (azab) Allah yang dinyalakan} yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu {Yang} karena kerasnya {(membakar) sampai ke hati} yaitu: menembus dari tubuh sampai ke hati.

Dan dengan panasnya yang dahsyat ini mereka terkurung di dalamnya, telah putus asa untuk keluar darinya, karena itu Allah berfirman: {Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka} yaitu: tertutup rapat {dalam tiang-tiang} dari belakang pintu-pintu {yang panjang} agar mereka tidak keluar darinya {setiap kali mereka hendak keluar darinya, mereka dikembalikan ke dalamnya}.

[Kita berlindung kepada Allah dari hal itu, dan memohon kepada-Nya ampunan dan keselamatan].

 

 

Tafsir Surah Al-Fil

Dan ia adalah surah Makkiyyah {ayat 1-5}

{Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? * Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? * Dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong * Yang melempari mereka dengan batu dari tanah yang terbakar * Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)} – Surah Al-Fil ayat 1-5.

Yaitu: tidakkah engkau lihat dari kekuasaan Allah dan keagungan-Nya, serta rahmat-Nya kepada para hamba-Nya, dan dalil-dalil keesaan-Nya, serta kebenaran rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, apa yang Allah lakukan terhadap pemilik-pemilik gajah, yang bermaksud jahat terhadap rumah-Nya yang haram dan ingin merusaknya, maka mereka bersiap-siap untuk hal itu, dan membawa serta gajah-gajah untuk meruntuhkannya, dan datang dengan pasukan yang tidak mampu dilawan oleh orang Arab, dari Habasyah dan Yaman. Ketika mereka sampai dekat Makkah, dan tidak ada di kalangan orang Arab yang bisa melawan, dan penduduk Makkah keluar dari Makkah karena takut kepada diri mereka dari mereka, Allah mengirimkan kepada mereka burung-burung berbondong-bondong yaitu: bertebaran, yang membawa batu-batu panas dari sijjil, lalu melempari mereka dengannya, dan mengejar mereka yang jauh dan yang dekat, maka mereka padam dan mati, dan menjadi seperti daun-daun yang dimakan, dan Allah mencukupkan kejahatan mereka, serta membalikkan tipu daya mereka ke dada mereka sendiri, [dan kisah mereka sudah dikenal dan masyhur]. Dan tahun itulah tahun kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga menjadi bagian dari tanda-tanda awal dakwahnya, dan pendahuluan risalahnya, maka bagi Allah segala puji dan syukur.

 

 

Tafsir Surah Li Ilafi Quraisy

Dan ia adalah surah Makkiyyah {ayat 1-4}

{Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Karena kebiasaan orang-orang Quraisy * (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas * Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah) * Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan} – Surah Quraisy ayat 1-4.

Banyak mufassir mengatakan: bahwa jar majrur (li ilafi) berkaitan dengan surah sebelumnya yaitu: Kami lakukan apa yang Kami lakukan terhadap pemilik-pemilik gajah demi Quraisy dan keamanan mereka, serta kelurusan kepentingan mereka, dan keteraturan perjalanan mereka di musim dingin ke Yaman, dan musim panas ke Syam, untuk berdagang dan mencari keuntungan.

Maka Allah membinasakan orang yang ingin berbuat jahat kepada mereka, dan mengagungkan urusan tanah haram dan penduduknya di hati orang Arab, hingga mereka menghormati mereka, dan tidak menghalangi mereka dalam perjalanan apa pun yang mereka inginkan, karena itu Allah memerintahkan mereka untuk bersyukur, maka Allah berfirman: {Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan pemilik rumah ini} yaitu: hendaklah mereka mengesakan-Nya dan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya, {Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan}. Kemudahan rezeki dan keamanan dari ketakutan, termasuk nikmat duniawi yang terbesar, yang mewajibkan syukur kepada Allah Ta’ala.

Maka bagi-Mu ya Allah segala puji dan syukur atas nikmat-nikmat-Mu yang zhahir dan batin, dan Allah mengkhususkan ketuhanan untuk Bait karena keutamaan dan kemuliaannya, jika tidak Dia adalah Tuhan segala sesuatu.

 

 

Tafsir Surah Al-Ma’un

[Dan ia] adalah surah Makkiyyah {ayat 1-7}

{Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? * Itulah orang yang menghardik anak yatim * Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin * Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat * (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya * Orang-orang yang berbuat riya * Dan enggan (menolong dengan) barang berguna} – Surah Al-Ma’un ayat 1-7.

Allah Ta’ala berfirman dalam mencela orang yang meninggalkan hak-hak-Nya dan hak-hak hamba-hamba-Nya: {Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?} yaitu: mendustakan kebangkitan dan pembalasan, sehingga tidak beriman dengan apa yang dibawa oleh para rasul.

{Itulah orang yang menghardik anak yatim} yaitu: mendorongnya dengan kasar dan keras, dan tidak menyayanginya karena kerasnya hatinya, dan karena dia tidak mengharap pahala dan tidak takut hukuman.

{Dan tidak menganjurkan} orang lain {memberi makan orang miskin} dan lebih-lebih lagi dia sendiri tidak memberi makan orang miskin. {Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat} yaitu: orang-orang yang berkomitmen untuk mendirikan shalat, tetapi mereka {lalai dari shalatnya} yaitu: menyia-nyiakannya, meninggalkan waktunya, melalaikan rukun-rukannya. Dan ini karena kurangnya perhatian mereka terhadap perintah Allah, di mana mereka menyia-nyiakan shalat, yang merupakan ibadah yang paling penting dan afdhal. Dan lalai dari shalat, itulah yang pantas pemiliknya mendapat celaan dan teguran. Adapun lupa dalam shalat, ini terjadi pada setiap orang, bahkan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Karena itu Allah menggambarkan orang-orang ini dengan riya dan kekerasan serta tidak ada belas kasihan, maka Allah berfirman: {Orang-orang yang berbuat riya} yaitu melakukan amal karena ingin dilihat manusia.

{Dan enggan (menolong dengan) barang berguna} yaitu: menolak memberi sesuatu, yang memberikannya tidak merugikan dalam bentuk pinjaman, atau hibah, seperti bejana, ember, kapak, dan semacamnya, yang sudah menjadi kebiasaan untuk diberikan dan bermurah hati dengannya.

Maka orang-orang ini -karena sangat kikir mereka- menahan barang berguna, bagaimana lagi dengan yang lebih dari itu.

Dan dalam surah ini, ada dorongan untuk memuliakan anak yatim, dan orang-orang miskin, dan menganjurkan hal itu, serta memelihara shalat, dan menjaganya, dan keikhlasan [di dalamnya dan] dalam semua amal.

Dan dorongan untuk [berbuat ma’ruf dan] memberikan harta yang ringan, seperti meminjamkan bejana dan ember dan buku, dan semacamnya, karena Allah mencela orang yang tidak melakukan hal itu, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih mengetahui yang benar dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

 

 

Tafsir Surah Al-Kautsar

Dan ia adalah surah Makkiyyah {ayat 1-3}

{Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak * Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah * Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus} – Surah Al-Kautsar ayat 1-3.

Allah Ta’ala berfirman kepada nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan menganugerahi kepadanya: {Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar} yaitu: kebaikan yang banyak, dan karunia yang melimpah, yang di antaranya, apa yang Allah berikan kepada nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari kiamat, berupa sungai yang disebut {Al-Kautsar} dan telaga.

Panjangnya sebulan perjalanan, lebarnya sebulan perjalanan, airnya lebih putih dari susu, dan lebih manis dari madu, bejana-bejananya seperti bintang-bintang langit dalam banyaknya dan cahayanya, barangsiapa minum darinya sekali minum tidak akan haus lagi selamanya.

Dan ketika Allah menyebutkan anugerah-Nya kepadanya, Dia memerintahkannya untuk mensyukurinya maka berfirman: {Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah}. Dia mengkhususkan kedua ibadah ini dengan penyebutan, karena keduanya termasuk ibadah yang paling utama dan pendekatan diri yang paling mulia.

Dan karena shalat mengandung kekhusyukan [dalam] hati dan anggota badan kepada Allah, dan perpindahannya dalam berbagai jenis penghambaan, dan dalam menyembelih ada pendekatan diri kepada Allah dengan yang paling baik yang dimiliki hamba berupa hewan kurban, dan pengeluaran harta yang fitrah jiwa-jiwa cinta kepadanya dan kikir dengannya.

{Sesungguhnya orang yang membenci kamu} yaitu: yang membencimu dan mencelamu serta merendahkanmu {dialah yang terputus} yaitu: terputus dari segala kebaikan, terputus amalnya, terputus sebutannya.

Adapun Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dialah yang sempurna sesungguhnya, yang memiliki kesempurnaan yang mungkin bagi makhluk, berupa tingginya sebutan, dan banyaknya para penolong, dan pengikut shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

 

Tafsir Surah Al-Kafirun

{ayat 1-6}

{Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Hai orang-orang kafir * Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah * Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah * Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah * Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah * Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”} – Surah Al-Kafirun ayat 1-6.

Yaitu: katakan kepada orang-orang kafir dengan mengumumkan dan menyatakan {Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah} yaitu: berlepas diri dari apa yang mereka sembah selain Allah, lahir dan batin.

{Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah} karena tidak ikhlas kalian dalam menyembah-Nya, maka ibadah kalian kepada-Nya yang disertai syirik tidak disebut ibadah, kemudian Dia mengulangi hal itu untuk menunjukkan yang pertama tentang tidak adanya perbuatan, dan yang kedua bahwa hal itu telah menjadi sifat yang melekat.

Karena itu Dia membedakan antara dua kelompok, dan memisahkan antara dua golongan, maka berfirman: {Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku} sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: {Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya”} {Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan”}.

 

 

Tafsir Surah An-Nasr

Dan ia adalah surah Madaniyyah {ayat 1-3}

{Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan * Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong * Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat} – Surah An-Nasr ayat 1-3.

Dalam surah yang mulia ini, ada kabar gembira dan perintah untuk rasul-Nya ketika hal itu terjadi, dan isyarat serta peringatan tentang apa yang akan terjadi karena hal itu.

Adapun kabar gembira adalah kabar gembira dengan pertolongan Allah untuk rasul-Nya, dan pembebasan Makkah, dan masuknya manusia ke dalam agama Allah berbondong-bondong, sehingga banyak dari mereka menjadi pengikut dan penolongnya, setelah sebelumnya mereka adalah musuh-musuhnya, dan hal yang dikabarkan ini telah terjadi. Adapun perintah setelah terjadinya pertolongan dan kemenangan, maka Allah memerintahkan rasul-Nya untuk bersyukur kepada Tuhan-nya atas hal itu, dan bertasbih dengan memuji-Nya dan memohon ampunan kepada-Nya. Adapun isyarat, maka dalam hal itu ada dua isyarat: isyarat agar pertolongan untuk agama ini terus berlanjut, dan bertambah ketika terjadi tasbih dengan memuji Allah dan istighfar dari rasul-Nya, karena ini termasuk syukur, dan Allah berfirman: {Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu}. Dan hal itu telah terjadi di zaman khulafaur rasyidin dan setelah mereka pada umat ini, pertolongan Allah terus berlanjut, hingga Islam sampai ke tempat yang tidak pernah dicapai agama-agama lain, dan masuk ke dalamnya apa yang tidak masuk ke agama lainnya, hingga terjadi dari umat ini penyimpangan dari perintah Allah, maka Allah menguji mereka dengan perpecahan kalimat, dan keretakan urusan, maka terjadilah apa yang terjadi.

[Meskipun demikian] bagi umat ini, dan agama ini, dari rahmat Allah dan kebaikan-Nya, apa yang tidak terbayangkan oleh akal, atau berputar dalam khayalan.

Adapun isyarat yang kedua, maka itu adalah isyarat bahwa ajal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah dekat dan menjelang, dan segi hal itu adalah bahwa umurnya adalah umur yang utama yang Allah bersumpah dengannya.

Dan telah diketahui bahwa perkara-perkara utama ditutup dengan istighfar, seperti shalat dan haji, dan lain-lain.

Maka perintah Allah kepada rasul-Nya dengan pujian dan istighfar dalam keadaan ini, adalah isyarat bahwa ajalnya telah berakhir, maka hendaklah bersiap dan bersiap-siap untuk bertemu Tuhan-nya, dan menutup umurnya dengan sebaik-baik yang dia dapati, shalawaatullahi wa salaamuhu ‘alaihi.

Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengartikan Al-Quran, dan mengatakan hal itu dalam shalatnya, banyak mengucapkan dalam rukuk dan sujudnya: “Subhanaka Allahumma wa bihamdika, Allahummagh-fir li” (Maha Suci Engkau ya Allah dan dengan memuji-Mu, ya Allah ampunilah aku).

 

 

Tafsir Surah Tabbat

[Dan ia] adalah surah Makkiyyah

{1 – 5} Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah bermanfaat kepadanya harta bendanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut. (Surat Al-Masad/Al-Lahab)

Abu Lahab adalah paman Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan dia sangat memusuhi [dan menyakiti] Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dia tidak memiliki agama, dan tidak memiliki rasa kasih sayang kepada kerabat -semoga Allah melaknatnya-. Maka Allah mencela dia dengan celaan yang besar, yang menjadi kehinaan baginya hingga hari kiamat. Allah berfirman: Binasalah kedua tangan Abu Lahab artinya: rugilah kedua tangannya, dan celakalah dia dan sesungguhnya dia akan binasa sehingga tidak mendapat keuntungan. Tidaklah bermanfaat kepadanya harta bendanya yang ada padanya dan membuatnya sombong, dan tidak pula apa yang dia usahakan, sehingga tidak dapat menolak sedikitpun dari azab Allah ketika menimpanya. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak artinya: api akan mengelilinginya dari segala sisi, dia Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar.

Istrinya juga sangat menyakiti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dia dan suaminya bekerja sama dalam dosa dan permusuhan, menyebarkan kejahatan, dan berusaha sekuat tenaga untuk menyakiti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dia mengumpulkan dosa-dosa di punggungnya seperti orang yang mengumpulkan kayu bakar, telah disiapkan untuknya di lehernya tali dari sabut yaitu dari serabut.

Atau dia memikul kayu bakar di neraka untuk suaminya, dengan menggantungkan di lehernya tali dari sabut. Bagaimanapun, dalam surat ini terdapat mukjizat yang nyata dari ayat-ayat Allah, karena Allah menurunkan surat ini ketika Abu Lahab dan istrinya belum meninggal, dan Allah mengabarkan bahwa keduanya pasti akan disiksa di neraka. Konsekuensi dari hal itu adalah keduanya tidak akan masuk Islam, maka terjadilah sebagaimana yang diberitakan oleh Dzat Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata.

 

 

Tafsir Surat Al-Ikhlas

[Surat ini] Makkiyah {1 – 4} Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”

Artinya Katakanlah dengan keyakinan penuh, dengan meyakininya, dan mengetahui maknanya, Dia-lah Allah, Yang Maha Esa artinya: ke-Esa-an telah terpusat pada-Nya, maka Dia adalah Yang Maha Esa yang menyendiri dengan kesempurnaan, yang memiliki Asma-ul Husna (nama-nama yang baik), sifat-sifat yang sempurna lagi mulia, dan perbuatan-perbuatan yang suci, yang tidak memiliki tandingan dan tidak ada yang menyerupai-Nya.

Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu artinya: Yang dituju dalam semua kebutuhan. Penghuni alam atas dan bawah sangat membutuhkan kepada-Nya, mereka meminta kepada-Nya kebutuhan-kebutuhan mereka, dan mengharap kepada-Nya dalam urusan-urusan penting mereka, karena Dia Maha Sempurna dalam sifat-sifat-Nya, Maha Mengetahui yang telah sempurna dalam ilmu-Nya, Maha Penyabar yang telah sempurna dalam kesabaran-Nya, Maha Penyayang yang [sempurna dalam rahmat-Nya yang] meluas rahmat-Nya kepada segala sesuatu, demikian pula seluruh sifat-sifat-Nya yang lain. Dari kesempurnaan-Nya adalah bahwa Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan karena kesempurnaan kecukupan-Nya dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia tidak dalam nama-nama-Nya, tidak dalam sifat-sifat-Nya, dan tidak dalam perbuatan-perbuatan-Nya, Maha Suci dan Maha Tinggi Dia.

Maka surat ini mencakup tauhid asma dan sifat.

 

 

Tafsir Surat Al-Falaq

[Surat ini] Makkiyah {1 – 5} Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang meniup pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.”

Artinya: Katakanlah sambil berlindung Aku berlindung artinya: aku berlindung dan berteduh, dan berpegang teguh kepada Tuhan yang menguasai subuh yaitu: Yang membelah biji dan batu, dan Yang membelah fajar.

dari kejahatan makhluk-Nya dan ini mencakup semua yang diciptakan Allah, dari manusia, jin, dan hewan, maka berlindunglah kepada Pencipta mereka, dari kejahatan yang ada pada mereka. Kemudian disebutkan secara khusus setelah disebutkan secara umum, Allah berfirman: dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita artinya: dari kejahatan apa yang terjadi di malam hari, ketika menyelimuti manusia, dan banyak tersebar padanya roh-roh jahat dan hewan-hewan yang menyakiti.

dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang meniup pada buhul-buhul artinya: dan dari kejahatan para penyihir wanita, yang meminta bantuan dalam sihir mereka dengan meniup pada simpul-simpul, yang mereka simpulkan untuk sihir.

dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki dan orang yang dengki adalah orang yang ingin hilangnya nikmat dari orang yang didengkinya, maka dia berusaha menghilangkannya dengan sebab-sebab yang dia mampu. Maka perlu berlindung kepada Allah dari kejahatannya, dan membatalkan tipudayanya, dan termasuk dalam orang yang dengki adalah orang yang menyihir dengan mata, karena sihir mata tidak keluar kecuali dari orang yang dengki yang jahat tabiatnya, buruk jiwanya. Maka surat ini, mencakup perlindungan dari semua jenis kejahatan, secara umum dan khusus.

Dan menunjukkan bahwa sihir memiliki hakikat yang ditakuti bahayanya, dan berlindung kepada Allah darinya [dan dari ahlinya].

Tafsir Surat An-Nas

Dan surat ini Madaniyah {1 – 6} Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.”

Dan surat ini mencakup berlindung kepada Tuhan manusia, Raja mereka dan Sembahan mereka, dari setan yang merupakan asal dari semua kejahatan dan sumbernya. Dari fitnah dan kejahatannya adalah dia membisikkan ke dalam dada manusia, sehingga dia memperindah kejahatan untuk mereka, dan memperlihatkannya kepada mereka dalam bentuk yang indah, dan menggiatkan keinginan mereka untuk melakukannya, dan memburukkan kebaikan untuk mereka serta menyurutkan mereka darinya, dan memperlihatkan kebaikan kepada mereka dalam bentuk selain bentuknya. Dia senantiasa dalam keadaan seperti ini membisikkan dan bersembunyi yaitu: mundur ketika hamba mengingat Tuhannya dan meminta pertolongan untuk mengusirnya.

Maka hendaklah dia [meminta pertolongan dan] berlindung serta berpegang teguh dengan ketuhanan Allah atas semua manusia.

Dan bahwa semua makhluk, masuk di bawah ketuhanan dan kerajaan, maka setiap makhluk bergerak Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya.

Dan dengan ketuhanan-Nya yang untuk-Nya mereka diciptakan, maka tidak akan sempurna bagi mereka kecuali dengan menolak kejahatan musuh mereka, yang ingin memotong mereka darinya dan menghalangi antara mereka dengannya, dan ingin menjadikan mereka dari golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka. Dan bisikan sebagaimana terjadi dari jin juga terjadi dari manusia, karena itu Allah berfirman: dari (golongan) jin dan manusia.

Dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam pertama dan terakhir, lahir dan batin.

Dan kami memohon kepada-Nya agar Dia menyempurnakan nikmat-Nya, dan agar Dia mengampuni dosa-dosa kami yang menghalangi antara kami dengan banyak berkah-Nya, dan kesalahan-kesalahan serta syahwat yang memalingkan hati kami dari mentadaburi ayat-ayat-Nya.

Dan kami berharap dan mengharap kepada-Nya agar Dia tidak mengharamkan kepada kami kebaikan yang ada pada-Nya karena kejahatan yang ada pada kami, karena sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir, dan tidak berputus asa dari rahmat-Nya kecuali kaum yang sesat.

Dan semoga Allah bershalawat dan salam kepada Rasul-Nya Muhammad dan kepada keluarga dan sahabatnya semuanya, dengan shalawat dan salam yang kekal berkesinambungan sepanjang masa, dan segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya sempurnalah amal-amal shalih.

Telah selesai tafsir Kitab Allah dengan pertolongan-Nya dan baik taufik-Nya, atas tangan penyusun dan penulisnya, Abdurrahman bin Nashir bin Abdullah yang dikenal dengan Ibnu Sa’di, semoga Allah mengampuninya dan kedua orang tuanya serta semua kaum muslimin, dan itu pada awal bulan Rabiul Awwal tahun empat puluh empat dan tiga ratus dan seribu dari hijrah Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

 

 

Kaidah-kaidah dan Prinsip-prinsip Umum dari Ushul Tafsir dan Prinsip-prinsipnya yang tidak dapat dipisahkan dari Mufassir Al-Quran

Kata benda tak tentu (nakirah) dalam konteks penafian, atau konteks larangan, atau pertanyaan, atau konteks syarat, bersifat umum, demikian pula kata tunggal yang diidhafahkan bersifat umum, dan contoh-contoh untuk itu sangat banyak.

Maka ketika kamu menemukan kata benda tak tentu yang terletak setelah hal-hal yang disebutkan, atau menemukan kata tunggal yang diidhafahkan kepada kata yang ma’rifah, maka tetapkanlah semua yang masuk dalam lafazh tersebut, dan jangan hanya mempertimbangkan sebab turunnya saja, karena “Yang diambil adalah keumuman lafazh, bukan kekhususan sebab”.

Dan hendaknya kamu menerapkan semua peristiwa dan perbuatan yang terjadi, dan yang masih terus terjadi, kepada keumuman-keumuman Al-Quran, dengan demikian kamu akan mengetahui bahwa Al-Quran adalah penjelasan untuk segala sesuatu, dan bahwa tidak terjadi suatu peristiwa, dan tidak ada suatu perkara yang baru, kecuali dalam Al-Quran ada penjelasan dan kejelasannya.

Dari kaidah-kaidahnya bahwa alif lam yang masuk pada sifat-sifat, dan pada nama-nama jenis, berfaedah mencakup semua yang dimasukinya dari makna-makna.

Dari prinsip-prinsip umum Al-Quran, bahwa Al-Quran menyeru kepada mentauhidkan Allah dan mengenal-Nya, dengan menyebutkan nama-nama Allah, dan sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya yang menunjukkan kesendirian-Nya dengan keesaan, dan sifat-sifat kesempurnaan, dan bahwa Dialah yang haq, dan ibadah kepada-Nya adalah yang haq, dan apa yang mereka seru selain-Nya adalah batil, dan menjelaskan kekurangan semua yang disembah selain Allah dari segala segi.

Dan menyeru kepada kebenaran apa yang dibawa oleh Rasul Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan kejujurannya, dengan menjelaskan keteraturannya, dan kesempurnaannya, dan kebenaran semua berita-beritanya, dan baiknya hukum-hukumnya. Dan menjelaskan apa yang ada pada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dari kesempurnaan manusiawi yang tidak dapat dicapai oleh seorangpun dari orang-orang terdahulu dan kemudian, dan menantang mereka untuk datang dengan yang serupa dengan apa yang dibawanya jika mereka benar.

Dan menetapkan itu dengan kesaksian-Nya dengan ucapan dan perbuatan dan penetapan-Nya terhadapnya, dan membenarkannya dengan hujjah dan bukti, dan dengan pertolongan dan kemenangan, dan dengan kesaksian ahli ilmu yang adil. Dan membandingkan antara apa yang dibawanya dari kebenaran dalam berita-berita dan hukum-hukumnya, dengan apa yang ada pada musuh-musuhnya, dan orang-orang yang mendustakannya, dari kebohongan dalam berita-berita mereka, dan kebatilan dalam hukum-hukum mereka, sebagaimana menetapkan itu dengan mukjizat-mukjizat yang beragam.

Dan Allah menetapkan hari akhir dengan menyebutkan kesempurnaan kekuasaan-Nya, dan penciptaan-Nya terhadap langit dan bumi, yang keduanya lebih besar dari penciptaan manusia, dan bahwa Yang memulai penciptaan mampu mengulanginya dengan lebih utama, dan bahwa Yang menghidupkan bumi setelah matinya mampu menghidupkan orang-orang mati. Dan menyebutkan juga hari-hari-Nya pada umat-umat, dan terjadinya hukuman-hukuman yang disaksikan manusia di dunia, dan bahwa itu adalah contoh dari balasan akhirat.

Dan menyeru semua orang-orang yang membuat kebatilan dari kafir dan musyrik dan mulhid dengan menyebutkan kebaikan-kebaikan agama, dan bahwa agama membimbing kepada yang paling lurus, dalam akidah-akidahnya dan akhlak-akhlaknya dan amal-amalnya, dan penjelasan apa yang dimiliki Allah dari keagungan dan ketuhanan, dan nikmat-nikmat yang besar. Dan bahwa Yang menyendiri dengan kesempurnaan mutlak, dan semua nikmat, Dialah yang tidak layak disembah kecuali Dia, dan bahwa apa yang ada pada orang-orang yang membuat kebatilan, jika dibedakan dan diteliti akan didapati kejahatan dan kebatilan dan akibat-akibatnya buruk.

Dari kaidah tafsir, jika kamu memahami apa yang ditunjukkan oleh ayat-ayat mulia dari makna-makna secara muthobaqoh dan tadzommun, maka ketahuilah bahwa konsekuensi dari makna-makna ini, dan apa yang tidak sempurna kecuali dengannya, dan syarat-syarat serta hal-hal yang mengikutinya, mengikuti makna tersebut, maka apa yang tidak sempurna berita kecuali dengannya, maka itu mengikuti berita, dan apa yang tidak sempurna hukum kecuali dengannya, maka itu mengikuti hukum, dan bahwa ayat-ayat yang dipahami darinya pertentangan dan kontradiksi, tidak ada di dalamnya kontradiksi dan pertentangan, bahkan wajib membawa masing-masing kepada keadaan yang sesuai dan layak dengannya. Dan bahwa penghapusan hal-hal yang berkaitan, dari maf’ul dan lainnya, menunjukkan keumuman makna, karena ini dari faedah terbesar penghapusan, dan bahwa tidak boleh menghapus apa yang tidak ditunjukkan oleh konteks lafzhiy, dan qorinah haliyah, sebagaimana bahwa hukum-hukum yang dibatasi dengan syarat atau sifat menunjukkan bahwa pembatasan-pembatasan itu, tidak boleh tidak ada dalam penetapan hukum.

Jika Allah memerintahkan sesuatu maka Dia melarang lawannya, dan jika Dia melarang sesuatu maka Dia memerintahkan lawannya, dan jika Dia memuji diri-Nya dengan menafikan sesuatu dari kekurangan-kekurangan; maka itu penetapan kesempurnaan yang bertentangan dengan kekurangan itu. Demikian pula jika Dia memuji rasul-rasul-Nya dan wali-wali-Nya dan mensucikan mereka dari sesuatu dari kekurangan-kekurangan; maka itu pujian bagi mereka dengan apa yang bertentangan dengan kekurangan itu, dan seperti itu penafian kekurangan-kekurangan dari rumah nikmat, menunjukkan penetapan lawan dari itu.

Dari prinsip-prinsip umum; bahwa jika kebenaran jelas dan tampak dengan jelas, maka tidak ada lagi tempat untuk perdebatan ilmiah dan pertentangan praktis, bahkan pertentangan-pertentangan batal, dan perdebatan-perdebatan hilang.

Apa yang dinafikan Al-Quran; maka baik itu tidak ada, atau itu ada, tetapi tidak berfaedah dan tidak bermanfaat.

Yang dibayangkan tidak menolak yang diketahui, dan yang tidak diketahui tidak menentang yang telah pasti, dan sesudah kebenaran tidak ada kecuali kesesatan.

Allah menyebutkan dalam Al-Quran iman dan amal shalih di banyak tempat, dikaitkan dengan keduanya dari balasan segera dan kemudian dan asar-asar yang terpuji banyak hal, maka iman adalah: pembenaran yang pasti, terhadap apa yang diperintahkan Allah dan rasul-Nya untuk membenarkannya, yang mencakup amal-amal anggota badan.

Dan amal shalih adalah: menunaikan hak-hak Allah, dan hak-hak hamba-hamba-Nya, demikian pula Allah memerintahkan dengan taqwa, dan memuji orang-orang yang bertaqwa, dan mengaitkan dengan taqwa terwujudnya kebaikan-kebaikan, dan hilangnya hal-hal yang dibenci. Dan taqwa yang sempurna: melaksanakan perintah Allah dan perintah rasul-Nya, dan menjauhi larangan keduanya dan membenarkan berita keduanya.

Dan jika Allah menggabungkan antara taqwa dan birr dan semacamnya, maka taqwa adalah nama untuk menghindari semua kemaksiatan, dan birr adalah nama untuk melakukan kebaikan-kebaikan, dan jika salah satunya disebutkan sendiri, maka yang lain masuk di dalamnya.

Dan Allah menyebutkan hidayah yang diminta di banyak tempat, dan memuji orang yang mendapat petunjuk, dan mengabarkan bahwa hidayah berada di tangan-Nya, dan memerintahkan kita untuk memintanya dari-Nya, dan berusaha dalam setiap sebab yang menghasilkan hidayah, dan itu mencakup hidayah ilmu dan amal.

Maka orang yang mendapat petunjuk: orang yang mengetahui kebenaran, dan mengamalkannya, dan lawannya adalah ghoy dan dholal, maka orang yang mengetahui kebenaran tetapi tidak mengamalkannya maka dia adalah orang yang ghoy, dan orang yang tidak mengetahui kebenaran maka dia adalah orang yang sesat.

Allah memerintahkan dengan ihsan, dan memuji orang-orang yang berbuat ihsan, dan menyebutkan balasan mereka yang beragam dalam ayat-ayat yang banyak. Dan hakikat ihsan: bahwa kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu, dan bahwa kamu memberikan apa yang kamu mampu dari manfaat harta dan badan dan ucapan kepada makhluk.

Dan memerintahkan dengan islah dan memuji orang-orang yang mengadakan perbaikan, dan mengabarkan bahwa Dia tidak menyia-nyiakan balasan dan pahala mereka.

Dan islah adalah: bahwa kamu berusaha dalam memperbaiki akidah manusia dan akhlak mereka. dan semua keadaan mereka, sehingga berada pada puncak kemungkinan dari kebaikan, dan juga mencakup perbaikan urusan agama, dan urusan dunia, dan perbaikan individu dan kelompok, dan lawan ini adalah kerusakan.

Dan ifsad, telah dilarang darinya, dan dicela orang-orang yang membuat kerusakan, dan disebutkan hukuman-hukuman mereka yang beragam, dan diberitakan bahwa Dia tidak memperbaiki amal-amal mereka yang agama dan dunia.

Allah memuji keyakinan, dan orang-orang yang yakin, dan bahwa mereka adalah orang-orang yang mengambil manfaat dari ayat-ayat Al-Quran, dan ayat-ayat ufuk.

Dan yakin lebih khusus dari ilmu, maka yakin adalah: ilmu yang kokoh, yang berbuah amal dan ketenangan.

Allah memerintahkan kesabaran, memuji orang-orang yang sabar, dan menyebutkan balasan mereka yang segera dan yang tertunda dalam beberapa ayat, sekitar sembilan puluh tempat, dan itu mencakup tiga jenisnya: Sabar dalam ketaatan kepada Allah, hingga melaksanakannya dengan sempurna dari segala sisi, dan sabar dari larangan-larangan Allah hingga mencegah jiwa yang selalu memerintahkan kepada kejahatan. Dan sabar atas takdir Allah yang menyakitkan, maka menerimanya dengan sabar dan berserah diri, tanpa menunjukkan ketidakpuasan dalam hatinya, badannya, maupun lisannya.

Demikian pula Allah memuji syukur, dan menyebutkan pahala orang-orang yang bersyukur, dan mengabarkan bahwa mereka adalah makhluk yang paling tinggi di dunia dan akhirat.

Hakikat syukur adalah: mengakui semua nikmat Allah, memuji Allah dengan nikmat-nikmat tersebut, dan meminta pertolongan dengannya untuk ketaatan kepada Yang Memberi nikmat.

Allah menyebutkan takut dan khasyah di banyak tempat. Dia memerintahkannya, memuji para ahlinya, menyebutkan pahala mereka, dan bahwa merekalah yang mengambil manfaat dari ayat-ayat, yang meninggalkan hal-hal yang diharamkan.

Hakikat takut dan khasyah adalah: agar hamba takut akan kedudukannya di hadapan Allah, dan kedudukan Allah atasnya, maka dengan ketakutan ini ia mencegah dirinya dari segala yang diharamkan Allah.

Dan raja (harapan) adalah: agar hamba berharap kepada rahmat Allah yang umum, dan rahmat-Nya yang khusus untuknya. Maka ia berharap diterimanya apa yang telah Allah karuniakan kepadanya berupa ketaatan, dan pengampunan atas apa yang telah ia taubati dari kesalahan-kesalahan, dan ia menggantungkan harapannya kepada Tuhannya dalam setiap keadaan dari keadaan-keadaannya.

Allah menyebutkan inabah (kembali kepada Allah) di banyak tempat, memuji orang-orang yang munib, dan memerintahkan untuk berinabah kepada-Nya. Hakikat inabah adalah: tertariknya hati kepada Allah, dalam setiap keadaan dari keadaan-keadaannya, ia kembali kepada Tuhannya ketika mendapat nikmat dengan bersyukur, dan ketika dalam kesusahan dengan bermohon kepada-Nya, dan ketika jiwa menginginkan banyak hal dengan memperbanyak doa dalam semua urusannya, dan ia kembali kepada Tuhannya dengan senantiasa berdzikir kepada-Nya di setiap waktu.

[Dan inabah juga adalah: kembali kepada Allah dengan bertaubat dari semua kemaksiatan, dan kembali kepada-Nya dalam semua perbuatan dan perkataannya, maka ia mencocokkannya dengan Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga perbuatan dan perkataan menjadi tertimbang dengan timbangan syariat]

Allah Ta’ala memerintahkan keikhlasan, memuji orang-orang yang ikhlas, dan mengabarkan bahwa Dia tidak menerima kecuali amal yang ikhlas.

Hakikat keikhlasan adalah: agar orang yang beramal dalam amalnya mengharapkan wajah Allah semata dan pahala-Nya. Lawannya adalah: riya dan beramal untuk tujuan-tujuan pribadi.

Allah melarang kesombongan, mencela sombong dan orang-orang yang sombong, dan mengabarkan tentang hukuman mereka yang segera dan yang tertunda.

Kesombongan adalah: menolak kebenaran dan meremehkan makhluk, dan lawan dari itu adalah tawadhu’, maka Allah telah memerintahkannya, memuji para ahlinya, dan menyebutkan pahala mereka, yaitu menerima kebenaran dari siapa yang mengatakannya, dan tidak meremehkan makhluk, bahkan melihat keutamaan mereka, dan mencintai untuk mereka apa yang ia cintai untuk dirinya.

Keadilan adalah: menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak hamba.

Dan kezaliman: kebalikannya, maka itu mencakup kezaliman hamba terhadap dirinya dengan kemaksiatan dan syirik serta kezaliman terhadap hamba-hamba dalam darah, harta dan kehormatan mereka.

Kejujuran adalah: kesamaan antara lahir dan batin dalam istiqamah di atas jalan yang lurus, dan kebohongan adalah kebalikan dari itu.

Batasan-batasan Allah adalah: larangan-larangan-Nya, yaitu yang Dia katakan tentangnya {Itulah batasan-batasan Allah, maka janganlah kalian mendekatinya} (Al-Baqarah: 187) dan yang dimaksud dengannya adalah apa yang Allah halalkan dan tetapkan, dan Dia wajibkan, maka Dia katakan tentangnya {Itulah batasan-batasan Allah, maka janganlah kalian melanggarnya} (Al-Baqarah: 229).

Amanah adalah: perkara-perkara yang dipercayakan kepada hamba. Maka itu mencakup menunaikan hak-hak Allah, khususnya yang tersembunyi, dan hak-hak makhluk-Nya demikian juga.

Janji dan akad, termasuk di dalamnya yang antara dirinya dengan Allah, yaitu: melaksanakan ibadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya, dan yang antara dirinya dengan hamba-hamba dari muamalat dan semacamnya. Hikmah dan qiwam adalah melakukan apa yang seharusnya dengan cara yang seharusnya.

Dan israf (berlebihan) dan tabdzir (pemborosan) adalah melampaui batas dalam pengeluaran. Dan taqtir (terlalu hemat) dan bakhil (pelit) adalah kebalikannya: mengurangi nafkah-nafkah yang wajib.

Ma’ruf: nama yang mencakup segala sesuatu yang diketahui baiknya dan manfaatnya secara syar’i dan akal, dan munkar adalah kebalikannya.

Istiqamah: berpegang teguh pada ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Rasul-Nya secara terus-menerus.

Penyakit hati adalah: cacatnya, dan itu ada dua macam: penyakit keraguan terhadap kebenaran, dan penyakit syahwat terhadap perkara-perkara yang diharamkan.

Nifaq (kemunafikan): menampakkan kebaikan dan menyembunyikan keburukan, maka termasuk di dalamnya nifaq i’tiqadi (kemunafikan keyakinan) dan nifaq amali (kemunafikan amaliah).

Al-Qur’an, semuanya muhkam, dan ayat-ayatnya telah disusun dengan rapi dari segi sesuainya dengan hikmah, dan bahwa berita-beritanya adalah derajat tertinggi kejujuran, dan hukum-hukumnya sangat baik. Dan semuanya mutasyabih, dari segi kesepakatannya dalam kefasihan dan kebaikan, dan membenarkan sebagiannya terhadap sebagian yang lain serta kesempurnaan kesepakatannya.

Dan di dalamnya ada yang muhkam dan mutasyabih, dari segi bahwa yang mutasyabih adalah apa yang di dalamnya terdapat keumuman atau kemungkinan beberapa makna. Dan yang muhkamnya, jelas terang tegas dalam maknanya, jika yang mutasyabih dikembalikan kepadanya, semuanya akan sepakat dan maknanya akan lurus.

Ma’iyyah (kebersamaan) Allah yang disebutkan-Nya dalam kitab-Nya ada dua macam:

Ma’iyyah ilmu dan ihathah (mengetahui dan meliputi), yaitu: ma’iyyah umum, maka Dia bersama hamba-hamba-Nya di manapun mereka berada.

Dan ma’iyyah khusus, yaitu: kebersamaan-Nya dengan orang-orang pilihan dari makhluk-Nya dengan pertolongan, kelembutan, dan dukungan.

Doa dan da’wah, mencakup doa ibadah, maka termasuk di dalamnya setiap ibadah yang Allah perintahkan dan Rasul-Nya.

Dan doa masalah, yaitu: meminta kepada Allah untuk mendatangkan manfaat dan menolak madharat.

Thayyibat (hal-hal yang baik): nama yang mencakup segala sesuatu yang baik dan bermanfaat, dari keyakinan, akhlak, amal perbuatan, makanan, minuman dan penghasilan. Dan yang buruk adalah kebalikan dari itu.

Dan mungkin yang dimaksud dengan khabits (buruk) adalah: yang jelek, dan dengan thayyib (baik) adalah: yang terpilih seperti firman Allah Ta’ala: {Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kalian} (Al-Baqarah: 267).

Nafkah, mencakup nafkah wajib: seperti zakat, kaffarah, nafkah diri, keluarga, dan budak, dan nafkah sunnah: seperti nafkah dalam semua jalan kebaikan.

Tawakal kepada Allah dan meminta pertolongan kepada-Nya, Allah telah memerintahkannya dan memuji orang-orang yang bertawakal dalam ayat-ayat yang banyak.

Hakikat itu adalah: kuatnya sandaran hati kepada Allah dalam mendatangkan kemaslahatan dan menolak madharat agama dan dunia, dengan keyakinan kepada-Nya dalam pencapaian itu.

Akal yang dipuji Allah dan memuji para ahlinya, dan mengabarkan bahwa merekalah yang mengambil manfaat dari ayat-ayat adalah: yang memahami dan memahami hakikat-hakikat yang bermanfaat, dan mengamalkannya, dan mencegah pemiliknya dari perkara-perkara yang merugikan, karena itulah disebut: hijr (pembatas), lubb (inti), dan nuha (larangan), karena ia membatasi pemiliknya dan melarangnya dari apa yang membahayakannya.

Ilmu adalah: mengetahui petunjuk dengan dalilnya, maka itu adalah mengetahui masalah-masalah yang bermanfaat yang dicari, dan mengetahui dalil-dalil dan jalannya, yang membimbing kepadanya.

Dan ilmu yang bermanfaat adalah: ilmu tentang kebenaran dan mengamalkannya, dan lawannya adalah kebodohan.

Lafaz “ummah” dalam Al-Qur’an memiliki empat makna: yang dimaksud dengannya “kelompok dari manusia” dan ini yang dominan. Dan yang dimaksud dengannya “masa”, dan yang dimaksud dengannya “agama” dan “millah”, dan yang dimaksud dengannya “imam” dalam kebaikan.

Lafaz “istawa” dalam Al-Qur’an memiliki tiga makna: jika diiringi dengan “ala” maka maknanya adalah tinggi dan naik, {Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy} (Al-A’raf: 54).

Dan jika diiringi dengan “ila”, maka maknanya adalah menuju, seperti firman-Nya: {Kemudian Dia menuju ke langit lalu menjadikannya tujuh langit} (Al-Baqarah: 29).

Dan jika tidak diiringi dengan sesuatu, maka maknanya adalah “sempurna”, seperti firman Allah Ta’ala {Dan tatkala dia telah dewasa dan sempurna} (Al-Qashash: 14).

“Taubah” disebutkan dalam ayat-ayat yang banyak perintah dengannya, dan pujian terhadap orang-orang yang bertaubat serta pahala mereka, yaitu: kembali dari apa yang dibenci Allah lahir dan batin, kepada apa yang dicintai Allah lahir dan batin.

Shirath mustaqim (jalan yang lurus), yang Allah perintahkan untuk berpegang teguh dengannya dan memuji orang-orang yang istiqamah di atasnya, adalah: jalan yang lurus yang mengantarkan kepada ridha Allah dan pahala-Nya, yaitu mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perkataan, perbuatan dan semua keadaannya.

Dzikir kepada Allah yang diperintahkan-Nya, dan memuji orang-orang yang berdzikir, dan menyebutkan balasan mereka yang segera dan yang tertunda adalah: ketika dimutlakkan, mencakup semua yang mendekatkan kepada Allah: dari keyakinan, atau pikiran yang bermanfaat, atau akhlak yang indah, atau amal hati atau badan, atau pujian kepada Allah, atau tasbih dan semacamnya, atau mempelajari hukum-hukum syariat yang ushuliyyah dan furu’iyyah, atau apa yang membantu untuk itu, semuanya termasuk dalam dzikir kepada Allah.

Fasal

Dan telah berulang kali banyak dari Asma-ul Husna Allah dalam Al-Qur’an sesuai dengan konteks, dan kebutuhan mengharuskan untuk mengingatkan pada makna-makna yang menyeluruh, maka kami katakan:

Telah berulang nama “Ar-Rabb” dalam ayat-ayat yang banyak.

Dan “Ar-Rabb” adalah: Yang memelihara semua hamba-Nya dengan pengaturan dan berbagai macam nikmat. Dan lebih khusus dari ini adalah pemeliharaan-Nya terhadap orang-orang pilihan-Nya dengan memperbaiki hati, roh dan akhlak mereka. Karena itulah sering mereka berdoa kepada-Nya dengan nama yang mulia ini, karena mereka meminta dari-Nya pemeliharaan khusus ini.

“Allah”: adalah Yang disembah, Yang memiliki uluhiyyah dan ubudiyyah atas seluruh makhluk-Nya, karena sifat-sifat uluhiyyah yang melekat pada-Nya yaitu sifat-sifat kesempurnaan.

“Al-Malik, Al-Maalik” (Raja, Pemilik): Yang memiliki kerajaan maka Dia bersifat dengan sifat kerajaan, yaitu sifat-sifat keagungan dan kebesaran, dan kekuasaan serta pengaturan, Yang memiliki tasharuf mutlak dalam penciptaan, perintah dan pembalasan, dan milik-Nya adalah seluruh alam atas dan bawah, semuanya adalah hamba dan budak, dan membutuhkan kepada-Nya.

“Al-Wahid, Al-Ahad” (Yang Esa, Yang Tunggal): yaitu Yang menyendiri dengan semua kesempurnaan, sehingga tidak ada yang menyekutui-Nya dalam hal itu. Dan wajib atas hamba-hamba untuk mengesakan-Nya, secara akal, perkataan dan perbuatan dengan mengakui kesempurnaan mutlak-Nya, dan keesaan-Nya, serta mengkhususkan-Nya dengan macam-macam ibadah.

“Ash-Shamad” (Tempat bergantung): yaitu Yang dituju oleh semua makhluk dalam semua kebutuhan, keperluan dan keadaan mereka, karena kesempurnaan mutlak yang dimiliki-Nya dalam dzat, nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-Nya.

“Al-‘Aliim, Al-Khabiir” (Maha Mengetahui, Maha Mengetahui yang tersembunyi): yaitu Yang ilmu-Nya meliputi yang zahir dan batin, rahasia dan terang-terangan, yang wajib dan mustahil serta mungkin, dan alam atas dan bawah, dan masa lalu, sekarang dan yang akan datang, maka tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya sedikitpun dari segala sesuatu.

“Al-Hakiim” (Maha Bijaksana): yaitu Yang memiliki hikmah tertinggi dalam penciptaan dan perintah-Nya, Yang membaguskan segala sesuatu yang diciptakan-Nya {Dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi kaum yang yakin} (Al-Maidah: 50) maka Dia tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia, dan tidak mensyariatkan sesuatu dengan percuma, Yang memiliki hukum di dunia dan akhirat, dan bagi-Nya tiga macam hukum yang tidak ada yang menyekutui-Nya dalam hal itu, maka Dia menghukum antara hamba-hamba-Nya, dalam syariat-Nya, dalam takdir dan pembalasan-Nya. Dan hikmah adalah: meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, dan menurunkannya pada kedudukannya.

“Ar-Rahman, Ar-Rahiim, Al-Barr, Al-Kariim, Al-Jawaad, Ar-Ra’uuf, Al-Wahhaab” (Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Berbuat baik, Maha Mulia, Maha Dermawan, Maha Penyantun, Maha Pemberi).

Nama-nama ini makna-maknanya berdekatan, dan semuanya menunjukkan bahwa Rabb bersifat dengan rahmat, kebaikan, kedermawanan, dan kemurahan, dan keluasan rahmat dan pemberian-Nya, yang telah meliputi seluruh wujud, sesuai dengan apa yang dikehendaki hikmah-Nya, dan mengkhususkan orang-orang mukmin dari hal itu dengan bagian yang paling banyak, dan nasib yang paling sempurna, Allah Ta’ala berfirman: {Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa} (Al-A’raf: 156) ayat.

Dan nikmat serta ihsan, semuanya dari bekas rahmat-Nya, kedermawanan-Nya, dan kemurahan-Nya. Dan kebaikan dunia dan akhirat, semuanya dari bekas rahmat-Nya.

“As-Samii'” (Maha Mendengar) terhadap semua suara, dengan perbedaan bahasa atas beragam kebutuhan.

“Al-Bashiir” (Maha Melihat) Yang melihat segala sesuatu walaupun halus dan kecil, maka Dia melihat gerak semut hitam pada malam yang gelap di atas batu yang keras. Dan Dia melihat apa yang di bawah tujuh bumi, sebagaimana Dia melihat apa yang di atas tujuh langit. Dan juga samii’ bashiir terhadap orang yang layak mendapat pembalasan sesuai dengan hikmah-Nya, dan makna yang terakhir kembali kepada hikmah.

“Al-Hamiid” (Maha Terpuji) dalam dzat-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya, maka bagi-Nya dari nama-nama yang terbaik, dan dari sifat-sifat yang paling sempurna, dan dari perbuatan yang paling sempurna dan paling baik, maka sesungguhnya perbuatan-perbuatan Allah Ta’ala berputar antara fadhl (karunia) dan ‘adl (keadilan).

“Al-Majiid, Al-Kabiir, Al-‘Azhiim, Al-Jaliil” (Maha Mulia, Maha Besar, Maha Agung, Maha Suci) dan Dia bersifat dengan sifat-sifat kemuliaan, kebesaran, keagungan, dan keagungan, Yang lebih besar dari segala sesuatu, dan lebih agung dari segala sesuatu, dan lebih mulia serta lebih tinggi. Dan bagi-Nya pengagungan dan pemuliaan dalam hati para wali dan orang-orang pilihan-Nya, telah dipenuhi hati mereka dari pengagungan dan pemuliaan kepada-Nya, dan khudhu’ kepada-Nya serta tunduk kepada kebesaran-Nya.

“Al-‘Afuw, Al-Ghafuur, Al-Ghaffaar” (Maha Pemaaf, Maha Pengampun, Maha Pengampun berulang kali) Yang tidak pernah berhenti dan tidak akan berhenti dikenal dengan pemaafan, dan disifati dengan pengampunan serta pemaafan terhadap hamba-hamba-Nya, setiap orang membutuhkan kepada pemaafan dan pengampunan-Nya, sebagaimana ia membutuhkan kepada rahmat dan kemurahan-Nya, dan telah berjanji dengan pengampunan dan pemaafan bagi orang yang datang dengan sebab-sebabnya, Allah Ta’ala berfirman: {Dan sungguh Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal shalih, kemudian mendapat petunjuk} (Thaha: 82).

“At-Tawwaab” (Maha Penerima taubat) Yang tidak pernah berhenti menerima taubat orang-orang yang bertaubat, dan mengampuni dosa orang-orang yang kembali kepada-Nya, maka setiap orang yang bertaubat kepada Allah dengan taubat nashuha, Allah menerima taubatnya, maka Dialah Yang menerima taubat orang-orang yang bertaubat pertama kali dengan memberi taufik mereka untuk bertaubat dan menghadapkan hati mereka kepada-Nya, dan Dialah Yang menerima taubat mereka setelah taubat mereka dengan menerimanya, dan memaafkan kesalahan-kesalahan mereka.

“Al-Qudduus, As-Salaam” (Maha Suci, Maha Selamat) yaitu: Yang diagungkan Yang disucikan dari sifat-sifat kekurangan semuanya, dan bahwa ada yang menyerupai-Nya dari makhluk, maka Dia Yang bersih dari semua aib, dan bersih dari hal ada yang mendekati atau menyerupai-Nya dalam sesuatu dari kesempurnaan {Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya} (Asy-Syura: 11) {dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya} (Al-Ikhlas: 4) {Tahukah kamu ada yang serupa dengan-Nya?} (Maryam: 65) {Maka janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah} (Al-Baqarah: 22).

Maka Al-Qudduus seperti As-Salaam, menafikan setiap kekurangan dari semua segi, dan mengandung kesempurnaan mutlak dari semua segi, karena ketika kekurangan dinafikan maka kesempurnaan semua terbukti.

“Al-‘Aliyy Al-A’laa” (Maha Tinggi Yang Paling Tinggi) dan Dia Yang memiliki ketinggian mutlak dari semua segi, tinggi dzat, tinggi kedudukan dan sifat, dan tinggi kekuasaan. Maka Dia Yang di atas ‘Arsy bersemayam, dan atas kerajaan menguasai. Dan dengan semua sifat keagungan dan kebesaran serta kemuliaan dan keindahan serta puncak kesempurnaan bersifat, dan kepada-Nya dalam hal itu adalah berakhir.

“Al-‘Aziiz” (Maha Perkasa) Yang memiliki semua kemuliaan: kemuliaan kekuatan, kemuliaan kemenangan, dan kemuliaan perlindungan. Maka Dia terlindung sehingga tidak ada seorangpun dari makhluk yang dapat mencapai-Nya, dan menguasai semua yang ada, dan tunduk kepada-Nya makhluk serta khudhu’ kepada keagungan-Nya.

“Al-Qawiyy, Al-Matiin” (Maha Kuat, Maha Kokoh) maknanya seperti Al-‘Aziiz.

“Al-Jabbaar” (Maha Perkasa) bermakna seperti Al-‘Aliyy Al-A’laa, dan bermakna Al-Qahaar, dan bermakna “Ar-Ra’uuf” Yang memperbaiki hati-hati yang patah, dan untuk yang lemah dan tidak berdaya, dan bagi orang yang berlindung kepada-Nya dan memohon perlindungan kepada-Nya.

“Al-Mutakabbir” (Maha Memiliki kebesaran) dari keburukan dan kekurangan serta cacat, karena keagungan dan kebesaran-Nya.

“Al-Khaliq, Al-Bari’, Al-Mushawwir” Yang menciptakan semua makhluk dan membentuknya serta menyempurnakannya dengan hikmah-Nya, dan membentuk mereka dengan pujian dan hikmah-Nya, dan Dia tidak pernah berubah dan tidak akan berubah dari sifat agung ini.

“Al-Mu’min” Yang memuji diri-Nya sendiri dengan sifat-sifat kesempurnaan, dan dengan kesempurnaan keagungan dan keindahan, Yang mengutus rasul-rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya dengan ayat-ayat dan bukti-bukti, dan membenarkan rasul-rasul-Nya dengan setiap ayat dan bukti, yang menunjukkan kejujuran mereka dan kebenaran apa yang mereka bawa.

“Al-Muhaimin”: Yang mengetahui hal-hal yang tersembunyi dan rahasia hati, Yang meliputi segala sesuatu dengan ilmu-Nya.

“Al-Qadir” Yang sempurna kekuasaan-Nya, dengan kekuasaan-Nya Dia mengadakan segala makhluk, dan dengan kekuasaan-Nya Dia mengaturnya, dan dengan kekuasaan-Nya Dia menyempurnakan dan mengatur dengan rapi, dan dengan kekuasaan-Nya Dia menghidupkan dan mematikan, dan membangkitkan hamba-hamba untuk pembalasan, dan membalas orang yang berbuat baik dengan kebaikannya, dan orang yang berbuat jahat dengan kejahatannya, Yang apabila menghendaki sesuatu berkata kepadanya “kun fayakun” (jadilah maka jadilah)`, dan dengan kekuasaan-Nya Dia membolak-balik hati, dan mengarahkannya sesuai dengan kehendak dan keinginan-Nya.

“Al-Lathif” Yang meliputi ilmu-Nya terhadap rahasia dan hal-hal tersembunyi, dan mengetahui hal-hal tersembunyi dan batiniah serta perkara-perkara yang halus, Yang lembut kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, Yang menyampaikan kepada mereka kemaslahatan mereka dengan kelembutan dan kebaikan-Nya, dari jalan-jalan yang tidak mereka sadari, maka Dia bermakna “Al-Khabir” dan bermakna “Ar-Ra’uf”.

“Al-Hasib” Dia adalah Yang Maha Mengetahui hamba-hamba-Nya, Yang mencukupi orang-orang yang bertawakal, Yang membalas hamba-hamba-Nya dengan kebaikan dan kejahatan, sesuai dengan hikmah dan ilmu-Nya terhadap amal perbuatan mereka yang halus dan yang besar.

“Ar-Raqib” Yang mengetahui apa yang disimpan dalam hati, Yang mengawasi setiap jiwa dengan apa yang diperbuatnya, Yang menjaga makhluk-makhluk dan menjalankan mereka pada sistem yang terbaik dan pengaturan yang paling sempurna.

“Al-Hafizh” Yang menjaga apa yang diciptakan-Nya, dan meliputi dengan ilmu-Nya apa yang diadakan-Nya, dan menjaga wali-wali-Nya dari terjatuh dalam dosa-dosa dan kebinasaan, dan berlembut kepada mereka dalam gerakan dan ketenangan, dan menghitung amal perbuatan hamba-hamba dan balasannya.

“Al-Muhith” Yang meliputi segala sesuatu dengan ilmu, kekuasaan, rahmat, dan kekuasaan yang menundukkan.

“Al-Qahhar” atas segala sesuatu, Yang tunduk kepada-Nya semua makhluk, dan merendah karena kemuliaan dan kekuatan-Nya serta kesempurnaan kekuasaan-Nya.

“Al-Muqit” Yang menyampaikan kepada setiap makhluk apa yang menjadi makanannya, dan menyampaikan kepada mereka rezeki-rezeki mereka dan mengaturnya bagaimana Dia kehendaki dengan hikmah dan pujian-Nya.

“Al-Wakil” Yang mengurus pengaturan makhluk-Nya dengan ilmu-Nya dan kesempurnaan kekuasaan-Nya dan menyeluruhnya hikmah-Nya, Yang mengurus wali-wali-Nya, maka Dia mudahkan mereka untuk kemudahan, dan menjauhkan mereka dari kesulitan, dan mencukupi mereka dalam segala urusan. Barangsiapa menjadikan-Nya sebagai wakil maka Dia akan mencukupinya {Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya} (QS. Al-Baqarah: 257)

“Dzul Jalali wal Ikram” yaitu: Yang memiliki keagungan dan kebesaran, dan Yang memiliki rahmat dan kemurahan, dan kebaikan yang umum dan khusus, Yang memuliakan wali-wali-Nya dan orang-orang pilihan-Nya, yang mengagungkan-Nya dan membesarkan-Nya serta mencintai-Nya.

“Al-Wadud” Yang mencintai nabi-nabi-Nya dan rasul-rasul-Nya serta pengikut mereka, dan mereka mencintai-Nya, maka Dia lebih mereka cintai dari segala sesuatu, telah dipenuhi hati mereka dengan kecintaan kepada-Nya, dan lidah mereka senantiasa memuji-Nya, dan hati mereka tertarik kepada-Nya dengan cinta dan keikhlasan serta kembali kepada-Nya dari segala segi.

“Al-Fattah” Yang memutuskan antara hamba-hamba-Nya dengan hukum-hukum syariat-Nya, dan hukum-hukum takdir-Nya, dan hukum-hukum pembalasan, Yang membuka dengan kelembutan-Nya mata batin orang-orang yang jujur, dan membuka hati mereka untuk mengenal-Nya dan mencintai-Nya serta kembali kepada-Nya, dan membuka untuk hamba-hamba-Nya pintu-pintu rahmat dan rezeki yang beragam, dan menyebabkan bagi mereka sebab-sebab yang dengan itu mereka memperoleh kebaikan dunia dan akhirat {Apa yang Allah bukakan untuk manusia berupa rahmat, maka tidak ada yang dapat menahannya, dan apa yang ditahan-Nya maka tidak ada yang dapat melepaskannya sesudah itu} (QS. Fathir: 2)

“Ar-Razzaq” bagi semua hamba-Nya, maka tidak ada satupun makhluk di bumi kecuali Allah yang menanggung rezekinya. Dan rezeki-Nya untuk hamba-hamba-Nya ada dua macam:

Rezeki umum, yang meliputi orang baik dan jahat, orang terdahulu dan terkemudian, yaitu rezeki badan.

Dan rezeki khusus yaitu rezeki hati, dan pemberian makanan kepada hati dengan ilmu dan iman. Dan rezeki halal yang membantu perbaikan agama, dan ini khusus untuk orang-orang beriman, sesuai tingkatan mereka, menurut apa yang dikehendaki hikmah dan rahmat-Nya.

“Al-Hakam, Al-‘Adl” Yang memutuskan antara hamba-hamba-Nya di dunia dan akhirat dengan keadilan dan kebenaran-Nya. Maka Dia tidak menzalimi sebesar zarrahpun, dan tidak memikul seseorang dosa orang lain, dan tidak membalas hamba lebih dari dosanya dan menunaikan hak-hak kepada pemiliknya, maka Dia tidak membiarkan pemilik hak kecuali menyampaikan haknya kepadanya, dan Dialah Yang adil dalam pengaturan dan takdir-Nya {Sesungguhnya Tuhanku berada di atas jalan yang lurus} (QS. Hud: 56)

“Jami’un Nas” pada hari yang tidak ada keraguan padanya, dan mengumpulkan amal perbuatan mereka dan rezeki mereka, maka Dia tidak meninggalkan darinya yang kecil maupun yang besar kecuali dihitung-Nya, dan mengumpulkan apa yang berpencar dan hancur dari orang-orang mati yang terdahulu dan terkemudian, dengan kesempurnaan kekuasaan-Nya, dan luasnya ilmu-Nya.

“Al-Hayyu Al-Qayyum” Yang sempurna kehidupan-Nya dan berdiri dengan diri-Nya sendiri. Al-Qayyum bagi penghuni langit dan bumi, Yang mengurus pengaturan mereka dan rezeki mereka, dan semua keadaan mereka, maka “Al-Hayy”: Yang mengumpulkan sifat-sifat dzat, dan “Al-Qayyum” Yang mengumpulkan sifat-sifat perbuatan.

“An-Nur” cahaya langit dan bumi, Yang menerangi hati orang-orang yang mengenal dengan pengenalan kepada-Nya dan iman kepada-Nya, dan menerangi hati mereka dengan petunjuk-Nya, dan Dialah Yang menerangi langit dan bumi dengan cahaya-cahaya yang diletakkan-Nya, dan hijab-Nya adalah cahaya, jika dibuka niscaya akan membakar pancaran wajah-Nya apa yang dicapai penglihatan-Nya dari makhluk-Nya.

“Badi’us Samawati wal Ardh” yaitu: Pencipta dan Pembuat langit dan bumi, dalam puncak keindahan dan penciptaan yang menakjubkan, dan sistem yang mengagumkan lagi rapi.

“Al-Qabidhul Basith” Yang menggenggam rezeki dan roh, dan melapangkan rezeki dan hati, dan itu mengikuti hikmah dan rahmat-Nya.

“Al-Mu’thi, Al-Mani'”, tidak ada yang mencegah apa yang diberikan-Nya, dan tidak ada yang memberi apa yang dicegah-Nya, maka semua kemaslahatan dan manfaat diminta dari-Nya, dan kepada-Nya diharapkan, dan Dialah Yang memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan mencegahnya dari siapa yang dikehendaki-Nya dengan hikmah dan rahmat-Nya.

“Asy-Syahid” yaitu: Yang mengetahui semua hal. Mendengar semua suara yang samar maupun yang jelas, dan melihat semua makhluk yang halus maupun yang kasar, yang kecil maupun yang besar, dan meliputi ilmu-Nya segala sesuatu, Yang menyaksikan untuk hamba-hamba-Nya dan atas hamba-hamba-Nya dengan apa yang mereka kerjakan.

“Al-Mubdi’, Al-Mu’id” Allah Ta’ala berfirman: {Dan Dialah Yang memulai penciptaan kemudian mengulanginya} (QS. Ar-Rum: 27) Dia memulai penciptaan mereka untuk menguji mereka siapa di antara mereka yang lebih baik amalnya kemudian mengulangi mereka untuk membalas orang-orang yang berbuat baik dengan kebaikan, dan membalas orang-orang yang berbuat jahat dengan kejahatan mereka. Dan demikian pula Dia Yang memulai pengadaan makhluk satu demi satu, kemudian mengulanginya setiap waktu.

“Al-Fa”alul lima Yurid” Dan ini dari kesempurnaan kekuatan-Nya dan berlakunya kehendak dan kekuasaan-Nya, bahwa setiap perkara yang dikehendaki-Nya dilakukan-Nya tanpa ada yang menghalangi atau menentang, dan tidak ada bagi-Nya penolong atau pembantu, atas perkara apapun, bahkan jika menghendaki sesuatu berkata kepadanya “kun fayakun” (jadilah maka jadilah). Dan meskipun Dia Maha Pelaksana apa yang dikehendaki-Nya, kehendak-Nya mengikuti hikmah dan pujian-Nya, maka Dia disifati dengan kesempurnaan kekuasaan, dan berlakunya kehendak, dan disifati dengan menyeluruhnya hikmah, untuk semua yang telah dilakukan-Nya dan yang akan dilakukan-Nya.

“Al-Ghaniyyu, Al-Mughniy” maka Dialah Yang Maha Kaya dengan dzat-Nya, Yang memiliki kekayaan sempurna mutlak, dari semua segi dan pertimbangan karena kesempurnaan-Nya, dan kesempurnaan sifat-sifat-Nya, maka tidak dapat masuk kepadanya kekurangan dengan cara apapun, dan tidak mungkin kecuali kaya, karena kekayaan-Nya adalah keharusan dzat-Nya, sebagaimana tidak mungkin kecuali pencipta, berkuasa, pemberi rezeki, berbuat baik, maka Dia tidak membutuhkan seorangpun dengan cara apapun, maka Dialah Yang Maha Kaya, Yang di tangan-Nya perbendaharaan langit dan bumi, dan perbendaharaan dunia dan akhirat. Al-Mughniy yang menjadikan kaya semua makhluk-Nya dengan kekayaan umum, dan Yang menjadikan kaya makhluk-makhluk pilihan-Nya dengan apa yang dilimpahkan-Nya pada hati mereka dari pengetahuan rabbani dan hakikat iman.

“Al-Halim” Yang mengalirkan kepada makhluk-Nya nikmat-nikmat zahir dan batin, meskipun dengan kemaksiatan mereka dan banyaknya kesalahan mereka, maka Dia bersabar dari membalas para pembangkang dengan pembangkangan mereka, dan meminta mereka bertaubat agar bertaubat, dan menangguhkan mereka agar kembali.

“Asy-Syakir, Asy-Syakur” Yang mensyukuri sedikit amal, dan mengampuni banyak kesalahan. Dan melipatgandakan bagi orang-orang yang ikhlas amal mereka tanpa perhitungan, dan mensyukuri orang-orang yang bersyukur, dan mengingat orang yang mengingat-Nya, dan barangsiapa mendekatkan diri kepada-Nya dengan sesuatu dari amal saleh, Allah mendekatkan diri kepadanya lebih banyak.

“Al-Qarib, Al-Mujib” yaitu: Dialah Ta’ala Yang dekat dari setiap orang, dan kedekatan-Nya Ta’ala ada dua macam: kedekatan umum dari setiap orang, dengan ilmu-Nya, dan keahlian-Nya, dan pengawasan-Nya, dan penyaksian-Nya, dan meliputi-Nya. Dan kedekatan khusus, dari penyembah-penyembah-Nya, dan pemohon-pemohon-Nya, dan pencinta-pencinta-Nya, dan itu adalah kedekatan yang tidak dapat dipahami hakikatnya, dan hanya diketahui pengaruh-pengaruhnya, dari kelembutan-Nya kepada hamba-Nya, dan perhatian-Nya kepadanya, dan taufik serta bimbingan-Nya. Dan dari pengaruh-pengaruhnya adalah menjawab para penyeru, dan kembali kepada Allah bagi para penyembah, maka Dia Al-Mujib dengan ijabah umum untuk para penyeru siapapun mereka, dan dimanapun mereka, dan dalam keadaan bagaimanapun mereka sebagaimana Dia janjikan kepada mereka janji yang mutlak ini, dan Dia Al-Mujib dengan ijabah khusus bagi orang-orang yang memenuhi panggilan-Nya yang tunduk kepada syariat-Nya, dan Dia juga Al-Mujib untuk orang-orang yang dalam kesusahan, dan orang yang terputus harapannya dari makhluk dan menguat keterikatan mereka kepada-Nya dengan harapan dan harap serta takut.

“Al-Kafi” mencukupi hamba-hamba-Nya semua yang mereka butuhkan dan perlukan, Al-Kafi dengan kecukupan khusus dari orang yang beriman kepada-Nya, dan bertawakal kepada-Nya, dan mengharap dari-Nya keperluan agama dan dunianya.

“Al-Awwal, wal Akhir, wadz Dzahir, wal Bathin”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menafsirkannya dengan tafsir yang menyeluruh dan jelas, beliau bersabda: “Engkau Yang Pertama maka tidak ada sesuatupun sebelum-Mu, dan Engkau Yang Terakhir maka tidak ada sesuatupun sesudah-Mu, dan Engkau Yang Zahir maka tidak ada sesuatupun di atas-Mu, dan Engkau Yang Bathin maka tidak ada sesuatupun di bawah-Mu”.

“Al-Wasi'” sifat-sifat dan nama-nama serta yang berkaitan dengannya, sehingga tidak ada seorangpun yang dapat menghitung pujian kepada-Nya, bahkan Dia sebagaimana memuji diri-Nya sendiri. Luas keagungan dan kekuasaan dan kerajaan, luas keutamaan dan kebaikan, agung kemurahan dan kemuliaan.

“Al-Hadi, Ar-Rasyid” yaitu: Yang memberi petunjuk dan membimbing hamba-hamba-Nya kepada semua manfaat, dan kepada menolak mudarat, dan mengajar mereka apa yang tidak mereka ketahui, dan memberi mereka petunjuk hidayah taufik dan bimbingan, dan mengilhami mereka takwa, dan menjadikan hati mereka kembali kepada-Nya dan tunduk kepada perintah-Nya.

Dan untuk Ar-Rasyid ada makna dengan makna Al-Hakim, maka Dia Ar-Rasyid dalam perkataan dan perbuatan-Nya, dan syariat-syariat-Nya semuanya kebaikan dan petunjuk serta hikmah, dan makhluk-makhluk-Nya mengandung petunjuk.

“Al-Haqq” dalam dzat dan sifat-sifat-Nya, maka Dia wajib al-wujud, sempurna sifat-sifat dan nama-nama, wujud-Nya dari keharusan dzat-Nya, dan tidak ada wujud untuk sesuatupun dari segala sesuatu kecuali dengan-Nya. Maka Dialah Yang tidak pernah berubah dan tidak akan berubah disifati dengan keagungan dan keindahan serta kesempurnaan, dan tidak pernah berubah dan tidak akan berubah dikenal dengan kebaikan.

Maka firman-Nya haq, dan perbuatan-Nya haq, dan pertemuan dengan-Nya haq, dan rasul-rasul-Nya haq, dan kitab-kitab-Nya haq, dan agama-Nya adalah haq, dan menyembah-Nya saja tanpa sekutu adalah haq, dan segala sesuatu yang dinisbatkan kepada-Nya adalah haq. {Demikian itu karena Allah adalah Haq dan sesungguhnya apa yang mereka seru selain-Nya adalah batil dan sesungguhnya Allah adalah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar} (QS. Al-Hajj: 62)

{Dan katakanlah: “Kebenaran itu datang dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”} (QS. Al-Kahf: 29) {Maka apakah sesudah kebenaran itu selain kesesatan} (QS. Yunus: 32) {Dan katakanlah: “Yang haq telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap} (QS. Al-Isra: 81)

Dan segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya amal-amal saleh menjadi sempurna. Dan shalawat serta salam Allah atas Muhammad dan atas keluarganya dan sahabat-sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga hari kiamat.

Yang mengatakan dan menuliskan hal itu adalah hamba yang fakir kepada Rabbnya Abdurrahman bin Nashir bin Abdullah bin Nashir As-Sa’di mudah-mudahan Allah mengampuni dirinya dan kedua orang tuanya, dan guru-gurunya, dan orang-orang yang dicintainya, dan semua kaum muslimin amin.

 

Facebook Comments Box

Artikel Terjkait

PENJELASAN HUKUM-HUKUM DARI KITAB BULUGH AL-MARAM JILID 03 DARI 16
PENJELASAN HUKUM-HUKUM DARI KITAB BULUGH AL-MARAM JILID 04 DARI 16
PENJELASAN HUKUM-HUKUM DARI KITAB BULUGH AL-MARAM JILID 02 DARI 16
PENJELASAN HUKUM-HUKUM DARI KITAB BULUGH AL-MARAM JILID 01 DARI 16
PENYAKIT DAN OBATNYA
PENYEMBUHAN ORANG SAKIT Dalam Masalah-masalah Takdir, Qada, Hikmah, dan Alasan
PERJALANAN IMAN BERSAMA PRIA DAN WANITA YANG MASUK ISLAM
Pertengahan dalam Apa yang Dikatakan tentang Maulid Nabi antara Berlebihan dan Mengabaikan
Berita ini 6 kali dibaca

Artikel Terjkait

Rabu, 18 Februari 2026 - 07:27 WIB

PENJELASAN HUKUM-HUKUM DARI KITAB BULUGH AL-MARAM JILID 03 DARI 16

Rabu, 18 Februari 2026 - 07:26 WIB

PENJELASAN HUKUM-HUKUM DARI KITAB BULUGH AL-MARAM JILID 04 DARI 16

Rabu, 18 Februari 2026 - 07:25 WIB

PENJELASAN HUKUM-HUKUM DARI KITAB BULUGH AL-MARAM JILID 02 DARI 16

Rabu, 18 Februari 2026 - 07:24 WIB

PENJELASAN HUKUM-HUKUM DARI KITAB BULUGH AL-MARAM JILID 01 DARI 16

Rabu, 18 Februari 2026 - 07:23 WIB

PENYAKIT DAN OBATNYA

Artikel Terbaru

Fikih

MENGUTAMAKAN QADHA PUASA RAMADHAN DARIPADA PUASA SYAWWAL

Minggu, 29 Mar 2026 - 15:02 WIB

Fikih

MENYEMPURNAKAN RAMADHAN DENGAN PUASA SYAWWAL

Minggu, 29 Mar 2026 - 14:46 WIB

Ibadah

Istiqomah Pasca Ramadhan

Jumat, 27 Mar 2026 - 16:30 WIB

Dakwah

Ujian: Surat Cinta yang Mengajak Kembali ke Pelukan Ilahi

Jumat, 27 Mar 2026 - 16:25 WIB

Dakwah

Rahasia Terbukanya Pintu Rahmat

Rabu, 25 Mar 2026 - 14:45 WIB