تَيْسِيرُ الْكَرِيمِ الرَّحْمٰنِ فِي تَفْسِيرِ كَلَامِ الْمَنَّانِ
Taisir Karimirrahman fi Tafsir Kalamil Mannan
(Kemudahan dari Yang Maha Pemurah dalam Menafsirkan Firman Yang Maha Pemberi)
Pengarang:
Abdul Rahman bin Nashir bin Abdullah As-Sa’di
Terjemah:
Muhamad Abid Hadlori, S.Ag.,Lc.
Surat ini turun di Madinah
Ayat 1-4
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang membantah kamu tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Orang-orang yang menzihar istri-istri mereka, padahal istri-istri mereka itu bukanlah ibu-ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita-wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Dan orang-orang yang menzihar istri-istri mereka kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang telah mereka katakan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Yang demikian itu adalah untuk memberi pelajaran kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Barangsiapa yang tidak mendapat (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak sanggup (juga), maka (wajib atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Yang demikian itu agar kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang kafir (disediakan) siksa yang pedih.”
Ayat-ayat mulia ini turun berkenaan dengan seorang laki-laki dari kaum Anshar yang istrinya mengadukan dia kepada Allah, dan membantah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika suaminya mengharamkan dirinya atas dirinya sendiri, setelah pergaulan yang panjang dan setelah memiliki anak-anak. Sedangkan suaminya adalah seorang laki-laki tua yang sudah lanjut usia. Maka wanita itu mengadukan keadaan dirinya dan suaminya kepada Allah dan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan dia mengulangi hal itu berulang-ulang serta menceritakannya berkali-kali.
Maka Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang membantah kamu tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua” yaitu percakapan antara kamu berdua, “Sesungguhnya Allah Maha Mendengar” terhadap semua suara, di semua waktu, dengan beragam kebutuhan.
“Maha Melihat” Dia melihat gerak semut hitam di atas batu yang keras di malam yang gelap gulita. Ini adalah pemberitahuan tentang kesempurnaan pendengaran dan penglihatan-Nya, dan meliputi segala urusan yang halus maupun yang besar. Dan dalam hal itu terkandung isyarat bahwa Allah Ta’ala akan menghilangkan keluhannya dan mengangkat cobaan darinya. Karena itu Allah menyebutkan hukum untuknya dan untuk yang lainnya secara umum.
Maka Allah berfirman: “Orang-orang yang menzihar istri-istri mereka, padahal istri-istri mereka itu bukanlah ibu-ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita-wanita yang melahirkan mereka”
Zihar terhadap istri adalah bahwa seorang laki-laki berkata kepada istrinya: “Kamu bagiku seperti punggung ibuku” atau mahram lainnya, atau “Kamu haram bagiku”. Yang biasa diucapkan mereka dalam hal ini adalah lafaz “punggung”, karena itu Allah menamakannya “zihar”.
Maka Allah berfirman: “Orang-orang yang menzihar istri-istri mereka, padahal istri-istri mereka itu bukanlah ibu-ibu mereka” yaitu bagaimana mereka berbicara dengan perkataan ini yang mereka ketahui tidak memiliki kebenaran, sehingga mereka menyerupakan istri-istri mereka dengan ibu-ibu mereka yang melahirkan mereka? Karena itu Allah mengagungkan dan mencela perbuatan tersebut.
Maka Allah berfirman: “Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta” yaitu perkataan yang keji, “dan dusta” yaitu kebohongan.
“Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun” bagi siapa yang melakukan beberapa pelanggaran, kemudian memperbaikinya dengan taubat yang nasuha.
“Dan orang-orang yang menzihar istri-istri mereka kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang telah mereka katakan”
Para ulama berselisih pendapat tentang makna “kembali”. Ada yang berpendapat: maknanya adalah bertekad untuk menggauli istri yang telah diziharnya, dan bahwa dengan sekedar tekadnya saja sudah wajib atasnya kaffarat yang disebutkan. Yang menunjukkan hal ini adalah bahwa Allah Ta’ala menyebutkan dalam kaffarat bahwa itu sebelum bersentuhan, dan itu hanya terjadi dengan sekedar tekad saja.
Ada pula yang berpendapat: maknanya adalah benar-benar melakukan hubungan suami istri. Yang menunjukkan hal itu adalah firman Allah: “kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang telah mereka katakan” sedangkan yang mereka katakan itu tidak lain adalah hubungan suami istri.
Berdasarkan kedua pendapat tersebut, jika telah terjadi “kembali”, maka kaffarat pelarangan ini adalah “memerdekakan seorang budak” yang beriman sebagaimana disebutkan dalam ayat lain, laki-laki atau perempuan, dengan syarat bebas dari cacat yang merusak kemampuan bekerja.
“sebelum kedua suami istri itu bercampur” yaitu suami wajib meninggalkan hubungan dengan istri yang telah diziharnya sampai dia berkaffarat dengan memerdekakan budak.
“Yang demikian itu” hukum yang Kami sebutkan untuk kalian, “adalah untuk memberi pelajaran kepada kamu” yaitu dijelaskan hukumnya disertai ancaman, karena makna pelajaran adalah menyebutkan hukum disertai dorongan dan ancaman. Maka siapa yang hendak berzihar, jika dia ingat bahwa dia wajib memerdekakan budak, dia akan menahan dirinya dari zihar. “Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” maka Dia akan membalas setiap yang beramal dengan amalnya.
“Barangsiapa yang tidak mendapat” budak untuk dibebaskan, karena tidak menemukannya atau tidak memiliki harganya “maka” wajib atasnya “berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak sanggup” berpuasa “maka (wajib atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin” entah dengan memberi mereka makanan pokok negerinya yang mencukupi mereka, sebagaimana pendapat banyak mufassir, atau memberi makan setiap orang miskin satu mud gandum atau setengah sha’ dari yang lainnya yang mencukupi untuk zakat fitrah, sebagaimana pendapat kelompok lain.
Demikian hukum yang Kami jelaskan dan terangkan untuk kalian “agar kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya” yaitu dengan mematuhi hukum ini dan hukum-hukum lainnya, serta mengamalkannya. Karena mematuhi hukum-hukum Allah dan mengamalkannya termasuk dari iman, bahkan itulah yang dimaksudkan dan yang menambah iman serta menyempurnakan dan menumbuhkannya.
“Dan itulah hukum-hukum Allah” yang mencegah dari melanggarnya, maka wajib untuk tidak melampauinya dan tidak menguranginya.
“Dan bagi orang-orang kafir (disediakan) siksa yang pedih”
Dalam ayat-ayat ini terdapat beberapa hukum:
Di antaranya: kelembutan Allah kepada hamba-hamba-Nya dan perhatian-Nya kepada mereka, dimana Dia menyebutkan keluhan wanita yang tertimpa musibah ini, menghilangkannya dan mengangkat cobaan darinya, bahkan mengangkat cobaan dengan hukum-Nya yang umum bagi setiap orang yang diuji dengan kasus seperti ini.
Di antaranya: bahwa zihar khusus untuk mengharamkan istri, karena Allah berfirman “istri-istri mereka”. Jika dia mengharamkan budak wanitanya, itu bukan zihar, tetapi termasuk jenis mengharamkan makanan dan minuman, yang wajib padanya hanya kaffarat sumpah.
Di antaranya: bahwa zihar tidak sah terhadap wanita sebelum menikahinya, karena dia tidak termasuk istri-istrinya pada saat zihar, sebagaimana tidak sah menceraikannya, baik dilakukan secara langsung maupun dikaitkan dengan sesuatu.
Di antaranya: bahwa zihar itu haram, karena Allah menyebutnya sebagai perkataan yang mungkar dan dusta.
Di antaranya: peringatan Allah tentang alasan hukum dan hikmahnya, karena Allah Ta’ala berfirman: “padahal istri-istri mereka itu bukanlah ibu-ibu mereka”
Di antaranya: bahwa dimakruhkan bagi laki-laki memanggil dan menamai istrinya dengan nama mahramnya, seperti berkata “wahai ibuku”, “wahai saudariku” dan semacamnya, karena itu menyerupai yang haram.
Di antaranya: bahwa kaffarat hanya wajib dengan kembali kepada apa yang dikatakan orang yang berzihar, berdasarkan perbedaan dua pendapat sebelumnya, bukan hanya dengan zihar saja.
Di antaranya: bahwa cukup dalam kaffarat budak, yang kecil dan dewasa, laki-laki dan perempuan, karena keumuman ayat dalam hal itu.
Di antaranya: bahwa wajib mengeluarkannya jika berupa memerdekakan budak atau puasa sebelum bersentuhan, sebagaimana Allah tetapkan. Berbeda dengan kaffarat memberi makan, maka boleh bersentuhan dan berhubungan suami istri di tengah-tengahnya.
Di antaranya: bahwa mungkin hikmah wajibnya kaffarat sebelum bersentuhan adalah agar lebih mendorong untuk mengeluarkannya. Karena jika dia merindukan hubungan suami istri dan mengetahui bahwa dia tidak bisa melakukannya kecuali setelah berkaffarat, dia akan segera mengeluarkannya.
Di antaranya: bahwa harus memberi makan enam puluh orang miskin. Jika dia mengumpulkan makanan untuk enam puluh orang miskin lalu memberikannya kepada satu orang atau lebih dari itu namun kurang dari enam puluh, itu tidak boleh, karena Allah berfirman: “maka (wajib atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin”
Ayat 5
“Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya pasti mendapat kehinaan sebagaimana orang-orang yang sebelum mereka telah mendapat kehinaan. Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan ayat-ayat yang terang, dan bagi orang-orang kafir (disediakan) siksa yang menghinakan.”
Menentang Allah dan Rasul-Nya adalah menyelisihi dan mendurhakai keduanya, khususnya dalam perkara-perkara besar, seperti menentang Allah dan Rasul-Nya dengan kekafiran dan memusuhi wali-wali Allah.
Firman-Nya: “pasti mendapat kehinaan sebagaimana orang-orang yang sebelum mereka telah mendapat kehinaan” yaitu mereka dihinakan dan direndahkan sebagaimana yang dilakukan kepada orang-orang sebelum mereka, sebagai balasan yang setimpal.
Mereka tidak memiliki hujjah terhadap Allah, karena Allah telah menegakkan hujjah-Nya yang sempurna atas makhluk, dan telah menurunkan ayat-ayat yang jelas dan bukti-bukti yang menjelaskan hakikat dan memperjelas tujuan. Maka siapa yang mengikutinya dan mengamalkannya, dia termasuk orang yang mendapat petunjuk dan beruntung. “Dan bagi orang-orang kafir” yang mengingkarinya “(disediakan) siksa yang menghinakan” yaitu yang menghinakan dan merendahkan mereka, sebagaimana mereka sombong terhadap ayat-ayat Allah, maka Allah menghinakan dan merendahkan mereka.
Ayat 6-7
“(Ingatlah) hari (ketika) Allah membangkitkan mereka semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.”
Allah Ta’ala berfirman: “(Ingatlah) hari (ketika) Allah membangkitkan mereka” semuanya “maka mereka bangkit dari kubur mereka dengan cepat” lalu Dia membalas mereka dengan amal perbuatan mereka. “lalu diberitahukan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan” dari kebaikan dan kejahatan, karena Dia mengetahui hal itu dan menuliskannya di Lauh Mahfuz, serta memerintahkan malaikat-malaikat mulia yang menjaga untuk menuliskannya. Adapun pelaku amal telah melupakan apa yang mereka kerjakan, sedangkan Allah telah menghitung semuanya.
“Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu” yang tampak dan tersembunyi, yang rahasia dan samar.
Ayat 7 (lanjutan)
“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tiada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia beserta mereka di mana saja mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Karena itu Dia memberitahukan tentang luasnya ilmu-Nya dan meliputi apa yang ada di langit dan bumi, dari yang halus dan kasar.
Dan bahwa “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tiada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia beserta mereka di mana saja mereka berada”. Yang dimaksud dengan kebersamaan ini adalah kebersamaan ilmu dan meliputi apa yang mereka bicarakan secara rahasia dan mereka sembunyikan di antara mereka. Karena itu Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”
Kemudian Allah Ta’ala berfirman:
Ayat 8-9
“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu? Mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul. Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam dengan cara yang bukan sebagaimana Allah mengucapkan salam kepadamu. Dan mereka berkata dalam hati mereka: “Mengapa Allah tidak menyiksa kita karena apa yang kita katakan itu?” Cukuplah bagi mereka neraka Jahannam yang akan mereka masuki; dan neraka itu seburuk-buruk tempat kembali. Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan perbuatan dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul; tetapi bicarakanlah tentang perbuatan baik dan takwa. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikembalikan.”
Najwa (pembicaraan rahasia) adalah berbisik-bisik antara dua orang atau lebih, dan bisa dalam kebaikan, bisa pula dalam kejahatan.
Maka Allah Ta’ala memerintahkan orang-orang mukmin untuk berbisik-bisik dengan kebajikan, yaitu nama yang mencakup segala kebaikan dan ketaatan, serta menunaikan hak Allah dan hak hamba-hamba-Nya, dan takwa, yaitu nama yang mencakup meninggalkan semua yang haram dan dosa. Maka orang mukmin mematuhi perintah Ilahi ini, sehingga kamu tidak mendapatinya berbisik-bisik dan berbicara kecuali dengan apa yang mendekatkannya kepada Allah dan menjauhkannya dari murka-Nya. Sedangkan orang fasik meremehkan perintah Allah dan berbisik-bisik dengan dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul, seperti orang-orang munafik yang ini adalah kebiasaan dan keadaan mereka dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam dengan cara yang bukan sebagaimana Allah mengucapkan salam kepadamu” yaitu mereka tidak sopan kepadamu dalam salam mereka kepadamu. “Dan mereka berkata dalam hati mereka” yaitu mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang diberitahukan oleh Yang Maha Mengetahui ghaib dan yang tampak tentang mereka, yaitu ucapan mereka: “Mengapa Allah tidak menyiksa kita karena apa yang kita katakan itu?” Makna hal itu adalah mereka meremehkan hal tersebut dan berdalih dengan tidak dipercepat hukuman atas mereka bahwa apa yang mereka katakan tidak berbahaya.
Allah Ta’ala berfirman dalam menjelaskan bahwa Dia memberi tempo tetapi tidak mengabaikan: “Cukuplah bagi mereka neraka Jahannam yang akan mereka masuki; dan neraka itu seburuk-buruk tempat kembali” yaitu neraka Jahannam yang mengumpulkan segala kesengsaraan dan azab sudah cukup bagi mereka, mengelilingi mereka, dan mereka disiksa dengannya. “dan neraka itu seburuk-buruk tempat kembali”
Orang-orang yang disebutkan ini, entah mereka adalah sekelompok orang munafik yang menampakkan iman dan berbicara dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pembicaraan yang mereka kira dimaksudkan untuk kebaikan padahal mereka bohong dalam hal itu, atau mereka adalah sekelompok dari Ahli Kitab, yang jika memberi salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berkata: “As-samu ‘alaika ya Muhammad” (maut untukmu wahai Muhammad), mereka maksudkan dengan itu kematian.
Surat Al-Mujadilah Ayat 10
“Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari setan, supaya ia dapat menyedihkan orang-orang yang beriman, padahal ia sekali-kali tidak dapat mendatangkan mudarat kepada mereka melainkan dengan izin Allah. Dan hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.” (Q.S. Al-Mujadilah: 10)
Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu” yaitu percakapan rahasia musuh-musuh orang beriman dengan membicarakan orang-orang beriman, dengan tipu daya dan kecurangan, serta mencari keburukan adalah dari setan, yang tipu dayanya lemah dan rencananya tidak bermanfaat.
“Supaya ia dapat menyedihkan orang-orang yang beriman” inilah tujuan akhir dari tipu daya ini dan maksudnya. “Padahal ia sekali-kali tidak dapat mendatangkan mudarat kepada mereka melainkan dengan izin Allah” karena sesungguhnya Allah Ta’ala telah menjanjikan kepada orang-orang mukmin berupa perlindungan dan kemenangan atas musuh-musuh, dan Allah Ta’ala berfirman: “Tipu daya yang buruk itu tidak akan menimpa selain kepada orang yang melakukannya.” Maka musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman, bagaimanapun mereka berbisik-bisik dan bertipu daya, sesungguhnya mudarat dari hal itu kembali kepada diri mereka sendiri, dan tidak dapat merugikan orang-orang beriman kecuali sesuatu yang telah Allah tetapkan dan takdirkan. “Dan hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal” yaitu hendaklah mereka bergantung kepada-Nya dan yakin pada janji-Nya, karena sesungguhnya barang siapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya, dan Allah akan mengurus urusan agama dan dunianya.
Surat Al-Mujadilah Ayat 11
“Hai orang-orang beriman, apabila dikatakan kepadamu: ‘Berlapang-lapanglah dalam majlis’, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: ‘Berdirilah kamu’, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Mujadilah: 11)
Ini adalah pendidikan dari Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, apabila mereka berkumpul dalam suatu majlis dari majlis-majlis perkumpulan mereka, dan sebagian dari mereka atau sebagian dari orang yang datang kepada mereka membutuhkan kelapangan tempat untuk duduk di majlis tersebut, maka dari adab yang baik adalah mereka memberikan kelapangan kepadanya untuk mencapai maksud tersebut.
Dan hal itu tidaklah merugikan orang yang duduk sedikitpun, sehingga tercapai maksud saudaranya tanpa adanya mudarat yang menimpanya, dan balasan itu sesuai dengan amalnya, maka barang siapa yang memberikan kelapangan, Allah akan memberikan kelapangan kepadanya, dan barang siapa yang melapangkan untuk saudaranya, Allah akan melapangkan baginya.
“Dan apabila dikatakan: ‘Berdirilah kamu'” yaitu bangkitlah dan beranjak dari tempat duduk kalian karena ada keperluan yang timbul, “maka berdirilah” yaitu maka bersegeralah untuk berdiri guna mencapai kemaslahatan tersebut, karena sesungguhnya melakukan hal-hal semacam ini termasuk dari ilmu dan iman, dan Allah Ta’ala akan meninggikan derajat ahli ilmu dan iman sesuai dengan apa yang Allah khususkan kepada mereka berupa ilmu dan iman.
“Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” maka Dia akan membalas setiap orang yang beramal dengan amalnya, jika baik maka baik, dan jika buruk maka buruk.
Dan dalam ayat ini terdapat keutamaan ilmu, dan sesungguhnya perhiasan dan buahnya adalah beradab dengan adab-adabnya dan beramal sesuai dengan tuntunannya.
Surat Al-Mujadilah Ayat 12-13
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul, hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu. Yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih bersih; jika kamu tidak memperoleh (yang akan disedekahkan) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu keluarkan sedekah-sedekah sebelum mengadakan pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tidak melaksanakannya dan Allah telah memberi taubat kepadamu maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, taatilah Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Mujadilah: 12-13)
Allah Ta’ala memerintahkan orang-orang mukmin untuk bersedekah sebelum berbicara secara khusus dengan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pendidikan bagi mereka dan pengajaran, serta sebagai bentuk pengagungan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena sesungguhnya pengagungan ini lebih baik bagi orang-orang mukmin dan lebih bersih yaitu dengan itu akan bertambah kebaikan dan pahala kalian, dan kalian akan memperoleh kesucian dari kotoran-kotoran, yang di antaranya adalah meninggalkan penghormatan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak beradab bersamanya dengan banyaknya pembicaraan khusus yang tidak ada manfaat di bawahnya, karena apabila diperintahkan bersedekah sebelum berbicara dengannya maka hal ini menjadi timbangan bagi orang yang sangat antusias kepada kebaikan dan ilmu, sehingga ia tidak peduli dengan sedekah, dan orang yang tidak memiliki semangat dan keinginan terhadap kebaikan, dan maksudnya hanya sekadar banyak berbicara, maka dengan itu ia akan berhenti dari hal yang menyusahkan Rasul. Ini bagi orang yang mampu bersedekah, adapun orang yang tidak menemukan sedekah, maka sesungguhnya Allah tidak menyempitkan perkaranya, bahkan Allah memaafkannya dan memberikan kemudahan kepadanya, serta membolehkan baginya berbicara secara khusus tanpa mendahului sedekah yang tidak mampu ia lakukan.
Kemudian ketika Allah Tabaraka wa Ta’ala melihat kasih sayang orang-orang mukmin, dan beratnya sedekah bagi mereka pada setiap pembicaraan khusus, Allah memudahkan perkara bagi mereka, dan tidak menghukum mereka karena meninggalkan sedekah sebelum pembicaraan khusus, dan tetap pengagungan kepada Rasul serta penghormatan kepadanya tidak dihapus (masih berlaku), karena hukum ini termasuk kategori yang disyariatkan untuk tujuan lain, bukan dimaksudkan untuk dirinya sendiri, dan yang dimaksudkan adalah adab bersama Rasul dan memuliakan beliau, dan Allah Ta’ala memerintahkan mereka untuk melaksanakan perintah-perintah besar yang dimaksudkan untuk dirinya sendiri, maka Allah berfirman: “Maka jika kamu tidak melaksanakannya” yaitu tidak mudah bagi kalian mendahulukan sedekah, dan ini tidak cukup, karena bukanlah syarat dari perintah bahwa harus mudah bagi hamba, dan karena itu Allah membatasinya dengan firman-Nya: “dan Allah telah memberi taubat kepadamu” yaitu Allah memaafkan kalian dari hal itu, “maka dirikanlah shalat” dengan rukun-rukun, syarat-syarat, dan semua batas-batas serta kewajibannya, “tunaikanlah zakat” yang diwajibkan [dalam harta kalian] kepada orang-orang yang berhak menerimanya.
Dan kedua ibadah ini adalah induk ibadah-ibadah badani dan mali, maka barang siapa yang melaksanakan keduanya sesuai dengan cara syariat, maka ia telah melaksanakan hak-hak Allah dan hak-hak hamba-hamba-Nya, [dan karena itu Allah berfirman setelahnya:] “taatilah Allah dan Rasul-Nya” dan ini adalah perintah yang paling menyeluruh.
Dan termasuk dalam hal itu adalah taat kepada Allah [dan taat kepada] Rasul-Nya, dengan melaksanakan perintah-perintah keduanya dan menjauhi larangan-larangan keduanya, serta membenarkan apa yang keduanya kabarkan, dan berhenti pada batas-batas Allah.
Dan yang menjadi patokan dalam hal itu adalah ikhlas dan ihsan, dan karena itu Allah berfirman: “Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” maka Allah Ta’ala mengetahui amalan-amalan mereka, dan dengan cara bagaimana amalan itu keluar, maka Dia akan membalas mereka sesuai dengan ilmu-Nya tentang apa yang ada dalam dada mereka.
Surat Al-Mujadilah Ayat 14-19
“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui. Allah telah menyediakan bagi mereka azab yang keras. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Mereka itu menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah; karena itu mereka akan memperoleh azab yang menghinakan. Harta benda dan anak-anak mereka sekali-kali tidak akan dapat membantu mereka dari (azab) Allah sedikitpun. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (Ingatlah) hari (ketika) Allah membangkitkan mereka semuanya, lalu mereka bersumpah kepada Allah sebagaimana mereka bersumpah kepadamu, dan mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat) dengan sumpah itu. Ketahuilah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang pendusta. Setan telah menguasai mereka, lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah. Mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah yang rugi.” (Q.S. Al-Mujadilah: 14-19)
Allah Ta’ala mengabarkan tentang buruknya keadaan orang-orang munafik yang menjadikan orang-orang kafir sebagai teman, dari kalangan Yahudi dan Nasrani serta yang lainnya dari orang-orang yang dimurkai Allah, dan mereka memperoleh bagian yang paling banyak dari laknat Allah, dan bahwa mereka bukanlah dari golongan orang-orang mukmin dan bukan pula dari golongan orang-orang kafir, “dalam keadaan bimbang antara yang demikian itu; tidak (masuk) kepada golongan ini dan tidak (pula) kepada golongan itu”
Maka mereka bukan orang mukmin lahir dan batin karena batin mereka bersama orang-orang kafir, dan bukan pula bersama orang-orang kafir lahir dan batin, karena lahir mereka bersama orang-orang mukmin, dan inilah sifat mereka yang Allah gambarkan tentang mereka, sedangkan mereka bersumpah atas kebalikan dari hal itu yang merupakan kebohongan, maka mereka bersumpah bahwa mereka adalah orang mukmin, padahal mereka mengetahui bahwa mereka bukanlah orang mukmin.
Maka balasan bagi para pengkhianat yang fasik dan pendusta ini adalah Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, yang tidak dapat diukur kadarnya, dan tidak diketahui sifatnya. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan, di mana mereka beramal dengan apa yang memurkai Allah dan mewajibkan bagi mereka hukuman dan laknat.
“Mereka itu menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai” yaitu tameng dan perlindungan, mereka berlindung dengannya dari celaan Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin, maka karena hal itulah mereka menghalangi diri mereka sendiri dan orang lain dari jalan Allah, yaitu jalan yang barang siapa menempuhnya akan sampai kepadanya ke surga-surga yang penuh nikmat. Dan barang siapa yang menghalangi darinya maka tidak ada kecuali jalan yang mengantarkan ke neraka Jahim, “karena itu mereka akan memperoleh azab yang menghinakan” di mana mereka menyombongkan diri dari beriman kepada Allah dan tunduk kepada ayat-ayat-Nya, Allah menghinakan mereka dengan azab yang kekal, yang tidak akan reda dari mereka sesaatpun dan mereka tidak akan diberi tangguh.
“Harta benda dan anak-anak mereka sekali-kali tidak akan dapat membantu mereka dari (azab) Allah sedikitpun” maka tidak akan menolak dari mereka sedikitpun dari azab, dan tidak akan menghasilkan bagi mereka bagian dari pahala, “Mereka itulah penghuni neraka” yang menetap di dalamnya, yang tidak akan keluar darinya, dan “mereka kekal di dalamnya” dan barang siapa yang hidup dalam sesuatu akan mati karenanya.
Maka sebagaimana orang-orang munafik di dunia menipu orang-orang mukmin, dan bersumpah kepada mereka bahwa mereka adalah orang mukmin, maka apabila tiba hari kiamat dan Allah membangkitkan mereka semua, mereka akan bersumpah kepada Allah sebagaimana mereka bersumpah kepada orang-orang mukmin, dan mereka menyangka dalam sumpah mereka ini bahwa mereka mendapat sesuatu, karena kekufuran dan kemunafikan mereka serta akidah-akidah mereka yang batil, senantiasa mengakar dalam pikiran mereka sedikit demi sedikit, hingga menipu mereka dan mereka mengira bahwa mereka berada di atas sesuatu yang dapat diperhitungkan, dan digantungkan kepadanya pahala, padahal mereka berbohong dalam hal itu, dan sudah maklum bahwa kebohongan tidak akan laku di hadapan Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata.
Dan inilah yang terjadi pada mereka berupa penguasaan setan yang menguasai mereka, dan menjadikan indah amalan-amalan mereka bagi mereka, dan melupakan mereka dari mengingat Allah, dan dia adalah musuh yang nyata, yang tidak menginginkan bagi mereka kecuali kejelekan, “ia hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala”
“Mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah yang rugi” yaitu mereka yang merugi agama, dunia, diri, dan keluarga mereka.
Surat Al-Mujadilah Ayat 20-21
“Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka itu termasuk orang-orang yang terhina. Allah telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang”. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Q.S. Al-Mujadilah: 20-21)
Ini adalah janji dan ancaman, ancaman bagi orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya dengan kekufuran dan maksiat, bahwa ia akan dikecewakan dan dihinakan, tidak ada akhir yang terpuji baginya, dan tidak ada panji yang menang baginya.
Dan janji bagi orang yang beriman kepada-Nya, dan kepada rasul-rasul-Nya, serta mengikuti apa yang dibawa oleh para rasul, sehingga menjadi golongan Allah yang beruntung, bahwa bagi mereka kemenangan dan pertolongan serta kekuasaan di dunia dan akhirat, dan ini adalah janji yang tidak akan diingkari dan tidak akan diubah, karena ia dari Yang Maha Benar, Maha Kuat, Maha Perkasa yang tidak ada sesuatu yang menghalangi-Nya dari apa yang Dia kehendaki.
Surat Al-Mujadilah Ayat 22
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung.” (Q.S. Al-Mujadilah: 22)
Allah Ta’ala berfirman: “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya” yaitu tidak akan berkumpul ini dan itu, maka tidaklah hamba itu menjadi mukmin kepada Allah dan hari akhirat secara hakiki, kecuali ia beramal sesuai dengan tuntutan iman dan konsekuensinya, berupa mencintai orang yang tegak dengan iman dan membelanya, serta membenci orang yang tidak tegak dengannya dan memusuhinya, meskipun ia adalah orang yang paling dekat dengannya.
Dan inilah iman yang hakiki, yang telah muncul buahnya dan tujuan darinya, dan ahli sifat inilah yang Allah tuliskan dalam hati mereka iman yaitu Allah ukir dan tetapkan serta tanamkan dengan tanaman yang tidak akan goyah, dan tidak berpengaruh kepadanya syubhat-syubhat dan keraguan-keraguan.
Dan merekalah yang Allah kuatkan dengan roh dari-Nya yaitu dengan wahyu-Nya, dan pertolongan-Nya, serta bantuan-Nya yang Ilahi dan kebaikan-Nya yang Rabbani.
Dan merekalah yang memiliki kehidupan yang baik di negeri ini, dan bagi mereka surga-surga nikmat di negeri yang kekal, yang di dalamnya terdapat segala yang diinginkan jiwa, dan yang menyenangkan mata, serta yang dipilih, dan bagi mereka nikmat yang paling besar dan paling utama, yaitu Allah melimpahkan kepada mereka ridha-Nya sehingga Dia tidak akan murka kepada mereka selamanya, dan mereka ridha kepada Tuhan mereka dengan apa yang diberikan-Nya kepada mereka berupa berbagai jenis kemuliaan, dan pahala yang berlimpah, serta pemberian yang banyak, dan derajat yang tinggi sehingga mereka tidak melihat di atas apa yang diberikan Maulanya kepada mereka ada batas akhir, dan tidak ada di atasnya akhir.
Adapun orang yang mengaku bahwa ia beriman kepada Allah dan hari akhirat, padahal ia berkasih sayang dengan musuh-musuh Allah, mencintai orang yang meninggalkan iman di belakang punggungnya, maka sesungguhnya ini adalah iman klaim yang tidak memiliki hakikat, karena sesungguhnya setiap perkara harus ada bukti yang membenarkannya, maka sekadar klaim, tidak memberi manfaat apa-apa dan tidak membenarkan pemiliknya.
Selesai tafsir “Qad Sami’allahu”, dengan pujian Allah dan pertolongan-Nya serta bimbingan-Nya.
Dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, dan shalawat Allah atas Muhammad dan salam yang sempurna.
[Surat ini] Madaniyyah
Surat Al-Hasyr Ayat 1-7
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Semua yang ada di langit dan yang ada di bumi bertasbih kepada Allah. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah menanamkan ketakutan ke dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan.”
hingga akhir kisah. Surat ini disebut {Surat Bani Nadhir} dan mereka adalah kelompok besar dari orang-orang Yahudi di pinggir Madinah, pada waktu diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, dan hijrah ke Madinah, mereka mengingkari beliau termasuk dalam orang-orang yang mengingkari dari kalangan Yahudi, maka ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah beliau mengadakan perjanjian damai dengan seluruh kelompok Yahudi yang menjadi tetangga beliau di Madinah, maka ketika enam bulan setelah [perang] Badr atau sekitar itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar kepada mereka, dan berbicara kepada mereka agar mereka membantu beliau dalam diyat (denda) dua orang Kilabiyain yang dibunuh oleh ‘Amr bin Umayyah adh-Dhamri, maka mereka berkata: “Kami akan melakukan wahai Abul Qasim, duduklah di sini hingga kami selesaikan kebutuhanmu,” maka mereka bermusyawarah sesama mereka, dan setan membisikkan kepada mereka kesengsaraan yang telah ditetapkan bagi mereka, maka mereka berkomplot untuk membunuh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan berkata: “Siapa di antara kalian yang akan mengambil batu penggiling ini lalu naik dan melemparkannya ke kepala beliau sehingga memecahkan kepalanya?” Maka yang paling celaka di antara mereka ‘Amr bin Jahhasy berkata: “Aku,” maka Salam bin Misykam berkata kepada mereka: “Jangan lakukan, demi Allah beliau pasti akan diberitahu tentang apa yang kalian rencanakan, dan sesungguhnya itu adalah pelanggaran perjanjian yang ada antara kita dan beliau,” dan wahyu datang dengan segera kepada beliau dari Tuhannya, tentang apa yang mereka rencanakan, maka beliau bangkit dengan cepat, dan menuju ke Madinah, dan para sahabat beliau menyusul beliau, mereka berkata: “Engkau bangkit dan kami tidak menyadarinya,” maka beliau memberitahu mereka tentang apa yang direncanakan orang-orang Yahudi.
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim utusan kepada mereka: “Keluarlah dari Madinah dan jangan tinggal bersamaku di dalamnya, dan aku beri kalian waktu sepuluh hari, maka siapa yang kudapati setelah itu di dalamnya akan kupancung lehernya”
Maka mereka tinggal beberapa hari mempersiapkan diri, dan orang munafik Abdullah bin Ubay [bin Salul] mengirim pesan kepada mereka: “Jangan keluar dari rumah kalian, karena bersamaku ada dua ribu orang yang akan masuk bersama kalian ke benteng kalian, maka mereka akan mati untuk mempertahankan kalian, dan Quraidhah serta sekutu kalian dari Ghathafan akan menolong kalian.”
Dan pemimpin mereka Huyay bin Akhtab berharap pada apa yang dikatakannya, dan mengirim pesan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Sesungguhnya kami tidak akan keluar dari rumah kami, maka lakukan apa yang engkau kehendaki.”
Maka Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat bertakbir, dan bangkit menuju mereka, dan Ali bin Abi Thalib membawa panji.
Maka mereka bertahan di benteng-benteng mereka sambil melempar dengan anak panah dan batu, dan Quraidhah menjauhi mereka, dan Ibnu Ubay serta sekutu mereka dari Ghathafan mengkhianati mereka, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengepung mereka, dan memotong pohon kurma mereka serta membakarnya. Maka mereka mengirim pesan kepadanya: “Kami akan keluar dari Madinah,” maka beliau menurunkan mereka dengan syarat bahwa mereka keluar darinya dengan jiwa mereka, dan anak-anak mereka, dan bahwa bagi mereka apa yang dapat dibawa unta mereka kecuali senjata, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menguasai harta dan senjata.
Dan Bani Nadhir menjadi khusus milik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk keperluan beliau dan kemaslahatan kaum muslimin, dan beliau tidak membagi lima bagiannya, karena Allah memberikannya sebagai fai’ (rampasan perang tanpa pertempuran) kepada beliau, dan kaum muslimin tidak mengerahkan kuda maupun unta untuk mendapatkannya, dan beliau mengusir mereka ke Khaibar dan di antara mereka ada Huyay bin Akhtab tokoh mereka, dan menguasai tanah dan rumah mereka, serta menguasai senjata, maka beliau mendapatkan dari senjata berupa lima puluh baju besi, dan lima puluh helm, serta tiga ratus empat puluh pedang. Inilah ringkasan kisah mereka sebagaimana yang disebutkan oleh ahli sirah.
Maka Allah Ta’ala membuka surat ini dengan memberitahukan bahwa seluruh isi langit dan bumi bertasbih dengan memuji Tuhannya, mensucikan-Nya dari segala yang tidak layak bagi keagungan-Nya, beribadah kepada-Nya dan tunduk kepada kemuliaan-Nya. Karena Dia-lah Yang Maha Perkasa yang telah mengalahkan segala sesuatu, maka tidak ada yang dapat menolak-Nya, dan tidak ada yang dapat membangkang kepada-Nya. Yang Maha Bijaksana dalam penciptaan dan perintah-Nya, maka Dia tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia, tidak mensyariatkan sesuatu yang tidak mengandung kemaslahatan, dan tidak melakukan kecuali apa yang merupakan tuntutan hikmah-Nya.
Dan di antara hal tersebut adalah pertolongan Allah kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang-orang kafir dari Ahli Kitab Bani Nadhir ketika mereka berkhianat kepada Rasul-Nya, maka Allah mengeluarkan mereka dari negeri dan tanah air mereka yang telah mereka kenal dan cintai.
Pengusiran mereka dari sana merupakan pengumpulan dan pengusiran pertama yang Allah tetapkan atas mereka melalui tangan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka pindah ke Khaibar. Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa bagi mereka ada pengumpulan dan pengusiran lain selain ini. Hal itu memang terjadi ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusir mereka dari Khaibar, kemudian Umar radhiyallahu ‘anhu mengeluarkan sisa mereka dari sana.
{Kalian tidak menyangka} wahai orang-orang Muslim {bahwa mereka akan keluar} dari negeri mereka, karena kekuatan, perlindungan, dan kemegahan mereka di sana.
{Dan mereka menyangka bahwa benteng-benteng mereka akan melindungi mereka dari (siksa) Allah} maka mereka takjub dan tertipu olehnya, serta mengira bahwa mereka tidak akan dapat dijangkau dan tidak ada seorang pun yang mampu menguasainya. Padahal takdir Allah Ta’ala di atas semua itu, tidak ada gunanya benteng dan istana, dan tidak berguna kekuatan serta pertahanan.
Karena itulah Dia berfirman: {Maka Allah mendatangi mereka dari arah yang tidak mereka sangka-sangka} yaitu dari urusan dan pintu yang tidak terlintas dalam pikiran mereka bahwa mereka akan didatangi darinya, yaitu bahwa Allah Ta’ala {memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka} yaitu rasa takut yang sangat, yang merupakan tentara Allah yang terbesar, yang tidak berguna bersamanya bilangan dan peralatan, tidak berguna kekuatan dan ketegasan. Maka urusan yang mereka perhitungkan dan mereka kira akan mendatangkan kerusakan kepada mereka jika memang ada adalah benteng-benteng yang mereka jadikan perlindungan dan jiwa mereka merasa tenang kepadanya. Barangsiapa yang menaruh kepercayaan kepada selain Allah maka dia akan dikecewakan, dan barangsiapa yang bersandar kepada selain Allah maka itu akan menjadi bencana baginya.
Maka datanglah kepada mereka urusan langit yang turun ke hati mereka, yang merupakan tempat keteguhan dan kesabaran, atau kelemahan dan ketidakberdayaan. Allah menghilangkan kekuatan dan ketegasan mereka, dan mewariskan kepada mereka kelemahan, ketidakberdayaan, dan ketakutan, sehingga mereka tidak memiliki cara dan kekuatan lagi. Hal itu menjadi bantuan untuk melawan mereka.
Karena itulah Dia berfirman: {Mereka menghancurkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin} yaitu mereka berdamai dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan syarat bahwa bagi mereka apa yang dapat dibawa unta.
Maka mereka merobohkan banyak atap rumah mereka yang mereka anggap bagus, dan mereka membolehkan orang-orang mukmin karena kezaliman mereka untuk menghancurkan rumah-rumah mereka dan merobohkan benteng-benteng mereka. Maka merekalah yang berbuat jahat terhadap diri mereka sendiri dan menjadi penolong terbesar untuk melawan diri mereka sendiri. {Maka ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai wawasan!} yaitu mata hati yang tajam dan akal yang sempurna. Sesungguhnya dalam hal ini terdapat pelajaran untuk mengetahui perbuatan Allah Ta’ala terhadap orang-orang yang menentang kebenaran, mengikuti hawa nafsu mereka, yang tidak berguna bagi mereka kemegahan mereka, tidak melindungi mereka kekuatan mereka, dan tidak membentengi mereka benteng-benteng mereka ketika datang perintah Allah dan sampai kepada mereka azab karena dosa-dosa mereka.
Pelajaran itu berdasarkan keumuman lafadz, bukan kekhususan sebab. Sesungguhnya ayat ini menunjukkan perintah untuk mengambil pelajaran, yaitu membandingkan yang serupa dengan yang serupa, mengqiyaskan sesuatu kepada yang sejenis, dan merenung terhadap makna dan hikmah yang terkandung dalam hukum-hukum, yang merupakan tempat akal dan pemikiran. Dengan demikian akal bertambah, mata hati menjadi terang, iman bertambah, dan diperoleh pemahaman yang hakiki.
Kemudian Allah Ta’ala memberitahukan bahwa orang-orang Yahudi ini tidak ditimpa seluruh hukuman yang mereka layak terima, dan bahwa Allah telah meringankan mereka.
Seandainya bukan karena Dia telah tetapkan atas mereka pengusiran yang menimpa mereka dan Dia putuskan serta takdirkan dengan takdir-Nya yang tidak dapat diubah dan diganti, tentu ada urusan lain bagi mereka berupa azab dunia dan hukumannya. Akan tetapi mereka – meskipun luput dari azab dunia yang berat – sesungguhnya bagi mereka di akhirat ada azab neraka, yang tidak mungkin dapat diketahui beratnya kecuali oleh Allah Ta’ala. Maka janganlah terlintas dalam pikiran mereka bahwa hukuman mereka telah habis dan selesai serta tidak tersisa lagi bagi mereka. Apa yang Allah sediakan bagi mereka berupa azab di akhirat adalah lebih besar dan lebih dahsyat.
Hal itu karena mereka {memusuhi Allah dan Rasul-Nya} dan memusuhi serta memerangi keduanya, dan berusaha dalam kemaksiatan kepada keduanya.
Ini adalah kebiasaan dan sunnatullah bagi siapa yang memusuhi-Nya {Dan barangsiapa yang memusuhi Allah maka sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya}
Ketika Bani Nadhir mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang Muslim dalam memotong pohon kurma dan pepohonan, dan mereka mengklaim bahwa hal itu termasuk kerusakan, dan mereka menjadikan hal itu sebagai alat untuk mencela orang-orang Muslim, Allah Ta’ala memberitahukan bahwa memotong pohon kurma jika mereka memotongnya atau membiarkannya jika mereka membiarkannya, sesungguhnya itu atas izin-Nya Ta’ala dan perintah-Nya {dan agar menghinakan orang-orang yang fasik} dimana Dia menguasakan kalian untuk memotong pohon kurma mereka dan membakarnya, agar hal itu menjadi hukuman bagi mereka dan kehinaan di dunia serta kerendahan yang dengannya diketahui ketidakberdayaan mereka yang total, sehingga mereka tidak mampu menyelamatkan pohon kurma mereka yang merupakan sumber kekuatan mereka.
Al-Lînah adalah nama yang meliputi seluruh pohon kurma menurut kemungkinan yang paling benar dan paling tepat.
Demikianlah keadaan Bani Nadhir dan bagaimana Allah menghukum mereka di dunia.
Kemudian disebutkan kepada siapa harta dan barang-barang mereka berpindah, maka Dia berfirman: {Dan apa yang Allah berikan sebagai rampasan (fai’) kepada Rasul-Nya dari mereka} yaitu dari penduduk negeri ini, yaitu Bani Nadhir.
{Maka} sesungguhnya kalian wahai kaum Muslim {tidak menggerakkan} yaitu tidak mengumpulkan, mempercepat, dan menghimpun {untuk mendapatkannya seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta} yaitu kalian tidak bersusah payah untuk memperolehnya, tidak dengan diri kalian dan tidak pula dengan hewan kalian. Akan tetapi Allah memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka, maka harta itu datang kepada kalian dengan mudah tanpa perlawanan.
Karena itulah Dia berfirman: {Akan tetapi Allah menguasakan rasul-rasul-Nya atas siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu} Termasuk kesempurnaan kuasa-Nya adalah bahwa tidak ada yang dapat menolak dari-Nya, dan tidak ada yang kuat yang dapat menang dari selain-Nya.
Definisi fai’ dalam istilah para fuqaha adalah: harta yang diambil dari harta orang-orang kafir dengan hak, tanpa peperangan, seperti harta ini yang mereka tinggalkan karena lari ketakutan dari orang-orang Muslim. Disebut fai’ karena ia kembali dari orang-orang kafir yang tidak berhak atasnya, kepada orang-orang Muslim yang memiliki hak yang lebih besar atasnya.
Hukum umumnya, sebagaimana disebutkan Allah dalam firman-Nya {Apa yang Allah berikan sebagai rampasan (fai’) kepada Rasul-Nya dari (harta) penduduk negeri-negeri} secara umum, baik Allah berikan sebagai fai’ pada masa Rasul-Nya atau sesudahnya, bagi siapa yang menangani urusan umatnya sesudah beliau.
{Maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan}
Ayat ini serupa dengan ayat yang ada dalam Surat Al-Anfal dalam firman-Nya: {Dan ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kalian peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan} (QS. Al-Anfal: 41)
Maka fai’ ini dibagi lima bagian:
- Seperlima untuk Allah dan Rasul-Nya yang digunakan untuk kepentingan umum kaum Muslim
- Seperlima untuk kerabat, yaitu Bani Hasyim dan Bani Muthalib, dimana antara laki-laki dan perempuan mereka disamakan
- Seperlima untuk anak-anak yatim yang miskin, yaitu yang tidak memiliki ayah dan belum baligh
- Seperlima untuk orang-orang miskin
- Dan satu bagian untuk ibnu sabil, yaitu orang-orang asing yang terputus perjalanannya di luar negeri mereka
Adapnya Bani Muthalib dimasukkan dalam seperlima bersama Bani Hasyim, dan tidak dimasukkan sisa Bani Abdul Manaf lainnya, karena mereka ikut serta dengan Bani Hasyim masuk ke dalam Syi’ib (lembah), ketika Quraisy bersepakat untuk menjauhi dan memusuhi mereka, maka mereka menolong Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berbeda dengan yang lainnya.
Karena itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang Bani Abdul Muthalib: “Sesungguhnya mereka tidak pernah berpisah dariku di masa jahiliah maupun Islam”
Allah menetapkan takdir ini dan membatasi fai’ kepada orang-orang yang telah ditentukan ini {agar harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian}. Sesungguhnya jika Dia tidak menetapkannya, tentu harta itu akan beredar di tangan orang-orang kaya yang kuat, dan tidak akan sampai kepada orang lain dari kalangan yang lemah sedikitpun. Dalam hal itu terdapat kerusakan yang tidak diketahui kecuali oleh Allah, sebagaimana dalam mengikuti perintah Allah dan syariat-Nya terdapat kemaslahatan yang tidak terhitung jumlahnya.
Karena itu Allah memerintahkan dengan kaidah umum dan dasar yang menyeluruh, maka Dia berfirman: {Apa yang diberikan Rasul kepada kalian, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagi kalian, maka tinggalkanlah}
Ini mencakup pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, yang zhahir dan batinnya, dan bahwa apa yang dibawa Rasul wajib diambil dan diikuti oleh para hamba, tidak halal menyelisihinya. Bahwa nash Rasul tentang hukum sesuatu adalah seperti nash Allah Ta’ala, tidak ada keringanan bagi seorang pun dan tidak ada uzur baginya dalam meninggalkannya, dan tidak boleh mendahulukan perkataan seseorang atas perkataannya.
Kemudian Allah memerintahkan bertakwa kepada-Nya, yang dengannya terpelihara hati dan ruh serta dunia dan akhirat, dan dengannya kebahagiaan yang kekal dan kemenangan yang besar. Dengan menyia-nyiakannya terjadilah kesengsaraan yang abadi dan azab yang kekal. Maka Dia berfirman: {Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya} bagi siapa yang meninggalkan takwa dan memilih mengikuti hawa nafsu.
Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan hikmah dan sebab yang mengharuskan dijadikan-Nya harta-harta fai’ untuk orang-orang yang Dia tetapkan, dan bahwa mereka benar-benar layak untuk dibantu, berhak untuk diberikan kepada mereka. Mereka terdiri dari muhajirin yang telah meninggalkan hal-hal yang dicintai dan dibiasakan, berupa negeri, tanah air, kekasih, teman, dan harta, karena kecintaan kepada Allah dan untuk menolong agama Allah serta cinta kepada Rasulullah. Maka mereka inilah orang-orang yang benar yang beramal sesuai dengan tuntutan iman mereka, dan membenarkan iman mereka dengan amal-amal saleh dan ibadah-ibadah yang berat. Berbeda dengan orang yang mengaku beriman namun tidak membenarkannya dengan jihad, hijrah, dan ibadah-ibadah lainnya.
Dan di antara mereka adalah para penolong (Anshar), yaitu suku Aus dan Khazraj yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan sukarela, cinta, dan pilihan. Mereka melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membelanya dari siapa saja, mereka menempati negeri hijrah dan iman sehingga menjadi tempat berlindung dan tempat kembali bagi orang-orang mukmin, tempat perlindungan bagi para muhajirin, dan tempat tinggal yang aman bagi orang-orang Muslim. Saat itu semua negeri adalah negeri perang, syirik, dan kejahatan. Para penolong agama senantiasa berlindung kepada kaum Anshar hingga Islam tersebar dan menguat, dan terus bertambah sedikit demi sedikit, berkembang perlahan-lahan, hingga mereka menaklukkan hati dengan ilmu, iman, dan Al-Qur’an, serta menaklukkan negeri-negeri dengan pedang dan tombak.
Yang di antara sifat-sifat mereka yang indah adalah bahwa mereka {mencintai orang yang berhijrah kepada mereka}. Ini karena kecintaan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka mencintai orang-orang yang dicintai-Nya, dan mencintai orang yang menolong agama-Nya.
{Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada orang-orang muhajirin} yaitu mereka tidak iri kepada para muhajirin atas apa yang Allah berikan kepada mereka berupa karunia-Nya dan mengkhususkan mereka dengan keutamaan dan kemuliaan yang memang mereka layak untuk mendapatkannya. Ini menunjukkan kesucian hati mereka dan tidak adanya dendam, kedengkian, dan iri hati di dalamnya.
Hal itu menunjukkan bahwa para muhajirin lebih utama dari kaum Anshar, karena Allah mendahulukan mereka dalam penyebutan, dan memberitahukan bahwa kaum Anshar tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada muhajirin. Hal itu menunjukkan bahwa Allah Ta’ala memberikan kepada mereka apa yang tidak diberikan kepada kaum Anshar dan lainnya, dan karena mereka menggabungkan antara pertolongan dan hijrah.
Firman-Nya: {Dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan} yaitu di antara sifat-sifat kaum Anshar yang dengan itu mereka mengungguli orang lain dan berbeda dari yang lainnya adalah sifat mengutamakan, yaitu jenis kedermawanan yang paling sempurna. Yaitu mengutamakan dengan memberikan hal-hal yang dicintai jiwa berupa harta dan lainnya, serta memberikannya kepada orang lain padahal mereka membutuhkannya, bahkan dalam keadaan darurat dan kekurangan.
Ini tidak terjadi kecuali dari akhlak yang suci dan kecintaan kepada Allah Ta’ala yang didahulukan atas kecintaan kepada syahwat jiwa dan kesenangannya. Di antaranya adalah kisah orang Anshar yang ayat ini turun karena sebabnya, ketika dia mengutamakan tamunya dengan makanannya dan makanan keluarga serta anak-anaknya, dan mereka bermalam dalam keadaan lapar.
Mengutamakan (itsar) adalah kebalikan dari mementingkan diri sendiri (atsarah). Mengutamakan adalah terpuji, sedangkan mementingkan diri sendiri tercela, karena ia termasuk sifat kikir dan bakhil.
Barangsiapa yang dikaruniai sifat mengutamakan maka dia telah terpelihara dari kekikiran jiwanya. {Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran jiwanya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung}
Terpelihara dari kekikiran jiwa mencakup terpelihara darinya dalam semua yang diperintahkan, karena apabila seorang hamba terpelihara dari kekikiran jiwanya, maka jiwanya akan rela dengan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya, lalu melaksanakannya dengan taat, patuh, dan lapang dada. Jiwanya rela meninggalkan apa yang Allah larang meskipun dicintai jiwa, jiwa mendorongnya dan mengharapkannya. Jiwanya rela mengeluarkan harta di jalan Allah dan mengharap ridha-Nya. Dengan demikian tercapailah keberuntungan dan kemenangan.
Berbeda dengan orang yang tidak terpelihara dari kekikiran jiwanya, bahkan ditimpa dengan kikir terhadap kebaikan, yang merupakan asal kejahatan dan sumbernya.
Kedua golongan yang utama dan suci inilah para sahabat yang mulia dan para imam yang agung, yang memperoleh hal-hal yang mendahului, keutamaan, dan kemuliaan yang dengannya mereka mendahului orang-orang sesudah mereka dan meraih apa yang diraih orang-orang sebelum mereka. Maka mereka menjadi para tokoh orang-orang mukmin, para pemimpin kaum Muslim, dan para panutan orang-orang bertakwa.
Cukuplah bagi orang-orang sesudah mereka dari keutamaan bahwa mereka berjalan mengikuti mereka dan mengikuti petunjuk mereka.
Karena itulah Allah menyebutkan dari orang-orang yang datang kemudian, yaitu orang yang mengikuti mereka dan berjalan mengikuti jejak mereka, maka Dia berfirman: {Dan orang-orang yang datang sesudah mereka} yaitu sesudah para muhajirin dan anshar {mereka berdoa} dengan cara menasihati diri mereka sendiri dan seluruh orang mukmin: {Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami}
Ini adalah doa yang menyeluruh untuk semua orang mukmin, baik yang terdahulu dari kalangan sahabat, maupun yang sebelum dan sesudah mereka. Ini termasuk keutamaan iman bahwa orang-orang mukmin saling memberi manfaat, saling mendoakan, karena kesamaan dalam iman yang mengharuskan terjalinnya persaudaraan di antara orang-orang mukmin, yang di antara cabangnya adalah saling mendoakan dan saling mencintai.
Karena itulah Allah menyebutkan dalam doa peniadaan dendam dari hati, yang mencakup dendam yang sedikit dan banyak. Apabila hal itu tidak ada maka terjadilah lawannya, yaitu kecintaan di antara orang-orang mukmin, kesetiaan, nasihat, dan hal-hal serupa yang merupakan hak-hak orang mukmin.
Allah menggambarkan orang-orang sesudah para sahabat dengan iman, karena perkataan mereka: {telah beriman lebih dulu dari kami} adalah dalil atas kesamaan dalam iman, dan bahwa mereka mengikuti para sahabat dalam aqidah dan pokok-pokok iman. Mereka adalah Ahlu Sunnah wal Jama’ah yang tidak benar sifat sempurna ini kecuali untuk mereka.
Allah menggambarkan mereka dengan mengakui dosa-dosa dan beristighfar darinya, saling beristighfar, dan bersungguh-sungguh menghilangkan dendam dan kedengkian dari hati mereka terhadap saudara-saudara mereka yang mukmin. Karena doa mereka dengan hal itu mengharuskan apa yang kami sebutkan, dan mencakup saling mencintai, bahwa salah seorang dari mereka mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya, dan menasihatinya baik hadir maupun ghaib, hidup maupun mati.
Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa hal ini termasuk hak-hak orang mukmin satu sama lain. Kemudian mereka mengakhiri doa mereka dengan dua nama yang mulia, yang menunjukkan kesempurnaan rahmat Allah dan kasih sayang serta kebaikan-Nya kepada mereka, yang di antaranya, bahkan yang utamanya, adalah taufik-Nya kepada mereka untuk menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak hamba-hamba-Nya.
Maka ketiga golongan inilah golongan-golongan umat ini, dan merekalah yang berhak atas fai’ yang pemanfaatannya kembali kepada kemaslahatan Islam. Mereka inilah ahlinya yang memang pantas mendapatkannya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk mereka, dengan anugerah dan kemuliaan-Nya.
Kemudian Allah Ta’ala heran terhadap keadaan orang-orang munafik yang memberikan harapan kosong kepada saudara-saudara mereka dari Ahli Kitab dalam menolong mereka dan bersekutu dengan mereka melawan orang-orang mukmin. Bahwa mereka berkata kepada mereka: {Sesungguhnya jika kalian diusir niscaya kami akan keluar bersama kalian, dan kami tidak akan mentaati siapa pun dalam (urusan) kalian untuk selama-lamanya} yaitu kami tidak akan mentaati dalam hal tidak menolong kalian siapa pun yang mencela atau menakuti kami. {Dan jika kalian diperangi niscaya kami akan menolong kalian, dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka adalah pendusta} dalam janji ini yang mereka gunakan untuk menipu saudara-saudara mereka.
Tidak heran hal ini terjadi pada mereka, karena dusta adalah sifat mereka, tipu daya dan penipuan menyertai mereka, kemunafikan dan pengecut mengiringi mereka.
Karena itulah Allah mendustakan mereka dengan firman-Nya, yang terjadi sebagaimana Allah beritakan, dan terjadi persis seperti apa yang Dia katakan: {Sesungguhnya jika mereka diusir} dari negeri mereka secara pengusiran dan pembuangan {mereka tidak akan keluar bersama mereka} karena kecintaan mereka pada tanah air, ketidaksabaran mereka dalam berperang, dan tidak menepati janji mereka.
{Dan sesungguhnya jika mereka diperangi mereka tidak akan menolong mereka} bahkan pengecut akan menguasai mereka, kekalahan menguasai mereka, dan mereka akan mengkhianati saudara-saudara mereka ketika paling membutuhkan mereka.
{Dan sesungguhnya jika mereka menolong mereka} secara asumsi dan perkiraan {niscaya mereka akan berbalik membelakangi kemudian mereka tidak akan mendapat pertolongan} yaitu pasti akan terjadi dari mereka pembelakangi dari peperangan dan pertolongan, dan tidak akan terjadi bagi mereka pertolongan dari Allah.
Sebab yang menyebabkan hal itu bagi mereka adalah bahwa kalian – wahai orang-orang mukmin – {lebih menakutkan di dalam dada mereka daripada Allah} maka mereka takut kepada kalian lebih besar daripada takut kepada Allah, dan mereka mendahulukan takut kepada makhluk yang tidak mampu berbuat manfaat dan mudarat untuk dirinya dan orang lain, atas takut kepada Khaliq yang di tangan-Nya mudarat dan manfaat, pemberian dan pencegahan.
{Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak memahami} tingkatan-tingkatan urusan, tidak mengetahui hakikat segala sesuatu, dan tidak membayangkan akibat-akibatnya. Sesungguhnya pemahaman yang sebenarnya adalah takut, harap, dan cinta kepada Khaliq didahulukan atas selainnya, dan selainnya mengikutinya.
{14} Mereka tidak akan memerangi kalian semua yaitu: dalam keadaan bersatu kecuali dalam benteng-benteng yang diperkuat atau dari balik tembok-tembok yaitu: mereka tidak akan bertahan dalam pertempuran melawan kalian dan tidak akan bertekad untuk itu, kecuali jika mereka berlindung di dalam benteng-benteng atau dari balik tembok dan pagar.
Sesungguhnya pada saat itu barangkali akan terjadi perlawanan dari mereka, dengan mengandalkan benteng dan tembok mereka, bukan karena keberanian dari diri mereka sendiri, dan ini termasuk celaan yang paling besar. Pertempuran mereka sesama mereka sangat keras yaitu: pertempuran di antara mereka sesama mereka sangat keras, tidak ada cacat pada badan mereka dan tidak pada kekuatan mereka, namun cacatnya terletak pada lemahnya iman mereka dan tidak bersatunya kata mereka, oleh karena itu Allah berfirman: Kamu mengira mereka bersatu ketika kamu melihat mereka berkumpul dan saling membantu.
Tetapi hati mereka terpecah belah yaitu: saling membenci, bercerai-berai dan terpecah belah.
Demikian itu yang menyebabkan mereka memiliki sifat-sifat yang disebutkan karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak berakal yaitu: tidak ada akal pada mereka dan tidak ada akal budi, karena seandainya mereka memiliki akal, niscaya mereka akan lebih mengutamakan yang utama daripada yang biasa, dan tidak akan rela dengan pilihan yang paling buruk bagi diri mereka, dan kata mereka akan bersatu serta hati mereka akan bersatu padu, dengan demikian mereka akan saling tolong menolong, saling menguatkan, dan saling bekerja sama untuk kepentingan dan manfaat agama serta dunia mereka.
Perumpamaan orang-orang yang terhina dari Ahli Kitab ini, yang Allah telah memberikan kemenangan kepada Rasul-Nya atas mereka dan menimpakan kehinaan kepada mereka dalam kehidupan dunia, serta tidak mendapat pertolongan dari mereka yang berjanji akan membantu mereka seperti perumpamaan orang-orang sebelum mereka yang tidak lama berselang yaitu orang-orang kafir Quraisy yang setan telah menghiasi perbuatan mereka dan berkata: “Tidak ada yang dapat mengalahkan kalian hari ini dari manusia dan sesungguhnya aku adalah pelindung bagi kalian. Maka ketika kedua pasukan telah saling berhadapan, dia berbalik ke belakang [dan berkata: ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari kalian. Sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kalian lihat’]” – ayat tersebut.
Maka mereka tertipu oleh diri mereka sendiri, dan tertipu oleh orang-orang yang menipu mereka, yang tidak bermanfaat bagi mereka dan tidak dapat menolak azab dari mereka, hingga mereka datang ke “Badar” dengan kesombongan dan keangkuhan mereka, mengira bahwa mereka akan mencapai angan-angan mereka terhadap Rasulullah dan orang-orang beriman.
Maka Allah memberikan kemenangan kepada Rasul-Nya dan orang-orang beriman atas mereka, lalu mereka membunuh para pemuka dan pembesar mereka, menawan sebagian dari mereka, dan sebagian lagi melarikan diri, dengan demikian mereka merasakan akibat buruk perbuatan mereka dan akibat dari syirik serta kezaliman mereka, ini di dunia, dan bagi mereka di akhirat azab neraka.
Dan perumpamaan orang-orang munafik ini yang telah menipu saudara-saudara mereka dari Ahli Kitab seperti perumpamaan setan ketika dia berkata kepada manusia: “Kafirlah” yaitu: dia menghiasi kekafiran untuknya, memperindahnya dan mengajaknya kepadanya, maka ketika dia tertipu olehnya dan kafir, dan mendapat kecelakaan, setan tidak membantunya, yang telah memeliharanya dan mengajaknya kepada apa yang dia ajak kepadanya, bahkan dia berlepas diri darinya dan berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri darimu, sesungguhnya aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam” yaitu: aku tidak mempunyai kemampuan untuk menolak azab darimu, dan aku tidak dapat memberikan manfaat kepadamu seberat zarrah pun. Maka akibat keduanya yaitu: yang mengajak yaitu setan, dan yang diajak yaitu manusia ketika dia mentaatinya adalah bahwa keduanya di dalam neraka, kekal di dalamnya sebagaimana Allah berfirman: “Sesungguhnya dia hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” Dan demikianlah balasan orang-orang yang zalim yang bersekutu dalam kezaliman dan kekafiran, walaupun mereka berbeda dalam kerasnya azab dan kekuatannya, dan inilah kebiasaan setan terhadap semua pengikutnya, sesungguhnya dia mengajak mereka dan menjerumuskan mereka kepada apa yang membahayakan mereka dengan tipuan, hingga ketika mereka terjebak dalam jaring, dan sebab-sebab kebinasaan menimpa mereka, dia berlepas diri dari mereka dan meninggalkan mereka.
Dan celaan sepenuhnya ditujukan kepada orang yang mentaatinya, karena sesungguhnya Allah telah memperingatkan darinya dan memberi peringatan, dan memberitahukan maksud, tujuan dan akhirnya, maka orang yang bersikeras mentaatinya adalah pembangkang atas dasar pengetahuan yang tidak ada alasan baginya.
{18-21} Hai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan * Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik * Tidaklah sama penghuni neraka dengan penghuni surga; penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung * Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir (Surat Al-Hasyr ayat 18-21).
Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman dengan apa yang diwajibkan oleh iman dan dituntut olehnya berupa keharusan bertakwa kepada-Nya, secara tersembunyi dan terang-terangan, dalam segala keadaan, dan agar mereka memperhatikan apa yang Allah perintahkan kepada mereka berupa perintah-perintah-Nya, syariat-syariat-Nya dan batas-batas-Nya, dan melihat apa yang menjadi hak mereka dan kewajiban mereka, dan apa yang telah mereka peroleh dari amal-amal yang bermanfaat atau membahayakan mereka di hari kiamat, karena jika mereka menjadikan akhirat sebagai tujuan mata mereka dan kiblat hati mereka, serta memperhatikan kedudukan di sana, mereka akan bersungguh-sungguh dalam memperbanyak amal-amal yang mengantarkan ke sana, dan membersihkannya dari penghalang-penghalang dan rintangan-rintangan yang menghentikan mereka dari perjalanan atau menghalangi mereka atau memalingkan mereka, dan jika mereka juga mengetahui bahwa Allah Maha Teliti terhadap apa yang mereka kerjakan, tidak tersembunyi bagi-Nya amal-amal mereka, tidak sia-sia di sisi-Nya dan tidak diabaikan-Nya, hal itu akan mewajibkan mereka untuk bersungguh-sungguh dan berusaha keras.
Dan ayat yang mulia ini adalah dasar dalam muhasabah diri seorang hamba, dan bahwa dia seharusnya memeriksanya, jika dia melihat kesalahan maka dia memperbaikinya dengan berhenti darinya, taubat nasuha (taubat yang sesungguhnya), dan berpaling dari sebab-sebab yang mengantarkan kepadanya, dan jika dia melihat dirinya kurang dalam suatu perintah Allah, dia mengerahkan usahanya dan meminta pertolongan kepada Tuhannya dalam menyempurnakan, menyelesaikan, dan memperbaikinya, dan dia membandingkan antara karunia Allah kepadanya dan kebaikan-Nya dengan kekurangan dirinya, karena hal itu pasti akan menimbulkan rasa malu baginya.
Dan kerugian sepenuhnya adalah jika seorang hamba lalai dari perkara ini, dan menyerupai suatu kaum yang melupakan Allah dan lalai dari mengingat-Nya dan melaksanakan hak-Nya, serta menghadap kepada bagian-bagian diri mereka dan syahwat-syahwatnya, maka mereka tidak berhasil dan tidak memperoleh faedah, bahkan Allah melupakan mereka dari kemaslahatan diri mereka sendiri, dan melalalaikan mereka dari manfaat dan faedahnya, maka urusan mereka menjadi berlebihan, lalu mereka kembali dengan kerugian kedua negeri, dan mereka ditipu dengan tipuan yang tidak mungkin mereka perbaiki, dan tidak dapat diperbaiki kerusakannya, karena mereka adalah orang-orang fasik, yang keluar dari ketaatan kepada Tuhan mereka dan bergegas dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka apakah sama orang yang memelihara takwa kepada Allah dan memperhatikan apa yang dia sediakan untuk hari esoknya, lalu berhak mendapat surga-surga yang penuh kenikmatan, dan kehidupan yang selamat – bersama orang-orang yang Allah anugerahi nikmat kepada mereka dari para nabi, para shiddiq, para syuhada dan orang-orang saleh – dengan orang yang lalai dari mengingat Allah, dan melupakan hak-hak-Nya, lalu celaka di dunia, dan berhak mendapat azab di akhirat, maka yang pertama adalah orang-orang yang beruntung, dan yang terakhir adalah orang-orang yang rugi.
Dan ketika Allah menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya apa yang telah dijelaskan, dan memerintahkan mereka serta melarang mereka dalam kitab-Nya yang mulia, hal ini mengharuskan mereka bersegera kepada apa yang Dia ajak dan dorong mereka kepadanya, sekalipun mereka dalam kekerasan dan keras hati seperti gunung-gunung yang kokoh, karena Al-Qur’an ini seandainya Allah turunkan kepada sebuah gunung pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah karena takut kepada Allah yaitu: karena sempurnanya pengaruhnya pada hati, karena nasihat-nasihat Al-Qur’an adalah nasihat yang paling besar secara mutlak, dan perintah-perintah serta larangan-larangannya mengandung hikmah dan kemaslahatan yang menyertainya, dan itu termasuk hal yang paling mudah bagi jiwa-jiwa, dan paling ringan bagi badan-badan, bebas dari kesulitan, tidak ada pertentangan di dalamnya dan tidak ada perbedaan, dan tidak ada kesulitan di dalamnya dan tidak ada paksaan, cocok untuk setiap zaman dan tempat, dan sesuai untuk setiap orang.
Kemudian Allah memberitahukan bahwa Dia membuat perumpamaan-perumpamaan untuk manusia, dan menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya dalam kitab-Nya yang halal dan haram, agar mereka berpikir tentang ayat-ayat-Nya dan merenungkannya, karena berpikir tentangnya akan membuka untuk hamba khazanah ilmu, dan menjelaskan kepadanya jalan-jalan kebaikan dan keburukan, dan mendorongnya kepada akhlak yang mulia, dan sifat-sifat yang baik, dan mencegahnya dari akhlak yang buruk, maka tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba daripada berpikir tentang Al-Qur’an dan merenungkan makna-maknanya.
{22-24} Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang * Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan * Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, bagi-Nya nama-nama yang indah, bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Surat Al-Hasyr ayat 22-24).
Ayat-ayat yang mulia ini telah mencakup banyak dari Asma Allah Al-Husna (nama-nama Allah yang indah) dan sifat-sifat-Nya yang tinggi, yang besar kedudukannya, dan indah dalilnya, maka Allah memberitahukan bahwa Dia adalah Allah yang disembah dan diibadahi, yang tiada Tuhan selain Dia, dan itu karena kesempurnaan-Nya yang besar, dan kebaikan-Nya yang menyeluruh, dan pengaturan-Nya yang umum, dan setiap tuhan selain-Nya sesungguhnya adalah batil yang tidak berhak mendapat ibadah seberat zarrah pun, karena dia fakir, lemah dan kurang, tidak memiliki untuk dirinya sendiri dan untuk yang lain suatu apa pun, kemudian Dia mensifati diri-Nya dengan keumuman ilmu yang menyeluruh, terhadap apa yang gaib dari makhluk dan apa yang mereka saksikan, dan dengan keumuman rahmat-Nya yang meliputi segala sesuatu dan sampai kepada setiap yang hidup.
Kemudian Dia mengulangi [menyebutkan] keumuman ketuhanan-Nya dan kesendirian-Nya dengannya, dan bahwa Dia adalah Pemilik semua kerajaan, maka alam atas dan bawah serta penduduknya, semuanya adalah hamba Allah, fakir dan diatur.
Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera yaitu: Yang disucikan Yang selamat dari segala aib dan cacat dan kekurangan, Yang diagungkan Yang dimuliakan, karena Al-Quddus menunjukkan kepada pensucian dari segala kekurangan, dan pengagungan kepada Allah dalam sifat-sifat dan keagungan-Nya.
Yang Mengaruniakan Keamanan yaitu: Yang membenarkan rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya dengan apa yang mereka bawa, dengan ayat-ayat yang jelas, dan dalil-dalil yang memutus, dan hujjah-hujjah yang terang.
Yang Maha Perkasa Yang tidak dapat dikalahkan dan tidak dapat dilawan, bahkan telah mengalahkan segala sesuatu, dan tunduk kepada-Nya segala sesuatu, Yang Maha Kuasa Yang telah mengalahkan semua hamba, dan tunduk kepada-Nya seluruh makhluk, Yang memperbaiki yang rusak, dan mencukupi yang fakir, Yang Memiliki Segala Keagungan Yang memiliki kebesaran dan keagungan, Yang suci dari segala aib dan kezaliman dan kecurangan.
Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan dan ini adalah pensucian umum dari segala sesuatu yang disifatkan kepada-Nya oleh orang yang mempersekutukan-Nya dan memusuhi-Nya.
Dialah Allah Yang Menciptakan seluruh makhluk Yang Mengadakan segala yang diadakan Yang Membentuk Rupa segala yang dibentuk, dan nama-nama ini berkaitan dengan penciptaan dan pengaturan dan penetapan, dan bahwa semua itu telah Allah sendirian, tidak ada yang bersekutu dengan-Nya di dalamnya.
Bagi-Nya nama-nama yang indah yaitu: bagi-Nya nama-nama yang sangat banyak, yang tidak dapat dihitung dan tidak diketahui oleh seorang pun kecuali Allah sendiri, dan dengan demikian, semuanya adalah husna yaitu: sifat-sifat kesempurnaan, bahkan menunjukkan kepada sifat-sifat yang paling sempurna dan paling besar, tidak ada kekurangan dalam sesuatu pun darinya dengan cara apa pun, dan dari keindahannya adalah bahwa Allah mencintainya, dan mencintai orang yang mencintainya, dan mencintai dari hamba-hamba-Nya bahwa mereka berdoa kepada-Nya dan meminta kepada-Nya dengannya.
Dan dari kesempurnaan-Nya, dan bahwa bagi-Nya nama-nama yang indah, dan sifat-sifat yang tinggi, bahwa semua yang ada di langit dan bumi membutuhkan kepada-Nya selamanya, bertasbih dengan memuji-Nya, dan meminta kepada-Nya kebutuhan-kebutuhan mereka, lalu Dia memberikan kepada mereka dari karunia dan kemurahan-Nya apa yang dituntut oleh rahmat dan hikmah-Nya, dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana Yang tidak menginginkan sesuatu kecuali pasti terjadi, dan tidak terjadi sesuatu kecuali karena hikmah dan kemaslahatan.
Selesai tafsir Surat Al-Hasyr, maka segala puji bagi Allah atas itu, dan karunia serta kebaikan.
[Surat ini] turun di Madinah
Ayat 1-6
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita) karena rasa kasih sayang; padahal mereka telah mengingkari apa yang datang kepadamu dari kebenaran. Mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mengharap keridaan-Ku, (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu menyembunyikan rasa kasih sayang kepada mereka, padahal Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu tampakkan. Dan barangsiapa di antara kamu melakukan yang demikian, maka sungguh, dia telah tersesat dari jalan yang lurus. Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka menjadi musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka untuk berbuat jahat terhadapmu, dan mereka menginginkan agar kamu (kembali) kafir. Sekali-kali tidak akan berguna bagimu kerabat-kerabatmu dan anak-anakmu pada hari Kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Sesungguhnya pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya ada teladan yang baik bagimu; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, “Sesungguhnya kami berlepas diri daripadamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah. Kami mengingkari (kekafiran)mu, dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya, “Sesungguhnya aku akan memintakan ampunan bagimu, padahal aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari (siksa) Allah untukmu.” (Ibrahim berkata), “Ya Tuhan kami, kepada Engkaulah kami bertawakkal dan kepada Engkaulah kami bertobat dan kepada Engkaulah tempat kembali. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi orang-orang kafir. Ampunilah kami, ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
Banyak mufasir menyebutkan bahwa sebab turunnya ayat-ayat yang mulia ini adalah kisah Hatib bin Abi Balta’ah, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berperang dalam perang Fathu Makkah. Hatib menulis surat kepada suku Quraisy untuk memberitahu mereka tentang perjalanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menuju mereka, agar dengan perbuatan itu dia mendapat kedudukan baik di sisi mereka, bukan karena keraguan atau kemunafikan. Dia mengutus surat itu bersama seorang wanita. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diberitahu tentang perbuatan Hatib, lalu beliau mengutus seseorang kepada wanita itu sebelum sampai ke tujuan dan mengambil surat tersebut darinya.
Nabi menegur Hatib, maka Hatib radiallahu anhu meminta maaf dengan alasan yang diterima oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ayat-ayat ini berisi larangan keras untuk menjadikan orang kafir sebagai pelindung, baik dari kalangan musyrik maupun lainnya, dan menunjukkan kasih sayang kepada mereka. Hal ini bertentangan dengan iman, menyelisihi ajaran Ibrahim al-Khalil ‘alaihissalam, dan bertentangan dengan akal yang mengharuskan berhati-hati sepenuh-penuhnya terhadap musuh yang tidak menyisakan sedikitpun usahanya dalam permusuhan dan menunggu kesempatan untuk menyakiti musuhnya.
Allah Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman” – beramallah sesuai dengan tuntutan iman kalian, yaitu melindungi orang yang menegakkan iman dan memusuhi orang yang memusuhinya, karena dia adalah musuh Allah dan musuh orang-orang mukmin.
Janganlah kalian menjadikan musuh Allah “dan musuhmu sebagai teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita) karena rasa kasih sayang” – yaitu kalian tergesa-gesa dalam mencintai mereka dan berusaha mencari sebab-sebab kasih sayang itu. Karena jika kasih sayang terjadi, akan diikuti dengan pertolongan dan perlindungan, maka hamba keluar dari iman dan menjadi bagian dari golongan orang kafir, serta terpisah dari golongan orang mukmin.
Orang yang menjadikan kafir sebagai pelindung juga tidak memiliki harga diri, karena bagaimana mungkin dia melindungi musuh terburuknya yang tidak menginginkan kecuali keburukan baginya, dan menyelisihi Tuhannya dan pelindungnya yang menginginkan kebaikan baginya, memerintahkannya berbuat baik, dan mendorongnya untuk itu?
Yang mendorong orang mukmin untuk memusuhi orang kafir adalah bahwa mereka telah mengingkari apa yang datang kepada orang mukmin dari kebenaran. Tidak ada penyelisihan dan permusuhan yang lebih besar dari ini, karena mereka telah mengingkari pokok agama kalian dan mengklaim bahwa kalian sesat dan tidak mendapat petunjuk.
Padahal mereka yang mengingkari kebenaran yang tidak ada keraguan dan keragu-raguan padanya. Barangsiapa menolak kebenaran, mustahil dia memiliki dalil atau hujah yang menunjukkan kebenaran perkataannya. Bahkan hanya dengan mengetahui kebenaran sudah menunjukkan kebatilan dan kerusakan perkataan orang yang menolaknya.
Dari permusuhan mereka yang keras adalah “mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu” wahai orang-orang mukmin dari negeri kalian, dan mengusir kalian dari tanah air kalian. Tidak ada dosa kalian dalam pandangan mereka kecuali bahwa kalian beriman kepada Allah, Tuhan kalian, yang wajib bagi seluruh makhluk untuk menegakkan penghambaan kepada-Nya, karena Dia memelihara mereka dan memberikan nikmat kepada mereka, baik nikmat yang tampak maupun yang tersembunyi, yaitu Allah Ta’ala.
Ketika mereka berpaling dari perkara ini, yang merupakan kewajiban yang paling wajib, dan kalian menegakkannya, mereka memusuhi kalian dan mengusir kalian dari negeri kalian karena hal itu. Agama, harga diri, dan akal seperti apa yang tersisa pada diri seseorang jika dia melindungi orang kafir yang sifatnya seperti ini di setiap zaman atau tempat? Tidak ada yang menghalangi mereka dari perbuatan itu kecuali rasa takut atau penghalang yang kuat.
“Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mengharap keridaan-Ku” – yaitu jika keluar kalian dimaksudkan untuk berjihad di jalan Allah, untuk meninggikan kalimat Allah, dan mengharap keridaan Allah, maka beramallah sesuai dengan tuntutan ini, yaitu melindungi wali-wali Allah dan memusuhi musuh-musuh-Nya. Karena inilah jihad di jalan-Nya dan termasuk perkara terbesar yang digunakan oleh orang-orang yang mendekatkan diri kepada Tuhan mereka dan mengharap keridaan-Nya.
“Kamu menyembunyikan rasa kasih sayang kepada mereka, padahal Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu tampakkan” – yaitu bagaimana kalian menyembunyikan kasih sayang kepada orang kafir dan menyembunyikannya, padahal kalian mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian tampakkan? Meskipun tersembunyi dari orang mukmin, tidak akan tersembunyi dari Allah Ta’ala, dan Dia akan membalas hamba-hamba-Nya berdasarkan apa yang diketahui-Nya dari mereka, baik kebaikan maupun keburukan.
“Dan barangsiapa di antara kamu melakukan yang demikian” – yaitu melindungi orang kafir setelah Allah memperingatkan kalian darinya – “maka sungguh, dia telah tersesat dari jalan yang lurus” karena dia menempuh jalan yang menyelisihi syariat, akal, dan harga diri manusia.
Kemudian Allah menjelaskan kerasnya permusuhan mereka untuk membangkitkan semangat orang mukmin memusuhi mereka: “Jika mereka menangkap kamu” – yaitu menemukan kalian dan mendapat kesempatan untuk menyakiti kalian – “niscaya mereka menjadi musuh bagimu” secara terang-terangan “dan melepaskan tangan dan lidah mereka” dengan membunuh, memukul, dan sebagainya.
“Dan lidah mereka untuk berbuat jahat” – yaitu dengan perkataan yang menyakitkan, seperti mencaci dan sebagainya. “Dan mereka menginginkan agar kamu (kembali) kafir” karena inilah puncak yang mereka inginkan dari kalian.
Jika kalian berargumen dan berkata: “Kami melindungi orang kafir karena hubungan kerabat dan harta benda,” maka sekali-kali tidak akan berguna bagi kalian harta benda kalian dan anak-anak kalian dari Allah sedikitpun. “Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” karena itu Allah memperingatkan kalian dari melindungi orang kafir yang perlindungan terhadap mereka merugikan kalian.
Sesungguhnya bagi kalian wahai golongan mukmin “ada teladan yang baik” – yaitu suri teladan yang baik dan ikutan yang bermanfaat bagi kalian “pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya” dari kalangan mukmin, karena kalian telah diperintahkan untuk mengikuti millah Ibrahim dengan lurus.
“Ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri daripadamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah'” – yaitu ketika Ibrahim ‘alaihissalam dan orang-orang mukmin bersamanya berlepas diri dari kaum mereka yang musyrik dan dari apa yang mereka sembah selain Allah.
Kemudian mereka menyatakan permusuhan dengan sejelas-jelasnya, mereka berkata: “Kami mengingkari (kekafiran)mu, dan telah nyata” – yaitu tampak dan jelas “antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian” – yaitu kebencian di hati dan hilangnya kasih sayang, serta permusuhan dengan badan. Permusuhan dan kebencian itu tidak memiliki waktu dan batas, bahkan hal itu “buat selamanya” selama kalian terus menerus dalam kekafiran kalian “sampai kamu beriman kepada Allah saja” – yaitu jika kalian beriman kepada Allah saja, maka permusuhan dan kebencian akan hilang, dan berubah menjadi kasih sayang dan perlindungan.
Bagi kalian wahai orang-orang mukmin ada suri teladan yang baik pada Ibrahim dan orang-orang bersamanya dalam menegakkan iman dan tauhid, menegakkan konsekuensi dan tuntutannya, dan dalam segala hal yang kalian jadikan ibadah kepada Allah semata. “Kecuali” dalam satu hal yaitu “perkataan Ibrahim kepada bapaknya” Azar yang musyrik, kafir, dan membangkang, ketika dia mengajaknya kepada iman dan tauhid, namun dia menolak. Maka Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku akan memintakan ampunan bagimu, dan” dalam keadaan aku “tiada dapat menolak sesuatu pun dari (siksa) Allah untukmu”, tetapi aku berdoa kepada Tuhanku, semoga aku tidak menjadi celaka dengan doaku kepada Tuhanku.
Janganlah kalian mencontoh Ibrahim dalam keadaan ini di mana dia berdoa untuk orang musyrik. Janganlah kalian berdoa untuk orang musyrik dan berkata: “Sesungguhnya kami dalam hal itu mengikuti millah Ibrahim,” karena Allah menyebutkan uzur Ibrahim dalam hal itu dengan firman-Nya: “Dan permintaan ampun Ibrahim untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.”
Kalian memiliki suri teladan yang baik pada Ibrahim dan orang-orang bersamanya ketika mereka berdoa kepada Allah, bertawakkal kepada-Nya, bertobat kepada-Nya, dan mengakui kelemahan dan kekurangan, maka mereka berkata: “Ya Tuhan kami, kepada Engkaulah kami bertawakkal” – yaitu kami bergantung kepada-Mu dalam mendatangkan apa yang bermanfaat bagi kami dan menolak apa yang merugikan kami, dan kami percaya kepada-Mu wahai Tuhan kami dalam hal itu.
“Dan kepada Engkaulah kami bertobat” – yaitu kami kembali kepada ketaatan-Mu dan keridaan-Mu serta semua yang mendekatkan kepada-Mu. Kami berusaha dalam hal itu dan bersungguh-sungguh dalam melakukan kebaikan-kebaikan. Kami mengetahui bahwa kami akan kembali kepada-Mu, maka kami akan bersiap untuk menghadap-Mu dan mengamalkan apa yang mendekatkan kami kepada-Mu.
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi orang-orang kafir” – yaitu janganlah Engkau kuasakan mereka atas kami karena dosa-dosa kami, sehingga mereka memfitnah kami dan menghalangi kami dari perkara-perkara iman yang mereka kuasai, dan mereka juga terfitnah dengan diri mereka sendiri. Karena jika mereka melihat kemenangan ada pada mereka, mereka menyangka bahwa mereka berada di atas kebenaran dan kami berada di atas kebatilan, maka mereka bertambah kafir dan melampaui batas.
“Ampunilah kami” atas dosa-dosa dan kejahatan yang telah kami lakukan, dan atas kekurangan kami dalam melaksanakan perintah-perintah. “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa” yang mengatasi segala sesuatu, “lagi Mahabijaksana” yang menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Dengan keperkasaan dan hikmah-Mu, tolonglah kami atas musuh-musuh kami, ampunilah dosa-dosa kami, dan perbaikilah cacat-cacat kami.
Ayat 7-9
Sesungguhnya pada mereka ada teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (keridaan) Allah dan (keselamatan pada) hari akhir. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Mudah-mudahan Allah menjadikan kasih sayang antara kamu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah Mahakuasa, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai teman setia, yaitu orang-orang yang memerangimu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka teman setia, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
Kemudian Allah mengulangi dorongan kepada mereka untuk mencontoh mereka, maka Dia berfirman: “Sesungguhnya pada mereka ada teladan yang baik”. Tidak semua orang mudah baginya suri teladan ini, tetapi hanya mudah bagi orang yang “mengharap (keridaan) Allah dan (keselamatan pada) hari akhir”. Karena iman dan mengharapkan pahala dan ganjaran akan memudahkan bagi hamba segala yang sulit, mengurangi pandangannya terhadap segala yang banyak, dan mewajibkan baginya untuk memperbanyak mencontoh hamba-hamba Allah yang saleh, para nabi dan rasul. Karena dia melihat dirinya sangat membutuhkan dan terpaksa untuk itu.
“Dan barangsiapa yang berpaling” dari ketaatan kepada Allah dan mencontoh rasul-rasul Allah, maka dia tidak akan merugikan kecuali dirinya sendiri, dan tidak merugikan Allah sedikitpun. “Maka sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Mahakaya” yang memiliki kekayaan sempurna mutlak dari segala segi, sehingga Dia tidak membutuhkan siapapun dari makhluk-Nya dengan cara apapun. “Lagi Maha Terpuji” dalam Zat, nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Sesungguhnya Dia terpuji atas semua itu.
Kemudian Allah mengabarkan bahwa permusuhan yang diperintahkan Allah kepada orang mukmin terhadap orang musyrik, dan Dia mensifati mereka dengan menegakkannya, adalah selama mereka tetap dalam kesyirikan dan kekafiran mereka. Jika mereka berpindah kepada iman, maka hukum berputar mengikuti illatnya, sehingga kasih sayang keimanan kembali. Janganlah kalian berputus asa wahai orang-orang mukmin dari kembalinya mereka kepada iman.
“Mudah-mudahan Allah menjadikan kasih sayang antara kamu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka” yang sebabnya adalah kembalinya mereka kepada iman. “Dan Allah Mahakuasa” atas segala sesuatu, termasuk memberikan petunjuk kepada hati dan membolak-balikkannya dari satu keadaan ke keadaan lain. “Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” – tidak ada dosa yang terlalu besar bagi-Nya untuk diampuni, dan tidak ada cacat yang terlalu besar bagi-Nya untuk ditutup.
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'”
Dalam ayat ini terdapat isyarat dan kabar gembira tentang keislaman sebagian orang musyrik yang pada saat itu menjadi musuh orang mukmin. Hal itu telah terjadi, dan bagi Allah segala puji dan karunia.
Ketika turun ayat-ayat yang mulia ini yang membangkitkan semangat untuk memusuhi orang kafir, ayat-ayat itu diterima oleh orang mukmin dengan sepenuhnya, dan mereka menegakkannya dengan sempurna. Mereka merasa berdosa karena menyambung hubungan dengan sebagian kerabat mereka yang musyrik, dan menyangka bahwa hal itu termasuk yang dilarang Allah.
Maka Allah memberitahu mereka bahwa hal itu tidak termasuk yang diharamkan, Dia berfirman: “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”
Yaitu: Allah tidak melarang kalian dari berbuat baik, menyambung hubungan, membalas dengan kebaikan, dan berlaku adil kepada orang musyrik, baik dari kerabat kalian maupun yang lain, selama mereka dalam keadaan tidak bangkit untuk memerangi kalian dalam agama dan mengusir kalian dari negeri kalian. Tidak ada dosa bagi kalian untuk menyambung hubungan dengan mereka. Karena menyambung hubungan dengan mereka dalam keadaan ini tidak ada bahaya dan tidak ada kerusakan di dalamnya, sebagaimana firman Allah tentang kedua orang tua yang musyrik jika anak mereka muslim:
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah kamu patuhi keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.”
“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu” dari “orang-orang yang memerangimu dalam urusan agama” – yaitu karena agama kalian, karena permusuhan terhadap agama Allah dan orang yang menegakkannya – “dan mengusir kamu dari kampung halamanmu, dan membantu” – yaitu menolong orang lain “untuk mengusirmu” – Allah melarang kalian “menjadikan mereka sebagai teman setia” dengan kasih sayang dan pertolongan, baik dengan perkataan maupun perbuatan.
Adapun berbuat baik dan ihsan kalian yang bukan merupakan perlindungan kepada orang musyrik, Allah tidak melarang kalian darinya. Bahkan hal itu termasuk dalam keumuman perintah berbuat ihsan kepada kerabat dan lainnya dari kalangan manusia dan selainnya.
“Dan barangsiapa menjadikan mereka teman setia, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” Kezaliman itu sesuai dengan kadar perlindungannya. Jika perlindungan itu sempurna, maka hal itu menjadi kekafiran yang mengeluarkan dari lingkaran Islam. Di bawah itu ada tingkatan-tingkatan, ada yang keras dan ada yang di bawahnya.
Ayat 10-11
Wahai orang-orang yang beriman! Apabila perempuan-perempuan mukmin datang berhijrah kepadamu, maka hendaklah kamu uji mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka. Maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman, janganlah kamu kembalikan mereka kepada orang-orang kafir. Mereka tidak halal bagi orang kafir itu dan orang kafir itu tidak halal bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami) mereka mahar yang telah mereka bayar. Dan tidak ada dosa bagimu menikahi mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap menahan (ikatan perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta kembali mahar yang telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta kembali mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Dan jika ada istri-istrimu yang lari kepada orang-orang kafir, kemudian kamu dapat mengalahkan mereka, maka bayarkanlah kepada orang-orang yang istrinya telah lari itu, mahar yang sebanding dengan apa yang telah mereka bayarkan. Dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.
Ketika terjadi Perdamaian Hudaibiyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdamai dengan orang-orang musyrik dengan syarat bahwa siapa pun dari mereka yang datang kepada kaum Muslimin dengan memeluk Islam, maka dia harus dikembalikan kepada orang-orang musyrik. Ini adalah lafaz umum yang mutlak yang mencakup wanita dan pria. Adapun pria, Allah tidak melarang Rasul-Nya untuk mengembalikan mereka kepada orang-orang musyrik sebagai pemenuhan syarat dan penyempurnaan perdamaian yang merupakan salah satu kemaslahatan terbesar. Adapun wanita, karena mengembalikan mereka mengandung banyak kerusakan, Allah memerintahkan kaum Mukminun jika datang kepada mereka wanita-wanita Mukminat yang berhijrah, dan mereka meragukan kejujuran keimanan mereka, maka hendaklah mereka menguji dan memeriksa mereka dengan apa yang dapat menampakkan kejujuran mereka, seperti sumpah yang diperkuat dan lainnya, karena dimungkinkan keimanan mereka tidak tulus melainkan karena keinginan terhadap suami atau negeri atau tujuan-tujuan duniawi lainnya.
Jika mereka seperti itu, maka wajib mengembalikan mereka sebagai pemenuhan syarat tanpa menimbulkan kerusakan. Dan jika mereka diuji dan ternyata jujur, atau hal itu diketahui tanpa pengujian, maka janganlah mengembalikan mereka kepada orang-orang kafir. “Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal bagi mereka” (QS. Al-Mumtahanah: 10). Ini adalah kerusakan besar dalam mengembalikan mereka yang diperhatikan oleh Syari’, dan Dia juga memperhatikan pemenuhan syarat dengan memberikan kepada orang-orang kafir, suami-suami mereka, apa yang telah mereka nafkahkan kepada mereka dari mahar dan pelengkapnya sebagai pengganti. Dan tidak ada dosa bagi kaum Muslimin untuk menikahi mereka meskipun mereka memiliki suami di negeri syirik, tetapi dengan syarat mereka memberikan kepada mereka upah mereka berupa mahar dan nafkah. Sebagaimana wanita Muslimah tidak halal bagi orang kafir, demikian juga wanita kafir tidak halal bagi pria Muslim untuk mempertahankannya selama dia masih dalam kekafiran, kecuali Ahli Kitab. Karena itu Allah berfirman: “Dan janganlah kamu mempertahankan ikatan pernikahan dengan wanita-wanita kafir” (QS. Al-Mumtahanah: 10). Dan jika Allah melarang mempertahankan ikatan pernikahan dengannya, maka larangan untuk memulai menikahi mereka lebih utama. “Dan mintalah (kembali) mahar yang telah kamu bayar” (QS. Al-Mumtahanah: 10), wahai orang-orang Mukmin, ketika istri-istri kalian kembali murtad kepada orang-orang kafir. Jika orang-orang kafir mengambil nafkah dari kaum Muslimin untuk wanita mereka yang masuk Islam, maka kaum Muslimin berhak mengambil pengganti apa yang hilang dari wanita-wanita mereka kepada orang-orang kafir. Dalam hal ini terdapat dalil bahwa hilangnya ikatan pernikahan dari suami itu bernilai, maka jika ada orang yang merusak pernikahan seorang wanita dengan seorang pria karena penyusuan atau lainnya, maka dia wajib mengganti maharnya.
Firman-Nya: “Demikianlah hukum Allah” (QS. Al-Mumtahanah: 10), yaitu itulah hukum yang disebutkan Allah dan dijelaskan-Nya kepada kalian untuk memutuskan di antara kalian. “Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. Al-Mumtahanah: 10). Allah mengetahui apa yang baik bagi kalian dari hukum-hukum, dan Dia mensyariatkan bagi kalian apa yang dikehendaki oleh hikmah.
Firman-Nya: “Dan jika ada sesuatu dari istri-istri kamu yang lari kepada orang-orang kafir” (QS. Al-Mumtahanah: 11) dengan cara murtad “lalu kamu mendapat kemenangan, maka berikanlah kepada orang-orang yang istrinya lari itu, mahar yang sebanding dengan apa yang telah mereka nafkahkan” (QS. Al-Mumtahanah: 11) sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa jika orang-orang kafir mengambil pengganti apa yang hilang dari istri-istri mereka kepada kaum Muslimin, maka siapa yang istrinya lari dari kaum Muslimin kepada orang-orang kafir dan hilang darinya, wajib bagi kaum Muslimin memberikan kepadanya dari ghanimah sebagai pengganti apa yang telah dia nafkahkan.
“Dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya” (QS. Al-Mumtahanah: 11). Keimanan kalian kepada Allah mengharuskan kalian untuk senantiasa berpegang teguh pada takwa.
{12} “Hai Nabi, apabila datang kepadamu wanita-wanita yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, dan tidak akan mencuri, dan tidak akan berzina, dan tidak akan membunuh anak-anak mereka, dan tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka, dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Mumtahanah: 12).
Syarat-syarat yang disebutkan dalam ayat ini disebut “bai’ah wanita” yang dulu mereka berbaiat untuk menegakkan kewajiban-kewajiban bersama yang wajib bagi pria dan wanita di semua waktu.
Adapun pria, berbeda-beda apa yang diwajibkan kepada mereka sesuai dengan keadaan dan kedudukan mereka serta apa yang ditetapkan bagi mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya. Beliau jika didatangi wanita-wanita yang hendak berbai’at kepadanya dan mereka berkomitmen dengan syarat-syarat ini, beliau menerima bai’at mereka, menenangkan hati mereka, dan memohonkan ampunan Allah untuk mereka atas kekurangan yang terjadi dari mereka serta memasukkan mereka ke dalam golongan orang-orang Mukmin dengan “tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun” dengan mengesakan Allah semata dalam ibadah.
“Dan tidak akan berzina” sebagaimana hal itu banyak terjadi pada pelacur dan wanita-wanita yang memiliki kekasih. “Dan tidak akan membunuh anak-anak mereka” sebagaimana yang terjadi pada wanita-wanita jahiliah yang bodoh.
“Dan tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka” (QS. Al-Mumtahanah: 12). Buhtaan adalah tuduhan palsu terhadap orang lain, yaitu tidak akan mereka mengada-ada dalam setiap keadaan, baik yang berkaitan dengan mereka dan suami-suami mereka maupun yang berkaitan dengan orang lain. “Dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik” yaitu tidak akan mendurhakai engkau dalam setiap perkara yang engkau perintahkan kepada mereka, karena perintahmu tidak lain kecuali dalam kebaikan. Termasuk dalam hal itu adalah ketaatan mereka kepadamu dalam larangan meratap, merobek pakaian, mencakar wajah, dan berdoa dengan doa jahiliah.
“Maka terimalah janji setia mereka” jika mereka berkomitmen dengan semua yang disebutkan.
“Dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka” atas kekurangan mereka dan untuk menenangkan hati mereka. “Sesungguhnya Allah Maha Pengampun” yaitu banyak memberi ampunan kepada orang-orang yang bermaksiat dan berbuat baik kepada orang-orang yang berdosa lagi bertaubat. “Maha Penyayang” rahmat-Nya meliputi segala sesuatu dan kebaikan-Nya menyeluruh pada semua makhluk.
{13} “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil menjadi teman kepercayaan, orang-orang yang dimurkai Allah. Sesungguhnya mereka telah berputus asa terhadap (kehidupan) akhirat sebagaimana orang-orang kafir berputus asa terhadap orang yang telah mati” (QS. Al-Mumtahanah: 13).
Yaitu, hai orang-orang Mukmin, jika kalian beriman kepada Rabb kalian, mengikuti keridhaan-Nya dan menjauhi kemurkaan-Nya, “janganlah kamu mengambil menjadi teman kepercayaan, orang-orang yang dimurkai Allah”. Allah murka kepada mereka karena kekafiran mereka, dan ini mencakup semua golongan orang kafir. “Sesungguhnya mereka telah berputus asa terhadap (kehidupan) akhirat” yaitu mereka telah terhalang dari kebaikan akhirat, maka tidak ada bagian bagi mereka darinya. Maka hati-hatilah jangan sampai kalian mengambil mereka menjadi wali sehingga kalian menyetujui kejahatan dan kekafiran mereka, lalu kalian terhalang dari kebaikan akhirat sebagaimana mereka terhalang.
Firman-Nya: “sebagaimana orang-orang kafir berputus asa terhadap orang yang telah mati” ketika mereka sampai pada negeri akhirat dan menyaksikan hakikat perkara serta mengetahui dengan yakin bahwa tidak ada bagian bagi mereka darinya. Dan dimungkinkan maknanya: mereka telah berputus asa dari akhirat yaitu mereka telah mengingkarinya dan kafir terhadapnya, maka tidak mengherankan jika mereka berani melakukan hal-hal yang dimurkai Allah dan yang menyebabkan azab-Nya. Keputusasaan mereka terhadap akhirat seperti keputusasaan orang-orang kafir yang mengingkari kebangkitan di dunia terhadap kembalinya ahli kubur kepada Allah Ta’ala.
Telah selesai tafsir Surah Al-Mumtahanah, dan segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.
[Surah ini] Madaniyyah
{1-3} “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Telah bertasbih kepada Allah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana * Hai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? * Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (QS. Ash-Shaff: 1-3).
Ini adalah penjelasan tentang keagungan-Nya Ta’ala dan kekuasaan-Nya, serta kerendahan semua makhluk kepada-Nya Tabarakallahu wa Ta’ala, dan bahwa semua yang ada di langit dan bumi bertasbih dengan memuji Allah, beribadah kepada-Nya, dan memohon keperluan-keperluan mereka kepada-Nya. “Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa” yang menguasai segala sesuatu dengan kekuatan dan kekuasaan-Nya. “Maha Bijaksana” dalam penciptaan dan perintah-Nya.
“Hai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” yaitu mengapa kalian mengatakan kebaikan dan mendorong kepadanya, bahkan mungkin memuji diri dengannya padahal kalian tidak melakukannya, dan kalian melarang kejahatan bahkan mungkin mensucikan diri kalian darinya, padahal kalian terlibat dengannya dan bersifat dengannya.
Apakah pantas bagi orang-orang Mukmin keadaan yang tercela ini? Ataukah termasuk kebencian terbesar di sisi Allah bahwa seorang hamba mengatakan apa yang tidak dia lakukan? Karena itu hendaklah orang yang menyuruh kepada kebaikan menjadi yang pertama bergegas kepadanya, dan orang yang melarang dari kejahatan hendaklah menjadi yang paling jauh darinya. Allah berfirman: “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44). Dan Syu’aib ‘alaihissalatu wassalam berkata kepada kaumnya: “Dan aku tidak berkehendak melakukan sendiri apa yang aku larang kamu mengerjakannya” (QS. Hud: 88).
{4} “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh” (QS. Ash-Shaff: 4).
Ini adalah dorongan dari Allah kepada hamba-hamba-Nya untuk berjihad di jalan-Nya dan pengajaran kepada mereka bagaimana cara mereka berbuat. Hendaklah mereka berbaris dalam jihad dengan barisan yang rapat dan rata tanpa ada celah yang terjadi dalam barisan-barisan, dan hendaklah barisan-barisan mereka teratur dan tertib sehingga terwujud kesetaraan antara para mujahid, saling mendukung, menggetarkan musuh, dan saling menyemangati. Karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika menghadapi perang, beliau menyusun para sahabatnya dan mengatur mereka dalam posisi-posisi mereka sehingga tidak terjadi ketergantungan sebagian kepada sebagian yang lain, melainkan setiap kelompok dari mereka memperhatikan posisinya dan menjalankan tugasnya. Dengan cara inilah pekerjaan-pekerjaan menjadi sempurna dan tercapai kesempurnaan.
{5} “Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: ‘Hai kaumku, mengapa kamu menyakiti aku, padahal sesungguhnya kamu mengetahui bahwa aku adalah utusan Allah kepadamu?’ Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik” (QS. Ash-Shaff: 5).
“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya” sambil mencela mereka atas perbuatan mereka dan menegur mereka atas menyakiti dirinya, padahal mereka mengetahui bahwa dia adalah utusan Allah: “mengapa kamu menyakiti aku” dengan perkataan dan perbuatan “padahal sesungguhnya kamu mengetahui bahwa aku adalah utusan Allah kepadamu?”
Utusan berhak mendapat penghormatan dan pengagungan, serta ketundukan terhadap perintah-perintahnya dan bergegas melaksanakan hukumnya. Adapun menyakiti utusan yang kebaikannya kepada makhluk melebihi segala kebaikan setelah kebaikan Allah, hal itu adalah puncak kekurangajaran, keberanian, dan penyimpangan dari jalan lurus yang telah mereka ketahui tetapi mereka tinggalkan. Karena itu Allah berfirman: “Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran)” yaitu berpaling dari kebenaran dengan sengaja “Allah memalingkan hati mereka” sebagai hukuman bagi mereka atas penyimpangan yang mereka pilih untuk diri mereka dan mereka ridhai, dan Allah tidak memberikan taufik kepada mereka untuk mendapat petunjuk karena mereka tidak pantas mendapat kebaikan dan tidak cocok kecuali untuk kejahatan. “Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik” yaitu orang-orang yang kefasikan tetap menjadi sifat mereka, tidak memiliki tujuan dalam petunjuk. Ayat mulia ini menunjukkan bahwa penyesatan Allah terhadap hamba-hamba-Nya bukanlah kezaliman dari-Nya dan bukan pula hujjah bagi mereka atas-Nya, melainkan itu karena sebab dari mereka. Mereka sendirilah yang menutup pintu petunjuk bagi diri mereka setelah mengetahuinya, maka Allah membalas mereka setelah itu dengan kesesatan dan penyimpangan yang tidak ada cara bagi mereka untuk menangkalnya dan membolak-balikkan hati sebagai hukuman bagi mereka dan keadilan dari-Nya. Sebagaimana Allah berfirman: “Dan Kami bolak-balikkan hati mereka dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya pada permulaannya dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan mereka” (QS. Al-An’am: 110).
{6-9} “Dan (ingatlah) ketika Isa putera Maryam berkata: ‘Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad.’ Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: ‘Ini adalah sihir yang nyata.’ * Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah, sedang dia diajak kepada Islam? Dan Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim. * Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. * Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya atas segala agama meskipun orang-orang musyrik benci” (QS. Ash-Shaff: 6-9).
Allah berfirman memberitahukan tentang keras kepalanya Bani Israil terdahulu yang didakwahi oleh Isa putera Maryam, dan dia berkata kepada mereka: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu” yaitu Allah mengutusku untuk menyeru kalian kepada kebaikan dan melarang kalian dari kejahatan, dan di antara yang menunjukkan kebenaranku adalah aku “membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat” yaitu aku datang dengan apa yang dibawa Musa dari Taurat dan syariat-syariat samawi. Seandainya aku mengaku-aku sebagai nabi, pasti aku datang dengan selain apa yang dibawa para utusan. Dan membenarkan Taurat juga bahwa dia telah memberitakan tentangku dan memberi kabar gembira, maka aku datang dan diutus sebagai pembenaran untuknya “dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad”, yaitu Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib, Nabi dari Bani Hasyim.
Isa ‘alaihissalatu wassalam seperti para nabi lainnya, membenarkan nabi sebelumnya dan memberi kabar gembira dengan nabi setelahnya, berbeda dengan para pendusta yang mereka sangat bertentangan dengan para nabi dan menyelisihi mereka dalam sifat-sifat, akhlak, perintah dan larangan. “Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka” yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang dikabarkan gembira oleh Isa “dengan membawa bukti-bukti yang nyata” yaitu dalil-dalil yang jelas yang menunjukkan bahwa dialah orangnya dan bahwa dia benar-benar utusan Allah.
“Mereka berkata” dengan membangkang terhadap kebenaran dan mendustakannya “Ini adalah sihir yang nyata”. Ini termasuk hal yang paling mengherankan, seorang utusan yang kerasulannya telah jelas dan menjadi lebih terang dari matahari siang hari, dijadikan sebagai tukang sihir yang sihirnya jelas. Adakah dalam kekecewaan yang lebih besar dari ini? Adakah dalam tuduhan yang lebih besar dari tuduhan ini yang menafikan darinya apa yang telah diketahui dari kerasulannya dan menetapkan baginya apa yang paling jauh darinya?
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah” dengan ini dan lainnya, padahal tidak ada udzur baginya dan hujjahnya telah terputus, karena dia “diajak kepada Islam” dan dijelaskan kepadanya dengan dalil-dalil dan bukti-buktinya. “Dan Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim” yang tidak henti-hentinya dalam kezaliman mereka, tidak mengembalikan mereka darinya suatu nasihat, dan tidak mencegah mereka suatu penjelasan atau dalil, khususnya para penzalim ini yang berdiri untuk menentang kebenaran agar menolaknya dan menolong kebatilan. Karena itu Allah berfirman tentang mereka: “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka” yaitu dengan apa yang keluar dari mereka berupa perkataan-perkataan rusak yang mereka gunakan untuk menolak kebenaran, padahal tidak ada hakikat baginya, bahkan menambah orang yang berpandangan tajam pengetahuan tentang kebatilan yang mereka anut. “Tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci” yaitu Allah telah menjamin pertolongan agama-Nya dan penyempurnaan kebenaran yang diutus-Nya bersama rasul-rasul-Nya serta penyebaran cahaya-Nya ke seluruh penjuru, meskipun orang-orang kafir benci dan mereka kerahkan karena kebencian mereka segala cara yang mereka tempuh untuk memadamkan cahaya Allah, namun mereka pasti kalah.
Mereka menjadi seperti orang yang meniup mata matahari dengan mulutnya untuk memadamkannya, maka tidak tercapai keinginan mereka dan tidak selamat akal mereka dari kekurangan dan celaan terhadapnya.
Kemudian Allah menyebutkan sebab kemenangan dan pertolongan bagi agama Islam, baik secara lahir maupun batin, maka Dia berfirman: “Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar” yaitu dengan ilmu yang bermanfaat dan amal saleh. Dengan ilmu yang membimbing kepada Allah dan kepada negeri kemuliaan-Nya, membimbing kepada amal dan akhlak yang terbaik, dan membimbing kepada kemaslahatan dunia dan akhirat.
{dan agama yang haq} yaitu: agama yang dianut dan dijadikan ibadah kepada Rabb semesta alam yang merupakan kebenaran dan kejujuran, tidak ada kekurangan di dalamnya, dan tidak ada kerusakan yang menimpanya, bahkan perintah-perintahnya adalah makanan bagi hati dan jiwa, serta ketenangan bagi badan, dan meninggalkan larangan-larangannya adalah keselamatan dari keburukan dan kerusakan. Maka apa yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berupa petunjuk dan agama yang haq, merupakan dalil dan bukti terbesar atas kebenarannya, dan ia adalah bukti yang kekal selama masa masih ada, semakin bertambah pemikiran orang yang berakal, semakin bertambah pula kegembiraannya dan penerangan batinnya.
{Agar Dia memenangkannya atas agama semuanya} yaitu: agar meninggikannya di atas seluruh agama-agama, dengan hujjah dan bukti, dan memenangkan para pengikutnya yang berpegang teguh dengannya dengan pedang dan tombak. Adapun agama itu sendiri, maka sifat ini melekat padanya setiap saat, sehingga tidak mungkin ada yang dapat mengalahkannya atau memusuhinya, kecuali ia akan mengalahkan dan membungkamnya, dan ia akan memperoleh kemenangan dan kekuasaan. Adapun orang-orang yang menisbatkan diri kepadanya, apabila mereka berpegang teguh dengannya, mendapat penerangan dari cahayanya, dan mendapat petunjuk dari petunjuknya, dalam kemaslahatan agama dan dunia mereka, maka demikian pula tidak ada yang dapat menghadapi mereka, dan pasti mereka akan menang atas para pengikut agama-agama lain. Dan jika mereka menyia-nyiakannya dan hanya puas dengan sekedar menisbatkan diri kepadanya, hal itu tidak akan bermanfaat bagi mereka, dan kelalaian mereka terhadapnya menjadi sebab dikuasainya mereka oleh musuh-musuh. Dan ini dapat diketahui oleh orang yang meneliti keadaan-keadaan dan memperhatikan umat Islam terdahulu dan terkemudian.
{Ayat 10-14 Surat Ash-Shaff}: {Hai orang-orang yang beriman, maukah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? * Yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. * Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. * Dan (ada lagi) yang lain yang kamu sukai, (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin. * Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putera Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah”, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lagi kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang}.
Ini adalah wasiat, petunjuk dan arahan dari Yang Maha Penyayang di antara para penyayang kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, untuk perdagangan yang paling agung, tujuan yang paling mulia, dan yang paling tinggi yang diinginkan, yang dengannya diperoleh keselamatan dari azab yang pedih, dan kemenangan dengan kenikmatan yang kekal.
Dan Dia datang dengan kata tanya yang menunjukkan bahwa ini adalah perkara yang diinginkan oleh setiap orang yang berpandangan jauh, dan dicita-citakan oleh setiap orang yang berakal, seakan-akan dikatakan: apakah perdagangan yang demikian kedudukannya ini? Maka Dia berfirman {Yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya}.
Dan telah diketahui bahwa iman yang sempurna adalah pembenaran yang tegas terhadap apa yang diperintahkan Allah untuk dibenarkan, yang mengharuskan amal-amal anggota badan, dan di antara amal anggota badan yang paling agung adalah jihad di jalan Allah. Karena itulah Dia berfirman: {dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu} yaitu dengan mengorbankan jiwa dan nyawamu, untuk berhadapan dengan musuh-musuh Islam, dengan tujuan menolong agama Allah dan meninggikan kalimat-Nya, dan menafkahkan apa yang mudah dari harta-hartamu dalam tujuan yang dimaksud itu, maka sesungguhnya hal itu, walaupun berat bagi jiwa dan sulit baginya, namun {itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui} karena di dalamnya terdapat kebaikan duniawi, berupa kemenangan atas musuh-musuh, kemuliaan yang menafikan kehinaan dan rezeki yang luas, serta kelapangan dan kegembiraan dada.
Dan di akhirat adalah kemenangan dengan pahala Allah dan keselamatan dari siksa-Nya, karena itulah disebutkan balasan di akhirat, maka Dia berfirman: {Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu} dan ini meliputi dosa-dosa kecil dan besar, karena sesungguhnya iman kepada Allah dan jihad di jalan-Nya menghapus dosa-dosa, walaupun itu dosa-dosa besar.
{Dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai} yaitu: di bawah tempat tinggalnya [dan istana-istananya] dan kamar-kamarnya dan pohon-pohonnya, sungai-sungai dari air yang tidak basi, dan sungai-sungai dari susu yang tidak berubah rasanya, dan sungai-sungai dari khamar yang lezat bagi para peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang jernih, dan bagi mereka di dalamnya dari segala buah-buahan, {dan tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn} yaitu: yang mengumpulkan segala kebaikan, dari ketinggian dan keelokan, dan indahnya bangunan dan hiasan, sehingga penghuni kamar-kamar dari penghuni ‘Illiyyun, dapat dilihat oleh penghuni surga sebagaimana bintang yang bercahaya di ufuk timur atau barat, dan sehingga bangunan surga sebagiannya dari bata emas [dan sebagiannya dari] bata perak, dan kemah-kemahnya dari mutiara dan marjan, dan sebagian tempat tinggal dari zamrud dan permata berwarna-warni dengan warna-warna yang paling indah, sehingga karena kejernihannya dapat terlihat bagian luarnya dari bagian dalamnya, dan bagian dalamnya dari bagian luarnya, dan di dalamnya terdapat kebaikan dan keindahan yang tidak dapat digambarkan oleh para penggambaran, dan tidak terlintas di hati seorang pun dari penduduk dunia, mereka tidak mungkin dapat memahaminya hingga mereka melihatnya, dan menikmati keindahannya dan mata mereka menjadi sejuk karenanya, maka dalam keadaan itu, seandainya Allah tidak menciptakan penghuni surga, dan menjadikan mereka dengan penciptaan yang sempurna yang tidak menerima ketiadaan, niscaya mereka hampir saja mati karena kegembiraan, maka Mahasuci Zat yang tidak dapat dihitung oleh seorang pun dari makhluk-Nya pujian kepada-Nya, bahkan Dia sebagaimana Dia memuji diri-Nya sendiri dan di atas apa yang dipuji oleh hamba-hamba-Nya kepada-Nya, dan Mahasuci Yang Maha Mulia lagi Maha Indah, yang menciptakan negeri kenikmatan, dan menjadikan di dalamnya keagungan dan keindahan yang memukau akal makhluk dan mengambil hati mereka.
Dan Mahatingi Zat yang memiliki hikmah sempurna, yang di antaranya, bahwasanya Allah seandainya memperlihatkan kepada makhluk-makhluk surga ketika Dia menciptakannya dan mereka melihat apa yang ada di dalamnya berupa kenikmatan, niscaya tidak ada seorang pun yang akan berpaling darinya, dan mereka tidak akan merasa senang hidup di dunia yang penuh gangguan ini, yang kenikmatannya bercampur dengan kepedihannya, dan kegembiraannya dengan kesedihannya. Dan surga dinamakan surga ‘Adn, karena penghuninya menetap di dalamnya, mereka tidak keluar darinya selamanya, dan mereka tidak menginginkan berpindah darinya. Itulah pahala yang besar, dan balasan yang indah, kemenangan yang agung, yang tidak ada kemenangan sepertinya, maka itulah pahala akhirat.
Adapun pahala duniawi untuk perdagangan ini, maka disebutkan dengan firman-Nya: {Dan (ada lagi) yang lain yang kamu sukai} yaitu: dan akan diperoleh oleh kalian sifat lain yang kalian sukai yaitu: {pertolongan dari Allah} [bagi kalian] atas musuh-musuh, yang dengannya diperoleh kemuliaan dan kegembiraan, {dan kemenangan yang dekat} yang dengannya meluas lingkaran Islam, dan diperoleh rezeki yang luas, maka itulah balasan orang-orang mukmin yang berjihad. Adapun orang-orang mukmin dari selain ahli jihad, [jika yang lain melakukan jihad], maka Allah ta’ala tidak memutus harapan mereka dari karunia dan kebaikan-Nya, bahkan Dia berfirman: {Dan gembirakanlah orang-orang mukmin} yaitu: dengan pahala segera dan kemudian, masing-masing sesuai dengan imannya, walaupun mereka tidak mencapai derajat para mujahid di jalan Allah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya di surga ada seratus derajat, antara setiap dua derajat seperti antara langit dan bumi, Allah sediakan untuk para mujahid di jalan-Nya”.
Kemudian Allah ta’ala berfirman: {Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah} [yaitu:] dengan perkataan dan perbuatan, dan itu dengan menegakkan agama Allah, dan bersemangat untuk menegakkannya bagi orang lain, dan memerangi orang yang memusuhi dan melawannya, dengan badan dan harta, dan orang yang menolong kebatilan dengan apa yang ia sangka sebagai ilmu dan menolak kebenaran, dengan menggagalkan hujjahnya, dan menegakkan hujjah atasnya, dan memperingatkan darinya.
Dan di antara menolong agama Allah adalah mempelajari kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, dan mendorong kepada hal itu, [dan menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar].
Kemudian Allah menggerakkan semangat orang-orang mukmin dengan meneladani orang-orang shalih sebelum mereka dengan firman-Nya: {sebagaimana Isa putera Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?”} yaitu: berkata kepada mereka dengan menawarkan dan membangkitkan semangat, siapakah yang akan membantu aku dan bersama-sama denganku dalam menolong agama Allah, dan masuk bersamaku, dan keluar bersamaku?
Maka para hawari segera menjawab: {Kamilah penolong-penolong (agama) Allah} maka Isa ‘alaihissalam menjalankan perintah Allah dan menolong agama-Nya, ia bersama orang-orang yang bersamanya dari para hawari, {lalu segolongan dari Bani Israil beriman} karena dakwah Isa dan para hawari, {dan segolongan lagi kafir} dari mereka, mereka tidak tunduk kepada dakwah mereka, maka orang-orang mukmin memerangi orang-orang kafir, {maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka} yaitu: Kami kuatkan mereka dan Kami menolongnya atas mereka.
{lalu mereka menjadi orang-orang yang menang} atas mereka dan mengalahkan [mereka], maka kalian wahai umat Muhammad, jadilah penolong Allah dan para da’i agama-Nya, niscaya Allah akan menolong kalian sebagaimana Dia menolong orang-orang sebelum kalian, dan memenangkan kalian atas musuh-musuh kalian.
Telah selesai dengan segala puji bagi Allah tafsir Surat Ash-Shaff
[Dan ia] Madaniyyah
{Ayat 1} {Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, Yang Maha Raja, Yang Mahasuci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana}.
Yaitu: bertasbih kepada Allah, dan tunduk kepada perintah-Nya, dan mengagun-agungkan-Nya, dan menyembah-Nya, seluruh apa yang ada di langit dan di bumi, karena Dia Yang Maha Sempurna lagi Maha Raja, yang memiliki kerajaan alam atas dan bawah, maka semuanya adalah milik-Nya, dan berada di bawah pengaturan-Nya, {Yang Mahasuci} Yang Maha Agung, Yang Mahasuci dari segala cacat dan kekurangan, {Yang Maha Perkasa} Yang Maha Menguasai segala sesuatu, {Yang Maha Bijaksana} dalam penciptaan dan perintah-Nya. Maka sifat-sifat agung ini yang mendorong untuk menyembah Allah saja tanpa sekutu bagi-Nya.
{Ayat 2-4 Surat Al-Jumu’ah}: {Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. * Dan (juga kepada) kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. * Demikianlah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar}. Yang dimaksud dengan orang-orang ummi: yaitu mereka yang tidak memiliki kitab dan tidak ada bekas risalah pada mereka dari orang Arab dan lainnya, yang bukan dari ahli kitab, maka Allah ta’ala menganugerahkan kepada mereka, anugerah yang besar, yang lebih besar dari anugerah-Nya kepada selain mereka, karena mereka tidak memiliki ilmu dan kebaikan, dan mereka berada dalam kesesatan yang nyata, mereka menyembah pohon-pohon dan berhala-berhala dan batu-batu, dan berakhlak dengan akhlak binatang buas yang merusak, yang kuat memakan yang lemah, dan mereka berada dalam puncak kejahilan terhadap ilmu-ilmu para nabi, maka Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari mereka, mereka mengenal nasabnya, dan sifat-sifat indahnya dan kejujurannya, dan Allah menurunkan kepada mereka kitab-Nya {yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya} yang menentukan dan mewajibkan iman dan keyakinan, {mensucikan mereka} dengan mendorong mereka kepada akhlak yang mulia, dan menjelaskannya kepada mereka, dan mencegah mereka dari akhlak yang tercela, {dan mengajarkan mereka kitab dan hikmah} yaitu: ilmu Al-Qur’an dan ilmu As-Sunnah, yang meliputi ilmu-ilmu orang terdahulu dan terkemudian, maka mereka setelah pengajaran dan penyucian ini dari beliau menjadi makhluk yang paling berilmu, bahkan mereka menjadi pemimpin ahli ilmu dan agama, dan makhluk yang paling sempurna akhlaknya, dan yang paling baik petunjuk dan sikapnya, mereka mendapat petunjuk sendiri, dan memberi petunjuk kepada yang lain, maka mereka menjadi pemimpin orang-orang yang mendapat petunjuk, dan para pemberi petunjuk orang-orang mukmin, maka Allah telah menganugerahkan kepada mereka dengan mengutus Rasul ini shallallahu ‘alaihi wasallam, nikmat yang paling sempurna, dan pemberian yang paling mulia, dan firman-Nya {Dan (juga kepada) kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka} yaitu: dan menganugerahkan kepada yang lain dari selain mereka yaitu: dari selain orang-orang ummi, dari orang yang datang sesudah mereka, dan dari ahli kitab, yang belum berhubungan dengan mereka, yaitu dalam hal yang langsung mendapat dakwah Rasul, dan bisa jadi mereka belum mencapai mereka dalam keutamaan, dan bisa jadi mereka belum berhubungan dengan mereka dalam waktu, dan atas semua itu, kedua makna tersebut benar, karena sesungguhnya orang-orang yang Allah utus kepada mereka Rasul-Nya dan mereka menyaksikannya dan langsung mendapat dakwahnya, mereka memperoleh kekhususan dan keutamaan yang tidak mungkin seorang pun dapat menyamai mereka di dalamnya, dan ini dari kemulian dan hikmah-Nya, dimana Dia tidak membiarkan hamba-hamba-Nya terlantar dan sia-sia, bahkan mengutus kepada mereka para rasul, dan memerintah mereka dan melarang mereka, dan itu dari karunia Allah yang besar, yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya, dan itu lebih utama dari nikmat-Nya kepada mereka berupa kesehatan badan dan keluasan rezeki, dan selain itu, dari nikmat-nikmat duniawi, maka tidak ada yang lebih besar dari nikmat agama yang merupakan bahan kemenangan, dan kebahagiaan yang abadi.
{Ayat 5-8 Surat Al-Jumu’ah}: {Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya adalah seperti keledai yang memikul kitab-kitab. Amat buruklah perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. * Katakanlah: “Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu mendakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah dengan mengecualikan manusia yang lain, maka harapkanlah kematian(-mu), jika kamu memang orang-orang yang benar.” * Dan mereka sekali-kali tidak akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya, disebabkan apa yang telah diperbuat oleh tangan mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim. * Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”}.
Setelah Allah ta’ala menyebutkan anugerah-Nya kepada umat ini, yang mengutus kepada mereka Nabi yang ummi, dan apa yang Allah khususkan kepada mereka berupa keistimewaan dan keutamaan, yang tidak ada seorang pun yang dapat menyamai mereka di dalamnya dan mereka adalah umat yang ummi yang mengungguli orang-orang terdahulu dan terkemudian, bahkan ahli kitab, yang mengklaim bahwa mereka adalah ulama rabbani dan para pendeta yang terdahulu, disebutkan bahwa orang-orang yang Allah bebankan kepada mereka Taurat dari kalangan Yahudi dan demikian pula Nasrani, dan memerintahkan mereka untuk mempelajarinya, dan mengamalkan apa yang ada di dalamnya, dan sesungguhnya mereka tidak memikulnya dan tidak melakukan apa yang dibebankan kepada mereka, sesungguhnya mereka tidak memiliki keutamaan, dan sesungguhnya perumpamaan mereka seperti perumpamaan keledai yang memikul di atas punggungnya kitab-kitab dari buku-buku ilmu, maka apakah keledai itu memperoleh manfaat dari buku-buku yang ada di atas punggungnya? Dan apakah ia memperoleh keutamaan karena hal itu? Ataukah bagiannya darinya hanya memikulnya saja? Maka inilah perumpamaan ulama Yahudi yang tidak mengamalkan apa yang ada dalam Taurat, yang karena hal itu dan yang paling besar darinya adalah perintah mengikuti Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan berita gembira tentangnya, dan iman kepada apa yang dibawanya berupa Al-Qur’an, maka apakah ia memperoleh manfaat dari sifatnya ini dari Taurat kecuali kekecewaan dan kerugian dan tegaknya hujjah atasnya? Maka perumpamaan ini sesuai dengan keadaan mereka. Amat buruklah perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah yang menunjukkan kebenaran rasul kita dan kebenaran apa yang dibawanya.
{Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim} yaitu: tidak menunjukkan mereka kepada kemaslahatan mereka, selama kezaliman menjadi sifat mereka, dan penentangan menjadi sifat dan ciri mereka. Dan di antara kezaliman Yahudi dan penentangan mereka, bahwa mereka mengetahui bahwa mereka berada di atas kebatilan, dan mereka mengklaim bahwa mereka berada di atas kebenaran, dan bahwa mereka adalah kekasih Allah dengan mengecualikan manusia yang lain.
Karena itulah Allah memerintahkan Rasul-Nya, agar berkata kepada mereka: jika kalian benar dalam klaim kalian bahwa kalian berada di atas kebenaran, dan kekasih Allah: {maka harapkanlah kematian} dan ini adalah perintah yang ringan, karena seandainya mereka mengetahui bahwa mereka berada di atas kebenaran niscaya mereka tidak ragu dari tantangan ini yang Allah jadikan sebagai dalil atas kebenaran mereka jika mereka mengharapkannya, dan kebohongan mereka jika mereka tidak mengharapkannya. Dan ketika hal itu tidak terjadi dari mereka dengan pengumuman kepada mereka tentang hal itu, diketahui bahwa mereka mengetahui kebatilan apa yang mereka anut dan kerusakannya, karena itulah Dia berfirman: {Dan mereka sekali-kali tidak akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya, disebabkan apa yang telah diperbuat oleh tangan mereka} yaitu dari dosa-dosa dan kemaksiatan, yang mereka merasa ngeri dari kematian karenanya, {Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim} maka tidak mungkin tersembunyi dari-Nya sesuatu dari kezaliman mereka, ini walaupun mereka tidak mengharapkan kematian karena apa yang diperbuat tangan mereka, dan mereka lari darinya [dengan pelarian yang sangat], maka sesungguhnya hal itu tidak akan menyelamatkan mereka, bahkan pasti kematian yang telah Allah tentukan atas hamba-hamba dan Dia tuliskan atas mereka akan menemui mereka.
Kemudian setelah kematian dan sempurnanya ajal, semua makhluk akan dikembalikan pada hari kiamat kepada Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, maka Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang mereka kerjakan, dari kebaikan dan keburukan, sedikit dan banyak.
{Ayat 9-11 Surat Al-Jumu’ah}: {Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. * Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. * Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar menuju kepadanya dan meninggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah sebaik-baik pemberi rezeki}.
Allah ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin untuk hadir pada shalat Jum’at dan bersegera kepadanya, sejak dipanggil untuknya dan bersegera kepadanya, dan yang dimaksud dengan bersegera di sini: bersegera kepadanya dan memberikan perhatian kepadanya, dan menjadikannya sebagai pekerjaan yang paling penting, bukan lari yang telah dilarang ketika pergi ke shalat, dan firman-Nya: {dan tinggalkanlah jual beli} yaitu: tinggalkanlah jual beli, jika dipanggil untuk shalat, dan pergilah kepadanya.
Maka sesungguhnya {yang demikian itu lebih baik bagimu} daripada kesibukan kalian dengan jual beli, dan kalian melewatkan shalat fardhu, yang merupakan salah satu kewajiban yang paling penting.
{jika kamu mengetahui} bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal, dan bahwa orang yang mendahulukan dunia atas agama, maka sungguh ia telah rugi dengan kerugian yang sebenarnya, dari sisi ia menyangka bahwa ia untung, dan perintah meninggalkan jual beli ini dibatasi waktu selama shalat.
{Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi} untuk mencari keuntungan dan perdagangan dan ketika kesibukan dalam perdagangan, menjadi dugaan kelalaian dari mengingat Allah, Allah memerintahkan untuk memperbanyak mengingat-Nya, maka Dia berfirman: {dan ingatlah Allah banyak-banyak} yaitu dalam keadaan kalian berdiri dan duduk dan berbaring, {supaya kamu beruntung} karena memperbanyak mengingat Allah adalah sebab terbesar dari keberuntungan.
“Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka segera menuju kepadanya” (QS. Al-Jumu’ah: 11) artinya: mereka keluar dari masjid karena bersemangat pada permainan dan perniagaan tersebut, dan meninggalkan kebaikan. “Dan mereka meninggalkanmu dalam keadaan berdiri” sedang berkhutbah kepada manusia, dan hal itu terjadi pada hari Jumat. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah kepada manusia, tiba-tiba datang ke Madinah suatu kafilah yang membawa barang dagangan. Ketika orang-orang mendengar kedatangan kafilah tersebut sementara mereka berada di dalam masjid, mereka pun berhamburan keluar dari masjid dan meninggalkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang berkhutbah karena tergesa-gesa pada sesuatu yang seharusnya tidak perlu mereka tergesa-gesakan, dan meninggalkan adab.
“Katakanlah: ‘Apa yang di sisi Allah” berupa pahala dan ganjaran bagi orang yang konsisten pada kebaikan dan menahan dirinya dalam beribadah kepada Allah, “lebih baik daripada permainan dan perniagaan” yang meskipun dapat memberikan beberapa tujuan, namun hal itu sedikit dan mengandung gangguan, serta melewatkan kebaikan akhirat. Bersabar dalam ketaatan kepada Allah tidaklah menyebabkan hilangnya rezeki, karena Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.
Dalam ayat-ayat ini terdapat banyak faidah:
Pertama: Bahwa salat Jumat adalah kewajiban bagi semua orang mukmin, mereka wajib berangkat menuju salat Jumat, mempercepat diri, dan memperhatikan urusannya.
Kedua: Bahwa dua khutbah pada hari Jumat adalah kewajiban yang harus dihadiri, karena Allah menafsirkan dzikir di sini dengan dua khutbah, maka Allah memerintahkan untuk pergi dan berusaha menuju kepadanya.
Ketiga: Disyariatkannya adzan untuk hari Jumat dan perintah melaksanakannya.
Keempat: Larangan jual beli setelah adzan Jumat dan pengharamannya. Hal itu karena dapat menggagalkan kewajiban dan melalaikan darinya. Ini menunjukkan bahwa setiap urusan meskipun pada asalnya mubah, jika menimbulkan kegagalan melaksanakan kewajiban, maka tidak boleh dilakukan dalam keadaan tersebut.
Kelima: Perintah menghadiri dua khutbah pada hari Jumat dan celaan bagi yang tidak menghadirinya, dan konsekuensi dari hal tersebut adalah mendengarkan keduanya dengan seksama.
Keenam: Hendaknya seorang hamba yang menghadap kepada ibadah Allah ketika jiwa terdorong untuk menghadiri permainan, perniagaan, dan syahwat, mengingatkan jiwanya dengan kebaikan-kebaikan yang ada di sisi Allah dan apa yang diperoleh orang yang mengutamakan ridha Allah daripada hawa nafsunya.
Selesailah tafsir Surah Al-Jumu’ah, dan bagi Allah segala puji dan pujian.
Madaniyyah
Surat Al-Munafiqun ayat 1-6:
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami bersaksi bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah bersaksi bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta. Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah karena mereka telah beriman, kemudian kafir (lagi), lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat memahami. Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu dengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira setiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, dan kaum Muslim bertambah banyak di Madinah serta Islam menjadi kuat di sana, maka ada sebagian penduduknya dari suku Aus dan Khazraj yang menampakkan keimanan namun menyembunyikan kekafiran, agar kedudukan mereka tetap terjaga, darah mereka terlindungi, dan harta mereka selamat. Allah menyebutkan sifat-sifat mereka agar dapat dikenali, supaya para hamba berhati-hati terhadap mereka dan waspada kepada mereka. Allah berfirman: Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata dengan penuh kebohongan: Kami bersaksi bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah. Kesaksian dari orang-orang munafik ini diucapkan dengan kebohongan dan kemunafikan, padahal tidak ada kebutuhan akan kesaksian mereka untuk menguatkan rasul-Nya, karena Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya dan Allah bersaksi bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta dalam perkataan dan pengakuan mereka, dan bahwa itu bukanlah ketulusan dari mereka.
Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai yaitu: sebagai tameng yang mereka gunakan untuk melindungi diri dari tuduhan kemunafikan.
Maka mereka menghalangi diri mereka sendiri dari jalan Allah, dan menghalangi orang lain yang tidak mengetahui keadaan mereka. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan karena mereka menampakkan keimanan namun menyembunyikan kekafiran, bersumpah atas hal itu dan membuat orang mengira mereka jujur.
Yang demikian itu yang menjadikan kemunafikan terlihat indah bagi mereka disebabkan karena mereka tidak tetap dalam keimanan.
Bahkan mereka telah beriman kemudian kafir (lagi), lalu hati mereka dikunci mati sehingga kebaikan tidak akan pernah masuk ke dalamnya, karena itu mereka tidak dapat memahami apa yang bermanfaat bagi mereka, dan tidak mengerti apa yang mendatangkan maslahat bagi mereka.
Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum karena keindahan dan kesegaran mereka, dan jika mereka berkata kamu dengarkan perkataan mereka yaitu: karena bagusnya cara bicara mereka, kamu senang mendengarkannya. Maka tubuh dan perkataan mereka memukau, tetapi di balik itu tidak ada akhlak mulia dan petunjuk yang baik sama sekali, oleh karena itu Allah berfirman: seakan-akan kayu yang tersandar tidak ada manfaat padanya, dan tidak didapat darinya kecuali bahaya semata, mereka mengira setiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka dan itu karena sifat pengecut, ketakutan, dan lemahnya hati mereka, serta keraguan yang ada dalam hati mereka, mereka takut akan terbongkar.
Maka mereka inilah musuh (yang sebenarnya), karena musuh yang terang-terangan dan dapat dibedakan, lebih ringan daripada musuh yang tidak disadari, yang penipu dan licik, mengaku sebagai kawan padahal dia adalah musuh yang nyata, maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)? yaitu: bagaimana mereka dipalingkan dari agama Islam setelah jelas dalil-dalilnya dan terang petunjuk-petunjuknya, menuju kekafiran yang tidak memberi mereka kecuali kerugian dan kesengsaraan.
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah, supaya Rasulullah memintakan ampun bagimu”, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri. Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampun atau tidak kamu mintakan ampun bagi mereka. Allah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.
Dan apabila dikatakan kepada orang-orang munafik ini “Marilah, supaya Rasulullah memintakan ampun bagimu” atas apa yang telah kalian perbuat, agar keadaan kalian menjadi baik dan amal kalian diterima, mereka menolak dengan keras, dan membuang muka mereka karena enggan meminta doa dari Rasul, dan kamu lihat mereka berpaling dari kebenaran karena benci kepadanya sedang mereka menyombongkan diri dari mengikutinya karena kezaliman dan kedengkian. Inilah keadaan mereka ketika diajak untuk meminta doa dari Rasul, dan ini termasuk kebaikan Allah dan kemuliaannya kepada rasul-Nya, karena mereka tidak datang kepadanya untuk meminta ampun, sebab sama saja apakah dia meminta ampun untuk mereka atau tidak, Allah tidak akan mengampuni mereka, dan itu karena mereka adalah kaum yang fasik, keluar dari ketaatan Allah, lebih memilih kekafiran daripada keimanan, maka istighfar Rasul tidak bermanfaat bagi mereka seandainya dia meminta ampun untuk mereka sebagaimana Allah berfirman: Kamu mintakan ampun bagi mereka atau tidak kamu mintakan ampun bagi mereka; (bahkan) jika kamu mintakan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, Allah tidak sekali-kali akan mengampuni mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.
Surat Al-Munafiqun ayat 7-8:
Mereka orang-orang yang berkata: “Janganlah kamu menafkahkan (sesuatu) kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah hingga mereka bubar (meninggalkan Rasulullah).” Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami. Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kami telah kembali ke Madinah, pastilah orang yang lebih mulia akan mengusir orang yang lebih hina dari padanya.” Padahal hanya kepunyaan Allah-lah kemulian itu, dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui.
Dan ini menunjukkan betapa hebatnya permusuhan mereka terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum Muslim. Ketika mereka melihat berkumpulnya para sahabat dan persatuan mereka, serta kesegaran mereka dalam mencari ridha Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka berkata dengan sangkaan mereka yang rusak:
Janganlah kamu menafkahkan (sesuatu) kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah hingga mereka bubar (meninggalkan Rasulullah) karena mereka – menurut sangkaan mereka – kalau bukan karena harta orang-orang munafik dan nafkah mereka kepada kaum Muslim, tentu mereka tidak akan berkumpul untuk menolong agama Allah. Ini sungguh aneh sekali, bahwa orang-orang munafik ini yang merupakan manusia paling bersemangat untuk melemahkan agama dan menyakiti kaum Muslim, membuat klaim seperti ini, yang tidak akan diterima kecuali oleh orang yang tidak tahu hakikat perkara. Oleh karena itu Allah berfirman sebagai bantahan terhadap perkataan mereka: Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi maka Dia memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan mencegahnya dari siapa yang dikehendaki-Nya, memudahkan sebab-sebab bagi siapa yang dikehendaki-Nya, dan menyulitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami maka oleh karena itu mereka mengucapkan perkataan tersebut, yang intinya bahwa perbendaharaan rezeki ada di tangan mereka, dan di bawah kehendak mereka.
Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kami telah kembali ke Madinah, pastilah orang yang lebih mulia akan mengusir orang yang lebih hina dari padanya” dan itu terjadi pada perang Muraisyi’, ketika terjadi percekcokan antara sebagian Muhajirin dan Anshar, yang membuat hati menjadi keruh. Saat itulah kemunafikan orang-orang munafik muncul, dan mereka menampakkan apa yang ada dalam jiwa mereka.
Pemimpin mereka, Abdullah bin Ubay bin Salul berkata: Perumpamaan kami dan mereka -maksudnya kaum Muhajirin- seperti kata pepatah: “Beri makan anjingmu, nanti dia akan memakan kamu”
Dan dia berkata: Jika kami kembali ke Madinah pastilah orang yang lebih mulia akan mengusir orang yang lebih hina dari padanya dengan sangkaannya bahwa dia dan saudara-saudaranya dari kalangan munafik adalah orang-orang mulia, dan bahwa Rasulullah beserta pengikutnya adalah orang-orang hina. Padahal keadaannya kebalikan dari apa yang dikatakan munafik ini, maka oleh karena itu Allah berfirman: Padahal hanya kepunyaan Allah-lah kemuliaan itu, dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin maka merekalah yang mulia, sedangkan orang-orang munafik dan saudara-saudara mereka dari kalangan kafir adalah orang-orang hina. Tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui hal itu, maka oleh karena itu mereka menyangka bahwa mereka yang mulia, karena tertipu dengan kebatilan yang mereka anut. Kemudian Allah berfirman:
Surat Al-Munafiqun ayat 9-11:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk memperbanyak zikir kepada-Nya, karena dalam zikir itu terdapat keuntungan dan keberuntungan, serta kebaikan yang banyak. Dan Dia melarang mereka agar harta dan anak-anak mereka tidak menyibukkan mereka dari zikir kepada-Nya, karena kecintaan kepada harta dan anak-anak adalah fitrah yang tertanam pada kebanyakan jiwa, sehingga mereka mendahulukan hal itu daripada kecintaan kepada Allah, dan dalam hal itu terdapat kerugian yang besar. Oleh karena itu Allah berfirman: Dan barangsiapa yang berbuat demikian yaitu: dilalaikan oleh harta dan anaknya dari zikir kepada Allah maka mereka itulah orang-orang yang rugi kebahagiaan abadi dan kenikmatan kekal, karena mereka lebih memilih yang fana daripada yang kekal. Allah berfirman: Sesungguhnya harta-harta kamu dan anak-anak kamu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.
Dan firman-Nya: Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu mencakup nafkah-nafkah wajib, seperti zakat dan kafarat, nafkah istri, budak, dan semacamnya, serta nafkah-nafkah sunnah, seperti mengeluarkan harta untuk semua kemaslahatan. Dan Allah berfirman: dari apa yang telah Kami berikan kepadamu untuk menunjukkan bahwa Allah tidak membebani hamba-hamba-Nya dengan nafkah yang menyusahkan dan memberatkan mereka, tetapi memerintahkan mereka mengeluarkan sebagian dari apa yang Allah berikan kepada mereka yang telah dimudahkan-Nya bagi mereka serta dimudahkan-Nya sebab-sebabnya.
Maka hendaklah mereka bersyukur kepada yang telah memberi mereka, dengan membantu saudara-saudara mereka yang membutuhkan, dan hendaklah mereka bersegera melakukan hal itu sebelum datang kematian yang jika telah tiba, hamba tidak mampu berbuat kebaikan walau seberat zarah. Oleh karena itu Allah berfirman: sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata dengan menyesal atas kelalaiannya di waktu masih bisa berbuat, meminta untuk kembali yang mustahil: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat” yaitu: agar aku dapat memperbaiki apa yang telah aku lalai, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dari hartaku, yang dengannya aku selamat dari azab dan berhak mendapat pahala yang besar, dan aku termasuk orang-orang yang saleh dengan menunaikan semua yang diperintahkan dan menjauhi semua yang dilarang, dan ini termasuk haji dan lainnya. Permohonan dan angan-angan ini sudah terlambat waktunya, dan tidak mungkin diperbaiki lagi. Oleh karena itu Allah berfirman: Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila telah datang waktu kematiannya yang telah ditetapkan baginya dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan dari kebaikan dan kejahatan, maka Dia akan membalas kalian atas apa yang diketahui-Nya dari kalian berupa niat dan amal.
Selesai tafsir Surat Al-Munafiqun, Dan bagi Allah segala puji
[Dan ini adalah surat Makkiyyah]
Surat At-Taghabun ayat 1-4:
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semua yang ada di langit dan yang ada di bumi bertasbih kepada Allah; bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dia-lah yang menciptakan kamu, maka di antara kamu ada yang kafir dan di antara kamu ada yang mukmin. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Dia menciptakan langit dan bumi dengan benar dan membentuk rupamu lalu dibaguskan-Nya rupamu itu, dan kepada-Nya-lah kembali(mu). Dia mengetahui apa yang di langit dan di bumi, dan mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati.
Ayat-ayat mulia ini mengandung rangkaian yang banyak dan luas dari sifat-sifat agung Allah, maka disebutkan kesempurnaan uluhiyyah-Nya, luasnya kekayaan-Nya, dan kebutuhan seluruh makhluk kepada-Nya, serta tasbih penghuni langit dan bumi dengan memuji Tuhannya, dan bahwa kerajaan seluruhnya milik Allah, tidak ada makhluk yang keluar dari kerajaan-Nya, dan segala puji bagi-Nya, pujian atas sifat-sifat kesempurnaan yang dimiliki-Nya, pujian atas apa yang diciptakan-Nya berupa segala sesuatu, pujian atas apa yang disyariatkan-Nya berupa hukum-hukum, dan apa yang dilimpahkan-Nya berupa nikmat-nikmat.
Dan kekuasaan-Nya meliputi segalanya, tidak ada yang ada yang keluar darinya, maka tidak ada sesuatu pun yang dikehendaki-Nya yang dapat mengalahkan-Nya.
Dan disebutkan bahwa Dia menciptakan hamba-hamba, dan menjadikan di antara mereka yang mukmin dan yang kafir, maka iman dan kufur mereka semuanya dengan qadha dan qadar Allah, dan Dia-lah yang menghendaki itu dari mereka, dengan memberikan kepada mereka kemampuan dan kehendak, yang dengannya mereka mampu melakukan apa saja yang mereka kehendaki dari perintah dan larangan, dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
Setelah menyebutkan penciptaan manusia yang dibebani, diperintah dan dilarang, disebutkan pula penciptaan makhluk-makhluk lainnya, maka Allah berfirman: Dia menciptakan langit dan bumi yaitu: benda-benda mereka dan semua yang ada di dalamnya, maka diperindah penciptaan mereka, dengan benar yaitu: dengan hikmah dan tujuan yang dikehendaki-Nya, dan membentuk rupamu lalu dibaguskan-Nya rupamu itu sebagaimana Allah berfirman: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya maka manusia adalah makhluk yang paling bagus bentuknya dan paling indah penampilannya. Dan kepada-Nya-lah kembali(mu) yaitu: tempat kembali pada hari kiamat, maka Dia akan membalas kalian atas iman dan kufur kalian, dan akan menanyai kalian tentang nikmat dan kenikmatan yang dilimpahkan-Nya kepada kalian, apakah kalian mensyukurinya ataukah tidak mensyukurinya? Kemudian disebutkan keumuman ilmu-Nya, maka Allah berfirman: Dia mengetahui apa yang di langit dan di bumi yaitu: dari yang tersembunyi dan yang tampak, ghaib dan yang disaksikan. Dan mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati yaitu: apa yang ada di dalamnya dari rahasia-rahasia yang baik dan rahasia-rahasia yang buruk, niat-niat yang saleh dan maksud-maksud yang rusak. Maka jika Dia Maha Mengetahui isi hati, wajib bagi orang yang berakal dan berwawasan untuk bersungguh-sungguh dalam menjaga batinnya dari akhlak-akhlak tercela, dan bersifat dengan akhlak-akhlak yang indah.
Surat At-Taghabun ayat 5-6:
Belumkah sampai kepada kamu berita orang-orang yang kafir sebelum (kamu), maka mereka merasakan akibat buruk dari perbuatan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih? Yang demikian itu adalah karena telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, lalu mereka berkata: “Apakah manusia yang akan memberi petunjuk kepada kami?” Lalu mereka kafir dan berpaling; dan Allah tidak memerlukan (mereka). Dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
Setelah Allah menyebutkan sifat-sifat-Nya yang sempurna dan agung, yang dengannya Dia dikenal dan disembah, serta dicurahkan usaha untuk mencari ridha-Nya dan dijauhi hal-hal yang memurkai-Nya, Dia mengabarkan apa yang diperbuat-Nya kepada umat-umat terdahulu dan generasi-generasi yang telah berlalu, yang berita-berita mereka selalu diperbincangkan oleh generasi-generasi sesudahnya dan diceritakan oleh orang-orang yang jujur, bahwa mereka ketika didatangi para rasul dengan kebenaran, mereka mendustakan dan membangkang kepada mereka, maka Allah merasakan kepada mereka akibat buruk perbuatan mereka di dunia dan menghinakan mereka di dunia, dan bagi mereka azab yang pedih di akhirat. Oleh karena itu disebutkan sebab hukuman ini, maka Allah berfirman: Yang demikian itu siksaan dan akibat buruk yang Kami jatuhkan kepada mereka adalah karena telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata yaitu: dengan ayat-ayat yang jelas, yang menunjukkan yang hak dan yang batil, lalu mereka muak dan sombong terhadap rasul-rasul mereka, lalu mereka berkata: “Apakah manusia yang akan memberi petunjuk kepada kami?” yaitu: mereka tidak memiliki kelebihan atas kami, dan mengapa Allah mengkhususkan mereka dan bukan kami, sebagaimana Allah berfirman dalam ayat yang lain: Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: “Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya” maka mereka membatasi karunia dan anugerah Allah kepada nabi-nabi-Nya untuk menjadi rasul bagi makhluk, dan sombong dari tunduk kepada mereka, maka mereka diuji dengan menyembah batu dan pohon dan semacamnya lalu mereka kafir kepada Allah dan berpaling dari ketaatan kepada Allah, dan Allah tidak memerlukan mereka, maka Dia tidak peduli kepada mereka, dan kesesatan mereka tidak merugikan-Nya sedikitpun, dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji yaitu: Dia yang Maha Kaya, yang memiliki kekayaan sempurna mutlak dari segala segi, Maha Terpuji dalam perkataan, perbuatan dan sifat-sifat-Nya.
{7} “Orang-orang yang kafir menyangka bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: “Tidak demikian, demi Tuhanku, kamu pasti akan dibangkitkan, kemudian kamu akan diberitakan apa yang telah kamu kerjakan. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah.” (Surat At-Taghabun ayat 7)
Allah Ta’ala mengabarkan tentang kekerasan kepala orang-orang kafir, sangkaan mereka yang batil, dan pendustaan mereka terhadap kebangkitan tanpa ilmu, petunjuk, atau kitab yang menerangi. Maka Allah memerintahkan makhluk yang paling mulia-Nya untuk bersumpah dengan Tuhannya atas kebangkitan mereka dan pembalasan terhadap perbuatan buruk mereka serta pendustaan mereka terhadap kebenaran. “Dan yang demikian itu mudah bagi Allah” karena walaupun hal itu sulit bahkan mustahil bagi makhluk, sebab kekuatan mereka seluruhnya seandainya berkumpul untuk menghidupkan satu orang yang mati pun, mereka tidak akan mampu melakukannya.
Adapun Allah Ta’ala, apabila Dia menghendaki sesuatu maka Dia hanya berkata kepadanya “Jadilah” maka jadilah, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan siapa yang di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri memandang.”
{8} “Maka berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan cahaya yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surat At-Taghabun ayat 8)
Setelah Allah Ta’ala menyebutkan pengingkaran orang yang mengingkari kebangkitan, dan bahwa hal itu menyebabkan kekafiran mereka terhadap Allah dan ayat-ayat-Nya, Allah memerintahkan dengan apa yang dapat melindungi dari kebinasaan dan kesengsaraan, yaitu beriman kepada Allah, Rasul-Nya, dan kitab-Nya. Allah menyebutnya sebagai cahaya, karena cahaya adalah lawan dari kegelapan. Apa yang terdapat dalam kitab yang diturunkan Allah berupa hukum-hukum, syariat-syariat, dan berita-berita adalah cahaya-cahaya yang menjadi petunjuk dalam kegelapan kebodohan yang pekat, dan dengannya seseorang berjalan dalam kegelapan malam yang kelam. Selain berpedoman dengan kitab Allah, maka ilmu-ilmu itu mudharatnya lebih banyak daripada manfaatnya, dan keburukannya lebih banyak daripada kebaikannya, bahkan tidak ada kebaikan dan manfaat di dalamnya kecuali yang sesuai dengan apa yang dibawa oleh para rasul.
Beriman kepada Allah, Rasul-Nya, dan kitab-Nya menuntut keyakinan yang sempurna dan yakin yang benar terhadapnya, serta beramal sesuai dengan tuntutan pembenaran tersebut, yaitu melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan. “Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” maka Dia akan membalas kalian dengan amal-amal kalian yang saleh dan yang buruk.
{9-10} “Ingatlah hari ketika Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, itulah hari taghābun (saling menipu). Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan beramal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (Surat At-Taghabun ayat 9-10)
Maksudnya: ingatlah hari pengumpulan ketika Allah mengumpulkan orang-orang terdahulu dan kemudian, dan menempatkan mereka pada tempat yang menakjubkan dan agung, serta memberitakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Maka pada saat itulah akan tampak perbedaan dan kesenjangan di antara makhluk. Sebagian kaum akan diangkat ke tingkat yang paling tinggi, yaitu ke kamar-kamar yang tinggi dan tempat-tempat yang mulia yang mengandung segala kenikmatan dan syahwat. Sebagian kaum akan diturunkan ke tempat yang paling rendah, yaitu tempat duka cita, kesedihan, dan azab yang keras. Hal itu adalah akibat dari apa yang telah mereka lakukan untuk diri mereka sendiri dan yang telah mereka lakukan di hari-hari kehidupan mereka. Oleh karena itu Allah berfirman: “Itulah hari taghābun.”
Artinya: pada hari itu akan tampak taghābun dan kesenjangan di antara makhluk, orang-orang beriman akan menipu orang-orang fasik, dan orang-orang yang berdosa akan mengetahui bahwa mereka tidak berada di atas sesuatu apapun, dan bahwa merekalah orang-orang yang merugi. Seakan-akan dikatakan: dengan apa keberuntungan dan kesengsaraan serta kenikmatan dan azab itu diperoleh?
Maka Allah Ta’ala menyebutkan sebab-sebab hal itu dengan firman-Nya: “Dan barangsiapa beriman kepada Allah” yaitu iman yang sempurna, mencakup semua yang diperintahkan Allah untuk diimani, “dan beramal saleh” dari fardhu dan sunnah, yaitu menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak hamba-hamba-Nya. “niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya” di dalamnya terdapat apa yang diinginkan jiwa-jiwa, yang menyenangkan mata, yang dipilih ruh-ruh, yang dirindukan hati-hati, dan menjadi puncak dari setiap yang diinginkan, “mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.”
“Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”
“Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami” artinya: mereka kafir tanpa dasar syar’i maupun akal, bahkan telah datang kepada mereka dalil-dalil dan bukti-bukti yang jelas, namun mereka mendustakannya dan menentang apa yang ditunjukkan olehnya.
“Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya dan itulah seburuk-buruk tempat kembali” karena neraka mengumpulkan segala kesengsaraan dan kesulitan, kemalangan dan azab.
{11-13} “Tidak ada suatu musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa beriman kepada Allah niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan taatilah Allah dan taatilah Rasul. Jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat) dengan jelas. Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Dan kepada Allah hendaklah orang-orang mukmin bertawakal.” (Surat At-Taghabun ayat 11-13)
Allah Ta’ala berfirman: “Tidak ada suatu musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah” ini berlaku umum untuk semua musibah, baik pada diri, harta, anak, orang-orang tercinta, dan lain-lainnya. Semua yang menimpa hamba adalah dengan takdir dan ketentuan Allah, telah didahului oleh ilmu Allah Ta’ala, telah tertulis dengan pena-Nya, telah berlaku kehendak-Nya, dan telah dituntut oleh hikmah-Nya.
Masalahnya adalah apakah hamba mampu menunaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya dalam kedudukan ini atau tidak. Jika dia mampu menunaikannnya, maka baginya pahala yang besar dan ganjaran yang indah di dunia dan akhirat. Apabila dia beriman bahwa musibah itu datang dari Allah, lalu dia ridha dengan hal itu dan berserah diri kepada perintah-Nya, maka Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya, sehingga hatinya menjadi tenang dan tidak gelisah ketika musibah datang, sebagaimana yang terjadi pada orang yang tidak diberi petunjuk oleh Allah pada hatinya. Bahkan Allah akan memberikan keteguhan kepadanya ketika musibah datang dan kemampuan untuk menunaikan tuntutan sabar, sehingga dia memperoleh pahala yang segera selain apa yang Allah simpan untuknya pada hari pembalasan berupa pahala, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang sabar diberi pahala mereka tanpa batas.”
Dari ini diketahui bahwa orang yang tidak beriman kepada Allah ketika musibah datang, yaitu yang tidak memperhatikan takdir dan ketentuan Allah, tetapi hanya berhenti pada sebab-sebab lahiriah, maka dia akan dikecewakan dan Allah akan menyerahkannya kepada dirinya sendiri. Apabila hamba diserahkan kepada dirinya sendiri, maka diri itu tidak memiliki apa-apa kecuali kegelisahan dan ketakutan yang merupakan hukuman segera bagi hamba, sebelum hukuman akhirat, atas kelalaiannya dalam menunaikan kewajiban sabar.
Ini yang berkaitan dengan firman-Nya: “Dan barangsiapa beriman kepada Allah niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya” dalam kedudukan khusus musibah-musibah. Adapun yang berkaitan dengannya dari segi keumuman lafaz, maka Allah mengabarkan bahwa setiap orang yang beriman yaitu iman yang diperintahkan, berupa iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruknya, dan membenarkan imannya dengan apa yang dituntut oleh iman berupa menunaikan konsekuensi-konsekuensi dan kewajiban-kewajibannya, maka sebab yang dilakukan hamba ini adalah sebab terbesar untuk petunjuk Allah kepadanya dalam keadaan-keadaan, ucapan-ucapan, dan perbuatan-perbuatannya, serta dalam ilmu dan amalnya.
Ini adalah ganjaran terbaik yang Allah berikan kepada ahli iman, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam berita: bahwa Allah meneguhkan orang-orang mukmin di kehidupan dunia dan di akhirat.
Pokok keteguhan adalah keteguhan hati dan kesabarannya, serta keyakinannya ketika setiap fitnah datang, maka Allah berfirman: “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan kalimat yang teguh di kehidupan dunia dan di akhirat.” Maka ahli iman adalah manusia yang paling mendapat petunjuk hatinya, dan paling teguh ketika menghadapi hal-hal yang menggelisahkan dan meresahkan, hal itu karena iman yang ada pada mereka.
“Dan taatilah Allah dan taatilah Rasul” yaitu dalam melaksanakan perintah keduanya dan menjauhi larangan keduanya, karena taat kepada Allah dan taat kepada Rasul-Nya adalah poros kebahagiaan dan tanda keberuntungan. “Jika kamu berpaling” yaitu dari taat kepada Allah dan taat kepada Rasul-Nya, “maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat) dengan jelas” yaitu menyampaikan kepada kalian apa yang diutus dengannya kepada kalian dengan penyampaian yang menjelaskan kepada kalian, menjadi jelas dan tegak hujjah atas kalian dengannya. Bukan di tangannya petunjuk kalian, dan bukan pula perhitungan kalian sama sekali, melainkan yang menghisab kalian atas menunaikan taat kepada Allah dan taat kepada Rasul-Nya, atau ketiadaan hal itu, adalah Dzat Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata.
“Allah, tidak ada Tuhan selain Dia” yaitu Dialah yang berhak untuk disembah dan dipertuhankan, maka setiap yang disembah selain-Nya adalah batil. “Dan kepada Allah hendaklah orang-orang mukmin bertawakal” yaitu hendaklah mereka bergantung kepada-Nya dalam setiap urusan yang menimpa mereka, dan dalam apa yang ingin mereka lakukan, karena tidak ada urusan yang mudah kecuali dengan Allah, dan tidak ada jalan untuk itu kecuali dengan bergantung kepada Allah. Bergantung kepada Allah tidak akan sempurna hingga hamba memperbaiki prasangkanya kepada Tuhannya dan mempercayai-Nya dalam kecukupan-Nya terhadap urusan yang dia bergantung kepada-Nya dengannya. Sesuai dengan iman hamba adalah tawakalnya, maka semakin kuat iman semakin kuat tawakkal.
{14-15} “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri dan anak-anak kamu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah terhadap mereka. Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya harta-harta kamu dan anak-anak kamu hanyalah cobaan dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Surat At-Taghabun ayat 14-15)
Ini adalah peringatan dari Allah kepada orang-orang mukmin agar tidak tertipu dengan istri-istri dan anak-anak, karena sebagian dari mereka adalah musuh bagi kalian. Musuh adalah yang menginginkan keburukan bagimu, dan kewajibanmu adalah berhati-hati terhadap orang yang seperti ini sifatnya. Jiwa memang diciptakan dengan kecintaan kepada istri-istri dan anak-anak, maka Allah Ta’ala menasihati hamba-hamba-Nya agar kecintaan ini tidak menyebabkan mereka tunduk kepada tuntutan istri-istri dan anak-anak, walaupun di dalamnya terdapat larangan syar’i, dan Allah memberikan dorongan kepada mereka untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya dan mengutamakan ridha-Nya dengan apa yang ada di sisi-Nya berupa pahala yang besar yang mengandung tujuan-tujuan yang tinggi dan kecintaan-kecintaan yang mahal, dan agar mereka mengutamakan akhirat atas dunia yang fana dan berlalu.
Ketika larangan taat kepada istri-istri dan anak-anak dalam hal yang merugikan hamba, dan peringatann terhadap hal itu, mungkin menimbulkan kesan kasar terhadap mereka dan menghukum mereka, maka Allah Ta’ala memerintahkan untuk berhati-hati terhadap mereka, memaafkan dan mengampuni mereka, karena dalam hal itu terdapat kemaslahatan yang tidak mungkin dihitung, maka Allah berfirman: “Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” karena balasan sejenis dengan perbuatan.
Barangsiapa memaafkan maka Allah memaafkannya, barangsiapa berbuat baik maka Allah berbuat baik kepadanya, barangsiapa mengampuni maka Allah mengampuninya, barangsiapa bermuamalah dengan Allah dalam hal yang dicintai-Nya, dan bermuamalah dengan hamba-hamba-Nya sebagaimana mereka cintai dan memberikan manfaat kepada mereka, maka dia akan memperoleh cinta Allah dan cinta hamba-hamba-Nya, dan urusannya menjadi kokoh.
{16-18} “Maka bertakwalah kepada Allah menurut kesanggupan kamu dan dengarlah serta taatilah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk diri kamu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah akan melipat gandakan (pembalasan)nya untukmu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Penyantun. Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Surat At-Taghabun ayat 16-18)
Allah Ta’ala memerintahkan untuk bertakwa kepada-Nya, yaitu melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, dan Dia membatasi hal itu dengan kemampuan dan kekuatan.
Ayat ini menunjukkan bahwa setiap kewajiban yang tidak mampu dilakukan hamba, maka gugur darinya, dan apabila dia mampu melakukan sebagian yang diperintahkan dan tidak mampu melakukan sebagian yang lain, maka dia mengerjakan apa yang mampu dia lakukan, dan gugur darinya apa yang tidak mampu dia lakukan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apabila aku memerintahkan kalian dengan suatu perkara maka kerjakan apa yang kalian sanggup.”
Masuk di bawah kaidah syar’i ini cabang-cabang furu’ yang tidak dapat dihitung. Firman-Nya: “dan dengarlah” yaitu dengarlah apa yang Allah nasihatkan kepada kalian dan apa yang disyariatkan-Nya untuk kalian berupa hukum-hukum, ketahuilah hal itu dan tundukklah kepadanya. “serta taatilah” Allah dan Rasul-Nya dalam semua urusan kalian. “dan nafkahkanlah” dari nafkah-nafkah syar’i yang wajib dan yang sunat, hal itu akan menjadi perbuatan yang baik dari kalian di dunia dan akhirat, karena kebaikan semuanya terletak pada melaksanakan perintah-perintah Allah Ta’ala dan menerima nasihat-nasihat-Nya, tunduk kepada syariat-Nya, dan keburukan semuanya terletak pada menyelisihi hal itu.
Akan tetapi ada kerusakan yang menghalangi banyak manusia dari nafkah yang diperintahkan, yaitu kekikiran yang menjadi sifat dasar kebanyakan jiwa, karena jiwa kikir dengan harta, cinta keberadaannya, dan sangat benci keluarnya dari tangan.
Barangsiapa yang dipelihara Allah dari kejahatan kekikiran dirinya dengan jiwa yang dermawan untuk berinfak yang bermanfaat baginya “maka mereka itulah orang-orang yang beruntung” karena mereka telah meraih yang diinginkan dan selamat dari yang ditakuti. Bahkan mungkin hal itu mencakup semua yang diperintahkan kepada hamba dan dilarang darinya, karena apabila jiwanya kikir, tidak tunduk kepada apa yang diperintahkan kepadanya, dan tidak mengeluarkan apa yang ada padanya, maka dia tidak akan beruntung, bahkan merugi di dunia dan akhirat. Apabila jiwanya adalah jiwa yang dermawan, tenang, lapang terhadap syariat Allah, menginginkan ridha-Nya, maka tidak ada penghalang antara dirinya dan melakukan apa yang dibebankan kepadanya kecuali mengetahuinya, sampainya pengetahuan kepadanya, dan mengetahui dengan yakin bahwa hal itu adalah ridha Allah Ta’ala. Dengan demikian dia akan beruntung, sukses, dan menang dengan kemenangan yang sempurna.
Kemudian Allah Ta’ala memberikan dorongan untuk berinfak dengan berfirman: “Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik” yaitu setiap nafkah yang berasal dari yang halal, apabila hamba bermaksud dengannya wajah Allah Ta’ala dan mencari ridha-Nya, serta meletakkannya pada tempatnya “niscaya Allah akan melipat gandakan (pembalasan)nya untukmu” nafkah itu dengan sepuluh kali lipatnya sampai tujuh ratus kali lipat, sampai berlipat ganda yang banyak.
“Dan” selain pelipat gandaan juga “mengampuni kamu” karena infak dan sedekah, dosa-dosa kalian, karena dosa-dosa dihapus Allah dengan sedekah-sedekah dan kebaikan-kebaikan: “Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapuskan kejahatan-kejahatan.”
“Dan Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Penyantun” tidak menyegerakan hukuman kepada yang mendurhakai-Nya, bahkan memberikan tempo dan tidak mengabaikannya. “Dan seandainya Allah menghukum manusia karena apa yang mereka usahakan, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas punggung bumi suatu makhluk yang melata pun, akan tetapi Allah menunda mereka sampai waktu yang ditentukan.” Allah Ta’ala Maha Mensyukuri, menerima dari hamba-hamba-Nya amal yang sedikit, dan membalas mereka dengan pahala yang banyak. Allah Ta’ala mensyukuri orang yang menanggung kesulitan-kesulitan dan beban-beban karena-Nya, dan membawa beban-beban yang berat. Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik darinya.
“Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata” yaitu apa yang gaib dari hamba-hamba berupa tentara-tentara yang tidak diketahui kecuali oleh-Nya, dan apa yang mereka saksikan dari makhluk-makhluk. “Yang Maha Perkasa” yang tidak dapat dikalahkan dan tidak dapat dicegah, yang telah mengalahkan segala sesuatu. “Yang Maha Bijaksana” dalam penciptaan dan perintah-Nya, yang meletakkan segala sesuatu pada tempatnya.
Selesai tafsir Surat At-Taghabun dan segala puji bagi Allah.
[Surat ini Madaniyyah]
Ayat 1-3
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Wahai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu, maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada (waktu dimulai) iddah mereka. Dan hitunglah masa iddah itu, serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka keluar kecuali apabila mereka mengerjakan perbuatan keji yang nyata. Itulah ketentuan-ketentuan Allah. Dan barangsiapa yang melanggar ketentuan-ketentuan Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah setelah itu mengadakan suatu hal yang baru. Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang ma’ruf atau lepaskanlah mereka dengan cara yang ma’ruf (pula). Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikian itu dinasihatkan kepada orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.
Allah Ta’ala berfirman dengan menyapa Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam dan para mu’minin:
Wahai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu artinya: apabila kalian bermaksud menceraikan mereka maka carilah untuk perceraian mereka hal yang disyariatkan, dan janganlah kalian terburu-buru dengan perceraian sejak ada sebabnya, tanpa memperhatikan perintah Allah.
Tetapi ceraikanlah mereka pada (waktu dimulai) iddah mereka artinya: untuk kepentingan masa iddah mereka, yaitu dengan menceraikan istrinya dalam keadaan suci, di masa suci yang tidak disetubuhi padanya. Inilah perceraian yang masa iddahnya jelas dan terang, berbeda dengan jika menceraikannya dalam keadaan haid, maka dia tidak menghitung masa haid tersebut yang terjadi perceraian padanya, dan masa iddahnya menjadi panjang karenanya. Demikian pula jika menceraikannya di masa suci yang telah disetubuhi padanya, maka tidak aman dari kehamilannya, sehingga tidak jelas dengan iddah apa dia beriddah.
Allah Ta’ala memerintahkan untuk menghitung masa iddah, yaitu menetapkannya dengan haid jika dia haid, atau dengan bulan-bulan jika dia tidak haid dan tidak hamil. Karena dalam menghitungnya ada penunaian hak Allah, hak suami yang mencerai, hak orang yang akan menikahinya setelahnya, dan haknya dalam nafkah dan sebagainya. Apabila dia menetapkan masa iddahnya, maka diketahui keadaannya dengan jelas, dan diketahui hak-hak yang menjadi kewajibannya dan apa yang menjadi haknya.
Perintah menghitung masa iddah ini ditujukan kepada suami dan kepada wanita jika dia mukallaf, jika tidak maka kepada walinya. Firman-Nya: Dan bertakwalah kepada Allah Tuhanmu artinya: dalam semua urusan kalian, dan takutlah kepada-Nya dalam hak istri-istri yang diceraikan. Maka janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka selama masa iddah, bahkan mereka wajib tinggal di rumah di mana suaminya menceraikannya.
Dan janganlah mereka keluar artinya: tidak boleh bagi mereka keluar darinya. Adapun larangan mengeluarkannya, itu karena tempat tinggal wajib atas suami untuk istri, agar dia sempurnakan iddahnya di sana yang merupakan salah satu haknya.
Adapun larangan keluarnya istri, karena keluarnya akan menyia-nyiakan hak suami dan tidak menjaganya.
Larangan keluar dari rumah dan mengeluarkan ini berlangsung sampai selesai masa iddah.
Kecuali apabila mereka mengerjakan perbuatan keji yang nyata artinya: dengan perkara buruk yang jelas, yang mengharuskan mengeluarkannya, sehingga menimbulkan mudharat bagi penghuni rumah jika tidak mengeluarkannya, seperti menyakiti dengan perkataan dan perbuatan keji. Dalam keadaan ini boleh bagi mereka mengeluarkannya, karena dialah yang menyebabkan dirinya dikeluarkan. Memberikan tempat tinggal itu untuk menenangkan hatinya dan meringankannya, sedangkan dialah yang mendatangkan mudharat bagi dirinya sendiri.
Ini berlaku untuk wanita beriddah raj’iyyah. Adapun yang ba’in, maka tidak wajib tempat tinggal baginya, karena tempat tinggal mengikuti nafkah, dan nafkah wajib bagi raj’iyyah bukan ba’in.
Itulah ketentuan-ketentuan Allah yaitu: yang telah Dia tetapkan untuk hamba-hamba-Nya dan syariatkan bagi mereka, dan memerintahkan mereka untuk berpegang padanya dan berdiri bersamanya. Dan barangsiapa yang melanggar ketentuan-ketentuan Allah dengan tidak berdiri bersamanya, bahkan melampaui batas atau kurang darinya, maka sesungguhnya dia telah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri yaitu: merugikannya dan menyia-nyiakan bagiannya dari mengikuti ketentuan-ketentuan Allah yang merupakan kebaikan di dunia dan akhirat.
Kamu tidak mengetahui barangkali Allah setelah itu mengadakan suatu hal yang baru artinya: Allah mensyariatkan masa iddah dan membatasi perceraian dengannya, untuk hikmah-hikmah besar. Di antaranya: barangkali Allah menimbulkan dalam hati yang mencerai rasa kasih sayang dan cinta, lalu dia merujuk wanita yang diceraikannya dan memulai lagi pergaulan dengannya, maka dia dapat melakukan itu selama masa iddah. Atau barangkali dia menceraikannya karena sebab dari pihaknya, lalu sebab itu hilang selama masa iddah, maka dia merujuknya karena tidak ada lagi sebab perceraian.
Di antara hikmahnya: masa iddah adalah masa menunggu, untuk mengetahui bersihnya rahimnya dari suaminya.
Firman-Nya: Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya artinya: apabila mereka hampir selesai masa iddahnya, karena jika mereka keluar dari masa iddah, suami tidak lagi dapat memilih antara merujuk atau berpisah. Maka rujukilah mereka dengan cara yang ma’ruf artinya: dengan cara pergaulan yang baik dan persahabatan yang indah, bukan dengan cara membahayakan dan menginginkan keburukan serta penahanan, karena merujuk dengan cara seperti ini tidak boleh. Atau lepaskanlah mereka dengan cara yang ma’ruf artinya: perpisahan yang tidak ada larangan padanya, tanpa saling memaki dan berselisih, dan tanpa memaksanya mengambil sesuatu dari hartanya.
Dan persaksikanlah atas perceraian dan rujuknya dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu yaitu: dua orang laki-laki muslim yang adil, karena dalam persaksian yang disebutkan ada penutupan pintu perselisihan, dan menyembunyikan oleh masing-masing dari mereka apa yang wajib dijelaskannya.
Dan hendaklah kamu tegakkan wahai para saksi kesaksian itu karena Allah artinya: lakukanlah sebagaimana mestinya, tanpa tambahan dan pengurangan, dan niatkan dengan menegakkannya hanya wajah Allah semata, dan jangan memperhatikan kerabat karena kekerabatan, atau sahabat karena cinta kepadanya.
Demikian itu yang Kami sebutkan kepada kalian dari hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan dinasihatkan kepada orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir karena orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hal itu mengharuskan baginya untuk mengambil pelajaran dari nasehat-nasehat Allah, dan mengutamakan untuk akhiratnya dari amal-amal saleh yang dia mampu, berbeda dengan orang yang iman telah pergi dari hatinya, maka dia tidak peduli dengan keburukan apa yang dilakukannya, dan tidak mengagungkan nasehat-nasehat Allah karena tidak ada yang mengharuskan untuk itu.
Ketika perceraian mungkin menimbulkan kesempitan, kesusahan dan kesedihan, Allah Ta’ala memerintahkan untuk bertakwa kepada-Nya, dan bahwa orang yang bertakwa kepada-Nya dalam perceraian dan lainnya, maka Allah akan menjadikan baginya jalan keluar.
Apabila hamba menginginkan perceraian, lalu melakukannya dengan cara yang disyariatkan, yaitu dengan menjatuhkan satu talak, bukan di masa haid dan bukan di masa suci yang telah disetubuhi padanya, maka urusan tidak menjadi sempit baginya, bahkan Allah menjadikan baginya jalan keluar dan kelapangan yang dengannya dia dapat merujuk nikah jika menyesal atas perceraian.
Ayat ini, meskipun dalam konteks perceraian dan rujuk, namun yang dipegang adalah keumuman lafazh. Maka setiap orang yang bertakwa kepada Allah Ta’ala dan melazimi keridhaan Allah dalam semua keadaannya, maka Allah akan membalasnya di dunia dan akhirat.
Di antara balasannya adalah Allah menjadikan baginya jalan keluar dari setiap kesusahan dan kesukaran. Sebagaimana orang yang bertakwa kepada Allah, Allah menjadikan baginya jalan keluar, maka orang yang tidak bertakwa kepada Allah akan jatuh dalam kesusahan-kesusahan dan belenggu-belenggu yang tidak mampu melepaskan diri dan keluar dari akibatnya. Perhatikanlah itu dalam perceraian: apabila hamba tidak bertakwa kepada Allah padanya, bahkan menjatuhkannya dengan cara yang haram, seperti tiga talak dan semisalnya, maka dia pasti menyesal dengan penyesalan yang tidak dapat diperbaikinya dan tidak dapat keluar darinya.
Firman-Nya Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya artinya: Allah mengalirkan rezeki kepada orang yang bertakwa, dari arah yang tidak disangka dan tidak dirasakannya.
Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah artinya: dalam urusan agama dan dunianya, dengan bergantung kepada Allah dalam mendatangkan apa yang bermanfaat baginya dan menolak apa yang membahayakannya, dan percaya kepada-Nya dalam memudahkan hal itu niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya artinya: mencukupi urusan yang dia serahkan kepada-Nya. Apabila urusan dalam jaminan Yang Maha Kaya, Maha Kuat, Maha Perkasa, Maha Penyayang, maka itu lebih dekat kepada hamba dari segala sesuatu. Tetapi barangkali hikmah Ilahi menghendaki penundaannya sampai waktu yang sesuai baginya. Karena itu Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya artinya: pasti terlaksana ketetapan dan takdir-Nya, tetapi Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu artinya: waktu dan kadar, tidak melampaui dan tidak kurang darinya.
Ayat 4-5
Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (menopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. Yang demikian itu adalah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan memperbesar pahala baginya.
Setelah Allah Ta’ala menyebutkan bahwa perceraian yang diperintahkan adalah untuk masa iddah wanita, Allah Ta’ala menyebutkan masa iddah, maka berfirman:
Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (menopause) di antara perempuan-perempuanmu yaitu yang dahulu haid, kemudian haidnya berhenti karena tua atau sebab lain, dan tidak diharapkan kembali lagi, maka masa iddahnya tiga bulan, dijadikan setiap bulan sebagai ganti satu haid.
Dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid yaitu: gadis-gadis yang belum datang haidnya, dan wanita dewasa yang sama sekali belum pernah haid, maka mereka seperti yang menopause, masa iddahnya tiga bulan. Adapun wanita yang haid, Allah menyebutkan masa iddahnya dalam firman-Nya: Dan wanita-wanita yang diceraikan hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’ (Al-Baqarah: 228).
Firman-Nya: Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka yaitu: masa iddah mereka ialah sampai mereka melahirkan kandungannya yaitu: semua yang ada dalam perutnya, baik satu atau banyak, dan tidak diperhitungkan bulan-bulan atau lainnya.
Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya artinya: orang yang bertakwa kepada Allah Ta’ala, Allah mudahkan baginya urusan-urusan, dan dimudahkan baginya setiap kesulitan.
Yang demikian itu yaitu: hukum yang dijelaskan Allah kepada kalian adalah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu agar kalian berjalan di atasnya, mengikutinya dan menegakkannya serta mengagungkannya.
Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan memperbesar pahala baginya artinya: terelakkan darinya yang ditakuti, dan diperolehnya yang diinginkan.
Ayat 6-7
Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain dapat menyusukan (anak itu) untuknya. Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.
Telah disebutkan sebelumnya bahwa Allah melarang mengeluarkan wanita yang diceraikan dari rumah-rumah, dan di sini Allah memerintahkan untuk menempatkan mereka. Kadar penempatan menurut yang ma’ruf, yaitu rumah yang ditempati orang sepertinya dan seperti dia, menurut kemampuan dan kesempitan suami.
Dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka artinya: janganlah kalian menyusahkan mereka ketika mereka tinggal dengan perkataan atau perbuatan, agar mereka bosan lalu keluar dari rumah sebelum selesai masa iddah, sehingga kalianlah yang mengeluarkan mereka.
Intinya: Allah melarang mengeluarkan mereka, melarang mereka keluar, dan memerintahkan menempatkan mereka dengan cara yang tidak menimbulkan mudharat dan kesukaran bagi mereka, dan itu kembali kepada ‘urf.
Dan jika mereka yaitu: wanita yang diceraikan sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin yaitu karena kandungan yang ada di perutnya, jika dia ba’in, dan untuknya dan kandungannya jika dia raj’iyyah. Batas akhir nafkah hingga mereka melahirkan. Apabila mereka melahirkan, maka entah mereka menyusui anak-anak mereka atau tidak.
Kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya yang telah disebutkan untuk mereka, jika ada yang disebutkan, jika tidak maka upah yang sepadan.
Dan musyawarahkanlah di antara kamu dengan baik artinya: dan hendaklah setiap orang dari kedua suami istri dan selain keduanya memerintahkan yang lain dengan ma’ruf, yaitu segala sesuatu yang di dalamnya ada manfaat dan kemaslahatan di dunia dan akhirat. Karena kelalaian dari saling memerintahkan dengan ma’ruf, akan menimbulkan keburukan dan mudharat yang hanya Allah yang mengetahuinya. Dalam saling memerintahkan ada kerjasama dalam kebaikan dan takwa.
Yang sesuai dengan konteks ini adalah bahwa kedua suami istri ketika berpisah di masa iddah, khususnya jika mereka memiliki anak, pada umumnya terjadi pertengkaran dan perselisihan karena nafkah untuknya dan untuk anak dengan perpisahan yang biasanya tidak terjadi kecuali karena kebencian, dan kebencian mempengaruhi hal yang banyak.
Maka masing-masing dari keduanya diperintahkan dengan ma’ruf, pergaulan yang baik, tidak berselisih dan bertengkar, dan dinasehati untuk itu.
Dan jika kamu menemui kesulitan dengan tidak sepakat atas menyusui anaknya, maka hendaklah wanita lain yang menyusui untuknya maka tidak ada dosa atas kamu jika kamu memberikan pembayaran menurut yang patut (ayat ini ada dalam Al-Baqarah: 233).
Ini jika anak mau menerima puting selain ibunya. Jika anak tidak mau kecuali puting ibunya, maka ibunya wajib menyusuinya, dan wajib atasnya, dan dipaksa jika menolak, dan baginya upah yang sepadan jika keduanya tidak sepakat atas jumlah tertentu.
Ini diambil dari ayat yang mulia dari segi makna, karena anak ketika berada dalam perut ibunya selama masa kehamilan, tidak ada jalan keluar baginya, maka Allah Ta’ala menetapkan atas walinya nafkah. Ketika lahir dan mungkin bisa mendapat makanan dari ibunya dan dari selainnya, Allah Ta’ala membolehkan kedua perkara. Jika dia dalam keadaan tidak mungkin mendapat makanan kecuali dari ibunya, maka seperti kandungan, dan ibunya wajib sebagai jalan untuk makanannya.
Kemudian Allah Ta’ala menentukan nafkah menurut keadaan suami, maka berfirman: Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya artinya: hendaklah orang kaya memberi nafkah dari kekayaannya, maka jangan memberi nafkah seperti orang fakir.
Dan orang yang disempitkan rezekinya artinya: yang disempitkan atasnya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah dari rezeki.
Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya dan ini sesuai dengan hikmah dan rahmat Ilahi di mana Allah menjadikan masing-masing menurut kemampuannya, dan meringankan orang yang sulit, dan bahwa Allah tidak membebankannya kecuali apa yang diberikan-Nya, maka Allah tidak membebankan kepada jiwa kecuali kemampuannya, dalam bab nafkah dan lainnya.
Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan dan ini adalah kabar gembira bagi orang-orang yang kesulitan, bahwa Allah Ta’ala akan menghilangkan dari mereka kesusahan, dan mengangkat dari mereka kesukaran, karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Asy-Syarh: 5-6).
Ayat 8-11
Dan betapa banyak kota yang mendurhakai perintah Tuhannya dan rasul-rasul-Nya, maka Kami hisab mereka dengan perhitungan yang keras, dan Kami siksa mereka dengan siksaan yang mengerikan. Maka mereka merasakan akibat buruk dari perbuatan mereka, dan adalah akibat dari urusan mereka itu kerugian yang nyata. Allah telah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang berakal yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan kepadamu suatu peringatan, (yaitu) seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang menerangkan (bermacam-macam hukum) supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh dari kegelapan kepada cahaya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; sesungguhnya Allah memberikan rezeki yang baik baginya.
Allah Ta’ala mengabarkan tentang kebinasaan-Nya terhadap umat-umat yang durhaka dan generasi-generasi yang mendustakan rasul-rasul, bahwa banyaknya mereka dan kekuatan mereka tidak bermanfaat bagi mereka sedikitpun, ketika datang kepada mereka perhitungan yang keras dan azab yang pedih, dan bahwa Allah merasakan kepada mereka azab yang merupakan akibat dari perbuatan buruk mereka.
Bersama azab dunia, Allah telah menyediakan bagi mereka di akhirat azab yang keras. Maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang berakal artinya: hai pemilik akal yang memahami dari Allah ayat-ayat-Nya dan pelajaran-pelajaran-Nya, dan bahwa yang membinasakan generasi-generasi terdahulu dengan pendustaan mereka, bahwa orang-orang sesudah mereka seperti mereka, tidak ada perbedaan antara kedua kelompok.
Kemudian Allah menyebut hamba-hamba-Nya yang beriman dengan apa yang diturunkan kepada mereka dari kitab-Nya, yang diturunkan kepada rasul-Nya Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, untuk mengeluarkan makhluk dari kegelapan kekufuran, kejahilan dan kemaksiatan, kepada cahaya ilmu, iman dan ketaatan. Dari manusia, ada yang beriman kepadanya, dan ada yang tidak beriman kepadanya.
Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh dari kewajiban-kewajiban dan sunnah-sunnah. Niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai di dalamnya nikmat yang kekal, yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; sesungguhnya Allah memberikan rezeki yang baik baginya yaitu: dan orang yang tidak beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka mereka adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.
Ayat 12
Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.
Kemudian Allah mengabarkan bahwasanya Dia menciptakan makhluk dari tujuh langit dan siapa yang ada di dalamnya dan tujuh bumi dan siapa yang ada di dalamnya, dan apa yang ada di antara keduanya, dan menurunkan perintah, yaitu syariat-syariat dan hukum-hukum agama yang diwahyukan kepada rasul-rasul-Nya untuk mengingatkan dan menasehati hamba-hamba, dan juga perintah-perintah kauniyyah dan qadariiyyah yang dengannya Dia mengatur makhluk, semua itu agar hamba-hamba mengenal-Nya dan mengetahui meliputi kuasa-Nya terhadap semua hal, dan meliputi ilmu-Nya terhadap semua perkara.
Apabila mereka mengenal-Nya dengan sifat-sifat-Nya yang suci dan nama-nama-Nya yang husna dan menyembah-Nya dan mencintai-Nya dan menunaikan hak-Nya, maka inilah tujuan yang dimaksud dari penciptaan dan perintah: mengenal Allah dan menyembah-Nya. Maka yang melakukan itu adalah hamba-hamba Allah yang saleh yang diberi taufik, dan yang berpaling dari itu adalah orang-orang zalim yang berpaling.
[Selesai tafsirnya dan segala puji bagi Allah]
(Surat ini Madaniyah)
Ayat 1-5
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Wahai Nabi, mengapa engkau mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah bagimu? Engkau mencari keridhaan istri-istrimu, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi kamu sekalian cara menghalalkan sumpah-sumpah kamu, dan Allah adalah pelindung kamu, dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang istri-istrinya (Hafsah) suatu peristiwa, maka ketika (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu kepada (Muhammad), lalu dia (Muhammad) memberitahukan sebagian (yang diceritakan itu) dan menyembunyikan sebagian yang lain. Maka ketika (Muhammad) memberitahukan kepadanya (Hafsah) tentang hal itu, dia (Hafsah) berkata, ‘Siapa yang memberitahukan hal ini kepadamu?’ Dia (Muhammad) menjawab, ‘Yang memberitahukan kepadaku adalah (Allah) Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.’ Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sungguh hati kamu berdua telah condong (untuk berbuat salah), dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya, dan (demikian pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang saleh; dan selain itu malaikat-malaikat adalah penolongnya (pula). Mudah-mudahan, jika dia menceraikan kamu, Tuhan akan memberinya ganti istri-istri yang lebih baik dari kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang beribadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.”
Ini adalah teguran dari Allah kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika beliau mengharamkan atas dirinya sendiri budak perempuannya “Mariyah” atau minum madu, demi memperhatikan perasaan sebagian istri-istrinya, dalam kisah yang terkenal. Maka Allah Yang Maha Tinggi menurunkan ayat-ayat ini: “Wahai Nabi” yaitu: wahai orang yang telah dikaruniai Allah dengan kenabian, wahyu, dan risalah “mengapa engkau mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah bagimu” dari hal-hal yang baik, yang telah Allah karuniakan kepadamu dan kepada umatmu.
“Engkau mencari” dengan pengharaman tersebut “keridhaan istri-istrimu, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” Ini adalah pernyataan tegas bahwa Allah telah mengampuni Rasul-Nya, mengangkat celaan dari beliau, dan merahmatinya. Pengharaman yang dilakukan beliau itu menjadi sebab disyariatkannya hukum umum bagi seluruh umat. Maka Allah berfirman menetapkan hukum umum untuk semua sumpah:
“Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi kamu sekalian cara menghalalkan sumpah-sumpah kamu” yaitu: sesungguhnya Allah telah mensyariatkan bagi kalian, dan menentukan cara untuk membatalkan sumpah-sumpah kalian sebelum melanggarnya, dan cara kaffarah (denda) setelah melanggarnya, sebagaimana dalam firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengharamkan apa yang baik yang telah dihalalkan Allah bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas” hingga firman-Nya: “Maka kaffarahnya ialah memberi makan sepuluh orang miskin dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak mampu melakukannya, maka (kaffarahnya) berpuasa tiga hari. Demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpah kamu apabila kamu bersumpah”.
Maka siapa saja yang mengharamkan yang halal atasnya, berupa makanan atau minuman atau budak perempuan, atau bersumpah atas nama Allah untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu, kemudian melanggarnya atau berniat melanggarnya, maka wajib atasnya kaffarat yang disebutkan ini. Dan firman-Nya: “dan Allah adalah pelindung kamu” yaitu: Yang mengatur urusan-urusan kalian, dan mendidik kalian dengan pendidikan terbaik, dalam urusan agama dan dunia kalian, dan hal-hal yang menolak keburukan dari kalian. Oleh karena itu, Allah menetapkan bagi kalian cara menghalalkan sumpah-sumpah kalian, agar kewajiban kalian terbebas. “dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” Yang ilmu-Nya meliputi lahir dan batin kalian, dan Dia Maha Bijaksana dalam semua yang diciptakan-Nya dan dihukumi-Nya. Oleh karena itu, Dia mensyariatkan bagi kalian hukum-hukum yang Dia ketahui sesuai dengan kemaslahatan kalian dan cocok dengan keadaan kalian.
Dan firman-Nya: “Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang istri-istrinya suatu peristiwa” Banyak mufassir berkata: dia adalah Hafsah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kepadanya suatu hadits secara rahasia, dan memerintahkan agar tidak memberitahukannya kepada siapa pun. Namun dia menceritakannya kepada Aisyah radhiyallahu ‘anhuma. Allah memberitahukan kepada beliau tentang berita yang disebarkannya itu. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukannya tentang sebagian dari yang dia katakan, dan mengabaikan sebagian yang lain, karena kemuliaan dan kesabaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Dia (Hafsah) berkata” kepadanya: “Siapa yang memberitahukan hal ini” kepadamu, berita yang tidak keluar dari kami? “Dia (Muhammad) menjawab, ‘Yang memberitahukan kepadaku adalah (Allah) Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal'” Yang tidak tersembunyi bagi-Nya sesuatu pun, yang mengetahui yang tersembunyi dan yang lebih tersembunyi.
Dan firman-Nya: “Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sungguh hati kamu berdua telah condong (untuk berbuat salah)” Khitab ini ditujukan kepada dua istri mulia dari istri-istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Aisyah dan Hafsah radhiyallahu ‘anhuma. Keduanya menjadi penyebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharamkan atas dirinya apa yang beliau sukai. Allah menawarkan tobat kepada keduanya, dan menegur keduanya atas hal itu, serta memberitahukan bahwa hati keduanya telah condong, yaitu: menyimpang dan menyimpang dari apa yang seharusnya bagi mereka berupa wara’ dan adab terhadap Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam serta menghormatinya, dan tidak menyusahkannya. “dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi” yaitu: saling membantu dalam hal yang menyusahkannya, dan hal ini terus berlanjut dari kalian, “maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya, dan (demikian pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang saleh; dan selain itu malaikat-malaikat adalah penolongnya (pula)” yaitu: semuanya adalah penolong Rasul, yang mendukungnya. Dan siapa yang memiliki penolong-penolong seperti ini, maka dia yang menang, sedangkan selainnya yang memusuhinya akan terhina. Dalam hal ini terdapat keutamaan dan kemuliaan terbesar bagi sayyidul mursalin (pemimpin para rasul), dimana Allah Yang Maha Mulia menjadikan Diri-Nya sendiri dan makhluk-makhluk pilihan-Nya sebagai penolong bagi Rasul yang mulia ini. Dalam hal ini terdapat peringatan bagi kedua istri mulia yang tidak tersembunyi. Kemudian Allah juga menakut-nakuti keduanya dengan keadaan yang sangat menyusahkan bagi para wanita, yaitu perceraian, yang merupakan hal terberat bagi mereka. Allah berfirman: “Mudah-mudahan, jika dia menceraikan kamu, Tuhan akan memberinya ganti istri-istri yang lebih baik dari kamu”.
“Mudah-mudahan, jika dia menceraikan kamu, Tuhan akan memberinya ganti istri-istri yang lebih baik dari kamu” yaitu: janganlah kalian berlaku sombong terhadapnya, karena seandainya dia menceraikan kalian, urusannya tidak akan menjadi sempit, dan dia tidak akan membutuhkan kalian, karena dia akan mendapatkan dan Allah akan menggantikannya dengan istri-istri yang lebih baik dari kalian dalam agama dan kecantikan. Ini termasuk ta’liq (pengandaian) yang tidak terjadi, dan tidak mesti terjadi, karena beliau tidak menceraikan mereka. Dan seandainya beliau menceraikan mereka, niscaya terjadi apa yang disebutkan Allah tentang istri-istri utama ini, yang menggabungkan antara Islam yaitu melaksanakan syariat-syariat lahir, dan iman yaitu melaksanakan syariat-syariat batin berupa akidah dan amal-amal hati.
Qunuut adalah kesinambungan dan kontinuitas ketaatan “yang bertobat” dari apa yang dibenci Allah. Allah menyifati mereka dengan melaksanakan apa yang dicintai Allah, dan bertobat dari apa yang dibenci Allah, “yang janda dan yang perawan” yaitu: sebagian mereka janda, dan sebagian perawan, agar beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bervariasi dalam apa yang beliau sukai. Ketika mereka radhiyallahu ‘anhunna mendengar ancaman dan pendidikan ini, mereka segera berusaha meraih keridhaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka sifat-sifat ini pun sesuai dengan mereka, dan mereka menjadi wanita-wanita terbaik di antara para wanita mukmin. Dalam hal ini terdapat dalil bahwa Allah tidak memilih untuk Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali keadaan yang paling sempurna dan perkara yang paling tinggi. Ketika Allah memilih untuk Rasul-Nya tetapnya istri-istri yang disebutkan bersamanya, ini menunjukkan bahwa mereka adalah sebaik-baik wanita dan paling sempurna di antara mereka.
Ayat 6
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Yaitu: wahai orang-orang yang dikaruniai Allah dengan iman, lakukanlah kewajiban-kewajiban dan syarat-syaratnya.
Maka “peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” yang disifati dengan sifat-sifat mengerikan ini. Memelihara diri adalah dengan mewajibkannya melaksanakan perintah Allah, dan melaksanakan perintah-Nya dengan patuh serta menjauhi larangan-Nya, dan bertobat dari apa yang memurkai Allah dan mewajibkan azab. Memelihara keluarga dan anak-anak dengan mendidik dan mengajari mereka, serta memaksa mereka melaksanakan perintah Allah. Hamba tidak akan selamat kecuali jika dia melaksanakan apa yang diperintahkan Allah atasnya pada dirinya, dan pada yang masuk di bawah wewenangnya berupa istri-istri, anak-anak, dan lainnya yang berada di bawah wewenang dan kekuasaannya.
Allah menyifati neraka dengan sifat-sifat ini untuk mencegah hamba-hamba-Nya dari meremehkan perintah-Nya. Allah berfirman: “yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” sebagaimana Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah umpan jahannam, kamu pasti akan memasukinya”.
“penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras” yaitu: kasar akhlak mereka, besar hardikan mereka, mereka menakutkan dengan suara-suara mereka dan menakutkan dengan penampilan mereka, dan mereka menghinakan penghuni neraka dengan kekuatan mereka, serta melaksanakan pada mereka perintah Allah, yang telah menetapkan atas mereka azab dan mewajibkan atas mereka beratnya siksa. “yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” Dan dalam hal ini juga terdapat pujian bagi malaikat-malaikat yang mulia, dan kepatuhan mereka terhadap perintah Allah, serta ketaatan mereka kepada-Nya dalam segala yang diperintahkan-Nya kepada mereka.
Ayat 7
“Wahai orang-orang kafir! Janganlah kamu mencari-cari alasan pada hari ini. Sesungguhnya kamu hanya diberi pembalasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.”
Yaitu: penghuni neraka pada hari kiamat dicela dengan celaan ini, dikatakan kepada mereka: “Wahai orang-orang kafir! Janganlah kamu mencari-cari alasan pada hari ini” yaitu: karena waktu untuk mencari alasan telah berlalu, dan manfaatnya telah hilang. Yang ada sekarang hanyalah pembalasan atas perbuatan-perbuatan, dan kalian tidak mendahulukan kecuali kekufuran kepada Allah, pendustaan terhadap ayat-ayat-Nya, dan memerangi rasul-rasul dan wali-wali-Nya.
Ayat 8
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahan kamu dan memasukkan kamu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersamanya; cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.'”
Allah telah memerintahkan tobat nasuha dalam ayat ini, dan menjanjikan atasnya penghapusan kesalahan-kesalahan, masuk surga, dan kemenangan serta keberuntungan, ketika orang-orang mukmin berjalan pada hari kiamat dengan cahaya iman mereka, dan berjalan dengan sinarnya, serta menikmati rohani dan ketenangannya. Mereka khawatir ketika cahaya-cahaya yang tidak diberikan kepada orang-orang munafik itu padam, dan mereka meminta kepada Allah agar menyempurnakan cahaya mereka. Allah mengabulkan doa mereka, dan menyampaikan mereka dengan cahaya dan keyakinan yang ada pada mereka ke surga-surga kenikmatan, dan bertetangga dengan Tuhan Yang Maha Mulia. Semua ini adalah dampak dari tobat nasuha.
Yang dimaksud dengan tobat nasuha adalah: tobat yang umum dan menyeluruh terhadap semua dosa, yang diikat hamba untuk Allah, tidak menginginkan dengan itu kecuali wajah-Nya dan mendekat kepada-Nya, dan istiqamah atasnya dalam semua keadaannya.
Ayat 9
“Wahai Nabi! Berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”
Allah Yang Maha Tinggi memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berjihad melawan orang-orang kafir dan munafik, dan bersikap keras kepada mereka dalam hal itu. Ini mencakup jihad mereka dengan menegakkan hujjah atas mereka dan menyeru mereka dengan nasihat yang baik, membatalkan apa yang mereka anut berupa berbagai kesesatan, dan memerangi mereka dengan senjata dan perang bagi siapa yang menolak memenuhi seruan Allah dan tunduk pada hukum-Nya. Orang seperti ini diperangi dan diperlakukan keras, sedangkan tingkatan pertama dilakukan dengan cara yang lebih baik. Orang-orang kafir dan munafik mendapat azab di dunia dengan Allah menguatkan Rasul-Nya dan golongannya atas jihad dan perang melawan mereka, dan azab neraka di akhirat. Seburuk-buruk tempat kembali, yang menjadi tempat kembali setiap orang celaka yang merugi.
Ayat 10-12
“Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir istri Nuh dan istri Luth. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): ‘Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)’. Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman istri Fir’aun, ketika ia berkata: ‘Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim’. Dan (Allah membuat perumpamaan juga) Maryam putri ‘Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya roh dari Kami, dan ia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya, dan ia adalah termasuk orang-orang yang taat.”
Inilah dua perumpamaan yang dibuat Allah untuk orang-orang mukmin dan kafir, untuk menjelaskan kepada mereka bahwa hubungan orang kafir dengan orang mukmin dan kedekatannya dengannya tidak memberinya manfaat apa pun, dan bahwa hubungan orang mukmin dengan orang kafir tidak merugikannya apa pun selama dia melaksanakan kewajiban yang harus dilakukannya.
Seakan-akan dalam hal itu terdapat isyarat dan peringatan bagi istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kemaksiatan, dan bahwa hubungan mereka dengan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bermanfaat apa pun bagi mereka ketika berbuat buruk. Allah berfirman:
“Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir istri Nuh dan istri Luth. Keduanya” yaitu: kedua wanita itu “berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami” yaitu Nuh dan Luth ‘alaihimas salam.
“lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya” dalam agama, yaitu keduanya menganut agama yang berbeda dari agama suami mereka masing-masing. Inilah yang dimaksud dengan khianat, bukan khianat dalam nasab dan tempat tidur, karena tidak pernah ada istri nabi yang berbuat zina, dan Allah tidak akan menjadikan istri salah seorang dari nabi-nabi-Nya sebagai pezina. “maka kedua suaminya itu” yaitu: Nuh dan Luth “tiada dapat membantu mereka” yaitu: kedua istri mereka “sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan” kepada keduanya “‘Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)'”.
“Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman istri Fir’aun” yaitu Asiyah binti Muzahim radhiyallahu ‘anha “ketika ia berkata: ‘Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim'” Allah menyifatinya dengan iman dan bermunajat kepada Tuhannya, dan permintaannya kepada Tuhannya akan tujuan yang paling mulia, yaitu masuk surga, dan bertetangga dengan Tuhan Yang Maha Mulia, serta permintaannya agar Allah menyelamatkannya dari fitnah Fir’aun dan perbuatan-perbuatannya yang buruk, dan dari fitnah setiap orang zalim. Allah mengabulkan doanya, maka dia hidup dalam iman yang sempurna, keteguhan yang penuh, dan keselamatan dari fitnah-fitnah. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Telah sempurna dari kalangan laki-laki banyak orang, dan tidak sempurna dari kalangan wanita kecuali Maryam binti Imran, Asiyah binti Muzahim, Khadijah binti Khuwailid, dan keutamaan Aisyah atas para wanita seperti keutamaan tsarid (makanan yang dicampur dengan kuah) atas seluruh makanan”.
Dan firman-Nya “Dan (Allah membuat perumpamaan juga) Maryam putri ‘Imran yang memelihara kehormatannya” yaitu: menjaganya dan memeliharanya dari perbuatan keji, karena kesempurnaan agamanya, kesuciannya, dan ketinggiannya.
“maka Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya roh dari Kami” yaitu Jibril ‘alaihis salam meniup ke dalam kerah bajunya, maka tiupannya sampai kepada Maryam, lalu lahir darinya Isa ibnu Maryam ‘alaihis salam, rasul yang mulia dan pemimpin yang agung.
“dan ia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya” Dan ini adalah sifat baginya dengan ilmu dan ma’rifah, karena membenarkan kalimat-kalimat Allah mencakup kalimat-kalimat-Nya yang bersifat agama dan takdir, dan membenarkan kitab-kitab-Nya mengharuskan pengetahuan tentang apa yang dengannya terjadi pembenaran, dan hal itu tidak terjadi kecuali dengan ilmu dan amal. Oleh karena itu Allah berfirman “dan ia adalah termasuk orang-orang yang taat” yaitu: orang-orang yang taat kepada Allah, yang berkesinambungan dalam ketaatan kepada-Nya dengan rasa takut dan khusyu’. Ini adalah sifat baginya dengan kesempurnaan amal, karena dia radhiyallahu ‘anha adalah seorang shiddiqah (wanita yang sangat jujur), dan shiddiqiyyah adalah kesempurnaan ilmu dan amal.
Selesai, dan segala puji bagi Allah.







