قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ (ت: ٧٥١ هـ)-رَحِمَهُ اللَّهُ-: «الْفَقْرُ فِقْرَانِ: فَقْرٌ اضْطِرَارِيٌّ، وَهُوَ فَقْر عامٌّ لَا خُرُوجَ لِبَرٍّ وَلَا فَاجِرٍ عَنْهُ، وَهَٰذَا لَا يَقْتَضِي مَدْحًا وَلَا ذَمًّا وَلَا ثَوَابًا وَلَا عِقَابًا، بَلْ هُوَ بِمَنْزِلَةِ كَوْنِ الْمَخْلُوقِ مَخْلُوقًا وَمَصْنُوعًا. وَالْفَقْرُ الثَّانِي فَقْرٌ اخْتِيَارِيٌّ، هُوَ نَتِيجَةُ عِلْمَيْنِ شَرِيفَيْنِ: أَحَدُهُمَا: مَعْرِفَةُ الْعَبْدِ بِرَبِّهِ، وَالثَّانِي: مَعْرِفَتُهُ بِنَفْسِهِ. فَمَتَىٰ حَصَلَتْ لَهُ هَاتَانِ الْمَعْرِفَتَانِ، أَنتَجَتَا لَهُ فَقْرًا هُوَ عَيْنُ غِنَاهُ وَعُنْوَانُ فَلَاحِهِ وَسَعَادَتِهِ»
Ibnul Qayyim (wafat 751 H)—semoga Allah merahmatinya—berkata:
_”Kemiskinan ada dua jenis: pertama, kemiskinan mendesak/paksa (idhthirari), yaitu kemiskinan umum yang tidak ada jalan keluar bagi orang baik maupun jahat darinya. Ini tidak menuntut pujian maupun celaan, pahala maupun siksaan, melainkan statusnya seperti keberadaan makhluk sebagai ciptaan. Kedua, kemiskinan pilihan (ikhtiyari), yaitu hasil dari dua ilmu yang mulia:
(1) pengenalan hamba kepada Tuhannya, dan
(2) pengenalannya terhadap dirinya sendiri.
Apabila kedua pengetahuan itu telah ia dapatkan, maka keduanya melahirkan ‘kemiskinan’ yang justru merupakan sumber kekayaannya, lambang keberuntungannya, dan kebahagiaannya.”_
(Thariq al-Hijratain hlm. 9)
Ibnu Qayyim membedakan antara ketergantungan alami dan ketergantungan sadar. Secara alami, semua manusia adalah “fakir” (butuh) kepada Allah untuk bisa bernapas dan hidup; ini adalah kondisi default makhluk. Namun, yang luar biasa adalah “Kemiskinan Pilihan”. Ini adalah kondisi di mana seseorang secara sadar mengakui bahwa dirinya tidak punya apa-apa dan tidak bisa apa-apa tanpa Allah. Pengakuan inilah yang justru membuat seseorang menjadi sangat kuat dan kaya secara mental, karena ia tidak lagi bergantung pada dunia, melainkan hanya pada Pemilik dunia.
Pelajaran Penting
1️⃣. Hakikat Makhluk
Kita semua pada dasarnya adalah fakir. Kaya atau miskin secara materi, kita tetaplah makhluk yang butuh penciptaan dan pemeliharaan dari Allah setiap detik.
2️⃣. Dua Kunci Ma’rifat
Kebahagiaan sejati dimulai dari dua ilmu:
Mengenal Allah yaitu Mengenal kesempurnaan, kekuasaan, dan kekayaan-Nya yang mutlak.
Mengenal Diri yaitu Mengakui kelemahan, kekurangan, dan ketiadaan daya diri sendiri.
3️⃣. Paradoks Spiritual
Semakin seseorang merasa “miskin” dan butuh di hadapan Allah, maka ia akan semakin “kaya” (tidak butuh/qana’ah) di hadapan manusia. Inilah yang disebut beliau sebagai ‘Ainu Ghinahu (inti kekayaan).
4️⃣. Kemerdekaan Jiwa
Orang yang memilih untuk menjadi “fakir” di hadapan Allah tidak akan pernah diperbudak oleh harta, jabatan, atau pujian manusia, karena ia tahu semua itu bukan miliknya.
5️⃣. Indikator Keberuntungan
Tanda seseorang telah mencapai derajat falah (keberuntungan) adalah ketika ia merasa sangat tenang dalam kepasrahan total kepada Allah, bukan pada usaha dirinya sendiri semata.
Sangat mendalam melihat bagaimana Ibnu Qayyim membalikkan logika umum: bahwa merasa lemah di hadapan Allah adalah kekuatan terbesar manusia.
Penulis : Ustadz Kholid Syamhudi Hafidzahullah Ta’ala







