QADA DAN QADAR
القَضَاءُ وَالقَدَرُ
Penulis:
Umar bin Sulaiman bin Abdullah Al-Asyqar Al-Utaibi
Terjemah:
Muhamad Abid Hadlori, S.Ag.,Lc.
BAB PERTAMA: IMAN KEPADA QADAR ADALAH SALAH SATU POKOK KEIMANAN
Iman kepada qadar adalah salah satu pokok keimanan yang tidak akan sempurna iman seorang hamba kecuali dengan beriman kepadanya. Dalam Shahih Muslim dari hadits Umar bin Khattab tentang pertanyaan Jibril kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai iman, beliau bersabda: “Yaitu engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan engkau beriman kepada qadar yang baik dan yang buruk.” Jibril berkata: “Engkau benar.”
Nash-nash yang memberitakan tentang kekuasaan Allah atau yang memerintahkan beriman kepada qadar sangat banyak. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala: “Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut qadar.” (QS. Al-Qamar: 49). Dan firman-Nya: “Dan ketetapan Allah itu adalah qadar yang sudah ditetapkan.” (QS. Al-Ahzab: 38). Dan firman-Nya: “Tetapi supaya Allah melaksanakan urusan yang mesti terjadi.” (QS. Al-Anfal: 42). Dan Allah berfirman: “Dan Dia menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat.” (QS. Al-Furqan: 2). Dan Allah berfirman: “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi, Yang menciptakan, lalu menyempurnakan (ciptaan-Nya), dan Yang menentukan qadar lalu memberi petunjuk.” (QS. Al-A’la: 1-3).
Muslim meriwayatkan dalam shahihnya dari Thawus, dia berkata: “Aku mendapati orang-orang dari kalangan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Segala sesuatu adalah dengan qadar, hingga kelemahan dan kecerdasan, atau kecerdasan dan kelemahan.”
Muslim juga meriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata: “Orang-orang musyrik Quraisy datang untuk bersilat lidah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai qadar, maka turunlah ayat:” “(Ingatlah) pada hari mereka diseret ke dalam neraka atas muka mereka. (Dikatakan kepada mereka,) ‘Rasakanlah sentuhan (azab) Saqar.’ Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut qadar.” (QS. Al-Qamar: 48-49).
Nash-nash mengenai hal itu sangat banyak sekali. Sesungguhnya nash-nash yang menunjukkan ilmu Allah, kekuasaan-Nya, kehendak-Nya, dan penciptaan-Nya menunjukkan qadar-Nya Tabaraka wa Ta’ala. Qadar mencakup iman kepada ilmu Allah, kehendak-Nya, dan penciptaan-Nya, sebagaimana akan dijelaskan nanti, beserta penyebutan nash-nash yang berkenaan dengan hal tersebut.
Qadar menunjukkan dari segi pengertiannya—sebagaimana yang dikatakan Ar-Raghib Al-Ashfahani yang dinukil oleh Ibn Hajar Al-Asqalani—terhadap kekuasaan dan terhadap yang diqddarkan yang ada dengan ilmu.
Allah Ta’ala memiliki kekuasaan mutlak, dan kekuasaan-Nya tidak ada yang mengalahkannya. Di antara nama-nama-Nya Tabaraka wa Ta’ala adalah Al-Qadir, Al-Qadir, dan Al-Muqtadir. Kekuasaan adalah salah satu sifat-Nya.
Al-Qadir adalah isim fa’il dari qadara yaqdir.
Al-Qadir adalah bentuk fa’il darinya, yang menunjukkan makna mubalaghah (berlebihan). Makna Al-Qadir adalah Yang berbuat apa yang dikehendaki-Nya, sesuai dengan kadar yang dikehendaki hikmah, tidak lebih dan tidak kurang. Oleh karena itu, tidak sah disifatkan kepada selain Allah Azza wa Jalla. Allah Ta’ala berfirman: “Sungguh, Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Ahqaf: 33).
Al-Muqtadir adalah bentuk muftaʻil dari iqtadara, yang lebih balaghah (berlebihan) dari qadir. Darinya adalah firman-Nya: “di tempat yang benar di sisi Raja Yang Mahakuasa.” (QS. Al-Qamar: 55).
Imam Ahmad rahimahullah ditanya tentang qadar, maka dia berkata: “Qadar adalah kekuasaan Allah.” Ibnu Qoyyim berkata: “Imam Ahmad berkata: Qadar adalah kekuasaan Allah. Ibnu Aqil sangat mengagumi perkataan ini dan berkata: Ini menunjukkan ketajaman Ahmad dan kedalaman pengetahuannya dalam mengetahui pokok-pokok agama. Dan memang seperti yang dikatakan Abu Al-Wafa, sesungguhnya mengingkarinya adalah mengingkari kekuasaan Rabb untuk menciptakan perbuatan-perbuatan hamba, menuliskannya, dan menetapkannya.”
Ibnu Qoyyim menuangkan makna ini dalam syair:
Hakikat qadar yang membingungkan manusia
mengenai urusannya adalah kekuasaan Ar-Rahman
Ibnu Aqil mengagumi hal ini dari Ahmad
ketika dia menceritakannya dari Ar-Ridha Ar-Rabbani
Imam berkata, menyembuhkan hati dengan lafaz
yang ringkas namun penuh penjelasan
Oleh karena itu, orang-orang yang mendustakan qadar tidak menetapkan kekuasaan Allah Ta’ala. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Barangsiapa yang tidak berkata dengan pendapat salaf, maka dia tidak menetapkan kekuasaan bagi Allah, dan tidak menetapkan-Nya sebagai Yang Mahakuasa seperti Jahmiyah dan pengikut mereka, serta Mu’tazilah yang memaksa dan menafikan. Hakikat perkataan mereka adalah bahwa Dia tidak berkuasa dan tidak memiliki kerajaan. Sesungguhnya kerajaan itu adalah kekuasaan, atau yang dikuasai, atau keduanya. Dalam setiap hal, harus ada kekuasaan. Barangsiapa yang tidak menetapkan kekuasaan hakiki bagi-Nya, maka dia tidak menetapkan kerajaan bagi-Nya.”
Orang-orang yang mendustakan qadar tidak mengesakan Allah Azza wa Jalla. Sesungguhnya penafik qadar “mereka berkata: pencipta kebaikan adalah selain pencipta keburukan. Yang berada dalam agama kami di antara mereka berkata: Sesungguhnya dosa-dosa yang terjadi tidak terjadi dengan kehendak Allah Ta’ala, dan mungkin mereka berkata: Dia juga tidak mengetahuinya. Mereka berkata: Sesungguhnya semua perbuatan hewan terjadi tanpa kekuasaan-Nya dan tanpa ciptaan-Nya. Maka mereka mengingkari kehendak-Nya yang berlaku dan kekuasaan-Nya yang menyeluruh. Oleh karena itu, Ibnu Abbas berkata: Qadar adalah sistem tauhid. Barangsiapa yang mengesakan Allah dan beriman kepada qadar, maka sempurnalah tauhidnya. Barangsiapa yang mengesakan Allah tetapi mendustakan qadar, maka pendustakanya itu merusak tauhidnya.”
Para ulama telah bersepakat untuk menetapkan qadar dan menegaskan wajibnya beriman kepadanya. Tidak ada seorang ulama pun dari ulama Ahlus Sunnah yang merupakan pemimpin hidayah dan cahaya dalam kegelapan kecuali dia menegaskan wajibnya beriman kepadanya, dan membid’ahkan serta mencela orang yang mengingkarinya dan menolaknya.
An-Nawawi rahimahullah berkata dalam syarahnya terhadap hadits-hadits qadar dari Shahih Muslim: “Dalam semua hadits ini terdapat dalil-dalil yang jelas bagi mazhab Ahlus Sunnah dalam menetapkan qadar, dan bahwa semua yang terjadi adalah dengan qada dan qadar Allah, yang baik dan yang buruk, yang bermanfaat dan yang merugikan.”
Dia berkata di tempat lain: “Dalil-dalil qath’i dari Al-Quran dan As-Sunnah serta ijma’ sahabat dan para ulama dari kalangan salaf dan khalaf telah jelas dalam menetapkan qadar Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Mazhab salaf seluruhnya adalah bahwa semua urusan adalah dengan takdir Allah Ta’ala, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan tidak ada sesuatu pun kecuali pada sisi Kami-lah khazanahnya, dan Kami tidak menurunkannya kecuali dengan ukuran yang tertentu.” (QS. Al-Hijr: 21).
BAB KEDUA: PANDANGAN SEJARAH QADAR
Iman kepada qadar adalah salah satu pokok keimanan. Al-Quran dan As-Sunnah telah menjelaskan konsep qadar, dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa beramal dan mengambil sebab-sebab adalah bagian dari qadar, tidak menafikan dan tidak bertentangan dengannya. Beliau memperingatkan umatnya dari orang-orang yang mendustakan qadar atau menentangkan syariat dengannya.
Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat marah ketika suatu hari beliau keluar menemui para sahabatnya sedang berselisih tentang qadar, hingga wajahnya memerah, seakan-akan buah delima dipecahkan di pipinya. Beliau bersabda: “Apakah dengan ini kalian diperintahkan, atau dengan ini aku diutus kepada kalian? Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa ketika mereka berselisih dalam perkara ini. Aku bertekad kepada kalian agar tidak berselisih dalam hal ini.”
Para sahabat radhiyallahu ‘anhum merespon tekad nabi mereka dan arahannya, sehingga tidak diketahui ada seorang pun di antara mereka yang berselisih tentang qadar semasa hidup Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam atau setelah wafatnya.
Tidak sampai kepada kita bahwa seorang Muslim pun berselisih tentang qadar pada masa khalifah yang empat: Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Yang sampai kepada kita hanyalah bahwa Abu Ubaidah Amir bin Jarrah keberatan terhadap kembalinya Umar bersama orang-orang dari memasuki Syam ketika wabah menyebar di sana. Dia berkata kepada Umar bin Khattab: “Wahai Amirul Mukminin, apakah ini lari dari qadar Allah?” Umar menjawab: “Seandainya selain engkau yang mengatakannya wahai Abu Ubaidah. Ya, kita lari dari qadar Allah menuju qadar Allah. Bagaimana pendapatmu jika engkau memiliki unta yang turun ke lembah yang memiliki dua sisi: satu subur dan yang lain tandus. Bukankah jika engkau menggembalakan di yang subur dengan qadar Allah, dan jika engkau menggembalakan di yang tandus juga dengan qadar Allah?”
Al-Lalikai meriwayatkan bahwa Umar bin Khattab berkhutbah kepada manusia di Al-Jabiyah (dari tanah Syam). Dalam khutbahnya dia berkata: “Barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada yang memberi petunjuk kepadanya.” Seorang Jatsaliq berada di hadapannya, lalu dia berkata: “Sesungguhnya Allah tidak menyesatkan seorang pun.” Ketika Umar bin Khattab mengulanginya, Jatsaliq itu mengibaskan bajunya mengingkari perkataan Umar.
Umar berkata kepadanya setelah perkataannya diterjemahkan: “Engkau berdusta wahai musuh Allah! Allah menciptakanmu, dan Allah menyesatkanmu, kemudian mematikanmu, lalu memasukkanmu ke neraka jika Allah berkehendak… Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk, dan berkata ketika menciptakan Adam: Dia menebarkan keturunannya di tangan-Nya, dan menulis ahli surga beserta apa yang mereka kerjakan, dan menulis ahli neraka beserta apa yang mereka kerjakan, kemudian berkata: ‘Ini untuk ini, dan ini untuk ini.'” Maka berpisahlah manusia dan tidak ada dua orang yang berselisih tentang qadar.
Orang pertama yang membicarakan qadar adalah seorang laki-laki dari Bashrah yang bekerja sebagai pedagang sayur bernama Sansawaih. Al-Auza’i berkata: “Orang pertama yang berbicara tentang qadar adalah seorang laki-laki dari Irak bernama Susan. Dia adalah seorang Nasrani yang masuk Islam, kemudian murtad kembali menjadi Nasrani. Ma’bad Al-Juhani mengambil darinya, dan Ghailan mengambil dari Ma’bad.”
Yunus bin Ubaid berkata: “Aku mendapati Bashrah dan tidak ada Qadariyah di sana kecuali Sansawaih, Ma’bad Al-Juhani, dan seorang lagi yang terlaknat dari Bani Awafah.”
Muslim meriwayatkan dalam shahihnya dari Buraidah bin Yahya bin Ya’mar, dia berkata: “Orang pertama yang berkata dengan qadar di Bashrah adalah Ma’bad Al-Juhani.” Buraidah menyebutkan dalam haditsnya bahwa Ma’bad dan pengikutnya mengklaim “bahwa tidak ada qadar, dan bahwa urusan itu baru.”
Para sahabat yang masih hidup pada waktu itu seperti Abdullah bin Umar, Ibnu Abbas, Watsilah bin Al-Asqa’, Jabir bin Abdullah, Abu Hurairah, dan Anas bin Malik berperang melawan penganut paham ini. Kemudian mazhab ini diambil dari Ma’bad oleh tokoh-tokoh dan imam-imam Mu’tazilah seperti Washil bin Atha’, Amr bin Ubaid, dan Ghailan Ad-Dimasyqi.
Adapun Washil bin Atha’, pemimpin Mu’tazilah, dia mengklaim bahwa keburukan tidak boleh dinisbatkan kepada Allah, karena Allah adalah Hakim, dan tidak boleh Allah menghendaki dari hamba-hamba-Nya yang berlawanan dengan apa yang diperintahkan-Nya, dan mewajibkan kepada mereka sesuatu, kemudian membalas mereka karenanya.
Dia menetapkan dalam pendapatnya: bahwa hamba adalah pelaku kebaikan dan keburukan, iman dan kufur, ketaatan dan kemaksiatan, dan dialah yang dibalas atas perbuatannya. Adapun Rabb Ta’ala memberi kuasa kepadanya atas semua itu.
An-Nazzam dari kalangan Mu’tazilah berpendapat bahwa Allah tidak dapat disifati dengan kekuasaan atas keburukan dan kemaksiatan, dan hal-hal tersebut tidak dikuasai oleh Allah. Firqah inilah yang diberi nama oleh para ulama kita: Qadariyah. “Mereka dinamai demikian karena mereka menetapkan bagi hamba kekuasaan yang mewujudkan perbuatan secara mandiri dan istiklal tanpa Allah Ta’ala, dan menafikan bahwa segala sesuatu adalah dengan qadar dan qada Allah. Mereka dengan kesesatan mereka menisbatkan nama ini kepada penentang mereka dari kalangan ahli hidayah, lalu berkata: Kalian adalah Qadariyah ketika kalian menjadikan segala sesuatu berjalan dengan qadar dari Allah, dan kalian lebih pantas dengan nama ini daripada kami.”
An-Nawawi menyebutkan dalam syarahnya terhadap Shahih Muslim: “Sebagian Qadariyah berkata: Kami bukan Qadariyah, tetapi kalianlah Qadariyah karena keyakinan kalian menetapkan qadar.”
Ibnu Qutaibah dan Al-Imam (maksudnya Imam Al-Juwaini) berkata: “Ini adalah tipuan dari orang-orang jahil ini, keberanian, dan keangkuhan. Sesungguhnya ahli haq menyerahkan urusan-urusan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan menisbatkan qadar serta perbuatan-perbuatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun orang-orang jahil ini menisbatkannya kepada diri mereka sendiri. Orang yang mengklaim sesuatu untuk dirinya dan menisbatkannya kepadanya lebih pantas dinisbatkan kepadanya daripada orang yang meyakininya untuk selainnya dan menafikannya dari dirinya.”
Telah sahih bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut Qadariyah sebagai majusi umat ini. Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya dan Al-Hakim dalam Mustadraknya atas dua shahih, dan dia berkata: shahih menurut syarat dua syaikh jika sahih pendengaran Abu Hazim dari Ibnu Umar.
Sebab penamaan firqah ini dengan majusi umat ini adalah “menyerupai mazhab mereka dengan Majusi dalam perkataan mereka tentang dua ashal: cahaya dan kegelapan. Mereka mengklaim bahwa kebaikan dari perbuatan cahaya, dan keburukan dari perbuatan kegelapan, sehingga mereka menjadi dualis. Demikian pula Qadariyah menisbatkan kebaikan kepada Allah Ta’ala, dan keburukan kepada selain-Nya. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah pencipta kebaikan dan keburukan semuanya. Tidak ada sesuatu pun dari keduanya kecuali dengan kehendak-Nya. Keduanya dinisbatkan kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala secara penciptaan dan pengadaan, dan kepada pelaku-pelakunya dari hamba-hamba-Nya secara perbuatan dan usaha.”
Pada akhir masa Bani Umayyah muncul kaum yang mengklaim bahwa hamba dipaksa dalam perbuatannya, tidak memiliki pilihan dalam apa yang dia ambil atau tinggalkan. Sebagian mereka menetapkan bagi hamba kekuasaan yang tidak berpengaruh. Orang pertama yang menampakkan pendapat ini adalah Al-Jahm bin Shafwan. Dari bid’ah ini bercabang pendapat-pendapat yang buruk dan kesesatan yang besar.
Pendapat ini menyebar di kalangan umat Islam dan dianut oleh banyak ahli ibadah, zahid, dan sufi. Jika kelompok pertama menyerupai Majusi, maka kelompok ini menyerupai orang-orang musyrik yang berkata: “Kalau Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan Allah, dan tidak (pula) kami mengharamkan sesuatu.” (QS. Al-An’am: 148).
Kelompok ini lebih buruk dari kelompok pertama, karena kelompok pertama mengagungkan perintah dan larangan, dan mengeluarkan perbuatan-perbuatan hamba dari menjadi ciptaan Allah. Adapun kelompok ini menetapkan qadar, dan berdalih dengannya untuk membatalkan perintah dan larangan.
BAB KETIGA: DEFINISI QADA DAN QADAR
Pembahasan Pertama: Definisi Qadar
“Qadar adalah mashdar. Kamu berkata: qadartu asy-syai’a dengan meringankan dal dan memfathahkannya, aqdiruhu dengan kasrah dan fathah, qadran dan qadaran, jika engkau mengetahui ukurannya.”
Qadar dalam bahasa adalah “qada dan hukum serta kadar sesuatu, dan taqdadir adalah pemikiran dan pertimbangan dalam menyamakan urusan.”
Qadar dalam istilah adalah: “Apa yang didahului oleh ilmu dan dijalankan oleh pena tentang apa yang akan ada sampai selamanya, dan bahwa Allah Azza wa Jalla menetapkan takaran-takaran makhluk dan apa yang akan terjadi dari segala sesuatu sebelum ada pada zaman azali, dan Allah Subhanahu mengetahui bahwa hal-hal itu akan terjadi pada waktu-waktu yang diketahui oleh-Nya Ta’ala, dan dengan sifat-sifat tertentu, maka hal-hal itu terjadi sesuai dengan apa yang telah ditetapkan-Nya.”
Ibnu Hajar berkata dalam definisinya: “Yang dimaksud adalah bahwa Allah Ta’ala mengetahui takaran-takaran segala sesuatu dan masa-masanya sebelum mewujudkannya, kemudian mewujudkan apa yang telah didahului dalam ilmu-Nya bahwa hal itu akan diwujudkan. Maka setiap yang baru bersumber dari ilmu, kekuasaan, dan kehendak-Nya.”
As-Safarini menukil dari Asy’ariyah bahwa “qadar adalah perwujudan Allah Ta’ala terhadap segala sesuatu menurut takaran khusus dan penetapan tertentu pada zat-zat dan keadaan-keadaannya sesuai dengan apa yang didahului oleh ilmu dan dijalankan oleh pena.”
Dan definisi-definisi ini saling berdekatan satu sama lain, dan memberikan pengertian bahwa takdir mencakup dua perkara:
Pertama: Ilmu Allah yang azali (tidak berawal) yang telah menetapkan wujud apa yang dikehendaki-Nya untuk diwujudkan, dan menentukan sifat-sifat makhluk yang hendak diciptakan-Nya. Semuanya telah ditulis dalam Lauh Mahfuzh dengan kalimat-kalimat-Nya. Bumi dan langit dengan ukuran, dimensi, cara pembentukannya, apa yang ada di antara keduanya dan apa yang ada di dalamnya, semua itu tercatat dalam ilmu-Nya di Lauh Mahfuzh dengan pencatatan yang teliti dan lengkap.
Kedua: Mewujudkan apa yang telah ditakdirkan Allah untuk diwujudkan sesuai dengan yang telah diketahui-Nya dan telah ditulis oleh pena-Nya, sehingga kenyataan yang disaksikan sesuai dengan ilmu terdahulu yang telah ditulis.
Takdir dapat digunakan dengan maksud takdir terdahulu untuk apa yang ada dalam ilmu Allah, dan dapat pula digunakan untuk apa yang telah diciptakan dan diwujudkan-Nya sesuai dengan yang diketahui-Nya.
Imam Syafi’i rahimahullahu ta’ala pernah ditanya tentang takdir, maka beliau menjawab dengan syair:
Apa yang Engkau kehendaki terjadi meski aku tidak menghendaki Dan apa yang aku kehendaki jika Engkau tidak menghendaki tidaklah terjadi Engkau ciptakan hamba sesuai dengan yang Engkau ketahui Maka dalam ilmu itu berjalanlah pemuda dan orang tua Kepada yang ini Engkau beri karunia dan yang itu Engkau biarkan sesat Yang ini Engkau tolong dan yang itu tidak Engkau tolong Di antara mereka ada yang celaka dan ada yang bahagia Di antara mereka ada yang jelek dan ada yang baik
(1) Definisi Qadha
Qadha adalah memutuskan dan menghukumi. Telah berulang kali dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan “qadha”, dan asal maknanya adalah memotong dan memisahkan. Dikatakan: qadha yaqdhii qadha’an fahuwa qaadhiin, jika ia menghukumi dan memisahkan. Dan qadha suatu perkara adalah mengukuhkan dan melaksanakannya serta menyelesaikannya, sehingga bermakna penciptaan.
Az-Zuhri berkata: Qadha dalam bahasa memiliki beberapa makna yang kembali kepada berakhirnya sesuatu dan kesempurnaannya. Setiap yang dikukuhkan perbuatannya, atau disempurnakan, atau dilaksanakan, atau diwajibkan, atau diketahui, atau dilaksanakan, atau dijalankan, maka telah diqadha. Dan semua makna ini telah datang dalam hadits-hadits.
Para ulama dalam membedakan antara qadha dan qadar memiliki dua pendapat:
Pertama: Qadha adalah ilmu terdahulu yang telah ditetapkan Allah dalam azal, sedangkan qadar adalah terjadinya makhluk sesuai dengan timbangan perkara yang telah diqadha sebelumnya. Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullahu ta’ala berkata: “Para ulama berkata bahwa qadha adalah hukum universal secara global dalam azal, sedangkan qadar adalah bagian-bagian dari hukum tersebut dan perinciannya.” Dan beliau berkata di tempat lain: “Qadha adalah hukum dengan hal-hal universal secara global dalam azal, sedangkan qadar adalah hukum dengan terjadinya bagian-bagian dari hal-hal universal tersebut secara terperinci.”
Kedua: Kebalikan dari pendapat sebelumnya, yaitu qadar adalah hukum terdahulu, sedangkan qadha adalah penciptaan.
Ibnu Bathal berkata: “Qadha adalah yang diqadha” dan maksudnya dengan yang diqadha adalah makhluk. Ini adalah pendapat Al-Khattabi, karena beliau berkata dalam Ma’alim as-Sunan: “Qadar adalah nama bagi apa yang telah ditakdirkan dari perbuatan Yang Mahakuasa, seperti hukum hancur, tersebar, dan genggaman adalah nama-nama bagi apa yang keluar dari perbuatan yang menghancurkan, menyebarkan, dan menggenggam.
Dan qadha dalam hal ini maknanya adalah penciptaan, seperti firman Allah Ta’ala: “Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua hari” (QS. Fushshilat: 12), artinya Dia menciptakannya.”
Berdasarkan pendapat ini maka “qadha dari Allah Ta’ala lebih khusus daripada qadar, karena ia adalah pemisahan antara dua takdir, maka qadar adalah takdir, sedangkan qadha adalah pemisahan dan pemotongan.”
Yang menunjukkan kebenaran pendapat ini adalah banyak nash dari Kitab Allah. Allah Ta’ala berfirman: “Dan adalah suatu perkara yang sudah ditetapkan” (QS. Maryam: 21), dan berfirman: “Adalah suatu ketetapan yang pasti dari Tuhanmu” (QS. Maryam: 71), dan berfirman: “Dan apabila Dia berkehendak menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ Lalu jadilah ia” (QS. Al-Baqarah: 117).
Maka qadha dan qadar berdasarkan pendapat ini adalah dua perkara yang saling melekat, tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain, karena salah satunya berposisi sebagai pondasi yaitu qadar, dan yang lain berposisi sebagai bangunan yaitu qadha. Barangsiapa yang ingin memisahkan keduanya maka ia telah ingin meruntuhkan bangunan dan merusaknya.
Rukun-rukun Iman kepada Takdir
Iman kepada takdir berdiri di atas empat rukun. Barangsiapa mengakui semuanya maka imannya kepada takdir menjadi sempurna, dan barangsiapa mengurangi satu atau lebih maka telah cacat imannya kepada takdir. Empat rukun tersebut adalah:
Pertama: Iman kepada ilmu Allah yang menyeluruh dan meliputi segala sesuatu.
Kedua: Iman kepada tulisan Allah di Lauh Mahfuzh untuk segala sesuatu yang terjadi hingga hari kiamat.
Ketiga: Iman kepada kehendak Allah yang berlaku dan kekuasaan-Nya yang sempurna, maka apa yang dikehendaki-Nya terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak terjadi.
Keempat: Penciptaan-Nya Tabaraka wa Ta’ala terhadap segala yang ada, tidak ada sekutu bagi Allah dalam penciptaan-Nya.
Dan kita akan membahas empat pokok ini dengan agak terperinci.
Rukun Pertama: Iman kepada Ilmu Allah yang Menyeluruh
Telah banyak dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan pokok yang agung ini. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu, mengetahui apa yang telah terjadi, apa yang akan terjadi, dan apa yang tidak terjadi seandainya terjadi bagaimana akan terjadi. Dia mengetahui yang ada dan yang tidak ada, yang mungkin dan yang mustahil.
Dan Dia mengetahui para hamba dengan ajal, rezki, keadaan, gerak dan diam mereka, kecelakaan dan kebahagiaan mereka, siapa di antara mereka yang termasuk penghuni surga dan siapa yang termasuk penghuni neraka sebelum Dia menciptakan mereka dan menciptakan langit dan bumi.
Semua itu adalah konsekuensi dari sifat-Nya Tabaraka wa Ta’ala dengan ilmu, dan konsekuensi dari Dia Tabaraka wa Ta’ala adalah Yang Maha Mengetahui, Maha Teliti, Maha Mendengar, Maha Melihat.
Allah Ta’ala berfirman: “Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata” (QS. Al-Hasyr: 22), dan berfirman: “Supaya kamu mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan bahwa Allah benar-benar meliputi segala sesuatu dengan ilmu-Nya” (QS. At-Talaq: 12), dan berfirman: “Yang mengetahui yang gaib, tidak ada yang tersembunyi dari-Nya seberat zarrah pun di langit dan tidak (pula) di bumi, dan tidak ada yang lebih kecil dari itu dan tidak (pula) yang lebih besar” (QS. Saba’: 3), dan berfirman: “Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. An-Nahl: 125), dan berfirman: “Dia lebih mengetahui tentang kamu ketika Dia menciptakan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu” (QS. An-Najm: 32).
Dan Allah Yang Haq menetapkan ilmu-Nya tentang apa yang tidak terjadi seandainya terjadi bagaimana akan terjadi: “Dan seandainya mereka dikembalikan, niscaya mereka kembali kepada apa yang dilarang” (QS. Al-An’am: 28). Allah mengetahui bahwa orang-orang pendusta ini yang berangan-angan pada hari kiamat untuk kembali ke dunia, bahwa seandainya mereka kembali ke dunia niscaya mereka kembali kepada pendustaan dan kesesatan mereka.
Dan Allah berfirman tentang orang-orang kafir yang tidak tahan mendengar petunjuk: “Dan kalau sekiranya Allah mengetahui ada kebaikan pada mereka, tentulah Dia menjadikan mereka dapat mendengar. Dan seandainya Dia menjadikan mereka dapat mendengar, tentulah mereka berpaling juga dengan tetap menolak” (QS. Al-Anfal: 23).
Di antara ilmu-Nya Tabaraka wa Ta’ala tentang apa yang akan terjadi adalah ilmu-Nya tentang apa yang akan dikerjakan oleh anak-anak yang meninggal kecil seandainya mereka hidup hingga dewasa sebelum kematian mereka. Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang anak-anak orang musyrik, maka beliau bersabda: ‘Allah lebih mengetahui apa yang akan mereka kerjakan.'”
Dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah Ummul Mukminin, dia berkata: “Seorang anak kecil meninggal, maka aku berkata: ‘Beruntunglah dia, burung kecil dari burung-burung surga.'”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidakkah kamu tahu bahwa Allah menciptakan surga dan neraka, maka Dia menciptakan untuk surga penghuninya dan untuk neraka penghuninya.”
Dan dalam riwayat Muslim juga dari Aisyah, dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diundang ke pemakaman anak kecil dari Anshar, maka aku berkata: ‘Ya Rasulullah, beruntunglah anak ini, burung kecil dari burung-burung surga, tidak berbuat keburukan dan tidak mencapai usia dewasa.’ Beliau bersabda: ‘Atau selain itu wahai Aisyah, sesungguhnya Allah menciptakan untuk surga penghuninya, Dia menciptakan mereka untuknya ketika mereka masih dalam tulang punggung ayah-ayah mereka, dan menciptakan untuk neraka penghuninya, Dia menciptakan mereka untuknya ketika mereka masih dalam tulang punggung ayah-ayah mereka.'”
Hadits-hadits ini berbicara tentang ilmu Allah terhadap orang yang meninggal kecil, bukan bahwa mereka ini akan dimasukkan Allah ke neraka berdasarkan ilmu-Nya tentang mereka tanpa mereka beramal.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala berkata tentang sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang anak-anak orang musyrik: “Allah lebih mengetahui apa yang akan mereka kerjakan” yakni mengetahui siapa di antara mereka yang akan beriman dan siapa yang akan kafir seandainya mereka dewasa. Kemudian datang dalam hadits yang sanadnya mendekati shahih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Ketika hari kiamat, maka Allah akan menguji mereka dan mengutus kepada mereka rasul di padang mahsyar, maka barangsiapa yang menaatinya akan dimasukkan ke surga, dan barangsiapa yang durhaka akan dimasukkan ke neraka.” Di sanalah akan tampak pada mereka apa yang diketahui Allah Subhanahu, dan Dia akan membalas mereka berdasarkan apa yang tampak dari ilmu yaitu iman dan kufur mereka, bukan berdasarkan ilmu semata.
Dalil-dalil Akal bahwa Allah Mengetahui Takdir Makhluk Sebelum Menciptakan Mereka:
Sesungguhnya keberadaan alam semesta ini dan keberadaan setiap makhluk di dalamnya menunjukkan dengan jelas bahwa Allah mengetahuinya sebelum menciptakannya. “Karena mustahil mewujudkan sesuatu disertai kebodohan, karena mewujudkan sesuatu dengan kehendak-Nya, dan kehendak mengharuskan membayangkan yang dikehendaki, dan membayangkan yang dikehendaki itulah ilmu tentang yang dikehendaki, maka mewujudkan mengharuskan kehendak, dan kehendak mengharuskan ilmu, maka mewujudkan mengharuskan ilmu.”
Dan juga karena “makhluk-makhluk memiliki hikmah dan ketetapan yang mengharuskan ilmu pelaku terhadapnya, karena perbuatan yang berhibmah dan tetap mustahil keluar tanpa ilmu.”
Para ulama berhujjah tentang ilmu-Nya Tabaraka wa Ta’ala dengan qiyas aula (analogi yang lebih utama): “Makhluk-makhluk ada yang berilmu, dan ilmu adalah sifat kesempurnaan, dan mustahil Pencipta tidak berilmu.”
Berdalil dengan dalil ini memiliki dua bentuk:
Pertama: Dikatakan bahwa kita mengetahui dengan pasti bahwa Pencipta lebih sempurna dari makhluk, dan yang wajib lebih sempurna dari yang mungkin. Dan kita mengetahui dengan pasti bahwa jika kita mengandaikan dua hal: yang satu berilmu dan yang lain tidak berilmu, maka yang berilmu lebih sempurna. Seandainya Pencipta tidak berilmu maka akan menjadi konsekuensi bahwa yang mungkin lebih sempurna dari-Nya, dan ini mustahil.
Kedua: Setiap ilmu dalam makhluk adalah dari Allah Tabaraka wa Ta’ala, dan mustahil pelaku kesempurnaan dan pencipta kesempurnaan kosong darinya, bahkan Dia lebih berhak dengannya. Setiap kesempurnaan yang tetap pada makhluk maka Pencipta lebih berhak dengannya, dan setiap kekurangan yang disucikan darinya suatu makhluk, maka penyucian Pencipta darinya lebih utama.
Semua dalil ini dapat kamu lihat dalam firman Allah Ta’ala: “Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia-lah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Mulk: 14).
Dan berhujjah dengan ilmu-Nya Tabaraka wa Ta’ala dengan memberitakan tentang hal-hal dan peristiwa-peristiwa sebelum terjadinya. Allah telah memberitakan dalam kitab-kitab-Nya terdahulu tentang diutusnya Rasul kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam, sifat-sifat, akhlak, dan tanda-tandanya. Sebagaimana memberitakan tentang banyak sifat umatnya. Dan memberitakan dalam kitab-Nya yang muhkam bahwa Romawi akan menang dalam beberapa tahun atas Persia Majusi, dan terjadilah perkara sebagaimana yang diberitakan. Memberitakan tentang hal-hal gaib masa depan banyak terdapat dalam Kitab dan Sunnah.
Rukun Kedua: Iman bahwa Allah Menulis di Lauh Mahfuzh Segala Sesuatu
Nash-nash dari Kitab dan Sunnah menunjukkan bahwa Allah menulis di Lauh Mahfuzh segala sesuatu. Dalam hadits yang diriwayatkan Muslim dalam Shahih-nya dari Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah menulis takdir makhluk sebelum Dia menciptakan langit dan bumi lima puluh ribu tahun, dan Arsy-Nya di atas air.”
Dan Tirmidzi meriwayatkannya dengan lafazh: “Allah menakdirkan takdir-takdir sebelum Dia menciptakan langit dan bumi lima puluh ribu tahun.”
Dan dalam Sunan Tirmidzi juga dari Ubadah bin Ash-Shamit, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan Allah adalah pena, maka Dia berfirman: ‘Tulislah!’ Pena berkata: ‘Apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman: ‘Tulislah takdir apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi hingga selamanya.'”
Abu Isa At-Tirmidzi berkata: Dan ini hadits gharib dari jalur ini.
Lauh Mahfuzh yang Allah tuliskan padanya takdir makhluk dinamakan Al-Qur’an dengan Al-Kitab, Al-Kitab Al-Mubin, Al-Imam Al-Mubin, Umm Al-Kitab, dan Al-Kitab Al-Masthur. Allah Ta’ala berfirman: “Bahkan Al-Qur’an itu adalah bacaan yang mulia, tersimpan dalam Lauh Mahfuzh” (QS. Al-Buruj: 21-22), dan berfirman: “Tidakkah kamu mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang di langit dan di bumi? Sesungguhnya yang demikian itu (tersebut) dalam sebuah kitab” (QS. Al-Hajj: 70), dan berfirman: “Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata” (QS. Yasin: 12), dan berfirman: “Demi gunung Thur, dan kitab yang ditulis, pada lembaran yang terbentang” (QS. Ath-Thur: 1-3), dan berfirman: “Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu dalam Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (kedudukannya) lagi penuh hikmah” (QS. Az-Zukhruf: 4).
Rukun Ketiga: Iman kepada Kehendak Allah yang Menyeluruh dan Kekuasaan-Nya yang Berlaku
Pokok ini mengharuskan iman kepada kehendak Allah yang berlaku dan kekuasaan-Nya yang menyeluruh. Apa yang dikehendaki Allah terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak terjadi. Tidak ada gerak dan tidak ada diam di langit dan di bumi kecuali dengan kehendak-Nya. Tidak terjadi dalam kerajaan-Nya kecuali apa yang Dia kehendaki.
Nash-nash yang menyatakan secara tegas pokok ini dan menetapkannya sangat banyak. Allah Ta’ala berfirman: “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah” (QS. At-Takwir: 29), dan berfirman: “Dan kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) di hadapan mereka segala sesuatu (yang mereka inginkan), mereka tidak juga akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki” (QS. Al-An’am: 111), dan berfirman: “Dan kalau Tuhanmu menghendaki, tentulah mereka tidak melakukannya” (QS. Al-An’am: 112), dan berfirman: “Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ Maka terjadilah ia” (QS. Yasin: 82), dan berfirman: “Barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, maka Dia akan menyesatkannya. Dan barangsiapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi petunjuk), maka Dia akan menjadikannya berada di atas jalan yang lurus” (QS. Al-An’am: 39).
Kehendak Allah yang berlaku dan kekuasaan-Nya yang menyeluruh berkumpul dalam apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi, dan keduanya berpisah dalam apa yang tidak terjadi dan tidak akan terjadi.
Apa yang dikehendaki Allah Ta’ala keberadaannya maka ia pasti terjadi dengan kekuasaan-Nya. Dan apa yang tidak dikehendaki Allah Ta’ala tidak terjadi karena tidak adanya kehendak Allah Ta’ala bukan karena tidak adanya kekuasaan-Nya atasnya. Allah Ta’ala berfirman: “Seandainya Allah menghendaki, tentulah mereka tidak berperang (saling bunuh); akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya” (QS. Al-Baqarah: 253), dan berfirman: “Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja)” (QS. Al-Ma’idah: 48), dan berfirman: “Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia mengumpulkan mereka kepada petunjuk” (QS. Al-An’am: 35), dan berfirman: “Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mempersekutukan(-Nya)” (QS. Al-An’am: 107), dan berfirman: “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya” (QS. Yunus: 99), dan berfirman: “Tidakkah kamu perhatikan kepada Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan bayang-bayang, dan kalau Dia menghendaki, tentulah Dia menjadikan bayang-bayang itu tetap” (QS. Al-Furqan: 45). Ayat-ayat dalam hal ini banyak yang menunjukkan tidak adanya apa yang tidak dikehendaki keberadaannya karena tidak adanya kehendak-Nya terhadap hal itu, bukan karena tidak adanya kekuasaan-Nya atasnya, karena Dia Mahakuasa atas segala sesuatu Tabaraka wa Ta’ala.
Rukun Keempat: Iman bahwa Allah Pencipta Segala Sesuatu
Nash-nash menetapkan bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Dialah yang menciptakan makhluk, membentuk dan mewujudkan mereka. Dia adalah Pencipta dan selain-Nya adalah makhluk yang diciptakan. “Allah Pencipta segala sesuatu” (QS. Az-Zumar: 62), “Bukan demikian, Dia adalah Pencipta Yang Maha Mengetahui” (QS. Yasin: 81), “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang” (QS. Al-An’am: 1), “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak” (QS. An-Nisa’: 1), “Dan Dialah yang menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya” (QS. Al-Anbiya’: 33). Nash-nash dalam hal ini banyak dan baik.
Perbuatan Hamba adalah Makhluk yang Telah Ditakdirkan
Para hamba dan perbuatan mereka tidak keluar dari makhluk-makhluk lainnya. Allah telah mengetahui apa yang akan Dia ciptakan dari hamba-hamba-Nya, dan mengetahui apa yang akan mereka perbuat, dan menuliskan semua itu di Lauh Mahfuzh. Allah menciptakan mereka sebagaimana yang Dia kehendaki, dan takdir Allah berlaku pada mereka, maka mereka beramal sesuai dengan apa yang Dia kehendaki bagi mereka. Allah memberi petunjuk kepada orang yang telah Dia tuliskan baginya kebahagiaan, dan menyesatkan orang yang telah Dia tuliskan baginya kesengsaraan. Allah mengetahui ahli surga dan memudahkan mereka untuk mengerjakan amalan ahli surga, dan mengetahhi ahli neraka dan memudahkan mereka untuk mengerjakan amalan ahli neraka.
Dalil-dalil yang telah kami kemukakan sebelumnya sudah cukup untuk menunjukkan apa yang telah kami tetapkan di sini, meskipun demikian masih ada banyak dalil lain yang lebih tegas dalam menunjukkan masalah ini.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu kerjakan” (QS. Ash-Shaffat: 96), dan berfirman: “Dan segala sesuatu yang mereka kerjakan (tercatat) dalam kitab-kitab” (QS. Al-Qamar: 52), dan berfirman: “Dan tidak ada perempuan yang mengandung dan yang melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan tidak dipanjangkan umur seseorang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam kitab. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah” (QS. Fathir: 11). Dan berfirman: “Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi” (QS. Al-A’raf: 178), dan berfirman: “Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. An-Nahl: 125).
Dan telah datang hadits-hadits yang banyak yang makna-maknanya mutawatir bahwa Rabb para hamba mengetahui apa yang akan dikerjakan para hamba, dan menetapkan hal itu serta memutuskannya dan telah selesai darinya, dan mengetahui apa yang akan menjadi keadaan para hamba dari kebahagiaan dan kesengsaraan. Dan mengabarkan dengan semua itu bahwa takdir tidak menghalangi dari beramal, “Beramallah, karena setiap orang dimudahkan untuk apa yang diciptakan baginya”.
Dan kami akan kemukakan di sini beberapa dalil yang menunjukkan hal tersebut.
Dalil-dalil yang Menunjukkan Penetapan Allah atas Perbuatan Para Hamba
1- Hadits-hadits yang Menunjukkan bahwa Amalan Para Hamba Telah Kering Pena dan Berlaku Takdir:
Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Jabir berkata: Suraqah bin Malik bin Ju’syum datang berkata: Ya Rasulullah, jelaskan kepada kami agama kami seolah-olah kami baru saja diciptakan, untuk apa amal hari ini? Apakah untuk sesuatu yang telah kering pena dengannya dan berlaku takdir dengannya, ataukah untuk yang akan datang? Beliau bersabda: “Tidak, tetapi untuk sesuatu yang telah kering pena dengannya dan berlaku takdir dengannya”.
Dia berkata: Lalu untuk apa beramal?
Maka beliau bersabda: “Beramallah karena setiap orang dimudahkan” dan dalam riwayat: “Setiap orang yang beramal dimudahkan untuk amalnya”.
Dan Tirmidzi meriwayatkan dalam Sunan-nya bahwa Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang apa yang kami kerjakan, apakah perkara yang baru dimulai atau yang baru diciptakan, ataukah dalam sesuatu yang telah selesai darinya?
Maka beliau bersabda: “Dalam sesuatu yang telah selesai darinya wahai putra Khattab, dan setiap orang dimudahkan. Adapun orang yang termasuk ahli kebahagiaan maka dia akan beramal untuk kebahagiaan, dan adapun orang yang termasuk ahli kesengsaraan maka dia akan beramal untuk kesengsaraan”. Tirmidzi berkata: Hadits ini hasan shahih.
2- Pengetahuan Allah tentang Ahli Surga dan Ahli Neraka:
Dan Bukhari meriwayatkan dari Imran bin Hushain berkata: Seorang laki-laki berkata: Ya Rasulullah, “Apakah dikenal ahli surga dari ahli neraka?
Maka beliau bersabda: “Ya”.
Dia berkata: Lalu mengapa mereka beramal? Beliau bersabda: “Setiap orang beramal untuk apa yang diciptakan baginya, atau dimudahkan baginya”.
Dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Ali berkata: “Kami berada dalam suatu pemakaman di Baqi’ al-Gharqad. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada kami dan duduk, dan kami duduk mengelilingi beliau, dan bersama beliau ada tongkat kecil. Lalu beliau menunduk. Beliau mulai menggores dengan tongkat kecilnya, kemudian bersabda: “Tidak ada seorang pun di antara kalian, tidak ada jiwa yang bernafas, melainkan Allah telah menuliskan tempatnya dari surga atau neraka, dan melainkan telah ditulis celaka atau bahagia”.
Dia berkata: Lalu seorang laki-laki berkata: Ya Rasulullah, tidakkah kita tinggal saja pada tulisan kita, dan meninggalkan amal? Maka beliau bersabda: “Barang siapa yang termasuk ahli kebahagiaan, maka dia akan menuju kepada amal ahli kebahagiaan, dan barang siapa yang termasuk ahli kesengsaraan maka dia akan menuju kepada amal ahli kesengsaraan”. Lalu beliau bersabda: “Beramallah karena setiap orang dimudahkan, adapun ahli kebahagiaan maka mereka dimudahkan untuk amal ahli kebahagiaan, dan adapun ahli kesengsaraan maka mereka dimudahkan untuk amal ahli kesengsaraan”. Kemudian beliau membaca: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah), dan mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar” (QS. Al-Lail: 5-10).
3- Pengeluaran Keturunan Adam dari Punggungnya Setelah Penciptaannya dan Pembagian Mereka Menjadi Dua Golongan: Ahli Surga dan Ahli Neraka:
Dan Rasul kami shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada kami bahwa Allah mengusap punggung Adam setelah menciptakannya, dan mengeluarkan keturunannya dari punggungnya seperti semut, dan mengeluarkan dari mereka ahli surga dan ahli neraka.
Malik, Tirmidzi dan Abu Dawud meriwayatkan dari Muslim bin Yasar berkata: Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu ditanya tentang ayat ini: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”” (QS. Al-A’raf: 172).
Umar berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentangnya maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam, kemudian mengusap punggungnya dengan tangan kanan-Nya, lalu mengeluarkan darinya keturunan, maka berfirman: Aku ciptakan mereka ini untuk surga, dan dengan amal ahli surga mereka beramal, kemudian mengusap punggungnya, lalu mengeluarkan darinya keturunan, maka berfirman: Aku ciptakan mereka ini untuk neraka, dan dengan amal ahli neraka mereka beramal”.
Maka seorang laki-laki berkata: Lalu untuk apa beramal ya Rasulullah?
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah apabila menciptakan hamba untuk surga, Dia mempekerjakan dia dengan amal ahli surga, hingga dia mati dalam keadaan amal dari amalan-amalan ahli surga, maka Allah memasukkannya ke surga. Dan apabila Allah menciptakan hamba untuk neraka, Dia mempekerjakan dia dengan amal ahli neraka, hingga dia mati dalam keadaan amal dari amalan-amalan ahli neraka, maka Allah memasukkannya ke neraka”.
Dan Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dengan sanad yang shahih kepada Ibnu Abbas berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah mengambil perjanjian dari punggung Adam di Nu’man – yaitu Arafah – lalu mengeluarkan dari tulang belakangnya setiap keturunan yang Dia ciptakan, lalu menebarkan mereka di hadapan-Nya seperti semut, kemudian berbicara kepada mereka secara langsung. Berfirman: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul, kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini” – atau kamu mengatakan: “Sesungguhnya nenek moyang kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami adalah anak cucu yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?””* (QS. Al-A’raf: 172-173).
Dan Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dengan sanad yang shahih dari Abu Darda’ dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah menciptakan Adam ketika menciptakannya, lalu memukul bahu kanannya, maka keluarlah keturunan putih seperti semut, dan memukul bahu kirinya, maka keluarlah keturunan hitam seperti arang, lalu berfirman kepada yang di tangan kanan-Nya: Ke surga dan Aku tidak peduli, dan berkata kepada yang di telapak tangan kiri-Nya: Ke neraka dan Aku tidak peduli”.
Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan dalam hadits lain “bahwa Allah Azza wa Jalla menciptakan makhluk-Nya dalam kegelapan, lalu melemparkan kepada mereka dari cahaya-Nya, maka barang siapa yang terkena cahaya itu mendapat petunjuk, dan barang siapa yang luput darinya tersesat” maka karena itu aku katakan telah kering pena atas pengetahuan Allah.
Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Abdullah bin Amr dan dia berkata tentangnya: Hadits ini hasan.
4- Penulisan Allah untuk Ahli Surga dan Ahli Neraka:
Dan Tirmidzi meriwayatkan dalam Sunan-nya dari Abdullah bin Amr bin al-Ash berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar kepada kami dan di tangan beliau ada dua kitab, lalu bersabda: Apakah kalian tahu apa kedua kitab ini? Kami berkata: Tidak ya Rasulullah, kecuali engkau memberitahukan kepada kami.
Maka beliau berkata tentang yang di tangan kanan beliau: Ini adalah kitab dari Rabb semesta alam, di dalamnya nama-nama ahli surga, dan nama-nama ayah mereka dan kabilah mereka, kemudian dijumlahkan akhir mereka, maka tidak akan ditambah pada mereka, dan tidak akan dikurangi dari mereka selamanya.
Kemudian beliau berkata tentang yang di tangan kiri beliau: Ini adalah kitab dari Rabb semesta alam, di dalamnya nama-nama ahli neraka, dan nama-nama ayah mereka dan kabilah mereka, kemudian dijumlahkan atas akhir mereka, maka tidak akan ditambah pada mereka, dan tidak akan dikurangi dari mereka selamanya.
Maka para sahabat beliau berkata: Lalu untuk apa beramal ya Rasulullah jika perkara telah selesai darinya?
Maka beliau bersabda: Luruskanlah dan dekatkanlah, karena sesungguhnya pemilik surga akan diakhiri baginya dengan amal ahli surga, meskipun dia mengerjakan amal apa pun. Dan sesungguhnya pemilik neraka akan diakhiri baginya dengan amal ahli neraka meskipun dia mengerjakan amal apa pun.
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dengan kedua tangannya lalu membuangnya. Kemudian bersabda: Tuhan kalian telah selesai dari para hamba, satu golongan di surga dan satu golongan di neraka yang menyala-nyala”.
Tirmidzi berkata: Hadits ini hasan gharib shahih.
5- Takdir di Malam Lailatul Qadar dan Takdir Harian:
Telah kami jelaskan sebelumnya bahwa Allah menetapkan takdir-takdir hamba-hamba-Nya sebelum Dia menciptakan langit dan bumi dengan lima puluh ribu tahun, dan Al-Kitab dan As-Sunnah menunjukkan bahwa ada dua takdir: takdir tahunan dan takdir harian. Adapun takdir tahunan maka di malam Lailatul Qadar, pada malam itu ditulis dari Ummul Kitab apa yang akan terjadi dalam tahun itu dari kematian dan kehidupan dan rezeki dan hujan, dan apa yang akan dikerjakan para hamba dari amalan-amalan dan semacamnya. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul” (QS. Ad-Dukhan: 3-5).
Adapun takdir harian maka adalah penghantaran takdir-takdir kepada waktu-waktu yang telah ditetapkan untuknya pada masa sebelumnya. Allah Ta’ala berfirman: “Semua yang ada di langit dan di bumi meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam urusan (yang penting)” (QS. Ar-Rahman: 29).
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Munib bin Abdullah dari ayahnya berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat ini, lalu kami berkata: Ya Rasulullah, apa urusan itu? Beliau bersabda: “Bahwa Dia mengampuni dosa, dan melapangkan kesusahan, dan mengangkat suatu kaum, dan merendahkan yang lain”.
Dan ringkasan pendapat para mufassir tentang ayat itu “bahwa Allah dari urusan-Nya setiap hari adalah menghidupkan dan mematikan, dan menciptakan dan memberi rezeki, dan memuliakan suatu kaum dan menghinakan suatu kaum, dan menyembuhkan orang sakit, dan membebaskan orang yang terkena musibah, dan melapangkan orang yang susah, dan mengabulkan orang yang berdoa, dan memberi orang yang meminta, dan mengampuni dosa, hingga yang tidak terhitung dari perbuatan-perbuatan-Nya dan kejadian-kejadian-Nya pada makhluk-Nya”.
6- Penulisan Apa yang Ditakdirkan untuk Manusia Ketika Dia Janin dalam Rahim Ibunya:
Disebutkan dalam hadits-hadits bahwa Allah mengutus malaikat kepada janin dalam rahim ibunya lalu menuliskan rezekinya dan ajalnya dan kesengsaraan serta kebahagiaannya. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abdullah (yaitu Ibnu Mas’ud) berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kepada kami dan beliau adalah yang benar lagi dibenarkan, bersabda: “Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan dalam perut ibunya selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal darah seperti itu, kemudian menjadi segumpal daging seperti itu, kemudian diutus malaikat lalu meniupkan ruh kepadanya, dan diperintahkan dengan empat kalimat: menuliskan rezekinya dan ajalnya dan amalnya dan celaka atau bahagia.
Demi Zat yang tidak ada tuhan selain-Nya, sesungguhnya salah seorang di antara kalian benar-benar beramal dengan amal ahli surga hingga tidak ada antara dia dan surga kecuali sehasta, lalu kitab mendahuluinya, maka dia beramal dengan amal ahli neraka, lalu memasukinya. Dan sesungguhnya salah seorang di antara kalian benar-benar beramal dengan amal ahli neraka, hingga tidak ada antara dia dan neraka kecuali sehasta, lalu kitab mendahuluinya, maka dia beramal dengan amal ahli surga, lalu memasukinya”.
Dan dalam Shahih Bukhari dari Anas bin Malik, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah mewakili kepada rahim seorang malaikat, lalu dia berkata: Wahai Tuhanku, nutfah. Wahai Tuhanku, segumpal darah. Wahai Tuhanku, segumpal daging. Apabila Allah berkehendak untuk menyelesaikan penciptaannya, dia berkata: Wahai Tuhanku, laki-laki atau perempuan, celaka atau bahagia? Berapa rezekinya? Berapa ajalnya? Maka ditulis semua itu dalam perut ibunya”.
Dan Tirmidzi meriwayatkan dalam Sunan-nya dari Anas berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seorang hamba, Dia mempekerjakannya”. Ditanyakan: Bagaimana Dia mempekerjakannya ya Rasulullah? Beliau bersabda: “Dia memberi taufik kepadanya untuk amal shalih sebelum dia meninggal”.
Tirmidzi berkata: Hadits ini hasan shahih.
Dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya seorang laki-laki beramal dalam waktu yang lama dengan amal ahli surga, kemudian diakhiri baginya amalnya dengan amal ahli neraka. Dan sesungguhnya seorang laki-laki beramal dalam waktu yang lama dengan amal ahli neraka, kemudian diakhiri baginya dengan amal ahli surga”.
Dan dari Sahl bin Sa’d as-Sa’idi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya seorang laki-laki beramal dengan amal ahli surga menurut apa yang tampak bagi manusia padahal dia termasuk ahli neraka. Dan sesungguhnya seorang laki-laki beramal dengan amal ahli neraka menurut apa yang tampak bagi manusia padahal dia termasuk ahli surga”.
Dan yang baik untuk dikemukakan dalam bab ini karena mengandung pelajaran, adalah kisah orang yang diberitahukan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa dia termasuk ahli neraka. Dalam Shahih Bukhari dari Abu Hazim dari Sahl bin Sa’d bahwa seorang laki-laki dari orang yang paling besar manfaatnya bagi kaum muslimin dalam suatu perang yang dia ikuti bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat dan bersabda: “Barang siapa yang suka melihat kepada seorang laki-laki dari ahli neraka, maka lihatlah kepada orang ini”.
Maka seorang laki-laki dari kaum mengikutinya dan dia dalam keadaan seperti itu, yang paling keras di antara manusia terhadap orang-orang musyrik, hingga dia terluka dan mempercepat kematian, lalu dia meletakkan ujung pedangnya di antara kedua dadanya, hingga keluar dari antara kedua bahu.
Maka laki-laki itu datang kepada Rasul dengan tergesa-gesa, lalu berkata: Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah. Beliau bersabda: “Dan apa itu?”
Dia berkata: Engkau berkata tentang si fulan: barang siapa yang suka melihat kepada seorang laki-laki dari ahli neraka maka lihatlah kepadanya, dan dia adalah orang yang paling besar manfaatnya di antara kami bagi kaum muslimin, maka aku tahu bahwa dia tidak akan mati dalam keadaan itu, ketika dia terluka dia mempercepat kematian lalu membunuh dirinya.
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika itu: “Sesungguhnya seorang hamba beramal dengan amal ahli neraka, padahal dia termasuk ahli surga. Dan beramal dengan amal ahli surga, padahal dia termasuk ahli neraka, dan sesungguhnya amalan-amalan itu dengan akhir-akhirnya”.
BAB KEEMPAT: BATAS-BATAS PANDANGAN AKAL DALAM TAKDIR
Abu al-Muzaffar as-Sam’ani berkata sebagaimana yang dihikayatkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani tentangnya: “Jalan pengetahuan dalam bab ini adalah tauqif dari Al-Kitab dan As-Sunnah tanpa qiyas dan akal murni, maka barang siapa yang menyimpang dari tauqif dalam hal itu akan sesat dan tersesat dalam lautan kebingungan, dan tidak akan mencapai kesembuhan mata, dan tidak apa yang membuat hati tenang, karena takdir adalah rahasia dari rahasia-rahasia Allah Ta’ala, yang dikhususkan oleh Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal dengannya, dan dipasang di hadapannya tirai-tirai, dan disembunyikan dari akal-akal makhluk dan pengetahuan-pengetahuan mereka karena hikmah yang diketahui-Nya, maka tidak mengetahuinya nabi yang diutus dan tidak malaikat yang didekatkan”.
Dan ath-Thahawi rahimahullah Ta’ala berkata: “Dan asal takdir adalah rahasia Allah Ta’ala pada makhluk-Nya, tidak mengetahui hal itu malaikat yang didekatkan, dan tidak nabi yang diutus, dan mendalami hal itu adalah jalan menuju kehinaan, dan tangga kekurangan, dan tingkatan kedurhakaan, maka hati-hati hati-hati dari hal itu dengan pandangan dan pikiran dan was-was, karena sesungguhnya Allah melipat pengetahuan takdir dari manusia-Nya, dan melarang mereka dari tujuannya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan mereka yang akan ditanya” (QS. Al-Anbiya: 23)”.
Dan al-Ajurri berkata: “Tidak baik bagi kaum muslimin mencari-cari dan meneliti takdir, karena takdir adalah rahasia dari rahasia-rahasia Allah Azza wa Jalla, bahkan beriman kepada apa yang berlaku dengan takdir-takdir dari kebaikan atau kejahatan adalah wajib atas para hamba untuk beriman kepadanya, kemudian hamba tidak aman bahwa dia meneliti takdir lalu mendustakan takdir-takdir Allah yang berlaku atas para hamba, maka tersesat dari jalan kebenaran”.
Dan Imam Ahmad rahimahullah Ta’ala berkata: “Termasuk sunnah yang wajib: beriman kepada takdir kebaikannya dan kejahatannya, dan membenarkan hadits-hadits tentangnya, dan beriman kepadanya, tidak dikatakan: mengapa? dan bagaimana? Hanyalah membenarkannya dan beriman kepadanya.
Dan barang siapa yang tidak mengetahui tafsir hadits, dan tidak sampai akalnya kepadanya, maka telah cukup baginya itu, dan telah ditetapkan baginya, maka wajib atasnya beriman kepadanya, dan menyerahkan diri kepadanya, seperti hadits ash-Shadiq al-Mashdoq, dan apa yang serupa dengannya dalam takdir”.
Dan Ali bin al-Madini mengatakan seperti perkataan Imam Ahmad tentang takdir (3).
Dan inilah yang telah ditetapkan oleh para ulama tentang takdir yang meletakkan bagi kita beberapa kaidah yang sangat penting:
Pertama: Wajib beriman kepada takdir.
Kedua: Menyandarkan pengetahuan tentang takdir beserta batas-batas dan dimensi-dimensinya kepada Kitab dan Sunnah, dan meninggalkan sandaran dalam hal itu kepada pandangan akal semata dan qiyas murni. Sebab akal manusia tidak mampu dengan sendirinya meletakkan petunjuk dan landasan yang menyelamatkannya dalam bab ini dari penyimpangan dan kesesatan. Mereka yang menyelami masalah ini dengan akal mereka telah sesat dan tersesat, di antara mereka ada yang mendustakan takdir, di antara mereka ada yang mengira bahwa beriman kepada takdir mengharuskan mengatakan adanya paksaan (jabar), dan di antara mereka ada yang bertentangan dengan syariat dengan takdir. Setiap penyimpangan dari penyimpangan-penyimpangan ini menyebabkan masalah dalam realitas manusia, kehidupan dan masyarakat mereka, sebab penyimpangan akidah menyebabkan penyimpangan dalam perilaku dan realitas kehidupan.
Ketiga: Meninggalkan pendalaman dalam penelitian takdir, sebab beberapa sisinya tidak mungkin dapat dipahami oleh akal manusia bagaimanapun kecerdasannya, dan sebagian yang lain tidak dapat dipahaminya kecuali dengan kesulitan yang sangat besar.
Mungkin dikatakan: Bukankah dalam manhaj ini terdapat pembatasan terhadap akal manusia? Jawabannya adalah bahwa ini bukanlah pembatasan terhadap pemikiran manusia, tetapi ini adalah pemeliharaan bagi akal ini agar kekuatan-kekuatannya tidak terbuang dalam bidang yang bukan bidang dimana ia pandai berpikir. Ini adalah pemeliharaan bagi akal manusia dari bekerja dalam bidang yang bukan bidang yang ia kuasai dan di mana ia bisa berprestasi.
Sesungguhnya Islam telah meletakkan di hadapan manusia petunjuk-petunjuk keimanan kepada takdir. Keimanan kepada takdir berdiri atas dasar bahwa Allah mengetahui segala yang akan terjadi dan menulisnya serta menghendakinya dan menciptakannya. Pemahaman akal manusia terhadap kebenaran-kebenaran ini mudah dan dipermudah, tidak ada kesulitan di dalamnya, tidak ada kekaburan dan kerumitan.
Adapun penelitian rahasia takdir dan menyelami kedalamannya, maka itu akan menghamburkan energi akal dan menyia-nyiakannya. Penelitian tentang bagaimana ilmu, penulisan, kehendak, dan penciptaan adalah penelitian tentang bagaimana sifat-sifat Allah, dan bagaimana sifat-sifat ini bekerja. Ini adalah perkara yang pengetahuannya tertutup dari manusia, dan ini adalah ghaib yang wajib diimani, dan tidak boleh bertanya tentang hakikatnya. Peneliti dalam hal ini seperti peneliti tentang bagaimana istawa Allah di atas Arsy-Nya. Dikatakan kepadanya: sifat-sifat yang menjadi dasar takdir ini maknanya diketahui, bagaimananya tidak diketahui, beriman kepadanya wajib, dan bertanya tentang bagaimananya adalah bid’ah.
Sesungguhnya pertanyaan tentang “bagaimana” itulah yang melelahkan para peneliti takdir, dan menjadikan penelitian di dalamnya termasuk perkara yang paling rumit dan paling sulit, serta menampakkan bahwa beriman kepadanya sulit dicapai. Dan itu adalah sebab kebingungan yang menimpa banyak peneliti.
Oleh karena itu, sejumlah ulama telah menegaskan wilayah terlarang yang tidak boleh dimasuki dalam bab takdir. Kita telah menukil di atas perkataan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah yang mengatakan: “Termasuk sunnah yang wajib adalah beriman kepada takdir baik dan buruknya, dan membenarkan hadits-hadits tentangnya, dan beriman kepadanya. Tidak boleh dikatakan: mengapa? dan bagaimana?” (1).
Para peneliti telah menyelami takdir dalam hal bagaimana Allah menciptakan perbuatan hamba-hamba-Nya dengan kondisi bahwa perbuatan-perbuatan ini benar-benar keluar dari manusia, dan mereka meneliti tentang bagaimana ilmu Allah tentang apa yang akan dikerjakan hamba-hamba-Nya, dan bagaimana Dia membebani hamba-hamba-Nya dengan amal padahal Dia mengetahui apa yang akan mereka kerjakan, dan Dia mengetahui nasib mereka ke surga atau neraka.
Para peneliti dalam hal ini membenturkan kitab Allah sebagiannya dengan sebagian yang lain, dan mereka tersesat dan bingung serta tidak sampai ke pantai keselamatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umatnya agar tidak menempuh jalan ini dan berkelana di padang pasir ini. Dalam Sunan Tirmidzi dengan sanad hasan dari Abu Hurairah dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar kepada kami sementara kami sedang berselisih tentang takdir, maka beliau marah hingga wajahnya memerah, hingga seolah-olah delima dipecahkan di pipinya, lalu beliau bersabda: ‘Dengan inikah kalian diperintah, ataukah dengan ini aku diutus kepada kalian? Sesungguhnya binasa orang-orang sebelum kalian ketika mereka berselisih dalam perkara ini. Aku bertekad kepada kalian agar tidak berselisih di dalamnya'” (2).
Sejauh mana pemahaman akal terhadap sebab-sebab, perintah-perintah, dan perbuatan-perbuatan serta apa yang ada di dalamnya berupa kebaikan dan keburukan:
Jumhur ulama dari salaf dan khalaf berpendapat bahwa perintah-perintah Allah dan makhluk-makhluk-Nya memiliki sebab-sebab dan hikmah-hikmah, karena Dia tidak memerintah kecuali karena hikmah, dan tidak menciptakan kecuali karena hikmah.
Sebagian dari hikmah-hikmah ini kembali kepada hamba-hamba, dan sebagiannya kembali kepada Allah Ta’ala. Yang kembali kepada hamba-hamba adalah yang di dalamnya terdapat kebaikan dan kemashlahatan mereka di dunia dan akhirat. Yang kembali kepada Allah Ta’ala adalah kecintaan-Nya untuk disembah, ditaati, bertaubat kepada-Nya, diharapkan, ditakuti, bertawakal kepada-Nya, dan berjihad di jalan-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah (kepada-Ku)” [Adz-Dzariyat: 56], dan berfirman: “Apakah manusia mengira bahwa dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa mempertanggungjawabkan amalnya)?” [Al-Qiyamah: 36], dan berfirman: “Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi alam semesta” [Al-Anbiya: 107], dan berfirman: “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” [Al-Mu’minun: 115].
Nash-nash yang menunjukkan bahwa Allah memiliki hikmah dalam penciptaan dan perintah-Nya sangat banyak dan melimpah, sulit dihitung. Akal-akal manusia mampu memahami sesuatu dari hikmah-hikmah ini.
Jumhur ulama juga berpendapat bahwa akal mampu memahami apa yang ada dalam perbuatan-perbuatan berupa kebaikan dan keburukan. Akal-akal memahami bahwa kezaliman, dusta, pencurian, dan pembunuhan jiwa itu buruk, dan bahwa keadilan, kejujuran, memperbaiki hubungan antar sesama, dan menyelamatkan orang yang tenggelam itu baik dan indah.
Hikmah-hikmah yang diperoleh dari syariat ada tiga jenis:
Pertama: Bahwa perbuatan itu mengandung maslahat atau mafsadat, meskipun syariat tidak datang dengan hal itu, sebagaimana diketahui bahwa keadilan mengandung maslahat dunia, dan kezaliman mengandung kerusakan mereka. Jenis ini baik dan buruk, dan bisa diketahui dengan akal dan syariat kebaikan dan keburukannya, tetapi tidak wajib dalam akal bahwa manusia dihukum atas perbuatan buruk dari jenis ini di akhirat jika syariat tidak datang dengan hal itu. Siapa yang mengklaim bahwa Allah bisa menghukum hamba-hamba atas perbuatan-perbuatan buruk mereka berupa syirik, kekufuran dan semacamnya tanpa mengutus rasul, maka dia telah salah.
Kedua: Jika pembuat syariat memerintahkan sesuatu maka itu menjadi baik, dan jika melarang sesuatu maka itu menjadi buruk. Perbuatan memperoleh sifat baik dan buruk dengan khitab syariat.
Ketiga: Bahwa pembuat syariat memerintahkan sesuatu sebagai ujian dan cobaan sebagaimana Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih anaknya Ismail. Pembuat syariat tidak memiliki maksud dalam penyembelihan anak, tetapi itu adalah ujian dan cobaan.
Mu’tazilah mengakui jenis pertama tanpa yang kedua dan ketiga. Asy’ariyah berpendapat bahwa semua perintah dan larangan syariat adalah dari bagian ujian, dan perbuatan-perbuatan tidak memiliki sifat baik atau buruk sebelum syariat maupun dengan syariat. Adapun para hukama dan jumhur ulama maka mereka menetapkan ketiga bagian tersebut (1).
Dan inilah yang dipegang oleh jumhur Ahlus Sunnah bahwa perbuatan-perbuatan Allah itu ber-‘illah dan bahwa akal mampu memahami apa yang ada dalam perbuatan-perbuatan berupa kebaikan dan keburukan, yang membuka pintu bagi akal-akal manusia untuk meneliti hikmah-hikmah yang menakjubkan yang Allah ciptakan makhluk-makhluk karenanya, dan syariatkan karenanya apa yang Dia syariatkan berupa hukum-hukum. Ini adalah pintu yang besar, hamba-hamba memperoleh darinya ilmu yang agung yang meneguhkan keimanan, menambah keyakinan, dan mengenalkan hamba-hamba kepada keindahan penciptaan Khaliq Yang Maha Agung “Yang telah menciptakan segala sesuatu dengan baik” [As-Sajdah: 7]. Bagaimana tidak demikian padahal Allah Yang Maha Benar lagi Maha Terberkati telah berjanji akan memperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya dari ayat-ayat-Nya yang agung yang menampakkan kebenaran apa yang dibawa oleh Rasul dan diturunkan dalam Kitab: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar” [Fushshilat: 53].
Nash-nash telah datang memerintahkan untuk mentadabburi, merenungkan, dan memperhatikan ayat-ayat-Nya yang diturunkan dan ayat-ayat-Nya yang diciptakan dengan indah: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran?” [Muhammad: 24], “Katakanlah: ‘Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi'” [Yunus: 101], “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan” [Al-Ghasyiyah: 17], “Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya” [Abasa: 24-26].
BAB KELIMA: MAZHAB-MAZHAB DALAM TAKDIR
Kaum muslimin dalam takdir terbagi menjadi beberapa mazhab yang akan kami jelaskan dalam pembahasan-pembahasan berikut:
Pembahasan Pertama: Mazhab yang Mendustakan Takdir
Sebagian orang sesat dalam bab ini berpendapat meniadakan takdir, dan mereka mengklaim bahwa Allah – Maha Tinggi dari apa yang mereka katakan – tidak mengetahui segala sesuatu sebelum terjadinya, dan ilmu-Nya tidak mendahului hal-hal tersebut. Mereka berkata: “Sesungguhnya Allah mengetahui makhluk-makhluk setelah menciptakan dan mewujudkannya.”
Orang-orang ini mengklaim dengan dusta dan bohong bahwa Allah ketika memerintahkan hamba-hamba dan melarang mereka, Dia tidak mengetahui siapa di antara mereka yang akan menaati-Nya dan siapa yang akan mendurhakai-Nya, dan tidak mengetahui siapa yang akan masuk surga dan siapa yang akan masuk neraka, hingga apabila hamba-hamba merespons syariat-Nya atau menolaknya – barulah Dia mengetahui yang bahagia di antara mereka dan yang celaka. Orang-orang sesat ini menolak beriman kepada ilmu Allah yang terdahulu, sebagaimana mereka mendustakan bahwa Allah telah menulis takdir-takdir makhluk sebelum menciptakan langit dan bumi, sebagaimana ditetapkan dalam Kitab dan Sunnah.
Pendapat ini muncul di akhir masa para sahabat. Yang pertama mengatakannya adalah Ma’bad al-Juhani, kemudian mazhab rusak ini diikuti oleh tokoh-tokoh Mu’tazilah dan imam-imam mereka seperti Washil bin Atha’ al-Ghazzal, dan Amr bin Ubaid. Diriwayatkan dari mereka dalam hal ini perkataan-perkataan keji yang di dalamnya terdapat pendustaan kepada Allah dan Rasul-Nya bahwa Allah mengetahui segala sesuatu dan menulisnya sebelum menciptakannya (1).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah khawatir atas umatnya dari kesesatan ini yang menimpa golongan ini. Dalam hadits shahih yang diriwayatkan Ibn Asakir dari Abu Mihjan dan Ibn Abd al-Barr dalam “Al-Jami'” bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku takut atas umatku setelahku tiga hal: kezaliman para pemimpin, beriman kepada bintang-bintang, dan mendustakan takdir” (2).
Abu Ya’la meriwayatkan dalam musnadnya, al-Khatib dalam Tarikh, dan Ibn Adi dalam al-Kamil dengan sanad shahih dari Anas radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku takut atas umatku setelahku dua sifat: mendustakan takdir dan membenarkan bintang-bintang” (3).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan umatnya dari kesesatan ini. Dalam hadits yang diriwayatkan at-Thabrani dalam Mu’jam al-Awsath dan al-Hakim dalam Mustadraknya dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Pembicaraan tentang takdir diakhirkan untuk orang-orang jahat umatku” (4).
At-Thabrani meriwayatkan dalam Mu’jam al-Kabir dari Abu Umamah dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya urusan umat ini akan senantiasa moderat hingga mereka berbicara tentang anak-anak dan tentang takdir” (5).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut golongan ini dengan Majusi umat ini, karena kaum Majusi mengatakan adanya dua pencipta: cahaya dan kegelapan. Golongan ini mengatakan adanya dua pencipta, bahkan mereka mengklaim bahwa setiap orang adalah pencipta selain Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menjauhi golongan ini, tidak dijenguk dan tidak ditolong. Dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad dalam musnadnya dengan sanad hasan dari Ibn Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Setiap umat memiliki majusi, dan majusi umatku adalah mereka yang mengatakan tidak ada takdir. Jika mereka sakit maka jangan dijenguk, dan jika mereka mati maka jangan disaksikan (jenazahnya)” (1).
Dalam hadits lain yang diriwayatkan Ahmad dan Abu Dawud dari Ibn Umar juga dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Qadariyah adalah majusi umat ini. Jika mereka sakit maka jangan dijenguk, dan jika mereka mati maka jangan disaksikan (jenazahnya)” (2).
Para sahabat telah berteriak kepada penganut kesesatan ini dari setiap sisi, dan mengingkari kepada mereka apa yang mereka bawa berupa kesesatan dan kebatilan. Mereka melarang manusia bergaul dengan orang-orang ini dan duduk bersama mereka, serta mengemukakan kepada mereka nash-nash yang membeberkan kebatilan mereka dan menetapkan kebenaran dalam bab takdir.
Dalam Sunan Tirmidzi dari Nafi’ bahwa Ibn Umar didatangi seorang laki-laki yang berkata: “Sesungguhnya fulan menyampaikan salam kepadamu.” Dia berkata kepadanya: “Telah sampai kepadaku bahwa dia telah mengada-ada (bid’ah), jika dia benar-benar mengada-ada maka jangan sampaikan salamku kepadanya, karena aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Akan terjadi pada umat ini atau pada umatku: tanah longsor, perubahan bentuk, atau dilempari (batu) terhadap penganut takdir.'”
At-Tirmidzi berkata: Ini hadits hasan shahih gharib.
Dalam Tirmidzi dari Ibn Umar juga secara marfu’: “Akan terjadi pada umatku tanah longsor dan perubahan bentuk, yaitu terhadap orang-orang yang mendustakan takdir” (3).
Dalam Sunan Tirmidzi juga dari Abd al-Wahid bin Salim dia berkata: Aku datang ke Mekah lalu bertemu Atha’ bin Abi Rabah, aku berkata kepadanya: “Wahai Abu Muhammad, sesungguhnya penduduk Bashrah mengatakan: tidak ada takdir.” Dia berkata: “Wahai anakku, apakah kamu membaca Al-Quran?”
Aku berkata: “Ya.”
Dia berkata: “Bacalah Az-Zukhruf.”
Dia berkata: Maka aku membaca: “Ha Mim. Demi Kitab yang jelas (Al-Quran). Sesungguhnya Kami menjadikannya Al-Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya). Dan sesungguhnya Al-Quran itu dalam induk Al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, benar-benar tinggi (kedudukannya) dan penuh hikmah” [Az-Zukhruf: 1-4].
Dia berkata: “Apakah kamu tahu apa itu Umm al-Kitab?”
Aku berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.”
Dia berkata: “Sesungguhnya itu adalah kitab yang Dia tulis sebelum menciptakan langit dan bumi, di dalamnya (disebutkan) bahwa Fir’aun termasuk penghuni neraka, dan di dalamnya (ada): ‘Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa'” [Al-Masad: 1].
Atha’ berkata: “Lalu aku bertemu al-Walid bin Ubadah bin ash-Shamit, sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku bertanya kepadanya: ‘Apa wasiat ayahmu ketika meninggal?'”
Dia berkata: “Ayahku memanggilku lalu berkata kepadaku: ‘Wahai anakku, bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa kamu tidak akan bertakwa kepada Allah hingga kamu beriman kepada Allah dan beriman kepada takdir seluruhnya, baik dan buruknya. Jika kamu mati bukan atas hal ini maka kamu akan dimasukkan ke neraka. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya yang pertama kali Allah ciptakan adalah pena. Dia berfirman: Tulislah! Pena berkata: Apa yang harus kutulis? Allah berfirman: Tulislah apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi sampai selamanya.'”
At-Tirmidzi berkata: Ini hadits gharib dari jalur ini (1).
Para imam telah menegaskan kekufuran golongan ini yang tidak mengakui ilmu Allah. Di antara yang menegaskan kekufuran mereka adalah imam-imam Malik, Syafi’i, dan Ahmad (1).
Golongan yang mendustakan ilmu Allah yang terdahulu ini telah musnah atau hampir musnah. As-Safarini berkata: “Para ulama berkata: Orang-orang yang mengingkari hal ini telah punah, dan merekalah yang dikafirkan oleh Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad dan imam-imam lainnya” (2).
Al-Qurthubi berkata: “Mazhab ini telah punah, kami tidak mengetahui seorang pun yang dinisbatkan kepadanya dari kalangan mutaakhirin.” Al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani berkata: “Qadariyah hari ini sepakat bahwa Allah mengetahui perbuatan-perbuatan hamba sebelum terjadinya, dan mereka hanya menyelisihi salaf dalam anggapan mereka bahwa perbuatan-perbuatan hamba itu dikuasai oleh mereka, dan terjadi dari mereka secara mandiri. Ini meskipun merupakan mazhab yang batil, lebih ringan dari mazhab yang pertama. Dia berkata: Dan mutaakhirin di antara mereka mengingkari keterkaitan iradat dengan perbuatan-perbuatan hamba karena lari dari keterkaitan yang qadim dengan yang baru” (3).
An-Nawawi berkata: “Para ahli maqalat dari kalangan mutakallimin berkata: Qadariyah yang mengatakan perkataan keji dan batil ini telah punah, dan tidak tersisa seorang pun dari ahli qiblat yang menganutnya. Qadariyah pada zaman-zaman belakangan meyakini penetapan takdir, tetapi mereka berkata: kebaikan dari Allah, dan keburukan dari selain-Nya, Maha Tinggi Allah dari perkataan mereka” (4).
“Qadariyah mengakui bahwa Allah menciptakan manusia sebagai yang berkehendak, tetapi mereka menjadikannya berkehendak dengan potensi dan penerimaan, yaitu dapat menghendaki ini dan menghendaki itu. Adapun kenyataan bahwa dia menghendaki yang tertentu ini dan yang tertentu itu, maka ini menurut mereka bukanlah ciptaan” (1).
“Maka orang-orang ini sebenarnya adalah majusi dualis, bahkan lebih besar dari mereka. Karena kaum dualis menetapkan dua pencipta untuk seluruh alam, sedangkan orang-orang ini menetapkan dua pencipta untuk setiap individu dari individu-individu, dan untuk setiap perbuatan dari perbuatan-perbuatan, bahkan mereka menjadikan semua makhluk sebagai pencipta. Seandainya bukan karena kontradiksi mereka, niscaya mereka lebih kafir dari kaum Majusi.
Konsekuensi, keharusan, dan hasil pendapat mereka adalah mengeluarkan perbuatan-perbuatan hamba dari penciptaan Allah ‘azza wa jalla dan kepemilikan-Nya, dan bahwa hal-hal tersebut tidak masuk dalam rububiyah-Nya ‘azza wa jalla, dan bahwa di dalam kerajaan-Nya terjadi apa yang tidak Dia kehendaki, dan Dia menghendaki apa yang tidak terjadi, dan bahwa mereka tidak membutuhkan Allah ‘azza wa jalla, maka mereka tidak meminta pertolongan untuk ketaatan kepada-Nya dan tidak meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya, dan tidak berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa mereka dan tidak dari keburukan amal-amal mereka, dan tidak meminta petunjuk-Nya ke jalan yang lurus” (2).
Qadariyah dengan anggapan mereka ingin mensucikan dan mengagungkan Allah ketika mereka mengklaim bahwa Allah menghendaki keimanan dari orang kafir, tetapi orang kafir itulah yang menghendaki kekufuran. Hujjah mereka dalam hal itu adalah bahwa ini mengarah kepada kezaliman, yaitu bagaimana Allah menghendaki kekufuran dari orang kafir kemudian menyiksanya karenanya.
Tetapi mereka – sebagaimana dikatakan oleh penshare Thahawiyah – “menjadi seperti orang yang berlindung dari panas terik dengan api, karena mereka lari dari sesuatu lalu jatuh ke dalam yang lebih buruk darinya. Sebab konsekuensinya adalah bahwa kehendak orang kafir mengalahkan kehendak Allah Ta’ala, karena Allah telah menghendaki keimanan darinya – menurut pendapat mereka – dan orang kafir menghendaki kekufuran, maka terjadilah kehendak orang kafir bukan kehendak Allah Ta’ala. Ini termasuk keyakinan yang paling buruk, dan ini adalah perkataan yang tidak ada dalilnya, bahkan menyelisihi dalil” (3).
Dan kehendak Allah terhadap kekafiran dari orang kafir bukanlah kezaliman bagi mereka sebagaimana yang didakwakan oleh para pengikut Qadariyah yang zalim; karena Allah memiliki hujjah yang sempurna, dan Dia memiliki hikmah-hikmah terhadap hamba-hamba-Nya yang tidak diketahui kecuali oleh-Nya Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi.
Dalam Shahih Muslim dari Abu al-Aswad ad-Duali, dia berkata: Imran bin Hushain berkata kepadaku: “Bagaimana pendapatmu tentang apa yang dikerjakan manusia hari ini dan apa yang mereka perjuangkan, apakah itu sesuatu yang telah ditetapkan atas mereka dan telah berlalu atas mereka dari takdir yang telah mendahului? Ataukah dalam hal apa yang mereka hadapi dari apa yang dibawa oleh Nabi mereka, dan telah tegak hujjah atas mereka?”
Aku berkata: “Tetapi itu adalah sesuatu yang telah ditetapkan atas mereka dan telah berlalu atas mereka.”
Dia berkata: “Bukankah itu adalah kezaliman?”
Dia berkata: Maka aku sangat terkejut dan berkata: “Segala sesuatu adalah ciptaan Allah dan milik tangan-Nya, maka Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya sedangkan mereka akan ditanya.”
Dia berkata kepadaku: “Semoga Allah merahmatimu, aku tidak bermaksud dengan pertanyaanku kecuali untuk menguji akalmu. Sesungguhnya dua orang dari suku Muzainah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: ‘Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang apa yang dikerjakan manusia hari ini dan apa yang mereka perjuangkan, apakah itu sesuatu yang telah ditetapkan atas mereka dan telah berlalu pada mereka dari takdir yang telah mendahului, ataukah dalam hal apa yang mereka hadapi dari apa yang dibawa oleh Nabi mereka, dan telah tegak hujjah atas mereka?'”
Beliau bersabda: “Tidak, tetapi itu adalah sesuatu yang telah ditetapkan atas mereka dan telah berlalu pada mereka, dan pembenaran hal itu ada dalam Kitab Allah:” “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya” (QS. Asy-Syams: 7-8).
Dalam Sunan Abu Dawud dari Ibnu ad-Dailami dia berkata: Aku datang kepada Ubai bin Ka’ab, lalu aku berkata kepadanya: Telah timbul dalam hatiku sesuatu tentang takdir, maka ceritakanlah kepadaku sesuatu semoga Allah menghilangkannya dari hatiku. Dia berkata: “Seandainya Allah menyiksa penduduk langit-Nya dan penduduk bumi-Nya, Dia akan menyiksa mereka sedangkan Dia tidak zalim kepada mereka, dan seandainya Dia merahmati mereka, maka rahmat-Nya lebih baik bagi mereka daripada amal-amal mereka. Seandainya kamu menginfakkan emas sebesar gunung Uhud di jalan Allah, Allah tidak akan menerimanya darimu hingga kamu beriman kepada takdir, dan kamu mengetahui bahwa apa yang menimpamu tidak akan meleset darimu, dan apa yang meleset darimu tidak akan menimpamu. Jika kamu mati atas selain ini, niscaya kamu akan masuk neraka.”
Dia berkata: Kemudian aku datang kepada Abdullah bin Mas’ud, maka dia berkata seperti itu, kemudian aku datang kepada Hudzaifah bin al-Yaman maka dia berkata seperti itu, kemudian aku datang kepada Zaid bin Tsabit maka dia berkata seperti itu.
Dan para Qadariyah dengan jalan mereka ini telah memberikan jalan kepada ahli kesesatan untuk menyerang mereka. Umar bin Haitsam menyebutkan bahwa dia berkata: Kami keluar dengan kapal, dan bersama kami di dalamnya seorang Qadari dan seorang Majusi. Maka Qadari itu berkata kepada Majusi: “Masuklah Islam.”
Majusi berkata: “Hingga Allah menghendaki.”
Qadari berkata: “Sesungguhnya Allah menghendaki, tetapi setan tidak menghendaki.”
Majusi berkata: “Allah menghendaki dan setan menghendaki, maka terjadilah apa yang setan kehendaki, ini adalah setan yang kuat.” Dalam riwayat lain dia berkata: “Maka aku bersama yang paling kuat di antara keduanya.”
Perdebatan Ahli Sunnah dengan Qadariyah
Logika kaum Mu’tazilah tidak mampu bertahan dalam perdebatan dengan orang awam Ahli Sunnah, apalagi dengan para ulama dan ahli pendapat di antara mereka.
Para ahli ilmu menyebutkan bahwa seorang badui datang kepada Amr bin Ubaid, lalu berkata kepadanya: Sesungguhnya untaku dicuri, maka berdoalah kepada Allah agar mengembalikannya kepadaku.
Amr bin Ubaid berkata: “Ya Allah, sesungguhnya unta orang fakir ini dicuri, dan Engkau tidak menghendaki pencuriannya, ya Allah kembalikanlah untanya kepadanya.”
Badui itu berkata: “Sekarang untaku hilang, dan aku putus asa darinya.”
Dia berkata: “Mengapa?”
Dia berkata: “Karena jika Dia menghendaki agar tidak dicuri tetapi dicuri, aku tidak aman jika Dia menghendaki kembalinya tetapi tidak kembali,” dan dia bangkit dari sisinya sambil pergi.
Jawaban Abu Isham al-Qasthallani untuk Qadari
Seorang laki-laki berkata kepada Abu Isham al-Qasthallani: “Bagaimana pendapatmu jika Dia mencegahku dari petunjuk, dan memasukkanku ke dalam kesesatan kemudian menyiksaku, apakah Dia berlaku adil?”
Abu Isham berkata kepadanya: “Jika petunjuk itu adalah sesuatu yang menjadi miliknya, maka Dia berhak memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan mencegahnya dari siapa yang dikehendaki-Nya.”
Perdebatan Abdul Jabbar al-Hamdani dan Abu Ishaq al-Isfarayini
Abdul Jabbar al-Hamdani, salah seorang syaikh Mu’tazilah, masuk menemui ash-Shahib Ibnu Abbad, dan di sisinya ada Abu Ishaq al-Isfarayini, salah seorang imam Ahli Sunnah. Ketika sang guru melihat dia berkata: “Maha Suci Allah yang menyucikan diri dari perbuatan keji.” Maka sang guru segera berkata: “Maha Suci Allah yang tidak terjadi di kerajaan-Nya kecuali apa yang dikehendaki-Nya.”
Hakim berkata: “Apakah Tuhan kita menghendaki untuk durhaka kepada-Nya?”
Guru berkata: “Apakah Tuhan kita durhaka dengan paksa?”
Hakim berkata: “Bagaimana pendapatmu jika Dia mencegahku dari petunjuk, dan menetapkan atasku kebinasaan, apakah Dia berbuat baik kepadaku atau berbuat buruk?”
Guru berkata: “Jika Dia mencegahmu dari apa yang menjadi milikmu maka Dia telah berbuat buruk, dan jika Dia mencegahmu dari apa yang menjadi milik-Nya maka Dia mengkhususkan rahmat-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” Maka hakimpun terdiam.
Dalam Tarikh ath-Thabari bahwa Ghailan berkata kepada Maimun bin Mihran di hadapan Hisyam bin Abdul Malik yang membawanya untuk berdebat dengannya:
“Apakah Allah menghendaki untuk durhaka kepada-Nya?”
Maimun berkata kepadanya: “Apakah durhaka dengan terpaksa?”
Antara Umar bin Abdul Aziz dan Ghailan ad-Dimasyqi
Umar bin Abdul Aziz berdebat dengan Ghailan ad-Dimasyqi, salah seorang tokoh Mu’tazilah. Umar berkata kepadanya: “Wahai Ghailan, telah sampai kepadaku bahwa kamu berbicara tentang takdir.”
Dia berkata: “Mereka berdusta tentangku wahai Amirul Mukminin.”
Dia berkata: “Bacakan kepadaku surat Yasin.”
Dia berkata: Maka dia membacakan kepadanya: “Yasin. Demi Al-Quran yang penuh hikmah. Sesungguhnya kamu salah seorang dari para rasul. (Yang berada) di atas jalan yang lurus. (Sebagai) wahyu yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai. Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (terangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat” (QS. Yasin: 1-9).
Ghailan berkata: “Tidak, demi Allah, seakan-akan aku wahai Amirul Mukminin tidak pernah membacanya kecuali hari ini. Aku bersaksi wahai Amirul Mukminin bahwa aku bertaubat dari perkataanku tentang takdir.”
Umar berkata: “Ya Allah, jika dia jujur maka terimalah taubatnya, dan jika dia dusta maka jadikanlah dia pelajaran bagi orang-orang beriman.”
Mu’adz bin Mu’adz berkata: Seorang temanku menceritakan kepadaku, dia berkata:
“At-Taimi melewati rumah Ibnu Aun lalu menceritakan hadits ini kepadanya. Ibnu Aun berkata: ‘Aku melihatnya disalib di Damaskus.'”
Abu Ja’far al-Khathmi berkata:
“Aku menyaksikan Umar bin Abdul Aziz ketika dia memanggil Ghailan karena sesuatu yang sampai kepadanya tentang takdir, lalu dia berkata kepadanya: ‘Celakalah kamu wahai Ghailan, apa ini yang sampai kepadaku tentangmu?'”
Dia berkata: “Mereka berdusta tentangku wahai Amirul Mukminin, dikatakan tentangku apa yang tidak aku katakan.”
Dia berkata: “Apa yang kamu katakan tentang ilmu?” Dia berkata: “Ilmu telah berlaku.”
Dia berkata: “Kamu telah terkalahkan, pergilah sekarang dan katakan apa yang kamu mau. Wahai Ghailan, sesungguhnya jika kamu mengakui ilmu maka kamu terkalahkan, dan jika kamu mengingkarinya maka kamu kafir, dan sesungguhnya jika kamu mengakuinya lalu terkalahkan, itu lebih baik bagimu daripada kamu mengingkari lalu kafir.”
Kemudian dia berkata kepadanya: “Apakah kamu membaca Yasin?”
Dia berkata: “Ya.”
Dia berkata: “Bacalah.”
Dia berkata: Maka dia membaca: “Yasin. Demi Al-Quran yang penuh hikmah…” hingga firman-Nya: “Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman” (QS. Yasin: 1-7).
Dia berkata: “Berhenti, bagaimana kamu melihat?”
Dia berkata: “Seakan-akan aku tidak pernah membaca ayat ini wahai Amirul Mukminin.”
Dia berkata: “Tambah.”
Maka dia membaca: “Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (terangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula)” (QS. Yasin: 8-9).
Maka Umar berkata kepadanya: “Katakan: “dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Dan sama saja bagi mereka kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman” (QS. Yasin: 9-10).
Dia berkata: “Bagaimana kamu melihat?”
Dia berkata: “Seakan-akan aku tidak pernah membaca ayat-ayat ini sama sekali, dan sesungguhnya aku berjanji kepada Allah untuk tidak berbicara lagi dalam sesuatu yang dahulu aku bicarakan selamanya.” Dia berkata: “Pergilah.” Ketika dia berpaling, Umar berkata: “Ya Allah, jika dia dusta dengan apa yang dikatakannya maka rasakanlah kepadanya panasnya senjata.”
Dia berkata: Maka dia tidak berbicara pada zaman Umar, ketika masa Yazid bin Abdul Malik dia adalah seorang yang tidak peduli dengan hal ini dan tidak memperhatikannya.
Dia berkata: Maka Ghailan berbicara.
Ketika Hisyam menjadi khalifah, dia mengirim utusan kepadanya lalu berkata kepadanya: “Bukankah kamu telah berjanji kepada Allah untuk Umar bahwa kamu tidak akan berbicara dalam sesuatu dari ini selamanya?”
Dia berkata: “Maafkanlah aku, demi Allah aku tidak akan mengulangi.”
Dia berkata: “Allah tidak memaafkanku jika aku memaafkanmu, apakah kamu membaca Fatihah al-Kitab?”
Dia berkata: “Ya.”
Dia berkata: “Bacalah: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam” .
Maka dia membaca: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan” (QS. Al-Fatihah: 2-5).
Dia berkata: “Berhenti. Untuk apa kamu meminta pertolongan kepada-Nya? Untuk perkara yang berada di tangan-Nya yang tidak kamu mampu, ataukah untuk perkara yang ada di tanganmu atau di bawah kuasamu? Pergilah kalian berdua, potonglah kedua tangannya dan kedua kakinya, penggallah lehernya dan salibkan dia.”
Para Qadariyah yang menolak terhalang dari meminta pertolongan kepada Allah Yang Maha Esa, karena mereka mengklaim bahwa Allah tidak berkuasa atas perbuatan-perbuatan hamba, dan bahwa hambalah yang menciptakan perbuatannya, maka bagaimana mereka meminta pertolongan kepada Allah atas sesuatu yang tidak dikuasai-Nya.
Mereka ini dalam apa yang mereka perbuat bergantung pada daya dan kekuatan serta amal mereka, dan mereka meminta balasan dan pahala dari Allah sebagaimana pekerja meminta upahnya dari yang mempekerjakannya. Padahal Allah tidak membutuhkan hamba-hamba dan amal-amal mereka, bahkan manfaat itu kembali kepada hamba-hamba itu sendiri. Dengan kondisi hamba-hamba adalah mereka yang membutuhkan amal-amal, maka tidak ada yang membebaskan mereka dari meminta pertolongan kepada Allah “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan” (QS. Al-Fatihah: 5). “Maka sembahlah Dia dan bertawakkallah kepada-Nya” (QS. Hud: 123).
Syubhat dan Jawabannya
1- Makna Penghapusan dan Penetapan dalam Catatan, serta Penambahan Ajal dan Pengurangannya:
Mungkin sebagian orang merasa bingung dengan tempat-tempat dalam Kitab Allah dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sebagian mereka berkata: Jika Allah mengetahui apa yang akan terjadi, dan menulis semua itu di sisi-Nya dalam sebuah kitab, maka apa makna firman-Nya: “Allah menghapus apa yang dikehendaki-Nya dan menetapkan (apa yang dikehendaki-Nya)” (QS. Ar-Ra’d: 39).
Dan jika rezeki, amal, dan ajal sudah tertulis tidak bertambah dan tidak berkurang, maka bagaimana kalian mengarahkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa yang senang dilapangkan rezekinya, dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah dia menyambung silaturahmi.”
Dan bagaimana kalian menafsirkan ucapan Nuh kepada kaumnya: “Sembahlah Allah dan bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku. Niscaya Dia akan mengampuni sebagian dosamu dan menangguhkan kamu sampai waktu yang ditentukan” (QS. Nuh: 3-4). Dan apa pendapat kalian tentang hadits yang di dalamnya Allah menjadikan umur Dawud ‘alaihissalam seratus tahun setelah sebelumnya empat puluh tahun.
Jawabannya adalah bahwa rezeki dan umur ada dua macam:
Macam yang telah berjalan dengan takdir dan ditulis dalam Ummul Kitab, maka ini tidak berubah dan tidak berganti. Dan macam yang Allah beritahukan kepada malaikat-malaikat-Nya, maka inilah yang bertambah dan berkurang. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: “Allah menghapus apa yang dikehendaki-Nya dan menetapkan (apa yang dikehendaki-Nya), dan di sisi-Nya-lah Ummul Kitab” (QS. Ar-Ra’d: 39). Dan Ummul Kitab adalah Lauh Mahfuzh yang Allah takdirkan di dalamnya perkara-perkara sesuai dengan keadaannya.
Dalam kitab-kitab malaikat, umur bertambah dan berkurang, demikian juga rezeki menurut sebab-sebabnya. Sesungguhnya malaikat menulis untuknya rezeki dan ajal, maka jika dia menyambung silaturahmi, ditambahkan untuknya rezeki dan ajal, dan jika tidak maka dikurangi untuknya dari keduanya.
“Dan ajal itu ada dua: ajal mutlak yang Allah ketahui, dan ajal terikat. Sesungguhnya Allah memerintahkan malaikat untuk menulis bagi hamba-Nya suatu ajal, jika dia menyambung silaturahmi, maka Dia memerintahkannya untuk menambah ajalnya dan rezekinya. Dan malaikat tidak mengetahui apakah akan ditambah untuknya dalam hal itu atau tidak, tetapi Allah mengetahui apa yang akan menjadi ketetapan perkara itu, maka jika ajal telah datang, tidak akan maju dan tidak akan mundur.”
Ibnu Hajar al-Asqallani berkata: “Yang telah terdahulu dalam ilmu Allah tidak berubah dan tidak berganti, dan yang boleh berubah dan berganti adalah apa yang tampak bagi manusia dari amal si pekerja, dan tidak mustahil jika hal itu berkaitan dengan apa yang ada dalam ilmu para penjaga dan yang ditugaskan mengurus manusia, maka terjadi di dalamnya penghapusan dan penetapan, seperti penambahan umur dan pengurangan. Adapun yang ada dalam ilmu Allah maka tidak ada penghapusan di dalamnya dan tidak ada penetapan, dan ilmu itu di sisi Allah.”
2- Keserasian antara Takdir dengan “Setiap Bayi Dilahirkan dalam Keadaan Fitrah”:
Sebagian orang mungkin berkata bagaimana Allah menakdirkan segala sesuatu padahal telah shahih dari Rasul kita bahwa setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah?
Jawabannya adalah tidak ada pertentangan dan tidak ada pertentangan antara nash-nash yang menjelaskan bahwa segala sesuatu dengan takdir, dan nash-nash yang mengabarkan bahwa setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah.
Allah memfitrahkan hamba-hamba-Nya dalam keadaan selamat dari keyakinan-keyakinan batil sebagaimana Dia memfitrahkan mereka untuk menerima akidah-akidah yang benar, kemudian jika mereka dilahirkan, mereka dikelilingi oleh setan-setan dari jin dan manusia, maka mereka merusak fitrah mereka dan mengubahnya, dan Allah menetapkan siapa yang dikehendaki Allah petunjuknya tetap di atas kebenaran.
Dan Allah mengetahui siapa yang tetap pada fitrah yang lurus dan selamat, dan siapa yang fitrahnya berubah, Dia mengetahui hal itu sejak azali dan menulisnya, maka tidak ada pertentangan antara nash-nash ini dan tidak ada pertentangan di antara keduanya. Dalam hadits yang diriwayatkan Muslim dalam shahihnya dari Iyadh bin Himar dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam apa yang diriwayatkannya dari Allah: “Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (lurus), maka setan-setan menyesatkan mereka, dan mengharamkan atas mereka apa yang Aku halalkan bagi mereka, dan memerintahkan mereka untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak Aku turunkan keterangan untuknya.”
Dan Allah mengetahui siapa yang disesatkan setan dan diperdaya, dan mengetahui siapa yang tetap di atas kebenaran dan diberi petunjuk kepada yang benar.
Jika kamu memahami apa yang kami jelaskan ini, kamu akan mengetahui bagaimana mengarahkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Allah menciptakan Yahya bin Zakaria dalam perut ibunya dalam keadaan beriman, dan menciptakan Fir’aun dalam perut ibunya dalam keadaan kafir.” Diriwayatkan oleh Ibnu Adi dalam al-Kamil, dan ath-Thabarani dalam al-Awsath.
3- Jika Perkara-perkara Sudah Ditakdirkan, Maka Apa Makna Firman-Nya: “Dan apa yang menimpamu dari keburukan maka dari dirimu sendiri”:
Sebagian orang mungkin berdalil untuk Qadariyah yang menolak dengan firman Allah Ta’ala: “Apa yang menimpamu dari kebaikan maka dari Allah, dan apa yang menimpamu dari keburukan maka dari dirimu sendiri” (QS. An-Nisa: 79), dan mereka mengira bahwa yang dimaksud dengan kebaikan dan keburukan dalam ayat ini adalah ketaatan dan kemaksiatan.
Mereka ini keliru dalam memahami, yang dimaksud dengan kebaikan di sini adalah nikmat-nikmat, dan yang dimaksud dengan keburukan adalah musibah-musibah. Yang menunjukkan kepada kita kebenaran pemahaman ini adalah konteks nash. Allah Ta’ala berfirman: “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. Dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: ‘Ini dari sisi Allah’, dan jika mereka ditimpa keburukan, mereka mengatakan: ‘Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad).’ Katakanlah: ‘Semuanya (datang) dari sisi Allah.’ Maka mengapa orang-orang itu (orang-orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun. Apa yang menimpamu dari kebaikan maka dari Allah, dan apa yang menimpamu dari keburukan maka dari dirimu sendiri” (QS. An-Nisa: 78-79).
Maka Allah menceritakan tentang orang-orang munafik bahwa mereka jika ditimpa kebaikan seperti rezeki, kemenangan, dan kesehatan, mereka berkata: “Ini dari Allah,” dan jika mereka ditimpa keburukan – seperti pukulan, penyakit, dan ketakutan dari musuh – mereka berkata: “Ini dari sisimu wahai Muhammad. Kamulah yang membawa agama ini yang karena agama inilah manusia memusuhi kami, dan kami diuji karenanya dengan musibah-musibah ini.”
Maka kebaikan di sini adalah nikmat-nikmat, dan keburukan adalah musibah-musibah, dan ini seperti firman Allah Ta’ala: “Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana mereka bergembira karenanya. Dan jika kamu bersabar dan bertakwa niscaya tipu daya mereka tidak akan membahayakan kamu sedikitpun” (QS. Ali Imran: 120), dan firman-Nya: “Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)” (QS. Al-A’raf: 168).
Kemudian Allah menetapkan kebenaran bahwa musibah-musibah dan nikmat-nikmat tidak keluar dari takdir Allah dan kehendak-Nya “Katakanlah: ‘Semuanya (datang) dari sisi Allah.’ Maka mengapa orang-orang itu (orang-orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun” (QS. An-Nisa: 78).
Kemudian Yang Maha Benar, Allah Yang Maha Berkah dan Maha Tinggi, menjelaskan bahwa kejahatan-kejahatan yang berupa musibah-musibah tidak memiliki sebab lain ketika hamba berbuat dosa kecuali dari dirinya sendiri. Adapun kebaikan yang menimpa hamba, maka sebab-sebabnya tidak terbatas, karena itu adalah karunia Allah yang terjadi karena amal hamba dan tanpa amalnya berupa anugerah Allah kepadanya. Maka wajib bagi para hamba untuk bersyukur kepada Tuhan mereka dan memuji-Nya atas apa yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka, sebagaimana wajib bagi mereka untuk memperbanyak taubat, kembali kepada Allah, dan istighfar dari dosa-dosa yang telah mereka perbuat yang menyebabkan musibah dan bencana menimpa mereka.
Jika engkau merenungkan firman-Nya: “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri” (An-Nisa: 79), maka engkau akan mengetahui bahwa hasanah (kebaikan) dan sayyi’ah (keburukan) adalah perbuatan Allah terhadap hamba-hamba-Nya yang berupa musibah dan nikmat. Adapun firman-Nya “maka dari (kesalahan) dirimu sendiri” artinya karena dosa-dosa hamba dan kesalahan-kesalahannya. Ini meskipun telah ditakdirkan, namun Allah menakdirkan musibah itu terjadi karena dosa.
Adapun hasanah dan sayyi’ah yang merupakan perbuatan para hamba, maka tidak dikatakan padanya: “apa yang menimpamu”. Namun Allah berfirman: “Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik dari padanya, dan barangsiapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu tidak diberi pembalasan melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan” (Al-Qashash: 84). Allah berfirman di sini: “datang” karena kebaikan adalah perbuatan orang yang datang. Oleh karena itu, Allah menyatakan hal ini dengan tegas dalam sisi dosa dan kemaksiatan: “maka orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu tidak diberi pembalasan melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan” (Al-Qashash: 84).
4- Bagaimana Allah menciptakan kejahatan dan menakdirkannya?
Sebagian kaum Qadariyah mungkin membantah dengan mengatakan: Sesungguhnya Allah Maha Suci dari melakukan kejahatan, dan yang wajib bagi para hamba adalah menyucikan Tuhan mereka dari kejahatan dan perbuatannya. Mereka ini telah mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan sehingga masalah-masalah menjadi kabur bagi mereka.
Jawaban atas syubhat ini adalah bahwa Allah Ta’ala tidak menciptakan kejahatan murni yang tidak ada kebaikan di dalamnya, tidak ada manfaat bagi siapa pun, tidak mengandung hikmah dan rahmat, dan Allah tidak menyiksa manusia tanpa dosa. Para ulama seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim serta lainnya telah menjelaskan hikmah dan rahmat yang terkandung dalam penciptaan iblis, serangga, dan binatang buas.
Satu hal yang sama bisa menjadi kebaikan dari satu segi dan kejahatan dari segi lain. Allah menciptakan iblis untuk menguji hamba-hamba-Nya. Di antara mereka ada yang membencinya, memeranginya dan memerangi metodnya, memusuhinya dan memusuhi wali-walinya, serta loyal kepada Ar-Rahman dan tunduk kepada-Nya. Di antara mereka ada pula yang loyal kepadanya dan mengikuti langkah-langkahnya.
Orang-orang yang Meninggalkan Amal karena Mengandalkan Takdir
Kelompok lain tersesat dalam masalah takdir. Mereka berkata: Jika Allah mengetahui segala sesuatu yang akan kita lakukan, mengetahui nasib kita apakah masuk surga atau neraka, dan Dia adalah Pencipta perbuatan-perbuatan kita, maka mengapa kita beramal dan bersusah payah? Mengapa kita tidak membiarkan takdir berjalan sesuai jalurnya, dan apa yang ditakdirkan bagi kita akan datang kepada kita, mau kita atau tidak.
Kesesatan ini telah mengakar pada kelompok-kelompok ahli ibadah, zuhud, dan tasawuf. Tidak hanya satu golongan tertentu dari golongan-golongan ahli teologi yang mengatakannya, dan perkataan ini ada dan masih ada di lidah banyak orang Islam yang jahil serta ahli penyimpangan dan zindik.
Kelompok ini beriman kepada takdir, bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, Pencipta segala sesuatu, dan menghendaki semua makhluk. Namun mereka mengklaim bahwa semua yang diciptakan dan dikehendaki Allah pasti diridhai dan dicintai-Nya. Mereka mengklaim tidak ada kebutuhan bagi para hamba untuk beramal dan mengambil sebab-sebab, karena apa yang ditakdirkan bagi mereka akan datang kepada mereka. Mereka mengklaim bahwa para hamba dipaksa melakukan perbuatan-perbuatan mereka, sehingga manusia menurut mereka tidak memiliki kemampuan yang berpengaruh dalam perbuatan, bahkan dia bersama takdir seperti bulu di hembusan angin, seperti yang jatuh dari puncak gunung tinggi ke lembah yang dalam jurangnya, tidak menguasai sedikitpun urusannya ketika dia terperosok ke dalamnya.
Mereka ini telah meninggalkan amal dengan berdalih takdir sebelum terjadi, dan berdalih dengan takdir atas perbuatan-perbuatan mereka yang menyalahi syariat. Keadaan mereka sampai pada tidak membedakan antara kufur dan iman, ahli hidayah dan kesesatan, karena semua itu adalah ciptaan Allah, lalu mengapa harus dibedakan?
Sesungguhnya akidah yang menyimpang ini telah menyesatkan akal-akal yang banyak dan menyimpangkan arahnya dari jalan kebenaran dan kebenaran, sehingga timbangan keadilan dan kebenaran menjadi kacau. Akidah yang menyimpang ini telah menonaktifkan energi-energi besar di dunia Islam, membuatnya duduk diam dari beramal, bahkan kadang-kadang mengarahkan amal-amal mereka untuk kepentingan musuh-musuh Islam.
Dampak dari akidah ini adalah mengklaim bahwa Allah mencintai kekufuran, kemusyrikan, pembunuhan, zina, pencurian, durhaka kepada orang tua, dan dosa-dosa serta kemaksiatan lainnya, karena mereka mengklaim bahwa segala sesuatu yang diciptakan dan diadakan Allah pasti dicintai dan diridhai-Nya.
Di antara dampaknya adalah bahwa penganutnya meninggalkan amal-amal saleh yang baik yang mengantarkan mereka ke surga dan menyelamatkan mereka dari neraka, dan melakukan banyak dosa besar dengan alasan bahwa takdir pasti datang, dan semua yang ditakdirkan bagi hamba akan menimpanya, lalu mengapa harus beramal, lelah, dan bersusah payah.
Mereka ini telah meninggalkan pengambilan sebab-sebab, sehingga meninggalkan shalat dan puasa, sebagaimana meninggalkan doa, meminta pertolongan kepada Allah, dan bertawakal kepada-Nya, karena tidak ada faedahnya. Yang dikehendaki Allah pasti berlalu dan datang, tidak berguna bersamanya doa dan amal.
Banyak dari mereka rela dengan kezaliman para zalim dan kerusakan para perusak, karena apa yang mereka lakukan adalah takdir Allah dan kehendak-Nya.
Mereka meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar, tidak peduli dengan penegakan hudud dan qishas, karena kemungkaran dan kejahatan yang terjadi adalah takdir yang tidak bisa dihindari.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah membahas kelompok ini, akidah dan keadaan mereka di beberapa tempat dalam kitab-kitabnya. Beliau berkata: “Orang-orang yang mengakui qada dan qadar, dan mengklaim bahwa hal itu sesuai dengan perintah dan larangan, maka mereka ini ujungnya akan menonaktifkan syariat-syariat dan perintah serta larangan, sambil mengakui rububiyah umum bagi setiap makhluk, dan bahwa tidak ada makhluk melainkan Tuhanku yang memegang ubun-ubunnya. Inilah yang sering menimpa – baik secara keyakinan maupun keadaan – kelompok-kelompok dari kaum sufi dan fakir hingga sebagian mereka keluar kepada membolehkan yang haram, menggugurkan kewajiban-kewajiban, dan mengangkat hukuman-hukuman.”
Beliau juga berkata tentang mereka: “Mereka ini melihat bahwa Allah adalah Pencipta semua makhluk, maka Dia adalah Pencipta perbuatan para hamba dan Yang menghendaki segala yang ada, dan mereka tidak membedakan setelah itu antara iman dan kufur, tidak mengenal dan mengingkari, tidak hak dan batil, tidak yang mendapat hidayah dan yang sesat, tidak yang benar dan yang tersesat, tidak nabi dan yang mengaku nabi, tidak wali Allah dan musuh, tidak yang diridhai Allah dan yang dimurkai, tidak yang dicintai Allah dan yang dibenci, tidak antara keadilan dan kezaliman, tidak antara kebaikan dan durhaka, tidak antara amal ahli surga dan amal ahli neraka, tidak antara orang-orang baik dan orang-orang jahat, karena mereka menyaksikan apa yang dipersatukan oleh semua makhluk dari qada yang telah terdahulu, kehendak yang berlaku, kekuasaan yang menyeluruh, dan penciptaan yang umum. Mereka menyaksikan kesamaan di antara makhluk-makhluk dan buta terhadap perbedaan di antara mereka.”
“Penganut jalan ini mungkin berlebihan hingga menjadikan wujud makhluk-makhluk adalah Allah, dan mereka berpegang pada menyetujui kehendak takdir dalam kejahatan-kejahatan yang terjadi dari mereka, seperti perkataan Al-Hariri: Aku kafir kepada Tuhan yang dimaksiati, dan perkataan sebagian mereka: Aku menjadi terpengaruh oleh apa yang dipilih-Nya dariku, maka perbuatanku semuanya adalah ketaatan. Mereka mungkin menyebut ini hakikat dengan pertimbangan bahwa ini adalah hakikat rububiyah.”
Ibnu Qayyim membahas golongan ini dan kesesatan-kesesatan mereka dalam kitabnya yang berharga “Syifa al-‘Alil”. Beliau berkata: “Kemudian muncul kelompok lain yang mengklaim bahwa gerakan manusia yang bersifat pilihan – padahal tidak ada pilihan – seperti gerakan pohon-pohon ketika angin bertiup, dan seperti gerakan ombak-ombak, dan bahwa dia dipaksa dalam ketaatan, dan dia tidak dimudahkan untuk apa yang diciptakan baginya, bahkan dia dipaksa dan dibatasi.”
“Kemudian pengikut-pengikut mereka mengikuti jejak mereka, mencontoh dan mengikuti jalan mereka, lalu mereka memantapkan mazhab ini dan menisbahkan diri kepadanya, membenarkannya, dan menambahkan bahwa semua taklif Tuhan Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya adalah taklif yang tidak dapat dilaksanakan, dan sesungguhnya itu seperti memerintahkan orang lumpuh untuk naik ke langit ketujuh. Taklif dengan iman dan syariat-syariatnya adalah taklif dengan sesuatu yang bukan perbuatan hamba, dan bukan dalam kemampuannya, namun itu adalah taklif dengan perbuatan Dia Yang Maha Esa dalam penciptaan dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dia menugaskan hamba-hamba-Nya dengan perbuatan-perbuatan-Nya, padahal mereka tidak mampu melakukannya, kemudian menyiksa mereka karenanya, padahal mereka sesungguhnya bukan pelakunya.”
“Kemudian ahli-ahli ibadah dari kalangan mereka mengikuti jejak mereka dengan berkata: Sama sekali tidak ada kemaksiatan di alam semesta, karena pelaku taat kepada kehendak dan sesuai dengan yang dikehendaki, sebagaimana dikatakan: Aku menjadi terpengaruh oleh apa yang dipilih-Nya dariku, maka perbuatanku semuanya adalah ketaatan.”
“Ketika sebagian dari mereka dicela karena perbuatannya, dia berkata: Jika aku bermaksiat kepada perintah-Nya, maka aku telah taat kepada kehendak-Nya, dan yang taat kepada kehendak tidak tercela, dan dia sesungguhnya tidak tercela. Para ahli teologi dari kalangan mereka memantapkan mazhab ini bahwa kehendak, mashiah, dan kecintaan dalam hak Tuhan Yang Maha Suci adalah satu, maka kecintaan-Nya adalah kehendak-Nya itu sendiri, dan semua yang ada di alam semesta telah dikehendaki dan dimashiai-Nya, dan semua yang dimashiai-Nya telah dicintai-Nya.”
“… Sungguh kelompok ini telah berprasangka buruk kepada Allah dengan prasangka yang paling buruk, dan menisbahkan kepada-Nya kezaliman yang paling keji. Mereka berkata: Sesungguhnya perintah-perintah dan larangan-larangan Tuhan seperti menugaskan hamba untuk naik di atas langit-langit, dan seperti menugaskan orang mati untuk menghidupkan orang-orang mati. Allah menyiksa hamba-hamba-Nya dengan siksaan yang paling keras karena perbuatan yang tidak mampu mereka tinggalkan, dan karena meninggalkan sesuatu yang tidak mampu mereka lakukan, bahkan menyiksa mereka karena perbuatan-Nya sendiri yang tidak dapat mereka lakukan, dan tidak ada seorang pun yang dimudahkan untuknya, bahkan dia dipaksa melakukannya. Kita melihat orang arif dari kalangan mereka bersenandung dengan keluhan dan mengadu kepada Tuhannya: Dia melemparkannya ke laut dalam keadaan terikat tangannya dan berkata kepadanya: Jangan sampai kamu basah oleh air.”
Ibnu Qayyim menyadari bahwa jenis manusia ini bermaksud “membebankan dosa-dosa mereka kepada takdir-takdir, dan membebaskannya dari dosa-dosa dan beban-beban, serta berkata bahwa sesungguhnya itu adalah perbuatan Pencipta Yang Maha Mengetahui.”
Penulis pengantar kitab “Asy-Syifa” menyadari bahwa sebab inilah yang membuat “kecenderungan yang dominan di setiap masa adalah jabariyah (paham fatalisme)”. Beliau berkata: “Akidah jabariyah melepaskan tanggung jawab dari manusia, menghilangkan beban dosa yang diperbuatnya, dan melimpahkan tanggung jawab kepada kekuatan yang menggerakkan manusia, mendorong keinginannya dan memimpinnya dalam tindakan-tindakannya. Maka hampir mayoritas manusia menganut jabariyah. Barangsiapa yang penyembah berhala, dia meyakini bahwa urusannya di tangan tuhan-tuhan yang disembahnya, melimpahkan tanggung jawab kepada zaman, dan meyakini bahwa manusia adalah mainan perubahan zaman. Dan barangsiapa yang mengaku beriman kepada Allah meyakini bahwa takdir-takdir mengendalikannya sesuka hati, dan bahwa dia terampas kehendaknya dan tidak memiliki pilihan, hingga penelitian ini mengambil wujud baru di zaman modern, di mana kaum jabariyah dari kalangan mereka berkata: Sesungguhnya kehendak manusia terbatas oleh naluri, keturunan, dan lingkungan, dan manusia tidak memiliki andil dalam mengadakan hal-hal ini, maka dia tidak memiliki pilihan dalam dosa dan maksiat yang diperbuatnya, karena kehendak tidak berpengaruh dalam dorongan-dorongan jiwa, bahkan ia adalah buah dari dorongan-dorongan ini, dan ia tunduk kepada pengaruh-pengaruh jiwa atau luar yang tidak dapat dihindari.”
“Ketika ide jabariyah menyebar di kalangan Muslim di zaman-zaman terkemudian melalui jalan-jalan yang menyimpang dan para sufi, hal itu sangat merugikan, terutama dengan meninggalkan sebab-sebab. Sebagian mereka berkata: Pena takdir telah berjalan dengan apa yang akan terjadi, maka sama saja bergerak dan diam. Gila darimu jika engkau berusaha mencari rezeki, padahal janin diberi rezeki dalam ketidakhadirannya.”
Perkataan kelompok ini mengarah kepada kekufuran kepada Allah dan mendustakan apa yang datang dalam kitab-kitab-Nya dan diberitakan oleh rasul-rasul-Nya. Ibnu Taimiyah rahimahullah Ta’ala berkata:
“Barangsiapa yang menetapkan takdir dan berdalih dengannya untuk membatalkan perintah dan larangan, maka dia lebih jahat daripada yang menetapkan perintah dan larangan tapi tidak menetapkan takdir. Ini disepakati oleh kaum Muslim dan selainnya dari ahli agama-agama, di antara semua makhluk. Sesungguhnya barangsiapa yang berdalih dengan takdir dan menyaksikan rububiyah umum bagi semua makhluk, dan tidak membedakan antara yang diperintahkan dan yang dilarang, antara orang mukmin dan kafir, antara ahli ketaatan dan ahli kemaksiatan, maka dia tidak beriman kepada seorang rasul pun, tidak kepada satu kitab pun, dan menurut dia Adam dan Iblis sama, Nuh dan kaumnya sama, Musa dan Firaun sama, as-sabiqun al-awwalun (orang-orang terdahulu yang pertama) dan orang-orang kafir sama.”
Beliau juga berkata tentang mereka: “Barangsiapa yang mengakui keterdahuluan ilmu Allah dan kitab-Nya, tetapi mengklaim bahwa hal itu menggantikan perintah, larangan, dan amal, dan bahwa dia tidak butuh kepada amal, bahkan barangsiapa yang ditakdirkan kebahagiaan akan masuk surga tanpa amal sama sekali, dan barangsiapa yang ditakdirkan kesengsaraan akan sengsara tanpa amal, maka mereka ini lebih kafir dari golongan pertama (maksudnya yang mendustakan takdir) dan lebih sesat, dan inti perkataan mereka lebih kafir daripada Yahudi dan Nasrani berkali-kali lipat.”
Beliau juga berkata: “Kaum ini jika bersikeras pada keyakinan ini maka mereka lebih kafir daripada Yahudi dan Nasrani, karena Yahudi dan Nasrani beriman kepada perintah dan larangan, janji dan ancaman, pahala dan siksa, tetapi mereka mengubah dan mengganti serta beriman kepada sebagian dan kafir kepada sebagian.”
Bantahan terhadap Qadariyah Jabariyah
Bantahan terhadap kesesatan golongan ini dari beberapa segi:
Pertama: Kesalahan mereka dalam melontarkan nama jabar (paksaan) atas perbuatan-perbuatan yang dilakukan manusia:
Mereka menggunakan lafaz yang tidak datang dalam Kitab dan Sunnah. Yang wajib bagi para hamba adalah menggunakan lafaz-lafaz yang dibawa oleh nash-nash. Al-Lalaka’i meriwayatkan dengan sanadnya kepada Baqiyyah yang berkata: Aku bertanya kepada Al-Auza’i dan Az-Zubaidi tentang jabar (paksaan)?
Az-Zubaidi berkata: “Perintah Allah lebih besar dan kekuasaan-Nya lebih besar daripada memaksa dan menguasai, tetapi Dia memutuskan, menakdirkan, menciptakan, dan menciptakan hamba-Nya sesuai dengan apa yang dicintai-Nya.”
Al-Auza’i berkata: “Aku tidak mengetahui dasar bagi jabar dari Al-Quran dan Sunnah sehingga aku takut mengatakannya, tetapi qada, qadar, penciptaan, dan penciptaan tabiat, ini dikenal dalam Al-Quran dan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”
Perkataan serupa diriwayatkan dari sejumlah ulama salaf seperti Sufyan Ats-Tsauri, Abu Ishaq Al-Fazari, dan lainnya.
Mereka mengingkari pelontaran perkataan bahwa manusia dipaksa melakukan perbuatannya, karena lafaz (jabar/paksaan) bersifat mujmal (global). Dengan paksaan mungkin dimaksudkan makna pemaksaan seperti perkataanmu: Ayah memaksa putrinya untuk menikah, dan hakim memaksa untuk menjual hartanya untuk melunasi utangnya. Makna pemaksaan di sini adalah paksaan, maka makna perkataan mereka: Allah memaksa para hamba, yaitu: memaksa mereka, bukan menjadikan mereka menghendaki perbuatan-perbuatan mereka dan memilihnya karena cinta dan rida.
Melontarkan hal ini kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala adalah kesalahan yang jelas, “karena Allah lebih tinggi dan lebih mulia daripada memaksa siapa pun. Hanya orang lain yang memaksa karena tidak mampu menjadikannya menghendaki perbuatan dan memilihnya serta mencintainya dan ridha dengannya. Allah Subhanahu mampu melakukan hal itu, maka Dialah yang menjadikan yang menghendaki perbuatan, mencintainya, dan ridha dengannya menjadi menghendaki, mencintai, dan ridha dengannya. Bagaimana bisa dikatakan Dia memaksanya dan memaksa, sebagaimana makhluk memaksa makhluk.”
Adapun penyebutan kata “jabr” (pemaksaan) yang dimaksudkan bahwa Allah menjadikan hamba-hamba berkehendak terhadap apa yang Allah kehendaki dari mereka, memilih hal itu tanpa ada paksaan, maka ini adalah benar. Sebagian salaf berkata dalam makna “Al-Jabbar”: Dialah yang memaksa hamba-hamba pada apa yang Dia kehendaki.
Karena lafal “jabr” adalah lafal yang masih global yang dapat diterapkan pada makna ini dan itu, maka para salaf melarang penggunaannya baik secara negasi maupun afirmasi.
Syaikhul Islam menyebutkan dari Abu Bakar Al-Khallal dalam kitabnya “As-Sunnah” bahwa Al-Marrudzi berkata kepada Imam Ahmad: “Wahai Abu Abdillah, ada seseorang yang berkata bahwa Allah memaksa hamba-hamba.” Imam Ahmad menjawab: “Tidak begitu kami katakan,” dan dia mengingkari hal itu serta berkata: “Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk siapa yang Dia kehendaki.”
Dan dia menyebutkan dari Al-Marrudzi bahwa seseorang berkata: “Sesungguhnya Allah tidak memaksa hamba-hamba untuk bermaksiat.” Lalu orang lain membantahnya dan berkata: “Sesungguhnya Allah memaksa hamba-hamba,” dia bermaksud dengan itu menetapkan takdir. Mereka lalu bertanya tentang hal itu kepada Ahmad bin Hanbal, maka dia mengingkari keduanya, baik yang mengatakan “memaksa” maupun yang mengatakan “tidak memaksa” hingga dia bertaubat, dan memerintahkannya untuk mengatakan: “Dia menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk siapa yang Dia kehendaki.”
Dan dia menyebutkan dari Ishaq Al-Fazari yang berkata: “Al-Auza’i datang kepadaku dan berkata: ‘Ada dua orang laki-laki datang kepadaku dan bertanya tentang takdir, maka aku menjawab bahwa aku akan membawa mereka kepadamu agar kamu mendengar pembicaraan mereka dan menjawab mereka.’
Aku berkata: ‘Semoga Allah merahmatimu, kamu lebih pantas untuk menjawab.’
Dia berkata: ‘Lalu Al-Auza’i datang kepadaku bersama kedua orang itu, dan berkata: Berbicaralah kalian.’
Mereka berkata: ‘Ada orang-orang dari ahli takdir datang kepada kami, lalu mereka berdebat dengan kami tentang takdir dan kami berdebat dengan mereka, hingga sampai pada titik bahwa kami mengatakan: Sesungguhnya Allah memaksa kami pada apa yang Dia larang, dan Dia menghalangi antara kami dengan apa yang Dia perintahkan, dan Dia memberi rizki kepada kami apa yang Dia haramkan bagi kami.’
Maka aku berkata: ‘Wahai kalian, sesungguhnya orang-orang yang datang kepada kalian dengan apa yang mereka bawa telah membuat bid’ah dan menciptakan hal baru, dan aku melihat kalian telah keluar dari bid’ah menuju hal yang serupa dengan apa yang mereka tuju.’
Maka Al-Auza’i berkata: ‘Kamu benar dan baik, wahai Abu Ishaq.'”
Kedua: Mengingkari pilihan dalam perbuatan hamba adalah kekurangan dalam akal:
Mereka yang mengklaim bahwa manusia tidak memiliki kehendak untuk melakukan sesuatu telah menghilangkan akal mereka, sehingga sesat dan menyesatkan. Padahal kita mengetahui dari diri kita sendiri bahwa gerakan kita tidak seperti gerakan benda mati yang tidak memiliki kendali apa pun atas gerak dan diamnya.
Bahkan kita membedakan antara gerakan-gerakan tidak sadar yang terjadi dalam tubuh kita dengan gerakan-gerakan yang disadari. Gerakan jantung, gerakan paru-paru, aliran darah dalam peredarannya di pembuluh manusia, dan ribuan proses rumit yang terjadi dalam tubuh kita tanpa kita ketahui dan sadari, kita tidak memiliki pilihan di dalamnya. Itu adalah gerakan-gerakan darurat yang tidak ada kehendak manusia dalam menciptakan dan mewujudkannya, seperti gerakan orang yang gemetar yang tidak bisa menghentikan goyangan tangannya.
Adapun makan dan minum manusia, berkendaraan, jual beli, duduk dan berdiri, menikah dan bercerai, dan semacamnya, itu terjadi dengan kehendak, kemampuan, dan keinginan. Mereka yang merampas kemampuan ini dari manusia telah sesat akal mereka dan kacau timbangan mereka.
Al-Quran penuh dengan penyandaran perbuatan kepada orang yang melakukannya seperti firman Allah Ta’ala: “Dan datanglah dari ujung kota itu seorang laki-laki dengan bergegas” (Yasin: 20), “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis” (Ash-Shaffat: 103), “Maka Musa meninjunya, lalu matilah orang itu” (Al-Qashash: 15), “Maka dia keluar kepada kaumnya dengan perhiasannya” (Al-Qashash: 79). Nash-nash dalam hal ini sangat banyak dan sulit dihitung yang menyandarka perbuatan kepada orang yang melakukannya.
Aspek ketiga: Klaim mereka bahwa segala sesuatu yang Allah takdirkan dan ciptakan maka Dia ridhai dan cintai:
Ini adalah klaim yang batil. Allah menghendaki adanya kekufuran, kesyirikan, dosa-dosa dan kemaksiatan seperti zina, pencurian, durhaka kepada orang tua, dusta, berkata palsu, memakan harta manusia dengan batil, tetapi Dia membenci dan murka terhadapnya serta melarang hamba-hamba-Nya darinya.
Ibnu Qayyim berkata: “Syaikhul Islam -semoga Allah mensucikan ruhnya- memberitahuku bahwa dia pernah menegur sebagian golongan ini karena mencintai apa yang dibenci Allah dan Rasul-Nya.
Orang yang ditegur itu berkata kepadanya: ‘Cinta adalah api yang membakar dari hati selain yang dikehendaki kekasih, dan semua yang ada di alam ini adalah kehendak-Nya, jadi apa yang harus kubenci darinya?’
Syaikh berkata kepadanya: ‘Jika Allah telah murka pada suatu kaum, melaknat mereka, marah kepada mereka dan mencela mereka, lalu kamu memusuhi mereka dan mencintai perbuatan mereka serta meridhainya, apakah kamu menjadi kawan-Nya atau musuh-Nya?’
Dia berkata: ‘Maka terdiamlah orang Jabri itu dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.'”
Akan ada pembahasan lebih lanjut tentang masalah ini ketika membahas tentang kehendak kauniyah dan kehendak syar’iyah.
Aspek keempat: Klaim mereka bahwa beriman kepada takdir mengharuskan meninggalkan amal dan mengabaikan sebab-sebab:
Golongan ini telah keliru dalam klaimnya bahwa beriman kepada takdir membuat hamba tidak perlu beramal, dan mereka lalai tentang hakikat takdir. Allah mentakdirkan akibat-akibat beserta sebab-sebabnya, dan tidak mentakdirkan musabab tanpa sebab-sebab. Siapa yang mengklaim bahwa Allah mentakdirkan akibat dan musabab tanpa pendahuluan dan sebab-sebabnya, maka dia telah berbuat dusta besar kepada Allah.
Jika Allah mentakdirkan memberi rizki kepada si fulan, maka Dia menjadikan untuk rizki itu sebab-sebab yang dapat diraihnya. Siapa yang mengklaim tidak perlu berusaha mencari rizki dan bahwa rizki yang ditakdirkan baginya akan datang kepadanya baik dia berusaha atau tidak, maka dia tidak memahami takdir Allah terhadap hamba-hamba-Nya.
Jika Allah mentakdirkan memberi anak kepada si fulan, maka Dia telah mentakdirkan baginya untuk menikah dan bergaul dengan istrinya, karena sebab-sebab adalah bagian dari takdir.
Allah mentakdirkan si fulan masuk surga, dan mentakdirkan bersamaan dengan itu bahwa manusia ini beriman dan beramal saleh, istiqamah atas perintah Allah. Dan Dia mentakdirkan si fulan menjadi penghuni neraka, dan mentakdirkan sebab-sebab itu berupa meninggalkan iman dan amal saleh.
Dan Dia mentakdirkan si fulan sakit lalu mengonsumsi obat lalu sembuh, maka Allah mentakdirkan penyakit, dan mentakdirkan sebab yang menghilangkan penyakit dan mewujudkan kesembuhan.
Allah mentakdirkan si fulan berdoa kepada-Nya dan meminta pertolongan kepada-Nya, maka Dia mengabulkan doanya dan menerima harapannya. Dan Dia mentakdirkan si fulan tidak berdoa kepada-Nya dan tidak berharap kepada-Nya, maka Dia menyerahkannya kepada dirinya sendiri dan membiarkannya dalam kesusahannya. Allah mentakdirkan musabab dan mentakdirkan sebab-sebabnya. Siapa yang mengklaim bahwa musabab terjadi tanpa sebab maka dia tidak memahami agama Allah dan tidak mengenal takdir Allah, seperti orang yang mengklaim bahwa anak datang tanpa sebab, bahwa tanaman tumbuh tanpa air dan tanah, bahwa kenyang terjadi tanpa makanan, dan dahaga hilang tanpa minum.
Nash-nash yang menunjukkan apa yang telah kami jelaskan dan uraikan sangat banyak dan melimpah.
Nash-nash Al-Quran dan Sunnah penuh dengan perintah mengambil sebab-sebab yang disyariatkan dalam berbagai urusan kehidupan. Telah diperintahkan untuk bekerja dan berusaha mencari rizki, mengambil persiapan untuk menghadapi musuh, dan berbekal untuk bepergian.
Allah Ta’ala berfirman: “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah” (Al-Jumu’ah: 10), dan berfirman: “Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rizki-Nya” (Al-Mulk: 15), dan berfirman: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu” (Al-Anfal: 60). Dan memerintahkan para musafir haji untuk berbekal: “Dan berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa” (Al-Baqarah: 197), dan memerintahkan berdoa dan meminta pertolongan: “Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu'” (Ghafir: 60), “Musa berkata kepada kaumnya: ‘Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah'” (Al-A’raf: 128).
Dan memerintahkan mengambil sebab-sebab syar’i yang mengantarkan kepada ridha dan surga-Nya seperti shalat, puasa, zakat, dan haji.
Kehidupan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, bahkan kehidupan semua rasul dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka, semuanya menjadi saksi atas pengambilan sebab-sebab mereka, kesungguhan dan ijtihad dalam amal.
Sesungguhnya mengambil sebab-sebab adalah bagian dari takdir Allah Tabarakawa Ta’ala, dan bukan bertentangan dengan takdir dan tidak menafikannya.
Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan pemahaman tentang makna takdir, bahwa itu tidak mewajibkan meninggalkan amal, bahkan mewajibkan kesungguhan dan ijtihad di dalamnya untuk mencapai apa yang dicita-citakan manusia dan mewujudkannya. Para sahabat bertanya kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang manfaat amal jika amal-amal sudah ditakdirkan dan ditetapkan, pena telah kering dengannya, dan Rabb semesta alam telah selesai darinya. Maka beliau bersabda: “Beramallah, karena setiap orang dimudahkan untuk apa yang diciptakan baginya,” dan beliau membaca: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah), serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar” (Al-Lail: 5-10).
Sebagian sahabat yang memahami dari Allah dan Rasul-Nya maksud-Nya ketika mendengar hadits-hadits takdir berkata: “Aku tidak pernah lebih bersungguh-sungguh dariku sekarang.”
Orang yang memahami dari Allah maksud-Nya dalam takdir mengetahui bahwa takdir terdahulu tidak menghalangi amal dan tidak mewajibkan bermalas-malasan, bahkan mendorong kepada kesungguhan, ijtihad, dan semangat untuk memperoleh apa yang bermanfaat baginya di dunia dan akhirat.
Hanya saja harus diperhatikan bahwa hamba meskipun mengambil sebab-sebab, tidak boleh bergantung padanya dan bertawakkal padanya, tetapi wajib bertawakkal kepada Penciptanya dan yang menciptakannya.
Para ulama kami berkata: “Menengok kepada sebab-sebab adalah syirik dalam tauhid, menghapus sebab-sebab agar tidak menjadi sebab adalah kekurangan dalam akal, berpaling dari sebab-sebab secara keseluruhan adalah cacat dalam syariat. Sesungguhnya tawakkal dan harapan adalah makna yang terdiri dari kewajiban tauhid, akal, dan syariat.
Penjelasannya: bahwa menengok kepada sebab adalah bergantungnya hati padanya, berharap dan bersandar kepadanya, padahal tidak ada di antara makhluk yang layak mendapat ini, karena dia tidak mandiri, dan pasti memerlukan sekutu dan lawan. Dengan semua ini, jika tidak ditundukkan oleh Yang Menyebabkan sebab-sebab, dia tidak akan tunduk. Ini menunjukkan bahwa Allah adalah Rabb segala sesuatu dan Penguasanya, bahwa langit dan bumi serta apa yang di antara keduanya dan falak-falak serta apa yang dikandungnya memiliki Pencipta Pengatur selain mereka. Itu karena semua yang keluar dari falak atau bintang atau malaikat atau selainnya, maka kamu dapati dia tidak mandiri dalam menciptakan sesuatu dari kejadian-kejadian, bahkan pasti memerlukan sekutu dan penolong, dan dia dengan itu memiliki penentang dan penghalang.”
“Setiap sebab memiliki sekutu dan memiliki lawan, jika tidak dibantu sekutunya dan tidak dijauhkan lawannya, maka sebabnya tidak tercapai. Hujan saja tidak menumbuhkan kecuali dengan apa yang bergabung dengannya dari udara, tanah, dan selainnya. Kemudian tanaman tidak sempurna hingga dijauhkan darinya hama-hama yang merusaknya. Makanan dan minuman tidak memberi gizi kecuali dengan apa yang dijadikan dalam badan berupa anggota-anggota dan kekuatan, dan keseluruhan itu tidak bermanfaat jika tidak dijauhkan perusak-perusak.”
Orang-orang berakal dari manusia mengetahui bahwa mereka tidak mandiri dalam melakukan apa yang mereka kehendaki. Banyak di antara mereka yang telah siap sebab-sebabnya, kemudian dihalangi antara dia dengan apa yang dia inginkan dan kehendaki: “Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah keputusan Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman-tanaman)nya laksana tanaman-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh subur kemarin” (Yunus: 24).
Al-Lalaka’i menyebutkan bahwa seorang laki-laki meminta budak perempuannya untuk meminumkannya. Maka dia datang membawa gelas dari kaca, lalu menuangkan air untuknya. Dia meletakkannya di telapak tangannya, kemudian mengangkatnya ke mulutnya, lalu berkata: “Ada orang yang mengklaim bahwa aku tidak mampu minum ini.” Kemudian berkata: “Dia merdeka jika aku tidak meminumnya” (maksudnya budak perempuan yang menuangkan air).
Budak perempuan itu langsung memukul gelas dengan ujung bajunya, maka gelas itu jatuh dan pecah serta air tumpah. Demikianlah budak perempuan itu membuktikan kepada orang miskin ini bahwa dia tidak mampu melakukan semua yang dia kehendaki kecuali yang Allah takdirkan. Dia telah memberinya pelajaran dan membebaskan dirinya dari perbudakan.
Betapa banyak orang kaya atau kuat atau pemimpin kaum yang mengira bahwa dunia tunduk kepadanya dan memberikan kendalinya kepadanya, mendapati dirinya lemah tidak mampu berbuat apa-apa. Mungkin yang menjauhkannya dari melakukan apa yang dia inginkan adalah musuh yang zalim, atau penyakit yang melumpuhkan, atau pengkhianatan teman, atau keserakahan kekasih: “Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka inginkan” (Saba’: 54).
Aspek kelima: Berdalih mereka dengan takdir:
Mereka berdalih dengan takdir untuk meninggalkan amal. Kamu dapati seseorang ketika diajak untuk shalat, puasa, dan membaca Al-Quran berkata: “Kalau Allah menghendaki aku beramal ini, pasti aku lakukan.” Sebagaimana mereka berdalih dengannya atas apa yang mereka lakukan kepada manusia berupa kezaliman dan kerusakan, atau apa yang terjadi berupa kezaliman dan kerusakan. Mereka berkata tentang kezaliman, kemungkaran, dan kerusakan yang terjadi: “Ini adalah kehendak dan keinginan Allah dan tidak ada cara bagi kita dalam hal itu.” Ini telah membawa mereka untuk membiarkan kebatilan merajalela di negeri-negeri Islam.
Kamu melihat jenis manusia ini tunduk kepada para zalim, bahkan sebagian dari mereka menjadi pembantu para zalim. Kamu melihat mereka berbicara kepada manusia dengan mengatakan: “Tidak ada bagi kalian kecuali bersabar atas kehendak Allah dan takdir-Nya pada kalian.” Dan kamu melihat sebagian mereka melakukan kejahatan dan melakukan kemungkaran seperti zina, kefasikan, dan kemaksiatan serta berdalih untuk perbuatan mereka dengan takdir.
Jika mereka berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah hujjah, mereka membuat orang-orang berakal tertawa dari mereka dan menjatuhkan diri mereka dalam kebuntuan yang tidak mereka temukan jalan keluar darinya. Ibnu Qayyim menyebutkan kejadian-kejadian dari mereka yang merendahkan pemilik akal dan menjadikan pemiliknya dalam tingkat lebih rendah dari binatang.
Dia menyebutkan tentang salah seorang dari mereka bahwa dia melihat budaknya berzina dengan budak perempuannya. Ketika dia ingin menghukum keduanya, budaknya yang mengetahui mazhabnya tentang takdir berkata kepadanya: “Sesungguhnya qadha dan qadar tidak membiarkan kami hingga kami melakukan itu.”
Orang jahil itu berkata kepadanya: “Pengetahuanmu tentang qadha dan qadar lebih aku cintai dari segala sesuatu. Kamu merdeka karena Allah.”
Yang lain melihat seorang laki-laki berzina dengan istrinya, maka dia datang memukulnya dan istri itu berkata: “Qadha dan qadar.” Maka dia berkata: “Wahai musuh Allah, kamu berzina dan berdalih dengan hal seperti ini?”
Istri itu berkata: “Wah, kamu meninggalkan sunnah dan mengambil mazhab Ibnu Abbas.”
Maka dia sadar dan melempar cambuk dari tangannya, meminta maaf kepadanya, dan berkata: “Kalau bukan karena kamu, pasti aku sesat.”
Yang lain melihat seorang laki-laki berzina dengan istrinya, maka berkata: “Apa ini?”
Istri itu berkata: “Ini qadha Allah dan qadar-Nya.”
Dia berkata: “Kebaikan ada pada apa yang Allah takdirkan.” Maka dia dijuluki dengan “Al-Khairah fima qadha Allah” (kebaikan ada pada apa yang Allah takdirkan).
Seandainya berdalih dengan takdir itu benar, maka setiap orang bisa membunuh, merusak, mengambil harta, dan menzalimi hamba. Jika ditanya tentang perbuatannya, dia berdalih dengan takdir. Semua orang berakal mengetahui bahwa hujjah ini ditolak dan tidak diterima, jika tidak maka kehidupan akan rusak.
Banyak dari mereka yang berdalih dengan takdir untuk kezaliman, kefasikan, dan kesesatan mereka akan marah jika kezaliman menimpa mereka, dan tidak rela jika orang lain berdalih atas kezaliman terhadap mereka dengan takdir.
Sesungguhnya manhaj yang dipahami para ulama kami dari Rabb kami dan Nabi kami adalah bahwa wajib bagi kami beriman kepada takdir, tetapi tidak boleh bagi kami berdalih dengannya untuk meninggalkan amal, sebagaimana tidak boleh bagi kami berdalih dengannya atas penyelisihan kami terhadap syariat. Berdalih dengan takdir hanya pada musibah bukan pada aib.
Syaikhul Islam rahimahullah Ta’ala berkata: “Hamba memiliki dua keadaan dalam yang ditakdirkan: keadaan sebelum takdir dan keadaan setelah takdir.
Wajib baginya sebelum yang ditakdirkan untuk meminta pertolongan Allah, bertawakkal kepada-Nya, dan berdoa kepada-Nya. Jika telah ditakdirkan yang ditakdirkan tanpa perbuatannya, maka wajib baginya bersabar atasnya atau ridha dengannya. Jika itu dengan perbuatannya dan itu nikmat, dia memuji Allah atas itu. Jika itu dosa, dia meminta ampun kepada-Nya dari itu.
Dan dia memiliki dua keadaan dalam yang diperintahkan: Keadaan sebelum perbuatan, yaitu bertekad untuk mematuhi dan meminta pertolongan Allah atas itu. Keadaan setelah perbuatan, yaitu meminta ampun dari kekurangan dan bersyukur kepada Allah atas apa yang Dia anugerahkan berupa kebaikan. Allah Ta’ala berfirman: “Maka bersabarlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu” (Ghafir: 55). Dia memerintahkannya bersabar atas musibah-musibah yang ditakdirkan dan meminta ampun dari dosa.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan” (Ali Imran: 186). Yusuf berkata: “Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik” (Yusuf: 90). Dia menyebut sabar atas musibah dan takwa dengan meninggalkan aib-aib. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bersemangatlah pada apa yang bermanfaat bagimu, minta pertolongan kepada Allah dan jangan lemah. Jika menimpamu sesuatu maka jangan katakan: ‘Seandainya aku berbuat akan begini dan begitu,’ tetapi katakanlah: ‘Takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki Dia lakukan,’ karena ‘seandainya’ membuka pintu amal setan.”
Sesungguhnya hamba mukmin yang cerdik tidak meninggalkan amal dengan dalih bahwa takdir Allah berlaku padanya, tetapi yang wajib baginya adalah mengambil perkara dengan kuat, mengetahui apa yang Allah minta, memikirkan apa yang bermanfaat dan menguntungkannya, kemudian mengerahkan segala kemampuannya dalam melaksanakan perintah Allah dan mengambil sebab-sebab untuk perkara-perkara yang dia kira ada manfaat dan kebaikannya. Jika tidak diberi taufik, maka dia tidak menghabiskan waktunya dengan penyesalan dan kesedihan, tetapi dia berkata dalam posisi ini: “Takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki Dia lakukan.”
Sesungguhnya beriman kepada takdir dan berdalih dengannya datang untuk mengobati masalah psikologis yang menghabiskan tenaga manusia dan menyia-nyiakannya dalam keadaan gagal dan tidak berhasil, dan bukan menjadi penghalang dari amal dan kreativitas di masa mendatang.
Berdalih mereka dengan hadits berdalihnya Adam dengan takdir:
Mungkin orang yang sedikit amalnya berdalil dengan hadits berdalihnya Adam dan Musa tentang berdalih dengan takdir dalam aib-aib. Ini adalah hadits sahih yang diriwayatkan kitab-kitab Shahih dan Sunan.
Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Adam dan Musa ‘alaihimas salam berselisih di hadapan Rabb mereka, maka Adam mengalahkan Musa.
Musa berkata: ‘Kamu Adam yang Allah ciptakan dengan tangan-Nya, meniupkan ruh-Nya kepadamu, menyuruh malaikat-malaikat sujud kepadamu, menempatkanmu di surga-Nya, kemudian kamu turunkan manusia dengan kesalahanmu ke bumi?'”
Maka Adam berkata: “Engkau adalah Musa yang dipilih Allah dengan risalah-Nya dan firman-Nya, dan Allah memberikanmu luh-luh yang di dalamnya terdapat penjelasan segala sesuatu, dan Allah mendekatkanmu sebagai orang yang berbisik-bisik dengan-Nya. Berapa tahunkah engkau mendapati Allah telah menulis Taurat sebelum aku diciptakan?”
Musa berkata: “Empat puluh tahun.”
Adam berkata: “Apakah engkau mendapati di dalamnya: ‘Dan Adam bermaksiat kepada Tuhannya, maka dia sesat’ (QS. Thaha: 121)?”
Musa berkata: “Ya.”
Adam berkata: “Apakah engkau akan mencela aku karena aku melakukan perbuatan yang telah Allah tuliskan atasku untuk melakukannya empat puluh tahun sebelum Dia menciptakan aku?”
Rasulullah bersabda: “Maka Adam mengalahkan Musa dalam berargumen.”
Dalam hadits ini tidak terdapat hujah bagi orang-orang yang berdalih dengan takdir untuk perbuatan buruk dan aib. Adam alaihissalam tidak berdalih dengan qada dan qadar atas dosa, dan Musa alaihissalam tidak mencela bapaknya Adam atas dosa yang telah ia bertaubat darinya, dan Allah telah menerima taubatnya, memilihnya, dan memberinya hidayah. Sesungguhnya celaan dari Musa terjadi atas musibah yang mengeluarkan Adam dan anak-anaknya dari surga.
Maka Adam berdalih dengan takdir atas musibah, bukan atas kesalahan. Sesungguhnya takdir dapat dijadikan dalih untuk musibah, bukan untuk aib. Maka wajib bagi hamba untuk berserah diri kepada takdir jika tertimpa musibah: “Yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali'” (QS. Al-Baqarah: 156). Adapun orang-orang yang berdosa, maka mereka tidak boleh berdalih dengan takdir, bahkan yang wajib bagi mereka adalah bertaubat dan memohon ampunan: “Maka bersabarlah, sesungguhnya janji Allah itu benar dan mohonlah ampunan untuk dosamu” (QS. Ghafir: 55). Maka Allah menunjukkan kepada kesabaran dalam musibah dan istighfar dari dosa-dosa dan aib.
Allah mencela Iblis bukan karena pengakuannya terhadap takdir dalam firman-Nya: “Wahai Tuhanku, karena Engkau telah menyesatkan aku” (QS. Al-Hijr: 39), tetapi karena berdalihnya dengan takdir.
Ibnu Qayyim menjawab permasalahan yang terjadi dalam hadits berdalihnya Adam dengan takdir dengan jawaban lain, maka dia berkata: “Berdalih dengan takdir atas dosa bermanfaat pada suatu tempat dan merugikan pada tempat lain. Bermanfaat jika berdalih dengannya setelah terjadinya dosa dan bertaubat darinya, serta meninggalkan mengulanginya, sebagaimana yang dilakukan Adam. Maka dalam menyebut takdir ketika itu terdapat tauhid dan pengetahuan tentang nama-nama Tuhan dan sifat-sifat-Nya serta menyebutnya, yang bermanfaat bagi yang menyebut dan yang mendengar, karena dia tidak menolak dengan takdir suatu perintah atau larangan, dan tidak membatalkan syariat dengannya, bahkan memberitahukan kebenaran murni dengan cara tauhid dan berlepas diri dari daya dan kekuatan.
Yang menjelaskan hal ini adalah bahwa Adam berkata kepada Musa: ‘Apakah engkau mencela aku karena aku melakukan perbuatan yang telah ditulis atasku sebelum aku diciptakan?’ Maka jika seseorang berbuat dosa kemudian bertaubat darinya dengan taubat yang sempurna, dan hilang urusannya hingga seakan-akan tidak pernah terjadi, lalu ada yang menegurnya dan mencela atas hal itu, maka baik baginya untuk berdalih dengan takdir setelah itu dan berkata: ‘Ini adalah perkara yang telah ditakdirkan atasku sebelum aku diciptakan.’ Karena dia tidak menolak kebenaran dengan takdir, dan tidak menyebutnya sebagai hujah atas kebatilan, dan tidak ada larangan dalam berdalih dengannya.
Adapun tempat yang merugikan berdalih dengannya, yaitu dalam hal masa depan dengan melakukan perbuatan haram atau meninggalkan kewajiban, lalu ada yang mencelanya atas hal itu, maka dia berdalih dengan takdir untuk tetap melakukannya dan bersikukuh, sehingga dia membatalkan kebenaran dengannya dan melakukan kebatilan dengannya, sebagaimana berdalihnya orang-orang yang bersikukuh pada kemusyrikan mereka dan menyembah selain Allah.”
Apakah Ridha terhadap Takdir Wajib?
Jika kemaksiatan terjadi dengan qada Allah, bagaimana kita membenci qada-Nya dan membencinya? Jawabannya: “Tidak terdapat dalam kitab Allah, dan tidak dalam sunnah Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam, ayat atau hadits yang memerintahkan hamba untuk ridha dengan semua takdir dari perbuatan hamba, baik yang baik maupun yang buruk. Tetapi yang wajib atas manusia adalah ridha dengan apa yang Allah perintahkan, maka tidak boleh bagi siapapun untuk murka atas apa yang Allah perintahkan.” Allah berfirman: “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (QS. An-Nisa: 65).
Sepatutnya bagi hamba untuk ridha dengan apa yang Allah takdirkan atasnya berupa musibah-musibah yang bukan dosa, seperti Allah mengujinya dengan kemiskinan atau penyakit atau kehinaan dan gangguan makhluk kepadanya. Maka sabar atas musibah adalah wajib, adapun ridha dengannya adalah disyariatkan, tetapi apakah wajib atau mustahab? Ada dua pendapat dari pengikut Ahmad dan lainnya: yang paling benar adalah mustahab, bukan wajib.
Aspek Keenam: Tuduhan bahwa Membebani Hamba Selain Apa yang Mereka Lakukan adalah Taklif Ma La Yuthaq
Orang yang menganut mazhab ini mengklaim bahwa pelaku kemaksiatan dan dosa tidak mampu melakukan selain apa yang mereka lakukan, dan membebani mereka dengan selain apa yang mereka lakukan adalah taklif ma la yuthaq (membebani dengan yang tidak sanggup dilakukan). Taklif ma la yuthaq telah ditiadakan oleh syariat dalam firman-Nya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al-Baqarah: 286). “Allah tidak membebani seseorang melainkan apa yang telah Allah berikan kepadanya” (QS. At-Talaq: 7). Mereka berdalih dengan firman Allah: “Yang mata mereka tertutup dari mengingat-Ku, dan mereka tidak sanggup mendengar” (QS. Al-Kahf: 101), dan firman-Nya: “Dilipat gandakan bagi mereka azab, mereka tidak sanggup mendengar dan mereka tidak dapat melihat” (QS. Hud: 20), dan firman-Nya: “Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat” (QS. Yasin: 9).
Mereka berkata: “Ayat-ayat ini menyatakan dengan jelas bahwa mereka tidak sanggup melakukan perbuatan.” Orang-orang ini membenturkan kitab Allah sebagiannya dengan sebagian yang lain, dan mengklaim bahwa Al-Quran bertentangan, padahal Allah jauh dari hal demikian.
Jawaban atas keraguan mereka adalah: “Ketidaksanggupan yang ditiadakan dalam ayat-ayat yang mereka jadikan dalih bukanlah ketidaksanggupan yang menjadi syarat dalam perintah dan larangan. Jika ketidaksanggupan itu tiada, maka tiadalah perintah dan larangan, janji dan ancaman, pujian dan celaan, pahala dan siksa. Diketahui bahwa hamba dalam keadaan ini tetap diperintah, dilarang, dijanjikan, dan diancam, maka diketahui bahwa yang ditiadakan bukanlah yang menjadi syarat dalam perintah dan larangan.”
Ketidaksanggupan yang ditiadakan dalam ayat-ayat yang mereka jadikan dalih bukanlah karena mustahilnya perbuatan atau ketidakmampuan mereka terhadapnya, melainkan karena mereka meninggalkannya dan sibuk dengan lawannya, seperti orang kafir yang Allah bebani dengan iman dalam keadaan kufurnya, karena dia tidak lemah darinya dan tidak mustahil melakukannya, maka dia seperti orang yang tidak mampu berilmu karena kesibukannya dengan penghidupan.
Adapun ketidaksanggupan yang menjadi tolok ukur taklif adalah yang disebutkan dalam firman Allah: “Dan Allah mewajibkan atas manusia menunaikan haji, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah” (QS. Ali Imran: 97), dan firman-Nya: “Barangsiapa yang tidak mendapat (budak), maka hendaklah berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Barangsiapa yang tidak sanggup, maka (hendaklah) memberi makan enam puluh orang miskin” (QS. Al-Mujadalah: 4), dan seperti sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Shalatlah dengan berdiri, jika tidak sanggup maka dengan duduk, jika tidak sanggup maka dengan berbaring.”
Diketahui bahwa Allah tidak membebani dengan yang tidak sanggup dilakukan karena adanya lawannya berupa ketidakmampuan. Maka Allah tidak membebani orang lumpuh untuk shalat dengan berdiri, tidak membebani orang sakit untuk berpuasa, tidak membebani orang buta untuk berjihad dan berperang, karena hal itu di luar kemampuan.
Para ulama telah sepakat bahwa jika hamba tidak mampu melakukan sebagian kewajiban, maka gugurlah darinya apa yang tidak mampu dilakukannya. Barangsiapa kakinya terpotong, maka gugur darinya membasuh kakinya. Barangsiapa tidak sanggup mandi junub atau berdiri atau rukuk dan semacamnya, maka gugur darinya apa yang tidak mampu dilakukannya. Dengan demikian jelaslah bagimu bahwa ketidaksanggupan yang disebutkan dalam ayat-ayat yang dijadikan dalih oleh kelompok ini tidak menjadi syarat dalam perintah, larangan, dan taklif menurut kesepakatan kaum muslimin. Ketidaksanggupan syar’i yang menjadi tolok ukur perintah dan larangan dalam ayat-ayat yang kami sebutkan itulah yang Allah tidak pernah membebani siapapun tanpanya.
Aspek Ketujuh: Konsekuensi Pendapat Mereka adalah Menyamakan yang Berbeda
Mazhab ini telah membawa penganutnya kepada menyamakan antara orang baik dan orang jahat, orang saleh dan orang fasik, ahli surga dan ahli neraka. Padahal Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Teliti telah membedakan antara mereka: “Patutkah Kami menjadikan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah Kami menjadikan orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?” (QS. Shad: 27-28), dan Allah berfirman: “Ataukah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, sama kehidupan dan kematian mereka?” (QS. Al-Jatsiyah: 21), dan Allah berfirman: “Patutkah Kami menjadikan orang-orang yang berserah diri (kepada Allah) seperti orang-orang yang berdosa? Mengapa kamu berpikir demikian?” (QS. Al-Qalam: 35-36).
Mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam Takdir
Telah kami jelaskan kepadamu mazhab-mazhab orang yang sesat dalam takdir, dan aku ingin menyebutkan di sini mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam bab ini. Mazhab mereka telah dicatat oleh banyak ulama, dan aku akan menyebutkan di sini apa yang dicatat oleh tiga orang dari tokoh mereka.
Bagian Pertama: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Merangkum Mazhab Mereka
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu wa ajzala lahul matsuwabah berkata: “Mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam bab ini adalah apa yang ditunjukkan oleh Al-Kitab dan As-Sunnah, dan yang dianut oleh as-sabiqun al-awwalun dari kaum Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik: yaitu bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu dan yang menguasainya. Termasuk dalam hal itu semua dzat yang berdiri sendiri dan sifat-sifatnya yang melekat padanya, dari perbuatan hamba dan selain perbuatan hamba.
Bahwa Dia Subhanahu, apa yang dikehendaki-Nya terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak terjadi. Maka tidak terjadi sesuatu kecuali dengan kehendak dan kekuasaan-Nya. Tidak ada yang dapat menghalangi-Nya dari sesuatu yang dikehendaki-Nya, bahkan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu dan tidak menghendaki sesuatu kecuali Dia berkuasa atasnya.
Bahwa Dia Subhanahu mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, dan apa yang tidak terjadi seandainya terjadi bagaimana keadaannya. Termasuk dalam hal itu perbuatan hamba dan lainnya. Allah telah menetapkan takdir makhluk sebelum menciptakan mereka: menetapkan ajal, rizki, dan amal mereka, serta menulis hal itu, dan menulis apa yang akan mereka alami berupa kebahagiaan dan kesengsaraan.
Maka mereka beriman pada penciptaan-Nya atas segala sesuatu, kekuasaan-Nya atas segala sesuatu, kehendak-Nya atas semua yang terjadi, pengetahuan-Nya terhadap segala sesuatu sebelum terjadi, penetapan takdir-Nya, dan penulisan-Nya sebelum terjadi.”
“Salaf umat dan para imam mereka sepakat bahwa hamba diperintahkan dengan apa yang Allah perintahkan kepada mereka, dilarang dari apa yang Allah larang kepada mereka, dan sepakat atas iman kepada janji dan ancaman-Nya yang diucapkan oleh Al-Kitab dan As-Sunnah.
Mereka sepakat bahwa tidak ada hujah bagi siapapun atas Allah dalam kewajiban yang ditinggalkannya, atau haram yang dilakukannya, bahkan Allah-lah yang memiliki hujah yang sempurna atas hamba-hamba-Nya.”
“Di antara hal yang disepakati oleh salaf umat dan para imam mereka dengan iman mereka kepada qada dan qadar, bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu, bahwa apa yang dikehendaki-Nya terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak terjadi, bahwa Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan bahwa hamba memiliki kehendak dan kekuasaan, mereka melakukan dengan kekuasaan dan kehendak mereka apa yang Allah berikan kekuasaan kepada mereka atasnya, dengan ucapan mereka: Sesungguhnya hamba tidak menghendaki kecuali jika Allah menghendaki.”
Bagian Kedua: Akidah Imam Abu Bakar Muhammad Al-Husain Al-Ajurri dalam Takdir
Dia rahimahullah berkata: “Mazhab kami dalam takdir adalah kami berkata: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menciptakan surga dan menciptakan neraka, dan bagi masing-masing dari keduanya ada ahlinya. Allah bersumpah dengan kemuliaan-Nya bahwa Dia akan memenuhi jahannam dari jin dan manusia semuanya.
Kemudian Allah menciptakan Adam alaihissalam, dan mengeluarkan dari punggungnya semua keturunan yang akan diciptakan-Nya hingga hari kiamat. Kemudian menjadikan mereka dua golongan: golongan di surga dan golongan di neraka.
Allah menciptakan Iblis, dan memerintahkannya untuk sujud kepada Adam alaihissalam, padahal Allah telah mengetahui bahwa dia tidak akan sujud karena takdir yang telah berlaku atasnya berupa kesengsaraan yang telah terdahulu dalam ilmu Allah Azza wa Jalla. Tidak ada yang dapat menentang Allah Yang Mulia dalam hukum-Nya. Dia melakukan pada makhluk-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Keadilan dari Tuhan kami, qada dan qadar-Nya.
Allah menciptakan Adam dan Hawa alaihimassalam untuk bumi, menciptakan keduanya. Allah menempatkan keduanya di surga, dan memerintahkan keduanya untuk makan darinya dengan lapang apa yang mereka kehendaki, dan melarang keduanya dari satu pohon agar tidak mendekatinya. Takdir-Nya telah berlaku bahwa keduanya akan bermaksiat kepada-Nya dengan memakan dari pohon itu. Maka Dia Tabaraka wa Ta’ala secara lahir melarang keduanya, dan secara batin dari ilmu-Nya: telah menetapkan atas keduanya bahwa mereka akan memakan darinya.” “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, sedangkan mereka ditanya” (QS. Al-Anbiya: 23). Tidak ada pilihan bagi keduanya selain memakan darinya, sebagai sebab kemaksiatan, dan sebab keluarnya mereka dari surga, karena keduanya diciptakan untuk bumi, dan bahwa Dia akan mengampuni keduanya setelah kemaksiatan. Semua itu terdahulu dalam ilmu-Nya. Tidak boleh ada sesuatu yang terjadi dalam semua makhluk-Nya, kecuali takdir-Nya telah berlaku padanya, dan ilmu-Nya telah meliputi sebelum terjadinya bahwa hal itu akan terjadi.
Allah menciptakan makhluk sebagaimana yang dikehendaki-Nya untuk apa yang dikehendaki-Nya. Maka menjadikan mereka sengsara dan bahagia sebelum mengeluarkan mereka ke dunia, dan mereka masih dalam perut ibu mereka. Allah menulis ajal mereka, menulis rizki mereka, menulis amal mereka, kemudian mengeluarkan mereka ke dunia, dan setiap manusia berusaha dalam apa yang telah ditulis untuknya dan atasnya.
Kemudian Allah mengutus rasul-rasul-Nya, dan menurunkan wahyu kepada mereka, dan memerintahkan mereka untuk menyampaikan kepada makhluk-Nya. Maka mereka menyampaikan risalah Tuhan mereka, dan menasihati kaum mereka. Barangsiapa yang berlaku dalam takdir Allah Azza wa Jalla bahwa dia beriman, maka dia beriman. Barangsiapa yang berlaku dalam takdir-Nya bahwa dia kafir, maka dia kafir. Allah berfirman: “Dialah yang menciptakan kamu, maka di antara kamu ada yang kafir dan di antara kamu ada yang mukmin. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS. At-Taghabun: 2).
Allah mencintai siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya, maka melapangkan dadanya untuk iman dan Islam, dan membenci yang lain, maka memeterai hati mereka, pendengaran mereka, dan penglihatan mereka, sehingga mereka tidak akan mendapat hidayah selamanya. Dia menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, sedangkan mereka ditanya” (QS. Al-Anbiya: 23).
Semua makhluk adalah milik-Nya. Dia melakukan pada makhluk-Nya apa yang dikehendaki-Nya, tanpa menzalimi mereka. Maha Suci Allah dari dinisbatkan kepada-Nya kezaliman. Sesungguhnya yang zalim adalah yang mengambil apa yang bukan miliknya. Adapun Tuhan kami Azza wa Jalla, maka milik-Nya-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi dan apa yang di antara keduanya, dan apa yang di bawah tanah, dan milik-Nya dunia dan akhirat. Maha Suci Allah, dan Maha Suci nama-nama-Nya.
Allah mencintai ketaatan dari hamba-hamba-Nya, dan memerintahkannya, maka ketaatan itu terjadi dari orang yang taat kepada-Nya dengan taufik-Nya kepada mereka. Allah melarang kemaksiatan, dan menghendaki terjadinya tanpa mencintainya atau memerintahkannya. Maha Tinggi Allah Azza wa Jalla dari memerintahkan kekejian atau mencintainya. Maha Mulia Tuhan kami dan Maha Perkasa dari terjadi di kerajaan-Nya apa yang tidak dikehendaki-Nya terjadi, atau sesuatu yang tidak diliputi ilmu-Nya sebelum terjadinya.
Allah telah mengetahui apa yang akan dikerjakan makhluk sebelum menciptakan mereka, dan setelah menciptakan mereka, sebelum mereka beramal, sebagai qada dan qadar. Pena telah berlalu dengan perintah-Nya Azza wa Jalla di Lauh Mahfuzh dengan apa yang akan terjadi, berupa kebaikan atau kefasikan.
Allah memuji orang yang beramal dengan ketaatan kepada-Nya dari hamba-hamba-Nya, dan menisbatkan amal kepada hamba, dan menjanjikan mereka balasan yang besar. Seandainya bukan karena taufik-Nya kepada mereka, niscaya mereka tidak beramal dengan apa yang mereka berhak mendapat balasan daripadanya. “Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar” (QS. Al-Hadid: 21).
Demikian pula Allah mencela kaum yang beramal dengan kemaksiatan kepada-Nya, dan mengancam mereka atas amal itu, dan menisbatkan amal kepada mereka dengan apa yang mereka kerjakan. Hal itu dengan takdir yang berlaku atas mereka. Dia menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya, dan memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Muhammad bin Al-Husain rahimahullahu ta’ala berkata: “Inilah mazhab kami dalam takdir.”
Bagian Ketiga: Akidah Ath-Thahawi dalam Takdir
Ath-Thahawi rahimahullah berkata dalam takdir: “Allah menciptakan makhluk dengan ilmu-Nya, dan menetapkan bagi mereka takdir-takdir serta menetapkan bagi mereka ajal-ajal. Tidak tersembunyi bagi-Nya sesuatupun sebelum menciptakan mereka, dan Dia mengetahui apa yang akan mereka kerjakan sebelum menciptakan mereka. Dia memerintahkan mereka untuk taat kepada-Nya, dan melarang mereka dari bermaksiat kepada-Nya.
Segala sesuatu berjalan dengan takdir dan kehendak-Nya. Kehendak-Nya terlaksana. Tidak ada kehendak bagi hamba kecuali apa yang Allah kehendaki bagi mereka. Apa yang Allah kehendaki terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak terjadi.
Dia memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya, melindungi dan menyehatkan sebagai karunia. Dia menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya, meninggalkan dan menguji sebagai keadilan.
Dan semuanya diterima dalam kehendak-Nya antara karunia dan keadilan-Nya.
Dan Dia Maha Tinggi dari segala yang bertentangan dan yang menyerupai-Nya, tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya, tidak ada yang dapat membatalkan hukum-Nya, tidak ada yang dapat mengalahkan perintah-Nya.
Kami beriman pada semua itu, dan kami yakin bahwa semuanya dari sisi-Nya.
Allah Ta’ala telah mengetahui sejak azali jumlah orang yang akan masuk surga, dan jumlah orang yang akan masuk neraka, secara keseluruhan sekaligus, tidak bertambah pada bilangan itu, dan tidak berkurang darinya.
Demikian juga perbuatan-perbuatan mereka dalam apa yang Dia ketahui akan mereka lakukan, dan setiap orang dimudahkan untuk apa yang diciptakan untuknya, dan amal perbuatan (dinilai) berdasarkan penutupnya, dan orang yang berbahagia adalah yang diberi kebahagiaan oleh takdir Allah, dan orang yang celaka adalah yang diberi kecelakaan oleh takdir Allah.
Dan pokok takdir adalah rahasia Allah Ta’ala pada makhluk-Nya, tidak ada malaikat yang dekat maupun nabi yang diutus yang mengetahui hal itu, dan mendalami hal itu adalah jalan menuju kekecewaan, tangga kehilangan, dan derajat kezaliman, maka berhati-hatilah sepenuh-penuhnya dari hal itu dengan pandangan, pemikiran, dan bisikan, karena sesungguhnya Allah Ta’ala menyembunyikan ilmu takdir dari makhluk-Nya, dan melarang mereka dari tujuannya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, tetapi merekalah yang akan ditanya.” (QS. Al-Anbiya: 23).
Maka barangsiapa bertanya: mengapa Dia berbuat? Maka sungguh dia telah menolak hukum Kitab, dan barangsiapa menolak hukum Kitab maka dia termasuk orang-orang kafir.
Inilah ringkasan yang dibutuhkan oleh orang yang diterangi hatinya dari para wali Allah Ta’ala, dan ini adalah derajat orang-orang yang mendalam dalam ilmu, karena ilmu itu ada dua: ilmu yang ada pada makhluk, dan ilmu yang tidak ada pada makhluk, maka mengingkari ilmu yang ada adalah kekafiran, dan mengaku-ngaku memiliki ilmu yang tidak ada adalah kekafiran, dan iman tidak akan tegak kecuali dengan menerima ilmu yang ada, dan meninggalkan ilmu yang tidak ada.
Dan kami beriman pada Lauh dan Qalam, dan pada semua yang telah ditakdirkan di dalamnya, seandainya seluruh makhluk berkumpul untuk sesuatu yang telah ditulis Allah Ta’ala bahwa itu akan terjadi, untuk menjadikannya tidak terjadi, mereka tidak akan mampu melakukannya, dan seandainya mereka semua berkumpul untuk sesuatu yang tidak ditulis Allah Ta’ala di dalamnya untuk menjadikannya terjadi, mereka tidak akan mampu melakukannya, Qalam telah kering dengan apa yang akan terjadi hingga hari kiamat, dan apa yang meleset dari hamba tidak mungkin menimpanya dan apa yang menimpanya tidak mungkin meleset darinya.
Dan hamba wajib mengetahui bahwa Allah telah mendahului dengan pengetahuan-Nya terhadap setiap yang ada dari makhluk-Nya, maka Dia menakdirkan hal itu dengan takdir yang muhkam dan pasti, tidak ada di dalamnya yang membatalkan, tidak ada yang membatalkan, tidak ada yang menghilangkan, tidak ada yang mengubah, tidak ada yang mengurangi, tidak ada yang menambah dari makhluk-Nya di langit-langit-Nya dan bumi-Nya, dan itu termasuk ikatan iman, dan pokok-pokok pengetahuan, dan pengakuan terhadap tauhid Allah dan ketuhanan-Nya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya: “Dan Dia menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS. Al-Furqan: 2). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan urusan Allah itu adalah suatu ketetapan yang pasti berlaku.” (QS. Al-Ahzab: 38), maka celakalah orang yang menjadi musuh Allah dalam masalah takdir, dan menghadirkan untuk memandangnya hati yang sakit, sungguh dia telah mencari dengan sangkaannya dalam menyelidiki gaib sebuah rahasia yang tersembunyi, dan kembali dengan apa yang dikatakannya sebagai pembohong yang berdosa.
BAB KEENAM: SEBAB-SEBAB KESESATAN DALAM TAKDIR
Dan sebab kesesatan masing-masing dari golongan Qadariyyah yang menafikan dan golongan Qadariyyah yang memaksa dalam bab ini adalah bahwa setiap kelompok dari kedua golongan itu melihat sebagian dari kebenaran dan buta terhadap sebagian lainnya, maka perumpamaan mereka seperti orang buta sebelah yang melihat salah satu sisi sesuatu, dan tidak melihat sisi yang lain, maka golongan Qadariyyah penafi yang menafikan takdir berkata: sesungguhnya Allah tidak menghendaki kekafiran, dosa-dosa, dan kemaksiatan, tidak mencintainya dan tidak meridainya, maka bagaimana kami mengatakan bahwa Dia menciptakan perbuatan hamba-hamba dan di dalamnya ada kekafiran, dosa-dosa, dan kemaksiatan.
Dan golongan Qadariyyah yang memaksa beriman bahwa Allah pencipta segala sesuatu, dan mereka mengklaim bahwa segala sesuatu yang Dia ciptakan dan adakan maka Dia mencintainya dan meridainya.
Dan Ahli Sunnah wal Jamaah melihat kebenaran seluruhnya, maka mereka beriman pada kebenaran yang ada pada setiap kelompok dari kedua golongan itu, dan menafikan kebatilan yang menghinggapi setiap kelompok dari mereka.
Maka mereka berkata: “Sesungguhnya Allah walaupun menghendaki kemaksiatan secara takdir, namun Dia tidak mencintainya, tidak meridainya dan tidak memerintahkannya, bahkan Dia membencinya dan melarangnya.”
Dan ini adalah pendapat para salaf secara keseluruhan, maka mereka berkata: apa yang Allah kehendaki terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak terjadi, dan karena itulah para fuqaha sepakat bahwa orang yang bersumpah seandainya berkata: “Demi Allah aku akan melakukan ini jika Allah menghendaki” tidak melanggar sumpah jika tidak melakukannya, walaupun itu wajib atau sunnah.
Dan seandainya dia berkata: “jika Allah mencintai,” dia melanggar sumpah jika itu wajib atau sunnah. Dan para muhakkik dari Ahli Sunnah berkata: kehendak dalam kitab Allah ada dua jenis:
Kehendak takdiri khalqi, dan kehendak diniyyah syar’iyyah.
Maka kehendak syar’iyyah adalah yang mengandung cinta dan ridha, dan kehendak kauniyyah adalah kehendak yang menyeluruh bagi semua yang ada.
Maka kehendak syar’iyyah seperti firman Allah Ta’ala: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185), dan firman-Nya: “Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya atas kamu.” (QS. Al-Maidah: 6) “Allah hendak memberikan penjelasan kepada kamu, menunjuki kamu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu, dan menerima taubatmu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan Allah hendak menerima taubatmu, adapun orang-orang yang mengikuti hawa nafsu menghendaki supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran). Allah hendak memberikan keringanan kepada kamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An-Nisa: 26-28) dan firman-Nya: “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33).
Maka jenis kehendak ini tidak mengharuskan terjadinya yang dikehendaki, kecuali jika dikaitkan dengan jenis kedua dari kehendak, dan kehendak ini menunjukkan dengan jelas bahwa Dia tidak mencintai dosa-dosa, kemaksiatan, kesesatan, dan kekafiran, tidak memerintahkannya dan tidak meridainya, walaupun Dia menghendakinya secara penciptaan dan pengadaan.
Dan bahwa Dia mencintai apa yang berkaitan dengan urusan agama dan meridainya serta menetapkan pemiliknya di atasnya, dan memasukkan mereka ke surga, menolongnya di kehidupan dunia dan di akhirat, dan menolong dengannya hamba-hamba dari wali-wali-Nya yang bertakwa dan golongan-Nya yang beruntung dan hamba-hamba-Nya yang saleh.
Dan kehendak ini mencakup semua ketaatan baik terjadi maupun tidak terjadi. Dan kehendak kauniyyah takdiriyyah adalah kehendak yang menyeluruh bagi semua yang ada, yang dikatakan padanya: apa yang Allah kehendaki terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak terjadi, dan kehendak ini seperti firman Allah Ta’ala: “Maka barangsiapa yang Allah kehendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit.” (QS. Al-An’am: 125). Dan firman-Nya: “Dan tidak bermanfaat bagimu nasihatku jika aku hendak memberi nasihat kepada kamu, sekiranya Allah berkehendak menyesatkan kamu.” (QS. Hud: 34). Dan firman-Nya: “Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak akan berperang; akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 253). Dan firman-Nya: “Dan mengapa kamu tidak mengucapkan waktu masuk ke kebunmu: ‘(Inilah) apa yang dikehendaki Allah, tidak ada kekuatan melainkan dengan (pertolongan) Allah’.” (QS. Al-Kahfi: 39).
Dan kehendak ini adalah kehendak yang menyeluruh tidak keluar darinya seorang pun dari yang ada, maka semua peristiwa kauniyyah masuk dalam kehendak Allah dan mashiyyah-Nya ini, dan dalam hal ini sama antara mukmin dan kafir, orang baik dan orang jahat, ahli surga dan ahli neraka, wali-wali Allah dan musuh-musuh-Nya, ahli ketaatan-Nya yang Dia cintai dan mereka mencintai-Nya, dan Dia dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat atas mereka, dan ahli kemaksiatan-Nya yang Dia benci dan murka kepada mereka dan dilaknat oleh para pelaknat.
Dan kehendak ini mencakup apa yang terjadi dari ketaatan dan kemaksiatan tanpa yang tidak terjadi darinya.
Dan makhluk-makhluk dengan setiap dari kedua kehendak itu ada empat bagian:
Pertama: yang dikaitkan dengan kedua kehendak, yaitu apa yang terjadi dalam wujud dari amal-amal saleh, maka sesungguhnya Allah menghendakinya dengan kehendak agama dan syariat, maka Dia memerintahkannya dan mencintainya serta meridainya, dan menghendakinya dengan kehendak kauni maka terjadilah, dan seandainya tidak demikian tidak akan ada.
Kedua: yang dikaitkan dengan kehendak diniyyah saja, yaitu apa yang Allah perintahkan dari amal-amal saleh, lalu orang-orang kafir dan orang-orang jahat mendurhakai hal itu, maka semuanya itu kehendak agama, dan Dia mencintainya dan meridainya baik terjadi maupun tidak terjadi.
Ketiga: yang dikaitkan dengan kehendak kauniyyah saja, yaitu apa yang Allah takdirkan dan kehendaki dari peristiwa-peristiwa yang tidak Dia perintahkan seperti perkara-perkara mubah dan kemaksiatan, maka sesungguhnya Dia tidak memerintahkannya, tidak meridainya, dan tidak mencintainya, karena Dia tidak memerintahkan perbuatan keji dan tidak meridai kekafiran bagi hamba-hamba-Nya, dan seandainya tidak ada kehendak-Nya, kekuasaan-Nya, dan penciptaan-Nya terhadapnya niscaya tidak akan ada dan tidak akan wujud, maka sesungguhnya apa yang Allah kehendaki terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak terjadi.
Keempat: yang tidak dikaitkan dengan kehendak ini maupun itu, maka ini adalah apa yang tidak terjadi dan tidak ada dari jenis-jenis perkara mubah dan kemaksiatan.
Dan orang yang berbahagia dari hamba-hamba Allah adalah yang Allah kehendaki darinya secara takdir apa yang Allah kehendaki dengannya secara syariat, dan hamba yang celaka adalah yang Allah kehendaki dengannya secara takdir apa yang tidak Dia kehendaki dengannya secara syariat, dan Ahli Sunnah wal Jamaah yang memahami agama Allah dengan pemahaman yang benar, dan tidak membenturkan kitab Allah sebagiannya dengan sebagian yang lain, mereka mengetahui bahwa hukum-hukum Allah pada makhluk-Nya berjalan sesuai dengan kedua kehendak ini, maka barangsiapa memandang amal-amal yang keluar dari hamba dengan kedua mata ini maka dia melihat dengan jelas, dan barangsiapa memandang pada syariat tanpa takdir, atau memandang pada takdir tanpa syariat maka dia buta sebelah, seperti kaum Quraisy yang berkata: “Kalau Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan sesuatu.” (QS. Al-An’am: 148). Allah Ta’ala berfirman: “Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul) hingga mereka merasakan siksa Kami. Katakanlah: “Adakah pada kamu sesuatu pengetahuan, lalu kamu mengeluarkannya kepada kami? Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu hanyalah berdusta.” (QS. Al-An’am: 148).
BAB KETUJUH: BUAH-BUAH IMAN PADA TAKDIR
Telah kami jelaskan sebelumnya bahwa akidah takdir yang dibawa Islam terbebas dari sikap pasrah, malas, dan lesu yang menimpa sebagian besar umat Islam sepanjang abad-abad atas nama iman pada takdir, dan yang bertanggung jawab atas hal itu adalah penyimpangan kaum muslimin dalam bab takdir di mana mereka tidak memahaminya dengan benar.
Dan barangsiapa merenungkan akidah takdir yang dibawa Islam akan menemukan buah-buah yang besar dan baik, yang dahulu dan masih menjadi sebab kebaikan individu dan umat.
Dan kami akan mencoba menjelaskan beberapa buahnya yang tampak selama studi ini.
1- Iman pada Takdir adalah Jalan Keselamatan dari Syirik:
Banyak filsuf mengklaim bahwa kebaikan dari Allah, dan keburukan dari buatan tuhan-tuhan selain-Nya, dan mereka mengatakan perkataan ini untuk lari dari menisbatkan keburukan kepada Allah Ta’ala.
Dan Majusi mengklaim bahwa cahaya pencipta kebaikan, dan kegelapan pencipta keburukan.
Dan orang-orang dari umat ini yang mengklaim bahwa Allah tidak menciptakan perbuatan hamba-hamba, atau tidak menciptakan yang sesat darinya telah menetapkan pencipta-pencipta selain Allah.
Dan tidak sempurna tauhid Allah kecuali bagi yang mengakui bahwa Allah sendiri Pencipta segala sesuatu di alam, dan bahwa kehendak-Nya berjalan pada makhluk-Nya apa yang Dia kehendaki terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak terjadi, maka semua pendusta takdir tidak mentauhidkan Tuhan mereka, dan tidak mengenal-Nya dengan sebenar-benar pengenalan, dan iman pada takdir adalah pemisah jalan antara tauhid dan syirik. Maka mukmin pada takdir mengakui bahwa alam ini dan apa yang ada di dalamnya berasal dari Tuhan yang satu dan sembahan yang satu, dan barangsiapa tidak beriman dengan iman ini maka sesungguhnya dia menjadikan selain Allah sebagai tuhan-tuhan dan rabb-rabb.
2- Istiqamah pada Jalan Lurus dalam Senang dan Susah:
Hamba-hamba dengan apa yang ada pada mereka dari kekurangan dan kelemahan tidak bisa istiqamah pada jalan lurus, Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya manusia itu dijadikan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat.” (QS. Al-Ma’arij: 19-22).
Dan iman pada takdir menjadikan manusia berjalan dalam hidupnya pada jalan lurus, tidak membanggakan nikmat, tidak membuatnya putus asa karena musibah, maka dia mengetahui bahwa segala yang menimpanya dari nikmat dan kebaikan dari Allah, bukan karena kecerdasan dan baiknya pengaturannya “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya).” (QS. An-Nahl: 53). Dan tidak menjadi keadaannya seperti keadaan Qarun yang berbuat kezaliman terhadap kaumnya, dan menyombongkan diri kepada mereka dengan apa yang Allah berikan kepadanya dari perbendaharaan dan harta: “Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahi dia perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashash: 76-78).
Maka jika hamba ditimpa kesengsaraan dan bala dia mengetahui bahwa ini dengan takdir Allah sebagai ujian dari-Nya, maka dia tidak cemas dan tidak putus asa, bahkan dia mengharap pahala dan bersabar, maka iman ini memberikan dalam hati hamba mukmin keridaan dan ketenangan “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kamu.” (QS. Al-Hadid: 22-23).
Dan Allah telah memuji hamba-hamba-Nya: “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 156-157).
3- Mukmin pada Takdir Selalu Waspada:
Orang-orang mukmin pada takdir selalu waspada “Maka tidak ada yang merasa aman dari azab Allah melainkan orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 99) maka hati-hati hamba-hamba senantiasa berbolak-balik dan berubah-ubah, dan hati-hati berada di antara dua jari dari jari-jari Yang Maha Penyayang, Dia membolak-balikkannya bagaimana Dia kehendaki, dan fitnah-fitnah yang mengarahkan anak panahnya kepada hati-hati banyak, dan mukmin senantiasa berhati-hati jangan sampai datang kepadanya apa yang menyesatkannya sebagaimana dia takut ditutup baginya dengan penutup yang buruk, dan ini tidak mendorongnya kepada bermalas-malasan dan kelesuan, bahkan mendorongnya kepada perjuangan yang terus-menerus untuk istiqamah, dan memperbanyak amal saleh, serta menjauhi kemaksiatan dan yang membinasakan.
Sebagaimana hati hamba tetap tergantung pada Penciptanya, berdoa kepada-Nya dan berharap kepada-Nya dan meminta pertolongan-Nya, dan meminta kepada-Nya keteguhan di atas kebenaran, sebagaimana dia meminta kepada-Nya petunjuk dan kebenaran.
4- Menghadapi Kesulitan dan Bahaya dengan Hati yang Teguh:
Jika hamba beriman bahwa segala yang menimpanya tertulis, dan beriman bahwa rezeki dan ajal di tangan Allah, maka dia akan menerobos kesulitan dan kengerian dengan hati yang teguh dan kepala yang terangkat, dan iman ini adalah salah satu yang terbesar yang mendorong para mujahidin untuk maju di medan pertempuran tanpa takut dan gentar, dan salah seorang dari mereka mencari kematian di tempat-tempatnya, dan melemparkan dirinya dalam tempat-tempat sempit yang dia kira akan membinasakannya, kemudian kamu melihatnya mati di tempat tidurnya, maka dia menangis karena tidak gugur di medan pertempuran sebagai syahid, dan dialah yang selalu menerobos bahaya dan kengerian.
Dan iman ini adalah salah satu yang terbesar yang meneguhkan hati orang-orang saleh dalam menghadapi orang-orang zalim dan tiran, dan tidak takut dalam (jalan) Allah celaan orang yang mencela, karena mereka mengetahui bahwa urusan di tangan Allah, dan apa yang ditakdirkan bagi mereka akan datang kepada mereka.
Dan mereka tidak takut dari mengatakan kalimat kebenaran karena takut terputusnya rezeki, maka rezeki di tangan Allah, dan apa yang Allah tulis dari rezeki tidak ada seorang pun yang mampu mencegahnya, dan apa yang Allah cegah bagi seorang hamba dari hamba-hamba-Nya tidak ada seorang pun yang mampu menyampaikannya kepadanya.







