Puncak Takwa di Tengah Badai Khauf

Rabu, 25 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

قَالَ الْإِمَامُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ:
“وَمَنْ تَأَمَّلَ أَحْوَالَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ، وَجَدَهُمْ فِي غَايَةِ الْعَمَلِ مَعَ غَايَةِ الْخَوْفِ، وَنَحْنُ جَمَعْنَا بَيْنَ التَّقْصِيرِ -بَلِ التَّفْرِيطِ- وَالْأَمْنِ.”
[الدَّاءُ وَالدَّوَاءُ ص٣٥، وَالصَّوَاعِقُ الْمُرْسَلَةُ ٢/ ٤٦٩]

Imam Ibnu al-Qayyim —rahimahullāh— berkata:
“Barangsiapa yang merenungkan keadaan para Sahabat —radhiyallāhu ‘anhum— niscaya ia akan menemukan mereka berada pada puncak amal (ketaatan) dibersamai dengan puncak rasa takut (kepada Allah). Sedangkan kita, kita menggabungkan antara kekurangan —bahkan kelalaian— dengan perasaan aman (dari azab).”

Ini adalah kutipan yang sangat mendalam dari kitab legendaris Imam Ibnu al-Qayyim, Al-Da’ wa al-Dawa’. Beliau memotret kontradiksi spiritual yang sering terjadi antara generasi terbaik dengan generasi setelahnya.
Imam Ibnu al-Qayyim sedang melakukan perbandingan psikologi iman. Para sahabat Nabi, meskipun dijamin surga dan memiliki kualitas amal yang tak tertandingi, hati mereka tetap bergetar karena takut amal mereka tidak diterima atau terjatuh dalam murka Allah. Sebaliknya, manusia zaman sekarang yang amalnya jauh dari sempurna, justru sering merasa “percaya diri” akan masuk surga dan merasa aman dari ancaman siksa-Nya. Beliau mengajak kita untuk melakukan muhasabah (evaluasi diri) atas “rasa aman yang semu” ini.

Pelajaran Penting

01. Keseimbangan Amal dan Khauf

Iman yang sehat adalah ketika seseorang semakin banyak beramal, ia justru semakin takut kepada Allah (bukan menjadi sombong). Inilah sifat mukmin sejati sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an (QS. Al-Mu’minun: 60).

02. Bahaya Perasaan Aman (Al-Amru min Makrillah)

Merasa aman dari azab Allah sambil terus melakukan kemaksiatan atau meremehkan ketaatan adalah tipu daya setan yang membinasakan.

03. Definisi Taqshir vs Tafriit

Ibnu al-Qayyim menggunakan kata Tafriit (meremehkan/melalaikan) yang lebih parah dari sekadar Taqshir (kekurangan). Ini menunjukkan bahwa kita sering kali bukan hanya kurang dalam beramal, tapi sengaja melalaikannya.

04. Meneladani Sahabat dalam Metodologi Ibadah

Meneladani sahabat bukan hanya dalam bentuk ritual, tapi juga dalam pengelolaan hati; yakni menanamkan rasa rendah hati dan kekhawatiran yang positif setelah melakukan ketaatan.

Penulis : Ustadz Kholid Syamhudi Hafidzahullah Ta’ala

Artikel Terjkait

MENGUTAMAKAN QADHA PUASA RAMADHAN DARIPADA PUASA SYAWWAL
MENYEMPURNAKAN RAMADHAN DENGAN PUASA SYAWWAL
Ujian: Surat Cinta yang Mengajak Kembali ke Pelukan Ilahi
Rahasia Terbukanya Pintu Rahmat
Jembatan Maaf: Kunci Ampunan Ilahi
Anatomi Kejatuhan: Seni Memotong Rantai Kebiasaan Buruk
Apakah Lailatul Qadar Masih Ada atau Sudah Diangkat?
INTEGRITAS MUSLIM IDEAL DI TEMPAT KERJA
Berita ini 8 kali dibaca

Artikel Terjkait

Minggu, 29 Maret 2026 - 15:02 WIB

MENGUTAMAKAN QADHA PUASA RAMADHAN DARIPADA PUASA SYAWWAL

Minggu, 29 Maret 2026 - 14:46 WIB

MENYEMPURNAKAN RAMADHAN DENGAN PUASA SYAWWAL

Jumat, 27 Maret 2026 - 16:25 WIB

Ujian: Surat Cinta yang Mengajak Kembali ke Pelukan Ilahi

Rabu, 25 Maret 2026 - 14:45 WIB

Rahasia Terbukanya Pintu Rahmat

Minggu, 22 Maret 2026 - 20:14 WIB

Jembatan Maaf: Kunci Ampunan Ilahi

Artikel Terbaru

Fikih

MENGUTAMAKAN QADHA PUASA RAMADHAN DARIPADA PUASA SYAWWAL

Minggu, 29 Mar 2026 - 15:02 WIB

Fikih

MENYEMPURNAKAN RAMADHAN DENGAN PUASA SYAWWAL

Minggu, 29 Mar 2026 - 14:46 WIB

Ibadah

Istiqomah Pasca Ramadhan

Jumat, 27 Mar 2026 - 16:30 WIB

Dakwah

Ujian: Surat Cinta yang Mengajak Kembali ke Pelukan Ilahi

Jumat, 27 Mar 2026 - 16:25 WIB

Dakwah

Rahasia Terbukanya Pintu Rahmat

Rabu, 25 Mar 2026 - 14:45 WIB