Ibnu Al Qayyim berkata,
وَلِلصَّوْمِ تَأْثِيرٌ عَجِيبٌ فِي حِفْظِ الْجَوَارِحِ الظَّاهِرَةِ وَالْقُوَى الْبَاطِنَةِ وَحِمَيْتِهَا عَنِ التَّخْلِيطِ الْجَالِبِ لَهَا الْمَوَادَّ الْفَاسِدَةَ الَّتِي إِذَا اسْتَوْلَتْ عَلَيْهَا أَفْسَدَتْهَا، وَاسْتِفْرَاغِ الْمَوَادِّ الرَّدِيئَةِ الْمَانِعَةِ لَهَا مِنْ صِحَّتِهَا؛ فَالصَّوْمُ يُحَافِظُ عَلَى الْقَلْبِ وَالْجَوَارِحِ صِحَّتَهَا، وَيُعِيدُ إِلَيْهَا مَا اسْتَلَبَتْهُ مِنْهَا أَيْدِي الشَّهَوَاتِ، فَهُوَ مِنْ أَكْبَرِ الْعَوْنِ عَلَى التَّقْوَى كَمَا قَالَ تَعَالَى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ} [البقرة:183].
“Puasa memiliki pengaruh luar biasa dalam menjaga anggota badan lahir dan kekuatan batin, serta melindunginya dari kerusakan yang mengundang materi-materi buruk. Jika materi buruk itu menguasai, ia akan merusak. Puasa juga membersihkan materi-materi kotor yang menghalangi kesehatan jiwa. Dengan demikian, puasa menjaga kesehatan hati dan anggota badan, serta mengembalikan apa yang telah dirampas oleh syahwat. Maka, puasa adalah salah satu penolong terbesar untuk mencapai ketakwaan, sebagaimana firman Allah: ‘Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.’ (QS. Al-Baqarah: 183).” (Zaad al Ma’ad 1/201)
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Zadul Ma’ad. Beliau membedah puasa tidak hanya sebagai ritual ibadah, tetapi sebagai sistem pembersihan total bagi manusia, baik dari sisi tazkiyatun nufus (penyucian jiwa) maupun perspektif kesehatan fisik.
Faedah:
1. Pengaruh positif pada jiwa dan raga: Puasa menjaga kesehatan fisik dan mental.
2. Pencegah kerusakan: Puasa melindungi dari perbuatan buruk yang dipicu syahwat.
3. Pembersih jiwa: Puasa membersihkan hati dari materi-materi kotor.
4. Bantuan menuju takwa: Puasa memperkuat ketakwaan, sebagaimana tujuan utama syariat puasa.
Nasehat yang disampaikan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Zadul Ma’ad ini, membedah puasa tidak hanya sebagai ritual ibadah, tetapi sebagai sistem pembersihan total bagi manusia.
1. Penjagaan Jasad dan Kekuatan Batin (Hifzhul Jawarih wal Quwa)
Ibnu Qayyim menyebutkan puasa menjaga “anggota badan luar” dan “kekuatan batin”.
Faedah Ilmiah: Secara psikologis, puasa melatih self-regulation (regulasi diri). Ketika seseorang mampu menahan lapar (kebutuhan dasar), syaraf prefrontal cortex pada otak—yang bertanggung jawab atas logika dan kendali diri—menjadi lebih kuat. Ini mencegah seseorang bertindak impulsif atau mengikuti emosi yang merusak.
2. Proteksi dari Zat Perusak (Himayah minal Mawad al-Fasidah)
Beliau menyebutkan puasa melindungi tubuh dari “pencampuran zat” yang bisa merusak jika mendominasi tubuh.
Faedah Ilmiah: Dalam dunia medis modern, ini berkaitan dengan Autofagi. Fenomena ini (yang memenangkan Nobel Kedokteran 2016) adalah proses di mana sel-sel tubuh “memakan” komponen sel yang rusak, racun, dan protein tidak berguna saat kita berpuasa. Puasa adalah cara alami tubuh melakukan detoksifikasi tanpa bantuan obat-obatan kimia.
3. Pengosongan Zat Buruk (Istifragh al-Mawad ar-Radi’ah)
Puasa berfungsi membuang sisa-sisa makanan atau zat yang menghalangi kesehatan.
Faedah Ilmiah: Kelebihan asupan (glukosa dan lemak) yang menumpuk dapat menyebabkan inflamasi kronis. Puasa menurunkan kadar insulin dan memberikan kesempatan bagi organ pencernaan serta hati untuk beristirahat. Proses ini membuang “sampah metabolik” yang jika dibiarkan akan menjadi sumber penyakit seperti diabetes dan hipertensi.
4. Mengembalikan Keseimbangan dari Belenggu Syahwat
Ibnu Qayyim menekankan bahwa puasa mengembalikan apa yang telah “dirampas” oleh syahwat.
Faedah Ilmiah: Syahwat atau kesenangan duniawi yang berlebihan memicu lonjakan Dopamin secara terus-menerus, yang lama-kelamaan membuat kita “kebal” dan selalu merasa kurang (adiksi). Puasa melakukan Dopamine Detox. Dengan menahan diri, sensitivitas kebahagiaan kita kembali normal, sehingga hati lebih tenang dan tidak diperbudak oleh keinginan materi.
Penulis : Ustadz Kholid Syamhudi Hafidzahullah Ta’ala







