PILIHAN DARI KITAB ZUHUD DAN RAQAIQ
الْمُنْتَخَبُ مِنْ كِتَابِ الزُّهْدِ وَالرَّقَائِقِ
Penulis:
Al-Khatib Al-Baghdadi (wafat: 463 H)
Terjemah:
Muhamad Abid Hadlori, S.Ag.,Lc.
Mukaddimah
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada junjungan kami Muhammad beserta keluarganya dan memberikan salam yang sempurna
Telah mengabarkan kepada kami Syaikh Abu Muhammad Abdul Aziz bin Ma’ali bin Manina al-Babashri, dia berkata: telah dibacakan di hadapan Syaikh Qadhi Abu Bakr Muhammad bin Abdul Baqi bin Muhammad bin Abdullah al-Anshari – dan aku mendengarkan lalu membenarkannya – dia berkata: telah menceritakan kepada kami Syaikh Abu Bakr Ahmad bin Ali bin Tsabit al-Khatib al-Hafizh dari ucapannya langsung, pada bulan Muharram tahun empat puluh tujuh dan empat ratus, dia berkata:
Hadits Qudsi
1 – Telah mengabarkan kepada kami Abu al-Hasan Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Musa bin Harun bin as-Salt al-Ahwazi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Qadhi Abu Abdullah al-Husain bin Ismail al-Mahamili, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Salm bin Junadah, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, dari al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Allah Ta’ala berfirman: “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku terhadap-Ku, dan Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Jika dia mengingat-Ku dalam hatinya, Aku mengingat dia dalam diri-Ku. Dan jika dia mengingat-Ku dalam suatu kaum, Aku mengingat dia dalam kaum yang lebih baik dari mereka. Jika dia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika dia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Dan jika dia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku datang kepadanya dengan berlari.”
Salm berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair seperti itu.
Atsar dari Zahid Bakr bin Khunais tentang Azab bagi Orang Fasik Penghafal Al-Quran
2 – Telah mengabarkan kepada kami Abu al-Husain Muhammad bin Ahmad bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Rizq al-Bazzaz, dan Abu al-Husain Ali bin Muhammad bin Abdullah bin Bisyran al-Mu’addal, keduanya berkata: telah mengabarkan kepada kami Ismail bin Muhammad ash-Shaffar, telah menceritakan kepada kami Abu Yahya Zakariya bin Yahya bin Asad al-Maruzi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ma’ruf al-Karkhi, dia berkata: Bakr bin Khunais berkata:
“Sesungguhnya di neraka Jahannam ada lembah yang darinya nereka Jahannam berlindung setiap hari tujuh kali. Dan sesungguhnya di lembah itu ada jurang yang darinya lembah dan Jahannam berlindung setiap hari tujuh kali. Dan sesungguhnya di jurang itu ada ular yang darinya jurang, lembah, dan Jahannam berlindung setiap hari tujuh kali. Dimulai dengan orang-orang fasik penghafal Al-Quran, maka mereka berkata: ‘Wahai Tuhan kami, mengapa dimulai dengan kami sebelum penyembah berhala?’ Dikatakan kepada mereka: ‘Tidaklah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui.'”
Dari Keutamaan Ma’ruf al-Karkhi
3 – Telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah al-Husain bin al-Hasan bin Muhammad bin al-Qasim al-Makhzumi, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Amr al-Bakhtari secara imla’, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abi Thalib, dia berkata: aku mendengar Ismail bin Syaddad, dia berkata: Sufyan bin Uyainah berkata kepada kami: “Kalian dari mana?” Kami menjawab: dari penduduk Baghdad. Dia berkata: “Bagaimana kabar ulama besar yang ada di antara kalian?” Kami bertanya: siapa dia? Dia berkata: “Abu Mahfuzh Ma’ruf.” Kami berkata: dia baik-baik saja. Dia berkata: “Penduduk kota itu tidak akan berhenti dalam kebaikan selama dia masih ada di antara mereka.”
Perkataan Ibrahim bin Adham tentang Sebab Terhalangnya Hati dari Allah ‘Azza wa Jalla
4 – Telah menceritakan kepada kami Abu al-Husain Muhammad bin Ahmad bin Rizq secara imla’, telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad Ja’far bin Muhammad bin Nushair al-Khuldi, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Nashr al-Manshuri, mantan budak Manshur bin al-Mahdi, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Basysyar ash-Shufi al-Khurasani, pelayan Ibrahim bin Adham. Dia berkata: Suatu kali seseorang berdiri di hadapan Ibrahim bin Adham, lalu berkata: “Wahai Abu Ishaq, mengapa hati-hati terhalang dari Allah ‘Azza wa Jalla?” Dia berkata:
“Karena hati-hati itu mencintai apa yang dibenci Allah. Mereka mencintai dunia dan condong kepada rumah tipuan, hiburan, dan permainan. Mereka meninggalkan amal untuk rumah yang di dalamnya terdapat kehidupan abadi, dalam kenikmatan yang tidak sirna dan tidak habis, kekal abadi, dalam kerajaan yang kekal tiada akhirnya dan tiada putusnya.”
Hadits yang Tidak Sahih tentang Anjuran Memakai Pakaian Wol
5 – Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakr Ahmad bin Muhammad bin Abi Ja’far al-Akhram, telah mengabarkan kepada kami Abu Ali Isa bin Muhammad bin Ahmad ath-Thumari, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yunus, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dawud at-Tammar, telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ayyasy, dari Tsaur bin Yazid, dari Khalid bin Mi’dan, dari Abu Umamah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Hendaklah kalian memakai pakaian wol, kalian akan merasakan manisnya iman di hati kalian. Hendaklah kalian memakai pakaian wol, kalian akan merasakan sedikitnya makan. Hendaklah kalian memakai pakaian wol, kalian akan dikenal dengannya di akhirat. Sesungguhnya pakaian wol menimbulkan perenungan di hati, dan perenungan menimbulkan hikmah, dan hikmah mengalir di dalam perut sebagaimana darah mengalir. Barang siapa yang banyak perenungannya, akan sedikit makannya dan lemah lidahnya. Dan barang siapa yang sedikit perenungannya, akan banyak makannya, besar badannya, dan keras hatinya. Hati yang keras itu jauh dari Allah, jauh dari surga, dekat dengan nereka.”
Tafsir Abu Bakr bin Thahir untuk Hadits: Orang Mukmin Makan dengan Satu Usus
6 – Telah mengabarkan kepada kami Abu Ali Abdurrahman bin Muhammad bin Ahmad bin Fadhalah an-Naisaburi, di ar-Rayy, telah mengabarkan kepada kami Abu Bakr Muhammad bin Abdullah bin Syazan ar-Razi al-Mudzakkir, dia berkata: aku mendengar Abu Bakr bin Thahir, berkata tentang “makna hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: Orang mukmin makan dengan satu usus, dan orang kafir makan dengan tujuh usus.” Dia berkata: “Hamba memiliki tujuh usus, satu di antaranya adalah tabiat, dan enam adalah keserakahan. Maka orang mukmin makan dengan usus tabiat, dan orang kafir makan dengan usus keserakahan dan ketamakan.”
Dari Wasiat-wasiat Yahya bin Mu’adz
7 – Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin al-Hasan bin Ahmad al-Ahwazi, dia berkata: aku mendengar Abu Bakr ad-Dinf ash-Shufi, berkata: aku mendengar Jami’ bin Ahmad, berkata: aku mendengar Yahya bin Mu’adz ar-Razi, berkata:
“Jadikanlah rumahmu tempat khalwat, makananmu lapar, dan pembicaraanmu munajat. Maka engkau akan mati karena penyakitmu, atau engkau akan sampai kepada obatmu.”
Tentang Permulaan Yahya bin Mu’adz dalam Perkara Ibadah dan Suluk
8 – Telah menceritakan kepada kami Abu Thalib Yahya bin Ali ath-Thayyib al-Ijli, di Hulwan. Dia berkata: aku mendengar Abdullah bin Muhammad bin Abdullah ad-Damaghani, di sana berkata: aku mendengar al-Hasan bin Ali bin Yahya bin Sallam yang dikenal dengan Hasan bin Alawiyyah al-Wa’izh, berkata: aku mendengar Abu Zakariya Yahya bin Mu’adz ar-Razi, berkata:
“Awal perkaraku dalam perjalananku ketika aku keluar dari ar-Rayy, tiba-tiba muncul di hatiku urusan bekal dan nafkah. Lalu aku merenung dalam diriku, tiba-tiba ada yang membisikkan di hatiku: ‘Keluarkanlah apa yang ada di saku supaya Kami beri engkau dari yang gaib.'”
Perkataan Sahl at-Tusturi tentang Hakikat Yakin
9 – Telah mengabarkan kepada kami Abdurrahman bin Muhammad an-Naisaburi, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Buhlul al-Faqih, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ali bin Abi Humairah, dia berkata: aku mendengar Sahl bin Abdullah, berkata:
“Haram bagi hati untuk mencium bau yakin, sementara di dalamnya ada ketenangan kepada selain Allah. Dan haram bagi hati untuk dimasuki cahaya, sementara di dalamnya ada sesuatu yang dibenci Allah ‘Azza wa Jalla.”
Kabar tentang Dawud ‘alaihish shalatu wassalam agar Tidak Menjadikan dalam Hubungannya dengan Allah Seorang pun Selain-Nya
10 – Telah mengabarkan kepada kami Abu al-Hasan Ahmad bin Muhammad bin Muhammad bin Abi ash-Salt al-Ahwazi, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Muhammad bin Makhlad al-Aththar, telah menceritakan kepada kami Musa bin Harun, telah menceritakan kepada kami Muhammad yaitu Ibnu Nu’aim bin Haisyam, dia berkata: aku mendengar Bisyr yaitu Ibnu al-Harits, berkata:
Allah Ta’ala mewahyukan kepada Dawud: “Wahai Dawud, janganlah engkau jadikan antara Aku dan dirimu seorang alim yang terpesona, karena dia akan menghalangimu dengan kemabukan cintanya dari jalan kecintaan-Ku. Mereka itulah perampok jalan hamba-hamba-Ku.”
Perkataan Yahya bin Mu’adz tentang Penundaan Azab hingga Hari Kiamat
11 – Telah mengabarkan kepada kami Abdurrahman bin Muhammad bin Fadhalah di ar-Rayy, telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Ismail, di Bukhara dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Muthi’ Makhul bin al-Fadhl an-Nasafi, dia berkata: Yahya bin Mu’adz ar-Razi berkata:
“Dua musibah bagi hamba yang belum pernah didengar oleh orang-orang terdahulu dan kemudian seperti itu baginya dalam nasibnya ketika matinya.” Ditanya: “Apa keduanya?” Dia berkata: “Semua amalnya ditunda darinya, dan dia ditanya tentang semuanya.”
Penggambaran Abu Bakr asy-Syibli tentang Dunia
12 – Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ali al-Ashbahani, dia berkata: aku mendengar Abu Hatim ath-Thabari, berkata: aku mendengar Abu Bakr asy-Syibli, berkata dalam wasiatnya:
“Jika engkau ingin melihat dunia dengan seluruhnya, maka lihatlah tempat sampah, itulah dunia. Dan jika engkau ingin melihat dirimu, maka ambillah segenggam tanah, karena dari situlah engkau diciptakan, dan ke situ engkau kembali, dan dari situ engkau keluar. Dan kapan engkau ingin melihat apa dirimu, maka lihatlah apa yang keluar darimu ketika engkau masuk kamar mandi. Barang siapa keadaannya demikian, maka tidak pantas baginya untuk menyombongkan diri atau bertakabur terhadap orang yang seperti dirinya.”
Perkataan Ibrahim bin Adham dalam Mencela Keserakahan
13 – Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Rizq at-Ta’i, dan Abu al-Hasan Ali bin Ahmad bin Umar al-Muqri, keduanya berkata: telah mengabarkan kepada kami Ja’far bin Muhammad al-Khuldi, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Nashr, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Basysyar, dia berkata: aku berkata kepada Ibrahim bin Adham: “Haruskah aku hari ini bekerja membuat tembikar?” Maka dia berkata:
“Wahai Ibnu Basysyar, sesungguhnya engkau adalah pencari dan yang dicari. Mencarimu Dzat yang tidak akan terluputkan darimu, dan engkau mencari apa yang telah dicukupkan bagimu. Seakan-akan apa yang gaib bagimu telah tersingkap bagimu, dan apa yang engkau ada di dalamnya telah dipindahkan darimu. Wahai Ibnu Basysyar, seakan-akan engkau tidak pernah melihat orang serakah yang terhiram, dan tidak pula orang yang kekurangan namun diberi rezeki.”
Kemudian dia berkata kepadaku: “Apakah engkau punya cara?” Aku berkata: “Ya, aku punya hutang kepada pedagang bahan makanan sebesar satu daniq.” Maka dia berkata: “Sungguh menyedihkan bagiku, engkau memiliki satu daniq namun masih mencari pekerjaan.”
Nasihat-nasihat tentang Qana’ah dan Lainnya
14 – Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin al-Farraj al-Bazzaz, telah mengabarkan kepada kami Ja’far bin Muhammad al-Khuldi, telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Masruq, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad al-Anshari, dia berkata: aku membaca di atas batu di Baitul Maqdis: “Pokok kekayaan adalah qana’ah, dan pokok kefakiran adalah kekhusyukan.”
Dan dia juga berkata: aku membaca di atas batu di Damaskus: “Berbicaralah dengan siapa yang engkau kehendaki maka engkau setara dengannya, berkecukupanlah dari siapa yang engkau kehendaki maka engkau pemimpinnya, dan tunduksuhlahlah kepada siapa yang engkau kehendaki maka engkau tawanannya.”
Dia berkata: dan aku membaca di atas batu di dekat sumur: “Setiap orang yang zaman membuatmu membutuhkannya, lalu engkau mendatanginya, maka engkau akan hina di matanya.”
Syair Abu al-Abbas Ahmad bin Ahmad bin Masruq
15 – Telah mengabarkan kepada kami Muhammad, telah mengabarkan kepada kami Ja’far, dia berkata: Ahmad bin Masruq melantunkan kepada kami:
“Jika engkau yakin bahwa Tuhanmu Pemberi rezeki Dan engkau meminta kepada makhluk maka engkau tidak yakin Atau engkau ragu tentang rezeki yang Allah jamin untukmu maka engkau tidak beriman”
Penglihatan Abu al-Fadhl asy-Syakli terhadap Pemuda Sufi
16 – Telah mengabarkan kepada kami Ali bin Ahmad bin Umar al-Muqri, dan Abdul Malik bin Muhammad bin Abdullah bin Bisyran al-Wa’izh, keduanya berkata: telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin al-Husain al-Ajurri, di Makkah dia berkata: telah menceritakan kepadaku sebagian sahabat kami, dari Abu Fadhl asy-Syakli, dia berkata:
“Aku melihat seorang pemuda di salah satu jalan, dan dia mengenakan pakaian usang, seakan-akan aku tidak memedulikannya. Lalu dia menoleh kepadaku, kemudian berkata:
‘Janganlah engkau menjauh dariku karena melihat pakaian usingku Sesungguhnya mutiara itu ada di dalam kerang Ilmuku baru dan pakaianku usang Dan puncak berpakaian adalah puncak kesombongan'”
Dia berkata: “Lalu aku mulai berlindung bersamanya dan merasa tenteram bersamanya.”
Penglihatan Zun-Nun terhadap Seorang Pemuda yang Memiliki Tanda-tanda Kesalehan
17 – Abdurrahman bin Muhammad An-Naisaburi memberitahukan kepada kami di Ar-Rayy, Muhammad bin Abdullah bin Syadzan Al-Muzakkir memberitahukan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Yusuf bin Al-Husain berkata: Aku mendengar Zun-Nun berkata: “Ketika aku sedang berjalan di salah satu jalan, tiba-tiba ada seorang pemuda berparas tampan, bekas sujud tahajjud tampak di antara kedua matanya. Maka aku berkata: ‘Kekasihku, dari mana engkau datang?’ Dia berkata: ‘Dari sisi-Nya.’ Lalu aku berkata: ‘Dan akan pergi ke mana?’ Dia berkata: ‘Ke sisi-Nya.’ Dia berkata: Maka aku menawarkan bekal kepadanya, dia memandangku dengan marah, kemudian berpaling dan mulai bersyair:
Dan orang kafir kepada Allah hartanya… semakin berlipat ganda atas kekufurannya Sedang seorang mukmin yang tidak memiliki dirham… semakin bertambah imannya atas kefakirannya Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak berakal… yang meregangkan kedua kakinya melebihi kemampuannya”
Syair Abu Bakar Al-Muaddib
18 – Ali bin Ahmad bin Hafs Al-Qari memberitahukan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Al-Husain Abu Bakar memberitahukan kepada kami di Makkah, dia berkata: Abu Bakar Abdullah bin Humaid Al-Muaddib melantunkan syair kepadaku:
“Betapa banyak pemilik dua jubah lusuh yang kurus… dunia aman dari kejahatannya Tidak terlihat kecuali kaya… padahal dia tidak memiliki sedikit pun Kemudian seandainya dia bersumpah atas sesuatu… kepada Allah, pasti Allah mengabulkannya”
Perkataan Abu Bakar As-Syibli tentang Hakikat Tasawuf
19 – Abu Thalib Yahya bin Ali Ad-Daskari memberitahukan kepada kami secara lisan, Ali bin Bundar menceritakan kepada kami, dia berkata: As-Syibli ditanya tentang tasawuf, maka dia berkata: “Tasawuf menurutku adalah: menyejukkan hati dengan kipas kejernihan, menyelimuti khawatir dengan jubah kesetiaan, berakhlak dengan kedermawanan, dan berwajah ceria dalam pertemuan.”
Syair Abu Al-Husain Al-Mukharrimi
20 – Al-Hasan bin Muhammad Al-Balkhi melantunkan syair kepadaku, dia berkata: Thahir bin Al-Husain Abu Al-Husain Al-Mukharrimi melantunkan syair kepada kami, karyanya sendiri:
“Tasawuf bukanlah ketika seorang pemuda menemuimu… dengan mengenakan tambal sulam dari kain sial Dengan garis-garis hitam dan putih yang disambung… seakan-akan dia seekor burung gagak berbintik Sesungguhnya tasawuf adalah pakaian yang dikenal… yang membuatnya takut kepada Allah dan khusyuk”
Perkataan Yahya bin Muaz tentang Hakikat Mahabbah
21 – Abu Al-Hasan Ali bin Ahmad bin Na’im bin Al-Jarud Al-Bashri menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Ali bin Ahmad bin Abdurrahman Al-Fihri Al-Ashfahani berkata: Aku mendengar Ahmad bin Abdul Jabbar Al-Maliki berkata: Aku mendengar Yahya bin Muaz Ar-Razi berkata: “Hakikat mahabbah adalah bahwa ia tidak bertambah dengan kebaikan dan tidak berkurang dengan kekerasan.”
Perkataan Lain Yahya tentang Firasat
22 – Yahya bin Ali bin Ath-Thayyib Al-Ijli menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Abdullah bin Muhammad Ad-Damghani berkata: Aku mendengar Al-Hasan bin Ali bin Yahya bin Sallam berkata: Dikatakan kepada Yahya bin Muaz: Diriwayatkan dari seorang laki-laki ahli kebaikan yang pernah menemui Al-Auza’i dan Sufyan, bahwa dia ditanya: ‘Kapan firasah mengenai orang yang tidak hadir terjadi?’ Dia berkata: “Jika dia mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci apa yang dibenci Allah, maka firasahnya akan mengenai orang yang tidak hadir.” Maka Yahya berkata:
Setiap yang dicintai selain Allah adalah pemborosan… dan kegelisahan serta kesedihan dan penyesalan Setiap yang dicintai maka darinya ada pengganti… kecuali Ar-Rahman, tidak ada pengganti dari-Nya Sesungguhnya cinta memiliki tanda-tanda jika… tampak dari pemilik cinta, maka dikenali Pemilik cinta hatinya sedih… selalu tersedak, berduka dan lemah Yang di dalam Allah bukan dari yang lain… hilang akalnya dan tergila-gila kepada Allah Rambut kusut masai perutnya kosong… wajah kuning dan mata berlinang Selalu berdzikir karena cinta kepada Zat… yang cinta kepada-Nya adalah puncak kemuliaan Maka jika dia mendalami cinta kepada-Nya… dan rindu menguasainya dari penyakit cinta Dia menghampiri mihrab mengadukan keluh kesahnya… dan di hadapan Allah Tuhannya dia berdiri Berdiri tegak badannya… rajin membaca ayat-ayat mushaf Terkadang rukuk dan terkadang sujud… menangis dan air mata mengalir ke tanah Dia mengarahkan hati pada cinta yang… di dalamnya ada cinta Allah dengan benar, maka dia mengenal Kemudian tangannya berkeliling di pohon… yang menumbuhkan biji cinta, maka dia menyebut dan memetik Sesungguhnya cinta ini untuk siapa yang diperhatikan-Nya… bukan untuk rumah yang penuh permainan dan keindahan Bukan dan bukan surga Firdaus dia tidak akrab dengannya… bukan dan bukan bidadari dari atas kamar
Perkataan Yahya bahwa Zikir adalah Zikir Hati
23 – Abu Al-Fath Muhammad bin Ahmad bin Abi Al-Fawaris memberitahukan kepada kami, Muhammad bin Ahmad Al-Warraq memberitahukan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Abdullah bin Sahl Ar-Razi berkata: Aku mendengar Yahya bin Muaz Ar-Razi berkata: “Betapa banyak orang yang beristighfar tapi dibenci, dan orang yang diam tapi dirahmati.” Yahya berkata: “Yang beristighfar ini hatinya fasik, dan yang diam ini hatinya berdzikir.”
Wasiat Abu Ja’far Al-Muhawwali
24 – Abu Al-Hasan Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ibrahim bin Makhlad Al-Bazzaz memberitahukan kepada kami, Ja’far bin Muhammad bin Nushair menceritakan kepada kami secara imla’, Ahmad bin Muhammad bin Masruq menceritakan kepada kami, Muhammad bin Al-Husain menceritakan kepada kami, dia berkata: Ismail bin Ibrahim At-Tarjumani menceritakan kepadaku, dia berkata: Aku mendengar Abu Ja’far Al-Muhawwali, dan dia adalah seorang yang alim lagi ahli ibadah, berkata: “Haram bagi hati pencinta dunia untuk ditempati wara’ yang tersembunyi, dan haram bagi jiwa yang di atasnya ada rabbaniyyah manusia untuk merasakan manisnya akhirat, dan haram bagi setiap alim yang tidak mengamalkan ilmunya untuk dijadikan imam oleh orang-orang yang bertakwa.”
Perkataan Abu Abdullah Ar-Rudzabari bahwa Penuntut Ilmu Harus Ikhlas dalam Menuntutnya dan Mengamalkannya
25 – Abu Al-Husain Ahmad bin Al-Husain bin Ahmad Al-Wa’izh memberitahukan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah Ahmad bin Atha’ Ar-Rudzabari berkata: “Barangsiapa keluar menuntut ilmu dengan menginginkan ilmu, maka ilmu tidak akan bermanfaat baginya. Dan barangsiapa keluar menuntut ilmu dengan menginginkan mengamalkan ilmu, maka sedikit ilmu akan bermanfaat baginya.” Dia berkata: Dan aku mendengar Abu Abdullah berkata: “Ilmu bergantung pada pengamalan dengannya, dan amal bergantung pada keikhlasan, dan keikhlasan kepada Allah mewarisi pemahaman dari Allah Azza wa Jalla.”
Nasihat Zun-Nun tentang Siapa yang Harus Dijadikan Teman Duduk
26 – Abdurrahman bin Muhammad bin Fadhalah An-Naisaburi memberitahukan kepada kami, Muhammad bin Abdullah bin Syadzan Ar-Razi memberitahukan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Yusuf bin Al-Husain berkata: Aku berkata kepada Zun-Nun ketika akan berpisah darinya: ‘Dengan siapa aku harus bergaul?’ Maka dia berkata: “Bergaullah dengan orang yang melihatnya mengingatkanmu kepada Allah, kewibawaannya menyentuh batinmu, perkataannya menambah ilmu, dan amalnya membuat zuhud terhadap dunia, dan engkau tidak bermaksiat kepada Allah Ta’ala selama berada di dekatnya. Dia menasihatimu dengan lisan perbuatannya, bukan menasihatimu dengan lisan ucapannya.”
Perkataan Al-Junaid tentang Apa yang Memperbaiki Hati dan Merusaknya
27 – Ahmad bin Al-Husain bin As-Sammak memberitahukan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Abu Bakar bin Muhammad bin Ya’qub berkata: Aku mendengar Al-Junaid berkata ketika ditanya tentang hati seorang pemuda, apa yang merusaknya? Dia berkata: “Tamak.” Dikatakan: “Apa yang memperbaikinya?” Dia berkata: “Wara’.”
Peringatan Malik bin Dinar kepada Seorang Amir yang Berjalan dengan Sombong
28 – Ali bin Al-Muzhaffar Al-Ashfahani Al-Muqri memberitahukan kepada kami, Habib bin Al-Hasan menceritakan kepada kami, Ahmad bin Muhammad As-Syathawi menceritakan kepada kami, Husain bin Ja’far bin Sulaiman Ad-Dhuba’i menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar ayahku Ja’far bin Sulaiman berkata: Wali Basrah melewati Malik bin Dinar dengan langkah sombong, maka Malik berteriak kepadanya: “Kurangi caramu berjalan seperti ini!” Para pembantunya hendak menyerangnya, tapi dia berkata: “Biarkan dia.” Sepertinya kamu tidak mengenalku. Maka Malik berkata kepadanya: “Siapa yang lebih mengenal dirimu selain aku? Awal dirimu adalah setetes air mani yang hina, akhir dirimu adalah bangkai yang kotor, kemudian engkau di antara keduanya membawa kotoran.” Maka wali itu menundukkan kepalanya dan berjalan.
Perkataan Al-Fudhail tentang Berhati-hati dari Makar Allah Azza wa Jalla
29 – Ali bin Al-Qasim bin Al-Hasan As-Syahid memberitahukan kepada kami di Basrah, dia berkata: Ali bin Ishaq Al-Mada’rai menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-Mufaddhal bin Muhammad menceritakan kepada kami, dia berkata: Ishaq bin Ibrahim Ath-Thabari menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-Fudhail bin Iyadh berkata, Allah Azza wa Jalla berfirman: “Wahai anak Adam, jika Aku membolak-balikkanmu dalam nikmat-Ku sedangkan engkau berbolak-balik dalam kemaksiatanmu, maka berhati-hatilah jangan sampai Aku menjatuhkanmu di antara kemaksiatan-kemaksiatanmu. Wahai anak Adam, bertakwalah kepada-Ku dan tidurlah di mana engkau mau. Sesungguhnya jika engkau mengingat-Ku, Aku akan mengingatmu, dan jika engkau melupakan-Ku, Aku akan melupakanmu. Dan saat yang engkau tidak mengingat-Ku di dalamnya adalah untuk mencelakakan bukan untuk kebaikanmu.”
Kisah Seorang Pemuda yang Mencintai Seorang Budak Perempuan
30 – Abdurrahman bin Muhammad An-Naisaburi memberitahukan kepada kami, Muhammad bin Abdullah bin Syadzan Ar-Razi memberitahukan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah Al-Qurasyi berkata: “Aku memiliki tetangga seorang pemuda yang berbudaya, dan dia mencintai seorang budak perempuan yang berbudaya. Suatu hari dia melihat helai-helai rambut putih di pelipisnya, maka terlintas kepadanya sesuatu dari kebenaran, lalu dia meninggalkan dan membencinya. Ketika perempuan itu melihat dia meninggalkannya, dia menulis kepadanya:
Mengapa aku dijauhi padahal aku biasanya tidak dijauhi… dan tanda-tanda perpusuan tidak tersembunyi Aku melihatmu meminumku lalu mencampurku… padahal aku mengenalmu sebagai peminum murni
Dia berkata: Maka dia membalik surat itu dan menulis di belakangnya:
Bercanda dengan uban… engkau menawariku rencana yang berlebihan Jangan menyalahkanku atas pengabaianku… cukuplah bagiku dengan apa yang telah terjadi Aku terikat dengan apa yang aku perbuat… maka biarkanlah aku dari kesalahan Sungguh kami telah melihat Bapak makhluk-makhluk… dalam kekeliruan turun”
Syair karya Mahmud al-Warraq
31 – Mengabarkan kepada kami Ali bin Muhammad bin Abdullah bin Bishran al-Mu’addal, mengabarkan kepada kami Abu Ali al-Husain bin Shafwan al-Bardza’i, dia berkata: Menasyidkan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Abi ad-Dunya, dia berkata: Menasyidkan kepada kami Mahmud al-Warraq:
“Wahai orang yang melihat dengan mata yang memandang penuh harap Dan menyaksikan perkara namun tidak benar-benar menyaksiki Engkau berjanji pada dirimu dengan persahabatan dan membolehkannya Menempuh jalan-jalan harapan padahal mereka tidak menuju tujuan Engkau menyambungkan dosa kepada dosa dan berharap Meraih surga dengannya dan kemenangan orang yang beribadah Dan engkau lupa bahwa Allah mengeluarkan Adam Darinya ke dunia karena satu dosa saja”
Dari nasihat-nasihat al-Qasim al-Ju’i
32 – Mengabarkan kepada kami Ali bin Mahmud bin Ibrahim ash-Shufi, mengabarkan kepada kami Abdul Wahhab bin al-Husain al-Kilabi, di Damaskus, menceritakan kepada kami Sa’id bin Abdul Aziz al-Halabi, dia berkata: Saya mendengar Qasim al-Ju’i, berkata:
“Pokok agama adalah wara’, dan ibadah yang paling utama adalah berjuang di malam hari, dan jalan surga yang paling utama adalah keselamatan hati”
Perkataan al-Junaid tentang hakikat tasawuf
33 – Mengabarkan kepada kami Muhammad bin al-Hasan al-Ahwazi, dia berkata: Saya mendengar Abu Hatim ath-Thabari, berkata: Ditanyakan kepada al-Junaid rahimahullah tentang tasawuf? Maka dia berkata:
“Menggunakan setiap akhlak yang mulia, dan meninggalkan setiap akhlak yang hina”
Hadits yang tidak shahih tentang qana’ah dan keutamaan menunaikan kewajiban, serta sabar atas musibah
34 – Mengabarkan kepada kami Abu Ishaq Ibrahim bin Makhlad bin Ja’far al-Qadhi, menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Ibrahim al-Hakimi, menceritakan kepada kami Muhammad bin Yunus, menceritakan kepada kami Makki bin Qumair al-‘Ijli, menceritakan kepada kami Ja’far bin Sulaiman, dari Sa’d bin Thurif, dari al-Asbagh bin Nubatah, dia berkata:
“Kami masuk bersama Ali bin Abi Thalib kepada Hasan bin Ali untuk menjenguknya, maka Ali berkata kepadanya: Bagaimana keadaanmu pagi ini wahai putra Rasulullah? Maka dia berkata: Aku bermalam dengan memuji Allah dalam keadaan sembuh, dia berkata: Demikianlah insya Allah”, kemudian Hasan berkata: Sandarkan aku sandarkan aku, maka Ali menyandarkannya ke dadanya, lalu Hasan berkata: Saya mendengar kakekku shallallahu ‘alaihi wasallam, berkata kepadaku suatu hari:
“Wahai anakku, hendaklah engkau qana’ah maka engkau akan menjadi orang paling kaya, dan tunaikanlah kewajiban-kewajiban maka engkau akan menjadi orang paling ‘abid. Wahai anakku, sesungguhnya di surga ada pohon yang disebut pohon ujian, didatangkan orang-orang yang mendapat ujian pada hari kiamat, maka tidak dipasang untuk mereka timbangan dan tidak dibuka untuk mereka catatan, dituangkan kepada mereka pahala dengan dituang”,
dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang sabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa perhitungan” (Az-Zumar: 10)
Nasihat untuk Bishr tentang perjalanan
35 – Mengabarkan kepada kami Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ibrahim bin Makhlad al-Bazzaz, menceritakan kepada kami Ja’far bin Muhammad bin Nushair, secara imla’, menceritakan kepada kami Abu al-‘Abbas Ahmad bin Masruq ath-Thusi, dia berkata: Menceritakan kepadaku al-Jalla’ dan dia adalah termasuk hamba-hamba Allah yang utama, dia berkata: Saya mendengar Bishr rahimahullah, berkata kepada para sahabat majlisnya:
“Berjalanlah, karena air apabila mengalir menjadi baik, dan apabila berhenti berubah dan menguning”
Perkataan Abu Bakr az-Zaqqaq tentang keadaan ahli zuhud dan wara’
36 – Mengabarkan kepada kami Ahmad bin al-Husain bin as-Sammak, dia berkata: Saya mendengar Abu Bakr ad-Duqqi, di Damaskus berkata: Saya mendengar Abu Bakr az-Zaqqaq, berkata:
“Perkara kami ini dibangun atas empat hal: Kami tidak makan kecuali karena kelaparan, dan kami tidak tidur kecuali karena terpaksa, dan kami tidak diam kecuali karena takut, dan kami tidak berbicara kecuali karena menemukan (inspirasi)”
Nasihat Abu al-Qasim al-Bashri
37 – Mengabarkan kepada kami Abdurrahman bin Muhammad an-Naisaburi, mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdullah al-Mudzakkir, dia berkata: Saya mendengar Abu al-Qasim al-Bashri di Herat, berkata:
“Barangsiapa tidak kuat dalam keadaannya, dan tidak peduli dengan kebaikannya, maka waktunya menjadi sia-sia, dan hidupnya menjadi mati”
Perkataan az-Zaqqaq bahwa setiap nasab terputus pada hari kiamat kecuali nasab orang-orang fakir
38 – Menceritakan kepada kami Ahmad bin al-Husain bin Ahmad al-Wa’izh, dia berkata: Saya mendengar Abu Bakr ad-Duqqi, di Damaskus berkata: Saya mendengar az-Zaqqaq, berkata:
“Setiap orang menisbatkan diri kepada nasab kecuali orang-orang fakir, karena mereka menisbatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, dan setiap hasab dan nasab akan terputus kecuali hasab dan nasab mereka, karena nasab mereka adalah kejujuran, dan hasab mereka adalah kefakiran”
Perkataan al-Junaid tentang ruh-ruh
39 – Mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abi al-Fawaris, mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ahmad al-Warraq, dia berkata: Saya mendengar al-Junaid, berkata:
“Ruh-ruh diciptakan dari kegembiraan, maka apabila ruh bertemu dengan yang dicintainya ia merasa senang, dan apabila bertemu selain itu ia menjadi sedih”
Pendapat Bishr tentang hadits “Muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya”
40 – Mengabarkan kepada kami Ali bin al-Muzhaffar al-Muqri’, dia berkata: Menceritakan kepadaku Ubaidullah bin Abdurrahman az-Zuhri, menceritakan kepadaku Ibrahim bin Jabir al-Faqih, dia berkata: Dikatakan kepada Bishr bin al-Harits: Mereka berkata: Sesungguhnya engkau tidak menghafal hadits. Maka dia berkata:
“Saya menghafal satu hadits, jika saya mengamalkannya maka sungguh saya telah menghafal hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya, sampai saya melakukan ini dan menghafal hadits”
Perkataan Hasan al-Bashri tentang hakikat iman
41 – Mengabarkan kepada kami Ahmad bin al-Husain bin Muhammad bin Abdullah ad-Daqqaq, mengabarkan kepada kami kakekku, mengabarkan kepada kami Abu Bakr Ahmad bin Yahya bin ‘Amr bin ‘Atiq al-‘Amiri, menceritakan kepada kami Ahmad bin Ali bin Khalaf, menceritakan kepada kami Sari bin al-Mughallas as-Saqathi, menceritakan kepada kami Yazid, dari al-Mas’udi, dari ‘Aun bin Abdullah, dia berkata: Saya mendengar al-Hasan, berkata:
“Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau tidak akan menemukan hakikat iman selama engkau mencela manusia dengan aib yang ada pada dirimu, hingga engkau berlepas diri dari aib itu dari dirimu lalu memperbaikinya, maka tidak akan engkau perbaiki satu aib melainkan engkau melihat aib yang lain, maka kesibukanmu khusus pada dirimu sendiri, dan demikianlah yang paling dicintai Allah apabila engkau seperti itu”
Ketakutan as-Sari as-Saqathi dari akibat perkaranya
42 – Mengabarkan kepada kami Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad al-Ashfahani, mengabarkan kepada kami Ja’far bin Muhammad al-Khuldi, dia berkata: Saya mendengar al-Junaid, berkata: Saya mendengar Sari, berkata:
“Saya tidak suka mati di tempat saya dikenal, saya takut bumi tidak mau menerima saya maka saya menjadi terbuka aibnya”
Pengawasan as-Sari terhadap dirinya
43 – Dan dengan isnadnya: Saya mendengar Sari, berkata:
“Sesungguhnya saya melihat hidung saya setiap hari dua kali, karena takut wajah saya telah menghitam”
Perkataan Ali bin al-Husain Zain al-‘Abidin tentang sifat zahid
44 – Dan mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ali al-Ashfahani at-Tajir, menceritakan kepada kami Ahmad bin Mahmud al-Qadhi di Ahwaz, menceritakan kepada kami Muhammad bin Zakariya, menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aisyah, dia berkata: Ditanyakan kepada Ali bin al-Husain tentang sifat zahid di dunia, maka dia berkata:
“Dia mencukupi diri dengan kurang dari makanannya, dan bersiap untuk hari kematiannya, dan bosan dengan hidupnya”
Perkataan Hatim al-Ashamm tentang zahid-zahid zamannya dan ulama-ulamanya
45 – Mengabarkan kepada kami Abdurrahman bin Fadhalah, di Rayy, mengabarkan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, menceritakan kepada kami Makhul bin al-Fadhl an-Nasafi, dia berkata: Berkata Hatim al-Ashamm:
“Seandainya ditimbang para pemuka zahid zaman kami dan ulama-ulamanya serta qurra’-qurra’nya, niscaya lebih berat dari para pemuka amir-amir dan raja-raja”
Wasiat salah seorang hakim
46 – Dan mengabarkan kepada kami Abdurrahman, dia berkata: Menceritakan kepada kami Ahmad, menceritakan kepada kami Makhul, dia berkata:
“Ditanyakan kepada seorang hakim: Apa yang paling manis? Dia berkata: Kemenangan atas musuh setelah kekalahan, dan kecukupan setelah kebutuhan, dan pelajaran dalam majlis-majlis bagi orang yang bertaubat, dan kemenangan bagi orang yang berbicara”
Perkataan Yahya bin Mu’adz tentang hubungan mukmin dengan dunia
47 – Menceritakan kepada kami Yahya bin Ali bin ath-Thayyib ad-Daskari, dia berkata: Saya mendengar Abdullah bin Muhammad ad-Damaghani, berkata: Saya mendengar al-Hasan bin Ali bin Yahya bin Sallam, berkata: Saya mendengar Yahya bin Mu’adz, berkata:
“Barangsiapa mengenal maka dia hidup, dan barangsiapa condong kepada dunia maka dia bingung, dan mukmin adalah pencari tentang agamanya, dan orang bodoh berusaha dalam yang tidak berguna”
Perkataan Ibrahim al-Ajurri tentang keutamaan orang yang ridha dengan kemiskinan
48 – Mengabarkan kepada kami Ahmad bin al-Husain al-Wa’izh, dia berkata: Saya mendengar Abu Muhammad Ja’far bin Muhammad bin Nushair, berkata: Saya mendengar Ibrahim al-Ajurri, berkata:
“Barangsiapa menafsirkan kebutuhan-kebutuhan, maka wajib baginya derajat-derajat”
Dari wasiat-wasiat Ma’ruf al-Karkhi
49 – Mengabarkan kepada kami Ali bin Muhammad bin Abdullah bin Bishran al-Mu’addal, menceritakan kepada kami al-Husain bin Shafwan al-Bardza’i, menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Abi ad-Dunya, dia berkata: Menceritakan kepadaku Muhammad bin Hammad bin al-Mubarak, dia berkata: Berkata seorang laki-laki kepada Ma’ruf rahimahullah: Berilah aku wasiat? Dia berkata:
“Bertawakkallah kepada Allah, hingga Dia menjadi teman dudukmu dan teman akrabmu dan tempat keluhanmu, dan perbanyaklah mengingat kematian, hingga tidak ada teman duduk bagimu selain dia, dan ketahuilah bahwa obat bagi apa yang menimpamu adalah menyembunyikannya, dan bahwa manusia tidak bermanfaat bagimu, dan tidak membahayakanmu, dan tidak memberimu, dan tidak mencegahmu”
Penglihatan Dzu an-Nun terhadap seorang pemuda yang beribadah
50 – Mengabarkan kepada kami Ali bin al-Qasim asy-Syahid, di Bashrah, dia berkata: Saya mendengar Abu al-Hasan bin Muhammad bin ‘Isa ar-Razi al-Wa’izh, dia berkata: Saya mendengar Yusuf bin al-Husain, berkata: Ada seorang pemuda yang menghadiri majlis Dzu an-Nun bin Ibrahim al-Mishri selama beberapa waktu, kemudian terputus beberapa waktu, kemudian hadir di sisinya dan warnanya telah menguning dan badannya kurus dan tampak padanya bekas-bekas ibadah dan kesungguhan, maka Dzu an-Nun berkata kepadanya:
“Wahai pemuda, apa yang membuatmu mendapat pelayanan kepada Tuhanmu, dan kesungguhanmu dari karunia-karunia yang diberikan kepadamu, dan dianugerahkan kepadamu, dan dikhususkan untukmu”?
Maka pemuda itu berkata: Wahai guru, apakah engkau pernah melihat seorang hamba yang dibuat istimewa oleh tuannya dari antara hamba-hambanya dan dipilihnya dan diberinya kunci-kunci perbendaharaan, kemudian diberikan kepadanya rahasia, pantas-kah dia membocorkan rahasia itu? Kemudian dia mulai berkata:
“Barangsiapa yang mereka beri rahasia lalu dia membocorkan rahasia dengan bersungguh-sungguh Mereka tidak mempercayainya atas rahasia-rahasia selama dia hidup Dan mereka menjauhkannya maka dia tidak senang dengan kedekatan mereka Dan mereka gantikan darinya kesenangan dengan kesengsaraan Mereka tidak memilih orang yang menyebarkan sebagian rahasia mereka Jauh persahabatan mereka dari itu, tidak mungkin”
Munajat Salah Seorang Hamba kepada Tuhannya
51 – Abdul Rahman bin Muhammad an-Naisaburiyu mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Abdullah ar-Raziyu mengabarkan kepada kami, dia berkata: Saya mendengar Yusuf bin al-Husain berkata: Saya mendengar Dzun Nun berkata: “Saya melewati seorang laki-laki di Gunung Lukkam dalam keadaan sujud, dia berkata dalam sujudnya: Ya Tuhanku, dengan-Mu aku mengenal-Mu, maka apa lagi keperluanku kepada selain-Mu.”
Nasihat-Nasihat Abu Bakr asy-Syibli
52 – Abdul Rahman mengabarkan kepada kami, Muhammad mengabarkan kepada kami, dia berkata: Saya mendengar asy-Syibli berkata: “Barangsiapa akrab dengan kerajaan akan dikecewakan, barangsiapa akrab dengan manusia akan diasingkan, barangsiapa akrab dengan amal akan disibukkan, dan barangsiapa akrab dengan Allah Azza wa Jalla maka sungguh dia telah sampai.”
Sebaik-baik Anugerah adalah Akal
53 – Ali bin al-Qasim al-Bashriyyu menceritakan kepada kami, dia berkata: Saya mendengar Abu al-Hasan bin Kanjak berkata: “Sebaik-baik anugerah adalah akal, dan seburuk-buruk musibah adalah kebodohan.”
Syair yang Tertulis di Makam Abdullah bin al-Mubarak
54 – Abu al-Abbas al-Fadhl bin Abdurrahman al-Abhariyyu mengabarkan kepada kami, Abu Bakr Muhammad bin Ibrahim bin Ali menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdullah bin Rustum membacakan syair kepada kami, dia berkata: “Terlihat tertulis di makam Abdullah bin al-Mubarak:
Kematian adalah lautan yang gelombangnya menang
Membikin hilang akal para perenang
Tidak ada yang menemani seseorang ke kuburannya
Selain takwa dan amal saleh”
Perkataan Abu Abdullah al-Maghrabi
55 – Ahmad bin al-Husain al-Wa’izh mengabarkan kepada kami, dia berkata: Saya mendengar Abu Bakr ath-Tharsusiyyu di Makkah berkata: Saya mendengar Ibrahim bin Syaiban berkata: Saya mendengar Abu Abdullah al-Maghrabi berkata: “Menolak bencana lebih baik daripada menolak gada.”
Syair Salah Seorang Sahabat Ahmad bin Masruq
56 – Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ibrahim bin Makhlad mengabarkan kepada kami, Ja’far bin Muhammad al-Khuldiyyu menceritakan kepada kami, Ahmad bin Muhammad bin Masruq menceritakan kepada kami, dia berkata: Salah seorang sahabat kami membacakan syair kepadaku:
“Jadikanlah kalungmu dalam perkara penting ketika mendekat
Baguskanlah perbuatanmu semampumu karena itu sebaik-baik sebab
Jangan lengah dari mendidik si kecil meski dia mengeluh sakit lelah
Dan biarkanlah si besar dengan urusannya, si besar telah terlalu besar untuk dididik
Jangan berteman dengan orang kotor yang meragukan karena dekatnya adalah salah satu keraguan
Dan ketahuilah bahwa dosa-dosanya menular sebagaimana menularnya penyakit kudis”
Nasihat-Nasihat Yahya bin Mu’adz
57 – Abdul Malik bin Muhammad bin Abdullah bin Bisyran al-Wa’izh mengabarkan kepada kami, Muhammad bin al-Husain al-Ajurriyyu di Makkah mengabarkan kepada kami, al-Abbas bin Yusuf asy-Syikliyyu menceritakan kepada kami, Muhammad bin al-Hasan bin al-Ala’ al-Balkhiyyu menceritakan kepadaku, dia berkata: Saya mendengar Yahya bin Mu’adz ar-Raziyyu berkata: “Wahai anak Adam, engkau mencari dunia seperti pencarian orang yang sangat membutuhkannya, dan engkau mencari akhirat seperti pencarian orang yang tidak membutuhkannya. Padahal dunia sudah dicukupkan bagimu meski engkau tidak mencarinya, dan akhirat dengan pencarian darimu akan engkau raih. Maka sadarlah akan urusanmu.”
Dan Yahya berkata: “Anak Adam, surga dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai, namun engkau membencinya. Dan neraka dikelilingi dengan syahwat-syahwat, namun engkau mencarinya. Maka engkau tidak lain seperti orang sakit yang sakitnya parah. Jika jiwanya sabar atas pahitnya obat, dia akan memperoleh kesembuhan dengan kesabaran. Dan jika jiwanya tidak tahan dengan apa yang diterimanya dari sakitnya obat, maka sakitnya akan berkepanjangan.”
Peringatan Abu al-Hasan al-Hushriyyu tentang Tipu Daya Allah Ta’ala
58 – Saya mendengar Abu Ali bin Fadhalah an-Naisaburiyyu berkata: Saya mendengar Baqiyyah bin Ali al-Amidiyyu berkata: Saya mendengar Abu al-Hasan al-Hushriyyu berkata: “Jangan sampai kalian tertipu dengan jernihnya waktu-waktu, karena di bawahnya ada bencana-bencana. Dan jangan sampai kalian tertipu dengan pemberian, karena pemberian menurut ahli kejernihan adalah kemurkaan.”
Perkataan Abu Bakr asy-Syibli tentang Hakikat Zikir kepada Allah Ta’ala dan tentang Hakikat Zuhud
59 – Muhammad bin Ahmad bin Faris al-Hafizh mengabarkan kepada kami, al-Husain bin Ahmad al-Harawiyyu mengabarkan kepada kami, dia berkata: Saya mendengar Abu Bakr asy-Syibli berkata: “Tidaklah orang buta memiliki sesuatu dari melihat permata kecuali merabanya, dan tidaklah orang bodoh memiliki sesuatu dari Allah kecuali menyebut-Nya dengan lisan.”
Dia berkata: Dan asy-Syibli ditanya tentang zuhud, maka dia berkata: “Zuhud adalah engkau berzuhud terhadap apa yang engkau miliki di sisi Allah, dan engkau menginginkan apa yang Allah miliki di sisimu.”
Perkataan Abu Sulaiman ad-Daraniyyu bahwa Dunia tidak Sebanding dengan Sayap Nyamuk di Sisi Allah
60 – Abu al-Fath Muhammad bin Abu al-Fawaris mengabarkan kepada kami, al-Husain bin Ahmad bin Abdurrahman ash-Shaffar mengabarkan kepada kami, Ahmad bin al-Husain bin Thalib mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Abu al-Hawariyyu menceritakan kepada kami, dia berkata: Saya mendengar Abu Sulaiman berkata: “Dunia di sisi Allah lebih kecil dari sayap nyamuk, maka apa nilai sayap nyamuk sehingga dizuhudi? Sesungguhnya zuhud itu adalah terhadap surga, bidadari, dan segala kenikmatan yang Allah ciptakan dan akan ciptakan, hingga Allah tidak melihat di hatimu selain Allah.”
Perkataan Yahya bin Mu’adz tentang Zuhud
61 – Abdurrahman bin Muhammad an-Naisaburiyyu mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim ad-Damaganiyyu mengabarkan kepada kami, dia berkata: Saya mendengar al-Hasan bin Ali bin Yahya bin Salam berkata: Saya mendengar Yahya bin Mu’adz ditanya tentang zuhud, maka dia berkata: “Zuhud itu tiga huruf: Za, Ha, dan Dal. Adapun Za adalah meninggalkan perhiasan, Ha adalah meninggalkan hawa nafsu, dan Dal adalah meninggalkan dunia.”
Zuhud Malik bin Dinar
62 – Ali bin Ahmad bin Muhammad ar-Razzaz mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Abdullah bin Ibrahim mengabarkan kepada kami, dia berkata: Abu al-Husain bin Amr al-Bazzaz menceritakan kepadaku, dia berkata: Bisyr bin al-Harits berkata: Malik bin Dinar berkata: “Sejak aku mengenal manusia, aku tidak peduli siapa yang memuji aku dan siapa yang mencela aku, karena aku tidak melihat kecuali orang yang memuji secara berlebihan atau orang yang mencela secara berlebihan.”
Dan Bisyr berkata: Seorang laki-laki berkata kepada Malik bin Dinar: “Wahai pemalas!” Dia berkata: “Kapan engkau mengetahui namaku? Tidak ada yang mengetahui namaku selain engkau.”
Nasihat-Nasihat Abu Sulaiman ad-Daraniyyu
63 – al-Hasan bin Abu Bakr al-Bazzaz mengabarkan kepada kami, Abdullah bin Ja’far bin Darastuwayh an-Nahwiyyu mengabarkan kepada kami, Ya’qub bin Sufyan menceritakan kepada kami, Ahmad bin Abu al-Hawariyyu menceritakan kepada kami, dia berkata: Saya mendengar Abu Sulaiman Abdurrahman bin Ahmad bin Athiyyah al-Absiyyu berkata: “Kunci dunia adalah kenyang, dan kunci akhirat adalah lapar. Asal segala kebaikan di dunia dan akhirat adalah takut kepada Allah Azza wa Jalla. Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada orang yang dicintai-Nya dan yang tidak dicintai-Nya. Sesungguhnya kelaparan ada di sisi-Nya dalam perbendaharaan yang tersimpan, maka Dia tidak memberikannya kecuali kepada orang yang dicintai-Nya secara khusus. Sungguh meninggalkan sesuap dari makan malamku lebih aku cintai daripada memakannya dan bangun dari awal malam hingga akhirnya.”
Kenikmatan Abu Sulaiman ad-Daraniyyu dengan Ibadahnya di Malam Hari
64 – Abdurrahman bin Ubaidillah al-Harbiyyu mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Salman an-Najjad menceritakan kepada kami, Ishaq bin Ibrahim al-Anmatiyyu menceritakan kepada kami, Ahmad bin Abu al-Hawariyyu menceritakan kepada kami, dia berkata: Saya mendengar Abu Sulaiman yaitu ad-Daraniyyu berkata: “Seandainya tidak ada malam, aku tidak akan mencintai tinggal di dunia. Dan aku tidak mencintai tinggal di dunia untuk membelah sungai-sungai atau menanam pepohonan.”
Wasiat-Wasiat Seorang Rahib
65 – al-Hasan bin Ahmad bin Ibrahim ad-Dawraqiyyu mengabarkan kepada kami, Ja’far bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Mu’addib mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Yunus menceritakan kepada kami, Syaddad bin Ali al-Hizaniyyu menceritakan kepada kami – dan dia adalah salah seorang ahli ibadah yang perutnya telah menempel pada punggungnya – Abdulwahid bin Zaid menceritakan kepada kami, dia berkata: “Aku melewati seorang rahib lalu aku memanggilnya: ‘Wahai rahib, siapa yang engkau sembah?’ Dia berkata: ‘Yang menciptakanku dan menciptakanmu.’ Aku berkata: ‘Apakah Dia Maha Besar?’ Dia berkata: ‘Besar kedudukannya, kebesaran-Nya telah melampaui segala sesuatu.’ Aku berkata: ‘Kapan hamba merasakan ketenangan dengan Allah?’ Dia berkata: ‘Jika cinta menjadi bersih dan mu’amalah menjadi murni.’ Aku berkata: ‘Kapan cinta menjadi bersih?’ Dia berkata: ‘Jika perhatian terkumpul menjadi satu dalam ketaatan.’ Aku berkata: ‘Kapan mu’amalah menjadi murni?’ Dia berkata: ‘Jika perhatian menjadi satu perhatian saja.’ Aku berkata: ‘Bagaimana engkau menyendiri dengan kesendirian?’ Dia berkata: ‘Jika engkau merasakan manisnya kesendirian, niscaya engkau akan merasa asing dari dirimu sendiri kepadanya.’ Aku berkata: ‘Apa hal terbesar yang didapat hamba dari kesendirian?’ Dia berkata: ‘Istirahat dari basa-basi dengan manusia dan keselamatan dari kejahatan mereka.’ Aku berkata: ‘Dengan apa dapat dibantu dalam mengurangi makanan?’ Dia berkata: ‘Dengan berhati-hati dalam mencari nafkah dan memperhatikan sepotong roti.’ Aku berkata: ‘Tambahkan untukku!’ Dia berkata: ‘Makanlah yang halal meski sedikit di mana pun engkau mau.’ Aku berkata: ‘Di mana jalan ketenangan?’ Dia berkata: ‘Menyelisihi hawa nafsu.’ Aku berkata: ‘Kapan hamba merasakan ketenangan?’ Dia berkata: ‘Jika dia meletakkan kakinya di surga.’ Aku berkata: ‘Mengapa engkau menyendiri dari dunia dan bergantung di biara ini?’ Dia berkata: ‘Karena barangsiapa berjalan di bumi akan tersandung dan takut perampok. Maka aku bergantung di sini dan berlindung kepada Yang di langit dari fitnah penghuni bumi, karena mereka adalah pencuri akal. Aku takut mereka mencuri akalku. Itu karena jika hati menjadi jernih, bumi menjadi sempit baginya, dan dia mencintai kedekatan langit, dan memikirkan kedekatan ajal, maka dia ingin diserahkan kepada Tuhannya.’ Aku berkata: ‘Wahai rahib, dari mana engkau makan?’ Dia berkata: ‘Dari tanaman yang tidak aku tanam, yang ditanam oleh Yang Maha Lembut lagi Maha Mengetahui yang memasang gilingan, datang kepadanya dengan tepung.’ Dan dia menunjuk giginya. Aku berkata: ‘Bagaimana engkau melihat keadaanmu?’ Dia berkata: ‘Bagaimana keadaan orang yang ingin bepergian tanpa bekal, dan tinggal di kubur tanpa teman, dan berdiri di hadapan Hakim yang Maha Adil?’ Kemudian dia menangis. Aku berkata: ‘Apa yang membuatmu menangis?’ Dia berkata: ‘Aku ingat hari-hari yang telah berlalu dari ajalku yang tidak aku perbaiki amalku di dalamnya, dan aku memikirkan sedikitnya bekal dan tanjakan yang menurun ke surga atau ke neraka.’ Aku berkata: ‘Wahai rahib, dengan apa kesedihan dapat didatangkan?’ Dia berkata: ‘Dengan lamanya perantauan. Bukan orang asing itu yang berjalan dari negeri ke negeri, tetapi orang asing itu adalah orang saleh di antara orang-orang fasik.’ Kemudian dia berkata: ‘Sesungguhnya cepatnya istighfar adalah taubatnya para pembohong. Seandainya lidah mengetahui dari apa dia meminta ampun kepada Allah, niscaya dia akan kering di langit-langit. Sesungguhnya dunia sejak hari kematian mendiaminya, tidak pernah ada mata yang tenang karenanya. Setiap kali dunia menikah dengan suami, kematian menceraikannya. Dan dunia dari kematian adalah talak yang belum habis iddahnya. Maka perumpamaannya seperti ular yang lembut sentuhannya tetapi racun ada di perutnya.’ Kemudian rahib berkata: ‘Wahai orang ini, sebagaimana tidak boleh dirham palsu, demikian juga tidak boleh perkataan mereka kecuali dengan cahaya keikhlasan. Sesungguhnya perak hitam dihias dengan perak putih.’ Kemudian dia berkata: ‘Ketika hati nurani diperbaiki, Allah mengampuni dosa-dosa besar. Jika hamba bertekad meninggalkan maksiat, datanglah kepadanya dari langit kemenangan-kemenangan dan doa yang dikabulkan yang digerakkan oleh kesedihan.’ Aku berkata: ‘Bolehkah aku bersamamu wahai rahib dan tinggal bersamamu?’ Dia berkata: ‘Apa yang akan kulakukan denganmu? Yang memberikan rezeki dan yang mencabut nyawa menggiringkan rezeki kepadaku pada waktu yang tidak Dia bebankan kepadaku untuk mengumpulkannya, dan tidak ada yang mampu melakukan itu selain-Nya. Dan keselamatan atasmu.'”
Wasiat Ibrahim bin Adham tentang Takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
66 – Telah mengabarkan kepada kami Ali bin Ahmad Ar-Razzaz, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin Hasan bin Ziyad An-Naqqasy, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya Ar-Ruwyani, telah menceritakan kepadaku Ja’far bin Abi Ar-Razi, ia berkata: Ibrahim bin Adham menulis kepada seorang saudaranya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Amma ba’du, maka sesungguhnya aku berwasiat kepadamu dengan takwa kepada Dzat yang tidak halal bermaksiat kepada-Nya, tidak ada yang diharapkan selain-Nya, dan kekayaan tidak dapat diraih kecuali dengan-Nya. Karena sesungguhnya barang siapa yang merasa cukup, maka ia akan mulia, kenyang, dan puas. Dia akan berpindah ketika hatinya melihat apa yang dilihat matanya dari perhiasan dunia, lalu meninggalkannya dan menjauh dari yang serupa dengannya. Maka ia akan mengurangi hal-hal halal yang bersih di dalamnya, kecuali apa yang sangat dibutuhkannya berupa sepotong roti yang menguatkan tulang belakangnya dan pakaian yang menutupi auratnya, yang paling kasar yang dapat ditemukannya dan paling keras.”
Qanaah dengan Rezeki Allah Subhanahu wa Ta’ala
67 – Telah mengabarkan kepada kami Mahmud bin Umar Al-Ukbari, telah mengabarkan kepada kami Ali bin Faraj bin Abi Rauh, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Abi Dunya, telah menceritakan kepadaku Husain bin Abdurrahman, ia berkata: Salah seorang dari para ulama menulis kepada saudaranya: Amma ba’du, maka jadikanlah qanaah (merasa cukup) sebagai simpanan yang dengannya kamu mencapai hingga dibukakan untukmu pintu yang baik bagimu untuk memasukinya. Karena sesungguhnya kepercayaan dari orang yang qanaah tidak akan dikecewakan, dan pertolongan Allah bersama orang yang sabar. Betapa dekatnya kehinaan dari orang yang terhina, dan terkadang kemiskinan adalah salah satu bentuk pendidikan Allah, dan kebaikannya ada pada akibat-akibatnya. Bagian-bagian itu bertingkat-tingkat, dan jangan terburu-buru pada buah yang belum matang, karena kamu akan mendapatkannya pada waktunya dengan rasa manis. Dan Pengatur urusanmu lebih mengetahui waktu yang tepat untuk apa yang akan kamu makan. Maka percayalah pada pilihan-Nya untukmu dalam semua urusanmu, wassalam.
Hadits Maudhu tentang Kebutaan adalah Kebutaan Mata Hati
68 – Telah mengabarkan kepada kami Abdul Malik bin Muhammad bin Bisyran Al-Wa’idh, telah mengabarkan kepada kami Da’laj bin Ahmad, telah menceritakan kepada kami Abul Hasan Muhammad bin Ahmad bin Harun Al-Udi, telah menceritakan kepada kami Amr bin Hubab, telah menceritakan kepada kami Ya’la bin Asydaq, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Jarad, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukanlah orang buta itu yang matanya buta, sesungguhnya orang buta itu adalah yang mata hatinya buta.”
Deskripsi Ibnu Sammak tentang Dunia
69 – Telah mengabarkan kepada kami Husain bin Umar bin Burhan Al-Ghazzal, telah menceritakan kepada kami Abdul Baqi bin Qani’ Al-Qadhi secara imla, telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Musa, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Shalih, ia berkata: Seorang laki-laki menulis kepada Muhammad Ibnu Sammak: “Gambarkan untukku dunia!” Maka ia menulis kepadanya: “Amma ba’du, sesungguhnya Allah mengelilinginya dengan syahwat-syahwat, kemudian memenuhinya dengan bencana-bencana. Maka halalnya dengan penderitaan-penderitaan, dan haramnya dengan akibat-akibat buruk. Halalnya adalah hisab, dan haramnya adalah azab.”
Muhasabah Taubah bin Shimmah terhadap Dirinya
70 – Telah mengabarkan kepada kami Ali bin Muhammad bin Bisyran Al-Mu’addal, telah mengabarkan kepada kami Husain bin Shafwan Al-Bardz’i, telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Abi Dunya, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami seorang laki-laki dari Quraisy, disebutkan bahwa ia dari keturunan Thalhah bin Ubaidillah, ia berkata: “Taubah bin Shimmah berada di Raqah, dan ia adalah orang yang selalu melakukan muhasabah (introspeksi) terhadap dirinya. Maka ia menghitung, ternyata ia berusia enam puluh tahun. Lalu ia menghitung hari-harinya, ternyata dua puluh satu ribu lima ratus hari. Maka ia berteriak dan berkata: ‘Celaka aku! Aku akan menemui Raja dengan dua puluh satu ribu dosa, bagaimana jika dalam setiap hari ada sepuluh ribu dosa.’ Kemudian ia terjatuh pingsan, ternyata ia telah meninggal. Mereka mendengar seseorang berkata: ‘Alangkah indahnya perjalanan menuju Firdaus yang tertinggi.'”
Ketakutan Malik bin Dinar terhadap Dirinya
71 – Dan telah mengabarkan kepada kami Ali, telah mengabarkan kepada kami Husain, telah menceritakan kepada kami Abdullah, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Qasim Al-Makki, telah menceritakan kepada kami Mu’ammal bin Ismail, telah menceritakan kepada kami Imarah bin Zadzan, bahwa Malik bin Dinar ketika kematian mendatanginya berkata: “Kalau bukan karena aku tidak suka melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh orang sebelumku, niscaya aku akan berwasiat kepada keluargaku jika aku mati, agar mereka membelenggu kakiku dan mengikat kedua tanganku ke leherku, lalu mereka membawaku dalam keadaan seperti itu hingga aku dikubur, sebagaimana diperlakukan terhadap budak yang melarikan diri.” Dan yang lain selain Ahmad bin Muhammad berkata: “Jika Rabbku Subhanahu wa Ta’ala bertanya kepadaku, akan kukatakan: ‘Wahai Rabbku, aku tidak pernah meridhai diriku untuk-Mu sekejap mata pun.'”
Ampunan Allah ‘Azza wa Jalla pada Hari Kiamat
72 – Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Rizq Al-Bazzaz secara imla, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ismail Al-Hasyimi, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Abi Dunya, telah menceritakan kepada kami Husain bin Abdurrahman, dari seorang syaikh yang menceritakan kepadanya, ia berkata: Malik bin Dinar bertemu dengan Aban bin Abi Ayyasy, lalu Malik berkata kepadanya: “Sampai kapan engkau menceritakan kepada manusia tentang rukhshah (keringanan)?” Ia berkata: “Wahai Abu Yahya, sesungguhnya aku berharap kamu akan melihat dari ampunan Allah ‘Azza wa Jalla sesuatu yang akan membakar jubahmu ini pada hari kiamat karena kegembiraan.”
Mimpi Tsauri tentang Kedudukan Malik bin Dinar dan Tsabit Al-Bunani di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala
73 – Telah menceritakan kepada kami Hibatullah bin Hasan At-Thabari secara imla, telah mengabarkan kepada kami Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Ya’qub, telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad bin Sariy Az-Zanjani, telah menceritakan kepadaku Amr bin Ibrahim bin Muhammad bin Ishaq Ar-Razi, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Syabib Al-Bashri, ia berkata: Aku mendengar Sufyan Ats-Tsauri berkata: “Ketika aku sedang rukuk, mataku mengantuk, maka aku bermimpi seolah-olah kiamat telah terjadi, dan seolah-olah ada penyeru yang menyeru: ‘Di mana Malik bin Dinar? Dan di mana Tsabit Al-Bunani?’ Maka aku berkata: ‘Demi Allah, aku akan mengikuti keduanya untuk melihat apa yang akan diperbuat terhadap keduanya.’ Ternyata keduanya telah dihisab dengan hisab yang ringan, kemudian diperintahkan masuk surga. Maka aku berkata: ‘Demi Allah, aku akan mengikuti keduanya untuk melihat siapa di antara keduanya yang masuk surga lebih dulu.’ Ternyata Malik telah masuk surga satu jam lebih dulu dari Tsabit. Maka aku berkata dalam hatiku: ‘Aneh! Apakah Malik bin Dinar masuk surga satu jam lebih dulu dari Tsabit Al-Bunani?’ Maka aku diseru: ‘Ya, wahai Sufyan Ats-Tsauri, sesungguhnya Malik bin Dinar hanya memiliki satu baju, sedangkan Tsabit memiliki dua baju.'”
Ketakutan Utbah Al-Ghulam dari Azab Allah Subhanahu wa Ta’ala
74 – Telah mengabarkan kepadaku Salamah bin Umar An-Nushaibi, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Ja’far Abu Bakar, telah menceritakan kepada kami Abbas bin Yusuf Asy-Sykli, ia berkata: Sa’id bin Ja’far Al-Warraq berkata: Anbasah Al-Khawwash berkata: “Utbah Al-Ghulam biasa mengunjungiku, maka ia bermalam di rumahku pada suatu malam. Makan malamnya dihidangkan, tetapi ia tidak memakannya. Aku mendengarnya berkata: ‘Tuanku, jika Engkau menyiksaku maka sesungguhnya aku mencintai-Mu, dan jika Engkau merahmaiku maka sesungguhnya aku mencintai-Mu.’ Ketika di penghujung malam ia mendesah sekali, dan mulai berbunyi seperti bunyi orang yang akan mati. Ketika ia sadar, aku bertanya kepadanya: ‘Wahai Abu Abdullah, bagaimana keadaanmu sejak tadi malam?’ Maka ia berteriak kemudian berkata: ‘Wahai Anbasah, mengingat pemeriksaan di hadapan Allah telah memutuskan sendi-sendi orang yang mencintai.’ Kemudian ia pingsan lagi, kemudian sadar. Aku mendengarnya berkata: ‘Wahai Tuanku, apakah kami akan melihat-Mu tersiksa di sisi-Mu?'”
Perkataan Dzun Nun tentang Amal Orang-orang Shalih untuk Akhirat
75 – Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Abi Fawaris secara imla, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad Al-Warraq, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Hasyim di Mesir, ia berkata: Aku mendengar Dzun Nun berkata: “Derajat-derajat yang dikerjakan oleh anak-anak akhirat ada tujuh derajat: Pertama taubat, kemudian khauf (takut), kemudian zuhud, kemudian syauq (rindu), kemudian ridha, kemudian cinta, kemudian ma’rifat.” Kemudian ia berkata: “Dengan taubat mereka membersihkan diri dari dosa-dosa, dengan rasa takut mereka melewati jembatan-jembatan neraka, dengan zuhud mereka meringankan diri dari dunia dan meninggalkannya, dengan kerinduan mereka berhak mendapat tambahan, dengan ridha mereka mempercepat ketenangan, dengan cinta mereka memahami kenikmatan, dan dengan ma’rifat mereka sampai kepada harapan.”
Wasiat Salah Seorang Ulama tentang Apa yang Sepatutnya bagi Orang Berakal
76 – Telah mengabarkan kepada kami Ali dan Abdul Malik, keduanya anak Muhammad bin Abdullah Al-Qandi, keduanya berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abul Abbas Ahmad bin Ibrahim Al-Kindi di Mekah, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Al-Kharaithiy, ia berkata: Salah seorang dari para ulama berkata: “Sepatutnya bagi orang berakal untuk melihat wajahnya di cermin setiap hari. Jika ia tampan, janganlah ia merusaknya dengan perbuatan buruk. Dan jika ia buruk, janganlah ia mengumpulkan dua keburukan.”
Perkataan Dzun Nun tentang Tanda Orang yang Mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala
77 – Telah mengabarkan kepadaku Salamah bin Umar Al-Katib, telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Ja’far, telah menceritakan kepada kami Abbas bin Yusuf Asy-Sykli, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Utsman, ia berkata: Aku mendengar Dzun Nun berkata: “Di antara tanda orang yang mencintai Allah adalah meninggalkan semua yang menyibukkannya dari Allah, hingga kesibukan hanya dengan Allah saja.” Kemudian ia berkata: “Sesungguhnya di antara tanda orang-orang yang mencintai Allah adalah mereka tidak merasa tenteram kecuali dengan-Nya, dan tidak merasa sunyi bersama-Nya.” Kemudian ia berkata: “Jika cinta Allah telah menetap di hati, maka ia akan merasa tenteram dengan Allah, karena Allah Jalla (Maha Mulia) di dada orang-orang yang mengenal-Nya sehingga mereka tidak mencintai selain-Nya.”
Dari Wasiat-wasiat Wahb bin Munabbih
78 – Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad bin Abdullah bin Bisyran, telah menceritakan kepada kami Husain bin Shafwan Al-Bardz’i, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad Al-Qurasyi, telah menceritakan kepadaku Abul Abbas Al-Bashri Al-Azdi, dari seorang syaikh dari Azd, ia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Wahb bin Munabbih, lalu berkata: “Ajarkanlah kepadaku sesuatu yang Allah memberiku manfaat dengannya!” Ia berkata: “Perbanyaklah mengingat kematian, pendekkan asa-asamu, dan ada strategi ketiga jika kamu meraihnya, kamu akan mencapai tujuan tertinggi dan berhasil dalam ibadah.” Ia berkata: “Apa itu?” Ia berkata: “Itu adalah tawakal.”
Perkataan Rabi’ah Al-Adawiyah: Orang yang Mencintai Allah adalah yang Menaati-Nya
79 – Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muhammad bin Ahmad bin Abi Thahir Ad-Daqqaq, telah mengabarkan kepada kami Ja’far bin Muhammad bin Nushair Al-Khuldi, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Masruq, ia berkata: Aku mendengar Sariy As-Saqathi berkata: Seorang wanita berkata kepada Rabi’ah: “Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.” Maka ia berkata kepadanya: “Maka taatilah Dzat yang karenanya kamu mencintaiku.”
Sabar dalam Cobaan
80 – Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Husain bin Ibrahim Al-Khaffaf, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Al-Mufid, ia berkata: Aku mendengar Junaid berkata: Aku sedang tidur di sisi Sariy rahimahullahu, maka ia membangunkanku dan berkata kepadaku: “Wahai Junaid, aku bermimpi seolah-olah aku telah berdiri di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla, maka Dia berkata kepadaku: ‘Wahai Sariy, Aku menciptakan makhluk, maka semuanya mengaku mencintai-Ku. Aku menciptakan dunia, maka sembilan per sepuluh dari mereka lari dari-Ku, dan yang tinggal bersamaku sepersepuluh. Aku menciptakan surga, maka sembilan per sepuluh dari sepersepuluh itu lari dari-Ku dan yang tinggal bersamaku sepersepuluh dari sepersepuluh. Maka Aku timpakan kepada mereka setitik cobaan, maka sembilan per sepuluh dari sepersepuluh sepersepuluh itu lari dari-Ku. Maka Aku berkata kepada yang masih tinggal bersamaku: Kalian tidak menginginkan dunia, tidak mengambil surga, dan tidak lari dari neraka, maka apa yang kalian inginkan? Mereka berkata: Engkau lebih mengetahui apa yang kami inginkan. Maka Aku berkata kepada mereka: Sesungguhnya Aku akan menimpakan kepada kalian dari cobaan sebanyak nafas kalian, yang tidak mampu ditanggung oleh gunung-gunung yang kokoh. Apakah kalian akan sabar? Mereka berkata: Jika Engkau yang menguji kami, maka lakukanlah apa yang Engkau kehendaki. Maka mereka itulah hamba-hamba-Ku yang sesungguhnya.'”
Ridha terhadap Takdir Allah ‘Azza wa Jalla
81 – Telah mengabarkan kepada kami Abdurrahman bin Fadhalah An-Naisaburi, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Syazan Al-Mudzakkir, ia berkata: Aku mendengar Thayyib Al-Mahmili di Bashrah berkata: Aku mendengar Ali bin Sa’id Al-Aththar berkata: Aku melewati Abbadan dengan seorang yang buta dan berpenyakit kusta. Tawon hinggap padanya dan memotong-motong dagingnya. Maka aku berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah memafiatkanku dari apa yang ditimpakan kepada orang ini, dan membuka mataku dari apa yang ditutup pada kedua matanya.” Ia berkata: “Ketika aku sedang mengulang-ulang pujian, tiba-tiba ia kejang-kejang. Ketika ia terkapar aku memandangnya, ternyata ia lumpuh. Maka aku berkata: ‘Buta, kejang, lumpuh, dan berpenyakit kusta.’ Belum sempat aku menyelesaikan (ucapanku), ia berteriak: ‘Wahai orang yang memaksakan diri! Apa urusanmu dengan apa yang terjadi antara aku dan Rabbku? Biarlah Dia berbuat kepadaku apa yang Dia kehendaki.’ Kemudian ia berkata: ‘Demi kemuliaan dan keagungan-Mu, seandainya Engkau memotong-motongku berkeping-keping, atau menuangkan azab kepadaku dengan deras, tidaklah aku akan bertambah kecuali cinta kepada-Mu.'”
Ridha terhadap Rezeki Allah Subhanahu wa Ta’ala
82 – Telah mengabarkan kepada kami Abdul Aziz bin Ali Ath-Thahhan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin Ahmad Al-Jurjuraiy, telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ismail Ar-Raba’i, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Ibrahim Al-Fihri, dari ayahnya, ia berkata: “Allah ‘Azza wa Jalla mewahyukan kepada salah seorang nabi-Nya: ‘Jika kamu diberi rezeki dari-Ku, maka jangan melihat pada sedikitnya, tetapi lihatlah kepada siapa yang menganugerahkannya kepadamu. Jika kamu ditimpa musibah, maka jangan mengadukan Aku kepada makhluk-Ku, sebagaimana Aku tidak mengadukanmu kepada malaikat-malaikat-Ku ketika keburukan dan aibmu naik kepada-Ku.'”
Cara Orang-orang Shalih dalam Makan dan Berpakaian
83 – Telah mengabarkan kepada kami Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Muhammad, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah murid Bisyr bin Harits berkata: Aku mendengar Bisyr bin Harits berkata: “Mereka tidak makan untuk bersenang-senang, dan tidak berpakaian untuk bermewah-mewahan. Dan ini adalah jalan anak-anak akhirat, para nabi yang shalih, dan orang-orang setelah mereka. Barang siapa yang mengklaim bahwa perkara itu pada selain ini, maka ia tertipu.”
Perkataan Az-Zujajiy tentang Keutamaan Kemiskinan
84 – Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Husain Abul Husain Al-Wa’idh, ia berkata: Aku mendengar Abu Bakar Ath-Tharsusiy di Mekah berkata: Aku mendengar Az-Zujajiy berkata: “Seandainya orang fakir mengetahui keutamaan kemiskinan, niscaya ia akan meminta kepada raja-raja untuk sesuatu selain apa yang telah dimuliakan Allah kepada kami dengannya.”
Perkataan Ibrahim bin Adham tentang Apa yang Telah Allah Subhanahu wa Ta’ala Takdirkan kepada Hamba-hamba dari Kemiskinan atau Kekayaan
85 – Muhammad bin Ahmad bin Rizq al-Bazzaz dan Ali bin Ahmad bin Umar al-Muqri memberitahu kami, keduanya berkata: Ja’far al-Khuldi memberitahu kami, Ibrahim bin Nasr menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Basysyar menceritakan kepada kami, dia berkata: Kami menghabiskan sore hari bersama Ibrahim bin Adham pada suatu malam, dan tidak ada sesuatu pun bersama kami untuk berbuka puasa, dan kami tidak mempunyai cara. Dia melihatku sedih dan susah, lalu berkata: “Wahai Ibrahim bin Basysyar, betapa Allah telah menganugerahkan kepada orang-orang fakir dan miskin berupa nikmat dan ketenangan di dunia dan akhirat. Mereka tidak akan ditanya pada hari kiamat tentang zakat, tentang haji, tentang sedekah, tentang silaturahmi, dan tentang berbagi. Sesungguhnya yang ditanya dan dihisab tentang ini adalah orang-orang miskin ini, mereka kaya di dunia namun miskin di akhirat, mulia di dunia namun hina pada hari kiamat. Jangan bersedih dan jangan bersusah, karena rezeki Allah terjamin akan datang kepadamu. Demi Allah, kamilah raja-raja yang kaya, kamilah orang-orang yang telah mempercepat ketenangan di dunia. Kami tidak peduli dalam keadaan bagaimana kami menghabiskan pagi dan sore hari, jika kami menaati Allah.” Kemudian dia berdiri untuk shalatnya dan aku berdiri untuk shalatku. Kami tidak menunggu kecuali sebentar, tiba-tiba seorang laki-laki datang kepada kami membawa delapan roti dan kurma yang banyak, lalu meletakkannya di hadapan kami dan berkata: “Makanlah, semoga Allah merahmati kalian.” Ibnu Basysyar berkata: Lalu dia mengucapkan salam, kemudian berkata: “Makanlah wahai orang yang bersedih.” Lalu seorang peminta-minta masuk dan berkata: “Berikanlah kami sesuatu untuk makan.” Maka dia mengambil tiga roti dengan kurma dan mengangkatnya kepadanya, memberiku tiga roti dan makan dua roti, lalu berkata: “Berbagi adalah akhlak orang-orang beriman.”
Kehati-hatian as-Sarri as-Saqathi dalam Memakan yang Halal
86 – Salamah bin Umar an-Nusaibi memberitahu kami, Abu Bakar Ahmad bin Ja’far al-Qathi’i memberitahu kami, al-Abbas bin Yusuf budak Bani Hasyim menceritakan kepada kami, Sa’id bin Utsman menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Sarri bin Mughallis berkata: “Kami berperang ke tanah Rum, lalu aku melewati taman hijau di dalamnya terdapat tumbuhan khubbaz (sejenis bayam liar), dan batu yang berlubang berisi air hujan. Aku berkata dalam hatiku: Jika aku pernah makan yang halal pada suatu hari, maka hari inilah. Lalu aku turun dari tungganganku dan mulai makan dari khubbaz itu serta minum dari air itu. Tiba-tiba ada suara yang memanggilku: ‘Wahai Sarri bin Mughallis, lalu nafkah yang mengantarkanmu sampai ke tempat ini dari mana?'”
Mimpi as-Sarri tentang Sifat Duduknya Hamba-hamba di Hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala
87 – Salamah memberitahu kami, Ahmad memberitahu kami, al-Abbas bin Yusuf menceritakan kepada kami, dia berkata: Sa’id bin Utsman menceritakan kepadaku, dia berkata: Aku mendengar as-Sarri bin Mughallis berkata: “Aku berperang dengan berjalan kaki, lalu kami singgah di reruntuhan Rum. Aku membaringkan diriku dengan punggung dan mengangkat kakiku ke dinding. Tiba-tiba ada suara yang memanggilku: ‘Wahai Sarri bin Mughallis, begitukah cara budak-budak duduk di hadapan tuan-tuan mereka?'”
Mengurangi Makan
88 – Abdurrahman bin Muhammad an-Naisaburi memberitahu kami, Muhammad bin Abdullah ar-Razi al-Mudzakkir di Naisapur memberitahu kami, dia berkata: Aku mendengar Abu al-Abbas al-Mu’addib berkata: “Aku masuk menemui Sarri as-Saqathi pada suatu hari, lalu dia berkata: ‘Aku akan membuatmu takjub dengan seekor burung pipit yang datang dan hinggap di serambi ini. Aku telah menyiapkan untuknya sesuap makanan, lalu aku hancurkan di telapak tanganku, maka dia hinggap di ujung jari-jariku dan makan. Ketika pada suatu waktu dia hinggap di serambi, aku hancurkan roti di kedua tanganku, tetapi dia tidak hinggap di tanganku seperti biasa. Aku berpikir dalam batinku: Apa sebab dia takut kepadaku? Lalu aku mendapati bahwa aku telah memakan garam yang enak. Aku berkata dalam diriku: Aku bertaubat dari garam yang enak. Maka dia hinggap di tanganku, makan, dan pergi.'”
Perkataan Yahya bin Mu’adz tentang Manusia Terbagi Menjadi Tiga Golongan
89 – Abdul Aziz bin Ali ath-Thahhan memberitahu kami, Muhammad bin Ahmad al-Jurjarai memberitahu kami, dia berkata: Aku mendengar as-Sarri bin Sahl di Mesir di masjidnya yang atas berkata: Aku mendengar Yahya bin Mu’adz ar-Razi berkata: “Manusia terdiri dari tiga orang: seorang yang kesibukannya dengan akhirat membuatnya lupa dunia, seorang yang kesibukannya dengan dunia membuatnya lupa akhirat, dan seorang yang sibuk dengan keduanya. Yang pertama adalah derajat orang-orang yang beruntung, yang kedua adalah derajat orang-orang yang binasa, dan yang ketiga adalah derajat orang-orang yang dalam bahaya.”
Wasiat-wasiat untuk Sahl at-Tusturi
90 – Ali bin Hamzah ash-Shabuni al-Basrah memberitahu kami, Ahmad bin Abdullah an-Nahrdairi menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Abu Shalih al-Warraq, sahabat Sahl bin Abdullah berkata: Aku mendengar Sahl bin Abdullah berkata: “Barangsiapa berprasangka akan terampas keyakinannya, barangsiapa berbicara tentang yang tidak menyangkut dirinya akan terampas kejujurannya, barangsiapa menyibukkan anggota tubuhnya dalam selain ketaatan kepada Allah akan terampas kehati-hatiannya. Jika hamba melekat pada tiga sifat ini maka itulah kebinasaan, dan dia tercatat dalam daftar musuh-musuh.” Dia berkata: Sahl ditanya tentang takdir, maka dia berkata: “Dia mengetahui, menulis, menghendaki, merencanakan, memutuskan, menakdirkan, memerintah, melarang, mengurus, dan berlepas diri.” Lalu dikatakan kepadanya: Apakah perbuatan hamba-hamba termasuk dalam ini atau di luar ini? Dia berkata: “Bahkan termasuk di dalamnya.”
Perkataan Yahya bin Mu’adz tentang Bagian Mukmin dari Mukmin
91 – Bakran bin ath-Thayyib al-Jurjarai memberitahu kami, Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Abu Bakar menceritakan kepada kami, Abdullah bin Sahl ar-Razi menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Yahya bin Mu’adz ar-Razi berkata: “Hendaklah bagian mukmin darimu tiga perkara: jika kamu tidak memberi manfaat kepadanya maka jangan merugikannya, jika kamu tidak membuatnya gembira maka jangan membuatnya sedih, jika kamu tidak memujinya maka jangan mencelanya.”
Wasiat al-Junaid tentang Kejujuran
92 – Bakran memberitahu kami, Muhammad menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar al-Junaid berkata: “Kamu tidak termasuk orang-orang yang jujur jika kamu jujur di tempat yang tidak menyelamatkanmu kecuali kebohongan di dalamnya.”
Kehati-hatian Mu’adzah al-Adawiyyah
93 – Abu Muhammad al-Hasan bin Ali bin Ahmad bin Basysyar ash-Shabuni di Basrah memberitahu kami, Muhammad bin Ahmad bin Mihmawaih menceritakan kepada kami, Abdul Kabir bin Muhammad al-Anshari menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abdullah menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami, Salamah bin al-Mutsanna menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Umar ar-Raqqasyi, dia berkata: Mu’adzah al-Adawiyyah mengeluh sakit perutnya, maka aku datang dengan dokter. Dia meresepkan nabidz (minuman fermentasi) untuknya. Dia berkata: Maka aku datang dengannya dan meletakkannya di telapak tangannya, kemudian dia berkata: “Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa ini halal bagiku maka minumkan kepadaku dan sembuhkan aku, dan jika selain itu maka palingkan dari diriku.” Dia berkata: Maka gelas itu retak dan isinya tumpah.
Wasiat al-Fudhail tentang Mendahulukan Akhirat dari Dunia
94 – Abu al-Hasan Muhammad bin Ubaidillah al-Hinai memberitahu kami, Utsman bin Muhammad ad-Daqqaq memberitahu kami, Ishaq bin Ibrahim bin Sunain menceritakan kepada kami, Abdul Shamad bin Yazid menceritakan kepadaku, dia berkata: Aku mendengar al-Fudhail berkata: “Barangsiapa menginginkan akhirat akan merugikan dunia, dan barangsiapa menginginkan dunia akan merugikan akhirat. Maka rugianlah dunia, karena sesungguhnya ia adalah rumah yang fana, dan beramallah untuk rumah yang kekal.”
Perkataan as-Sarri tentang Keterikatan Hati Orang-orang Shaleh dan Muqarrabin
95 – Abdul Aziz bin Ali ath-Thahhan memberitahu kami, Muhammad bin Muhammad al-Jurjarai menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Abu al-Qasim al-Junaid bin Muhammad bin al-Junaid berkata: Aku mendengar Sarri berkata: “Hati orang-orang shaleh terikat dengan akhir-akhir (kematian), dan hati orang-orang muqarrab terikat dengan awal-awal (takdir).”
Hadits yang Tidak Shahih tentang Sifat Orang Zahid
96 – Abu al-Husain Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Rizq al-Bazzaz menceritakan kepada kami secara imla, Abu Muhammad Ja’far bin Muhammad bin Nushair al-Khawwash menceritakan kepada kami, Muhammad bin al-Fadhl bin Jabir as-Saqathi menceritakan kepada kami, Abu Ibrahim Isma’il bin Ibrahim at-Turjumani menceritakan kepada kami, al-Hasan al-Ataki menceritakan kepada kami, al-Walid bin Abdurrahman al-Qurasyi al-Harrani menceritakan kepada kami, Hayyan al-Bashri menceritakan kepada kami, dari Ishaq bin Nuh, dari Muhammad bin Ali, dari Sa’id bin Zaid bin Amr bin Nufail, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau menghadap kepada Usamah bin Zaid, lalu berkata: “Wahai Usamah, hendaklah kamu berada di jalan surga dan janganlah kamu tersesat dari padanya.” Maka dia bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah cara tercepat untuk menempuh jalan itu?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dengan kehausan di siang yang panas dan menahan diri dari kelezatan dunia. Wahai Usamah, hendaklah kamu berpuasa, karena sesungguhnya itu mendekatkan kepada Allah. Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala daripada bau mulut orang yang berpuasa. Tinggalkan makanan dan minuman karena Allah Azza wa Jalla. Jika kamu mampu agar kematian mendatangimu sedang perutmu lapar dan hatimu haus, maka lakukanlah, karena sesungguhnya kamu akan meraih kemuliaan tempat-tempat di akhirat, dan kamu akan tinggal bersama para nabi, para nabi akan bergembira dengan kedatangan ruhmu kepada mereka, dan Allah Yang Maha Perkasa Subhanahu wa Ta’ala akan bershalawat atasmu. Hati-hatilah wahai Usamah dari setiap hati yang lapar yang akan menggugat kamu kepada Allah pada hari kiamat. Wahai Usamah, hati-hatilah dari doa para hamba yang telah mencairkan daging-daging dengan angin dan panas matahari, dan membuat hati-hati kehausan, sehingga mata mereka kabur, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala jika melihat kepada mereka akan bergembira dengan mereka dan membanggakan mereka kepada para malaikat. Dengan merekalah gempa bumi dan fitnah dipalingkan.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis sampai tangisannya keras, dan orang-orang segan untuk berbicara kepadanya, sampai mereka mengira bahwa telah terjadi sesuatu di langit. Kemudian beliau bersabda: “Celakalah umat ini, apa yang menimpa orang yang menaati Allah di antara mereka dari mereka. Bagaimana mereka membunuh dan mendustakan orang yang menaati Allah Azza wa Jalla?” Maka Umar bin al-Khaththab berkata: “Wahai Rasulullah, dan orang-orang pada waktu itu masih dalam Islam?” Beliau bersabda: “Ya.” Dia berkata: “Lalu mengapa mereka membunuh orang yang menaati Allah dan memerintah mereka dengan ketaatan kepada Allah?” Beliau bersabda: “Wahai Umar, kaum itu telah meninggalkan jalan, mereka mengendarai kendaraan, memakai pakaian yang lembut, dilayani oleh anak-anak Persia dan Rum, laki-laki di antara mereka berhias dengan hiasan wanita untuk suaminya, dan para wanita berdandan, penampilan mereka penampilan raja-raja, dan agama mereka agama Kisra bin Hurmuz. Mereka makan banyak, mereka membanggakan sendawa dan pakaian. Jika berbicara wali-wali Allah yang memakai jubah, punggung mereka membungkuk, mereka telah menyembelih diri mereka karena kehausan, jika salah seorang dari mereka berbicara, dia didustakan dan dikatakan kepadanya: Kamu adalah kawan syetan dan kepala kesesatan, kamu mengharamkan perhiasan Allah yang telah Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan yang baik-baik dari rezeki. Mereka mentakwil kitab Allah dengan selain takwilnya, dan merendahkan wali-wali Allah Azza wa Jalla. Ketahuilah wahai Usamah bahwa orang yang paling dekat kepada Allah pada hari kiamat adalah: orang yang panjang kesedihannya, kehausannya, dan kelaparannya di dunia. Orang-orang tersembunyi yang shaleh yang jika hadir tidak dikenal, dan jika tidak hadir tidak dicari. Mereka dikenal di kalangan ahli langit, tersembunyi dari ahli bumi. Petak-petak bumi mengenal mereka, dan para malaikat mengelilingi mereka. Orang-orang bersenang-senang dengan dunia dan menikmatinya, sedang mereka bersenang-senang dengan lapar dan haus. Orang-orang memakai pakaian yang lembut, sedang mereka memakai pakaian yang kasar. Orang-orang beralas, sedang mereka beralas dahi dan lutut. Orang-orang tertawa, sedang mereka menangis. Ingatlah, bagi mereka kemuliaan di akhirat. Alangkah aku ingin melihat mereka di petak-petak bumi, dengan mereka ada kelapangan. Allah Yang Maha Perkasa Subhanahu wa Ta’ala ridha terhadap mereka. Orang-orang menyia-nyiakan perbuatan para nabi dan akhlak mereka, sedang mereka memeliharanya. Orang yang beruntung adalah yang bercita-cita kepada Allah dalam seperti cita-cita mereka. Orang yang merugi adalah yang menyelisihi mereka. Bumi menangis jika kehilangan mereka, dan Allah murka kepada setiap negeri yang tidak ada seorang pun dari mereka di dalamnya.” “Wahai Usamah, jika kamu melihat mereka di suatu desa, maka ketahuilah bahwa mereka adalah pengaman bagi desa itu dan ahli desa itu. Allah tidak menyiksa kaum yang mereka berada di dalamnya. Jadikanlah mereka untuk dirimu agar kamu selamat dengan mereka, dan janganlah kamu meninggalkan apa yang mereka jalani, sehingga kakimu tergelincir dan kamu jatuh ke dalam neraka. Mereka mengharamkan yang halal yang Allah halalkan bagi mereka, mencari kelebihan di akhirat. Mereka meninggalkan makanan dan minuman padahal mampu. Mereka tidak menerkam dunia seperti anjing menerkam bangkai. Mereka makan roti keras dan memakai pakaian compang-camping. Kamu melihat mereka kusut dan berdebu, kamu menyangka bahwa mereka sakit padahal mereka tidak sakit, dan orang-orang menyangka bahwa mereka gila padahal mereka tidak gila, tetapi kaum itu dicampur kesedihan. Orang-orang menyangka bahwa akal mereka telah hilang, padahal akal mereka tidak hilang, tetapi mereka melihat dengan hati mereka kepada perkara yang menghilangkan akal mereka dari dunia. Maka mereka di dunia menurut ahli dunia berjalan tanpa akal. Wahai Usamah, mereka berakal ketika akal orang-orang hilang. Bagi mereka kemuliaan di bumi.”
Tangisan dari Azab Allah Subhanahu wa ta’ala
97 – Diceritakan kepada kami oleh Abu Sa’id Muhammad bin Musa bin al-Fadl bin Shadhan ash-Shairafi, di Naisabur, diceritakan kepada kami oleh Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah al-Ashbahani ash-Shaffar, diceritakan kepada kami oleh Abdullah bin Muhammad bin ‘Ubaid al-Qurashi, diceritakan kepadaku oleh Muhammad bin al-Husain, ia berkata: diceritakan kepadaku oleh Ubaidullah bin Muhammad at-Taimi, ia berkata: diceritakan kepadaku oleh Zuhair as-Saluli, ia berkata: Ada seorang laki-laki dari Bani ‘Anbar yang sangat gemar menangis, tidak pernah engkau melihatnya kecuali dalam keadaan menangis. Ia berkata: Suatu hari seorang temannya menegurnya dan berkata: “Mengapa engkau menangis wahai saudaraku, semoga Allah merahmatimu, tangisan yang panjang ini?” Maka ia menangis, kemudian berkata:
“Aku menangis atas dosa-dosa karena besarnya kejahatanku Dan pantas bagi setiap orang yang bermaksiat untuk menangis Andai saja tangisan dapat menghilangkan kesedihanku Niscaya air mata akan bercampur dengan darah”
Kemudian ia menangis hingga pingsan, lalu laki-laki itu berdiri meninggalkannya.
Perkataan Salah Seorang Ahli Hikmah tentang Hukuman bagi Orang yang Bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala
98 – Dan diceritakan kepada kami oleh Abu Sa’id, diceritakan kepada kami oleh Muhammad, diceritakan kepada kami oleh Abdullah, diceritakan kepada kami oleh Ibrahim bin ‘Amr, ia berkata: Salah seorang ahli hikmah berkata: “Barangsiapa yang memenuhi syahwatnya di dunia, dan menjual ketaatan kepada Allah dengan kemaksiatannya, maka terimalah murka Allah sebagai balasan dalam hukuman-Nya.”
Perkataan al-Fudhail tentang Sifat Orang yang Memohon kepada Allah Azza wa Jalla
99 – Dan diceritakan kepada kami oleh Abu Sa’id, diceritakan kepada kami oleh Muhammad, diceritakan kepada kami oleh Abdullah, diceritakan kepada kami oleh Ishaq bin Ibrahim, ia berkata: Aku mendengar al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata: “Engkau memohon surga kepada-Nya namun melakukan apa yang dibenci-Nya. Aku tidak pernah melihat orang yang lebih sedikit memperhatikan dirinya daripada engkau.”
Isyarat Dzun Nun tentang Mengobati Kemaksitan
100 – Diceritakan kepada kami oleh Abdurrahman bin Muhammad an-Naisaburi, di ar-Rayy, diceritakan kepada kami oleh Muhammad bin Abdullah bin Shadhan al-Mudzakkir, ia berkata: Aku mendengar Yusuf bin al-Husain berkata: Aku mendengar Dzun Nun al-Mishri berkata: “Aku melewati seorang dokter dan di sekelilingnya berkumpul sekelompok wanita dan laki-laki dengan membawa botol-botol air di tangan mereka, dan dokter itu memberikan resep untuk setiap orang sesuai dengan yang cocok untuknya. Maka aku mendekatinya dan memberi salam kepadanya, ia membalas salamku. Kemudian aku berkata kepadanya: Berikanlah aku resep obat untuk dosa-dosa, semoga Allah merahmatimu. Dokter itu adalah seorang yang bijaksana dan berakal. Maka ia menunduk sejenak, kemudian mengangkat kepalanya dan berkata: Wahai pemuda, jika aku memberikan resep untukmu, apakah engkau akan memahami? Aku berkata: Ya, insya Allah Subhanahu wa ta’ala. Dokter itu berkata: Wahai pemuda, ambillah akar-akar kemiskinan bersama daun kesabaran, bersama buah kerendahan hati, bersama biji kekhusyukan, kemudian masukkan ke dalam panci ketakwaan, lalu tuangkan air ketakutan di atasnya, kemudian nyalakan api kecintaan di bawahnya, kemudian aduk dengan keteraturan penjagaan diri, hingga berbusa buih hikmah. Dan jika telah berbusa buih hikmah, saringlah dengan saringan zikir, kemudian tuangkan ke dalam gelas keridhaan, lalu kipasi dengan kipas pujian hingga dingin. Jika telah dingin, tuangkan ke dalam cangkir munajat, kemudian campurkan dengan tawakkal, lalu cicipi dengan sendok istighfar, kemudian minumlah dan berkumurlah setelahnya dengan wara’. Maka engkau tidak akan kembali kepada kemaksitan kepada Allah selama-lamanya.”
Perkataan Sahl tentang Suluk
101 – Diceritakan kepada kami oleh Abu al-Qasim Abdurrahman bin Muhammad as-Sarraj, di Naisabur, ia berkata: Aku mendengar Abu Nashr Abdullah bin ‘Ali as-Sarraj berkata: Aku mendengar Abu Bakr Ahmad bin Muhammad bin Muhammad as-Sa’ih berkata: Aku mendengar al-Qasim bin Muhammad, sahabat Sahl, berkata: Aku mendengar Sahl bin Abdullah berkata: “Tidak ada hijab antara hamba dan Allah yang lebih tebal daripada pengakuan (da’wa), dan tidak ada jalan yang lebih dekat kepada-Nya daripada kefakiran.”
Wasiat untuk Orang yang Berbuat Dosa
102 – Diceritakan kepada kami oleh Muhammad bin Abi ‘Amr ash-Shairafi, di Naisabur, diceritakan kepada kami oleh Muhammad bin Abdullah al-Ashbahani, diceritakan kepada kami oleh Abdullah bin Muhammad al-Qurashi, ia berkata: Diceritakan kepadaku oleh Abu Bakr ath-Thaqafi, ia berkata: “Ada seorang laki-laki dari kalangan ahli ibadah yang tidak berbicara dalam setahun kecuali satu hari saja, di hari itulah ia berbicara kepada orang-orang. Maka datanglah seorang laki-laki kepadanya di hari ia berbicara itu, lalu berkata: Berilah aku wasiat? Ia berkata: ‘Apakah engkau pernah berbuat dosa?’ Ia berkata: Ya. Ia berkata: ‘Apakah engkau tahu bahwa Allah telah mencatatnya atasmu?’ Ia berkata: Ya. Ia berkata: ‘Maka beramallah hingga engkau tahu bahwa Allah Azza wa Jalla telah menghapusnya darimu.'”
Perkataan Bilal bin Sa’d tentang Berlomba untuk Amal Akhirat
103 – Diceritakan kepada kami oleh Abu Sa’id Muhammad bin Musa an-Naisaburi, diceritakan kepada kami oleh Abu al-‘Abbas Muhammad bin Ya’qub al-Ashamm, diceritakan kepada kami oleh al-‘Abbas bin al-Walid bin Mazid, diceritakan kepadaku oleh ayahku, ia berkata: Diceritakan kepadaku oleh adh-Dhahhak bin Abdurrahman, ia berkata: Aku mendengar Bilal bin Sa’d berkata: “Wahai hamba-hamba ar-Rahman, apakah telah datang kepada kalian seorang pemberi kabar yang memberitahu kalian bahwa sesuatu dari amal-amal kalian telah diterima dari kalian, atau sesuatu dari kesalahan-kesalahan kalian telah diampuni untuk kalian? Maka apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian dengan sia-sia dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami? (Surat al-Mu’minun ayat 115). Demi Allah, seandainya kebenaran disegerakan untuk kalian di dunia, niscaya kalian semua akan menganggap ringan apa yang diwajibkan atas kalian. Apakah kalian berminat dalam ketaatan kepada Allah untuk mempercepat dirham, namun kalian tidak berminat dan tidak berlomba-lomba dalam surga: Buahnya kekal dan naungannya. Itulah balasan bagi orang-orang yang bertakwa, sedangkan balasan bagi orang-orang kafir adalah neraka (Surat ar-Ra’d ayat 35).”
Syair tentang Orang yang Tidak Mendahulukan Amal Saleh
104 – Diceritakan kepada kami oleh Muhammad bin Abi ‘Ali al-Ashbahani, ia berkata: Walid bin Ma’n al-Maushili membacakan syair untuk kami, dari sebagian mereka:
“Sesungguhnya orang yang menghitung hari esok dari ajalnya Dan terus-menerus berjalan dalam kebodohan dalam angan-angannya Sungguh buruk persahabatan dengan kematian jika Ia tidak mendahulukan amal saleh dari perbuatannya”
Perkataan Muhammad bin al-Fadhl al-Balkhi tentang Keutamaan Lapar
105 – Diceritakan kepada kami oleh Abdurrahman bin Muhammad as-Sarraj, di Naisabur, ia berkata: Aku mendengar Abu al-Fadhl Muhammad bin Isma’il al-Isma’ili berkata: Aku mendengar Abu Abdullah Muhammad bin al-Fadhl al-Balkhi az-Zahid berkata: “Lapar adalah makanan Allah di bumi, dengan lapar itu Allah mengenyangkan hati para wali-Nya.”
Karamah Ibrahim bin Adham
106 – Diceritakan kepada kami oleh ‘Ali bin Muhammad bin Bishran, diceritakan kepada kami oleh al-Husain bin Shafwan al-Bardha’i, diceritakan kepada kami oleh Abdullah bin Muhammad al-Qurashi, ia berkata: Diceritakan kepadaku oleh Muhammad bin Yahya bin Abi Hatim al-Azdi, ia berkata: Diceritakan kepadaku oleh Khalaf bin Tamim, ia berkata: Diceritakan kepadaku oleh Abdul Jabbar bin Kathir, ia berkata: Dikatakan kepada Ibrahim bin Adham: Ini binatang buas telah muncul kepada kami. Ia berkata: Tunjukkanlah kepadaku. Ketika binatang itu datang kepadanya, ia berkata: “Wahai qaswara (singa), jika engkau diperintah sesuatu terhadap kami maka lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, dan jika tidak maka kembalilah sebagaimana awalmu.” Ia berkata: Maka binatang buas itu berbalik pergi. Ia berkata: Aku kira ia berkata: sambil mengibas-ngibaskan ekornya. Ia berkata: Maka kami heran bagaimana binatang buas itu memahami perkataan Ibrahim bin Adham. Lalu Ibrahim menghadap kepada kami dan berkata: “Ucapkanlah: Ya Allah, jagalah kami dengan mata-Mu yang tidak tidur, dan lindungilah kami dengan rukun-Mu yang tidak dapat diserang, dan rahmatilah kami dengan kekuasaan-Mu atas kami, dan janganlah kami binasa sedang Engkau adalah harapan kami.” Khalaf berkata: “Aku tidak pernah berhenti mengucapkannya sejak aku mendengarnya, maka tidak pernah ada perampok atau lainnya yang menggangguku.”
Karamah untuk Seorang Laki-laki Ahli Ibadah
107 – Diceritakan kepada kami oleh Abu al-Qasim ‘Ali bin Muhammad bin ‘Isa al-Bazzaz, diceritakan kepada kami oleh Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad al-Mishri secara qira’ah kepadanya, ia berkata: Diceritakan kepada kami oleh Ahmad bin Muhammad ath-Thusi, diceritakan kepada kami oleh Dawud bin Rushaid, ia berkata: Diceritakan kepadaku oleh ash-Shabih dan al-Malih, dua pemuda yang beribadah di Syam, dinamakan ash-Shabih dan al-Malih karena kebaikan ibadah mereka. Keduanya berkata: Kami kelaparan beberapa hari, maka aku berkata kepada temanku, atau temanku berkata kepadaku: “Mari kita keluar ke padang pasir, moga-moga kita bertemu seorang laki-laki yang bisa kita ajarkan sebagian agamanya, semoga Allah memberi manfaat kepada kita dengannya.” Ketika kami keluar ke padang terbuka, bertemulah kami dengan seorang laki-laki berkulit hitam di kepalanya ada seikat kayu bakar. Kami mendekatinya dan berkata: Wahai orang ini, siapa Tuhanmu? Maka ia melempar ikatan kayu dari kepalanya dan duduk di atasnya, lalu berkata: Jangan kalian bertanya kepadaku siapa Tuhanmu, tetapi tanyakan kepadaku: Di mana tempat iman di dalam hatimu? Maka aku melihat temanku dan temanku melihat kepadaku, kemudian ia berkata: Bertanyalah, bertanyalah, karena seorang murid tidak akan pernah habis pertanyaannya. Ketika ia melihat kami tidak dapat menjawab, ia berkata: Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa Engkau memiliki hamba-hamba yang setiap kali mereka meminta kepada-Mu, Engkau memberi mereka, maka ubahlah ikatan kayuku ini menjadi emas. Maka kami melihat batangan-batangan emas berkilau. Kemudian ia berkata: Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa Engkau memiliki hamba-hamba yang ketersembunyian lebih mereka sukai daripada ketenaran, maka kembalikanlah menjadi kayu bakar. Maka demi Allah, kayu itu kembali menjadi kayu bakar. Kemudian ia memikul di kepalanya dan pergi, kami tidak berani mengikutinya.*
Dari Keutamaan Ibrahim bin Adham
108 – Diceritakan kepadaku oleh Abdullah bin Ahmad al-Ashbahani, diceritakan kepada kami oleh Ja’far al-Khuldi, ia berkata: Diceritakan kepada kami oleh Ahmad bin Masruq, diceritakan kepada kami oleh ‘Ali bin al-Muwaffaq, diceritakan kepada kami oleh Abdullah bin al-Faraj al-Qanthiri al-‘Abid, ia berkata: “Aku mengintip Ibrahim bin Adham di sebuah kebun di Syam dalam keadaan terbaring, dan ada seekor ular di mulutnya membawa setangkai bunga narsis, ular itu terus mengusir (lalat) darinya hingga ia terbangun.”
Karamah Abu Muslim al-Khaulani
109 – Diceritakan kepada kami oleh al-Hasan bin Ahmad bin Ibrahim al-Bazzaz, diceritakan kepada kami oleh Muhammad bin Ja’far al-Adami al-Qari’, diceritakan kepada kami oleh Ahmad bin Musa asy-Syathawi, diceritakan kepada kami oleh Harun bin Ma’ruf, diceritakan kepada kami oleh Dhamrah, dari ‘Uthman bin ‘Atha’, dari ayahnya, ia berkata: Istri Abu Muslim yaitu al-Khaulani berkata: Wahai Abu Muslim, kita tidak punya tepung. Ia berkata: Apakah kamu punya sesuatu? Ia berkata: Satu dirham hasil penjualan benang tenun. Ia berkata: Carikan untukku dan bawalah karung. Maka ia masuk ke pasar dan berdiri di depan seorang laki-laki yang menjual makanan, lalu berdiri seorang pengemis di hadapannya dan berkata: Wahai Abu Muslim, bersedekahlah kepadaku. Maka ia lari darinya dan mendatangi toko yang lain, pengemis itu mengikutinya dan berkata: Bersedekahlah kepada kami. Ketika pengemis itu membuatnya jengkel, ia memberikan dirham itu kepadanya. Kemudian ia mengambil karung dan mengisinya dengan serbuk gergaji dari tukang kayu bercampur tanah, lalu ia pulang ke pintu rumahnya dan mengetuk pintu dengan hati yang takut kepada keluarganya. Ketika istrinya membuka pintu, ia melempar karung itu dan pergi. Ketika istrinya membukanya, ternyata itu tepung putih yang halus. Maka ia menguleni dan membuat roti. Ketika malam telah larut, Abu Muslim datang dan mengetuk pintu. Ketika ia masuk, istrinya meletakkan di hadapannya nampan dan roti-roti putih yang halus. Maka ia berkata: Dari mana kamu mendapat ini? Ia berkata: Wahai Abu Muslim, dari tepung yang kamu bawa. Maka ia mulai makan sambil menangis.
Dari Kezuhudan Dawud at-Tha’i dan Nasihat-Nasihatnya
110 – Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin al-Husain bin Ibrahim al-Khaffaf, telah menceritakan kepada kami Abu Maisarah Qumai’ bin Maisarah bin Hajib az-Zuhairi, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Masruq, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Husain al-Burjalani, telah menceritakan kepadaku Huraim, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Abu ar-Rabi’ al-A’raj, dia berkata: Aku masuk ke rumah Dawud ath-Tha’i setelah Maghrib, lalu dia menghidangkan kepadaku potongan roti kering. Aku merasa haus, lalu aku berdiri menuju tempayan yang berisi air hangat. Aku berkata: “Semoga Allah merahmatimu, seandainya kamu mengambil wadah lain selain ini untuk air.” Maka dia berkata kepadaku: “Jika aku hanya minum yang dingin, hanya makan yang enak, dan hanya memakai yang lembut, apa yang tersisa bagiku untuk akhirat?” Dia berkata: Aku berkata: “Berilah aku nasihat?” Dia berkata: “Berpuasalah dari dunia, dan jadikanlah berbukamu padanya adalah kematian. Larilah dari manusia sebagaimana kamu lari dari binatang buas. Bergaulah dengan ahli takwa jika kamu bergaul, karena mereka paling sedikit bebannya dan paling baik pertolongannya. Dan jangan tinggalkan jamaah. Cukuplah ini bagimu jika kamu mengamalkannya.”
Perkataan Yahya bin Mu’adz tentang Orang yang Merugi di Antara Manusia
111 – Aku mendengar Abu Hazim Umar bin Ahmad bin Ibrahim al-Abdawi, dan aku mendengar Abu Ali bin Fadhalah an-Naisaburi, keduanya berkata: Kami mendengar al-Husain bin Ali at-Tamimi, dia berkata: Aku mendengar Abu al-Hasan Ali bin Muhammad al-Qibabi, dia berkata: Aku mendengar Yahya bin Mu’adz ar-Razi, dia berkata: “Orang yang merugi adalah yang menyia-nyiakan hari-harinya dengan hal-hal yang sia-sia, menguasakan anggota tubuhnya untuk kebinasaan, dan mati sebelum sadar dari kejahatan-kejahatannya.”
Perkataan Bisyr bahwa Kita Jangan Mencintai Dunia
112 – Telah mengabarkan kepada kami Abdul Aziz bin Ali ath-Thahan, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad al-Jurjarai, dia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah, murid Bisyr bin al-Harits berkata: Aku mendengar Bisyr bin al-Harits, dia berkata: “Sepatutnya kita tidak mencintai negeri ini, karena ini adalah negeri tempat Allah dimaksiai. Demi Allah, seandainya tidak ada dari kita kecuali bahwa kita mencintai sesuatu yang dibenci Allah Ta’ala, maka itu sudah cukup bagi kita.”
Tentang Takut kepada Allah Ta’ala
113 – Telah mengabarkan kepada kami Ali, dan Abdul Malik anak-anak Muhammad bin Abdullah al-Qandi, keduanya berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu al-Abbas Ahmad bin Ibrahim al-Kindi di Makkah, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far bin Sahl al-Kharaiti, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin al-Junaid, telah menceritakan kepada kami seorang syaikh dari Abdul Qais, dia berkata: Aku mendengar mereka berkata: “Bahwa seorang laki-laki menginginkan seorang perempuan untuk dirinya sendiri, maka perempuan itu berkata kepadanya: ‘Kamu sudah mendengar hadits dan membaca Al-Quran, maka kamu lebih mengetahui.’ Maka dia berkata kepadanya: ‘Tutuplah pintu-pintu istana!’ Maka perempuan itu menutupnya. Ketika dia mendekatinya, perempuan itu berkata: ‘Di sini ada pintu yang belum kututup.’ Dia berkata: ‘Pintu apa?’ Perempuan itu berkata: ‘Pintu yang ada antara kamu dan Allah Ta’ala.’ Dia berkata: Maka dia tidak mengganggu perempuan itu.”
Perkataan Yahya bin Mu’adz tentang Keutamaan Ampunan dari Allah Ta’ala
114 – Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ali bin ath-Thayyib al-Ijli, di Hulwan, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad ad-Damaghani, dia berkata: Aku mendengar al-Hasan bin Ali Yahya bin Salam, dia berkata: Yahya bin Mu’adz berkata: “Seandainya ampunan bukan termasuk perkara yang paling dicintai-Nya, niscaya Dia tidak akan menguji dengan dosa orang yang paling mulia di sisi-Nya.”
Perkataan Ibrahim bin Adham tentang Keutamaan Para Ahli Ibadah, dan Apa yang Mereka Alami dari Nikmatnya Hidup
115 – Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Rizq al-Bazzaz, dan Ali bin Ahmad bin Umar al-Muqri, keduanya berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ja’far bin Muhammad bin Nushair, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Nashr mantan budak Manshur bin al-Mahdi, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Basysyar, dia berkata: Aku keluar bersama Ibrahim bin Adham, dan Abu Yusuf al-Ghasuli, dan Abu Abdullah as-Sinjari menuju suatu tempat. Kami melewati sungai yang disebut Sungai Yordania, lalu kami duduk beristirahat. Abu Yusuf membawa potongan roti kering, lalu dia letakkan di hadapan kami. Kami memakannya dan memuji Allah Ta’ala. Aku berdiri bergegas mengambil air untuk Ibrahim, maka Ibrahim bergegas masuk ke sungai hingga air sampai ke lututnya. Dia menangkupkan kedua tangannya di air lalu mengisinya, kemudian berkata: “Bismillah,” dan meminum air itu, kemudian berkata: “Alhamdulillah.” Kemudian dia menangkupkan kedua tangannya lagi dari air, dan berkata: dan minum, kemudian “Bismillah” berkata: “Alhamdulillah.” Kemudian dia keluar dari sungai lalu meregangkan kedua kakinya, kemudian berkata: “Wahai Abu Yusuf, seandainya para raja dan anak-anak raja mengetahui kenikmatan dan kegembiraan yang kami alami, niscaya mereka akan berperang melawan kami dengan pedang sepanjang hari-hari kehidupan untuk merebut nikmatnya hidup dan sedikitnya kesulitan yang kami alami.” Maka aku berkata: “Wahai Abu Ishaq, kaum itu mencari kenyamanan dan kenikmatan, tetapi mereka salah jalan yang lurus.” Maka dia tersenyum, kemudian berkata: “Dari mana kamu dapatkan ucapan ini?”
Perkataan Sufyan ats-Tsauri tentang Hakikat Orang yang Zuhud terhadap Dunia
116 – Telah mengabarkan kepada kami Abdul Aziz bin Ali ath-Thahan, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad al-Jurjarai, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami al-Hasan bin Isma’il, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Ibrahim al-Fihri, dari Sufyan ats-Tsauri, dia berkata: “Barangsiapa berzuhud terhadap dunia, maka dia akan menguasainya. Barangsiapa menginginkannya, maka dia akan menjadi budaknya. Maka barangsiapa yang mau, hendaklah dia hidup di dalamnya sebagai raja, dan barangsiapa yang mau, hendaklah dia hidup di dalamnya sebagai budak.”
Dari Kezuhudan Abu Turab an-Nakhsyabi
117 – Telah mengabarkan kepada kami Ubaidullah bin Ahmad ash-Shairafi, telah mengabarkan kepada kami Abu al-Fadhl az-Zuhri, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku Abu ath-Thayyib Ahmad bin Ja’far al-Hadzdzaa, dia berkata: Aku mendengar Abu Ali al-Husain bin Khairan al-Faqih, dia berkata: “Abu Turab an-Nakhsyabi melewati seorang tukang cukur, lalu berkata kepadanya: ‘Cukurlah kepalaku karena Allah Azza wa Jalla.’ Maka dia berkata kepadanya: ‘Duduklah.’ Ketika sedang mencukur kepalanya, seorang amir dari penduduk negeri melewatinya, lalu dia bertanya kepada pengawalnya, maka dia berkata: ‘Bukankah ini Abu Turab?’ Mereka berkata: ‘Ya.’ Dia berkata: ‘Apa yang kalian bawa dari dinar?’ Maka seorang laki-laki dari orang khususnya berkata kepadanya: ‘Bersamaku ada kantong yang berisi seribu dinar.’ Maka dia berkata: ‘Jika dia berdiri, berikanlah kepadanya dan mintalah maaf kepadanya, dan katakanlah kepadanya: Tidak ada bersama kami selain ini.’ Maka pemuda itu datang kepadanya, lalu berkata kepadanya: ‘Sesungguhnya amir membaca salam untukmu, dan berkata kepadamu: Yang hadir hanya dinar-dinar ini.’ Maka dia berkata: ‘Serahkanlah kepada tukang cukur.’ Maka tukang cukur berkata kepadanya: ‘Apa yang akan kulakukan dengannya?’ Maka dia berkata: ‘Ambillah.’ Dia berkata: ‘Tidak, demi Allah, seandainya itu dua ribu dinar, aku tidak akan mengambilnya.’ Maka Abu Turab berkata kepadanya: ‘Pergilah kepadanya dan katakanlah kepadanya: Sesungguhnya tukang cukur tidak mengambilnya, ambillah kamu dan belanjakanlah untuk keperluan-keperluanmu.'”
Perkataan Abu Utsman al-Maghribi tentang Batasan Tasawuf
118 – Telah mengabarkan kepada kami Ridhwan bin Muhammad ad-Dinawari, dia berkata: Aku mendengar Zaid bin Abdullah al-Adib, di Ray berkata: Aku bertanya kepada Abu Utsman al-Maghribi tentang tasawuf, maka dia berkata: “Memutus ikatan-ikatan, menolak makhluk-makhluk, dan bersambung dengan hakikat-hakikat.”
Wafatnya Ahli Ibadah Abu Jahir al-Bashri ketika Mendengar Al-Quran
119 – Telah mengabarkan kepada kami Abdurrahman bin Ubaidullah al-Hurfi, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Ja’far bin Abi Sa’id as-Simsar, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Qasim bin Muhammad an-Nahwi, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin binti Husyaim, telah menceritakan kepada kami Abu al-Hajjaj Nashr bin Thahir, di Bashrah, dia berkata: Aku mendengar Shalih al-Murri, dia berkata: Dan telah mengabarkan kepadaku Ubaidullah bin Abi al-Fath al-Farisi, telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Utsman ad-Daqqaq, telah menceritakan kepada kami Abu Ali bin Shafwan, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Husain, ad-Daqqaq berkata: Dan telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad al-Wa’izh, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Isa Abu Sa’id al-Kharraz, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Abdullah al-Khuttali, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Husain, telah menceritakan kepada kami Syu’aib bin Muhriz al-Azdi, telah menceritakan kepada kami Shalih al-Murri, dan susunan hadits ini dari al-Kharraz, dia berkata: Malik bin Dinar berkata kepadaku: “Datanglah kepadaku pagi-pagi, wahai Shalih, ke pekuburan, karena aku sudah berjanji kepada beberapa saudara dengan Abu Jahir Mas’ud yang buta untuk mengucapkan salam kepadanya.” Shalih al-Murri berkata: Dan Abu Jahir ini adalah seorang laki-laki yang telah menyendiri ke suatu sudut untuk beribadah di dalamnya, dan dia tidak masuk Bashrah kecuali pada hari Jumat pada waktu shalat, kemudian langsung kembali. Dia berkata: Maka aku pergi pagi-pagi untuk janji dengan Malik ke pekuburan, lalu aku sampai kepada Malik dan dia sudah mendahuluiku, dan ternyata bersamanya Muhammad bin Wasi’, dan dia demi Allah adalah seorang pemimpin, dan ternyata ada Tsabit al-Bunani dan Habib. Ketika aku melihat mereka sudah berkumpul, aku berkata: “Ini demi Allah adalah hari kegembiraan.” Dia berkata: Maka kami berangkat menuju Abu Jahir. Dia berkata: Dan Malik jika melewati tempat yang bersih, berkata: “Wahai Tsabit, shalatlah di sini mudah-mudahan dia menjadi saksi untukmu besok.” Dia berkata: Dan Tsabit shalat. Dia berkata: Kemudian kami berangkat hingga kami sampai ke tempatnya lalu kami bertanya tentangnya, maka mereka berkata: “Sekarang dia keluar untuk shalat.” Maka kami menunggunya. Dia berkata: Maka keluarlah kepada kami seorang laki-laki, jika kamu mau katakan: dia baru dibangkitkan dari kuburnya. Dia berkata: Maka seorang laki-laki bangkit lalu mengambil tangannya hingga mendirikannya di pintu masjid, lalu dia adzan, kemudian dia berhenti sebentar kemudian masuk masjid lalu shalat sekehendak Allah, kemudian dia iqamah shalat lalu kami shalat bersamanya. Ketika dia selesai shalatnya, dia duduk seperti orang yang sedih, lalu orang-orang berdatangan untuk mengucapkan salam kepadanya. Muhammad bin Wasi’ maju lalu mengucapkan salam kepadanya, maka dia membalas salamnya, lalu berkata: “Siapa kamu, aku tidak mengenal suaramu?” Dia berkata: “Aku dari penduduk Bashrah.” Dia berkata: “Siapa namamu, semoga Allah merahmatimi?” Dia berkata: “Aku Muhammad bin Wasi’.” Dia berkata: “Selamat datang dan selamat, kamu yang dikatakan orang-orang ini” dan dia menunjuk dengan tangannya ke arah Bashrah: “Bahwa kamu yang paling utama di antara mereka karena Allah, kamu jika berdiri dengan syukur atas itu, duduklah.” Maka dia duduk. Lalu Tsabit al-Bunani berdiri, lalu mengucapkan salam kepadanya, maka dia membalas salamnya, dan berkata: “Siapa kamu semoga Allah merahmatimii?” Dia berkata: “Aku Tsabit al-Bunani.” Dia berkata: “Selamat datang padamu wahai Tsabit, kamu yang diklaim penduduk kampung ini bahwa kamu yang paling lama shalatnya di antara mereka, duduklah. Sungguh aku telah mengharapkanmu kepada Tuhanku.” Dia berkata: Lalu Habib Abu Muhammad berdiri kepadanya, lalu mengucapkan salam kepadanya maka dia membalas salamnya, dan berkata: “Siapa kamu semoga Allah merahmatimi?” Dia berkata: “Aku Habib Abu Muhammad.” Dia berkata: “Selamat datang padamu wahai Abu Muhammad, kamu yang diklaim orang-orang ini bahwa kamu tidak pernah meminta sesuatu kepada Allah kecuali Dia memberimu, mengapa kamu tidak meminta kepada-Nya agar menyembunyikan hal itu untukmu, duduklah semoga Allah merahmatimi.” Dia berkata: Dan dia mengambil tangannya dan mendudukkannya di samping. Dia berkata: Lalu Malik bin Dinar berdiri kepadanya lalu mengucapkan salam kepadanya, maka dia membalas salamnya, dan berkata: “Siapa kamu semoga Allah merahmatimi?” Dia berkata: “Aku Malik bin Dinar.” Dia berkata: “Bagus bagus, Abu Yahya, jika kamu seperti yang mereka katakan, kamu yang diklaim mereka bahwa kamu paling zuhud di antara mereka, duduklah. Maka sekarang sempurnalah harapanku kepada Tuhanku di dunia yang fana.” Shalih berkata: Maka aku berdiri kepadanya untuk mengucapkan salam kepadanya, maka dia menghadap kepada orang-orang, lalu berkata: “Lihatlah bagaimana kalian besok di hadapan Allah di tempat berkumpul hari kiamat.” Dia berkata: Maka aku mengucapkan salam kepadanya, maka dia membalas salamku, dan berkata: “Siapa kamu semoga Allah merahmatimi?” Maka aku berkata: “Aku Shalih al-Murri.” Dia berkata: “Kamu pemuda yang membaca, kamu Abu Bisyr?” Aku berkata: “Ya.” Dia berkata: “Bacalah wahai Shalih, sungguh aku ingin mendengar bacaanmu.” Shalih berkata: Maka demi Allah datang kepadaku apa yang telah kuhilangkan, lalu aku mulai, maka aku membaca. Aku belum menyelesaikan ta’awwudz hingga dia terjatuh pingsan, kemudian dia sadar, lalu berkata: “Lanjutkan bacaanmu wahai Shalih, karena aku tidak memotong diriku darinya.” Dan mungkin Shalih berkata: Dan aku melihat sesuatu yang menakjubkan yang tidak kulihat dari seorang pun ahli ibadah, ketika dia mendengar Al-Quran dia membuka mulutnya. Dia berkata: Maka aku kembali membaca: “Dan Kami datangi apa yang telah mereka kerjakan berupa amal, lalu Kami jadikan ia (bagaikan) debu yang beterbangan” (Al-Furqan: 23). Dia berkata: Maka dia berteriak sekali teriak, kemudian terjatuh ke wajahnya dan terbuka sebagian badannya lalu dia mengeluarkan suara seperti banteng, kemudian tenang. Maka kami mendekatinya, kami melihat, ternyata rohnya sudah keluar seperti kayu. Dia berkata: Maka kami keluar lalu kami bertanya apakah dia punya seorang pun? Mereka berkata: “Seorang nenek yang melayaninya datang beberapa hari.” Maka kami mengutus kepadanya, lalu dia datang, maka dia berkata: “Ada apa dengannya?” Kami berkata: “Al-Quran dibacakan kepadanya lalu dia meninggal.” Dia berkata: “Benar demi Allah, siapa yang membaca kepadanya, dan mungkin dia Shalih si pembaca yang membaca kepadanya?” Kami berkata: “Ya, dan apa yang membuatmu tahu siapa Shalih?” Dia berkata: “Aku tidak mengenalnya selain bahwa aku sering mendengarnya berkata: ‘Jika Shalih membaca kepadaku, dia akan membunuhku.'” Kami berkata: “Maka dialah yang membaca kepadanya.” Dia berkata: “Dialah yang membunuh kekasihku.” Maka kami mempersiapkan dan menguburkannya, semoga Allah merahmatimya.”







