PERTANYAAN-PERTANYAAN KEIMANAN ANAK-ANAK

Kamis, 8 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PERTANYAAN ANAK-ANAK SEPUTAR KEIMANAN

Contoh Praktis untuk Menjawab Pertanyaan Anak-Anak Terkait Rukun Iman

Prakata

 

Anak-anak hari ini adalah generasi masa depan, karena itu karya tulis dan audio dalam bidang keimanan, pendidikan, pemikiran, dan psikologi anak memiliki arti yang sangat penting. Namun, kebutuhan akan materi edukasi dalam berbagai jenisnya dalam arah penting ini senantiasa mendesak, yang pada hakikatnya itu adalah masa depan sebuah bangsa. Tidak diragukan lagi, perkembangan cepat yang terjadi di seluruh dunia, termasuk di dalamnya masyarakat Islam kita, terutama media informasi dan media sosial serta terbukanya sebagian besar rumah terhadapnya, menerjemahkan kebutuhan kita untuk menghadirkan materi yang sesuai untuk anak-anak zaman ini. Dari sinilah kami mempersembahkan serial baru berjudul (Serial Anak).

Dalam buku ini, Profesor Abdullah Hamad Al-Rakaf membahas topik mendasar dalam pembinaan keimanan yang benar bagi anak-anak kita. Dalam setengah pertama buku ini, ia menguraikan dasar-dasar dan kaidah pendidikan untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan keimanan anak-anak, kemudian di setengah kedua buku, ia menyajikan contoh praktis jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang paling sering diajukan oleh anak-anak, yang dapat dimanfaatkan oleh para orang tua dalam menjawab pertanyaan anak-anak mereka.

 

 

Pengantar Pertama

Anak bagaikan sebatang pohon, ketika ditanam di tanah yang sesuai, tersedianya udara yang tepat, dirawat dengan nutrisi yang baik, dan pada waktu yang tepat; maka akan menjadi pohon yang tinggi menjulang dan berbuah. Sekadar melahirkan anak mungkin tergolong mudah bagi proses pendidikannya; si anak lahir ke dunia dengan struktur fisik yang telah sempurna, bahkan memberinya asupan gizi pun lebih mudah daripada sekadar melahirkannya. Namun yang terpenting adalah pengasuhan dan bimbingannya.

Sungguh halus dan perhatian Allah bahwa Dia menganugerahi anak sejak kecil dengan kemampuan luar biasa untuk belajar, namun kemampuan itu bergantung pada rasa aman di satu sisi, dan keberadaan pengajar yang penuh perhatian dan profesional di sisi lain. Bilamana kedua hal ini terpenuhi, anak akan mendapatkan level pendidikan dan intelektual yang menakjubkan.

Sejatinya, anak-anak pada dasarnya cerdas, karena mereka adalah ciptaan Allah. Para ilmuwan terus menerus kagum dan terkesima, dengan penemuan mereka yang terus berkembang tentang manusia, dan bekal kemampuan yang luar biasa yang dianugerahkan Allah. Namun keluarga, yang diwakili oleh orang tua, adalah yang berkontribusi dalam meningkatkan kecerdasan tersebut, atau membatasinya, atau bahkan menghambatnya.

Dan jika agama adalah dasar yang membedakan manusia dari binatang, maka Nabi Muhammad ﷺ telah menegaskan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), namun beliau juga menjelaskan bahwa kedua orang tua memiliki peran besar dalam penyimpangan anak, ketika mereka menyimpang dari fitrah. Meskipun ini adalah makna langsung dari hadits tersebut, namun dari sisi lain juga menunjukkan tanggung jawab orang tua dalam menanamkan aspek keagamaan pada anak, yaitu bagi muslim yang menjaga fitrah yang dibawa anak sejak lahir.

Di masa-masa lampau, orang tua adalah satu-satunya sumber pengetahuan anak dalam tahap usia dini, kemudian sekolah datang kemudian sebagai sumber kedua saat anak memasuki sekolah, dengan keluarga tetap menjadi sumber utama hingga anak mencapai tahap remaja, di mana ia mulai mencari sumber-sumber lain sebagai bagian dari proses pembentukan identitasnya. Bahkan di masa remaja, jika sebelumnya telah tercipta suasana keluarga yang penuh kasih sayang dan memberikan rasa aman, serta diperlakukan sesuai dengan tahap perkembangan usianya, hal ini akan membuat anak tetap dekat dengan orang tuanya dan percaya pada informasi yang mereka berikan.

Dengan ledakan teknologi dan media informasi yang terus-menerus dan berkembang, angin perubahan mulai bertiup dengan kencang, dan pasar informasi pun menjadi semacam lelang, dengan banyaknya informasi yang tidak bermutu, yang memiliki pengaruh besar terhadap generasi muda yang terus hidup dalam kehausan akan pengetahuan. Sejumlah pertanyaan di masa kanak-kanak dan remaja mereka terus membayangi mereka tanpa mendapatkan jawaban, bahkan mungkin mereka menghadapi penekanan dari salah satu atau kedua orang tuanya karena sensitifnya pertanyaan-pertanyaan tersebut, atau ketidakmampuan orang tua memberikan jawaban yang meyakinkan, atau lemahnya orang tua dalam menghadapi deretan pertanyaan anaknya.

Namun penekanan itu tidak menghilangkan pertanyaan-pertanyaan yang tertahan, yang akan muncul kembali saat pertama kali menemukan jendela pengetahuan di sepanjang perjalanannya. Ledakan teknologi dan informasi ini membuat cara berinteraksi pun berubah.

Ledakan teknologi dan informasi ini tidak lagi dapat ditangani sebagai pilihan, malah anak-anak kini melampaui orang tua mereka dalam berbagai hal, yang semakin memperumit masalah dan membuat tanggung jawab pendidikan berlipat ganda, serta membutuhkan metode dan keterampilan yang sesuai dengan periode waktu ini.

Pada saat yang sama, mulai muncul model-model yang mengusik masyarakat, dari para pemuda dan remaja putri yang menggunakan identitas palsu, dan bahkan beberapa dari mereka berani mengungkapkan nama asli mereka. Mereka mulai menimbulkan keraguan tentang beberapa aspek dan teks keagamaan, bahkan mungkin meningkat pada taraf provokasi dengan menyatakan telah melepaskan pakaian Islam. Sebagian besar dari mereka, mungkin bukan merupakan keyakinan mendalam, melainkan ekspresi kekesalan terhadap suasana yang mereka alami dan penindasan yang dialami.

Pendidikan keimanan adalah bagian mendasar dalam mendidik anak, bahkan menjadi latar belakang di balik setiap aspek pendidikan agar benar-benar nyata dan efektif. Anak – dengan kecerdasan bawaannya – ketika terus-menerus menerima informasi keagamaan, akan muncul banyak pertanyaan dalam pikirannya. Sangatlah penting – terutama ketika pertanyaan itu mendesak dan bukan sekadar kebetulan – agar orang tua mendengarkannya dengan serius dan berusaha keras menjawabnya. Namun, sudah alamiah bahwa tidak semua orang tua memiliki informasi yang cukup, dan tidak semua orang tua memiliki cara yang meyakinkan. Mereka mungkin tenggelam dalam lautan kekhawatiran mereka, yang membatasi waktu yang seharusnya digunakan untuk mencari dan mempersiapkan jawaban, apalagi pertanyaan anak tidak teratur, tetapi datang secara spontan melalui interaksinya dengan berbagai hal dalam kehidupan, baik melalui penglihatan maupun pendengaran.

Dari sinilah, saudara Abdullah bin Hamad Al-Rakaf telah berbuat baik ketika mempersiapkan buku ini, dengan menyadari betapa besarnya kebutuhan masyarakat akan buku ini; baik dari segi pemahamannya akan pentingnya aspek keimanan, maupun perasaannya akan kesibukan orang tua dan kebutuhan mereka akan karya seperti ini.

Telah diterbitkan sejumlah buku dalam topik ini di perpustakaan-perpustakaan Arab kami, namun sebagian sudah tidak tersedia, yang lain hanya judulnya saja yang berkaitan dengan topik, dan sebagian lagi hanya menekankan beberapa aspek sambil melewatkan aspek lainnya. Dari sinilah, buku ini berusaha untuk memanfaatkan apa yang telah ditulis dalam topik ini, dan berupaya menjadi buku yang komprehensif, serta sebelum dan bersamaan dengan itu, memiliki gaya yang sesuai dengan tahap perkembangan dengan langkah-langkah persuasifnya, mudah diserap dengan gaya yang jelas.

Semoga Allah menambah keberhasilan penulis, dan memberi manfaat melaluinya dan melalui apa yang telah dan akan ditulisnya. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kami Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya sekalian.

 

Dr. Abdul Aziz bin Abdullah Al-Muqbil

Profesor di Universitas Qassim Konsultan Pendidikan dan Keluarga

 

Pengantar Kedua

Sebagian orang menggambarkan anak-anak sebagai tanda tanya yang hidup, karena pada tahap anak-anak mereka didorong oleh keinginan besar untuk mengeksplorasi, mengetahui, dan mempelajari segala sesuatu yang baru.

Sayangnya, para orang tua karena kondisi kehidupan dan upaya menyediakan kehidupan yang layak bagi anak-anak mereka, sering kali disibukkan dan bahkan kadang-kadang:

  • Menghindari pertanyaan mereka
  • Mengabaikan mereka
  • Menjawab dengan kasar
  • Meminta mereka berhenti berbicara

Hal ini terjadi karena:

  • Pertanyaan dianggap sulit
  • Memalukan bagi orang tua
  • Sulit dijawab
  • Membutuhkan jawaban abstrak yang dianggap di luar kemampuan pemahaman anak

Tidak diragukan, hal ini dapat berdampak negatif pada anak-anak dengan merampas mereka dari kesempatan besar. Para ahli dan pakar selalu menasihati agar kita tidak merasa terganggu dengan pertanyaan anak-anak, meskipun mereka terus bertanya sepanjang hari. Karena melalui jawaban yang mereka terima:

  1. Mereka menerima sebagian besar nilai-nilai dan karakter pendidikan
  2. Wawasan mereka berkembang
  3. Kecerdasan mereka meningkat
  4. Kontribusi pada pertumbuhan aspek intelektual mereka

Hanya setengah jam yang disediakan orang tua untuk anak-anak mereka, dengan menjawab pertanyaan sederhana, mendengarkan kekhawatiran kecil mereka, dan memandang mata mereka yang polos, dapat memberikan dukungan psikologis yang membantu mereka dalam tahap kehidupan selanjutnya, membantu membentuk sistem nilai, dan memberikan konsep dan prinsip keagamaan yang membentuk identitas keagamaan mereka.

Pertanyaan anak-anak bukan sekadar pertanyaan yang membutuhkan jawaban untuk memuaskan rasa ingin tahu, tetapi juga mewakili:

  • Rasa dekat
  • Keakraban
  • Pemenuhan kebutuhan pujian
  • Keinginan untuk diikuti
  • Menarik perhatian
  • Penegasan diri

Kita semua tahu bahwa jawaban sederhana yang kita peroleh dari ayah atau ibu bukanlah tujuan utama, dan bukan pula yang menjadi dasar pengetahuan kita. Yang tertanam dalam pikiran kita adalah perhatian, tangan orang tua yang merangkul bahu kita untuk membuat kita merasa aman dan didukung. Yang kita ingat bukanlah jawaban, melainkan senyuman, pujian, perasaan setara dan percaya diri, serta perhatian.

Karena itu, para pendidik menyarankan menggunakan strategi dialog dan diskusi dalam menjawab pertanyaan anak-anak, dengan menjawab pertanyaan anak dengan pertanyaan lain. Strategi ini sederhana namun merupakan salah satu alat komunikasi terpenting, karena melaluinya:

  • Anak mencapai tujuannya
  • Menemukan kebenaran tersembunyi
  • Mencapai keseimbangan pengetahuan
  • Memuaskan rasa ingin tahu dan hasrat untuk mengeksplorasi
  • Menanamkan ruh keakraban dan cinta
  • Menumbuhkan rasa hormat pada diri sendiri dan orang lain

Perhatian orang tua dan orang dewasa dalam menjawab pertanyaan anak-anak melindungi mereka dari jawaban yang menyesatkan dan membingungkan yang mungkin diperoleh dari teman sebaya atau dari menonton program, membaca buku, situs web, dan hal-hal yang tidak sesuai dengan usia dan budaya anak yang berpotensi besar memengaruhi pikiran mereka.

Di sinilah pentingnya buku yang ada di hadapan kita, karena:

  • Berkontribusi dalam memecahkan masalah ini
  • Membahas pertanyaan anak dalam aspek terpenting yang memengaruhi perasaan mereka, yaitu aspek keimanan dan akidah
  • Menyajikan model praktis cara menjawab pertanyaan anak terkait akidah

Buku ini bagaikan kebun yang produktif yang mengambil bunga dari setiap taman, dengan menyajikan:

  • Pembahasan terpenting tentang pendidikan keimanan anak
  • Pertumbuhan keagamaan
  • Pilar-pilar dan fokus pendidikan keimanan
  • Metode pendidikan untuk menanamkan iman
  • Karakteristik pendidik
  • Pertanyaan anak, jenisnya, motivasinya, dan cara menjawabnya
  • Contoh unik jawaban untuk pertanyaan anak tentang akidah

Penulis memastikan jawaban:

  • Mengandung contoh konkret agar anak-anak dapat memahaminya
  • Singkat dan padat agar tidak memberatkan orang tua dan pengasuh anak

Semoga Allah memberikan petunjuk dan kemudahan bagi kita semua.

 

Dr. Muna Rajab Saber

Doktor Psikologi Pendidikan di Universitas Qassim

 

 

Pembukaan

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, penghulu para nabi dan rasul, serta kepada keluarga dan sahabatnya semuanya.

Amma ba’du:

Sesungguhnya tahun-tahun pertama masa kanak-kanak memiliki pentingnya yang sangat besar dalam membentuk pandangan anak terhadap kehidupan. Konsep-konsep yang ditanamkan dalam pikiran anak pada tahap ini adalah fondasi dasar yang membentuk kepribadian manusia dalam segala aspeknya. Konsep-konsep ini harus sesuai dengan kebutuhan psikologis, sosial, dan agama anak. Hal ini penting untuk membangun anak secara menyeluruh, yang akan membantu dia untuk melangkah dengan teguh menjalani kehidupan dan melalui perjalanan hidupnya sebagai individu yang seimbang, produktif, dan berperan aktif.

Melalui apa yang didengarnya dan dilihatnya, anak membangun gambaran pribadinya tentang dunia ini. Segala sesuatu yang terjadi setelah itu hanyalah proses penyesuaian dan pengembangan terhadap pandangan dasar ini sesuai dengan kondisi yang dia alami.

Sumber pengetahuan yang dijadikan rujukan oleh anak pada tahap ini adalah kedua orang tuanya. Oleh karena itu, kesejahteraan anak sangat tergantung pada kualitas pendidikan yang diberikan oleh orang tua. Mereka bertanggung jawab untuk mengajarkan anak-anak mereka. Nabi Muhammad ﷺ bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya.” [[1]] Kewajiban ini mengharuskan adanya perhatian dan usaha yang sungguh-sungguh dalam pendidikan dan pengasuhan.

Karena kita hidup di zaman yang dipenuhi dengan godaan dan keraguan, maka sudah seharusnya para orang tua bersungguh-sungguh dalam mendidik anak-anak mereka dengan penuh keikhlasan, perhatian, dan usaha maksimal. Seringkali, benih yang ditanam oleh orang tua dalam jiwa anak-anak mereka menghasilkan amal jariyah yang terus berlanjut bahkan setelah mereka meninggal, sebagaimana sabda Nabi: “Atau anak shalih yang mendoakan mereka.” [[2]]

Anak-anak termasuk dalam wasiat Allah kepada orang tua, sebagaimana firman-Nya: “Allah memberi wasiat kepada kalian tentang anak-anak kalian” (An-Nisa: 11), yang berarti anak-anak kalian adalah amanah yang dipercayakan kepada kalian. Kalian bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan mereka, baik dalam hal agama maupun dunia, mengajarkan mereka, mendidik mereka, melindungi mereka dari keburukan, dan memerintahkan mereka untuk taat kepada Allah serta menjaga ketakwaan mereka sepanjang waktu. Seperti firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (At-Tahrim: 6).

Anak-anak adalah amanah yang harus dijaga oleh orang tua, dan jika mereka gagal dalam menjaga amanah ini, mereka berhak mendapatkan ancaman dan hukuman. Ini menunjukkan bahwa Allah lebih penyayang terhadap hamba-Nya daripada orang tua kepada anak-anak mereka, karena Allah memberikan wasiat kepada orang tua dengan penuh kasih sayang kepada mereka[[3]].

Oleh karena itu, jika pendidikan anak dalam keluarga dilakukan dengan baik, maka anak tersebut akan mampu berinteraksi dengan dunia luar dengan cara yang optimal. Sebaliknya, ketidakhadiran peran keluarga dalam mendidik anak dan membimbingnya dengan pendidikan iman yang benar akan menyebabkan munculnya anak yang kehilangan berbagai perilaku terpuji[[4]]. Pendidikan bukan hanya sekadar memperbaiki kesalahan, tetapi juga merupakan pengajaran dan pemberian pemahaman tentang prinsip-prinsip agama serta hukum-hukum syariat. Selain itu, pendidikan juga melibatkan berbagai metode untuk membangun dan menguatkan pemahaman ini dalam diri anak, seperti pendidikan melalui teladan, nasehat, cerita, kejadian, dan lain-lain [[5]], dengan tujuan menghasilkan pribadi yang seimbang dan berperan aktif dalam kehidupan serta masyarakat.

Buku ini dibagi menjadi dua bab. Bab pertama berjudul (Pendidikan Iman), yang mencakup banyak dasar dan prinsip yang akan membantu orang tua dalam mendidik anak-anak mereka, insya Allah. Sedangkan bab kedua berjudul (Model Praktis untuk Menjawab Pertanyaan Iman Anak-anak), yang mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan yang paling umum diajukan oleh anak-anak dari berbagai usia, terutama yang berkaitan dengan enam pokok rukun iman, serta penjelasan tentang bagaimana cara menghadapi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Semoga Allah memberikan taufik-Nya, dan Dia-lah yang memberi petunjuk ke jalan yang benar.

Abdullah bin Hamad Ar-Rakaf

 

 

BAB PERTAMA

Tentang Pendidikan Imaniah

Pendidikan adalah kebutuhan manusia yang penting dalam membangun diri manusia, karena ia merupakan alat untuk membentuk anak dan mendasari kehidupan mereka dalam berbagai aspek. Melalui pendidikan, terbentuklah kepribadian anak dalam bidang sosial, ilmiah, psikologis, kesehatan, dan lainnya. Sebelum kita membahas tentang pendidikan imaniah dan menjelaskan pentingnya, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu konsep pendidikan itu sendiri. Apa yang dimaksud dengan pendidikan? Apa yang diinginkan oleh para ahli pendidikan dari pendidikan itu?

 

Konsep Pendidikan:

Pendidikan adalah proses yang bertujuan, berkembang, dan diatur oleh aturan serta hukum yang berupaya untuk membentuk kebiasaan baik melalui bimbingan, pelatihan, pendidikan, penyucian, dan praktik. Pendidikan bertujuan untuk menjaga dan merawat fitrah anak, mengembangkan bakat dan potensi mereka, lalu mengarahkan fitrah dan potensi ini menuju sesuatu yang dapat membawa kebaikan dan kesempurnaan sesuai dengan hakikatnya, yang dapat membantu menyiapkan manusia yang baik untuk membangun bumi[[6]]. Pendidikan adalah alat yang membentuk kepemimpinan di semua bidang kehidupan[[7]].

 

Pentingnya Pendidikan Imaniah:

Iman adalah hakikat terbesar dalam eksistensi dan masalah utama bagi manusia. Iman adalah persimpangan jalan dalam perjalanan hidup manusia di dunia ini:  “Maka ada diantara mereka yang beriman dan ada (pula) yang kafir”. (Al-Baqarah: 253), dan berdasarkan iman, tindakan dan perbuatan mereka dibentuk. Iman juga menjadi pembeda dalam nasib mereka di kehidupan akhirat[[8]]. Salah satu fase penting dalam kehidupan manusia adalah masa kanak-kanak, karena apa yang ditanamkan dalam diri anak pada tahap ini berupa keyakinan, nilai-nilai, kebiasaan, dan sikap sangat sulit — bahkan mungkin mustahil — untuk diubah, apalagi dihapuskan. Dampaknya mungkin akan menyertai individu sepanjang hidupnya[[9]]. Oleh karena itu, pendidikan imaniah pada masa kanak-kanak adalah salah satu fase dasar yang akan membentuk kehidupan manusia sepanjang hidupnya di dunia ini.

Pendidikan pada intinya adalah perhatian. Tidak ada pendidikan tanpa perhatian. Perhatian yang terbaik adalah perhatian yang ditujukan untuk menanamkan keimanan. Kita hidup di era di mana sebagian besar peneliti pendidikan lebih fokus pada aspek intelektual dan fisik, sementara aspek keimanan dan spiritual sering diabaikan. Mereka mengarahkan pemikiran mereka pada pencapaian kesuksesan duniawi berdasarkan ukuran-ukuran material, tanpa mempedulikan kebaikan yang mengarah pada kebahagiaan akhirat. Hal ini membuat pendekatan teoritis kita dalam pendidikan berbeda secara mendasar dengan pendekatan mereka dalam aspek ini[[10]].

Tidak diragukan lagi, pendidikan berbasis keimanan dalam Islam merupakan salah satu pilar utama yang membangun sistem pendidikan di masa kenabian yang suci. Dalam sebuah hadis, Abdullah bin Umar berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang pemimpin adalah pemimpin atas rakyatnya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka; seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka yang berada di bawah tanggung jawabnya.”[[11]] Hal ini menunjukkan besarnya tanggung jawab yang ada di pundak setiap individu, bahwa ia pasti akan ditanya: Apa yang telah diberikan kepada orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya? Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Tidaklah seorang hamba yang Allah berikan kepadanya amanah berupa tanggung jawab, lalu ia tidak menjaganya dengan baik dan tidak memberikan nasihat yang tulus, maka ia tidak akan mencium bau surga.”[[12]] Hadis ini menunjukkan pentingnya memberikan nasihat dengan jujur dan amanah, sehingga nasihat tersebut benar-benar menyeluruh, mencakup semua aspek yang menjadi kepentingan orang yang dinasihati.

Diriwayatkan pula bahwa Abdullah bin Umar berkata: “Didiklah anakmu, karena kamu bertanggung jawab atasnya: Bagaimana kamu mendidiknya? Apa yang telah kamu ajarkan kepadanya? Dia juga bertanggung jawab atas baktinya dan ketaatannya kepadamu.”[[13]] Pernyataan ini menegaskan bahwa tanggung jawab pendidikan pertama-tama ada di pundak orang tua, karena mereka adalah sumber utama dalam pendidikan dan pembinaan anak. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa pendidikan lebih utama daripada sedekah. Dikatakan: “Sungguh, mendidik seorang anak lebih baik daripada bersedekah dengan satu sha’ (ukuran takaran).” [[14]] Juga disebutkan bahwa mengajarkan akhlak yang baik kepada anak lebih utama dari semua pemberian. Diriwayatkan pula: “Tidak ada pemberian terbaik dari seorang ayah kepada anaknya selain akhlak yang baik.”[[15]] Semua riwayat ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap pendidikan dan pembinaan adalah salah satu hal terpenting dan terbesar yang dapat diberikan orang tua kepada anak-anak mereka.

Dulu, kita mendidik anak-anak dalam lingkungan yang relatif tertutup, namun hari ini kita mendidik dalam kondisi di mana pintu dan jendela rumah kita terbuka lebar terhadap dunia, dari ujung ke ujung. Kondisi ini, tentu saja, memiliki sisi positif dan negatif. Namun, jika kita tidak waspada dan tidak memahami apa yang terjadi dengan baik, sisi negatifnya bisa saja mengalahkan sisi positifnya.

Kita dapat memahami karakter perubahan yang terjadi jika kita memiliki keutamaan berupa perhatian untuk mengikuti perkembangan cepat yang ada di sekitar kita dan membacanya melalui perspektif budaya pendidikan yang baik. Perhatian seorang pendidik terhadap hal ini mengharuskan ia berusaha memperkuat nilai-nilai keimanan dalam jiwa anak-anak melalui suasana keluarga yang dibangun bersama-sama oleh seluruh anggota keluarga. Selain itu, hal ini juga dapat dilakukan dengan memilih taman kanak-kanak dan sekolah yang memperhatikan aspek tersebut.

Kelalaian dalam memahami apa yang terjadi di sekitar kita akan menyebabkan kerugian yang tidak akan pernah bisa digantikan[[16]]. Namun, melalui kerja pendidikan dan kesabaran yang berkesinambungan, kita akan memperoleh hasil sebaik mungkin – insya Allah. Sebab, pendidikan tidak cukup hanya dengan arahan yang sesaat, melainkan membutuhkan pemantauan dan bimbingan yang berkelanjutan[[17]].

 

Pendidikan Berbasis Keimanan yang Darurat:

Anak-anak zaman sekarang hidup dalam masa perubahan psikologis dan budaya yang luar biasa, disertai keterbukaan yang sangat luas. Daya tarik yang mengelilingi mereka dari segala arah terlalu berbahaya untuk diremehkan. Kita sedang menjalankan tugas paling sulit dalam kehidupan manusia, yaitu pendidikan[[18]].

Pentingnya pendidikan berbasis keimanan bagi anak-anak, serta kebutuhan umat terhadap hal ini, terlihat dari perhatian para nabi dan para ulama pembaharu setelah mereka terhadap pengajaran keimanan, khususnya kepada anak-anak. Sebagai contoh, Allah menceritakan seruan Nabi Nuh kepada anaknya dan peringatannya agar tidak bergabung dengan orang-orang sesat: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu bersama orang-orang kafir.” (Hud: 42).

Allah juga menyebutkan pesan Nabi Ibrahim kepada anak-anaknya, yang diikuti oleh Nabi Ya’qub: “Dan Ibrahim telah mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): ‘Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untuk kalian, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan memeluk Islam.'” (Al-Baqarah: 132).

Dalam nasihat pertama Luqman kepada anaknya, ia memperingatkan tentang bahaya syirik: “Hai anakku! Janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Luqman: 13).

Demikian pula Nabi Muhammad ﷺ, dalam bimbingannya kepada Abdullah bin Abbas, mengajarkan nilai-nilai keimanan dengan berkata: “Wahai anak muda, aku akan mengajarkanmu beberapa kata: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau mendapati-Nya di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah. Jika kamu memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah.”[[19]] Semua ini menunjukkan betapa pentingnya perhatian terhadap pendidikan berbasis keimanan[[20]].

Salah satu yang menunjukkan pentingnya pendidikan adalah kesadaran bahwa pengajaran keimanan merupakan puncak dan dasar dari segala ilmu. Jika seorang anak mempelajari keimanan dan ditanamkan dalam hatinya sesuai dengan metode kenabian, maka ibadah dan cabang-cabang agama lainnya akan mengikuti dengan sendirinya. Perhatian terhadap hal ini menjadi sebab datangnya taufik dan hidayah, insya Allah, karena banyak hal yang terkait dengan iman kepada Allah dan hari akhir. Jika keimanan hadir dengan kuat, maka ia akan mencegah seseorang dari menempuh jalan yang dilarang.

Pentingnya pendidikan iman juga terlihat dari fenomena di mana sebagian orang tua mengabaikan pengajaran keimanan kepada anak-anak mereka dengan alasan usia mereka masih kecil. Ketika anak-anak itu tumbuh dewasa, semua itu sulit untuk diajarkan. Siapa saja yang mengabaikan pengajaran kepada anak-anaknya tentang hal-hal yang bermanfaat bagi mereka dan membiarkan mereka tanpa arah, sungguh telah berbuat kesalahan yang besar. Kebanyakan kerusakan pada anak-anak terjadi karena kelalaian orang tua dalam mengajarkan mereka kewajiban agama dan sunnah-sunnahnya. Anak-anak yang diabaikan ketika kecil menjadi tidak bermanfaat bagi diri anak sendiri, dan mereka juga tidak memberikan manfaat kepada orang tua mereka ketika dewasa[[21]].

Salah satu alasan pentingnya pendidikan berbasis keimanan adalah maraknya program yang ditujukan kepada anak-anak melalui media visual, audio, maupun cetak, di mana banyak dari program tersebut mempromosikan konsep dan pandangan yang keliru dalam jiwa anak-anak. Oleh karena itu, pendidikan berbasis keimanan menjadi keharusan untuk menghadapi arus media yang tak terarah ini.

Pendidikan keimanan adalah bentuk ikhtiar yang sah sesuai syariat. Ia merupakan tindakan pencegahan yang melindungi anak dari banyak masalah pendidikan sebelum terjadi, sekaligus menjadi solusi jika masalah itu muncul. Pendidikan ini juga merupakan hak anak atas orang tua mereka, menjadi sebab kebahagiaan di dunia, dan jalan keselamatan di akhirat, insya Allah. Pendidikan keimanan adalah alasan perbedaan derajat manusia pada hari ini[[22]].

Selain itu, pendidikan berbasis keimanan memberikan stabilitas spiritual dan keamanan psikologis bagi anak-anak, karena ia menjawab pertanyaan-pertanyaan besar dalam hidup. Pendidikan ini bersumber dari petunjuk Al-Qur’an dan pancaran cahaya sunnah Rasulullah ﷺ, yang memiliki keunggulan berupa kemurnian sumber, kejelasan metode, dan tujuan yang rabbani (bersifat ilahiah). Ditambah lagi, pendidikan ini memahami kebutuhan anak, menyadari realitas hidupnya dan tantangan dunia pendidikan[[23]], sehingga mampu mencapai keseimbangan dan kesempurnaan dalam membentuk kepribadian anak.

Tujuan Pendidikan Keimanan:

Tujuan umum pendidikan adalah mewujudkan pengabdian yang sebenar-benarnya kepada Allah. Tujuan ini memerlukan pencapaian berbagai tujuan cabang, di antaranya:

Pertama: Pembinaan akidah yang benar bagi anak-anak masyarakat muslim untuk mempersiapkan manusia yang saleh yang menyembah Allah dengan petunjuk dan pemahaman yang jelas.

Kedua: Individu dalam masyarakat muslim hendaknya bermoral mulia, meneladani Rasulullah, yang Allah memujinya dengan firman-Nya: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Al-Qalam: 4), dan sesuai dengan sabdanya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”[[24]].

Ketiga: Mengembangkan rasa kebersamaan di antara anggota masyarakat muslim, sehingga tertanam dalam diri individu perasaan memiliki terhadap komunitasnya, memperhatikan persoalan dan kepentingannya, serta terikat dengan saudara-saudaranya. Berdasarkan firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara” (Al-Hujurat: 10), dan sabda Nabi: “Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya bagaikan bangunan yang saling menguatkan”[[25]], serta sabdanya: “Engkau akan melihat kaum mukmin dalam hal saling mengasihi, saling mencintai, dan saling menyayangi, bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan demam dan tidak tidur”[[26]]. Dengan demikian, ikatan persaudaraan iman yang sejati di antara anak-anak bangsa muslim semakin diperkuat.

Keempat: Membentuk individu yang seimbang secara psikologis dan emosional; yang membantu membentuk seorang individu yang aktif dan anggota masyarakat yang bermanfaat, yang mampu menjalankan perannya dan kewajibannya dalam memakmurkan bumi dan mengeksploitasi kekayaannya, serta melaksanakan tugas-tugas kekhalifahan di bumi, yang Allah jadikan sebagai khalifah di dalamnya[[27]]. Dari sini tampak kebutuhan untuk memulai dengan pendidikan iman – dalam pengertiannya yang benar – yang terus-menerus bekerja untuk menghasilkan kekuatan spiritual, mengembangkan motivasi internal, memperkuat dorongan dari dalam, dan menanamkan semangat dalam perkataan dan perbuatan, sehingga selanjutnya memudahkan seseorang untuk melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan guna mencapai tujuan pendidikan psikologis dan emosional[[28]].

 

Landasan Pendidikan:

Terdapat sejumlah landasan yang menjadi tumpuan bangunan pendidikan, yang dapat dibatasi dalam dua landasan utama, pertama: landasan pengetahuan, dan kedua: landasan praktis.

Landasan pengetahuan dapat dibagi menjadi dua bagian: Ilmu dan Iman.

Bagian Pertama: Ilmu; yang mewakili kunci terbesar untuk pemahaman dan membangun motivasi perilaku, Allah berfirman – yang artinya: “Katakanlah: Apakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat menerima pelajaran.” (Az-Zumar: 9), dan Dia ﷺ sangat memperhatikan untuk mengajarkan kepada para sahabatnya ilmu yang bermanfaat, dan mengajarkan mereka untuk berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat, dengan berkata dalam doanya yang diajarkan kepada mereka: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat dan hati yang tidak khusyuk.”[[29]]

Bagian Kedua: Iman; yaitu keyakinan yang tertanam dalam hati anak-anak melalui enam rukun iman, yang merupakan makna komprehensif yang mencakup kehidupan dan apa yang ada di luar kehidupan, dan Nabi sangat memperhatikan untuk menanamkan akidah iman yang lurus dan benar dalam hati anak-anak umatnya.

 

Landasan Praktis:

Dapat dibagi menjadi tiga bagian; Ibadah, Penerapan, dan Akhlak:

Bagian Pertama: Ibadah[[30]]; pendidikan yang produktif membutuhkan pembentukan internal yang jujur dan sifat-sifat pribadi yang unggul, yang mampu membangun diri anak-anak, sehingga mereka menghadapi kehidupan dengan ketulusan dan selalu terhubung dengan Tuhannya, yang pada gilirannya akan meluruskan perilaku dan pemikiran mereka, bahkan membuat harapan dan cita-cita mereka menjadi lurus.

Beginilah Nabi Muhammad ﷺ berkata kepada Muadz: “Demi Allah, aku benar-benar mencintaimu, maka janganlah engkau lupa untuk membaca doa di akhir setiap salat: ‘Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya’.”[[31]] Beliau mengajarkannya bahwa ibadah adalah anugerah dari-Nya – Yang Maha Suci, dan bukan sekadar upaya manusia semata, melainkan juga merupakan petunjuk ilahi. Beliau juga mengajarkannya bahwa ibadah selalu membutuhkan pertolongan Allah, sehingga tertanam dalam hatinya bahwa seorang mukmin ketika beribadah kepada Tuhannya, hendaknya meminta pertolongan dan bertawakal kepada-Nya dalam beribadah; karena Dialah – Yang Maha Suci – yang memberi taufik untuk taat kepada-Nya.

Bagian Kedua: Penerapan; tidak ada ilmu tanpa amal, dan amal adalah sarana perbedaan antara manusia di akhirat, sebagaimana firman Allah: “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Az-Zalzalah: 7-8)

Bagian Ketiga: Akhlak; metode Islam dalam pendidikan adalah membangun manusia yang memiliki akhlak mulia, hingga Nabi sendiri melihat bahwa seluruh misinya terwujud dalam satu makna – yaitu kebaikan akhlak, dan pendidikan untuk mencapainya. Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik,”[[32]] dan mendorong mereka untuk berakhlak mulia dengan sabdanya: “Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat denganku di hari Kiamat adalah mereka yang paling baik akhlaknya.”[[33]] Akhlak adalah buah dari pendidikan iman yang nyata[[34]].

 

Contoh-Contoh Pendidikan:

Memberikan contoh praktis adalah salah satu hal terpenting yang membantu meneguhkan prinsip dan nilai. Berikut adalah ringkasan beberapa contoh yang menunjukkan bagaimana metode Nabi dan para sahabatnya dalam membentuk bangunan iman anak-anak[[35]]:

  1. Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi biasa mendo’akan kesehatan Hasan dan Husain, dan berkata: “Sesungguhnya ayah kalian (Ibrahim) pernah mendo’akan (perlindungan) dengan ini untuk Ismail dan Ishaq: ‘Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan, binatang berbisa, dan dari setiap mata yang jahat’.”[[36]]
  2. Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah bersabda: “Tidak ada seorang bayi pun yang dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”[[37]]
  3. Dari Umar bin Abu Salamah, dia berkata: “Aku adalah seorang anak yang berada dalam asuhan Rasulullah, dan tanganku biasa bergerak-gerak (tidak menentu) di atas piring makanan. Maka Rasulullah bersabda kepadaku: ‘Wahai anak muda, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari apa yang ada di dekatmu’.”[[38]]
  4. Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Aku berada di belakang Rasulullah suatu hari, maka beliau bersabda: ‘Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya Engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah bahwa seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberimu manfaat, mereka tidak akan memberimu manfaat kecuali sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu’.”[[39]]
  5. Dari Hasan bin Ali, dia berkata: Rasulullah mengajariku beberapa kalimat yang aku ucapkan dalam qunut witir: “Ya Allah, berilah aku petunjuk bersama orang-orang yang Engkau beri petunjuk, berilah aku kesehatan bersama orang-orang yang Engkau beri kesehatan, lindungilah aku bersama orang-orang yang Engkau lindungi, berkahilah aku pada apa yang Engkau berikan, dan lindungilah aku dari keburukan apa yang Engkau tetapkan; sesungguhnya Engkau yang menetapkan dan tidak ada yang menetapkan atas-Mu, sesungguhnya tidak akan hina orang yang Engkau lindungi, Maha Suci Engkau ya Tuhan kami dan Maha Tinggi.”[[40]]

 

  1. Dari Anas bin Malik, dia berkata: Rasulullah bersabda kepadaku: “Wahai anakku, apabila engkau masuk menemui keluargamu, ucapkanlah salam, niscaya Allah akan mendatangkan berkah bagimu dan keluargamu.”[[41]]
  2. Dari Jundub al-Bajali, dia berkata: “Kami bersama Nabi, dan kami adalah pemuda-pemuda yang masih muda, kami belajar iman sebelum kami belajar Al-Qur’an, kemudian kami belajar Al-Qur’an dan kami pun bertambah imannya.”[[42]]
  3. Ummu Sulaim ar-Rumaisha, ibu Anas bin Malik – semoga Allah meridhai mereka – masuk Islam ketika Anas masih kecil dan belum disapih. Dia mengajarkan Anas: “Katakan: Tiada Tuhan selain Allah, katakan: Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah,” maka Anas pun melakukannya[[43]].
  4. Dari Ibrahim at-Taimi, dia berkata: Mereka suka mengajarkan kepada anak kecil yang baru mulai berbicara untuk mengucapkan: “Tiada Tuhan selain Allah” sebanyak tujuh kali, sehingga itu menjadi hal pertama yang diucapkannya[[44]].

 

 

Pendidikan Iman untuk Anak

Salah satu topik terpenting dalam pendidikan dari segi isinya adalah pendidikan iman untuk anak; karena hal ini dibangun di atas pembentukan dan pembiasaan kebiasaan baik, meneguhkan akidah yang benar di kedalaman pikiran dan hati serta memperkuatnya, dan mengarahkan pada akhlak mulia serta mengaktifkannya dalam segala tindakannya[[45]]. Pada tahap usia ini, anak membangun pandangannya tentang dunia, dan melaluinya pula dia membangun perilaku, akhlak, dan interaksinya. Sesuai dengan terwujudnya hal tersebut dalam realitasnya, akan menjadi kebahagiaan di dunia dan ukuran keberhasilannya di akhirat.

Mengingat ini merupakan tugas orangtua, Al-Qur’an telah memperingatkan tentang hal ini, sebagaimana firman Allah: “Allah memberikan wasiat kepadamu tentang anak-anakmu” (An-Nisa: 11). Bahkan Nabi dengan tegas menegaskan hal ini dengan sabdanya: “Tidak ada seorang bayi pun yang dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”[[46]]

Hadits ini menunjukkan beberapa hal:

  1. Iman adalah fitrah dalam diri manusia, dan mereka yang menyimpang darinya hanyalah karena kerusakan yang ada pada manusia.
  2. Hadits ini menjelaskan tanggung jawab dan peran besar orangtua dalam pendidikan.
  3. Hadits ini mengisyaratkan pengaruh lingkungan dalam pendidikan[[47]].

Dianara anugerah Allah Yang Maha Suci kepada manusia adalah Dia melapangkan hati mereka pada awal pertumbuhannya untuk menerima iman tanpa memerlukan argumentasi dan bukti[[48]]. Oleh karena itu, orangtua harus:

  • Melaksanakan tugas pencegahan dengan sebaik-baiknya.
  • Mengembangkan fitrah ini.
  • Mendidik anak-anak mereka di atas agama yang benar yang dibangun atas nash Al-Qur’an dan Sunnah.

Mereka tidak boleh hanya mengandalkan pendidikan lingkungan yang mengambil konsep-konsepnya dari sekitar. Sebab, Islam yang bersifat meniru tidak akan melindungi dari penyimpangan di era keterbukaan dan mendekatnya dunia, dan tidak akan mencegah dari lebur dan melemahnya kepribadian.

Hati anak yang suci bagaikan permata kosong dari setiap ukiran dan gambaran, dan ia siap menerima setiap ukiran. Jika dibiasakan pada kebaikan dan diajarkan padanya, ia akan tumbuh di atasnya dan bahagia di dunia dan akhirat, dan orangtuanya serta setiap guru dan pendidiknya akan turut mendapatkan pahalanya. Namun jika dibiasakan pada keburukan dan diabaikan seperti mengabaikan binatang, ia akan sengsara dan binasa, dan dosanya akan berada di leher mereka yang bertanggung jawab atasnya[[49]]; karena pembentukan yang paling tepat adalah pada masa kecil. Adapun jika anak dibiarkan dan dibiarkan berkembang sesuai tabiatnya, maka akan sulit mengembalikannya[[50]].

Anak yang tumbuh dalam keluarga yang kuat imannya dan komitmen pada ajaran Islam yang benar akan meniru orangtuanya dalam segala hal, dan membentuk konsep-konsep pribadinya melalui pandangan orangtuanya. Kita dapati ada yang menyampaikan konsep-konsep syari’ah dengan cara tegas dan keras yang justru menghasilkan dampak sebaliknya pada anak-anak. Demikian pula, ketika anak tumbuh dan mendapati orangtuanya tidak komitmen pada ajaran syari’ah, maka akan sulit baginya tertarik pada agama di masa mendatang; karena di masa kecilnya ia tidak melihat jejak agama, sehingga tidak terbentuk padanya kecenderungan-kecenderungan religius[[51]].

 

Perkembangan Religius pada Anak

Agama pada awalnya dimulai dalam pikiran anak dengan satu gagasan – yaitu gagasan tentang keberadaan Allah – kemudian segera muncul gagasan-gagasan lain di sampingnya, seperti gagasan penciptaan, akhirat, malaikat, dan setan. Ciri-ciri perkembangan religius pada masa kanak-kanak ditandai dengan empat karakteristik:

  1. Realisme:

Di mana anak memberikan realitas yang dapat diindera pada konsep-konsep keagamaannya. Seiring pertumbuhannya, ia akan berangsur-angsur mengabstraksikan konsep tersebut, memahami kebenaran, dan menempatkannya pada tempatnya yang tepat pada tahap remaja.

  1. Sifat Formal (Bentuk):

Di mana anak kecil meniru orang dewasa dalam ibadah dan doa mereka secara bentuk, tanpa memahami maknanya atau merasakan keluhuran spiritualnya.

Hal yang patut dilakukan oleh pendidik adalah memanfaatkan kecenderungan anak pada tahap ini untuk membiasakan mereka dengan:

  • Rukun Islam dan akhlaknya
  • Rukun Iman dan pengaruhnya
  1. Manfaat:

Di mana anak kecil menyadari kesenangan orangtua, guru, dan orang-orang di sekitarnya karena melakukan beberapa ibadah, sehingga melakukannya untuk mendapatkan cinta mereka, sebagai sarana mencapai beberapa keuntungan, atau untuk menghindari hukuman yang mungkin menimpanya.

  1. Fanatisme:

Di mana anak bersikap fanatik terhadap agamanya secara emosional, didorong oleh kebutuhan bawaan dan nalmiahnya akan rasa memiliki dan kesetiaan. Dan bentuk tertinggi dari rasa memiliki adalah perwalian Allah[[52]].

Dari penjelasan di atas, kita memahami pentingnya fokus pada pendidikan iman, dan bahwa orangtua serta pendidik harus bersungguh-sungguh dalam mendekatkan iman kepada generasi muda – khususnya di zaman ini yang penuh dengan godaan, pengalih perhatian, dan hiburan yang beragam metodanya.

Berikut adalah beberapa hal penting yang perlu dilakukan oleh orangtua:

Pertama: Menghidupkan fitrah dalam diri anak, yang tercermin dalam mengajarkan anak kalimat tauhid.

Kedua: Memperkuat iman melalui enam rukun iman, yang dibangun di atas fondasi mencintai Allah, bertawakkal kepada Allah, mencintai Rasul-Nya, dan mengajarkan Al-Qur’an[[53]].

Keberadaan fitrah keagamaan yang terpendam dalam jiwa merupakan hal yang membantu orangtua dalam tugas pendidikan mereka. Fitrah merujuk pada naluri beragama, dan naluri ini – seperti naluri-naluri lainnya – tidak dapat diubah atau diganti, melainkan dapat diarahkan dan dikembangkan.

Naluri ini dapat digunakan dalam berbagai arah yang berbeda dari tujuan asalnya, sementara Islam mengajak untuk mengarahkan fitrah kepada tujuan di mana ia diciptakan[[54]].

Di antara hal-hal terpenting yang harus ditanamkan pada anak muslim adalah enam rukun iman, dan yang terpenting adalah iman kepada Allah. Iman kepada Allah dan cinta kepadanya adalah yang akan menghasilkan rukun iman lainnya setelah tercapai. Allah menjadikan cinta-Nya sebagai salah satu kendali terkuat untuk beriman kepada-Nya dan tunduk kepada-Nya Yang Maha Suci.

Artinya, cinta kepada-Nya adalah keharusan untuk taat dan memusuhi musuh-musuh-Nya. Allah mewajibkan cinta ini melebihi segala sesuatu yang dicintai di dunia, sebagaimana firman-Nya: ‘Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara, istri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan keruntuhan, dan rumah-rumah yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah, Rasul-Nya, dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.’ (QS. At-Taubah: 24)

Dan Allah menjadikan cinta kepada-Nya sebagai sifat pertama hamba-hamba yang diridhai-Nya, sebagaimana firman-Nya: ‘Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin, yang keras terhadap orang-orang kafir, yang berjuang di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang mencela.’ (QS. Al-Maidah: 54)

Allah menjelaskan bahwa tauhid yang murni hanya terwujud dengan mengkhususkan cinta mutlak hanya kepada Allah, sebagaimana firman-Nya: ‘Dan di antara manusia ada yang menyembah selain Allah dengan tandingan-tandingan yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, mereka lebih kuat cintanya kepada Allah.’ (QS. Al-Baqarah: 165)

Ibadah yang Allah ciptakan kita untuk mengerjakannya adalah tingkatan tertinggi dari cinta. Hakikat tauhid dan ruhnya adalah keikhlasan mencintai Allah semata, dan ini adalah asal dari ketundukan, bahkan ini adalah hakikat ibadah. Tauhid tidak sempurna hingga cinta seorang hamba kepada Tuhannya menjadi lengkap dan mengungguli serta menguasai segala kecintaan lainnya, sehingga semua kecintaan hamba menjadi pengikut dari kecintaan kepada Allah yang dengannya hamba mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungannya[[55]].

Cinta ini yang dibangun di atas iman adalah salah satu sarana terbesar untuk membentuk perilaku anak-anak dan meneguhkan mereka pada agama Islam serta ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang ditanamkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya di dalam hatinya, niscaya akan teguh dalam akidah, ibadah, dan akhlaknya. Meskipun dia menyimpang dalam beberapa masalah, atau lengah atau lupa, namun cinta yang ada di dalam batinnya pasti akan mengembalikannya ke jalan kebenaran dengan izin Allah Ta’ala[[56]]. Hal ini karena cinta memiliki dorongan internal, bukan sekadar eksternal.

Pandangan yang dihadirkan oleh akidah Islam tentang eksistensi memiliki keistimewaan dalam kesesuaiannya dengan fitrah dan tabiat manusia, serta konsistensinya dengan akal sehat tanpa kontradiksi[[57]]. Akidah ini juga memiliki keunggulan yang tidak ditemukan dalam kepercayaan lain, di mana sistem pemikiran, keyakinan, nilai, dan hukum telah terintegrasi secara sempurna.

Dari segi sistemnya sebagai kerangka berpikir dan keyakinan, ia memberikan penjelasan komprehensif tentang asal-usul alam semesta, nasibnya, dan kebenaran yang ada di dalamnya dan di baliknya. Ia juga menjelaskan prinsip kehidupan manusia dan akhirnya, kemudian menentukan tujuan penciptaan alam semesta dan tujuan penciptaan manusia untuk mencapainya.

Dengan demikian, ia menjawab pertanyaan-pertanyaan eksistensial manusia yang mesti ditanyakan karena sifat intelektualnya. Manusia tidak akan merasa tentram dalam kehidupan ini kecuali jika menemukan jawaban yang memadai dan meyakinkan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dan merasa tenang dengannya. Jika tidak, dia akan hidup dalam kebingunaan abadi dan kegelisahan konstan karena tidak menemukan makna dalam kehidupan ini[[58]].

 

Buah-Buah Pendidikan Keimanan:

Terdapat serangkaian buah yang dipetik oleh mereka yang menerima pendidikan berdasarkan iman, di antaranya:

Pertama: Prakarsa dan ketangkasan dalam melakukan kebaikan; dia mencari setiap pintu yang mendekatkannya pada ridha dan rahmat Allah.

Kedua: Menguatkan kontrol internal; iman yang hidup adalah yang mengatur perilaku manusia.

Ketiga: Zuhud (tidak terikat) pada dunia; hatinya tidak terikat padanya sehingga dunia bukan menjadi pusat perhatian dan landasan interaksinya.

Keempat: Dukungan Ilahi; di mana Allah mengurus urusan hamba-Nya yang beriman dengan cara yang dapat mewujudkan kemaslahatan sejatinya dan membawanya kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Kelima: Kerinduan kepada Allah; semakin bertambah iman, semakin bertambah pula keyakinan seorang hamba kepada Allah dan keinginannya pada-Nya, serta terlepas dari makhluk-Nya.

Keenam: Hilangnya gejala negatif dan berkurangnya masalah antarindividu; semakin bertambah iman dalam hati, semakin berkurang pengaruh hawa nafsu dan semakin kuatnya kehendak yang mendorong pemiliknya menuju kemuliaan akhlak.

Ketujuh: Pengaruh positif terhadap orang lain; mukmin yang kuat berupaya memperbaiki diri dan memperbaiki lingkungannya.

Kedelapan: Perasaan ketenangan dan ketentraman; semakin mantap keyakinan iman dalam hati hamba, semakin hilang pula ketakutan yang menakuti dari diri manusia[[59]].

 

Pilar-Pilar Pendidikan Keimanan:

Kewajiban para orang tua adalah mengajarkan anak-anak mereka hal-hal yang mengakarkan iman, memperbaiki perilaku dan akhlak, serta memperkuat rasa memiliki terhadap umat Muhammad. Di antara hal-hal yang termasuk dalam pengertian ini adalah:

  1. Mengajarkan enam rukun iman, dan keyakinan menyeluruh akan komprehensivitas syariat serta kesesuaiannya dengan fitrah dan tabiat manusia. Dengan memperhatikan untuk menghindari pengajaran formal yang kehilangan ruh iman, dan berhati-hati agar dilakukan dengan cara praktis yang menghidupkan hati, menggerakkan pikiran, dan mendidik perilaku.
  2. Mendidik anak-anak untuk mencintai Nabi Muhammad, keluarganya, istri-istrinya, dan para sahabatnya secara keseluruhan, tanpa berlebihan atau dikurangi.
  3. Mendidik anak-anak untuk mengagungkan agama, simbol-simbolnya, dan manifestasinya, serta memperingatkan mereka dari meremehkan atau menghinakannya[[60]].
  4. Mengajarkan bahwa iman itu wajib dan tidak akan sempurna kecuali dengan amal saleh, dan bahwa iman bertambah dengan ketaatan serta berkurang dengan kemaksiatan. Pendidikan iman yang benar sangat diperlukan agar menghasilkan buah dalam akhlak, perilaku, dan ibadah[[61]].
  5. Menanamkan keyakinan akan hari akhir dalam jiwa mereka dan mengagungkannya, serta menghubungkan balasan di akhirat dengan perbuatan yang dilakukan manusia di dunia. Barang siapa berbuat baik, maka baginya surga, dan barang siapa berbuat buruk, maka baginya neraka.
  6. Menekankan pengawasan Allah Ta’ala terhadap hamba-hamba-Nya, bahwa Dia melihat dan mendengar mereka, dan tidak ada satu pun keadaan mereka yang luput dari-Nya.
  7. Memperdalam perasaan bahwa mereka berada di atas kebenaran, yang akan mendorong mereka untuk memegang agamanya dengan penuh kemuliaan dan kekuatan[[62]].

 

 

Metode Pendidikan untuk Menanamkan Iman:

Metode ini dapat dibagi menjadi dua jalur, pertama sebelum usia tamyiz (usia kemampuan membedakan)[[63]], dan kedua setelahnya.

Hal-hal yang membantu menanamkan iman sebelum usia tamyiz:

  1. Memberikan perhatian pada nama-nama yang mengandung unsur “abdi/hamba” yang didengarnya di lingkungannya – seperti Abdullah, Abdur Rahman, Abdul Karim – dengan mencoba menjelaskan maknanya secara global. Memperhatikan agar dia mendengar adzan, mengajarkannya dzikir harian dan doa-doa, menjaga dan menyebutkannya di hadapannya[[64]], mengingatkannya akan nikmat Allah Ta’ala padanya, khususnya saat makan – karena sering terulang – dengan mengajarkannya membaca basmalah di awal makan dan memuji Allah di akhirnya.
  2. Menghafalkannya beberapa surat Al-Qur’an sambil menjelaskan bahwa ini adalah firman Allah Ta’ala. Yang pertama diajarkan adalah surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas, dan Al-Mu’awwidzatain (surat An-Nas dan Al-Falaq). Selain itu, dapat pula menghafalkannya beberapa puisi dan nasyid yang mengandung makna-makna iman yang benar untuk diajarkan kepada anak[[65]].
  3. Perlu diperhatikan untuk menyebut nama Allah kepada anak melalui momen-momen yang menyenangkan dan membahagiakan. Harus dihindari mengaitkan penyebutan nama-Nya dengan kekerasan dan siksa pada masa kanak-kanak. Jangan terlalu sering membicarakan murka Allah, siksa-Nya, dan neraka-Nya.
  4. Mengarahkan anak kepada keindahan dalam penciptaan, kekuatan, dan keteraturan; agar dia merasakan betapa besarnya keagungan Sang Pencipta dan kemampuan-Nya, dan mencintai Allah Ta’ala karena Dia mencintainya dan menundukkan makhluk untuknya.
  5. Melatih anak pada adab perilaku, membiasakan rasa kasih sayang, kerja sama, adab berbicara dan mendengarkan, serta menanamkan teladan Islami melalui keteladanan yang baik. Hal ini akan membuat anak hidup dalam suasana yang dijiwai kebajikan, sehingga dia akan menyerap kebaikan dari lingkungannya[[66]].

Adapun setelah usia tamyiz, ditambahkan beberapa metode lain yang melibatkan perenungan dan pemikiran, di antaranya:

  1. Mengajarkan anak tentang kebesaran, ketelitian, kekuatan, dan kesempurnaan ciptaan alam semesta; agar dia mengagungkan dan memuliakan Allah Yang Maha Suci. Sebagaimana firman Allah: “Ciptaan Allah yang memperindah segala sesuatu” (QS. An-Naml: 88).
  2. Mengingatkan tentang hikmah Allah Ta’ala dalam perbuatan dan ciptaan-Nya; agar dia mencintai dan memuji Allah, seperti hikmah diciptakannya siang dan malam, matahari dan bulan, indra pendengaran, penglihatan, dan lidah, serta lainnya. Allah berfirman: “Apakah mereka tidak memikirkan tentang diri mereka sendiri? Allah tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya kecuali dengan tujuan yang benar” (QS. Ar-Rum: 8)[[67]].
  3. Memanfaatkan kesempatan yang tepat untuk mengarahkan anak melalui peristiwa yang sedang berlangsung dengan cara bijak yang membuatnya mencintai kebaikan dan membenci kejahatan. Misalnya:
  • Jika dia sakit, hubungkan hatinya dengan Allah, ajarkan berdoa, mengajarkan berbaik sangka, dan pengobatan spiritual.
  • Saat memberinya buah atau permen yang diinginkannya, minta dia bersyukur dan beritahu bahwa itu adalah nikmat dari Allah.
  • Orang tua harus menghindari mengajarkan konsep keimanan saat peristiwa menyakitkan bagi anak, karena dia tidak memiliki kemampuan dan kesadaran penuh untuk memahaminya[[68]].
  1. Perlu adanya praktik langsung untuk membiasakan anak-anak pada kebiasaan Islam yang kita cita-citakan. Oleh karena itu, seorang pendidik harus menggambarkan teladan yang saleh melalui perilakunya. Menghubungkan agama dan nilai-nilai moral melalui perilaku dan interaksi harian akan menjadikan pendidikan kita benar-benar tulus dan tidak sekadar teoritis[[69]].
  2. Memanfaatkan cerita-cerita yang bertujuan untuk melengkapi pemahaman anak dengan hal-hal yang diinginkan dan menjauhkan dari yang lainnya. Cerita hendaknya disampaikan dengan cara yang dramatis dan memengaruhi, dengan menonjolkan arah dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Melalui nyanyian pun dapat menanamkan cita-cita luhur dan akhlak mulia.

Dapat pula memperkenalkan Nabi kepada anak melalui biografinya agar mencintai dan mentaatinya, terutama yang berkaitan dengan masa kecilnya, sikap beliau terhadap anak-anak dan kelembutan beliau, menggambarkan penampilannya, menyebutkan sikap moral mulianya, serta cerita-cerita para sahabat, istri-istri beliau, dan keluarga beliau yang mendapat ridha Allah semuanya[[70]].

  1. Bersikap moderat dalam pendidikan agama anak-anak, dan tidak membebani mereka di luar kemampuan mereka. Jangan lupa bahwa bermain dan kesenangan adalah dunia asli anak, sehingga jangan memberatkan mereka dengan hal-hal yang bertentangan dengan perkembangan alamiah dan psikologisnya dengan memberikan beban yang berat dan banyak larangan yang merampas kebutuhan dasar masa kanak-kanak.

Berlebihan dalam kritik biasanya akan menghasilkan sikap negatif dan perasaan bersalah, terutama pada anak pertama di mana orang tua sering terlalu antusias ingin menjadikannya sosok yang sempurna.

  1. Hendaknya anak dibiarkan secara alami tanpa campur tangan terus-menerus dari orang dewasa, dengan menyediakan aktivitas yang memungkinkannya mengeksplorasi sendiri sesuai kemampuan dan pemahamannya terhadap lingkungan. Hal ini akan mengembangkan rasa ingin tahunya dan meningkatkan potensinya.
  2. Memberikan dorongan kepada anak memberi pengaruh baik pada jiwanya dan mendorongnya untuk mengerahkan segenap upaya melakukan perilaku yang diinginkan. Semakin pengendalian dan pengarahan perilaku anak didasarkan pada cinta dan penghargaan, semakin akan menghasilkan pemerolehan perilaku yang baik dengan cara lebih efektif. Perlu membantu anak memahami haknya, mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, dengan tetap memperhatikan martabat dan kedudukan anak, disertai pengawasan yang baik dan menghindari terlalu memanjakan[[71]].
  3. Menanamkan rasa hormat dan penghargaan terhadap Al-Qur’an di dalam hati anak; agar dia merasakan kesuciannya dan menaati perintah-perintahnya, dengan cara yang mudah dan menarik. Anak perlu mengetahui bahwa jika dia mahir membaca Al-Qur’an, dia akan mencapai derajat malaikat mulia. Biasakan anak untuk peduli pada adab membaca Al-Qur’an – mulai dari membaca ta’awwudz dan basmalah, menghormati mushaf, serta mendengarkan dengan baik. Ajarkan anak untuk mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an karena hal ini akan meningkatkan kemampuan bahasanya dan mendorongnya untuk membaca. Anda dapat mengajarinya beberapa tafsir ayat yang mengandung makna akidah dari surat-surat yang dihafalnya – seperti Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Sering-seringlah menceritakan kisah-kisah Al-Qur’an dengan cara yang sederhana, mudah dipahami, berulang-ulang, dan dengan berbagai metode penyampaian[[72]].
  4. Manfaatkan metode tanya jawab, dengan memastikan pertanyaan mengandung informasi yang ingin disampaikan, dan jawaban diberikan dalam kalimat yang sangat singkat serta sesuai dengan usia dan tingkat pemahamannya. Hal ini memiliki pengaruh besar dalam mengajarkan anak nilai-nilai dan akhlak mulia serta mengubah perilakunya menjadi lebih baik.
  5. Manfaatkan pengajaran melalui kesenangan mewarnai, dengan gambar yang akan diwarnai mengandung makna keimanan yang bervariasi. Anda dapat mengajarnya melalui perlombaan dengan ruang lingkup yang luas dan beragam, lebih baik berupa perlombaan yang bersifat gerakan; karena anak-anak menyukainya dan berinteraksi dengannya[[73]].
  6. Jelaskan kepada anak beberapa hadits akidah, atau bagian darinya, dengan cara yang sesuai dengan tingkat berpikirnya secara sederhana dan menarik dalam kalimat singkat yang dapat dipahami oleh akalnya[[74]]. Anda dapat mengajarnya melalui pengulangan kalimat-kalimat yang mengembangkan keimanan agar tertanam padanya dan dia menggunakannya secara otomatis, seperti: “Telah ditentukan Allah dan apa yang Dia kehendaki akan terjadi”, “Bertawakkal kepada Allah, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu”. Dengan bantuan orang tua atau pendidik, anak dapat menghias kelasnya atau kamar tidurnya dengan kalimat-kalimat keimanan – seperti: “Saya adalah Muslim”, “Saya mencintai Tuhanku”, “Rukun Iman” – karena ini adalah media pengajaran yang akan tercetak dalam pikirannya dengan sering melihatnya[[75]].
  7. Ajarkan kepada anak bahwa musibah tidak akan pernah lepas dari siapa pun; semua orang di dunia ini akan diuji Allah dengan beberapa bencana dan cobaan. Ajarkan kepadanya bahwa Allah tidak menentukan sesuatu kecuali dengan hikmah yang mendalam, dan tanamkan padanya bahwa yang membawa manfaat dan menolak bahaya hanyalah Allah. Rahmat-Nya mendahului murka-Nya. Jelaskan kepadanya bahwa kelapangan selalu datang setelah kesulitan – ini adalah hukum yang berlaku. Tanamkan keyakinan yang baik kepada Allah; karena ini adalah ibadah tersendiri. Tegaskan padanya bahwa pilihan Allah lebih baik daripada pilihannya sendiri, dan manusia hanya perlu bersabar, berupaya dengan cara yang disyariatkan dalam menghadapi musibah, bersikap ridha, dan mengharap pahala. Terakhir: ajarkan kepadanya untuk berpegang teguh pada doa; karena ia adalah perdagangan yang selalu menguntungkan hamba[[76]].

 

 

Sarana Pendidikan:

Beberapa sarana pendidikan terpenting yang membantu menanamkan keimanan dalam diri anak adalah sebagai berikut:

1 – Teladan yang Baik; Keteladanan merupakan salah satu metode terpengaruh dan terdalam dalam mempengaruhi jiwa anak. Nabi telah mengingatkan tentang pentingnya teladan dalam kehidupan anak. Dalam hadits Abdullah bin Amir disebutkan: “Suatu hari ibuku memanggilku saat Rasulullah berada di dekat kami, lalu dia berkata: ‘Wahai Abdullah, mari kemari hingga aku memberimu sesuatu.’ Rasulullah bertanya: ‘Apa yang akan kamu berikan padanya?’ Ibuku menjawab: ‘Aku ingin memberinya kurma.’ Rasulullah bersabda: ‘Sesungguhnya jika kamu tidak memberinya apa-apa, maka akan tercatat sebagai kebohongan.[[77]]'”

Dalam riwayat lain: “Siapa yang berkata kepada seorang anak ‘Marilah, ini untukmu’ lalu tidak memberinya, maka itu adalah kebohongan.[[78]]”

Keteladanan adalah metode yang efektif, dan dalam hadits ini terdapat peringatan tentang pentingnya kejujuran khususnya terhadap anak-anak[[79]].

2 – Nasihat yang Jujur; Nasihat dapat disampaikan dalam berbagai bentuk, baik melalui cara langsung yang biasa, melalui perumpamaan, dalam cerita, melalui dialog, atau cara lainnya. Kita perlu memberikan nasihat kepada anak secara berkala agar tidak bosan[[80]].

3 – Targhib dan Tarhib (Motivasi dan Ancaman); Hal ini bisa juga disebut dengan ganjaran dan hukuman. Metode ini merupakan salah satu cara emosional terkuat, yang langsung menyentuh fitrah manusia yang diciptakan Allah, yaitu mencintai hal yang bermanfaat dan menolak hal yang merugikan. Hal ini harus dilakukan dengan adil dan benar tanpa berlebihan. Anak memiliki jiwa yang sensitif dan polos, sehingga tidak boleh ditakuti atau diintimidasi, karena jiwa bisa bereaksi sebaliknya. Di sini, aspek motivasi (targhib) harus lebih diutamakan, karena pada usia ini anak lebih membutuhkan motivasi daripada ancaman[[81]].

4 – Latihan, Pembiasaan, dan Praktik; Membiasakan anak untuk peduli akan ridha Allah, takut kepada-Nya, merasa malu kepada-Nya, dan bergantung kepada-Nya setiap saat, serta yakin bahwa segala sesuatu ada di tangan Allah. Semua ini akan memberikan kekuatan dan keteguhan untuk menghadapi setiap cobaan, serta memberikan ketenangan dan keyakinan yang akan menenangkan hatinya dan membuat jiwanya bahagia.

5 – Pengulangan dan Repetisi; Metode ini telah ditegaskan oleh ilmu modern dan pengalaman sebagai cara yang efektif dalam pengajaran dan memantapkan pengetahuan dalam diri manusia[[82]].

6 – Dialog dan Diskusi; Berdialog dengan anak akan memperluas wawasannya dan membukakan cakrawala pengetahuan. Namun, dalam hal ini harus ada penghormatan terhadap pendapat dan kepribadian anak, serta kemampuan mendengarkan dengan baik dan berdialog dengan tenang. Hal ini akan menciptakan komunikasi yang sukses dan efektif dengan anak, yang memungkinkan pendidikan dan bimbingan[[83]].

7 – Perpustakaan; Sangatlah penting menyediakan perpustakaan yang sesuai dengan kebutuhan ilmiah, budaya, dan keimanan anak. Akan lebih baik jika bervariasi – antara audio, visual, dan digital. Penting bahwa perpustakaan ini memiliki kumpulan cerita, karena cerita adalah sarana pendidikan yang ampuh dan penting[[84]], sebagaimana terlihat dalam sejarah Nabi dan para sahabatnya yang penuh hikmah terdapat banyak pelajaran[[85]].

8 – Teknologi modern dan sarana pendidikan adalah alat-alat yang berperan dalam menyebarkan gagasan, memperkuat, dan mendekatkannya kepada anak, sehingga anak dapat memahaminya dan menyerap maknanya. Gagasan dan prinsip-prinsip ini disampaikan dengan cara yang menarik dan menggunakan warna-warna yang memikat, yang membuat anak merasa tertarik dan berada dalam kondisi psikologis yang tepat untuk menerima[[86]].

9 – Dorongan naluriah: Terdapat berbagai dorongan alami pada anak yang dapat dimanfaatkan, seperti bermain, bekerja sama, meniru, dan sebagainya. Melalui bermain, anak dapat menjelajahi dunia di sekitarnya, mengungkapkan persepsi dan tingkat pemahamannya. Hal ini bisa dimanfaatkan untuk menjelaskan makna yang benar tentang kehidupan dan alam semesta, serta menanamkan nilai-nilai dalam diri anak dengan cara yang sederhana dan sesuai. Pengamatan serta pemanfaatan situasi dan peristiwa, jika dilakukan dengan baik untuk memberi peringatan dan arahan[[87]], akan meninggalkan pengaruh yang kuat dalam diri anak.

10 – Doa: Doa adalah bukti ketergantungan seorang hamba kepada Tuhannya, kebutuhan dirinya kepada-Nya, dan harapannya atas karunia-Nya. Allah telah menganjurkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa dan menjanjikan bahwa doa mereka akan dikabulkan. Allah berfirman: “Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan untukmu.'” (QS. Ghafir: 60).
Doa merupakan salah satu cara terpenting yang digunakan oleh pendidik untuk mencapai tujuan pendidikannya. Ini juga merupakan metode yang diterapkan oleh para pendidik terbaik, yaitu para nabi Allah -semoga salawat dan salam tercurah kepada mereka- demi mempertahankan iman dan tauhid. Allah berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala.'” (QS. Ibrahim: 35). Berdoa untuk anak adalah salah satu bentuk kebaikan terbesar dalam mendidiknya[[88]].

11 – Bermain peran dan meniru: Anak pada dasarnya menyukai meniru, sehingga ia dapat diberikan kesempatan, misalnya, untuk berperan sebagai imam masjid yang memimpin salat dan membaca Al-Qur’an, sebagai seorang khatib yang berdiri menyampaikan khutbah, atau sebagai guru yang menjelaskan dan mengajar. Hal ini membantu anak memperkuat makna yang dipelajarinya dan menghargai peran-peran tersebut dalam kehidupannya.

 

Ciri-Ciri Seorang Pendidik:

  1. Kasih Sayang dan Lemah Lembut: Pendidikan tidak akan membuahkan hasil yang baik tanpa disertai dengan sikap lemah lembut yang mampu menaklukkan hati dengan kasih sayang. Dikisahkan bahwa Al-Aqra’ bin Habis melihat Nabi Muhammad ﷺ mencium cucunya, Hasan dan Husain, lalu berkata, “Aku memiliki sepuluh anak, tetapi tidak pernah mencium seorang pun dari mereka.” Nabi ﷺ pun bersabda, “Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.[[89]]” Dalam hadits lain beliau bersabda, “Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah Yang Maha Penyayang. Sayangilah makhluk di bumi, maka yang di langit akan menyayangimu.”[[90]]
  2. Sikap Penyabar dan Pemaaf: Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam kesabaran dan pemaafan. Anas bin Malik meriwayatkan bahwa suatu ketika seorang Badui menarik selendang Nabi dengan keras, hingga meninggalkan bekas di pundaknya, lalu berkata, “Wahai Muhammad, berikan aku sebagian harta Allah yang ada padamu.” Nabi ﷺ pun berpaling kepadanya, tersenyum, lalu memerintahkan agar dia diberi sesuatu[[91]]. Allah berfirman, “Jadilah engkau pemaaf, suruhlah orang mengerjakan yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199). Nabi juga menganjurkan untuk menahan amarah dan melarangnya. Dalam hadits yang sahih, seorang pria meminta nasihat kepada Nabi ﷺ, dan beliau hanya mengatakan, “Jangan marah.”[[92]] Meski diulang beberapa kali, Nabi tetap menasihatkan hal yang sama.
  3. Kesabaran: Seorang pendidik harus memiliki kesabaran dan tidak tergesa-gesa dalam mendidik atau mengajarkan anak-anaknya. Jangan terburu-buru mengharapkan hasil sehingga terjebak dalam keputusasaan atau merasa gagal. Tanpa kesabaran, seorang pendidik seperti musafir tanpa bekal.
  4. Keadilan: Pendidik harus bersikap adil. Jika seorang pendidik membeda-bedakan anak-anak tanpa alasan yang jelas, maka interaksi di antara mereka akan terganggu, dan keharmonisan akan hilang. Tidak ada sesuatu yang dihiasi oleh keadilan melainkan menjadi indah, dan tidak ada sesuatu yang terkena kezaliman melainkan menjadi buruk.
  5. Kejujuran dan Amanah: Seorang pendidik harus jujur dan amanah dalam berinteraksi dengan anak didiknya. Kejujuran adalah salah satu sifat para rasul yang menyampaikan risalah. Kejujuran dan amanah adalah kunci utama untuk meningkatkan kualitas kerja, mencapai tujuan, dan meraih kesuksesan.
  6. Ketakwaan: Ketakwaan adalah kunci keberuntungan. Allah akan memberikan jalan keluar bagi orang yang bertakwa dari arah yang tidak disangka-sangka. Ketakwaan adalah pendamping keberhasilan, kesuksesan, dan kebaikan di dunia serta akhirat.
  7. Keikhlasan: Keikhlasan adalah syarat diterimanya amal. Tanpa keikhlasan, pekerjaan hanya akan berujung pada kesulitan dan keletihan.
  8. Ilmu: Seorang pendidik yang berilmu akan mampu memahami kondisi anak dan dampaknya di masa depan, berbeda dengan yang tidak berilmu, yang dapat merusak masa kini dan mengabaikan masa depan.
  9. Kebijaksanaan: Seorang pendidik harus bijak dengan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Kebijaksanaan menjadikan pendidikan lebih efektif dan membuahkan hasil. Tugas pendidik adalah menyentuh hati anak dan memanfaatkannya untuk memberikan arahan serta mendidiknya.
  10. Keyakinan pada Pendidikan: Pendidikan adalah pemberian secara psikologis dan spiritual. Tanpa keyakinan pada pentingnya pendidikan, seseorang tidak akan mampu memberikan kontribusi semacam ini[[93]].
  11. Pengembangan Diri: Seorang pendidik harus selalu berupaya mengembangkan kemampuan dan potensinya agar dapat melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dengan lebih baik.

 

 

RUKUN PENDIDIKAN KEIMANAN[[94]]

Rukun Pertama: Iman kepada Allah

Fitrah, akal, dan syariat semuanya menunjukkan keberadaan Allah. Setiap makhluk secara fitrah diciptakan untuk beriman kepada Penciptanya. Adapun akal, ia mengisyaratkan bahwa segala sesuatu yang ada ini pasti memiliki Pencipta. Sedangkan syariat, semua agama samawi menegaskan keberadaan Sang Pencipta.

Iman kepada Allah mencakup empat hal berikut:

  1. Keberadaan Allah: Keyakinan bahwa Allah itu ada dan Dia adalah Pencipta alam semesta.
  2. Keimanan terhadap Rububiyah-Nya: Bahwa Allah adalah Tuhan yang memberikan segala sesuatu, menciptakan, memberi rezeki, dan mengatur segala urusan.
  3. Keimanan terhadap Uluhiyah-Nya: Bahwa Allah adalah satu-satunya yang berhak disembah dan tidak memiliki sekutu dalam keilahian-Nya.
  4. Keimanan terhadap Nama-Nama dan Sifat-Sifat-Nya: Bahwa Allah memiliki nama-nama yang indah (Asmaul Husna) dan sifat-sifat yang sempurna, mencerminkan keagungan dan keindahan-Nya[[95]].

Kita ajarkan keempat hal ini kepada anak-anak agar mereka tumbuh dengan mengenal Allah, mengagungkan-Nya, dan mencintai-Nya. Rukun ini adalah dasar bagi rukun-rukun keimanan lainnya.

 

Mengapa Kita Mengajarkan Cinta kepada Allah Ta’ala?!

1 – Karena Allah Yang Maha Mulia adalah Zat yang menciptakan kita dari ketiadaan, membentuk penciptaan kita, dan melebihkan kita di atas banyak makhluk dengan kelebihan yang luar biasa. Dia memberikan kita nikmat terbesar – yaitu Islam – kemudian memberi rezeki melimpah dari karunia-Nya tanpa sebenarnya kita layak terima, dan Dia pun menjanjikan surga kepada kita sebagai balasan atas perbuatan yang merupakan pemberian dan karunia-Nya. Dialah Yang Maha Memberi, baik pada awalnya maupun akhirnya.

2 – Karena cinta melahirkan rasa hormat dan keagungan, baik secara tersembunyi maupun terang-terangan. Betapa kita membutuhkan anak-anak kita untuk menghormati Tuhan mereka dan merasa segan kepada-Nya, bukan hanya hubungan yang dilandasi rasa takut akan hukuman atau neraka semata. Sehingga ibadah mereka menjadi kenikmatan ruhani yang mereka jalani dan melindungi mereka dari kesalahan.

3 – Karena Allah Yang Maha Hidup, Maha Berdiri Sendiri, Kekal Abadi yang tidak pernah mati, yang tidak pernah mengantuk atau tertidur, Dia selalu bersama mereka di mana pun mereka berada. Dia yang menjaga dan memelihara mereka lebih dari orangtua mereka sendiri. Karenanya, keterikatan dan cinta mereka kepada-Nya adalah suatu keharusan, agar mereka menyadari bahwa mereka memiliki sandaran kuat, yaitu Allah.

4 – Karena jika mereka mencintai Allah dan mencintai Al-Qur’an, bersungguh-sungguh dalam shalat, dan mengetahui bahwa Allah itu Indah dan mencintai keindahan, mereka akan melakukan segala hal yang indah. Dan jika mereka mengetahui bahwa Allah mencintai mereka yang:

  • Bertobat
  • Menyucikan diri
  • Berbuat baik
  • Berderma
  • Sabar
  • Bertawakal
  • Bertakwa

Mereka akan bersungguh-sungguh untuk memiliki sifat-sifat ini, demi mendapatkan keridhaan dan cinta-Nya, serta memperoleh perlindungan-Nya[[96]]. Dan jika mereka mengetahui bahwa Allah tidak menyukai:

  • Para pengkhianat
  • Orang-orang kafir
  • Orang-orang sombong
  • Para pelanggar batas
  • Orang-orang zalim
  • Para perusak

Mereka akan menjauh semaksimal mungkin dari sifat-sifat tersebut, karena cinta kepada Allah dan keinginan untuk mendapatkan keridhaan-Nya.

5 – Karena cinta kepada Allah berarti merasakan kehadiran-Nya setiap saat, yang menghasilkan perasaan tenang, tenteram, dan stabil. Hal ini membawa ketenangan jiwa dan raga dari penyakit-penyakit psikis dan fisik, bahkan yang lebih penting lagi adalah terhindar dari dosa dan kesalahan[[97]].

Bagaimana Kita Mengajarkan Cinta kepada Allah Ta’ala Kepada Anak-Anak Kita:

1 – Pintu masuk satu-satunya untuk menanamkan hal-hal yang berkaitan dengan keimanan pada anak adalah pendekatan inderawi, yaitu: kita mengandalkan panca indra untuk menguatkan keimanan anak terhadap Penciptanya. Kita memanfaatkan fenomena alam di sekitar mereka seperti matahari, hujan, angin, dan melalui itu kita mengajarkan anak bahwa ada Pencipta yang mengatur alam semesta ini. Kita mendorong mereka untuk bertanya dan menyelidiki[[98]], serta berusaha keras menempatkan kacamata iman dalam pandangan anak-anak sehingga mereka dapat melihat bukti-bukti keberadaan Allah dalam segala sesuatu yang mereka analisis dan pelajari di ranah ilmiah[[99]].

Kita memastikan untuk mengungkapkan kemampuan luar biasa Allah dan keindahan ciptaan-Nya. Di antaranya adalah petunjuk Ilahi untuk memperhatikan asal-usul penciptaan manusia, sebagaimana firman-Nya: “Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan” (Ath-Thariq: 5), dan firman-Nya: “Dan pada diri kalian sendiri, apakah kalian tidak memperhatikan?” (Adz-Dzariyat: 21).

Begitu pula memperhatikan makanan manusia dan bagaimana Allah menciptakannya, sebagaimana firman-Nya: “Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya” (Abasa: 24). Demikian pula menampakkan kuasa-Nya melalui perenungan terhadap ciptaan-Nya yang menunjukkan kebesaran-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya: “Apakah mereka tidak melihat unta, bagaimana ia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan?” (Al-Ghasyiyah: 17-20).

Kita dapat mendekatkan makna-makna besar ini dan keindahan penciptaan serta keagungan Pencipta dalam pikiran anak-anak pada berbagai usia melalui berbagai media penjelas yang canggih dan beragam, termasuk teknologi modern[[100]]. Anak secara fitrah akan mencintai siapa pun yang menciptakan hal-hal luar biasa ini dan menundukkannya untuk mereka.

2 – Mengajarkan nama-nama Allah yang indah (Asmaul Husna) dan sifat-sifat-Nya yang menunjukkan kesempurnaan dan keindahan-Nya. Allah adalah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Dia adalah Yang Maha Pemaaf yang mengampuni kesalahan, Yang Maha Pengampun yang menggabungkan pengampunan dengan menutupi kesalahan, Yang Maha Mulia yang memberi tanpa diminta dan tanpa sebab, Yang Maha Pemberi Petunjuk yang mengarahkan hamba-hamba-Nya kepada segala hal yang bermanfaat, dan Yang Maha Pengasih yang mencintai dan dicintai[[101]].

3 – Kita harus menghindari mengatakan: “Jika kamu tidak mendengar dan menaatiku, maka Allah akan menghukummu”. Ada perbedaan antara mengajarkan anak bahwa Allah menghukum mereka yang mendurhakai-Nya, dan selalu mengaitkan hukuman Allah dengan ketaatan kepada orang tua serta mengancamnya dengan itu. Hal ini akan mencegah anak untuk berpikir lebih dalam tentang kekuasaan dan keagungan Allah. Tidak seharusnya kita mengandalkan ancaman Allah dalam mendidik anak, tetapi sebaliknya harus mengajarkan cinta, pengagungan, dan penghormatan kepada Allah[[102]]. Jangan kita hubungkan Allah dengan segala sesuatu yang dapat mempengaruhi pandangan anak terhadap Allah Yang Maha Suci.

4 – Ketika anak melihat orangtua melaksanakan shalat atau ibadah lainnya, atau menjauhi hal-hal yang diharamkan, mereka sering bertanya tentang alasannya. Jawaban orangtua harus mencakup penyebutan cinta dan ketaatan kepada Allah. Ini merupakan pendidikan melalui keteladanan dalam mencintai Allah, karena anak cenderung meniru orangtuanya.

Di antara hal-hal yang dapat menanamkan cinta dalam hati anak-anak adalah menceritakan tentang surga dan kenikmatan abadi yang telah Allah siapkan untuk hamba-hamba-Nya yang bertakwa.

5 – Ketika anak telah mencapai usia di mana ia dapat memahami kewajiban, ia diajarkan tentang pentingnya cinta ini. Karena Allah Yang Maha Mulia adalah Zat yang menciptakan kita, menyempurnakan penciptaan kita, memberi rezeki, dan melebihkan kita di atas banyak makhluk-Nya. Dia memberikan kita nikmat Islam[[103]].

Kita mengajarkan anak bahwa segala nikmat di sekitarnya berasal dari Allah, dan mengajarkan bagaimana cara memuji, bersyukur, serta memohon tambahan nikmat kepada-Nya. Perenungan akan nikmat-nikmat ini akan memotivasi tumbuhnya cinta[[104]].

6 – Mengajarkan anak berbagai cara untuk mendapatkan cinta Allah dan cinta Rasul-Nya melalui perkataan, perbuatan, dan keadaan[[105]].

 

Rukun Kedua: Iman kepada Malaikat

Iman kepada malaikat mencakup:

  • Membenarkan keberadaan mereka
  • Beriman kepada nama-nama mereka yang telah kita ketahui
  • Membenarkan berita yang shahih tentang mereka
  • Mencintai mereka

Di antara makna-makna penting yang perlu ditanamkan dalam diri anak tentang malaikat adalah:

1 – Mengajarkan bahwa mereka diciptakan dari cahaya, sebagaimana hadits Aisyah yang diriwayatkan Rasulullah: “Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah digambarkan kepada kalian.”[[106]] Cukuplah dengan penjelasan umum tanpa masuk ke detail penciptaan dan sifatnya.

2 – Mengajarkan nama-nama malaikat yang disebutkan, seperti:

  • Jibril: kepala dan kepercayaan malaikat, yang menurunkan Al-Qur’an
  • Mikail: yang bertugas mengatur hujan
  • Israfil: yang bertugas meniup sangkakala
  • Penyangga Arsy
  • Pencatat (malaikat yang mencatat amal)
  • Penjaga (malaikat yang menjaga manusia)

3 – Menjelaskan bahwa jumlah mereka sangat banyak, dan hanya Allah yang mengetahui jumlah pastinya. Mereka adalah makhluk yang diciptakan untuk taat dan melaksanakan perintah, dengan setiap malaikat memiliki tugas khusus yang dijalankannya.

4 – Mereka adalah makhluk yang ma’shum (terjaga dari kesalahan):

  • Senantiasa beribadah kepada Allah tanpa lelah
  • Tidak sombong
  • Mencintai orang-orang beriman
  • Mendoakan dan melindungi orang beriman
  • Menghadiri majelis-majelis zikir

5 – Membuat anak mencintai malaikat dengan mengenalkan:

  • Sifat baik mereka
  • Perhatian mereka kepada orang beriman
  • Mereka bertasbih, beristighfar, dan mendoakan orang beriman
  • Memberi kabar gembira kepada orang beriman yang istiqamah
  • Mendoakan dan menguatkan orang beriman[[107]]
  • Menjaga catatan amal perbuatan manusia

Sebagaimana firman Allah: “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakang, mereka menjaganya atas perintah Allah” (Ar-Ra’d: 11)

6 – Iman kepada mereka mengharuskan kita memuliakan dan menghormati mereka:

  • Mereka adalah hamba-hamba yang dimuliakan
  • Tidak pernah membangkang perintah Allah
  • Melakukan apa yang diperintahkan
  • Harus disucikan dari sifat-sifat yang tidak layak

7 – Mendorong kebersihan personal, karena malaikat terganggu dengan hal yang membuat manusia terganggu. Dari Jabir bin Abdullah, Nabi bersabda: “Siapa yang makan sayur bawang (atau dalam riwayat lain: bawang putih, bawang merah, dan bawang daun), janganlah mendekati masjid kami, karena malaikat terganggu dengan apa yang membuat manusia terganggu.”[[108]]

8 – Bahwa keberadaan malaikat dan iman kepada mereka memiliki hikmah yang beragam, di antaranya:

  • Agar manusia mengetahui luasnya ilmu Allah, kebesaran kekuasaan-Nya, dan keajaiban hikmah-Nya
  • Agar muslim merasakan keamanan, karena mengetahui ada pasukan yang menjaganya dengan perintah Allah dan menolong mereka[[109]]

9 – Hubungan malaikat dengan manusia dalam penciptaan, pengawasan, dan keberadaan menunjukkan pentingnya manusia dan nilainya. Hal ini menolak pemikiran yang merendahkan martabat manusia. Dengan demikian, manusia dapat menghargai dirinya sendiri dan bersungguh-sungguh untuk mencapai peran agung yang harus dijalankannya[[110]].

Rukun Ketiga: Iman kepada Kitab-kitab

Iman kepada kitab-kitab mencakup:

1 – Iman akan adanya kitab-kitab yang diturunkan dari sisi Allah, dan ini merupakan bukti kebesaran rahmat Allah kepada hamba-Nya. Dia menurunkan kitab untuk setiap kaum agar mereka mendapat petunjuk, sesuai dengan syariat dan hukum yang sesuai dengan mereka. Jelaskan kepada anak bahwa diturunkannya kitab-kitab adalah nikmat besar karena kitab-kitab tersebut memperkenalkan kita kepada Allah, akhirat, kebaikan, dan keburukan.

2 – Membenarkan kitab-kitab yang kita ketahui namanya, seperti:

  • Shuhuf (Lembar-lembar) Ibrahim
  • Taurat yang diturunkan kepada Musa
  • Zabur yang diturunkan kepada Daud
  • Injil yang diturunkan kepada Isa
  • Al-Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad

3 – Kitab-kitab ini saling membenarkan, tidak saling mendustakan, tidak ada pertentangan atau kontradiksi di antara mereka. Sebagaimana firman Allah: “Membenarkan kitab-kitab yang ada sebelumnya” (Al-Maidah: 48)

4 – Membenarkan berita-berita yang shahih tentang kitab-kitab tersebut. Mengajarkan bahwa kitab-kitab langit sebelumnya telah mengalami perubahan, penyimpangan, dan pergantian karena bersifat sementara dan khusus untuk umat pada zamannya, dan Allah tidak menjamin pemeliharaannya seperti Al-Qur’an.

5 – Iman bahwa Al-Qur’an telah menghapus semua kitab sebelumnya, dan bahwa mengamalkan hukum-hukum Al-Qur’an adalah kewajiban yang berlaku hingga hari kiamat. Wajib menaati perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, mengharamkan yang diharamkan, menghalalkan yang halal, mengamalkan ayat-ayat muhkam, berserah diri pada ayat-ayat mutasyabih, dan menaati batas-batas serta ajarannya.

Salah satu hal penting dalam iman kepada kitab-kitab adalah mengajarkan anak menghafal Al-Qur’an sejak dini. Menghafal Al-Qur’an dianggap salah satu kegiatan terpenting untuk mengembangkan kecerdasan anak, jika dilakukan dengan baik dan pembimbing mampu menghidupkan suasana ayat-ayat dalam diri anak[[111]].

Manfaat menghafal Al-Qur’an meliputi:

  • Mendorong perenungan dan pemikiran tentang penciptaan langit, bumi, dan manusia
  • Meningkatkan iman dan mengintegrasikan ilmu dengan amal
  • Mengantarkan pada tahap lanjut kecerdasan[[112]]
  • Melatih kemahiran berbicara dan fasih
  • Membina emosi rabbani (rasa takut, khusyuk, harap-cemas)
  • Melembutkan hati dan perasaan
  • Melatih anak mengamalkan ajaran dan adab Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari
  • Mendidik anak pada kehidupan lurus dan akhlak mulia
  • Memperoleh pahala yang besar dari Allah dalam perkumpulan halaqah tahfidz[[113]]

 

Bagaimana Membuat Anak Tertarik untuk Menghafal Al-Quran:

  1. Menjelaskan Keutamaan Al-Quran: Tunjukkan kepada anak keutamaan menghafal, membaca, mengajar, dan mengamalkan Al-Quran. Misalnya dengan hadits-hadits seperti:
  • “Bacalah Al-Quran, karena ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya”[[114]]
  • “Dikatakan kepada penghafal Al-Quran: Bacalah dan naiklah serta tartilkan (bacalah dengan perlahan) sebagaimana engkau membacanya di dunia, sesungguhnya tempat kedudukan akan ditentukan pada ayat terakhir yang engkau baca”[[115]]
  • “Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-Quran adalah seperti buah jeruk (athrujah), yang memiliki aroma yang harum dan rasa yang enak. Sedangkan perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Al-Quran adalah seperti kurma, yang tidak memiliki aroma namun rasanya manis. Adapun perumpamaan seorang munafik yang membaca Al-Quran adalah seperti bunga rihannah (sejenis bunga), yang memiliki aroma harum namun rasanya pahit. Dan perumpamaan seorang munafik yang tidak membaca Al-Quran adalah seperti buah hanzhalah (sejenis buah yang sangat pahit), yang tidak memiliki aroma dan rasanya pun pahit.”[[116]]
  • “Sebaik-baik kalian adalah mereka yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya”[[117]]

Sertakan pula contoh-contoh perhatian para salaf (generasi awal) terhadap Al-Quran, yang merupakan salah satu cara paling efektif untuk memotivasi semangat[[118]].

  1. Langkah-langkah Praktis:
  • Mendaftarkan anak di sekolah Al-Quran atau halaqah (kelompok) tahfidz di masjid
  • Mencari guru yang dapat mengajarkan Al-Quran
  • Menyediakan berbagai insentif dan hadiah
  • Menciptakan suasana kompetitif positif antar anak[[119]]
  1. Memudahkan Proses Menghafal:
  • Mulai dari juz ‘Amma karena:
    • Memiliki ayat-ayat dengan akhiran yang singkat dan serupa
    • Mudah dihafalkan anak[[120]]
    • Berisi surat-surat yang mengandung pokok-pokok iman
    • Dapat memperbaiki akidah dan melatih perilaku
    • Menjaga kesehatan dan keselamatan anak
    • Melatih kemampuan berbicara dan pengucapan
  1. Perhatian Selama Proses Menghafal:
  • Memberikan penjelasan singkat tentang makna ayat-ayat
  • Membuka pemahaman hati dan pikiran anak
  • Jangan meremehkan kemampuan anak kecil
  • Anak memiliki kemampuan luar biasa dalam menghafal dan memahami[[121]]
  1. Kita ajarkan kepada anak bahwa Al-Quran adalah obat, rahmat, dan berkah. Allah berfirman dalam surat Al-Isra’ ayat 82: ‘Dan Kami turunkan dari Al-Quran sesuatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.’ Dan bahwa barang siapa menghafalnya atau menghafalkan sebagian darinya, maka akan dimudahkan baginya untuk melakukan ruqyah (pengobatan spiritual) pada dirinya sendiri ketika sakit, dan demikian pula ia dapat meruqyah orang-orang di sekitarnya.

Rukun Keempat: Iman kepada Para Rasul

Iman kepada para rasul meliputi:

  1. Membenarkan kejujuran mereka dan kebenaran berita-berita yang shahih dari mereka
  2. Mempercayai rasul-rasul yang telah kita ketahui namanya
  3. Meyakini bahwa Allah telah memilih mereka dari kalangan kaumnya – baik dari segi akhlak maupun akal – untuk menyampaikan risalah-Nya

Allah berfirman: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun kecuali dengan bahasa kaumnya sendiri untuk memberikan penjelasan kepada mereka” (QS Ibrahim: 4). Seandainya rasul itu adalah malaikat, mereka tidak akan memahaminya.

Kewajiban kita adalah:

  • Tidak membedakan antara para rasul
  • Beriman kepada seluruh rasul, tidak membenarkan sebagian dan menolak sebagian lainnya
  • Meyakini bahwa semua rasul jujur dalam risalah mereka
  • Meyakini mereka suci dalam memberi nasihat kepada umatnya
  • Mereka terjaga (ma’shum) dalam menyampaikan wahyu dari Allah

Namun, kita hanya wajib mengamalkan syariat rasul terakhir, Muhammad .[[122]]

Makna-makna pendidikan terkait iman kepada rasul:

  1. Allah mengutus seorang rasul di setiap umat untuk:
  • Mengajak menyembah Allah semata
  • Menolak segala sesuatu yang disembah selain Allah
  • Mereka semua adalah rasul yang jujur, benar, cerdas, bertakwa, dan amanah
  1. Menegaskan bahwa dakwah mereka bersatu dari rasul pertama hingga terakhir pada pokok ibadah, yaitu:
  • Tauhid
  • Mengkhususkan Allah dalam segala bentuk ibadah (keyakinan, ucapan, dan perbuatan)
  • Menolak segala sesuatu yang disembah selain Allah
  1. Menjelaskan hikmah ilahi dalam mengutus rasul, antara lain:
  • Menyembah Allah dan mentauhidkan-Nya
  • Memberi petunjuk dan arahan manusia ke jalan yang lurus
  • Mengajarkan urusan agama dan dunia mereka
  • Mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya
  • Memimpin umat dan menerapkan syariat Allah
  • Meneladani dan mengikuti jejak mereka
  1. Mengetahui Rahmat Allah dan Perhatian-Nya kepada Hamba-Nya:
  • Dia mengutus rasul-rasul untuk menunjukkan mereka ke jalan Allah
  • Mengingatkan untuk bersyukur atas nikmat besar ini (pentingnya Rasul)
  • Manusia, betapapun cerdas dan berpikirnya, tidak mampu mandiri dalam mengatur sistem kemasyarakatan yang adil dan kohesif
  • Para rasul mengajarkan apa yang bermanfaat dan mencegah apa yang membahayakan[[123]]
  1. Menanamkan Cinta kepada Rasulullah ﷺ, melalui:
  • Memungkinkan mereka untuk taat dan mengikuti jejaknya
  • Mengagungkannya
  • Tidak mendahulukan cinta kepada makhluk lain atas cintanya
  • Mencintai orang yang mencintai Rasulullah
  • Memusuhi orang yang memusuhinya[[124]]
  • Menghormati namanya:
    • Memberi salam dan salawat ketika disebut
    • Menghargai akhlak dan kelebihannya
    • Menghormatinya sebagai sosok yang sangat penyayang dan penuh kasih[[125]]
    • Menghormatinya di makam dan masjidnya dengan merendahkan suara bagi mereka yang dianugerahi kehormatan mengunjungi masjid atau makamnya[[126]]

 

Bagaimana Mengajarkan Anak Mencintai Nabi

  1. Menanamkan Cinta kepada Nabi melalui Pengetahuan tentang Allah dan Kewajiban Mencintai Nabi.

Kita perlu menegaskan kepada anak bahwa Allah mencintai Nabi-Nya, memilih dan memuliakan beliau di atas seluruh manusia. Kita juga perlu menjelaskan bahwa mencintai Nabi adalah kewajiban dan merupakan salah satu tanda cinta kepada Allah. Barang siapa mencintai Rasulullah, berarti ia telah mencintai Allah dengan cinta yang tulus.[[127]]

  1. Mengingatkan Anak bahwa Nabi adalah Rahmat bagi Seluruh Alam

Nabi Muhammad adalah rahmat bagi seluruh alam dengan membawa petunjuk dan menyampaikan agama ini. Beliau juga akan menjadi rahmat bagi orang-orang beriman dengan memberikan syafaat kepada mereka pada hari kiamat.

  1. Membaca Kisah-kisah dari Sirah Nabawiyah

Bacakan kepada anak kisah-kisah dari kehidupan Nabi yang mulia. Anak perlu mengetahui bahwa Rasulullah adalah teladan terbaik bagi seluruh umat manusia. Sebutkan mukjizat beliau, akhlak mulianya, pembelaannya terhadap orang yang tertindas[[128]], kasih sayangnya kepada fakir miskin, wasiat beliau untuk memuliakan anak yatim, serta kelembutannya terhadap orang-orang lemah.
Gunakan bahasa yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak, dan pilih hal-hal yang sesuai dengan kapasitas pemahamannya agar mudah dipahami. Penting untuk memvariasikan cara penyampaian, menggunakan metode yang sesuai dengan tahap perkembangan usia anak, dan memperhatikan perbedaan individu serta kondisi lingkungan mereka[[129]].

  1. Menjadikan Orang Tua dan Lingkungan sebagai Teladan dalam Mengagungkan Nabi

Anak perlu melihat di orang tua dan lingkungannya penghormatan terhadap Nabi, sunnah, serta perkataan beliau. Contohnya, menjaga kebiasaan membaca shalawat setiap kali nama Nabi disebut. Perilaku nyata dari orang tua sangat memengaruhi pendidikan anak. Misalnya, ketika seorang ayah mengerjakan shalat sunnah dan berkata kepada anak-anaknya, “Beginilah Rasulullah melakukannya.” Pendidikan melalui teladan memiliki pengaruh besar dalam membentuk kepribadian dan akidah yang benar. Rasulullah adalah teladan utama yang harus diikuti oleh para pendidik dengan menjadikan sunnahnya sebagai panduan praktis dalam mendidik anak-anak mereka[[130]].

  1. Menghafalkan Hadis-hadis Pendek tentang Kemuliaan Islam dan Nabi
    Ajarkan anak menghafal hadis-hadis sahih yang menggambarkan kesempurnaan Islam, keindahan akhlak Nabi ﷺ, serta keutamaan para sahabat. Hadis-hadis ini memiliki pengaruh besar dalam memperkuat iman, membentuk karakter, dan meningkatkan moral. Gunakan hadis-hadis yang singkat, jelas, dan sesuai dengan nilai-nilai penting bagi anak di tahap perkembangannya[[131]]. Untuk menambah keseruan, adakan kompetisi menghafal hadis dengan metode yang menarik, disertai pemberian hadiah dan penghargaan.
  2. Menceritakan Kisah Sahabat dalam Hubungan dengan Nabi
    Ceritakan kepada anak tentang bagaimana para sahabat memperlakukan Nabi dengan penuh penghormatan dan kecintaan, serta bagaimana mereka melindungi beliau. Fokuskan pada kisah-kisah sahabat kecil seperti Anas bin Malik, yang begitu mencontoh Nabi ﷺ. Misalnya, kisah Anas ketika menemani Nabi ke undangan makan, di mana Anas melihat Nabi lebih menyukai labu. Sejak itu, Anas pun menyukai labu dan bahkan mengumpulkan potongan labu untuk Nabi[[132]]. Ceritakan bagaimana sahabat mencintai dan rela berkorban demi Nabi, serta jadikan kisah ini inspirasi bagi anak[[133]].
  3. Menanamkan Pemahaman tentang Akibat Positif dari Cinta kepada Nabi
    Jelaskan kepada anak bahwa mencintai Nabi ﷺ memiliki dampak besar, seperti tercermin dalam hadis Anas bin Malik tentang seseorang yang bertanya kepada Nabi tentang hari kiamat: “Kapan hari kiamat?” Nabi ﷺ menjawab: “Apa yang telah kamu persiapkan untuknya?” Orang itu menjawab: “Tidak ada, kecuali aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Nabi ﷺ bersabda: “Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” Anas berkata: “Kami tidak pernah merasa lebih bahagia daripada mendengar sabda Nabi tersebut. Aku mencintai Nabi , Abu Bakar, dan Umar, dan aku berharap bisa bersama mereka karena cintaku kepada mereka, meskipun aku tidak mampu melakukan amalan seperti mereka.”[[134]] Cerita ini menegaskan pentingnya cinta kepada Nabi dan dampaknya dalam kehidupan.
  4. Membantu Anak Berkreasi dalam Menyampaikan Cinta kepada Nabi
    Dorong anak untuk menghasilkan karya kreatif seperti menulis puisi, cerita, pidato, atau artikel yang bertema cinta kepada Nabi. Adakan kompetisi dan aktivitas yang berfokus pada tema ini untuk meningkatkan antusiasme anak dalam mengungkapkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ. Kompetisi ini tidak hanya memperkuat kecintaan anak kepada Nabi tetapi juga melatih kreativitas dan keterampilan mereka[[135]].

Rukun Kelima: Iman kepada Hari Akhir

Iman kepada hari akhir mencakup keyakinan terhadap kematian, kebangkitan, perhitungan, pembalasan, shirath, mizan, surga, dan neraka. Anak mulai memahami beberapa hal terkait hari akhir secara lebih jelas setelah usia tamyiz (sekitar 7 tahun). Sebelum usia tersebut, penjelasan sebaiknya singkat dan sederhana. Misalnya, kita dapat menjelaskan bahwa ada kehidupan lain setelah dunia ini, bahwa Allah menciptakan surga sebagai tempat tinggal orang beriman, dan neraka sebagai tempat bagi orang kafir.

Berikut adalah nilai-nilai pendidikan penting yang perlu ditanamkan kepada anak terkait iman kepada hari akhir:

  1. Keyakinan tentang Kebangkitan dan Pembalasan

Anak diajarkan bahwa Allah akan membangkitkan manusia pada hari kiamat untuk menerima balasan atas amal perbuatan mereka di dunia. Jika amalnya baik, maka balasannya baik; jika buruk, maka balasannya buruk[[136]].

  1. Pemahaman tentang Surga dan Neraka

Anak diajarkan bahwa Allah telah menciptakan surga sebagai tempat mulia yang penuh kebahagiaan abadi bagi orang-orang beriman, dan neraka sebagai tempat bagi orang kafir. Penjelasan dapat disampaikan dengan cara yang menarik, seperti menggambarkan kenikmatan surga untuk mendorong keimanan dan semangat beramal.

  1. Berbicara tentang Kematian dan Akhirat secara Lembut

Bicarakan tentang kematian dan akhirat dengan cara yang lembut dan penuh kasih sayang, menekankan rahmat, pengampunan, dan kelembutan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Hindari penjelasan yang dapat menimbulkan ketakutan berlebihan[[137]]. Kaitkan dengan siklus hidup makhluk lain, seperti tumbuhan atau hewan, sambil menegaskan keistimewaan manusia yang diberikan akal dan tanggung jawab oleh Allah serta janji balasan-Nya.

  1. Penegasan tentang Keadilan Allah

Jelaskan kepada anak bahwa Allah tidak membiarkan kezaliman tanpa hukuman, tidak membiarkan orang yang terzalimi tanpa pembelaan, dan tidak membiarkan orang yang berbuat baik tanpa pahala. Di dunia, kita sering melihat orang yang hidup dan mati dalam keadaan zalim. Oleh karena itu, kehidupan lain setelah dunia ini menjadi keharusan, di mana setiap orang akan menerima haknya dengan adil[[138]].

 

 

Rukun Keenam: Iman kepada Takdir

Iman kepada takdir mencakup keyakinan terhadap kesempurnaan ilmu Allah, penulisan-Nya, kekuasaan-Nya, penciptaan-Nya, dan kehendak-Nya. Pada usia dini, anak belum mampu memahami konsep takdir sepenuhnya. Bahkan, sebagian ulama berpendapat bahwa pemahaman ini baru dapat mulai dipahami setelah anak berusia sekitar sembilan tahun[[139]]. Namun, ada nilai-nilai pendidikan yang dapat ditanamkan sejak dini terkait takdir, di antaranya:

  1. Mengajarkan Hadis tentang Ketergantungan kepada Allah

Hadis Abdullah bin Abbas yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ adalah pedoman utama dalam memahami takdir: “Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, maka Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, maka engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mintalah kepada Allah. Ketahuilah, jika seluruh umat berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali atas apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali atas apa yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”[[140]]

Dalam riwayat lain disebutkan: “Ketahuilah, apa yang luput darimu tidak akan pernah menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan pernah luput darimu. Ketahuilah, kemenangan bersama kesabaran, kelapangan bersama kesulitan, dan bersama kesusahan ada kemudahan.”[[141]] Hadis ini memberikan pedoman yang kuat bagi anak tentang keimanan dan ketergantungan kepada Allah, serta menjadi dasar dalam membentuk keyakinan yang benar[[142]].

  1. Menanamkan Pemahaman tentang Takdir secara Sederhana

Pada usia dini, hindari membahas konsep takdir secara mendalam. Sampaikan kepada anak bahwa Allah memiliki ilmu yang sangat luas, mengetahui segala sesuatu, dan menciptakan serta mengatur segalanya sesuai kehendak-Nya. Namun, manusia tetap diberikan kebebasan memilih, bertanggung jawab atas perbuatannya, dan akan menerima balasan sesuai dengan pilihannya.
Jika anak memiliki pertanyaan mendalam tentang takdir, jelaskan dengan cara yang sederhana dan sesuai dengan pemahaman mereka, tanpa menimbulkan kebingungan.

  1. Mendidik Anak untuk Bergantung kepada Allah

Ajarkan anak untuk hanya meminta kepada Allah, tidak kepada selain-Nya. Tanamkan nilai-nilai tawakal, yaitu berserah diri sepenuhnya kepada Allah, dan ajarkan anak untuk bersabar terhadap ketetapan dan takdir-Nya.
Selain itu, ajarkan anak untuk senantiasa berdoa kepada Allah, karena doa adalah cara terbaik untuk memperkuat hubungan dengan Allah dan sebagai bentuk pengakuan akan kelemahan diri di hadapan-Nya.

  1. Mengajarkan bahwa Allah Hanya Menginginkan Kebaikan untuk Hamba-Nya

Anak diajarkan untuk meyakini bahwa segala ketetapan Allah adalah untuk kebaikannya. Dalam menjalani hidup, ia harus menerima takdir Allah dengan hati lapang dan tidak mudah putus asa. Ketika menghadapi kesulitan, ia diingatkan pada firman Allah: “Tidak akan menimpa kami kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk kami” (QS. At-Taubah: 51). Keyakinan ini akan membuat anak lebih tegar dan sabar dalam menghadapi cobaan hidup.

  1. Menyadari bahwa Semua Hal Berada dalam Kekuasaan Allah

Ajarkan anak bahwa semua peristiwa berada dalam genggaman Allah. Dia memiliki kehendak mutlak atas segala ciptaan-Nya. Pemahaman ini akan meningkatkan ketergantungan dan rasa syukur anak kepada Allah, sekaligus mengajarkan pentingnya doa, harapan, dan tawakal hanya kepada-Nya.

  1. Membentuk Ketenangan dan Keseimbangan Jiwa

Iman kepada takdir membawa ketenangan hati karena anak diajarkan bahwa semua yang terjadi, baik atau buruk, adalah kebaikan baginya. Keyakinan bahwa tidak ada “keburukan mutlak” akan membuatnya menghadapi tantangan hidup dengan lapang dada, menerima takdir Allah tanpa protes, dan merasa tenang secara emosional[[143]]. Anak diajarkan bahwa saat menghadapi musibah, ia seharusnya berkata: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).
Hal ini sesuai dengan firman Allah: “Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nyalah kami kembali.’ Mereka itulah yang memperoleh keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. Al-Baqarah: 155–157).[[144]]

  1. Menyampaikan Kisah tentang Hikmah Takdir Allah

Ceritakan kisah nyata atau fabel yang menggambarkan bagaimana seseorang merasa berat menerima takdir pada awalnya, tetapi kemudian menyadari kebaikan yang tersembunyi di baliknya. Misalnya, seseorang yang kehilangan sesuatu namun berujung pada kebaikan yang lebih besar di kemudian hari.

Ringkasan tentang Iman kepada Takdir

Iman kepada takdir mencakup keyakinan bahwa:

  1. Allah mengetahui segala sesuatu secara rinci.
  2. Allah telah mencatat semua ketetapan-Nya dalam Lauhul Mahfuzh.
  3. Semua peristiwa di dunia terjadi sesuai kehendak dan penciptaan Allah.

Pemahaman ini akan menanamkan sikap tawakal, rasa syukur, dan kesabaran pada anak, sekaligus menjadi dasar akidah yang kuat untuk masa depannya.

 

 

PENDAHULUAN TENTANG MENJAWAB PERTANYAAN ANAK

 

Allah telah menciptakan manusia dengan naluri ingin tahu, dan pada anak-anak, naluri ini tampak sangat menonjol. Masa kanak-kanak adalah masa penuh pertanyaan, di mana sebagian besar komunikasi anak berupa berbagai macam pertanyaan[[145]]. Anak-anak merasa belum memahami dunia di sekitar mereka, dan ketidaktahuan ini sering kali menimbulkan rasa takut. Oleh karena itu, mereka terdorong untuk belajar sebanyak mungkin.

Misalnya, anak usia tiga tahun sering mengajukan puluhan pertanyaan setiap hari kepada orang tua atau saudara-saudara mereka. Jawaban yang mereka terima memiliki dampak yang signifikan terhadap perkembangan pengetahuan dan pola pikir mereka. Ini terlihat dari perubahan tema dan bentuk pertanyaan yang mereka ajukan seiring waktu[[146]]. Pertanyaan mereka sering kali diawali dengan kata-kata seperti:

  • “Apa itu?”
  • “Di mana tempatnya?”
  • “Bagaimana bisa terjadi?”
  • “Dari mana asalnya?”
  • “Apa gunanya?”

Anak-anak ingin memahami segala hal yang menarik perhatian mereka. Mereka ingin mengetahui dunia yang mereka lihat dan dengar, meskipun kadang mereka tidak memahami jawabannya. Terkadang mereka mendengarkan dengan saksama, tetapi di waktu lain mungkin tidak terlalu memperhatikan[[147]].

Keinginan Tahu yang Tinggi pada Anak

Sifat ingin tahu pada anak bervariasi tergantung lingkungan dan peluang yang mereka miliki. Di lingkungan yang mendukung eksplorasi, anak-anak lebih banyak bertanya dan memahami dunia dengan lebih baik. Ketika kita membandingkan pertanyaan yang kita ajukan saat kecil dengan pertanyaan anak-anak masa kini, kita sering kali terkagum. Hal ini disebabkan oleh perbedaan zaman, lingkungan, dan kemajuan ilmu pengetahuan.

Pentingnya Respon Orang Dewasa

Pendekatan orang dewasa terhadap pertanyaan anak sangat memengaruhi kebiasaan bertanya mereka. Seorang pendidik atau orang tua yang menyambut pertanyaan dengan senang hati akan mampu memahami lebih dalam kebutuhan dan pikiran anak-anak. Sebaliknya, pendidik yang mudah marah atau tidak sabar terhadap pertanyaan anak akan membuat mereka enggan untuk bertanya.

Walaupun tidak semua hal dapat dijelaskan kepada anak-anak, penting bagi mereka untuk merasa nyaman bertanya tentang hal-hal yang memengaruhi hidup mereka. Jangan sampai mereka merasa takut, tidak dipercaya, atau terpinggirkan dalam proses belajar.

Kebebasan Bertanya sebagai Bagian dari Pendidikan

Anak-anak perlu merasa aman dan nyaman berbicara dengan orang tua atau pendidik mereka. Dengan begitu, mereka akan lebih terbuka dalam menyampaikan rasa ingin tahunya. Memberikan jawaban yang sesuai dengan usia dan pemahaman anak merupakan langkah penting untuk mendukung perkembangan mereka dan membangun rasa percaya diri serta hubungan yang positif dengan lingkungan sekitarnya[[148]].

Penyebab Banyaknya Pertanyaan pada Anak:

Berikut beberapa alasan utama yang menyebabkan anak sering mengajukan banyak pertanyaan:

  1. Keinginan anak untuk menjelajah dan menemukan, sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan perkembangan akal mereka[[149]].
  2. Kebutuhan anak untuk memahami segala sesuatu yang ada di sekitar mereka, baik fenomena maupun benda-benda.
  3. Kekhawatiran dan ketakutan anak terhadap berbagai hal yang belum mereka kenal, misalnya takut terhadap hewan meskipun hewan tersebut tidak menyerangnya. Anak bertanya banyak agar merasa aman.
  4. Perkembangan kemampuan bahasa anak. Ketika anak terus-menerus bertanya, hal ini bukan semata karena ia ingin mendapatkan jawaban, tetapi lebih karena ia ingin melatih kemampuan berbahasa dan membanggakan kemampuannya, serta memenuhi kebutuhan untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial.
  5. Kesempatan untuk berkomunikasi dan berbagi perasaan antara orang tua dan anak.
  6. Membantu anak membangun kepercayaan diri, kepercayaan kepada orang tua, serta mengembangkan rasa hormat terhadap dirinya sendiri[[150]].

Sifat Pertanyaan Anak:

Untuk memahami pertanyaan anak dengan baik, kita perlu membedakan antara:

  • Pertanyaan yang bersifat kognitif dan linguistik,
  • Dan pertanyaan yang bersifat psikologis.

Pada jenis pertama, anak berusaha mengetahui atau memberi tahu sesuatu. Sedangkan pada jenis kedua, motivasinya adalah untuk mencari ketenangan batin, bukan semata-mata ingin mendapatkan jawaban.

Hal yang penting untuk ditekankan adalah bahwa pertanyaan memiliki makna yang kontekstual. Kita tidak bisa menilai nilai suatu pertanyaan, memahami, atau menentukan maknanya tanpa memperhatikan situasi tertentu yang mendorong anak bertanya. Pertanyaan itu sendiri tidak memiliki nilai intrinsik, tetapi nilai, makna, dan pentingnya pertanyaan tergantung pada situasi dan kondisi yang melingkupinya.

Pertanyaan anak memiliki tiga fungsi utama, yaitu:

  1. Membantu anak mencapai keseimbangan psikologis. Banyak pertanyaan anak bersumber dari kebutuhan psikologis.
  2. Merangsang kemampuan berpikir deduktif. Anak mencoba mendapatkan pengetahuan baru dengan menghubungkan atau membangun informasi yang sudah ada.
  3. Membantu anak mengenali lingkungan sekitarnya dan hal-hal penting dalam kehidupan, termasuk memahami nilai-nilai moral dan perilaku yang sesuai dengan kerangka budaya dan sosial tempat anak tinggal[[151]].

 

Jenis-jenis Pertanyaan pada Anak:

Sangat bermanfaat untuk mencoba mengelompokkan pertanyaan yang diajukan oleh anak-anak, karena jawaban untuk setiap pertanyaan dapat berbeda tergantung pada jenisnya. Berikut adalah klasifikasi pertanyaan yang sering diajukan oleh anak-anak:

  1. Pertanyaan dengan Nuansa Linguistik: Misalnya: Mengapa benda-benda diberi nama seperti ini? Mengapa kita tidak mengganti nama-namanya? Mengapa kita tidak menciptakan bahasa lain?
  2. Pertanyaan Eksistensial: Dalam kategori ini termasuk pertanyaan seperti: Dari mana kita berasal? Ke mana kita pergi? Bagaimana anak-anak dilahirkan? Apa arti kematian? Bagaimana tentang alam semesta? Dan pertanyaan sejenis lainnya.
  3. Pertanyaan Pemberontakan: Pertanyaan ini berpusat pada gagasan: Mengapa anak-anak tidak diizinkan melakukan hal-hal yang diperbolehkan untuk orang dewasa? Pertanyaan ini sering muncul dalam bentuk usaha meniru orang dewasa daripada pertanyaan langsung.
  4. Pertanyaan Uji Coba: Ini adalah pertanyaan yang diajukan anak untuk menguji kemampuan orang tua dan mengkritik apa yang mereka anggap sebagai kelemahan. Pertanyaan-pertanyaan ini sering bercampur dengan perbandingan terhadap orang tua teman-teman mereka dan biasanya berfokus pada kemampuan finansial atau fisik orang tua.
  5. Pertanyaan Kekhawatiran Anak: Anak-anak sering mengajukan pertanyaan untuk mengatasi perasaan cemas yang mereka alami. Pertanyaan kekhawatiran yang paling umum adalah pertanyaan tentang ketidakhadiran salah satu orang tua atau bentuk-bentuk lain dari perpisahan.
  6. Pertanyaan Eksplorasi Tubuh: Pertanyaan utama dalam kategori ini biasanya terkait dengan perbedaan fisik antara jenis kelamin.

Klasifikasi ini dapat membantu orang tua memahami latar belakang dari pertanyaan yang diajukan anak-anak. Anak-anak tidak mengajukan pertanyaan hanya untuk mendapatkan jawaban, tetapi didorong oleh dorongan untuk memahami sesuatu[[152]].

Mengapa Orang Tua Mengabaikan Pertanyaan Anak?

Mengabaikan atau merasa terganggu dengan pertanyaan anak-anak bukan hanya disebabkan oleh ketidaktahuan akan jawaban, pentingnya pertanyaan, atau ketidaktahuan tentang peran psikologis dan pendidikan dari pertanyaan tersebut. Ada beberapa alasan lain yang menjadi penyebabnya:

  1. Menganggap Pertanyaan Anak Tidak Penting: Orang dewasa sering kali merasa aneh dengan pertanyaan anak, menganggapnya sepele atau tidak serius. Hal ini membuat mereka tidak memperhatikannya atau bahkan tidak menyadarinya. Akibatnya, orang dewasa cenderung mengabaikan hak anak untuk berpikir dengan caranya sendiri yang sederhana dan lugas. Sikap ini mencerminkan bentuk “otoritas intelektual” yang dipegang oleh orang dewasa, lupa bahwa pertanyaan anak sering kali muncul dari keinginan tulus untuk belajar atau memahami dunia sekitar mereka, serta untuk memenuhi kebutuhan psikologisnya dalam situasi tertentu.
  2. Kesulitan Menjawab Pertanyaan Sensitif: Ketika pertanyaan anak berkaitan dengan topik yang dianggap tabu secara sosial atau moral dalam budaya tertentu, orang dewasa sering merasa sulit menjawabnya. Hal ini menciptakan kebingungan bagi orang tua. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mempersiapkan diri agar dapat memberikan jawaban yang tepat untuk jenis pertanyaan ini.
  3. Terlalu Banyak Pertanyaan: Banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh anak dan frekuensinya yang berulang sering kali menjadi alasan lain bagi orang tua untuk mengabaikannya. Jika orang tua memahami pentingnya pertanyaan anak dari sudut pandang psikologis, mereka seharusnya mendorong anak untuk terus bertanya, seolah-olah mereka sedang “berpikir dengan suara keras.”
  4. Pertanyaan yang Tidak Langsung: Sebagian pertanyaan anak sering disampaikan secara implisit dan tidak langsung. Hal ini membuat orang dewasa gagal memahami pentingnya atau makna sebenarnya dari pertanyaan tersebut, sehingga mengabaikannya.
  5. Ketidaktahuan Orang Tua: Terkadang, orang tua menghindari menjawab karena mereka tidak tahu jawaban dari pertanyaan yang diajukan anak. Dalam hal ini, orang tua perlu mencari jawaban yang sesuai, kemudian menyampaikannya kepada anak dengan jujur dan penuh tanggung jawab[[153]].
  6. Pertanyaan yang Melebihi Kemampuan Anak: Beberapa pertanyaan anak mungkin terlalu kompleks, membutuhkan jawaban yang sangat abstrak dan sulit. Hal ini membuat orang tua sibuk memikirkan bagaimana anak sampai pada pertanyaan tersebut, sehingga mereka malah mengabaikan jawabannya.

Saran: Orang tua sebaiknya memahami bahwa setiap pertanyaan anak memiliki alasan mendasar, baik untuk memenuhi keingintahuan mereka, mencari rasa aman, maupun menyeimbangkan keadaan psikologis mereka. Dengan sikap yang tepat, pertanyaan-pertanyaan ini dapat menjadi peluang untuk mendukung perkembangan anak secara mental, emosional, dan intelektual[[154]].

Bagaimana Orang Tua Harus Menangani Pertanyaan Anak?

Kewajiban orang tua adalah memberikan jawaban yang tepat atas pertanyaan anak-anak mereka. Selain itu, orang tua perlu menciptakan suasana diskusi dan dialog terkait pertanyaan anak, khususnya dalam hal keimanan. Orang tua harus membantu anak-anak mereka untuk berbicara tentang ide-ide mereka mengenai agama, dengan tujuan memberikan rasa tenang, keyakinan, dan pemahaman yang benar tentang agama. Hal ini penting untuk menjaga keseimbangan pemahaman agama anak, agar terhindar dari sikap terlalu longgar atau berlebihan dalam beragama[[155]].

Orang tua tidak diharuskan untuk mengetahui semua jawaban atas pertanyaan tentang agama dari anak. Namun, mereka perlu menjelaskan dasar-dasar keimanan kepada anak-anak mereka agar tumbuh dengan iman yang kuat kepada Allah[[156]]. Salah satu cara yang menarik adalah meminta anak tertua di keluarga untuk mencatat pertanyaan adiknya. Biasanya, anak yang lebih besar akan senang dengan tugas ini, terutama jika mereka merasakan dukungan dan apresiasi dari orang tua. Tugas ini tidak hanya menyenangkan bagi mereka, tetapi juga memberikan manfaat lain:

  1. Menanamkan Nilai Pentingnya Pertanyaan: Dengan menghargai pertanyaan, anak-anak yang lebih besar akan memahami bahwa bertanya adalah tindakan yang berharga. Hal ini juga akan mendorong mereka untuk lebih peduli terhadap pertanyaan anak-anak mereka sendiri di masa depan ketika mereka menjadi orang tua.
  2. Menciptakan Bank Pertanyaan: Kumpulan pertanyaan ini dapat membantu orang tua untuk mencari jawaban yang relevan dan mempersiapkan diri menghadapi pertanyaan serupa dari adik-adiknya di kemudian hari.
  3. Memperkuat Hubungan Orang Tua dan Anak: Anak akan merasa senang ketika orang tua mengingat dan menjawab pertanyaan yang diajukan sebelumnya. Perhatian terhadap pertanyaan mereka akan berdampak besar pada hubungan emosional dan rasa percaya anak kepada orang tua, serta menjadikan mereka sumber utama pengetahuan yang dapat diandalkan[[157]].

Membedakan Jenis Pertanyaan Anak

Orang tua perlu membedakan dua jenis pertanyaan anak:

  1. Pertanyaan Mendesak: Pertanyaan yang sering diulang oleh anak atau diajukan kepada beberapa anggota keluarga, yang biasanya melahirkan pertanyaan-pertanyaan lanjutan. Pertanyaan seperti ini tidak bijak untuk diabaikan. Orang tua perlu berusaha menjawabnya, mencari informasi, atau meminta bantuan seseorang yang dapat memberikan jawaban dengan baik. Hal ini memiliki nilai pendidikan yang penting.
  2. Pertanyaan Sementara: Pertanyaan yang hanya muncul sesekali dan mudah dilupakan oleh anak jika diajak berbicara tentang topik lain. Pertanyaan jenis ini boleh saja diabaikan, terutama jika berkaitan dengan hal-hal yang belum dapat dipahami oleh anak.

Kesimpulan:
Menjawab pertanyaan anak dengan serius akan memperkuat hubungan antara orang tua dan anak, menjadikan orang tua sebagai sumber utama pengetahuan yang dipercaya oleh anak dalam jangka panjang. Hal ini juga mencegah anak mencari informasi dari sumber yang tidak terpercaya, terutama saat mereka memasuki masa remaja.

Prinsip-prinsip dalam Menangani Pertanyaan Anak

Terdapat sejumlah prinsip dan nilai yang perlu diperhatikan oleh orang tua saat menjawab pertanyaan anak-anak. Prinsip-prinsip ini meliputi:

  1. Prinsip Penghormatan: Orang tua yang mendengarkan pertanyaan anak dengan serius akan membuat anak merasa dihormati dan dihargai. Sikap ini menunjukkan bahwa orang tua peduli terhadap apa yang menjadi perhatian anak. Penghormatan semacam ini membantu memulihkan keseimbangan psikologis anak, memberikan rasa tenang, dan meningkatkan rasa percaya diri. Hal ini tercermin dalam kepercayaan diri anak yang lebih tinggi saat bertanya dengan lebih terstruktur dan logis.
  2. Prinsip Kepercayaan dan Keamanan: Orang tua perlu memastikan bahwa jawaban yang diberikan kepada anak benar-benar akurat, menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan akrab bagi mereka, serta menyederhanakan informasi dalam kerangka yang benar secara ilmiah. Kejujuran dalam jawaban menciptakan rasa stabilitas, kepercayaan, dan keamanan psikologis bagi anak.
  3. Prinsip Mengatasi Motif Anak: Pertanyaan anak sering kali muncul dari dorongan emosional atau situasi tertentu. Sebagai contoh, seorang anak yang merasa cemas atau tidak nyaman karena kelahiran adik baru mungkin bertanya, “Dari mana bayi berasal?” Dalam kasus seperti ini, masalah sebenarnya tidak hanya bisa diatasi dengan jawaban ilmiah. Orang tua perlu menangani akar penyebab pertanyaan tersebut, yaitu perasaan anak yang memerlukan perhatian khusus[[158]].

Membantu Anak Berpikir Mendalam

Orang tua dapat membantu anak memahami dunia, bukan hanya melalui cerita dan pengetahuan yang benar, tetapi juga dengan melatih mereka untuk merenung, memberikan saran, dan membiasakan mereka untuk tidak hanya puas dengan apa yang tampak di permukaan. Anak perlu didorong untuk berpikir lebih dalam tentang hal-hal yang ada di balik apa yang mereka lihat[[159]]. Hal ini bisa dicapai melalui interaksi positif, diskusi yang membangun, dialog yang bermakna, dan pertukaran pendapat[[160]].

Orang tua juga disarankan untuk aktif mengajukan pertanyaan yang merangsang pemikiran anak. Dengan demikian, anak terbiasa berpikir kritis dan menemukan solusi kreatif.

Mengelola Pertanyaan dalam Keluarga

Saat anak mengajukan pertanyaan yang sifatnya sederhana dan tidak terlalu sensitif, orang tua bisa menyarankan untuk membahasnya dalam forum keluarga. Semua anggota keluarga diberi kesempatan untuk memberikan pendapat. Hal ini tidak hanya memperkuat hubungan keluarga tetapi juga memberikan banyak perspektif kepada anak.

Namun, sangat penting untuk memastikan anak tidak merasa direndahkan oleh kakak atau anggota keluarga lainnya karena dianggap bertanya hal yang sepele. Jika ini terjadi, orang tua harus mendukung anak, memuji keberaniannya bertanya, dan mengingatkan semua anggota keluarga bahwa bertanya adalah hal penting. Ayat Al-Qur’an berikut bisa digunakan sebagai penguat: “Dan tidaklah kamu diberi ilmu kecuali sedikit” (QS. Al-Isra: 85).

Manfaat Diskusi Keluarga

Melalui diskusi keluarga yang dimulai dari pertanyaan anak, berbagai tujuan dapat dicapai, seperti:

  • Meningkatkan rasa percaya diri anak.
  • Mengajarkan nilai pentingnya bertanya.
  • Melatih anak berpikir kritis.
  • Menguatkan hubungan keluarga melalui diskusi yang sehat.

Dengan cara ini, pertanyaan anak menjadi pintu masuk untuk memberikan pendidikan yang bermakna, baik secara intelektual maupun emosional.

Pendidikan melalui Dialog:

Metode yang paling sesuai untuk anak-anak adalah metode dialogis yang berbasis pada diskusi, tanya jawab, karena metode ini membantu melatih kemampuan berbicara (fasih berbicara) dan mendukung pembentukan keterampilan yang merupakan esensi dari proses belajar-mengajar. Dialog yang mendekatkan pemahaman dan mencapai tujuan-tujuannya[[161]]. Dalam dialog, anak harus merasa dihargai, yang pada akhirnya akan membebaskan anak dari kecemasan, ketakutan, dan konflik batin seperti tekanan dan trauma.

Ketika anak merasa nyaman secara emosional dalam dialog dan diskusi, dia akan dengan jujur mengungkapkan semua yang ada dalam dirinya, termasuk konflik dan kesulitannya. Jika kedua belah pihak (anak dan lawan bicaranya) sampai pada akar masalah dan berbicara dengan jujur, anak akan membuka semua isi hatinya, sehingga penyelesaian masalah menjadi mudah, dan kesuksesan dalam solusi tersebut dapat dicapai dengan lebih mudah[[162]].

Dialog antara anak dan orang tuanya memberikan banyak manfaat bagi keluarga, di antaranya:

  1. Pengenalan: Anak menjadi lebih dekat dengan anggota keluarga lainnya.
  2. Keharmonisan: Dialog meningkatkan rasa kasih sayang dan keakraban di antara anggota keluarga.
  3. Kelembutan: Dialog tidak hanya menciptakan suasana resmi, tetapi juga menghadirkan makna sejati dari dialog itu sendiri melalui kata-kata yang manis dan suasana yang penuh kehangatan[[163]].

Kesimpulan tentang Pendidikan melalui Dialog:

Dari uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa pendidikan melalui dialog memiliki beberapa keunggulan, antara lain:

  1. Memberikan kebebasan berpikir kepada anak dan memungkinkan mereka menemukan kebenaran sendiri. Hal ini memotivasi kreativitas dan mengembangkan kepribadian mereka.
  2. Metodenya sederhana, tidak memerlukan kerumitan, sehingga anak dapat mengikutinya dengan nyaman tanpa rasa malu.
  3. Membawa kegembiraan dan rasa percaya diri pada anak, sekaligus mengajarkan mereka untuk mendengarkan orang lain.
  4. Menyediakan peluang untuk penelitian dan berpikir mandiri, sehingga anak dapat melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang dan terbiasa berpikir logis.
  5. Membangkitkan perhatian anak, menghilangkan kebosanan, serta mendorong mereka untuk lebih aktif dan responsif[[164]].

Penyusunan Pertanyaan Dialogis:

Ada beberapa bentuk pertanyaan yang dapat diajukan kepada anak, di antaranya:

  1. “Apa yang terjadi?” Pertanyaan ini mendorong anak untuk meneliti apa yang terjadi di sekitarnya, membantu mereka menggambarkan apa yang mereka lihat secara langsung.
  2. “Apa yang kamu inginkan?” Pertanyaan ini membantu anak menentukan kebutuhannya secara jelas.
  3. “Bagaimana kamu melakukannya?” Pertanyaan ini mendorong mereka untuk berpikir bebas dan memotivasi imajinasi dalam mencari jawaban.
  4. “Mengapa ini terjadi?” Pertanyaan ini membantu anak melampaui hal-hal yang tampak, mencari penyebabnya, dan memulai proses analisis serta menghubungkan satu hal dengan lainnya.
  5. “Apa yang akan kita lakukan jika terjadi sesuatu?” Pertanyaan ini membantu mereka memikirkan ulang suatu hal dari sudut pandang yang berbeda.

Karakteristik Pertanyaan yang Baik dalam Pendidikan Dialogis:

  1. Pertanyaan harus sesingkat mungkin.
  2. Pertanyaan harus jelas dan terfokus pada satu gagasan.
  3. Pertanyaan harus sesuai dengan usia, waktu, tempat, dan kondisi yang dialami anak.
  4. Pertanyaan tidak menuntut jawaban benar atau salah, tetapi merangsang pikiran anak dan memperluas wawasan mereka, sehingga mereka memiliki ruang untuk berimajinasi dalam menjawab[[165]].

Metode Menjawab Pertanyaan Anak:

Telah dijelaskan sebelumnya tentang jenis-jenis dan bentuk pertanyaan anak. Kali ini, pembahasan difokuskan pada cara memberikan jawaban. Metode menjawab pertanyaan anak dapat bervariasi tergantung pada waktu, tempat, dan kondisi saat pertanyaan diajukan. Beberapa metode yang paling umum adalah sebagai berikut:

  1. Jawaban Lisan Langsung: Ini adalah metode yang paling sering digunakan. Anak mengajukan pertanyaan, dan orang tua memberikan jawaban secara lisan. Biasanya, jawaban ini diberikan dengan cepat dan singkat.
  2. Jawaban Melalui Cerita Pendek: Metode ini merupakan cara tidak langsung untuk menjawab pertanyaan. Cerita yang disampaikan disesuaikan dengan jenis pertanyaan yang diajukan. Anak-anak biasanya menyukai jenis jawaban ini dan mendengarkan dengan antusias.
  3. Jawaban Bergambar: Ada kalanya anak mengajukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban menggunakan gambar sebagai penjelas. Hal ini sering digunakan untuk menjawab pertanyaan ilmiah, di mana gambar menjadi sumber utama pemahaman, terutama jika gambar tersebut berwarna dan menarik.
  4. Jawaban Melalui Pengamatan: Beberapa pertanyaan dapat dijawab secara praktis dengan membawa anak ke tempat di mana jawabannya dapat ditemukan. Dengan cara ini, anak dapat mengamati secara langsung dan menyimpulkan jawabannya sendiri. Misalnya, ketika anak bertanya tentang hewan di lingkungan sekitar, bagaimana mereka hidup, apa yang mereka makan, dan bagaimana cara mereka berkembang biak[[166]].

Panduan Umum dalam Menjawab Pertanyaan Anak:

  1. Gunakan pendekatan diskusi: Berusaha meyakinkan anak melalui diskusi, pertanyaan, dan eksplorasi. Hindari metode hanya menghafal teori. Setelah memberikan jawaban, pastikan anak benar-benar merasa puas dan yakin.
  2. Bersikap jujur: Jangan pernah berbohong, bahkan untuk menghindari rasa malu. Hindari memberikan informasi yang salah, karena kejujuran jawaban adalah dasar kepercayaan anak kepada orang tua.
  3. Sederhanakan jawaban: Berikan jawaban yang mudah dipahami, sesuai dengan kapasitas berpikir anak. Hindari jawaban yang membingungkan atau memberikan informasi yang tidak lengkap, karena informasi yang diberikan dapat membentuk persepsi anak[[167]].
  4. Hargai kecerdasan anak: Jangan menganggap anak tidak mampu memahami. Jika disampaikan dengan cara yang baik, anak dapat mengerti. Jawablah pertanyaan secara langsung tanpa menyimpang, agar anak tidak bingung.
  5. Jangan mengejek atau memarahi anak: Apapun jenis pertanyaannya, selalu tanggapi dengan serius. Jangan membuat anak merasa diremehkan atau dipermalukan, karena ini dapat mengurangi rasa ingin tahunya dan kepercayaan dirinya[[168]].
  6. Jawab pertanyaan tentang Tuhan dengan tenang: Jangan khawatir jika anak bertanya tentang konsep abstrak seperti Tuhan. Hindari menghindar dari jawaban, karena anak mungkin mencari informasi dari sumber yang salah.
  7. Minta waktu jika perlu: Jika tidak tahu jawabannya, minta waktu untuk mencari. Mengakui ketidaktahuan menunjukkan bahwa orang tua adalah pencari pengetahuan, bukan berpura-pura tahu segalanya[[169]].
  8. Dengarkan dan tanggapi dengan perhatian: Jangan mengabaikan pertanyaan anak. Rasa diterima dan dihargai akan membantu anak menerima penjelasan tentang hal-hal yang sulit dipahami[[170]].
  9. Atur waktu dengan bijak: Jika sedang sibuk, beri tahu anak dengan lembut bahwa Anda akan menjawab pertanyaannya setelah selesai. Jangan lupa untuk memenuhi janji tersebut.
  10. Sesuai dengan usia: Panjang dan kedalaman jawaban harus disesuaikan dengan usia anak. Misalnya, jawaban untuk anak usia 6 tahun harus lebih singkat dibandingkan anak usia 10 tahun[[171]].
  11. Gunakan contoh konkret: Hubungkan jawaban dengan hal-hal nyata yang bisa dipahami anak. Hindari penjelasan abstrak, dan gunakan bukti atau ilustrasi jika memungkinkan untuk memperkuat jawaban[[172]].
  12. Konsistensi antar orang tua: Pastikan orang tua memberikan jawaban yang sejalan, sehingga tidak ada kontradiksi yang dapat membingungkan anak.
  13. Hindari menjawab dengan pertanyaan lain: Jangan merespons pertanyaan anak dengan balik bertanya seperti, “Apa maksudmu?”. Jika perlu klarifikasi, gunakan pernyataan seperti, “Apakah kamu bertanya tentang …?”.
  14. Hindari sikap otoriter: Jika anak mendapatkan informasi yang berbeda dari sumber lain, jangan memaksakan jawaban Anda. Berikan penjelasan yang mudah dan logis untuk meyakinkan anak[[173]].
  15. Gunakan variasi dalam menjelaskan: Gunakan metode kreatif seperti cerita, gambar[[174]], permainan, nasyid, atau eksperimen sederhana[[175]] untuk membuat jawaban lebih menarik dan mudah dipahami.
  16. Berikan jawaban secara bertahap: Untuk beberapa pertanyaan, jawaban tidak perlu langsung lengkap. Berikan penjelasan sedikit demi sedikit sesuai dengan usia dan tingkat pemahaman anak. Jika anak terus bertanya, tambahkan jawaban yang lebih mendalam secara bertahap sesuai jenis soal dan daya tangkap anak[[176]].
  17. Libatkan anak dalam memberikan pandangannya: Ketika anak mulai beranjak dewasa dan mencapai tahap pemikiran yang lebih matang, disarankan untuk meminta pendapatnya terlebih dahulu mengenai pertanyaan yang diajukannya. Misalnya, kembalikan pertanyaan tersebut kepada anak dengan menanyakan pendapatnya, untuk melihat bagaimana ia merespons. Dari tanggapan tersebut, Anda dapat mulai memberikan jawaban yang sesuai[[177]].

Penting untuk berhenti mencoba membuat/memaksa anak berpikir seperti orang dewasa, karena hal ini akan membatasi cara berpikir anak dan memaksanya berada dalam kerangka yang tidak sesuai dengan dunianya. Menghargai perspektif anak akan mendorongnya berkembang secara alami sesuai kapasitas dan dunianya sendiri.

Kesalahan Pendidikan dalam Menjawab Pertanyaan Anak:

Berikut adalah beberapa kesalahan yang sering terjadi dalam proses mendidik dan menjawab pertanyaan anak:

  1. Mengabaikan aspek pendidikan yang beragam: Tidak memperhatikan keseimbangan antara aspek iman, akhlak, dan ilmu. Terlalu fokus pada satu aspek sambil mengabaikan yang lain atau tidak menjaga keseimbangan di antara semuanya merupakan kesalahan umum.
  2. Tidak bertahap dalam pendidikan: Kurangnya kesabaran dalam proses mendidik, seperti terlalu banyak memberikan kritik, celaan, atau menuduh anak tidak kompeten, dapat merusak rasa percaya dirinya.
  3. Mengharapkan penerimaan tanpa diskusi: Memaksakan anak untuk menerima pendapat tanpa membiarkannya bertanya atau berdiskusi adalah kesalahan yang dapat menghambat kemampuan berpikir kritisnya.
  4. Tidak melibatkan ahli atau orang berpengalaman: Mengabaikan pendapat para ahli atau orang tua yang lebih berpengalaman, serta mengambil keputusan tanpa mencari panduan dari sumber yang tepat, dapat menyebabkan kesalahan dalam mendidik.
  5. Bersikap tergesa-gesa dan kurangnya tindak lanjut: Memberikan jawaban dengan terburu-buru tanpa memastikan pemahaman anak atau kurang melakukan pengawasan terhadap perkembangan pemahaman anak.
  6. Memberikan arahan yang tidak jelas: Ketidakjelasan dalam memberikan jawaban atau arahan dapat membingungkan anak.
  7. Ketidaksesuaian antara perkataan dan tindakan: Anak cenderung meniru apa yang mereka lihat. Ketika ucapan dan tindakan orang tua tidak selaras, hal ini dapat merusak kepercayaan anak terhadap orang tua.
  8. Menyampaikan pesan negatif yang melemahkan: Memberikan komentar yang bersifat mengecilkan hati, seperti menyebut anak tidak mampu, bodoh, atau malas, dapat memengaruhi pembangunan karakter dan keimanannya secara negatif[[178]].

Kesalahan-kesalahan ini dapat berdampak pada perkembangan psikologis, intelektual, dan spiritual anak, sehingga penting untuk menghindarinya dalam proses pendidikan.

 

 

BAB KEDUA

Contoh Praktis Jawaban atas Pertanyaan Anak Tentang Iman

Jawaban-jawaban dalam bagian ini ditujukan terutama kepada para orang tua, pendidik, dan siapa pun yang berinteraksi dengan pertanyaan anak-anak, termasuk guru, pembimbing, dan pendidik. Diharapkan mereka dapat menyesuaikan jawaban sesuai usia, kemampuan, dan tingkat pemahaman anak[[179]]. Hal ini karena kita tidak bisa memberikan satu jawaban yang berlaku untuk semua anak dengan tingkatan usia dan kapasitas berpikir yang berbeda-beda.

  1. Fleksibilitas Jawaban. Yang penting bukanlah kata per kata dari jawaban itu sendiri, tetapi esensi dan makna dari jawaban yang diberikan[[180]]. Jawaban dapat disampaikan secara langsung maupun tidak langsung, tergantung situasi dan kondisi. Orang tua atau pendidik bebas menyesuaikan isi jawaban dengan bahasa yang lebih cocok dan mudah dipahami oleh anak-anak.
  2. Kesiapan Orang Tua. Untuk menjawab pertanyaan anak seputar iman, orang tua harus memiliki pengetahuan dasar tentang konsep-konsep agama yang sesuai dengan perkembangan anak. Tantangan utama bukan hanya memiliki informasi yang benar, tetapi bagaimana menyampaikannya dalam format yang dapat diterima dan dipahami oleh anak sesuai konteks waktu, lingkungan, dan situasi mereka.
  3. Pertanyaan Seputar Iman. Berikut adalah beberapa contoh pertanyaan iman yang sering diajukan anak-anak beserta jawabannya. Meskipun demikian, jawaban ini bukan jawaban final atau baku, melainkan titik awal yang bisa dikembangkan atau dimodifikasi oleh orang tua dan pendidik sesuai kebutuhan anak.

Jika ada orang tua yang merasa terganggu atau khawatir dengan pertanyaan anak-anak tentang hal-hal yang kompleks atau “sensitif,” maka anggapan tersebut keliru. Pertanyaan semacam ini sebenarnya adalah indikasi perkembangan sehat dan alami dari pola pikir anak serta kemampuan intelektualnya. Anak-anak bertanya karena mereka mulai menyadari dunia di sekitar mereka dan mencoba memahami hal-hal yang tidak terlihat (ghaib) dengan logika sederhana mereka.

Jika ada “kelemahan,” itu biasanya muncul dari ketidakmampuan orang tua dalam memahami perkembangan mental anak dan keterbukaan pikirannya[[181]]. Orang tua diharapkan berusaha keras memberikan jawaban yang meyakinkan dan setidaknya memuaskan rasa ingin tahu anak meskipun tidak sempurna. Jawaban yang meyakinkan sebagian akan membantu anak merasa lebih tenang, stabil secara emosional, dan nyaman secara intelektual serta sosial.

Sebaliknya, jawaban yang tidak jelas, salah, atau reaksi yang kurang tepat (seperti memarahi atau meremehkan pertanyaan anak) dapat memperparah kebingungan mereka. Ini akan memicu kecemasan, keraguan, dan ketidakseimbangan perilaku serta pemikiran di kemudian hari.

  1. Pentingnya Respons Tepat Waktu. Masalah-masalah besar di masa mereka dewasa sering kali berawal dari hal kecil yang diabaikan[[182]]. Seperti api yang bermula dari percikan kecil, banyak sifat buruk atau kebingungan berpikir yang tumbuh karena diabaikan atau ditanggapi dengan cara yang salah di masa kanak-kanak. Dengan pendekatan yang tepat, benih-benih kebingungan dan keraguan bisa diatasi sebelum mengakar kuat dalam diri anak.

Kesimpulan

Setiap pertanyaan dari anak adalah peluang emas bagi orang tua dan pendidik untuk membentuk pemahaman anak tentang iman dan dunia di sekitarnya. Jangan mengabaikan pertanyaan mereka, karena penundaan atau jawaban yang keliru hanya akan menumbuhkan kebingungan dan keraguan. Lebih baik memberikan jawaban yang sederhana, jelas, dan dapat diterima anak dibanding membiarkan mereka mencari jawaban dari sumber yang salah atau tidak tepercaya[[183]].

 

 

PERTANYAAN TENTANG ALLAH

 

Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul dalam pikiran anak-anak di usia dini adalah pertanyaan yang berpusat pada Allah. Berikut ini adalah uraian tentang pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan anak-anak kepada orang tua mereka:

Siapakah Allah?

Jawaban: Sejak awal, kita tidak perlu menunggu anak bertanya kepada kita tentang Allah, melainkan kita harus memulai pembicaraan tentang Allah setiap saat dan dalam setiap kesempatan. Jawaban yang benar atas pertanyaan anak tentang Allah dan sifat-sifat-Nya akan membangun aqidah tauhid dan iman kepada Allah dalam akal dan hati anak. Oleh karena itu, cara yang paling baik adalah mengalihkan perhatian anak dari memikirkan hakikat Allah kepada merenungi tanda-tanda kebesaran-Nya dan keajaiban ciptaan-Nya yang menunjukkan keberadaan-Nya, seperti langit, awan, bintang-bintang, matahari, bulan, laut, dan pepohonan[[184]].

Kita juga dapat mengingatkannya tentang nikmat Allah berupa penciptaan dirinya dan anggota tubuhnya, seperti mata, telinga, mulut, lidah, tangan, kaki, dan seluruh tubuhnya. Kita bisa mengatakan kepadanya bahwa langit ini diciptakan oleh Allah, bumi ini diciptakan oleh Allah, dan semua pohon ini juga diciptakan oleh Allah. Dengan cara ini, anak akan terbiasa dengan kata-kata ini dan merasa nyaman dengannya.

Ketika anak bertanya, “Siapakah Allah?” kita bisa menjawab dengan sederhana, “Allah adalah yang menciptakan semua yang ada di sekitar kita dan semua yang ada di dunia ini.” Kita juga bisa memberikan banyak contoh terkait hal itu.

Jika kita mengajak anak melihat alam semesta ini, baik langit maupun bumi, dan menunjukkan kepadanya keteraturan dan sistem yang menakjubkan ini, kita dapat berkata, “Lihatlah sistem ini. Yang menetapkan hukum-hukum ini dan mengaturnya adalah Allah.” Dengan begitu, anak akan merasakan keberadaan Allah dengan pengetahuan dan keyakinan. Kita juga bisa menjelaskan kepadanya bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu, tidak ada yang serupa dengan-Nya, Maha Penyayang, Maha Memberi Rezeki, dan Maha Mulia. Allah memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang semuanya baik dan indah. Karena itu, Allah berhak disembah tanpa sekutu. Allah juga mencintai anak-anak dan memerintahkan orang dewasa untuk merawat, membantu, dan berbuat baik kepada mereka serta kepada seluruh manusia. Allah akan menghisab perbuatan baik dan buruk kita dengan memberikan pahala atau hukuman. Dia-lah yang membalas kebaikan orang yang berbuat baik dan menghukum orang yang berbuat jahat.

Mengajarkan anak surat-surat pendek dari Juz Amma adalah hal yang bermanfaat, karena di dalamnya terdapat jawaban terbaik tentang hakikat Allah dan sifat-sifat-Nya, seperti dalam surat Al-Ikhlas: “Dialah Allah yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”[[185]]

Kita juga dapat mengajukan pertanyaan kepada anak, misalnya: “Siapa yang membelikanmu pakaian indah ini?” Anak akan menjawab, “Ayahku.” “Siapa yang mengantarmu ke sekolah?” Anak akan menjawab, “Ayahku.” “Ketika kamu sakit, siapa yang membawamu ke dokter?” Anak akan menjawab, “Ayahku.” “Siapa yang mengajakmu piknik saat liburan?” Anak akan menjawab, “Ayahku.” Kemudian kita bisa berkata, “Jadi, ayahmu yang mengurus semua urusanmu?” Anak akan menjawab, “Ya.” Kita bisa menjelaskan, “Begitu pula Allah. Dialah yang mengurus kita semua. Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Semua yang kamu lihat di sekitarmu adalah ciptaan Allah: matahari, bulan, awan, lautan, gunung-gunung, manusia, hewan, dan burung-burung. Allah menciptakan malaikat dan setan. Allah adalah Pencipta seluruh alam semesta. Allah Maha Dermawan dan Maha Penyayang. Dia yang mengurus, menjaga, mencintai kita, dan selalu membawa kebaikan kepada kita.”

Apakah Wujud Allah Seperti Manusia?

Jawaban: Tidak, Allah tidak seperti kita. Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya” (QS. Asy-Syura: 11). Allah yang menciptakan aku, kamu, dan semua manusia. Dia menciptakan pohon-pohon, sungai-sungai, lautan, dan segala sesuatu di dunia ini. Allah adalah sumber kekuatan. Jika Allah menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata “Jadilah!” maka jadilah sesuatu itu.

Allah berbeda dengan manusia. Manusia tidak mampu menciptakan seorang manusia lain, tetapi Allah bisa menciptakan apa saja yang Dia kehendaki. Tidak ada seorang pun yang bisa melihat Allah di dunia ini, dan tidak ada yang bisa menggambarkan wujud-Nya. Kita tidak bisa menatap Allah dalam keagungan dan cahaya-Nya karena kemampuan kita terbatas.

Kemudian, kita bisa mengajak anak untuk mencoba menatap sinar matahari tanpa menutup matanya. Tanyakan: “Apakah kamu bisa terus menatap matahari?” Tentu dia akan menjawab tidak. Maka kita katakan: “Begitulah, cahaya yang berasal dari Allah tidak bisa kita tanggung. Namun, ketika kita masuk surga, kita akan dapat melihat Allah dengan izin-Nya.”

Anak mungkin keberatan dan berkata: “Bagaimana Allah tidak serupa dengan apa pun?” Kita harus menjelaskannya dengan tenang: “Akal manusia, secerdas apa pun, tetaplah terbatas. Akal kita hanya mengetahui apa yang Allah kehendaki untuk kita ketahui, sementara sisanya tidak. Tidak mungkin kita mengetahui segalanya, karena kita adalah manusia biasa.”

Kita juga bisa menjelaskan: “Jika Allah seperti manusia, maka Dia akan sakit seperti kita, makan dan minum seperti kita, serta mati seperti manusia yang lain. Tetapi Allah tidak pernah sakit, tidak makan dan minum, dan tidak mati. Allah selalu ada. Dia yang menciptakan langit, bumi, dan seluruh alam semesta. Karena itu, Allah tidak serupa dengan apa pun.”

Kita bisa bertanya kepada anak: “Apakah kita manusia bisa berkata kepada sesuatu, ‘Jadilah!’ lalu ia terjadi?” Anak tentu akan menjawab tidak. Maka dari itu, kita bersama anak dapat menyimpulkan bahwa Allah bukan manusia seperti kita, melainkan Pencipta yang Maha Agung.

Lanjutkan dengan mengatakan: “Pendengaran kita terbatas. Kita hanya bisa mendengar dalam jarak tertentu. Jika kita mendengar semua suara, kita akan lelah. Penglihatan kita juga terbatas, hanya bisa melihat dalam jarak tertentu. Kita tidak bisa melihat sesuatu di balik tembok, misalnya. Seperti pendengaran dan penglihatan kita yang terbatas, akal kita juga terbatas. Akal manusia tidak mampu memahami segala sesuatu. Sejak Allah menciptakan manusia hingga hari ini, masih banyak hal yang tidak kita ketahui dibandingkan dengan yang sudah kita ketahui.”

Contohnya adalah ruh yang ada dalam tubuh kita. Meskipun ia sangat dekat dengan kita, kita tidak dapat membayangkan atau memahami hakikatnya. Jika hal yang ada dalam diri kita saja sulit kita pahami, bagaimana dengan sesuatu yang berada di luar diri kita?

Karena akal manusia terbatas, ia tidak mampu memahami hakikat Allah. Oleh karena itu, pembicaraan tentang wujud Allah tidak bisa dilakukan dengan imajinasi, akal, atau angan-angan, tetapi harus berdasarkan syariat.

Al-Qur’an telah menyelesaikan masalah ini dengan firman Allah: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. Asy-Syura: 11). Maka, Allah tidak seperti kita atau apa pun[[186]]. Hal ini menunjukkan kebesaran Allah yang harus kita cintai, harapkan, dan takuti. Kebesaran Allah ini semakin nyata karena melihat-Nya di surga nanti adalah kenikmatan terbesar dari segala kenikmatan surga.

Siapa yang Menciptakan Allah?

Jawaban: Jika ada yang menciptakan Allah, maka kita juga akan bertanya, “Siapa yang menciptakan pencipta Allah?” Bukankah demikian? Oleh karena itu, kita harus memahami bahwa salah satu sifat Sang Pencipta adalah bahwa Dia tidak diciptakan. Dialah yang menciptakan semua makhluk. Jika Dia diciptakan, kita tidak akan menyembah-Nya dan mengikuti perintah serta ajaran-Nya. Dengan demikian, pertanyaan tentang siapa yang menciptakan Allah tidaklah benar, dan pertanyaan yang tidak benar tidak memiliki makna.

Sebagai contoh, jika seseorang bertanya kepada Anda, “Berapa panjang sisi keempat dari sebuah segitiga?” Pertanyaan ini tidak mungkin dijawab karena segitiga hanya memiliki tiga sisi. Kesalahan dalam pertanyaan “Siapa yang menciptakan Allah?” terletak pada fakta bahwa kata “diciptakan” dan “Allah” tidak bisa disandingkan. Allah adalah Tuhan yang tidak diciptakan, sedangkan penciptaan hanya berlaku bagi makhluk. Tidak ada yang menciptakan Allah, karena jika ada yang menciptakan-Nya, maka Dia pun akan menjadi makhluk, bukan Tuhan. Allah itu ada tanpa awal dan tanpa akhir.

Jika kita berandai-andai bahwa ada yang menciptakan Allah, maka pertanyaan yang sama akan muncul: “Siapa yang menciptakan pencipta Allah?” Lalu, “Siapa yang menciptakan pencipta pencipta Allah?” Dan seterusnya tanpa akhir. Hal ini disebut regresi tak berujung dan merupakan hal yang mustahil.

Untuk mendekatkan pemahaman, bayangkan seorang tentara yang ingin menembakkan peluru. Namun, sebelum menembak, ia harus meminta izin dari tentara yang berada di belakangnya. Tentara itu pun harus meminta izin dari tentara lain yang ada di belakangnya, dan seterusnya tanpa akhir. Pertanyaannya: “Apakah peluru akan ditembakkan?” Jawabannya adalah tidak, karena tentara tidak akan pernah sampai pada orang terakhir yang dapat memberikan izin. Namun, jika rantai ini berakhir pada satu orang yang tidak perlu meminta izin dari siapa pun, maka peluru akan ditembakkan.

Tanpa adanya orang terakhir ini, peluru tidak akan pernah ditembakkan, tidak peduli berapa banyak tentara dalam rantai tersebut. Hal ini serupa dengan angka nol: sebanyak apa pun nol yang disusun berdampingan, nilainya tetap nol. Namun, jika kita menambahkan angka 1 di depan nol-nol tersebut, barulah nilainya menjadi sesuatu[[187]].

Allah adalah satu-satunya yang tidak memerlukan pencipta, yang ada tanpa awal dan tanpa akhir. Dialah sumber dari segala sesuatu, yang menciptakan tanpa perlu diciptakan. Inilah mengapa kita menyembah Allah dan mengakui keagungan-Nya.

Dari Mana Allah Berasal? Berapa Usianya?

Jawaban: Ketika kamu tahu, wahai anakku, bahwa Allah tidak diciptakan, maka Dia juga tidak dilahirkan dan tidak melahirkan. Allah tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir. Karena itu, Allah tidak memiliki usia sebagaimana manusia. Allah adalah Sang Pencipta Yang Mahabesar, Maha Kaya, Maha Perkasa, dan Maha Penyayang. Dia memiliki nama-nama yang indah (Asmaul Husna) dan sifat-sifat yang luhur. Allah memiliki semua sifat kesempurnaan dan tidak memiliki sifat kekurangan. Dialah yang menciptakan dunia dan seluruh makhluk di dalamnya.

Siapa yang Ada Sebelum Allah?

Jawaban: Pertanyaan ini sama seperti pertanyaan “Siapa yang menciptakan Allah?” dan merupakan pertanyaan yang salah. Allah adalah Yang Awal, tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya, dan Dia adalah Yang Akhir, tidak ada sesuatu pun setelah-Nya. Allah berfirman: “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Batin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. Al-Hadid: 3)[[188]].

Waktu, seperti halnya ruang, adalah ciptaan Allah. Waktu hanyalah salah satu dari makhluk-Nya, sehingga makhluk tidak bisa membatasi atau mengelilingi Sang Pencipta. Allah memiliki segala sifat kesempurnaan dan keindahan.

Bagaimana Jika Anak Terus Bertanya?

Jawaban: Dalam hal ini, penting untuk mengingat nasihat Rasulullah ﷺ. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Setan datang kepada salah seorang dari kalian dan bertanya, ‘Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?’ hingga dia berkata, ‘Siapa yang menciptakan Tuhanmu?’ Jika sampai pada pertanyaan itu, maka berlindunglah kepada Allah dan hentikanlah pikiran itu.”[[189]]

Maka, salah satu cara menghadapi pertanyaan seperti ini adalah dengan meminta anak untuk mengalihkan pikirannya kepada hal lain. Ini bukan berarti pertanyaan tersebut tidak memiliki jawaban, tetapi untuk mencegah anak terjebak dalam waswas (bisikan setan) yang tidak bermanfaat. Mengarahkan pemikiran anak kepada tanda-tanda kebesaran Allah dan kasih sayang-Nya adalah cara terbaik untuk menjaga hati dan pikirannya tetap bersih.

Apakah Allah Laki-laki atau Perempuan?

Jawaban: Sebaiknya kita berusaha mengarahkan pikiran anak agar tidak terlalu banyak memikirkan hakikat Allah dan lebih fokus pada hal-hal yang bermanfaat dan membawa kebaikan. Dalam hal ini, kita bisa menjelaskan kepada anak bahwa perbedaan jenis kelamin, seperti laki-laki dan perempuan, adalah ciri khas makhluk hidup yang diciptakan oleh Allah. Allah berfirman: “Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan.” (QS. An-Najm: 45).

Allah tidak termasuk dalam kategori tersebut. Bahkan ada makhluk lain yang juga tidak memiliki jenis kelamin, seperti malaikat. Begitu pula dengan langit, awan, udara, dan air—semua itu tidak dikategorikan sebagai laki-laki atau perempuan.

Jika ada makhluk yang kekurangannya saja membuatnya tidak termasuk dalam klasifikasi ini, maka Allah, dengan segala kesempurnaan-Nya, tentu jauh di atas semua itu. Allah berfirman: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11).

Penjelasan ini dapat membantu anak memahami bahwa Allah tidak sama dengan makhluk-Nya dan tidak bisa dikategorikan sebagai laki-laki atau perempuan. Hal ini justru menunjukkan kebesaran dan keagungan Allah.

Mengapa Kita Percaya pada Keberadaan Allah? Apa Bukti Keberadaan Allah?

Jawaban:

  1. Bukti Fitrah. Keimanan kepada Allah adalah fitrah manusia yang tidak dapat disangkal. Setiap manusia memiliki dorongan batin yang mengingatkan tentang kebesaran, kekuatan, dan penjagaan Allah. Allah berfirman:
    “Fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS. Ar-Rum: 30).

Fitrah ini adalah bukti dalam diri kita yang selalu menyadari keberadaan Sang Pencipta.

  1. Bukti Logika dan Akal. Segala yang ada di alam ini menunjukkan adanya sistem yang sangat rapi dan teratur. Ketika kita merenung, hanya ada tiga kemungkinan tentang keberadaan segala sesuatu:
  • Kemungkinan pertama: Semua ini ada dengan sendirinya tanpa sebab.
  • Kemungkinan kedua: Semua ini menciptakan dirinya sendiri.
  • Kemungkinan ketiga: Ada pencipta yang menciptakan dan mengatur semua ini.

Dua kemungkinan pertama mustahil, karena sesuatu tidak mungkin ada tanpa sebab atau menciptakan dirinya sendiri. Maka, kemungkinan ketiga adalah yang benar: segala sesuatu diciptakan oleh Allah. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an:
“Apakah mereka tercipta tanpa asal, ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka menciptakan langit dan bumi? Sebenarnya, mereka tidak yakin.” (QS. Ath-Thur: 35-36).

  1. Bukti Indrawi
  • Penciptaan alam semesta: Langit, bumi, pergantian siang dan malam, semuanya menunjukkan adanya Pencipta Yang Mahakuasa. Allah berfirman: “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190).
  • Penciptaan manusia: Tubuh manusia yang kompleks adalah bukti nyata keberadaan Allah. Allah berfirman: “Dan pada dirimu sendiri (terdapat tanda-tanda kebesaran Allah). Maka, apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat: 21).
  • Keajaiban alam: Bintang-bintang, gunung, hewan, tumbuhan, semuanya menunjukkan kreativitas Sang Pencipta.
  1. Bukti Respons Doa. Pengabulan doa juga merupakan bukti bahwa Allah ada. Ketika kita berdoa dalam kesulitan dan doa itu dikabulkan, kita merasakan keberadaan-Nya[[190]].

Kisah Inspiratif Imam Abu Hanifah pernah ditanya oleh sekelompok orang tentang bukti keberadaan Allah. Ia berkata: “Ceritakan padaku, apakah mungkin ada sebuah kapal yang berjalan di sungai, memuat barang, berlayar, dan kembali dengan teratur tanpa ada yang mengendalikannya?” Mereka menjawab, “Itu mustahil.” Abu Hanifah berkata, “Jika kapal saja mustahil berjalan tanpa pengatur, bagaimana mungkin alam semesta yang jauh lebih besar ini ada tanpa Pencipta?”[[191]]

  1. Pengalaman Pribadi. Ketika merasa lapar, kita mencari makanan. Ketika haus, kita mencari air. Ketika melihat keindahan alam, kita merasa bahagia. Semua ini menunjukkan bahwa manusia secara naluriah membutuhkan Allah, tempat berlindung dan sumber kekuatan. Percaya pada Allah membawa ketenangan, kedamaian, dan rasa syukur atas semua nikmat yang diberikan.

Apakah Allah Mendengar, Melihat, dan Berbicara Seperti Kita?

Jawaban: Allah memang berbicara, mendengar, dan melihat, sebagaimana firman-Nya: “Sungguh, Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya.” (QS. Al-Mujadalah: 1).

Juga firman-Nya: “Janganlah kamu berdua merasa takut, sesungguhnya Aku bersama kamu berdua; Aku mendengar dan melihat.” (QS. Thaha: 46).

Dan firman-Nya: “Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 112).

Namun, mendengar, melihat, dan berbicara Allah tidaklah sama seperti kita, karena Allah berbeda dengan makhluk-Nya. Allah mendengar semua suara, sekalipun sangat pelan. Allah melihat segala sesuatu, meskipun sangat jauh. Pendengaran, penglihatan, dan pembicaraan Allah sempurna tanpa kelemahan, sedangkan pendengaran dan penglihatan makhluk penuh dengan keterbatasan. Allah berfirman: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11).

Kita dapat mengaitkan hal ini dengan perilaku kita sehari-hari: “Jika Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat, pantaskah kita berbicara tentang sesuatu yang tidak disukai-Nya atau berada dalam keadaan yang tidak diridhai-Nya?”[[192]]

Apakah Allah Lapar dan Haus?

Jawaban: Allah memiliki sifat kesempurnaan dan tidak memiliki sifat kekurangan. Rasa lapar dan haus adalah tanda kelemahan, dan kelemahan tidak boleh disandarkan kepada Allah. Oleh karena itu, Allah tidak membutuhkan makanan dan minuman[[193]]. Allah adalah Ash-Shamad (Yang Maha Dibutuhkan) yang tidak makan dan tidak membutuhkan sesuatu apa pun. Dialah yang memberi rezeki kepada makhluk-Nya, mencukupi kebutuhan mereka.

Untuk menjelaskan ini kepada anak-anak, kita dapat memberikan perumpamaan: “Tidak semua benda ciptaan di sekitar kita harus memiliki sifat yang sama dengan penciptanya, bukan? Misalnya, siapa yang membuat sepeda? Seorang pembuat sepeda. Sekarang bayangkan jika sepeda itu bisa berbicara dan bertanya kepada pembuatnya: ‘Apa yang kamu makan? Apa yang kamu minum?’ Apa jawaban pembuat sepeda itu? Tentu ia akan berkata: ‘Itu bukan urusanmu, apa gunanya kamu tahu, dan apa manfaatnya bagimu sebagai sepeda?’ Nah, begitu pula kita. Allah menciptakan kita untuk tujuan tertentu: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Pertanyaan seperti itu tidak akan membantu kita dalam melaksanakan tugas kita sebagai hamba Allah, malah sebaliknya, hanya akan mengalihkan perhatian kita dari tujuan kita. Namun, kapan sepeda akan mengajukan pertanyaan kepada pembuatnya? Ketika sepeda itu rusak, ia akan meminta bantuan pembuatnya untuk memperbaiki. Begitu pula kita. Ketika kita merasa jauh dari ibadah atau mengalami kesulitan, kita akan kembali kepada Allah dengan doa dan memohon pertolongan-Nya.”

Seberapa Besar Kekuatan Allah?

Jawaban: Jika kita berbicara tentang kekuatan atau kemampuan yang terbatas, maka hal itu adalah sifat kekurangan. Batas kekuatan berarti awal dari kelemahan, dan kelemahan tidak layak disandarkan kepada Allah. Oleh karena itu, kekuatan Allah tidak terbatas, tidak ada yang dapat melemahkan-Nya. Allah berfirman: “Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 106).

Ketika Allah menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata “Jadilah,” maka jadilah sesuatu itu. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu karena Dia adalah Pencipta segalanya, tidak ada yang sulit bagi-Nya, baik di langit maupun di bumi. Kekuatan yang terbatas adalah kekuatan makhluk karena kekuatan mereka sendiri adalah ciptaan. Adapun kekuatan Allah, tidak ada batas dan kekurangan di dalamnya. Karena itulah, hanya Allah yang berhak disembah, dimintai pertolongan, dan dimohonkan doa, sebab hanya Dia yang mampu memenuhi kebutuhan makhluk, memberikan rezeki, mewujudkan keinginan, dan mengatur segala urusan mereka[[194]].

Di Mana Allah dan Seberapa Besar Ukuran-Nya?

Jawaban: Ketika anak mulai memahami bahwa Allah adalah yang menciptakannya, mencintainya, dan memberinya berbagai nikmat, kita dapat menjelaskan bahwa Allah berada di atas langit. Allah berfirman: “Apakah kamu merasa aman terhadap (Allah) yang (berkuasa) di langit?” (QS. Al-Mulk: 16).

Allah berada di atas langit, tetapi ilmu-Nya meliputi segala sesuatu dan ada di mana saja. Allah berfirman: “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS. Al-Hadid: 4).

Namun, kita tidak boleh mengatakan bahwa Allah berada di mana-mana, karena hal itu dapat diartikan bahwa Allah ada dalam segala sesuatu, yang jelas tidak benar. Kita berpegang pada yang disebutkan dalam sunnah, seperti ketika Rasulullah ﷺ bertanya kepada seorang budak perempuan: “Di mana Allah?” Dia menjawab: “Di atas langit.” Rasulullah bertanya lagi: “Siapa aku?” Dia menjawab: “Engkau adalah Rasul Allah.” Lalu Rasulullah ﷺ berkata: Merdekakan dia, karena dia adalah seorang mukminah.”[[195]]

Meskipun Allah berada di atas langit, Dia dapat melihat dan mendengar kita di mana saja. Penekanan terus-menerus kepada anak bahwa Allah selalu melihat dan mengetahui apa pun yang dia lakukan akan menumbuhkan kesadaran diri dan menjadikannya lebih bertanggung jawab.

Seberapa Besar Allah?

Jawaban: Allah tidak dapat dibandingkan dengan apa pun dari makhluk-Nya. Allah lebih besar dari segala sesuatu. Jika makhluk ciptaan-Nya saja begitu besar dan luar biasa, maka Penciptanya tentu jauh lebih agung. Allah-lah yang mampu mengguncang gunung, menggerakkan lautan, dan memerintahkan air untuk menyerap ke dalam tanah. Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini adalah atas kehendak dan perintah-Nya.

Pencipta tidak membutuhkan makhluk-Nya. Langit, sebagaimana halnya makhluk lainnya, hanyalah ciptaan Allah. Keberadaan Allah tidak bergantung kepada langit atau makhluk apa pun karena Allah adalah Al-Ghani (Yang Maha Kaya), tidak membutuhkan siapa pun atau apa pun[[196]].

Bagaimana Allah Melihat Kita Sementara Kita Tidak Melihat-Nya?

Jawaban: Penglihatan yang Allah berikan kepada kita di dunia ini sangat terbatas dan tidak mampu melihat banyak hal. Oleh karena itu, manusia memerlukan alat seperti mikroskop atau teleskop untuk memperbesar penglihatan mereka. Jika manusia tidak dapat melihat banyak hal yang tercipta, tentu lebih sulit lagi bagi manusia untuk melihat Allah.

Kemampuan manusia di dunia tidak memungkinkan untuk melihat Allah, tetapi kita meyakini keberadaan-Nya, bahwa Dia Maha Penyayang, mencintai kita, Maha Kuasa, dan Maha Mengetahui segala sesuatu. Allah mengetahui bahwa kita sedang berbicara tentang-Nya saat ini. Allah jauh lebih tinggi dari kita sehingga Dia dapat melihat seluruh manusia sekaligus.

Penjelasannya dapat diibaratkan dengan seseorang yang berada di atap gedung: dia dapat melihat semua orang di jalan, tetapi orang-orang di jalan tidak dapat melihatnya. Allah melihat kita sementara kita tidak bisa melihat-Nya.

Banyak hal di dunia yang tidak dapat kita lihat, tetapi kita yakin akan keberadaannya. Contohnya, kita tidak bisa melihat suara, tetapi kita dapat mendengarnya. Kita tidak bisa melihat udara, tetapi kita dapat merasakannya. Mata kita tidak dapat melihat Allah di dunia ini, tetapi kelak di surga, insya Allah, kita akan diberi penglihatan yang lebih sempurna sehingga bisa melihat Allah[[197]]. Allah berfirman: “Penglihatan tidak dapat mencapai-Nya, tetapi Dia dapat melihat segala sesuatu; dan Dia Maha Lembut, Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 103).

Bagaimana Allah Melihat Semua Orang Sekaligus, Padahal Mereka Banyak?

Jawaban: Untuk menjelaskan hal ini secara praktis kepada anak, ajaklah mereka berdiri di jalan dan mintalah untuk menghitung orang-orang yang bisa mereka lihat. Setelah itu, naiklah bersama anak ke lantai dua sebuah bangunan, kemudian mintalah mereka melihat dan menghitung lagi. Naiklah ke lantai yang lebih tinggi, kemudian gunakan teropong agar anak dapat melihat lebih jauh dan menghitung lebih banyak orang.

Melalui contoh ini, kita dapat menjelaskan bahwa manusia tidak bisa mengukur segalanya dengan kemampuan mereka yang terbatas. Kemampuan Allah jauh lebih besar dan lebih hebat dari kemampuan makhluk mana pun. Tanamkan dalam pikiran anak bahwa: “Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 106).

Untuk memperkuat pemahaman ini, kita dapat bertanya kepada anak: “Menurutmu, apakah seekor semut bisa melihat kita dengan seluruh detail tubuh kita, atau hanya bayangan atau bagian kecil saja?” Anak mungkin akan menjawab bahwa semut hanya dapat melihat sebagian kecil, seperti ujung kaki, yang mungkin terlihat seperti gunung besar bagi semut.

Lalu tanyakan: “Apakah semut bisa bertanya kepadamu bagaimana kamu bisa melihat mereka semua sekaligus?” Tentu anak akan menjawab bahwa itu hal yang wajar sesuai dengan kemampuan kita sebagai manusia. Semut memiliki kemampuan yang terbatas, sedangkan kita memiliki kemampuan yang lebih besar dibandingkan mereka.

Begitu pula dengan Allah. Kemampuan-Nya jauh lebih besar dan lebih sempurna daripada kemampuan seluruh makhluk-Nya. Tidak pantas bagi kita untuk mengukur Allah dengan keterbatasan kita. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, seperti firman-Nya: “Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 106).

Apakah Allah Melihat Manusia di Tempat Gelap?

Jawaban: Untuk menjelaskan ini kepada anak, kita dapat menunjukkan contoh visual dari film yang menampilkan tentara menggunakan teropong malam untuk melihat dalam gelap. Kita juga dapat menunjukkan video tentang hewan atau burung yang memiliki kemampuan melihat dalam gelap. Selain itu, anak mungkin telah melihat dalam permainan atau film bahwa ada sinar seperti laser yang dapat menembus objek tertentu dan memungkinkan kita melihat dalam gelap.

Setelah itu, kita dapat bertanya, “Jika manusia yang lemah saja dapat menciptakan alat seperti ini untuk melihat dalam gelap, bagaimana dengan Allah, Sang Pencipta manusia dan segala sesuatu?[[198]] Jika Allah memberikan kemampuan kepada manusia untuk menciptakan alat-alat ini, tentu Allah yang Maha Kuasa dan Maha Menguasai segalanya lebih mampu untuk melihat dalam kegelapan. Kekuasaan Allah tidak dapat dihalangi oleh apa pun, dan tidak ada batasan bagi-Nya.”

Bagaimana Allah Melihat Kita di Dalam Rumah dengan Pintu dan Jendela Tertutup?

Jawaban: Kita dapat menunjukkan gambar hasil rontgen medis kepada anak, lalu berkata: “Ini adalah gambar tulang yang bisa terlihat meskipun tertutup oleh daging dan kulit. Ini adalah ciptaan manusia yang memungkinkan kita melihat sesuatu yang tersembunyi. Jika manusia saja bisa melakukannya, bagaimana dengan Allah, Sang Pencipta manusia? Tentu Allah dapat melihat kita meskipun kita berada di dalam rumah dengan pintu dan jendela tertutup.”

Kemudian kita tambahkan bahwa Allah tidak seperti manusia. Allah tidak terhalang oleh bangunan atau tembok untuk melihat. Sebagai Sang Pencipta, Allah tidak dapat disamakan dengan makhluk-Nya, karena Dia berfirman:
“Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 106).

Jawaban ini juga bisa dihubungkan dengan pembentukan perilaku anak. Kita bisa mengingatkan bahwa Allah selalu mengawasi kita, sehingga kita perlu selalu berbuat baik meskipun tidak ada yang melihat[[199]].

Bagaimana Allah Mengetahui Semua Amal Kita dan Mengawasi Semua Orang Sekaligus?

Jawaban: Anak perlu diajarkan bahwa Allah memiliki sifat kesempurnaan dan kekuasaan yang tidak terbatas. Allah Maha Kuasa dan tidak ada sesuatu pun yang sulit bagi-Nya. Firman-Nya: “Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 106).

Kemampuan Allah tidak bisa diukur dengan kemampuan makhluk-Nya. Untuk membantu anak memahami, kita dapat memberi contoh kamera pengawas (CCTV) yang dapat merekam segala sesuatu di depan lensanya. Kita katakan, “Kamera bisa mencatat setiap detail yang terjadi di tempat tertentu. Jika ciptaan manusia saja bisa seperti ini, bagaimana dengan Allah yang Maha Kuasa? Allah mampu mengawasi semua makhluk-Nya di mana pun mereka berada dan pada saat yang sama.”[[200]]

Kita juga dapat memberikan contoh perusahaan besar yang memasang kamera pengawas di semua ruangan untuk memantau aktivitas karyawan mereka tanpa mereka sadari. Kita katakan, “Jika manusia yang lemah bisa menciptakan sistem seperti ini, bagaimana mungkin Allah, Pencipta segala sesuatu, tidak bisa melihat semua manusia sekaligus? Kekuasaan Allah jauh lebih besar dan lebih sempurna daripada ciptaan manusia.”

Mengapa Manusia Mati Sedangkan Allah Tidak Mati?

Jawaban: Kematian adalah salah satu takdir Allah yang ditetapkan bagi seluruh makhluk-Nya, sebagaimana firman Allah: “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. Al-Ankabut: 57).

Mati bagi manusia adalah awal dari kehidupan akhirat, yaitu kehidupan yang lebih penting dan abadi. Kematian menunjukkan kelemahan yang merupakan sifat makhluk ciptaan, sedangkan kelemahan tidak mungkin ada pada Allah. Allah tidak diciptakan dan tidak akan mati[[201]].

Kehidupan Allah berbeda dengan kehidupan kita. Kehidupan manusia berakhir dengan kematian, tetapi Allah adalah Al-Hayy (Yang Maha Hidup) yang tidak pernah mati. Allah berfirman: “Dan bertawakallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati.” (QS. Al-Furqan: 58).

Hidup Allah sempurna dan meliputi seluruh sifat kesempurnaan, termasuk sifat hidup yang abadi dan tak terhenti oleh kematian.

Apakah Allah Mencintai Saya Sebagaimana Saya Mencintai-Nya?

Jawaban: Allah adalah Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang jujur, lurus, dan baik hati. Allah berfirman: “Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya.” (QS. Al-Maidah: 54).

Cinta Allah kepada makhluk-Nya terlihat dari banyak hal, seperti:

  • Allah memuliakan mereka.
  • Allah memberi rezeki dan mengatur segala urusan mereka.
  • Allah memaafkan kesalahan mereka.

Setiap kita pasti merasakan kelembutan dan kasih sayang Allah dalam hidup. Allah mencintai hamba-Nya yang taat dan berusaha mendekatkan diri kepada-Nya dengan menjalankan sebab-sebab yang membuat-Nya mencintai, seperti:

  • Menjaga shalat.
  • Berbakti kepada orang tua.
  • Bersedekah dan berbuat baik kepada sesama.
  • Jujur dan membaca Al-Qur’an.
  • Berzikir dan melakukan amal saleh lainnya.

Siapa saja yang melakukan kebaikan-kebaikan ini, Allah akan mencintainya. Cinta Allah kepada hamba-Nya jauh lebih besar daripada cinta manusia kepada-Nya, karena cinta Allah penuh dengan rahmat dan kebaikan tanpa batas[[202]].

 

 

PERTANYAAN TENTANG MALAIKAT

 

Siapa malaikat itu, dan bagaimana bentuknya?

Jawaban: Malaikat adalah makhluk ciptaan Allah yang diciptakan dari cahaya. Mereka diciptakan sebelum manusia. Mereka memiliki akal, kehendak, dan sayap. Wujud penciptaan mereka indah, dan mereka memiliki kemampuan untuk menjelma dalam bentuk manusia. Malaikat tidak makan dan tidak minum. Mereka adalah hamba Allah yang selalu melaksanakan perintah-Nya.
Malaikat memiliki derajat yang berbeda-beda, dan yang paling utama di antara mereka adalah Jibril, yang diberi tugas untuk menyampaikan wahyu kepada para rasul. Ada juga Mikail, Israfil, dan malaikat lainnya. Di antara mereka ada yang bertugas menjaga manusia setiap saat, dan jumlah mereka sangat banyak. Setiap malaikat memiliki tugas khusus yang harus mereka laksanakan[[203]].

Apa saja nama-nama malaikat?

Jawaban: Jumlah malaikat sangat banyak, hanya Allah yang mengetahui jumlah pastinya. Di antara nama-nama mereka adalah:

  • Jibril, Mikail, dan Israfil.
  • Ridhwan (penjaga surga).
  • Malik (penjaga neraka).
  • Para malaikat yang memikul Arsy (singgasana Allah).
  • Para malaikat penjaga yang mencatat amal manusia[[204]].

Mengapa Allah menciptakan mereka?

Jawaban: Allah menciptakan malaikat untuk melakukan kebaikan. Mereka adalah makhluk yang sepenuhnya baik, tidak pernah melakukan kejahatan, bahkan tidak mengenal kejahatan. Awalnya, malaikat tinggal di langit. Namun, setelah manusia turun ke bumi, malaikat juga ditugaskan turun untuk melaksanakan tugas tertentu yang diperintahkan Allah, seperti menjaga, melindungi, mengawasi, menyampaikan wahyu, memberikan pertolongan, memohonkan ampun, menghadiri majelis zikir, dan tugas-tugas lainnya.

Kepada anak-anak, dapat dijelaskan bahwa malaikat memiliki dua tugas utama:

  1. Beribadah kepada Allah.
  2. Mengatur urusan alam semesta sesuai dengan perintah Allah[[205]].

Mengapa kita tidak bisa melihat malaikat?

Jawaban: Manusia tidak memiliki kemampuan untuk melihat malaikat dalam wujud asli mereka sebagaimana Allah menciptakan mereka. Oleh karena itu, malaikat terkadang menjelma dalam bentuk manusia agar bisa dilihat dan berinteraksi dengan manusia. Hal ini pernah terjadi pada malaikat Jibril yang menjelma menjadi seorang Arab Badui seperti dalam hadis tentang pengajaran agama[[206]].

Siapa Jin itu?

Jawaban: Jin adalah salah satu makhluk ciptaan Allah. Mereka diciptakan dari api, dan seperti manusia, mereka juga diberi tanggung jawab untuk menaati perintah dan menjauhi larangan-Nya. Jin adalah makhluk yang fana, mereka akan mati seperti makhluk lainnya.

Manusia tidak bisa melihat jin karena keterbatasan kemampuan kita. Allah memberikan jin kemampuan yang berbeda dengan manusia, seperti bisa terbang, bergerak dengan cepat, dan berubah bentuk[[207]]. Berbeda dengan manusia yang diciptakan dari tanah liat, jin diciptakan dari api.

Siapa yang lebih kuat: Malaikat atau Jin?

Jawaban: Malaikat lebih kuat dibanding jin karena beberapa alasan berikut:

  1. Kekekalan Malaikat hingga Hari Kiamat: Malaikat adalah makhluk yang terus hidup hingga Hari Kiamat, dan mereka tidak mati kecuali setelah tiupan sangkakala pertama. Sedangkan jin adalah makhluk fana yang akan mati sebelum waktu itu tiba. Allah telah menentukan ajal setiap makhluk, termasuk jin, sebagaimana firman-Nya: “Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya.” (QS. Az-Zumar: 42)[[208]].
  2. Ketakutan Jin terhadap Malaikat: Jin, khususnya setan, merasa takut terhadap malaikat karena kekuatan dan keagungan mereka. Dalam perang Badar, setan yang menyamar untuk memotivasi kaum kafir menjadi gentar saat melihat para malaikat yang Allah turunkan untuk membantu kaum mukmin. Ketakutan ini diungkapkan dalam firman-Nya: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kalian. Aku melihat apa yang tidak kalian lihat. Aku takut kepada Allah. Dan Allah sangat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfal: 48).

Oleh karena itu, malaikat lebih kuat daripada jin baik dari segi keberadaan maupun kekuasaan, karena malaikat diciptakan dengan sifat-sifat yang jauh melampaui jin.

Apakah Malaikat Mati?

Jawaban: Ya, malaikat juga makhluk ciptaan Allah yang akan mati. Segala sesuatu akan binasa kecuali Allah[[209]], seperti disebutkan dalam firman-Nya: “Segala sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya (Allah).” (QS. Al-Qashash: 88). Semua makhluk di bumi dan langit akan mati, kecuali yang dikehendaki Allah. Tidak ada yang kekal kecuali Allah, Sang Maha Hidup yang tidak pernah mati.

 

 

PERTANYAAN TERKAIT KITAB-KITAB SUCI

Apa saja kitab suci?

Jawaban: Kitab suci adalah kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada para rasul-Nya untuk menyampaikan risalah dan menerapkan syariat-Nya. Kitab-kitab ini menjadi petunjuk dan rahmat bagi umat manusia agar mereka bahagia di dunia dan akhirat. Kitab-kitab yang diketahui telah Allah turunkan adalah:

  • Shuhuf                     : Diturunkan kepada Nabi Ibrahim `alaihis salam.
  • Zabur                        : Diturunkan kepada Nabi Dawud `alaihis salam.
  • Taurat                       : Diturunkan kepada Nabi Musa `alaihis salam.
  • Injil                            : Diturunkan kepada Nabi Isa `alaihis salam.
  • Al-Qur’an               : Diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ.[[210]]

Mengapa kita membutuhkan Al-Qur’an? Mengapa Al-Qur’an menjadi mukjizat yang abadi?

Jawaban: Jika sebuah alat sederhana buatan manusia memerlukan buku panduan untuk penggunaannya, maka manusia sebagai makhluk ciptaan Allah tentu membutuhkan kitab petunjuk dan pedoman hidup untuk mencapai keberhasilan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Allah berfirman:
“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan), sedangkan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (QS. Al-Mulk: 14).

Al-Qur’an menjadi mukjizat karena Nabi Muhammad ﷺ adalah penutup para nabi, sehingga mukjizat beliau harus bersifat kekal agar tetap menjadi hujjah bagi umat manusia hingga Hari Kiamat. Keistimewaan mukjizat Al-Qur’an antara lain:

  • Keajaiban linguistik dan balaghah (retorika): Al-Qur’an menantang bangsa Arab, yang dikenal sebagai ahli sastra dan retorika, untuk membuat sesuatu yang setara dengannya. Tidak hanya manusia, bahkan jin pun tidak mampu menandingi keagungan Al-Qur’an.
  • Keajaiban ilmiah dan hukum-hukumnya: Petunjuk yang terkandung di dalam Al-Qur’an meliputi berbagai aspek kehidupan manusia, dari ibadah hingga tata cara bermuamalah.

Hal ini menjadi bukti bahwa Al-Qur’an bersumber langsung dari Allah dan bukan dari manusia atau makhluk lain[[211]].

Mengapa Allah tidak berjanji untuk menjaga kitab-kitab sebelumnya?

Jawaban: Allah Yang Maha Kuasa melakukan apa yang Dia kehendaki, dan memiliki hikmah yang sebagian kita ketahui dan sebagian lainnya tidak. Namun, bukti-bukti yang jelas menunjukkan bahwa kitab-kitab sebelumnya bukanlah mukjizat, dan karenanya keberlangsungannya tidak diperlukan. Kitab-kitab tersebut adalah syariat sementara untuk orang-orang tertentu[[212]].

Apa bukti-bukti yang membuktikan bahwa Al-Quran tidak berubah sedikitpun?

Jawaban: Pertanyaan semacam ini biasanya diajukan oleh mereka yang berada pada tingkat menengah dan seterusnya. Oleh karena itu, kita perlu menjelaskannya dengan tenang dan pikiran jernih dari sudut pandang logis yang membuktikan kebenaran Al-Quran.

Kita katakan: Sesuatu yang berulang akan menjadi mantap, dan yang tersebar luas akan menjadi yakin. Al-Quran adalah kitab yang sampai kepada kita secara mutawatir (berkesinambungan). Mari kita jelaskan makna mutawatir – yaitu riwayat yang disampaikan sekelompok orang dari kelompok lain yang mustahil bersekongkol untuk berbohong, hal ini diketahui oleh umum dan khusus.

Umat Muslim mewariskan Al-Quran dari generasi ke generasi, mempelajarinya dalam majelis-majelis mereka, membacanya dalam shalat, dan mengajarkannya kepada anak-anak mereka. Seandainya seorang syekh terhormat salah mengucapkan satu huruf pun, anak-anak kecil akan segera mengoreksinya sebelum orang dewasa, sehingga Al-Quran sampai kepada kita dalam keadaan murni, terjaga dari penambahan, terlindungi dari pengurangan, dan terbebas dari perubahan.

Seandainya dalil ini dapat dibantah, maka akan mengarah pada penolakan terhadap fakta-fakta yang sudah mapan, seperti keberadaan Nabi dan para sahabat mulia yang terkenal dalam sejarah – sesuatu yang ditolak oleh semua orang berakal.

Lebih dari itu, Al-Quran menantang manusia dan jin untuk membuat yang serupa, namun mereka tidak mampu. Al-Quran dalam panjangnya tidak mengandung pertentangan, kontradiksi, atau kekurangan. Mukjizat di dalamnya dalam berita, perundangan, hukum, dan perkataan menunjukkan bahwa ia bukan berasal dari manusia yang pekerjaannya dan perkataannya rentan terhadap perubahan dan kekurangan, melainkan berasal dari Allah, dan Allah telah menjamin pemeliharaannya[[213]].

 

 

PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG PARA RASUL

 

Siapakah Para Nabi dan Rasul?

Jawaban: Mereka adalah manusia dari keturunan Adam, yang Allah wahyukan kenabian kepada mereka dan perintahkan untuk menyampaikan risalah kepada kaumnya. Mereka mengajak untuk menyembah Allah Yang Esa. Nabi pertama adalah Adam, dan nabi terakhir adalah Muhammad. Jumlah mereka sangat banyak, karena Allah mengutus mereka untuk semua umat di bumi. Di setiap periode sejarah, terdapat seorang nabi yang mengajak kaumnya dan menunjukkan mereka jalan yang lurus.

Mengapa Allah Mengutus Para Rasul?

Jawaban: Allah mengutus para rasul sebagai rahmat dan petunjuk bagi manusia, untuk menyampaikan risalah Tuhan mereka. Seorang rasul adalah sosok yang dikenal baik oleh kaumnya dan disaksikan kebaikannya sebelum wahyu turun kepadanya. Allah menjadikan para rasul sebagai teladan nyata di hadapan manusia. Mereka mengajarkan akhlak dan perilaku, menjelaskan apa yang bermanfaat, dan menjauhkan mereka dari apa yang membahayakan.

Dengan mengutus para rasul, Allah:

  • Menegakkan hujjah (bukti) atas makhluk-Nya
  • Mengumpulkan manusia dalam satu agama, yaitu menyembah Allah Yang Esa[[214]]

Manusia membutuhkan para pemandu yang menunjukkan jalan yang benar dalam bahasa mereka. Karena itu, Allah menurunkan kitab-kitab kepada para rasul dalam bahasa kaumnya agar pesan tersampaikan dengan jelas dan sempurna.

Apakah Para Nabi Terbebas dari Kesalahan?

Jawaban: Para nabi adalah bagian dari manusia biasa dan memiliki sifat-sifat kemanusiaan. Allah melindungi mereka dalam hal yang berkaitan dengan risalah dan menjaga mereka dari perbuatan yang dapat mencemarkan perilaku atau akhlak mereka. Tujuannya agar mereka menjadi teladan baik yang dapat meyakinkan orang dengan perkataan dan perbuatan mereka, dan agar tidak ada celah untuk meragukan penyampaian risalah.

Namun, mereka tetap manusia biasa yang dapat melakukan kesalahan ringan yang tidak merugikan risalah, seperti:

  • Salah menentukan lokasi terbaik untuk pertanian
  • Kesalahan dalam strategi perang
  • Kekhilafan dalam semangat menyebarkan dakwah[[215]]

Kesalahan-kesalahan semacam ini tidak mempengaruhi kredibilitas atau misi suci mereka sebagai utusan Allah.

Siapakah Muhammad?

Jawaban: Muhammad adalah nabi terakhir yang diutus Allah kepada hamba-hamba-Nya. Nama lengkapmya adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib al-Hasyimi al-Quraisy. Dia dilahirkan di Mekah pada hari Senin di bulan Rabi’ul Awal tahun Gajah.

Ayahnya meninggal sebelum dia lahir, dan ibunya wafat ketika dia berusia enam tahun. Dia diasuh oleh kakeknya Abdul Muthalib hingga kakeknya meninggal ketika Muhammad berusia delapan tahun. Selanjutnya, dia diasuh oleh pamannya Abu Thalib.

Dia dikenal dengan gelar “Ash-Shadiq Al-Amin” (Yang Jujur dan Terpercaya) karena akhlaknya yang luhur. Muhammad diangkat menjadi rasul ketika berusia 40 tahun. Selama 13 tahun, dia berdakwah mengajak kaumnya di Mekah untuk memeluk Islam.

Setelah mengalami penganiayaan yang sangat berat, dia hijrah ke Madinah dan menetap di sana selama 10 tahun. Di Madinah, dia mempersaudarakan antara kaum Anshar dan Muhajirin, serta menerapkan syariat dan hukum Allah. Dia wafat pada tahun kesebelas hijriah setelah berhasil menyampaikan risalah dan menunaikan amanah[[216]].

Apa Bukti Kebenaran Rasulullah?

Jawaban: Ada beberapa bukti kenabian Muhammad, di antaranya:

  1. Al-Quran Al-Karim. Kitab mukjizat ini terus-menerus mengejutkan manusia dari generasi ke generasi dengan khazanah dan mutiara yang mengagumkan akal.
  2. Sifat dan Kepribadian. Bahkan musuh-musuhnya mengakui kejujuran dan kepercayaannya, sehingga dia diberi gelar “Ash-Shadiq Al-Amin”.
  3. Mukjizat yang Terkenal. Mukjizat-mukjizat yang disaksikan oleh generasi pertama dan diceritakan turun-temurun.
  4. Syariat yang Sempurna. Syariat Islam yang penuh dengan kesempurnaan dan keindahan.
  5. Kabar Gembira dalam Kitab-Kitab Terdahulu. Berbagai berita tentang kedatangannya telah disebutkan dalam kitab-kitab sebelumnya.
  6. Penyebaran Islam. Penyebaran agama Islam yang terus-menerus di setiap waktu dan tempat.
  7. Informasi tentang Umat Terdahulu dan Peristiwa Masa Depan. Kemampuannya memberitakan tentang umat-umat masa lalu dan peristiwa yang akan datang[[217]].

Bagaimana Rasulullah Diisra’kan ke Langit dalam Satu Malam?

Jawaban: Nabi diperjalankan dengan Buraq sampai Baitul Maqdis, kemudian diangkat ke langit bersama Jibril. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, tidak ada yang mustahil bagi-Nya di bumi maupun di langit.

Sebagaimana kita saksikan saat ini, manusia yang lemah mampu menciptakan pesawat yang melampaui kecepatan suara dan menemukan teknologi pencitraan tiga dimensi yang dapat memindahkan seseorang ke beberapa tempat dalam waktu bersamaan. Maka, Allah jauh lebih Besar, Mulia, dan Maha Kuasa daripada ciptaan-Nya.

Mengapa Muhammad adalah Nabi Terakhir?

Jawaban: Pengutusan para rasul berkaitan dengan hikmah untuk memberi petunjuk dan arahan. Karena kitab-kitab sebelumnya mengalami kekurangan dan perubahan setelah wafatnya para rasul, maka hikmah Allah menghendaki diutusnya seorang rasul dengan kitab yang terjaga dari kekurangan, yang Allah sendiri yang akan memeliharanya hingga Hari Kiamat.

Oleh karena mukjizat Al-Quran – sebuah kitab yang jelas dan menjadi hujjah bagi seluruh umat manusia – masih berlangsung, maka logis bahwa Rasulullah adalah penutup para nabi dan rasul.

Mengapa Kita Harus Mencintai Rasulullah?

Jawaban:

  1. Mencintainya adalah salah satu rukun iman, bahkan iman kepada Allah tidak sempurna tanpa cinta ini.
  2. Cintanya dikaitkan dengan cinta kepada Allah Yang Maha Tinggi.
  3. Allah memilihnya di antara manusia untuk menunaikan risalah agung ini.
  4. Allah memilih orang terbaik dari segi nasab, akhlak, perkataan, dan perbuatan.
  5. Dialah yang mengenalkan manusia kepada Tuhan mereka.
  6. Dia adalah sebaik-baik rasul bagi umatnya dan paling penyayang kepada pengikutnya[[218]].

Rasulullah sangat bersedih ketika orang-orang tidak beriman kepadanya, karena khawatir mereka akan masuk neraka. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Kahfi ayat 6: “Maka (wahai Muhammad) hampir-hampir engkau membunuh dirimu karena bersedih hati, mengikuti jejak mereka yang tidak beriman kepada risalah ini.” Karena itu, setelah Allah, Rasulullah adalah orang yang paling berhak untuk dicintai.

 

 

PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG HARI AKHIR

 

Apakah Hari Akhir Itu?

Jawaban: Hari Akhir adalah hari di mana Allah membangkitkan seluruh makhluk untuk dihisab (diadili). Disebut “Akhir” karena tidak ada hari dunia lagi setelahnya. Juga disebut Hari Perhitungan karena Allah akan menghisab manusia atas segala amal perbuatan mereka di dunia[[219]].

Mereka yang berbuat baik atau taat kepada Allah akan dimasukkan ke surga. Mereka yang berbuat jahat dan mendurhakai Allah akan dimasukkan ke neraka. Ini adalah hari berakhirnya kehidupan dunia bagi semua manusia. Disebut juga Hari Kiamat, yaitu hari di mana manusia bangkit dari kubur mereka menuju langit untuk dihisab.

Kapan Hari Kiamat?

Jawaban: Mengapa Hari Tersebut Dirahasiakan dari Kita? Tidak seorang pun mengetahui kapan Hari Kiamat. Allah berfirman dalam Al-Quran surat An-Naziat ayat 42-45: “Mereka bertanya kepadamu tentang Hari Kiamat, ‘Kapan terjadinya?’ Engkau tidak mempunyai pengetahuan apa pun tentang itu. Kepada Tuhanmulah kembali kesudahannya. Engkau hanyalah pemberi peringatan kepada orang yang takut kepadanya.”

Allah menyembunyikan waktu Hari Kiamat dari kita dengan beberapa tujuan:

  • Agar kita bersungguh-sungguh beramal
  • Agar selalu siap menghadapi hari itu setiap saat
  • Agar kita melakukan kebaikan dan menjauhi kejahatan

Seandainya manusia mengetahui waktu pasti Hari Kiamat, mereka hanya akan bertobat menjelang kiamat. Dunia pun akan dipenuhi kerusakan lebih parah dari sekarang[[220]].

Apakah Hisab (Perhitungan) Itu?

Jawaban: Hisab adalah proses Allah mengumpulkan umat pertama dan terakhir. Firman Allah dalam surat Al-Waqi’ah ayat 49-50: “Katakanlah, ‘Sesungguhnya orang-orang terdahulu dan yang terakhir benar-benar akan dikumpulkan pada waktu tertentu.'”

Kemudian Allah akan memperlihatkan dan memberitahukan kepada mereka segala perbuatan mereka, lalu memberikan balasan sesuai amal mereka. Barangsiapa berbuat kebaikan walau seberat biji atom pun akan melihatnya, dan barangsiapa berbuat kejahatan walau seberat biji atom pun akan melihatnya.

Hal ini ditegaskan dalam surat Az-Zalzalah ayat 7-8: “Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat biji atom pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat biji atom pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”

Apakah Kematian Itu?

Jawaban: Anak-anak yang berusia enam tahun ke bawah biasanya tidak dapat memahami sepenuhnya makna kematian dan kebangkitan. Kematian adalah akhir yang pasti bagi semua manusia.

Tahapan Pemahaman Anak tentang Kematian:

  • Usia 6 tahun ke bawah: Sulit memahami konsep kematian.
  • Usia 6-8 tahun: Mulai dapat memahami kematian berlaku untuk semua manusia.
  • Usia 8-10 tahun: Dapat memahami sepenuhnya konsep kematian dan kebangkitan.

Ketika seorang anak pertama kali berhadapan dengan kematian dalam keluarga, biasanya penuh dengan rasa takut dan ketidakpastian. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menjelaskan kematian kepada anak:

Cara Menjelaskan Kematian kepada Anak:

  1. Jujur tanpa membohongi.
  2. Hindari mengatakan orang yang meninggal “sedang bepergian”.
  3. Gunakan contoh-contoh konkret dari alam seperti:
    • Burung mati
    • Pohon mati
    • Serangga mati

Poin Penting dalam Menjelaskan Kematian:

  • Jelaskan bahwa kematian adalah perpindahan ke dunia lain.
  • Sampaikan bahwa semua akan mati suatu saat nanti.
  • Tekankan bahwa kematian bukan akhir, melainkan perpindahan.
  • Bagi orang beriman, kematian adalah jalan menuju kehidupan yang lebih baik.

Konsep Spiritual tentang Kematian:

  • Kematian adalah perpindahan manusia beriman ke kehidupan yang lebih baik.
  • Orang jahat akan menghadapi konsekuensi perbuatannya.
  • Allah mematikan bukan karena tidak mencintai, tetapi justru membawa orang beriman untuk mendekat ke tempat-Nya.
  • Surga adalah tempat indah yang tak terbayangkan keindahannya[[221]].

Pendekatan yang lembut dan jujur dalam menjelaskan kematian dapat membantu anak memahami konsep ini tanpa menimbulkan ketakutan yang berlebihan.

Mengapa Sebagian Anak Meninggal?

Jawaban: Anak-anak umumnya tidak melakukan kejahatan dan tidak sengaja berbuat salah. Karena itu, Allah menerima mereka yang meninggal dengan rahmat-Nya dan akan memasukkan mereka ke dalam surga.

Ketika jasad manusia meninggal dan fana, ruh mereka tetap kekal. Ruh akan naik kepada Sang Pencipta, dan kenangan baiknya serta perbuatan baiknya akan tetap hidup dalam hati manusia. Oleh karena itu, manusia harus bersiap menghadap Tuhannya dengan melakukan kebaikan dan mematuhi ajaran syariat Islam[[222]].

Ke Manakah Kita Pergi Setelah Mati?

Jawaban: Ketika waktu yang ditentukan Allah bagi kita di dunia berakhir, kita akan berpindah ke kubur – tempat khusus bagi orang meninggal. Kubur akan menjadi taman surga bagi mereka yang beriman kepada Tuhan, menaati-Nya, dan mengerjakan amal saleh selama hidup di dunia. Mereka akan hidup dalam kenikmatan hingga hari Kiamat[[223]].

Apakah Orang Mati Dapat Mendengar dan Melihat? Bagaimana Bernafas di Bawah Tanah?

Jawaban: Ya, orang mati dapat mendengar salam yang kita ucapkan dan menerima doa yang kita panjatkan. Namun, mereka tidak bernafas seperti kita karena tidak membutuhkan pernafasan. Mereka berada dalam kehidupan lain yang berbeda dengan kehidupan dunia.

Kehidupan akhirat dimulai dengan alam barzakh, yang memiliki hukum dan sifat berbeda. Di sana tidak ada pernafasan, makan, minum, tidur, atau bekerja. Hanya ada kenikmatan abadi atau siksaan abadi[[224]].

Apakah Surga Itu dan Apa Isinya?

Jawaban: Surga adalah rumah kedamaian, tempat yang indah di mana segala sesuatu yang diinginkan dan dicintai tersedia. Surga diperuntukkan bagi orang-orang saleh yang berbuat baik.

Surga memiliki delapan pintu dengan derajat berbeda. Orang beriman akan masuk sesuai dengan kadar kebaikan dan rahmat dari Allah bagi mereka. Mereka yang memiliki banyak kebaikan akan mendapatkan tempat yang lebih tinggi daripada mereka yang memiliki sedikit kebaikan. Namun, semua akan hidup dalam kebahagiaan, kepuasan, dan kenikmatan.

Di surga, kita akan:

  • Hidup bahagia tanpa sakit dan keletihan.
  • Melihat Allah, Rasul, dan para nabi.
  • Bertemu dengan orang-orang yang kita cintai.
  • Menikmati segala hal yang kita inginkan berupa makanan, minuman, kesenangan, dan kenikmatan[[225]].

Apa Neraka Itu dan Mengapa Allah Menciptakannya?

Jawaban: Neraka adalah tempat siksa yang Allah sediakan untuk menghukum mereka yang:

  • Melakukan kejahatan.
  • Menyakiti orang lain.
  • Mendurhakai Allah.
  • Tidak menaati perintah-Nya.

Bagaimana Nasib Hewan? Apakah Mereka Akan Masuk Surga atau Neraka?

Jawaban: Hewan tidak dibebani tanggung jawab hukum. Mereka adalah makhluk yang diciptakan Allah untuk kepentingan manusia. Karena itu:

  • Tidak ada perhitungan (hisab).
  • Tidak ada hukuman bagi mereka.

Pada Hari Kiamat:

  • Semua hewan akan dikumpulkan.
  • Allah akan memberi keadilan di antara mereka.
  • Misalnya, hewan yang teraniaya akan mendapatkan pembalasan dari hewan yang menganiayanya.

Setelah proses pembalasan selesai, Allah akan berfirman kepada hewan-hewan tersebut, “Jadilah tanah”, maka mereka pun akan menjadi tanah[[226]].

 

 

PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG QADHA DAN QADAR

 

Apakah Makna Qadha dan Qadar?

Jawaban: Qadha dan Qadar adalah salah satu rukun iman. Allah berfirman dalam Al-Quran surat Al-Furqan ayat 2: “Dan Dia menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkannya dengan ukuran yang tepat.”

Makna Qadha dan Qadar adalah:

  • Pengetahuan Allah tentang ukuran segala sesuatu sebelum ia ada.
  • Pencatatan-Nya.
  • Kehendak-Nya.
  • Penciptaan-Nya[[227]].

Bagaimana Allah Mengetahui Apa yang Akan Terjadi Sebelum Terjadinya?

Jawaban: Dapat dijelaskan dengan contoh sederhana: Misalkan seorang pembuat mainan. Dia mengetahui persis apa yang dapat dilakukan mainan tersebut sebelum mainan itu bergerak, karena dialah yang membuatnya. Dia telah menentukan setiap detail kecil dan besar dalam mainan itu.

Hubungan ini serupa dengan Allah:

  • Allah adalah Pencipta manusia.
  • Allah memiliki kemampuan yang jauh lebih besar.
  • Ilmu-Nya lebih luas.
  • Ciptaan-Nya lebih sempurna.

Allah mengetahui segala sesuatu:

  • Sebelum diciptakan.
  • Saat diciptakan.
  • Setelah diciptakan.

Karena Allah sendiri yang menciptakan:

  • Manusia.
  • Waktu.
  • Tempat.

Maka Allah mengetahui:

  • Apa yang telah terjadi.
  • Apa yang sedang terjadi.
  • Apa yang akan terjadi sebelum terjadi.

Contoh ini menggambarkan bahwa pengetahuan Allah bersifat mutlak, menyeluruh, dan sempurna.

Apakah kita dipaksa? Apakah manusia memiliki pilihan dalam tindakannya?

Jawaban: Manusia dipaksa dalam beberapa hal dan memiliki pilihan dalam hal lain. Kita dipaksa untuk dilahirkan, mati, panjangnya umur, serta orang tua dan keluarga kita. Kita tidak memiliki pilihan atas hal-hal tersebut. Namun, kita memiliki pilihan apakah kita akan shalat atau tidak, beriman atau kafir. Dengan adanya pilihan ini, kehendak kita tetap berada dalam kehendak Allah. Artinya, jika Allah ingin mencegah kita dari memilih, Dia mampu melakukannya. Jika Allah ingin mencegah kita dari meninggalkan sesuatu, Dia juga mampu melakukannya. Namun, Allah telah menetapkan bahwa manusia diberi pilihan dan akan dimintai pertanggungjawaban atas pilihannya itu.

Hal ini sesuai dengan firman Allah: “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (At-Takwir: 29).

Masalah takdir dan pilihan dapat dijelaskan secara praktis. Seorang pendidik dapat membawa gelas kaca dan bertanya kepada anak, “Bisakah kamu melempar gelas ini ke lantai hingga pecah?” Anak itu akan menjawab, “Tentu saja, saya bisa.” Kemudian pendidik bertanya lagi, “Apa yang menghalangimu melakukannya?” Anak itu menjawab, “Itu salah dan tidak seharusnya dilakukan.”

Pendidik lalu menjelaskan, “Allah sudah mengetahui sejak azali bahwa kamu tidak akan memecahkan gelas ini karena kamu adalah anak yang baik. Sebaliknya, Allah juga mengetahui bahwa anak nakal akan memecahkan gelas ini. Apakah ada yang memaksamu untuk tidak memecahkan gelas? Atau, apakah ada yang memaksa anak nakal untuk memecahkannya?”
Demikianlah penjelasan tentang hidayah dan kesesatan.

Kemudian dikatakan kepada anak: Manusia tidak mengetahui apa yang telah Allah tetapkan untuknya. Kamu tidak dituntut untuk mengetahui hal tersebut. Kamu hanya dituntut untuk beriman bahwa ilmu Allah mencakup segalanya, termasuk penulisan takdir. Kamu bertanggung jawab atas kehendakmu sendiri serta sejauh mana kamu menaati perintah dan meninggalkan larangan. Semua itu berada dalam batas kemampuan dan kehendakmu[[228]].

Mengapa Allah memberi hidayah kepada sebagian orang dan tidak kepada yang lain?

Jawaban: Allah telah memberi hidayah kepada seluruh manusia sebagaimana firman-Nya: “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebaikan dan keburukan).” (Al-Balad: 10).

Hidayah ini berarti bahwa Allah telah menjelaskan jalan yang lurus sehingga kebenaran menjadi jelas dan kebatilan juga menjadi jelas. Allah memberi manusia kebebasan untuk memilih. Ada yang memilih jalan yang benar, dan ada yang memilih jalan yang salah[[229]].

Jika Allah telah menetapkan sejak azali bahwa sebagian dari kita akan melakukan kesalahan dan tersesat, mengapa Dia menghukum kita?

Jawaban: Ilmu ini adalah ilmu Allah. Manusia tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Pengetahuan manusia hanyalah dugaan, prasangka, dan kebodohan. Oleh karena itu, manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dilakukannya di dunia. Tidak ada alasan bagi manusia untuk mengetahui apa yang telah ditetapkan Allah sampai dia melakukan suatu perbuatan dan selesai melakukannya. Takdir yang telah ditulis hanya menjadi bukti atas apa yang telah terjadi, bukan atas apa yang akan datang.

Dikatakan juga kepada anak: Allah telah menetapkan rezekimu di dunia, tetapi mengapa kamu tetap melakukan hal yang bermanfaat bagimu dan menghindari hal yang merugikanmu? Sebagai contoh, jika seseorang ingin bepergian ke suatu tempat yang memiliki dua jalan, satu aman dan satu tidak aman, jalan mana yang akan dia pilih? Tentu dia akan memilih jalan yang aman. Demikian pula perjalanan menuju akhirat. Manusia harus memilih jalan yang aman menuju surga, yaitu dengan menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Jika takdir menjadi alasan bagi seseorang, maka kita tidak akan dapat menghukum para penjahat karena mereka akan berdalih dengan takdir atas perbuatan mereka[[230]]. Oleh karena itu, manusia harus menerima dan berserah diri kepada Allah, karena Allah berfirman: “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanya.” (Al-Anbiya: 23). Sesungguhnya, semua makhluk adalah ciptaan-Nya, dan segala urusan berada dalam kehendak-Nya.

Mengapa Allah menciptakan kita? Apa asal-usul alam semesta? Mengapa Allah menciptakan hewan?

Jawaban: Allah berfirman: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56).

Allah menciptakan kita untuk tujuan yang bermanfaat bagi kita, yaitu beribadah kepada-Nya. Allah menetapkan hasil di akhirat berdasarkan amal perbuatan: surga bagi orang yang berbuat baik dan neraka bagi orang yang berbuat buruk.

Seluruh alam semesta adalah ciptaan Allah. Alam ini diciptakan dengan penuh ketelitian dan ilmu. Allah menciptakan langit dan bumi serta menebarkan planet-planet di dalamnya. Allah menciptakan bintang-bintang sebagai tanda, petunjuk, dan hiasan. Allah menciptakan matahari untuk memberi kita kehangatan dan panas, membantu pertumbuhan tanaman, serta membasmi kuman. Allah juga menciptakan hewan untuk melayani manusia, baik sebagai makanan maupun alat transportasi.

Allah berfirman: “Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai agar kamu menungganginya, dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Dia menciptakan apa yang tidak kamu ketahui.” (An-Nahl: 8).

Persiapan bumi sebagai tempat tinggal, serta penciptaan berbagai hal sebelum manusia diciptakan, adalah bentuk penghormatan Allah kepada manusia. Selain itu, semua ciptaan ini bertasbih kepada Allah, karena seluruhnya adalah makhluk yang taat kepada-Nya.

Allah berfirman: “Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak memahami tasbih mereka. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun.” (Al-Isra: 44)[[231]].

Apakah Allah akan menghisab orang-orang yang tidak pernah menerima risalah?

Jawaban: Mereka tetap berada dalam tanggung jawab dan hisab, karena Allah telah memberikan akal kepada mereka. Di hari kiamat, Allah akan menguji mereka dengan memerintahkannya sesuatu. Jika mereka patuh, maka mereka masuk surga. Jika mereka durhaka, maka mereka masuk neraka.

Mengapa ada keburukan?

Jawaban: Dunia ini adalah tempat ujian, layaknya bab pertama dari sebuah kisah dua bab. Akhirat adalah tempat pembalasan dan perhitungan, di mana hak-hak yang terzalimi akan dikembalikan kepada yang berhak. Ini adalah bab kedua dari kisah tersebut.

Keberadaan orang-orang jahat serta tidak dihukumnya mereka di dunia adalah bagian dari ujian. Namun, ini bukanlah akhir dari segalanya. Pada hari kiamat, semua manusia akan dibangkitkan, dan setiap orang akan menerima balasan atas amal perbuatannya.

Allah berfirman: “Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya). Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya).” (Az-Zalzalah: 7-8)[[232]].

Mengapa Allah menciptakan orang-orang jahat?

Jawaban: Allah menciptakan manusia dan memberi mereka kebebasan untuk memilih melakukan kebaikan atau kejahatan. Kamu dapat memilih untuk menjadi orang yang santun atau tidak santun, tetapi kamu harus menanggung konsekuensinya. Kebebasan ini adalah nikmat dari Allah sekaligus bagian dari hikmah-Nya.

Orang-orang jahat sebenarnya bisa menjadi baik, dan tugas kita adalah membantu mereka untuk berubah menjadi baik. Jika mereka menolak dan tetap bersikeras pada kejahatan, kewajiban kita adalah mencegah kejahatan mereka agar tidak membahayakan orang lain. Dengan melakukan itu, Allah akan mencintai kita dan memberi kita balasan yang baik.

Allah adalah Pencipta segala sesuatu di dunia ini, dan kehidupan ini adalah tempat ujian. Sebagaimana firman-Nya: “Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Al-Mulk: 2). Salah satu bentuk ujian adalah keberadaan kejahatan melalui perbuatan setan dan manusia yang menyimpang[[233]].

Mengapa sebagian orang terlahir cacat atau memiliki kekurangan fisik?

Jawaban: Allah menguji mereka dengan kekurangan dan penyakit agar mereka bersabar dan mendapatkan pahala yang lebih besar. Hal ini juga untuk mengingatkan kita tentang nikmat Allah yang menciptakan sebagian besar dari kita dalam keadaan sehat, sehingga kita bersyukur kepada-Nya.

Selain itu, hal ini mengingatkan kita akan kelemahan kita di hadapan kekuasaan Allah, sehingga kita tidak menjadi sombong, melainkan rendah hati dan saling membantu satu sama lain.

Setelah hari perhitungan, orang-orang yang berbuat baik akan hidup abadi dalam keadaan sehat di surga penuh kenikmatan, insya Allah[[234]].

Mengapa ada orang kaya dan miskin? Mengapa ada orang jahat yang hidup di istana, sedangkan orang baik hidup di gubuk?

Jawaban: Segala rezeki di dunia ini berasal dari Allah, dan kehidupan adalah ujian dari-Nya. Kadang, Allah memberi rezeki kepada orang baik untuk menguji sejauh mana mereka berbagi kepada sesama. Kadang pula, Allah mengurangi rezeki mereka untuk menguji kesabaran mereka agar tidak mencuri atau iri. Semakin sabar orang baik menjalani kehidupan dunia yang sementara ini, semakin besar pahala yang akan mereka terima pada hari kiamat.

Sedangkan orang yang diberi banyak rezeki tetapi tidak berbagi kepada orang lain atau berbuat buruk kepada mereka, akan disiksa pada hari kiamat karena tidak mensyukuri nikmat Allah.

Allah menciptakan manusia dalam berbagai tingkatan: ada yang kaya, ada yang miskin, agar yang kaya berbelas kasih kepada yang miskin, dan yang kuat membantu yang lemah. Hikmah Allah menetapkan adanya perbedaan ini meliputi segala hal: bahasa, warna kulit, ras, sifat, serta kemampuan—ada yang rajin, ada yang malas; ada yang dermawan, ada yang pelit.

Perbedaan dalam harta dan hal materi juga merupakan bagian dari ujian. Kekayaan adalah ujian: apakah pemiliknya akan menginfakkan hartanya? Apakah dia akan membayar zakat? Apakah dia akan memuliakan orang lain? Apakah dia akan bersedekah? Begitu juga dengan kemiskinan: apakah si miskin akan bersabar? Apakah dia akan bekerja keras? Apakah dia akan berusaha mencari rezeki di bumi? Apakah dia akan mengambil jalan haram seperti mencuri atau menerima suap?

Segala sesuatu adalah ujian, tetapi baik kaya maupun miskin, rezeki tetap datang dari Allah. Kekayaan dan kemiskinan tidak menentukan masuk surga atau neraka, karena setiap orang akan dihisab sesuai dengan apa yang dimilikinya.

Seandainya semua manusia berada dalam satu kelas sosial yang sama (misalnya semua kaya), maka mereka tidak akan saling membutuhkan, tidak ada yang melayani atau membantu satu sama lain, dan kehidupan akan berhenti. Allah berfirman: “Supaya sebagian mereka menjadikan sebagian yang lain sebagai orang yang melayani.” (Az-Zukhruf: 32).

Dengan adanya perbedaan ini, roda kehidupan terus berputar. Jika manusia berada dalam satu lapisan sosial yang sama, kehidupan akan terhenti[[235]].

Mengapa kita sakit? Mengapa musibah menimpa manusia?

Jawaban: Allah menguji setiap manusia, apakah ia akan bersabar menghadapi sakit atau justru marah dan mengeluh? Allah memberikan balasan besar bagi orang yang bersabar, yang akan membuatnya bahagia pada hari kiamat. Penyakit, musibah, dan rasa sakit adalah takdir Allah yang dimaksudkan untuk meningkatkan derajat manusia, membersihkan hati dan akhlaknya dari kesombongan, keangkuhan, dan sifat ujub.

Dengan ujian tersebut, seorang mukmin mendekatkan diri kepada Allah melalui doa, sabar, dan rasa tawakal, sehingga keimanannya bertambah, amalannya meningkat, dan ia menjadi lebih dicintai oleh Allah. Selain itu, manusia belajar menghargai nikmat kesehatan, kebahagiaan, dan kesenangan.

Contoh sederhananya adalah mobil. Kita bisa bertanya: mengapa mobil dibuat? Tentu untuk berjalan, bukan? Tetapi mengapa perusahaan pembuatnya melengkapi mobil dengan rem? Bukankah rem justru menghentikan pergerakannya? Sebenarnya, rem sangat penting untuk menjaga keselamatan mobil agar tidak merusak pemiliknya. Demikian pula, Allah menciptakan manusia untuk menikmati kebahagiaan melalui ibadah kepada-Nya, tetapi Allah juga menakdirkan musibah agar manusia yang lalai berhenti dari kelalaiannya, mengingat kembali tujuan hidupnya, dan mendekat kepada Allah dengan istighfar, sabar, serta berusaha memperbaiki diri[[236]].

Apakah Allah yang menciptakan hewan dan serangga berbahaya?

Jawaban: Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Pemelihara semuanya. Allah menciptakan makhluk-makhluk tersebut dengan kuasa dan kebijaksanaan-Nya, karena Dia Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui. Ada hal-hal yang tidak kita ketahui tentang makhluk-makhluk ini, sebab ilmu manusia yang diberikan oleh Allah sangat kecil dibandingkan ilmu-Nya, sebagaimana firman-Nya: “Dan tidaklah kalian diberi ilmu kecuali sedikit.” (Al-Isra: 85).

Sebagian hikmah dari penciptaan hewan-hewan tersebut adalah:

  1. Membuktikan kesempurnaan ciptaan dan pengaturan Allah. Meski jumlahnya banyak, Allah tetap memberikan rezeki kepada semuanya.
  2. Sebagai ujian bagi manusia. Allah memberi pahala kepada orang yang bersabar saat diuji, dan keberanian seseorang tampak ketika ia mampu membunuh makhluk berbahaya itu.
  3. Menunjukkan kelemahan manusia. Kadang, manusia yang lebih sempurna ciptaannya bisa terluka atau sakit oleh makhluk yang jauh lebih kecil darinya.
  4. Manfaat dalam ilmu pengetahuan. Beberapa obat yang bermanfaat ditemukan dari bisa ular dan makhluk sejenisnya.
  5. Keseimbangan ekosistem. Ular, misalnya, memakan tikus ladang yang merusak hasil panen. Selain itu, banyak hewan berbahaya menjadi makanan bagi hewan lain yang lebih bermanfaat. Semua ini menunjukkan harmoni dan keseimbangan yang Allah ciptakan dalam alam semesta[[237]].

 

Mengapa saya harus shalat lima waktu sehari semalam?

Jawaban: Ibadah yang Allah wajibkan kepada kita adalah cara untuk menyucikan jiwa seorang mukmin dan meningkatkan kualitas spiritualnya. Waktu, tenaga, dan usaha yang dikeluarkan untuk melaksanakan ibadah ini sangat kecil dibandingkan dengan manfaat besar yang kita peroleh darinya[[238]].

Shalat adalah ibadah yang menggabungkan berbagai bentuk penghambaan kepada Allah dengan sempurna. Dalam shalat, terdapat bacaan Al-Qur’an, dzikir, doa, dan perendahan diri di hadapan Allah. Semua ini menjadikan shalat lebih utama dibandingkan dengan dzikir, bacaan, atau doa yang dilakukan secara terpisah[[239]].

Bagi orang beriman, shalat adalah kebahagiaan karena di dalamnya mereka merasakan kedekatan dengan Allah. Mereka berdoa kepada-Nya, mengungkapkan segala harapan, dan yakin bahwa Allah mendengar serta akan mengabulkan doa-doa mereka.

Kita melaksanakan shalat karena itu adalah perintah Allah, dan kita selalu ingin melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya. Kita beribadah kepada Allah karena Dia adalah Pencipta dan Pemberi rezeki kita. Dia juga yang paling berhak untuk disembah, mengingat nikmat-Nya yang tidak terhitung, sebagaimana firman-Nya: “Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya.” (An-Nahl: 18).

Shalat adalah bentuk ungkapan cinta, syukur, dan pengakuan akan kebutuhan kita kepada Allah agar Dia menjaga kesehatan kita, memberi kita taufik untuk berbuat kebaikan, dan menjauhkan kita dari keburukan.

Namun, Allah tidak membutuhkan ibadah kita, karena Dia Maha Kaya dan tidak memerlukan apapun dari makhluk-Nya. Justru, ibadah adalah perintah dari Allah yang bertujuan mendidik kita untuk beribadah sesuai cara yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Inilah makna dua kalimat syahadat: bahwa kita menyembah Allah sesuai dengan syariat yang dibawa Rasulullah.

Ibadah juga menjadi sarana kita untuk mendapatkan pahala besar yang akan menjadi sebab masuknya kita ke surga. Karena Allah menetapkan bahwa surga adalah “barang dagangan-Nya” yang berharga, maka ia membutuhkan “harga” yang mahal, yaitu ketaatan dan amal shalih[[240]].

Mengapa doa saya agar cepat besar tidak dikabulkan Allah?

Jawaban: Doa memiliki adab-adab tertentu yang perlu dijaga. Salah satu adab dalam berdoa adalah menghormati aturan, sunnatullah atau hukum alam yang telah Allah tetapkan untuk mengatur dunia ini. Ketika kita berdoa kepada Allah, Dia akan memilihkan yang terbaik untuk kita. Misalnya, jika kamu meminta kepada ayahmu untuk bermain sepeda di jalan raya, ia mungkin akan menolak permintaanmu karena ia menyayangimu dan tahu bahwa itu tidak baik untukmu.

Kemurahan Allah dalam mengabulkan doa memiliki tiga bentuk:

  1. Allah mengabulkan dan memenuhi permintaan tersebut.
  2. Allah menolak doa tersebut, tetapi sebagai gantinya, Dia menghilangkan musibah atau keburukan yang seharusnya terjadi pada kita.
  3. Allah menyimpan pahala dari doa tersebut untuk kita di hari kiamat, sehingga kita mendapatkan sesuatu yang lebih baik daripadanya di surga[[241]].

Mengapa saya tidak secantik teman saya?

Jawaban: Allah menciptakan setiap orang dengan keunikannya masing-masing. Semua ciptaan Allah adalah indah, sebagaimana firman-Nya: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (At-Tin: 4).

Setiap orang memiliki keistimewaan dalam bentuk penciptaannya. Orang yang diberi kecantikan luar biasa oleh Allah harus lebih banyak bersyukur, sementara yang merasa tidak secantik itu harus menerima dan ridha. Baik mereka yang bersyukur maupun yang sabar akan mendapatkan derajat yang tinggi dan pahala yang besar[[242]].

Jika Allah mencintai kita, mengapa hal-hal buruk terjadi pada kita?

Jawaban: Allah menguji kita untuk membedakan siapa yang berbuat baik dan siapa yang berbuat buruk. Allah juga kadang menguji manusia agar mereka kembali kepada-Nya dan selalu dekat dengan-Nya. Ujian adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang Dia cintai, untuk membersihkan mereka dan meninggikan derajat mereka. Dengan demikian, mereka menjadi teladan bagi orang lain agar ikut bersabar seperti mereka.

Nabi ﷺ bersabda: “Orang yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian yang lebih utama dan yang lebih utama.”[[243]]

Seorang hamba akan diuji sesuai dengan kadar keimanannya. Jika imannya kuat, maka cobaannya pun lebih berat[[244]]. Contohnya adalah para nabi. Ada yang dibunuh, ada yang disakiti, dan ada yang menderita sakit berat seperti Nabi Ayyub. Nabi kita ﷺ juga mengalami banyak gangguan di Mekkah dan Madinah, tetapi beliau tetap bersabar.

Poin penting yang perlu disampaikan kepada anak adalah bahwa Allah berbuat apa yang Dia kehendaki dan menentukan apa yang Dia inginkan. Allah adalah Penguasa yang paling bijaksana, dan kita tidak boleh mempertanyakan apa yang Allah lakukan karena Dia Maha Adil dan Maha Bijaksana.

Catatan: Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan. Kami selalu menyambut komunikasi melalui email untuk pertanyaan lain atau saran model jawaban yang lebih baik di: jrakaf@gmail.com.

 

 

PENUTUP

Sebagai penutup, berikut beberapa rekomendasi yang kami anggap penting dalam bidang pendidikan:

  1. Meningkatkan Edukasi Orang Tua

Orang tua merupakan pilar utama dalam membentuk generasi yang berakhlak dan memiliki kesadaran yang baik. Oleh karena itu, perlu diselenggarakan pelatihan intensif yang terstruktur untuk meningkatkan pemahaman mereka.

  1. Mendesain Program Media dan Animasi Beridentitas Islami

Dibutuhkan produksi program media dan film animasi yang berciri khas Islami, dengan kualitas teknis dan artistik yang memenuhi standar global. Hal ini penting agar karya tersebut menarik perhatian dan mendapatkan tempat di hati penonton.

  1. Mendorong Penyelenggaraan Konferensi dan Penelitian Media Anak

Penyelenggaraan konferensi dan penelitian di bidang media edukatif anak harus lebih didorong, sehingga dapat menghasilkan produk-produk berkualitas yang sesuai dengan identitas budaya kita. Ini juga memberikan alternatif hiburan yang positif bagi anak-anak[[245]].

  1. Memperkaya Karya Sastra Anak dalam Bahasa Arab

Produksi karya sastra anak dalam bahasa Arab masih minim dan sebagian besar yang ada hanyalah terjemahan dari budaya lain. Oleh karena itu, perlu kerja sama berbagai pihak untuk mengisi kekosongan ini dalam perpustakaan Arab dengan karya-karya yang mencerminkan nilai-nilai lokal.

  1. Merancang Program Pelatihan Pendidikan Keimanan Anak

Perlu diadakan program pelatihan khusus di bidang pendidikan keimanan anak, serta melatih para pendidik dan konselor di bidang ini. Program ini sebaiknya dirancang untuk pendidik pada berbagai tingkat pendidikan anak, dengan memperhatikan perbedaan usia dan kebutuhan perkembangan mereka.

  1. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Resmi

Kurikulum pendidikan resmi perlu dikembangkan agar mencakup komponen pendidikan dan pengetahuan yang menjawab pertanyaan-pertanyaan keimanan kontemporer dengan cara yang relevan dan komprehensif.

Dengan implementasi rekomendasi-rekomendasi ini, diharapkan kita dapat membangun generasi yang lebih kuat, beriman, dan siap menghadapi tantangan zaman.

 

 

REKOMENDASI BUKU-BUKU RUJUKAN LAINNYA

Ini adalah daftar beberapa buku, audio, situs web, dan aplikasi yang disarankan, yang membantu orang tua dalam memperkaya proses pendidikan.

  • كتب العقيدة والإيمان
  1. عالم الملائكة الأبرار – د. عمر الأشقر
  2. الإيمان بالكتب – د. محمد بن إبراهيم الحمد
  3. الرسل والرسالات – د. عمر الأشقر
  4. المباحث العقدية المتعلقة بالإيمان بالرسل – أحمد النجار
  5. الإيمان باليوم الآخر – د. محمد الحمد
  6. الإيمان باليوم الآخر وأثره في حياة المسلم – عبد الله الأثري
  7. الإيمان بالقضاء والقدر – د. محمد الحمد
  8. القضاء والقدر – د. عمر الأشقر

 

  • كتب التربية والتعليم
  1. التربية النبوية – د. محمد الدويش
  2. موسوعة التربية العملية للطفل – هداية الله أحمد هشاش
  3. منهج التربية النبوية للطفل – محمد سويد
  4. القواعد العشر: أهم القواعد في تربية الأبناء – د. عبد الكريم بكار
  5. ملامح السعادة في تربية الطفل على العبادة – د. عبد المجيد البيانوني
  6. غرس أصول الإيمان في نفس الطفل – د. شريفة الحازمي
  7. طفل يقرأ – د. عبد الكريم بكار
  8. تأسيس عقلية الطفل – د. عبد الكريم بكار
  9. تربية الأبناء كيف نجعلها متعة – خالد الحليبي
  • الأسرار التسعة في تربية الأبناء – د. محمد الثويني
  • الحياة الأسرية – د. عبد الكريم بكار
  • الصحة النفسية للطفل – د. حاتم آدم

 

  • كتب السيرة والقصص
  1. الأطلس التاريخي لسيرة الرسول – سامي المغلوث
  2. خمسون موقفا للنبي مع الصغار – د. إبراهيم الودعان
  3. كيف نزرع حب الحبيب في الناشئة – أمينة دراعو
  4. رجال ونساء حول الرسول للأطفال – سيد مبارك
  5. قصص رواها النبي محمد – د. عثمان مكانسي
  6. ٣٠ قصة بلسان محمد – عصام الشايع
  7. قصص تكوين شخصية الطفل – فيد براكاش
  8. قصص رواها الصحابة – د. عثمان مكانسي

 

  • كتب الأذكار والعبادات
  1. حصن المسلم – سعيد القحطاني
  2. المشكاة في تربية الصغار على الصلاة – حسان عيد
  3. أذكار الطفل المسلم – محمود المصري

 

  • صوتيات ومرئيات
  1. فن الحوار العائلي – د. جاسم المطوع
  2. مهارات تربوية لمرحلة الطفولة – د. علي الشبيلي
  3. الإبداع في تربية الأبناء – د. عبد العزيز المقبل
  4. عالم الطفل وأسلوب التربية – د. عبد العزيز النغيمشي
  5. العناية بالأطفال – د. عبد العزيز السدحان
  6. التربية العقدية للأطفال – د. عدنان باحارث
  7. طفلك من الثانية إلى العاشرة – هاني العبد القادر
  8. سلوكيات المربي الإيجابي – د. مصطفى أبو سعد
  9. تربية الأبناء بلا عناء – د. إبراهيم الخليفي
  • التربية الإيمانية – فايز الزهراني
  • تربية الأولاد في الإسلام – د. محمد راتب النابلسي
  • التربية الإيمانية للطفل – د. علي الشبيلي
  • أسئلة الأطفال المحرجة – خالد الصقعبي

 

  • تطبيقات الأجهزة الذكية
  1. عدنان معلم القرآن
  2. الحفاظ الصغار
  3. تعليم الأطفال الوضوء والصلاة
  4. حصن المسلم
  5. قصص القرآن للأطفال
  6. أذكاري اليومية
  7. أحب ربي

 

  • مواقع ومقالات
  1. أحاديث للأطفال للحضانة والمعلمين والمربين – شبكة الألوكة
  2. شرح عشرة أحاديث للأطفال – شبكة الألوكة
  3. أسئلة في العقيدة للأطفال – شبكة الألوكة
  4. قصص الأنبياء للأطفال – شبكة الألوكة
  5. قصص العقيدة للأطفال – شبكة الألوكة
  6. طفل الابتدائي وطرق تربيته عمليا – معتز شاهين، موقع المسلم
  7. موقع المربي بإشراف الدكتور محمد الدويش
  8. صفحة المفكر التربوي إبراهيم رشيد
  9. موقع الدكتور إبراهيم الخليفي
  • موقع الدكتور مصطفى أبو السعد

[[1]] Diriwayatkan oleh Bukhari (nomor 2558) dan Muslim (nomor 1829).

[[2]] Diriwayatkan oleh Muslim (nomor 1631).

[[3]] Tafsir Al-Karim Ar-Rahman Fi Tafsiir Al-Kalaam Al-Mannan, Sa’di, (halaman 166).

[[4]] Keluarga dan Perannya dalam Pengembangan Nilai Sosial pada Anak di Tahap Kanak-Kanak Akhir, Al-Husain Azzi, Tesis Magister dalam Ilmu Psikologi Sosial, Universitas Tizi Ouzou, Aljazair, (halaman 22).

[[5]] Dakwah: Keterampilan dan Seni oleh Shuhatha Shaqir, (halaman 271).

[[6]] Pendidikan Islam: Asal Usul, Metode, dan Pendidiknya oleh Aatif Al-Sayyid, (halaman 13), dan lihat: Pendidikan Islam: Istilah dan Konsep oleh Dr. Saleh Abu Arad, (halaman 27).

[[7]] Lihat: Pendidikan Nabi oleh Dr. Muhammad Al-Duwaish, (halaman 10).

[[8]] Menanamkan Pokok-Pokok Iman dalam Diri Anak, oleh Dr. Sharifah Al-Hazimi, (halaman 5).

[[9]] Menanamkan Pokok-Pokok Iman dalam Diri Anak, oleh Dr. Sharifah Al-Hazimi, (halaman 21).

[[10]] Al-Qawāʿid al-ʿAshr (Sepuluh Kaidah Utama dalam Mendidik Anak), Dr. Abdul Karim Bakkar, (hlm. 21-22).

[[11]] Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 2558) dan Muslim (no. 1829).

[[12]] Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 7150).

[[13]] Syu’ab al-Imān oleh al-Baihaqi (no. 8141).

[[14]] Diriwayatkan oleh Tirmidzi (no. 1951), dan dinilai lemah oleh Al-Albani dalam Silsilah al-aʿīfah (no. 1887).

[[15]] Diriwayatkan oleh Tirmidzi (no. 1952), dan dinilai lemah oleh Al-Albani dalam Silsilah al-aʿīfah (no. 1121).

[[16]] Al-Qawāʿid al-ʿAshr (Sepuluh Kaidah Utama dalam Mendidik Anak), Dr. Abdul Karim Bakkar, (hlm. 17, 56, 57).

[[17]] Lihat: Tsaqāfat al-Murrabī (Budaya Pendidik), Waddah bin Hadi, (hlm. 54).

[[18]] Lihat: Ad-Daʿwah: Maharat wa Funūn (Dakwah: Keterampilan dan Seni), Syahatah Shaqir, (hlm. 241).

[[19]] Diriwayatkan oleh Tirmidzi (no. 2516), dan dinilai sahih oleh Al-Albani.

[[20]] Lihat pembahasan hadis “Ihfazillāh yahfazka” (Jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu): Studi Aqidah, Dr. Muhammad Al-‘Ali, (hlm. 6).

[[21]] Tuhfah al-Maudūd, Ibnul Qayyim, (hlm. 229).

[[22]] Pentingnya Mengajarkan Aqidah kepada Generasi Muda, Bandar Ar-Rabbah, situs Ṣayd al-Fawa’id. Lihat juga: Masyruʿ al-Ibn al-Mubdiʿ, Ridha al-Miṣrī, (hlm. 4). Lihat juga: Al-Hadi an-Nabawi fi Tarbiyat al-Awlād (Petunjuk Nabi dalam Mendidik Anak), Dr. Sa’id al-Qaḥṭānī, (hlm. 6). Lihat juga: Tarbiyat ash-Shabab: al-Ahdāf wa al-Wasā’il (Pendidikan Pemuda: Tujuan dan Metode), Dr. Muhammad ad-Duwaiš, (hlm. 20).

[[23]] Lihat: Thaqāfat al-Murrabī, Waddah bin Hadi, (hlm. 7).

[[24]] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad (no. 8939), dan disahihkan oleh Al-Albani.

[[25]] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 6026).

[[26]] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 6011).

[[27]] Lihat: Ahdaf at-Tarbiyah al-Islamiyah wa Maqashiduha (Tujuan dan Sasaran Pendidikan Islam), karya Muhammad Ali Jaber, Jaringan Alukah, tanggal publikasi: 16 Dzulqa’dah 1427 H.

[[28]] Lihat: Nazharat fi at-Tarbiyah al-Imaniyah (Pandangan tentang Pendidikan Keimanan), karya Majdi al-Hilali, (hlm. 11).

[[29]] Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2722).

[[30]] Untuk mengetahui dampak buruk dari hilangnya konsep ibadah dalam pola pendidikan modern, lihat: Falsafah at-Tarbiyah al-Islamiyah, Dr. Majid al-Kailani, (hlm. 95).

[[31]] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 1522), dan disahihkan oleh Al-Albani.

[[32]] Diriwayatkan oleh Ahmad (no. 8939), dan disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ (no. 2349).

[[33]] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 2018).

[[34]] Lima Prinsip Keimanan dalam Pendidikan Anak, Dr. Khalid Ruwasyah, situs Al-Muslim, tanggal publikasi: 9 Muharram 1432 H. Lihat juga: Manhaj at-Tarbiyah an-Nabawiyah lil Thifl (Metode Pendidikan Nabi untuk Anak), Muhammad Suwaid, (hlm. 250, 284, 352); dan An-Nabiy al-Murabbi (Nabi sebagai Pendidik), Dr. Ahmad Al-Asmar, (hlm. 106, 249, 305).

[[35]] Lihat: Dharurat Ta’lim al-‘Aqidah lin-Nasyi’ah (Urgensi Mengajarkan Akidah kepada Generasi Muda), Bandar ar-Rabbah, situs Said al-Fawaid. Lihat juga: Tarbiyatul Aulad fil Islam (Pendidikan Anak dalam Islam), Abdullah Alwan, (jilid 1, hlm. 151).

[[36]] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 3371).

[[37]] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 1358).

[[38]] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 5376) dan Muslim (no. 2022).

[[39]] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 2516).

[[40]] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 1425), dan disahihkan oleh Al-Albani.

[[41]] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 2698), dan dinilai hasan oleh Al-Albani.

[[42]] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 61), dan disahihkan oleh Al-Albani.

[[43]] Siyar A’lam an-Nubala’ (Sejarah Para Tokoh Mulia), (jilid 2, hlm. 305).

[[44]] Mushannaf ‘Abdur-Razzaq, (no. 7977).

[[45]] Manhaj al-Islam fi Tarbiyah ‘Aqidah an-Nasyi’ (Metode Islam dalam Mendidik Akidah Anak), karya Muhammad Khair Fatimah, (hlm. 201).

[[46]] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 1359).

[[47]] Tathawwur asy-Syu’ur ad-Dini Lada al-Athfal wal-Murahiqin (Perkembangan Perasaan Keagamaan pada Anak dan Remaja), Prof. Dr. Muhammad al-Khathib, (hlm. 4).

[[48]] Ihya’ ‘Ulum ad-Din, karya Al-Ghazali, (jilid 1, hlm. 94).

[[49]] Ihya’ ‘Ulum ad-Din, karya Al-Ghazali, (jilid 3, hlm. 72).

[[50]] Lihat: Ath-Thibb ar-Ruhani (Pengobatan Spiritual), karya Ibnu al-Jauzi, (hlm. 60).

[[51]] Al-Murabbun wa Tasa’ulat al-Athfal (Para Pendidik dan Pertanyaan Anak-anak), karya Nawal Al-Khalifah, (hlm. 29-30).

[[52]] Tathawwur asy-Syu’ur ad-Dini Lada al-Athfal wal-Murahiqin (Perkembangan Perasaan Keagamaan pada Anak dan Remaja), Prof. Dr. Muhammad al-Khathib, (hlm. 6).

[[53]] Lihat: Tarbiyat al-Thifl fi al-Islam (Pendidikan Anak dalam Islam), karya Sima Abu Ramuz, (hlm. 48); dan lihat juga: Daur al-Ansyithah Ghayr ash-Shafiyah fi Tanmiyat Hub an-Nabi Lada Talimidzat al-Marhalah al-Ibtida’iyah (Peran Kegiatan Ekstrakurikuler dalam Menumbuhkan Cinta kepada Nabi pada Siswa Sekolah Dasar), karya Fauziah Al-Baqmi, (hlm. 76).

[[54]] Ath-Thariq ila al-‘Abqariyah (Jalan Menuju Kejeniusan), karya Miqdad Baljin, (hlm. 39); dan lihat: Tathawwur asy-Syu’ur ad-Dini Lada al-Athfal wal-Murahiqin (Perkembangan Perasaan Keagamaan pada Anak dan Remaja), Prof. Dr. Muhammad al-Khathib, (hlm. 4).

[[55]] Al-Qaul as-Sadid Syarh Kitab at-Tauhid (Penjelasan yang Jelas atas Kitab Tauhid), karya Abdurrahman As-Sa’di, (hlm. 128).

[[56]] At-Tarbiyah al-‘Aqadiyah (Pendidikan Akidah), karya Muhammad Haj al-Jaza’iri, situs Fi Thariq al-Islah.

[[57]] Tarbiyat al-Thifl fi al-Islam (Pendidikan Anak dalam Islam), karya Abdul Salam Al-Fandi, (hlm. 101).

[[58]] Ath-Thariq ila al-‘Abqariyah (Jalan Menuju Kejeniusan), karya Miqdad Baljin, (hlm. 67-68).

[[59]] Lihat: Nazharat fi at-Tarbiyah al-Imaniyah (Pandangan tentang Pendidikan Keimanan), karya Majdi al-Hilali, (hlm. 16).

[[60]] Lihat: Manhaj at-Tarbiyah an-Nabawiyah lil Thifl (Metode Pendidikan Nabi untuk Anak), karya Muhammad Suwaid, (hlm. 253 dan seterusnya).

[[61]] Terkait masalah ibadah, dapat merujuk pada buku Malamih as-Sa’adah fi Tarbiyat ath-Thifl ‘ala al-‘Ibadah (Aspek Kebahagiaan dalam Mendidik Anak tentang Ibadah) karya Dr. Abdul Majid Al-Bayanuni; dan lihat juga bagian Al-Bina’ al-‘Ibadi dari buku Manhaj at-Tarbiyah an-Nabawiyah lil Thifl, karya Muhammad Suwaid, (hlm. 250).

[[62]] Lihat: At-Tarbiyah al-‘Aqadiyah (Pendidikan Akidah), karya Dr. Muhammad Haj al-Jaza’iri di situs Fi Thariq al-Islah; serta Ara’ Ibnu al-Jauzi at-Tarbawiyah (Pandangan Pendidikan Ibnu al-Jauzi), karya Dr. Layla At-Tar, (hlm. 324-337).

[[63]] Tingkat kemampuan membedakan (tamyiiz) berbeda dari satu anak ke anak lainnya. Sebagian anak mencapainya pada usia lima tahun, namun yang lebih umum adalah pada usia tujuh tahun. Tolok ukurnya adalah kemampuan anak membedakan antara yang bermanfaat dan yang berbahaya, memahami apa yang disampaikan kepadanya, dan menyadari apa yang terjadi di sekitarnya. Para ahli pendidikan menyatakan bahwa tahap prasekolah adalah tahap terpenting dalam menanamkan nilai-nilai pada anak. Lihat: Al-Usrah wa Dawruha fi Tanmiyat al-Qiyam al-Ijtima’iyah Lada ath-Thifl fi Marhalat ath-Tufulah al-Muta’akhirah, karya Al-Husain ‘Izi, (hlm. 17).

[[64]] Dapat memanfaatkan buku Hisn al-Muslim karya Sa’id Al-Qahtani, dan buku Adzkar ath-Thifl al-Muslim karya Mahmoud al-Masri.

[[65]] Untuk mengetahui pentingnya nasyid bagi anak-anak dalam kehidupan mereka, lihat: Al-Qiyam ad-Diniyah wal-Akhlaqiyah fi Anashid al-Atfal (Nilai-nilai Keagamaan dan Etika dalam Lagu Anak-anak), karya Qahtan Bairaqdar, di situs Jaringan Alukah, tanggal publikasi: 25 Dzulqa’dah 1429 H; juga lihat: Ahamiyat al-Anashid fi al-‘Amaliyah at-Ta’limiyah wa Ahdaf Tadrisuha (Pentingnya Lagu dalam Proses Pendidikan dan Tujuan Pengajarannya), karya Amjad Qasim, di situs Afaq Ilmiyah wa Tarbawiyah, tanggal publikasi: 12 Juni 2013; serta Al-Anashid wa Dawruha fi Tarbiyah ath-Thifl al-Muslim (Lagu dan Perannya dalam Pendidikan Anak Muslim), karya Rif’at Al-Marsafi, di situs Rabitah Udaba’ asy-Syam, tanggal publikasi: 5 Januari 2013.

[[66]] Lihat: At-Tarbiyah al-‘Aqadiyah (Pendidikan Akidah), karya Dr. Muhammad Haj al-Jaza’iri, di situs Fi Thariq al-Islah; juga lihat: At-Tarbiyah ad-Diniyah lil Athfal (Pendidikan Keagamaan untuk Anak), karya Khawlah Darwish, di situs Said al-Fawaid; serta Athfal al-Muslimin Kaifa Rabbahum an-Nabiy al-Amin (Anak-anak Muslim, Bagaimana Nabi yang Mulia Mendidik Mereka), karya Jamal Abdurrahman, (hlm. 40).

[[67]] Lihat: At-Tarbiyah al-‘Aqadiyah (Pendidikan Akidah), karya Dr. Muhammad Haj al-Jaza’iri, di situs Fi Thariq al-Islah; juga lihat: Mukhtashar ash-Shawa’iq al-Mursalah (Ringkasan Petir yang Dikirimkan), karya Ibnu al-Qayyim, (hlm. 226), di mana ia membahas tentang hikmah Allah dalam menciptakan makhluk-Nya dengan ungkapan yang indah. Selain itu, dapat memanfaatkan buku ‘Aja’ib Khalqillah (Keajaiban Ciptaan Allah), karya Umar Al-Asyqar.

[[68]] Ghrasu Ushul al-Iman fi Nafs ath-Thifl (Menanamkan Prinsip Keimanan dalam Jiwa Anak), karya Dr. Syarifah Al-Hazmi, (hlm. 65, 69).

[[69]] Lihat: Manhaj at-Tarbiyah an-Nabawiyah lil Thifl (Metode Pendidikan Nabi untuk Anak), karya Muhammad Suwaid, (hlm. 379).

[[70]] Lihat: Thifl Yaqra’ (Anak yang Membaca), karya Dr. Abdul Karim Bakkar, (hlm. 67), di mana penulis menjelaskan langkah-langkah praktis tentang seni bercerita kepada anak-anak. Selain itu, dapat memanfaatkan buku A’zham Insan ‘Arafathu al-Basyariyah (Manusia Terbesar yang Pernah Dikenal Umat Manusia), karya Hisyam Bargasy, (hlm. 143). Lihat juga: Kaifa Nazra’ Hubba al-Habib fi an-Nasyi’ah (Bagaimana Menanamkan Cinta kepada Nabi pada Generasi Muda), karya Aminah Dar’aw, (hlm. 33-36); dan buku Khamsuna Mawqifan lin-Nabiy ma’a ash-Shighar (50 Kisah Nabi bersama Anak-anak), karya Dr. Ibrahim Al-Wad’aan. Dapat pula memanfaatkan buku Rijal wa Nisa’ Hawl ar-Rasul lil-Atfal (Para Sahabat Rasulullah untuk Anak-anak), karya Sayyid Mubarak.

[[71]] Lihat: Al-Bina’ an-Nafsi wal-Wijdani lil-Thifl (Pembangunan Psikologis dan Emosional Anak), karya Dr. Shalah Abdul Razzaq, (hlm. 9).

[[72]] Lihat: At-Tarbiyah ad-Diniyah lil Athfal (Pendidikan Agama untuk Anak), karya Khawlah Darwish, di situs Said al-Fawaid; juga lihat: Kaifa Ujib ‘an As’ilat Thifli wa Uhawiruhu (Bagaimana Menjawab Pertanyaan Anak dan Berdialog Dengannya), karya Dr. Salwa Murtadha, (hlm. 108).

[[73]] Lihat: Al-Irtifa’ bil-Usrah fi Ta’zhim Mahabbat an-Nabiy lil-Ummah (Mengangkat Keluarga dalam Mengagungkan Cinta kepada Nabi untuk Umat), (hlm. 5).

[[74]] Dapat memanfaatkan buku Minhaj ath-Thifl al-Muslim (Panduan Anak Muslim), karya Mahmoud Al-Masri; juga buku Ahadits lil-Athfal (lil-Hadhanah wal-Mu’allimin wal-Murabbin) (Hadits untuk Anak-anak: untuk Guru dan Pendidik), serta buku Syarh ‘Asyrah Ahadits lil-Athfal (Penjelasan 10 Hadits untuk Anak-anak). Kedua buku terakhir dipublikasikan di Jaringan Alukah. Selain itu, lihat juga: Manhaj at-Tarbiyah an-Nabawiyah lil Thifl (Metode Pendidikan Nabi untuk Anak), karya Muhammad Suwaid, (hlm. 418).

[[75]] Lihat: Kaifa Tu’allimu al-‘Aqidah lil-Athfal (Bagaimana Mengajarkan Akidah kepada Anak), karya Haya As-Sunai’, di situs Said al-Fawaid; juga lihat: Athfal al-Muslimin Kaifa Rabbahum an-Nabiy al-Amin (Anak-anak Muslim, Bagaimana Nabi yang Mulia Mendidik Mereka), karya Jamal Abdurrahman, (hlm. 143).

[[76]] Lihat: Qawa’id fi Talaqqi al-Masa’ib (Kaedah dalam Menghadapi Musibah), karya Dr. Umar Al-Muqbil, di situs resmi Dr. Umar Al-Muqbil, tanggal publikasi: 3 Desember 2014; juga lihat: Hal al-Insan ‘Inda Hulul al-Mushibah (Keadaan Manusia saat Musibah Datang), karya Dhafir Al-Jab’aan, di situs Said al-Fawaid.

[[77]] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (4991), dinilai hasan oleh Al-Albani.

[[78]] Diriwayatkan oleh Ahmad (9624), dinilai hasan oleh Al-Albani.

[[79]] Lihat: Daur al-Bayt fi Tarbiyah ath-Thifl al-Muslim (Peran Rumah dalam Mendidik Anak Muslim), karya Khalid Asy-Syantut, (hlm. 30); juga lihat: Manhaj at-Tarbiyah an-Nabawiyah lil-Thifl (Metode Pendidikan Nabi untuk Anak), karya Muhammad Suwaid, (hlm. 90); serta As-Sunnah an-Nabawiyah Ru’yah Tarbawiyah (Pandangan Pendidikan dalam Sunnah Nabi), karya Dr. Sa’id Ali, (hlm. 356). Lihat juga: Asalib ar-Rasul fi Tarbiyah al-Usrah al-Muslimah (Metode Rasulullah dalam Mendidik Keluarga Muslim), karya Syafi’ Al-Hammadi, (hlm. 3); Tarbiyat asy-Syabab al-Ahdaf wal-Wasa’il (Pendidikan Pemuda: Tujuan dan Sarana), karya Dr. Muhammad Ad-Duwaish, (hlm. 30); dan Khamsuna Mawqifan lin-Nabiy ma’a ash-Shighar (50 Kisah Nabi Bersama Anak-anak), karya Dr. Ibrahim Al-Wad’aan, (hlm. 9).

[[80]] Lihat: As-Sunnah an-Nabawiyah Ru’yah Tarbawiyah (Pandangan Pendidikan dalam Sunnah Nabi), karya Dr. Sa’id Ali, (hlm. 370). Dapat juga memanfaatkan buku Mawa’izh ash-Shahabah (Nasehat para Sahabat), karya Dr. Umar Al-Muqbil.

[[81]] Ghrasu Ushul al-Iman fi Nafs ath-Thifl (Menanamkan Prinsip Keimanan dalam Jiwa Anak), karya Dr. Syarifah Al-Hazmi, (hlm. 125); juga lihat: Daur al-Bayt fi Tarbiyah ath-Thifl al-Muslim, karya Khalid Asy-Syantut, (hlm. 25); serta Asalib ar-Rasul fi Tarbiyah al-Usrah al-Muslimah, karya Syafi’ Al-Hammadi, (hlm. 19).

[[82]] Lihat: Manhaj at-Tarbiyah an-Nabawiyah lil-Thifl (Metode Pendidikan Nabi untuk Anak), karya Muhammad Suwaid, (hlm. 139).

[[83]] Ghrasu Ushul al-Iman fi Nafs ath-Thifl (Menanamkan Prinsip Keimanan dalam Jiwa Anak), karya Dr. Syarifah Al-Hazmi, (hlm. 34-45); juga lihat: As-Sunnah an-Nabawiyah Ru’yah Tarbawiyah (Pandangan Pendidikan dalam Sunnah Nabi), karya Dr. Sa’id Ali, (hlm. 406).

[[84]] Lihat bab ketiga dari buku Al-Qissah fi Majallat al-Athfal wa Dawruha fi Tansyi’at al-Athfal Ijtima’iyan (Cerita dalam Majalah Anak-anak dan Perannya dalam Pembentukan Sosial Anak), karya Dr. Amal Hamdi Dakkak, diterbitkan oleh Al-Hay’ah al-‘Ammah as-Suriyah lil-Kitab, Damaskus, cetakan pertama, 2012.

[[85]] Lihat: Manhaj at-Tarbiyah an-Nabawiyah lil-Thifl (Metode Pendidikan Nabi untuk Anak), karya Muhammad Suwaid, (hlm. 110, 370); juga lihat: Asalib ar-Rasul fi Tarbiyah al-Usrah al-Muslimah (Metode Rasulullah dalam Mendidik Keluarga Muslim), karya Syafi’ Al-Hammadi, (hlm. 21). Dapat pula memanfaatkan buku Qashash Rawaha an-Nabiy Muhammad (Kisah-kisah yang Diriwayatkan oleh Nabi Muhammad), karya Dr. Utsman Makansi; serta buku 30 Qissah bilisan Muhammad (30 Kisah dalam Gaya Nabi Muhammad), karya Issam Asy-Syayyi’.

[[86]] Lihat: Daur al-Ansyithah Ghair ash-Shafiyyah fi Tanmiyah Hubb an-Nabiy lada Tilmidzat al-Marhalah al-Ibtida’iyyah (Peran Kegiatan Ekstrakurikuler dalam Menumbuhkan Cinta Nabi pada Siswa Sekolah Dasar), karya Fauziah Al-Baqmi, (hlm. 45, 52).

[[87]] Ghrasu Ushul al-Iman fi Nafs ath-Thifl (Menanamkan Prinsip Keimanan dalam Jiwa Anak), karya Dr. Syarifah Al-Hazmi, (hlm. 46-55); juga lihat: As-Sunnah an-Nabawiyah Ru’yah Tarbawiyah (Pandangan Pendidikan dalam Sunnah Nabi), karya Dr. Sa’id Ali, (hlm. 343).

[[88]] Lihat: Manhaj at-Tarbiyah an-Nabawiyah lil-Thifl (Metode Pendidikan Nabi untuk Anak), karya Muhammad Suwaid, (hlm. 102); juga lihat: Mawaqif Tarbawiyah min Hady an-Nabiy ma’a al-Athfal (Kisah-kisah Pendidikan dari Tuntunan Nabi bersama Anak-anak), karya Dr. Abdul Majid Al-Bayanuni, (hlm. 38).

[[89]] Diriwayatkan oleh al-Bukhari (5997).

[[90]] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (4941), dan dinilai sahih oleh al-Albani.

[[91]] Diriwayatkan oleh al-Bukhari (5809).

[[92]] Diriwayatkan oleh al-Bukhari (6116).

[[93]] Lihat: Tarbiatu an-Nasyi’ah fi al-Qur’an al-Karim (Pendidikan Generasi Muda dalam Al-Qur’an), karya Sabah Ath-Thulayan, (hlm. 211-226); juga lihat: At-Tarbiyah fi as-Sunnah an-Nabawiyah (Pendidikan dalam Sunnah Nabi), karya Abu Lubabah Hussein, (hlm. 47); dan Asalib ar-Rasul fi ad-Da’wah wa at-Tarbiyah (Metode Rasulullah dalam Dakwah dan Pendidikan), karya Yusuf Ash-Shuri, (hlm. 15).

[[94]] Untuk pengajaran akidah secara sederhana dan sangat ringkas, dapat memanfaatkan:

  • Buku ‘Aqidati karya Dr. Tariq Al-Bakri, diterbitkan dalam Majalah Al-Fatih, edisi ke-142.
  • As’ilah fi al-‘Aqidah lil-Atfal (Pertanyaan-Pertanyaan Akidah untuk Anak-Anak), diterbitkan oleh Jaringan Alukah.
  • Lampiran kedua dari buku ‘Aqidah ath-Thifl al-Muslim (Akidah Anak Muslim), karya Hiyam Mahmoud.

[[95]] Al-Asalib an-Nabawiyah li Tanmiyat al-Qiyam al-Imaniyah lada asy-Syabab al-Muslim fi Dhau’i at-Tahaddiyat al-Mu’ashirah (Metode Nabi dalam Mengembangkan Nilai-Nilai Keimanan pada Pemuda Muslim di Tengah Tantangan Kontemporer), karya Ath-Thayyib Ahmad Asy-Syanqithi, (hlm. 84-85).

[[96]] Lihat: Bagaimana Kita Mencintai Allah dan Merindukan-Nya, karya Majdi al-Hilali, (halaman 14).

[[97]] Lihat: Tarbiat ath-Thifl fi al-Islam (Pendidikan Anak dalam Islam), karya Sima Abu Ramuz, (hlm. 50); juga lihat: Aṭfaluna wa Ḥubbullah (Anak-Anak Kita dan Kecintaan kepada Allah), karya Dr. Amani Ar-Ramadi, di situs Shid al-Fawaid; dan Kaifa Nuḥibbullah wa Nasytāqu Ilaihi (Bagaimana Kita Mencintai Allah dan Merindukan-Nya), karya Majdi Al-Hilali, (hlm. 22).

[[98]] Al-Murrabun wa Tasā’ulāt al-Aṭfāl (Para Pendidik dan Pertanyaan Anak-Anak), karya Nawal Al-Khalifah, (hlm. 36-39).

[[99]] Jawanib at-Tarbiyah al-Islamiyah al-Asasiyah (Aspek-Aspek Dasar Pendidikan Islam), karya Muqaddad Biljin, (hlm. 147).

[[100]] Tarbiat an-Nasyi’ah fi al-Qur’an al-Karim (Pendidikan Generasi Muda dalam Al-Qur’an), karya Sabah Ath-Thulayan, (hlm. 34-43); juga lihat: Ghras Maḥabbah Allah Jalla fi Nufus al-Mad‘uwin (Menanamkan Cinta kepada Allah dalam Diri Orang yang Didakwahi), karya Dr. Al-Jawharah Ath-Thuraifi, (hlm. 18).

[[101]] Lihat: Ghras Maḥabbah Allah fi Nufus al-Mad‘uwin (Menanamkan Cinta kepada Allah dalam Diri Orang yang Didakwahi), karya Dr. Al-Jawharah Ath-Thuraifi, (hlm. 10).

[[102]] How to Say It to Your Kids (Bagaimana Mengatakannya kepada Anak-Anak Anda), karya Paul Coleman, (hlm. 157-158); dan dapat memanfaatkan buku ‘Aẓamatullah Ta‘ala wa Jalla wa ‘Azza (Keagungan Allah Ta’ala), karya Dr. Muhammad Asy-Syarif.

[[103]] Lihat: At-Tarbiyah Al-‘Aqaidiyah (Pendidikan Akidah), karya Dr. Muhammad Haj Al-Jaza’iri, di situs Fi Thariq Al-Islah; juga Manhaj at-Tarbiyah an-Nabawiyah li ath-Thifl (Metode Pendidikan Nabi untuk Anak), karya Muhammad Suwaid, (hlm. 212).

[[104]] Ghras Maḥabbah Allah fi Nufus al-Mad‘uwin (Menanamkan Cinta kepada Allah dalam Diri Orang yang Didakwahi), karya Dr. Al-Jawharah Ath-Thuraifi, (hlm. 14).

[[105]] 100 Wasiilah Li-Yuḥibbuka Allah wa Rasuluh (100 Cara Agar Allah dan Rasul-Nya Mencintaimu), karya Sayyid Mubarak, (hlm. 5).

[[106]] Diriwayatkan oleh Muslim (2996).

[[107]] Tarbiat an-Nasyi’ah fi al-Qur’an al-Karim (Pendidikan Generasi Muda dalam Al-Qur’an), karya Sabah Ath-Thulayan, (hlm. 43-44).

[[108]] Diriwayatkan oleh Muslim (564).

[[109]] Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat merujuk pada buku-buku yang membahas keimanan kepada malaikat, seperti:

  • ‘Alam al-Mala’ikah al-Abrar (Dunia Malaikat yang Mulia), karya Dr. Umar Al-Asyqar.
  • ‘Alam al-Mala’ikah fi Dhaw’ as-Sunnah an-Nabawiyah: Dirasah Maudhuiyah (Dunia Malaikat dalam Cahaya Sunnah Nabi: Kajian Tematik), karya Nabil Abu Al-‘Amrain, tesis magister dari Universitas Gaza, diterbitkan secara online.
  • Ahamiyyat al-Iman bil-Mala’ikah wa ‘Alamatuh an-Nafsiyah wa al-Ijtima‘iyah wa al-Khulqiyah (Pentingnya Keimanan kepada Malaikat serta Tanda-Tandanya secara Psikologis, Sosial, dan Etis), karya Dr. Mahmud Sa‘adat, diterbitkan di Shabakat Alukah.

[[110]] Lihat: ‘Alam al-Mala’ikah al-Abrar, karya Dr. Umar Al-Asyqar, (hlm. 6).

[[111]] Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat merujuk pada:

  • Al-Iman bil-Kutub (Keimanan kepada Kitab-Kitab Allah), karya Syaikh Dr. Muhammad bin Ibrahim Al-Hamad.
  • Al-Iman bil-Kutub, karya Ahmad An-Najjar.

[[112]] Ta‘lim at-Tafkir (Pendidikan Berpikir), karya Saif Al-‘Isawi, (hlm. 121).

[[113]] Min Al-Atsar Al-Imaniyyah li-Ta‘lim wa Ta‘allum Al-Qur’an Al-Karim ‘ala Al-Fard wa Al-Mujtama‘ (Dampak Keimanan dari Pengajaran dan Pembelajaran Al-Qur’an terhadap Individu dan Masyarakat), karya Dr. Sya‘ban Maqallad, artikel di Shabakah Alukah, diterbitkan pada 13 Jumada Al-Thaniyah 1430 H. Lihat juga: Asas Bina’ Syakhsiyyah Ath-Thifl Al-Muslim (Prinsip-Prinsip Membentuk Kepribadian Anak Muslim), karya Ali Asy-Syahud, (hlm. 46).

[[114]] Diriwayatkan oleh Muslim (804).

[[115]] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (2914) dan dinilai hasan oleh Al-Albani.

[[116]] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (5427).

[[117]] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (5027).

[[118]] Lihat: At-Tarbiyah Al-‘Aqadiyyah, karya Dr. Muhammad Haj Al-Jazairi di Mauqi’ Fi Tariq Al-Islah.
Lihat juga: Manhaj At-Tarbiyah An-Nabawiyyah Li At-Thifl, karya Muhammad Suwaid, (hlm. 238).

[[119]] Untuk mengetahui pengaruh halaqah dalam pembentukan dan pengembangan karakter anak, lihat: Daur Al-Halaqat Al-Qur’aniyyah Fi Tanmiyyat Syakhshiyyah Ath-Thifl Al-Muslim, karya Abdullah Muhammad Hanano.

[[120]] Lihat: Thifl Al-Ibtidai wa Thuruq Tarbiyatihi ‘Amaliyyan, karya Mu’taz Shahin, di Mauqi’ Al-Muslim, tanggal publikasi: 1432/7/7 H.

[[121]] Lihat: At-Tarbiyah Al-‘Aqadiyyah, karya Dr. Muhammad Haj Al-Jazairi di Mauqi’ Fi Tariq Al-Islah.
Lihat juga: Maharat Tahbib Athfalina Fi Al-Qur’an, karya Amina Muhammad, di Majallah Al-Wa’yu Al-Islami, edisi (556). Serta: Manhaj At-Tarbiyah An-Nabawiyyah Li At-Thifl, karya Muhammad Suwaid, (hlm. 232).

[[122]] Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat merujuk pada: Ar-Rusul wa Ar-Risalat, karya Dr. Umar Al-Asyqar. Al-Mabahits Al-‘Aqadiyyah Al-Muta’alliqat Bi Al-Iman Bi Ar-Rusul, karya Ahmad An-Najjar. Al-Iman Bi Ar-Rusul wa Ar-Risalat, karya Dr. Ali As-Salabi.

 

[[123]] Majmu’ Fatawa wa Rasail karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, (hal. 145).

[[124]] Daur Al-Anshithah Ghair Ash-Shafiyyah fi Tanmiyat Hubbin Nabiy karya Fauziah Al-Baqmi, (hal. 92, 98, 99, 84).

[[125]] Buku ‘Inayah Ar-Rasul bil Mar’ah wal Thifl, karya Muhammad Mas’ad Yaqut.

[[126]] Haqiqat Al-Iman bil Rusul, karya Muhammad Al-Munajjid, tersedia di situs Islam Question and Answer, diterbitkan pada 21 Januari 2002.

[[127]] Daur Al-Anshithah Ghair Ash-Shafiyyah fi Tanmiyat Hubbin Nabiy Lada Tilmidzat Al-Marhalah Al-Ibtida’iyyah, karya Fauziah Al-Baqmi, (halaman 84).

[[128]] Bagaimana Rasulullah Berinteraksi dengan Mereka (كيف عاملهم), karya Muhammad Al-Munajjid, (halaman 301, 691, 761). Ar-Rahmah fi Hayati Ar-Rasul (الرحمة في حياة الرسول), karya Raghib As-Sarjani, (halaman 65).

[[129]] Ta’amul Ar-Rasul Ma’a Al-Atfal Tarbawiyyan (تعامل الرسول مع الأطفال تربويا), karya Dr. Hissah As-Saghir, (halaman 75-77). Al-Atlas At-Tarikhi Lisirah Ar-Rasul (الأطلس التاريخي لسيرة الرسول), karya Sami Al-Maghluts.

[[130]] Tarbiyatun Nasya’ah fi Al-Qur’an Al-Karim, karya Shabah At-Thalyan (halaman 44-59).
Manhaj At-Tarbiyah An-Nabawiyyah lil Athfal, karya Muhammad Suwaid (halaman 219).
Usus Bina’ Syakhsiyyat Al-Atfal Al-Muslim, karya Ali Asy-Syahud (halaman 22).
Daur Al-Ansyithah Ghair As-Shafiyyah fi Tanmiyat Hubb An-Nabi, karya Fawziyah Al-Buqami (halaman 88).

[[131]] Ath-Thifl fi Asy-Syari’ah Al-Islamiyyah wa Manhaj At-Tarbiyah An-Nabawiyyah, karya Siham Jabbar (halaman 252).

[[132]] Hadis Riwayat Bukhari (5439).

[[133]] A’zham Insan ‘Arafatuh Al-Basyariyyah, karya Hisyam Barghsy (halaman 152).
Khamsuna Mawqifan lin Nabi Ma’a Ash-Shighar, karya Dr. Ibrahim Al-Wud’an (halaman 19).

[[134]] Hadis Riwayat Bukhari (3688).

[[135]] At-Tarbiyah Al-‘Aqadiyyah, karya Dr. Muhammad Haj Al-Jazairi, di Mawqi’ Fi Thariq Al-Islah. Kayfa Ursikh Hubb An-Nabi fi Qalbi Waladi, karya Khalid Ruwasah, di Mawqi’ Said Al-Fawaid. Athfaluna wa Hubb Ar-Rasul, karya Dr. Amani Ar-Ramadi, di Mawqi’ Said Al-Fawaid. A’zham Insan ‘Arafatuh Al-Basyariyyah, karya Hisyam Barghsy (halaman 151).

[[136]] Gharasu Ushul Al-Iman fi Nafs Ath-Thifl, karya Dr. Syarifah Al-Hazimi (halaman 124).

[[137]] Al-Murrabun wa Tasa’ulat Al-Atfal, karya Nawal Al-Khalifah (halaman 119-121).

[[138]] Untuk pembahasan lebih lanjut: Al-Iman bil Yaum Al-Akhir, karya Dr. Muhammad Al-Hamad. Al-Iman bil Yaum Al-Akhir wa Atsaruhu fi Hayati Al-Muslim, karya Abdullah Al-Atsari.

[[139]] Gharasu Ushul Al-Iman fi Nafs Ath-Thifl, karya Dr. Syarifah Al-Hazimi (halaman 128).

[[140]] Hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 2516).

[[141]] Hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad (no. 2803).

[[142]] Tarbiyatun Nasyi’ah fi Al-Qur’an Al-Karim, karya Shabah Ath-Thilyan (halaman 33). Ihfazh Allah Yahfazhka, karya Muhammad Ad-Dubaisi (halaman 8). Khamsuna Mawqifan Lin-Nabi ma’a Ash-Shighar, karya Dr. Ibrahim Al-Wad’aan (halaman 25).

[[143]] Ath-Thifl fi Asy-Syari’ah Al-Islamiyah wa Manhaj At-Tarbiyah An-Nabawiyah, karya Siham Jabbar (halaman 249).

[[144]] Tarbiyahtut Thifl fi Al-Islam, karya Sima Abu Ramuz (halaman 70). Untuk pembahasan lebih lanjut, dapat merujuk pada: Al-Iman bil Qadha’ wal Qadar, karya Dr. Muhammad Al-Hamad. Al-Qadha’ wal Qadar, karya Dr. Umar Al-Asyqar.

 

[[145]] Tasis ‘Aqliyatuth Thifl, karya Dr. Abdul Karim Bakkar: Halaman 10.

[[146]] Al-Qawa’id Al-‘Asyr (Aham Al-Qawa’id fi Tarbiyah Al-Abna’), karya Dr. Abdul Karim Bakkar: Halaman 33.

[[147]] Tasis ‘Aqliyatuth Thifl, karya Dr. Abdul Karim Bakkar: Halaman 16.

[[148]] Al-Qawa’id Al-‘Asyr (Aham Al-Qawa’id fi Tarbiyah Al-Abna’), karya Dr. Abdul Karim Bakkar: Halaman 36.

[[149]] Lihat: “Anak dan Kecintaan terhadap Rasa Ingin Tahu”, oleh Umar As-Sab’, situs Mufakkiratul Islam, tanggal publikasi: 5 Januari 2012. Juga lihat: “Kajian tentang Rasa Ingin Tahu, Kreativitas, dan Imajinasi”, oleh Dr. Syakir Abdul Hamid dan Abdul Latif Khalifah, (halaman 33).

[[150]] “Pertanyaan-Pertanyaan Sulit dari Anak dan Cara Menjawabnya”, oleh Dr. Mustafa Abu Sa’ad, dari halaman Facebook-nya, tanggal publikasi: 23 Mei 2014. Juga lihat: “Fiqh Pendidikan dan Rasa Ingin Tahu terhadap Ilmu Pengetahuan”, oleh Dr. Abdurrahman Zakir, situs Fun Al-Hayat (Seni Kehidupan), 9 Juli 2014.

[[151]] Lihat: “Pertanyaan Anak dan Hubungannya dengan Pengembangan Kemampuan Intelektual serta Perspektifnya pada Anak”, oleh Husain Sabahi, situs Alukah Network, tanggal publikasi: 1 Dzulhijjah 1432 H.

[[152]] “Pertanyaan-Pertanyaan Sulit dari Anak dan Cara Menjawabnya”, oleh Dr. Mustafa Abu Sa’ad, dari halaman Facebook-nya, tanggal publikasi: 23 Mei 2014.

[[153]] Lihat: “Pertanyaan Anak dan Hubungannya dengan Pengembangan Kemampuan Intelektual serta Perspektifnya pada Anak”, oleh Husain Sabahi, situs Alukah Network, tanggal publikasi: 1 Dzulhijjah 1432 H.

[[154]] Lihat: “Pertanyaan-Pertanyaan Sulit dari Anak dan Cara Menjawabnya”, oleh Dr. Mustafa Abu Sa’ad, dari halaman Facebook-nya, tanggal publikasi: 23 Mei 2014.

[[155]] “Psikologi Tahapan Usia”, oleh Umar Al-Mufdi, (halaman 432).

[[156]] “Bagaimana Mengatakannya kepada Anak-Anak Anda”, oleh Paul Coleman, (halaman 155). Juga lihat: “Akidah Anak Muslim”, oleh Hiyam Mahmoud, (halaman 56).

[[157]] Lihat: “Anak Anda di Usia Empat Setengah Tahun”, oleh Hani Al-Abdul Qadir, situs Al-Muslim, tanggal publikasi: 1 Syawal 1428 H.

[[158]] Lihat: “Pertanyaan Anak dan Hubungannya dengan Pengembangan Kemampuan Intelektual serta Perspektifnya pada Anak”, oleh Husain Sabahi, situs Alukah Network, tanggal publikasi: 1 Dzulhijjah 1432 H.

[[159]] “Membangun Pola Pikir Anak”, oleh Dr. Abdul Karim Bakkar, (halaman 78).

[[160]] “Program yang Diusulkan untuk Melatih Guru TK dalam Menjawab Pertanyaan Ilmiah yang Sulit dari Anak-Anak”, oleh Prof. Maher Sabri, (halaman 7).

[[161]] Muqaddimah Ibnu Khaldun, halaman 545.

[[162]] Dialog dan Pembentukan Kepribadian Anak, Salman Khalafullah, halaman 105 dan 108.

[[163]] Bagaimana Saya Menjawab Pertanyaan Anak Saya dan Berdialog Dengannya, Dr. Salwa Murtadha, halaman 21-22.

[[164]] Dialog dan Pembentukan Kepribadian Anak, Salman Khalafullah, halaman 77. Lihat juga: Metode Pendidikan Nabi untuk Anak, Muhammad Suwaid, halaman 119, dan Keterampilan Berkomunikasi dengan Anak, Dr. Khalid Al-Hulaibi, halaman 31.

[[165]] Lihat: Strategi Bertanya untuk Mengajarkan Berpikir, Mahmud Tafisy As-Syaqirat, situs pribadinya. Lihat juga: Strategi Pengajaran di Abad ke-21, Dr. Zauqan Ubaidat dan Dr. Suhaila Abu As-Sumaid, halaman 218.

[[166]] Bagaimana Saya Menjawab Pertanyaan Anak Saya dan Berdialog Dengannya, Dr. Salwa Murtadha, halaman 73-74.

[[167]] Bagaimana Mendidik Anak di Zaman Ini, Dr. Hassan Syamsi Basha, halaman 122.

[[168]] Anak Saya Penemu, Bagaimana Saya Membantunya dalam Penemuannya, Mansour As-Sani, halaman 33.

[[169]] Pertanyaan Kritis Anak Anda, Abu Al-Majd Harak, halaman 10.

[[170]] Apakah Anak Saya Ateis, disusun oleh Komite Dakwah Elektronik.

[[171]] Pertanyaan-Pertanyaan Anak yang Memalukan dan Cara Menjawabnya, Dr. Mustafa Abu Saad, dari halaman Facebook-nya, tanggal publikasi: 23 Mei 2014.

[[172]] Bagaimana Saya Menjawab Pertanyaan Anak Saya dan Berdialog Dengannya, Dr. Salwa Murtadha, halaman 73.

[[173]] Pendidik dan Pertanyaan Anak-anak, Nawal Al-Khalifah, halaman 126-130.

[[174]] Anda dapat memanfaatkan buku-buku yang berfokus pada cerita anak, seperti Kisah-Kisah Pembentukan Kepribadian Anak, Ved Prakash, serta buku-buku ilmiah seperti Serial Tanya Jawab yang diterbitkan oleh Alam Al-Kutub (hingga saat ini telah terbit 16 buku). Ada juga buku lainnya, seperti Anak yang Membaca, Dr. Abdul Karim Bakkar, halaman 101, yang memuat daftar cerita yang disarankan untuk setiap tahap usia. Selain itu, ada Kisah yang Diriwayatkan Nabi Muhammad, Dr. Utsman Makansi, dan Kisah yang Diriwayatkan Sahabat, Dr. Utsman Makansi.

[[175]] Manhaj Berpikir bersama Anus: Pengalaman Baru dalam Penyusunan Kurikulum Berbasis Pemikiran untuk Membangun Aqidah dan Mengembangkan Pemikiran Anak, Maha Shahadah, halaman (kosong).

[[176]] Pertanyaan-Pertanyaan Anak yang Memalukan, Aisyah Al-Hakami, Jaringan Alukah, tanggal publikasi: 17 Muharram 1434 H.

[[177]] Lihat: Sepuluh Kaidah Penting dalam Mendidik Anak, Dr. Abdul Karim Bakkar, halaman 35, dan Masalah Kontemporer dalam Pendidikan Anak Muslim, Sa’id Abdul Adzim, halaman 59.

[[178]] Lihat: Kesalahan-Kesalahan Kita dalam Pendidikan, Dr. Abdurrahman Al-A’id, yang menyebutkan berbagai kesalahan beserta penyebab terjadinya. Lihat juga: Cobalah untuk Menjinakkanku, Ray Levy dan Bill O’Hanlon, halaman 223.

[[179]] Para pendidik membagi fase masa kanak-kanak menjadi tiga tahapan:

  • Pertama: Masa kanak-kanak dini, berlangsung dari usia 3-5 tahun.
  • Kedua: Masa kanak-kanak pertengahan, berlangsung dari usia 6-8 tahun.
  • Ketiga: Masa kanak-kanak akhir, berlangsung dari usia 9-12 tahun.

[[180]] Lihat: Pertanyaan Akidah pada Anak dan Jawabannya, Dr. Bassam Al-Amush, halaman 27.

[[181]] Apakah Anak Saya Ateis, disusun oleh Komite Dakwah Elektronik.

[[183]] Lihat juga: Dakwah: Keterampilan dan Seni, Syahatah Shuqur, halaman 340.

[[184]] Dapat memanfaatkan kitab ‘Aja’ib Khalq Allah karya Umar Al-Asyqar.

[[185]] Lihat Wasail At-Tarbiyah Al-Imaniyyah fi Dhau’ Al-Ilm wa Al-Falsafah wa Al-Islam karya Dr. Miqdad Baljin, Majalah Al-Muslim Al-Mu’ashir, edisi (5); juga lihat Al-Murabbun wa Tasa’ulat Al-Atfal karya Nawal Al-Khalifah (halaman 32); serta Al-Qur’an Al-Karim Ru’yah Tarbawiyyah karya Dr. Said Ali (halaman 19).

[[186]] Lihat Kayfa Ujeebu ‘An As’ilati Tifli? karya Marwah Ashur, Shabakah Alukah, 19/2/1432 H; juga lihat Ibni Mukhtashif Kayfa U’eenuhu ‘Ala Ikhtishafihi karya Manshur As-Sani (halaman 30); serta Kayfa Ujeebu ‘An As’ilati Tifli wa Uhāwiruhu karya Dr. Salwa Murtadha (halaman 107); dan Al-As’ilah Al-‘Aqadiyyah ‘Inda Al-Atfal wa Al-Ijabah ‘Alayha karya Dr. Bassam Al-Amush (halaman 30-31).

[[187]] Lihat Al-As’ilah Al-‘Aqadiyyah ‘Inda Al-Atfal wa Al-Ijabah ‘Alayha karya Dr. Bassam Al-Amush (halaman 29); juga lihat Al-Mulhid wa Su’aluhu Al-Khati’ Man Khalaq Allah karya Dr. Rabi’ Ahmad, Shabakah Alukah, tanggal publikasi: 18/5/1436 H; serta As’ilatu Tiflika Al-Harijah karya Abu Al-Majd Harak (halaman 24); dan Shumu’ An-Nahar karya Abdullah Al-‘Ajiri (halaman 151).

[[188]] Lihat Al-As’ilah Al-‘Aqadiyyah ‘Inda Al-Atfal wa Al-Ijabah ‘Alayha karya Dr. Bassam Al-Amush (halaman 49).

[[189]] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (3276).

[[190]] Lihat Al-As’ilah Al-‘Aqadiyyah ‘Inda Al-Atfal wa Al-Ijabah ‘Alayha karya Dr. Bassam Al-Amush (halaman 55); juga lihat A Fi Allahi Syakkun karya Dr. Hamad Al-Marzouqi (halaman 129); serta Al-Adillah ‘Ala Wujudillah wa Al-Hikmah Min Khalqihi Lil-‘Ibad di situs Islam Sual wa Jawab, tanggal publikasi: 7/4/2002 M; dan Allah: Kitab fi Nasya’ah Al-‘Aqidah Al-Ilahiyyah karya Abbas Al-Aqqad (halaman 211, 222).

[[191]] Lihat Syarh Al-‘Aqidah At-Tahawiyyah karya Ibn Abi Al-‘Izz Al-Hanafi, dengan tahqiq oleh Ahmad Syakir (halaman 35).

[[192]] Lihat Al-As’ilah Al-‘Aqadiyyah ‘Inda Al-Atfal wa Al-Ijabah ‘Alayha karya Dr. Bassam Al-Amush (halaman 35); juga lihat Al-Qur’an Al-Karim Ru’yah Tarbawiyyah karya Dr. Said Ali (halaman 43); serta As’ilatu Al-Atfal wa Ajwibatu Al-Aba’ wa Al-Ummahat karya Majdi As-Sayyid (halaman 22).

[[193]] Lihat Al-As’ilah Al-‘Aqadiyyah ‘Inda Al-Atfal wa Al-Ijabah ‘Alayha karya Dr. Bassam Al-Amush (halaman 35).

[[194]] Lihat Al-As’ilah Al-‘Aqadiyyah ‘Inda Al-Atfal wa Al-Ijabah ‘Alayha karya Dr. Bassam Al-Amush (halaman 31); juga lihat Mukhtashar Al-Fiqh Al-Islami karya Muhammad At-Tuwaijri (halaman 58).

[[195]] Diriwayatkan oleh Muslim (537).

[[196]] Lihat Al-As’ilah Al-‘Aqadiyyah ‘Inda Al-Atfal wa Al-Ijabah ‘Alayha karya Dr. Bassam Al-Amush (halaman 32, 45).

[[197]] Lihat Al-As’ilah Al-‘Aqadiyyah ‘Inda Al-Atfal wa Al-Ijabah ‘Alayha karya Dr. Bassam Al-Amush (halaman 37); juga lihat Kayfa Taquluha Li-Atfalika karya Paul Coleman (halaman 156); serta Min Al-Yaum Lan Tahrub Min As’ilati Tiflika Al-Muhrijah karya Abdullah Abdul Mu’thi (halaman 108)

[[198]] Min Al-Yaum Lan Tahrub Min As’ilati Tiflika Al-Muhrijah karya Abdullah Abdul Mu’thi (halaman 103).

[[199]] Min Al-Yaum Lan Tahrub Min As’ilati Tiflika Al-Muhrijah karya Abdullah Abdul Mu’thi (halaman 104); juga lihat Kayfa Ujeebu ‘An As’ilati Tifli? karya Marwah Ashur, Shabakah Alukah, 19/2/1432 H.

[[200]] Lihat Al-As’ilah Al-‘Aqadiyyah ‘Inda Al-Atfal wa Al-Ijabah ‘Alayha karya Dr. Bassam Al-Amush (halaman 42).

[[201]] Lihat Al-As’ilah Al-‘Aqadiyyah ‘Inda Al-Atfal wa Al-Ijabah ‘Alayha karya Dr. Bassam Al-Amush (halaman 54); serta Allah Hayyun La Yamutu karya Muhammad Ratib An-Nabulsi di situs Mausu’ah An-Nabulsi lil ‘Ulum Al-Islamiyyah.

[[202]] Lihat Al-As’ilah Al-‘Aqadiyyah ‘Inda Al-Atfal wa Al-Ijabah ‘Alayha karya Dr. Bassam Al-Amush (halaman 58); juga lihat Atamanna An Yuhibbani Rabbi karya Umaymah Al-Jabir di situs Al-Muslim, tanggal publikasi: 19/3/1433 H.

[[203]] Lihat ‘Alam Al-Mala’ikah Al-Abrar karya Umar Al-Asyqar (halaman 9, 12, 15, 16).

[[204]] Lihat ‘Alam Al-Mala’ikah Al-Abrar karya Umar Al-Asyqar (halaman 16).

[[205]] Lihat Al-As’ilah Al-‘Aqadiyyah ‘Inda Al-Atfal wa Al-Ijabah ‘Alayha karya Dr. Bassam Al-Amush (halaman 90); juga lihat ‘Alam Al-Mala’ikah Al-Abrar karya Umar Al-Asyqar (halaman 35, 52, 77); serta Muhadharat fi Al-Iman bil-Mala’ikah ‘Alayhim As-Salam karya Prof. Dr. Muhammad Al-Juhani (halaman 53).

[[206]] Lihat Haqiqah Al-Mala’ikah karya Ahmad An-Najjar (halaman 54).

[[207]] Lihat ‘Alam Al-Jinn wa Asy-Syayathin karya Umar Al-Asyqar (halaman 11, 12, 22).

[[208]] Lihat Al-As’ilah Al-‘Aqadiyyah ‘Inda Al-Atfal wa Al-Ijabah ‘Alayha karya Dr. Bassam Al-Amush (halaman 98).

[[209]] Lihat ‘Alam Al-Mala’ikah Al-Abrar karya Umar Al-Asyqar (halaman 18); juga lihat Haqiqah Al-Mala’ikah karya Ahmad An-Najjar (halaman 66).

[[210]] Lihat Al-Iman bil-Kutub karya Dr. Muhammad Al-Hamad (halaman 4, 5).

[[211]] Lihat Al-Islam wa Mukta Syafāt Al-‘Ilm Al-Hadith karya Muhammad As-Sayyid Muhammad (halaman 4); juga lihat Al-As’ilah Al-‘Aqadiyyah ‘Inda Al-Atfal wa Al-Ijabah ‘Alayha karya Dr. Bassam Al-Amush (halaman 105); serta Al-I’jaz Al-Bayani lil-Qur’an Al-Karim: Arkanuhu wa Mazahiruhu karya Dr. Husain At-Tarturi, Majalah Al-Buhuts Al-Islamiyyah, edisi (23), (halaman 225); dan I’jaz Al-Qur’an Al-Bayani wa Dalail Mashdarihi Ar-Rabbani karya Dr. Salah Al-Khalidi (halaman …).

[[212]] Lihat Al-As’ilah Al-‘Aqadiyyah ‘Inda Al-Atfal wa Al-Ijabah ‘Alayha karya Dr. Bassam Al-Amush (halaman 105).

[[213]] Lihat Al-Adillah Al-‘Aqliyyah wa At-Tarikhiyyah ‘Ala Sihhah wa Hifzh Al-Qur’an Al-Karim oleh Markaz Al-Fatwa di situs Islamweb, tanggal publikasi: 21/5/2001 M; juga lihat Al-Adillah ‘Ala Anna Al-Qur’an Kalamullah karya Muhammad Al-Munajjid di situs Islam Sual wa Jawab, tanggal publikasi: 5/11/2001 M.

[[214]] Lihat Al-As’ilah Al-‘Aqadiyyah ‘Inda Al-Atfal wa Al-Ijabah ‘Alayha karya Dr. Bassam Al-Amush (halaman 123); juga lihat Hikmah Irsaal Ar-Rusul karya Muhammad Al-Utsaimin di situs Tariq Al-Islam.

[[215]] Lihat Al-As’ilah Al-‘Aqadiyyah ‘Inda Al-Atfal wa Al-Ijabah ‘Alayha karya Dr. Bassam Al-Amush (halaman 131); serta ‘Ismat Al-Anbiya’ karya Muhammad Ad-Dulaimi (halaman 4).

[[216]] Lihat Ushul Ad-Din Al-Islami karya Muhammad At-Tuwaijri (halaman 74).

[[217]] Lihat Dalail An-Nubuwwah karya Munqidz As-Saqqar (halaman 4, 9, 18, 48, 105, 112, 128).

[[218]] Lihat Athfaluna wa Hubb Ar-Rasul karya Dr. Amani Ar-Ramadi di situs Said Al-Fawaid; juga lihat Mahabbatu An-Nabi wa Ta’zhimuhu karya Abdullah Al-Khudairi dan Abdul Latif Al-Hasan (halaman 53).

[[219]] Lihat Al-As’ilah Al-‘Aqadiyyah ‘Inda Al-Atfal wa Al-Ijabah ‘Alayha karya Dr. Bassam Al-Amush (halaman 68); juga lihat Al-Yaum Al-Akhir karya Muhammad At-Tuwaijri (halaman 6).

[[220]] Lihat Al-As’ilah Al-‘Aqadiyyah ‘Inda Al-Atfal wa Al-Ijabah ‘Alayha karya Dr. Bassam Al-Amush (halaman 67).

[[221]] Lihat Tifluk wa As’ilatuhu Al-Muhrijah karya Shahinaz Abdul Fattah (halaman 76); juga lihat As’ilatu Tiflik Al-Muhrijah karya Abu Al-Majd Harak (halaman 168).

[[222]] Lihat As’ilatu Tiflik Al-Muhrijah karya Abu Al-Majd Harak (halaman 170); juga lihat Tifluk wa As’ilatuhu Al-Muhrijah karya Shahinaz Abdul Fattah (halaman 77).

[[223]] Lihat Min Al-Yaum Lan Tahrub Min As’ilati Tiflika Al-Muhrijah karya Abdullah Abdul Mu’thi (halaman 159); juga lihat Ibni Mukta Shif: Kayfa U’inuhu ‘Ala Istiksyafihi karya Mansur As-Sunni (halaman …); serta Kayfa Ujeebu ‘An As’ilati Tifli wa Uhawiruhu karya Dr. Salwa Murtadha (halaman 103-104).

[[224]] Lihat Al-As’ilah Al-‘Aqadiyyah ‘Inda Al-Atfal wa Al-Ijabah ‘Alayha karya Dr. Bassam Al-Amush (halaman 79).

[[225]] Lihat As’ilatu Tiflik Al-Muhrijah karya Abu Al-Majd Harak (halaman 27); juga lihat As’ilat Al-Atfal Al-Muhrijah karya Aisyah Al-Hakami di situs Shabakah Alukah, tanggal publikasi: 17/1/1343 H; serta Kayfa Taquluha Li-Atfalika karya Paul Coleman (halaman 156).

[[226]] Lihat Al-As’ilah Al-‘Aqadiyyah ‘Inda Al-Atfal wa Al-Ijabah ‘Alayha karya Dr. Bassam Al-Amush (halaman 81); juga lihat Mashir Al-Hayawanat Yaum Al-Qiyamah karya Muhammad Al-Munajjid di situs Islam Sual wa Jawab, tanggal publikasi: 31/5/2001 M.

[[227]] Lihat Al-Iman bil-Qadha’ wal-Qadar karya Dr. Muhammad Al-Hamad (halaman 36).

[[228]] Lihat: “Pertanyaan Aqidah pada Anak-anak dan Jawabannya” karya Dr. Bassam Al-Amoush (halaman 145), lihat juga: “Jagalah Allah, Niscaya Allah Menjagamu” karya Muhammad Al-Dubaishi (halaman 71-72), dan lihat: “Keimanan kepada Qadha dan Qadar” karya Dr. Muhammad Al-Hamad (halaman 185).

[[229]] Lihat: “Pertanyaan Aqidah pada Anak-anak dan Jawabannya” karya Dr. Bassam Al-Amoush (halaman 156).

[[230]] Lihat: “Keimanan kepada Qadha dan Qadar” karya Dr. Muhammad Al-Hamad (halaman 130-134).

[[231]] Lihat: “Hikmah dari Penciptaan Hewan dan Tumbuhan Sebelum Manusia”, Pusat Fatwa, situs Islamweb, 18/5/2006 M.

[[232]] Lihat: “Sepuluh Kaidah: Kaidah Terpenting dalam Mendidik Anak” karya Dr. Abdul Karim Bakkar (halaman 21-22).

[[233]] Lihat: “Pertanyaan Aqidah pada Anak-anak dan Jawabannya” karya Dr. Bassam Al-Amoush (halaman 162).

[[234]] Lihat: “Jawaban terhadap Berbagai Syubhat”, Pusat Fatwa, situs Islamweb, 7/6/2007 M.

[[235]] Lihat: “Para Pendidik dan Pertanyaan Anak-anak” karya Nawal Al-Khalifah (halaman 96), dan lihat juga: “Pertanyaan Aqidah pada Anak-anak dan Jawabannya” karya Dr. Bassam Al-Amoush (halaman 160).

[[236]] Lihat: “Keimanan kepada Qadha dan Qadar” karya Dr. Muhammad Al-Hamad (halaman 152-160), dan lihat juga: “Mengapa Allah Menciptakan Manusia” karya Dr. Muhammad Ratib Al-Nabulsi, Ensiklopedia Al-Nabulsi untuk Ilmu Islam.

[[237]] Lihat: “Pertanyaan Kritis Anak Anda” karya Abu Al-Majd Harak (halaman 31), dan lihat juga: “Hikmah dari Penciptaan Hewan Berbahaya” karya Muhammad Al-Munajjid, Islam Tanya Jawab, tanggal publikasi: 26/6/1999 M.

[[238]] Lihat: “Iman dan Kehidupan” karya Dr. Yusuf Al-Qaradawi (halaman 6).

[[239]] Lihat: “Al-Wabil As-Sayyib” karya Ibn Al-Qayyim (halaman 234).

[[240]] Lihat: “Pertanyaan Kritis Anak Anda” karya Abu Al-Majd Harak (halaman 32), dan lihat juga: “Para Pendidik dan Pertanyaan Anak-anak” karya Nawal Al-Khalifah (halaman 35), serta “Pertanyaan Aqidah pada Anak-anak dan Jawabannya” karya Dr. Bassam Al-Amoush (halaman 148, 151).

[[241]] Lihat: Pertanyaan Kritis Anak Anda, Abu Al-Majd Harak, (hlm. 35), dan lihat: Mulai Hari Ini, Anda Tidak Akan Menghindar dari Pertanyaan Sulit Anak Anda, Abdullah Abdul Ma’thi, (hlm. 111).

[[242]] Lihat: Pendidik dan Pertanyaan Anak-Anak, Nawal Al-Khalifah, (hlm. 95).

[[243]] Diriwayatkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ (992).

[[244]] Lihat: Bagaimana Mengatakannya kepada Anak Anda, Paul Coleman, (hlm. 156), dan lihat: Jika Allah Mencintai Seorang Hamba, Dia Akan Memberinya Ujian, Apakah Ini Benar? oleh Ibnu Baz, di situs Imam Ibnu Baz.

[[245]] Lihat: Sejauh Mana Pengaruh Program Media terhadap Pemahaman Keimanan Anak-Anak, Dr. Badr Al-Azmi, Dr. Fahd Al-Lamie, (hlm. 24).

08. PERTANYAAN-PERTANYAAN KEIMANAN ANAK-ANAK (1)

Facebook Comments Box

Penulis : Prof Abdullah bin Hamad Al-Rakaf

Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.

Artikel Terjkait

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT
Kewajiban Mentaati Rasul dan Meninggalkan Semua Perkataan (yang Bertentangan) dan Mengutamakan Perkataannya
Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat
Kewajiban dan Keutamaan Taubat
Keutamaan Tauhid
Keutamaan Puasa Sunnah
Keutamaan Puasa Asyura (Yaitu hari kesepuluh dari bulan Muharram)
Keutamaan Mengajarkan Ilmu dan Menyeru Manusia kepada Kebaikan
Berita ini 1 kali dibaca

Artikel Terjkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 03:47 WIB

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:42 WIB

Kewajiban Mentaati Rasul dan Meninggalkan Semua Perkataan (yang Bertentangan) dan Mengutamakan Perkataannya

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:42 WIB

Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:41 WIB

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:40 WIB

Keutamaan Puasa Sunnah

Artikel Terbaru

Akidah

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:47 WIB

Fatwa Ulama

Akibat Dosa Menyebabkan Bencana Alam – Faedah 10

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:45 WIB

Dakwah

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Jan 2026 - 15:41 WIB