PERJALANAN IMAN BERSAMA PRIA DAN WANITA YANG MASUK ISLAM
رحلة إيمانية مع رجال ونساء أسلموا
Disusun oleh:
Abdul Rahman Mahmoud
Terjemah:
Muhamad Abid Hadlori, S.Ag.,Lc.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
“Dan orang-orang yang diberi ilmu melihat bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itulah yang benar dan menunjukkan ke jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (Saba:6)
Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, memohon petunjuk-Nya, dan memohon ampunan-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan menemukan seorang pelindung yang dapat memberi petunjuk kepadanya.
Amma ba’du (setelah itu)…
Ini adalah persembahan untuk setiap orang yang mencari kebenaran di zaman di mana kebatilan telah menyebar… Untuk setiap orang yang sesat yang berusaha mencari hidayah… Untuk setiap orang yang sedih yang mencari kebahagiaan… Untuk setiap orang yang durhaka yang berharap untuk bertobat… Untuk setiap umat yang hidup dengan pemikiran dan keyakinan palsu yang membawa mereka ke neraka sebagai tempat tinggal abadi mereka… padahal mereka tidak menyadarinya…
Inilah kisah-kisah mereka yang mereka ceritakan dengan lidah mereka sendiri, berkata kepada manusia:
“Itulah agama yang benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Dengan berdoa kepada Allah agar menerima usaha kecil saya ini dan menjadikannya sebagai bekal bagiku di hari pembalasan di hadapan-Nya.
Saudaramu Abdul Rahman Mahmoud
islamohm@yahoo.com http://www.newmuslims.tk
PENDETA DAN MISIONARIS YANG MASUK ISLAM
1- Ketua Komite Kristenisasi di Afrika, Mantan Pendeta Mesir Ishaq Hilal Masihah
Nama: Pendeta Ishaq Hilal Masihah
Profesi: Pendeta Gereja Teladan Kristen dan Ketua Kehormatan Perhimpunan Keselamatan Jiwa Mesir di Afrika dan Asia Barat.
Kelahiran: 3/5/1953 – Al-Minya – Republik Arab Mesir.
Saya lahir di desa Al-Bayadiyah, kecamatan Mallawi, provinsi Al-Minya dari orang tua Kristen Ortodoks yang menanamkan dalam jiwa kami – ketika kami masih kecil – kebencian terhadap Islam dan kaum Muslim. Ketika saya mulai mempelajari kehidupan para nabi, konflik pemikiran mulai terjadi dalam diri saya dan pertanyaan-pertanyaan saya menimbulkan masalah di kalangan para siswa. Hal ini membuat Paus (Shenouda) yang menggantikan setelah kematian Paus (Kyrillos) mengeluarkan keputusan untuk menunjuk saya sebagai pendeta sebelum jadwal pentahbisan dua tahun penuh – untuk merayu dan membungkam saya karena mereka merasakan dukungan saya terhadap Islam – meskipun sudah ditetapkan bahwa pentahbisan tidak boleh dilakukan kecuali setelah 9 tahun sejak dimulainya studi teologi.
Kemudian saya diangkat sebagai ketua Gereja Teladan Kristen di Sohag dan ketua kehormatan Perhimpunan Keselamatan Jiwa Mesir (sebuah organisasi misionaris yang sangat kuat dan memiliki akar di banyak negara Arab, khususnya negara-negara Teluk). Paus mencurahkan uang kepada saya agar saya tidak kembali membahas pemikiran-pemikiran semacam itu, namun meskipun demikian saya tetap bersemangat untuk mengetahui kebenaran Islam dan cahaya Islam yang menerangi hati saya tidak padam karena kegembiraan dengan jabatan baru saya, bahkan bertambah. Saya mulai menjalin hubungan dengan beberapa Muslim secara rahasia dan mulai belajar serta membaca tentang Islam.
Saya diminta menyiapkan tesis magister tentang perbandingan agama dan tesis tersebut dibimbing oleh Uskup Penelitian Ilmiah di Mesir tahun 1975. Saya menghabiskan empat tahun untuk menyiapkannya dan pembimbing menolak apa yang tertulis dalam tesis tentang kebenaran kenabian Rasul Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, buta huruf beliau, dan kabar gembira Isa tentang kedatangan beliau.
Akhirnya tesis tersebut dibahas di Gereja Injili Kairo dan pembahasan berlangsung selama sembilan jam serta terpusat pada masalah kenabian dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal ayat-ayat (Alkitab) tegas dalam mengisyaratkan kenabian beliau dan penutupan kenabian dengan beliau. Pada akhirnya Paus mengeluarkan keputusan untuk menarik tesis dari saya dan tidak mengakuinya.
Saya mulai memikirkan masalah Islam dengan pemikiran mendalam agar hidayah saya berdasarkan keyakinan penuh, namun saya tidak dapat memperoleh buku-buku Islam karena Paus telah memperketat penjagaan terhadap saya dan perpustakaan pribadi saya.
Untuk hidayah saya ada cerita: Pada hari keenam bulan kedelapan tahun 1978, saya hendak pergi untuk merayakan maulid Bunda Maria di Iskandariyah. Saya naik kereta api pukul 03.10 yang berangkat dari stasiun Asyut menuju Kairo. Setelah kereta tiba sekitar pukul 09.30, saya naik bus dari stasiun Ataba nomor 64 menuju Abbasiyah. Ketika saya sedang naik bus dengan pakaian klerus dan salib seberat seperempat kilogram dari emas murni serta tongkat keuskupan saya, naiklah seorang anak laki-laki berusia sebelas tahun yang menjual buku-buku kecil. Dia membagikannya kepada semua penumpang kecuali saya. Di sini timbul bisikan dalam diri saya mengapa semua penumpang kecuali saya. Saya menunggunya sampai dia selesai membagi dan mengumpulkan, menjual apa yang laku dan mengumpulkan sisanya.
Saya berkata kepadanya: “Nak, mengapa kamu memberi semua orang di bus kecuali aku?” Dia berkata: “Tidak, Bapak Pendeta, Anda kan pendeta.” Di sini saya merasa seolah-olah saya tidak layak membawa buku-buku kecil ini meskipun ukurannya kecil (“Tidak dapat menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci”) (Al-Waqi’ah: 79). Saya mendesaknya untuk menjual kepada saya. Dia berkata: “Tidak, ini buku-buku Islam” dan turun.
Dengan turunnya anak ini dari bus, saya merasa seolah-olah saya lapar dan dalam buku-buku ini terdapat kenyang saya, seolah-olah saya haus dan di dalamnya terdapat minum saya. Saya turun mengikutinya, dia lari ketakutan dari saya, saya lupa siapa saya dan berlari mengejarnya sampai saya mendapatkan dua buah buku.
Ketika saya tiba di Gereja Besar Abbasiyah (Katedral Markus) dan masuk ke kamar tidur yang dikhususkan untuk undangan resmi, saya kelelahan karena perjalanan. Namun ketika saya mengeluarkan salah satu buku yaitu (Juz ‘Amma) dan membukanya, mata saya jatuh pada Surat Al-Ikhlas yang membangunkan akal saya dan mengguncang jiwa saya. Saya mulai mengulang-ulangnya sampai hafal dan saya mendapati dalam membacanya ketenangan jiwa, ketenteraman hati, dan kebahagiaan rohani.
Ketika saya sedang dalam keadaan seperti itu, masuklah seorang pendeta dan memanggil saya: “Bapak Ishaq.” Saya keluar sambil berteriak di hadapannya: (“Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa”) tanpa saya sadari.
Di kursi pengakuan: Setelah itu saya pergi ke Iskandariyah untuk merayakan pekan maulid Bunda Maria. Pada hari Minggu saat misa biasa dan pada waktu istirahat, saya pergi ke kursi pengakuan untuk mendengar pengakuan umat yang bodoh yang percaya bahwa pendeta memiliki kekuatan untuk mengampuni dosa.
Datang kepada saya seorang wanita yang menggigit jari penyesalan. Dia berkata: “Saya telah menyimpang tiga kali dan sekarang saya di hadapan Yang Mulia mengaku kepada Anda dengan harapan Anda mengampuni saya dan saya berjanji kepada Anda tidak akan kembali untuk itu selamanya.” Dari kebiasaan yang berlaku, pendeta mengangkat salib di hadapan yang mengaku dan mengampuni dosanya.
Ketika saya hendak mengangkat salib untuk mengampuninya, pikiran saya jatuh pada kalimat Quran yang indah (“Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa”) maka lidah saya tidak mampu berucap dan saya menangis dengan tangisan yang panas. Saya berkata: “Wanita ini datang untuk mendapat ampunan dosanya dari saya, siapa yang akan mengampuni dosa-dosaku di hari perhitungan dan hukuman?”
Di sini saya menyadari bahwa ada yang lebih besar dari semua yang besar, Tuhan Yang Esa yang tidak ada yang disembah selain-Nya. Saya langsung pergi menemui Uskup dan berkata kepadanya: “Saya mengampuni dosa untuk orang awam, siapa yang mengampuni dosa-dosaku?” Dia menjawab tanpa peduli: “Paus.” Saya bertanya kepadanya: “Dan siapa yang mengampuni Paus?” Tubuhnya bergetar dan berdiri sambil berteriak: “Anda pendeta gila dan yang memerintahkan pentahbisan Anda juga gila meskipun itu Paus, karena kami sudah berkata kepadanya jangan tahbiskan dia agar tidak merusak umat dengan ke-Islaman dan pemikirannya yang rusak.”
Setelah itu Paus mengeluarkan keputusan untuk memenjarakan saya di biara (Mari Mina) di Wadi Natrun.
Ketua rahib shalat: Mereka membawa saya dengan mata tertutup dan di sana para rahib menyambut saya dengan sambutan yang aneh, mereka menyiapkan berbagai macam siksaan untuk saya, padahal sampai saat itu saya belum masuk Islam. Setiap orang dari mereka membawa tongkat untuk memukul saya sambil berkata: “Inilah yang dilakukan kepada penjual agama dan gerejanya.”
Mereka menggunakan segala cara penyiksaan terhadap saya yang bekasnya masih ada di tubuh saya dan itu adalah saksi terbaik atas kebenaran perkataan saya. Bahkan akhlak mereka yang tidak manusiawi sampai pada tingkat bahwa mereka memasukkan tongkat sapu ke dubur saya setiap hari tujuh kali pada waktu shalat para rahib selama sembilan puluh tujuh hari, dan mereka memerintahkan saya untuk menggembalakan babi.
Setelah tiga bulan mereka membawa saya kepada ketua rahib untuk mendidik saya secara agama dan memberikan nasihat. Dia berkata: “Anakku… sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik, bersabarlah dan berharaplah pahala. Dan barangsiapa bertaqwa kepada Allah, Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”
Saya berkata dalam hati: “Ini bukan perkataan dari Kitab Suci dan bukan dari perkataan para santo.” Saya masih dalam kebingungan karena perkataan ini sampai saya melihatnya menambah kebingungan saya dengan ucapannya: “Anakku, nasihatku untukmu adalah rahasia dan diam sampai kebenaran dinyatakan meskipun waktu berlalu lama.” Apakah maksudnya dengan perkataan ini dan dia adalah ketua rahib?
Tidak lama kemudian saya memahami tafsir perkataan yang membingungkan ini. Suatu pagi saya masuk kepadanya untuk membangunkannya namun dia terlambat membuka pintu, saya mendorong pintu dan masuk. Kejutan besar yang merupakan cahaya untuk hidayah saya menuju agama yang benar, agama tauhid ini, ketika saya menyaksikan seorang pria tua dengan janggut putih berusia sekitar enam puluh lima tahun sedang berdiri melakukan shalat kaum Muslim (shalat Subuh).
Saya terpaku di tempat melihat pemandangan ini, namun saya cepat sadar ketika khawatir ada rahib lain yang melihatnya, maka saya menutup pintu. Dia datang kepada saya setelah itu sambil berkata: “Anakku, tutupilah (aib)ku, semoga Tuhan menutupi (aib)mu. Saya sudah 23 tahun dalam keadaan ini – makanan saya Al-Quran, teman kesepian saya tauhid Ar-Rahman, dan penghibur kesunyian saya ibadah kepada Yang Maha Esa, Yang Maha Perkasa. Kebenaran lebih berhak untuk diikuti, anakku.”
Beberapa hari kemudian Paus mengeluarkan perintah untuk kembali ke gereja saya setelah memindahkan saya dari Sohag ke Asyut. Namun hal-hal yang terjadi dengan Surat Al-Ikhlas, kursi pengakuan, dan rahib yang berpegang teguh pada Islamnya memberikan pengaruh besar dalam diri saya. Namun apa yang harus saya lakukan sementara saya dikepung oleh keluarga dan sanak saudara dan dilarang keluar dari gereja atas perintah Shenouda.
Perjalanan misionaris: Setelah berlalu satu tahun, datang kepada saya surat yang tersimpan dalam berkas khusus pengumuman masuk Islam saya di Kepolisian Daerah Sharqiyah – Mesir, yang memerintahkan saya untuk pergi sebagai ketua komite yang berangkat ke Sudan dalam perjalanan misionaris. Kami pergi ke Sudan pada tanggal 1 September 1979 dan tinggal di sana tiga bulan sesuai instruksi kepausan bahwa setiap orang yang berhasil dikristeni oleh komite akan diberikan 35 ribu pound Mesir selain bantuan in natura.
Hasil dari orang-orang yang ditipu komite di bawah tekanan kebutuhan dan kemiskinan adalah tiga puluh lima orang Sudan dari wilayah Wau di Sudan Selatan. Setelah saya menyerahkan kepada mereka uang hibah kepausan, saya menghubungi Paus dari keuskupan Omdurman. Dia berkata: “Bawa mereka untuk melihat tempat-tempat suci Kristen di Mesir (biara-biara).” Mereka dikeluarkan dari Sudan atas dasar pekerja dengan kontrak untuk bekerja di biara-biara menggembalakan unta, kambing, dan babi. Kontrak fiktif dibuat agar komite misionaris dapat mengeluarkan mereka ke Mesir.
Setelah berakhirnya perjalanan dan ketika kami kembali dengan kapal (Marina) di Sungai Nil, saya memeriksa orang-orang yang baru masuk Kristen. Ketika saya membuka pintu kabin 14 dengan kunci khusus awak kapal, saya terkejut bahwa orang yang baru masuk Kristen Abdul Masih (dulunya bernama Muhammad Adam) sedang melakukan shalat kaum Muslim.
Saya berbicara dengannya dan mendapatinya berpegang teguh pada akidah Islamnya. Uang tidak merayunya dan kemilau dunia yang fana tidak berpengaruh padanya. Saya keluar dari kamarnya dan sekitar satu jam kemudian saya mengirim salah seorang misionaris kepadanya. Dia datang ke suite nomor 3. Setelah misionaris keluar, saya berkata kepadanya: “Wahai Abdul Masih, mengapa kamu shalat seperti kaum Muslim setelah masuk Kristen?!”
Dia berkata: “Saya menjual tubuh saya kepada kalian dengan uang kalian, adapun hati, roh, dan akal saya adalah milik Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Saya tidak akan menjualnya dengan harta dunia. Saya bersaksi di hadapanmu bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Setelah peristiwa-peristiwa ini yang menerangi jalan iman saya dan membimbing saya untuk memeluk agama Islam, saya menemui banyak kesulitan dalam mengumumkan keislaman saya karena saya adalah pendeta besar dan ketua komite kristenisasi di Afrika. Mereka berusaha mencegah hal itu dengan segala cara karena itu adalah aib besar bagi mereka.
Saya pergi ke lebih dari satu kantor kepolisian daerah untuk mengumumkan keislaman saya. Karena khawatir terhadap persatuan nasional, Kepolisian Daerah Sharqiyah mendatangkan tim pendeta dan uskup untuk duduk bersama saya, dan ini yang berlaku di Mesir untuk setiap orang yang ingin memeluk Islam.
Komisi yang terdiri dari 4 pendeta dan 3 uskup mengancam akan mengambil semua uang dan harta benda saya yang bergerak dan tidak bergerak yang ada di Bank Nasional Mesir cabang Sohag dan Asyut yang bernilai sekitar 4 juta pound Mesir, tiga toko emas, bengkel pembuatan emas di Gang Yahudi, dan bangunan sebelas lantai nomor 499 Jalan Port Said di Kairo. Saya menyerahkan semuanya kepada mereka karena tidak ada yang sebanding dengan momen penyesalan yang saya rasakan ketika berada di kursi pengakuan.
Setelah itu gereja memusuhi saya dan mengancam jiwa saya. Saya mengalami tiga percobaan pembunuhan dari saudara laki-laki saya dan anak-anak paman saya. Mereka menembaki saya di Kairo dan mengenai ginjal kiri saya yang kemudian diangkat pada 7/1/1987 di rumah sakit Qasr Al-Eini. Insiden tersebut tercatat dalam berita acara nomor 1762/1986 di kantor polisi Qasr Al-Nil, Kepolisian Daerah Kairo tanggal 11/11/1986.
Saya bangun dengan hanya memiliki satu ginjal yaitu yang sebelah kanan dan terdapat penyempitan ureter setelah pembengkakan yang terjadi padanya dengan kuasa Sang Pencipta yang menjadikannya sebagai pengganti dua ginjal. Namun karena kondisi sulit yang saya alami setelah gereja melucuti saya dari segala sesuatu dan laporan medis yang menyatakan saya memerlukan operasi rekonstruksi pelvis ginjal dan pelebaran ureter. Dan karena saya tidak memiliki biaya yang besar untuk itu, saya menjalani lebih dari lima belas operasi bedah termasuk prostat dan tidak ada satupun yang berhasil karena itu bukan operasi yang diperlukan menurut laporan yang saya miliki, dan ketika kedua orang tua saya mengetahui keislaman saya, mereka melakukan bunuh diri dengan membakar diri mereka sendiri dan Allah yang dimohon pertolongan-Nya.
2- Ibrahim Khalil Phisobos, Mantan Profesor Teologi Mesir
Profil Singkat:
- Meraih gelar Magister Teologi dari Universitas Princeton Amerika.
- Di antara buku-bukunya: (Muhammad dalam Taurat, Injil dan Al-Quran), (Al-Masih adalah Manusia bukan Tuhan), (Islam dalam Kitab-kitab Samawi), (Kenalilah Musuhmu Israel), (Orientalisme dan Kristenisasi serta Hubungannya dengan Imperialisme Global), (Para Misionaris dan Orientalis di Dunia Arab Islam), (Pengampunan antara Kristen dan Islam).
Dia pernah menjadi pendeta Gereja Injili dan profesor teologi, banyak orang masuk Islam atas tangannya.
Jawaban Akal yang Bebas:
Haji Ibrahim menceritakan perjalanannya menuju Islam, dia berkata:
“Dalam sebuah konferensi misionaris saya diundang untuk berbicara, lalu saya memperpanjang pembicaraan dengan mengulang-ulang semua kritik yang dihafal terhadap Islam. Setelah saya selesai berbicara, saya mulai bertanya pada diri sendiri: mengapa saya mengatakan hal ini padahal saya tahu bahwa saya berbohong?! Saya meminta izin sebelum konferensi berakhir, keluar sendirian menuju rumah saya. Saya terguncang dari lubuk hati, sangat terpuruk, dan di rumah saya menghabiskan sepanjang malam sendirian di perpustakaan membaca Al-Quran, dan saya berdiri lama di hadapan ayat yang mulia:
“Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (Al-Hasyr: 21)
Dan pada malam itu saya mengambil keputusan hidup saya lalu masuk Islam, kemudian semua anak-anak saya bergabung dengan saya, dan yang paling bersemangat adalah anak laki-laki tertua saya (Osama) yang merupakan doktor filsafat dan bekerja sebagai profesor psikologi di Universitas Sorbonne.”
Dan dengan keislaman mereka, rumah-rumah Islam bertambah satu rumah.
Kisah Keislamannya:
Profesor terdahulu di Fakultas Teologi Injili (Ibrahim Khalil Phisobos) adalah salah satu dari jutaan orang yang mengikuti apa yang ditemukan oleh nenek moyang mereka dari selain penganut Islam. Tumbuh di gereja, naik tingkat di sekolah-sekolah teologi, dan menempati posisi terhormat dalam tangga kristenisasi. Dengan jemarinya dia menulis sari pengalamannya yang panjang beberapa ratus halaman tesis magister dengan judul: (Bagaimana Kita Menghancurkan Islam dengan Kaum Muslim)?! Dalam ilmu teologi, (Phisobos) adalah spesialis yang tak tertandingi. Dan dalam kacamata (kemanusiaan) dia adalah anak Gereja Injili Amerika yang berjalan dengan sombong. Dan karena alasan kekuatan, kenikmatan dan perlindungan yang tersedia, (Ibrahim) tidak memberikan bobot atau penghargaan apapun kepada ulama Al-Azhar yang telah dilemahkan oleh kehidupan yang susah!
Namun pemberontakan kepalsuan tidak lama kemudian tiba-tiba padam, dan kesesatan penyimpangan Injil serta kebohongan Taurat retak tanpa jadwal, dan gugur saat itu selubung khayalan, lalu terbuka mata batin fitrah sehingga Ibrahim Khalil Phisobos – yang telah menginjak ambang empat puluh tahun pada tanggal 25 tahun 1959 – mendapat kelahiran baru.
Dengan Profesor Ibrahim Khalil Ahmad… dai hari ini terjadi pertemuan ini. Dan melalui lorong-lorong kesesatan dan kepalsuan menuju dunia kebenaran, hidayah dan cahaya terjadilah dialog ini.
- Bagaimana perjalanan hidayah yang mengantarkanmu ke pantai iman dan Islam, dan dari mana permulaaannya?
- Di kota Iskandariah dan pada tanggal 13 Januari tahun 1919 saya dilahirkan. Saya tumbuh dengan pendidikan Kristen yang komit dan dididik di sekolah-sekolah misi Amerika. Kebetulan saya mencapai tahap (budaya) sekolah bersamaan dengan pecahnya Perang Dunia Kedua dan kota Iskandariah mengalami horor pemboman pesawat terbang. Maka kami terpaksa hijrah ke Asyut di mana saya melanjutkan pendidikan asrama di fakultasnya dan memperoleh diploma tahun 1941/1942. Tidak lama jalan kerja terbuka di hadapan saya maka saya bergabung dengan pasukan Amerika dari tahun 1942 hingga tahun 1944.
- Apa sifat pekerjaan ini dan bagaimana Anda memperolehnya?
- Pasukan Amerika saat itu memiliki laboratorium kimia untuk menganalisis logam dari pesawat yang jatuh untuk mengetahui komposisi dan jenisnya. Karena latar belakang budaya saya di fakultas Asyut dan penguasaan bahasa Inggris, dan karena orang Amerika sangat memperhatikan lulusan dan menampung mereka di perusahaan mereka, saya menghabiskan dua tahun dalam pekerjaan ini. Tapi berita perang dan musibah mendorong saya untuk memandang dunia dengan pandangan yang lebih dalam yang membawa saya menuju seruan damai dan ke gereja yang memantau keinginan saya dan menggerakkan orientasi saya. Maka saya masuk fakultas teologi tahun 1945 dan menghabiskan tiga tahun di sana.
- Apa garis-garis umum kurikulum fakultas dan di mana posisi Islam di dalamnya?
- Dalam delapan bulan pertama kami mempelajari kajian teoretis. Profesor menyampaikan kuliah dalam bentuk poin-poin utama, dan kami harus melengkapi penelitian dari perpustakaan. Kami harus mempelajari tiga bahasa: Yunani, Aram, dan Ibrani selain bahasa Arab sebagai dasar dan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Setelah itu kami mempelajari pengantar Perjanjian Lama dan Baru, tafsir dan penjelasan, sejarah gereja, kemudian sejarah gerakan kristenisasi dan hubungannya dengan kaum Muslim. Di sini kami mulai mempelajari Al-Quran yang mulia dan hadis-hadis Nabi, dan kami fokus pada firqah-firqah yang keluar dari Islam seperti Ismailiyah, Alawiyah, Qadianiyah, Bahaiyah… Dan tentu saja perhatian kepada mahasiswa sangat ketat, cukup saya sebutkan bahwa kami sekitar 12 mahasiswa diajar oleh 12 profesor Amerika dan 7 lainnya orang Mesir.
- Kajian-kajian tentang Islam dan tentang firqah-firqah ini, apakah hanya untuk pengetahuan ilmiah saja ataukah ada tujuan lain di baliknya?
- Sebenarnya kami membangun dialog masa depan kami dengan kaum Muslim atas dasar kajian-kajian ini dan menggunakan pengetahuan kami untuk memerangi Al-Quran dengan Al-Quran… dan Islam dengan titik-titik hitam dalam sejarah kaum Muslim! Kami berdialog dengan santri Al-Azhar dan anak-anak Islam dengan Al-Quran untuk memfitnah mereka, maka kami menggunakan ayat-ayat yang dipotong jauh dari konteks teks dan melayani tujuan kami dengan kesalahan ini. Ada buku-buku kami dalam topik ini yang terpenting adalah buku (Al-Hidayah) 4 jilid dan (Sumber Islam) selain memanfaatkan tulisan-tulisan agen orientalisme seperti Taha Hussein yang gereja memanfaatkan bukunya (Syair Jahiliyah) seratus persen, dan mahasiswa fakultas teologi menganggapnya sebagai buku dasar untuk mengajar mata kuliah Islam!
Dengan metode inilah tesis magister saya dengan judul (Bagaimana Kita Menghancurkan Islam dengan Kaum Muslim) tahun 1952 yang saya habiskan 4 tahun mempersiapkannya melalui praktik dakwah dan kristenisasi di antara kaum Muslim sejak lulus tahun 1948.
- Bagaimana kemudian terjadi perubahan dalam dirimu… dan kapan kamu menuju untuk memeluk Islam?
- Saya memiliki – seperti yang saya sebutkan – serangan dan pertempuran di bawah bendera gerakan kristenisasi Amerika, dan melalui interaksi yang panjang, dan setelah mengetahui secara langsung rahasia mereka, saya yakin bahwa para misionaris di Mesir tidak datang untuk menyebarkan agama tetapi untuk mendukung penjajahan dan memata-matai negara!
- Bagaimana?
- Bukti-buktinya banyak, dalam masalah apapun. Jika negara bersiap untuk bangkit melawan kezaliman, gereja adalah yang pertama menyadarinya karena Kristen Koptik dan Muslim hidup di satu tanah. Hari seorang Muslim mengeluh, tidak lama Kristen mendengar keluhannya lalu menyampaikannya kepada kami untuk kami analisis dan terjemahkan. Dari sisi lain, jemaat gereja dalam angkatan bersenjata adalah alat langsung untuk menyampaikan informasi militer dan rahasianya. Melalui pusat-pusat kristenisasi yang tunduk pada Amerika dan menikmati perlindungan Amerika, perang mata-mata dijalankan. Kamu harus tahu di sini bahwa Kristen di Mesir memiliki dua kewarganegaraan dan dua kesetiaan: kesetiaannya pada tanah air tempat dia dilahirkan yaitu kesetiaan sipil yang diekspresikan oleh kewarganegaraan Mesirnya, dan kesetiaan agama yang lebih kuat yang diwakili oleh kewarganegaraan Kristen. Dia merasa di Eropa dan Amerika sebagai benteng utama, sementara Kristen di Mesir merasa mereka orang asing! Persis seperti kesetiaan Israel yang menganggap kesetiaannya secara rohani kepada tanah Yerusalem sebagai kesetiaan agama dan kesetiaannya kepada tanah air tempat dia dilahirkan hanya kesetiaan sipil! Karena itu rencana misionaris dan gereja dibuat untuk menjadikan Mesir berputar dalam orbit penjajahan sehingga tidak bisa hidup jauh darinya. Hal ini membuat saya merasakan ke-Mesir-an saya dan merasa bahwa mereka orang asing bagiku dan tetangga Muslimku lebih dekat kepadaku daripada mereka. Maka saya mulai toleran… maaf saya katakan toleran dan maksud saya membaca Al-Quran dengan cara yang berbeda dari cara saya membacanya sebelumnya. Pada bulan Juni sekitar tahun 1955 saya mendengarkan firman Allah SWT:
“Katakanlah: “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami, dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak.” (Al-Jin: 1-3)
Ayat yang mulia ini anehnya tertanam dalam hati, dan ketika saya kembali ke rumah saya bergegas ke mushaf dan memegangnya dalam keheranan dari surah ini. Bagaimana? Sesungguhnya Allah SWT berfirman:
“Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (Al-Hasyr: 21)
Ibrahim Khalil yang sampai masa dekat memerangi Islam dan mendirikan argumen dari Al-Quran dan Sunnah serta dari firqah-firqah yang keluar dari Islam untuk memerangi Islam… berubah menjadi manusia lembut yang menangani Al-Quran yang mulia dengan waqar dan penghormatan. Seolah-olah mataku diangkat darinya selubung dan penglihatanku menjadi besi… untuk melihat apa yang tidak terlihat… dan merasakan sinar-sinar Allah ta’ala sebagai cahaya yang berkilauan di antara baris-baris yang membuatku tekun membaca kitab Allah dari firman-Nya ta’ala:
“(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-A’raf: 157)
Dan dalam surah Ash-Shaff:
“Dan (ingatlah) ketika Isa putera Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah untukmu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad.” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.”” (Ash-Shaff: 6)
Jadi Al-Quran yang mulia menegaskan bahwa ada ramalan-ramalan dalam Taurat dan Injil tentang Nabi Muhammad SAW. Dari sini saya mulai selama beberapa tahun mempelajari ramalan-ramalan ini dan menemukan kebenaran yang tidak tersentuh perubahan dan penggantian karena Bani Israel mengira bahwa itu tidak akan keluar dari lingkaran mereka. Sebagai contoh, dalam (Kitab Ulangan) yaitu buku kelima dari kitab-kitab Taurat disebutkan: (Aku akan membangkitkan bagi mereka seorang nabi dari antara saudara-saudara mereka seperti engkau, dan Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, maka ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Aku perintahkan kepadanya). Saya berhenti pertama pada kata (saudara-saudara mereka) dan bertanya: apakah yang dimaksud di sini dari Bani Israel? Seandainya demikian pasti dikatakan (dari mereka sendiri), adapun karena dikatakan (dari antara saudara-saudara mereka) maka yang dimaksud adalah anak-anak paman. Dalam Kitab Ulangan pasal 2 ayat 4 Allah berfirman kepada Musa AS: (Kamu akan melewati wilayah saudara-saudaramu Bani Esau…). (Esau) yang kami sebut dalam Islam (Al-‘Ish) adalah saudara Yakub AS, maka anak-anaknya adalah anak-anak paman Bani Israel, meskipun demikian dikatakan (saudara-saudaramu). Demikian juga anak-anak (Ishaq) dan anak-anak (Ismail) adalah anak-anak paman, karena (Ishaq) adalah saudara (Ismail) AS, dan dari (Ishaq) keturunan Bani Israel, dan dari (Ismail) adalah (Qaidar) dan dari keturunannya adalah Nabi Muhammad SAW. Cabang inilah yang ingin dijatuhkan Bani Israel dan yang ditegaskan Taurat ketika mengatakan (dari antara saudara-saudara mereka) yaitu dari anak-anak paman mereka.
Kemudian saya berhenti pada lafaz (seperti engkau) dan meletakkan tiga nabi: Musa, Isa, dan Muhammad AS untuk perbandingan lalu menemukan bahwa Isa AS sama sekali berbeda dari Musa dan Muhammad AS, menurut akidah Kristen itu sendiri yang tentu kami tolak. Dia adalah Tuhan yang menjelma, dan dia anak Allah sungguhan, dan dia pribadi kedua dalam Trinitas, dan dia yang mati di salib. Adapun Musa AS adalah hamba Allah, dan Musa adalah laki-laki, dan nabi, dan mati dengan kematian alami dan dikubur dalam kubur seperti manusia lainnya. Demikian juga Rasulullah Muhammad SAW. Jadi kemiripan hanya berlaku pada Muhammad SAW, sementara perbedaan antara Al-Masih dan Musa AS terbukti, menurut akidah Kristen itu sendiri!
Jika kita lanjutkan ke sisa kalimat: (dan Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya…) kemudian mencari dalam kehidupan Muhammad SAW maka kita dapati dia ummi yang tidak bisa baca tulis, kemudian tidak lama tiba-tiba mengucapkan Al-Quran yang mulia yang merupakan mukjizat ketika mencapai usia empat puluh tahun. Jika kita kembali ke ramalan lain dalam Taurat kitab Yesaya pasal 29 yang mengatakan: (atau diberikan kitab kepada orang yang tidak bisa membaca dan menulis dan dikatakan kepadanya bacalah, dia berkata saya tidak bisa membaca…) maka kita dapati kesesuaian sempurna antara kedua ramalan ini dengan peristiwa turunnya Jibril dengan wahyu kepada Rasulullah di gua Hira, dan turunnya lima ayat pertama dari surah Al-‘Alaq:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-‘Alaq: 1-5)
- Ini tentang Taurat, bagaimana dengan Injil dan Anda yang dulu menganutnya?
Jika kita mengecualikan nubuat-nubuat Barnaba yang jelas dan tegas tentang pengutusan Muhammad dengan menyebut namanya, dan itu karena Gereja sama sekali tidak mengakui Injil ini, maka Isa alaihissalam telah bernubuat dalam Injil Yohanes dengan sembilan nubuat, dan (Parakletos) yang dikabarkan gembira oleh Yohanes berkali-kali… kata ini memiliki lima makna: Penghibur, Syafi’, Pembela, Muhammad, dan Mahmud, dan mana saja dari makna-makna ini sangat tepat jika diterapkan pada Rasulullah saw. Beliau adalah Penghibur yang menghibur jamaah yang beriman dan berada di atas kebenaran setelah kesesatan dan kemerosotan, dan beliau adalah Pembela yang membela Isa putra Maryam alaihissalam dan semua nabi dan rasul setelah orang-orang Yahudi dan Nasrani merusak citra mereka dan mengubah ajaran yang mereka bawa yaitu Islam. Oleh karena itu dalam Injil Yohanes pasal 14 ayat 16-17 disebutkan: (Aku akan berdoa kepada Allah agar Dia memberi kalian penghibur yang lain untuk tinggal bersama kalian selamanya, yaitu Roh Kebenaran)… Dan dia berkata dalam nubuat lain pasal 16 ayat 13-14: (Dan apabila Dia datang, yaitu Roh Kebenaran itu, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran, sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku). Dan ini adalah kebenaran firman Allah Tabaraka wa Ta’ala: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya.'” (QS. Al-Kahf: 110).
- Bagaimana saat-saat pengumuman masuk Islam Anda dan bagaimana awal kehidupan baru dalam naungan hidayah dan kebenaran?
- Setelah sampai pada keyakinan dan merasakan kebenaran-kebenaran dengan tangan saya, saya harus berbicara dengan orang terdekat yaitu istri saya, tetapi pembicaraan itu bocor melaluinya kepada misi sayangnya, dan dengan cepat mereka menangkap saya dan memindahkan saya ke rumah sakit dan di bawah pengawasan ketat dengan menuduh saya gila! Dan selama empat bulan berikutnya saya mengalami penderitaan yang sangat berat, mereka memisahkan saya dari istri dan anak-anak saya, dan menyita perpustakaan saya yang berisi buku-buku induk dan ensiklopedia… bahkan nama saya sebagai anggota majelis Asyut, dan dalam konferensi (sinode) dicoret, dan berkas saya sebagai pemegang gelar magister dari fakultas teologi hilang… Dan dari ironi yang mengherankan bahwa orang-orang Inggris pada masa itu telah menurunkan Raja Talal dari tahta Yordania dengan tuduhan gila… maka saya takut hal yang sama akan terjadi pada saya. Oleh karena itu saya berkomitmen untuk tenang dan sabar serta bertahan hingga saya dibebaskan, lalu saya mengajukan pengunduran diri dari pelayanan keagamaan dan beralih bekerja di perusahaan Amerika untuk peralatan kantor, tetapi pengawasan di sana sangat keras, karena Gereja tidak membiarkan siapa pun dari anak-anaknya yang keluar dan masuk Islam, mereka akan membunuhnya atau menyusupkan intrik untuk menghancurkan hidupnya. Di sisi lain, masyarakat Muslim pada waktu itu tidak mampu membantu saya… karena era lima puluhan dan enam puluhan seperti yang Anda ketahui adalah masa pembersihan Ikhwanul Muslimin, dan bergabung dengan Islam serta membelanya pada waktu itu tidak berarti apa-apa selain kehancuran! Oleh karena itu saya harus berjuang sesuai kemampuan saya, lalu saya mulai bekerja berdagang, dan mendirikan kantor dagang. Begitu selesai, saya bergegas mengirim telegram kepada (Dr. John Thompson) kepala misi Amerika pada waktu itu, dan tanggalnya adalah 25 Desember 1959 yang bertepatan dengan Natal, dan isi telegram: Saya beriman kepada Allah Yang Maha Esa, dan kepada Muhammad sebagai Nabi dan Rasul. Tetapi pengumuman resmi memeluk Islam mengharuskan saya sesuai prosedur hukum untuk bertemu dengan komisi dari kebangsaan yang saya miliki untuk meninjau dan mendiskusikan dengan saya. Pada saat semua perusahaan Eropa dan Amerika menolak berurusan dengan saya, terbentuklah komisi yang bersangkutan dari tujuh pendeta bergelar doktor… mereka berbicara kepada saya dengan ancaman dan intimidasi lebih dari mendiskusikan! Dan memang saya diusir dari apartemen saya karena saya terlambat dua atau tiga bulan membayar sewa, dan Gereja terus menyusupkan intrik kepada saya ke mana pun saya pergi… dan terputuslah sumber perdagangan saya… tetapi saya terus pada kebenaran yang saya anut… hingga Allah menakdirkan bahwa kabar saya sampai kepada Menteri Wakaf pada waktu itu Abdullah Thu’aimah, yang memanggil saya untuk bertemu dengannya dan meminta saya dengan kehadiran Ustadz Al-Ghazali untuk berkontribusi dalam kerja Islam dengan jabatan sekretaris komite ahli di Majelis Tinggi Urusan Islam, maka saya sangat bahagia pada awalnya, tetapi suasana yang saya masuki itu – sayangnya – beracun, karena para pemuda dilatih untuk memata-matai alih-alih menuju ilmu! Dan para pegawai sibuk dengan instruksi (organisasi pemuda) dari semua tugas pekerjaan mereka, dan ada mata-mata terhadap pegawai, dan terhadap direktur, dan terhadap wakil menteri… hingga penguasa dapat mengendalikan mereka semua dengan tangan besi! Dan berapa kali saya meninggalkan barang-barang saya tertata rapi semua di laci meja kerja saya untuk menemukan keesokan harinya berantakan! Dan demikianlah hari-hari berlalu dan Allah Subhanahu menghendaki Dr. Muhammad Al-Bahi datang sebagai Menteri Wakaf setelah Thu’aimah Al-Jurf. Dan Dr. Al-Bahi telah dididik dengan pendidikan Jerman yang disiplin, tetapi Taufiq Awaidah sekretaris Majelis Tinggi Urusan Islam dan salah satu perwira tingkat kedua revolusi menentangnya… Dan terjadilah bahwa Dr. Al-Bahi memanggil saya suatu hari setelah buku saya terbit: (Para Orientalis dan Misionaris di Dunia Arab dan Islam) dan ingin mengenal saya… maka kabar itu sampai kepada Taufiq Awaidah dan dia mengira saya dari kubu Dr. Al-Bahi dan Ustadz Al-Ghazali… dan tiba-tiba saya mendapati diri saya menerima penghinaan dari direktur kantornya Raja Al-Qadi yang berkata kepada saya: Silakan ke kementerian yang melindungi Anda! Saya keluar dengan air mata di mata saya, dan saya mendapati mereka telah menyita buku-buku pribadi saya dari kantor saya dan tidak menyisakan apa pun kecuali sedikit yang saya bawa dan kembali ke kementerian… dan di sana saya bekerja sebagai penulis surat masuk dengan perantara!! Maka hari keluar pensiun saya adalah tanggal 12/1/1979 dan saya telah mencapai usia enam puluh, dan sejak hari itu Ibrahim Khalil mulai menduduki posisinya sebagai da’i Islam, dan yang pertama Allah menolongkan saya adalah bertemu dengan Dr. Jamil Ghazi rahimahullah bersama 13 pendeta di Sudan dalam debat terbuka yang berakhir dengan mereka semua memeluk Islam, dan mereka inilah yang menjadi sebab kebaikan dan hidayah bagi Sudan barat di mana ribuan penyembah berhala dan lainnya masuk agama Allah melalui tangan mereka.
Debat tersebut ada di halaman ini: http://212.37.222.34/islam/multimedia.htm
- Akhirnya kami berterima kasih kepada Anda dan kami berdoa kepada Allah agar Dia mengambil tangan-tangan yang tulus kepada apa yang mengandung kebaikan umat Islam, dan jazakumullahu khairan, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Dan inilah yang diterbitkan majalah Ad-Da’wah tentang beliau pada Oktober 1976:
Profesor Teologi yang Bertanggung Jawab atas Kristenisasi Sebagian Mesir
Dia bekerja sebagai gembala Gereja Injili dan profesor akidah serta teologi di Fakultas Teologi Asyut hingga tahun 1953, kemudian sekretaris umum Misi Jerman-Swiss di Aswan, dan misionaris di antara kaum Muslim antara provinsi-provinsi dari Asyut hingga Aswan sampai tahun 1955… Dia memperoleh kualifikasi khusus dalam teologi, memperoleh diploma Fakultas Teologi Injili Kairo tahun 1948, kemudian magister Filsafat dan Teologi dari Universitas “Princeton” di Amerika Serikat tahun 1952.
Dan “Ibrahim Khalil Ahmad” bercerita tentang kisah masuk Islamnya:
“Pada salah satu sore tahun 1955 saya mendengar Al-Qur’an disiarkan di radio, dan saya mendengar dalam firman-Nya Ta’ala: {Katakanlah: “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya telah mendengarkan sekumpulan jin, lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami} [Al-Jin: 1, 2] Kedua ayat ini bagaikan obor suci yang menerangi pikiran dan hati saya untuk mencari kebenaran… Pada sore itu saya tekun membaca Al-Qur’an hingga matahari pagi bersinar, dan seolah-olah ayat-ayat Al-Qur’an adalah cahaya yang berkilau, dan seolah-olah saya hidup dalam lingkaran cahaya… Kemudian saya membaca sekali lagi, ketiga, keempat hingga saya menemukan firman-Nya Ta’ala: {(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung} [Al-A’raf: 157]
… Dari ayat ini saya memutuskan untuk melakukan kajian bebas terhadap Kitab Suci, dan memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan saya sebagai pendeta dan sekretaris umum Misi Amerika di Aswan.
Dan ketika saya melaksanakan keputusan saya, sekelompok dokter berkonspirasi terhadap saya dan menyebarkan bahwa saya gila, maka saya sabar dan bertahan dengan penuh keyakinan kepada Allah, lalu saya bepergian ke Kairo di mana saya bekerja di perusahaan penjualan “Standard Stationery”, dan selama bekerja di sana direktur perusahaan meminta saya mencetak tafsir Juz ‘Amma dalam bahasa Inggris, maka saya berkomitmen kepadanya untuk menyelesaikan pekerjaan ini, dan dia mengira saya Muslim, dan saya memuji Allah bahwa dia tidak menyadari kekristenan saya, maka itu bagi saya adalah kajian Islam yang bebas dari jubah diplomasi hingga Allah melapangkan dada saya untuk Islam, dan saya mendapati bahwa saya harus mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai langkah untuk mengumumkan Islam saya, dan memang saya mengajukan pengunduran diri pada tahun 1959 dan mendirikan kantor dagang dan berhasil dalam pekerjaan baru saya. Dan pada 25 Desember 1959 saya mengirim telegram kepada Misi Amerika di Mesir Baru bahwa saya beriman kepada Allah Yang Maha Esa dan kepada Muhammad sebagai Nabi dan Rasul, kemudian saya mengajukan permohonan kepada gubernur untuk menjalankan prosedur resmi… dan nama saya diubah dari “Ibrahim Khalil Phillips” menjadi “Ibrahim Khalil Ahmad”, dan keputusan tersebut mencakup perubahan nama anak-anak saya sebagai berikut: Ishaq menjadi Usamah, dan Samuel menjadi Jamal, dan Majdah menjadi Najwa.”
Kemudian dia menarik napas untuk melanjutkan menceritakan kisahnya dan perjalanannya menuju keimanan kepada Islam, dia berkata tentang kesulitan yang dia alami: “Istri saya meninggalkan saya setelah mengingkari Islam saya dan anak-anak saya, sebagaimana rumah-rumah asing yang bergerak di bidang peralatan kantor dan perlengkapan kantor memutuskan untuk tidak berurusan dengan saya, dan kemudian saya tutup kantor dagang saya, dan bekerja sebagai penulis di perusahaan dengan 15 pound sebulan setelah penghasilan saya sebelumnya 80 pound… dan pada saat ini saya belajar Sirah Nabawiyah, dan mempelajarinya adalah hiburan dan rahmat bagi saya… tetapi bahkan pekerjaan sederhana ini pun saya tidak dapat melanjutkannya, karena agen-agen Amerika berhasil menghasut perusahaan terhadap saya hingga mereka memecat saya, dan saya tetap setelahnya tiga bulan tanpa pekerjaan hingga ditunjuk di Majelis Tinggi Urusan Islam, dan itu setelah ceramah yang pernah saya sampaikan dengan judul mengapa saya masuk Islam?”
Kemudian dia tertawa dengan kepahitan dan sarkasme sambil berkata: “Gereja telah mengambil alih untuk menghasut pihak-pihak yang berwenang terhadap saya, hingga Kementerian Wakaf dan Dalam Negeri meminta saya untuk berhenti memberikan ceramah atau saya akan dikenai penerapan undang-undang persatuan nasional dengan dituduh menghasut dan menimbulkan fitnah, dan itu setelah saya memberikan banyak ceramah dalam ilmu perbandingan agama di masjid-masjid di Alexandria, Mahallah Al-Kubra, Asyut, Aswan dan provinsi-provinsi lainnya, karena Gereja terguncang oleh ceramah-ceramah ini setelah mengetahui bahwa banyak pemuda Kristen telah memeluk Islam”
Kemudian dia diam dalam kesedihan untuk berkata setelahnya: “Kekangan ini mendorong saya untuk memutuskan hijrah ke Kerajaan Arab Saudi di mana saya menempatkan semua keahlian saya untuk melayani Fakultas Dakwah dan Ushuluddin”
Kemudian dia kembali menjelaskan dan memperjelas apa yang sebelumnya dia isyaratkan tentang alasan-alasan memeluk Islam, dia berkata: “Sesungguhnya iman harus muncul dari hati terlebih dahulu, dan kenyataannya iman saya kepada Islam meresap ke hati saya selama periode-periode panjang saya selalu membaca Al-Qur’an Al-Karim dan membaca sejarah Rasul yang mulia dan berusaha menemukan satu dasar yang dapat meyakinkan saya bahwa Muhammad, manusia yang buta huruf, miskin, sederhana ini mampu sendirian menciptakan seluruh revolusi yang mengubah sejarah dunia dan masih terus berlangsung.
Yang sangat menarik bagi saya adalah sistem tauhid dalam Islam dan ini merupakan salah satu ciri paling menonjol dalam Islam: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya” (QS. Asy-Syura: 11), “Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa (1) Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu” (QS. Al-Ikhlas: 1-2).
Dia mengangkat kepalanya merenungkan langit dan berkata:
“Ya… Tauhid membuat saya menjadi hamba Allah semata, dan saya bukanlah hamba dari manusia mana pun… Tauhid di sini membebaskan manusia dan membuatnya tidak tunduk kepada manusia siapa pun, dan itulah kebebasan yang sesungguhnya, tidak ada penghambaan kecuali kepada Allah semata… Sangat agung sistem pengampunan dalam Islam, karena dasar pokok keimanan berdiri atas hubungan langsung antara hamba dan Tuhannya, maka manusia dalam Islam bertobat kepada Allah semata, tidak ada perantara, tidak ada surat pengampunan atau buku pengakuan dosa; karena hubungannya langsung antara manusia dan Tuhannya.”
Dan dia mengakhiri perkataannya dengan ungkapan yang mengalir jernih:
“Kamu tidak tahu betapa saya merasakan ketenangan jiwa yang mendalam ketika saya membaca Al-Quran Al-Karim, saya berdiri lama di hadapan ayat yang mulia: ‘Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah’ (QS. Al-Hasyr: 21).
Begitu juga ayat yang mulia: ‘Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang yang mempersekutukan Allah; dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.” Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri (82) Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui (dari Al-Quran); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Quran dan kenabian Muhammad saw.) (83)” (QS. Al-Maidah).
Karena semua itu, saya mengambil keputusan untuk menyatakan keislaman saya, bahkan saya harus melakukan dakwah untuk agama Islam yang dulunya saya adalah musuh yang paling keras terhadapnya. Cukuplah bahwa saya pada awalnya tidak mempelajari Islam kecuali agar saya tahu bagaimana cara menyerangnya dan memeranginya, tetapi hasilnya justru sebaliknya, posisi saya mulai goyah dan saya mulai merasakan konflik batin antara diri saya dengan hati nurani saya, dan saya menemukan bahwa apa yang selama ini saya serukan dan katakan kepada manusia semuanya adalah kepalsuan dan kebohongan.”
Untuk mendengar kisah keislamannya dengan suaranya:
Bagian Pertama: http://www.alhakekah.com/aduio/b1.mp3
Bagian Kedua: http://www.alhakekah.com/aduio/b2.mp3
Dan nasihat darinya untuk orang Kristen:
Bagian Pertama: http://www.alhakekah.com/aduio/fe1.mp3
Bagian Kedua: http://www.alhakekah.com/aduio/fe2.mp3
3- Yusuf Estes, Mantan Pendeta Amerika
Awal Mula Saya dengan Islam:
- Nama saya “Yusuf” Estes setelah Islam dan sebelum Islam adalah “Joseph” Edward Estes, saya lahir untuk keluarga Kristen yang sangat taat pada Kekristenan yang tinggal di Midwest Amerika, ayah-ayah dan kakek-kakek kami tidak hanya membangun gereja-gereja dan sekolah-sekolah saja, bahkan mereka menyerahkan diri mereka untuk melayani Kekristenan. Saya mulai belajar gerejawi atau teologi ketika saya menyadari bahwa saya tidak tahu banyak tentang agama Kristen saya, dan saya mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan tanpa menemukan jawaban yang sesuai untuk itu, maka saya belajar Kekristenan hingga saya menjadi pendeta dan da’i dari para da’i Kekristenan begitu juga ayah saya, dan kami di samping itu bekerja dalam perdagangan sistem musik dan menjualnya untuk gereja-gereja, dan saya membenci Islam dan kaum Muslim dimana gambaran yang rusak yang sampai kepada saya dan terpatri dalam pikiran saya tentang kaum Muslim bahwa mereka adalah orang-orang penyembah berhala yang tidak beriman kepada Allah dan menyembah kotak hitam di padang pasir dan bahwa mereka adalah orang-orang barbar dan teroris yang membunuh siapa saja yang menyelisihi keyakinan mereka.
Pencarian saya dalam agama Kristen tidak pernah berhenti sama sekali dan saya mempelajari Hinduisme, Yudaisme, dan Buddhisme, dan selama 30 tahun berikutnya, saya dan ayah saya bekerja sama dalam banyak proyek bisnis, dan kami memiliki program-program hiburan dan pertunjukan yang menarik, dan kami memainkan piano dan organ di Texas, Oklahoma dan Florida, dan saya mengumpulkan jutaan dolar dalam tahun-tahun itu, tetapi saya tidak menemukan ketenangan hati yang tidak dapat dicapai kecuali dengan mengetahui kebenaran dan menemukan jalan yang benar untuk keselamatan.
Saya Ingin Mengkristenkannya:
- Kisah saya dengan Islam bukanlah kisah seseorang yang memberi saya mushaf atau buku-buku Islam dan saya membacanya lalu masuk Islam saja, bahkan saya adalah musuh Islam di masa lalu, dan saya tidak segan-segan menyebarkan Kekristenan, dan ketika saya bertemu dengan orang itu yang mengajak saya ke Islam, sesungguhnya saya bersemangat untuk memasukkannya ke dalam Kekristenan dan bukan sebaliknya.
- Itu terjadi pada tahun 1991, ketika ayah saya memulai bisnis dengan seorang pria dari Mesir dan meminta saya untuk bertemu dengannya. Terlintas dalam pikiran saya ide ini dan saya membayangkan piramid dan sphinx dan sungai Nil dan semua itu, maka saya gembira dalam hati dan berkata: Kita akan memperluas bisnis kita dan menjadi bisnis internasional yang meluas ke tanah makhluk besar itu maksud saya (sphinx)!
Kemudian ayah saya berkata kepada saya: Tapi saya ingin memberitahu kamu bahwa pria yang akan datang kepada kita ini adalah Muslim dan dia seorang pengusaha.
Maka saya berkata dengan kesal: Muslim!! Tidak.. saya tidak akan bertemu dengannya.
Maka ayah berkata: Kamu harus bertemu dengannya.
Maka saya berkata: Tidak.. sama sekali tidak.
- Tidak mungkin saya bisa percaya.. Muslim!!
- Saya mengingatkan ayah saya tentang apa yang kami dengar tentang orang-orang Muslim ini.
- Dan bahwa mereka menyembah kotak hitam di padang pasir Mekah yaitu Ka’bah. Saya tidak mau bertemu dengan pria Muslim ini, dan ayah saya memaksa agar saya bertemu dengannya, dan dia meyakinkan saya bahwa dia orang yang sangat baik, maka saya menyerah dan setuju untuk bertemu dengannya.
- Meskipun demikian ketika tiba waktu pertemuan saya memakai topi yang ada salibnya dan memakai kalung yang ada salibnya dan menggantung salib besar di ikat pinggang saya, dan memegang salinan Injil di tangan saya dan hadir ke meja pertemuan dengan penampilan seperti ini, tetapi ketika saya melihatnya saya bingung.. Tidak mungkin dia itu adalah Muslim yang dimaksud – yang ingin kita temui, saya mengharapkannya seorang pria besar yang memakai jubah dan bersorban besar di kepalanya dan alisnya berkerut, ternyata di kepalanya tidak ada rambut sama sekali “botak”.. dan dia mulai menyapa kami dan berjabat tangan dengan kami, semua itu tidak berarti apa-apa bagi saya, dan masih gambaran saya tentang mereka bahwa mereka teroris. Di mana kami membicarakan tentang agamanya dan saya menyerang Islam dan kaum Muslim sesuai gambaran rusak yang ada pada saya, dan dia sangat tenang dan menyerap antusiasme dan semangat saya dengan ketenangan dirinya.
- Kemudian saya berinisiatif menanyakan kepadanya:
- Apakah kamu beriman kepada Allah? Dia berkata: Ya.. kemudian saya berkata bagaimana dengan Ibrahim apakah kamu beriman kepadanya? Dan bagaimana dia berusaha mengorbankan anaknya untuk Allah? Dia berkata: Ya.. Saya berkata dalam hati saya: Ini bagus, urusan ini akan lebih mudah dari yang saya kira..
- Kemudian kami pergi untuk minum teh di toko kecil, dan membicarakan topik favorit saya: keyakinan-keyakinan.
- Sementara kami duduk di kafe kecil itu selama berjam-jam berbicara dan kebanyakan pembicaraan dari saya, dan saya mendapatinya sangat baik, dan dia tenang dan pemalu, mendengarkan dengan penuh perhatian setiap kata dan tidak pernah memotong pembicaraan saya.
- Dan pada suatu hari Muhammad Abdul Rahman teman kami ini akan meninggalkan rumah yang dia tempati bersama dengan temannya, dan dia ingin tinggal di masjid untuk beberapa waktu. Saya membicarakan dengan ayah apakah mungkin kita mengundang Muhammad untuk pergi ke rumah besar kita di kota dan tinggal di sana bersama kita.. kemudian ayah mengundangnya untuk tinggal di rumah kami, dan rumah itu berisi saya dan istri saya dan ayah saya kemudian datang orang Mesir ini dan kami juga menjamu seorang pendeta lain tetapi dia mengikuti mazhab Katolik.
Maka kami menjadi berlima.. empat dari ulama dan da’i Kristen dan satu Muslim Mesir awam.. saya dan ayah saya dari mazhab Protestan Kristen dan pendeta yang lain bermazhab Katolik dan istri saya dari mazhab fanatik yang memiliki sisi Zionis, dan untuk informasi ayah saya membaca Injil sejak kecil dan menjadi da’i dan pendeta yang diakui di gereja, dan pendeta Katolik memiliki pengalaman 12 tahun dalam dakwahnya di kedua benua Amerika, dan istri saya mengikuti mazhab Born Again yang memiliki kecenderungan Zionis, dan saya sendiri mempelajari Injil dan mazhab-mazhab Kristen dan memilih beberapa di antaranya selama hidup saya dan selesai mendapatkan gelar doktor dalam ilmu teologi Kristen.
Dan demikianlah dia pindah untuk tinggal bersama kami, dan saya memiliki banyak misionaris di negara bagian Texas, dan saya mengenal salah satu dari mereka, dia sakit di rumah sakit, dan setelah dia sembuh saya mengundangnya untuk tinggal di rumah kami juga, dan selama perjalanan ke rumah saya berbicara dengan pendeta ini tentang beberapa konsep dan keyakinan dalam Islam, dan saya takjub ketika dia memberitahu saya bahwa para pendeta Katolik mempelajari Islam, dan kadang-kadang memperoleh gelar doktor dalam topik ini.
Setelah menetap di rumah kami semua mulai berkumpul di sekitar meja setelah makan malam setiap malam untuk membahas agama, dan di tangan masing-masing dari kami ada salinan Injil yang berbeda dari yang lain, dan istri saya memiliki Injil “salinan Jimmy Swaggart untuk pria religius modern” – dan yang lucu bahwa Jimmy Swaggart ini ketika dia berdebat dengan Syeikh Muslim Ahmad Deedat di hadapan orang-orang dia berkata: Sesungguhnya saya bukan ahli Injil!! Maka bagaimana seorang pria menulis Injil lengkap sendiri dan dia bukan ahli Injil dan mengklaim bahwa itu dari Allah?!! -, dan pendeta tentu saja memiliki Kitab Suci Katolik sebagaimana dia memiliki 7 buku lain dari Injil Protestan. Dan ayah saya pada periode itu memiliki salinan Raja James dan saya memiliki salinan Revised Edition (yang Direvisi dan Ditulis Ulang) yang mengatakan: Bahwa dalam salinan Raja James banyak kesalahan dan bencana besar!! Di mana orang-orang Kristen ketika mereka melihat banyaknya kesalahan dalam salinan Raja James terpaksa menulisnya kembali dan memperbaiki apa yang mereka lihat sebagai kesalahan besar, maka kami menghabiskan sebagian besar waktu untuk menentukan salinan yang paling benar dari Injil-Injil yang berbeda ini, dan kami memusatkan upaya kami untuk meyakinkan Muhammad agar menjadi Kristen. Dan kami orang-orang Kristen di rumah masing-masing membawa salinan Injil yang berbeda dan kami berdiskusi tentang perbedaan-perbedaan dalam keyakinan Kristen dan dalam Injil-Injil yang berbeda di meja bundar, dan Muslim duduk bersama kami dan heran dengan perbedaan Injil-Injil kami..
Di sisi lain pendeta Katolik memiliki reaksi dari gerejanya dan keberatan serta kontradiksi dengan keyakinan dan mazhabnya yang Katolik, maka meskipun dia berdakwah untuk agama dan mazhab ini selama 12 tahun tetapi dia tidak yakin bahwa itu keyakinan yang benar dan menyelisihi dalam hal-hal keyakinan yang penting.
Dan ayah saya meyakini bahwa Injil ini ditulis oleh manusia dan bukan wahyu dari Allah, tetapi mereka menulisnya dan mengiranya wahyu.
Dan istri saya meyakini bahwa dalam Injilnya banyak kesalahan, tetapi dia melihat bahwa asalnya dari Tuhan! Adapun saya ada hal-hal dalam Injil yang tidak saya percayai karena saya melihat kontradiksi yang banyak di dalamnya, maka di antara hal-hal itu saya bertanya kepada diri saya dan orang lain: Bagaimana Tuhan bisa satu dan tiga pada saat yang sama!, dan saya telah bertanya kepada pendeta-pendeta terkenal dunia tentang itu dan mereka menjawab saya dengan jawaban yang sangat konyol yang tidak mungkin orang berakal mempercayainya, dan saya berkata kepada mereka: Bagaimana saya bisa menjadi da’i Kekristenan dan mengajar orang-orang bahwa Tuhan adalah satu orang dan tiga orang pada saat yang sama, dan saya tidak yakin dengan itu maka bagaimana saya meyakinkan orang lain dengannya.
Sebagian mereka berkata kepada saya: Jangan jelaskan hal ini dan jangan uraikan, katakan kepada orang-orang: Ini adalah hal yang samar dan harus diimani, dan sebagian berkata kepada saya: Kamu bisa menjelaskannya bahwa itu seperti apel yang mengandung kulit dari luar dan daging dari dalam serta biji di dalam, maka saya berkata kepada mereka: Tidak bisa hal ini dijadikan perumpamaan untuk Tuhan, apel di dalamnya lebih dari satu biji maka akan bermacam-macam tuhan dengan itu dan mungkin di dalamnya ada ulat maka akan bermacam-macam tuhan, dan mungkin busuk dan saya tidak mau tuhan yang busuk.
Dan sebagian berkata: Seperti telur di dalamnya kulit dan kuning dan putih, maka saya berkata: Tidak benar hal ini dijadikan perumpamaan untuk Tuhan karena telur mungkin di dalamnya lebih dari satu kuning maka akan bermacam-macam tuhan, dan mungkin busuk, dan saya tidak mau menyembah tuhan yang busuk.
Dan sebagian berkata: Seperti pria dan wanita dan anak laki-laki mereka, maka saya berkata kepadanya: Mungkin wanita hamil dan bermacam-macam tuhan, dan mungkin terjadi perceraian maka berpisah tuhan-tuhan dan mungkin salah satu mati, dan saya tidak mau tuhan seperti ini.
Dan saya sejak menjadi Kristen dan pendeta dan da’i Kekristenan tidak bisa yakin dengan masalah trinitas dan tidak menemukan siapa yang bisa meyakinkan manusia berakal dengannya.
Satu Al-Quran, dan Beberapa Injil:
Saya ingat bahwa saya bertanya kepada Muhammad setelah itu: Berapa versi Al-Quran yang muncul selama 1400 tahun terakhir?
Dia memberitahu saya bahwa tidak ada kecuali satu mushaf, dan bahwa itu tidak pernah berubah sama sekali, dan dia menegaskan kepada saya bahwa Al-Quran telah dihafal di dada ratusan ribu orang, dan seandainya kamu mencari selama berabad-abad kamu akan menemukan bahwa jutaan orang telah menghafalnya dengan sempurna dan mengajarkannya kepada yang setelah mereka.
Awal Keraguan dan Pencarian
Hal ini tampak tidak mungkin bagi saya.. Bagaimana bisa kitab suci ini terpelihara dan mudah bagi semua orang untuk membacanya dan memahami maknanya?!!
Kami mengadakan dialog yang objektif dan sepakat bahwa apa yang meyakinkan kami, akan kami anut dan peluk setelahnya.
Demikianlah kami memulai dialog dengannya, dan yang membuat saya kagum selama dialog adalah bahwa Muhammad tidak menyerang atau mencela keyakinan kami, Injil kami, dan pribadi-pribadi kami, serta semua orang merasa nyaman dengan pembicaraannya. Secara umum.. ketika kami berlima duduk di rumah kami – kami empat orang Nasrani yang taat dengan seorang Muslim Mesir (Muhammad) – dan membahas masalah-masalah kepercayaan, kami berusaha mengajak Muslim ini kepada agama Nasrani dengan berbagai cara.. maka jawabannya tegas dengan mengatakan: Saya siap mengikuti agama kalian jika kalian memiliki sesuatu yang lebih baik dari apa yang ada dalam agama saya.
Kami berkata: Tentu saja ada pada kami.
Maka Muslim itu berkata: Saya siap jika kalian membuktikan hal itu dengan bukti dan dalil.
Saya berkata kepadanya: Agama pada kami tidak terkait dengan bukti, dalil, dan rasionalitas.. Bagi kami itu adalah sesuatu yang diterima begitu saja dan hanya kepercayaan murni! Bagaimana kami membuktikannya kepadamu dengan bukti dan dalil?! .. Maka Muslim itu berkata: Tetapi Islam adalah agama akidah, bukti, dalil, akal, dan wahyu dari langit.
Saya berkata kepadanya: Jika kalian mengandalkan aspek bukti dan dalil, maka saya ingin belajar dari Anda dan memahami hal ini.
Perkenalan dengan Tauhid
Kemudian ketika kami membahas masalah trinitas.. dan masing-masing dari kami membaca apa yang ada dalam salinannya tetapi tidak menemukan sesuatu yang jelas.. kami bertanya kepada saudara (Muhammad): Apa kepercayaan kalian tentang Tuhan dalam Islam.
Maka dia berkata: “Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” Dia membacanya dalam bahasa Arab kemudian menerjemahkan maknanya untuk kami.. dan seolah-olah suaranya ketika membacanya dalam bahasa Arab masuk ke dalam hatiku saat itu.. dan seolah-olah suaranya masih bergema di telingaku dan masih saya ingat.. Sedangkan maknanya, tidak ada yang lebih jelas, lebih baik, lebih kuat, lebih ringkas, dan lebih komprehensif darinya sama sekali.
Hal ini menjadi seperti kejutan yang kuat bagi kami.. dengan apa yang kami alami berupa kesesatan dan kontradiksi dalam hal ini dan lainnya.
Permintaan Bukti
Ketika saya ingin mengajaknya kepada agama Nasrani, dia berkata kepada saya dengan tenang dan bijaksana: Jika kamu membuktikan kepada saya bahwa agama Nasrani lebih benar dari Islam, saya akan mengikutimu ke agamamu yang kamu serukan. Maka saya berkata kepadanya: setuju. Kemudian Muhammad memulai: Di mana bukti-bukti yang membuktikan keunggulan dan kebenaran agama kalian? Saya berkata: Kami tidak beriman dengan bukti-bukti, tetapi dengan perasaan dan emosi, dan kami merasakan agama kami dan apa yang dibicarakan oleh Injil-Injil. Muhammad berkata: Tidak cukup jika iman hanya dengan perasaan dan emosi dan bergantung pada pengetahuan kita, tetapi Islam memiliki dalil-dalil, perasaan, dan mukjizat-mukjizat yang membuktikan bahwa agama di sisi Allah adalah Islam. Maka Joseph meminta dalil-dalil ini dari Muhammad yang membuktikan kebenaran agama Islam.
Muhammad berkata bahwa dalil pertama adalah Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala, Al-Quran Al-Karim yang tidak mengalami perubahan atau pemalsuan sejak turun kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sekitar 1400 tahun yang lalu, dan Al-Quran ini dihafal oleh banyak orang, yaitu sekitar 12 juta Muslim menghafal kitab ini, dan tidak ada satu kitab pun di dunia ini yang dihafal orang sebagaimana Muslim menghafal Al-Quran dari awal hingga akhir.
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Surat Al-Hijr ayat 9)
Dan dalil ini cukup untuk membuktikan bahwa agama di sisi Allah adalah Islam.
Mukjizat-mukjizat Al-Quran
Sejak saat itu saya mulai mencari bukti-bukti yang memadai yang membuktikan bahwa Islam adalah agama yang benar, selama tiga bulan dengan penelitian yang terus-menerus. Setelah periode ini, saya menemukan dalam Kitab Suci bahwa akidah yang benar yang dianut oleh Nabi Isa alaihissalam adalah tauhid dan bahwa saya tidak menemukan di dalamnya bahwa Tuhan itu tiga sebagaimana mereka klaim. Saya menemukan bahwa Isa adalah hamba Allah dan rasul-Nya, bukan tuhan, seperti halnya semua nabi yang datang menyeru kepada tauhid Allah ‘azza wa jalla, dan bahwa agama-agama samawi tidak berbeda mengenai dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala, semuanya menyeru kepada akidah yang tetap bahwa tidak ada tuhan selain Allah, termasuk agama Kristen sebelum dibuat-buat kebohongan atasnya. Saya mengetahui bahwa Islam datang untuk mengakhiri risalah-risalah samawi dan menyempurnakannya serta mengeluarkan manusia dari kehidupan syirik kepada tauhid dan iman kepada Allah Ta’ala. Masuk Islam bagiku akan menjadi penyempurnaan imanku bahwa agama Kristen dulu menyeru untuk beriman kepada Allah semata, dan bahwa Isa adalah hamba Allah dan rasul-Nya, dan siapa yang tidak beriman demikian maka dia bukan dari kalangan Muslim.
Kemudian saya menemukan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menantang orang-orang kafir dengan Al-Quran Al-Karim agar mereka datang dengan yang semisal atau datang dengan tiga ayat seperti surat Al-Kautsar, namun mereka tidak mampu melakukannya.
“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat yang semisal Al-Quran itu.” (Surat Al-Baqarah ayat 23)
Juga dari mukjizat-mukjizat yang saya lihat dan yang membuktikan bahwa agama di sisi Allah adalah Islam adalah prediksi-prediksi masa depan yang diramalkan Al-Quran Al-Karim seperti:
“Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat, dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang.” (Awal surat Ar-Rum)
Dan ini benar-benar terwujud setelahnya, dan hal-hal lain yang disebutkan dalam Al-Quran Al-Karim seperti surat Az-Zalzalah yang berbicara tentang gempa bumi yang dapat terjadi di wilayah mana pun, serta sampainya manusia ke angkasa dengan ilmu pengetahuan. Ini adalah tafsir makna ayat yang berbunyi: “Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.” (Surat Ar-Rahman ayat 33)
Dan kekuatan ini adalah ilmu pengetahuan yang dengannya manusia menembusi angkasa, maka ini adalah pandangan yang benar terhadap Al-Quran Al-Karim.
Mukjizat Embriologi
Juga dari mukjizat-mukjizat yang meninggalkan kesan dalam jiwa saya adalah (‘alaqah – segumpal darah), yang disebutkan Allah dalam Al-Quran Al-Karim, yang dijelaskan oleh ilmuwan Kanada “Cosmer” dan berkata bahwa ‘alaqah adalah yang menempel pada rahim ibu, setelah sperma dalam rahim berubah menjadi warna berdarah yang menggantung. Dan ini memang yang disebutkan Al-Quran Al-Karim sebelum para ahli embriologi di zaman modern menemukannya, dan ini adalah penjelasan bagi orang-orang kafir dan ateis.
Kesan terhadap Muhammad
Setelah semua penelitian ini yang berlangsung tiga bulan, yang dihabiskan Muhammad bersama kami di bawah satu atap, karena itu dia mendapat simpati banyak orang. Ketika saya melihatnya bersujud kepada Allah dan meletakkan dahinya di tanah, saya tahu bahwa hal itu tidak biasa.
Muhammad seperti Malaikat
Yusuf Estes berbicara tentang temannya dan berkata: Orang seperti ini (Muhammad) kurang sepasang sayap saja untuk menjadi seperti malaikat yang bisa terbang dengannya. Setelah saya mengetahui darinya apa yang saya ketahui, pada suatu hari teman saya yang pendeta meminta kepada Muhammad apakah mungkin kami pergi bersamanya ke masjid, untuk mengetahui lebih banyak tentang ibadah Muslim dan shalat mereka. Kami melihat para jamaah datang ke masjid, shalat, kemudian pergi.. Saya berkata: Pergi? Tanpa khotbah atau nyanyian apa pun? Dia berkata: Ya…
Hari-hari berlalu dan pendeta bertanya kepada Muhammad untuk menemaninya ke masjid sekali lagi, tetapi mereka terlambat kali ini hingga gelap.. Kami agak khawatir, apa yang terjadi pada mereka? Akhirnya mereka tiba, dan ketika saya membuka pintu.. saya langsung mengenali Muhammad.. Saya berkata: Siapa ini? Seseorang yang mengenakan jubah putih dan kopiah, tunggu sebentar! Ini adalah teman saya si pendeta!!! Saya berkata kepadanya: Apakah kamu sudah menjadi Muslim? Dia berkata: Ya, mulai hari ini saya sudah Muslim! Saya terkejut.. Bagaimana dia mendahului saya masuk Islam.. Kemudian saya naik ke atas untuk memikirkan hal-hal ini sebentar, dan mulai berbicara dengan istri saya tentang masalah ini. Dia berkata kepada saya: Saya rasa saya tidak akan melanjutkan hubungan saya dengan Anda lama lagi.
Saya berkata kepadanya: Mengapa? Apakah kamu pikir saya akan masuk Islam?
Dia berkata: Tidak. Tetapi karena saya yang akan masuk Islam!
Saya berkata kepadanya: Dan saya juga sebenarnya ingin masuk Islam.
Dia berkata: Maka saya keluar dari pintu rumah dan tersungkur di tanah bersujud menghadap kiblat dan berkata: Ya Tuhanku.. beri aku petunjuk.
Momen Keputusan
Saya turun ke bawah dan membangunkan Muhammad, meminta dia datang untuk membahas masalah ini dengan saya… Kami berjalan dan berbicara sepanjang malam itu, dan tiba waktu shalat Subuh.. saat itu saya yakin bahwa kebenaran akhirnya telah datang, dan kesempatan terbuka di hadapan saya… Adzan Subuh berkumandang, kemudian saya berbaring di papan kayu dan meletakkan kepala saya di tanah, dan bertanya kepada Tuhanku apakah Dia ada untuk membimbing saya… Setelah beberapa saat saya mengangkat kepala ke atas dan tidak melihat apa pun, tidak melihat burung atau malaikat turun dari langit, tidak mendengar suara atau musik, tidak melihat cahaya…
Saya menyadari bahwa sekarang waktunya tepat dan timing yang sesuai untuk berhenti menipu diri sendiri, dan bahwa saya harus menjadi lurus sebagai seorang Muslim… Sekarang saya tahu apa yang harus saya lakukan….
Pengucapan Syahadat
Pada pukul sebelas pagi saya berdiri di antara dua saksi: mantan pendeta yang sebelumnya dikenal sebagai Bapak “Peter Jacob” dan Muhammad Abdurrahman, dan saya mengucapkan syahadat saya. Beberapa saat kemudian istri saya mengumumkan keislamannya setelah mendengar tentang keislaman saya….
Ayah saya lebih berhati-hati terhadap masalah ini, dan menunggu berbulan-bulan sebelum mengucapkan dua kalimat syahadat…. Syeikh berkata: Saya melihat bahwa keislaman kami semua adalah berkat Allah kemudian karena teladan yang baik dari Muslim itu yang baik dalam berdakwah dan sebelumnya baik dalam bergaul. Seperti yang dikatakan di antara kami: Jangan katakan kepada saya.. tetapi tunjukkan kepada saya.
Masuk Islam Secara Bersamaan
Kami bertiga pemimpin agama dari tiga denominasi yang berbeda masuk Islam sekaligus, dan menempuh jalan yang sangat berlawanan dengan apa yang dulu kami yakini…. Dan masalah tidak berhenti sampai di sini, tetapi pada tahun yang sama seorang mahasiswa seminari yang dibaptis dari “Tennessee” bernama “Joe” masuk Islam setelah membaca Al-Quran…. Dan masalah tidak berhenti sampai di sini, tetapi saya melihat banyak uskup dan pendeta, serta pemuka agama lain masuk Islam dan meninggalkan kepercayaan mereka sebelumnya.
Bukankah ini bukti terbesar kebenaran Islam, dan bahwa itu adalah agama yang haq?!! Setelah sekadar memikirkan masuk Islam dulu bukan hanya tidak mungkin saja, tetapi sama sekali tidak dapat dibayangkan dalam keadaan apa pun.
Kembali kepada Fitrah
Semua dalil-dalil di atas bahwa agama di sisi Allah adalah Islam, membuat saya kembali kepada jalan lurus yang Allah ciptakan dalam fitrah kami sejak lahir dari perut ibu-ibu kami, karena manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah “tauhid” dan orang tuanya yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani. Keislaman saya tidak bersifat individual, tetapi merupakan keislaman kolektif untuk saya dan seluruh keluarga melalui waktu singkat yang dihabiskan seorang Muslim Mesir dengan keluarga kami dan di rumah kami. Kami menemukan dari kehadirannya, cara hidupnya, kehidupannya, dan sistemnya, serta melalui diskusi kami dengannya hal-hal baru bagi kami yang tidak kami ketahui tentang Muslim dan tidak ada pada kami sebagai orang Nasrani.
Ayah saya masuk Islam setelah sebelumnya berpegang teguh pada gereja dan menyeru orang kepadanya. Kemudian istri dan anak-anak saya masuk Islam. Alhamdulillahilladzi ja’alana muslimin (Segala puji bagi Allah yang menjadikan kami Muslim). Alhamdulillahilladzi hadana lil-islam wa ja’alana min ummati Muhammadin khairin-anam (Segala puji bagi Allah yang memberi kami petunjuk kepada Islam dan menjadikan kami dari umat Muhammad sebaik-baik manusia).
Hatiku terikat dengan cinta kepada Islam dan cinta kepada keesaan serta keimanan kepada Allah Ta’ala, dan aku menjadi lebih cemburu terhadap agama Islam melebihi kecemburuanku sebelumnya terhadap agama Kristen. Aku memulai perjalanan dakwah kepada Islam dan menyajikan gambaran murni yang kuketahui tentang agama Islam, yang merupakan agama toleransi dan akhlak, agama kasih sayang dan rahmat.
Alamat websitenya: www.todayislam.com Wawancara audio dengannya: Bagian Pertama: http://www.alhakekah.com/converts/yousef1.mp3 Bagian Kedua: http://www.alhakekah.com/converts/yousef2.mp3
4- Dr. Wadee’ Ahmad (mantan) Pendeta Mesir
Segala puji bagi Allah atas nikmat Islam, nikmat besar yang tidak ada nikmat lain yang menyamainya karena tidak ada lagi di bumi ini yang menyembah Allah satu-satunya kecuali kaum Muslim.
Aku telah melewati perjalanan panjang hampir 40 tahun hingga Allah memberiku hidayah dan akan kuceritakan kepada kalian tahap-tahap perjalanan hidupku ini tahap demi tahap:
Masa Kanak-kanak: (Menanam Buah-buah Hitam)
Ayahku adalah seorang pengkhotbah di Alexandria di perkumpulan Sahabat-sahabat Kitab Suci dan pekerjaannya adalah mengkristenkan di desa-desa sekitar dan daerah-daerah miskin untuk mencoba menarik orang-orang Muslim miskin ke agama Kristen.
Ayahku memaksa aku bergabung dengan para diakon sejak usiaku 6 tahun dan mengikuti pelajaran sekolah Minggu secara teratur. Di sana mereka menanam benih-benih kebencian hitam di pikiran anak-anak, di antaranya:
1- Kaum Muslim merampas Mesir dari orang Kristen dan menyiksa orang Kristen.
2- Seorang Muslim lebih kafir daripada penganut Buddha dan penyembah sapi.
3- Al-Qur’an bukan kitab Allah tetapi Muhammad yang menciptakannya.
4- Kaum Muslim menindas orang Nasrani agar mereka meninggalkan Mesir dan berhijrah… dan benih-benih lain yang menanam kebencian hitam terhadap kaum Muslim di hati anak-anak.
Dan pada periode memalukan ini, ayahku berbicara dengan kami secara rahasia tentang penyimpangan gereja-gereja dari Kekristenan sejati yang mengharamkan gambar-gambar, patung-patung, sujud kepada patriark, dan pengakuan dosa kepada pendeta.
Masa Remaja (Matangnya Buah Kebencian Hitam):
Aku menjadi guru di sekolah Minggu dan pengajar para diakon ketika usiaku 18 tahun dan aku harus menghadiri pelajaran khotbah di gereja dan kunjungan rutin ke biara-biara (khususnya di musim panas) di mana mereka memanggil para spesialis dalam menyerang Islam dan mengkritik keras Al-Qur’an dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
- Yang dikatakan dalam pertemuan-pertemuan ini: 1- Al-Qur’an penuh dengan kontradiksi (lalu mereka menyebutkan setengah ayat) seperti (Dan janganlah kalian mendekati shalat…) 2- Al-Qur’an penuh dengan kata-kata seksual dan mereka menafsirkan kata “nikah” sebagai zina atau homoseksual. 3- Mereka berkata bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengambil ajaran Kristen dari Bahira sang rahib lalu mengubahnya dan menciptakan agama Islam dengannya, kemudian membunuh Bahira agar urusannya tidak terbongkar… Dan masih banyak lagi ejekan terhadap Al-Qur’an Al-Karim dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam…
Pertanyaan-pertanyaan Membingungkan:
Para pemuda pada periode ini, termasuk aku, bertanya kepada para pendeta pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan kami:
Seorang pemuda Kristen bertanya: T: Bagaimana pendapat Anda tentang Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam? Pendeta menjawab: Dia adalah manusia jenius dan cerdas.
T: Ada banyak orang jenius seperti Plato, Socrates, Hammurabi… tetapi kami tidak menemukan pengikut bagi mereka dan agama yang menyebar dengan kecepatan seperti ini hingga hari ini? Mengapa? J: Pendeta bingung menjawab.
Pemuda lain bertanya: T: Bagaimana pendapat Anda tentang Al-Qur’an? J: Kitab yang berisi kisah-kisah para nabi dan mendorong manusia kepada keutamaan-keutamaan tetapi penuh dengan kesalahan.
T: Mengapa kalian takut kami membacanya dan mengkafirkan orang yang menyentuh atau membacanya? J: Pendeta menegaskan bahwa siapa yang membacanya adalah kafir tanpa menjelaskan alasannya!!
Yang lain bertanya: T: Jika Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pendusta, mengapa Allah membiarkannya menyebarkan dakwahnya selama 23 tahun? Bahkan agamanya masih terus menyebar hingga sekarang? Padahal tertulis dalam kitab Musa (kitab Yeremia) bahwa Allah berjanji akan menghancurkan setiap orang yang mengaku sebagai nabi beserta keluarganya dalam waktu satu tahun? J: Pendeta menjawab (mungkin Allah ingin menguji orang Kristen dengannya).
Situasi-situasi Membingungkan:
1- Pada tahun 1971 Patriark Shenouda mengeluarkan keputusan mengharamkan Rahib Rafael (rahib biara Mina) dari shalat karena dia tidak menyebut namanya dalam doa. Rahib Samuel mencoba meyakinkannya untuk tetap shalat karena dia berdoa kepada Allah bukan kepada patriark, tetapi dia takut patriark juga akan mengharamkannya dari surga!!
Rahib Samuel bertanya-tanya: Apakah Syekh Al-Azhar berani mengharamkan seorang Muslim dari shalat? Mustahil.
2- Yang paling membingungkanku adalah pengetahuanku tentang pengkafiran setiap denominasi Kristen terhadap yang lain. Aku bertanya kepada Pendeta Metas Rafael, bapa pengakuan dosaku, dan dia menegaskan hal ini bahwa pengkafiran ini berlaku di bumi dan di langit.
Aku bertanya heran: Artinya kita kafir karena Paus Roma mengkafirkan kita? Dia menjawab: Sayangnya ya.
Aku bertanya: Dan denominasi-denominasi lain kafir karena Patriark Alexandria mengkafirkan mereka? Dia menjawab: Sayangnya ya.
Aku bertanya: Lalu bagaimana posisi kita di hari kiamat? Dia menjawab: Semoga Allah merahmati kita!!!
Awal Kecenderungan Menuju Islam:
- Ketika aku masuk gereja dan melihat gambar Kristus dan patungnya menghiasi altar, aku bertanya pada diriku sendiri: Bagaimana mungkin yang lemah dan terhina ini yang diejek dan disiksa menjadi Tuhan dan Ilah??
- Seharusnya aku menyembah Tuhan dari yang lemah ini yang lari dari kekejaman Yahudi. Aku heran ketika mengetahui bahwa Taurat telah melaknat salib dan yang disalib padanya dan bahwa itu najis dan menajiskan bumi tempat penyaliban!! (Ulangan 21: 22-23).
- Pada tahun 1981: Aku sering berdebat dengan tetangga Muslimku (Ahmad Muhammad Al-Damardasy Hijazi) dan suatu hari dia berbicara kepadaku tentang keadilan dalam Islam (dalam warisan, dalam perceraian, qisas…) lalu dia bertanya: Apakah kalian memiliki seperti itu? Aku menjawab: tidak… tidak ada.
- Aku mulai bertanya pada diriku sendiri: Bagaimana seorang pria bisa datang dengan semua syariat yang rapi dan sempurna ini dalam ibadah dan muamalah tanpa perbedaan? Dan bagaimana miliaran orang Yahudi dan Kristen gagal membuktikan bahwa itu adalah buatan?
- Dari tahun 1982 hingga 1990: Aku adalah dokter di rumah sakit (Dada Kom Al-Shoqafa) dan Dr. Muhammad Al-Syatibi selalu berbicara dengan rekan-rekan tentang hadis-hadis Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Pada awalnya aku merasa api cemburu tetapi setelah berlalunya waktu aku menyukai mendengar hadis-hadis ini (sedikit kata banyak makna, indah lafal dan konteksnya) dan aku merasa saat itu bahwa orang ini adalah nabi yang agung.
Apakah Ayahku Muslim:
- Di antara faktor-faktor tersembunyi yang mempengaruhi hidayahku adalah kejutan-kejutan yang kutemukan pada ayahku, di antaranya:
1- Meninggalkan gereja, khotbah, dan perkumpulan misionaris sama sekali. 2- Dia menolak mencium tangan para imam (ini hal besar bagi orang Kristen). 3- Dia tidak percaya pada tubuh dan darah (roti dan anggur) yaitu tidak percaya pada penjelmaan Tuhan. 4- Alih-alih turun pagi hari Jumat untuk shalat, dia tidur lalu mandi dan turun saat dzuhur?! 5- Mencari-cari alasan untuk turun saat ashar dan pulang terlambat saat isya. 6- Dia mulai menolak anak-anak perempuan pergi ke salon. 7- Ungkapan-ungkapan baru yang mulai dia ucapkan (A’udzu billahi minasy-syaithan) (La haula wala quwwata illa billah)… 8- Setelah ayah meninggal tahun 1988, aku menemukan di Injil miliknya potongan-potongan kertas kecil yang menjelaskan kesalahan-kesalahan yang ada di Injil dan koreksinya. 9- Aku menemukan Injil kakek (ayah dari ayahku) cetakan 1930 yang berisi penjelasan lengkap tentang perubahan-perubahan yang dilakukan orang Kristen padanya, di antaranya mengubah kata “wahai guru” dan “wahai tuan” menjadi “wahai Tuhan”!!! untuk meyakinkan pembaca bahwa penyembahan kepada Kristus sudah ada sejak kelahirannya.
Jalan Menuju Masjid:
- Dekat dengan klinikku terdapat masjid (Huda Al-Islam). Aku mendekatinya dan melihat ke dalamnya lalu menemukan bahwa itu sama sekali tidak menyerupai gereja (tidak ada bangku – tidak ada gambar – tidak ada lampu gantung besar – tidak ada karpet mewah – tidak ada alat musik dan irama – tidak ada nyanyian tidak ada tepuk tangan). Aku menemukan bahwa ibadah di masjid-masjid ini adalah rukuk dan sujud hanya kepada Allah, tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, mereka semua berdiri dalam barisan yang teratur. Aku membandingkan antara itu dengan kebalikannya yang terjadi di gereja, dan perbandingan itu selalu menguntungkan masjid.
Dalam Naungan Al-Qur’an:
- Aku ingin membaca Al-Qur’an dan membeli mushaf. Aku ingat bahwa temanku Ahmad Al-Damardasy berkata bahwa Al-Qur’an “tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci” dan aku mandi dengan air dingin saat itu, lalu membaca Al-Qur’an. Aku khawatir akan menemukan perbedaan-perbedaan di dalamnya (setelah kepercayaanku hilang pada Taurat dan Injil). Aku membaca Al-Qur’an dalam dua hari tetapi aku tidak menemukan apa yang mereka ajarkan kepada kami di gereja tentang Al-Qur’an.
- Yang lebih mengherankan adalah bahwa yang berbicara dengan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memberitahunya bahwa dia akan mati?!! Siapa yang berani berbicara seperti itu kecuali Allah??!! Dan aku berdoa kepada Allah agar memberi hidayah dan petunjuk kepadaku.
Mimpi:
Suatu hari aku mengantuk lalu meletakkan mushaf di sampingku. Menjelang fajar aku melihat cahaya di dinding kamar dan muncul seorang pria yang wajahnya bercahaya. Dia mendekatiku dan menunjuk ke mushaf. Aku mengulurkan tanganku untuk bersalaman dengannya tetapi dia menghilang. Jatuh di hatiku bahwa pria ini adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah jalan cahaya dan hidayah.
Akhirnya – Aku Pasrahkan Wajahku kepada Allah:
- Aku bertanya kepada seorang pengacara dan dia menunjukkanku untuk pergi ke Direktorat Keamanan – Bagian Urusan Agama – dan aku tidak tidur malam itu. Setan banyak menggodaku (bagaimana kamu meninggalkan agama nenek moyangmu dengan mudah seperti ini)?
- Aku keluar jam enam pagi dan masuk ke gereja (Georgius dan Antonius) saat shalat sedang berlangsung. Ruang shalat penuh dengan gambar dan patung Kristus, Maryam, para hawari dan lainnya hingga patriark sebelumnya (Kirillos). Aku berbicara kepada mereka: (Jika kalian benar dan melakukan mukjizat seperti yang mereka ajarkan kepada kami, maka lakukan sesuatu… tanda atau isyarat apa pun agar aku tahu bahwa aku berjalan di jalan yang salah). Dan tentu saja tidak ada jawaban.
- Aku menangis banyak atas usia tua yang terbuang dalam menyembah gambar-gambar dan patung-patung ini. Setelah menangis aku merasa bahwa aku telah bersuci dari penyembahan berhala dan bahwa aku berjalan di jalan yang benar, jalan penyembahan kepada Allah yang sebenarnya.
- Aku pergi ke Direktorat dan memulai perjalanan panjang dan sulit dengan birokrasi dan penderitaan dengan prasangka orang-orang. Setelah sepuluh bulan, keislamanku diumumkan dari Catatan Sipil pada bulan Agustus 1992.
Ya Allah, hidupkan aku dalam Islam dan wafatkan aku dalam iman. Ya Allah, jagalah keturunanku setelahku agar khusyuk, beribadah, takut kepada maksiat-Mu dan mendekat dengan ketaatan kepada-Mu.
Dan doa terakhir kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Dr. Wadee’ Ahmad memiliki website di internet dengan alamat http://www.wadee3.5u.com
5- Kenneth Jenkins – Pendeta Amerika Serikat yang Dahulu
Topik ini sebenarnya adalah brosur yang diterbitkan oleh mantan pendeta Kenneth L. Jenkins atau yang sekarang bernama Abdullah al-Faruq.. dan dia menggambarkan kisah pemelukan agama Islam yang agung ini… Lihat sampul brosur tersebut: dia berkata di dalamnya: “Sebagai mantan pendeta dan sebagai seorang rohaniwan di gereja, tugas saya adalah menerangi jalan bagi orang-orang untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan yang mereka alami… dan setelah memeluk Islam, tumbuh dalam diri saya keinginan yang kuat untuk menyebarkan pengalaman saya dengan agama ini agar cahaya dan berkahnya turun kepada mereka yang belum mengenalnya… Saya memuji Allah atas rahmat-Nya kepada saya dengan memasukkan saya ke dalam Islam dan untuk mengenal keindahan dan keagungan agama ini sebagaimana dijelaskan oleh Rasul yang mulia dan para sahabatnya yang mendapat hidayah… Hanya dengan rahmat Allah kita mencapai hidayah yang sesungguhnya dan kemampuan untuk mengikuti jalan yang lurus yang mengarah kepada kesuksesan di dunia ini dan di akhirat… Dan saya telah melihat rahmat ini terwujud ketika saya pergi kepada Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan memeluk Islam, dan kecintaannya terus bertambah dalam diriku dan juga pengetahuan dalam setiap pertemuan saya dengannya… Ada juga banyak orang lain yang membantu saya dengan dorongan dan pengajaran tetapi karena takut tidak menyebutkan sebagian, saya tidak akan menyebutkan nama mereka… Cukuplah bagi saya untuk berkata alhamdulillahil azim yang telah memudahkan bagiku setiap saudara dan setiap saudari dari mereka yang memainkan peran penting bagi pertumbuhan Islam dalam diriku dan juga untuk pembinaan saya sebagai seorang muslim… Saya berdoa kepada Allah agar usaha singkat ini bermanfaat bagi banyak orang… dan saya berharap orang-orang Nasrani menemukan jalan yang menuju keselamatan.. Jawaban untuk masalah-masalah orang Nasrani tidak dapat mereka temukan pada diri mereka sendiri karena mereka pada kebanyakan kasus adalah penyebab masalah mereka… Tetapi dalam Islam ada solusi untuk semua masalah orang Nasrani dan Kekristenan dan untuk semua agama yang diklaim di dunia… Kami memohon kepada Allah agar Dia membalas kami atas perbuatan dan niat kami…
Permulaan: Sebagai anak kecil… Saya dibesarkan dengan rasa takut kepada Tuhan… dan saya sangat dibesarkan oleh nenek saya yang seorang fundamentalis yang menjadikan gereja sebagai bagian pelengkap kehidupan saya… dan saya masih anak kecil… Seiring waktu berlalu dan saat saya mencapai usia enam tahun… saya telah mengetahui apa yang menanti saya berupa kenikmatan di surga dan apa yang menanti saya berupa hukuman di neraka… Dan nenek saya mengajari saya bahwa para pembohong akan masuk neraka selamanya… Ibu saya bekerja dengan dua pekerjaan tetapi dia selalu mengingatkan saya dengan apa yang dikatakan nenek saya kepadaku… Kakak perempuan saya yang tertua dan adik laki-laki saya yang termuda tidak tertarik dengan apa yang dikatakan nenek saya tentang peringatan dan ancaman tentang surga dan neraka seperti ketertarikan saya!! Saya masih ingat ketika saya kecil ketika saya melihat bulan di saat-saat ketika warnanya mendekati merah… dan ketika itu saya mulai menangis karena nenek saya berkata kepada saya bahwa di antara tanda-tanda akhir dunia adalah bulan menjadi berwarna merah… seperti darah… Ketika saya mencapai usia delapan tahun, saya telah memperoleh pengetahuan besar dan ketakutan besar tentang apa yang akan menanti saya di akhir dunia… dan juga sering datang kepada saya mimpi buruk tentang hari penghisaban dan bagaimana jadinya?? Rumah kami sangat dekat dengan stasiun kereta api dan kereta-kereta terus berlalu… Saya ingat ketika saya terbangun terkejut oleh suara kereta dan suara peluitnya dengan mengira bahwa saya telah mati dan telah dibangkitkan!! Pikiran-pikiran ini telah terbentuk dalam pikiran saya melalui pengajaran lisan dari nenek saya dan juga yang dibaca seperti cerita-cerita Kitab Suci…
Pada hari Minggu kami pergi ke gereja dan saya mengenakan pakaian terbaik dan kakek saya yang bertanggung jawab mengantar kami ke sana… dan saya ingat bahwa waktu berlalu di sana seolah-olah puluhan jam!! Kami sampai di sana pukul sebelas pagi dan tidak pergi sampai pukul tiga… Saya ingat bahwa saya tidur pada waktu itu dalam pelukan nenek saya… dan kadang-kadang nenek saya mengizinkan saya keluar untuk duduk dengan kakek saya yang tidak religius… dan kami bersama-sama duduk mengamati kereta-kereta… Dan suatu hari kakek saya terkena stroke yang mempengaruhi kebiasaan kami pergi ke gereja… Dan sebenarnya periode ini sangat sensitif dalam hidup saya… Saya mulai merasakan pada periode itu keinginan yang kuat untuk pergi ke gereja dan benar-benar mulai pergi sendirian.. dan ketika saya mencapai usia enam belas saya mulai pergi ke gereja lain yang berupa bangunan kecil dan diawasi oleh ayah teman saya… dan yang hadir adalah saya dan teman saya dan ayahnya dan sekelompok teman sekelas saya… dan keadaan ini berlanjut hanya beberapa bulan sebelum gereja itu ditutup.. Dan setelah lulus dari sekolah menengah dan masuk universitas, saya ingat komitmen agama saya dan menjadi aktif dalam bidang agama… Dan setelah itu saya dibaptis… Dan sebagai mahasiswa… dalam waktu singkat saya menjadi anggota terbaik di gereja yang membuat banyak orang mengagumi saya… dan saya juga senang karena saya mengira bahwa saya dalam perjalanan menuju “keselamatan”… Saya pergi ke gereja setiap kali pintu-pintunya dibuka… dan juga mempelajari Kitab Suci selama berhari-hari dan berminggu-minggu kadang-kadang… Saya menghadiri banyak kuliah yang diadakan oleh para rohaniwan… Dan pada usia dua puluh saya menjadi salah satu anggota gereja… dan setelah itu saya mulai berkhotbah… dan menjadi dikenal dengan cepat.. Sebenarnya saya adalah salah satu yang fanatik dan saya yakin bahwa tidak ada yang bisa mendapatkan keselamatan kecuali dia menjadi anggota gereja kami!! Dan juga saya mengingkari setiap orang yang tidak mengenal Tuhan dengan cara yang saya kenal… Saya percaya bahwa Yesus Kristus dan Tuhan adalah satu orang… Sebenarnya di gereja saya belajar bahwa Trinitas tidak benar tetapi pada saat yang sama saya percaya bahwa Yesus dan Bapa dan Roh Kudus adalah satu orang!! Saya mencoba memahami bagaimana hubungan ini bisa benar tetapi sebenarnya saya tidak pernah bisa mencapai hasil yang lengkap mengenai akidah ini!! Saya mengagumi pakaian sopan untuk wanita dan juga perilaku baik dari pria.. Saya adalah orang yang percaya pada akidah yang mengatakan bahwa wanita harus menutupi tubuhnya! Dan bukan wanita yang memenuhi wajahnya dengan makeup dan berkata saya adalah duta Kristus!…
Saya pada waktu ini telah sampai pada keyakinan bahwa apa yang saya jalani sekarang adalah jalan saya menuju keselamatan… dan juga ketika saya berdebat dengan salah seorang dari gereja lain, diskusi berakhir dengan dia diam total… dan itu karena pengetahuan saya yang luas tentang Kitab Suci, saya hafal ratusan teks dari Injil… dan ini yang membedakan saya dari yang lain… Dan meskipun semua kepercayaan diri yang saya miliki, ada bagian dari saya yang mencari… tetapi mencari apa..?? Sesuatu yang lebih besar dari apa yang telah saya capai! Saya terus berdoa kepada Tuhan agar Dia membimbing saya kepada agama yang benar… dan agar Dia mengampuni saya jika saya salah… Sampai saat ini saya tidak memiliki kontak langsung dengan muslim dan saya tidak tahu apa-apa tentang Islam… dan semua yang saya ketahui adalah apa yang disebut “Nation of Islam” dan itu adalah sekelompok orang kulit hitam yang mendirikan agama khusus untuk mereka yang rasis dan tidak menerima selain orang kulit hitam… tetapi mereka menyebutnya “Nation of Islam” dan ini yang membuat saya percaya bahwa ini adalah Islam… Pendiri agama ini bernama “Elijah Muhammad” dan dia yang memulai agama ini dan yang juga menyebut kelompoknya “Muslim Hitam”… Sebenarnya saya tertarik dengan seorang orator yang fasih dari kelompok ini bernama Louis Farrakhan dan saya tertarik dengan cara bicaranya dan ini pada tahun tujuh puluhan abad ini… Dan setelah lulus dari universitas saya telah mencapai tahap yang maju dalam bekerja di bidang agama… Dan pada waktu itu pengikut “Elijah Muhammad” mulai muncul dengan jelas… dan kemudian saya mulai mendukung mereka terutama karena mereka mencoba mengangkat derajat orang kulit hitam dari perlakuan buruk dan kondisi pada umumnya… Saya mulai menghadiri kuliah-kuliah mereka untuk mengetahui sifat agama mereka secara spesifik… tetapi saya tidak menerima gagasan bahwa Tuhan adalah seorang pria kulit hitam (seperti keyakinan pemilik Nation of Islam) dan saya tidak suka cara mereka menggunakan Kitab Suci untuk mendukung ide-ide mereka… karena saya mengenal kitab ini dengan baik… Oleh karena itu saya tidak antusias dengan agama ini (dan saya pada waktu ini mengira bahwa ini adalah Islam!!) Dan setelah enam tahun saya pindah untuk tinggal di kota Texas… dan dengan cepat saya bergabung menjadi anggota di dua gereja di sana dan bekerja di salah satu dari kedua gereja itu seorang pemuda kecil tanpa pengalaman sementara pengalaman saya dalam Kekristenan telah mencapai tingkat besar dan di atas biasanya juga… Dan di gereja lain tempat saya menjadi anggota ada seorang pendeta yang sudah tua dan meskipun demikian dia tidak memiliki pengetahuan yang saya miliki tentang Kitab Suci oleh karena itu saya memilih untuk keluar darinya agar tidak terjadi masalah antara saya dan dia… Kemudian saya pindah untuk bekerja di gereja lain… di kota lain dan yang memimpin gereja itu adalah seorang pria berpengalaman dan ahli serta memiliki ilmu yang luas… dan dia memiliki cara mengajar yang menakjubkan… Dan meskipun dia memiliki ide-ide yang tidak saya setujui tetapi dia pada akhirnya adalah orang yang memiliki kemampuan untuk memenangkan orang…
Pada waktu ini saya mulai menemukan hal-hal yang tidak saya ketahui di gereja dan membuat saya berpikir tentang agama yang saya anut…!!! Selamat datang di dunia gereja yang sesungguhnya: Dengan cepat saya menemukan bahwa di gereja ada banyak kecemburuan dan itu sangat umum dalam hierarki gereja… dan juga banyak hal yang mengubah ide-ide yang telah saya biasakan… Misalnya wanita mengenakan pakaian yang saya anggap memalukan… dan semua orang peduli dengan penampilan mereka untuk menarik perhatian… tidak lebih… dari lawan jenis!! Sekarang saya menemukan bagaimana uang memainkan permainan besar di gereja-gereja.. Mereka memberitahu saya bahwa jika gereja tidak memiliki jumlah anggota yang ditentukan maka tidak perlu membuang waktu Anda dengannya karena Anda tidak akan mendapatkan keuntungan finansial yang sesuai untuk itu… Kemudian saya memberitahu mereka bahwa saya di sini bukan untuk uang… dan saya siap melakukan itu tanpa imbalan apa pun… dan bahkan jika hanya ada satu anggota saja…!! Di sini saya mulai berpikir tentang mereka yang saya anggap bijaksana bagaimana mereka hanya bekerja untuk uang!! Saya menemukan bahwa uang dan kekuasaan dan manfaat lebih penting bagi mereka daripada mengenalkan orang kepada kebenaran…
Di sini saya mulai bertanya kepada guru-guru ini beberapa pertanyaan tetapi kali ini secara terbuka pada waktu kuliah… Saya bertanya kepada mereka bagaimana Yesus bisa menjadi Tuhan??… dan juga pada saat yang sama Roh Kudus dan Bapa dan Anak dan… dll… tetapi tidak ada jawaban!! Banyak dari para pendeta dan pengkhotbah ini berkata kepada saya bahwa mereka juga tidak tahu bagaimana menafsirkannya tetapi pada saat yang sama mereka percaya bahwa mereka dituntut untuk beriman padanya!! Dan penemuan besarnya kasus-kasus perzinaan dan prostitusi dalam lingkungan gereja dan juga penyebaran narkoba dan perdagangannya di antara mereka dan juga penemuan banyak pendeta yang homoseksual menyebabkan saya mengubah cara berpikir dan mencari sesuatu yang lain tetapi apa itu? Dan pada hari-hari itu saya bisa mendapatkan pekerjaan baru di Kerajaan Arab Saudi…
Permulaan baru: Tidak lama berlalu sampai saya memperhatikan gaya hidup yang berbeda dari muslim… Mereka berbeda dari pengikut “Elijah Muhammad” yang rasis yang tidak menerima kecuali orang kulit hitam… Islam yang ada di Saudi Arabia mencakup semua kelas… dan semua ras… Kemudian tumbuh dalam diri saya keinginan kuat untuk mengenal agama yang istimewa ini… Saya terpesona dengan kehidupan Rasul shallallahu alaihi wa sallam dan saya ingin tahu lebih banyak.. Saya meminta sekelompok buku dari salah satu saudara yang aktif dalam dakwah Islam… Saya mendapatkan semua buku yang saya minta… Saya membaca semuanya kemudian mereka memberikan saya al-Qur’an al-Karim dan saya membacanya beberapa kali… selama beberapa bulan… Saya bertanya sangat banyak pertanyaan dan saya selalu mendapatkan jawaban yang meyakinkan… Yang menambah kekaguman saya adalah tidak ada paksaan orang untuk menjawab… bahkan jika dia tidak mengetahuinya dia dengan sederhana memberitahu saya bahwa dia tidak tahu dan bahwa dia akan menanyakan untuk saya dan memberitahu saya nanti!! Dan selalu keesokan harinya dia membawakan jawaban untuk saya… Dan juga yang menarik saya pada orang-orang yang membingungkan ini adalah kebanggaan mereka pada diri mereka sendiri!! Saya terkejut ketika saya melihat wanita-wanita yang sopan dari wajah sampai kaki! Saya tidak menemukan hierarki agama atau persaingan antara orang-orang yang tergabung untuk bekerja demi agama seperti yang terjadi di Amerika dalam lingkungan gereja di sana… Semua ini luar biasa tetapi ada sesuatu yang mengganggu saya yaitu bagaimana saya meninggalkan agama yang saya dibesarkan dengannya?? Bagaimana saya meninggalkan Kitab Suci?? Saya memiliki keyakinan bahwa di dalamnya ada sesuatu yang benar meskipun sejumlah besar perubahan dan revisi yang terjadi padanya… Kemudian saya diberi kaset video yang berisi debat bernama “Apakah Injil Firman Tuhan” dan itu antara Syaikh Ahmad Deedat dan Pendeta Jimmy Swaggart… dan setelah itu segera saya menyatakan masuk Islam!!!!!!
Untuk menonton debat yang menarik itu atau mendengarkannya, Anda dapat mengunduhnya dari tautan berikut: http://www.islam.org/audio/ra622_4.ram Dan Anda akan menemukannya di halaman ini insya Allah: http://212.37.222.34/islam/multimedia.htm
Setelah itu, saya dibawa ke kantor Syaikh Abdul Aziz bin Baz untuk menyatakan syahadat dan penerimaan saya terhadap Islam… dan saya diberi nasihat tentang apa yang akan saya hadapi di masa depan… Ini benar-benar kelahiran baru bagi saya setelah kegelapan yang panjang… Saya memikirkan apa yang akan dikatakan rekan-rekan saya di gereja ketika mereka mengetahui berita masuk Islamnya saya?? Tidak ada waktu lama untuk mengetahuinya… Setelah saya kembali ke Amerika Serikat untuk berlibur, kritikan mulai menyerang saya dari segala penjuru atas apa yang saya alami berupa “kurangnya iman” menurut mereka!! Dan mereka mulai menggambarkan saya dengan segala macam sifat… seperti pengkhianat dan orang yang rusak akhlaknya… begitu juga yang dilakukan para pemimpin gereja… tetapi saya tidak peduli dengan apa yang mereka katakan karena sekarang saya gembira dan senang dengan nikmat yang Allah berikan kepada saya yaitu Islam… Sekarang saya ingin mengabdikan hidup saya untuk melayani Islam sebagaimana saya dulu dalam Kristen… tetapi bedanya adalah dalam Islam tidak ada monopoli dalam pendidikan agama, melainkan semua dituntut untuk belajar…
Saya dihadiahi Sahih Muslim oleh guru Alquran… Saat itulah saya menemukan kebutuhan saya untuk mempelajari sirah Rasulullah ﷺ… dan hadis-hadisnya serta apa yang beliau lakukan dalam hidupnya… Maka saya membaca hadis-hadis yang tersedia dalam bahasa Inggris semampu saya… Saya juga menyadari bahwa pengalaman saya dengan Kristen sangat bermanfaat bagi saya dalam berhadapan dengan orang-orang Nasrani dan berdebat dengan mereka… Hidup saya berubah secara total… dan hal terpenting yang saya pelajari adalah bahwa kehidupan ini hanyalah persiapan untuk kehidupan akhirat… dan juga yang saya pelajari bahwa kita mendapat balasan bahkan dari niat… artinya jika kamu berniat melakukan amal saleh tetapi tidak mampu melakukannya karena suatu keadaan… maka pahala amal tersebut akan menjadi milikmu… dan ini sangat berbeda dengan Kristen…
Sekarang salah satu tujuan terpenting saya adalah mempelajari bahasa Arab dan mempelajari lebih banyak tentang Islam… dan sekarang saya bekerja di bidang dakwah untuk non-Muslim dan non-penutur bahasa Arab… dan saya ingin mengungkapkan kepada dunia tentang kontradiksi, kesalahan, dan pemalsuan yang terkandung dalam kitab yang dipercayai jutaan orang di seluruh dunia (maksudnya Kitab Suci orang Nasrani) dan juga ada sisi positif dari apa yang saya pelajari dari Kristen yaitu tidak ada seorang pun yang bisa berargumen dengan saya karena saya mengetahui sebagian besar tipu daya yang coba digunakan para misionaris untuk menipu orang Nasrani dan lainnya yang tidak berpengalaman… Saya memohon kepada Allah agar membimbing kita semua ke jalan yang lurus.
Semoga Allah membalas kebaikannya, dan ucapan ini sesungguhnya hanya keluar dari seorang yang jujur yang mengenal Allah lalu beriman kepada-Nya… kemudian iman semakin besar di hatinya… hingga tujuannya menjadi membimbing semua manusia!!! Dan orang ini berlaku padanya ayat mulia berikut:
“Sungguh akan kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sungguh akan kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.” Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. Dan apabila mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul (Al-Qur’an), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui (dari Al-Qur’an); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhammad). Mengapa kami tidak beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh?”” – Surat Al-Maidah ayat 82-84.
(Kartu identitas mantan pendeta)
(Sampul buku)
6- Mantan Uskup Agung Lutheran Tanzania Abu Bakar Mwayipopo
Pada tanggal 23 Desember 1986 -dua hari sebelum perayaan Natal- Uskup Agung Martin John Mwayipopo mengumumkan kepada jemaah bahwa dia akan meninggalkan Kristen untuk masuk Islam. Kerumunan jemaah berada dalam keadaan lumpuh total karena syok yang menimpa mereka mendengar berita ini, sampai-sampai asisten uskup bangkit dari tempat duduknya lalu menutup pintu dan jendela, dan menyatakan kepada anggota gereja bahwa Uskup Agung telah gila. Bagaimana mungkin pria itu bisa berpikir untuk mengatakan hal itu, padahal beberapa menit sebelumnya dia memainkan alat musiknya dengan cara yang membangkitkan perasaan anggota gereja?! Mereka tidak tahu bahwa apa yang terlintas dalam pikiran uskup akan menjadi keputusan yang mengejutkan mereka, dan hiburan itu hanyalah pesta perpisahan. Tetapi reaksi jemaah sama-sama menyedihkan! Mereka menghubungi pasukan keamanan untuk membawa pria “gila” itu. Mereka menahannya di sel sampai tengah malam, hingga Syaikh Ahmad Syaikh -pria yang mendorongnya masuk Islam- datang dan menjaminnya untuk membebaskannya. Insiden ini hanyalah permulaan yang menyenangkan dibandingkan dengan kejutan-kejutan yang menunggu mantan uskup itu.
Simphiwe Sesanti -seorang jurnalis dari surat kabar Al-Qalam- telah melakukan wawancara dengan Uskup Agung Lutheran Tanzania Martin John Mwayipopo, yang setelah mengumumkan keislamannya dikenal dengan nama (Haji Abu Bakar John Mwayipopo). Keberhasilan membangkitkan rasa ingin tahu jurnalistik penulis ini -Sesanti- berkat saudara Zimbabwe Sufyan Sabelo, setelah yang terakhir mendengar pembicaraan Mwayipopo di pusat Islam Weybank di Durban. Dan Sufyan bukanlah orang yang suka sensasi, tetapi malam itu dia telah mendengar sesuatu yang berharga. Dia tidak bisa berhenti membicarakan pria itu! Dan siapa yang tidak akan terkesan setelah mendengar bahwa seorang Uskup Agung telah masuk Islam? Dia yang tidak hanya memperoleh gelar sarjana dan magister dalam teologi, tetapi juga gelar doktor. Dan jika kalian termasuk orang yang peduli dengan gelar asing, maka pria itu telah memperoleh diploma dalam administrasi gereja dari Inggris, dan sisa gelar akademis dari Berlin di Jerman! Dan pria yang sebelum masuk Islam adalah Sekretaris Jenderal Dewan Gereja-gereja Sedunia untuk Urusan Afrika -yang mencakup Tanzania, Kenya, Uganda, Burundi, dan bagian dari Ethiopia dan Somalia- jabatannya di Dewan Gereja-gereja melebihi Presiden saat ini Komisi Hak Asasi Manusia Afrika Selatan Barney Pityana, dan Presiden Komisi Rekonsiliasi Nasional Uskup Desmond Tutu.
Ini adalah kisah seorang pria yang lahir 61 tahun yang lalu -pada tanggal 22 Februari- di Bukoba, sebuah wilayah di perbatasan dengan Uganda. Dua tahun setelah kelahirannya keluarganya membaptisnya; dan lima tahun kemudian mereka membanggakannya saat dia menjadi pelayan altar dalam misa, memandangnya saat dia membantu imam gereja menyiapkan “tubuh dan darah” Isa AS. Ini memenuhi keluarganya dengan kebanggaan, dan memenuhi ayahnya dengan pemikiran tentang masa depan anaknya.
Abu Bakar mengingat kembali kenangannya dengan berkata:
“Kemudian -ketika saya di sekolah asrama- ayah saya menulis kepada saya dengan mengatakan bahwa dia ingin saya menjadi rahib. Dan dalam setiap surat dia menulis hal itu kepada saya.” Tetapi Mwayipopo memiliki pemikirannya sendiri tentang masa depan hidupnya, yang berkaitan dengan bergabung dengan kepolisian. Namun demikian -pada usia dua puluh lima- dia menyerah pada keinginan ayahnya. Karena berbeda dengan apa yang terjadi di Eropa, dimana anak-anak bisa melakukan apa yang mereka inginkan setelah usia dua puluh satu, anak-anak di Afrika diajarkan menghormati keinginan ayah mereka lebih dari menghormati keinginan pribadi mereka.
“Anakku, sebelum saya menutup mata (meninggal), saya akan senang jika kamu menjadi rahib.”
Inilah yang dikatakan ayah kepada anaknya, dan begitulah yang dilakukan anaknya; dan keputusan ini yang membawanya ke Inggris pada tahun 1964 untuk memperoleh diploma dalam administrasi gereja; dan setahun kemudian ke Jerman untuk memperoleh gelar sarjana. Dan setelah kembali setelah satu tahun dia menjadi uskup yang aktif.
Dan kemudian dia kembali untuk memperoleh gelar magister.
“Selama itu, saya melakukan hal-hal tanpa perdebatan.”
Dan dia mulai bertanya-tanya ketika sedang bekerja untuk memperoleh gelar doktor, kata Mwayipopo:
“Saya mulai bertanya-tanya dengan heran, ada Kristen dan Islam dan Yahudi dan Buddha, dan setiap agama mengklaim bahwa itu adalah kebenaran; jadi apa kebenaran itu? Saya ingin kebenaran.”
Dan begitulah dia memulai penelitiannya hingga menyederhanakan kepada empat agama utama. Dan dia memperoleh salinan Al-Quran. Dan dapatkah kalian bayangkan apa yang terjadi?
Mwayipopo mengingat dengan berkata:
“Ketika saya membuka Al-Quran, ayat-ayat pertama yang saya baca adalah: ‘Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.'” – Surat Al-Ikhlas.”
Itulah saat dimana benih-benih Islam mulai tumbuh, yaitu agama yang tidak dikenal baginya. Dan pada saat itu dia menemukan bahwa Al-Quran adalah satu-satunya kitab suci yang tidak dirusak manusia sejak diwahyukan. “Dan ini yang saya katakan sebagai kesimpulan dalam disertasi doktor saya. Dan saya tidak peduli apakah mereka akan memberikan saya gelar doktor atau tidak, karena ini adalah kebenaran; dan saya sedang mencari kebenaran.”
Dan dalam kondisi mental ini, dia pergi kepada profesor tercintanya van Berger. Dan dia mengingat kembali kenangannya dengan berkata:
“Saya menutup pintu, kemudian menatap matanya, dan bertanya kepadanya: dari semua agama yang ada di dunia, manakah agama yang benar? Maka dia menjawab saya: ‘Islam’. Maka saya bertanya kepadanya: ‘Lalu mengapa kamu tidak muslim?’ Maka dia berkata kepada saya: ‘Pertama: saya benci orang Arab; dan kedua: apakah kamu melihat semua kemewahan yang saya nikmati ini? Apakah kamu pikir saya akan melepaskan semua itu demi Islam?’ Dan ketika saya merenungkan jawabannya, saya mulai memikirkan kondisi saya sendiri juga.”
Jabatan Mwayipopo, mobil-mobilnya, semua itu terlintas dalam pikirannya. Tidak, dia tidak bisa mengumumkan Islam. Dan begitulah -selama satu tahun penuh- dia mengesampingkan pikiran ini dari benaknya. Tetapi visi mulai menghantuinya, dan ayat-ayat dari Al-Quran terus muncul di hadapannya, dan orang-orang berpakaian putih datang kepadanya, “terutama pada hari-hari Jumat”, hingga dia tidak bisa menahan lagi.
Dan begitulah dia mengumumkan keislamannya secara resmi pada tanggal 22 Desember. Dan visi-visi yang membawanya kepada hal itu, bukankah itu karena sifat takhayul orang Afrika? Dan Mwayipopo bercerita tentang itu dengan berkata:
“Tidak; saya tidak berpikir bahwa semua visi itu buruk. Karena ada visi-visi yang membimbingmu ke arah yang benar, dan ada yang tidak melakukan itu. Adapun yang ini -khususnya- telah membimbing saya ke jalan yang benar, ke Islam.”
Sebagai akibatnya gereja mengambil rumah dan mobil-mobilnya. Dan istrinya tidak bisa menahan hal itu maka dia berkemas dan membawa anak-anaknya dan meninggalkannya, meskipun Mwayipopo meyakinkannya bahwa dia tidak diwajibkan masuk Islam. Dan ketika dia pergi kepada orang tuanya, yang juga telah mendengar ceritanya: “Ayah saya meminta saya mengkritik Islam secara terbuka; dan ibu saya berkata bahwa dia ‘tidak ingin mendengar omong kosong apa pun dari saya’.”
Dia menjadi sendirian! Dan ketika ditanya bagaimana perasaannya terhadap orang tuanya, dia berkata bahwa dia memaafkan mereka, dan dia telah berdamai dengan ayahnya sebelum ayahnya berpindah ke alam akhirat. Dan Mwayipopo berkata:
“Mereka sudah tua, dan mereka juga tidak memiliki ilmu. Bahkan mereka tidak bisa membaca Injil, dan yang mereka ketahui hanyalah apa yang mereka dengar dari rahib saat membaca.”
Dia meminta mereka tinggal di rumah satu malam, dan hari berikutnya dia memulai perjalanannya ke tempat asal keluarganya -ke Kayela- di perbatasan antara Tanzania dan Malawi. Dan selama perjalanannya dia singgah ke Prosil dimana ada keluarga yang ingin menjual rumah untuk membuat bir. Dan di sana terjadi dia bertemu dengan istri masa depan, yaitu seorang biarawati Katolik bernama Suster Gertrude Kiboya, yang sekarang dikenal dengan nama Suster Zainab. Dan bersamanya dia bepergian ke Kayela, dimana orang tua yang memberikannya tempat tinggal pada malam sebelumnya memberitahunya bahwa di sana dia akan menemukan muslim lain. Tetapi sebelum itu, dan di pagi hari itu dia mengumandangkan azan untuk shalat, dan ini yang membuat penduduk desa keluar dari rumah mereka bertanya kepada tuan rumah bagaimana dia menampung orang “gila”.
“Biarawati itulah yang menjelaskan bahwa saya bukan gila tetapi muslim”, kata Mwayipopo.
Dan biarawati yang sama itulah yang membantunya kemudian membayar biaya pengobatan di rumah sakit misi Anglikan ketika dia sangat sakit. Dan itu berkat percakapan yang dia miliki dengannya.
Dan dia bertanya kepadanya: mengapa kamu memakai salib dalam rantai di dadamu, maka dia menjawab bahwa itu karena Isa AS telah disalibkan di atasnya.
“Tetapi, katakanlah seseorang membunuh ayahmu dengan pistol, apakah kamu akan berkeliling membawa pistol di dadamu?”
Hal tersebut membuat biarawati itu berpikir, dan dia bingung untuk menjawab. Dan ketika uskup menawarkan pernikahan kepadanya kemudian, jawabannya adalah iya. Maka mereka menikah secara diam-diam, dan setelah empat minggu dia menulis surat kepada atasannya memberitahu bahwa dia telah meninggalkan kehidupan perbiaran. Syekh yang telah memberikan tempat tinggal kepada mereka -dia adalah paman dari biarawati tersebut- mendengar tentang pernikahan ini; dan pada saat mereka tiba di rumahnya, mereka dinasihati untuk melarikan diri, karena “syekh sedang mengisi senapannya dengan peluru”. Dan ayah dari biarawati itu marah “dan ganas seperti singa”.
Muyabobo berpindah dari kemewahan rumah uskup agung untuk hidup di sebuah rumah yang dibangun dari tanah liat. Dan alih-alih gajinya yang besar sebagai anggota Dewan Gereja Dunia sebagai sekretaris jenderal Afrika Timur, dia mulai mencari nafkah sebagai penebang kayu, dan petani penggarap tanah orang lain. Dan di waktu-waktu ketika dia tidak bekerja, dia berdakwah Islam secara terbuka. Hal itu membawanya pada serangkaian hukuman penjara singkat karena tidak menghormati agama Kristen.
Dan ketika dia sedang menunaikan ibadah haji pada tahun 1988, terjadilah bencana. Rumahnya dibom, dan akibatnya ketiga anak kembarnya terbunuh. Dan dia mengingat sambil berkata: “Uskup -dia adalah anak sepupu saya- terlibat dalam konspirasi itu.”
Dan dia menambahkan bahwa alih-alih hal itu membuatnya putus asa, justru sebaliknya, karena jumlah orang yang menyatakan masuk Islam semakin bertambah, dan ini termasuk mertuanya juga.
Dan pada tahun 1992 dia ditangkap selama sepuluh bulan bersama tujuh puluh pengikutnya, dan mereka dituduh melakukan pengkhianatan. Dan itu setelah pengeboman beberapa toko penjual daging babi yang pernah dia bicarakan menentangnya. Dia memang berbicara menentangnya, dan dia mengakui hal itu dengan menjelaskan bahwa secara konstitusional -sejak tahun 1913- ada undang-undang yang melarang bar, kasino, dan toko penjual daging babi di Dar es Salaam, Tanga, Mafia, Lindi, dan Kigoma. Dan untungnya dia dibebaskan, dan setelah itu langsung dia hijrah ke Zambia dalam pengasingan; setelah dinasihati bahwa ada konspirasi untuk membunuhnya. Dan dia menceritakan bahwa setiap hari ketika dia dibebaskan, polisi datang untuk menangkapnya lagi. Dan dapatkah kalian bayangkan apa yang terjadi juga?! Muyabobo berkata:
“Para wanita berkata bahwa mereka tidak akan membiarkan hal itu! Dan bahwa mereka akan melawan penangkapan saya oleh pasukan keamanan dengan tubuh mereka. Dan para wanita juga yang membantu saya melarikan diri melintasi perbatasan dengan menyamar; mereka memakaikan saya pakaian wanita!”
Dan inilah salah satu alasan yang membuatnya menghargai peran wanita.
“Wanita harus diberikan kedudukan yang tinggi, dan diberikan pendidikan Islam yang baik. Kalau tidak bagaimana seorang wanita dapat memahami mengapa seorang laki-laki menikah dengan lebih dari satu wanita… Istri saya Zainab-lah yang menyarankan kepada saya bahwa saya harus menikahi istri kedua saya -temannya Sheila- ketika dia harus bepergian ke luar negeri untuk studi Islam.”
Apakah (mantan) uskup yang mengatakan itu?! Allahu Akbar!!
Dan pesan Haji Abu Bakar Muyabobo kepada kaum Muslim adalah: “Sesungguhnya ada perang terhadap Islam… dan mereka telah membanjiri dunia dengan publikasi-publikasi. Dan sekarang secara khusus mereka bekerja untuk membuat kaum Muslim merasa malu dengan menyebut mereka fundamentalis. Maka kaum Muslim tidak boleh berhenti pada ambisi-ambisi pribadi mereka, dan mereka harus bersatu. Maka kamu harus membela tetanggamu jika kamu ingin dirimu aman.”
Dia mengatakan itu dan mendorong kaum Muslim untuk berani, dengan menyebut Pusat Islam Internasional untuk Dakwah dan Syekh Ahmad Deedat:
“Orang itu tidak berpendidikan tinggi, tetapi lihatlah cara dia menyebarkan Islam.”
7- Mantan Biarawan Filipina Marco Corbus
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, dan semoga shalawat Allah Ta’ala dan salam-Nya tercurah kepada penutup para nabi dan rasul yaitu junjungan kami Muhammad dan kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik hingga hari kiamat.
Inilah kisah saya, dan mengapa saya menyatakan masuk Islam: Selama masa kecil saya, saya dibesarkan sebagian dalam Katolik. Adapun kakek dan bibi saya adalah penyembuh spiritual yang menyembah berhala dan roh-roh. Dan saya menyaksikan banyak pasien yang datang kepada mereka untuk pengobatan, dan bagaimana mereka sembuh. Oleh karena itu mereka menyebabkan saya mengikuti apa yang mereka imani.
Ketika saya mencapai usia tujuh belas tahun, saya menyadari bahwa ada banyak agama, yang memiliki berbagai jenis ajaran, meskipun mereka memiliki sumber yang sama, yaitu Injil. Dan masing-masing mengklaim bahwa dialah agama yang benar. Pada saat itu saya bertanya-tanya: “Haruskah saya tetap pada agama keluarga saya, ataukah saya harus mencoba mendengarkan agama-agama lain?”
Dan pada suatu hari sepupu saya mengundang saya untuk menghadiri perayaan Kamis di gereja. Motivasi saya adalah melihat apa yang mereka lakukan di dalam gereja mereka. Maka saya melihat bagaimana mereka bernyanyi, bertepuk tangan, menari, dan menangis sambil mengangkat tangan mereka dalam doa kepada Isa alaihissalam. Dan biarawan berkhotbah tentang Injil. Kemudian dia menyebutkan ayat-ayat yang paling umum, yang dikutip oleh semua misionaris, yaitu yang berkaitan dengan ketuhanan Masih alaihissalam, seperti: Yohanes 1:12, dan Yohanes 3:16, dan Yohanes 8:31-32. Dan pada saat itu, saya dilahirkan kembali sebagai Kristen, dan saya menerima Yesus Kristus alaihissalam sebagai Tuhan dan penyelamat saya.
Teman-teman saya mengunjungi saya setiap hari untuk pergi ke gereja. Dan setelah dua bulan saya dibaptis, maka saya menjadi anggota tetap dalam ibadah mereka. Dan setelah berlalu lima tahun, biarawan kami meyakinkan saya untuk bekerja di keimamatan sebagai pekerja sukarela. Dan setelah itu saya menjadi penyanyi utama, kemudian pemimpin dalam shalat, kemudian guru di sekolah Minggu, kemudian akhirnya saya menjadi biarawan resmi di gereja. Dan pekerjaan saya berada di bawah Misi Penginjilan Pedesaan Bebas (F.R.E.E.). Dan itu adalah misi penginjilan seperti misi “Yesus adalah Tuhan” (Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan), dan “Nazarene”, dan “Roti Kehidupan”, dll. Saya mulai mengajar orang-orang Injil dan ajarannya. Dan saya membaca Injil dua kali dari sampul ke sampul. Dan saya memaksa diri saya untuk menghafal bagian-bagian dan ayat-ayat darinya secara hafal untuk membela agama yang saya imani. Dan saya menjadi bangga pada diri saya atas posisi yang saya peroleh. Dan saya sering berkata kepada diri saya bahwa saya tidak memerlukan ajaran atau teks lain selain Injil. Tetapi meskipun demikian, ada kekosongan spiritual di dalam diri saya. Saya berdoa, berpuasa, dan berusaha keras untuk memenuhi kehendak Tuhan yang saya sembah, dan saya tidak menemukan kebahagiaan kecuali ketika saya berada di gereja. Tetapi perasaan bahagia ini tidak berlangsung terus, bahkan ketika saya bersama keluarga saya. Dan saya juga menyadari bahwa beberapa teman biarawan saya materialistis. Mereka menenggelamkan diri dalam nafsu jasmani – seperti hubungan terlarang dengan wanita – dan korupsi, serta haus akan ketenaran.
Dan meskipun semua itu saya melanjutkan – dan dengan cara buta – menganut agama dengan kuat. Dan itu karena saya tahu – dan sesuai dengan apa yang dikatakan ajaran – “bahwa banyak yang dipanggil, tetapi sedikit di antara mereka yang dipilih”. Saya selalu berdoa kepada Yesus Kristus alaihissalam untuk mengampuni dosa-dosa saya dan juga dosa mereka. Karena saya mengira bahwa dia alaihissalam adalah solusi untuk semua masalah saya dan oleh karena itu dia dapat merespons semua doa saya.
Meskipun demikian – dan dengan melihat kehidupan rekan-rekan biarawan saya – kamu tidak dapat menemukan di antara mereka contoh-contoh baik dibandingkan dengan jemaat yang mereka khotbahi. Dan demikianlah iman saya mulai memudar, dan saya berjuang dengan kesulitan yang sangat besar dalam bekerja melayani ibadah jemaah. Pada suatu hari, saya berpikir untuk bepergian ke luar negeri, dan itu bukan hanya untuk bekerja, tetapi juga untuk menyebarkan nama Yesus sebagai tuhan; astaghfirullah al-‘azheem. Dan dalam rencana saya untuk pergi entah ke Taiwan atau Korea. Tetapi kehendak Allah Ta’ala adalah saya mendapatkan visa kerja di Kerajaan Arab Saudi. Dan saya langsung menandatangani kontrak selama tiga tahun untuk bekerja di Jeddah.
Setelah seminggu tiba di Jeddah, saya menyadari gaya hidup yang berbeda, seperti bahasa, adat istiadat dan tradisi, bahkan makanan yang mereka makan. Karena saya benar-benar tidak mengetahui budaya orang lain.
Alhamdulillah; ternyata saya memiliki rekan kerja Filipina di pabrik, dan dia adalah seorang Muslim yang berbicara bahasa Arab. Oleh karena itu – meskipun saya gugup, tetapi saya mencoba bertanya kepadanya tentang Muslim, dan tentang agama dan kepercayaan mereka. Karena saya percaya bahwa Muslim adalah pembunuh yang kejam, dan bahwa mereka menyembah setan dan fir’aun dan Muhammad shallallahu alaihi wa alihi wasallam sebagai tuhan-tuhan mereka. Dan saya menceritakan kepadanya tentang iman saya kepada Masih alaihissalam. Dan sebagai reaksi atas itu dia memberitahu saya bahwa agamanya benar-benar berbeda dari agama saya. Dan dia mengutip dua ayat dari Al-Qur’an Al-Kareem. Yang pertama dari Surat Al-Maidah yaitu ayat ketiga yang berbunyi:
“…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu…” (Al-Maidah: 3)
Dan yang lain dari Surat Yusuf:
“Apa yang kamu sembah selain Allah itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyang kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk menyembah benda-benda itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Yusuf: 40)
Kedua ayat ini memberikan saya kejutan yang kuat. Setelah itu saya mulai mengamati kehidupannya. Dan setiap hari kami berbicara masing-masing tentang agamanya, sampai akhirnya kami menjadi teman akrab. Dan pada salah satu kesempatan kami pergi ke al-balad (daerah komersial Jeddah) untuk mengirim beberapa surat. Dan di sana terjadi bahwa saya melihat kerumunan banyak orang yang menonton film video debat salah satu “misionaris” terbaik saya. Teman Muslim saya memberitahu saya bahwa orang yang saya sebut sebagai “misionaris terbaik saya” adalah Syekh Ahmad Deedat, dan dia adalah dai Islam yang terkenal. Maka saya memberitahukannya bahwa para biarawan kami di tanah air membuat kami percaya bahwa dia adalah “misionaris yang hebat” saja; dan mereka menyembunyikan dari kami kepribadian aslinya bahwa dia adalah dai Muslim! Apapun niat mereka, itu pasti untuk menjauhkan kami dari mengetahui kebenaran. Dan meskipun apa yang saya ketahui, saya membeli kaset video, dan beberapa buku juga untuk membaca tentang Islam.
Dan di tempat tinggal kami, teman saya menceritakan kepada saya kisah-kisah para nabi. Dan saya benar-benar yakin, tetapi kesombongan saya menjauhkan saya dari Islam.
Dan setelah berlalu tujuh bulan, datang kepada saya di kamar saya teman lain – dia adalah seorang Muslim dari India – dan dia memberikan saya salinan terjemahan makna Al-Qur’an Al-Kareem dalam bahasa Inggris. Dan kemudian dia membawa saya ke al-balad, kemudian mengajak saya ke Pusat Islam. Saya bertemu di sana salah satu saudara Filipina; dan terjadi diskusi antara kami tentang beberapa masalah agama, dan dia menghubungkannya dengan perbandingan kehidupannya sebelum Islam – ketika dia Kristen – dan sesudahnya; kemudian dia menjelaskan kepada saya beberapa ajaran Islam.
Dan pada malam yang diberkahi itu, pada tanggal delapan belas April tahun 1998 – dan tanpa paksaan – saya akhirnya masuk Islam. Dan saya menyatakan masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.
Allahu Akbar!
Saya sebelumnya mengikuti agama yang buta, sekarang saya melihat kebenaran mutlak bahwa Islam adalah cara hidup yang terbaik dan sempurna yang dirancang untuk seluruh umat manusia. Alhamdulillahi rabbil ‘alameen.
Dan saya berdoa kepada Allah Ta’ala untuk mengampuni semua ketidaktahuan kami tentang Islam, dan semoga Dia Subhanahu wa Ta’ala membimbing kami ke jalan lurus-Nya yang menuju surga. Aamiin.
8 – Ahli Matematika dan Mantan Misionaris Kristen, Dr. Gary Miller asal Kanada
Seorang profesor matematika di Universitas King Fahd untuk Petroleum dan Mineral bernama Gary Miller, berkebangsaan Kanada. Dia dahulu adalah seorang pendeta yang menyeru kepada agama Kristen. Setelah Allah memberinya hidayah Islam, dia berdiri berkhutbah di hadapan orang-orang dengan mengatakan:
“Wahai kaum Muslim, seandainya kalian menyadari kelebihan apa yang kalian miliki dibanding yang dimiliki oleh orang lain, niscaya kalian akan bersyukur kepada Allah bahwa Dia telah menumbuhkan kalian dari tulang punggung Muslim dan membesarkan kalian di lingkungan Muslim serta mendidik kalian dengan agama yang mulia ini. Sesungguhnya makna kenabian, makna ketuhanan, makna wahyu, risalah, kebangkitan, perhitungan – semua makna tersebut – yang ada pada kalian dan pada orang lain – perbedaannya seperti antara langit dan bumi.”
Kemudian dia menambahkan: “Yang menarik saya kepada agama ini adalah kejernihan akidah, kejernihan yang tidak saya temukan dalam akidah agama lain.”
Kisahnya dengan Islam adalah: Ini adalah seorang da’i Kristen terbesar yang menyatakan keislamannya dan berubah menjadi da’i Islam terbesar di Kanada. Dia adalah salah seorang misionaris yang sangat aktif dalam menyeru kepada agama Kristen dan juga termasuk orang yang memiliki pengetahuan yang luas tentang Kitab Suci Bible.
Pria ini sangat menyukai matematika, karena itu dia menyukai logika atau urutan logis dalam berbagai hal.
Pada suatu hari dia ingin membaca Al-Qur’an dengan tujuan menemukan beberapa kesalahan di dalamnya untuk memperkuat posisinya ketika mengajak umat Muslim kepada agama Kristen. Dia mengharapkan akan menemukan Al-Qur’an sebagai kitab kuno yang ditulis 14 abad yang lalu, berbicara tentang gurun pasir dan sebagainya. Namun dia terkejut dengan apa yang ditemukannya di dalamnya. Bahkan dia menemukan bahwa kitab ini mengandung hal-hal yang tidak terdapat dalam kitab lain manapun di dunia ini.
Dia mengharapkan akan menemukan beberapa peristiwa sulit yang dialami Nabi Muhammad ﷺ seperti wafatnya istri beliau Khadijah radhiyallahu ‘anha atau wafatnya anak-anak perempuan dan putra-putra beliau. Namun dia tidak menemukan hal itu sama sekali. Yang membuatnya heran adalah dia menemukan ada satu surat lengkap dalam Al-Qur’an yang disebut Surat Maryam, dan di dalamnya terdapat penghormatan kepada Maryam alaihissalam yang tidak ada bandingannya dalam kitab-kitab Kristen maupun dalam Injil-Injil mereka!
Dan dia tidak menemukan surat dengan nama Aisyah atau Fathimah radhiyallahu ‘anhunna.
Demikian juga dia menemukan bahwa Isa alaihissalam disebut dengan nama 25 kali dalam Al-Qur’an, sementara Nabi Muhammad ﷺ hanya disebut 4 kali saja, maka bertambah heranlah pria itu.
Dia mulai membaca Al-Qur’an dengan lebih teliti berharap menemukan celah padanya. Namun dia terpukau oleh ayat yang agung dan mengagumkan yaitu ayat ke-82 dalam Surat An-Nisa:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka menemukan pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa: 82)
Dr. Miller berkata tentang ayat ini: “Dari prinsip-prinsip ilmiah yang dikenal pada masa sekarang adalah prinsip menemukan kesalahan atau meneliti kesalahan dalam teori-teori hingga terbukti kebenarannya (Falsification test).
Yang mengagumkan adalah Al-Qur’an yang mulia mengajak umat Muslim dan non-Muslim untuk mencari kesalahan di dalamnya dan mereka tidak akan menemukannya.”
Dia juga berkata tentang ayat ini: Tidak ada pengarang di dunia yang memiliki keberanian mengarang sebuah buku kemudian mengatakan buku ini bebas dari kesalahan, tetapi Al-Qur’an sebaliknya justru mengatakan kepadamu tidak ada kesalahan, bahkan menawarkan kepadamu untuk mencari kesalahan di dalamnya dan kamu tidak akan menemukannya.
Dari ayat-ayat yang juga membuat Dr. Miller berhenti lama adalah ayat ke-30 dari Surat Al-Anbiya:
“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS. Al-Anbiya: 30)
Dia berkata: “Sesungguhnya ayat ini persis dengan topik penelitian ilmiah yang meraih hadiah Nobel tahun 1973 yaitu tentang teori Big Bang yang menyatakan bahwa alam semesta yang ada adalah hasil dari ledakan dahsyat yang darinya tercipta alam semesta beserta langit dan planet-planetnya. Ratq adalah sesuatu yang menyatu sementara fatq adalah sesuatu yang terpisah, Maha Suci Allah.”
Dr. Miller berkata: “Sekarang kita sampai pada hal yang menakjubkan tentang Nabi Muhammad ﷺ dan tuduhan bahwa setan-setan yang membantunya, padahal Allah Ta’ala berfirman:
“Dan Al-Qur’an itu bukanlah diturunkan oleh setan-setan, dan tidak pantas bagi mereka dan tidak (pula) mereka sanggup berbuat demikian. Sesungguhnya mereka dijauhkan dari pendengaran (Al-Qur’an).” (QS. Asy-Syu’ara: 210-212)
“Apabila kamu membaca Al-Qur’an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98)
Tahukah kalian? Apakah ini cara setan dalam menulis kitab apapun? Mengarang sebuah kitab kemudian berkata sebelum kamu membaca kitab ini kamu harus berlindung dariku?
Sesungguhnya ayat-ayat ini termasuk hal-hal yang menunjukkan kemukjizatan dalam kitab yang mukjiz ini! Dan di dalamnya terdapat bantahan logis bagi setiap orang yang mengatakan syubhat ini.
Dari kisah-kisah yang memukau Dr. Miller dan dia anggap sebagai mukjizat adalah kisah Nabi ﷺ dengan Abu Lahab.
Dr. Miller berkata: “Pria Abu Lahab ini membenci Islam dengan kebencian yang sangat hingga dia mengikuti Muhammad ﷺ kemana pun beliau pergi untuk mengurangi nilai apa yang dikatakan Rasul ﷺ. Jika dia melihat Rasul berbicara kepada orang-orang asing, maka dia menunggu hingga Rasul selesai dari pembicaraannya lalu mendatangi mereka kemudian bertanya kepada mereka: ‘Apa yang dikatakan Muhammad kepada kalian? Jika dia mengatakan kepada kalian putih maka itu hitam, jika dia mengatakan kepada kalian malam maka itu siang.’ Maksudnya adalah dia menentang apapun yang dikatakan Rasul yang mulia ﷺ dan membuat orang-orang meragukan beliau.
10 tahun sebelum wafatnya Abu Lahab turunlah satu surat dalam Al-Qur’an bernama Surat Al-Masad. Surat ini memutuskan bahwa Abu Lahab akan masuk neraka, dengan kata lain bahwa Abu Lahab tidak akan masuk Islam. Selama sepuluh tahun penuh, yang harus dilakukan Abu Lahab hanyalah datang di hadapan orang-orang dan berkata: ‘Muhammad mengatakan bahwa aku tidak akan masuk Islam dan akan masuk neraka, tetapi sekarang aku nyatakan bahwa aku ingin masuk Islam dan menjadi Muslim! Sekarang bagaimana pendapat kalian, apakah Muhammad jujur dalam apa yang dia katakan atau tidak? Apakah wahyu yang datang kepadanya adalah wahyu ilahi?’
Tetapi Abu Lahab sama sekali tidak melakukan itu meskipun semua perbuatannya adalah menentang Rasul ﷺ, namun dia tidak menentang beliau dalam hal ini. Artinya kisah ini seolah-olah berkata bahwa Nabi ﷺ berkata kepada Abu Lahab: ‘Kamu membenciku dan ingin mengakhiri dakwahku, baiklah kamu punya kesempatan untuk membatalkan perkataanku!’
Tetapi dia tidak melakukannya selama sepuluh tahun penuh! Dia tidak masuk Islam dan bahkan tidak pura-pura masuk Islam!
Sepuluh tahun dia punya kesempatan menghancurkan Islam dalam satu menit! Tetapi karena perkataan ini bukanlah perkataan Muhammad ﷺ melainkan wahyu dari Dzat yang mengetahui yang gaib dan mengetahui bahwa Abu Lahab tidak akan masuk Islam.
Bagaimana Muhammad ﷺ bisa mengetahui bahwa Abu Lahab akan membuktikan apa yang ada dalam surat itu jika ini bukan wahyu dari Allah?
Bagaimana beliau bisa yakin selama sepuluh tahun penuh bahwa apa yang beliau miliki adalah kebenaran jika beliau tidak mengetahui bahwa itu adalah wahyu dari Allah?
Untuk menempatkan seseorang pada tantangan berbahaya ini tidak ada artinya kecuali satu, ini adalah wahyu dari Allah.
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.” (QS. Al-Masad: 1-5)
Dr. Miller berkata tentang ayat yang memukau dia karena kemukjizatan ghaibnya: “Dari mukjizat-mukjizat gaib Al-Qur’an adalah tantangan terhadap masa depan dengan hal-hal yang tidak mungkin bisa diramalkan manusia dan tunduk pada tes yang sama yaitu Falsification tests atau prinsip menemukan kesalahan hingga terbukti kebenaran sesuatu yang ingin diuji. Di sini kita akan melihat apa yang dikatakan Al-Qur’an tentang hubungan umat Muslim dengan Yahudi dan Nasrani.
Al-Qur’an mengatakan bahwa Yahudi adalah orang yang paling keras permusuhannya terhadap umat Muslim dan ini berlanjut hingga masa kita sekarang, maka orang yang paling keras permusuhannya terhadap umat Muslim adalah Yahudi.”
Dr. Miller melanjutkan: “Bahwa ini merupakan tantangan yang besar karena Yahudi punya kesempatan untuk menghancurkan Islam dengan hal yang sederhana yaitu dengan memperlakukan umat Muslim dengan baik selama beberapa tahun dan berkata: ‘Lihat, kami memperlakukan kalian dengan baik padahal Al-Qur’an mengatakan bahwa kami adalah orang yang paling keras permusuhannya kepada kalian, jadi Al-Qur’an salah!’ Tetapi ini tidak terjadi selama 1400 tahun! Dan tidak akan terjadi karena perkataan ini turun dari Dzat yang mengetahui yang gaib bukan dari manusia.”
Dr. Miller melanjutkan: “Tahukah kalian bahwa ayat yang berbicara tentang permusuhan Yahudi terhadap umat Muslim merupakan tantangan bagi akal!
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang yang mempersekutukan Allah; dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.’ Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. Dan apabila mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul (Al-Qur’an), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui (dari Al-Qur’an); seraya berkata: ‘Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhammad). Mengapa kami tidak beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh?'” (QS. Al-Maidah: 82-84)
Secara umum ayat ini berlaku pada Dr. Miller di mana dia termasuk orang Nasrani yang ketika mengetahui kebenaran lalu beriman dan masuk Islam serta menjadi da’i untuknya.
Semoga Allah memberinya taufik.
Dr. Miller melanjutkan tentang gaya unik dalam Al-Qur’an yang membuatnya terpukau karena kemukjizatannya: “Tanpa keraguan sedikit pun terdapat dalam Al-Qur’an pendekatan yang unik dan menakjubkan yang tidak terdapat di tempat lain, yaitu bahwa Al-Qur’an memberimu informasi tertentu dan berkata kepadamu: kamu tidak mengetahuinya sebelum ini.
Contohnya: “Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepada kamu; padahal kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka berselisih.” (QS. Ali Imran: 44)
“Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita yang gaib yang Kami wahyukan kepadamu; tidak kamu ketahui dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Hud: 49)
“Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita yang gaib yang Kami wahyukan kepadamu; dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka sepakat melaksanakan keputusan mereka, sedang mereka berencana (untuk membunuh Yusuf).” (QS. Yusuf: 102)
Dr. Miller melanjutkan: “Tidak ada kitab dari apa yang disebut kitab-kitab suci agama yang berbicara dengan gaya ini. Semua kitab lain berupa kumpulan informasi yang memberitahumu dari mana informasi ini berasal. Misalnya Kitab Suci (Injil yang sudah diubah) ketika membahas kisah-kisah orang dahulu maka dia berkata kepadamu: raja si anu hidup di sini, panglima ini berperang di sini dalam perang tertentu, dan seseorang memiliki sekian anak dengan nama si anu dan si anu, dst.
Tetapi kitab ini (Injil yang sudah diubah) selalu memberitahumu jika kamu ingin informasi lebih lanjut kamu bisa membaca kitab si anu atau kitab si anu karena informasi ini berasal darinya.”
Dr. Gary Miller melanjutkan: “Berbeda dengan Al-Qur’an yang memberikan informasi kepada pembaca kemudian berkata kepadamu ini adalah informasi baru! Bahkan memintamu untuk memastikannya jika kamu ragu terhadap kebenaran Al-Qur’an dengan cara yang tidak mungkin berasal dari akal manusia! Yang menakjubkan adalah penduduk Mekah pada masa itu – yaitu masa turunnya ayat-ayat ini – berulang kali mereka mendengarnya dan mendengar tantangan bahwa ini adalah informasi baru yang tidak diketahui Muhammad ﷺ dan kaumnya. Meskipun demikian mereka tidak berkata: ‘Ini bukan baru, kami mengetahuinya.’ Sama sekali tidak pernah terjadi mereka berkata seperti itu dan tidak berkata: ‘Kami tahu dari mana Muhammad mendapatkan informasi ini.’ Ini juga tidak pernah terjadi. Tetapi yang terjadi adalah tidak ada seorang pun yang berani mendustakannya atau membantahnya karena memang itu benar-benar informasi yang sama sekali baru! Dan bukan dari akal manusia tetapi dari Allah yang mengetahui yang gaib di masa lalu, sekarang dan masa depan.”
Jazakallahu khairan ya Dr. Miller atas tadabbur yang indah ini terhadap Kitab Allah di masa yang langka tadabburnya.
Dan ini adalah artikelnya yang lengkap dengan judul “Al-Qur’an Yang Agung”:
Sekilas tentang pengarang: Dr. Gary Miller (Abdul Ahad Umar) adalah seorang ahli matematika dan teologi Kristen serta mantan misionaris. Dia menjelaskan bagaimana kita bisa membangun iman yang benar dengan menetapkan standar-standar kebenaran. Dan dia menggambarkan cara yang sederhana dan efektif untuk menemukan arah yang benar saat mencari kebenaran.
Dr. Miller pada suatu periode dalam hidupnya pernah aktif dalam kegiatan penginjilan Kristen, namun ia mulai sejak dini menemukan banyak kontradiksi dalam Injil. Pada tahun 1978, ia membaca Al-Qur’an dengan mengharapkan bahwa kitab tersebut juga akan berisi campuran antara kebenaran dan kebohongan. Namun ia tercengang ketika menemukan bahwa pesan Al-Qur’an ternyata sesuai dengan inti kebenaran yang sama yang ia simpulkan dari Injil. Lalu ia masuk Islam, dan sejak saat itu ia menjadi aktif mempresentasikannya kepada orang-orang, termasuk menggunakan radio dan program-program televisi. Ia juga pengarang berbagai artikel dan publikasi Islam, di antaranya: “Jawaban Singkat terhadap Kekristenan – Sudut Pandang Muslim”, “Al-Qur’an yang Agung”, “Renungan tentang (Bukti-bukti) Ketuhanan Kristus”, “Dasar-dasar Akidah Muslim”, “Perbedaan antara Injil dan Al-Qur’an”, dan “Kekristenan Misionaris – Analisis seorang Muslim”.
Artikel:
Menggambarkan Al-Qur’an sebagai agung bukanlah sesuatu yang hanya dilakukan oleh orang-orang Muslim – mereka yang menghargai kitab ini dengan sepatutnya dan sangat bahagia dengannya – tetapi non-Muslim juga telah mengklasifikasikannya sebagai kitab yang agung. Bahkan, bahkan mereka yang sangat membenci Islam masih menyebutnya agung.
Salah satu hal yang mengejutkan non-Muslim yang memeriksa kitab ini dari dekat adalah bahwa Al-Qur’an tidak terungkap kepada mereka seperti yang mereka harapkan. Yang mereka asumsikan adalah bahwa di hadapan mereka ada sebuah kitab kuno yang datang dari gurun Arab empat belas abad yang lalu, dan mereka mengharapkan bahwa kitab itu pasti membawa kesan yang sama – sebuah kitab kuno dari gurun. Namun kemudian mereka mendapati bahwa kitab itu sama sekali tidak seperti apa yang mereka harapkan. Selain itu, salah satu hal pertama yang diasumsikan beberapa orang adalah bahwa kitab kuno ini, dan karena ia datang dari gurun, maka pasti membicarakan tentang gurun. Baiklah, Al-Qur’an memang membicarakan gurun dalam beberapa ungkapan bahasanya yang menggambarkan gurun; tetapi ia juga membicarakan laut, dan telah menggambarkan kepada kita bagaimana badai di permukaan laut.
Beberapa tahun yang lalu, sampai kepada kami sebuah cerita di Toronto (Kanada) tentang seorang laki-laki yang bekerja sebagai pelaut di armada dagang, dan mencari nafkah dari pekerjaannya di laut. Seorang Muslim memberinya terjemahan makna Al-Qur’an untuk dibacanya, dan pelaut ini tidak mengetahui apa pun tentang sejarah Islam, tetapi ia tertarik membaca Al-Qur’an. Ketika ia selesai membacanya, ia membawanya dan mengembalikannya kepada Muslim yang memberikannya, dan bertanya: “Muhammad ini shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, apakah ia seorang pelaut?” Pria itu tercengang dengan ketepatan yang dengannya Al-Qur’an menggambarkan badai di permukaan laut. Dan ketika datang jawaban: “Tidak, sebenarnya tidak. Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam hidup di gurun.” Hal ini cukup baginya untuk langsung menyatakan keislamannya. Ia sangat terpengaruh oleh gambaran Al-Qur’an tentang badai laut. Karena ia sendiri pernah berada di tengah-tengahnya, dan karena itu ia tahu bahwa siapa pun yang menulis deskripsi ini pasti telah mengalami badai ini sendiri. Deskripsi yang datang dalam Al-Qur’an tentang badai bukanlah sesuatu yang bisa ditulis oleh penulis mana pun dari khayalan semata. Dan gelombang yang di atasnya gelombang lagi yang di atasnya awan bukanlah sesuatu yang bisa dibayangkan seseorang dan menulis tentangnya, melainkan deskripsi yang ditulis oleh orang yang benar-benar tahu bagaimana badai laut itu terlihat.
Ini adalah satu contoh bahwa Al-Qur’an tidak terikat pada waktu atau tempat tertentu. Dan tentu saja referensi-referensi ilmiah yang dikatakannya tidak mungkin berasal dari gurun empat belas abad yang lalu. Selama berabad-abad sebelum munculnya risalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, ada teori yang dikenal tentang atom yang dibuat oleh filsuf Yunani Democritus. Filsuf ini dan mereka yang datang setelahnya mengasumsikan bahwa materi terdiri dari partikel-partikel kecil yang tidak terlihat dan tidak dapat dibagi yang disebut atom. Orang Arab juga telah akrab dengan konsep ini, sehingga sebenarnya kata “dzarrah” dalam bahasa Arab berarti bagian terkecil yang dikenal manusia.
Sekarang ilmu pengetahuan modern telah menemukan bahwa unit terkecil materi ini – yaitu atom yang memiliki sifat-sifat yang sama dengan materi yang dimilikinya – dapat dibagi menjadi komponen-komponennya. Dan ini adalah fakta baru yang merupakan hasil dari perkembangan abad yang lalu. Sangat menarik bahwa informasi ini sebenarnya telah didokumentasikan dalam Al-Qur’an empat belas abad sebelumnya, di mana Allah Ta’ala berfirman:
“Dan kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca sesuatu dari Al Quran dan kamu sekalian tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Yunus: 61)
Tanpa keraguan sedikitpun bahwa pernyataan seperti itu bukanlah sesuatu yang biasa bahkan bagi orang Arab pada waktu itu. Bagi mereka atom adalah hal terkecil yang ada. Dan ini benar-benar bukti bahwa Al-Qur’an tidak dimakan waktu.
Contoh lain tentang apa yang bisa diharapkan seseorang temukan dalam “kitab kuno” yang membahas masalah kesehatan atau kedokteran adalah bahwa informasi yang ada di dalamnya akan kuno dan ketinggalan zaman. Berbagai sumber sejarah mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam memberikan nasihat mengenai kesehatan dan kebersihan, tetapi sebagian besar nasihat ini (hadis-hadis mulia) tidak disebutkan dalam Al-Qur’an. Pada pandangan pertama, ini tampak bagi non-Muslim sebagai kelalaian yang tidak bisa ditolerir. Mereka tidak bisa memahami mengapa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mewahyukan informasi yang bermanfaat seperti itu dalam Al-Qur’an.
Beberapa Muslim mencoba menjelaskan ketiadaan informasi ini dari Al-Qur’an dengan argumen berikut: “Meskipun nasihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam cocok untuk waktu di mana ia hidup, Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hikmah-Nya yang tak terbatas tahu bahwa pada zaman-zaman selanjutnya akan terjadi perkembangan ilmiah dan medis yang mungkin membuat petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tampak seolah-olah ketinggalan zaman. Ketika penemuan-penemuan muncul kemudian, mungkin orang-orang akan mengatakan bahwa mereka bertentangan dengan apa yang dikatakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Oleh karena itu, karena Allah Ta’ala tidak akan pernah memberikan kesempatan kepada non-Muslim untuk mengklaim bahwa Al-Qur’an bertentangan dengan dirinya sendiri, atau bertentangan dengan perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, maka Dia mewahyukan dalam Al-Qur’an informasi dan contoh-contoh yang dapat bertahan terhadap semua ujian waktu.”
Bagaimanapun, ketika seseorang memeriksa realitas sejati Al-Qur’an, dan mengenai keberadaannya sebagai wahyu dari Allah Ta’ala, maka seluruh masalah segera muncul dalam perspektif yang tepat. Dan kesalahan dalam argumen non-Muslim seperti itu menjadi jelas dan dapat dipahami. Harus dipahami bahwa Al-Qur’an adalah wahyu dari Allah Ta’ala, dan karena demikian maka semua informasi yang terdapat di dalamnya berasal dari sumber ilahi, dan Allah Ta’ala telah mewahyukannya dari diri-Nya Subhanahu wa Ta’ala, maka itu adalah firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala yang ada sebelum penciptaan, dan dengan demikian tidak ada yang dapat ditambahkan, dihapus, atau dimodifikasi. Al-Qur’an pada dasarnya telah ada dan lengkap sebelum penciptaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, oleh karena itu tidak mungkin berisi kata-kata atau nasihat khusus Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Dan memasukkan informasi seperti itu akan bertentangan dengan tujuan yang menjadi alasan Al-Qur’an diturunkan, meragukan otoritasnya, dan membuatnya tidak dapat dipercaya sebagai wahyu dari Allah Ta’ala.
Berdasarkan hal itu, tidak ada “resep obat rumahan” dalam Al-Qur’an yang bisa diklaim telah usang seiring berjalannya waktu; dan tidak mengandung sudut pandang siapa pun mengenai manfaat kesehatan, atau makanan mana yang terbaik untuk dimakan, atau apa obat untuk penyakit ini atau itu. Sebenarnya, Al-Qur’an hanya menyebutkan satu hal yang berkaitan dengan pengobatan medis, dan ini tidak ada yang menentangnya, di mana Allah Ta’ala membimbing kita bahwa dalam madu terdapat penyembuhan bagi manusia, dan saya tidak berpikir ada orang yang bisa menentang itu!
Jika seseorang mengasumsikan bahwa Al-Qur’an adalah produk akal manusia, maka ia akan mengharapkan bahwa kitab itu akan mencerminkan apa yang ada di pikiran orang yang mengarangnya. Dan benar-benar ada beberapa ensiklopedia dan buku-buku berbeda yang mengklaim bahwa Al-Qur’an adalah hasil dari halusinasi yang dialami Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Jika klaim-klaim ini benar – yaitu jika Al-Qur’an benar-benar dikarang sebagai hasil dari beberapa masalah psikologis pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam – maka bukti hal itu harus tampak jelas di dalamnya. Apakah bukti seperti itu ada?
Dan untuk menentukan adanya bukti ini atau tidak, maka kita harus terlebih dahulu mengetahui hal-hal yang ada di pikiran beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam pada waktu itu, dan kemudian mencari pemikiran-pemikiran ini dan refleksinya dalam Al-Qur’an.
Diketahui bahwa kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam sangat sulit. Semua putrinya (‘alaihis shalatu was salam) meninggal sebelum beliau kecuali satu, dan beliau (‘alaihis shalatu was salam) selama bertahun-tahun memiliki istri yang dicintainya, dan istri itu sangat penting baginya (radhiyallahu ‘an umminaa Khadijah), dan beliau sangat berduka karena kematiannya di tahap kritis dalam hidupnya. Dan yakinlah bahwa ia adalah wanita sejati, dengan segala arti kata itu. Karena beliau (‘alaihis shalatu was salam) – ketika wahyu datang kepadanya untuk pertama kali – pergi kepadanya dengan tergesa-gesa sambil gemetar ketakutan. Tentu saja kita – bahkan di hari-hari kita ini – tidak bisa dengan mudah menemukan di antara orang Arab yang mengatakan: “Aku sangat takut sampai aku lari ke istriku,” karena orang Arab tidak seperti itu. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam merasa cukup nyaman dengan istrinya untuk dapat melakukan hal itu. Begitulah istrinya (‘alaihis shalatu was salam) adalah wanita yang berpengaruh dan kuat radhiyallahu ‘anhaa.
Dan meskipun contoh-contoh ini adalah sebagian dari hal-hal yang ada di pikiran Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, namun cukup kuat untuk membuktikan masalah ini. Meskipun hal-hal ini seharusnya mendominasi seperti hal-hal lain, atau setidaknya disebutkan dalam Al-Qur’an, namun tidak ada satupun yang disebutkan – tidak disebutkan kematian anak-anaknya, tidak kematian istri dan sahabat tercintanya, tidak deskripsi ketakutannya terhadap wahyu; ketakutan yang ia bagikan dengan istrinya dengan cara yang sangat indah; tidak ada yang disebutkan. Padahal hal-hal ini pasti telah melukainya, mengganggunya, dan menyebabkannya rasa sakit dan kesedihan selama tahap-tahap kehidupan psikologisnya (‘alaihis shalatu was salam).
Memahami Al-Qur’an dengan cara yang benar-benar ilmiah sangat mungkin, dan itu karena Al-Qur’an menyediakan sesuatu yang tidak disediakan oleh kitab-kitab suci lain secara khusus atau agama-agama lain secara umum. Dalam Al-Qur’an ada apa yang diminta oleh para ilmuwan. Banyak orang hari-hari ini yang memiliki teori tentang cara kerja alam semesta, mereka ada di mana-mana di sekitar kita, tetapi komunitas ilmuwan bahkan tidak repot mendengarkan mereka. Dan itu karena komunitas ilmiah – selama abad yang lalu – menetapkan syarat untuk menerima diskusi teori-teori baru, yaitu yang disebut “tes kepalsuan (atau kesalahan)”. Mereka berkata: “Jika kamu memiliki teori, jangan ganggu kami dengan teori itu sampai kamu membawa kepada kami bersama teori itu suatu cara yang membuktikan apakah kamu benar atau salah.”
Tes seperti itu tentunya adalah alasan yang membuat para ilmuwan mendengarkan Einstein di awal abad ini. Ia datang dengan teori baru, dan berkata: “Saya percaya bahwa alam semesta bekerja dengan cara ini, dan inilah tiga cara untuk membuktikan apakah saya salah!” Kemudian para ilmuwan menguji teorinya selama enam tahun, dan berhasil lulus tes, dengan ketiga cara semuanya. Tentu saja, ini tidak membuktikan bahwa ia hebat, tetapi hanya membuktikan bahwa ia layak didengarkan, karena ia berkata: “Ini teori saya, dan jika kalian ingin membuktikan bahwa saya salah maka lakukanlah ini atau cobalah itu.”
Dan ini persis yang ditawarkan Al-Qur’an – tes-tes kepalsuan. Beberapa dari tes-tes ini telah terbukti benar dan tidak diragukan lagi, dan yang lain masih berlangsung hingga hari ini. Al-Qur’an pada dasarnya menunjukkan bahwa jika kitab ini bukan apa yang dikatakannya, maka kalian hanya perlu melakukan ini atau itu untuk membuktikan bahwa itu palsu. Dan selama empat belas ratus tahun yang telah berlalu, tentu saja tidak ada yang bisa melakukan ini atau itu untuk membuktikan hal itu, karena itu masih dianggap benar dan asli.
Saya sarankan kepada kalian bahwa jika salah satu dari kalian ingin masuk dalam perdebatan tentang Islam dengan salah satu non-Muslim yang mengklaim bahwa mereka memiliki kebenaran dan kalian berada dalam kebatilan, maka pada awalnya sisihkan semua argumen lain dan tanyakan kepadanya hal berikut: “Apakah ada tes kepalsuan dalam agama Anda? Apakah ada dalam agama Anda yang dapat menunjukkan bahwa kalian salah jika saya bisa membuktikan hal itu; apakah ada sesuatu?!” Baiklah, saya bisa berjanji kepada kalian sekarang bahwa tidak akan ada satu pun dari mereka yang memiliki tes atau bukti apa pun; tidak ada! Dan itu karena mereka tidak memiliki sedikitpun ide bahwa ketika mereka menyajikan apa yang mereka yakini kepada orang-orang, mereka harus memberikan kesempatan kepada mereka untuk membuktikan bahwa mereka salah jika mereka bisa. Namun, Islam memberikan hal itu kepada mereka.
Dan contoh luar biasa tentang bagaimana Al-Qur’an memberikan kesempatan kepada manusia untuk memverifikasi keasliannya, dan (membuktikan kepalsuan-nya) datang dalam surat keempat. Dan saya berkata dengan jujur bahwa saya tercengang ketika saya menemukan tantangan ini untuk pertama kalinya. Allah Ta’ala berfirman:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka menemukan pertentangan yang banyak di dalamnya.” (An-Nisaa: 82)
Ini mewakili tantangan yang jelas bagi non-Muslim, karena (secara tidak langsung) mengundang mereka untuk menemukan kesalahan apa pun. Dan benar – jika kita menyisihkan keseriusan atau kesulitan dalam tantangan ini – menawarkan tantangan seperti itu – pada tempat pertama – bahkan bukan dari sifat manusia, karena bertentangan dengan pembentukan kepribadian manusia. Manusia tidak maju untuk ujian di sekolah, kemudian setelah menyelesaikan ujian menulis catatan kepada pemeriksa yang mengatakan: “Jawaban-jawaban ini sempurna, dan tidak ada kesalahan di dalamnya. Carilah satu kesalahan jika kamu bisa!” Manusia tidak melakukan itu. Guru itu tidak akan bisa tidur sampai ia menemukan kesalahan! Namun inilah cara Al-Qur’an sampai kepada manusia.
Posisi lain yang menakjubkan yang sering terulang dalam Al-Quran berkaitan dengan nasihat kepada pembaca. Al-Quran memberitahu pembaca tentang berbagai kebenaran, kemudian memberinya nasihat bahwa jika dia ingin mengetahui lebih banyak tentang ini atau itu, atau jika dia meragukan apa yang dikatakan, maka tidak ada cara lain baginya selain bertanya kepada mereka yang memiliki ilmu pengetahuan. Dan ini adalah posisi yang menakjubkan, karena tidak biasa jika sebuah buku ditulis oleh seseorang yang tidak memiliki latar belakang geografis, botani, atau biologi, dll., dan membahas topik-topik semacam itu, kemudian menyarankan pembaca untuk bertanya kepada ahli ilmu jika dia meragukan sesuatu. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran yang agung:
“Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau, melainkan orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (Al-Anbiya: 7)
Di setiap zaman yang telah berlalu – dan hingga sekarang – ada ulama Muslim yang mengikuti petunjuk Al-Quran, dan mereka mencapai penemuan-penemuan yang menakjubkan. Jika seseorang melihat karya-karya ulama Muslim selama berabad-abad yang lalu, dia akan mendapati bahwa karya-karya mereka penuh dengan kutipan-kutipan Al-Quran. Karya-karya mereka menunjukkan bahwa mereka melakukan penelitian di suatu tempat tentang sesuatu, dan mereka menegaskan bahwa alasan mereka meneliti di tempat atau bidang tertentu adalah karena Al-Quran memberikan petunjuk ke arah tersebut. Misalnya, Al-Quran menunjukkan penciptaan manusia, kemudian mendorong pembaca untuk meneliti hal tersebut! Al-Quran memberikan pembaca sekilas pandang tentang di mana harus mencari, dan memberitahunya bahwa dia akan menemukan informasi lebih lanjut tentang hal itu. Dan inilah jenis hal-hal yang tampaknya dicari secara luas oleh Muslim hari ini. Contoh berikut menggambarkan hal itu, dengan mempertimbangkan bahwa itu tidak terjadi secara terus-menerus; dan tidak selalu terjadi dengan cara yang sama.
Beberapa tahun yang lalu, beberapa Muslim dari Riyadh – di Kerajaan Arab Saudi – mengumpulkan semua ayat Al-Quran yang membahas tentang ilmu embriologi, yaitu ilmu yang mempelajari tahap-tahap perkembangan janin dalam rahim; kemudian mereka berkata: “Inilah yang dikatakan Al-Quran. Apakah itu benar?” Sebenarnya, mereka mengambil nasihat Al-Quran: “maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”. Kebetulan mereka memilih seorang profesor universitas dalam ilmu embriologi dari Universitas Toronto di Kanada, dan dia bukan seorang Muslim. Profesor ini bernama Keith Moore, dan dia adalah penulis beberapa buku dalam ilmu embriologi, dan dianggap sebagai salah satu ahli terkemuka dunia di bidang ini.
Mereka mengundangnya ke Riyadh, kemudian berkata kepadanya: “Inilah yang dikatakan Al-Quran mengenai bidang spesialisasi Anda. Apakah itu benar? Apa yang bisa Anda ceritakan kepada kami tentang hal itu?” Selama tinggal di Riyadh, mereka memberikan semua bantuan yang dia butuhkan dalam terjemahan dan semua dukungan yang dia minta. Dia sangat terkejut dengan apa yang ditemukannya sehingga dia mengubah beberapa teks dalam buku-bukunya. Faktanya, dalam edisi kedua bukunya “Before We Are Born”, dan dalam edisi kedua “The History of Embryology”, dia menambahkan beberapa materi yang tidak ada dalam edisi pertama, karena apa yang ditemukannya dalam Al-Quran. Dan sungguh, ini dengan jelas menggambarkan bahwa Al-Quran mendahului zamannya, dan bahwa mereka yang beriman kepadanya mengetahui apa yang tidak diketahui orang lain.
Saya senang telah melakukan wawancara televisi dengan Dr. Keith Moore, dan kami membicarakan topik ini secara panjang lebar dengan bantuan ilustrasi dan lainnya. Dia menyebutkan bahwa beberapa hal yang disebutkan Al-Quran tentang perkembangan manusia tidak diketahui sampai tiga puluh tahun yang lalu. Dia sebenarnya menyebutkan topik tertentu secara khusus, yaitu deskripsi Al-Quran tentang manusia sebagai “‘alaqah” (segumpal darah) dalam salah satu tahap perkembangannya, dan bahwa deskripsi ini baru baginya, tetapi ketika dia memeriksa masalah itu dia mendapatinya benar, dan dengan demikian dia menambahkannya ke bukunya. Dia berkata: “Saya tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya.” Karena itu dia pergi ke departemen zoologi dan meminta gambar lintah. Dan ketika dia mendapati bahwa itu sangat mirip dengan janin pada tahap perkembangan ini, dia memutuskan untuk memasukkan kedua gambar dalam salah satu bukunya (gambar janin dan gambar lintah).
Setelah itu Dr. Moore juga menulis buku tentang embriologi klinis, dan ketika dia menerbitkan informasi ini di Toronto, itu menimbulkan kehebohan besar di seluruh Kanada. Itu ada di beberapa surat kabar di halaman depan dan di seluruh Kanada, dan beberapa judul utama sangat menarik. Misalnya, salah satu judul utama berkata: “Sesuatu yang menakjubkan ditemukan dalam buku kuno!” Dan tampak jelas dari contoh ini bahwa orang-orang tidak memahami dengan jelas apa yang menjadi kehebohan itu semua.
Salah satu hal yang benar-benar terjadi adalah seorang jurnalis bertanya kepada Dr. Moore: “Tidakkah Anda pikir bahwa orang Arab mungkin mengetahui informasi ini tentang hal-hal ini, yaitu tentang deskripsi janin, dan tentang bentuknya dan bagaimana ia berubah dan tumbuh? Mungkin tidak ada ilmuwan, tetapi mereka mungkin melakukan semacam anatomi liar dengan cara mereka – yaitu mereka memotong orang dan memeriksa hal-hal ini.” Dr. Moore segera menunjukkan kepadanya bahwa dia lupa sesuatu yang sangat penting, yaitu bahwa semua gambar janin yang ditampilkan dalam film berasal dari gambar-gambar yang diambil melalui mikroskop; dan dia menambahkan: “Masalahnya bukan apakah seseorang telah mencoba menemukan ilmu embriologi empat belas abad yang lalu, tetapi bahwa jika dia mencoba melakukan itu, dia tidak akan dapat melihat apa pun sama sekali!”
Karena semua yang digambarkan Al-Quran tentang bentuk janin adalah ketika ia sangat kecil dan tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, jadi seseorang memerlukan mikroskop untuk melihat hal itu. Namun, alat semacam itu tidak ditemukan kecuali sedikit lebih dari dua ratus tahun yang lalu. Dr. Moore menambahkan dengan sarkastis: “Mungkin seseorang – empat belas abad yang lalu – memiliki mikroskop rahasia, jadi dia melakukan penelitian ini, dan tidak membuat kesalahan yang berarti selama itu, kemudian mengajar Muhammad SAW hal itu dengan cara tertentu, dan meyakinkannya untuk memasukkan informasi ini dalam bukunya; dan setelah itu dia menghancurkan mikroskopnya, dan menjaga rahasianya selamanya. Apakah Anda percaya itu?! Anda benar-benar tidak boleh melakukannya, sampai Anda memberikan bukti untuk membuktikannya, karena teori semacam itu hanyalah kebodohan!”
Dan ketika Dr. Moore ditanya: “Bagaimana Anda menjelaskan keberadaan informasi semacam itu dalam Al-Quran?” jawabannya adalah: “Ini tidak mungkin kecuali dengan wahyu dari Allah SWT!”
Meskipun contoh yang disebutkan sebelumnya tentang penelitian manusia terhadap informasi yang terkandung dalam Al-Quran dilakukan oleh seorang ilmuwan non-Muslim, itu dianggap benar, karena orang ini adalah salah satu ahli dalam bidang ini. Jika orang biasa mengklaim bahwa apa yang dikatakan Al-Quran tentang ilmu embriologi adalah benar, kita tidak perlu menerima kata-katanya. Bagaimanapun, posisi bergengsi dan rasa hormat serta penghargaan yang diberikan kepada para ilmuwan membuat orang secara otomatis menganggap benar hasil-hasil yang mereka capai sebagai hasil penelitian dalam suatu topik.
Dan ini mendorong salah satu kolega Dr. Moore – bernama Marshall Johnson, yang bekerja secara intensif di bidang geologi (ilmu lapisan bumi) di Universitas Toronto – untuk menjadi sangat tertarik pada Al-Quran, karena fakta-fakta yang disebutkan tentang ilmu embriologi adalah akurat. Karena itu dia meminta Muslim untuk mengumpulkan segala sesuatu dalam Al-Quran yang berkaitan dengan bidang spesialisasinya. Dan sekali lagi orang-orang sangat terkejut dengan hasilnya!
Sejumlah besar topik disebutkan dalam Al-Quran, yang pasti memerlukan waktu lama untuk merinci setiap topik secara terpisah. Cukup untuk tujuan diskusi ini untuk mengatakan bahwa Al-Quran membuat pernyataan-pernyataan yang jelas dan akurat tentang berbagai topik, dan saat itu menyarankan pembaca untuk memverifikasi kebenarannya dengan mencari tahu dari para ulama. Dan semua yang digambarkan dalam Al-Quran terbukti benar dengan jelas.
Dan tidak diragukan lagi, ada hal dalam Al-Quran yang tidak kita temukan dalam buku lain mana pun!
Yang menarik adalah bahwa ketika Al-Quran menyediakan informasi kepada pembaca, Al-Quran sering memberitahunya bahwa dia tidak mengetahui hal itu sebelumnya. (Seperti firman Allah dalam surat An-Nisa: “Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan untuk menyesatkanmu. Tetapi mereka hanya menyesatkan diri mereka sendiri, dan tidak dapat membahayakanmu sedikitpun. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Adapun karunia Allah kepadamu, maka amat besar” (113). Dan firman Allah dalam surat Al-Baqarah: “Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, mengajarkan kepadamu Kitab dan Hikmah, serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui” (151).)
Dan tentu saja tidak ada kitab suci yang membuat klaim semacam itu. Semua kitab suci dan naskah kuno yang dimiliki orang memang berisi banyak informasi, tetapi mereka selalu menyebutkan dari mana informasi itu berasal. Misalnya, ketika Injil membahas sejarah kuno, ia menyebutkan bahwa raja ini hidup di wilayah tertentu, dan yang itu berperang dalam pertempuran tertentu, dan yang lain memiliki banyak anak, dll. Dan selalu menyatakan bahwa jika Anda ingin mendapatkan lebih banyak informasi, Anda hanya perlu membaca buku ini atau itu, karena dari situlah informasi itu berasal.
Dengan perbedaan besar dari gaya ini, Al-Quran menyediakan informasi kepada pembaca, kemudian memberitahunya bahwa informasi ini adalah sesuatu yang baru yang tidak diketahui siapa pun ketika itu diturunkan. Dan tentu saja selalu ada undangan untuk meneliti informasi ini, untuk memastikan kebenarannya dan keasliannya (bahwa itu adalah wahyu dari Allah SWT). Yang menakjubkan adalah bahwa pendekatan semacam itu tidak pernah dapat ditantang oleh siapa pun dari non-Muslim empat belas abad yang lalu. Faktanya, penduduk Mekah yang sangat membenci Muslim, dan yang mendengar wahyu ini berulang kali mengklaim bahwa apa yang mereka dengar adalah sesuatu yang baru yang tidak mereka ketahui sebelumnya, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa bersuara keras mengatakan: “Tidak, ini bukan hal baru. Kami tahu dari mana Muhammad SAW mendapat informasi ini, kami mempelajarinya di sekolah!”
Mereka tidak pernah bisa menantang keaslian Al-Quran, karena itu memang sesuatu yang baru!
Dan kita harus menekankan di sini bahwa Al-Quran akurat mengenai semua hal, dan bahwa akurasi ini benar-benar salah satu karakteristik wahyu Ilahi. Misalnya, buku telepon akurat dalam informasinya, tetapi itu bukan wahyu. Masalah sebenarnya adalah bahwa seseorang harus memberikan bukti tentang sumber informasi Al-Quran. Dan memastikan hal itu adalah kewajiban pembaca. Seseorang tidak dapat menyangkal kebenaran Al-Quran – begitu saja – tanpa bukti yang meyakinkan. Tentu saja jika seseorang menemukan kesalahan di dalamnya, maka dia berhak memutuskan ketidakbenarannya, dan inilah yang justru didorong oleh Al-Quran.
Suatu ketika seorang pria datang kepada saya setelah saya menyelesaikan ceramah yang saya berikan di Afrika Selatan. Dia sangat marah dengan apa yang saya katakan, jadi dia mengklaim: “Saya akan pulang malam ini dan pasti akan menemukan kesalahan dalam Al-Quran.” Jadi saya menjawab tentu saja: “Saya ucapkan selamat kepada Anda. Itu adalah hal paling cerdas yang Anda katakan.” Tentu saja, inilah sikap yang harus diambil Muslim terhadap mereka yang meragukan keaslian Al-Quran, karena Al-Quran sendiri memberikan tantangan ini. Pasti setelah menerima tantangan ini, dan menemukan bahwa Al-Quran adalah benar, mereka akan beriman kepadanya karena mereka tidak dapat membantah kebenarannya; bahkan akan mendapat rasa hormat mereka karena mereka memastikan keasliannya sendiri.
Kebenaran mendasar yang harus sering diulang mengenai verifikasi keaslian Al-Quran adalah bahwa ketidakmampuan seseorang untuk menjelaskan fenomena apa pun sendiri tidak mengharuskannya menerima keberadaan fenomena ini, atau menerima penjelasan orang lain tentangnya. Ini berarti bahwa ketidakmampuan manusia untuk menjelaskan sesuatu tidak berarti bahwa dia harus menerima penjelasan orang lain. Namun, penolakan manusia terhadap penjelasan orang lain membebankan dirinya untuk menemukan jawaban yang meyakinkan. Teori umum ini berlaku untuk banyak konsep dalam kehidupan, tetapi sangat cocok dengan tantangan Al-Quran, karena ia membentuk kesulitan besar bagi mereka yang berkata: “Saya tidak percaya pada Al-Quran.” Pada saat dia menolaknya, manusia menemukan dirinya wajib menemukan penjelasan sendiri, karena dia merasa bahwa penjelasan orang lain tidak benar.
Sebenarnya, khususnya dalam salah satu ayat Al-Quran yang biasa saya lihat diterjemahkan salah ke dalam bahasa Inggris, Allah SWT menyebutkan seorang pria yang mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya, tetapi dia pergi tanpa memeriksa kebenaran apa yang dia dengar. Yaitu bahwa manusia – dengan cara apa pun – bersalah jika dia mendengar sesuatu dan tidak meneliti atau memeriksanya untuk melihat apakah itu benar. Dan ini datang dalam firman Allah dalam surat Luqman ayat 7: “Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia tidak mendengarnya, seolah-olah pada kedua telinganya ada sumbatan. Maka berilah dia kabar gembira dengan azab yang pedih”.
Manusia diharapkan menggunakan akalnya terhadap semua informasi yang datang kepadanya, dan memutuskan mana yang omong kosong untuk dibuang jauh-jauh, dan mana yang bermanfaat untuk disimpan dan dimanfaatkan kemudian. Seseorang tidak dapat membiarkan berbagai jenis hal berdesak-desakan di pikirannya begitu saja. Tetapi hal-hal harus diletakkan dalam kategori yang tepat dan dipahami sesuai dengan itu. Misalnya, jika informasi masih memerlukan perenungan, maka seseorang harus membedakan apakah itu lebih dekat dengan kebenaran, atau lebih dekat dengan kesalahan. Tetapi jika semua fakta telah disajikan, maka dia harus memutuskan sepenuhnya antara kedua hal ini.
Dan bahkan ketika seseorang tidak positif mengenai keaslian informasi, dia masih diminta untuk menggunakan akalnya pada semua informasi untuk mengakui bahwa dia hanya tidak tahu hal itu dengan tepat. Dan meskipun poin terakhir ini tampak seolah-olah tidak bernilai secara praktis, itu bermanfaat untuk mencapai hasil positif kemudian, karena ia memaksa seseorang setidaknya untuk mengenal dan meneliti dan meninjau kembali fakta-fakta. Dan keakraban dengan informasi ini akan menyediakan manusia dengan “garis batas” ketika penemuan-penemuan masa depan dibuat dan informasi tambahan disajikan. Hal penting adalah bahwa seseorang berurusan dengan fakta, bukan membuangnya – begitu saja dan sederhana – ke belakang punggungnya karena emosi atau ketidakpedulian.
Keyakinan Sejati tentang Kebenaran Al-Qur’an
Keyakinan sejati mengenai kebenaran Al-Qur’an yang mulia sangat jelas melalui kepercayaan diri yang mendominasi ayat-ayatnya, dan kepercayaan diri ini hadir dengan cara yang berbeda, yaitu “menguras habis semua alternatif”. Al-Qur’an pada dasarnya menegaskan bahwa ia adalah wahyu yang diwahyukan, jika ada yang tidak memercayai hal itu, maka buktikanlah sumber lain baginya! Inilah tantangannya. Di sini kita memiliki sebuah kitab yang terbuat dari kertas dan tinta, dari mana asalnya? Dan ia mengatakan bahwa ia adalah wahyu ilahi; jika bukan demikian, lalu apa sumbernya? Fakta yang menarik adalah tidak ada seorang pun sama sekali yang memiliki penjelasan yang layak untuk menentang apa yang ada dalam Al-Qur’an. Pada kenyataannya, semua alternatif telah habis terkuras. Dan karena pemikiran ini telah dibangun oleh non-Muslim, maka alternatif-alternatif ini telah tereduksi menjadi terbatas pada dua mazhab pemikiran yang saling bergantian, dengan bersikeras pada satu atau yang lainnya.
Di satu sisi, terdapat kelompok besar orang-orang yang telah meneliti Al-Qur’an selama ratusan tahun dan mereka mengklaim (na’udzu billah): “Kami yakin akan satu hal, bahwa lelaki itu, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, mengkhayal bahwa dia adalah seorang nabi. Dia gila!” Mereka yakin bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tertipu dengan suatu cara. Di sisi lain, ada kelompok lain yang mengklaim: “Dengan adanya bukti ini (kegilaan), kami pasti mengetahui satu hal, bahwa lelaki itu, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, adalah seorang pembohong!” Yang menggelikan adalah kedua kelompok ini tampaknya tidak pernah bertemu tanpa kontradiksi. Pada kenyataannya, banyak referensi yang ditulis tentang Islam biasanya mengklaim kedua teori tersebut. Mereka mulai dengan mengatakan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam gila, dan berakhir dengan mengatakan bahwa dia pembohong. Mereka tampaknya tidak pernah menyadari bahwa dia (‘alaihi wa alihi ash-shalatu wa as-salam) tidak mungkin menjadi keduanya sekaligus! Namun banyak referensi biasanya menyebutkan kedua hal ini bersamaan.
Misalnya, jika seseorang menjadi gila dan benar-benar mengira bahwa dia adalah seorang nabi, dia tidak akan menghabiskan malam dengan merencanakan: “Bagaimana aku akan menipu orang-orang besok agar mereka mengira aku seorang nabi?” Karena dia benar-benar yakin bahwa dia adalah seorang nabi, dia yakin bahwa jawaban atas pertanyaan apa pun akan datang kepadanya melalui wahyu. Pada kenyataannya, sebagian besar Al-Qur’an turun dalam bentuk jawaban atas pertanyaan-pertanyaan. Seseorang akan bertanya kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, lalu wahyu turun dengan jawaban. Sudah pasti jika seseorang gila dan percaya bahwa malaikat akan membisikkan jawaban di telinganya, maka ketika seseorang bertanya kepadanya, dia akan mengira bahwa malaikat akan memberinya jawaban. Karena dia gila, dia benar-benar akan mengira demikian. Dan dia tidak akan meminta penanya menunggu sebentar, lalu pergi kepada teman-temannya untuk bertanya: “Apakah ada di antara kalian yang tahu jawabannya?” Perilaku semacam ini adalah ciri khas orang yang tidak percaya bahwa dia adalah seorang nabi.
Apa yang tidak mau diterima oleh non-Muslim adalah bahwa seseorang tidak dapat menjadi keduanya sekaligus, dia hanya bisa berhalusinasi atau pembohong. Dengan kata lain, dia hanya bisa menjadi salah satunya atau tidak keduanya; dan tentu saja dia tidak dapat menjadi keduanya sekaligus! Harus ditekankan di sini bahwa kedua sifat ini –secara intuitif– adalah dua ciri kepribadian yang saling meniadakan (yaitu di mana ada yang satu maka tidak ada yang lain). Dialog berikut adalah contoh yang baik dari lingkaran setan yang selalu dilalui oleh non-Muslim.
Jika Anda bertanya kepada salah seorang dari mereka: “Apa sumber Al-Qur’an?” dia akan menjawab bahwa sumbernya adalah pikiran seorang pria yang gila. Kemudian Anda bertanya kepadanya: “Jika dia mengeluarkannya dari kepalanya, dari mana dia mendapat informasi yang terkandung di dalamnya? Sudah pasti Al-Qur’an menyebutkan banyak hal yang tidak diketahui orang Arab.” Agar dapat menjelaskan fakta yang Anda sampaikan kepadanya, dia akan mengubah posisinya dan berkata: “Baiklah, mungkin dia tidak gila, tapi mungkin beberapa orang asing memberinya informasi itu. Jadi dia berbohong kepada orang-orang dan memberitahu mereka bahwa dia adalah seorang nabi.”
Pada titik ini Anda harus bertanya kepadanya: “Jika Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam pembohong, dari mana dia mendapat kepercayaan dirinya? Dan mengapa dia bertindak seolah-olah dia benar-benar seorang nabi?” Pada akhirnya –ketika dia terpojok– dia seperti kucing akan melompat tiba-tiba dan dengan cepat dengan tanggapan pertama yang terlintas di pikirannya –melupakan bahwa dia sebelumnya mengecualikan kemungkinan itu– mengklaim: “Baiklah, mungkin dia bukan pembohong. Mungkin dia gila dan benar-benar percaya bahwa dia seorang nabi.” Dan dengan demikian dia mulai berputar dalam lingkaran setan lagi.
(Dan ini adalah kebiasaan orang-orang kafir sejak diutusnya Nabi ‘alaihi wa alihi ash-shalatu wa as-salam, di mana Allah Ta’ala menyebutkan hal itu dalam Surat Ad-Dukhan: “Bagaimana mereka dapat menerima peringatan, padahal telah datang kepada mereka seorang rasul yang memberi penjelasan (13) Kemudian mereka berpaling darinya dan berkata: ‘Dia diajari (oleh orang lain) dan gila.’ (14)” (QS. Ad-Dukhan: 13-14).
Seperti yang disebutkan sebelumnya, Al-Qur’an mengandung banyak informasi yang tidak dapat dinisbatkan sumbernya kepada siapa pun kecuali Allah Ta’ala. Misalnya, siapa yang memberitahu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tentang tembok Dzul Qarnain, yang merupakan tempat berjarak ratusan mil ke utara? Dan siapa yang memberitahunya tentang ilmu embriologi? Ketika orang-orang dihadapkan pada fakta-fakta seperti ini, mereka –bahkan jika mereka tidak ingin menisbatkannya kepada sumber ilahi– secara otomatis mengklasifikasikannya berdasarkan hipotesis bahwa seseorang memberikannya kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, dan dia kemudian menggunakannya untuk menipu orang-orang.
Namun, teori ini dapat dibantah dengan pertanyaan sederhana: “Jika Muhammad pembohong (hasha lillah ‘alaihi wa alihi ash-shalatu wa as-salam), dari mana dia mendapat semua kepercayaan diri itu? Dan mengapa dia mengatakan kepada orang-orang secara langsung apa yang tidak pernah dapat dikatakan oleh siapa pun dari mereka?” Kepercayaan diri semacam itu sepenuhnya bergantung pada keyakinannya yang total bahwa apa yang datang kepadanya adalah wahyu ilahi.
Contohnya adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam memiliki paman yang dipanggil Abu Lahab. Pria ini sangat membenci Islam sehingga dia mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam ke mana pun dia pergi untuk mendustakannya. Jika dia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berbicara dengan seorang asing, dia menunggu hingga mereka berpisah, lalu pergi kepada orang asing itu dan bertanya: “Apa yang dia katakan kepadamu? Apakah dia bilang putih? Tidak, itu hitam. Apakah dia bilang siang? Tidak, itu malam.” Dia gigih mengatakan kebalikan dari apa yang dia dengar dari Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam atau dari Muslim lainnya.
Meskipun demikian, sekitar sepuluh tahun sebelum kematian Abu Lahab, turunlah surat pendek dari Al-Qur’an khusus tentangnya, yang mengatakan bahwa dia akan menjadi penghuni neraka. Dengan kata lain, surat ini menegaskan bahwa dia tidak akan pernah masuk Islam, dan dengan demikian akan dihukum kekal di neraka. Selama sepuluh tahun setelah turunnya surat ini, yang perlu dia katakan hanyalah: “Saya mendengar bahwa telah turun kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bahwa saya tidak akan pernah berubah –yaitu saya tidak akan menjadi Muslim dan akan masuk neraka. Baiklah, saya ingin masuk Islam sekarang. Bagaimana menurutmu? Dan apa pendapatmu tentang wahyu kalian sekarang?” Tetapi dia tidak pernah melakukannya, meskipun perilaku ini persis seperti yang diharapkan dari seseorang seperti dia yang selalu berusaha menentang Islam.
Ini seolah-olah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berkata kepadanya: “Kamu membenciku dan ingin menghancurkanku? Ini, ucapkan kata-kata ini (syahadat), dan itu akan terwujud bagimu. Ayo, ucapkanlah!” Tetapi Abu Lahab –selama sepuluh tahun penuh– tidak pernah mengucapkannya! Bahkan dia tidak menjadi simpatisan Islam. Bagaimana mungkin Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dapat mengetahui dengan pasti bahwa Abu Lahab akan memenuhi nubuatan Al-Qur’an jika dia bukan benar-benar utusan Allah Ta’ala?! Bagaimana mungkin dia (‘alaihi wa alihi ash-shalatu wa as-salam) dapat memiliki kepercayaan diri seperti itu untuk menantang salah satu musuh paling kejam Islam –selama sepuluh tahun– memberinya kesempatan untuk mendustakan klaimnya tentang kenabian?! Satu-satunya jawaban adalah bahwa dia (‘alaihi wa alihi ash-shalatu wa as-salam) adalah utusan Allah Ta’ala. Untuk menempatkan dirinya menghadapi tantangan berbahaya ini, dia pasti memiliki kepercayaan penuh bahwa apa yang datang kepadanya adalah wahyu dari Allah Ta’ala.
Contoh lain tentang kepercayaan diri yang dimiliki Muhammad terhadap kenabiannya shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam –dan perlindungan ilahi yang mengikutinya bagi dia dan pesannya– adalah keluarnya dia dari Makkah dan bersembunyi di gua bersama Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu selama hijrahnya ke Madinah al-Munawwarah. Keduanya dengan jelas melihat bahwa orang-orang kafir telah datang untuk membunuh mereka, dan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu ketakutan. Sudah pasti jika Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam pembohong, atau pemalsu, atau salah satu dari mereka yang mencoba menipu orang-orang untuk percaya pada kenabiannya, diharapkan dia akan berkata kepada temannya dalam keadaan seperti ini: “Wahai Abu Bakar, lihat apakah kamu bisa menemukan jalan keluar dari gua ini.” Atau: “Rendahkan dirimu di sudut itu, dan tetap tenang.”
Tetapi apa yang benar-benar dia katakan dengan jelas menggambarkan kepercayaan absolutnya. Dia berkata (‘alaihi wa alihi ash-shalatu wa as-salam) kepada temannya radhiyallahu ‘anhu: “Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Sekarang, jika seseorang mengklaim mengetahui bahwa dia (‘alaihi wa alihi ash-shalatu wa as-salam) menipu orang-orang, dari mana dia (‘alaihi wa alihi ash-shalatu wa as-salam) dapat mengambil sikap khusus ini? Secara realistis, jenis pemikiran ini sama sekali bukan ciri pembohong atau pemalsu. Oleh karena itu –seperti yang disebutkan sebelumnya– non-Muslim terus berputar dan berputar dalam lingkaran setan yang sama, mencari jalan keluar darinya, tetapi dengan menemukan cara mereka menjelaskan penemuan-penemuan dalam Al-Qur’an tanpa menisbatkannya kepada sumber yang tepat. Di satu sisi, semuanya –pada hari Senin, Rabu, dan Jumat– berkata: “Pria itu pembohong”; di sisi lain –pada hari Selasa, Kamis, dan Sabtu– mereka berkata kepadamu: “Dia gila”. Apa yang mereka tolak untuk diterima adalah bahwa seseorang tidak dapat menjadi keduanya; namun mereka membutuhkan kedua argumen untuk menjelaskan apa yang ada dalam Al-Qur’an.
Sekitar tujuh tahun yang lalu, seorang biarawan mengunjungi saya di rumah. Di ruangan tempat kami duduk ada Al-Qur’an di atas meja dengan posisi terbalik, sehingga biarawan itu tidak tahu kitab apa itu. Di tengah diskusi kami, saya menunjuk ke kitab itu berkata: “Saya memiliki kepercayaan pada kitab ini.” Dia menjawab sambil melirik Al-Qur’an tanpa mengetahui apa itu: “Baiklah, dan saya katakan kepadamu bahwa jika kitab itu bukan Injil, maka itu disusun oleh manusia!” Jawaban saya kepadanya: “Biarkan saya menceritakan sesuatu tentang apa yang ada dalam kitab ini.” Dalam hanya tiga atau empat menit saya menyebutkan kepadanya beberapa hal yang ada dalam Al-Qur’an. Setelah hanya tiga atau empat menit itu dia sepenuhnya mengubah sikapnya dan berkata: “Kamu benar. Manusia tidak menyusun kitab ini, tetapi setan yang menyusunnya!”
Tentu saja, mengambil sikap seperti ini sangatlah sial, dan itu karena beberapa alasan, di antaranya adalah bahwa itu adalah alasan yang terburu-buru dan murah sebagai jalan keluar instan dari situasi yang mengganggu itu. Berkaitan dengan hal ini, ada kisah terkenal dalam Injil yang menyebutkan bagaimana beberapa orang Yahudi suatu hari menyaksikan ketika Yesus ‘alaihis salam menghidupkan seorang pria dari kematian. Pria itu telah mati selama empat hari, dan ketika Yesus tiba, dia hanya berkata: “Bangkitlah!” Pria itu bangun dan berjalan. Ketika mereka melihat pemandangan ini, beberapa saksi Yahudi berkata menyangkal: “Ini adalah setan. Setan yang membantunya!”
Kisah ini sekarang sering diulang di gereja-gereja di seluruh dunia, dan orang-orang menangis tersedu-sedu mendengarnya berkata: “Ah, andai aku ada di sana, aku tidak akan sebodoh orang Yahudi!” Ironinya, meski demikian orang-orang ini melakukan persis seperti yang dilakukan orang Yahudi ketika ditunjukkan kepada mereka –dalam tiga atau empat menit– hanya sebagian kecil dari Al-Qur’an; dan yang dapat mereka katakan hanyalah: “Ah, setan yang melakukannya. Setan yang menyusun kitab ini!” Karena mereka benar-benar terpojok; dan ketika mereka tidak memiliki jawaban yang dapat diterima, mereka berlari ke argumen tercepat dan termurah yang tersedia bagi mereka.
Contoh lain penggunaan sikap lemah ini oleh orang-orang dapat ditemukan dalam penjelasan orang kafir Makkah tentang sumber pesan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Mereka biasa mengatakan bahwa setan yang mendiktekan Al-Qur’an kepadanya! Tetapi Al-Qur’an –seperti biasa dengan argumen apa pun dari mereka– memberikan jawaban untuk itu: Allah Ta’ala berfirman dalam Surat At-Takwir: “Dan Al Qur’an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk (25) Maka ke manakah kamu akan pergi? (26) Al Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam (27)” (QS. At-Takwir: 25-27).
Dengan demikian Al-Qur’an memberikan jawaban yang jelas terhadap klaim ini. Sebenarnya, ada banyak bukti dalam Al-Qur’an yang datang sebagai jawaban atas klaim bahwa setan yang mendiktekan pesan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Misalnya dalam Surat Asy-Syu’ara: “Dan Al Qur’an itu bukanlah diturunkan oleh setan-setan (210) Dan tidak pantas bagi mereka dan tidak pula mereka mampu (211) Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan dari (mendengar) berita langit (212)” (QS. Asy-Syu’ara: 210-212).
Di tempat lain dalam Al-Qur’an Allah Ta’ala mengajarkan kepada kita: “Apabila kamu membaca Al Qur’an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk (98)” (QS. An-Nahl: 98). Sekarang, apakah dengan cara ini setan menulis sebuah kitab? Dan apakah dia berkata kepada manusia: “Sebelum kamu membaca kitabku, mintalah Allah melindungimu dariku.”? Ini tidak lain adalah fitnah besar, sangat besar. Tentu saja, manusia dapat menulis sesuatu seperti ini, tetapi apakah setan akan melakukannya?
Banyak non-Muslim dengan jelas mengatakan bahwa mereka tidak dapat sampai pada kesimpulan tentang topik ini. Di satu sisi mereka mengklaim bahwa setan tidak akan melakukan hal seperti ini, dan bahkan jika dia mampu, Allah Ta’ala tidak akan mengizinkannya, dan mereka juga percaya bahwa setan jauh lebih rendah dari Allah Ta’ala. Di sisi lain –dalam inti dari apa yang mereka sampaikan– mereka mengklaim bahwa setan mungkin dapat melakukan apa pun yang dapat dilakukan Allah Ta’ala. Sebagai akibatnya, ketika mereka melihat Al-Qur’an –bahkan ketika mereka terkagum-kagum dengan keagungannya– mereka masih bersikeras: “Setan yang melakukannya!”
Alhamdulillah bahwa Muslim tidak memiliki sikap seperti ini. Meskipun setan memiliki beberapa kemampuan, perbedaan antara kemampuannya dan kemampuan Allah Ta’ala sangat besar. Dan seseorang tidak menjadi Muslim kecuali jika dia percaya pada hal itu. Juga jelas –bahkan bagi non-Muslim– bahwa setan dapat dengan mudah membuat kesalahan, dan karena itu diharapkan dia akan bertentangan dengan dirinya sendiri jika dia kebetulan menulis sebuah kitab. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman dalam Surat An-Nisa: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka menemukan pertentangan yang banyak di dalamnya (82)” (QS. An-Nisa: 82).
Selain dari argumen-argumen yang dikemukakan oleh non-Muslim dalam upaya mereka yang sia-sia untuk membenarkan keberadaan ayat-ayat yang tidak mereka pahami dalam Al-Quran yang mulia, ada serangan lain yang sering muncul sebagai gabungan dari kedua teori tersebut, yaitu bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang gila sekaligus pembohong. Orang-orang tersebut pada dasarnya menyatakan bahwa beliau (shallallahu ‘alaihi wa sallam) mengalami gangguan jiwa, dan akibat khayalannya, beliau berbohong dan menyesatkan manusia. Hal ini memiliki nama dalam ilmu psikologi, yaitu Mythomania (obsesi mitologis: yaitu kecenderungan yang berlebihan atau tidak normal untuk berbohong dan melebih-lebihkan). Ini secara sederhana berarti bahwa seseorang berbohong, kemudian mempercayai kebohongannya sendiri. Inilah yang diklaim oleh non-Muslim tentang apa yang dialami oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Namun satu-satunya masalah yang mereka hadapi terkait argumen ini adalah bahwa orang yang menderita mythomania sama sekali tidak dapat menghadapi fakta-fakta, padahal Al-Quran yang mulia seluruhnya dibangun di atas fakta-fakta. Segala sesuatu di dalamnya dapat diteliti dan diverifikasi kebenarannya. Sementara itu, fakta-fakta dianggap sebagai masalah besar bagi penderita mythomania. Ketika psikiater mencoba mengobati salah satu orang yang menderita penyakit ini, dia terus-menerus menghadapkannya dengan fakta-fakta.
Sebagai contoh, jika seseorang sakit jiwa dan mengklaim: “Saya adalah raja Inggris,” maka psikiater tidak berkata kepadanya: “Tidak, kamu bukan raja, tapi kamu gila!” Dokter tidak melakukan itu, melainkan menghadapkannya dengan beberapa fakta dengan berkata: “Baiklah, kamu mengatakan bahwa kamu adalah raja Inggris, jadi katakan padaku di mana ratu hari ini? Dan di mana perdana menterimu? Dan di mana para pengawalmu?” Dan ketika pasien ini mengalami kesulitan dalam mencoba menangani pertanyaan-pertanyaan ini, dia akan mencoba mencari alasan: “Ah… ratu… pergi ke rumah ibunya. Ah… perdana menteri… yah, dia sudah meninggal.” Dan pada akhirnya dia akan sembuh total karena dia tidak mampu menghadapi fakta-fakta. Jika psikiater terus menghadapkannya dengan fakta-fakta yang cukup, maka pada akhirnya dia akan menghadapi kenyataan dengan berkata: “Saya rasa saya bukan raja Inggris.”
Al-Quran menjangkau setiap orang yang membacanya dengan cara yang sama seperti cara psikiater mengobati pasiennya yang menderita mythomania. Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Yunus: “Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Quran) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus: 57)
Pada pandangan pertama, pernyataan ini mungkin tampak samar, tetapi makna ayat ini menjadi jelas ketika dilihat dalam cahaya contoh sebelumnya. Seseorang pada dasarnya disembuhkan dari khayalan-khayalannya dengan membaca Al-Quran yang mulia. Pada hakikatnya, ia adalah obat yang menyembuhkan orang-orang yang sesat dengan menghadapkan mereka dengan fakta-fakta. Salah satu sikap yang lazim dalam Al-Quran adalah cara ia berbicara kepada manusia bahwa mereka mengatakan begini dan begitu tentang sesuatu; lalu bagaimana dengan ini atau itu? Dan bagaimana mereka bisa mengatakan demikian padahal mereka mengetahui? Dan seterusnya. (Seperti firman Allah dalam Surah Al-Baqarah: “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala macam buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (Al-Baqarah: 22))
Al-Quran memaksa seseorang untuk merenungkan kebenaran dan apa yang berkaitan dengannya, sementara pada saat yang sama mengobatinya dari khayalan-khayalannya, karena fakta-fakta yang diberikan Allah Ta’ala kepada umat manusia dapat dijelaskan dan dipisahkan dari semua teori dan argumen yang buruk. Ini adalah cara khusus dalam menangani hal-hal – menghadapkan manusia dengan fakta-fakta – sehingga menarik perhatian banyak non-Muslim.
Faktanya, terdapat referensi yang menarik tentang topik ini dalam Ensiklopedia Katolik Baru. Dalam sebuah paragraf tentang topik Al-Quran yang mulia, Gereja Katolik menyatakan: “Selama berabad-abad lampau telah dikemukakan banyak teori tentang asal-usul Al-Quran… dan hari ini tidak ada orang berakal yang menerima salah satu dari teori-teori tersebut!” Inilah Gereja Katolik yang berumur panjang, yang telah ada di sana-sini selama berabad-abad, menolak sikap-sikap sia-sia untuk membantah asal-usul Al-Quran yang mulia.
Al-Quran tentu saja merupakan masalah bagi Gereja Katolik, karena ia menyatakan bahwa ia adalah wahyu dari Allah Ta’ala, dan karena itu mereka mempelajarinya. Pasti mereka ingin menemukan bukti bahwa ia bukan demikian, tetapi mereka tidak mampu. Mereka tidak dapat menemukan penjelasan yang dapat diterima. Namun mereka setidaknya jujur dalam penelitian mereka, dan tidak menerima penjelasan pertama yang tidak didukung bukti yang datang kepada mereka. Gereja menyatakan bahwa – dan selama empat belas abad – belum ada penjelasan yang masuk akal yang dikemukakan. Dengan demikian, setidaknya ia mengakui bahwa Al-Quran yang mulia bukanlah subjek yang mudah untuk disangkal.
Tetapi tentu saja ada orang lain yang kurang jujur ketika dengan tergesa-gesa berkata: “Ah, Al-Quran berasal dari sini atau dari sana.” Dan mereka bahkan tidak memeriksa kredibilitas apa yang mereka nyatakan dalam kebanyakan kasus. Dan tentu saja, pernyataan seperti itu dari Gereja Katolik menyebabkan sedikit kesulitan bagi seorang Kristen biasa. Itu karena mungkin dia memiliki ide-idenya sendiri tentang asal-usul Al-Quran, tetapi sebagai anggota gereja dia tidak benar-benar dapat bertindak menurut teorinya. Tindakan seperti itu mungkin bertentangan dengan ketundukan, kesetiaan, dan kesetiaan yang dituntut oleh gereja.
Berdasarkan keanggotaannya di gereja, dia harus menerima apa yang diumumkan Gereja Katolik tanpa pertanyaan, dan menjadikan ajarannya sebagai bagian dari rutinitas hariannya. Jadi, pada dasarnya, jika Gereja Katolik secara keseluruhan mengatakan: “Jangan dengarkan laporan-laporan yang tidak terkonfirmasi tentang Al-Quran,” maka apa yang bisa dikatakan tentang pandangan Islam? Bahkan non-Muslim mengakui bahwa ada sesuatu dalam Al-Quran – sesuatu yang seharusnya diakui – jadi mengapa orang-orang menjadi keras kepala, agresif, dan bermusuhan ketika Muslim mengajukan teori yang sama? Ini tentu sesuatu bagi orang-orang yang berakal untuk direnungkan – sesuatu untuk direnungkan bagi mereka yang menggunakan akal!
Baru-baru ini, salah satu pemikir terkemuka di Gereja Katolik – bernama Hans – telah mempelajari Al-Quran yang mulia, dan menyatakan pendapatnya tentang apa yang dia baca. Pria ini telah menunjukkan kehadirannya yang kuat di panggung untuk waktu yang lama, dan dia memiliki kedudukan tinggi di Gereja Katolik, dan setelah pemeriksaan yang cermat dia menerbitkan apa yang dia temukan dengan menyimpulkan: “Allah telah berbicara kepada manusia melalui manusia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Dan sekali lagi kesimpulan ini datang dari sumber non-Muslim – seorang pemikir terkemuka besar di Gereja Katolik itu sendiri! Saya tidak berpikir bahwa Paus setuju dengannya, tetapi meskipun demikian, pendapat dari tokoh publik yang terkenal dan bereputasi baik seperti itu harus memiliki bobot dalam membela posisi Islam. Dan dia harus diberi tepuk tangan karena menghadapi kenyataan bahwa Al-Quran yang mulia bukanlah sesuatu yang dapat dibuang dengan mudah, dan bahwa Allah Ta’ala benar-benar adalah sumber kata-kata-Nya.
Jelas dari semua yang telah disebutkan sebelumnya bahwa semua alternatif telah habis, dan oleh karena itu tidak ada kesempatan untuk menemukan kemungkinan lain untuk menyangkal Al-Quran yang mulia. Karena jika kitab ini bukan wahyu, maka ia adalah penipuan; dan jika ia penipuan, maka seseorang harus bertanya: “Apa sumbernya? Dan di bagian mana ia menipu kita?” Dan tentu saja jawaban yang benar atas pertanyaan-pertanyaan ini menyoroti keaslian Al-Quran yang mulia, dan membungkam klaim-klaim kafir yang tajam dan tidak berdasar.
Dan tentu saja, jika orang-orang tersebut terus bersikeras bahwa Al-Quran yang mulia tidak lain adalah penipuan, maka mereka harus memberikan bukti yang mendukung klaim mereka. Beban pembuktian ada pada mereka, bukan pada kita! Seseorang tidak boleh mengajukan teori tanpa fakta-fakta yang cukup untuk mendukungnya; jadi saya berkata kepada mereka: “Tunjukkan kepada saya satu penipuan! Tunjukkan kepada saya di mana Al-Quran yang mulia menipu saya! Tunjukkan itu kepada saya, dan jika kalian tidak melakukannya, jangan katakan kepada saya bahwa itu adalah penipuan!”
9 – Pastor Mesir Sebelumnya Fauzi Subhi Saman
Fauzi Al-Mahdi.. Dai yang Dulunya Pastor..
Di balik tembok katedral gereja (Mari Jirjis) di kota Zagazig Mesir, dan dalam suasana yang bercampur antara kengerian kegelapan dengan cahaya redup yang sempurna dengan keadaan kebingungan yang dijaga oleh khayalan para rahib.
Di balik tembok-tembok ini duduk pemuda Fauzi Subhi Saman Al-Sisi, pelayan gereja yang bermimpi mendapatkan pangkat (Pastor) mendengarkan pastor senior.
Pemuda itu tenggelam dalam mimpinya, disibukkan oleh beberapa pemikiran berat untuk hantu di langit pikirannya setiap kali dia memperhatikan apa yang dia dengar dan suara pastor gereja meninggi berdoa kepada Kristus: (Ya anak Allah, ya penyelamat dan Tuhan kami).
Pemuda itu tersentak mengusir pemikiran itu, tetapi pemikiran itu mendesak lagi, dia berlindung dalam mimpi dan lamunan yang mengejarnya melarikan diri dari apa yang dia dengar.
Dan suara pastor meninggi lagi, pemuda itu adalah yang dimaksud.. dia menariknya dari mimpinya, mengucek matanya dan memperhatikan.. dan pemberontakan tumbuh.. dia menghadapi dirinya dengan kebenaran yang telah lama berhasil dia hindari: Mereka telah mengatakan kepada kita bahwa Kristus disalib dan disiksa dan tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri dari penyaliban dan penyiksaan yang menyakitkan.. lalu bagaimana mungkin dia dapat menyelamatkan kita?!
Dan tanda tanya besar itu meluas.. Pemuda itu merasakan bahaya.. Konflik memenuhi kepalanya dengan sakit.. dia berdiri membelakangi pastor dan gereja.
Betapa banyaknya orang yang tertipu. Pemuda itu adalah Fauzi Subhi Saman Al-Sisi yang tumbuh besar dan mimpinya terwujud dan menjadi pastor.. tetapi pemikiran itu terus mengejarnya dan membuatnya kehilangan rasa mimpi yang telah lama dia tunggu.. dan akhirnya mengalahkannya untuk menjadi Syeikh Fauzi Subhi Abdul Rahman Al-Mahdi, seorang dai dan guru Pendidikan Islam di sekolah-sekolah Menara Jeddah.. tetapi mengapa dan bagaimana itu terjadi?..
Pemuda itu keluar dari gereja dengan marah karena pemberontakannya, ketakutan karena pemikiran-pemikirannya yang lebih memberontak lagi.. tetapi apa yang bisa dia lakukan?..
Dia harus membungkam pemberontakan ini di dalam dirinya.. dia mulai mencari dalam agama-agama lain dan yang terakhir adalah Islam.. dan dia mendengarkan Al-Quran dan hatinya bergetar karenanya.. dan dia melihat kepada Muslim dan menemukan kebersihan, wudu, kesucian, shalat, rukuk, dan sujud.. dan dia menoleh melihat keadaannya sendiri, tidak ada kesucian, tidak ada mandi, tidak ada wudu.
Itu tidak cukup untuk menyebabkan perubahan seperti halnya itu tidak membebaskannya dari pengejaran pemikiran tersebut. Dan pemuda itu kembali ke gereja.. Pastor mengangkat suaranya berbicara tentang tujuh rahasia gereja.. tawa hampir lolos dari mulutnya tetapi dia menahannya dengan susah payah sambil bergumam: Rahasia apa yang mereka bicarakan?!
Dan sekali lagi pemikiran pemberontakan menyerangnya.. Rahasia tujuh apa? Dan dia mulai mengulas:
Rahasia pertama: adalah (Baptisan) sumur di dalam gereja yang didoakan sehingga Roh Kudus turun ke dalamnya.. Anak dicelupkan ke dalamnya sehingga menjadi Kristen!! Begitu saja?!! Dan pemikiran pemberontakan berteriak kepadanya.. Dia dilahirkan dan menemukan kedua orang tuanya Kristen, jadi apa lagi yang dia butuhkan untuk menjadi Kristen (setelah pemuda itu masuk Islam, dia menemukan jawabannya dalam hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Kristen atau Majusi atau Yahudi”).
Rahasia kedua: adalah (Pengakuan) di mana seorang Kristen yang berdosa duduk di hadapan seorang Kristen yang lebih tinggi pangkatnya (pastor – uskup – patriark – (paus)) untuk mengaku di hadapannya tentang segala sesuatu dan yang terakhir meletakkan tongkatnya di kepalanya dan bergumam dengan beberapa kata memberikan surat pengampunan kepadanya.. dan pemuda itu menceritakan percakapan antara dia dan seorang dokter Kristen: Pastor mengampuni saya, lalu siapa yang mengampuni pastor? Dia berkata: Paus. Dan siapa yang mengampuni paus? Dia berkata: Allah.. lalu mengapa kita tidak mengaku kepada Allah secara langsung agar Dia mengampuni kita?! Mengapa kita mempermalukan diri kita di hadapan manusia padahal Allah telah menutupi kita?!..
Rahasia ketiga: adalah minum dari darah Kristus, begitu saja!! Ya.. Seorang Kristen datang dengan anggur untuk didoakan pastor sehingga berubah menjadi darah yang diberkati yaitu darah Kristus agar diminum oleh Kristen dengan penuh gairah dan khusyuk!! Dan pemuda itu bertanya: Jika Kristus adalah penyelamat kita, mengapa kita minum dari darahnya? Karena kita hanya minum dari darah musuh kita saja, pemuda itu pernah mencoba dan membawa anggur kepada pastor untuk didoakan dan dia meminumnya tetapi dia tidak mendapatinya berubah..
Rahasia keempat: adalah memakan daging Kristus, persembahan yang dibuat dari tepung untuk dilafalkan doa oleh pastor sehingga berubah menjadi bagian dari tubuh Kristus yang mereka makan!! Begitu juga!! Dan jiwa yang memberontak bertanya.. mengapa kita memakan daging Kristus padahal dia adalah Tuhan dan ayah kita?!
Tiga rahasia lainnya adalah Bapa dan Anak dan Roh Kudus.. dan mereka mengatakan trinitas dalam kesatuan.. kepapasan dan khayalan dan kontradiksi yang tidak dapat diterima akal!!
Dan pemuda itu bergegas lagi dengan murka terhadap gereja dan pastor, dan banyak hal yang bertentangan dengan logika.
Dan di tengah kerumunan, pemuda itu menyisipkan tubuh dan jiwanya yang memberontak.. pelan-pelan.. dia melupakan pemikiran-pemikiran yang mengejarnya.. dan dengan malu dia membiarkan kakinya membawanya ke gereja.. dan kali ini dia merasa tertekan karena dia telah kelelahan dengan bolak-balik dengan dirinya sendiri.. dan suara pastor naik bersama dengan gerombolan orang yang tertipu dengan hukum iman seperti yang mereka katakan: (Dengan kebenaran kami beriman) .. dengan (satu Tuhan) .. Bapa.. yang menguasai segalanya.. pencipta langit dan bumi.. yang terlihat dan yang tidak terlihat.. kami beriman pada satu Tuhan Yesus Kristus.. Anak Allah yang tunggal.. yang dilahirkan dari Bapa sebelum segala zaman.. cahaya dari cahaya.. Tuhan yang benar.. Tuhan yang benar.. yang dilahirkan bukan diciptakan.. sama dengan Bapa dalam substansi.. dialah yang melaluinya segala sesuatu ada.. dialah yang demi kita – manusia – turun dari surga dan menjadi daging dari Roh Kudus dan dari Maria perawan.. dan disalibkan dan dikuburkan untuk kita.. dan bangkit dari antara orang mati pada hari ketiga seperti dalam kitab.. dan.. dan..
Dan pemuda itu menarik diri dari antara gerombolan sambil memegang kepalanya mencegahnya dari meledak..
Mereka mengatakan: satu Tuhan, kemudian mereka mengatakan Kristus anak Allah yang tunggal?! .. Bagaimana mungkin dan setiap yang dilahirkan adalah makhluk!! Mereka mengatakan: disalibkan dan dikuburkan untuk kita.. lalu bagaimana pantas bagi Tuhan pencipta alam semesta untuk disalibkan dan disiksa oleh salah satu ciptaan-Nya?!
Dan pemuda itu pergi ke tentara untuk menjalankan dinas militer.. dan di Ismailia dia memasuki gereja untuk terakhir kalinya.. dia pergi langsung ke altar di mana tidak ada yang melihat dari dalam.. dia sujud seperti seorang Muslim sujud.. dia menangis dengan pedih dan berdoa kepada Tuhan semua makhluk Yang Maha Esa Yang Maha Tunggal – dia berkata: Tuhanku.. Engkau tahu bahwa aku dalam kebingungan yang besar, jika Kristen adalah kebenaran maka biarlah Roh Kudus turun kepadaku sekarang.. dan jika Islam adalah kebenaran maka masukkanlah ia ke dalam hatiku.
Pemuda itu berkata: Dan aku tidak mengangkat kepalaku dari sujud kecuali dadaku telah lapang untuk Islam.
Dan sebelum keluar dari gereja dia mampir ke pastor dan mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya.. dia tidak menjawab tetapi bertanya: Apakah kamu membaca Al-Quran? Pemuda itu berkata: Ya.. wajah pastor menjadi cemberut dan berteriak: Hanya kamilah yang membaca Al-Quran, sedangkan kamu dan rakyat biasa tidak boleh.. dan dia keluar dan tidak kembali ke gereja lagi, dan sekarang pemuda itu berkata: Aku adalah seorang pria yang tersesat di dalam api gurun yang haus membunuhku dan aku tidak menemukan selain fatamorgana dan tiba-tiba aku menemukan air zamzam.. Aku hidup sembilan tahun antara jiwaku yang memberontak dan lari darinya.. aku membandingkan antara Islam dan Kristen.. antara Injil dan Al-Quran dan kemenangan adalah untuk kebenaran dan cahaya..
Saudara-saudara pemuda itu berkumpul dan bermusyawarah serta mengambil keputusan dan menetapkan cara pelaksanaannya.. dia harus dibunuh karena telah memberontak kepada Tuhan dan menghina gereja.. lalu datanglah orang yang memberitahu dan menasihatinya.. maka melariah pemuda itu dari kampungnya.. hatinya tertuju kepada saudara-saudaranya.. berdoa untuk mereka agar mendapat hidayah..
Dan pintu apartemennya diketuk dengan ketukan pelan.. dia membuka dan mendapati saudara perempuannya di hadapannya.. dia menangis dan memberitahunya berita yang membuatnya gembira.. dia akan mengumumkan keislamannya.. dan dia menangis dan memberitahunya bahwa selama ini dia begadang malam-malam bermunajat kepada Allah agar dia menyusulnya.. dan karena ibu telah meninggal sejak lama maka keduanya terus memohon kepada Allah agar memberi hidayah hati ayah mereka kepada keimanan.
Dan tidak lama berlalu hingga datanglah hari itu.. dia pulang dari pekerjaannya.. mendapati saudara perempuannya di belakang pintu.. dia bergegas kepadanya.. berkata kepadanya: Ayahmu sedang menunggumu.. dia datang mencari cahaya kebenaran.. dia menunduk di atas kepala dan tangannya menciumnya.. dan sang ayah mengumumkan keislamannya untuk kemudian meninggal dalam Islam setelah satu setengah tahun.
Dan seorang kesatria lain menyusul rombongan.. Abdullah Al-Mahdi.. dia masuk Islam dan datang untuk melengkapi separuh agamanya.. dan tidak mendapati di hadapannya selain saudara perempuan (pemuda) itu untuk dinikahi dan bepergian bersama ke tempat dia bekerja sebagai imam salah satu masjid di Doha.
Dan ini adalah artikel yang diterbitkan tentangnya oleh majalah Al-Faishal dalam edisi yang terbit pada Oktober 1992-dengan penyesuaian-:
Cita-cita “Fauzi Subhi Sam’an” sejak kecil adalah menjadi pendeta yang tangannya dicium orang dan mereka mengakui dosa-dosa mereka kepadanya agar dia memberikan surat pengampunan dan mencuci dosa-dosa mereka dengan mendengar pengakuan… oleh karena itu sejak masa kanak-kanak awal dia berdiri di belakang pendeta gereja “Mari Jarjas” di kota Zagazig – ibu kota provinsi Syarqiyyah di Mesir – menerima ilmu gereja darinya, dan dia membahagiakan kedua orang tuanya bahwa dia akan menjadi pelayan gereja untuk tumbuh menjadi Nasrani yang shaleh sesuai dengan kepercayaan mereka.
Dan pemuda itu tidak menentang keinginan orang tuanya untuk menjadi pelayan gereja yang berjalan mengikuti pendeta sambil membawa gelas anggur besar atau darah Masih sebagaimana mereka sebut untuk memberikan minum kepada pengunjung gereja dan memperoleh berkah pendeta.
Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa pemuda yang mereka persiapkan untuk menjadi pendeta ini suatu hari akan memiliki urusan lain selain yang mereka inginkan untuknya, sehingga arah hidupnya berubah menjadi seorang dai Islam. Fauzi menyebutkan bahwa meskipun ketulusannya dalam melayani gereja, dia selalu gelisah dengan apa yang mereka sebut “tujuh rahasia gereja” yaitu: pembaptisan, pengakuan, minum anggur, makan daging Masih, Bapa, Anak, dan Ruh Kudus… dan bahwa dia selalu memikirkan dengan seksama ide penebusan atau penyaliban Masih alaihissalam sebagai penebus dosa-dosa umat manusia sebagaimana diklaim para pendeta dan ahli kitab Nasrani, dan bahwa meskipun usianya masih muda namun akalnya telah matang cukup untuk meragukan kebenaran peristiwa penyaliban yang diklaim, yang merupakan salah satu rukun utama dalam akidah Nasrani yang telah diselewengkan, karena dia tidak mampu menemukan satu pun pembenaran logis untuk ide penebusan dosa-dosa umat manusia, sebab keadilan dan logika yang sehat mengatakan bahwa seseorang tidak menanggung dosa orang lain, maka tidaklah adil atau logis bahwa seseorang disiksa karena dosa-dosa yang dilakukan orang lain.. lalu mengapa Masih alaihissalam melakukan itu terhadap dirinya sendiri jika dia adalah Allah dan anak Allah sebagaimana mereka klaim?!.. bukankah dia bisa mengampuni dosa-dosa tersebut daripada menerima untuk digantung di salib?!
Lalu bagaimana seorang tuhan – sebagaimana mereka klaim – menerima untuk disalibkan oleh seorang hamba dari hamba-hamba-Nya, bukankah ini bertentangan dengan logika dan merendahkan bahkan menghina nilai tuhan yang mereka sembah selain Allah Yang Haq?.. dan juga bagaimana mungkin Masih alaihissalam adalah Allah dan anak Allah dalam waktu yang bersamaan sebagaimana mereka klaim?!
Pikiran-pikiran tersebut berputar dalam benak pemuda itu dan bergema dalam dadanya, namun dia pada saat itu belum mampu menganalisis makna-maknanya atau mengambil sikap tegas darinya, sebab usia tidak membuatnya layak untuk mengambil keputusan dan kemampuan akalnya tidak memungkinkannya untuk mendalami studi agama-agama untuk mengetahui kebenaran dengan jelas, maka tidak ada pilihan baginya selain melanjutkan perjalanannya dengan Nasrani dan berjalan mengikuti para pendeta sambil mengulang apa yang mereka ajarkan kepadanya berupa ungkapan-ungkapan yang samar. Dan tahun-tahun berlalu, Fauzi tumbuh dewasa dan menjadi seorang lelaki, dan mulai mewujudkan cita-citanya untuk menjadi pendeta yang disegani, dan kepala anak-anak serta orang dewasa baik laki-laki maupun perempuan menunduk kepadanya agar dia memberikan berkah-berkah yang diklaim dan mereka duduk di hadapannya di kursi pengakuan untuk mendengarkan rahasia-rahasia paling dalam kehidupan mereka dan dia berkenan memberikan pengampunan kepada mereka atas nama Tuhan!!!
Namun betapa dia iri kepada mereka karena mereka bisa mengatakan apa yang mereka inginkan sementara dia tidak mampu mengakui kepada siapa pun tentang kebenaran pertanyaan-pertanyaan yang berputar dalam dirinya yang jika diketahui para bapak pendeta besar akan mengirimnya ke biara atau membunuhnya.
Dan Fauzi juga menyebutkan bahwa dia sering bertanya: “Jika orang awam mengaku kepada pendeta, dan pendeta mengaku kepada patriark, dan patriark mengaku kepada paus, dan paus mengaku kepada Allah, mengapa hierarki yang tidak logis ini?… dan mengapa orang-orang tidak mengaku langsung kepada Allah dan menyelamatkan diri mereka dari kejahatan jatuh ke dalam cengkeraman beberapa pendeta yang menyimpang yang memanfaatkan pengakuan-pengakuan tersebut untuk menguasai para pendosa dan mengeksploitasi mereka dalam urusan-urusan yang tidak terpuji?!”
Pendeta muda itu menjalani pergulatan batin yang keras, hidup bersamanya selama sembilan tahun, dia bingung antara apa yang dia besarkan dan pelajari di rumah dan gereja, dan antara pertanyaan-pertanyaan banyak tersebut yang tidak bisa dia temukan jawabannya meskipun telah mempelajari ilmu teologi dan bergabung dalam jajaran keimamatan… dan sia-sia dia mencoba meyakinkan dirinya dengan jawaban-jawaban siap pakai yang diciptakan para ahli kitab berabad-abad lalu dan mereka ajarkan kepada orang-orang khusus mereka untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan orang awam meskipun bertentangan dengan kebenaran, logika, dan akal. Posisinya di gereja tidak memungkinkannya untuk bertanya tentang agama selain Nasrani agar tidak kehilangan sumber penghidupannya dan kepercayaan jemaat gereja, selain itu posisi ini memaksanya untuk menyampaikan khutbah-khutbah agama yang dia sendiri tidak yakin karena merasakan bahwa itu didasarkan pada fondasi yang tidak benar, dan tidak ada pilihan baginya selain mencoba mematikan api keraguan yang menyala di dalam dirinya dan menahannya, karena dia tidak memiliki keberanian untuk menyatakan secara terbuka apa yang dia bisikkan kepada dirinya secara diam-diam karena takut mendapat bahaya dari keluarga dan gereja, dan dia tidak menemukan pilihan lain dalam kebingungannya ini selain menekuni secara diam-diam dengan tulus dan antusias untuk mempelajari agama-agama lain.
Dan memang dia mulai membaca banyak buku-buku Islam, selain Al-Quran Al-Karim yang dia mulai teliti dengan perhatian orang yang ingin menggali fenomena dan rahasianya, dan dia berhenti dan matanya berlinang air mata ketika membaca firman Allah Ta’ala:
{Dan ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua orang tuhan selain Allah?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib” (116) Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu} [Al-Maidah:116, 117]
Fauzi membaca kata-kata tersebut dan merasakan tubuhnya bergemetar, karena dia menemukan dalam ayat itu jawaban untuk banyak pertanyaan yang selama ini tidak mampu dia temukan jawabannya, dan datanglah firman Allah Ta’ala:
{Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia} [Ali Imran:59]
Dia menemukan bahwa Al-Quran Al-Karim memberikan penjelasan yang tidak pernah dia baca dalam Injil-injil yang diselewengkan yang diakui oleh orang-orang Nasrani. Sesungguhnya Al-Quran menegaskan kemanusiaan Isa alaihissalam dan bahwa dia adalah nabi yang diutus kepada Bani Israil dan ditugaskan dengan risalah yang ditentukan seperti nabi-nabi yang lain. Fauzi selama periode tersebut telah direkrut untuk menjalankan wajib militer dan periode ini memberikan kesempatan kepadanya untuk muhasabah diri, dan suatu hari kakinya membawanya untuk memasuki sebuah gereja di kota Ismailia, dan dia mendapati dirinya – tanpa merasa – bersujud di dalamnya dengan sujud orang-orang Islam, dan matanya berlinang air mata ketika dia bermunajat kepada Tuhannya memohon kepada-Nya agar memberikan petunjuk kepadanya dan menunjukkannya kepada agama yang benar.. dan dia tidak mengangkat kepalanya dari sujudnya hingga dia bertekad untuk memeluk Islam, dan memang dia mengumumkan keislamannya jauh dari kampung dan keluarganya karena takut keganasan dan penyiksaan mereka, dan dia mengambil nama “Fauzi Subhi Abdul Rahman Al-Mahdi”.
Dan ketika keluarganya mengetahui berita masuk Islamnya, mereka mengambil sikap keras terhadapnya yang didukung oleh gereja dan sisa jemaat Nasrani lainnya yang tidak senang bahwa dia mengumumkan keislamannya, sementara Fauzi pada saat yang sama berdoa kepada Tuhannya dan bermunajat kepada-Nya agar menyelamatkan ayah dan saudara-saudaranya dan memberi mereka hidayah Islam, dan yang menambah sakitnya adalah ibunya telah meninggal dalam agama Nasrani.
Dan karena doa adalah intinya ibadah maka Allah mengabulkan doa hati yang beriman, maka dia terbangun suatu hari dengan suara ketukan di pintu apartemennya, dan ketika membuka pintu dia mendapati saudara perempuannya di hadapannya mengumumkan keinginannya untuk memeluk Islam.. kemudian tidak lama ayahnya datang setelah beberapa saat dan menyusul putra dan putrinya di jalan kebenaran.
Dan dari hal yang menarik bahwa Fauzi – sekarang – bekerja sebagai guru agama Islam di sekolah-sekolah Manarat Jeddah di Kerajaan Arab Saudi.. adapun ayahnya telah dipanggil Allah setelah masuk Islam selama satu setengah tahun.. dan saudara perempuannya menikah dengan seorang pemuda Nasrani yang Allah beri hidayah Islam sehingga dia memeluknya dan menjadi dai untuknya, dan dia sekarang bekerja sebagai imam salah satu masjid di kota Doha negara Qatar di mana dia hidup dengan istrinya dalam kehidupan keluarga yang bahagia.
10-Syahid Mantan Pendeta Ethiopia Malqah Faqadu
Apa yang diterbitkan surat kabar Al-Muslimun tentangnya edisi 2 Oktober 1991-dengan penyesuaian-:
Pendeta Ethiopia yang banyak orang masuk Islam di tangannya memperoleh kepercayaan gereja dalam aktivitas yang dia lakukan dalam gerakan-gerakan penginjilan dan kristenisasi hingga mencapai tingkat gereja tertinggi, namun dia mulai ragu ketika jatuh ke tangannya sebuah buku yang berisi tafsir-tafsir Quranic dan itu menjadi awal langkah-langkahnya di jalan iman yang dia ceritakan dengan berkata:
“Saya hidup bertahun-tahun dalam kesesatan, dan saya tidak tahu apa yang disimpan takdir untuk saya… saya melayani Kristen dengan segala yang saya bisa, dan kemudian saya naik dalam tangga gereja hingga mencapai tingkat tinggi di gereja dan menjadi salah seorang pemimpinnya, karena kepercayaan para pendeta besar pada pribadi saya dan dalam aktivitas yang saya lakukan dengan segala ketulusan dan semangat, yang mendorong mereka untuk membebankan tanggung jawab besar kepada saya dalam penginjilan dan kristenisasi.
Saya suka membaca dan mendalami, maka tidak ada buku tentang Injil kecuali saya baca hingga saya terkejut ketika membaca beberapa buku Injil terjemahan bahwa buku-buku tersebut membahas agama Islam dan mengajukan pertanyaan yang intinya: apakah ini agama samawi atau tidak?.. dan ketika saya sampai pada poin ini saya mulai mengajukan pertanyaan itu lagi sekali lagi… kemudian hari-hari berlalu dan saya menemukan sebuah buku tafsir Quranic yang ditulis dalam bahasa Amharik, maka saya mulai membandingkan antara apa yang saya temukan dalam buku ini dan apa yang saya baca sebelumnya dalam terjemahan-terjemahan, maka saya mulai membandingkan antara apa yang saya temukan dalam buku ini dan apa yang saya baca sebelumnya dalam terjemahan-terjemahan Injil tentang agama Muhammad, hingga saya mulai ragu dan merasakan perbedaan yang besar dan penyimpangan yang terjadi terhadap agama Islam, hingga saya yakin sepenuhnya bahwa Islam adalah agama yang benar.. setelah itu saya mengumumkan Islam saya dan mengambil nama “Muhammad Said Qafadu”… setelah itu saya tekun menyiapkan studi yang menunjukkan sebab-sebab masuk Islam saya dengan menjelaskan di dalamnya kebenaran informasi-informasi salah yang menyimpang dalam buku-buku Injil, dan kemudian saya kemukakan fakta-fakta yang tetap dan mengajukannya kepada Dewan Islam Tertinggi di Addis Ababa”.
Kemudian dia diam sejenak untuk mengambil napas untuk memaparkan reaksi gereja maka dia berkata: “Gereja tidak berdiri sebagai penonton setelah dibongkar oleh orang yang hidup di dalamnya selama sekian lama, maka bergerak cepat dan menggerakkan antek-anteknya dalam kekuasaan komunis pada masa pemerintahan “Mengistu” dan mengerahkan perangkat keamanan kepadaku yang menangkapku, dan saya masuk penjara selama tiga bulan tanpa dosa kecuali bahwa saya memeluk Islam dan meninggalkan Kristen”.
Dan Muhammad Said memiliki peran dalam dakwah Islam maka dia mengungkapkan tentang hal itu dengan berkata: “Setelah keluar dari penjara saya memanfaatkan hubungan-hubungan pribadi saya dan berhasil memasukkan lebih dari dua ratus orang baru ke agama Islam, tetapi Uskup “Karluyus” kepala para pendeta tidak tenang hingga dia menyuap perangkat penindas dalam sistem “Mengistu” yang diktator, dan untuk kedua kalinya saya ditangkap dan saya yakin bahwa saya tidak akan keluar kali ini dari penjara, terutama bahwa orang-orang gereja terus mengejar saya, namun setelah kunjungan yang dilakukan Dr. “Abdullah Umar Nasif” Sekretaris Jenderal Rabithah Alam Islami ke Ethiopia dan pertemuannya dengan Presiden sebelumnya “Mengistu” dia meminta pembebasan saya, maka dia mengabulkan permintaannya”
Dan demikianlah kita mendapati diri kita di hadapan kepribadian yang berjuang mati-matian demi akidahnya tidak menyurutkannya makar-makar yang beruntun.
Dan ini yang ditulis majalah Al-Faishal tentangnya edisi April 1992-dengan penyesuaian-: Malqah Faqadu lahir dari ayah Yahudi dan ibu Nasrani di salah satu desa Ethiopia, dan belajar di masa kecil awal Torah dan Injil, dan memilih untuk menjadi Nasrani seperti ibunya, dan pilihannya bukan berasal dari keyakinan terhadap agama Nasrani, tetapi karena keunggulan yang dinikmati pengikut akidah ini di negaranya yang dianggap salah satu benteng Nasrani di Afrika.
Dan dia tidak menemukan jati dirinya dalam Taurat atau Injil, karena dia melihat pada Taurat kumpulan kisah-kisah dan mitos-mitos yang telah dimasukkan oleh para pendeta dan ahli kitab dengan segala hal yang aneh setelah mereka mengubah firman dari tempatnya yang semestinya. Akal “Malqah” tidak dapat menerima tahayul dan kebatilan yang ada dalam Taurat yang telah diubah itu, sehingga dia meninggalkannya untuk mempelajari Injil yang diyakini oleh ibunya. Namun dia mendapati bahwa pertentangan antara teks-teks Injil sangat jelas, selain itu Injil tidak memberikan penjelasan tentang kehidupan dan alam semesta, dan tidak berusaha mengatur hubungan apapun dalam urusan dunia dan akhirat. Maka dia menyadari bahwa itu bukanlah kitab yang diturunkan kepada Isa as.
Adapun Islam, “Malqah” tidak pernah berusaha mempelajarinya dan tidak pernah mencarinya sedetik pun, karena propaganda gereja yang kuat dan berpengaruh menggambarkan Islam sebagai agama kaum terbelakang dan menisbatkan banyak tuduhan palsu dan kebohongan kepada Islam dan kaum Muslim. Oleh karena itu “Malqah” tumbuh dengan kebencian terhadap Islam, dan mencari profesi yang sesuai dengan tingkat sosial keluarganya serta memungkinkannya menjalani hidup dalam kemewahan dan kemakmuran. Dia tidak menemukan yang lebih baik dari jalur gereja, di mana dia akan mendapat kehormatan, gaji besar, dan mobil. Hafalannya terhadap Taurat membantunya untuk bergabung bekerja di gereja, dan pemuda “Malqah” menjadi pendeta yang disegani, orang-orang mencium tangannya dan memanggilnya “Bapa”.
Dia melanjutkan pekerjaannya di gereja selama enam tahun, di mana dia berusaha keras dalam dakwah kepada Kristen tanpa lelah atau bosan, apalagi dia menikmati berbagai fasilitas dari gaji yang murah hati, tempat tinggal yang indah, dan mobil mewah di negara yang setiap hari terancam kelaparan dan melanda banyak warganya. Dia terus bekerja dengan tekun melayani gereja dan berdakwah untuk kepercayaannya hingga suatu malam yang menentukan, di mana dia bermimpi – seperti yang dilihat orang yang tidur – seorang lelaki mendekatinya dalam mimpi dan membangunkannya sambil menyeru agar dia membaca dua kalimat syahadat: “Laa ilaaha illallah, Muhammadur rasulullah” dan surat Al-Ikhlas: {Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”} (Al-Ikhlas: 1-4).
Dia bangun dari tidurnya dengan ketakutan karena mimpi itu membuatnya terkejut, yang tidak dia pahami, tetapi ditafsirkannya dengan pemahamannya yang terbatas sebagai datang dari setan.
Mimpi itu terulang selama dua malam lagi, dan pada malam ketiga dia melihat cahaya yang menerangi jalan di depannya dan seorang lelaki yang mengajarkannya dua kalimat syahadat dan surat Al-Ikhlas. Dia langsung menyadari bahwa ini adalah mimpi yang benar dan bukan dari perbuatan setan terkutuk sebagaimana yang dia duga, karena cahaya yang menerangi jalannya dalam mimpi telah meresap ke dalam hatinya dan menerangi pandangan batinnya, sehingga sejak hari itu dalam lubuk hatinya terdapat keimanan yang mendalam bahwa akidah Islam adalah kebenaran dan selain itu adalah kebatilan. Dia tidak lama berpikir karena berkat studi teologinya, dia mengetahui banyak kabar gembira tentang risalah Muhammad saw, oleh karena itu dia mengumumkan keislamannya atas dasar keyakinan penuh.
Ketika dia membicarakan hal itu dengan istrinya dan mengajaknya masuk Islam, dia menjawab dengan positif dan masuk bersamanya ke dalam akidah tauhid, demikian pula yang dilakukan ketiga anaknya.
Hal pertama yang dilakukan “Malqah” setelah mengumumkan keislamannya adalah mengubah namanya menjadi “Muhammad Said” dengan menganggap hari itu sebagai hari kelahiran yang sesungguhnya, bersyukur kepada Allah atas nikmat hidayah kepada agama yang haq.
Adapun kalangan gereja Ethiopia menyambut berita keislaman “Muhammad Said” dengan kemarahan yang sangat, dan tidak cukup dengan merampas fasilitas yang dia nikmati berupa tempat tinggal mewah, mobil mewah, gaji besar dan lainnya, bahkan berusaha memasukannya ke penjara untuk menerima berbagai macam siksaan dalam upaya membuatnya murtad dari keimanannya dan menjadi pelajaran bagi siapa saja yang berpikir meninggalkan Kristen dan bergabung dengan barisan Islam. “Muhammad Said” menanggung semua itu dengan sabar dan mengharapkan pahala dari Allah, dan imannya tidak bergeser sedikitpun, lidahnya terus mengucapkan: “Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallah.”
Ketika cara-cara penyiksaan tidak berhasil – dan betapa banyaknya! – para pendeta terpaksa meninggalkannya agar tidak menjadi simbol dan teladan yang menerangi jalan bagi banyak jemaat gereja menuju jalan agama yang haq.
“Muhammad Said” keluar dari penjara dengan iman yang lebih kuat dan tekad yang lebih besar untuk menyampaikan dakwah kebenaran kepada orang lain, karena cobaan penjara menambah keteguhannya dan semangatnya untuk menjadi dai Islam setelah sebelumnya menjadi pendeta yang berdakwah untuk Kristen. Allah menjadikannya sebab hidayah sekitar 280 orang yang memeluk Islam di tangannya.
“Muhammad Said” menyebutkan bahwa dia telah memanfaatkan studinya yang mendalam terhadap Taurat dan Injil dalam mengungkap banyak aspek kemukjizatan Al-Qur’an, dan bahwa berkat pekerjaannya sebelumnya sebagai pendeta, dia memahami cara-cara tidak benar yang digunakan para misionaris untuk menarik orang-orang miskin dan membutuhkan kepada agama Kristen, di mana mereka memanfaatkan kemiskinan dan kekurangan orang dengan menyamar menghibur mereka secara materi dan moral serta memperhatikan mereka dalam hal kesehatan dan pendidikan dalam upaya mendapat simpati dan cinta mereka, kemudian menguasai pikiran mereka dan meyakinkan mereka bahwa dalam Kristen ada keselamatan mereka dari siksa akhirat dan kemiskinan dunia!!
“Muhammad Said” menghabiskan waktunya menghafal Al-Qur’an, meskipun hal itu sulit karena dia bukan penutur asli bahasa Arab agar dapat melakukan dakwah Islam. Tentang metode dakwahnya dia berkata:
“Saya bergantung pada pengetahuan akidah orang yang saya dakwahi dari kalangan non-Muslim, kemudian mendiskusikan akidahnya dan menunjukkan kebatilannya serta pertentangannya dengan fitrah dan akal, kemudian setelah itu saya menjelaskan apa yang ada dalam Islam dari berbagai aspek kebaikan sambil menjelaskan bahwa itu adalah agama yang benar yang dipilih Allah untuk umat manusia sejak awal penciptaan, karena Islam berarti berserah diri kepada Allah dengan ketuhanan dan ketaatan serta tunduk kepada perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.”
Tentang cita-cita “Muhammad Said” dia berkata: “Cita-cita pribadi saya adalah agar saya dapat membimbing ayah dan ibu saya kepada agama yang haq.. Adapun cita-cita umum saya adalah agar saya dapat menjadi salah seorang pendekar dakwah Islam dan semoga Allah memberi saya taufik untuk kebaikan umat Islam dan menolong serta meninggikan martabat agama-Nya.”
Ya, cita-cita yang menunjukkan ketulusan iman mantan pendeta “Malqah” terhadap agama Muhammad saw yang membuatnya bahagia dengan memeluknya sehingga dia mengambil nama nabi Islam dan menggandengkannya dengan sifat bahagia.
Adapun kabar terakhirnya adalah berita berikut dari situs Mufakkirah Al-Islam:
(Faqadu) adalah salah satu pendeta terkenal Ethiopia, namanya tersebar dan terkenal karena aktivitasnya dalam mengkristenkan banyak orang dari bangsanya. Dia mendalami studi Kristen dan mengetahui detail dan rahasia terhalusnya, dan menjadi tokoh terkemuka dari tokoh-tokohnya. Ketenaran ini memberinya kedudukan dan harta serta menjadi orang berpengaruh besar di kalangan Kristen Tanduk Afrika.
Dia bermimpi seolah-olah membaca surat Al-Ikhlas lengkap {Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”} (Al-Ikhlas: 1-4). Karena dia memiliki kecerdasan tajam, kecermatan dan kepekaan yang terjaga, mimpi ini tidak berlalu begitu saja, tetapi dia terus merenungkannya dan meneliti penafsirannya serta memikirkan isi dan maknanya. Ketika dia tidak mencapai hasil yang memuaskan tentang tafsir mimpi ini, dia pergi ke kantor Rabithah Alam Islami di Ethiopia berharap menemukan apa yang dapat memuaskan dahaganya, dan menemukan alasan, penjelasan serta tafsir untuk mimpinya yang membuatnya tidak tenang setelahnya karena menyadari bahwa surat ini adalah salah satu surat Al-Qur’an.
Di kantor Rabithah dia menemukan yang dicarinya karena direktur kantor menjelaskan kepadanya makna mimpi ini dan bahwa Allah swt menghendaki hidayah untuknya dan mengeluarkannya dari kegelapan menuju cahaya. Sebagaimana kebiasaan kantor-kantor Rabithah yang tersebar di berbagai belahan dunia dalam menyebarkan dakwah Islam dan membimbing manusia kepada agama Allah, Tuan (Faqadu) meyakini Islam setelah beberapa kali berkunjung ke kantor dan mengumumkan keislamannya dengan puji kepada Allah dan namanya menjadi (Muhammad Said).
Karena pria ini memiliki pengaruh besar dalam Kristen, keislamannya meresahkan gereja dan mereka menganggapnya sebagai orang yang murtad dari agama mereka dan tidak ada jalan lain selain kembali ke Kristen atau dibunuh secara fisik. Di sisi lain, keislaman pria ini dianggap sebagai keuntungan besar bagi Muslim karena banyaknya pengikutnya dan pengaruhnya terhadap mereka serta terpengaruhnya mereka olehnya, yang akan menyebabkan keislaman desa-desa seutuhnya dan ini memang terjadi.
Ketika para pemuka gereja merasakan bahaya yang diwakili (Faqadu) dan menyadari kekokohannya pada Islam serta mustahilnya kembali ke agama mereka, mereka memutuskan membalaskan dendam kepadanya dan dia menyadari hal itu. Kantor Rabithah Ethiopia berkoordinasi dengan Sekretariat Jenderal Rabithah di Makkah Al-Mukarramah untuk memberinya visa masuk ke Arab Saudi untuk menjauhkannya dari gangguan para pemuka gereja di satu sisi dan mengajarkannya prinsip-prinsip Islam di tempat turunnya wahyu di sisi lain.
Karena dia tidak menguasai bahasa Arab, dia dimasukkan ke Institut Bahasa Arab yang menginduk pada Universitas Umm Al-Qura dengan beasiswa dari Rabithah dan disediakan tempat tinggal yang layak untuknya dan keluarganya di Makkah Al-Mukarramah serta dialokasikan gaji bulanan yang sesuai dengan kedudukannya. Karena kecerdasannya yang tajam sebagaimana telah disebutkan, dia mempelajari dasar-dasar bahasa Arab dalam waktu singkat dan mendalami studi Islam, keislamannya menjadi baik dan tampak tanda-tanda kesalehan di wajahnya, menghafal beberapa juz Al-Qur’an, hatinya menjadi lembut dan sering menangis karena kegembiraan atas nikmat hidayah yang dianugerahkan Allah kepadanya.
Saat itu datanglah kepadanya putri pemimpin gereja dari Ethiopia, seorang gadis cantik, datang kepadanya sambil menangis meminta tolong dengan mengaku bahwa ayahnya mengusirnya ketika menyadari bahwa dia akan memeluk Islam dan dia datang kepada Faqadu agar menyelamatkannya dari keluarganya yang ingin membunuhnya. Dia meminta agar dia menikahinya dan mengajarkannya Islam. Permintaannya terkabul, dia menikahinya dan menempatkanya di Jeddah karena istri pertamanya masuk Islam bersamanya dan tinggal di Makkah Al-Mukarramah.
Dia tidak tahu kejahatan yang direncakan untuknya dan tipu daya yang disusun untuknya. Para pemuka gereja telah putus asa dari kembalinya dia ke agama mereka, maka mereka merencanakan pembunuhannya meskipun dia berada di luar Ethiopia. Mereka mengirimkan kepadanya gadis cantik yang terinfeksi AIDS ini, sehingga penyakit itu menular kepadanya dan dia menularkannya tanpa mengetahui kepada istri pertamanya. Ketika gadis itu menyadari keberhasilan misinya, dia melarikan diri ke Ethiopia meninggalkan penyakit itu menyebar dalam tubuh Muhammad Said dan istrinya. Penyakit itu tidak memberi mereka kesempatan lama, istrinya meninggal setelah beberapa bulan sedangkan dia tubuhnya melemah dan kekuatannya berkurang kemudian meninggal dunia dan dimakamkan di Makkah Al-Mukarramah. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya dan menempatkannya di surga yang luas.
Allah Yang Maha Agung berfirman: {Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka…} (Al-Baqarah: 120).
Semoga Allah merahmatimu wahai Faqadu dan menerimamu sebagai syahid di surga yang kekal.
11- Mantan Pendeta Indonesia Berdarah Belanda Rachmat Purnomo
Dia adalah seorang pria yang ayahnya berkebangsaan Belanda dan ibunya berkebangsaan Indonesia dari kota (Ambon) yang terletak di sebuah pulau kecil di ujung timur kepulauan Indonesia. Kristen adalah agama yang diwarisi keluarganya turun temurun.
Kakeknya adalah pendeta bermazhab Protestan, ayahnya juga pendeta bermazhab Pantecosta, dan ibunya adalah pengajar Injil untuk wanita. Adapun dia sendiri adalah seorang pendeta dan ketua misionaris di gereja (Bethel Gospel Spinoa). Dia berkata ketika menceritakan sebab keislamannya:
“Tidak pernah terlintas dalam pikiran saya walau sedetik untuk menjadi Muslim, karena sejak kecil saya menerima pendidikan dari ayah saya yang selalu berkata kepada saya: ‘Sesungguhnya Muhammad adalah orang Badui gurun yang tidak memiliki ilmu dan pengetahuan, tidak bisa membaca dan dia buta huruf’, begitulah ayah saya mengajar saya. Bahkan lebih dari itu, saya pernah membaca dari Profesor Dr. Riccoldi, seorang Kristen Prancis, perkataannya dalam sebuah buku: ‘Bahwa Muhammad adalah penipu yang tinggal di neraka tingkat sembilan’. Begitulah banyak tuduhan palsu disebarkan untuk merusak kepribadian Rasul saw. Sejak saat itu terbentuk dalam diri saya pemikiran keliru yang mengakar yang mendorong saya menolak Islam dan tidak menjadikannya sebagai agama saya.
Kemudian dia berkata: Sebenarnya bukan merupakan tujuan saya sama sekali untuk mencari agama Islam, tetapi saya selalu didorong untuk menemukan kebenaran. Tetapi mengapa saya mencari kebenaran yang tidak diketahui? Dan mengapa saya meninggalkan agama saya padahal saya menikmati kedudukan terhormat di antara kaum saya, di mana saya adalah ketua misionaris Kristen di gereja, dan berdasarkan itu saya menjalani kehidupan yang penuh kemewahan dan kemudahan. Lalu mengapa saya memilih Islam?
Kisah ini dimulai sebagai berikut: Suatu hari pimpinan gereja mengutus saya untuk melakukan kegiatan misionaris selama tiga hari tiga malam di wilayah (Dairi) yang berjarak beberapa ratus kilometer dari ibu kota (Medan) yang terletak di utara pulau (Sumatera). Setelah selesai dari kegiatan misionaris dan dakwah, saya menginap di rumah penanggung jawab gereja di daerah tersebut, dan saya sedang menunggu datangnya mobil yang akan membawa saya ke tempat kerja saya. Tiba-tiba seorang lelaki muncul kepada kami. Dia adalah seorang guru Al-Qur’an, atau yang disebut di Indonesia sebagai ustaz di Madrasah, yaitu sekolah sederhana yang mengajarkan Al-Qur’an. Lelaki itu menarik perhatian, bertubuh kurus, berperawakan kecil mengenakan kopiah putih lusuh, dan pakaian yang warnanya telah berubah karena sering dipakai, bahkan sandalnya diikat dengan kawat karena sangat tua.
Lelaki itu mendekat kepada saya, dan setelah memberi salam dia langsung bertanya dengan pertanyaan yang aneh, katanya: ‘Anda menyebutkan dalam pembicaraan anda bahwa Isa Al-Masih adalah tuhan, mana dalil tentang ketuhanannya?’ Saya jawab: ‘Entah ada dalil atau tidak, hal itu tidak penting bagimu: jika mau percaya maka percayalah, jika mau kafir maka kafirlah.’ Di sini lelaki itu membelakangi saya dan pergi. Tetapi urusan tidak berakhir sampai di situ, saya mulai berpikir dalam hati dan berkata: Mustahil lelaki ini masuk surga, karena surga hanya dikhususkan bagi yang beriman kepada ketuhanan Al-Masih saja, begitulah keyakinan saya saat itu.
Tetapi ketika saya kembali ke rumah, saya mendapati suara lelaki itu bergema di jiwa saya dan mengetuk kuat di telinga saya, yang mendorong saya kembali kepada kitab-kitab Injil mencari jawaban yang benar untuk pertanyaannya. Diketahui bahwa ada empat Injil yang berbeda, satu ditulis Matius, lainnya Markus, ketiga Lukas, dan keempat Injil Yohanes. Penamaan ini diambil dari pengarang masing-masing, artinya keempat Injil terkenal itu adalah buatan manusia, dan ini sangat aneh. Kemudian saya bertanya kepada diri sendiri: ‘Apakah ada Al-Qur’an dengan versi berbeda buatan manusia?’ Dan datang jawaban yang tidak bisa dihindari yaitu: ‘Tentu saja tidak ada’. Kitab-kitab ini dan beberapa surat lainnya hanyalah sumber ajaran agama Kristen yang diakui!
Saya mulai mempelajari keempat Injil, apa yang saya temukan? Injil Matius ini apa yang dikatakannya tentang Al-Masih Isa as? Kita membaca di dalamnya: ‘Sesungguhnya Isa Al-Masih berketurunan dari Ibrahim dan Daud…’ (1:1). Jadi siapakah Isa? Bukankah dia dari keturunan manusia? Ya, jadi dia manusia. Dan Injil Lukas berkata: ‘Dan Ia akan memerintah atas kaum Yakub sampai selama-lamanya, dan kerajaan-Nya tidak akan ada kesudahannya’ (1:33). Injil Markus berkata: ‘Inilah silsilah keturunan Isa Al-Masih anak Allah’ (1:1). Dan akhirnya apa yang dikatakan Injil Yohanes tentang Isa Al-Masih as? Dia berkata: ‘Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah’ (1:1). Makna teks ini adalah pada mulanya adalah Al-Masih, dan Al-Masih bersama Allah, dan Al-Masih adalah Allah.
Saya berkata pada diri saya sendiri: Jadi ada perbedaan mencolok antara keempat kitab ini mengenai hakikat Al-Masih Isa alaihissalam, apakah beliau manusia ataukah anak Tuhan ataukah malaikat ataukah beliau adalah Tuhan? Hal itu membingungkan saya, dan saya tidak menemukan jawabannya. Di sini saya ingin bertanya kepada saudara-saudara Nasrani: (Apakah dalam Al-Quran Al-Karim terdapat pertentangan antara satu ayat dengan ayat lainnya?) Tentu saja tidak – mengapa? Karena Al-Quran dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan Injil-injil ini adalah karangan manusia. Kalian tentu mengetahui bahwa Isa alaihissalam sepanjang hidupnya melakukan aktivitas dakwah kepada Allah di sana-sini, dan kita dapat bertanya: Kira-kira apa prinsip dasar yang didakwahkan oleh Isa alaihissalam?
Kemudian saya melanjutkan penelitian, dan saya menemukan dalam Injil Yohanes teks-teks yang menunjukkan doa Al-Masih alaihissalam dan permohonannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Saya berkata dalam hati: Jika Isa adalah Tuhan yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, apakah beliau membutuhkan permohonan dan doa ini yang termuat dalam Injil Yohanes? Inilah teks doanya: (Inilah hidup yang kekal yaitu supaya mereka mengenal Engkau satu-satunya Allah yang benar, dan Yesus Kristus yang Engkau utus. Aku telah memuliakan Engkau di bumi dengan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepadaku untuk kulakukan) (17:3-4). Dan ini adalah doa yang panjang yang pada akhirnya berkata: (Ya Bapa yang benar, dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang mengutus Aku. Dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau kasihi Aku ada di dalam mereka) (17:25-26). Doa ini merupakan pengakuan dari Isa alaihissalam bahwa Allah adalah Yang Maha Esa, dan bahwa Isa adalah utusan Allah yang diutus kepada kaum tertentu, bukan kepada seluruh manusia. Kaum mana gerangan mereka ini? Kita baca jawabannya dalam Injil Matius (15:24) di mana beliau berkata: (Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel). Jadi jika kita gabungkan pengakuan-pengakuan ini, kita dapat mengatakan: (Sesungguhnya Allah itu Maha Esa, dan sesungguhnya Isa alaihissalam adalah utusan Allah kepada Bani Israil).
Kemudian saya melanjutkan penelitian. Saya teringat bahwa ketika saya dalam shalat, saya selalu membaca kalimat-kalimat berikut: (Allah Bapa, Allah Anak, Allah Roh Kudus, tiga dalam satu oknum). Saya berkata pada diri saya: Sungguh aneh sekali. Jika kita bertanya kepada murid kelas satu SD (1+1+1=3?), dia akan menjawab: (Ya). Kemudian jika kita katakan kepadanya: (Tetapi juga 3=1), dia tidak akan menyetujui hal itu, karena ada kontradiksi nyata dalam apa yang kita katakan, sebab Isa alaihissalam berkata dalam Injil sebagaimana kita lihat bahwa Allah itu Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Telah terjadi kontradiksi nyata antara akidah yang tertanam dalam diri saya sejak kecil, yaitu: tiga dalam satu, dan apa yang diakui oleh Al-Masih Isa sendiri dalam kitab-kitab Injil yang ada di tangan kita sekarang, yaitu bahwa Allah itu Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Mana yang lebih benar? Saya tidak dapat memutuskan saat itu, dan sejujurnya, bahwa Allah itu Maha Esa. Maka saya mulai meneliti Injil lagi, semoga saya menemukan apa yang saya cari. Saya menemukan dalam Kitab Yesaya teks berikut: (Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala! Bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain; Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku) (46:9). Betapa besar kekaguman saya ketika memeluk Islam dan menemukan dalam Surat Al-Ikhlas firman Allah Ta’ala: Bismillahirrahmanirrahim: “Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” Ya, selama itu adalah firman Allah, maka tidak akan berbeda di mana pun ditemukan. Inilah ajaran pertama atau aksioma pertama dalam agama Kristen sebelumnya. Jadi (tiga dalam satu) tidak lagi memiliki tempat dalam hati saya.
Kemudian saudara Rahmah Bornomo dari Indonesia beralih ke poin mendasar lainnya yang membuatnya memilih Islam sebagai agama, dia berkata:
Adapun aksioma kedua dalam agama Kristen mengatakan bahwa ada yang disebut dosa warisan atau dosa pertama, yang dimaksud adalah bahwa dosa yang dilakukan Adam alaihissalam ketika memakan buah yang diharamkan dari pohon di surga, dosa ini akan diwarisi oleh seluruh umat manusia, bahkan janin dalam kandungan ibunya pun menanggung dosa ini, dia lahir berdosa. Apakah ini benar atau tidak? Saya mulai meneliti kebenaran hal itu, saya merujuk kepada Perjanjian Lama dan menemukan dalam Kitab Yehezkiel sebagai berikut: (Anak tidak akan menanggung kesalahan ayahnya, dan ayah tidak akan menanggung kesalahan anaknya, kebenaran orang benar itu akan ditanggungnya sendiri, dan kefasikan orang fasik itu akan ditanggungnya sendiri. Tetapi jika orang fasik itu bertobat dari segala dosanya yang telah diperbuatnya dan melakukan segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, tidak akan mati. Segala pelanggarannya yang telah diperbuatnya tidak akan diingat-ingat lagi terhadap dia) (Yehezkiel 18:20-21).
Mungkin tepat di sini kita sebutkan apa yang dikatakan Al-Quran Al-Karim dalam hal ini: “Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun orang itu karib kerabatnya” (Fathir: 18). Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap anak Adam dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” Inilah kaidah dalam Islam, dan sejalan dengan apa yang ada dalam Injil. Bagaimana bisa dikatakan: (Bahwa dosa Adam berpindah dari generasi ke generasi, dan manusia lahir berdosa?)
Saudara (Rahmah Bornomo) dari Indonesia berkata:
Jadi ajaran-ajaran Kristen ini telah jelas kebatilannya dan kedustaannya dengan teks tegas dari kitab yang disebut (suci) itu sendiri. Dan ada aksioma ketiga dalam ajaran Nasrani yang mengatakan: Bahwa dosa-dosa umat manusia tidak diampuni kecuali Isa alaihissalam disalib. Saya mulai merenungkan aksioma ini dan bertanya: (Apakah ini benar?) Jawabannya yang tak dapat dihindari: Tentu saja tidak, karena teks yang disebutkan tadi dari Perjanjian Lama menolak keyakinan seperti itu dengan perkataannya: (Tetapi jika orang fasik itu bertobat dari segala dosanya yang telah diperbuatnya dan melakukan segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, tidak akan mati. Segala pelanggarannya yang telah diperbuatnya tidak akan diingat-ingat lagi terhadap dia), artinya Allah mengampuni dosa-dosanya tanpa memerlukan perantara siapa pun.
Saudara Indonesia yang pernah menjadi pendeta pada suatu hari melanjutkan menceritakan kepada kita apa yang dilakukannya setelah itu dalam perjalanan panjangnya dari kekafiran menuju Islam, dia berkata:
Saya melanjutkan penelitian dalam sejumlah masalah akidah lainnya. Suatu hari saya meletakkan Injil dan Al-Quran di hadapan saya di atas meja, dan saya mengajukan pertanyaan berikut kepada Injil, saya berkata kepadanya: (Apa yang kamu ketahui tentang Muhammad?) Injil menjawab: (Tidak ada, karena nama Muhammad tidak disebutkan dalam Injil). Kemudian saya mengajukan pertanyaan kepada Isa sebagaimana Al-Quran berbicara, saya berkata: (Wahai Isa anak Maryam, apa yang engkau ketahui tentang Muhammad?) Dia menjawab: (Al-Quran telah menyebutkan tanpa keraguan bahwa seorang rasul harus datang setelahku bernama Ahmad). Allah Ta’ala berfirman atas lisan Isa alaihissalam: “Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata: ‘Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad.’ Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: ‘Ini adalah sihir yang nyata.'” (Ash-Shaff: 6). Mana yang benar?
Kemudian dia berkata: Ada satu Injil yaitu Injil Barnabas yang berbeda dari keempat Injil yang kita sebutkan sebelumnya. Injil ini sayangnya diharamkan oleh para pemuka agama Nasrani untuk dilihat oleh pengikut mereka. Tahukah kalian mengapa? Kemungkinan besar karena Injil ini adalah satu-satunya yang memuat kabar gembira tentang Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan di dalamnya tambahan serta perubahan berkurang hingga batas minimum. Juga di dalamnya terdapat kebenaran yang sesuai dengan apa yang ada dalam Al-Quran Al-Karim. Dalam Injil Barnabas (pasal 163) disebutkan: Ketika itu murid-murid bertanya kepada Al-Masih: Wahai guru, siapa yang datang setelahmu? Al-Masih berkata dengan penuh kegembiraan dan suka cita: Muhammad utusan Allah akan datang setelahku seperti awan putih yang menaungi semua orang beriman.
Saudara Rahmah Bornomo melanjutkan: Kemudian saya membaca ayat lain dalam Injil Barnabas yaitu perkataannya dalam (pasal 72): Ketika itu Andreas (murid) bertanya kepada Al-Masih: (Wahai guru! Ketika Muhammad datang, apa tanda-tandanya sehingga kami mengenalnya?) Al-Masih berkata: (Muhammad tidak datang di zaman kita ini, tetapi akan datang setelah ratusan tahun ketika Injil diubah, dan orang-orang beriman ketika itu tidak mencapai jumlah tiga puluh orang. Maka ketika itu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus penutup para nabi dan rasul, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam). Penyebutan hal itu berulang dalam Injil Barnabas beberapa kali, saya hitung dan saya dapati di dalamnya empat puluh lima ayat yang menyebutkan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan saya cukupkan dengan dua ayat sebelumnya sebagai contoh.
Setelah itu saudara yang baru menemukan hidayah dari Indonesia berbicara tentang sisi lain dari studi perbandingannya, dia berkata: Di antara ajaran dasar dalam agama Kristen adalah bahwa Isa alaihissalam adalah penyelamat dunia, artinya jika kamu beriman kepada ketuhanan Isa maka kamu akan selamat. Ini berarti kamu dapat melakukan apa saja tanpa peduli dosa dan maksiat selama kamu beriman kepada Isa sebagai penyelamatmu, dengan syarat kamu yakin bahwa kamu termasuk pengikut. Saya berkata pada diri saya: Saya harus meneliti dalam Injil dan mengetahui yang benar dari yang batil dalam hal itu. Dalam Kitab Kisah Para Rasul, surat Paulus yang pertama kepada jemaat Korintus berkata: Allah telah membangkitkan Tuhan dan akan membangkitkan kita juga dengan kuasa-Nya (6:14). Kisahnya sebagaimana termuat dalam ajaran Kristen adalah sebagai berikut: bahwa ketika mereka menangkap Tuan Al-Masih, mereka menghadapkannya di hadapan keadilan lalu memutuskan untuk menyalibnya, kemudian dikuburkan, maka di sini ayat itu sesuai dengan kisah tersebut.
Di sini saudara Rahmah Bornomo berkomentar: Saya merenungkan ayat ini lama kemudian berkata: Jika Allah tidak campur tangan dalam membangkitkan Al-Masih dari kubur, beliau akan tetap terkubur di bawah tanah hingga hari kiamat. Jadi selama Al-Masih tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri, bagaimana mungkin beliau bisa menyelamatkan orang lain? Pantas kah bagi tuhan –seperti yang mereka klaim– untuk tidak mampu melakukan itu? Saya tidak ragu sejenak bahwa setiap orang berakal akan menyetujui apa yang saya katakan. Bukankah demikian?
Kemudian dia berkata:
Saat itu saya bertekad untuk keluar dari gereja dan tidak pergi ke sana lagi. Itu pada tahun 1969 di mana saya benar-benar keluar dan tidak lagi sering ke gereja. Bukan berarti saya keluar saat itu dari agama Nasrani itu sendiri, karena sebagaimana diketahui ada gereja-gereja dan mazhab-mazhab berbeda dalam agama Nasrani, ada Katolik, Protestan, Metodis, Plei Keselamatan, Unitarian, dan lain-lain banyak, sampai saya dapat mengatakan bahwa ada lebih dari 360 mazhab dalam agama Nasrani. Allah Yang Maha Besar berfirman benar: “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (Al-An’am: 153).
Mungkin ada yang berkata: Dalam Islam pun terdapat beberapa mazhab dan golongan, ada mazhab empat yang terkenal yaitu Hanafi, Syafi’i, Hanbali, dan Maliki serta lainnya… Jawabannya adalah bahwa pengikut mazhab-mazhab… tidak berbeda dalam pokok-pokok agama, bahkan mereka semua sepakat bahwa Allah itu Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, sebagaimana mereka sepakat dalam rukun Islam yang lima. Sisi perbedaan di antara mereka hanya dalam cabang-cabang fiqh saja, bukan dalam pokok-pokok, sedangkan dalam agama Kristen urusannya sama sekali berbeda karena perbedaan dalam inti akidah, dan inilah perbedaan antara Islam dan Kristen.
Bagaimana pun berbedanya mazhab-mazhab dalam Islam, kamu tidak akan menemukan masjid yang khusus untuk mazhab tertentu saja tanpa masjid-masjid lainnya, bahkan sebaliknya, jika muadzin memanggil untuk shalat, kamu akan menemukan setiap Muslim memasuki masjid terdekat untuk shalat di dalamnya. Tapi urusan sama sekali berbeda dalam agama Nasrani: setiap gereja mengikuti mazhab tertentu, dan tidak ada yang masuk kecuali pengikut mazhab itu saja. Katolik tidak shalat di gereja Protestan, dan Protestan juga tidak shalat di gereja Katolik, demikian seterusnya.
Kemudian saudara Rahmah Bornomo melanjutkan kisahnya yang menarik:
Suatu hari saya bertemu dengan teman yang mengajak saya ke Katolik, dan dia mulai menyebutkan kelebihan-kelebihan mazhab ini yang tidak saya temukan dalam mazhab Protestan saya. Teman saya berkata: (Dalam mazhab ini ada ruang pengampunan, yaitu ruangan di gereja yang di dalamnya duduk pendeta berjenggot lebat mengenakan pakaian hitam, duduk di kursi tinggi. Barang siapa meminta maaf dan ampunan pergi kepadanya, dan mengulang beberapa kata yang tidak dipahami, dan begitu selesai membacanya, dikatakan kepadanya bahwa dia bersih dari dosa-dosanya dan kembali seperti hari ibunya melahirkannya). Demikian kata teman saya, dan dia menambahkan: (Semua dosa yang dilakukan tanganmu selama hari-hari dalam seminggu akan diampuni ketika kamu pergi ke gereja pada hari Minggu dan mendapat pengampunan. Kamu tidak perlu shalat dan tidak perlu ibadah, tapi jika kamu meninggalkan semua itu dan pergi ke pendeta, mengaku di hadapannya, dosa-dosamu diampuni).
Saudara Rahmah Bornomo berkata: Saya teringat apa yang ditetapkan Islam dalam hal itu, yaitu bahwa manusia setinggi apa pun pangkat seseorang tidak mungkin diserahkan kepadanya pengampunan dosa-dosa hamba. Sebagaimana taubat dan ampunan tidak menggugurkan kewajiban dan fardhu, bahkan orang yang bertaubat harus menunaikan shalat lima waktu dalam waktunya. Jika dia meninggalkannya maka tidak ada nilai taubatnya dan dia berdosa besar yang tidak mungkin ditanggung orang lain untuknya “Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain”. Allah Yang Maha Besar berfirman benar.
Kemudian dia berkata: Saya melihat orang-orang yang masuk ke ruang pengampunan di gereja, di wajah mereka tanda-tanda sedih dan murung karena beratnya dosa, sementara saya melihat yang keluar dari sana telah tersenyum bahagia di wajahnya karena keyakinannya bahwa dosa-dosanya telah diampuni. Adapun saya, ketika mencoba ruangan itu, saya masuk dengan sedih dan keluar dengan sedih. Mengapa? Karena saya berpikir dan bertanya: (Dosa-dosa kita ditanggung pendeta, tapi siapa yang menanggung dosa-dosanya?) Demikianlah saya tidak yakin dengan Katolik, maka saya meninggalkannya dan mencari agama lain.
Kemudian saudara Rahmah Bornomo menceritakan kepada kita tentang tahap selanjutnya dari perjalanannya dari keraguan menuju keyakinan:
Setelah itu saya berkenalan dengan golongan Nasrani lain bernama (Saksi Yehuwa), yaitu mazhab lain dari mazhab-mazhab Nasrani. Saya bertemu pemimpin mereka dan bertanya tentang ajaran mazhabnya. Saya berkata: (Siapa yang kalian sembah?) Dia berkata: (Allah). Saya berkata: (Dan siapa Al-Masih?) Dia berkata: (Isa adalah utusan Allah). Hal itu sesuai dengan apa yang saya imani dan condong kepadanya. Saya masuk gereja mereka dan tidak menemukan satu salib pun di dalamnya. Saya tanya tentang rahasia itu, dia berkata: (Salib adalah tanda kekafiran, karena itu kami tidak menggantungkannya di gereja-gereja kami).
Demikianlah saudara Rahmah Bornomo rela untuk mengetahui lebih banyak tentang Saksi Yehuwa. Dia menggambarkan periode hidupnya ini: Saya menghabiskan tiga bulan penuh menerima ajaran mazhab itu, dan pada akhirnya saya berdialog dengan pemimpin gereja yang berkebangsaan Belanda. Saya berkata kepadanya: (Tuan, jika saya meninggal dengan mazhab ini, ke mana nasib saya?) Dia berkata: (Seperti asap yang hilang di udara). Saya berkata heran: (Tapi saya bukan rokok, saya manusia yang berakal dan hati nurani).
Kemudian saya bertanya kepadanya: “Dan ke mana arah saya setelah kematian?” Dia menjawab: “Kamu akan ditempatkan di suatu lapangan yang luas.” Saya bertanya kepadanya: “Dan di mana lapangan itu?” Dia berkata: “Saya tidak tahu.” Saya berkata: “Tuan, jika saya adalah hamba yang taat dan berpegang teguh pada mazhab ini, apakah saya akan masuk surga?” Dia menjawab: “Tidak.” Saya bertanya: “Lalu ke mana?” Dia berkata: “Orang-orang yang masuk surga jumlahnya hanya 144 ribu orang saja, sedangkan kamu akan tinggal di bumi lagi.” Di sini saya memotong perkataannya dengan berkata: “Tetapi tuan, hari kiamat telah terjadi, dunia telah rusak.” Dia berkata: “Kamu tidak memahami hakikat kiamat. Jika kamu memiliki kursi dan di atasnya ada serangga-serangga yang mengganggu, apakah kamu akan membakar kursi itu untuk menyingkirkan serangga-serangga tersebut?” Saya menjawab: “Tidak.” Dia berkata: “Tetapi kamu akan membunuh serangga-serangga itu dan kursi tetap utuh, dan begitulah bumi akan tetap utuh setelah dibersihkan dari kotoran dan dosa-dosa, dan kemudian manusia akan pindah ke sana dari lapangan itu, jadi tidak ada yang disebut dengan neraka.”
Di sini saya memikirkan dengan baik, mempelajari dan merenungkan masalah tersebut, hingga saya mengambil keputusan akhir untuk meninggalkan agama Kristen dengan semua mazhabnya secara resmi. Itu terjadi pada tahun 1970. Suatu hari ketika saya sedang berjalan mencari kebenaran, saya melihat sebuah kuil Buddha yang indah dan besar, lalu saya mendekatinya. Di dalamnya saya menemukan beberapa patung dan gambar, dan di langit-langit ada patung naga, serta di dinding-dinding seperti itu juga. Saya juga melihat di depan gerbang dua patung berbentuk singa yang diam. Begitu saya masuk dari gerbang, seorang pria datang dan menghentikan saya, bertanya: “Mau ke mana?” Saya berkata: “Saya ingin masuk.” Dia berkata: “Lepas sepatumu sebelum masuk, ini kuil kami jadi hormati tempat ibadah kami.” Saya berkata dalam hati: “Bahkan agama Buddha mengenal kebersihan, sedangkan agama saya sebelumnya tidak ada kebersihannya. Saya ingat ketika saya masuk gereja, saya tidak melepas sepatu saat masuk.”
Kemudian dia berkata: “Saya mencoba agama Buddha untuk beberapa waktu, tetapi segera saya meninggalkannya karena merasa bahwa saya tidak menemukan kebenaran yang saya cari. Kemudian saya berhubungan dengan agama Hindu yang dimulai dan berkembang di India, yang ajarannya tersebar hingga mencapai beberapa pulau Indonesia. Saya berkeliling di antara pulau-pulau tersebut di mana terdapat aktivitas para pengikut agama ini, dan tinggal bersama mereka untuk beberapa waktu di mana saya mempelajari banyak hal. Saya berhasil dalam tahap pertama sampai tingkat di mana saya melakukan keajaiban-keajaiban seperti berjalan di atas api, berjalan di atas paku-paku tajam, menusukkan paku ke anggota tubuh dan lain sebagainya, tetapi ini juga bukan yang saya cari.”
Kemudian saudara Rahmah Bornomo menambahkan: Suatu hari saya bertanya kepada pemimpin kuil Hindu: “Apa yang kalian sembah?” Dia berkata: Kami menyembah Brahma, Wisnu, dan Siwa. Brahma: dewa pencipta, Wisnu: dewa kebaikan, dan Siwa: dewa kejahatan. Tiga dewa yang mewujud dalam satu tubuh manusia bernama Krishna yang dianggap penyelamat dunia menurut orang Hindu. Saya berkata dalam hati: “Jadi tidak ada perbedaan dalam masalah ketuhanan antara Hindu dan Kristen, meskipun namanya berbeda, keduanya menyeru tiga dalam satu.”
Saya berkata kepada pastor Hindu: “Jelaskan kepada saya asal-usul Krishna.” Dia berkata: Di India pada tahun dua ribu sebelum Masehi ada seorang raja yang kejam dan zalim yang tidak mengasihani bahkan anak-anaknya sendiri, dia membunuh bayi laki-laki yang dilahirkan karena takut akan merebut takhtanya secara paksa. Pada salah satu malam yang gelap, raja sedang duduk di depan istananya, tiba-tiba ada bintang bersinar muncul di langit di atas kepalanya, bergerak dengan kecepatan menakjubkan, kemudian berhenti di angkasa dan memancarkan cahayanya yang terang ke kandang sapi. Ketika raja bertanya kepada para ulama dan agamawan, mereka merujuk kitab-kitab suci mereka dan berkata: “Itu adalah tanda penjelmaan para dewa dalam tubuh manusia bernama Sri Krishna.” Saya berkata dalam hati: Kisah ini persis seperti yang ada dalam agama Kristen dengan mengganti tokoh-tokohnya, dan saya dulu menceritakannya kepada orang-orang ketika saya masih menjadi pastor. Perbedaannya adalah desa yang dimaksud adalah Betlehem, dan manusia pada kami adalah Masih. Jadi tidak ada perbedaan antara kedua kisah tersebut dan kedua keyakinan tersebut dalam masalah mendasar yaitu masalah ketuhanan dan identitas penyelamat dunia.
Saya melanjutkan dialog dengan pastor Hindu dan berkata kepadanya: “Tuan, jika saya meninggal dalam agama kalian, ke mana nasib saya?” Dia berkata: “Saya tidak tahu, tetapi kamu harus menahan diri dari membunuh serangga-serangga seperti semut, nyamuk dan lainnya.” Dia berkata: “Mungkin serangga-serangga ini adalah bapak-bapak dan kakek-kakek kalian yang sudah mati.”
Kemudian dia berkata: “Pada akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan semua agama-agama tersebut, dan tidak ada pilihan di hadapan saya kecuali Islam yang tidak ingin saya anut karena yang tertanam dalam diri saya sejak kecil adalah rasa jijik dan benci terhadap agama ini yang saya tidak tahu apa-apa tentangnya kecuali syubhat-syubhat. Saya ingin mencari kebenaran yang tidak diketahui dan pencarian ini memerlukan usaha dan kesabaran. Suatu hari saya berkata kepada istri saya: Mulai malam ini saya tidak ingin diganggu siapa pun, saya ingin shalat dan bermunajat kepada Allah. Demikianlah saya mengunci pintu kamar saya dan mengangkat tangan saya kepada Allah dengan khusyuk dan bermunajat sambil berkata: ‘Ya Tuhan, jika Engkau benar-benar ada, maka bimbinglah ubun-ubunku menuju hidayah dan cahaya, dan tunjukilah aku kepada agama-Mu yang benar yang Engkau ridhai untuk manusia.'”
Saudara Rahmah Bornomo melanjutkan pembicaraannya dengan berkata: “Doa kepada Allah bukan seperti permintaan biasa, sebagaimana doa saya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak hanya dalam waktu singkat saja, tetapi berlanjut dalam waktu yang lama, sekitar delapan bulan. Pada malam tanggal tiga puluh satu Oktober 1971 yang bertepatan dengan tanggal sepuluh Ramadan tahun yang sama, setelah saya selesai dari doa yang biasa, saya tertidur nyenyak. Saat itulah datang kepada saya cahaya hidayah dari Allah Azza wa Jalla. Saya melihat dunia di sekitar saya dalam kegelapan yang pekat, dan saya tidak dapat melihat apa pun. Tiba-tiba sosok seseorang muncul di hadapan saya. Saya mengamatiknya dengan seksama, ternyata cahaya yang indah memancar darinya yang menerangi kegelapan di sekitar saya. Orang yang mulia itu mendekat ke arah saya, saya melihat dia mengenakan jubah putih dan sorban putih, memiliki jenggot keriting, dan wajah yang berseri yang tidak pernah saya lihat sebelumnya, begitu indah dan bercahaya. Orang itu berbicara kepada saya dengan suara yang merdu: ‘Ucapkanlah dua kalimat syahadat.’ Saat itu saya tidak tahu apa yang disebut dua kalimat syahadat, maka saya bertanya: ‘Apa itu dua kalimat syahadat?’ Dia berkata: ‘Katakanlah: Asyhadu an laa ilaaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah‘ (Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah). Maka saya mengulanginya setelah dia sebanyak tiga kali, kemudian orang itu pergi meninggalkan saya.”
Saudara Indonesia tersebut berkata setelah itu: “Ketika saya bangun dari tidur, saya mendapati tubuh saya basah oleh keringat. Saya bertanya kepada Muslim pertama yang saya temui: ‘Apa itu dua kalimat syahadat, dan apa nilai keduanya dalam Islam?’ Dia berkata: ‘Dua kalimat syahadat adalah rukun pertama dalam Islam, begitu seseorang mengucapkannya maka dia menjadi Muslim.’ Maka saya bertanya kepadanya tentang maknanya, lalu dia menjelaskan maknanya kepada saya. Saya berpikir panjang dan bertanya-tanya siapa orang yang saya lihat dalam mimpi saya, dan ciri-cirinya jelas bagi saya. Ketika saya menggambarkannya kepada teman Muslim saya, dia langsung berseru: ‘Kamu telah melihat Rasul Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.'”
Kemudian saudara Rahmah Bornomo mengakhiri kisahnya dengan berkata: “Dua puluh hari setelah kejadian itu pada malam Idul Fitri, saya mendengar seruan takbir yang diulang-ulang oleh kaum Muslim dari masjid-masjid yang dekat dengan rumah kami. Bulu kuduk saya merinding dan hati saya bergetar, mata saya berlinang air mata bukan karena sedih pada sesuatu, tetapi sebagai rasa syukur kepada Allah atas nikmat ini. Alhamdulillahi yang telah membimbing saya akhirnya kepada apa yang saya cari selama bertahun-tahun. Itu terjadi pada tahun 1971. Saya memberi pilihan kepada istri saya antara Islam dan Kristen, maka dia memilih Islam. Patut disebutkan bahwa pada masa kecilnya dia adalah seorang Muslim dari keluarga Muslim yang masuk Kristen karena bujukan para penginjil dan karena ketidaktahuannya tentang urusan agamanya yang suci. Anak-anak kami juga mengikuti kami dan memeluk Islam. Sejak tanggal dua Februari 1972 kami menjadi Muslim, alhamdulillah.”
Dikutip dari buku (Uluww al-Himmah) karya Syaikh Muhammad bin Ismail hal. (239-254) dengan sedikit perubahan.
12- Qommas Mesir yang sebelumnya bernama Izzat Ishaq Mu’awwadh
Dia adalah salah seorang da’i untuk berkomitmen pada agama Kristen, tidak pernah berhenti dari misinya yang menggunakan segala sarana dari buku-buku, kaset-kaset dan lainnya dalam berdakwah kepada agama tersebut. Dia naik pangkat dalam jabatan gereja hingga menjadi “Qommas”… Tetapi setelah dia mendalami studi Kristen, mulai muncul perasaan ragu dalam dirinya terhadap keyakinan yang dia dakwahi, sementara di saat yang sama dia merasa nyaman ketika mendengar Al-Quran al-Karim… Kemudian dimulailah perjalanan imannya yang dia ceritakan:
“Saya dibesarkan dalam keluarga Kristen yang solid dan bergabung dengan misa Minggu saat umur saya empat tahun… Pada usia delapan tahun saya menjadi salah satu diakon gereja, dan saya unggul dari teman-teman sebaya dengan penguasaan bahasa Koptik dan kemampuan saya membaca dari Kitab Suci kepada orang-orang Kristen. Kemudian diatur persiapan untuk saya masuk Akademi Klerus agar menjadi pastor kemudian Qommas. Tetapi ketika saya mencapai usia remaja, saya mulai melihat kemunafikan yang terjadi antara pemuda dan pemudi di dalam gereja dan dengan sepengetahuan para pastor. Saya mulai merasakan gejolak batin terhadap gereja, dan saya melihat sekeliling, saya dapati wanita-wanita masuk gereja dengan berhias dan bersebelahan dengan pria-pria, semua shalat tanpa bersuci dan mengulang-ulang apa yang dikatakan pastor tanpa memahami sama sekali, melainkan hanya kebiasaan mendengar pembicaraan tersebut.
Ketika saya mulai membaca lebih banyak tentang Kristen, saya dapati apa yang disebut “Misa Ilahi” yang diulang-ulang dalam shalat-shalat tidak memiliki dalil dari Kitab Suci, dan perselisihan banyak terjadi antar denominasi yang berbeda bahkan di dalam setiap denominasi secara terpisah, yaitu seputar tafsir “Trinitas”… Saya juga merasa jijik sekali dari masalah minum anggur dan sepotong roti dari tangan pastor yang melambangkan darah Masih dan tubuhnya!!!”
Qommas Izzat Ishaq Mu’awwadh – yang melepaskan gelar dan namanya untuk berubah menjadi da’i Muslim Muhammad Ahmad ar-Rifa’i – melanjutkan pembicaraannya dengan berkata:
“Sementara keraguan menghinggapi saya terhadap Kristen, saya tertarik pada bentuk orang-orang Muslim dalam shalat, khusyuk dan ketenangan yang menyelimuti tempat meskipun saya tidak memahami apa yang mereka ulang-ulang… Ketika Al-Quran dibaca, itu menarik perhatian saya untuk mendengarkannya dan saya merasakan sesuatu yang aneh di dalam diri meskipun saya dibesarkan dengan kebencian terhadap orang-orang Muslim… Saya kagum dengan puasa bulan Ramadan dan menganggapnya lebih baik dari puasa minyak yang tidak disebutkan dalam Kitab Suci. Saya benar-benar berpuasa beberapa hari di bulan Ramadan sebelum masuk Islam.”
Da’i Muhammad Ahmad ar-Rifa’i melanjutkan perkataannya: “Saya mulai merasa bahwa Kristen adalah agama yang tidak lengkap dan rusak. Namun saya tetap ragu-ragu antara Kristen dan Islam selama tiga tahun. Selama itu saya terputus dari gereja sama sekali dan mulai banyak membaca serta membandingkan antar agama. Saya melakukan dialog dengan saudara-saudara Muslim yang memiliki peran besar dalam menimbulkan gerakan pemikiran pada diri saya… Saya melihat bahwa seorang Muslim yang tidak mendalami agamanya membawa ilmu dan keyakinan akan kebenaran agamanya yang melebihi apa yang dimiliki oleh orang Kristen mana pun. Bekal Islam dari Al-Quran dan Sunnah Nabawi tersedia bagi semua orang, laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Sementara ada salah satu kitab dalam Kitab Suci yang dilarang dibaca oleh orang Kristen sebelum berusia tiga puluh lima tahun, dan lebih baik jika sudah menikah!!”
Kemudian Muhammad Rifa’i diam sejenak untuk melanjutkan pembicaraannya dengan berkata: “Titik balik dalam hidup saya adalah pada awal bulan September 1988 ketika saya duduk dengan syaikh dan guru saya ‘Rifa’i Surur’ untuk pertama kali. Dia berdiskusi dan berdialog dengan saya lebih dari satu jam. Di akhir pertemuan saya memintanya untuk mengajarkan dua kalimat syahadat dan mengajari saya shalat. Dia meminta saya untuk mandi, maka saya mandi dan mengucapkan dua kalimat syahadat serta menyatakan keislaman saya. Saya mengambil nama ‘Muhammad Ahmad ar-Rifa’i’ setelah saya melepaskan nama lama saya ‘Izzat Ishaq Mu’awwadh’ dan menghapusnya dari semua dokumen resmi. Saya juga menghilangkan salib yang tergambar di tangan saya dengan operasi bedah… Cobaan pertama saya dalam Islam adalah pemboikotan keluarga dan penolakan ayah saya agar saya mendapat hak-hak materi saya atas bagian saya di perusahaan yang ada di antara kami. Tetapi saya tidak peduli, saya masuk Islam dengan tangan hampa, tetapi Allah menggantikannya dengan persaudaraan Islam dan pekerjaan yang memberikan penghasilan baik kepada saya.”
Dia menarik napas sambil mengakhiri perkataannya: “Yang saya harapkan sekarang adalah jangan sampai saya menjadi Muslim dengan keislaman yang hanya bermanfaat bagi saya sendiri saja, tetapi agar saya bermanfaat bagi orang lain dan berkontribusi dengan ilmu yang saya miliki tentang Kristen dan Islam dalam berdakwah kepada agama Allah Ta’ala.”
Surat kabar Al-Muslimun – terbit pada 4/10/1991 (dengan perubahan)
13- Pastor Filipina yang sebelumnya bernama Isa Biyago
Diwawancarai oleh: Ali Yasin
Namanya Isa Abdullah Biyago, berusia empat puluh tahun, negaranya Filipina, menikah dan memiliki anak, dulunya seorang pastor Katolik kemudian mendapat hidayah kepada cahaya, dan Allah melapangkan dadanya untuk Islam. Itu terjadi empat belas tahun yang lalu, dan sekarang dia datang untuk bekerja di Doha… Maka kami berusaha bertemu dengannya.
Kami bertanya tentang kehidupannya sebelum Islam, dia berkata: “Nama asli saya adalah Krisanto Biyago, saya belajar di Institut Teologi dan meraih gelar Sarjana Teologi serta bekerja sebagai pastor Katolik. Saya mendengar tentang orang-orang Muslim sebagai sekelompok orang, dan tidak ada ide pada saya tentang apa yang mereka yakini. Saat itu saya tidak tahan bahkan hanya mendengar nama mereka karena propaganda dunia yang ditujukan kepada mereka. Bahkan orang-orang Muslim yang tergabung dalam Front Pembebasan Moro di Filipina diberi kesan seolah-olah mereka adalah perompak dan barbar, mudah bagi mereka melakukan agresi dan menumpahkan darah. Perasaan ini saya rasakan bersama sebagian besar orang Kristen Filipina yang mewakili 90% penduduk.
Suatu hari saya menghadiri ceramah yang disampaikan oleh seorang penginjil Amerika bernama Peter Gowing tentang Islam. Saya tertarik untuk mengenal agama ini, dan mulai membaca beberapa risalah tentang rukun iman, rukun Islam, dan kisah para nabi. Saya terkagum bahwa Islam beriman kepada para nabi yang di antaranya yang terpenting adalah Masih ‘alaihis salaam.
Masalah saya adalah kurangnya buku-buku yang berbicara tentang Islam dan Al-Quran, tetapi saya tidak putus asa karena saya teringat dari pembicaraan penginjil Amerika yang mengatakan: Bahwa Taurat memiliki kesalahan-kesalahan, yang menimbulkan keraguan dalam diri saya. Saya mulai membentuk pemikiran saya tentang agama yang benar yang saya imani. Saya tidak menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk dalam dada saya tentang Injil. Setiap kali saya memecahkan satu masalah atau menjawab satu pertanyaan, muncul banyak masalah dan pertanyaan yang lebih banyak.
Saya berusaha mengosongkan pikiran dari setiap ide sebelumnya dan berdoa kepada Allah agar membimbing saya kepada kebenaran. Termasuk keanehan yang mengherankan bahwa saya sebagai seorang pastorisme mengajari orang-orang sesuatu yang tidak saya yakini. Misalnya, saya sama sekali tidak yakin dengan ide dosa asal dan penyaliban. Bagaimana Allah membebankan kepada seseorang dosa-dosa orang lain? Ini kezaliman. Mengapa Allah tidak mengampuninya dari awal? Bagaimana seorang ayah melakukan ini kepada anaknya? Bukankah ini menyakiti anak-anak tanpa hak? Apa perbedaannya dengan apa yang dilakukan orang-orang berupa perlakuan buruk terhadap anak-anak?
Saya mulai mencari wahyu yang sesungguhnya, saya merenungkan teks Taurat tetapi tidak menemukan kecuali kalimat-kalimat yang penuh dengan kesalahan dan kontradiksi. Kita tidak tahu siapa yang menulisnya dan siapa yang mengumpulkannya. Asal Taurat hilang, dan ada lebih dari satu Taurat. Keyakinan saya benar-benar goyah. Tetapi saya menjalankan pekerjaan saya agar tidak kehilangan sumber penghasilan dan semua hak istimewa saya.
Dua tahun berlalu dalam keadaan seperti ini hingga suatu hari saya bertemu dengan sekelompok Muslim yang membagikan buklet tentang Islam. Saya mengambil satu dari mereka dan membacanya dengan semangat, kemudian berusaha berdiskusi dengan kelompok yang membagikan buklet tersebut karena saya suka berdebat dan berpolemik. Ini bukan hal aneh, karena di Filipina ada kelompok-kelompok Kristen yang bertikai yang jumlahnya mendekati 20 ribu kelompok, dan sering saya berdebat dan berpolemik dengan beberapa kelompok tersebut.
Ketika saya duduk dengan tim Muslim tersebut di salah satu taman, saya terkejut bahwa yang berdialog dengan saya adalah seorang pastor besar yang masuk Islam. Saya mendengarkan pembicaraannya: tentang sistem politik dalam Islam, saya terkesan karena saya suka kesetaraan yang tidak saya temukan dalam sistem-sistem manusia, tetapi saat itu saya menemukannya dalam agama yang didasarkan pada firman Allah dan wahyu-Nya kepada makhluk-Nya.
Saya bertanya kepada pembicara tentang alasan dia memeluk Islam, kemudian tentang perbedaan antara Al-Quran dan Injil. Dia memberikan saya sebuah buku karya seseorang bernama Ahmad Deedat. Saya membaca buku itu dan menemukan di dalamnya jawaban atas semua pertanyaan saya tentang Injil serta benar-benar yakin.
Kemudian saya bertemu dengan pria itu setiap hari Jumat sore untuk bertanya tentang segala sesuatu. Karena keingintahuan saya, saya bertanya tentang Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan apakah dia dari keturunan Ismail. Dia berkata bahwa dalam Taurat yang ada sekarang terdapat penyebutan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan memberikan saya banyak kutipan dari Taurat dalam hal ini.
Saya mulai mencari untuk meyakinkan diri, dan yang menenangkan saya adalah bahwa iman saya kepada Isa ‘alaihis salaam membuat saya menerima iman kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pencarian saya berlanjut dua bulan, setelah itu saya merasa ragu-ragu karena khawatir dengan masa depan saya. Saya tahu dengan yakin bahwa jika saya masuk Islam, saya akan kehilangan segalanya: harta, gelar akademik, gereja, dan akan kehilangan kedua orang tua dan saudara-saudara saya.
Yang mengguncang saya adalah ketidakmampuan saya mengajar orang-orang tentang keyakinan Kristen karena saya menjadi sangat dingin dan tidak yakin dengan apa yang saya katakan. Saya berhenti membaca Taurat sampai kedua orang tua saya menyadarinya.
Kemudian saya bertemu dengan teman Muslim saya dan bertanya tentang shalat. Dia berkata: Syahadat dulu. Maka saya secara spontan mengangkat jari saya dan berkata mengikutinya: ‘Asyhadu an laa ilaaha illa Allah wa anna Muhammadan rasulullah’ dan saya tidak tahu arti perkataan ini sampai dia menjelaskannya kepada saya setelah itu. Saya berkata: ‘Dan saya bersaksi bahwa Isa adalah rasul Allah.’ Di majlis itu ada banyak Muslim dari berbagai kebangsaan, mereka semua berdiri dan memeluk serta mengucapkan selamat kepada saya. Saya berkata dalam hati: Semua orang ini Muslim meskipun berbeda kebangsaan dan warna kulit, Islam telah menyatukan mereka tanpa diskriminasi. Mengapa ada diskriminasi dalam Kristen sampai ditemukan kelompok Kristen untuk orang kulit putih dan kelompok Kristen untuk orang kulit hitam?
Saya pulang ke rumah dan mengucapkan syahadat dalam bahasa Inggris antara saya dan Allah Ta’ala karena orang-orang tidak penting bagi saya. Saya tetap dalam keislaman saya tanpa ada yang tahu dari kenalan saya, dan saya masuk gereja selama enam minggu, untuk kemudian mencabut sumbu bom dan mengumumkan keislaman saya. Kedua orang tua saya marah besar.
Pastor tertinggi datang ke rumah untuk berdiskusi dengan saya. Saya paparkan kepadanya kontradiksi-kontradiksi Injil yang saya miliki. Dia berbicara kepada saya tentang beberapa syubhat yang dikatakan tentang Islam. Saya katakan kepadanya: Yakinkan saya dulu bahwa Muhammad bukan rasul dari Allah. Dia berjanji tetapi tidak kembali. Setelah itu saya dengar bahwa seluruh gereja berdoa untuk saya agar kembali ke akal sehat, seolah-olah saya menjadi gila.
Setelah itu saya mulai meneguhkan kaki saya dalam Islam – dengan studi dan pembelajaran – dan kemudian saya menyajikan program-program Islam di televisi dan radio lokal yang didanai oleh pihak-pihak Islam, kemudian saya menikahi seorang wanita muslimah yang Allah karuniakan kepada saya darinya Abdul Samad anak tunggal saya (11 tahun). Setelah itu ayah, ibu, saudara perempuan saya beserta suaminya, anak laki-laki saudara saya dan anak perempuan saudara saya memeluk Islam. Dan saya memuji Allah karena saya menjadi sebab petunjuk mereka menuju jalan yang lurus.
Setelah kisah yang menakjubkan tentang keislaman Isa Piago ini, kami bertanya kepadanya tentang keadaan dakwah di Filipina, maka dia berkata: Setiap bulan lebih dari empat ratus orang Nasrani Filipina masuk Islam menurut catatan resmi, adapun jumlah sebenarnya kemungkinan lebih dari itu. Kebanyakan penduduk Filipina adalah Kristen hanya secara nama saja dan tidak menemukan orang yang mengajak mereka kepada Islam. Di antara mereka ada yang yakin dengan Islam, namun terhalang untuk memeluknya karena faktor ketakutan terhadap masa depan karena dia akan kehilangan keluarga dan akan kehilangan pekerjaan, karena orang-orang di sana tidak menerima mempekerjakan orang yang meninggalkan agama Nasrani.
Kami bertanya kepadanya tentang cara terbaik untuk berdakwah kepada Islam, maka dia berkata: Yaitu perlakuan yang baik dengan akhlak Islam, karena banyak dari orang yang masuk Islam dorongan mereka untuk mendekat kepada akidah tauhid adalah perlakuan baik kaum muslimin kepada mereka, seperti majikan yang muslim dengan perlakuan baik, atau teman seorang muslim yang baik pergaulannya dan santun akhlaknya. Banyak dari orang yang masuk Islam di Filipina tidak masuk Islam kecuali setelah mereka kembali ke negeri mereka setelah bekerja di negara Islam, karena mereka merasakan perbedaannya ketika mereka kehilangan iklim Islam, maka lenyaplah semua prasangka dan keraguan mereka tentang Islam sehingga mereka mengumumkan keislaman mereka jauh dari segala tekanan atau pengaruh. Oleh karena itu dia menganjurkan dakwah yang baik, dan tidak tergesa-gesa mengharapkan hasil, karena benih tidak tumbuh antara siang dan malam.
Saudara Isa berkata: Sesungguhnya sebagian dari orang yang masuk Islam, sebab keislaman mereka adalah karena terpengaruh dengan melihat pemandangan kaum muslimin ketika mereka shalat, karena itu benar-benar pemandangan yang menakjubkan.
Kami bertanya kepadanya: Bagaimana dengan dakwah kepada Kristen yang berpendidikan agama? Apakah cukup dengan hal itu saja? Maka dia berkata: Orang seperti ini kami ambil tangannya, dan kami ajak untuk membandingkan kitab-kitab suci, dan studi perbandingan agama, karena cara-cara tersebut lebih baik untuk meyakinkannya.
Kemudian pertanyaan terakhir adalah tentang hambatan-hambatan yang menghalangi orang memasuki Islam, maka dia berkata: Yang pertama menolak orang adalah pemikiran yang salah yang bersarang di pikiran mereka tentang Islam, kemudian ada perilaku banyak kaum muslimin, yang – dengan perkataan dan perbuatan mereka – memberikan gambaran buruk tentang Islam, kemudian fatwa sebagian muslimin tanpa ilmu. Dan yang terakhir adalah syubhat yang dibangkitkan seputar Islam bahwa ia mengajak kepada terorisme dan memperlakukan wanita dengan buruk, sehingga mengajak laki-laki untuk menceraikan istri, dan menikah dengan yang lain, dan bahwa Islam merampas hak-haknya dan menindas serta tidak memberikan kebebasan kepadanya. Tidak diragukan bahwa semua syubhat ini berpihak dan salah, namun – sayangnya – dibuat buku-buku tentangnya, dan dipromosikan di antara non-muslim untuk menghalangi mereka dari Islam. Di sinilah peran kami para da’i muslim untuk menyajikan gambaran cerah yang sebenarnya, dan menghilangkan debu serta meruntuhkan tembok tinggi yang didirikan oleh media yang merusak, untuk menghalangi antara manusia dengan pengenalan bebas terhadap agama Allah Tuhan semesta alam.
14- Pastor Prancis Sebelumnya Jean Marie Doucheman
Pada tanggal 6 September 1988 M, meninggal di Casablanca Maroko, Bapak “Abdul Majid Jean Marie Doucheman” dalam usia delapan puluh tahun. Dia dimakamkan di pemakaman kota Maroko itu atas keinginannya untuk dimakamkan di tanah Islam. Keinginan ini adalah sebab kepergiannya dari kota Le Mans di barat Prancis, untuk tinggal di Maroko tahun 1987 M.
Pastor Kristen sebelumnya ini memutuskan perpindahan ini, setelah memeluk agama Islam pada tahun-tahun terakhir, dan kisah keislamannya memiliki kepentingan yang sangat besar yang membuat muslim Prancis ini dibandingkan dengan Dr. “Groningen” yang memasuki Parlemen Prancis dengan pakaian Arab, setelah mengumumkan berpegang teguh pada agama Islam tahun 1894 M di kota Baladia di Aljazair. Sebagaimana alasan-alasan yang membuat Bapak “Doucheman” lebih memilih Islam mengingatkan pada sikap yang dijelaskan “Abdullah at-Tarjuman” pastor Spanyol yang meninggalkan perguruan tinggi teologi di Bologna Italia pada akhir abad keempat belas Masehi ke Tunisia, di mana dia mengumumkan keislamannya di hadapan Sultan Abu al-Abbas al-Hafshy.
Komunitas Islam di barat Prancis terpengaruh dengan wafatnya pria ini yang mengkhususkan bagian besar dari harta dan waktunya untuk membantu pekerja muslim dari Afrika Utara dan Afrika Hitam serta dari Turki, sejak seperempat abad. Setiap orang yang menghadapi kesulitan di bidang pekerjaan, tempat tinggal dan pendidikan anak-anak mengetuk pintunya… Dan Bapak Doucheman berhasil meringankan kesulitan yang dialami para pekerja perantau.
Sebelum titik balik kehidupan ini, dia telah menaruh perhatian untuk mengenal Islam ketika dia ingin menjadi misionaris di Maroko atau di Afrika, dan dia mengagumi pada awal masa mudanya Bapak Dufuco yang membentuk kelompok agama untuk mengkhususkan diri dalam mengkristenkan kaum muslimin. Dia tidak dapat melaksanakan proyek ini karena kondisi kesehatannya. Sebagai ganti bepergian ke luar Prancis, Doucheman memasuki institut persiapan pastor, di mana dia lulus tahun 1932 M, ketika berusia dua puluh empat tahun, dan ditunjuk memimpin berbagai gereja di kota-kota dan desa-desa yang berdekatan dengan kota Le Mans, yang dia tinggali di salah satu kawasan rakyatnya.
Impian Doucheman dan budayanya, di samping seleranya sebagai pelukis yang melukis kanvas minyak dengan tanda tangan “Dotto”, yang merupakan nama samaran, membuatnya diminta oleh orang-orang kaya dan bangsawan provinsi yang mengharapkan dari pastor itu budaya tinggi di samping pengetahuannya tentang ilmu teologi dan sejarah gereja… Namun dia tidak tahan dengan aspek-aspek dari jiwa yang berlaku di dalam gereja karena itu bertentangan menurutnya dengan kejujuran yang dihasilkan dari iman yang sejati. Dia sebelumnya telah menulis buku yang menyindir perilaku sebagian penanggungjawab di gereja, namun dia tidak ingin menerbitkan buku berharga ini yang dia membacakan halaman-halamannya kepada para pastor yang dia undang ke mejanya untuk menghibur mereka.
Pada periode ini Bapak Doucheman adalah pastor ideal yang berpegang teguh pada nilai-nilai Injil lebih dari setuju dengan gereja dan tidak tahan dengan apa yang mendekati kemunafikan, namun dengan itu dia tetap disiplin mematuhi perintah yang datang dari puncak.
Pada tahun 1947 M Bapak Doucheman menemukan terjemahan Surah al-Fatihah dan dia tekun membacanya dan mulai membaca terjemahan ini di tengah doa-doa Kristen, hingga dia mengunjungi masjid Paris tahun 1957 M dengan kesempatan pameran seni. Di sana dia membeli terjemahan lengkap Al-Qur’an karya Profesor Monti. Sejak periode itu dia terbiasa membaca Al-Qur’an beberapa kali setiap tahun.
Setelah berakhirnya perang Aljazair dia berkenalan dengan beberapa orang Aljazair yang hijrah bersama tentara Prancis, dan setelah berakhirnya kontrak mereka keluar dari barak yang terletak dekat kota Le Mans, dan menghubunginya agar membantu mereka dalam mencari pekerjaan. Demikianlah terjadi hubungan antara Bapak Doucheman dan komunitas Islam di kota Le Mans dan sekitarnya… Di antara yang dia perhatikan adalah pengaruh agama terhadap perilaku dan budaya mereka, dan dia pandai berdialog dengan mereka, meskipun mereka tidak menguasai bahasa Prancis dan dia tidak mengetahui bahasa Arab hingga suatu hari dia berpikir untuk membuka masjid agar para pekerja berkumpul di dalamnya yang sebelumnya shalat di rumahnya.
Dia mengarahkan permohonan pertama kepada administrasi gereja agar menerima menjual sebidang tanah kepada perkumpulan muslim as-Sarthe yang didirikan sejumlah imigran yang sudah lama di Prancis atas ilham dari pastor yang menulis teks-teks dasar, dan melakukan sisa prosedur administratif tahun 1970 M. Gereja tidak menerima melaksanakan proyek ini karena pemikiran sebelumnya tentang Islam yang berlaku saat itu di kalangan Kristen, namun desakan Bapak Doucheman membuat Uskup Chevalier menyetujui penjualan sebidang tanah yang terletak di kawasan “Flancourt” di jalan menuju kota Tours. Demikianlah dimulai pembangunan masjid berkat kerelawanan sejumlah pekerja muslim (yang bekerja di sektor bangunan) dan pendanaan dari para dermawan lain. Bapak Doucheman adalah yang paling murah hati di antara para dermawan ini, di mana dia membayar biaya yang tidak mampu dibayar para pekerja. Demikianlah dibuka salah satu masjid terbesar di luar Paris pada awal tahun tujuh puluhan, dan Bapak Doucheman terus merawat komunitas Islam hingga dia sering ke kafe untuk bertemu dengan pekerja muslim yang dilupakan pemerintah mereka dan ditinggalkan oleh orang Prancis dan lembaga-lembaga yang disebut nasional.
Ketika dia mencoba melarang mereka minum khamar, suatu kali salah seorang dari mereka menjawabnya: “Mengapa engkau minum khamar sedangkan engkau seorang agamawan?” Maka pastor memutuskan sejak waktu itu berhenti minum khamar, agar nasihatnya didengar oleh orang-orang yang dia berusaha menyelamatkan.
Kemudian dia mulai menemani orang-orang yang meninggalkan kafe untuk kembali ke masjid untuk shalat bersamanya pada hari Jumat, dan di bulan Ramadan, dia mulai berpuasa bersama kaum muslimin, sementara dia melanjutkan kegiatannya sebagai pastor Kristen yang melakukan doa dan khotbah di gereja-gereja Le Mans dan sekitarnya. Para Kristen tradisional menikmati khotbah-khotbah agamanya.
Setelah dia mulai memperdalam pengetahuannya tentang Islam, dia mulai membaca semua yang diterbitkan tentang agama ini. Dia mengkaji ulang pelajaran agamanya, dan membuka kembali buku-buku yang tercantum dalam program institut persiapan pastor yang dia lulus tahun 1932 M. Hingga dia menjadi ahli dalam perbandingan antara agama Kristen dan Islam. Dia mulai memasukkan banyak pemikiran Islam dalam khotbah-khotbah agamanya yang ditujukan kepada kaum Kristen. Dia melewati berbagai tahap yang membawanya menolak sejumlah keyakinan Kristen seperti pemikiran ketuhanan Isa alaihissalam dan pemikiran trinitas.
Setelah terbit buku yang diterbitkan Kardinal Danielou, pada akhir tahun enam puluhan, di mana penulis mempertanyakan keadaan di mana Injil-Injil ditulis dan pengaruh Santo Paulus (yang tidak mengenal Tuan Masih) terhadap penulis-penulis Injil, Bapak Doucheman mulai membandingkan ini dengan terpeliharanya teks asli oleh kaum muslimin. Dia merenungkan dalam-dalam ayat-ayat yang ditujukan kepada Ahli Kitab dan kepada kaum Kristen seperti: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu” (an-Nisa: 171) dan “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya kami ini orang Nasrani’. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri” (al-Maidah: 82).
Dia sangat heran ketika Profesor Hamid Allah, setelah berpamitan darinya setelah mengunjungi masjid baru, berkata kepadanya: “Kita akan bertemu insyaallah pada hari kiamat.” Maka pastor bertanya: “Bisakah seorang agamawan Kristen bersama kaum muslimin pada hari kiamat?” Kemudian Hamid Allah menegaskan kepadanya: “Ya, sesungguhnya Allah membalas setiap orang yang berusaha agar Dia disembah di bumi ini.” Maka pastor membandingkan itu dengan prinsip Kristen bahwa “tidak ada keselamatan di luar gereja”. Dia membaca kembali ayat-ayat yang menjamin surga bagi setiap “orang yang beriman dan beramal saleh” (al-Baqarah: 62).
Pada tahun 1976 M, Bapak Doucheman melakukan kunjungan ke India dan Pakistan selama empat puluh hari, dan mempertahankan kesan positif… Mungkin pastor memutuskan memeluk Islam pada tahun ini, namun dia mulai menyembunyikannya, agar tidak mengganggu anak perempuan bibinya yang dia asuh dan yang menunjukkan berpegang teguh sangat kuat pada Kristen tradisional. Setelah kematiannya tahun 1982 M, Doucheman mengubah suasana rumahnya, di mana dia meletakkan nama Allah di tempat-tempat yang dahulu ada salib atau patung. Dia telah memilih untuk dirinya nama “Abdul Majid” karena itu nama pemuda Tunisia yang membantunya mengenal Islam, sementara tetap berhati-hati terhadap shalat lima waktu dan puasa Ramadan, dan melanjutkan khotbahnya di hadapan jamaah Kristen yang tidak memperhatikan kecuali sedikit dari mereka bahwa pastor favorit mereka mulai berbicara kepada mereka tentang keagungan Allah lebih dari fokus pada kepribadian Tuan Masih (as).
Pada tahun 1983 M dia pergi ke masjid Paris untuk mengumumkan keislamannya secara resmi untuk memperoleh sertifikat pemelukan. Karena dia memutuskan pergi tinggal di negara Islam agar dimakamkan di tanah Islam… Pengumuman keislamannya secara resmi mendapat reaksi di kalangan Kristen lokal yang mendorongnya untuk meninggalkan tempat kelahirannya, namun Uskup Gelson berhati-hati untuk melanjutkan hubungan dengannya, meskipun tidak memahami inisiatif seperti ini yang semakin aneh menurutnya, karena datang dari salah satu pastor terbaik dalam ilmu dan ketakwaan.
Pada Agustus Abdul Majid Doucheman meninggalkan kota Le Mans menuju Casablanca di Maroko, di mana dia terkejut dengan perbedaan yang ada antara pemikirannya tentang Islam dan keadaan kaum muslimin saat ini…
Sumber: “Islam dan Barat, Wajah Lain” karya Hassan as-Said
15- Bekas Pengajar Teologi Amerika Mary Watson
Pengajar teologi “Mary Watson” setelah keislamannya:
- Saya belajar teologi selama delapan tahun.. dan mendapat petunjuk kepada Islam dalam seminggu!!
- Hari keislaman saya adalah hari kelahiran saya.. dan kaum muslimin membutuhkan kekuatan iman
Di antara keraguan dan keyakinan ada jarak, dan antara keburukan dan kebaikan ada langkah-langkah, yang dilalui “Mary Watson” bekas pengajar teologi di salah satu universitas Filipina, dan misionaris dan pendeta yang berubah dengan karunia Allah menjadi da’iyah Islam yang meluncurkan dakwahnya dari Buraydah di Kerajaan Arab Saudi dengan pusat penyuluhan komunitas di Qassim, untuk menceritakan kepada kami bagaimana dia sampai ke pantai Islam dan diberi nama Khadijah.
Data pribadi Anda sebelum dan setelah Islam? Saya memuji Allah atas nikmat Islam, nama saya sebelum Islam adalah “Mary” dan saya memiliki tujuh anak laki-laki dan perempuan dari suami Filipina, saya orang Amerika kelahiran negara bagian Ohio, dan hidup sebagian besar masa muda saya antara Los Angeles dan Filipina, dan sekarang setelah Islam alhamdulillah nama saya Khadijah, dan saya memilihnya karena Sayyidah Khadijah radhiyallahu anha adalah janda dan saya juga janda, dan dia memiliki anak-anak, saya juga demikian, dan dia berusia 40 tahun ketika menikah dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan beriman dengan apa yang diturunkan kepadanya, dan saya juga demikian ketika berusia empat puluhan, ketika memeluk Islam, sebagaimana saya sangat mengagumi kepribadiannya, karena ketika wahyu turun kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam dia mendukung dan menyemangatinya tanpa ragu, oleh karena itu saya suka kepribadiannya.
Ceritakan kepada kami tentang perjalanan Anda dengan Nasrani. Saya memiliki tiga gelar akademik: gelar dari perguruan tinggi tiga tahun di Amerika, dan sarjana ilmu teologi di Filipina, dan pengajar teologi di dua perguruan tinggi, saya adalah teolog dan dosen dan pendeta dan misionaris, demikian juga bekerja di radio stasiun agama Nasrani untuk menyiarkan dakwah Nasrani, dan juga tamu di program-program lain di televisi, dan menulis artikel-artikel melawan (Islam)…
Bagaimana dengan anak-anak Anda?
Ketika saya bekerja di pusat Islam di Filipina, saya membawa pulang beberapa buklet dan majalah dan meninggalkannya di rumah di atas meja “dengan sengaja” semoga Allah memberi petunjuk kepada anak saya “Christopher” kepada Islam, karena dialah satu-satunya yang tinggal dengan saya, dan memang dia dan temannya mulai membacanya dan meninggalkannya sebagaimana adanya, demikian juga saya memiliki “alarm adzan” maka dia mulai mendengarkannya berulang-ulang ketika saya di luar kemudian setelah itu dia memberitahu saya keinginannya masuk Islam, maka saya sangat gembira dan menyemangatinya kemudian datang beberapa saudara dari pusat Islam untuk mendiskusikan Islam dengannya dan atas dasar itu dia mengucapkan syahadat dan dialah anak tunggal saya yang memeluk Islam saat ini, dan dia menamakan dirinya Umar, dan saya berdoa kepada Allah agar menganugerahkan kepada anak-anak saya yang lain nikmat Islam.
Apa yang menarik perhatian Anda dalam agama Islam?
Islam adalah jalan yang paling sempurna dan ideal untuk kehidupan, dengan kata lain Islam adalah kompas yang mengarahkan semua aspek kehidupan dalam ekonomi, sosial, dan lainnya hingga keluarga dan cara berinteraksi antar anggotanya.
Apa ayat yang paling menggetarkan hatimu?
“Mereka itu mempunyai derajat-derajat di sisi Allah dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan” (QS. Ali Imran: 163). Ayat ini sangat bermakna bagiku dan telah membantuku di saat kesulitan.
Jenis buku apa yang telah kamu baca?
Saya sangat suka membaca. Saya telah membaca Shahih Bukhari dan Muslim, sirah nabawiyah, tentang beberapa sahabat laki-laki dan perempuan di samping tafsir Al-Qur’an tentu saja dan banyak buku lainnya.
Memasuki lingkungan baru memiliki kesulitan, apa saja kesulitan yang kamu hadapi?
Saya tinggal antara Amerika dan Filipina, dan semua putri saya menikah di sana. Ketika saya masuk Islam, tiga dari putri saya bereaksi keras terhadap keislaman saya, sedangkan yang lainnya menganggapnya sebagai kebebasan pribadi. Rumah dan telepon saya juga diawasi, jadi saya memutuskan untuk menetap di Filipina. Namun keluarga suami saya mengingkari saya karena sebelumnya saya dekat dengan mereka mengingat ayah dan ibu saya sudah meninggal, karena itu saya menangis selama tiga hari. Ketika saya tampil di jalan dengan pakaian ini, anak-anak memanggil saya dengan sebutan “syaikhah” atau “khemah”, dan saya menganggap ini sebagai dakwah ke Islam, karena semua orang yang mengenal saya benar-benar menghindari saya.
Apakah kamu menghadiri seminar atau konferensi setelah memeluk Islam?
Saya tidak menghadiri, tetapi saya memberikan banyak ceramah tentang Islam di universitas dan perguruan tinggi di Filipina. Saya pernah diundang oleh kepala-kepala negara untuk mengadakan dialog antara muslimah dan nasrani, tetapi saya tidak suka dialog seperti itu karena caranya keras dalam diskusi, dan saya tidak suka metode dakwah seperti itu. Saya lebih suka pendekatan yang tenang, terutama memperhatikan orangnya terlebih dahulu baru kemudian mendakwahinya.
Apa pendapatmu tentang apa yang dikatakan mengenai rencana seperempat abad mendatang untuk mengkristenkan umat Islam?
Setelah membaca tentang Islam dan dalam Islam, saya mengetahui mengapa Islam dianiaya oleh semua agama karena Islam adalah agama yang paling tersebar di dunia, dan umat Islam adalah orang-orang yang paling kuat karena mereka tidak mengubah agama mereka dan tidak ridha dengan gantinya, karena agama Islam adalah agama yang haq dan agama lain tidak akan memberikan kepada mereka apa yang diberikan Islam kepada mereka.
Apa yang kamu harapkan untuk dirimu dan untuk Islam?
Untuk diriku sendiri – insya Allah – saya akan pergi ke Afrika untuk belajar dan bekerja dalam dakwah, dan saya berharap dapat mengunjungi Mesir untuk melihat fir’aunnya yang disebutkan dalam Al-Qur’an, dan Allah menjadikannya tanda bagi manusia. Adapun untuk Islam, kita perlu menunjukkan kebenaran, kekuatan, dan kebaikannya di tengah-tengah lingkungan yang terjadi penggelapan atau gangguan media. Kita juga membutuhkan muslim yang kuat imannya, iman mereka tidak surut, mereka melakukan dakwah kepada Allah.
Islam sebelum taubatku, maka saya memohon kepada Allah agar mengampuni saya, karena dahulu saya sangat fanatik terhadap Kekristenan.
Lalu apa titik balik kamu dari misionaris menjadi da’iyah Islamiyah?
Saya sedang dalam salah satu kampanye misionaris ke Filipina untuk memberikan beberapa ceramah, tiba-tiba ada seorang profesor dosen Filipina yang datang dari salah satu negara Arab, saya melihat hal-hal aneh padanya, lalu saya bertanya dan mendesak sampai saya tahu bahwa dia masuk Islam di sana, dan tidak ada yang tahu keislamannya saat itu.
Bagaimana kamu melewati hambatan-hambatan ini sampai sampai ke Islam?
Setelah mendengar tentang Islam dari dokter Filipina ini, banyak pertanyaan muncul dalam benak saya: Mengapa dia masuk Islam? Mengapa dia mengubah agamanya? Pasti ada sesuatu dalam agama ini dan dalam apa yang dikatakan Kekristenan tentangnya?! Lalu saya teringat teman lama Filipina yang masuk Islam dan bekerja di Jazirah Arab, maka saya mendatanginya dan mulai bertanya tentang Islam. Hal pertama yang saya tanyakan adalah perlakuan terhadap wanita, karena Kekristenan percaya bahwa wanita Muslim dan hak-hak mereka berada pada tingkat terendah dalam agama mereka, dan ini tentu saja tidak benar. Saya juga percaya bahwa Islam mengizinkan suami memukul istri mereka, karena itu mereka bersembunyi dan selalu menjadi makhluk di rumah mereka! Saya sangat lega dengan perkataannya lalu saya melanjutkan bertanya tentang Allah Azza wa Jalla, dan tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika dia menawarkan saya untuk pergi ke pusat Islam, saya ragu-ragu lalu dia menyemangati saya. Saya berdoa kepada “Tuhan” dan memohon kepada-Nya agar memberi petunjuk, lalu saya pergi. Mereka sangat heran dengan pengetahuan saya yang luas tentang Kekristenan dan keyakinan saya yang salah tentang Islam, dan mereka meralat itu untuk saya, memberikan brosur-brosur yang saya baca setiap hari dan berbicara dengan mereka tiga jam sehari selama seminggu. Di akhir minggu itu saya telah membaca 12 buku, dan itu adalah pertama kalinya saya membaca buku-buku karya penulis Muslim. Hasilnya saya menemukan bahwa buku-buku yang pernah saya baca sebelumnya karya penulis Kristen penuh dengan kesalahpahaman dan kesalahan tentang Islam dan umat Islam, karena itu saya bertanya lagi tentang kebenaran Al-Qur’an Al-Karim, dan kata-kata yang diucapkan dalam shalat.
Di akhir minggu saya tahu bahwa itu adalah agama yang haq, dan bahwa Allah satu tidak ada sekutu bagi-Nya, dan Dia-lah yang mengampuni dosa-dosa dan kesalahan, dan menyelamatkan kita dari azab akhirat. Tetapi Islam belum menetap di hati saya, karena setan selalu menyalakan sumbu ketakutan dan kecemasan dalam jiwa, maka pusat penyuluhan Islam mengintensifkan ceramah-ceramah untuk saya, dan saya memohon kepada Allah agar memberi petunjuk. Dalam bulan kedua, pada suatu malam – saat saya berbaring di tempat tidur dan hampir tertidur – saya merasakan sesuatu yang aneh menetap di hati saya, lalu saya langsung bangun dan berkata: “Ya Rabb, saya beriman kepada-Mu saja,” dan saya mengucapkan syahadat lalu merasakan ketenangan dan kenyamanan meliputi seluruh tubuh saya. Alhamdulillahi robbil ‘alamiin atas Islam, dan saya tidak pernah menyesal atas hari itu yang dianggap hari kelahiran saya.
Bagaimana perjalananmu dengan Islam sekarang?
Setelah masuk Islam saya meninggalkan pekerjaan saya sebagai profesor di perguruan tinggi, dan beberapa bulan kemudian saya diminta mengorganisir sesi atau seminar wanita untuk kajian Islam di pusat Islam di Filipina tempat saya tinggal, dan saya bekerja di sana sekitar satu setengah tahun, kemudian bekerja di pusat penyuluhan komunitas di Qashim – bagian wanita sebagai da’iyah Islam khusus berbicara dalam bahasa Filipina di samping bahasa asli saya.
16- Mantan Guru Kekristenan Sri Lanka Aldo Dameris
“Aldo Dameris” adalah salah seorang pendeta yang antusiasmenya terhadap Kekristenan mencapai puncaknya dan termasuk da’i yang tulus untuk Kekristenan di negaranya Sri Lanka. Tugasnya adalah mengajarkan kepada generasi muda akidah Trinitas dan menanamkannya dalam jiwa mereka serta memperdalam dalam hati dan pikiran mereka agar mereka tumbuh sebagai Kristen yang tidak mengenal agama selain Kekristenan. Yang membantunya menguasai pekerjaannya adalah kenyataan bahwa dia salah seorang spesialis dalam ilmu perbandingan agama di samping kualifikasi universitasnya di bidang ekonomi dan perdagangan yang memberinya kesempatan bekerja di Kerajaan Arab Saudi, dari mana dimulai kisah keimanannya terhadap Islam.
“Aldo Dameris” mengira bahwa umat Islam adalah kaum penyembah berhala yang menyembah bulan, dan dugaan ini adalah hasil pemahaman yang salah karena penelitian Muslim terhadap kemunculan bulan setiap awal bulan qamariyah, karena dia tidak tahu bahwa ini karena kebutuhan mengetahui awal-awal bulan agar mereka dapat melaksanakan kewajiban puasa dan haji pada waktunya… Dan dengan pemahamannya yang dangkal – saat itu – dia percaya bahwa tindakan Muslim seperti ini adalah bentuk penyembahan bulan sebagaimana yang dilakukan penyembah berhala. Yang membantu mengukuhkan pemikiran yang salah ini dalam dirinya adalah tumbuh dalam keluarga Kristen yang fanatik, karena itu masalah keislamannya jauh dari bayangan orang-orang yang mengenalnya, apalagi dari bayangannya sendiri.
Ketika “Aldo” datang ke Kerajaan Arab Saudi, dia terhenti dan tertarik dengan tutupnya toko-toko dan perginya kumpulan Muslim ke masjid ketika muadzin mengumandangkan adzan shalat. Pemandangan ini menariknya dengan apa yang digambarkannya dari makna mendalam dalam jiwa Muslim dan kebanggaan mereka dengan agama mereka… Juga menarik perhatiannya perlakuan baik yang diterimanya, di samping pengetahuannya – akhirnya – bahwa Islam mengajak kepada nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang jika diterapkan akan meliputi dunia dengan cinta dan keadilan, kemudian jiwanya mulai condong untuk mengetahui rahasia agama ini. Ketika perasaan ini menguat dalam dirinya, dia mulai tidak puas dengan bertanya saja, tetapi dia mulai mencari terjemahan makna Al-Qur’an Al-Karim agar dapat menemukan sendiri sisi-sisi kefasihan dan kemukjizatannya… Dan tidak lama kemudian tercapai apa yang dia inginkan ketika menemukannya pada salah seorang temannya yang Muslim lalu dia meminjamnya dengan gembira, dan terus tekun padanya mempelajarinya sampai tiba adzan subuh dan dia mendengar muadzin memanggil untuk shalat, maka matanya berlinang air mata, dan dia tidak bisa tidak bergegas untuk mandi dan shalat sebagaimana dia lihat Muslim lakukan.
“Aldo” harus memahkotai keimanannya dengan membuktikannya secara resmi agar dapat mengunjungi Ka’bah yang mulia dan Masjid Nabawi yang mulia, kemudian dia menuju salah seorang temannya yang Muslim untuk membimbingnya ke jalan pengumuman keislamannya yang terwujud dengan kehadiran hakim syar’i mengumumkan kelahirannya kembali dengan nama “Muhammad Syarif”.
“Muhammad Syarif” tidak puas dengan keislamannya saja, karena dia merasa ada kewajiban yang dituntut darinya untuk ditunaikan yaitu berkontribusi dalam memberi hidayah kepada orang lain, terutama mereka yang dia adalah salah satu sebab mendalamnya Kekristenan dalam jiwa mereka dari keluarga dan murid-muridnya.
Dia berhasil dengan ketekunan dan metode dialognya yang tenang berdasarkan fakta-fakta meyakinkan keluarganya dan banyak kerabatnya bahwa Islam adalah agama yang haq, maka mereka beriman termasuk seorang teman pendeta yang menjadi – setelah islamnya – termasuk orang beriman yang paling tulus terhadap agama Allah, dan dia juga berhasil memberi hidayah kepada murid-muridnya terdahulu, maka sebagian besar mereka masuk Islam.
Yang patut dicatat bahwa studi “Muhammad Syarif” terhadap Kekristenan – sebagaimana dia katakan – adalah sebaik-baik penolong baginya dalam meyakinkan mereka yang Allah beri hidayah, karena dia menjelaskan kepada mereka setelah Allah memberinya hidayah sejauh mana pertentangan yang terjadi dalam Injil-injil tentang hakikat Isa alaihissalam pada saat Al-Qur’an Al-Karim mengambil sikap yang tegas dan jelas tentang hakikat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu, sikap yang dapat diterima akal dan sesuai dengan logika. “Muhammad Syarif” adalah contoh da’i Muslim, di mana dia memanfaatkan pengetahuannya terhadap delapan bahasa dalam dakwah kepada Allah di antara penutur bahasa-bahasa tersebut, dan dia – sebagai da’i – memiliki pandangan dan metode dakwah kepada agama Allah yang patut diperhatikan karena berasal dari pengalaman praktis, di antaranya:
Dia melihat bahwa dakwah Islam masih kekurangan banyak hal, di antaranya sebagai contoh sedikitnya surat-surat dan publikasi yang mengajak manusia kepada agama Allah, sementara tersedia baginya selama bekerja dalam misionaris.
Dia juga melihat bahwa da’i Muslim dituntut untuk menyusup dalam kalangan rakyat di berbagai negara untuk menjelaskan kepada manusia hakikat Islam dan keistimewaannya yang unik, terutama karena persepsi umum di negara-negara non-Islam akibat pengaruh da’i Kekristenan tidak menguntungkan Islam, karenanya tidak logis kita mengajak manusia masuk dalam agama yang informasi mereka tentangnya menyimpang.
Karena itu “Muhammad Syarif” menuntut perlunya mengikuti cara-cara taktis dalam dakwah Islam yang dimulai dengan menjelaskan inti Islam dan bagaimana agama di sisi Allah adalah Islam, dan menjelaskan hakikat Isa alaihissalam sebagai nabi yang diutus dengan kebenaran, dan menerangkan sejauh mana penghormatan Muslim kepadanya sebagai nabi, dan kepada ibunya yang suci yang Islam tempatkan di barisan terdepan wanita surga.
Dia juga menunjukkan kepada bagian penting, yaitu yang menjadi tanggung jawab orang kaya Muslim, dia melihat bahwa kewajiban mengharuskan mereka untuk berinisiatif mencetak terjemahan makna Al-Qur’an Al-Karim dan buku-buku yang membahas inti akidah Islam dan buku-buku lain yang layak untuk dakwah ke berbagai bahasa, karena banyak anak bangsa lain yang rindu mengenal hakikat Islam dan ajarannya, namun penghalang bahasa menjadi batu sandungan di hadapan tercapainya keinginan mereka.
“Muhammad Syarif” mengemukakan suatu kenyataan agar orang kaya Muslim mengetahuinya, dia berkata: “Kegiatan misionaris mendapat dukungan dari orang kaya Kristen, sementara Muslim meletakkan beban kegiatan dakwah di pundak pemerintah dan organisasi serta lembaga yang biasanya sibuk dengan berbagai warna kegiatan.”
Demikianlah kita menemukan diri kita di hadapan sosok yang telah ikhlas dalam memeluk Islam, sampai pada tingkat kecintaannya terhadap dakwah kepadanya dengan memberi wawasan kepada da’i Muslim tentang metode dan kebutuhannya agar memiliki pengaruh yang efektif.
17- Mantan Guru Kekristenan India Krist Raja
Krist Raja, ilmuwan Kristen yang memeluk Islam: Saya membaca Al-Qur’an dengan tujuan mengkritik tetapi Allah memberi hidayah kepada saya ke Islam.
Seorang ilmuwan Kristen di negara bagian “Tamil Nadu” dari ujung selatan India yang mendalami studi kitab-kitab Yahudi dan Kristen yang disebut dengan kitab suci. Dia percaya bahwa Al-Qur’an dicuri dari Perjanjian Lama dan Baru, lalu dia menemukan kesempatan untuk membaca terjemahan makna Al-Qur’an Al-Karim dalam bahasa Tamil lalu mengetahui bahwa itu diturunkan dari sisi Allah Ta’ala maka mengucapkan kalimat tauhid dan menamai dirinya “Muhammad”.
Dialog yang dilakukan Abu Busyra
- Apa kisah keislamanmu wahai Muhammad?
- Nama pertama saya adalah “Krist Raja”. Saya lahir dalam keluarga Kristen di sebuah desa dari negara bagian Tamil Nadu dan bahasa saya Tamil dan saya menguasai sejumlah bahasa. Sejak kecil saya suka Kekristenan dan juga Mesias dengan cinta yang sangat, karena pendeta-pendeta Kristen mengajarkan kepada saya bahwa yang tidak mencintai Mesias tidak masuk surga, dan saya tumbuh dengan akidah ini. Saya selalu berdoa kepada Tuhan agar mengubah semua Muslim menjadi Kristen.
Pada suatu hari saya bertemu dengan seorang ilmuwan Muslim dan saya menemukan kesempatan untuk mendiskusikan beberapa hal yang berkaitan dengan Islam dan Kekristenan dengannya, dan dia menantang saya dengan berkata: “Kamu tidak akan menemukan sesuatu pun dalam Al-Qur’an yang bertentangan dengan akal atau bertentangan dengan fitrah.” Tantangan ini menjadi sebab saya membaca Al-Qur’an Al-Karim, maka saya membaca terjemahan makna dalam bahasa Tamil dua kali lalu mengetahui bahwa Islam adalah agama yang benar dan Kekristenan telah diselewengkan, maka saya menerima Islam sebagai agama.
- Apakah kamu menghadapi masalah apa pun dari masyarakatmu setelah mengumumkan Islam?
- Tentu saya menghadapi banyak masalah dari masyarakat saya. Mereka memandang saya dengan pandangan mengejek dan berkata kepada saya: “Kamu sudah menjadi gila” dan mereka menertawakan saya karena saya memelihara jenggot setelah terbiasa mencukurnya, dan saya menanggung semua masalah ini dari kaum saya dan bersabar atasnya karena saya membaca dalam Al-Qur’an kisah-kisah para da’i dan pembaharu dari para nabi dan rasul dan kesabaran mereka menanggung gangguan dan musibah dalam rangka menyampaikan dakwah kepada Allah.
- Apakah ada yang masuk Islam melalui tanganmu?
- Ya, istri saya masuk Islam melalui tangan saya dan tiga dari anak-anak saya dan juga beberapa saudara lainnya masuk Islam melalui tangan saya.
- Apa yang kamu kerjakan sekarang wahai Muhammad?
- Kalian tahu dengan baik bahwa pendeta-pendeta Kristen dan ulama serta da’i mereka menikmati segala kenikmatan di dunia dan hidup dengan kehidupan yang ridha dengan apa yang mereka peroleh dari bantuan besar dari negara-negara Kristen, dan saya meninggalkan semua ini karena mengharap apa yang Allah sediakan untuk saya di akhirat berupa kenikmatan di surga. Sekarang saya berkeliling di desa-desa dan kota-kota berjalan kaki dan bertemu dengan orang-orang secara individu dan berkelompok, saya arahkan dakwah kepada mereka dan mengajak mereka ke Islam dan menjelaskan kepada mereka kebatilan agama mereka dan berusaha menyampaikan terjemahan makna Al-Qur’an Al-Karim kepada setiap orang non-Muslim. Karena saya yakin bahwa mereka jika membaca Al-Qur’an sekali saja dari awal sampai akhir maka mereka akan masuk dalam agama Allah.
- Kamu mengatakan bahwa kamu bekerja dalam bidang dakwah, apakah kamu bekerja sendiri atau mengikuti salah satu pusat Islam?
- Saya tidak bisa bekerja sendiri karena saya tidak menemukan apa yang saya belanjakan, karena itu saya bekerja sebagai da’i di pusat dakwah untuk Muslim baru yang mengikuti jam’iyyah Ahli Qur’an dan Hadits di negara bagian Tamil Nadu selatan India yang berusaha keras dalam menyebarkan dakwah kepada Allah di antara Muslim dan lainnya.
- Apa yang ingin kamu katakan kepada umat Islam?
- Sesungguhnya masa depan adalah untuk Islam dan ribuan hati di wilayah ini menunggu kesempatan untuk masuk Islam. Umat Muslim memiliki tanggung jawab besar, mereka harus menunjukkan gambaran Islam yang benar terlebih dahulu, kemudian melakukan dakwah berkelanjutan dan bersungguh-sungguh dalam memperkenalkan Islam kepada non-Muslim dari kalangan Nasrani, Hindu dan lainnya. Lembaga-lembaga dan organisasi Islam di dalam dan luar negeri yang peduli urusan agama harus mendistribusikan terjemahan makna Al-Quran dalam jumlah besar.
- Akhirnya saya katakan bahwa umat Muslim bertanggung jawab di hadapan Allah atas keterlambatan masuknya saya ke dalam Islam. Saya telah jahil tentang Islam selama lebih dari tiga puluh tahun, dan itu disebabkan oleh umat Muslim dan kelalaian mereka dalam mengajak saya kepada Islam dan menjelaskan maknanya. Saya khawatir semua orang akan mengatakan hal yang sama seperti ucapan saya ini di hadapan Allah Ta’ala pada hari kiamat.
Sumber: Majalah Al-Khairiyyah Edisi “74” Muharram 1417 H
18. Mantan Syamas Mesir Saif Al-Islam At-Tahami
Pendahuluan: Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam dan shalawat serta salam atas yang paling mulia dari para rasul Muhammad bin Abdullah, semoga atas beliau limpahan shalawat terbaik dan salam yang sempurna.
Setelah itu…
Asal-usul: Saya lahir di Kairo pada tanggal 30/7/1980 dari kedua orang tua Nasrani. Ayah saya Armenia Katolik dan ibu saya Injili (denominasi Nasrani). Sepupu ayah saya adalah seorang biarawati di sekolah biarawati Armenia, paman saya seorang pendeta di salah satu gereja Injili, dan saya memiliki dua kakak perempuan yang lebih tua empat tahun dari saya.
Saya tumbuh dalam lingkungan Nasrani murni. Sejak kecil saya pergi ke gereja setiap hari Minggu, pada hari-hari raya, dan kapan saja saya mau karena tidak ada yang mengawasi kunjungan saya ke gereja. Saya suka pergi ke sana dan menikmati semua ritual, doa, permainan, kemah, dan perjalanan di dalamnya. Saya bersekolah di sekolah Armenia Nubaryan, sebuah sekolah yang hanya menerima siswa Nasrani Armenia. Jumlah siswa sekolah dari TK hingga SMA hanya sekitar 125 siswa di semua jenjang pendidikan. Hal pertama yang kami lakukan di pagi hari saat berbaris adalah berdoa sambil berdiri di barisan, terdapat gereja di sekolah, dan sebagian besar guru di sekolah adalah Nasrani.
Jelas bagi pembaca bahwa saya tidak bergaul dengan Muslim kecuali beberapa teman di lingkungan atau tetangga. Sebagian besar waktu saya habiskan di gereja, dan saya melayani sebagai syamas di gereja (syamas adalah yang membantu pendeta dalam upacara misa dan doa).
Keadaan saya berlanjut seperti itu hingga mencapai jenjang SMA. Di tahap ini saya mulai lebih terikat dengan gereja dan para pendeta daripada sebelumnya. Saya sangat bahagia dengan hubungan ini karena menjadi orang dekat mereka dan mulai melakukan sebagian besar ritual misa seperti membaca Injil dan merespons pendeta ketika dia membacakan sesuatu darinya, selain menyiapkan roti dan anggur untuk misa (semoga Allah melindungi kalian dari hal itu).
Awal Hidayah: Suatu hari saya duduk dengan salah seorang teman Muslim saya. Dia berkata: “Apakah kamu tidak mau masuk Islam?” Saya berkata: “Mengapa harus masuk Islam? Mengapa kamu tidak menjadi Nasrani saja?” Dia berkata kepada saya kalimat yang paling keras yang pernah saya dengar… Dia berkata: “Kalian semua masuk neraka!”
Sungguh kalimat yang kuat dan menghantam saya seperti petir! Neraka?!? Mengapa neraka?? Padahal saya melakukan segala yang baik untuk mendekatkan diri kepada Tuhan agar masuk surga, lalu dia mengatakan bahwa saya akan masuk… neraka?
Ketika saya tenang, saya bertanya: “Mengapa saya dan semua Nasrani masuk neraka sedangkan kalian Muslim masuk surga?” Dia menjawab: “Karena kalian mengatakan ‘ketiga dari tiga’ dan bahwa Maseeh anak Allah serta fitnah-fitnah lain terhadap Maseeh!” Saya berkata: “Bagaimana kamu tahu semua hal ini… apakah kamu sudah membaca Injil?” Dia berkata: “Tidak, tapi saya membacanya di Al-Quran kami.”
Keraguan dan Keyakinan: Ini adalah hal menakjubkan lain yang saya dengar. Bagaimana Al-Quran mengetahui apa yang ada dalam agama kami (sebelumnya) dan bagaimana ia mengakui bahwa hal-hal yang kami katakan tentang Maseeh semua itu kufur dan mengarah ke neraka?
Saat itu saya bingung dan mulai merenung panjang tentang hal ini. Kemudian saya mulai membaca Injil dan untuk pertama kalinya dengan sadar, karena sebelumnya mata hati saya tertutup. Saya mulai menemukan perbedaan-perbedaan mencolok dalam penyebutan nasab Maseeh!
Dan klaim ketuhanannya di satu waktu dan kenabiannya di waktu lain! Saya mulai bertanya siapa sebenarnya Maseeh? Apakah dia nabi, anak Allah, atau dia adalah Allah?
Pertanyaan Tanpa Jawaban!!: Saya mulai menyusun beberapa pertanyaan lalu pergi kepada pendeta untuk mendapatkan jawaban yang memuaskan, tapi saya tidak menemukan apa yang melegakan hati di setiap jawaban!
Saya ingat suatu kali saya bertanya kepada pendeta: “Mengapa Kitab Suci mengatakan bahwa Maseeh duduk di Bukit Zaitun dan berdoa kepada Allah?”
Jika dia benar-benar Allah, kepada siapa dia berdoa? Kepada siapa dia sujud? Dia menjawab dengan jawaban yang tidak saya pahami sama sekali.
Kemudian saya mulai merenung tentang apa yang kami lakukan di gereja berupa pengakuan dosa kepada pendeta dan juga komuni (berupa roti lembek yang dicelupkan ke anggur, lalu pendeta mengatakan kedua hal ini telah menjadi darah dan daging Maseeh, dan siapa yang mengambilnya akan diampuni dan disucikan dari dalam!)
Saya bertanya bagaimana seorang manusia seperti saya bisa mengampuni dosa-dosa saya?!! Kepada siapa dia mengaku? Siapa yang mengampuninya? Bagaimana darah dan daging Maseeh bisa hadir dalam cawan ini?
Apakah ini takhayul atau kenyataan? Bagaimana ini bisa menyucikan yang ada dalam diri saya dan mengampuni dosa-dosa saya?
Pertanyaan-pertanyaan mulai banyak dalam diri saya dan saya tidak menemukan jawabannya. Saya mulai mengambil keputusan sendiri: seperti tidak mengaku kepada pendeta karena dia manusia seperti saya, juga tidak mengambil komuni, dan meyakini bahwa Maseeh alaihissalam adalah seorang nabi karena dia manusia… sedangkan Allah memiliki sifat-sifat kesempurnaan khusus yang bertentangan dengan sifat manusia. Saya mulai membaca Injil tanpa mengatakan “Tuhan kita Yesus Maseeh” [menurut teks Injil] tapi hanya mengatakan “Yesus Maseeh” saja. Namun dengan ini saya tidak merasakan ketenangan yang saya inginkan dan tidak merasa bahwa ini adalah solusi dalam agama yang saya anut.
“Sesungguhnya Al-Quran ini memberi petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus” (QS. Al-Isra: 9)
Sementara itu, pada masa itu dalam hidup saya, suatu hari saya sedang belajar di kamar saya di rumah keluarga yang tepat di belakangnya terdapat masjid. Kami sedang dalam bulan Ramadhan dan pengeras suara menyala setelah shalat Isya selama shalat Tarawih. Suara imam yang membaca Al-Quran sampai ke kamar saya…
Suara yang lembut dan indah yang membuat saya merasakan kelezatan menyentuh hati, dan saya belum tahu saat itu bahwa bacaan ini adalah Al-Quran Al-Karim.
Di Dalam Gereja: Kemudian datanglah saat Allah melapangkan dada saya untuk Islam, yaitu pada hari Minggu saat misa di dalam gereja ketika saya membaca Injil sebelum misa sebagai persiapan untuk membacakannya kepada jemaah selama doa.
Saat persiapan saya bertanya pada diri sendiri: Apakah saya akan mengatakan “Tuhan kita Yesus Maseeh”? Atau “Yesus Maseeh” saja? Karena dia nabi dan bukan Tuhan, tapi jika saya mengatakan itu para hadirin akan menyadari bahwa saya melewatkan kata itu, namun bagaimana saya menyalahi hati nurani saya…
Akhirnya saya memutuskan akan membaca Injil apa adanya tanpa perubahan selama di hadapan orang banyak dan membuat perubahan itu ketika membaca sendiri.
Tibalah waktu saya membaca Injil selama misa… Saya mulai membaca dengan mantap persis seperti yang tertulis hingga berhenti di kata: “Tuhan kita Yesus Maseeh”… lidah saya menolak mengucapkannya, dan saya tidak sadar kecuali ternyata saya melewati kata “Tuhan kita” sama sekali saat membaca. Pendeta heran dengan sikap itu, lalu memberi isyarat untuk duduk, saya berhenti membaca lalu duduk. Namun kami melanjutkan doa dengan normal, hingga ketika doa selesai saya pergi ke ruangan khusus kami…
Di sana pendeta bertanya: “Mengapa kamu melakukan itu? Mengapa kamu tidak membaca Injil sebagaimana mestinya?” Saya tidak menjawab dan berkata: “Saya ingin pulang untuk beristirahat!”
Saya pergi ke kamar dalam keheranan besar… Mengapa saya melakukan itu? Apa yang terjadi pada saya?
Sejak hari itu, saya tidur sebelum menyelesaikan bacaan Injil harian seperti kebiasaan sebelumnya, dan tidak merasakan ketenangan baik dalam doa, bacaan, bahkan pergi ke gereja…
Saya terus merenung tentang keadaan saya (dan kalimat keras yang dikatakan teman Muslim saya terus menusuk telinga) “Kalian semua masuk neraka…”
Jalan Menuju Keyakinan: Setelah itu… saya mulai membaca secara serius buku-buku perbandingan dan buku-buku Islam yang membahas kehidupan Maseeh. Saya tahu siapa Maseeh dalam Islam, dan saya juga tahu yang tidak saya ketahui sebelumnya: yaitu penyebutan Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam Injil Perjanjian Lama dan Baru…
Saya menemukan bahwa Maseeh dan ibunya Maryam alaihimassalam sangat dimuliakan dalam Al-Quran.
Bahwa Maseeh adalah seorang nabi, Allah berfirman kepadanya “Kun” (jadilah): maka jadilah.
Dan dia adalah “ruh dariNya”. Saat itu saya yakin bahwa Injil yang ada di tangan saya telah diubah dan banyak kerancuan di dalamnya.
Kemudian saya tahu bahwa Islam adalah agama yang haq, dan Allah tidak ridha dengan agama selain Islam, dan bahwa itulah jalan menuju surga dan selamat dari neraka (yang tidak ada seorang pun yang menginginkannya).
Setelah itu saya pergi ke salah satu toko buku dan membeli mushaf untuk saya baca…
Ketika membacanya saya saat itu tidak memahami apa-apa darinya, tapi demi Allah saya merasakan ketenangan aneh di dada saya!!
Dada saya lapang untuk agama yang Allah ridhai bagi hamba-hambaNya dan memuliakan mereka dengannya serta membimbing mereka kepadanya. Segala puji bagi Allah pertama, segala puji bagi Allah terakhir, dan segala puji bagi Allah selamanya. Segala puji bagi Allah atas nikmat Islam dan cukuplah itu sebagai nikmat.
Yang menakjubkan juga ketika saya memberitahu saudari-saudari saya tentang Islam, saya mendapati mereka telah mendahului saya masuk Islam!!
Tidak ada seorang pun dari mereka yang menentang saya. Segala puji bagi Allah yang menganugerahkan Islam kepada kami semua…
Pada hari itu saya mengucapkan dua kalimat syahadat: “Asyhadu an la ilaha illallah wa anna Muhammadan rasulullah” (Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah).
Saya terlahir kembali. Sungguh indah agama ini, sungguh agung Allah Yang Maha Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara denganNya.
Bagi-Mu segala puji wahai Tuhanku, Engkau kekuatan dan kebanggaanku. Siapa yang meminta pertolongan dengan berdoa kepada-Mu, dan Engkau tidak mengecewakan yang berharap kepada-Mu. Ya Allah, bagi-Mu segala puji atas nikmat Islam dan nikmat iman. Ya Allah, teguhkanlah saya pada yang saya anut ini dan jadikanlah kata-kata terakhir saya di dunia ini “la ilaha illallah Muhammadur rasulullah”. Dengan kalimat itu dan demi kalimat itu saya hidup dan mati dan dengan itu saya akan menemui-Mu. Shalawat dan salam atas sebaik-baik rasul, imam para nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, salam yang besar dan agung hingga hari agama.
19-Misionaris Jerman Terdahulu Jي Misyel
Sebuah misi penginjilan tingkat tinggi mengalami kegagalan total karena ketua misinya memeluk agama Islam, yang kemudian menghadapi upaya putus asa dari misi penginjilan untuk menjauhkannya dari Islam, bahkan sampai pada ancaman pembunuhan… Kisah ini bermula ketika organisasi penginjilan di Jerman Barat memilih “Jی Misyel” G.Michel untuk menjadi kepala misi penginjilan di Somalia, di samping pekerjaannya sebagai dokter mata.
Misi penginjilan tersebut telah merencanakan proyek penginjilan Tanduk Afrika, dengan Somalia sebagai titik awal operasi penginjilan… Misi ini mengambil proyek amal sebagai kedok untuk menyembunyikan aktivitas mencurigakan mereka… Proyek tersebut adalah pengobatan penyakit mata agar dapat menembus masyarakat dan mempengaruhi mereka dengan memikat mereka kepada agama Kristen.
Setelah lima bulan, organisasi menerima laporan yang menyatakan dedikasi tingginya dalam bekerja sebagai dokter… namun mengabaikan sisi lain dari tugasnya, yaitu penginjilan… Maka “Jی Misyel” menerima telegram dari pimpinan organisasi yang memintanya untuk pergi ke Inggris untuk menjalani pelatihan selama sebulan, kemudian bepergian dari sana ke “Tanzania”.
Di Inggris, “Jی Misyel” berkenalan dengan seorang teman Muslim dari Somalia bernama “Muhammad Bahur” yang mempererat hubungan persahabatan dengannya, dan suatu hari dia mengundangnya untuk mengunjungi rumahnya… yang dia ceritakan dengan berkata: “Setelah saya berkenalan dengan seorang teman Muslim dari Somalia bernama ‘Muhammad Bahur’, dia mengundang saya untuk mengunjungi rumahnya, maka saya menerima undangannya, dan keluarganya menyambut dengan baik… Selama kunjungan saya terkejut dengan seorang pria yang berbicara bahasa Inggris dengan sangat fasih… dan saya tahu bahwa dia adalah ayah ‘teman saya Muhammad’, dan saya senang dengannya, dan berharap dapat menariknya kepada agama Kristen agar proses penginjilan tercapai… Dan saya mulai dengan pria ini proses menariknya ke Kristen dengan membicarakannya dengannya… dan dia mendengarkan saya dengan penuh perhatian, saya mengharapkan dia akan yakin dengan apa yang saya katakan, dan dengan demikian dia akan menjadi kunci ‘penginjilan di seluruh wilayah’.”
Ketua misi penginjilan melanjutkan pembicaraannya dengan berkata:
“Setelah saya panjang lebar berbicara tentang Kristen sebagai agama yang tidak tertandingi kedudukannya oleh agama lain, dan saya menyinggung keagungan Injil dan Isa Al-Masih putra Allah… saya terkejut dengan ayah teman saya yang memegang salinan Al-Qur’an di tangannya dan bertanya kepada saya apakah saya mengenal buku ini… maka saya tersenyum dan tidak menjawab, karena takut memancing kemarahannya atau memberi isyarat tentang misi saya, tetapi saya merasa bahwa pria ini memahami apa yang ada di pikiran saya, maka dia memberi saya kesempatan untuk keluar dari kebingungan… Dan dia mulai berbicara tentang Injil dan tentang Al-Masih… dan melalui pembicaraannya saya sepenuhnya menyadari bahwa semua Muslim mencintainya dan mengakuinya, terutama karena Islam sendiri menyeru untuk beriman kepadanya dan kepada rasul-rasul dan nabi-nabi lainnya, bahkan menjadikan hal itu sebagai fondasi keimanan dalam Islam.
Kemudian ayah teman saya meminta saya untuk mengajukan pertanyaan apa pun tentang Injil atau Al-Qur’an… maka saya berkata kepadanya: Bagaimana?! Dia berkata: Dalam Al-Qur’an ada segala sesuatu.”
“Jی Misyel” terdiam sejenak sambil mengingat kisahnya dengan Islam yang benang pertamanya dijalin melalui kunjungan kepada temannya dan pertemuannya dengan ayahnya yang mendengarkannya saat dia mencoba menariknya ke Kristen, kemudian tanggapan ayah temannya terhadap apa yang didengarnya darinya, dan penjelasan panjang lebarnya tentang Islam dengan kelancaran dan kemudahan yang dapat diterima akal dan pemikiran logis.
Kemudian dia melanjutkan dengan berkata: “Dan kunjungan saya ke ayah teman saya bertambah banyak… dan saya diawasi oleh anggota misi yang meminta saya untuk tidak pergi ke rumah ini, dan saya terkejut setelah itu dengan keputusan pemindahan teman saya, kemudian penangkapannya tanpa alasan… Adapun untuk saya, mereka meminta saya untuk pindah ke ‘Kenya’ untuk menghabiskan liburan yang menyenangkan menurut ungkapan organisasi penginjilan… dan saya menerima surat panas dari ayah saya yang menuntut saya untuk kembali ke Jerman secepat mungkin.”
Tetapi “Jی Misyel” ketua misi penginjilan menolak untuk memenuhi instruksi pimpinannya di Jerman… dia juga menolak memenuhi permintaan ayahnya… maka dia menulis telegram ini kepada keduanya:
“Tenang sepenuhnya… semuanya baik-baik saja, dan saya akan memeluk Islam.”
Dan “Jی Misyel” tekun mempelajari Islam dan memahami ajaran-ajarannya dan rukun-rukun yang diserukan… setelah itu dia mengumumkan pemelukan Islam, dan mengubah namanya menjadi “Abdul Jabbar”.
“Abdul Jabbar” terus di Somalia menjalankan misinya sebagai dokter Muslim yang mengetahui hak Allah dan hak pasien-pasiennya, dan memperlakukan manusia dengan adab Islam yang dia hiasi dalam perilaku dan akhlaknya.
20-Dosen Teologi Terdahulu Dr. Arthur Milastinus
(Arthur Milasintus) doktor dalam teologi, dan dia adalah orang ketiga dalam dewan gereja-gereja benua Asia.
Kisahnya dengan Islam: Selama pekerjaannya dalam penginjilan tahun 1983, dia berkata kepada dirinya sendiri: Apa salahnya membaca Al-Qur’an untuk membalas Muslim? Maka dia menuju ke salah seorang Muslim memintanya untuk meminjamkan kitab suci, maka Muslim itu setuju dengan syarat dia harus berwudu sebelum setiap membaca, kemudian Arthur mulai membaca Al-Qur’an secara sembunyi-sembunyi, dan mari kita dengarkan dia bercerita tentang pengalaman pertamanya dengan Al-Qur’an: “Ketika saya membaca Al-Qur’an pertama kali, saya merasakan pertarungan hebat di lubuk hati saya, ada suara yang memanggil saya dan mendorong saya untuk memeluk agama ini, yang membuat hubungan manusia dengan Tuhannya hubungan langsung, tidak membutuhkan perantara pastor, dan tidak menjual surat pengampunan!! Dan pada suatu hari saya berwudu, kemudian saya memegang Al-Qur’an lalu membaca: ((أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ علَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا)) (QS. Muhammad: 24) “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” maka saya merasakan merinding, kemudian saya membaca: ((الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسلام دِينًا)) (QS. Al-Maidah: 3) “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.”
Maka ketenangan turun pada jiwa yang bingung, dan saya merasa bahwa saya telah diciptakan kembali.
Pada malam itu Arthur tidak sabar menunggu matahari terbit, melainkan segera menuju ke rumah teman Muslimnya untuk bertanya tentang cara masuk Islam, dan di antara kebingungan dan keterkejutan teman, Arthur mengucapkan dua kalimat syahadat.
Sumber: Aku Meraih Muhammad dan Tidak Kehilangan Al-Masih-Dr. Abdul Mu’ti Ad-Dalati
21-Dosen Teologi Terdahulu Abdul Ahad Daud
(Benjamin Kaldani) profesor dalam ilmu teologi, dan pastor Rum Katolik untuk jamaah Kaldean yang bersatu, berbicara beberapa bahasa.
Namanya / Dia adalah David Benjamin Al-Kaldani, dulunya pastor Rum dari jamaah Kaldean, dan setelah masuk Islam dia bernama Abdul Ahad Daud.
Kelahirannya / Lahir tahun 1868 M, di Urmia dari negeri Persia, dan menerima pendidikan dasarnya di kota itu, dan antara tahun 1886-1889 M dia adalah salah seorang pegawai pendidikan di misi uskup “Canterbury” yang diutus kepada Nasrani Nestorian di kampung halamannya, dan pada tahun 1892 M dia dikirim ke Roma di mana dia menerima pelatihan teratur dalam studi filosofis dan teologis di kolese “Probogandavid” dan pada tahun 1895 M dia ditahbiskan sebagai imam, dan pada periode ini dia berpartisipasi menulis serangkaian artikel yang diterbitkan di beberapa surat kabar khusus, dan setelah kembali dari Roma dia singgah di Istanbul tahun 1895 M dan berkontribusi menulis dan menerbitkan beberapa artikel tentang gereja-gereja Timur di surat kabar harian Inggris dan Prancis. Dia tidak tinggal lama di Istanbul melainkan kembali pada tahun yang sama ke kampung halamannya, dan bergabung dengan misi “Lazarist” Prancis, dan menerbitkan untuk pertama kali dalam sejarah misi publikasi berkala triwulanan dalam bahasa Suriah, dan setelah itu dua tahun kemudian dia ditugaskan oleh dua uskup agung jamaah Kaldean di negerinya untuk mewakili Katolik Timur dalam konferensi “Ekaristi Kudus” yang diadakan di kota “Paray le Monial” di Prancis, dan pada tahun 1898 M dia kembali ke desanya “Dejala dan membuka sekolah gratis.
Dan pada tahun 1899 M otoritas gereja mengirimnya ke Salmas, untuk memikul tanggung jawab, di mana terdapat perselisihan antara beberapa pemimpin Nasrani di sana, dan pada tahun 1900 M dia memberikan khotbah fasih yang terkenal, yang dihadiri kumpulan besar dari jamaahnya dan lainnya, dan temanya adalah: (Zaman baru dan manusia baru) di mana dia mengkritik kemalasan bangsanya dari tugas dakwah mereka.
Apa motivasi keislamannya? Abdul Ahad Daud sendiri menceritakan kepada kita dalam buku-bukunya tentang motivasi ini, di antaranya:
(1) Pemeliharaan Allah kepadanya, di mana dia berkata ketika ditanya: Bagaimana kamu menjadi Muslim? Dia menulis: Sesungguhnya hidayahku kepada Islam tidak dapat dikaitkan dengan sebab apa pun selain pemeliharaan Allah Azza wa Jalla, dan tanpa hidayah Allah maka semua bacaan dan penelitian, dan berbagai upaya yang dilakukan untuk mencapai kebenaran tidak akan bermanfaat, dan saat aku beriman pada keesaan Allah, dan pada nabi-Nya yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam, menjadi titik peralihanku menuju perilaku teladan beriman).
(2) Dan di antara alasan yang disebutkannya juga yang membuatnya mengumumkan durhakanya terhadap gereja, bahwa gereja meminta darinya untuk beriman pada syafaat antara Allah dan ciptaan-Nya dalam sejumlah perkara, seperti syafaat untuk keselamatan dari neraka, dan kebutuhan manusia kepada syafi’ mutlak secara mutlak, dan bahwa syafi’ ini adalah tuhan sempurna dan manusia sempurna, dan bahwa rahib-rahib gereja juga syafi’ mutlak, sebagaimana gereja memerintahkannya untuk bertawasul kepada syafi’-syafi’ yang tidak dapat dihitung jumlahnya.
(3) Dari kenyataan studinya tentang akidah penyaliban dia menemukan bahwa Al-Qur’an mengingkarinya dan Injil yang beredar menetapkannya, dan keduanya pada asalnya dari satu sumber, maka wajar tidak ada perbedaan di antara keduanya, tetapi terjadi perbedaan dan pertentangan di antara keduanya, maka tidak boleh tidak menghukumi salah satunya dengan tahrif (perubahan), maka dia terus dalam penelitian dan verifikasinya untuk masalah ini hingga dia sampai pada kebenaran, di mana dia berkata:
(Dan sungguh hasil pelacakan dan verifikasiku adalah bahwa aku yakin dan meyakini bahwa kisah pembunuhan Al-Masih ‘alaihissalam dan penyalibannya kemudian kebangkitannya dari antara orang-orang mati adalah kisah khurafat)
(4) Keyakinan Nasrani pada Trinitas, dan klaim mereka bahwa sifat mendahului yang disifati adalah salah satu alasan yang membuatnya keluar dari Kristen.
(5) Dia bertemu dengan sejumlah ulama Muslim dan setelah beberapa pertemuan dengannya dia yakin dengan Islam dan memeluknya.
(6) Dia mengasingkan diri dari dunia di rumahnya selama sebulan penuh, membaca ulang kitab-kitab suci dengan bahasa-bahasa kuno dan teks-teks aslinya berulang-ulang, dan mempelajarinya dengan studi mendalam perbandingan yang sebagiannya dia masukkan dalam bukunya yang luar biasa (Muhammad dalam Kitab Suci) dan akhirnya memeluk Islam di kota Istanbul dan di antara karya-karyanya (Injil dan Salib). Abdul Ahad Daud berkata:
“Pada saat aku beriman pada keesaan Allah, dan pada nabi-Nya yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam, dimulai titik peralihanku menuju perilaku teladan beriman”.
“Laa ilaaha illallahu Muhammadur rasulullah” “akidah ini akan tetap menjadi akidah setiap mukmin sejati kepada Allah hingga hari kiamat… dan aku yakin bahwa satu-satunya jalan untuk memahami makna Kitab Suci dan ruhnya, adalah mempelajarinya dari sudut pandang Islam”.
Sumber: (Muhammad dalam Kitab Suci) Abdul Ahad Daud hal (162) – (Tokoh Besar dan Pemikir yang Memeluk Islam) Muhammad Tamashi
Dari buku-bukunya: Injil dan Salib pada link ini: http://saaid.net/book/49.zip
22-Pastor Terdahulu Muhammad Fuad Al-Hashimi
Mengarang buku (Agama-agama dalam Timbangan) dia berkata di dalamnya: “Sungguh tujuanku dari penelitian tentang Islam adalah mengeluarkan cacat-cacat yang diilhamkan kepadaku oleh guru-guruku, tetapi aku menemukan bahwa apa yang mereka sangkakan sebagai cacat dalam Islam sebenarnya adalah kelebihan! Maka Islam mengambil hatiku, maka aku tunduk kepadanya, dan beriman kepadanya karena pemikiran dan studi dan penelitian, dan dengan semuanya itu tercecehlah timbangan Islam, dan terangkatlah timbangan selainnya”..
Sumber: dari (Al-Islam) Dr. Ahmad Shalabi hal (288)
23- Pastor Terdahulu Pastor Terbesar Kedua di Ghana
Mereka mengambilnya sebagai anak kecil yang miskin melarat mengenakan pakaian compang-camping, dan hampir tidak menemukan makanan harian, mereka membesarkannya di panti asuhan mereka, mendidiknya di sekolah-sekolah mereka, ketika mereka melihat kecerdasan darinya mereka menjadikannya sebagai prioritas perhatian mereka, dia memiliki kecerdasan tajam dan pandangan tajam di usia dini hidupnya, dengan cepat dia menempuh jalan pendidikan, hingga meraih gelar terbesar tentu saja itu sebagai ganti agamanya yang dia tahu keanggotaannya, tetapi dia menoleh kanan dan kiri di masa kekurangan dan kebutuhan, maka dia tidak menemukan siapa pun kecuali para pengasingan – maksudku para misionaris atau yang menyebut diri mereka mubashshirin – dia menjadi pastor cemerlang di negaranya, memiliki lidah yang memikat dan gaya menarik dan penampilan cemerlang, dan kilau matanya memimpin siapa yang melihatnya ke tempat parkir lapangannya, dan sayangnya lapangannya adalah penginjilan, dan betapa banyak Muslim yang menjadi Kristen di tangannya.
Dan suatu hari ketika Allah menghendaki hidayahnya, dia merenungkan… dan mulai bertanya-tanya.. Aku tidak meninggalkan agamaku karena keyakinan pada agama Kristen, melainkan kelaparan yang memimpinku, dan kebutuhan yang mendorongku, dan kekurangan yang menggembalakanku, dan meskipun kemakmuran hidup yang aku alami, dan kenyamanan yang aku nikmati tetapi aku tidak menemukan kelapangan dan tidak merasakan dan menikmati kenyamanan dan kebahagiaan dan ketenangan karena aku masih khawatir tentang nasib setelah mati, dan tidak berlabuh di pantai keamanan atau landasan kokoh yang menenangkan hati nurani tentang nasib di akhirat.
Mengapa aku tidak mengenal Islam lebih banyak? Mengapa aku tidak membaca Al-Qur’an langsung, daripada cukup dengan informasiku tentang Islam dari sumber-sumber Kristen yang mungkin tidak memaparkan Islam dengan gambar sejatinya.
Di sini dia mulai membaca Al-Quran dan merenunginya serta membandingkannya, maka dia merasakan kelapangan dada dan ketenangan hati, wajahnya pun berseri-seri dan dia mengenal jalan kebenaran dan jalan yang terang. “Sesungguhnya telah datang kepadamu dari Allah cahaya dan kitab yang nyata, dengan kitab itu Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah: 15-16)
Di sini dia mengambil keputusan yang menentukan dan bertekad untuk menghadapi setiap hambatan yang menghalangi keislamannya. Kira-kira apa yang dia lakukan? Dia mengamalkan peribahasa yang mengatakan: “Pintu yang datang angin kepadamu, bukalah dan berdirilah menghadapinya.” Maka dia pergi ke gereja dan menemui orang nomor satu di sana yaitu pastor Eropa yang besar di kalangan mereka, dan memberitahunya tentang keputusannya. Pastor itu mengira dia bergurau atau hanya ingin meyakinkan dirinya sendiri, namun dia menegaskan bahwa dia sungguh-sungguh dalam keinginannya ini. Maka marahlah pastor itu dan mulai berbusa, mengamuk, dan mengancam… Kemudian ketika dia tenang, dia mulai mengingatkannya tentang keadaannya dulu dan sekarang, dan nikmat serta kemudahan yang ada padanya sekarang. Pastor itu mencoba menggodanya dengan uang, mengatakan akan menaikkan gajinya, memberikan tunjangan sekaligus, menambah tunjangan tahunan, menambah kewenangannya, dan… dan… dan… Namun sia-sia belaka, karena bara iman telah meresap ke dalam relung hati dan menetap di sanubari. Demikianlah keceriaan iman jika bercampur dengan hati akan menetap, sebagaimana yang dikatakan Kaisar Romawi kepada Abu Sufyan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari rahimahullah.
Di sini pastor itu berkata kepadanya: “Kalau begitu kembalikan kepada kami semua yang telah kami berikan kepadamu dan lepaskan semua yang kamu miliki.” Dia berkata: “Adapun yang telah berlalu, aku tidak punya cara untuk mengembalikannya, dan adapun yang ada padaku sekarang, ambillah semuanya.” Di bawah tangannya ada empat mobil untuk pelayanannya, villa besar dan lainnya. Maka dia menandatangani surat pelepasan atas semua yang dia miliki. Dalam hal ini dia mengulangi kejayaan Abu Yahya Shuhaib Ar-Rumi radhiyallahu ‘anhu yang kepadanya Rasulullah yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Beruntung jual belimu wahai Abu Yahya,” yaitu ketika orang-orang musyrik Quraisy menghadangnya dalam perjalanan hijrahnya dan berkata kepadanya: “Engkau datang kepada kami dalam keadaan miskin papa, kemudian engkau menjadi kaya. Demi Allah, kami tidak akan membiarkanmu pergi hingga engkau keluar dari hartamu.” Maka dia membeli dirinya dari mereka dengan menunjukkan kepada mereka hartanya agar mereka membiarkannya. “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS. At-Taubah: 111)
Pastor besar itu marah besar dan menanggalkan pakaiannya hingga telanjang dan mengusirnya dari gereja dengan pengusiran yang buruk. Dia mengira bahwa lelaki itu akan merasakan kemiskinan selama dua hari kemudian akan kembali meminta maaf. Bagaimana tidak mengira demikian sedangkan mereka adalah kaum materialis sejati. Saudara kita keluar dari gereja dan berkata: “Saat itu aku tidak memakai selain apa yang menutupi auratku dan tidak memiliki selain agama yang agung ini, Islam. Dan aku merasakan bahwa aku adalah makhluk paling bahagia di muka bumi ini.”
Dia berjalan kaki menuju masjid besar di tengah kota, dan di sepanjang jalan orang-orang berjalan di sampingnya dengan heran, sebagian berkata: “Pastor itu sudah gila.” Dan dia tidak membalas siapa pun hingga sampai di masjid. Ketika hendak masuk, mereka mencoba menghalanginya sambil bertanya: “Mau ke mana?” Dan jawaban yang mengejutkan: “Aku datang untuk menyatakan keislamanku.”
Sungguh menakjubkan, pastor paling terkenal di negara itu yang telah mengkristenkan ratusan orang, yang tampil di layar televisi dua kali seminggu, yang mewakili agama Nasrani di negara itu… datang hari ini untuk menyatakan keislamannya. Sungguh kebahagiaan yang tidak dapat digambarkan, dan kegembiraan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, tidak mampu dilukiskan oleh kalimat dan ungkapan. Sungguh kegembiraan yang melimpah dan pancaran yang menerangi, seakan-akan sejarah bergema dengan teriakan: “Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah satu dari dua Umar,” dan meskipun ada perbedaan perumpamaan, namun seringkali keislaman seseorang akan menarik keislaman ratusan orang dan menyelamatkan puluhan orang dari cengkeraman kesesatan dan lumpur kekufuran serta kemerosotan.
Kaum muslimin bergembira, yang satu memberikannya celana, yang lain memberikan kemeja, dan yang lain lagi memberikan selendang, hingga dia masuk masjid dan menyampaikan pidato yang fasih kepada kaum muslimin yang hadir, di mana dia menyatakan keislamannya. Setelah itu berkumandanglah takbir dan terdengar tahlil serta tasbih, sebagai ungkapan kegembiraan atas keislaman orang yang selama ini menyeru mereka kepada kesesatan, dan hari ini dia menyeru mereka kepada hidayah dan Islam. Dalam waktu dua hari, banyak sekali orang yang sebelumnya menjadi Kristen kembali ke oasis agama mereka, Islam, yang rindang naungannya, di mana mereka menikmati dalam lindungan dan perlindungannya bekas-bekas hidayah, ketenangan menempuh jalan yang lurus, ketenangan hati dan nurani serta kebaikan yang menyeluruh. “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Setelah dua hari dari pengumuman keislamannya, orang-orang Kristen yang dengki mulai mencarinya untuk membunuhnya dan mereka mengancam serta berjanji akan melakukannya. Maka kaum muslimin menyelundupkannya secara rahasia ke Sierra Leone, di mana diumumkan melalui radio yang dimiliki oleh Komite Muslim Afrika Kuwait bahwa dia akan menyampaikan pidato kepada umat dalam rangka keislamannya. Dan semua orang menantikan pidato ini, termasuk gereja yang juga di antara yang menantikan. Gereja mengharapkan bahwa dia akan menyerang mereka dengan keras dan membongkar banyak rahasia mereka di depan umum serta memfitnah mereka. Itulah yang mereka harapkan, dan mereka telah mempersiapkan sebelum pidatonya sebuah draf pernyataan yang akan mereka terbitkan yang berisi bahwa mereka menemukannya dalam keadaan miskin papa dan mereka membantunya, mengadopsinya, membesarkannya, dan membiayai pendidikannya hingga mencapai tingkat pendidikan tertinggi, kemudian dia membalas kebaikan dengan mengingkari budi dan berkhianat serta membalas kebaikan dengan kejahatan, dan mengingkari orang yang melindungi dan merawatnya.
Namun Allah mengecewakan harapan mereka dan menutup jalan bagi mereka, di mana sahabat kita menyampaikan pidato yang bertentangan dengan perkiraan mereka. Dia memulainya dengan mengucapkan terima kasih atas semua yang mereka berikan kepadanya dan menyebutkan secara rinci apa yang mereka berikan berupa perawatan, tempat tinggal, pendidikan dan lainnya, dan mengakui budi mereka setelah Allah. Namun dia menunjukkan dan mengisyaratkan dengan cara yang sopan dan cerdas bahwa akidah dan kebebasan beragama tidak berjalan sesuai emosi secara buta, dan karunia Allah Ta’ala di atas segala karunia, dan nikmat Allah Ta’ala di atas segala nikmat. Itu dengan redaksi yang membuat setiap orang yang pernah dilayani gereja mempertimbangkan kembali pelayanan dan perawatan ini dan bahwa itu bukan tolok ukur kebenaran akidah, dan bukan faktor penentu dalam memilih agama. Maka dia mengenai sasaran gereja dan menutup jalan bagi mereka untuk mengkritik dan mencela dia, dan menampakkan agama Islam bahwa dia tidak meridhai pengikutnya mengingkari budi baik, bahkan dia mengatakan bahwa agama Islam mengajarkan pengikutnya kesetiaan, namun tidak pernah meridhai mereka menghilangkan akal mereka. “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.” (QS. Ar-Ra’d: 4)
Dua hari setelah pidato itu, ada upacara peresmian masjid universitas di mana upacara ini dihadiri di halaman universitas oleh Presiden Republik Sierra Leone dan sejumlah pejabat serta beberapa pemuka gereja yang diundang universitas untuk mengukuhkan toleransi beragama dan menenangkan suasana setelah pidato yang disampaikan pastor yang masuk Islam. Dalam upacara itu, setelah tilawah Al-Quran Al-Karim, Syaikh Thayis Al-Jumaily hafizhahullah, perwakilan Komite Muslim Afrika yang membiayai pembangunan masjid, menyampaikan sambutan yang di dalamnya dia mengisyaratkan keislaman pastor tersebut dan menyertakan firman Allah Ta’ala: “Dan sesungguhnya kamu akan mendapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.’ Yang demikian itu disebabkan di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. Dan apabila mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul (Al Quran), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui (dari Al Quran); seraya berkata: ‘Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad saw).'” (QS. Al-Maidah: 82-83) Dan bahwa inilah keadaannya dan apa yang terjadi dengannya. Ketika dia mulai menjelaskan ayat ini dan sampai pada penjelasannya tentang ayat “kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata” dan penerjemah langsung menerjemahkan, dia berkata: “Aku melihat para pastor yang hadir mengeluarkan sapu tangan mereka untuk mengelap air mata mereka, karena terharu atau hanya basa-basi, wallahu a’lam.”
Salah seorang pastor berkata kepada rekannya yang di sampingnya: “Aku bersumpah bahwa dialah yang membimbing pastor itu untuk membuat pidatonya dalam bentuk yang tampak dan membuat kita malu.” Dan salah seorang muslim di samping mereka mendengar mereka. Segala puji bagi Allah atas pertolongan-Nya untuk agama-Nya, dan Allahu akbar walillahil hamd.
24. Uskup Agung Johannesburg Frederick Dolamark
Kejutan bagi Muslim dan Kristen secara merata dari keislaman Uskup Agung Johannesburg
Dunia misionaris internasional terguncang akibat kejutan besar yang disaksikan kota “Jenewa” Swiss, ketika Monsinyur “Frederick Dolamark” Uskup Agung “Johannesburg” mengumumkan di halaman Pusat Islam Besar Jenewa, menegaskan kesiapannya untuk segera memulai mengenalkan hakikat Islam dan bekerja menyebarkan ajaran-ajarannya ke seluruh benua Afrika. Keheranan dan kebingungan menyelimuti lingkaran Gereja Katolik setelah lelaki itu mengumumkan bahwa ketika dia mempelajari Islam, dia menemukan gambaran lain yang berbeda tentang Al-Masih Isa alaihissalam yang menimbulkan pengaruh mendalam dalam jiwanya… Dan gereja khawatir akan terpengaruhnya sejumlah besar pemimpin kerja misionaris oleh kejutan tersebut, di mana “Frederick” terkenal dengan kecerdasan akalnya dan keadilannya terhadap kebenaran.
Yang menarik perhatian bahwa kecemburuan “Frederick” terhadap Islam telah sampai pada tingkat menegaskan perlunya mengembangkan metode dakwah dan peduli mendukungnya, karena ada kekurangan dalam hal ini yang perlu diperbaiki… Dan dia menyatakan dalam arti ini dengan perkataannya:
“Sungguh menyedihkan bahwa upaya misionaris tidak mengalami kekurangan organisasi, gerakan, keuangan, atau moral, dan inilah yang kita rindukan pada para da’i Islam, selain kesulitan politik, ekonomi, dan sosial.”
25. Mantan Pastor Irlandia Menangis di Makam Nabi
Dia datang ke Mesir setelah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai uskup di salah satu negara bagian Amerika untuk mempelajari Islam dari para syaikh dan ulama Al-Azhar.
Dia merasakan keraguan dalam akidahnya setelah mempelajari filsafat dan teologi… Dan setelah mengajar mata pelajaran agama di salah satu sekolah menengah Katolik… Dia sangat gemar meneliti dan belajar agar dapat melaksanakan pekerjaannya dengan sebaik-baiknya. Namun studi dan penelitiannya tidak menambah kecuali keraguan dalam akidah dan sifat pekerjaannya.
Sebelum menceritakan kisahnya tentang arahnya ke Islam dan memeluknya, dia membahas sifat masa kecilnya dan tahap-tahap studinya serta perkembangannya yang mengantarkannya bekerja sebagai uskup di negara bagian “New Jersey”… Dia berkata:
“Aku adalah pemuda keturunan Irlandia, tumbuh dalam lingkungan Katolik yang berpegang teguh pada akidahnya… Dan semua ayah di sana berharap di antara anak-anak mereka ada yang menjadi pastor untuk melayani agama Kristen, karena ini adalah kehormatan besar bagi keluarga. Karena itu aku belajar di sekolah menengah agama, kemudian bergabung dengan kolese khusus pastor di Universitas “Saint Patrick” untuk mempelajari filsafat dan teologi selama enam tahun… Dan selama masa studiku aku tidak pernah mendengar satu kata pun tentang Islam. Setelah lulus hanya dua bulan pada tahun 1971, aku pergi ke Amerika untuk misionaris, di mana kolese meluluskan dua ratus pastor setiap tahun… Dan para uskup Amerika datang mengambil kebanyakan dari mereka ke Amerika untuk bekerja dalam misionaris di berbagai wilayah… Dan aku bekerja sebagai uskup di negara bagian “New Jersey”… Dan aku bertanggung jawab atas penyusunan program bimbingan agama untuk semua tingkat dan pelatihan pelaksana pekerjaan ini, dan di samping itu aku bekerja sebagai guru mata pelajaran agama di sekolah menengah Katolik… Dan aku sangat gemar meneliti dan belajar agar aku dapat melaksanakan kewajibanku terhadap membimbing manusia.
… Dan setiap kali aku memperdalam penelitian dan studi, aku dihinggapi perasaan aneh berupa keraguan dalam akidahku… Dan aku tidak mampu menyembunyikan keraguanku, maka aku memutuskan untuk membuka diri kepada kepala uskup dan berkata kepadanya: Aku meragukan pekerjaanku, bahkan imanku kepada Allah menurut akidah kita. Maka dia menyarankanku untuk bersabar dan berpikir, dan memberiku waktu selama setahun sambil aku memikirkan masalah itu dengan tenang.”
Dia menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala berkata:
“… Dan selama tahun itu aku tekun meneliti dan belajar, dan aku mahkotai penelitianku dengan memperoleh dua gelar magister, satu dalam pendidikan agama, dan lainnya dalam teologi dan kitab… Namun studi dan penelitian ini tidak menambahku kecuali keraguan dalam akidah dan pekerjaanku… Dan aku kembali kepada kepala uskup dengan suratku pengunduran diri dari pekerjaan, maka dia setuju…”
Kemudian dia menarik napasnya untuk kembali melengkapi apa yang tampaknya terlewat untuk dijelaskan sambil berkata:
“Namun hingga saat ini aku belum tahu apa pun tentang Islam.”
Tampaknya ada sebab-sebab di balik keraguannya dalam akidah yang menjadi alasan pengunduran dirinya dari pekerjaan tanpa berada di bawah pengaruh akidah lain apa pun… Dia menceritakan tentang itu dengan berkata:
“Ada banyak sebab, perpindahanku dari “Irlandia” di mana masyarakat pedesaan yang padu, ke “Amerika” di mana masyarakat industri materialistis, dan apa yang membedakannya dari hal-hal aneh, contohnya jumlah mazhab Kristen yang lebih dari tiga ratus mazhab… masing-masing mengklaim benar tanpa yang lain, yang membuatku meragukan kejujuran mereka. Juga ada hal-hal lain yang tidak aku yakini, seperti otoritas kepausan mutlak atas manusia… dan kesewenang-wenangan dalam menangani masalah, seperti yang terjadi dari perdebatan panjang yang muncul seputar sikap Paus terhadap pengaturan kelahiran… mereka menolak pengaturan padahal tidak ada dalam Injil yang melarang itu.
Juga aku tidak yakin dengan ide monastisisme, di mana banyak pemuka agama dalam Kristen dilarang menikah atas perintah Paus… dan ini bertentangan dengan sifat dan fitrah manusia.
Inilah beberapa sebab yang menggandakan keraguanku, dan membuatku hidup dalam kebingungan… bagaimana aku berkhotbah kepada manusia padahal aku tidak yakin dengan apa yang aku katakan… karena itu aku memutuskan mengundurkan diri tanpa mengetahui apa pun tentang Islam.”
Setelah mengundurkan diri, dia memutuskan melanjutkan studinya untuk memperoleh doktor dari Universitas “Harvard”, yaitu setelah dia bekerja di gereja selama sembilan tahun.
Dalam masa studinya itu, informasi dan keterangan tentang Islam sampai kepadanya, maka dia ingin menambah pengetahuannya… apa yang dia lakukan? Dia menjawab tentang itu dengan berkata:
“Aku ingin tahu lebih banyak tentang Islam, maka aku mempelajari sejarah Islam dan peradaban Islam… juga aku bersemangat menghadiri beberapa kuliah dari sejumlah ulama muslim yang berkuliah tentang Al-Quran dan hadits serta rukun Islam, dan segala yang berkaitan dengannya. Itu dari segi rasa ingin tahu.
Dia diam sejenak untuk mengingat kembali kenangan yang tersimpan dalam jiwanya sambil berkata:
“Aku ingat pada waktu itu aku pernah mendengar tentang Mesir dan Al-Azhar serta peran Islam besarnya… Dan yang aneh yang aku herankan setiap kali mengingatnya bahwa awal pengetahuanku tentang Al-Azhar datang setelah aku melihat penampilan yang ditampilkan dua syaikh dari Al-Azhar dengan pakaian agama khas mereka sebagai pengakuan dan penghargaan terhadap peran Al-Azhar sebagai universitas tertua di dunia, yaitu dalam perayaan berlalunya tiga ratus tahun pendirian Universitas “Harvard”, yang dihadiri wakil dari universitas-universitas terkemuka dunia…
Dan gambar ini tersimpan dalam catatan universitas di sana… karena itu aku memutuskan bahwa topik disertasi doktorku tentang ulama agama Islam… pentingnya dan peran mereka dalam masyarakat Mesir dari masa Syaikh Abdul Majid Salim hingga sekarang.”
Hingga waktu itu dia belum memutuskan memeluk Islam, tapi hanya tertarik untuk studi saja, yang mengharuskannya datang ke Mesir untuk mempelajari Islam dari fakultas-fakultas Al-Azhar yang khusus, seperti Fakultas Ushul Ad-Din, dan bertemu dengan para dosennya serta ulama Islam, selain bacaan ekstensifnya terhadap sejumlah besar buku-buku Islam.
Ketika dia datang ke Mesir dan takdir Allah menghendaki itu terjadi pada bulan Ramadan, perhatiannya tertarik pada fenomena aneh baginya sebagai orang asing… tentang itu dia berkata:
“Ketika aku datang ke Mesir pada bulan Ramadan… aku menyaksikan masyarakat Mesir teratur dalam gaya hidupnya yang berdiri atas dasar agama… manusia pergi ke masjid ketika mendengar adzan, dan bersuci dengan air wudu, kemudian berdiri dalam barisan teratur… dan pada waktu berbuka jalan-jalan kosong dari pejalan kaki.”
Saat itu dia tertawa mengejek dirinya sendiri ketika pada awalnya menafsirkan kosongnya jalan dari pejalan kaki dengan adanya instruksi jam malam pada waktu itu… dia mengungkapkan itu dengan berkata:
“Pada awalnya aku mengira ada undang-undang yang menetapkan jam malam setelah maghrib… tapi aku tahu alasannya setelah itu.”
Kemudian dia kembali melengkapi ceritanya tentang fenomena yang menarik perhatiannya pada bulan Ramadan sambil berkata:
“Dan aku juga melihat kaum muslimin shalat Isya dan Tarawih… dan sebagian dari mereka pergi ke pekerjaan dan toko-toko mereka hingga jam larut, yang disebut “sahur”… kemudian mereka shalat Subuh dan tidur.”
Kemudian dia bersemangat dalam ucapannya untuk menegaskan penilaian yang dia simpulkan dari pengamatannya di masyarakat Mesir sebagai masyarakat muslim sambil berkata:
“Maka masyarakat memang terorganisir atas dasar agama.. cukuplah bahwa telah menarik perhatianku bahwa keamanan dan ketentraman berlaku – di jalan-jalan Kairo – dengan cara yang belum pernah kulihat sebelumnya di tempat manapun.. Orang-orang berjalan di jalan-jalan pada malam hari dengan aman dan tenteram tanpa mengalami serangan pembunuhan atau lainnya.. sementara di tempat kami di New York misalnya terdapat setiap hari delapan orang tewas di jalan-jalan, meskipun orang-orang Amerika tidak berjalan di jalan-jalan dan jalanan pada malam hari karena takut akan keselamatan hidup mereka. Hal itu bukan hanya di New York saja, melainkan juga di negara bagian Amerika lainnya.. Meskipun ada undang-undang dan hukuman, kejahatan dan penyimpangan menyebar dengan cara yang menakutkan, namun hal ini berbeda dalam masyarakat Muslim, sebagaimana halnya di Mesir, dimana keimanan orang-orang terhadap agama mereka membuat mereka menerapkan ajarannya tanpa takut akan hukuman atau undang-undang, melainkan karena menghormati prinsip-prinsip dan keyakinan mereka. Dan inilah perbedaan antara masyarakat di sini dan masyarakat di Barat dimana tidak ada keamanan dan ketentraman”.
Dan meskipun keyakinannya akan Islam sebagai manhaj kehidupan yang mengatur cara hidup dan perilaku manusia – sebagaimana ia lihat dengan mata kepalanya sendiri dari keteraturan orang-orang dalam beribadah pada bulan Ramadhan.. dan meskipun bacaan-bacaannya dalam buku-buku Islam yang telah diterjemahkan, terutama terjemahan makna Al-Qur’an Al-Karim dan kitab-kitab lainnya, seperti buku “Hayah Muhammad” karya Dr. Muhammad Husain Haikal, yang di dalamnya dia menggunakan metode ilmiah yang tepat dalam menjawab keraguan para orientalis seputar Rasul dan istri-istri beliau yang suci.. dan meskipun pertemuan-pertemuannya dengan para syeikh dan ulama Al-Azhar.. meskipun semua itu, dia tidak langsung menyatakan keislamannya.. bukan karena keras kepala pikiran dan kegelapan hati.. melainkan karena alasan lain… Tentang hal tersebut dia berkata menjelaskan:
“Sesungguhnya meskipun keyakinanku yang penuh terhadap Islam sebagai agama penutup yang harus diimani oleh semua manusia, namun aku ragu-ragu selama empat bulan sebelum menyatakan keislamanku, untuk mempelajari keputusan tersebut dengan hati-hati dari segala sisinya.. karena sulit bagi manusia untuk mengubah agamanya…
Setelah itu Allah melapangkan dadaku untuk Islam, maka aku masuk ke dalam agama Allah yang haq.. dan kunamakan diriku “Mustafa Maulani” mengambil berkah dari nama Rasul Muhammad SAW”. Dan dengan nada kegembiraan tersembunyi yang terungkap dari kedua matanya yang berkilau seperti kilatan cahaya sambil berteriak berkata:
“Pada saat memeluk Islam aku merasakan bahwa aku memasuki dunia yang penuh cahaya yang memuliakan roh dan jiwa.. yaitu ketika aku menerima sertifikat pernyataan keislamanku.. aku merasa bahwa aku memperoleh ijazah tertinggi di dunia.. dan pada saat yang sama aku merasakan bahwa aku telah membuang dari pundakku beban berat dari kekhawatiran, kecemasan, keraguan, dan penderitaan.. ya, aku merasakan kebahagiaan yang menyeluruh yang belum pernah kurasakan sebelumnya”.
Dan tentang Rasul Muhammad SAW yang pernah dia serang ketika masih menjadi pendeta dia berkata:
“Sungguh aku telah yakin sepenuhnya bahwa Muhammad SAW adalah penutup para nabi dan rasul.. dan aku yakin dengan sunnahnya dan syariat-syariatnya yang dijadikan Barat sebagai pintu masuk untuk mencela risalahnya seperti poligami yang aku yakin sepenuhnya akan hikmahnya”.
Kemudian dia menambahkan berkata:
“Sungguh aku telah melaksanakan umrah, dan mengunjungi Baitullah Al-Haram, dan Raudhah Asy-Syarifah, dan kedua mataku mengalir air mata di hadapan kubur Al-Mustafa SAW dan aku berkata kepada diriku saat itu: siapakah aku hingga berdiri di hadapan kubur manusia terbesar yang dikenal umat manusia.. dan aku bersyukur kepada Allah Ta’ala yang telah membimbingku kepada Islam”.
Sesungguhnya kisah masuk Islamnya Uskup Amerika ini menunjukkan sejauh mana agama Allah menyebar.. di benteng kekufuran yang tidak mengakui Islam dan rasulnya serta memusuhi keduanya.. namun ketika dikehendaki oleh Allah untuk memberi hidayah kepada salah satu dari hamba-hamba-Nya maka tidak ada yang dapat menolak kehendak-Nya.
Sumber: Sisi Tersembunyi di Balik Keislaman Mereka, Muhammad Kamil Abdul Shamad –
26- Mantan Sekretaris Jenderal Dewan Gereja Sedunia untuk Afrika Tengah dan Timur, Ashok Colin Yang
Kardinal mantan Ashok Colin Yang mengungkap sisi-sisi baru tentang perjalanannya menuju Islam..
Wawancara yang dilakukan dengan mantan Sekretaris Jenderal Dewan Gereja Sedunia untuk Afrika Tengah dan Timur Ashok Colin Yang menimbulkan reaksi yang luas dan disebarkan oleh puluhan situs web dan media massa.. Dan Colin Yang yang memeluk Islam pada tahun 2002 telah mengungkap dalam dialog untuk majalah Al-Mujtama’ dimensi-dimensi rencana gerejawi yang bertujuan untuk mengkristenkan kaum Muslim dan menyerang gerakan Islam, melalui pemanfaatan sekuler untuk menghadapi gelombang Islam, dan pengeluaran dana besar untuk beberapa aparatur dan individu yang terkait.. Dan dalam edisi ini kardinal mantan tersebut mengungkap sisi-sisi baru dari perjalanannya “dari kegelapan menuju cahaya dan dari kekufuran menuju Islam, dan dari keadaan ahli neraka menuju keadaan ahli kiblat” menurut ungkapannya, dan berikut ini rinciannya:
Mengubah keyakinan manusia bukanlah perkara mudah, terutama jika manusia ini menempati puncak piramida yang menyerukan keyakinan tersebut.. Apa yang membimbingmu kepada perubahan, kemudian memeluk Islam dari kenyataan studimu terhadap Injil-injil?
-Pertanyaan penting.. Manusia meskipun tinggi kedudukannya jika dia jujur dan sungguh-sungguh dalam mencari kebenaran, maka pasti suatu hari dia akan mencapainya, dan kebenaran yang akan dia capai ini entah itu memperkuat apa yang dia imani, atau membimbingnya kepada jalan lain… Ini pertama. Adapun bagaimana aku mengubah keyakinanku maka aku menjawab melalui perkataan-perkataan Masih yang tercantum dalam Injil-injil, maka telah datang dalam Injil Yohanes dalam pasal kedelapan ayat 40 ketika orang Yahudi bermaksud membunuhnya: “Tetapi sekarang kamu berusaha membunuh Aku, seorang manusia yang telah mengatakan kebenaran kepadamu, kebenaran yang Kudengar dari Allah”, maka Masih alaihissalam adalah manusia yang dipilih Allah dan diberi amanah risalah dan dijadikan nabi, karena itu dia berkata alaihissalam sebagaimana datang dalam pasal kedelapan ayat 42: “Sekiranya Allah adalah Bapamu, tentulah kamu mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku. Mengapa kamu tidak mengerti bahasa-Ku?”, dan beberapa Injil telah menyatakan dengan tegas kenabian Isa alaihissalam sebagaimana datang dalam Lukas pasal ketujuh ayat 16: “Maka terkejutlah semua orang dan mereka memuliakan Allah, katanya: ‘Seorang nabi besar telah muncul di antara kita'”, dan datang dalam Matius pasal kedua puluh satu ayat (9, 10, 11): “Dan ketika Ia masuk ke Yerusalem, gemparlah seluruh kota itu, orang berkata: ‘Siapakah Dia ini?’ Maka kata orang banyak itu: ‘Inilah nabi dari Nazaret di Galilea'”, dan nash-nash ini sesuai dengan firman-Nya Ta’ala dalam Al-Qur’an Al-Karim: Al-Masih Isa putra Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul (Al-Ma’idah).
Risalah Isa
Jadi kamu melihat bahwa nash-nash yang kamu kutip dari Injil-injil ini mampu mengubah keyakinan dari Nasrani kepada Islam?
-Keimanan kepada risalah sayyidina Isa alaihissalam adalah dengan membenarkannya dalam apa yang dia kabarkan, maka kita tidak menolak beritanya dan tidak mendustakan ucapannya dan tidak menyelisihinya, maka Masih alaihissalam datang kepada kita dari Allah untuk dua perkara penting: Pertama: supaya mengajarkan umat yang diutus kepadanya bagaimana mendekatkan diri kepada Allah dan menyembah-Nya, adapun mengenal Allah maka Masih alaihissalam berkata: “Sesungguhnya Allah itu Esa tiada sekutu bagi-Nya dan tiada bandingan bagi-Nya dan tiada yang serupa dengan-Nya”, maka telah datang dalam Injil Markus dalam pasal kedua belas ayat 30 ketika ahli-ahli Taurat bertanya kepadanya: Hukum manakah yang terutama dari semuanya? Maka Yesus menjawabnya: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Itulah hukum yang terutama. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini. Lalu kata ahli Taurat itu kepada-Nya: Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa dan tidak ada yang lain kecuali Dia”, dan kebenaran ini tentang zat Allah diperkuat dengan apa yang datang dalam Injil Matius pasal 23 ayat 8, Masih alaihissalam berkata: “Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga”, dan datang dalam Yohanes dalam pasal 20 ayat 18 berkata Masih: “Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu” dan kata Bapa “Bapa-Ku dan Bapamu” berarti dalam bahasa Injil adalah Tuhan yaitu Tuhanku dan Tuhanmu.
Maka kepada para pencinta Masih aku katakan: Bukankah wasiat-wasiat Masih alaihissalam telah mencakup pengenalan yang jelas terhadap zat Allah Yang Maha Tinggi Maha Besar Yang Tunggal, Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an: Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” (Al-Ikhlas: 1-4), sebagaimana datang dalam Al-Qur’an Al-Karim juga: Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah oleh kamu sekalian akan Aku” (Al-Anbiya: 25). Kedua: Sesungguhnya tugas Isa alaihissalam yang kedua adalah membimbing umat yang diutus kepadanya kepada penyembahan Allah, yaitu umat Bani Israil, adapun selain mereka dari umat-umat lain maka syariat Isa tidak menyangkut mereka, dan inilah yang ditetapkan oleh Injil-injil Kristen, maka telah datang dalam Injil Matius pasal 15 ayat 24 ucapan Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel”, dan datang dalam Matius pasal 10 ayat 5: Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Kisah Para Rasul 11 ayat pertama).
Dan kepada para pencinta Masih aku katakan: Wahai orang yang mencari kebenaran dan wahai orang yang beriman kepada Allah Yang Maha Esa, untukmu hadiah dari hati: Berimanlah kepada Allah sebagai Tuhan Yang Esa dan bahwa Masih adalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam dan roh dari-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya dan penutup para nabi dan rasul, dan ikutilah dia dengan sebenar-benar pengikutan, katakanlah laa ilaaha illallah niscaya Allah akan memberimu pahala dua kali lipat, Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Al-Karim: Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya sebelum Al Quran itu, mereka beriman kepada Al Quran itu, dan apabila dibacakan kepada mereka, mereka berkata: “Kami beriman kepadanya, sesungguhnya Al Quran itu adalah kebenaran dari Tuhan kami, sesungguhnya kami sebelum Al Quran itu telah menjadi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah). Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka” (Al-Qashash: 52-54).
Saat yang Menentukan
Gambarkan kepada kami saat menentukan ketika kamu memutuskan untuk memeluk Islam? Dan apa yang terjadi karenanya?
-Ketika aku memutuskan untuk memeluk Islam, aku pergi ke gereja dan mengajukan permohonan cuti untuk menghabiskannya bersama keluargaku, maka diminta aku untuk menunggu hingga gereja menyetujui 50-100 ribu dolar untukku untuk kubelanjakan pada anak-anakku, aku berkata kepada mereka aku tidak mau “uang kalian” dan aku memiliki untuk gereja dua gedung dan “uang” sebesar dua juta 400 ribu dolar Amerika, dan 320 juta pound Sudan, maka aku serahkan kepada pengurus anggaran kristenisasi, maka itu merupakan kejutan besar bagi gereja. Dan setelah itu aku menghabiskan dua hari bersama keluargaku memikirkan perkara ini dan mendiskusikannya, dan keluargaku yang terdiri dari istriku dan empat anak menyadari bahwa aku sedang memikirkan untuk memeluk Islam, dan ketika aku memberitahukan kepada mereka bahwa waktunya telah tiba, jawaban mereka adalah kamu lebih tahu dari kami dan kami mempercayaimu dan keputusanmu adalah keputusan kami, dan sungguh kami pergi ke salah satu masjid yang berdekatan “Masjid An-Nur” dan menyatakan keislaman kami, dan benar bahwa aku kehilangan harta yang banyak namun aku memperoleh keimanan dan ketenangan jiwa setelah 40 tahun yang kuhabiskan dalam kebatilan, dan akibat itu gereja menuduhku gila dan bahwa aku sakit jiwa.
Aku Tidak Gila
Kamu berkata bahwa gereja menuduhmu gila… apakah kamu membuktikan kepada mereka bahwa kamu dalam keadaan penuh akal sehatmu dan telah masuk Islam setelah yakin dan belajar ataukah apa yang terjadi?
- Sungguh Allah berkehendak bahwa aku mempelajari perbandingan agama dan tujuannya adalah supaya aku mengenal agama-agama samawi dan non-samawi demi melaksanakan kristenisasi dengan ilmu, pengalaman dan metodologi, namun Allah menghendaki hal lain, maka aku mempelajari agama-agama samawi dan itu dikenal, sebagaimana aku mempelajari yang non-samawi yaitu Buddhisme, Hinduisme, penyembahan api, matahari, setan, dan berhala, dan selama tahap pembelajaran terkuaklah di hadapanku kebenaran-kebenaran tentang Islam satu persatu, dan mulai pembentukan keagamaanku terbentuk dan pemikiranku berubah dan saling bertumpang tindih, dan dalam salah satu tahap pembelajaran aku yakin bahwa Islam adalah agama yang benar, maka aku ketika mendengar adzan berhenti memberikan kuliah sebagai penghormatan terhadap panggilan Ilahi, dan saat itu aku menjadi orang dengan dua wajah, wajah yang melihat bahwa Islam adalah agama yang haq dan bahwa Allah itu Esa tiada sekutu bagi-Nya, dan wajah yang menipu diri sendiri dan terus terlibat dalam kegiatan-kegiatan gerejawi dan menikmati harta-hartanya yang melimpah. Dan ketika tampak simpati ku terhadap Islam berkumpullah majelis-majelis pendeta, rahib, dan kardinal, dan pendapat mereka bahwa aku condong kepada Islam, dan di sini Dewan Gereja mempraktikkan tekanan-tekanan banyak kepadaku, dan ketika gagal memutuskan menghentikanku dari pekerjaan di gereja, dan keluar keputusan dari gereja-gereja bahwa kegilaan telah menimpaku, maka aku berkata kepada mereka sesungguhnya aku tidak gila maka aku takut kepada Allah Yang Esa Tuhanku dan Tuhan kalian dan Tuhan Muhammad dan Isa, sesungguhnya aku takut dari azab Allah, sesungguhnya aku takut kepada Allah, dan aku tahu setelah itu bahwa laporan para dokter membuktikan bahwa aku tidak gila, namun aku berharap untuk memeluk Islam.
Tuan Ashok.. mengapa kamu tidak mengubah namamu kepada nama Muslim sebagaimana kebiasaan setiap orang yang memeluk Islam?
- Aku tidak mengubah namaku karena dua pertimbangan:
Pertama: karena Islam tidak melihat dalam hal itu ada masalah, dan inilah yang penting bagiku pada tingkat pertama, maka tidak mengapa non-Muslim memeluk Islam dan tetap mempertahankan nama lamanya, maka agama Islam menitikberatkan pada keimanan.
Kedua: aku suka mempertahankan namaku untuk tujuan-tujuan dakwah yaitu supaya aku tetap diterima oleh non-Muslim, kemudian aku bisa menjelaskan kepada mereka kebenaran, setelah Allah melapangkan dadaku dengan Islam dan aku keluar dari kegelapan menuju cahaya, dan dari kekufuran menuju Islam, dan dari keadaan ahli neraka menuju keadaan ahli kiblat.
Kardinalitas
Kamu mencapai di gereja tingkat kardinal sebagaimana ayahmu juga menduduki jabatan ini.. apa arti jabatan kardinal? Dan apa fungsinya di gereja?
- Sungguh aku telah menjabat jabatan-jabatan besar di gereja, dan di antara itu aku adalah kardinal sebagaimana ayahku juga begitu, dan jabatan ini dalam gereja Katolik setara dengan fungsi mufti dalam Islam, dan harus diketahui pendeta bahwa dia bukanlah tuhan supaya mengampuni dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan orang, maka yang aneh adalah jika seorang hamba berbuat salah dia pergi kepada pendeta pada hari Minggu sebelum shalat, dan berkata kepadanya sungguh aku telah berbuat salah dalam ini dan ini, maka pendeta berkata: pergilah telah diampuni untukmu, bagaimana pendeta ini berani memikul kekuasaan Allah?!, dan siapa yang memberinya kewenangan ini sedangkan dia manusia! Dan aku menantang siapapun dari pendeta-pendeta besar Timur atau Barat untuk berdebat denganku, malahan aku siap untuk berdebat dengan tingkatan tinggi manapun di gereja untuk membuktikan kebenaran Islam dan kewajarannya untuk diikuti, maka aku tidak masuk Islam secara emosional atau sia-sia, melainkan aku masuk Islam setelah studi mendalam terhadap agama-agama, sampai pada akhir studi bahwa Islam adalah agama samawi yang Allah tutup dengannya risalah-risalah samawi, dan bahwa Nabi SAW adalah penutup para nabi dan rasul, dan bahwa Isa alaihissalam adalah manusia dari manusia dan dia nabi dan rasul dan tidak lebih dari itu, Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Al-Karim: Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul (Al-Ma’idah:75), dan aku bukan yang pertama masuk Islam dari para pendeta, maka telah mendahuluiku masuk Islam sejumlah besar dari para pendeta dan penginjil, dan di depan mereka Sekretaris Jenderal Dewan Konferensi Uskup dalam gereja Katolik, dan Ketua Pendeta di Negara Bagian Timur.
Kamu sekarang dai Islam dan sebelumnya kamu dai Nasrani… apa perbedaannya?
- Dahulu semua perhatianku adalah mengkristenkan kaum Muslim atau menjauhkan mereka dari agama mereka meskipun mereka rusak dan melakukan segala kemungkaran, maka tidak penting bahwa Muslim itu menjadi manusia shaleh atau lurus dalam masyarakat bahkan setelah pindah dari Islam, dan gereja tidak peduli dengan mengajak orang Nasrani untuk berkomitmen, maka semua perhatiannya adalah supaya manusia membawa kata Kristen, dan bukan syarat bahwa dia beragama atau berkomitmen, adapun sekarang maka seseorang dalam Islam diminta pertanggungjawaban atas setiap perkara kecil dan besar, dan setiap orang yang memeluk Islam wajib menjadi pemilik akidah yang benar dan ibadah yang sah.
Kaum Muslim mengkritik kegiatan kristenisasi sementara mereka mempraktikkan dakwah Islam di antara non-Muslim… mengapa kemunafikan?
Ada perbedaan besar antara dakwah Islam dan dakwah Kristen. Para pendakwah Islam menjelaskan prinsip-prinsip dan ajarannya serta mencerminkan gambaran yang benar tentang Islam, dan mereka tidak memaksa siapapun untuk masuk Islam, karena jika seseorang tidak beribadah kepada Allah dengan keyakinan dan kepercayaan yang tidak diragukan lagi, maka Islamnya tidak bernilai. Adapun para pendakwah Kristen, mereka sayangnya memanfaatkan kebutuhan orang-orang miskin dan yang kekurangan, dan memberikan mereka makanan dan obat-obatan atau kesempatan pendidikan sebagai imbalan untuk memeluk agama Kristen. Para misionaris ini tidak meyakinkan siapapun dengan akidah karena tidak ada ajaran Kristen yang meyakinkan, dan yang ada hanyalah bahwa mereka memiliki anggaran yang besar. Dan dari keadilan, kami katakan bahwa organisasi-organisasi Islam yang bekerja di bidang kemanusiaan mendirikan banyak proyek yang bermanfaat bagi Muslim dan non-Muslim, dan tidak memandang agama penerima manfaat, serta tidak memeras atau menawar berdasarkan makanan sebagai imbalan untuk memeluk Islam.
Muslim Baru
Apa peran Anda sekarang dalam bidang dakwah Islam?
Kami mengasuh puluhan ribu orang yang telah memeluk Islam melalui aktivitas kami di “Organisasi Solidaritas Islam untuk Pembangunan dan Kemakmuran” dan di antara mereka adalah intelektual, perwira, dan pejabat di berbagai sektor. Kami mendirikan untuk mereka sekolah-sekolah dan khalwah-khalwah Al-Quran. Ada lebih dari 12 ribu Muslim baru pria dan wanita yang teratur dalam khalwah-khalwah tahfizh Al-Quran Al-Karim, dan setiap khalwah terdiri dari 300-400 pria dan wanita yang menghafal Al-Quran dan mempelajari sirah, hadits syarif, dan fikih Islam.
Kami memperhatikan para pemimpin suku dan sultan karena mereka mendapat penghormatan dari pengikut dan pendukung mereka. Jika mereka masuk Islam, maka orang-orang di belakang mereka akan masuk Islam juga. Kami telah memperhatikan bahwa banyak orang Kristen di selatan berasal dari keluarga Muslim, dan orang Inggris saat menduduki Sudan telah mengkristenkan mereka. Oleh karena itu, kami bekerja untuk mengembalikan mereka ke asal-usul Islam mereka.
Sumber: Majalah Al-Mujtama’ Edisi 1644
ULAMA DAN SASTRAWAN YANG MASUK ISLAM
27. Ahli Bedah Prancis Maurice Bucaille
Sekilas tentangnya:
Dokter Prancis, kepala bagian bedah di Universitas Paris, memeluk Islam tahun 1982 M.
Kitabnya (Taurat, Al-Quran dan Sains) dianggap sebagai salah satu kitab terpenting yang mempelajari kitab-kitab suci berdasarkan pengetahuan modern.
Beliau juga memiliki buku (Al-Quran Al-Karim dan Sains Modern) yang memberikan kepadanya Akademi Prancis tahun 1988 M sebuah penghargaan dalam sejarah.
Beliau berkata: “Hal pertama yang menimbulkan keheranan dalam jiwa orang yang menghadapi teks-teks Al-Quran untuk pertama kalinya adalah kekayaan topik-topik ilmiah yang dibahas. Sementara kita menemukan dalam Taurat saat ini kesalahan-kesalahan ilmiah yang besar, kita tidak menemukan dalam Al-Quran kesalahan apapun.
Seandainya yang mengatakan Al-Quran adalah manusia, bagaimana mungkin dia bisa menulis pada abad ketujuh kebenaran-kebenaran yang tidak termasuk dalam zamannya…
Tidak ada penjelasan positif tentang sumber Al-Quran.” – (Studi Kitab-Kitab Suci Berdasarkan Pengetahuan Modern) Dr. Maurice Bucaille hal. (145)
“Saya tidak menemukan keserasian antara agama dan sains kecuali ketika saya mulai mempelajari Al-Quran Al-Karim. Sains dan agama dalam Islam adalah saudara kembar, karena Al-Quran Al-Karim dan Hadits Nabawi Syarif mengajak setiap Muslim untuk menuntut ilmu. Tentu saja, pencapaian-pencapaian peradaban Islam yang besar muncul dari ketaatan terhadap perintah-perintah yang diwajibkan kepada kaum Muslim sejak fajar Islam.” – (Al-Quran Al-Karim dan Sains Kontemporer) Dr. Maurice Bucaille hal. (123)
Dan ini adalah artikel tentangnya oleh Dr. Muhammad Yusuf Al-Mulayfi:
Maurice Bucaille…
Siapa Maurice Bucaille?! Dan tahukah Anda apa yang dilakukan Maurice Bucaille?!
Dia adalah permata Prancis dan simbolnya yang bercahaya…
Dia lahir dari kedua orang tua Prancis, dan dibesarkan sebagaimana keluarganya dalam agama Kristen. Ketika menyelesaikan pendidikan menengahnya, dia masuk sebagai mahasiswa di fakultas kedokteran Universitas Prancis, dan menjadi yang terbaik hingga meraih gelar kedokteran. Keadaannya terus meningkat hingga menjadi ahli bedah paling terkenal dan terampil yang dikenal Prancis modern.
Dari keahliannya dalam bedah ada kisah menakjubkan yang membalik hidupnya dan mengubah kepribadiannya! Prancis terkenal sebagai salah satu negara yang paling peduli dengan peninggalan dan warisan budaya. Ketika Presiden Prancis sosialis mendiang (François Mitterrand) mengambil alih pemerintahan negara tahun 1981, Prancis meminta negara (Mesir) pada akhir tahun delapan puluhan untuk menjadi tuan rumah mumi (Firaun Mesir) ke Prancis untuk melakukan tes dan pemeriksaan arkeologi serta perawatan.
Maka dipindahkanlah jasad tiran paling terkenal yang dikenal Mesir… Dan di sana di tanah bandara, Presiden Prancis berbaris membungkuk bersama menteri-menterinya dan pejabat-pejabat tinggi negara di tangga pesawat untuk menyambut Firaun Mesir dengan penyambutan raja seolah-olah dia masih hidup! Dan seolah-olah dia masih berteriak kepada rakyat Mesir “Akulah Tuhan kalian yang paling tinggi!”
Ketika upacara penyambutan kerajaan untuk Firaun Mesir di tanah Prancis selesai…
Mumi tiran itu dibawa dengan iring-iringan yang tidak kalah meriah dari penyambutannya dan dipindahkan ke sayap khusus di pusat peninggalan Prancis, untuk kemudian dimulai oleh para ahli peninggalan terbesar di Prancis dan dokter-dokter bedah serta anatomi untuk mempelajari mumi tersebut dan menemukan rahasia-rahasianya. Yang menjadi kepala ahli bedah dan penanggung jawab utama studi mumi Firaun ini adalah Profesor Maurice Bucaille.
Para perawat tertarik untuk merestorasi mumi, sementara perhatian kepala mereka (Maurice Bucaille) sangat berbeda dari mereka. Dia berusaha menemukan bagaimana raja Firaun ini mati. Pada jam larut malam… hasil analisis akhirnya muncul…
Sisa-sisa garam yang menempel di tubuhnya adalah bukti terbesar bahwa dia mati tenggelam!
Dan bahwa jasadnya dikeluarkan dari laut setelah tenggelam segera, kemudian mereka bergegas mengawetkan jasadnya agar tubuhnya selamat!
Tapi ada hal aneh yang masih membuatnya bingung, yaitu bagaimana jasad ini tetap utuh dibanding jasad-jasad Firaun lainnya yang diawetkan, lebih selamat dari yang lain meskipun dikeluarkan dari laut!
Maurice Bucaille sedang menyiapkan laporan akhir tentang apa yang dia yakini sebagai penemuan baru dalam pengangkatan jasad Firaun dari laut dan pengawetannya setelah tenggelam langsung, hingga seseorang berbisik di telinganya: “Jangan terburu-buru karena orang-orang Islam membicarakan tentang tenggelamnya mumi ini…”
Tapi dia sangat menolak berita ini dan heran, karena penemuan seperti ini tidak bisa diketahui kecuali dengan perkembangan sains modern melalui perangkat komputer modern yang sangat akurat. Lalu seseorang berkata kepadanya bahwa Al-Quran yang mereka imani menceritakan kisah tentang tenggelamnya dan keselamatan jasadnya setelah tenggelam!
Maka bertambahlah keterkejutannya dan dia mulai bertanya-tanya…
Bagaimana mungkin ini terjadi sedangkan mumi ini belum ditemukan sama sekali kecuali pada tahun 1898 M, yaitu sekitar dua ratus tahun yang lalu, sementara Al-Quran mereka sudah ada lebih dari seribu empat ratus tahun lalu?!
Dan bagaimana hal ini masuk akal, sedangkan seluruh umat manusia bukan hanya orang Arab, tidak tahu apapun tentang pengawetan jasad para Firaun oleh orang Mesir kuno kecuali beberapa dekade yang lalu saja???
(Maurice Bucaille) duduk semalam suntuk menatap jasad Firaun, berpikir dengan seksama tentang apa yang dibisikkan temannya kepadanya bahwa Al-Quran kaum Muslim membicarakan keselamatan jasad ini setelah tenggelam… Sementara kitab suci mereka (Injil Matius dan Lukas) membicarakan tenggelamnya Firaun saat mengejar Nabi Musa alaihissalam tanpa menyinggung nasib jasadnya sama sekali… Dan dia mulai berkata dalam hati: Masuk akalkah bahwa mumi yang ada di hadapanku ini adalah Firaun Mesir yang mengejar Musa?!
Dan masuk akalkah bahwa Muhammad mereka tahu ini lebih dari seribu tahun lalu sedangkan aku baru mengetahuinya?!
(Maurice) tidak bisa tidur, dan meminta agar mereka membawakan Taurat untuknya. Dia mulai membaca dalam (Kitab Keluaran) dari Taurat: “Lalu air kembali dan menutupi kereta-kereta dan penunggang kuda seluruh tentara Firaun yang masuk mengejar mereka ke laut, tidak ada yang tersisa dari mereka seorangpun.” Dan Maurice Bucaille tetap bingung.
Bahkan Injil tidak membicarakan keselamatan jasad ini dan keadaannya yang utuh.
Setelah jasad Firaun dirawat dan diperbaiki, Prancis mengembalikan mumi tersebut ke Mesir dalam peti kaca mewah yang layak untuk kedudukan Firaun! Tapi… (Maurice) tidak tenang dan tidak damai, sejak dia dikejutkan berita yang disebarkan kaum Muslim tentang keselamatan jasad ini!
Dia berkemas dan memutuskan untuk bepergian ke Kerajaan Arab Saudi untuk menghadiri konferensi medis yang dihadiri sekumpulan ulama anatomi Muslim… Dan di sana, pembicaraan pertama yang dia lakukan dengan mereka adalah tentang apa yang dia temukan mengenai keselamatan jasad Firaun setelah tenggelam…
Lalu salah seorang dari mereka berdiri dan membuka Al-Quran untuknya dan mulai membacakan kepadanya firman Allah Ta’ala:
“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah terhadap tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS. Yunus: 92)
Dampak ayat itu sangat berat baginya…
Dan jiwanya berguncang sehingga membuatnya berdiri di hadapan para hadirin dan berteriak dengan suara paling keras: “Aku telah masuk Islam dan beriman kepada Al-Quran ini!”
(Maurice Bucaille) kembali ke Prancis dengan wajah yang berbeda dari ketika dia berangkat… Dan di sana dia tinggal sepuluh tahun tidak ada pekerjaan yang menyibukkannya selain mempelajari tingkat kesesuaian antara fakta-fakta ilmiah yang baru ditemukan dengan Al-Quran Al-Karim, dan mencari satu kontradiksi ilmiah dari apa yang dibicarakan Al-Quran untuk kemudian keluar dengan hasil firman Allah Ta’ala:
“Tidak datang kepadanya (Al-Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS. Fushshilat: 42)
Hasil dari tahun-tahun yang dihabiskan orang Prancis Maurice ini adalah dia menulis sebuah buku tentang Al-Quran Al-Karim yang mengguncang negara-negara Barat secara keseluruhan dan membuat para ulamanya terguncang. Judul buku itu adalah (Al-Quran, Taurat, Injil dan Sains… Studi Kitab-Kitab Suci Berdasarkan Pengetahuan Modern). Apa yang dilakukan buku ini??
Dari cetakan pertama saja langsung habis dari semua toko buku!
Kemudian dicetak ulang ratusan ribu kali setelah diterjemahkan dari bahasa aslinya (Prancis) ke bahasa Arab, Inggris, Indonesia, Persia, Serbo-Kroasia, Turki, Urdu, Gujarat, dan Jerman!
Untuk kemudian tersebar di setiap toko buku di Timur dan Barat, dan Anda bisa menemukannya di tangan setiap pemuda Mesir atau Maroko atau Teluk di Amerika. Dia menggunakannya untuk mempengaruhi gadis yang ingin dia nikahi! Karena itu adalah buku terbaik yang bisa menariknya dari Kristen dan Yahudi menuju keesaan Islam dan kesempurnaannya…
Dan telah mencoba mereka yang hatinya dan matanya dibutakan Allah dari ulama Yahudi dan Nasrani untuk menanggapi buku ini, tapi mereka tidak menulis selain lelucon dialektis dan upaya putus asa yang didiktekan oleh bisikan setan kepada mereka… Dan yang terakhir adalah Dr. (William Campbell) dalam bukunya yang berjudul (Al-Quran dan Kitab Suci dalam Terang Sejarah dan Sains). Dia berkutat ke sana kemari dan pada akhirnya tidak bisa mencapai apapun!
Bahkan yang lebih mengagumkan lagi adalah beberapa ulama di Barat mulai menyiapkan bantahan terhadap buku itu, tapi ketika dia semakin mendalami bacaannya dan merenungkannya lebih jauh… dia masuk Islam dan mengucapkan syahadat di hadapan umum!! Maka segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Maurice Bucaille berkata dalam pengantar bukunya: “Aspek-aspek ilmiah yang dikandung Al-Quran telah menimbulkan keterkejutan mendalam pada awalnya. Aku tidak pernah menyangka sama sekali akan kemungkinan menemukan jumlah yang begitu besar dari pernyataan tentang topik-topik yang sangat beragam, dan kesesuaiannya yang sempurna dengan pengetahuan ilmiah modern, dan itu dalam teks yang telah ditulis lebih dari tiga belas abad yang lalu!
Tuan-tuan yang mulia…
Kita tidak menemukan komentar atas ‘pidato kenegaraan Firaun’ tersebut… selain mengingat firman Allah Ta’ala:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka menemukan padanya banyak hal yang bertentangan.” (QS. An-Nisa: 82)
Ya demi Allah, seandainya itu bukan dari sisi Allah, tentu tidak akan terwujud firman Allah Ta’ala tentang Firaun:
“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu”
Sungguh itu adalah ayat ilahi pada jasad Firaun yang sudah tua… Ayat yang menghidupkan Islam di hati Maurice…!
- Dr. Maurice Bucaille Prancis berkata tentang fakta-fakta ilmiah yang terdapat dalam Al-Quran di kalimat terakhirnya dalam bukunya “Studi Kitab-Kitab Suci Berdasarkan Pengetahuan Modern” hal. 222 setelah membantah klaim-klaim palsu Taurat dalam penciptaan dan membuktikan kesalahannya:
“IN VIEW OF THE STATE OF KNOWLEDGE IN MUHAMMAD’S DAYS, IT IS INCONCEIVABLE THAT MANY OF THE STATEMENTS IN THE QUR’AN WHICH ARE CONNECTED WITH SCIENCE COULD HAVE BEEN THE WORK OF MAN. IT IS MOREOVER, PERFECTLY HAS BEEN LEGITIMATE, NOT ONLY TO REGARD THE QUR’AN AS THE EXPRESSION OF A REVELATION, BUT ALSO TO AWARD IT A VERY SPECIAL PLACE ON ACCOUNT OF THE GUARANTEE OF AUTHENTICITY, IT PROVIDES AND THE PRESENCE IN IT OF SCIENTIFIC STATEMENTS WHICH, WHEN STUDIED TODAY, APPEAR AS A CHALLENGE TO HUMAN EXPLANATION”
Dan terjemahannya sebagai berikut:
(Dengan melihat tingkat pengetahuan di zaman Muhammad, maka tidak dapat dibayangkan bahwa fakta-fakta ilmiah yang terdapat dalam Al-Quran adalah karya manusia. Oleh karena itu, sangat adil untuk tidak hanya memandang Al-Quran sebagai wahyu ilahi saja, tetapi harus diberikan kedudukan yang sangat istimewa karena keaslian yang diberikan oleh data-data ilmiah yang terdapat di dalamnya yang jika dipelajari hari ini tampak seolah-olah menantang penjelasan manusia).
Beliau juga berkata: “Aku pertama kali mempelajari Al-Quran Al-Karim, tanpa prasangka apapun dan dengan objektivitas penuh, mencari tingkat kesesuaian antara teks Al-Quran dengan data sains modern. Aku tahu, sebelum studi ini, melalui terjemahan, bahwa Al-Quran menyebutkan banyak jenis fenomena alam, tapi pengetahuanku singkat. Berkat studi yang sadar terhadap teks Arab, aku bisa membuat daftar yang setelah selesai membuatku menyadari bahwa Al-Quran tidak mengandung pernyataan apapun yang dapat dikritik dari sudut pandang sains di era modern. Dengan objektivitas yang sama aku melakukan pemeriksaan yang sama terhadap Perjanjian Lama dan Injil. Adapun untuk Perjanjian Lama, tidak perlu pergi lebih jauh dari buku pertama, yaitu Kitab Kejadian, karena aku menemukan pernyataan-pernyataan yang tidak bisa diselaraskan dengan data sains yang paling kokoh di zaman kita. Dan untuk Injil… kita menemukan teks Injil Matius bertentangan secara jelas dengan Injil Lukas, dan yang terakhir ini terang-terangan menyajikan kepada kita hal yang tidak sesuai dengan pengetahuan modern khusus tentang kekunoan manusia di bumi.” (Al-Quran Al-Karim, Taurat, Injil dan Sains, hal. 150).
“Aspek-aspek ilmiah yang dikandung Al-Quran telah menimbulkan keterkejutan mendalam di awal. Aku tidak pernah menyangka sama sekali akan kemungkinan menemukan jumlah yang begitu besar dari klaim-klaim khusus tentang topik-topik yang sangat beragam dan kesesuaiannya yang sempurna dengan pengetahuan ilmiah modern, dan itu dalam teks yang ditulis lebih dari tiga belas abad yang lalu. Di awal aku tidak memiliki iman apapun terhadap Islam. Aku mendalami studi teks-teks ini dengan jiwa yang bebas dari segala prasangka dan dengan objektivitas penuh…” (Al-Quran Al-Karim, Taurat, Injil dan Sains, hal. 145).
“.. Saya mempelajari Al-Quran dengan perhatian khusus pada deskripsi yang diberikannya tentang banyak sekali fenomena alam. Saya takjub dengan keakuratan beberapa detail khusus tentang fenomena-fenomena ini, yang merupakan detail-detail yang hanya dapat dipahami dalam teks aslinya. Saya takjub dengan kesesuaiannya dengan konsep-konsep yang kita miliki hari ini tentang fenomena yang sama, yang tidak mungkin bagi manusia mana pun di zaman Muhammad [shallallahu ‘alaihi wasallam] untuk memiliki ide sekecil apa pun tentangnya..” (Al-Quran Karim wa al-Taurah wa al-Injil wa al-‘Ilm, hal. 145)
“.. Bagaimana mungkin seorang manusia – yang pada awalnya buta huruf – dapat menyatakan kebenaran-kebenaran yang bersifat ilmiah yang tidak mungkin diketahui oleh manusia mana pun pada zaman itu, dan itu tanpa pernyataannya mengungkapkan kesalahan sekecil apa pun dari segi ini?” (Al-Quran Karim wa al-Taurah wa al-Injil wa al-‘Ilm, hal. 150)
28- Keith Moore, Ahli Embriologi Terkenal
Profil singkatnya: Profesor Keith Moore adalah salah satu ahli anatomi dan embriologi terbesar di dunia. Pada tahun 1984, ia menerima penghargaan paling bergengsi yang diberikan dalam bidang ilmu anatomi di Kanada, J.C.B. Grant Award dari Canadian Association of Anatomists. Ia memimpin banyak asosiasi internasional, seperti Canadian and American Association of Anatomists dan Council of Union of Biological Sciences.
Dan ini kisah masuk Islamnya dari buku “Alladhina Hada Allah” karya Dr. Zaghloul al-Najjar: Saya pernah diundang untuk menghadiri konferensi tentang kemukjizatan yang diselenggarakan di Moskow. Pada awalnya saya tidak ingin menghadirinya karena diadakan di negara yang menjadi ibukota kekafiran dan ateisme selama lebih dari tujuh puluh tahun. Saya berkata dalam hati: “Apa yang orang-orang ini ketahui tentang Allah hingga kita mengajak mereka kepada apa yang diserukan Al-Quran Karim?!”
Kemudian dikatakan kepada saya: “Harus pergi karena undangan telah diberikan kepada kita dari Akademi Kedokteran Rusia.” Maka kami pergi ke Moskow. Selama presentasi beberapa ayat kosmik, tepatnya ketika firman Allah Ta’ala: “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu” (As-Sajdah: 5).
Seorang ilmuwan Muslim berdiri dan berkata: “Jika seribu tahun sama dengan dua ukuran waktu yang tidak setara, itu menunjukkan perbedaan kecepatan.” Kemudian ia mulai menghitung kecepatan ini dan berkata: “Seribu tahun… pasti seribu tahun lunar karena orang Arab tidak mengenal tahun matahari, dan tahun lunar adalah dua belas bulan lunar, dengan durasi bulan lunar adalah orbit bulan mengelilingi bumi, dan orbit ini dihitung dengan sangat tepat, yaitu 2,4 miliar km.”
Ia berkata: “2,4 miliar dikalikan 12 – jumlah bulan dalam setahun – kemudian dikalikan seribu tahun, lalu hasil ini dibagi 24 – jumlah jam dalam sehari – kemudian dibagi 60 – menit – kemudian dibagi 60 – detik.” Orang ini sampai pada kecepatan yang lebih tinggi dari kecepatan cahaya.
Seorang profesor fisika – anggota Akademi Rusia – berdiri sambil berkata: “Sebelum konferensi ini, saya mengira saya termasuk yang unggul dalam ilmu fisika, khususnya ilmu cahaya, ternyata ada ilmu yang jauh lebih besar dari ilmu saya. Saya tidak bisa meminta maaf atas kekurangan saya dalam memahami ilmu ini kecuali dengan mengumumkan di hadapan kalian semua bahwa saya (bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah).”
Kemudian diikuti oleh empat penerjemah yang sama sekali tidak pernah kami ajak bicara, mereka hanya berada di ruang kaca mereka menerjemahkan percakapan dari bahasa Arab ke Rusia dan sebaliknya. Mereka datang kepada kami bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.
Tidak hanya itu, kami juga mengetahui bahwa televisi Rusia merekam sesi-sesi ini dan menyiarkannya secara lengkap. Kami mendapat kabar bahwa lebih dari 37 ilmuwan terkenal Rusia masuk Islam hanya dengan menonton sesi-sesi tersebut.
Tidak hanya itu… Keith Moore* juga bersama kami, dia adalah salah satu ilmuwan paling terkenal dalam embriologi dan hampir semua dokter di dunia mengenalnya. Dia memiliki buku yang diajarkan di sebagian besar fakultas kedokteran di dunia dan buku ini telah diterjemahkan ke lebih dari 25 bahasa – dia adalah penulis buku terkenal (The Developing Human) – orang ini berdiri di tengah kumpulan itu sambil berkata:
“Ungkapan-ungkapan Al-Quran tentang tahapan pembentukan janin pada manusia mencapai tingkat keakuratan dan kelengkapan yang tidak dicapai oleh ilmu modern, dan ini jika menunjukkan sesuatu, maka itu menunjukkan bahwa Al-Quran ini tidak mungkin kecuali firman Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Dikatakan kepadanya: “Apakah Anda Muslim?!?” Dia menjawab: “Tidak, tetapi saya bersaksi bahwa Al-Quran adalah firman Allah dan bahwa Muhammad diutus dari Allah.” Dikatakan kepadanya: “Kalau begitu Anda Muslim.” Dia berkata: “Saya berada di bawah tekanan sosial yang menghalangi saya untuk mengumumkan Islam saya sekarang, tetapi jangan heran jika suatu hari Anda mendengar bahwa Keith Moore telah masuk Islam.” Dan kami mendapat kabar tahun lalu bahwa dia benar-benar telah mengumumkan Islamnya, maka segala puji bagi Allah. Demikian yang disebutkan syaikh dalam bukunya.
Perlu diketahui bahwa pada Konferensi Kemukjizatan Ilmiah Pertama Al-Quran Karim dan Sunnah Mutaharah yang diadakan di Kairo tahun 1986, Profesor Dr. Keith Moore berdiri – dia adalah salah satu ahli anatomi dan embriologi paling terkenal di dunia dan kepala departemen ini di Universitas Toronto, Kanada (dan merupakan salah satu peneliti yang berpartisipasi dalam konferensi tersebut) – dalam ceramahnya berkata:
“Saya bersaksi tentang kemukjizatan Allah dalam penciptaan setiap tahap dari tahap-tahap Al-Quran Karim, dan saya tidak percaya bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam atau orang lain dapat mengetahui apa yang terjadi dalam perkembangan janin karena perkembangan ini baru ditemukan di bagian akhir abad kedua puluh. Saya ingin menegaskan bahwa segala yang saya baca dalam Al-Quran Karim tentang asal mula janin dan perkembangannya di dalam rahim sesuai dengan semua yang saya ketahui sebagai seorang ahli embriologi terkemuka.”
Konferensi Kelima Kemukjizatan Ilmiah dalam Al-Quran dan Sunnah yang diadakan di Moskow (September 1995) – yang dibicarakan oleh Syaikh Zaghloul al-Najjar – menganggap pembagian Al-Quran tentang tahap-tahap penciptaan dan perkembangan janin ini benar dan akurat, dan merekomendasikan dalam keputusannya untuk mengadopsinya sebagai klasifikasi ilmiah untuk pengajaran.
Perlu diketahui bahwa Professor Dr. Keith Moore mengarang buku yang dianggap sebagai salah satu referensi medis terpenting dalam spesialisasi ini (Tahap-tahap Penciptaan Manusia – Embriologi Klinis) dan memasukkan di dalamnya tahap-tahap yang disebutkan dalam Al-Quran, serta menghubungkan dalam setiap bab buku yang membahas perkembangan penciptaan janin dengan fakta-fakta ilmiah dan ayat-ayat serta hadis-hadis yang terkait, menjelaskan dan memberikan komentar dengan kerja sama Syaikh al-Zindani dan rekan-rekannya.
Perlu diketahui bahwa tahap-tahap penciptaan manusia (Bani Adam) yang disebutkan Al-Quran adalah tujuh tahap. Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik” (Al-Mu’minun 12-14)
Ilmu embriologi telah membuktikan tahap-tahap ini beserta kebenarannya dan kesesuaiannya dengan tahap-tahap yang disebutkan dalam Al-Quran. Tahap-tahap tersebut adalah: 1- Asal manusia (saripati dari tanah) 2- Nuthfah 3- ‘Alaqah 4- Mudhghah 5- Tulang 6- Pembungkusan dengan daging 7- Penciptaan bentuk lain.
29- Ahli Anatomi Thailand Tagatat Tajsen
Profil singkatnya: Profesor Tejtat Tejasen kepala departemen anatomi di Universitas Chiang Mai, Thailand. Dia memberikan kesaksiannya bahwa perkataan ini tidak mungkin keluar dari manusia, dan setelah itu dia mengucapkan dua kalimat syahadat.
Syaikh al-Zindani berkata: Hubungan kami dengan Professor Tagatat Tajasen* dimulai ketika kami memaparkan kepadanya beberapa ayat Al-Quran dan hadis Nabi yang berkaitan dengan bidang spesialisasinya dalam ilmu anatomi. Setelah dia menjawab pertanyaan-pertanyaan kami, dia berkata: “Kami juga memiliki dalam kitab-kitab suci Buddha kami deskripsi tentang tahap-tahap janin.”
“Kami sangat ingin mengetahui apa yang ada dalam kitab-kitab tersebut dalam pertemuan kami selanjutnya.”
Tahun berikutnya ketika dia datang sebagai penguji eksternal untuk mahasiswa fakultas kedokteran Universitas King Abdul Aziz, kami menanyakan tentang apa yang dia janjikan. Dengan kejujuran ilmiah yang patut dihormati, dia menjawab: “Saya menyampaikan permintaan maaf atas informasi yang saya dengar. Saya menjawab tanpa memastikan informasi tersebut, tetapi dengan merujuk pada kitab-kitab itu, saya tidak menemukan apa-apa tentang topik tersebut.”
Kemudian kami mempersembahkan kepadanya ceramah yang telah disiapkan oleh Professor Keith Moore, profesor anatomi di Universitas Toronto, Kanada, dengan judul “Kesesuaian Ilmu Embriologi dengan Al-Quran dan Sunnah”. Kami bertanya kepadanya: “Apakah Anda mengenal Professor Moore?” “Tentu saja, dia adalah salah satu ilmuwan besar yang terkenal dalam spesialisasi ini dan merupakan referensi dunia. Saya heran dengan apa yang dia catat dalam ceramah ini.”
Kemudian kami bertanya beberapa pertanyaan dalam bidang spesialisasinya, di antaranya pertanyaan yang berkaitan dengan kulit: “Apakah ada tahap di mana rasa sakit akibat luka bakar hilang??” “Ya, jika luka bakar dalam dan merusak organ perasa nyeri.”
“Baik, bagaimana pendapat Anda jika Al-Quran Karim yang pada saat diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lebih dari seribu empat ratus tahun yang lalu telah menunjukkan kebenaran ilmiah tersebut ketika menyebutkan cara Allah akan menghukum orang-orang kafir di hari kiamat, di mana Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab” (An-Nisa: 56)
Al-Quran di sini menetapkan bahwa ketika kulit matang, Allah menciptakan kulit baru untuk orang-orang kafir agar rasa sakit mereka terbarui. Itu adalah penegasan dari Al-Quran bahwa ujung-ujung saraf yang membuat manusia merasakan sakit berada di kulit.”
“Ini sungguh mengherankan dan menakjubkan. Itu adalah pengetahuan yang sangat dini tentang pusat-pusat perasa dan saraf di kulit. Saya tidak tahu bagaimana Al-Quran kalian menyebutkan ini!!”
“Menurut Anda, mungkinkah informasi ini diperoleh Muhammad, nabi Islam, dari sumber manusiawi?” “Tentu tidak, karena pada waktu itu tidak ada pengetahuan manusiawi tentang topik ini.”
“Dari mana dan bagaimana dia mengetahui itu?” “Yang pasti bagi saya adalah kemustahilan sumber manusiawi, tetapi saya bertanya kepada kalian, dari mana Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menerima informasi akurat ini?”
“Dari Allah.” “Allah!! Siapa Allah?” Setelah kami menjelaskan kepadanya konsep Islam tentang lafaz Jalala yang Agung, dia tertarik dengan pandangan tersebut dan kembali ke negaranya untuk memberikan ceramah tentang fenomena Al-Quran yang dia alami dan terpengaruh olehnya.
Hingga tiba waktu Konferensi Kedokteran Saudi kedelapan. Dia mendengarkan di ruang besar yang dikhususkan untuk kemukjizatan selama empat hari, banyak ilmuwan terutama non-Muslim memberikan ceramah tentang fenomena kemukjizatan ilmiah. Di penutupan sesi konferensi, Professor Tagatat Tajasen berdiri mengumumkan:
“Setelah perjalanan yang menyenangkan dan menggugah ini, saya yakin bahwa semua yang disebutkan dalam Al-Quran Karim dapat dibuktikan kebenarannya dengan cara-cara ilmiah. Dan karena Muhammad, nabi Islam, adalah seorang yang buta huruf, maka pasti dia menerima informasi melalui wahyu dari Pencipta yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Saya percaya bahwa sudah waktunya bagi saya untuk bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
30- Ahli Geologi Jerman Alfred Kroner
Profil singkatnya: Professor Alfred Kroner adalah salah satu ahli geologi dunia paling terkenal, professor ilmu lapisan bumi dan kepala departemen ilmu lapisan bumi di Institut Geosciences, Universitas Johannes Gutenberg, Mainz, Jerman. Dia berkata: “Dari mana Muhammad mendapat ini… Saya pikir hampir tidak mungkin dia bisa mengetahui hal-hal seperti asal usul bersama alam semesta, karena ilmuwan baru menemukan itu dalam beberapa tahun terakhir, dengan metode teknis yang sangat kompleks dan canggih.”
Syaikh al-Zindani menceritakan: Ilmuwan Professor Alfred Kroner dari ahli geologi paling terkenal di dunia… menghadiri konferensi geologi di Fakultas Ilmu Bumi Universitas King Abdul Aziz… Saya berkata kepadanya: “Apakah kalian memiliki fakta bahwa Jazirah Arab dulunya adalah kebun-kebun dan sungai-sungai – gurun yang kalian lihat ini dahulu adalah kebun dan taman?”
Dia berkata: “Ya, ini masalah yang dikenal oleh kami… dan merupakan fakta ilmiah yang diketahui ahli geologi… karena jika Anda menggali di daerah mana pun, Anda akan menemukan jejak-jejak yang menunjukkan bahwa tanah ini dulunya adalah padang rumput dan sungai-sungai, dan buktinya banyak… hanya untuk pengetahuan kalian, di antaranya desa al-Faw yang ditemukan di bawah pasir Rub’ al-Khali… dan ada banyak bukti lain dalam hal ini.”
Saya berkata kepadanya: “Apakah Anda memiliki bukti bahwa negeri Arab akan kembali menjadi padang rumput dan sungai-sungai?” Dia berkata: “Ini masalah nyata yang pasti yang kami ketahui sebagai ahli geologi, kami ukur dan hitung, dan kami bisa mengatakan perkiraan kapan itu terjadi… dan ini masalah yang tidak jauh dari kalian dan sudah dekat.”
Saya berkata: “Mengapa?” Dia berkata: “Karena kami mempelajari sejarah bumi di masa lalu dan menemukan bahwa ia melewati zaman-zaman yang beragam. Di antara zaman-zaman beragam ini… ada zaman yang disebut zaman es. Apa artinya zaman es? Artinya: sejumlah air laut berubah menjadi es dan berkumpul di kutub utara yang beku, kemudian bergerak ke selatan. Ketika bergerak ke selatan, ia menutupi apa yang ada di bawahnya dan mengubah cuaca di bumi. Di antara perubahan cuaca adalah perubahan yang terjadi di negeri Arab, cuaca menjadi dingin, dan negeri Arab menjadi negeri dengan hujan dan sungai terbanyak di dunia.”
Saya menghubungkan antara banjir dan hujan di daerah Abha dengan yang terjadi di Eropa utara sambil merenungkan apa yang dikatakannya. Saya berkata kepadanya: “Pastikan untuk kami hal ini.” Dia berkata: “Ya, ini kenyataan yang tidak bisa dielakkan!”
Saya berkata kepadanya: “Dengar, siapa yang memberitahu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tentang itu? Semua ini disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Tidak akan tegak kiamat hingga negeri Arab kembali menjadi padang rumput dan sungai-sungai.’ Siapa yang mengatakan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa negeri Arab dulunya adalah padang rumput dan sungai-sungai?!”
Dia berpikir dan berkata: orang-orang Romawi.. maka saya berkata kepadanya: dan siapa yang memberitahunya bahwa tanah Arab akan kembali menjadi padang rumput dan sungai-sungai.. maka dia berpikir dan berpikir lalu berkata: (ada (sesuatu) di atas!!) dan di sini saya berkata kepadanya: tulis.. maka dia menulis dengan tulisan tangannya: “Sungguh, fakta-fakta ilmiah yang saya lihat dalam Al-Qur’an dan Sunnah telah memukau saya, dan kami tidak dapat membuktikannya kecuali baru-baru ini dengan metode ilmiah modern, dan ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mencapai ilmu ini kecuali melalui wahyu dari atas..”
Az-Zindani berkata: Wahai saudara-saudara yang mulia, inilah sikap seorang ateis besar Jerman, dan perasaan tanggung jawab saya terhadap umat Islam di hadapan agama mereka menjadi berlipat ganda, dan saya melihat para pemimpin dunia yang besar, begitu fakta-fakta itu tegak bagi mereka, mereka langsung masuk Islam.. bukan hanya masuk Islam tetapi juga menyebarkan dan menulis dalam buku-buku mereka tanpa peduli. Maka saya berkata dalam hati saya: seandainya ada kerja serius dari umat Islam dan dari universitas-universitas, maka tidak akan berlalu sepuluh tahun kecuali sepertiga ilmuwan bumi dalam sepuluh tahun atau lima belas tahun adalah dari kalangan Muslim. Demi Allah, orang Jerman ini tidak berlalu antara saya dan dia kecuali dua setengah jam hingga dia mengatakan semua ini.. dan ini adalah raksasa dari para raksasa ilmu. Dan dia menulis ini dan mengakuinya, dan ini menunjukkan bahwa ada satu ilmu dan satu kebenaran dan satu Tuhan, dan bahwa ada gerakan dan kerja dari umat Muslim yang menemukan bahwa di tangan kita ada kebenaran yang tidak akan didatangi kebatilan dari depan dan dari belakangnya. Sesungguhnya zaman ini adalah zaman di mana segala sesuatu tunduk pada ilmu pengetahuan, tetapi kita berada di awal zaman ketundukan ilmu pengetahuan kepada Islam dan kepada Al-Qur’an yang haq.
Allah Ta’ala berfirman: “Akan Kami perlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah tidak cukup (bagi kamu) bahwa Rabbmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS. Fushshilat: 53)
Dan kesaksian rekaman ini:
Bagian pertama: http://alhakekah.com/aduio/kroner-1-56k [1] .ram
Bagian kedua: http://alhakekah.com/aduio/kroner-2-56k [1] .ram
31- Dr. Ali Sulaiman Benoist dari Prancis
Saya adalah seorang dokter dan berasal dari keluarga Prancis Katolik. Dan pilihan saya untuk profesi ini berpengaruh terhadap kesan saya dengan sifat-sifat budaya ilmiah murni, yang tidak terlalu memenuhi syarat saya untuk aspek spiritual.
Ini bukan berarti saya tidak percaya pada keberadaan Tuhan, tetapi yang saya maksud adalah bahwa ritual-ritual agama Kristen pada umumnya dan Katolik khususnya, tidak membangkitkan dalam jiwa saya perasaan keberadaan-Nya. Oleh karena itu, perasaan fitrah saya tentang keesaan Allah menghalangi saya untuk beriman pada akidah Trinitas, dan dengan demikian pada akidah peng-Tuhan-an Isa Al-Masih.
Sebelum saya mengenal Islam, saya beriman pada bagian pertama dari syahadat (tiada Tuhan selain Allah) dan ayat-ayat Al-Qur’an ini:
“Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa * Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu * Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan * dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia” (QS. Al-Ikhlas: 1-4).
Oleh karena itu, saya menganggap bahwa iman kepada alam gaib dan apa yang berada di balik materi adalah yang membuat saya memeluk Islam. Namun ada alasan-alasan lain yang mendorong saya untuk itu juga, di antaranya misalnya, bahwa saya tidak dapat menerima klaim orang-orang Katolik bahwa mereka memiliki kekuasaan untuk mengampuni dosa-dosa manusia atas nama Tuhan, dan di antaranya bahwa saya sama sekali tidak percaya ritual Katolik tentang perjamuan kudus dan roti suci, yang mewakili tubuh Kristus Isa, ritual totem itu yang menyerupai apa yang dipercayai zaman-zaman awal yang primitif, di mana mereka mengambil lambang suci bagi mereka, yang diharamkan bagi mereka untuk mendekatinya, kemudian mereka memakan tubuh yang suci ini setelah kematiannya agar roh-nya mengalir dalam diri mereka!!!
Dan di antara yang menjauhkan saya dari agama Kristen adalah bahwa ia tidak mengandung dalam ajarannya sesuatu yang berkaitan dengan kebersihan dan kesucian badan, terutama sebelum shalat. Maka terbayang bagi saya bahwa dalam hal itu ada pelanggaran terhadap kehormatan Tuhan, karena sebagaimana Dia menciptakan roh bagi kita, maka Dia juga menciptakan tubuh bagi kita, dan sudah seharusnya kita tidak mengabaikan tubuh-tubuh kita.
Dan kita juga memperhatikan bahwa agama Kristen berdiam diri berkaitan dengan naluri-naluri fisiologis manusia, sementara kita melihat bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang menyendiri dengan memperhatikan tabiat manusia.
Adapun pusat gravitasi dan faktor utama dalam pemelukan saya terhadap Islam adalah Al-Qur’an. Saya mulai, sebelum saya masuk Islam, mempelajarinya.. dan sungguh saya berhutang banyak hal kepada buku besar yang ditulis oleh Tuan Malik bin Nabi yang berjudul “Fenomena Al-Qur’an”, maka saya yakin bahwa Al-Qur’an adalah kitab wahyu yang diturunkan dari sisi Allah.
Sesungguhnya di antara ayat-ayat Al-Qur’an yang diwahyukan Allah ini sejak lebih dari empat belas abad yang lalu terdapat teori-teori yang sama dengan yang diungkap oleh penelitian-penelitian ilmiah terbaru.
Hal ini cukup untuk keyakinan dan keimanan saya pada bagian kedua dari syahadat (Muhammad adalah Rasulullah).
Dan demikianlah saya maju pada tanggal 20 Februari tahun 1953 M ke masjid di Paris dan menyatakan keimanan saya kepada Islam, dan mufti masjid Paris mencatat saya dalam daftar kaum Muslim dan saya menyandang nama baru “Ali Salman”.
Sungguh saya merasakan kebahagiaan sempurna dalam naungan akidah baru saya dan saya nyatakan sekali lagi “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.”
Sumber: Buku “Mengapa Kami Masuk Islam?” Penulis: Abdul Hamid bin Abdurrahman As-Suhaibani
32- Ilmuwan Hungaria Abdul Karim Germanus
Sekilas tentang dirinya: Seorang ilmuwan Hungaria, yang digambarkan Al-Aqqad sebagai: “sepuluh ilmuwan dalam satu orang”.
Dia menguasai delapan bahasa dan mengarang dengan bahasa-bahasa tersebut, yaitu bahasa Arab, Persia, Turki, Urdu, Jerman, Hungaria, Italia, dan Inggris..
Dan dia adalah anggota akademi bahasa Arab di Damaskus, Kairo, Baghdad, dan Rabat, dan memiliki lebih dari seratus lima puluh buku dalam berbagai bahasa.
Di antaranya buku “Makna Al-Qur’an”.. dan “Puncak-puncak Sastra Arab”.. dan “Allahu Akbar”.. dan “Gerakan-gerakan Modern dalam Islam”.
Dr. Abdul Karim Germanus berkata:
“Yang membuat saya mencintai Islam adalah bahwa ia adalah agama kesucian dan kebersihan: kebersihan tubuh, perilaku sosial, dan perasaan kemanusiaan, dan jangan meremehkan kebersihan jasmani karena ia adalah simbol dan memiliki maknanya” – (Kebangkitan Islam dalam Biografi Tokoh-tokohnya Kontemporer) Dr. Muhammad Rajab Al-Bayumi (2/421) –
“Betapa saya temukan dalam hati kaum Muslim harta karun yang melebihi nilai emas, karena mereka telah memberikan saya rasa cinta dan persaudaraan, dan mengajarkan saya berbuat kebaik, amar ma’ruf nahi munkar.. dan kaum Muslim harus berpegang teguh dengan gigi geraham pada nilai-nilai akhlak yang mereka ungguli, dan tidak terpesona dengan kilauan Barat, karena itu tidak lebih dari kilau yang kosong dan palsu” – (Para Cendekiawan Ini Memilih Islam) Muhammad Utsman hal. (35) –
Islam Agama Peradaban: “Tidak ada dalam ajaran Islam satu kata pun yang menghalangi kemajuan seorang Muslim, atau mencegah bertambahnya bagiannya dari kekayaan atau kekuatan atau pengetahuan..
Dan tidak ada dalam ajaran Islam apa yang tidak dapat diwujudkan secara praktis, dan ini adalah mukjizat besar yang membedakannya dari yang lain, maka Islam adalah agama akal yang tercerahkan, dan Islam akan menjadi kepercayaan orang-orang merdeka.”
Dan Germanus menemukan hubungan erat antara bahasa Arab dengan Islam, dan terikat dengan bahasa Al-Qur’an sampai tingkat kecintaan yang mendalam, maka dia berkata:
“Sungguh saya berharap hidup seratus tahun, untuk mewujudkan semua yang saya harapkan untuk melayani bahasa Al-Qur’an Al-Karim, karena mempelajari bahasa dhad membutuhkan satu abad penuh berkelana di jalan-jalan keindahan dan budayanya” – (Para Cendekiawan Ini Memilih Islam) Muhammad Utsman hal. (36) –
Artikel tentang dirinya dari buku Islam dan Barat, Wajah Lain – Hasan As-Sa’id:
Al-Hajj Abdul Karim Germanus adalah seorang orientalis Hungaria dan ilmuwan, ketenaran-nya menyebar ke seluruh penjuru dunia. Lahir di Budapest, dan mempelajari bahasa-bahasa Barat: Yunani, Latin, Inggris, Prancis, Italia, dan Hungaria, serta dari bahasa-bahasa Timur: Persia dan Urdu, dan menguasai bahasa Arab dan Turki dari dua gurunya: Vambery dan Goldziher yang mewarisi dari keduanya kecintaan mereka terhadap dunia Islam Timur. Kemudian melanjutkan studi mereka setelah tahun 1905 M di universitas Istanbul dan Vienna. Dan menyusun buku dalam bahasa Jerman tentang sastra Utsmani (1906), dan lainnya tentang sejarah jenis-jenis bangsa Turki di abad ketujuh belas, maka mendapat hadiah yang memungkinkannya menghabiskan periode panjang di London, di mana dia menyelesaikan studinya di Museum Inggris. Dan pada tahun 1912 M kembali ke Budapest, lalu diangkat sebagai profesor bahasa Arab, Turki, dan Persia, serta sejarah Islam dan budayanya di Sekolah Tinggi Timur. Kemudian di Bagian Timur dari Universitas Ekonomi, lalu profesor dan kepala Bagian Arab di Universitas Budapest (1948), dan terus melakukan pengajaran bahasa Arab, sejarah peradaban Islam, dan sastra Arab klasik dan modern, berusaha menciptakan mata rantai hubungan antara kebangkitan bangsa-bangsa Islam secara sosial dan psikologis, hingga pensiun (1965).
Dan “Tagore” mengundangnya ke India sebagai profesor sejarah Islam, maka mengajar di universitas-universitas Delhi, Lahore, dan Hyderabad (1929-1932), dan di sana menyatakan keislamannya di Masjid Besar Delhi, dan memberikan khutbah Jumat, serta mengambil nama “Abdul Karim”. Dan datang ke Kairo dan memperdalam studi Islam kepada para syaikh Al-Azhar, kemudian menuju Mekah sebagai jamaah haji dan mengunjungi makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan menyusun dalam perjalanan hajinya bukunya: Allahu Akbar, yang telah diterbitkan dalam beberapa bahasa (1940), dan melakukan penelitian ilmiah (1939-1941) di Kairo dan Arab Saudi mempublikasikan hasilnya dalam dua jilid: Puncak-puncak Sastra Arab (1952), dan Studi dalam Komposisi Linguistik Arab (1954).
Dan pada musim semi tahun 1955 kembali untuk menghabiskan beberapa bulan di Kairo, Alexandria, dan Damaskus atas undangan pemerintah untuk memberikan kuliah dalam bahasa Arab tentang pemikiran Arab kontemporer, dan tentang gambar-gambar dari sastra Hungaria, kemudian kembali ke Timur Arab pada musim dingin 1958, untuk melengkapi sumber-sumber buku barunya tentang sastrawan kontemporer. Yang beberapa babnya telah terbit, dan di dalamnya cerita-cerita penulis kontemporer. Dan telah terpilih sebagai anggota Akademi Italia (1952), dan koresponden Akademi Bahasa Kairo (1956), dan di Akademi Ilmiah Irak (1962).
Pertanda-pertanda pemelukan Islamnya: Dr. “Abdul Karim Germanus” menceritakan latar belakang hidayahnya kepada Islam, dia berkata: “Itu pada suatu sore yang hujan, dan saya masih dalam usia remaja, ketika saya membolak-balik halaman-halaman majalah bergambar lama, yang bercampur di dalamnya peristiwa-peristiwa terkini dengan cerita-cerita khayalan, dengan deskripsi beberapa negeri yang jauh; saya tetap beberapa waktu membolak-balik halaman tanpa peduli hingga tiba-tiba mata saya jatuh pada gambar papan kayu yang diukir yang menarik perhatian saya. Gambar itu berupa rumah-rumah dengan atap datar yang diselingi di sana sini kubah-kubah bulat yang naik dengan lembut ke langit gelap yang bulan sabit membelah kegelapannya..
Gambar itu menguasai khayalan saya.. dan saya merasakan kerinduan yang mengalahkan dan tidak dapat dilawan untuk mengetahui cahaya itu yang sedang melawan kegelapan dalam lukisan.. Saya mulai mempelajari bahasa Turki, dan kemudian Persia lalu Arab. Dan saya berusaha menguasai ketiga bahasa ini hingga saya dapat mengarungi dunia spiritual ini yang menyebarkan cahaya gemilang ini ke seluruh penjuru umat manusia.”
Dan pada liburan musim panas adalah keberuntungannya untuk bepergian ke Bosnia yang merupakan negeri Timur terdekat dengan negaranya. Dan begitu dia turun di salah satu hotel hingga dia bergegas keluar untuk menyaksikan kaum Muslim dalam kenyataan hidup mereka.. di mana dia keluar dengan kesan yang berbeda dari apa yang dikatakan tentang kaum Muslim.. dan inilah pertemuan pertama dengan kaum Muslim. Kemudian berlalu tahun demi tahun dalam kehidupan yang penuh dengan perjalanan dan studi, dengan berlalunya waktu matanya terbuka pada cakrawala yang menakjubkan dan baru.
Dan meski perjalanannya yang luas di dunia Allah, dan kenikmatan-nya menyaksikan keajaiban peninggalan di Asia Kecil dan Syam, dan mempelajari banyak bahasa dan bacaannya ribuan halaman dari buku-buku para ilmuwan, dia membaca semua itu dengan mata yang meneliti: “Dan meski semua itu jiwa saya tetap haus” sebagaimana dia katakan. Selama keberadaannya di India, dan pada suatu malam dia melihat – sebagaimana orang yang tidur melihat – seakan Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya dengan suara penyayang: “Mengapa kebingungan? Sesungguhnya jalan yang lurus di depanmu aman dan teratasi seperti permukaan bumi. Berjalanlah dengan langkah teguh dan dengan kekuatan iman”.. Dan pada hari Jumat berikutnya, terjadi peristiwa besar di Masjid Jami’ di Delhi.. ketika dia menyatakan keislamannya di hadapan para saksi..
Dan tentang saat-saat yang dipenuhi perasaan itu “Al-Hajj Abdul Karim Germanus” mengingat lalu berkata: “Keharuan dan semangat memenuhi tempat, dan saya tidak dapat mengingat apa yang ada pada waktu itu.. orang-orang berdiri di hadapan saya menyambut saya dengan pelukan. Betapa banyak orang miskin yang lelah memandang saya dengan memohon, meminta saya “doa-doa” dan ingin mencium kepala saya, maka saya memohon kepada Allah agar tidak membiarkan jiwa-jiwa polos ini memandang saya seakan saya lebih tinggi derajat dari mereka, padahal saya tidak lebih dari serangga di antara serangga bumi, atau orang tersesat yang sungguh-sungguh mencari cahaya, tidak ada daya dan kekuatan bagi saya, seperti makhluk-makhluk sengsara lainnya.. Sungguh saya malu di hadapan keluhan dan harapan orang-orang baik ini.. Dan pada hari berikutnya dan hari-hari sesudahnya orang-orang berdatangan kepada saya berkelompok untuk mengucapkan selamat, dan saya mendapat dari cinta kasih dan perasaan mereka apa yang cukup menjadi bekal sepanjang hidup saya.
Dari karya-karyanya: Selain apa yang telah disebutkan dalam penelitian, dari judul-judul karya-karyanya, dia meninggalkan warisan ilmiah yang kaya dengan kedalaman dan keragaman: Tata Bahasa Turki (1925), dan Revolusi Turki, dan Nasionalisme Arab (1928), dan Sastra Turki Modern (1931), dan Arus-arus Modern dalam Islam (1932), dan Penemuan Jazirah Arab dan Syam dan Irak serta Penaklukannya (1940), dan Kebangkitan Budaya Arab (1944), dan Studi dalam Komposisi Linguistik Arab (1954), dan Ibnu Rumi (1956), dan Di Antara Para Pemikir (1958), dan Menuju Cahaya Timur, dan Pilihan Penyair-penyair Arab (1961), dan Dalam Budaya Islam, dan Sastra Maghrib (1964), dan dia sedang menyiapkan tiga buku tentang: Sastra Hijrah, dan Para Pengelana Arab dan Ibnu Batuthah, dan Sejarah Sastra Arab.
33- Sosiolog Inggris Hussein Roff
Pengamat yang mengikuti gerakan penyebaran akidah Islam di negara-negara Eropa dan Amerika dapat memperhatikan bahwa proporsi besar dari mereka yang merespons seruannya di negara-negara tersebut adalah para sosiolog dan pekerja di bidang reformasi sosial. Hal ini disebabkan karena studi-studi yang dilakukan oleh para ilmuwan dan reformis sosial tersebut membutuhkan paparan yang terus-menerus terhadap akidah-akidah dan mazhab-mazhab sosial, khususnya dari segi pengaruhnya terhadap masyarakat, kemampuannya menangani masalah-masalah yang dihadapi individu dan kelompok, kontribusinya dalam mengurangi dampak masalah tersebut, serta peningkatan nilai-nilai dan perilaku sosial.
Dalam konteks studi-studi ini yang menggunakan metode analisis serta pendekatan perbandingan dan penilaian, tujuan-tujuan luhur Islam dan keutamaan-keutamaan besarnya terpancar, sehingga menarik jiwa-jiwa yang berakal dan membuka hati-hati yang sadar.
“Hussein Roff” adalah salah seorang sosiolog Inggris yang mempelajari agama-agama dan mazhab-mazhab sosial yang berbeda dengan studi yang teliti dan mendalam. Ia terpukau oleh keagungan Islam, tingginya tujuan dan prinsip-prinsipnya, kemampuan luar biasanya dalam menghadapi kesulitan dan masalah yang dialami individu dan masyarakat, serta kesesuaiannya yang mengagumkan dengan berbagai lingkungan dan peradaban yang beragam dan berbeda.
Maka wajar jika ia segera memeluk agama yang lurus ini dan menyerukan dengan segenap kemampuannya kepada agama tersebut, serta memberikan pencerahan kepada para warganegaranya tentang prinsip dan tujuannya, dan membantah tuduhan-tuduhan palsu yang diarahkan musuh-musuhnya dengan kebohongan dan fitnah.
“Roff” memulai dengan mempelajari akidah kedua orang tuanya… salah satunya Kristen dan yang lain Yahudi… kemudian beralih mempelajari akidah Hindu dan filsafatnya, khususnya ajaran-ajaran modernnya pada “Upanishad Vedanta”… kemudian ia mempelajari akidah Buddha, dengan membandingkannya dengan beberapa mazhab Yunani kuno. Ia juga mempelajari beberapa teori dan mazhab sosial modern, khususnya pemikiran filsuf Rusia “Leo Tolstoy”. Yang mengherankan adalah bahwa perhatiannya untuk mempelajari Islam datang terlambat dibandingkan dengan agama dan akidah lainnya, meskipun ia tinggal di beberapa negara Arab… dan perkenalan pertamanya dengan Islam adalah melalui bacaannya terhadap terjemahan Al-Quran yang dibuat oleh “Rodwell”, namun ia tidak terpengaruh olehnya karena terjemahan tersebut tidak akurat dan jujur, dan hal itu sama seperti banyak terjemahan serupa yang dicemari oleh ketidaktahuan atau tujuan permusuhan yang diterbitkan dalam beberapa bahasa asing.
Namun berkat keberuntungannya ia bertemu dengan salah seorang da’i yang terdidik dalam Islam, yang penuh semangat dan ketulusan dalam menyampaikannya kepada manusia. Da’i tersebut memperkenalkan beberapa kebenaran Islam kepadanya dan menunjukkan salah satu salinan terjemahan makna Al-Quran yang diterjemahkan oleh seorang ulama Muslim, yang dilengkapi dengan tafsir yang jelas dan meyakinkan yang dibangun atas logika dan akal, selain penjelasan makna-makna hakiki yang tidak mampu ditonjolkan oleh bahasa Inggris… Da’i tersebut juga menunjukkan beberapa buku Islam lainnya yang berciri kejujuran dan bukti yang terang… Semua itu memberinya kesempatan untuk membentuk ide awal tentang hakikat Islam yang membangkitkan keinginannya untuk menambah pengetahuan tentang Islam, prinsip-prinsip dan tujuannya melalui sumber-sumber ilmiah yang tidak berprasangka.
Hubungannya dengan beberapa kelompok Islam dan studi tentang keadaan mereka dari dekat, serta sejauh mana pengaruh Islam terhadap perilaku dan ikatan mereka, meneguhkan ide awalnya tentang keagungan Islam, sehingga ia beriman kepadanya dengan sepenuh iman…
Mari kita nikmati apa yang ia katakan dalam menggambarkan pengalaman yang mendorongnya memeluk agama yang lurus ini: “Pada suatu hari tahun 1945 saya diundang untuk menyaksikan salat Idul Fitri dan makan setelah salat. Itu adalah kesempatan baik untuk melihat dari dekat kerumunan internasional dari berbagai negara di dunia, berbagai kelas sosial, dan berbagai warna… Di sana saya bertemu seorang pangeran Turki dan di sampingnya banyak orang miskin, mereka semua duduk bersama untuk makan, tidak terlihat di wajah orang-orang kaya rasa jijik atau pura-pura palsu akan kesetaraan, begitu pula yang tampak pada orang kulit putih dalam percakapannya dengan tetangga berkulit hitam, dan tidak terlihat di antara mereka yang mengucilkan diri dari kelompok atau menyendiri di sudut terpencil, sebagaimana tidak terlihat di antara mereka perasaan kelas yang konyol yang bisa bersembunyi di balik tirai palsu kesetaraan”.
Kemudian ia melanjutkan: “Tidak ada ruang untuk menjelaskan semua urusan kehidupan yang saya temukan solusinya dalam syariat Islam, yang tidak saya temukan di tempat lain. Cukup bagi saya untuk mengatakan bahwa setelah berpikir dan merenungkan saya mendapati diri saya terbimbing untuk beriman kepada agama ini, setelah mempelajari semua agama lain yang dikenal di dunia, tanpa yakin dengan satupun dari mereka”.
Kemudian ia melanjutkan menjelaskan alasan keislamannya: “Saya telah menjelaskan dalam yang saya sebutkan, mengapa saya menjadi Muslim, tetapi itu sama sekali tidak cukup untuk menjelaskan alasan kebanggaan dan rasa bangga saya karenanya, karena perasaan ini tumbuh dan bertambah seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman saya… Saya mempelajari peradaban Islam di universitas Inggris, dan menyadari untuk pertama kalinya bahwa dengan penuh keyakinan dialah yang mengeluarkan Eropa dari zaman kegelapan. Saya menelaah sejarah dan melihat bahwa banyak kekaisaran besar adalah Islam, dan banyak ilmu pengetahuan modern, Islam berjasa di dalamnya….
Dan ketika beberapa orang datang mengatakan kepada saya: bahwa dengan memeluk Islam saya telah menempuh jalan kemunduran, saya tersenyum mengejek kebodohan mereka, dan pencampuradukan mereka antara premis dan kesimpulan”.
Kemudian ia bertanya: “Apakah pantas bagi dunia untuk menghakimi Islam berdasarkan kemerosotan yang menimpanya karena keadaan di luar kendalinya? … Dan apakah pantas merendahkan nilai seni agung yang menyertai era Renaissance Eropa karena lukisan-lukisan yang rusak di penjuru dunia di masa kini? … Cukuplah bagi kita untuk mengetahui bahwa pikiran-pikiran terbesar dan paling maju di semua zaman semuanya memandang dengan penuh penghargaan kepada budaya Islam, yang mutiara-mutiara terbaiknya masih tersimpan belum berhasil dijangkau Barat”.
Kemudian ia memuji akhlak Muslim sejati dan kemurahan hati mereka, serta kemampuan Islam mengatasi masalah kesenjangan sosial dengan berkata: “Saya telah bepergian ke banyak negeri di seluruh dunia, dan saya diberi kesempatan untuk melihat bagaimana orang asing disambut di setiap tempat, dan mengetahui bagaimana memuliakan mereka adalah hal pertama yang terlintas di pikiran.. dan bagaimana bertindak terhadapnya? .. dan tentang manfaat yang mungkin datang dari membantu mereka, saya tidak menemukan dari non-Muslim yang menyamai mereka dalam memuliakan orang asing dan berbelas kasih kepadanya tanpa imbalan…
34- Pemikir Inggris Martin Lings
Ia beragama Kristen seperti keluarganya yang tidak mengetahui tentang agama kecuali bahwa mereka Kristen secara turun-temurun.. Demikianlah ia tumbuh dengan jiwa yang kosong dari akidah apapun yang ia imani dengan sebenar-benar iman.. Namun ciri-ciri kematangan intelektualnya mulai terlihat jelas setelah memperoleh gelar A-B dalam Sastra Inggris dimana ia mempelajari sastra Inggris di Universitas Oxford Inggris.. Ia mulai meneliti dalam buku-buku warisan tentang agama-agama yang tersebar di dunia untuk membaca semuanya, maka Islam menghentikan langkahnya sebagai syariat yang memiliki manhaj yang sesuai dengan logika dan akal, serta adab yang disukai jiwa dan hati nurani, sehingga ia merasakan saat itu bahwa ia telah menemukan dirinya dengan agama yang sesuai dengan fitrah manusia, dimana ia mengungkapkan hal itu dengan berkata:
“Saya menemukan dalam Islam diriku yang hilang sepanjang hidup saya, dan saya merasakan saat itu bahwa saya manusia untuk pertama kalinya, karena ia adalah agama yang mengembalikan manusia kepada tabiatnya dimana sesuai dengan fitrah manusia”.
Kemudian ia melanjutkan – dan senyuman menerangi wajahnya: “Allah menghendaki saya menjadi Muslim, dan ketika Allah menghendaki maka tidak ada yang dapat menolak keputusan-Nya.. Dan inilah alasan keislaman saya pertama-tama dan sebelum segala sesuatu”.
Ia menyebutkan bahwa ia menyatakan keislamannya di tangan seorang syaikh Aljazair bernama Syaikh “Ahmad Al-Alawi”, yang ia temui di Swiss dimana ia bekerja sebagai guru, setelah itu ia mengubah namanya dari “Martin Lings” menjadi “Abu Bakar Siraj al-Din”.
Lalu apa..? Apakah ada sebab atau dorongan lain di balik pemelukan Islamnya?.. Ia menggeleng dan menjawab: Ya.. Yang mempengaruhi saya dan membuat saya tertarik pada Islam adalah buku-buku pengarang besar yang seperti saya memeluk Islam dan menjadi salah satu puncak para sufi, yaitu Syaikh “Abdul Wahid Yahya”.. Saya terpengaruh oleh buku-bukunya yang ia karang tentang Islam, sampai-sampai saya tidak pernah membaca buku-buku sebelumnya yang seperti keagungan buku-bukunya, yang mendorong saya untuk berusaha menemui orang yang menjadi sebab keislaman saya, maka saya datang ke Mesir dimana ia tinggal saat itu”.
Kemudian ia menambahkan: “Saya sangat banyak belajar darinya.. Ia benar-benar seorang alim yang mengamalkan ilmunya.. Dan yang paling banyak saya pelajari darinya adalah zuhud di dunia dan itulah yang kalian sebut ‘tasawuf'”.
Apakah Anda seorang sufi? Sebuah pertanyaan diajukan kepadanya untuk ia jawab dengan berkata: “Ya.. Tetapi pemahaman saya tentang tasawuf adalah bahwa ia bukanlah pengasingan dari dunia, melainkan mengambil sebab-sebab kehidupan secara lahir, dan berpaling darinya dengan hati”.
Kemudian ia terdiam sejenak untuk kemudian menjelaskan maksudnya: “Sesungguhnya Rasul Muhammad (saw) merangkum makna tasawuf seluruhnya dalam hadits mulianya: (Jadilah di dunia seperti orang asing atau seperti musafir) .. atau yang ia katakan dalam hadits mulia lainnya: (…Sesungguhnya aku dan dunia seperti penunggang yang berteduh di bawah pohon kemudian pergi dan meninggalkannya) .. Inilah konsep tasawuf yang saya pelajari dari Syaikh Abdul Wahid Yahya”.
Tetapi ke mana tasawuf membawa Anda?.. Pertanyaan lain diajukan kepadanya untuk segera ia jawab dengan penuh semangat orang yang yakin dengan iman:
“Kepada penghambaan yang murni kepada Allah”. Inilah pemikir Inggris Muslim Dr. “Abu Bakar Siraj al-Din” yang dahulu beragama selain Islam, kemudian Allah membimbingnya kepada hanifiyah yang toleran, sehingga ia memeluk Islam atas dasar keyakinan penuh.. kemudian imannya mengangkatnya sehingga ia zuhud di dunia, dan menjadi seorang sufi di tengah masyarakat yang bergejolak dengan fitnah dan godaan kenikmatan.. dan ia mengkhususkan diri untuk dakwah kepada Allah di negerinya, didorong oleh iman yang mendalam bahwa masa depan adalah untuk Islam yang merupakan agama haq yang diutus untuk seluruh pelosok bumi.
35-Penulis Amerika Michael Wolfe Secter
Michael Wolfe: «Saya menghabiskan waktu di Marrakech untuk mempelajari manasik haji dan orang-orang Muslim di sana sangat murah hati kepada saya».
Perjalanan iman yang membimbing penulis Amerika Michael Wolfe Secter untuk memeluk Islam berbeda dengan perjalanan iman yang telah kita ikuti dalam file “Muslim Baru” karena sosok yang kita ikuti perjalanan imannya hari ini merepresentasikan ketiga agama samawi, ibunya Kristen dan ayahnya Yahudi dan dia Muslim. Maka demikianlah kita akan mengikuti Secter hari ini dalam perjalanan imannya untuk merenungkan percabangannya dan jalan-jalannya yang berbeda.
Secter penulis Amerika mengetahui bahwa bagaimanapun kekuatan yang ia miliki, ia tidak dapat mencapai Ka’bah yang mulia di Makkah al-Mukarramah jika ia tidak memeluk Islam karena Masjidil Haram melarang masuknya non-Muslim. Maka keputusannya setelah memeluk Islam adalah pergi ke Makkah al-Mukarramah untuk menunaikan ibadah haji yang merupakan salah satu dari lima rukun Islam, dan darinya juga menyaksikan Ka’bah yang mulia yang menjadi kiblat lebih dari satu miliar Muslim lima kali sehari untuk menunaikan salat wajib mereka. Dan karena Secter mengetahui kemustahilan perginya mengunjungi Ka’bah di Makkah al-Mukarramah sebelum islamnya, maka islamnya telah menyediakan kesempatan mewujudkan mimpi lamanya. Dari sinilah Secter menulis buku tentang perjalanan imannya ke haji yang ia beri nama “Pilgrimage to Mecca” dalam bahasa Inggris dan menggambarkan perjalanan ini dengan deskripsi yang akurat. Dan ia mengulas di dalamnya semua aspek penting yang berkaitan dengan syiar haji. Michael Wolfe dalam bukunya “Pilgrimage to Mecca” menggambarkan representasi proses masuknya Richard Burton secara diam-diam ke dalam Ka’bah di tengah Masjidil Haram di Makkah al-Mukarramah sebagai tindakan heroik dan berani, karena ia mempertaruhkan nyawanya jika Muslim mengetahui penipuannya mereka akan membunuhnya. Tetapi Michael Wolfe tidak perlu menyamar atau bersembunyi ketika memasuki Masjidil Haram dan melakukan tawaf mengelilingi Ka’bah yang mulia karena ia seorang Muslim yang tulus dalam keislamannya seperti Muslim lainnya di kota suci ini.
Meninggalkan Kristen dan Yahudi: Michael Wolfe meninggalkan agama ibunya yang Kristen dan agama ayahnya yang Yahudi demi memeluk agama Islam. Ia menjauh dari Kristen karena misteri dan kerahasiaan yang diselimuti pendeta tentang Masih alaihissalam sebagaimana ia menjauh dari Yahudi karena sifat agama yang khusus untuk orang Yahudi. Maka demikianlah ia menemukan bahwa Islam lebih jelas dan agama yang lebih lapang: ia adalah agama Allah untuk semua manusia. Oleh karena itu Michael Wolfe memilih agama yang memiliki referensi yang jelas, yaitu Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan bahwa Kitab Allah tidak bertentangan dengan metode ilmiah dalam upaya menjelaskan penciptaan dan alam semesta.
Warisan Spiritual: Michael Wolfe berkata bahwa ketika ia memberitahu salah satu temannya yang Arab tentang warisan spiritualnya, dimana ia mewarisi Kristen dari ibunya dan Yahudi dari ayahnya, kemudian ia memilih memeluk Islam. Temannya yang Arab berkata dengan heran “kamu mengumpulkan segala sesuatu”, maksudnya ia mengumpulkan ketiga agama samawi dalam dirinya, yang membuatnya pura-pura rendah hati dan tawaddu.
Michael Wolfe menambahkan: saya telah menjelaskan selama bertahun-tahun bahwa saya orang biasa. Dan bahwa saya orang yang mewarisi dari ibu dan ayahnya dua agama samawi, maka menemukan bahwa masalahnya bukan dengan Musa atau dengan Isa alaihimassalam. Dan bahwa hidup saya dengan sederhana telah mencapai batas maksimumnya dengan kedua agama ini, dan ada suara nyata yang terus memanggil saya untuk mengubah agama saya dan bersemangat untuk membimbing saya.
Perjalanan Haji: Michael Wolfe berpendapat bahwa setelah memeluk Islam ia mulai berpikir serius untuk menunaikan rukun kelima Islam, yaitu haji baitullah bagi yang mampu melaksanakannya. Dan rukun ini datang setelah syahadat bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah dan tegaknya salat dan pembayaran zakat dan puasa Ramadan. Oleh karena itu saya memutuskan haji ke Baitullah Haram di Makkah al-Mukarramah. Dan saya mulai bersiap untuk bepergian ke Makkah al-Mukarramah dan meninggalkan rumah saya di California.
Michael Wolfe tidak bepergian langsung dari California ke Arab Saudi, bagian pertama bukunya “Perjalanan ke Haji” adalah deskripsi kegembiraannya dan tahlilnya di tengah orang-orang Maroko sebelum bergabung dengan rombongan haji Maroko. Dan di Marrakech ia memulai prosedur persiapan haji sesuai ajaran agama barunya.
Michael Wolfe berkata: saya menghabiskan waktu di Marrakech mempelajari manasik haji. Dan perlakuan Muslim kepada saya sangat baik dan penuh kasih sayang. Mereka juga murah hati kepada saya.
Memasuki Masjidil Haram: Ketika Michael Wolfe memasuki Masjidil Haram untuk pertama kali bersama sekitar 300 ribu Muslim jamaah haji pada waktu bersamaan untuk menunaikan tawaf qudum, ia tidak merasakan apa-apa selain kehebatan momen itu. Dan ia berkata: meskipun ada jumlah yang besar ini, ketenangan menyelimuti tempat dan saya tidak merasakan desak-desakan atau kepadatan. Sebagaimana ia memberikan dalam bukunya deskripsi untuk pemandangan menakjubkan ini. Dan ia gembira dengan suasana spiritual yang tinggi ini selama haji.
Sebagaimana Michael Wolfe membahas dalam bukunya ini deskripsi pembangunan dan perluasan yang disaksikan Masjidil Haram untuk menyambut jumlah yang bertambah ini dari tamu-tamu Rahman.
Michael Wolfe bersemangat memberikan deskripsi yang akurat tentang Ka’bah yang mulia dan Masjidil Haram dan Masyair Muqaddasah untuk memberikan gambaran lengkap tentang Bait al-Atiq kepada non-Muslim, oleh karena itu ia banyak mendeskripsikan dan menggambar untuk penjelasan detail Baitullah Haram dengan fokus pada Ka’bah yang mulia dan tawaf tujuh putaran mengelilinginya. Tetapi ia berharap dapat melihat Ka’bah dari dalam.
Perjalanan spiritual menuju haji ini merupakan sebuah cita-cita yang telah lama dinanti oleh Michael Wolfi dan akhirnya terwujud setelah keislamannya, yang menurutnya terjadi setelah studi yang mendalam, khususnya karena dia tidak mengalami kekosongan spiritual, tetapi justru mengalami kekayaan warisan spiritual yang mengantarkannya kepada pemikiran serius yang pada akhirnya membawanya memeluk agama Islam setelah mempelajari dan membandingkan antara Islam dengan agama-agama lainnya, sehingga hatinya tenteram dengan keimanan dan kerinduan untuk mengunjungi Baitullah al-Haram pun terkabul.
Penyusun: Imam Muhammad Imam, dengan sedikit penyuntingan
36. Ilmuwan, Jurnalis, dan Penulis Jerman Dr. Hamed Marcus
Sejak masa kanak-kanak saya merasakan dorongan dalam diri untuk mempelajari Islam sejauh yang saya mampu, dan saya tertarik membaca terjemahan Al-Qur’an di perpustakaan kota tempat saya dibesarkan, yang merupakan edisi dari mana “Goethe” memperoleh informasinya tentang Islam.
Saya sangat terkesan dengan apa yang saya lihat dalam Al-Qur’an ini berupa gaya yang rasional namun luar biasa pada saat yang sama ketika ia menetapkan ajaran-ajaran Islam, sebagaimana saya terpukau oleh semangat yang teguh, bersemangat dan agung yang dibangkitkan dan dinyalakan oleh ajaran-ajaran ini dalam hati kaum Muslim pertama.
Kemudian di Berlin saya mendapat kesempatan untuk bekerja dengan kaum Muslim dan mendengarkan ceramah-ceramah yang penuh semangat dan menggugah yang disampaikan oleh pendiri perkumpulan Islam pertama di Berlin dan pendirian masjid Berlin tentang Al-Qur’an al-Karim. Setelah bertahun-tahun bekerja sama secara praktis dengan tokoh luar biasa ini, saya menyaksikan pengorbanan jiwa dan rohnya, saya beriman kepada Islam, karena saya melihat dalam prinsip-prinsipnya yang luhur yang dianggap sebagai puncak dalam sejarah pemikiran manusia, hal yang melengkapi pandangan pribadi saya.
Keimanan kepada Allah adalah aqidah asli dalam agama Islam, namun Islam tidak menyeru kepada prinsip-prinsip atau aqidah yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan modern, dan atas dasar ini tidak ada pertentangan antara aqidah di satu sisi dan ilmu pengetahuan di sisi lainnya, dan ini tidak diragukan lagi merupakan keistimewaan yang besar dan unik dalam pandangan seorang yang telah menyumbangkan seluruh kemampuannya dalam penelitian ilmiah. Keistimewaan lain yang dimiliki agama Islam adalah bahwa Islam bukan sekadar ajaran teoretis yang bisu yang berjalan tanpa wawasan dan di pinggir kehidupan, melainkan ia menyeru kepada sistem aplikatif yang mewarnai kehidupan manusia, dan hukum-hukum Islam bukanlah ajaran-ajaran yang memaksa yang membatasi kebebasan-kebebasan pribadi, tetapi merupakan bimbingan dan arahan yang menuntun kepada kebebasan individual yang teratur.
Seiring berjalannya tahun-tahun saya semakin yakin dengan bukti-bukti yang terungkap bagi saya bahwa Islam menempuh jalan terbaik dalam menyelaraskan kepribadian individu dengan kepribadian masyarakat dan menghubungkan keduanya dengan ikatan yang kuat dan kokoh.
Islam adalah agama kelurusan dan toleransi, ia senantiasa menyeru kepada kebaikan, mendorong kepadanya dan meninggikan derajatnya dalam segala keadaan dan kesempatan.
37. Penulis, Novelis, dan Penyair Inggris William Pickard
[William Pickard meraih gelar Sarjana Seni dan Sastra (Cantab), dan Doktor Sastra (London), dan merupakan penulis yang terkenal luas. Di antara karyanya: Layla dan Majnun, Petualangan Al-Qasim, Dunia Baru, dan karya-karya lainnya.]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
Saya tidak menyadari kenyataan bahwa saya dilahirkan atas fitrah Islam kecuali setelah berlalunya bertahun-tahun. Di sekolah dan universitas saya sibuk – dan mungkin dengan kuat – dengan isu-isu dan urusan saat ini. Saya tidak menganggap profesi saya pada masa itu sebagai profesi yang cemerlang, tetapi ia sedang berkembang. Di tengah lingkungan Kristen saya belajar tentang kehidupan yang baik, dan keimanan kepada Allah ta’ala, ibadah, dan kebenaran adalah hal-hal yang menyenangkan saya. Jika saya menganggap suci sesuatu, maka itu adalah kemuliaan dan keberanian. Saya yang berasal dari Cambridge, pergi ke Afrika tengah, di mana saya mendapat penugasan di administrasi perwalian Uganda. Keberadaan saya di sana menyenangkan dan menggairahkan lebih dari yang saya impikan di Inggris, dan saya terpaksa – sesuai dengan keadaan sekitar – untuk hidup di tengah persaudaraan kulit hitam dari kemanusiaan, dan saya dapat mengatakan bahwa saya menyayangi mereka karena kesederhanaan pandangan mereka yang bahagia terhadap kehidupan.
Timur selalu menarik saya. Di Cambridge saya membaca “Malam-malam Arab”; dan sendirian di Afrika saya membaca “Malam-malam Arab”; dan keberadaan saya dalam pengembaraan sunyi di Uganda tidak mengurangi keagungan Timur dalam diri saya.
Kemudian – setelah hancurnya kehidupan tenang saya dalam Perang Dunia Pertama – saya kembali bergegas menuju tanah air di Eropa; dan kesehatan saya memburuk. Dengan pulihnya kesehatan saya, saya mengajukan diri ke tentara, tetapi permohonan saya ditolak atas dasar kesehatan. Karena itu saya berusaha mengurangi kerugian dan mendaftar di “Gendarmerie” – setelah entah bagaimana berhasil melewati pemeriksaan medis – dan merasa lega ketika menerima seragam militer saya sebagai seorang prajurit di divisi infanteri. Saya kemudian bertugas di Front Barat di Prancis, dan berpartisipasi dalam pertempuran “Somme” tahun 1917, di mana saya terluka dan ditawan. Saya dibawa melalui Belgia ke Jerman di mana saya berada di rumah sakit. Di Jerman saya melihat banyak penderitaan manusia, terutama orang-orang Rusia yang menderita disentri. Dan saya hampir mati kelaparan. Luka saya – yang merupakan patah tulang di lengan kanan saya – tidak sembuh dengan cepat, sehingga saya tidak berguna bagi orang Jerman. Maka saya dikirim ke Swiss untuk operasi.
Saya ingat betul betapa berharga bagi saya bahkan pada hari-hari itu ketika saya memikirkan Al-Qur’an al-Karim. Di Jerman saya telah menulis surat kepada keluarga untuk mengirimkan saya salinan Al-Qur’an al-Karim. Dan saya tahu di tahun-tahun berikutnya bahwa mereka telah mengirimkan saya salinan tetapi tidak pernah sampai kepada saya. Di Swiss – setelah operasi di lengan dan kaki saya – kesehatan saya membaik, sehingga saya bisa keluar sesekali, maka saya membeli salinan terjemahan Prancis makna Al-Qur’an al-Karim – yang hari ini merupakan salah satu harta paling berharga saya – dan saat itu saya merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Itu seolah-olah sinar kebenaran abadi telah bersinar pada saya dengan berkah. Tangan kanan saya masih tidak berguna, maka saya berlatih menulis Al-Qur’an al-Karim dengan tangan kiri saya. Dan keterikatan saya dengan Al-Qur’an al-Karim tampak lebih jelas lagi ketika saya katakan bahwa salah satu kenangan yang paling jelas dan berharga bagi saya dari buku “Malam-malam Arab” adalah tentang seorang pemuda yang ditemukan sendirian di kota yang punah, duduk membaca Al-Qur’an al-Karim, lengah dari apa yang mengelilinginya.
Pada hari-hari itu di Swiss, saya mendaftarkan diri secara resmi sebagai Muslim. Setelah penandatanganan gencatan senjata saya kembali ke London, yaitu pada bulan Desember 1918, dan setelah itu – pada tahun 1921 – saya mendaftar untuk belajar sastra di Universitas London. Dan salah satu mata pelajaran yang saya pilih adalah bahasa Arab, dan saya menghadiri kuliahnya di Royal College. Dan suatu hari profesor bahasa Arab saya – Tuan Belsha dari Irak rahimahullahu ta’ala – menyebut Al-Qur’an al-Karim dan berkata: “Baik kamu percaya atau tidak, kamu akan mendapati bahwa ia adalah buku yang paling menggugah dan layak untuk dipelajari.” Maka saya menjawab: “Oh, tetapi saya beriman kepadanya”. Jawaban ini sangat mengejutkan profesor saya dan membangkitkan minatnya, dan setelah percakapan singkat dia mengundang saya untuk menemaninya ke masjid London di “Notting Hill Gate”. Setelah itu saya terus menghadiri shalat di masjid ini untuk belajar lebih banyak tentang penerapan Islam, hingga saya mengumumkan keterikatan saya dengan umat Islam pada tahun baru 1922. Itu hampir seperempat abad yang lalu. Sejak saat itu saya menjalani kehidupan Islam dalam perkataan dan perbuatan dengan segenap kemampuan saya. Kekuatan Allah ta’ala, hikmah dan rahmat-Nya tidak terbatas. Dan ladang pengetahuan terbentang di hadapan kita hingga melampaui cakrawala. Dan dalam haji kita selama hidup ini saya merasakan keyakinan yang lebih kuat bahwa satu-satunya pakaian yang pantas yang dapat kita kenakan adalah ketundukan kepada Allah ta’ala, dan bahwa kita mengenakan di kepala kita surban dari pujian, dan bahwa kita memenuhi hati kita dengan cinta kepada Sang Pencipta Yang Esa subhanahu wa ta’ala. Dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.
38. Pelukis dan Pemikir Prancis Terkenal Etienne Dinet
Profil singkat: Alphonse Etienne Dinet, salah satu seniman dan pelukis besar dunia, karyanya tercatat dalam kamus (Larousse), dan lukisan-lukisannya yang berharga menghiasi dinding galeri seni di Prancis, termasuk lukisannya yang terkenal (Gadis Ramadan).. dan dia telah berprestasi dalam melukis gurun.
Dia juga menulis setelah keislamannya berbagai buku berharga, termasuk bukunya yang luar biasa: (Sinar Khusus dari Cahaya Islam) dan bukunya (Musim Semi Hati) dan (Timur sebagaimana Dilihat Barat) dan (Muhammad Rasulullah) dan (Haji ke Baitullah al-Haram)..
Buku-bukunya telah menimbulkan gema di kalangan orientalis. Dinet berkata:
“Islam telah menegaskan sejak jam pertama kemunculannya bahwa ia adalah agama yang cocok untuk setiap zaman dan tempat, karena ia adalah agama fitrah, dan fitrah tidak berbeda pada seseorang dengan yang lain, dan karena itu ia cocok untuk setiap tingkat peradaban…” – dari buku (Muhammad Rasulullah) oleh Nashir al-Din Dinet halaman (345) –
Karena Dinet adalah seorang seniman berbakat, maka perhatiannya tertuju pada sisi estetika dan selera tinggi kehidupan Nabi, dia berkata:
“Nabi memperhatikan dirinya dengan perhatian sempurna, dan telah dikenal memiliki pola dandanan yang sangat sederhana, tetapi memiliki selera dan keindahan yang tinggi.”
“Gerakan-gerakan shalat teratur bermanfaat bagi tubuh dan jiwa sekaligus, dan memiliki kesederhanaan dan keanggunan yang tidak pernah ada dalam shalat selainnya.”
Poligami antara Islam dan Nasrani: “Poligami di kalangan Muslim lebih sedikit penyebarannya dibandingkan di kalangan orang Barat yang menemukan kenikmatan buah terlarang ketika mereka menyimpang dari prinsip satu istri!
Apakah benar bahwa Nasrani telah melarang poligami?!
Apakah seseorang dapat mengatakan itu tanpa tertawa terbahak-bahak?!
Poligami adalah hukum alam, dan akan tetap selama dunia ada. Teori satu istri telah menunjukkan tiga akibat berbahaya: perawan tua, pelacur, dan anak-anak tidak sah.”
Artikel tentangnya dari buku “Sisi Tersembunyi di Balik Keislaman Mereka” oleh Muhammad Kamil Abdul Shamad:
Lahir di “Paris” tahun 1861.. dan wafat setelah mencapai usia tujuh puluh tahun dengan dikerumuni banyak orang untuk memberikan penghormatan terakhir, termasuk para pejabat tinggi dan orang-orang yang menghargai kebaikannya dari bangsanya dan bangsa lain dari para wakil bangsa-bangsa.. dan dimakamkan di kota “Bou Saada” di Aljazair sesuai wasiatnya..
Dia mencintai kehidupan Arab, dan dia adalah seniman besar itu, yang dianggap sebagai salah satu tokoh besar seni dan lukis, yaitu pemilik lukisan-lukisan besar psikologis yang disimpan oleh museum-museum besar Prancis, dan museum-museum dunia lainnya. Di antara lukisan-lukisan terkenal tersebut adalah lukisan bernama “Pagi Ramadan” di museum Paris, begitu juga lukisan-lukisannya yang lain yang ada di “Luxembourg” dan “Sidney” dan banyak lainnya… dan semua lukisannya menunjukkan kemampuan seni yang besar dalam ketepatan mengekspresikan berbagai keadaan psikologis sebagaimana disebutkan para kritikus.
Dia adalah seorang seniman yang dikuasai perasaan religius, maka berpadu dalam dirinya seni dengan agama, sehingga dia menjadi contoh jelas manusia yang mendapat ilham, namun dia dikuasai perasaan gelisah dan bingung dari segi agama. Sebagaimana “Dinet” berpikir tentang lukisan-lukisannya, dia juga berpikir tentang nasibnya… dia mencari pengobatan untuk sifat religiusnya yang gelisah dalam naskah-naskah suci, dan dalam aqidah-aqidah yang dianut lingkungan sekitarnya… Dia berpikir tentang Nasrani dan gereja.. dan tentang Paus yang ma’shum.. dan tentang aqidah trinitas, penyaliban, penebusan, dan pengampunan.. Dia mulai berpikir: Apakah benar bahwa Masih adalah anak Allah?.. Dan apakah dia disalibkan untuk menyucikan anak-anak manusia dari kutukan yang menimpa mereka karena dosa Adam?.. Bagaimana dia disalibkan untuk menebus manusia padahal dia anak Allah?
Dia membaca kembali Injil dengan usaha kerasnya untuk melihatnya berciri kebenaran, sehingga dia beriman kepada anak Allah, tetapi dia melihat di dalamnya apa yang bertentangan dengan gambaran ideal manusia sempurna, apalagi gambaran yang ingin disampaikan Nasrani… Dia membaca ucapan-ucapan aneh dalam Injil yang dinisbatkan kepada Masih, di antaranya:
“Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana, Galilea, ibu Yesus ada di sana, dan Yesus mengundang murid-muridnya ke perkawinan itu. Ketika anggur habis, ibu Yesus berkata kepadanya: Mereka tidak punya anggur… Yesus berkata: Apa urusanku dengan engkau, hai perempuan!” (Injil Yohanes – Pasal dua belas).
Dan di antara ucapannya yang mewajibkan kebencian kepada kerabat:
“Jika ada orang datang kepadaku dan tidak membenci ayahnya dan ibunya, istri dan anak-anaknya, saudara-saudara laki-laki dan perempuannya, bahkan jiwanya sendiri, maka ia tidak dapat menjadi muridku” (Injil Lukas – Pasal empat belas).
Demikian juga di antara ucapan aneh yang dinisbatkan kepada Masih dan dibaca “Dinet”:
“Tetapi tentang hari dan saat itu tidak ada yang tahu, tidak malaikat-malaikat di langit, tidak pula Anak, kecuali Bapa” (Injil Markus – Pasal tiga belas).
Dan lain-lain dari naskah-naskah yang menimbulkan keraguan dalam dirinya tentang kebenaran Injil-Injil yang dia baca.. Satu-satunya hal yang tidak dia ragukan adalah bahwa Allah telah menurunkan Injil kepada Isa dengan bahasanya dan bahasa kaumnya, tetapi Injil ini hilang dan lenyap, dan menggantikannya “komposisi” empat yang diragukan kebenarannya, cukup bahwa itu ditulis dalam bahasa Yunani, yaitu bahasa yang asing dari bahasa asli Isa yang adalah bahasa Semit.. Dan bangkitlah perasaan religiusnya menentang keadaan yang samar, dan kata-kata yang tidak jelas yang tidak dapat dipahaminya, dan berakhirlah perjalanannya setelah penelitian, debat dan diskusi panjang dengan menolak Nasrani, setelah yakin bahwa Nasrani saat ini bukanlah Nasraninya Isa, bahkan tidak ada hubungannya dengannya, kecuali hanya namanya.
“Dinet” melihat untuk menuju kepada akal untuk memperoleh petunjuk ke jalan yang lurus tetapi dia berakhir bahwa akal tidak mampu memuaskan naluri religiusnya.. Dan dia melihat sekelilingnya: Apa yang dilakukan orang-orang sepertinya yang meragukan Nasrani?!.. Dia melihat bahwa banyak dari mereka yang menuju Islam, maka dia menuju kepadanya untuk mengkajinya, dan dia tidak menemukan – setelah kajian mendalam – selain Al-Qur’an, kitab tunggal itu yang tidak terkena tahrif dan tidak perubahan, dan berusaha menambah pengetahuan, maka dia mengetahui banyak tentang Islam karena pergaulannya dengan lingkungan Islam, dan kajian ini menghasilkan pelukan Islam dengan keyakinan penuh.. bahkan menghasilkan lebih dari itu, yaitu dakwah Islamiyah, dan penyusunannya berbagai karangan berharga seperti “Muhammad Rasulullah” bersama Sulaiman al-Jazairi dan menerjemahkannya ke bahasa Arab Dr. Abdul Halim Mahmud, dan Muhammad Abdul Halim Mahmud.., dan “Sinar Khusus dari Cahaya Islam” terjemahan Rashid Rustam ke bahasa Arab.. “dan Haji ke Baitullah al-Haram”.. dan “Timur dalam Pandangan Barat”… dan lain-lain.
39 – Pemikir Swiss Roger Dupasquier
Ia tumbuh dalam lingkungan Kristen Protestan, namun terpengaruh oleh filsafat modern, terutama filsafat eksistensialisme. Ia dulunya percaya bahwa agama-agama adalah kepercayaan tahayul. Ketika ia bekerja di bidang jurnalistik, ia mulai bepergian ke berbagai negara… Ia pergi ke Swedia dan bekerja sebagai koresponden pers di akhir Perang Dunia Kedua selama lebih dari lima tahun. Namun ia menemukan bahwa masyarakat di sana merasa tidak bahagia, meskipun kemajuan dan kemakmuran yang mereka nikmati. Sebaliknya, ia menemukan hal yang berlawanan ketika bepergian ke beberapa negara Islam di Timur. Ia menemukan bahwa kaum Muslim, meskipun kemiskinan mereka yang sangat parah, merasa lebih bahagia dan hidup mereka memiliki makna… Pengamatan ini membuatnya merenungkan secara mendalam tentang makna hidup dan mempertimbangkannya melalui kedua model ini… Ia berkata dalam hal ini (1):
“Saya bertanya pada diri sendiri: Mengapa kaum Muslim merasakan kebahagiaan yang memenuhi hidup mereka meskipun kemiskinan dan keterbelakangan mereka?! Dan mengapa orang-orang Swedia merasa tidak bahagia dan tertekan meskipun kehidupan yang luas, kemewahan, dan kemajuan yang mereka jalani?! Bahkan negara saya (Swiss) membuat saya merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan di Swedia, meskipun negara itu makmur dan standar hidupnya tinggi!
Menghadapi semua ini, saya merasa perlu mempelajari agama-agama Timur… Dan saya mulai dengan mempelajari agama Hindu namun tidak terlalu yakin dengannya, hingga saya mulai mempelajari agama Islam dan saya tertarik padanya karena tidak bertentangan dengan agama-agama lain, bahkan mencakup semuanya… Ia adalah penutup agama-agama… Dan ini adalah kebenaran yang semakin yakin dalam diri saya dengan luasnya bacaan saya, hingga benar-benar tertanam dalam pikiran saya setelah saya mempelajari karya-karya filsuf Prancis kontemporer ‘René Guénon’ yang memeluk Islam. Saya telah menemukan, sebagaimana banyak orang lain yang terpengaruh oleh tulisan-tulisan filsuf Prancis yang masuk Islam dan beralih ke Islam… Saya menemukan bahwa Islam memberikan makna bagi hidup, berbeda dengan peradaban Barat yang dikuasai materialisme dan tidak beriman pada akhirat, melainkan hanya beriman pada dunia ini saja.”
Demikianlah “Roger Dupasquier” terpengaruh oleh pemikiran filsuf Prancis “René Guénon” yang masuk Islam, sebagaimana sebelumnya ia terpengaruh oleh kunjungan-kunjungannya ke negara-negara Islam. Meskipun kondisi material yang buruk di negara-negara tersebut, penduduknya menikmati iman yang mendalam yang tertanam kuat dalam jiwa mereka, dan tidak ada krisis moral seperti yang ada di Barat, yang membuat banyak pemuda bunuh diri atau melarikan diri dari hidup dengan menggunakan narkoba, yang berarti dalam pandangan mereka bahwa hidup tidak memiliki makna atau nilai… Dan ia sampai pada kesimpulan yang dinyatakannya:
“Saya menyadari bahwa Islam dengan prinsip-prinsipnya memberikan ketenangan dalam jiwa… Sedangkan peradaban material menuntun pemiliknya pada keputusasaan, karena mereka tidak beriman pada apapun… Saya juga menyadari bahwa orang-orang Eropa belum memahami hakikat Islam, karena mereka menilainya dengan standar material mereka.”
Oleh karena itu, wajar dan merupakan urutan alami ketika ia segera menjawab saat ditanya: Apa yang menarik Anda pada Islam?
“Pada awalnya, yang menarik saya pada Islam adalah kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah… Saya menemukan bahwa Islam adalah agama yang sempurna, dan segala sesuatu di dalamnya terkait dengan Al-Qur’an dan Sunnah.. Dan menurut keyakinan saya, manusia dapat merenungkan kesaksian ini sepanjang hidup.
Kesaksian mengatakan tidak ada tuhan selain Allah.. Dan ini berarti tidak ada kebenaran akhir dan kekal selain Allah… Sedangkan filsafat modern mengatakan tidak ada kebenaran selain dunia ini, itulah yang dikatakan filsafat eksistensialis dan lainnya…
Saya terkejut karena Islam mengungkapkan kebenaran yang dilupakan oleh ilmu pengetahuan dan filsafat modern.”
Kemudian ia melanjutkan pembicaraannya setelah sejenak merenungi jauh untuk berkata:
“Saya sangat terpengaruh oleh Al-Qur’an Al-Karim ketika mulai mempelajarinya, dan saya belajar serta menghafal beberapa ayatnya.. Alhamdulillah saya dapat membacanya (2): Dan ayat yang sangat menarik perhatian saya adalah ayat mulia: Dan barang siapa menghendaki agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi (3) … dan firman Allah Ta’ala: Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat (4).
Kemudian ia menambahkan dengan kebahagiaan yang melimpah: “Dan Sunnah Nabawiyah yang mulia juga saya baca, dan saya terpengaruh oleh hikmah-hikmah dan penjelasan yang cermat di dalamnya.”
“Roger Dupasquier” tidak menemukan jalan lain selain mengumumkan keislamannya di hadapan khalayak, maka ia berkata:
“Ketika saya kembali ke Swiss, tidak ada alasan untuk menyembunyikan keislaman saya, oleh karena itu saya menerbitkan banyak artikel tentang Islam di ‘Journal de Genève’.. dan surat kabar ‘Gazette de Lausanne’, yang merupakan surat kabar non-Islam.. Saya juga menerjemahkan beberapa buku yang membahas topik-topik Islam.. Dan dalam semua tulisan saya, saya membela isu-isu Islam sebagai seorang Muslim yang menemukan jalannya dalam agama Islam.
Dan saya sekarang berusaha mengintensifkan tulisan-tulisan saya tentang Islam, dan menjelaskan kepada pembaca Barat apa yang terjadi di dunia Islam… Dan saya fokus pada masalah bahwa Islam menyajikan solusi untuk banyak masalah yang telah sampai pada jalan buntu, sementara Islam membuka banyak pintu untuknya.”
Tentang pandangannya terhadap Muslim sebagai orang yang beriman pada Islam sebagai nasionalisme atau ideologi, ia berkata dengan marah:
“Saya berbeda pendapat dengan beberapa orang yang memandang Islam sebagai nasionalisme – dan ini adalah keyakinan yang salah di kalangan banyak Muslim… Mereka menganggap Islam sebagai ideologi dan ini salah… Sesungguhnya Islam adalah jalan menuju Allah, dan cara terbaik untuk mencapai pengenalan Allah serta rekonsiliasi dan keharmonisan antara Sang Pencipta dan makhluk.”
Tentang pendapatnya mengenai kritik yang ditujukan pada Islam bahwa itu adalah agama keterbelakangan yang tidak menuju kemajuan, ia berkata dengan sarkastis:
“Alhamdulillah bahwa Islam tidak maju dalam arti kemajuan yang mereka jalani dan menuntun mereka pada jurang… Alhamdulillah bahwa Islam tidak menuju kemajuan material yang mereka maksudkan… Kalau demikian, tidak akan menarik perhatian saya maupun perhatian para pemikir yang menemukan kebaikan dan kebahagiaan bagi kemanusiaan di dalamnya, seperti ‘Roger Garaudy’ dan lainnya.. Sesungguhnya Islam mengungkapkan sesuatu yang kekal, dan adalah konyol untuk mengatakan bahwa itu terbelakang, oleh karena itu harus diubah atau diganti.. Kemajuan yang mereka serukan telah menuntun mereka pada keputusasaan dan kesesatan… Peradaban dan kebudayaan modern mengungkapkan perjuangan manusia dengan materi dan kehidupan… Sementara Islam mengungkapkan kebenaran, oleh karena itu tidak perlu bagi Islam menuju kemajuan dalam arti yang mereka inginkan, yaitu kekacauan, kehancuran, dan keputusasaan.”
Tentang pendapatnya mengenai isu yang diangkat bahwa ada perbedaan antara Islam sebagai agama dan Muslim sebagai individu… Ia menggelengkan kepala dengan senyum singkat sambil berkata:
Ada cerita yang mengandung jawaban atas itu… Saya kenal seorang teman sejak lama yang memeluk Islam di usia dua puluh enam tahun bernama “Muhammad Asad” yang dulunya Yahudi dan memeluk Islam pada tahun 1926, dan menulis buku berjudul “Jalan ke Makkah” dan menjadi salah satu ulama Islam, dan memiliki banyak karya lainnya… Saya bertemu dengannya beberapa waktu lalu di Pakistan di mana ia tinggal di sana.. Dan saya menanyakan pertanyaan yang sama kepadanya: Apakah ada perbedaan antara Islam sebagai agama dan Muslim sebagai individu?
Ia berkata kepada saya: Jika kami memeluk Islam, bukan karena Muslim.. tetapi sebabnya adalah bahwa Islam adalah kebenaran yang tidak dapat disangkal siapa pun.
Benar ada kemunduran dalam keadaan Muslim.. tetapi saya terus terang mengatakan kepada Anda bahwa kemunduran dalam keadaan penganut agama lain lebih banyak daripada yang ada pada Muslim… Sesungguhnya Islam adalah ekspresi terakhir dari rahmat Ilahi… dan masih mampu memberikan… memberikan segala sesuatu yang menyelamatkan manusia dari kesengsaraan hidup, penderitaan, dan kesulitan-kesulitannya.. Sesungguhnya Islam memperbaharui hubungan antara seseorang dengan Tuhannya yang telah diputuskan oleh manusia masa kini.
Bahkan jika Muslim dalam keadaan kemunduran atau keruntuhan, agama mereka mampu memberikan kehidupan yang bahagia dan tenteram yang membantu mereka mengatasi krisis-krisis moral yang dialami Barat.”
Tentang penjelasannya mengenai fenomena minat orang Eropa untuk memeluk Islam, ia menjawab: “Alasannya sebagaimana saya katakan adalah krisis yang ditimbulkan oleh peradaban dan kebudayaan modern… Orang-orang Eropa telah hidup dalam keadaan putus asa karena mereka tidak beriman pada apapun, oleh karena itu mereka mencari makna bagi hidup mereka, dan mereka telah menemukan makna ini dalam Islam sehingga mereka tertarik padanya.”
1_ Al-Liwa Al-Islami: dari wawancara yang dilakukan Muhammad Sobrah dan Ridha Okasyah dalam salah satu edisi mingguan mereka.
2_ Meskipun ia memiliki terjemahan dalam bahasa Inggris dan Prancis untuk Al-Qur’an, ia bersikeras membaca Al-Qur’an dalam bahasa Arab yang ia tekuni untuk dipelajari dan dikuasai sebagaimana ia sebutkan.
3_ Surat Ali Imran – Ayat 85.
4_ Surat Al-Baqarah – dari Ayat 256.
40 – Penulis Amerika Kolonel Donald Rockwell
Ada motif-motif kuat di balik masuk Islamnya “Kolonel Donald Rockwell” yang ia katakan:
“Sesungguhnya kesederhanaan Islam, dan masjid-masjid kaum Muslim dengan daya tariknya, dan dengan suasana yang mengagumkan, mulia, dan berwibawa di dalamnya, serta apa yang membedakan kaum Muslim yang beriman berupa kepercayaan yang membangkitkan keyakinan yang membuat mereka merespons panggilan sholat lima kali sehari, semua hal ini menguasai perasaan saya sejak awal… Namun setelah saya memutuskan untuk bergabung dengan barisan kaum Muslim, saya menemukan bahwa ada alasan-alasan lain yang lebih penting dan lebih mendalam dari motif-motif ini, yang menambah keyakinan dan tekad saya, yaitu:
- Pemahaman yang matang tentang kehidupan ini, yang merupakan buah dari Sunnah Muhammadiyah yang menggabungkan antara pendapat yang tepat dan teladan praktis, dalam gaya bimbingan yang bijak dalam banyak hal yang menunjukkan realitas agama ini, dan hikmah yang menawan dan tepat dalam perkataan Muhammad SAW… Ambillah contoh sabdanya: ‘Ikatlah (untamu) dan bertawakallah’… Ia telah menetapkan dalam dua kata ini sistem keagamaan dalam pekerjaan-pekerjaan kita yang biasa, tidak meminta kita untuk percaya buta pada adanya kekuatan gaib yang menjaga kita meskipun kelalaian dan pengabaian kita, melainkan mengajak kita pada kepercayaan kepada Allah dan ridha dengan kehendak-Nya dalam akhir urusan kita, jika kita menempuh urusan dari pintu-pintu yang benar dan mengerahkan segenap usaha kita untuk itu.
- Toleransi Islam terhadap agama-agama lain – yang bersumber dari keluasan cakrawala pemikiran – membuatnya dekat dengan hati mereka yang mencintai kebebasan. Muhammad SAW menyeru pengikutnya untuk berbuat baik kepada orang-orang yang beriman pada Taurat dan Injil, dan beriman bahwa Ibrahim, Musa, dan Isa adalah utusan dari Allah Yang Maha Esa… Ini adalah toleransi yang membedakan Islam dari agama-agama lain.
- Pembebasan sepenuhnya dari penyembahan berhala, menunjukkan kesehatan fondasi akidah Islam dan kemurniannya. Ajaran-ajaran asli yang dibawa Muhammad SAW tidak diubah oleh para pembuat undang-undang dengan perubahan atau penambahan. Inilah Al-Qur’an Al-Karim dalam keadaan sebagaimana diturunkan kepada Muhammad SAW untuk membimbing kaum musyrik dan kafir pada awal dakwahnya tetap tegak dan mantap hingga sekarang.
- Moderasi dan pertengahan dalam segala hal adalah dua pilar dasar dalam Islam, yang telah merebut seluruh kekaguman dan penghargaan saya.
Saya beriman bahwa Rasul Muhammad SAW sangat memperhatikan kesehatan kaumnya, maka ia memerintahkan mereka untuk berkomitmen pada kebersihan hingga batas terjauh, sebagaimana ia memerintahkan mereka berpuasa dan mengendalikan nafsu syahwat… Dan saya ingat bahwa saya – ketika berdiri di masjid-masjid Istanbul, Damaskus, Baitul Maqdis, Kairo, dan kota-kota lainnya – merasakan perasaan mendalam tentang kemampuan Islam dalam kesederhanaannya untuk mengangkat ruh manusia ke cakrawala yang tinggi, tanpa memerlukan hiasan yang indah, patung, gambar, musik, atau upacara resmi… Masjid adalah tempat untuk kontemplasi yang tenang, melupakan diri dan melebur, bersatu dalam Kebenaran Yang Maha Besar, dalam dzikir Allah Yang Maha Esa.
- Demokrasi Islam yang membangkitkan kekaguman saya terwujud dalam kesetaraan hak antara raja yang berkuasa dengan pengemis miskin di dalam dinding masjid, mereka semua sujud kepada Allah. Tidak ada tempat duduk yang disewa, tidak ada tempat yang dicadangkan untuk satu kelompok tanpa yang lain.
- Seorang Muslim tidak beriman pada perantara antara dirinya dengan Tuhannya, melainkan langsung menuju kepada Allah, Pencipta makhluk dan Pemberi kehidupan, dan ia tidak melihat-Nya tanpa berlindung kepada surat pengampunan atau kepada seseorang untuk memberikan anugerah keselamatan.
- Persaudaraan universal yang menyeluruh dalam Islam, tanpa memandang perbedaan ras, mazhab politik, warna kulit, atau wilayah. Hal ini telah terbukti bagi saya dengan yakin dan percaya berkali-kali… Dan ini adalah fenomena lain yang termasuk dalam motif-motif yang menuntun saya pada keimanan kepada Islam.”
41 – Ilmuwan Inggris Arthur Allison
Ketika Profesor “Arthur Allison”, Ketua Jurusan Teknik Listrik dan Elektronika di Universitas London, datang ke Kairo pada tahun 1985 untuk berpartisipasi dalam kegiatan Konferensi Kedokteran Islam Internasional tentang Kemukjizatan Ilmiah dalam Al-Qur’an Al-Karim, ia membawa penelitiannya yang dipresentasikan, yang membahas metode-metode terapi psikologis dan spiritual dalam cahaya Al-Qur’an Al-Karim, di samping penelitian lain tentang tidur dan kematian serta hubungan keduanya dalam cahaya ayat Al-Qur’an yang mulia: Allah mewafatkan jiwa (orang) ketika matinya dan (mewafatkan) jiwa (orang) yang tidak mati di waktu tidurnya; maka Dia menahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.
Yang aneh dalam hal ini adalah bahwa ia saat itu belum memeluk Islam, melainkan perasaannya terhadapnya tidak lebih dari kekaguman padanya sebagai agama.
Dan setelah ia menyampaikan penelitiannya, ia duduk berpartisipasi dalam kegiatan konferensi dan mendengarkan penelitian-penelitian lainnya yang membahas kemukjizatan ilmiah dalam Al-Qur’an Al-Karim. Ia terkesima dan semakin yakin bahwa inilah agama yang benar… Karena semua yang ia dengar tentang Islam menunjukkan bahwa itu adalah agama ilmu pengetahuan dan agama akal.
Ia melihat kumpulan fakta-fakta Al-Qur’an dan Nabawi yang luar biasa banyak, yang berbicara tentang makhluk-makhluk dan kehidupan, yang didukung oleh ilmu pengetahuan. Ia menyadari bahwa ini tidak mungkin berasal dari manusia… Dan apa yang dibawa oleh utusan-Nya Muhammad SAW dari empat belas abad yang lalu menegaskan bahwa ia benar-benar utusan Allah…
“Allison” mulai bertanya dan meminta klarifikasi dari setiap orang yang duduk bersamanya tentang segala sesuatu yang penting untuk diketahuinya tentang Islam sebagai akidah dan manhaj kehidupan di dunia… hingga ia tidak menemukan jalan lain selain mengumumkan keimanannya kepada Islam…
Dan pada malam penutupan konferensi, di hadapan para koresponden kantor-kantor berita dunia, di layar-layar televisi, berdirilah Profesor “Arthur Alison” untuk mengumumkan di hadapan semua orang bahwa Islam adalah agama yang haq… dan agama fitrah yang telah diciptakan Allah untuk manusia… kemudian ia mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan semua orang dengan suara kuat penuh keyakinan:
“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Dan pada saat-saat itu takbir-takbir kaum muslimin di sekelilingnya bergema, dan air mata sebagian orang mengalir karena khusyuk dan takjub menghadapi momen yang mulia ini.
Kemudian Profesor Inggris itu mengumumkan nama barunya “Abdullah Alison”… dan mulai menceritakan kisah perjalanannya dengan Islam, ia berkata:
Melalui ketertarikan saya pada ilmu psikologi dan ilmu parapsikologi, di mana saya adalah ketua Asosiasi Studi Psikologi dan Spiritual Inggris selama bertahun-tahun… saya ingin mengenal agama-agama, maka saya mempelajarinya sebagai akidah, dan dari akidah-akidah tersebut adalah akidah Islam, yang saya dapati sebagai akidah yang paling sesuai dengan fitrah yang ada pada manusia sejak lahir… dan akidah yang paling sesuai dengan akal, bahwa ada Tuhan Yang Maha Esa yang menguasai dan mengendalikan alam semesta ini… kemudian fakta-fakta ilmiah yang terdapat dalam Al-Quran dan Sunnah Nabawi sejak empat belas abad yang lalu telah dibuktikan oleh ilmu pengetahuan modern sekarang, dan dengan demikian kami meyakini bahwa itu sama sekali bukan berasal dari manusia, dan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah utusan Allah.
Kemudian “Abdullah Alison” membahas bagian dari penelitiannya yang ia sertakan dalam kegiatan konferensi, yang membahas tentang keadaan tidur dan mati melalui ayat Al-Quran: “Allah mematikan jiwa-jiwa pada saat matinya dan jiwa yang tidak mati ketika tidur, maka Dia tahan jiwa yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan…” (Az-Zumar: 42). “Alison” membuktikan bahwa ayat tersebut menyebutkan bahwa wafat berarti mati, dan berarti tidur, dan bahwa kematian adalah wafat yang tidak kembali sedangkan tidur adalah wafat yang kembali… dan hal itu telah terbukti melalui studi parapsikologi dan pemeriksaan klinis melalui rekam otak dan rekam jantung, serta berhentinya pernapasan yang membuat dokter menyatakan kematian seseorang, atau tidak matinya dalam keadaan koma atau tidurnya.
Dengan demikian ilmu pengetahuan membuktikan bahwa tidur dan mati adalah proses yang serupa, di mana jiwa keluar dan kembali dalam keadaan tidur dan tidak kembali dalam keadaan mati.
Kemudian ilmuwan Inggris Muslim Profesor “Abdullah Alison” memutuskan bahwa fakta-fakta ilmiah dalam Islam adalah metode terbaik dan paling baik untuk dakwah Islam, terutama bagi mereka yang berdalih dengan ilmu pengetahuan dan akal.
Oleh karena itu Profesor “Abdullah” mengumumkan… bahwa ia akan mendirikan institut untuk studi psikologi Islam di London berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Nabawi… dan perhatian pada studi kemukjizatan medis dalam Islam, agar dapat menyampaikan fakta-fakta tersebut kepada dunia Barat yang tidak mengetahui apa-apa tentang Islam.
Ia juga berjanji akan mendirikan perpustakaan Islam yang besar dalam bahasa Arab dan Inggris untuk membantu melakukan penelitian-penelitian ilmiah berdasarkan Islam.
42-Lord Jalal al-Din Branton
[Sir Jalal al-Din menyelesaikan studinya di Universitas Oxford. Ia adalah seorang baron Inggris, dan orang yang sangat populer dengan reputasi yang luas.]
Saya merasa sangat berterima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk mengungkapkan dengan beberapa kata tentang apa yang mendorong saya untuk menyatakan keislaman saya. Saya dibesarkan di bawah pengaruh kedua orang tua Kristen. Dan saya menjadi tertarik pada ilmu teologi di tahun-tahun awal hidup saya. Maka saya terlibat sendiri dalam gereja Anglikan, dan tertarik pada kerja misionaris tanpa memiliki partisipasi aktual di dalamnya.
Beberapa tahun yang lalu perhatian saya tertuju pada doktrin “siksaan abadi” untuk seluruh umat manusia kecuali beberapa orang pilihan. Dan hal itu menjadi sangat menjijikkan bagi saya sehingga keraguan mulai menguasai saya. Saya berpikir secara logis bahwa Tuhan yang dapat menggunakan kekuatan-Nya untuk menciptakan makhluk manusia yang harus – dalam pengetahuan dan takdir-Nya yang terdahulu – disiksa untuk selamanya, pasti Dia tidak bijaksana, atau tidak pengasih – Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan, tinggi sekali – maka level-Nya pasti lebih rendah dari banyak manusia. Meskipun demikian saya tetap meyakini keberadaan Allah, tetapi saya tidak bersedia menerima pemahaman yang berlaku tentang ajaran-ajaran yang mengatakan tentang wahyu Ilahi kepada manusia. Maka saya mengalihkan perhatian saya untuk meneliti agama-agama lain, yang hanya membuat saya merasa bingung.
Dan tumbuh dalam diri saya keinginan yang serius untuk tunduk dan menyembah Tuhan yang haq. Dan meskipun mazhab-mazhab Kristen mengklaim bahwa mereka didasarkan pada Injil, namun saya mendapatinya saling bertentangan. Apakah mungkin bahwa Injil dan ajaran Sayyidina Isa عليه الصلاة والسلام telah diubah?! Karena itu saya mencurahkan perhatian saya – dan untuk kedua kalinya – pada Injil, dan memutuskan agar studinya mendalam, dan merasa bahwa ada sesuatu yang kurang dan memutuskan untuk melakukannya untuk diri saya sendiri, terlepas dari mazhab-mazhab manusia. Maka saya mulai belajar bahwa manusia memiliki “ruh”, dan “kekuatan tak terlihat” dan itu kekal, dan bahwa dosa-dosa akan dihukum di dunia ini dan di akhirat, dan bahwa Allah dengan rahmat dan kebaikan-Nya selalu dapat mengampuni dosa-dosa kita jika kita benar-benar bertobat kepada-Nya. Dan karena menyadari pentingnya penelitian mendalam dan hidup pada tingkat kebenaran, dan untuk menemukan “mutiara berharga”, saya mengabdikan waktu saya sekali lagi untuk mempelajari Islam. Ada sesuatu dalam Islam yang menarik saya pada waktu itu. Dan di sudut terpencil – hampir tidak dikenal – dari desa “Itchra” saya mengabdikan waktu dan ibadah saya kepada Allah Yang Maha Besar di antara lapisan masyarakat paling bawah dengan keinginan tulus untuk mengangkat mereka ke tingkat pengenalan Tuhan yang haq dan Esa, dan menanamkan rasa persaudaraan dan kesucian.
Bukan niat saya untuk menceritakan kepada kalian bagaimana saya bekerja di antara orang-orang ini, dan apa pengorbanan yang telah saya berikan, dan kesulitan-kesulitan besar yang saya lalui, karena saya terus bekerja dengan sederhana demi satu tujuan, yaitu untuk melayani lapisan-lapisan ini secara material dan spiritual.
Dan akhirnya saya mulai mempelajari kehidupan Nabi Muhammad ﷺ. Saya tahu sedikit tentang apa yang beliau lakukan, tetapi saya tahu dan merasakan bahwa orang-orang Kristen – dengan suara yang satu – mengutuk kemuliaan Nabi Arab ﷺ. Dan saya ingin melihat masalah ini tanpa fanatisme dan kebencian. Dan setelah sedikit waktu saya menemukan bahwa tidak mungkin ada keraguan terhadap keseriusan pencarian beliau عليه الصلاة والسلام terhadap kebenaran dan terhadap Allah. Maka saya menyadari bahwa adalah salah – pada akhirnya – mengutuk orang suci ini setelah saya membaca tentang pencapaian-pencapaian yang beliau capai untuk kemanusiaan. Orang-orang yang berada dalam jahiliyah menyembah berhala, hidup dalam kejahatan, kotoran dan ketelanjangan, beliau عليه الصلاة والسلام mengajarkan mereka cara berpakaian, kotoran diganti dengan kesucian, mereka memperoleh martabat pribadi dan harga diri, keramahtamahan menjadi kewajiban agama, berhala-berhala mereka dihancurkan, dan mereka mulai menyembah Allah, Tuhan yang haq. Dan umat Islam menjadi masyarakat yang komprehensif, kuat, dan paling tangguh di dunia. Dan banyak perbuatan baik yang dilakukan yang begitu banyaknya sehingga kita tidak dapat menyebutkannya di sini. Betapa menyedihkannya – di hadapan semua ini, dan di hadapan kejernihan akalnya ﷺ – ketika kita berpikir bagaimana orang-orang Kristen bisa merendahkan kepribadian mulianya. Dan pikiran mendalam menguasai saya, dan selama momen-momen renungan saya dikunjungi seorang tuan India bernama “Ma’n Amir al-Din”, dan sungguh aneh bahwa dialah yang memberikan api dalam hidup saya udara untuk semakin menyala. Maka saya merenungkan masalah ini secara mendalam; dan saya berikan argumen demi argumen yang menentang agama Kristen kontemporer, dan menyimpulkan segala sesuatu mendukung Islam, dan merasa yakin bahwa itu adalah agama kebenaran, kemudahan, toleransi, keikhlasan, dan persaudaraan.
Sekarang saya hanya memiliki sedikit waktu untuk hidup di bumi ini, dan saya ingin mengabdikan semua yang tersisa bagi saya untuk melayani Islam.
Dan ini adalah kisah keislamannya dari buku “Sisi Tersembunyi di Balik Keislaman Mereka” oleh Muhammad Kamil Abdul Samad:
Ia lahir dan tumbuh di antara kedua orang tua Kristen… dan tertarik mempelajari teologi sejak usia dini, dan terikat dengan gereja Anglikan dan memberikan semua perhatiannya pada kerja misionaris. Dan suatu hari terjadi bahwa ia dikunjungi seorang teman India Muslim yang berbicara dengannya tentang topik akidah Kristen dan membandingkannya dengan akidah Islam, dan kunjungan itu berakhir, namun tidak berakhir dalam jiwanya, karena telah menimbulkan gejolak yang hebat dalam hati nurani dan akalnya, dan ia mulai merenungkan semua yang dikatakan dalam perdebatan itu, yang mendorongnya untuk meninjau kembali akidah-akidah Kristen… dan ia mengungkapkan hal itu dengan berkata:
“Saat itu saya memutuskan untuk meneliti sendiri, mengabaikan akidah orang-orang, setelah saya yakin akan perlunya mencari kebenaran tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam jalan ini, dan tidak peduli seberapa besar usahanya, hingga saya sampai pada pengetahuan yang lebih setelah dikatakan bahwa Injil dan ajaran-ajaran Masih telah mengalami perubahan… maka saya kembali lagi ke Injil untuk mempelajarinya dengan teliti, dan saya merasa bahwa ada kekurangan yang tidak dapat saya tentukan… saat itu menguasai jiwa saya keinginan untuk menghabiskan seluruh waktu saya mempelajari Islam… dan memang saya mengabdikan seluruh waktu dan usaha saya untuknya, dan dari itu mempelajari sirah Nabi Muhammad ﷺ, dan saya tidak mengetahui kecuali sedikit yang langka tentang beliau, meskipun orang-orang Kristen sepakat menolak Nabi agung ini yang muncul di Jazirah Arab… dan tidak lama berlalu hingga saya menyadari bahwa mustahil keraguan menyusup ke keseriusan dan kejujuran dakwah beliau kepada kebenaran dan kepada Allah.”
Kemudian ia mengulang makna ini sambil berkata:
“Ya, saya merasakan bahwa tidak ada dosa yang lebih besar daripada menolak ‘Orang Ilahi’ ini setelah saya mempelajari apa yang beliau berikan kepada kemanusiaan, dan menjadikan kaum muslimin masyarakat yang paling kuat, mulia, yang menjauhi kehinaan… saya tidak mampu menghitung apa yang telah diberikan Rasul ini dari perbuatan-perbuatan mulia…”.
Setelah itu ia bertanya dengan sedih dan termenung berkata:
“Di hadapan semua keutamaan dan kejernihan ini… bukankah sungguh menyedihkan dan menyakitkan bahwa orang-orang Kristen dan lainnya mencela martabatnya?!”.
43-Profesor Matematika Universitas Amerika Jeffrey Lang
Bahkan Malaikat pun Bertanya… Profesor Jeffrey Lang menceritakan Profesor Jeffrey Lang, profesor matematika di universitas-universitas Amerika tentang bagaimana ia memeluk agama Islam, itu dalam sebuah buku yang diterbitkannya dengan judul “Bahkan Malaikat pun Bertanya”. Buku tersebut menuliskan kisah keislaman Lang, dan berkisar antara momen-momen spiritual yang mendalam dan pemikiran-pemikiran filosofis yang dalam.
Penulis berkata: Pada hari saya memeluk Islam, imam masjid memberikan kepada saya sebuah buku kecil yang menjelaskan cara melaksanakan shalat. Namun saya terkejut dengan apa yang saya lihat dari kekhawatiran mahasiswa-mahasiswa Muslim, mereka mendesak saya dengan ungkapan-ungkapan seperti: (santai saja) (jangan terlalu memaksakan diri) (sebaiknya kamu ambil waktumu) (perlahan… sedikit demi sedikit). Dan saya bertanya dalam hati (apakah shalat sulit sampai seperti ini?). Tetapi saya mengabaikan nasihat para mahasiswa, maka saya memutuskan untuk segera mulai melaksanakan shalat lima waktu pada waktunya. Dan pada malam itu, saya menghabiskan waktu yang lama duduk di sofa di kamar kecil saya dengan penerangan redup, di mana saya mempelajari gerakan-gerakan shalat dan mengulang-ulanginya, serta ayat-ayat Al-Quran yang akan saya baca, dan doa-doa yang wajib dibaca dalam shalat. Dan karena sebagian besar yang akan saya baca dalam bahasa Arab, maka saya harus menghafal teks-teks dalam lafal Arabnya, dan maknanya dalam bahasa Inggris. Dan saya mempelajari buku kecil itu selama beberapa jam, sebelum saya merasa memiliki kepercayaan diri yang cukup untuk mencoba shalat pertama. Dan waktu sudah mendekati tengah malam, karena itu saya memutuskan untuk shalat Isya. Dan saya masuk kamar mandi dan meletakkan buku kecil itu di tepi wastafel terbuka pada halaman yang menjelaskan wudhu. Dan saya mengikuti petunjuk yang ada di dalamnya langkah demi langkah, dengan teliti dan hati-hati, seperti koki yang mencoba resep untuk pertama kali di dapur. Dan ketika saya selesai wudhu, saya menutup keran dan kembali ke kamar dengan air masih menetes dari ujung-ujung tubuh saya. Karena petunjuk buku kecil itu mengatakan bahwa disunahkan agar orang yang berwudhu tidak mengeringkan dirinya setelah wudhu. Dan saya berdiri di tengah kamar, menghadap ke arah yang saya kira adalah arah kiblat. Saya menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa saya menutup pintu apartemen saya, kemudian menghadap ke depan, dan tegak dalam posisi berdiri saya, dan mengambil napas dalam-dalam, kemudian mengangkat tangan saya, dengan telapak terbuka menyentuh cuping telinga dengan ibu jari saya. Kemudian setelah itu, saya berkata dengan suara pelan “Allahu Akbar”. Saya berharap tidak ada yang mendengar saya. Karena saya merasa agak tegang. Karena saya tidak bisa menghilangkan kekhawatiran saya bahwa ada orang yang memata-matai saya. Dan tiba-tiba saya menyadari bahwa saya membiarkan tirai terbuka. Dan saya bertanya-tanya: bagaimana jika ada tetangga yang melihat saya? Saya meninggalkan apa yang sedang saya lakukan, dan menuju ke jendela, kemudian memandang keluar untuk memastikan tidak ada orang. Dan ketika saya melihat halaman belakang kosong, saya merasa lega. Maka saya menutup tirai, dan kembali ke tengah kamar. Dan sekali lagi, saya menghadap kiblat, dan tegak dalam posisi berdiri saya, dan mengangkat tangan saya sampai ibu jari menyentuh cuping telinga saya, kemudian berbisik “Allahu Akbar”…. Dan dengan suara pelan yang hampir tidak terdengar, saya membaca Fatihah dengan lambat dan terbata-bata, kemudian mengikutinya dengan surah pendek dalam bahasa Arab, meskipun saya kira orang Arab mana pun tidak akan mengerti apa-apa jika mendengar bacaan saya malam itu. Kemudian setelah itu saya mengucapkan takbir sekali lagi dengan suara pelan dan membungkuk rukuk hingga punggung saya tegak lurus dengan kaki saya sambil meletakkan telapak tangan saya di lutut dan saya merasa malu, karena saya tidak pernah membungkuk kepada siapa pun dalam hidup saya. Dan karena itu saya senang karena saya sendirian di kamar. Dan sementara saya masih rukuk, saya mengulang kalimat “Subhana rabbiyal ‘azim” beberapa kali. Kemudian saya i’tidal berdiri sambil membaca “Sami’allahu liman hamidah” kemudian “Rabbana wa lakal hamd”…… Saya merasa jantung saya berdetak kencang, dan ketegangan saya meningkat ketika saya bertakbir sekali lagi dengan khusyuk karena telah tiba waktu sujud… dan saya membeku di tempat, sementara saya menatap titik di depan saya, di mana saya harus menundukkan diri dengan keempat anggota tubuh dan meletakkan wajah saya di tanah. Saya tidak bisa melakukan itu, saya tidak bisa menurunkan diri saya ke tanah, saya tidak bisa merendahkan diri dengan meletakkan hidung saya di tanah, seperti hamba yang merendahkan diri di hadapan tuannya… saya merasa seolah-olah kaki saya terikat tidak mampu untuk menekuk…. saya merasa sangat malu dan hina. Dan saya membayangkan tawa teman-teman dan kenalan saya dan tawa mereka, saat mereka memperhatikan saya dan saya membuat diri saya bodoh di hadapan mereka, dan saya membayangkan betapa saya akan menjadi obyek kasihan dan ejekan di antara mereka,
Dan aku hampir mendengar mereka berkata (kasihan Jeffrey, dia telah terkena gangguan dari orang Arab di San Francisco, bukan begitu?). Dan aku mulai berdoa (tolong, tolong, bantulah aku dalam hal ini). Aku menarik napas dalam-dalam, dan memaksa diriku untuk turun… Sekarang aku sudah dalam posisi merangkak, lalu ragu-ragu beberapa saat, dan setelah itu menekan wajahku ke sajadah… Aku mengosongkan pikiranku dari semua pemikiran, dan mengucapkan tiga kali kalimat “Subhaana rabbiy al-a’laa” (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi), “Allaahu akbar” (Allah Maha Besar) aku ucapkan dan bangkit dari sujud duduk di atas tumitku sambil menjaga pikiranku tetap kosong menolak membiarkan apapun mengalihkan perhatianku. “Allaahu akbar” dan aku meletakkan wajahku ke tanah lagi. Dan sementara hidungku menyentuh tanah, aku mengulang kalimat “Subhaana rabbiy al-a’laa” secara otomatis. Karena aku bertekad untuk menyelesaikan hal ini bagaimanapun caranya. “Allaahu akbar” dan aku berdiri tegak, sambil berkata pada diriku sendiri: masih ada tiga rakaat lagi di depanku. Dan aku berjuang melawan emoisi dan kesombonganku di sisa shalat yang tersisa. Tapi hal itu menjadi lebih mudah di setiap rakaat. Bahkan aku dalam ketenangan yang hampir sempurna di sujud terakhir. Lalu aku membaca tasyahud dalam duduk terakhir, dan akhirnya salam ke kanan dan kiriku…
Dan sementara kelelahan telah mencapai puncaknya padaku, aku tetap duduk di tanah, dan mulai mereview pertarungan yang telah kulalui. Aku merasa malu karena aku telah berjuang melawan diriku sendiri sekuat itu demi menyelesaikan shalat hingga akhir. Dan aku berdoa dengan kepala tertunduk malu: (ampunilah kesombongan dan kebodohanku, karena aku datang dari tempat yang jauh dan masih ada jalan panjang di depanku untuk kutempuh).
Dan pada saat itu, aku merasakan sesuatu yang belum pernah kualami sebelumnya, dan karena itu sulit bagiku menggambarkannya dengan kata-kata… Karena aku dihantam oleh gelombang yang tidak bisa kugambarkan kecuali seperti rasa dingin, dan tampak bagiku bahwa itu memancar dari suatu titik di dadaku. Dan itu adalah gelombang yang dahsyat sehingga aku terkejut pada awalnya sampai aku ingat bahwa aku gemetar. Namun itu lebih dari sekadar perasaan fisik, karena itu mempengaruhi emosiku dengan cara yang aneh juga. Tampak seolah-olah rahmat telah mewujud dalam bentuk yang dapat dirasakan dan mulai menyelimutiku dan meresap ke dalam diriku… Lalu aku mulai menangis tanpa mengetahui alasannya, karena air mata mulai mengalir di wajahku, dan aku mendapati diriku terisak dengan keras…
Dan semakin aku menangis, semakin aku merasakan bahwa kekuatan luar biasa dari kelembutan dan rahmat sedang merangkulku. Dan aku tidak menangis karena didorong oleh perasaan bersalah, meskipun seharusnya aku begitu, dan bukan karena rasa malu atau kegembiraan… Tampak seolah-olah bendungan telah terbuka melepaskan simpanan besar ketakutan dan kemarahan di dalam diriku. Dan sementara aku menulis baris-baris ini, aku tidak bisa tidak bertanya-tanya apakah ampunan Allah Azza wa Jalla tidak hanya mencakup pengampunan dosa-dosa, tetapi juga penyembuhan dan ketenangan…
Aku tetap duduk berlutut untuk beberapa waktu, membungkuk ke tanah, terisak dengan kepalaku di antara telapak tanganku. Dan ketika aku akhirnya berhenti menangis, aku telah mencapai puncak kelelahan. Karena pengalaman itu begitu dahsyat dan tidak biasa sampai tidak memungkinkanku saat itu untuk mencari penjelasan rasional untuknya… Dan aku melihat saat itu bahwa pengalaman ini terlalu aneh untuk bisa kuceritakan kepada siapa pun. Adapun hal terpenting yang kusadari saat itu adalah bahwa aku sangat membutuhkan Allah dan shalat, dan sebelum aku bangkit dari tempatku, aku berdoa dengan doa terakhir ini: “Ya Allah, jika aku berani kufur kepadaMu sekali lagi, maka bunuhlah aku sebelum itu, bebaskan aku dari kehidupan ini… Dan sangat sulit bagiku untuk hidup dengan segala kekurangan dan cacat yang kumiliki tetapi aku tidak bisa hidup satu hari lagi sambil mengingkari keberadaanMu”.
(1) Yang benar adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kadang-kadang mengelap bekas air wudhu, dan kadang-kadang membiarkannya, dan beberapa ulama berkata bahwa meninggalkannya dimaksudkan untuk mencari kesejukan dan bukan untuk mencari kedekatan (kepada Allah), dan sebagian mereka berpendapat bahwa sunnah adalah meninggalkan pengelasan kadang-kadang, dan melakukannya kadang-kadang wallahu a’lam…
(2) Yang benar adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyentuh cuping telinganya dengan ibu jarinya, melainkan mengangkat kedua tangannya ketika takbir sejajar dengan pundaknya atau sejajar dengan telinganya dengan jari-jari yang rapat menghadapkan kedua telapak tangannya ke kiblat.. wallahu a’lam..
Sumber: Salah satu surat kabar Saudi
44 – Profesor Universitas Amerika Muhammad Akoya
Alasan pertama keislamannya adalah jilbab seorang mahasiswi Amerika muslim yang bangga dengan agamanya dan bangga dengan jilbabnya, bahkan tiga orang doktor dari dosen universitas dan empat mahasiswa ikut masuk Islam bersamanya. Sebab langsung keislaman tujuh orang ini, yang kemudian menjadi dai-dai Islam, adalah jilbab ini. Aku tidak akan memperpanjang pembukaan dan membuat penasaran cerita indah ini yang akan kusampaikan kepada kalian atas nama dokter Amerika yang mengambil nama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjadi bernama (Muhammad Akoya).
Dokter Muhammad Akoya menceritakan kisahnya dan berkata: Empat tahun yang lalu, terjadi badai besar di universitas kami, ketika seorang mahasiswi Amerika muslim bergabung untuk belajar, dan dia berjilbab, dan di antara dosen-dosennya ada seorang pria fanatik yang membenci Islam dan menentang setiap orang yang tidak menyerangnya. Bagaimana lagi dengan orang yang memeluknya dan menampakkan syiar-syiarnya? Dia mencoba memprovokasinya setiap kali menemukan kesempatan untuk menyerang Islam. Dan dia melancarkan perang sengit terhadapnya, dan ketika dia menghadapi masalah dengan tenang, kemarahannya bertambah terhadapnya, maka dia mulai memeranginya melalui cara lain, yaitu dengan mengintainya dengan nilai-nilai, memberikan tugas-tugas penelitian yang sulit, dan memperketat hasil-hasilnya, dan ketika gadis malang itu tidak dapat menemukan jalan keluar, dia mengajukan keluhan kepada rektor universitas menuntut agar masalahnya diperhatikan.
Dan keputusan administrasi adalah mengadakan dialog antara kedua pihak yang disebutkan – doktor dan mahasiswi – untuk mendengar sudut pandang keduanya dan memutuskan keluhan tersebut. Dan ketika waktu yang ditentukan tiba, sebagian besar anggota staf pengajar hadir, dan kami sangat antusias untuk menghadiri putaran ini yang dianggap yang pertama dari jenisnya di universitas kami.
Sesi dimulai di mana mahasiswi menyebutkan bahwa dosen membenci agamanya. Dan karena ini dia merampas hak-hak akademisnya, dan dia menyebutkan banyak contoh untuk ini, dan meminta untuk mendengar pendapat beberapa mahasiswa yang belajar bersamanya, dan di antara mereka ada yang berempati padanya dan bersaksi untuknya, dan perbedaan agama tidak mencegah mereka memberikan kesaksian yang baik atas haknya.
Dokter setelah ini mencoba membela dirinya sendiri, dan terus berbicara lalu menjelek-jelekkan agamanya. Maka dia bangkit membela Islam. Dia menyampaikan banyak informasi tentangnya, dan pembicaraannya memiliki kemampuan untuk menarik kami, bahkan kami menyela dan bertanya tentang pertanyaan-pertanyaan yang menghadang kami. Maka dia menjawab ketika dokter yang bersangkutan melihat kami sibuk mendengarkan dan berdiskusi, dia keluar dari aula. Karena dia terganggu oleh perhatian dan partisipasi kami. Maka dia pergi bersama mereka yang tidak melihat pentingnya topik tersebut.
Kami tetap sebagai kelompok yang tertarik saling bertukar pembicaraan, di akhirnya mahasiswi membagikan dua lembar kepada kami yang ditulis dengan judul “Apa arti Islam bagiku?” motif-motif yang mendorongnya untuk memeluk agama yang agung ini, lalu dia menjelaskan pentingnya dan pengaruh jilbab. Dan dia menjelaskan perasaannya yang mengalir terhadap jubah dan penutup kepala yang dipakainya yang menyebabkan semua badai ini.
Sikapnya sangat hebat, dan karena sesi tidak berakhir dengan keputusan untuk pihak manapun, maka dia berkata bahwa dia membela haknya, dan berjuang demi itu, dan berjanji jika tidak mendapat hasil yang menguntungkannya bahwa dia akan berbuat lebih banyak bahkan jika terpaksa menindaklanjuti kasus dan menunda studi sedikit, itu adalah sikap yang kuat, dan kami anggota staf pengajar tidak mengharapkan bahwa mahasiswi akan pada level keteguhan ini demi mempertahankan prinsipnya. Dan betapa kami terkagum dengan ketabahannya di hadapan sejumlah dosen dan mahasiswa ini, dan kasus ini tetap menjadi bahan diskusi di dalam koridor-koridor universitas.
Adapun aku, pertarungan mulai berlangsung dalam diriku untuk mengganti agama, karena apa yang kutahu tentang Islam membuatku sangat mencintainya, dan membuatku ingin memeluknya, dan setelah beberapa bulan aku mengumumkan keislamanku, dan seorang doktor kedua dan ketiga mengikutiku di tahun yang sama, juga ada empat mahasiswa yang masuk Islam.
Dan begitulah dalam waktu singkat kami menjadi kelompok yang memiliki upaya dakwah dalam memperkenalkan Islam dan berdakwah kepadanya, dan sekarang ada sejumlah orang dalam tahap berpikir serius, dan tidak lama lagi insya Allah akan tersebar berita keislaman mereka di dalam koridor-koridor universitas. Dan segala puji bagi Allah semata.
45 – Sastrawan Prancis Vincent Monteil
Dia menjabat sebagai profesor bahasa Arab dan sejarah Islam di Universitas Paris… dan sekarang menjabat sebagai ketua “Lembaga Studi Islam di Dakar”… dan dia memiliki beberapa karya tulis di antaranya: buku “Terorisme Zionis”… “Muslim di Uni Soviet”… dan buku “Islam di Afrika Hitam”… dan buku “Kunci-kunci Pemikiran Arab”… juga telah menerjemahkan Ibnu Khaldun ke bahasa Prancis.
Dia memilih Islam sebagai agama dengan penuh keyakinan dan ridha, dan mengambil muslim Arab sebagai saudara-saudaranya dalam Islam, tanpa meninggalkan kewarganegaraan Prancisnya, karena dia beriman bahwa tidak ada kontradiksi antara akidah Islamnya dan kewarganegaraan Prancisnya.
Dan tentang pilihannya terhadap Islam sebagai agama dia menjelaskan dengan berkata: “Aku telah memilih Islam sebagai agama, dengan itu aku menghadap wajah Tuhanku karena berbagai alasan, di antaranya alasan-alasan agama, dan alasan-alasan akhlak, sosial, budaya dan emosional.”
Lalu dia melanjutkan dengan merinci apa yang digambarkannya secara umum… dia berkata: “Aku telah memilih agama fitrah… yaitu Islam, dan dahulu aku seorang Katolik… dan dalam Katolik ada banyak hal yang tidak meyakinkanku, dan tidak kupahami, seperti kursi pengakuan dosa dan perantara kepada Tuhan, selain mengandalkan rahasia-rahasia, kurban, dan hal-hal lain yang tidak bisa kuimani… sementara agama Islam bersih dari semua itu, cukup bagi seorang Muslim untuk menghadap Tuhannya langsung tanpa perantara, dan tanpa kursi pengakuan, maka Allah mengabulkan doanya.
Mereka mengajariku sebagaimana mereka mengajar yang lain bahwa Isa adalah Tuhan anak Tuhan, dan mereka mengklaim bahwa Muhammad bukanlah nabi, dan dengan demikian mengingkari Islam (1)… Lalu terjadi bahwa jatuh di tanganku – untuk pertama kalinya dalam hidupku – terjemahan makna Al-Quran Al-Karim, dan aku terkesan dengan makna kata-katanya, seperti:
“Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” (QS. Al-Ikhlas [112]: 1-4)
Dan dia terkesan sebagaimana dia sebutkan dengan terjemahan firman Allah Ta’ala: “(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Ar-Rum [30]: 30) (2).
Dia juga menyebutkan bahwa dia membaca hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia merasa terhadapnya bahwa Islam adalah agama fitrah yang benar.
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani, atau Majusi”.
Dan karena itu “Vincent Monteil” atau “Al-Manshur billah Asy-Syafi’i” sebagaimana dia bangga dengan nama barunya setelah dia mengumumkan keislamannya berkata: “Aku telah beriman dengan risalah Muhammad dan kebenarannya, sebagaimana aku beriman sepenuhnya dengan keesaan Allah… Sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah yang benar… dan Al-Quran Al-Karim diwahyukan dari Allah dan bukan dari karangan Muhammad atau buatannya… dan risalah samawi yang toleran bukanlah terbatas pada orang Arab… melainkan untuk semua manusia.
Dan tentang apa yang menarik perhatiannya dalam Islam dia berkata: “Aku melihat dalam Islam toleransi yang menakjubkan, dan akhlak mulia adalah tujuan setiap Muslim… dan aku melihat penolakan terhadap kehidupan monastik yang menjauhi sifat kemanusiaan manusia, karena Islam menjaga kemanusiaan manusia, maka melarangnya dari kehidupan monastik, dan mendorongnya untuk menikmati kehidupan dan hal-hal baiknya, selama kenikmatan itu tidak bertentangan dengan ajaran Allah Ta’ala…” Lalu dia mulai menundukkan kepalanya, dan wajahnya berseri dengan senyuman lebar sambil membaca firman Allah Ta’ala:
“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan” (QS. Al-Hajj [22]: 78) (3).
Lalu senyumnya tiba-tiba hilang saat dia mengingat mereka yang memusuhi Islam, dan apa yang mereka tuduhkan kepadanya dari tuduhan-tuduhan batil yang sama sekali tidak benar, maka dia meninjau sambil membantahnya:
Musuh-musuh Islam mengklaim bahwa Muslim tidak ridha dari selain mereka kecuali mereka menjadi Muslim, jika mereka tidak menjadi Muslim mereka akan menghunus pedang jihad terhadap mereka… padahal jika mereka memahami itu dengan baik pasti mereka tahu bahwa jihad Islam itu diwajibkan, tetapi demi menegakkan kebenaran dan menghilangkan kebatilan.
Lalu pemikir Islam “Al-Manshur billah Asy-Syafi’i” melanjutkan bantahannya terhadap klaim-klaim para pembenci Islam dengan berkata: “Bahwa mereka menuduh Islam dengan kekejaman yang berlebihan, padahal Islam adalah agama perdamaian, toleransi, maaf, dan ampunan… Para pembenci ini telah melupakan semua hukuman Nasrani di masa lalu, yang berlebihan dalam kekejaman, dan penyiksaan yang sampai pada pembakaran, dan memisahkan bagian-bagian tubuh, selain banyaknya kasus hukuman mati, dan ini tidak pernah disaksikan Islam dalam sejarahnya.
Dan mereka menuduh Islam dengan fenomena perbudakan yang ada sebelum Islam dan bukan setelahnya, bahkan ketika Islam tersebar dan ajaran-ajarannya diterapkan, Islam berusaha menghapuskan perbudakan, bahkan banyak kaffarah dosa-dosa yang dilakukan manusia adalah membebaskan budak yang Islam jadikan sebagai pendekatan diri dan ketaatan kepada Allah.
Lalu mereka mencoba memburukkan Islam dari sisi poligami, dan seandainya mereka berakal pasti mereka dapati bahwa meskipun Islam memang membolehkannya namun pada saat bersamaan meletakkan syarat-syarat ketat yang dasarnya adalah keadilan mutlak, dan perlakuan baik, dan Islam memperhatikan wanita-wanita yang kondisinya menghalangi dari menikah, atau karena sakit istri, atau sebab-sebab lain.
Lalu dia diam sejenak untuk memastikan perkataannya: “Bahwa Islam dengan keagungan dan kedalamannya, dengan kemurnian dan kemuliaan, dengan toleransi dan seruannya untuk martabat manusia di setiap zaman dan tempat – tidak akan ada seorang pun yang mampu menyerangnya… karena Islam pada dasarnya kuat… dan ajaran-ajarannya menyeru kepada kekuatan dengan tidak melakukan maksiat dan dosa-dosa yang melemahkan kekuatan, seperti zina, minum khamar, makan daging babi, dan hal-hal lain yang diharamkan agama yang suci”.
Dan dia mengakhiri perkataannya sambil disiram kebahagiaan iman ketika dia berkata: “Karena itulah aku memilih Islam… agar aku merasakan kenyamanan dalam lingkungannya dan naungannya… Ya, aku memeluk Islam agar aku merasakan dan menyadari bahwa aku telah memeluk agama yang tidak memisahkan antara badan dan roh, antara jiwa dan jasad… Cukup bagiku bahwa Islam adalah agama yang suci, yang mendorong kepada akhlak dan berhias dengannya, dan kepada martabat kemanusiaan dan berpegang teguh padanya, karena itulah aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya… dan dengan itu aku menghadap Tuhanku”.
(1) Surat kabar Al-Ittihad yang terbit di “Uni Emirat Arab”, terbitan 10 November 1989 (dengan penyesuaian).
(2) Surat Ar-Rum: Ayat 30. (3) Surat Al-Hajj: Ayat 78.
Sumber: “Al-Janib al-Khafi Wara’ Islam Ha’ula'” oleh Muhammad Kamil Abdul Shamad
46 – Pemikir Austria Leopold Weiss
Kisah masuk Islamnya sebagaimana ditulis sendiri dalam bukunya “Jalan ke Mekah”:
Afghanistan, Musim Dingin 1926
Saya sedang dalam perjalanan berkuda dari Herat ke Kabul bersama Ibrahim dan seorang pemandu berkebangsaan Afghanistan, melewati pegunungan yang tertimbun dan tertutup salju, lembah-lembah dan jalan-jalan di “Hindu-Kush” di tengah Afghanistan. Cuaca sangat dingin dan es berkilau, gunung-gunung putih dan hitam berdiri di semua sisi.
Saya merasa sedih, namun pada saat yang sama, anehnya saya merasa bahagia hari itu! Adapun kesedihan saya, karena orang-orang yang saya tinggali selama bulan-bulan sebelumnya, terhalang oleh kebodohan dari hakikat cahaya, kekuatan, dan kemajuan yang diberikan oleh iman mereka. Pada saat yang sama, kebahagiaan saya karena hakikat, cahaya, kekuatan, dan kemajuan ini hampir dalam genggaman saya sekarang, dan di depan mata saya, seperti gunung-gunung tinggi putih dan hitam yang ada di hadapan saya.
Kuda saya mulai pincang seolah ada sesuatu di kakinya, dan saya dapati bahwa sepatu kuda hanya tersangkut dengan dua paku saja.
Saya bertanya kepada teman Afghanistan kami, “Apakah ada desa terdekat di mana kita bisa menemukan pandai besi?”
“Ya, desa ‘Dehzanji’ terletak kurang dari tiga mil, ada pandai besi di sana, dan ada istana gubernur ‘Hazrajat’.”
Maka kami menuju ke desa ini, dan kami memperlambat perjalanan agar tidak melelahkan kuda.
Gubernur daerah itu berperawakan pendek, berwajah ceria, ramah, dan senang menjamu orang asing di istananya yang terpencil dari peradaban dan sederhana. Gubernur ini adalah kerabat Raja “Amanullah” dan termasuk orang-orang terdekatnya… dan dia adalah orang paling rendah hati yang pernah saya temui di Afghanistan. Dia bersikeras agar saya tinggal sebagai tamunya selama dua hari.
Pada malam hari kedua, kami duduk seperti biasa untuk makan malam yang lezat, dan setelah makan malam datang seorang pria dari desa untuk menghibur kami dengan lagu-lagu rakyat, membawa kecapi dengan tiga senar. Dia menyanyi dalam bahasa Pashto yang tidak saya pahami, tetapi beberapa kata Persia terselip dengan jelas, di ruangan hangat yang dilapisi karpet, sementara kilau salju dingin tampak melalui jendela.
Saya ingat dia menyanyi tentang pertempuran antara Daud dan Jalut, dimulai dengan nada rendah hati, kemudian bertingkat menjadi agak keras, dan berakhir dengan semangat kemenangan.
Setelah selesai, gubernur berkata bahwa Daud masih muda, tetapi imannya kuat…
Saya tidak bisa menahan diri untuk berkomentar, “Begitu juga kalian banyak, tetapi iman kalian lemah.”
Tuan rumah menatap saya dengan heran dan bingung atas apa yang saya sampaikan secara sukarela, maka saya segera menjelaskan perkataan saya. Penjelasan saya berbentuk aliran pertanyaan:
“Mengapa kalian orang-orang Muslim kehilangan kepercayaan diri yang dahulu membantu menyebarkan iman Islam dalam waktu kurang dari seratus tahun, dari Jazirah Arab ke barat hingga Samudra Atlantik, dan ke timur jauh hingga China – dan sekarang kalian menyerah dengan lemah kepada ide-ide dan kebiasaan Barat? Mengapa kalian yang nenek moyang kalian dahulu menerangi dunia dengan ilmu dan seni mereka, sementara Eropa tenggelam dalam kebiadaban dan kebodohan yang mendalam, tidak dapat bekerja dari sekarang untuk kembali kepada iman kalian yang kreatif? Bagaimana Ataturk yang remeh ini, yang mengingkari semua nilai-nilai Islam, menjadi simbol kebangkitan Islam bagi kalian?”
Tuan rumah saya tetap diam. Es mulai turun lebat di luar. Dan sekali lagi saya dipenuhi perasaan ganda, sedih dan bahagia, yang menyelimuti saya ketika mendekati “Dehzanji”. Saya merasa bangga dengan apa yang pernah ada, dan malu dengan keadaan anak-anak peradaban agung ini.
“Bisakah Anda menjelaskan kepada saya – bagaimana iman yang ditunjukkan nabi kalian, dan semua kejelasan dan kesederhanaan ini, terkubur di bawah reruntuhan omong kosong yang sok pintar dan pertengkaran di antara ulama kalian? Bagaimana pangeran dan tuan tanah kalian hidup dalam kemewahan, sementara saudara-saudara mereka sesama Muslim merasakan kemiskinan dan kemelaratan yang mendalam, padahal nabi kalian mengatakan bahwa tidak beriman orang yang tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangganya kelaparan? Bisakah Anda menjelaskan kepada saya bagaimana kalian mengabaikan wanita-wanita, sementara istri-istri Rasul SAW dan para sahabatnya ikut serta dalam urusan-urusan penting mereka? Bagaimana keadaan kalian orang-orang Muslim sampai pada kebodohan dan buta huruf, sementara nabi kalian mengatakan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim laki-laki dan perempuan, dan keutamaan orang berilmu atas orang yang beribadah seperti keutamaan bulan purnama atas bintang-bintang lainnya?”
Tuan rumah saya terus menatap tanpa berkata apa-apa, dan saya mulai merasa bahwa catatan-catatan saya telah membuatnya patah semangat. Adapun pria dengan kecapi itu tidak tahu bahasa Persia sampai tingkat yang membuatnya bisa mengikuti pembicaraan saya, dan dia heran dengan orang asing ini yang berbicara dengan nada seperti itu kepada gubernur.
Akhirnya, gubernur mengambil jubahnya yang terbuat dari kulit domba dan berselimut dengannya, seolah dia merasakan dingin! Dan dia berbisik kepada saya:
“Tetapi kamu seorang Muslim…”
Saya tertawa dan menjawab: “Tidak, saya bukan Muslim, tetapi saya mengetahui beberapa nilai dalam Islam yang kadang membuat saya marah, bagaimana kalian orang-orang Muslim menyia-nyiakannya… Maafkan saya jika saya salah bicara, saya tidak berbicara denganmu sebagai musuh.”
Tetapi tuan rumah saya menggeleng kepala sambil berkata: “Tidak, seperti yang kukatakan padamu, kamu seorang Muslim, tetapi kamu tidak mengenal dirimu sendiri… Mengapa kamu tidak mengucapkan sekarang dan di sini dua kalimat syahadat ‘La ilaha illa Allah Muhammad rasul Allah‘, dan menjadi Muslim dalam kenyataannya, karena kamu Muslim secara hati! Katakanlah saudaraku, katakanlah sekarang, dan besok aku akan mengantarmu ke Kabul untuk bertemu Amir, yang akan menyambutmu dengan tangan terbuka sebagai orang seperti kami. Dia akan memberimu rumah, kebun, dan domba, dan akan mencintaimu, katakanlah saudaraku…”
“Jika saya mengatakannya, itu akan karena pikiran saya telah tenang, bukan karena Amir memberikan saya rumah dan kebun.”
“Tetapi,” desak tuan rumah saya, “kamu tahu banyak tentang Islam, mungkin lebih dari beberapa Muslim, apa lagi yang ingin kamu ketahui?”
“Masalahnya bukan masalah pemahaman, ini masalah keyakinan, keyakinan bahwa Al-Qur’an Al-Karim benar-benar firman Allah, dan bukan sekedar kata-kata dari seseorang yang cerdas dan memiliki mentalitas unggul…”
Tetapi kata-kata teman Afghanistan saya terus menghantui saya dan tidak meninggalkan saya selama beberapa bulan!!!
Saya melanjutkan perjalanan melalui Afghanistan, kembali lagi ke Herat yang telah saya mulai darinya, dan kami mendekati musim dingin tahun 1926. Demikian saya meninggalkan Herat pada tahap pertama perjalanan pulang ke tanah air, menaiki kereta api dari perbatasan Afghanistan ke “Merv” di Turkestan Rusia, kemudian ke Samarkand, Bukhara ke Tashkent, dan kemudian melalui dataran Turkmenistan ke pegunungan Ural, lalu Moskow.
Saya terkejut dengan propaganda dan spanduk yang menyerang agama dan ketuhanan di mana pun saya tinggal atau berpindah (dan saya akan berhenti menyebutkannya karena menjijikkan). Dengan perasaan lega saya melintasi perbatasan Polandia, setelah berminggu-minggu saya habiskan di Asia dan Rusia Eropa. Saya langsung menuju Frankfurt tempat surat kabar tempat saya bekerja, di mana saya mengambil alih pekerjaan saya.
Tidak lama kemudian saya menemukan bahwa selama ketidakhadiran saya, nama saya telah menjadi terkenal, dan saya sekarang dianggap sebagai salah satu koresponden terkemuka di Eropa Tengah. Beberapa artikel saya… khususnya yang membahas psikologi religius kompleks orang Iran – yang datang sebagai hasil dari pengamatan para sarjana Timur terkemuka, disambut lebih dari sekedar pengetahuan sepintas.
Sebagai hasil dari pentingnya pencapaian ini, saya diundang untuk memberikan serangkaian kuliah di Akademi Geografi Politik Berlin – di mana saya diberitahu bahwa tidak pernah terjadi sebelumnya bahwa seseorang dalam usia muda seperti saya (saya berusia dua puluh enam tahun saat itu) diberikan hak istimewa ini. Saya juga menulis artikel-artikel umum lain dengan izin dari majalah “Frankfurter Zeitung” di surat kabar lain; dan salah satu artikel telah dicetak ulang sekitar tiga puluh kali sepengetahuan saya. Dengan kata lain, perjalanan Iran saya telah membuahkan hasil…
Pada saat ini saya menikah: “Elsa”. Dua tahun yang saya habiskan di luar negeri tidak melemahkan cinta kami satu sama lain, tetapi menambah kekuatannya, dan dengan kebahagiaan yang luar biasa yang belum pernah saya rasakan sebelumnya, saya menyambut komentarnya tentang perbedaan usia yang besar antara kami.
“Tetapi bagaimana kamu menikahiku?” dia mulai berdebat dengan saya. “Kamu belum mencapai dua puluh enam tahun, dan aku di atas empat puluh, tidakkah kamu memikirkan hal itu, ketika kamu mencapai tiga puluh, aku akan berusia empat puluh lima, dan ketika kamu mencapai empat puluh, aku akan menjadi wanita tua…”
Saya tertawa! “Memangnya kenapa?” Saya tidak melihat masa depan tanpamu.
Akhirnya dia menyerah. Saya tidak berlebihan ketika mengatakan padanya bahwa saya tidak melihat masa depan tanpanya. Kecantikannya dan kelembutan alaminya menarik saya kepadanya sehingga saya tidak melihat wanita lain; dan kepekaan dalam memahami apa yang saya inginkan dari hidup menerangi harapan dan keinginan saya, dan menjadi kuat dan lebih menyadari, dan menguasai pemikiran saya tentang apa yang harus saya lakukan.
Pada suatu kesempatan – sekitar seminggu setelah pernikahan kami – dia memberikan pengamatan ini kepada saya: “Betapa anehnya kamu dibandingkan semua orang? Kamu harus mengurangi spiritualitas dalam agama… kamu memiliki kecenderungan sufi! – sensitif dalam sufismeμ, kamu menunjuk dengan jarimu ke apa yang ada di sekitarmu dalam hidup, dan kamu memiliki visi spiritual yang mendalam dalam hal-hal yang terjadi di sekitarmu setiap hari – sementara hal-hal seperti itu berlalu begitu saja pada orang lain tanpa kepedulian… tetapi ketika kamu mengarah ke agama, kamu penuh konsentrasi… dengan orang lain situasinya sebaliknya sama sekali…”
Tetapi Elsa tidak bingung, dia tahu apa yang saya cari ketika saya berbicara dengannya tentang Islam; dan meskipun dia tidak dalam tingkat kegelisahan yang sama dengan saya, cintanya kepada saya membuatnya berbagi pertanyaan-pertanyaan saya. Seringkali kami membaca Al-Qur’an bersama, dan mendiskusikan ide-idenya; dan Elsa seperti saya, kagum dengan koherensi internal antara ajaran moralnya dan panduan praktisnya.
Berdasarkan Al-Qur’an Al-Karim, Allah tidak mengajak manusia untuk berdoa kepada-Nya dengan mata tertutup, tetapi dia harus menggunakan akalnya; Allah tidak menjauh dari manusia, tetapi Dia lebih dekat kepadanya daripada urat nadi; Allah tidak menarik garis pemisah antara iman dan perilaku sosial; dan hal yang dianggap sangat penting, bahwa Islam tidak dimulai dari aksioma bahwa kehidupan sarat dengan konflik antara roh dan tubuh, dan bahwa keselamatan adalah dalam membebaskan manusia dari belenggu tubuh.
Setiap manifestasi penyangkalan hidup dan penghinaan manusia terhadap dirinya sendiri dikutuk Islam dalam hadis-hadis Rasulullah SAW… seperti “perhatikan”… Saya percaya dia ingin menunjuk di sini pada hadis tiga orang yang Rasulullah SAW katakan kepada mereka: “Barang siapa yang tidak menyukai sunnahku, maka dia bukan dari golonganku.”
Manusia dituntut untuk menjalani hidupnya secara utuh dan positif, sebab naluri-nalurinya diberikan hanya untuk menghasilkan buahnya, tetapi menggunakannya dengan suci, bermoral, dan pada tempatnya yang benar. Dan dari ajaran untuk manusia: bahwa kamu tidak hanya harus menjalani hidupmu, tetapi kamu harus menjalaninya dengan semua dimensinya.
Gambaran terpadu Islam muncul dalam pikiran saya dalam bentuk finalnya dan dengan kejelasan, yang kadang membuat saya takjub! Itu terbentuk dalam proses yang bisa saya sebut reaksi mental – dan tanpa kesadaran dari saya, telah mulai terkumpul dari bagian-bagian yang terpisah dan teratur. Ketika saya meletakkan potongan-potongan yang tersebar ini satu sama lain, saya melihat sistem geometris yang tepat, pikiran saya mengumpulkannya selama empat tahun terakhir, untuk melihat bangunan yang semua elemennya harmonis, berkumpul untuk melengkapi dan saling mendukung, tidak ada yang kurang, dan tidak ada yang melebihi kebutuhannya – seimbang dan tenang, memberikan kesan bahwa semua postulat Islam berada dalam posisi yang benar.
Tiga belas abad yang lalu (perlu dicatat bahwa buku ini lama), berdiri seorang pria yang berkata: “Aku hanyalah manusia yang akan binasa, tetapi Dia yang menciptakan alam semesta telah mewahyukan kepadaku untuk membawa pesan-Nya kepada kalian, agar kalian hidup selaras dengan semua ciptaan-Nya, dan Dia telah memerintahkanku untuk mengingatkan kalian akan keberadaan-Nya sebagai Tuhan yang memiliki segala kekuasaan dan segala ilmu, dan Dia telah menetapkan bagi kalian cara bertingkah laku yang benar, jika kalian menerimanya maka ikutilah aku…” Inilah Rasul Muhammad SAW, dan inilah pesannya.
Sistem sosial yang dia nyatakan memiliki kesederhanaan yang menghubungkan komponennya dengan keagungan sejati. Dimulai dengan mengakui bahwa manusia adalah makhluk hidup yang memiliki kebutuhan vital, dan kebutuhan-kebutuhan ini tunduk pada halal dan haram yang ditetapkan Allah SWT, dan bahwa manusia itu sosial secara alami membutuhkan masyarakat yang mengelilinginya. Untuk memenuhi kebutuhan budaya, moral, dan alaminya, masing-masing harus bergantung pada yang lain.
Kemakmuran konstitusi spiritual manusia (yang merupakan tujuan semua agama) bergantung pada apakah dia menerima dukungan, dorongan, dan perlindungan dari orang-orang di sekelilingnya. Solidaritas sosial ini menunjukkan alasan mengapa Islam peduli dengan aspek-aspek ekonomi dan politik umum, dan tidak terpisah darinya.
Untuk mengatur hubungan manusia secara praktis sehingga jika individu menghadapi beberapa rintangan, dia menemukan dorongan yang diperlukan untuk mengembangkan kepribadiannya: ini, dan tidak ada yang lain, tampaknya merupakan konsep Islam tentang fungsi sebenarnya masyarakat.
Demikian naturalnya bahwa undang-undang yang dibawa oleh Sayyidina Muhammad SAW selama dua puluh tiga tahun kenabian tidak hanya berkaitan dengan aspek spiritual, tetapi meluas untuk mencakup kerangka bagi semua individu dan juga masyarakat. Mencakup tidak hanya konsep kemurnian individu, tetapi juga mencakup masyarakat adil yang mengarah pada kemurnian ini. Juga mencakup garis besar masyarakat politik… adapun detailnya diserahkan kepada perkembangan yang terjadi seiring perubahan zaman… sebagaimana menentukan hak-hak individu dan kewajiban mereka terhadap masyarakat tempat mereka tinggal, dengan mempertimbangkan kenyataan hal-hal yang ditemukan.
Syariah Islam mencakup semua aspek kehidupan: moral, alami, individu, sosial, hubungan antara tubuh, roh, dan pikiran, seks, ekonomi, semuanya berdampingan dengan teologi dan ibadah. Setiap urusan memiliki posisinya dalam instruksi Nabi SAW, dan tidak ada yang berkaitan dengan kehidupan dipandang sebagai remeh untuk keluar dari lingkaran konsepsi religius… bahkan tidak masalah-masalah duniawi seperti perdagangan, warisan, hak milik, dan kepemilikan tanah.
Semua komponen syariah ditetapkan untuk pemanfaatan yang sama antara anggota masyarakat, tanpa diskriminasi tempat lahir, ras, jenis kelamin, atau kesetiaan sosial sebelumnya. Tidak ada keuntungan khusus yang disimpan untuk pendiri masyarakat atau keturunannya. Catatan: Karena itu Rasul SAW berkata: “Kami para nabi tidak mewariskan, apa yang kami tinggalkan adalah sedekah.”
Tidak ada kelas atas dan kelas bawah dalam konsep sosial, bukan dari kosakata Islam; dan tidak ada jejaknya dalam syariah yang mulia. Semua hak, kewajiban, dan peluang didistribusikan di antara anggota masyarakat beriman secara merata.
Tidak ada pendeta antara Allah dan manusia, karena Allah mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka. Tidak ada kesetiaan, kecuali kepada Allah dan Rasul-Nya, dan atas perintah Allah kepada orang tua, dan kepada masyarakat Muslim yang bertanggung jawab mewujudkan kerajaan Allah di bumi; dan dengan demikian tidak diperbolehkan yang mengangkat kata “negeriku atau bangsaku”, dan untuk memperjelas konsep ini, Rasulullah SAW dalam lebih dari satu kesempatan, dengan jelas berkata: “Bukan dari golongan kami orang yang menyeru kepada fanatisme, bukan dari golongan kami orang yang berperang karena fanatisme, dan bukan dari golongan kami orang yang mati dalam fanatisme.”
Semua organisasi sebelum Islam… bahkan yang bersifat religius atau semi-religius… menggunakan konsep sempit, berupa fanatisme kesukuan dan keklauan. Sebagai contoh para raja yang menganggap diri sebagai tuhan, para Firaun di Mesir, tidak berpikir kecuali dalam batas-batas yang paling sempit di mana orang Mesir hidup; bahkan Tuhan Bani Israil pun adalah Tuhan hanya untuk umat pilihan. Sebaliknya, konsep-konsep yang diambil dari Al-Quran Al-Karim menolak secara tegas untuk berpegang teguh pada klan atau suku. Islam mengasumsikan sebuah masyarakat politik yang jauh dari perpecahan etnis dan kesukuan. Dalam hal ini, Islam dan Nasrani sepakat dalam dakwah universal yang jauh dari kesukuan, dan sementara Nasrani telah membatasi dirinya dalam konsep “berikan apa yang milik Kaisar kepada Kaisar, dan apa yang milik Allah kepada Allah”, konsep Islam lebih luas dari itu, karena telah mengajak semua umat agar kesetiaan hanya kepada Allah. Dengan demikian… untuk mencapai apa yang tidak dicapai Nasrani… Islam telah menambahkan perspektif lain dalam pengembangan manusia: mengajak kepada masyarakat yang terbuka secara akidah, dibandingkan dengan masyarakat-masyarakat tertutup yang muncul di masa lalu, baik secara etnis maupun geografis.
Risalah Islam memberikan konsepsi, dan menganugerahkan umat manusia sebuah peradaban yang di dalamnya tidak ada tempat untuk nasionalisme, tidak ada kepentingan pribadi, tidak ada kelas, tidak ada gereja, tidak ada pendeta, tidak ada kelas bangsawan yang diwariskan, bahkan, tidak ada apa pun yang diwariskan sama sekali. Dan di antara ciri-ciri terpenting dalam peradaban ini… ciri yang tidak ditemukan dalam gerakan manusia mana pun sepanjang sejarah… adalah bahwa ia muncul dari keyakinan dan kesepakatan sukarela antara penganutnya dengan Allah.
Di sini, kemajuan sosial… berbeda dari apa yang terjadi di masyarakat-masyarakat lain… tidak terjadi akibat tekanan, dan perlawanan terhadap tekanan ini, akibat kepentingan-kepentingan yang bertentangan, tetapi sebagai bagian tak terpisahkan dari ajaran-ajaran asli. Dengan kata lain, ada kontrak sosial yang mengakar dalam jiwa, yang menguasai akar-akar perbuatan… bukan hasil perintah-perintah yang dibuat oleh mereka yang memegang kekuasaan untuk mempertahankan keuntungan mereka… tetapi kebenaran yang berakar dalam peradaban Islam.
Al-Quran Al-Karim menyebutkan “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka……… maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar” (QS. At-Taubah: 111).
Saya mengetahui (dari penelusuran saya terhadap bacaan peradaban Islam)… bahwa kontrak yang dicatat sejarah ini… telah terwujud untuk periode yang sangat singkat, atau lebih tepatnya selama periode yang sangat singkat ada upaya serius untuk merealisasikannya. Dalam waktu kurang dari satu abad setelah kematian Nabi saw, sistem murni Islam mulai mengalami kerusakan politik, dan terdorong mundur pada abad-abad berikutnya. Muncul aspirasi-aspirasi klan untuk memiliki kekuasaan, menggantikan pendapat bebas laki-laki dan perempuan, kepemilikan turun-temurun menggantikan konsep politik dalam Islam sebagai bentuk syirik dalam konsep Islam “catatan: saya rasa ia merujuk di sini pada hadits “Bukan termasuk golongan kami orang yang mengajak kepada fanatisme kesukuan”” – dan dengan ini pula muncul intrik dan konflik kesukuan dan kezaliman, serta kemerosotan pendorong agama, dan kehinaan dalam melayani penguasa: singkatnya, menang kepentingan pribadi yang dikenal dalam sejarah.
Untuk beberapa waktu, para ulama dan pemikir besar berusaha mengembalikan kemilau Islam dan mengingatkan manusia pada konsep-konsepnya yang murni, tetapi datang setelah mereka kaum yang terus meniru generasi-generasi sebelumnya, dan mundur setelah dua atau tiga abad, dan berhenti berpikir untuk diri mereka sendiri… melupakan bahwa setiap zaman berbeda dari sebelumnya, dan setiap zaman memiliki kebutuhan khusus yang memerlukan pembaruan.
Dorongan asal Islam di permulaannya sangat besar, dan mengangkat umat Islam ke tingkat-tingkat tinggi budaya dan peradaban yang agung… sehingga para sejarawan menyebut zaman yang terwujud itu, dengan Zaman Keemasan Islam, dari segi sastra, seni, ilmu pengetahuan, dan budaya, tetapi setelah zaman itu beberapa abad, padamlah dorongan iman yang menjadi sumber kemajuan ini, dan peradaban Islam menjadi stagnan, dan terlepas dari kekuatan kreatifnya.
……………………………………………..
Saya tidak terpengaruh oleh situasi dunia Islam saat ini. Empat tahun yang saya habiskan di negara-negara Islam, menjelaskan kepada saya, bahwa meskipun Islam masih hidup, sebagaimana ia di mata dunia, mempengaruhi dari segi moral para pengikutnya, namun mereka telah terkena kelumpuhan, sehingga tidak menerjemahkan prinsip-prinsipnya menjadi kerja yang berbuah. Tetapi yang menarik perhatian saya, jauh dari keadaan kaum muslimin di zaman kita ini, adalah kekuatan yang terpendam dalam ajaran Islam itu sendiri.
Cukup bagi saya untuk mengetahui bahwa dalam waktu singkat di awal sejarah Islam, upaya yang berhasil telah dilakukan untuk menerapkan sistem ini menjadi kerja; dan karenanya, apa yang mungkin pada suatu waktu, tetap mungkin pada waktu-waktu lain. Apa pentingnya… kataku pada diri sendiri… jika kaum muslimin telah menyimpang dari ajaran asli agama mereka, dan condong kepada kemalasan dan kebodohan?… Apa pentingnya jika mereka tidak mengambil ajaran-ajaran ideal yang ada di hadapan mereka, yang datang melalui lisan Nabi Arab tiga belas abad yang lalu… jika ajaran-ajaran ini masih tersedia untuk semua orang dan bagi siapa saja yang ingin mendengarkannya?
Dan mungkin kita… mulai kuberpikir… kita yang terlambat ini lebih membutuhkan risalah ini daripada kaum muslimin di zaman Rasulullah saw. Mereka hidup dalam iklim yang jauh lebih sederhana dari iklim yang kita hidupi, dan masalah-masalah mereka serta kesulitan yang mereka hadapi lebih sederhana dari yang kita hadapi, dan membutuhkan solusi yang tidak serumit yang kita hadapi.
Dunia yang saya hidupi… seluruh dunia sekarang… gelisah karena tidak adanya kaidah-kaidah spiritual yang memisahkan antara kebaikan dan keburukan, dan karenanya, secara ekonomi dan sosial. Saya tidak percaya bahwa manusia sebagai individu membutuhkan keselamatan, tetapi masyarakatlah yang membutuhkan penyelamat! Lebih dari waktu mana pun yang telah berlalu, saya mulai merasakan keyakinan yang semakin bertambah, bahwa masa kita ini sangat membutuhkan fondasi ideologis, dan kontrak sosial baru: membutuhkan iman kepada Allah, dan pemahaman tentang seberapa besar kekosongan yang ditimbulkan oleh kemajuan material saja… dan dari situ kita memberikan hak hidup kepada kehidupan; bagaimana kita menyeimbangkan antara kebutuhan ruh dan jasad, dan di dalamnya terdapat penyelamatan dari bencana pasti yang kita tuju dengan terburu-buru.
……………………………………………..
Tak perlu dikatakan bahwa masalah Islam pada periode ini… telah menjadi masalah bagi saya… memusingkan pikiran saya lebih dari apa pun yang lain. Pada saat-saat ini, pemahaman saya terhadap topik ini melampaui tahap-tahap awalnya, ketika topik bagi saya tidak lebih dari penelitian budaya, dan ideologi yang menarik: situasinya sekarang adalah pencarian terfokus akan kebenaran.
Membandingkan pencarian ini, dengan perjalanan dua tahun terakhir, yang tidak menghasilkan apa-apa: fokus pada penyelesaian buku yang dipercayakan kepadaku oleh surat kabarku “Frankfurter Zeitung” menjadi tidak mungkin. Pada awalnya pandangan Dr. Simon toleran, terhadap keragu-raguan saya dalam melanjutkan penyelesaian buku. Saya telah kembali dari perjalanan panjang yang layak mendapat semacam cuti, dan pernikahan baru saya memberi saya beberapa hak untuk santai dalam penulisan rutin. Tetapi ketika saya terlalu santai, dan mengingat bahwa Dr. Simon memikul tanggung jawab atas buku itu, ia meminta saya bahwa telah tiba waktunya untuk turun ke bumi.
Di masa lalu, saya melihat bahwa dia memahami situasi, tetapi sekarang saya melihat sebaliknya. Komentar-komentarnya yang terus-menerus, dan pertanyaan-pertanyaannya yang mendesak tentang kemajuan saya dalam menyunting buku, memberikan efek sebaliknya dari yang dia inginkan, karena saya merasa bahwa hal itu dipaksakan kepada saya sehingga membuat saya membenci ide buku itu sendiri. Saya lebih tertarik pada apa yang masih ingin saya temukan daripada apa yang ingin saya catat dari peristiwa-peristiwa yang saya alami dalam perjalanan saya.
Akhirnya Dr. Simon mengeluarkan komentar ini “Saya rasa kamu tidak akan menyelesaikan buku sama sekali, kamu hidup dalam dirimu dalam ketakutan akan sesuatu”.
Dan seperti orang tersengat saya membalasnya: “Mungkin penyakit yang saya derita lebih dari ketakutan”.
“Jika kamu dalam penderitaan seperti ini” katanya dengan tajam “apakah kamu pikir surat kabar adalah tempat yang tepat untukmu”.
Satu katanya dan satu kataku, hal itu berubah menjadi pertengkaran, dan pada hari yang sama saya mengajukan pengunduran diri dari surat kabar, dan setelah seminggu saya dan Elsa bepergian ke Berlin.
Tentu saja saya tidak berniat meninggalkan jurnalistik, karena itu adalah bagian dari ketenangan batin dan kebahagiaan saya di dalamnya dan dalam menulis… saya menjauh dari keduanya sementara akibat buku… dan mengapa tidak? Dan itu yang mengembalikan saya ke dunia Islam, dan kepulangan ini saya jaga dengan harga berapa pun. Tetapi berkenaan dengan ketenaran yang saya peroleh dalam empat tahun terakhir, tidaklah sulit bagi saya untuk kembali ke jurnalistik lagi. Dengan sangat cepat saya mendapatkan kontrak yang menguntungkan dan nyaman dengan tiga surat kabar di Zurich, dan meskipun tidak setingkat surat kabar sebelumnya, tetapi termasuk surat kabar terkenal di Eropa.
Sejak itu, saya dan Elsa tinggal di Berlin, untuk melengkapi kuliah-kuliah saya tentang Islam di Akademi Geografi Politik. Teman-teman sastra saya sebelumnya senang dengan kepulangan saya kepada mereka, tetapi hubungan baru itu tidak sekokoh yang saya tinggalkan sebelum perjalanan saya ke Timur Tengah. Bahasa budaya kami menjadi berbeda dari sebelumnya. Dan secara khusus, saya tidak dapat mengeluarkan informasi apa pun dari diskusi saya dengan mereka tentang Islam. Mereka menggelengkan kepala mereka, bingung ketika saya berkata kepada mereka bahwa budaya Islam dapat bersaing dengan ideologi-ideologi lain.
Dan meskipun dalam beberapa kasus, mereka setuju dengan pendapat dari sini atau sana dari konsep-konsep Islam, namun secara umum mereka mengatakan bahwa agama-agama masa lalu adalah bagian dari masa lalu, dan bahwa kita membutuhkan pembaruan dalam konsep, dan pandangan “kemanusiaan” baru. Dan bahkan mereka yang tidak mengingkari pentingnya institusi agama, tidak siap untuk melepaskan pandangan Eropa terhadap Islam, bahwa ia kekurangan kejelasan yang diharapkan dari agama-agama.
Dan saya terkejut bahwa ciri Islam yang saya temukan sejak momen pertama… yaitu tidak adanya pemisahan antara ruh dan jasad, dan penegasan bahwa akal adalah jalan menuju iman… tidak jelas bagi para intelektual, yang terus mengatakan bahwa akal adalah penguasa atas segala sesuatu dalam kehidupan: “rasionalitas” dan “realitas”, tidak memiliki tempat di bidang agama menurut mereka. Dan dalam hal ini saya tidak menemukan perbedaan antara mereka yang beragama, dan mereka yang membuang agama ke belakang mereka.
Seiring waktu, saya memahami di mana letak kesulitan ini dalam diri mereka. Saya mulai menyadari bahwa di mata mereka yang berputar dalam orbit Nasrani… dengan tekanannya pada dunia “metafisik” yang mengakar dalam setiap pengalaman religius sejati… maka dari tingkat pertama setiap pandangan rasional, menjadi sebab pengurangan dari nilai spiritual, dan itu tidak khusus hanya bagi orang-orang beriman Nasrani. Dan itu karena lamanya masa orang Eropa dalam naungan Nasrani, maka tanpa mereka sadari dan tanpa sadar, mereka belajar untuk melihat agama melalui kacamata Nasrani, dan konsep-konsep Nasrani, dan menganggap hanya itu “benar”, jika disertai dengan jejak-jejak rahbaniah dan khusyuk, jauh dari pemahaman budaya.
Islam tidak memenuhi anggapan ini: Islam menegaskan pada kerja sama antara sifat-sifat spiritual dan material kehidupan, dan itu atas dasar yang kokoh alamiah dari metodologi. Dalam kenyataannya pandangan hidupnya, berbeda secara radikal dari konsep-konsep Nasrani, dan konsep-konsep inilah yang diadopsi Barat sebagai dasar kehidupan, dan dengan itu mereka mengukur kelayakan yang lain dengan ukuran-ukuran ini.
Adapun bagi saya, saya tahu bahwa saya tertarik kepada Islam tak terelakkan, tetapi keragu-raguan membuat saya menunda keputusan akhir, keputusan yang tidak dapat ditarik kembali. Ide memeluk Islam, seperti perjalanan di atas jembatan yang sangat panjang antara dua dunia yang berbeda: jembatan jika kamu sampai di ujungnya, kamu tidak akan melihat permulaannya.
Saya menyadari, bahwa jika saya masuk Islam, saya akan memisahkan diri dari dunia tempat saya dibesarkan. Tidak ada penghasilan lain yang akan saya hidupi. Tidak mungkin bagi orang yang benar-benar menjawab panggilan Rasul saw, untuk tetap mempertahankan hubungan batin dengan masyarakat yang hidup atas konsep-konsep yang berbeda… Apakah Islam benar-benar risalah dari Allah swt, ataukah ia hanya hikmah dari seorang laki-laki besar, tetapi tidak maksum???
Pada suatu hari — itu pada September 1926 — saya dan Elsa naik kereta bawah tanah di Berlin, kami di kelas satu. Mata saya secara kebetulan jatuh pada seorang laki-laki rapi, tampak bahwa ia dari kalangan pebisnis, dan membawa tas indah di atas kakinya, dan di tangannya cincin besar dari berlian!!! Dan pemandangan laki-laki ini tidak aneh pada hari-hari ini, dan ia mencerminkan kemakmuran yang terjadi di tengah Eropa, setelah tahun-tahun inflasi yang membalik timbangan.
Kebanyakan orang sekarang memakai pakaian bagus, dan makan makanan yang baik, dan karena itu laki-laki yang duduk di hadapan saya bukanlah hal yang aneh. Tetapi ketika saya memperhatikan wajahnya, saya menemukan kesedihan padanya! Dia tampak cemas: dan bukan hanya cemas, tetapi juga sengsara, matanya menatap ke atas, dan sudut mulutnya bergerak seolah ada rasa sakit… bukan rasa sakit jasmani.
Dan agar tidak dituduh kurang ajar saya memalingkan mata dari dia, untuk jatuh pada seorang wanita rapi. Saya menemukan juga kesengsaraan di wajahnya, dan seolah dia menderita dari sesuatu, tetapi senyuman di wajahnya adalah senyuman yang dipaksakan. Dan demikian tanpa sadar saya mulai melihat sekeliling saya pada wajah-wajah yang ada di kompartemen, untuk melihat bahwa mayoritas wajah-wajah, mencerminkan tentang penderitaan yang tersembunyi dalam alam bawah sadar mereka, dan mereka tidak merasakan itu.
Dalam kenyataannya itu hal yang aneh bagi saya! Saya belum pernah melihat sebelumnya seperti jumlah orang-orang sengsara ini, dan mungkin karena belum pernah saya memeriksa wajah-wajah seperti ini, untuk menemukan fenomena ini berteriak dengan suara paling keras di wajah-wajah mereka. Kesan itu kuat dalam diriku, sehingga saya menyebutkannya kepada Elsa, yang mulai dia juga berkeliling pada wajah-wajah sengsara dengan hati-hati, dan dia pelukis yang terbiasa mengungkap ekspresi wajah-wajah manusia.
Dia menoleh ke arahku dengan heran berkata “Kamu benar, mereka semua tampak seolah mereka menderita dari siksaan neraka… Saya bertanya-tanya apakah mereka tahu apa yang berlangsung dalam diri mereka? Saya tahu bahwa mereka tentu saja tidak mengetahui apa-apa tentang itu, jika tidak mereka akan menyelamatkan diri mereka dari membuang-buang hidup mereka dalam apa yang menyengsarakannya, tanpa iman, dan jauh dari kebenaran, tanpa tujuan selain mengumpulkan uang, dan kekayaan dan kedudukan, dan meningkatkan standar hidup mereka, tanpa harapan selain memiliki sarana untuk kenyamanan lebih, dan hal-hal material lebih, dan kepemilikan kekuatan lebih…
Ketika kami pulang ke rumah, saya melirik meja saya, dan di atasnya salinan Al-Quran Al-Karim, saya ingin meletakkannya di perpustakaan, tetapi secara otomatis saya membukanya untuk membaca di dalamnya, mata saya jatuh pada surah At-Takatsur, lalu saya mulai membacanya:::
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu * Sampai kamu masuk ke dalam kubur * Jangan begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu) * kemudian jangan begitu, kelak kamu akan mengetahui * Jangan begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin * niscaya kamu akan melihat neraka Jahim * Kemudian pasti kamu akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin * Kemudian pasti kamu akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)” (QS. At-Takatsur: 1-8)
Dalam sekejap lidah saya kelu tidak bisa berbicara. Dan buku itu bergetar di tangan saya, dan saya berikan kepada Elsa, Baca ini! Bukankah ini jawaban atas apa yang kita saksikan di kereta bawah tanah???
Ya ini jawabannya… ya ini jawaban yang pasti dan yang menghilangkan segala keraguan pada saya bahwa buku yang sekarang di tangan saya ini, adalah wahyu dari Allah Yang Maha Mengetahui jiwa-jiwa: maka sejak tiga belas abad diturunkan kepada seorang laki-laki yang tidak mengetahui lubuk hati manusia, dan tidak mengharapkan gambaran yang kita lihat hari ini di kereta bawah tanah, dan situasi rumit yang kita hidupi sekarang.
Di sepanjang masa, keserakahan selalu ada, tetapi tidak pernah sebelumnya dalam bentuk yang begitu mengerikan seperti ini… dulunya hanya sekedar keinginan untuk memiliki sesuatu… tetapi kini telah menjadi obsesi yang menutupi segala hal lainnya: nafsu yang tak terbendung, untuk bekerja dan merencanakan lebih dan lebih lagi, hari ini lebih dari kemarin, dan besok lebih dari hari ini… setan yang memelintir leher manusia dan membakar hati mereka dengan cambuk agar mereka melaksanakan tujuan yang berkilau di hadapan mereka, tetapi ketika mereka mencapainya, mereka tidak mendapatinya kecuali sesuatu yang hina, dan begitu jatuh ke tangan mereka, mereka segera menoleh kepada tujuan-tujuan baru lainnya yang berkilau, dengan godaan yang lebih besar, fatamorgana di padang pasir yang disangka orang yang haus sebagai air hingga ketika dia mendatanginya tidak mendapatinya sebagai sesuatu… kelaparan ini, dan kelaparan yang rakus akan selalu ada, mereka tidak akan pernah mencapai kenyang sama sekali:
Sekali-kali tidak! Sekiranya kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, (5) niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim, (6) dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan mata kepala sendiri, (7) kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu peroleh di dunia). (8) (QS. At-Takatsur/Bermegah-megahan: 5-8)
Sekarang saya menyadari bahwa ini bukanlah kebijaksanaan seorang lelaki di masa lalu yang sudah berlalu di Jazirah Arab. Betapapun bijaksananya, dia tidak akan dapat meramalkan neraka yang kita alami di abad kedua puluh. Al-Quran berbicara dengan suara yang lebih besar dari suara Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kegelapan telah sirna… dan inilah saya di halaman Masjid Nabawi, yang diterangi lampu-lampu gas yang tergantung di tiang-tiang serambi. Duduk Syaikh Abdullah bin Bulaihid dengan kepala tertunduk ke dadanya, dan kedua matanya terpejam. Siapa yang tidak mengenalnya akan mengira dia sedang tidur, tetapi saya mengenalnya, dan saya tahu bahwa dia mendengarkan dengan seluruh indera dan pengalamannya terhadap manusia, dan mencoba menimbang kata-kata saya dan menempatkannya pada tempatnya. Dan setelah waktu yang lama dia membuka matanya dan mengangkat kepalanya: “Lalu, apa yang kamu lakukan???”
“Jelas ya Syaikh, saya mencari seorang teman muslim saya, dia orang India, pemimpin kelompok muslim di Berlin, dan saya katakan kepadanya bahwa saya ingin memeluk Islam. Dia mengulurkan tangannya ke arah saya, lalu saya meletakkan tangan saya di tangannya dan mengucapkan dua kalimat syahadat: ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah’, dan setelah beberapa minggu istri saya menyatakan keislamannya dan melakukan apa yang saya lakukan.”
Muhammad Asad Dari buku “The Road to Mecca” (Jalan Menuju Mekah)… dari halaman 295 hingga 311
Dan inilah yang ditulis tentangnya oleh Hassan As-Sa’id dalam buku “Islam dan Barat: Wajah yang Lain”:
Pada musim panas tahun 1900 M, lahirlah “Leopold Weiss” di kota “Lwów” Polandia, yang pada waktu itu merupakan bagian dari Austria. Dia adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Tentang suasana masa kanak-kanak dan dampaknya, “Weiss” berkata: “Masa kanak-kanak yang bahagia dan memuaskan bahkan dalam kenangannya, kedua orang tua saya hidup dalam keadaan nyaman, dan mereka hidup untuk anak-anak mereka lebih dari hal lainnya. Mungkin ada hubungan atau pengaruh kelembutan dan ketenangan ibu saya dengan kemudahan yang saya miliki, di tahun-tahun berikutnya, untuk menyesuaikan diri dengan keadaan dan kondisi baru yang sangat buruk. Adapun kekesalan batin ayah saya, mungkin tercermin dalam keadaan saya hari ini.”
Meskipun ayahnya termasuk orang-orang yang menganggap agama sebagai takhayul kuno, yang seseorang bisa, pada beberapa kesempatan, mematuhinya secara lahiriah, tetapi merasa malu karenanya dalam hati… namun karena menghormati ayahnya (yang adalah seorang rabi) dan mertuanya, dia mendesak “Weiss” untuk menghabiskan berjam-jam mempelajari kitab-kitab suci. Demikianlah sebelum mencapai usia tiga belas tahun, dia sudah dapat membaca bahasa Ibrani dengan mudah dan berbicara dengannya dengan fasih; itu sesuai dengan tuntutan tradisi keluarga Yahudinya. Namun dia segera mengalami kekecewaan terhadap Yudaisme yang membawanya menolak semua agama yang terorganisir dan konstitusional, menurut ungkapannya.
Pada akhir tahun 1914 M, dan setelah Perang Dunia Pertama meletus, tampak baginya bahwa kesempatan besar untuk mewujudkan mimpi masa kanak-kanaknya sudah dekat. Dia saat itu berusia empat belas tahun, lalu melarikan diri dari sekolah dan bergabung dengan tentara Austria, setelah mengambil nama palsu, dan setelah seminggu atau lebih ayahnya berhasil melacak jejaknya melalui polisi, lalu membawanya kembali dengan pengawalan ke Wina, di mana keluarganya telah menetap beberapa waktu sebelumnya. Dan ketika dipanggil untuk wajib militer, setelah empat tahun, mimpinya tentang “kemuliaan militer” telah pupus, dan dia mencari jalan lain untuk mewujudkan dirinya.
Dia menghabiskan hampir dua tahun setelah perang berakhir, dan secara terputus-putus, untuk mempelajari sejarah seni dan filsafat di Universitas “Wina”… tetapi jalan akademis yang tenang tidak menariknya… lalu dia memutuskan untuk meninggalkan studi secara permanen, dan kemudian mencoba peruntungannya di jurnalistik. Dia memulai karir profesionalnya dengan berkeliling dunia Islam, sebagai koresponden pers. Dunia Islam saat itu sedang mengalami keruntuhan dan kekalahan, dan jika kontradiksi membangunkan jiwa dan menggerakkan akal, tidak diragukan bahwa “Weiss” dengan akalnya yang cemerlang telah memperhatikan kontradiksi yang terjadi saat itu antara hari-hari terdekat kejayaan negara Islam, dan perluasannya ke timur dan barat hingga menguasai sebagian dari tanah air Austria-nya, dan antara kondisinya setelah Perang Dunia Pertama…
Demikianlah sementara sahabat kita terpesona oleh kekuatan yang terkandung dalam Islam, pada saat yang sama dia merasakan belas kasihan dan simpati kepada umat yang telah menjadi bingung mencari jalan keselamatan dan akhir dari cobaan… semua itu berubah menjadi perhatian yang menyeluruh pada diri “Weiss” terhadap kondisi umat Islam hingga dia menemukan dirinya, pada akhirnya, menghadapi satu-satunya pilihan, yaitu memeluk Islam, dan menghabiskan sisa hidupnya dalam bidang intelektual melayani Islam dan menasihati umat hingga wafatnya pada Februari 1992 M.
Bagaimana dan Mengapa Dia Memeluk Islam?
Tentang bagaimana dia memeluk Islam, dan mengapa dia memeluknya… “Muhammad Asad” menceritakan kepada kita dengan berkata: “Pada tahun 1922 M saya meninggalkan Austria, tanah air saya untuk berkeliling Afrika dan Asia sebagai koresponden untuk beberapa surat kabar utama Eropa. Dan sejak saat itu saya menghabiskan hampir seluruh waktu saya di Timur Islam… dan minat saya pada orang-orang yang saya temui pada awalnya adalah minat seorang asing. Saya melihat sistem sosial dan pandangan hidup yang berbeda secara fundamental dengan keadaan di Eropa. Dan sejak awal muncul dalam diri saya kecenderungan untuk memahami kehidupan yang lebih tenang atau jika Anda mau lebih manusiawi, jika kehidupan itu dibandingkan dengan cara hidup mekanis yang tergesa-gesa di Eropa, kemudian kecenderungan ini membawa saya untuk melihat alasan-alasan perbedaan ini.
Demikianlah saya menjadi sangat tertarik pada ajaran-ajaran agama Islam. Namun kecenderungan ini pada waktu yang kita bicarakan, tidak cukup untuk menarik saya ke dalam kandang Islam, tetapi cukup untuk menunjukkan kepada saya pandangan baru tentang kemungkinan mengatur kehidupan manusia dengan konflik internal seminimal mungkin dan persaudaraan sejati semaksimal mungkin.
… Penemuan ini mendorong saya, tetapi yang membingungkan saya adalah jarak yang jelas antara masa lalu dan masa kini, karena itu saya mencoba mendekati masalah yang tampak di hadapan saya dari sisi yang lebih relevan, saya membayangkan diri saya sebagai salah satu dari mereka yang dipeluk oleh Islam. Namun itu adalah eksperimen mental murni, tetapi dalam waktu singkat mengungkap solusi yang benar kepada saya… dan semakin saya memahami ajaran-ajaran Islam dari sisi subjektif dan kebesaran sisi ilmiahnya, semakin saya ingin bertanya tentang apa yang mendorong umat Islam untuk meninggalkan penerapannya secara penuh dalam kehidupan nyata. Saya telah membahas masalah ini dengan banyak pemikir Muslim di semua negara dari Tripoli Barat hingga dataran tinggi Pamir (di India), dari Bosphorus hingga Laut Arab, hingga hal itu menjadi hampir seperti duri di hati saya yang pada akhirnya menguasai seluruh aspek minat saya terhadap dunia Islam dari segi budaya. Kemudian keinginan saya dalam hal itu semakin menguat, hingga saya dan saya non-Muslim mulai berbicara kepada umat Islam sendiri dengan prihatin atas Islam karena kelalaian dan keengganan umat Islam. Perkembangan ini tidak jelas dalam diri saya, hingga suatu hari dan itu pada musim gugur tahun 1925 M dan saya saat itu di pegunungan Afghanistan, seorang gubernur administratif muda menyambut saya dengan berkata: “Tetapi kamu muslim, hanya saja kamu tidak mengetahui hal itu dari dirimu sendiri”. Kata-kata ini mempengaruhi saya, tetapi saya tetap diam. Tetapi ketika saya kembali ke Eropa lagi pada tahun 1926 M, saya menemukan bahwa satu-satunya kesimpulan logis dari kecenderungan saya ini adalah memeluk Islam”. Dan ketika dia memeluk Islam, dia mengambil nama “Muhammad Asad”.
Sejak saat itu pertanyaan ini diajukan kepadanya berulang kali: Mengapa kamu memeluk Islam? Dan apa yang menarikmu darinya khususnya? Maka jawabannya datang: “Di sini saya harus mengaku bahwa saya tidak tahu jawaban yang memuaskan. Yang menarik saya bukanlah ajaran khusus dari ajaran-ajaran tersebut, tetapi bangunan keseluruhan yang menakjubkan dan tersusun rapi yang tidak dapat kami berikan penjelasan untuknya dari ajaran-ajaran moral tersebut ditambah dengan kurikulum kehidupan praktis. Dan saya tidak dapat mengatakan hari ini aspek mana yang lebih memikat saya daripada yang lain, karena Islam tampak bagi saya sebagai bangunan yang sempurna, dan semua bagiannya telah dibentuk agar saling melengkapi dan saling menguatkan satu sama lain. Tidak ada yang tidak diperlukan di sana, dan tidak ada kekurangan dalam hal apapun, sehingga dihasilkan harmoni yang seimbang dan solid. Dan mungkin perasaan ini bahwa semua yang ada dalam Islam dari ajaran dan kewajiban “telah ditempatkan pada tempatnya” adalah yang memiliki pengaruh paling kuat dalam diri saya, dan mungkin ada juga pengaruh lain yang sulit bagi saya sekarang untuk menganalisisnya…”
Dan sejak saat itu dia berusaha untuk mempelajari dari Islam semua yang dia mampu: dia mempelajari Al-Quran Al-Karim dan hadis Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia mempelajari bahasa Islam, dan sejarah Islam dan banyak dari apa yang ditulis tentangnya atau ditulis sebagai bantahan terhadapnya. Dan dia menghabiskan lebih dari lima tahun di Hijaz, dan Najd dan sebagian besar itu di Madinah untuk menenangkan hatinya dengan sesuatu dari lingkungan asli agama yang dipanggil oleh Nabi Arab untuk berdakwah kepadanya di sana. Dan karena Hijaz adalah tempat pertemuan umat Islam dari seluruh penjuru, dia dapat membandingkan lebih dari satu pandangan agama dan sosial yang berlaku di dunia Islam.
Setelah bertahun-tahun terputus untuk mempelajari Islam, dia menjadi salah satu tokoh Islam di era modern. Dan setelah berdirinya Pakistan dia bekerja sebagai direktur departemen “Menghidupkan Sistem-sistem Islam” di Punjab Barat, kemudian menjadi perwakilan bergantian Pakistan di PBB, dan pada tahun 1953 M dia mengundurkan diri dari jabatannya, untuk fokus pada penulisan dan pengarangan. Dan dari tahun 1964 hingga tahun 1980 dia telah menyelesaikan “proyek seumur hidup” yaitu menerjemahkan makna Al-Quran, dengan gaya kontemporer yang dengannya dia menyapa akal Eropa secara langsung dengan bahasa yang mereka pahami.
Dia mendirikan dengan bantuan “William Pickthall” (yang juga masuk Islam) majalah “Kebudayaan Islam” di Hyderabad Deccan (1927), dan menulis di dalamnya studi-studi melimpah dalam mengoreksi kesalahan-kesalahan orientalis tentang Islam. Dia juga menerjemahkan Sahih Bukhari (1935), dan mengarang “Ushul Fiqh Islam”, dan “Jalan Menuju Mekah”, dan “Islam di Persimpangan Jalan”, dan “Kurikulum Islam dalam Pemerintahan”, dan “Syariat Kita Ini”, dan “Kembalinya Hati ke Tanah Airnya” (memoar)…
Dengan perlunya mengingatkan bahwa “Muhammad Asad” tidak kembali ke Eropa sejak dia meninggalkannya setelah memeluk Islam pada pertengahan tahun dua puluhan… karena dia adalah pencinta Islam saja.
Sumber: Islam dan Barat, Wajah yang Lain -Hassan As-Sa’id
Dan inilah yang ditulis Dr. Abdul Mu’ti Ad-Dalati tentangnya dalam buku “Saya Meraih Muhammad dan Tidak Kehilangan Al-Masih”:
Orang Austria yang berasal dari keturunan Yahudi, masuk Islam dan menyusun dua bukunya yang terkenal (Islam di Persimpangan Jalan) dan (Jalan Menuju Mekah) dan keislamannya datang sebagai jawaban tegas atas keputusasaan dan kesesatan, dan pengumuman yang meyakinkan tentang kemampuan Islam untuk menarik orang-orang yang kebingungan yang sungguh-sungguh mencari jiwa dan nasib mereka.
Kisahnya dengan Islam:
Dalam sebuah dialog dengan beberapa umat Islam, (Leopold Weiss) membela Islam, dan membebankan kepada umat Islam tanggung jawab keterbelakangan mereka dari kesaksian peradaban, karena mereka gagal dalam menerapkan Islam. Lalu salah seorang muslim yang baik mengejutkannya dengan komentar ini: (Jadi kamu muslim… tetapi kamu tidak tahu). Kata-kata ini mengguncang kedalamannya, dan menempatkannya berhadapan dengan dirinya yang dia hindari, dan terus mengejarnya setelah itu hingga takdir membuktikan kebenaran si penutur yang baik ketika (Muhammad Asad) mengucapkan dua kalimat syahadat.
Peristiwa ini mengajarkan kita untuk tidak meremehkan kebaikan dan potensi manusia manapun! Karena kita tidak tahu siapa manusia yang akan ditakdirkan untuk berbicara kepada kita, dan siapa di antara kita yang tidak pernah mengalami perubahan arah dalam hidupnya karena sebuah kata atau sikap atau pertemuan?! Siapa di antara kita yang dapat melawan dalam dirinya keberanian untuk menerima dari orang-orang yang mulia?!
Muhammad Asad berkata:
- Pada suatu hari saya pergi bersama seorang teman ke Masjid Umayyah, dalam barisan-barisan panjang yang lurus berdiri ratusan laki-laki di belakang imam, mereka rukuk dan sujud sehingga menyentuh tanah dengan dahi mereka kemudian bangkit lagi, dalam kesatuan yang teratur seperti tentara yang sama rata.
- Pada saat itu saya menyadari betapa dekatnya orang-orang ini dengan Tuhan mereka, sesungguhnya shalat mereka tidak terpisah dari hari kerja mereka! Saya berkata kepada teman saya: (Betapa dekat dan menakjubkan bahwa kalian merasakan Allah begitu dekat dengan kalian sampai sejauh ini! Ah, seandainya saya bisa merasakan perasaan ini pada diri saya)
- Betapa indahnya menjadi tamu orang Arab! Menjadi tamu orang Arab berarti menembus ke inti kehidupan.
- Di Damaskus betapa sering saya melihat pembeli berdiri di depan toko yang pemiliknya tidak ada, lalu pedagang tetangga maju –pesaing!– dan menjual kepada pembeli dari barang dagangan tetangganya bukan barang dagangannya sendiri! Dan meninggalkan harganya untuknya. Di mana di Eropa seseorang bisa menyaksikan transaksi seperti ini?!
- Dalam Islam tidak hanya diperbolehkan bagimu tetapi juga wajib bagimu untuk mengambil manfaat dari hidupmu hingga batas maksimal pemanfaatan.
- Islam memberikan perhatian yang sama terhadap dunia dan akhirat, dan terhadap jiwa dan tubuh, dan terhadap individu dan masyarakat, dan membimbing kita untuk memanfaatkan sebaik-baiknya apa yang ada dalam diri kita dari kesiapan. Sesungguhnya ini bukan salah satu jalan, tetapi satu-satunya jalan, dan sesungguhnya orang yang datang dengan ajaran-ajaran ini bukan salah satu pembimbing, tetapi dia adalah (Pembimbing).
- Islam datang kepadaku menyelinap seperti cahaya ke dalam hati yang gelap, namun untuk tetap tinggal di dalamnya selamanya. Yang menarikku kepada Islam adalah bangunan besar yang terpadu dan harmonis itu yang tidak dapat digambarkan, dan aku tidak tahu sampai sekarang aspek mana dari Islam yang lebih memikatku dibanding yang lainnya.
- Di antara semua agama, kita melihat hanya Islam yang menyatakan bahwa kesempurnaan individu dimungkinkan dalam kehidupan dunia dan tidak menunda kesempurnaan ini hingga setelah mematikan nafsu-nafsu jasmani. Di antara semua agama, kita menemukan hanya Islam yang memungkinkan manusia menikmati hidupnya sampai batas maksimal tanpa kehilangan arah spiritualnya sedikitpun…
- (Muhammad Asad) menggambarkan perjalanannya bersama jamaah haji dari Arafat: “Di sini kita berjalan tergesa-gesa, menyerahkan diri pada kebahagiaan tanpa batas dan angin bertiup di telingaku dengan teriakan kegembiraan: kamu tidak akan lagi menjadi asing, tidak akan lagi… Saudara-saudaraku di kanan dan saudara-saudaraku di kiri, tidak ada di antara mereka yang kukenal dan tidak ada yang asing di antara mereka, karena kita dalam arus yang menyertai adalah satu tubuh yang berjalan menuju satu tujuan dan di hati kita ada bara api yang menyala di hati para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam… Saudara-saudaraku tahu bahwa mereka telah lalai, namun mereka masih berpegang pada janji, mereka akan menepati janji.”
- (Labbaika Allahumma labbaik) Aku tidak lagi mendengar apa-apa selain suara labbaik di pikiranku dan gemuruh darah serta derasnya di telingaku.
- Aku menghadapkan wajah kepada Allah dengan hati yang berdzikir, dan gaung labbaik mendidih di pendengaranku.
- Sesungguhnya Ka’bah melambangkan keesaan dan kesatuan, sedangkan tawaf mengelilinginya melambangkan usaha kehidupan manusia…
- Aku maju melakukan tawaf, aku menjadi bagian dari aliran melingkar!… Aku telah menjadi bagian dari gerakan dalam orbit!… Dan menit-menit berlalu… dan waktu itu sendiri menjadi tenang, dan tempat ini adalah poros dunia…
- Sesungguhnya Islam menegaskan dalam pernyataannya bahwa manusia dapat mencapai kesempurnaan dalam kehidupan dunianya sendiri, yaitu dengan memanfaatkan sepenuhnya kemungkinan-kemungkinan duniawi dalam hidupnya.
- Yang menarikku kepada Islam bukanlah ajaran khusus, melainkan bangunan keseluruhan yang menakjubkan itu. Islam adalah bangunan yang sempurna pembuatannya dan semua bagiannya telah disusun agar satu sama lain saling menyempurnakan… Dan Islam dari segi spiritual dan sosialnya, meski menghadapi segala rintangan yang ditinggalkan oleh kemunduran kaum muslimin, masih tetap menjadi kekuatan penyemangat terbesar yang dikenal umat manusia. Karena itu terkumpullah semua keinginanku seputar masalah kebangkitannya kembali.
- Islam bukanlah filsafat, melainkan metode hidup menurut hukum-hukum yang ditetapkan Allah untuk makhluk-Nya, dan karya tertingginya tidak lain adalah penyelarasan sempurna antara aspek spiritual dan material dalam kehidupan manusia.
- Kesalahan mendasar dalam pemikiran Eropa modern adalah ketika menganggap peningkatan pengetahuan material dan kemewahan sebagai sinonim dengan kemajuan spiritual dan moral manusia.
- Sesungguhnya Islam tidak pernah menjadi penghalang bagi kemajuan dan ilmu pengetahuan. Islam menghargai upaya intelektual manusia sampai tingkat yang mengangkatnya di atas malaikat.
Inilah yang ditulis Syaikh Shalih bin Abdul Rahman Al-Hushain di situs Islam Hari Ini dengan judul “Jalan Spiritual ke Mekah”:
Anak laki-laki (Leopold Weiss) atas desakan ayahnya rajin mempelajari teks-teks agama berjam-jam setiap hari. Begitulah ia mendapati dirinya pada usia tiga belas tahun dapat membaca dan berbicara bahasa Ibrani dengan fasih. Ia mempelajari Taurat dalam teks-teks aslinya dan menjadi ahli dalam Talmud dan tafsirnya, kemudian mendalami studi tafsir Taurat yang kompleks yang disebut (Targum), mempelajarinya seolah-olah mempersiapkan diri untuk jabatan keagamaan. Pencapaiannya yang mengagumkan diharapkan dapat mewujudkan impian kakeknya, seorang rabi ortodoks Austria, agar cucu laki-lakinya dapat melanjutkan silsilah para rabi dari leluhurnya. Namun impian ini tidak terwujud. Meskipun ia cemerlang dalam studi agama, atau mungkin justru karena hal itu, tumbuh dalam dirinya perasaan negatif terhadap banyak aspek kepercayaan Yahudi. Akalnya menolak apa yang tampak bahwa Tuhan dalam teks-teks Taurat dan Talmud terlalu sibuk dengan nasib suatu bangsa tertentu, yaitu orang Yahudi tentunya. Teks-teks tersebut menampilkan Tuhan bukan sebagai pencipta dan pemelihara seluruh makhluk-Nya dari manusia, melainkan sebagai tuhan suku yang menundukkan semua makhluk untuk melayani umat pilihan.
Kekecewaan terhadap agama Yahudi pada saat itu tidak membawanya untuk mencari kepercayaan spiritual lainnya. Di bawah pengaruh lingkungan agnostik tempat ia tinggal, ia mendapati dirinya terdorong seperti banyak sebayanya untuk menolak realitas agama dan semua institusinya. Yang ia cita-citakan tidak jauh berbeda dengan yang dicita-citakan generasi lainnya, yaitu mengarungi petualangan-petualangan yang menarik.
Pada masa itu dari umur (Leopold Weiss), Perang Dunia Pertama meletus (1914-1918). Setelah berakhirnya perang – selama dua tahun – ia belajar tanpa sistem sejarah seni dan filsafat di (Universitas Vienna). Namun yang membuatnya bersemangat untuk dicapai adalah aspek-aspek kehidupan yang disenangi jiwanya. Ia bersemangat untuk mencapai cita-cita spiritual sejati yang ia yakini ada, namun belum ia capai! Dekade-dekade awal abad kedua puluh ditandai oleh kekosongan spiritual generasi-generasi Eropa. Semua nilai moral menjadi runtuh di bawah tekanan dampak mengerikan dari tahun-tahun yang dihabiskan Perang Dunia Pertama, sementara tidak ada spiritualitas baru yang tampak di cakrawala manapun. Perasaan tidak aman menyebar di kalangan semua orang. Perasaan batin akan bencana sosial dan intelektual membuat semua orang ragu akan kesinambungan pemikiran manusia dan semua upaya serta tujuan mereka. Kegelisahan spiritual di kalangan pemuda tidak menemukan tempat berlabuh bagi langkah mereka yang ragu-ragu. Dengan tidak adanya standar moral yang pasti, tidak mungkin bagi siapapun memberikan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan-pertanyaan banyak yang meresahkan dan membingungkan seluruh generasi muda.
Ilmu psikoanalisis (yang merupakan bagian dari studi pemuda Leopold Weiss) pada saat itu membentuk revolusi intelektual besar. Ia benar-benar merasakan bahwa ilmu tersebut membuka pintu-pintu pengenalan manusia terhadap dirinya sendiri. Penemuan motif-motif tersembunyi dalam alam bawah sadar telah membuka pintu lebar yang memungkinkan pemahaman diri yang lebih luas. Betapa banyak malam yang ia habiskan di kafe-kafe (Vienna) mendengarkan diskusi panas dan menarik antara para pelopor psikoanalisis awal seperti (Alfred Adler) dan (Herman Stekel).
Namun kebingungan, kegelisahan, dan kekacauan menyelimutinya kembali karena kesombongan ilmu baru dan keangkuhannya serta upayanya untuk memecahkan teka-teki diri manusia dengan mengubahnya menjadi rangkaian reaksi saraf.
Kegelisahannya tumbuh dan meningkat, membuat penyelesaian studi universitasnya tampak mustahil. Ia memutuskan untuk meninggalkan studi dan mencoba diri dalam jurnalistik. Jalan pertama kesuksesan dalam percobaan ini adalah penunjukkannya sebagai editor di kantor berita (United Telegram). Berkat penguasaannya terhadap beberapa bahasa, tidak sulit baginya untuk menjadi wakil pemimpin redaksi bagian berita pers Skandinavia dalam waktu singkat, meski usianya belum mencapai dua puluh dua tahun. Terbuka baginya jalan di Berlin ke dunia yang lebih luas (Cafe des Westens) dan (Romanisches), tempat berkumpulnya penulis dan pemikir terkemuka serta wartawan dan seniman terkenal. Mereka mewakili baginya (rumah intelektual) dan menjalin hubungan persahabatan dengannya yang penuh dengan kesetaraan.
Pada saat itu ia bahagia dengan apa yang lebih dari sekadar kesuksesan dalam kehidupan kerjanya, namun ia tidak merasa puas dan terpenuhi, dan tidak tahu persis apa yang ia cari dan apa yang ia dambakan untuk diwujudkan.
Ia seperti banyak pemuda seangkatannya – meski tak seorangpun dari mereka yang tidak bahagia, namun sedikit dari mereka yang bahagia dengan kesadaran dan pemahaman.
(1)
Seandainya seseorang mengatakan kepadanya saat itu: bahwa pengenalan langsung pertamanya dengan Islam akan menjadi titik balik besar dalam hidupnya, ia akan menganggap perkataan itu sebagai lelucon. Tentu saja bukan karena ia kebal terhadap godaan Timur yang menghubungkan pikiran orang Eropa dengan romantisme Seribu Satu Malam, namun ia jauh dari mengharapkan bahwa perjalanan itu akan mengarah pada petualangan spiritual apapun. Semua yang berkecamuk dalam pikirannya tentang perjalanan itu ia tangani dengan visi Barat. Taruhannya hanya terbatas pada pencapaian yang lebih mendalam dalam perasaan dan pemahaman melalui lingkungan budaya satu-satunya tempat ia dibesarkan, yaitu lingkungan Eropa. Ia tidak lebih dari seorang pemuda Eropa yang tumbuh dengan keyakinan bahwa Islam dan semua simbolnya hanyalah upaya memutar balikkan sejarah manusia, upaya yang bahkan tidak mendapat penghormatan dari segi spiritual dan moral, sehingga tidak layak disebut, apalagi disetarakan dengan dua agama yang menurut Barat layak mendapat perhatian dan penelitian (Yahudi dan Kristen). Pemikirannya diselimuti oleh pikiran kabur yang gelap dan bias Barat terhadap segala yang Islami, atau sebagaimana ia ungkapkan tentang dirinya: “Seandainya aku berlaku adil terhadap diriku, aku akan mengakui bahwa aku juga tenggelam sampai telinga dalam visi subjektif Eropa dan mentalitas angkuh yang menjadi ciri Barat sepanjang sejarahnya”.
Namun setelah empat tahun, ia mengucapkan syahadat “Laa ilaaha illallahu Muhammadur rasulullah” dan menyebut dirinya dengan nama (Muhammad Asad).
Meskipun hidupnya penuh dengan petualangan, kejutan, dan kebetulan, keislamannya bukanlah akibat dari hal-hal tersebut, melainkan hasil dari bertahun-tahun berkelana di dunia Islam, bergaul dengan penduduknya, mendalami budayanya, dan membaca secara luas khazanahnya setelah menguasai bahasa Arab dan Persia. Pada tahun-tahun awal masa mudanya, setelah mengalami kekecewaan dan frustrasi terhadap kepercayaan Yahudi yang dianutnya, pemikirannya beralih ke Kristen setelah mendapati bahwa konsep Kristen tentang Tuhan berbeda dari konsep Taurat karena tidak membatasi perhatian Tuhan pada kelompok tertentu dari manusia yang melihat dirinya sebagai satu-satunya umat pilihan Allah. Meskipun demikian, ada aspek dari pemikiran Kristen yang mengurangi kemungkinan penerapannya secara umum dan kesesuaiannya untuk seluruh umat manusia, yaitu pembedaan antara ruh dan badan, antara dunia ruh dan dunia urusan duniawi. Karena penjauhan Kristen awal dari semua upaya yang bertujuan menegaskan pentingnya tujuan-tujuan duniawi, selama berabad-abad ia berhenti menjadi pendorong moral bagi peradaban Barat. Mengakarnya sikap historis kuno gereja dalam membedakan antara apa yang untuk Tuhan dan apa yang untuk Kaisar mengakibatkan aspek sosial dan ekonomi mengalami kekosongan agama. Hal ini berakibat tidak adanya moral dalam praktik-praktik politik dan ekonomi Barat dengan negara-negara lain di dunia, dan ini merupakan kegagalan untuk mencapai apa yang dituju oleh risalah Kristus atau agama lainnya.
Tujuan hakiki agama apapun adalah mengajarkan manusia bagaimana memahami dan merasakan, bahkan bagaimana hidup dengan benar dan mengatur hubungan timbal balik dengan cara yang sehat dan adil. Perasaan orang Barat bahwa agama telah mengecewakannya membuatnya kehilangan iman sejati terhadap Kristen selama berabad-abad. Dengan kehilangan imannya, ia kehilangan keyakinan bahwa alam semesta dan eksistensi adalah ekspresi dari satu kekuatan pencipta. Dengan hilangnya keyakinan tersebut, ia hidup dalam kekosongan spiritual dan moral. Keyakinannya di masa muda awal bahwa manusia tidak hidup hanya dengan roti telah mengkristal menjadi keyakinan intelektual bahwa pemujaan terhadap kemajuan material hanyalah pengganti ilusi bagi iman sebelumnya pada nilai-nilai abstrak, dan bahwa iman palsu pada materi membuat orang Barat percaya bahwa mereka akan mengatasi kesulitan yang saat ini mereka hadapi. Semua sistem ekonomi yang lahir dari jubah materialisme adalah pengobatan palsu dan menipu serta tidak cocok untuk mengobati penderitaan spiritual Barat. Kemajuan material dalam keadaan terbaik dapat menyembuhkan beberapa gejala penyakit, namun mustahil untuk mengobati penyebab penyakit.
Hubungan pertamanya dengan gagasan Islam terjadi ketika ia menghabiskan hari-hari perjalanan pertamanya di Yerusalem saat melihat sekelompok orang melakukan sholat berjamaah. Ia berkata: “Aku bingung ketika menyaksikan sholat yang mencakup gerakan-gerakan mekanis. Aku bertanya kepada imam, ‘Apakah engkau benar-benar percaya bahwa Allah menunggu darimu untuk menunjukkan iman dengan mengulangi rukuk dan sujud? Bukankah lebih baik engkau melihat ke dalam dirimu dan berdoa kepada Tuhanmu dengan hati sambil diam?’ Ia menjawab: ‘Dengan cara lain apa menurutmu kita bisa menyembah Allah? Bukankah Dia menciptakan ruh dan jasad bersama-sama? Dan karena Dia menciptakan kita sebagai jasad dan ruh, bukankah kita harus sholat dengan jasad dan ruh?’ Kemudian ia menjelaskan makna dari gerakan-gerakan sholat. Aku yakin bertahun-tahun setelahnya bahwa penjelasan sederhana itu telah membukakan pintu pertama Islam bagiku.”
Berbulan-bulan setelah peristiwa ini, ia memasuki Masjid Umawi di Damaskus dan melihat orang-orang sholat. Ia menggambarkan pemandangan ini: “Ratusan orang sholat berbaris dalam barisan panjang yang teratur di belakang imam. Mereka rukuk dan sujud semua dalam kesatuan seperti tentara. Tempat itu diliputi keheningan, seseorang dapat mendengar suara imam dari kedalaman masjid jami’ melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an. Ketika ia rukuk atau sujud, semua jamaah mengikutinya seperti satu orang. Aku menyadari pada saat itu betapa dekatnya Allah dengan mereka dan dekatnya mereka dengan-Nya. Tampak bagiku bahwa sholat mereka tidak terpisah dari kehidupan sehari-hari mereka, melainkan bagian darinya. Sholat mereka tidak membantu mereka melupakan kehidupan, tetapi memperdalam lagi dengan mengingat Allah. Aku berkata kepada teman dan tuan rumahku saat kami keluar dari masjid: ‘Betapa aneh dan agungnya itu! Kalian merasakan bahwa Allah dekat dengan kalian. Aku berharap perasaan itu juga memenuhi diriku.’ Temanku menjawab: ‘Apa yang bisa kami rasakan selain itu, sedangkan Allah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (Surat Qaaf ayat 16).'”
Ia berkata setelah itu: “Bulan-bulan pertama yang aku jalani di negeri Arab meninggalkan rangkaian panjang refleksi dan kesan. Aku telah berhadapan dengan makna kehidupan secara langsung dan itu benar-benar baru bagi hidupku. Nafas-nafas manusiawi yang hangat mengalir dari aliran darah orang-orang itu ke pikiran mereka tanpa robekan spiritual yang menyakitkan dari ketidaktenangan, ketakutan, keserakahan, dan frustrasi yang menjadikan kehidupan Eropa buruk dan jelek yang tidak menjanjikan apa-apa.”
“Aku merasakan perlunya memahami jiwa bangsa-bangsa Muslim itu karena aku menemukan pada mereka kohesi organik antara pikiran dan indera, kohesi yang telah kita orang Eropa hilangkan. Aku percaya bahwa melalui pemahaman yang lebih dekat dan lebih baik tentang kehidupan mereka, aku dapat menemukan mata rantai yang hilang yang menyebabkan penderitaan orang Barat dan memakan keutuhan internal kepribadian Eropa. Aku telah menemukan hakikat sesuatu yang membuat kami orang Barat menjauh dari kebebasan sejati dengan syarat-syarat objektifnya yang dinikmati orang Muslim bahkan di masa kehancuran sosial dan politik mereka.”
“Apa yang kurasakan pada awalnya tidak lebih dari sekadar rasa simpati terhadap bentuk kehidupan Arab dan rasa aman batin yang kurasakan di antara mereka, berubah dengan cara yang tidak kumengerti menjadi sesuatu yang menyerupai persoalan pribadi. Kesadaranku bertambah terhadap hasrat yang menggebu untuk mengetahui hakikat sesuatu yang terletak pada dasar-dasar keamanan batin dan psikis, dan yang membuat kehidupan orang Arab berbeda sepenuhnya dari kehidupan orang Eropa. Hasrat itu terkait secara samar dengan masalah-masalah pribadiku yang terpendam. Aku mulai mencari pintu masuk yang memungkinkanku memahami dengan lebih baik kepribadian Arab dan pemikiran-pemikiran yang membentuk dan mencetak mereka serta membuat mereka berbeda secara rohani dari orang Eropa. Aku mulai banyak membaca dengan konsentrasi tentang sejarah, budaya, dan agama mereka. Dalam ketertarikanku yang mendalam, aku merasa telah menemukan apa yang menggerakkan hati mereka, menyibukkan pikiran mereka, dan menentukan arah mereka. Aku juga merasakan perlunya menemukan kekuatan-kekuatan tersembunyi yang menggerakkan diriku sendiri, membentuk motivasiku, menyibukkan pikiranku, dan berjanji akan menunjukkan jalan kepadaku” [132].
“Aku menghabiskan seluruh waktuku di Damaskus membaca buku-buku yang berkaitan dengan Islam. Bahasa Arabku cukup memadai untuk berdialog, tetapi terlalu lemah untuk memungkinkanku membaca Al-Qur’an. Karena itu aku menggunakan terjemahan makna Al-Qur’an. Adapun selain Al-Qur’an, aku mengandalkan karya-karya orientalis Eropa. Meskipun pengetahuanku masih sedikit, namun itu seperti membuka tirai. Aku mulai mengenal dunia pemikiran yang selama ini tidak kuketahui dan tidak kupahami sampai saat itu. Islam tidak tampak bagiku sebagai agama dalam pengertian yang umum dipahami orang tentang kata ‘agama’, tetapi tampak bagiku sebagai cara hidup. Bukan sistem teologis melainkan perilaku individu dan masyarakat yang bertumpu pada kesadaran akan keberadaan Tuhan Yang Esa. Aku tidak menemukan dalam ayat manapun dari ayat-ayat Al-Qur’an adanya isyarat tentang kebutuhan manusia akan keselamatan rohani, dan tidak ada penyebutan dosa asal yang diwariskan yang menghalangi antara seseorang dengan takdir yang telah Allah tetapkan baginya. Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya (An-Najm: 39), dan tidak ada kebutuhan untuk bertapa dan berzuhud untuk membuka pintu-pintu tersembunyi guna mewujudkan keselamatan. Keselamatan adalah hak yang dijamin bagi manusia sejak lahir, dan dosa tidak berarti kecuali menjauhnya manusia dari fitrah yang diciptakan Allah atas mereka. Aku tidak menemukan jejak apapun tentang dualisme dalam sifat dasar manusia, karena jasad dan ruh bekerja dalam pandangan Islam sebagai satu kesatuan yang tidak terpisah satu sama lain.
Yang mengejutkanku pada awalnya adalah perhatian Al-Qur’an bukan hanya pada aspek-aspek rohani saja, tetapi juga pada aspek-aspek lain yang tidak penting dari urusan duniawi. Namun seiring berjalannya waktu, aku mulai menyadari bahwa manusia adalah kesatuan yang utuh dari jasad dan ruh, dan Islam telah menegaskan hal itu. Tidak ada satu aspek kehidupan pun yang bisa kita anggap terpinggirkan, bahkan semua aspek kehiduan manusia menjadi inti perhatian agama. Al-Qur’an tidak membiarkan kaum Muslim melupakan bahwa kehidupan dunia hanyalah tahapan dalam perjalanan manusia menuju wujud yang lebih tinggi dan kekal, dan bahwa tujuan akhir memiliki sifat rohani. Islam memandang bahwa kemakmuran material tidak berbahaya kecuali ia bukan tujuan pada dirinya sendiri. Karena itu, nafsu dan syahwat manusia harus diatur dan dikontrol dengan kesadaran moral dari individu. Kesadaran ini tidak hanya diarahkan kepada Allah, tetapi juga diarahkan kepada sesama manusia, bukan hanya demi kesempurnaan agama semata, melainkan demi menciptakan keadaan sosial yang mengarah pada perkembangan kesadaran seluruh masyarakat sehingga dapat menjalani kehidupan yang sempurna. Aku memandang semua aspek pemikiran dan moral itu dengan penghargaan dan pengagungan. Pendekatannya dalam menangani masalah-masalah ruh jauh lebih mendalam daripada yang kutemukan dalam Taurat. Selain itu, ia tidak datang untuk manusia tertentu tanpa yang lain, atau untuk bangsa tertentu tanpa yang lain. Pendekatannya dalam masalah jasad, berbeda dengan pendekatan Injil, adalah pendekatan positif yang tidak mengabaikan jasad. Jasad dan ruh bersama-sama membentuk manusia sebagai kembar yang tak terpisahkan. Aku bertanya: tidakkah mungkin pendekatan itulah yang menjadi sebab tersembunyi di balik rasa aman dan keseimbangan pemikiran serta psikis yang membedakan orang Arab dan Muslim?” [166-168].
(2) Setelah meninggalkan Suriah, ia tinggal beberapa bulan di Turki dalam perjalanan kembali ke Eropa untuk mengakhiri perjalanan pertamanya ke dunia Islam.
“Kesan-kesanku tentang Turki mulai kehilangan vitalitasnya ketika aku di kereta menuju Wina, dan yang tetap tertanam adalah delapan belas bulan yang kuhabiskan di negeri-negeri Arab. Aku terkejut menyadari bahwa aku memandang pemandangan Eropa yang biasa kulihat dengan mata orang yang asing darinya. Orang-orang tampak sangat jelek di mataku dan gerakan mereka tidak memiliki kelembutan, dan tidak ada hubungan langsung antara gerakan mereka dengan apa yang mereka pikirkan dan rasakan. Aku tiba-tiba menyadari bahwa meskipun ada tanda-tanda yang menunjukkan mereka tahu apa yang mereka inginkan, tetapi mereka tidak tahu bahwa mereka hidup dalam dunia kepura-puraan dan berpura-pura. Menjadi jelas bagiku bahwa kehidupanku di antara orang Arab telah mengubah pendekatan dan pandanganku terhadap apa yang dulu kuanggap penting dan perlu bagi kehidupan. Aku teringat dengan agak heran bahwa orang-orang Eropa lain pernah mengalami pengalaman hidup dengan orang Arab dan hidup bersama mereka dalam waktu lama, mengapa mereka tidak merasakan kagum akan penemuan seperti yang kualami, ataukah itu juga terjadi pada mereka? Apakah ada di antara mereka yang terguncang dari kedalaman seperti yang terjadi padaku?” [178-179]. “Aku berhenti beberapa minggu di Wina dan merayakan rekonsiliasku dengan ayahku yang memaafkan aku karena meninggalkan studi universitasku dan meninggalkan rumah keluarga dengan cara yang kasar itu. Bagaimanapun juga, aku adalah koresponden untuk koran (Frankfurter Zeitung) dan itu adalah nama yang mendapat penghargaan dan penghormatan di Eropa Tengah pada waktu itu. Dengan demikian aku telah mencapai kredibilitas di matanya atas apa yang pernah kukatakan kepadanya sebelumnya bahwa aku akan mencapai apa yang kucita-citakan dan mencapai puncak” [179].
“Setelah itu aku berangkat langsung dari Wina ke Frankfurt untuk memperkenalkan diri secara pribadi kepada surat kabar yang kuwakilkan di luar negeri selama setahun. Aku dalam perjalanan ke sana dengan penuh kepercayaan diri karena surat-surat yang kuterima dari Frankfurt menunjukkan bahwa artikel-artikelku mendapat semua penghargaan dan sambutan baik” [180].
“Menjadi anggota yang aktif dalam surat kabar seperti itu adalah sumber kebanggaan dan kehormatan bagi seorang pemuda seusiaku. Meskipun artikel-artikelku tentang Timur Tengah disambut dengan minat yang besar oleh semua editor, namun kemenangan lengkapku tercapai pada hari ketika aku ditugaskan menulis artikel editorial di surat kabar tentang masalah Timur Tengah” [182].
“Salah satu hasil kerjaku di koran (Frankfurter Zeitung) adalah kematangan dini pemikiran sadarku, dan darinya juga dihasilkan visi mental yang lebih jelas dari sebelumnya. Aku mulai memadukan pengalamanku dengan Timur dengan dunia Barat yang telah menjadi bagianku lagi. Beberapa bulan yang lalu aku menemukan hubungan antara ketenangan psikis dan emosional yang ada dalam jiwa orang Arab dengan akidah Islam yang mereka imani. Juga mulai terbentuk dalam pikiranku bahwa kurangnya integrasi psikis internal orang Eropa dan keadaan kekacauan tidak bermoral yang menguasai mereka mungkin diakibatkan oleh tidak adanya iman agama yang peradaban Barat terbentuk dalam ketidakhadirannya. Masyarakat Barat tidak mengingkari Tuhan tetapi tidak meninggalkan tempat bagi-Nya dalam sistem pemikiran mereka” [182].
Setelah kembali ke Eropa dari perjalanannya, ia merasa bosan seperti perasaan orang yang dipaksa berhenti sebelum sampai pada penemuan besar yang akan menyingkap tabir dari dirinya jika diberi lebih banyak waktu. Ia merindukan kembali ke Timur sekali lagi, dan apa yang diinginkannya tercapai ketika pemimpin redaksi surat kabar, Dr. Henri Simon – yang pada waktu itu terkenal di seluruh dunia – melihat dirinya sebagai koresponden surat kabar yang menjanjikan dan dengan antusias menyetujui kembalinya ke Timur Tengah dengan cepat.
(3) Ia kembali ke Timur untuk menghabiskan dua tahun lagi di antara Mesir, Syam, Irak, Iran, dan Afghanistan. Ia kembali dari Eropa dengan gambaran dalam pikirannya tentang dunia Barat yang semakin menguat dan mantap dalam benaknya seiring hari. Ia mengungkapkan gambaran ini sebagai berikut: “Kemudian bahwa manusia Barat telah menyerahkan dirinya untuk menyembah Dajjal. Ia telah kehilangan kepolosannya sejak lama, dan kehilangan semua kohesi internal dengan alam. Kehidupan telah menjadi teka-teki dalam pandangannya. Ia penuh curiga dan ragu, karena itu terputus dari saudaranya, menyendiri. Agar tidak binasa dalam kesendirian ini, ia harus menguasai kehidupan dengan cara-cara eksternal. Fakta bahwa ia masih hidup saja tidak lagi mampu membuatnya merasa aman secara internal, karena itu ia harus selalu berjuang dengan menderita demi keamanan ini dari saat ke saat. Karena ia telah kehilangan segala tuntunan agama dan memutuskan untuk hidup tanpanya, ia harus terus-menerus menciptakan sekutu-sekutu mekanis untuk dirinya. Dari sinilah tumbuh kecenderungan yang gila terhadap teknologi dan penguasaan hukum-hukum serta sarananya. Ia menciptakan mesin-mesin baru setiap hari dan memberikan sebagian rohnya kepada setiap mesin agar berjuang demi keberadaannya. Dan mesin-mesin itu benar-benar melakukan itu, tetapi pada saat yang sama menciptakan kebutuhan-kebutuhan baru baginya, ketakutan-ketakutan baru, dan kehausan yang tak terpuaskan akan sekutu-sekutu baru yang lebih artifisial. Rohnya hilang dalam kebisingan mesin yang mencekik yang semakin hari semakin kuat dan aneh. Mesin kehilangan tujuan aslinya – yaitu menjaga dan memperkaya kehidupan manusia – dan berkembang menjadi berhala tersendiri, berhala baja. Tampaknya para pendeta kuil ini dan para penginjilnya tidak menyadari bahwa kecepatan kemajuan teknologi modern bukan hanya hasil dari pertumbuhan pengetahuan positif, tetapi juga dari keputusasaan spiritual. Dan bahwa kemenangan-kemenangan material besar yang diklaim manusia Barat membuatnya layak menguasai alam pada hakikatnya bersifat defensif; di balik fasad yang berkilau itu tersembunyi ketakutan akan yang gaib. Peradaban Barat belum mampu hingga kini menciptakan keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan sosial manusia dengan kerinduan spiritualnya. Ia telah meninggalkan ajaran agama-agama sebelumnya tanpa mampu mengeluarkan dari dirinya sistem moral lain apapun – betapapun teoretisnya – yang tunduk pada akal. Meskipun dengan semua kemajuan budaya yang dicapainya, ia belum mampu hingga kini mengatasi kecenderungan bodoh manusia untuk menjadi mangsa teriakan permusuhan atau seruan perang apapun, betapa pun konyol dan batilnya, yang diciptakan para pemimpin yang pandai… Bangsa-bangsa Barat telah mencapai tingkat di mana kemungkinan-kemungkinan ilmiah yang tak terbatas beriringan dengan kekacauan praktis. Dan jika orang Barat kekurangan bimbingan agama yang bijak, ia tidak dapat memanfaatkan secara moral cahaya pengetahuan yang dicurahkan ilmu-ilmunya yang tak diragukan lagi besar. Orang-orang Barat – dalam kebutaan dan kesombongan – yakin dengan keyakinan bahwa peradaban mereka yang akan menerangi dunia dan mewujudkan kebahagiaan, dan bahwa semua masalah manusia dapat dipecahkan di pabrik-pabrik dan laboratorium serta di meja para analis ekonomi dan statistik. Mereka benar-benar menyembah Dajjal” [373].
Dalam perjalanan kedua ini ia dapat menguasai bahasa Arab, karena itu alih-alih melihat Islam dengan mata orientalis dan penerjemah Al-Qur’an non-Muslim lainnya, ia dapat melihat Islam dalam warisan budayanya sebagaimana adanya. Ia tidak lagi pada keyakinan sebelumnya tentang kemustahilan orang Eropa memahami dengan sadar mentalitas Islam. Ia yakin bahwa jika seseorang benar-benar membebaskan diri dari kebiasaan-kebiasaan yang dibesarkannya dan metode-metode pemikirannya serta menerima konsep bahwa itu tidak harus merupakan cara-cara yang benar dalam kehidupan, maka dapat dipahami apa yang tampak asing dalam pandangan tentang Islam. Gagasannya tentang Islam terus berkembang dan tumbuh sepanjang perjalanan kedua ini di mana ia dapat bergaul dengan bangsa-bangsa dan berdiskusi dengan para ulama, bertemu dengan para pemimpin. “Memikirkan Islam menyibukkan pikiranku. Hal itu tampak bagiku saat itu sebagai perjalanan untuk menjelajahi apa yang tidak kuketahui dari daerah-daerah itu. Setiap hari yang berlalu menambahkan pengetahuan baru padaku, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan baru untuk kucari jawabannya yang datang dari luar semuanya membangunkan sesuatu yang sedang tertidur di kedalaman diriku. Semakin bertambah pengetahuanku tentang Islam, aku semakin merasa bahwa kebenaran-kebenaran mendasar yang tersembunyi di kedalamanku tanpa aku sadari keberadaannya mulai terungkap secara bertahap dan terkonfirmasi kesesuaiannya dengan Islam” [255].
Keyakinan tumbuh dalam dirinya bahwa ia mendekati jawaban akhir atas pertanyaan-pertanyaannya. Dengan memahami kehidupan kaum Muslim, ia setiap hari semakin mendekati pemahaman yang lebih baik tentang Islam; dan Islam selalu menguasai pikirannya. “Tidak ada di seluruh dunia yang membangkitkan dalam diriku ketenangan seperti yang kurasakan dan yang telah tidak ada lagi di Barat dan sekarang terancam hilang dan lenyap dari Timur, ketenangan dan kepuasan yang mengungkapkan keserasian yang ajaib antara diri manusia dan dunia yang mengelilinginya” [238].
Dengan semangat toleransi terhadap yang lain ini, ia dapat dengan mudah membebaskan diri dari penipuan orang Barat dan kesalahpahaman mereka tentang Islam karena apa yang mereka lihat berupa kemunduran dan kemerosotan dalam dunia Islam.
“Pandangan-pandangan yang beredar di Barat tentang Islam [dapat dirangkum] sebagai berikut: (kemunduran kaum Muslim diakibatkan oleh Islam, dan bahwa hanya dengan membebaskan diri mereka dari akidah Islam dan mengadopsi konsep-konsep Barat serta cara hidup dan pemikiran mereka, hal itu akan lebih baik bagi mereka dan dunia). Namun apa yang kutemukan dari konsep-konsep dan apa yang berhasil kupahami dari prinsip-prinsip dan nilai-nilai Islam meyakinkanku bahwa apa yang didengungkan Barat tidak lain adalah konsep yang menyimpang tentang Islam… Menjadi jelas bagiku bahwa kemunduran kaum Muslim bukan diakibatkan oleh Islam, tetapi karena kegagalan mereka untuk hidup sebagaimana Islam perintahkan kepada mereka… Islam-lah yang membawa kaum Muslim awal ke puncak-puncak pemikiran dan budaya yang tinggi” [243-244]. “Islam secara singkat menyediakan dorongan kuat menuju kemajuan pengetahuan, budaya, dan peradaban yang menciptakan salah satu halaman terindah dalam sejarah manusia. Dan ia menyediakan dorongan itu dengan sikap-sikap positif ketika menetapkan dengan jelas: ‘Ya untuk akal dan tidak untuk kegelapan kebodohan, ya untuk kerja dan usaha dan tidak untuk pensiun dan kemunduran, ya untuk kehidupan dan tidak untuk zuhd dan monastik.’ Karena itu tidak mengherankan bahwa Islam memperoleh pengikut dalam lonjakan yang luar biasa begitu melampaui batas negeri Arab, karena bangsa-bangsa yang tumbuh dalam pelukan Kristen Santo Paulus dan Santo Agustinus… menemukan agama yang tidak mengakui akidah dan konsep dosa asal… dan menegaskan martabat kehidupan manusia, karena itu mereka masuk dalam agama Allah secara berbondong-bondong. Semua itu menjelaskan bagaimana kemenangan Islam dan penyebarannya yang luas dan cepat pada awal-awal sejarahnya dan membantah tuduhan mereka yang menyebarkan bahwa ia tersebar dengan pedang” [246].
Kecerdasan tajamnya, tajamnya pandangan, dan ketertarikannya pada warisan pemikiran kaum Muslim, memperdalam pengetahuannya tentang Islam sehingga ia melihatnya dalam hakikatnya. “Gambaran akhir yang utuh tentang Islam sedang terbentuk dalam pikiranku. Yang mengherankanku di waktu-waktu banyak adalah ia terbentuk dalam diriku seperti penyerapan akal dan pemikiran, yaitu terjadi tanpa kesadaran dan kehendak dariku. Pemikiran-pemikiran berkumpul dan pikiranku menyatukannya satu sama lain dalam proses pengorganisasian dan sistematisasi semua serpihan informasi yang kutahu tentang Islam. Aku melihat dalam pikiranku bangunan yang utuh yang ciri-cirinya semakin jelas perlahan-lahan dengan semua unsur kesempurnaan yang dikandungnya, dan keserasian bagian-bagian dan komponen-komponen dengan keseluruhan yang utuh dalam keseimbangan yang tidak ada bagian yang mengganggu yang lain, keseimbangan yang hemat tanpa cacat. Seseorang merasakan bahwa perspektif Islam dan premis-premisnya semuanya di tempat yang tepat dan benar dari keberadaan” [381].
Ciri paling menonjol dari peradaban Islam, yang membedakannya dari peradaban-peradaban manusia sebelum atau sesudahnya, adalah bahwa peradaban ini lahir dari kehendak bebas rakyatnya. Tidak seperti peradaban-peradaban sebelumnya yang lahir dari paksaan, tekanan, pemaksaan, dan pertarungan kehendak serta konflik kepentingan, tetapi peradaban Islam merupakan bagian dan keseluruhan dari keinginan yang tulus dan asli dari seluruh umat Islam yang bersumber dari iman mereka kepada Allah dan apa yang mendorong mereka untuk menggunakan akal dan bekerja. Ini adalah kontrak sosial yang asli, bukan sekadar kata-kata kosong yang digunakan generasi berikutnya untuk mempertahankan hak-hak istimewa mereka…
Saya menyadari bahwa kontrak sosial tunggal yang tercatat dalam sejarah ini hanya terwujud dalam periode waktu yang sangat singkat, atau lebih tepatnya bahwa dalam periode waktu yang singkat kontrak ini terwujud dalam skala yang luas. Namun kurang dari seratus tahun setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, bentuk Islam yang murni dan asli mulai dimasuki kerusakan, dan pada abad-abad berikutnya, metodologi yang benar mulai tersisihkan ke belakang.
Para pemikir Islam berusaha menjaga kemurnian akidah; namun mereka yang datang setelahnya memiliki kemampuan yang lebih rendah dari pendahulu mereka, dan mereka lalai dalam berijtihad… mereka berhenti dari pemikiran kreatif dan ijtihad yang produktif…
Kekuatan pendorong pertama Islam sudah cukup untuk menempatkannya di puncak yang mulia dalam kemajuan peradaban dan intelektual. Inilah yang mendorong para sejarawan untuk menggambarkan periode tersebut sebagai Zaman Keemasan Islam. Namun kekuatan pendorong itu telah mati karena kekurangan nutrisi spiritual yang mendorongnya, dan peradaban Islam mengalami stagnasi dari masa ke masa karena kehilangan kekuatan kreatif yang inovatif.
Saya tidak memiliki ilusi tentang keadaan kontemporer dunia Islam. Empat tahun yang saya habiskan di masyarakat-masyarakat Islam menunjukkan bahwa Islam masih hidup dan bahwa umat Islam masih berpegang teguh padanya dengan penerimaan yang diam atas metodologi dan ajarannya; namun umat Islam lumpuh, tidak mampu mengubah iman mereka menjadi tindakan yang produktif.
Namun yang lebih menyibukkan pikiran saya daripada kegagalan umat Islam kontemporer dalam merealisasikan metodologi Islam adalah potensi-potensi yang terkandung dalam metodologi itu sendiri. Cukup bagi saya untuk mengetahui bahwa dalam periode waktu yang singkat… ada upaya yang berhasil untuk menerapkan metodologi ini, dan apa yang bisa dicapai pada suatu waktu; bisa dicapai lagi di kemudian hari.
Yang penting bagi saya – seperti yang saya pikirkan dalam hati – adalah bahwa umat Islam telah menyimpang dari instruksi-instruksi asli agama… Apa yang terjadi dan membuat mereka menjauh dari idealisme yang diajarkan Rasulullah ﷺ kepada mereka tiga belas abad yang lalu, padahal instruksi-instruksi itu masih tersedia bagi mereka jika mereka mau mendengarkan pesan mulia yang dikandungnya?
Tampak bagi saya semakin saya memikirkannya bahwa kita di zaman sekarang ini lebih membutuhkan ajaran pesan itu daripada mereka yang hidup di zaman Muhammad ﷺ. Mereka hidup dalam lingkungan dan kondisi yang jauh lebih sederhana dari apa yang kita alami sekarang, oleh karena itu masalah mereka jauh lebih sedikit dari masalah kita…
Dunia yang saya hidupi – semuanya – sedang mengalami kekacauan karena tidak adanya visi umum tentang apa yang baik dan apa yang buruk… Saya merasakan keyakinan penuh… bahwa masyarakat kontemporer kita membutuhkan fondasi intelektual dan akidah yang menyediakan bentuk kontrak di antara individu-individunya, dan bahwa ia membutuhkan iman yang membuatnya menyadari kekosongan kemajuan material demi kemajuan itu sendiri, dan pada saat yang sama memberikan kehidupan porsinya.
Hal itu akan menunjukkan dan membimbing kita tentang bagaimana mencapai keseimbangan antara kebutuhan spiritual dan fisik kita, dan itu akan menyelamatkan kita dari bencana pasti yang kita tuju dengan kecepatan maksimal…
Pada periode hidup saya itu, masalah Islam menyibukkan pikiran saya seperti tidak ada hal lain yang pernah menyibukkan pikiran saya sebelumnya. Saya telah melampaui tahap ketertarikan intelektual dan minat rasional pada agama dan budaya yang asing, minat saya telah berubah menjadi pencarian yang membara akan kebenaran.
Membedakan Islam Asli dari yang Tidak Asli
Dalam perjalanan pertamanya, ia melihat sebuah halaqah dzikir yang diselenggarakan kaum sufi di salah satu masjid “Skutari” di Turki dan menggambarkannya dengan kata-kata berikut:
“Mereka berdiri dalam satu lingkaran lalu berputar setengah putaran agar masing-masing menghadap yang lain berpasangan. Mereka melipat tangan di dada dan membungkuk dalam-dalam sambil memutar tubuh mereka setengah lingkaran… Pada saat berikutnya [mereka] melemparkan lengan mereka ke arah yang berlawanan, telapak tangan kanan terangkat dan telapak tangan kiri turun ke samping, dan dari tenggorokan mereka dengan setiap setengah bungkukan dan putaran keluar suara seperti nyanyian berbisik ‘Hu’ kemudian mereka menundukkan kepala ke belakang sambil memejamkan mata dan wajah mereka diliputi kedutan yang lembut, lalu irama gerakan meningkat dan semakin cepat dan jubah-jubah terangkat membentuk lingkaran yang melebar di sekitar setiap darwisy seperti pusaran laut… Lingkaran berubah menjadi pusaran, mereka dikuasai kekhusyukan, dan bibir mereka terus mengucapkan tanpa henti (Hu, Hu).”
Dalam perjalanan kedua ia mengingat halaqah dzikir ini dan berkomentar:
“Makna-makna yang tidak tampak bagi saya ketika saya menyaksikan halaqah dzikir [di Skutari] menjadi jelas dalam pikiran saya. Ritual keagamaan kelompok itu – dan itu adalah salah satu dari banyak kelompok yang saya saksikan di berbagai negara Islam – tidak sesuai dengan gambaran Islam yang sedang terbentuk dalam pikiran saya…
Ternyata praktik dan ritual tersebut adalah sesuatu yang asing bagi Islam dari sumber-sumber non-Islam. Kontemplasi dan pemikiran para sufi telah tercampur dengan ide-ide spiritual India dan Kristen, yang memberikan pada sebagian tasawuf itu konsep-konsep yang asing terhadap pesan yang dibawa Nabi ﷺ.
Pesan Nabi ﷺ menegaskan bahwa kausalitas rasional adalah jalan menuju iman yang benar, sementara kontemplasi sufi dan [perilaku] yang diakibatkannya menjauh dari kandungan itu. Islam sebelum segala hal adalah konsep rasional, bukan emosional atau afektif. Emosi sekuat apa pun rentan terhadap perbedaan dan variasi sesuai dengan perbedaan keinginan individu dan perbedaan ketakutan mereka, berbeda dengan kausalitas rasional. Juga emosionalitas sama sekali tidak terjaga.”
Ia menulis bertahun-tahun kemudian:
“(Islam tampak bagi saya seperti formasi geometris yang kokoh strukturnya) semua bagiannya telah dibentuk agar saling melengkapi dan saling mendukung, tidak ada yang berlebihan dan tidak ada yang kurang, dan hasil dari semua itu adalah keseimbangan mutlak dan struktur yang kokoh. Mungkin perasaan saya bahwa semua ajaran Islam telah ditempatkan pada posisi yang tepat adalah yang memberikan pengaruh terbesar pada saya.
Saya berusaha keras untuk mempelajari tentang Islam sebanyak yang saya bisa pelajari. Saya mempelajari Alquran dan hadis-hadis Nabi, saya mempelajari bahasa Islam dan sejarahnya serta banyak dari yang ditulis tentang Islam, dan yang ditulis menentangnya. Saya tinggal sekitar enam tahun di Najd dan Hijaz, sebagian besar di Mekah dan Madinah dengan tujuan untuk terhubung langsung dengan lingkungan asli Islam.
Dan karena kedua kota itu adalah tempat berkumpulnya umat Islam dari berbagai penjuru, saya berhasil mengetahui berbagai pandangan keagamaan dan sosial yang saat ini berlaku di dunia Islam. Dan semua studi dan perbandingan ini menciptakan keyakinan yang kuat dalam diri saya bahwa Islam sebagai fenomena spiritual dan sosial masih merupakan kekuatan pendorong terkuat yang pernah dikenal manusia meskipun semua manifestasi kemunduran yang ditinggalkan oleh menjauhnya umat Islam dari Islam.”
Perjalanan Menuju Islam
Selama dua tahun yang ia habiskan dalam perjalanan keduanya di dunia Islam, secara mental dan dengan pengetahuannya ia maju dengan cepat di jalan menuju Islam. Ia menyadari hal itu ketika sedang berlari dengan kudanya di atas gunung-gunung Iran yang tertutup salju putih:
“Seluruh dunia tampak terbentang di hadapanku dalam keluasan yang tak berujung, tampak transparan di mataku seperti yang tidak pernah tampak sebelumnya. Aku melihat pola dalamnya yang tersembunyi, dan merasakan denyut nadinya yang dalam di daerah-daerah putih yang kosong itu, dan aku heran mengapa hal itu tersembunyi dariku sejak semenit yang lalu. Dan aku yakin bahwa semua pertanyaan yang tampaknya tidak memiliki jawaban ada di hadapan kita menunggu untuk kita sadari, sementara kita – orang-orang bodoh yang malang – mengajukan pertanyaan dan menunggu rahasia-rahasia Ilahi membuka diri untuk kita padahal rahasia-rahasia itu menunggu kita membuka diri kita untuk mereka.
Lebih dari setahun berlalu antara pelarian gilaku dengan kuda di atas es dan dingin sebelum aku memeluk Islam, tetapi bahkan pada waktu itu sebelum keislamanku, aku berlari – tanpa menyadarinya – dalam garis lurus seperti lintasan anak panah yang menuju ke arah Mekah al-Mukarramah.”
Momen Penentu
Dalam sebuah percakapan yang mengubah hidup di sebuah desa Afghanistan:
“Saya dalam perjalanan dari kota Herat ke kota Kabul… kami menuju ke desa Deh Zangi. Keesokan harinya kami duduk mengelilingi makan siang yang berlimpah seperti biasa [di rumah penguasa]. Setelah makan siang, seorang pria dari desa menghibur kami…
Dia menyanyikan, seingat saya, tentang pertempuran Dawud dan Jalut, tentang iman ketika menghadapi kekuatan yang zalim… Penguasa berkomentar di akhir lagu: ‘Dawud itu kecil tetapi imannya besar.’ Maka saya tidak bisa menahan diri dan berkata dengan tergesa-gesa: ‘Dan kalian banyak tetapi iman kalian sedikit.’
Tuan rumahku menatapku heran; maka aku malu dengan apa yang kukatakan tanpa bisa menahan diri, dan dengan cepat mulai menjelaskan apa yang kukatakan. Penjelasanku mengambil bentuk pertanyaan-pertanyaan berturut-turut seperti aliran deras.
Aku berkata: ‘Bagaimana bisa kalian wahai umat Islam kehilangan kepercayaan diri yang memungkinkan kalian menyebarkan akidah kalian dalam waktu kurang dari seratus tahun hingga Samudra Atlantik… dan hingga pedalaman Cina, dan sekarang kalian menyerah dengan mudah dan lemah kepada pemikiran dan kebiasaan Barat? Mengapa kalian tidak mengumpulkan kekuatan dan keberanian kalian untuk merebut kembali iman kalian yang sesungguhnya? Bagaimana Ataturk, si penyamar picik yang mengingkari setiap nilai Islam itu, bisa menjadi simbol bagi kalian dalam kebangkitan, kemajuan, dan reformasi?’
Tuan rumahku tetap diam… Salju telah mulai turun di luar, dan aku merasakan lagi gelombang kesedihan yang bercampur dengan kebahagiaan batin yang kurasakan saat kami mendekati Deh Zangi. Aku merasakan keagungan yang pernah dimiliki umat itu, dan aib yang menyelimuti pewaris-pewaris kontemporer mereka.
Aku melanjutkan pertanyaanku: ‘Katakan padaku bagaimana ulama-ulama kalian menguburkan iman yang dibawa nabi kalian dalam kesucian dan kemurniannya? Bagaimana bisa bangsawan-bangsawan kalian dan pemilik tanah besar kalian tenggelam dalam kenikmatan sementara sebagian besar umat Islam tenggelam dalam kemiskinan… padahal nabi kalian mengajarkan kalian bahwa tidak beriman salah seorang di antara kalian jika dia kenyang sedangkan tetangganya kelaparan?
Dapatkah kamu menjelaskan padaku bagaimana kalian mendorong perempuan ke pinggiran kehidupan padahal perempuan dalam kehidupan Rasulullah ﷺ dan para sahabat berkontribusi dalam urusan kehidupan suami-suami mereka?’
Tuan rumahku masih menatapku tanpa sepatah kata, dan aku mulai percaya bahwa ledakanku mungkin menyebabkannya tidak nyaman. Akhirnya penguasa itu menarik jubah kuningnya yang lebar dan mengetatkannya di tubuhnya… lalu berbisik: ‘Tetapi kamu muslim.’
Aku tertawa dan menjawab: ‘Tidak, aku bukan muslim tetapi aku melihat sisi-sisi agung dalam pesan Islam yang membuatku merasa marah ketika melihat kalian menyia-nyiakannya. Maafkan aku jika aku berbicara kasar, aku bukanlah musuh bagaimanapun juga.’
Namun tuan rumahku menggelengkan kepala: ‘Tidak, kamu seperti yang kukatakan padamu adalah muslim hanya saja kamu tidak mengetahuinya. Mengapa kamu tidak menyatakan sekarang di sini: Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan menjadi muslim secara nyata alih-alih menjadi muslim di hati saja?’
Aku berkata: ‘Jika aku akan mengatakannya kapan saja, aku akan mengatakannya ketika pikiranku menetap padanya dan merasa tenang dengannya.’
Penguasa itu terus mendesak: ‘Tetapi kamu tahu tentang Islam lebih dari yang diketahui siapa pun dari kami. Apa yang belum kamu ketahui atau pahami?’
Aku berkata kepadanya: ‘Masalahnya bukan soal pemahaman tetapi agar aku yakin, agar aku yakin bahwa Alquran adalah kalam Allah, dan bukan ciptaan cerdas dari mentalitas manusia yang agung.’
Dan kata-kata teman Afghanku itu tidak hilang dari pikiranku selama berbulan-bulan.”
Momen Keputusan
Setelah berbulan-bulan dari kejadian ini, ia mengucapkan syahadat di hadapan ketua Perhimpunan Muslim di Berlin. Ia telah kembali ke Eropa dari perjalanan keduanya yang memakan waktu dua tahun berkeliling dunia Islam. Ia mengetahui bahwa namanya telah menjadi salah satu nama yang dikenal… dan bahwa ia telah menjadi salah satu koresponden surat kabar paling terkenal di Eropa Tengah.
Beberapa artikelnya mendapat pengakuan yang melampaui kepentingannya, dan ia menerima undangan untuk memberikan serangkaian kuliah di Akademi Geografi Politik di Berlin. Dikatakan bahwa tidak pernah terjadi seorang pria seusianya (dua puluh enam tahun) mencapai keunggulan seperti itu. Artikel-artikel lainnya diterbitkan ulang di banyak surat kabar hingga salah satu artikel itu dimuat di tiga puluh publikasi berbeda.
Tetapi setelah kembali dan berhubungan kembali dengan teman-teman pemikiran dan budaya di Berlin, dan mendiskusikan dengan mereka masalah Islam, ia merasa bahwa ia dan mereka tidak lagi berbicara dari titik tolak pemikiran yang sama.
Ia merasakan bahwa mereka yang melihat bahwa agama-agama kuno telah menjadi sesuatu dari masa lalu dan mereka adalah mayoritas, dan mereka yang tidak menolak agama secara total, semuanya cenderung tanpa alasan untuk mengadopsi konsep Barat yang umum yang melihat bahwa Islam peduli dengan urusan keagamaan dan kurang spiritualitas yang diharapkan seseorang temukan dalam agama apa pun.
“Yang benar-benar mengherankan saya adalah menemukan bahwa aspek Islam itulah yang menarik saya kepadanya sejak momen pertama, yaitu tidak memisahkan antara eksistensi material dan eksistensi spiritual manusia, dan penegasan kausalitas rasional sebagai jalan menuju iman. Dan aspek yang sama itulah yang ditentang oleh para pemikir Eropa yang mengadopsi kausalitas rasional sebagai metodologi hidup, dan mereka tidak meninggalkan metodologi rasional itu kecuali ketika Islam disebutkan.
Saya tidak menemukan perbedaan apa pun antara minoritas yang tertarik pada agama dan mayoritas yang melihat bahwa agama telah menjadi konsep usang yang dimakan zaman. Seiring waktu saya menyadari titik kesalahan dalam metodologi masing-masing. Saya menyadari bahwa konsep mereka yang dibesarkan dalam pangkuan pemikiran Kristen di Eropa… telah mengadopsi konsep yang berlaku di antara mereka semua.
Dengan lamanya Eropa terbiasa dengan pola pemikiran Kristen, bahkan orang-orang tidak beragama pun belajar memandang agama lain melalui kacamata Kristen, sehingga mereka melihat pemikiran keagamaan apa pun layak menjadi agama jika diselimuti nuansa misterius yang supernatural yang tampak samar dan di atas kemampuan akal manusia untuk memahaminya. Dari perspektif mereka, Islam tidak memenuhi persyaratan tersebut…
Saya yakin bahwa saya sedang dalam perjalanan menuju Islam dan keragu-raguan momen terakhir membuat saya menunda langkah akhir yang tak terelakkan. Gagasan memeluk Islam mewakili penyeberangan jembatan di atas jurang yang memisahkan dua dunia yang sama sekali berbeda, jembatan yang panjang sehingga seseorang harus mencapai titik tidak kembali terlebih dahulu sebelum bisa melihat ujung lain jembatan.
Saya sadar bahwa jika saya memeluk Islam, saya harus melepaskan diri sepenuhnya dari dunia tempat saya dilahirkan dan dibesarkan. Tidak ada solusi lain, karena tidak mungkin bagi seseorang seperti saya mengikuti panggilan Muhammad ﷺ dan setelahnya tetap mempertahankan ikatan dengan masyarakat yang dicirikan oleh dualitas konsep yang bertentangan dan kontradiktif.
Pertanyaan terakhir saya yang masih saya ragukan adalah: Apakah Islam adalah pesan dari Allah ataukah hasil dari kebijaksanaan seorang manusia agung?”
Ia tidak menunggu lama sampai jawaban datang. Ia telah terhubung kembali langsung dengan kehidupan Barat, dan melihat sejauh mana kesengsaraan dan penderitaan yang dialami orang-orang Barat tetapi mereka tidak menyadarinya atau tidak menyadari penyebabnya. Ia berada di kereta dengan istrinya, dan menyibukkan diri dengan menatap wajah-wajah orang:
“Saya mulai menatap sekeliling ke wajah-wajah… semuanya adalah wajah-wajah yang termasuk kelas yang menikmati pakaian dan makanan yang baik tetapi mereka menunjukkan kesengsaraan batin yang dalam dan penderitaan yang jelas pada raut muka, kesengsaraan yang begitu dalam sehingga pemiliknya tidak menyadarinya… Saya yakin bahwa mereka tidak sadar, jika tidak mereka tidak akan terus membuang hidup mereka dengan cara itu tanpa kohesi internal dan tanpa tujuan yang lebih mulia daripada sekadar meningkatkan kehidupan mereka dan tanpa harapan yang lebih dari akuisisi materi yang mungkin bisa mencapai lebih banyak kontrol bagi mereka.”
Jawaban datang ketika ia membaca Alquran segera setelah kembali ke rumahnya – dan pengalaman yang dialaminya di kereta masih hidup dalam pemikirannya.
“Saya berdiri beberapa saat terpana sambil menahan napas, dan merasakan tangan saya bergetar, karena Alquran mengandung jawaban… jawaban yang menentukan yang menghancurkan semua keraguan saya dan menghempaskannya tanpa kembali. Saya yakin dengan keyakinan penuh bahwa Alquran… dari Allah.”
Perjalanan ke Mekah
Enam tahun setelah keislamannya, ia melintasi Gurun Besar dari “Qasr Uthaymin” di perbatasan Saudi-Irak menuju Mekah. Itu adalah perjalanan penuh kejutan dan petualangan di mana ia hampir mati.
Ia menulis bukunya “Jalan Menuju Mekah” (The Road to Mecca) di mana ia menceritakan detail-detail menggembirakan dari perjalanan ini, dan bersamanya menceritakan detail perjalanan lain – perjalanan jiwanya ke Mekah, perjalanannya menuju Islam.
Sumber: Islam At The Crossroads ED.1982-12
Semua informasi dan kutipan di atas diambil dari kisah yang menakjubkan ini.
Sumber: Al-Islam Al-Yaum
47. Profesor Universitas Dr. Rusia Alla Olinikova
Saya orang Rusia, lahir di kota Leningrad – pelabuhan Lenin – seorang komunis yang membunuh ribuan Muslim di republik-republik Muslim di bekas Uni Soviet.
Saya belajar dan melanjutkan pendidikan dalam keluarga miskin yang tidak memiliki bekal selain menangkap ikan yang menjadi pekerjaan ayah saya sejak dulu.
Saya belajar kedokteran di Moskow dan lulus, kemudian memperoleh gelar master dan doktor, setelah itu mengajar di universitas-universitas Moskow, Kiev, dan Leningrad.
Hidup saya dalam bayang-bayang komunisme sangat buruk, tidak sesuai dengan fitrah manusia untuk hidup dengan bebas, aman, dan sejahtera.
Di dalam batin saya memberontak terhadap keadaan ini, tapi saya tidak bisa berbicara seperti orang lain pada umumnya, kalau tidak nasibnya adalah dibunuh, diasingkan ke Siberia, dipenjara, atau disiksa.
Hidup kami adalah neraka yang berkobar, penuh kezaliman, perbudakan, dan penindasan, serta pemaksaan untuk menjalani hidup yang tidak sesuai dengan fitrah manusia, larangan beribadah, dan pemaksaan untuk kufur dan atheis.
Kami mengetahui tentang Islam lebih banyak daripada yang diketahui orang-orang Barat karena beberapa alasan, yang terpenting adalah kedekatan kami dengan masyarakat Muslim, dan karena Uni Soviet memiliki sekitar 60 juta Muslim, dan mereka bekerja bersama kami di berbagai pusat pemerintahan.
Saya mengenal Islam dari beberapa Muslim yang bekerja bersama kami, dan mengamatinya dalam perilaku mahasiswa yang datang dari negara-negara Islam seperti: Suriah, Kuwait, Libya, Yaman, dan Irak.
Saya lebih mengenal Islam melalui seorang mahasiswa Suriah dari Homs yang sedang belajar kedokteran di Universitas Kiev, dia tidak minum alkohol, tidak makan daging babi, tidak menjalin hubungan dengan wanita, dan akhlaknya sangat tinggi, dia jujur dan dapat dipercaya, tinggal di rumah sederhana yang dikatakannya: “Ini rumah saya sekaligus masjid saya.”
Mahasiswa Muslim ini menarik perhatian saya dengan akhlaknya dan perlakuannya yang sopan, untuk menegaskan bahwa inilah akhlak Islam, dan dia memberikan saya buku-buku tentang Islam yang saya baca dengan baik sehingga menambah pengetahuan saya tentangnya.
Pada tahun 1992 saya meninggalkan pekerjaan sementara dan bepergian ke Suriah di mana saya bergabung dengan Fakultas Dakwah, mempelajari Islam di sana, dan lulus pada tahun 1995 untuk menyatakan keislaman saya.
Islam adalah agama yang agung, dan sudah ada di negara kami sejak seribu tahun yang lalu, sementara komunisme tidak hidup lebih dari tujuh puluh tahun.
Saya melihat persaudaraan dan kasih sayang di antara Muslim serta saling memberi nasihat.
Islam semakin tampak jelas di bulan Ramadan dengan keteraturan, kesabaran, dan kasih sayang yang tidak dimiliki masyarakat non-Muslim sama sekali.
Islam memperhatikan dunia dan akhirat… dan ini sesuai dengan sifat dasar manusia.
Setelah mengenakan hijab, saya berusaha menghindari bercampur dengan laki-laki sebisa mungkin.
Saya sekarang sedang menyusun buku tentang Islam dalam bahasa Rusia, dan akan berusaha memperkenalkan kepada semua orang tentang agama yang agung ini, yang melaluinya saya melihat cahaya.
Seandainya masyarakat kami mengenal Islam dengan baik dan menerapkannya, hal itu akan menyelamatkan mereka dari kejahatan, korupsi, mafia, narkoba, prostitusi, dan pengangguran… karena Islam mengharamkan dan memerangi segala sesuatu yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
Islam adalah keselamatan bagi umat manusia, dan obat penyembuh dari penyakit-penyakit zaman, dan di dalamnya terdapat solusi untuk masalah-masalah masyarakat yang berbeda.
Komunisme telah jatuh ke tempat sampah sejarah meskipun segala propaganda yang mengelilinginya.
Islam yang coba dihapuskan oleh komunis tetap ada, bahkan perannya semakin besar dan wilayahnya semakin meluas hari ini di Rusia dan negara-negara lain, dan dalam hal ini terdapat pelajaran dan ibrah bagi siapa yang ingin mengambil pelajaran.
48. Syahidah Pemikir Spanyol Maria Alastra
Profesor universitas yang belajar kedokteran di tiga universitas. Lahir di Andalusia pada tahun 1949, memperoleh ijazah dalam filsafat dan psikologi dari Universitas Madrid, memeluk Islam pada tahun 1978, dan memimpin Pusat Dokumentasi dan Penerbitan di Dewan Islam, syahid di Granada pada tahun 1998 di tangan seorang pembenci Spanyol beberapa saat setelah menyelesaikan artikelnya “Muslimah dalam Desa Global”.
Di antara yang ditulisnya dalam artikel terakhir ini: “Sesungguhnya saya beriman kepada Allah Yang Maha Esa, dan beriman kepada Muhammad sebagai nabi dan rasul, dan pada ajarannya yang merupakan ajaran perdamaian dan kebaikan… dan dalam Islam manusia dilahirkan suci dan bebas tanpa dosa yang diwarisi untuk menerima posisi, takdir, dan perannya di dunia.”
“Sesungguhnya bangsa Arab, sebagian orang termasuk ke dalamnya, adapun bahasa Arab, kita semua termasuk ke dalamnya, dan menempati tempat khusus bagi kita, karena Al-Qur’an telah diturunkan dengan huruf-hurufnya, dan merupakan alat penyampaian yang digunakan Rasul Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
“Pendidikan hari ini lebih dari waktu lain mana pun, menjadi syarat yang diperlukan untuk tidak tenggelam dalam lautan media, karena pers kita dipenuhi dengan berita-berita mengerikan, karena warga yang ketakutan akan lebih mudah dipimpin, dan akan percaya dengan khusyuk pada apa yang didiktekan oleh para fanatik!”
– dari artikel “Muslimah dalam Desa Global”, terjemahan Salah Yahyawi, majalah Al-Faisal edisi 291 tahun 2000 – semoga Allah merahmatinyadan memasukkannya ke dalam hamba-hamba yang saleh.
Saburah Uribah (Maria Alastra)
49. Penulis Amerika Margaret Marcus
Orang Amerika keturunan Yahudi, menulis buku-buku di antaranya “Islam dalam Menghadapi Barat”, “Perjalanan Saya dari Kekufuran ke Keimanan”, “Islam dan Pembaharuan”, dan “Islam dalam Teori dan Praktek”.
Dia berkata: “Islam telah memberikan solusi untuk semua masalah dan pertanyaan saya yang bingung tentang kematian dan kehidupan, dan saya percaya bahwa Islam adalah satu-satunya jalan menuju kebenaran, dan merupakan obat paling manjur bagi jiwa manusia.”
“Sejak saya mulai membaca Al-Qur’an, saya tahu bahwa agama tidak hanya diperlukan untuk kehidupan, tetapi agama itu adalah kehidupan itu sendiri, dan semakin saya mendalami studinya, semakin yakin saya bahwa hanya Islam yang menjadikan bangsa Arab sebagai bangsa yang besar dan beradab yang telah memimpin dunia.”
“Bagaimana mungkin memasuki Al-Qur’an Al-Karim kecuali melalui Sunnah Nabi?! Siapa yang mengingkari Sunnah pasti akan mengingkari Al-Qur’an.”
“Wanita-wanita Muslim harus mengetahui nikmat Allah kepada mereka dengan agama ini yang hukum-hukumnya datang untuk menjaga kehormatan mereka, memelihara martabat mereka, menjaga kesucian dan kehidupan mereka dari pelanggaran dan dari kehancuran keluarga” – dari “Pengantar Ilmu-Ilmu dan Metodologi” karya Allamah Anwar al-Jundi, jilid 6 hal. 199.
Maryam Jamilah (Margaret Marcus)
50. Penulis Inggris Evelyn Cobbold
Penyair dan penulis, di antara bukunya “Pencarian Tuhan” dan “Akhlak”. Dia berkata: “Sulit bagi saya menentukan waktu ketika kebenaran Islam bersinar di hadapan saya sehingga saya menerimanya sebagai agama, dan saya cenderung berpikir bahwa saya Muslim sejak masa kecil pertama saya, karena Islam adalah agama fitrah yang diterima seseorang jika dibiarkan pada dirinya sendiri.”
“Ketika saya memasuki Masjid Nabawi, saya dilanda getaran yang hebat, dan saya melepas alas kaki saya, kemudian mengambil tempat yang jauh untuk diri saya sendiri di mana saya shalat Subuh, dan saya tenggelam dalam dunia yang lebih dekat dengan mimpi… Rahmat-Mu ya Allah, manusia apa yang telah Engkau utus untuk membangkitkan seluruh umat, dan mengirimkan melalui tangannya berbagai kebaikan kepada umat manusia!”
Dan saya berkata bergegas menemui Nabi Aku wangi, tetapi dengan harum Madinah Pandanganku kabur dan aku kembali menjadi diriku Dan melepaskan jiwa yang terkurung dalam tubuhku Sujud, terbang, melewati langit Dan meninggalkan tubuhku yang berat dan tanah liat Kota cintaku adalah kegembiraan hatiku Cahaya, kejernihan, kesucian, ketenangan (Diwan “Aku Mencintai-Mu Tuhanku” Dr. Abdul Mu’ti al-Dalati hal. 45)
“Kita tidak diciptakan sebagai pendosa, dan kita tidak membutuhkan keselamatan apa pun dari Masih alaihissalam, dan kita tidak membutuhkan siapa pun untuk menjadi perantara antara kita dengan Allah yang dapat kita hadapi kapan saja dan dalam keadaan apa pun.”
Sumber: dari buku “Saya Meraih Muhammad dan Tidak Kehilangan Masih” Dr. Abdul Mu’ti al-Dalati
Dari perkataannya dalam bukunya “Pencarian Tuhan”:
“… dan saya juga mengingat apa yang datang dalam Al-Qur’an tentang penciptaan alam dan bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan dari setiap jenis pasangan, dan bagaimana ilmu pengetahuan modern telah mendukung teori ini setelah penelitian panjang dan studi yang berlangsung selama beberapa generasi.” (Pencarian Tuhan, hal. 45)
“Sesungguhnya pengaruh Al-Qur’an dalam semua kemajuan [peradaban Islam] ini tidak dapat disangkal, karena Al-Qur’an lah yang mendorong bangsa Arab untuk menaklukkan dunia, dan memungkinkan mereka untuk membangun kekaisaran yang melampaui kekaisaran Aleksander Agung, dan Kekaisaran Romawi dalam hal luas, kekuatan, kemakmuran, dan peradaban…” (Pencarian Tuhan, hal. 51)
“Kenyataannya adalah bahwa kalimat-kalimat Al-Qur’an, dan keindahan gaya bahasanya adalah hal yang tidak dapat digambarkan atau didefinisikan oleh pena, dan sudah pasti bahwa terjemahan akan menghilangkan keindahan dan kemegahannya serta musik kata-kata yang tidak Anda temukan dalam buku-buku lain. Dan mungkin apa yang ditulis orientalis Johansen dalam hal ini mengungkapkan sepenuhnya pendapat para cendekiawan Barat dan pemikir besar mereka, dia berkata: (Jika ini bukan puisi, dan ini adalah hal yang diragukan, dan sulit untuk mengatakan bahwa ini adalah puisi atau bukan, maka sebenarnya ini lebih besar dari puisi, dan selain itu ini bukan sejarah atau deskripsi, kemudian ini bukan khotbah seperti Khotbah di Bukit dan tidak menyerupai kitab Buddha dalam hal sedikit atau banyak, dan bukan pidato filosofis seperti dialog Plato, tetapi ini adalah suara kenabian yang keluar dari hati-hati yang mulia, dan meskipun universal secara keseluruhan, bermakna jauh dalam berbagai surat dan ayat-ayatnya, sampai-sampai bergema di semua penjuru, dan dilantunkan di setiap negara yang disinari matahari” (Pencarian Tuhan, hal. 111-112)
“Dr. Mardel, orientalis Prancis yang ditugaskan pemerintah Prancis untuk menerjemahkan beberapa surat Al-Qur’an, menunjukkan keunggulan-keunggulan Al-Qur’an Al-Karim yang tidak terdapat dalam kitab lain mana pun, dia berkata: (Adapun gaya Al-Qur’an, maka itu adalah gaya Sang Pencipta Yang Maha Mulia dan Tinggi, karena gaya yang mengandung hakikat makhluk yang mengeluarkan gaya ini hanya bisa bersifat ilahi. Dan kebenaran dan kenyataannya adalah bahwa penulis yang paling ragu dan skeptis pun telah tunduk pada pengaruh kekuasaan dan sihirnya, dan bahwa kekuasaannya atas jutaan Muslim yang tersebar di muka bumi mencapai batas yang membuat misionaris asing mengakui dengan ijma’ tentang ketidakmungkinan membuktikan satu kejadian yang terbukti di mana seorang Muslim murtad dari agamanya hingga sekarang. Karena gaya ini… yang memancarkan keagungan dalam keselarasan yang teratur dan harmonis. memiliki pengaruh mendalam pada jiwa setiap pendengar yang memahami bahasa Arab, karena itu sia-sia dan tidak akan berbuah jika seseorang berusaha [memindahkan] pengaruh prosa indah ini yang tidak pernah terdengar sepertinya dengan bahasa lain…” (Pencarian Tuhan, hal. 112-113)
“Kenyataannya adalah bahwa Al-Qur’an memiliki gaya yang menakjubkan yang berbeda dari apa yang biasa dilakukan bangsa Arab dalam syair dan prosa, kebaikan susunannya, keterpaduan kata-katanya, aspek-aspek keringkasannya, kebaikan penggalan-penggalannya, kebaikan dalil-dalilnya, keharmonisan kisah-kisahnya, dan keindahan perumpamaan-perumpamaannya, semua ini dan lainnya menjadikannya dalam tingkat tertinggi kefasihan, dan menjadikan gaya bahasanya memiliki kekuatan yang memenuhi hati dengan keagungan, pembacanya tidak bosan dan tidak usang dengan pengulangannya… telah dibedakan dengan kemudahan kata-katanya hingga jarang Anda menemukan yang aneh di dalamnya, dan dengan kemudahannya itu kata-katanya mulia dan manis, dan kata-katanya satu dengan yang lain saling selaras dan harmonis, Anda tidak merasakan ada kata yang janggal dari saudaranya, jika Anda menambahkan pada itu tingginya makna-maknanya, Anda akan menyadari kefasihan dan kemukjizatannya” (Pencarian Tuhan, hal. 113)
51. Ulama Kanada Sophie Bouvier
Magister dalam pendidikan bahasa Prancis dan matematika. Kisah keislaman Nyonya Salma Bouvier merupakan contoh perjalanan intelektual yang sulit yang dilalui semua orang yang memeluk Islam, dan merupakan contoh kemauan yang kuat, keberanian intelektual, dan keberanian berpikir adalah keberanian terbesar.
Nyonya Salma menceritakan kisah hidayahnya ke Islam dengan bangga: “Saya lahir di Montreal, Kanada pada tahun 1971 dalam keluarga Katolik yang taat, saya terbiasa pergi ke gereja, sampai saya berusia empat belas tahun, di mana saya mulai dilanda banyak pertanyaan tentang Sang Pencipta dan tentang agama-agama, pertanyaan-pertanyaan ini logis tetapi mudah, dan anehnya sulit bagi orang-orang yang saya tanyai!
Di antara pertanyaan-pertanyaan ini: Jika Allah yang memberi mudarat dan manfaat, dan Dia yang memberi dan mencegah, mengapa kita tidak bertanya langsung kepada-Nya?! Dan mengapa kita harus pergi ke pastor agar dia menjadi perantara antara kita dengan Yang menciptakan kita?! Bukankah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu lebih patut untuk ditanya?
Banyak pertanyaan seperti ini yang mendesak saya, ketika saya tidak mendapat jawaban yang memuaskan, saya berhenti pergi ke gereja, dan tidak lagi mendengarkan cerita-cerita para rahib yang tidak meyakinkan dan tidak ada gunanya.
Saya beriman kepada Allah dan kebesaran serta kekuasaan-Nya, karena itu saya mulai mempelajari agama-agama lain, tanpa menemukan jawaban yang memuaskan pertanyaan-pertanyaan saya tentang kehidupan, dan saya tetap hidup dalam kebingungan intelektual sampai saya memulai studi universitas saya, kemudian saya bertemu dengan seorang pemuda Muslim yang melaluinya saya mengenal Islam, saya kagum dengan jawaban-jawaban meyakinkan yang saya temukan di dalamnya untuk pertanyaan-pertanyaan besar saya!
Saya menghabiskan satu tahun penuh tenggelam dalam mempelajari agama yang istimewa ini, sampai cintanya menguasai hati saya, dan pemandangan terindah yang menarik saya ke Islam adalah pemandangan khusyuk Muslim di hadapan Allah dalam shalat, gerakan-gerakan yang mengekspresikan ketenangan dan adab serta kesempurnaan penghambaan kepada Allah Ta’ala memukau saya.
Saya mulai mengunjungi masjid, menemukan beberapa saudari Kanada yang telah mendahului saya ke Islam, hal yang mendorong saya untuk melanjutkan perjalanan ke Islam, saya mengenakan hijab terlebih dahulu untuk menguji kemauan saya, dan saya bertahan selama dua minggu sampai momen perubahan besar dalam hidup saya, ketika saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.
Islam yang menyatukan saya dengan teman Muslim ini, adalah yang sama yang menyatukan kami kemudian untuk menjadi pasangan suami istri Muslim, Allah menghendaki agar pendamping saya dalam perjalanan keimanan menjadi pendamping saya dalam perjalanan hidup.”
Sumber: dari buku “Saya Meraih Muhammad dan Tidak Kehilangan Masih” Dr. Abdul Mu’ti al-Dalati
52. Filosof Prancis René Guénon
Abdul Wahid Yahya (René Guénon) adalah ulama, filosof, dan hakiim, mempelajari agama-agama pada umumnya, kemudian memeluk Islam, keislamannya menimbulkan keheboran besar di Eropa dan Amerika, dan menjadi sebab masuknya banyak orang ke Islam.
Dia menulis banyak buku di antaranya “Krisis Dunia Modern”, “Timur dan Barat”, “Budaya Islam dan Pengaruhnya di Barat”, juga menerbitkan majalah yang diberi nama “Al-Ma’rifah”.
Buku-bukunya telah diterjemahkan ke banyak bahasa yang hidup, dan karena kemampuan ide-idenya untuk menyapu, Gereja melarang membaca buku-bukunya! Namun buku-bukunya tersebar di seluruh penjuru dunia.
Di antara yang terpengaruh tulisannya adalah penulis Prancis terkenal André Gide yang menulis: “Buku-buku Guénon telah mengajarkan saya banyak, dan pendapat-pendapatnya tidak dapat dibantah.”
Abdul Wahid Yahya berkata: “Saya ingin berpegang pada nash yang tidak datang kepadanya kebatilan dari depan dan belakangnya, dan setelah studi mendalam, saya tidak menemukan selain Al-Qur’an.”
“Eropa telah menjauh dari jalan Allah sehingga tenggelam dalam kemerosotan dan kehancuran moral serta ateisme, dan seandainya bukan karena ulama-ulama Islam, orang-orang Barat akan tetap terombang-ambing dalam kegelapan kebodohan dan kegelapan.”
53. Peneliti Amerika Barbara Brown
Penulis Amerika “Barbara Brown” termasuk di antara yang bergabung ke dalam rahmat Islam, pada tahun sembilan puluhan. Dengan demikian dia telah mencapai kedamaian batin dengan dirinya, dan menutup lembaran hidupnya yang berlangsung selama tiga puluh tujuh tahun dalam keadaan tersesat dalam kabut keraguan mengenai Allah dan cara yang benar untuk menyembah-Nya, sampai pada tahun 1991 dia berhasil menemukan Islam, menurut ungkapannya.
Tentang masa lalunya sebagai seorang Kristen dan latar belakang perpindahannya ke Islam, Brown berkata: “Saya dibesarkan sebagai seorang Kristen dan tumbuh dalam naungan denominasi Protestan yang dikenal sebagai “Christian Reformed Faith” (Kepercayaan Kristen Reformed), dan meskipun memiliki latar belakang keagamaan yang komprehensif: doa di gereja dua kali setiap hari Minggu dan pada hari libur, pendidikan Kristen khusus pada hari Minggu, sekolah musim panas untuk mempelajari Alkitab, perkemahan keagamaan, pelajaran doktrinal gereja, dan kelompok pemuda Kristen, saya menemukan diri saya menghadapi banyak pertanyaan mengenai dasar-dasar kepercayaan saya, yang tidak dapat dijawab oleh siapa pun atau metode pendidikan agama apa pun. Selama tiga puluh tujuh tahun, saya tersesat dalam kabut keraguan ini mengenai Tuhan dan cara yang benar untuk menyembah-Nya, hingga saya dapat menemukan Islam pada tahun 1991.”
Penulis Amerika ini melanjutkan perkataannya: “Konflik (Badai Gurun) di Timur Tengah sedang berada pada puncaknya. Di sebelah buku-buku strategi perang dan senjata di perpustakaan lokal, ada sebuah buku kecil berjudul ‘Understanding Islam’ (Memahami Islam), dan saya membaca buku itu dengan rasa ingin tahu yang sama seperti orang lain pada saat itu tentang agama (misterius) ini dari Timur Tengah. Rasa ingin tahu dengan cepat berubah menjadi takjub ketika saya mengetahui melalui halaman-halaman buku itu bahwa Islam memberikan saya jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang telah menghantui saya selama bertahun-tahun. Saya tidak membuang waktu lama – saya menjadi seorang Muslim. Dan akhirnya saya mencapai tujuan itu, yaitu berada dalam kedamaian batin mengenai hubungan saya dengan Tuhan.”
Karena Tuhan telah menganugerahinya kemampuan untuk mengekspresikan diri dan pemikirannya dengan fasih di atas kertas, ia mencoba untuk berbicara kepada orang lain yang menderita dari keraguan yang sama yang berkecamuk dalam pikiran mereka tentang agama; dan harapan yang mendorongnya adalah sebagaimana ia katakan: “bahwa saya mungkin dapat mengarahkan mereka menuju beberapa jawaban. Materi yang saya sajikan di sini mungkin dapat mengejutkan beberapa orang dan bahkan mungkin mengejutkan mereka ketika mereka membacanya, tetapi pencarian kebenaran tidaklah mudah, terutama dalam menghadapi kepercayaan dan prinsip-prinsip yang telah kita anut selama waktu yang lama.”
Dalam arah ini, ia memulai karyanya dengan menulis beberapa artikel, yang paling menonjol adalah:
- “Three in One: A Look at the Christian Doctrine of the Trinity” (Tiga dalam Satu: Pandangan terhadap Doktrin Kristen tentang Trinitas), yang diterbitkan pada awal 1993 oleh The Open School of Chicago.
- Artikel berjudul: “A Close Look at Christianity” (Pandangan Dekat terhadap Agama Kristen), yang merupakan studi tentang kepercayaan-kepercayaan Kristen.
- Artikel berjudul: “A Case of Corruption” (Kasus Korupsi), yang merupakan studi tentang penyimpangan teks dalam Alkitab.
Pada Maret 1993, penulis “Barbara Brown” mengumpulkan artikel-artikel yang disebutkan di atas dengan penelitian tambahan (karena ia terus memperbanyak bacaan) dan menerbitkannya dalam sebuah buku yang diterbitkan dalam bahasa Inggris pada tahun 1993 dengan judul: “A Closer Look at Christianity”. Dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab pada tahun 1995 dengan judul “Nadzrah ‘an Qurb fil Masihiyyah” (Pandangan Dekat dalam Kekristenan).
“Berada dalam kedamaian dengan diri kita sendiri mengenai Tuhan: ini, secara sederhana, adalah gagasan di balik seluruh penelitian ini.”
Dengan kalimat ini “Barbara Brown” mengawali pendahuluan bukunya yang disebutkan, dan melanjutkan dengan berkata: “Banyak dari kita menjalani hidupnya dengan puas menerima hal-hal (apa adanya), sehingga kita mengabaikan pertanyaan-pertanyaan kecil yang mengganggu dan keraguan yang muncul dalam pikiran kita, terutama dalam masalah-masalah yang berkaitan dengan agama. Ya, kita dapat melanjutkan perjalanan hidup seperti ini, tetapi kita tidak akan pernah dapat mencapai keadaan kedamaian dalam jiwa kita. Sebagian dari kita, bagaimanapun, tidak puas mengambil hal-hal secara dangkal, sehingga mereka mencari dengan sungguh-sungguh jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang menghadang kita di jalan kehidupan. Kita mempertanyakan kepercayaan nenek moyang kita dan tidak siap untuk merasa puas dengan penerimaan buta. Jalan ini tidaklah mudah untuk kita jalani dalam hal apa pun, tetapi imbalannya layak untuk usaha ini.”
Penulis yang mendapat hidayah ini mengakhiri pendahuluan bukunya dengan berkata: “Saya berharap dalam halaman-halaman berikut, kesempatan akan tersedia bagi para pembaca untuk melihat sudut pandang tentang Kekristenan sebagaimana telah dimudahkan bagi saya untuk memahaminya.”
Dengan kepercayaan besar dan harapan yang cerah ini, “Barbara” mendalami berbagai isu penting dan masalah sensitif dalam bidang kepercayaan Kristen. Pada awalnya, ia menyajikan kepada kita dengan judul “Perjanjian yang Mengalami Penyimpangan” di mana ia menyoroti dengan cepat, tetapi mengungkapkan, pada tahap awal kemunculan Kristus, menegaskan:
Agar kita memahami pesan sejati Kristus, kita harus kembali ke sejarah sebelum kemunculan Kristus untuk menemukan mengapa Kristus diutus pada dasarnya, untuk menyimpulkan bahwa orang-orang Yahudi telah menyimpang, sekali lagi, dari tauhid, tetapi penyimpangan mereka dari tauhid kali ini telah dilakukan di bawah selubung tebal dari ritual dan upacara yang rumit. Inilah situasi yang berlaku di dunia ketika Yesus menerima panggilan-Nya dari Tuhan.
Tentang “pesan Kristus” yang ilahiah, dan bagaimana perubahan atau penyimpangan tiba-tiba terjadi padanya ketika muncul di panggung seorang pengkhotbah yang mengklaim bahwa ia berbicara atas nama Kristus, hanya beberapa tahun setelah (kepergian) Kristus. Itulah pemuda Yahudi “Saul” yang lahir di Tarsus, dan anggota sekte Yahudi yang disebut Farisi yang ditandai dengan kepatuhan membuta terhadap penampilan dan ritual… Dan meskipun agama Kristen mengambil namanya dari Yesus Kristus, Saul yang mengubah namanya menjadi Paulus harus dianggap sebagai pendiri sejatinya… Dan orang-orang Kristen tidak menyangkal hal itu juga… Tetapi ada masalah besar… yaitu bahwa ajaran Paulus, pendiri sejati Kekristenan, tidak dapat ditemukan di mana pun dalam ajaran Yesus atau dalam ajaran nabi-nabi yang mendahuluinya. Bukan hanya itu, tetapi Paulus hanya memiliki sedikit kontak dengan para rasul sejati Yesus yang mungkin dapat mengarahkannya ke jalan yang benar. Mereka tidak setuju dengan ajaran-ajaran inovatif Paulus dan memberi tahu dia demikian setiap kali memungkinkan.
Pada akhirnya, bagaimanapun, jenis Kekristenan yang diproklamirkan Paulus meraih keberhasilan berkat kepribadiannya yang mempesona, ditambah dengan kenyataan bahwa ia dan para pengikutnya mengalahkan para rasul sejati Yesus dalam hal-hal penting seperti status sosial, kekayaan, dan pendidikan, dan karena itu memperoleh banyak pengikut di antara penduduk non-Yahudi. Kekristenan-Yahudi, yaitu kepercayaan para rasul Yesus, tidak memiliki kesempatan untuk bangkit.
Setelah itu, Barbara Brown melanjutkan dengan melihat secara dekat semua bid’ah yang dimasukkan Paulus dalam “agama” Kristennya seperti Trinitas, dosa, ketuhanan Yesus dan kematian-Nya, keselamatan… dll untuk menyimpulkan bahwa Islam adalah agama yang benar, karena ia adalah agama yang sederhana tidak terkubur di bawah kompleksitas yang kabur dan tidak logis dari kepercayaan-kepercayaan, dan tidak ada dalam Islam keimamatan atau orang-orang suci atau tingkatan keagamaan atau persembahan suci. Teologi tidak memiliki tempat dalam Islam, karena Islam adalah cara hidup dan bukan segenggam kata-kata.
Dan dengan demikian menjadi jelas bahwa Islam adalah satu-satunya solusi yang efektif yang tidak ada pilihan bagi umat manusia yang tersiksa untuk berlindung suatu hari di bawah naungannya, baik waktu panjang atau pendek.
54- Profesor Filsafat Universitas Prancis Robert Bergozief
Mantan profesor filsafat di universitas-universitas Prancis, dan memiliki banyak buku dalam bidang filsafat dan tauhid… memeluk Islam setelah studi yang serius dan melelahkan yang mengantarkannya pada keyakinan penuh terhadapnya sebagai agama yang berdasarkan tauhid – pada penyembahan kepada Allah Yang Maha Esa…
Menurut ungkapannya, adalah karunia Allah kepadanya bahwa Allah menganugerahinya Islam sebagai imbalan dari Allah atas apa yang telah ia berikan dalam mencari berbagai ilmu, terutama kegigihannya dalam filsafat dan tauhid, selain penguasaannya yang besar dalam berbagai cabang pengetahuan.
Doktor itu melanjutkan pembicaraannya dan berkata: “Tidak diragukan lagi bahwa Islam, yang merupakan agama ilmu dan pengetahuan, mengajak para pemeluknya untuk berbekal dengan ilmu tentangnya, dan tidak heran dalam hal itu, karena ayat pertama dari Al-Qur’an yang mulia adalah firman Allah Ta’ala kepada Rasul-Nya yang mulia: اقرأ باسم ربك الذي خلق (Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan) – QS. Al-‘Alaq: 1. Dan Nabi yang mulia bersabda: ‘Carilah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina’. Dari pengalaman pribadi saya, saya beriman dengan iman yang tidak tergoyahkan bahwa individu yang tulus dalam penelitiannya untuk memperoleh ilmu dalam cabang apa pun dari cabang-cabangnya untuk melayani masyarakat, dan untuk kebaikan seluruh umat manusia, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membalasnya dengan balasan terbaik atas semua kebaikan yang ia berikan kepada masyarakatnya, karena Allah berfirman dalam Surah Az-Zalzalah: فمن يعمل مثقال ذرة خيرا يره (Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya) – QS. Az-Zalzalah: 7.
Dan bagi saya, saya tidak puas dengan studi khusus saya dalam filsafat, tetapi saya mencoba dalam berbagai cabang pengetahuan, terutama dalam membuktikan keesaan Allah pencipta segala sesuatu, dan pengatur segala sesuatu di alam semesta ini, yang terancam oleh peradaban materialistis ateis yang hampir menghancurkan semua yang diwariskan generasi masa lalu dan sekarang dari kemajuan dan kemakmuran. Senjata ilmu saja tidak digunakan kecuali dalam kebaikan dan pembangunan, bukan dalam kehancuran dan kerusakan, dan itulah harapan bagi anak-anak umat manusia semuanya untuk mencapai kebenaran besar, dan untuk menyelamatkan dunia dari masalah-masalahnya. Ilmu dan penelitian adalah penyebab munculnya sinar harapan dan cahaya kebenaran, dan penerangan jalan di depan saya… dan Tuhan saya membimbing saya ke jalan yang lurus, dan menuntun saya ke pantai keselamatan, dan menyelamatkan saya dari siksaan berat yang saya alami sebagai akibat dari konflik keras yang berkecamuk dalam diri saya, dan tidak diragukan dalam perkataan ini, karena saya percaya bahwa Islam, yang merupakan syariat Allah dan kebenaran, maknanya adalah kedamaian, dengan segala makna besar yang terkandung dalam kata ini, dan yang pertama adalah kedamaian antara seseorang dengan dirinya sendiri.
Jiwa, yang memerintahkan kepada kejahatan, tidak dapat dikendalikan dan diarahkan kepada kebaikan individu dan masyarakat, kecuali oleh syariat Islam dan prinsip-prinsipnya yang toleran.
Syahadat berarti bahwa tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Sang Pencipta… berarti bahwa semua manusia adalah sama, tidak ada keutamaan orang Arab atas non-Arab kecuali karena takwa…
Dan hubungan hamba langsung dengan Penciptanya lima kali sehari dalam shalatnya adalah bekal harian yang mengingatkannya akan keberadaan Sang Pencipta, dan mengajaknya untuk mengikuti apa yang dipanggil-Nya, dan menjauhi apa yang dilarang-Nya… كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر (Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar) – QS. Ali ‘Imran: 110.
Dan zakat menyatukan hati, dan menghilangkan dendam, kebencian, dan kedengkian, sehingga mendekatkan antara muslim dan membuat mereka seperti bangunan yang tersusun rapi yang saling menguatkan satu sama lain.
Dan puasa Ramadhan dianggap sebagai latihan bagi jiwa untuk mengendalikan nafsunya…
Dan keluarnya individu dari perhiasan dunia dalam haji mengingatkannya pada hari kebangkitan dan perhitungan…
Prinsip-prinsip ini dapat menegakkan masyarakat ideal yang terus dicari sejak awal keberadaannya… Dan karena itu saya mengajak setiap manusia untuk mencari kebenaran Islam dan berbagai prinsipnya, dan tidak terpengaruh oleh klaim palsu yang diulang-ulang oleh mereka yang memiliki maksud jahat dan kepentingan pribadi, karena jalan terbuka di depan setiap manusia untuk melihat kitab Allah dan sunnah rasul-Nya, dan kemudian memutuskan setelah itu dengan apa yang didiktekan hati nuraninya kepadanya.”
Kemudian doktor universitas yang memeluk Islam itu berkata: “Sesuatu yang saya lakukan setelah memeluk Islam adalah mencoba mengunjungi negara-negara Islam untuk mempelajari kondisi kehidupan mereka, dan mengenal mereka, dan saya sangat senang dengan kunjungan ke Kerajaan Arab Saudi, Kuwait, Mesir dan lainnya, dan saya selalu merasakan lingkungan Islam yang saya rindukan dan dirindukan oleh setiap muslim yang hidup di negara-negara Barat.”
Kemudian ia melanjutkan dengan berkata: “Saya sekarang sedang mencoba menyiapkan buku dalam bahasa Prancis tentang syariat Islam, dan sejarah Islam dan kaum muslimin, dan peran para ulama muslim terdahulu dalam berbagai ilmu dan seni.”
Kemudian ia mengakhiri pembicaraannya dalam keadaan gembira dan bangga sambil berkata: “Saya ingin meminta kepada kaum muslimin agar mereka bangga menjadi muslim, dan menjadi teladan terbaik bagi syariat yang kekal ini, dan layak memikul akidah ini.
Dan saya suka menyebutkan di sini sebuah contoh yang menunjukkan kepada mereka pentingnya berpegang teguh pada agama mereka tanpa terpengaruh oleh apa yang terjadi di sekitar mereka, yaitu bahwa pemilik usaha di sini lebih menyukai muslim yang berpegang teguh pada agamanya, karena mereka memiliki akhlak yang baik, dan keikhlasan total terhadap pekerjaan yang mereka lakukan, selain perilaku sosial mereka memaksa semua orang untuk menghormati dan menghargai mereka, serta menghormati dan menghargai akidah mereka.
Saya juga meminta kepada negara-negara Islam, terutama Mesir, agar memikul tanggung jawab besar untuk melayani Islam dan kaum muslimin di seluruh dunia, seperti memperhatikan distribusi publikasi Islam yang membahas dasar-dasar dan prinsip-prinsip Islam dengan gaya ilmiah yang sederhana, dan dalam berbagai bahasa… dan memperhatikan Al-Qur’an dan terjemahannya untuk bangsa-bangsa yang tidak berbahasa Arab, dan juga memperhatikan kaset dan rekaman pengajaran shalat untuk kaum muslimin di negara-negara Barat secara umum, dan di Prancis secara khusus, sehingga kita – orang Eropa dapat mempelajari dan mengenal agama yang lurus ini… sebagaimana kita yang telah memeluk Islam dapat memperkenalkan saudara-saudara kita yang non-muslim kepadanya, dan kepada setiap pencari ilmu dan pengetahuan, dan Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya.”
55 – Psikolog Jerman Willy Bootolo
Adalah profesor psikologi di Universitas “Munich” di Jerman Barat… Dia mempelajari Al-Qur’an dan mendalami studi tasawuf Islam sesuai dengan spesialisasinya sebagai peneliti berbagai fenomena dalam agama-agama… Islam menarik perhatiannya karena dia merasakan ketenangan jiwa terhadapnya, dan dia mengungkapkan hal tersebut dengan berkata:
“Sesungguhnya aku menemukan dalam Islam ketenangan jiwa yang tidak hanya hilang dari Jerman Barat, tetapi hilang dari seluruh Eropa.”
Kemudian dia menceritakan kisah keislamannya dengan berkata:
“Sesungguhnya perasaanku tertarik kepada Islam sudah ada sejak lama… Tetapi Allah SWT menghendaki agar pekerjaanku sebagai profesor psikologi di Universitas “Munich” menjadi pintu masuk untuk memeluk agama Islam… Melalui pekerjaanku, dimulailah tahap penelitian dan studi tentang semua agama di berbagai negara dunia, dan fenomena-fenomena mistik dalam semua agama.
Ketika mempelajari Islam, perhatianku tertarik pada apa yang kutemukan dalam Al-Qur’an pertama-tama, dan dalam tasawuf kedua, berupa penjelasan tentang dasar-dasar akidah dan manhaj Islam. Maka aku tekun mempelajari tasawuf untuk periode yang tidak singkat, hingga aku sampai pada kebenaran penting yaitu bahwa Islam peduli dengan pengobatan manusia secara lahir dan batin… Islam adalah agama yang mengajak kepada kebersihan lahir dan kesucian batin, dan menumbuhkan dalam diri manusia cinta persaudaraan, keterkaitan, dan keharmonisan, berbeda dengan apa yang kita temukan dalam masyarakat Barat, di mana setiap orang hidup dalam dunianya sendiri, tidak terikat dengan masyarakat oleh ikatan spiritual atau hubungan agama, sebagaimana yang terjadi pada kaum muslimin.
Aku mengetahui melalui studiku tentang tasawuf bahwa para sufi berkumpul untuk berzikir kepada Allah, bertemu dalam cinta kepada-Nya, berjalan di jalan kesucian spiritual dan emosional, dan membaca wirid-wirid tertentu setelah setiap shalat, yang membuat mereka selalu tertarik kepada ajaran-ajaran langit.
Kemudian dia terdiam sejenak untuk merenungkan apa yang ada di sekitarnya, lalu berkata: “Sulit menemukan di Eropa masyarakat yang memiliki sifat-sifat seperti ini, dan karena itulah aku merasa terdorong untuk memeluk Islam… Tetapi aku melihat perlu dan sangat perlu untuk tetap menjadi muslim secara diam-diam selama satu tahun penuh, karena jika kamu ingin masuk Islam di negara di mana semua media massa diarahkan melawan agama yang lurus ini, maka hal itu akan sangat sulit. Tetapi setelah akidah tertanam kuat dalam diriku, aku mengumumkan keislamanku secara terbuka, dan aku tidak takut kepada mereka yang memerangi Islam.”
Kemudian dia mengakhiri perkataannya dengan penuh semangat sambil menunjuk jarinya ke kejauhan:
“Sesungguhnya aku menegaskan bahwa tanpa Al-Qur’an, dan tanpa tasawuf (1) yang merupakan cabang dari ilmu psikologi yang aku ajarkan di universitas, aku tidak mungkin dapat mengubah agamaku. Karena itulah aku mengubah agamaku dengan penuh keyakinan dan kepastian total…”
Kemudian dia tersenyum lebar sambil berkata:
“Kehidupan harianku telah berubah total setelah Islam, dan menjadi teratur dengan keteraturan yang menakjubkan. Dahulu hidupku tanpa tujuan, tetapi sekarang hidup telah memiliki makna, memiliki tujuan, dan memiliki manisnya… Sekarang aku takut kepada Allah dalam semua perbuatanku, dan aku tahu bahwa aku memiliki Tuhan yang akan meminta pertanggungjawaban atas apa yang aku lakukan kapan saja.”
1_ Perlu dicatat bahwa pilihannya terhadap nama “Abu al-Hasan” secara khusus karena dia mencintai qutub sufi besar Abu al-Hasan asy-Syadzili, sebagaimana dia jelaskan dalam pembicaraannya.
56 – Professor Jurnalistik Amerika Mark Schleifer
Dia adalah profesor ilmu jurnalistik di Universitas “New York”… Dia tidak menganut agama tertentu, meskipun dia berasal dari keluarga Kristen Katolik… Dia bekerja di Maroko sebagai koresponden untuk Radio Amerika dan beberapa majalah di “New York”… Tentang masa tinggalnya di Maroko dia berkata:
“Masa tinggalku di Maroko adalah kunci kebahagiaan bagiku dan keluargaku. Aku melihat dunia baru yang sama sekali berbeda dengan dunia yang kutinggalkan di Amerika Serikat, dan apa yang aku rasakan dari dekat berupa keindahan dan kemegahan perilaku Islam menarikku kepada syariat yang haq…”
Dia melanjutkan pembicaraannya dengan menyebutkan peristiwa yang dialaminya:
“Kakiku tersandung di lubang suatu hari ketika aku keluar untuk pertama kalinya ke pasar rakyat di kota Rabat, dan seketika aku mendapati sejumlah orang Maroko bergegas datang kepadaku untuk membantuku berdiri, dan mereka bertanya dengan penuh perhatian apakah aku terluka!!”
Kemudian dia menambahkan peristiwa ini dengan apa yang terjadi selama masa sakitnya:
“Suatu kali aku sakit, lalu aku mendapati puluhan tetangga dan kenalanku datang menjengukku, dan masing-masing berusaha melakukan sesuatu untukku. Aku terkejut dengan perilaku manusiawi ini yang tidak kutemukan bandingannya di negeriku Amerika, di mana semua orang hanya peduli dengan dirinya sendiri, dan corak kehidupan material murni di sana mewarnai mereka semua dengan sifat egois, sehingga mereka tidak peduli dengan apa yang menimpa orang lain. Seseorang di negara kami beruntung jika ada yang membantunya atau keluarga menjenguknya saat sakit, atau bahkan menanyakan kabarnya… Karena itulah ketika aku bertanya kepada mereka tentang motif yang mendorong mereka melakukan semua ini untukku tanpa imbalan?!… Mereka semua menjawab: Ini adalah apa yang diwajibkan agama Islam mereka kepada mereka, dan yang diperintahkan Rasul agung mereka Muhammad SAW.”
Kemudian dia melanjutkan:
“Setelah diskusi panjang dan luas dengan puluhan ulama Islam yang selama itu aku belajar banyak hal tentang Islam, kekagumanku terhadapnya semakin bertambah. Seiring berjalannya waktu, aku mendapati akidah tauhid memenuhi akal dan hatiku… Kemudian aku tekun mempelajari terjemahan makna Al-Qur’an al-Karim, dan memahami isinya hingga aku mendapati diriku berdoa kepada Allah agar membimbingku ke jalan yang lurus.”
Pandangannya tertuju jauh melayang dalam lubuk jiwanya seolah-olah dia menyelami kedalamannya, lalu berkata sambil menggelengkan kepalanya:
“Saat aku membolak-balik halaman Al-Qur’an al-Karim, tiba-tiba aku membaca tafsir dua ayat yang mulia:
لا تُدركُهُ الأبصارُ وهُوَ يُدرِكُ الأبصارَ وهوَ اللَّطيفُ الخبيرُ قد جاءَكُم بصائر من ربّكُم فَمَن أبصرَ فلِنفسهِ ومن عَمىَ فعليها وما أنا عليكُم بحفيظٍ
“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dia-lah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak mau melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu).” (QS. Al-An’am: 103-104)
Saat itu aku tidak bisa mengendalikan diri, dan aku mendapati air mata bercucuran dari mataku. Kemudian aku yakin bahwa ini adalah isyarat tegas dari Allah SWT yang mengarahkanku untuk segera memeluk agama Islam yang lurus dan bergabung dengan barisan para muwahhid (penyembah Tuhan Yang Esa). Seketika aku berkemas dan bepergian ke Amerika di mana aku dan istri serta anakku menyatakan keislaman kami di Masjid Besar “New York”.”
57 – Professor Sastra Inggris John Monroe
Professor sastra Inggris di American University of Beirut… Dia belajar di universitas-universitas “North Carolina”, “London”, dan “Toronto”… Dia menulis lima belas buku yang sebagian besar berkisar tentang mata kuliah yang diajarkannya, selain itu dia menulis tentang topik-topik beragam yang berkaitan dengan kehidupan sosial, politik, dan ekonomi di kawasan Timur Tengah… Buku terakhirnya adalah “Perdagangan dan Islam di Kawasan Timur Tengah”.
Dia tinggal di antara kaum muslimin di Lebanon selama dua puluh tahun karena pekerjaannya sebagai kepala jurusan sastra Inggris di American University of Beirut… Selama itu dia mengenal sifat dan perilaku kaum muslimin, dan menjadi jelas baginya kesalahan persepsi yang dibawanya ketika pergi ke Lebanon. Sebelumnya, di benaknya dikuasai beberapa kesesatan dan fitnah terhadap Islam dan kaum muslimin yang tersebar luas di Barat, misalnya bahwa perang suci bagi kaum muslimin adalah agresi terhadap semua orang yang tidak beriman kepada akidah Islam mereka… Tetapi setelah dia membaca sejarah Islam dengan seksama, menjadi jelas baginya bahwa Islam adalah akidah yang toleran dan agama yang tidak dipaksakan kepada orang lain dengan paksaan.
Dia yakin akan hal itu melalui pengalaman nyata yang dinyatakannya: “Aku ingin mengatakan: bahwa keberuntunganku besar karena kesempatan telah memungkinkanku untuk belajar, tetapi bukan dengan cara akademis, melainkan melalui hubungan persahabatan dengan sekelompok orang yang tugasnya adalah mencerahkan penutur bahasa Inggris tentang hakikat sifat akidah Islam. Selain itu, aku membaca semua yang dapat kujangkau, dan aku berdiskusi dengan rekan kerjaku tentang beberapa isu yang menjadi perdebatan… Dengan cara ini aku sampai pada sifat dan hakikat Islam, bukan sebagai sistem yang harus dipelajari – yang merupakan cara yang ditempuh kebanyakan orang Barat dalam mengenal Islam – tetapi sebagai akidah yang efektif, manhaj dan jalan hidup. Pada awalnya aku tertarik dengan hal-hal ini… Sekarang aku memberikan penghormatan dan penghargaan penuh kepada Islam dan bersimpati dengannya.”
Tentang pengaruh Islam terhadap hidupnya dia berkata:
“Aku yakin bahwa pengalaman bersamaku dengan kaum muslimin telah membuatku lebih toleran dari sebelumnya… Pengalaman itu juga membuatku menyadari beberapa hal yang mengelilingiku lebih dari masa lalu.
Selain ini, aku menjadi memahami kedudukan wanita dalam Islam, berbeda dengan apa yang diyakini orang Barat secara keliru bahwa kaum muslimin menganggap wanita sebagai makhluk rendah dan hina, padahal kenyataannya adalah bahwa wanita dalam naungan Islam menikmati hak-hak dan keistimewaan yang seharusnya mereka nikmati. Cukup bahwa ada banyak surah dalam Al-Qur’an al-Karim yang membuktikan pandanganku ini.
Akhirnya, pelajaran terpenting yang kupelajari dari Islam adalah ketidakbergunaan mengeluh tentang hal-hal yang di atas kemampuan kita untuk mengubah atau menggantinya. Manusia tidak mampu terhadap segala sesuatu, meskipun dia memiliki sifat-sifat luar biasa yang membedakannya dari makhluk lainnya, tetapi dia harus menyadari perlunya tunduk kepada kekuatan di luar kemampuannya, dan bahwa mengeluh tentang itu menyebabkan kegagalan, kekalahan, dan kesedihan, sementara manusia yang menyadari tempatnya yang sesungguhnya di alam semesta ini akan tenang, tenteram, merasa nyaman dengan dirinya dan dunia yang mengelilinginya.”
Kemudian dia kembali mengulangi: Sesungguhnya memahami Islam hanya bisa dengan menghayatinya. Dia mengkritik orang Eropa karena mereka tidak menghayatinya, sehingga ketika mereka sampai pada tahap penilaian intelektual terhadap Islam, mereka sampai pada itu melalui cara akademis. Karena itu banyak sarjana Barat yang memeluk Islam dianggap aneh oleh rekan-rekan mereka, karena orang Eropa biasa menganggap Islam sebagai agama asing dan aneh daripada menganggapnya sebagai akidah yang hidup.
“Monroe” berpendapat bahwa ketika prinsip-prinsip mulia Islam dipahami dan dimengerti, maka akan timbul simpati dan penyebarannya.
58 – Professor Universitas Spanyol Miguel Pero
“Miguel Pero” membaca tentang Islam yang menetapkan aturan-aturan perilaku dan standar moral dalam muamalah, di saat dia membenci kebebasan yang kebablasan di Eropa, kemerosotan moral, tidak adanya keterkaitan keluarga, dan banyaknya kejahatan dan penyimpangan yang merajalela di masyarakat Barat.
Kemudian terjadilah dia bertemu dengan sekelompok orang Spanyol yang muslim, dan melalui mereka dia berkesempatan membaca terjemahan makna Al-Qur’an dalam bahasa Spanyol. Dia merasakan kecenderungan kuat dan tumbuhnya cinta terhadap agama ini, lalu dia melanjutkan bacaan intensifnya tentang Islam hingga dia benar-benar yakin dengan ajaran dan manhajnya. Setelah itu dia memutuskan untuk menyatakan keislamannya dan memilih nama “Nasruddin” untuk dirinya.
Dia berkata dalam rangkuman pembicaraannya tentang keislamannya:
“Aku bertemu dengan sekelompok orang Spanyol yang muslim, dan melalui mereka aku berkesempatan membaca terjemahan makna Al-Qur’an. Aku juga membaca tentang khazanah Arab klasik dan terkesan dengannya. Setelah itu aku memutuskan agar Islam menjadi agamaku.
Salah seorang temanku menerjemahkan buku “Al-Mahzurat” karya Syeikh “Yasin Rusydi” dan aku sangat bermanfaat darinya. Aku mendengar suara Syeikh “Abdul Basit Abdus Samad” dalam bacaan Al-Qur’an dan sangat menyukainya.”
Dia menambahkan:
“Meskipun sedikit yang kuketahui tentang Islam, aku berharap dengan sepenuh hati agar semua manusia mendapat hidayah kepadanya, dan aku akan berusaha berdakwah kepada Islam. Aku akan mulai dengan keluargaku dan orang-orang terdekatku insya Allah.”
Kemudian dia melanjutkan: “Aku menjaga pelaksanaan kewajiban-kewajiban pada waktunya, dan shalat Jumat yang membuatku merasakan ketenangan jiwa yang besar ketika melaksanakannya… Aku mengetahui pentingnya khatib masjid dan peran besar yang dilakukannya terhadap kaum muslimin, seperti membantu mereka memahami Al-Qur’an al-Karim, menjelaskan hadits-hadits Nabawi, selain membimbing dan mengumpulkan mereka di jalan kebaikan dan kebenaran.”
Tentang visi masa depannya sebagai muslim yang berusaha mencari lebih banyak ilmu tentang agamanya, dia berkata:
“Aku bersemangat mempelajari bahasa Arab dan menguasainya agar aku dapat membaca Al-Qur’an dalam bahasa aslinya, dan dengan demikian berusaha memahami maknanya, karena terjemahannya ke berbagai bahasa menyebabkan pertentangan makna dan ketidakjelasan.”
Kemudian dia terdiam tiba-tiba untuk mengingat sesuatu yang tersimpan dalam jiwanya:
“Aku mengingatkan bahwa buku-buku yang diterjemahkan ke bahasa Spanyol tentang Islam tidaklah akurat dalam isinya, khususnya setelah seorang Spanyol yang beragama Kristen bernama “Juan Font” menerjemahkan makna Al-Qur’an ke bahasa Spanyol dengan cara yang sangat jauh dari teks Al-Qur’an atau maknanya… Hal ini membuat mereka yang membaca terjemahan ini dari orang Spanyol berkata: Sesungguhnya Islam adalah agama aneh. Yang menyedihkan dan menyakitkan adalah apa yang ada dalam terjemahan Spanyol tersebut oleh penerjemah itu, khususnya surah “An-Nas” yang diterjemahkannya menjadi surah “Ar-Rijal” (Laki-laki) dan merusak makna serta isinya.”
Tentang kaum muslimin di Spanyol, Dr. “Nasruddin” yang bekerja sebagai profesor di Universitas Kairo berkata:
“Meskipun Kristiani adalah agama yang tersebar di Spanyol, kebebasan beragama tersedia untuk semua orang, tetapi Islam seperti di banyak negara Eropa tetap terbatas penyebarannya, yang memerlukan pengaktifan gerakan dakwah Islam dan dukungan aktivitasnya serta menyediakan segala kemungkinan untuk itu.”
59- Direktur Institut Teknologi Internasional Riyadh, Dr. Asper Ibrahim Shahin
Direktur Institut Teknologi Internasional untuk “Asy-Syarq Al-Awsat”:
Operasi kanker pankreas mengubah arah hidup saya Meluasnya gelombang Islam di balik serangan terhadapnya
Asy-Syarq Al-Awsat – Wawancara dilakukan di Riyadh oleh: Badr Al-Kharif
Dr. Asper Ibrahim Shahin adalah nama yang dikenal di Amerika Serikat yang kewarganegaraannya dia pegang dan memiliki hubungan persahabatan akrab dengan para presidennya serta dianggap sebagai salah satu tokoh berprestasi di negara-negara Barat. Karena dia berdarah Arab dan memegang kewarganegaraan Amerika, dia mengikuti dengan perhatian besar perkembangan yang terjadi di kawasan Arab. Perjalanan-perjalanannya ke Timur Tengah selama bertahun-tahun telah berkontribusi dalam memperoleh pemahaman yang lebih baik dan mendalam tentang kawasan ini. Shahin dikenal karena karya-karya dan artikel-artikelnya yang membahas berbagai topik dan meraih popularitas di kalangan pembaca, bahkan beberapa di antaranya masuk dalam daftar buku-buku terlaris, terutama yang berkaitan dengan teknologi.
Dr. Shahin adalah seorang orator ulung dan pembicara yang mahir dalam seni berbicara. Dia telah meraih penghargaan berharga dalam bidang pengembangan keterampilan khusus, dan dia dikategorikan di antara ilmuwan Amerika serta merupakan salah satu tokoh berprestasi di negara-negara Barat. Dia juga merupakan warga kehormatan kota Texas dan salah satu profesor terkemuka di Amerika. Dia telah meraih penghargaan pelopor pidato dunia karena keahliannya dalam berbicara. Dia juga memperoleh sertifikat penghargaan dan namanya tercatat dalam catatan kehormatan memorial kepresidenan. Dia dianugerahi medali kehormatan dari Presiden Ronald Reagan, Presiden Bush senior, dan medali kehormatan dari Pangeran Muhammad bin Fahd bin Abdul Aziz, Gubernur Provinsi Timur Kerajaan Arab Saudi.
Beberapa hari yang lalu, Shahin mengumumkan keislamannya di ibu kota Saudi dan konversinya dari Kristen ke Islam. “Asy-Syarq Al-Awsat” mewawancarai Dr. Shahin yang saat ini bekerja sebagai konsultan internasional dan direktur Institut Teknologi Internasional (IITI) di Amerika Serikat tentang berbagai topik, dimulai dari kisah keislamannya dan peristiwa-peristiwa yang disaksikan Amerika Serikat serta aktivitasnya dalam menjelaskan isu-isu Arab dan membelanya. Wawancara juga membahas karya-karya utamanya.
- Kita mulai dengan cerita migrasi Anda ke Amerika, yang kewarganegaraannya Anda pegang sekarang, sedangkan Anda lahir di Lebanon 65 tahun yang lalu?
- Ya, saya lahir di Lebanon tahun 1937 dan saya seorang Kristen Ortodoks. Saya belajar di Lebanon dan menyelesaikan pendidikan menengah di sana. Melalui kecintaan saya pada petualangan sebagai seorang pemuda di awal usia dan ambisi serta dahaga akan pengetahuan, saya bermigrasi ke Amerika Serikat pada tahun 1957 untuk mencari pekerjaan dan peluang karier. Saya bekerja sambil belajar untuk membiayai diri sendiri. Saya belajar di Universitas Texas di Austin selama dua tahun dan meraih gelar sarjana sains dari jurusan teknik kimia dari Universitas Negara Bagian Oklahoma, kemudian belajar di Universitas Arizona di Tucson dan meraih gelar master sains. Saya juga memperoleh gelar doktor dari Universitas Tennessee di Knoxville. Selama belajar di sana, saya aktif menjelaskan isu-isu Arab dan membelanya. Di Universitas Oklahoma, saya terpilih sebagai presiden organisasi mahasiswa Arab.
- Bagaimana cerita keislaman Anda?
- Saya jujur mengatakan bahwa sejak kecil saya merasakan cinta dan kecenderungan terhadap Islam. Dalam berbagai tahap pendidikan dan melalui apa yang saya pelajari sejak kecil tentang peradaban Arab dan Islam serta sejarah Arab, menjadi jelas bagi saya bahwa Islam adalah agama yang agung yang muncul dari Jazirah Arab untuk menyebar ke seluruh penjuru dunia. Melalui persahabatan saya dengan banyak Muslim yang berlangsung selama beberapa dekade, saya melihat dalam diri mereka perilaku yang sangat sempurna dan praktik yang memaksa Anda untuk menghormati mereka. Misalnya, sebagai seorang Kristen, saya tidak menemukan dari teman-teman Muslim saya hal apa pun yang membuat saya merasa jauh dari mereka; justru rasa hormat adalah landasan persahabatan ini.
Perlakuan dan kesadaran yang merupakan inti jiwa Islam memaksa Anda untuk menghormati agama ini. Persahabatan saya dengan Dr. Nasser bin Ibrahim Al-Rashid yang berlangsung lebih dari 33 tahun memiliki pengaruh positif pada hidup saya. Islam adalah agama yang realistis dan agama yang mengajak kepada keadilan, rahmat, penghargaan terhadap manusia, dan memuliakan mereka.
- Apa alasan mendalam dan langsung yang membuat Anda memilih Islam sebagai agama setelah bertahun-tahun ini?
- Saya berkata: “Umur berlalu dan kita berlalu, tidak tersisa dari waktu seperti yang telah berlalu.” Selain apa yang tersimpan dalam ingatan saya berupa cinta kepada Islam, saya telah melewati kondisi yang sangat sulit sejak dua setengah tahun yang lalu ketika saya menjalani operasi pengangkatan tumor kanker di sekitar pankreas di salah satu rumah sakit Amerika. Menjadi jelas bagi saya bahwa operasi dan hasilnya berbahaya dan tingkat keberhasilannya termasuk yang langka.
Pada malam operasi, saya menerima telepon dari teman-teman dan orang yang mengasihi, semuanya mendoakan saya agar operasi berhasil. Bahkan beberapa dari mereka mengatakan bahwa mereka berdoa untuk saya di Masjidil Haram agar saya keluar selamat dan sehat dari kondisi ini. Karena saya terpikat dengan Al-Qur’an dengan suara qari almarhum Abdul Basit Abdul Shamad yang saya nikmati mendengarkannya dan merasakan perasaan aneh saat mendengarnya, setelah itu saya merasa tenteram, maka saya mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an pada malam operasi. Setelah operasi, saya merasakan ketentraman yang mendalam dan jiwa yang tenang. Saat itulah saya memutuskan untuk mengumumkan keislaman saya. Memang hal itu belum dilakukan secara resmi kecuali pada tanggal 10 Juni tahun ini di kota Riyadh. Saya bersikeras untuk mengumumkan keislaman saya di ibu kota tempat lahir Islam.
- Keislaman Anda bertepatan dengan kondisi dan peristiwa yang sulit, dan Anda termasuk tokoh Amerika yang terkemuka dan memiliki hubungan dengan pembuat kebijakan politik di Amerika. Selain itu, Anda adalah konsultan internasional dan direktur institut teknologi internasional. Apakah Anda melihat bahwa waktu keislaman Anda mengandung unsur tantangan?
- Ya, mengumumkan keislaman saya dalam kondisi seperti ini adalah bentuk tantangan, tetapi saya tidak takut kepada siapa pun karena saya telah mengambil keputusan masuk Islam dengan keyakinan penuh.
- Apakah Anda mengharapkan akan menghadapi kritik karena keislaman Anda?
- Tentu saya akan menghadapi kritik, tetapi seperti yang saya katakan, saya tidak peduli dengan hal itu.
- Apakah Anda akan menawarkan Islam kepada keluarga Anda?
- Ya, tetapi dengan cara persuasi. Masuknya anggota keluarga saya ke Islam, terutama istri Amerika saya, tergantung pada keyakinan. Saya melihat bahwa saya adalah teladan bagi keluarga saya sebelumnya, dan sekarang saya akan menjadi lebih baik setelah keislaman saya.
- Bagaimana penafsiran Anda tentang pencemaran nama baik Islam, Muslim, dan Arab di Barat?
- Serangan semacam ini tidak memiliki pembenaran. Saya telah mengikutinya dan menemukan bahwa apa yang dikemukakan tidak lebih dari dendam dan kebencian serta tidak menggambarkan kenyataan – kenyataan agama Islam yang terkenal dengan keadilan dan kebenaran serta kenyataan Muslim dan Arab. Yang aneh adalah kampanye ini datang dari orang-orang di pusat-pusat kekuatan yang mempengaruhi jutaan warga. Media Amerika, terutama setelah peristiwa 11 September, menjadi banjir propaganda buruk dan mustahil bagi mereka yang berusaha menjelaskan kebenaran untuk menghadapinya karena dominasi Zionis atasnya. Ini memerlukan mekanisme dari Arab dan Muslim untuk menjelaskan gambaran dan mengoreksi konsep-konsep yang salah tentang agama dan kenyataan mereka.
- Apakah Anda merasakan bahwa konflik muncul antara Islam dan Kristen?
- Saudara, Kristen tidak memusuhi Islam dan sebaliknya juga demikian. Tetapi belakangan muncul suara-suara dari para misionaris yang membahas deklarasi perang terhadap Islam seperti yang dikemukakan Frank Graham (putra misionaris besar Bill Graham) yang mengatakan harus dideklarasikan perang terhadap Islam karena Tuhan Islam bukan Tuhan kita, dan Islam adalah agama kekerasan dan kebencian sampai tingkat ekstrem.
Bayangkan, apakah perkataan seperti ini dikemukakan dan disebarkan oleh beberapa media? Apakah orang seperti ini dapat dikatakan memeluk Kristen? Saya tidak percaya itu. Kristen mengatakan: “Siapa yang memukul pipi kananmu, berikan kepadanya pipi kirimu.” Dia dengan demikian menghasut dunia untuk berperang, dan ini adalah hal yang menyakitkan. Bagaimana Anda mengkritik suatu agama atau memberikan pendapat tentangnya tanpa mengetahui kebenarannya atau membaca tentangnya? Masalahnya adalah sebagian orang di Barat membandingkan Islam yang mulia dengan ekstremis dari kalangan Muslim seperti bin Laden misalnya, dan sebelumnya dengan ekstremis Kristen, padahal Islam dan Kristen bebas dari model-model seperti ini.
- Apa mekanisme yang Anda anggap sesuai untuk mengoreksi konsep-konsep yang salah tentang Islam?
- Melalui penjelasan hakikat Islam, melalui dialog dengan pihak lain, melalui pusat-pusat media dengan cara-cara yang mulia dan terhormat yang menjelaskan kebenaran dan memperhatikan perasaan orang lain.
60- Peneliti Kanada Murray David Keel
Kunjungan saya ke gereja tidak berhasil mengatasi keadaan kekosongan psikis dalam diri saya.
Hanya dalam Islam saya menemukan obat untuk masalah-masalah jiwa.
Islam telah memberikan saya keseimbangan dalam hidup.
Apa yang hilang dari orang yang memperoleh Islam?! Dan apa yang diperoleh dari orang yang kehilangan Islam?!
Saya telah menemukan dalam Islam apa yang sesuai dengan akal, dan apa yang memberikan manusia akal yang beriman, dan iman yang berakal.
Murray David Keel adalah peneliti muda Kanada yang lahir tahun 1964 dari keluarga Protestan Kristen. Sejak berusia empat belas tahun, dia mulai mengetahui sedikit tentang Islam melalui apa yang disiarkan media Barat tentang peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan dunia Arab. Hanya beberapa tahun kemudian dia mengumumkan keislamannya setelah periode studi yang membawanya pada keyakinan bahwa Islam adalah agama fitrah.
Keel berkata: Saya berasal dari keluarga Kristen dan mengunjungi gereja hingga usia dua belas tahun. Saya biasa menyanyikan mazmur dan kidung gereja, tetapi kunjungan saya ke gereja mulai berkurang atau saya merasa bahwa kehadiran saya di sana tidak mengatasi keadaan kekosongan spiritual yang saya rasakan. Masalah agama sangat menarik perhatian saya pada waktu itu.
Meskipun Keel mengetahui serpihan tentang Islam melalui apa yang dia pelajari dari media, dia menegaskan bahwa dia tidak tahu bahwa Islam adalah agama tauhid, bahkan tidak tahu bahwa Islam memiliki hubungan dengan agama Ibrahim atau agama lainnya. Tetapi dia mulai memperhatikan Islam dengan kuat ketika mengetahui bahwa salah seorang ulama Islam di Swiss menggambarkan Islam sebagai titik temu antara Allah sebagaimana adanya dan manusia sebagaimana adanya.
Keel berkata: Setelah itu dimulailah perjalanan pencarian, studi, dan pemikiran. Mulai terbuka di hadapan saya banyak ajaran agama Islam. Seluruh masalah saya terletak pada tidak adanya orang yang mendorong saya masuk Islam, terutama karena masyarakat Barat secara keseluruhan mengambil sikap memusuhi Islam. Tetapi Keel tidak akan mundur dari Islam yang memberikannya keseimbangan yang dia cari dan membimbingnya kepada tujuan sejati dari kehidupan. Dia menemukan di dalamnya obat dan solusi untuk masalah jiwa di zaman ini yang telah dia cari dalam berbagai agama tetapi tidak menemukan agama yang mengatasi masalah ini secara komprehensif dan luas selain Islam. Maka dia mengumumkan keislamannya meskipun mengetahui kesulitan-kesulitan yang akan dia hadapi, dan dia menamakan dirinya Abdul Shamad.
Penentangan… tetapi!!
Abdul Shamad atau Keel berkata: Ketika saya mengumumkan keislaman saya, saya tidak menghadapi penentangan dari teman-teman, tetapi seiring berjalannya waktu saya menemukan bahwa saya kehilangan mereka semua. Adapun mengenai keluarga saya, saya menyembunyikan keislaman saya dari mereka untuk waktu yang lama. Ketika mereka mengetahuinya, hubungan saya dengan mereka menjadi tegang dan mereka mengalami kekecewaan dan kesedihan. Selama satu tahun penuh mereka memperlakukan saya dengan sangat sensitif. Meskipun sikap mereka terhadap keislaman saya menyiksa saya, saya meneladani sahabat mulia Musab bin Umair yang mengutamakan iman daripada ibunya yang dia berbakti kepadanya. Tetapi seiring berjalannya waktu, hubungan saya dengan keluarga membaik, namun mereka sampai hari ini masih berusaha menyembunyikan berita keislaman saya dan menganggapnya sebagai aib.
Abdul Shamad menegaskan bahwa dia memilih nama ini setelah keislamannya karena dia menemukan dalam momen pemikiran: apakah dia mampu memahami Yang Mutlak meskipun secara parsial? Dan dia menyimpulkan bahwa dia hanyalah hamba bagi Yang Mutlak yang dia pikirkan, maka dia memilih dengan sukarela menjadi hamba bagi Ash-Shamad sebagai nama. Dia berharap dengan amalnya menjadi dekat kepada Allah dan menjadi hamba yang taat kepada-Nya.
61- Profesor Hukum Yahudi
Dan ini adalah seorang profesor Mesir bidang hukum yang bekerja di salah satu universitas Amerika. Dia berkata: Kami sedang dalam dialog hukum, dan bersama kami ada salah seorang profesor hukum dari kalangan Yahudi. Dia mulai berbicara kemudian mulai membahas Islam dan Muslim. Saya ingin membungkamnya, maka saya bertanya kepadanya: Apakah Anda tahu ukuran hukum waris dalam konstitusi Amerika? Dia berkata: Ya, lebih dari delapan jilid. Saya berkata kepadanya: Jika saya datang kepada Anda dengan hukum waris yang tidak lebih dari sepuluh baris, apakah Anda percaya bahwa Islam adalah agama yang benar? Dia berkata: Tidak mungkin ini bisa terjadi. Maka saya datang kepadanya dengan ayat-ayat waris dari Al-Qur’an dan menyerahkannya kepadanya. Dia datang kepada saya setelah beberapa hari berkata: Tidak mungkin akal manusia menghitung semua hubungan kekerabatan dengan keseluruhan yang tidak melupakan siapa pun, kemudian membagikan warisan kepada mereka dengan keadilan yang tidak menzalimi siapa pun. Kemudian orang ini masuk Islam.
Ayat-ayat waris saja menjadi jalan bagi keyakinan orang Yahudi ini terhadap Islam.
Orang-orang yang diberi petunjuk Allah oleh Dr. Zaghloul Al-Najjar
62- Dr. Irak bekas Yahudi Ahmad Naseem Sousa
Seorang peneliti insinyur dari Irak, dan anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Irak, serta salah satu spesialis terkemuka dalam sejarah irigasi di Irak. Dia dulunya Yahudi kemudian memeluk Islam terpengaruh oleh Al-Qur’an. Dia wafat beberapa tahun yang lalu. Dia meninggalkan banyak studi dalam berbagai bidang, terutama dalam sejarah irigasi, dan dalam beberapa di antaranya dia membantah klaim-klaim Zionisme dunia dari segi sejarah. Di antara karya terkenalnya: “Rinci Arab dan Yahudi dalam Sejarah”, dan “Dalam Perjalananku Menuju Islam” yang di dalamnya dia menceritakan riwayat hidupnya.
“Kecenderungan saya kepada Islam kembali… ketika saya mulai membaca Al-Qur’an untuk pertama kalinya… maka saya terpesona dengannya dengan sangat… dan saya merasa gembira mendengarkan tilawah ayat-ayatnya…”
(Dalam Perjalananku Menuju Islam 1/51).
“.. Kenyataannya bahwa perubahan dan penggantian mushaf-mushaf Yahudi telah menjadi dampak yang disepakati oleh para ulama di era kita saat ini sebagai hasil dari pembelajaran dan penelitian, dan hal itu datang sebagai dukungan ilmiah bagi perkataan-perkataan Tuhan yang diwahyukan lebih dari tiga belas abad yang lalu melalui lisan Nabi Arab yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam. Adapun Al-Furqan yang mulia.. maka kaum Muslim telah menjaganya dengan sangat hati-hati dan amanah yang jujur, sehingga ia benar-benar adalah kitab suci yang unik yang semua orang sepakat akan kesucian dan kemurniannya dari permainan dan perubahan, dan pembaca tidak perlu melakukan apa-apa selain membaca apa yang ditulis oleh para orientalis dalam hal ini.. yang menggambarkan bagaimana pengumpulan dan penulisannya, dan mereka ini adalah orang-orang asing yang sering mengarahkan panah-panah kritik beracun mereka terhadap Islam. Dan kenyataannya bahwa bukti-bukti sejarah sangat jelas sehingga tidak meninggalkan keraguan sedikitpun bahwa Al-Furqan yang mulia tidak mengalami perubahan atau penggantian apapun, dan firman Allah telah datang secara lengkap melalui lisan nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa berubah satu huruf pun” (Fi Thariqi ila al-Islam, hal. 1/86).
“Disebutkan dalam Al-Quran bahwa ia datang sebagai pemelihara atas apa yang ada di hadapannya dari kitab, dan dapat disimpulkan dari hal tersebut bahwa ajaran-ajaran Ilahi yang suci dan asli telah dijamin Al-Quran pelestariannya dengan apa yang dijelaskannya dari kebenaran dengan menampakkan yang benar dan yang palsu dalam kitab-kitab yang beredar di masa turunnya, dan dengan demikian melalui penjelasan dan penjernihan ini ia telah datang sebagai pemelihara terbaik atas kitab-kitab Allah yang hakiki dan pelindung terbaik dari permainan” (Fi Thariqi ila al-Islam, 1/87).
“Kenyataannya bahwa sulit bagi seseorang yang belum menguasai bahasa Arab dan belum mempelajari kesusastraannya untuk memahami kedudukan Al-Furqan Ilahi ini dan ketinggiannya serta mukjizat-mukjizat menakjubkan yang dikandungnya, dan karena Al-Quran Al-Karim telah membahas segala jenis pemikiran dan perundang-undangan, maka mungkin sulit bagi satu orang untuk memberikan penilaian terhadap semua topik ini. Dan apakah ada jalan bagi seseorang untuk tidak tertarik kepada mukjizat Al-Quran setelah merenungkan kemurnian nabi Islam dan mengetahui rahasia-rahasia kehidupan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam.. maka Allah Ta’ala menjadikan mukjizat Al-Quran dan kemurnian Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai bukti atas kebenaran kenabian dan sahihnya penisbatan Al-Quran kepadanya..” (Fi Thariqi ila al-Islam, 1/182-183).
“Sesungguhnya mukjizat Al-Quran Al-Karim lebih menonjol di era kita saat ini, era pencerahan dan ilmu pengetahuan, dibandingkan pada masa-masa yang didominasi oleh kebodohan dan kemalasan..” (Fi Thariqi ila al-Islam, 1/185).
63- Pemikir Inggris Abdullah Quilliam
Seorang pemikir Inggris, lahir tahun 1856, masuk Islam tahun 1887, dan bergelar: (Syeikh Abdullah Quilliam). Di antara karyanya: (Al-Aqidah al-Islamiyah) (1988), dan (Ahsan al-Ajwibah).
Dari perkataannya dalam buku-bukunya:
“Dari segi ilmiah, terlepas dari bahwa ia adalah kitab yang diwahyukan, Al-Quran adalah kitab paling fasih di Timur.. (dan ia penuh dengan pencapaian-pencapaian luhur, dipenuhi dengan kiasan-kiasan yang memukau)..” (Al-Aqidah al-Islamiyah, hal. 119-120).
“Hukum-hukum Al-Quran tidak terbatas pada kewajiban-kewajiban akhlak dan agama.. ia adalah hukum umum bagi dunia Islam, dan ia adalah hukum yang komprehensif mencakup hukum perdata, perdagangan, perang, peradilan, pidana, dan hukuman. Kemudian ia adalah hukum agama yang menjadi poros segala urusan dari urusan agama hingga urusan kehidupan duniawi, dari penjagaan jiwa hingga kesehatan badan, dari hak-hak rakyat hingga hak setiap individu, dari manfaat pribadi manusia hingga manfaat masyarakat sosial, dari kebajikan hingga dosa, dari pembalasan di dunia ini hingga pembalasan di akhirat.. dan dengan demikian Al-Quran berbeda secara material dari kitab-kitab suci Kristen yang tidak memiliki apa-apa dari dasar-dasar agama, bahkan kebanyakan tersusun dari cerita-cerita dan dongeng-dongeng serta kekacauan besar dalam urusan-urusan ibadah.. dan tidak masuk akal serta tidak berpengaruh” (Al-Aqidah al-Islamiyah, hal. 122-123).
“Saya telah menemukan dalam ensiklopedia umum sebuah kutipan yang bunyinya sebagai berikut (bahwa bahasa Al-Quran dianggap sebagai yang paling fasih dalam bahasa Arab, karena keindahan penyusunan dan keindahan keterampilan yang ada di dalamnya membuatnya kekal tanpa peniruan dan tanpa tandingan. Adapun hukum-hukum akalnya maka ia bersih dan suci jika manusia merenungkannya dengan mata hati akan hidup dengan kehidupan yang bahagia)..” (Al-Aqidah al-Islamiyah, hal. 138).
“Al-Quran ini yang merupakan kitab hikmah, barangsiapa mengarahkan pandangan pertimbangannya kepadanya dan merenungkan keajaiban-keajaiban gaya bahasanya dan mukjizat yang ada di dalamnya, akan melihatnya meskipun telah berlalu masa seribu tiga ratus dua puluh tahun seakan-akan diucapkan di era ini, karena dengan kemudahannya ia fasih dan sulit ditandingi, dan dengan singkatnya ia bermanfaat untuk tujuan secara sempurna. Dan sebagaimana ia terlihat sesuai dengan pembicaraan di masa kemunculannya dalam logat dan gaya, demikian pula ia terlihat sesuai dengan gaya pembicaraan di setiap masa dan logat, dan semakin berkembang seni menulis, semakin dihargai kefasihannya dan semakin tampak kelebihannya bagi akal. Dan secara keseluruhan, kefasihan dan kefasihannya telah menakjubkan para ahli pidato yang fasih dan membingungkan orang-orang fasih terdahulu dan terkemudian. Dan jika kita mengarahkan pandangan kepada hukum-hukum yang ada di dalamnya dan hikmah-hikmah mulia yang dikandungnya, kita dapati ia mengumpulkan semua yang dibutuhkan manusia dalam kehidupannya dan kesempurnaannya serta penyelundupan akhlaknya.. dan demikian pula kita melihatnya melarang dari perbuatan-perbuatan dan akhlak buruk yang telah terbukti melalui pengalaman-pengalaman berulang kerugian dan keburukan.. dan betapa banyak di dalamnya selain itu juga yang berkaitan dengan politik kota dan pembangunan kerajaan, dan apa yang menjamin bagi rakyat keamanan dan ketenangan dari hukum-hukum mulia yang telah tampak manfaat besarnya melalui perbuatan dan pengalaman selain dari ucapan..” (Al-Aqidah al-Islamiyah, hal. 139-140).
“Bahwa di antara keindahan Al-Quran yang banyak terdapat dua perkara yang sangat jelas, yang pertama adalah tanda khusyuk dan keagungan yang selalu terlihat pada kaum Muslim ketika mereka berbicara tentang Allah dan mengisyaratkan kepada-Nya.. dan yang kedua bebas dari cerita-cerita dan dongeng-dongeng serta penyebutan cacat dan keburukan dan seterusnya, hal yang sangat disayangkan karena banyak terjadi dalam apa yang disebut orang Kristen (Perjanjian Lama)..” (Ahsan al-Ajwibah ‘an Su’al Ahad ‘Ulama Urubah, hal. 23-26).
64- Da’i Amerika Hamzah Yusuf
Syeikh Hamzah Yusuf lahir di Washington untuk keluarga Ortodoks pada tahun 1960. Ia memeluk Islam pada usia 17 tahun. Dan menekuni studi bahasa Arab, akidah, filsafat, dan tasawuf Islam dengan berbagai ulama mulia di negara-negara Arab.
Perjalanan Ilmiah: Syeikh Hamzah bepergian ke UAE pada tahun 1979 dan belajar di Institut Islam Al-Ain selama lima tahun di bawah bimbingan berbagai syeikh, di antaranya Syeikh Muhammad al-Syaibani yang saat itu menjadi mufti Abu Dhabi. Pada tahun 1984 Syeikh Hamzah bergabung dengan Madrasah Bilal ibn Rabah di kota Tizi, Aljazair. Sebelum bepergian ke Mauritania dan bergabung dengan salah satu madrasahnya untuk mempelajari tasawuf.
Kami serahkan kepada Anda sekarang artikel karya Ahmad Zain:
Hamzah Yusuf.. Da’i Amerika yang Ganda!
Ia akan menyanyikan lagu Barat yang mengajak pada cinta dan harapan.. atau menjelaskan teori filsafat.. akan menghibur Anda dengan lelucon.. atau bercerita tentang asal-usul kata dalam bahasa..
Matanya akan berlinang air mata ketika berbicara tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam atau menganalisis masalah fikih dengan sangat serius..
Namun saya membayangkan bahwa seperti semua orang besar, ia akan meninggalkan jejak dalam diri Anda..
Ketika ditanya apa yang mendorong seorang pemuda Amerika kulit putih berusia tujuh belas tahun untuk memeluk Islam, ia berkata: “Saya tidak tahu, saya sering ditanya pertanyaan ini, dan jawaban-jawaban saya tidak selalu sesuai dengan kenyataan.. dan ini membingungkan saya, yang dapat saya katakan hanyalah bahwa saya mendengar tentang Islam lalu dadaku terbuka, dan saya memulai perjalanan…”
Dan ketika sebagian Muslim menuduhnya berpihak pada Barat, ia menjawab: “Saya berpihak pada apa yang saya yakini benar dan adil. Jika itu ada di pihak Muslim, maka saya dengan Muslim, dan jika dengan Barat maka saya dengan Barat.. Saya seorang Muslim bukan seorang kesukuan”..
Ia menarik perhatian saya dengan dualitasnya yang sebagian orang senang menyebutnya sebagai kemunafikan..
Dualitas California-Mauritania
Namanya Hamzah Yusuf Hansen.. berkebangsaan Amerika.. bermazhab Maliki.. dari keluarga terpelajar; ayahnya adalah profesor mata kuliah humaniora di Universitas Harvard.. dan ibunya lulusan Universitas Berkeley yang bergengsi.. adapun kakeknya adalah walikota salah satu kota California.
Ia memutuskan pada usia tujuh belas tahun untuk masuk Islam lalu meninggalkan studi universitasnya yang hampir selesai untuk melakukan perjalanan selama sepuluh tahun di wilayah Arab.. belajar fikih di UAE.. menghafal Al-Quran Al-Karim di Madinah al-Munawwarah.. dan mempelajari bahasa dan syair Arab di Maroko dan Aljazair, serta menghayati tasawuf bersama para murabithin Mauritania.. 10 tahun penuh ia habiskan untuk belajar dan menuntut ilmu sebelum kembali ke tanah air tercinta.. Amerika.. lalu meraih gelar sarjana keperawatan dari Imperial Valley College dan gelar ilmiah lain dalam studi agama dari Universitas San Jose State.
Pada awal 1990-an ia mulai mengajar beberapa kelompok Islam di San Francisco. Dan pada 1996 ia mendirikan Institut Zaytuna yang ia katakan memiliki misi menghidupkan kembali ilmu-ilmu Islam serta cara pengajaran kuno (syeikh dan murid).. Institut Zaytuna menerbitkan buku-buku dan materi audio yang membahas isu-isu kontemporer yang dihadapi orang Amerika.
Pembicaraannya tentang alasan memilih nama Zaytuna memberitahu Anda tentang cara berpikirnya yang bertumpu pada kontemplasi berkelanjutan.. ia berkata: “Ia adalah pohon yang sangat aneh, tidak memiliki pesona tertentu dalam penampilannya, tidak tinggi menjulang dan tidak rindang, tidak dibedakan dengan kayu yang melimpah, dan memiliki penampilan yang layu sehingga memberikan kesan tua.. namun meski demikian.. akarnya menjalar dua puluh kaki di bawah tanah, dan ketika pohon-pohon lain mati ia tetap hidup berdenyut, adapun buahnya sangat berguna bagi manusia, juga pohon ini dengan keunikan tetap berbuah selama ratusan tahun”.
Seribu mahasiswa, dan cabang di 6 kota Amerika, termasuk New York dan Philadelphia adalah kumpulan buah zaytuna Yusuf.. juga pelajaran dan ceramah agamanya memiliki pengaruh besar pada pendengarnya; ia telah mendistribusikan ribuan salinan pelajarannya yang ia berikan tentang sirah Rasul yang ia jelaskan dalam 24 jam, selain itu ia bepergian ke banyak ibukota di berbagai negara di Amerika Utara dan Eropa untuk berbicara kepada Muslim dan non-Muslim bersama-sama.
Britney Spears dan Filsafat Yunani!!
Mungkin sebagian orang heran dengan syeikh yang berbicara tentang Britney Spears, namun Hamzah tidak takut akan keheranan yang remeh itu sehingga berkata: “Dunia lebih tertarik pada baju Britney Spears dan mengangkatnya beberapa inci daripada perhatian mereka pada orang-orang yang mati di mana-mana di dunia dan mereka bukan hanya dari kalangan Muslim”. Dan pada saat yang sama kutipan-kutipan Hamzah dari para filsuf dan pemikir Barat banyak, ia berbicara tentang Aristoteles dan definisinya tentang kebahagiaan, dan Plato dengan pendapatnya tentang negara yang ideal, dan Bernard Shaw dengan pendapatnya tentang Islam, dan Arnold Toynbee ketika berbicara tentang hipotesisnya bahwa krisis akut akan terjadi di dunia antara bagian utara dan selatannya.
Dualitas Amerika dan Muslim
Ia menyerang Muslim sebagaimana ia menyerang Amerika.. atau katakanlah bahwa ia adalah orang Amerika yang memberontak terhadap keburukan-keburukan warga negaranya, dan seorang Muslim yang memberontak terhadap keburukan-keburukan umat agamanya.
Maka ia berkata: “Jika orang-orang di Amerika percaya bahwa Amerika adalah masyarakat ideal, saya tidak percaya mereka membaca sumber-sumber yang sama dengan yang saya baca: tingkat depresi, bunuh diri, pemerkosaan, kejahatan, kondisi sekolah, aborsi, kemerosotan keluarga, dan perceraian”.
Ia bekerja sebagai penasihat Gedung Putih namun menyerang Bush: “Orang-orang mengira bahwa kita di Amerika hidup dalam demokrasi, ini semua kebohongan.. Siapa yang membawa Bush ke kursi kepresidenan.. perusahaan-perusahaan monopoli besar!”.
Frank Gardner koresponden BBC mengajukan pertanyaan kepada Hamzah: Menurut Anda apakah Bush benar ketika memerangi terorisme?.. maka Hamzah menjawab: “Saya pikir itu terorisme negara dibanding terorisme individu”.
Dan dengan berani Hamzah mendefinisikan ulang perang melawan terorisme sehingga berkata: “Perang melawan terorisme seharusnya adalah perang melawan perang”.. dan menggeleng kepala sambil berkata: “Itu saja”.
Namun pada saat yang sama ia tidak bermunafik kepada Muslim dan tidak menyanjung mereka untuk menenangkan perasaan mereka, ia melihat dengan jelas bahwa “hambatan utama dakwah Islam di tanah ini adalah Muslim sendiri dengan perilaku mereka”.
Dan ia mendiagnosis penyakit mereka sehingga berkata: “Terus terang mereka yang berhijrah, berhijrah dengan masalah-masalah mereka, dan memakmurkan masjid-masjid mereka dengannya, dan Muslim baru sangat lelah dengan kontradiksi-kontradiksi ini”.
Dualitas Sorban dan Dasi
Anda melihat foto-foto lamanya dengan pakaian tradisional Pakistan dan sorban Afrika sehingga Anda melihatnya sebagai pria yang berpenampilan historis meskipun pendek dan lemah tubuhnya, namun dalam tampilan barunya ia mengenakan “kasual” dan “jas sport”.
Ketika ditanya tentang hal tersebut, dia mengembalikan masalah tersebut kepada peristiwa 11 September yang benar-benar mengejutkannya, dan dia lebih dekat kepada orang yang berduka hingga dia mengambil keputusan menutup lembaga “Az-Zaitunah” sementara untuk meluangkan waktu menyampaikan pesan kepada para pembuat keputusan dan pejabat lokal serta tampil di saluran televisi untuk mencoba menjelaskan fakta-fakta tentang Islam.. Dan dia menambahkan: “Bahkan saya melepas surban dan memakai jas serta dasi”.
Dualitas Tradisi dan Pembaruan
Dia menyukai pembaruan dan mahir berbicara kepada khalayak, dan tidak banyak orang yang tahu bahwa dia adalah pemilik ide program “Yallah Shabab” yang disiarkan di MBC, yaitu program yang berhasil menyapa khalayak anak muda melalui konten religius yang menarik.. Dan ini dikonfirmasi oleh Khalid Tash, salah satu penyusun program untuk koran Al-Watan Saudi, di mana dia menunjukkan bahwa ide program tersebut muncul dari nasihat yang diberikan oleh Syaikh Hamzah Yusuf yang menunjukkan perlunya mencari media serius yang terhubung dengan pemuda Muslim, dan memberikan mereka dosis budaya dan pengetahuan, jauh dari media konsumerisme.. Dan diketahui bahwa Syaikh Hamzah menyajikan program bernama “Perjalanan dengan Hamzah Yusuf”, dan berpartisipasi dalam beberapa episode Yallah Shabab, di mana dia berkeliling dengan tim program di sejumlah kota Spanyol untuk membicarakan peradaban Muslim dan monument-monumentnya.. Dan juga bertemu dengan sejumlah tokoh berpengaruh di kalangan Muslim Barat, seperti Yusuf Islam, artis Inggris yang masuk Islam pada tahun tujuh puluhan abad lalu.
Dan meskipun ada pembaruan dalam dakwah ini, dia melihat pentingnya berpegang pada empat mazhab sehingga dia berkata: “Setiap Muslim harus berkomitmen pada salah satunya..”, dan dia menyerang orang-orang yang mengabaikan mazhab-mazhab tersebut sehingga dia berkata: “Mereka menyerukan untuk mengabaikan empat mazhab dan mengambil hukum dari Al-Quran dan Sunnah.. Bagaimana setiap orang kembali kepada Al-Quran sedangkan dia bahkan tidak menguasai bahasa Arab?!”. Dan dia menambahkan: “Bukanlah hak orang yang bodoh untuk berbicara tentang agama, seorang Muslim harus belajar di tangan para syaikh. Sekarang setiap orang membuka kitab dan berfatwa.. Saya tidak mungkin pergi ke dokter dan bertanya kepadanya di mana kamu belajar kedokteran lalu dia menjawab dari buku-buku.. Ini tidak mungkin saya serahkan tubuh saya kepadanya. Dia harus belajar di tangan dokter-dokter hingga dia belajar bagaimana melakukan operasi.. Setiap ilmu harus diambil dari para syaikh.. Sekarang Islam diambil hanya dari buku-buku!”.
Dan dia mempertahankan pendapatnya: “Ini bukan monopoli tetapi berdasarkan {فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون} (Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui) [An-Nahl: 43], di antara para sahabat sangat sedikit yang berfatwa meskipun mereka dididik di sisi Rasulullah, ini bukan monopoli..”.
Dualitas Salafiyah dan Sufisme
Dia beraqidah Sunni, bermazhab Maliki kecuali bahwa pengaruh tasawuf padanya besar, hal itu tampak dalam kutipan-kutipannya dengan banyak pendapat ahli tasawuf, sebagaimana salah satu proyek pentingnya yang dia selesaikan setelah bertahun-tahun kerja yang bersemangat adalah menerjemahkan Burdah Al-Bushiri ke bahasa Inggris pada Juni 2002.
Dan dia menjawab orang-orang yang mengingkari tasawuf dengan berkata: “Tasawuf sebagai ilmu.. ilmu perilaku dan akhlak dari inti Islam, adapun tarekat dan syaikh itu hal lain”.
Dan dia menjawab syubhat-syubhat yang dimunculkan: “Mereka berkata tidak ada seorang pun dari sahabat yang mengenal kata tasawuf, dan apakah ada di antara mereka yang mengenal ‘Nahwu’, atau ‘Tajwid’, atau ‘Ushul ad-Din’ atau ‘Ushul al-Fiqh’? Semuanya adalah istilah-istilah dan penamaan yang baru muncul untuk mengkodifikasi ilmu-ilmu”.
Di Akhir
Meskipun semua dualitas ini, dia tidak suka area abu-abu.. Seorang jurnalis menanyakan kepadanya pertanyaan dan berkomentar dengan berkata: “Saya berbicara secara netral”.. Maka Hamzah hanya berkata sambil tersenyum: “Kamu netral!! – Kamu tidak mungkin netral, dalam krisis-krisis moral, netralitas adalah sejenis konspirasi”.
Untuk informasi lebih lanjut tentangnya: http://www.zaytuna.org
65- Dokter Mesir Abduh Ibrahim, Ayah Dokter Isa Abduh, Pelopor Ekonomi Islam
Sesungguhnya Al-Azhar sepanjang umurnya adalah mercusuar ilmu dan tempat berkembang bagi para ulama yang telah meluluskan nama-nama tak terhitung yang memperkaya perpustakaan Islam dengan berbagai ilmu dan seni.. Dan sesungguhnya Al-Azhar memiliki ulama-ulama yang jarang ada yang mendengar tentang mereka dan jarang ada yang mencintai mereka, mungkin karena mereka tidak mendapat publisitas yang diperlukan dan mungkin karena orang-orang lalai dari urusan mereka.
Saya akan menceritakan kepada kalian di sini tentang salah seorang dari mereka. Benih baik yang tumbuh di tanah baik sehingga menumbuhkan untuk kita pohon baik yang akan terus kita petik buahnya hingga hari kiamat. Dialah pelopor Ekonomi Islam, Syaikh Dokter Isa Abduh rahimahullah.
Dan sebelum saya bercerita tentang gunung yang menjulang ini, kita perlu berhenti dengan tanah tempat dia tumbuh bersama Dokter Abduh Ibrahim rahimahullah.
Ayahnya, Dokter Abduh Ibrahim rahimahullah adalah seorang Kristen, anak Ibrahim Abdul Malik yang lahir di daerah Az-Zahir di Kairo tahun 1883 Masehi. Kehidupan Dokter Abduh Ibrahim berlalu seperti kehidupan Kristen mana pun hingga dia mencapai jenjang menengah yang dia habiskan selama empat tahun dari 1896 hingga 1900. Dia belajar ketika di jenjang menengah bersama dua temannya di rumah mereka, dan kedua teman ini adalah Muslim, sehingga dia melihat mereka ketika waktu shalat tiba meminta izin lalu berwudhu dan shalat Ashar kemudian kembali.. Dan proses ini berulang sepanjang periode studi bersama.. Dan Abduh siswa sekolah menengah atas memperhatikan mereka dalam shalat dan dalam gerakan-gerakan dan suara-suara, dan ini adalah benang pertama dalam tenunan yang baik.. Dan di sinilah Abduh mulai berpikir siapa di antara mereka yang benar dan siapa yang salah, dan Abduh mengira bahwa kedua temannya memiliki pertanyaan yang sama sehingga dia memulai dengan bertanya.. Dan hal pertama yang dia lakukan adalah berwudhu saja untuk mencoba.. Kemudian dia bertanya kepada mereka tentang hikmah wudhu dan shalat, dan anak-anak muda yang masih belia tidak memiliki jawaban yang tepat untuk pertanyaan-pertanyaan ini.. Dan itu adalah awal dari akhir, karena dia berkata kepada mereka: “Kita semua hanya meniru dan tidak ada kebaikan pada kita selama kita tidak menyadari kebenaran yang kita pilih, maka bagaimana kalau kita semua berjanji untuk mencari kebenaran agama dan alasan-alasan perbedaan yang ada pada kita meskipun kita semua merasakan cinta dan kasih sayang yang menyatukan kita”. Dan Abduh dan Shidqi tenggelam dalam studi agama-agama adapun yang ketiga telah tidak tertarik pada studi ini karena kondisi materi yang tidak memadai sehingga dia fokus pada studinya dan lulus SMA, adapun para pencari kebenaran gagal karena kesibukan mereka mencari kebenaran agama, dan keluarga mengira bahwa kedua pemuda itu menyimpang.. Adapun para pencari kebenaran telah melanjutkan jalan pencarian kebenaran dan mengikuti seminar-seminar ilmiah dan buku-buku penelitian yang menyebabkan mereka berkenalan dengan Syaikh Muhammad Rasyid Ridha rahimahullah dan mereka menjadi pengikut setianya.. Kemudian berlalu tahun pengulangan dan kedua sahabat pencari kebenaran itu lulus dan masuk fakultas kedokteran.. Begitu mahasiswa Abduh Ibrahim masuk fakultas kedokteran dan menjauh dari pengaruh keluarganya, maka tanah subur itu terbuka tentang pohon iman dan mulai tumbuh dan besar.. Dan ketika dia sampai pada studi anatomi, dia terkena rasa takut kepada Allah akibat melihat mayat-mayat.. Maka dia membuka diri kepada temannya tentang keinginannya memeluk Islam.. Maka mereka menyarankan agar dia menyelesaikan studinya dengan menyembunyikan agamanya hingga lulus sehingga dia bisa menyediakan rezeki halal untuk dirinya.. Maka dokter muda itu menyerah pada permintaan kedua temannya.. Tetapi cahaya Allah tidak bisa disembunyikan oleh siapa pun.. Ketika dia lulus dan menjadi dokter magang, dia tidak lagi tahan menyembunyikan apa yang ada di dalam dirinya, dan bulan Ramadhan tiba dan Abduh tidak hadir makan siang pada hari Minggu dengan keluarga.. Kemudian pada Minggu berikutnya ayahnya menahan diri dari makan menunggu anaknya sang dokter.. Kemudian Minggu ketiga di Ramadhan ini.. Dan terjadi badai di mana ayahnya berterus terang kepadanya tentang keraguan yang menghantuinya.. Di sinilah saatnya dia melepaskan bebannya dan mengakhiri kehidupan gelisahnya.. Maka dia memberitahu ayahnya tentang keislamannya.. Ayahnya menawarkan kepadanya uang dan pernikahan.. Abduh menawarkan kepadanya Islam.. Ayahnya mengancamnya dengan celaka dan bencana dan malapetaka besar.. Maka anak yang Muslim itu berlari ke luar rumah dan mereka keluar mengejarnya mencaci maki dan melemparinya dengan batu bata.. Maka dia keluar ke jalan-jalan dan memeriksa dirinya dan mendapati bahwa dia tidak memiliki apa-apa, tidak buku-bukunya, tidak peralatannya, tidak pakaiannya, dan tentu saja tidak memiliki uang, maka temannya dalam perjalanan pencarian Dokter Shidqi menampungnya dan teman ketiga mereka membiayainya.. Kemudian keluarga Dokter Abduh menemukan anak mereka.. Mereka mengundangnya untuk diskusi dengan pendeta Kristen.. Dia setuju dengan mereka dan perdebatan itu di rumah ayahnya.. Dan pada hari perdebatan di pagi hari, Dokter pergi ke Syaikh Muhammad Rasyid Ridha dan dia mengarahkannya pada pertanyaan-pertanyaan balasan dan dalil-dalil dari kitab-kitab terdahulu dan hal lain yang tersembunyi dari seni perdebatan.. Dan terjadilah perdebatan dan balasan yang membungkam dari dokter muda itu dan membungkam pendeta-pendeta Kristen.. Dan sesi berakhir bahwa mereka akan bertemu lagi dengan pendeta yang lebih kuat, adapun hadirin telah meragukan agama mereka dan hal-hal yang pasti bagi mereka menjadi hal yang menggantung, dan pendeta-pendeta menyatakan melimpahkan kutukan pada Dokter Abduh.. Kemudian datang hari yang dijanjikan dengan ulama Kristen yang paling alim dan orang-orang datang mengharapkan kekalahan memalukan bagi dokter muda itu.. Dan jawaban Abduh adalah jawaban yang kuat yang tidak keluar kecuali dari seorang peneliti yang menghabiskan hidupnya mencari kebenaran.. Keluarganya memeranginya tetapi dia tidak menyerah kepada mereka, dan dia menikah dengan gadis Muslim dari keluarga ilmu dan agama.. Dan kisah pernikahan adalah salah satu penyiksaan yang dialami pria yang berhijrah dengan agamanya ini.. Dan dia memperoleh darinya tahun 1907 anak sulungnya Isa yang kemudian menjadi Dokter Isa Abduh, pemikir dan peneliti serta konsultan ekonomi Islam, semoga Allah merahmatinya. Kemudian tahun 1910 dia memperoleh anak keduanya yaitu Dokter Muhammad Abduh rahimahullah, profesor teknik di universitas-universitas Swiss.
Dan alasan pemilihan nama Isa adalah yang diriwayatkan Dr. Isa Abduh Ibrahim dari lisan ayahnya tentang pemberian nama “Isa” di mana dia berkata: (Sesungguhnya antara aku dan Tuhanku ada perjanjian yang hanya Dia yang mengetahuinya, dan aku berjalan di jalan tidak menyimpang. Sesungguhnya ketika aku berpegang pada nama yang dipilih ayahku yaitu “Abduh”, harapanku tergantung agar umurku dipanjangkan hingga aku menikah dan dikaruniai anak yang kusebut “Isa”, dan aku berjanji kepada Tuhanku untuk membesarkannya dengan baik, dan aku berdoa untuknya agar berumur panjang dan diberi taufik pada apa yang diridhai Allah dan agar dia memiliki sebutan baik di lidah para hamba dalam hidupnya dan setelah hidupnya, karena itu aku menjadikan keberadaan anak ini sebagai kesaksian yang berdenyut dengan kehidupan bahwa “Isa” adalah “hamba-Nya” dan bukan anaknya, Maha Tinggi Allah dari itu setinggi-tingginya…..Maka setiap kali orang-orang menyebutnya baik tidak hadir atau hadir.. hidup atau mati.. penyebutan mereka ini adalah kesaksian dariku di hadapan Allah Azza wa Jalla bahwa Isa adalah hamba-Nya..)
Dia adalah profesor Ekonomi Islam di Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Al-Azhar, dan profesor Peradaban Islam di Fakultas Ekonomi dan Perdagangan di Universitas Libya, profesor Administrasi Bisnis di fakultas-fakultas Ekonomi dan Perdagangan di Universitas Ain Syams dan di Universitas Libya, profesor tamu di fakultas-fakultas Teknik di Universitas Kairo dan Alexandria, profesor tamu di Institut Tinggi Urusan Kapas dan di Institut Tinggi Studi Islam, dan akuntan bersertifikat.
Dia adalah pelopor bank-bank Islam dan yang bekerja mewujudkan impian bank Islam sehingga Bank Islam Dubai adalah bank Islam pertama kemudian Bank Faisal.
Sesungguhnya sebagai bentuk kesetiaan kepada pria ini, generasi ini harus mengetahui beberapa usaha yang telah dilakukan oleh Dr. Isa Abduh dan saudara-saudaranya, agar para pemuda kebangkitan Islam dapat melangkah untuk melengkapi perjalanan di semua bidang, karena setiap orang dimudahkan untuk apa yang diciptakan untuknya.
Wafatnya
Guru kami wafat di kota Riyadh, Kerajaan Arab Saudi pada tanggal 9 Januari 1980 M. Jenazahnya kemudian dipindahkan ke kota Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam “Madinah Al-Munawwarah” di mana beliau dimakamkan di Baqi’ sesuai dengan wasiatnya. Semoga Allah merahmatinya dengan rahmat yang luas dan menempatkannya di surga-Nya yang luas bersama para nabi, para shiddiq, para syuhada, dan orang-orang saleh. “Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa: 69)
Dari Perkataan Dr. Isa Abduh:
“Sesungguhnya Islam tidak memaksakan pada kekuatan akal dalam diri manusia suatu keadaan jumud dan terhenti… bahkan sebaliknya, Islam mengajak untuk menggunakan akal di tempat yang seharusnya akal itu bekerja, dan bidangnya luas dalam wujud yang nyata ini, dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang, dan dalam segala sesuatu yang Allah ciptakan… Adapun jika akal melampaui batas untuk menghakimi kaidah-kaidah yang memerintah dan melarang yang mengatur perilaku, atau mencoba datang dengan dasar-dasar teori dari dirinya sendiri untuk menegakkan hukum tertentu, kemudian jika dasar-dasar ini runtuh maka hukum tersebut menjadi tergantung sampai akal mencapai yang lainnya… kami katakan: adapun hal ini yang disukai oleh sebagian peneliti, maka menurut kami ini adalah dosa besar.”
Biografi Pelopor Bank Islam Dr. Isa Abduh
Untuk mendengar kisah hidup Dr. Abduh Ibrahim tekan di sini Untuk mencapai rekaman-rekaman Dr. Isa Abduh tekan di sini
Dari Buku-buku Dr. Isa Abduh:
- Akad-akad Syariah yang Mengatur Muamalah Islam
- Studi dalam Ekonomi Islam
- Kedudukan Riba dalam Pembangunan Ekonomi Nasional
- Ekonomi Islam: Pengantar dan Metodologi
- Asuransi antara Halal dan Haram
- Sistem-sistem Keuangan dalam Islam
- Hakikat Manusia
- Ekonomi Islam: Pengantar dan Metodologi
- Bank-bank Islam… dalam Tahapan Studi, Pendirian, dan Pengelolaan
- Penelitian tentang Riba
- Minyak Bumi Kaum Muslimin
- Zakat sebagai Alat Ekonomi
- Asuransi antara Pendukung dan Penentang
- Asuransi antara yang Asli dan Alternatif
- Menuju Ekonomi Islam yang Sehat… Mengapa Allah Mengharamkan Riba?
- Riba dan Perannya dalam Mengeksploitasi Sumber Daya Bangsa-bangsa
- Kedudukan Riba dalam Pembangunan Ekonomi
- Bank Tanpa Bunga
- Kebutuhan Muslim terhadap Rencana Kerja
- Al-Quran dan Studi-studi Ekonomi
- Sistem-sistem Keuangan dalam Islam
- Ceramah Fajar
- Studi dalam Ekonomi Politik
- Catatan dalam Organisasi-organisasi Federal
- Uang dan Bank – bersama Dr. Abdul Aziz Mari
- Ekonomi Uang dan Bank – bersama Dr. Abdul Aziz Mari
- Perusahaan-perusahaan Modal
- Pembiayaan Proyek – bersama Prof. Muhammad Hamzah Alisy
- Pengelolaan Proyek dalam Tahapan Produksi dan Distribusi
- Industrialisasi dan Problemnya – 2 jilid
- Problem-problem Ekonomi Kontemporer di Wilayah Mesir – bersama Dr. Abdul Aziz Mari
Beliau juga memiliki banyak artikel di majalah-majalah ekonomi khusus seperti Al-Ahram Iqtishadi… dan penelitian di majalah-majalah yang diterbitkan oleh perkumpulan-perkumpulan Islam seperti majalah Al-Muslimun… dan banyak ceramah yang bermanfaat.
Semoga Allah merahmati Dr. Ibrahim Abduh dan kedua putranya Isa dan Muhammad, semoga Allah merahmati rekan-rekan jalan hidayah, dan semoga Allah merahmati Syekh Muhammad Rasyid Ridha.
66. Penasihat Dr. Mesir Muhammad Majdi Marjan, Ketua Mahkamah Banding Tinggi
Lahir dalam keluarga Kristen yang taat, dan dahulu adalah diakon di gereja, kemudian memeluk Islam, dan menulis empat buku dalam menampakkan kebenaran: Allah Esa atau Trinitas, Masih Manusia atau Tuhan, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam Nabi Kasih Sayang, Mengapa Saya Masuk Islam?
Sekarang menjabat sebagai Ketua Mahkamah Pidana dan Banding Tinggi, dan Ketua Organisasi Penulis Afrika dan Asia; surat kabar Al-Ahram Mesir menerbitkan artikel-artikelnya.
Betapa menyenangkan tulisan-tulisan orang Nasrani yang masuk Islam! Namun yang lebih menyenangkan lagi ketika mereka berhadapan dengan ulama agama mereka sebelumnya, menunjukkan kelemahan mereka, dan membantah kebatilan mereka, membela Islam dari segala kebatilan dan keburukan. Saya pilihkan untuk Anda sebuah bab yang menyenangkan dari bukunya yang berharga, saya sampaikan kepada Anda insya Allah, setelah catatan sampingan…
Dalam buku Dr. Marjan sering disebutkan nama penulis Nasrani “Yas Manshur”, dan saya sangka itu kesalahan cetak, maksud saya “Yas”, meskipun itu terulang dalam banyak tulisan dengan lafaz ini… Yang saya cenderungi, dan pernah saya baca dalam buku sebelumnya, bahwa yang benar adalah “Yasa”, dan ini lebih dekat dari “Yas” untuk dipercaya, karena itu adalah nama ayah Daud dalam Kitab Suci menurut orang Nasrani.
Sekarang saya tinggalkan Anda dengan bab yang menyenangkan ini dari bukunya “Allah Esa atau Trinitas”
Bab Keempat: Al-Quran dan Trinitas
Meskipun penganut Trinitas tidak yakin dengan itu, dan meskipun mereka berselisih tentangnya secara keseluruhan dan detail, dalam unsur-unsur dan pribadi-pribadinya, kebodohan dan kedegilan telah mendorong sebagian dari mereka untuk mengklaim bahwa Islam dan kitabnya yang diturunkan kepada rasul-Nya “Al-Quran Al-Karim” tidak mengakui keesaan Allah, tetapi beriman kepada trinitas ilahi mereka!
Pendeta Basilius Ishaq berkata: “Sesungguhnya basmalah Islam, yaitu Bismillahirrahmanirrahim, mendukung trinitas, Allah adalah Bapa, Ar-Rahman adalah Putra, dan Ar-Rahim adalah Roh Kudus” [kitab Al-Haqq hal. 122]
Dan kami yakin bahwa pendeta yang terhormat telah lupa bahwa kedua sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim adalah sebagian dari sifat-sifat yang tak terhitung dari Allah Yang Maha Esa lagi Tunggal, dan bukan bagian atau unsur atau pribadi dari pribadi-pribadi Allah, karena Allah subhanahu wa ta’ala memiliki sifat-sifat dan nama-nama yang banyak yang tidak dapat dihitung, dan jika itu menunjukkan sesuatu maka itu menunjukkan kekuasaan dan keagungan-Nya jalla wa ‘ala, dan kesendirian-Nya dalam ketuhanan dan pengagungan.
Dan jika kita mengikuti pendapat ini maka dapat disimpulkan dari Al-Quran bukan hanya trinitas tetapi juga tujuh dan adanya tujuh tuhan bukan tiga, yaitu dengan apa yang disebutkan di awal Surah Ghafir: “Ha Mim. Diturunkan kitab (Al-Quran) dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui, Yang mengampuni dosa dan menerima tobat, Yang keras siksa-Nya, Yang mempunyai karunia.” (QS. Ghafir: 1-3). Bahkan juga dapat membawa kita pada penyimpangan dan kesesatan, sehingga kita memutuskan bahwa Al-Quran menetapkan adanya tujuh belas tuhan!… yaitu dengan apa yang disebutkan di akhir Surah Al-Hasyr yang menyebutkan tujuh belas nama dan sifat dari sifat-sifat yang dimiliki Ar-Rahman yang tak terhitung penjelasannya.
Meski demikian, pendeta “terhormat” kita Pendeta Basilius Ishaq terus dalam klaimnya, dan mengambil beberapa kata umum yang kadang diucapkan orang awam, kemudian membebankan kata-kata itu melebihi apa yang dapat ditanggung atau ditahan, karena keinginannya menempelkan tuduhan trinitas padanya sedangkan ia bersih darinya seperti bersihnya anak domba…
Pendeta Basilius berkata: “Sesungguhnya sumpah yang diperkuat yang diucapkan Muslim dengan berkata: Wallahi al-‘azhim tsalatsah (Demi Allah Yang Maha Agung tiga kali)… maka ia bersumpah dengan Bapa, Putra, dan Roh Kudus, dan jika Muslim menceraikan istrinya dengan talak bain, maka ia menceraikannya tiga kali, artinya ia menceraikannya dengan nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.”
Pendeta melanjutkan: “Sesungguhnya Muslim memulai salatnya dengan takbir dengan berkata: ‘Allahu akbar’ (Allah Maha Besar), dan yang dimaksud dengan itu adalah membandingkan Allah dengan yang lain dari jenis dan jenisnya, dan bahwa Muslim dengan itu menganut mazhab Kristen yang mengatakan bahwa pribadi Bapa lebih agung dari pribadi Putra.”
Pendeta Basilius mengatakan bahwa perkataan-perkataan ini disebutkan dalam Al-Quran dan menunjukkan keimanan Muslim kepada Trinitas.
Setelah penjelasan panjang lebar tentang akidah Trinitas ini, dan klaim bahwa Islam menganutnya, pendeta kembali memutuskan ketidakpahaman dan ketidakmengertiannya terhadap hakikat Trinitas dengan berkata: “Ya, sesungguhnya ajaran tentang trinitas ini di atas pemahaman kita, tetapi ketidakpahaman terhadapnya tidak membatalkannya.”
Dan seseorang dari kita benar-benar heran dalam masalah ini!… Bagaimana seseorang beriman kepada akidah yang tidak dipahaminya?!… Dan bagaimana ia mencoba memaksa orang lain untuk meyakini apa yang mereka tidak pahami dan dia tidak pahami?… bahkan bagaimana ia sampai pada keterlaluan dengan mengklaim bahwa agama tauhid yang tertinggi menganut akidah Trinitas, padahal agama ini datang hanya untuk membebaskan akal dan hati dari kotoran-kotoran dan omong kosongnya?
Dan ketika kita menyingkirkan emosi kekagetan dan pengingkaran, kemudian mencoba membahas pernyataan-pernyataan Pastor Basilius dari sisi objektif, terlihat sejak awal bahwa pernyataan-pernyataan tersebut secara keseluruhan dibangun atas dasar kesalahan dan jauh dari kebenaran. Tidak dapat dipungkiri bahwa tidak ada hubungan sama sekali antara Al-Quran yang mulia yang diturunkan dari Allah dengan lafal-lafal dan maknanya dengan kata-kata sehari-hari yang dikemukakan Pastor tersebut untuk mendukung trinitas-nya. Kata-kata tersebut tidak terdapat dalam Al-Quran dan tidak diturunkan kepada Rasul Islam shallallahu ‘alaihi wasallam.
Meskipun kita mengakui bahwa lafal-lafal tersebut mungkin digunakan orang-orang, baik Muslim maupun non-Muslim dalam percakapan mereka, namun tidak ada hubungan sama sekali antara lafal-lafal tersebut dengan khayalan trinitas Pastor tersebut. Ketika seorang Muslim bersumpah dengan nama Allah Yang Maha Besar satu kali, dan ketika ia mengulangi sumpahnya terkadang dua kali atau tiga kali, atau lebih atau kurang dari itu untuk menegaskan tekadnya memenuhi sumpahnya, atau ketika ia bertekad menceraikan istrinya lalu mengucapkan rumusan talak dengan mengatakan kepadanya: “Kamu tertalak”, dan terkadang ia mengulangi rumusan tersebut satu atau beberapa kali untuk menegaskan keputusannya menjatuhkan talak… lafal-lafal ini yang tunduk dalam bentuknya dan jumlah pengulangannya kepada lingkungan, adat istiadat, dan kebiasaan sosial, yang bentuknya dan pengulangan ucapannya berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lain dan dari satu lingkungan ke lingkungan lain, sesuai dengan perbedaan agama dan kepercayaan mereka, seperti halnya pepatah-pepatah rakyat yang mengatakan bahwa kali ketiga adalah pasti, atau angka sepuluh membawa keberuntungan dan angka 13 membawa sial… pernyataan-pernyataan dan pepatah-pepatah ini secara keseluruhan diambil dari kondisi dan sejarah bangsa yang menggunakannya dan berpedoman padanya, terlepas dari kepercayaan dan agama mereka. Jadi tidak ada hubungan antara lafal-lafal ini dengan agama apapun.
Begitu juga sangat aneh jika kita mencoba membuktikan atau menyangkal akidah keagamaan yang berkaitan dengan dzat Allah dengan mengambil lafal-lafal dan pepatah rakyat yang dibuat manusia untuk mengatur muamalah materi dan pergesekan pasar mereka! Adapun pernyataan bahwa jika seorang Muslim mengucapkan lafal talak tiga kali, atau mengucapkan sumpah talak kepada istrinya tiga kali, maka ini dianggap sebagai talak bain, maka tidak diragukan bahwa ini adalah pendapat yang lemah yang tidak berdasar pada dalil dan tidak didukung ilmu. Sebab yang menjadi patokan selamanya bukanlah pengulangan lafal atau mengulang-ulang kata, melainkan patokannya pertama dan terakhir adalah berapa kali seorang Muslim secara nyata menceraikan istrinya dan mengembalikannya ke dalam ikatan perkawinannya. Seberapapun seorang Muslim menghitung sumpah talak, dan seberapapun ia mengulangi mengucapkan rumusan talak satu atau beberapa kali, tiga atau sepuluh kali, selama ia menceraikan istrinya – secara nyata – untuk pertama kalinya, maka talaknya ini tidak dianggap sebagai talak bain dalam kondisi apapun. Inilah hukum syariat dan undang-undang, dan inilah yang menjadi pegangan dalam praktik.
Adapun takbir dan pengagungan kepada Allah Yang Maha Besar lagi Maha Agung yang dengannya seorang Muslim memulai shalatnya dengan ucapan “Allahu Akbar” dan “Allahu A’zham“, maka itu adalah lafal yang berarti bahwa Allah lebih besar dan lebih agung dari segala sesuatu yang ada… Itu berarti bahwa Allah lebih besar dan lebih agung dari segala sesuatu, dan bahwa Dia Maha Suci tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya. Itu berarti keesaan Allah sendirian dalam kebesaran, keagungan, dan kemuliaan. Allah sendirilah Yang Maha Besar, Maha Agung, Maha Kaya, dan Maha Tinggi dari segala sesuatu yang ada. Dan tidak pernah terlintas di benak manusia apa yang dikatakan Pastor Basilius bahwa pengagungan dan pembesaran Allah ini berarti perbandingan antara dua tuhan yang satu lebih besar atau lebih agung dari yang lain… Maha suci seorang mukmin untuk terjerumus dalam kesesatan ini!
Dan seorang penulis trinitas lainnya mulai berusaha membuktikan trinitas dan memberikan dalil dari Al-Quran, tetapi dengan cara lain yang berbeda dari cara Pastor Basilius, yaitu Profesor Yas Manshur yang mengatakan: “Islam menyebutkan sekitar sembilan puluh sembilan nama Allah, artinya sifat-sifat Allah yang husna sekitar 99 sifat, dan sifat-sifat ini berbeda-beda dan saling bertentangan satu sama lain, sehingga tidak mungkin diselaraskan dalam dzat yang satu, kecuali jika kita beriman pada trinitas. Di antara Asma al-Husna ada: Adh-Dharr (Yang Memberi Madharat), Al-Muntaqim (Yang Maha Membalas), dan ada pula: Al-‘Afuw (Yang Maha Pemaaf), Ar-Ra’uf (Yang Maha Penyayang), dan ada pula: Al-Quddus (Yang Maha Suci), Al-Barr (Yang Maha Berbakti)” [At-Tathlith wat-Tawhid hal. 105].
Penulis tersebut melanjutkan: “Bagaimana Allah bisa membalas dendam dan mengampuni sekaligus?… Yang membalas dendam menunjukkan pembalasan-Nya terhadap orang berdosa tanpa toleransi, sedangkan Yang Maha Pengampun menunjukkan pembenaran-Nya terhadap orang berdosa secara menyeluruh.”
Dan ia menambahkan: tidak mungkin menyelaraskan sifat-sifat yang bertentangan ini kecuali dengan mengatakan trinitas.
Penulis “jenius” kita ini bermaksud agar kita membagi-bagi nama dan sifat-sifat Allah yang husna kepada pribadi-pribadi trinitas Ilahi, sehingga setiap oknum atau tuhan dari tuhan-tuhan trinitas memiliki beberapa nama dan sifat yang selaras satu sama lain meskipun berbeda dengan nama dan sifat tuhan yang lain. Misalnya Allah Bapa adalah Adh-Dharr Al-Muntaqim, Allah Putera adalah Al-‘Afuw Ar-Ra’uf Al-Ghafur, dan Allah Roh Kudus adalah Al-Barr.
Pendapat ini mungkin tampak pada awalnya – bagi sebagian orang – selaras dengan logika, tetapi jika mereka menunggu sebentar, akan tampak bahwa pendapat ini telah mencapai tingkat kesederhanaan dan kenaifan yang melampaui segala bayangan!
Sesungguhnya Profesor Yas Manshur dalam pendapatnya di sini menganut mazhab dualisme yang tersebar di negeri Persia kuno pada masa paganisme, yang membagi tuhan-tuhan menjadi dua bagian yang saling berlawanan, setiap tuhan di antaranya memiliki sifat yang berlawanan dengan sifat tuhan yang lain, dan setiap tuhan di antaranya melakukan pekerjaan yang tidak dilakukan tuhan yang lain. Yang ini adalah tuhan kebaikan, yang itu tuhan kejahatan, yang ini tuhan cahaya, yang itu tuhan kegelapan, yang ini tuhan perang, yang itu tuhan perdamaian… dan seterusnya… Dan Profesor Yas dalam mengikuti mazhab-mazhab pagan telah meruntuhkan dasar pertama yang menjadi landasan akidah trinitas yang ingin ia benarkan dan kuatkan, yaitu bahwa akidah trinitas dibangun atas keyakinan kemiripan makhluk dengan Khaliq, dan bahwa manusia, binatang, dan tumbuhan tinggi tersusun dari tiga bagian persis seperti Allah Trinitas, sehingga kesamaan dan kemiripan antara Khaliq dan makhluk adalah pilar pertama akidah trinitas.
Dan jika kita mengambil manusia, gambaran Allah dan misal-Nya sebagaimana ditetapkan teori trinitas, kita akan mendapatinya memiliki beberapa sifat yang berbeda-beda, dan beberapa karakteristik yang beragam dan berlawanan, yang tampak mana saja di antaranya ketika dibutuhkan, dan sesuai dengan keadaan yang menghendakinya.
Di antara sifat-sifat manusia misalnya: kasih sayang dan kelembutan, kekasaran dan pembalasan dendam, dan manusia yang sama mungkin dipanggil keadaan pada suatu waktu kepada kekasaran, dan pada waktu lain kepada belas kasihan.
Tentara yang penyayang dan penuh kasih terhadap anak kecilnya adalah tentara yang sama yang tegas dan keras terhadap musuh-musuh tanah airnya dan penjajahnya, guru yang keras terhadap siswa-siswa pemalas adalah guru yang sama yang berdebar penuh kasih terhadap siswa-siswa yang cerdas, kekasih yang meleleh lembut dalam memperlakukan kekasihnya mungkin keras dalam memperlakukan pegawai dan pekerjanya, demikian juga dengan sifat-sifat dan karakteristik lain yang dimiliki manusia, yang mana saja di antaranya tampak sesuai dengan keadaan dan kondisi yang memaksakan dan mengharuskannya. Dan tidak ada yang mengatakan bahwa orang yang keras karena suatu keadaan tidak dapat berbelas kasih karena keadaan lain, atau orang yang mencintai seseorang tidak dapat membenci orang lain.
Bahkan binatang buas pun telah dianugerahi bersama kekuatan dan kekasaran, kasih sayang dan kelembutan, sehingga dapat berubah dalam sekejap dari keganasan menjadi kelembutan dan dari kekerasan menjadi kelemahlembutan. Singa yang menyerang dengan ganas mangsanya untuk mencabik dagingnya dan menghancurkan tulang-tulangnya, adalah singa yang sama yang mengalir lembut dalam memanja pasangannya, dan adalah singa yang sama yang diremas duka dan sakit ketika anaknya mati, dan singa tetap seperti dirinya dalam semua keadaannya, dan dengan semua sifat dan karakteristiknya yang berbeda-beda. Dan akidah trinitas melihat bahwa makhluk-makhluk yang memiliki banyak sifat ini, tidak lain adalah gambaran Khaliq yang menciptakan mereka menurut gambaran dan kemiripan-Nya, tetapi tampaknya Profesor Yas Manshur cenderung untuk merampas dari Khaliq sifat-sifat dan kemampuan-kemampuan beragam yang dimiliki makhluk-makhluk, sehingga untuk menciptakan seorang manusia misalnya yang memiliki banyak sifat dan kemampuan perlu kerjasama beberapa tuhan yang masing-masing memberikan sifat khusus dan kemampuan pribadinya, dan dengan demikian sifat-sifat berkumpul pada makhluk dan bercerai-berai pada Khaliq… Jika ini bukan kebodohan, maka apa gerangan?!
Katakanlah kepada kami wahai orang-orang berakal!!
(Yas Manshur) telah gagal dari sisi yang ingin ia capai kesuksesan, dan jatuh dari sisi yang ingin ia naiki.
Dan dari segi prinsip, Islam membatalkan trinitas – sebagaimana telah kami kemukakan – dengan banyak hujjah, dan mengkafirkan orang-orang Nasrani karena keyakinan mereka pada trinitas dan keyakinan mereka bahwa Al-Masih adalah Allah. Bagaimana bisa dikatakan: trinitas bisa diambil dari Al-Quran, padahal sebagian besar ayat-ayat Al-Quran yang mulia justru datang untuk mengakarkan tauhid dalam menghadapi paganisme, dualisme, trinitas, dan akidah-akidah batil lainnya?
Dan saya tidak tahu bagaimana banyaknya Asma al-Husna menunjukkan trinitas, padahal itu bukan tiga nama, melainkan jumlahnya mencapai puluhan nama, sebagaimana diketahui?
Dan kenyataannya bahwa akidah Islam berkenaan dengan perbuatan-perbuatan Allah: bahwa Dia Maha Suci dan Maha Tinggi adalah pelaku yang memilih, yaitu Dia berkehendak atas perbuatan-perbuatan-Nya, tidak keluar dari-Nya dengan keharusan. Karena itu perbuatan-perbuatan-Nya beragam sesuai dengan kehendak-Nya, sehingga Dia tidak memiliki satu perbuatan, atau perbuatan-perbuatan yang hanya memiliki satu wajah – sebagaimana akidah dualisme yang membatasi kebaikan pada satu tuhan, dan kejahatan pada tuhan lain – maka Dia pencipta segala sesuatu di alam semesta ini, dan Dia Maha Pelaksana apa yang dikehendaki-Nya, memberi dan mencegah, merendahkan dan meninggikan, menggenggam dan melapangkan, menghukum dan mengampuni, memuliakan… dan semua itu dari-Nya Maha Suci dan Maha Tinggi adalah kebaikan dan hikmah.
Dan demikianlah perbuatan-perbuatan-Nya beragam, sifat-sifat-Nya beragam, dan nama-nama-Nya beragam. Dan tidak ada kemustahilan bahwa Dzat Ilahi menghimpun semuanya meskipun ada pertentangan di antaranya, selama perbuatan-Nya Maha Suci dan Maha Tinggi tidak menghimpun dua hal yang berlawanan dalam satu objek, yang di dalamnya terpenuhi syarat-syarat pertentangan. Apa yang mustahil jika Dia mengampuni yang ini, dan menghukum yang itu? Bahkan apa yang mustahil jika Dia menghukum seseorang, kemudian mengampuninya setelah itu, dan memasukkannya surga?
Dan demikianlah kita dapat memahami banyaknya Asma Allah al-Husna meskipun berbeda-beda di antaranya, dan memahami beragamnya perbuatan-perbuatan-Nya meskipun berbeda-beda di antaranya, selama dua perbuatan yang bertentangan tidak bersatu dalam objek, atau predikat, atau waktu, atau tempat… dst, yaitu tidak bersatu dalam hubungan hukum antara objek perbuatan dan predikatnya.
Maka Allah pelaku yang memilih adalah satu, berbuat dengan kehendak-Nya setiap perbuatan yang dihendaki hikmah-Nya, dan bukan dzat yang mengharuskan perbuatan-perbuatan tertentu, dan kesempurnaan pelaku yang memilih dengan cara ini tampak dalam beragamnya nama-nama dan perbuatan-perbuatan-Nya, dan tidak ada dalam keberagaman ini yang mengharuskan pembagiannya kepada tuhan-tuhan yang beragam atau kepada tuhan-tuhan yang berbeda, tidak dua tuhan, tidak tiga tuhan, dan tidak lebih dari itu. Dan berdirinya pada dzat yang satu adalah perkara yang dapat dipahami sebagaimana telah kami kemukakan. Dan inilah tuntutan kesempurnaan Ilahi dan tuntutan tauhid.
Dan Al-Quran menetapkan bahwa seluruh sifat, kemampuan, dan nama yang tidak terhitung dan tidak dapat dihitung yang disebutkan di antaranya 99 nama adalah untuk satu Tuhan yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan tidak ada yang menyerupai-Nya, dan bahwa sifat-sifat dan nama-nama ini menunjukkan kekuasaan Allah dan keunikan-Nya dalam kekuatan dan keagungan… Allah berfirman: “Dia-lah Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Bagi-Nya segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nya segala keputusan, dan kepada-Nya kamu dikembalikan.” [Al-Qashash: 70]
Dan Dia berfirman: “Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Bagi-Nya Asma al-Husna (nama-nama yang baik).” [Thaha: 8]
Adapun dakwah trinitas, dan penyembah trinitas, maka Al-Quran menyebutkan hukumnya yang tegas!… “Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan: ‘Sesungguhnya Allah salah satu dari yang tiga’, padahal sekali-kali tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” [Al-Maidah: 73]
TOKOH-TOKOH TERKENAL YANG MASUK ISLAM
67. Penyanyi Inggris Terdahulu Yusuf Islam
Yusuf Islam atau penyanyi Inggris yang sebelumnya dikenal sebagai Cat Stevens menceritakan kisah keislamannya:
Saya ingin memulai cerita saya dengan apa yang kalian semua ketahui, yaitu bahwa Allah telah menjadikan kita sebagai khalifah di bumi dan mengutus rasul-rasul kepada kita, yang terakhir adalah Rasul kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membimbing kita ke jalan yang lurus. Dan manusia harus memperhatikan kewajibannya terhadap kekhalifahan ini dan berusaha mempersiapkan dirinya untuk kehidupan kekal yang akan datang. Barang siapa yang melewatkan kesempatan sekarang tidak akan mendapat kesempatan lagi, karena kita tidak akan kembali lagi, sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Quran:
“Dan sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepala mereka di hadapan Tuhan mereka (sambil berkata): ‘Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin’. Dan kalau Kami menghendaki, pasti Kami berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (iman), tetapi telah pasti berlaku perkataan dari-Ku: ‘Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka Jahanam itu dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya’. Maka rasakanlah (azab ini) disebabkan kamu melupakan pertemuan dengan hari ini, sesungguhnya Kami melupakan kamu, dan rasakanlah azab yang kekal disebabkan apa yang selalu kamu kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 12-14)
“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan.’ Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami), dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.” (QS. Fathir: 37)
Masa Kecil:
Saya tumbuh dalam lingkungan yang mewah dipenuhi dengan gemerlap lampu pertunjukan seni yang memukau. Keluarga saya memeluk agama Kristen dan itulah agama yang saya pelajari. Sebagaimana kita ketahui bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, dan orang tuanyalah yang menjadikannya Majusi, Yahudi, atau Nasrani. Oleh karena itu, saya dikristen-kan, maksudnya agama Nasrani adalah agama yang orangtua saya didik kepada saya. Saya belajar bahwa Allah ada tetapi kita tidak bisa berhubungan langsung dengan-Nya, jadi tidak mungkin sampai kepada-Nya kecuali melalui Isa, karena dia adalah pintu untuk sampai kepada Allah. Meskipun saya sebagian yakin dengan ide ini, namun akal saya tidak menerimanya sepenuhnya. Saya memandang patung-patung Nabi Isa dan melihatnya sebagai batu yang tidak mengenal kehidupan. Ide trinitas atau tiga unsur Tuhan membuat saya gelisah dan bingung, tetapi saya tidak berdebat atau berargumen karena menghormati keyakinan agama orangtua saya.
Penyanyi Pop Terkenal:
Saya mulai menjauh dari latar belakang agama saya dengan berbagai keyakinannya secara bertahap dan terjun ke dunia musik dan menyanyi. Saya ingin menjadi penyanyi terkenal. Kehidupan yang berkilau dengan kegembiraan dan pesonanya itu mengambil alih saya hingga menjadi tuhan saya. Kekayaan mutlak menjadi tujuan saya, mencontoh salah seorang paman saya yang sangat kaya. Tentu saja masyarakat di sekitar saya memiliki pengaruh besar dalam mengukuhkan ide ini dalam diri saya, karena dunia berarti segalanya bagi mereka dan itulah tuhan mereka.
Kemudian saya memilih jalan saya dan bertekad bahwa uang adalah satu-satunya tujuan saya dan kehidupan ini adalah puncak harapan dan akhir perjalanan bagi saya. Panutan saya di fase ini adalah penyanyi-penyanyi pop dunia terkemuka dan saya tenggelam dalam kehidupan duniawi ini dengan segenap tenaga saya. Saya mempersembahkan banyak lagu, tetapi di dalam hati dan lubuk jiwa saya terdapat panggilan kemanusiaan dan keinginan untuk membantu orang miskin ketika saya mencapai kekayaan yang diinginkan. Tetapi jiwa manusia sebagaimana Al-Quran memberitahu kita tidak menepati semua yang dijanjikannya! Dan semakin tamak setiap kali diberi lebih banyak.
Saya meraih kesuksesan luas saat saya belum melampaui usia sembilan belas tahun. Foto-foto dan berita-berita saya menguasai berbagai media massa sehingga mereka menjadikan saya legenda yang lebih besar dari zaman dan lebih besar dari kehidupan itu sendiri. Cara saya untuk melampaui batas-batas waktu dan mencapai kemampuan luar biasa adalah dengan tenggelam dalam dunia minuman keras dan narkoba.
Masuk Rumah Sakit:
Setelah sekitar satu tahun kesuksesan materi dan “kehidupan mewah” serta meraih ketenaran, saya terkena TBC dan masuk rumah sakit. Selama di rumah sakit, saya mulai berpikir tentang keadaan dan kehidupan saya – apakah saya hanya tubuh dan yang harus saya lakukan hanyalah membahagiakan tubuh ini? Kemudian krisis ini adalah berkah dari Allah agar saya berpikir tentang keadaan saya, dan merupakan kesempatan dari Allah untuk membuka mata saya terhadap kebenaran dan kembali ke jalan yang benar. “Mengapa saya di sini terbaring di tempat tidur ini?” Dan banyak pertanyaan lain yang mulai saya cari jawabannya.
Menganut kepercayaan Asia Timur sedang populer saat itu, jadi saya mulai membaca tentang kepercayaan-kepercayaan ini dan mulai untuk pertama kalinya memikirkan kematian. Saya menyadari bahwa roh akan berpindah ke kehidupan lain dan tidak akan terbatas pada kehidupan ini. Saya merasa saat itu bahwa saya berada di awal jalan hidayah, jadi saya mulai memperoleh kebiasaan-kebiasaan spiritual seperti berfikir dan bermeditasi, menjadi vegetarian agar jiwa saya mulia dan membantu jiwa mencapai kejernihan spiritual. Saya mulai percaya pada kekuatan kedamaian jiwa dan merenungkan bunga-bunga. Tetapi hal terpenting yang saya capai di fase ini adalah menyadari bahwa saya bukan hanya tubuh.
Suatu hari ketika saya sedang berjalan, tiba-tiba hujan turun dan saya berlari untuk berlindung dari hujan. Saya teringat ucapan yang pernah saya dengar sebelumnya bahwa tubuh seperti keledai yang harus dilatih agar membawa pemiliknya ke mana pun dia inginkan, jika tidak maka keledai akan membawa pemiliknya ke tempat yang diinginkannya. Jadi saya adalah manusia yang memiliki kehendak dan bukan hanya tubuh, sebagaimana saya mulai memahami melalui bacaan saya tentang kepercayaan-kepercayaan Timur, tetapi saya bosan total dengan Kristen.
Setelah sembuh, saya kembali ke dunia menyanyi dan musik lagi, tetapi musik saya mulai mencerminkan pemikiran-pemikiran baru saya. Saya ingat salah satu lagu saya yang berkata: “Andai aku tahu Andai aku tahu siapa yang menciptakan surga dan neraka Apakah aku akan mengetahui kebenaran ini saat aku di tempat tidurku Ataukah di ruangan berdebu Sementara yang lain berada di kamar-kamar hotel mewah.”
Saat itulah saya tahu bahwa saya berada di jalan yang benar.
Saat itu saya juga menulis lagu lain “Jalan Menuju Mengenal Allah.” Ketenaran saya di dunia musik bertambah dan saya mengalami masa-masa sulit karena ketenaran dan kekayaan saya bertambah sementara dari dalam saya sedang mencari kebenaran. Di fase itu saya menjadi yakin bahwa Buddhisme mungkin merupakan kepercayaan yang mulia dan luhur, tetapi saya tidak siap meninggalkan dunia dan mengkhususkan diri untuk ibadah karena saya masih melekat dan terikat pada dunia, dan saya tidak siap menjadi rahib di kuil Buddha dan mengisolasi diri dari dunia.
Setelah itu saya mencoba mencari apa yang saya cari dalam ilmu astrologi atau angka dan kepercayaan-kepercayaan lain, tetapi saya tidak yakin dengan kesemuanya. Saya tidak tahu apa-apa tentang Islam saat itu dan saya mengenalnya dengan cara yang saya anggap sebagai mukjizat. Saudara saya bepergian ke Yerusalem dan kembali terpukau dengan Masjidil Aqsha dan dengan gerakan serta vitalitas yang memenuhi tempat itu, berbeda dengan gereja dan kuil Yahudi yang selalu kosong.
Kisahku dengan Al-Quran:
Saudara saya membawakanku dari Yerusalem salinan terjemahan Al-Quran. Meskipun dia tidak memeluk Islam, tetapi dia merasakan sesuatu yang aneh terhadap kitab ini dan berharap saya akan menyukainya dan menemukan yang saya cari di dalamnya.
Ketika saya membaca kitab itu, saya menemukan petunjuk di dalamnya. Ia memberitahu saya tentang hakikat keberadaan saya, tujuan hidup, hakikat penciptaan saya, dan dari mana saya berasal. Saat itulah saya yakin bahwa ini adalah agama yang benar dan bahwa hakikat agama ini berbeda dari pandangan Barat tentangnya, dan bahwa itu adalah agama praktis, bukan kepercayaan yang digunakan ketika usia tua dan berkurang keinginan hidup seperti kepercayaan-kepercayaan lain.
Masyarakat Barat mencap siapa pun yang ingin menerapkan agama dalam hidupnya dan berkomitmen kepadanya sebagai ekstremis, tetapi saya tidak ekstremis. Saya bingung tentang hubungan antara roh dan tubuh, lalu saya tahu bahwa keduanya tidak terpisah dan bahwa mungkin menjadi religius tanpa meninggalkan kehidupan dan tinggal di gunung. Saya juga tahu bahwa kita harus tunduk pada kehendak Allah dan bahwa itulah satu-satunya jalan kita menuju kemuliaan dan keluhuran yang dapat mengangkat kita ke tingkat malaikat. Saat itulah keinginan saya untuk memeluk Islam menguat.
Saya mulai menyadari bahwa segala sesuatu adalah ciptaan Allah dan buatan-Nya, dan Dia tidak mengantuk dan tidak tidur. Saat itulah saya mulai melepaskan kesombongan saya karena saya mengenal Pencipta saya dan juga mengetahui alasan sebenarnya keberadaan saya, yaitu tunduk sepenuhnya pada ajaran Allah dan patuh kepada-Nya, yang dikenal sebagai Islam. Saat itulah saya menemukan bahwa saya Muslim dalam lubuk hati.
Ketika membaca Al-Quran, saya tahu bahwa Allah telah mengutus semua rasul dengan satu pesan. Lalu mengapa Kristen dan Yahudi berbeda? Ya, orang Yahudi tidak menerima Kristus karena mereka mengubah perkataannya, dan bahkan orang Kristen sendiri tidak memahami pesan Kristus dan mengatakan bahwa dia adalah anak Allah. Semua yang saya baca dalam Al-Quran dari alasan dan justifikasi tampak masuk akal dan logis.
Di sinilah keindahan Al-Quran – ia mengundang Anda untuk merenungkan dan berfikir dan tidak menyembah matahari atau bulan tetapi menyembah Pencipta yang menciptakan segala sesuatu. Al-Quran memerintahkan manusia untuk merenungkan matahari dan bulan serta semua makhluk Allah. Pernahkah Anda memperhatikan seberapa berbedanya matahari dari bulan? Meskipun jarak mereka dari bumi berbeda, tetapi masing-masing tampak seolah berada pada jarak yang sama dari bumi! Dan terkadang tampak seolah salah satunya menutupi yang lain! Subhanallah.
Ketika astronot naik ke luar angkasa dan memperhatikan kecilnya ukuran bumi dibandingkan luar angkasa, mereka menjadi beriman kepada Allah karena mereka menyaksikan ayat-ayat kekuasaan-Nya.
Semakin banyak saya membaca Al-Quran, semakin saya tahu tentang shalat, zakat, dan perlakuan yang baik. Saya belum memeluk Islam tetapi saya menyadari bahwa Al-Quran adalah yang saya cari dan bahwa Allah telah mengirimkannya kepada saya, tetapi saya merahasiakan apa yang ada dalam diri saya dan tidak mengungkapkannya kepada siapa pun. Karena pemahaman saya bertambah tentang maknanya, ketika saya membaca bahwa tidak halal bagi orang-orang beriman mengambil wali dari orang-orang kafir, saya berharap dapat bertemu saudara-saudaraku seiman.
Memeluk Islam:
Saat itu saya berpikir untuk pergi ke Yerusalem seperti yang dilakukan saudara saya. Di sana, sementara saya duduk di masjid, seorang pria bertanya kepada saya: “Apa yang kamu inginkan?” Saya memberitahunya bahwa saya seorang Muslim. Kemudian dia bertanya tentang nama saya, jadi saya berkata kepadanya: “Stevens,” dan pria itu bingung. Saya bergabung dengan barisan orang-orang yang shalat dan mencoba melakukan gerakan-gerakan sebaik mungkin.
Setelah kembali ke London, saya bertemu seorang saudari muslimah bernama Nafisa dan memberitahunya keinginan saya untuk memeluk Islam. Dia menunjukkan saya ke masjid New Regent. Itu terjadi pada tahun 1977, sekitar satu setengah tahun setelah saya membaca Al-Quran. Saat itu saya telah yakin bahwa saya harus membuang kesombongan saya, membuang setan, dan menuju satu arah. Pada hari Jumat setelah shalat, saya mendekati imam dan mengucapkan syahadat di hadapannya.
Meskipun saya mencapai kekayaan dan ketenaran, saya tidak sampai pada hidayah kecuali melalui Al-Quran. Sekarang saya bisa melakukan komunikasi langsung dengan Allah, berbeda dengan keadaan dalam Kristen dan agama-agama lain. Seorang wanita Hindu pernah berkata kepada saya: “Kamu tidak memahami Hindu – kami beriman kepada satu tuhan tetapi kami menggunakan patung-patung ini untuk konsentrasi.” Maksud kata-katanya adalah harus ada perantara untuk menghubungkan Anda dengan Allah. Tetapi Islam menghapus semua penghalang ini, dan satu-satunya hal yang memisahkan antara orang beriman dan lainnya adalah shalat. Itulah jalan menuju kesucian spiritual.
Akhirnya saya ingin mengatakan bahwa semua amal saya bertujuan mencari wajh Allah dan saya berdoa kepada Allah agar kisah saya menjadi pelajaran bagi yang membacanya. Saya ingin menegaskan bahwa saya tidak bertemu Muslim mana pun sebelum yakin dengan Islam dan tidak terpengaruh oleh siapa pun. Saya membaca Al-Quran dan memperhatikan bahwa tidak ada manusia yang sempurna tetapi Islam sempurna, dan jika kita menerapkan Al-Quran dan ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita akan berhasil dalam kehidupan ini. Saya berdoa kepada Allah agar Dia memberi kita taufik dalam mengikuti jalan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amin.
Yusuf Islam (sebelumnya Cat Stevens)
Dari Ucapan-ucapan Yusuf Islam:
- “Saya tidak mengenal kebahagiaan sebelum masuk Islam.”
- “Sejak saya mulai membaca Al-Quran… dan semakin saya banyak membaca semakin saya takjub!! Mengapa orang-orang berjalan tanpa petunjuk di dunia ini padahal dalil di depan mereka dan cahaya di depan mereka?! Ketika saya membaca Al-Quran, saya yakin bahwa itu bukan buatan manusia, dan saya menemukan tauhid di dalamnya selaras dengan fitrah yang Allah ciptakan manusia di atasnya. Definisi Al-Quran tentang Pencipta alam semesta mengguncang saya. Saya menemukan Islam melalui Al-Quran dan bukan dari perbuatan orang-orang Muslim. Wahai orang-orang Muslim, jadilah Muslim yang sesungguhnya agar Islam dapat menyebar ke seluruh dunia, karena Islam adalah kedamaian bagi seluruh dunia.”
- “Saya ingin hidup untuk Islam… sepanjang hari saya… dengan menit-menitnya dan detik-detiknya… dan Islam cukup… bagi saya… dan saya tidak menginginkan hal lain dari dunia ini.”
Yusuf Sebelum Islam:
Yusuf Islam lahir dengan nama Steven Demetre Georgiou pada bulan Juli 1947 dari ibu Swedia dan ayah dari Cyprus Yunani. Steven dibesarkan di daerah West End London di apartemen yang terletak di atas restoran milik orangtuanya.
Karena ayahnya dari Cyprus Yunani, dia menganut mazhab Ortodoks Yunani tetapi dia mendapat pendidikan di sekolah Katolik. Stevens meraih 8 album emas berturut-turut dan lagu-lagunya meraih ketenaran luas di Inggris dan Amerika Serikat.
Yusuf Islam memiliki situs di internet dengan alamat http://www.yusufislam.org.uk
68. Dr. Robert Crane, Penasihat Presiden Amerika Nixon
Profil Singkat:
Doktor dalam Hukum Internasional dan Perbandingan, Presiden Asosiasi Harvard untuk Hukum Internasional, penasihat Presiden Amerika Nixon untuk Urusan Luar Negeri, dan mantan Wakil Direktur Dewan Keamanan Nasional di Gedung Putih, serta pendiri Asosiasi Pengacara Muslim Amerika.
Memeluk Islam pada tahun 1980 M.
Dr. Farouk Abdul Haq berkata mengecam serangan pers terhadap Islam di Amerika: “Jika orang-orang membaca surat kabar di Amerika, mereka pasti akan ketakutan dengan Islam.”
Dan dia berkata dengan yakin tentang masa depan Islam: “Islam adalah satu-satunya solusi, karena dialah yang membawa keadilan dalam maqashid syariah, dalam hal-hal umum dan khusus serta hal-hal yang dharuri.”
Dr. Farouk Abdul Haq (Robert Crane), penasihat Presiden Amerika Nixon dan Wakil Direktur Keamanan Nasional Amerika, adalah salah seorang penasihat mantan Presiden Nixon. Seorang yang memiliki doktor dalam studi peradaban dan merupakan tokoh terkemuka di sana. Dia bekerja di Luar Negeri Amerika dan Gedung Putih selama tiga puluh tahun. Ketika Nixon ingin menulis bukunya, dia meminta dari CIA file tentang fundamentalisme Islam, lalu mereka memberikannya file lengkap tentang fundamentalisme Islam. Dia tidak punya waktu yang memungkinkannya membacanya, jadi dia serahkan kepada Robert Crane. Setelah membacanya, dia langsung masuk Islam.
Perlu diketahui bahwa file yang dia baca dan yang menjadi sebab keislamannya telah ditulis oleh CIA Amerika dan bukan oleh tangan Islam, namun demikian dia masuk Islam. Dia sekarang menulis serangkaian artikel di majalah yang merupakan salah satu majalah Barat terpenting.
Itulah iman yang mengetuk hati.
Dr. “Crane” adalah salah seorang pakar politik terkemuka di Amerika. Dia adalah pendiri dan pencipta Pusat Peradaban dan Pembaharuan di Amerika. Setelah memperoleh gelar magister dalam Sistem Hukum Perbandingan dari Universitas Harvard dan setelah mendirikan surat kabar “Harvard” untuk Hukum Internasional dan menjadi Presiden pertama Asosiasi Harvard untuk Hukum Internasional, dia bekerja selama satu dekade dalam apa yang disebut “Pusat-pusat Konsultatif untuk Para Pembuat Kebijakan di Washington”.
Pada tahun 1962 M dia berpartisipasi dalam mendirikan Pusat Studi Strategis Internasional. Dari tahun 1963 M hingga tahun 1968 M dia menjadi penasihat terbesar mantan Presiden Richard Nixon dalam kebijakan luar negeri. Pada tahun 1969 M Nixon menunjuknya sebagai Wakil Direktur Dewan Keamanan Nasional di Gedung Putih. Pada tahun 1981 M Ronald Reagan menunjuknya sebagai Duta Besar Amerika Serikat untuk Uni Emirat Arab.
Setelah masuk Islam, Dr. Green bekerja sebagai direktur bagian hukum untuk Dewan Islam Amerika dan menjadi ketua pendiri Asosiasi Pengacara Muslim Amerika. Dia meraih gelar doktor hukum pada tahun 1959 dan menguasai enam bahasa hidup. Dia sudah menikah dan memiliki lima orang anak. Dia telah menerbitkan sepuluh buku dan lima puluh artikel khusus tentang sistem hukum perbandingan, strategi global, dan manajemen informasi.
Kisah Masuk Islam Dr. Green
Tentang bagaimana dia menemukan hidayah Islam, dia berkata:
“Pada tahun 1980, setelah kemenangan Revolusi Islam di Iran, minat orang-orang di Barat terhadap Islam meningkat. Namun minat mereka bukanlah kekaguman, melainkan mereka menganggapnya sebagai ancaman bagi mereka. Karena itu, banyak pemikir mengadakan seminar dan konferensi tentang topik ini. Saya menghadiri salah satu konferensi untuk melihat seperti apa studi dan tesis yang dipresentasikan (pada musim gugur 1980). Banyak pemimpin pemikiran Islam yang berpartisipasi dalam konferensi tersebut, termasuk Dr. Hasan al-Turabi yang berbicara beberapa kali dan menjelaskan Islam secara menyeluruh, persis seperti yang saya cari. Saya menyadari bahwa dia maju dalam pemikirannya, kemudian saya melihatnya shalat dan sujud. Saya sebenarnya menentang masalah sujud, karena menurut saya manusia tidak boleh sujud kepada siapa pun, karena itu merupakan penghinaan baginya dan kemanusiaannya. Namun saya menyadari bahwa Syaikh Hasan al-Turabi membungkuk dan sujud kepada Allah, maka seharusnya saya juga membungkuk dan sujud, dan itulah yang saya lakukan. Sejak hari itu, saya masuk Islam di tangan Dr. Hasan al-Turabi.”
Pencarian akan Keadilan
Tentang kegelisahan yang menghantuinya yang kemudian menemukan jawaban dalam Islam, Green berkata:
“Ayah saya adalah profesor di Universitas Harvard. Dia mengajari saya untuk peduli dan membela apa yang benar, dan berusaha menghindari kesalahan. Saya menghabiskan sebagian besar waktu saya mencari keadilan sebelum menjadi Muslim. Dalam seminar yang mempertemukan saya dengan Profesor Roger Garaudy di Damaskus, saya mendengarnya berbicara dan menyerang kapitalisme sejak dia menjadi komunis. Kami berdua memiliki tujuan yang sama, yaitu mendukung keadilan. Kami berdua menentang fokus pada kekayaan, karena perhatian pada pengumpulan kekayaan bukanlah keadilan. Garaudy mengikuti prinsip Marxis yang berusaha menghancurkan kepemilikan, sementara saya menganggap kepemilikan sebagai kunci kebebasan. Namun kami berdua melihat bahwa kepemilikan pada akhirnya menyebabkan ketidakadilan dan ketidaksebaran keadilan, dan kami berdua mengadvokasi sistem yang menghasilkan dan memberikan keadilan untuk semua… Karena itu kami menemukan bahwa Islam adalah satu-satunya solusi, karena Islam membawa keadilan dalam tujuan syariah, dalam hal-hal umum dan khusus serta kebutuhan-kebutuhan pokok. Sebagai pengacara, saya mencari prinsip-prinsip yang bukan buatan manusia…”
Dr. Green melanjutkan pembicaraannya dengan menyinggung bahwa Barat mengambil kebajikan ini dari Timur, yaitu tujuan dan maksud, kemudian memperluas dan mengubahnya dalam mengejar kekuasaan menjadi peradaban besar. Kekuatan ini telah menyebabkan pengendalian atas dunia. Barat telah kehilangan motivasi untuk peradaban dan kemajuannya di sini. Kenyataannya, pencarian keadilan bukanlah tujuan di Barat.
“Karena itu saya mulai berusaha dan mencari keadilan. Yang mengejutkan, ketika saya pergi ke Universitas Harvard dan meraih gelar hukum saya, saya tinggal di sana selama tiga tahun tanpa pernah mendengar kata keadilan satu kali pun.”
Karir Sebagai Penasihat Luar Negeri
Tentang bagaimana dia dipilih sebagai penasihat urusan luar negeri Amerika, dia berkata:
“Pada tahun 1963 saya menulis artikel panjang tentang konflik antara Rusia dan Amerika. Presiden Nixon membaca artikel ini di pesawat. Setelah itu dia memanggil saya dan menugaskan saya untuk menulis buku tentang kebijakan luar negeri Amerika dan komunisme. Kemudian saya bekerja sebagai penasihat urusan luar negeri sejak tahun 1968. Sebagai hasil dari buku ini, saya diangkat sebagai wakil Presiden Nixon untuk keamanan nasional di Gedung Putih, dan ada empat wakil presiden, saya salah satunya. Pada tahun 1969, ketika Henry Kissinger mengambil alih Departemen Luar Negeri, dia mengakhiri pekerjaan saya karena 25 halaman dalam buku saya yang memuat topik Palestina. Saya saat itu mengusulkan pembentukan dua negara: Yahudi dan Palestina. Topik ini dibahas selama bertahun-tahun di tingkat tertinggi dalam lingkaran Amerika Serikat dan di Gedung Putih. Namun Kissinger menentang setiap orang yang meneliti topik ini… Kissinger menentang saya di setiap bidang yang saya masuki atau kerjakan. Kemudian Nixon menunjuk saya sebagai wakil untuk administrasi urusan salah satu negara bagian di Gedung Putih, dan saya juga bekerja dalam masalah Watergate.”
Setelah Skandal Watergate
“Setelah skandal Watergate, saya menemukan bahwa saya tidak dapat mempengaruhi kebijakan Amerika Serikat secara efektif dari dalam negara. Saya melihat bahwa satu-satunya solusi untuk menghilangkan ketidakadilan adalah membuat gerakan intelektual yang kembali ke idealisme di Amerika, dan menyerukan pemulihan warisan Amerika yang hampir hilang… warisan yang telah hilang ini. Cita-cita luhur ini tidak lagi ada di Amerika. Namun saya menemukannya dalam Islam. Karena itu saya melihat bahwa jalan untuk menghidupkan kembali warisan Amerika akan melalui Islam, dan inilah yang saya kerjakan sejak masuk Islam pada tahun 1980.”
Konferensi ISAN 1986
Tentang poin ini, dengan agak rinci, sahabat kita kembali membahasnya dalam Konferensi ke-24 Persatuan Islam di Amerika Utara (dikenal dengan singkatan ISAN) yang diadakan antara 29 Agustus hingga 1 September 1986 di kota Indianapolis, yang didedikasikan untuk membahas masa depan Islam di Amerika Utara. Dr. Faruq Abdul Haq (Green) mempresentasikan perbandingan premis-premis yang menentukan orientasi kebijakan luar negeri Amerika dan gambaran ideal yang menjadi dasarnya, dan karena itu kebijakan Amerika tetap stabil karena stabilitas premis-premis ini… Mengenai Islam, kebijakan berfokus pada keadilan, dan keadilan dapat didefinisikan sebagai kehendak Allah.
Dari sini dia melihat bahwa ada kebutuhan untuk pemikir Islam untuk menjelaskan kepada orang Amerika bagaimana Amerika harus menjalankan kebijakan luar negerinya, dan menunjukkan bahwa keadilan adalah jalan panjang yang harus dilalui Amerika.
Pandangan tentang Masa Depan Islam di Amerika
Sementara Dr. Faruq tidak menunjukkan kekhawatiran tentang kelangsungan Islam di Amerika, dia menekankan perlunya fokus pada membangun pemikiran tinggi untuk konsep Islam di kalangan pemuda khususnya. “Mereka harus memahami dunia modern, dan menemukan jawaban-jawaban Islam untuk semua masalah yang dihadapi masyarakat. Di sisi lain, kita harus menumbuhkan dan mengembangkan kepemimpinan intelektual di antara Muslim dan di semua bidang pengetahuan. Tujuan dari kedua hal ini adalah memperkuat keadilan di dunia… Dan ini menjadikan Islam sebagai kekuatan positif untuk kebaikan di dunia. Prioritas-prioritas ini berlaku untuk Barat sebagaimana berlaku untuk dunia Islam.”
Dr. Faruq Abdul Haq memiliki pandangan dan konsepsi mendalam tentang isu-isu utama dan tantangan yang dihadapi Muslim di dunia saat ini… Ketika dia mengarahkan kritik kepada Barat atas pandangan mereka yang bias dan terbatas terhadap Islam, dia tidak lupa mengarahkan celaan kepada beberapa Muslim di Timur atau Barat yang tidak memahami ajaran-ajaran Islam. Sulit, sebagaimana dia katakan, untuk membuat orang Barat memahami hakikat Islam karena banyak Muslim yang tinggal di Barat tidak mempraktikkan dan hidup sesuai ajaran Islam.
69. Pemain Basket Amerika Mahmoud Abdul-Rauf
Pemain basket Amerika terkenal mengumumkan masuk Islam dan mengubah namanya dari Chris Jackson menjadi Mahmoud Abdul-Rauf.
Puluhan ribu orang Amerika kulit hitam, baik tokoh terkemuka maupun orang biasa, dalam tiga dekade terakhir telah beralih ke Islam, karena menganggapnya sebagai agama kesetaraan dan keadilan. Islam adalah agama yang menjunjung tinggi keadilan sosial, menolak ketidakadilan, penindasan, dan diskriminasi antar manusia berdasarkan jenis kelamin atau warna kulit.
Karena orang Amerika kulit hitam ini dalam perjalanan iman mereka yang berujung pada memeluk Islam, mereka tidak hanya mencari keselamatan spiritual, tetapi juga berjuang demi iman pada agama yang menjaga martabat kemanusiaan mereka dan tidak merendahkan mereka karena warna kulit hitam atau perbudakan nenek moyang mereka oleh orang kulit putih. Hal ini hanya terwujud di bawah naungan Islam yang penuh dengan keadilan dan kesetaraan.
Islam telah menumbuhkan harapan dalam diri mereka dan memperbarui impian mereka untuk masa depan. Ketika mereka menelusuri sejarah Islam, mereka terhenti pada makna kesetaraan manusiawi yang menyatukan Bilal al-Habashi, Shuhaib ar-Rumi, Salman al-Farisi, dan sahabat-sahabat Rasulullah yang lain. Keunggulan mereka dalam Islam datang dari keunggulan mereka dalam beriman kepada agama Allah dan membenarkan risalah Muhammad.
Kita mengikuti dalam episode hari ini dari file “Muslim Baru” perjalanan iman pemain basket Amerika terkenal Chris Jackson yang membawanya untuk memeluk Islam dan mengubah namanya menjadi Mahmoud Abdul-Rauf, yang berjuang untuk berkomitmen pada ajaran agama barunya dan mengesampingkan godaan duniawi.
Latar Belakang Chris Jackson
Sebelum memeluk Islam, Chris Jackson merasa bahwa orang Amerika kulit hitam, meskipun mereka mendapat ketenaran dan pengakuan dari masyarakat Amerika karena keunggulan mereka di bidang olahraga dan seni, mereka kekurangan gerakan terorganisir yang mewujudkan tuntutan mereka untuk hidup dengan martabat dan kemanusiaan, dan mendorong mereka untuk memandang cakrawala masa depan dengan keseriusan, kerja keras, dan komitmen pada akhlak mulia serta menjauhi tempat kejahatan dan narkoba. Demikianlah dimulai perjalanan iman dalam mencari agama yang mewujudkan baginya dan bangsanya tingkat martabat kemanusiaan dan keadilan sosial.
Para Muslim Amerika kulit hitam ini kemudian bekerja keras sesuai dengan ajaran agama baru mereka, dengan ikhlas dan tekun untuk mewujudkan aspirasi mereka akan masa depan yang cerah dan harapan serta impian mereka akan masa depan di mana mereka dan anak-anak mereka dapat hidup dalam damai, keamanan, dan kemakmuran.
Perbaikan Kondisi dan Pemberdayaan Potensi
Jackson melihat perlunya orang Amerika kulit hitam mengubah apa yang ada dalam diri mereka dengan berjuang untuk meningkatkan diri dan keluarga mereka, kemudian meningkatkan masyarakat mereka menjadi lebih baik. Dia juga melihat perlunya para pemimpin mereka untuk menumbuhkan harapan dalam diri mereka, mendorong mereka untuk bekerja, dan mengajak mereka untuk berkomitmen pada akhlak mulia serta menjauhkan diri dari hal-hal yang meragukan, agar mereka memiliki peran aktif dalam memperbaiki kondisi sosial mereka, dan kemudian kondisi masyarakat mereka di Amerika Serikat melalui pendidikan dan kerja.
Karena itu Jackson melihat perlu baginya untuk mencari agama yang menuntunnya ke jalan yang lurus dan menjawab pertanyaan-pertanyaannya yang bingung tentang kesetaraan dan keadilan sosial, dan kemudian membuatnya merasakan kemanusiaannya serta meledakkan potensi tersembunyi dalam dirinya untuk kebaikan dan manfaat guna mencapai apa yang dia dambakan dalam hidup ini.
Perjalanan Iman
Dari sinilah dimulai tur iman Jackson dalam agama-agama. Dia tertarik pada makna kebebasan, martabat, kesetaraan, dan keadilan sosial dalam Islam. Dia merasa telah menemukan apa yang dicarinya, lalu mulai mempelajarinya secara mendalam. Hatinya dipenuhi iman dan Allah memasukkan cahaya hidayah dan kebenaran ke dalam hatinya. Jackson yakin bahwa Islam adalah agama yang dicarinya, maka dia mengumumkan masuk Islam secara resmi pada tahun 1991, dan berusaha mengubah namanya menjadi Mahmoud Abdul-Rauf.
Kontroversi Lagu Kebangsaan
Pemain basket Amerika Mahmoud Abdul-Rauf menimbulkan kontroversi di berbagai media Amerika pada Maret 1996 ketika dia dikenai sanksi diskors dari Asosiasi Basket Nasional Amerika karena menolak berdiri untuk menghormati lagu kebangsaan Amerika dan bendera Amerika saat pertandingan basket penting berlangsung.
Bentrokan Abdul-Rauf dengan Asosiasi Basket Nasional mengambil dimensi yang lebih luas dari sekadar bentrokan atau perselisihan olahraga. Konflik ini membuktikan luasnya jurang antara Islam dan nasionalisme Amerika, menurut keyakinan pemain Abdul-Rauf, yang membuatnya bersikeras menolak. Demikianlah perselisihan ini menjadi bahan menarik bagi berbagai media Amerika.
Simbol Penindasan
Mahmoud Abdul-Rauf membenarkan penolakannya untuk berdiri menghormati lagu kebangsaan Amerika dan bendera Amerika, bahwa bendera Amerika adalah simbol penindasan dan tirani, karena itu dia menolak untuk berdiri menghormati dan mengagungkannya sebelum salah satu pertandingan yang diorganisir oleh Asosiasi Basket Nasional.
Sejak insiden itu, Abdul-Rauf tetap menunggu di ruang ganti sampai selesai pengibaran bendera Amerika dan menyanyikan lagu kebangsaan, atau duduk di luar lapangan sementara rekan-rekannya di dalam, berpura-pura sibuk mengikat sepatunya bersiap masuk lapangan selama musik lagu kebangsaan Amerika dimainkan.
Abdul-Rauf, yang penghasilannya dari basket diperkirakan sekitar 2,6 juta dolar per tahun, berkata bahwa agama saya lebih penting dari hal lain apa pun, karena itu saya berusaha agar kesetiaan saya kepada Allah lebih dulu daripada hal lain apa pun.
Abdul-Rauf kehilangan 31.707 dolar setiap pertandingan selama masa diskorsnya karena insiden tersebut. Abdul-Rauf berkata bahwa kewajiban saya terhadap Pencipta saya lebih besar dan mulia daripada pemikiran atau nasionalisme.
Keikhlasan Beragama
Rekan-rekannya pemain basket Amerika terbagi antara yang mendukung keputusannya yang menolak berdiri menghormati bendera Amerika dan lagu kebangsaan Amerika sebelum pertandingan penting, dan yang menentang penolakan ini dengan alasan bahwa hal itu tidak bertentangan dengan agamanya dan komitmennya terhadap ajaran Islam.
Shaquille O’Neal, pemain basket paling mahal di Amerika Serikat, berkata: “Orang memiliki keyakinan berbeda yang harus dihormati.” Sementara Lafonso Ellis, rekan Abdul-Rauf di tim basket Nuggets Amerika, menyebutkan: “Kami yang beragama Kristen berharap bisa setulus Abdul-Rauf terhadap agamanya seperti ketulusan Abdul-Rauf terhadap agamanya.”
70. Pemain Sepak Bola Prancis Nicolas Anelka
Berita ini diterbitkan oleh surat kabar Al-Usbu’ Mesir… Tahun Kedelapan… Edisi 380… hal. 10… yang terbit pada hari Senin, 3 Jumadil Awwal 1425 H – 21 Juni 2004 M:
Meskipun dia tidak berpartisipasi dengan tim Prancis dalam perayaan Kejuaraan Piala Eropa, namun bintang berkulit gelap terkenal “Nicolas Anelka” yang bermain profesional di klub Manchester City Inggris dan mantan pemain Real Madrid Spanyol, mencuri perhatian dunia dari Portugal setelah bintang dunia ini mengumumkan pemelukan agama Islam, dan mengubah namanya dari “Nicolas Anelka” menjadi “Bilal Anelka”.
Bilal baru-baru ini melakukan kunjungan ke Arab Saudi ditemani dua belas pemain liga Prancis, sebagian besar dari mereka baru-baru ini memeluk Islam. Mereka ditemani dalam perjalanan yang sama oleh Syekh “Muhammad bin Yunus”, da’i Islam dan imam serta khatib Masjid Ar-Rahmah di Paris.
Selama kunjungan mereka ke klub Al-Ittihad Saudi, anggota kehormatan klub Ibrahim Al-Balawi memberikan hadiah berharga kepada Bilal dan rekan-rekannya, berupa CD untuk menjelaskan makna Al-Qur’an dalam bahasa Prancis.
Para pemain menghadiri ceramah agama di aula ceramah besar klub, dimana mereka menceritakan kisah dan perjalanan masing-masing dalam memeluk agama Islam.
Bilal Anelka mengatakan bahwa dia memeluk Islam tujuh tahun yang lalu melalui seorang teman Tunisia bernama “Ismail” yang bermain bersamanya di klub “Paris Saint Germain” yang selalu bercerita kepadanya tentang agama Islam, ajaran-ajarannya dan prinsip-prinsipnya. Alhamdulillahi rabbil alamiin atas masukku ke dalam barisan kaum Muslim, dan sangat bahagia dengan kunjunganku ke tanah suci Allah, tanah Ka’bah yang mulia dan tanah Rasulullah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Di antara pemain-pemain Prancis yang memeluk Islam adalah “Domi” pemain Leeds United Inggris, “Philippe” pemain Bordeaux Prancis dan rekan klubnya “Eric”, pemain Marseille “Doudou”, pemain Auxerre Prancis “Mendy” yang mengubah namanya menjadi Abdul Rashid, dan “Samuel” penjaga gawang tim Caen Prancis yang juga mengubah namanya menjadi Ismail.
Ini adalah berita yang diterbitkan, ditulis dari Dubai – Zafar Allah Al-Muadzin: Kunjungan yang dilakukan bintang Prancis Nicolas Anelka dan temannya Didier Domi yang bermain profesional di klub Leeds United ke Uni Emirat Arab sekitar dua minggu lalu seharusnya berlalu dengan damai dan tanpa menyebabkan sakit kepala bagi bintang Prancis dan temannya, seandainya foto-foto yang dipublikasikan di internet di situs-situs beberapa klub Emirat tidak bocor ke surat kabar Prancis dan Inggris.
Foto-foto yang menampilkan Nicolas Anelka mengunjungi masjid-masjid, bertemu dengan para pemuda Muslim, dan menghadiri pelajaran agama menjadi bahan yang kaya di pers Prancis dan pers sensasional di Inggris.
France Football adalah yang pertama menerbitkan foto-foto ini dan mengatakan bahwa Anelka mengumumkan Islamnya di Emirat dan mengaitkannya dengan pernyataan dimana dia mengatakan bahwa dia “menemukan keseimbangannya dalam agama Islam dan dia berharap bisa menetap di negara Islam untuk menjalankan ritual agamanya dengan bebas dan membimbing saudara-saudaranya ke Islam”.
Surat kabar London EVENING STANDARD memuat topik tersebut dan menerbitkan foto Anelka bersama sekelompok pemuda di dalam salah satu masjid. Surat kabar tersebut mengatakan bahwa Anelka sekarang bernama “Bilal” dan dia sedang mengajak banyak rekan pemainnya yang bermain profesional di klub-klub Inggris untuk memeluk agama Islam.
Anelka marah dan menghubungi kantor berita “France Press” di ibu kota Prancis untuk menyangkal secara detail apa yang diberitakan di surat kabar Prancis dan Inggris, dan ketika dikatakan kepadanya bahwa foto-foto yang ada mendukung pernyataan yang dia berikan, Anelka mengatakan bahwa dia difoto tanpa izinnya dan foto-foto ini berkaitan dengan kehidupan pribadinya, dan Anelka segera menghubungi klub Manchester tempat dia bermain profesional untuk menyangkal bahwa dia mengumumkan ingin bermain di salah satu negara Islam.
Setelah mengakhiri kunjungannya ke Emirat, Anelka menuju Arab Saudi dimana dia menjadi tamu klub Ittihad Jeddah dan Pusat Berlian Dunia sebelum mengunjungi beberapa pusat Islam dan museum serta mendengarkan ceramah agama sambil mengenakan pakaian tradisional Teluk. Kemudian Anelka mengakhiri kunjungannya dengan melakukan ibadah umrah di Makkah Al-Mukarramah bersama teman-teman Prancisnya terutama Didier Domi pemain Leeds dan Thierry Tiouta pemain Paris Saint Germain.
Anelka menerima undangan dari klub Al-Wahda di Makkah, tetapi kejutan menunggu dan tidak terduga ketika dia terkejut dengan kamera televisi yang berdiri di pintu masuk klub untuk mempersiapkan pemotretan dirinya dengan teman-temannya, dan reaksi pemain sangat keras dimana dia meminta untuk tidak diambil gambar dan menolak masuk ke dalam bangunan karena khawatir ada kamera lain dan lensa fotografer. Anelka meminta maaf meskipun ada jaminan dari pejabat klub untuk masuk dan hanya berpuas diri dengan memberi salam kepada mereka, dan sebelum pergi dia meminta pejabat untuk mengeluarkan rekaman untuk memverifikasi foto-foto.
Anelka berkata bahwa dia terikat kontrak dengan Manchester City yang memonopoli hak gambar dan jika ada pelanggaran maka akan mengakibatkan denda dan masalah yang tak terhitung jumlahnya.
Anelka juga mengejar salah satu fotografer selama kunjungannya ke klub Al-Wahda di Abu Dhabi yang mengambil fotonya dengan pakaian tradisional dan menuntut untuk menghapus foto digital dari kamera digital!
Tetapi dia tidak menyangka bahwa foto-foto yang diambil oleh beberapa fotografer amatir yang dipublikasikan di situs Al-Nasr dan Al-Wasl dan situs lainnya akan jatuh ke tangan surat kabar Prancis dan Inggris!
“Mengapa Anelka memeluk Islam? Dan mengapa dia mengajak rekan-rekannya ke agama Islam? Dan mengapa Anelka menyembunyikan masalah pemelukan Islamnya selama tujuh tahun di Eropa”… Topik ini menjadi pusat diskusi radio-radio Prancis selama minggu lalu.
71. Aktor Amerika Will Smith
Setelah perjalanan panjang pencarian dan penelitian, aktor Amerika Will Smith memutuskan untuk memeluk Islam. Menurut situs ‘Nuevos Musulmanes’ di Valencia dan banyak situs Hollywood besar, yang membangkitkan keingintahuan aktor dunia untuk meneliti agama Islam adalah perannya dalam film ‘Ali’, yang menceritakan kisah hidup petinju Amerika Muslim ‘Muhammad Ali Clay’. Ketika dia membaca kisah hidup Muhammad Ali, dia mulai bertanya-tanya tentang hakikat agama yang agung ini dan mulai mencari rahasia-rahasianya dan bagaimana kekuatannya bertambah hari demi hari dan bagaimana jumlah pemeluknya juga bertambah hari demi hari, terutama di Amerika Serikat lebih dari negara lain manapun.
Will Smith menemukan, setelah membaca banyak tentang Islam, kebenaran yang menegaskan bahwa Islam adalah jalan yang benar yang harus diikuti dalam hidup ini. Dia telah menghubungi beberapa federasi dan pusat Islam di Amerika Serikat dan memutuskan untuk memeluk Islam.
Aktor dunia mengatakan bahwa dia akan melanjutkan studi dan penelitian tentang Islam agar bisa menerapkannya sebagaimana seharusnya.
Tuan Sufyan Zakout, direktur Perhimpunan Muslim Amerika Utara, mengatakan bahwa Muhammad Ali adalah teladan yang baik bagi Muslim, dan juga pembicara yang baik tentang Islam di Amerika Serikat di semua bidang, dan jika Will Smith bisa memainkan peran yang sama, itu akan sangat bermanfaat bagi Muslim di Amerika.
Will Smith pernah muncul dalam program di televisi Amerika untuk mengumpulkan sumbangan untuk tragedi September bersama Muhammad Ali, dan mereka membela Islam dan mengatakan bahwa itu adalah agama perdamaian dan cinta.
Perlu dicatat bahwa sejumlah besar orang Barat, terutama Amerika, telah mulai mempelajari Islam dan mengenalnya lebih dekat setelah peristiwa 11 September, dan buku-buku Islam mengalami popularitas dan antusiasme yang belum pernah terjadi sebelumnya dari pembaca Barat. Survei opini dan studi akademis menunjukkan peningkatan jumlah pemeluk Islam sebagai hasilnya, meskipun kampanye sengit yang dialami Islam di media Barat setelah peristiwa tersebut dan tuduhan terorisme dan kekerasan.
72. Aktor Italia Gino Lo Caputo
Seniman teater Italia Gino Lo Caputo mengumumkan Islamnya di ibu kota Yordania, Amman, di tangan temannya Dr. Sultan Al-Awaidah, Atase Kebudayaan Saudi di Amman.
Seniman Italia Gino Lo Caputo dikenal dengan kecintaannya yang besar kepada orang Arab, terutama yang Muslim, dan perhatiannya yang besar terhadap adat dan tradisi mereka yang sangat mirip dengan adat dan tradisi kota Conversano Italia, yaitu kota seniman yang terletak di selatan Italia, terutama perempuan-perempuannya dari kemiripan bentuk, kesopanan, perhatian, ciri-ciri, dan perlakuan kemanusiaan.
Seperti yang ditulis surat kabar Az-Zaman, Gino mengunjungi beberapa ibu kota Arab sebagai ungkapan cinta yang tersimpan di hatinya terhadap orang Arab seperti Baghdad, Tunis, Damaskus, Marrakech, dan Kairo. Seniman Italia memimpin Festival Mediterania di kota Pesicola Italia sejak 1996 dan memiliki beberapa minat dalam teater, sinema, dan puisi serta budaya dan seni anak-anak, selain menjadi pelopor Festival Internasional Puisi-Musik-Teater yang diadakan di kota Conversano di selatan Italia.
Ketika kami bertanya kepadanya tentang bagaimana dia memeluk Islam, dia menjawab: Bismillahir rahmanir rahim. Lebih dari dua puluh tahun aku berkeliling di negara-negara Arab dan Islam dan memperbarui simpanan budayaku dengan mendalami detail-detail Islam, dimana aku mempelajari rukun-rukannya, adzan, dan salat, selain kedekatan yang sangat dekat dengan agama Kristen. Aku tahu bahwa Islam itu untuk selamanya, didukung oleh nasihat dan pelajaran yang aku terima dari temanku Dr. Sultan Al-Awaidah, Atase Kebudayaan Saudi, yang sangat banyak meluangkan waktu untukku dan memberiku banyak informasi, kisah-kisah, biografi Muslim, pentingnya Al-Qur’an Al-Karim, dan hadits-hadits penutup para nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sampai aku merasakan kemenangan spiritual segera setelah memasuki agama Islam.
Aku memutuskan untuk belajar bahasa Arab, menghafal Al-Qur’an Al-Karim, dan berkomitmen menjaga batasan-batasan Allah dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, selain mempelajari sejarah sahabat-sahabat Muslim pertama.
Seniman Italia menambahkan: Aku menemukan bahwa semua peradaban manusia mengambil inspirasi nilai-nilainya dari agama Islam itu sendiri, dan bahwa Ibnu Khaldun dan Ibnu Rusyd adalah orang Arab, dan sayangnya Barat memandang Islam dengan pandangan yang salah.
Dia berkata: Aku melihat bahwa Islam membawa makna-makna mulia dan mengasah jiwa serta memberi manusia harapan dan kehidupan yang berdenyut dengan kebaikan, pemberian, iman, dan kedamaian. Aku menyadari bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa Allah dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
73. Penyanyi Amerika Jermaine Jackson, saudara Michael Jackson
Dia berkata tentang alasan Islamnya: “Pada tahun 1989 aku melakukan perjalanan ke negara-negara Timur Tengah, dan di Bahrain aku berdiri berbicara dengan sejumlah anak-anak. Mereka bertanya tentang agamaku, maka aku menjawab mereka ‘Saksi Yehuwa’.
Ketika aku bertanya kepada mereka tentang agama mereka, mereka menjawab dengan suara yang hampir serentak (Islam).
Jawaban ini membuatku takjub, anak-anak ini sangat bangga dengan agama mereka, dan ketika aku melanjutkan dengan pertanyaan, setiap anak berbicara kepadaku tentang Islam dengan bangga.
Pada saat itu aku tahu dengan seluruh jiwaku bahwa aku akan menjadi Muslim, maka aku bepergian ke Makkah dan mengumumkan Islamku di sana, dan menunaikan umrah.”
Dari perkataannya: “Ketika aku memeluk Islam, aku benar-benar merasakan bahwa aku telah terlahir kembali, karena aku menemukan dalam Islam semua pertanyaan yang sebelumnya membuatku bingung. Islam telah memberiku solusi untuk semua masalahku”
“Wanita di dunia Islam seperti mawar yang terjaga yang tidak dapat dijamah oleh setiap orang yang lewat”
“Masyarakat Amerika kami mendorong kekerasan, alkohol, dan narkoba, karena televisi menyajikan semua hal ini di atas piring perak”
Keluarga Jackson Amerika terkenal dengan menyanyi dan musik. Jackson ayah membentuk grup musik vokal yang sukses dari anak-anaknya. Grup “Jackson Five” pada awalnya adalah salah satu grup musik vokal paling sukses di Amerika Serikat, dan menjadi terkenal di tahun tujuh puluhan dan meraih ketenaran dunia yang luas. Grup musik vokal ini berkembang dari kesuksesan ke kesuksesan dan bertahta di puncak musik populer di Amerika. Album dan kaset mereka juga meraih pendapatan tertinggi dan lagu-lagu mereka memuncaki daftar lagu terlaris di seluruh dunia pada waktu itu.
Kemudian para seniman berbakat ini tumbuh dewasa, dan jalan hidup musik mereka berpisah, sehingga masing-masing membentuk grupnya sendiri. Tetapi keluarga secara keseluruhan tetap terikat erat dengan menyanyi dan musik.
Di tengah suasana musik vokal ini tumbuh Jermaine Jackson, saudara penyanyi Amerika terkenal Michael Jackson. Jermaine termasuk keluarga seni yang tidak ada yang tidak tahu ketenaran dan pengaruhnya dalam peta lagu populer Amerika. Dia dibesarkan dan dididik dalam suasana seni ini yang meninggalkan jejak yang jelas dalam perjalanan hidupnya hingga hari ini.
Jermaine Jackson memulai perjalanan imannya yang membawanya untuk memeluk Islam dari perjalanan seni ke sejumlah negara di kawasan Timur Tengah, di mana dia menemani kakak perempuannya. Di sana dia mengetahui kebenaran Islam dari mulut anak-anak.
Jermaine Jackson berkata: Ketika saya mengunjungi sejumlah negara di kawasan Timur Tengah pada tahun 1989 bersama kakak perempuan saya, di mana kami mengunjungi Bahrain selama periode ini dan banyak orang menyambut kami. Suatu kali saya berbincang dengan anak-anak di Manama selama perjalanan itu. Di antara pertanyaan polos mereka ada pertanyaan tentang agama saya, maka saya menjawab bahwa saya Kristen, dan saya bertanya kepada mereka tentang agama mereka, maka mereka menjawab dengan suara bulat bahwa agama mereka Islam. Mereka sangat bangga dengan kepemilikan agama ini, dan mulai berbicara tentangnya. Saya bertanya lebih banyak kepada mereka tentangnya dan masing-masing mulai bercerita kepada saya tentang Islam dengan cara yang membuat saya takjub, anak-anak yang saya cintai ini sangat bangga dengan agama mereka dan berbicara tentangnya dengan kegembiraan yang luar biasa.
Memeluk Islam
Jermaine menceritakan kisah Islamnya dan detailnya dalam wawancara yang dilakukan majalah “Al-Majallah” dalam edisi 966, dengan mengatakan: Sesungguhnya setelah kembali dari Bahrain dan berbicara dengan anak-anak itu tentang Islam, saya yakin bahwa saya akan menjadi Muslim. Saya berbicara dengan teman saya bernama Ali Qanbar tentang perasaan yang mulai menguasai saya sejak beberapa waktu dan saya ungkapkan kepadanya keinginan saya untuk belajar lebih banyak tentang Islam. Saya bepergian bersamanya ke Kerajaan Arab Saudi untuk mengenal Islam lebih dalam, dan di sana saya mengumumkan Islam saya.
Dan ketika Jermaine Jackson menjadi pecinta keluarganya dan sangat menyukai nyanyian serta musik sejak kecil, dia menyadari bahwa dia tidak akan meninggalkan nyanyian dan musik, bahkan hal tersebut menjadi misi baru baginya. Alih-alih pensiun dari seni, dia mulai merasakan dorongan baru melalui Islamnya untuk memberikan lebih banyak dalam perjalanan seninya, dengan harapan dapat memanfaatkan sorotan dan ribuan penggemar yang mencintainya, dengan menyampaikan pesan baru.
Jawaban untuk Pertanyaan-pertanyaan yang Membingungkan
Jermaine Jackson melanjutkan pembicaraan tentang awal perjalanannya dalam perjalanan iman yang membawanya memeluk Islam, di mana dia berkata: Saya bepergian dengan teman saya Ali Qanbar ke kota Riyadh untuk mengetahui lebih banyak tentang agama Islam, dan dari sana saya pergi ke Jeddah. Keluarga Saudi yang mulia membawa saya setelah saya memeluk Islam ke Makkah al-Mukarramah untuk melaksanakan umrah.
Jackson menggambarkan bahwa setelah Islamnya, dia merasa benar-benar terlahir kembali. Dia berkata: Saya memiliki banyak pertanyaan membingungkan yang saya cari jawabannya, terutama pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan Kekristenan dan Isa alaihissalam, maka saya menemukan jawaban yang siap dan meyakinkan untuk semua pertanyaan ini saat saya memeluk Islam.
Saya sebelumnya bingung sebagai seorang Kristen yang tumbuh dalam keluarga religius, karena selalu membingungkan saya bahwa Injil ditulis oleh orang-orang biasa. Selalu terlintas dalam pikiran saya bahwa mereka adalah manusia, maka setiap orang dari mereka akan mempertimbangkan dirinya dan kelompoknya dalam apa yang dia tulis, sementara Al-Quran adalah kitab Allah yang telah Allah jaga sepanjang tahun dan generasi “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (QS. Al-Hijr: 9).
Di Saudi Arabia saya menemukan kaset-kaset yang sangat indah dari mantan penyanyi Inggris dan da’i Islam Yusuf Islam, yang berisi debat tentang Islam dan Kekristenan, dan dari situ saya belajar banyak hal.
Kampanye Media yang Zalim
Jackson menyinggung bahwa ada kampanye media buruk terhadap Islam dan kaum Muslim di Amerika Serikat, dan yang mengherankan saya adalah orang-orang biasa di Amerika percaya pada kampanye media yang zalim ini karena ketidaktahuan mereka tentang hakikat Islam dan toleransi agama ini.
Yang mengherankan juga bahwa meskipun ada kesamaan besar antara Islam dan Kekristenan dalam banyak konsep, namun distorsi yang ditujukan terhadap Islam jauh lebih besar.
Jackson berkata: Kampanye media yang zalim di Amerika terhadap Islam dan kaum Muslim tidak hanya terbatas pada berbagai media, tetapi Hollywood sebagai pusat industri sinema Amerika berusaha dalam film-film yang diproduksinya untuk menggambarkan kepada orang-orang bahwa Muslim adalah teroris, pembunuh, dan penjahat.
Saya telah mengetahui melalui pengalaman saya sebelum dan sesudah memeluk Islam bahwa orang-orang seharusnya tidak percaya pada apa yang diproduksi Hollywood berupa film-film yang merugikan Islam dan kaum Muslim. Distorsi ini menyakiti setiap Muslim dan membuatnya berharap dapat mengubah gambaran ini dengan gambaran Islam yang sesungguhnya – Islam peradaban dan cahaya, Islam toleransi dan persaudaraan.
Islam… dan Solusi
Jackson berkata: Islam telah memberikan saya solusi untuk semua masalah saya, sehingga saya menjadi manusia tanpa masalah apapun. Dari dalam diri saya berubah dengan cara yang menakjubkan, di mana saya berhenti minum alkohol sepenuhnya dan hal-hal haram lainnya sebagai ketaatan terhadap perintah agama baru saya.
Karena khawatir terhadap pengaruh saya pada anggota keluarga Jackson lainnya dan meyakinkan mereka untuk memeluk Islam, mereka mengorganisir kampanye melawan saya dan menuduh saya sebagai musuh Semit, dan bahwa karena Islam saya, saya tidak bisa hidup berdampingan dengan orang lain, dan ini omong kosong, karena agama Islam adalah agama hidup berdampingan dalam damai dan aman dengan orang lain.
Hikmah Poligami
Mengenai gema Islamnya di kalangan anggota keluarganya, Jermaine Jackson berkata: Ibunya mengetahui berita Islamnya dari media sebelum dia tiba di Amerika Serikat dari Arab Saudi, di mana saya mengumumkan Islam saya dan melaksanakan umrah di Makkah al-Mukarramah.
Ibu saya adalah orang yang religius dan berkomitmen pada agamanya, oleh karena itu pertanyaannya ketika saya datang ke rumah adalah apakah saya benar-benar yakin dengan pilihan ini yang benar-benar saya inginkan, dan jawaban saya adalah bahwa Islam adalah pilihan yang benar-benar saya inginkan.
Mengenai gema Islamnya di kalangan saudara-saudaranya, Jermaine berkata: Keputusan saya memeluk Islam adalah keputusan yang mengejutkan semua anggota keluarga saya, oleh karena itu mereka terkejut dengan keputusan saya, dan apa yang mereka dengar tentang Islam dan kaum Muslim dari berbagai media, misalnya apa yang mereka dengar tentang poligami. Orang Amerika sama sekali tidak memahami hikmah dari dibolehkannya poligami meskipun perselingkuhan tersebar di masyarakat Amerika, sementara Islam membolehkan anda selama mampu menafkahi untuk menikah dengan lebih dari satu istri daripada masalah perceraian dan perselingkuhan.
Jermaine menambahkan: Muslim di dunia Arab mencintai istri dan anak-anak mereka, dan wanita di sana dihormati dan dimuliakan, tetapi banyak orang Amerika tidak memahami ini, dan saya sangat kagum dengan gaya pendidikan di masyarakat Islam.
Jermaine Jackson berkata bahwa dia biasanya hanya membaca Al-Quran al-Karim, meskipun dia memiliki banyak buku Islam, tetapi dia merasa bahwa semua buku ini bersumber dari Al-Quran al-Karim, oleh karena itu dia selalu bersemangat membaca kitab Allah.
Mualaf Baru – Penyusun: Imam Muhammad Imam
74. Musisi Inggris Brian White
Ibrahim: “Masjid-masjid Inggris telah menjadi perkampungan Asia yang curiga terhadap Muslim kulit putih dan hitam.”
Musisi Inggris Brian White menjalani kehidupan biasa yang tidak menarik perhatian pers dan jurnalis hingga namanya menjadi headline surat kabar lokal di daerah tempat tinggalnya, di mana surat kabar tersebut menerbitkan berita tentang Brian dengan judul “Brian Berlindung kepada Allah,” mengumumkan pelukan Islamnya.
Demikianlah perubahan besar mulai terjadi dalam kehidupan Brian dan membuatnya menjadi kehidupan yang luar biasa.
Dalam episode ini kita mengikuti perjalanan iman yang membawa White memeluk Islam, dan mengubah namanya dari Brian White menjadi Ibrahim White. Kemudian meninggalkan musik, alkohol, dan malam-malam yang mesum untuk bekerja keras mengikuti perintah Allah Ta’ala dan menjauhi larangan-Nya.
Brian White memutuskan pada tahun 1981 untuk menjadi Muslim dengan memeluk Islam, untuk bergabung dengan puluhan ribu orang Inggris yang memeluk Islam selama dua dekade terakhir. Dia meninggalkan kehidupan musik yang gaduh. White adalah pemain musik dalam band musik militer. Dia juga mengundurkan diri dari pekerjaannya di perusahaan asuransi, untuk fokus pada dakwah kepada Allah dan mempelajari lebih banyak ajaran dan prinsip Islam.
White lahir di North Shields, tetapi dia tidak tahu apa-apa tentang komunitas Yaman di South Shields, yang merupakan salah satu komunitas Muslim tertua di Inggris. Komunitas Yaman ini menetap pada awal migrasinya di timur laut Inggris satu abad yang lalu.
White berkata menggambarkan dirinya: Kemungkinan saya adalah rasis ekstrem dalam rasisme saya sebelum memeluk Islam, agama yang mengajarkan saya makna toleransi dan kasih sayang antar manusia dan menghilangkan dari saya kejahatan ekstremisme, kebencian, dan kekejaman.
White menambahkan: Saya pikir karena rasisme dan ekstremisme saya yang berlebihan, saya tidak berbicara dengan orang non-kulit putih selama 21 tahun hidup saya. Saya adalah orang yang terlalu bangga dengan diri sendiri dan warna kulit saya, menjalani kehidupan yang bersih dan bermartabat, dan bersungguh-sungguh dalam pekerjaan seperti anak-anak utara Inggris lainnya. Saya mengira dunia berakhir di kota Middlesbrough Inggris, tempat saya dibesarkan dan dididik.
Perjalanan Afrika Selatan:
White menjelaskan bahwa sebagai musisi berpengalaman dengan band musik militer, dia berpartisipasi dalam pertunjukan musik dengan band-band terkenal. Dia ingat bahwa dia bermain dengan band musik Sting dalam salah satu konser di Albert Hall London pada tahun 1975. Konser ini diadakan dalam kompetisi untuk memilih band musik terbaik di tingkat nasional.
Setelah berpartisipasi dalam konser musik tersebut, White pergi ke Johannesburg di Afrika Selatan untuk mengunjungi Abda, calon istrinya, dan di sanalah dimulai tonggak perjalanan imannya, karena dia pergi ke salah satu masjid di kota Johannesburg dan melihat jamaah dari berbagai ras dan warna kulit shalat bersama-sama.
White berkata: Ketika saya melihat pemandangan menakjubkan itu, saya berkata pada diri sendiri: Apa hakikat Islam ini? Agama yang mampu menyatukan orang-orang di Afrika Selatan dari semua tempat dan dari berbagai ras dan warna kulit? Ketika saya kembali ke Inggris, saya bersemangat untuk mulai membaca tentang agama Islam.
Memeluk Islam:
White berkata setelah terpengaruh oleh pemandangan yang saya saksikan di salah satu masjid Johannesburg, di mana jamaah dari berbagai ras dan warna kulit berkumpul di satu tempat menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala, saya berkata pada diri sendiri pasti ada rahasia besar dalam agama ini yang mampu menyatukan mereka dalam cinta kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan melupakan perselisihan dan perbedaan mereka, maka saya memutuskan untuk mengumumkan Islam saya setelah studi mendalam tentang agama Islam.
Saya merasakan kenyamanan dan kebahagiaan yang luar biasa karena Allah Subhanahu wa Ta’ala membimbing saya pada keputusan khusus ini untuk memeluk Islam. Saya segera menggantung alat-alat musik saya dan meninggalkan minum alkohol, pergi ke bar, dan malam-malam yang gaduh, tetapi kehidupan baru saya setelah Islam tidaklah mudah. Ayah saya terganggu dan tidak senang dengan keputusan ini.
Islam Agama Allah untuk Semua:
White berkata: Ketika ayah saya mengetahui keputusan saya memeluk Islam, dia tidak menyambutnya dengan baik, bahkan dia khawatir dan terganggu karenanya, karena dia mengira saya menjadi orang Pakistan dan bukan Muslim Inggris. Dia mengira bahwa orang Inggris yang memeluk Islam ingin menjadi orang Pakistan, dan dia tidak tahu bahwa Islam adalah agama Allah untuk semua, di dalamnya ada Pakistan dan Inggris. Mereka semua sama di hadapan Allah, tidak ada yang lebih utama kecuali dengan takwa.
Pada akhirnya saya dan ayah saya memutuskan untuk sepakat bahwa kami tidak sepakat tentang masalah pelukan Islam saya.
White menambahkan: Saya tidak bisa mengatakan bahwa saya memiliki teman-teman Pakistan sebelum menjadi Muslim pada tahun 1981.
Perlu disebutkan bahwa White tinggal di London utara. Dia juga bekerja selama dua tahun sebagai asisten pribadi da’i Islam Yusuf Islam, yang sebelum Islamnya dikenal sebagai Cat Stevens dan merupakan penyanyi populer terkenal, tetapi White saat ini bekerja di Dewan Pendidikan Islam di Inggris. Dia juga telah berhaji ke Baitullah al-Haram lebih dari sekali, tetapi mengubah budayanya dari budaya Barat ke budaya Islam bukanlah hal yang mudah.
Mualaf Baru – Penyusun: Imam Muhammad Imam
75. Jonathan Birt Putra Direktur BBC Memeluk Islam
Jonathan Birt, putra John Birt direktur jenderal British Broadcasting Corporation “BBC” bersemangat bekerja selama liburan sekolah musim panas di toko buku Islam yang khusus menjual buku dan publikasi Islam. Dia juga berdiskusi dengan pelanggan tentang Islam, dan menjelaskan kepada mereka visi Islam dalam menangani berbagai isu yang dihadapi masyarakat manusia.
Birt muda selama perjalanan imannya telah mempelajari Islam secara mendalam. Setelah pemikiran panjang, perjalanan iman ini membawanya memeluk Islam. Jonathan Birt ketika memeluk Islam masih tinggal di rumah keluarga di Norbury, London selatan bersama orangtuanya dan saudara perempuannya Eliza.
Jonathan Birt setelah Islamnya mengubah namanya menjadi Yahya, yang merupakan nama Arab yang setara dengan nama Jonathan. Jonathan senang dengan nama barunya.
Jonathan tidak bersemangat memanfaatkan ketenaran ayahnya secara media, tetapi dia suka menyendiri jauh dari sorotan media dan antusias dengan kerja dakwah. Dia menganggap bahwa pekerjaannya di toko buku memudahkan misi dakwahnya kepada Islam dengan para pelanggan yang mengunjungi toko buku.
Di sini kita mengikuti jalur perjalanan iman Birt muda yang membawanya memeluk Islam sembilan tahun yang lalu.
John Birt sang ayah mengakui bahwa tidak ada banyak hal yang sama antara dia dan anaknya kecuali hal-hal sedikit, meskipun mereka tinggal bersama di bawah satu atap di sebagian besar hari dalam seminggu. Birt sang ayah khawatir bahwa kehidupan mereka akan semakin menjauh.
Tugas John Birt adalah memimpin tim kerja yang terdiri dari ribuan orang yang tugasnya menyampaikan informasi kepada puluhan juta manusia di seluruh dunia. Sementara tugas anaknya adalah menghabiskan harinya mencoba menyebarkan dakwah Allah dalam lingkup yang lebih sempit.
Islam dan Televisi:
Sementara Birt sang ayah naik mobil limusin dengan sopir ke kantor pusat BBC di pusat London, Birt sang anak naik kereta dari stasiun Wandsworth Common ke toko buku Islam di London selatan tempat dia bekerja selama liburan sekolah musim panas. Di toko buku ini dijual buku-buku Islam dan dikenal sebagai toko buku Akademi Al-Azhar yang dibuka pada awal Agustus 1997.
Dan mereka yang bekerja dengan Bert putra di perpustakaan Islam ini menjual buku-buku dan terbitan-terbitan Islam, dan yang aneh bahwa di antaranya terdapat sebuah buku berjudul “Islam dan Televisi”. Dan Jonathan adalah satu-satunya orang non-Asia yang bekerja di perpustakaan Islam ini. Dia juga satu-satunya yang bekerja di pusat yang membawahi perpustakaan ini, dan bertugas memperkenalkan para pengunjung tentang kursus-kursus yang diajarkan seperti bahasa Arab dan adat-istiadat Islam.
Dan pekerjaan Jonathan di perpustakaan selama liburan musim panas disebabkan karena ketertarikannya pada Islam yang telah mengikat nasib hidupnya selama sembilan tahun. Meskipun dibesarkan dalam lingkungan Barat, ia bangga dengan nama Yahya, yang merupakan nama Arab yang setara dengan nama Jonathan. Dan pembicaraannya mencakup kutipan-kutipan dalam bahasa Arab dari Al-Qur’an.
Bulan Madu:
Pada bulan Juli 1997, Bert putra menikah dengan seorang gadis India Muslim bernama Fauzia Bora. Dalam bulan madu mereka mengunjungi Suriah, Yordania, dan Jerusalem Timur, karena kecintaan mereka untuk mengenal peninggalan-peninggalan Islam di daerah-daerah tersebut.
Ketika Bert putra dibesarkan di rumah keluarganya bersama ayahnya Bert yang Katolik dan ibunya yang merupakan seniman kelahiran Amerika Jane Lake serta adik perempuannya Eliza, Jonathan tidak menunjukkan kecenderungan di masa kecilnya yang menandakan masa depan religiusnya.
Ayahnya Bert yang bermazhab Katolik, mengakui bahwa dia tidak terlalu peduli dengan masalah imannya, di mana dia berkata: “Saya bukan orang yang religius tetapi saya menghormati agama.”
Ketika Bert putra di Universitas Manchester Inggris mempelajari sejarah modern dan ilmu politik, ia bertemu dengan seorang mahasiswa Muslim yang mengubah pemikirannya tentang agama selamanya. Dan mulai berubah pandangannya terhadap agama, dan teman Muslim sekamarnya memiliki pengaruh besar dalam terjadinya perubahan ini. Teman Muslim ini juga mempengaruhinya dengan perilaku dan cara hidupnya. Jonathan menyangkal bahwa temannya ini adalah penyebab konversinya ke Islam, tetapi menganggapnya memiliki pengaruh besar pada keputusannya.
Perbandingan Agama:
Di pertengahan tahun ajaran terakhirnya, Jonathan meninggalkan kuliah. Professor Frank O’Gorman, dosen sejarah modern dan ilmu politik di Universitas Manchester Inggris berkata: Jonathan meninggalkan kuliah karena dia tidak bisa menetap di sini. Dia memiliki masalah pribadi, dan tidak bahagia dengan kurikulum.
Jonathan mendaftarkan namanya untuk gelar sarjana dalam mata kuliah perbandingan agama di Institute of Oriental and African Studies, Universitas London. Kali ini dia menunjukkan antusiasme dalam mata kuliah ini, menegaskan bahwa tidak akan ada masalah yang menghambat studinya. Dan memang dia tidak menghadapi masalah apa pun dalam studi ini, bahkan dia memperoleh gelar kehormatan tingkat pertama dalam mata kuliah ini.
Tahun lalu dia mengikuti kursus pascasarjana khusus pelatihan guru di Universitas Warwick. Setelah beberapa minggu kursus berakhir, Jonathan memilih bekerja di pusat Islam. Teman-temannya berkata: Jonathan percaya bahwa ide-ide dan pandangannya dapat bersinar melalui Islam. Pada periode itu dia menghabiskan hari-hari kerja dari Senin hingga Jumat bersama keluarganya di London Selatan, sementara menghabiskan akhir pekan Sabtu dan Minggu bersama istrinya di Oxford.
Pertemuan Pertama:
Jonathan dan Fauzia bertemu untuk pertama kalinya dalam sebuah kuliah pada tahun 1996. Seorang teman mereka berkata: Fauzia bekerja sebagai jurnalis pada saat itu. Cinta mereka adalah cinta pada pandangan pertama bagi keduanya. Dia tulus dalam cintanya padanya. Fauzia saat itu sedang mengambil magister sejarah Mesir abad pertengahan di Universitas Oxford Inggris. Dia telah memperoleh gelar kehormatan tingkat pertama dalam bahasa Inggris dari St. Hilda College di Universitas Oxford, yang merupakan perguruan tinggi khusus untuk perempuan.
Perjalanan yang Diberkahi:
Seorang teman Jonathan berkata: Perjalanan bulan madu Jonathan dan Fauzia adalah perjalanan yang diberkahi; karena mereka bersemangat mengunjungi beberapa situs Islam. Mereka menghabiskan beberapa waktu di Jerusalem dan berkeliling situs-situs Islam di kota ini ditemani orang-orang Palestina yang mereka temui di sana, dan Jonathan serta Fauzia bersimpati dengan perjuangan Palestina. Pasangan ini bersemangat pergi ke masjid-masjid dan pusat-pusat Islam di London, Oxford, dan beberapa kota Inggris lainnya. Dan mereka adalah pasangan yang bahagia dalam kehidupan pernikahan mereka.
Sejak Jonathan mencapai usia dewasa, dia membuat banyak perubahan dalam hidupnya, yang mengejutkan keluarga dan beberapa kenalan. Mungkin John Bert adalah administrator tegas yang mengendalikan urusan-urusan di BBC, tetapi ada area di luar kendalinya termasuk kehidupan putranya Jonathan.
Jonathan menolak berbicara kepada berbagai media Inggris tentang kehidupan pribadinya. Dia juga menolak membahas isu-isu yang berkaitan dengan iman dan Islamnya; karena dia melihat bahwa masalah-masalah ini bukan untuk diskusi publik. Tetapi pada saat yang sama dia bukan orang yang introvert atau takut pada pertemuan publik, melainkan demi dakwah kepada Allah dia tidak akan ragu berbicara kepada orang-orang dan berdebat dengan mereka dengan cara yang terbaik. Dia berkata: Islam memerintahkan kami untuk berdakwah kepada Allah dan dengan nasihat yang baik serta berdebat dengan cara yang terbaik, di mana Allah Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (An-Nahl: 125). Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sampaikanlah dariku walau satu ayat”.
Adapun penolakannya berbicara kepada media Inggris tentang kehidupan pribadi dan Islamnya “karena itu urusan saya dan tidak menyangkut siapa pun selain saya.”
Bert putra berkata: Ayah saya adalah tokoh publik dan orang media terkenal tetapi saya tidak seperti itu. Dan ini juga bukti perbedaan nyata antara dia dan ayahnya.
Bert ayah berkata: Saya sangat bahagia dengan kehidupan pribadi putra saya. Saya juga bahagia dengan pernikahannya dengan Fauzia Bora, jurnalis India Muslim.
76 – Mantan Juara Dunia Snooker Ronnie O’Sullivan
Surat kabar Al-Bayan UAE menerbitkan dalam edisinya yang terbit pada hari Senin (7-10-2003) kisah masuk Islam mantan juara dunia snooker Ronnie O’Sullivan, dan saya terkesan dengan narasi berikut tentang perkataan ibunya tentang dia setelah masuk Islam sebagaimana saya terkesan dengan peran petinju dunia Naseem Hamed dalam mengajaknya ke Islam, saya serahkan Anda dengan cerita ini:
Ronnie O’Sullivan, mantan juara dunia permainan snooker yang dikenal dengan penggunaan narkoba dan konsumsi alkohol serta serangan depresi di masa lalu, menjadi bintang olahraga terbaru yang beralih ke Islam. Dan O’Sullivan yang dianggap pemain snooker terpenting setelah Alex Higgins yang terkenal dengan julukan Hurricane, menemukan agama Islam melalui persahabatannya dengan petinju Muslim asal Yaman Naseem Hamed. Pemain berusia 27 tahun yang dibesarkan di London dengan agama Katolik Kristen telah mengucapkan syahadat di Pusat Budaya Islam yang terletak di area Regent Park di London bulan lalu.
Dan ini merupakan perubahan radikal dalam perjalanan anak snooker yang menakutkan seperti julukannya, yang memukau kalangan olahraga dengan kecepatan dan akurasinya dalam bermain. Dan diyakini bahwa Ronnie berhasil berkat Islam memperoleh kekuatan batin yang membantunya mengatasi masalah pribadi dan keluarganya termasuk pemenjaraan ayahnya setelah melakukan pembunuhan.
Ronnie O’Sullivan yang dijuluki Roket mengikuti sekelompok atlet yang memeluk Islam untuk mengatasi masalah pribadi mereka termasuk petinju Muhammad Ali Clay, Mike Tyson, dan Danny Williams yang mempertahankan gelar juara kelas berat Inggris dan negara-negara Commonwealth minggu lalu. Dan salah satu faktor utama dalam masuk Islamnya Ronnie adalah “Prince” Naseem Hamed, mantan juara dunia tinju kelas bulu yang memperkenalkannya dengan pendakwah Islam terkenal Khalid Yaseen. “Ronnie” menjadi terpesona oleh pesan Yaseen setelah menonton video tape yang sangat populer di kalangan komunitas Islam di Inggris berjudul “Tujuan Hidup” dan dalam video tersebut pendakwah asal Amerika yang mengunjungi Inggris secara berulang membuktikan keberadaan Allah melalui mengajukan sejumlah pertanyaan tentang penciptaan dunia dan manusia.
Yaseen yang memainkan peran utama dalam proyek yang bertujuan mendirikan stasiun televisi satelit Islam di Inggris bertanya dalam khutbahnya dengan berkata: “Bagaimana dengan tubuh manusia dan sistem kontrol yang kompleks dan saling terkait di dalamnya. Pikirkan tentang otak dan cara kerjanya serta fungsi-fungsinya. Pencipta tubuh manusia ini adalah satu-satunya yang layak mendapat syukur dan pujian bagi Allah atas itu.”
Ibu Ronnie O’Sullivan “Maria” berkata bahwa putranya belum siap untuk berbicara tentang masuk Islamnya dan dia fokus pada snooker saat ini. Dia menambahkan bahwa Naseem Hamed adalah teman baik Ronnie dan dia adalah faktor utama dalam konversinya ke Islam sebagaimana ibunya juga menunjukkan bahwa Ronnie sekarang menjadi orang yang lebih baik sejak hidayahnya dan dia berharap itu membantunya untuk kestabilan mental.
Meskipun kejeniusan olahraganya yang luar biasa, Ronnie menderita banyak masalah psikis. Ketika dia masih anak-anak berusia sembilan tahun dia menyelesaikan tahap pertama dalam permainan dengan mencapai seratus poin dan pada usia lima belas tahun Ronnie menjadi pemain termuda yang mencapai 147 poin yang merupakan angka maksimum yang bisa dicapai pemain snooker. Selama kemajuannya menuju puncak dalam permainan snooker, Ronnie menghadapi banyak masalah keluarga karena ayahnya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup karena melakukan pembunuhan pada tahun 1991. Ketika Ronnie berusia tujuh belas tahun, ibunya dipenjara karena tuduhan penghindaran pajak dan membuatnya menjadi satu-satunya yang bertanggung jawab merawat adik perempuannya.
Setelah dewasa, kehidupan hiruk pikuk dan begadang serta konsumsi alkohol berlebihan mencapai puncaknya dan ada kekhawatiran bahwa itu akan mempengaruhi masa depan olahraganya.
Pukulan beruntung dan tak terduga dalam hidupnya terjadi pada tahun 2001 ketika dia memenangkan kejuaraan dunia meskipun mengonsumsi obat Prozac anti-depresan yang dia derita dan ini adalah periode yang sama ketika dia bertunangan dengan Bianca Westwood. Tetapi hubungan itu kemudian runtuh.
Ahmad Versey, pemimpin redaksi majalah “Muslim News” berkomentar bahwa masuk Islamnya Ronnie dapat dijelaskan dengan kerinduannya untuk mengisi kekosongan spiritual yang menyebar di kalangan orang-orang di Barat. Dan dia menambahkan bahwa dengan fokus di dunia Barat pada aspek-aspek material, Islam menyediakan spiritualitas yang hilang dari masyarakat-masyarakat ini.
Versey menunjukkan bahwa pada saat para pemimpin Kristen tampak siap melepaskan nilai-nilai spiritual dan mengadopsi keduniawian, Islam tetap teguh dan setia pada itu.
77 – Penyanyi Jerman Kristiane Backer
Penyanyi Kristiane Backer dari saluran MTV Eropa menemukan makna sejati kehidupan dalam Islam “Saya berada di puncak tetapi itu adalah pengalaman yang menghancurkan jiwa… Saya tidak bisa melanjutkan.” Kristiane lahir dalam keluarga Protestan dan tinggal di Hamburg, Jerman, ketika berusia dua puluh satu tahun dia bergabung dengan Radio Hamburg sebagai penyiar radio, setelah dua tahun dipilih dari ribuan pelamar untuk menjadi pembaca berita untuk saluran MTV Eropa, kemudian setelah itu pergi ke London. “Itu pintar saya berusia dua puluhan, tinggal di Notting Hill, saya gadis baru di kota, saya diundang ke mana-mana, difoto fotografer dan diikuti pers, dan pekerja, bertemu banyak selebriti, dan menikmati waktu saya. Saya menghabiskan sebagian besar uang saya untuk pakaian dan bepergian ke seluruh Eropa, ke tempat-tempat terbaik. Saya gadis pertama di MTV dan muncul di layar televisi sepanjang waktu, orang-orang mengenal saya di seluruh Eropa, pada suatu waktu saya berdiri di panggung di depan tujuh puluh ribu orang… Selama tujuh tahun saya mempresentasikan banyak program, dan bertemu banyak bintang musik.”
Meskipun kehidupan itu di dunia ketenaran, dia membutuhkan kehidupan spiritual, dia berkata: “Saya selalu tertarik pada kehidupan spiritual, tetapi tidak mengambil langkah praktis menuju kehidupan itu….” Pada tahun 1992 dia bertemu Imran Khan, dari tim kriket Pakistan, itu pertama kalinya dia bertemu Muslim, dia dan Imran – yang saat itu juga sedang mencari kebenaran iman – banyak berdiskusi tentang Islam. Imran memberinya beberapa buku tentang Islam dan dia mulai membaca tentang agama Allah.
Dia berkata: “Saya mulai menantang prasangka saya dan mulai melihat di antara baris-baris. Saya membaca Al-Qur’an dan semuanya mulai memiliki makna.” Selama mempelajari Islam dia mulai melihat beberapa isu dengan seksama… seperti isu perempuan dalam Islam, dia berkata: “Sebagai wanita Barat modern dan berpendidikan, tentu saja saya perlu melihat pandangan Islam terhadap wanita, saya tidak bisa menerima bahwa saya dizalimi, maka saya menemukan bahwa pesan Islam mendukung wanita dan mendukung pria, dalam Islam wanita memiliki hak memilih pada tahun 600, pria mengenakan pakaian sopan, dan wanita mengenakan pakaian sopan, tidak seorang pun dari kedua jenis kelamin melepaskan pandangan mereka….bahkan kedua jenis kelamin menahan pandangan mereka. Saya tidak berpikir itu fenomena sehat bahwa orang melepaskan nafsu seksual mereka… itu membangkitkan nafsu yang salah lagi….”
Dan akhirnya… dia masuk Islam… dia sekarang termasuk orang yang sholat lima waktu, dan berpuasa bulan Ramadhan, dia berkata: “Saya dulu minum alkohol di Paris… tetapi sekarang tidak menyentuhnya.” Pada tahun 2001 dia pergi ke Mekah, dia berkata: “Itu pengalaman yang luar biasa… saya kembali dengan kebahagiaan dan ketenangan.”
Ketika kembali dia mulai studi universitas di Universitas Westminster, belajar pengobatan alami, dan herbal, dan pengobatan Cina.. dia berkata: “Kursus-kursus ini membuka pintu lain bagi saya ke dunia yang menakjubkan, pandangan lain tentang manusia dan alam, dan kesehatan dan penyakit, semuanya terhubung.”
Dia berkata: “Islam adalah hadiah terbesar yang saya terima.” Semoga Allah menetapkan kami dan dia atas kebenaran dan agama dan bertobat kepada kami dan orang tua kami, dan membimbing orang-orang yang sesat ke jalan yang lurus.
78 – Presiden Republik Gambia
Ini adalah kisah dari kisah-kisah keimanan, yang tokohnya bukanlah individu biasa, namun dia mewakili otoritas tertinggi di negaranya. Dia menyadari kebenaran lalu tersungkur sujud, kemudian bangkit seraya berkata “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allah lebih besar dariku dan dari segala sesuatu di bumi dan langit.” Dialah Presiden Republik Gambia. Keunikan kisah ini bukan terletak pada kenyataan bahwa dia seorang presiden republik, melainkan karena presiden ini terlahir sebagai seorang Muslim, kemudian berlayar ke Barat, menyerap pemikiran, nilai-nilai dan keyakinan mereka, memasuki dunia politik yang kemudian tunduk padanya, dan terpesona oleh permainan dan syahwat jabatan yang telah dia capai puncaknya. Namun ketika mendekati istana politik, dia menyadari bahwa dia telah melupakan sesuatu yang penting… dia melupakan fitrahnya, maka dia kembali kepadanya dengan tergesa-gesa, mengungkapkan hal itu dengan perkataan:
“Aku selalu merasa bahwa ada dua hati dalam dadaku… satu hati untukku dan satu hati yang melawanku. Adapun hati yang untukku, ia mendorongku untuk belajar, berpolitik dan menjalani pertempuran kehidupan. Sedangkan hati yang melawanku senantiasa melontarkan kepada akal dan hatiku sebuah pertanyaan yang tidak pernah meninggalkannya: siapakah kamu?… Di antara kedua hati itulah perjalanan panjang membawaku, melalui mana aku dapat meraih semua yang aku cita-citakan, membebaskan tanah air Afrika berkulit hitam, dan menempatkannya di peta dunia sebagai negara yang berdaulat.”
Dia melanjutkan: “Dan ini adalah kemenangan yang direbut dari mulut singa, cukup untuk memutar kepala dan membuat para pemuda pemimpi seperti kami pada waktu itu terkena pusing kekuasaan. Itu adalah pertempuran besar yang menghabiskan setengah abad dari umur kami dengan perang dan perjuangan, negosiasi dan pembentukan partai, kekalahan dalam pertempuran dan juga kemenangan di dalamnya. Betapa bahagianya kami saat itu ketika menyelamatkan tanah air kami dari jurang penjajahan, keterbelakangan dan kesesatan pemikiran serta ekonomi. Kemenangan ini hanyalah untuk memuaskan jiwa dan kesombongannya. Adapun fitrah jiwa, ia mulai mendorongku untuk menjalani pertempuran besar… kamu telah memenangkan pertempuranmu dengan kehidupan, maka menangkan pertempuranmu dengan dirimu sendiri. Kembalilah kepada jati dirimu, temukan logam mulia yang ada di dalam dirimu. Singkirkan apa yang menutupinya dari tumpukan westernisasi, sekularisme, dan pendidikan di sekolah-sekolah teologi.
Suara itu keluar dari dalam diriku berkata kepadaku: kembalilah kepada anak yang polos yang dahulu duduk di tangan para syeikh dan guru-gurunya membaca Al-Quran dan berusaha untuk shalat. Di sini aku merasakan bahwa hatiku membenarkan diriku dan bahwa tidak ada sesuatu pun di dunia yang setara dengan kehilangan seseorang akan dirinya sendiri, bahwa aku kembali kepada Islam-ku yang hilang dariku ketika aku berada dalam hiruk-pikuk kehidupan dengan kesibukan dan kegembiraannya. Aku merasakan sekarang bahwa aku telah mendapatkan diriku dan belajar sebuah pelajaran yang tidak dipelajari kecuali oleh orang yang di hatinya ada rasa yang berdenyut dan akal yang sadar.”
Presiden itu kembali kepada fitrahnya yang benar dan mengembalikan namanya menjadi Dawud Jawara setelah sebelumnya bernama David Kairaba. Dan demikianlah kita mendapati diri kita di hadapan kepribadian Islam yang berpolitik dan menjadi da’i kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala setelah sebelumnya menganut mazhab Protestan dan lainnya.
79 – Manajer Dream Park Amerika di Mesir
Yang menarik perhatianku kepada Islam adalah kata-kata yang diucapkan oleh sopir mobilku [Ayman]: “Hatimu baik persis seperti hati orang-orang Muslim.” Dari sini aku memikirkan makna Islam ini dan membaca tentangnya hingga aku menyatakan keislamanku. Aku tidak menghadapi tekanan dan aku terkesan dengan kepribadian Sayyidina Yusuf sehingga aku mengambil namanya. Aku tidak menyesal dengan apa yang telah berlalu, tetapi aku tidak hidup dengan jiwa yang sama. Islam memberiku sesuatu yang baru, aku beriman kepada qada dan qadar, berpuasa Ramadan, dan bahagia dengan hari raya yang baru. Aku berniat untuk berhaji ke Baitullah Al-Haram dan akan mengajak orang lain kepada Islam.
Demikianlah Mister William atau [Yusuf] sebagaimana dia menamai dirinya menceritakan kisah keislamannya, maka kami mengadakan dialog berikut dengannya.
Sebagai permulaan, kami ingin mengenal Anda? Namaku William Francis Yusuf Kelly, berkewarganegaraan Amerika, lahir di negara bagian New Jersey pada 13 Agustus 1946, dibesarkan di sana dan lulus dari Universitas [Villanova] di negara bagian Pennsylvania. Aku meraih gelar sarjana ekonomi dan bekerja sebagai manajer perusahaan asuransi jiwa selama 10 tahun di Amerika Serikat. Setelah itu aku terjun ke bidang industri hiburan selama 20 tahun dan sekarang aku menjadi manajer Dream Park, salah satu proyek [Dream Land]. Aku pernah menikah tetapi berpisah dari istriku dan tidak memiliki anak. Aku datang ke Mesir pertama kali pada 1 Juni 1999.
Apa titik balik dalam hidup Anda? Ketika aku datang ke Mesir, aku tidak terbiasa seperti halnya di Barat melihat orang-orang ketika mendengar adzan berkumpul dan shalat. Hal ini aneh bagiku pada awalnya. Ada juga para insinyur dan kolega Mesir lainnya yang mulai berbicara kepadaku tentang Islam. Aku mulai merasakan bahwa di dalam diri mereka ada ketenangan dan kedamaian jiwa tertentu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, itulah sebab mereka berpegang teguh pada agama ini, yang membuatku mulai berpikir tentang Islam dan membaca tentangnya serta membandingkannya dengan Kristen. Melalui bacaan-bacaanku dan pengalaman nyata di sekitarku melalui kolega-kolegaku yang Muslim, aku memeluk agama ini. Di antara buku-buku penting yang kubaca tentang Islam adalah [Tafsir Makna Al-Quran Al-Karim] dalam bahasa Inggris, buku Agama yang Benar, Pernikahan dalam Hukum Islam, dan buku-buku lain yang banyak menjelaskan apa yang dikandung Islam. Aku juga selalu membawa mushaf bersamaku dan berusaha belajar bahasa Arab agar dapat membaca Al-Quran Al-Karim.
Bagaimana proses Anda memeluk Islam? Aku mendengar tentang Islam sebelum memeluknya tetapi tidak secukupnya. Aku benar-benar mulai membaca tentangnya. Kolega-kolegaku yang Muslim memberitahuku bahwa hal terpenting dalam mengenal Islam adalah memahami makna sederhananya terlebih dahulu, tidak harus mengetahui aturan dan hukum-hukumnya di awal karena mungkin agak sulit dan rumit bagiku, dan aku akan dapat mengetahuinya setelah itu. Aku menyatakan keislamanku sebelum Ramadan tahun sebelumnya, dan pada hari ketiga aku pergi ke Al-Azhar dan bersaksi untuk menjadi bagian dari kaum Muslim. Bagiku apa yang menjadi hak mereka dan atasku apa yang menjadi kewajiban mereka. Aku tidak mengubah namaku tetapi menambahkan nama [Yusuf] karena aku terkesan dengan kepribadian Sayyidina Yusuf alaihissalam. Aku membaca tentangnya sebelum dan sesudah memeluk Islam sehingga aku menghormatinya dan menyukai namanya. Tetapi pada saat yang sama aku tidak mengubah namaku karena itu adalah gelar ayahku. Secara umum, aku bangga dengan kedua nama tersebut.
Bagaimana sikap keluarga Anda terhadap perpindahan Anda dari agama mereka? Ayah dan ibuku berpegang teguh pada agama mereka dan berkomitmen pada ajaran Nasrani. Mereka menyayangiku, jadi ketika aku memberitahu mereka bahwa aku akan memeluk Islam, mereka bertanya tentang agama ini dan pergi ke pendeta di gereja serta mengajukan sejumlah pertanyaan tentang Islam karena mereka tidak mengetahui apa pun tentangnya. Mereka berkata kepadaku: selama kamu tetap seperti dirimu yang berhati putih dan berjiwa baik dan agama ini tidak akan mengubah hal itu dalam dirimu, maka tidak ada halangan. Adapun teman-temanku, mungkin mereka tidak memahami sikapku tetapi mereka mengenalku dengan baik dan yakin bahwa aku tidak akan berpindah dari agamaku ke agama lain kecuali jika agama ini akan memperbaiki jiwaku, menambah keimananku, dan membuatku merasakan perasaan yang lebih baik. Karena itu mereka menerima sikap tersebut tetapi tidak memahaminya dengan tepat.
Apakah Anda menghadapi tekanan untuk mencegah Anda memeluk Islam? Aku tidak menghadapi tekanan apa pun ketika memutuskan memeluk Islam. Orang-orang di sekitarku menerima hal itu tetapi belum memahaminya, terutama karena Barat tidak melihat kami misalnya ketika kami shalat, tetapi mereka melihat sisi fanatisme pada kaum Muslim. Media massa menyampaikan kepada mereka gambaran yang tidak nyata dan tidak menyampaikan kepada mereka gambaran Islam yang sesungguhnya. Fanatisme sama sekali bukan bagian dari Islam, tetapi sayangnya Barat hanya melihat itu saja. Bagiku, aku tidak menemui masalah di Amerika karena keislamanku, tetapi aku bertemu orang-orang yang tidak memahami sikapku.
Bagaimana Anda belajar melaksanakan ibadah agama yang baru? Sayangnya aku belum belajar bahasa Arab, tetapi mereka berkata kepadaku tidak ada masalah sekarang selama kamu shalat dan berdiri di hadapan Allah dengan hati yang bersih dan tahu cara memperbaiki shalatmu. Ketika aku mengucapkan Allahu Akbar, aku merasa dekat dengan Allah dan shalatku akan diterima sebagaimana yang diberitahukan oleh para ulama dari Al-Azhar bahwa urusan ini datang selangkah demi selangkah. Kolega-kolegaku yang Muslim selalu shalat bersamaku dan kesempatan yang tersedia bagiku adalah belajar bahasa Arab dari orang-orang di sekitarku karena aku tidak memiliki banyak waktu. Aku bekerja 12 sampai 16 jam sehari. Mengenai puasa Ramadan, aku tidak memiliki masalah menahan diri dari makanan karena aku sudah terbiasa melakukannya dalam pekerjaan. Tetapi aku agak menderita pada awalnya, kemudian alhamdulillah aku terbiasa. Aku berniat untuk berhaji ke Baitullah bersama istriku [Muna] yang kunikahi setelah memeluk Islam, dan aku sangat bahagia dalam pernikahanku saat ini.
Apa yang baru dalam hidup Anda setelah beralih ke Islam? Islam memberiku sesuatu yang baru dan kekuatan serta membuatku tidak takut kepada siapa pun kecuali Allah. Aku tidak peduli dengan masalah apa pun sekecil apa pun selama itu masalah duniawi dan tidak berkaitan dengan akhirat serta tidak menyentuh kehidupan kita setelah mati. Ini yang kurasakan dalam berinteraksi dengan beberapa kolega. Misalnya, adik perempuanku meninggal setelah aku masuk Islam. Aku menerima hal itu karena itu dari Allah dan aku harus beriman kepada qada dan qadar. Seandainya hal itu terjadi sebelum aku masuk Islam, mungkin aku akan menolak dan bertanya mengapa hal itu terjadi?!
Apakah Anda melihat perbedaan antara Islam dan Nasrani? Islam memberiku keamanan dan kedamaian. Islam adalah agama yang tidak berubah, tidak berganti, dan tidak ada perubahan apa pun yang terjadi padanya. Adapun Nasrani, telah terjadi perubahan dan penyimpangan oleh para pendeta dan pastor. Di antara mereka ada yang beriman bahwa Isa alaihissalam adalah Allah, dan ini salah. Isa adalah hamba Allah dan rasul-Nya. Kami kaum Muslim beriman kepada semua risalah dan bahwa Al-Masih adalah salah satu rasul Allah. Kami beriman kepada agama yang dibawanya. Di sini kaum Kristen berhenti pada keimanan kepada Kristen saja dan tidak beriman kepada apa pun setelahnya. Adapun kami, kami beriman kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan agamanya. Itulah perbedaannya.
Bagaimana orang-orang di sekitar Anda memperlakukan Anda sebelum dan sesudah memeluk Islam? Kolega-kolegaku yang Muslim sangat gembira dengan keislamanku sampai terpesona dan berkata kepadaku “Mubarak.” Mereka memperlakuaku dengan baik bahkan sebelum aku masuk Islam atau memberitahu mereka bahwa aku berpikir tentang Islam. Perlakuan mereka kepadaku tidak membuatku menyatakan keislamanku, tetapi membuatku berpikir positif tentang memeluk agama ini. Aku yakin bahwa jika perlakuan mereka buruk, mungkin aku tidak akan memeluk Islam karena selama kaum Muslim ini perlakuannya buruk dan tingkah lakunya salah, mengapa aku harus seagama dengan mereka?
Apakah Anda pernah mencoba mengajak seseorang dari rakyat Amerika kepada Islam? Aku tidak mengajak siapa pun, tetapi aku berbicara dengan teman-temanku tentang agama Islam dan hal baru di dalamnya. Tetapi aku yakin yang penting adalah tingkah laku dan perbuatanku karena itu adalah dakwah terbaik yang terang-terangan untuk mempengaruhi orang lain dan mendorong mereka meniru dan memeluk Islam. Sayangnya banyak orang tidak mengetahui apa pun tentang Islam dan informasi mereka tentangnya hampir tidak ada, bahkan teman-temanku tidak dapat mengajukan pertanyaan yang spesifik kepadaku. Pertanyaan mereka adalah “Apa itu Islam?” Mereka tidak tahu bahwa Islam adalah agama yang mengajak toleransi dengan semua agama dan bahwa Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah penutup para nabi dan rasul. Masalahnya terletak pada Barat yang tidak banyak tahu tentang Islam karena hubungan yang mengikatnya dengan Timur terpusat pada aspek politik.
Dari sudut pandang Anda, apa pandangan orang Amerika terhadap Islam? Orang-orang di Amerika Serikat menerima agama-agama, karena itu Anda mendapati campuran agama-agama di negara-negara Barat dan tidak ada masalah menjadi seorang Muslim, tetapi sayangnya ada yang merusak citra Islam.
Apa pendapat Anda tentang keadaan kaum Muslim di Amerika Serikat? Aku tidak memiliki gambaran tentang hal ini karena aku tidak pernah mengalami pengalaman dalam hidupku yang menjelaskan bagaimana perlakuan orang Amerika kepada kaum Muslim. Bahkan aku tidak pernah bertemu dengan seorang pun dari Muslim Amerika karena aku baru masuk Islam. Adapun mengenai apa yang terjadi kepada kaum Muslim di Chechnya dan Palestina, aku sangat tidak senang dengan pembunuhan orang-orang tidak bersalah yang tidak memiliki dosa apa pun. Aku sedih mendapati anak atau keluarga Palestina yang mengalami penyiksaan. Sikapku sejalan dengan siapa pun dari negara mana pun yang mengalami kezaliman dan pembunuhan tanpa memiliki andil dalam hal itu, tetapi sayangnya ini adalah urusan yang berkaitan dengan politik dan masalah-masalahnya.
Bagaimana kita mengajak Barat kepada Islam? Cara terbaik adalah kita benar-benar beriman kepada Islam sehingga kita akan menjadi cermin yang sesungguhnya baginya. Ini adalah cara terbaik untuk menyebarkan Islam, terutama karena yang tidak memiliki sesuatu tidak dapat memberikannya. Harus ada Muslim yang sesungguhnya agar berhasil dalam tugas ini. Islam memang menyebar dengan kuat di Barat dan harus menggunakan sarana komunikasi dan teknologi modern untuk berkomunikasi dengan Barat. Misalnya, kewajiban haji mewakili peristiwa Islam yang mencakup kumpulan besar kaum Muslim dari seluruh dunia yang berhaji ke Baitullah. Ini adalah hal penting yang harus disorot dan ditampilkan kepada Barat. Ada juga situs-situs Islam di internet yang berbicara tentang Islam dan menjelaskan rukun dan kewajibannya. Ada edisi terjemahan untuk banyak buku khusus tentang Islam dan harus mengaktifkan gerakan penerbitan buku-buku ini dengan menyediakan terjemahan dalam semua bahasa dunia agar sampai kepada seluruh umat manusia.
Dari situs Mufakkirah Al-Islam
80 – Yusuf Khattab, Mantan Yahudi Fanatik
Dari Yahudi ke Islam, Kisah Yusuf Cohen
Yerusalem – Surat kabar Yedioth Ahronoth Ibrani menerbitkan investigasi menarik tentang bagaimana salah seorang Yahudi yang datang dari Amerika Serikat beralih ke Islam setelah menjadi anggota gerakan Yahudi fanatik. Menurut Yedioth Ahronoth, Yusuf Cohen adalah pengikut aliran Yahudi fanatik bernama “Satmar” sebelum bergabung dengan gerakan “Shas” yang religius. Cohen yang berusia 34 tahun datang dari Amerika Serikat dan dengan cepat terpengaruh oleh ide-ide gerakan “Shas” yang religius.
Perjalanan Yusuf Cohen dimulai di kawasan Brooklyn, di mana dia bergabung dengan pengikut “Satmar” dan mengenal istrinya Luna Cohen melalui perantara. Mereka dikarunia empat anak sebagai buah dari pernikahan yang telah berlangsung 12 tahun.
Cohen memutuskan datang ke Israel pada tahun 1998. Dia dan keluarganya langsung tiba di Jalur Gaza, ke pemukiman “Gadir” di pemukiman “Gush Katif”. Namun dia merasa sesak dengan kehidupan di Jalur Gaza yang tidak sesuai dengan kondisi keluarganya yang baru.
Oleh karena itu dia memutuskan pindah tinggal ke “Netivot” yang terletak di selatan Israel. Dari sana Cohen mulai melakukan kontak pertamanya dengan kaum Muslim. Pada tahap tertentu, Cohen berkorespondensi dengan para ulama Muslim melalui internet dan mulai membaca Al-Quran dalam bahasa Inggris.
Cohen mengejutkan semua orang beberapa bulan lalu ketika mengumumkan keislamannya dan mengubah namanya menjadi Yusuf Khattab. Istrinya mengubah namanya, dan dia mengubah nama anak-anaknya yang hari ini belajar di sekolah Islam dan berbicara bahasa Arab dengan fasih, sementara dia dalam tahap lanjutan mempelajari bahasa Arab.
Setelah mengumumkan keislamannya, keluarga itu pindah tinggal ke kawasan Jabal At-Thur di Yerusalem Timur, dan Khattab mulai bekerja di organisasi amal Islam di kota tersebut.
Yusuf Khattab melihat bahwa Hamas mewakili manhaj agama Islam dengan cara yang benar dan berkata: “Itu adalah gerakan politik lebih dari gerakan agama,” tetapi dia menentang operasi syahid yang dilakukan gerakan tersebut.
Khattab menuduh otoritas Israel memperketat cengkeraman terhadapnya setelah mengumumkan keislamannya dan berkata: “Aku memiliki masalah dengan Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Agama, di mana kementerian ini tidak mau mengakui keislamanku, meskipun aku masuk Islam di pengadilan syariah yang tunduk pada hukum negara Israel.”
Setelah menjadi pendukung gerakan tersebut, Khattab kini dengan keras mengkritik para pemimpin gerakan “Shas” dan mengatakan bahwa dia datang ke Israel karena Rabi Ovadia Yusuf (pemimpin spiritual Shas). Dia menambahkan bahwa dulu dia sangat menghormati Rabi Yusuf, dan memutuskan untuk menamai anaknya dengan nama tersebut, namun mengubahnya menjadi Abdullah setelah masuk Islam.
Khattab melihat bahwa umat Muslim menderita ketidakadilan di mana-mana, dan Sharon dengan kebijakan-kebijakannya menambah ketidakadilan yang menimpa mereka. Dia mengatakan bahwa Arafat tidak mewakili umat Muslim, dan dia adalah pemimpin sementara yang akan berubah seiring waktu.
Mengenai pandangannya tentang Timur Tengah, Khattab mengatakan bahwa tujuan utama adalah mendirikan negara Palestina di wilayah seluas mungkin.
Ini adalah artikel tentangnya yang diterbitkan oleh surat kabar Israel Ha’aretz: Roni Shafer – Ha’aretz
Yusuf Khattab… Dari Shas ke Hamas
Yusuf Khattab adalah seorang Muslim taat berusia 36 tahun yang namanya sampai satu tahun lalu adalah Yusuf Cohen dan dia adalah seorang Yahudi fundamentalis serta anggota gerakan Shas Yahudi yang ekstrem. Dia sangat mengagumi pemimpin gerakan tersebut, Yusuf Ovadia.
Yusuf Khattab lahir di Amerika Serikat dan telah bermigrasi ke Israel empat tahun lalu. Dia bermimpi seperti orang lain yang hidup di luar Israel untuk bermigrasi ke sana dan hidup dalam naungan negara demokrasi dan hukum yang dipromosikan oleh para penguasa Israel. Dia tinggal di wilayah Netivot dan menamai anak bungsunya Ovadia karena kekagumannya pada Rabi ekstremis Ovadia Yusuf, pemimpin gerakan Shas Yahudi yang ekstrem. Dia menyekolahkan anak-anaknya di jaringan pendidikan Torah dan bekerja di administrasi yang berafiliasi dengan sektor agama Yahudi.
Setelah Yusuf Khattab menetap di Israel dan melihat bahwa apa yang dipromosikan media Barat dan Yahudi tentang Israel hanyalah kebohongan, dan melihat sendiri pembantaian yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina, dia mulai merasakan kebencian terhadap Yahudi dan Israel. Dia memutuskan bersama istri dan anak-anaknya untuk memeluk Islam dan mengubah nama anak-anaknya menjadi nama-nama Islam.
Penyebab masuk Islamnya Yusuf Khattab berawal dari obrolan melalui internet dengan salah seorang ulama agama Islam, di mana mereka membuka pintu diskusi dan pertukaran pendapat. Semakin dalam mereka berdiskusi, semakin Yusuf Khattab tertarik pada pria tersebut dan ingin mengetahui lebih banyak tentang Islam dan agama Islam. Khattab kemudian mengetahui bahwa temannya adalah imam masjid di salah satu negara Teluk, dan dia memberinya salinan Al-Qur’an Al-Karim tetapi dia menyembunyikannya dari istrinya.
Hubungan Yusuf Khattab dengan teman Muslimnya berlanjut dan mereka semakin dekat dan bersahabat. Yusuf Khattab semakin mendalami agama Islam dan akhirnya teman Muslimnya mengirimnya kepada beberapa ulama agama Islam di Yerusalem Timur yang membantunya memahami lebih banyak tentang Islam dan mereka berperan besar dalam meyakinkannya tentang perlunya memeluk agama Islam.
Setelah itu, Yusuf Khattab berterus terang kepada istrinya tentang masuk Islamnya dan memberikan kebebasan pilihan kepadanya meskipun dia berharap istri juga memeluk Islam, dan dia menjelaskan kepadanya keagungan Islam dan kelebihan-kelebihannya. Dari pihaknya, istri meminta waktu untuk mengenal Islam sendiri dan mulai mempelajari agama Islam. Pada akhirnya dia yakin akan perlunya memeluk Islam dan menegaskan bahwa hal itu terjadi atas kehendaknya sendiri tanpa tekanan dari suaminya.
Foto Yusuf Khattab dan keluarganya setelah memeluk Islam
Setelah itu, Yusuf Khattab membawa istri dan keempat anaknya ke Pengadilan Syariah di Yerusalem Timur dan di sana mereka mengumumkan keislaman mereka. Mereka pindah tinggal di Desa Arab At-Tur yang terletak di Tepi Barat dan mengubah namanya dari Yusuf Cohen menjadi Yusuf Khattab. Dia mengubah nama anak sulungnya dari Ezra menjadi Abdul Aziz, putrinya dari Haida menjadi Hasibah, anak tengahnya dari Rachamim menjadi Abdul Majid, dan anak bungsunya dari Ovadia menjadi Abdullah. Ini adalah peristiwa luar biasa karena ini adalah pertama kalinya seluruh keluarga Yahudi memeluk agama Islam.
Setelah masuk Islam, Yusuf Khattab mulai mengenakan pakaian Arab tradisional dan bekerja di salah satu organisasi amal Islam. Istrinya mengenakan hijab dan mulai rajin melaksanakan shalat dan ibadah Islam lainnya. Dia menyekolahkan anak-anaknya di sekolah Islam dan anak-anaknya mulai berbicara bahasa Arab dengan lancar.
Seiring berjalannya waktu, Cohen berubah menjadi Khattab dan mulai mengungkapkan dengan terang-terangan kebenciannya terhadap Yahudi dan mengecam ketidakadilan serta penindasan yang dialami orang Palestina di tangan Yahudi. Dia mulai mendukung operasi fedayeen yang dilakukan orang Palestina dan melihat bahwa praktik-praktik buas Israel yang mendorong orang Palestina melakukan operasi tersebut.
Artikel dari Al Jazeera yang ditulis dari Yerusalem oleh Muna Jabran:
Masuk Islamnya Seorang Yahudi Menimbulkan Kehebohan Besar di Israel
Cohen, orang Israel ini adalah seorang Yahudi dari kelompok Ashkenazi yaitu Yahudi yang berasal dari Barat dan dia mengenal agama Yahudi dengan baik. Namun takdir membawanya untuk menjalani pengalaman menarik mengenal Islam melalui percakapan di “ruang chat” internet yang diawasi oleh organisasi Shas Yahudi religius ekstremis.
Demikianlah Cohen selama dua tahun tetap berhubungan dengan “saudara” Muslim bernama Muhammad dari Arab Saudi yang menceritakan kepadanya tentang tauhid, ketuhanan dan lain-lain. Kemudian dia melakukan perbandingan antara akidah Yahudi dan Islam serta membaca terjemahan makna Al-Qur’an Al-Karim dalam bahasa Inggris. Di sinilah dia memutuskan untuk memeluk Islam dan memilih nama Yusuf menggantikan Cohen.
Keputusan Yusuf Khattab, istrinya dan anak-anaknya untuk memeluk Islam menimbulkan badai di kalangan agama Yahudi, khususnya di lingkungan gerakan Shas yang dia ikuti. Salah seorang Israel dari gerakan agama Shas menganggap apa yang dilakukan Yusuf adalah tindakan gila dan harus diobati dengan menempatkan orang ini di rumah sakit jiwa.
Penderitaan: Setelah penderitaan panjang dan sulit selama sekitar dua setengah tahun, Yusuf berhasil mengubah agamanya dan mencatatnya secara resmi di kartu identitasnya. Selama periode ini dia dilarang memasuki tempat-tempat ibadah Islam karena secara resmi masih dianggap beragama Yahudi, demikian pula dengan istri dan anak-anaknya yang mendukung pilihannya dan memeluk Islam sepertinya.
Yusuf juga menghadapi masalah lain yaitu perpindahan dari lingkungan Yahudi ke lingkungan Islam dan dari seorang Yahudi ekstremis menjadi Muslim Palestina, di mana dia sangat khawatir masyarakat Islam Palestina tidak akan menyambutnya atau menerimanya dengan baik.
Masalah lain adalah sesama pemeluk agama lamanya yang tidak memahami keputusannya dan sesekali mengganggunya karena keputusannya tersebut. Polisi Israel juga mengganggunya di rumah barunya.
Berpegang teguh pada Islam: Yusuf – Muslim baru ini – menegaskan bahwa anak-anak dan istrinya berpegang teguh dengan baik pada syariat Islam. Adapun orang tuanya masih memeluk agama Yahudi dan mereka – menurut perkataannya – adalah penyebab polisi dan Yahudi taat lainnya dihasut untuk melawannya serta istri dan anak-anaknya.
Yusuf – yang berkebangsaan Amerika asli yang datang ke Israel bersama imigran baru – terpaksa pindah tinggal di Yerusalem Timur setelah sebelumnya tinggal di pemukiman Gush Katif di Jalur Gaza.
Anggota keluarga Yusuf Khattab kini memiliki nama-nama Arab: sang ibu Qamar Muhammad Khattab menggantikan (Luna), Abdurrahman anak sulung menggantikan (Shalom Rachamim), Hasibah (mempertahankan nama yang sama), Abdul Aziz menggantikan (Ezra), dan Abdullah menggantikan (Ovadia).
Meskipun hukum Israel memungkinkan kebebasan beragama dan memberikan hak kepada warga negara untuk memeluk agama yang diinginkannya, namun masuk Islamnya Yusuf disambut orang Israel dengan penolakan, pertanyaan, makian, keheranan, ejekan, dan ketakutan akan kemungkinan orang Israel lain memeluk agama Islam.
Pengacara Dina Shabli yang membela kasus Yusuf mengatakan bahwa dia mengajukan surat tertulis kepada pejabat di Kementerian Dalam Negeri dan Agama yang menjelaskan detail kasus dan memaparkan kenyataan masuk Islamnya keluarga Khattab. Menghadapi penundaan jawaban dari Kementerian Agama, Shabli mengajukan ke Kementerian Kehakiman yang menyebabkan Kementerian Agama mundur dari posisinya dan mengeluarkan sertifikat perubahan agama Yusuf dan seluruh anggota keluarganya. Setelah itu Kementerian Dalam Negeri mengubah agama Khattab dan keluarganya dalam catatan penduduk dan mengubah nama Ibrani mereka menjadi Arab.
Yusuf Khattab memiliki situs web di internet dengan alamat http://www.jewstoislam.com
81- Malcolm X, Pemimpin dari Kulit Berwarna Amerika
Sebelum masuk Islam dia dijuluki setan dan “si merah Detroit” karena dia adalah pemimpin rasis ekstremis dalam permusuhannya terhadap orang kulit putih. Namun dia mengubah pendekatan ini setelah masuk Islam.
Terutama setelah perjalanan hajinya di mana dia dipenuhi persaudaraan Muslim kulit putih di bawah naungan Islam, maka dia mengirim surat kepada para pengikutnya dari Mekkah yang menjelaskan perubahan arahnya. Dia berkata:
“Saya tidak pernah melihat kemurahan hati yang tulus, atau semangat persaudaraan yang melimpah seperti ini yang mendominasi di sini di antara orang-orang dari segala warna dan ras, di tanah suci ini, kampung halaman Ibrahim dan Muhammad…
Di sini puluhan ribu jamaah haji datang dari seluruh dunia, untuk melaksanakan ritual yang sama dengan semangat persatuan dan persaudaraan, yang tidak pernah saya bayangkan – berdasarkan pengalaman saya di Amerika – bahwa hal itu bisa terjadi antara kulit putih dan hitam…
Dan Amerika perlu memahami Islam, karena inilah satu-satunya agama yang dapat menghapus masalah rasial dalam masyarakatnya… Saya telah bertemu dengan Muslim kulit putih dan berbicara dengan mereka, bahkan makan bersama mereka! Namun sikap rasialis telah dihapus dari pikiran mereka oleh agama Islam…
Kita di sini bersujud kepada Tuhan yang satu, bersama saudara-saudara Muslim yang memiliki mata biru sejernih birunya, dan memiliki kulit putih seputih putihnya.”
Sungguh menakjubkan urusan Islam! Bagaimana ia mengubah kebencian hitam di hati pemimpin ini menjadi cinta putih yang melimpah… yang tidak bisa dia ungkapkan kecuali dengan renungan-renungan yang dia akhiri dalam suratnya?! Niatnya dengan Islam menjadi putih, dan lebih putih dari warna kulit musuh-musuh sebelumnya. Inilah Islam, agama manusia. “Dalam masyarakat Islam tidak ada manusia yang merasakan diskriminasi apa pun, karena dalam Islam tidak ada kompleks superioritas, dan tidak ada kompleks inferioritas.”
82- Lord Hedley, Keturunan Keluarga Kerajaan Inggris
Salah satu orang terkaya di Inggris, dan yang tertinggi keturunannya. Dia belajar teknik di Cambridge, masuk Islam dan menerbitkan majalah (The Islamic Renew)… Dan menerbitkan buku (Kebangkitan Arab terhadap Islam) dan buku (Seorang Barat Terbangun lalu Memeluk Islam). Masuk Islamnya memiliki gema besar di Inggris.
Dari perkataan Hedley: Hedley berkata mengungkapkan saat memeluk Islam: “Tidak diragukan bahwa hari terbahagia dalam hidup saya adalah hari ketika saya menyatakan secara terbuka di hadapan semua orang bahwa saya telah mengambil Islam sebagai agama.”
Jika saya terlahir sebagai Kristen, ini tidak mengharuskan saya tetap begitu sepanjang hidup. Saya tidak tahu bagaimana saya bisa percaya pada prinsip yang mengatakan: Jika kamu tidak memakan tubuh Kristus, dan meminum darahnya, kamu tidak akan selamat dari azab neraka yang kekal!
“Dengan Islam saya menganggap diri saya lebih dekat dengan kekristenan sejati daripada sebelumnya, dan siapa yang memusuhi kekristenan sejati, maka tidak ada harapan padanya…”
“Saya tidak terlahir dalam dosa, dan saya bukan kelahiran murka dan kemarahan, dan saya tidak suka bersama orang-orang berdosa.”
“Islam benar-benar telah menguasai hati saya, dan kemurniannya meyakinkan saya, sehingga menjadi kebenaran yang tertanam dalam pikiran dan hati saya, di mana saya menemukan kebahagiaan dan ketenangan yang tidak pernah saya lihat sebelumnya.”
Sunnah Nabawi adalah teladan bagi kita: “Karena kita membutuhkan model sempurna untuk memenuhi kebutuhan kita dalam langkah-langkah kehidupan, maka kehidupan Nabi memenuhi kebutuhan itu. Ia seperti cermin murni yang memantulkan kepada kita akhlak yang membentuk kemanusiaan, dan kita melihat hal itu di dalamnya dengan warna-warna yang terang…
Ambil aspek mana pun dari adab, kamu akan yakin bahwa kamu menemukannya dijelaskan dalam salah satu peristiwa kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Dan dia mengungkapkan konsep ibadah yang menyeluruh untuk kehidupan: “Islam adalah agama yang membuat manusia benar-benar menyembah Allah sepanjang hidup! Tidak hanya pada hari Minggu saja…
Saya menjadi seperti orang yang melarikan diri dari ruang bawah tanah yang gelap ke hamparan bumi yang luas yang diterangi matahari siang, dan mulai menghirup udara laut yang murni dan jernih.”
Meskipun Lord Headley lahir dalam keluarga Kristen yang terpandang, namun ia tidak pernah merasakan iman yang tulus terhadap agama Kristen di lubuk hatinya. Justru sebaliknya, ia selalu diliputi keraguan terhadap kebenaran ajaran-ajaran yang disebarkan oleh gereja dan ritual-ritual yang dipraktikkan oleh para pendeta dalam ibadah dan upacara keagamaan mereka. Ia sering kali menghentikan pemikirannya pada tujuh sakramen gereja.
Sebagai seorang yang berpendidikan dan sadar, ia tidak dapat mencerna gagasan memakan tubuh Isa alaihissalam atau meminum darahnya sebagaimana yang dibayangkan oleh orang-orang Kristen ketika mereka memakan roti gereja dan meminum anggurnya. Demikian pula, ia tidak yakin dengan konsep penebusan umat manusia yang merupakan salah satu fondasi aqidah gereja.
Takdir Allah menghendaki agar ia bepergian ke wilayah Kashmir yang penduduknya memeluk agama Islam, untuk keperluan proyek-proyek teknik, di mana ia bekerja sebagai perwira di tentara Inggris dan sebagai insinyur. Di sana, seorang teman perwira tentara menghadiahkannya sebuah mushaf Al-Qur’an ketika melihat kekagumannya terhadap perilaku-perilaku kaum Muslim. Pemberian ini menjadi awal perkenalan sejatinya dengan Islam, karena ia menemukan dalam Kitab Allah sesuatu yang sesuai dengan sifat jiwanya dan cocok dengan rohnya.
Ia menemukan bahwa konsep ketuhanan sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an Al-Karim sesuai dengan logika dan fitrah, serta memiliki kesederhanaan yang luar biasa. Ia juga merasakan dalam agama Islam sifat toleransi, sifat yang tidak ia rasakan keberadaannya di antara kaumnya dari orang-orang Kristen yang dikenal dengan sikap fanatik mereka terhadap agama-agama lain, bahkan terhadap sesama mereka. Katolik bersikap fanatik terhadap Protestan, dan mereka pada gilirannya bersikap fanatik terhadap Ortodoks, yang tidak kalah fanatik terhadap kedua kelompok sebelumnya. Setiap kelompok mengklaim bahwa mazhabnya adalah yang benar dan selainnya adalah batil, dan masing-masing mengemukakan dalil-dalil yang saling bertentangan satu sama lain.
Lord Headley tidak bisa tidak condong kepada Islam setelah membaca terjemahan makna Al-Qur’an Al-Karim, dan apa yang dibacanya tentang aqidah Islam, serta para pahlawan Islam terdahulu yang mampu menjadi pemimpin-pemimpin terbesar dunia. Dengan kekuatan aqidah mereka, mereka membangun peradaban besar yang berkembang selama berabad-abad, pada masa ketika Eropa tengah menderita di bawah tekanan kebodohan dan tirani paus-paus serta kardinal-kardinal.
Lord Headley juga menemukan dalam syariat Islam dan sirah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam serta para sahabat dan para tabi’in yang mengikuti mereka, teladan baik yang memuaskan dahaga rohaninya akan kebenaran. Tidak sulit baginya untuk menyadari bahwa Islam adalah aqidah dan perilaku.
Meskipun Lord Headley telah yakin dengan Islam, ia tetap menyembunyikan keislamannya selama sekitar dua puluh tahun karena alasan-alasan keluarga, hingga Allah menakdirkan baginya untuk mengumumkannya di hadapan umum dalam sebuah acara Perkumpulan Islam di London. Di antara yang dikatakannya adalah:
“Dengan mengumumkan keislaman saya sekarang, saya sama sekali tidak menyimpang dari apa yang saya yakini sejak dua puluh tahun yang lalu. Ketika Perkumpulan Islam mengundang saya ke perjamuan mereka, saya sangat gembira, agar saya dapat pergi kepada mereka dan memberitahu mereka tentang keterikatan saya yang kuat dengan agama mereka. Saya tidak peduli untuk melakukan sesuatu untuk menunjukkan penolakan saya terhadap hubungan saya dengan Gereja Inggris yang membesarkan saya, sebagaimana saya tidak peduli dengan formalitas dalam mengumumkan keislaman saya, meskipun itulah agama yang saya pegang teguh sekarang.”
Lord Headley melanjutkan: “Ketidaktoleranan para penganut Kristen adalah alasan terbesar keluarnya saya dari jamaah mereka, karena Anda tidak akan mendengar seorang Muslim pun mencela pengikut agama-agama lain, sebagaimana yang kita dengar dari orang-orang Kristen satu terhadap yang lain.” Ia melanjutkan membicarakan berbagai aspek yang menariknya kepada Islam dengan berkata: “Kesucian Islam, kemudahannya, jauhnya dari hawa nafsu dan mazhab-mazhab kerahiban, serta kejelasan hujahnya – semua hal ini memiliki pengaruh yang besar dalam jiwa saya. Saya melihat pada kaum Muslim perhatian terhadap agama mereka dan keikhlasan kepada agama itu yang tidak saya lihat serupa di antara orang-orang Kristen, karena orang Kristen biasanya menghormati agamanya pada hari Minggu, tetapi setelah hari Minggu berlalu, ia melupakan agamanya sepanjang pekan… Adapun Muslim sebaliknya, ia senantiasa mencintai agamanya, baik pada hari Jumat maupun selainnya, dan tidak pernah lelah sedetik pun untuk memikirkan setiap amal yang merupakan ibadah kepada Allah.”
Setelah Lord Headley memeluk Islam, ia mengambil nama “Rahmatullah Faruq”. Pengumuman keislamannya menimbulkan gema yang luas di Inggris mengingat gelar besar yang disandangnya, kenyataan bahwa ia adalah seorang politikus terkemuka, dan anggota pimpinan dalam Dewan Lord. Pers Inggris mengkritiknya dan meragukan ketulusan agamanya, berusaha menafsirkan masalah pengumuman keislamannya sebagai upaya meraih keuntungan murah, yaitu agar menjadi wakil Muslim di Dewan Lord dan pemimpin mereka. Hal ini mendorong mualaf baru “Rahmatullah Faruq” untuk merespons para pengkritiknya dengan sebuah artikel berjudul “Mengapa Saya Masuk Islam?”. Di antaranya ia berkata:
“Kami – orang Inggris – terbiasa bangga dengan kecintaan kami pada keadilan dan kebenaran, tetapi kezaliman apa yang lebih besar daripada kami menghukum – sebagaimana yang dilakukan kebanyakan dari kami – kebusukan Islam sebelum kita mengetahui sesuatu tentang aqidah-aqidahnya, bahkan sebelum kita memahami arti kata Islam?!”
Kemudian ia melanjutkan: “Mungkin sebagian teman saya mengira bahwa kaum Muslim-lah yang mempengaruhi saya, tetapi prasangka ini tidak memiliki kebenaran, karena keyakinan saya saat ini tidak lain adalah hasil pemikiran yang saya habiskan selama bertahun-tahun… Tidak perlu saya katakan bahwa saya dipenuhi kegembiraan ketika menemukan teori-teori dan kesimpulan saya sepenuhnya sesuai dengan agama Islam.”
Patut disebutkan bahwa keislaman “Rahmatullah Faruq” atau Lord Headley memiliki pengaruh besar dalam memperkuat gerakan Islam di Inggris. Tidak berselang beberapa bulan setelah pengumuman keislamannya, lebih dari empat ratus pria dan wanita Inggris mengikuti jejaknya, setelah perhatian mereka tertarik pada apa yang dikatakannya tentang kebaikan-kebaikan Islam. Mereka mulai membaca buku-buku Islam dan masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong.
Yang menarik adalah “Rahmatullah Faruq” memimpin Perkumpulan Islam Inggris, menghadapi serangan-serangan para pembenci Islam, dan bangkit dengan penanya membela agama Allah, membalikkan tipu daya ke leher para penipu yang berusaha menggambarkan Islam sebagai agama syahwat.
Di antara tanggapannya terhadap mereka adalah yang dimuat oleh majalah “Islamic Review” di mana ia berkata: “Semua upaya sia-sia dan cara-cara hina yang dilakukan oleh para misionaris untuk merendahkan syariat Nabi yang agung shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan kekasaran dan hal-hal remeh tidak menyakitinya, dan tidak mengubah aqidah pengikutnya sedikitpun.”
Ia melanjutkan merespons para misionaris dengan berkata: “Tidak mengherankan jika para misionaris berdusta padahal mereka telah berbuat dusta kepada Allah, karena betapa banyak pencuri yang menyamar sebagai orang amanah dan pezina menyamar sebagai orang yang lurus dan orang kafir menyamar sebagai orang beriman, tetapi tidak mengherankan, karena air muka telah hilang dari wajah mereka. Nabi Islam shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: ‘Jika kamu tidak malu, maka berbuatlah sesukamu’. Seandainya mereka malu pada diri mereka sendiri – atau setidaknya pada manusia – mereka tidak akan berani melakukan klaim batil dan fitnah yang jelas ini.”
Selama bertahun-tahun, “Rahmatullah Faruq” terus membela Islam melalui tulisan-tulisan dan khutbah-khutbahnya, dan menyusun beberapa karya tulis yang mungkin yang paling terkenal dan terpenting adalah bukunya “Kebangkitan Barat terhadap Islam”.
Ia meraih ketenaran di antara kaum Muslim di dalam dan luar Inggris sehingga ia disambut dengan antusias di negeri-negeri Muslim di manapun ia singgah, termasuk penyambutannya di Mesir dengan teriakan selamat datang dan kasih sayang.
83- Fabienne – Model Busana Prancis
“Fabienne” adalah model busana Prancis, seorang gadis berusia dua puluh delapan tahun. Saat hidayah datang kepadanya, ia tengah tenggelam dalam dunia ketenaran, godaan, dan hiruk-pikuk. Ia menarik diri dalam kesunyian. Ia meninggalkan dunia itu dengan segala isinya, dan pergi ke Afghanistan! Untuk bekerja merawat para mujahidin Afghanistan yang terluka! Di tengah kondisi keras dan kehidupan yang sulit!
Fabienne berkata: “Seandainya bukan karena karunia Allah kepadaku dan rahmat-Nya, hidupku akan sia-sia dalam dunia di mana manusia terpuruk menjadi sekedar binatang yang hanya mementingkan pemuasan keinginan dan nafsunya tanpa nilai dan prinsip.”
Kemudian ia menceritakan kisahnya: “Sejak kecil aku selalu bermimpi menjadi perawat sukarelawan, bekerja meringankan penderitaan anak-anak yang sakit. Seiring berjalannya waktu, aku tumbuh dewasa, dan menarik perhatian dengan kecantikan dan kelangsingan tubuhku. Semua orang – termasuk keluargaku – mendorongku untuk meninggalkan impian masa kecilku, dan memanfaatkan kecantikanku dalam pekerjaan yang memberiku keuntungan materi yang banyak, ketenaran dan sorotan, dan semua yang dapat diimpikan oleh remaja mana pun, dan melakukan yang mustahil demi mencapainya.
Jalan di hadapanku tampak mudah – atau begitulah tampaknnya bagiku -, sehingga aku dengan cepat merasakan manisnya ketenaran, dan aku dibanjiri hadiah-hadiah mahal yang tidak pernah kubayangkan untuk memilikinya.
Tetapi harganya mahal. Pertama-tama, aku harus melepaskan kemanusiaanku, dan syarat sukses dan bersinar adalah aku harus kehilangan kepekaan, perasaan, melepaskan rasa malu yang menjadi didikanku, kehilangan kecerdasanku, dan tidak berusaha memahami hal apa pun selain gerakan tubuhku dan irama musik. Aku juga harus terlarang dari semua makanan lezat, dan hidup dengan vitamin-vitamin kimia dan penguat serta perangsang, dan yang terpenting, aku harus kehilangan perasaanku terhadap sesama manusia. Tidak benci, tidak cinta, tidak menolak apa pun. Rumah-rumah busana telah menjadikanku patung bergerak yang tugasnya adalah mempermainkan hati dan akal. Aku telah belajar bagaimana menjadi dingin, kejam, sombong, dan kosong dari dalam, hanya menjadi bingkai yang mengenakan pakaian. Aku adalah benda mati yang bergerak dan tersenyum tetapi tidak merasakan, dan aku bukan satu-satunya yang dituntut demikian, bahkan semakin model bersinar dalam penghilangan kemanusiaan dan keadamiahannya, semakin tinggi nilainya di dunia dingin itu. Adapun jika melanggar ajaran busana mana pun, ia akan menghadapi berbagai hukuman yang termasuk di dalamnya bahaya psikis dan fisik juga!
Aku hidup berkeliling dunia sebagai model untuk tren mode terbaru dengan segala kemewahan, kesombongan, dan mengikuti keinginan setan dalam memamerkan pesona wanita tanpa rasa malu atau segan.”
Fabienne melanjutkan pembicaraannya: “Aku tidak merasakan keindahan busana di atas tubuhku yang kosong – kecuali dari udara dan kekejaman – sementara aku merasakan penghinaan pandangan dan penghinaan mereka terhadapku secara pribadi serta penghormatan mereka terhadap apa yang kukenakan.
Aku berjalan dan bergerak, dan dalam setiap iramaku diiringi kata ‘seandainya’. Setelah masuk Islam, aku tahu bahwa ‘seandainya’ membuka amal setan. Itu benar, karena kami hidup dalam dunia kemaksiatan dengan segala dimensinya, dan celakalah bagi yang menolaknya dan berusaha puas dengan pekerjaannya saja.”
Tentang perubahannya yang mendadak dari kehidupan yang sia-sia dan main-main ke kehidupan lain, ia berkata: “Itu terjadi saat perjalanan kami ke Beirut yang hancur, di mana aku melihat bagaimana orang-orang di sana membangun hotel dan rumah di bawah kekejaman meriam, dan aku menyaksikan dengan mataku sendiri sebuah rumah sakit anak-anak di Beirut. Aku tidak sendirian, tetapi bersama rekan-rekanku sesama patung manusia, dan mereka cukup puas dengan melihat tanpa peduli sebagaimana kebiasaan mereka.
Aku tidak bisa mengikuti mereka dalam hal itu. Kelambu ketenaran, kejayaan, dan kehidupan palsu yang kujalani tersingkap dari mataku pada saat itu, dan aku melesat menuju serpihan anak-anak dalam upaya menyelamatkan mereka yang masih hidup.
Aku tidak kembali ke teman-teman di hotel di mana lampu sorot menungguku, dan aku memulai perjalananku menuju kemanusiaan hingga sampai di jalan cahaya yaitu Islam. Aku meninggalkan Beirut dan pergi ke Pakistan, dan di perbatasan Afghanistan aku menjalani kehidupan yang sesungguhnya, dan belajar bagaimana menjadi manusia.
Sudah delapan bulan aku berada di sini, membantu merawat keluarga-keluarga yang menderita akibat kehancuran perang, dan aku mencintai hidup bersama mereka, karena mereka memperlakukanku dengan baik.
Keyakinanku pada Islam sebagai agama dan konstitusi kehidupan semakin bertambah melalui penghayatanku terhadapnya, dan kehidupanku bersama keluarga-keluarga Afghanistan dan Pakistan, serta cara hidup mereka yang berkomitmen dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian aku mulai mempelajari bahasa Arab, karena itu adalah bahasa Al-Qur’an, dan aku telah mencapai kemajuan yang nyata dalam hal itu.
Setelah sebelumnya aku mengambil sistem hidupku dari para pembuat mode dunia, kini hidupku berjalan mengikuti prinsip-prinsip dan kerohanian Islam.”
Fabienne sampai pada sikap rumah-rumah busana dunia terhadapnya setelah hidayahnya, dan menegaskan bahwa ia menghadapi tekanan-tekanan duniawi yang intensif. Mereka telah mengirimkan tawaran untuk melipatgandakan pendapatan bulanannya hingga tiga kali lipat, tetapi ia menolak dengan tegas. Akhirnya mereka mengiriminya hadiah-hadiah mahal dengan harapan ia kembali dari sikapnya dan murtad dari Islam.
Ia melanjutkan: “Kemudian mereka berhenti merayuku untuk kembali dan beralih mencoba merusak citraku di hadapan keluarga-keluarga Afghanistan. Mereka menyebarkan sampul majalah yang dulu ditampili fotoku ketika bekerja sebagai model busana, dan menempelkannya di jalan-jalan seolah-olah mereka membalas dendam atas taubatku, dan dengan demikian berusaha menimbulkan fitnah antara aku dan keluarga baruku, tetapi sangkaan mereka meleset dan alhamdulillah.”
Fabienne memandang tangannya dan berkata: “Aku tidak menyangka bahwa tanganku yang dimanja yang dulu kuhabiskan waktu lama untuk mempertahankan kelembutannya akan kugunakan untuk pekerjaan-pekerjaan berat ini di tengah pegunungan, tetapi kesulitan ini menambah kecerahan dan kesucian tanganku, dan akan mendapat balasan yang baik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala insya Allah.”
Koran Al-Muslimun Edisi 238.
84 – Model Busana Yunani Maklin Sikaros
Dia adalah salah satu model terkenal untuk rumah mode internasional, tidak mengetahui apa pun tentang Islam, hingga seorang jurnalis Aljazair melakukan wawancara dengannya tentang pertunjukan busana dan ketenaran yang dinikmatinya selama bekerja di bidang ini.
Pertanyaan jurnalis kepada “Maklin” adalah momen pencerahan yang membuatnya mengenal Islam.
Pertanyaannya adalah: Mengapa tidak memikirkan pertunjukan busana Islam?
“Maklin” berkata: Saya tidak mengetahui apa pun tentang Islam atau busananya, dan dengan penuh antusias saya meminta jurnalis Aljazair itu untuk memperkenalkan Islam kepada saya. Kebahagiaannya tak tergambarkan ketika menceritakan tentang Islam dan Rasulullah Muhammad saw, tentang wanita dalam Islam, dan tentang pakaian yang dikenakan wanita untuk melindunginya dari mata yang usil.
Wanita Yunani itu berkata: Saya menemukan Islam, itu adalah harta yang besar. Saya telah absen dari kesadaran selama bertahun-tahun dalam hidup saya sebelum mengenal agama yang agung ini.
Saya telah menimba dari harta ini dengan cinta yang belum pernah saya rasakan sebelumnya, dan dengan kesederhanaan yang hanya saya temukan dalam ajaran agama ini yang membawa kesederhanaan dalam semua aspek kehidupan, untuk menggambarkan jalan yang lurus bagi manusia di dunia ini.
Saya menangis banyak ketika menimba dari limpahan kasih Ilahi dan kemudahan Al-Quran yang tidak pernah terputus. Saya menyesal atas tahun-tahun hidup saya yang telah berlalu tanpa mengenal harta Ilahi ini.
Para ulama Islam yang mulia telah mampu meyakinkan saya bahwa Islam dengan ajarannya, jika dianut manusia, maka Allah Yang Esa akan menghisabnya sejak hari keislamannya. Saya menangis banyak ketika mengucapkan dua kalimat syahadat, dan hatiku ikut menangis yang menghilangkan beban bertahun-tahun yang kusesalkan. Saya bersaksi bahwa Allah itu Esa, tiada sekutu bagi-Nya, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan bahwa Dia Maha Suci, pencipta langit dan bumi.
Dia berkata: Dengan mengambil nama Ummul Mukminin Khadijah ra, istri pertama Rasulullah saw, saya menamai diri saya Khadijah dan mempelajari Islam serta belajar bahasa Arab untuk menikmati harta Ilahi – Al-Quran dalam bahasa yang diturunkan kepada Rasulullah.
Khadijah Yunani berkata: Saya yakin bahwa agama yang agung ini, yang dengannya Allah menutup risalah-risalah, sesungguhnya dikirim oleh Sang Pencipta untuk menjadi rahmat bagi semesta alam, dan menjadi tanah air bagi semua manusia.
Khadijah Yunani berkata: Saya menikah dengan seorang Muslim Tunisia, dan melahirkan tiga orang anak. Kami hidup dalam naungan Islam yang agung, kehidupan yang bahagia yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya, dan saya tidak pernah merasakan ketenangan kecuali setelah mengenal agama yang agung ini.
Anak-anakku mengambil dari ayahnya dan dariku semua yang baik demi kehidupan Islami yang tidak dinodai oleh hal-hal yang dapat mengganggu ketenangan hidup mereka saat ini dan di masa depan.
Islam harus menyebar ke seluruh penjuru dunia karena manusia haus akan pantai yang aman yang melindungi mereka dari gelombang ateisme, materialisme, dan kemerosotan ke dasar kemaksiyatan.
Akhirnya Khadijah berkata bahwa cita-cita Islamnya sangat banyak, dan berharap Allah SWT menuliskan bagi Islam penyebaran yang luar biasa, agar manusia tahu bahwa Islam datang untuk mereka semua, bagaimanapun berbedanya warna kulit dan beragamnya bangsa serta bahasa mereka.
Sumber: Ibrahim bin Abdullah Al-Hazimi, At-Taiibun Ila Allah/ Juz Kedua
85 – Ketua Partai Islam Inggris Dawud Musa Pitcock
Orang-orang kafir Makkah berkata kepada Rasul saw: Jika engkau benar, maka belah bulan menjadi dua bagian untuk kami, dan mereka berjanji akan beriman jika beliau melakukannya. Dan itu adalah malam Badar, maka Rasulullah saw memohon kepada Tuhannya agar diberi apa yang mereka minta. Maka terbelahlah bulan, setengah di atas gunung Shafa, dan setengah di atas gunung Qaiqaan yang berhadapan dengannya, hingga mereka melihat Hira di antaranya. Maka mereka berkata: Muhammad menyihir kami. Kemudian mereka berkata: Jika dia menyihir kami, maka dia tidak akan mampu menyihir semua manusia!! Abu Jahal berkata: Sabarlah hingga datang kepada kita penduduk pedalaman, jika mereka mengabarkan tentang terbelahnya bulan maka itu benar, dan jika tidak maka Muhammad telah menyihir mata kita. Maka mereka datang dan mengabarkan tentang terbelahnya bulan. Abu Jahal dan orang-orang musyrik berkata: Ini adalah sihir yang berkelanjutan, yaitu yang permanen.
Maka Allah menurunkan: “Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus.” Dan mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka berita-berita yang di dalamnya terdapat ancaman. Hikmah yang sempurna, maka peringatan itu tidak berguna (bagi mereka). Maka berpalinglah kamu (Muhammad) dari mereka.” – Surat Al-Qamar – Berakhirlah kisah yang terjadi di zaman Rasulullah saw.
Dalam salah satu seminar Dr. Zaghlul An-Najjar di salah satu universitas Inggris “Universitas Cardiff di Inggris Barat”, dan hadirin terdiri dari campuran Muslim dan non-Muslim, dia mengatakan bahwa mukjizat terbelahnya bulan di tangan Rasulullah saw telah dibuktikan baru-baru ini, kemudian dia menceritakan kisah yang membuktikan hal itu:
Seorang saudara Inggris yang tertarik dengan Islam bernama Dawud Musa Pitcock, yang sekarang menjadi ketua Partai Islam Inggris dan berniat mengikuti pemilihan mendatang atas nama Islam yang menyebar di Barat dengan tingkat yang besar, berkata bahwa ketika dia mencari agama, seorang teman memberikan terjemahan makna Al-Quran dalam bahasa Inggris. Dia membukanya dan menemukan Surat Al-Qamar, lalu membaca “Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan” dia berkata: Apakah bulan bisa terbelah? Kemudian dia berhenti membaca sisa mushaf dan tidak membukanya lagi.
Suatu hari ketika dia duduk di depan televisi Inggris menonton program di BBC di mana presenter mewawancarai tiga ilmuwan Amerika, dia mengkritik bahwa Amerika menghabiskan jutaan bahkan miliaran untuk proyek penaklukan ruang angkasa sementara jutaan orang menderita kemiskinan. Para ilmuwan terus membenarkan bahwa itu sangat bermanfaat di semua bidang pertanian, industri… dll.
Kemudian disebutkan salah satu perjalanan paling mahal, yaitu ke permukaan bulan yang menelan biaya sekitar 100 miliar dolar. Presenter bertanya: Untuk menempatkan bendera Amerika di permukaan bulan kalian menghabiskan jumlah ini?? Para ilmuwan menjawab bahwa mereka mempelajari komposisi internal satelit ini untuk melihat seberapa mirip dengan bumi.
Kemudian salah satu dari mereka berkata: Kami terkejut dengan hal yang menakjubkan yaitu sabuk batu metamorf yang memotong bulan dari permukaannya ke intinya ke permukaannya. Kami memberikan informasi ini kepada para geolog, mereka terkejut dan memutuskan bahwa ini tidak mungkin terjadi kecuali bulan pernah terbelah suatu hari kemudian menyatu, dan bahwa batu-batu metamorf ini adalah hasil dari benturan saat penyatuan.
Dawud Musa Pitcock melanjutkan: Saya melompat dari kursi dan berteriak: Mukjizat yang terjadi pada Muhammad saw lebih dari 1400 tahun yang lalu di tengah padang pasir, Allah menundukkan orang-orang Amerika untuk menghabiskan miliaran dolar untuk membuktikannya kepada kaum Muslim. Pasti agama ini benar… Dan Surat Al-Qamar menjadi sebab keislamannya setelah sebelumnya menjadi sebab berpaling dari Islam.
86 – Duta Besar Jerman di Maroko dan Mesir sebelumnya Dr. Murad Hofmann
Orang Jerman yang meraih gelar doktor hukum dari Universitas Harvard, dan menjabat sebagai duta besar Jerman di Maroko.
Di awal usianya, Hofmann mengalami kecelakaan lalu lintas yang mengerikan. Dokter bedah berkata kepadanya setelah selesai memberikan pertolongan: “Kecelakaan seperti ini sebenarnya tidak ada yang selamat, dan Allah menyimpan sesuatu yang sangat khusus untukmu, sayangku” (1).
Takdir membenarkan firasat dokter ini ketika Dr. Hofmann memeluk Islam setelah mempelajarinya secara mendalam, dan setelah bergaul dengan akhlak baik kaum Muslim di Maroko.
Ketika dia menyatakan keislamannya, pers Jerman memeranginya dengan sengit, bahkan ibunya ketika dia mengirim surat kepadanya, berpaling dan berkata: “Biarlah dia tinggal bersama orang Arab!” (2).
Temanku berkata kepadaku kamu terlihat asing
Di antara manusia ini tanpa teman
Kukatakan: Tidak, justru manusialah yang asing
Aku di duniaku dan inilah jalanku (3)
Tetapi Hofmann tidak peduli dengan semua ini, dia berkata: “Ketika saya terkena kampanye celaan dan fitnah yang kejam di media massa karena keislaman saya, beberapa teman saya tidak bisa memahami ketidakpedulian saya terhadap kampanye ini, dan mereka bisa menemukan penjelasannya dalam ayat ini “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan” (4).
Setelah keislamannya, Dr. Hofmann memulai perjalanan menulis dan di antara karyanya, buku (Buku Harian Seorang Muslim Jerman), (Islam Tahun Dua Ribu), (Jalan ke Makkah), dan buku (Islam Sebagai Alternatif) yang menimbulkan kehebohan besar di Jerman.
Dr. Hofmann berbicara tentang keseimbangan yang sempurna dan tepat antara materi dan roh dalam Islam dengan berkata: “Akhirat tidak lain adalah balasan amal di dunia, dari sini datang perhatian terhadap dunia. Al-Quran mengilhami Muslim untuk berdoa untuk dunia, bukan hanya akhirat “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat” dan bahkan adab makan dan berkunjung mendapat bagian dalam syariat Islam” (5).
Dr. Murad menjelaskan fenomena cepatnya penyebaran Islam di dunia, meskipun lemahnya upaya yang dilakukan dalam dakwah dengan berkata: “Penyebaran spontan Islam adalah ciri khasnya sepanjang sejarah, itu karena Islam adalah agama fitrah yang diturunkan ke hati Al-Mustafa” (6). “Islam adalah agama yang menyeluruh dan mampu menghadapi, dan memiliki keistimewaannya dalam menjadikan pendidikan sebagai kewajiban, dan ilmu sebagai ibadah… Dan keteguhan Islam serta penolakannya untuk mundur dari panggung peristiwa, dianggap oleh sebagian besar orang Barat sebagai penyimpangan dari konteks zaman dan sejarah, bahkan mereka menganggapnya sebagai penghinaan yang sangat besar terhadap Barat!!” (7).
Hofmann heran dengan kemanusiaan munafik orang Barat, dia menulis: “Pada Idul Adha, dunia Barat memandang pengorbanan Muslim terhadap hewan sebagai tindakan biadab, meskipun orang Barat hingga sekarang masih menyebut doanya (kurban)! Dan masih merenungkan pada hari Jumat yang menyedihkan karena Tuhan (mengorbankan) putranya untuk kita!!” (8).
Waktu kemenangan Islam: “Jangan mengecualikan bahwa Timur akan kembali memimpin dunia secara peradaban, karena perkataan ‘cahaya datang dari Timur’ masih berlaku (9)…
Sesungguhnya Allah akan menolong kita jika kita mengubah apa yang ada dalam diri kita, bukan dengan memperbaiki Islam, tetapi dengan memperbaiki sikap dan perbuatan kita terhadap Islam (10)…
Sebagaimana yang dinasihati pemikir Muhammad Asad kepada kita, Dr. Hofmann memberikan nasihat kepada kaum Muslim agar kembali memegang kendali peradaban dengan percaya diri dan bangga dengan agama ini, dia berkata: “Jika kaum Muslim ingin dialog yang sesungguhnya dengan Barat, mereka harus membuktikan keberadaan dan pengaruh mereka, dan menghidupkan kembali kewajiban ijtihad, dan berhenti dari sikap meminta maaf dan pembenaran ketika berbicara dengan Barat, karena Islam adalah satu-satunya solusi untuk keluar dari jurang yang terjatuh di dalamnya Barat, dan merupakan satu-satunya pilihan bagi masyarakat Barat di abad kedua puluh satu” (11).
“Islam adalah kehidupan alternatif dengan proyek abadi yang tidak lapuk dan tidak habis masa berlakunya, dan jika sebagian orang melihatnya kuno, ia juga modern dan futuristik yang tidak dibatasi oleh waktu dan tempat, karena Islam bukan gelombang pemikiran atau mode, dan bisa menunggu”.
Referensi: Penulis artikel: Dr. Abdul Mu’ti Ad-Dalati
(1) (Jalan ke Makkah) Murad Hofmann (55).
(2) Majalah (Al-Majallah) Edisi 366, artikel (Sudahkah Waktunya Menyaksikan Islam Eropa?) oleh pemikir Fahmi Huwaydi.
(3) Kedua bait untuk penyair Dr. Abdul Wahhab Azzam (Diwan Al-Matsani) hal. (34).
(4) (Jalan ke Makkah) Murad Hofmann hal. (49).
(5) (Islam Sebagai Alternatif) Murad Hofmann hal. (55-115).
(6) (Buku Harian Seorang Muslim Jerman) Murad Hofmann.
(7) (Jalan ke Makkah) hal. (148).
(8) (Jalan ke Makkah) hal. (92).
(9) (Islam Sebagai Alternatif) hal. (136).
(10) (Islam Tahun 2000) hal. (12).
(11) Majalah (Kuwait) Edisi (174).
Dan bersama-sama kita membaca kisah keislaman Murad Hofmann sebagaimana dia ceritakan dari awal:
Hofmann berkata: Tidak berlalu kecuali beberapa hari sebelum saya menyatakan keislaman saya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat pada 25 September 1980, dan bukanlah perkara mudah bagi seseorang untuk memberikan laporan pertanggungjawaban dan evaluasi perkembangan pemikirannya. Herman Hesse telah menulis dalam salah satu novelnya yang pendek “Novelle” Klein und Wagner tahun 1919: “Berbicara adalah cara paling pasti untuk menyalahpahami segala sesuatu dan membuatnya dangkal dan tandus”. Dan dia juga menulis dalam novelnya “Permainan Kelereng Kristal” memperingatkan dari merumuskan makna batin dalam kata-kata, dia berkata melalui lisan konduktor orkestra: “Tunjukkan penghormatan kepada makna, tetapi jangan mengira ia dapat dipelajari”. Banyak tokoh besar telah gagal dalam upaya ini. Umar yang kuat, khalifah kedua, menyiksa kaum Muslim hingga dia memeluk Islam, dan benar-benar tidak dapat dipahami bagaimana dia tiba-tiba yakin dengan Islam setelah membaca Surat Thaha setelah berkelahi dengan saudara perempuannya. Dan Hofmann mengutip dalam hal ini perkataan Abu Hamid Al-Ghazali (abad kesebelas dan kedua belas Masehi) dalam pengakuannya: “Bahwa akidah tidak meresap dalam jiwanya melalui satu dalil yang jelas tertentu, melainkan melalui jumlah yang tak terhitung dari sebab-sebab keimanan, dan pengalaman serta situasi yang menyertai yang dapat dirinci detailnya”. Dan dia berkata akhirnya: bahwa kembalinya ke Islam adalah karena “cahaya yang Allah lemparkan ke dalam dadanya”.
Dan dalam bukunya yang luar biasa “Jalan Menuju Mekkah”, dia menjelaskan tentang hidayahnya kepada Islam, yang mana dia menggambarkannya seakan-akan “pukulan dari langit” telah menimpanya. Adapun saya, selama bertahun-tahun, bahkan selama beberapa dekade, tertarik kepada Islam seperti magnet, karena saya menyukai pemikiran-pemikirannya, seakan-akan saya telah mengalaminya sebelumnya. Tiga peristiwa mendasar telah mengarahkan saya ke jalan ini, yang bersifat kemanusiaan, estetika seni, dan filosofis, dan peristiwa pertama dari ini berkaitan dengan cara yang menakjubkan dengan Aljazair.
Pada tahun 1960, saya menghabiskan dua bulan di Chateau Neuf sur Loire untuk dapat menguasai bahasa Perancis, sebagai persiapan untuk ujian masuk Kementerian Luar Negeri, dan di sana, saya membaca setiap hari laporan-laporan pers Perancis tentang perang Aljazair.
Masalah Aljazair
Hoffmann berkata: Dalam tes masuk Kementerian Luar Negeri Jerman, setiap pelamar harus memberikan ceramah tidak lebih dari lima menit tentang topik yang ditentukan secara acak, dan diberi tugas sepuluh menit sebelumnya. Betapa terkejutnya saya ketika ternyata topik ceramah saya adalah “Masalah Aljazair”. Dan sumber kejutan saya adalah sejauh mana pengetahuan saya tentang topik ini, bukan ketidaktahuan saya tentangnya.
Dan beberapa bulan setelah tes, dan sesaat sebelum saya menuju Jenewa, kepala pelatihan memberitahu saya, ketika kami bertemu secara kebetulan saat makan, bahwa tujuan saya telah berubah ke Aljazair.
Selama kerja saya di Aljazair pada tahun 61/1962, saya mengalami periode perang yang berlangsung delapan tahun antara pasukan pendudukan Perancis dan Front Pembebasan Nasional Aljazair, dan selama periode keberadaan saya di sana bergabung pihak ketiga yaitu “Organisasi Tentara Rahasia”, sebuah organisasi teroris Perancis, yang terdiri dari pemukim dan tentara pemberontak. Dan tidak ada hari yang berlalu tanpa jatuhnya sejumlah korban tewas di jalan-jalan Aljazair. Dan seringkali mereka dibunuh dengan ditembak di belakang kepala dari jarak dekat. Dan tidak ada alasan untuk itu, kecuali karena mereka orang Arab, atau karena mereka mendukung kemerdekaan Aljazair.
Dan ketika saya mendengar suara senjata otomatis, saya menelepon istri Amerika saya untuk bergegas membeli apa yang dia butuhkan, karena serangan berikutnya di wilayah yang sama tidak diperkirakan terjadi sebelum dua puluh menit. Dan tugas paling mulia saya adalah mengembalikan anggota-anggota pasukan asing dari orang-orang Jerman yang melarikan diri ke tanah air dengan bantuan dari otoritas Perancis. Dan jumlah romantikus malang ini tidak sedikit, sejak komandan pasukan payung melarikan diri tahun sebelumnya. Dan betapa kematian menarik mereka! Dan Organisasi Tentara Rahasia telah merekrut sejumlah dari mereka dalam pasukan khusus (komando). Dan kemudian mereka menemukan diri mereka di antara dua api. Juga peluang mereka untuk selamat dari kematian sangat kecil. Dan saya, sebagai wakil Konsulat Jenderal Jerman, meletakkan bunga di makam banyak dari mereka.
Saya, saat mencari orang-orang Jerman di antara yang terluka di rumah sakit, membawa senjata saya siap untuk digunakan. Dan saya memperhatikan dengan seksama wajah orang yang saya temui, bahkan tangan mereka. Dan ketika sosok-sosok bertemu, setiap orang menjauhi yang lain mundur ke belakang, mencari keamanan, dan terkadang istri saya yang ketakutan bersikeras melindungi punggung saya, sehingga dia berjalan di belakang saya dengan jarak beberapa langkah sambil membawa pisau tajam di lengan bajunya.
Hoffmann mengingat beberapa kenangan dengan berkata: “Dan beberapa kenangan dari hari-hari itu masih menimbulkan kesedihan dalam diri saya hingga sekarang. Ketika saya dalam perjalanan ke kantor radio Prancis 5, dimana dijadwalkan saya memberikan ceramah atas penugasan dari Konsul Jenderal tentang ‘keadaan tari teater’ di Jerman, pompa bensin mobil Volkswagen ‘Beetle’ saya rusak di jalan Isly yang sempit dan banyak tikungan. Dan dengan cepat mobil-mobil mengantri di belakang mobil saya, membunyikan klakson, dan saat itu, di depan saya ada seorang pria menyeberang jalan, dan seseorang menembaknya dari trotoar seberang, sehingga dia jatuh terluka di depan bumper kiri mobil saya, dan tiba-tiba penyerang itu mengarahkan senjatanya kepadaku memerintahkan agar aku melanjutkan perjalanan, untuk mengosongkan area tembakan. Dan saya tidak ingin melakukan itu, bahkan saya tidak bisa melakukannya juga, dan akhirnya, orang yang membawa senjata itu mendekati pria yang terluka dan menembakkan peluru lain yang membunuhnya, lalu menghilang di kerumunan orang dengan tenang dan perlahan.
Dan saya juga sangat terganggu, ketika saya melihat anggota Organisasi Tentara Rahasia yang terpaksa, saat mereka membakar mobil-mobil yang sebelumnya telah mereka muati dengan drum-drum bahan bakar, dan mendorongnya dari atas lereng ke lingkungan yang dihuni orang Arab. Dan seseorang harus mengharapkan berada dalam daftar orang yang terbunuh, jika menjadi saksi yang tidak diinginkan. Dan tukang cukur saya di Abiar memahami hal itu dengan baik, sehingga ketika pasukan ‘Organisasi Tentara Rahasia’ menyerang kantor telegraf di seberang tokonya di jalan Gallieni, dia memutar kursinya agar tidak menjadi saksi atas apa yang terjadi. Dan tindakannya tidak kurang aneh dari tindakan salah satu anggota polisi yang menawarkan kepada saya pada Mei 1962 untuk menjaga mobil saya, sementara api menyala di belakang punggungnya di kantornya di Abiar.
Ketika Presiden Prancis Charles de Gaulle, di Evian pada Maret 1962, mencapai kesepakatan dengan Pemerintahan Sementara Front Pembebasan Nasional Aljazair untuk gencatan senjata pada Juli berikutnya, Organisasi Tentara Rahasia meningkatkan tindakan terorisnya, dengan tujuan memancing orang Aljazair untuk melanggar perjanjian, sehingga anggota-anggotanya mulai melikuidasi kaum akademisi muda Aljazair, dan mereka mulai membunuh dengan menembak perempuan-perempuan yang mengenakan hijab. Dan beberapa hari sebelum tercapainya kemerdekaan, mereka menembak pedagang keliling Aljazair terakhir di Abiar, sehingga membunuhnya langsung di depan kantor saya. Dan pedagang ini telah hidup menjajakan ikannya selama puluhan tahun panjang, tanpa menyakiti manusia siapapun.
Dan di jalan tempat saya tinggal, tetangga-tetangga Prancis saya melemparkan dari jendela kepada para pemenang dengan segala sesuatu yang tidak mereka sayang. Dan lemari es yang mereka lemparkan jatuh di atas tumpukan sampah yang tidak dibersihkan selama berminggu-minggu, dan itu adalah keberuntungan bagi tikus-tikus.
Kontak Dekat dengan Islam
Peristiwa-peristiwa menyedihkan ini membentuk latar belakang kontak dekat pertama saya dengan Islam yang hidup. Dan saya memperhatikan sejauh mana ketahanan orang Aljazair terhadap penderitaan mereka, dan komitmen mereka yang kuat dalam Ramadan, dan keyakinan mereka bahwa mereka akan menang, dan perilaku kemanusiaan mereka, di tengah penderitaan yang mereka alami. Dan saya menyadari bahwa agama mereka berperan dalam semua ini.
Dan saya menyadari kemanusiaan mereka dalam bentuk paling tulus, ketika istri saya mengalami keguguran karena pengaruh “peristiwa” yang sedang berlangsung saat itu. Dia mulai berdarah pada tengah malam, dan ambulans tidak bisa datang kepada kami sebelum pukul enam pagi, karena pemberlakuan jam malam, dan karena slogan “membunuh tanpa peringatan sebelumnya” yang diberlakukan saat itu. Dan ketika pukul enam tiba, saya menyadari saat melihat dari jendela tempat tinggal saya di lantai empat, bahwa ambulans tidak dapat menemukan kami, karena Organisasi Tentara Rahasia telah mengubah pada malam itu nama-nama semua jalan di lingkungan tempat saya tinggal, sehingga semuanya menjadi memakai nama-nama seperti jalan “Salan” dan jalan “Yahudi” dan jalan “Organisasi Tentara Rahasia”.
Setelah penundaan yang sangat lama, kami dalam perjalanan menuju klinik Dr. Simon (sebelum Organisasi Tentara Rahasia menghancurkannya dengan ledakan tidak lama kemudian), dimana kami menemui barikade yang didirikan oleh Asosiasi Republik untuk Keamanan, dan meskipun bunyi klakson yang dibunyikan sopir, dia tidak bisa membuka jalan kecuali dengan sangat lambat, dan istri saya pada saat itu mengira dia akan kehilangan kesadaran. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi keadaan darurat, dia mulai memberitahu saya bahwa golongan darahnya adalah O dengan RH negatif. Dan sopir Aljazair mendengar pembicaraannya, sehingga dia menawarkan untuk mendonorkan sebagian darahnya yang dari golongan darah yang sama dengan miliknya.
Inilah orang Arab Muslim yang mendonorkan darahnya, di tengah perang, untuk menyelamatkan seorang asing yang berbeda agama dengannya.
Untuk mengetahui bagaimana penduduk asli yang menakjubkan ini berpikir dan bertindak, saya mulai membaca “kitab mereka”.. Al-Quran dalam terjemahan Perancisnya oleh Pesle/Tidjani. Dan saya tidak berhenti membacanya sejak saat itu, hingga sekarang, dan sampai saat itu, saya belum mengenal Al-Quran kecuali melalui jendela-jendela terbuka sekolah-sekolah tahfidz Al-Quran di Mizab selatan Aljazair, dimana anak-anak Berber menghafalkannya, dan membacakannya dalam bahasa yang asing bagi mereka, dan hal ini sangat mengherankan saya. Dan kemudian saya menyadari bahwa menghafal dan membaca Al-Quran, sebagai pesan langsung Allah, adalah kewajiban dalam segala keadaan.
Dan saya terganggu oleh reaksi marah dari salah seorang Aljazair, ketika saya berbicara dengannya di bar hotel Trans Mediterranean di Ghardaia, tentang bacaan saya terhadap Al-Quran, karena dia dengan tegas dan jelas mengecam adanya terjemahan-terjemahannya. Dan dia menganggap upaya menerjemahkan firman Allah ke bahasa lain sebagai penghujatan. Dan saya tidak membutuhkan waktu lama untuk memahami reaksinya. Karena bahasa Arab mencakup kosakata yang tidak menunjuk pada waktu tertentu. Kosakata yang menunjuk pada masa depan yang pasti dapat menunjuk pada hal yang terjadi di masa lalu juga. Belum lagi bahwa bahasa Arab mengandung beberapa hal yang dapat dipahami orang Arab secara tersirat. Dan terlepas dari itu, ada masalah biasa yang terletak pada kenyataan bahwa kata-kata yang mengungkapkan makna yang sama dalam dua bahasa jarang sekali cocok dalam hal asosiasi pikiran. Oleh karena itu, setiap terjemahan Al-Quran hanyalah tafsir yang memiskinkan makna dan membuatnya kosong dari kandungannya. Dan dengan demikian pria di bar itu benar.
Aljazair ini, yang saya berhutang banyak kepadanya, tidak mau meninggalkan saya sendiri, melainkan mengikuti saya seperti takdir. Ketika Swiss mulai mengurus kepentingan kami di Aljazair, pada tahun 1966, saya harus bekerja dari Kedutaan Jerman di Bern untuk melanjutkan kontak dengan sisa misi diplomatik kami di Aljazair, melalui bagian politik di Kedutaan Swiss. Dan surat yang dikirim dari Bonn ke Aljazair, melewati saya setiap minggu. Dan setelah 25 tahun sejak saya bekerja di Aljazair untuk pertama kali, saya kembali ke sana sebagai duta besar pada tahun 1987. Dan sejak saya diakreditasi sebagai duta besar di Maroko, yang bertetangga dengan Aljazair, pada tahun 1990, jarang sekali gambar Aljazair yang masih menderita penderitaan tragis meninggalkan imajinasi saya, apakah semua itu bisa hanya kebetulan belaka?!
Seni Islam
Dan Hoffmann berkata: Pengalaman penting yang juga mengarahkan saya kepada Islam, bersifat estetis yang terkait dengan seni Islam, dan pengalaman ini memiliki cerita yang diringkas dalam bahwa saya “tergila-gila dengan keindahan”, dan sejak masa muda saya mengagumi aspek formal keindahan, dan ingin menyelami kedalamannya bahkan ketika ibu mertua Amerika saya berkata – berdasarkan metode Puritan – bahwa keindahan hanyalah hal yang dangkal, dan tidak lain hanyalah tipuan di permukaan.
Ketika saya menerima pada tahun 1951 angsuran pertama dari beasiswa keunggulan, yang diberikan oleh Kementerian Kebudayaan di Bavaria “untuk yang sangat berbakat”, saya membayar semuanya sebagai harga untuk membeli cetakan di atas kain goni dari lukisan Paul Gauguin: “Gadis dan Buah Mangga”. Dan karena saya bukan dari mereka yang tinggal di lingkungan Maximilianeum yang terletak di sebelah kanan sungai Isar, melainkan saya tinggal di pemukiman perumahan untuk revolusioner demokrat, di lapangan Masman, dimana buruh dan mahasiswa berbagi ruangan-ruangannya, maka saya memindahkan lukisan Gauguin yang saya beli ke tempat tinggal saya di sana, dan mulai menganalisisnya, dan tidak lama saya yakin bahwa seni statis (tidak bergerak) – lukisan dan patung dan arsitektur dan kaligrafi dan karya seni kecil – berhutang berkat pengaruh estetiknya pada gerakan yang membeku, dan oleh karena itu, ia diturunkan dari tarian. Oleh karena itu, perasaan kita akan keindahan seni rupa meningkat semakin meningkat kemampuannya untuk menyarankan gerakan.
Dan inilah yang menjelaskan kekaguman saya yang luar biasa terhadap tarian yang mendorong saya untuk menonton semua pertunjukan balet di teater Prinzregenten di Munich. Dan sejak saat itu minat saya pada tarian meningkat, dan meluas untuk mencakup segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Dan saya menghabiskan setiap waktu luang antara jadwal pengadilan di aula-aula pertunjukan balet, dekat istana keadilan. Dan saya mendapat latihan-latihan balet, agar saya belajar – walaupun secara terlambat – balet klasik, sehingga saya tahu apa yang saya tulis tentangnya. Dan seni yang indah ini, pada akhirnya, bergantung pada usaha fisik yang luar biasa, dan dengan demikian saya belajar untuk membedakan, misalnya, antara gerakan-gerakan yang berbeda dan cara-cara performanya.
Yang paling menyenangkan bagi saya adalah sekolah Rusia Lunafon Zachnovsky, yang hidup di pengasingan, dan dari sekolah ini dibesarkan murid-murid yang cerdas seperti Angela Albrecht, dan darinya terbentuk pada pertengahan lima puluhan tim “Balet Zachnovsky”, yang dengan bantuannya kami menghadirkan pertunjukan-pertunjukan berkualitas tinggi di Munich dan di kota-kota lain di Bavaria. Dan saya bertanggung jawab atas kontrak-kontrak, promosi dan pencahayaan, dan unit makeup. Dan pada tahun 1955, saya mendirikan di Munich bersama dengan Karl Victor Brints Zufid, kelompok sahabat-sahabat balet, dan mengambil alih bersamanya rubrik kritik tari di koran sore Munich.
Tahap-tahap berikutnya dalam hidup saya adalah secara singkat: bekerja antara tahun 1954 dan 1980 sebagai kritikus balet khusus di surat kabar di Jerman dan Inggris dan Amerika, dan bekerja sebagai dosen untuk mata kuliah sejarah dan estetika balet di Institut Balet Cologne antara tahun 1971 dan 1973, dan saya mengajukan memorandum kepada Menteri Kebudayaan Jerman tentang pendirian balet nasional Jerman. Dan beberapa kenalan saya tidak tahu bahwa hukum dan diplomasi adalah profesi utama saya, bukan balet.
Dan buku yang benar-benar favorit bagi saya, adalah buku Gilbert dan Koonz tentang sejarah estetika sebagai ilmu filosofis. Dan sebagai pencinta balet, seni abstrak yang mewujudkan musik, saya sebenarnya mencari alasan-alasan yang memaksa kita untuk merasakan keindahan hal-hal atau gerakan-gerakan tertentu. Dan untuk alasan ini, saya bersemayam selama berminggu-minggu di salah satu hutan Bavaria meneliti dasar-dasar ilmu estetika gerakan. Dan di sana terbukti bagi saya bahwa kita sebagai manusia tidak memiliki pilihan selain merasakan keindahan tubuh manusia yang sehat dan apa yang sesuai dengan ukurannya. Dan hal ini juga berlaku bagi kita sebagai analis visual dari gambar-gambar dan jenis-jenis yang dihasilkan alam. Ditambah lagi kita membaca gambar-gambar dalam arah yang sama dengan arah penulisan kita. Dan akhirnya terbukti bagi saya bahwa gerakan-gerakan menarik perhatian kita karena bahaya yang mungkin dikandungnya. Dan terakhir terbukti bagi saya bahwa kita mengagumi gerakan-gerakan sentrifugal, karena kita dapat membayangkannya meluas hingga tak terbatas.
Melalui jalan ini, seni Islam menjadi bagi saya pengalaman penting yang bernilai tinggi dan menarik, bukankah dalam kediamannya persis seperti apa yang membahagiakan saya dalam gerakan-gerakan balet, yang abstrak: kemampuan manusia, dan gerakan batin, dan perluasan dalam apa yang tak terbatas? Dan semua itu dalam kerangka spiritualitas yang menjadi ciri Islam.
Dan karya arsitektur menginspirasi saya, seperti Alhambra di Granada dan Masjid Besar di Cordoba, dengan keyakinan bahwa karya-karya tersebut adalah hasil dari peradaban yang tinggi dan mulia. Saya memahami dengan baik apa yang ditulis Rainer Maria Rilke setelah mengunjungi Katedral Cordoba, ketika ia menulis: “… sejak mengunjungi Cordoba, saya dikuasai permusuhan yang liar terhadap Kristen, saya membaca Al-Qur’an dan ia mewujud bagi saya sebagai suara yang menguasai saya dengan kekuatan yang dahsyat, dan saya terbawa ke dalamnya seperti angin yang berhembus dalam organ”. Seni Islam menjadi tanah air estetis bagi saya, seperti halnya balet klasik sebelumnya, dan saya mulai melihat karya seni dari berbagai zaman: Yunani, Romawi, Gotik, Renaisans dan Rokoko sebagai menarik, bersejarah, dan otentik, bahkan jenius, tetapi tidak menembus ke dalam batin saya, tidak menggerakkan emosi dan perasaan saya.
Hoffman Mengajak Muslim Menyadari Kekuatan Daya Tarik Seni Islam Pemikir Jerman: Saya Menempatkan Agama Katolik dengan Pengetahuan Penuh Saya tentangnya Sebagai Objek Pertanyaan dan Keraguan
Pemikir Jerman Dr. Murad Hoffman menyadari bahwa agama Islam memiliki daya tarik khusus, begitu seseorang mulai mempelajari Islam hingga terdorong untuk beriman pada prinsip dan nilai-nilainya yang bekerja untuk memperbaiki masyarakat manusia. Dan ia menyadari sepenuhnya bahwa agama rabbani ini adalah perbaikan untuk setiap zaman dan tempat.
Dr. Hoffman menceritakan kepada saya ketika saya bertemu dengannya di kota Chicago Amerika pada Agustus lalu aspek-aspek penting dalam kisah keislamannya, menunjukkan perlunya kembali kepada bukunya “Jalan ke Mekah” yang merangkum perjalanan imannya menuju Islam.
Hoffman mengatakan kepada saya bahwa ia sangat bersemangat menghadiri pertemuan-pertemuan Islam sebagai pintu masuk penting dalam mendekatkan Muslim dan kemudian interaksi dan keterlibatan mereka dengan agama ini. Begitu pula pentingnya partisipasi pemikir Islam dalam pertemuan intelektual Barat untuk memperbaiki citra Islam yang terdistorsi di kalangan orang Barat tersebut dan menampilkan Islam dalam wajahnya yang toleran yang menegaskan perannya sebagai reformis bagi seluruh masyarakat manusia.
Hoffman melanjutkan pembicaraannya tentang daya tarik Islam: “Saya menyadari kekuatan daya tarik seni agama ini sekarang lebih baik dari sebelumnya, di mana saya dikelilingi di rumah sekarang dengan seni abstrak, dan kemudian hanya dengan seni Islam saja. Dan saya juga menyadarinya ketika sejarah seni Barat terus tidak mampu sekedar mendefinisikan seni Islam. Dan tampaknya rahasianya terletak pada kehadiran Islam dalam keintiman yang sangat mendalam dalam semua manifestasi seni ini, seperti dalam kaligrafi, arabesque, ukiran karpet, dan arsitektur masjid, rumah, dan kota. Saya banyak memikirkan rahasia pencahayaan masjid dan dalam struktur demokratisnya, dan dalam arsitektur istana Islam, yang mengisyaratkan gerakan yang menuju ke dalam, dengan taman-tamannya yang mengisyaratkan surga dengan naungannya yang rindang dan mata air serta aliran airnya, dan dalam struktur sosial-fungsional yang memukau dari kota-kota Islam kuno (madinah) yang memperhatikan kehidupan bertetangga sekaligus memperhatikan menonjolkan posisi pasar dan penyesuaian atau adaptasi terhadap derajat suhu dan angin, dan mengintegrasikan masjid, zawiyah, madrasah, dan sabeel dalam area pasar dan area tempat tinggal. Dan siapa yang mengenal salah satu dari pasar-pasar ini – baik itu di Damaskus, Istanbul, Kairo, Tunisia, atau Fez – akan mengenal semuanya, karena semuanya, besar maupun kecil, adalah organisasi Islam dari gaya fungsional yang sama. Betapa sering saya berkeliling di pasar kota Sale yang bersaudara dengan Rabat untuk memulihkan vitalitas saya. Itu adalah puncak vitalitas masyarakat di mana setiap manusia menemukan tempatnya, baik tua maupun muda, sehat maupun sakit, miskin maupun kaya, putih maupun hitam, dan tidak ada tergesa-gesa, tidak ada krisis waktu yang sempit, tidak ada berlebihan dalam menilai diri, tidak ada alkohol, tidak ada alat transportasi berat, tidak ada pagar, tidak ada pemerasan, di mana semua orang setara, dan setiap transaksi pembelian dikaitkan dengan ‘ngobrol’, dan di mana toko-toko menutup pintunya pada waktu salat. Apa yang saya rasakan sejak awal sebagai islami dan membangkitkan kebahagiaan sebenarnya adalah pengaruh yang matang dari harmoni Islam, dan untuk perasaan hidup dan tempat Islam pada akal dan roh. Dan inilah yang saya rasakan di Museum Gulbenkian Islam di Lisbon, seperti yang saya rasakan di Masjid Umayyah di Damaskus, dan di Masjid Ibnu Tulun di Kairo, dan di Masjid Kairouan yang lama atau Masjid Süleymaniye di Derne.
Dan sebelum jalan filosofis membawa saya kepada Islam, yang pada gilirannya membawa saya kepada pengalaman mendasar ketiga dalam hidup saya, saya telah memperoleh, ketika masih remaja di kota Aschaffenberg, bagian yang melimpah dari pendidikan Jesuit, melalui keanggotaan saya dalam perhimpunan Congregatio Mariana yang merupakan padanan gerakan “Jerman Baru” yang berpusat di utara.
Dan keterikatan kami, bahkan kecintaan romantis kami, pada organisasi ini kembali ke periode pemerintahan Nazi, karena Gestapo tidak berhasil mengungkapnya ketika secara rahasia melawan pemerintahan ini. Dan bahkan ayah saya yang terganggu pikirannya tidak mengetahui keanggotaan saya dalam organisasi ini. Dan kami bertemu mingguan dengan salah satu pendeta Jesuit di salah satu pemakaman, dalam kondisi tindakan keamanan yang ketat. Setiap individu di antara kami hanya mengenal anggota kelompoknya saja. Tetapi kami berhasil seiring waktu menarik elemen-elemen terbaik siswa sekolah menengah. Dan dengan demikian kami memotong jalan pada organisasi “Pemuda Hitler”, yaitu kami mencegah elemen-elemen baik ini bergabung dengan organisasi pemuda yang tunduk pada pemerintahan Nazi, dan kami terkejut bahwa jumlah anggota organisasi mencapai 80 orang ketika perang berakhir.
Setelah perang berakhir, kami kembali menikmati kehidupan dan metode organisasi pemuda yang berlaku pada tahun dua puluhan abad ini. Dan karena apa yang disebutkan sebelumnya, saya sangat mengetahui agama Katolik, dan hal-hal terkecilnya dari dalam, tetapi pada saat yang sama, saya telah mulai menempatkan agama ini sebagai objek pertanyaan dan keraguan. Saya dan Carl Jacob Burckherdt selalu bertanya-tanya apakah benar bahwa sarjana teologi dan peneliti agama harus beragama Kristen. Dan meskipun saya mengagumi filsafat Ludwig Wittgenstein, saya yakin sepenuhnya bahwa tidak ada bukti yang menyangkal keberadaan Tuhan. Dan saya sangat berpegang pada pendapat yang mengatakan bahwa ketidakberadaan Tuhan tidak pasti secara definitif, dan bahwa kepercayaan akan keberadaan Tuhan atau penyangkalan keberadaan-Nya tetap menjadi masalah yang diputuskan oleh keyakinan dan kepastian individu. Dan saya telah memutuskan ini dengan kepercayaan saya akan keberadaan Tuhan.
Dan setelah itu, muncul pertanyaan tentang hakikat komunikasi antara Tuhan dan manusia. Dan saya sangat yakin akan kemungkinan, bahkan katakanlah keharusan, campur tangan Tuhan dan pengendalian-Nya terhadap jalannya urusan. Dan keyakinan saya ini didasarkan pada studi dan pengetahuan saya tentang sejarah kemanusiaan, ilmu pengetahuan, dan kebenaran, yang darinya saya simpulkan bahwa hanya mengamati dan mengikuti alam saja tidak akan membawa kita kepada pemahaman tentang hakikat hubungan kita dengan lingkungan dan dengan Tuhan. Bukankah sejarah ilmu pengetahuan bersaksi atas kebenaran bahwa fakta-fakta ilmiah saling mengubah dengan sangat cepat?! Dengan langkah ini saya telah memutuskan keyakinan saya akan kemungkinan, bahkan keharusan, wahyu dan agama, tetapi agama yang mana? Dan keyakinan yang mana? Apakah itu Yahudi, Kristen, atau Islam.
Dan jawaban datang kepada saya melalui pengalaman ketiga saya yang terangkum dalam pembacaan berulang saya terhadap ayat 38 dari Surat An-Najm: “Tidak seorang yang berdosa akan memikul dosa orang lain”, dan ayat ini pasti akan mengejutkan dengan sangat siapa pun yang menganggap serius prinsip cinta kepada orang lain yang terdapat dalam Kristen, karena secara lahiriah mengajak kepada sebaliknya. Tetapi ayat ini tidak mengungkapkan prinsip moral, melainkan mengandung dua pernyataan agama yang mewakili dasar dan inti pemikiran agama, yaitu:
1 – Ia menyangkal dan mengingkari pewarisan dosa. 2 – Ia mengecualikan, bahkan menghapuskan sepenuhnya, kemungkinan campur tangan seseorang antara manusia dan Tuhannya, dan memikul beban dosa untuknya. 3 – Dan pernyataan kedua ini mengancam, bahkan meruntuhkan kedudukan pendeta dan merampas kekuasaan dan otoritas mereka yang didasarkan pada perantaraan mereka antara manusia dan Tuhannya dan pembersihan mereka terhadap dosa-dosa manusia. Dan Muslim dengan demikian adalah orang beriman yang bebas dari semua ikatan dan bentuk otoritas agama.
Adapun penyangkalan pewarisan dosa dan dosa-dosa manusia, hal itu memiliki kepentingan tertinggi bagi saya, karena mengosongkan ajaran Kristen dari beberapa elemen esensial, seperti: keharusan keselamatan, penjelmaan, trinitas, dan kematian sebagai pengorbanan. Dan tampak bagi saya bahwa konsepsi kegagalan Tuhan dalam ciptaan-Nya, dan ketidakmampuan-Nya mengubah hal itu kecuali dengan melahirkan anak dan mengorbankannya – yaitu bahwa Tuhan menyiksa diri demi kemanusiaan – adalah hal yang mengerikan dan menakutkan, bahkan penghujatan dan penghinaan yang berat. Dan Kristen tampak bagi saya seolah kembali bersandar pada dasarnya kepada mitos-mitos yang beragam dan banyak. Dan menjadi jelas bagi saya peran berbahaya dan jahat yang dimainkan Paulus Rasul. Paulus, yang tidak pernah mengenal Kristus dan tidak menemaninya dalam hidupnya, telah mengubah bahkan memalsukan ajaran Yahudi-Kristen yang dirumuskan Barnabas dan melihat Kristus sebagai salah satu utusan dan nabi Tuhan. Dan saya yakin bahwa Konsili Gereja, yang diadakan di Nicea (tahun 325), telah sepenuhnya tersesat, dan menyimpang dari kebenaran dan instruksi Kristen asli, ketika menyatakan bahwa Kristus adalah Tuhan, dan hari ini, yaitu setelah lebih dari enam belas abad berlalu, beberapa sarjana teologi yang memiliki keberanian besar mencoba memperbaiki kesalahan ini.
Dan secara keseluruhan, saya mulai melihat Islam sebagaimana adanya, sebagai keyakinan dasar yang benar yang tidak mengalami distorsi atau pemalsuan apa pun.. keyakinan yang beriman kepada Allah Yang Maha Esa “yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya” (Surat Al-Ikhlas). Saya melihat di dalamnya keyakinan tauhid yang pertama, yang tidak mengalami apa yang terdapat dalam Yahudi dan Kristen berupa penyimpangan, bahkan perbedaan dari keyakinan pertama ini, keyakinan yang tidak melihat bahwa pemeluknya adalah umat pilihan Tuhan, sebagaimana tidak mempertuhankan salah satu nabi Yahudi. Saya telah menemukan dalam Islam konsepsi Allah yang paling murni dan sederhana, konsepsi yang progresif, dan pernyataan-pernyataan esensial Al-Qur’an, prinsip-prinsipnya, dan seruan moralnya tampak sangat logis sehingga saya tidak lagi meragukan kenabian Muhammad.
Dan saya sering mendengar sebelum memeluk Islam pernyataan bahwa perpindahan dari satu agama ke agama lain tidak memiliki kepentingan apa pun, di mana semua agama pada akhirnya beriman kepada satu Tuhan, dan mengajak kepada etika dan nilai yang sama, dan bahwa perilaku dan akhlak yang baik, ditambah dengan iman kepada Tuhan di hati manusia, dan bahwa manusia menuju Tuhan secara rahasia, lebih penting daripada salat lima waktu, dan dari puasa Ramadan dan menunaikan ibadah haji. Berapa kali saya harus mendengar pernyataan-pernyataan ini dari Muslim Turki yang meninggalkan keyakinan mereka tanpa menyadarinya.
Sesungguhnya Tuhan yang khusus dan rahasia bukanlah Tuhan, dan semua argumen dan pernyataan ini tampak lemah, jika Anda yakin bahwa Tuhan berbicara kepada kita dalam Al-Qur’an-Nya. Dan siapa yang menyadari kebenaran ini tidak menemukan jalan keluar kecuali menjadi Muslim dengan makna terdalam dari kata ini.
Salat yang Diwajibkan
Hoffman mengatakan bahwa mungkin dapat dikatakan: saya dekat dengan Islam dengan pemikiran saya sebelum saya menyatakan keislaman saya pada tahun 1980, dengan mengucapkan dua kalimat syahadat dalam keadaan suci sebagaimana mestinya, meskipun saya tidak tertarik hingga saat itu dengan kewajiban dan larangannya dalam hal kehidupan praktis. Saya adalah Muslim dari segi intelektual atau mental, tetapi saya belum demikian dari segi praktis. Dan ini pasti yang harus berubah sekarang secara radikal. Saya tidak seharusnya menjadi Muslim hanya dalam pemikiran saya, tetapi harus menjadi Muslim juga dalam perilaku saya.
Jika agama berarti ikatan yang mengikat manusia dengan Tuhannya, dan jika Islam berarti bahwa Muslim menyerahkan dirinya kepada Allah, maka kewajiban terpenting saya, sebagai Muslim yang baru memeluk Islam, di usia lima puluhan, adalah belajar salat Islam. Dan tidak perlu seseorang menjadi ahli komputer untuk menyadari bahwa masalah di sini berkaitan dengan masalah komunikasi.. apa seni komunikasi terbaik untuk berkomunikasi dengan-Nya? Dan yang pasti, bagaimanapun juga, tidak ada yang lebih membahayakan keislaman seseorang daripada terputusnya hubungannya dengan Tuhannya. Kemudian tasbih memuji Allah menjadi elemen sentral dalam kehidupan setiap orang yang menyadari dan memahami makna apa yang dikatakannya, ketika ia mengatakan bahwa ia beriman kepada Allah. Dan berdasarkan hal itu, maka orang yang tidak salat bukanlah orang beriman dari sudut pandang saya. Orang yang menegaskan cintanya kepada wanita yang tidak ada, tanpa memiliki keinginan untuk berbicara dengannya melalui telepon atau menulis surat kepadanya, dan tanpa melirik fotonya sepanjang hari, bukanlah pencinta sejati. Dan inilah yang berlaku sepenuhnya untuk salat. Orang yang benar-benar menyadari dan memahami makna sejati keberadaan Allah, akan memiliki keinginan untuk berkontemplasi dan menuju kepada Allah dengan sering. Dan hanya dengan cara itu, apa yang sering diulang Muslim ketika membaca Surat Al-Fatihah “Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami meminta pertolongan” menjadi kenyataan.
Dan saya hingga saat-saat itu tidak mengetahui apa yang harus dilakukan dan diikuti dalam salat. Belum lagi kemampuan saya untuk menghafal dan membaca dalam bahasa Arab, maka prioritas utama saya saat itu adalah mengatasi kekurangan ini. Dan sebelum saya mendalami studi pengantar bergambar dalam bahasa Jerman untuk salat Islam, yang mendapat kepercayaan terbesar, saya meminta teman Turki untuk mengajarkan saya wudu dan cara berdiri dalam salat, rukuk dan sujud, duduk di tanah bersandar pada kaki kiri, mengangkat kedua lengan, arah pandangan, kapan seseorang membaca keras, dan kapan membaca pelan dengan menggerakkan bibir saat membaca, dan bagaimana seseorang berdiri dengan benar di belakang imam, dan bagaimana bertindak ketika datang terlambat ke masjid, dan bagaimana bergerak dalam masjid, itu adalah ilmu yang lengkap! Dan sebenarnya, berbahaya bagi seorang Muslim bertindak sebagai Muslim tanpa benar-benar menjadi demikian.
Dan salat Islam dimulai, meskipun tampak aneh, di kamar mandi atau di sumber air di halaman depan masjid dengan wudu. Dan harus dipelajari sesuai dengan urutannya, dan bagaimana seseorang mencuci tangan, dan bagaimana menyeka kepala, dan bagaimana memastikan mencuci mata kaki, semuanya ditetapkan dan ditentukan dengan sangat tepat. Dan ketika seseorang berniat salat dan mengangkat kedua tangan ke kepala bertakbir memulai salat, maka ia terpisah sepenuhnya dari kesibukan kehidupan sehari-harinya, yang menegaskan kesucian salat baginya.
Wudu tidak menjadi masalah di negara-negara panas, di mana suhu tinggi menyebabkan pengeringan yang cepat. Dan dalam hal tidak tersedia air, cukup membersihkan tangan dengan pasir secara simbolis (tayammum), dan saya pernah mengalami situasi seperti ini, ketika mobil yang dikemudikan sopir ahli gurun kami tenggelam pada tanggal 7 Desember 1993, selama perjalanan di daerah Liwa yang kaya minyak di Uni Emirat Arab, di mana pasir tampak sangat cocok untuk tayammum. Adapun di daerah dingin kami, tidak benar-benar nyaman, dalam hal tidak ada handuk, bahwa seseorang harus memakai kaos kakinya dan kakinya basah. Dan ternyata bagi saya bahwa belajar cara melakukan salat jauh lebih mudah dari yang saya perkirakan, karena salat terdiri dari unit-unit tetap yang disebut “rakaat”, rakaat adalah unit salat.
Dan seseorang juga harus belajar jumlah rakaat dalam masing-masing dari lima salat: Subuh, Zuhur, Asar, Maghrib, dan Isya, dan mengetahui waktu-waktunya, dan apa yang harus diperhatikan musafir dari hukum salat.
Dan akhirnya saya mempelajari cara berdiri dalam shalat berjamaah, di mana kaum Muslim harus berbaris dalam barisan lurus dengan kaki yang saling bersentuhan dan menutup celah. Bagi saya, bersentuhan ini melambangkan lebih dari sekadar merapatkan barisan. Ini melambangkan solidaritas yang mempengaruhi saya lagi setiap kali. Dan solidaritas ini diperbaharui di akhir setiap shalat dengan salam “Assalamu’alaikum” yang diucapkan oleh orang yang shalat sambil menoleh ke kanan kemudian ke kiri, dan setelah itu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya sebagai tanda berakhirnya shalat, kemudian mengulurkan tangannya kepada tetangganya dalam shalat dengan berjabat tangan dan berharap semoga Allah menerima shalatnya “Taqabbalallahu shalaatak”.
Abdul Wahab Ubadah, Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Aljazair, menceritakan kepada saya bahwa dia pernah mengubah salam ini ketika masih kecil. Baginya terasa lebih logis untuk mengatakan “Assalamu’alaik” (bentuk tunggal). Akibatnya adalah dia mendapat tamparan di wajahnya dari ayahnya yang mengajarinya bahwa Muslim selalu mengatakan: “Assalamu’alaikum” karena salamnya mencakup semua makhluk yang terlihat dan tidak terlihat, mencakup malaikat dan juga kecoa.
Sangat penting untuk mengetahui cara menentukan tempat shalatnya, dengan meletakkan kacamata dan dompet kertasnya sekitar 90 sentimeter di depannya. Tak seorang pun akan melanggar tempat shalat orang lain, dan tak seorang pun akan lewat di depan orang yang sedang shalat secara langsung. Saya ingat ketika saya hendak meninggalkan Masjid Rasul صلى الله عليه وسلم di Madinah, setelah selesai shalat, pada tanggal 26 Desember tahun 1982, dan ketika saya mencapai pintu utama, lalu lintas berjalan lambat, dan alasannya adalah salah satu orang yang datang shalat terlambat, menyusul shalat segera setelah tiba di pintu, dan dia masih menyelesaikan shalatnya di tangga dengan sangat tenang, sementara gerombolan jamaah yang keluar dari masjid terbagi di sekelilingnya seperti terbagi mengelilingi batu. Dan tak seorang pun berani mengganggunya, atau mengganggu shalatnya, atau menerobos tempat shalatnya.
Adapun yang lebih aneh dan mengherankan adalah apa yang saya lihat saat thawaf mengelilingi Ka’bah pada tahun 1992. Seorang wanita bertubuh lemah melakukan shalat tanpa peduli, di tengah kerumunan beberapa meter dari Ka’bah, dikelilingi oleh empat pria kuat yang membuat pagar di sekelilingnya dengan lengan mereka. Sekali lagi, reaksi tenang yang sama dari orang-orang terulang, tidak ada celaan, tidak ada teguran, tidak ada kata-kata marah, melainkan penghormatan terhadap shalat.
Mungkin sulit atau bahkan mustahil, karena aturan-aturan ketat ini, bagi salah satu jamaah di barisan depan untuk meninggalkan masjid sebelum semua orang pergi. Pada tahun 1993 saya terpaksa membiarkan tuan rumah saya di Abu Dhabi menunggu saya, karena saya tidak menemukan cara untuk meninggalkan masjid yang sesuai dengan aturan. Untuk meninggalkan masjid melalui jalur samping, saya harus melewati secara horizontal di depan orang-orang yang sedang shalat, dan inilah “yang haram” itu sendiri.
Hoffman: Khutbah Jumat di dunia Islam lebih banyak menyapa perasaan daripada akal.
Pemikir Jerman: Saya suka melakukan shalat sendirian untuk mengendalikan kecepatan iramanya dan menemukan bahwa itu bermanfaat dalam mengobati gejala-gejala ketegangan kontemporer.
Pemikir Islam Dr. Murad Hoffman, mantan Duta Besar Jerman, melanjutkan pembicaraannya tentang perjalanan imannya menuju Islam. Dalam episode ini dia berhenti di stasiun-stasiun penting untuk menceritakan detail perjalanan iman ini, menunjukkan kecintaannya untuk melakukan shalat sendirian agar dia bisa mengendalikan kecepatan iramanya sambil mengakui keutamaan jamaah dan bersemangat untuk melakukannya.
Dia juga menceritakan kepada kita di sini kisah melakukan shalat berjamaah ketika dia menjadi imam shalat di kota San Francisco Amerika, ketika dia berpartisipasi dalam perayaan tahunan perkumpulan Atlantik Utara yang diadakan di kota itu pada Oktober tahun 1985, dan perasaan gelisah yang menimpanya dalam imamah pertamanya untuk jamaah kecil orang-orang Afrika-Amerika.
Hoffman juga membahas khutbah shalat Jumat di dunia Arab melalui pengalamannya selama bertahun-tahun, menunjukkan bahwa sayangnya khutbah-khutbah itu tidak mencapai apa yang seharusnya bisa dicapai, karena lebih menyapa perasaan daripada akal.
Mari kita teruskan bersama mengikuti perjalanan iman yang membawa Hoffman kepada Islam, agama Allah Tuhan semesta alam.
Dr. Murad Hoffman memulai pembicaraannya tentang kecintaannya melakukan shalat sendirian, di mana dia berkata: Saya sangat suka melakukan shalat sendirian, sehingga saya bisa mengendalikan kecepatan iramanya yang biasanya agak cepat ketika shalat di masjid, karena mempertimbangkan keadaan orang sakit dan mereka yang terburu-buru, meski demikian, shalat berjamaah memiliki keutamaan atas shalat sendirian.
Jauh dari masjid-masjid yang memiliki imam tertentu yang memimpin shalat di sana, sebelum setiap shalat berjamaah harus dipilih pada saat itu siapa yang memimpin, dan tuan rumah memiliki hak untuk memimpin shalat, meski demikian saya sangat suka mendelegasikan imamahnya kepada salah satu tamu saya (seperti Duta Besar Saudi, atau ketua Partai Kemerdekaan, pengacara Muhammad Boustta, ketika kami bertemu bersama di meja berbuka puasa Ramadhan di kediaman saya di Rabat).
Suatu kali, keadaan aneh mengharuskan saya sendiri menjadi imam shalat. Ketika saya tiba di San Francisco pada tanggal 10 Oktober tahun 1985, untuk berpartisipasi dalam perayaan tahunan perkumpulan Atlantik Utara, saya mencari dalam buku telepon dan catatan gereja-gereja tentang masjid. Saya yakin bahwa saya akan menemukan komunitas Islam di ibu kota aliran-aliran Amerika. Betapa terkejutnya saya ketika membaca: “Pusat Islam, 850 Jalan Divisadero, shalat dilakukan setiap hari pada pukul dua belas, dan hari Minggu pada pukul tiga belas”, persis seperti yang biasa dilakukan di gereja-gereja yang tidak menentukan waktu shalat menurut posisi matahari seperti yang dilakukan umat Islam.
Ketika saya tiba di sana, saya menemukan jamaah yang terdiri dari tiga anggota kulit hitam. Menunggu azan berkumandang memanggil shalat, seorang syaikh berambut beruban, mengenakan kacamata lebar yang miring ke bawah, membaca Al-Quran berbahasa Arab sambil meletakkan jari pada baris-barisnya. Bergabunglah dengan yang hadir anggota lain dari jamaah, yaitu Yusuf Simon… seorang pemuda Syiah kulit hitam yang belajar ilmu politik. Dia menyambut keterkejutan saya dengan diam, karena dia pasti sudah terbiasa mengalami diskriminasi sebagai orang kulit hitam di antara kulit putih, dan sebagai Muslim di antara Kristen, dan sebagai Syiah di antara Sunni.
Keterkejutan tidak meninggalkan saya sama sekali, di sinilah muazin mengumandangkan azan, tetapi dia memulai dengan iqamah sebelum azan, dan karena Bilal, muazin pertama Islam di Madinah adalah kulit hitam, saya merasa sangat canggung untuk mengoreksi penggantinya di San Francisco. Tetapi saya tidak bisa diam terhadap semua perkembangan yang kontradiktif ini, maka saya menceritakan dengan sangat hati-hati bahwa saya pernah ke Mekah, dan bahwa mereka di sana memulai dengan azan kemudian iqamah.
Reaksi terhadap apa yang saya katakan tidak mengejutkan saya, bahkan saya menganggapnya reaksi alami, karena jamaah kecil itu segera mengundang saya untuk memimpin shalat mereka, karena saya “yang paling berpengetahuan” di antara Muslim yang hadir. Dan sama sekali tidak mempengaruhi hal itu kenyataan bahwa saya orang Jerman kulit putih dan saya datang kepada mereka untuk pertama kalinya. Dan begitulah saya mendapati diri saya tanpa diduga menghadap kiblat. Saya berharap setidaknya kiblatnya benar menghadap ke Mekah, dan saya meluruskan jamaah kecil saya dalam barisan lurus, dan mengangkat tangan saya bertakbir “Allahu Akbar”.
Sungguh, pengetahuan saja memiliki bobot yang patut diperhitungkan. Ini juga ditegaskan oleh kejadian lain, pada Desember tahun 1982, seorang anak Arab berusia lima belas tahun memimpin shalat sekelompok jamaah haji Pakistan yang buta huruf di hotel Sheraton Madinah.
Mengenai shalat Jumat, yang pada dasarnya terdiri dari dua khutbah pendek kemudian shalat dua rakaat, untuk melakukannya harus pergi ke masjid, dan khatib biasanya mengakhiri khutbahnya dengan mengangkat tangannya berdoa kepada Allah.
Menyapa Perasaan Bukan Akal
Berdasarkan pengalaman saya selama bertahun-tahun, khutbah-khutbah ini, sayangnya, di dunia Arab tidak mencapai apa yang seharusnya bisa dicapai, karena lebih menyapa perasaan daripada akal. Khutbah-khutbah itu mengulang apa yang dipercayai orang beriman lebih dari mendalaminya. Hal itu terlihat dari nada suara para khatib. Sebagian mereka berteriak seolah-olah membangkitkan semangat tentara untuk berperang, dan meski demikian harus saya akui, di sisi lain, bahwa tidak ada tempat di dunia Islam untuk ceramah dengan gaya modern, karena hampir tidak ada yang mengaku ateis, jadi mengapa seseorang harus mendukung dasar-dasar dan prinsip-prinsip akidah dengan argumen dan dalil-dalil rasional dan kompleks, daripada memanfaatkan secara edukatif iman yang berlaku di dunia Islam?
(Ada juga pengecualian positif, seperti halnya beberapa Kristen di Munich yang bersusah payah melalui jalan yang lebih panjang untuk mencapai khatib tertentu, selama masa tinggal saya di Rabat saya pergi hingga pinggiran kota untuk mendengarkan imam Masjid Lalla “Sayyida” Sakinah, yang terdidik dalam khutbah Jumat).
Selama kerja jabatan saya, saya harus, melaksanakan aturan protokol, melakukan shalat Ied Fitri dan Adha di belakang para pemimpin negara, seperti Presiden Aljazair Chadli Bendjedid, dan mendiang Raja Hassan II Raja Maroko. Dan itu berlangsung di depan lensa kamera televisi, dan setiap kali saya merasakan semangat demokratis yang diberikan shalat Islam bahkan pada suasana seperti itu. Seorang raja bersujud di tanah mengenakan kaos kakinya adalah hal yang sangat berbeda dengan presiden Prancis melangkah di Katedral Reims menuju tempat duduknya yang istimewa.
Menghafal teks-teks Arab, yang dibaca selama shalat, termasuk di antaranya potongan-potongan pendek atau panjang dari surat-surat Al-Quran, bagi sebagian orang, memiliki tingkat kesulitan yang melebihi belajar cara melakukan gerakan-gerakan shalat. Saya sedih karena tidak bisa menghafal teks-teks Arab dengan baik, yang membuat saya seperti asisten pastor yang tidak memiliki pengetahuan Latin. Oleh karena itu, saya memutuskan seperti semua Muslim, dari zaman dahulu hingga selamanya, untuk mempelajari dari bahasa Arab setidaknya yang cukup untuk memahami bentuk-bentuk tata bahasa dan asal-usul teks. (Dan saya sangat memanfaatkan pengetahuan awal ini, ketika saya bekerja kemudian sebagai duta besar di Aljazair).
Dan yang pertama saya pelajari tentu saja adalah surat “Al-Fatihah” (surat Al-Fatihah), surat pertama Al-Quran dan pembuka Kitab, yang merupakan komponen utama setiap rakaat, dan karena itu, dibaca setiap hari paling sedikit 17 kali. Setelah Al-Fatihah saya mempelajari surat nomor 112, yaitu surat Al-Ikhlas, yang setara dari segi isinya, menurut apa yang diriwayatkan dari Rasul صلى الله عليه وسلم, sepertiga seluruh Al-Quran, meskipun empat ayatnya pendek: Bismillahirrahmanirrahim “Qul huwallahu ahad, Allahush-shamad, lam yalid wa lam yulad, wa lam yakun lahu kufuwan ahad” (surat Al-Ikhlas).
Kemudian mengikuti dua surat perlindungan, yaitu: surat Al-Falaq (nomor 113), dan surat An-Nas (nomor 114), kemudian surat-surat Makkiyah pendek lainnya seperti surat Al-Fil (nomor 105), dan surat Quraisy (nomor 106), dan surat Al-Kafirun (nomor 109), dan surat An-Nasr (nomor 110), serta ayat-ayat dari 1 sampai 5 dari surat pertama yang turun wahyu, yaitu surat Al-Alaq nomor (96): Bismillahirrahmanirrahim “Iqra’ bismi rabbika allazi khalaq, khalaqa al-insana min alaq, iqra’ wa rabbuka al-akram, allazi allama bil-qalam, allama al-insana ma lam ya’lam” (surat Al-Alaq ayat 1-5).
Dan saya tidak memberanikan diri setelah itu untuk mencoba mempelajari (menghafal) potongan-potongan Al-Quran yang lebih panjang seperti ayat Kursi (surat 2 – ayat 255), dan ayat Nur (surat 24 – ayat 35), serta potongan-potongan khusus tentang Asma Allah Al-Husna, yaitu sifat-sifat Allah, (surat 59 – ayat 22 – 24 – 35), kecuali setelah kemajuan saya yang berkembang dalam pengetahuan Arab.
Inti Perilaku Muslim
Barang siapa menganalisis teks-teks shalat, akan sampai pada keyakinan bahwa inti shalat adalah mengingat Allah dan berdoa kepada-Nya. Dan ini sesuai dengan petunjuk Al-Quran bahwa kewajiban tertinggi manusia: agar dia dibimbing berkat kemampuan mentalnya untuk mengenal Allah dan bertasbih dengan memuji-Nya. Dan inilah inti perilaku Muslim. Jika Anda bertanya kepada salah seorang dari mereka tentang keadaannya, dia tidak akan menjawab: baik atau buruk, tetapi akan berkata: Alhamdulillahi.
Setelah shalat, seseorang dengan penuh semangat bertasbih memuji Allah, menggunakan baik tasbih yang terdiri dari tiga puluh tiga atau sembilan puluh sembilan butir, ataupun jari-jari tangannya sambil mengucapkan dengan berbisik: “Subhanallahi wa bihamdih” atau “Asy-syukru lillah” dan “Alhamdulillah”, dan “Allahu akbar”, dan mungkin kita perhatikan bahwa – berbeda dengan Kristen – bentuk-bentuk tasbih dan doa beragam dalam Islam.
Dan karena doa memiliki kedudukan utama, maka berpaling dari berdoa kepada Allah menjadi semacam kekurangan iman, karena “Allah dekat menjawab seruan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Nya” (lihat: surat Al-Baqarah ayat: 186). Dan sebagaimana doa tidak memiliki bentuk atau pola tertentu, maka doa juga tidak memiliki tempat atau waktu tertentu, dan tidak disyaratkan dalam bahasa Arab, dan dalam keadaan idealnya adalah mengingat Allah yang konstan. Dan mengingat Allah yang konstan inilah yang diperjuangkan oleh para sufi Muslim. Dan saya telah mengumpulkan Mary Schimmel sejumlah besar zikir dan doa Islam yang indah ini.
Dan kepada tasawuf Islam dikembalikan keutamaan dalam keutuhan dan tidak hancurnya zikir dan doa Islam secara bentuk dan isi, dimulai dari sufi Andalusia Ibn Arabi pada abad kedua belas dan ketiga belas Masehi hingga Frithjof Schuon pada masa kita sekarang. Para sufi Islam sejati tidak pernah melepaskan diri dari formalitas yang diwajibkan, tetapi mereka merasionalisasikannya. Di sinilah Schuon berkata di tempat lain: “Sesungguhnya Muslim – dan khususnya yang mengikuti sunnah hingga cabang-cabang yang paling kecil dan detail – hidup dalam jaringan simbol-simbol…”, dan barang siapa membawa hal ini dalam hatinya tidak membiarkan shalatnya berubah menjadi rutinitas.
Dan baik saya melakukan shalat di masjid di Hamburg, atau di masjid yang dibangun dengan batu bata tanah liat (batu bata hijau) dan batang-batang kurma di oasis Figuig timur Maroko, atau di Masjid Umayyah di Damaskus dengan mosaik yang memukau, maka shalat itu satu, karena mereka mempelajarinya dari satu guru (dan ini memang terjadi). Dan kesatuan formal ini menyediakan ketenangan dan ketenteraman yang diperlukan untuk konsentrasi penuh.
Pengobatan Gejala Ketegangan Kontemporer
Shalat dalam Islam, selain aspek spiritualnya, mengandung dimensi materi yang nyata, serta dimensi politik yang potensial. Seseorang membutuhkan waktu lama untuk belajar cara duduk di atas kakinya dengan rileks di tanah keras, tanpa mengalami kejang otot, menyadari bahwa meletakkan kaki telanjang dalam posisi yang tepat lebih mudah daripada ketika mengenakan kaos kaki. Tetapi duduk di tanah tanpa bergerak selama berjam-jam seperti yang dilakukan saudara-saudara kita di Timur adalah hal yang tidak bisa lagi kita pelajari di usia lanjut.
Yang pasti, shalat dalam Islam bermanfaat dalam mengobati gejala ketegangan kontemporer, yang tidak membutuhkan waktu lama untuk menganalisis dan mengetahui penyebabnya. Manusia kontemporer tidak bekerja dari segi kuantitas, khususnya yang berkaitan dengan kerja otot, lebih banyak dari yang pernah dia kerjakan di masa lampau, bahkan sebaliknya yang benar. Adapun yang baru adalah kecepatan di mana semua peristiwa dan semua pekerjaan berjalan, dengan telex, faks, email, internet, dan pos cepat – yang melelahkan seseorang.
Orang-orang khawatir akan kemungkinan kehilangan kontrol atas hal-hal dan serangan jadwal terhadap mereka, dan takut akan kegagalan, dan konsumsi alkohol, merokok, pil narkotika dan pil perangsang memperburuk keadaan. Biaya pengobatan penyumbatan arteri pada mereka yang menduduki jabatan manajemen atas telah naik ke tingkat bahwa mereka dipaksa untuk mengambil cuti wajib. Demikian juga program pelatihan untuk manajer urusan karyawan mencakup biofeedback, meditasi prospektif, dan perlunya individu menemukan sendiri ritual teh Jepang sebagai cara untuk menghilangkan ketegangan dan kecemasan.
Pembebasan Batin
Pernyataan saya sebaliknya adalah bahwa shalat Islam mencapai semua ini dan lebih dari itu, karena tidak hanya membantu orang beriman untuk berhenti berpikir dan rileks, tetapi juga membantunya mencapai pembebasan batinnya dari pesona uang, kedudukan, dan jabatan. Sementara orang Amerika yang hidup di bawah tekanan berbeda menemukan bahwa dia menghadapi dua pilihan tanpa yang ketiga: perang atau melarikan diri dengan bunuh diri, Muslim memilih pilihan ketiga yaitu mengalir dengan hal-hal, yaitu Muslim bertawakal kepada Allah. Berkat shalat Islam, seorang Muslim sejati tidak bisa menjadi tegang dan gelisah, dan tidak bisa menjadi sumber ketegangan dan kegelisahan.
Saya benar-benar tahu persis apa yang saya bicarakan. Saya dapat mengetahui semua faktor yang menyebabkan tekanan, ketegangan, dan insomnia melalui pekerjaan saya sebagai direktur divisi NATO dan pertahanan di Kementerian Luar Negeri Jerman dari tahun 1979 hingga 1983, dan melalui pekerjaan saya sebagai direktur administrasi informasi khusus ancaman agresi NATO di Brussels dari tahun 1983-1987.
Mulai tahun 1980, saya tidak lagi membawa apa pun dalam perjalanan kerja selain sajadah dan kompas (buatan Taiwan) untuk menentukan arah kiblat, meskipun saya yakin bahwa handuk bersih sudah cukup, dan Allah tidak barat maupun timur, sebagaimana firman-Nya: “Ke mana pun kamu menghadap, di situlah wajah Allah” (QS. Al-Baqarah: 115). Hari-hari saya mulai terbentuk semakin mengikuti jadwal shalat, bukan mengikuti jam yang menyebabkan kegelisahan dan ketegangan. Ketika seseorang berjanji dengan orang Muslim, dia tidak berjanji “pukul tiga seperempat”, tetapi berjanji pada waktu yang agak tidak pasti “setelah shalat Dzuhur” atau “setelah shalat Maghrib”.
Kesimpulannya, saya menemukan dalam shalat itu ketenangan dan kebebasan batin yang membebaskan Muslim dari segala tekanan, karena dia dapat membebaskannya dari dunia di mana waktu diukur dengan uang, dan uang di dalamnya adalah segalanya.
Ketika saya menghadapi kampanye serangan dan pencemaran yang keras di media massa pada tahun 1992 karena keimanan saya, beberapa rekan kerja saya tidak dapat memahami ketidakpedulian saya terhadap kampanye ini (atau mereka menganggapnya sebagai jenis kesombongan dan keangkuhan), dan penjelasan untuk perilaku saya ini dapat ditemukan dalam ayat kelima Surat Al-Fatihah: “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”.
Saat itu, shalat telah menjadi elemen pengatur kehidupan saya yang sangat penting, hingga saya tidak lagi ingin tinggal di negara di mana saya tidak dapat mendengar seruan muadzin yang indah untuk shalat seperti halnya di Fez, dan di Istanbul sekali lagi akhir-akhir ini. Saya sering memperhatikan bahwa shalat yang tidak bermotif dapat, karena sifatnya, menjadi elemen politik. Sebelum Front Islami di Aljazair memulai kerja terbuka pada tahun 1988, para pengikutnya telah mulai menghindari masjid-masjid yang berada di bawah pengawasan pemerintah (seperti banyak orang Turki yang bekerja di Jerman menghindari lembaga-lembaga yang berafiliasi dengan Kementerian Agama Turki), sehingga Islam paralel mereka tercermin dalam shalat paralel juga. Di Blida, misalnya, pada tahun 1987 kami melakukan shalat di rumah pribadi yang bersebelahan langsung dengan masjid, bukan shalat di masjid. Demikian pula, merupakan fenomena yang menonjol bahwa kelompok-kelompok pemuda masuk masjid, sebelum atau sesudah shalat Dzuhur sebentar, untuk shalat di salah satu sudut sebagai kelompok tertutup, dan di belakang imam khusus, ini adalah fenomena yang sama yang saya perhatikan pada September 1994 di Masjid Sinan Pasha di distrik Barbaros, Istanbul.
Hasilnya secara politik sangat menakjubkan, ketika pemerintah Front Pembebasan Nasional Aljazair ingin menunjukkan, di salah satu masjid dekat pelabuhan Aljazair pada Hari Raya Idul Adha 1988, sejauh mana mereka telah menjadi religius dan saleh. Seluruh rakyat marah (atau mengejek), ketika terlihat di layar televisi bahwa unsur-unsur kepemimpinan dari Partai Persatuan Sosialis jelas tidak tahu cara melakukan shalat, dan hanya beberapa bulan kemudian Front Pembebasan Nasional mengalami kekalahan pahit pada bulan Oktober 1988 dalam pemberontakan rakyat, sementara Front Islami untuk Penyelamatan memperoleh status partai yang sah.
Manusia berkat kemampuannya untuk berpikir dan menggunakan akalnya membanggakan diri sebagai makhluk yang paling agung. Pemikir Islam Dr. Murad Hoffmann, mantan Duta Besar Jerman, menceritakan dalam perjalanan imannya dalam episode ini tentang manifestasi paling menonjol dari konversinya ke Islam, yaitu penolakannya untuk minum minuman keras dan menghilangnya botol anggur merah dari atas meja makannya, mengikuti ajaran agama barunya yang mengharamkan khamr. Hoffmann berkata: “Pada awalnya saya mengira bahwa saya tidak akan dapat tidur dengan baik tanpa dosis alkohol dalam darah saya, bahkan tidur akan menjauhkan saya dari awal. Tapi apa yang sebenarnya terjadi adalah kebalikan dari apa yang saya pikirkan. Karena tubuh saya tidak lagi perlu membuang alkohol, denyut nadi saya saat tidur menjadi lebih tenang dari sebelumnya. Memang benar bahwa anggur membantu dalam mencerna lemak dan minyak, tetapi kami telah menghilangkan daging babi dari meja kami selamanya, bahkan bau daging yang berbahaya (haram) ini mulai menyebabkan saya merasa mual.”
Demikianlah Islam membuat Hoffmann sadar dari mabuknya untuk menyembah Tuhannya, berpegang pada apa yang telah Allah haramkan baginya, dan ketaatan yang dengannya ia mencari ridha Allah Ta’ala. Di sini kami melanjutkan bersamanya perjalanan iman ini yang membawanya kepada keselamatan dari kehancuran di akhirat.
Dr. Hoffmann: Khamr dan daging babi adalah dua penghalang terbesar dalam penyebaran Islam di Jerman
Dr. Murad Hoffmann mengakui bahwa ia adalah seorang ahli anggur sebelum memeluk Islam, di mana ia berkata: Saya dalam kebodohan pribadi saya (zaman kegelapan) sebelum memeluk Islam adalah seorang ahli anggur hingga saya dapat menentukan jenis-jenis anggur merah yang menakjubkan hanya dengan mencicipinya dengan ujung lidah saya, dan membedakan antara jenis anggur “maskulin” dan “feminin” lebih mudah daripada antara berbagai jenis dalam setiap kelompok, di mana setiap kasus memerlukan penentuan minyak eteris khusus melalui pengecapan. Kehidupan diplomatik, terutama jamuan makan malam resmi di akhir konferensi menteri NATO, memberikan saya kesempatan luar biasa untuk memperoleh pengalaman ini. Saya berlatih dengan aktif dan serius untuk mengembangkan dan melatih kemampuan membedakan antara jenis-jenis anggur. Selama bekerja di Paris pada tahun 1967, pada akhir pekan saya memesan meja di salah satu restoran berbintang satu melalui panduan Michelin, dan saya memilih anggur melalui telepon, dan meminta agar botol dibuka segera, agar anggur teroksidasi dengan cukup, dan mencapai kematangan penuh dan rasanya ketika saya tiba di restoran. Dan di malam hari saya memilih menu makanan saya sesuai dengan anggur dan bukan sebaliknya.
Larangan Al-Qur’an terhadap Khamr
Ketika saya menjabat sebagai konselor pertama di kedutaan di Belgrade, pada tahun 1977-1978, saya mengadakan pesta pengujian dan pencicipan anggur, mengundang teman-teman. Saya menunjukkan kepada tamu-tamu saya bagaimana melalui langit-langit mulut dapat menentukan jenis anggur, tanah, metode panen dan fermentasi serta tahun, menggunakan berbagai jenis anggur putih tidak berwarna, yang saya bawa dari toko-toko khusus, dari berbagai daerah, dan saya sebagai “pendidik” menampilkan jenis-jenis anggur secara berurutan di mana jenis-jenis tersebut memiliki sifat-sifat umum, dan dibedakan satu sama lain dengan sifat-sifat lain. Kemampuan beberapa tamu saya, pada kenyataannya, berkembang sehingga setelah percobaan ketujuh mereka dapat membedakan antara berbagai jenis anggur menurut kriteria yang berbeda. Namun saya menemukan bahwa larangan Al-Qur’an terhadap khamr dan narkoba bukan hanya kebutuhan sosial, tetapi juga manfaat pribadi bagi individu, karena memungkinkannya untuk selalu waspada dan jernih pikiran. Oleh karena itu, saya mengakhiri tahap hidup ini sekali dan selamanya, karena manusia, berkat kemampuannya untuk berpikir dan menggunakan akalnya, membanggakan diri sebagai makhluk yang paling agung. Kita manusia dapat merenungkan dunia di sekitar kita dan keadaan kita, dan bertindak dengan bijaksana, dan sifat-sifat yang mengangkat kita ini, adalah sifat-sifat yang sama yang kita hancurkan secara teratur dengan mengonsumsi alkohol dan narkoba, dan dengan demikian kita merendahkan diri kita dan mengurangi kemampuan kita dalam sistem kosmik, dan dengan demikian turun ke posisi yang lebih rendah dari posisi hewan, yang kesadarannya tidak pernah hilang. Kecanduan alkohol dan narkoba adalah jenis distorsi mental diri. Pengurus rumah Serbia saya di Belgrade adalah contoh peringatan bagi saya, karena dia selalu kembali ke kecanduan alkohol, bahkan setelah perawatan untuk jangka waktu yang lama.
Pemandangan pecandu alkohol adalah pemandangan yang memalukan, menyedihkan, dan menimbulkan belas kasihan, dan sering kali mereka bunuh diri, dan mereka tahu keadaan mereka yang sebenarnya, tetapi mereka tidak dapat kembali dari apa yang mereka alami, karena alkohol telah merampas tekad, kemauan, dan kemampuan mereka untuk mengambil keputusan. Jarang Anda menemukan jumlah pecandu alkohol dalam masyarakat terbaru di kota-kota besar Turki lebih sedikit dari jumlah mereka di Jerman. Mereka memegang – dari waktu siang – gelas rakia di satu tangan, dan rokok di tangan lainnya, membuktikan bahwa mereka tidak lagi menguasai diri mereka sendiri, dan secara religius, mereka mempraktikkan jenis syirik kepada Allah, karena alkohol dan nikotin rokok lebih penting bagi mereka daripada segala sesuatu lainnya di dunia termasuk Tuhan mereka yang menciptakan mereka. Mereka dapat – menurut mereka – hidup tanpa-Nya, tetapi tidak tanpa rakia. Al-Qur’an bertujuan dari larangan mutlak alkohol untuk mencegah memulai mengonsumsinya, di mana tidak tampak berbahaya dalam kasus minum satu gelas. Satu gelas tidak tampak berbahaya di permukaan dapat suatu hari menjadi banyak gelas, dan biasanya pecandu tidak melihat bahwa dia terpapar bahaya, dan memberikan berbagai alasan dan justifikasi tanpa batas untuk membenarkan kebiasaannya merokok atau minum alkohol, pada waktu khusus ini, termasuk kenyataan bahwa pecandu bahagia atau sedih, menderita tekanan kerja atau sedang cuti darinya, berkelompok atau sendirian, sakit atau sehat, lapar atau kenyang.
Saya menghadapi masalah ini sebagai kepala yang bertanggung jawab, ketika saya memperingatkan salah satu pekerja dengan saya bahkan sehari sebelum dia minum alkohol, saya dianggap menyerang haknya untuk mengekspresikan kepribadiannya dengan bebas (dan dengan demikian menghadapi masalah dengan konselor urusan karyawan). Namun, konselor urusan karyawan itu sendiri dapat memastikan keesokan harinya bahwa karyawan yang bersangkutan pada kenyataannya telah menjadi pecandu alkohol. Oleh karena itu, dia secara resmi dianggap sakit karena kecanduan alkohol dari saat ini.
Orang yang tidak mengonsumsi alkohol, jika berada di antara orang mabuk, dengan cepat menemukan bahwa dia berada di tempat yang salah, karena mereka melihat diri mereka lucu, kreatif, dan mampu berimajinasi. Saya dapat membuktikan kepada diri saya sendiri sebaliknya, ketika saya memainkan komposisi musik yang sama pada salah satu alat musik kuningan dan merekamnya tiga kali. Dan di antara satu waktu dan waktu lainnya saya minum dua gelas bourbon whiskey dari jenis yang saya sukai sebelum masuk Islam. Dan harapan saya adalah: bahwa permainan saya akan lebih baik setiap kali saya minum whiskey sebelumnya, tetapi alat perekam mengungkapkan kebenaran yang mengejutkan! Saya merasa sangat malu dengan perilaku beberapa warga negara saya saat kami berada di atas salah satu pesawat Lufthansa, dalam perjalanan ke Jeddah. Semakin kami mendekati Arab Saudi dengan iklimnya yang sangat kering, semakin meningkat permintaan mereka dengan sangat mendesak untuk alkohol hingga mereka meminta empat botol sekaligus dari pramugari – seolah-olah seseorang dapat memamah biak alkohol setelah itu seperti unta, dan pemandangan mereka memalukan, ketika mereka meninggalkan pesawat sambil membawa pohon Natal yang dibungkus plastik di tangan mereka dan terseok-seok karena mabuk.
Hal ini membuktikan bahwa mungkin tidak ada penghalang dalam penyebaran Islam di Jerman yang lebih kuat dari larangan Al-Qur’an terhadap alkohol dan daging babi. Orang Jerman di Bavaria maupun di Cologne tidak akan menyerahkan makanan favorit mereka dari daging babi, maupun anggur favorit mereka.
Anda menemukan orang Jerman menyanyikan keindahan gadis-gadis Turki, dan hak seseorang untuk berpoligami jika dia mau, dan keinginannya karena itu untuk menjadi Turki. Tetapi dia dengan cepat mengubah keinginan ini, dan berteriak bahwa dia tidak ingin menjadi Turki karena orang Turki tidak minum alkohol. Dan tidak mungkin sama sekali berguna menjadi Turki, meskipun orang Turki sekarang mengonsumsi alkohol, karena hukum di Turki saat ini menghukum poligami dan tidak menghukum konsumsi alkohol.
Muslim, dengan minum segelas air atau jus di antara orang-orang yang minum alkohol, merusak kegembiraan mereka, karena apa yang dia lakukan mengandung hukuman moral bagi mereka. Oleh karena itu, setelah saya memeluk Islam, menjadi jarang istri saya dan saya diundang ke pesta pribadi atau pesta dansa, seolah-olah seseorang hanya bahagia dengan alkohol, dan dengan demikian, kami menjadi terisolasi “terbuang”.
Perbedaan Lingkungan Iklim
Perbedaan lingkungan iklim sering dijadikan argumen melawan larangan Islam terhadap alkohol dan daging babi dalam masyarakat kami (masyarakat Jerman) dengan alasan bahwa larangan ini tidak cocok secara iklim. Dan ini adalah argumen yang tidak logis, karena kenyataannya adalah bahwa bahaya alkohol di era teknologi jauh lebih besar daripada di abad ketujuh, di mana hal terburuk yang bisa terjadi pada orang mabuk adalah jatuh dari punggung kudanya, atau menyerang istri dan anak-anaknya dengan pukulan, atau memotong urat kaki unta, (terjadinya peristiwa jahat seperti ini adalah kesempatan turunnya salah satu ayat larangan alkohol dalam Al-Qur’an).
Wanita dan anak-anak masih mengalami pemukulan hari ini di bawah pengaruh alkohol. Demikian juga pesawat jatuh hari ini di bawah pengaruhnya. Kapten salah satu kapal tanker di bawah pengaruh alkohol telah menyebabkan bencana lingkungan terburuk hingga saat ini. Dan meskipun tersedia statistik tentang kecelakaan jalan dan kecelakaan pabrik, tidak mungkin memperkirakan kerugian manusia dan materi yang menimpa masyarakat Barat karena kecanduan alkohol dan narkoba. Di beberapa rumah sakit Turki, bagian pengobatan kecanduan bersebelahan dengan bagian pengobatan penyakit mental, karena peringatan yang terkandung di dalamnya, bahwa cepat atau lambat, ini jika pikiran dihancurkan sebelum hati berhenti berfungsi. Saya adalah salah satu korban kecelakaan lalu lintas yang terjadi di bawah pengaruh alkohol, pada akhir tahun akademik di Union College di Schenectady, New York, saya melakukan tur Amerika Serikat “dengan cara autostop” (yaitu menghentikan mobil dan berpindah dengan mereka gratis dari satu lokasi ke lokasi lain). Dan selama tur ini, saya mengalami kecelakaan buruk pada 28 Juli 1951 dekat Hall Springs, Mississippi, ketika kami dalam perjalanan di jalan raya dari Atlanta, Georgia ke Memphis, Mississippi, hantu muncul di depan kami saat kami mendekati tujuan kami. Saya tidak ingat apa pun tentang apa yang terjadi setelah itu. Tetapi saya kemudian mengetahui bahwa hantu ini tidak lain adalah mobil yang menabrak kami, pengemudi dan pendampingnya telah minum alkohol dalam jumlah besar di Tennessee, yang memungkinkan minum sambil mengemudi, sebelum mereka menuju Mississippi yang melarang minum sambil mengemudi.
Kerugian kami kurang parah dari kerugian mereka, karena kami mengendarai Chevrolet yang dibuat pada tahun 1941, yaitu sebelum perang, dan lebih kuat dari mobil yang mereka kendarai yaitu Chevrolet produksi 1943 yaitu selama perang.
Jelas bagi saya bahwa lengan saya yang terluka sekarang, yang saya letakkan di bantal kursi belakang, telah melindungi saya dari yang lebih buruk, dan juga jelas bahwa saya tidak akan selamat jika tinggi badan saya lebih pendek hanya delapan sentimeter, karena dalam kasus ini saya akan jatuh tertelungkup pada hidung dan mata saya dengan kecepatan sekitar 160 kilometer per jam. Namun, kerugian saya dalam kecelakaan ini adalah sembilan belas gigi. Dan setelah dokter bedah selesai menjahit dagu dan bibir bawah saya, dia bertanya kepada saya: “Adalah mungkin untuk memperbaiki wajah Anda setelah bertahun-tahun melalui operasi plastik,” dan dia menambahkan: “Seseorang pada kenyataannya tidak selamat dari kecelakaan seperti ini, dan Allah menyimpan sesuatu yang sangat istimewa untukmu, sayangku.”
Dan sungguh saya telah memikirkan hal ini ketika saya berkeliling di Cold Springs dengan lengan yang terikat dan perban yang melingkari dagu serta mulut yang dijahit. Saya memikirkan bagaimana cara menghibur diri pada hari ulang tahun ke-20 saya. Namun segala sesuatu menyakitkan… makan, minum, berjalan-jalan, atau menjawab pertanyaan. Akhirnya saya pergi untuk memotong rambut, karena hal ini setidaknya tidak menyakitkan. Saya tidak menyadari makna sesungguhnya dari keselamatan dan kelangsungan hidup saya kecuali setelah tiga puluh tahun kemudian, ketika saya menyatakan memeluk Islam.
Ramadan: Ujian Sulit bagi Ketahanan Muslim dan Kekuatan Daya Tahannya
Kami masih berada dalam perjalanan iman yang membimbing Dr. Murad Hofmann, mantan Duta Besar Jerman, untuk memeluk Islam. Beliau berkata: “Beberapa bulan setelah saya memeluk Islam, tibalah bulan puasa, bulan Ramadan, yaitu bulan kesembilan dalam tahun Hijriah. Saya menanti kedatangannya dengan perasaan cemas dan takut, karena ini adalah ujian sulit bagi ketahanan seorang Muslim dan kekuatan daya tahannya, yang mewujudkan puncak kesadaran dan kebangkitannya. Dalam bulan ini saya harus menahan diri selama 29 atau 30 hari dari fajar hingga matahari terbenam dari makanan, minuman, merokok, dan bersetubuh dengan istri, namun tetap melakukan pekerjaan seperti biasa.”
Saya mengenal puasa untuk pertama kalinya pada tahun 1977, di dalam salah satu pesawat maskapai penerbangan Yugoslavia JAT yang menuju dari Belgrade ke Istanbul. Saya memperhatikan bahwa tangan tetangga saya di kelas ekonomi tidak mengulurkan tangan ke makanan kecuali setelah piring makanan penumpang lain diangkat, dan ketika tiba waktu berbuka puasa yang ia pantau dengan melihat jam tangannya dari waktu ke waktu. Selama tinggal di Belgrade, kami sering mengundang Ramadan Ramadani, tukang kebun yang merawat taman kami, untuk makan berbuka puasa, karena kami kasihan melihat kegigihannya yang luar biasa dalam berpuasa. Dia benar-benar menahan diri dari mengonsumsi makanan apa pun ketika terlihat benang putih dari benang hitam di fajar. Saya pernah berpuasa selama seminggu sebagai bentuk simpati kepadanya. Meskipun demikian, seseorang tidak akan belajar berpuasa selama 30 hari kecuali dengan benar-benar melakukannya.
Dr. Hofmann: Puasa sebagai Kesempatan untuk Menguji Diri dan Menumbuhkan Kepekaan Sosial
Di Bonn, di antara tugas yang dipercayakan kepada saya adalah mengadakan jamuan makan malam untuk tamu asing. Ketidakikutsertaan saya dalam makan bersama mereka menimbulkan kecanggungan yang luar biasa: apakah saya mengalami sakit perut? Atau apakah makanan yang saya pesan sendiri untuk mereka tidak sesuai standar saya? Dalam kesempatan-kesempatan seperti ini, saya teringat betapa mudahnya meminta maaf karena tidak minum jus atau kopi Turki yang disajikan kepada saya di Kementerian Luar Negeri Yugoslavia pada bulan Ramadan. Pada kenyataannya, puasa Ramadan tidak akan menjadi kesempatan yang membahagiakan seseorang sepanjang tahun kecuali ketika berada dalam lingkungan Muslim, di mana bulan tersebut benar-benar dipenuhi dengan spiritualitas… bulan kedamaian batin dan persaudaraan.
Komponen Materi dan Spiritual Ramadan
Puasa dalam Islam, seperti semua ibadah, mencakup komponen materi dan spiritual yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Penahan diri secara fisik dimulai dengan menahan diri dari minum kopi atau teh pagi. Gula darah menurun sepanjang hari, hingga seseorang hampir pingsan. Di sisi lain, seseorang dapat dengan mudah mengetahui bagaimana sistem biologisnya bekerja. Bagi saya, misalnya, ada dua periode aktivitas yang melimpah dalam sehari, yaitu pukul sebelas dan pukul enam belas. Saya memanfaatkan hal ini secara sistematis, dengan membagi pekerjaan harian saya menjadi: apa yang harus dilakukan, apa yang boleh dilakukan, dan apa yang dapat dilakukan. Kelompok pekerjaan pertama adalah yang saya lakukan sedapat mungkin ketika tekanan darah saya memanfaatkan puncak biologis yang direncanakan. Saya mencoba mengemudikan mobil sejauh 13 kilometer dalam perjalanan dari markas komando NATO ke rumah kami di Uccle saat saya dalam puncak aktivitas. Saya meningkatkan kehati-hatian agar tidak membahayakan diri sendiri atau orang lain. Pada bulan Ramadan, kecelakaan lalu lintas memang meningkat, terutama ketika kepala keluarga mencoba mengejar waktu berbuka puasa di rumah mereka. Lima warga negara kami dari bekas Jerman Timur tewas dekat Kenitra pada tanggal 25 Februari 1993, hari ketiga bulan puasa, ketika sopir truk mencoba menyalip bus yang mereka tumpangi dan menabraknya hingga terbalik. Kecelakaan ini saya kaitkan dengan melemahnya konsentrasi pengemudi karena puasa.
Hari ketiga puasa adalah hari yang berat, di mana seseorang berada dalam kondisi terburuknya dan mengalami sakit kepala parah yang semakin parah jika ia berbaring untuk beristirahat. Namun demikian, tubuh dengan kemampuan adaptasinya yang luar biasa mulai beradaptasi sejak saat ini dengan kondisi baru, sehingga intensitas sakit kepala dan rasa lapar berkurang, dan seseorang dapat melihat orang lain makan tanpa merasa iri. Meskipun saya sering merasa di malam hari bahwa saya telah berkurang dan tidak bisa membaca, duduk di depan layar televisi tanpa kemauan, saya tidak merasa ingin makan terutama daging.
Meriam Berbuka Puasa
Hofmann melanjutkan pembicaraannya tentang puasa bulan Ramadan yang diberkahi dengan berkata: “Akhir hari puasa di dunia Islam diumumkan dengan tembakan meriam, dan kemudian seseorang minum air atau jus, dan sejumlah ganjil buah kurma atau zaitun, kemudian melakukan salat Maghrib sambil bersyukur kepada Allah yang telah menolongnya berpuasa hari ini. Makan berbuka puasa di Aljazair dan Maroko dimulai dengan minum teh mint hijau, dan sup berwarna gelap yaitu sup freekeh Aljazair, dan harira Maroko yang rasanya agak berbeda dari rumah ke rumah, bersama telur rebus, kurma, dan kurma dengan madu, yang merupakan makanan favorit Rasulullah saw. Tubuh dengan cepat segar kembali. Setelah jeda singkat, seseorang makan makanan lengkap berupa daging, dan di Maroko berupa ayam, daging domba panggang, couscous dengan daging sapi, permen dan buah-buahan. Semua ini sayangnya dilakukan dengan cepat sehingga saya kembali ke rumah pada pukul sembilan malam dari undangan berbuka puasa pada pukul setengah delapan malam.”
Konsep saya tentang Ramadan, yang didasarkan pada mengikuti Sunnah, berbeda dari cara dipraktikkan di beberapa negara Islam, termasuk Maroko. Orang-orang di sana cenderung mengganti di malam hari apa yang mereka lewatkan di siang hari, menonton televisi, bermain kartu sampai tengah malam, di mana mereka makan makanan ketiga (sahur). Oleh karena itu, banyak orang Aljazair dan Maroko tidak mendapat tidur yang cukup, bahkan mereka tidak menikmati tidur yang nyenyak dalam beberapa jam mereka tidur karena perut mereka terlalu kenyang dengan makanan. Akibatnya, mereka tidak mengikuti salat Fajar, terutama di bulan Ramadan. Dan mereka tidak berguna pada pagi hari berikutnya. Ini menumbuhkan kecenderungan aneh untuk mengganti malam dengan siang di Ramadan. Pada kenyataannya, konsumsi makanan di negara-negara ini meningkat tinggi di Ramadan, bukannya menurun. Adapun yang pasti menurun adalah produktivitas kerja. Ramadan mempengaruhi produksi nasional di negara-negara ini, seolah-olah itu adalah periode liburan kedua. Adapun yang saya anggap sia-sia adalah undangan saya dari tokoh-tokoh tingkat tinggi untuk makan berbuka puasa menggunakan peralatan makan yang terbuat dari emas, serta seorang Muslim memulai makan dengan berkata: “Bon Appetit,” yaitu “selamat makan,” alih-alih mengucapkan “Bismillah” di atas piring makanannya yang penuh dengan kekayaan laut, dan sebelum melakukan salat Maghrib. Selalu tampak bagi saya tidak logis bahwa orang yang tidak salat berpuasa. Tetapi perilaku ini mengungkapkan kenyataan bahwa puasa Ramadan telah dipraktikkan di bagian-bagian dunia Muslim dengan cara yang melucuti makna religiusnya, dan menjadikannya bagian yang terlepas dari peradaban. Ini juga menjelaskan perilaku aneh dari beberapa Muslim karena mereka menahan diri dari minum alkohol di bulan Ramadan, menganggapnya sebagai bulan Islam dibanding sebelas bulan untuk istirahat dari Islam!
Sahur dan Al-Qur’an Fajar
Hari saya di Ramadan pada periode antara tahun 1987 hingga 1994 berlalu dengan cara yang sama sekali berbeda. Saya pergi tidur setelah salat Isya, yaitu sekitar pukul sebelas, dan mengatur alarm pada pukul setengah empat atau empat pagi, untuk bangun sekitar 40 menit sebelum dimulainya puasa agar dapat makan sahur dan minum banyak air sebelum tembakan imsak. Setelah itu, saya menghabiskan sisa waktu hingga fajar untuk membaca Al-Qur’an. Setelah salat Fajar, saya tidur dua jam. Pekerjaan di kedutaan saya dimulai terlambat satu jam dari biasanya. Saya benar-benar menyelesaikan lebih banyak daripada yang saya selesaikan pada hari-hari biasa, terutama karena pekerjaan mengalihkan perhatian dari perasaan perut kosong. Di Ramadan saya duduk di jamuan makan siang kerja rutin yang diadakan oleh rekan-rekan saya dari negara-negara anggota Uni Eropa dengan piring kosong di depan saya. Rekan Prancis saya di Rabat, Monsieur de Cognac, berbagi perilaku saya “solidaritas” dengannya dengan anak-anak negara tuan rumah, katanya, dan ini merupakan tindakan politik yang brilian.
Durus Hasaniyyah
Hofmann berkata: “Hari kerja saya di Ramadan biasanya berakhir dengan menghadiri pelajaran agama ‘Dars Hasaniyyah’ di Istana Kerajaan di Rabat. Seluruh pemerintah Maroko, Staf Umum, ulama Muslim, dan duta besar negara-negara Islam, berkumpul setiap hari, dimulai dari pukul lima sore di Istana Kerajaan Maroko. Kami mendengarkan bacaan Al-Qur’an hingga Raja Maroko almarhum Hassan II dan para pangeran tiba. Yang memberikan pelajaran adalah dosen tamu dari seluruh dunia Islam, termasuk Muslim Amerika, dan tokoh seperti Syaikh Muhammad Sayyid Thanthawi dari Kairo, Syaikh Al-Azhar saat ini, dan mereka duduk di mimbar tradisional, sementara Raja Hassan II duduk seperti kita semua di kaki mereka dalam persegi di sekeliling mereka. Saya dan rekan-rekan Muslim saya bergiliran mengundang untuk makan berbuka puasa sekitar pukul tujuh malam. Ketika giliran saya tiba, aula tempat tinggal saya di Souissi yang terletak antara ruang penerimaan (salon) dan ruang makan berubah menjadi masjid, di mana lantainya ditutupi dengan karpet salat. Hubungan dan koneksi yang saya bangun dalam kesempatan-kesempatan ini dengan beberapa anggota pemerintah dan penasihat almarhum Raja Hassan II menjadi permanen dan kuat seiring berjalannya waktu. Biasanya, dengan berakhirnya bulan puasa saya kehilangan antara 5-8 kilogram dari berat badan saya. Atau lebih tepatnya: saya mendekati berat badan ideal saya.”
Gerakan Kelaparan Akrobatik
Puasa, selain dimensi materinya, memiliki dimensi spiritual yang tanpanya hanya akan menjadi gerakan kelaparan akrobatik. Bulan Ramadan adalah bulan yang diagungkan, karena pentingnya dalam sejarah dunia. Ramadan tidak hanya menyaksikan Perang Badar (tahun 622 M) yang berpengaruh menentukan dalam kelangsungan hidup dan penguatan Muslim-Muslim awal, tetapi yang lebih penting lagi adalah di dalamnya terdapat Lailatul Qadar di mana dimulai turunnya wahyu Al-Qur’an. Tentang malam bernomor ganjil ini yang jatuh di antara malam-malam terakhir Ramadan, Allah berfirman dalam Surat 97 Al-Qadar:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar. Dan tahukah kamu apakah malam qadar itu? Malam qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur semua urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”
Ini adalah teks yang layak untuk ditafsirkan dan direnungkan.
Telah menjadi kebiasaan untuk menganggap malam kedua puluh tujuh Ramadan sebagai Lailatul Qadar. Lailatul Qadar berbagi dengan malam Natal, meski dari jauh, bahwa seseorang memberikan hadiah di dalamnya (mengeluarkan zakat fitrah). Juga diadakan di dalamnya – seperti malam-malam Ramadan lainnya – salat Tarawih, dan banyak pembacaan Al-Qur’an, tasbih, dan doa. Oleh karena itu, jika seseorang tidak memahami makna risalah dan wahyu di malam ini, kapan dia akan memahaminya?! Puasa Ramadan adalah kewajiban bagi umat Islam. Mereka menganggapnya sebagai ibadah, sebagai salah satu dari lima rukun Islam yang tidak memerlukan pembenaran yang meyakinkan. Muslim, sebagai hamba Tuhannya, berpuasa karena Dia memerintahkannya untuk berpuasa. Ketaatan di sini adalah wajib. Seseorang dapat dengan mudah menemukan bahwa kewajiban ini tidak diwajibkan untuk Allah, tetapi diwajibkan oleh Allah untuk manusia.
Sejak kembalinya tubuh ramping menjadi trend yang berlaku (mode), para wanita telah mengikuti sistem nutrisi yang mengingatkan pada puasa, yang dapat menyebabkan kekurusan yang menyakitkan. Dengan banyaknya pembicaraan belakangan ini tentang bahaya kolesterol dan berat badan berlebih, muncul berbagai penawaran untuk program penurunan berat badan.
Menumbuhkan Kepekaan Sosial
Mengenai puasa Islam, ia memenuhi tujuan ini dan lebih. Misalnya, ia menumbuhkan kepekaan sosial di mana orang yang berpuasa merasakan setidaknya sekali dalam setahun apa yang dirasakan oleh mereka yang dipaksa berpuasa sepanjang tahun, karena kekurangan makanan atau uang yang mereka alami.
Bagi saya, mungkin efek samping terpenting dari puasa Ramadan pada diri saya adalah bahwa saya dapat – di Ramadan – menguji apakah saya masih menguasai diri saya atau saya telah menjadi budak kebiasaan-kebiasaan sepele, dan apakah saya masih mampu mengendalikan diri atau tidak. Saya berharap itu adalah kegembiraan dan bukan kesombongan yang saya rasakan setelah berakhirnya hari-hari terakhir Ramadan, yaitu saat salat Maghrib, bahwa saya dapat dengan pertolongan Allah berpuasa.
Perbedaan Ru’yah Hilal Ramadan Membuat Muslim Jadi Bahan Ejekan
Pemikir Islam Dr. Murad Hofmann, mantan Duta Besar Jerman, terhenti dalam perjalanan imannya yang membawanya memeluk Islam di awal tahun delapan puluhan, pada fenomena perbedaan ru’yah hilal Ramadan yang terjadi setiap tahun di dunia Islam, meskipun ada konferensi dan seminar yang pernyataan akhirnya menunjukkan perlunya menyatukan ru’yah hilal Ramadan di negara-negara Islam. Hofmann berkata sambil bertanya: “Siapa yang bisa memberitahu saya dengan yakin kapan Ramadan dimulai? Dan kapan berakhir? Seseorang mungkin berkata bahwa menentukan kapan dan di mana hilal baru muncul adalah masalah astronomi yang pasti di zaman kita ini. Dan memang demikian. Namun demikian, memalukan bahwa umat Islam di bumi ini tetap berbeda dalam hari-hari awal dan akhir puasa mereka, tergantung pada apakah mereka orang Turki atau Maroko atau Mesir. Ini adalah hal yang dapat merusak puasa sebagai peristiwa sosial, dan membuat umat Islam menjadi bahan ejekan sebagian orang.”
Dr. Hofmann: Bukankah Mungkin Menyatukan Jadwal Bulan Puasa di Dunia Islam Berdasarkan Perhitungan Astronomi dengan Patokan Mekkah?
Dr. Murad Hofmann mengembalikan perbedaan ru’yah hilal Ramadan di negara-negara Islam kepada dua sebab: Pertama, bahwa umat terpecah menjadi negara-negara nasional, dan tidak cukup bagi orang Turki atau Maroko untuk mengetahui bahwa ru’yah hilal telah ditetapkan di Mekkah, karena bagi masing-masing dari mereka harus ditetapkan ru’yahnya di Konya atau Fez. Akibatnya terjadi perbedaan dalam menentukan hari awal dan akhir bulan Ramadan, karena susunan posisi antara matahari, bumi, dan bulan berbeda di setiap tempat di bumi dari tempat lainnya. Perbedaan dalam waktu kemunculan bulan dalam dua hari berturut-turut berbeda dari perbedaan dalam waktu terbit matahari, mencapai dua menit dalam terbit matahari, sementara mencapai lima belas menit dalam kemunculan bulan.
Adapun sebab kedua, seseorang memahaminya dengan lebih baik. Telah menjadi kebiasaan di masa-masa awal Islam bahwa ru’yah hilal ditetapkan dengan mata telanjang, dan bukan dengan perhitungan astronomi atau prediksi, yang tidak menimbulkan masalah di masa lalu dan tidak menimbulkan masalah hari ini, berkat kondisi iklim di Semenanjung Arab. Berdasarkan hal ini, beberapa ahli fikih yang ketat berpendapat bahwa ru’yah hilal Ramadan dengan mata telanjang dari orang yang terpercaya adalah tradisi yang diperlukan dan tidak dapat dilewatkan, dan bahwa perhitungan astronomi tidak cukup dalam hal ini. Menolak tanggal astronomi sama dengan tidak mengambil dalam hukum pidana bukti yang didasarkan pada dasar yang tidak sah.
Prosedur Tradisional
Para konservatif tetap berpegang pada prosedur tradisional untuk menentukan awal bulan lunar, bahkan ketika kondisi iklim menghalangi penglihatan hilal yang sebenarnya sudah ada. Hal ini dapat berakibat, seperti yang terjadi pada tahun 1994, seseorang berbuka puasa di Maroko terlambat dua hari dibandingkan di Arab Saudi. Dan ketika perayaan Idul Fitri di Mekah disiarkan melalui media masa pada hari kedua puasa tambahan di Maroko dibandingkan Arab Saudi, beberapa orang awam di Maroko melihat perbedaan ini sebagai hal yang memalukan dan tercela! Bukankah benar-benar mungkin untuk menyatukan jadwal bulan puasa di seluruh dunia Islam berdasarkan perhitungan astronomi dengan patokan Mekah, sebagaimana yang diterapkan dalam menentukan waktu haji, dan kemudian juga Idul Adha?!
Ketika seseorang minum secangkir kopi pertama pada hari Idul Fitri dalam berbuka puasa pertama setelah 29 atau 30 hari, ia merasakan rasa yang paling lezat. Dan saat shalat Ied di masjid, seseorang hanya bertemu dengan orang-orang yang memancarkan cahaya batin. Dan mungkin tampak aneh namun merupakan kenyataan bahwa seseorang merasa lapar pada siang hari karena telah makan sahur, sementara ia melupakan makan siang di bulan Ramadan meskipun tidak makan sahur. Dan begitulah hari-hari kembali ke keadaan semula.
Tombol Ramadan
Saya menyimpan untuk diri saya apa yang saya sebut “tombol Ramadan”. Ketika ada kebutuhan dari waktu ke waktu sepanjang tahun untuk meninggalkan satu atau dua kali makan, saya menekan secara mental tombol ini yang mengembalikan saya secara psikologis ke Ramadan dengan kondisi dan perasaan yang sama. Dan dengan cepat saya menahan rasa lapar saya, dan tidak memberikan perhatian padanya. Dan saya menantikan Ramadan yang akan datang dengan kebahagiaan yang luar biasa, bahkan jika tidak ada yang mempercayai saya dalam hal itu.
Bersama Muslim di Meja Makan
Hoffman melanjutkan bahwa jika kita telah membicarakan sebelumnya tentang puasa atau menahan diri dari makan, maka sudah saatnya kita menegaskan bahwa Muslim tidak hanya makan, tetapi mereka berhak makan dengan menikmati dan melezatkan semua yang sehat, dan ini berarti segala sesuatu kecuali daging babi (dan babi hutan juga), bangkai dan produk darah seperti sosis yang terbuat dari darah, dan turunan babi seperti permen yang menggunakan lemak babi dalam pembuatannya, serta permen yang mengandung alkohol.
Salah untuk membayangkan bahwa pelarangan Al-Quran terhadap konsumsi daging babi hanya karena alasan iklim, atau karena ketidakmampuan menangani cacing pita pada abad ketujuh Masehi. Kita tahu sekarang bahwa konsumsi daging babi menyebabkan kanker usus dan radang sendi, dan eksim dan bisul serta peningkatan kadar kolesterol dalam darah dan demam jelatang karena peningkatan kadar histamin.
Makan dengan duduk di lantai di sekitar selembar kulit berbentuk bundar atau persegi atau oval, dan bukan di meja, tidak terbatas hanya pada Badui pengembara di gurun, tetapi juga dipraktikkan oleh beberapa saudara seiman saya di Jerman. Ketika kita makan misalnya di Dar al-Islam di Leutzelbach di Odenwald, kami menyiapkan selembar kulit serupa di ruang pertemuan dan shalat, dan kami duduk atau berbaring di atasnya seperti yang dilakukan orang Yunani kuno, meskipun tanpa anggur mereka. Dan begitulah beberapa Muslim di Barat melakukan secara tradisional, meskipun dalam beberapa formalitas yang tidak penting, mengikuti orang yang mereka berhutang banyak kebaikan padanya… Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan selembar kulit yang dimaksud mengandung makna simbolis. Ia mengingatkan kita bahwa kita semua adalah Badui pengembara yang selalu dalam perjalanan kembali kepada Allah.
Perilaku Praktis
Perilaku ini sebenarnya perilaku praktis, karena membawa dan memindahkan selembar kulit ini jauh lebih mudah daripada memindahkan meja di rumah, atau mengangkutnya dalam mobil. Dan dengan demikian tempat untuk makan di atas sepotong kulit dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Tetapi harus diperhatikan bahwa jarang seseorang makan sambil berdiri atau duduk berjongkok atau berbaring dengan menekan perut. Duduk yang sehat adalah dengan meluruskan kaki ke arah kanan, dengan bersandar pada lengan kiri. Dan kemudian tangan kanan bebas untuk makan dengannya.
Ada, bagaimanapun, di dunia Arab juga yang makan sambil berdiri seperti halnya makan di toko makanan cepat saji di Eropa dan Amerika. Dan di Aljazair, kebiasaan orang makan kambing panggang sambil berdiri di sekitar meja makan, di mana jari-jari tangan orang yang mulai memotong daging bisa terbakar, yang dimakan dengan roti dan bawang dan garam dan jintan. Adapun di negara-negara Arab lainnya dari Maroko hingga Arab Saudi, orang makan kambing panggang sambil duduk.
Nutrisi yang tepat, untuk menjaga kesehatan tubuh, untuk kepentingan diri sendiri dan untuk keluarganya, dalam perspektif Islam adalah kewajiban, dan karenanya ibadah. Oleh karena itu Muslim memulai makannya dengan basmalah, yaitu: Bismillahirrahmanirrahim, dan mengakhirinya dengan hamdalah, yaitu Alhamdulillah. Dan karena makan adalah ibadah, maka Muslim tidak memutuskan makannya ketika muazin mengumandangkan azan untuk ibadah lain, yaitu shalat, selama masih ada waktu untuk melaksanakannya.
Dan karena makan adalah ibadah, seseorang berusaha untuk tidak berlebihan di dalamnya, dan untuk tidak mengambil lebih dari kebutuhannya, dan untuk berhenti meskipun merasa mampu melanjutkannya, dan untuk tidak kenyang sampai penuh. Dan telah datang dalam Al-Quran Karim firman Allah Ta’ala: “Dan makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan” (Al-A’raf: 31). Dan seharusnya seseorang mengharapkan datangnya tamu tiba-tiba, dan oleh karena itu harus menyiapkan makanan yang cukup untuk jumlah yang lebih besar dari yang benar-benar ada. Dan tradisi Islam dalam kasus seperti ini menetapkan bahwa makanan untuk dua orang cukup untuk tiga orang, dan makanan untuk tiga orang juga cukup untuk lima orang. Oleh karena itu seseorang di negeri Muslim tidak merasa canggung mengunjungi seseorang pada waktu makan, yaitu seperti yang dikatakan orang Amerika, mencoba “keberuntungan dengan panci”.
Tamu Mendadak
Siapa yang seperti saya dan istri saya, menjadi tuan rumah resmi di dunia Islam tahu bahwa seseorang tidak dapat memperkirakan dengan tepat jumlah tamu yang akan datang untuk makan malam. Kemungkinan sejumlah besar undangan tidak hadir, setelah mereka menegaskan bahwa mereka akan hadir. Dan juga kemungkinan datang sejumlah tamu yang jauh lebih banyak dari yang diundang, yang dapat menyebabkan kecanggungan bagi tuan rumah dan tamu sama-sama.
Karena situasi seperti ini yang berkontribusi dalam menampilkan orang Arab dalam gambaran yang lalai, kami menghindari sedapat mungkin mengundang untuk makan malam duduk di sekitar meja, menurut pengaturan tertentu sekitar 24 orang. Sebaliknya, kami lebih suka mengundang untuk makan malam dalam bufet terbuka hingga 85 undangan yang tersebar di banyak meja kecil yang didistribusikan tanpa pengaturan yang hampir.
Oleh karena itu, ketidakhadiran tamu Arab memenuhi undangan makan malam, meskipun telah menegaskan sebelumnya akan hadir, disebabkan oleh banyak alasan selain hambatan yang terkait dengan pekerjaan. Di antaranya misalnya adalah menerima tamu secara tiba-tiba, atau istrinya bersikeras bahwa dia tidak punya pakaian untuk dikenakan. Tetapi apa yang membuat saya terkejut sampai membisu, adalah permintaan maaf tamu kehormatan Maroko karena tidak menghadiri pesta makan malam yang saya adakan untuk menghormatinya, karena dia tidak merasa lapar. Dan ini menurut saya adalah alasan permintaan maaf yang paling jujur.
Pamer dan Kesombongan
Dan saya dan istri saya memenuhi semua undangan yang ditujukan kepada kami, baik itu undangan dari menteri atau dari sopir mobil saya, atau undangan dari putri atau dari pembantu kami. Dan begitulah yang dianjurkan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam yang memenuhi bahkan undangan budak, dan tidak membolehkan menolak undangan kecuali karena dua alasan, yaitu bahwa undangan tersebut menyebabkan tuan rumah berhutang, atau untuk tujuan pamer dan kesombongan. Oleh karena itu, saya tidak merasa canggung menolak banyak undangan yang ditujukan kepada saya untuk menghadiri pesta pernikahan, karena saya tahu bahwa ayah pengantin bermaksud untuk pamer dengan kehadiran saya sebagai duta besar.
“Etiket” Islam dalam Makanan Sangat Berbeda dari “Etiket” Barat
Pemikir Islam Dr. Murad Hoffman, mantan Duta Besar Jerman, mengakhiri pembicaraannya tentang perjalanan imannya yang mengantarkannya ke pantai keselamatan dengan memeluk Islam. Dan setelah kita berlama-lama bersamanya di salah satu stasiun penting dalam perjalanan ini pada episode kemarin, di mana dia berbicara tentang suasana spiritual yang dialami Muslim di timur dan barat bumi selama bulan Ramadan yang diberkahi, yang merupakan bulan taubat dan ampunan dalam arti bahwa itu adalah bulan pembebasan Muslim dari dosa dan kesalahan dan harapan Muslim akan ampunan dan rahmat. Hari ini dia membawa kita dengan pembicaraannya tentang adab makan pada Muslim ke suasana lain dan dunia yang berbeda.
Dan Dr. Hoffman dalam episode ini berbicara tentang bagaimana Islam mengatur semua aspek kehidupan, mengulas ciri-ciri umum yang membentuk adab makan pada Muslim yaitu “etiket” Islam dalam makanan yang sangat berbeda dari “etiket” Barat dalam makanan, menunjukkan adab dan tradisi masing-masing dalam perbandingan singkat.
Dr. Hoffman: Adab Makan di Maroko Memiliki Tradisi yang Mengakar dan Ritual yang Indah
Dr. Hoffman berkata sebagaimana Islam mengatur semua aspek kehidupan, demikian juga Islam mengatur adab makan, yang kita sebut “etiket”. Dan banyak dari adab ini familiar bagi kita, karena itu adalah adab yang dikenal di seluruh dunia, sementara sebagian lainnya khusus bagi Muslim saja, mengikuti perilaku yang benar-benar dilakukan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, atau melaksanakan rekomendasi yang beliau anjurkan.
Di beberapa rumah Arab, tamu disambut dengan kurma, dan tuan rumah membantu melepas mantelnya, dan tidak mengambil tempat di barisan depan majlis kecuali tuan rumah bersikeras demikian. Dan sebelum menyajikan makanan, tuan rumah memberikan kesempatan kepada tamunya untuk mencuci tangan, karena pada akhirnya seseorang makan dengan tangannya. Dan beberapa tuan rumah, terutama di Maroko, mengubah hal itu menjadi ritual indah dan tradisi yang mengakar, di mana semua orang berkumpul di sekitar bak berisi sabun, sementara air dituangkan untuk tamu oleh seseorang yang sering kali adalah tuan rumah sendiri. Dan itu diulangi lagi setelah tamu selesai makan. Dan tuan rumah mewangikan tangan tamu saat pulang dengan air mawar atau air jeruk.
Dan beberapa Muslim membersihkan gigi mereka dengan siwak, setelah selesai makan. Dan siwak adalah ranting kecil (tebalnya sekitar 15 mm) dari kayu yang sangat lunak. Dan saya juga punya siwak yang saya dapatkan dari Madinah, dan keunggulannya adalah penggunaannya tidak memerlukan air atau pasta gigi.
Agar seseorang dapat makan dengan tangannya, makanan dipotong menjadi potongan kecil yang menghilangkan kebutuhan akan pisau. Meskipun demikian, hari ini peralatan meja disediakan lengkap, dan tidak terbatas hanya menyediakan sendok sup saja. Dan tradisi tidak mengizinkan penggunaan peralatan meja yang terbuat dari perak, tidak hanya karena itu adalah bahan pembuat uang, tetapi karena peralatan meja perak adalah kemewahan yang tidak Islami bagi mereka (dan ini harus diingat secara berkala di kantor kedutaan Islam).
Adab Makan
Dan Duta Besar Hoffman menambahkan: Ketika makanan disajikan, seseorang makan dari apa yang langsung di depannya berupa daging atau makanan manis atau buah. Dan tuan rumah dan yang duduk di samping seseorang biasanya peduli agar dia menemukan di piringnya semua yang lezat dan enak. Dan sering beberapa orang mengisi piring saya dengan yang lezat dan enak tanpa mempedulikan penolakan keras saya. Dan seseorang melayani dirinya sendiri dan makan dengan tiga jari tangan kanannya, yaitu ibu jari dan telunjuk dan tengah, karena makan dengan dua jari sangat sulit, dan makan dengan semua jari tangan adalah kerakusan yang tercela. Dan jika seseorang tidak menyukai jenis makanan tertentu maka dia boleh meninggalkannya dan tidak memakannya, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri melakukan itu, karena beliau tidak menyukai makanan yang mengandung banyak bawang putih. Dan dari sisi saya, saya sayangnya tidak menyukai rasa jintan. Dan penyesalannya di sini adalah bahwa jenis rempah ini memiliki peran besar di seluruh Timur.
Mudah bagi seseorang untuk meninggalkan jenis makanan tanpa memakannya, ketika seluruh hidangan – dari pembuka hingga makanan manis – disajikan sekaligus. Dan saya mengalami itu, ketika Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan Presiden Uni Emirat Arab mengundang saya makan siang bersamanya, di mana meja tampak seolah melengkung di bawah pengaruh berat makanan yang dibawanya. Dan hal yang sama terjadi ketika saya menjadi tamu makan siang pada hari Idul Adha, di meja Khadim Haramain Syarifain Raja Fahd bin Abdul Aziz Al Saud di Mina. Dan dari sifat saya bahwa saya benar-benar kehilangan nafsu makan ketika saya melihat di depan saya buah pisang atau makanan manis (kue dengan krim) di samping hati panggang atau ayam isi kacang-kacangan dan daging domba panggang. Oleh karena itu, saya tidak makan di Mina kecuali beberapa buah dan sepotong roti dan buah pisang, dan membungkuk ke arah Raja tuan rumah dan pergi. Dan menurut adab makan kita di Barat, pergi segera setelah selesai makan dianggap penghinaan besar, karena kita dibesarkan sejak kecil untuk tidak pergi dari meja makan sebelum ibu dan ayah mengizinkan kita. Tetapi hal itu sangat berbeda menurut “etiket” Islam, di mana tuan rumah Muslim mulai makan (sebelum tamunya untuk membuktikan kepada mereka keamanan makanan dan tidak berbahayanya) dan yang terakhir berhenti memakannya. Dan dengan demikian tuan rumah tetap, bahkan jika dia raja, yang terakhir duduk sendirian di mejanya. Dan oleh karena itu, perilaku saya benar.
Dan mungkin seseorang bisa keberatan bahwa saya setidaknya bisa melakukan percakapan yang baik di meja makan siang di Mina tanpa makan banyak makanan. Baiklah! Tetapi ini bukan bagian dari Islam sama sekali. Seseorang sebagai tamu di rumah Muslim berbicara panjang lebar sebelum makan, dan berbicara sangat sedikit saat makan, dan pergi tidak lama setelah selesai makan. Dan sistem ini memberikan tuan rumah kesempatan untuk menentukan lamanya periode tamu tinggal dengannya.
Jika saya telah berbicara tentang meja yang penuh dengan jenis dan jumlah makanan, sampai hampir melengkung karena beratnya, maka saya tidak bermaksud bahwa pemborosan, dan terutama membuang makanan ke tempat sampah, bisa menjadi perilaku Islam. Sebaliknya, justru sebaliknya. Tuan rumah Muslim dari Dubai hingga Marrakech menganggap sebagai kewajiban mereka untuk menghormati dan memanjakan tamu. Bagaimanapun, ada, di belakang layar, seluruh tentara pekerja dan orang miskin yang siap menerima sisa makanan.
Keramahan yang berlebihan terhadap tamu di Timur menjadi masalah bagi pejabat Jerman yang mengunjunginya, karena peraturan keuangan Republik Federal Jerman yang kaya tidak mengizinkan wakil-wakilnya – baik presiden federal, menteri, atau utusan – untuk membalas perlakuan yang sama. Hal ini tidak hanya karena pengawasan Badan Audit Federal terhadap mereka, tetapi juga merupakan hasil dari proses transformasi bertahap ke daerah-daerah, penyebaran birokrasi, dan klasifikasi proletar yang membuat mereka kehilangan kemampuan untuk merayakan dan menjamu dengan kemurahan hati, kehangatan, dan keanggunan.
Maroko telah memberikan contoh tentang pentingnya keramah-tamahan dalam tradisi Islam dengan menjadi tuan rumah utusan dunia keuangan seluruh dunia dalam konferensi GATT di Marrakesh pada April 1994. Beberapa utusan Barat pulang dengan perasaan malu dari jamuan Pangeran Mohamed, putra mahkota Maroko, yang menjamu mereka seperti raja-raja di dalam tenda dengan karpet mewah menutupi lantai, disertai pertunjukan kembang api.
Masakan Islam
Setelah menjelaskan cara mengonsumsi makanan di dunia Islam, kini saatnya menampilkan makanan-makanan yang dikonsumsi masyarakat di sana. Masakan Islam, seperti halnya seni Islam, dapat dikenali seseorang pada pandangan pertama meskipun sangat beragam. Keragaman yang luar biasa ini disebabkan karena setiap kelompok etnis, dari Mauritania hingga Baluchistan, memiliki hidangan nasional khusus mereka sendiri, yang mereka sumbangkan untuk masakan ini. Pada musim haji, Mekah berubah menjadi lebur yang mewujudkan peleburan ideal masakan Islam. Kesamaan dalam masakan ini terletak pada dominasi masakan Turki yang, bersama dengan masakan Cina dan Prancis, merupakan salah satu dari tiga masakan paling terkenal dan lezat di dunia. Seseorang sebenarnya dapat menentukan tingkat pengaruh masakan Turki pada berbagai masakan nasional, seperti masakan Mesir, Suriah, dan Libanon. Semua masakan ini memiliki kesamaan sebagai contoh baik dari kebiasaan Turki untuk memulai makan dengan mengonsumsi berbagai “pembangkit selera” (meze) yang mudah dicerna, dingin atau hangat, seperti sayuran, salad, buah-buahan, semangka, hati, otak, yogurt, daun anggur isi, kacang merah, salad timun, dan lain-lain. Istri saya menemukan saat mengumpulkan resep (makanan yang padat tenaga manual) bahwa pembangkit selera lebih banyak daripada hidangan utama di dunia Islam secara umum.
Kebiasaan di negeri khalifah, sultan, dan pangeran adalah menyajikan makanan secara berurutan dengan sup di bagian akhir, dan minum segelas sirup buah di antara hidangan utama yang terdiri dari ikan dan daging. Namun hal ini berbeda di dunia Arab saat ini, di mana seseorang “menyerang” tamu dengan hidangan daging berturut-turut karena tuan rumah mengira makanan tamunya biasanya tidak mengandung daging.
Semua orang tahu bahwa Islam bukanlah agama vegetarian. Tetapi mungkin hanya sedikit non-Muslim yang mengetahui bahwa haram bagi Muslim memakan daging hewan yang tidak disembelih menurut syariat Islam. Menurut syariat Islam, hewan disembelih dalam posisi berbaring dengan pisau yang sangat tajam. Untuk menghindarkan hewan dari merasakan sakit psikis, ia harus diberi makan dengan baik sampai waktu penyembelihannya tiba, tidak boleh melihat hewan lain sedang disembelih, bahkan tidak boleh melihat pisau sedang diasah. Bahkan dari adab penyembelihan dalam Islam, tukang jagal harus menyembunyikan pisau di belakang punggungnya saat mendekati hewan untuk menyembelihnya. Tukang jagal yang terlatih memotong tenggorokan, kerongkongan, dan arteri leher dengan satu ayunan pisau, sehingga hewan langsung kehilangan kesadaran, darahnya mengalir sempurna, dan menyerahkan nyawa tanpa rasa sakit.
Hal yang Mengundang Ejekan
Mengingat semua itu, komunitas Yahudi di Jerman diizinkan menyembelih hewan kurbannya menurut syariat Yahudi, sementara Muslim dilarang dari hak ini, yang merupakan hal yang mengundang ejekan. Mengenai hal tersebut, Al-Qur’an berfirman: “…barang siapa yang terpaksa bukan karena menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Surat Al-An’am: ayat 145). Otoritas Jerman menyimpulkan hasil “logis” dari hal tersebut, yaitu jika mereka melarang Muslim menyembelih hewan kurbannya menurut syariatnya, maka mereka akan terpaksa memakan daging hewan yang tidak disembelih menurut syariat tersebut. Namun pemahaman ini mengandung kesalahan besar dalam perhitungan, karena keterpaksaan Muslim yang disebutkan dalam Al-Qur’an melibatkan upayanya menangkal bahaya kematian yang mengancamnya karena kelaparan. Oleh karena itu, Muslim di Jerman terpaksa harus mengganti daging dengan makanan nabati, atau membeli daging dari tukang jagal Yahudi.
Al-Qur’an memperingatkan dari mengharamkan apa yang Allah halalkan bagi manusia sebagai makanan: “Katakanlah: ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?’ Katakanlah: ‘Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat.’ Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui” (Surat Al-A’raf – ayat 32). Oleh karena itu Al-Qur’an mendorong konsumsi bahan makanan tertentu, seperti susu, kurma, minyak nabati, anggur, dan madu yang digambarkannya sebagai obat “di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia” (Surat An-Nahl – ayat 69). Karena itu seseorang memasukkannya ke dalam hampir semua manisan di dunia Islam, seperti baklava misalnya.
Saya dapat menyebutkan dengan cepat makanan favorit saya di dunia Islam. Di daerah panas, seseorang perlu mengonsumsi banyak minuman yang jumlahnya mencapai 7 liter sehari, terutama jika seseorang telah hidup selama dua puluh tahun hanya dengan satu ginjal. Oleh karena itu, hal pertama yang terlintas dalam pikiran saya dari minuman adalah susu almond, kayu manis dan jahe, kopi Turki, teh dengan mint, dan kopi yang disajikan di lobi semua hotel Timur Arab yang membuat seseorang merasa pulih kembali kesegarannya setelah meminum tiga cangkir. Dalam kunjungan pertama kami ke Mekah pada tahun 1982, kami memesan teko kopi di salah satu restoran, seperti kebiasaan di Jerman ketika sekelompok teman minum kopi bersama. Setiap kali pelayan mengulangi pertanyaan tentang pesanan kami lebih dari sekali untuk memastikan, kami mengaitkannya dengan masalah dan kesulitan bahasa. Akhirnya, dia membawakan kami teko tradisional Yaman yang penuh dengan kopi Arab. Tetapi tentu saja kami tidak bisa meminum semuanya, karena kami merasa detak jantung mulai berpacu setelah meminum setara dengan setengah cangkir ukuran Jerman.
Ritual Menyeduh Teh Hijau
Kami ditakdirkan beruntung ketika berkesempatan menyaksikan ritual penyeduhan teh hijau dengan daun mint di pinggiran oasis sawit di Oasis Al-Atuf di selatan Aljazair. Saya telah memberikan ceramah pada tahun 1989 di Oasis Bani Azjun yang berdekatan tentang sepuluh hal di dunia Islam yang tidak saya sukai, dan setelahnya saya menghabiskan malam sendirian di gubuk di tengah beberapa pohon kurma. Pada pagi hari, tuan rumah saya datang membawa sarapan dan beberapa cangkir dan kaleng. Dia mencuci teko dengan air panas, kemudian mencuci teh dengan air panas di dalam teko, kemudian membuang airnya lalu menambahkan daun mint, banyak gula, dan air mendidih ke teh. Setelah itu dia menuang teh ke cangkir-cangkir dari ketinggian sekitar setengah meter, tanpa membuang setetes pun. Saya tidak percaya ada cara yang lebih menyenangkan dari itu untuk memulai pagi hari yang baru.
Di antara makanan Muslim yang saya sukai: terong isi dan goreng, salad keju Prancis, ayam isi kacang, tulang rusuk kambing, hummus, kebab, nasi oriental terutama Pakistan (yang mengandung banyak kayu manis dan kismis), tabouleh, couscous manis, ashura, muhallabia, dan umm ali.
Bagian dari bukunya “Islam sebagai Alternatif” dengan judul “Agama Sempurna”:
Para misionaris Kristen mengaitkan penyebaran Islam yang cepat di Afrika Barat, Senegal, Kamerun, dan Pantai Gading dengan beberapa sebab, di antaranya kesederhanaan ajarannya dan bebas dari konsep-konsep gaib yang rumit dan membingungkan.
Jika hal ini benar, maka tentunya satu bab dari buku ini cukup untuk menggambarkan agama ini.
Agar seseorang menjadi Muslim, harus ada dua syarat padanya: Pertama: Beriman kepada Tuhan Yang Esa, dengan mensucikan-Nya dari jenis kelamin, tidak dapat dijangkau oleh penglihatan sedangkan Dia menjangkau segala penglihatan, jejak-jejak-Nya yang nyata di dunia menunjukkan keberadaan-Nya. Syarat kedua: Beriman pada wahyu yang diturunkan Allah, sebagaimana terwujud dalam agama hanif yang lurus dari Ibrahim hingga Muhammad SAW.
Muslim beriman pada keberadaan Allah, karena keberadaan-Nya terbukti bagi mereka dengan terbuktinya keberadaan alam semesta, karena setiap akibat ada sebabnya dan setiap keberadaan ada yang mengadakannya, dan ini adalah kebenaran dasar yang jelas terjadi, meskipun Muslim menyadari bahwa penelitian ilmiah tidak dapat tenang membuktikan melalui yang dapat diindera secara material, terhadap yang gaib non-material yang tersembunyi, khususnya karena mengetahui bahwa logika manusia tidak memiliki kewenangan mutlak untuk memverifikasi dan memastikan serta mengeluarkan keputusan final dalam masalah-masalah gaib ini.
Pada bagian pertama syahadat yang diucapkan Muslim dengan keyakinan dia menegaskan imannya kepada Allah dengan berkata: “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah”, dan kami ingatkan bahwa Muslim tidak menyaksikan Allah… melainkan bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, Yang Esa tiada sekutu bagi-Nya, sehingga mensucikan Allah Ta’ala dari istri, anak, sekutu, tritunggal, dan segala bentuk syirik kepada Allah, sesuai dengan Surat Al-Ikhlas “Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” (Surat Al-Ikhlas). Meskipun demikian, Muslim yang beriman pada keesaan Allah, dari sudut pandang filosofis teori pengetahuan adalah “agnostik” jika penelitian membahas zat Allah, sifat dan hakikat-Nya Yang Maha Suci serta perbuatan-perbuatan-Nya dan apa yang menjadi urusan-Nya, ini adalah masalah-masalah yang tidak dimasuki Muslim, artinya dalam hal ini dia “tidak tahu” dan paling maksimal hanya dapat berlindung pada definisi-definisi negatif yaitu yang berdasarkan penafian, yang menafikan dari Allah begini dan begitu, misalnya: Allah tidak terbatas dengan awal atau akhir, atau seperti: mustahil Dia tidak ada.
Demikian juga Muslim meyakini bahwa dia tidak dapat mendapat petunjuk tanpa hidayah Allah, jika diserahkan pada alam saja untuk meminta petunjuk, karena itu dia beriman pada perlunya wahyu untuk mengetahui petunjuk dari kesesatan, dan kebenaran ada di pihak Muslim berdasarkan studi kami terhadap hukum-hukum alam.
Kemudian Muslim beriman bahwa Allah telah menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya dengan benar jalan petunjuk, melalui para nabi tauhid yang diutus, seperti Ibrahim, Musa, dan Isa, dan Allah menutup risalah-risalah ini dengan Al-Qur’an “petunjuk bagi manusia” yang diturunkan-Nya kepada Muhammad penutup para nabi dan rasul, sebagaimana ditunjukkan Al-Qur’an Al-Karim dalam Surat Al-Ahzab, ayat 40: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”, karena itu bagian kedua syahadat menegaskan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan bagian ini sangat wajib untuk melengkapi syahadat. Adapun penutup sesuatu atau suatu perkara maknanya, ketika membicarakan wahyu, adalah telah selesai dan sempurna.
Kesempurnaan dan penyempurnaan ini tidak tersedia sebelum Muhammad, meskipun Musa menyampaikan risalah Allah, dan meskipun Isa juga menyampaikannya, namun kebutuhan setelah masa mereka masih mendesak untuk penyempurnaan, dan ada kemungkinan di masa Rasul untuk mewujudkan penyempurnaan itu.
Adapun kebutuhan pada penyempurnaan dan perbaikan, maka diperlukan karena keluarnya orang Yahudi dan Nasrani dari jalan yang lurus, menurut keyakinan Muslim. Orang Yahudi mengklaim bahwa ada perjanjian antara mereka dan Allah, sehingga mereka adalah umat pilihan-Nya, (yang tidak akan disentuh api neraka kecuali beberapa hari yang terbatas), sedangkan orang Nasrani mengklaim bahwa Isa adalah anak Allah yang setara dengan-Nya dalam sifat ketuhanan. Adapun hari ini, kata Muslim menggambarkan manusia yang mencari keselamatan dengan menyerahkan urusannya kepada Allah dan menemukan keselamatan ini dalam petunjuk Al-Qur’an yang menjelaskan batas-batas Allah, dan yang berisi yang tidak dinasakh dari kitab-kitab samawi sebelum Islam. Demikianlah Muslim sejati berpegang pada Sepuluh Perintah yang terdapat dalam Taurat, dan altruisme serta cinta kasih kepada sesama yang ditekankan dan dianjurkan Injil (dalam Perjanjian Baru), dan setelah itu dia beriman pada enam ushul yang diimani orang Yahudi dan Kristen yang berpegang teguh, sebagaimana dijelaskan Al-Qur’an dalam Surat Al-Baqarah, ayat 285, dan An-Nisa ayat 136: (1) keberadaan Allah, (2) keberadaan makhluk yang tidak terlihat oleh kita (malaikat), (3) turunnya kitab-kitab samawi kepada sebagian nabi, (4) pengutusan Allah kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya kepada umat-umat, (5) kiamat dan kebangkitan pada hari hisab, (6) qadha dan qadar.
Setelah itu Islam menyendiri dengan pola-pola perilaku yang terwujud dalam kewajiban dan ibadah, dan rukun Islam yang lima selain syahadat:
- Syahadat bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.
- Mendirikan shalat (shalat-shalat yang diwajibkan).
- Menunaikan zakat.
- Puasa Ramadhan.
- Haji ke Baitullah bagi yang mampu melaksanakannya.
Islam menekankan iman dan amal bersama-sama, seperti dalam Surat Al-Asr yang Makkiyyah: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (Surat Al-Asr).
Muslim bisa saja berbuat salah dan berdosa, tanpa ini merusak keislamannya, adapun yang meninggalkan shalat, yang memutus hubungannya dengan Allah, tidaklah mudah menganggapnya Muslim. Shalat yang diwajibkan harus dilaksanakan, adapun doa-doa dan shalat-shalat yang tidak diwajibkan (sunnah) bukanlah kewajiban yang dipertanggungjawabkan kepada Muslim jika ditinggalkan, itu adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak dzikir dan bertasbih di pagi dan sore, (dan kita mengetahui bagaimana Rasul melakukan tahajjud dan qiyamul lail, setengahnya atau sepertiganya..).
Muslim beriman bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah, dan bahwa ia tidak diciptakan dari makhluk-makhluk, dan bahwa Allah mewahyukannya kepada Muhammad dalam bahasa Arab yang jelas pada periode waktu yang ditentukan, dan ia adalah mukjizat Islam satu-satunya, dan dalil yang pasti serta bukti yang terang atas kenabian Muhammad.
Al-Qur’an bukan seperti Perjanjian Lama atau Baru, di mana seseorang menceritakan kisah tidak langsung tentang seseorang atau sesuatu atau tentang Allah… Adapun Al-Qur’an, maka pencerita yang menceritakan sebaik-baik kisah adalah Allah langsung Yang Maha Suci, Allah mengabarkan di dalamnya tentang siapa yang dikehendaki-Nya atau apa yang dikehendaki-Nya, sebagaimana mengajarkan kita untuk mensucikan-Nya dari jenis kelamin, persamaan, dan penyerupaan… Dia mengabarkan tentang diri-Nya dengan kata ganti orang pertama tunggal, kata ganti orang pertama jamak, dan kata ganti orang ketiga tunggal, agar kita tetap sadar akan masalah mensucikan-Nya dari penjelmaan atau personifikasi.
Meskipun Al-Qur’an tidak dapat diterjemahkan tanpa kehilangan aspek penting dari makna, cukup alasan untuk itu sifat bahasa Arab itu sendiri, yang mampu menyusun kalimat-kalimat berita yang tidak terikat dengan pembagian waktu yang kita kenal dan tidak tunduk padanya, dan karena kekayaan susunannya yang selaras, saling terkait, dan rapi, ia telah menjadi buku tunggal yang diterjemahkan berkali-kali dalam satu bahasa, lebih dari buku terjemahan lainnya di dunia, dan cetakannya melampaui angka tertinggi untuk buku terjemahan dalam sejarah percetakan, di samping menjadi satu-satunya buku yang dihafal di luar kepala oleh ratusan ribu dari berbagai ras (bahkan dari yang bukan penutur bahasa Arab), bahkan bahasa Arabnya telah menjadi tali yang dipegang erat oleh lebih dari satu miliar Muslim di dunia Islam saja: Anda akan menemukan bahwa tata bahasa, struktur bahasa, kosakata, dan turunannya telah memberikan banyak kontribusi bagi bahasa Arab, sehingga menjadi satu-satunya bahasa yang penuturnya yang berbudaya sedang dapat membaca teks-teksnya yang berusia lebih dari empat belas ratus tahun, tanpa perlu menerjemahkannya ke “bahasa Arab modern”.
Memahami Al-Quran dengan Benar
Sesungguhnya memahami Al-Quran secara benar memerlukan penguasaan beberapa hal, di antaranya: membaca tafsir-tafsirnya untuk mengetahui asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya ayat), atau kesesuaian konteks dan keadaan yang terkait langsung dengan teks, serta kerangka umum yang tidak terpisah dari ayat-ayat yang ingin dipahami.
Meskipun demikian, diperlukan perhatian yang sangat serius terhadap sifat tafsir dan mufasirnya, serta sudut pandang yang dianut, karena ada perbedaan yang didiktekan oleh mazhab, aliran, budaya, dan tujuan. Tafsir Syiah mungkin berbeda dengan tafsir Sunni, demikian juga tafsir para fuqaha yang terfokus pada makna literal dan zahir, berbeda dengan tafsir ahli batin, tafsir sufi, dan tafsir kaum rasionalis. Perlu juga memperhatikan era tafsir tersebut, karena at-Tabari yang hidup di abad kesembilan berbeda dengan Muhammad Asad yang lahir di abad kedua puluh.
Kemudian pengetahuan tentang sunnah dan hadits sangat wajib, karena Nabi tidak berkata berdasarkan hawa nafsu. Ucapan, perbuatan, pengakuan, atau pengingkarannya terhadap suatu perkataan atau perbuatan, memiliki tingkat kepentingan yang besar untuk memahami Islam dan Al-Quran. Muhammad sebagai manusia laki-laki adalah seorang manusia biasa yang mencapai tingkat tertinggi dalam hal kematangan kepribadian, transparansi, kejernihan, amanah, kesadaran, dan kecerdasan. Selain itu, dia dianugerahi oleh Allah hikmah, kenabian, dan jawami’ al-kalim (ungkapan yang ringkas namun bermakna luas). Tidak ada bukti yang lebih jelas tentang kematangan kepribadiannya dan tersedianya sifat-sifat tersebut dalam diri mulianya, selain keraguannya secara pribadi bahwa dia adalah manusia yang terpilih dan ditugaskan untuk menunaikan amanah dan menyampaikan risalah dengan cara yang paling sempurna, sebagaimana Allah perintahkan kepadanya… Dan sungguh kita telah mengetahui bahwa Al-Quran memandangnya sebagai teladan tertinggi manusia atau suri tauladan yang baik, atau sebagaimana Tuhannya gambarkan: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (Al-Ahzab, ayat 21). Maka Allah memerintahkan untuk menaatinya dan mengikuti sunnahnya. Tidak mengapa jika kita melihat para pengikut sunnahnya berusaha keras untuk berkomitmen pada sunnah ini bahkan dalam penampilan lahiriah (mereka memotong kumis dan memelihara jenggot, menggunakan siwak, lebih menyukai madu… dan hal-hal lain yang dikenal dari kebiasaan Rasul dalam biografinya), demikian juga ketekunan mereka pada khitan yang tidak disebutkan Al-Quran, karena Ibrahim telah mengenalnya dan Perjanjian Lama menyebutkannya, dan kaum Muslim, apapun mazhab mereka, mengikuti sunnah terpuji ini.
Perbedaan antara Muslim dan Kristen sebagaimana saya lihat:
- Muslim hidup dalam dunianya yang tidak terdapat sistem pendeta Katolik yang klerikalis (klerikal) maupun sistem hierarki jabatan dalam tingkatan pendeta yang ketat, dan tidak mengambil perantara atau syafaat bagaimanapun tingginya kedudukannya ketika shalat atau berdoa, sementara orang Kristen berdoa melalui Isa, Maryam, Roh Kudus, atau para santo lainnya ketika memohon, berdoa, atau beribadah… Lingkungan ini lebih dekat dengan sifat manusia dewasa yang berakal daripada iklim yang biasa di Gereja Bizantin dan Katolik, yang berdasarkan ritual keagamaan dan misteri “keimamatan” yang dijalankan oleh rohaniwan Kristen, agar umat Kristen yang berdiri di hadapannya memperoleh berkah Tuhan…
- Islam sangat menjaga keselamatan umum seluruh anggota masyarakat, yaitu dengan pengharaman mutlaknya terhadap daging babi, minuman keras dan minuman memabukkan, serta narkoba apapun jenisnya, dan pada saat yang sama menekankan tanggung jawab penuh bagi siapa yang menyalahgunakan obat-obatan beracun atau bahan-bahan adiktif lainnya, bukan menggunakannya untuk pengobatan penyakit dan urusan medis yang sah. Demikian juga, keteraturan dalam menunaikan shalat-shalat wajib pada waktu-waktu yang telah ditetapkan dengan khusyuk dan tadabur, memungkinkan pengurangan ketegangan dan stres harian, sehingga hal itu membawa kebaikan bagi individu dan masyarakat, dan ini tidak dapat dicapai dengan menunaikan misa hari Minggu atau doa pagi yang singkat, baik dilakukan sendirian atau bersama jamaah orang Kristen lainnya.
- Islam membolehkan hubungan seksual yang sah antara pria dan wanita, dan merekomendasikannya agar manusia, laki-laki dan perempuan, menikmati pelaksanaan hak alami ini tanpa rasa takut, berbeda dengan penggambaran “setan” tentang hubungan seksual yang sah antara pria dan wanita dalam tulisan-tulisan “Paulus Rasul” yang terdapat dalam Injil saat ini, yang mencela pernikahan secara memfitnah dan memuji hidup membujang, mengajak kepada monastisisme yang menyebabkan orang Katolik mengalami banyak penderitaan, kompleks seksual, perasaan bersalah, dan masalah lainnya… Larangan ini dan distorsi pandangan terhadap seks juga menyebabkan reaksi penolakan terhadap pesan Paulus Rasul mengenai seks yang tampak jelas dalam kemerosotan moral dan kebebasan seksual tanpa batas yang menyapu dunia Barat, dan Islam tidak mengikuti Barat dalam kemerosotan ke jurang yang berbahaya akibatnya ini.
- Wasiat Kristen bahwa manusia harus mengasihi orang lain seperti mengasihi dirinya sendiri sulit untuk dipatuhi, bahkan orang Kristen biasa tidak mampu mematuhinnya, bahkan itu adalah beban berat baginya yang membuat hati nuraninya kesulitan memikulnya, persis seperti beban yang ditanggung orang Kristen beriman yang harus berkomitmen pada pandangan Paulus Rasul tentang seks.
Di bawah beban-beban psikologis ini, aspek negatif menguat pada orang Kristen dengan konsekuensi psikologis yang buruk dari ajaran-ajaran yang dikenal seperti dosa asal yang diwariskan, dan aspek ini dapat dieksploitasi dengan buruk untuk memanipulasi perasaan massa dengan membuat mereka merasa bersalah dan pantas menanggung hukuman atau penebusan. Sebaliknya, kita mendapati Islam mengikuti jalan yang lurus, jalan tengah, yang tidak mudah menunaikan sebagian kewajiban-kewajibannya (seperti shalat subuh dan puasa) namun menunaikan kewajiban-kewajiban ini dan yang serupa masih dalam batas kemampuan manusia yang biasa. Selain itu, Islam tidak menetapkan atau bahkan mengajarkan kepada Muslim bahwa dia harus menganggap dirinya bersalah yang menanggung dosa asal, dan bahwa dia harus mencari keselamatan yang menyelamatkannya. Ilmu psikologi massa mengetahui konsekuensi yang dapat muncul dari gejala-gejala bersamaan yang saling terkait dan kompleks tentang “keselamatan”.
- Pandangan Muslim terhadap situasi ekonomi dan dengan demikian terhadap pekerjaan adalah pandangan sosial yang sehat, dan bukan terutama pandangan yang bersumber dari ekonomi yang menargetkan utilitas dan keuntungan tertinggi, dengan demikian dapat menjadi koreksi untuk jalur-jalur yang salah atau tidak lurus dalam masyarakat industri.
- Akhirnya, Muslim seharusnya atau sebaiknya menjadi teladan yang baik dalam toleransi dalam hubungan mereka dengan non-Muslim dan pemerintahan atau sistem non-Islam, yang berdasarkan pemisahan antara agama dan dunia atau sekuler seperti dalam masyarakat multi-ras, budaya, peradaban, dan kecenderungan filosofis yang melihat kemungkinan pluralitas dalam pandangan masing-masing terhadap kebenaran bahkan jika konsep kebahagiaan masyarakat (pluralis) ini terbatas pada kenikmatan dan kemewahan dalam kehidupan dunia ini saja, yaitu di bumi saja, setidaknya berdasarkan surat nomor 109, yang kita lihat bahwa setiap manusia apapun mazhabnya baik Yahudi, Kristen, Muslim, ateis, dan filosof (agnostik) harus menempelkannya di dinding di atas mejanya dan memahaminya sebelum studi perbandingannya terhadap sistem apapun, yaitu: “Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku, agamaku.” Maha benar Allah.
CONTOH-CONTOH BERAGAM MASUK ISLAM
87- Imad, Pemuda Mesir Bekas Kristen
Kisah pemuda Kristen Imad yang Allah beri hidayah ke Islam adalah salah satu kisah paling mengagumkan dan cerita paling aneh yang menyatakan nikmat yang melingkari leher setiap Muslim… di zaman di mana banyak Muslim meninggalkan penghargaan terhadap nikmat itu dan menghormati hak karunia ini… semoga Allah menjadikan dalam hal ini kebangkitan bagi hati-hati yang lalai… Sungguh itu adalah nikmat iman…
Imad berkata:
Segala puji bagi Allah atas nikmat Islam dan cukuplah ia sebagai nikmat, dan shalawat serta salam atas junjungan kita Rasulullah dan atas semua saudaranya dari para nabi dan rasul serta atas keluarga dan sahabatnya. Amma ba’du,
Dengan taufik Allah dan kehendak-Nya saya akan berbicara tentang keluarga saya sebelum Islam dan setelah Islam, dan saya ingin menegaskan nilai besar nikmat Islam, karena Muslim yang hidup dalam naungan akidah tauhid menikmati nikmat besar yang Allah berikan kepadanya yaitu nikmat Islam. Wajib bagi saya memulai pembicaraan dengan penegasan ini sebelum menceritakan kisah saya.
Keluarga saya sebelum Islam: Keluarga saya terdiri dari saya, adik perempuan saya, ibu, dan ayah… hanya empat orang saja dan merupakan keluarga Kristen yang religius yang rajin menghadiri pelajaran gereja dan menunaikan ibadah Kristen secara teratur. Saya ikut pelajaran gereja bersama keluarga dan rajin menunaikan doa-doa. Ayah saya bekerja di perdagangan biji-bijian, dan sejak kecil saya menemaninya di toko biji-bijian yang merupakan milik keluarga besar yang terdiri dari kakek, nenek, paman-paman, dan bibi-bibi. Saya memiliki kedudukan istimewa di sisi kakek dan nenek meskipun ada anak-anak keluarga dan anak-anak paman, dan saya adalah kesayangan mereka. Saya senang dengan kedudukan ini yang membedakan saya dari anggota keluarga dan anak-anak paman, bahkan kakek selalu membanggakan kecerdasan dan kemahiran saya dalam berdagang meskipun masih muda, yang sangat menjengkelkan anak-anak paman saya, dan bahkan paman saya yang tidak dikaruniai anak menunjukkan kekagumannya kepada saya dan berkata: “Saya menganggapmu seperti anakku, dan saya yakin ayahmu tidak tahu nilaimu seperti saya.” Alhamdulillahi rabbil alamiin, saya mahir dalam berdagang, mahir dalam berinteraksi dengan orang-orang hingga terkenal dengan ketelitian dalam timbangan dan baik dalam berinteraksi dengan pembeli, hal yang membuat mereka menyukai toko kami. Saya memiliki gaya yang ramah dan baik dalam berinteraksi yang merupakan fitrah dan didikan saya. Alhamdulillah, dengan gaya saya itu saya sejalan dengan adab Islam yang menjadikan agama adalah muamalah, kata yang baik adalah sedekah, senyuman di hadapan orang adalah sedekah, dan saya sangat bahagia dengan penghargaan ini…
Dan pemuda itu merasakan kecenderungan ibunya menuju Islam dan ketertarikannya padanya, serta penolakan terhadap Kristen, dan itu terjadi di bulan Ramadan sekitar sebelas tahun yang lalu. Puasa bulan Ramadan bertepatan dengan puasa orang Kristen, di mana Muslim berbuka ketika adzan Maghrib dan orang Kristen berbuka di malam hari ketika bintang tertentu muncul di langit. Pemuda itu memperhatikan bahwa ibunya berbuka ketika mendengar adzan Maghrib, maka dia heran dengan ibunya dan bertanya dalam hati bagaimana ibunya berbuka bersama Muslim, dan dia meminta ibunya menunggu sampai bintang muncul – seperti halnya puasa orang Kristen – maka ibunya menjawab bahwa dia melihat bintang di langit dan sudah muncul! Anak itu menjawab dengan polos: Di mana? Saya tidak melihatnya! Maka ibunya menjawab bahwa dia melihatnya dan berkata: Tapi kamu tidak melihatnya, dan menunjuk ke langit! Pemuda kami kemudian menyadari bahwa ibunya dengan perilakunya menuju Islam, dan dia berpuasa puasa Muslim.
Situasi lain yang diceritakan pemuda tentang ketertarikan ibunya pada pelajaran tafsir mingguan Syekh Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi rahimahullah. Dia berkata: “Saya memperhatikan bahwa ceramah mingguan Syekh asy-Sya’rawi memiliki dampak seperti guntur di telinga orang Kristen yang fanatik, dan jam ceramah mingguan adalah jam sial bagi mereka dan merupakan beban psikologis dan penderitaan bagi mereka, namun hal itu sangat berbeda dengan ibu saya, di mana saya melihatnya menyalakan televisi dan menonton pelajaran mingguan Syekh asy-Sya’rawi hari Jumat, maka saya bertanya heran! Apa yang kamu lakukan?! Maka dia menjawab: Saya mengikuti syekh ini untuk melihat apa yang dikatakannya? Dan saya mendengarkannya mungkin dia mengigau! Saya tidak tahu bahwa jawabannya kepada saya waktu itu adalah untuk menyamarkan agar saya tidak memberitahu ayah! Dan ada program lain yang diikuti ibu saya yaitu program (Nadwah lir Ra’yi) saya melihatnya menonton, ketika saya mengingkarinya sambil bertanya, dia menjawab: Saya menonton dan mendengar untuk melihat apa yang dikatakan para ulama ini tentang Kristen dan orang Kristen! Maka saya mendengar jawabannya tanpa komentar… dan terus memperhatikannya. Ibu saya berinteraksi dengan ramah dan lembut, dan dalam interaksinya hampir tampak lebih dekat dengan Islam dan Muslim, bahkan salah satu pendeta pernah mencacinya karena dia bersumpah di hadapannya dengan berkata: Demi Nabi – seperti kebiasaan orang awam Muslim di Mesir dan sebagaimana diketahui bahwa itu tidak dibolehkan secara syar’i – maka pendeta itu mencacinya dan memarahinya dengan berkata: Nabi mana yang kamu maksud?! Dan membentak sampai air mata mengalir dari matanya.”
Pemuda itu berkata: “Dan ketika ibu saya memikirkan Islam, suatu hari dia memanggil saya dan berkata: Kemarilah Imad, kamu anak laki-laki satuku dan tidak akan ada yang melindungiku selain kamu! Maka saya berkata kepadanya: Baik bu, maka dia berkata: Kamu anak laki-laki tertua dan saya bagaimanapun keadaannya dan dalam segala hal adalah ibumu.. dan mustahil kamu meninggalkan saya atau membuang saya ke dalam kebinasaan, maka saya berkata kepadanya: Ya bu. Maka dia berkata: Apa yang akan kamu lakukan jika keluargamu mengatakan hal buruk tentang saya dan menuduh saya dengan tuduhan batil?! Maka saya berkata kepadanya: Mengapa mereka melakukan itu padahal mereka semua menyayangimu. Dia berkata: Apa yang akan kamu lakukan jika mereka mencoba membunuh saya dan menyingkirkan saya? Maka saya berkata kepadanya: Bagaimana itu? Dan mengapa mereka mencoba membunuhmu padahal mereka menyayangimu?! Dia berkata: Apa yang akan kamu lakukan jika aku menjadi Muslim? Apakah kamu akan memerangi saya seperti halnya dengan ayahmu, paman-pamanmu, saudara-saudara ibumu, dan kerabatmu?! Maka jawaban saya kepadanya: Ibu tetap ibu dan kamu ibuku dalam segala keadaan.”
Namun pemuda itu heran dengan pembicaraan ibunya kepadanya dan merasa cemas, dan perasaan itu menguat dengan seringnya pertengkaran ayahnya dengan ibunya mengenai keinginannya memeluk Islam. Ibunya terang-terangan dengan ayahnya dalam hal ini, dan ayahnya marah karena ancamannya meninggalkan Kristen dan menantangnya untuk memeluk Islam.
Kisah Pemuda dan Ibunya yang Masuk Islam
Dan pada suatu hari, pemuda itu pulang dari sekolahnya namun tidak menemukan ibunya yang biasanya selalu menunggu kedatangannya setiap hari. Ia pun bergegas menemui ayahnya di toko, bertanya dengan panik tentang ibunya. Ayahnya menjawab bahwa ibunya ada di rumah, dan sang ayah bertanya dengan tenang: “Kemana kira-kira dia pergi?! Mungkin dia pergi ke rumah salah satu temannya!” Pemuda itu berkata: “Lemari pakaiannya kosong sama sekali!” Sang ayah terdiam sejenak dan heran dengan hal itu, bersumpah bahwa dia tidak membuatnya marah dan tidak ada hal yang terjadi di antara mereka yang menyebabkan pertengkaran atau kemarahan. Ia pun mulai mencarinya di semua tempat yang mungkin dia datangi… Dan kejutannya adalah… dia telah masuk Islam! Dia masuk Islam dan mengumumkan keislamannya di hadapan pihak-pihak yang berwenang dan tidak akan pernah kembali ke rumah lagi…
Seluruh keluarga menjadi gila dan kehilangan keseimbangan, mulai mengatakan segala macam kata-kata makian, kutukan, ancaman dan intimidasi tentang Islam dan umat Islam. Semua orang dari paman dan bibi dari pihak ibu maupun ayah, selain sang ayah, berada dalam keadaan emosional yang meledak-ledak dalam perkataan dan perilaku. Mereka marah pada segala sesuatu dan apa saja… Ini adalah bencana yang menimpa mereka, dan ini adalah sial yang menimpa mereka.
Pemuda itu berkata: “Aku mendengar makian-makian yang ditujukan kepada ibuku dari kerabat, paman dan bibi. Ada yang berkata: ‘Dia memang sudah mirip dengan orang-orang Islam dalam hal ini dan itu.’ Paman ini mengarahkan perkataannya kepadaku sambil berkata: ‘Lihat bagaimana dia meninggalkan kalian, dan meninggalkanmu dan adikmu?! Lihat siapa yang akan merawat kalian dan mengasuh kalian?!’ Adapun pamanku berkata dengan kata-kata serupa dan berkata sambil mengarahkan perkataannya kepadaku dan adikku: ‘Bagaimana kalau kamu dan adikmu pergi kepadanya dan memohon kepadanya dan menangis di hadapannya… apakah dia akan kembali kepada kalian?!’ Paman itu melanjutkan perkataannya kepadaku: ‘Pergilah hai Imad, pergi kepadanya dan menangislah di hadapannya semoga dia kembali kepada kalian!'”
“Aku mendengar semua itu dan melihat apa yang ada di sekitarku namun tidak bisa menjawab apa-apa karena aku juga merasa sesak dengan apa yang terjadi dan tidak senang. Paman itu pergi menemuinya di instansi-instansi terkait untuk menandatangani pengakuan demi pengakuan agar tidak mengganggunya… Dan terkadang dia bertemu dengannya dan memohon belas kasihan agar dia kembali kepada kedua anaknya karena mereka sangat membutuhkannya. Namun ibuku menolak dengan keras setelah merasakan manisnya Islam dan iman, dan berserah diri kepada Allah Tuhan semesta alam. Dia meninggalkan kami sebagai titipan kepada Zat yang tidak akan menelantarkan titipan-Nya. Maha Suci Dia, Dia adalah sebaik-baik penjaga dan Dia adalah Yang Maha Penyayang. Dia yakin bahwa Allah akan menjaga kami dengan pengawasan-Nya dan merawat kami dengan pemeliharaan-Nya.”
Pemuda itu tetap sering menghadiri gereja dan pelajaran-pelajarannya, terutama pelajaran hari Selasa – yang merupakan pelajaran mingguan yang khusus memperhatikan para pemuda dan remaja, serta jamaah gereja pada umumnya – dan itu adalah pelajaran yang terkenal dimana pastor memaparkan segala hal yang menyangkut masyarakat, agama dan politik, dan berkata apa yang dikehendakinya tanpa takut dari yang menghitung atau mengawasi, berbeda dengan keadaan terhadap selain orang Kristen.
Selama pelajaran hari Selasa pada suatu kali, pastor menyinggung ibu si pemuda! Pemuda itu berkata: “Aku hadir dan dikenal oleh jamaah yang hadir, karena aku dari keluarga yang dikenal karena ikatan kuatnya dengan gereja.” Selama ceramah, pastor menatapku dan tersenyum dengan senyuman jahat, lalu dengan terang-terangan menyindir ibuku sambil mengarahkan perkataannya kepada jamaah yang hadir: “Kalian ingat si Fulanah (dan dia menyebut namanya) – tanpa menyebut panggilannya (ibu Imad) – yang masuk Islam? Kristus ingin mempermalukannya setelah dia mengkhianati gereja, dan dia sekarang terbaring di penjara dalam kasus masalah susila!”
Aku menjadi bingung dan sangat kebingungan… Apakah ini masuk akal?! – Dan aku berkata dalam hati: Setelah dia menyerahkan wajahnya kepada Allah dan berani meninggalkan agamanya tanpa takut akibatnya – apa pun itu – dia masuk penjara?! Pandangan tertuju kepadaku dan memusatkan panah-panah mereka ke arahku seolah-olah aku telah melakukan kejahatan besar. Aku keluar dari pelajaran hari itu dengan hati yang sedih dan tidak berkomentar!!
Sementara aku dalam keadaan sedih itu dan berjalan di jalan, tiba-tiba ada suara yang memanggil: “Hai Imad, hai Imad!” Itu suara ibuku berjalan dekat rumah kami untuk melihat kami dengan hati-hati, dan dia telah menyuruh seseorang memanggil kami tanpa sepengetahuan keluarga. Aku mendekat dan ternyata ibuku… Berbagai perasaan yang bertentangan menguasaiku dalam keinginan yang semakin besar untuk membalas dendam kepada mereka yang membantunya mengenal dan memeluk Islam, terutama rekan-rekan kerjanya yang bekerja dengannya di bidang keperawatan, dan perasaan rindu dan cinta kepadanya serta penghargaan untuknya… Dia ibuku… apa pun keadaannya, cintanya tertanam di hatiku.
Aku mendekatinya dan memberi salam kepadanya. Dia bersama orang-orang Muslim yang tidak aku kenal… Ibuku mengenakan hijab dan aku melihat diriku menatapnya dengan heran dan bertanya kepadanya dengan polos: “Bukankah kamu dipenjara?!” Dia menjawab dengan heran: “Apa yang kamu katakan, sayang?! Apa maksudnya: dipenjara? Ini alamatnya dan aku harap kamu mengunjungiku.” Dia memberiku alamat itu dan pergi.
Meskipun aku mencintai ibuku, aku tidak merasa nyaman dengan pertemuan itu dan hatiku was-was. Pertemuan itu tidak dipenuhi dengan cinta dan perasaan yang menggebu terhadapnya…
Aku mengambil alamat itu dan kembali ke rumah kami sambil memikirkan hal itu. Setelah dua atau tiga hari, aku bertekad mengunjungi ibuku di alamat barunya pada waktu yang mendahului hari Selasa berikutnya setelah sikap pastor sebelumnya dalam pelajaran gereja. Aku sampai di tempat tinggal ibu dan Allah berkehendak bahwa itu bersamaan dengan adzan Maghrib… Maha Suci Allah.. Aku mendengar adzan Maghrib seolah-olah aku mendengarnya untuk pertama kali meskipun aku telah mendengarnya ribuan kali, tetapi adzan kali ini memiliki dampak yang sama sekali berbeda dari yang biasa aku dengar sebelumnya.
Ibuku menyambutku selama adzan dengan menyambutku, dan aku melihatnya serta mendengarnya mengikuti adzan sementara dia hampir tidak memperhatikan pembicaraanku dengannya. Setelah adzan, dia pergi bersuci dan berwudu kemudian masuk dalam salatnya. Dia mulai membaca Al-Qur’an dalam salat dengan suara yang terdengar. Untuk pertama kalinya aku mendengar Al-Qur’an dari ibuku. Dia membaca Surat Al-Ikhlas, dan itu memiliki dampak yang tak dapat digambarkan di hatiku dan pengaruh yang memukau di jiwaku. Perasaanku pada saat itu tidak mampu aku gambarkan.
Sungguh, cahaya ilahi menyelimutiku dan perasaan aneh menguasaiku. Pada saat itu aku berharap dapat berlutut dan mencium kaki ibuku saat dia salat. Aku merasakan sesuatu yang membersihkan hatiku, dan kejernihannya serta kesucian yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya masuk ke dalam diriku. Ya, perasaanku pada hari itu tidak dapat digambarkan atau diungkapkan… Itu adalah roh baru yang mengalir dalam tubuh dan pembuluh darahku.
Aku merasakan betapa besar ketidakadilan yang menimpa ibuku dari pastor itu dalam pelajaran Selasa yang lalu. Aku berharap dapat mencekiknya karena fitnah terhadap ibuku tanpa alasan yang benar. Mengapa dia merusak reputasinya?! Apakah ini keadilan? Dan apakah Kristus memerintahkan hal itu?!
Tetapi hal itu berbeda bagi mereka. Mereka memiliki aturan yang mengatakan: “Carilah domba yang tersesat sebelum kamu mencari orang asing untuk masuk gereja.” Artinya kamu harus mencari orang Kristen yang menjauh dari ibadah kepada Kristus sebelum kamu mencari seseorang untuk kamu rayu agar beribadah kepada Kristus.
Pemuda itu melanjutkan pertanyaannya: Mengapa pastor itu memfitnah ibuku? Dan memburukkannya? Aku masuk dalam pergulatan dengan diriku sendiri. Setelah salat, ibuku membawa makanan dan menawarkan kepadaku untuk makan bersamanya. Dia berkata: “Ayo makan bersamaku atau kamu takut makan bersamaku?!” Aku menatap dengan mata yang meluap kerinduan kepadanya dan kekaguman terhadapnya, dan aku melihat di wajahnya cahaya dan kesegaran yang tidak pernah aku kenal sebelumnya. Dia adalah ibu yang baru, berbeda dari yang aku kenal sebelumnya. Dia benar-benar berbeda… Apa cahaya ini yang menerangi wajahnya?!! Apa yang terjadi?!
Pertanyaan-pertanyaan pemuda itu terus bergejolak dalam lubuk hatinya sementara dia menatap wajah ibunya. Dia berkata: Apa yang terjadi pada ibuku… Aku telah hidup bersamanya sepanjang umurku… Apa yang baru terjadi padanya?! Apa cahaya ini yang memancar dari wajahnya?!
Pemuda itu berkata: “Meskipun perasaanku yang bertentangan saat itu antara perasaan cinta kepada ibu dan kebencian kepadanya karena dia mengkhianati Kristus dengan meninggalkan Kristen (menurut pendapat mereka)… tetapi aku melihat ibuku benar-benar berbeda. Aku melihat di wajahnya cahaya dan keputihan serta kecantikan yang tidak pernah aku kenal di wajahnya sebelumnya… Apakah ini kesegaran Islam? Ataukah ini cahaya Islam?…”
Aku makan bersamanya dan kami berdua saja, tidak ada seorang pun dari keluargaku yang menyaksikan pertemuan ini… Kemudian aku berpamitan dengan ibuku menuju rumah untuk berbaring di tempat tidurku dan mengingat kembali peristiwa kunjunganku ke ibu seolah-olah itu mimpi indah… Aku hampir tidak percaya bahwa ini benar-benar terjadi…
Waktu pelajaran Selasa berikutnya mendekat dan aku pergi ke gereja untuk mendengarkan ceramah mingguan pastor pada hari Selasa setelah hari Selasa ketika dia menyindir ibuku dengan fitnah dan makian.
Aku kembali ke gereja untuk mendengarkan ceramah mingguan. Kali ini dan selama ceramah, pastor melampaui semua batas dalam menyakiti ibuku dan menyindirnya serta memakianya dan menghinanya dengan cara yang paling kotor dan fitnah yang paling keji sampai pada tingkat dia mengklaim bahwa dia telah berbicara dengannya di penjara dan telah mengunjunginya di sana.
Aku heran dengan tingkat kebohongan, kepalsuan dan fitnah yang dicapai pastor itu, dan aku terpana dengan tingkat kemerosotan yang telah dia jatuh ke dalamnya. Meskipun pastor itu dan sejenisnya menikmati kedudukan spiritual yang besar dalam jiwa para pengikut gereja, aku mendapati diriku tidak tahan untuk diam atas dia dan kekurangajarannya. Aku melesat berteriak di wajahnya: “Cukup sampai di sini, tolong!”
Ini adalah hal yang besar bahwa seorang pemuda remaja sepertiku menghentikan pastor yang sedang berceramah di hadapan jamaah, dan dia adalah bapak rohani gereja dan jamaahnya, dan seorang pemuda memotongnya dengan keberanian ini dan dengan cara marah yang menghina ini.
Pemuda itu melanjutkan kata-kata marahnya kepada pastor: “Tunggu sebentar… cukup sampai di sini, berhenti! Kamu pembohong!” Di sini jamaah gereja ikut campur dalam upaya untuk membatasi kemarahan pemuda itu dan membungkam amarahnya. Mereka mengingatkannya tentang kedudukan orang itu dan memohon kepadanya untuk tenang dan diam, tetapi sia-sia karena kemarahan pemuda itu tidak reda dan dia tidak dapat mengendalikan amarahnya. Dia melanjutkan penentangannya terhadap pastor yang menoleh kepadanya dalam upaya untuk menenangkannya: “Ada apa denganmu, Imad?! Diam, nak… Ada apa denganmu?… Apa masalahnya?…”
Pemuda itu menjawab: “Tidak! Kamu pembohong!” Dan dia menghadap jamaah yang hadir: “Hai jamaah, aku tadi dari ibuku (dan aku bersumpah kepada mereka dengan sumpah Kristus menurut mereka) bahwa aku tadi dari ibuku, dan ketika ibuku mendengar adzan, dia bangun lalu bersuci dan berwudu dan salat. Puncak kesucian! Demi Allah, aku melihat di wajahnya kesegaran!”
Pemuda itu menggambarkan dampak kata-katanya pada yang hadir: “Aku melihat wajah mereka menghitam dan mereka menyeringai ketika mendengarku berbicara tentang ibuku dengan cara ini. Aku melanjutkan pembicaraan kepada mereka: ‘Demi Allah, pastor itu pembohong dan ibuku tidak di penjara seperti yang diklaim pastor. Ini alamatnya bagi siapa yang ingin mengunjunginya… Ibuku berkat Allah Tuhan semesta alam, ketika aku mendengarnya membaca Al-Qur’an di hadapanku, dia membersihkanku dan menyucikanku.'”
Pastor memotongku: “Diam, nak, atau aku akan mengusirmu keluar dari gereja!” Tetapi pemuda itu tidak diam dan melanjutkan serangannya terhadap pastor yang memfitnah: “Biarkan aku bertanya kepadamu, hai pastor, apakah kamu bersuci sebelum salat seperti yang dilakukan orang-orang Muslim?!”
Saat itu jamaah menjadi gila dan ancaman mereka beruntun, hampir saja mereka membunuhku. Ada yang berkata: “Diam! Kamu telah melampaui semua batas kesopanan!” Ada yang berkata: “Kamu mengigau dan meracau!” Adapun pastor, warnanya berubah dan tangannya bergetar, tampak di wajahnya keguncangan, kekalahan dan aib. Sementara yang ketiga berteriak: “Apakah ibumu telah melakukan cuci otak kepadamu?”
Jawaban-jawabanku seperti peluru api di wajah pastor dan mereka yang bersimpati dengannya. Keadaan bubar dan aku keluar dari gereja sambil menangis, mengelap air mataku yang mengalir dari mata merahku karena lama menangis dan marah. Aku tidak menemukan yang dapat meringankan dampak cobaan kecuali pergi ke rumah salah seorang temanku yang terkasih yang persahabatan denganku menguat seiring berjalannya hari. Aku tidak menemukannya di rumah dan ibunya kasihan melihat keadaanku saat itu, dia iba terhadapku dan sedih karenaku. Dia berkata: “Semoga Allah membalasnya, ibumu… dialah penyebab… apa yang kamu alami dari kesedihan dan duka… semoga Allah membalas dendam kepadanya!”
Aku hampir tidak mendengar perkataan wanita itu sampai aku ingin menyerangnya dan mencekiknya, dia dan juga pastor pembohong itu. Aku menatapnya dengan mataku seolah-olah keduanya bara api yang memancarkan percikan yang membakar. Aku pergi kembali ke rumah kami dengan sedih dan murung, berbagai perasaan menguasaiku. Aku ingin pergi ke ibuku dan meminta maaf kepadanya atas fitnah yang menimpanya dari pastor pembohong ini. Aku ingin kembali ke pastor itu untuk melampiaskan amarahku kepadanya. Aku ingin menghinanya… Aku merasa sesak… Rohku hampir melayang…
Tetapi aku menahan diriku dan berkata: “Mungkin kemarahan ini dalam menghadapi pastor dan keberanian terhadapnya adalah bisikan setan, maka biarlah aku kembali ke Injil semoga aku mendapat ketenangan, hidayah dan ketenangan di dalamnya.”
Pemuda itu kembali membaca Injil – dan dia yakin dengan fitrahnya seperti yang dia katakan – bahwa itu telah diubah dan bahwa Al-Qur’an Al-Karim adalah benar-benar kitab Allah, yakni kitab yang tidak didatangi oleh kebatilan dari depan maupun dari belakangnya. Adapun Injil, ketika aku membacanya, aku mendapatinya sebagai kitab seperti kitab apa pun yang dikarang tentang riwayat seseorang atau orang besar, dimana kamu menemukan berita-berita tentang Kristus yang makan dan Kristus yang minum dan Kristus yang mati dan Kristus yang bangkit. Siapa yang berbicara dengan berita-berita ini? Apakah Allah? Ataukah Kristus?!
Sesungguhnya Injil adalah kitab seperti kitab apa pun yang menceritakan kisah seseorang yang makan dan minum dan tidur, dan melakukan mukjizat tertentu atau memiliki mukjizat dan keajaiban tertentu. Siapa yang berbicara dalam semua ini? Atau siapa yang menulis berita-berita ini setelah wafatnya Kristus? Dan mengapa riwayat-riwayat itu berbeda-beda dan bertentangan terkadang dengan berbedanya Injil-injil dan perbedaannya, bahkan ketika Kristus di atas salib – seperti yang mereka klaim – dia memanggil: “Eli, Eli, lama sabakhtani!” Artinya: Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkanku dan menelantarkanku?! Mengapa? Dia memanggil siapa? Dan dia siapa? Dan bagaimana Bapa meninggalkan anaknya sementara dia meminta tolong kepadanya dan minta bantuan dan perlindungan darinya?! Apakah ini logis?!
Banyak pertanyaan yang menggambar di hadapanku tanda tanya besar. Dalam hal ini aku membuat dalam suratku kepada orang-orang Kristen, aku berkata:
“Hai penyembah Kristus… aku punya pertanyaan untuk kalian… yang hanya dijawab oleh yang memahaminya… Bagaimana Tuhan mati karena perbuatan suatu kaum?… Apakah ini Tuhan?… Dan aneh kubur yang berisi Tuhan ini… Dan yang lebih aneh adalah perut yang mengandungnya… Kemudian dia keluar dari antara kemaluan sambil membuka mulutnya ke tanah… Apakah ini Tuhan?!” – Dan puisi ini dikutip dari puisi lain karya Ibnu Qayyim rahimahullah ta’ala.
Pemuda itu merasa bosan membaca Injil – seperti yang dia ceritakan – karena bacaannya dalam Injil menambah kebingungannya dan tidak menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Pemuda itu melanjutkan: “Tetapi semangatku untuk mencapai kebenaran mendorongku untuk lebih banyak meninjau dan membaca ulang Injil sekali lagi hingga aku selesai membacanya untuk mencapai ketenangan jiwa, akal dan rohani. Aku tidak menemukan selain kebingungan dan kegelapan yang semakin bertambah. Kebingunganku semakin bertambah hingga aku membaca dalam Injil perkataan Sayyidina Isa Al-Masih:
“Sesungguhnya, sesungguhnya, Aku berkata kepadamu: Barangsiapa mengikuti perkataanku dan beriman kepada yang mengutusAku, maka baginya kehidupan yang kekal.”
Allahu Akbar. Allahu Akbar! Maka datanglah dengan tegas dan dari lisan Kristus ungkapannya itu yang menegaskan bahwa dia adalah utusan dari Allah. Perkataannya: “Sesungguhnya, sesungguhnya” adalah sumpah, dan perkataannya: “Barangsiapa mengikuti perkataanku dan beriman kepada yang mengutusAku” adalah penegasan bahwa dia adalah utusan dari Allah, dan perkataannya: “maka baginya kehidupan yang kekal” artinya baginya surga dan kehidupan yang kekal di surga.
Pertanyaan-pertanyaan pemuda itu semakin bertambah, maka ia pergi kepada pendeta di gereja, dan menyampaikan pertanyaan-pertanyaan serta kesimpulan-kesimpulannya. Pendeta itu kebingungan dan tidak dapat menjawabnya, maka pemuda itu pun pergi meninggalkannya. Setelah beberapa hari, pendeta itu mengirimkan hadiah yang sangat berharga kepada pemuda itu (dari segi nilai materinya), berupa salib dari emas murni yang dipasang pada rantai untuk digantung di leher.
Pemuda itu berkata: “Saya memperhatikan bahwa dia telah mengubah perlakuannya terhadap saya, menjadi lembut dan baik, memberikan pandangan kasih sayang dan belas kasihan kepadaku serta mendekatkanku. Suatu ketika dia mengejutkan saya dengan perkataannya – dengan bahasa yang penuh kasih sayang -: ‘Saya minta maaf karena telah menyebut ibumu dengan cara yang mengganggu perasaanmu. Kamu adalah anak Kristus, dan kami mencintaimu, Kristus mencintaimu…’ Saya tidak tahu bahwa dia sedang merencanakan sesuatu di malam hari dan menggali lubang yang dalam untukku.”
Dia berkata kepadaku dengan nada yang ramah: “Saya berharap kamu bisa mengutus ayahmu dan saya harap dia datang bersama pamanmu.”
Pemuda itu melanjutkan: “Ayah dan pamanku memiliki kedudukan tinggi di mata pendeta di gereja, di mana dia meminta bantuan mereka dalam menyelesaikan masalah-masalah keluarga kami.”
Pendeta itu melanjutkan berkata kepada pemuda itu: “Saya ingin kamu menyampaikan kepada ayah dan pamanmu bahwa saya menginginkanmu untuk suatu urusan yang akan membuatmu sangat bahagia dan sangat lega. Dan jangan lupakan ayah rohanimu si fulan yang sangat mencintaimu, dan saya mencintaimu dan sangat menghargaimu. Saya harap kamu menerima permintaan maafku karena telah menyebut ibumu dengan buruk dan menyebabkan semua gangguan dan kesusahan ini untukmu.”
Pemuda itu mempercayai – dengan kebaikan hati dan kepolosan – perkataan pendeta itu dan tidak menyadari – sebagaimana dia ceritakan – bahwa pendeta itu sedang merencanakan tipu muslihat dan dia menginginkan ayah serta pamannya untuk tujuan ini!
Pemuda itu kembali kepada ayahnya dan memberitahu bahwa Bapa fulan (pendeta) menginginkan dia beserta pamannya setelah misa Jumat yang akan datang. Ayahnya menjawab dengan setuju. Pada hari yang dimaksud, kedua pria itu – ayah dan paman – membawa pemuda itu menuju gereja dan bertemu dengan pendeta pada waktu yang telah ditentukan. Di sana pendeta menyambut mereka.
Pemuda itu berkata: “Ketika saya hendak masuk bersama mereka, pendeta menghentikanku dan meminta agar saya menunggu di luar ruangan, karena pembicaraan dengan ayah dan paman mengenai urusan khusus tentangmu yang akan membuatmu sangat bahagia dan membawa kejutan yang menyenangkan.” Begitulah pendeta berbicara kepada pemuda itu sebagaimana dia ceritakan.
Mereka berdiskusi sekitar satu jam, setelah itu ayah dan paman keluar dengan kepala tertunduk. Saya bertanya kepada mereka: “Apa yang terjadi?” Ayah menjawab: “Tidak ada apa-apa… Yang ada hanya bahwa Anba fulan memanggilmu untuk tinggal bersamanya dan ditemani adikmu selama dua atau tiga hari.” Saya berkata: “Baik” dan tidak berkomentar lebih lanjut. Saya bergembira dengan kunjungan itu karena kedudukan tinggi Anba itu di hati orang-orang (di kalangan Kristen) dan karena karamah-karamahnya – sebagaimana mereka klaim dalam agama Kristen – yang menjadi impian setiap orang Kristen.
Ayah memberitahuku bahwa Anba ingin memberikanmu hadiah yang berharga dan ingin menyerahkannya sendiri kepadamu, dan kamu akan tinggal bersamanya dan adikmu selama dua atau tiga hari di dalam biara di tempat yang akan sangat kamu sukai dan kamu akan sangat nyaman di sana. Saya langsung menjawab dengan persetujuan yang gembira. Dia memintaku bersiap-siap untuk bepergian pada hari Senin setelah pertemuan itu. Saya menjadi sangat rindu untuk bepergian, mendambakan pertemuan itu karena mukjizat-mukjizat dan karamah-karamah Anba itu yang sering saya dengar – sebagaimana mereka klaim – dan saya ingin melihat dengan mata kepala sendiri apa yang akan menambah keyakinanku pada pria ini (karena yang melihat berbeda dengan yang mendengar).
Pada hari Senin yang dijanjikan, pemuda itu memperhatikan bahwa ayahnya membantunya menyiapkan koper dan memasukkan semua pakaian ke dalamnya. Dia heran dengan tindakan ayahnya yang memasukkan begitu banyak pakaian! Ketika dia bertanya kepada ayahnya, ayahnya menjawab: “Nanti kamu akan tahu semuanya.” Pemuda itu diam dan tidak menaruh perhatian.
Mereka berangkat ke kantor uskup agung di Kairo. Pemuda itu mengamati situasi dengan seksama. Ayahnya sibuk menyelesaikan beberapa prosedur dan anak itu tidak ingin menanyakan apa pun kepada ayahnya tentang apa yang dilihatnya. Dari Kairo, rombongan pindah ke Beni Suef di mana (rumah diakon-diakon) berada. Di sana seorang pendeta menerima saya – demikian kata pemuda itu – ayahku meninggalkanku dan berpesan baik tentang adik perempuanku yang masih kecil, lalu pergi.
Di rumah diakon-diakon – tempat tinggal baru pemuda itu – perlakuan tidak lama berubah dan perintah-perintah keras serta instruksi-instruksi ketat bertubi-tubi: “Di mana pakaianmu? Duduk! Kemari… Ini tempat tidurmu yang akan kamu tiduri dan ini tempat menyimpan pakaianmu.” Pemuda itu bertanya tentang adiknya, maka penanggung jawab menjawab: “Bukan urusanmu… Kamu akan di satu tempat dan dia di tempat lain.”
Situasinya sulit bagi pemuda itu. Tempat itu tidak nyaman – sebagaimana dia katakan: “Satu pandangan saja pada sistem kamar tidur mengingatkanmu pada bangsal penjara dengan tempat tidur bertingkat dan banyaknya penghuni di rumah itu.”
Tiga hari berlalu, tujuh hari, sepuluh hari, dan pemuda itu bertanya-tanya dengan bingung: “Kapan saya bepergian ke keluargaku? Kapan saya kembali ke kotaku?” Segera datang jawaban: “Lupakan semuanya dan jangan pikirkan kotamu atau keluargamu atau kembali ke rumahmu. Kamu di sini tidak akan pergi… Kami mencintaimu! Bukankah kamu mencintai kami sebagaimana kami mencintaimu?! Apakah kami kurang dalam melayanimu atau hakmu?! Makanan disajikan untukmu tepat waktu, tidur tepat waktu, pelajaran tepat waktu, dan hidupmu teratur. Kami mencintai dan menginginkanmu.”
Saya merasa sedih dan duka mencengkeram diriku seolah-olah saya di penjara tanpa kehendak, kebebasan, atau pilihan. Mereka mulai mempersiapkanku untuk menjadi diakon… Pelajaran berturut-turut dan indoktrinasi berkelanjutan. Tidak ada yang menjadi perhatianku selain menghafal ajaran-ajaran Kristen dan pelajaran teologi, dan mengulang semua yang disampaikan kepadaku seperti burung beo.
Hingga saya mencapai periode yang memenuhi syarat untuk menjadi diakon dan pada periode itu saya dimahkotai dengan tanda salib di rambut kepala dengan memotong bagian depannya dalam bentuk salib. Anba melakukan itu dan memberiku gelar diakon… Sejak saat itu saya menjadi pemegang gelar diakon di dalam tempat kudus.
Kehidupan di sana masih menimbulkan kebosanan dan kejenuhan. Kami adalah sekelompok besar pemuda di kamar, menjalani hidup yang tidak ada kebaruan atau kesegarannya, melainkan hidup yang monoton… Pelajaran membosankan yang dipaksakan kepada kami dan ajaran-ajaran Kristen dituangkan ke kepala kami tanpa penjelasan atau persuasi. Tidak ada pilihan bagi kami kecuali menghafal pelajaran-pelajaran itu, jika tidak maka hukuman yang menyakitkan menanti kami, belum lagi pergaulan yang tidak baik dari pemuda-pemuda yang sembrono dan kehidupan yang tidak pernah saya kenal atau biasakan, yang bertentangan dengan pembentukan, jiwa, dan pendidikanku.
Hal ini mendorongku untuk menulis surat kepada ayahku memohon belas kasihan dan memintanya datang untuk mengeluarkan kami dari tempat ini. Saya katakan dalam suratku: “Wahai ayahku, sesungguhnya saya mencintaimu… Kasihan! Apakah begini cara kamu meninggalkan kami, menipu kami, dan melemparkan kami ke nasib ini… Apa pun keadaannya, saya anakmu dan saya mencintaimu.”
Anak itu terus mengirim surat-suratnya kepada ayahnya meminta tolong dan memohon belas kasihan, tetapi sia-sia!
Penderitaan pemuda itu bertambah. Setelah penderitaan sebelumnya selama enam bulan, dia terkejut dengan keputusan dari keuskupan Beni Suef untuk memindahkannya ke Beni Mazar di Provinsi Minya ke tempat yang dikenal sebagai Rumah Rahmat dan terkenal di kalangan Muslim sebagai (Sekolah Menengah Pertama Koptik Campuran) sebagaimana kata sahabat kami.
Dia melanjutkan ceritanya tentang Rumah Rahmat: “Di sana di (Rumah Rahmat) yang sebenarnya adalah (Rumah Laknat), saya minum pahit berbagai rasa dan hidup dalam kesabaran yang penuh duka. Saya mulai mengenang hari-hari penderitaan di Beni Suef dengan baik, karena hari-hariku di sana adalah nikmat dibanding hari-hari yang kuhabiskan di (Rumah Rahmat).”
“Demi Allah yang tiada Tuhan selain-Nya, setiap kali saya mengingat hari-hariku di Beni Mazar di (Rumah Rahmat), saya merasakan bekas-bekas cambukan membakar punggungku dan membebani pundakku! Karena betapa kerasnya perlakuan nenek tua yang jahat itu terhadap kami. Allah telah merampas darinya segala keindahan dan memberikannya segala yang keras dan jelek… Dia menakutkan dan menyeramkan. Dia memperlakukan para pemuda dengan cambukan yang panas. Dia mengejar kami di seluruh penjuru rumah dengan tongkat tebalnya hingga para pemuda di rumah ini bersembunyi di bawah tempat tidur dan di belakang pintu karena takut hukumannya.”
“Tidak aneh jika dia mengawasi kami saat makan dan mengejar kami dengan perintah-perintahnya. Tidak aneh jika dia memerintahkan salah satu dari kami untuk bangkit dan meninggalkan makanan tanpa kenyang sebagai penghinaan dan pelecehan terhadap martabatnya.”
“Adapun adikku, mereka memotong rambutnya dan memberitahunya bahwa dia akan menikah dengan pendeta dengan paksa ketika berusia lima belas tahun.”
Saya bertanya-tanya dengan bingung dan jengkel: “Sampai kapan saya akan tetap dalam siksaan ini?” Jawabannya: “Sampai kamu mati!… Kamu tidak akan melihat ayahmu atau salah satu anggota keluargamu atau orang-orang terkasihmu kecuali jika kamu mati!”
Bulan-bulan berlalu – sebagaimana kata pemuda itu – bulan demi bulan. Saya kembali menulis kepada ayahku meminta perlindungan darinya, memohon belas kasihannya agar menyelamatkanku dari kesusahan yang saya alami, tetapi sia-sia. Hal ini membuatku suatu kali menulis kepadanya dengan mendoakannya, dan saya katakan dalam suratku kepadanya suatu kali: “Semoga Allah membalasmu!”
Saya terkena penyakit dan kurus kering. Kelelahan dan insomnia mencapai puncaknya. Waktu berlalu dengan berat dalam persahabatan dengan pemuda-pemuda yang keadaannya buruk dan pantas mendapat pendisiplinan dan hukuman dari gereja. Di antara mereka ada yang ayahnya masuk Islam, ada yang ibunya masuk Islam, dan ada yang dicari untuk balas dendam di daerah Selatan.
Pengunjung-pengunjung berdatangan ke rumah tempat kami tinggal dan menyaksikan kesengsaraan dan penderitaan yang kami alami, seolah-olah kami makhluk aneh di kebun binatang yang dinikmati orang untuk ditonton.
Enam bulan berlalu dan saya dalam siksaan ini. Saya kembali menulis kepada ayahku memohon kepadanya untuk datang melihatku walau sekali saja. Tidak mungkin kami melarikan diri dari rumah ini dan tidak ada jalan untuk selamat dari siksaan ini karena penjagaannya sangat ketat. Tidak mungkin seseorang berhasil menerobos kesulitan-kesulitan yang diberlakukan untuk penjagaan. Bahkan jika seseorang berhasil menembus penjagaan, itu adalah upaya yang tidak aman akibatnya dan dapat ditangkap serta dikembalikan lagi untuk menerima siksaan yang lebih berat.
Tetapi desakan saya dalam menulis kepada ayahku mendorongnya untuk mengunjungi kami. Begitu dia datang mengunjungi kami dan melihat keadaanku yang kurus dan lemah serta buruk keadaanku, dia memelukku sambil menangis. Hal itu mendorongku untuk memeluknya dan mencium tangannya serta kakinya sambil meminta tolong kepadanya agar menyelamatkanku dari penderitaan yang saya alami.
Bahkan adikku bersamaku di rumah yang sama di lantai atas dan saya tidak bisa melihatnya sepanjang masa keberadaanku di sana. Hal ini melunakkan hati ayahku. Dia pergi kepada kepala rumah dan berkata: “Maaf, saya ingin membawa kembali kedua anak: Imad dan adiknya – insya Allah – dan cukuplah masa yang mereka habiskan di sini.”
Penanggung jawab menjawab: “Tidak, insya Allah kamu tidak akan pernah membawa mereka, tidak pernah, tidak pernah, tidak pernah!”
Ayahku berkata: “Apa maksud ini?”
Kepala rumah menjawab: “Jika kamu membawa kedua anak itu bersamamu ke kotamu, mereka akan terikat dengan ibu mereka dan ini akan menyebabkan gangguan yang tidak perlu bagimu dan gereja.”
Ayah menjawab dengan nada tegas: “Saya ingin anak-anakku dan inilah surat-surat yang berkaitan dengan hal itu.” Ayahku bersikeras pada pendiriannya.
Penanggung jawab menjawab dengan nada menantang: “Tidak. Kami tidak akan menyerahkan anak-anakmu (dan benturkanlah kepalamu ke tembok) dan lakukan sesukamu!”
Ayah menjawab: “Kalau begitu saya akan keluar dari sini ke gubernur dan mengadukan kalian serta membeberkan urusan kalian di depan umum.”
Ketika penanggung jawab melihat keteguhan ayah pemuda itu, dia menjawab dengan kasar dan menyerahkan pemuda serta adiknya dengan terpaksa.
Pemuda itu berkata: “Sementara kami dalam perjalanan ke kota kami, saya bertanya kepada ayahku tentang keadaan ibuku. Dia berkata: ‘Anakku, ibumu telah meninggal akibat kecelakaan tabrak lari mobil. Pamanmu menabraknya dan dia meninggal.'”
Pemuda itu terpukul dan mengalami guncangan psikologis mendalam yang membuatnya muak dengan kehidupan, menjadi sempit dadanya setelah kepergian ibunya. Dia berkata kepada ayahnya dengan pertanyaan sedih: “Lalu mengapa kita pergi ke kota kita? Kembalikanlah kami dari tempat asal kami datang. Apa gunanya kembali tanpa harapan bertemu ibu dan bergembira bersamanya?!”
Kami melanjutkan perjalanan hingga mencapai kota kami. Hari-hari berlalu dan pemuda serta adiknya kembali ke rumah ayah. Pemuda itu melanjutkan pekerjaannya di toko keluarga bersama ayahnya.
Setelah empat puluh hari berlalu, sementara pemuda itu berada di toko ayahnya, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita memanggil dari dekat: “Ya Imad, ya Imad!” Pemuda itu langsung menyadari bahwa itu suara ibunya. Dia bergegas menuju ibunya dan memeluknya. Saat itu dia yakin bahwa ayahnya telah menyembunyikan kebenaran darinya agar dia tidak memikirkannya dan tidak menghubunginya lagi.
Ibu yang penyayang memberikannya alamat rumahnya, dan harapan kembali muncul. Pemuda itu berkata: “Saya mulai berjalan dengan cepat menuju cahaya. Setelah beberapa hari saya mengunjunginya. Dia menyambut saya dan membanjiri saya dengan kasih sayang, cinta, dan kelembutan. Saya melihat kesegaran kembali ke wajahnya setelah dia menderita penderitaan yang sangat berat karena berpisah dengan kami.”
Ketika saya kembali ke rumah ayahku, ayahku memanggilku dan membicarakan masalah pernikahannya lagi dengan harapan tidak akan menimbulkan gangguan bagiku. Saya langsung menyetujuinya tanpa menentang dan berkata: “Ini hidupmu dan kamu berhak bertindak.”
Ayahku berusaha mengurus izin yang diperlukan untuk pernikahan ini sesuai dengan apa yang ditetapkan mazhab Ortodoks. Dia pergi ke keuskupan Kairo untuk tujuan ini. Di sana dia melihat keajaiban: ada yang berkata kepadanya harus membayar 200 pound, yang lain meminta 150 pound untuk membuat izin nikah, dan yang ketiga meminta 70 pound untuk mengeluarkan izin.
Setelah ayah mendapat izin untuk menikah, istri paman – yang adalah wanita fanatik Kristen yang fanatik buta dan sangat membenci Islam dan kaum Muslim – memilihkan untuknya istri Kristen yang juga fanatik terhadap agama Kristen. Dia menikah dengannya – dengan perbedaan usia yang besar antara dia dan ayahku – dan perlakuannya terhadap kami memburuk hari demi hari.
Hingga suatu hari dia mengadu kepada ayahku dengan berkata – bohong dan fitnah -: “Apakah kamu tahu bahwa anakmu mengangkat tangan kepadaku?” Ayahku sangat marah dan amarahnya meledak. Dia memukulku tanpa belas kasihan demi menyenangkan istri mudanya yang dimanja. Hal ini mendorongku kembali kepada ibuku untuk meminjam beberapa buku yang membantuku mengenal Islam.
Ibuku menyarankan agar saya membaca dengan mendalam dan berkata: “Anakku, kamu menguasai ajaran Kristen, kamu adalah diakon di dalam tempat kudus. Saya harap kamu membaca Al-Quran Al-Karim dengan mendalam dan membaca kembali Injil serta mempelajari buku-buku sirah, kemudian membandingkannya…” Tetapi dia memperingatkan agar ayahku tidak mengetahui hal ini atau buku-buku itu, jika tidak maka nasibku adalah kematian!
Ketika ayahku mengetahui bahwa saya sering mengunjungi ibuku, suatu kali dia memanggilku dan terjadi dialog berikut antara kami. Dia berkata: “Apa kabar? Apakah kamu mengunjungi ibumu lagi?” Saya menjawab: “Ya, saya mengunjunginya untuk membalasnya karena dia telah mengkhianati Kristus…”
Dia berkata: “Bagaimana caranya?” Saya berkata: “Bersabarlah dan kamu akan melihat – sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar – saya akan membalasnya dengan balasan yang keras…”
Ketika saya berbicara dengan paman tentang hal ini dan mengatakan kepadanya apa yang saya katakan kepada ayah, dia sangat kagum padaku dan saya melihatnya berseri-seri. Dia berkata: “Bagus!” Dan melanjutkan: “Pendeta di gereja telah memberitahuku bahwa dia mengharapkan masa depan yang cemerlang untukmu dan kamu akan menjadi pendeta di gereja setelah beberapa tahun dengan promosi. Balaslah ibumu, anakku, dengan cara yang kamu sukai!”
Saya sangat senang dengan keyakinan ayah dan pamanku terhadap apa yang saya katakan kepada mereka sebagai alasan mengunjungi ibuku. Itu adalah penyamaran dan menumbuhkan rasa aman dalam diriku agar saya menemukan keamanan dalam mencari kebenaran dan mengetahui hakikat Islam.
Setelah penderitaan dalam mencari, mempelajari, dan membandingkan antara sumber-sumber Islam dan Kristen, cahaya Islam membanjiri diriku dan saya merasakan kelezatan dan ketenangan dengan mempelajari sumber-sumbernya yang tidak pernah saya temukan sebelum Islam. Saya kembali kepada ibuku dan membicarakan masalah memeluk Islam.
Dan pemuda itu terbantu dalam mencapai keyakinan penuh untuk menerima Islam sebagai agama dengan adanya sebuah masjid yang dekat dari rumah ibunya yang shalihah. Dengan dorongan dari ibunya, dia melaksanakan ibadah-ibadah agama di masjid tersebut seperti mendirikan shalat, membaca Al-Qur’an, dan mengikuti adzan. Pemuda itu berkata: “Dan Allah Yang Maha Besar berfirman dengan benar: ‘Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram’ (QS. Ar-Ra’d: 28). Aku menghabiskan siang hari bersama ibuku dan kembali bermalam di rumah ayahku.”
Ketika pemuda itu telah mencapai tingkat keyakinan yang tinggi terhadap kebenaran agama Islam dan syariatnya yang mulia, dia berkata: “Aku membicarakan dengan ibuku tentang keinginanku untuk memeluk Islam dan meninggalkan agama Kristen. Ibuku menyetujui dengan gembira. Maka aku mengumumkan keislamanku pertama kali di hadapan ibuku sebelum memulai prosedur resmi untuk menyatakan keislamanku. Ibuku mengizinkan aku untuk datang ke masjid untuk melaksanakan shalat. Imam masjid mengetahui kisahku dan membantuku memahami kaidah-kaidah Islam dan fikih ibadah, terutama fikih shalat. Tato salib masih terlihat jelas di sebagian besar tanganku, yang menyebabkan aku merasa sangat malu dan kesulitan bagi orang-orang yang tidak mengetahui kisahku.”
Di antara situasi yang membuat Imad merasa sangat malu selama dia datang ke masjid tersebut dalam kondisinya saat itu – sebagaimana dia ceritakan – dia berkata: “Suatu kali aku berniat berwudhu dengan air masjid dan menyingkap lenganku. Ketika aku mengangkat kedua tanganku saat berwudhu, tetangga muslimku – saat berwudhu – melihat tato salib di tanganku. Dia berkata kepadaku: ‘Apa yang kamu lakukan?’ Aku menjawab dengan isyarat: ‘Kita memohon petunjuk kepada Allah.’ Dia terdiam dan tidak marah, lalu meninggalkan tempat wudhu di sampingku dan menjauh dariku serta melanjutkan wudhunya.”
“Dalam situasi lain aku mengalami rasa malu yang sangat, ketika shalat dikumandangkan dan imam bertakbir takbiratul ihram. Aku berada di belakang imam di shaf pertama. Saat aku mengangkat tanganku bersamaan dengan takbiratul ihram, salah seorang jamaah dari masyarakat umum melihat tato salib di tanganku. Dia menoleh ke arahku dengan marah dan menarikku dari pakaianku dengan kasar, menyeretku menjauh dari shaf-shaf jamaah dan menuangkan kemarahannya kepadaku. Makian dan ancamannya menimpaku dan dia berkata kepadaku: ‘Hai mata-mata! Kamu datang untuk memata-matai kaum muslimin.’ Dia mengatakan kata-kata lain yang tidak aku ingat, yang sangat menyedihkan hatiku. Seandainya bukan karena keyakinanku terhadap Islam dan Allah telah melapangkan dadaku untuknya, niscaya aku akan tergoyah dalam agamaku.”
“Syaikh masjid mengetahui kisahku. Setelah selesai shalat, dia menegur laki-laki tersebut. Meskipun laki-laki yang jahil itu meminta maaf kepadaku setelah aku menyatakan keislamanku dan berkata kepadaku: ‘Sekarang kamu termasuk ahli surga.'”
“Tujuanku datang ke masjid adalah untuk membekali diriku dengan fikih Islam dan menambah keyakinan di bawah bimbingan Syaikh Hussein Ahmad Amir, agar aku mampu menghadapi kesulitan-kesulitan setelah menyatakan keislamanku secara resmi. Aku berterus terang kepada ibuku tentang keinginanku untuk mengumumkan keislamanku secara resmi. Ibuku berkata: ‘Adikmu sebelum dirimu; karena dia akan tersia-sia… dan dia mungkin akan mengalami penderitaan dan kesulitan yang sama seperti yang kamu alami jika kamu masuk Islam dan meninggalkannya di antara mereka.’ Ini membuatku khawatir terhadap adikku dan mendorongku untuk membantunya mengenal dan memahami Islam, semoga Allah melapangkan dadanya untuknya dan membimbingnya ke agama yang benar, agama Islam, millah Ibrahim dan agama para rasul Allah serta semua nabi-Nya.”
“Suatu hari adikku pulang dari gereja sambil membawa gambar kelahiran Masih (menurut anggapan mereka). Saat itu umurnya tidak lebih dari dua belas tahun. Aku bertanya kepadanya: ‘Apa yang kamu bawa?’ Dia menjawab: ‘Ini gambar Masih di kandang sapi.’ Aku kembali bertanya kepada adikku: ‘Apa ini yang mengelilingi gambar? Dan siapa ini yang ada dalam gambar?’ Dia berkata: ‘Tuhan kami!’ Aku terkejut dan melanjutkan pertanyaan: ‘Siapa ini yang mengelilinginya?’ Dia berkata: ‘Sapi, keledai, dan hewan-hewan lain.’ Aku bertanya lagi: ‘Di mana Tuhan dilahirkan?’ Dia menjawab: ‘Di kandang sapi.’ Aku bertanya: ‘Apa arti kandang sapi?’ Dia berkata: ‘Kandang hewan.’ Aku menanggapi: ‘Apakah pantas bagi Tuhan dan Ilah untuk dilahirkan di kandang binatang?’ Dia berkata: ‘Tidak. Ini adalah kerendahan hati dari-Nya sebagaimana yang diajarkan guruku di gereja.’ Aku berkomentar: ‘Apakah kerendahan hati dari seorang ilah – dan bagi Allah lah perumpamaan yang tertinggi – itu dilahirkan di rumah sederhana ataukah di kandang hewan yang kotor?’ Maka adikku berkata: ‘Aku juga tidak yakin dengan logika Kristen ini dan ingin masuk Islam.'”
Tidak lama kemudian gadis itu menyatakan keislamannya di hadapan saudaranya dan mengucapkan dua kalimat syahadat (Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah) di hadapannya. Kemudian mereka berdua menuju instansi yang berwenang untuk menyatakan keislaman mereka bersama-sama. Di sana mereka mengalami penderitaan yang sangat berat dan menghadapi berbagai ujian dan cobaan yang berat hingga mereka diizinkan untuk memeluk Islam – sebagaimana dia katakan: “Diskusi panjang, tekanan dari orang-orang Kristen, ancaman-ancaman, dan pertanyaan-pertanyaan tentang fikih Islam dan akidahnya. Dengan pertolongan dan taufik Allah, kami berhasil lulus ujian dengan sukses,” meskipun diskusi itu berlangsung lama dan melelahkannya karena diskusi itu berat, keras, dan panjang. Periode penderitaan mental dan psikologis dalam perjalanan kedua tokoh kita dari keraguan menuju keyakinan berlangsung selama lima tahun, yang merupakan tahun-tahun tersulit dalam hidup mereka. Setelah masuk Islam, hidup mereka dipenuhi dengan kecintaan terhadap Islam.
Pemuda itu berkata: “Suatu hari setelah keislamanku, aku bertemu dengan salah seorang pendeta yang ditemani dua orang pemuda. Pendeta itu berkata kepadaku dengan mengejek: ‘Kamu menjual agamamu, hai Imad, seperti si fulan.’ Dia maksudkan fulan ini adalah orang yang menjual darahnya untuk mendapat sepotong roti. Aku membalasnya: ‘Apakah kamu tahu bahwa Paus menikah?’ Dia langsung menjawab: ‘Paus tidak menikah.’ Aku berkata: ‘Subhanallah! Paus tidak menikah tetapi Tuhan menikah. Aneh sekali, kamu mengharamkan hal ini untuk Paus tetapi meridainya untuk Tuhan.'”
Pemuda itu melanjutkan: “Aku berbicara dengan salah seorang anggota gereja. Aku berkata kepadanya: ‘Mengapa Masih mengorbankan dirinya untuk pengampunan dosa Adam dan tidak Adam yang mengorbankan dirinya sebagai gantinya?! Mengapa Isa alaihissalam yang bertanggung jawab tanpa yang lain atas dosa Adam dan dituntut untuk menebus dosanya? Di mana tanggung jawab individual? Bukankah hilangnya tanggung jawab individual dalam masyarakat menunjukkan bahwa masyarakat itu diperintah dengan hukum rimba? Kemudian, bukankah lebih adil jika Allah menghidupkan Adam dan menyuruhnya mengorbankan dirinya? Mengapa Isa mengorbankan dirinya tanpa alasan yang kuat? Kemudian siapa yang menghidupkan Masih setelah kematiannya? Apakah dia menghidupkan dirinya sendiri? Ataukah yang lain yang menghidupkannya? Jika ini atas kerelaan hati, siapa gerangan yang berteriak dan meminta tolong di atas salib sambil berkata: ‘(Eli Eli lama sabakhtani)’ yaitu: Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkanku? Lawan bicaraku mendengar ini dan setelahnya dia lari dan tidak berkomentar.”
Pemuda itu bercerita: “Aku berbicara dengan salah seorang rohaniwan Kristen. Aku berkata kepadanya: ‘Di mana anak-anakmu agar aku bisa memberi salam kepada mereka’ (dan ini tanpa sengaja dariku). Dia berkata: ‘Aku tidak punya anak dan tidak pernah mempunyai keturunan.’ Dengan pandangan sekilas ke matanya yang penuh air mata, dia melanjutkan dan memulai pembicaraannya denganku: ‘Setiap orang dari kami ingin mempunyai anak untuk memikul namanya dan melanjutkan misinya setelah kematiannya…’ Aku menatap wajahnya dan berkata: ‘Subhanallah! Apakah Allah membutuhkan seseorang untuk memikul nama-Nya atau melanjutkan misi-Nya?’ Lalu aku membacakan kepadanya firman Allah Ta’ala: ‘Dan mereka berkata: “Yang Maha Pemurah mengambil anak.” (88) Sungguh, kamu telah mendatangkan sesuatu yang sangat mungkar. (89) Langit hampir pecah karenanya dan bumi hampir terbelah, dan gunung-gunung hampir runtuh (90) karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. (91) Dan tidak layak bagi Yang Maha Pemurah mengambil anak. (92) Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Yang Maha Pemurah sebagai seorang hamba. (93) Sungguh, Dia telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. (94) Dan setiap mereka akan datang kepada Allah pada hari Kiamat seorang diri.’ (QS. Maryam: 88-95)”
Dikutip dari buku: Kisah Pemuda Kristen yang Mendapat Hidayah.. (dengan sedikit penyesuaian)
89- Sanaa, Gadis Mesir Mantan Kristen
Sanaa dari Mesir bercerita tentang kisah keislamannya:
“Aku tumbuh seperti gadis Kristen Mesir pada umumnya dengan fanatik terhadap agama Kristen. Orang tuaku membiasakan membawaku bersama mereka ke gereja setiap pagi hari Minggu untuk mencium tangan pendeta, mengikuti nyanyian-nyanyian gereja, dan mendengarkannya saat dia berbicara kepada jemaah sambil mengajarkan akidah Trinitas, dan menegaskan kepada mereka dengan sumpah yang keras bahwa selain orang Kristen, apa pun kebaikan yang mereka lakukan, mereka dimurkai Tuhan, karena mereka – menurut anggapannya – adalah kafir dan ateis.
Aku mendengarkan perkataan pendeta tanpa memahaminya, seperti anak-anak lainnya. Ketika keluar dari gereja, aku bergegas ke sahabatku yang muslim untuk bermain dengannya, karena masa kanak-kanak tidak mengenal kebencian yang ditanamkan pendeta di hati orang-orang.
Aku sedikit dewasa dan masuk sekolah, mulai menjalin persahabatan dengan teman-teman sekolahku yang terletak di Provinsi Suez. Di sekolah, mataku mulai terbuka melihat sifat-sifat baik yang dimiliki teman-teman muslimku. Mereka memperlakukanku seperti saudari dan tidak memandang perbedaan agamaku dengan agama mereka. Aku memahami kemudian bahwa Al-Qur’an mendorong untuk memperlakukan kafir – yang tidak memerangi – dengan perlakuan yang baik dengan harapan mereka masuk Islam dan terselamatkan dari kekafiran. Allah Ta’ala berfirman: ‘Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.’ (QS. Al-Mumtahanah: 8)
Salah seorang teman muslimku menjalin persahabatan yang erat denganku. Aku tidak berpisah dengannya kecuali pada jam pelajaran agama, karena aku – sesuai sistem yang berlaku – belajar bersama siswi-siswi Kristen lainnya tentang prinsip-prinsip agama Kristen dengan guru yang Kristen.
Aku ingin bertanya kepada guruku bagaimana mungkin kaum muslimin – menurut asumsi orang Kristen – tidak beriman padahal mereka memiliki akhlak yang mulia dan pergaulan yang baik seperti ini? Tetapi aku tidak berani bertanya karena takut membuat guru marah, hingga suatu hari aku memberanikan diri bertanya. Pertanyaanku mengejutkan guru yang berusaha menahan amarahnya, membuat senyum palsu di bibirnya dan berkata kepadaku: ‘Kamu masih kecil dan belum memahami dunia. Jangan biarkan penampilan sederhana ini mengelabui kamu tentang hakikat kaum muslimin sebagaimana kami para orang dewasa mengetahuinya.’ Aku terdiam dengan terpaksa meskipun menolak jawabannya yang tidak objektif dan tidak logis.
Keluarga sahabat terbaikku pindah ke Kairo. Hari itu kami menangis karena sedih berpisah dan saling tukar hadiah dan kenang-kenangan. Sahabat muslimku tidak menemukan hadiah yang dapat mengungkapkan kedalaman dan kekuatan persahabatannya kepadaku selain mushaf suci dalam kotak beludru yang anggun dan kecil. Dia memberikannya kepadaku sambil berkata: ‘Aku telah memikirkan hadiah berharga untuk kuberikan kepadamu sebagai kenangan persahabatan dan masa hidup yang telah kita jalani bersama, dan aku tidak menemukan selain mushaf suci ini yang berisi kalam Allah.’
Aku menerima hadiah sahabat muslimku dengan penuh syukur dan gembira, dan berusaha menyembunyikannya dari mata keluargaku yang tidak akan menerima putri mereka membawa mushaf suci.
Setelah sahabat muslimku pergi, setiap kali aku mendengar suara muazin memanggil untuk shalat dan mengajak kaum muslimin ke masjid, aku mengambil hadiah sahabatku dan menciumnya sambil menoleh ke sekitar dengan was-was takut ada anggota keluarga yang tiba-tiba menemukanku, yang akan menyebabkan masalah yang tidak baik bagiku.
Hari-hari berlalu dan aku menikah dengan ‘syamas’ Gereja Perawan Maryam. Bersama barang-barang pribadiku, aku membawa hadiah sahabat muslimku ‘Mushaf Suci’ dan menyembunyikannya jauh dari mata suamiku. Aku hidup bersamanya seperti wanita timur yang setia dan tulus serta melahirkan tiga anak darinya.
Aku bekerja di kantor gubernur provinsi. Di sana aku bertemu dengan rekan kerja muslimah yang berhijab, yang mengingatkanku pada sahabat tersayangku. Setiap kali suara adzan berkumandang dari masjid tetangga, aku merasakan perasaan tersembunyi yang membuat hatiku berdebar, tanpa mengetahui sebab yang pasti, karena saat itu aku masih belum muslim dan menikah dengan seseorang yang bekerja di gereja dengan pekerjaan yang menjadi sumber nafkahnya dan dari gajinya dia memberi makan keluarganya.
Seiring berjalannya waktu, dengan berdialog dengan rekan kerja dan tetangga muslimah yang beragama dan berakhlak, aku mulai memikirkan hakikat Islam dan Kristen, serta membandingkan antara apa yang aku dengar di gereja tentang Islam dan kaum muslimin dengan apa yang aku lihat dan rasakan sendiri, yang bertentangan dengan perkataan para pendeta dan orang-orang Kristen yang fanatik.
Aku mulai berusaha mengenal hakikat Islam dan menggunakan kesempatan ketika suamiku tidak ada untuk mendengarkan ceramah para syaikh melalui radio dan televisi, berharap menemukan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan-pertanyaan yang bergolak dalam dadaku. Aku tertarik dengan tilawah Syaikh Muhammad Rif’at dan Syaikh Abdul Basit Abdul Shamad untuk Al-Qur’an Al-Karim. Saat mendengarkan rekaman mereka melalui radio, aku merasakan bahwa apa yang mereka lantunkan tidak mungkin merupakan perkataan manusia, melainkan wahyu ilahi.
Suatu hari saat suamiku berada di gereja, aku menuju lemariku dan dengan tangan yang gemetar mengeluarkan harta berhargaku ‘Mushaf Suci’. Aku membukanya dalam keadaan gugup, dan mataku jatuh pada firman Allah Ta’ala: ‘Sungguh, perumpamaan (penciptaan) Isa bagi Allah seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berfirman kepadanya, “Jadilah!” maka jadilah (dia).’ (QS. Ali Imran: 59)
Tanganku semakin bergetar dan wajahku basah oleh keringat. Merinding menjalar di tubuhku. Aku heran karena sebelumnya aku sering mendengar Al-Qur’an di jalan, televisi, radio, dan dari sahabat-sahabat muslimah, tetapi aku tidak pernah merasakan merinding seperti yang aku rasakan saat membaca langsung dari mushaf suci dengan tanganku sendiri.
Aku berniat melanjutkan membaca, tetapi suara gemeretak kunci suamiku yang membuka pintu apartemen menghalangiku. Aku segera menyembunyikan mushaf suci di tempatnya yang aman dan bergegas menyambut suamiku.”
Dan pada hari berikutnya setelah peristiwa ini, aku pergi ke tempat kerja dengan seribu pertanyaan yang mengganggu di kepalaku. Ayat mulia yang kubaca telah menetapkan batas pemisah bagi apa yang selama ini menggelisahkanku tentang hakikat Isa alaihissalam. Apakah dia anak Tuhan sebagaimana yang diklaim pendeta – Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka katakan – ataukah dia seorang nabi yang mulia sebagaimana yang dikatakan Al-Qur’an? Maka datanglah ayat itu untuk memutuskan keragu-raguan dengan keyakinan, mengumumkan bahwa Isa alaihissalam berasal dari keturunan Adam, maka dia bukanlah anak Tuhan, karena Allah Ta’ala {tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya} (QS. Al-Ikhlas: 3-4).
Aku bertanya dalam hati tentang jalan keluar setelah mengetahui kebenaran yang abadi, kebenaran bahwa “tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”. Bisakah aku menyatakan keislamanku? Apa sikap keluargaku terhadapku, bahkan apa sikap suamiku dan nasib anak-anakku? Semua pertanyaan ini dan lainnya berkelebat dalam pikiranku saat aku duduk di mejaku mencoba melakukan pekerjaanku tapi aku tidak bisa, karena pemikiran itu hampir membunuhku, dan mengambil langkah pertama kurasa akan membuatku menghadapi bahaya besar yang paling ringan adalah dibunuh oleh keluarga atau suami dan gereja.
Selama berminggu-minggu aku bergumul dengan diriku sendiri di tengah keheranan rekan-rekan kerjaku yang tidak mengatakannya kepadaku, karena mereka mengenalku sebagai pekerja yang giat, tapi sejak hari itu aku tidak bisa menyelesaikan pekerjaan kecuali dengan susah payah.
Dan datanglah hari yang dijanjikan, hari ketika aku terbebas dari segala keraguan dan ketakutan dan berpindah dari kegelapan kekafiran menuju cahaya iman. Sementara aku duduk termenung, pikiran melayang, memikirkan apa yang telah kutekadkan, sampailah ke pendengaranku suara adzan dari masjid terdekat yang memanggil kaum muslim untuk bertemu dengan Tuhan mereka dan melaksanakan shalat Dzuhur. Suara adzan itu meresap ke dalam jiwaku, aku merasakan ketenangan jiwa yang telah kucari, dan aku merasa betapa besarnya dosaku karena tetap dalam kekafiran meskipun panggilan iman yang agung mengalir dalam seluruh jiwaku. Maka aku berdiri tanpa pendahuluan untuk berteriak dengan suara keras di tengah kekagetan rekan-rekanku: “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”
Rekan-rekanku mendekatiku dalam kebingungan mereka, mengucapkan selamat sambil menangis bahagia, dan akupun ikut menangis bersama mereka, memohon kepada Allah agar mengampuni masa laluku dan meridhai hidupku yang baru.
Wajar jika berita keislamanku tersebar di kantor gubernuran dan sampai ke telinga rekan-rekan Nasraniku, yang dengan perasaan murka mereka – dengan cepat menyampaikannya kepada keluarga dan suamiku, dan mereka mulai menyebar isu tentangku dengan mengklaim ada alasan tersembunyi di balik keputusan itu. Aku tidak peduli dengan ucapan penuh kebencian mereka, karena hal yang lebih penting bagiku dari spekulasi-spekulasi itu adalah: menyatakan keislamanku secara resmi, agar keislamanku menjadi terbuka. Dan memang aku menuju kantor keamanan di mana aku menyelesaikan prosedur yang diperlukan untuk menyatakan keislamanku.
Aku kembali ke rumah untuk menemukan bahwa suamiku begitu mendengar kabar itu langsung mendatangkan kerabatnya dan membakar semua pakaianku, merampas perhiasan, uang, dan perabotan yang kumiliki. Hal itu tidak menyakitiku, yang menyakiti adalah penculikan anak-anakku oleh suamiku untuk dijadikan alat tekanan agar aku kembali ke kegelapan kekafiran. Aku sedih dengan nasib anak-anakku, dan takut mereka akan dibesarkan di antara dinding-dinding gereja dengan akidah tritunggal, dan nasib mereka akan seperti ayah mereka di neraka.
Aku mengangkat apa yang bergejolak dalam jiwaku dengan berdoa kepada Allah agar mengembalikan anak-anakku untukku untuk mendidik mereka dengan pendidikan Islam. Allah mengabulkan doaku, karena sejumlah muslim sukarela membimbingku untuk mendapatkan putusan pengadilan tentang hak asuh anak-anak karena mereka adalah muslim. Aku pergi ke pengadilan dengan membawa surat pernyataan keislamanku, pengadilan berpihak pada kebenaran, memberikan pilihan kepada suamiku antara masuk Islam atau berpisah denganku, karena dengan masuk Islam aku tidak halal lagi bagi non-muslim. Dia menolak dan sombong untuk masuk dalam agama yang benar, maka pengadilan memutuskan perpisahan antara aku dan dia, dan memutuskan hakku dalam mengasuh anak-anakku karena mereka muslim, sebab mereka belum baligh, dan karenanya mengikuti orang tua yang muslim.
Kukira masalahku telah berakhir sampai di situ, tapi aku terkejut dengan pengejaran dari suami dan keluargaku juga, dengan isu dan gosip yang bertujuan menghancurkan semangat dan psikisku. Keluarga-keluarga Nasrani yang kukenal memutuskan hubungan denganku, dan menambahnya dengan menyebarkan isu tentangku untuk mencemarkan reputasiku dan menakut-nakuti keluarga muslim agar tidak membantuku dan memutuskan hubungan denganku.
Meskipun segala gangguan, aku tetap kuat dan teguh, berpegang pada imanku, menolak semua upaya yang bertujuan memurtadkanku dari agama yang benar, dan mengangkat tanganku berdoa kepada Pemilik langit dan bumi agar memberiku kekuatan untuk bertahan menghadapi semua yang disebarkan tentangku, dan agar melapangkan kesulitanku. Allah mengabulkan doaku dan Dia Maha Dekat lagi Mengabulkan doa. Pertolongan datang kepadaku melalui seorang janda muslimah, miskin harta tapi kaya jiwa, yang memiliki empat anak perempuan yatim dan seorang anak laki-laki tunggal setelah suaminya meninggal.
Janda muslimah ini tersentuh dengan kondisi psikis yang kualami, dan kagum serta bangga dengan keteguhanku, maka dia menawarkan untuk menikahkanku dengan anak tunggalnya “Muhammad” agar aku dan anak-anakku hidup bersamanya dan keempat putrinya. Setelah berpikir tidak lama, aku setuju dan menikah dengan Muhammad, anak dari janda muslimah yang baik itu.
Dan sekarang aku hidup dengan suami muslimku “Muhammad” dan anak-anakku, serta keluarga suami dalam kebahagiaan, rida, dan ketenangan hati, meskipun kami mengalami kesulitan hidup, dan menghadapi kebencian dari mantan suamiku dan perlakuan dari keluarga Kristenku. Aku masih, meskipun dengan apa yang dilakukan keluargaku kepadaku, berdoa kepada Allah agar memberi mereka petunjuk ke agama yang benar dan meliputi mereka dengan rahmat-Nya sebagaimana Dia memberi petunjuk kepadaku dan meliputi dengan rahmat-Nya, dan hal itu tidaklah sulit bagi Allah – Subhanahu wa Ta’ala.
Sana – Mesir, semoga Allah menjaganya dengan Islam Sumber: Kitab (Al-‘A’idun ila Allah / Orang-orang yang Kembali kepada Allah) karya Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Al-Musnad
90- Susan Hindi, gadis Mesir mantan Nasrani
Kisahku dengan iman adalah kisah panjang, perjalanan seumur hidup. Sejak kecil ketika belum memahami apa-apa di sekelilingku dan mulai mengenal berbagai hal, aku merasa terdorong dengan hasrat besar untuk membaca dan mempelajari segala jenis pengetahuan. Dimulai dengan bacaan-bacaan, dialog, dan pertemuan yang beragam yang berakhir dengan pernyataan keislamanku.
Inilah yang ditegaskan Susan Hindi yang hingga waktu dekat ini adalah gadis Nasrani yang sangat fanatik terhadap akidahnya sebelum menyatakan keislamannya.
Dia berkata: “Aku dibesarkan dalam keluarga Kristen dan merupakan anak perempuan satu-satunya di antara empat saudara laki-laki, karena itu aku sangat dimanja dan tertarik pada Islam sejak kecil sebelum sampai pada tahap berpikir. Di tingkat sekolah dasar, aku adalah satu-satunya Kristen di kelas selain seorang Kristen lain, dan aku selalu menghadiri pelajaran agama Islam bersama teman-temanku. Guru bahasa Arab dengan gaya yang menyenangkan dan penjelasan yang sederhana membuatku terpesona dengan apa yang diceritakannya tentang Islam.
Di tingkat menengah pertama, aku selalu meminjam buku agama Islam dan dengan antusias besar ingin memahami semua isinya. Begitu juga halnya di tingkat menengah atas, dan buku ‘Genius Umar’ karya Ustaz Mahmoud Al-Aqqad yang menjadi materi wajib kami di tingkat menengah atas menjadi titik balik dalam pemikiranku.”
Susan menambahkan: “Meskipun ayahku sangat berpegang pada Kristen dan rajin ke gereja, perpustakaan pribadinya di rumah memiliki banyak buku-buku Islam dan aku menyelinap ke perpustakaan saat dia tidak ada untuk memuaskan dahagaku akan pengetahuan tanpa tujuan tertentu. Secara bertahap tumbuh dalam diriku keinginan untuk lebih banyak meneliti hal yang tidak kuketahui demi ilmu dan pengetahuan.
Pada tahap ini aku adalah Kristen yang sangat fanatik, rajin ke gereja, dan merasa cemburu terhadap akidahku yang mengecil di hadapan Islam. Aku berharap – saat itu – dapat melihat dalam akidah Kristenku nilai-nilai dan prinsip-prinsip mulia dalam akidah, syariat, dan perilaku seperti yang ada dalam Islam. Semua perhatianku adalah memahami ‘Genius Umar’ yang menjadi materi wajib kami untuk mendapat nilai tinggi dalam bahasa Arab yang kucintai agar bisa masuk jurusan bahasa Arab di fakultas sastra. Aku tidak tahu bahwa jurusan ini hanya untuk muslim. Kepribadian Umar bin Khattab radhiyallahu anhu membuatku takjub, dan Ali radhiyallahu anhu benar ketika berkata: ‘Mandurlah para ibu melahirkan seperti Umar’. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu memang mendirikan negara Islam secara politik, tapi Umar mendirikannya secara politik dan intelektual sekaligus.”
Susan Hindi melanjutkan: “Keluargaku tidak merasakan apa-apa, bahkan ayahku tidak keberatan dengan bacaanku terhadap buku-buku Islam untuk menambah informasi saja. Ada satu orang yang merasakan dan memahami kebingunganku, seorang pendeta muda yang berpikiran terbuka dan bebas. Dia berkata kepadaku: ‘(Kamu terikat dengan apa yang kamu lihat dan tidak terikat dengan teks-teks Injil yang membuatmu gelisah. Aku melihatmu sebagai pencari kebenaran).’
Ketika dia tahu kesedihanku karena tidak bisa masuk jurusan bahasa Arab, dia menyarankan jurusan sejarah dan berkata: ‘(Kamu akan menemukan dalam sejarah apa yang kamu cari).’ Pendeta ini bergelar sarjana sastra jurusan sejarah.
Pendeta itu meninggal, dan aku sangat sedih atas kematiannya. Aku tidak pernah meragukan sedetik pun bahwa dia adalah seorang mukmin yang menyembunyikan imannya. Kesedihanku bertambah karena pendeta yang menggantikannya sangat berlawanan dengannya, dan dia merasa terganggu dengan dialogku dengannya. Berkali-kali dia berkata kepadaku: ‘Kamu merusak gadis-gadis muda di gereja.’
Aku kehilangan kepercayaan pada Injil dan ketika masuk universitas, aku membawa pemikiran yang gelisah terhadap Kristenku dan kehilangan kepercayaan pada Injil-injil dan penjelasan-penjelasannya yang banyak namun saling bertentangan. Tapi aku tidak menyembunyikan rahasia ketika berkata: Injil adalah faktor pembantu bagiku untuk menyatakan keislamanku dan sering kuletakkan berhadapan dengan Al-Qur’an Al-Karim dalam kerangka perbandingan, dan aku merasa tidak ada perbandingan.”
Dia menambahkan: “Dialog antara aku dan pemuda muslim di universitas sangat sengit tapi dengan jiwa yang toleran, dan begitu dialog berakhir kami kembali berteman. Di tahun terakhir, aku memutuskan untuk berdialog dengan seorang profesor di fakultas. Profesor ini memahami agamanya tanpa fanatik.
Sebelum ujian tahun akhir, aku mengejutkan profesor dengan tekadku untuk masuk Islam atas keyakinan penuh. Aku heran ketika dia memintaku untuk menunggu sampai ujian selesai, tapi aku tetap pada keputusanku. Aku meninggalkan rumah untuk tinggal di rumah salah satu temanku sampai berhasil menyatakan keislamanku.
Keluargaku murka dan kehilangan harapan bahwa aku akan kembali kepada mereka. Mereka melaporkan bahwa aku diculik, tapi aku pergi ke pihak berwajib dan menulis pernyataan bahwa aku tidak diculik.
Aku menikah dengan seorang muslim dan Susan Hindi berkata: “Aku menikah dengan pemuda muslim yang taat dari mereka yang pernah kudialogkan di universitas. Hubunganku dengannya tidak melebihi batas dialog, tapi begitu dia tahu pernyataan keislamanku, dia langsung melamarku dan aku langsung menerima. Aku mengenalnya sebagai pribadi yang baik, tenang, lurus, dan berkomitmen pada agamanya. Keluarganya menyambutku dengan sangat baik dan aku merasa aman di antara keluarga mukmin ini.
Aku berusaha dan ingin ada hubungan antara aku dan keluargaku. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an: {Dan jika keduanya memaksakmu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku} (QS. Luqman: 15). Aku berusaha mengikuti contoh ini tapi tidak berhasil.
Suamiku menyarankan agar aku memulai dengan mengunjungi mereka. Aku memang mengunjungi ayahku tapi dia menolak kunjungan ini dan menyuruhku untuk tidak mengunjungi ibu dan saudara-saudaraku.
Akhirnya dia berkata: “Alhamdulillah, sekarang aku ibu rumah tangga yang mencari pekerjaan yang pantas. Aku hidup dengan suami dan kedua putriku Asma dan Isra. Aku menulis di beberapa majalah dan surat kabar agama. Kesibukan utamaku saat ini adalah agar buku pertamaku ‘Kisahku dengan Islam’ segera terbit.”
90- Anak Amerika Alexander Fritz
Ibunya membawakannya buku-buku tentang semua agama dan setelah membaca dengan teliti, dia memutuskan menjadi muslim sebelum bertemu dengan seorang muslim pun.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” Kisah hari ini adalah bukti kebenaran hadits mulia ini.
Alexander Fritz lahir dari orang tua Kristen pada tahun 1990. Ibunya memutuskan sejak awal untuk membiarkannya memilih agamanya jauh dari pengaruh keluarga atau sosial. Begitu dia bisa membaca dan menulis, ibunya membawakannya buku-buku tentang semua agama samawi dan non-samawi. Setelah membaca dengan teliti, Alexander memutuskan untuk menjadi muslim!
Dia sangat mencintai agama ini sampai-sampai dia belajar shalat, mengenal banyak hukum syariat, membaca sejarah Islam, belajar banyak kosa kata Arab, menghafal beberapa surat, dan belajar adzan. Semua ini tanpa bertemu dengan seorang muslim pun!
Berdasarkan bacaannya, dia memutuskan nama barunya “Muhammad Abdullah” mengikuti Rasul yang dicintainya sejak kecil.
“Dia memulai dengan bertanya ‘Apakah kamu hafal?’ – dia berkata dalam bahasa Arab! Aku jawab tidak, dan aku merasakan kekecewaannya.
Dia melanjutkan: ‘Tapi kamu muslim dan tahu bahasa Arab kan?’
Dan dia menghujani dengan berbagai pertanyaan: ‘Apakah kamu sudah haji?’ ‘Apakah kamu pernah umrah?’ ‘Bagaimana cara mendapatkan pakaian ihram?’ ‘Apakah mahal?’ ‘Bisakah aku membelinya di sini atau mereka hanya menjualnya di Saudi saja?’
‘Apa kesulitan yang kamu alami sebagai muslim di lingkungan non-Islam?’
Aku mengira dia akan menyebut hal-hal yang berkaitan dengan teman-teman atau guru-gurunya, hal-hal tentang makanan atau minumannya, atau tentang peci putih yang dipakainya, hal-hal tentang sorban yang dililitkannya di kepala dengan cara Yaman, atau tentang berdirinya sebagai muazin di taman umum sebelum shalat. Tapi jawabannya tidak terduga dan tenang serta bercampur penyesalan: ‘Aku kadang terlewat beberapa shalat karena tidak tahu waktunya.’
‘Apa yang menarikmu kepada Islam? Mengapa kamu memilih Islam?’
Dia terdiam sejenak lalu menjawab: ‘Aku tidak tahu, yang kutahu aku membacanya dan semakin banyak kubaca semakin kucintai.’
‘Apakah kamu puasa Ramadhan?’
Dia tersenyum dan berkata: ‘Ya, aku puasa Ramadhan yang lalu penuh dan alhamdulillah, itu pertama kalinya aku puasa. Sulit terutama di hari-hari awal.’ Lalu menambahkan: ‘Ayahku menantangku bahwa aku tidak akan bisa puasa, tapi aku puasa dan dia tidak percaya.’
‘Apa cita-citamu?’
Dia menjawab cepat: ‘Aku punya banyak cita-cita. Aku ingin pergi ke Makkah Al-Mukarramah dan mencium Hajar Aswad.’
‘Aku perhatikan perhatianmu yang besar pada haji, ada alasannya?’
Ibunya ikut bicara untuk pertama kali: ‘Gambar-gambar Ka’bah memenuhi kamarnya. Beberapa orang mengira apa yang dialaminya sekarang adalah sejenis khayalan, petualangan yang akan berakhir suatu hari. Tapi mereka tidak tahu bahwa dia tidak hanya serius, tapi imannya begitu dalam sehingga orang lain tidak merasakannya.’
Muhammad Abdullah tersenyum melihat ibunya membelanya, lalu menjelaskan tentang tawaf mengelilingi Ka’bah dan bagaimana haji adalah manifestasi kesetaraan antar manusia sebagaimana Tuhan menciptakan mereka tanpa memandang warna kulit, jenis kelamin, kaya miskin.
Lalu dia melanjutkan: ‘Aku berusaha mengumpulkan sisa uang sakuku mingguan agar suatu hari bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah. Aku dengar perjalanan itu akan menghabiskan sekitar 4000 dollar, dan sekarang aku punya 300 dollar.’
Ibunya berkomentar untuk menolak adanya kelalaian dari pihaknya: ‘Aku tidak keberatan dia pergi ke Makkah tapi kami belum punya uang yang cukup untuk mengirimnya saat ini.’
‘Apa cita-cita lainnya?’
‘Aku berharap Palestina kembali kepada muslim, itu tanah mereka yang dirampas Israel.’ Ibunya menatapnya heran lalu dia menambahkan, mengisyaratkan ada diskusi sebelumnya dengan ibunya: ‘Ibu, kamu belum baca sejarah. Bacalah sejarah, Palestina telah dirampas.’
‘Apakah ada cita-cita lain?’
‘Cita-citaku adalah belajar bahasa Arab dan menghafal Al-Qur’an Al-Karim.’
‘Apa yang ingin kamu jadi di masa depan?’
Aku ingin menjadi seorang fotografer untuk menyampaikan gambaran yang benar tentang umat Muslim. Aku telah menyaksikan banyak film yang merusak citra umat Muslim, sebagaimana aku juga telah menyaksikan banyak film bagus tentang Islam yang diproduksi oleh orang-orang yang kuanggap sebagai teladan ideal dan mereka memeluk Islam pada tahun enam puluhan. Aku akan mempelajari Islam di Universitas Oxford, aku telah membaca bahwa mereka memiliki program yang baik dalam studi Islam.
Apakah kamu ingin belajar di dunia Islam? Maka dia menjawab dengan tegas, khususnya di Al-Azhar.
Ibunya ikut berkata, “Apakah kalian telah menonton film Tiga Raja? Itu adalah film tentang Perang Teluk, film yang luar biasa.” Di sini Muhammad mengungkapkan kekecewaannya dengan berkata, “Itu film yang buruk, aku sama sekali tidak menyukainya.” Dan di sini ibunya menambahkan: dia tidak menyukainya karena tentara Amerika membunuh beberapa Muslim tanpa alasan, tetapi secara keseluruhan itu adalah film yang bagus!
Apakah kamu mengalami kesulitan dalam hal makanan? Dan bagaimana kamu menghindari daging babi?
“Babi adalah hewan yang sangat kotor, aku heran bagaimana mereka makan dagingnya. Keluargaku tahu bahwa aku tidak makan daging babi jadi mereka tidak menyajikannya untukku, dan jika kami pergi ke restoran maka aku memberi tahu mereka bahwa aku tidak makan daging babi. Apakah kamu shalat di sekolah? Ya, dan aku telah menemukan tempat rahasia di perpustakaan untuk shalat setiap hari. Dan telah tiba waktu shalat Maghrib, maka dia melihat ke arahku sambil berkata: “Bolehkah aku mengumandangkan azan?” Kemudian dia berdiri dan mengumandangkan azan pada saat mataku berlinang air mata!
Dikutip dari koran Al-Wathan edisi nomor 134.
91-Nyonya Jerman Eva Maria
Nyonya Eva memulai kisahnya dengan berkata: Ketika aku mengenal Islam untuk pertama kalinya, aku sangat jauh dari segala jenis keyakinan agama, dan mungkin alasannya juga karena agama Kristenku telah tampak bagiku sama sekali tidak realistis, dan tidak mampu memecahkan masalah-masalah yang kuhadapi.
Penyimpangan Manusia dalam Agama:
Setelah itu Nyonya Eva Maria berbicara dengan lebih rinci tentang aspek ini, dia berkata: Aku menemukan sejak awal bahwa gambaran Tuhan pada orang Kristen sangat dekat dengan kita manusia dan telah ditambahkan padanya sifat-sifat manusia sampai tingkat yang membuatnya tidak sesuai dengan Pencipta segala sesuatu, sebagaimana gambaran Tuan Isa alaihissalam yang menggabungkan antara manusia dan sifat Pencipta, gambaran ini sama sekali tidak bisa dipercaya.
Kemudian dia menambahkan: Dan selain itu, terlintas dalam pikiranku bahwa agama Kristen tidak lain hanyalah hubungan antara manusia dengan Tuhannya, dan sama sekali tidak ada urusannya dengan hal-hal biasa manusia seperti urusan keuangan misalnya atau ketenagakerjaan atau jenis pengaturan apa pun untuk kehidupan manusia, ditambah lagi arahan-arahan umum yang kutemukan sulit untuk diterapkan. Dan di antaranya adalah prinsip cinta, cinta manusia kepada sesama manusia, prinsip ini tidak mungkin diterapkan oleh massa manusia dalam naungan akidah Kristen.
Islam Agama yang Haq dan Menyeluruh:
Dan di sini dia berbicara tentang titik balik dalam hidupnya, dia berkata:
Pemikiran-pemikiran ini yang ada dalam benakku terjadi pada periode yang disebut periode pemberontakan mahasiswa terhadap kapitalisme, ketika aku membahas masalah-masalah ini dengan seorang rekan Muslim yang kemudian menjadi suami bagiku, aku menemukan bahwa Islam telah mempertimbangkan semua masalah ini, dan sangat memperhatikannya seperti masalah eksploitasi atau hukum-hukum umum yang demokratis dan tidak demokratis serta masalah uang dan ekonomi.. dan lain-lain. Islam telah menciptakan solusi yang tepat untuk semua masalah duniawi ini. Dan betapa besar pengaruhnya terhadapku ketika aku mengetahui bahwa Islam mengakui manusia sebagai makhluk yang memiliki ruh dan jasad sekaligus, sebagaimana aku menyukai prinsip hubungan langsung antara manusia dengan Penciptanya tanpa perantara apa pun di antara keduanya, maka aku merasa bahwa sangat pantas bagi manusia untuk tunduk kepada Penciptanya saja, bukan kepada siapa pun dari makhluk-Nya!!
Dan Nyonya Eva Maria melanjutkan kisahnya: Demikian juga rekan Muslimku menjelaskan bahwa dalam Islam tidak ada pemisahan antara agama dan negara, maka aku benar-benar yakin dengan hal itu, karena aku merasa perlu bahwa iman dan keyakinan agama tidak hanya terbatas pada urusan pribadi saja, tetapi harus mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Dan ini adalah ciri khas dan karakteristik unik agama Islam yang lurus. Islam tidak mengangkat slogan “berikan apa yang milik Kaisar untuk Kaisar dan apa yang milik Allah untuk Allah”, tetapi sebaliknya persis karena ibadah dalam Islam tidak terbatas pada masjid-masjid saja tetapi meluas mencakup seluruh kehidupan manusia.
Tekanan Realitas dan Kehidupan Wanita:
Setelah penjelasan yang terang dan pemahaman yang benar tentang hakikat agama ini, Nyonya Eva menambahkan:
Ketika aku melewati tahap pengumpulan informasi dan melakukan studi agama ini, aku menghadapi beberapa kesulitan dan rintangan, dan sulit bagiku untuk menerima pembatasan yang dikenakan Islam pada wanita, yang pada waktu itu aku salah sangka bahwa hal itu membatasi kebebasan pribadinya, dan ini bagaimanapun adalah kebebasan dan kebebasan berlebihan yang sama yang biasa kukritik dalam agamaku sebelumnya, yaitu kebebasan yang salah dipahami dan disalahgunakan. Aku menemukan bahwa pemahaman teoritis adalah satu hal dan penerapan praktis adalah hal yang sama sekali berbeda, dan aku ingat di sini pakaian Islam untuk wanita pada awalnya adalah masalah besar bagiku, dan aku kira ini berlaku untuk sebagian besar wanita Jerman Muslim. Di samping perasaan tidak nyaman dan rasa panas yang sangat ketika wanita berpakaian lengkap di musim panas, sulit bagiku untuk bertahan menghadapi pertanyaan-pertanyaan mengejek dan meremehkan yang ditujukan kepadaku, dan hal itu berlangsung sampai Allah memberi petunjuk untuk menjawab dengan jawaban yang mulia dan mengembalikan harga diriku di hadapan diriku sendiri dan di hadapan manusia, tanpa merasa bahwa aku telah disakiti atau hargatku tercoreng.
Tangan Allah Bersama Jamaah: Dan di sini Nyonya Eva berkata: Kemudian aku berkenalan dengan sekelompok gadis-gadis Muslim, betapa besar pengaruhnya terhadapku atas apa yang kurasakan di antara anggota-anggotanya berupa cinta dan suasana persaudaraan yang menyelimuti semua, yaitu suasana yang sama sekali berbeda dari apa yang berlaku di antara kelompok mana pun yang kukenal sebelumnya, bergabung dengan kelompok Islam ini memberiku perasaan bahagia dan terjaga, dan dengan demikian aku yakin bahwa aku telah mengambil keputusan yang benar ketika menjadi Muslim, dan perasaan itu bagaikan kompensasi yang tepat untuk semua rintangan yang kuhadapi sebagai hasil dari keputusan ini.
Dan kami sekarang memiliki pertemuan mingguan untuk wanita Muslim dengan anak-anak kami di mana kami mempelajari lebih banyak tentang agama Islam baru kami.
Kemudian Nyonya Eva Maria menutup kisahnya dengan berkata:
Aku telah memilih sebuah buku dalam bahasa Inggris karya Imam Wahbi Ismail imam Muslim Albania di Amerika, yaitu tentang sirah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang kuterjemahkan ke dalam bahasa Jerman. Dan itu adalah karya yang khusus dibuat untuk anak Jerman Muslim.
Setelah itu. Sesungguhnya komunitas Islam baru telah mulai muncul di Jerman yang terdiri dari orang Jerman sendiri di samping orang-orang Turki Muslim yang bermigrasi ke Jerman, komunitas ini bersemangat menerapkan Islam dan hidup dalam naungannya, dan Nyonya Eva Maria adalah anggota komunitas ini. Kami memohon kepada Allah agar memberkahi perkumpulan yang baik ini.
92- Orang Amerika Casey Starbuck
Kesadaran awalku tentang ide keselamatan Kristen datang setelah pembaptisanku ketika aku masih usia dini di salah satu gereja Baptis Selatan. Aku telah diajarkan di sekolah Minggu: “Jika kamu tidak dibaptis, maka kamu akan pergi ke neraka”. Pembaptisanku terjadi karena aku ingin menyenangkan orang-orang. Aku bertanya kepada ibuku tentang pembaptisan -ketika dia datang ke kamarku pada salah satu malam- maka dia mendorongku untuk melakukannya. Dan demikianlah aku memutuskan pada hari Minggu berikutnya untuk pergi ke bagian depan ruang gereja. Selama nyanyian penutup khotbah, aku berjalan ke depan untuk menemui pendeta muda. Ada senyuman di wajahnya, dia menyambutku, dan duduk di sampingku di bangku panjang. Dia bertanya: “Mengapa kamu ingin melakukan ini?” … Aku menunggu sejenak kemudian berkata: “Karena aku mencintai Masih alaihissalam, dan aku tahu bahwa dia mencintaiku”. Dan setelah pernyataan ini selesai, anggota gereja datang kepadaku dan memelukku … upacara penyelaman dalam air akan dilakukan beberapa minggu kemudian. Selama tahun-tahun awal usiaku di gereja -bahkan di kelas taman kanak-kanak- aku ingat bahwa aku berpartisipasi dalam irama suara selama pelajaran sekolah Minggu. Kemudian -selama tahun-tahun remaja awalku- aku adalah anggota kelompok gadis-gadis muda, yang bertemu di gereja untuk kegiatan mingguan, dan berkemah tahunan untuk olah raga rohani. Dan pada masa kecilku aku menghadiri kemah dengan anggota yang lebih tua dariku dari kelompok pemuda. Dan meskipun aku tidak menghabiskan banyak waktu dengan mereka sebelumnya, mereka mengenalku “sebagai anak perempuan koordinator pemuda”, atau “gadis yang memainkan piano dalam acara gereja khusus”. Pada salah satu malam kemah ini ada seorang pria yang berbicara tentang pernikahannya. Dia menceritakan kisah pertemuannya dengan istrinya. Dia tumbuh di Amerika Serikat di mana kencan dianggap hal yang wajar, tetapi -dalam tradisi gadis itu- dia hanya bisa bertemu dengannya dengan ditemani seorang pengawal. Dan karena dia tertarik padanya maka dia memutuskan untuk terus bertemu dengannya. Dan ada syarat lain, yaitu bahwa mereka berdua tidak bisa saling menyentuh sampai mereka bertunangan. Dan setelah dia melamar, mereka diizinkan untuk berpegangan tangan. Ini membuatku bingung, dan masih membuatku merasa takjub. Sungguh indah memikirkan bahwa penemuan seperti itu tentang orang lain bisa tetap menjadi rahasia sampai pengakuan ini terjadi. Dan meskipun cerita itu menghiburku, aku tidak pernah mengira bahwa itu bisa terulang.
Beberapa tahun kemudian, orang tuaku bercerai, dan peran agama dalam hidupku berubah. Aku selalu melihat keluargaku melalui mata seorang anak, sehingga mereka ideal. Ayahku adalah diaken di gereja dan sangat dihormati, dan dikenal oleh semua orang. Dan ibuku aktif dalam kelompok pemuda. Ketika ibuku meninggalkan rumah, aku mengambil peran merawat ayah dan kedua saudaraku. Dan kami terus pergi ke gereja, tetapi karena kunjungan kami ke ibu di akhir pekan, kunjungan kami ke gereja menjadi berkurang. Ketika kami di rumah ayah, kami berkumpul di malam hari -dan setiap malam- untuk membaca “Surat Pertama kepada jemaat Korintus (1-13)” yang berbicara tentang cinta dan kebaikan. Dan aku mengulangi pembacaan bersama mereka berkali-kali sangat sering sampai aku hafalkannya. Itu merupakan sejenis dukungan moral untuk ayahku, meskipun aku tidak mengerti mengapa.
Dan dalam periode tiga tahun berturut-turut, kakak laki-lakiku yang tertua, kemudian adik laki-lakiku, kemudian aku pindah ke rumah ibu. Dan pada waktu itu ibu tidak lagi pergi ke gereja, dan demikianlah saudara-saudaraku menemukan bahwa pergi ke gereja tidak perlu. Dan dengan pindahku ke rumah ibu -selama tahun sebelum terakhir dari masa sekolah menengah- aku menjalin persahabatan baru, dan menemukan cara hidup yang berbeda. Pada hari sekolah pertamaku aku berkenalan dengan seorang gadis yang sangat baik. Dan pada hari sekolah berikutnya dia mengundangku untuk mengunjunginya di rumahnya selama akhir pekan, untuk bertemu keluarganya dan mengunjungi gerejanya. Keluarganya langsung menerimaku “sebagai gadis yang baik” dan “teladan yang baik” untuknya. Dan juga aku terkejut dengan jemaat yang datang ke gerejanya, meskipun aku adalah orang asing bagi mereka, semua wanita dan pria menyambutku dengan pelukan dan ciuman dan membuatku merasa disambut. Setelah menghabiskan waktu terus-menerus dengan keluarga ini, dan pergi ke gereja mereka di akhir pekan, mereka mulai menceritakan kepadaku tentang keyakinan khusus mereka di gereja mereka -“Gereja Kristus” alaihissalam. Sekte ini mengikuti Perjanjian Baru (atau penerapan harfiah tulisan-tulisan Paulus). Mereka tidak memiliki alat musik di gereja selama doa, hanya nyanyian vokal saja; dan tidak ada pendeta yang dibayar, tetapi beberapa orang tua memimpin doa. Dan wanita tidak diizinkan berbicara di gereja. Dan mereka tidak merayakan Natal, Paskah, dan hari raya lainnya. Dan anggur dan roti tak beragi disajikan bersama setiap hari Minggu. Dan pembaptisan dilakukan segera, pada saat orang berdosa memutuskan untuk menjadi beriman. Dan meskipun aku dianggap Kristen, anggota “Gereja Kristus” percaya bahwa aku akan pergi ke neraka jika aku tidak dibaptis lagi di gereja mereka dan dengan cara mereka. Ini adalah ledakan besar pertama dalam sistem kepercayaanku. Apakah aku tumbuh di gereja di mana semua yang ada di dalamnya dikerjakan dengan cara yang salah?! Dan apakah aku benar-benar harus dibaptis lagi?!
Pada titik ini aku berdiskusi dengan ibuku tentang akidah. Aku menceritakan kepadanya tentang kebingunganku, dan bahwa aku hanya butuh seseorang yang menjelaskan hal-hal kepadaku. Dan aku menjadi pengkritik ritual agama di semua gereja, karena para pendeta hanya menceritakan kisah-kisah kepada kami, dan tidak fokus pada Injil. Dan aku tidak bisa memahami: “Jika Injil sangat penting, mengapa tidak dibaca sendiri dalam doa gereja?”
Dan meskipun aku memikirkan pembaptisan setiap hari Minggu, dan selama periode sekitar dua tahun, aku tidak bisa maju untuk pembaptisan. Aku berdoa kepada Allah Ta’ala agar mendorongku ke depan jika melakukan itu benar, tetapi hal itu tidak pernah terjadi. Pada tahun berikutnya, aku pergi ke perguruan tinggi dan menjadi terpisah dari semua gereja, sebagai manusia yang memulai dari awal. Pada beberapa hari Minggu aku mengunjungi beberapa gereja dengan teman-teman, hanya untuk merasakan momen-momen kritik terhadap ritual agama. Aku mencoba bergabung dengan asosiasi mahasiswa Baptis, tetapi aku merasa bahwa hal-hal salah di sana juga. Aku datang ke perguruan tinggi percaya bahwa aku akan menemukan sesuatu yang menyerupai Gereja Kristus alaihissalam, tetapi yang seperti itu tidak ada. Dan ketika kebetulan aku kembali ke rumah ibu pada hari-hari libur mingguan, aku mengunjungi gereja untuk mendapatkan perasaan langsung partisipasi sosial dan sambutan.
Pada tahun kedua di perguruan tinggi aku menghabiskan hari-hari Minggu bernyanyi dalam paduan suara gereja “Wake Forest”, karena aku mendapat uang yang cukup baik. Dan meskipun aku tidak percaya pada keyakinan gereja, aku mentolerir ritual agama untuk mendapatkan uang. Dan pada bulan Oktober tahun ini aku bertemu seorang Muslim yang tinggal di asrama mahasiswa tempat aku tinggal. Dia adalah orang yang baik, dan selalu tampak sedang merenungkan atau tenggelam dalam pemikiran mendalam. Dan pada salah satu malam aku menghabiskan seluruh malam menanyakan beberapa pertanyaan filosofis kepadanya tentang iman dan agama. Dia berbicara tentang imannya sebagai Muslim Syiah Imami Ismailiyah. Dan meskipun ide-idenya tidak sepenuhnya mewakili sekte Islamnya (karena dia juga bingung dan mencari beberapa jawaban), pernyataan dasarnya membuatku mempertanyakan keyakinanku sendiri: apakah karena kami dilahirkan dalam agama ini, apakah itu berarti bahwa itu adalah agama yang benar? Dan hari demi hari aku bertemu dengannya dan mengajukan banyak pertanyaan -menginginkan tingkat interaksi yang sama dengannya, seperti yang terjadi ketika kami bertemu untuk pertama kali- tetapi dia tidak lagi menjawab pertanyaan-pertanyaanku, atau memenuhi kebutuhan spiritual yang kumiliki.
Pada musim panas berikutnya, saya bekerja di salah satu perpustakaan, dan saya melahap buku apa pun yang bisa saya temukan tentang Islam. Kemudian saya memperkenalkan diri kepada seorang Muslim lain di kampus universitas, dan mulai bertanya kepadanya tentang Islam. Alih-alih menjawab pertanyaan-pertanyaan saya, dia mengarahkan saya untuk membaca Al-Quran. Dan setiap kali saya memiliki pertanyaan umum tentang Islam, dia menjawabnya. Saya pergi ke masjid lokal dua kali selama tahun itu, dan saya senang merasakan semacam partisipasi sosial kembali.
Setelah membaca tentang Islam selama musim panas, saya menjadi lebih sensitif terhadap pernyataan-pernyataan yang dibuat tentang kaum Muslim. Dan ketika saya mengambil mata kuliah pengantar tentang Islam di pertengahan semester, saya merasa frustrasi ketika profesor membuat komentar-komentar yang salah, tetapi saya tidak tahu bagaimana mengoreksinya. Dan dalam kegiatan di luar studi universitas saya, saya menjadi pekerja aktif dan pendukung organisasi yang baru dibentuk di kampus kami yaitu “Islam Awareness Organization”. Dan karena saya adalah satu-satunya anggota perempuan, saya diperkenalkan kepada orang lain sebagai “Kristennya kelompok”. Dan setiap kali seorang Muslim mengatakan itu, saya menatapnya dengan bingung, karena saya mengira bahwa saya melakukan semua yang mereka lakukan, dan bahwa dengan demikian saya juga seorang Muslim. Saya telah berpantang makan daging babi dan menjadi vegetarian, saya tidak pernah menyukai alkohol, dan mulai berpuasa di bulan Ramadan yang mulia, tetapi masih ada perbedaan…
Di akhir tahun sebelum tahun terakhir, beberapa perubahan terjadi, saya memutuskan untuk menutupi rambut saya, untuk menyembunyikannya dari mata orang-orang. Sekali lagi saya memikirkannya sebagai sesuatu yang indah, dan saya memiliki ide bahwa hanya suami saya yang bisa melihat rambut saya. Bahkan tidak ada yang berbicara kepada saya tentang hijab… karena banyak saudari di masjid tidak memakainya. Pada musim panas itu, saya duduk di sekolah menjelajahi internet, mencari situs-situs tentang Islam. Saya ingin menemukan alamat email untuk orang-orang Muslim, tetapi saya tidak berhasil. Dan akhirnya saya berani masuk ke halaman yang merupakan situs perjodohan. Saya membaca beberapa iklan, dan mencoba menemukan orang-orang seusia saya untuk menulis kepada mereka tentang Islam. Dan saya mengawali surat-surat saya dengan kalimat: “Saya tidak mencari pernikahan, saya hanya ingin belajar tentang Islam”. Setelah beberapa hari, saya menerima tiga balasan dari tiga Muslim: surat dari seorang Pakistan yang belajar di Amerika Serikat, yang lain dari seorang Muslim India yang belajar di Inggris, dan yang terakhir dari seorang Muslim yang tinggal di Uni Emirat Arab. Setiap saudara memberikan bantuan kepada saya dengan cara yang unik, tetapi saya mulai berkorespondensi dengan Muslim Pakistan yang tinggal di Amerika Serikat, karena dia berada dalam zona waktu yang sama dengan daerah saya. Saya mengirim pertanyaan-pertanyaan kepadanya, dan dia mengirim jawaban-jawaban yang komprehensif dan logis. Dan pada titik ini saya tahu bahwa Islam adalah agama yang benar, semua orang sama terlepas dari warna kulit atau usia atau jenis kelamin atau ras, dll; dan dengan merujuk pada Al-Quran saya menerima jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang rumit. Saya mulai merasakan ikatan sosial yang berkualitas dengan kaum Muslim, saya memiliki kebutuhan yang kuat dan luar biasa untuk mengucapkan syahadat di masjid. Dan saya tidak lagi memiliki “ketakutan Kristen” untuk menyangkal Kristus sebagai Tuhan, saya telah percaya bahwa hanya ada satu Tuhan, dan bahwa Dia tidak dapat memiliki sekutu. Dan pada malam hari Kamis di bulan Juli 1997, saya berbicara melalui telepon dengan saudara Pakistan, dan mengajukan lebih banyak pertanyaan, dan menerima lebih banyak jawaban yang dapat dipercaya dan logis. Jadi saya memutuskan untuk pergi ke masjid keesokan harinya. Saya pergi ke masjid dengan seorang saudara Muslim dari “Wake Forest” dan saudarinya yang non-Muslim, tetapi saya tidak memberi tahu dia niat saya. Saya hanya menyebutkan bahwa saya ingin berbicara dengan imam setelah khutbah Jumat. Dan setelah imam menyelesaikan khutbahnya, dan sholat dengan kaum Muslim, dia datang untuk berbicara dengan saya. Saya bertanya kepadanya apa yang perlu dilakukan untuk menjadi seorang Muslim. Dia menjawab bahwa ada rukun-rukun utama Islam selain syahadat. Saya berkata kepadanya bahwa saya telah mempelajari Islam selama lebih dari satu tahun, dan saya siap untuk menjadi seorang Muslim. Saya mengucapkan di hadapannya bahwa saya “bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah”. Dan dengan demikian saya menjadi seorang Muslim pada tanggal 12 Juli 1997, alhamdulillahi rabbil alamiin.
Ini adalah langkah pertama dan besar. Kemudian setelah itu banyak pintu terbuka di hadapan saya, dan masih terus terbuka dengan nikmat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Saya pertama mulai belajar sholat, kemudian mengunjungi masjid lain di “Winston-Salem”, dan mulai mengenakan hijab dua minggu kemudian…
Selama bekerja di musim panas saya memiliki masalah dengan hijab. Para manajer tidak menyukainya, dan “meminta saya pergi” lebih awal. Mereka berpikir bahwa saya tidak bisa “melakukan” pekerjaan saya dalam menjual tas sekolah dengan baik, karena pakaian saya menghambat gerakan saya. Tetapi saya menemukan bahwa mengenakan hijab adalah proses pembebasan yang besar. Dan saya bertemu dengan kaum Muslim saat mereka berbelanja… setiap hari saya bertemu orang-orang baru, alhamdulillah.
Di tahun akademik terakhir, saya mengambil alih kepemimpinan organisasi kesadaran Islam universitas, karena saya menemukan bahwa saudara-saudara saya tidak seaktif yang seharusnya. Dan karena saya selalu mendorong mereka untuk melakukan beberapa hal, dan mengingatkan mereka tentang beberapa acara, mereka memanggil saya “Ibu Casey”. Dan selama semester kedua tahun terakhir saya mengambil mata kuliah pilihan tentang Islam, Kristen dan Yahudi. Dan semuanya baik, karena saya mewakili minoritas (Muslim) di masing-masing. Masya Allah, betapa indahnya mewakili Islam, dan memberitahu orang-orang kebenaran tentang kaum Muslim, dan tentang Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
93-Nyonya Jerman Iris Safwat
Iris Safwat – Jerman – salah satu wanita Barat yang iman masuk ke dalam hati mereka, kini hidup dalam kejernihan dan kebahagiaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Dia mengenal Islam di usia sepuluh tahun ketika menemukan bahwa ada sesuatu di dalam dirinya yang menariknya menuju Islam, dan pada tahun 1967 dia melakukan perjalanan ke London dan menyatakan keislamannya di pusat Islam di sana.
“Ash-Sharq Al-Awsat” bertemu dengan wanita Jerman ini di sela-sela Konferensi Islam Internasional keempat belas yang baru saja menyelesaikan kegiatannya di Kairo, dan dalam dialog berikut kita mengenal kisah keislamannya dan perjalanan imannya.
- Kapan Anda mengenal Islam dan apa perasaan Anda saat itu?
- Saya dibesarkan dalam keluarga Kristen sekuler yang menjauh dari gereja, dan ketika saya berusia sepuluh tahun saya merasa ada yang kurang dalam hidup saya, dan fitrah saya selalu tertarik pada agama dan saya mulai mencari agama untuk diri saya. Pada waktu itu saya membaca buku-buku tentang Islam dan saat itu saya merasa ada sesuatu yang menarik saya dengan kuat ke Islam sebagai agama samawi yang mengangkat martabat manusia dan membawa semua kebajikan dan akhlak yang mulia. Saya mulai tertarik pada agama ini dan berbicara kepada teman-teman sekolah saya tentang Islam dan bahwa saya menyukai agama ini, dan saat itu saya berusia dua belas tahun dan memang saya masuk Islam dan merahasiakan keislaman saya karena teman-teman mengatakan saya gila.
- Tapi bagaimana sikap keluarga Anda dan apakah mereka tahu tentang kisah keislaman Anda?
- Pada awalnya keluarga saya menganggap bahwa saya sedang melalui fase gangguan dan perubahan suasana hati, tetapi di Barat kami memiliki kebebasan dan jika anak-anak mencapai usia tiga belas tahun maka mereka berhak bertindak sesuka mereka dan mereka juga berhak meninggalkan orang tua mereka, oleh karena itu mereka memberikan kebebasan beragama kepada saya. Dan ketika saya mencapai sekolah menengah atas dan usia saya saat itu tiga belas tahun yaitu pada tahun 1967 dan saya sedang dalam perjalanan ke London dan pergi ke pusat Islam di sana dan bertemu dengan Syaikh Muhammad Al-Juyushi (mantan dekan Fakultas Dakwah Universitas Al-Azhar) dan dia adalah imam pusat tersebut, dan saya berkata kepadanya bahwa saya ingin menyatakan keislaman saya dan pergi ke Al-Azhar dan belajar agama Islam dan bahasa Arab. Saya juga bertemu dengan Syaikh Ahmad Hasan Al-Baquri (mantan Menteri Wakaf Mesir) saat itu dan dia berjanji kepada saya untuk belajar di Al-Azhar dan saya menyatakan keislaman saya di hadapan kedua syaikh dan mengucapkan kalimat tauhid. Pada tahun 1969 saya bepergian ke Mesir dan belajar bahasa Arab kemudian kembali ke Jerman untuk studi magister di Universitas Giessen dan selama studi magister saya bertemu dengan seorang pemuda Mesir yang sedang studi doktoral dan kami menikah dan bepergian pada tahun 1975 ke Mesir dan melanjutkan studi bahasa Arab dan pengetahuan saya tentang Islam bertambah.
- Lebih dari tiga puluh tahun sejak Anda memeluk Islam.. Periode ini tidak diragukan lagi cukup untuk membuat Anda menjadi pendakwah untuk keluarga Anda di Jerman, apakah Anda melakukan semacam kerja dakwah di sana?
- Ya, sejak momen pertama keislaman saya, saya milik agama ini dan berdakwah untuknya, dan alhamdulillah saya berhasil meyakinkan dua kerabat saya untuk masuk Islam yaitu nenek saya dan seorang pria lain dari kerabat saya. Dan mereka yang tidak masuk Islam, saya memberikan mereka gambaran tentang Islam dan ketika mereka mendengar saya, mereka menghormati Islam.
- Bagaimana hubungan Anda dengan keluarga Anda sekarang?
- Hubungan saya dengan keluarga saya di Jerman baik sejak saya menyatakan keislaman karena di Jerman ada toleransi dan penghormatan terhadap kebebasan beragama dan mereka menganggap bahwa agama adalah masalah pribadi.
- Saya ingin mengetahui kehidupan Anda sebelum Islam dan apakah di dalamnya ada jenis komitmen keagamaan atau tidak?
- Yang tidak diketahui dunia Islam dan Arab adalah bahwa agama di Barat adalah hal yang marjinal sampai tingkat ekstrem dan tidak ada komitmen keagamaan. Kekristenan tidak lebih dari sekedar nama, saya misalnya dibesarkan dalam keluarga sekuler Kristen yang tidak memiliki hubungan dengan gereja dan dibesarkan menurut fitrah.
- Apa hal yang paling menarik Anda ke Islam?
- Sebelum saya menyatakan keislaman, saya membaca tentang kepribadian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sirahnya, maka saya mencintai kepribadian ini sangat banyak karena keistimewaan yang dimilikinya yang tidak ditemukan pada manusia di muka bumi.
- Saya melihat bahwa pakaian yang Anda kenakan memiliki kesopanan dan martabat berbeda dengan wanita lain yang berpakaian terbuka, apakah ini komitmen internal?
- Syariat Islam sebagaimana yang saya pelajari memerintahkan wanita Muslim untuk berpakaian sopan dan dalam pakaian ini saya menemukan diri saya dan kenyamanan saya, dan saya tidak berlebihan jika saya katakan saya menemukan di dalamnya keanggunan dengan segala dimensinya. Kami di Barat tidak menerima paksaan terhadap sesuatu, tetapi kami melakukan apa yang kami yakini dan yakin, dan saya yakin dengan pakaian ini.
- Apakah Anda tahu bahwa Islam tidak memaksa siapa pun untuk memeluknya tetapi melarang siapa pun yang masuk untuk murtad darinya?
- Saya masuk Islam dengan keyakinan pribadi dan tanpa campur tangan atau pengaruh dari Muslim mana pun karena tidak ada Muslim sama sekali di pedesaan tempat saya dibesarkan. Dan kenyataan bahwa Islam tidak memaksa siapa pun untuk memeluknya dan menghukum siapa pun yang masuk Islam kemudian murtad, ini adalah puncak keadilan karena orang murtad akan melawan Islam dan memberikan gambaran buruk tentang agama dan ini termasuk main-main dengan agama-agama.
- Apa cita-cita Anda setelah masuk Islam?
- Pada awalnya cita-cita saya adalah agar Allah memuliakan saya dengan haji dan ziarah makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan saya telah menunaikan kewajiban ini pada tahun 1990. Dan setelah menunaikan haji, cita-cita saya dulu dan sekarang adalah menjadi pendakwah Islam. Beberapa teman menyarankan kepada saya untuk memberikan pelajaran kepada wanita-wanita di masjid-masjid di Mesir dan negara-negara Arab, tetapi saya lebih memilih untuk menyapa Barat dan menjelaskan kepada orang Barat konsep-konsep yang salah dan terdistorsi tentang Islam karena saya memahami budaya Barat dan dapat meyakinkan mereka.
- Mengapa dunia Barat mengambil sikap permusuhan terhadap Islam?
- Barat tidak membenci Islam sebagaimana yang dibayangkan tetapi mereka memiliki ide yang salah tentangnya karena menurut mereka Islam adalah terorisme dan kekerasan. Dan misalnya di Jerman kita menemukan bahwa rasisme atau penganiayaan yang dialami orang asing baik Muslim atau lainnya adalah karena faktor ekonomi karena orang Jerman melihat bahwa orang asing ini akan mengambil peluang kerja mereka dan oleh karena itu menolak kehadiran orang asing di antara mereka.
Sumber: Surat Kabar Ash-Sharq Al-Awsat 4-10-2002
94-Singapura Ihsan Jim Chua
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)
(Ihsan Chua Jim Sam -23 tahun, dan lahir dalam keluarga yang menganut agama Tao- beriman kepada Kristen karena ancaman ketika dia berusia sembilan tahun, dan setelah itu, pada masa remaja awalnya mengikuti ajaran Buddha, kemudian menemukan jalannya untuk masuk Islam. Kisah Ihsan diterbitkan dalam majalah “Al-Qari Al-Muslim” edisi Oktober-Desember, yang diterbitkan oleh Asosiasi Pemeluk Islam di Singapura.)
Mengacu pada makna hadits, sesungguhnya bayi dilahirkan seperti sepotong kain putih, maka orang tuanyalah yang mewarnainya dengan merah, atau hijau, atau kuning. Sesungguhnya orang tua saya penganut Tao, dan demikianlah saya dibesarkan dalam agama Tao sejak kelahiran saya. Selama tahun-tahun masa kanak-kanak saya, saya beriman dan menerima Taoisme, bahkan jika saya tidak tahu apa-apa tentangnya. Baru pada masa remaja saya bahwa saya menemukan bahwa Taoisme adalah agama penyembahan leluhur. Bahkan orang tua saya -seperti banyak penganut Tao lainnya- tidak repot-repot mengetahui sejarah agama ini, saya tidak diajarkan sejarah ajaran Tao. Saya menerima dan mempraktikkan agama ini hanya mengikuti apa yang disajikan kepada saya tanpa keraguan sedikit pun.
Ketika saya berusia sembilan tahun, guru sekolah bercerita kepada saya dan beberapa teman sekelas bahwa kita semua harus menjadi Kristen. Dan dia memberitahu kami bahwa jika kita tidak menjadi Kristen, maka kematian pasti akan menimpa kita sebagai hukuman karena tidak menjadi Kristen. Saya menjadi sangat takut dengan ancaman ini. Sejak saat itu saya menjadi penganut dua agama, Taoisme (karena keluarga saya) dan Kristen (karena ancaman). Ketika saya dewasa, saya tidak bisa memutuskan agama mana yang harus saya anut.
Selama tahun ketiga dan keempat di sekolah menengah, saya memilih mempelajari Buddhisme sebagai mata pelajaran dalam ilmu agama, karena dikenal sebagai mata pelajaran yang paling mudah dipelajari. Saya terpengaruh oleh ajaran Buddha karena sangat logis dan praktis. Dan konsep amal dalam Buddhisme menyentuh hati saya, sehingga saya mengikuti ajaran Buddha sebaik yang saya bisa, tetapi saya tidak menjadi seorang Buddha. Karena saya menemukan bahwa Buddhisme, meskipun didasarkan pada prinsip dan praktik yang baik, namun kekurangan kehadiran kekuatan tertinggi (Allah SWT). Ketika saya bergabung dengan St. Andrews Junior College, yang merupakan sekolah misi, wajib bagi semua siswa—kecuali yang Muslim—untuk menghadiri kebaktian sekolah hari Minggu. Selama kebaktian kami menyanyi dan mendengarkan ritual. Di akhir beberapa kebaktian, kami ditanya apakah ada di antara kami yang ingin masuk Kristen. Dan saya terpengaruh oleh salah seorang biarawan khususnya, karena saya menganggapnya “kuat” dalam berkhotbah. Dia menggunakan nubuatan dari Injil untuk membuktikan secara efektif “kebenaran” yang ada dalam Perjanjian Lama dan hubungannya dengan yang ada dalam Perjanjian Baru. Dan saya khususnya terpengaruh ketika dia berbicara tentang nubuatan-nubuatan yang ada dalam Perjanjian Lama dan terpenuhi dalam Perjanjian Baru. Dan minat saya bertambah ketika dia berbicara tentang hari akhir. Dia juga menghubungkan berbagai pengalaman yang dialami beberapa orang Kristen. Salah satu contohnya adalah tentang seorang wanita Kristen yang telah dinyatakan meninggal. Dan dalam “kematiannya” dia mengalami cobaan diseret dari kakinya ke neraka; dan entah bagaimana dia terbebas dan kembali hidup. Dan setelah kembali dari “kematian” dia menegaskan keberadaan Tuhan, kehidupan setelah mati, dan keberadaan neraka sebagaimana disebutkan dalam Injil. Demikianlah dimulai ketertarikan saya terhadap agama Orthodox Anglican. Saat itu saya berusia tujuh belas tahun. Tetapi meskipun demikian saya tidak bisa menetap di satu denominasi Kristen saja. Karena saya selalu berpindah dari satu gereja ke gereja lain. Saya masih mencari ketenangan batin, dan tidak bisa memutuskan ke gereja mana saya harus pergi. Ketika saya berada di tahun terakhir di militer, saya bertemu seorang teman yang membawa saya ke gerejanya (St. John St. Margaret), sehingga akhirnya saya merasa “di rumah” di gereja ini. Dan saya menjadi aktif dalam kegiatan gereja. Saya bertanggung jawab atas dua misi penginjilan, satu berkaitan dengan bekerja dengan anak-anak, sementara yang lain berkaitan dengan kegiatan olahraga. Dan saya berpartisipasi dalam perencanaan pendidikan untuk anak-anak. Melalui kegiatan ini disediakan pendidikan gratis untuk anak-anak sekolah, pada saat yang sama pesan Kristen disebarkan secara perlahan dan sopan. Anak-anak tersebut dari tingkat dasar, dan saya dipercayakan untuk merawat dua dari mereka, dan sebelum pengajaran apa pun ada sesi ibadah; kami menyanyikan lagu-lagu pujian, dan kami mengadakan sesi bercerita, di mana saya menceritakan kepada anak-anak cerita-cerita dari Injil.
Dan saya juga bekerja dengan tekun bersama kelompok olahraga gereja, kami melakukan karya penginjilan dengan meminta orang-orang bergabung dengan kami dalam bermain. Dan saya bertanggung jawab atas tim basket. Setiap minggu kami menyewa aula untuk bermain. Dan kami mengundang “orang luar” dan mencoba membimbing mereka ke Kristen dengan menjadi teladan bagi mereka, kami fokus pada semangat kerjasama dan kepedulian, jadi kami mencoba mengekspresikan kebajikan ini sebaik yang kami bisa. Dan selama itu, setelah latihan, kami mencoba mengajarkan Kristen kepada para pemuda tersebut, yang sebagian besar adalah remaja muda.
Konsep kegiatan olahraga sangat praktis, tidak hanya di Singapura tetapi juga di negara lain. Gereja saya adalah yang pertama di Singapura yang menawarkan konsep perawatan dan perhatian. Ketika saya masih aktif di gereja, saya berkenalan dengan seorang wanita Muslim dan mencoba membicarakan Kristen kepadanya. Tetapi dia memiliki tingkat keyakinan yang tinggi tentang kebenaran agamanya, meskipun dia tidak tahu bagaimana menjelaskan kebenaran ini kepada saya. Dan tidak ada cara saya bisa meyakinkannya tentang Kristen. Yang selalu membuat saya heran adalah bahwa banyak Muslim, bahkan mereka yang kecanduan narkoba, semuanya “yakin sampai mati” bahwa Islam adalah agama yang benar. Jadi saya memutuskan untuk bertanya kepada teman Muslim saya apa yang benar-benar benar tentang agamanya yang mendorong penganutnya untuk berpegang teguh padanya dan tidak meninggalkannya. Tetapi dia tidak tahu bagaimana menjelaskan hal ini kepada saya, dan sebagai gantinya dia memberitahu saya untuk mendapatkan informasi yang saya inginkan tentang Islam dari Dar al-Arqam, yang merupakan asosiasi mualaf Islam di Singapura. Saya setuju dengan sarannya meskipun saya menganggap Islam sebagai agama terorisme, dan sebagai agama yang tidak logis. Pemahaman saya mendikte bahwa jika agama itu baik maka penganutnya akan baik. Dan dalam kasus Muslim, yang saya kenal sedikit, mereka yang saya kenal adalah “Muslim yang tidak baik”. Saya ingat bahwa saya hanya mengenal satu wanita Muslim yang baik, dan itu selama tahun-tahun kuliah saya tetapi dia tidak melakukan upaya apa pun untuk menyampaikan pesan Islam kepada saya. Pada saat itu, ada beberapa Muslim yang mencoba menyebarkan pesan Islam kepada saya. Dan keluarga saya menentang Islam karena apa yang selalu terjadi di Timur Tengah; juga terjadi bahwa semua pekerja Malaysia yang dipekerjakan ayah saya adalah pemalas dan berperilaku buruk. Dan karena saya setuju untuk mengunjungi Dar al-Arqam, saya segera pergi ke asosiasi tersebut. Dalam kunjungan pertama saya, saya menghadiri pelajaran orientasi, dan diperkenalkan kepada Saudara Rimai. Dan saya terkejut dan tertarik dengan dua hal yang dia ceritakan kepada saya, yang pertama: dia menunjukkan kepada saya bahwa Islam tidak didasarkan pada hawa nafsu, tidak seperti Kristen. Saya merenungkan kata-kata ini dan terkejut dengan reaksi saya terhadapnya. Dan yang kedua: dia berkata: “Jangan terburu-buru masuk Islam, sampai kamu bertanya sebanyak yang kamu bisa, dan ketika tidak ada lagi yang tersisa untuk ditanyakan, barulah kamu masuk Islam.”
Dalam Kristen kamu tidak bisa mengajukan pertanyaan, karena jika kamu bertanya lebih banyak kamu akan menjadi lebih bingung. Dan setelah menjelaskan dua poin ini, Saudara Rimai merekomendasikan kelas orientasi untuk membaca buku “Islam in Focus”.
Saya terkejut dengan apa yang saya temukan dalam buku ini, beberapa topik yang saya anggap tidak logis dalam Kristen, dan tidak ada cara untuk memahaminya, saya menemukan jawabannya dalam buku ini. Dan saya juga terkejut bahwa saya menemukan dalam buku apa yang saya percayai, dan seperti yang saya temukan bahwa beberapa keyakinan Buddha sebenarnya adalah konsep Islam, ada banyak prinsip Buddha yang mirip dengan beberapa konsep Islam.
Minggu berikutnya saya kembali ke Dar al-Arqam untuk menghadiri kelas pemula, dan kelas telah menempuh setengah jalan melalui rukun Islam. Saya merasa pelajaran itu membosankan, jadi saya menghadiri satu atau dua sesi lalu meninggalkan kelas. Setelah itu saya membeli dua buku lain tentang Islam – “The Choice, Islam and Christianity” oleh Syekh Ahmad Deedat dan “Basis of Muslim Belief” oleh Gary Miller. Dan saya benar-benar terpengaruh olehnya. Saya bertemu Saudara Rimai lagi dan dia memperkenalkan saya kepada Profesor “Dhul Kifl”, yang mendiskusikan Islam dengan saya selama beberapa minggu. Pertanyaan apa pun yang menjadi dilema bagi saya tentang Kristen, yang tidak bisa saya tangani, saya masukkan dalam daftar dan saya tunjukkan kepada gereja saya dan kepada Trinity Theological College di Singapura. Dan itu membuat saya dalam posisi yang sangat sulit, karena saya tidak bisa menerima tanggapan mereka terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut, baik dari gereja maupun dari Trinity College. Karena saya menganggap bahwa menerima logika tanggapan mereka seolah-olah itu mencemarkan Allah SWT. Misalnya, ketika saya mencoba mendiskusikan kontradiksi dalam Injil, yang bisa mereka katakan kepada saya adalah bahwa ini adalah kontradiksi kecil, atau kesalahan kecil, atau kesalahan cetak, jadi saya harus melakukan penelitian sendiri untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada saya di Dar al-Arqam.
Bagian paling merusak dari penelitian saya adalah sejarah gereja, karena sejarah gereja itu sendiri menyoroti fakta bahwa konsep Trinitas diperkenalkan pada tahun 325 M, yaitu 325 tahun setelah “kematian” Kristus AS. Dan sebelum itu ada ajaran yang semuanya berbeda satu sama lain. Dan karena saya mendapatkan banyak informasi tentang Kristen dari sumber-sumber Islam, saya tidak yakin, jadi apa yang saya temukan tentang Kristen dari sumber-sumber Islam saya coba verifikasi dari berbagai ensiklopedia dan sumber lain, saya menemukan bahwa semua informasi yang saya dapatkan dari sumber-sumber Islam adalah fakta yang tak terbantahkan. Dan ketika saya melihat lebih dekat – lebih dekat dari sebelumnya – pada nubuatan yang mengatakan: “Roh kebenaran akan datang dan akan memimpin orang-orang kepada semua kebenaran” saya bisa melihat dengan jelas bahwa nubuatan itu merujuk pada Nabi Muhammad SAW dan pesannya. Nubuatan ini tidak merujuk pada Isa AS, karena orang-orang Kristen awal tidak bisa memutuskan tentang kepribadiannya. Dan sampai hari ini mereka masih memperdebatkan hal itu.
Selama mempelajari Islam, saya juga mencoba mempelajari sesuatu tentangnya dari buku-buku Kristen dan saya menemukan mereka jahat. Dengan pengetahuan yang saya miliki tentang Islam, saya bisa membantah semua klaim palsu yang dibuat-buat oleh orang-orang Kristen. Salah satu contohnya adalah klaim yang mereka buat-buat tentang Allah SWT dalam Islam – “bahwa Dia tampak sangat jauh, dan Dia tidak bisa berkomunikasi dengan makhluk-Nya.” (Maha Suci Dia dari apa yang mereka gambarkan). Saya tahu bahwa ini tidak benar karena Allah SWT dalam Islam lebih dekat kepada makhluk-Nya daripada urat nadi. “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (Qaf: 16). Dan orang-orang Kristen juga mengklaim bahwa Allah SWT kekurangan makna cinta. Saya tidak tahu bagaimana orang-orang Kristen bisa mengklaim hal seperti itu sementara ucapan “Bismillahirrahmanirrahim” adalah rutinitas harian bagi seorang Muslim. Selain itu ada 99 nama Allah SWT yang menyoroti makna cinta dan pemeliharaan ilahi tertinggi dalam Islam. Jadi saya harus menolak semua klaim yang dibuat orang-orang Kristen tentang Islam, karena saya harus adil pada diri saya sendiri. Semuanya dari sudut pandang gereja, dan saya harus menganggapnya sebagai kebohongan.
Setelah itu saya membaca buku “Muhammad dalam Injil” dan buku “Injil Tomas”. Sampai sekarang saya telah menerima banyak kejutan. Adapun “Gulungan Laut Mati” itu adalah kejutan terakhir yang menghancurkan keyakinan Kristen saya. Saya telah mencoba tetapi saya tidak menemukan alasan untuk tetap dalam Kristen. Saya telah melihat semua kepalsuan yang tidak pernah saya harapkan untuk melihatnya di dalamnya. Saya telah memeriksa dengan hati-hati dan dengan segala cara untuk memastikan, mungkin saya salah, sampai tidak ada yang tersisa untuk saya pastikan.
Saya melanjutkan belajar tentang Islam, dari Al-Qur’an dan dari buku-buku lain, dan dari guru-guru Muslim yang berjuang untuk membimbing saya ke jalan yang benar.
Dan suatu hari Profesor Dhul Kifl bertanya kepada saya: “Bukankah sudah saatnya kamu masuk Islam?” Saya tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Saya memikirkannya berulang-ulang, tetapi saya tidak menemukan satu alasan pun yang mencegah saya masuk Islam, dan kemudian saya memutuskan untuk menyatakan Islam, agama yang benar. Pada awalnya keluarga saya tidak menganggap serius konversi saya, mereka mengira saya menyatakan Islam hanya secara nama saja dan bahwa saya akan melanjutkan hidup saya sebagai non-Muslim dan makan daging babi. Kemudian, ketika keluarga saya menemukan bahwa saya telah menjadi Muslim yang taat terjadilah kekacauan besar. Dan hal-hal menjadi lebih kacau ketika saya mulai berpuasa Ramadan. Saya hampir diusir dari rumah. Dan keadaan ketegangan ini berlanjut selama beberapa bulan berikutnya. Selama itu saya tidak makan di rumah saya. Dan saya dituduh bahwa saya tidak lagi mencintai keluarga saya. Dan ada pertengkaran terus-menerus antara saya dan anggota keluarga saya. Saya mencoba menjelaskan Islam kepada mereka tetapi mereka tidak memahaminya.
Dan saya mengembangkan ketakutan kembali ke rumah, jadi saya akan tinggal sampai larut malam di luar. Dan suatu hari ibu saya datang kepada saya dan memberitahu saya untuk tidak pulang terlambat. Dan dia berkata bahwa ayah saya telah menyatakan kekhawatirannya tentang hal itu. Dan dia menyarankan agar saya membeli makanan saya sendiri dan dia akan menyiapkannya untuk saya secara terpisah. Adapun sekarang, sebagian besar anggota keluarga saya makan makanan halal di rumah, karena lebih nyaman bagi ibu saya untuk menyiapkan hidangan yang tidak hanya bisa dimakan oleh sebagian besar anggota keluarga tetapi juga putra Muslimnya. Situasi di rumah saya membaik, kecuali beberapa gangguan sesekali dan tidak berbahaya dari keluarga saya. Alhamdulillah.
TELADAN ADA PADA SAHABAT-SAHABAT RASUL
Selesai dengan pertolongan dan bimbingan Allah dan pada akhirnya untuk kamu yang mencari kebenaran, teladan ada pada sahabat-sahabat Rasul SAW yang dulunya dari Ahli Kitab kemudian memeluk Islam.. dan kami akan menyajikan di sini kisah-kisah mereka yang disiapkan oleh Dr. Muhammad al-Masir, profesor akidah dan filsafat di Universitas Al-Azhar.
Salman al-Farisi
Kami mulai dengan kisah sahabat mulia Salman al-Farisi radhiyallahu anhu. Yang terus mencari kebenaran selama bertahun-tahun hingga dia menemukannya. Saya tinggalkan kamu dengan kisahnya yang agung..
Kisah keislamannya adalah kumpulan situasi pencarian kebenaran, yang melampaui uang dan kedudukan bahkan mencapai situasi yang tidak kita ketahui bandingannya di mana dia kehilangan kebebasannya dan dijual sebagai budak dan bekerja sebagai pelayan.. semua itu agar dia mencapai tujuan iman yang meridhai Allah dengannya, dan di dalamnya dia mendapat kehormatan bertemu penutup para nabi dan rasul.
Asal-usulnya:
Dalam Shahih Bukhari dari Salman al-Farisi disebutkan: bahwa dia berpindah dari seorang tuan ke tuan yang lain selama belasan kali. Kitab-kitab sirah (riwayat hidup) penuh dengan kisah keislaman sahabat yang mencari kebenaran ini (lihat Ar-Raudh al-Anaf -1-247, As-Sirah al-Halabiyyah -1-303-, dan As-Sirah an-Nabawiyyah karya Ibnu Katsir -1-296). Dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa dia berasal dari Ramhurmuz, dan dalam riwayat lain: aku lahir di Ramhurmuz dan di sana aku dibesarkan, sedangkan ayahku dari Isfahan.
Ayahnya adalah seorang Majusi yang memiliki kedudukan tinggi dalam agama Majusi hingga menjadi dihqan (kepala) desanya, yaitu pemimpin penduduk desa. Dia membuat anaknya bersungguh-sungguh dalam agama Majusi hingga dia menjadi qattan an-nar, yaitu pelayan yang memelihara api suci (dengan fathah pada qaf dan kasrah pada tha’).
Suatu hari ayahnya mengirimnya ke ladang miliknya untuk mengurus urusan-urusan di sana. Dia melewati sebuah gereja dan mendengar suara-suara orang yang sedang shalat di dalamnya. Shalat mereka membuatnya kagum dan dia berkata: “Demi Allah, ini lebih baik dari agama yang kita anut.” Kemudian dia kembali kepada ayahnya pada waktu isya tanpa mengerjakan apapun di ladang dan menceritakan apa yang terjadi. Ayahnya takut anaknya akan meninggalkan agama nenek moyangnya, maka dia memasang belenggu di kakinya dan mengurungnya di rumah.
Hubungannya dengan Nasrani:
Namun akal yang mencari kebenaran menolak belenggu, baik yang bersifat jasmani maupun maknawi, dan menanti kesempatan. Dia pergi bersama rombongan dari penduduk Syam untuk bertanya tentang orang yang paling berilmu dalam agama ini. Mereka menunjukkannya kepada seorang uskup di gereja. Dia datang kepadanya untuk belajar darinya dan shalat bersamanya. Allah berkehendak agar uskup ini termasuk orang-orang yang disebutkan dalam Al-Qur’an al-Karim dalam firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya banyak dari para pemimpin agama dan rahib-rahib benar-benar memakan harta manusia dengan batil dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka berikanlah kabar gembira kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) azab yang pedih” (At-Taubah: 34).
Salman berkata: “Maka aku masuk bersamanya, ternyata dia adalah orang yang jahat. Dia menyuruh mereka bersedekah dan mendorong mereka untuk itu. Ketika mereka mengumpulkan sesuatu untuknya, dia menyimpannya untuk dirinya sendiri dan tidak memberikannya kepada orang-orang miskin, hingga dia mengumpulkan tujuh tempayan emas dan perak. Aku sangat membencinya karena melihat apa yang dia lakukan.”
Rahib ini mati dan digantikan oleh yang lain yang berlawanan dengannya, zuhud terhadap dunia, mengharapkan akhirat, dan tekun dalam ibadah. Salman tinggal bersamanya dan sangat mencintainya. Dia tinggal bersamanya dalam waktu yang lama hingga ajal menjemputnya. Salman meminta nasihatnya kepada siapa dia harus pergi setelahnya, maka dia menasihatinya untuk pergi kepada seorang laki-laki di “Nashihin”. Salman pergi ke “Nashihin” dan mendapati orang itu sebagai orang terbaik. Tak lama kemudian kematian menjemputnya, maka dia menasihati Salman untuk pergi kepada seorang laki-laki di “Ammuriyyah” dari tanah Rum. Salman tinggal bersamanya dan menetap di sana, serta memelihara sapi-sapi dan kambing-kambing untuk digembalakan.
Sekali lagi kematian menjemput orang itu, maka Salman bertanya kepadanya: “Kepada siapa engkau menyerahkanku? Dan apa yang engkau perintahkan kepadaku?” Pemilik “Ammuriyyah” berkata: “Wahai anakku, demi Allah, aku tidak mengetahui seseorang yang masih hidup di atas agama seperti yang kami anut yang bisa aku suruh engkau mendatanginya. Tetapi telah mendekat zaman seorang nabi yang diutus dengan agama Ibrahim, dia akan muncul di tanah Arab, berhijrah ke negeri antara dua tanah berbatu (harrah), di antaranya terdapat pohon kurma. Padanya terdapat tanda-tanda yang tidak tersembunyi: dia makan hadiah dan tidak makan sedekah, di antara kedua pundaknya terdapat stempel kenabian. Jika engkau mampu untuk sampai ke negeri itu, maka lakukanlah!”
Kedatangannya ke Yatsrib:
Orang itu meninggal, dan Salman tinggal di Ammuriyyah selama Allah kehendaki. Kemudian sekelompok pedagang Arab melewatinya, maka dia berkata kepada mereka: “Bawalah aku ke tanah Arab dan aku akan berikan kalian sapi-sapiku ini dan kambing-kambingku ini.” Para pedagang membawanya hingga ketika mereka sampai di Wadi al-Qura (tempat yang dekat dengan Madinah), mereka menghianatinya dan menjualnya sebagai budak kepada seorang Yahudi. Allah berkehendak agar sepupu Yahudi ini dari Bani Quraizhah datang dan membeli Salman darinya, lalu membawanya ke Yatsrib.
Salman berkata: “Demi Allah, begitu aku melihatnya (Yatsrib), aku langsung mengenalinya dengan ciri-ciri yang diberikan temanku kepadaku. Aku menetap di sana. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus, dan beliau tinggal di Makkah selama yang beliau tinggal. Aku tidak mendengar kabar tentang beliau karena kesibukan perbudakan. Kemudian beliau berhijrah ke Madinah. Demi Allah, aku sedang berada di puncak pohon kurma tuanku mengerjakan suatu pekerjaan, dan tuanku duduk di bawahku, tiba-tiba sepupunya datang hingga berhenti di hadapannya dan berkata: ‘Wahai fulan, semoga Allah membinasakan Bani Qailah (sebutan untuk kaum Anshar yang dinisbatkan kepada ibu mereka Qailah binti Kahil). Demi Allah, mereka sedang berkumpul sekarang di Quba dengan seorang laki-laki yang datang dari Makkah hari ini, mereka mengklaim bahwa dia adalah nabi!'”
“Ketika aku mendengarnya, aku gemetar hingga aku kira akan jatuh menimpa tuanku. Maka aku turun dari pohon kurma dan mulai berkata kepada sepupu tuanku: ‘Apa yang engkau katakan? Apa yang engkau katakan?’ Tuanku marah dan memukulku dengan keras, kemudian berkata: ‘Apa urusanmu dengan ini?! Kembali ke pekerjaanmu.'”
Pencarian Kabar Gembira:
Di sini dimulai tahap pembuktian dan penguatan dalam kehiduan beragama Salman. Harapan mendekatnya pencapaian tujuan menguasai dirinya, dan dia berusaha menyelidiki tiga wasiat yang dibawanya dari uskup Ammuriyyah.
Salman berkata: “Aku memiliki sesuatu yang telah aku kumpulkan. Ketika sore tiba, aku mengambilnya dan pergi dengannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang di Quba. Aku masuk menemuinya dan berkata: ‘Telah sampai kepadaku bahwa engkau adalah orang yang saleh, dan bersamamu ada sahabat-sahabat yang asing dan membutuhkan. Ini adalah sesuatu yang aku miliki untuk sedekah, aku melihat kalian lebih berhak mendapatkannya daripada yang lain.’ Aku mendekatkannya kepada beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada sahabat-sahabatnya: ‘Makanlah,’ tetapi beliau menahan tangannya dan tidak makan. Aku berkata dalam hatiku: ‘Ini yang pertama!'”
“Kemudian aku pergi darinya dan mengumpulkan sesuatu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pindah ke Madinah, kemudian aku datang kepadanya dan berkata: ‘Aku telah melihat bahwa engkau tidak makan sedekah, dan ini adalah hadiah yang aku persembahkan kepadamu.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam makan darinya dan menyuruh sahabat-sahabatnya untuk makan bersamanya. Aku berkata dalam hatiku: ‘Ini yang kedua!'”
“Kemudian aku datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Baqi’ al-Gharqad. Beliau telah mengikuti jenazah salah seorang sahabatnya, mengenakan dua helai kain, dan duduk bersama sahabat-sahabatnya. Aku memberi salam kepadanya kemudian berputar ke belakangnya untuk melihat punggungnya, apakah aku melihat stempel yang dijelaskan oleh temanku.”
(Imam as-Suhaili menyebutkan berbagai riwayat tentang stempel kenabian, di antaranya bahwa itu seperti bekas bekam, yaitu bekas alat bekam yang mencengkeram daging hingga menonjol. Dalam hadis disebutkan bahwa di sekelilingnya terdapat rambut-rambut hitam, dan dikatakan seperti apel atau telur merpati atau lutut kambing. Stempel itu terletak di antara kedua pundak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di bagian atas ujung tulang rawan bahu – Ar-Raudh al-Anaf 1-206)
“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat aku berputar ke belakangnya, beliau tahu bahwa aku sedang mencari kepastian tentang sesuatu yang dijelaskan kepadaku. Maka beliau melepas jubahnya dari punggungnya, aku melihat stempel itu dan mengenalinya. Aku mencium dan menangis. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku: ‘Putar ke depan.’ Maka aku berpaling ke hadapannya dan menceritakan kisahku kepadanya.”
Dari Ahlul Bait:
Salman disibukkan dengan perbudakan hingga dia tidak bisa ikut bersama Rasul yang mulia dalam perang Badr dan Uhud. Lalu apa solusinya? Bagaimana dia bisa bebas dari perbudakan, mengabdi kepada Islam dengan ikhlas, dan menjernihkan hatinya dari kekhawatiran kehidupan material?
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyarankan agar dia membuat perjanjian mukatabah dengan tuannya. Maka dia membuat perjanjian mukatabah dengan tiga ratus pohon kurma yang harus ditanam untuknya dan empat puluh uqiyyah emas.
Kaum muslimin ikut serta dalam membayar hutang ini untuk Salman. Mereka membawakan bibit kurma untuknya dan menggali lubang-lubang tempatnya bersama dia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang dan menanamnya dengan tangan mulianya, dan Salman pun merdeka. Perang pertama yang diikutinya adalah Ghazwah al-Ahzab (perang Ahzab), dan dia menyarankan kepada kaum muslimin untuk menggali parit di sekeliling Madinah. Ketika Rasul membagi pekerjaan penggalian parit antara Muhajirin dan Anshar, kaum Anshar berkata: “Salman dari kami,” dan kaum Muhajirin berkata: “Salman dari kami.”
Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Salman dari kami, Ahlul Bait!”
Kisah Zaid bin Sa’nah:
Demikian juga ada kisah Zaid bin Sa’nah radhiyallahu ‘anhu, salah seorang ulama Yahudi yang memeluk Islam.
Zaid menceritakan: “Tidak tersisa satu pun tanda kenabian kecuali telah aku kenali di wajah Muhammad ketika aku melihatnya, kecuali dua hal yang belum aku buktikan darinya:
- Kesabarannya mendahului kemarahannya
- Semakin keras kebodohan terhadapnya, semakin sabar dia menjadi.
Aku berusaha mendekatinya untuk bergaul dengannya dan mengetahui kesabaran dan kemarahannya. Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari kamar-kamarnya bersama Ali bin Abi Thalib. Seorang laki-laki datang kepadanya dengan tunggangannya seperti orang Badui dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kampung Bani Fulan telah masuk Islam dan mereka tertimpa paceklik dan kesulitan. Jika engkau berpendapat untuk mengirim sesuatu kepada mereka yang bisa membantu mereka, lakukanlah.’
Beliau tidak memiliki apa-apa!
Zaid berkata: ‘Maka aku mendekatinya dan berkata: ‘Wahai Muhammad, jika engkau berkenan menjual kepadaku kurma tertentu dari kebun Bani Fulan dengan tempo sekian dan sekian.’
Beliau bersabda: ‘Tidak wahai saudara Yahudi, tetapi aku jual kepadamu kurma tertentu dengan tempo sekian dan sekian, dan aku tidak menyebut kebun Bani Fulan.’
Aku berkata: ‘Baik.’ Maka beliau menjual kepadaku dan aku memberikan delapan puluh dinar, lalu beliau memberikannya kepada orang itu.”
Zaid berkata: “Ketika menjelang jatuh tempo dua atau tiga hari, Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam keluar mengikuti jenazah salah seorang Anshar bersama Abu Bakar, Umar, Utsman, dan beberapa sahabatnya radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Setelah beliau menyhalatkan jenazah, aku datang kepadanya, memegang kerah baju dan jubahnya, memandangnya dengan wajah keras, lalu berkata: ‘Tidakkah engkau berikan hakku wahai Muhammad?! Demi Allah, yang aku tahu tentang kalian wahai Bani Abdul Muthalib adalah buruk dalam pembayaran dan suka menunda-nunda!’
Aku melihat Umar dan matanya berputar di wajahnya, kemudian berkata: ‘Wahai musuh Allah, apakah engkau berkata kepada Rasulullah apa yang aku dengar? Demi Dzat yang mengutusnya dengan kebenaran, kalau bukan karena aku takut melewatkan batasnya, niscaya aku pukul kepalamu dengan pedangku!’
Rasulullah memandang Umar dengan diam dan tersenyum, kemudian bersabda: ‘Wahai Umar, aku dan dia lebih membutuhkan selain ini darimu, yaitu engkau menyuruhnya untuk menagih dengan baik dan menyuruhku untuk membayar dengan baik. Pergilah wahai Umar, bayar haknya dan tambahi dia dua puluh sha’ sebagai ganti karena telah membuatnya takut.’
Zaid berkata: “Umar pergi bersamaku, membayar hakku dan menambahiku. Maka aku masuk Islam.”
Zaid masuk Islam karena membenarkan akhlak agung Nabi yang ummi itu. Dia telah melalui pengalaman praktis, penelitian terhadap ciri-ciri kepribadian, dan bersentuhan langsung dengan pemilik dakwah hingga tergambar jelas tanpa kesamaran. Sesungguhnya mu’amalah adalah ujian akhlak.
Maka perlu ada renungan terhadap keadaan para tokoh yang mengumumkan keislaman mereka. Apakah menurut Anda mereka mencari tambahan ketenaran dan kedudukan setelah kaum muslimin mencapai apa yang mereka capai, ataukah mereka memilih mengikuti agama yang haq dari mana pun datangnya? Slogan mereka adalah “kebenaran lebih berhak untuk diikuti” dan mereka mengutamakan di atas kedudukan sosial dan ketenaran ilmiah mereka atas dampak-dampak yang akan mereka hadapi akibat keislaman mereka.
Para ulama dan tokoh ini telah mempersiapkan jalan bagimu untuk masuk Islam setelah kajian mendalam, pendalaman dalam perbandingan, dan keyakinan yang tidak menerima keraguan, masing-masing di bidangnya. Jadi jangan ragu jika ketenaran, kedudukan, atau status sosial menghalangimu dari mengumumkan keislamanmu, karena engkau akan pergi dari dunia ini bagaimanapun tingginya pencapaianmu, dan engkau akan dilupakan sebagaimana dilupakan orang-orang yang sepertimu atau lebih baik darimu. Seandainya dunia ini kekal untuk selain engkau, niscaya tidak akan sampai kepadamu. Pada saat itu seluruh dunia tidak sebanding dengan sesaat siksaan di akhirat.
Saudaramu Abdul Rahman Mahmoud







