PENYAKIT DAN OBATNYA
الدَّاءُ وَالدَّوَاءُ
Penulis:
Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa’d Syamsuddin Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (wafat 751 H)
Terjemah:
Muhamad Abid Hadlori, S.Ag.,Lc.
[Untuk Setiap Penyakit Ada Obatnya]
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Dan dengan-Nya kami memohon pertolongan
Apa pendapat para ulama yang terhormat, para imam agama – semoga Allah meridhai mereka semua – tentang seorang laki-laki yang ditimpa cobaan dan dia mengetahui bahwa jika cobaan itu terus berlanjut padanya, maka akan merusak dunia dan akhiratnya. Dia telah berusaha keras untuk menolak cobaan itu dari dirinya dengan segala cara, namun cobaan itu justru semakin membara dan bertambah berat. Maka apa cara untuk menolaknya? Dan apa jalan untuk menghilangkannya? Semoga Allah merahmati orang yang menolong orang yang tertimpa cobaan, dan Allah akan menolong hamba selama hamba itu menolong saudaranya. Berilah kami fatwa, semoga kalian mendapat pahala, semoga Allah Ta’ala merahmati kalian.
Maka menjawablah Syaikh Imam yang alim, Syaikhul Islam Mufti kaum muslimin, Syamsuddin Abu Abdullah bin Abi Bakr Ayyub, Imam Madrasah al-Jauziyyah rahimahullah Ta’ala.
Untuk Setiap Penyakit Ada Obatnya
Segala puji bagi Allah
Amma ba’du: Telah tetap dalam Shahih Bukhari dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Allah tidak menurunkan suatu penyakit kecuali Dia menurunkan obatnya.”
Dalam Shahih Muslim dari hadits Jabir bin Abdullah, dia berkata: Rasulullah bersabda: “Untuk setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat itu tepat untuk penyakitnya, maka akan sembuh dengan izin Allah.”
Dalam Musnad Imam Ahmad dari hadits Usamah bin Syarik dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menurunkan suatu penyakit kecuali Dia menurunkan obatnya. Yang mengetahuinya adalah orang yang mengetahuinya, dan yang tidak mengetahuinya adalah orang yang tidak mengetahuinya.” Dalam riwayat lain: “Sesungguhnya Allah tidak meletakkan suatu penyakit kecuali Dia meletakkan obat atau penawarnya, kecuali satu penyakit.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, penyakit apa itu?” Beliau menjawab: “Ketuaan.” At-Tirmidzi berkata: Ini adalah hadits shahih.
Obat Kebodohan adalah Bertanya
Ini mencakup penyakit-penyakit hati, ruh, dan badan serta obat-obatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjadikan kebodohan sebagai penyakit, dan menjadikan obatnya adalah bertanya kepada para ulama.
Abu Dawud meriwayatkan dalam Sunan-nya dari hadits Jabir bin Abdullah, dia berkata: “Kami keluar dalam suatu perjalanan, lalu seorang laki-laki dari kami tertimpa batu yang melukai kepalanya. Kemudian dia bermimpi basah, lalu dia bertanya kepada teman-temannya: ‘Apakah kalian menemukan keringanan bagi saya untuk bertayamum?’ Mereka menjawab: ‘Kami tidak menemukan keringanan bagimu, sedangkan kamu masih mampu menggunakan air.’ Maka dia mandi, lalu meninggal dunia. Ketika kami tiba di hadapan Rasulullah, beliau diberitahu tentang hal itu, maka beliau bersabda: ‘Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membunuh mereka. Mengapa mereka tidak bertanya ketika tidak mengetahui? Sesungguhnya obat kebodohan adalah bertanya. Cukup baginya untuk bertayamum dan membalut – atau mengikat – lukanya dengan kain, kemudian mengusapnya, dan membasuh seluruh tubuhnya yang lain.'”
Maka beliau memberitahukan bahwa kebodohan adalah penyakit, dan obatnya adalah bertanya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberitahukan tentang Al-Qur’an bahwa ia adalah obat. Allah Ta’ala berfirman: “Dan sekiranya Kami menjadikan Al-Qur’an itu dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: ‘Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?’ Apakah (patut Al-Qur’an) dalam bahasa asing sedang (rasulnya) orang Arab? Katakanlah: ‘Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan obat bagi orang-orang yang beriman.'” (Surat Fushshilat: 44)
Dan Allah berfirman: “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Surat Al-Isra’: 82).
Kata “min” (dari) di sini adalah untuk menjelaskan jenis, bukan untuk sebagian, karena Al-Qur’an seluruhnya adalah obat, sebagaimana disebutkan dalam ayat sebelumnya. Maka ia adalah obat bagi hati dari penyakit kebodohan, keraguan, dan keragu-raguan. Allah Subhanahu tidak pernah menurunkan dari langit suatu obat yang lebih umum, lebih bermanfaat, lebih agung, dan lebih berani dalam menghilangkan penyakit daripada Al-Qur’an.
Telah tetap dalam Shahihain dari hadits Abu Sa’id, dia berkata: “Beberapa orang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi dalam suatu perjalanan hingga mereka singgah pada suatu kabilah Arab. Mereka meminta dijamu, namun kabilah itu menolak menjamu mereka. Kemudian pemimpin kabilah itu disengat, lalu mereka berusaha mengobatinya dengan segala cara namun tidak ada yang bermanfaat. Sebagian mereka berkata: ‘Seandainya kalian mendatangi rombongan yang singgah itu, barangkali di antara mereka ada yang bisa mengobati.’ Maka mereka mendatangi rombongan itu dan berkata: ‘Wahai rombongan, pemimpin kami disengat, dan kami telah berusaha mengobatinya dengan segala cara namun tidak ada yang bermanfaat. Apakah di antara kalian ada yang bisa mengobati?’ Salah seorang dari mereka berkata: ‘Demi Allah, aku bisa meruqyah, tetapi demi Allah, kami telah meminta dijamu kepada kalian namun kalian menolak. Aku tidak akan meruqyah sampai kalian memberikan upah.’ Maka mereka sepakat dengan sejumlah kambing. Lalu dia pergi meludahi pemimpin itu sambil membaca: ‘Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam’ (Al-Fatihah). Seolah-olah dia terlepas dari ikatan, lalu dia berjalan tanpa ada keluhan apa pun. Mereka memberikan upah yang telah disepakati. Sebagian berkata: ‘Bagilah!’ Orang yang meruqyah berkata: ‘Tidak, sampai kita menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan apa yang terjadi, lalu kita lihat apa yang beliau perintahkan.’ Mereka menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan hal itu kepadanya. Beliau bersabda: ‘Dari mana kamu tahu bahwa itu adalah ruqyah?’ Kemudian beliau berkata: ‘Kalian telah berbuat benar. Bagilah dan berilah aku bagian bersama kalian.'”
Obat ini telah berpengaruh pada penyakit ini dan menghilangkannya seolah-olah tidak pernah ada. Ini adalah obat yang paling mudah dan paling ringan. Seandainya seorang hamba pandai berobat dengan Al-Fatihah, niscaya dia akan melihat pengaruh yang menakjubkan dalam penyembuhan.
Aku pernah tinggal di Makkah beberapa waktu, aku diserang berbagai penyakit dan tidak menemukan dokter maupun obat. Maka aku mengobati diriku dengan Al-Fatihah, dan aku melihat pengaruh yang menakjubkan. Aku menjelaskan hal itu kepada orang yang mengeluh sakit, dan banyak di antara mereka yang sembuh dengan cepat.
Namun ada hal yang perlu diperhatikan, yaitu bahwa zikir-zikir, ayat-ayat, dan doa-doa yang digunakan untuk pengobatan dan ruqyah, pada dasarnya bermanfaat dan menyembuhkan, tetapi memerlukan penerimaan dari tempat (yang diobati), kekuatan tekad dari pelaku, dan pengaruhnya. Apabila kesembuhan tidak terjadi, itu karena lemahnya pengaruh pelaku, atau tidak adanya penerimaan dari yang diobati, atau adanya penghalang yang kuat padanya yang menghalangi obat untuk bekerja, sebagaimana yang terjadi pada obat-obatan dan penyakit-penyakit fisik. Ketidakberpengaruhannya bisa jadi karena tidak diterimanya obat oleh tubuh, atau karena adanya penghalang kuat yang menghalangi bekerjanya obat. Apabila tubuh menerima obat dengan penerimaan yang sempurna, maka manfaat badan akan sesuai dengan tingkat penerimaan itu. Demikian pula hati, apabila menerima ruqyah dan ta’awwudz dengan penerimaan yang sempurna, dan bagi peruqyah ada jiwa yang aktif dan tekad yang berpengaruh dalam menghilangkan penyakit.
[Doa Menolak yang Tidak Disukai]
Demikian pula doa, ia adalah salah satu sebab yang paling kuat dalam menolak yang tidak disukai dan mendapatkan yang diinginkan. Namun kadang pengaruhnya tidak muncul, baik karena lemahnya doa itu sendiri – yaitu doa yang tidak disukai Allah karena mengandung kezaliman – atau karena lemahnya hati dan tidak menghadapkan diri kepada Allah serta tidak fokus kepada-Nya saat berdoa, sehingga menjadi seperti busur yang sangat kendor, maka anak panah keluar darinya dengan lemah, atau karena adanya penghalang dari dikabulkannya doa: seperti memakan haram, kezaliman, karatan dosa-dosa di hati, dominasi kelalaian, syahwat, dan permainan serta mengalahkannya.
Sebagaimana dalam Mustadrak Al-Hakim dari hadits Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan.”
“Dan ketahuilah bahwa Allah tidak menerima doa dari hati yang lalai dan lengah.” Maka ini adalah obat yang bermanfaat dan menghilangkan penyakit, tetapi lalainya hati dari Allah membatalkan kekuatannya. Demikian pula memakan haram membatalkan kekuatannya dan melemahkannya.
Sebagaimana dalam Shahih Muslim dari hadits Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang mukmin dengan apa yang diperintahkan-Nya kepada para rasul. Allah berfirman: ‘Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.'” (Surat Al-Mu’minun: 51)
Dan Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.” (Surat Al-Baqarah: 172)
Kemudian beliau menyebutkan seorang laki-laki yang memperpanjang perjalanan, berambut kusut, berdebu, mengangkat tangannya ke langit: “Ya Rabb, ya Rabb,” sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi makan dengan yang haram, maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan?”
Abdullah bin Ahmad menyebutkan dalam Kitab Az-Zuhd karya ayahnya: Bani Israil ditimpa bencana, lalu mereka keluar (untuk berdoa). Maka Allah ‘azza wa jalla mewahyukan kepada nabi mereka untuk memberitahu mereka: “Sesungguhnya kalian keluar ke dataran dengan badan-badan yang najis, dan mengangkat kepada-Ku telapak tangan yang telah kalian gunakan untuk menumpahkan darah, dan memenuhi rumah-rumah kalian dengan haram. Sekarang ketika murka-Ku telah sangat keras atas kalian? Kalian tidak akan bertambah dari-Ku kecuali jauh.”
Abu Dzar berkata: “Cukup dari doa beserta kebajikan, sebagaimana cukupnya garam untuk makanan.”
[Pasal: Doa adalah Obat yang Paling Bermanfaat]
Doa adalah salah satu obat yang paling bermanfaat, dan ia adalah musuh bala. Ia menolaknya, mengobatinya, mencegah turunnya, mengangkatnya, atau meringankannya ketika turun. Ia adalah senjata orang mukmin.
Sebagaimana diriwayatkan Al-Hakim dalam Shahih-nya dari hadits Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Doa adalah senjata orang mukmin, tiang agama, dan cahaya langit dan bumi.”
Doa Memiliki Tiga Kedudukan dengan Bala
Pertama: Doa lebih kuat dari bala sehingga menolaknya.
Kedua: Doa lebih lemah dari bala sehingga bala mengalahkannya, maka hamba tertimpa bala, tetapi doa mungkin meringankannya walaupun lemah.
Ketiga: Keduanya berimbang dan masing-masing menghalangi yang lain.
Al-Hakim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kehati-hatian tidak akan menghindarkan dari takdir. Doa bermanfaat terhadap apa yang turun dan apa yang belum turun. Sesungguhnya bala turun lalu bertemu dengan doa, maka keduanya saling bergulat hingga hari kiamat.”
Dalam riwayat lain dari hadits Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Doa bermanfaat terhadap apa yang turun dan apa yang belum turun. Maka berpegang teguhlah wahai hamba-hamba Allah dengan doa.”
Dalam riwayat lain dari hadits Tsauban dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa, tidak ada yang menambah umur kecuali kebajikan, dan sesungguhnya seseorang dapat terhalang rezekinya karena dosa yang diperbuatnya.”
Pasal Mendesak dalam Doa
Di antara obat yang paling bermanfaat adalah mendesak dalam doa.
Ibnu Majah meriwayatkan dalam Sunan-nya dari hadits Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa tidak meminta kepada Allah, maka Allah murka kepadanya.”
Dalam Shahih Al-Hakim dari hadits Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jangan lemah dalam berdoa, karena tidak ada yang binasa bersama doa.”
Al-Auza’i menyebutkan dari Az-Zuhri dari Urwah dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang mendesak dalam doa.”
Dalam Kitab Az-Zuhd karya Imam Ahmad dari Qatadah, dia berkata: Muwarriq berkata: “Aku tidak menemukan perumpamaan bagi orang mukmin kecuali seperti seorang laki-laki di laut di atas sepotong kayu, dia berdoa: ‘Ya Rabb, ya Rabb,’ mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla menyelamatkannya.”
[Pasal: Kerusakan-kerusakan Doa]
Di antara kerusakan yang menghalangi bekerjanya pengaruh doa adalah: hamba tergesa-gesa dan menganggap lambat dikabulkannya doa, sehingga menjadi lelah dan meninggalkan doa. Ia seperti orang yang menanam benih atau menanam tanaman, lalu selalu merawat dan menyiraminya. Ketika menganggap lambat sempurna dan matangnya, dia meninggalkannya dan mengabaikannya.
Dalam Bukhari dari hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selama dia tidak tergesa-gesa, yaitu berkata: ‘Aku telah berdoa tetapi tidak dikabulkan bagiku.'”
Dalam Shahih Muslim dari hadits tersebut: “Doa hamba akan terus dikabulkan selama dia tidak berdoa untuk dosa atau memutus silaturahmi, selama dia tidak tergesa-gesa. Ditanyakan: ‘Ya Rasulullah, apa itu tergesa-gesa?’ Beliau menjawab: ‘Yaitu berkata: Aku telah berdoa, aku telah berdoa, tetapi aku tidak melihat dikabulkan bagiku, maka dia menjadi lelah dan meninggalkan doa.'”
Dan dalam Musnad Ahmad dari hadis Anas, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang hamba akan senantiasa dalam kebaikan selama ia tidak tergesa-gesa.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, bagaimana seseorang dikatakan tergesa-gesa?” Beliau menjawab: “Yaitu ketika ia berkata: ‘Aku telah berdoa kepada Rabbku tetapi Dia tidak mengabulkan doaku.'”
Pasal: Waktu-Waktu Dikabulkannya Doa
Apabila seseorang menggabungkan dengan doa hadirnya hati dan memusatkan seluruh perhatiannya pada yang diminta, dan bertepatan dengan salah satu dari enam waktu dikabulkannya doa, yaitu: Sepertiga malam yang terakhir, ketika adzan, antara adzan dan iqamah, setelah shalat-shalat fardhu, ketika imam naik mimbar pada hari Jumat hingga shalat selesai pada hari itu, dan saat terakhir setelah Ashar.
Dan bertepatan dengan khusyuk dalam hati, patah hati di hadapan Rabb, merendah kepada-Nya, memohon dengan sangat, dan kelembutan hati.
Dan si pendoa menghadap kiblat.
Dan dalam keadaan suci.
Dan mengangkat kedua tangannya kepada Allah.
Dan memulai dengan memuji Allah dan memuji-Nya.
Kemudian dilanjutkan dengan shalawat kepada Muhammad, hamba dan rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kemudian mendahulukan sebelum kebutuhannya dengan taubat dan istighfar.
Kemudian masuk kepada Allah, dan mendesak-Nya dalam permintaan, merayu-Nya dan berdoa kepada-Nya dengan rasa rindu dan takut.
Dan bertawasul kepada-Nya dengan nama-nama, sifat-sifat dan keesaan-Nya.
Dan mendahulukan sebelum doanya dengan shadaqah, maka doa seperti ini hampir tidak pernah ditolak sama sekali, terlebih lagi jika bertepatan dengan doa-doa yang telah diberitahukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa itu adalah tempat dikabulkannya doa, atau mengandung Asma al-A’zham (nama Allah yang paling agung).
Di antaranya adalah yang terdapat dalam Sunan dan Shahih Ibnu Hibban dari hadis Abdullah bin Buraidah dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seorang laki-laki berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan bersaksi bahwa Engkau adalah Allah, tiada tuhan selain Engkau, Yang Maha Esa, Yang Maha Dibutuhkan, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada yang setara dengan-Nya seorang pun.” Maka beliau bersabda: “Sungguh ia telah memohon kepada Allah dengan nama yang apabila dimohon dengan nama itu Dia mengabulkan, dan apabila dipanggil dengan nama itu Dia menjawab.” Dalam lafadz lain: “Sungguh engkau telah memohon kepada Allah dengan Asma-Nya al-A’zham.”
Dan dalam Sunan dan Shahih Ibnu Hibban juga dari hadis Anas bin Malik bahwa ia bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk dan ada seorang laki-laki yang shalat, kemudian berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu karena bagi-Mu segala puji, tiada tuhan selain Engkau, Yang Maha Pemberi Karunia, Pencipta langit dan bumi, wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan, wahai Yang Maha Hidup, wahai Yang Maha Berdiri Sendiri.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh ia telah berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yang agung yang apabila dipanggil dengan nama itu Dia menjawab, dan apabila diminta dengan nama itu Dia memberi.”
Kedua hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya.
Dan dalam Jami’ at-Tirmidzi, dari hadis Asma binti Yazid bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Asma Allah al-A’zham terdapat dalam dua ayat ini: ‘Dan Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang’ (QS. Al-Baqarah: 163) dan pembukaan Ali Imran: ‘Alif Lam Mim. Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Yang Maha Berdiri Sendiri’ (QS. Ali Imran: 1-2).” At-Tirmidzi berkata: Ini adalah hadis hasan shahih.
Dan dalam Musnad Ahmad dan Shahih al-Hakim dari hadis Abu Hurairah, Anas bin Malik, dan Rabi’ah bin Amir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Berpegangteguhlah dengan ‘Ya Dzal Jalali wal Ikram'” – maksudnya: berpeganglah dengannya, lazimkanlah dan rutinkanlah.
Dan dalam Jami’ at-Tirmidzi dari hadis Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila ada urusan yang mencemaskan beliau mengangkat kepalanya ke langit, dan apabila bersungguh-sungguh dalam berdoa, beliau berkata: “Ya Hayyu ya Qayyum.”
Dan di dalamnya juga dari hadis Anas bin Malik, ia berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila ada urusan yang menyulitkan beliau berkata: ‘Ya Hayyu ya Qayyum, dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan.'”
Dan dalam Shahih al-Hakim dari hadis Abu Umamah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Asma Allah al-A’zham terdapat dalam tiga surat dari Al-Qur’an: Al-Baqarah, Ali Imran, dan Thaha.” Al-Qasim berkata: “Aku mencarinya dan ternyata itu adalah ayat ‘Al-Hayyu al-Qayyum’.”
Dan dalam Jami’ at-Tirmidzi dan Shahih al-Hakim dari hadis Sa’d bin Abi Waqqash dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Doa Dzun Nun ketika ia berdoa dalam perut ikan paus: ‘Tidak ada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim’ (QS. Al-Anbiya: 87). Sesungguhnya tidaklah seorang muslim berdoa dengannya dalam suatu urusan melainkan Allah akan mengabulkan doanya.” At-Tirmidzi berkata: Hadis shahih.
Dan dalam Mustadrak al-Hakim juga dari hadis Sa’d dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Maukah aku beritahukan kepada kalian sesuatu yang apabila menimpa seseorang di antara kalian suatu urusan penting, lalu ia berdoa dengannya, Allah akan melapangkan darinya? Yaitu doa Dzun Nun.”
Dan dalam Shahihnya juga dari Sa’d bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Maukah aku tunjukkan kepada kalian Asma Allah al-A’zham? Yaitu doa Yunus.” Seorang laki-laki berkata: “Ya Rasulullah, apakah itu khusus untuk Yunus?” Beliau menjawab: “Tidakkah engkau mendengar firman-Nya: ‘Maka Kami mengabulkan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman’ (QS. Al-Anbiya: 88). Maka siapa saja muslim yang berdoa dengannya dalam sakitnya empat puluh kali, jika ia meninggal dalam sakit itu maka ia diberi pahala syahid, dan jika ia sembuh maka ia sembuh dalam keadaan diampuni.”
Dan dalam Shahihain dari hadis Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata ketika dalam kesedihan: “Tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Agung lagi Maha Penyantun, tidak ada tuhan selain Allah Rabb al-Arsy al-Azhim, tidak ada tuhan selain Allah Rabb langit yang tujuh, Rabb bumi, dan Rabb al-Arsy al-Karim.”
Dan dalam Musnad Imam Ahmad dari hadis Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepadaku apabila aku ditimpa kesedihan untuk berkata: ‘Tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Penyantun lagi Maha Mulia, Maha Suci Allah dan Maha Berkah Allah Rabb al-Arsy al-Azhim, dan segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.'”
Dan dalam Musnadnya juga dari hadis Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada seorang pun yang ditimpa kecemasan dan kesedihan, lalu ia berkata: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak laki-laki hamba-Mu, anak laki-laki hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku di tangan-Mu, berlaku atas diriku keputusan-Mu, adil atas diriku ketetapan-Mu. Aku memohon kepada-Mu ya Allah dengan setiap nama yang Engkau miliki, yang Engkau namakan untuk diri-Mu sendiri, atau Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau khususkan dalam ilmu ghaib di sisi-Mu, agar Engkau jadikan Al-Qur’an al-Azhim sebagai penyubur hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihanku, dan hilangnya kecemasanku; melainkan Allah akan menghilangkan kecemasan dan kesedihannya, dan menggantikannya dengan kegembiraan.'” Lalu ditanya: “Ya Rasulullah, tidakkah kami mempelajarinya?” Beliau menjawab: “Ya, patut bagi siapa yang mendengarnya untuk mempelajarinya.”
Dan Ibnu Mas’ud berkata: “Tidak ada nabi dari para nabi yang bersedih melainkan meminta pertolongan dengan tasbih.”
Dan Ibnu Abi ad-Dunya menyebutkan dalam kitab al-Mujabun dan dalam ad-Du’a dari al-Hasan, ia berkata: “Ada seorang laki-laki dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kalangan Anshar yang berkunyah Abu Mu’allaq. Ia adalah seorang pedagang yang berdagang dengan hartanya dan harta orang lain, berkeliling ke berbagai negeri, dan ia adalah orang yang ahli ibadah dan wara’. Suatu kali ia keluar dan bertemu dengan seorang perampok bersenjata yang berkata kepadanya: ‘Letakkan apa yang bersamamu karena aku akan membunuhmu.’ Ia berkata: ‘Apa yang kau inginkan dari darahku? Ambillah hartanya.’ Perampok itu berkata: ‘Adapun harta itu untukku, dan aku tidak menginginkan selain darahmu.’ Ia berkata: ‘Jika engkau menolak, maka biarkan aku shalat empat rakaat.’ Perampok itu berkata: ‘Shalatlah sesuka hatimu.’ Maka ia berwudhu kemudian shalat empat rakaat. Di antara doanya dalam sujud terakhirnya ia berkata: ‘Ya Wadud ya Wadud, ya Dzal Arsy al-Majid, ya Fa”alan lima turid, aku memohon kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu yang tidak dapat dilawan, dengan kekuasaan-Mu yang tidak dapat diganggu gugat, dengan cahaya-Mu yang memenuhi rukun-rukun arsy-Mu, agar Engkau cukupkan aku dari kejahatan perampok ini. Ya Mughits, tolonglah aku,’ tiga kali. Tiba-tiba ada seorang penunggang kuda yang datang dengan membawa tombak yang diletakkan di antara telinga kudanya. Ketika perampok melihatnya, ia menghampiri penunggang kuda itu, lalu penunggang kuda itu menikamnya hingga mati. Kemudian ia mendatangi Abu Mu’allaq dan berkata: ‘Berdirilah.’ Abu Mu’allaq berkata: ‘Siapakah engkau, semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu? Sungguh Allah telah menolongku dengan perantaraanmu hari ini.’ Ia menjawab: ‘Aku adalah malaikat dari penduduk langit keempat. Engkau berdoa dengan doa pertamamu maka aku mendengar kegaduhan pintu-pintu langit. Kemudian engkau berdoa dengan doa keduamu maka aku mendengar keributan penduduk langit. Kemudian engkau berdoa dengan doa ketigamu maka dikatakan kepadaku: Ini doa orang yang dalam kesulitan. Maka aku meminta kepada Allah agar Dia menyerahkan pembunuhannya kepadaku.'” Al-Hasan berkata: “Barangsiapa berwudhu dan shalat empat rakaat serta berdoa dengan doa ini, maka akan dikabulkan untuknya, baik ia dalam kesulitan maupun tidak.”
Seringkali engkau dapati doa-doa yang didoakan oleh suatu kaum lalu dikabulkan untuk mereka, padahal yang terjadi adalah doa itu bertepatan dengan kebutuhan mendesak si pendoa dan perhatiannya kepada Allah, atau kebaikan yang telah ia lakukan sebelumnya sehingga Allah Subhanahu menjadikan pengabulan doanya sebagai syukur atas kebaikannya, atau bertepatan dengan waktu dikabulkannya doa, dan semacam itu, maka doanya dikabulkan. Lalu orang yang menyangka mengira bahwa rahasia ada pada lafadz doa itu, maka ia mengambilnya terlepas dari hal-hal yang menyertainya dari si pendoa tersebut. Ini seperti apabila seseorang menggunakan obat yang bermanfaat pada waktu yang tepat untuk penggunaannya dengan cara yang seharusnya, maka ia mendapat manfaat darinya. Lalu orang lain menyangka bahwa penggunaan obat ini dengan sendirinya cukup untuk memperoleh yang diinginkan, maka ia keliru. Dan ini adalah tempat di mana banyak orang tergelincir.
Dari hal ini terkadang seseorang berdoa dalam keadaan terpaksa di sebuah kuburan lalu dikabulkan, maka orang yang bodoh menyangka bahwa rahasianya terletak pada kuburan, padahal ia tidak tahu bahwa rahasianya adalah karena keterpaksaan dan kesungguhan berlindung kepada Allah. Jika hal itu terjadi di salah satu rumah Allah, maka itu lebih utama dan lebih dicintai oleh Allah.
Pasal: Syarat-Syarat Doa Yang Dikabulkan
Doa-doa dan ta’awwudz (perlindungan) seperti senjata, dan senjata tergantung pada yang menggunakannya, bukan hanya pada ketajamannya saja. Apabila senjata itu senjata yang sempurna tanpa cacat, lengan yang kuat, dan penghalang tidak ada, maka akan terjadi kerusakan pada musuh. Apabila salah satu dari tiga hal ini tidak ada maka pengaruhnya tidak akan terjadi. Jika doa itu sendiri tidak baik, atau si pendoa tidak menyatukan hati dan lisannya dalam doa, atau ada penghalang pengabulan, maka tidak akan terjadi pengaruh.
Di sini ada pertanyaan yang masyhur yaitu: Bahwa yang didoakan jika telah ditakdirkan maka tidak ada pilihan lain kecuali terjadi, baik hamba berdoa maupun tidak. Dan jika tidak ditakdirkan maka tidak akan terjadi, sama saja apakah hamba memintanya atau tidak memintanya.
Maka suatu kelompok menyangka pertanyaan ini benar, lalu meninggalkan doa dan berkata: “Tidak ada faedahnya.” Mereka ini di samping kebodohan dan kesesatan yang berlebihan, juga kontradiktif karena konsekuensi madzhab mereka mengharuskan meninggalkan semua sebab. Maka dikatakan kepada salah seorang dari mereka: Jika kenyang dan haus telah ditakdirkan untukmu maka pasti akan terjadi, baik engkau makan atau tidak makan. Dan jika tidak ditakdirkan maka tidak akan terjadi, baik engkau makan atau tidak makan.
Dan jika anak telah ditakdirkan untukmu maka pasti akan ada, baik engkau menggauli istri atau budak atau tidak menggaulinya. Dan jika tidak ditakdirkan maka tidak akan ada, maka tidak perlu menikah dan memiliki budak, dan seterusnya.
Apakah ada orang berakal atau manusia yang berkata demikian? Bahkan binatang buas pun diciptakan untuk melakukan sebab-sebab yang dengannya tegak dan hidupnya. Maka binatang-binatang lebih berakal dan paham daripada orang-orang ini yang seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya.
Dan sebagian dari mereka berbuat sok pintar dan berkata: “Kesibukan dengan doa adalah dari segi ibadah murni yang Allah beri pahala kepada si pendoa, tanpa ada pengaruhnya terhadap yang diminta dengan cara apa pun. Tidak ada perbedaan menurut orang yang sok pintar ini antara berdoa dan diam darinya dengan hati dan lisan dalam mempengaruhi tercapainya yang diminta. Hubungan doa menurutnya seperti hubungan diam dan tidak ada perbedaan.”
Dan kelompok lain yang lebih pintar dari mereka berkata: “Bahkan doa adalah tanda semata yang Allah Subhanahu jadikan sebagai pertanda terpenuhinya hajat. Apabila hamba diberi taufik untuk berdoa maka itu adalah tanda dan pertanda baginya bahwa hajatnya telah terpenuhi. Ini seperti jika engkau melihat awan hitam dingin di musim dingin, maka itu adalah dalil dan tanda bahwa akan turun hujan.”
Mereka berkata: “Begitulah hukum ketaatan dengan pahala, kekufuran dan kemaksiatan dengan siksa, semuanya adalah tanda murni terjadinya pahala dan siksa, bukan sebab-sebabnya.”
Demikianlah menurut mereka, patah tulang bersama dengan hancurnya tulang, terbakar bersama dengan pembakaran, matinya jiwa bersama dengan pembunuhan, tidak ada satu pun dari hal-hal tersebut yang menjadi sebab sama sekali, dan tidak ada keterkaitan antara sebab dengan akibat yang ditimbulkannya, kecuali hanya kebiasaan yang berpasangan belaka, bukan pengaruh sebab-akibat. Dengan demikian mereka menyelisihi indra, akal, syariat, fitrah, dan seluruh golongan orang-orang berakal, bahkan mereka membuat orang-orang berakal mentertawakan mereka.
Yang benar adalah bahwa ada bagian ketiga, selain yang disebutkan oleh penanya, yaitu bahwa perkara yang telah ditakdirkan ini ditakdirkan dengan sebab-sebab, dan di antara sebab-sebabnya adalah doa. Maka tidak ditakdirkan secara terpisah dari sebabnya, tetapi ditakdirkan bersama sebabnya. Ketika hamba melakukan sebab, maka terjadilah perkara yang ditakdirkan. Dan ketika ia tidak melakukan sebab, maka tiadalah perkara yang ditakdirkan. Ini sebagaimana ditakdirkan kenyang dan puas dengan makan dan minum, ditakdirkan anak dengan persetubuhan, ditakdirkan tumbuhnya tanaman dengan benih, ditakdirkan keluarnya nyawa hewan dengan menyembelihnya, dan demikian pula ditakdirkan masuk surga dengan amal perbuatan, dan masuk neraka dengan amal perbuatan. Bagian inilah yang benar, dan inilah yang tidak didapat oleh penanya dan tidak diberikan taufik kepadanya.
Doa adalah salah satu sebab yang paling kuat. Jika telah ditakdirkan terjadinya perkara yang didoakan dengan doa, maka tidak benar jika dikatakan: “Tidak ada faedah dalam doa,” sebagaimana tidak dikatakan: “Tidak ada faedah dalam makan, minum, dan semua gerak dan amal perbuatan.” Tidak ada satu pun dari sebab-sebab yang lebih bermanfaat dari doa, dan tidak ada yang lebih berpengaruh dalam mencapai tujuan.
Ketika para sahabat radiyallahu anhum adalah orang-orang yang paling mengetahui tentang Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam, dan paling memahami agama-Nya, maka mereka paling teguh dalam melakukan sebab ini beserta syarat-syarat dan adab-adabnya dibanding yang lain.
Umar radiyallahu anhu meminta pertolongan dengannya terhadap musuhnya, dan doa merupakan pasukan terbesar baginya. Ia berkata kepada sahabat-sahabatnya: “Kalian tidak ditolong karena banyaknya jumlah, tetapi kalian ditolong dari langit.” Dan ia berkata: “Aku tidak menanggung beban dikabulkannya doa, tetapi beban untuk berdoa. Jika kalian diberi ilham untuk berdoa, maka pengabulan bersamanya.” Seorang penyair mengambil makna ini dan merangkainya dalam syair:
“Seandainya Engkau tidak menginginkan pencapaian apa yang kuharap dan kuminta, Dari kemurahan kedua tangan-Mu, tentulah Engkau tidak mengajarkanku untuk meminta.”
Barangsiapa yang diberi ilham untuk berdoa, maka ia dikehendaki untuk mendapat pengabulan, karena Allah Subhanahu berkata: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-kabulkan bagimu.” (Surat Gafir: 60)
Dan Dia berkata: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (Surat Al-Baqarah: 186)
Dan dalam Sunan Ibnu Majah dari hadits Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Allah murka kepadanya.”
Ini menunjukkan bahwa keridhaan-Nya terletak pada meminta kepada-Nya dan mentaati-Nya. Jika Rabb tabaaraka wa ta’ala ridha, maka segala kebaikan ada dalam keridhaan-Nya, sebagaimana segala bencana dan musibah ada dalam kemurkaan-Nya.
Imam Ahmad telah menyebutkan dalam Kitab Az-Zuhd sebuah atsar: “Aku adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku. Jika Aku ridha, Aku beri berkah, dan tidak ada batas bagi berkah-Ku. Dan jika Aku murka, Aku laknat, dan laknat-Ku sampai kepada generasi ketujuh dari keturunannya.”
Akal, naql (dalil syariat), fitrah, dan pengalaman-pengalaman umat manusia – dengan berbagai jenis, agama, dan keyakinan mereka – telah menunjukkan bahwa mendekatkan diri kepada Rabb semesta alam, mencari keridhaan-Nya, berbuat baik dan ihsan kepada makhluk-Nya adalah termasuk sebab-sebab terbesar yang mendatangkan segala kebaikan. Dan sebaliknya, adalah termasuk sebab-sebab terbesar yang mendatangkan segala keburukan. Nikmat-nikmat Allah tidak dapat didatangkan dan azab-Nya tidak dapat ditolak dengan sesuatu yang menyerupai ketaatan kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya, dan berbuat ihsan kepada makhluk-Nya.
Allah Subhanahu telah menetapkan dalam kitab-Nya terjadinya kebaikan-kebaikan di dunia dan akhirat, serta terjadinya kegembiraan di dunia dan akhirat berdasarkan amal perbuatan, sebagaimana penetapan balasan atas syarat, yang ma’lul (akibat) atas ‘illah (sebab), dan yang musabbab (akibat) atas sebab. Dan ini dalam Al-Quran lebih dari seribu tempat.
Terkadang Dia menetapkan hukum khabari (pemberitaan) kauniyah (universal) dan perintah syar’i (hukum syariat) berdasarkan sifat yang sesuai dengannya, seperti firman-Nya: “Karena mereka durhaka terhadap apa yang dilarang kepada mereka, Kami katakan kepada mereka: ‘Jadilah kamu kera yang hina.'” (Surat Al-A’raf: 166)
Dan firman-Nya: “Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka.” (Surat Az-Zukhruf: 55)
Dan firman-Nya: “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan.” (Surat Al-Maidah: 38)
Dan firman-Nya: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kemaluannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Surat Al-Ahzab: 35)
Dan ini sangat banyak. Terkadang Dia menetapkannya dengan bentuk syarat dan balasan seperti firman-Nya: “Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan kepadamu dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni kamu.” (Surat Al-Anfal: 29)
Dan firman-Nya: “Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama.” (Surat At-Taubah: 11)
Dan firman-Nya: “Dan bahwasanya jika mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak).” (Surat Al-Jin: 16)
Dan yang serupa dengannya.
Terkadang datang dengan lam ta’lil (untuk menunjukkan sebab) seperti firman-Nya: “Supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (Surat Sad: 29)
Dan firman-Nya: “Agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (Surat Al-Baqarah: 143)
Terkadang datang dengan adah “kai” yang untuk ta’lil seperti firman-Nya: “Supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (Surat Al-Hasyr: 7)
Terkadang datang dengan ba’ sababiyah (untuk menunjukkan sebab) seperti firman-Nya: “Yang demikian itu disebabkan oleh apa yang telah diperbuat oleh tangan kamu sendiri.” (Surat Ali Imran: 182)
Dan firman-Nya: “Disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.” (Surat Al-Maidah: 105)
Dan firman-Nya: “Disebabkan apa yang telah kamu usahakan.”
Dan firman-Nya: “Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah.” (Surat Ali Imran: 112)
Terkadang datang dengan maf’ul li ajlihi (objek karena sesuatu) yang zhahir atau mahzuf seperti firman-Nya: “Maka (hendaklah ada) seorang laki-laki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya.” (Surat Al-Baqarah: 282)
Dan seperti firman-Nya: “Supaya kamu tidak mengatakan di hari kiamat: ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah).'” (Surat Al-A’raf: 172)
Dan firman-Nya: “Supaya kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya Al-Kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan sebelum kami.'” (Surat Al-An’am: 156), artinya: karena tidak suka kalian mengatakan.
Terkadang datang dengan fa’ sababiyah seperti firman-Nya: “Maka mereka mendustakan Saleh, lalu mereka sembelih unta itu. Maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menjadikan (azab) itu rata.” (Surat Asy-Syams: 14)
Dan firman-Nya: “Maka mereka mendurhakai rasul Tuhannya, lalu Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat keras.” (Surat Al-Haqqah: 10)
Dan firman-Nya: “Lalu mereka mendustakan kedua rasul itu, maka mereka termasuk orang-orang yang dibinasakan.” (Surat Al-Mu’minun: 48)
Terkadang datang dengan adah “lamma” yang menunjukkan balasan seperti firman-Nya: “Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka.” (Surat Az-Zukhruf: 55)
Dan yang serupa dengannya.
Terkadang datang dengan “inna” dan apa yang dimasuki dengannya seperti firman-Nya: “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan-kebaikan.” (Surat Al-Anbiya: 90)
Dan firman-Nya tentang kebalikan mereka: “Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat, maka Kami tenggelamkan mereka semuanya.” (Surat Al-Anbiya: 77)
Terkadang datang dengan adah “lau la” yang menunjukkan keterkaitan antara yang sebelumnya dengan yang sesudahnya seperti firman-Nya: “Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang bertasbih (kepada Allah), niscaya dia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (Surat As-Saffat: 143-144)
Terkadang datang dengan “lau” yang menunjukkan syarat seperti firman-Nya: “Dan kalau sekiranya mereka melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (Surat An-Nisa: 66)
Secara keseluruhan, Al-Quran dari awal hingga akhir tegas dalam menetapkan balasan baik dan buruk serta hukum-hukum kauniyah dan amriyah berdasarkan sebab-sebab, bahkan penetapan hukum-hukum dunia dan akhirat serta maslahat dan mafsadatnya berdasarkan sebab-sebab dan amal perbuatan.
Barangsiapa yang memahami masalah ini dan merenungkannya dengan sebenar-benar perenungan, ia akan mendapat manfaat yang sangat besar darinya, dan ia tidak akan bertawakal kepada takdir karena kebodohan, kelemahan, kelalaian, dan penyia-nyiaan, sehingga tawakalnya menjadi kelemahan dan kelemahannya menjadi tawakal. Tetapi orang yang benar-benar fakih adalah yang menolak takdir dengan takdir, menangkal takdir dengan takdir, dan melawan takdir dengan takdir. Bahkan tidak mungkin bagi seseorang untuk hidup kecuali dengan hal itu. Karena lapar, haus, dingin, dan berbagai macam ketakutan dan bahaya adalah dari takdir.
Seluruh manusia berusaha menolak takdir ini dengan takdir. Demikian pula orang yang diberi taufik oleh Allah dan diberi ilham petunjuk-Nya, ia menolak takdir hukuman akhirat dengan takdir taubat, iman, dan amal shalih. Ini adalah perimbangan takdir yang menakutkan di dunia dengan apa yang menentangnya. Rabb kedua negeri (dunia dan akhirat) adalah satu, dan hikmah-Nya adalah satu, tidak bertentangan sebagiannya dengan sebagian yang lain, dan tidak membatalkan sebagiannya terhadap sebagian yang lain. Masalah ini termasuk masalah-masalah yang paling mulia bagi orang yang mengetahui nilainya dan memeliharanya dengan sebenar-benar pemeliharaan. Dan Allah-lah yang dimintai pertolongan.
Namun tinggal dua perkara yang dengannya akan sempurna kebahagiaan dan kemenangan seseorang.
Pertama: Agar ia mengetahui detail-detail sebab-sebab keburukan dan kebaikan, dan ia memiliki pandangan yang tajam dalam hal itu dengan apa yang ia saksikan di alam, apa yang ia alami pada dirinya dan orang lain, dan apa yang ia dengar dari berita-berita umat terdahulu dan sekarang.
Di antara yang paling bermanfaat dalam hal itu adalah mentadabburi Al-Quran, karena ia menjamin hal itu dengan cara yang paling sempurna. Di dalamnya terdapat sebab-sebab kebaikan dan keburukan semuanya dijelaskan dengan terperinci dan terang, kemudian As-Sunnah, karena ia adalah saudara Al-Quran dan wahyu kedua. Barangsiapa yang mencurahkan perhatiannya kepada keduanya, ia akan cukup dengan keduanya dari yang lain. Keduanya memperlihatkan kepadamu kebaikan dan keburukan beserta sebab-sebabnya, hingga seolah-olah kamu menyaksikan itu dengan mata kepala sendiri.
Setelah itu, jika kamu merenungkan berita-berita umat dan hari-hari Allah terhadap ahli ketaatan-Nya dan ahli kemaksiatan-Nya, hal itu akan sesuai dengan apa yang kamu ketahui dari Al-Quran dan As-Sunnah. Kamu akan melihatnya dengan detail-detail apa yang telah Allah kabarkan dan janjikan. Kamu akan mengetahui dari tanda-tanda-Nya di cakrawala apa yang menunjukkanmu bahwa Al-Quran adalah haq, bahwa Rasul adalah haq, dan bahwa Allah pasti menepati janji-Nya. Sejarah adalah penjelasan terperinci dari bagian-bagian khusus apa yang telah Allah dan Rasul-Nya beritahukan kepada kita dari sebab-sebab universal kebaikan dan keburukan.
Pasal: Menipu Diri Sendiri tentang Sebab-Sebab
Perkara kedua adalah agar ia berhati-hati dari menipu dirinya sendiri tentang sebab-sebab ini. Ini termasuk perkara yang paling penting, karena hamba mengetahui bahwa maksiat dan kelalaian adalah sebab-sebab yang merugikannya di dunia dan akhirat, dan pasti demikian. Tetapi nafsunya menipunya dengan bertumpu pada maaf dan ampunan Allah kadang-kadang, dengan menunda-nunda taubat dan istighfar dengan lisan kadang-kadang, dengan melakukan amalan-amalan sunnah kadang-kadang, dengan ilmu kadang-kadang, dengan berdalih dengan takdir kadang-kadang, dengan berdalih dengan orang-orang yang serupa dan sepadan kadang-kadang, dan dengan mencontoh orang-orang besar kadang-kadang.
Banyak orang mengira bahwa jika ia melakukan apa yang ia lakukan kemudian berkata: “Astaghfirullah,” maka hilanglah pengaruh dosa dan pergilah ini dengan ini. Seorang laki-laki dari orang-orang yang mengaku ahli fiqih berkata kepadaku: “Aku melakukan apa yang aku lakukan kemudian aku katakan: ‘Subhanallahi wa bihamdihi’ seratus kali, dan sungguh telah diampuni semuanya itu, sebagaimana sahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: ‘Barangsiapa yang mengatakan dalam sehari: Subhanallahi wa bihamdihi seratus kali, dihapuslah kesalahan-kesalahannya, sekalipun seperti buih laut.'”
Seorang laki-laki lain dari penduduk Mekah berkata kepadaku: “Kami, jika salah seorang dari kami melakukan sesuatu, ia mandi dan thawaf di Baitullah tujuh kali, dan sungguh telah dihapus darinya itu.”
Seorang laki-laki lain berkata kepadaku: “Sungguh sahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: ‘Seorang hamba berbuat dosa, lalu ia berkata: Wahai Rabbku, aku berbuat dosa, maka ampunilah aku. Maka Allah mengampuni dosanya. Kemudian ia tinggal sekehendak Allah, kemudian ia berbuat dosa lagi, lalu ia berkata: Wahai Rabbku, aku berbuat dosa, maka ampunilah aku. Maka Allah Azza wa Jalla berkata: Hambaku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukum karenanya. Sungguh Aku telah mengampuni hambaku, maka hendaklah ia berbuat sekehendaknya.'”
Dan ia berkata: “Aku tidak ragu bahwa aku memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukum karenanya.”
Golongan orang seperti ini telah berpegang pada nash-nash tentang harapan dan bertumpu padanya, berpegang padanya dengan kedua tangannya. Jika ia dinasihati tentang kesalahan-kesalahan dan tenggelam di dalamnya, ia akan menyebutkan kepadamu apa yang ia hafal tentang luasnya rahmat dan ampunan Allah serta nash-nash harapan.
Orang-orang bodoh dari golongan ini memiliki hal-hal aneh dan mengherankan dalam bab ini, seperti perkataan sebagian mereka:
“Perbanyaklah sekuat tenagamu dari kesalahan-kesalahan, Jika kedatangan adalah kepada Yang Mulia.”
Dan perkataan yang lain: “Menjauhi dosa-dosa adalah kebodohan terhadap luasnya maaf Allah.”
Dan yang lain berkata: “Meninggalkan dosa-dosa adalah keberanian terhadap ampunan Allah dan meremehkan.”
Muhammad bin Hazm berkata: “Aku melihat sebagian dari mereka berkata dalam doanya: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari terjaga (dari dosa).”
Di antara orang-orang yang tertipu ini adalah yang berpegang pada masalah jabar (fatalism), dan bahwa hamba sama sekali tidak memiliki perbuatan dan tidak ada pilihan, dan sesungguhnya ia dipaksa melakukan kemaksiatan.
Di antara mereka ada yang tertipu dengan masalah irja’, dan bahwa iman hanyalah sekedar pembenaran, dan amal perbuatan bukan dari iman, dan bahwa iman orang yang paling fasik sama seperti iman Jibril dan Mikail.
Di antara mereka ada yang tertipu dengan kecintaan mereka kepada para fakir, para syekh, dan orang-orang saleh, serta seringnya mereka berkunjung ke kubur-kubur mereka, memohon kepada mereka, meminta syafaat mereka, dan bertawasul kepada Allah melalui mereka, serta memohon kepada Allah dengan hak mereka dan kehormatan mereka di sisi-Nya.
Di antara mereka ada yang tertipu dengan nenek moyang dan leluhur mereka, dan bahwa mereka memiliki kedudukan dan kesalehan di sisi Allah, sehingga mereka tidak akan membiarkan untuk menyelamatkan mereka sebagaimana yang disaksikan di istana raja-raja. Sesungguhnya raja-raja mengampuni dosa-dosa anak-anak dan kerabat orang-orang khususnya, dan jika salah seorang dari mereka terjatuh dalam perkara yang mengerikan, maka ayah dan kakeknya menyelamatkannya dengan pengaruh dan kedudukannya.
Di antara mereka ada yang tertipu dengan anggapan bahwa Allah Azza wa Jalla tidak membutuhkan azab-Nya terhadap mereka, dan azab-Nya tidak menambah sesuatu pun pada kerajaan-Nya, dan rahmat-Nya kepada mereka tidak mengurangi sesuatu pun dari kerajaan-Nya. Maka dia berkata: “Aku sangat membutuhkan rahmat-Nya, sedangkan Dia adalah Yang Maha Kaya dari segala yang kaya. Seandainya ada orang fakir miskin yang sangat membutuhkan seteguk air di rumah seseorang yang memiliki sungai yang mengalir, tentu dia tidak akan menghalanginya. Maka Allah lebih mulia dan lebih luas, ampunan tidak mengurangi-Nya sedikitpun dan hukuman tidak menambah pada kerajaan-Nya sedikitpun.”
Di antara mereka ada yang tertipu dengan pemahaman yang salah yang dipahami oleh dia dan teman-temannya dari nash-nash Al-Quran dan Sunnah, sehingga mereka mengandalkannya sebagaimana andalannya sebagian dari mereka pada firman Allah Ta’ala: “Dan sesungguhnya Tuhanmu akan memberikan kepadamu hingga engkau rida” (QS. Ad-Dhuha: 5).
Dia berkata bahwa Rasulullah tidak rida jika ada seseorang dari umatnya yang berada di neraka. Ini adalah kebodohan yang paling buruk dan kedustaan yang paling nyata terhadap Rasulullah. Sesungguhnya beliau rida dengan apa yang diridai oleh Tuhannya Azza wa Jalla, dan Allah Ta’ala meridai penyiksaan terhadap para zalim, orang-orang fasik, para pengkhianat, dan orang-orang yang bersikeras melakukan dosa-dosa besar. Maka mustahil Rasul-Nya rida dengan apa yang tidak diridai oleh Tuhannya Tabaraka wa Ta’ala.
Dan seperti andalannya sebagian dari mereka pada firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya” (QS. Az-Zumar: 53).
Ini juga termasuk kebodohan yang paling buruk, karena syirik masuk dalam ayat ini, padahal syirik adalah kepala dosa-dosa dan dasarnya. Dan tidak ada perselisihan bahwa ayat ini dalam hak orang-orang yang bertobat, karena Allah mengampuni dosa setiap orang yang bertobat dari dosa apa pun. Seandainya ayat ini dalam hak selain orang-orang yang bertobat, niscaya batallah semua nash-nash ancaman.
Dan hadis-hadis tentang dikeluarkannya segolongan dari kalangan muwahhidin (orang-orang yang mentauhidkan Allah) dari neraka dengan syafaat.
Ini hanya datang kepada pemiliknya dari sedikitnya ilmu dan pemahamannya. Sesungguhnya Allah Subhanahu di sini menggeneralisasi dan memutlakkan, maka diketahui bahwa Dia menghendaki orang-orang yang bertobat. Sedangkan dalam surat An-Nisa Allah mengkhususkan dan membatasi, maka Dia berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. An-Nisa: 48). Maka Allah Subhanahu mengabarkan bahwa Dia tidak mengampuni syirik, dan mengabarkan bahwa Dia mengampuni apa yang selain syirik. Seandainya ini dalam hak orang yang bertobat, niscaya Dia tidak membedakan antara syirik dan selainnya.
Dan seperti ketertiuan sebagian orang bodoh dengan firman Allah Ta’ala: “Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah?” (QS. Al-Infitar: 6). Maka dia berkata: “Dia memuliakan kami.” Dan sebagian dari mereka berkata: “Sesungguhnya Allah mengajarkan kepada orang yang tertipu hujjahnya.” Ini adalah kebodohan yang buruk. Sesungguhnya yang memperdayakan dia terhadap Tuhannya adalah ketertipuan, yaitu setan, nafsunya yang selalu menyuruh kepada kejahatan, kebodohannya, dan hawa nafsunya. Dan Allah Subhanahu menyebutkan lafaz “Al-Karim” (Yang Maha Mulia) yaitu tuan yang agung lagi ditaati, yang tidak pantas ditertipui oleh-Nya, dan tidak pantas mengabaikan hak-Nya. Maka orang yang tertipu ini menempatkan ketertipuan bukan pada tempatnya, dan tertipu kepada yang tidak pantas ditertipui.
Dan seperti ketertiuan sebagian dari mereka dengan firman Allah Ta’ala tentang neraka: “Tidak akan memasukinya kecuali orang-orang yang paling celaka, (yaitu) orang yang mendustakan dan berpaling” (QS. Al-Lail: 15-16), dan firman-Nya: “Yang disediakan bagi orang-orang kafir” (QS. Al-Baqarah: 24).
Dan orang yang tertipu ini tidak tahu bahwa firman-Nya: “Maka Aku beri peringatan kepadamu tentang api yang menyala-nyala” adalah api yang khusus dari seluruh tingkatan neraka Jahannam. Seandainya itu seluruh Jahannam, maka Allah Subhanahu tidak berfirman “tidak akan memasukinya” tetapi berfirman “Tidak akan memasukinya kecuali orang-orang yang paling celaka”. Dan tidak mesti dari tidak memasukinya, tidak memasukinya sama sekali, karena memasuki secara khusus lebih khusus dari memasuki secara umum. Dan menafikan yang lebih khusus tidak mengharuskan menafikan yang lebih umum.
Kemudian orang yang tertipu ini seandainya merenungkan ayat yang setelahnya, niscaya dia tahu bahwa dia tidak masuk di dalamnya, maka tidak dijamin baginya untuk dijauhkan dari neraka.
Adapun firman-Nya tentang neraka “Yang disediakan bagi orang-orang kafir”, maka Allah juga berfirman tentang surga: “Yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali Imran: 133). Dan tidak bertentangan penyediaan neraka bagi orang-orang kafir dengan masuknya orang-orang fasik dan zalim ke dalamnya, dan tidak bertentangan penyediaan surga bagi orang-orang bertakwa dengan masuknya orang yang di dalam hatinya terdapat iman seberat biji sawi pun, dan dia tidak pernah mengerjakan kebaikan sama sekali.
Dan seperti ketertiuan sebagian dari mereka terhadap puasa hari Asyura atau hari Arafah, sampai sebagian dari mereka berkata: “Hari Asyura menghapus dosa-dosa setahun penuh, dan tersisa puasa Arafah sebagai tambahan pahala.” Dan orang yang tertipu ini tidak tahu bahwa puasa Ramadhan dan shalat lima waktu lebih besar dan lebih agung dari puasa hari Arafah dan hari Asyura, dan keduanya hanya menghapus dosa-dosa yang ada di antara keduanya jika dosa-dosa besar dihindari.
Maka Ramadhan ke Ramadhan dan Jumat ke Jumat tidak mampu menghapus dosa-dosa kecil kecuali dengan bergabungnya meninggalkan dosa-dosa besar. Maka gabungan kedua perkara ini mampu menghapus dosa-dosa kecil.
Bagaimana mungkin puasa satu hari sunnah menghapus setiap dosa besar yang dikerjakan hamba dan dia bersikeras terhadapnya, tidak bertobat darinya? Ini mustahil. Namun tidak mustahil bahwa puasa hari Arafah dan hari Asyura menghapus semua dosa-dosa setahun secara umum, dan ini termasuk nash-nash janji yang memiliki syarat-syarat dan penghalang-penghalang. Dan sikapnya yang bersikeras terhadap dosa-dosa besar menjadi penghalang dari penghapusan dosa. Maka jika dia tidak bersikeras terhadap dosa-dosa besar, karena saling bantu antara puasa dan tidak bersikeras, dan saling bekerjasama keduanya untuk menghapus dosa secara umum, sebagaimana Ramadhan dan shalat lima waktu dengan menghindari dosa-dosa besar saling bantu dan saling bekerjasama untuk menghapus dosa-dosa kecil. Padahal Allah Subhanahu telah berfirman: “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus dari kamu dosa-dosa kecilmu” (QS. An-Nisa: 31).
Maka diketahui bahwa menjadikan sesuatu sebagai sebab penghapusan dosa tidak menghalangi bahwa dia dan sebab lain saling bantu untuk menghapus dosa, dan penghapusan dosa dengan berkumpulnya dua sebab lebih kuat dan lebih sempurna daripada penghapusan dengan menyendirinya salah satu dari keduanya. Dan semakin kuat sebab-sebab penghapusan dosa, maka penghapusan dosa semakin kuat, sempurna, dan menyeluruh.
Dan seperti andalannya sebagian dari mereka terhadap sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengutip dari Tuhannya: “Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku kepada-Ku, maka hendaklah dia bersangka kepada-Ku apa yang dia kehendaki”. Maksudnya: apa yang ada dalam sangkaannya maka Aku akan melakukannya kepadanya. Dan tidak diragukan bahwa baik sangka itu hanya bersama dengan berbuat baik. Sesungguhnya orang yang berbuat baik berbaik sangka kepada Tuhannya bahwa Dia akan membalasnya atas kebaikannya dan tidak akan mengingkari janji-Nya, dan akan menerima tobatnya.
Adapun orang yang berbuat buruk yang bersikeras terhadap dosa-dosa besar, kezaliman, dan pelanggaran-pelanggaran, maka rasa ngeri dari kemaksiatan, kezaliman, dan yang haram menghalanginya dari berbaik sangka kepada Tuhannya. Dan ini terdapat dalam kenyataan, sesungguhnya budak yang melarikan diri yang keluar dari ketaatan tuannya tidak berbaik sangka kepadanya. Dan tidak akan berkumpul rasa ngeri karena berbuat buruk dengan baik sangka selamanya. Sesungguhnya orang yang berbuat buruk merasa ngeri sesuai dengan kadar keburukannya. Dan orang yang paling baik sangkanya kepada Tuhannya adalah orang yang paling taat kepada-Nya.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Hasan Al-Bashri: “Sesungguhnya orang mukmin berbaik sangka kepada Tuhannya maka dia berbuat baik, dan sesungguhnya orang yang fasik buruk sangka kepada Tuhannya maka dia berbuat buruk.”
Dan bagaimana mungkin berbaik sangka kepada Tuhannya orang yang lari dari-Nya, tinggal dan berpindah-pindah dalam hal-hal yang memurkai-Nya dan yang membuatnya marah, menghadapi laknat-Nya, telah hina hak dan perintah-Nya sehingga dia menyia-nyiakannya, dan hina larangan-Nya sehingga dia melanggarnya dan bersikeras terhadapnya? Dan bagaimana mungkin berbaik sangka kepada Tuhannya orang yang berperang melawan-Nya, memusuhi wali-wali-Nya, dan menjadikan musuh-musuh-Nya sebagai wali, dan mengingkari sifat-sifat kesempurnaan-Nya, dan buruk sangka terhadap apa yang Allah sifatkan untuk diri-Nya dan yang disifatkan oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan dia menyangka dengan kebodohannya bahwa zhahir dari itu adalah kesesatan dan kekufuran? Dan bagaimana mungkin berbaik sangka kepada Tuhannya orang yang menyangka bahwa Allah tidak berbicara, tidak memerintah, tidak melarang, tidak rida, dan tidak marah?
Dan Allah telah berfirman dalam hak orang yang meragukan berkaitan dengan pendengaran-Nya terhadap sebagian hal-hal yang khusus, yaitu rahasia dari perkataan: “Dan itulah sangkaan kamu yang kamu sangka terhadap Tuhanmu telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi” (QS. Fushshilat: 23).
Maka mereka ketika menyangka bahwa Allah Subhanahu tidak mengetahui banyak dari apa yang mereka kerjakan, maka ini adalah buruk sangka mereka kepada Tuhan mereka, lalu sangkaan itu membinasakan mereka. Dan ini adalah keadaan setiap orang yang mengingkari sifat-sifat kesempurnaan-Nya dan sifat-sifat keagungan-Nya, dan menyifati-Nya dengan apa yang tidak pantas bagi-Nya. Maka jika dia menyangka bahwa Allah akan memasukkannya ke surga, maka ini adalah ketertipuan dan penipuan dari dirinya sendiri, dan bujukan dari setan, bukan baik sangka kepada Tuhannya.
Maka renungkanlah tempat ini, dan renungkanlah betapa besarnya kebutuhan kepadanya. Dan bagaimana mungkin berkumpul dalam hati seorang hamba keyakinannya bahwa dia akan bertemu Allah, dan bahwa Allah mendengar dan melihat tempatnya, dan mengetahui rahasia dan terang-terangannya, dan tidak tersembunyi bagi-Nya sedikitpun dari urusannya, dan bahwa dia akan dihentikan di hadapan-Nya, dan ditanya tentang semua yang dia kerjakan, dan dia tetap tinggal di atas hal-hal yang memurkai-Nya, menyia-nyiakan perintah-perintah-Nya, menelantarkan hak-hak-Nya, dan dia dengan ini berbaik sangka kepada-Nya. Bukankah ini hanya dari tipu daya jiwa-jiwa dan ketertipuan angan-angan?
Dan Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif berkata: “Aku dan Urwah bin Az-Zubair masuk menemui Aisyah radiyallahu ‘anha, maka dia berkata: ‘Seandainya kalian berdua melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sakitnya, dan ada enam atau tujuh dinar di sisiku, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan aku untuk membagi-bagikannya.’ Dia berkata: ‘Maka aku disibukkan dengan sakit Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai Allah menyembuhkan beliau, kemudian beliau bertanya kepadaku tentang dinar itu, maka beliau berkata: Apa yang engkau lakukan? Apakah engkau telah membagi-bagikan enam dinar itu?’ Maka aku berkata: ‘Tidak, demi Allah, sungguh aku telah disibukkan dengan sakitmu.’ Dia berkata: ‘Maka beliau meminta dinar itu, lalu meletakkannya di telapak tangannya, maka beliau berkata: Apa sangkaan Nabi Allah jika dia bertemu Allah sedangkan ini ada padanya?’ Dan dalam lafaz lain: ‘Apa sangkaan Muhammad kepada Tuhannya jika dia bertemu Allah sedangkan ini ada padanya?'”
Maka demi Allah, apa sangkaan para pelaku dosa-dosa besar dan para zalim kepada Allah jika mereka bertemu-Nya sedangkan kezaliman-kezaliman hamba-hamba ada pada mereka? Maka jika bermanfaat bagi mereka ucapan mereka: “Kami berbaik sangka kepada-Mu, sesungguhnya Engkau tidak akan menyiksa orang zalim dan orang fasik,” maka biarlah seorang hamba berbuat apa yang dia kehendaki, dan biarlah dia melakukan semua yang Allah larang baginya, dan biarlah dia berbaik sangka kepada Allah, maka api neraka tidak akan menyentuhnya. Maha Suci Allah! Betapa sampainya ketertipuan pada seorang hamba.
Dan Ibrahim berkata kepada kaumnya: “Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah secara batil? Maka apakah sangkaanmu kepada Tuhan semesta alam?” (QS. Ash-Shaffat: 86-87). Yaitu apa sangkaanmu bahwa Dia akan melakukan kepadamu jika kalian bertemu dengan-Nya sedangkan kalian telah menyembah selain-Nya.
Dan barangsiapa yang merenungkan tempat ini dengan sebenar-benar renungan, dia akan mengetahui bahwa baik sangka kepada Allah adalah baik amal itu sendiri. Sesungguhnya seorang hamba hanya dipikul untuk berbuat baik oleh sangkaannya kepada Tuhannya bahwa Dia akan membalasnya atas amal-amalnya dan memberinya pahala atas amal-amal itu serta menerimanya darinya. Maka yang memanggulnya untuk beramal adalah baik sangka. Maka semakin baik sangkaannya, semakin baik amalnya. Kalau tidak, baik sangka dengan mengikuti hawa nafsu adalah kelemahan, sebagaimana dalam hadis Tirmidzi dan Musnad dari hadis Syaddad bin Aus dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Orang yang cerdas adalah yang menghitung dirinya dan beramal untuk setelah kematian, dan orang yang lemah adalah yang mengikuti nafsunya dengan hawa nafsunya, dan berangan-angan kepada Allah.”
Dan secara keseluruhan, baik sangka itu hanya dengan terkumpulnya sebab-sebab keselamatan. Adapun dengan terkumpulnya sebab-sebab kebinasaan, maka tidak mungkin ada baik sangka.
Jika dikatakan: “Bahkan itu mungkin, dan sandaran baik sangka adalah luasnya ampunan Allah, dan rahmat-Nya, maaf-Nya, dan kemurahan-Nya, dan bahwa rahmat-Nya mendahului kemarahan-Nya, dan bahwa hukuman tidak bermanfaat bagi-Nya, dan maaf tidak membahayakan-Nya.”
Dijawab: Perkara itu demikian, dan Allah di atas itu, lebih agung, lebih mulia, lebih dermawan, dan lebih penyayang. Akan tetapi, Dia hanya meletakkan itu pada tempatnya yang pantas bagi-Nya. Sesungguhnya Dia Subhanahu disifati dengan hikmah, kemuliaan, pembalasan, keras hantaman, dan hukuman bagi yang berhak mendapat hukuman. Seandainya sandaran baik sangka itu hanya pada sifat-sifat dan nama-nama-Nya saja, niscaya dalam hal itu sama antara orang yang baik dan orang yang jahat, orang mukmin dan orang kafir, wali-Nya dan musuh-Nya. Maka tidak bermanfaat bagi orang yang berdosa nama-nama dan sifat-sifat-Nya sedangkan dia telah menanggung murka dan kemarahan-Nya, dan menghadapi laknat-Nya, dan jatuh dalam hal-hal yang diharamkan-Nya, dan melanggar kehormatan-kehormatan-Nya. Bahkan baik sangka bermanfaat bagi yang bertobat, menyesal, berhenti, dan mengganti keburukan dengan kebaikan, dan menyambut sisa umurnya dengan kebaikan dan ketaatan, kemudian dia berbaik sangka. Maka inilah baik sangka, dan yang pertama adalah ketertipuan. Dan Allah yang diminta pertolongan.
Dan janganlah engkau merasa panjang pembahasan ini, karena kebutuhan kepadanya sangat besar bagi setiap orang yang membedakan antara baik sangka kepada Allah dan ketertipuan kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Baqarah: 218). Maka Allah menjadikan mereka inilah ahli harapan, bukan orang-orang yang menganggur dan orang-orang fasik.
Allah Ta’ala berfirman: “Kemudian sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) orang-orang yang berhijrah sesudah mereka dianiaya, kemudian mereka berjihad dan bersabar, sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Surah An-Nahl: 110]
Maka Allah Subhanahu memberitahukan bahwa setelah hal-hal ini, Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang bagi orang yang melakukannya. Orang yang berilmu menempatkan harapan pada tempatnya, sedangkan orang jahil yang tertipu menempatkannya bukan pada tempatnya.
Bab: Orang-orang yang Mengandalkan Ampunan Allah Sehingga Menyia-nyiakan Perintah dan Larangan-Nya
Banyak dari orang-orang jahil yang mengandalkan rahmat Allah, ampunan-Nya, dan kemurahan-Nya, kemudian mereka menyia-nyiakan perintah dan larangan-Nya. Mereka lupa bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya, dan bahwa azab-Nya tidak akan ditolak dari kaum yang berdosa. Barangsiapa yang mengandalkan ampunan sambil terus menerus berbuat dosa, maka dia seperti orang yang menentang.
Ma’ruf berkata: “Harapanmu akan rahmat orang yang tidak kamu taati adalah dari kehinaan dan kebodohan.”
Salah seorang ulama berkata: “Orang yang memotong anggota tubuhmu di dunia karena mencuri tiga dirham, jangan merasa aman bahwa siksaan-Nya di akhirat akan seperti ini juga.”
Al-Hasan ditanya: “Kami melihatmu sering menangis.” Maka dia berkata: “Aku takut Dia melemparkanku ke dalam neraka dan tidak peduli.”
Dan dia berkata: “Sesungguhnya ada kaum yang dilalaikan oleh angan-angan pengampunan sehingga mereka keluar dari dunia tanpa taubat. Salah seorang dari mereka berkata: ‘Karena aku berbaik sangka kepada Tuhanku.’ Dia berbohong, seandainya dia berbaik sangka, pasti dia berbuat baik.”
Seorang laki-laki bertanya kepada Al-Hasan: “Wahai Abu Sa’id, bagaimana sikap kita terhadap duduk bersama kaum yang menakut-nakuti kami sehingga hampir-hampir hati kami terbang?” Maka dia berkata: “Demi Allah, sungguh engkau bergaul dengan kaum yang menakut-nakutimu sehingga engkau meraih keamanan, itu lebih baik bagimu daripada engkau bergaul dengan kaum yang memberimu rasa aman sehingga ketakutan menimpamu.”
Dan telah ditetapkan dalam Shahihain dari hadits Usamah bin Zaid, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Didatangkan seorang laki-laki pada hari kiamat, lalu dia dilemparkan ke dalam neraka, maka terhamburlah isi perutnya, lalu dia berputar dalam neraka seperti keledai berputar di kincir air. Maka penduduk neraka mengelilinginya dan berkata: ‘Wahai fulan, apa yang menimpamu? Bukankah engkau menyuruh kami berbuat ma’ruf dan mencegah kami dari yang munkar?’ Maka dia berkata: ‘Aku menyuruh kalian berbuat ma’ruf tetapi aku tidak melakukannya, dan aku melarang kalian dari yang munkar tetapi aku melakukannya.'”
Dan Imam Ahmad menyebutkan dari hadits Abu Rafi’, dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati Baqi’ lalu berkata: ‘Cih untukmu.’ Aku mengira dia bermaksud kepadaku. Dia berkata: ‘Tidak, tetapi ini adalah kubur fulan. Aku mengirimnya sebagai petugas zakat kepada keluarga fulan, lalu dia menggelapkan sehelai kain belang, maka sekarang dia dikenakan yang serupa darinya dari api.'”
Dan dalam Musnadnya juga dari hadits Anas bin Malik, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku melewati pada malam Isra’ suatu kaum yang bibir mereka dipotong dengan gunting dari api. Aku bertanya: ‘Siapa mereka ini?’ Dikatakan: ‘Para khatib dari umatmu dari penduduk dunia, mereka menyuruh manusia berbuat kebajikan tetapi melupakan diri mereka sendiri.'”
Dan di dalamnya juga dari haditsnya, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketika aku diisra’kan, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku dari tembaga, mereka mencakar dengan kuku itu wajah dan dada mereka. Aku bertanya: ‘Siapa mereka ini wahai Jibril?’ Dia berkata: ‘Mereka ini adalah orang-orang yang memakan daging manusia dan mencela kehormatan mereka.'”
Dan di dalamnya juga darinya, dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berkata: “Wahai yang membolak-balik hati dan pandangan, tetapkan hatiku atas agama-Mu.” Maka kami berkata: ‘Wahai Rasulullah, kami beriman kepadamu dan kepada apa yang engkau bawa, apakah engkau takut terhadap kami?’ Dia berkata: ‘Ya, sesungguhnya hati-hati berada di antara dua jari dari jari-jari Allah, Dia membolak-balikkannya sesuka-Nya.'”
Dan di dalamnya juga darinya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Jibril: “Mengapa aku tidak pernah melihat Mikail tertawa?” Dia berkata: “Dia tidak tertawa sejak neraka diciptakan.”
Dan dalam Shahih Muslim darinya, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Didatangkan orang yang paling bersenang-senang di dunia dari penduduk neraka, lalu dia dicelupkan ke dalam neraka sekali celup, kemudian dikatakan kepadanya: ‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah melihat kebaikan? Apakah pernah berlalu padamu kenikmatan?’ Maka dia berkata: ‘Tidak demi Allah wahai Tuhanku.’ Dan didatangkan orang yang paling sengsara di dunia dari penduduk surga, lalu dia dicelupkan ke dalam surga sekali celup, maka dikatakan kepadanya: ‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah melihat kesengsaraan? Apakah pernah berlalu padamu kesulitan?’ Maka dia berkata: ‘Tidak demi Allah wahai Tuhanku, tidak pernah berlalu padaku kesengsaraan dan aku tidak pernah melihat kesulitan.'”
Dan dalam Al-Musnad dari hadits Al-Bara’ bin ‘Azib, dia berkata: “Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengantar jenazah seorang laki-laki Anshar. Kami sampai di kubur dan belum digali. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk dan kami duduk di sekelilingnya seakan-akan di atas kepala kami ada burung. Di tangannya ada ranting yang digunakannya untuk menulis di tanah. Lalu dia mengangkat kepalanya dan berkata: ‘Berlindunglah kepada Allah dari azab kubur’ – dua atau tiga kali – kemudian berkata: ‘Sesungguhnya hamba yang beriman ketika dalam keadaan berpisah dari dunia dan menghadap akhirat, turun kepadanya malaikat-malaikat dari langit yang putih wajahnya seperti matahari, bersama mereka kain kafan dari kain kafan penduduk surga dan harum-haruman dari harum-haruman surga, sehingga mereka duduk darinya sejauh pandangan mata. Kemudian datang malaikat maut sehingga duduk di kepalanya, lalu berkata: Keluarlah wahai jiwa yang tenang, keluarlah menuju ampunan dari Allah dan keridhaan-Nya. Maka keluar mengalir seperti mengalirnya tetesan dari mulut tempat air, lalu dia mengambilnya. Ketika dia mengambilnya, mereka tidak membiarkannya di tangannya sekejap mata sehingga mereka mengambilnya, lalu memasukkannya ke dalam kain kafan itu dan harum-haruman itu. Keluar darinya seperti bau misk yang paling harum yang dijumpai di muka bumi. Maka mereka naik dengannya, tidak melewatinya pada rombongan malaikat kecuali mereka berkata: Ruh baik apa ini? Maka mereka berkata: Ruh fulan bin fulan, dengan nama-nama terbaiknya yang biasa dipanggil di dunia. Maka mereka meminta dibukakan untuknya, lalu dibukakan untuknya. Maka mengantarnya dari setiap langit para penghuni terdekatnya ke langit yang di atasnya hingga sampai ke langit ketujuh. Maka Allah ‘azza wa jalla berfirman: Tulislah catatan hamba-Ku di ‘Illiyyin, dan kembalikanlah dia ke bumi, karena dari tanah Aku ciptakan mereka, di dalamnya Aku kembalikan mereka, dan darinya Aku keluarkan mereka lagi.’ Dia berkata: ‘Maka dikembalikan ruhnya ke bumi, lalu datang kepadanya dua malaikat, keduanya mendudukkannya, lalu berkata kepadanya: Siapa Tuhanmu? Maka dia berkata: Tuhanku Allah ‘azza wa jalla. Keduanya berkata kepadanya: Apa agamamu? Maka dia berkata: Agamaku Islam. Keduanya berkata kepadanya: Siapa laki-laki yang diutus di antara kalian? Maka dia berkata: Dia Muhammad Rasulullah. Keduanya berkata kepadanya: Dari mana pengetahuanmu? Maka dia berkata: Aku membaca Kitab Allah ‘azza wa jalla lalu aku beriman kepadanya dan membenarkannya. Maka seorang penyeru dari langit menyeru: Hambaku benar, maka hamparkanlah untuknya dari surga, pakaikanlah dia dari surga, dan bukakanlah untuknya pintu ke surga.’ Dia berkata: ‘Maka datang kepadanya dari kenyamanan dan keharuman surga, dan dilapangkan untuknya kuburnya sejauh pandangan matanya. Dan datang kepadanya seorang laki-laki yang cantik wajahnya, bagus pakaiannya, harum baunya, lalu berkata: Bergembiralah dengan apa yang menyenangkanmu, ini adalah harimu yang telah dijanjikan kepadamu. Maka dia berkata kepadanya: Siapa engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan kebaikan. Maka dia berkata: Aku adalah amal shalihmu. Maka dia berkata: Ya Tuhanku, tegakkanlah kiamat, ya Tuhanku tegakkanlah kiamat, agar aku kembali kepada keluarga dan hartaku.’ Dia berkata: ‘Dan sesungguhnya hamba yang kafir ketika dalam keadaan berpisah dari dunia dan menghadap akhirat, turun kepadanya malaikat-malaikat dari langit yang hitam wajahnya, bersama mereka kain goni, lalu mereka duduk darinya sejauh pandangan mata. Kemudian datang malaikat maut sehingga duduk di kepalanya, lalu berkata: Wahai jiwa yang buruk, keluarlah menuju murka dari Allah dan kemurkaan-Nya. Dia berkata: ‘Maka tenggelam dalam tubuhnya lalu dicabut, seperti dicabutnya tusuk sate dari wol yang basah, lalu dia mengambilnya. Ketika dia mengambilnya, mereka tidak membiarkannya di tangannya sekejap mata, sehingga mereka memasukkannya ke dalam kain goni itu. Keluar darinya seperti bau bangkai yang paling busuk yang dijumpai di muka bumi. Maka mereka naik dengannya, tidak melewatinya pada rombongan malaikat kecuali mereka berkata: Ruh buruk apa ini? Maka mereka berkata: Ruh fulan bin fulan, dengan nama-nama terburuknya yang biasa dipanggil di dunia. Maka diminta dibukakan tetapi tidak dibukakan untuknya.’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca: ‘Tidak dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan mereka tidak masuk surga hingga unta masuk ke lubang jarum.’ [Surah Al-A’raf: 40] Maka Allah ‘azza wa jalla berfirman: Tulislah catatannya di Sijjin di bumi yang paling bawah, maka dilemparkan ruhnya dengan keras.’ Kemudian dia membaca: ‘Dan barangsiapa mempersekutukan Allah, maka seakan-akan dia jatuh dari langit lalu disambar burung atau dibawa angin ke tempat yang jauh.’ [Surah Al-Hajj: 31] Maka dikembalikan ruhnya ke dalam tubuhnya, dan datang kepadanya dua malaikat lalu keduanya mendudukkannya, keduanya berkata kepadanya: Siapa Tuhanmu? Maka dia berkata: Hah hah, aku tidak tahu. Keduanya berkata kepadanya: Apa agamamu? Maka dia berkata: Hah hah, aku tidak tahu. Keduanya berkata kepadanya: Siapa laki-laki yang diutus di antara kalian? Maka dia berkata: Hah hah, aku tidak tahu. Maka seorang penyeru dari langit menyeru: Hambaku berbohong, maka hamparkanlah untuknya dari neraka, dan bukakanlah untuknya pintu ke neraka. Maka datang kepadanya dari panasnya dan racun panasnya, dan disempitkan atasnya kuburnya, sehingga tulang rusuknya bertemu. Dan datang kepadanya seorang laki-laki yang buruk wajahnya, buruk pakaiannya, busuk baunya, lalu berkata: Bergembiralah dengan apa yang menyedihkanmu, ini adalah harimu yang telah dijanjikan kepadamu. Maka dia berkata: Dan siapa engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan kejahatan. Maka dia berkata: Aku adalah amal burukmu. Maka dia berkata: Ya Tuhanku, jangan tegakkan kiamat.'”
Dan dalam lafazh Ahmad juga: “Kemudian disiapkan untuknya (malaikat) yang buta, tuli, bisu, di tangannya ada palu besi. Seandainya dia memukul dengan palu itu sebuah gunung, pasti menjadi tanah, kemudian Allah ‘azza wa jalla mengembalikannya seperti semula, lalu dia memukulnya sekali lagi, maka dia berteriak sekali teriak yang didengar oleh segala sesuatu kecuali kedua makhluk (jin dan manusia).” Al-Bara’ berkata: “Kemudian dibukakan untuknya pintu ke neraka dan dihamparkan untuknya dari kasur neraka.”
Dan dalam Al-Musnad juga darinya, dia berkata: “Ketika kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba dia melihat sekelompok orang, lalu berkata: ‘Untuk apa mereka berkumpul?’ Dikatakan: ‘Di atas kubur yang sedang mereka gali.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkejut, lalu bergegas mendahului sahabat-sahabatnya dengan cepat, hingga sampai di kubur, lalu berlutut. Aku menghadapnya di hadapannya untuk melihat apa yang dia lakukan. Maka dia menangis hingga membasahi tanah dengan air matanya, kemudian menghadap kepada kami dan berkata: ‘Wahai saudara-saudaraku, untuk hari seperti ini maka bersiaplah.'”
Dan dalam Al-Musnad dari hadits Buraidah, dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar kepada kami suatu hari lalu memanggil tiga kali: ‘Wahai manusia, tahukah kalian perumpamaan aku dan kalian?’ Mereka berkata: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Maka beliau berkata: ‘Sesungguhnya perumpamaan aku dan kalian seperti suatu kaum yang takut musuh yang akan datang kepada mereka, lalu mereka mengutus seorang laki-laki untuk mengintai. Maka dia melihat musuh, lalu datang untuk memperingatkan mereka. Dia khawatir musuh akan menyusulnya sebelum dia memperingatkan kaumnya, maka dia melambai-lambaikan kainnya: Wahai manusia, kalian didatangi, wahai manusia, kalian didatangi, tiga kali.'”
Dan dalam Sahih Muslim dari hadits Jabir, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap yang memabukkan itu haram, dan sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla berjanji kepada orang yang minum yang memabukkan bahwa Dia akan memberinya minum dari tanah liat khabal.” Ditanya: “Apa tanah liat khabal?” Beliau berkata: “Keringat penduduk neraka atau perasan penduduk neraka.”
Dan dalam Al-Musnad juga dari hadits Abu Dzarr, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku melihat apa yang tidak kalian lihat dan mendengar apa yang tidak kalian dengar. Langit berderit dan berhak untuk berderit, tidak ada tempat selebar empat jari di dalamnya kecuali ada malaikat yang sujud. Seandainya kalian tahu apa yang aku tahu, niscaya kalian sedikit tertawa dan banyak menangis, dan kalian tidak akan menikmati wanita di atas ranjang, dan kalian akan keluar ke dataran tinggi meraung kepada Allah ‘azza wa jalla.” Abu Dzarr berkata: “Demi Allah, aku berharap seandainya aku adalah pohon yang ditebang.”
Dan dalam Al-Musnad juga dari hadits Hudzaifah, dia berkata: “Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam jenazah. Ketika kami sampai di kubur, beliau duduk di atas kedua kakinya, lalu terus membolak-balik pandangannya di dalamnya, kemudian berkata: ‘Orang beriman ditekan di dalamnya sekali tekanan hingga tergelincir tali sepatunya, dan orang kafir diisi dengan api.’ Hamail adalah urat kedua buah zakar.”
Dan dalam Al-Musnad juga dari hadits Jabir, dia berkata: “Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Sa’d bin Mu’adz ketika dia wafat. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyalatkannya dan dia diletakkan di kuburnya dan diratakan di atasnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertasbih maka kami ikut bertasbih lama, kemudian bertakbir, maka kami ikut bertakbir. Ditanya: ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau bertasbih kemudian bertakbir?’ Maka beliau berkata: ‘Sungguh kuburnya menyempit atas hamba yang shalih ini hingga Allah melapangkannya.'”
Dan dalam Sahih Bukhari dari hadits Abu Sa’id, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila jenazah diletakkan dan para laki-laki memikul di atas pundak mereka, jika dia shalih berkata: ‘Majukanlah aku, majukanlah aku,’ dan jika dia tidak shalih, berkata: ‘Celakalah dia, ke mana kalian membawanya?’ Suaranya didengar oleh segala sesuatu kecuali manusia, dan seandainya manusia mendengarnya pasti pingsan.”
Dan dalam Musnad Ahmad dari hadits Abu Umamah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Matahari akan mendekat pada hari kiamat sejauh satu mil, dan ditambahkan panasnya sekian dan sekian, kepala-kepala mendidih karenanya seperti mendidihnya periuk. Mereka berkeringat di dalamnya sesuai dengan kesalahan mereka, di antara mereka ada yang sampai mata kakinya, di antara mereka ada yang sampai betisnya, di antara mereka ada yang sampai pinggangnya, dan di antara mereka ada yang keringat menjadi kekang mulutnya.”
Dan di dalamnya dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata: “Bagaimana aku bersenang-senang sedangkan pemegang sangkakala telah menempelkan sangkakala dan membungkukkan keningnya mendengarkan kapan dia diperintah lalu meniup.” Maka sahabat-sahabatnya berkata: “Bagaimana kami berkata?” Beliau berkata: “Katakanlah: Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik Pelindung, kepada Allah kami bertawakal.”
Dalam Musnad juga diriwayatkan dari Ibnu Umar secara marfu’: “Barangsiapa yang membesarkan dirinya atau berjalan dengan sombong, maka dia akan bertemu Allah dalam keadaan Allah murka kepadanya.”
Dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim) dari Ibnu Umar, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya para pembuat gambar akan disiksa pada hari kiamat, dan dikatakan kepada mereka: ‘Hidupkanlah apa yang telah kalian ciptakan.'”
Dalam keduanya (Bukhari dan Muslim) juga dari Ibnu Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya salah seorang dari kalian apabila meninggal, maka ditampakkan kepadanya tempatnya pada pagi dan petang hari. Jika dia termasuk ahli surga maka (ditampakkan tempat) ahli surga, dan jika dia termasuk ahli neraka maka (ditampakkan tempat) ahli neraka. Kemudian dikatakan: ‘Inilah tempatmu hingga Allah ‘azza wa jalla membangkitkanmu pada hari kiamat.'”
Dalam keduanya juga dari Ibnu Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apabila ahli surga telah berada di surga dan ahli neraka telah berada di neraka, maka didatangkanlah kematian hingga ditempatkan di antara surga dan neraka, kemudian disembelih. Lalu seorang penyeru berseru: ‘Wahai ahli surga, kekal abadi tanpa kematian! Dan wahai ahli neraka, kekal abadi tanpa kematian!’ Maka bertambahlah kegembiraan ahli surga atas kegembiraan mereka, dan bertambahlah kesedihan ahli neraka atas kesedihan mereka.”
Dalam Musnad dari Ibnu Umar, dia berkata: “Barangsiapa yang membeli pakaian seharga sepuluh dirham yang di dalamnya terdapat satu dirham haram, maka Allah tidak akan menerima shalatnya selama dia memakainya.” Kemudian dia memasukkan kedua jarinya ke telinganya lalu berkata: “Tuli keduanya jika aku tidak mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakannya.”
Dalam Musnad dari Abdullah bin Amr, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang meninggalkan shalat karena mabuk sekali saja, maka seakan-akan dia memiliki dunia dan seisinya lalu dirampas darinya. Dan barangsiapa yang meninggalkan shalat karena mabuk empat kali, maka Allah berhak meminumkan kepadanya tanah khabal.” Ditanyakan: “Apakah tanah khabal itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Perasan penghuni jahannam.”
Dalam Musnad juga dari Abdullah bin Amr secara marfu’: “Barangsiapa yang meminum khamr sekali, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh pagi. Jika dia bertaubat, Allah akan menerima taubatnya. Jika dia mengulanginya lagi, Allah tidak menerima shalatnya selama empat puluh pagi. Jika dia bertaubat, Allah menerima taubatnya. Aku tidak tahu apakah pada yang ketiga atau keempat, beliau bersabda: ‘Jika dia mengulanginya lagi, maka Allah berhak meminumkan kepadanya dari lumpur khabal pada hari kiamat.'”
Dalam Musnad juga dari hadits Abu Musa, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang mati dalam keadaan kecanduan khamr, Allah akan meminumkan kepadanya dari sungai Ghuthah.” Ditanyakan: “Apakah sungai Ghuthah itu?” Beliau menjawab: “Sungai yang mengalir dari kemaluan para pelacur, yang baunya menyakiti penghuni neraka.”
Dalam Musnad juga dari Abu Musa, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Manusia diperiksa pada hari kiamat sebanyak tiga kali pemeriksaan. Adapun dua pemeriksaan adalah untuk perdebatan dan permintaan maaf. Adapun yang ketiga, pada saat itulah catatan-catatan beterbangan di tangan-tangan, ada yang mengambil dengan tangan kanannya, dan ada yang mengambil dengan tangan kirinya.”
Dalam Musnad juga dari hadits Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berhati-hatilah kalian dari dosa-dosa yang diremehkan, karena sesungguhnya dosa-dosa itu berkumpul pada seseorang hingga membinasakannya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perumpamaan untuk dosa-dosa tersebut seperti kaum yang turun di tanah gersang lalu tiba waktu makan kaum tersebut. Maka seseorang pergi membawa satu batang kayu, dan orang lain membawa satu batang kayu, hingga mereka mengumpulkan banyak kayu dan menyalakan api, serta mematangkan apa yang mereka masak di dalamnya.”
Dalam Shahih dari hadits Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jembatan dipasang di atas jahannam, maka aku adalah orang pertama yang menyeberanginya. Dan doa para rasul pada hari itu adalah: ‘Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah!’ Di kedua sisi jembatan terdapat pengait-pengait seperti duri sa’dan yang menyambar manusia sesuai amal mereka. Di antara mereka ada yang terikat karena amalnya, dan di antara mereka ada yang tercabik-cabik kemudian selamat. Hingga apabila Allah telah selesai memutuskan perkara di antara para hamba, dan Allah hendak mengeluarkan dari neraka siapa yang Dia kehendaki untuk diberi rahmat dari kalangan orang yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, Allah memerintahkan para malaikat untuk mengeluarkan mereka. Mereka mengenali orang-orang tersebut dengan tanda bekas sujud. Allah mengharamkan api untuk memakan bekas sujud dari anak Adam. Maka mereka mengeluarkan orang-orang yang telah hangus, lalu disiramkan kepada mereka air yang disebut air kehidupan, maka mereka tumbuh seperti tumbuhnya biji dalam lumpur banjir.”
Dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang pertama yang dihisab pada hari kiamat adalah tiga orang: Seorang laki-laki yang mati syahid, maka dia didatangkan lalu Allah menunjukkan nikmat-nikmat-Nya kepadanya dan dia mengenalinya. Allah bertanya: ‘Apa yang kamu lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab: ‘Aku berperang di jalan-Mu hingga terbunuh.’ Allah berfirman: ‘Kamu berdusta, tetapi kamu berperang agar dikatakan: dia pemberani, dan memang telah dikatakan.’ Kemudian dia diperintahkan untuk diseret atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka. Dan seorang laki-laki yang belajar ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an, maka dia didatangkan lalu Allah menunjukkan nikmat-nikmat-Nya kepadanya dan dia mengenalinya. Allah bertanya: ‘Apa yang kamu lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab: ‘Aku belajar ilmu karena-Mu dan mengajarkannya, serta membaca Al-Qur’an karena-Mu.’ Allah berfirman: ‘Kamu berdusta, tetapi kamu belajar agar dikatakan: dia alim, dan memang telah dikatakan. Dan kamu membaca Al-Qur’an agar dikatakan: dia qari (pembaca Al-Qur’an), dan memang telah dikatakan.’ Kemudian dia diperintahkan untuk diseret atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.” Dalam riwayat lain: “Maka mereka itulah makhluk Allah yang pertama kali menyalakan api neraka pada hari kiamat.”
Aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Sebagaimana sebaik-baik manusia adalah para nabi, maka seburuk-buruk manusia adalah orang yang menyerupai mereka dengan mengesankan bahwa dia termasuk golongan mereka padahal dia bukan dari mereka. Maka sebaik-baik manusia setelah para nabi adalah para ulama, syuhada, shiddiqin, dan orang-orang yang ikhlas. Dan seburuk-buruk manusia adalah orang yang menyerupai mereka dengan mengesankan bahwa dia termasuk golongan mereka padahal dia bukan dari mereka.”
Dalam Shahih Bukhari dari hadits Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang memiliki kezaliman terhadap saudaranya baik dalam harta maupun kehormatan, maka hendaklah dia datang kepadanya dan meminta halal darinya sebelum diambil (hak saudaranya) sedangkan dia tidak memiliki dinar maupun dirham. Jika dia memiliki kebaikan, maka diambil dari kebaikannya dan diberikan kepada orang yang dizalimi. Jika tidak, maka diambil dari keburukan orang yang dizalimi lalu dibebankan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka.”
Dalam Shahih dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang mengambil sejengkal tanah tanpa hak, maka dia akan ditenggelamkan pada hari kiamat hingga tujuh lapis bumi.”
Dalam Shahihain dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah bersabda: “Api kalian yang dinyalakan anak Adam ini hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian api jahannam.” Para sahabat berkata: “Demi Allah, sesungguhnya api ini sudah cukup (untuk menyiksa).” Beliau bersabda: “Sesungguhnya api jahannam dilebihkan atas api dunia dengan enam puluh sembilan bagian, semuanya seperti panasnya api dunia.”
Dalam Musnad dari Mu’adz, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepadaku: “Jangan kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, meskipun kamu dibunuh atau dibakar. Jangan kamu durhaka kepada kedua orang tuamu meskipun mereka memerintahkanmu untuk keluar dari keluarga dan hartamu. Jangan kamu meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja, karena barangsiapa yang meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja maka lepas darinya jaminan Allah. Jangan kamu meminum khamr, karena khamr adalah induk dari segala keji. Berhati-hatilah dari kemaksiatan, karena kemaksiatan mendatangkan murka Allah.”
Hadits-hadits dalam bab ini berkali-kali lipat lebih banyak dari yang kami sebutkan. Maka tidak layak bagi orang yang menasihati dirinya untuk menutup mata dari hadits-hadits tersebut, dan membiarkan dirinya terjerumus dalam kemaksiatan, serta berpegang pada angan-angan yang baik dan prasangka yang baik.
Abu al-Wafa bin Aqil berkata: “Berhati-hatilah dan jangan tertipu dengannya (rahmat Allah), karena Allah memotong tangan karena tiga dirham, dan mendera had karena khamr sebesar ujung jarum. Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing, dan selimut terbakar (menjadi api) bagi orang yang menggelapkannya padahal dia mati syahid.”
Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami al-A’masy dari Sulaiman bin Maisarah dari Thariq bin Shihab secara marfu’, beliau bersabda: “Seorang laki-laki masuk surga karena seekor lalat, dan seorang laki-laki masuk neraka karena seekor lalat.” Para sahabat bertanya: “Bagaimana itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Dua orang laki-laki melewati suatu kaum yang memiliki berhala, tidak ada seorang pun yang boleh melewatinya kecuali setelah mempersembahkan sesuatu kepadanya. Mereka berkata kepada salah satunya: ‘Persembahkanlah!’ Dia berkata: ‘Aku tidak memiliki sesuatu.’ Mereka berkata: ‘Persembahkanlah, meskipun hanya seekor lalat.’ Maka dia memberikan lalat dan mereka membiarkannya lewat, lalu dia masuk neraka. Dan mereka berkata kepada yang lain: ‘Persembahkanlah!’ Dia berkata: ‘Aku tidak akan mempersembahkan sesuatu kepada siapa pun selain Allah ‘azza wa jalla.’ Maka mereka memenggal lehernya, lalu dia masuk surga. Dan satu kalimat yang diucapkan seorang hamba bisa membuatnya terjerumus ke neraka sejauh antara timur dan barat.”
Terkadang sebagian orang yang tertipu mengandalkan nikmat-nikmat Allah yang dilihatnya di dunia dan bahwa Allah tidak mengubah keadaannya, dan dia menyangka bahwa itu karena cinta Allah kepadanya, dan bahwa Allah akan memberinya di akhirat yang lebih baik dari itu. Ini termasuk penipuan.
Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ghailan, telah menceritakan kepada kami Risydin bin Sa’d dari Harmalah bin Imran at-Tujibi dari Uqbah bin Muslim dari Uqbah bin Amir, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Apabila kamu melihat Allah memberikan kepada seorang hamba dari dunia atas kemaksiatannya apa yang dia sukai, maka sesungguhnya itu adalah istidraj (perangkap).” Kemudian beliau membaca firman Allah ‘azza wa jalla: “Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami bukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka jadilah mereka berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)
Sebagian salaf berkata: “Apabila kamu melihat Allah melimpahkan nikmat-nikmat-Nya kepadamu sedangkan kamu tetap dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka berhati-hatilah, karena itu hanyalah istidraj dari-Nya yang digunakan untuk menjebakmu.”
Allah Ta’ala berfirman: “Dan kalau sekiranya manusia tidak menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah Kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Rahman itu rumah-rumah yang atapnya dari perak dan (juga) tangga-tangga yang mereka naiki. Dan (Kami buatkan) untuk rumah-rumah mereka pintu-pintu dan dipan-dipan yang mereka duduki di atasnya, dan (berbagai) perhiasan. Dan semua itu tidak lain hanyalah kesenangan hidup duniawi, sedang akhirat di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 33-35)
Allah Subhanahu telah menolak sangkaan orang yang berprasangka demikian dengan firman-Nya: “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Dan adapun bila Tuhannya mengujinya lalu ditakdirkan-Nya rezekinya (disempitkan), maka dia berkata: ‘Tuhanku menghinakanku.’ Sekali-kali tidak (demikian)!” (QS. Al-Fajr: 15-17) Maksudnya: tidak setiap orang yang Ku-beri nikmat dan Ku-lapangkan rezekinya berarti telah Ku-muliakan, dan tidak setiap orang yang Ku-uji dan Ku-sempitkan rezekinya berarti telah Ku-hinakan. Bahkan Aku menguji orang ini dengan nikmat, dan memuliakan orang ini dengan ujian.
Dalam Jami’ at-Tirmidzi dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada orang yang dicintai-Nya dan yang tidak dicintai-Nya, tetapi Allah tidak memberikan iman kecuali kepada orang yang dicintai-Nya.”
Sebagian salaf berkata: “Betapa banyak orang yang dijebak dengan nikmat Allah kepadanya sedangkan dia tidak mengetahui, betapa banyak orang yang tertipu dengan perlindungan Allah kepadanya sedangkan dia tidak mengetahui, dan betapa banyak orang yang terfitnahkan dengan pujian manusia kepadanya sedangkan dia tidak mengetahui.”
Yang paling tertipu di antara makhluk adalah orang yang tertipu dengan dunia dan kesegegarannya, lalu mengutamakannya atas akhirat, dan rela dengannya menggantikan akhirat. Hingga sebagian dari mereka berkata: “Dunia itu tunai, sedangkan akhirat itu utang, dan yang tunai lebih baik dari yang berutang.”
Sebagian mereka berkata: “Setitik yang tunai, dan bukan mutiara yang dijanjikan.”
Yang lain dari mereka berkata: “Kenikmatan dunia itu pasti, sedangkan kenikmatan akhirat diragukan, dan aku tidak akan meninggalkan yang yakin dengan yang ragu.”
Ini termasuk tipu daya setan yang paling besar dan rayuannya. Binatang yang bisu pun lebih berakal dari orang-orang ini, karena binatang apabila takut akan bahaya sesuatu, dia tidak mendekatinya meskipun dipukul. Sedangkan orang-orang ini, salah seorang dari mereka mendekati apa yang di dalamnya terdapat kecelakaannya, padahal dia antara membenarkan dan mendustakan.
Golongan ini, jika salah seorang dari mereka beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta pertemuan dengan-Nya dan pembalasan, maka dia termasuk orang yang paling menyesal, karena dia melakukan (kemaksiatan) atas dasar pengetahuan. Dan jika dia tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka lebih jauh lagi (dari kebenaran).
Perkataan orang yang berkata: “Yang tunai lebih baik dari yang berutang.”
Jawabannya adalah: Jika yang tunai dan yang berutang itu sama, maka yang tunai lebih baik. Tetapi jika keduanya berbeda dan yang berutang itu lebih besar dan lebih baik, maka yang berutang lebih baik. Bagaimana lagi jika seluruh dunia dari awal hingga akhir itu seperti satu nafas dari nafas-nafas akhirat?
Sebagaimana dalam Musnad Ahmad dan at-Tirmidzi dari hadits al-Mustawrid bin Syaddad, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah dunia di (hadapan) akhirat kecuali seperti salah seorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, maka lihatlah dengan apa dia kembali?”
Maka mengutamakan yang tunai ini atas yang berutang itu termasuk kerugian yang paling besar dan kebodohan yang paling buruk. Jika ini adalah perbandingan seluruh dunia terhadap akhirat, maka berapa ukuran umur manusia dibandingkan dengan akhirat? Manakah yang lebih pantas bagi orang yang berakal: mengutamakan yang segera dalam masa yang sedikit ini dan kehilangan kebaikan yang kekal di akhirat, ataukah meninggalkan sesuatu yang hina, kecil, dan terputus dalam waktu dekat, untuk mengambil apa yang tidak ada nilainya, tidak ada bahayanya, tidak ada akhir bagi bilangannya, dan tidak ada batas bagi masanya?
Adapun perkataan yang lain: “Aku tidak meninggalkan yang yakin untuk yang diragukan.”
Dikatakan kepadanya: Kamu ini dalam keadaan ragu tentang janji dan ancaman Allah serta kebenaran para rasul-Nya, ataukah dalam keadaan yakin tentang hal itu? Jika kamu dalam keadaan yakin, maka kamu tidak meninggalkan kecuali setitik yang segera, terputus, dan fana dalam waktu dekat, untuk (mendapatkan) yang yakin tanpa keraguan dan tanpa terputus.
Jika kamu dalam keadaan ragu, maka kembalilah kepada ayat-ayat Rabb Ta’ala yang menunjukkan wujud-Nya, kekuasaan-Nya, kehendak-Nya, keesaan-Nya, dan kebenaran para rasul-Nya dalam apa yang mereka kabarkan tentang Allah. Berdirilah untuk Allah sebagai orang yang memperhatikan atau berdebat, hingga jelas bagimu bahwa apa yang dibawa para rasul dari Allah adalah kebenaran yang tidak diragukan. Dan bahwa Pencipta alam ini dan Rabb langit dan bumi itu Maha Tinggi, Maha Suci, dan Maha Bersih dari apa yang bertentangan dengan apa yang diberitakan para rasul-Nya tentang-Nya. Barangsiapa yang menisbatkan-Nya kepada selain itu, maka dia telah mencela-Nya, mendustakannya, dan mengingkari rububiyyah serta kerajaan-Nya.
Karena adalah mustahil dan terlarang menurut setiap orang yang memiliki fitrah yang sehat, bahwa Raja Yang Haq itu lemah atau jahil, tidak mengetahui sesuatu, tidak mendengar, tidak melihat, tidak berbicara, tidak memerintah, tidak melarang, tidak memberi pahala, tidak menghukum, tidak memuliakan siapa yang dikehendaki-Nya, tidak menghinakan siapa yang dikehendaki-Nya, tidak mengutus rasul-rasul-Nya ke penjuru kerajaan-Nya dan daerah-daerahnya, dan tidak memperhatikan keadaan rakyat-Nya. Bahkan membiarkan mereka sia-sia dan menelantarkan mereka. Ini mencela kerajaan raja-raja manusia biasa dan tidak pantas baginya, maka bagaimana boleh dinisbatkan kepada Raja Yang Haq Yang Nyata?
Apabila manusia merenungkan keadaannya dari awal menjadi nutfah hingga masa kesempurnaan dan kedewasaannya, akan jelas baginya bahwa Dzat yang telah memperhatikannya dengan perhatian ini, memindahkannya ke keadaan-keadaan ini, dan mengubahnya dalam fase-fase ini, tidak pantas bagi-Nya untuk mengabaikannya dan membiarkannya sia-sia, tidak memerintahkannya, tidak melarangnya, tidak mengenalkannya hak-hak-Nya atas dirinya, tidak memberinya pahala dan tidak menghukumnya.
Seandainya hamba merenungkan dengan sebenar-benar renungan, maka semua yang dilihatnya dan yang tidak dilihatnya akan menjadi dalil baginya atas tauhid, kenabian, dan hari kebangkitan, dan bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah. Kami telah menyebutkan cara beristidlal dengan hal itu dalam kitab “Iman Al-Qur’an” pada firman-Nya: “Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat, dan apa yang tidak kamu lihat, sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia.” (QS. Al-Haqqah: 38-40)
Dan kami menyebutkan sebagian dari itu pada firman-Nya: “Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat: 21)
Dan bahwa manusia adalah dalil dirinya sendiri atas wujud Penciptanya, tauhid-Nya, kebenaran para rasul-Nya, dan penetapan sifat-sifat kesempurnaan-Nya.
Maka telah jelas bahwa orang yang menyia-nyiakan (akhirat) itu tertipu dalam dua keadaan: keadaan membenarkan dan meyakini, dan keadaan mendustakan dan meragukan.
Bagaimana mungkin berkumpul keyakinan pada hari kebangkitan dengan kelalaian dari amal?
Jika engkau bertanya: “Bagaimana mungkin keyakinan yang pasti tanpa keraguan tentang hari akhir, surga, dan neraka dapat berkumpul dalam diri seseorang, namun amalnya tidak mengikuti? Apakah mungkin dalam tabiat manusia bahwa seorang hamba mengetahui bahwa dia akan dipanggil besok menghadap kepada seorang raja untuk dihukum dengan hukuman yang paling berat, atau dimuliakan dengan kemuliaan yang sempurna, lalu dia bermalam dengan lalai dan lengah, tidak mengingat pertemuannya dengan raja tersebut, tidak mempersiapkan diri, dan tidak mengambil perlengkapan untuknya?”
Dijawab: “Demi Allah, ini adalah pertanyaan yang benar dan menimpa kebanyakan manusia. Berkumpulnya kedua hal ini merupakan salah satu hal yang paling mengherankan, dan kelalaian ini memiliki beberapa sebab:
Pertama: Lemahnya ilmu dan kurangnya keyakinan. Barangsiapa yang mengira bahwa ilmu tidak berbeda-beda tingkatannya, maka perkataannya termasuk perkataan yang paling rusak dan paling bathil.
Ibrahim al-Khalil telah meminta kepada Tuhannya agar diperlihatkan kepadanya cara menghidupkan orang mati secara langsung setelah dia mengetahui kemampuan Tuhan untuk melakukan hal itu, agar bertambah ketenangan hatinya, dan agar yang diketahui secara ghaib menjadi nyata.
Ahmad telah meriwayatkan dalam Musnadnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Kabar tidaklah sama dengan melihat langsung.”
Jika lemahnya ilmu bergabung dengan tidak mengingat-ngingatnya atau hilangnya dari hati dalam banyak waktu atau kebanyakan waktu karena sibuk dengan hal yang bertentangan dengannya, dan bergabung dengan itu tuntutan tabiat, dominasi hawa nafsu, kuatnya syahwat, tipuan jiwa, tipu daya syaitan, menganggap lambat janji Allah, panjangnya angan-angan, tidurnya kelalaian, cinta kepada kehidupan dunia, kemudahan dalam takwil, dan kebiasaan dengan adat-adat, maka di sanalah tidak ada yang dapat mempertahankan iman kecuali Dzat yang mempertahankan langit dan bumi agar tidak hancur. Dengan sebab inilah manusia berbeda-beda dalam iman dan amal, hingga berakhir pada seberat atom di dalam hati.
Keseluruhan sebab-sebab ini kembali kepada lemahnya bashirah (pandangan batin) dan kesabaran. Karena itulah Allah Subhanahu memuji ahli sabar dan yakin, dan menjadikan mereka sebagai imam dalam agama. Allah Ta’ala berfirman:
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (Surat As-Sajdah: 24)
Perbedaan antara Husnuzzan dan Tertipu
Telah jelas perbedaan antara husnuzzan (berbaik sangka) dan tertipu. Husnuzzan, jika mendorong kepada amal, menganjurkan kepadanya, dan mengarahkan kepadanya, maka ia adalah husnuzzan yang benar. Jika mengajak kepada kemalasan dan terjerumus dalam kemaksiatan, maka ia adalah tipuan. Husnuzzan adalah harapan (raja’). Barangsiapa yang harapannya membimbingnya kepada ketaatan dan mencegahnya dari kemaksiatan, maka ia adalah harapan yang benar. Barangsiapa yang kemalasannya adalah harapan, dan harapannya adalah kemalasan dan kelalaian, maka dia adalah orang yang tertipu.
Seandainya seorang laki-laki memiliki tanah dan berharap bahwa dia akan mendapat hasil darinya yang bermanfaat baginya, lalu dia mengabaikannya, tidak menyemai dan tidak membajak, dan berbaik sangka bahwa dia akan mendapat hasil seperti orang yang membajak, menyemai, menyiram, dan merawat tanah, niscaya manusia akan menganggapnya sebagai orang paling bodoh.
Demikian pula jika dia berbaik sangka dan berharap kuat bahwa dia akan mendapat anak tanpa jimak, atau menjadi orang paling berilmu di zamannya tanpa menuntut ilmu dan bersungguh-sungguh padanya, dan contoh-contoh serupa.
Demikian pula orang yang berbaik sangka dan berharap kuat akan memenangkan derajat yang tinggi dan kenikmatan yang kekal, tanpa ketaatan dan tanpa mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Wallahu at-taufiq.
Allah Ta’ala telah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharap rahmat Allah.” (Surat Al-Baqarah: 218)
Perhatikanlah bagaimana Allah menjadikan harapan mereka itu dengan datangnya mereka dengan ketaatan-ketaatan ini?
Orang-orang yang tertipu berkata: “Sesungguhnya orang-orang yang menyia-nyiakan, yang mengabaikan hak-hak Allah, yang menggugurkan perintah-perintah-Nya, yang berbuat aniaya kepada hamba-hamba-Nya, yang berani melanggar larangan-larangan-Nya, mereka itulah yang mengharap rahmat Allah.”
Rahasia masalah ini adalah: Sesungguhnya harapan dan husnuzzan itu hanya ada bersama dengan datangnya sebab-sebab yang dikehendaki oleh hikmah Allah dalam syariat-Nya, takdir-Nya, pahala-Nya, dan kemuliaan-Nya. Maka hamba datang dengan sebab-sebab itu, kemudian berbaik sangka kepada Tuhannya, dan berharap agar Allah tidak menyerahkannya kepada sebab-sebab itu, dan agar Allah menjadikannya sampai kepada apa yang bermanfaat baginya, dan menghilangkan apa yang menghalanginya dan membatalkan pengaruhnya.
Perlu diketahui bahwa barangsiapa yang berharap sesuatu, harapannya menuntut tiga perkara:
Pertama: Mencintai apa yang diharapkannya. Kedua: Takut akan kehilangannya. Ketiga: Berusaha meraihnya sesuai kemampuan.
Adapun harapan yang tidak disertai dengan sesuatu dari itu, maka ia termasuk angan-angan belaka. Harapan adalah satu hal, dan angan-angan adalah hal lain. Setiap orang yang berharap pasti takut, dan orang yang berjalan di jalan, jika takut, dia akan mempercepat jalannya karena takut ketinggalan.
Dalam Jami’ at-Tirmidzi dari hadits Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang takut, dia akan berangkat di malam hari. Barangsiapa yang berangkat malam hari, dia akan sampai ke tempat tujuan. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah adalah surga.”
Allah Subhanahu sebagaimana menjadikan harapan bagi ahli amal shalih, demikian pula Dia menjadikan ketakutan bagi ahli amal shalih. Maka diketahui bahwa harapan dan ketakutan yang bermanfaat adalah yang disertai dengan amal.
Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut kepada Tuhan mereka, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Tuhan mereka, dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun), dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, sedang hati mereka takut karena mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. Mereka itulah orang-orang yang bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan merekalah orang-orang yang terdahulu memperolehnya.” (Surat Al-Mu’minun: 57-61)
At-Tirmidzi telah meriwayatkan dalam Jami’nya dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ayat ini, aku berkata: ‘Apakah mereka orang-orang yang minum khamar, berzina, dan mencuri?’ Beliau bersabda: ‘Tidak, wahai putri Ash-Shiddiq, tetapi mereka adalah orang-orang yang puasa, shalat, bersedekah, dan takut bahwa (amal) mereka tidak diterima. Mereka itulah yang bersegera dalam kebaikan.'” Hadits ini juga diriwayatkan dari Abu Hurairah.
Allah Subhanahu menggambarkan ahli kebahagiaan dengan ihsan disertai ketakutan, dan menggambarkan orang-orang celaka dengan keburukan disertai rasa aman.
Barangsiapa yang merenungkan keadaan para sahabat radhiyallahu ‘anhum, akan mendapati mereka dalam puncak amal disertai puncak ketakutan. Sedangkan kita semua berada antara kekurangan, bahkan kelalaian dan rasa aman.
Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku berharap aku adalah sehelai bulu di lambung seorang hamba yang mukmin.” Ahmad meriwayatkannya darinya.
Ahmad juga meriwayatkan darinya bahwa dia biasa memegang lidahnya dan berkata: “Inilah yang menjerumuskanku ke tempat-tempat kehancuran.” Dia sering menangis dan berkata: “Menangislah, jika kalian tidak menangis maka pura-puralah menangis.”
Ketika dia berdiri untuk shalat, dia seperti sebatang kayu karena takut kepada Allah ‘azza wa jalla.
Dia datang dengan membawa burung lalu membalikkannya, kemudian berkata: “Tidak ada binatang buruan yang diburu dan tidak ada pohon yang ditebang, kecuali karena apa yang kalian sia-siakan dari tasbih.” Ketika dia menjelang ajal, dia berkata kepada Aisyah: “Wahai anakku, aku telah mengambil dari harta kaum muslimin jubah ini, gelas ini, dan budak ini, maka segeralah kembalikan kepada Ibnu al-Khaththab.” Dia berkata: “Demi Allah, aku berharap aku adalah pohon ini yang bisa dimakan dan ditebang.”
Qatadah berkata: “Sampai kepadaku bahwa Abu Bakar berkata: ‘Seandainya aku adalah rumput hijau yang dimakan binatang.'”
Umar bin al-Khaththab membaca Surat ath-Thur hingga sampai pada: “Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi” (Surat ath-Thur: 7), maka dia menangis dan tangisannya semakin keras hingga dia sakit dan orang-orang menjenguknya. Dia berkata kepada anaknya ketika menjelang ajal: “Celaka kamu, taruh pipiku di atas tanah, mudah-mudahan Allah merahmatiku.” Kemudian dia berkata: “Celakalah ibuku, jika Allah tidak mengampuniku” (tiga kali), lalu dia meninggal.
Dia biasa melewati ayat dalam wirid malamnya yang membuatnya takut, maka dia tinggal di rumah beberapa hari dijenguk orang, mereka mengira dia sakit. Di wajahnya radhiyallahu ‘anhu ada dua garis hitam bekas air mata.
Ibnu Abbas berkata kepadanya: “Allah telah membangun negeri-negeri denganmu, membuka penaklukan denganmu, dan berbuat…” Maka dia berkata: “Aku berharap aku selamat tanpa pahala dan tanpa dosa.”
Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, ketika berdiri di atas kubur menangis hingga jenggotnya basah. Dia berkata: “Seandainya aku berada antara surga dan neraka, tidak tahu ke mana aku akan diperintahkan, aku akan memilih menjadi abu sebelum aku tahu ke mana aku akan berakhir.”
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dengan tangisan dan ketakutannya. Ketakutannya sangat kuat terhadap dua hal: panjangnya angan-angan dan mengikuti hawa nafsu. Dia berkata: “Adapun panjang angan-angan, maka ia melupakan akhirat. Adapun mengikuti hawa nafsu, maka ia menghalangi dari kebenaran. Ketahuilah, sesungguhnya dunia telah berlalu mundur, dan akhirat sedang datang mendekat. Keduanya memiliki anak-anak, maka jadilah kalian anak-anak akhirat, dan jangan menjadi anak-anak dunia. Sesungguhnya hari ini adalah amal tanpa hisab, dan besok adalah hisab tanpa amal.”
Abu ad-Darda’ biasa berkata: “Sesungguhnya yang paling aku takuti pada diriku di hari kiamat adalah dikatakan kepadaku: ‘Wahai Abu ad-Darda’, engkau telah tahu, maka bagaimana engkau mengamalkan apa yang engkau ketahui?” Dia berkata: “Seandainya kalian tahu apa yang akan kalian temui setelah mati, niscaya kalian tidak akan makan makanan dengan nikmat, tidak minum minuman dengan nikmat, tidak masuk rumah untuk berteduh di dalamnya, dan kalian akan keluar ke dataran tinggi memukul dada kalian dan menangisi diri kalian. Aku berharap aku adalah pohon yang ditebang lalu dimakan.”
Abdullah bin Abbas, di bawah kedua matanya seperti tali sandal yang usang karena air mata.
Abu Dzar berkata: “Seandainya aku adalah pohon yang ditebang. Aku berharap aku tidak diciptakan.” Ketika ditawarkan nafkah kepadanya, dia berkata: “Kami tidak punya kambing untuk diperah, keledai untuk angkutan, budak yang melayani kami, dan lebihan jubah. Aku takut perhitungan padanya.”
Tamim ad-Dari membaca Surat al-Jatsiyah pada suatu malam. Ketika sampai pada ayat: “Apakah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh” (Surat al-Jatsiyah: 21), dia terus mengulanginya dan menangis hingga subuh.
Abu Ubaidah Amir bin al-Jarrah berkata: “Aku berharap aku adalah domba jantan yang disembelih keluargaku, mereka makan dagingku dan menyeruput kalduku.” Ini adalah bab yang panjang jika ditelusuri.
Al-Bukhari berkata dalam Shahihnya: “Bab ketakutan mukmin bahwa amalnya terhapus sedangkan dia tidak menyadari.”
Ibrahim at-Taimi berkata: “Tidaklah aku menyesuaikan perkataanku dengan amalku kecuali aku takut menjadi pendusta.”
Ibnu Abi Mulaikah berkata: “Aku mendapati tiga puluh dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, semuanya takut nifaq pada dirinya. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang berkata: ‘Sesungguhnya dia berada dalam iman seperti Jibril dan Mikail.'”
Diriwayatkan dari al-Hasan: “Tidaklah takut padanya kecuali mukmin, dan tidaklah merasa aman darinya kecuali munafiq.”
Umar bin al-Khaththab berkata kepada Hudzaifah: “Aku bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan namaku kepadamu?” maksudnya dalam golongan munafiq. Maka Hudzaifah berkata: “Tidak, dan aku tidak akan mensucikan siapa pun setelahmu.”
Aku mendengar guru kami radhiyallahu ‘anhu berkata: “Bukan maksudnya aku tidak akan membebaskan selainmu dari nifaq, tetapi maksudnya aku tidak akan membuka pada diriku pintu ini. Setiap orang yang bertanya kepadaku: ‘Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut namaku kepadamu?’ maka aku mensucikannya.”
Aku berkata: “Dekat dengan ini adalah perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang meminta beliau berdoa untuknya agar menjadi dari tujuh puluh ribu yang masuk surga tanpa hisab: ‘Ukasyah telah mendahuluimu.'” Beliau tidak bermaksud bahwa Ukasyah sendirian lebih berhak dengan itu daripada sahabat lainnya, tetapi seandainya beliau berdoa, maka akan berdiri yang lain dan lain lagi, pintu akan terbuka, dan mungkin akan berdiri orang yang tidak pantas menjadi bagian dari mereka. Maka menahan diri lebih utama. Wallahu a’lam.
Pasal: Bahaya Dosa-Dosa pada Hati Seperti Bahaya Racun pada Tubuh
Bahaya dosa-dosa pada hati seperti bahaya racun pada tubuh.
Mari kita kembali kepada apa yang sedang kita bahas tentang obat penyakit yang jika terus berlanjut akan merusak dunia dan akhirat seorang hamba.
Yang perlu diketahui adalah bahwa dosa-dosa dan kemaksiatan itu berbahaya, dan pasti bahayanya pada hati seperti bahaya racun pada tubuh dengan perbedaan tingkat bahayanya. Adakah keburukan dan penyakit di dunia dan akhirat kecuali sebabnya adalah dosa-dosa dan kemaksiatan?
Apa yang mengeluarkan kedua orang tua (Adam dan Hawa) dari surga, rumah kenikmatan, kebahagiaan, kegembiraan dan kesenangan menuju rumah penderitaan, kesedihan dan musibah?
Apa yang mengeluarkan Iblis dari kerajaan langit, mengusirnya dan melaknatnya, mengubah lahir dan batinnya sehingga dijadikan rupanya yang paling jelek dan buruk, dan batinnya lebih jelek dari rupanya dan lebih buruk, diganti dari kedekatan menjadi kejauhan, dari rahmat menjadi laknat, dari keindahan menjadi kejelekaan, dari surga menjadi api yang menyala-nyala, dari iman menjadi kekafiran, dari kecintaan kepada Wali Yang Terpuji menjadi permusuhan dan pertentangan yang sangat besar, dari lantunan tasbih, takdis dan tahlil menjadi lantunan kekafiran, kesyirikan, kebohongan, kepalsuan dan kekejian, dari pakaian iman menjadi pakaian kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan, sehingga dia hina di hadapan Allah dengan kehina-hinaan yang sangat, jatuh dari mata-Nya dengan kejatuhan yang sangat, menimpa kepadanya murka Rabb Ta’ala sehingga menjerumuskannya, dan membencinya dengan kebencian yang sangat sehingga membinasakannya, kemudian dia menjadi dalang bagi setiap orang fasik dan penjahat, dia rela untuk dirinya dengan menjadi dalang setelah ibadah dan kepemimpinan itu. Maka kami berlindung kepada-Mu ya Allah dari menyelisihi perintah-Mu dan melakukan larangan-Mu.
Apa yang menenggelamkan penduduk bumi semuanya hingga air naik di atas puncak gunung-gunung? Apa yang menguasakan angin mandul kepada kaum ‘Ad hingga melemparkan mereka mati di muka bumi seperti pangkal pohon kurma yang kosong, dan menghancurkan apa yang dilaluinya dari negeri mereka, ladang mereka, tanaman mereka dan hewan ternak mereka, hingga mereka menjadi pelajaran bagi umat-umat sampai hari kiamat?
Apa yang mengirimkan kepada kaum Tsamud teriakan hingga memutuskan hati mereka di dalam dada mereka dan mereka mati semuanya?
Apa yang mengangkat negeri-negeri kaum Luth hingga para malaikat mendengar gonggongan anjing mereka, kemudian membalikkannya atas mereka, menjadikan yang atas menjadi yang bawah, sehingga membinasakan mereka semua, kemudian menyusulkan kepada mereka batu-batu dari langit yang diturunkan atas mereka, sehingga dikumpulkan atas mereka dari hukuman apa yang tidak dikumpulkan atas umat selain mereka, dan bagi saudara-saudara mereka yang serupa dengan mereka, tidaklah jauh dari orang-orang zalim?
Apa yang mengirimkan kepada kaum Syu’aib awan azab seperti naungan, ketika sudah berada di atas kepala mereka menurunkan kepada mereka api yang menyala-nyala?
Apa yang menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya di laut, kemudian memindahkan roh mereka ke neraka Jahannam, maka jasad untuk tenggelam, dan roh untuk terbakar?
Apa yang membenamkan Qarun dengan rumah, harta dan keluarganya?
Apa yang membinasakan generasi-generasi setelah Nuh dengan berbagai jenis hukuman, dan menghancurkan mereka dengan kehancuran total?
Apa yang membinasakan kaum pemilik Yasin dengan teriakan hingga mereka padam semuanya?
Apa yang membangkitkan atas Bani Israil kaum yang memiliki kekuatan yang keras, maka mereka menyerbu di antara negeri-negeri, membunuh para lelaki, menawan anak-anak dan wanita, membakar negeri, merampas harta, kemudian membangkitkan mereka atas mereka sekali lagi sehingga mereka membinasakan apa yang mampu mereka binasakan dan menghancurkan apa yang mereka kuasai dengan kehancuran total?
Apa yang menguasakan atas mereka berbagai jenis hukuman, sekali dengan pembunuhan dan penawanan serta kehancuran negeri, sekali dengan kezaliman raja-raja, sekali dengan mengubah mereka menjadi kera dan babi, dan yang terakhir dari itu Rabb Tabaraka wa Ta’ala bersumpah: “Sungguh Aku akan membangkitkan atas mereka sampai hari kiamat orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang buruk” (Surat Al-A’raf: 167).
Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Walid bin Muslim, telah menceritakan kepada kami Shafwan bin Umar, dan telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Jubair bin Nufair dari ayahnya, dia berkata: Ketika Siprus dibuka, penduduknya dipisah-pisahkan, sebagian mereka menangis kepada sebagian yang lain, maka aku melihat Abu Darda’ duduk sendirian sambil menangis, maka aku berkata: “Wahai Abu Darda’, apa yang membuatmu menangis di hari yang Allah memuliakan Islam dan ahlinya?” Maka dia berkata: “Celakalah engkau wahai Jubair, betapa hinanya makhluk di hadapan Allah Azza wa Jalla ketika mereka menyia-nyiakan perintah-Nya. Mereka adalah umat yang menguasai dan menang, memiliki kerajaan, kemudian meninggalkan perintah Allah sehingga menjadi seperti yang engkau lihat.”
Dan Ali bin Al-Ja’d berkata: telah memberitakan kepada kami Syu’bah dari Amr bin Murrah, dia berkata: aku mendengar Abu Al-Bakhtari berkata: telah memberitakan kepadaku orang yang mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Manusia tidak akan binasa hingga mereka membuat alasan dari diri mereka sendiri.”
Dan dalam Musnad Ahmad dari hadits Ummu Salamah, dia berkata: aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila kemaksiatan nampak dalam umatku, Allah akan menimpakan kepada mereka azab dari sisi-Nya.” Maka aku berkata: “Wahai Rasulullah, bukankah pada waktu itu ada di antara mereka orang-orang yang saleh?” Beliau bersabda: “Ya.” Aku berkata: “Bagaimana nasib mereka?” Beliau bersabda: “Mereka akan terkena apa yang menimpa manusia, kemudian mereka akan sampai kepada ampunan dari Allah dan keridhaan-Nya.”
Dan dalam Marasil Al-Hasan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Umat ini akan terus berada di bawah tangan Allah dan dalam perlindungan-Nya selama para qari’ (pembaca Al-Quran) mereka tidak bersekutu dengan para penguasa mereka, selama orang-orang saleh mereka tidak memuji orang-orang jahat mereka, dan selama orang-orang baik mereka tidak menghinakan orang-orang jahat mereka. Apabila mereka melakukan itu, Allah akan mengangkat tangan-Nya dari mereka, kemudian menguasakan atas mereka para penguasa lalim mereka sehingga menimpakan kepada mereka azab yang buruk, kemudian Allah menimpa mereka dengan kefakiran dan kemiskinan.”
Dan dalam Musnad dari hadits Tsauban, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya seseorang bisa terhalang rezekinya karena dosa yang dia lakukan.”
Dan di dalamnya juga dari dia, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hampir saja umat-umat dari setiap penjuru akan menyerbu kalian sebagaimana para pemakan menyerbu piringnya.” Kami berkata: “Wahai Rasulullah, apakah karena sedikitnya kami pada waktu itu?” Beliau bersabda: “Kalian pada waktu itu banyak, tetapi kalian sampah seperti sampah banjir, akan dicabut rasa takut dari hati musuh kalian, dan akan dimasukkan ke dalam hati kalian al-wahn.” Mereka berkata: “Apa itu al-wahn?” Beliau bersabda: “Cinta dunia dan benci mati.”
Dan dalam Musnad dari hadits Anas, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketika aku diisra’kan, aku melewati kaum yang memiliki kuku dari tembaga, mereka mencakar wajah dan dada mereka. Maka aku berkata: ‘Siapakah mereka wahai Jibril?’ Maka dia berkata: ‘Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia dan menyerang kehormatan mereka.'”
Dan dalam Jami’ At-Tirmidzi dari hadits Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang menipu dunia dengan agama, mereka memakai untuk manusia kulit domba karena kelembutan, lidah mereka lebih manis dari gula, dan hati mereka adalah hati serigala. Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Apakah dengan-Ku mereka tertipu? Dan kepada-Ku mereka berani? Maka demi-Ku aku bersumpah, sungguh akan Ku-kirimkan kepada mereka fitnah yang membuat orang penyabar menjadi bingung.'”
Dan Ibnu Abi Ad-Dunya menyebutkan dari hadits Ja’far bin Muhammad dari ayahnya dari kakeknya, dia berkata: Ali berkata: “Akan datang kepada manusia suatu zaman yang tidak tersisa dari Islam kecuali namanya, dan tidak tersisa dari Al-Quran kecuali tulisannya. Masjid-masjid mereka pada waktu itu ramai, tetapi sepi dari petunjuk. Ulama mereka adalah sejahat-jahat orang di bawah langit, dari mereka keluar fitnah dan kepada mereka fitnah itu kembali.”
Dan dia menyebutkan dari hadits Simak bin Harb dari Abdurrahman bin Abdullah bin Mas’ud dari ayahnya, dia berkata: “Apabila zina dan riba nampak di suatu kampung, Allah Azza wa Jalla mengizinkan kehancurannya.”
Dan dalam Marasil Al-Hasan: “Apabila manusia menampakkan ilmu, menyia-nyiakan amal, saling mencintai dengan lisan, saling membenci dengan hati, dan memutuskan hubungan kekerabatan, Allah Azza wa Jalla melaknat mereka pada waktu itu, maka Dia memekakkan mereka dan membutakan mata mereka.”
Dan dalam Sunan Ibnu Majah dari hadits Abdullah bin Umar bin Al-Khattab, dia berkata: “Aku adalah yang kesepuluh dari sepuluh orang Muhajirin di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap kepada kami dengan wajahnya dan bersabda: ‘Wahai para Muhajirin, lima sifat yang aku berlindung kepada Allah agar kalian tidak mengenalnya: Tidaklah nampak kekejian pada suatu kaum hingga mereka menampakkannya kecuali mereka akan diuji dengan wabah dan penyakit-penyakit yang tidak ada pada nenek moyang mereka yang telah berlalu, tidaklah suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan kecuali mereka akan diuji dengan tahun-tahun paceklik, kesulitan nafkah dan kezaliman penguasa, tidaklah suatu kaum mencegah zakat harta mereka kecuali dicegah hujan dari langit, kalau bukan karena hewan ternak niscaya mereka tidak diberi hujan, tidaklah suatu kaum mengkhianati janji kecuali Allah menguasakan atas mereka musuh dari selain mereka sehingga mengambil sebagian apa yang ada di tangan mereka, dan tidaklah para pemimpin mereka tidak mengamalkan apa yang Allah turunkan dalam kitab-Nya kecuali Allah menjadikan kekerasan mereka di antara mereka.'”
Dan dalam Musnad dan Sunan dari hadits Amr bin Murrah dari Salim bin Abi Al-Ja’d dari Abu Ubaidah bin Abdullah bin Mas’ud dari ayahnya, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian, apabila ada yang melakukan kesalahan di antara mereka, datang kepadanya orang yang melarang sebagai teguran, ketika esok harinya dia duduk bersamanya, makan bersamanya dan minum bersamanya, seolah-olah dia tidak melihatnya melakukan kesalahan kemarin. Ketika Allah Azza wa Jalla melihat hal itu dari mereka, Dia memukul hati sebagian mereka dengan sebagian yang lain, kemudian melaknat mereka melalui lisan nabi mereka Daud dan Isa putra Maryam, yang demikian itu karena mereka durhaka dan mereka melampaui batas. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, kalian harus menyuruh kepada kebaikan, melarang dari kemungkaran, mengambil tangan orang bodoh, dan memaksanya kepada kebenaran dengan paksaan, atau Allah akan memukul hati sebagian kalian dengan sebagian yang lain, kemudian melaknat kalian sebagaimana Dia melaknat mereka.”
Dan Ibnu Abi Ad-Dunya menyebutkan dari Ibrahim bin Amr Ash-Shan’ani, dia berkata: Allah mewahyukan kepada Yusya’ bin Nun: “Sesungguhnya Aku akan membinasakan dari kaummu empat puluh ribu dari orang-orang baik mereka, dan enam puluh ribu dari orang-orang jahat mereka.” Dia berkata: “Wahai Rabbku, ini orang-orang jahat, lalu bagaimana dengan orang-orang baik?” Allah berfirman: “Mereka tidak marah karena kemarahan-Ku, dan mereka biasa makan bersama dan minum bersama mereka.”
Dan Abu Umar bin Abdul Barr menyebutkan dari Abu Imran, dia berkata: Allah Azza wa Jalla mengutus dua malaikat ke suatu kampung, agar menghancurkannya bersama penduduknya. Mereka mendapati seorang laki-laki sedang berdiri shalat di masjid, maka mereka berkata: “Wahai Rabb kami, sesungguhnya di dalamnya ada hamba-Mu si fulan yang sedang shalat.” Allah Azza wa Jalla berfirman: “Hancurkan kampung itu dan hancurkan dia bersama mereka, karena sesungguhnya dia tidak pernah merengutkan wajahnya karena-Ku sekalipun.”
Dan Al-Humaidi menyebutkan dari Sufyan bin Uyainah, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Sufyan bin Sa’id dari Mis’ar: “Bahwa seorang malaikat diperintahkan untuk membenamkan suatu kampung, maka dia berkata: ‘Wahai Rabbku, sesungguhnya di dalamnya ada si fulan sang ahli ibadah.’ Maka Allah mewahyukan kepadanya: ‘Mulailah dari dia, karena sesungguhnya dia tidak pernah merengutkan wajahnya karena-Ku sesaat pun.'”
Dan Ibnu Abi Ad-Dunya menyebutkan dari Wahb bin Munabbih, dia berkata: “Ketika Daud melakukan kesalahan, dia berkata: ‘Wahai Rabbku, ampunilah aku.’ Allah berfirman: ‘Aku telah mengampunimu, dan Aku bebankan aibnya kepada Bani Israil.’ Dia berkata: ‘Wahai Rabbku, bagaimana, padahal Engkau adalah Hakim yang adil yang tidak menzalimi seorang pun, aku yang melakukan kesalahan dan Engkau membebankan aibnya kepada selainku?’ Maka Allah mewahyukan kepadanya: ‘Sesungguhnya ketika engkau melakukan kesalahan, mereka tidak segera mengingkarimu.'”
Dan Ibnu Abi Ad-Dunya menyebutkan dari Anas bin Malik: bahwa dia masuk kepada Aisyah, dia dan seorang laki-laki yang lain. Maka laki-laki itu berkata kepadanya: “Wahai Ummul Mukminin, ceritakanlah kepada kami tentang gempa bumi.” Maka dia berkata: “Apabila mereka menghalalkan zina, minum khamar, dan memukul alat musik, Allah Azza wa Jalla cemburu di langit-Nya, maka Dia berfirman kepada bumi: ‘Gempakanlah mereka.’ Jika mereka bertaubat dan berhenti, jika tidak maka Dia runtuhkan bumi atas mereka.” Dia berkata: “Wahai Ummul Mukminin, sebagai azab bagi mereka?” Dia berkata: “Ya, sebagai pelajaran dan rahmat bagi orang-orang mukmin, dan sebagai siksaan, azab dan murka atas orang-orang kafir.” Maka Anas berkata: “Aku tidak mendengar hadits setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang aku lebih gembira dengannya daripada hadits ini.”
Dan Ibnu Abi Ad-Dunya menyebutkan hadits mursal: “Sesungguhnya bumi berguncang pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau meletakkan tangannya di atasnya kemudian bersabda: ‘Diamlah, karena belum waktunya bagimu.’ Kemudian beliau menoleh kepada para sahabatnya dan bersabda: ‘Sesungguhnya Rabb kalian meminta pertanggungjawaban kalian maka berilah pertanggungjawaban kepada-Nya.’ Kemudian terjadi gempa bumi kepada manusia pada masa Umar bin Al-Khattab, maka dia berkata: ‘Wahai manusia, tidaklah gempa bumi ini terjadi kecuali karena sesuatu yang kalian perbuat. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, jika terulang lagi niscaya aku tidak akan tinggal bersama kalian di dalamnya selama-lamanya.'”
Dan dalam Manaqib Umar karya Ibnu Abi Ad-Dunya: “Bahwa bumi berguncang pada masa Umar, maka dia memukul tangannya di atasnya dan berkata: ‘Apa yang terjadi denganmu? Apa yang terjadi denganmu? Adapun jika ini adalah kiamat, sungguh dia akan menceritakan berita-beritanya. Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Apabila hari kiamat, maka tidak ada satu hasta pun dan tidak satu jengkal pun kecuali dia akan berbicara.'”
Dan Imam Ahmad menyebutkan dari Shafiyyah, dia berkata: “Madinah berguncang pada masa Umar, maka dia berkata: ‘Wahai manusia, apa ini? Dan betapa cepatnya kalian berbuat (dosa). Jika terulang lagi niscaya aku tidak akan tinggal bersama kalian di dalamnya.'”
Dan Ka’b berkata: “Sesungguhnya bumi berguncang apabila dikerjakan di dalamnya kemaksiatan, maka dia gemetar ketakutan kepada Rabb Jalla Jalaluhu agar Dia tidak melihatnya.”
Dan Umar bin Abdul Aziz menulis kepada daerah-daerah: “Amma ba’du, sesungguhnya gempa ini adalah sesuatu yang Allah Azza wa Jalla gunakan untuk menegur para hamba, dan aku telah menulis kepada daerah-daerah agar mereka keluar pada hari ini dan hari ini dalam bulan ini dan ini, maka barangsiapa yang memiliki sesuatu hendaklah dia bersedekah dengannya, karena Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri, dan mengingat nama Rabbnya lalu dia shalat'” (Surat Al-A’la: 14-15).
“Dan ucapkanlah sebagaimana Adam berkata: ‘Rabb kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi'” (Surat Al-A’raf: 23).
“Dan ucapkanlah sebagaimana Nuh berkata: ‘Dan jika Engkau tidak mengampuniku dan tidak memberi rahmat kepadaku niscaya aku termasuk orang-orang yang rugi'” (Surat Hud: 47).
“Dan ucapkanlah sebagaimana Yunus berkata: ‘Tidak ada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim'” (Surat Al-Anbiya’: 87).
Dan Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir, telah menceritakan kepada kami Abu Bakr dari Al-A’masy dari Atha’ bin Abi Rabah dari Ibnu Umar, dia berkata: aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila manusia kikir dengan dinar dan dirham, berjual beli dengan ‘inah, mengikuti ekor sapi, dan meninggalkan jihad di jalan Allah, Allah akan menurunkan kepada mereka bala yang tidak akan Dia angkat dari mereka hingga mereka kembali kepada agama mereka.” Diriwayatkan Abu Daud dengan sanad yang hasan.
Dan Ibnu Abi Ad-Dunya menyebutkan dari hadits Ibnu Umar, dia berkata: “Sungguh kami telah melihat dan tidak ada seorang pun yang lebih berhak atas dinar dan dirhamnya daripada saudaranya yang muslim. Dan sungguh aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Apabila manusia kikir dengan dinar dan dirham, berjual beli dengan ‘inah, meninggalkan jihad di jalan Allah, dan mengambil ekor sapi, Allah akan menurunkan kepada mereka dari langit bala, maka Dia tidak akan mengangkatnya dari mereka hingga mereka kembali kepada agama mereka.'”
Al-Hasan berkata: “Demi Allah, fitnah itu tidak lain hanyalah hukuman dari Allah Azza wa Jalla kepada manusia.”
Salah seorang nabi dari Bani Israil melihat apa yang diperbuat Bukhtanashshar kepada mereka, lalu berkata: “Karena perbuatan tangan-tangan kami, Engkau menguasakan atas kami orang yang tidak mengenal-Mu dan tidak menyayangi kami.”
Bukhtanashshar berkata kepada Danial: “Apa yang menguasakan aku atas kaummu?” Danial menjawab: “Besarnya dosamu dan kezaliman kaumku terhadap diri mereka sendiri.”
Ibn Abi Dunya meriwayatkan dari hadits Ammar bin Yasir dan Hudzaifah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla apabila menghendaki azab terhadap hamba-hamba-Nya, Dia mematikan anak-anak kecil dan memandulkan rahim-rahim wanita, maka turunlah azab sedangkan tidak ada di antara mereka yang mendapat rahmat.”
Dan dia meriwayatkan dari Malik bin Dinar, dia berkata: “Aku membaca dalam hikmah: Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Aku adalah Allah, Raja dari segala raja. Hati para raja ada di tangan-Ku. Barangsiapa yang taat kepada-Ku, Aku jadikan mereka sebagai rahmat atasnya. Dan barangsiapa yang bermaksiat kepada-Ku, Aku jadikan mereka sebagai azab atasnya. Maka janganlah kalian menyibukkan diri kalian dengan mencela para raja, tetapi bertaubatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengasihi kalian kepada mereka.'”
Dalam riwayat mursal Al-Hasan: “Apabila Allah menghendaki kebaikan pada suatu kaum, Dia menjadikan urusan mereka kepada orang-orang yang penyabar di antara mereka, dan menjadikan harta mereka pada orang-orang yang dermawan di antara mereka. Dan apabila Allah menghendaki keburukan pada suatu kaum, Dia menjadikan urusan mereka kepada orang-orang bodoh di antara mereka, dan menjadikan harta mereka pada orang-orang yang kikir di antara mereka.”
Imam Ahmad dan lainnya meriwayatkan dari Qatadah, dia berkata: Musa berkata: “Ya Rabbku, Engkau di langit dan kami di bumi, maka apa tanda kemarahan-Mu dari ridha-Mu?” Allah berfirman: “Apabila Aku angkat atas kalian orang-orang terbaik di antara kalian, maka itu adalah tanda ridha-Ku kepada kalian. Dan apabila Aku angkat atas kalian orang-orang terjahat di antara kalian, maka itu adalah tanda murka-Ku kepada kalian.”
Ibn Abi Dunya meriwayatkan dari Fudail bin Iyadh, dia berkata: Allah mewahyukan kepada salah seorang nabi: “Apabila orang yang mengenal-Ku bermaksiat kepada-Ku, Aku kuasakan atas mereka orang yang tidak mengenal-Ku.”
Dia juga meriwayatkan dari hadits Ibn Umar dengan sanad marfu’: “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak akan tegak hari kiamat hingga Allah mengutus pemimpin-pemimpin yang pendusta, menteri-menteri yang fasik, pembantu-pembantu yang khianat, kepala-kepala yang zalim, dan para qari (pembaca Al-Quran) yang fasik. Penampilan mereka seperti penampilan para rahib, tetapi hati mereka lebih busuk dari bangkai. Hawa nafsu mereka berbeda-beda. Maka Allah akan membukakan bagi mereka fitnah yang gelap dan mengaburkan, lalu mereka akan binasa di dalamnya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sungguh akan runtuh Islam sendi demi sendi, hingga tidak dikatakan lagi: Allah, Allah. Hendaklah kalian menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, atau Allah akan menguasakan atas kalian orang-orang jahat di antara kalian, lalu mereka akan menyiksa kalian dengan siksa yang buruk. Kemudian orang-orang baik di antara kalian akan berdoa tetapi tidak akan dikabulkan bagi mereka. Hendaklah kalian menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, atau Allah akan mengutus atas kalian orang yang tidak menyayangi anak kecil kalian dan tidak menghormati orang tua kalian.”
Dalam Mu’jam Thabrani dan lainnya dari hadits Sa’id bin Jubair dari Ibn Abbas, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah suatu kaum mengurangi takaran dan mengurangi timbangan, melainkan Allah Azza wa Jalla mencegah hujan dari mereka. Tidaklah muncul zina pada suatu kaum melainkan muncul kematian di antara mereka. Tidaklah muncul riba pada suatu kaum melainkan Allah menguasakan kegilaan atas mereka. Tidaklah muncul pembunuhan pada suatu kaum – sebagian mereka membunuh sebagian yang lain – melainkan Allah menguasakan musuh mereka atas mereka. Tidaklah muncul pada suatu kaum perbuatan kaum Luth melainkan muncul di antara mereka tanah longsor. Dan tidaklah suatu kaum meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar melainkan tidak diangkat amal mereka dan tidak didengar doa mereka.” Ibn Abi Dunya meriwayatkannya dari hadits Ibrahim bin Al-Asy’ats dari Abdurrahman bin Zaid dari ayahnya dari Sa’id dengannya.
Dalam Musnad dan lainnya dari hadits Urwah dari Aisyah, dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk kepadaku dalam keadaan terengah-engah, aku mengetahui dari wajahnya bahwa ada sesuatu yang membuatnya terengah-engah. Dia tidak berbicara hingga berwudhu dan keluar. Aku menempel di kamar, lalu dia naik mimbar. Dia memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian berkata: ‘Wahai manusia, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman kepada kalian: Suruhlah kepada kebaikan dan cegahlah kemungkaran sebelum kalian berdoa kepada-Ku tetapi Aku tidak mengabulkan kalian, kalian meminta pertolongan kepada-Ku tetapi Aku tidak menolong kalian, dan kalian meminta kepada-Ku tetapi Aku tidak memberi kalian.'”
Al-Umari Az-Zahid berkata: “Sesungguhnya termasuk kelalaianmu terhadap dirimu dan berpaling dari Allah adalah engkau melihat apa yang memurkai Allah lalu engkau melewatinya, tidak menyuruh di dalamnya dan tidak mencegahnya, karena takut kepada orang yang tidak memiliki mudarat dan manfaat bagi dirinya sendiri.”
Dia berkata: “Barangsiapa yang meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar karena takut kepada makhluk, maka dicabut darinya ketaatan, sekalipun dia menyuruh anaknya atau sebagian budaknya, mereka akan meremehkan haknya.”
Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari hadits Qais bin Abi Hazim, dia berkata: Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata: “Wahai manusia, sesungguhnya kalian membaca ayat ini, dan kalian meletakkannya tidak pada tempatnya: ‘Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepada kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk’ (Surat Al-Maidah: 105). Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya manusia apabila mereka melihat orang zalim tetapi tidak mengambil tangan mereka’ – dalam lafaz lain: ‘apabila mereka melihat kemungkaran tetapi tidak mengubahnya’ – ‘hampir saja Allah akan menimpa mereka semua dengan azab dari sisi-Nya.'”
Al-Auza’i meriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir dari Salamah dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila dosa tersembunyi, ia tidak membahayakan kecuali pelakunya. Dan apabila ia tampak tetapi tidak diubah, ia akan membahayakan orang banyak.”
Imam Ahmad meriwayatkan dari Umar bin Khattab: “Hampir saja kampung-kampung akan rusak padahal mereka masih makmur.” Ditanya: “Bagaimana bisa rusak padahal masih makmur?” Dia menjawab: “Apabila orang-orang jahat mereka mengungguli orang-orang baik mereka, dan orang-orang munafik memimpin suku mereka.”
Al-Auza’i meriwayatkan dari Hassan bin Athiyyah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Akan muncul orang-orang jahat umatku atas orang-orang baik mereka, hingga orang mukmin bersembunyi di antara mereka sebagaimana orang munafik bersembunyi di antara kita hari ini.”
Ibn Abi Dunya meriwayatkan dari hadits Ibn Abbas secara marfu’, dia berkata: “Akan datang suatu zaman di mana hati orang mukmin meleleh seperti garam meleleh dalam air.” Ditanya: “Kenapa demikian, ya Rasulullah?” Dia menjawab: “Karena apa yang dia lihat dari kemungkaran yang tidak bisa dia ubah.”
Imam Ahmad meriwayatkan dari hadits Jarir bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah suatu kaum yang di antara mereka dikerjakan kemaksiatan, sedangkan mereka lebih mulia dan lebih banyak dari orang yang mengerjakannya, tetapi mereka tidak mengubahnya, melainkan Allah akan menimpa mereka semua dengan azab.”
Dalam Shahih Bukhari, dari Usamah bin Zaid, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Akan didatangkan seorang laki-laki pada hari kiamat, lalu dilemparkan ke dalam neraka. Ususnya akan tumpah di dalam neraka, lalu dia berputar seperti keledai berputar di penggilingannya. Penduduk neraka berkumpul kepadanya, lalu berkata: ‘Hai fulan, apa yang terjadi denganmu? Bukankah engkau menyuruh kami kepada kebaikan dan mencegah kami dari kemungkaran?’ Dia berkata: ‘Benar, aku menyuruh kalian kepada kebaikan tetapi aku tidak mengerjakannya, dan aku mencegah kalian dari kemungkaran tetapi aku mengerjakannya.'”
Imam Ahmad meriwayatkan dari Malik bin Dinar, dia berkata: “Ada seorang ahli kitab dari ahli kitab Bani Israil yang didatangi di rumahnya oleh laki-laki dan perempuan, lalu dia menasihati mereka dan mengingatkan mereka dengan hari-hari Allah. Suatu hari dia melihat salah seorang anaknya menggoda perempuan, lalu dia berkata: ‘Pelan-pelan, anakku, pelan-pelan, anakku.’ Lalu dia jatuh dari tempat tidurnya, sumsum tulang belakangnya putus, istrinya keguguran, dan anak-anaknya terbunuh. Maka Allah mewahyukan kepada nabi mereka: ‘Beritahukan kepada si fulan kabar ini: Sesungguhnya Aku tidak akan mengeluarkan dari tulang sulbimu seorang shiddiq selamanya. Tidaklah kemarahanmu untuk-Ku kecuali engkau berkata: pelan-pelan, anakku.'”
Imam Ahmad meriwayatkan dari hadits Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hati-hatilah kalian terhadap dosa-dosa yang diremehkan, karena sesungguhnya mereka berkumpul pada seseorang hingga membinasakannya. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perumpamaan bagi mereka seperti perumpamaan kaum yang turun di tanah kosong. Lalu tiba waktu memasak kaum itu, maka seorang laki-laki pergi dan datang membawa kayu, dan laki-laki lain datang membawa kayu, hingga mereka mengumpulkan tumpukan besar, menyalakan api, dan mematangkan apa yang mereka masukkan ke dalamnya.”
Dalam Shahih Bukhari dari Anas bin Malik, dia berkata: “Sesungguhnya kalian mengerjakan amal-amal yang lebih halus di mata kalian daripada rambut, padahal kami menghitungnya pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk dosa-dosa yang membinasakan.”
Dalam dua kitab shahih dari hadits Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang wanita disiksa karena seekor kucing yang dipenjara hingga mati, lalu dia masuk neraka. Dia tidak memberinya makan, tidak memberinya minum, dan tidak melepaskannya agar bisa makan dari serangga-serangga tanah.”
Dalam Hilyah Abu Nu’aim dari Hudzaifah bahwa dia ditanya: “Apakah dalam satu hari Bani Israil meninggalkan agama mereka?” Dia menjawab: “Tidak, tetapi mereka apabila diperintah sesuatu mereka meninggalkannya, dan apabila dilarang dari sesuatu mereka mengerjakannya, hingga mereka terlepas dari agama mereka sebagaimana seseorang terlepas dari bajunya.”
Dari sinilah sebagian salaf berkata: “Kemaksiatan adalah pembawa kekufuran, sebagaimana ciuman adalah pembawa persetubuhan, nyanyian adalah pembawa zina, pandangan adalah pembawa cinta, dan penyakit adalah pembawa kematian.”
Dalam Hilyah juga dari Ibn Abbas bahwa dia berkata: “Wahai pelaku dosa, janganlah engkau merasa aman dari buruknya akibatnya. Apa yang mengikuti dosa lebih besar daripada dosa ketika engkau mengerjakannya: sedikitnya rasa malumu dari yang di kanan dan di kirimu – padahal engkau sedang berbuat dosa – lebih besar daripada dosanya. Tertawamu padahal engkau tidak tahu apa yang akan Allah perbuat terhadapmu lebih besar daripada dosanya. Gembiramu dengan dosa ketika engkau berhasil melakukannya lebih besar daripada dosanya. Sedihmu terhadap dosa ketika luput darimu lebih besar daripada dosanya. Takutmu dari angin ketika menggerakkan tirai pintumu padahal engkau sedang berbuat dosa, sedangkan hatimu tidak berguncang dari pandangan Allah kepadamu, lebih besar daripada dosanya. Celakalah engkau! Tahukah engkau apa dosa Ayyub sehingga dia diuji dengan cobaan pada tubuh dan hilangnya hartanya? Seorang miskin meminta pertolongan kepadanya dari orang zalim untuk menolaknya dari dirinya, tetapi dia tidak menolongnya dan tidak mencegah orang zalim dari kezalimannya, maka Allah mengujinya.”
Imam Ahmad berkata: Al-Walid menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Al-Auza’i berkata: Aku mendengar Bilal bin Sa’d berkata: “Janganlah engkau melihat kecilnya dosa, tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat.”
Fudail bin Iyadh berkata: “Sekadar dosa itu kecil di sisimu, ia besar di sisi Allah. Dan sekadar ia besar di sisimu, ia kecil di sisi Allah.”
Dikatakan: Allah Ta’ala mewahyukan kepada Musa: “Wahai Musa, sesungguhnya yang pertama mati dari makhluk-Ku adalah Iblis, dan itu karena dia yang pertama bermaksiat kepada-Ku. Sesungguhnya Aku menghitung orang yang bermaksiat kepada-Ku termasuk orang-orang mati.”
Dalam Musnad dan Jami’ Tirmidzi dari hadits Abu Shalih dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang mukmin apabila berbuat dosa, akan ditandai di hatinya dengan titik hitam. Apabila dia bertaubat, berhenti, dan beristighfar, hatinya akan dibersihkan. Dan jika dia menambah (dosa), bertambahlah (titik hitam) hingga menutupi hatinya. Itulah ‘ran’ (karat) yang disebutkan Allah Azza wa Jalla: ‘Sekali-kali tidak! Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu telah menutupi hati mereka’ (Surat Al-Muthaffifin: 14).”
Tirmidzi berkata: “Ini hadits shahih.”
Hudzaifah berkata: “Apabila hamba berbuat dosa, akan ditandai di hatinya titik hitam hingga hatinya menjadi seperti domba yang putih bercampur hitam.”
Dampak dan Akibat Perbuatan Maksiat
Imam Ahmad berkata: Ya’qub menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan dari Shalih dari Ibnu Syihab, dia menceritakan kepadaku Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Amma ba’du, wahai kaum Quraisy, sesungguhnya kalian adalah ahli untuk urusan ini (kepemimpinan) selama kalian tidak bermaksiat kepada Allah. Apabila kalian bermaksiat kepada-Nya, maka Allah akan mengirimkan kepada kalian orang yang akan mengupas kalian sebagaimana ranting ini dikupas.” Kemudian beliau mengupas rantingnya sehingga tampak putih bersih.
Imam Ahmad juga menyebutkan dari Wahb, dia berkata: Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi berfirman dalam sebagian perkataannya kepada Bani Israil: “Sesungguhnya Aku, apabila ditaati, maka Aku ridha. Dan apabila Aku ridha, maka Aku memberkahi. Dan tidak ada batas bagi keberkahan-Ku. Namun apabila Aku dimaksiat, maka Aku murka. Dan apabila Aku murka, maka Aku melaknat. Dan laknat-Ku akan menimpa sampai keturunan yang ketujuh.”
Bab: Dampak-dampak Perbuatan Maksiat
Perbuatan maksiat memiliki dampak-dampak buruk yang tercela dan membahayakan hati serta jasad di dunia dan akhirat, yang tidak diketahui kecuali oleh Allah.
- Terhalang dari Ilmu
Di antaranya adalah: terhalang dari ilmu. Sesungguhnya ilmu adalah cahaya yang Allah lemparkan ke dalam hati, sedangkan kemaksiatan memadamkan cahaya tersebut.
Ketika Imam Syafi’i duduk di hadapan Malik dan membaca kepadanya, Malik kagum dengan apa yang dilihatnya berupa kecerdasan yang melimpah, ketajaman ingatan, dan kesempurnaan pemahamannya. Maka dia berkata: “Sesungguhnya aku melihat Allah telah melemparkan cahaya ke dalam hatimu, maka janganlah kamu padamkan dengan kegelapan kemaksiatan.”
Syafi’i rahimahullah berkata: “Aku mengadu kepada Waki’ tentang buruknya hafalanku Maka dia menunjukkanku untuk meninggalkan kemaksiatan Dan dia berkata: ‘Ketahuilah bahwa ilmu adalah karunia Dan karunia Allah tidak diberikan kepada orang yang bermaksiat'”
- Terhalang dari Rezeki
Di antaranya: terhalang dari rezeki. Dalam Musnad disebutkan: “Sesungguhnya seorang hamba benar-benar terhalang dari rezeki karena dosa yang dilakukannya.” Sebagaimana takwa kepada Allah mendatangkan rezeki, maka meninggalkan takwa mendatangkan kemiskinan. Tidak ada yang lebih mendatangkan rezeki Allah selain meninggalkan kemaksiatan.
- Perasaan Terasing dari Allah
Di antaranya: perasaan terasing yang dirasakan oleh pelaku maksiat dalam hatinya antara dirinya dengan Allah, yang tidak dapat diimbangi atau disaingi oleh kenikmatan apapun. Seandainya seluruh kenikmatan dunia berkumpul untuknya, tidak akan dapat menghilangkan perasaan terasing tersebut. Ini adalah perkara yang hanya dapat dirasakan oleh orang yang dalam hatinya ada kehidupan. Adapun mayat tidak merasakan sakit luka. Seandainya dosa-dosa ditinggalkan hanya karena takut terjatuh dalam perasaan terasing tersebut, sudah sepantasnya orang yang berakal meninggalkannya.
Seorang laki-laki mengadu kepada salah seorang ahli ma’rifat tentang perasaan terasing yang dirasakannya dalam dirinya. Maka dia berkata kepadanya: “Jika dosa-dosa telah membuatmu merasa terasing Maka tinggalkanlah jika kamu mau dan rasakan ketenangan”
Tidak ada yang lebih pahit bagi hati daripada perasaan terasing akibat dosa demi dosa. Maka kepada Allah-lah kita memohon pertolongan.
- Perasaan Terasing dari Manusia
Di antaranya: perasaan terasing yang terjadi antara dirinya dengan manusia, terutama orang-orang baik di antara mereka. Sesungguhnya dia merasakan keasingan antara dirinya dengan mereka. Setiap kali perasaan terasing itu menguat, dia semakin menjauh dari mereka dan dari duduk bersama mereka, terhalang dari keberkahan manfaat bersama mereka, dan mendekat kepada golongan setan sejauh dia menjauh dari golongan Yang Maha Pengasih. Perasaan terasing ini terus menguat hingga menjadi kuat, lalu terjadi antara dirinya dengan istri, anak, dan kerabatnya, bahkan antara dirinya dengan dirinya sendiri, sehingga kamu melihatnya merasa asing dari dirinya sendiri.
Disebutkan juga dari Waki’, dia menceritakan kepada kami, Zakariya dari Amir berkata: Aisyah menulis surat kepada Muawiyah: “Amma ba’du, sesungguhnya seorang hamba apabila berbuat maksiat kepada Allah, dia menganggap orang yang memujinya sebagai orang yang mencela.”
Abu Nu’aim menyebutkan dari Salim bin Abi al-Ja’d dari Abu Darda’ berkata: “Hendaklah seseorang berhati-hati jangan sampai hati orang-orang mukmin melaknatnya tanpa dia sadari.” Kemudian dia berkata: “Tahukah kamu dari mana ini?” Aku berkata: “Tidak.” Dia berkata: “Sesungguhnya seorang hamba menyendiri dengan kemaksiatan kepada Allah, maka Allah melemparkan kebencian terhadapnya ke dalam hati orang-orang mukmin tanpa mereka sadari.”
Abdullah bin Ahmad menyebutkan dalam kitab Az-Zuhd karya ayahnya dari Muhammad bin Sirin: bahwa ketika dia terbebani hutang, dia merasa sedih karenanya. Maka dia berkata: “Sesungguhnya aku mengenali kesedihan ini akibat dosa yang kuperbuat empat puluh tahun yang lalu.”
Dosa Tidak Selalu Berpengaruh Langsung
Di sini ada poin halus yang sering membuat orang keliru dalam masalah dosa, yaitu mereka tidak melihat pengaruhnya secara langsung. Terkadang pengaruhnya tertunda sehingga terlupakan, dan hamba mengira bahwa tidak akan ada dampaknya setelah itu, dan bahwa perkara itu seperti yang dikatakan seseorang:
“Jika tembok tidak berdebu saat jatuh Maka tidak akan ada debu setelah jatuhnya”
Subhanallah! Betapa banyak makhluk yang dibinasakan oleh poin ini? Berapa banyak debu nikmat yang dihilangkan? Berapa banyak azab yang didatangkan? Dan betapa banyak orang yang tertipu olehnya, bahkan para ulama dan orang-orang fadil, apalagi orang-orang bodoh. Orang yang tertipu tidak mengetahui bahwa dosa itu akan menyerang walau setelah lama, sebagaimana racun menyerang, dan sebagaimana luka yang sembuh di atas penipuan dan kebusukan.
Imam Ahmad menyebutkan dari Abu Darda’: “Beribadahlah kepada Allah seakan-akan kalian melihat-Nya, anggaplah diri kalian termasuk orang yang telah mati, ketahuilah bahwa sedikit yang mencukupi kalian lebih baik daripada banyak yang melalaikan kalian, ketahuilah bahwa kebaikan tidak akan lapuk, dan dosa tidak akan terlupakan.”
Salah seorang ahli ibadah melihat seorang anak kecil, lalu dia memperhatikan kecantikannya. Maka dia didatangi dalam mimpinya dan dikatakan kepadanya: “Kamu akan merasakan akibatnya setelah empat puluh tahun.”
Ini dengan catatan bahwa dosa memiliki balasan yang cepat dan tidak tertunda. Sulaiman at-Taimi berkata: “Sesungguhnya seseorang berbuat dosa secara sembunyi, maka dia bangun di pagi hari dengan kehinaan yang menempel padanya.”
Yahya bin Mu’adz ar-Razi berkata: “Aku heran dengan orang berakal yang berkata dalam doanya: ‘Ya Allah, jangan jadikan musuh-musuh bergembira karena kemalangan yang menimpaku,’ padahal dia sendiri membuat setiap musuhnya bergembira karena dirinya.” Ditanya: “Bagaimana itu?” Dia menjawab: “Dia bermaksiat kepada Allah dan membuat setiap musuh bergembira karenanya di hari kiamat.”
Dzun Nun berkata: “Barangsiapa berkhianat kepada Allah secara sembunyi, maka Allah akan membuka auratnya secara terang-terangan.”
Dan berkata sebagian salaf: “Sesungguhnya aku bermaksiat kepada Allah, maka aku melihat dampaknya pada akhlak hewan tungganganku dan istriku.”
Dan di antaranya: Allah mempersulit urusan-urusannya, sehingga dia tidak menuju suatu perkara kecuali mendapatinya tertutup baginya atau sulit baginya. Hal ini sebagaimana orang yang bertakwa kepada Allah, Allah jadikan baginya kemudahan dalam urusannya, maka barangsiapa yang meninggalkan takwa, Allah jadikan baginya kesulitan dalam urusannya. Sungguh mengherankan! Bagaimana seorang hamba mendapati pintu-pintu kebaikan dan kemaslahatan tertutup baginya dan jalan-jalannya sulit baginya, sedangkan dia tidak tahu dari mana musibah itu datang?
Dan di antaranya: kegelapan yang dia rasakan dalam hatinya secara nyata, dia merasakannya sebagaimana dia merasakan kegelapan malam yang pekat ketika gelap gulita. Maka kegelapan maksiat bagi hatinya menjadi seperti kegelapan yang kasat mata bagi penglihatannya. Sesungguhnya ketaatan adalah cahaya, dan maksiat adalah kegelapan. Setiap kali kegelapan itu menguat, semakin bertambah kebingungannya, hingga dia terjatuh dalam bid’ah, kesesatan, dan perkara-perkara yang membinasakan tanpa dia sadari, seperti orang buta yang dikeluarkan dalam kegelapan malam berjalan sendirian. Kegelapan ini terus menguat hingga tampak di mata, kemudian menguat lagi hingga naik ke wajah, dan menjadi kehitaman di wajah hingga setiap orang dapat melihatnya.
Abdullah bin Abbas berkata: “Sesungguhnya kebaikan memiliki sinar di wajah, cahaya di hati, kelapangan dalam rezeki, kekuatan dalam badan, dan kecintaan di hati makhluk. Dan sesungguhnya keburukan memiliki kehitaman di wajah, kegelapan di kubur dan di hati, kelemahan dalam badan, kekurangan dalam rezeki, dan kebencian di hati makhluk.”
Dan di antaranya bahwa maksiat-maksiat melemahkan hati dan badan. Adapun pelemahannya terhadap hati, maka itu adalah perkara yang jelas, bahkan tidak henti-hentinya melemahkannya hingga menghilangkan kehidupannya sama sekali.
Adapun pelemahannya terhadap badan, maka sesungguhnya orang beriman kekuatannya berasal dari hatinya, dan setiap kali hatinya kuat, maka badannya pun kuat. Adapun orang fasik, meskipun dia kuat badannya, dia adalah selemah-lemah sesuatu ketika dibutuhkan, maka kekuatannya mengkhianatinya ketika dia paling membutuhkan dirinya. Maka perhatikanlah kekuatan badan-badan Persia dan Romawi, bagaimana mereka dikhianati ketika mereka paling membutuhkannya, dan mereka dikalahkan oleh ahli iman dengan kekuatan badan dan hati mereka?
Dan di antaranya: terhalang dari ketaatan. Seandainya tidak ada hukuman bagi dosa kecuali menghalangi dari ketaatan yang menjadi penggantinya, dan memotong jalan ketaatan lainnya, maka terputuslah baginya karena dosa itu jalan ketiga, kemudian keempat, dan seterusnya. Maka terputuslah baginya karena dosa itu banyak ketaatan, setiap satu darinya lebih baik baginya daripada dunia dan apa yang ada di atasnya. Ini seperti seorang yang makan suatu makanan yang menyebabkan penyakit panjang yang mencegahnya dari beberapa makanan yang lebih lezat darinya. Dan kepada Allah tempat meminta pertolongan.
Dan di antaranya: bahwa maksiat-maksiat memendekkan umur dan menghilangkan berkahnya, dan ini pasti terjadi. Sesungguhnya kebaikan sebagaimana menambah umur, maka kefasikan memendekkan umur.
Orang-orang berbeda pendapat dalam masalah ini. Suatu kelompok berkata: berkurangnya umur orang yang bermaksiat adalah hilangnya berkah umurnya dan lenyapnya berkah itu baginya. Ini benar, dan ini sebagian dari pengaruh maksiat.
Kelompok lain berkata: bahkan menguranginya secara nyata, sebagaimana mengurangi rezeki. Maka Allah Subhanahu menjadikan untuk berkah dalam rezeki sebab-sebab yang banyak yang memperbanyak dan menambahnya, dan untuk berkah dalam umur sebab-sebab yang memperbanyak dan menambahnya.
Mereka berkata: tidak dicegah penambahan umur dengan sebab-sebab sebagaimana dikurangi dengan sebab-sebab. Maka rezeki dan ajal, kebahagiaan dan kesengsaraan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kemiskinan, meskipun dengan takdir Allah ‘azza wa jalla, maka Dia mentakdirkan apa yang Dia kehendaki dengan sebab-sebab yang Dia jadikan mewajibkan akibat-akibatnya dan menuntutnya.
Kelompok lain berkata: pengaruh maksiat dalam menghapus umur hanyalah karena hakikat kehidupan adalah kehidupan hati. Karena itu Allah Subhanahu menjadikan orang kafir mati, bukan hidup, sebagaimana firman-Nya: “Orang-orang mati, bukan hidup” (Surat An-Nahl: 21).
Maka kehidupan sesungguhnya adalah kehidupan hati, dan umur manusia adalah masa hidupnya. Maka umurnya hanyalah waktu-waktu hidupnya dengan Allah. Itulah jam-jam umurnya. Maka kebaikan, takwa, dan ketaatan menambah waktu-waktu ini yang merupakan hakikat umurnya, dan tidak ada umur baginya selain itu.
Secara keseluruhan, apabila hamba berpaling dari Allah dan sibuk dengan maksiat, maka sia-sialah hari-hari kehidupan hakikinya yang akan dia rasakan akibat penyia-siaannya di hari ketika dia berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini” (Surat Al-Fajr: 24).
Maka tidak lepas dia dalam keadaan memiliki pandangan terhadap kemaslahatan dunia dan akhiratnya atau tidak. Jika dia tidak memiliki pandangan terhadap itu, maka sia-sialah seluruh umurnya, dan hilanglah hidupnya dengan sia-sia. Jika dia memiliki pandangan terhadap itu, maka panjang baginya jalan karena penghalang-penghalang, dan sulit baginya sebab-sebab kebaikan sesuai dengan kesibukannya dengan lawan-lawannya. Dan itu adalah kekurangan nyata dari umurnya.
Rahasia masalah ini adalah bahwa umur manusia adalah masa hidupnya, dan tidak ada kehidupan baginya kecuali dengan menghadap kepada Tuhannya, menikmati cinta dan zikir kepada-Nya, dan mengutamakan keridhaan-Nya.
Bab: Berkembang Biaknya Maksiat
Dan di antaranya bahwa maksiat-maksiat menanam yang serupa dengannya, dan melahirkan satu sama lain, hingga sulit bagi hamba meninggalkannya dan keluar darinya. Sebagaimana berkata sebagian salaf: “Sesungguhnya di antara hukuman keburukan adalah keburukan setelahnya, dan sesungguhnya di antara pahala kebaikan adalah kebaikan setelahnya.” Maka hamba apabila mengerjakan kebaikan, berkatalah kebaikan lain di sampingnya: “Kerjakan aku juga.” Jika dia mengerjakannya, berkatalah yang ketiga demikian juga dan seterusnya. Maka berlipat gandanya keuntungan dan bertambahnya kebaikan.
Demikian juga keburukan-keburukan, hingga menjadilah ketaatan dan maksiat sebagai sifat-sifat yang mengakar, sifat-sifat yang melekat, dan keahlian-keahlian yang tetap. Seandainya orang yang berbuat baik meninggalkan ketaatan, maka sempitlah jiwanya, dan sempitlah baginya bumi meskipun luas, dan dia merasakan dari dirinya seperti ikan ketika meninggalkan air, hingga dia kembali kepadanya, maka tentramlah jiwanya dan sejuklah matanya.
Seandainya orang yang berdosa meninggalkan maksiat dan menghadap kepada ketaatan, maka sempitlah jiwanya dan sempitlah dadanya, dan susahlah baginya jalan-jalannya, hingga dia kembali kepadanya. Hingga sesungguhnya banyak dari orang-orang fasik melakukan maksiat tanpa kenikmatan yang dirasakannya, dan tanpa dorongan kepadanya, kecuali karena rasa sakit yang dirasakannya dengan meninggalkannya.
Sebagaimana dinyatakan oleh pemimpin mereka Al-Hasan bin Hani ketika berkata: “Dan gelas yang kuminum karena kenikmatan… dan yang lain kuobati dengan itu”
Dan berkata yang lain: “Maka ia menjadi obatku padahal ia penyakitku sendiri… sebagaimana peminum khamar berobat dengan khamar”
Tidak henti-hentinya hamba berusaha dalam ketaatan dan membiasakan diri dengannya dan mencintainya serta mengutamakannya hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengirim dengan rahmat-Nya kepadanya malaikat-malaikat yang mendorongnya kepadanya dengan kuat, dan menyemangatinya kepadanya, dan menggerakkannya dari tempat tidur dan tempat duduknya kepadanya.
Dan tidak henti-hentinya dia membiasakan maksiat dan mencintainya serta mengutamakannya, hingga Allah mengirim kepadanya setan-setan, maka mereka mendorongnya kepadanya dengan kuat.
Maka yang pertama mengumpulkan tentara ketaatan dengan bantuan, maka jadilah mereka di antara penolong-penolongnya yang terbesar. Dan yang ini mengumpulkan tentara maksiat dengan bantuan, maka jadilah mereka penolong-penolong yang melawannya.
Bab: Maksiat Melemahkan Keinginan Kebaikan
Dan di antaranya – dan inilah yang paling ditakuti atas hamba – bahwa maksiat melemahkan hati dari keinginannya, maka menguatkan keinginan bermaksiat, dan melemahkan keinginan bertobat sedikit demi sedikit, hingga terlepaslah dari hatinya keinginan bertobat sama sekali. Seandainya separuh dirinya mati, dia tidak akan bertobat kepada Allah. Maka dia datang dengan istighfar dan tobat orang-orang pendusta dengan lisan banyak sekali, sedangkan hatinya terikat dengan maksiat, berkeras kepadanya, bertekad untuk melakukannya kapan saja bisa. Dan ini di antara penyakit yang paling besar dan paling dekat kepada kebinasaan.
Dan di antaranya: bahwa terlepaslah dari hati pengingkaran terhadapnya, maka menjadilah baginya kebiasaan. Maka dia tidak mengingkari dari dirinya dilihat orang dan pembicaraan mereka tentangnya.
Dan ini menurut ahli-ahli kefasikan adalah puncak kerusakan dan kesempurnaan kenikmatan, hingga salah seorang dari mereka berbangga dengan maksiat, dan menceritakannya kepada orang yang tidak tahu bahwa dia mengerjakannya. Maka dia berkata: “Wahai fulan, aku telah mengerjakan ini dan itu.”
Golongan manusia ini tidak dimaafkan, dan tertutup bagi mereka jalan tobat, dan tertutup dari mereka pintu-pintunya pada umumnya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Seluruh umatku dimaafkan kecuali orang-orang yang terang-terangan (berbuat maksiat). Dan sesungguhnya di antara terang-terangan adalah Allah menutupi hamba kemudian dia bangun pagi mempermalukan dirinya dan berkata: ‘Wahai fulan, aku telah mengerjakan pada hari ini dan itu, ini dan itu.’ Maka dia membuka aibnya sendiri, padahal dia bermalam dalam keadaan Tuhannya menutupinya.”
Dan di antaranya bahwa setiap maksiat dari maksiat-maksiat adalah warisan dari suatu umat dari umat-umat yang Allah ‘azza wa jalla binasakan.
Maka homoseksual: warisan dari kaum Luth.
Dan mengambil hak dengan berlebihan dan membayarnya dengan kurang, warisan dari kaum Syu’aib.
Dan tinggi di bumi dengan kerusakan, warisan dari kaum Fir’aun.
Dan sombong dan angkuh warisan dari kaum Hud.
Maka orang yang bermaksiat memakai pakaian sebagian umat ini, dan mereka adalah musuh-musuh Allah.
Dan telah meriwayatkan Abdullah bin Ahmad dalam kitab Az-Zuhd karya ayahnya dari Malik bin Dinar, dia berkata: Allah mewahyukan kepada seorang nabi dari nabi-nabi Bani Israil bahwa katakanlah kepada kaummu: “Janganlah mereka memasuki tempat-tempat masuk musuh-musuh-Ku, dan janganlah mereka memakai pakaian-pakaian musuh-musuh-Ku, dan janganlah mereka mengendarai kendaraan-kendaraan musuh-musuh-Ku, dan janganlah mereka memakan makanan-makanan musuh-musuh-Ku, maka jadilah mereka musuh-musuh-Ku sebagaimana mereka adalah musuh-musuh-Ku.”
Dan dalam Musnad Ahmad dari hadits Abdullah bin Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Aku diutus dengan pedang menjelang hari kiamat, hingga Allah disembah sendirian tanpa sekutu bagi-Nya. Dan dijadikan rezkiku di bawah naungan tombakku, dan dijadikan kehinaan dan kerendahan atas orang yang menyelisihi perintahku. Dan barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk mereka.”
Bab: Kehinaan Orang yang Bermaksiat di Sisi Tuhannya
Dan di antara bahaya kemaksiatan adalah: bahwa kemaksiatan menjadi sebab kehinaan seorang hamba di sisi Tuhannya dan jatuhnya dia dari pandangan Allah.
Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Mereka menjadi hina di sisi-Nya maka mereka bermaksiat kepada-Nya, seandainya mereka mulia di sisi-Nya niscaya Dia akan menjaga mereka.” Dan apabila seorang hamba sudah hina di sisi Allah, maka tidak ada seorang pun yang akan memuliakannya, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak ada baginya yang memuliakan.” (Surat Al-Hajj: 18)
Walaupun manusia memuliakan mereka secara lahiriah karena membutuhkan mereka atau karena takut akan kejahatan mereka, namun dalam hati mereka, orang-orang tersebut adalah makhluk yang paling hina dan paling rendah.
Mudahnya Kemaksiatan bagi Orang-orang yang Terus-menerus Melakukannya
Dan di antara bahayanya: bahwa seorang hamba tidak henti-hentinya melakukan dosa hingga dosa itu menjadi mudah baginya dan kecil dalam hatinya. Dan itu adalah tanda kebinasaan, karena dosa itu, semakin kecil dalam pandangan seorang hamba maka semakin besar di sisi Allah.
Al-Bukhari telah menyebutkan dalam Shahih-nya dari Ibnu Mas’ud, dia berkata: “Sesungguhnya orang mukmin melihat dosa-dosanya seakan-akan dia berada di kaki gunung yang dia khawatir akan menimpanya, sedangkan orang fasik melihat dosa-dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya, lalu dia mengusirnya dengan begini (sambil menggerakkan tangannya) maka lalat itu pun terbang.”
Dan di antara bahayanya: bahwa orang lain dari kalangan manusia dan hewan akan terkena celaka akibat dosanya, maka dia dan orang lain akan terbakar karena celaka dosa-dosa dan kezaliman.
Abu Hurairah berkata: “Sesungguhnya burung hubara mati di sarangnya karena kezaliman orang yang zalim.”
Mujahid berkata: “Sesungguhnya binatang-binatang melaknat orang-orang durhaka dari Bani Adam ketika kemarau panjang terjadi dan hujan tertahan, dan mereka berkata: ‘Ini karena celaka kemaksiatan anak Adam.'”
Ikrimah berkata: “Binatang-binatang bumi dan serangga-serangga hingga kumbang dan kalajengking berkata: ‘Kami diharamkan dari hujan karena dosa-dosa Bani Adam.'”
Maka tidak cukup baginya hukuman dosanya saja, hingga dia dilaknat oleh makhluk yang tidak berdosa.
Bab: Kemaksiatan Mewariskan Kehinaan
Dan di antara bahayanya: bahwa kemaksiatan pasti mewariskan kehinaan; karena kemuliaan seluruhnya ada dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang menginginkan kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu seluruhnya” (Surat Fathir: 10), maksudnya: hendaklah dia mencarinya dengan taat kepada Allah, karena dia tidak akan mendapatkannya kecuali dalam ketaatan kepada Allah.
Dan doa sebagian salaf adalah: “Ya Allah, muliakanlah aku dengan ketaatan kepada-Mu dan janganlah Engkau hinakan aku dengan kemaksiatan kepada-Mu.”
Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Sesungguhnya mereka, walaupun bagal-bagal berlari kencang membawa mereka dan kuda-kuda Arab berlari cepat dengan mereka, namun kehinaan kemaksiatan tidak akan meninggalkan hati mereka. Allah menolak kecuali menghinakan orang yang bermaksiat kepada-Nya.”
Abdullah bin Al-Mubarak berkata:
“Aku melihat dosa-dosa mematikan hati-hati Dan boleh jadi mewariskan kehinaan karena terus melakukannya Meninggalkan dosa-dosa adalah kehidupan hati-hati Dan lebih baik bagimu melawan dosa itu Tidak ada yang merusak agama kecuali raja-raja Dan pendeta-pendeta jahat serta rahib-rahibnya”
Dan di antara bahayanya: bahwa kemaksiatan merusak akal, karena akal memiliki cahaya, dan kemaksiatan pasti memadamkan cahaya akal. Dan apabila cahayanya padam, maka akal menjadi lemah dan berkurang.
Sebagian salaf berkata: “Tidak ada seorang pun yang bermaksiat kepada Allah hingga akalnya hilang.” Dan ini jelas, karena seandainya akalnya hadir niscaya akan menghalanginya dari kemaksiatan, padahal dia berada dalam genggaman Tuhan Ta’ala, atau di bawah kekuasaan-Nya, dan Dia mengawasinya, dan dia berada di rumah-Nya di atas hamparan-Nya, sementara malaikat-malaikat-Nya menjadi saksi atasnya dan memandangnya, dan penasihat Al-Qur’an melarangnya, penasihat kematian melarangnya, penasihat neraka melarangnya. Dan yang akan hilang darinya karena kemaksiatan dari kebaikan dunia dan akhirat adalah berlipat-lipat dari kegembiraan dan kelezatan yang dia peroleh darinya. Maka apakah orang yang berakal sehat akan nekat meremehkan semua itu dan menganggap entengnya?
Dan di antara bahayanya: bahwa apabila dosa-dosa bertambah banyak, maka hati pemiliknya akan dicap, sehingga dia termasuk orang-orang yang lalai.
Sebagaimana yang dikatakan sebagian salaf dalam firman Allah Ta’ala: “Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu menutupi hati mereka.” (Surat Al-Muthaffifin: 14), dia berkata: “Itu adalah dosa demi dosa.”
Al-Hasan berkata: “Itu adalah dosa di atas dosa, hingga membutakan hati.”
Yang lain berkata: “Ketika dosa-dosa dan kemaksiatan mereka banyak, maka itu mengepung hati mereka.”
Asal dari hal ini adalah bahwa hati berkarat karena kemaksiatan. Apabila bertambah, maka karat itu menguasai hingga menjadi penutup (ran), kemudian menguasai hingga menjadi cap dan kunci serta segel. Maka hati menjadi dalam kegelapan dan selubung. Apabila hal itu terjadi padanya setelah petunjuk dan penglihatan batin, maka akan terbalik sehingga bagian atasnya menjadi bawahnya. Pada saat itulah musuhnya menguasainya dan menggiring dia ke mana dia kehendaki.
Bab: Dosa-dosa Memasukkan Hamba ke dalam Laknat Rasulullah ﷺ
Dan di antara bahayanya: bahwa dosa-dosa memasukkan hamba ke dalam laknat Rasulullah ﷺ, karena beliau melaknat berbagai kemaksiatan, padahal ada kemaksiatan lain yang lebih besar darinya, maka kemaksiatan tersebut lebih layak untuk memasukkan pelakunya ke dalam laknat.
Beliau melaknat wanita yang mentato dan yang minta ditato, wanita yang menyambung rambut dan yang minta disambung rambutnya, wanita yang mencabut bulu alis dan yang minta dicabut, wanita yang merenggangkan gigi dan yang minta direnggangkan.
Beliau melaknat pemakan riba, yang memberi makan riba, penulisnya, dan saksinya.
Beliau melaknat muhallil (laki-laki yang menikahi wanita yang ditalak tiga agar bisa kembali kepada suami pertama) dan yang dimuhallilkan untuknya.
Beliau melaknat pencuri.
Beliau melaknat peminum khamar, yang menyajikannya, yang memerasnya, yang minta diperas, yang menjualnya, yang membelinya, yang memakan harganya, yang membawanya, dan yang diminta dibawakan kepadanya.
Beliau melaknat orang yang mengubah tanda-tanda batas tanah yaitu tanda-tanda dan batas-batasnya.
Beliau melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya.
Beliau melaknat orang yang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai sasaran yang dipanah dengan anak panah.
Beliau melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.
Beliau melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.
Beliau melaknat orang yang membuat perkara baru (bid’ah) atau yang memberi tempat kepada pembuat bid’ah.
Beliau melaknat para pembuat gambar.
Beliau melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Nabi Luth.
Beliau melaknat orang yang mencaci ayahnya dan ibunya.
Beliau melaknat orang yang menyesatkan orang buta dari jalan.
Beliau melaknat orang yang mendatangi binatang.
Beliau melaknat orang yang mencap binatang di wajahnya.
Beliau melaknat orang yang membahayakan seorang muslim atau yang menipu dia.
Beliau melaknat para wanita yang sering ziarah kubur dan orang-orang yang membangun masjid dan memasang lampu di atasnya.
Beliau melaknat orang yang merusak hubungan antara wanita dengan suaminya, atau hamba dengan tuannya.
Beliau melaknat orang yang mendatangi wanita melalui duburnya.
Beliau mengabarkan bahwa wanita yang bermalam dalam keadaan menjauhi tempat tidur suaminya akan dilaknat malaikat hingga dia bangun pagi.
Beliau melaknat orang yang menisbatkan diri kepada selain ayahnya.
Beliau mengabarkan bahwa orang yang menunjuk saudaranya dengan besi maka malaikat melaknatnya.
Beliau melaknat orang yang mencaci para sahabat.
Dan Allah telah melaknat orang yang berbuat kerusakan di muka bumi dan memutus silaturahim, serta menyakiti Allah dan Rasul-Nya ﷺ.
Allah melaknat orang yang menyembunyikan apa yang Allah Subhanahu turunkan dari keterangan-keterangan dan petunjuk.
Allah melaknat orang-orang yang menuduh wanita-wanita baik-baik yang lalai lagi mukmin dengan perbuatan keji.
Allah melaknat orang yang menjadikan jalan orang kafir lebih terpimpin daripada jalan orang muslim.
Rasulullah ﷺ melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki.
Beliau melaknat penyuap, yang menerima suap, dan perantaranya yaitu: yang menjadi perantara dalam suap.
Beliau melaknat hal-hal lain selain ini.
Seandainya tidak ada dalam melakukan hal itu kecuali keridhaan pelakunya untuk menjadi termasuk orang yang dilaknat Allah, Rasul-Nya, dan malaikat-malaikat-Nya, niscaya dalam hal itu sudah cukup untuk mengajak meninggalkannya.
Bab: Terhalang dari Doa Rasulullah ﷺ
Dan di antara bahayanya: terhalang dari doa Rasulullah ﷺ dan doa para malaikat, karena Allah Subhanahu memerintahkan Nabi-Nya untuk memohonkan ampun bagi orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Allah Ta’ala berfirman: “(Malaikat-malaikat) yang memikul Arasy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka ampunilah orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau serta peliharalah mereka dari siksa neraka yang menyala-nyala. Ya Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam surga Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, istri-istri mereka dan keturunan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan-kejahatan. Dan orang yang Engkau pelihara pada hari itu dari (balasan) kejahatan-kejahatan, maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya; dan yang demikian itulah kemenangan yang besar.'” (Surat Ghafir: 7-9)
Inilah doa para malaikat untuk orang-orang mukmin yang bertaubat dan mengikuti Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, yang tidak ada jalan bagi mereka selain keduanya. Maka selain mereka tidak boleh berharap dikabulkannya doa ini, karena dia tidak memiliki sifat-sifat orang yang didoakan untuknya. Dan Allah-lah yang diminta pertolongan.
Bab Apa yang Dilihat Rasulullah ﷺ tentang Hukuman bagi Para Pelaku Maksiat
Di antara hukuman dari perbuatan maksiat adalah apa yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya dari hadits Samurah bin Jundub, dia berkata: “Nabi ﷺ sering mengatakan kepada para sahabatnya: ‘Apakah ada di antara kalian yang bermimpi tadi malam?’ Maka orang yang dikehendaki Allah untuk menceritakan mimpinya akan menceritakannya. Suatu pagi beliau berkata kepada kami: ‘Tadi malam ada dua orang yang datang kepadaku, dan keduanya mengajakku berangkat, dan keduanya berkata kepadaku: Pergilah! Maka aku pergi bersama keduanya. Kami menemui seorang laki-laki yang sedang berbaring, dan ada orang lain yang berdiri di atasnya sambil membawa batu besar. Orang itu menghantamkan batu tersebut ke kepala orang yang berbaring hingga menghancurkan kepalanya. Batu itu menggelinding ke sana kemari lalu jatuh, kemudian dia mengambilnya. Dia tidak kembali kepadanya hingga kepala orang itu kembali seperti semula, kemudian dia mengulangi perbuatannya seperti yang dilakukan pertama kali.’ Aku berkata kepada keduanya: ‘Subhanallah, siapa kedua orang ini?’ Keduanya berkata kepadaku: ‘Pergi, pergi!’
Maka kami pergi dan menemui seorang laki-laki yang berbaring telentang, dan ada orang lain yang berdiri di atasnya dengan membawa pengait besi. Dia mendatangi salah satu sisi wajahnya dan merobek pipinya sampai ke tengkuknya, lubang hidungnya sampai ke tengkuknya, dan matanya sampai ke tengkuknya. Kemudian dia beralih ke sisi yang lain dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan pada sisi pertama. Belum selesai dia melakukan itu pada sisi tersebut, sisi yang pertama sudah kembali seperti semula. Kemudian dia mengulangi perbuatannya seperti yang dilakukan pertama kali. Aku berkata: ‘Subhanallah! Siapa kedua orang ini?’ Keduanya berkata kepadaku: ‘Pergi, pergi!’
Maka kami pergi dan menemui sesuatu seperti tanur, dan di dalamnya ada keributan dan suara-suara. Kami mengintip ke dalamnya, ternyata di dalamnya ada laki-laki dan perempuan dalam keadaan telanjang. Mereka didatangi api dari bawah mereka. Ketika api itu mengenai mereka, mereka berteriak keras. Aku berkata: ‘Siapa mereka ini?’ Keduanya berkata kepadaku: ‘Pergi, pergi!’
Maka kami pergi dan menemui sungai merah seperti darah. Di dalam sungai itu ada seorang laki-laki yang sedang berenang, dan di tepi sungai ada seorang laki-laki yang telah mengumpulkan banyak batu di dekatnya. Perenang itu berenang sekehendak Allah, kemudian dia mendatangi orang yang telah mengumpulkan batu-batu itu. Orang itu membuka mulutnya dan memasukkan batu ke dalam mulutnya. Kemudian dia pergi berenang lagi, lalu kembali lagi kepadanya. Setiap kali dia kembali kepadanya, orang itu membuka mulutnya dan memasukkan batu ke dalamnya. Aku berkata kepada keduanya: ‘Siapa kedua orang ini?’ Keduanya berkata kepadaku: ‘Pergi, pergi!’
Maka kami pergi dan menemui seorang laki-laki yang buruk penampilannya, atau seperti penampilan yang paling buruk yang pernah kamu lihat pada seseorang. Di dekatnya ada api yang dia kobarkan dan dia berkeliling mengelilinginya. Aku berkata kepada keduanya: ‘Siapa orang ini?’ Keduanya berkata kepadaku: ‘Pergi, pergi!’
Maka kami pergi ke sebuah taman yang rindang yang berisi segala macam bunga musim semi. Di tengah-tengah taman itu ada seorang laki-laki tinggi yang hampir tidak bisa kulihat kepalanya karena tingginya mencapai langit. Di sekeliling laki-laki itu ada anak-anak yang paling banyak yang pernah kulihat. Aku berkata: ‘Siapa orang ini? Dan siapa mereka ini?’ Keduanya berkata kepadaku: ‘Pergi, pergi!’
Maka kami pergi dan sampai ke sebuah pohon besar yang belum pernah kulihat pohon yang lebih besar dan lebih indah darinya. Keduanya berkata kepadaku: ‘Naiklah ke atasnya!’ Maka kami naik ke atasnya menuju sebuah kota yang dibangun dengan bata emas dan bata perak. Kami sampai ke pintu kota itu dan meminta dibukakan, maka pintu dibukakan untuk kami. Kami masuk ke dalamnya dan disambut oleh orang-orang yang separuh dari mereka berpenampilan seindah yang pernah kamu lihat, dan separuh lainnya seburuk yang pernah kamu lihat. Keduanya berkata kepada mereka: ‘Pergilah dan berendamlah di sungai itu!’ Ternyata ada sungai yang mengalir dengan airnya seputih susu murni. Mereka pergi dan berendam di dalamnya, kemudian kembali kepada kami dengan keburukan mereka telah hilang. Keduanya berkata kepadaku: ‘Ini adalah surga ‘Adn dan itu adalah tempat tinggalmu.’
Pandanganku tertuju ke atas, ternyata ada istana seperti awan putih. Keduanya berkata kepadaku: ‘Ini adalah tempat tinggalmu.’ Aku berkata kepada keduanya: ‘Semoga Allah memberkahi kalian berdua, biarkanlah aku memasukinya.’ Keduanya berkata: ‘Tidak sekarang, tapi kamu akan memasukinya nanti.’
Aku berkata kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku telah melihat keajaiban sejak tadi malam, maka apa yang telah kulihat ini?’ Keduanya berkata kepadaku: ‘Baik, kami akan memberitahukannya kepadamu.
Adapun orang pertama yang kamu temui yang kepalanya dihancurkan dengan batu, dia adalah orang yang mengambil Al-Qur’an kemudian meninggalkannya dan tidur dari shalat wajib.
Adapun orang yang kamu temui yang pipinya dirobek sampai ke tengkuknya, lubang hidungnya sampai ke tengkuknya, dan matanya sampai ke tengkuknya, dia adalah orang yang pergi dari rumahnya kemudian menyebarkan kebohongan yang sampai ke seluruh penjuru.
Adapun laki-laki dan perempuan telanjang yang berada dalam bangunan seperti tanur, mereka adalah para pezina.
Adapun orang yang kamu temui berenang di sungai dan diberi makan batu, dia adalah pemakan riba.
Adapun orang yang buruk penampilannya yang berada di dekat api yang dia kobarkan dan berkeliling mengelilinginya, dia adalah Malik, penjaga neraka.
Adapun orang tinggi yang berada di taman, dia adalah Ibrahim.
Adapun anak-anak yang di sekelilingnya, mereka adalah setiap anak yang meninggal dalam keadaan fitrah.” Dalam riwayat Al-Barqani: “yang dilahirkan dalam keadaan fitrah.” Sebagian muslim berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana dengan anak-anak orang musyrik?” Rasulullah ﷺ bersabda: “Dan anak-anak orang musyrik juga.”
Adapun kaum yang separuh dari mereka baik dan separuh lainnya buruk, mereka adalah kaum yang mencampurkan amal saleh dengan amal buruk, Allah telah memaafkan mereka.”
Bab Dosa-dosa Menimbulkan Kerusakan di Bumi
Di antara dampak dosa dan kemaksiatan adalah bahwa keduanya menimbulkan berbagai jenis kerusakan di bumi pada air, udara, tanaman, buah-buahan, dan tempat tinggal. Allah Ta’ala berfirman: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)
Mujahid berkata: “Apabila penguasa yang zalim berkuasa, dia akan berbuat zalim dan kerusakan, maka Allah menahan hujan karenanya, sehingga binasalah tanaman dan keturunan. Allah tidak menyukai kerusakan.” Kemudian dia membaca: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)
Kemudian dia berkata: “Demi Allah, bukanlah laut kalian ini, tetapi setiap kampung yang berada di atas air yang mengalir maka itu adalah laut.”
Ikrimah berkata: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut. Ketahuilah, aku tidak mengatakan kepada kalian laut kalian ini, tetapi setiap kampung yang berada di atas air.”
Qatadah berkata: “Adapun darat adalah penduduk padang pasir, dan adapun laut adalah penduduk kampung dan pedesaan.”
Penulis berkata: Allah Ta’ala telah menyebut air tawar dengan nama laut, sebagaimana firman-Nya: “Dan tiadalah sama (antara) dua laut; yang ini tawar, segar, sedap diminum, dan yang ini asin lagi pahit.” (QS. Fathir: 12). Tidak ada di dunia ini laut yang manis dan diam, yang ada hanyalah sungai-sungai yang mengalir. Adapun laut yang asin adalah yang diam. Maka Dia menyebut kampung-kampung yang berada di atas air yang mengalir dengan nama air tersebut.
Ibnu Zaid berkata tentang: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut,” dia berkata: “Dosa-dosa.”
Penulis berkata: Dia bermaksud bahwa dosa-dosa adalah sebab kerusakan yang tampak. Jika dia bermaksud bahwa kerusakan yang tampak adalah dosa-dosa itu sendiri, maka lam dalam firman-Nya: “supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka” adalah lam akibat dan sebab. Berdasarkan pendapat pertama, yang dimaksud dengan kerusakan adalah kekurangan, keburukan, dan penderitaan yang Allah ciptakan di bumi ketika hamba-hamba bermaksiat. Setiap kali mereka berbuat dosa, Allah menciptakan hukuman bagi mereka, sebagaimana yang dikatakan sebagian salaf: “Setiap kali kalian berbuat dosa, Allah menciptakan hukuman dari penguasa-Nya untuk kalian.”
Yang zhahir -wallahu a’lam- adalah bahwa kerusakan yang dimaksud adalah dosa-dosa dan akibat-akibatnya. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala: “supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka.” Inilah keadaan kita, Allah hanya merasakan kepada kita sedikit dari perbuatan kita. Seandainya Allah merasakan kepada kita semua perbuatan kita, niscaya Dia tidak akan meninggalkan satu pun makhluk hidup di muka bumi.
Kemaksiatan Sebab Terjadinya Tanah Longsor dan Gempa Bumi
Di antara pengaruh kemaksiatan kepada Allah di bumi adalah apa yang menimpa bumi berupa tanah longsor dan gempa bumi, yang menghilangkan keberkahan dari bumi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati negeri kaum Tsamud, lalu beliau melarang para sahabat memasuki negeri mereka kecuali dalam keadaan menangis, dan melarang mereka meminum air mereka serta mengambil air dari sumur-sumur mereka. Bahkan beliau memerintahkan agar adonan yang telah dicampur dengan air mereka tidak diberikan kepada unta-unta, karena pengaruh keburukan kemaksiatan pada air tersebut. Demikian pula keburukan pengaruh dosa-dosa pada berkurangnya buah-buahan dan berbagai penyakit yang menimpanya.
Imam Ahmad menyebutkan dalam Musnadnya dalam suatu hadits: “Ditemukan di gudang sebagian Bani Umayyah gandum yang sebiji besamya sebesar biji kurma, dalam sebuah bungkusan yang tertulis: ‘Ini dahulu tumbuh pada zaman keadilan’.” Banyak dari bencana-bencana ini yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan karena apa yang diperbuat hamba-hamba-Nya berupa dosa-dosa.
Sekelompok syaikh padang pasir memberitahukan kepadaku bahwa mereka dahulu mengetahui buah-buahan lebih besar dari sekarang, dan banyak dari penyakit yang menimpanya sekarang tidak mereka kenal dahulu, tetapi baru terjadi belakangan ini.
Pengaruh Dosa-Dosa pada Bentuk Tubuh
Adapun pengaruh dosa-dosa pada bentuk tubuh dan penciptaan, Tirmidzi meriwayatkan dalam Jami’nya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Allah menciptakan Adam dengan tinggi enam puluh hasta ke langit, dan manusia terus mengecil hingga sekarang.”
Apabila Allah berkehendak membersihkan bumi dari orang-orang zalim, pengkhianat, dan pendosa, Dia akan mengeluarkan seorang hamba dari hamba-hamba-Nya dari keluarga Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman. Al-Masih akan membunuh orang-orang Yahudi dan Nasrani, dan menegakkan agama yang dibawa Allah melalui Rasul-Nya. Bumi akan mengeluarkan keberkahannya dan kembali sebagaimana semula, hingga sekelompok orang akan memakan satu buah delima dan berteduh di bawah kulitnya, satu tandan anggur akan seberat beban unta, dan susu seekor unta betina akan mencukupi sekelompok besar manusia. Ini karena ketika bumi telah bersih dari kemaksiatan, maka tampak padanya bekas-bekas keberkahan dari Allah Ta’ala yang sebelumnya dihilangkan oleh dosa-dosa dan kekufuran.
Tidak diragukan bahwa hukuman-hukuman yang Allah turunkan di bumi, bekas-bekasnya tetap mengalir di bumi mencari apa yang serupa dengannya berupa dosa-dosa yang merupakan bekas dari kejahatan-kejahatan yang karenanya umat-umat disiksa. Bekas-bekas ini di bumi adalah dari bekas hukuman-hukuman tersebut, sebagaimana kemaksiatan-kemaksiatan ini adalah bekas dari kejahatan-kejahatan tersebut. Maka serasi antara kalimat Allah dan hukum-Nya yang bersifat kauniy (alam semesta) dari awal hingga akhir. Hukuman yang besar untuk kejahatan yang besar, dan yang ringan untuk yang ringan. Demikianlah Dia Subhanahu menetapkan hukum di antara makhluk-Nya di alam barzah dan alam pembalasan.
Perhatikanlah kesesuaian setan dengan tempat dan rumahnya. Ketika ia menyertai hamba dan menguasainya, hilanglah keberkahan dari umurnya, amalnya, perkataannya, dan rezekinya. Ketika ketaatannya (kepada setan) berpengaruh pada bumi, hilanglah keberkahan dari setiap tempat yang menampakkan ketaatannya. Demikian pula tempat tinggalnya, ketika ia adalah neraka Jahim, maka tidak ada sedikit pun di sana ruh, rahmat, dan keberkahan.
[Pasal: Dosa-Dosa Memadamkan Rasa Cemburu (Ghirah)]
Di antara hukuman dosa-dosa adalah bahwa ia memadamkan dari hati api cemburu (ghirah) yang bagi kehidupan dan kebaikannya seperti panas alami bagi kehidupan seluruh tubuh. Ghirah adalah panas dan apinya yang mengeluarkan apa yang ada di dalamnya berupa keburukan dan sifat-sifat tercela, sebagaimana perapian mengeluarkan kotoran emas, perak, dan besi. Orang yang paling mulia dan tertinggi semangatnya adalah yang paling keras ghirahnya terhadap dirinya, keluarganya, dan masyarakat umum. Karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah makhluk yang paling cemburu terhadap umatnya, dan Allah Subhanahu lebih cemburu dari beliau.
Sebagaimana ditetapkan dalam Shahih dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Apakah kalian heran dengan cemburu Sa’d? Sungguh aku lebih cemburu darinya, dan Allah lebih cemburu dariku.”
Dalam Shahih juga dari beliau bahwa beliau bersabda dalam khutbah gerhana: “Wahai umat Muhammad, tidak ada yang lebih cemburu dari Allah jika hamba laki-laki-Nya berzina atau hamba perempuan-Nya berzina.”
Dalam Shahih juga dari beliau bahwa beliau bersabda: “Tidak ada yang lebih cemburu dari Allah, karena itu Dia mengharamkan perbuatan keji yang tampak dan yang tersembunyi. Tidak ada yang lebih menyukai uzur dari Allah, karena itu Dia mengutus rasul-rasul sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Tidak ada yang lebih menyukai pujian dari Allah, karena itu Dia memuji diri-Nya sendiri.”
Beliau menggabungkan dalam hadits ini antara ghirah yang asalnya adalah kebencian dan kemurkaan terhadap perbuatan keji, dengan kecintaan pada uzur yang mengharuskan kesempurnaan keadilan, rahmat, dan kebaikan. Allah Subhanahu – meskipun keras ghirah-Nya – menyukai hamba-Nya yang meminta maaf kepada-Nya, dan menerima uzur orang yang meminta maaf kepada-Nya. Dia tidak menghukum hamba-hamba-Nya karena melakukan apa yang Dia cemburi sampai Dia memberi uzur kepada mereka. Karena itu Dia mengutus rasul-rasul dan menurunkan kitab-kitab sebagai pemberian uzur dan peringatan. Ini adalah puncak kemuliaan dan kebaikan, dan kesempurnaan yang sempurna.
Banyak dari makhluk yang keras ghirahnya, ketegasan ghirah mereka membawa mereka pada terburu-buru menjatuhkan hukuman tanpa memberi uzur, dan tanpa menerima uzur orang yang meminta maaf kepada mereka. Bahkan kadang seseorang memiliki uzur yang sebenarnya, tetapi ketegasan ghirah tidak membiarkannya menerima uzur tersebut. Banyak pula yang menerima uzur, kecenderungan menerima uzur membawanya pada kurangnya ghirah sehingga dia berluas dalam jalan-jalan uzur, dan menganggap uzur apa yang bukan uzur, sampai banyak dari mereka beralasan dengan takdir. Keduanya tidak terpuji secara mutlak.
Telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya dari ghirah ada yang Allah cintai dan ada yang Allah benci. Yang Allah benci adalah ghirah tanpa kecurigaan” dan beliau menyebutkan haditsnya.
Yang terpuji adalah bergabungnya ghirah dengan uzur, maka cemburu di tempat ghirah dan memberi uzur di tempat uzur. Barangsiapa demikian maka dia benar-benar terpuji.
Ketika Allah Subhanahu mengumpulkan semua sifat kesempurnaan, maka Dia paling berhak mendapat pujian dari siapa pun. Tidak ada yang mampu memuji-Nya sebagaimana yang pantas bagi-Nya, tetapi Dia sebagaimana memuji diri-Nya sendiri dan menyanjung diri-Nya sendiri. Orang yang cemburu telah menyerupai Tuhannya Subhanahu dalam salah satu sifat-Nya. Barangsiapa menyerupai Allah dalam salah satu sifat-Nya, sifat itu akan membimbingnya kepada Allah dengan tali kendalinya, memasukannya kepada Tuhannya, mendekatkannya kepada-Nya, mendekatkannya pada rahmat-Nya, dan menjadikannya terkasih. Sesungguhnya Dia Subhanahu Maha Penyayang, menyukai orang-orang yang penyayang; Maha Mulia, menyukai orang-orang mulia; Maha Mengetahui, menyukai orang-orang yang berilmu; Maha Kuat, menyukai mukmin yang kuat – dan itu lebih Dia cintai daripada mukmin yang lemah – sampai Dia menyukai ahli malu; Maha Indah, menyukai ahli keindahan; Maha Ganjil, menyukai ahli ganjil.
Seandainya tidak ada pada dosa-dosa dan kemaksiatan selain mewajibkan bagi pelakunya kebalikan dari sifat-sifat ini dan mencegahnya dari bersifat dengannya, cukuplah itu sebagai hukuman. Karena bisikan hati berubah menjadi was-was, was-was menjadi keinginan, keinginan menguat menjadi keputusan, kemudian menjadi perbuatan, kemudian menjadi sifat yang melekat dan keadaan yang tetap mengakar. Pada saat itu sulit keluar darinya sebagaimana sulit keluar dari sifat-sifat yang melekat padanya.
Yang dimaksud adalah semakin kuat keterlibatannya dengan dosa-dosa, semakin hilang dari hatinya ghirah terhadap dirinya, keluarganya, dan masyarakat umum. Ghirah bisa sangat lemah dalam hati sampai setelah itu dia tidak menganggap buruk yang buruk, baik dari dirinya maupun dari orang lain. Jika sudah sampai pada batas ini, dia telah masuk pintu kebinasaan. Banyak dari mereka tidak berhenti pada tidak menganggap buruk, bahkan membaik-baikkan perbuatan keji dan kezaliman untuk orang lain, menghiasinya untuknya, mengajaknya kepadanya, mendorongnya kepadanya, dan berusaha untuknya dalam mencapainya. Karena itu dayuts (laki-laki yang tidak cemburu pada istrinya) adalah makhluk Allah yang paling jahat, dan surga haram baginya. Demikian pula orang yang menghalalkan kezaliman dan pelanggaran untuk orang lain dan menghiasinya untuknya. Lihatlah apa yang dibawa oleh kurangnya ghirah.
Ini menunjukkan kepadamu bahwa asal agama adalah ghirah. Barangsiapa tidak memiliki ghirah, tidak memiliki agama. Ghirah melindungi hati sehingga melindungi anggota badan untuknya, menolak keburukan dan perbuatan keji. Tidak adanya ghirah mematikan hati, sehingga mati untuknya anggota badan, maka tidak tersisa padanya penolakan sama sekali.
Perumpamaan ghirah dalam hati seperti kekuatan yang menolak penyakit dan melawannya. Jika kekuatan hilang, penyakit mendapati tempat yang menerima dan tidak mendapati penolak, maka ia menguasai, maka terjadilah kebinasaan. Perumpamaannya seperti tanduk kerbau yang digunakan untuk membela diri dan anaknya. Jika tanduk itu patah, musuh akan tamak kepadanya.
Bab Kemaksiatan Menghilangkan Rasa Malu
Di antara hukuman kemaksiatan adalah hilangnya rasa malu yang merupakan sumber kehidupan hati, dan ia adalah asal segala kebaikan. Hilangnya rasa malu berarti hilangnya seluruh kebaikan.
Dalam hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Rasa malu itu seluruhnya kebaikan.”
Dan beliau bersabda: “Sesungguhnya di antara apa yang telah diperoleh manusia dari kalimat-kalimat kenabian yang pertama adalah: Jika kamu tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.” Hadits ini memiliki dua penafsiran:
Pertama: Bahwa hadits ini bermakna ancaman dan peringatan. Maknanya adalah barangsiapa tidak memiliki rasa malu, maka ia akan berbuat kejahatan sesukanya, karena yang mencegah dari perbuatan keji adalah rasa malu. Jika tidak ada rasa malu yang mencegahnya dari kejahatan, maka ia akan melakukannya. Ini adalah tafsiran Abu Ubaidah.
Kedua: Bahwa jika suatu perbuatan tidak membuatmu malu kepada Allah, maka lakukanlah. Sesungguhnya yang seharusnya ditinggalkan adalah apa yang membuat malu kepada Allah. Ini adalah tafsiran Imam Ahmad dalam riwayat Ibnu Hani.
Berdasarkan penafsiran pertama, ini adalah ancaman, seperti firman Allah: “Berbuatlah sesuka kalian” (Surah Fushshilat: 40).
Berdasarkan penafsiran kedua, ini adalah izin dan kebolehan.
Jika ditanya: Apakah ada cara untuk menggabungkan kedua makna tersebut? Aku menjawab: Tidak, dan tidak pula menurut pendapat yang memahami kata musytarak (memiliki makna ganda) dengan semua maknanya, karena antara kebolehan dan ancaman terdapat pertentangan. Namun mempertimbangkan salah satu makna mengharuskan mempertimbangkan makna yang lain.
Yang dimaksudkan adalah bahwa dosa-dosa melemahkan rasa malu hamba, sampai-sampai mungkin ia terlepas darinya sama sekali. Bahkan mungkin ia tidak terpengaruh dengan pengetahuan orang tentang keburukan keadaannya dan tidak peduli mereka mengetahuinya. Bahkan banyak di antara mereka yang menceritakan keadaannya dan keburukan apa yang ia lakukan. Yang mendorongnya untuk hal itu adalah terlepasnya ia dari rasa malu. Jika hamba telah sampai pada keadaan ini, maka tidak ada lagi harapan untuk perbaikannya.
Jika Iblis melihat wajahnya… Ia menyapa dan berkata: “Aku tebus orang yang tidak akan beruntung”
Rasa malu (haya’) berasal dari kata kehidupan (hayah). Hujan disebut haya (dengan qashar) karena dengannya ada kehidupan bumi, tumbuhan, dan hewan. Demikian pula dinamakan dengan rasa malu kehidupan dunia dan akhirat. Barangsiapa tidak memiliki rasa malu, maka ia mati di dunia dan celaka di akhirat. Antara dosa-dosa dengan sedikitnya rasa malu dan tidak adanya ghirah (cemburu/protektif) terdapat saling keterkaitan dari kedua sisi. Masing-masing membutuhkan yang lain dan menuntutnya dengan cepat. Barangsiapa malu kepada Allah ketika bermaksiat, maka Allah akan malu untuk menghukumnya pada hari ia menemui-Nya. Dan barangsiapa tidak malu dari kemaksiatannya, maka Allah tidak akan malu dari hukuman-Nya.
Bab Kemaksiatan Melemahkan Pengagungan Terhadap Tuhan di dalam Hati
Di antara hukuman dosa-dosa adalah bahwa ia melemahkan pengagungan terhadap Tuhan Jalla Jalaluhu di dalam hati, dan melemahkan wibawa-Nya di hati hamba, mau tidak mau. Seandainya wibawa Allah dan keagungan-Nya benar-benar tertancap di hati hamba, niscaya ia tidak akan berani bermaksiat kepada-Nya.
Mungkin orang yang tertipu berkata: “Yang mendorongku kepada kemaksiatan hanyalah harapan baik dan mengharap ampunan-Nya, bukan lemahnya keagungan-Nya di hatiku.” Ini adalah penipuan diri, karena keagungan Allah Ta’ala dan kemuliaan-Nya di hati hamba menuntut pengagungan terhadap hal-hal yang diharamkan-Nya. Pengagungan terhadap hal-hal yang diharamkan-Nya menghalangi antara dia dengan dosa-dosa.
Orang-orang yang berani bermaksiat kepada-Nya tidak menghargai Allah dengan sebenar-benar penghargaan. Bagaimana bisa menghargai-Nya dengan sebenar-benar penghargaan, atau mengagungkan dan membesarkan-Nya, mengharap wibawa-Nya dan menghormati-Nya, orang yang meremehkan perintah dan larangan-Nya? Ini adalah kemustahilan yang paling mustahil dan kebatilan yang paling jelas.
Cukuplah bagi orang yang bermaksiat sebagai hukuman bahwa hilang dari hatinya pengagungan terhadap Allah Jalla Jalaluhu dan pengagungan terhadap hal-hal yang diharamkan-Nya, serta meremehkan hak-Nya.
Di antara sebagian hukuman ini adalah Allah ‘Azza wa Jalla mengangkat kehormatan dan kewibawaan orang tersebut dari hati makhluk, sehingga ia menjadi hina di mata mereka dan mereka meremehkannya, sebagaimana ia meremehkan perintah Allah dan menyepelekannya. Sesuai dengan kadar cinta hamba kepada Allah, manusia akan mencintainya. Sesuai dengan kadar takutnya kepada Allah, makhluk akan takut kepadanya. Sesuai dengan kadar pengagungannya kepada Allah dan hal-hal yang diharamkan-Nya, manusia akan mengagungkannya.
Bagaimana mungkin seorang hamba melanggar hal-hal yang diharamkan Allah, lalu mengharap agar manusia tidak melanggar hal-hal yang diharamkannya? Atau bagaimana ia meremehkan hak Allah dan Allah tidak membuatnya hina di mata manusia? Atau bagaimana ia menyepelekan kemaksiatan kepada Allah dan makhluk tidak menyepelekannya?
Allah Subhanahu telah mengisyaratkan hal ini dalam kitab-Nya ketika menyebutkan hukuman-hukuman dosa, bahwa Dia telah membalikkan pelaku-pelakunya karena apa yang mereka kerjakan, menutup hati-hati mereka, dan mencap hati-hati mereka dengan dosa-dosa mereka. Dia melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan-Nya, menghina mereka sebagaimana mereka menghina agama-Nya, menyia-nyiakan mereka sebagaimana mereka menyia-nyiakan perintah-Nya.
Karena itu Allah Ta’ala berfirman dalam ayat tentang sujudnya makhluk-makhluk kepada-Nya: “Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak ada yang memuliakannya” (Surah Al-Hajj: 18). Mereka ketika meremehkan sujud kepada-Nya dan menyepelekannya serta tidak melakukannya, Allah menghina mereka sehingga tidak ada yang memuliakan mereka setelah Allah menghinakan mereka. Siapakah yang akan memuliakan orang yang dihinakan Allah? Atau menghina orang yang dimuliakan Allah?
Bab Kemaksiatan Membuat Lupa kepada Allah
Di antara hukumannya adalah bahwa kemaksiatan mengundang Allah melupakan hamba-Nya, meninggalkannya dan membiarkannya antara dirinya dengan nafsunya dan syaitannya. Di sinilah kebinasaan yang tidak bisa diharapkan keselamatan bersamanya.
Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik” (Surah Al-Hasyr: 18-19).
Allah memerintahkan untuk bertakwa kepada-Nya dan melarang agar hamba-hamba-Nya yang beriman menyerupai orang yang melupakan-Nya dengan meninggalkan takwa kepada-Nya. Allah mengabarkan bahwa Dia menghukum orang yang meninggalkan takwa dengan menjadikannya lupa kepada dirinya sendiri, yaitu melupakan kemaslahatan-kemaslahatan dirinya, apa yang menyelamatkannya dari azab-Nya, dan apa yang mewajibkan baginya kehidupan abadi serta kesempurnaan kenikmatan, kegembiraan, dan kenyamanannya.
Allah melupakan semua itu sebagai balasan karena ia melupakan keagungan-Nya, takut kepada-Nya, dan melaksanakan perintah-Nya. Maka kamu lihat orang yang bermaksiat mengabaikan kemaslahatan dirinya dan menyia-nyiakannya. Allah telah menjadikan hatinya lalai dari mengingat-Nya, ia mengikuti hawa nafsunya dan urusannya menjadi berlebihan. Kemaslahatan dunia dan akhiratnya telah tercerai-berai, ia telah menyia-nyiakan kebahagiaan abadinya dan menukarnya dengan kenikmatan yang paling rendah, yang hanya seperti awan musim panas atau bayangan khayal, sebagaimana dikatakan:
“Mimpi-mimpi tidur atau seperti bayangan yang hilang Sesungguhnya orang yang cerdas tidak tertipu dengan yang semacam itu”
Hukuman yang paling besar adalah lupa hamba terhadap dirinya sendiri, mengabaikannya, menyia-nyiakan bagian dan nasibnya dari Allah, dan menjualnya dengan kerugian, kehinaan, dan harga yang paling murah. Ia menyia-nyiakan Dzat yang tidak bisa ia hidup tanpa-Nya dan tidak ada pengganti bagi-Nya, lalu menukarnya dengan yang daripadanya ia sama sekali tidak butuh atau daripadanya ada segala pengganti:
“Dari segala sesuatu jika kamu menyia-nyiakannya ada penggantinya Tapi dari Allah jika kamu menyia-nyiakan tidak ada pengganti”
Allah Subhanahu memberikan pengganti dari segala sesuatu selain-Nya dan tidak ada yang menggantikan-Nya. Dia mencukupi dari segala sesuatu dan tidak ada yang mencukupi dari-Nya. Dia melindungi dari segala sesuatu dan tidak ada yang melindungi dari-Nya. Dia mencegah dari segala sesuatu dan tidak ada yang mencegah dari-Nya.
Bagaimana hamba bisa merasa cukup dari ketaatan kepada Dzat yang seperti ini walau sekejap mata? Bagaimana ia melupakan dzikir kepada-Nya dan menyia-nyiakan perintah-Nya sampai Allah melupakan dirinya, sehingga ia merugi dan menzalimi dirinya dengan kezaliman yang paling besar? Hamba tidak menzalimi Tuhannya tetapi menzalimi dirinya sendiri. Tuhannya tidak menzaliminya tetapi dia sendiri yang menzalimi dirinya.
Bab Kemaksiatan Mengeluarkan Hamba dari Lingkaran Ihsan
Di antara hukumannya adalah bahwa kemaksiatan mengeluarkan hamba dari lingkaran ihsan dan mencegahnya dari pahala orang-orang yang berbuat ihsan. Karena sesungguhnya ihsan jika menyentuh hati akan mencegahnya dari kemaksiatan. Barangsiapa menyembah Allah seakan-akan ia melihat-Nya, tidaklah demikian kecuali karena mengusainya dzikir, cinta, takut, dan harap kepada-Nya atas hatinya, sehingga ia menjadi seakan-akan menyaksikan-Nya. Hal itu akan menghalangi antara dia dengan keinginan berbuat maksiat, apalagi melakukannya.
Jika ia keluar dari lingkaran ihsan, maka terluputlah darinya persahabatan kelompok khusus mereka, kehidupan mereka yang nikmat, dan kenikmatan mereka yang sempurna. Jika Allah menghendaki kebaikan baginya, Dia tempatkan ia dalam lingkaran umum orang-orang mukmin. Jika ia bermaksiat dengan kemaksiatan yang mengeluarkannya dari lingkaran iman, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah berzina orang yang berzina ketika ia berzina dalam keadaan beriman, tidak meminum khamr orang yang meminumnya ketika ia meminumnya dalam keadaan beriman, tidak mencuri pencuri ketika ia mencuri dalam keadaan beriman, dan tidak merampok perampok suatu rampasan yang berharga yang manusia mengangkat pandangan mereka kepadanya ketika ia merampoknya dalam keadaan beriman.” Maka hati-hatilah, hati-hatilah, dan pintu taubat masih terbuka setelahnya.
Bab Orang yang Bermaksiat Terluput dari Pahala Orang-orang Mukmin
Barangsiapa terluput dari persahabatan orang-orang mukmin dan pembelaan Allah yang baik terhadap mereka – karena sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman – maka terluputlah darinya setiap kebaikan yang Allah tetapkan dalam kitab-Nya atas dasar iman, yaitu sekitar seratus sifat, setiap sifat di antaranya lebih baik dari dunia dan seisinya.
Di antaranya: Pahala yang besar: “Dan Allah akan memberikan kepada orang-orang mukmin pahala yang besar” (Surah An-Nisa: 146).
Di antaranya: Pembelaan dari kejahatan dunia dan akhirat: “Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman” (Surah Al-Hajj: 38).
Dan di antaranya: Permohonan ampunan para malaikat pembawa Arasy untuk mereka: “Yang memikul Arasy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan beriman kepada-Nya serta meminta ampun bagi orang-orang yang beriman.” (Surat Ghafir: 7)
Dan di antaranya: Perlindungan Allah untuk mereka, dan tidak akan hina siapa yang dilindungi Allah. Allah Ta’ala berfirman: “Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman.” (Surat Al-Baqarah: 257)
Dan di antaranya: Perintah Allah kepada malaikat-Nya untuk menguatkan mereka: “Ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka kuatkanlah orang-orang yang beriman.'” (Surat Al-Anfal: 12)
Dan di antaranya: Bahwa mereka memiliki derajat-derajat di sisi Tuhan mereka, ampunan, dan rezeki yang mulia.
Dan di antaranya: Kemuliaan: “Dan kepunyaan Allah-lah kemuliaan dan kepunyaan Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahui.” (Surat Al-Munafiqun: 8)
Dan di antaranya: Kebersamaan Allah dengan orang-orang beriman: “Dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman.” (Surat Al-Anfal: 19)
Dan di antaranya: Ketinggian derajat di dunia dan akhirat: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Surat Al-Mujadalah: 11)
Dan di antaranya: Allah memberikan kepada mereka dua bagian dari rahmat-Nya, memberikan cahaya yang mereka gunakan untuk berjalan, dan pengampunan dosa-dosa mereka.
Dan di antaranya: Kasih sayang yang Allah Subhanahu berikan kepada mereka, yaitu bahwa Dia mencintai mereka dan menjadikan mereka dicintai oleh malaikat-Nya, para nabi-Nya, dan hamba-hamba-Nya yang saleh.
Dan di antaranya: Keamanan mereka dari ketakutan pada hari ketakutan sangat hebat: “Barangsiapa beriman dan mengadakan perbaikan, maka tidak ada ketakutan terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (Surat Al-An’am: 48)
Dan di antaranya: Bahwa mereka adalah orang-orang yang diberi nikmat yang kita diperintahkan untuk memohon kepada Allah agar Dia membimbing kita ke jalan mereka setiap hari dan malam sebanyak tujuh belas kali.
Dan di antaranya: Bahwa Al-Quran hanyalah petunjuk dan obat bagi mereka: “Katakanlah: ‘Al-Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman, pada telinga mereka ada sumbatan, dan Al-Quran itu buta bagi mereka. Mereka itu adalah orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh.'” (Surat Fussilat: 44)
Yang dimaksudkan adalah bahwa iman merupakan sebab yang mendatangkan segala kebaikan. Setiap kebaikan di dunia dan akhirat, sebabnya adalah iman. Dan setiap kejahatan di dunia dan akhirat, sebabnya adalah tidak adanya iman. Maka bagaimana seorang hamba menganggap ringan melakukan sesuatu yang mengeluarkannya dari lingkaran iman dan menghalangi dirinya dari iman? Namun dia tidak keluar dari lingkaran umum kaum muslimin. Jika dia terus melakukan dosa dan bersikeras melakukannya, dikhawatirkan dosa-dosa itu akan menutupi hatinya sehingga mengeluarkannya dari Islam sama sekali. Dari sinilah para salaf sangat takut, sebagaimana salah seorang dari mereka berkata: “Kalian takut kepada dosa-dosa, sedangkan aku takut kepada kekufuran.”
[Bab: Maksiat Melemahkan Hati]
Di antara hukuman dosa adalah: dosa melemahkan perjalanan hati menuju Allah dan negeri akhirat, atau menghalanginya atau menghentikannya dan memutuskan perjalanannya, sehingga tidak membiarkannya melangkah satu langkah pun menuju Allah. Ini jika dosa tidak membalikkan arah dari tujuannya ke belakang. Dosa menghalangi orang yang telah sampai, memutuskan orang yang sedang berjalan, dan menjatuhkan orang yang sedang mencari. Hati hanya berjalan menuju Allah dengan kekuatannya. Jika hati sakit karena dosa-dosa, lemah pulalah kekuatan yang menggerakkannya. Jika kekuatan itu hilang sama sekali, maka terputuslah hubungannya dengan Allah dengan terputus yang sulit diperbaiki. Dan kepada Allah-lah kita meminta pertolongan.
Dosa bisa mematikan hati, atau membuatnya sakit dengan penyakit yang menakutkan, atau melemahkan kekuatannya hingga kelemahannya berakhir pada delapan perkara yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta perlindungan darinya, yaitu: “gundah, sedih, lemah, malas, pengecut, kikir, lilitan hutang, dan dikuasai orang lain.” Setiap dua di antaranya merupakan pasangan.
Gundah dan sedih adalah pasangan: karena perkara yang tidak disukai yang menimpa hati, jika berasal dari perkara masa depan yang dikhawatirkan akan menimbulkan gundah, dan jika berasal dari perkara masa lalu yang telah terjadi akan menimbulkan kesedihan.
Lemah dan malas adalah pasangan: jika seorang hamba tertinggal dari sebab-sebab kebaikan dan keberhasilan, jika karena tidak mampu maka itu adalah kelemahan, dan jika karena tidak ada kemauan maka itu adalah kemalasan.
Pengecut dan kikir adalah pasangan: karena tidak memberikan manfaat darinya, jika dengan badannya maka itu pengecut, dan jika dengan hartanya maka itu kikir.
Lilitan hutang dan dikuasai orang lain adalah pasangan: karena penguasaan orang lain atasnya, jika dengan hak maka itu karena lilitan hutang, dan jika dengan batil maka itu karena dikuasai orang lain. Yang dimaksud adalah bahwa dosa-dosa termasuk sebab terkuat yang mendatangkan kedelapan perkara ini, sebagaimana dosa juga termasuk sebab terkuat yang mendatangkan bencana berat, meraih kesengsaraan, buruknya takdir, dan gembira musuh. Dan termasuk sebab terkuat yang mendatangkan hilangnya nikmat-nikmat Allah, berubahnya kesehatan-Nya menjadi azab-Nya, dan mendatangkan semua kemurkaan-Nya.
[Bab: Maksiat Menghilangkan Nikmat]
Di antara hukuman dosa adalah: dosa menghilangkan nikmat dan mendatangkan bencana. Tidak ada nikmat yang hilang dari seorang hamba kecuali karena dosa, dan tidak ada bencana yang menimpanya kecuali karena dosa. Sebagaimana Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata: “Tidak turun bencana kecuali karena dosa, dan tidak terangkat kecuali dengan taubat.”
Allah Ta’ala berfirman: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Surat Asy-Syura: 30)
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (Surat Al-Anfal: 53)
Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia tidak mengubah nikmat-nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada seseorang hingga orang itu sendiri yang mengubah apa yang ada pada dirinya, yaitu mengubah ketaatan kepada Allah dengan kemaksiatan kepada-Nya, syukur dengan kekufuran, dan sebab-sebab ridha-Nya dengan sebab-sebab murka-Nya. Maka jika dia mengubah, Allah pun mengubah keadaannya sebagai balasan yang setimpal, dan Tuhanmu tidak menzalimi hamba-hamba.
Jika dia mengubah kemaksiatan dengan ketaatan, Allah mengubah hukuman dengan kesehatan, dan kehinaan dengan kemuliaan.
Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Surat Ar-Ra’d: 11)
Dalam sebagian riwayat ilahi, dari Tuhan Tabaraka wa Ta’ala bahwa Dia berfirman: “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, tidaklah seorang hamba dari hamba-hamba-Ku berada dalam keadaan yang Aku cintai, kemudian dia berpindah darinya kepada apa yang Aku benci, kecuali Aku akan memindahkannya dari apa yang dia cintai kepada apa yang dia benci. Dan tidaklah seorang hamba dari hamba-hamba-Ku berada dalam keadaan yang Aku benci, lalu dia berpindah darinya kepada apa yang Aku cintai, kecuali Aku akan memindahkannya dari apa yang dia benci kepada apa yang dia cintai.”
Telah bagus ucapan orang yang berkata:
Jika kamu berada dalam nikmat maka jagalah dia Karena sesungguhnya dosa-dosa menghilangkan nikmat
Dan lindungilah dengan ketaatan kepada Tuhan semesta hamba Karena Tuhan semesta hamba cepat dalam memberikan azab
Dan jauhilah kezaliman sedapat mungkin Karena kezaliman terhadap hamba sangat berbahaya
Dan berjalanlah dengan hatimu di antara manusia Untuk melihat bekas-bekas orang yang telah berbuat zalim
Itulah tempat tinggal mereka setelah mereka tiada Menjadi saksi atas mereka dan jangan kamu menuduh
Dan tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya bagi mereka Daripada kezaliman yang telah menghancurkan mereka
Betapa banyak taman dan istana yang mereka tinggalkan Dan yang lain telah runtuh di atas mereka
Mereka terbakar dalam neraka Jahim dan terlewatlah kenikmatan Dan apa yang mereka peroleh bagaikan mimpi
Bab Maksiat Menimbulkan Kengerian dan Ketakutan di dalam Hati
Di antara hukuman maksiat adalah apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala timpakan berupa kengerian dan ketakutan di dalam hati orang yang bermaksiat, sehingga engkau tidak melihatnya kecuali dalam keadaan takut dan ngeri.
Sesungguhnya ketaatan adalah benteng Allah yang terbesar. Barang siapa yang memasukinya, maka dia termasuk orang-orang yang aman dari azab dunia dan akhirat. Dan barang siapa yang keluar darinya, maka ketakutan-ketakutan akan mengepungnya dari segala sisi. Barang siapa yang taat kepada Allah, maka ketakutan-ketakutan akan berubah menjadi keamanan baginya. Dan barang siapa yang bermaksiat kepada-Nya, maka keamanan-keamanannya akan berubah menjadi ketakutan. Maka engkau tidak mendapati orang yang bermaksiat kecuali hatinya seakan-akan berada di antara dua sayap burung. Jika angin menggerakkan pintu, dia berkata: “Sudah datang pencari.” Dan jika dia mendengar suara langkah kaki, dia takut bahwa itu adalah pembawa berita kebinasaan. Dia mengira bahwa setiap teriakan ditujukan kepadanya, dan setiap keburukan menuju kepadanya. Barang siapa yang takut kepada Allah, Allah akan mengamankannya dari segala sesuatu. Dan barang siapa yang tidak takut kepada Allah, Allah akan menakut-nakutinya dengan segala sesuatu:
Demikianlah Allah telah memutuskan di antara makhluk sejak mereka diciptakan Bahwa ketakutan-ketakutan dan dosa-dosa berpasangan
Maksiat Menjerumuskan ke dalam Kesendirian
Di antara hukuman maksiat adalah bahwa maksiat menjerumuskan ke dalam kesendirian yang besar di dalam hati. Maka orang yang berdosa mendapati dirinya merasa kesepian. Kesendirian telah terjadi antara dia dengan Tuhannya, antara dia dengan makhluk, dan antara dia dengan dirinya sendiri. Semakin banyak dosa-dosa, semakin keras kesendirian itu. Dan kehidupan yang paling pahit adalah kehidupan orang-orang yang kesepian dan ketakutan. Sedangkan kehidupan yang paling nikmat adalah kehidupan orang-orang yang tenteram. Seandainya orang yang berakal memperhatikan dan membandingkan kenikmatan maksiat dengan ketakutan dan kesendirian yang ditimbulkannya, niscaya dia akan mengetahui buruknya keadaannya dan betapa besar kerugiannya, karena dia telah menjual ketenangan ketaatan, keamanan dan manisnya dengan kesendirian maksiat dan ketakutan serta bahaya yang ditimbulkannya.
Sebagaimana dikatakan: Jika dosa-dosa telah membuatmu kesepian Maka tinggalkanlah jika engkau mau dan tenanglah
Rahasia masalah ini adalah: ketaatan mewajibkan kedekatan dengan Rabb Subhanahu. Semakin kuat kedekatan, semakin kuat ketenangan. Sedangkan maksiat mewajibkan jauh dari Rabb. Semakin bertambah jauhnya, semakin kuat kesendirian.
Oleh karena itu, seorang hamba merasakan kesendirian antara dia dengan musuhnya karena jauhnya jarak di antara keduanya, meskipun dia bersentuhan dengannya dan dekat darinya. Dan dia merasakan ketenangan yang kuat antara dia dengan orang yang dicintainya, meskipun dia jauh darinya.
Kesendirian disebabkan oleh hijab (penghalang). Semakin tebal hijab, semakin bertambah kesendirian. Kelalaian menyebabkan kesendirian, dan yang lebih keras darinya adalah kesendirian maksiat, dan yang lebih keras darinya lagi adalah kesendirian syirik dan kekufuran. Engkau tidak akan mendapati seorang pun yang terlibat dengan sesuatu dari hal-hal tersebut kecuali kesendirian menyelimutinya sesuai dengan apa yang dia lakukan. Maka kesendirian itu menyelimuti wajah dan hatinya, sehingga dia merasa kesepian dan orang lain pun merasa tidak nyaman dengannya.
Di antara hukuman maksiat adalah bahwa maksiat mengalihkan hati dari kesehatannya dan kelurusannya menuju penyakitnya dan penyimpangannya. Maka hati itu terus-menerus sakit dan cacat, tidak bisa memanfaatkan makanan-makanan yang dengannya terdapat kehidupan dan kebaikannya. Sesungguhnya pengaruh dosa-dosa pada hati-hati seperti pengaruh penyakit-penyakit pada badan-badan. Bahkan dosa-dosa adalah penyakit hati dan penyakitnya, dan tidak ada obat untuknya kecuali meninggalkannya.
Para pejalan menuju Allah telah bersepakat bahwa hati-hati tidak akan diberi keinginannya hingga sampai kepada Tuhannya, dan tidak akan sampai kepada Tuhannya hingga menjadi sehat dan selamat, dan tidak akan menjadi sehat dan selamat hingga penyakitnya berbalik menjadi obatnya sendiri. Dan hal itu tidak akan sehat kecuali dengan menyelisihi hawa nafsunya. Maka hawa nafsunya adalah penyakitnya, dan obatnya adalah menyelisihinya. Jika penyakit itu menguat, maka akan membunuh atau hampir membunuh.
Sebagaimana orang yang mencegah dirinya dari hawa nafsu, surga menjadi tempat tinggalnya, demikian juga hatinya di dunia ini berada dalam surga yang segera, yang kenikmatan penghuninya sama sekali tidak menyerupai kenikmatan apa pun. Bahkan perbedaan antara dua kenikmatan itu seperti perbedaan antara kenikmatan dunia dan akhirat. Dan ini adalah perkara yang tidak akan dipercayai kecuali oleh orang yang hatinya merasakan ini dan itu.
Jangan mengira bahwa firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang berbuat baik benar-benar berada dalam kenikmatan. Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka” (Surat Al-Infithar: 13-14) terbatas hanya pada kenikmatan akhirat dan nerakanya saja, tetapi di ketiga tempat tinggal mereka demikian – maksudku rumah dunia, rumah barzakh, dan rumah ketetapan – maka mereka ini dalam kenikmatan, dan mereka itu dalam neraka. Bukankah kenikmatan itu hanyalah kenikmatan hati? Dan bukankah azab itu hanyalah azab hati? Azab apa yang lebih keras daripada ketakutan, kegelisahan, kesedihan, sempitnya dada, berpaling dari Allah dan negeri akhirat, tergantungnya pada selain Allah, terputusnya dari Allah, di setiap lembah darinya ada cabang? Dan setiap sesuatu yang dia kaitkan dan cintai selain Allah, maka ia akan menyiksa dia dengan siksa yang buruk. Maka setiap orang yang mencintai sesuatu selain Allah akan disiksa dengannya tiga kali di rumah ini. Dia disiksa dengannya sebelum mendapatkannya hingga mendapatkannya. Ketika dia mendapatkannya, dia disiksa dengannya saat mendapatkannya dengan takut akan dirampas dan hilang, dan dengan gangguan serta kegelisahan padanya, dan berbagai jenis siksaan dalam pertentangan-pertentangan ini. Ketika dia dirampas darinya, siksa kepadanya semakin keras. Inilah tiga jenis siksaan di rumah ini.
Adapun di barzakh: siksaan yang disertai rasa sakit perpisahan yang tidak dia harapkan kembalinya, dan rasa sakit kehilangan kenikmatan besar yang terlewatkan karena kesibukannya dengan lawannya, dan rasa sakit terhijab dari Allah, dan rasa sakit penyesalan yang memotong hati. Maka kegelisahan, kesedihan, dan duka cita bekerja dalam jiwa-jiwa mereka seperti yang dikerjakan serangga dan cacing pada badan-badan mereka. Bahkan pekerjaan mereka pada jiwa-jiwa itu terus-menerus berkelanjutan, hingga Allah mengembalikan mereka kepada jasad-jasad mereka. Saat itulah siksaan berpindah kepada jenis yang lebih mengerikan dan pahit. Mana yang sebanding dengan kenikmatan orang yang hatinya menari karena gembira, senang, dan tenteram dengan Tuhannya, kerinduan kepada-Nya, kegembiraan dengan cinta-Nya, dan ketenangan dengan mengingat-Nya? Hingga sebagian mereka berkata saat sakaratul maut: “Alangkah gembiranya!”
Yang lain berkata: “Kasihan ahli dunia, mereka keluar darinya tanpa merasakan nikmatnya hidup di dalamnya, dan tanpa merasakan yang paling nikmat di dalamnya.”
Yang lain berkata: “Seandainya raja-raja dan anak-anak raja mengetahui apa yang kami rasakan, niscaya mereka akan berperang melawan kami untuk mendapatkannya dengan pedang.”
Yang lain berkata: “Sesungguhnya di dunia ada surga, barang siapa tidak memasukinya, dia tidak akan memasuki surga akhirat.”
Wahai orang yang menjual bagiannya yang mahal dengan harga yang sangat murah, dan rugi total dalam akad ini padahal dia melihat bahwa dia telah rugi, jika engkau tidak memiliki pengalaman dengan nilai barang dagangan, maka tanyalah kepada para penilai. Sungguh aneh, barang dagangan bersamamu, Allah yang membelinya dan harganya adalah surga tempat tinggal, dan perantara yang melalui tangannya terjadi akad jual beli dan menjamin harga dari pembeli adalah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan engkau telah menjualnya dengan sangat hina. Sebagaimana yang dikatakan seseorang:
Jika ini perbuatan seorang hamba terhadap dirinya Maka siapa yang akan memuliakannya setelah itu
“Dan barang siapa yang dihinakan Allah, maka tidak ada yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya” (Surat Al-Hajj: 18).
Bab Maksiat Membutakan Mata Hati
Di antara hukuman maksiat adalah bahwa maksiat membutakan mata hati, menghapus cahayanya, menutup jalan-jalan ilmu, dan menghalangi sumber-sumber petunjuk. Malik pernah berkata kepada Asy-Syafi’i ketika bertemu dengannya dan melihat tanda-tanda tersebut: “Sesungguhnya aku melihat Allah Ta’ala telah melemparkan cahaya ke atas hatimu, maka jangan padamkan dengan kegelapan maksiat.”
Cahaya ini terus melemah dan hilang, dan kegelapan maksiat menguat hingga hati menjadi seperti malam yang gelap gulita. Betapa banyak tempat berbahaya yang jatuh ke dalamnya tanpa dia melihat, seperti orang buta yang keluar di malam hari di jalan yang penuh dengan tempat-tempat berbahaya dan jurang. Alangkah mulianya keselamatan dan alangkah cepatnya kebinasaan. Kemudian kegelapan-kegelapan itu menguat dan meluap dari hati ke anggota badan, sehingga wajah terselimuti kehitaman darinya sesuai dengan kekuatan dan bertambahnya. Ketika saat kematian tiba, kegelapan itu tampak di barzakh, maka kubur dipenuhi kegelapan, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya kubur-kubur ini dipenuhi kegelapan atas penghuninya, dan sesungguhnya Allah meneranginya dengan shalawatku atas mereka.”
Ketika hari kebangkitan tiba dan hamba-hamba dikumpulkan, kegelapan itu naik ke wajah-wajah dengan jelas terlihat yang dilihat setiap orang, hingga wajah menjadi hitam seperti bara api. Alangkah buruknya hukuman yang tidak sebanding dengan kenikmatan-kenikmatan dunia seluruhnya dari awal hingga akhir, apalagi dengan bagian hamba yang terganggu, tersiksa, dan lelah dalam waktu yang hanyalah sejam dari mimpi? Dan kepada Allah kita memohon pertolongan.
Di antara hukuman maksiat adalah bahwa maksiat mengecilkan jiwa, menundukkannya, menyembunyikannya, dan menghinakannya, hingga menjadi yang paling kecil dan paling hina dari segala sesuatu, sebagaimana ketaatan mengembangkannya, mensucikannya, dan membesarkannya. Allah Ta’ala berfirman: “Sungguh beruntung orang yang mensucikannya (jiwa itu). Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya” (Surat Asy-Syams: 9-10). Artinya: sungguh beruntung orang yang membesarkan dan meninggikannya dengan ketaatan kepada Allah dan menampakkannya, dan sungguh rugi orang yang menyembunyikannya, menghinakan dan mengecilkannya dengan maksiat kepada Allah.
Asal kata tadsi-ah adalah menyembunyikan, dan darinya firman Allah Ta’ala: “ataukah dia menguburkannya ke dalam tanah” (Surat An-Nahl: 59).
Maka orang yang bermaksiat menyembunyikan dirinya dalam maksiat, dan menyembunyikan tempatnya, bersembunyi dari makhluk karena buruknya apa yang dia lakukan, dan dia telah tunduk di hadapan dirinya sendiri, tunduk di hadapan Allah, dan tunduk di hadapan makhluk. Maka ketaatan dan kebaikan membesarkan jiwa, memuliakannya, dan meninggikannya, hingga menjadi yang paling mulia, paling besar, paling suci, dan paling tinggi. Meskipun demikian, dia adalah yang paling hina, paling rendah, dan paling kecil di hadapan Allah Ta’ala. Dengan kehinaan inilah dia memperoleh kemuliaan, kehormatan, dan pertumbuhan ini. Tidak ada yang mengecilkan jiwa-jiwa seperti maksiat kepada Allah, dan tidak ada yang membesarkan, memuliakan, dan mengangkatnya seperti ketaatan kepada Allah.
Bab: Kemaksiatan dalam Penjara Setan
Di antara hukuman kemaksiatan adalah: bahwa orang yang bermaksiat senantiasa berada dalam tawanan setan, penjara syahwat-syahwatnya, dan belenggu hawa nafsunya. Maka dia adalah tawanan yang terpenjara dan terbelenggu. Tidak ada tawanan yang lebih buruk keadaannya daripada tawanan yang ditawan oleh musuh paling berbahaya baginya. Tidak ada penjara yang lebih sempit daripada penjara hawa nafsu, dan tidak ada belenggu yang lebih sulit daripada belenggu syahwat. Bagaimana mungkin hati yang tertawan, terpenjara, dan terbelenggu dapat berjalan menuju Allah dan negeri akhirat? Bagaimana dia bisa melangkah satu langkah pun?
Ketika hati dibelenggu, maka berbagai bencana akan mendatanginya dari segala sisi sesuai dengan belenggunya. Perumpamaan hati seperti burung: semakin tinggi terbangnya, semakin jauh dari berbagai bencana. Semakin rendah turunnya, semakin banyak bencana yang mengancamnya.
Dalam hadis disebutkan: “Setan adalah serigala manusia.”
Sebagaimana kambing yang tidak memiliki penjaga sementara dia berada di antara serigala-serigala akan cepat binasa, demikian pula hamba jika tidak ada penjaga dari Allah atasnya, maka serigalanya pasti akan memangsanya. Sesungguhnya dia hanya akan mendapat penjaga dari Allah dengan takwa. Takwa adalah pelindung dan perisai yang kokoh antara dia dan serigalanya, sebagaimana takwa adalah pelindung antara dia dan siksa dunia serta akhirat. Semakin dekat kambing dari penggembalanya, semakin selamat dari serigala. Semakin jauh dari penggembalanya, semakin dekat dengan kebinasaan. Kambing paling selamat ketika dekat dengan penggembalanya. Sesungguhnya serigala hanya menerkam kambing yang menjauh dari kawanan, yaitu yang paling jauh dari penggembala.
Pokok semua ini adalah: semakin jauh hati dari Allah, semakin cepat berbagai bencana menimpanya. Semakin dekat dengan Allah, semakin jauh bencana darinya.
Jarak dari Allah itu bertingkat-tingkat, sebagian lebih parah dari sebagian yang lain. Kelalaian menjauhkan hati dari Allah, dan jarak kemaksiatan lebih besar daripada jarak kelalaian. Jarak bid’ah lebih besar daripada jarak kemaksiatan. Jarak kemunafikan dan syirik lebih besar daripada semua itu.
Bab: Kemaksiatan Menggugurkan Kemuliaan
Di antara hukuman kemaksiatan adalah: jatuhnya kedudukan, martabat, dan kemuliaan di sisi Allah dan di sisi makhluk-Nya. Sesungguhnya makhluk yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara mereka, dan yang paling dekat kedudukan kepadanya adalah yang paling taat kepada-Nya. Martabat hamba di sisi Allah sesuai dengan kadar ketaatannya. Jika dia bermaksiat kepada-Nya dan menentang perintah-Nya, dia akan jatuh dari pandangan-Nya, maka Allah menjatuhkannya dari hati para hamba-Nya. Ketika tidak ada lagi kedudukan baginya di sisi makhluk dan dia menjadi hina di mata mereka, mereka akan memperlakukannya sesuai dengan hal itu. Maka dia hidup di antara mereka dengan kehidupan yang paling buruk: tidak dikenal, jatuh martabatnya, hina keadaannya, tidak ada kehormatan baginya, tidak ada kegembiraan baginya, dan tidak ada kebahagiaan. Sesungguhnya tidak dikenalnya seseorang, jatuhnya martabat dan kedudukan bersamanya segala kesedihan, kegelisahan, dan duka cita. Tidak ada kebahagiaan bersamanya dan tidak ada kegembiraan. Di mana kesengsaraan ini dibandingkan dengan kenikmatan maksiat, seandainya bukan karena mabuk syahwat?
Di antara nikmat Allah yang terbesar kepada hamba adalah: Dia mengangkat sebutannya di antara seluruh alam, dan meninggikan martabatnya. Karena itu Dia mengkhususkan para nabi dan rasul-Nya dari hal itu dengan sesuatu yang tidak dimiliki selain mereka, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan ingatlah hamba-hamba Kami Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub yang mempunyai kekuatan dan penglihatan. Sesungguhnya Kami telah mengkhususkan mereka dengan suatu kekhususan, yaitu peringatan (kepada manusia) akan negeri akhirat.” (Surat Shad: 45-46)
Artinya: Kami mengkhususkan mereka dengan keistimewaan, yaitu pujian yang indah yang mereka diingat dengannya di dunia ini. Itulah lisan yang benar yang diminta oleh Ibrahim Al-Khalil ‘alaihis shalatu was salam ketika dia berkata: “Dan jadikanlah bagiku lisan yang benar (pujian yang baik) pada orang-orang yang datang kemudian.” (Surat Asy-Syu’ara: 84)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang dia dan anak-anaknya: “Dan Kami berikan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi.” (Surat Maryam: 50)
Dan Allah berfirman kepada nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.” (Surat Asy-Syarh: 4)
Para pengikut rasul memiliki bagian dari itu sesuai dengan warisan mereka dari ketaatan dan mengikuti mereka. Setiap orang yang menentang mereka, maka dia jauh dari itu sesuai dengan penentangan dan kemaksiatan mereka.
Bab: Kemaksiatan Mendatangkan Celaan
Di antara hukuman kemaksiatan adalah: ia merampas dari pelakunya nama-nama pujian dan kehormatan, dan memakaikan kepadanya nama-nama celaan dan kehinaan. Ia merampas darinya nama orang beriman, berbakti, berbuat baik, bertakwa, taat, bertaubat, wali, wara’, saleh, ahli ibadah, takut, sering kembali (kepada Allah), baik, yang diridhai, dan semacamnya.
Dan memakaikan kepadanya nama fasik, durhaka, penentang, pembuat kerusakan, jahat, yang dimurkai, pezina, pencuri, pembunuh, pendusta, pengkhianat, pelaku homoseksual, pemutus silaturahmi, pengingkar janji, dan semacamnya. Ini adalah nama-nama kefasikan dan “Amat buruk disebut fasik sesudah iman.” (Surat Al-Hujurat: 11) yang mewajibkan murka Yang Maha Membalas, masuk neraka, dan hidup dalam kehinaan dan kerendahan.
Sedangkan nama-nama tadi mewajibkan ridha Ar-Rahman, masuk surga, dan mewajibkan kemuliaan orang yang dinamai dengannya atas segala jenis manusia lainnya. Seandainya tidak ada dalam hukuman kemaksiatan kecuali pantas mendapat nama-nama itu dan akibat-akibatnya, niscaya akal sudah cukup melarangnya. Seandainya tidak ada dalam pahala ketaatan kecuali meraih nama-nama itu dan akibat-akibatnya, niscaya akal sudah memerintahkannya. Tetapi tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Allah berikan, dan tidak ada yang dapat memberikan apa yang Allah cegah, tidak ada yang dapat mendekatkan apa yang Allah jauhkan, dan tidak ada yang dapat menjauhkan siapa yang Allah dekatkan. “Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak ada yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (Surat Al-Hajj: 18)
Bab: Kemaksiatan Mempengaruhi Akal
Di antara hukuman kemaksiatan adalah: ia secara khusus mempengaruhi kekurangan akal. Kamu tidak akan menemukan dua orang berakal, salah satunya taat kepada Allah dan yang lain durhaka, kecuali akal orang yang taat di antara keduanya lebih sempurna dan lebih lengkap, pikirannya lebih sehat, pendapatnya lebih tepat, dan kebenaran menyertainya.
Karena itu kamu dapati khitab Al-Quran hanyalah kepada pemilik akal dan pikiran, seperti firman-Nya: “Dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal!” (Surat Al-Baqarah: 197), dan firman-Nya: “Maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang berakal supaya kamu beruntung.” (Surat Al-Ma’idah: 100), dan firman-Nya: “Dan tidaklah mengambil pelajaran melainkan orang-orang yang berakal.” (Surat Al-Baqarah: 269), dan yang serupa dengan itu banyak sekali.
Bagaimana mungkin berakal dengan akal yang sempurna orang yang durhaka kepada Dzat yang dia berada dalam genggaman-Nya dan di rumah-Nya, sedang dia tahu bahwa Dia melihat dan memperhatikannya, lalu dia bermaksiat kepada-Nya sementara dia di hadapan-Nya tanpa bersembunyi dari-Nya? Dia meminta pertolongan dengan nikmat-nikmat-Nya untuk hal-hal yang dimurkai-Nya, setiap saat mengundang kemurkaan-Nya atasnya, laknat-Nya terhadapnya, pengusiran dari kedekatan-Nya, pengusiran dari pintu-Nya, berpaling dari-Nya, penghinaan terhadapnya, penyerahan antara dia dan dirinya serta musuhnya, jatuh dari pandangan-Nya, kehilangan ruh ridha dan cinta-Nya, ketenangan mata dengan kedekatan-Nya, kemenangan dengan tetangga-Nya, melihat wajah-Nya dalam barisan para wali-Nya, hingga berlipat ganda dari semua itu berupa kemuliaan-Nya terhadap ahli ketaatan dan berlipat ganda dari semua itu berupa hukuman terhadap ahli kemaksiatan.
Akal mana yang dimiliki orang yang lebih memilih kenikmatan sesaat atau sehari atau seumur hidup, kemudian berlalu seolah-olah mimpi yang tidak pernah ada, daripada kenikmatan yang kekal ini dan kemenangan yang besar? Bahkan itu adalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Seandainya bukan karena akal yang dengannya tegak hujjah atasnya, niscaya dia seperti orang gila. Bahkan orang gila mungkin lebih baik keadaannya daripadanya dan lebih selamat akibatnya. Ini dari segi ini.
Adapun pengaruhnya terhadap kekurangan akal dalam kehidupan, seandainya bukan karena kesamaan dalam kekurangan ini, niscaya tampak bagi orang yang taat di antara kita kekurangan akal orang yang durhaka di antara kita. Tetapi bencana itu umum, dan kegilaan itu beragam.
Sungguh mengherankan, seandainya akal-akal itu sehat, niscaya mereka tahu bahwa jalan memperoleh kenikmatan, kegembiraan, kebahagiaan, dan kehidupan yang baik, hanyalah dalam ridha Dzat yang segala kenikmatan ada dalam ridha-Nya, dan segala kesakitan serta siksaan ada dalam kemurkaan dan kemarahan-Nya. Dalam ridha-Nya ada ketenangan mata, kebahagiaan jiwa, kehidupan hati, kenikmatan ruh, kebaikan hidup, kenikmatan kehidupan, dan kenikmatan yang paling baik. Seandainya seberat atom darinya ditimbang dengan kenikmatan dunia, niscaya tidak akan sebanding dengannya. Bahkan jika hati memperoleh bagian yang paling sedikit dari itu, dia tidak akan rela menukar dunia dan isinya sebagai gantinya. Bersamaan dengan itu, dia menikmati bagiannya dari dunia lebih besar daripada kenikmatan orang-orang yang bermewah-mewahan di dalamnya. Tidak mengotori kenikmatan bagian yang sedikit itu apa yang mengotori kenikmatan orang-orang yang bermewah-mewahan berupa kegelisahan, kesedihan, dan duka cita yang menentang. Bahkan dia telah memperoleh dua kenikmatan dan dia menantikan dua kenikmatan lain yang lebih besar daripadanya. Adapun yang menimpanya di sela-sela itu berupa kesakitan, maka keadaannya sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan.” (Surat An-Nisa: 104)
Tidak ada Tuhan selain Allah, betapa kurangnya akal orang yang menjual mutiara dengan kotoran, kasturi dengan najis, persahabatan dengan orang-orang yang Allah beri nikmat kepada mereka dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh, dengan persahabatan orang-orang yang Allah murkai, laknat, dan sediakan bagi mereka neraka Jahannam, dan neraka itu seburuk-buruk tempat kembali.
Bab: Kemaksiatan Mewajibkan Putusnya Hubungan antara Hamba dan Tuhan
Di antara hukuman kemaksiatan yang terbesar adalah: ia mewajibkan putusnya hubungan antara hamba dan Tuhannya Tabaraka wa Ta’ala. Jika terjadi pemutusan hubungan, maka terputuslah darinya sebab-sebab kebaikan dan tersambunglah dengannya sebab-sebab kejahatan. Keberuntungan apa, harapan apa, dan kehidupan apa bagi orang yang terputus darinya sebab-sebab kebaikan, dan dia memutuskan apa yang ada antara dia dan walinya serta maulanya yang dia tidak bisa lepas darinya sekejap mata, dan tidak ada pengganti baginya dari-Nya, tidak ada ganti baginya selain-Nya? Tersambunglah dengannya sebab-sebab kejahatan, dan tersambung apa yang ada antara dia dan musuh yang paling berbahaya baginya. Maka musuhnya menjadi walinya dan walinya meninggalkannya. Tidak ada jiwa yang tahu apa yang ada dalam pemutusan dan penyambungan ini dari berbagai jenis kesakitan dan berbagai jenis siksaan.
Berkata sebagian salaf: Aku melihat hamba terletak antara Allah Subhanahu dan setan. Jika Allah berpaling darinya, setan menguasainya. Jika Allah menguasainya, setan tidak berkuasa atasnya. Allah Ta’ala telah berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, padahal mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.” (Surat Al-Kahf: 50)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada hamba-hamba-Nya: “Aku telah memuliakan bapak kalian (Adam), mengangkat derajatnya, dan melebihkannya atas yang lain. Aku memerintahkan semua malaikat-Ku untuk bersujud kepadanya sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan. Mereka pun mentaati-Ku, namun musuh-Ku dan musuh kalian (Iblis) menolak, durhaka terhadap perintah-Ku, dan keluar dari ketaatan kepada-Ku. Maka bagaimana pantas bagi kalian setelah ini untuk menjadikan dia dan keturunannya sebagai wali-wali selain Aku, sehingga kalian mentaatinya dalam bermaksiat kepada-Ku, dan kalian mewalikan dia dalam menentang keridhaan-Ku, padahal mereka adalah musuh yang paling nyata bagi kalian? Kalian telah mewali musuh-Ku padahal Aku telah memerintahkan kalian untuk memusuhinya. Barangsiapa yang mewali musuh-musuh raja, maka dia dan musuh-musuh itu sama saja di sisi raja tersebut. Sebab kecintaan dan ketaatan tidak akan sempurna kecuali dengan memusuhi musuh-musuh yang ditaati dan mewali para walinya. Adapun mewali musuh-musuh raja kemudian mengaku sebagai wali raja, maka ini adalah mustahil.”
Ini seandainya musuh raja itu bukan musuh kalian. Lalu bagaimana jika dia benar-benar musuh kalian, dan permusuhan yang ada antara kalian dan dia lebih besar daripada permusuhan antara kambing dan serigala? Maka bagaimana pantas bagi orang yang berakal untuk mewali musuhnya, musuh wali dan tuannya yang tidak ada tuan baginya selain Dia? Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjukkan keburukan perwalian ini dengan firman-Nya: “padahal mereka itu musuh bagimu” (QS. Al-Kahf: 50), sebagaimana Dia menunjukkan keburukannya dengan firman-Nya: “Maka dia durhaka kepada perintah Tuhannya” (QS. Al-Kahf: 50). Jelaslah bahwa permusuhan Iblis terhadap Tuhannya dan permusuhan terhadap kita, masing-masing adalah sebab yang mengajak untuk memusuhinya. Maka apakah perwalian ini? Dan apakah penggantian ini? Alangkah buruknya pengganti bagi orang-orang yang zalim.
Tampaknya di bawah khitab ini terdapat sejenis teguran yang halus dan menakjubkan, yaitu: “Aku memusuhi Iblis ketika dia tidak mau bersujud kepada bapak kalian Adam bersama malaikat-malaikat-Ku, maka permusuhan-Ku terhadapnya adalah karena kalian. Kemudian akibat dari permusuhan ini adalah kalian membuat perjanjian perdamaian antara kalian dan dia.”
Bab: Kemaksiatan Menghilangkan Berkah
Kemaksiatan menghilangkan berkah dari umur, rezeki, ilmu, amal, dan ketaatan. Secara umum, kemaksiatan menghilangkan berkah agama dan dunia. Maka tidak akan engkau dapati orang yang lebih sedikit berkahnya dalam umur, agama, dan dunianya daripada orang yang bermaksiat kepada Allah. Berkah tidak hilang dari bumi kecuali karena kemaksiatan makhluk.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan membukakan kepada mereka berkah-berkah dari langit dan bumi” (QS. Al-A’raf: 96).
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak). Untuk Kami menguji mereka dengannya” (QS. Al-Jin: 16-17).
Sesungguhnya seorang hamba bisa terhalangi dari rezeki karena dosa yang menimpanya.
Dalam hadits disebutkan: “Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) membisikkan dalam hatiku bahwa tidak akan mati seorang jiwa hingga dia menyempurnakan rezekinya. Maka bertakwalah kepada Allah dan berindahlah dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya. Dan sesungguhnya Allah menjadikan ketenangan dan kegembiraan dalam ridha dan yakin, serta menjadikan kesedihan dan duka dalam ragu dan murka.”
Telah disebutkan sebelumnya atsar yang dikutip Ahmad dalam Kitab az-Zuhd: “Aku adalah Allah, jika Aku ridha maka Aku berkahi, dan tidak ada batas bagi berkah-Ku. Jika Aku murka maka Aku laknat, dan laknat-Ku mencapai keturunan yang ketujuh.”
Luasnya rezeki dan amal bukanlah karena banyaknya, dan panjangnya umur bukan karena banyaknya bulan dan tahun, tetapi luasnya rezeki dan panjangnya umur adalah karena berkah di dalamnya.
Telah disebutkan bahwa umur seorang hamba adalah masa hidupnya, dan tidak ada kehidupan bagi orang yang berpaling dari Allah dan sibuk dengan selain-Nya. Bahkan kehidupan binatang lebih baik dari kehidupannya, karena kehidupan manusia adalah dengan kehidupan hati dan ruhnya. Tidak ada kehidupan bagi hatinya kecuali dengan mengenal Penciptanya, mencintai-Nya, beribadah kepada-Nya saja, bertobat kepada-Nya, tenteram dengan mengingat-Nya, dan tenteram dengan kedekatan kepada-Nya. Barangsiapa yang kehilangan kehidupan ini, maka dia kehilangan semua kebaikan, sekalipun dia mengganti dengan apa yang ada di dunia. Bahkan seluruh dunia tidaklah sebanding dengan kehidupan ini. Dari segala sesuatu yang luput dari seorang hamba ada gantinya, tetapi jika Allah luput darinya, maka tidak ada yang dapat menggantikan-Nya sama sekali.
Bagaimana bisa digantikan yang fakir hakiki dengan yang kaya hakiki, yang lemah hakiki dengan yang berkuasa hakiki, yang mati dengan Yang Hidup yang tidak mati, yang makhluk dengan Khalik, dan yang tidak memiliki wujud dan tidak memiliki apa-apa dari zatnya sama sekali dengan Dzat yang kekayaan-Nya, kehidupan-Nya, kesempurnaan-Nya, wujud-Nya, dan rahmat-Nya adalah dari keharusan zat-Nya? Bagaimana bisa digantikan yang tidak memiliki seberat dzarrah pun dengan Dzat yang memiliki kerajaan langit dan bumi?
Kemaksiatan kepada Allah menjadi sebab hilangnya berkah rezeki dan ajal karena setan bertugas mengurusnya dan para pelakunya. Kekuasaannya atas mereka, dan tanggungjawabnya atas daftar ini beserta ahli dan pengikutnya. Setiap sesuatu yang berhubungan dengan setan dan bersamanya, maka berkahnya terhapus. Karena itu disyariatkan menyebut nama Allah Ta’ala ketika makan, minum, berpakaian, berkendaraan, dan bersetubuh karena dalam menyertakan nama Allah terdapat berkah. Menyebut nama-Nya mengusir setan sehingga berkah terwujud tanpa ada yang menentangnya. Setiap sesuatu yang bukan untuk Allah, maka berkahnya tercabut, karena Rabb adalah satu-satunya yang memberkahi, dan semua berkah dari-Nya. Segala yang dinisbatkan kepada-Nya adalah diberkahi. Kalam-Nya diberkahi, rasul-Nya diberkahi, hamba-Nya yang beriman yang bermanfaat bagi makhluk-Nya diberkahi, Baitullah Haram diberkahi, dan wilayah-Nya dari bumi-Nya yaitu Syam adalah tanah berkah. Dia menyifatinya dengan berkah dalam enam ayat dari kitab-Nya. Maka tidak ada yang diberkahi kecuali Dia sendiri, dan tidak ada yang diberkahi kecuali apa yang dinisbatkan kepada-Nya – maksudnya kepada uluhiyyah-Nya, kecintaan-Nya, dan ridha-Nya. Adapun seluruh alam semesta dinisbatkan kepada rububiyyah dan penciptaan-Nya. Setiap yang menjauhkan diri dari-Nya dari berbagai dzat, perkataan, dan perbuatan, maka tidak ada berkah dan tidak ada kebaikan di dalamnya. Setiap yang dekat dengan-Nya dari hal tersebut, maka di dalamnya terdapat berkah sesuai dengan kedekatan darinya kepada-Nya.
Lawan dari berkah adalah laknat. Tanah yang dilaknat Allah atau orang yang dilaknat Allah atau amal yang dilaknat Allah adalah yang paling jauh dari kebaikan dan berkah. Setiap yang berhubungan dengan hal tersebut, terikat dengannya, dan menjadi bagian darinya, maka tidak ada berkah di dalamnya sama sekali.
Allah telah melaknat musuh-Nya Iblis dan menjadikannya makhluk yang paling jauh dari-Nya. Maka segala yang menuju ke arahnya mendapat laknat Allah sesuai dengan kedekatan dan hubungannya dengan Iblis. Dari sinilah kemaksiatan memiliki pengaruh paling besar dalam menghilangkan berkah umur, rezeki, ilmu, dan amal. Setiap waktu yang engkau gunakan untuk bermaksiat kepada Allah, atau harta yang digunakan untuk bermaksiat kepada Allah, atau badan, kedudukan, ilmu, atau amal, maka itu adalah beban bagi pemiliknya, bukan untuknya. Maka tidak ada baginya dari umur, harta, kekuatan, kedudukan, ilmu, dan amalnya kecuali yang digunakan untuk taat kepada Allah.
Karena itu ada di antara manusia yang hidup di dunia ini seratus tahun atau sekitarnya, tetapi umurnya tidak mencapai dua puluh tahun atau sekitarnya. Sebagaimana ada di antara mereka yang memiliki qinthar-qinthar emas dan perak, tetapi hartanya yang sebenarnya tidak mencapai seribu dirham atau sekitarnya. Demikian pula kedudukan dan ilmu.
Dalam Tirmidzi dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Dunia itu terkutuk, terkutuk apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan yang mengikutinya, atau orang alim atau orang yang belajar.”
Dalam atsar lain: “Dunia terkutuk, terkutuk apa yang ada di dalamnya kecuali yang untuk Allah.” Inilah yang khusus mengandung berkah. Dan Allah tempat meminta pertolongan.
Bab: Kemaksiatan Menjadikan Pelakunya Termasuk Golongan Rendah
Di antara hukuman kemaksiatan adalah menjadikan pelakunya termasuk golongan rendah setelah sebelumnya dipersiapkan untuk menjadi golongan tinggi. Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk-Nya menjadi dua kelompok: golongan tinggi dan golongan rendah. Dia menjadikan ‘Illiyyin sebagai tempat tinggal golongan tinggi, dan Asfala Safilin sebagai tempat tinggal golongan rendah. Dia menjadikan ahli ketaatan kepada-Nya sebagai golongan paling tinggi di dunia dan akhirat, dan ahli kemaksiatan kepada-Nya sebagai golongan paling rendah di dunia dan akhirat. Sebagaimana Dia menjadikan ahli ketaatan kepada-Nya sebagai makhluk yang paling mulia di sisi-Nya, dan ahli kemaksiatan kepada-Nya sebagai makhluk yang paling hina di sisi-Nya. Dia menjadikan kemuliaan untuk golongan ini, dan kehinaan serta kerendahan untuk golongan itu. Sebagaimana dalam Musnad Ahmad dari hadits Abdullah bin Amr dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Aku diutus dengan pedang menjelang hari kiamat, rezekiku dijadikan di bawah naungan tombakku, dan kehinaan serta kerendahan dijadikan atas orang yang menyelisihi perintahku.”
Setiap kali seorang hamba berbuat maksiat, dia turun satu derajat, dan terus turun hingga menjadi dari golongan paling rendah. Setiap kali dia berbuat ketaatan, dia naik satu derajat, dan terus naik hingga menjadi dari golongan paling tinggi.
Seorang hamba bisa mengalami naik dari satu sisi dan turun dari sisi lain dalam masa hidupnya. Mana yang lebih dominan, maka dia termasuk golongan tersebut. Tidak sama antara orang yang naik seratus derajat lalu turun satu derajat dengan orang yang sebaliknya.
Namun terjadi kekeliruan besar pada jiwa-jiwa di sini, yaitu seorang hamba bisa turun sangat jauh, lebih jauh dari jarak antara timur dan barat, dan antara langit dan bumi. Maka naiknya seribu derajat pun tidak akan sebanding dengan satu kali turun ini. Sebagaimana dalam hadits sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang tidak diperhatikannya, maka dia jatuh karenanya ke dalam neraka lebih jauh dari jarak antara timur dan barat.”
Naik macam apa yang bisa menyeimbangkan kejatuhan ini? Turun adalah hal yang lazim bagi manusia, tetapi di antara manusia ada yang turunnya karena kelalaian. Orang ini jika tersadar dari kelalaiannya, dia akan kembali ke derajatnya atau lebih tinggi lagi sesuai dengan kesadarannya.
Di antara mereka ada yang turunnya karena hal mubah yang tidak diniatkan untuk membantu ketaatan. Orang ini jika kembali kepada ketaatan, mungkin kembali ke derajatnya, mungkin tidak mencapainya, dan mungkin naik darinya. Karena dia mungkin kembali dengan semangat yang lebih tinggi dari sebelumnya, mungkin dengan semangat yang lebih lemah, dan mungkin semangatnya kembali seperti semula.
Di antara mereka ada yang turunnya karena kemaksiatan, baik kecil maupun besar. Orang ini membutuhkan taubat nasuha (taubat yang benar) dan inabah (kembali) yang jujur untuk kembali ke derajatnya.
Orang-orang berbeda pendapat apakah dia kembali setelah taubat ke derajatnya yang dulu, berdasarkan bahwa taubat menghapus bekas dosa dan menjadikan keberadaannya seperti tidak ada, seolah-olah tidak pernah terjadi. Atau tidak kembali, berdasarkan bahwa pengaruh taubat adalah menggugurkan hukuman, adapun derajat yang terlewatkan, dia tidak akan mencapainya.
Mereka berkata: Penjelasannya adalah bahwa dia dulu siap dengan kesibukannya dalam ketaatan pada waktu dia bermaksiat untuk naik lagi dan meningkat yang dibawa oleh amal-amal sebelumnya. Seperti keuntungan seseorang setiap hari dengan seluruh hartanya yang dimiliki. Setiap kali harta berlipat ganda, keuntungan pun berlipat ganda. Maka telah hilang darinya pada masa kemaksiatan suatu kenaikan dan keuntungan yang dibawa oleh amal-amalnya. Jika dia memulai lagi amal, dia memulai lagi naik dari turun, padahal sebelumnya dia naik dari bawah ke atas. Dan antara keduanya ada perbedaan yang besar.
Mereka berkata: “Perumpamaan hal tersebut adalah seperti dua orang yang sedang menaiki dua tangga yang tidak memiliki ujung, dan keduanya dalam keadaan seimbang. Kemudian salah satu dari mereka turun ke bawah, walau hanya satu anak tangga, lalu memulai kembali pendakian. Maka orang yang tidak turun pasti akan lebih tinggi darinya dan tidak terelakkan lagi.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah memberikan keputusan yang dapat diterima antara kedua kelompok dengan berkata:
“Penelitian menunjukkan bahwa di antara orang-orang yang bertaubat, ada yang kembali kepada derajat yang lebih tinggi dari derajat sebelumnya, ada yang kembali kepada derajat yang sama, dan ada yang tidak mencapai derajat sebelumnya.”
Aku katakan: “Hal ini tergantung pada kekuatan taubat dan kesempurnaannya, serta apa yang ditimbulkan oleh kemaksiatan terhadap hamba berupa kehinaan, kerendahan hati, kembali kepada Allah, kehati-hatian, ketakutan kepada Allah, dan tangisan karena takut kepada Allah. Hal-hal ini bisa menjadi kuat hingga orang yang bertaubat kembali ke derajat yang lebih tinggi dari derajat sebelumnya, dan menjadi lebih baik setelah taubat daripada sebelum berbuat dosa. Maka bagi orang seperti ini, dosa tersebut bisa menjadi rahmat baginya, karena dosa itu telah menghilangkan penyakit ujub (bangga diri), dan membebaskannya dari kepercayaan kepada dirinya sendiri dan bergantung pada amal perbuatannya, serta meletakkan pipi kehinaan, kerendahan, dan penyesalannya di ambang pintu Tuhan dan Pelindungnya, dan memperkenalkan kepadanya ukuran dirinya, dan menyaksikan kefakiran serta kebutuhannya kepada penjagaan Tuhannya atas dirinya, kepada ampunan dan pengampunan-Nya, dan mengeluarkan dari hatinya kesombongan ketaatan, dan mematahkan hidungnya agar tidak sombong atau takabur karenanya, atau melihat dirinya lebih baik dari orang lain, dan menempatkannya di hadapan Tuhannya dalam posisi orang-orang yang bersalah dan berdosa, menundukkan kepala di hadapan Tuhannya, merasa malu dan takut kepada-Nya, menganggap remeh ketaatannya dan menganggap besar kemaksiatannya, mengenal dirinya dengan kekurangan dan celaan, sedangkan Tuhannya menyendiri dengan kesempurnaan, pujian, dan kesetiaan, sebagaimana dikatakan:
‘Allah menyendiri dengan kesetiaan dan pujian… dan menyerahkan celaan kepada manusia’
Maka nikmat apa pun yang sampai kepadanya dari Allah, dia menganggapnya berlebihan untuk dirinya dan melihat dirinya tidak pantas mendapatkannya, dan azab atau bencana apa pun yang menimpanya, dia melihat dirinya pantas mendapat yang lebih besar darinya, dan melihat Tuhannya telah berbuat baik kepadanya karena tidak menghukumnya sesuai dengan kejahatannya, tidak setengahnya, dan tidak bagian terkecil darinya. Karena sesungguhnya hukuman yang layak diperolehnya tidak dapat ditanggung oleh gunung-gunung yang kokoh, apalagi hamba yang lemah dan tidak berdaya ini. Karena sesungguhnya dosa, walau kecil, adalah menghadapi Yang Maha Agung yang tidak ada yang lebih agung dari-Nya, Yang Maha Besar yang tidak ada yang lebih besar dari-Nya, Yang Maha Mulia yang tidak ada yang lebih mulia dan lebih indah dari-Nya, Yang Maha Pemberi nikmat dengan segala jenis nikmat baik yang halus maupun yang kasar – adalah termasuk perkara yang paling jelek, paling mengerikan, dan paling buruk. Karena menghadapi orang-orang besar, orang-orang mulia, dan para pemimpin manusia dengan hal seperti itu, setiap orang baik mukmin maupun kafir akan menganggapnya buruk. Dan orang yang paling hina dan paling rendah budi pekertinya adalah yang menghadapi mereka dengan keburukan-keburukan, bagaimana dengan Yang Maha Agung di langit dan bumi, Raja langit dan bumi, dan Tuhan penghuni langit dan bumi? Seandainya bukan karena rahmat-Nya mendahului murka-Nya, dan ampunan-Nya mendahului azab-Nya, niscaya bumi akan hancur dengan siapa yang menghadapi-Nya dengan apa yang tidak pantas dihadapkan kepada-Nya, dan seandainya bukan karena kesabaran dan pengampunan-Nya, niscaya langit dan bumi akan berguncang karena kemaksiatan para hamba.”
Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Surat Fathir: 41)
Maka perhatikanlah penutup ayat ini dengan dua nama dari nama-nama-Nya, yaitu: “Al-Halim (Maha Penyantun)” dan “Al-Ghafur (Maha Pengampun)”, bagaimana engkau dapati di bawah itu bahwa seandainya bukan karena kesabaran-Nya terhadap para pelaku kejahatan dan pengampunan-Nya kepada para pelaku maksiat, niscaya langit dan bumi tidak akan stabil.
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan tentang kekufuran sebagian hamba-Nya bahwa: “Hampir-hampir langit pecah karenanya, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh.” (Surat Maryam: 90)
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengeluarkan kedua orang tua (Adam dan Hawa) dari surga karena satu dosa yang mereka lakukan dan mereka melanggar larangan-Nya, dan melaknat iblis serta mengusirnya dan mengeluarkannya dari kerajaan langit dan bumi karena satu dosa yang dilakukannya dan melanggar perintah-Nya. Sedangkan kita, golongan orang-orang bodoh, sebagaimana dikatakan:
“Kita menyambung dosa dengan dosa dan berharap… derajat surga bagi pemilik kenikmatan yang kekal Sungguh kita telah mengetahui bahwa Dia mengeluarkan kedua orang tua dari… kerajaan-Nya yang tinggi karena satu dosa”
Yang dimaksud adalah bahwa hamba terkadang setelah taubat menjadi lebih baik daripada sebelum berbuat dosa dan lebih tinggi derajatnya. Dan terkadang dosa melemahkan semangatnya dan melemahkan tekadnya, serta menyakitkan hatinya, sehingga obat taubat tidak mampu mengembalikannya kepada kesehatan yang pertama, maka dia tidak kembali ke derajatnya. Dan terkadang penyakit hilang sehingga kesehatan kembali seperti semula dan dia kembali kepada amal yang sama, maka dia kembali ke derajatnya.
Semua ini jika turunnya kepada kemaksiatan. Jika turunnya kepada perkara yang merusak asal imannya, seperti keraguan-keraguan, prasangka buruk, dan kemunafikan, maka itu adalah turun yang tidak diharapkan bagi pemiliknya ada kenaikan kecuali dengan memperbaharui keislamannya.
Bab: Kemaksiatan Membuat Musuh-musuh Berani Terhadap Manusia
Bab
Kemaksiatan membuat musuh-musuh berani terhadap manusia. Di antara hukuman-hukumannya adalah: bahwa kemaksiatan membuat berani terhadap hamba apa yang tidak berani terhadapnya dari berbagai jenis makhluk. Maka setan-setan berani terhadapnya dengan gangguan, penyesatan, bisikan, menakut-nakuti, dan menyedihkan, serta melupakan apa yang mengandung kemaslahatan baginya dalam mengingatnya, dan mudharatnya dalam melupakannya. Maka setan-setan berani terhadapnya hingga mendorongnya dalam kemaksiatan kepada Allah dengan dorongan yang kuat.
Dan setan-setan manusia berani terhadapnya dengan apa yang mereka mampu lakukan berupa gangguan ketika dia tidak ada dan ketika dia hadir, dan keluarganya, pembantunya, anak-anaknya, dan tetangganya berani terhadapnya, bahkan hewan ternak.
Sebagian salaf berkata: “Sesungguhnya aku bermaksiat kepada Allah, maka aku mengetahui hal itu pada akhlak istriku dan hewan tungganganku.”
Demikian pula para penguasa berani terhadapnya dengan hukuman yang jika mereka berlaku adil di dalamnya, mereka menegakkan hudud Allah atasnya. Dan nafsunya sendiri berani terhadapnya, menjadi singa atasnya dan sulit baginya. Seandainya dia menginginkannya untuk kebaikan, nafsu itu tidak akan mematuhinya dan tidak akan tunduk kepadanya, dan nafsu itu membawanya kepada apa yang di dalamnya kebinasaannya, baik dia mau atau tidak.
Hal itu karena ketaatan adalah benteng Rabb Tabaraka wa Ta’ala yang siapa yang memasukinya akan menjadi orang yang aman. Jika dia meninggalkan benteng tersebut, para perampok jalanan dan lainnya akan berani terhadapnya. Dan sesuai dengan keberaniannya terhadap kemaksiatan kepada Allah, maka keberanian bencana-bencana dan jiwa-jiwa ini terhadapnya, dan tidak ada baginya sesuatu yang dapat menolaknya. Karena sesungguhnya dzikir kepada Allah, ketaatan kepada-Nya, sedekah, memberi petunjuk kepada orang yang jahil, amar ma’ruf nahi munkar adalah perlindungan yang menolak dari hamba, seperti kekuatan yang menolak penyakit dan melawannya. Jika kekuatan itu jatuh, datangnya penyakit akan menang maka terjadilah kebinasaan. Hamba harus memiliki sesuatu yang menolak darinya, karena sesungguhnya sebab-sebab kejelekan dan kebaikan saling mendorong dan hukum akan menjadi milik yang menang sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Dan semakin kuat sisi kebaikan, semakin kuat penolakannya sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, karena sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman, dan iman adalah perkataan dan perbuatan. Maka sesuai dengan kekuatan iman akan ada pembelaan, dan kepada Allah kita meminta pertolongan.
Bab: Kemaksiatan Melemahkan Hamba di Hadapan Dirinya Sendiri
Bab
Kemaksiatan melemahkan hamba di hadapan dirinya sendiri. Di antara hukuman-hukumannya adalah: bahwa kemaksiatan mengkhianati hamba pada saat dia paling membutuhkan dirinya sendiri. Karena sesungguhnya setiap orang membutuhkan pengetahuan tentang apa yang bermanfaat baginya dan apa yang merugikannya dalam kehidupan dunia dan akhiratnya. Orang yang paling berilmu adalah yang paling mengetahui hal itu secara terperinci. Dan yang paling kuat dan paling cerdas adalah yang mampu menguasai diri dan keinginannya, lalu menggunakannya untuk apa yang bermanfaat baginya dan menahannya dari apa yang merugikannya. Dalam hal inilah berbeda-beda pengetahuan manusia, semangat mereka, dan kedudukan mereka. Yang paling berilmu adalah yang mengetahui sebab-sebab kebahagiaan dan kesengsaraan, dan yang paling bijak adalah yang mengutamakan yang ini daripada yang itu, sebagaimana yang paling bodoh adalah yang membalik perkara.
Kemaksiatan mengkhianati hamba pada saat dia paling membutuhkan dirinya sendiri dalam memperoleh ilmu ini, dan mengutamakan keuntungan yang mulia, tinggi, dan kekal daripada keuntungan yang hina, rendah, dan terputus. Maka dosa-dosa menghalanginya dari kesempurnaan ilmu ini, dan dari kesibukan dengan apa yang lebih utama baginya dan lebih bermanfaat baginya di dua negeri.
Jika terjadi sesuatu yang tidak disukai dan dia membutuhkan untuk keluar darinya, hatinya, nafsunya, dan anggota tubuhnya mengkhianatinya. Dia seperti seorang yang memiliki pedang yang telah berkarat dan melekat pada sarungnya, sehingga tidak bisa ditarik oleh pemiliknya ketika dia menariknya. Lalu datang musuh yang ingin membunuhnya, maka dia meletakkan tangannya pada gagang pedangnya dan berusaha keras untuk mengeluarkannya, tetapi pedang itu tidak keluar bersamanya. Maka musuh menyerangnya dan mengalahkannya.
Demikian pula hati berkarat karena dosa-dosa dan menjadi penuh dengan penyakit. Jika dia membutuhkan untuk memerangi musuh, dia tidak mendapati darinya sesuatu apa pun. Hamba hanya berperang, bertarung, dan maju dengan hatinya, dan anggota tubuh mengikuti hati. Jika tidak ada kekuatan pada rajanya untuk menolak dengannya, maka apa sangkaan terhadapnya?
Demikian pula nafsu, karena dia menjadi buruk dengan syahwat-syahwat dan kemaksiatan dan menjadi lemah – maksudku nafsu yang tenang. Walaupun nafsu yang menyuruh kepada kejahatan menjadi kuat dan menjadi singa. Semakin kuat yang ini, semakin lemah yang itu. Maka hukum dan pengendalian tetap menjadi milik nafsu yang menyuruh kepada kejahatan.
Terkadang nafsu tenangnya mati dengan kematian yang tidak diharapkan bersamanya kehidupan yang bisa diambil manfaatnya, bahkan kehidupannya adalah kehidupan yang dengannya dia hanya merasakan kesakitan saja.
Yang dimaksud adalah bahwa hamba jika jatuh dalam kesulitan, kesusahan, atau bencana, hatinya, lisannya, dan anggota tubuhnya mengkhianatinya dari apa yang paling bermanfaat baginya. Maka hatinya tidak tertarik untuk bertawakkal kepada Allah Ta’ala, kembali kepada-Nya, bersatu kepada-Nya, memohon dengan rendah hati, tunduk, dan patah hati di hadapan-Nya. Lisannya tidak mematuhinya untuk berdzikir kepada-Nya. Jika dia berdzikir dengan lisannya, dia tidak menyatukan antara hatinya dan lisannya, maka hati terpaku pada lisan sehingga dzikir berpengaruh, dan hati serta lisan tidak terpaku pada dzikir. Bahkan jika dia berdzikir atau berdoa, dia berdzikir dengan hati yang lalai, lengah, dan lupa. Seandainya dia menginginkan dari anggota tubuhnya agar membantunya dengan ketaatan yang menolak darinya, anggota tubuh itu tidak tunduk kepadanya dan tidak mematuhinya.
Semua ini adalah akibat dari dosa-dosa dan kemaksiatan, seperti orang yang memiliki tentara yang membela dirinya dari musuh-musuh, lalu dia mengabaikan tentaranya, menyia-nyiakan mereka, melemahkan mereka, dan memutus berita mereka. Kemudian dia menginginkan dari mereka ketika musuh menyerangnya agar mereka mengerahkan segenap kemampuan mereka dalam membela dirinya tanpa kekuatan.
[Bagian tentang Khawatir Akhirat yang Buruk]
Selain itu, ada hal lain yang lebih menakutkan, lebih mengerikan, dan lebih pahit daripada hal tersebut, yaitu ketika hati dan lisannya mengkhianatinya saat sakaratul maut dan perpindahan kepada Allah Ta’ala. Terkadang ia tidak mampu mengucapkan kalimat syahadat, sebagaimana orang-orang telah menyaksikan banyak orang yang sedang sekarat mengalami hal tersebut. Hingga dikatakan kepada salah seorang dari mereka: “Ucapkanlah laa ilaaha illallah,” maka ia berkata: “Aduh, aduh, aku tidak sanggup mengucapkannya.”
Dan dikatakan kepada yang lain: “Ucapkanlah: laa ilaaha illallah,” maka ia berkata: “Syah rukh, aku mengalahkanmu.” Kemudian ia meninggal.
Dan dikatakan kepada yang lain: “Ucapkanlah laa ilaaha illallah,” maka ia berkata: “Wahai Tuhanku, ada yang berkata suatu hari ketika ia telah lelah… Di mana jalan menuju pemandian Minjab?” Kemudian ia meninggal.
Dan dikatakan kepada yang lain: “Ucapkanlah laa ilaaha illallah,” maka ia mulai mengigau dengan nyanyian dan berkata: “Tatina tininanta.” Hingga ia meninggal.
Dan dikatakan kepada yang lain hal yang sama, maka ia berkata: “Apa gunanya apa yang kamu katakan, padahal aku tidak meninggalkan kemaksiatan apapun melainkan aku telah melakukannya?” Kemudian ia meninggal dan tidak mengucapkannya.
Dan dikatakan kepada yang lain hal yang sama, maka ia berkata: “Apa gunanya bagiku, padahal aku tidak tahu bahwa aku pernah shalat untuk Allah satupun?” Kemudian ia meninggal dan tidak mengucapkannya.
Dan dikatakan kepada yang lain hal yang sama, maka ia berkata: “Dia kafir terhadap apa yang kamu katakan.” Dan ia meninggal.
Dan dikatakan kepada yang lain hal yang sama, maka ia berkata: “Setiap kali aku ingin mengucapkannya, lidahku menahan diri darinya.”
Dan ada yang mengabarkan kepadaku tentang seseorang yang menyaksikan salah seorang pengemis saat kematiannya, maka ia terus berkata: “Untuk Allah, satu fils untuk Allah.” Hingga ia meninggal.
Dan salah seorang pedagang mengabarkan kepadaku tentang kerabatnya bahwa ia sekarat di hadapannya, dan mereka terus mengajarkannya: “laa ilaaha illallah,” sedangkan ia berkata: “Barang ini murah, ini pembeli yang baik, ini begini.” Hingga ia meninggal.
Maha Suci Allah! Betapa banyak pelajaran yang telah disaksikan manusia dari hal ini? Dan apa yang tersembunyi dari mereka tentang keadaan orang-orang yang sekarat adalah lebih besar dan lebih besar lagi.
Jika seorang hamba ketika dalam keadaan sadar pikirannya, kuat, dan sempurna pemahamannya telah dikuasai oleh setan, dan setan menggunakannya untuk apa yang ia inginkan berupa kemaksiatan kepada Allah, dan telah mengabaikan hatinya dari dzikir kepada Allah Ta’ala, melumpuhkan lisannya dari berzikir kepada-Nya dan anggota tubuhnya dari ketaatan kepada-Nya, maka bagaimana dugaan tentangnya ketika kekuatannya melemah dan hatinya serta nafasnya sibuk dengan apa yang ia alami berupa rasa sakit sekarat?
Dan setan mengumpulkan seluruh kekuatan dan semangatnya untuknya, dan menyerbu dengan segala yang ia mampu untuk mendapatkan kesempatannya darinya, karena itu adalah akhir dari amal, maka saat itulah setannya paling kuat atasnya, dan saat itulah ia paling lemah dalam keadaan tersebut. Maka siapakah yang dapat selamat dalam kondisi seperti itu? Di situlah “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim, dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (Surat Ibrahim: 27)
Bagaimana dapat diberi taufik dengan akhirat yang baik orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabaikan hatinya dari berzikir kepada-Nya, mengikuti hawa nafsunya, dan urusannya berlebih-lebihan. Maka jauh sekali orang yang hatinya jauh dari Allah Ta’ala, lalai dari-Nya, menyembah hawa nafsunya, tawanan syahwatnya, lisannya kering dari berzikir kepada-Nya, dan anggota tubuhnya terlumpuh dari ketaatan kepada-Nya serta sibuk dengan kemaksiatan kepada-Nya – untuk diberi taufik akhirat yang baik.
Sungguh ketakutan akan akhirat telah mematahkan punggung orang-orang yang bertakwa, dan seakan-akan orang-orang yang berbuat jahat dan zalim telah mengambil surat jaminan keamanan “Ataukah kamu mempunyai perjanjian yang mengikat dengan Kami sampai hari kiamat, bahwa sesungguhnya kamu akan memperoleh apa yang kamu putuskan? Tanyakanlah kepada mereka, siapakah di antara mereka yang menjamin hal itu?” (Surat Al-Qalam: 39-40)
Sebagaimana dikatakan: “Wahai yang merasa aman dari perbuatan buruk, wahai ahlinya… Apakah telah datang kepadamu surat jaminan keamanan yang kamu miliki? Kamu mengumpulkan dua hal: keamanan dan mengikuti hawa nafsu… Ini, padahal salah satunya saja dapat membinasakan seseorang. Dan orang-orang yang berbuat baik telah berjalan di jalan ketakutan… Sedangkan itu adalah jalan yang tidak kamu tempuh. Kamu menyia-nyiakan masa tanam saat menabur karena kebodohan… Maka bagaimana saat panen manusia kamu dapat meraihnya? Ini, dan hal yang paling mengherankan darimu adalah kezuhdanmu terhadap… Negeri kekal dengan kehidupan yang akan kamu tinggalkan. Siapakah yang bodoh kalau begitu, demi Allah, apakah kamu ataukah… Yang merugi dalam jual-beli dengan kerugian yang akan ia sadari?”
[Bagian: Kemaksiatan Membutakan Hati]
Di antara hukumannya adalah bahwa kemaksiatan membutakan hati. Jika tidak membutakannya, pasti akan melemahkan penglihatannya. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa kemaksiatan pasti melemahkannya. Jika hati buta dan lemah, maka terlewatlah darinya pengetahuan tentang petunjuk dan kekuatan untuk melaksanakannya pada dirinya dan pada orang lain, sesuai dengan kelemahan penglihatannya dan kekuatannya.
Sesungguhnya kesempurnaan manusiawi berporos pada dua dasar: mengetahui kebenaran dari kebatilan, dan mengutamakannya atas kebatilan.
Tidaklah berbeda-beda kedudukan makhluk di sisi Allah Ta’ala di dunia dan akhirat kecuali sebesar perbedaan kedudukan mereka dalam dua hal ini. Dan keduanya adalah yang Allah puji para nabi-Nya dengan keduanya dalam firman-Nya Ta’ala: “Dan ingatlah hamba-hamba Kami Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub yang mempunyai kekuatan dan penglihatan.” (Surat Shad: 45)
Al-Aydi (kekuatan): adalah kekuatan dalam melaksanakan kebenaran. Al-Abshar (penglihatan): adalah wawasan dalam agama. Maka Dia menggambarkan mereka dengan kesempurnaan pemahaman kebenaran dan kesempurnaan pelaksanaannya. Manusia terbagi dalam maqam ini menjadi empat bagian, dan mereka adalah bagian yang paling mulia dari makhluk dan paling mulia di sisi Allah Ta’ala.
Bagian kedua: kebalikan dari mereka, yang tidak memiliki wawasan dalam agama dan tidak memiliki kekuatan untuk melaksanakan kebenaran. Mereka adalah mayoritas makhluk ini, dan mereka adalah yang melihat mereka membuat mata sakit, jiwa demam, dan hati sakit. Mereka mempersempit negeri dan menaikkan harga, dan tidak diperoleh dari pergaulan dengan mereka kecuali aib dan kehinaan.
Bagian ketiga: yang memiliki wawasan tentang kebenaran dan pengetahuan tentangnya, tetapi ia lemah, tidak memiliki kekuatan untuk melaksanakannya dan tidak untuk menyeru kepadanya. Ini adalah keadaan mukmin yang lemah, dan mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada dia.
Bagian keempat: yang memiliki kekuatan, semangat, dan tekad, tetapi lemah wawasannya dalam agama, hampir tidak bisa membedakan antara wali-wali Rahman dan wali-wali setan. Bahkan ia menganggap setiap yang hitam adalah kurma dan setiap yang putih adalah lemak. Ia menganggap bengkak sebagai lemak dan obat yang bermanfaat sebagai racun.
Tidak ada di antara mereka yang layak untuk kepemimpinan dalam agama, dan bukan tempatnya kecuali bagian pertama. Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (Surat As-Sajdah: 24)
Maka Dia Subhanahu memberitahukan bahwa dengan kesabaran dan keyakinan mereka meraih kepemimpinan dalam agama. Dan mereka adalah yang Allah Subhanahu kecualikan dari golongan orang-orang yang merugi, dan Dia bersumpah dengan masa – yang merupakan waktu usaha orang-orang yang merugi dan yang beruntung – bahwa siapa selain mereka maka ia termasuk orang-orang yang merugi. Maka Dia Ta’ala berfirman “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Surat Al-‘Asr: 1-3)
Dan Dia tidak cukup dari mereka dengan mengetahui kebenaran dan bersabar atasnya, hingga sebagian mereka mewasiatkan sebagian yang lain dengannya dan membimbingnya kepadanya serta mendorongnya untuk melakukannya.
Dan jika siapa selain mereka adalah yang merugi, maka diketahui bahwa kemaksiatan dan dosa-dosa membutakan pandangan hati sehingga tidak memahami kebenaran sebagaimana mestinya, dan melemahkan kekuatan serta tekadnya sehingga tidak sabar atasnya. Bahkan mungkin terus-menerus menghampiri hati hingga terbalik pemahamannya sebagaimana terbalik jalannya, sehingga ia memahami kebatilan sebagai kebenaran dan kebenaran sebagai kebatilan, yang ma’ruf sebagai munkar dan yang munkar sebagai ma’ruf. Maka ia terjungkir dalam perjalanannya dan mundur dari safar menuju Allah dan negeri akhirat, menuju safarnya ke tempat kediaman jiwa-jiwa yang membatalkan yang ridha dengan kehidupan dunia, tenang dengannya, lalai dari Allah dan ayat-ayat-Nya, dan meninggalkan persiapan untuk bertemu dengan-Nya. Seandainya tidak ada dalam hukuman dosa kecuali ini saja, tentu akan menjadi pendorong untuk meninggalkannya dan menjauh darinya. Dan Allah yang diminta pertolongan.
Dan ini sebagaimana ketaatan menerangi hati, memurnikannya, dan mengasahnya, menguatkan dan meneguhkannya hingga menjadi seperti cermin yang dipoles dalam kejernihannya dan kebeningannya sehingga penuh dengan cahaya. Jika setan mendekat kepadanya, ia terkena cahayanya sebagaimana yang mencuri dengar terkena meteor yang menyala. Maka setan takut kepada hati ini lebih keras daripada takutnya serigala kepada singa, hingga pemiliknya dapat menjatuhkan setan sehingga ia jatuh tersungkur. Maka setan-setan berkumpul padanya, lalu sebagian berkata kepada sebagian: “Ada apa dengannya?” Maka dikatakan: “Ia terkena manusia, dan padanya ada pandangan dari manusia”:
“Wahai pandangan dari hati yang merdeka dan bercahaya… Hampir saja setan terbakar oleh cahayanya.”
Apakah sama hati ini dengan hati yang sudut-sudutnya gelap, hawa nafsunya berbeda-beda, yang telah dijadikan setan sebagai watannya dan disiapkannya sebagai tempat tinggalnya? Jika ia pagi hari dengan kemunculannya, ia menyapanya dan berkata: “Tebusan bagi yang tidak beruntung di dunianya dan tidak di akhiratnya?”
“Teman setiarmu di dunia dan di padang mahsyar setelahnya… Maka kamu adalah teman bagiku di setiap tempat. Jika kamu di negeri kesengsaraan maka sesungguhnya aku… Dan kamu bersama-sama dalam kesengsaraan dan kehinaan.”
Allah Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Tuhan Yang Maha Pemurah, Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya setan-setan itu menghalangi manusia dari jalan (yang benar), dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk, hingga apabila orang-orang kafir itu datang kepada Kami, berkatalah dia: ‘Aduhai, semoga (jarak) antara aku dan kamu seperti jarak antara Masyriq dan Maghrib, maka setan itu sejahat-jahat teman.’ Dan sekali-kali tidak akan berguna bagi kamu pada hari itu karena kamu telah menganiaya (diri sendiri), bahwa kamu bersama-sama (di dalam) azab.” (Surat Az-Zukhruf: 36-39)
Maka Dia Subhanahu memberitahukan bahwa siapa yang buta dari zikir-Nya, yaitu kitab-Nya yang diturunkan kepada Rasul-Nya, lalu ia berpaling darinya, buta darinya, dan buta pandangannya dari memahaminya, mentadabburi, dan mengetahui maksud Allah darinya – Allah menentukan baginya setan sebagai hukuman karena berpalingnya dari kitab-Nya. Maka ia adalah temannya yang tidak berpisah darinya baik dalam menetap maupun dalam perjalanan, dan walinya serta keluarganya yang seburuk-buruk wali dan seburuk-buruk keluarga.
“Saudara sepersusuan dari payudara ibu yang kami bagi… Dengan gelap kelam, pengganti yang tidak berpisah.”
Kemudian Dia Subhanahu memberitahukan bahwa setan menghalangi temannya dan walinya dari jalan-Nya yang menghubungkan kepada-Nya dan kepada surga-Nya. Dan orang sesat yang terhalang ini menyangka bahwa ia berada di jalan petunjuk, hingga ketika kedua teman datang pada hari kiamat, salah satunya berkata kepada yang lain: “Aduhai, semoga (jarak) antara aku dan kamu seperti jarak antara Masyriq dan Maghrib, maka setan itu sejahat-jahat teman” bagiku di dunia. Kamu telah menyesatkanku dari petunjuk setelah datang kepadaku, menghalangiku dari kebenaran dan menggodaku hingga aku binasa. Dan sejahat-jahat teman kamu bagiku hari ini.
Dan ketika orang yang tertimpa musibah jika ada orang lain yang berbagi musibah dengannya, ia mendapat hiburan berupa sedikit keringanan dan penghiburan, Allah Subhanahu memberitahukan bahwa ini tidak ada dan tidak terjadi bagi orang-orang yang berbagi dalam azab, dan bahwa teman tidak merasakan kelegaan dan tidak sedikit pun kegembiraan dengan azab temannya bersamanya, meskipun musibah di dunia jika merata menjadi penghiburan, sebagaimana Khansa berkata tentang saudaranya Shakhr:
“Seandainya tidak banyaknya orang yang menangis di sekitarku… Atas saudara-saudara mereka, niscaya aku bunuh diriku. Dan mereka tidak menangis seperti saudaraku, tetapi… Aku menghibur jiwa tentangnya dengan berhibur diri.”
Maka Allah Subhanahu mencegah kadar kelegaan ini dari penghuni neraka dan berfirman: “Dan sekali-kali tidak akan berguna bagi kamu pada hari itu karena kamu telah menganiaya (diri sendiri), bahwa kamu bersama-sama (di dalam) azab.” (Surat Az-Zukhruf: 39)
Bab Kemaksiatan adalah Musuh yang Sangat Berbahaya
Di antara hukuman kemaksiatan adalah: sesungguhnya kemaksiatan itu merupakan bantuan dari manusia yang ia berikan kepada musuhnya untuk melawannya, dan tentara yang ia gunakan untuk memperkuat musuhnya dalam memeranginya. Hal itu karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menguji manusia ini dengan musuh yang tidak pernah meninggalkannya sekejap mata pun, tidak tidur darinya dan tidak lengah darinya. Musuh itu melihatnya bersama kaumnya dari tempat yang tidak dapat dilihat manusia, berusaha keras dalam memusuhinya dalam setiap keadaan, dan tidak meninggalkan satu pun cara untuk menyakitinya yang mampu ia sampaikan kepadanya kecuali ia sampaikan kepadanya. Ia meminta bantuan terhadapnya dari sesama jenisnya dari setan-setan jin, dan selain mereka dari setan-setan manusia. Sungguh ia telah memasang jerat-jerat untuknya, mencari celah-celah untuk menjerumuskannya, membentangkan perangkap di sekelilingnya, dan memasang jebakan serta jaring-jaring untuknya. Ia berkata kepada para pembantunya: “Seranglah musuh kalian dan musuh bapak kalian, jangan sampai ia lolos dari kalian dan jangan sampai bagiannya adalah surga sedangkan bagian kalian adalah neraka, dan bagiannya adalah rahmat sedangkan bagian kalian adalah laknat. Kalian telah mengetahui bahwa apa yang menimpa aku dan kalian berupa kehinaan dan pengusiran dari rahmat Allah adalah karena dia dan demi dia. Maka kerahkanlah usaha kalian agar mereka menjadi sekutu kita dalam bencana ini, karena kita telah kehilangan persekutuan dengan orang-orang saleh mereka di surga.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberitahukan kepada kita semua hal tersebut tentang musuh kita dan memerintahkan kita untuk bersiap siaga menghadapinya dan mempersiapkan perlengkapan untuk menghadapinya.
Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui bahwa Adam dan anak-anaknya telah diuji dengan musuh ini dan bahwa musuh itu telah diberi kekuasaan atas mereka, maka Dia memberi bantuan kepada mereka dengan tentara dan pasukan untuk menghadapinya, dan Dia juga memberi bantuan kepada musuh mereka dengan pasukan dan tentara untuk menghadapi mereka. Dia menegakkan medan jihad di dunia ini dalam masa hidup yang jika dibandingkan dengan akhirat bagaikan satu nafas dari nafas-nafasnya. Dia membeli dari orang-orang beriman jiwa dan harta mereka dengan imbalan surga bagi mereka, mereka berperang di jalan Allah lalu membunuh dan terbunuh. Dia mengabarkan bahwa itu adalah janji yang pasti dari-Nya dalam kitab-kitab-Nya yang paling mulia, yaitu Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dia mengabarkan bahwa tidak ada yang lebih menepati janji daripada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian Dia memerintahkan mereka untuk bergembira dengan jual beli ini. Barangsiapa ingin mengetahui nilai jual beli ini, hendaklah ia melihat siapa pembelinya, dan harga yang dibayarkan untuk barang dagangan ini, dan siapa yang melakukan akad ini. Kemenangan apakah yang lebih besar dari ini? Dan perdagangan apakah yang lebih menguntungkan darinya?
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan perkara ini kepada mereka dengan firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, maukah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan (memasukkanmu ke dalam) tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (Surat As-Saff: 10-13)
Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membiarkan musuh ini menguasai hamba-Nya yang beriman yang merupakan makhluk yang paling dicintai-Nya, kecuali karena jihad adalah perkara yang paling dicintai-Nya, dan ahlinya memiliki derajat yang paling tinggi di sisi-Nya, dan paling dekat kepada-Nya sebagai wasilah. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menyerahkan panji perang ini kepada makhluk pilihan-Nya, yaitu hati yang merupakan tempat ma’rifat dan kecintaan kepada-Nya, penghambaan dan keikhlasan kepada-Nya, tawakal kepada-Nya dan kembali kepada-Nya. Dia menyerahkan urusan perang ini kepadanya dan memperkuatnya dengan tentara dari malaikat yang tidak pernah meninggalkannya: “Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” (Surat Ar-Ra’d: 11)
Mereka bergantian satu sama lain, setiap kali ada yang pergi maka datang pengganti yang lain. Mereka menguatkannya dan memerintahkannya dengan kebaikan serta mendorongnya kepadanya, menjanjikannya kemuliaan Allah dan menyabarkannya. Mereka berkata: “Ini hanyalah kesabaran sesaat dan kamu akan beristirahat dengan ketenangan yang abadi.”
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala membantunya dengan tentara lain dari wahyu dan kalam-Nya. Dia mengutus kepadanya Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menurunkan kepadanya kitab-Nya. Maka bertambahlah kekuatan kepada kekuatannya, bantuan kepada bantuannya, dan perlengkapan kepada perlengkapannya. Dia juga membantunya dengan akal sebagai menterinya dan pengelolanya, dengan ma’rifat sebagai penasihatnya yang memberi nasihat kepadanya, dengan iman sebagai penguat, pendukung dan penolongnya, dan dengan yakin sebagai pembuka tabir untuknya tentang hakikat perkara, sehingga seolah-olah ia menyaksikan apa yang dijanjikan Allah Ta’ala kepada wali-wali-Nya dan golongan-Nya atas jihad mereka melawan musuh-musuh-Nya. Akal mengatur urusan tentaranya, ma’rifat mempersiapkan urusan-urusan perang, sebab-sebabnya dan tempat-tempat yang layak untuknya. Iman menguatkannya, memberinya kekuatan dan menyabarkannya. Yakin membuatnya maju dan membawanya dalam serangan-serangan yang benar.
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala membantu orang yang melaksanakan perang ini dengan kekuatan-kekuatan zahir dan batin. Dia menjadikan mata sebagai pengintainya, telinga sebagai penyampai beritanya, lidah sebagai juru bicaranya, kedua tangan dan kaki sebagai pembantunya. Dia menegakkan malaikat-malaikat-Nya dan pembawa Arsy-Nya untuk memintakan ampun baginya dan memohonkan agar Dia melindunginya dari kejahatan-kejahatan dan memasukkannya ke dalam surga-surga. Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri yang bertanggung jawab untuk menolak dan membela darinya dengan Dzat-Nya. Dia berfirman: “Mereka ini adalah golongan-Ku, dan golongan Allah itulah yang beruntung.” Allah Ta’ala berfirman: “Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itu yang beruntung.” (Surat Al-Mujadalah: 22)
“Dan mereka ini adalah tentara-Ku. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang menang.” (Surat As-Saffat: 173)
Allah mengajarkan kepada hamba-hamba-Nya cara perang dan jihad ini, lalu Dia kumpulkan untuk mereka dalam empat kalimat. Dia berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (Surat Ali Imran: 200)
Urusan jihad ini tidak akan sempurna kecuali dengan empat perkara ini. Kesabaran tidak akan sempurna kecuali dengan menyabari musuh, yaitu melawannya dan berperang dengannya. Jika ia menyabari musuhnya, ia membutuhkan perkara lain yaitu murahabah (berjaga di perbatasan). Murahabah adalah menjaga benteng hati dan mengawalnya agar musuh tidak masuk darinya, serta menjaga benteng mata, telinga, lidah, perut, tangan dan kaki. Benteng-benteng inilah yang dimasuki musuh lalu ia berkeliaran di tengah-tengah negeri dan merusak apa yang mampu ia rusak. Murahabah adalah menjaga benteng-benteng ini dan tidak meninggalkan tempatnya, sehingga musuh mendapati benteng dalam keadaan kosong lalu masuk darinya.
Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik makhluk setelah para nabi dan rasul, dan mereka yang paling terlindung dan terjaga dari setan. Namun mereka pernah meninggalkan tempat yang diperintahkan untuk mereka jaga pada hari Uhud, lalu musuh masuk darinya, maka terjadilah apa yang terjadi.
Inti dari ketiga perkara ini dan tiang yang menegakkannya adalah takwa kepada Allah Ta’ala. Kesabaran, menyabari musuh, dan murahabah tidak akan bermanfaat kecuali dengan takwa. Dan takwa tidak akan tegak kecuali di atas kaki kesabaran.
Lihatlah sekarang pada dirimu pertemuan dua tentara dan benturan dua pasukan, bagaimana kamu menang di suatu waktu dan dikalahkan di waktu lain. Raja orang-orang kafir datang dengan tentara dan pasukannya, lalu ia mendapati hati berada dalam bentengnya, duduk di atas singgasana kerajaannya. Perintahnya berlaku pada para pembantunya, dan tentaranya telah mengelilinginya, berperang untuknya dan membela wilayah kekuasaannya. Mereka tidak dapat menyerangnya kecuali dengan menyuap sebagian panglima dan tentaranya untuk berkhianat kepadanya. Maka ia bertanya tentang tentara yang paling dekat dengannya dan paling dekat kedudukannya. Dikatakan kepadanya: “Itu adalah nafsu.” Maka ia berkata kepada para pembantunya: “Masuklah kepadanya melalui keinginannya, lihatlah tempat-tempat kecintaannya dan apa yang dicintainya, maka janjikanlah kepadanya hal itu dan iming-imingilah ia dengannya. Ukirkanlah gambar yang dicintai itu padanya dalam keadaan terjaga dan tidurnya. Jika ia telah tenang kepadanya dan merasa tenteram dengannya, maka lemparkanlah kepadanya kail-kail syahwat dan pengaitnya. Kemudian tariklah ia dengan itu kepada kalian. Jika ia telah berkhianat kepada hati dan menjadi bersama kalian melawannya, maka kalian telah menguasai benteng mata, telinga, lidah, mulut, tangan dan kaki. Berjagalah di benteng-benteng ini dengan sepenuh penjagaan. Jika kalian telah masuk darinya ke hati, maka ia akan terbunuh atau tertawan, atau terluka parah dengan luka-luka. Jangan tinggalkan benteng-benteng ini, dan jangan biarkan pasukan masuk kepadanya menuju hati lalu mengeluarkan kalian darinya. Jika kalian dikalahkan, maka berusahalah dalam melemahkan pasukan itu dan membuatnya lemah, sehingga ia tidak sampai ke hati. Jika ia sampai kepadanya, ia sampai dalam keadaan lemah yang tidak dapat berbuat apa-apa untuknya.”
“Jika kalian telah menguasai benteng-benteng ini, maka cegahlah benteng mata agar pandangannya bukan untuk mengambil pelajaran, tetapi jadikanlah pandangannya untuk bersenang-senang, mengagumi dan bermain-main. Jika pandangannya mencuri pelajaran, maka rusaklah itu baginya dengan pandangan kelalaian, kekaguman dan syahwat, karena itu lebih dekat kepadanya, lebih melekat pada jiwanya dan lebih ringan baginya. Dekati benteng mata, karena dari sanalah kalian akan mencapai tujuan kalian. Sungguh aku tidak merusak anak Adam dengan sesuatu seperti pandangan. Aku menabur dengannya di dalam hati benih syahwat, kemudian aku sirami dengan air angan-angan. Kemudian aku terus menjanjikannya dan memberi angan-angan kepadanya hingga aku kuatkan tekadnya dan aku pimpin dia dengan tali kekang syahwat menuju terlepas dari penjagaan. Maka jangan abaikan urusan benteng ini dan rusaklah ia sesuai kemampuan kalian. Entengkanlah perkaranya baginya dan katakanlah kepadanya: ‘Sekadar satu pandangan yang mengajakmu untuk bertasbih kepada Sang Pencipta dan merenungkan keindahan ciptaan-Nya, dan keindahan bentuk ini yang hanya diciptakan agar orang yang melihatnya dapat mengenal-Nya dengannya. Allah tidak menciptakan kedua mata untukmu dengan sia-sia, dan Allah tidak menciptakan bentuk ini untuk disembunyikan dari pandangan.’ Jika kalian mendapatinya sedikit ilmu dan rusak akalnya, maka katakanlah kepadanya: ‘Bentuk ini adalah salah satu mazhar (tempat penampakan) dari mazhar-mazhar Yang Haq dan salah satu majla (tempat tajalli) dari majla-majla-Nya.’ Maka ajaklah dia untuk mengatakan paham ittihad (kesatuan). Jika ia tidak menerima, maka paham hulul (masuknya Tuhan ke dalam makhluk) secara umum atau khusus. Jangan puas darinya dengan yang kurang dari itu, karena ia akan menjadi seperti saudara-saudara Nasrani. Suruhlah dia saat itu dengan kesucian, menjaga diri, ibadah dan zuhud di dunia. Tangkaplah dengannya dan karena dialah orang-orang bodoh. Ini adalah salah satu wakil terdekatku dan tentaraku yang terbesar, bahkan aku adalah dari tentaranya dan para pembantunya.”
“Kemudian cegahlah benteng telinga agar tidak memasukkan kepadanya apa yang akan merusak urusan kalian. Berusahalah agar kalian tidak memasukkan darinya kecuali kebatilan, karena ia ringan bagi jiwa, jiwa menganggapnya manis dan baik. Pilihlah untuknya kata-kata yang paling merdu dan paling memikat hati, campurkanlah dengan apa yang disukai jiwa dengan pencampuran yang baik.
Lemparkanlah kata-kata itu. Jika kalian melihat darinya ketertarikan kepadanya, maka doronglah dia dengan saudara-saudaranya. Setiap kali kalian mendapati darinya kekaguman terhadap sesuatu, maka sibukkan dia dengan menyebutkannya. Jangan sekali-kali masuk dari benteng ini sesuatu dari kalam Allah atau kalam Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam atau kalam para penasihat. Jika kalian dikalahkan dalam hal itu dan masuk sesuatu dari itu, maka halangilah antara dia dengan pemahamannya, perenungannya, pemikirannya dan pengambilan pelajaran darinya. Entah dengan memasukkan lawannya kepadanya, atau dengan menakut-nakutinya dan mengagungkan hal itu bahwa ini adalah perkara yang telah dihalangi antara jiwa-jiwa dengannya sehingga tidak ada jalan bagi mereka kepadanya, dan ia adalah beban yang berat bagi mereka yang tidak dapat mereka pikul, dan semacam itu. Atau dengan meremehkannya di hadapan jiwa-jiwa, dan bahwa kesibukan seharusnya dengan apa yang lebih tinggi di sisi manusia, lebih berharga bagi mereka, lebih asing bagi mereka, dan pelanggannya yang menerimanya lebih banyak. Adapun kebenaran, ia adalah sesuatu yang ditinggalkan, dan yang mengatakannya membuat dirinya terekspos permusuhan. Yang menguntungkan di antara manusia lebih patut untuk diprioritaskan dan semacam itu. Maka kalian masukkan kebatilan kepadanya dalam setiap bentuk yang ia terima dan ringan baginya, dan kalian keluarkan kebenaran kepadanya dalam setiap bentuk yang ia benci dan berat baginya.
Jika kamu ingin mengetahui hal itu, maka lihatlah saudara-saudara mereka dari setan-setan manusia, bagaimana mereka mengeluarkan amar ma’ruf nahi munkar dalam bentuk banyak campur tangan, mengikuti kesalahan-kesalahan manusia, menghadapi ujian yang tidak sanggup mereka pikul, dan menimbulkan fitnah di antara manusia, dan semacam itu. Mereka mengeluarkan mengikuti sunnah dan mensifati Rabb Ta’ala dengan apa yang Dia sifati untuk diri-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam sifati Dia dengannya dalam bentuk tajsim (penubuhan), tasybih (penyerupaan) dan takyif (penetapan cara). Mereka menyebut ketinggian Allah atas makhluk-Nya, istiwanya di atas Arsy-Nya dan keterpisahan-Nya dari makhluk-makhluk-Nya sebagai tahayuz (terbatas tempat). Mereka menyebut turun-Nya ke langit dunia dan ucapan-Nya: ‘Siapa yang meminta kepada-Ku maka Aku beri’ sebagai gerakan dan perpindahan. Mereka menyebut apa yang Dia sifati untuk diri-Nya berupa tangan dan wajah sebagai anggota tubuh dan bagian-bagian tubuh. Mereka menyebut apa yang berdiri pada-Nya dari perbuatan-perbuatan-Nya sebagai hal-hal yang baru, dan apa yang berdiri dari sifat-sifat-Nya sebagai keadaan-keadaan sementara. Kemudian mereka berusaha untuk menafikan apa yang Dia sifati untuk diri-Nya dengan perkara-perkara ini. Mereka mengira orang-orang yang tidak berpengalaman dan lemah penglihatan bahwa penetapan sifat-sifat yang disebutkan oleh Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharuskan perkara-perkara ini. Mereka mengeluarkan peniadaan ini dalam bentuk pensucian dan pengagungan. Kebanyakan manusia lemah akalnya menerima sesuatu dengan satu lafaz dan menolaknya dengan lafaz yang lain.” Allah Ta’ala berfirman: “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan dari jenis manusia dan jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (Surat Al-An’am: 112) Dia menyebutnya zukhruf (perhiasan), padahal ia adalah kebatilan, karena pemiliknya menghiasinya dan memperindahnya semampunya, lalu melemparkannya ke telinga orang yang tertipu sehingga ia tertipu dengannya.
Yang dimaksud adalah: bahwa setan telah menjaga benteng telinga untuk memasukkan ke dalamnya apa yang merugikan hamba dan tidak bermanfaat baginya, dan mencegah masuknya kepadanya apa yang bermanfaat baginya. Jika masuk tanpa pilihannya, ia merusaknya baginya.
Kemudian dia berkata: “Berdirilah kalian di benteng lidah, karena ia adalah benteng yang paling besar, dan ia berhadapan langsung dengan Raja (Allah). Maka alirkanlah padanya dari perkataan apa yang dapat membahayakannya dan tidak bermanfaat baginya, dan cegahlah dia agar tidak mengalir padanya sesuatu yang bermanfaat baginya: seperti zikir kepada Allah Ta’ala dan istighfar kepada-Nya, membaca kitab-Nya, menasihati hamba-hamba-Nya, dan berbicara dengan ilmu yang bermanfaat. Dan kalian akan memiliki dua perkara besar dalam benteng ini, kalian tidak perlu peduli mana di antara keduanya yang kalian menangkan:
Yang pertama: Berbicara dengan kebatilan, karena sesungguhnya orang yang berbicara dengan kebatilan adalah saudara dari saudara-saudara kalian, dan termasuk prajurit terbesar kalian serta penolong-penolong kalian.
Yang kedua: Diam dari kebenaran, karena sesungguhnya orang yang diam dari kebenaran adalah saudara kalian yang bisu, sebagaimana yang pertama adalah saudara yang berbicara. Dan mungkin saudara yang kedua ini lebih bermanfaat dari kedua saudara kalian bagi kalian. Tidakkah kalian mendengar perkataan sang penasihat: ‘Orang yang berbicara dengan kebatilan adalah setan yang berbicara, dan orang yang diam dari kebenaran adalah setan yang bisu’?
Maka bersiaga-siagalah di benteng ini agar dia berbicara dengan kebenaran atau diam dari kebatilan. Dan hiaskanlah baginya berbicara dengan kebatilan dengan segala cara, dan takut-takutilah dia dari berbicara dengan kebenaran dengan segala cara.
Dan ketahuilah wahai anak-anakku, bahwa benteng lidah adalah yang darinya aku membinasakan Bani Adam, dan aku jatuhkan mereka dari situ dengan muka mereka ke dalam neraka. Betapa banyak korban terbunuh, tawanan, dan yang terluka yang aku ambil dari benteng ini?
Dan aku wasiatkan kepada kalian dengan wasiat, maka hafalkanlah: Hendaklah salah seorang dari kalian berbicara di lidah saudaranya dari golongan manusia dengan suatu kalimat, dan yang lain berada di lidah pendengar, maka dia berbicara dengan menganggapnya baik, mengagungkannya, dan takjub kepadanya serta meminta saudaranya mengulanginya. Dan jadilah kalian penolong-penolong atas manusia dengan segala cara, dan masuklah kepada mereka dari setiap pintu, dan duduklah bagi mereka di setiap tempat pengintaian. Tidakkah kalian mendengar sumpahku yang aku bersumpah dengannya kepada Tuhan mereka ketika aku berkata: ‘Maka karena Engkau telah menggoda aku, pasti aku akan duduk menghadang mereka di jalan-Mu yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.'” (QS. Al-A’raf: 16-17)
Atau tidakkah kalian melihatku telah duduk menghadang anak Adam di semua jalannya, maka tidak ada jalan yang terlewat dariku kecuali aku duduk menghadangnya di jalan yang lain, hingga aku mencapai hajatku darinya atau sebagiannya? Dan sungguh Rasul mereka shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan mereka akan hal itu dan berkata kepada mereka: “Sesungguhnya setan telah duduk menghadang anak Adam di semua jalannya, dan dia duduk menghadangnya di jalan Islam, maka dia berkata kepadanya: ‘Apakah kamu masuk Islam dan meninggalkan agamamu dan agama bapak-bapakmu?’ Maka dia menyelisihinya dan masuk Islam. Kemudian dia duduk menghadangnya di jalan hijrah, maka dia berkata: ‘Apakah kamu berhijrah dan meninggalkan tanah dan langitmu?’ Maka dia menyelisihinnya dan berhijrah. Kemudian dia duduk menghadangnya di jalan jihad, maka dia berkata: ‘Apakah kamu berjihad lalu terbunuh, kemudian harta dibagi-bagi dan istri dinikahi (orang lain)?'”
Maka seperti itulah, duduklah kalian menghadang mereka di semua jalan kebaikan. Jika salah seorang dari mereka ingin bersedekah, maka duduklah kalian menghadangnya di jalan sedekah, dan katakanlah kepadanya dalam dirinya: ‘Apakah kamu mengeluarkan harta lalu kamu tinggal seperti pengemis ini dan menjadi seperti kedudukannya, kamu dan dia sama?’ Atau tidakkah kalian mendengar apa yang aku sampaikan di lidah seorang laki-laki ketika yang lain meminta dia bersedekah kepadanya, dia berkata: ‘Ini adalah harta-harta kami, jika kami berikan kepada kalian, kami akan menjadi seperti kalian.’ Dan duduklah menghadangnya di jalan haji, maka katakanlah: ‘Jalannya menakutkan dan menyusahkan, orang yang menempuhnya menghadapi kehilangan jiwa dan harta.’ Dan demikianlah, duduklah menghadangnya di semua jalan kebaikan lainnya dengan menakut-nakuti darinya dan menyebutkan kesulitan dan bahayanya. Kemudian duduklah menghadang mereka di jalan-jalan kemaksiatan, maka baguskanlah di mata Bani Adam, dan hiaskanlah di hati mereka, dan jadikanlah kebanyakan penolong kalian dalam hal itu adalah para wanita, maka dari pintu-pintu mereka masuklah kepada mereka, karena mereka adalah sebaik-baik penolong bagi kalian.
Kemudian berpeganglah pada benteng kedua tangan dan kedua kaki, maka cegahlah keduanya agar tidak berbuat dengan apa yang membahayakan kalian dan berjalan di dalamnya.
Nafsu yang Memerintahkan Kejahatan
Dan ketahuilah bahwa penolong terbesar kalian dalam menjaga benteng-benteng ini adalah berdamai dengan nafsu yang memerintahkan kejahatan (an-nafs al-ammarah). Maka bantulah dia dan mintalah bantuan darinya, dan berikan bantuan kepadanya serta mintalah bantuan darinya. Dan bersamalah dengan dia dalam memerangi nafsu yang tenang (an-nafs al-muthmainnah). Maka bersungguh-sungguhlah dalam mematahkannya dan membatalkan kekuatan-kekuatannya. Dan tidak ada jalan menuju hal itu kecuali dengan memutus bahan-bahan makanannya darinya. Jika bahan makanannya terputus dan bahan makanan nafsu yang memerintahkan kejahatan menguat, dan penolong-penolongnya tunduk kepada kalian, maka turunkanlah hati dari bentengnya, dan singkirkanlah dia dari kerajaannya, dan angkatlah menggantikan tempatnya nafsu yang memerintahkan kejahatan, karena dia tidak memerintahkan kecuali dengan apa yang kalian hawa nafsu dan kalian cintai, dan dia tidak akan datang kepada kalian dengan apa yang kalian benci sama sekali. Di samping itu dia tidak menyelisihi kalian dalam sesuatu yang kalian sarankan kepadanya, bahkan jika kalian menyarankan sesuatu kepadanya, dia akan bersegera melakukannya.
Jika kalian merasakan dari hati suatu pertentangan menuju kerajaannya, dan kalian ingin aman dari hal itu, maka buatlah akad nikah antara dia dan nafsu, maka hiaskanlah dia dan percantiklah dia, dan perlihatkanlah kepadanya dia dalam bentuk pengantin terindah yang ada, dan katakanlah kepadanya: ‘Rasakanlah rasa pertemuan ini dan kenikmatan dengan pengantin ini sebagaimana kamu merasakan rasa perang, dan kamu menyentuh pahitnya tikaman dan pukulan, kemudian bandingkanlah antara kelezatan masalah ini, dan pahitnya peperangan itu, maka biarkanlah perang meletakkan beban-bebannya, karena itu bukan hari yang akan berlalu, dan sesungguhnya itu adalah perang yang bersambung dengan kematian, dan kekuatanmu lemah dari perang yang terus-menerus.’
Dan mintalah bantuan wahai anak-anakku dengan dua tentara besar yang kalian tidak akan dikalahkan bersama keduanya:
Yang pertama: Tentara kelalaian, maka lalaikan hati Bani Adam dari Allah Ta’ala dan negeri akhirat dengan segala cara, karena tidak ada bagi kalian sesuatu yang lebih berhasil dalam mencapai tujuan kalian dari hal itu. Karena sesungguhnya hati jika lalai dari Allah Ta’ala, kalian dapat menguasainya dan menyesatkannya.
Yang kedua: Tentara syahwat, maka hiaskanlah di hati mereka, dan baguskanlah di mata mereka, dan seranlah mereka dengan kedua pasukan ini, karena tidak ada bagi kalian terhadap Bani Adam yang lebih berhasil dari keduanya. Dan mintalah bantuan atas kelalaian dengan syahwat, dan atas syahwat dengan kelalaian, dan satukanlah antara orang-orang yang lalai, kemudian mintalah bantuan dengan keduanya atas orang yang berdzikir, dan satu orang tidak akan mengalahkan lima orang, karena bersama dua orang yang lalai ada dua setan menjadi empat, dan setan orang yang berdzikir bersama mereka.
Jika kalian melihat sekelompok orang berkumpul atas apa yang membahayakan kalian – dari zikir kepada Allah dan saling mengingatkan perintah dan larangan-Nya serta agama-Nya, dan kalian tidak mampu memecah belah mereka – maka mintalah bantuan atas mereka dengan sesama jenis mereka dari golongan manusia yang batil, maka dekatkanlah mereka kepada mereka, dan kacaukanlah atas mereka dengan mereka.
Dan secara keseluruhan, persiapkanlah untuk urusan-urusan pasangan-pasangannya, dan masuklah kepada setiap orang dari Bani Adam dari pintu keinginan dan syahwatnya, maka bantulah dia atasnya, dan jadilah kalian penolong-penolong baginya dalam mencapainya.
Jika Allah telah memerintahkan mereka agar bersabar menghadapi kalian dan saling bersabar menghadapi kalian dan bersiaga di benteng-benteng menghadapi kalian, maka bersabarlah kalian dan saling bersabarlah dan bersiagalah menghadapi mereka di benteng-benteng, dan manfaatkanlah kesempatan-kesempatan kalian pada mereka ketika syahwat dan kemarahan, maka janganlah kalian memburu Bani Adam pada yang lebih besar dari kedua tempat ini.
Dan ketahuilah bahwa di antara mereka ada yang kekuasaan syahwat atasnya lebih dominan dan kekuasaan kemarahannya lemah dan tertindas, maka ambillah atasnya jalan syahwat, dan tinggalkanlah jalan kemarahan. Dan di antara mereka ada yang kekuasaan kemarahan atasnya lebih dominan, maka janganlah kalian kosongkan jalan syahwat dari hatinya, dan jangan kalian matikan bentengnya. Jika dia tidak menguasai dirinya ketika marah, maka dia layak untuk tidak menguasai dirinya ketika syahwat. Maka nikahkanlah antara kemarahannya dan syahwatnya, dan campurkanlah salah satunya dengan yang lain, dan ajaklah dia kepada syahwat dari pintu kemarahan, dan kepada kemarahan dari jalan syahwat.
Ketahuilah bahwa tidak ada bagi kalian terhadap anak-anak Adam senjata yang lebih efektif daripada kedua senjata ini. Sesungguhnya aku mengeluarkan kedua orang tua mereka dari surga dengan syahwat, dan aku melemparkan permusuhan di antara anak-anak mereka dengan kemarahan. Dengan kemarahan aku memutuskan tali silaturahmi mereka, menumpahkan darah mereka, dan dengan kemarahan pula salah satu dari kedua putra Adam membunuh saudaranya.
Ketahuilah bahwa kemarahan adalah bara di dalam hati anak Adam, dan syahwat membara dari hatinya. Sesungguhnya api dipadamkan dengan air, shalat, dzikir, dan takbir. Maka janganlah kalian memungkinkan anak Adam ketika dalam keadaan marah dan bergelora syahwat untuk mendekat kepada wudhu dan shalat, karena hal itu akan memadamkan api kemarahan dan syahwat dari mereka. Nabi mereka telah memerintahkan mereka dengan hal itu, maka beliau bersabda: “Sesungguhnya kemarahan adalah bara di dalam hati anak Adam. Tidakkah kalian melihat merah matanya dan mengembangnya urat-urat lehernya? Barangsiapa merasakan hal itu, maka hendaklah dia berwudhu.”
Dan beliau berkata kepada mereka: “Sesungguhnya api dipadamkan dengan air.” Allah telah mewasiatkan kepada mereka agar meminta pertolongan atas kalian dengan sabar dan shalat. Maka halangilah mereka dari hal itu, dan lupakanlah mereka akan hal tersebut. Mintalah pertolongan atas mereka dengan syahwat dan kemarahan. Senjata kalian yang paling efektif dan paling melukai terhadap mereka adalah kelengahan dan mengikuti hawa nafsu. Sedangkan senjata mereka yang paling besar terhadap kalian dan benteng mereka yang paling kuat adalah dzikrullah dan menyelisihi hawa nafsu. Jika kalian melihat seseorang yang menyelisihi hawa nafsunya, maka larilah dari bayangannya dan jangan mendekatinya.
Yang dimaksud adalah bahwa dosa-dosa dan kemaksiatan adalah senjata dan bantuan yang dengannya seorang hamba membantu musuh-musuhnya dan menolongnya melawan dirinya sendiri. Maka mereka berperang dengan senjatanya, dan dia bersama mereka melawan dirinya sendiri. Ini adalah puncak kebodohan.
Musuh-musuh tidak akan mencapai dari orang bodoh… sebagaimana orang bodoh mencapai dari dirinya sendiri.
Di antara keajaiban adalah bahwa seorang hamba berusaha dengan sungguh-sungguh dalam menghinakan dirinya sendiri, padahal dia mengira bahwa dia memuliakan dirinya. Dia bersungguh-sungguh dalam mengharamkan dirinya dari bagian-bagian yang tertinggi dan termulia, padahal dia mengira bahwa dia berusaha untuk bagiannya. Dia mencurahkan usahanya dalam merendahkan, mengecilkan, dan mengotori dirinya, padahal dia mengira bahwa dia meninggikan, mengangkat, dan membesarkannya.
Sebagian salaf berkata dalam khutbahnya: “Ketahuilah, betapa banyak orang yang menghinakan dirinya padahal dia mengira bahwa dia memuliakan dirinya, yang mengalahkan dirinya padahal dia mengira bahwa dia memuliakannya, yang mengecilkan dirinya padahal dia mengira bahwa dia membesarkannya, yang menyia-nyiakan dirinya padahal dia mengira bahwa dia menjaga dan memeliharanya. Cukuplah seseorang itu bodoh jika dia bersama musuhnya melawan dirinya sendiri, mencapai darinya dengan perbuatannya apa yang tidak dicapai musuhnya.” Dan kepada Allah-lah kita meminta pertolongan.
Pasal: Kemaksiatan Membuat Hamba Lupa Akan Dirinya Sendiri
Di antara hukuman kemaksiatan adalah bahwa kemaksiatan membuat hamba lupa akan dirinya sendiri. Jika dia lupa akan dirinya sendiri, maka dia mengabaikannya, merusaknya, dan membinasakannya. Jika dikatakan: “Bagaimana seorang hamba bisa lupa akan dirinya sendiri? Jika dia lupa akan dirinya sendiri, maka apa yang dia ingat? Dan apa makna kelupaannya akan dirinya sendiri?”
Dikatakan: Ya, dia lupa akan dirinya sendiri dengan kelupaan yang sangat besar. Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 19)
Ketika mereka lupa kepada Rabb mereka Yang Maha Suci, Allah melupakan mereka dan menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Mereka melupakan Allah, maka Allah melupakan mereka.” (QS. At-Taubah: 67)
Maka Allah Yang Maha Suci memberikan hukuman kepada orang yang melupakanNya dengan dua hukuman: Pertama: Allah Yang Maha Suci melupakannya. Kedua: Allah menjadikannya lupa akan dirinya sendiri.
Kelupaan Allah Yang Maha Suci terhadap hamba adalah: mengabaikannya, meninggalkannya, menjauhkan diri darinya, dan menyia-nyiakannya. Maka kebinasaan lebih dekat kepadanya daripada tangan ke mulut.
Adapun Allah menjadikannya lupa akan dirinya sendiri, yaitu: Allah menjadikannya lupa akan bagian-bagian dirinya yang tinggi, sebab-sebab kebahagiaan dan kebeberuntungannya, perbaikan dirinya, dan apa yang membuatnya sempurna. Dia lupa akan semua itu, sehingga tidak terlintas dalam benaknya, tidak menjadikannya dalam ingatannya, dan tidak mengarahkan cita-citanya kepadanya sehingga dia mengingininya. Karena hal itu tidak terlintas dalam benaknya sehingga dia bermaksud dan memilihnya.
Juga Allah menjadikannya lupa akan cacat-cacat dirinya, kekurangannya, dan penyakit-penyakitnya, sehingga tidak terlintas dalam benaknya untuk menghilangkannya.
Juga Allah menjadikannya lupa akan penyakit-penyakit diri dan hatinya serta rasa sakitnya, sehingga tidak terlintas dalam hatinya untuk mengobatinya, dan tidak berusaha menghilangkan penyebab-penyebab dan penyakit-penyakitnya yang berujung pada kerusakan dan kebinasaan. Maka dia sakit parah karena penyakit, dan penyakitnya membawanya kepada kematian, tetapi dia tidak merasakan penyakitnya dan tidak terlintas dalam benaknya untuk mengobatinya. Ini termasuk hukuman yang paling besar, baik secara umum maupun khusus.
Hukuman apa yang lebih besar daripada hukuman orang yang mengabaikan dan menyia-nyiakan dirinya sendiri, lupa akan kemaslahatan-kemaslahatan dirinya, penyakit dan obatnya, sebab-sebab kebahagiaan, keberuntungan, kebaikan, dan kehidupan abadi dalam kenikmatan yang kekal?
Barangsiapa yang merenungkan masalah ini, akan menjadi jelas baginya bahwa sebagian besar makhluk ini telah melupakan hakikat diri mereka sendiri dan menyia-nyiakannya serta menghilangkan bagian mereka dari Allah. Mereka menjual diri mereka dengan harga murah, dengan harga yang sangat rendah seperti jual beli yang merugi. Hal ini hanya akan tampak bagi mereka ketika kematian datang, dan ini semua akan tampak dengan jelas pada hari at-Taghabun (hari saling merugikan), yaitu hari ketika seorang hamba akan menyadari bahwa dia telah tertipu dalam kontrak yang dibuatnya untuk dirinya sendiri di dunia ini, dan dalam perdagangan yang dilakukannya untuk kehidupan akhiratnya. Sesungguhnya setiap orang berdagang di dunia ini untuk akhiratnya.
Maka orang-orang yang merugi adalah mereka yang mengira bahwa mereka adalah ahli keuntungan dan perolehan. Mereka membeli kehidupan dunia dan bagian mereka di dalamnya serta kesenangan-kesenangannya dengan akhirat dan bagian mereka di dalamnya. Mereka menghabiskan kebaikan-kebaikan mereka dalam kehidupan dunia mereka, menikmatinya, ridha dengannya, dan merasa tenang karenanya. Usaha mereka adalah untuk memperolehnya. Mereka menjual dan membeli, berdagang, dan menjual yang akan datang dengan yang sekarang, yang ditangguhkan dengan yang tunai, yang ghaib dengan yang nyata. Mereka berkata: “Inilah kebijaksanaan.” Salah seorang dari mereka berkata:
“Ambillah apa yang kamu lihat dan tinggalkanlah sesuatu yang kamu dengar.”
Bagaimana aku menjual sesuatu yang hadir, tunai, dan terlihat di dunia ini dengan sesuatu yang ghaib dan ditangguhkan di dunia lain selain dunia ini? Bergabung dengan hal itu adalah lemahnya iman, kuatnya panggilan syahwat, cinta kepada kehidupan yang segera, dan meniru sesama jenis. Maka sebagian besar makhluk terlibat dalam perdagangan yang merugi ini, yang Allah katakan tentang pelakunya:
“Mereka itulah orang-orang yang menukar kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia, maka tidak akan diringankan azab dari mereka dan mereka tidak akan ditolong.” (Surat Al-Baqarah: 86)
Dan Allah berfirman tentang mereka:
“Maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.” (Surat Al-Baqarah: 16)
Ketika hari at-Taghabun tiba, tampak bagi mereka kerugian dalam perdagangan ini, maka jiwa-jiwa mereka akan terputus-putus karena penyesalan.
Adapun orang-orang yang beruntung, mereka menjual yang fana dengan yang kekal, yang hina dengan yang mulia, yang rendah dengan yang agung. Mereka berkata: “Apa ukuran dunia ini dari awal hingga akhirnya, sehingga kami menjual bagian kami dari Allah Ta’ala dan negeri akhirat dengannya? Bagaimana seorang hamba dapat memperoleh darinya dalam waktu singkat ini yang sebenarnya seperti sekilas mimpi, tidak ada perbandingannya sama sekali dengan negeri yang kekal?” Allah Ta’ala berfirman:
“Dan pada hari ketika Dia mengumpulkan mereka, seakan-akan mereka tidak tinggal (di dunia) kecuali sesaat dari siang hari, mereka saling mengenal antara mereka.” (Surat Yunus: 45)
Allah Ta’ala berfirman:
“Mereka bertanya kepadamu tentang hari berbangkit: ‘Bilakah terjadinya?’ Untuk apa kamu menyebut-nyebutnya? Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya. Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi orang yang takut kepadanya. Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) kecuali (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” (Surat An-Nazi’at: 42-46)
Allah Ta’ala berfirman:
“Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka, (mereka merasa) seakan-akan tidak tinggal (di dunia) kecuali sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pemberitahuan.” (Surat Al-Ahqaf: 35)
Allah Ta’ala berfirman:
“Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.” Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) kecuali sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.” (Surat Al-Mu’minun: 112-114)
Allah Ta’ala berfirman:
“(Ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala dan Kami kumpulkan orang-orang yang berdosa pada hari itu dalam keadaan biru (mata mereka karena ketakutan). Mereka berbisik-bisikan di antara mereka: ‘Kamu tidak berdiam (di dunia) kecuali sepuluh (hari).’ Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalannya di antara mereka: ‘Kamu tidak berdiam (di dunia) kecuali sehari saja.'” (Surat Thaha: 102-104)
Inilah hakikat dunia ketika hari kiamat tiba. Ketika mereka mengetahui sedikitnya waktu mereka tinggal di dalamnya, dan bahwa bagi mereka ada negeri selain negeri ini, yaitu negeri kehidupan yang sebenarnya dan negeri kekal – mereka melihat sebagai kerugian terbesar menjual negeri kekal dengan negeri yang fana. Maka mereka berdagang dengan perdagangan orang-orang cerdas, dan tidak tertipu dengan perdagangan orang-orang bodoh. Maka tampak bagi mereka pada hari at-Taghabun keuntungan perdagangan mereka dan ukuran apa yang mereka beli. Setiap orang di dunia ini adalah penjual, pembeli, dan pedagang. Semua manusia berangkat di pagi hari sebagai penjual dirinya, lalu ia membebaskannya atau membinasakannya.
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (Surat At-Taubah: 111)
Inilah pembayaran pertama dari harga perdagangan ini. Maka berdaganglah wahai orang-orang yang bangkrut! Dan wahai orang yang tidak mampu membayar harga ini, di sini ada harga lain. Jika kamu termasuk ahli perdagangan ini, maka berikanlah harga ini:
“(Yaitu) orang-orang yang bertaubat, yang beribadah, yang memuji, yang mengembara (berpuasa atau berjihad), yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin.” (Surat At-Taubah: 112)
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (Surat Ash-Shaff: 10-11)
Yang dimaksud adalah bahwa dosa-dosa membuat seorang hamba lupa akan bagiannya dari perdagangan yang menguntungkan ini, dan menyibukkannya dengan perdagangan yang merugi. Cukuplah hal itu sebagai hukuman. Dan Allah-lah yang diminta pertolongan.
[Bab: Kemaksiatan Menghilangkan Nikmat]
Di antara hukuman kemaksiatan adalah bahwa ia menghilangkan nikmat-nikmat yang ada, dan memutus nikmat-nikmat yang datang. Ia menghilangkan yang sudah diperoleh dan menghalangi yang akan datang. Sesungguhnya nikmat-nikmat Allah tidak ada yang dapat menjaga keberadaannya seperti ketaatan kepada-Nya, dan tidak ada yang dapat mendatangkan yang hilang seperti ketaatan kepada-Nya. Sesungguhnya apa yang ada di sisi-Nya tidak dapat diperoleh kecuali dengan ketaatan kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan bagi setiap sesuatu sebab dan bencana: sebab yang mendatangkannya dan bencana yang membatalkannya. Maka Dia menjadikan sebab-sebab nikmat-Nya yang mendatangkannya adalah ketaatan kepada-Nya, dan bencana-bencananya yang menghalanginya adalah kemaksiatan kepada-Nya. Jika Dia menginginkan menjaga nikmat-Nya pada seorang hamba, Dia mengilhaminya untuk memeliharanya dengan ketaatan kepada-Nya dalam nikmat itu. Dan jika Dia menginginkan hilangnya nikmat itu darinya, Dia meninggalkannya sehingga ia bermaksiat dengan nikmat itu.
Yang mengherankan adalah pengetahuan seorang hamba tentang hal itu melalui pengamatan pada dirinya dan orang lain, serta mendengar berita tentang orang-orang yang nikmat-nikmat Allah dihilangkan dari mereka karena kemaksiatan mereka, namun ia tetap melakukan kemaksiatan kepada Allah, seakan-akan ia terkecuali dari aturan umum ini, atau dikecualikan dari keumuman ini. Seakan-akan ini adalah perkara yang berlaku pada manusia tetapi tidak padanya, dan sampai kepada makhluk tetapi tidak kepadanya. Kebodohan manakah yang lebih besar dari ini? Dan kezaliman terhadap diri manakah yang melebihi ini? Maka keputusan adalah milik Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.
Kemaksiatan Menjauhkan Antara Hamba dan Malaikat
Di antara hukuman kemaksiatan adalah: bahwa ia menjauhkan dari seorang hamba walinya dan yang paling bermanfaat baginya di antara makhluk serta yang paling memberikan nasihat kepadanya, yaitu orang yang kebahagiaannya terletak pada kedekatan darinya, yaitu malaikat yang ditugaskan menjaganya. Dan kemaksiatan mendekatkan kepadanya musuhnya dan yang paling menipu di antara makhluk serta yang paling besar kerusakannya baginya, yaitu setan. Sesungguhnya jika seorang hamba bermaksiat kepada Allah, malaikat menjauh darinya sebesar kemaksiatan itu, sampai-sampai ia menjauh darinya karena satu kebohongan dengan jarak yang jauh.
Dalam beberapa atsar disebutkan: Jika seorang hamba berbohong, malaikat menjauh darinya sejauh satu mil karena bau busuknya. Jika demikian jauhnya malaikat darinya karena satu kebohongan, maka bagaimana ukuran jaraknya darinya karena hal yang lebih besar dan lebih keji dari itu?
Sebagian salaf berkata: Jika laki-laki ditunggangi (homoseksual), bumi berteriak kepada Allah dan malaikat-malaikat lari kepada Tuhan mereka, serta mengadu kepada-Nya tentang besarnya apa yang mereka lihat.
Sebagian salaf berkata: Jika anak Adam bangun pagi, malaikat dan setan berlomba mendatanginya. Jika ia mengingat Allah, bertakbir, memuji, dan bertahlil kepada-Nya, setan diusir dan malaikat menguasainya. Jika ia memulai dengan selain itu, malaikat pergi darinya dan setan menguasainya.
Malaikat terus mendekat kepada seorang hamba hingga kekuasaan, ketaatan, dan kemenangan menjadi miliknya. Maka malaikat-malaikat menguasainya dalam hidupnya, ketika matinya, dan ketika dibangkitkannya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.’ Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat.” (Surat Fushshilat: 30-31)
Dan apabila malaikat telah mengambil alih dirinya, maka dia telah diambil alih oleh makhluk yang paling tulus nasihnya, paling bermanfaat, dan paling berbakti. Maka malaikat itu meneguhkannya, mengajarinya, menguatkan hatinya, dan Allah Ta’ala membantunya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (hati) orang-orang yang beriman'” – Surat Al-Anfal ayat 12.
Maka malaikat berkata ketika seseorang menghadapi kematian: “Jangan takut dan jangan bersedih, bergembiralah dengan apa yang akan membuatmu senang.” Dan malaikat meneguhkannya dengan perkataan yang teguh di saat dia paling membutuhkannya dalam kehidupan dunia, ketika kematian, dan di dalam kubur ketika ditanya.
Tidak ada seorang pun yang lebih bermanfaat bagi hamba selain kebersamaan malaikat dengannya. Malaikat adalah walinya dalam keadaan terjaga dan tidur, dalam hidupnya, saat kematiannya dan di dalam kuburnya. Malaikat adalah temannya dalam kesepiannya, sahabatnya dalam kesendirian, lawan bicaranya dalam kerahasiaan. Malaikat berperang melawan musuhnya, membelanya, membantunya melawan musuh, menjanjikannya kebaikan dan memberikannya kabar gembira, mendorongnya untuk membenarkan kebenaran. Sebagaimana datang dalam atsar yang diriwayatkan secara marfu’ dan mauquf: “Sesungguhnya malaikat memiliki bisikan di hati anak Adam, dan setan juga memiliki bisikan. Bisikan malaikat adalah janji kebaikan dan membenarkan janji, sedangkan bisikan setan adalah janji keburukan dan mendustakan kebenaran.”
Dan apabila kedekatan malaikat kepada hamba semakin menguat, maka malaikat berbicara melalui lisannya dan melemparkan perkataan yang benar ke lisannya. Dan apabila malaikat menjauh darinya dan setan mendekat, maka setan berbicara melalui lisannya dan melemparkan perkataan dusta dan keji kepadanya, hingga terlihat seseorang yang berbicara melalui lisannya adalah malaikat, dan seseorang yang berbicara melalui lisannya adalah setan. Dalam hadits disebutkan: “Sesungguhnya ketenangan berbicara melalui lisan Umar” radiyallahu ‘anhu. Dan ada di antara mereka yang mendengar perkataan baik dari orang saleh lalu berkata: “Tidak ada yang melemparkannya ke lisanmu kecuali malaikat,” dan mendengar sebaliknya lalu berkata: “Tidak ada yang melemparkannya ke lisanmu kecuali setan.” Maka malaikat melemparkan kebenaran ke dalam hati dan melemparkannya ke lisan, sedangkan setan melemparkan kebatilan ke dalam hati dan mengalirkannya ke lisan.
Di antara balasan kemaksiatan adalah bahwa kemaksiatan menjauhkan dari hamba walinya yang kebahagiaannya terletak pada kedekatan, bertetangga, dan bersekutunya dengan malaikat. Dan kemaksiatan mendekatkan kepadanya musuhnya yang kesengsaraan, kehancuran, dan kerusakannya terletak pada kedekatan dan persekutuan dengan musuh tersebut. Hingga sesungguhnya malaikat membela hamba dan menolak darinya apabila orang bodoh berbuat bodoh kepadanya dan mencacinya. Sebagaimana pernah bertengkar di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dua orang laki-laki, salah satunya mencaci yang lain sedangkan dia diam saja. Kemudian dia berbicara dengan satu kalimat untuk membalas temannya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit. Orang itu berkata: “Ya Rasulullah, ketika aku membalas sebagian perkataannya, engkau bangkit.” Beliau bersabda: “Malaikat sedang membelamu, ketika engkau membalasnya, datanglah setan, maka aku tidak akan duduk.”
Dan apabila hamba muslim mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya, malaikat mengamini doanya dan berkata: “Dan untukmu juga seperti itu.”
Dan apabila selesai membaca Al-Fatihah, malaikat mengamini doanya.
Dan apabila hamba yang bertauhid yang mengikuti jalan dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuat dosa, maka para pembawa Arsy dan yang di sekitarnya memintakan ampun untuknya.
Dan apabila hamba tidur dalam keadaan berwudhu, dia bermalam dalam perlindungan malaikat.
Maka malaikat orang beriman membelanya, berperang, dan mempertahankannya, mengajarinya, meneguhkannya, dan menyemangatinya. Maka tidak pantas baginya memperlakukan tetangganya dengan buruk dan berlebihan dalam menyakiti, mengusir, dan menjauhkannya, karena malaikat adalah tamunya dan tetangganya.
Dan jika memuliakan tamu dari sesama manusia dan berbuat baik kepada tetangga termasuk kewajiban iman dan keharusannya, maka bagaimana menurutmu dengan memuliakan tamu yang paling mulia, tetangga yang terbaik dan paling berbakti? Dan apabila hamba menyakiti malaikat dengan berbagai jenis kemaksiatan, kezaliman, dan kekejian, maka malaikat mendoakan celaka kepadanya dan berkata: “Semoga Allah tidak membalasmu dengan kebaikan,” sebagaimana malaikat mendoakannya jika dia memuliakannya dengan ketaatan dan kebaikan.
Berkata sebagian sahabat radiyallahu ‘anhum: “Sesungguhnya bersama kalian ada yang tidak berpisah dari kalian, maka malulah kepada mereka dan muliakanlah mereka.”
Dan tidak ada yang lebih hina daripada orang yang tidak malu kepada yang mulia lagi agung kedudukannya, tidak menghormati dan tidak mengagungkannya. Allah Subhanahu telah mengingatkan makna ini dengan firman-Nya: “Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi, yang mulia dan mencatat, mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan” – Surat Al-Infithar ayat 10-12. Artinya: malulah kepada para pengawas yang mulia ini dan muliakanlah mereka, dan hormatilah mereka agar mereka tidak melihat dari kalian apa yang kalian malu jika dilihat oleh orang yang seperti kalian. Dan malaikat merasa terganggu dengan apa yang mengganggu anak Adam. Dan jika anak Adam merasa terganggu dengan orang yang berbuat maksiat dan durhaka di hadapannya, meskipun dia sendiri melakukan seperti perbuatannya, maka bagaimana menurutmu dengan gangguan para malaikat yang mulia lagi pencatat? Dan hanya kepada Allah-lah tempat meminta pertolongan.
Pasal: Kemaksiatan Mendatangkan Kehancuran
Di antara balasannya adalah bahwa kemaksiatan mendatangkan sebab-sebab kehancuran hamba di dunia dan akhiratnya. Sesungguhnya dosa-dosa adalah penyakit, apabila menguat pasti membunuh. Dan sebagaimana badan tidak akan sehat kecuali dengan makanan yang memelihara kekuatannya, pengeluaran yang mengeluarkan zat-zat rusak dan campuran buruk yang apabila menang akan merusaknya, dan pantangan yang dengannya dia menahan diri dari apa yang menyakitinya dan ditakutkan bahayanya, maka demikian pula hati tidak akan sempurna hidupnya kecuali dengan makanan dari iman dan amal saleh yang memelihara kekuatannya, pengeluaran dengan taubat nasuha yang mengeluarkan zat-zat rusak dan campuran buruk darinya, dan pantangan yang mewajibkan baginya menjaga kesehatan dan menghindari apa yang bertentangan dengannya, yaitu ungkapan dari menggunakan apa yang bertentangan dengan kesehatan.
Dan takwa adalah nama yang mencakup ketiga perkara ini, maka apa yang hilang darinya, hilang pula dari takwa seukuran itu.
Dan apabila telah jelas hal ini, maka dosa-dosa bertentangan dengan ketiga perkara ini, karena dosa mendatangkan zat-zat yang menyakitkan dan mewajibkan kelalaian yang bertentangan dengan pantangan, dan menghalangi pengeluaran dengan taubat nasuha.
Maka lihatlah badan yang sakit yang telah menumpuk padanya campuran dan zat-zat penyakit, sedangkan dia tidak mengeluarkannya dan tidak berpantangan darinya, bagaimana kesehatannya dan kelangsungan hidupnya. Sungguh baik yang berkata:
Badanmu dengan pantangan engkau benteng Karena takut dari sakit yang datang Seharusnya lebih utama bagimu takut Dari kemaksiatan kepada Sang Pencipta
Maka barangsiapa yang menjaga kekuatan dengan melaksanakan perintah, menggunakan pantangan dengan menjauhi larangan, dan mengeluarkan kelalaian dengan taubat nasuha, dia tidak meninggalkan tujuan kebaikan dan tidak ada pelarian dari keburukan. Dan hanya kepada Allah-lah tempat meminta pertolongan.
Pasal: Hukuman-Hukuman Syariat atas Kemaksiatan
Jika hukuman-hukuman ini tidak menghalangimu dan tidak kamu rasakan pengaruhnya dalam hatimu, maka hadirkanlah hukuman-hukuman syariat yang telah disyariatkan Allah dan Rasul-Nya atas kejahatan-kejahatan, seperti memotong tangan karena mencuri tiga dirham, memotong tangan dan kaki karena perampokan terhadap harta dan jiwa yang terlindungi, merobek kulit dengan cambuk karena satu kata qazaf (tuduhan zina) kepada orang yang muhsan, atau setetes khamar yang dimasukkan ke dalam perutnya, dan membunuh dengan batu dengan pembunuhan yang paling mengerikan karena memasukkan kepala kemaluan ke dalam kemaluan yang haram, dan meringankan hukuman ini bagi orang yang belum sempurna nikmatnya ihshan dengan seratus cambukan, dan diasingkan setahun dari negeri dan kotanya ke negeri yang asing, dan memisahkan antara kepala hamba dengan badannya jika dia menggauli mahramnya, atau meninggalkan shalat yang wajib, atau berbicara dengan kalimat kufur, dan memerintahkan membunuh orang yang menggauli laki-laki sepertinya dan membunuh yang digauli, dan memerintahkan membunuh orang yang mendatangi binatang dan membunuh binatang bersamanya, dan bertekad membakar rumah-rumah orang yang tidak hadir shalat berjamaah, dan hukuman-hukuman lain yang telah ditetapkan Allah atas kejahatan-kejahatan, dan Dia jadikan dengan hikmah-Nya sesuai dengan dorongan kepada kejahatan-kejahatan tersebut, dan sesuai dengan penghalang darinya.
Maka apa yang penghalang darinya alami dan tidak ada dalam tabiat dorongan kepadanya, cukup dengan pengharaman beserta ta’zir, dan tidak ditetapkan padanya had, seperti memakan kotoran, meminum darah, dan memakan bangkai.
Dan apa yang dalam tabiat ada dorongan kepadanya, ditetapkan padanya hukuman sesuai dengan kerusakannya, dan sesuai dengan dorongan tabiat kepadanya.
Dan karena itu ketika dorongan tabiat kepada zina termasuk dorongan yang paling kuat, maka hukumannya yang besar termasuk pembunuhan yang paling mengerikan dan paling besar, dan hukumannya yang ringan adalah jenis cambukan yang paling tinggi ditambah dengan pengasingan.
Dan ketika kejahatan liwath (homoseksual) mengandung kedua perkara, maka hadnya adalah pembunuhan dalam segala keadaan. Dan ketika dorongan pencurian kuat dan kerusakannya demikian juga, maka dipotong tangannya.
Dan perhatikanlah hikmah-Nya dalam merusak anggota yang dengannya dia melakukan kejahatan, sebagaimana Dia merusak bagi perampok tangannya dan kakinya yang keduanya adalah alat perampokannya. Dan Dia tidak merusak bagi penuduh lidahnya yang dengannya dia berbuat jahat, karena kerusakannya bertambah dari kerusakan kejahatan dan tidak mencapainya, maka Dia cukupkan dengan menyakitkan seluruh badannya dengan cambukan.
Jika dikatakan: Mengapa Dia tidak merusak bagi pezina kemaluannya yang dengannya dia melakukan kemaksiatan?
Dijawab: Karena beberapa alasan:
Pertama: Kerusakan itu bertambah dari kerusakan kejahatan, karena di dalamnya ada pemutusan keturunan dan membahayakannya untuk kebinasaan.
Kedua: Kemaluan adalah anggota yang tertutup, tidak tercapai dengannya tujuan had dari penghalang dan pencegahan bagi orang-orang sepertinya dari para pelaku kejahatan, berbeda dengan memotong tangan.
Ketiga: Apabila memotong tangannya, Dia sisakan baginya tangan yang lain untuk menggantikannya, berbeda dengan kemaluan.
Keempat: Kenikmatan zina merata ke seluruh badan, maka lebih baik hukuman merata ke seluruh badan, dan itu lebih utama daripada mengkhususkannya pada sebagian darinya.
Maka hukuman-hukuman yang ditetapkan oleh Syari’ (Allah) telah datang dengan cara yang paling sempurna dan paling sesuai dengan akal, serta paling tegak dalam mewujudkan kemaslahatan.
Yang dimaksud adalah bahwa dosa-dosa hanya akan diikuti oleh hukuman-hukuman syar’i atau takdiri (ketentuan Allah), atau Allah menggabungkan keduanya bagi hamba. Dan Allah dapat mengangkat hukuman tersebut dari orang yang bertaubat dan berbuat baik.
[Bab: Hukuman-hukuman Dosa Ada yang Syar’i dan Ada yang Takdiri]
Hukuman-hukuman untuk dosa ada dua jenis: syar’i dan takdiri. Apabila hukuman syar’i ditegakkan, maka hukuman takdiri akan terangkat dan meringankannya. Allah Ta’ala hampir tidak pernah menggabungkan kedua hukuman tersebut pada seorang hamba, kecuali jika salah satunya tidak cukup untuk mengangkat sebab dosa dan tidak mencukupi untuk menghilangkan penyakitnya.
Apabila hukuman-hukuman syar’i diabaikan, maka akan berubah menjadi takdiri, dan mungkin lebih berat dari yang syar’i, atau mungkin lebih ringan. Namun hukuman takdiri bersifat umum, sedangkan yang syar’i bersifat khusus. Sebab Allah Tabaraka wa Ta’ala tidak menghukum secara syar’i kecuali orang yang langsung melakukan kejahatan atau menjadi sebabnya.
Adapun hukuman takdiri, maka ia berlaku secara umum dan khusus. Kemaksiatan jika tersembunyi tidak merugikan kecuali pelakunya saja. Namun jika diumumkan, maka akan merugikan orang khusus dan orang umum. Apabila manusia melihat kemungkaran lalu meninggalkan pengingkarannya, hampir pasti Allah akan menimpakan siksa-Nya kepada mereka semua.
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa hukuman syar’i disyariatkan Allah Subhanahu sesuai dengan kadar kerusakan dosa dan tuntutan fitrah terhadapnya. Allah Subhanahu menjadikannya tiga jenis: pembunuhan, pemotongan, dan cambukan. Allah menjadikan pembunuhan sebagai balasan kekufuran dan apa yang mendekatinya, yaitu zina dan liwath (homoseksual). Karena yang pertama merusak agama, sedangkan yang kedua merusak nasab dan jenis manusia.
Imam Ahmad berkata: “Aku tidak mengetahui setelah pembunuhan ada dosa yang lebih besar dari zina.” Beliau berdalil dengan hadits Abdullah bin Mas’ud bahwa ia berkata: “Ya Rasulullah, dosa apa yang paling besar?” Rasulullah menjawab: “Bahwa engkau menjadikan sekutu bagi Allah padahal Dia yang menciptakanmu.” Abdullah berkata: “Lalu apa?” Rasulullah menjawab: “Bahwa engkau membunuh anakmu karena takut ia akan makan bersamamu.” Abdullah berkata: “Lalu apa?” Rasulullah menjawab: “Bahwa engkau berzina dengan istri tetanggamu.” Maka Allah menurunkan ayat yang membenarkannya: “Dan orang-orang yang tidak menyeru tuhan yang lain selain Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan hak dan tidak berzina.” (Surat Al-Furqan: 68)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan dari setiap jenis yang paling tinggi agar jawabannya sesuai dengan pertanyaan penanya. Karena ia bertanya tentang dosa yang paling besar, maka beliau menjawab dengan menyebutkan jenis-jenis yang paling besar dan apa yang paling besar dari setiap jenis.
Jenis syirik yang paling besar adalah bahwa hamba menjadikan sekutu bagi Allah. Jenis pembunuhan yang paling besar adalah membunuh anaknya sendiri karena takut anak itu akan berbagi makanan dan minumannya. Jenis zina yang paling besar adalah berzina dengan istri tetangganya, karena kerusakan zina akan berlipat ganda dengan berlipatnya hak yang dilanggar.
Zina dengan wanita yang bersuami lebih besar dosanya dan hukumannya daripada yang tidak bersuami, karena di dalamnya terdapat pelanggaran kehormatan suami, merusak tempat tidurnya, dan menempelkan nasab kepadanya yang bukan darinya, serta berbagai jenis menyakitinya yang lain. Maka itu lebih besar dosanya dan kejahatannya daripada zina dengan yang tidak bersuami.
Zina dengan seratus wanita yang tidak bersuami lebih ringan di sisi Allah daripada zina dengan istri tetangga. Apabila suaminya adalah tetangganya, maka ditambahkan kepada itu buruknya bertetangga dan menyakiti tetangganya dengan jenis menyakiti yang paling tinggi. Itu termasuk bencana yang paling besar.
Telah tetap dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak aman dari gangguan dan kejahatannya.” Tidak ada kejahatan yang lebih besar dari zina dengan istri tetangga.
Apabila tetangga itu adalah saudaranya atau kerabat dekatnya, maka ditambahkan kepada itu pemutusan silaturahmi, sehingga dosanya berlipat ganda. Apabila tetangga itu sedang pergi dalam ketaatan kepada Allah seperti shalat, menuntut ilmu, dan jihad, maka dosanya berlipat ganda. Bahkan orang yang berzina dengan istri orang yang berperang di jalan Allah akan dihentikan untuknya pada hari kiamat, dan dikatakan: “Ambillah dari kebaikan-kebaikannya apa yang engkau kehendaki.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apa sangkaan kalian?” Yaitu apa sangkaan kalian bahwa ia akan meninggalkan kebaikan-kebaikan untuknya, padahal ia telah diberi wewenang untuk mengambil darinya apa yang ia kehendaki? Pada saat sangat membutuhkan satu kebaikan saja, di mana seorang ayah tidak akan meninggalkan hak untuk anaknya dan seorang sahabat tidak akan meninggalkan hak untuk sahabatnya.
Apabila kebetulan wanita itu adalah kerabatnya, maka ditambahkan kepada itu pemutusan silaturahminya. Apabila kebetulan si pezina adalah muhshan (sudah menikah), maka dosanya lebih besar. Apabila ia seorang yang sudah tua, maka dosanya lebih besar lagi, dan ia termasuk tiga orang yang Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan mensucikan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih.
Apabila bersamaan dengan itu ia melakukannya di bulan haram atau negeri haram atau waktu yang diagungkan di sisi Allah, seperti waktu-waktu shalat dan waktu-waktu dikabulkannya doa, maka dosanya berlipat ganda. Berdasarkan ini, pertimbangkanlah kerusakan-kerusakan dosa dan berlipat gandanya tingkat-tingkat dosa dan hukumannya. Allah-lah yang diminta pertolongan.
[Bab: Pemotongan untuk Perusakan Harta]
Allah Subhanahu menjadikan pemotongan sebagai balasan kerusakan harta yang tidak mungkin dijaga darinya, karena ia mengambil harta secara sembunyi-sembunyi, melubangi rumah-rumah, dan memanjat bukan dari pintu. Ia seperti kucing dan ular yang masuk kepadamu dari tempat yang tidak kamu ketahui. Kerusakan pencuriannya tidak sampai pada tingkat pembunuhan dan tidak dapat dicegah dengan cambukan. Maka cara terbaik untuk mencegah kerusakannya adalah memotong anggota yang digunakan untuk menguasai kejahatan tersebut.
Allah menjadikan cambukan sebagai balasan perusakan akal dan perobekan kehormatan dengan qadzaf (tuduhan zina).
Maka hukuman-hukuman syar’i Allah Subhanahu berputar pada tiga jenis ini, sebagaimana kafarat berputar pada tiga jenis: memerdekakan budak (yang paling tinggi), memberi makan, dan puasa.
Kemudian Allah Subhanahu menjadikan dosa-dosa tiga bagian:
Bagian yang ada hadnya, maka untuk ini Allah tidak mensyariatkan kafarat, cukup dengan had.
Bagian yang tidak ditentukan had atasnya, maka Allah mensyariatkan kafarat untuknya, seperti jimak di siang hari Ramadhan, jimak dalam ihram, zhihar, pembunuhan karena kesalahan, melanggar sumpah, dan lain-lain.
Bagian yang tidak ditentukan had dan tidak pula kafarat, dan ini dua jenis:
Pertama: Yang penghalangnya bersifat alami, seperti memakan kotoran, meminum air kencing dan darah.
Kedua: Yang kerusakannya lebih ringan dari kerusakan yang ditentukan had atasnya, seperti memandang, mencium, menyentuh, berbicara, mencuri satu fals (uang kecil), dan semacamnya.
Allah mensyariatkan kafarat dalam tiga jenis:
Pertama: Yang asalnya mubah, kemudian muncul pengharamannya lalu melakukannya dalam keadaan ketika pengharaman itu muncul, seperti jimak dalam ihram dan puasa. Contoh sejajarnya: jimak dalam haid dan nifas, berbeda dengan jimak di dubur. Karena itu sebagian fuqaha yang menyamakannya dengan jimak dalam haid tidak benar, karena ia tidak dihalalkan di waktu tertentu tanpa waktu lain. Ia seperti liwath dan meminum khamar.
Jenis kedua: Yang diikat kepada Allah berupa nazar atau diikat dengan nama Allah berupa sumpah, atau yang diharamkan Allah kemudian ingin menghalalkannya. Maka Allah Subhanahu mensyariatkan penghalalan dengan kafarat dan menyebutnya nihlah (pemberian). Kafarat ini bukanlah penghapus pelanggaran kehormatan nama Allah dengan melanggar sumpah, sebagaimana disangka sebagian fuqaha. Karena melanggar sumpah kadang wajib, kadang mustahab, dan kadang mubah. Kafarat hanyalah penghalal bagi apa yang diikat.
Jenis ketiga: Yang menjadi penyempurna bagi yang terlewat, seperti kafarat pembunuhan karena kesalahan, meskipun tidak ada dosa di dalamnya, dan kafarat pembunuhan binatang buruan karena kesalahan. Karena itu termasuk penyempurna. Jenis pertama termasuk pencegah, dan jenis tengah termasuk pembebas dari ikatan.
Tidak Bersatunya Had dan Ta’zir
Tidak bersatu had dan ta’zir dalam satu kemaksiatan. Jika dalam kemaksiatan tersebut ada had, maka cukup dengan had saja, dan jika tidak ada had, maka cukup dengan ta’zir. Tidak bersatu pula had dan kafarat dalam satu kemaksiatan. Setiap kemaksiatan yang di dalamnya ada had, maka tidak ada kafarat di dalamnya. Dan yang di dalamnya ada kafarat, maka tidak ada had di dalamnya. Apakah ta’zir dan kafarat bersatu dalam kemaksiatan yang tidak ada had di dalamnya?
Dalam hal ini ada dua pendapat: seperti persetubuhan dalam keadaan ihram dan puasa, serta persetubuhan dengan wanita haid. Jika kita mewajibkan kafarat dalam hal ini, ada yang berpendapat: wajib ta’zir karena pelanggaran terhadap kehormatan dengan melakukan kejahatan. Dan ada yang berpendapat: tidak ada ta’zir dalam hal itu, cukup dengan kafarat karena kafarat berfungsi sebagai penebus dan penghapus dosa.
[Pasal: Hukuman-hukuman Takdiri]
Adapun hukuman-hukuman takdiri ada dua jenis: jenis yang menimpa hati dan jiwa, dan jenis yang menimpa badan dan harta.
Yang menimpa hati ada dua jenis: Pertama: Penderitaan-penderitaan nyata yang ditimpakan pada hati. Kedua: Terputusnya sarana-sarana yang menjadi sumber kehidupan dan kebaikan hati.
Jika sarana-sarana itu terputus darinya, maka ia mendapat kebalikannya. Hukuman hati adalah yang paling keras di antara kedua hukuman, dan ia adalah asal dari hukuman badan.
Hukuman ini semakin kuat dan bertambah, hingga menyebar dari hati ke badan, sebagaimana rasa sakit badan menyebar ke hati. Ketika jiwa meninggalkan badan, maka hukuman menjadi berkaitan dengannya, lalu hukuman hati tampak pada saat itu dan menjadi terang-terangan nyata. Itulah yang disebut azab kubur. Hubungannya dengan alam barzakh seperti hubungan azab badan dengan dunia ini.
[Pasal: Hukuman-hukuman Takdiri pada Badan]
Yang menimpa badan juga ada dua jenis: Jenis di dunia. Jenis di akhirat.
Tingkat kerasnya dan kelamanya sesuai dengan tingkat kerusakan yang menjadi sebab hukuman tersebut dalam hal keparahan dan penciptaannya. Tidak ada keburukan sama sekali di dunia dan akhirat kecuali dosa-dosa dan hukumannya. Kejahatan adalah nama untuk semua itu, dan asalnya dari kejahatan jiwa dan perbuatan-perbuatan buruk. Keduanya adalah dua asal yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon perlindungan darinya dalam khutbahnya dengan sabdanya: “Dan kita berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kita dan dari keburukan amal-amal kita.”
Keburukan amal-amal berasal dari kejahatan jiwa, maka kembalilah semua kejahatan kepada kejahatan jiwa, karena keburukan amal-amal adalah cabang dan buahnya.
Para ulama berbeda pendapat tentang makna sabdanya: “Dan dari keburukan amal-amal kita.” Apakah maknanya: yang buruk dari amal-amal kita, sehingga termasuk dari bab penambahan jenis kepada jenisnya, ataukah “min” berfungsi sebagai keterangan? Ada yang berpendapat: maknanya adalah dari hukuman-hukumannya yang menyusahkan, sehingga takdirnya: dan dari hukuman amal-amal kita yang menyusahkan kita. Yang menguatkan pendapat ini adalah bahwa istighfar (memohon perlindungan) telah mencakup semua kejahatan, karena kejahatan jiwa mengharuskan amal-amal buruk, dan itu mengharuskan hukuman-hukuman buruk. Maka ditunjukkan dengan kejahatan jiwa apa yang dituntutnya dari buruknya amal-amal, dan dicukupkan dengan menyebutnya dari padanya, atau itu adalah asalnya. Kemudian disebutkan puncak kejahatan dan ujungnya, yaitu keburukan-keburukan yang menyusahkan hamba dari amalnya, berupa hukuman-hukuman dan penderitaan-penderitaan. Maka istighfar ini mencakup asal kejahatan, cabang-cabangnya, tujuannya, dan akibatnya.
Dari doa malaikat untuk orang-orang beriman adalah firman mereka: “Dan lindungilah mereka dari kejahatan-kejahatan. Barangsiapa yang Engkau lindungi dari kejahatan-kejahatan pada hari itu, maka sungguh Engkau telah merahmaatinya.” (QS. Ghafir: 9)
Ini mencakup permintaan perlindungan mereka dari keburukan amal-amal dan hukuman-hukumannya yang menyusahkan pemiliknya, karena Allah Subhanahu ketika melindungi mereka dari perbuatan buruk, Dia juga melindungi mereka dari balasan buruk. Walaupun firman-Nya: “Barangsiapa yang Engkau lindungi dari kejahatan-kejahatan pada hari itu, maka sungguh Engkau telah merahmaatinya” lebih jelas menunjukkan hukuman-hukuman amal yang diminta perlindungannya pada hari itu.
Jika dikatakan: Mereka telah memohon kepada Allah Subhanahu agar melindungi mereka dari azab neraka, dan ini adalah perlindungan dari hukuman-hukuman buruk, maka ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan kejahatan yang mereka minta perlindungannya adalah amal-amal buruk, maka yang diminta malaikat serupa dengan apa yang dimohon perlindungannya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tidak terbantahkan dalam hal ini firman-Nya: “pada hari itu” karena yang diminta adalah perlindungan dari kejahatan-kejahatan buruk amal-amal pada hari itu, dan itu adalah kejahatan dalam dirinya.
Dikatakan: Perlindungan dari kejahatan ada dua jenis. Pertama: Perlindungan dari melakukannya dengan taufik sehingga tidak keluar darinya. Kedua: Perlindungan dari balasannya dengan ampunan, sehingga tidak dihukum karenanya.
Maka ayat tersebut mencakup permintaan kedua perkara, dan keterangan tempat adalah pembatasan untuk kalimat syarat bukan untuk kalimat permintaan.
Perhatikanlah apa yang dicakup berita tentang malaikat ini dari pujian mereka dengan iman, amal saleh, dan ihsan kepada orang-orang beriman dengan memintakan ampun untuk mereka. Mereka mendahulukan di hadapan istighfar mereka tawassul kepada Allah Ta’ala dengan luasnya ilmu-Nya dan luasnya rahmat-Nya. Luasnya ilmu-Nya mencakup pengetahuan-Nya tentang dosa-dosa mereka dan sebab-sebabnya, kelemahan mereka dari terjaga, dominasi musuh mereka, jiwa mereka, hawa nafsu mereka, tabiat mereka, dan apa yang dihiasi untuk mereka dari dunia dan perhiasannya. Pengetahuan-Nya tentang mereka ketika Dia menciptakan mereka dari tanah, dan ketika mereka janin dalam perut ibu-ibu mereka. Pengetahuan-Nya yang terdahulu bahwa mereka pasti akan bermaksiat kepada-Nya, dan bahwa Dia menyukai maaf dan ampunan, dan lain-lain dari luasnya ilmu-Nya yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia.
Luasnya rahmat-Nya mencakup bahwa tidak akan binasa pada-Nya seorang pun dari orang-orang beriman kepada-Nya, ahli tauhid dan kecintaan kepada-Nya, karena Dia luas rahmat, tidak keluar dari lingkaran rahmat-Nya kecuali orang-orang celaka. Tidak ada yang lebih celaka dari orang yang tidak tercakup rahmat-Nya yang meliputi segala sesuatu. Kemudian mereka memohon kepada-Nya agar mengampuni orang-orang yang bertobat yang mengikuti jalan-Nya, yaitu sirat-Nya yang mengantarkan kepada-Nya yaitu mengenal-Nya, mencintai-Nya, dan mentaati-Nya. Mereka bertobat dari apa yang Dia benci, dan mengikuti jalan yang Dia cintai. Kemudian mereka memohon kepada-Nya agar melindungi mereka dari azab neraka, dan memasukkan mereka bersama orang-orang beriman dari asal-usul mereka, keturunan mereka, dan istri-istri mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Dia janjikan kepada mereka. Dia Subhanahu, walaupun tidak mengingkari janji, sesungguhnya Dia menjanjikan kepada mereka dengan sebab-sebab, dan di antaranya: doa malaikat-malaikat-Nya untuk mereka agar memasukkan mereka ke dalamnya dengan rahmat-Nya yang di antaranya adalah Dia memberi taufik kepada mereka untuk amal-amal mereka dan menegakkan malaikat-malaikat-Nya berdoa untuk mereka dengannya.
Kemudian Allah Subhanahu memberitakan tentang malaikat-malaikat-Nya bahwa mereka berkata setelah doa ini: “Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ghafir: 8)
Yakni sumber itu, sebabnya, dan tujuannya keluar dari kesempurnaan kekuasaan-Mu dan kesempurnaan ilmu-Mu, karena kemuliaan adalah kesempurnaan kekuasaan, dan hikmah adalah kesempurnaan ilmu. Dengan kedua sifat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memutuskan apa yang Dia kehendaki, memerintah dan melarang, memberi pahala dan menghukum. Kedua sifat ini adalah sumber penciptaan dan perintah.
Yang dimaksud adalah bahwa hukuman-hukuman kejahatan beragam menjadi hukuman-hukuman syar’i dan hukuman-hukuman takdiri, baik di hati, di badan, atau keduanya, dan hukuman-hukuman di alam barzakh setelah mati, dan hukuman-hukuman pada hari kebangkitan jasad. Dosa tidak pernah lepas dari hukuman sama sekali, tetapi karena kebodohan hamba tidak merasakan hukuman yang ada padanya, karena dia seperti orang mabuk, orang yang dibius, dan orang tidur yang tidak merasakan sakit.
Berkaitan hukuman dengan dosa seperti berkaitan terbakar dengan api, patah dengan keretakan, tenggelam dengan air, rusaknya badan dengan racun-racun, dan penyakit-penyakit dengan sebab-sebab yang mendatangkannya. Terkadang mudarat bersamaan dengan dosa dan terkadang terlambat darinya, baik sebentar maupun lama, sebagaimana penyakit terlambat dari sebabnya atau bersamaan dengannya. Sering terjadi kekeliruan bagi hamba dalam maqam ini dan berbuat dosa tetapi tidak melihat bekasnya setelahnya, dan tidak tahu bahwa itu bekerja secara bertahap sedikit demi sedikit, sebagaimana racun-racun dan hal-hal yang berbahaya bekerja persis sama. Jika hamba memperbaiki dirinya dengan obat-obatan, pengeluaran, dan pantangan, jika tidak maka dia akan menuju kehancuran. Ini jika dosa satu yang tidak diperbaiki dengan yang menghilangkan bekasnya, bagaimana dengan dosa atas dosa setiap hari dan setiap saat? Dan Allah-lah yang diminta pertolongan.
Bab: Sebagian Hukuman Dari Kemaksiatan
Pendahuluan
Ingatlah sebagian hukuman yang telah Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi tetapkan atas dosa-dosa, dan Allah membolehkan sebagian dari hukuman itu menimpa dirimu. Jadikanlah hal itu sebagai pendorong bagi jiwa untuk meninggalkan kemaksiatan. Aku akan menyampaikan kepadamu sebagian dari hukuman itu yang cukup bagi orang yang berakal dengan membenarkan sebagiannya.
- Dimeteraikan Hati
Di antaranya adalah: dimeteraikan hati dan pendengaran, ditutup mata, dikunci hati, diberi penutup pada hati, berkarat hati, dicap hati, dibolak-balik hati dan mata, dihalangi antara seseorang dengan hatinya, hati dibuat lalai dari mengingat Tuhan, manusia dibuat lupa pada dirinya sendiri, Allah tidak berkeinginan mensucikan hati, dada dibuat sempit dan sesak seolah-olah sedang naik ke langit, hati dipalingkan dari kebenaran, hati ditambah penyakit atas penyakitnya, hati dibalik dan dibolak-balik sehingga tetap terbalik.
Sebagaimana disebutkan Imam Ahmad dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: “Hati itu ada empat macam: Hati yang bersih di dalamnya ada pelita yang menerangi, itulah hati orang mukmin. Hati yang tertutup, itulah hati orang kafir. Hati yang terbalik, itulah hati orang munafik. Dan hati yang dipenuhi dua sumber: sumber iman dan sumber kemunafikan, ia mengikuti mana yang lebih dominan dari keduanya.”
Di antaranya juga: dilemahkan dari ketaatan dan didudukkan darinya.
Di antaranya: hati dibuat tuli tidak mendengar kebenaran, bisu tidak berbicara dengannya, buta tidak melihatnya. Maka hubungan antara hati dengan kebenaran yang tidak bermanfaat baginya selain itu, seperti hubungan antara telinga orang tuli dengan suara-suara, mata orang buta dengan warna-warna, dan lidah orang bisu dengan ucapan. Dengan ini diketahui bahwa kebutaan, ketulian, dan kebisuan hati pada hakikatnya adalah yang sesungguhnya, sedangkan pada anggota badan hanya secara kebetulan dan mengikuti.
“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (Surat Al-Hajj: 46)
Maksudnya bukanlah menafikan kebutaan fisik pada mata, bagaimana mungkin sedangkan Allah telah berfirman: “Tidak ada dosa atas orang buta” (Surat An-Nur: 61).
Dan Allah berfirman: “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang kepadanya seorang buta.” (Surat ‘Abasa: 1-2)
Yang dimaksud adalah kebutaan yang sempurna dalam hakikatnya adalah kebutaan hati, sehingga kebutaan mata dibandingkan dengannya seperti tidak ada kebutaan, bahkan dapat dinafikan jika dibandingkan dengan kesempurnaan dan kekuatannya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Bukanlah orang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang dapat menguasai dirinya ketika marah.” Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam: “Bukanlah orang miskin itu yang berkeliling yang ditolak dengan satu atau dua suap, tetapi orang miskin adalah yang tidak meminta-minta kepada manusia dan tidak diperhatikan sehingga diberi sedekah.” Dan contoh-contoh serupa banyak.
Yang dimaksud adalah bahwa di antara hukuman kemaksiatan adalah menjadikan hati buta, tuli, dan bisu.
- Tenggelamnya Hati
Di antaranya: tenggelamnya hati sebagaimana ditenggelamkannya suatu tempat beserta isinya. Maka hati ditenggelamkan ke tempat yang paling rendah sedangkan pemiliknya tidak merasa. Tanda tenggelamnya hati adalah bahwa hati itu selalu berkeliling di sekitar hal-hal rendah, kotor, dan tercela. Sebagaimana hati yang diangkat Allah dan didekatkan kepada-Nya selalu berkeliling di sekitar Arsy.
Di antaranya: menjauh dari kebaikan dan hal-hal mulia dalam urusan, amal, perkataan, dan akhlak.
Berkata sebagian salaf: “Sesungguhnya hati-hati ini berkeliling, di antaranya ada yang berkeliling di sekitar Arsy, dan di antaranya ada yang berkeliling di sekitar tempat buang air.”
- Berubahnya Hati
Di antaranya: berubahnya hati sebagaimana berubahnya rupa. Maka hati berubah menjadi seperti hati binatang yang menyerupainya dalam akhlak, amal, dan tabiatnya. Di antara hati ada yang berubah menjadi seperti hati babi karena kuatnya kemiripan pemiliknya dengannya. Di antaranya ada yang berubah menjadi seperti hati anjing, keledai, ular, kalajengking, dan lainnya.
Ini adalah takwil Sufyan bin ‘Uyainah terhadap firman Allah: “Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu.” (Surat Al-An’am: 38)
Ia berkata: “Di antara mereka ada yang berakhlak seperti binatang buas yang menyerang, di antara mereka ada yang berakhlak seperti anjing, babi, dan keledai. Di antara mereka ada yang bersolek dengan pakaiannya sebagaimana merak bersolek dengan bulunya. Di antara mereka ada yang bodoh seperti keledai. Di antara mereka ada yang lebih mementingkan dirinya sendiri seperti ayam jantan. Di antara mereka ada yang suka berkumpul dan disukai seperti merpati. Di antara mereka ada yang pendendam seperti unta. Di antara mereka ada yang baik seluruhnya seperti kambing. Di antara mereka ada yang menyerupai rubah yang berkelit seperti kelitannya.”
Allah telah menyerupakan ahli neraka dan kesesatan dengan keledai di suatu tempat, dengan anjing di tempat lain, dan dengan binatang ternak di tempat lain. Kemiripan ini menguat secara batin hingga tampak pada rupa lahir secara samar yang dapat dilihat oleh orang-orang yang pandai melihat tanda, dan tampak dalam perbuatan yang dapat dilihat semua orang. Hal ini terus menguat hingga rupa itu menjadi buruk, lalu rupa itu berubah dengan izin Allah. Inilah perubahan yang sempurna. Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi mengubah rupa lahir menjadi seperti rupa binatang tersebut, sebagaimana yang dilakukan kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang yang menyerupai mereka. Allah akan melakukan hal itu kepada sekelompok dari umat ini dengan mengubah mereka menjadi kera dan babi.
Maha Suci Allah! Betapa banyak hati yang terbalik sedangkan pemiliknya tidak merasa? Hati yang berubah? Hati yang ditenggelamkan? Betapa banyak orang yang terpedaya dengan pujian manusia kepadanya? Yang tertipu dengan perlindungan Allah atasnya? Yang dibiarkan secara berangsur dengan nikmat Allah kepadanya? Semua ini adalah hukuman dan penghinaan, sedangkan orang bodoh mengira itu adalah kemuliaan.
Di antaranya: tipu daya Allah terhadap penipu, penipuan-Nya terhadap penipu, mengolok-olok-Nya terhadap pengolok-olok, dan menyesatkan hati yang menyimpang dari kebenaran.
- Terbaliknya Hati
Di antaranya: terbaliknya hati hingga melihat yang batil sebagai benar dan yang benar sebagai batil, yang ma’ruf sebagai munkar dan yang munkar sebagai ma’ruf. Ia merusak namun merasa memperbaiki, menghalangi dari jalan Allah namun merasa mengajak kepadanya, membeli kesesatan dengan hidayah namun merasa berada di atas hidayah, mengikuti hawa nafsunya namun mengaku taat kepada Tuhannya? Semua ini termasuk hukuman dosa-dosa yang menimpa hati.
- Terhalangnya Hati dari Tuhan
Di antaranya: terhalangnya hati dari Tuhan di dunia, dan hijab yang lebih besar pada hari kiamat. Sebagaimana firman Allah: “Sekali-kali tidak! Sebenarnya apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka.” (Surat Al-Muthaffifin: 14-15)
Dosa-dosa menghalangi mereka untuk menempuh jarak antara mereka dengan hati mereka sehingga sampai kepadanya dan melihat apa yang memperbaiki dan mensucikannya, serta apa yang merusaknya dan membuatnya sengsara. Dan menghalangi mereka menempuh jarak antara hati mereka dengan Tuhan mereka, sehingga hati sampai kepada-Nya dan beruntung dengan kedekatan dan kemuliaan-Nya, serta mata menjadi sejuk dengan-Nya dan jiwa menjadi tenang dengan-Nya. Tetapi dosa-dosa menjadi penghalang antara mereka dengan Tuhan dan Pencipta mereka.
Di antaranya: kehidupan yang sempit di dunia dan di alam barzakh, serta azab di akhirat. Allah berfirman: “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (Surat Thaha: 124)
Kehidupan yang sempit ditafsirkan dengan azab kubur, dan tidak diragukan bahwa itu termasuk kehidupan yang sempit. Ayat ini mencakup yang lebih umum dari itu, meskipun berupa kata benda tak tentu dalam konteks penetapan, karena keumumannya dari segi makna. Allah telah menetapkan kehidupan yang sempit atas orang yang berpaling dari mengingat-Nya. Maka orang yang berpaling darinya akan mendapat kesempitan hidup sesuai dengan keberpalingannya, meskipun ia bersenang-senang di dunia dengan berbagai nikmat. Dalam hatinya ada kegelisahan, kehinaan, penyesalan yang memotong hati, angan-angan batil, dan azab yang hadir. Hal itu hanya tertutup darinya oleh mabuk syahwat, cinta, cinta dunia, dan kepemimpinan. Jika tidak ditambah dengan mabuk khamar, maka mabuk hal-hal ini lebih besar dari mabuk khamar. Karena orang yang mabuk khamar akan sadar dan siuman, sedangkan orang yang mabuk hawa nafsu dan cinta dunia tidak akan siuman kecuali jika ia sudah berada di barisan orang mati.
Kehidupan yang sempit adalah keharusan bagi orang yang berpaling dari zikrullah yang diturunkan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam di dunianya, di alam barzakh, dan pada hari kembalinya. Mata tidak akan sejuk, hati tidak akan tenang, dan jiwa tidak akan tenteram kecuali dengan Tuhannya dan sesembahannya yang benar. Setiap sesembahan selain-Nya adalah batil. Barangsiapa yang matanya sejuk dengan Allah, maka segala mata akan sejuk dengannya. Barangsiapa yang matanya tidak sejuk dengan Allah, maka jiwanya akan terpotong-potong karena dunia dengan penyesalan.
Allah hanya menjadikan kehidupan yang baik bagi orang yang beriman kepada-Nya dan beramal saleh, sebagaimana firman Allah: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Surat An-Nahl: 97)
Allah menjamin bagi ahli iman dan amal saleh balasan di dunia dengan kehidupan yang baik, dan kebaikan pada hari kiamat. Bagi mereka kehidupan yang paling baik di dua tempat, mereka hidup di dua negeri.
Serupa dengan ini adalah firman Allah: “Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini (disediakan) kebaikan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang-orang yang bertakwa.” (Surat An-Nahl: 30)
Dan serupa dengannya firman Allah: “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya.” (Surat Hud: 3)
Maka beruntunglah orang-orang yang bertakwa lagi berbuat baik dengan kenikmatan dunia dan akhirat, dan mereka memperoleh kehidupan yang baik di kedua negeri. Sesungguhnya kebaikan jiwa, kegembiraan hati, keceriaan, kelezatan, kebahagiaan, ketenangan, kelapangan, cahaya, keluasan, dan kesehatan jiwa yang timbul dari meninggalkan syahwat-syahwat yang haram dan syubhat-syubhat yang batil – itulah kenikmatan yang sesungguhnya, dan tidak ada perbandingan antara kenikmatan badan dengannya.
Sebagian orang yang telah merasakan kelezatan ini pernah berkata: “Seandainya para raja dan anak-anak raja mengetahui apa yang kami rasakan, niscaya mereka akan berperang melawan kami dengan pedang untuk merebutnya.”
Yang lain berkata: “Sungguh terkadang hati merasakan saat-saat dimana aku berkata: Jika penghuni surga merasakan seperti ini, maka mereka benar-benar dalam kehidupan yang baik.”
Yang lain lagi berkata: “Sesungguhnya di dunia ini ada surga yang kedudukannya di dunia seperti surga di akhirat. Barangsiapa memasukinya, maka ia akan masuk surga itu (di akhirat), dan barangsiapa tidak memasukinya, maka ia tidak akan masuk surga akhirat.” Nabi ﷺ telah mengisyaratkan surga ini dengan sabdanya: “Apabila kalian melewati taman-taman surga, maka bergembiralah di dalamnya. Para sahabat bertanya: Apakah taman-taman surga itu? Beliau menjawab: Majelis-majelis dzikir.” Dan beliau bersabda: “Antara rumahku dan mimbarku adalah taman dari taman-taman surga.”
Janganlah kamu mengira bahwa firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan. Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka” hanya khusus untuk hari kiamat saja. Bahkan orang-orang baik ini berada dalam kenikmatan di tiga fase kehidupan mereka, dan orang-orang durhaka itu berada dalam siksaan di tiga fase kehidupan mereka.
Kelezatan dan kenikmatan apakah di dunia yang lebih baik daripada kebersihan hati, keselamatan dada, mengetahui Rabb Tabaraka wa Ta’ala, mencintai-Nya, dan beramal untuk meraih ridha-Nya? Apakah kehidupan yang sesungguhnya selain kehidupan hati yang selamat?
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuji kekasih-Nya Ibrahim alaihis salam karena keselamatan hatinya, sebagaimana firman-Nya: “Dan sesungguhnya Ibrahim termasuk golongannya (Nuh). Ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang selamat.”
Dan Allah berfirman mengisahkan Ibrahim bahwa ia berkata: “Pada hari dimana harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.”
Hati yang selamat adalah hati yang selamat dari syirik, kedengkian, dendam, hasad, kikir, sombong, cinta dunia, dan cinta kepemimpinan. Maka ia selamat dari segala penyakit yang menjauhkannya dari Allah, selamat dari segala syubhat yang menentang kabar-Nya, dari segala syahwat yang menentang perintah-Nya, selamat dari segala keinginan yang berbenturan dengan kehendak-Nya, dan selamat dari segala yang memutuskan hubungan dengan Allah. Hati yang selamat ini berada dalam surga yang dipercepat di dunia, dalam surga di alam barzakh, dan dalam surga di hari kiamat.
Keselamatan hati tidak akan sempurna secara mutlak hingga ia selamat dari lima perkara: dari syirik yang menentang tauhid, dari bid’ah yang menyelisihi sunnah, dari syahwat yang menyelisihi perintah, dari kelengahan yang menentang dzikir, dan dari hawa nafsu yang menentang pengosongan diri dan keikhlasan.
Kelima hal ini adalah hijab-hijab dari Allah, dan di bawah setiap satu dari kelimaanya terdapat jenis-jenis yang banyak, yang mencakup bagian-bagian yang tidak terbilang.
Oleh karena itu, sangat kuat kebutuhan hamba, bahkan keharusannya, untuk memohon kepada Allah agar memberinya petunjuk ke jalan yang lurus. Tidak ada sesuatu yang lebih ia butuhkan daripada doa ini, dan tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat baginya.
Sesungguhnya jalan yang lurus mencakup: ilmu-ilmu, keinginan-keinginan, amal-amal, dan hal-hal yang ditinggalkan, yang zahir maupun batin, yang berlaku padanya setiap waktu. Rincian-rincian jalan yang lurus mungkin diketahui oleh hamba dan mungkin tidak diketahuinya, dan apa yang tidak diketahuinya mungkin lebih banyak dari yang diketahuinya. Apa yang diketahuinya mungkin ia mampu melakukannya dan mungkin tidak mampu, dan itu tetap jalan yang lurus meskipun ia tidak mampu. Apa yang ia mampu lakukan mungkin jiwanya menginginkannya dan mungkin tidak menginginkannya karena malas dan meremehkan, atau karena adanya penghalang dan sebagainya. Apa yang diinginkannya mungkin ia lakukan dan mungkin tidak dilakukannya. Apa yang dilakukannya mungkin ia tegakkan dengan syarat-syarat keikhlasan dan mungkin tidak. Apa yang ditegakkannya dengan syarat-syarat keikhlasan mungkin ia tegakkan dengan kesempurnaan mengikuti (sunnah) dan mungkin tidak. Apa yang ditegakkannya dengan mengikuti (sunnah) mungkin ia tetap di atasnya dan mungkin hatinya dialihkan darinya. Semua ini terjadi dan berlaku pada makhluk, ada yang sedikit dan ada yang banyak.
Tidak ada dalam tabiat hamba petunjuk kepada hal itu, bahkan jika ia diserahkan kepada tabiatnya, maka ia akan terhalang dari semua itu. Inilah “irkas” (kemunduran) yang Allah jadikan sebagai hukuman bagi orang-orang munafik karena dosa-dosa mereka, maka Allah mengembalikan mereka kepada tabiat mereka dan apa yang diciptakan atas jiwa-jiwa mereka berupa kebodohan dan kezaliman.
Rabb Tabaraka wa Ta’ala berada di atas jalan yang lurus dalam takdir dan keputusan-Nya, larangan dan perintah-Nya. Maka Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus dengan karunia dan rahmat-Nya, dan menjadikan petunjuk di tempat yang layak. Dan Dia memalingkan siapa yang Dia kehendaki dari jalan-Nya yang lurus dengan keadilan dan hikmah-Nya, karena tidak layaknya tempat itu. Dan itu adalah konsekuensi dari jalan-Nya yang lurus yang Dia berada di atasnya.
Ketika hari kiamat tiba, Dia memasang untuk makhluk-Nya jalan yang lurus yang mengantarkan mereka kepada-Nya. Maka Dia berada di atas jalan yang lurus. Dan Dia memasang untuk hamba-hamba-Nya dari perintah-Nya jalan yang lurus, Dia mengajak mereka semua kepadanya sebagai hujjah dari-Nya dan keadilan. Dan Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki di antara mereka untuk menempuhnya sebagai nikmat dari-Nya dan karunia. Dan Dia tidak keluar dengan keadilan ini dan karunia ini dari jalan-Nya yang lurus yang Dia berada di atasnya.
Ketika hari pertemuan dengan-Nya tiba, Dia memasang untuk makhluk-Nya jalan yang lurus yang mengantarkan mereka ke surga-Nya. Kemudian Dia memalingkan darinya orang yang telah Dia palingkan di dunia, dan menegakkan di atasnya orang yang telah Dia tegakkan di dunia. Cahaya yang nyata berjalan di hadapan mereka dan di sebelah kanan mereka dalam kegelapan mahsyar. Dan Dia menjaga cahaya mereka hingga mereka melewatinya sebagaimana Dia menjaga iman mereka hingga mereka bertemu dengan-Nya. Dan Dia memadamkan cahaya orang-orang munafik ketika mereka sangat membutuhkannya, sebagaimana Dia memadamkannya dari hati mereka di dunia.
Dan Dia menegakkan amal-amal orang yang bermaksiat di kedua sisi shirath sebagai pengait dan duri yang menyambar mereka sebagaimana yang menyambar mereka di dunia dari istiqamah di atasnya. Dan Dia menjadikan kekuatan perjalanan dan kecepatan mereka sesuai dengan kekuatan perjalanan dan kecepatan mereka di dunia. Dan Dia memasang untuk orang-orang beriman telaga yang mereka minum darinya sesuai dengan minuman mereka dari syariat-Nya di dunia. Dan Dia haramkan minum darinya di sana orang yang diharamkan minum dari syariat dan agama-Nya di sini.
Maka lihatlah akhirat seakan-akan dengan mata kepala, dan renungkanlah hikmah Allah Subhanahu di kedua negeri, maka kamu akan mengetahui dengan pengetahuan yang yakin tanpa keraguan: bahwa dunia adalah ladang akhirat, judulnya, dan contohnya. Dan bahwa kedudukan manusia di akhirat dalam kebahagiaan dan kesengsaraan sesuai dengan kedudukan mereka di dunia ini dalam iman dan amal saleh serta lawannya. Dan dengan Allah-lah taufik.
Maka di antara hukuman dosa-dosa yang paling besar adalah keluar dari jalan yang lurus di dunia dan akhirat.
Karena dosa-dosa berbeda-beda dalam tingkatan dan kerusakannya, maka berbeda pulalah hukuman-hukumannya di dunia dan akhirat sesuai dengan perbedaannya.
Kami akan menyebutkan tentangnya dengan pertolongan Allah dan baik taufik-Nya suatu pasal yang ringkas namun menyeluruh. Kami katakan:
Asalnya ada dua jenis: meninggalkan yang diperintahkan, dan melakukan yang dilarang. Keduanya adalah dosa yang Allah Subhanahu menguji dengannya bapak jin dan manusia (Iblis dan Adam).
Keduanya terbagi berdasarkan tempatnya kepada: yang zahir pada anggota badan, dan yang batin dalam hati.
Dan berdasarkan yang berkaitan dengannya kepada: hak Allah dan hak makhluk-Nya.
Meskipun setiap hak makhluk-Nya mengandung hak-Nya, akan tetapi disebut hak makhluk karena ia wajib dengan tuntutan mereka dan gugur dengan gugurnya mereka.
Kemudian dosa-dosa ini terbagi menjadi empat bagian: malaki (seperti malaikat), syaithani (seperti syaitan), sabui (seperti binatang buas), dan bahimi (seperti binatang ternak). Dan tidak keluar dari itu.
Dosa-Dosa Malaki: Dosa-dosa malaki adalah mengambil apa yang tidak layak baginya dari sifat-sifat rububiyyah, seperti keagungan, kesombongan, kekuasaan, pemaksaan, ketinggian, memperbudak makhluk, dan semacamnya.
Masuk dalam ini adalah syirik kepada Allah Ta’ala, yaitu dua jenis: syirik kepada-Nya dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya dengan menjadikan tuhan-tuhan lain bersama-Nya, dan syirik kepada-Nya dalam bermuamalah dengan-Nya. Yang kedua ini mungkin tidak mewajibkan masuk neraka, meskipun menggugurkan amal yang disyiriki di dalamnya dengan Allah selain-Nya.
Bagian ini adalah jenis dosa yang paling besar, dan masuk di dalamnya adalah berkata tentang Allah tanpa ilmu dalam penciptaan dan perintah-Nya. Barangsiapa termasuk ahli dosa-dosa ini, maka ia telah menentang Allah Subhanahu dalam rububiyyah dan kerajaan-Nya, dan menjadikan bagi-Nya sekutu. Ini adalah dosa yang paling besar di sisi Allah, dan tidak bermanfaat bersamanya amal apapun.
Dosa-Dosa Syaithani: Adapun yang syaithani: yaitu menyerupai syaitan dalam hasad, aniaya, tipu daya, dendam, penipuan, makar, menyuruh kepada maksiat Allah dan memperindahnya, melarang dari ketaatan kepada-Nya dan memburukkannya, berbuat bid’ah dalam agama-Nya, dan mengajak kepada bid’ah dan kesesatan.
Jenis ini menempati urutan kedua setelah jenis pertama dalam kerusakan, meskipun kerusakannya di bawahnya.
Dosa-Dosa Sabui: Adapun yang sabui: yaitu dosa-dosa permusuhan, kemarahan, menumpahkan darah, menerkam orang-orang lemah dan yang tidak berdaya. Dari dosa ini lahir berbagai jenis menyakiti jenis manusia dan berani berbuat zalim dan melampaui batas.
Dosa-Dosa Bahimi: Adapun dosa-dosa bahimi: seperti rakus dan tamak untuk memenuhi syahwat perut dan kemaluan. Dari dosa ini lahir zina, pencurian, memakan harta anak yatim, bakhil, kikir, pengecut, gelisah, dan lain-lain.
Bagian ini adalah dosa terbanyak dari makhluk karena ketidakmampuan mereka terhadap dosa-dosa sabui dan malaki. Dari dosa inilah mereka masuk ke bagian-bagian lainnya, maka dosa ini menyeret mereka kepadanya dengan tali kekang. Mereka masuk darinya ke dosa-dosa sabui, kemudian ke syaithani, kemudian menentang rububiyyah dan syirik dalam keesaan. Barangsiapa merenungkan ini dengan sebenar-benar renungan, akan jelas baginya bahwa dosa-dosa adalah pintu gerbang syirik, kekafiran, dan menentang Allah dalam rububiyyah-Nya.
Al-Quran, Sunnah, ijma’ sahabat dan tabiin setelah mereka serta para imam telah menunjukkan bahwa di antara dosa-dosa ada yang besar dan ada yang kecil.
Allah Ta’ala berfirman: “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara apa yang dilarang atasmu, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia.”
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji kecuali kesalahan-kesalahan kecil.”
Dalam hadits sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat, Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa di antara ketiganya jika dosa-dosa besar dijauhi.”
Amal-amal penghapus dosa ini memiliki tiga tingkatan:
Pertama: Tidak mampu menghapus dosa-dosa kecil karena lemahnya amal dan lemahnya keikhlasan di dalamnya serta tidak menunaikan hak-haknya, seperti obat yang lemah yang tidak mampu melawan penyakit secara kuantitas maupun kualitas.
Kedua: Melawan dosa-dosa kecil dan tidak naik untuk menghapus sesuatu dari dosa-dosa besar.
Ketiga: Mampu menghapus dosa-dosa kecil dan masih tersisa kekuatan di dalamnya untuk menghapus sebagian dosa-dosa besar.
Renungkanlah ini karena akan menghilangkan darimu kesulitan-kesulitan yang banyak.
Dalam dua kitab Sahih diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan.” Ditanyakan: “Apakah itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan haq, memakan harta anak yatim, memakan riba, lari dari medan perang, dan menuduh zina terhadap wanita-wanita baik-baik yang lengah lagi beriman.”
Dalam dua kitab Sahih diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau ditanya: “Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?” Beliau menjawab: “Bahwa engkau menjadikan sekutu bagi Allah padahal Dia yang menciptakanmu.” Ditanyakan: “Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Bahwa engkau membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.” Ditanyakan: “Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Bahwa engkau berzina dengan istri tetanggamu.” Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat yang membenarkannya: “Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan lain bersama Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah melainkan dengan haq dan tidak berzina” (Surat Al-Furqan: 68).
Orang-orang berbeda pendapat tentang dosa-dosa besar: apakah ada jumlah yang membatasinya? Ada dua pendapat.
Kemudian orang-orang yang berpendapat bahwa dosa besar itu terbatas, mereka berbeda pendapat tentang jumlahnya. Abdullah bin Mas’ud berkata: “Empat.” Abdullah bin Umar berkata: “Tujuh.” Abdullah bin Amr bin Al-Ash berkata: “Sembilan.” Yang lain berkata: “Sebelas.” Yang lain lagi berkata: “Tujuh puluh.”
Abu Thalib Al-Makki berkata: “Aku mengumpulkannya dari perkataan para sahabat, maka aku dapati: Empat yang berkaitan dengan hati, yaitu: menyekutukan Allah, bersikeras dalam kemaksiatan, putus asa dari rahmat Allah, dan merasa aman dari tipu daya Allah.
Empat yang berkaitan dengan lisan, yaitu: kesaksian palsu, menuduh zina terhadap wanita-wanita baik-baik, sumpah palsu, dan sihir.
Tiga yang berkaitan dengan perut: minum khamar, memakan harta anak yatim, dan memakan riba.
Dua yang berkaitan dengan kemaluan, yaitu: zina dan homoseksual.
Dua yang berkaitan dengan kedua tangan, yaitu: pembunuhan dan pencurian.
Satu yang berkaitan dengan kedua kaki, yaitu: lari dari medan perang.
Satu yang berkaitan dengan seluruh tubuh, yaitu: durhaka kepada kedua orang tua.”
Orang-orang yang tidak membatasinya dengan jumlah, di antara mereka ada yang berkata: “Semua yang dilarang Allah dalam Al-Qur’an adalah dosa besar, dan yang dilarang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dosa kecil.”
Sekelompok orang berkata: “Apa yang disertai dengan ancaman berupa laknat atau murka atau hukuman adalah dosa besar, dan yang tidak disertai dengan sesuatu dari itu adalah dosa kecil.”
Dikatakan: “Setiap yang dikenakan hukuman had di dunia atau ancaman di akhirat adalah dosa besar, dan yang tidak dikenakan hal itu adalah dosa kecil.”
Dikatakan: “Setiap yang disepakati semua syariat untuk mengharamkannya adalah termasuk dosa besar, dan yang pengharamannya hanya dalam syariat tertentu adalah dosa kecil.”
Dikatakan: “Setiap yang Allah atau Rasul-Nya melaknat pelakunya adalah dosa besar.”
Dikatakan: “Setiap yang disebutkan dari awal Surat An-Nisa hingga firman-Nya: ‘Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kepadamu, niscaya Kami hapus dari kamu kesalahan-kesalahanmu'” (Surat An-Nisa: 31).
Orang-Orang yang Tidak Membagi Dosa Menjadi Besar dan Kecil
Orang-orang yang tidak membagi dosa menjadi besar dan kecil berkata: “Semua dosa dalam hubungannya dengan keberanian melawan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bermaksiat kepada-Nya, dan menentang perintah-Nya adalah dosa besar. Memandang kepada orang yang mendurhakai perintah-Nya dan melanggar larangan-Nya, mengharuskan bahwa semua dosa adalah besar dan sama dalam kerusakan ini.”
Mereka berkata: “Yang menjelaskan hal ini adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak dirugikan oleh dosa-dosa dan tidak terpengaruh olehnya, maka sebagian dosa tidak lebih besar dari sebagian yang lain dalam hubungannya dengan-Nya. Yang tersisa hanyalah sekedar bermaksiat dan menentang-Nya, dan tidak ada perbedaan dalam hal itu antara satu dosa dengan dosa lainnya.”
Mereka berkata: “Yang menunjukkan hal ini adalah bahwa kerusakan dosa-dosa itu mengikuti keberanian dan melompati hak Rabb Tabaraka wa Ta’ala. Untuk itu, jika seseorang minum khamar atau menyetubuhi kemaluan yang haram, sedang dia tidak meyakini keharamannya, maka dia telah menggabungkan antara kebodohan dan kerusakan melakukan yang haram. Seandainya yang melakukan itu adalah orang yang meyakini keharamannya, maka dia telah melakukan salah satu dari dua kerusakan, dan dia yang layak mendapat hukuman, bukan yang pertama. Ini menunjukkan bahwa kerusakan dosa itu mengikuti keberanian dan melompati.”
Mereka berkata: “Yang menunjukkan hal ini adalah bahwa kemaksiatan mengandung meremehkan perintah dan larangan yang ditaati serta melanggar kehormatan-Nya, dan tidak ada perbedaan dalam hal ini antara satu dosa dengan dosa lainnya.”
Mereka berkata: “Maka janganlah hamba memandang kepada besar kecilnya dosa pada dirinya sendiri, tetapi hendaklah dia memandang kepada keagungan Dzat yang dia durhaki dan kebesaran-Nya, serta pelanggaran kehormatan-Nya dengan kemaksiatan. Hal ini tidak berbeda antara satu kemaksiatan dengan kemaksiatan lainnya. Sesungguhnya seorang raja yang ditaati lagi agung, jika dia memerintahkan salah satu budaknya untuk pergi dalam urusan penting ke negeri yang jauh, dan memerintahkan yang lain untuk pergi dalam kesibukannya ke samping rumah, lalu keduanya mendurhakai dan menentang perintahnya, maka keduanya sama dalam kebencian dan kejatuhan dari matanya.”
Mereka berkata: “Untuk itu, kemaksiatan orang yang meninggalkan haji dari Makkah dan meninggalkan Jumat padahal dia tetangga masjid, lebih buruk di sisi Allah daripada kemaksiatan orang yang meninggalkan dari tempat yang jauh. Kewajiban kepada yang ini lebih banyak dari kewajiban kepada yang itu. Seandainya bersama seseorang ada dua ratus dirham dan dia menahan zakatnya, dan bersama yang lain ada dua ratus ribu dirham lalu dia menahan zakatnya, maka keduanya sama dalam menahan apa yang wajib atas masing-masing dari mereka. Tidak jauh kesamaan keduanya dalam hukuman, jika masing-masing bersikeras menahan zakat hartanya, sedikit atau banyak.”
Pasal: Kebenaran dalam Masalah Ini
Membuka tabir dari masalah ini adalah dengan mengatakan:
Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mengutus rasul-rasul-Nya, menurunkan kitab-kitab-Nya, dan menciptakan langit dan bumi agar Dia dikenal, disembah, dan diesakan, serta agar agama seluruhnya untuk Allah, ketaatan seluruhnya untuk-Nya, dan dakwah untuk-Nya. Sebagaimana firman-Nya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (Surat Adz-Dzariyat: 56).
Dan firman-Nya: “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan haq” (Surat Al-Hijr: 85).
Dan firman-Nya: “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan dari bumi seperti itu (pula). Perintah Allah berlaku di antara keduanya agar kamu mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan bahwa Allah benar-benar meliputi segala sesuatu dengan ilmu-Nya” (Surat At-Talaq: 12).
Dan firman-Nya: “Allah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan bulan haram, had-ya, qalaid. Demikian (agar kamu tahu) bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (Surat Al-Maidah: 97).
Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan bahwa tujuan penciptaan dan perintah adalah: agar Dia dikenal dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, disembah sendirian tanpa disekutukan dengan-Nya, dan agar manusia menegakkan keadilan, yaitu keadilan yang dengannya langit dan bumi tegak. Sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan” (Surat Al-Hadid: 25).
Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan bahwa Dia mengutus rasul-rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya agar manusia menegakkan keadilan. Di antara keadilan yang terbesar adalah tauhid, yaitu puncak keadilan dan tiang penyangganya. Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar. Syirik adalah kezaliman yang paling zalim, dan tauhid adalah keadilan yang paling adil. Maka apa yang paling keras bertentangan dengan tujuan ini adalah dosa besar yang terbesar, dan perbedaan tingkatannya sesuai dengan pertentangannya dengannya. Apa yang paling sesuai dengan tujuan ini adalah kewajiban yang paling wajib dan ketaatan yang paling fardhu.
Maka perhatikanlah dasar ini dengan sebenar-benar perhatian, dan pertimbangkanlah rincian-rinciannya, niscaya engkau mengetahui dengannya hikmah Hakim yang paling bijaksana dan Maha Mengetahui yang paling alim dalam apa yang Dia wajibkan kepada hamba-hamba-Nya dan Dia haramkan kepada mereka, serta perbedaan tingkatan ketaatan dan kemaksiatan.
Ketika syirik kepada Allah bertentangan dengan hakikat tujuan ini, maka ia menjadi dosa besar yang terbesar secara mutlak. Allah mengharamkan surga bagi setiap musyrik, dan menghalalkan darah, harta, dan keluarganya bagi ahli tauhid, serta mereka boleh menjadikan mereka budak karena mereka meninggalkan penghambaan kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mau menerima amal dari musyrik atau menerima syafaat untuknya atau mengabulkan doanya di akhirat atau mengampuni kesalahannya. Sesungguhnya musyrik adalah orang yang paling bodoh tentang Allah, karena dia menjadikan dari makhluk-Nya sebagai sekutu bagi-Nya, dan itu adalah puncak kebodohan tentang-Nya, sebagaimana ia adalah puncak kezaliman darinya, meskipun musyrik tidak menzalimi Rabbnya tetapi hanya menzalimi dirinya sendiri.
Muncul satu masalah yaitu: bahwa musyrik itu tujuannya hanya mengagungkan kemuliaan Rabb Tabaraka wa Ta’ala, dan bahwa karena keagungan-Nya tidak pantas masuk kepada-Nya kecuali dengan perantara dan pemberi syafaat seperti keadaan raja-raja. Maka musyrik tidak bermaksud meremehkan kemuliaan ketuhanan, tetapi bermaksud mengagungkan-Nya. Dia berkata: “Aku hanya menyembah perantara-perantara ini agar mereka mendekatkanku kepada-Nya, menunjukiku, dan memasukkanku kepada-Nya. Dialah yang dituju dan ini adalah wasilah dan pemberi syafaat.” Mengapa kadar ini menjadi sebab murka dan kemurkaan-Nya Tabaraka wa Ta’ala, dan menjadi sebab kekalnya di neraka, serta menjadi sebab halal menumpahkan darah pengikutnya dan menghalalkan kehormatan dan harta mereka?
Berdasarkan hal ini muncul pertanyaan lain, yaitu: bolehkah Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan bagi hamba-hamba-Nya untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan pemberi syafaat dan perantara, sehingga pengharaman ini hanya dipahami dari syariat? Ataukah hal itu buruk menurut fitrah dan akal, sehingga tidak mungkin ada syariat yang membawanya? Bahkan syariat-syariat datang dengan menetapkan apa yang ada dalam fitrah dan akal tentang keburukannya yang lebih buruk dari segala keburukan? Dan apa sebab ia tidak diampuni berbeda dengan dosa-dosa lainnya? Sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (Surat An-Nisa: 48).
Maka perhatikanlah pertanyaan ini, kumpulkanlah hati dan pikiranmu untuk menjawabnya dan jangan meremehkannya. Karena dengannya terjadi perbedaan antara orang-orang musyrik dan orang-orang yang bertauhid, orang-orang yang mengetahui Allah dan orang-orang yang tidak mengetahui-Nya, ahli surga dan ahli neraka.
Dua Macam Syirik
Maka kami katakan, dengan taufik dan dukungan Allah, dan dari-Nya kami meminta pertolongan dan bimbingan. Sesungguhnya barang siapa yang Allah beri petunjuk maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Dia berikan dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Dia cegah.
Syirik ada dua macam:
Syirik yang berkaitan dengan dzat Yang disembah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya.
Dan syirik dalam menyembah-Nya dan bermuamalah dengan-Nya, meskipun pelakunya meyakini bahwa Dia Subhanahu wa Ta’ala tidak ada sekutu bagi-Nya dalam dzat-Nya, tidak dalam sifat-sifat-Nya, dan tidak dalam perbuatan-perbuatan-Nya.
Dan syirik yang pertama ada dua jenis:
Pertama: Syirik Ta’thil (Penolakan), yaitu jenis syirik yang paling buruk, seperti syiriknya Fir’aun ketika dia berkata: “Dan apakah Tuhan semesta alam itu?” (Surat Asy-Syu’ara: 23).
Dan Allah Ta’ala berfirman mengabarkan tentang Fir’aun bahwa dia berkata kepada Haman: “Dan berkata Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah untukku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke jalan-jalan (menuju) langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta” (Surat Ghafir: 36-37).
Maka syirik dan ta’thil saling berkaitan: setiap orang musyrik adalah mu’aththil (menolak) dan setiap mu’aththil adalah musyrik. Namun syirik tidak mengharuskan adanya ta’thil secara mutlak, bahkan orang musyrik bisa mengakui Sang Pencipta Subhanahu wa Ta’ala dan sifat-sifat-Nya, tetapi dia menolak hak tauhid.
Ta’thil (Penolakan)
Asal syirik dan kaidah yang menjadi sandaran syirik adalah ta’thil, yang terbagi menjadi tiga bagian:
- Menolak makhluk dari Pencipta dan Khaliq-nya
- Menolak Sang Pencipta Subhanahu dari kesempurnaan-Nya yang suci, dengan menolak nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya
- Menolak muamalah dengan-Nya dari apa yang wajib atas hamba berupa hakikat tauhid
Dan termasuk dalam hal ini adalah syiriknya kelompok ahli wahdat al-wujud (kesatuan wujud) yang mengatakan: “Tidak ada yang namanya Khaliq dan makhluq, tidak ada dua hal yang berbeda, bahkan Yang Haq yang Mahasuci adalah identik dengan makhluk yang serupa.” Dan termasuk juga syiriknya kaum mulhid (atheis) yang mengatakan bahwa alam ini qadim (abadi) dan kekal, bahwa alam tidak pernah tidak ada sama sekali, bahkan selalu ada dan akan terus ada, dan seluruh kejadian menurut mereka bersandar pada sebab-sebab dan perantara-perantara yang mewujudkannya, dan mereka menyebutnya dengan ‘uqul (akal-akal) dan nufus (jiwa-jiwa). Dan termasuk juga syiriknya orang yang menolak nama-nama Allah Ta’ala, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya dari kalangan ghulat Jahmiyyah dan Qaramithah, mereka tidak menetapkan bagi-Nya nama dan sifat, bahkan mereka menjadikan makhluk lebih sempurna dari-Nya, padahal kesempurnaan dzat itu dengan nama-nama dan sifat-sifatnya.
[Bab: Syirik Orang yang Menjadikan Selain Allah sebagai Tuhan]
Jenis Kedua: Syirik orang yang menjadikan selain Allah sebagai tuhan, namun tidak menolak nama-nama, sifat-sifat dan rububiyyah-Nya, seperti syiriknya orang Nasrani yang menjadikan-Nya tiga, mereka menjadikan Al-Masih sebagai tuhan dan ibunya sebagai tuhan.
Dan termasuk dalam hal ini syiriknya kaum Majusi yang mengatakan bahwa kejadian-kejadian baik disandarkan kepada cahaya, dan kejadian-kejadian buruk disandarkan kepada kegelapan. Dan termasuk juga syiriknya kaum Qadariyyah yang mengatakan bahwa hewan (manusia) adalah yang menciptakan perbuatan-perbuatan dirinya sendiri, dan bahwa perbuatan-perbuatan itu terjadi tanpa kehendak Allah, kekuasaan dan iradah-Nya, karena itulah mereka mirip dengan kaum Majusi.
Dan termasuk dalam hal ini syiriknya orang yang berdebat dengan Ibrahim tentang Tuhannya: “Ketika Ibrahim berkata: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan”” (Surat Al-Baqarah: 258).
Maka orang ini menjadikan dirinya sebagai tandingan Allah, dia menghidupkan dan mematikan menurut anggapannya, sebagaimana Allah menghidupkan dan mematikan. Maka Ibrahim menuntutnya dengan konsekuensi perkataannya bahwa dia harus mampu mendatangkan matahari dari arah selain arah yang Allah datangkan darinya. Dan ini bukanlah perpindahan dalil sebagaimana yang dikira sebagian ahli jadal, tetapi ini adalah tuntutan konsekuensi dari dalil jika memang benar.
Dan termasuk dalam hal ini syiriknya banyak orang yang berbuat syirik dengan bintang-bintang yang tinggi, dan menjadikannya sebagai tuhan-tuhan yang mengatur urusan dunia ini, sebagaimana madzhab kaum musyrik Shabiah dan lainnya.
Dan termasuk juga syiriknya penyembah matahari, penyembah api dan lainnya.
Dan di antara mereka ada yang mengklaim bahwa sesembahannya adalah Tuhan yang sebenarnya, dan di antara mereka ada yang mengklaim bahwa dia adalah yang terbesar di antara tuhan-tuhan, dan di antara mereka ada yang mengklaim bahwa dia adalah tuhan dari sekumpulan tuhan-tuhan, dan bahwa jika dia mengkhususkan ibadah kepadanya dan bertekun kepadanya dan berpaling kepadanya maka dia akan memperhatikannya dan merawatnya. Dan di antara mereka ada yang mengklaim bahwa sesembahan yang lebih rendah akan mendekatkannya kepada sesembahan yang di atasnya, dan yang di atas akan mendekatkannya kepada yang di atasnya lagi, hingga tuhan-tuhan itu mendekatkannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Terkadang perantara-perantara itu banyak dan terkadang sedikit.
Adapun syirik dalam ibadah, maka ia lebih ringan dari syirik ini dan lebih mudah urusannya, karena ia terjadi dari orang yang meyakini bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa tidak ada yang dapat memberi mudarat dan manfaat, tidak ada yang memberi dan mencegah kecuali Allah, dan bahwa tidak ada tuhan selain-Nya dan tidak ada Rabb selain-Nya. Namun dia tidak mengkhususkan Allah dalam muamalah dan penghambaan dirinya, bahkan dia bekerja untuk kepentingan dirinya di suatu waktu, dan untuk mencari dunia di waktu lain, dan untuk mencari kedudukan, derajat dan jabatan di hadapan makhluk di waktu lain. Maka Allah mendapat bagian dari amal dan usahanya, dan dirinya, kepentingannya dan hawa nafsunya mendapat bagian, dan setan mendapat bagian, dan makhluk mendapat bagian. Dan ini adalah keadaan kebanyakan manusia, dan inilah syirik yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentangnya sebagaimana yang diriwayatkan Ibn Hibban dalam Shahih-nya: **”Syirik dalam umat ini lebih samar dari jalan semut.” Mereka bertanya: “Bagaimana kami bisa selamat darinya ya Rasulullah?” Beliau bersabda: “Katakanlah: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu agar aku tidak berbuat syirik kepada-Mu sedang aku mengetahuinya, dan aku memohon ampun kepada-Mu untuk apa yang tidak aku ketahui.””
Maka riya’ seluruhnya adalah syirik. Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”” (Surat Al-Kahf: 110).
Yaitu: sebagaimana Dia adalah Tuhan Yang Esa dan tidak ada tuhan selain-Nya, maka demikian pula seharusnya ibadah hanya untuk-Nya saja. Sebagaimana Dia menyendiri dengan uluhiyyah (ketuhanan), maka wajib Dia disendirian dengan ubudiyyah (penghambaan). Maka amal saleh adalah yang bersih dari riya’ dan terikat dengan sunnah.
Dan termasuk doa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu: “Ya Allah, jadikanlah seluruh amalku saleh dan jadikanlah khalis untuk wajah-Mu, dan janganlah Engkau jadikan bagi seorangpun padanya sesuatu.”
Dan syirik dalam ibadah ini membatalkan pahala amal, dan mungkin akan dihukum karenanya jika amal itu wajib, karena ia menempatkannya pada kedudukan orang yang tidak mengerjakannya, maka dia dihukum karena meninggalkan perintah. Karena Allah Subhanahu hanya memerintahkan untuk beribadah kepada-Nya dengan ibadah yang khalis. Allah Ta’ala berfirman: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus” (Surat Al-Bayyinah: 5).
Maka barangsiapa tidak ikhlas kepada Allah dalam ibadahnya, dia tidak melakukan apa yang diperintahkan kepadanya, bahkan yang dia lakukan adalah sesuatu yang bukan yang diperintahkan, maka tidak sah dan tidak diterima darinya. Dan Allah berfirman: “Aku adalah yang paling tidak membutuhkan syirik dari para sekutu. Maka barangsiapa beramal dengan menyertakan selain-Ku dalam amalnya, maka amal itu untuk yang dia syirikkan bersamaku, dan Aku berlepas diri darinya.”
Dan syirik ini terbagi menjadi yang diampuni dan yang tidak diampuni, yang besar dan yang kecil. Dan jenis pertama terbagi menjadi besar dan yang paling besar, dan tidak ada sesuatupun darinya yang diampuni.
Termasuk darinya adalah syirik kepada Allah dalam kecintaan dan pengagungan: yaitu mencintai makhluk sebagaimana mencintai Allah. Maka ini termasuk syirik yang tidak diampuni Allah, dan inilah syirik yang Allah Subhanahu berfirman tentangnya: “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah” (Surat Al-Baqarah: 165).
Dan para pelaku syirik ini berkata kepada tuhan-tuhan mereka ketika mereka dikumpulkan di neraka Jahim: “Demi Allah, sesungguhnya kami benar-benar dalam kesesatan yang nyata, ketika kami menyamakan kamu dengan Tuhan semesta alam” (Surat Asy-Syu’ara: 97-98).
Dan diketahui bahwa mereka tidak menyamakan tuhan-tuhan itu dengan Allah Subhanahu dalam penciptaan, pemberian rezeki, mematikan, menghidupkan, kepemilikan, dan kekuasaan. Mereka hanya menyamakannya dengan-Nya dalam kecintaan, ta’alluh (penuhanan), tunduk dan merendahkan diri kepadanya. Dan ini adalah puncak kebodohan dan kezaliman. Bagaimana mungkin tanah disamakan dengan Rabb segala rabb? Bagaimana mungkin hamba disamakan dengan Pemilik segala leher? Bagaimana mungkin yang faqir dengan dzatnya, lemah dengan dzatnya, tidak berdaya dengan dzatnya, butuh dengan dzatnya, yang tidak memiliki dari dzatnya kecuali ketiadaan, disamakan dengan Yang Maha Kaya dengan dzat-Nya, Yang Maha Kuasa dengan dzat-Nya, yang kekayaan-Nya, kekuasaan-Nya, kepemilikan-Nya, wujud-Nya, kebaikan-Nya, ilmu-Nya, rahmat-Nya, dan kesempurnaan mutlak-Nya yang sempurna adalah bagian yang melekat pada dzat-Nya?
Maka kezaliman apa yang lebih buruk dari ini? Dan hukum apa yang lebih keras kecurangannya? Di mana dia menyamakan Dzat yang tidak ada bandingan bagi-Nya dengan makhluk-Nya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang, kemudian orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka” (Surat Al-An’am: 1).
Maka orang musyrik menyamakan Dzat yang menciptakan langit dan bumi dan menjadikan gelap dan terang, dengan yang tidak memiliki untuk dirinya sendiri dan orang lain seberat dzarrah pun di langit dan di bumi. Maka betapa buruknya penyamaan ini yang mengandung kezaliman yang paling besar dan paling buruk.
[Bab: Syirik dalam Perbuatan, Perkataan, Kehendak dan Niat]
Dan mengikuti syirik ini adalah syirik kepada Allah Subhanahu dalam perbuatan, perkataan, kehendak, dan niat. Maka syirik dalam perbuatan seperti sujud kepada selain-Nya, thawaf (mengelilingi) selain rumah-Nya, mencukur rambut sebagai penghambaan dan tunduk kepada selain-Nya, mencium batu selain Hajar Aswad yang merupakan tangan kanan Allah di bumi, mencium kuburan dan mengusapnya, sujud kepadanya.
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknat orang yang menjadikan kuburan para nabi dan orang saleh sebagai masjid untuk shalat kepada Allah di dalamnya, bagaimana lagi dengan orang yang menjadikan kuburan sebagai berhala yang dia sembah selain Allah?
Maka dalam Shahihain dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Allah melaknat orang Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid.”
Dan dalam Shahih dari beliau: “Sesungguhnya sejahat-jahat manusia adalah orang yang masih hidup ketika Kiamat datang, dan orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid.”
Dan dalam Shahih juga dari beliau: “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menjadikan kuburan sebagai masjid. Ketahuilah, janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid, karena sesungguhnya aku melarang kalian dari hal itu.”
Dan dalam Musnad Imam Ahmad radhiyallahu ‘anhu dan Shahih Ibn Hibban dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Allah melaknat para wanita peziarah kuburan, dan orang-orang yang membangun masjid dan pelita di atasnya.”
Dan beliau bersabda: “Keras murka Allah terhadap suatu kaum yang menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid.”
Dan Dia berkata: “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian, apabila ada orang saleh yang meninggal dunia di antara mereka, mereka membangun masjid di atas kuburnya dan membuat gambar-gambar di dalamnya. Mereka itulah sejahat-jahat makhluk di sisi Allah pada hari kiamat.”
Demikianlah keadaan orang yang bersujud kepada Allah di dalam masjid yang berada di atas kubur, lalu bagaimana keadaan orang yang bersujud kepada kubur itu sendiri?
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala yang disembah.” Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melindungi sisi tauhid dengan perlindungan yang sangat kuat, hingga beliau melarang shalat sunnah kepada Allah Subhanahu pada waktu terbit matahari dan pada waktu tenggelamnya; agar tidak menjadi jalan (dzari’ah) kepada penyerupaan dengan penyembah matahari yang bersujud kepadanya pada kedua waktu tersebut.
Dan beliau menutup pintu dzari’ah dengan melarang shalat setelah Ashar dan Subuh; karena kedua waktu ini berhubungan dengan dua waktu yang orang-orang musyrik bersujud kepada matahari pada keduanya.
Adapun sujud kepada selain Allah, maka beliau bersabda: “Tidak layak bagi seseorang untuk bersujud kepada siapa pun kecuali kepada Allah.”
Dan kata “tidak layak” dalam perkataan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah untuk sesuatu yang sangat terlarang secara syariat, seperti firman-Nya Ta’ala: “Dan tidak layak bagi Yang Maha Pengasih untuk mengambil anak” (Surat Maryam: 92).
Dan firman-Nya: “Dan tidak layak baginya” (Surat Yasin: 69).
Dan firman-Nya: “Dan Al-Qur’an itu sekali-kali bukan diturunkan oleh setan-setan, dan tidak layak bagi mereka” (Surat Asy-Syu’ara’: 210-211).
Dan firman-Nya: “Tidak layak bagi kami untuk mengambil pelindung-pelindung selain Engkau” (Surat Al-Furqan: 18).
Pasal: Syirik dalam Perkataan
Dan termasuk kesyirikan kepada-Nya Subhanahu adalah syirik dalam perkataan, seperti bersumpah dengan selain-Nya, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Barang siapa bersumpah dengan selain Allah, maka sungguh dia telah berbuat syirik.” Dishahihkan oleh Al-Hakim dan Ibnu Hibban.
Dan termasuk dalam hal itu adalah perkataan seseorang kepada makhluk: “Apa yang Allah kehendaki dan engkau kehendaki,” sebagaimana telah tetap dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa seorang laki-laki berkata kepadanya: “Apa yang Allah kehendaki dan engkau kehendaki,” maka beliau bersabda: “Apakah engkau menjadikan aku sebagai sekutu bagi Allah? Katakanlah: Apa yang Allah kehendaki saja.” Ini padahal Allah telah menetapkan kehendak bagi hamba, seperti firman-Nya: “Bagi siapa di antara kamu yang berkehendak untuk menempuh jalan yang lurus” (Surat At-Takwir: 28).
Lalu bagaimana dengan orang yang berkata: “Aku bertawakal kepada Allah dan kepadamu,” dan “Aku dalam hitungan Allah dan hitunganmu,” dan “Tidak ada bagiku kecuali Allah dan engkau,” dan “Ini dari Allah dan darimu,” dan “Ini dari berkah Allah dan berkahmu,” dan “Allah bagiku di langit dan engkau di bumi.”
Atau dia berkata: “Demi Allah dan kehidupan si fulan,” atau dia berkata dengan nazar untuk Allah dan untuk si fulan, dan “Aku bertaubat kepada Allah dan kepada si fulan,” atau “Aku mengharap Allah dan si fulan,” dan semacam itu.
Maka bandingkanlah antara kata-kata ini dengan perkataan orang yang berkata: “Apa yang Allah kehendaki dan engkau kehendaki.” Kemudian lihatlah mana yang lebih buruk, akan jelas bagimu bahwa orang yang mengucapkannya lebih layak mendapat jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang yang mengucapkan kalimat tersebut, dan bahwa jika dia telah menjadikannya sebagai sekutu bagi Allah dengan kalimat itu, maka orang ini telah menjadikan seseorang yang tidak menyamai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal apa pun – bahkan mungkin dia termasuk musuh-musuhnya – sebagai sekutu bagi Rabb semesta alam. Maka sujud, ibadah, tawakal, inabah (kembali), takwa, khasyah (takut), hasab (sandaran), taubat, nazar, sumpah, tasbih, takbir, tahlil, tahmid, istighfar, mencukur kepala karena tunduk dan beribadah, thawaf mengelilingi Baitullah, dan doa, semua itu adalah hak murni milik Allah, tidak layak dan tidak pantas untuk selain-Nya: baik malaikat yang didekatkan maupun nabi yang diutus.
Dan dalam Musnad Imam Ahmad: “Bahwa seorang laki-laki dibawa kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena telah melakukan suatu dosa, ketika dia berdiri di hadapan beliau, dia berkata: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan tidak bertaubat kepada Muhammad,’ maka beliau bersabda: ‘Dia telah mengenal kebenaran untuk pemiliknya.'”
Pasal: Syirik dalam Keinginan dan Niat-niat
Adapun syirik dalam keinginan dan niat-niat, maka itulah lautan yang tidak ada pantainya, dan sedikit orang yang selamat darinya. Barang siapa yang menginginkan dengan amalnya selain wajah Allah, dan berniat sesuatu selain mendekatkan diri kepada-Nya, dan meminta balasan dari-Nya, maka sungguh dia telah berbuat syirik dalam niat dan keinginannya.
Dan ikhlas adalah: menyucikan untuk Allah dalam perbuatan-perbuatannya, perkataannya, keinginannya, dan niatnya. Dan inilah Hanifiyyah millah Ibrahim yang Allah perintahkan kepada seluruh hamba-hamba-Nya, dan Dia tidak menerima dari seseorang selain itu, dan itulah hakikat Islam.
“Dan barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (Surat Ali Imran: 85).
Dan itulah millah Ibrahim yang barang siapa berpaling darinya maka dia termasuk orang-orang yang paling bodoh.
Jika engkau telah mengetahui mukadimah ini, maka terbukalah bagimu pintu jawaban tentang pertanyaan yang disebutkan, maka kami katakan, dan hanya dari Allah saja kami meminta kebenaran:
Hakikat syirik adalah: menyerupai Pencipta dan menyerupakan makhluk dengan-Nya. Inilah penyerupaan yang sesungguhnya, bukan menetapkan sifat-sifat kesempurnaan yang Allah sifatkan untuk diri-Nya sendiri, dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam mensifatkan-Nya dengannya. Maka terbalik lah perkara bagi orang yang Allah balikkan hatinya dan butakan mata batinnya dan jatuhkan dia karena perbuatannya, dan menjadikan tauhid sebagai penyerupaan dan penyerupaan sebagai pengagungan dan ketaatan. Maka orang musyrik adalah orang yang menyerupakan makhluk dengan Pencipta dalam kekhususan-kekhususan ketuhanan.
Sesungguhnya di antara kekhususan ketuhanan adalah menyendiri dalam memiliki mudarat dan manfaat, pemberian dan pencegahan, dan itu mengharuskan menggantungkan doa, takut, harap, dan tawakal hanya kepada-Nya saja. Maka barang siapa yang menggantungkan itu kepada makhluk, maka sungguh dia telah menyerupakannya dengan Pencipta dan menjadikan yang tidak memiliki untuk dirinya sendiri mudarat dan tidak manfaat, dan tidak kematian dan tidak kehidupan dan tidak kebangkitan, apalagi untuk selainnya – serupa dengan Dzat yang memiliki semua urusan, maka kendali semua perkara berada di tangan-Nya, dan kembaliannya kepada-Nya. Maka apa yang Dia kehendaki terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak terjadi. Tidak ada yang menghalangi apa yang Dia berikan, dan tidak ada yang memberi apa yang Dia cegah. Bahkan jika Dia membukakan untuk hamba-Nya pintu rahmat-Nya, tidak ada yang menahannya, dan jika Dia menahannya darinya, tidak ada yang mengirimkannya kepadanya.
Maka termasuk penyerupaan yang paling buruk adalah: menyerupakan yang lemah dan fakir secara dzat ini dengan Yang Mahakuasa lagi Mahakaya secara dzat.
Dan di antara kekhususan ketuhanan adalah: kesempurnaan mutlak dari segala sisi yang tidak ada kekurangan di dalamnya dari sisi mana pun, dan itu mengharuskan bahwa ibadah seluruhnya hanya untuk-Nya saja, dan pengagungan, penghormatan, rasa takut, doa, harap, inabah, taubat, tawakal, istianah (meminta pertolongan), dan puncak kehinaan bersama puncak kecintaan – semua itu wajib secara akal, syariat, dan fitrah untuk menjadi hanya milik-Nya saja, dan terlarang secara akal, syariat, dan fitrah untuk menjadi milik selain-Nya. Maka barang siapa yang menjadikan sesuatu dari itu untuk selain-Nya, maka sungguh dia telah menyerupakan yang lain itu dengan Dzat yang tidak ada yang serupa dengan-Nya dan tidak ada yang setara dan tidak ada yang menyamai-Nya, dan itu adalah penyerupaan yang paling buruk dan paling batil. Dan karena sangat buruknya dan mengandung puncak kezaliman, Allah Subhanahu memberitahukan kepada hamba-hamba-Nya bahwa Dia tidak akan mengampuninya, meskipun Dia telah menetapkan atas diri-Nya rahmat.
Dan di antara kekhususan ketuhanan adalah: penghambaan yang berdiri atas dua kaki yang tidak bisa tegak tanpa keduanya: puncak kecintaan bersama puncak kehinaan. Inilah kesempurnaan penghambaan, dan berbeda-bedanya kedudukan makhluk di dalamnya sesuai dengan perbedaan mereka dalam kedua pokok ini.
Maka barang siapa yang memberikan cintanya, kehinaannya, dan kepatuhannya kepada selain Allah, maka sungguh dia telah menyerupakannya dengan-Nya dalam hak-Nya yang khalis. Dan ini adalah kemustahilan bahwa ada syariat dari syariat-syariat yang membawanya, dan keburukannya menetap dalam setiap fitrah dan akal, tetapi setan-setan telah mengubah fitrah makhluk dan akal mereka serta merusakkannya atas mereka, dan menarik mereka darinya. Dan tetap atas fitrah yang pertama orang yang telah lebih dahulu baginya dari Allah kebaikan, maka Dia mengutus kepada mereka rasul-rasul-Nya, dan menurunkan kepada mereka kitab-kitab-Nya dengan apa yang sesuai dengan fitrah dan akal mereka, maka mereka bertambah dengan itu cahaya atas cahaya. “Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya siapa yang dikehendaki-Nya” (Surat An-Nur: 35).
Jika ini diketahui, maka di antara kekhususan ketuhanan adalah sujud, maka barang siapa yang bersujud kepada selain-Nya, maka sungguh dia telah menyerupakan makhluk dengan-Nya.
Dan di antaranya: tawakal, maka barang siapa yang bertawakal kepada selain-Nya, maka sungguh dia telah menyerupakannya dengan-Nya.
Dan di antaranya: taubat, maka barang siapa yang bertaubat kepada selain-Nya, maka sungguh dia telah menyerupakannya dengan-Nya.
Dan di antaranya: bersumpah dengan nama-Nya karena mengagungkan dan menghormati-Nya, maka barang siapa yang bersumpah dengan selain-Nya, maka sungguh dia telah menyerupakannya dengan-Nya. Ini dalam sisi penyerupaan.
Adapun dalam sisi penyerupaan dengan-Nya: maka barang siapa yang menyombongkan diri dan berbangga diri dan mengajak manusia untuk memuji dirinya secara berlebihan dalam pujian, pengagungan, kepatuhan, dan harapan, dan menggantungkan hati kepadanya karena takut, harap, berlindung, dan meminta pertolongan, maka sungguh dia telah menyerupai Allah dan merebut ketuhanan dan kekuasaan-Nya, dan dia layak untuk dihinakan dengan penghinaan yang sangat, dan direndahkan dengan kerendahan yang sangat, dan dijadikan di bawah kaki-kaki makhluk-Nya.
Dan dalam Shahih dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Allah ‘azza wa jalla berfirman: ‘Keagungan adalah kain-Ku, dan kesombongan adalah selendang-Ku, maka barang siapa yang merebut salah satu dari keduanya dari-Ku, akan Ku-siksa dia.'”
Dan jika pembuat gambar yang membuat gambar dengan tangannya termasuk orang yang paling keras siksaannya pada hari kiamat karena menyerupai Allah dalam sekedar gambar, maka bagaimana sangkaan tentang penyerupaan dengan Allah dalam ketuhanan dan kekuasaan?
Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang paling keras siksaannya pada hari kiamat adalah para pembuat gambar, dikatakan kepada mereka: ‘Hidupkanlah apa yang kalian ciptakan.'”
Dan dalam Shahihain dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Allah ‘azza wa jalla berfirman: ‘Dan siapa yang lebih zalim daripada orang yang berusaha menciptakan ciptaan seperti ciptaan-Ku, maka hendaklah mereka menciptakan seekor semut, maka hendaklah mereka menciptakan sebutir gandum.'” Maka Dia memberi isyarat dengan semut dan gandum kepada apa yang lebih besar dan lebih agung darinya.
Dan yang dimaksud adalah: bahwa inilah keadaan orang yang menyerupai-Nya dalam membuat suatu gambar, maka bagaimana keadaan orang yang menyerupai-Nya dalam kekhususan ketuhanan dan kekuasaan-Nya? Dan demikian pula orang yang menyerupai-Nya dalam nama yang tidak layak kecuali hanya untuk Allah saja, seperti Raja Diraja, Hakim para Hakim, dan semacamnya.
Dan telah tetap dalam Shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya nama yang paling hina di sisi Allah adalah seorang laki-laki yang dinamakan Syahan Syah – yaitu Raja Diraja – tidak ada raja kecuali Allah.” Dan dalam lafazh: “Laki-laki yang paling membuktikan amarah Allah adalah laki-laki yang dinamakan Malik Al-Amlak (Raja para Raja).”
Maka inilah kebencian Allah dan murka-Nya terhadap orang yang menyerupai-Nya dalam nama yang tidak layak kecuali untuk-Nya. Maka Dia Subhanahu adalah Raja Diraja saja, dan Dia adalah Hakim para Hakim saja. Maka Dia-lah yang menghukumi atas semua hakim, dan memutuskan atas mereka semua, bukan yang lain.
Setelah hal ini menjadi jelas, maka di sini terdapat prinsip besar yang menyingkap rahasia masalah ini, yaitu bahwa dosa yang paling besar di sisi Allah adalah berburuk sangka kepada-Nya. Sebab orang yang berburuk sangka kepada-Nya telah menyangka kepada-Nya hal yang bertentangan dengan kesempurnaan-Nya yang suci, dan menyangka kepada-Nya hal yang bertentangan dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam orang-orang yang berburuk sangka kepada-Nya dengan ancaman yang tidak diberikan kepada selain mereka, sebagaimana firman-Nya:
“Bagi mereka (berlaku) lingkaran yang buruk dan Allah murka kepada mereka dan mengutuk mereka serta menyediakan neraka Jahannam bagi mereka, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al-Fath: 6)
Dan Allah Ta’ala berfirman kepada orang yang mengingkari salah satu sifat-Nya:
“Dan itulah persangkaan kamu yang telah kamu sangkakan terhadap Tuhanmu yang telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Fussilat: 23)
Allah Ta’ala menceritakan tentang kekasih-Nya Ibrahim bahwa dia berkata kepada kaumnya:
“Apakah yang kamu sembah? Apakah kamu hendak menyembah berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan selain Allah? Maka apakah persangkaan kamu tentang Tuhan semesta alam?” (QS. As-Saffat: 85-87)
Maksudnya: Apa sangkaan kalian bahwa Dia akan membalas kalian ketika kalian bertemu dengan-Nya sedangkan kalian telah menyembah selain-Nya? Dan apa yang kalian sangkakan kepada-Nya ketika kalian menyembah selain-Nya bersama dengan-Nya?
Dan apa yang kalian sangkakan tentang nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya dan ketuhanan-Nya berupa kekurangan sehingga hal itu menyebabkan kalian butuh untuk beribadah kepada selain-Nya? Seandainya kalian menyangka kepada-Nya sebagaimana yang pantas bagi-Nya bahwa Dia Maha Mengetahui segala sesuatu, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, bahwa Dia Maha Kaya dari segala sesuatu selain-Nya, dan segala sesuatu selain-Nya adalah faqir kepada-Nya, dan bahwa Dia berdiri dengan keadilan atas makhluk-Nya, dan bahwa Dia sendirian dalam mengatur makhluk-Nya tidak ada yang berpartner dengan-Nya dalam hal itu, dan Dia mengetahui rincian-rincian urusan sehingga tidak ada yang tersembunyi dari-Nya dari makhluk-Nya, dan Dia sendirian yang mencukupi mereka sehingga tidak butuh kepada penolong, dan Dia Maha Pengasih dengan dzat-Nya sehingga tidak butuh dalam rahmat-Nya kepada orang yang meminta belas kasihan kepada-Nya. Dan ini berbeda dengan raja-raja dan para pemimpin lainnya, karena mereka butuh kepada orang yang memberitahukan kepada mereka keadaan rakyat dan kebutuhan-kebutuhan mereka, dan membantu mereka untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka, dan kepada orang yang meminta rahmat dan belas kasihan kepada mereka dengan syafa’at. Maka mereka butuh kepada perantara karena kebutuhan, kelemahan, ketidakmampuan dan keterbatasan ilmu mereka.
Adapun Dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, Maha Kaya dari segala sesuatu, Ar-Rahman Ar-Rahim yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu, maka memasukkan perantara antara-Nya dan makhluk-Nya adalah pengurangan terhadap hak ketuhanan-Nya, keilahian-Nya dan tauhid-Nya, dan itu adalah buruk sangka kepada-Nya. Dan ini mustahil untuk disyariatkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, dan tidak mungkin menurut akal dan fitrah kebolehannya, dan keburukannya sudah menetap dalam akal-akal yang sehat melebihi segala keburukan.
Yang memperjelas hal ini adalah: Bahwa penyembah itu mengagungkan sesembahannya, bertauhid, tunduk dan hina kepada-Nya. Dan Tuhan Ta’ala sendirian-lah yang berhak mendapat pengagungan yang sempurna, kemuliaan, tauhid, ketundukan dan kehinaan. Dan ini adalah hak-Nya yang murni. Maka termasuk kezaliman yang paling buruk adalah memberikan hak-Nya kepada selain-Nya, atau mempersekutukan antara-Nya dan selain-Nya dalam hal itu, apalagi jika yang dijadikan sekutu-Nya dalam hak-Nya adalah hamba dan milik-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“Allah membuat perumpamaan bagi kamu dari diri kamu sendiri. Adakah di antara hamba sahaya yang kamu miliki itu sekutu-sekutu (bagimu) dalam harta yang Kami anugerahkan kepada kamu, lalu kamu sama dengan mereka dalam (harta) itu, kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada diri kamu sendiri? Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang berakal.” (QS. Ar-Rum: 28)
Artinya: Jika salah seorang di antara kalian enggan budaknya menjadi sekutunya dalam rizkinya, maka bagaimana kalian menjadikan bagi-Ku dari hamba-hamba-Ku sekutu dalam hal yang Aku sendirian padanya? Yaitu keilahian yang tidak pantas bagi selain-Ku, dan tidak benar bagi yang lain.
Barangsiapa yang mengklaim hal itu maka dia tidak menghargai-Ku dengan sebenar-benar penghargaan, tidak mengagungkan-Ku dengan sebenar-benar pengagungan, dan tidak meng-esakan-Ku dengan hal yang Aku sendirian padanya tanpa makhluk-Ku. Maka tidak menghargai Allah dengan sebenar-benar penghargaan orang yang menyembah bersama-Nya selain-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah oleh kamu sekalian! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. Mereka tidak menghargai Allah dengan penghargaan yang semestinya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Hajj: 73-74)
Maka tidak menghargai Allah dengan sebenar-benar penghargaan orang yang menyembah bersama-Nya selain-Nya, dari yang tidak mampu menciptakan hewan yang paling lemah dan paling kecil, dan jika lalat merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak mampu mengambilnya kembali dari lalat itu. Dan Allah Ta’ala berfirman:
“Dan mereka tidak menghargai Allah dengan penghargaan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Az-Zumar: 67)
Maka tidak menghargai dengan sebenar-benar penghargaan Dzat yang demikian keadaan dan keagungan-Nya, orang yang mempersekutukan dalam ibadah kepada-Nya orang yang tidak memiliki sesuatu pun dari itu sama sekali, bahkan dia adalah sesuatu yang paling lemah dan paling hina. Maka tidak menghargai Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa dengan sebenar-benar penghargaan orang yang mempersekutukan dengan-Nya yang lemah lagi hina.
Demikian juga tidak menghargai-Nya dengan sebenar-benar penghargaan orang yang berkata: Bahwa Dia tidak mengutus kepada makhluk-Nya seorang rasul pun, dan tidak menurunkan kitab, bahkan menisbatkan kepada-Nya hal yang tidak layak bagi-Nya dan tidak baik dari-Nya, yaitu mengabaikan makhluk-Nya dan menyia-nyiakan mereka serta membiarkan mereka sia-sia, dan menciptakan mereka dengan sia-sia dan main-main. Dan tidak menghargai-Nya dengan sebenar-benar penghargaan orang yang menafikan hakikat nama-nama-Nya yang husna dan sifat-sifat-Nya yang tinggi, maka menafikan pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, kehendak-Nya, pilihan-Nya, ketinggian-Nya di atas makhluk-Nya, kalam-Nya dan pembicaraan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari makhluk-Nya dengan apa yang diinginkan-Nya, atau menafikan umum kuasa-Nya dan kaitannya dengan perbuatan hamba-hamba-Nya dari ketaatan dan kemaksiatan mereka, lalu mengeluarkannya dari kuasa-Nya, kehendak-Nya dan penciptaan-Nya, dan menjadikan mereka menciptakan untuk diri mereka sendiri apa yang mereka kehendaki tanpa kehendak Tuhan, maka akan ada dalam kerajaan-Nya apa yang tidak dikehendaki-Nya, dan Dia menghendaki apa yang tidak terjadi. Maha Tinggi Allah dari perkataan orang-orang yang menyerupai Majusi dengan ketinggian yang besar.
Demikian juga tidak menghargai-Nya dengan sebenar-benar penghargaan orang yang berkata: Bahwa Dia menghukum hamba-Nya atas apa yang tidak dikerjakan hamba, dan hamba tidak punya kuasa atasnya, dan tidak ada pengaruhnya sama sekali, bahkan itu adalah perbuatan Tuhan sendiri Jalla Jalaluhu, maka Dia menghukum hamba-Nya atas perbuatan-Nya sendiri Subhanahu yang memaksa hamba untuk melakukannya. Dan pemaksaan-Nya terhadap perbuatan lebih besar dari paksaan makhluk terhadap makhluk. Dan jika sudah menetap dalam fitrah dan akal bahwa tuan yang memaksa hambanya melakukan suatu perbuatan, atau memaksanya kemudian menghukumnya atas perbuatan itu adalah buruk, maka bagaimana Yang Maha Adil di antara yang adil, Yang Maha Bijaksana di antara yang bijaksana, dan Yang Maha Penyayang di antara yang penyayang memaksa hamba melakukan perbuatan yang tidak ada campur tangan hamba di dalamnya dan tidak ada pengaruhnya, dan tidak terjadi dengan kehendaknya, bahkan bukan perbuatannya sama sekali, kemudian menghukumnya dengan hukuman abadi? Maha Tinggi Allah dari itu dengan ketinggian yang besar, dan perkataan mereka ini lebih buruk dari perkataan kaum Majusi. Dan kedua golongan ini tidak menghargai Allah dengan sebenar-benar penghargaan.
Demikian juga tidak menghargai-Nya dengan sebenar-benar penghargaan orang yang tidak memelihara-Nya dari bau busuk, toilet, dan tempat yang tidak disukai untuk disebut, bahkan menempatkan-Nya di setiap tempat, padahal memelihara-Nya dari ‘Arsy-Nya untuk beristiwa di atasnya:
“Kepada-Nya naik perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.” (QS. Fatir: 10)
Dan naik malaikat dan ruh kepada-Nya, dan turun dari sisi-Nya:
“Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya.” (QS. As-Sajdah: 5)
Maka memelihara-Nya dari beristiwa di atas singgasana kerajaan, kemudian menempatkan-Nya di setiap tempat yang manusia, bahkan selain manusia dari hewan enggan berada di dalamnya.
Dan tidak menghargai Allah dengan sebenar-benar penghargaan orang yang menafikan hakikat cinta-Nya, rahmat-Nya, kasih sayang-Nya, ridha-Nya, murka-Nya dan kebencian-Nya, dan tidak pula orang yang menafikan hakikat hikmah-Nya yang merupakan tujuan-tujuan terpuji yang dimaksudkan dengan perbuatan-Nya, dan tidak pula orang yang menafikan hakikat perbuatan-Nya, dan tidak menjadikan bagi-Nya perbuatan ikhtiyari yang berdiri dengan-Nya, bahkan perbuatan-Nya adalah maf’ulat yang terpisah dari-Nya, maka menafikan hakikat kedatangan-Nya, datang-Nya, istiwa-Nya di atas ‘Arsy-Nya, pembicaraan-Nya dengan Musa dari sisi bukit Thur, dan kedatangan-Nya pada hari kiamat untuk memutuskan perkara di antara hamba-hamba-Nya dengan diri-Nya sendiri, dan lain-lain dari perbuatan-perbuatan-Nya dan sifat-sifat kesempurnaan-Nya, yang mereka nafikan dan mengklaim bahwa dengan menafikannya mereka telah menghargai-Nya dengan sebenar-benar penghargaan.
Demikian juga tidak menghargai-Nya dengan sebenar-benar penghargaan orang yang menjadikan bagi-Nya istri dan anak, atau menjadikan-Nya Subhanahu bersemayam dalam semua makhluk-Nya, atau menjadikan-Nya ‘ain (hakikat) wujud ini.
Demikian juga tidak menghargai-Nya dengan sebenar-benar penghargaan orang yang berkata: Bahwa Dia mengangkat musuh-musuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Ahlul Bait-nya dan memuliakan mereka, dan menjadikan pada mereka kerajaan, khilafah dan kemuliaan, dan merendahkan wali-wali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Ahlul Bait-nya serta menghinakan dan mempermalukan mereka dan menimpakan kehinaan kepada mereka di mana saja mereka ditemukan. Dan ini mengandung puncak celaan terhadap Tuhan. Maha Tinggi Allah dari perkataan kaum Rafidhah dengan ketinggian yang besar.
Dan perkataan ini diambil dari perkataan Yahudi dan Nasrani tentang Tuhan semesta alam bahwa Dia mengutus raja yang zalim, lalu dia mengklaim kenabian untuk dirinya sendiri, dan berdusta atas Allah, dan tinggal dalam waktu yang lama berdusta atas Allah setiap saat, dan berkata: “Allah berfirman begini, memerintahkan begini, dan melarang begini,” menasakh syariat nabi-nabi dan rasul-rasul-Nya, dan menghalalkan darah pengikut-pengikut mereka, harta dan kehormatan mereka, dan berkata: “Allah menghalalkan itu bagi-ku,” dan Tuhan Ta’ala menampakkan, mendukung, memuliakan, dan memuliakannya, dan mengabulkan doa-doanya, dan memungkinkannya mengalahkan orang yang menentangnya, dan menegakkan dalil-dalil atas kebenarannya, dan tidak ada yang memusuhinya kecuali dia menang atasnya, maka membenarkannya dengan perkataan, perbuatan dan penetapan-Nya, dan mengadakan dalil-dalil pembenaran-Nya satu demi satu.
Dan diketahui bahwa ini mengandung celaan dan kritik yang paling besar terhadap Tuhan Subhanahu wa Ta’ala, ilmu-Nya, hikmah-Nya, rahmat-Nya, dan ketuhanan-Nya. Maha Tinggi Allah dari perkataan orang-orang yang mengingkari dengan ketinggian yang besar.
Maka bandingkan antara perkataan mereka ini dengan perkataan saudara-saudara mereka dari kaum Rafidhah, niscaya kamu akan mendapati kedua perkataan sebagaimana kata penyair:
“Dua orang yang menyusu dari puting susu ibu yang sama, mereka berbagi dengan hitam pekat yang gelap, tidak akan berpisah.”
Demikian juga tidak menghargai-Nya dengan sebenar-benar penghargaan orang yang berkata bahwa Dia boleh menyiksa wali-wali-Nya, dan orang yang tidak bermaksiat kepada-Nya sekejap mata pun, dan memasukkan mereka ke neraka Jahim, dan memberikan kenikmatan kepada musuh-musuh-Nya dan orang yang tidak beriman kepada-Nya sekejap mata pun, dan memasukkan mereka ke dalam surga, dan bahwa kedua perkara itu sama saja bagi-Nya, dan hanyalah kabar murni yang datang dari-Nya dengan sebaliknya, maka maknanya karena kabar bukan karena menyelisihi hikmah dan keadilan-Nya.
Dan Subhanahu telah mengingkari dalam kitab-Nya terhadap orang yang membolehkan hal itu atas-Nya dengan pengingkaran yang sangat, dan menjadikan hukum seperti itu termasuk hukum yang paling buruk.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena neraka. Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?” (QS. Shad: 27-28)
Dan Allah berfirman:
“Apakah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, (yaitu) sama antara hidup dan matinya? Amat buruklah apa yang mereka tetapkan itu. Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan.” (QS. Al-Jatsiyah: 21-22)
Dan Allah berfirman:
“Patutkah Kami jadikan orang-orang yang berserah diri itu sama dengan orang-orang yang berdosa? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan?” (QS. Al-Qalam: 35-36)
Demikian juga tidak menghargai-Nya dengan sebenar-benar penghargaan orang yang mengklaim bahwa Dia tidak menghidupkan orang mati, dan tidak membangkitkan orang yang di dalam kubur, dan tidak mengumpulkan makhluk-Nya untuk suatu hari di mana Dia membalas orang yang berbuat baik dengan kebaikannya dan orang yang berbuat buruk dengan keburukannya, dan mengambil hak orang yang terzalimi dari orang yang menzaliminya, dan memuliakan orang-orang yang menanggung kesusahan di dunia ini karena-Nya dan dalam ridha-Nya dengan kemuliaan yang paling utama, dan menjelaskan kepada makhluk-Nya apa yang mereka perselisihkan, dan akan diketahui oleh orang-orang kafir bahwa mereka adalah pendusta.
Dan demikian pula, orang yang tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benar pengagungan adalah orang yang menganggap enteng perintah Allah sehingga ia durhaka kepada-Nya, menganggap enteng larangan-Nya sehingga ia melanggarnya, menganggap enteng hak Allah sehingga ia menyia-nyiakannya, menganggap enteng zikir kepada Allah sehingga ia mengabaikannya, hatinya lalai dari Allah, dan hawa nafsunya lebih ia utamakan daripada mencari keridhaan Allah, serta ketaatan kepada makhluk lebih penting baginya daripada ketaatan kepada Allah. Maka Allah hanya mendapat sisa dari hati, perkataan, dan amalnya. Hawa nafsunya yang didahulukan dalam semua itu karena itulah yang penting baginya. Ia menganggap enteng pengawasan Allah terhadapnya dan pengetahuan Allah atas dirinya dengan seluruh hati dan anggota tubuhnya. Ia malu kepada manusia tetapi tidak malu kepada Allah, ia takut kepada manusia tetapi tidak takut kepada Allah. Ia memperlakukan makhluk dengan sebaik-baik perlakuan yang mampu ia lakukan, tetapi jika ia memperlakukan Allah, ia memperlakukan-Nya dengan yang paling remeh dan hina di sisinya. Jika ia berdiri melayani orang yang dicintainya dari kalangan manusia, ia berdiri dengan sungguh-sungguh dan bersemangat serta memberikan nasihat, telah mengosongkan hati dan anggota tubuhnya untuknya, dan mendahulukannya dari banyak kepentingannya sendiri. Namun ketika ia berdiri untuk menunaikan hak Tuhannya – jika takdir membantu – ia berdiri dengan cara yang tidak akan diterima oleh makhluk dari makhluk yang semisal dengannya, dan ia memberikan dari hartanya apa yang ia malu untuk menghadapkan hal itu kepada makhluk yang semisal dengannya. Maka apakah orang yang sifatnya demikian telah mengagungkan Allah dengan sebenar-benar pengagungan?
Dan apakah orang yang menyekutukan antara Allah dengan musuh-Nya dalam hak Allah yang murni berupa pengagungan, penghormatan, ketaatan, kerendahan, kekhusyukan, ketakutan, dan harapan, telah mengagungkan Allah dengan sebenar-benar pengagungan? Seandainya ia menjadikan orang yang paling dekat dengannya sebagai sekutu dalam hal itu, maka itu adalah keberanian dan penyerangan terhadap hak Allah yang murni, penghinaan kepada-Nya, dan penyekutuan antara Allah dengan selain-Nya, padahal hal itu tidak layak dan tidak pantas kecuali untuk Allah semata. Bagaimana lagi jika ia menyekutukan antara Allah dengan makhluk yang paling dibenci oleh Allah, yang paling hina di sisi-Nya, yang paling dimurkai oleh-Nya, yaitu musuh Allah yang sesungguhnya? Sesungguhnya tidak ada yang disembah selain Allah kecuali setan, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Bukankah telah Ku-perintahkan kepadamu wahai anak-anak Adam agar kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu. Dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.” (Surat Yasin: 60-61)
Ketika orang-orang musyrik menyembah malaikat menurut anggapan mereka, sesungguhnya penyembahan mereka jatuh kepada setan-setan, padahal mereka mengira bahwa mereka menyembah malaikat.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan (ingatlah) hari ketika Allah menghimpun mereka semuanya, kemudian Dia berfirman kepada malaikat: ‘Apakah mereka ini menyembah kamu?’ Malaikat menjawab: ‘Maha Suci Engkau, Engkaulah Pelindung kami, bukan mereka. Sebenarnya mereka menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu.'” (Surat Saba’: 40-41)
Maka setan mengajak orang musyrik untuk menyembahnya, dan mengira-ngirakan kepada mereka bahwa ia adalah malaikat. Demikian pula penyembah matahari, bulan, dan bintang-bintang. Itulah yang berbicara kepada mereka dan memenuhi hajat-hajat mereka. Oleh karena itu, ketika matahari terbit, setan menyertainya, maka orang-orang kafir bersujud kepadanya, sehingga sujud mereka jatuh kepada setan. Demikian pula ketika matahari terbenam. Demikian pula orang yang menyembah Al-Masih dan ibunya, ia tidak menyembah keduanya tetapi sesungguhnya ia menyembah setan.
Karena ia mengaku menyembah orang yang memerintahkannya untuk menyembah Al-Masih dan ibunya, yang meridhai penyembahan itu bagi mereka dan memerintahkan mereka dengannya. Dan itulah setan yang terkutuk, bukan hamba Allah dan rasul-Nya. Maka semua ini kembali kepada firman Allah Ta’ala: “Bukankah telah Ku-perintahkan kepadamu wahai anak-anak Adam agar kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu. Dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.”
Maka tidak ada seorang pun dari anak Adam yang menyembah selain Allah, siapa pun dia, kecuali penyembahannya jatuh kepada setan. Penyembah memanfaatkan yang disembah dalam mencapai tujuannya, dan yang disembah memanfaatkan penyembah dalam pengagungannya kepadanya dan penyekutuannya dengan Allah, yang merupakan puncak keridhaan setan. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: “Dan (ingatlah) hari ketika Kami menghimpun mereka semuanya (lalu Kami berfirman): ‘Wahai golongan jin! Kamu telah banyak (menyesatkan) manusia.’ Dan kawan-kawan mereka dari golongan manusia berkata: ‘Ya Tuhan kami, sebagian kami telah dapat kesenangan dari sebagian yang lain, dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami.’ Allah berfirman: ‘Neraka itulah tempat kamu, kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana, Maha Mengetahui.'” (Surat Al-An’am: 128)
Ini adalah isyarat halus tentang rahasia mengapa syirik menjadi dosa besar yang paling besar di sisi Allah, bahwa Allah tidak mengampuninya tanpa taubat darinya, bahwa syirik mewajibkan kekal dalam azab, dan bahwa pengharaman dan keburukannya bukan hanya karena larangan semata, tetapi mustahil bagi Allah subhanahu untuk mensyariatkan bagi hamba-hamba-Nya penyembahan tuhan selain-Nya, sebagaimana mustahil bagi-Nya apa yang bertentangan dengan sifat-sifat kesempurnaan-Nya dan sifat-sifat keagungan-Nya. Bagaimana mungkin disangka bahwa Dzat yang tunggal dalam rububiyyah, uluhiyyah, keagungan, dan pengagungan akan mengizinkan atau meridhai persekutuan dalam hal itu? Maha Tinggi Allah dari hal itu dengan ketinggian yang besar.
Karena syirik adalah hal yang paling bertentangan dengan perintah yang untuk itu Allah menciptakan makhluk dan memerintahkan karena itu, maka syirik menjadi salah satu dosa besar yang paling besar di sisi Allah.
Demikian pula kesombongan dan segala yang mengikutinya sebagaimana telah dijelaskan, karena Allah subhanahu menciptakan makhluk dan menurunkan kitab agar ketaatan hanya untuk-Nya saja, sedangkan syirik dan kesombongan bertentangan dengan hal itu.
Oleh karena itu Allah mengharamkan surga bagi ahli syirik dan kesombongan, maka tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi.
Bab: Berkata tentang Allah Tanpa Ilmu
Yang mengikuti itu dalam besarnya kerusakan adalah: berkata tentang Allah tanpa ilmu dalam nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya, serta mensifat-Nya dengan lawan dari apa yang Dia sifatkan untuk diri-Nya sendiri dan yang disifatkan oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk-Nya. Ini adalah hal yang paling keras pertentangan dan kontradiksinya dengan kesempurnaan Dzat yang memiliki penciptaan dan perintah, dan merupakan celaan terhadap rububiyyah itu sendiri dan kekhususan-kekhususan Rabb. Jika hal itu muncul dari ilmu maka itu adalah permusuhan yang lebih buruk daripada syirik dan lebih besar dosanya di sisi Allah.
Karena orang musyrik yang mengakui sifat-sifat Rabb lebih baik daripada orang yang menafikan dan mengingkari sifat-sifat kesempurnaan-Nya, sebagaimana orang yang mengakui kerajaan seorang raja dan tidak mengingkari kerajaannya dan tidak mengingkari sifat-sifat yang dengannya ia berhak atas kerajaan, tetapi menjadikan sekutu bersamanya dalam beberapa urusan untuk mendekatkannya kepada raja, lebih baik daripada orang yang mengingkari sifat-sifat raja dan apa yang dengannya ia menjadi raja. Dan ini adalah perkara yang menetap dalam seluruh fitrah dan akal.
Mana yang lebih buruk: celaan terhadap sifat-sifat kesempurnaan dan pengingkaran terhadapnya, ataukah penyembahan perantara antara Ma’bud yang haq dengan penyembah, yang mendekatkan diri kepada-Nya dengan menyembah perantara itu karena mengagungkan dan menghormati-Nya?
Penyakit ta’thil (penafian sifat Allah) adalah penyakit berbahaya yang tidak ada obatnya. Oleh karena itu Allah mengisahkan tentang imam orang-orang mu’aththilah, Fir’aun, bahwa ia mengingkari apa yang diberitakan Musa tentang Tuhannya yang berada di atas langit, maka ia berkata: “Hai Haman, buatkanlah untukku bangunan tinggi agar aku dapat mencapai jalan-jalan, yaitu jalan-jalan (menuju) langit, agar aku dapat melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta.” (Surat Ghafir: 36-37)
Syaikh Abu Al-Hasan Al-Asy’ari berdalil dengan ayat ini dalam kitab-kitabnya terhadap kaum mu’aththilah. Dan sungguh telah kami sebutkan lafaznya dalam kitab yang lain. Berkata tentang Allah tanpa ilmu dan syirik adalah dua hal yang saling berkaitan. Karena bid’ah-bid’ah yang menyesatkan ini adalah kejahilan terhadap sifat-sifat Allah dan pendustaan terhadap apa yang Dia kabarkan tentang diri-Nya sendiri dan yang dikabarkan tentang-Nya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara permusuhan dan kejahilan, maka ia termasuk dosa-dosa besar yang paling besar, meskipun tidak sampai pada tingkat kekufuran, dan lebih dicintai oleh Iblis daripada dosa-dosa besar lainnya.
Sebagaimana yang dikatakan sebagian salaf: “Bid’ah lebih dicintai Iblis daripada maksiat, karena maksiat bisa ditaubati sedangkan bid’ah tidak ditaubati.”
Dan Iblis berkata: “Aku membinasakan anak Adam dengan dosa-dosa, dan mereka membinasakanku dengan istighfar dan la ilaha illa Allah. Ketika aku melihat hal itu, aku sebarkan di antara mereka hawa nafsu, maka mereka berbuat dosa dan tidak bertaubat, karena mereka mengira bahwa mereka berbuat baik.”
Dan diketahui bahwa orang yang berdosa kerusakannya hanya pada dirinya sendiri, adapun ahli bid’ah maka kerusakannya pada jenis (manusia), fitnah ahli bid’ah dalam pokok agama, sedangkan fitnah orang yang berdosa dalam syahwat. Ahli bid’ah telah duduk menghadang manusia di jalan Allah yang lurus untuk menghalangi mereka darinya, sedangkan orang yang berdosa tidak demikian. Ahli bid’ah mencela sifat-sifat Rabb dan kesempurnaan-Nya, sedangkan orang yang berdosa tidak demikian.
Ahli bid’ah memutuskan jalan akhirat bagi manusia, sedangkan orang yang bermaksiat lambat jalannya karena dosa-dosanya.
Kemudian karena kezaliman dan permusuhan bertentangan dengan keadilan yang dengannya berdiri langit dan bumi, dan untuk itu Allah subhanahu mengutus rasul-rasul-Nya ‘alaihimush shalatu was salam dan menurunkan kitab-kitab-Nya agar manusia menegakkannya, maka kezaliman termasuk dosa-dosa besar yang paling besar di sisi Allah. Tingkatannya dalam kebesaran sesuai dengan kerusakannya pada dirinya sendiri. Membunuh anak kecil yang tidak berdosa, yang Allah subhanahu telah menjadikan hati-hati terbentuk untuk mencintai, merahmati, dan menyayangi mereka, dan mengkhususkan kedua orang tua dari hal itu dengan kelebihan yang jelas, maka membunuhnya karena takut akan berbagi makanan, minuman, dan hartanya, termasuk kezaliman yang paling buruk dan sangat keji. Demikian pula membunuh kedua orang tuanya yang menjadi sebab keberadaannya, dan demikian pula membunuh kerabatnya.
Tingkatan-tingkatan pembunuhan berbeda-beda sesuai dengan keburukannya dan sejauh mana orang yang dibunuh berhak untuk diupayakan keberlangsungan hidupnya dan dinasihati.
Oleh karena itu, orang yang paling keras siksaannya pada hari kiamat adalah orang yang membunuh nabi atau yang dibunuh oleh nabi.
Yang mengikutinya adalah orang yang membunuh imam yang adil yang memerintahkan manusia dengan keadilan, mengajak mereka kepada Allah subhanahu, dan menasihati mereka dalam agama mereka. Allah subhanahu telah menjadikan balasan pembunuhan jiwa mukmin dengan sengaja adalah kekal dalam neraka, murka Allah Yang Maha Perkasa, laknat-Nya, dan penyediaan azab yang besar baginya. Inilah konsekuensi pembunuhan mukmin dengan sengaja selama tidak ada penghalang yang menghalanginya.
Dan tidak ada khilaf bahwa Islam yang terjadi setelah pembunuhan secara sukarela dan pilihan adalah penghalang dari berlakunya balasan itu. Apakah taubat seorang muslim menghalanginya setelah terjerumus ke dalamnya? Ada dua pendapat dari kalangan salaf dan khalaf, dan keduanya adalah dua riwayat dari Imam Ahmad.
Orang-orang yang berkata: “Taubat tidak menghalangi dari berlakunya balasan itu,” mereka berpendapat bahwa itu adalah hak seorang manusia yang tidak dipenuhi di dunia dan ia keluar darinya dengan kezalimannya, maka harus dipenuhi di negeri keadilan.
Mereka berkata: “Apa yang dipenuhi oleh ahli waris hanyalah hak mereka sendiri yang murni, yang Allah berikan pilihan kepada mereka antara memenuhinya atau memaafkannya. Apa manfaatnya bagi orang yang terbunuh dari pemenuhan ahli warisnya? Dan pemulihan apa untuk kezalimannya yang didapat dengan pemenuhan ahli warisnya?”
Dan ini adalah pendapat yang paling benar dalam masalah ini: bahwa hak orang yang terbunuh tidak gugur dengan pemenuhan ahli waris. Dan keduanya adalah dua pendapat bagi pengikut Asy-Syafi’i, Ahmad, dan lainnya.
Kelompok lain berpendapat bahwa hak itu gugur dengan taubat dan pemenuhan ahli waris, karena taubat menghancurkan apa yang sebelumnya, dan dosa yang dilakukannya telah ditegakkan hukumannya.
Mereka berkata: “Jika taubat dapat menghapus bekas kekufuran dan sihir, padahal keduanya lebih besar dosanya daripada pembunuhan, bagaimana mungkin taubat tidak mampu menghapus bekas pembunuhan? Allah telah menerima taubat orang-orang kafir yang membunuh wali-wali-Nya dan menjadikan mereka dari hamba-hamba-Nya yang terbaik. Dan Allah mengajak orang-orang yang membakar wali-wali-Nya dan memfitnah mereka dari agama mereka untuk bertaubat, dan Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.'” (Surat Az-Zumar: 53) Ini mengenai orang yang bertaubat, dan ayat ini mencakup kekufuran dan apa yang di bawahnya.
Mereka berkata: “Bagaimana mungkin seorang hamba bertaubat dari dosa kemudian dihukum karenanya setelah taubat? Ini diketahui tidak ada dalam syariat Allah dan balasan-Nya.”
Mereka berkata: “Taubat orang yang berdosa ini adalah menyerahkan dirinya, dan tidak mungkin menyerahkannya kepada orang yang terbunuh, maka syariat menjadikan walinya menggantikan kedudukannya dan menjadikan penyerahan diri kepadanya seperti penyerahan kepada orang yang terbunuh, seperti penyerahan harta yang menjadi kewajibannya kepada ahli waris, karena ia menggantikan kedudukan penyerahan kepada pewaris.”
Tahqiq dalam masalah ini adalah bahwa pembunuhan berkaitan dengan tiga hak: hak Allah, hak orang yang terbunuh, dan hak wali. Jika pembunuh menyerahkan dirinya secara sukarela dan pilihan kepada wali karena menyesal atas apa yang dilakukannya, takut kepada Allah, dan taubat nasuha, maka gugurlah hak Allah dengan taubat, hak wali dengan pemenuhan atau perdamaian atau pemaafan, dan tersisa hak orang yang terbunuh yang akan diganti Allah kepadanya pada hari kiamat dari hamba-Nya yang bertaubat dan berbuat baik, dan Allah akan mendamaikan antara keduanya. Maka tidak akan hilang hak yang satu ini, dan tidak akan batal taubat yang satu ini.
Adapun masalah harta, maka telah terjadi perbedaan pendapat di dalamnya. Kelompok berkata: “Jika ia menunaikan harta yang menjadi kewajibannya kepada ahli waris, maka ia terbebas dari tanggung jawabnya di akhirat sebagaimana ia terbebas darinya di dunia.”
Kelompok lain berkata: “Tuntutan dari orang yang dizaliminya dengan pengambilan harta itu tetap berlaku padanya pada hari kiamat. Ia belum memulihkan kezalimannya dengan pengambilan ahli warisnya terhadap harta itu, karena ia telah menghalanginya dari memanfaatkannya sepanjang hidupnya, dan ia mati tanpa memanfaatkannya. Ini adalah kezaliman yang belum dipulihkannya, dan yang memanfaatkan pemulihan itu adalah orang lain.” Mereka membangun di atas ini bahwa jika harta berpindah dari satu orang ke orang lain dan ahli waris bertambah banyak, maka tuntutan adalah untuk semua, karena itu adalah hak yang wajib ia berikan kepada setiap orang dari mereka ketika ia menjadi ahli waris. Dan ini adalah pendapat kelompok dari pengikut Malik dan Ahmad.
Syaikh kami rahimahullah membedakan antara dua kelompok ini, beliau berkata: “Jika orang yang meninggal mampu mengambil haknya dan menuntutnya namun tidak mengambilnya hingga meninggal dunia, maka tuntutan tersebut menjadi hak ahli waris di akhirat, sebagaimana juga di dunia. Namun jika dia tidak mampu menuntut dan mengambilnya, bahkan terhalang darinya secara zalim dan melampaui batas, maka tuntutan tersebut menjadi haknya di akhirat.”
Pembedaan ini adalah salah satu perkataan yang paling baik, karena harta yang dihabiskan oleh orang zalim atas pemiliknya, dan sulit untuk diambil darinya, menjadi seperti budaknya yang dibunuh pembunuh, rumahnya yang dibakar orang lain, makanan dan minumannya yang dimakan dan diminum orang lain. Hal-hal seperti ini rusak atas tanggungan orang yang meninggal, bukan atas tanggungan ahli waris, maka hak tuntutan adalah bagi orang yang hartanya rusak dalam kepemilikannya.
Kemudian dapat dikatakan: “Jika harta tersebut berupa tanah atau properti atau barang-barang berwujud yang masih ada setelah kematian, maka itu adalah milik ahli waris. Wajib atas perampas untuk menyerahkannya kepada mereka setiap saat. Jika dia tidak menyerahkan harta benda mereka, maka mereka berhak menuntutnya di hadapan Allah Ta’ala, sebagaimana mereka berhak menuntutnya di dunia.”
Ini adalah pertanyaan yang kuat, tidak ada jalan keluar darinya kecuali dengan mengatakan: “Tuntutan adalah hak keduanya (orang yang meninggal dan ahli warisnya), sebagaimana jika seseorang merampas harta yang dimiliki bersama oleh sekelompok orang, maka setiap orang dari mereka berhak menuntut haknya dari harta tersebut. Seperti jika seseorang menguasai wakaf yang diperuntukkan bagi beberapa generasi, lalu membatalkan hak semua generasi tersebut, maka tuntutan pada hari kiamat adalah bagi semuanya, dan tidak ada satu pun dari mereka yang lebih berhak daripada yang lain.” Wallahu a’lam (Allah yang lebih mengetahui).
Karena kerusakan pembunuhan adalah kerusakan yang demikian, Allah Ta’ala berfirman: “Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (Surat Al-Maidah: 32)
Pemahaman ini telah membingungkan banyak orang, mereka berkata: “Diketahui bahwa dosa pembunuh seratus orang lebih besar di sisi Allah daripada dosa pembunuh satu orang.” Mereka terkeliru karena mengira bahwa perumpamaan ini dalam hal besarnya dosa dan hukuman, padahal lafadz tersebut tidak menunjukkan hal ini. Tidak semestinya dari perumpamaan sesuatu dengan sesuatu yang lain berarti mengambil seluruh hukumnya.
Allah Ta’ala telah berfirman: “Seakan-akan pada hari mereka melihat azab itu, mereka tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” (Surat An-Nazi’at: 46)
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Seakan-akan pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka itu, mereka tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat saja di siang hari.” (Surat Al-Ahqaf: 35)
Hal itu tidak mengharuskan bahwa tinggal mereka di dunia hanya selama waktu tersebut.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa shalat Isya secara berjamaah, maka seakan-akan dia qiyam setengah malam. Dan barangsiapa shalat Fajr secara berjamaah, maka seakan-akan dia qiyam sepanjang malam” – yaitu bersama dengan Isya sebagaimana datang dalam lafadz lain. Yang lebih jelas dari ini adalah sabdanya: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan lalu menyusulnya dengan enam hari dari Syawal, maka seakan-akan dia berpuasa sepanjang tahun.” Dan sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa membaca ‘Qul huwallahu ahad’, maka seakan-akan dia membaca sepertiga Al-Quran.”
Diketahui bahwa pahala pelaku hal-hal ini tidak mencapai pahala yang diserupakan dengannya, sehingga kadarnya sama. Seandainya kadar pahalanya sama, maka bagi orang yang shalat Isya dan Fajr berjamaah tidak ada manfaat dalam qiyam malam selain lelah dan capek. Tidak ada seorang pun – setelah iman – yang diberi yang lebih utama daripada pemahaman tentang Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Jika ditanya: “Dalam hal apa terjadi perumpamaan antara pembunuh satu orang dengan pembunuh seluruh manusia?”
Dijawab: “Dalam beberapa segi:
Pertama: Bahwa setiap dari keduanya bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, menyelisihi perintah-Nya, dan menghadapi hukuman-Nya. Setiap dari keduanya telah kembali dengan murka Allah dan laknat-Nya, dan berhak kekal di neraka Jahannam, serta disediakan baginya azab yang besar. Hanya saja ada perbedaan dalam tingkatan azab. Dosa orang yang membunuh nabi atau imam yang adil atau ulama yang menyuruh manusia berbuat adil, tidak sama dengan dosa orang yang membunuh orang biasa yang tidak memiliki kelebihan.
Kedua: Keduanya sama dalam berhak mendapat pembunuhan jiwa.
Ketiga: Keduanya sama dalam keberanian menumpahkan darah yang haram. Sesungguhnya orang yang membunuh jiwa tanpa hak, melainkan hanya untuk membuat kerusakan di bumi atau mengambil hartanya, maka dia berani membunuh setiap orang yang dapat dia kuasai dan mampu dia bunuh, sehingga dia menjadi musuh bagi jenis manusia.
Keempat: Dia disebut pembunuh atau fasiq atau zalim atau durhaka dengan membunuh satu orang, sebagaimana dia disebut demikian dengan membunuh seluruh manusia.
Kelima: Allah Subhanahu menjadikan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, saling menyayangi, dan saling berhubungan seperti satu tubuh. Jika satu anggota mengeluh, maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur. Jika pembunuh merusak satu anggota dari tubuh ini, maka seakan-akan dia merusak seluruh tubuh dan menyakiti semua anggotanya. Barangsiapa menyakiti satu mukmin, maka seakan-akan dia menyakiti seluruh mukmin. Dalam menyakiti seluruh mukmin terdapat menyakiti seluruh manusia, karena Allah hanya membela manusia dengan perantara orang-orang mukmin yang ada di antara mereka. Menyakiti penjaga berarti menyakiti yang dijaga.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah terbunuh seorang jiwa secara zalim tanpa hak, kecuali anak Adam yang pertama mendapat bagian dosanya, karena dia adalah orang pertama yang menetapkan (sunnah) pembunuhan.”
Ancaman ini tidak datang terhadap pezina pertama, pencuri pertama, atau peminum khamar pertama, meskipun orang musyrik pertama mungkin lebih pantas dengan hal itu daripada pembunuh pertama, karena dia adalah orang pertama yang menetapkan (sunnah) syirik. Karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Amr bin Luhayy Al-Khuza’i disiksa dengan siksa yang paling berat di neraka, karena dia adalah orang pertama yang mengubah agama Ibrahim ‘alaihissalam.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepada Al Quran.” (Surat Al-Baqarah: 41) – yaitu supaya orang-orang setelah kalian mengikuti kalian, maka dosa kekafiran mereka akan ditanggung oleh kalian. Demikian juga hukum orang yang menetapkan sunnah buruk lalu diikuti.
Dalam Jami’ At-Tirmidzi dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Orang yang terbunuh datang pada hari kiamat dengan ubun-ubun dan kepalanya di tangannya, dan urat nadinya menyemburkan darah, dia berkata: ‘Ya Rabbi, tanyakan kepada orang ini mengapa dia membunuhku?'” Lalu mereka menyebutkan kepada Ibnu Abbas tentang taubat, maka dia membaca ayat ini: “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya.” (Surat An-Nisa’: 93) Kemudian dia berkata: “Ayat ini tidak dinasakh dan tidak diganti, dan bagaimana mungkin ada taubat untuknya?” At-Tirmidzi berkata: “Ini hadits hasan.”
Juga di dalamnya dari Nafi’ berkata: “Abdullah bin Umar suatu hari melihat Ka’bah, lalu berkata: ‘Alangkah agungnya engkau dan alangkah agungnya kehormatanmu, dan mukmin di sisi Allah lebih agung kehormatannya daripadamu.'” At-Tirmidzi berkata: “Ini hadits hasan.”
Dalam Shahih Al-Bukhari dari Samurah bin Jundub berkata: “Yang pertama kali busuk dari manusia adalah perutnya. Barangsiapa di antara kalian yang mampu tidak makan kecuali yang baik, maka hendaklah dia lakukan. Dan barangsiapa yang mampu agar tidak terhalang antara dirinya dan surga karena segenggam darah yang ditumpahkannya, maka hendaklah dia lakukan.”
Juga dalam shahihnya dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang mukmin senantiasa dalam kelapangan agamanya selama dia tidak mengenai darah yang haram.”
Al-Bukhari juga menyebutkan dari Ibnu Umar berkata: “Di antara perkara-perkara yang menjerat yang tidak ada jalan keluar bagi siapa yang menjatuhkan dirinya ke dalamnya adalah menumpahkan darah haram tanpa haknya.”
Dalam Shahihain dari Abu Hurairah secara marfu’: “Mencela mukmin adalah kefasiqan dan memeranginya adalah kekafiran.”
Juga dalam keduanya dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Janganlah kalian kembali setelahku menjadi kafir yang sebagian kalian memukul leher sebagian yang lain.”
Dalam Shahih Al-Bukhari dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa membunuh orang yang berjanji damai, dia tidak akan mencium bau surga, padahal baunya dapat tercium dari perjalanan empat puluh tahun.”
Ini adalah hukuman pembunuh musuh Allah jika dia dalam perjanjian dan keamanannya, bagaimana hukuman pembunuh hamba-Nya yang mukmin? Dan jika seorang wanita masuk neraka karena kucing yang dikurungnya hingga mati kelaparan dan kehausan, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya di neraka dengan kucing itu mencakar wajah dan dadanya, bagaimana hukuman orang yang mengurung mukmin hingga mati tanpa kesalahan?
Dalam beberapa sunan dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Lenyapnya dunia lebih ringan bagi Allah daripada membunuh seorang mukmin tanpa hak.”
Karena kerusakan zina adalah salah satu kerusakan terbesar dan bertentangan dengan kemaslahatan tatanan dunia dalam menjaga nasab, melindungi kemaluan, memelihara kehormatan, dan menghindari apa yang menimbulkan permusuhan dan kebencian terbesar antara manusia, yaitu merusak istri, anak perempuan, saudara perempuan, dan ibu masing-masing, dan dalam hal itu terdapat kehancuran dunia, maka zina menempati urutan kedua setelah kerusakan pembunuhan dalam hal besarnya. Karena itulah Allah Subhanahu merangkaikannya dengan pembunuhan dalam kitab-Nya, dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sunnahnya sebagaimana telah disebutkan.
Imam Ahmad berkata: “Aku tidak mengetahui setelah pembunuhan jiwa ada sesuatu yang lebih besar daripada zina.”
Allah Subhanahu menegaskan keharamannya dengan firman-Nya: “Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan hak dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa, (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang yang bertaubat.” (Surat Al-Furqan: 68-70)
Dia merangkai zina dengan syirik dan pembunuhan jiwa, dan menjadikan balasannya adalah kekal dalam azab yang berlipat ganda, kecuali jika hamba mengangkat penyebab hal itu dengan taubat, iman, dan amal saleh.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Surat Al-Isra’: 32)
Dia memberitahukan tentang kekejiannnya pada dirinya sendiri, yaitu yang buruk yang telah mencapai puncak keburukannya hingga kekejiannnya menetap dalam akal, bahkan pada banyak hewan, sebagaimana disebutkan Al-Bukhari dalam shahihnya dari Amr bin Maimun Al-Awdi berkata: “Aku melihat pada masa jahiliyah seekor kera berzina dengan betinanya, maka kera-kera lain berkumpul atas keduanya lalu merajam mereka hingga mati.”
Kemudian Dia memberitahukan tentang akibatnya bahwa zina itu “jalan yang buruk”, karena ia adalah jalan kehancuran dan kebinasaan serta kefakiran di dunia, dan azab, kehinaan, dan siksa di akhirat.
Karena menikahi istri-istri ayah adalah yang paling keji darinya, maka Allah mengkhususkannya dengan celaan yang lebih, Dia berfirman: “Sesungguhnya perbuatan itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu perbuatan yang dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).” (Surat An-Nisa’: 22)
Allah Subhanahu menggantungkan keberuntungan hamba pada menjaga kemaluannya dari zina, maka tidak ada jalan menuju keberuntungan tanpanya. Dia berfirman: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.” hingga firman-Nya: “Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (Surat Al-Mu’minun: 1-7)
Dan ini mencakup tiga perkara: bahwa siapa yang tidak menjaga kemaluannya maka dia tidak termasuk orang-orang yang beruntung, dan dia termasuk orang-orang yang tercela, dan termasuk orang-orang yang melampaui batas, maka dia kehilangan keberuntungan, dan berhak mendapat nama pelanggar, dan jatuh dalam kecaman, maka menanggung rasa sakit syahwat dan penderitaannya lebih ringan daripada sebagian dari itu.
Dan yang serupa dengan ini adalah bahwa Allah mencela manusia, dan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan kikir yang tidak sabar terhadap kesenangan maupun kesusahan, bahkan jika kebaikan menyentuhnya dia pelit dan bakhil, dan jika keburukan menyentuhnya dia gelisah, kecuali orang-orang yang dikecualikan setelah itu dari orang-orang yang selamat dari sifat ciptaan-Nya, maka disebutkan di antara mereka: “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas” (Surat Al-Ma’arij: 29-31).
Maka Allah Ta’ala memerintahkan Nabi-Nya untuk memerintahkan orang-orang mukmin untuk menundukkan pandangan mereka, dan menjaga kemaluan mereka, dan supaya memberitahukan kepada mereka bahwa Dia menyaksikan perbuatan-perbuatan mereka, mengetahui hal itu, “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati” (Surat Ghafir: 19).
Dan ketika permulaan itu adalah dari pandangan, maka perintah menundukkan pandangan didahulukan atas menjaga kemaluan, karena kejadian-kejadian bermula dari pandangan, sebagaimana kebanyakan api berasal dari percikan kecil, maka menjadi satu pandangan, kemudian menjadi terlintas dalam pikiran, kemudian menjadi langkah, kemudian menjadi dosa.
Dan karena itu dikatakan: Barangsiapa menjaga empat perkara ini, dia telah menjaga agamanya: pandangan-pandangan, terlintas dalam pikiran, ucapan-ucapan, dan langkah-langkah.
Maka hendaknya hamba menjadi penjaga dirinya pada empat pintu ini, dan senantiasa berjaga di benteng-bentengnya, karena dari sanalah musuh masuk kepadanya, lalu berkeliaran di antara rumah-rumah dan menghancurkan apa yang tinggi dengan kehancuran total.
[Pasal: Pintu Masuk Kemaksiatan adalah Pandangan]
Dan kebanyakan kemaksiatan masuk kepada hamba dari empat pintu ini, maka kami sebutkan dalam setiap pintu darinya satu pasal yang sesuai dengannya.
Pandangan
Adapun pandangan-pandangan: maka itu adalah mata-mata syahwat dan utusan-nya, dan menjaganya adalah pokok menjaga kemaluan, maka barangsiapa melepaskan pandangannya, dia telah membawa dirinya ke tempat-tempat kebinasaan.
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kamu ikuti pandangan dengan pandangan, karena sesungguhnya bagimu yang pertama dan bukan bagimu yang kedua.”
Dan dalam Musnad dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam: “Pandangan adalah anak panah beracun dari anak-anak panah Iblis, maka barangsiapa menundukkan pandangannya dari keindahan seorang wanita karena Allah, Allah akan mewariskan kepada hatinya kelezatan hingga hari dia berjumpa dengan-Nya” ini adalah makna hadits. Dan beliau bersabda: “Tundukkan pandangan kalian, dan jagalah kemaluan kalian”, dan beliau bersabda: “Hati-hatilah kalian dari duduk di jalan-jalan, mereka berkata: Wahai Rasulullah, tempat-tempat duduk kami, kami tidak bisa meninggalkannya, beliau berkata: Jika kalian harus melakukannya, maka berikanlah hak jalan, mereka berkata: Dan apa haknya? Beliau berkata: Menundukkan pandangan dan menahan gangguan dan membalas salam.”
Dan pandangan adalah pokok umumnya kejadian-kejadian yang menimpa manusia, maka pandangan melahirkan terlintas dalam pikiran, kemudian terlintas dalam pikiran melahirkan pemikiran, kemudian pemikiran melahirkan syahwat, kemudian syahwat melahirkan keinginan, kemudian menguat sehingga menjadi tekad yang kuat, maka terjadilah perbuatan dan tidak ada pilihan lain, selama tidak ada yang mencegahnya, dan dalam hal ini dikatakan: Sabar menundukkan pandangan lebih mudah daripada sabar menanggung rasa sakit setelahnya.
Penyair berkata: Semua kejadian permulaan-nya dari pandangan … Dan kebanyakan api dari percikan kecil yang dianggap remeh Berapa banyak pandangan yang sampai di hati pemiliknya … Seperti sampainya anak panah antara busur dan tali busur Dan hamba selama dia memiliki mata yang dia putar-putar … Dalam mata-mata pemandangan, dia tergantung pada bahaya Yang menyenangkan matanya adalah yang membahayakan jiwanya … Tidak selamat datang kesenangan yang datang dengan bahaya
Dan di antara bencana pandangan: bahwa itu melahirkan penyesalan dan keluhan dan perih hati, maka hamba melihat apa yang tidak mampu dia raih dan tidak sabar meninggalkannya, dan ini adalah di antara siksaan yang paling besar, bahwa kamu melihat apa yang tidak ada kesabaran bagimu untuk meninggalkan sebagiannya, dan tidak ada kemampuan untuk meraih sebagiannya.
Penyair berkata: Dan adalah kamu ketika kamu kirimkan pandanganmu sebagai mata-mata … Untuk hatimu suatu hari, pemandangan-pemandangan melelahkanmu Kamu melihat yang tidak semuanya kamu mampu … Atasnya dan tidak dari sebagiannya kamu sabar
Dan bait ini memerlukan penjelasan, dan maksudnya: bahwa kamu melihat apa yang tidak kamu sabar meninggalkan sesuatu darinya dan tidak kamu kuasai, karena ucapannya: “tidak semuanya kamu mampu atasnya” adalah penafian kemampuannya atas keseluruhan yang tidak hilang kecuali dengan meniadakan kemampuan dari setiap satu persatu.
Dan berapa banyak orang yang melepaskan pandangan-pandangannya, maka tidak berhenti kecuali dia bergelimpangan di antara mereka sebagai orang yang terbunuh, sebagaimana dikatakan: Wahai yang memandang yang tidak berhenti pandangan-pandangannya … Hingga bergelimpangan di antara mereka sebagai yang terbunuh
Dan aku memiliki beberapa bait: Bosan dengan keselamatan maka berangkatlah pandangan-pandangannya … Berhenti pada bekas yang dia sangka indah Terus mengikuti jejaknya dengan pandangan-pandangannya … Hingga bergelimpangan di antara mereka sebagai yang terbunuh
Dan yang mengherankan: bahwa pandangan orang yang melihat adalah anak panah yang tidak sampai kepada yang dipandang kecuali dia menempati tempat dari hati orang yang memandang, dan aku memiliki dari sebuah qasidah: Wahai yang melempar dengan anak-anak panah pandangan dengan bersungguh-sungguh … Kamu yang terbunuh dengan apa yang kamu lempar maka jangan kamu mengenai Wahai yang mengirim mata mengintai kesembuhan untuknya … Tahanlah utusanmu jangan dia datang kepadamu dengan kebinasaan
Dan yang lebih mengherankan dari itu: bahwa pandangan melukai hati dengan luka, maka mengikutinya luka demi luka, kemudian tidak mencegahnya rasa sakit luka dari meminta pengulangan-nya, dan aku juga dalam makna ini: Kamu terus mengikuti pandangan demi pandangan … Mengikuti setiap yang cantik dan cantik Dan kamu sangka itu obat lukamu padahal itu dalam … Kenyataannya melukai demi melukai Maka kamu sembelih matamu dengan pandangan-pandangan dan dengan tangisan … Maka hati darimu tersembelih, sungguh tersembelih
Dan telah dikatakan: Sesungguhnya menahan pandangan-pandangan lebih mudah daripada kelanggengan penyesalan-penyesalan.
[Bab Khatharat (Bisikan Hati)]
Adapun mengenai khatharat (bisikan-bisikan hati): urusannya lebih sulit, karena ia adalah awal mula kebaikan dan keburukan, dan darinya lahir keinginan-keinginan, tekad-tekad, dan keputusan-keputusan. Barangsiapa yang menjaga khatharat (bisikan hati)nya, maka ia akan menguasai kendali dirinya dan mengalahkan hawa nafsunya. Dan barangsiapa yang dikalahkan oleh khatharat-nya, maka hawa nafsu dan dirinya lebih menguasainya. Dan barangsiapa yang meremehkan khatharat, maka ia akan dipaksa menuju kebinasaan. Dan khatharat akan terus berulang-ulang pada hati hingga menjadi angan-angan yang batil.
“Seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu tiada ditemukan sesuatu apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amalnya dengan cukup, dan Allah Maha cepat perhitungan-Nya” (Surat An-Nur: 39).
Dan orang yang paling hina cita-citanya dan paling rendah jiwanya adalah orang yang ridha dari hakikat-hakikat dengan angan-angan palsu, dan mendatangkannya untuk dirinya serta menampakkan diri dengannya. Demi Allah, angan-angan itu adalah modal pokok orang-orang yang bangkrut dan perdagangan orang-orang yang menganggur. Dan ia adalah makanan jiwa yang kosong, yang telah merasa puas dari pertemuan dengan kunjungan khayalan, dan dari hakikat-hakikat dengan kebohongan-kebohongan harapan, sebagaimana kata penyair:
Angan-angan dari Su’da adalah penyejuk bagi yang dahaga Su’da telah memberi kami minum dengannya air yang sejuk di atas kehausan Angan-angan, jika ia benar maka ia adalah sebaik-baik angan Dan jika tidak, sungguh kami telah hidup dengannya dalam waktu yang lapang
Dan angan-angan itu adalah sesuatu yang paling berbahaya bagi manusia, dan darinya lahir kelemahan dan kemalasan, dan melahirkan kelalaian, penyesalan, dan penyesalan. Dan orang yang berangan-angan, ketika ia kehilangan menyentuh hakikat dengan tubuhnya, ia mengubah bentuknya dalam hatinya, dan memeluknya serta mendekapnya kepadanya, maka ia merasa puas dengan pertemuan bentuk yang semu dan khayali yang dibentuk oleh pikirannya.
Dan itu tidak memberikan manfaat apa pun baginya, dan perumpamaannya adalah seperti orang yang lapar dan haus, ia membentuk dalam khayal atas bentuk makanan dan minuman, sedangkan ia tidak makan dan tidak minum.
Dan merasa tenang dengan hal itu serta mendatangkannya menunjukkan kerugian jiwa dan kehinaannya. Sesungguhnya kemuliaan jiwa, kesuciannya, ketebersihannya, dan ketinggiannya adalah dengan menolak darinya setiap khatharat yang tidak memiliki hakikat, dan tidak ridha untuk memikirkannya dalam benaknya, dan merasa enggan untuk jiwanya darinya.
Kemudian khatharat setelah itu terbagi menjadi beberapa bagian yang berputar pada empat pokok:
- Khatharat yang digunakan hamba untuk mendatangkan manfaat dunianya
- Khatharat yang digunakan untuk menolak mudarat dunianya
- Khatharat yang digunakan untuk mendatangkan kemaslahatan akhiratnya
- Khatharat yang digunakan untuk menolak mudarat akhiratnya
Maka hendaklah hamba membatasi khatharat, pikiran, dan kekhawatirannya dalam empat bagian ini. Jika terbatas baginya dalam hal itu, maka memungkinkan terkumpulnya darinya dan tidak meninggalkannya untuk selainnya. Dan jika khatharat-khatharat berdesakan padanya karena berdesaknya hal-hal yang berkaitan dengannya, maka ia mendahulukan yang lebih penting kemudian yang penting yang ia khawatir akan terlewat, dan mengakhirkan yang tidak lebih penting dan tidak takut akan terlewat.
Tersisa dua bagian lagi:
- Yang penting yang tidak akan terlewat
- Yang tidak penting tetapi akan terlewat
Pada masing-masing dari keduanya ada yang mengajak untuk mendahulukannya, maka di sinilah terjadi keragu-raguan dan kebingungan. Jika ia mendahulukan yang penting, ia khawatir akan terlewatnya yang di bawahnya. Dan jika ia mendahulukan yang di bawahnya, maka ia akan terlewat dari kesibukan dengannya daripada yang penting. Demikian juga, ia menghadapi dua perkara yang tidak mungkin digabungkan, dan tidak diperoleh salah satunya kecuali dengan melewatkan yang lain.
Maka itu adalah tempat menggunakan akal, fiqih, dan pengetahuan. Dan dari sinilah terangkat siapa yang terangkat dan berhasil siapa yang berhasil, dan gagal siapa yang gagal. Kebanyakan orang yang kamu lihat yang besar akalnya dan pengetahuannya, ia lebih memilih selain yang penting yang tidak terlewat daripada yang penting yang terlewat. Dan kamu tidak akan menemukan seorang pun yang selamat dari hal itu, tetapi ada yang sedikit dan ada yang banyak.
Dan penghakiman dalam bab ini adalah untuk kaidah besar yang menjadi poros syariat dan takdir, dan kepadanya kembali penciptaan dan perintah, yaitu lebih memilih yang lebih besar dan lebih tinggi dari dua kemaslahatan, meskipun terlewat kemaslahatan yang di bawahnya, dan masuk dalam yang lebih rendah dari dua kerusakan untuk menolak yang lebih besar darinya. Maka ia melewatkan kemaslahatan untuk memperoleh yang lebih besar darinya, dan melakukan kerusakan untuk menolak yang lebih besar darinya.
Khatharat Orang Berakal
Maka khatharat orang berakal dan pikirannya tidak melampaui hal itu. Dan dengan itulah datang syariat-syariat. Dan kemaslahatan dunia dan akhirat tidak berdiri kecuali atas hal itu. Dan pikiran yang paling tinggi, paling mulia, dan paling bermanfaat adalah yang untuk Allah dan negeri akhirat. Maka yang untuk Allah itu adalah beberapa jenis:
Pertama: Berpikir tentang ayat-ayat-Nya yang diturunkan dan memahaminya, dan mengerti serta mengerti kehendak-Nya darinya. Dan untuk itulah Allah Ta’ala menurunkannya, bukan hanya untuk dibaca semata, tetapi pembacaan adalah wasilah (sarana).
Berkata sebagian salaf: “Al-Quran diturunkan untuk diamalkan, tetapi mereka menjadikan pembacaannya sebagai amal.”
Kedua: Berpikir tentang ayat-ayat-Nya yang disaksikan dan mengambil pelajaran darinya, dan beristidlal dengannya atas nama-nama dan sifat-sifat-Nya, hikmah-Nya dan kebaikan-Nya, kebajikan-Nya dan kedermawanan-Nya. Dan Allah Subhanahu telah mendorong hamba-hamba-Nya untuk berpikir tentang ayat-ayat-Nya dan mentadabburinya serta memahaminya, dan mencela orang yang lalai dari hal itu.
Ketiga: Berpikir tentang nikmat-nikmat-Nya dan kebaikan-Nya, dan pemberian-Nya kepada makhluk-Nya dengan berbagai jenis nikmat, dan luasnya rahmat-Nya dan ampunan-Nya serta kesabaran-Nya.
Dan ketiga jenis ini mengeluarkan dari hati ma’rifat Allah dan cinta-Nya serta takut dan harap kepada-Nya. Dan langgengnya berpikir dalam hal itu bersama dzikir akan mewarnai hati dalam ma’rifat dan cinta dengan pewarnaan yang sempurna.
Keempat: Berpikir tentang aib-aib jiwa dan kerusakannya, dan tentang aib-aib amal. Dan pemikiran ini sangat besar manfaatnya, dan ini adalah pintu untuk setiap kebaikan. Dan pengaruhnya dalam mematahkan jiwa yang amar (menyuruh) kepada keburukan. Dan apabila ia patah, maka hiduplah jiwa yang tenang dan bangkit serta menjadi penguasa baginya, maka hiduplah hati dan berputarlah kalimatnya dalam kerajaannya, dan menyebarkan pemimpin-pemimpinnya dan tentara-tentaranya dalam kemaslahatan-kemaslahatan.
Kelima: Berpikir tentang kewajiban waktu dan tugasnya serta mengumpulkan seluruh kekhawatiran padanya. Maka orang yang mengenal (Allah) adalah anak waktu. Jika ia menyia-nyiakannya, maka sia-sialah seluruh kemaslahatan baginya. Karena semua kemaslahatan hanya timbul dari waktu, dan jika ia menyia-nyiakannya, ia tidak akan pernah bisa mengembalikannya.
Berkata Imam Asy-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu: “Aku bergaul dengan para sufi dan tidak memperoleh manfaat dari mereka kecuali dua kalimat: Salah satunya adalah ucapan mereka: ‘Waktu adalah pedang, jika kamu memotongnya, jika tidak maka ia akan memotongmu.'”
Dan ia menyebutkan kalimat yang lain: “Dan jiwamu jika kamu tidak menyibukannya dengan kebenaran, jika tidak maka ia akan menyibukanmu dengan kebatilan.”
Maka waktu manusia adalah umurnya dalam hakikat, dan ia adalah bahan kehidupan abadinya dalam kenikmatan yang kekal, dan bahan kehidupan yang sempit dalam azab yang pedih. Dan ia berlalu lebih cepat dari awan. Maka apa yang dari waktunya untuk Allah dan dengan Allah, maka itulah kehidupan dan umurnya. Dan selain itu tidak terhitung dari kehidupannya, meskipun ia hidup di dalamnya, ia hidup seperti kehidupan binatang. Jika ia memotong waktunya dalam kelalaian dan kesalahan serta angan-angan batil, dan yang terbaik dari apa yang ia potong dengannya adalah tidur dan pengangguran, maka kematian orang ini lebih baik baginya daripada kehidupannya.
Dan ketika seorang hamba – saat dia sedang shalat – tidak mendapat manfaat dari shalatnya kecuali apa yang dipahaminya darinya, maka dia tidak mendapat manfaat dari umurnya kecuali masa-masa ketika dia bersama Allah dan untuk Allah.
Adapun selain pembagian pikiran ini berupa bisikan-bisikan dan pemikiran, maka itu adalah bisikan setan atau angan-angan yang batil, dan tipu daya yang bohong, seperti bisikan orang-orang yang terganggu akalnya dari kalangan pemabuk, pengguna ganja, dan orang yang terkena waswas. Keadaan mereka akan berkata ketika hakikat-hakikat tersingkap:
Jika kedudukanku di hari mahsyar di sisi kalian adalah seperti apa yang telah aku alami, maka sungguh aku telah menyia-nyiakan hari-hariku Angan-angan yang pernah didapat jiwaku suatu masa, dan hari ini aku menganggapnya sebagai mimpi-mimpi yang kacau
Ketahuilah bahwa datangnya bisikan tidak membahayakan, yang membahayakan adalah mengundangnya dan berbincang dengannya. Bisikan itu seperti orang yang lewat di jalan, jika kamu biarkan dia lewat, dia akan berlalu dan pergi darimu. Namun jika kamu mengundangnya, dia akan mempesona kamu dengan perkataannya dan tipuannya. Dia adalah hal yang paling ringan bagi jiwa yang kosong dan batil, dan hal yang paling berat bagi hati dan jiwa yang mulia, surgawi, dan tenteram.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menanamkan dalam manusia dua jiwa: jiwa yang menyuruh kepada kejahatan (nafs ammarah) dan jiwa yang tenteram (nafs muthmainnah), dan keduanya saling bermusuhan. Setiap yang ringan bagi yang satu akan berat bagi yang lain, dan setiap yang menyenangkan yang satu akan menyakitkan yang lain. Tidak ada yang lebih berat bagi jiwa ammarah daripada beramal untuk Allah dan mengutamakan ridha-Nya atas hawa nafsunya, padahal tidak ada yang lebih bermanfaat baginya daripada itu. Dan tidak ada yang lebih berat bagi jiwa muthmainnah daripada beramal untuk selain Allah, dan apa yang dibawa oleh panggilan hawa nafsu.
Tidak ada yang lebih berbahaya baginya daripada itu. Malaikat bersama jiwa muthmainnah di sebelah kanan hati, dan setan bersama jiwa ammarah di sebelah kiri hati. Peperangan terus berlangsung tanpa pernah berhenti sampai ajalnya tiba di dunia. Semua kebatilan berpihak kepada setan dan jiwa ammarah, dan semua kebenaran berpihak kepada malaikat dan jiwa muthmainnah. Peperangan itu bergantian, dan kemenangan bersama kesabaran. Barangsiapa yang sabar, tekun, berjaga-jaga, dan bertakwa kepada Allah, maka baginya akibat yang baik di dunia dan akhirat. Allah Ta’ala telah memutuskan keputusan yang tidak akan pernah berubah: bahwa akibat yang baik adalah bagi ketakwaan, dan akibat yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.
Hati adalah papan kosong, dan bisikan-bisikan adalah ukiran yang diukir di dalamnya. Bagaimana pantas bagi orang yang berakal bahwa ukiran papannya berupa kebohongan, tipu daya, penipuan, angan-angan batil, dan fatamorgana yang tidak memiliki hakikat? Hikmah, ilmu, dan petunjuk apa yang akan terukir bersama ukiran-ukiran ini? Jika dia ingin mengukir itu di papan hatinya, maka itu seperti menulis ilmu yang bermanfaat di tempat yang sudah terisi dengan tulisan yang tidak bermanfaat. Jika hati tidak dikosongkan dari bisikan-bisikan buruk, bisikan-bisikan yang bermanfaat tidak akan menetap di dalamnya, karena itu hanya akan menetap di tempat yang kosong. Sebagaimana dikatakan:
Cintanya datang kepadaku sebelum aku mengenal cinta, maka dia mendapati hati yang kosong lalu menguasainya
Inilah yang dilakukan banyak ahli suluk, mereka membangun suluknya atas dasar menjaga bisikan-bisikan, dan tidak membiarkan bisikan masuk ke hati mereka sehingga hati-hati menjadi kosong dan siap untuk kashf dan munculnya hakikat-hakikat uluwiyyah di dalamnya. Mereka telah menjaga sesuatu namun luput dari hal-hal lain. Mereka mengosongkan hati dari bisikan apa pun yang datang, sehingga hati menjadi kosong tanpa isi apa-apa. Kemudian setan mendapatinya kosong, lalu menabur kebatilan di dalamnya dalam bentuk-bentuk yang membuat mereka mengira bahwa itu adalah hal-hal yang paling tinggi dan mulia. Setan mengganti mereka dengan itu dari bisikan-bisikan yang merupakan bahan ilmu dan petunjuk.
Ketika hati kosong dari bisikan-bisikan ini, setan datang dan mendapati tempat itu kosong, lalu menyibukkannya dengan hal yang sesuai dengan keadaan pemiliknya. Karena setan tidak mampu menyibukkannya dengan bisikan-bisikan rendah, maka dia menyibukkannya dengan keinginan untuk tajrid (pengosongan) dan kekosongan dari keinginan yang justru tidak ada kebaikan dan keberuntungan bagi hamba kecuali jika itu yang menguasai hatinya, yaitu keinginan terhadap kehendak Allah yang bersifat agama dan perintah yang Dia cintai dan ridhai.
Kesibukan hati dan perhatiannya adalah mengetahuinya secara rinci, melaksanakannya, menerapkannya pada makhluk, berusaha mencapai itu, dan mencari jalan kepadanya dengan masuk ke tengah-tengah makhluk untuk menerapkannya. Setan menyesatkan mereka dari itu dengan mengajak mereka meninggalkannya dan menganggurkannya atas nama zuhud terhadap bisikan-bisikan dunia dan sebab-sebabnya.
Setan membuat mereka mengira bahwa kesempurnaan mereka terletak pada tajrid dan kekosongan itu. Jauh sekali! Sesungguhnya kesempurnaan itu terletak pada penuhnya hati dengan bisikan-bisikan, keinginan-keinginan, dan pemikiran untuk meraih keridhaan Rabb Ta’ala dari hamba dan dari manusia, serta pemikiran tentang jalan-jalan menuju itu dan cara mencapainya. Orang yang paling sempurna adalah yang paling banyak bisikan, pemikiran, dan keinginannya untuk itu. Sebagaimana orang yang paling kurang sempurna adalah yang paling banyak bisikan, pemikiran, dan keinginannya untuk kepentingan dan hawa nafsunya di mana pun itu berada. Dan Allah tempat meminta pertolongan.
Inilah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, bisikan-bisikan untuk mencari keridhaan Rabb Ta’ala berdesak-desakan dalam dirinya. Terkadang dia menggunakannya dalam shalatnya, sehingga dia mempersiapkan pasukannya saat sedang shalat. Dengan demikian dia telah menggabungkan antara jihad dan shalat. Ini termasuk bab tumpang-tindihnya ibadah-ibadah dalam satu ibadah, dan ini termasuk bab yang mulia dan tinggi. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang benar-benar jujur, mahir dalam pencarian, mendalam ilmunya, tinggi cita-citanya, sehingga dia masuk dalam satu ibadah namun memperoleh berbagai ibadah lainnya. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Adapun ucapan-ucapan, menjaganya adalah dengan tidak mengeluarkan ucapan yang sia-sia, bahkan tidak berbicara kecuali dalam hal yang dia harapkan mendapat keuntungan dan penambahan dalam agamanya. Jika dia ingin berbicara dengan suatu kalimat, dia melihat: apakah di dalamnya ada keuntungan dan manfaat atau tidak? Jika tidak ada keuntungan di dalamnya, dia menahan diri. Jika ada keuntungan, dia melihat: apakah akan terlewatkan darinya kalimat yang lebih menguntungkan, sehingga dia tidak menyia-nyiakannya dengan kalimat ini.
Jika kamu ingin mengetahui apa yang ada di dalam hati, lihatlah dari gerakan lisan, karena itu akan memberitahumu tentang apa yang ada di dalam hati, mau atau tidak mau pemiliknya. Yahya bin Mu’adz berkata: “Hati-hati seperti panci yang mendidih dengan isinya, dan lisan-lisan mereka adalah sendoknya. Lihatlah orang ketika berbicara, karena lisannya menimba untukmu apa yang ada di hatinya: manis dan asam, tawar dan pahit, dan lain-lain. Timbunan lisannya menunjukkan kepadamu rasa hatinya.” Maksudnya, sebagaimana kamu merasakan dengan lidahmu rasa apa yang ada di dalam panci makanan sehingga kamu tahu hakikatnya, begitu juga kamu merasakan apa yang ada di hati seseorang dari lisannya. Kamu merasakan apa yang ada di hatinya dari lisannya, sebagaimana kamu merasakan apa yang ada di panci dengan lidahmu.
Dalam hadis Anas yang marfu’: “Tidak akan lurus iman seorang hamba sampai lurus hatinya, dan tidak akan lurus hatinya sampai lurus lisannya.”
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan manusia ke neraka? Beliau menjawab: Mulut dan kemaluan.” At-Tirmidzi berkata: Hadis hasan sahih.
Mu’adz pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amalan yang memasukkannya ke surga dan menjauhkannya dari neraka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahunya tentang kepala, tiang, dan puncak tertinggi agama, kemudian berkata: “Maukah aku beritahu kepadamu tentang pengendali semua itu?” Mu’adz berkata: “Ya, wahai Rasulullah.” Maka Nabi mengambil lidahnya sendiri kemudian berkata: “Tahanlah ini.” Mu’adz bertanya: “Apakah kami akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kami ucapkan?” Nabi bersabda: “Celakalah kamu wahai Mu’adz! Apakah yang menelungkupkan manusia atas wajah mereka – atau atas hidung mereka – selain hasil panen lisan mereka?” At-Tirmidzi berkata: Hadis hasan sahih.
Sungguh mengherankan bahwa manusia mudah menjaga dan berhati-hati dari memakan haram, berbuat zalim, berzina, mencuri, minum khamar, melihat yang haram, dan lain-lain, namun sulit baginya menjaga gerakan lisannya. Sehingga kamu melihat seseorang yang dikenal karena agama, zuhud, dan ibadahnya, namun dia berbicara dengan kalimat-kalimat yang mendatangkan murka Allah tanpa mempedulikannya. Dengan satu kalimat darinya dia jatuh lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat. Betapa banyak orang yang menjaga diri dari perbuatan keji dan kezaliman, namun lisannya merobek kehormatan orang hidup dan mati, dan dia tidak peduli apa yang dikatakannya.
Jika kamu ingin mengetahui hal itu, lihatlah apa yang diriwayatkan Muslim dalam Sahihnya dari hadis Jundub bin Abdullah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang laki-laki berkata: ‘Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan.’ Maka Allah ‘azza wa jalla berfirman: ‘Siapa yang berani bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni si fulan? Sungguh Aku telah mengampuninya dan menggugurkan amalmu.'” Orang ahli ibadah ini yang telah beribadah kepada Allah sekehendak-Nya, satu kalimat ini menggugurkan seluruh amalnya.
Dalam hadis Abu Hurairah ada yang serupa, kemudian Abu Hurairah berkata: “Dia berbicara dengan satu kalimat yang mencelakakan dunia dan akhiratnya.”
Dalam Shahihain dari hadis Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan kalimat yang mendapat keridhaan Allah, dia tidak mempedulikannya, Allah mengangkat derajatnya dengan kalimat itu. Dan sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan kalimat yang mendapat murka Allah, dia tidak mempedulikannya, dia terjerumus karenanya ke dalam neraka Jahannam.” Dalam riwayat Muslim: “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan kalimat yang tidak dia perhatikan apa yang ada di dalamnya, dia tergelincir karenanya ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat.”
Dalam riwayat At-Tirmidzi dari hadis Bilal bin Harits Al-Muzani dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya salah seorang dari kalian berbicara dengan kalimat yang mendapat keridhaan Allah, dia tidak menyangka kalimat itu sampai sejauh yang dicapainya, maka Allah menuliskan untuknya keridhaan-Nya sampai hari dia bertemu dengan-Nya. Dan sesungguhnya salah seorang dari kalian berbicara dengan kalimat yang mendapat murka Allah, dia tidak menyangka kalimat itu sampai sejauh yang dicapainya, maka Allah menuliskan untuknya murka-Nya sampai hari dia bertemu dengan-Nya.” ‘Alqamah biasa berkata: “Betapa banyak perkataan yang telah kucegah karena hadis Bilal bin Harits.”
Dalam Jami’ At-Tirmidzi juga dari hadis Anas, dia berkata: “Seorang laki-laki dari kalangan sahabat meninggal dunia, maka seseorang berkata: ‘Bergembiralah dengan surga.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Apa yang membuatmu tahu? Boleh jadi dia berbicara tentang hal yang tidak menyangkut dirinya, atau kikir dengan sesuatu yang tidak menguranginya.'” At-Tirmidzi berkata: Hadis hasan.
Dalam satu riwayat: “Bahwa seorang anak muda gugur syahid pada hari perang Uhud, dan ditemukan di perutnya ada batu yang diikat karena kelaparan. Ibunya menyeka debu dari wajahnya dan berkata: ‘Berbahagialah wahai anakku dengan surga.’ Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Apa yang membuatmu yakin? Bisa jadi dia dulu berbicara tentang hal yang tidak berguna baginya, dan mencegah sesuatu yang tidak membahayakannya.'”
Dalam Shahihain dari hadits Abu Hurairah yang dirafa’kan: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya dia berkata baik atau diam.”
Dalam riwayat Muslim: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka apabila dia menyaksikan suatu perkara, hendaknya dia berkata baik atau diam.”
At-Tirmidzi menyebutkan dengan sanad shahih dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Termasuk dari baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak berguna baginya.”
Dari Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi, dia berkata: “Aku berkata: ‘Ya Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam suatu perkataan yang tidak perlu aku tanyakan kepada orang lain setelahmu.’ Beliau berkata: ‘Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.’ Aku berkata: ‘Ya Rasulullah, apa yang paling engkau khawatirkan terhadapku?’ Maka beliau memegang lidahnya sendiri, kemudian berkata: ‘Ini.'” Hadits ini shahih.
Dari Ummu Habibah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Setiap perkataan anak Adam akan menjadi dosa baginya, bukan kebaikan, kecuali menyuruh kepada kebaikan, atau mencegah kemungkaran, atau mengingat Allah ‘azza wa jalla.” At-Tirmidzi berkata: Hadits hasan.
Dalam hadits lain: “Apabila hamba bangun pagi, maka seluruh anggota badan memohon ampun kepada lidah, mereka berkata: ‘Bertakwalah kepada Allah dalam urusan kami, karena sesungguhnya kami bergantung padamu. Jika engkau lurus, kami akan lurus, dan jika engkau bengkok, kami akan bengkok.'”
Sebagian salaf dahulu menghisab dirinya dalam perkataannya: “Hari panas” dan “hari dingin.”
Sungguh telah terlihat sebagian ulama besar dalam mimpi, lalu ditanya tentang keadaannya. Dia berkata: “Aku ditahan karena suatu kata yang aku ucapkan. Aku berkata: ‘Betapa manusia sangat membutuhkan hujan.’ Maka dikatakan kepadaku: ‘Apa yang membuatmu tahu? Aku lebih mengetahui kemaslahatan hamba-hamba-Ku.'”
Salah seorang sahabat berkata kepada hambanya suatu hari: “Berikan meja makan, mari kita bermain-main dengannya.” Kemudian dia berkata: “Astaghfirullah, tidaklah aku berbicara dengan suatu kata kecuali aku kendalikan dan aku ikat, kecuali kata ini yang keluar dariku tanpa kendali dan ikatan,” atau sebagaimana yang dia katakan.
Gerakan anggota badan yang paling ringan adalah gerakan lidah, namun itulah yang paling berbahaya bagi hamba.
Para salaf dan khalaf berbeda pendapat, apakah semua yang diucapkan dicatat atau hanya kebaikan dan keburukan saja? Ada dua pendapat, yang lebih kuat adalah pendapat pertama.
Sebagian salaf berkata: “Setiap perkataan anak Adam akan menjadi dosa baginya, bukan kebaikan, kecuali yang karena Allah dan yang sejalan dengannya.” Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu biasa memegang lidahnya dan berkata: “Ini yang menggiringku ke berbagai tempat bahaya.” Perkataan adalah tawananmu, jika keluar dari mulutmu, maka kamu akan menjadi tawanannya. Allah berada di sisi lidah setiap yang berbicara: “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)
Pada lidah terdapat dua bencana besar. Jika seorang hamba selamat dari salah satunya, dia tidak akan selamat dari yang lainnya: bencana berbicara dan bencana diam. Masing-masing bisa menjadi dosa yang lebih besar dari yang lain pada waktunya. Orang yang diam dari kebenaran adalah setan bisu, bermaksiat kepada Allah, munafik dan pengecut jika dia tidak takut pada dirinya. Sedangkan orang yang berbicara dengan kebatilan adalah setan yang berbicara, bermaksiat kepada Allah. Kebanyakan manusia menyimpang dalam berbicara dan diamnya, mereka berada di antara dua jenis ini. Adapun orang-orang yang pertengahan – yaitu ahli shirath al-mustaqim – mereka mengendalikan lidah mereka dari kebatilan, dan melepaskannya untuk hal yang bermanfaat bagi mereka di akhirat. Kamu tidak akan melihat salah seorang dari mereka berbicara dengan kata yang sia-sia tanpa manfaat, apalagi yang merugikan di akhiratnya. Sesungguhnya seorang hamba akan datang pada hari kiamat dengan kebaikan sebesar gunung-gunung, lalu dia mendapati lidahnya telah meruntuhkan semuanya. Dan dia datang dengan kejahatan sebesar gunung-gunung, lalu dia mendapati lidahnya telah meruntuhkannya karena banyak mengingat Allah dan yang terkait dengannya.
Adapun langkah-langkah: menjaganya dengan tidak melangkahkan kaki kecuali untuk sesuatu yang dia harapkan pahalanya. Jika dalam langkahnya tidak ada tambahan pahala, maka duduk lebih baik baginya. Dia bisa mengeluarkan dari setiap hal mubah yang dia tuju suatu pendekatan diri yang diniatkan karena Allah, maka langkahnya menjadi ibadah.
Ketika tersandung itu ada dua macam: tersandung kaki dan tersandung lidah, maka keduanya disebutkan berpasangan dalam firman Allah Ta’ala: “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan: 63)
Maka Allah menggambarkan mereka dengan istiqamah dalam ucapan dan langkah mereka, sebagaimana Allah menggabungkan antara pandangan dan isi hati dalam firman-Nya: “Allah mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Ghafir: 19)
Pasal
Semua ini kami sebutkan sebagai pendahuluan sebelum membahas pengharaman kemungkaran dan kewajiban menjaga kemaluan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Yang paling banyak memasukkan manusia ke neraka adalah: mulut dan kemaluan.”
Dalam Shahihain dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidak halal darah seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga hal: orang yang sudah menikah yang berzina, jiwa dengan jiwa, dan orang yang meninggalkan agamanya serta memisahkan diri dari jamaah.” Hadits ini dalam menggabungkan zina dengan kekufuran dan pembunuhan, serupa dengan ayat dalam Al-Furqan dan serupa dengan hadits Ibnu Mas’ud.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dengan yang paling banyak terjadi, kemudian yang menyusulnya. Zina lebih banyak terjadi daripada pembunuhan, dan pembunuhan lebih banyak terjadi daripada riddah (murtad). Juga karena beliau berpindah dari yang besar kepada yang lebih besar lagi. Kerusakan zina bertentangan dengan kemaslahatan dunia. Jika seorang wanita berzina, dia memasukkan aib kepada keluarganya, suaminya, dan kerabatnya, serta menundukkan kepala mereka di hadapan manusia. Jika dia hamil dari zina, jika dia membunuh anaknya, dia menggabungkan antara zina dan pembunuhan. Jika dia membebankan anak itu kepada suami, dia memasukkan orang asing yang bukan dari mereka kepada keluarganya dan keluarga suaminya, lalu anak itu mewarisi mereka padahal bukan dari mereka, melihat mereka dan menyendiri dengan mereka serta bernasab kepada mereka padahal bukan dari mereka, dan kerusakan-kerusakan lain dari zinanya.
Adapun zina laki-laki, maka itu menyebabkan percampuran nasab juga, merusak wanita yang terjaga dan membahayakannya dengan kerusakan dan kebinasaan. Dalam dosa besar ini terdapat kehancuran dunia dan agama, meskipun itu memakmurkan kubur di alam barzakh dan neraka di akhirat. Betapa banyak dalam zina itu menghalalkan yang haram, hilangnya hak-hak, dan terjadinya kezaliman.
Di antara ciri khasnya: bahwa zina menyebabkan kemiskinan, memendekkan umur, memakaikan kepada pelakunya wajah yang hitam, dan pakaian kebencian di antara manusia.
Di antara ciri khasnya juga: bahwa zina mencerai-beraikan hati dan menyakitkannya jika tidak mematikannya, mendatangkan kesedihan, kekhawatiran, dan ketakutan, menjauhkan pelakunya dari malaikat dan mendekatkannya kepada setan. Tidak ada kerusakan setelah pembunuhan yang lebih besar dari kerusakannya. Karena itu ditetapkan hukuman mati dengan cara yang paling keji, paling buruk, dan paling sulit. Jika seorang hamba mendapat kabar bahwa istrinya atau kehormatannya dibunuh, itu lebih mudah baginya daripada mendengar bahwa dia berzina.
Sa’d bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Jika aku melihat seorang laki-laki bersama istriku, niscaya aku pukul dia dengan pedang tanpa ampun.” Hal itu sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda: “Kalian heran dengan ghirah (cemburu) Sa’d? Demi Allah, aku lebih ghirah darinya, dan Allah lebih ghirah dariku. Karena ghirah Allah, Dia mengharamkan kemungkaran yang tampak dan yang tersembunyi.” Muttafaq ‘alaih.
Dalam Shahihain juga dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Allah ghirah (cemburu), dan orang beriman pun ghirah. Ghirah Allah adalah ketika hamba melakukan apa yang Dia haramkan atasnya.”
Dalam Shahihain dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidak ada yang lebih ghirah daripada Allah. Karena itu Dia mengharamkan kemungkaran yang tampak dan yang tersembunyi. Tidak ada yang lebih suka kepada uzur daripada Allah, karena itu Dia mengutus para rasul sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan. Tidak ada yang lebih suka kepada pujian daripada Allah, karena itu Dia memuji diri-Nya sendiri.”
Dalam Shahihain dalam khutbah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pada shalat gerhana, bahwa beliau bersabda: “Wahai umat Muhammad, demi Allah tidak ada yang lebih ghirah daripada Allah jika hamba laki-laki-Nya berzina atau hamba perempuan-Nya berzina. Wahai umat Muhammad, demi Allah jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian sedikit tertawa dan banyak menangis.” Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya dan berkata: “Ya Allah, sudahkah aku sampaikan?”
Dalam penyebutan dosa besar ini secara khusus setelah shalat gerhana terdapat rahasia yang indah bagi yang merenungkannya. Merebaknya zina termasuk tanda-tanda kehancuran dunia, dan itu termasuk tanda-tanda kiamat, sebagaimana dalam Shahihain dari Anas bin Malik bahwa dia berkata: “Sungguh aku akan menceritakan kepada kalian hadits yang tidak akan diceritakan orang lain kepada kalian setelahku. Aku mendengarnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Di antara tanda-tanda kiamat adalah terangkatnya ilmu, merebaknya kebodohan, diminum khamr, merebaknya zina, berkurangnya laki-laki dan bertambahnya perempuan, hingga lima puluh wanita hanya memiliki satu pengurus laki-laki.'”
Sungguh telah berlaku sunnatullah Subhanahu dalam makhluk-Nya bahwa ketika zina merebak, Allah Subhanahu wa Ta’ala murka dan murka-Nya mengeras, maka pasti murka-Nya berpengaruh di bumi sebagai hukuman.
Abdullah bin Mas’ud berkata: “Tidaklah riba dan zina merebak di suatu kampung kecuali Allah mengizinkan kehancurannya.”
Salah seorang ahli kitab Bani Israil melihat anaknya menggoda seorang wanita, maka dia berkata: “Pelan-pelan wahai anakku.” Maka ayah tersebut jatuh dari tempat tidurnya, sumsum tulang belakangnya putus dan istrinya keguguran. Dikatakan kepadanya: “Begitukah kemarahanmu karena-Ku? Tidak akan ada kebaikan dalam jenismu selamanya.”
Allah Subhanahu mengkhususkan had zina dari antara had-had lainnya dengan tiga kekhususan:
Pertama: Hukuman mati dengan cara pembunuhan yang paling keji. Dan ketika Dia meringankannya, Dia menggabungkan di dalamnya antara hukuman pada badan dengan cambukan dan pada hati dengan mengasingkannya dari negerinya selama setahun.
Yang Kedua: Allah melarang hamba-hamba-Nya agar tidak dikuasai oleh rasa kasihan terhadap para pezina dalam agama-Nya, sehingga hal itu menghalangi mereka dari menegakkan hukuman atas mereka. Sesungguhnya Allah Subhanahu karena kasih sayang dan rahmat-Nya kepada mereka, maka Dia mensyariatkan hukuman ini. Dia lebih penyayang kepada kalian, dan rahmat-Nya tidak menghalangi-Nya dari memerintahkan hukuman ini, maka janganlah rasa kasihan yang ada di hati kalian menghalangi kalian dari menegakkan perintah-Nya.
Hal ini – meskipun berlaku umum untuk semua hukuman – tetapi disebutkan khusus dalam hukuman zina karena sangat dibutuhkan penyebutannya. Karena manusia tidak menemukan dalam hati mereka kekerasan dan ketegasan terhadap pezina sebagaimana yang mereka rasakan terhadap pencuri, penuduh, dan peminum khamar. Hati mereka lebih mengasihani pezina daripada mengasihani pelaku kejahatan lainnya, dan kenyataan menjadi saksi atas hal itu. Maka mereka dilarang agar rasa kasihan ini tidak menguasai mereka dan membawa mereka untuk menghentikan hukum Allah.
Sebab rasa kasihan ini adalah: Bahwa dosa ini dilakukan oleh orang-orang mulia, menengah, maupun hina, dan dalam jiwa terdapat dorongan yang sangat kuat kepadanya. Yang terlibat di dalamnya sangat banyak, dan kebanyakan sebabnya adalah cinta, sedangkan hati-hati diciptakan untuk mengasihani orang yang sedang jatuh cinta. Banyak orang menganggap membantu orang yang jatuh cinta sebagai ketaatan dan ibadah, meskipun sosok yang dicintai itu haram baginya, dan mereka tidak mengingkari perkara ini. Hal ini sudah menetap pada sebagian makhluk yang menyerupai binatang ternak yang dikehendaki Allah. Sungguh telah diceritakan kepada kami banyak hal tentang itu oleh orang-orang yang kurang akal seperti pelayan dan wanita.
Juga karena dosa ini umumnya terjadi dengan kerelaan dari kedua belah pihak, dan tidak terjadi di dalamnya permusuhan, kezaliman, dan pemaksaan yang membuat jiwa merasa jijik.
Dalam jiwa terdapat nafsu yang kuat kepadanya, sehingga hal itu tergambar bagi mereka, lalu timbullah rasa kasihan yang menghalangi penegakan hukuman. Semua ini karena lemahnya iman. Kesempurnaan iman adalah seseorang memiliki kekuatan untuk menegakkan perintah Allah, dan kasih sayang untuk mengasihani orang yang dihukum, sehingga dia sesuai dengan Tuhannya Yang Maha Tinggi dalam perintah dan rahmat-Nya.
Yang Ketiga: Allah Subhanahu memerintahkan agar hukuman mereka dilaksanakan di hadapan orang-orang mukmin, tidak dalam keadaan sunyi dimana tidak ada seorang pun yang melihat mereka. Hal itu lebih bermanfaat dalam tujuan hukuman, dan hikmahnya adalah untuk memberikan efek jera. Hukuman pezina yang sudah menikah diambil dari hukuman Allah Ta’ala terhadap kaum Luth dengan dilempar batu, karena kesamaan antara zina dan homoseksual dalam kekejian. Pada keduanya terdapat kerusakan yang bertentangan dengan hikmah Allah dalam penciptaan dan perintah-Nya.
Sesungguhnya dalam homoseksual terdapat kerusakan yang tidak terhitung dan tidak dapat dihitung. Lebih baik orang yang dijadikan objek (maf’ul bih) dibunuh daripada dilakukan perbuatan itu kepadanya, karena dia akan rusak dengan kerusakan yang tidak diharapkan ada perbaikan setelahnya selamanya. Semua kebaikannya akan hilang, dan bumi akan menyerap air malu dari wajahnya, sehingga dia tidak akan malu lagi setelah itu kepada Allah maupun kepada makhluk-Nya. Sperma si pelaku akan bekerja dalam hati dan ruhnya sebagaimana racun bekerja dalam tubuh.
Orang-orang telah berbeda pendapat, apakah orang yang dijadikan objek homoseksual akan masuk surga? Ada dua pendapat, aku mendengar Syaikhul Islam menceritakan keduanya.
Orang-orang yang mengatakan tidak akan masuk surga berdalil dengan beberapa hal:
Di antaranya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak akan masuk surga anak zina” Jika ini keadaan anak zina padahal dia tidak berdosa dalam hal itu, tetapi dia tempat dugaan segala kejahatan dan keburukan, dan dia pantas tidak akan pernah datang darinya kebaikan, karena dia diciptakan dari sperma yang buruk. Jika tubuh yang tumbuh dengan yang haram, neraka lebih berhak baginya, bagaimana dengan tubuh yang diciptakan dari sperma haram?
Mereka berkata: Orang yang dijadikan objek homoseksual lebih jahat daripada anak zina, lebih hina, lebih buruk, dan lebih tidak tahu malu. Dia pantas tidak diberi taufik untuk kebaikan, dan dihalangi darinya. Setiap kali dia berbuat baik, Allah mengadakan sesuatu yang merusaknya sebagai hukuman baginya. Jarang engkau melihat orang yang seperti itu di masa kecilnya kecuali dia di masa tuanya lebih jahat dari yang dulu, dan tidak diberi taufik untuk ilmu yang bermanfaat, amal saleh, dan taubat nasuha.
Kebenaran dalam masalah ini adalah jika orang yang tertimpa bencana ini bertaubat dan kembali, diberi rezeki taubat nasuha dan amal saleh, dan di masa tuanya lebih baik daripada di masa kecilnya, mengganti kejahatan-kejahatannya dengan kebaikan-kebaikan, mencuci aib itu dari dirinya dengan berbagai ketaatan dan ibadah, menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya dari yang haram, dan berlaku jujur kepada Allah dalam muamalahnya, maka orang ini diampuni dan dia termasuk ahli surga. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Jika taubat menghapus semua dosa, bahkan syirik kepada Allah, membunuh nabi-nabi dan wali-wali-Nya, sihir, kekufuran, dan lain-lain, maka taubat tidak akan kurang dalam menghapus dosa ini. Sungguh telah ditetapkan hikmah Allah Ta’ala dengan keadilan dan karunia-Nya bahwa: “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak berdosa”
Allah Subhanahu telah menjamin bagi siapa yang bertaubat dari syirik, pembunuhan, dan zina, bahwa Dia akan mengganti kejahatan-kejahatannya menjadi kebaikan-kebaikan. Ini adalah hukum umum bagi setiap orang yang bertaubat dari dosa.
Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'” (Surat Az-Zumar: 53)
Tidak ada satu dosa pun yang keluar dari keumuman ini, tetapi ini khusus bagi orang-orang yang bertaubat.
Adapun orang yang dijadikan objek homoseksual jika di masa tuanya lebih jahat daripada di masa kecilnya, tidak diberi taufik untuk taubat nasuha, tidak untuk amal saleh, tidak untuk mengejar yang terlewat, dan tidak mengganti kejahatan dengan kebaikan, maka orang ini jauh untuk diberi taufik saat kematian untuk akhir yang baik sehingga masuk surga, sebagai hukuman atas perbuatannya. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menghukum kejahatan dengan kejahatan lain, dan hukuman kejahatan berlipat ganda satu dengan lainnya, sebagaimana Dia memberi pahala kebaikan dengan kebaikan lain.
Jika engkau melihat keadaan banyak orang yang sedang sekarat, engkau akan mendapati mereka dihalangi dari akhir yang baik, sebagai hukuman atas perbuatan-perbuatan buruk mereka.
Al-Hafizh Abu Muhammad Abdul Haq bin Abdurrahman Al-Ishbili rahimahullah berkata:
Ketahuilah bahwa buruknya akhir – semoga Allah melindungi kita darinya – memiliki sebab-sebab, dan memiliki jalan-jalan dan pintu-pintu. Yang paling besar adalah ketertarikan pada dunia, berpaling dari akhirat, berani dan lancang terhadap kemaksiatan Allah Azza wa Jalla. Terkadang seseorang dikuasai oleh satu jenis dosa, satu bentuk kemaksiatan, satu sisi keberpalingan, dan satu bagian keberanian dan kelancangan, sehingga menguasai hatinya, menawan akalnya, memadamkan cahayanya, dan mengirimkan hijab-hijab kepadanya sehingga tidak bermanfaat padanya peringatan, dan tidak berhasil padanya nasihat. Terkadang kematian datang kepadanya dalam keadaan seperti itu, maka dia mendengar panggilan dari tempat yang jauh, tetapi tidak jelas baginya yang dimaksud, dan tidak tahu apa yang dikehendaki, meskipun si pemanggil mengulangi dan mengulang.
Dia berkata: Diriwayatkan bahwa salah seorang dari para pengikut An-Nashir ketika kematian menimpa dirinya, anaknya berkata: “Katakanlah la ilaha illa Allah”, maka dia berkata: “An-Nashir adalah tuanku”. Anaknya mengulangi ucapan itu, dia mengulangi seperti itu juga. Kemudian dia pingsan, ketika sadar dia berkata: “An-Nashir adalah tuanku”. Ini kebiasaannya setiap kali dikatakan kepadanya: “Katakanlah la ilaha illa Allah”, dia berkata: “An-Nashir adalah tuanku”. Kemudian dia berkata kepada anaknya: “Wahai fulan, An-Nashir hanya mengenalmu dengan pedangmu, dan bunuhlah, bunuhlah”, kemudian dia mati.
Abdul Haq berkata: Dikatakan kepada orang lain – yang aku kenal – “Katakanlah la ilaha illa Allah”. Dia berkata: “Rumah fulan, perbaikilah di dalamnya begini dan begitu, kebun fulan, lakukanlah di dalamnya begini dan begitu.”
Dia berkata: Dalam apa yang diizinkan Abu Thahir As-Salafi untuk aku ceritakan darinya: Bahwa seorang laki-laki ketika kematian menimpanya, dikatakan kepadanya: “Katakanlah la ilaha illa Allah”, dia berkata dalam bahasa Persia: “Dah yazdah dah wa azdah”, artinya: sepuluh dengan sebelas.
Dikatakan kepada yang lain: “Katakanlah la ilaha illa Allah”, dia berkata: “Di mana jalan menuju pemandian Minjab”
Dia berkata: Ucapan ini memiliki cerita. Seorang laki-laki berdiri di depan rumahnya, pintunya menyerupai pintu pemandian ini. Seorang budak wanita cantik lewat dan berkata: “Di mana jalan ke pemandian Minjab?” Dia berkata: “Ini pemandian Minjab”. Wanita itu masuk ke rumah dan dia mengikuti masuk. Ketika wanita itu melihat dirinya di rumahnya dan tahu bahwa dia telah menipu, dia menampakkan kegembiraan dan kesenangan bertemu dengannya, dan berkata: “Sebaiknya ada sesuatu yang membahagiakan hidup kita dan menyejukkan mata kita”. Dia berkata: “Sekarang aku akan membawakan semua yang kamu inginkan dan dambakan”. Dia keluar meninggalkannya di rumah tanpa menguncinya. Dia mengambil apa yang perlu dan kembali, mendapati wanita itu telah keluar dan pergi, tanpa mengkhianatinya dalam apapun. Laki-laki itu menjadi gila dan sering menyebutnya, berjalan di jalan-jalan dan gang-gang sambil berkata:
“Wahai Tuhan, seorang wanita berkata suatu hari ketika lelah… Bagaimana jalan ke pemandian Minjab?”
Suatu hari ketika dia mengucapkan itu, tiba-tiba budak wanita itu menjawabnya dari jendela: “Mengapa tidak kamu buat cepat ketika berhasil mendapatkannya… penjagaan rumah atau kunci pintu”
Kegilaannya bertambah dan menguat, terus seperti itu, hingga bait ini menjadi ucapan terakhirnya dari dunia.
Sufyan Ats-Tsauri menangis suatu malam hingga pagi. Ketika pagi dikatakan kepadanya: “Semua ini karena takut dosa?” Dia mengambil sebatang jerami dari tanah dan berkata: “Dosa lebih ringan dari ini, aku menangis karena takut buruknya akhir.”
Ini termasuk fiqih yang paling besar: bahwa seseorang takut dosa-dosanya akan mengkhianatinya saat kematian, sehingga menghalangi antara dia dengan akhir yang baik.
Imam Ahmad menyebutkan dari Abu Ad-Darda’ bahwa ketika dia sekarat, dia pingsan kemudian sadar dan membaca: “Dan Kami bolak-balikkan hati dan penglihatan mereka sebagaimana mereka tidak beriman kepadanya pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan mereka” (Surat Al-An’am: 110)
Karena inilah para salaf takut pada dosa-dosa, jangan sampai menjadi hijab antara mereka dengan akhir yang baik.
Dia berkata: Ketahuilah bahwa buruknya akhir – semoga Allah Ta’ala melindungi kita darinya – tidak terjadi pada orang yang lurus zahirnya dan baik batinnya. Hal ini tidak pernah didengar dan tidak diketahui, alhamdulillah. Hal itu hanya terjadi pada orang yang memiliki kerusakan dalam akidah, atau berkepanjangan dalam dosa besar, dan berani terhadap perkara-perkara besar. Terkadang hal itu menguasainya hingga kematian turun kepadanya sebelum taubat, menangkapnya sebelum memperbaiki niat, dan memusnahkannya sebelum kembali. Setan berhasil menguasainya saat guncangan itu, dan menculiknya saat kebingungan itu, na’udzubillah.
Dia berkata: Diriwayatkan bahwa di Mesir ada seorang laki-laki yang bertugas di masjid untuk adzan dan shalat, padanya tampak cahaya ketaatan dan cahaya ibadah. Suatu hari dia naik menara sesuai kebiasaannya untuk adzan. Di bawah menara ada rumah seorang Nasrani. Dia mengintip ke dalamnya dan melihat anak perempuan pemilik rumah, lalu terpesona dengannya. Dia meninggalkan adzan, turun kepadanya, dan masuk rumah menemuinya. Wanita itu berkata: “Apa urusanmu dan apa maumu?” Dia berkata: “Aku menginginkanmu”. Dia berkata: “Untuk apa?” Dia berkata: “Kamu telah menawan akalku dan menguasai hatiku”. Dia berkata: “Aku tidak akan memenuhi permintaanmu untuk hal yang meragukan selamanya”. Dia berkata: “Aku akan menikahimu?” Dia berkata: “Kamu Muslim dan aku Nasrani, ayahku tidak akan menikahkanku denganmu”. Dia berkata: “Aku akan masuk Nasrani”. Dia berkata: “Jika kamu lakukan, aku akan lakukan”. Maka laki-laki itu masuk Nasrani untuk menikahi wanita itu, dan tinggal bersama mereka di rumah. Ketika di pertengahan hari itu, dia naik ke atap yang ada di rumah, lalu jatuh darinya dan mati. Dia tidak berhasil mendapatkannya, dan agamanya hilang.
Dia berkata: Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki jatuh cinta kepada seseorang, maka cintanya sangat keras kepadanya, dan cintanya itu menguasai hatinya, hingga dia sakit karenanya dan harus berbaring di tempat tidur. Orang yang dicintainya itu menjauh darinya dan sangat menghindar. Para perantara terus berusaha mendamaikan di antara mereka berdua hingga orang itu berjanji akan menjenguknya. Orang-orang memberitahukan hal itu kepadanya, maka dia bergembira dan sangat bahagia, kesedihannya pun hilang. Dia mulai menunggu waktu yang telah dijanjikan kepadanya.
Ketika dia dalam keadaan seperti itu, datanglah perantara di antara mereka berdua, lalu berkata: “Dia telah berjalan bersamaku sampai sebagian jalan lalu kembali. Aku telah membujuknya dan berbicara kepadanya, tetapi dia berkata: ‘Dia telah menyebut namaku dan membicarakanku secara terang-terangan. Aku tidak akan masuk ke tempat-tempat yang menimbulkan kecurigaan dan tidak akan membawa diriku ke tempat-tempat yang menimbulkan tuduhan.’ Aku mencobanya lagi tetapi dia menolak dan pergi.”
Ketika orang malang itu mendengar hal tersebut, dia sangat kecewa dan kembali ke keadaan yang lebih buruk dari sebelumnya. Tanda-tanda penyakit mulai tampak padanya, maka dia mulai berkata dalam keadaan itu:
“Wahai Salmu, wahai ketenangan si sakit… dan wahai penyembuh si lemah yang kurus Ridhomu lebih manis bagiku… daripada rahmat Pencipta Yang Mulia”
Maka aku berkata kepadanya: “Wahai fulan, bertakwalah kepada Allah!” Dia berkata: “Sudah terjadi.” Maka aku berdiri meninggalkannya. Aku belum melewati pintu rumahnya hingga aku mendengar teriakan kematian. Maka berlindunglah kita kepada Allah dari buruknya akibat dan jeleknya akhir.
Karena kerusakan sodomi termasuk kerusakan yang paling besar, maka hukumannya di dunia dan akhirat termasuk hukuman yang paling besar.
Orang-orang berselisih pendapat: Apakah hukumannya lebih berat daripada zina, atau zina lebih berat hukumannya, atau hukuman keduanya sama? Ada tiga pendapat:
Pendapat Pertama: Abu Bakar As-Shiddiq, Ali bin Abi Thalib, Khalid bin Walid, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Abbas, Khalid bin Zaid, Abdullah bin Ma’mar, Az-Zuhri, Rabi’ah bin Abi Abdurrahman, Malik, Ishaq bin Rahuyah, Imam Ahmad (dalam riwayat yang paling sahih darinya), dan Asy-Syafi’i (dalam salah satu pendapatnya) berpendapat bahwa hukumannya lebih berat daripada hukuman zina, dan hukumannya adalah dibunuh dalam segala keadaan, baik muhshan maupun tidak muhshan.
Pendapat Kedua: Atha’ bin Abi Rabah, Al-Hasan Al-Bashri, Sa’id bin Musayyab, Ibrahim An-Nakha’i, Qatadah, Al-Auza’i, Asy-Syafi’i (dalam pendapat yang tampak dari mazhabnya), Imam Ahmad (dalam riwayat kedua darinya), Abu Yusuf, dan Muhammad berpendapat bahwa hukumannya sama dengan hukuman pezina.
Pendapat Ketiga: Al-Hakim dan Abu Hanifah berpendapat bahwa hukumannya lebih ringan daripada hukuman pezina, yaitu ta’zir.
Mereka berkata: Karena ini adalah kemaksiatan dari kemaksiatan-kemaksiatan yang Allah dan Rasul-Nya tidak menetapkan had yang tertentu padanya, maka hukumannya adalah ta’zir, seperti memakan bangkai, darah, dan daging babi.
Mereka berkata: Dan karena ini adalah hubungan intim di tempat yang tidak diinginkan oleh tabiat, bahkan Allah Taala menciptakan tabiat untuk menjauhinya, bahkan binatang pun, maka tidak ada had padanya seperti hubungan dengan keledai betina dan lainnya.
Mereka berkata: Dan karena pelakunya tidak disebut pezina menurut bahasa, syariat, maupun adat, maka tidak masuk dalam nash-nash yang menunjukkan had pezina. Mereka berkata: Kita telah melihat kaidah-kaidah syariat, bahwa kemaksiatan jika penghalangnya adalah tabiat alami, maka cukup dengan penghalang itu dari had. Dan jika dalam tabiat ada dorongan kepadanya, maka dijadikan had sesuai dengan dorongan tabiat kepadanya. Oleh karena itu dijadikan had dalam zina, pencurian, dan minum khamar, bukan dalam memakan bangkai, darah, dan daging babi.
Mereka berkata: Konsekuensi dari ini adalah tidak ada had dalam hubungan dengan binatang atau mayat. Allah Subhanahu telah menciptakan tabiat untuk menjauhi hubungan laki-laki dengan laki-laki seperti dirinya dengan penjauhan yang sangat keras, sebagaimana Dia menciptakannya untuk menjauhi permintaan laki-laki kepada yang menghubunginya, berbeda dengan zina yang mana dorongannya dari kedua belah pihak.
Mereka berkata: Dan karena jika salah satu dari dua jenis kelamin bersenang-senang dengan jenisnya, tidak wajib atasnya had, sebagaimana dua wanita yang melakukan lesbian dan masing-masing bersenang-senang dengan yang lain.
Bantahan Pendapat Pertama: Pemilik pendapat pertama berkata – dan mereka adalah mayoritas umat, dan lebih dari satu orang menyebutkannya sebagai ijma’ sahabat: Tidak ada dalam kemaksiatan yang lebih besar kerusakannya daripada kerusakan ini, dan ia mengikuti kerusakan kekufuran, dan mungkin lebih besar daripada kerusakan pembunuhan, sebagaimana akan kami jelaskan insya Allah Taala.
Mereka berkata: Allah Taala tidak menguji dengan dosa besar ini sebelum kaum Luth seorang pun dari seluruh alam, dan Dia menghukum mereka dengan hukuman yang tidak diberikan kepada orang lain selain mereka. Dia mengumpulkan atas mereka berbagai jenis hukuman: kebinasaan, pembalikan kampung mereka atas mereka, dibenamkan ke dalam bumi, dan dilempari batu dari langit. Dia memberikan hukuman yang tidak diberikan kepada umat selain mereka, dan itu karena besarnya kerusakan kejahatan ini yang hampir membuat bumi berguncang dari sisi-sisinya jika dilakukan di atasnya, dan malaikat-malaikat lari ke penjuru langit dan bumi jika menyaksikannya, karena takut turunnya azab atas pelakunya sehingga menimpa mereka juga. Bumi mengeluh kepada Tuhannya Tabaraka wa Taala, dan gunung-gunung hampir berpindah dari tempatnya. Membunuh orang yang diperkosa lebih baik baginya daripada diperkosa, karena jika dia diperkosa, dia dibunuh dengan pembunuhan yang tidak ada harapan hidup bersamanya, berbeda dengan membunuhnya karena dia adalah orang yang terzalimi dan syahid, dan mungkin dia akan mendapat manfaat di akhiratnya.
Mereka berkata: Dalil atas ini adalah bahwa Allah Subhanahu menjadikan had pembunuh kepada pilihan wali, jika mau dia bunuh dan jika mau dia maafkan, namun Dia mewajibkan membunuh pelaku sodomi sebagai had, sebagaimana disepakati oleh sahabat-sahabat Rasulullah, dan ditunjukkan oleh sunnah Rasulullah yang jelas yang tidak ada yang menentangnya, bahkan atas dasar itulah amal sahabat-sahabatnya dan khalifah-khalifah yang mendapat petunjuk.
Telah terbukti dari Khalid bin Walid bahwa dia menemukan di sebagian daerah pinggiran Arab seorang laki-laki yang disetubuhi sebagaimana wanita disetubuhi. Maka dia menulis kepada Abu Bakar As-Shiddiq. Abu Bakar As-Shiddiq bermusyawarah dengan para sahabat. Ali bin Abi Thalib adalah yang paling keras pendapatnya dalam hal ini, dia berkata: “Tidak ada yang melakukan ini kecuali satu umat dari umat-umat, dan kalian telah mengetahui apa yang Allah lakukan kepada mereka. Aku berpendapat dia harus dibakar dengan api.” Maka Abu Bakar menulis kepada Khalid, lalu dia membakarnya.
Abdullah bin Abbas berkata: “Dilihat bangunan tertinggi di kampung, lalu pelaku sodomi dilemparkan darinya dengan kepala di bawah, kemudian diikuti dengan melempari batu.”
Abdullah bin Abbas mengambil had ini dari hukuman Allah terhadap kaum Luth. Ibnu Abbas adalah orang yang meriwayatkan dari Nabi bahwa beliau bersabda: “Barang siapa kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah pelaku dan yang diperlakukan.” (Surat Al-A’raf: 80)
Diriwayatkan oleh ahli sunan dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan lainnya. Imam Ahmad berdalil dengan hadits ini, dan sanadnya sesuai syarat Bukhari.
Mereka berkata: Telah terbukti dari Nabi bahwa beliau bersabda: “Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth, Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth, Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth.” Tidak datang darinya laknat pezina tiga kali dalam satu hadits. Dia telah melaknat sekelompok ahli dosa besar, namun tidak melampaui mereka dalam laknat kecuali satu kali, dan dia mengulangi laknat sodomi dan menegaskannya tiga kali.
Para sahabat Rasulullah sepakat untuk membunuhnya, tidak ada dua orang di antara mereka yang berselisih dalam hal ini. Hanya saja mereka berselisih pendapat dalam cara membunuhnya. Orang-orang mengira bahwa itu adalah perselisihan di antara mereka dalam membunuhnya, lalu mereka menjadikannya masalah perselisihan di antara sahabat, padahal di antara mereka itu adalah masalah ijma’, bukan masalah perselisihan.
Mereka berkata: Barang siapa yang merenungkan firman-Nya Subhanahu: “Dan janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (Surat Al-Isra’: 32)
Dan firman-Nya tentang sodomi: “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan keji itu yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelum kalian?” (Surat Al-A’raf: 80)
Akan jelas baginya perbedaan di antara keduanya, dan bahwa Dia Subhanahu menjadikan kata “keji” dalam zina sebagai kata yang tidak tentu (nakirah), yaitu ia adalah satu keji dari keji-keji yang ada. Sedangkan dalam sodomi Dia menjadikannya sebagai kata yang tentu (ma’rifah), dan itu menunjukkan bahwa sodomi mengumpulkan makna-makna nama keji, sebagaimana engkau berkata: “Zaid adalah laki-laki itu” dan “Sebaik-baik laki-laki adalah Zaid,” yaitu: Apakah kalian mengerjakan sifat yang kekejiannya telah menetap di sisi setiap orang, maka karena jelas dan sempurnanya kekejiannya, tidak perlu disebutkan, sehingga nama itu tidak tertuju kepada selainnya. Ini seperti perkataan Fir’aun kepada Musa: “Dan engkau telah melakukan perbuatanmu yang telah engkau lakukan.” (Surat Asy-Syu’ara’: 19)
Yaitu perbuatan yang keji, jelas, dan diketahui oleh setiap orang.
Kemudian Dia Subhanahu menegaskan urusan kekejiannya dengan bahwa tidak ada seorang pun dari alam semesta yang melakukannya sebelum mereka, maka Dia berfirman: “yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelum kalian.” Kemudian Dia menambah penegasan dengan menyebutkan secara terang-terangan apa yang membuat hati jijik, telinga menolak, dan tabiat sangat menjauhinya, yaitu datangnya laki-laki kepada laki-laki seperti dirinya untuk disetubuhi sebagaimana wanita disetubuhi, maka Dia berfirman: “Sesungguhnya kalian mendatangi laki-laki.” (Surat Al-A’raf: 81)
Kemudian Allah menegaskan tentang ketidakbutuhan mereka terhadap hal itu, dan bahwa yang memotivasi mereka melakukan perbuatan tersebut hanyalah hawa nafsu semata, bukan kebutuhan yang menjadi alasan laki-laki cenderung kepada perempuan. Dari pemenuhan hajat dan kenikmatan bersenang-senang, serta terjadinya kasih sayang dan rahmat yang membuat seorang wanita melupakan kedua orang tuanya dan mengingat suaminya, serta untuk memperoleh keturunan yang merupakan penjagaan terhadap jenis manusia yang merupakan makhluk paling mulia, dan untuk menjaga kehormatan wanita serta memenuhi hajatnya, dan terjadinya hubungan keluarga yang merupakan saudara dari hubungan keturunan, dan kepemimpinan laki-laki atas perempuan, dan lahirnya makhluk yang paling dicintai Allah dari hubungan mereka seperti para nabi, para wali, dan orang-orang beriman, dan banyaknya umat Nabi Muhammad ﷺ dibandingkan dengan umat para nabi lainnya, dan masih banyak lagi kemaslahatan pernikahan lainnya. Sedangkan kerusakan yang ada dalam perbuatan liwath (homoseksual) melawan semua itu dan melebihinya dengan kerusakan yang tidak dapat dihitung, dan tidak ada yang mengetahui rinciannya kecuali Allah.
Kemudian Allah menegaskan keburukan hal itu dengan menyebutkan bahwa kaum Luth telah membalikkan fitrah Allah yang telah Allah ciptakan pada laki-laki, dan mereka membalikkan tabiat yang telah Allah ciptakan pada laki-laki, yaitu hasrat terhadap wanita bukan terhadap sesama laki-laki. Mereka membalikkan perkara tersebut dan membalikkan fitrah serta tabiat, lalu mereka mendatangi laki-laki dengan hawa nafsu selain wanita. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala membalikkan negeri mereka, menjadikan bagian atasnya menjadi bawah. Demikian pula mereka dibalikkan dan ditengkurapkan dalam azab di atas kepala mereka.
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan keburukan hal itu dengan menghukumi mereka sebagai orang-orang yang melampaui batas, yaitu melampaui batas, maka Dia berfirman: “Bahkan kamu adalah kaum yang melampaui batas” (Surat Al-A’raf: 81).
Maka perhatikanlah apakah ada yang serupa dengan itu atau mendekatinya dalam zina?
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan hal itu kepada mereka dengan firman-Nya: “Dan Kami selamatkan dia dari negeri yang penduduknya mengerjakan perbuatan keji” (Surat Al-Anbiya: 74).
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan celaan kepada mereka dengan dua sifat yang sangat buruk, maka Dia berfirman: “Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik” (Surat Al-Anbiya: 74).
Dan Dia menyebut mereka sebagai orang-orang yang membuat kerusakan dalam ucapan nabi mereka: “Ya Tuhanku, tolonglah aku terhadap kaum yang berbuat kerusakan” (Surat Al-Ankabut: 30). Dan Dia menyebut mereka sebagai orang-orang zalim dalam ucapan para malaikat kepada Ibrahim: “Sesungguhnya kami akan membinasakan penduduk negeri ini. Sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zalim” (Surat Al-Ankabut: 31).
Maka perhatikanlah siapa yang diazab dengan azab seperti ini, dan siapa yang dicela Allah dengan celaan seperti ini. Dan ketika kekasih-Nya Ibrahim berdebat dengan para malaikat tentang mereka, padahal para malaikat telah mengabarkan kepadanya tentang kebinasaan mereka, maka dikatakan kepadanya: “Hai Ibrahim, berpalinglah dari ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Tuhanmu dan sesungguhnya mereka akan ditimpa azab yang tidak dapat ditolak” (Surat Hud: 76).
Dan perhatikanlah keburukan kaum Luth dan keterlaluan pemberontakan mereka terhadap Allah ketika mereka datang kepada nabi mereka Luth saat mendengar bahwa dia kedatangan tamu-tamu yang merupakan manusia yang paling bagus rupanya. Maka kaum Luth pun berlari-lari kecil menuju mereka. Ketika dia melihat mereka, dia berkata kepada mereka: “Hai kaumku, inilah anak-anak perempuanku, mereka lebih suci bagimu” (Surat Hud: 78).
Maka dia menebus tamu-tamunya dengan anak-anak perempuannya, akan menikahkan mereka dengan kaum itu karena takut pada dirinya dan tamu-tamunya dari aib yang berat. Maka dia berkata: “Hai kaumku, inilah anak-anak perempuanku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mempermalukanku terhadap tamuku. Apakah tidak ada di antara kamu seorang laki-laki yang berakal?” Maka mereka membalas kepadanya, tetapi balasan seorang yang sombong lagi keras kepala: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap anak-anak perempuanmu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang kami kehendaki” (Surat Hud: 79).
Maka nabi Allah menghela nafas seperti orang yang sesak napas yang keluar dari hati yang sedih, lalu berkata: “Sekiranya aku mempunyai kekuatan (untuk menolak) kamu atau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).” Maka utusan-utusan Allah menenangkannya tentang hakikat keadaan, dan memberitahukan kepadanya bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak dapat diganggu, dan dia juga tidak akan diganggu karena mereka, maka jangan takut kepada mereka dan jangan pedulikan mereka, tenangkanlah dirimu. Maka mereka berkata: “Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu.” Dan mereka memberinya kabar gembira dengan apa yang mereka bawa berupa janji untuknya dan ancaman yang pasti menimpa kaumnya, maka mereka berkata: “Sebab itu pergilah dengan membawa keluargamu pada sebagian malam dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka. Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah pagi hari; bukankah pagi itu sudah dekat?” (Surat Hud: 81).
Maka nabi Allah merasa lambat waktu kebinasaan mereka, dan berkata: Aku ingin yang lebih cepat dari ini. Maka para malaikat berkata: “Bukankah pagi itu sudah dekat?” Demi Allah, tidak ada jeda antara kebinasaan musuh-musuh Allah dan keselamatan nabi-Nya serta para wali-Nya kecuali antara waktu sahur dan terbit fajar. Dan tiba-tiba negeri mereka telah dicabut dari dasarnya dan diangkat ke arah langit hingga para malaikat mendengar gonggongan anjing dan ringkikan keledai. Maka keluarlah keputusan yang tidak dapat ditolak dari sisi Tuhan Yang Maha Mulia kepada hamba dan rasul-Nya Jibril, untuk membalikkannya atas mereka sebagaimana yang diberitakan dalam Al-Quran yang muhkam. Maka Dia berfirman, Maha Mulia Yang berfirman: “Ketika datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu-batu dari tanah yang terbakar” (Surat Hud: 82). Maka Dia menjadikan mereka sebagai pelajaran bagi seluruh alam dan nasihat bagi orang-orang yang bertakwa, dan hukuman serta teladan bagi siapa yang menyerupai mereka dalam perbuatan mereka dari kalangan penjahat, dan Dia menjadikan negeri mereka di jalan yang dilalui orang-orang. “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya negeri kaum Luth itu benar-benar terletak di jalan yang tetap (dilalui orang). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (peringatan) bagi orang-orang yang beriman” (Surat Al-Hijr: 75-77).
Dia menimpa mereka secara tiba-tiba saat mereka sedang tidur, dan azab-Nya datang kepada mereka saat mereka dalam kemabukan mereka berkeliaran. Maka tidak berguna bagi mereka apa yang telah mereka kerjakan. Kenikmatan itu berubah menjadi kesengsaraan, maka mereka menjadi tersiksa karenanya.
Keinginan-keinginan yang ada dalam kehidupan bagi pemiliknya… menjadi azab, lalu menjadi azab dalam kematian
Kenikmatan-kenikmatan itu hilang dan menimbulkan penyesalan, hawa nafsu berlalu dan mewariskan kesengsaraan. Mereka bersenang-senang sebentar dan disiksa dalam waktu yang lama. Mereka menikmati kenikmatan yang buruk lalu akibatnya adalah azab yang pedih. Mereka dimabukkan oleh khamr hawa nafsu tersebut, maka mereka tidak sadar darinya kecuali di tempat orang-orang yang disiksa. Kelalaian itu menidurkan mereka, maka mereka tidak bangun darinya kecuali saat mereka berada di tempat tinggal orang-orang yang binasa. Maka mereka menyesal, demi Allah, penyesalan yang sangat berat ketika penyesalan tidak bermanfaat, dan mereka menangis atas apa yang telah mereka lakukan dengan air mata bercampur darah. Seandainya kamu melihat yang tertinggi dan terendah dari golongan ini, dan api keluar dari lubang-lubang wajah dan badan mereka saat mereka berada di antara lapisan-lapisan neraka, dan mereka minum sebagai ganti minuman yang lezat gelas-gelas air yang mendidih, dan dikatakan kepada mereka saat mereka diseret dengan wajah mereka: “Rasakanlah apa yang telah kamu kerjakan. Masuklah ke dalamnya (nereka); maka baik kamu bersabar atau tidak bersabar, sama saja bagimu. Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan” (Surat At-Tur: 16).
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mendekatkan jarak azab antara umat ini dengan saudara-saudara mereka dalam perbuatan, maka Dia berfirman sebagai ancaman kepada mereka agar ancaman itu terjadi: “Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim” (Surat Hud: 83).
Maka wahai para pezina sesama laki-laki, berbahagialah dengan kabar gembira… Maka pada hari kembalinya manusia sesungguhnya bagi kalian ada balasan
Makan dan minumlah dan berzinahlah dan lakukanlah liwath dan bergembiralah… Maka sesungguhnya bagi kalian ada hembusan napas menuju surga yang merah
Maka saudara-saudara kalian telah menyiapkan tempat tinggal sebelum kalian… Dan mereka berkata kepada kami: segeralah kepada kami, bagi kalian kabar gembira Dan kami adalah pendahulu kalian dalam menunggu kalian
Yang Maha Perkasa akan mengumpulkan kami di api-Nya yang besar… Dan janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang telah kalian nikahi
Akan tidak tampak oleh kalian, bahkan kalian akan melihat mereka secara terang-terangan… Dan masing-masing dari kalian akan melaknat temannya
Dan yang bersedih akan sengsara karenanya pada putaran yang lain… Masing-masing dari mereka diazab bersama pasangannya
Sebagaimana mereka bersekutu dalam kenikmatan yang mewajibkan dosa
Bab Hukuman Liwath dan Hukuman Zina
Dalam jawaban-jawaban terhadap apa yang dijadikan dalil oleh orang yang menjadikan hukuman perbuatan keji ini di bawah hukuman zina.
Adapun ucapan mereka: “Sesungguhnya itu adalah kemaksiatan yang Allah tidak menjadikan di dalamnya had (hukuman) yang tertentu”, maka jawabannya dari beberapa segi:
Pertama: Bahwa penyampai (pesan) dari Allah telah menjadikan had bagi pelakunya adalah pembunuhan secara pasti, dan apa yang disyariatkan Rasulullah ﷺ maka sesungguhnya beliau mensyariatkannya dari Allah. Jika kalian bermaksud bahwa hadnya tidak diketahui melalui syariat maka itu batil, dan jika kalian bermaksud bahwa itu tidak tetap dengan nash Al-Kitab maka tidak mengharuskan dari itu hilangnya hukumnya karena tetap dengan Sunnah.
Kedua: Bahwa ini terbantahkan oleh kalian dengan rajam, karena sesungguhnya itu hanya tetap dengan Sunnah.
Jika kalian berkata: “Bahkan itu tetap dengan Al-Quran yang lafaznya dihapus dan hukumnya tetap.”
Kami katakan: Maka terbantahkan oleh kalian dengan had orang yang minum khamr.
Ketiga: Bahwa peniadaan dalil tertentu tidak mengharuskan peniadaan dalil secara mutlak dan tidak peniadaan yang ditunjukkan, maka bagaimana sedangkan kami telah mendahulukan bahwa dalil yang kalian ingkari itu tidak hilang?
Adapun ucapan kalian: “Sesungguhnya itu adalah persetubuhan yang tidak diinginkan tabiat, bahkan Allah menciptakan tabiat untuk menolaknya, maka itu seperti persetubuhan dengan mayat dan binatang”, maka jawabannya dari beberapa segi:
Pertama: Bahwa itu adalah qiyas (analogi) yang rusak pertimbangannya, tertolak dengan Sunnah Rasulullah ﷺ dan ijma’ para sahabat sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
Kedua: Bahwa mengqiyaskan persetubuhan dengan anak muda yang tampan yang fitnahnya melebihi setiap fitnah, dengan persetubuhan keledai betina atau wanita yang mati adalah termasuk qiyas yang paling rusak. Apakah ada yang menyamakan hal itu dengan keledai betina atau sapi atau mayat, atau hal itu menawan akal pencinta, atau menawan hatinya, atau menguasai pikiran dan jiwanya? Tidak ada dalam qiyas yang lebih rusak dari ini.
Ketiga: Bahwa ini terbantahkan dengan persetubuhan ibu, anak perempuan, dan saudara perempuan, karena penolakan tabiat terhadapnya ada sedangkan had di dalamnya termasuk had yang paling berat – dalam salah satu dari dua pendapat – yaitu pembunuhan dalam setiap keadaan, baik muhshan maupun tidak muhshan. Dan ini adalah salah satu dari dua riwayat dari Imam Ahmad, dan itu adalah pendapat Ishaq bin Rahawayh dan jamaah dari ahli hadits.
Dan telah meriwayatkan Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari hadits Al-Bara’ bin ‘Azib, dia berkata: “Aku bertemu pamanku dan bersamanya adalah bendera, maka aku berkata: Mau kemana engkau? Dia berkata: Rasulullah ﷺ mengutusku kepada seorang laki-laki yang menikahi istri ayahnya setelah ayahnya meninggal untuk memenggal lehernya dan mengambil hartanya.” At-Tirmidzi berkata: “Ini adalah hadits shahih.” Al-Jawzajani berkata: “Paman Al-Bara’ namanya Al-Harits bin ‘Amr.”
Dalam Sunan Abu Dawud dan Ibnu Majah dari hadits Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang menyetubuhi kerabat yang haram dinikahi, maka bunuhlah dia.”
Dan dilaporkan kepada Hajjaj seorang laki-laki yang memperkosa saudara perempuannya, maka dia berkata: “Tahanlah dia dan tanyakan kepada siapa yang ada di sini dari sahabat Rasulullah ﷺ.” Maka mereka bertanya kepada Abdullah bin Mutharrif, lalu dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Barangsiapa yang melanggar kehormatan orang-orang mukmin, maka potonglah tengahnya dengan pedang.'”
Dan di dalamnya ada dalil tentang pembunuhan dengan pemotongan tengah, dan ini adalah dalil yang mandiri dalam masalah ini, bahwa barangsiapa yang tidak halal disetubuhi dalam keadaan apapun maka had persetubuhannya adalah pembunuhan. Dalilnya: barangsiapa yang menyetubuhi ibunya atau anak perempuannya, dan demikian pula dikatakan dalam persetubuhan kerabat yang haram dinikahi, dan persetubuhan orang yang tidak halal disetubuhi dalam keadaan apapun, maka hadnya adalah pembunuhan seperti pelaku liwath.
Kesimpulan dan Pembahasan:
Kedua masalah ini harus disimpulkan berdasarkan nash (dalil), dan qiyas (analogi) mendukung kebenaran keduanya. Kaum muslimin telah sepakat bahwa siapa yang berzina dengan mahramnya maka dia dikenai hukuman had, namun mereka berbeda pendapat tentang sifat hukuman had tersebut, apakah hukumannya adalah dibunuh dalam segala keadaan, atau hukumannya sama dengan hukuman pezina, dengan dua pendapat:
Imam Syafi’i, Malik, dan Ahmad dalam salah satu riwayatnya berpendapat: bahwa hukumannya sama dengan hukuman pezina.
Sedangkan Ahmad, Ishaq, dan sekelompok ahli hadits berpendapat: bahwa hukumannya adalah dibunuh dalam segala keadaan.
Demikian pula mereka semua sepakat bahwa jika seseorang menyetubuhi mahramnya dengan dalih pernikahan padahal dia mengetahui keharamannya, maka dia dikenai hukuman had, kecuali Abu Hanifah sendiri, karena dia menganggap hal itu sebagai syubhat yang menggugurkan hukuman had.
Lawan-lawan Abu Hanifah berkata: Jika dia menyetubuhi mahramnya dengan dalih pernikahan, maka dia telah menambah kejahatan dengan sangat berat, karena dia telah melakukan dua pelanggaran besar: pelanggaran akad nikah dan pelanggaran persetubuhan. Bagaimana mungkin hukuman dikurangi dengan menambahkan pelanggaran zina?
Adapun menyetubuhi mayat, para fuqaha memiliki dua pendapat, dan keduanya ada dalam madzhab Ahmad dan lainnya. Pendapat pertama: bahwa perbuatan itu wajib dikenai hukuman had, dan ini adalah pendapat Al-Auza’i, karena perbuatannya adalah kejahatan yang paling besar dan dosa yang paling berat, ditambah dengan kekejian yang melanggar kehormatan mayat.
Bab Orang yang Menyetubuhi Binatang
Adapun orang yang menyetubuhi binatang, para fuqaha memiliki tiga pendapat:
Pertama: Dia diberi hukuman ta’dib (pendidikan), dan tidak ada hukuman had atasnya. Ini adalah pendapat Malik, Abu Hanifah, Syafi’i dalam salah satu pendapatnya, dan pendapat Ishaq.
Pendapat kedua: Hukumannya sama dengan hukuman pezina, dicambuk jika masih bujangan, dan dirajam jika sudah menikah. Ini adalah pendapat Al-Hasan.
Pendapat ketiga: Hukumannya sama dengan hukuman pelaku liwath (homoseksual), yang dinyatakan oleh Ahmad. Maka dikeluarkan dari dua riwayat tentang hukumannya, apakah hukumannya adalah dibunuh secara pasti atau sama seperti pezina?
Mereka yang berpendapat “hukumannya adalah dibunuh” berdalil dengan hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dari Ibnu Abbas dari Nabi ﷺ: “Siapa yang mendatangi binatang maka bunuhlah dia dan bunuhlah binatang itu bersamanya.”
Mereka berkata: Dan karena itu adalah persetubuhan yang tidak dibolehkan dalam keadaan apapun, maka hukumannya adalah dibunuh seperti hukuman pelaku liwath.
Yang tidak melihat adanya hukuman had berkata: Hadits tersebut tidak sahih, dan seandainya sahih pasti kami mengamalkannya, dan tidak halal bagi kami menyelisihinya.
Ismail bin Sa’id Asy-Syaalanji berkata: Aku bertanya kepada Ahmad tentang orang yang mendatangi binatang, maka dia diam dan tidak memastikan hadits Amr bin Abi Amr dalam hal itu.
Ath-Thahawi berkata: Hadits tersebut lemah, dan juga perawinya adalah Ibnu Abbas, padahal dia telah berfatwa bahwa tidak ada hukuman had atasnya. Abu Dawud berkata: Dan ini melemahkan hadits tersebut.
Tidak diragukan bahwa penghalang alami dari mendatangi binatang lebih kuat daripada penghalang alami dari liwath, dan keduanya tidak sama dalam tabiat manusia. Maka menyamakan salah satunya dengan yang lain adalah qiyas yang paling rusak sebagaimana telah dijelaskan.
Adapun qiyas kalian tentang persetubuhan laki-laki dengan sejenisnya terhadap saling bersentuhan dua perempuan, maka itu adalah qiyas yang paling rusak, karena tidak ada penetrasi di sana. Yang sepadan dengannya adalah sentuhan laki-laki dengan laki-laki tanpa penetrasi, meskipun telah datang dalam sebagian atsar marfu’: “Jika perempuan mendatangi perempuan maka keduanya adalah pezina.” Namun tidak wajib hukuman had karena itu, karena tidak ada penetrasi, meski disebut dengan nama zina secara umum, seperti zina mata, tangan, kaki, dan mulut.
Jika ini telah ditetapkan, maka kaum muslimin sepakat bahwa hukum liwath dengan budak sama dengan hukumnya dengan selain budak. Siapa yang mengira bahwa liwath seseorang dengan budaknya dibolehkan, dan berdalil dengan firman Allah Ta’ala: “Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka tidak tercela” (Surat Al-Ma’arij: 30).
Dan dia mengqiyaskan hal itu dengan budak perempuan yang dimilikinya, maka dia adalah kafir, diminta bertaubat sebagaimana orang murtad diminta bertaubat. Jika dia bertaubat (baik), jika tidak maka lehernya dipancung. Liwath seseorang dengan budaknya sama dengan liwathnya dengan budak orang lain dalam dosa dan hukumnya.
Jika dikatakan: Apakah dengan semua ini ada obat untuk penyakit yang sulit disembuhkan ini? Dan ruqyah untuk sihir yang mematikan ini? Dan bagaimana cara menolak kerusakan ini? Apakah ada jalan yang lurus menuju petunjuk? Apakah mungkin orang yang mabuk dengan arak hawa nafsu bisa sadar? Apakah orang yang sedang jatuh cinta bisa menguasai hatinya padahal cinta telah sampai ke inti hatinya? Apakah ada cara bagi dokter setelah itu untuk menyembuhkannya dari inti hatinya? Jika ada yang mencela dia maka dia menikmati celaan itu sebagai pengingat kekasihnya, dan jika ada yang menasihatinya maka nasihat itu justru membuatnya semakin tergiur dan berjalan di jalan yang dicintainya. Saksi keadaannya berteriak dengan lisan perkataannya:
“Cinta menghentikanku di tempat engkau berada, maka tidak ada bagiku mundur atau maju darinya Engkau menghinaku maka aku menghinakan diriku dengan sungguh-sungguh, siapa yang hina di sisimu bukan orang yang dimuliakan Engkau menyerupai musuh-musuhku maka aku menjadi mencintai mereka, karena bagianku darimu sama dengan bagianku dari mereka Aku mendapati celaan dalam cintaku kepadamu terasa manis, karena cinta menyebut namamu, maka biarlah para pencela mencelaku”
Dan mungkin inilah yang dimaksud dengan pertanyaan pertama yang menjadi bahan istifta, dan penyakit yang diminta obatnya.
Dijawab: Ya, jawabannya singkatnya: “Allah Subhanahu tidak menurunkan penyakit kecuali Dia menjadikan obat untuknya, yang diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak mengetahuinya.”
Pembahasan tentang obat penyakit terikatnya hati dengan cinta hawa nafsu ada dua cara:
Pertama: Memotong sumbernya sebelum terjadi. Kedua: Mencabutnya setelah turun. Keduanya mudah bagi orang yang dimudahkan Allah baginya, dan sulit bagi orang yang tidak ditolong Allah, karena kendali segala urusan ada di tangan-Nya.
Adapun cara yang mencegah terjadinya penyakit ini, ada dua perkara:
Manfaat-manfaat Menahan Pandangan
Menahan pandangan sebagaimana telah dijelaskan, karena pandangan adalah anak panah beracun dari anak-anak panah iblis. Siapa yang melepaskan pandangannya maka akan kekal penyesalannya. Dalam menahan pandangan ada beberapa manfaat:
Pertama: Bahwa itu adalah ketaatan kepada perintah Allah yang merupakan puncak kebahagiaan hamba dalam kehidupan dan kematiannya. Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi hamba di dunia dan akhiratnya selain mentaati perintah-perintah-Nya. Tidaklah celaka orang yang celaka di dunia dan akhirat kecuali karena menyia-nyiakan perintah-perintah-Nya.
Kedua: Bahwa itu mencegah sampainya pengaruh anak panah beracun – yang mungkin di dalamnya ada kebinasaannya – ke hatinya.
Ketiga: Bahwa itu mewariskan hati ketenangan dengan Allah dan terkumpulnya perhatian kepada-Nya. Karena melepaskan pandangan mencerai-beraikan hati dan membuatnya terpecah, dan menjauhkannya dari Allah. Tidak ada yang lebih berbahaya bagi hati selain melepaskan pandangan, karena itu menimbulkan keterasingan antara hamba dan Tuhannya.
Keempat: Bahwa itu menguatkan hati dan membuatnya gembira, sebagaimana melepaskan pandangan melemahkannya dan membuatnya sedih.
Kelima: Bahwa itu memberi hati cahaya, sebagaimana melepaskannya menutupinya dengan kegelapan. Karena itulah Allah Subhanahu menyebutkan ayat cahaya setelah perintah menahan pandangan, maka Dia berfirman: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya'” (Surat An-Nur: 30).
Kemudian ia berkata setelah itu: “Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita” (Surat An-Nur: 35).
Maksudnya adalah perumpamaan cahaya-Nya di dalam hati hamba yang beriman yang telah mentaati perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dan apabila hati telah bercahaya, maka berbagai kebaikan akan datang kepadanya dari segala penjuru, sebagaimana ketika hati gelap, maka awan-awan bencana dan kejahatan akan menghampirinya dari segala tempat. Maka segala macam bid’ah dan kesesatan, mengikuti hawa nafsu, menjauhi petunjuk, berpaling dari sebab-sebab kebahagiaan, dan sibuk dengan sebab-sebab kesengsaraan – semua itu hanya dapat disingkapkan oleh cahaya yang ada di dalam hati. Apabila cahaya itu hilang, maka pemiliknya akan seperti orang buta yang berkelana dalam kegelapan pekat.
Manfaat Keenam: Ia mewarisi firasat yang benar untuk membedakan antara yang haq dan yang batil, antara yang jujur dan yang dusta. Syuja’ Al-Kirmani pernah berkata: “Barangsiapa yang memakmurkan lahirnya dengan mengikuti sunnah, batinnya dengan senantiasa muraqabah (merasa diawasi Allah), menundukkan pandangannya dari yang haram, menahan dirinya dari perkara syubhat, dan memakan yang halal, maka firasatnya tidak akan meleset.” Dan Syuja’ adalah orang yang firasatnya tidak pernah meleset.
Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas hamba atas amalnya dengan sesuatu yang sejenis dengan amalnya. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik. Apabila ia menundukkan pandangannya dari hal-hal yang diharamkan Allah, maka Allah akan menggantikannya dengan melepaskan cahaya bashirah (mata hati)nya sebagai ganti dari menahan pandangan matanya karena Allah. Allah membukakan baginya pintu ilmu, iman, ma’rifah, dan firasat yang benar dan tepat yang hanya dapat diperoleh dengan bashirah. Maka Allah Ta’ala berfirman: “Demi umurmu, sesungguhnya mereka dalam kemabukan mereka berkelana dengan bingung” (Surat Al-Hijr: 72).
Ia menggambarkan mereka dengan kemabukan yang merupakan rusaknya akal, dan kebutaan yang merupakan rusaknya bashirah. Keterikatan dengan gambar-gambar (wujud) mengakibatkan rusaknya akal, butanya bashirah, dan mabuknya hati, sebagaimana kata penyair:
“Mabuk karena hawa nafsu dan mabuk karena khamar Kapankah akan sadar orang yang terkena dua kemabukan”
Dan yang lain berkata:
“Mereka berkata kamu gila karena yang kamu cintai, maka aku katakan kepada mereka Cinta itu lebih besar dari kegilaan para orang gila Cinta tidak akan membuat pemiliknya sadar sepanjang masa Sedangkan orang gila hanyalah jatuh pada waktu-waktu tertentu”
Manfaat Ketujuh: Ia mewarisi keteguhan, keberanian, dan kekuatan pada hati. Allah mengumpulkan baginya antara kekuasaan pertolongan dan hujjah, serta kekuasaan qudrah dan kekuatan. Sebagaimana dalam atsar: “Orang yang menyelisihi hawa nafsunya, setan akan lari dari bayangannya.”
Kebalikan dari ini, kamu akan dapati pada orang yang mengikuti hawa nafsunya – berupa kehinaan jiwa, kerendahan, penghinaan, keburukan, dan kekerdilan – apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan bagi orang yang durhaka kepada-Nya.
Sebagaimana kata Al-Hasan: “Sesungguhnya mereka, walaupun bagal-bagal berderap-derap membawa mereka dan kuda-kuda perang berlari kencang membawa mereka, sesungguhnya kehinaan kemaksiatan ada di leher mereka. Allah tidak akan membiarkan kecuali menghinakan orang yang mendurhakai-Nya.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan kemuliaan sebagai pasangan ketaatan kepada-Nya, dan kehinaan sebagai pasangan kemaksiatan kepada-Nya. Maka Ia berfirman: “Dan bagi Allah kemuliaan, bagi Rasul-Nya, dan bagi orang-orang mukmin” (Surat Al-Munafiqun: 8).
Dan Ia berfirman: “Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman” (Surat Ali Imran: 139). Dan iman itu adalah perkataan dan perbuatan, yang zhahir dan yang batin. Dan Ia berfirman: “Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nya-lah naik kalimat-kalimat yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya” (Surat Fathir: 10).
Artinya, barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, hendaklah ia mencarinya dengan taat kepada Allah dan berzikir kepada-Nya melalui kalimat yang baik dan amal saleh.
Dan dalam doa qunut: “Sesungguhnya tidak akan hina orang yang Engkau beri kemenangan, dan tidak akan mulia orang yang Engkau musuhi.” Barangsiapa yang taat kepada Allah, maka ia telah bersekutu dengan-Nya dalam hal yang ia taati, dan baginya kemuliaan sesuai dengan ketaatannya. Barangsiapa yang bermaksiat kepada-Nya, maka ia telah memusuhi-Nya dalam hal yang ia maksiatkan, dan baginya kehinaan sesuai dengan kemaksiatannya.
Manfaat Kedelapan: Ia menutup pintu masuk setan ke dalam hati, karena setan masuk bersama pandangan dan menerobos bersamanya ke dalam hati lebih cepat dari menerobosnya udara ke tempat yang kosong. Lalu ia menampilkan bentuk yang dipandang itu dan memperindahnya, menjadikannya sebagai berhala yang ditekuni oleh hati. Kemudian ia berjanji dan mengangan-angankan, menyalakan api syahwat di hati, dan melempari api itu dengan kayu bakar berupa kemaksiatan-kemaksiatan yang tidak dapat dicapai tanpa gambar tersebut. Maka hati menjadi terbakar dalam api.
Dari kobaran api itulah nafas-nafas yang ia rasakan panasnya, desahan-desahan dan rasa terbakar itu, karena hati telah dikelilingi api dari segala sisi. Ia berada di tengah-tengahnya seperti kambing di tengah tanur. Oleh karena itu, hukuman bagi orang-orang yang bersyahwat kepada gambar-gambar yang haram adalah dijadikan bagi mereka di alam barzakh tanur dari api, dan roh mereka ditempatkan di dalamnya hingga hari kebangkitan jasad mereka, sebagaimana Allah perlihatkan kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpi dalam hadits yang disepakati kesahihannya.
Manfaat Kesembilan: Ia mengosongkan hati untuk memikirkan kemaslahatan-kemaslahatan dan kesibukan dengannya. Melepas pandangan membuat lupa akan hal itu dan menghalanginya. Maka urusannya menjadi berantakan dan ia jatuh dalam mengikuti hawa nafsunya serta lalai dari mengingat Tuhannya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas” (Surat Al-Kahf: 28).
Melepas pandangan menyebabkan ketiga perkara ini sesuai kadarnya.
Manfaat Kesepuluh: Bahwa antara mata dan hati ada jalan dan saluran yang menyebabkan perpindahan salah satunya dari yang lain, dan kebaikan salah satunya dengan kebaikan yang lain, serta kerusakannya dengan kerusakan yang lain. Apabila hati rusak, maka pandangan pun rusak. Apabila pandangan rusak, maka hati pun rusak. Demikian pula dalam sisi kebaikan. Apabila mata rusak dan binasa, maka hati pun rusak dan binasa, menjadi seperti tempat sampah yang merupakan tempat najis, kotoran, dan sampah. Maka ia tidak layak untuk ditempati ma’rifat kepada Allah, cinta kepada-Nya, taubat kepada-Nya, ketenangan dengan-Nya, dan kegembiraan karena kedekatan dengan-Nya. Yang menempatinya hanyalah kebalikan dari semua itu.
Inilah isyarat kepada sebagian manfaat menundukkan pandangan yang kami sampaikan kepadamu tentang apa yang ada di baliknya: mencegah keterikatan hati.
Cara Kedua untuk Mencegah Terjadinya Keterikatan Hati: Kesibukan hati dengan sesuatu yang menghalanginya dari itu dan menghalangi antara dirinya dengan terjerumus ke dalamnya, yaitu berupa ketakutan yang meresahkan atau cinta yang menggerakkan. Apabila hati kosong dari takut akan sesuatu yang kehilangannya lebih berbahaya baginya daripada mendapatkan yang dicintai ini, atau takut akan sesuatu yang mendapatkannya lebih berbahaya baginya daripada kehilangan yang dicintai ini, atau cinta kepada sesuatu yang lebih bermanfaat dan lebih baik baginya daripada yang dicintai ini, dan kehilangannya lebih berbahaya baginya daripada kehilangan yang dicintai ini, maka ia tidak akan bisa tidak jatuh cinta kepada gambar-gambar.
Penjelasannya: bahwa jiwa tidak akan meninggalkan sesuatu yang dicintai kecuali karena sesuatu yang dicintai yang lebih tinggi darinya, atau karena takut kepada sesuatu yang dibenci yang terjadinya lebih berbahaya baginya daripada kehilangan yang dicintai ini. Ini membutuhkan dua perkara bagi pemiliknya, jika ia kehilangan keduanya atau salah satunya, maka ia tidak akan bermanfaat bagi dirinya.
Pertama: Bashirah (mata hati) yang benar untuk membedakan antara tingkatan-tingkatan yang dicintai dan yang dibenci, sehingga ia mengutamakan yang dicintai yang lebih tinggi daripada yang lebih rendah, dan menanggung yang dibenci yang lebih ringan untuk terbebas dari yang lebih berat. Ini adalah ciri khas akal, dan tidak dianggap berakal orang yang berlawanan dengan itu, bahkan hewan mungkin lebih baik keadaannya darinya.
Kedua: Kekuatan tekad dan kesabaran yang dengannya ia mampu melakukan perbuatan dan meninggalkan sesuatu. Sering kali seseorang mengetahui kadar perbedaan, tetapi kelemahan jiwanya, cita-citanya, dan tekadnya menolaknya untuk melakukan perkara-perkara yang tidak bermanfaat karena kehinaan, ketamakan, kerendahan jiwa, dan rendahnya cita-citanya. Orang seperti ini tidak bermanfaat bagi dirinya dan tidak bermanfaat bagi orang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memberikan kepemimpinan agama kecuali kepada ahli kesabaran dan keyakinan. Maka Ia berfirman, dan dengan firman-Nya orang-orang yang mendapat petunjuk dari mereka mendapat petunjuk: “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan mereka meyakini ayat-ayat Kami” (Surat As-Sajdah: 24).
Dan inilah orang yang bermanfaat dengan ilmunya dan manusia bermanfaat dengannya. Lawannya tidak bermanfaat bagi orang lain. Di antara manusia ada yang bermanfaat dengan ilmunya bagi dirinya sendiri tetapi tidak bermanfaat bagi orang lain. Yang pertama berjalan dalam cahayanya dan manusia berjalan dalam cahayanya. Yang kedua cahayanya telah padam, maka ia berjalan dalam kegelapan dan orang yang mengikutinya dalam kegelapannya. Yang ketiga berjalan dalam cahayanya sendirian.
Apabila engkau telah mengetahui muqaddimah (pendahuluan) ini, maka tidak mungkin dapat berkumpul dalam hati kecintaan kepada Yang Dicintai Yang Maha Tinggi dengan syahwat terhadap bentuk-bentuk (duniawi) selamanya. Bahkan keduanya adalah dua hal yang bertentangan yang tidak pernah bertemu. Bahkan salah satu dari keduanya pasti akan mengusir yang lainnya. Barangsiapa yang seluruh kekuatan cintanya tertuju kepada Yang Dicintai Yang Maha Tinggi—yang mencintai selain-Nya adalah batil dan siksaan bagi pemiliknya—maka hal itu akan mengalihkannya dari mencintai selain-Nya. Dan jika dia mencintainya, maka dia tidak mencintainya kecuali karena-Nya, atau karena hal itu merupakan wasilah (perantara) untuk mencintai-Nya, atau karena hal itu menghalanginya dari apa yang menentang cinta-Nya dan menguranginya.
Cinta yang sejati menuntut pengesaan terhadap yang dicintai, dan tidak menyekutukan antara-Nya dengan yang lain dalam cinta-Nya. Jika yang dicintai dari kalangan makhluk saja merasa muak dan cemburu untuk disekutukan dengan cinta yang lain dalam cintanya, dan dia membenci karena hal itu, dan menjauhkannya serta tidak memberikan kehormatan kedekatan dengannya, dan menganggapnya sebagai pendusta dalam pengakuan cintanya, padahal dia bukanlah ahli untuk mencurahkan seluruh kekuatan cinta kepadanya, maka bagaimana dengan Kekasih Yang Maha Tinggi yang tidak pantas dicintai kecuali Dia sendiri, dan setiap cinta kepada selain-Nya adalah siksaan dan bencana bagi pemiliknya?
Karena itulah Allah Subhanahu tidak mengampuni untuk disekutukan dalam cinta ini, dan Dia mengampuni yang selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.
Cinta terhadap bentuk-bentuk (duniawi) akan menggagalkan cinta terhadap apa yang lebih bermanfaat bagi hamba, bahkan menggagalkan cinta terhadap sesuatu yang tidak ada kebaikan, kenikmatan, dan kehidupan yang bermanfaat baginya kecuali dengan mencintai-Nya semata. Maka hendaklah dia memilih salah satu dari dua cinta itu, karena keduanya tidak dapat berkumpul dalam hati dan tidak dapat hilang darinya. Bahkan barangsiapa yang berpaling dari cinta Allah, zikir-Nya, dan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, maka Allah akan mengujinya dengan cinta kepada selain-Nya, lalu Dia menyiksanya dengannya di dunia, di alam barzakh, dan di akhirat. Entah Dia menyiksanya dengan cinta kepada berhala-berhala, atau dengan cinta kepada salib-salib, atau dengan cinta kepada anak-anak muda, atau dengan cinta kepada perempuan-perempuan, atau dengan cinta kepada teman-teman dan saudara-saudara, atau dengan cinta kepada yang lebih rendah dari itu yang sangat hina dan rendah.
Manusia adalah hamba dari yang dicintainya siapa pun dia, sebagaimana dikatakan:
“Engkau adalah yang terbunuh oleh setiap orang yang engkau cintai Maka pilihlah untuk dirimu dalam cinta siapa yang engkau pilih”
Barangsiapa yang Tuhannya bukan pemilik dan pelindungnya, maka tuhannya adalah hawa nafsunya. Allah Ta’ala berfirman: “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Surat Al-Jatsiyah: 23)
Ciri khas penyembahan adalah: cinta disertai kerendahan dan kehinaan kepada yang dicintai. Barangsiapa yang mencintai sesuatu yang dicintai dan tunduk kepadanya, maka hatinya telah menyembahnya. Bahkan penyembahan adalah tingkatan terakhir dari cinta, dan disebut juga dengan “at-tatayyum” (perhambaan total). Karena tingkatan pertamanya adalah “al-‘alaqah” (keterikatan), dan dinamakan ‘alaqah karena keterikatan yang mencintai dengan yang dicintai.
Penyair berkata: “Aku terikat dengan Laila saat dia masih memakai jimat-jimat Dan belum tampak bagi teman-temannya bentuk dadanya”
Dan penyair lain berkata: “Apakah masih ada keterikatan Ummu al-Walid setelah Rambut kepalamu seperti rumput ats-tsigham yang berubah?”
Kemudian setelahnya “ash-shababa” (kerinduan yang mendalam), dan dinamakan demikian karena tercurahnya hati kepada yang dicintai. Penyair berkata: “Para pencinta mengeluhkan kerinduan yang mendalam, andai aku Menanggung apa yang mereka rasakan di antara mereka sendirian Maka jadilah untuk hatiku semua kelezatan cinta Tidak merasakannya seorang pencinta sebelumku dan tidak sesudahku”
Kemudian “al-gharam” (cinta yang melekat), yaitu melekatnya cinta pada hati dengan perlekatan yang tidak terlepas darinya. Dari sinilah dinamakan “al-gharim” (yang berhutang) karena kemelekatan terus-menerusnya dengan temannya. Dan dari sinilah firman-Nya Ta’ala: “Sesungguhnya azab-Nya adalah azab yang kekal” (Surat Al-Furqan: 65).
Para ulama mutaakhir telah gemar menggunakan lafazh ini dalam cinta, dan jarang engkau mendapatinya dalam syair-syair Arab.
Kemudian “‘isyq” (cinta berlebihan) yaitu berlebihannya cinta. Karena itulah Rabb Tabaraka wa Ta’ala tidak disifati dengannya, dan tidak digunakan dalam hak-Nya.
Kemudian “asy-syauq” (kerinduan) yaitu perjalanan hati kepada yang dicintai dengan perjalanan yang paling cepat. Dan telah datang penggunaannya dalam hak Rabb Ta’ala sebagaimana dalam Musnad Imam Ahmad dari Ammar bin Yasir: “Bahwa dia shalat dengan singkat, lalu dikatakan kepadanya tentang hal itu, maka dia berkata: ‘Adapun aku telah berdoa di dalamnya dengan doa-doa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdoa dengannya: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan ilmu-Mu terhadap yang gaib, dan kekuasaan-Mu atas makhluk, hidupkanlah aku jika kehidupan lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika kematian lebih baik bagiku. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu takut kepada-Mu dalam gaib dan nyata, dan aku memohon kepada-Mu kalimat kebenaran dalam kemarahan dan keridhaan, dan aku memohon kepada-Mu sikap sederhana dalam kemiskinan dan kekayaan, dan aku memohon kepada-Mu kenikmatan yang tidak habis, dan aku memohon kepada-Mu kesenangan mata yang tidak terputus, dan aku memohon kepada-Mu sejuknya kehidupan setelah kematian, dan aku memohon kepada-Mu kelezatan memandang wajah-Mu, dan aku memohon kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu, dalam keadaan tidak ada bencana yang membahayakan, dan tidak ada fitnah yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan hiasan iman, dan jadikanlah kami pemberi petunjuk yang mendapat petunjuk.‘”
Dan dalam atsar yang lain: “Telah lama kerinduan orang-orang yang berbakti untuk bertemu dengan-Ku, dan Aku lebih rindu lagi untuk bertemu dengan mereka.”
Dan ini adalah makna yang diungkapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya: “Barangsiapa yang mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah mencintai pertemuan dengannya.”
Dan sebagian ahli bashirah berkata dalam firman-Nya Ta’ala: “Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah pasti datang” (Surat Al-Ankabut: 5).
Ketika Dia Subhanahu mengetahui beratnya kerinduan para wali-Nya untuk bertemu dengan-Nya, dan bahwa hati-hati mereka tidak mendapat petunjuk tanpa bertemu dengan-Nya, maka Dia menetapkan bagi mereka ajal dan waktu untuk bertemu dengan-Nya, dan jiwa-jiwa mereka menjadi tenang dengannya. Dan kehidupan yang paling baik dan paling lezat secara mutlak adalah kehidupan para pencinta yang merindukan dan merasa tenteram. Kehidupan mereka itulah kehidupan yang baik yang hakiki. Dan tidak ada kehidupan bagi hati yang lebih baik, lebih nikmat, dan lebih menyenangkan darinya. Dan itulah kehidupan yang baik dalam firman-Nya Ta’ala: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik” (Surat An-Nahl: 97).
Yang dimaksud bukanlah kehidupan yang sama antara orang-orang beriman dan kafir, orang-orang berbakti dan fasik, dari baiknya makanan, pakaian, minuman, dan pernikahan. Bahkan mungkin musuh-musuh Allah melebihi para wali-Nya dalam hal itu berkali-kali lipat. Dan Allah Subhanahu telah menjamin bagi setiap orang yang beramal saleh bahwa Dia akan menghidupkannya dengan kehidupan yang baik. Dia adalah Yang Benar janji-Nya yang tidak mengingkari janji-Nya. Dan kehidupan apa yang lebih baik dari kehidupan orang yang terkumpul semua kerisauannya dan menjadi satu kerisauan dalam keridhaan Allah? Dan hatinya tidak berpecah belah, bahkan menghadap kepada Allah, dan terkumpul kehendak dan pikirannya yang dahulu terbagi-bagi di setiap lembah darinya ada cabang kepada Allah. Maka jadilah zikir kepada Kekasih-Nya Yang Maha Tinggi, cinta-Nya, kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, dan ketenangan dengan kedekatan-Nya yang menguasainya. Dan di atasnya berputar kerisauan, kehendak, dan tujuan-tujuannya dengan semua bisikan hatinya. Jika dia diam, dia diam dengan Allah. Jika dia berbicara, dia berbicara dengan Allah. Jika dia mendengar, maka dengan-Nya dia mendengar. Jika dia melihat, maka dengan-Nya dia melihat. Dengan-Nya dia berbuat, dengan-Nya dia berjalan, dengan-Nya dia diam, dengan-Nya dia hidup, dengan-Nya dia mati, dan dengan-Nya dia dibangkitkan. Sebagaimana dalam Shahih Bukhari dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam apa yang diriwayatkannya dari Rabbnya Tabaraka wa Ta’ala, bahwa Dia berfirman: “Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada menunaikan apa yang Aku wajibkan atasnya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang dia dengar dengannya, penglihatannya yang dia lihat dengannya, tangannya yang dia berbuat dengannya, dan kakinya yang dia berjalan dengannya. Maka dengan-Ku dia mendengar, dengan-Ku dia melihat, dengan-Ku dia berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, pasti Aku berikan kepadanya. Jika dia berlindung kepada-Ku, pasti Aku lindungi dia. Dan Aku tidak ragu-ragu dalam sesuatu yang Aku kerjakan, seperti keragu-raguan-Ku dalam mencabut nyawa hamba-Ku yang beriman. Dia tidak suka mati, dan Aku tidak suka menyakitinya, namun hal itu pasti baginya.”
Hadits suci ilahi ini—yang haram bagi orang yang kasar tabiatnya dan keras hatinya untuk memahami maknanya dan yang dimaksud dengannya—mengandung pembatasan sebab-sebab cinta-Nya pada dua perkara: menunaikan kewajiban-kewajiban-Nya, dan mendekat kepada-Nya dengan amalan-amalan sunnah.
Dan Dia Subhanahu mengabarkan bahwa menunaikan kewajiban-kewajiban-Nya adalah yang paling dicintai untuk mendekat kepada-Nya bagi orang-orang yang mendekat, kemudian setelahnya amalan-amalan sunnah. Dan bahwa yang mencintai senantiasa memperbanyak amalan sunnah hingga menjadi dicintai Allah. Apabila dia menjadi dicintai Allah, maka cinta-Nya kepada Allah untuknya menimbulkan cinta yang lain dari-Nya di atas cinta yang pertama. Cinta ini menyibukkan hatinya dari berfikir dan memperhatikan selain kekasih-Nya, dan menguasai ruhnya. Dan tidak tersisa di dalamnya tempat untuk selain kekasih-Nya sama sekali. Maka jadilah zikir kekasih-Nya, cinta-Nya, dan teladan tertinggi-Nya, dan pemilik kendali hatinya yang menguasai ruhnya dengan penguasaan yang dicintai atas cinta orang yang jujur dalam cintanya, yang telah terkumpul semua kekuatan cinta hatinya untuknya.
Dan tidak diragukan bahwa pencinta ini jika mendengar, dia mendengar dengan kekasih-Nya. Jika melihat, dia melihat dengan-Nya. Jika berbuat, dia berbuat dengan-Nya. Jika berjalan, dia berjalan dengan-Nya. Maka dia ada di hatinya, bersamanya, dan temannya serta sahabatnya. Maka huruf “ba” di sini menunjukkan kebersamaan, dan itu adalah kebersamaan yang tidak ada bandingannya, dan tidak dapat dipahami hanya dengan pemberitahuan tentangnya dan pengetahuan tentangnya. Maka masalah ini adalah masalah kondisi (hal), bukan masalah ilmu murni.
Dan apabila makhluk merasakan hal ini dalam kecintaan kepada makhluk yang tidak diciptakan untuknya dan tidak difitrahkan untuknya, sebagaimana dikatakan oleh sebagian orang yang mencintai:
“Bayanganmu di mataku dan sebutanmu di mulutku, dan tempatmu di hatiku, maka di manakah engkau bersembunyi?”
Dan yang lain berkata:
“Sungguh mengherankan bahwa aku merindukan mereka, lalu aku bertanya tentang mereka kepada siapa yang kutemui, padahal mereka bersamaku. Dan mataku mencari mereka padahal mereka ada di bola mataku, dan hatiku merindukan mereka padahal mereka berada di antara tulang rusukku.”
Dan ini lebih halus dari perkataan yang lain:
“Jika kukatakan engkau pergi, maka hatiku tidak membenarkanku, karena engkau ada di dalamnya di tempat rahasia, engkau tidak pergi. Atau jika kukatakan engkau tidak pergi, mata berkata itu bohong, maka aku bingung antara kebenaran dan kebohongan.”
Maka tidak ada sesuatu yang lebih dekat kepada orang yang mencintai daripada kekasihnya. Dan terkadang cinta menguasainya hingga kekasih itu menjadi lebih dekat kepadanya daripada dirinya sendiri, sehingga dia melupakan dirinya dan tidak melupakan kekasihnya, sebagaimana dikatakan:
“Aku ingin melupakan sebutannya, namun seakan-akan Laila tergambar bagiku di setiap jalan.”
Dan yang lain berkata:
“Hati diminta untuk melupakanmu, namun tabiat menolak yang memindahkan.”
Dan dalam hadits disebutkan secara khusus pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki, karena alat-alat ini adalah alat persepsi dan alat perbuatan. Pendengaran dan penglihatan mendatangkan kepada hati keinginan dan kebencian, serta membawa kepadanya cinta dan benci, lalu menggunakan tangan dan kaki. Maka apabila pendengaran hamba dengan Allah dan penglihatannya dengan Allah, maka dia terpelihara dalam alat-alat persepsinya, dan terpelihara dalam cinta dan bencinya, maka terpeliharalah dia dalam pukulan dan jalannya.
Dan perhatikanlah bagaimana hadits mencukupkan dengan menyebutkan pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki tanpa menyebut lisan. Karena jika persepsi pendengaran yang terkadang terjadi dengan pilihannya dan terkadang tanpa pilihannya, demikian juga penglihatan yang terkadang terjadi tanpa pilihan secara tiba-tiba, demikian juga gerakan tangan dan kaki yang hamba tidak bisa lepas darinya, maka bagaimana dengan gerakan lisan yang hanya terjadi dengan maksud dan pilihan? Dan hamba bisa tidak memerlukan lisan kecuali di tempat yang diperintahkan.
Dan juga karena pengaruh lisan dari hati lebih sempurna daripada pengaruh anggota tubuh lainnya, karena lisan adalah penerjemah dan utusan hati.
Dan perhatikanlah bagaimana Allah Ta’ala merealisasikan bahwa hamba dengan-Nya adalah pendengarannya, penglihatannya, pukulannya, dan jalannya dengan firman-Nya: “Aku menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, penglihatannya yang dengannya dia melihat, tangannya yang dengannya dia memukul, dan kakinya yang dengannya dia berjalan” – sebagai realisasi bahwa Dia bersama hamba-Nya, dan hamba-Nya dalam persepsi-persepsinya dengan pendengarannya dan penglihatannya serta gerakan-gerakannya dengan kedua tangannya dan kakinya.
Dan perhatikanlah bagaimana Allah berfirman: “Maka dengan-Ku dia mendengar dan dengan-Ku dia melihat” dan tidak berfirman: “Maka untuk-Ku dia mendengar dan untuk-Ku dia melihat.” Mungkin ada yang menyangka bahwa huruf “lam” (untuk) lebih layak di tempat ini, karena lebih menunjukkan tujuan dan terjadinya perkara-perkara ini untuk Allah, dan itu lebih khusus daripada terjadinya dengan-Nya. Namun ini adalah sangkaan dan kesalahan, karena huruf “ba” (dengan) di sini bukan sekadar untuk meminta pertolongan, sebab gerakan-gerakan orang baik dan jahat serta persepsi-persepsi mereka hanyalah dengan pertolongan Allah kepada mereka. Sesungguhnya huruf “ba” di sini untuk kebersamaan, yaitu: dia mendengar, melihat, memukul, dan berjalan sedang Aku adalah temannya bersamanya, sebagaimana firman-Nya dalam hadits yang lain: “Aku bersama hamba-Ku selama dia mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak dengan-Ku.”
Dan inilah kebersamaan khusus yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala: “Janganlah bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita” (Surat At-Taubah: 40).
Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apa sangkaanmu tentang dua orang yang Allah adalah yang ketiga bagi mereka?”
Dan firman Allah Ta’ala: “Dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat baik” (Surat Al-Ankabut: 69).
Dan firman-Nya: “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat baik” (Surat An-Nahl: 128).
Dan firman-Nya: “Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Surat Al-Anfal: 46).
Dan firman-Nya: “Sekali-kali tidak, sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberiku petunjuk” (Surat Asy-Syu’ara: 62).
Dan firman Allah Ta’ala kepada Musa dan Harun: “Sesungguhnya Aku bersama kalian berdua, Aku mendengar dan melihat” (Surat Thaha: 46).
Maka huruf “ba” ini memberikan makna kebersamaan ini, bukan huruf “lam.” Dan tidak mungkin bagi hamba mencapai keikhlasan, kesabaran, tawakal, dan turun di tempat-tempat penghambaan kecuali dengan huruf “ba” ini dan kebersamaan ini.
Maka apabila hamba dengan Allah, ringanilah baginya kesulitan-kesulitan, dan berubah menjadi ketakutan-ketakutan dalam haknya. Dengan Allah mudah setiap yang sulit, mudah setiap yang sukar, dan dekat setiap yang jauh. Dengan Allah hilang kegelisahan, kesedihan, dan kedukaan. Maka tidak ada kegelisahan bersama Allah, tidak ada kesedihan dan kedukaan kecuali ketika hamba melewatkan makna huruf “ba” ini. Maka jadilah hatinya seperti ikan ketika berpisah dari air, melompat-lompat dan bergolak hingga kembali kepadanya.
Dan ketika terjadi kesesuaian dari hamba kepada Tuhannya dalam hal-hal yang dicintai-Nya, maka terjadilah kesesuaian Tuhan kepada hamba-Nya dalam kebutuhan-kebutuhan dan tuntutan-tuntutannya. Maka Allah berfirman: “Dan sungguh jika dia meminta kepada-Ku, pasti Aku akan memberinya, dan jika dia berlindung kepada-Ku, pasti Aku akan melindunginya.” Yaitu: sebagaimana dia menyesuaikan-Ku dalam kehendak-Ku dengan mentaati perintah-perintah-Ku dan mendekatkan diri dengan hal-hal yang Aku cintai, maka Aku menyesuaikan dia dalam keinginan dan ketakutannya dalam apa yang dia minta kepada-Ku untuk Aku lakukan kepadanya, dan berlindung kepada-Ku agar tidak menimpanya.
Dan kuatlah perkara kesesuaian ini dari kedua sisi hingga mengharuskan keragu-raguan Tuhan Subhanahu dalam mematikan hamba-Nya, karena dia membenci kematian, dan Tuhan Ta’ala membenci apa yang dibenci hamba-Nya dan membenci menyakitinya. Dari sisi inilah mengharuskan agar tidak mematikannya. Namun kemaslahatan ada dalam mematikannya, karena Dia tidak mematikannya kecuali untuk menghidupkannya, tidak menyakitinya kecuali untuk menyehatkannya, tidak memiskinkannya kecuali untuk mengkayakannya, tidak mencegahnya kecuali untuk memberinya. Dan tidak mengeluarkannya dari surga dalam tulang punggung ayahnya kecuali untuk mengembalikannya ke surga dalam keadaan terbaiknya. Dan tidak berkata kepada ayahnya “Keluarlah darinya” kecuali Dia ingin mengembalikannya ke surga. Maka inilah kekasih yang sejati, tidak ada selain-Nya. Bahkan seandainya di setiap tempat tumbuh rambut dari hamba ada cinta yang sempurna kepada Allah, maka itu hanya sebagian dari apa yang berhak Dia terima dari hamba-Nya.
“Pindahkan hatimu ke mana pun engkau mau dari cinta, Cinta hanyalah untuk kekasih yang pertama. Berapa banyak tempat di bumi yang disukai pemuda, namun kerinduannya selamanya untuk tempat yang pertama.”
Kemudian at-Tatayyum (perhambaan cinta), dan inilah tingkat terakhir cinta, yaitu penghambaan orang yang mencintai kepada kekasihnya. Dikatakan “tayyamahu al-hubb” (cinta memperhambakannya) jika cinta memperhambakannya. Dan dari sinilah “Taim Allah” yaitu hamba Allah. Hakikat penghambaan adalah kehinaan dan kepatuhan kepada yang dicintai. Dari sinilah perkataan mereka “thariq mu’abbad” yaitu jalan yang direndahkan, yang telah direndahkan oleh kaki-kaki. Maka hamba adalah orang yang direndahkan oleh cinta dan kepatuhan kepada kekasihnya. Karena itulah keadaan dan maqam hamba yang paling mulia adalah dalam penghambaan, maka tidak ada tempat yang lebih mulia baginya daripada itu.
Dan Allah Subhanahu telah menyebutkan makhluk yang paling mulia di sisi-Nya dan paling dicintai-Nya, yaitu Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan penghambaan dalam maqam-maqamnya yang paling mulia, yaitu maqam dakwah kepada-Nya, maqam tantangan dengan kenabian, dan maqam Isra’. Allah Subhanahu berfirman: “Dan bahwasanya ketika hamba Allah berdiri menyeru kepada-Nya, mereka hampir saja berdesak-desakan mengerumuni dia” (Surat Al-Jin: 19).
Dan Allah berfirman: “Dan jika kamu dalam keraguan tentang apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami, maka datangkanlah satu surat yang semisal dengannya” (Surat Al-Baqarah: 23).
Dan Allah berfirman: “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha” (Surat Al-Isra: 1).
Dalam hadits syafa’at: “Pergilah kepada Muhammad, seorang hamba yang Allah telah mengampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.” Maka dia meraih maqam syafa’at dengan kesempurnaan penghambaan dan kesempurnaan ampunan Allah kepadanya.
Dan Allah Subhanahu menciptakan makhluk untuk beribadah kepada-Nya saja tanpa sekutu, yang merupakan jenis cinta yang paling sempurna dengan jenis kepatuhan yang paling sempurna. Dan inilah hakikat Islam dan millah Ibrahim yang barangsiapa berpaling darinya maka dia telah menganiaya dirinya sendiri. Allah Ta’ala berfirman: “Dan siapakah yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh telah Kami pilih dia di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: ‘Tunduk patuh lah!’ Ibrahim menjawab: ‘Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.’ Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): ‘Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.’ Adakah kamu menjadi saksi ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab: ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.'” (Surat Al-Baqarah: 130-133).
Dan karena itulah dosa yang paling besar di sisi Allah adalah syirik.
Asal syirik kepada Allah dan persyirikan dalam kecintaan sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan di antara manusia ada yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa di antara manusia ada yang mempersekutukan-Nya dengan tandingan yang mereka cintai sebagaimana mereka mencintai Allah, dan Dia mengabarkan bahwa orang-orang yang beriman lebih sangat mencintai Allah daripada para penyembah tandingan-tandingan mencintai tandingan-tandingan mereka.
Ada yang mengatakan: Maksudnya adalah bahwa mereka lebih sangat mencintai Allah, karena mereka walaupun mencintai Allah, namun ketika mereka mempersekutukan antara Allah dan tandingan-tandingan mereka dalam kecintaan, maka melemah kecintaan mereka kepada Allah. Sedangkan orang-orang yang mentauhidkan Allah ketika kecintaan mereka kepada-Nya murni, maka kecintaan itu lebih kuat daripada kecintaan orang-orang tersebut. Dan berbuat adil terhadap Rabb semesta alam serta menyamakan antara-Nya dengan tandingan-tandingan adalah dalam kecintaan ini, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
Ketika kehendak Allah dari makhluk-Nya adalah kemurnian kecintaan ini kepada-Nya, maka Dia sangat mengingkari orang yang mengambil selain-Nya sebagai wali atau pemberi syafa’at, baik mengumpulkan keduanya maupun menyendirikan salah satunya dari yang lain. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Rabb kalian ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengatur segala urusan. Tiada seorang pemberi syafa’at pun melainkan sesudah ada izin-Nya. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, Rabb kalian, maka sembahlah Dia. Maka apakah kalian tidak mengambil pelajaran?” (QS. Yunus: 3)
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi kalian selain daripada-Nya seorang penolong pun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at. Maka apakah kalian tidak memperhatikan?” (QS. As-Sajdah: 4)
Dan Allah berfirman dalam penyendirian: “Ataukah mereka mengambil pemberi-pemberi syafa’at selain Allah? Katakanlah: ‘Apakah (kalian akan mempertuhankan mereka) walaupun mereka tidak menguasai sesuatu pun dan tidak berakal?’ Katakanlah: ‘Hanya kepunyaan Allah-lah syafa’at itu semuanya.'” (QS. Az-Zumar: 43-44). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan berilah peringatan dengan Al-Qur’an itu kepada orang-orang yang takut akan dikumpulkan kepada Rabb mereka, sedang mereka tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) pemberi syafa’at selain Allah, supaya mereka bertakwa.” (QS. Al-An’am: 51)
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Di hadapan mereka ada neraka Jahannam dan tidak berguna bagi mereka sedikitpun apa yang telah mereka usahakan dan tidak (pula) apa yang mereka jadikan pelindung-pelindung selain Allah. Dan bagi mereka azab yang besar.” (QS. Al-Jatsiyah: 10)
Jika seorang hamba mewalikan Rabbnya saja, maka Allah akan mengangkat untuknya para pemberi syafa’at, dan mengikat perwalian antara dia dengan hamba-hamba-Nya yang beriman sehingga mereka menjadi wali-walinya dalam Allah, berbeda dengan orang yang mengambil makhluk sebagai wali selain Allah.
Ini adalah satu warna dan itu adalah warna lain, sebagaimana syafa’at syirik yang batil adalah satu warna, dan syafa’at yang haq yang tetap yang hanya diperoleh dengan tauhid adalah warna lain. Dan ini adalah tempat pembeda antara ahli tauhid dan ahli syirik, dan Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.
Yang dimaksud: bahwa hakikat penghambaan tidak akan tercapai dengan mempersekutukan Allah dalam kecintaan, berbeda dengan kecintaan karena Allah, karena itu termasuk keharusan penghambaan dan penyebabnya. Maka cinta kepada Rasul -bahkan mendahulukannya dalam kecintaan atas jiwa, bapak, dan anak- tidak akan sempurna iman kecuali dengannya, karena mencintainya termasuk dari mencintai Allah. Demikian pula setiap cinta dalam Allah dan karena Allah, sebagaimana dalam Shahihain dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau berkata: “Tiga perkara yang barangsiapa memilikinya akan merasakan manisnya iman.”
Dan dalam lafaz di Shahihain: “Tidak akan merasakan manisnya iman kecuali orang yang memiliki tiga sifat: bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada selain keduanya, dan bahwa dia mencintai seseorang tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan bahwa dia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya darinya, sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam api.”
Dan dalam hadits yang ada di Sunan: “Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan karena Allah, maka sungguh dia telah menyempurnakan iman.”
Dan dalam hadits lain: “Tidaklah dua orang saling mencintai dalam Allah kecuali yang paling utama di antara keduanya adalah yang paling sangat cintanya kepada temannya.”
Maka sesungguhnya kecintaan ini termasuk keharusan mencintai Allah Ta’ala dan penyebabnya, dan semakin kuat kecintaan itu maka asalnya pun demikian.
Di sini ada empat jenis kecintaan yang wajib dibedakan, dan sesungguhnya sesat orang yang sesat karena tidak membedakan di antaranya:
Pertama: Kecintaan kepada Allah, dan ini tidak cukup sendiri dalam keselamatan dari azab Allah dan memperoleh pahala-Nya, karena orang-orang musyrik, penyembah salib, Yahudi dan lainnya mencintai Allah.
Kedua: Kecintaan kepada apa yang dicintai Allah, dan inilah yang memasukkannya ke dalam Islam dan mengeluarkannya dari kekufuran, dan orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling tegak dengan kecintaan ini dan paling kuat di dalamnya.
Ketiga: Cinta karena Allah dan di dalam-Nya, dan ini termasuk keharusan mencintai apa yang dicintai-Nya, dan tidak akan lurus kecintaan kepada apa yang dicintai-Nya kecuali di dalam-Nya dan karena-Nya.
Keempat: Kecintaan bersama Allah, dan inilah kecintaan syirik, dan setiap orang yang mencintai sesuatu bersama Allah bukan karena Allah, bukan karena-Nya, dan bukan di dalam-Nya, maka sungguh dia telah menjadikannya tandingan selain Allah, dan inilah kecintaan orang-orang musyrik.
Dan tersisa bagian kelima yang bukan termasuk yang kita bahas: yaitu kecintaan alamiah, yaitu kecenderungan manusia kepada apa yang sesuai dengan tabiatnya, seperti kecintaan orang haus kepada air, orang lapar kepada makanan, dan kecintaan kepada tidur, istri, dan anak. Maka itu tidak tercela kecuali jika melalaikan dari mengingat Allah dan menyibukkan dari mencintai-Nya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah.” (QS. Al-Munafiqun: 9)
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah.” (QS. An-Nur: 37)
Kemudian khullah (persahabatan karib) yang mencakup kesempurnaan kecintaan dan puncaknya, sehingga tidak tersisa di dalam hati tempat untuk selain kekasihnya, dan itu adalah kedudukan yang tidak menerima persekutuan dengan cara apa pun, dan kedudukan ini khusus untuk dua sahabat karib -semoga shalawat dan salam Allah atas keduanya-: Ibrahim dan Muhammad, sebagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sesungguhnya Allah telah menjadikanku sahabat karib sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim sahabat karib.”
Dan dalam shahih dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau berkata: “Seandainya aku mengambil dari penduduk bumi seorang sahabat karib, niscaya aku akan mengambil Abu Bakar sebagai sahabat karib, tetapi sahabat kalian adalah sahabat karib Allah.”
Dan dalam hadits lain: “Sesungguhnya aku berlepas diri kepada setiap sahabat karib dari persahabatan karibnya.” Dan ketika Ibrahim ‘alaihis salam meminta anak lalu diberikan kepadanya, dan tergantung cintanya pada hatinya sehingga mengambil sebagian darinya, maka Yang Mahacinta cemburu terhadap sahabat karib-Nya bahwa ada tempat di hatinya untuk selain-Nya, maka Dia memerintahkannya untuk menyembelihnya. Dan perintah itu dalam mimpi agar pelaksanaan yang diperintahkan itu menjadi ujian dan cobaan yang lebih besar. Dan yang dimaksud bukanlah menyembelih anak, tetapi yang dimaksud adalah menyembelihnya dari hatinya agar hati itu murni untuk Rabb. Ketika sahabat karib ‘alaihish shalatu was salam bergegas untuk menaati dan mendahulukan kecintaan kepada Allah atas kecintaan kepada anaknya, tercapailah yang dimaksud maka penyembelihan itu diangkat dan ditebus dengan sembelihan yang besar. Maka sesungguhnya Rabb Ta’ala tidak memerintahkan sesuatu kemudian membatalkannya sama sekali, tetapi pasti menyisakan sebagiannya atau penggantinya, sebagaimana Dia menyisakan syariat tebusan, dan sebagaimana Dia menyisakan kesunnahan bersedekah sebelum bermunajat, dan sebagaimanya Dia menyisakan lima shalat setelah mengangkat lima puluh shalat dan menyisakan pahalanya, dan berfirman: “Dan tidak diubah perkataan di sisi-Ku, lima dalam perbuatan dan lima puluh dalam pahala.”
Adapun apa yang disangka sebagian orang yang keliru -bahwa kecintaan lebih sempurna daripada khullah, dan bahwa Ibrahim adalah sahabat karib Allah, dan Muhammad adalah kekasih Allah- maka itu karena kebodohannya, karena kecintaan itu umum, sedangkan khullah itu khusus, dan khullah adalah puncak kecintaan. Dan sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa Allah menjadikannya sahabat karib sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim sahabat karib dan menafikan bahwa beliau memiliki sahabat karib selain Rabbnya dengan mengabarkan kecintaannya kepada Aisyah, ayahnya, Umar bin Khathab dan lain-lain.
Dan juga sesungguhnya Allah Subhanahu: “mencintai orang-orang yang bertaubat dan Dia mencintai orang-orang yang menyucikan diri” (QS. Al-Baqarah: 222).
Dan “mencintai orang-orang yang sabar” (QS. Ali Imran: 146).
Dan “mencintai orang-orang yang berbuat baik” (QS. Ali Imran: 148).
Dan “mencintai orang-orang yang berlaku adil” (QS. Al-Maidah: 42).
Dan pemuda yang bertaubat adalah kekasih Allah, sedangkan khullah-Nya khusus untuk dua sahabat karib, dan ini hanyalah karena kurangnya ilmu dan pemahaman tentang Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Bab Mengutamakan yang Lebih Tinggi
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa seorang hamba tidak akan meninggalkan apa yang dicintai dan diinginkannya, namun ia akan meninggalkan yang lebih lemah cintanya demi yang lebih kuat cintanya. Sebagaimana ia akan melakukan apa yang dibencinya untuk memperoleh sesuatu yang cintanya lebih kuat dibandingkan dengan kebenciannya terhadap apa yang dilakukannya, atau untuk terlepas dari sesuatu yang dibenci.
Telah dijelaskan pula bahwa ciri khas akal adalah mengutamakan yang lebih tinggi dari dua hal yang dicintai atas yang lebih rendah, dan yang lebih ringan dari dua hal yang dibenci atas yang lebih berat. Dan telah dijelaskan bahwa hal ini merupakan bagian dari kesempurnaan kekuatan cinta dan benci.
Hal ini tidak akan sempurna baginya kecuali dengan dua perkara: kekuatan persepsi dan keberanian hati. Sebab kegagalan dalam hal tersebut dan beramal dengan sebaliknya terjadi karena lemahnya persepsi sehingga ia tidak menyadari tingkatan-tingkatan yang dicintai dan yang dibenci sebagaimana adanya, atau karena kelemahan dalam jiwa dan ketidakmampuan dalam hati, sehingga jiwa tidak mendukungnya untuk mengutamakan yang lebih baik meskipun ia mengetahui bahwa itulah yang lebih baik. Jika persepsinya benar, jiwanya kuat, dan hatinya berani untuk mengutamakan yang dicintai yang lebih tinggi dan yang dibenci yang lebih rendah, maka ia telah diberi taufik untuk meraih sebab-sebab kebahagiaan.
Di antara manusia ada yang kekuatan syahwatnya lebih kuat dari kekuatan akal dan imannya, sehingga yang kuat mengalahkan yang lemah. Di antara mereka ada pula yang kekuatan iman dan akalnya lebih kuat dari kekuatan syahwatnya. Sebagaimana banyak dari orang-orang sakit yang dokter melarangnya dari sesuatu yang membahayakannya, namun jiwa dan syahwatnya menolak kecuali mengonsumsinya, dan ia mendahulukan syahwatnya atas akalnya. Para dokter menyebutnya: orang yang tidak memiliki harga diri. Demikian pula kebanyakan orang-orang yang sakit hatinya mengutamakan apa yang menambah penyakit mereka karena kuatnya syahwat mereka terhadapnya.
Maka asal kejahatan adalah dari lemahnya persepsi dan lemahnya jiwa serta kehinaannya. Sedangkan asal kebaikan adalah dari sempurnanya persepsi dan kekuatan jiwa serta kemuliaannya dan keberaniannya.
Cinta dan kehendak adalah asal dan permulaan setiap perbuatan. Benci dan kebencian adalah asal dan permulaan setiap meninggalkan. Kedua kekuatan ini dalam hati adalah asal kebahagiaan dan kesengsaraan hamba.
Wujudnya perbuatan yang bersifat pilihan tidak terjadi kecuali dengan adanya sebabnya berupa cinta dan kehendak.
Adapun tidak adanya perbuatan: terkadang karena tidak adanya pendorong dan sebabnya, dan terkadang karena adanya benci dan kebencian yang menghalanginya. Inilah yang berkaitan dengan perintah dan larangan dan inilah yang disebut menahan diri, dan inilah yang berkaitan dengan pahala dan siksa. Dengan ini hilanglah kerancuan dalam masalah meninggalkan dan apakah itu perkara yang wujud atau tidak ada. Yang benar adalah bahwa ia terbagi dua: meninggalkan yang disandarkan kepada tidak adanya sebab yang mendorong adalah tidak ada (negatif), dan yang disandarkan kepada sebab yang menghalangi dari perbuatan adalah wujud (positif).
Bab: Mengutamakan yang Lebih Bermanfaat
Setiap perbuatan dan meninggalkan yang bersifat pilihan hanya diutamakan oleh makhluk hidup karena adanya manfaat yang diperoleh yang ia rasakan kenikmatan dengan memperolehnya, atau hilangnya rasa sakit yang membuatnya sembuh dengan hilangnya rasa sakit itu. Karena itu dikatakan: “menyembuhkan dadanya”, “menyembuhkan hatinya”, dan dikatakan dalam syair:
“Dialah obat penyakitku jika aku berhasil mendapatkannya… Namun obat penyakit darinya tidaklah mudah diperoleh”
Ini adalah tujuan yang diutamakan oleh orang berakal bahkan binatang, namun kebanyakan manusia tergelincir dalam hal ini dengan gelinciran yang buruk. Mereka bermaksud memperoleh kenikmatan dengan sesuatu yang berakibat rasa sakit yang lebih besar, sehingga mereka menyakiti diri mereka sendiri dari sisi yang mereka kira akan mendatangkan kenikmatan, dan menyembuhkan hati mereka dengan sesuatu yang berakibat penyakit yang parah. Ini adalah keadaan orang yang membatasi pandangannya pada yang segera dan tidak memperhatikan akibat-akibatnya. Adapun ciri khas akal adalah memperhatikan akibat-akibat. Maka orang yang paling berakal adalah yang mengutamakan kenikmatan dan ketenangan di akhirat yang kekal atas yang segera yang akan berlalu dan hilang. Sedangkan orang yang paling bodoh adalah yang menjual kenikmatan abadi dan kehidupan yang baik dan kekal serta kenikmatan agung yang tidak ada gangguan dan kekurangan di dalamnya dengan cara apa pun, dengan kenikmatan yang akan berlalu yang bercampur dengan rasa sakit dan ketakutan, yang cepat hilang dan segera berakhir.
Berkata sebagian ulama: “Aku merenungkan apa yang diperjuangkan oleh orang-orang berakal, maka aku melihat perjuangan mereka semua dalam satu tujuan meskipun berbeda jalan dalam mencapainya. Aku melihat mereka semua hanya berjuang untuk menolak keresahan dan kesedihan dari jiwa mereka. Ada yang dengan makan dan minum, ada yang dengan perdagangan dan usaha, ada yang dengan menikah, ada yang dengan mendengarkan nyanyian dan suara-suara yang menggembirakan, ada yang dengan hiburan dan permainan. Maka aku berkata: Inilah tujuan orang-orang berakal, namun semua jalan tersebut tidak menghantarkan kepadanya, bahkan mungkin kebanyakannya hanya menghantarkan kepada lawannya. Aku tidak melihat di antara semua jalan ini ada jalan yang menghantarkan kepadanya kecuali menghadap kepada Allah semata, bermuamalah dengan-Nya semata, dan mengutamakan keridhaan-Nya atas segala sesuatu.”
Sebab orang yang menempuh jalan ini jika terlepas dari bagiannya dari dunia, maka ia telah meraih bagian yang tinggi yang tidak ada kehilangan bersamanya. Jika diperoleh bagi hamba, maka ia memperoleh segala sesuatu. Jika luput darinya, maka luput darinya segala sesuatu. Jika ia meraih bagiannya dari dunia, ia memperolehnya dengan cara yang paling menyenangkan. Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi hamba dari jalan ini, dan tidak ada yang lebih menghantarkan kepadanya kepada kenikmatan, kegembiraan, dan kebahagiaannya. Dan kepada Allah-lah taufik.
Yang dicintai terbagi dua: dicintai karena dirinya sendiri, dan dicintai karena yang lain. Yang dicintai karena yang lain, pasti berakhir kepada yang dicintai karena dirinya sendiri, untuk menghindari kesinambungan yang mustahil. Segala sesuatu selain Yang Dicintai yang Haq adalah dicintai karena yang lain. Tidak ada sesuatu yang dicintai karena zatnya kecuali Allah semata. Segala sesuatu selain-Nya yang dicintai, maka cintanya adalah mengikuti cinta kepada Rabb Yang Maha Berkah dan Tinggi, seperti cinta kepada malaikat-malaikat-Nya, nabi-nabi-Nya, dan wali-wali-Nya. Sesungguhnya itu mengikuti cinta kepada-Nya Yang Maha Suci, dan itu adalah konsekuensi dari cinta kepada-Nya. Sebab cinta kepada yang dicintai mengharuskan cinta kepada apa yang dicintai-Nya. Ini adalah tempat yang wajib diperhatikan, karena ini adalah tempat pembeda antara cinta yang bermanfaat karena yang lain, dan yang tidak bermanfaat bahkan mungkin membahayakan.
Ketahuilah bahwa tidak dicintai karena zatnya kecuali yang kesempurnaannya adalah konsekuensi dari zat-Nya, dan ke-Ilahan-Nya serta ke-Rububiyah-Nya dan kekayaan-Nya adalah konsekuensi dari zat-Nya. Segala sesuatu selain-Nya hanya dibenci dan tidak disukai karena bertentangan dengan hal-hal yang dicintai-Nya dan menentangnya. Benci dan tidak suka kepadanya sesuai dengan kekuatan atau kelemahan pertentangan ini. Apa yang lebih bertentangan dengan hal-hal yang dicintai-Nya, maka lebih dibenci dari segi zat, sifat, perbuatan, kehendak, dan lainnya. Ini adalah timbangan yang adil untuk menimbang kesesuaian dengan Rabb dan penentangan terhadap-Nya, persahabatan dengan-Nya dan permusuhan terhadap-Nya. Jika kita melihat seseorang mencintai apa yang dibenci oleh Rabb Ta’ala dan membenci apa yang dicintai-Nya, kita tahu bahwa di dalam dirinya ada permusuhan terhadap-Nya sesuai dengan hal itu. Jika kita melihat seseorang mencintai apa yang dicintai oleh Rabb dan membenci apa yang dibenci-Nya, dan semakin sesuatu itu dicintai oleh Rabb maka semakin dicintai olehnya dan semakin diutamakan di sisinya, dan semakin dibenci oleh-Nya maka semakin dibenci olehnya dan semakin jauh darinya, kita tahu bahwa di dalam dirinya ada persahabatan dengan Rabb sesuai dengan hal itu.
Maka berpegang teguhlah dengan prinsip ini pada dirimu dan pada yang lain. Kewalian adalah ungkapan dari kesesuaian dengan Wali Yang Terpuji dalam hal-hal yang dicintai-Nya dan yang dimurkai-Nya. Bukan dengan banyaknya puasa, shalat, merobek-robek pakaian, atau riyadhah.
Yang dicintai karena yang lain juga terbagi dua: Pertama: Apa yang dinikmati oleh pencinta dengan merasakannya dan memperolehnya. Kedua: Apa yang menyakitkan baginya namun ia menahannya karena menghantarkan kepada yang dicintai, seperti meminum obat yang pahit. Allah Ta’ala berfirman: “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Surat Al-Baqarah: 216)
Maka Allah Yang Maha Suci mengabarkan bahwa perang itu dibenci oleh mereka meskipun itu baik bagi mereka karena menghantarkan kepada yang paling dicintai dan paling bermanfaat. Jiwa-jiwa suka kepada ketenangan, kedamaian, dan kemewahan, itu adalah keburukan baginya karena menghantarkan kepada terlepasnya yang dicintai. Orang berakal tidak hanya melihat kenikmatan yang dicintai yang segera lalu mengutamakannya, dan rasa sakit yang dibenci yang segera lalu menghindarinya, karena itu mungkin keburukan baginya. Bahkan mungkin mendatangkan rasa sakit yang sangat dan melewatkan kenikmatan yang besar. Bahkan orang-orang berakal dunia menanggung kesulitan-kesulitan yang dibenci untuk apa yang akan menyusul berupa kenikmatan setelahnya, meskipun kenikmatan itu terputus.
Maka perkara ada empat: yang dibenci menghantarkan kepada yang dibenci, yang dibenci menghantarkan kepada yang dicintai, yang dicintai menghantarkan kepada yang dicintai, dan yang dicintai menghantarkan kepada yang dibenci. Yang dicintai yang menghantarkan kepada yang dicintai telah berkumpul padanya pendorong perbuatan dari dua segi. Yang dibenci yang menghantarkan kepada yang dibenci telah berkumpul padanya pendorong meninggalkan dari dua segi.
Tersisa dua bagian yang lain yang ditarik-tarik oleh dua pendorong – dan keduanya adalah medan ujian dan cobaan – maka jiwa mengutamakan yang paling dekat tetangganya darinya, yaitu yang segera. Sedangkan akal dan iman mengutamakan yang paling bermanfaat dan paling kekal. Hati berada di antara dua pendorong, kadang kepada yang ini, kadang kepada yang itu. Di sinilah tempat ujian secara syar’i dan qadari. Pendorong akal dan iman memanggil setiap saat: “Marilah menuju keberuntungan, di waktu pagi orang-orang memuji perjalanan malam, dan saat mati hamba memuji ketakwaan.” Jika semakin gelap malam cinta, dan semakin berkuasa sultan syahwat dan kehendak, ia berkata: “Wahai jiwa, bersabarlah, ini hanya sesaat kemudian berlalu dan semua ini hilang dan lenyap.”
Jika cinta adalah asal segala amal, baik yang hak maupun yang batil, maka asal segala amalan keagamaan adalah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana asal segala perkataan keagamaan adalah membenarkan Allah dan Rasul-Nya. Setiap kehendak yang menghalangi kesempurnaan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dan bersaing dengan kecintaan ini, atau setiap keraguan yang menghalangi kesempurnaan pembenaran, maka hal itu menentang asal keimanan atau melemahkannya. Jika hal itu menguat hingga menentang asal cinta dan pembenaran, maka itu adalah kekufuran atau syirik besar. Jika tidak menentangnya, maka hal itu merusak kesempurnaannya dan menyebabkan kelemahan serta kelesuan dalam tekad dan pencarian. Hal itu menghalangi orang yang sampai, memutus orang yang mencari, dan menjatuhkan orang yang berhasrat.
Loyalitas tidak sah kecuali dengan permusuhan, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman tentang imam orang-orang hanif yang mencintai bahwa dia berkata kepada kaumnya: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah, kamu dan nenek moyangmu yang terdahulu? Sesungguhnya mereka itu adalah musuh bagiku, kecuali Tuhan semesta alam.” (Surat Asy-Syu’ara: 75-77)
Maka tidak sah bagi Khalilullah (kekasih Allah) loyalitas dan persahabatan ini kecuali dengan mewujudkan permusuhan ini, karena tidak ada loyalitas kecuali dengan berlepas diri dari setiap sembahan selain-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.'” (Surat Al-Mumtahanah: 4)
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, kecuali Yang telah menciptakanku; karena sesungguhnya Dia yang akan memberi petunjuk kepadaku.’ Dan Ibrahim menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal dalam keturunannya, supaya mereka kembali (kepada kalimat tauhid itu).” (Surat Az-Zukhruf: 26-28)
Artinya, dia menjadikan loyalitas kepada Allah ini dan berlepas diri dari setiap sembahan selain-Nya sebagai kalimat yang kekal dalam keturunannya, diwariskan oleh para nabi dan pengikut mereka dari satu kepada yang lain. Itulah kalimat: “Laa ilaaha illallah” (Tidak ada tuhan selain Allah), dan itulah yang diwariskan oleh imam orang-orang hanif kepada pengikutnya hingga hari kiamat.
Kalimat tauhid adalah kalimat yang dengannya tegak bumi dan langit, Allah menciptakan semua makhluk berdasarkan fitrah ini, atas dasar ini agama didirikan dan kiblat ditetapkan, pedang jihad ditelanjangi. Ia adalah hakikat hak Allah atas semua hamba, kalimat yang melindungi darah, harta, dan keturunan di dunia ini, yang menyelamatkan dari azab kubur dan azab neraka. Ia adalah surat keterangan yang tanpanya tidak dapat masuk surga, tali yang tidak dapat sampai kepada Allah siapa yang tidak berpegang pada sebabnya. Ia adalah kalimat Islam dan kunci negeri keselamatan. Dengannya manusia terbagi menjadi yang celaka dan yang bahagia, yang diterima dan yang diusir. Dengannya terpisah negeri kekufuran dari negeri keimanan, dan terbedakan negeri kenikmatan dari negeri kesengsaraan dan kehinaan. Ia adalah tiang penyangga fardhu dan sunnah. “Barangsiapa yang kalimat terakhirnya adalah ‘Laa ilaaha illallah’, dia akan masuk surga.”
Ruh kalimat ini dan rahasianya adalah: mengkhususkan Tuhan – Maha Tinggi pujian-Nya, Maha Suci nama-nama-Nya, Maha Berkah nama-Nya, Maha Tinggi keagungan-Nya, dan tidak ada tuhan selain-Nya – dengan kecintaan, pengagungan, penghormatan, ketakutan, harapan, dan yang mengikutinya: tawakal, tobat, rindu, dan takut. Tidak dicintai selain-Nya, dan segala yang dicintai selain-Nya hanyalah dicintai sebagai pengikut cinta kepada-Nya dan sebagai wasilah untuk menambah cinta kepada-Nya. Tidak ditakuti selain-Nya, tidak diharapkan selain-Nya, tidak bertawakal kecuali kepada-Nya, tidak berhasrat kecuali kepada-Nya, tidak takut kecuali kepada-Nya, tidak bersumpah kecuali dengan nama-Nya, tidak melihat kecuali kepada-Nya, tidak bertobat kecuali kepada-Nya, tidak ditaati kecuali perintah-Nya, tidak menghitung kecuali dengan-Nya, tidak meminta pertolongan dalam kesulitan kecuali kepada-Nya, tidak berlindung kecuali kepada-Nya, tidak sujud kecuali kepada-Nya, tidak menyembelih kecuali untuk-Nya dan dengan nama-Nya.
Semua itu terkumpul dalam satu huruf, yaitu: tidak disembah kecuali Dia dengan segala jenis ibadah. Inilah hakikat perwujudan kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Karena itu Allah mengharamkan neraka bagi siapa yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dengan hakikat kesaksian. Mustahil masuk neraka orang yang mewujudkan hakikat kesaksian ini dan berdiri dengannya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan mereka yang memelihara kesaksian mereka.” (Surat Al-Ma’arij: 33)
Maka dia berdiri dengan kesaksiannya lahir dan batin, dalam hati dan jasadnya. Sesungguhnya di antara manusia ada yang kesaksiannya mati, ada yang tertidur yang jika dibangunkan akan terjaga, ada yang berbaring, ada yang lebih dekat untuk berdiri. Kesaksian itu dalam hati seperti ruh dalam badan: ada ruh yang mati, ruh yang sakit lebih dekat kepada kematian, ruh yang lebih dekat kepada kehidupan, dan ruh yang sehat yang berdiri dengan kemaslahatan badan.
Dalam hadits sahih dari Rasulullah ﷺ: “Sesungguhnya aku mengetahui sebuah kalimat yang tidak diucapkan seorang hamba ketika mati kecuali ruhnya akan menemukan untuknya kehidupan.” Kehidupan ruh ini dengan kehidupan kalimat ini di dalamnya. Sebagaimana kehidupan badan dengan adanya ruh di dalamnya, dan sebagaimana orang yang mati dengan kalimat ini berada di surga berbolak-balik di dalamnya, maka orang yang hidup dengan mewujudkannya dan berdiri dengannya, ruhnya berbolak-balik dalam surga tempat kembali dan kehidupannya adalah kehidupan yang paling baik. Allah berfirman: “Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (Surat An-Nazi’at: 40-41)
Maka surga adalah tempat kembalinya pada hari pertemuan.
Surga ma’rifah, kecintaan, keakraban dengan Allah, kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, kegembiraan dengan-Nya, dan ridha kepada-Nya dan dari-Nya adalah tempat kembali ruhnya di dunia ini. Barangsiapa yang surga ini menjadi tempat kembalinya di sini, maka surga kekal akan menjadi tempat kembalinya pada hari yang dijanjikan. Barangsiapa yang diharamkan dari surga ini, maka dia lebih terharamkan lagi dari surga itu. Orang-orang yang berbakti berada dalam kenikmatan meskipun kehidupan mereka keras dan dunia sempit bagi mereka. Orang-orang yang durhaka berada dalam neraka meskipun dunia luas bagi mereka. Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (Surat An-Nahl: 97)
Baiknya kehidupan adalah surga dunia. Allah Ta’ala berfirman: “Maka barangsiapa yang dikehendaki Allah akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki-Nya kesesatan, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit.” (Surat Al-An’am: 125)
Kenikmatan apa yang lebih baik dari lapangnya dada? Dan azab apa yang lebih pahit dari sempitnya dada?
Allah Ta’ala berfirman: “Ketahuilah, bahwasanya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan dunia dan (dalam kehidupan) akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (Surat Yunus: 62-64)
Maka mukmin yang ikhlas kepada Allah adalah orang yang paling baik kehidupannya, paling tenang keadaannya, paling lapang dadanya, dan paling gembira hatinya. Ini adalah surga yang segera sebelum surga yang nanti.
Nabi ﷺ bersabda: “Jika kalian melewati taman-taman surga maka gembalalah.” Mereka bertanya: “Apa taman-taman surga?” Beliau menjawab: “Majelis-majelis dzikir.”
Dari ini pula sabda beliau ﷺ: “Antara rumahku dan mimbarku adalah taman dari taman-taman surga.”
Dari ini pula sabda beliau ketika ditanya tentang washal dalam puasa: “Sesungguhnya aku tidak seperti keadaan kalian, aku berada di sisi Tuhanku yang memberi makan dan minum kepadaku.”
Maka Rasulullah ﷺ memberitahu bahwa apa yang dia peroleh dari makanan di sisi Tuhannya menggantikan kedudukan makanan dan minuman yang baik, dan bahwa apa yang dia peroleh dari itu adalah perkara yang khusus baginya dan tidak ada yang berbagi dengannya dalam hal itu. Jika dia menahan diri dari makanan dan minuman, maka dia memiliki ganti yang menggantikan kedudukannya dan mencukupinya, sebagaimana dikatakan:
Dia memiliki perbincangan dari ingatan kepadamu yang menyibukkannya Dari minuman dan melalaikannya dari bekal
Dia memiliki dari wajahmu cahaya yang dia gunakan untuk menerangi Dan dari pembicaraanmu di belakangnya ada yang memandu
Jika dia mengeluh dari lelahnya perjalanan, dijanjikan kepadanya Kenyamanan pertemuan, maka dia hidup pada saat yang dijanjikan
Semakin berguna keberadaan sesuatu bagi hamba dan semakin dia membutuhkannya, semakin keras kesakitannya karena kehilangannya. Semakin bermanfaat ketiadaannya baginya, semakin keras kesakitannya karena keberadaannya. Tidak ada sesuatu secara mutlak yang lebih bermanfaat bagi hamba daripada menghadap kepada Allah, sibuk dengan dzikir-Nya, menikmati cinta-Nya, dan mengutamakan keridhaan-Nya. Bahkan tidak ada kehidupan, kenikmatan, kegembiraan, dan keindahan baginya kecuali dengan itu. Ketiadaannya adalah hal yang paling menyakitkan dan paling berat baginya.
Ruh hanya tidak menyaksikan azab dan kesakitan ini karena kesibukannya dengan selainnya dan tenggelamnya dalam yang lain itu, sehingga tidak sadar akan kesakitan kehilangan karena berpisah dengan hal yang paling dicintainya dan paling bermanfaat baginya. Ini adalah kedudukan orang mabuk yang tenggelam dalam mabuknya, yang rumah, harta, keluarga, dan anak-anaknya terbakar, sedangkan dia karena tenggelamnya dalam kemabukan tidak merasakan kesakitan kehilangan itu dan penyesalannya, sampai ketika dia sadar dan tersingkap darinya penutup kemabukan, dan bangun dari tidur karena khamar, maka dia lebih tahu dengan keadaannya saat itu.
Demikian pula keadaannya sama ketika tersingkap penutup dan menyaksikan pertanda-pertanda akhirat, dan menghadapi perpisahan dengan dunia dan perpindahan darinya kepada Allah. Bahkan kesakitan, penyesalan, dan azab di sini lebih keras berkali-kali lipat, karena yang tertimpa musibah di dunia berharap dapat memperbaiki musibahnya dengan ganti, dan dia tahu bahwa dia tertimpa sesuatu yang fana dan tidak kekal. Bagaimana dengan orang yang musibahnya adalah kehilangan sesuatu yang tidak ada gantinya, tidak ada penggantinya, dan tidak ada perbandingan antara itu dengan seluruh dunia? Jika Allah Subhanahu menetapkan kematian atasnya karena penyesalan dan kesakitan ini, hamba itu pantas mendapatkannya, karena kematian akan menjadi angan-angan terbesarnya dan penyesalan terbesarnya. Ini jika kesakitan hanya karena kehilangan semata, bagaimana jika di sana ada azab pada ruh dan badan dengan hal-hal lain yang wujudnya yang tidak dapat diperkirakan?
Maka Maha Berkah Dzat yang membebankan makhluk lemah ini dua kesakitan besar yang tidak dapat dipikul oleh gunung-gunung yang kokoh.
Bayangkanlah sekarang pada dirimu hal yang paling kamu cintai di dunia, sehingga kehidupan tidak enak bagimu kecuali bersamanya, lalu kamu bangun pagi dan dia telah diambil darimu, dan kamu terhalang darinya ketika kamu sangat membutuhkannya, bagaimana keadaanmu? Ini padahal ada ganti darinya, bagaimana dengan yang tidak ada gantinya? Sebagaimana dikatakan:
Dari segala sesuatu jika kamu menyia-nyiakannya ada ganti Tapi dari Allah jika kamu menyia-nyiakan-Nya tidak ada ganti
Dalam atsar ilahi: “Wahai anak Adam, Aku ciptakan kamu untuk ibadah kepada-Ku maka janganlah bermain-main, dan Aku tanggung rezekimu maka janganlah lelah. Wahai anak Adam, carilah Aku niscaya kamu akan menemukan-Ku, jika kamu menemukan-Ku kamu akan menemukan segala sesuatu, dan jika kamu kehilangan-Ku kamu akan kehilangan segala sesuatu, dan Aku lebih kamu cintai daripada segala sesuatu.”
Pasal: Mahabbah (Cinta) yang Terpuji dan Mahabbah yang Tercela
Karena mahabbah (cinta) adalah jenis yang mencakup berbagai macam yang berbeda-beda dalam kadar dan sifatnya, maka kebanyakan yang disebutkan tentangnya dalam hak Allah Ta’ala adalah yang khusus bagi-Nya dan yang layak bagi-Nya dari berbagai jenisnya, dan yang tidak layak kecuali bagi-Nya semata, seperti ibadah, inabah (kembali kepada Allah), dan yang semisalnya. Sesungguhnya ibadah tidak layak kecuali bagi-Nya semata, demikian pula inabah. Dan Allah telah menyebut mahabbah dengan nama mutlaknya seperti firman-Nya:
“Kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya” (Surat Al-Maidah: 54)
Dan firman-Nya:
“Dan di antara manusia ada yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah” (Surat Al-Baqarah: 165)
Dan jenis mahabbah tercela yang paling besar adalah: mahabbah bersama Allah, yaitu ketika orang yang mencinta menyamakan antara cintanya kepada Allah dengan cintanya kepada tandingan yang telah ia ambil selain Allah.
Dan jenis mahabbah terpuji yang paling besar adalah: mahabbah kepada Allah semata. Mahabbah inilah yang merupakan pokok kebahagiaan dan kepala yang dengannya seseorang tidak akan selamat dari azab kecuali dengannya. Sedangkan mahabbah tercela yang syirik adalah pokok kesengsaraan dan kepalanya yang tidak akan kekal dalam azab kecuali ahlinya. Maka ahli mahabbah yang mencintai Allah dan beribadah kepada-Nya semata tidak ada sekutu bagi-Nya, mereka tidak akan masuk neraka. Dan barangsiapa di antara mereka yang masuk ke dalamnya karena dosa-dosanya, maka tidak akan ada seorang pun dari mereka yang kekal di dalamnya.
Dan pokok Al-Quran adalah perintah kepada mahabbah tersebut (cinta kepada Allah) dan konsekuensi-konsekuensinya, serta larangan dari mahabbah yang lain dan konsekuensi-konsekuensinya. Al-Quran membuat perumpamaan dan perbandingan untuk kedua jenis tersebut, menyebutkan kisah-kisah kedua jenis itu, merinci amal-amal kedua jenis beserta wali-wali mereka dan sesembahan masing-masing dari keduanya, memberitakan tentang perbuatan-Nya terhadap kedua jenis itu, dan tentang keadaan kedua jenis itu di tiga tempat: rumah dunia, rumah barzakh, dan rumah ketetapan (akhirat). Al-Quran datang dalam urusan kedua jenis ini.
Dan pokok dakwah semua rasul dari yang pertama hingga yang terakhir, sesungguhnya adalah ibadah kepada Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya, yang mencakup kesempurnaan cinta kepada-Nya, kesempurnaan kepatuhan dan kerendahan kepada-Nya, pengagungan dan pemuliaan, serta konsekuensi dari semua itu berupa ketaatan dan takwa.
Dan telah tetap dalam Shahihain dari hadits Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak beriman seseorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada bapaknya, anaknya, dan semua manusia.”
Dan dalam Shahih Al-Bukhari bahwa Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Wahai Rasulullah, demi Allah, sungguh engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.” Maka Rasul berkata: “Tidak wahai Umar, hingga aku lebih kamu cintai daripada dirimu sendiri.” Umar berkata: “Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, sungguh engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Rasul berkata: “Sekarang wahai Umar.”
Jika demikian keadaan cinta kepada hamba dan rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan wajibnya mendahulukan cinta kepadanya atas cinta kepada diri manusia, anaknya, bapaknya, dan semua manusia, maka bagaimana sangkaan tentang cinta kepada Yang mengutusnya Subhanahu wa Ta’ala, dan wajibnya mendahulukan cinta kepada-Nya atas cinta kepada selain-Nya?
Dan cinta kepada Rabb Subhanah berbeda dari cinta kepada selain-Nya dalam kadar, sifat, dan kekhususan-Nya Subhanahu dengan cinta itu. Sesungguhnya yang wajib bagi-Nya dari semua itu adalah hendaknya Dia lebih dicintai hamba daripada anaknya dan bapaknya, bahkan daripada pendengaran, penglihatannya, dan jiwanya yang berada di antara kedua sisinya. Maka hendaknya Tuhan yang haq dan yang disembahnya lebih dicintai daripadanya daripada semua itu. Sesuatu mungkin dicintai dari satu segi bukan dari segi yang lain, dan mungkin dicintai karena yang lain. Dan tidak ada sesuatu yang dicintai karena dzatnya dari segala segi kecuali Allah semata. Dan tidak layak uluhiyyah (ketuhanan) kecuali bagi-Nya:
“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, niscaya keduanya telah rusak binasa” (Surat Al-Anbiya: 22)
Dan ta’alluh (penuhanan) adalah: mahabbah, ketaatan, dan kepatuhan.
Pasal: Cinta adalah Pokok Gerakan
Dan setiap gerakan di alam atas dan bawah, maka pokoknya adalah mahabbah. Mahabbah menjadi sebab yang menggerakkan dan tujuan akhirnya. Hal itu karena gerakan ada tiga jenis: gerakan ikhtiyariyyah iradiyyah (pilihan kehendak), gerakan thabii’iyyah (alami), dan gerakan qasriyyah (paksaan).
Gerakan alami pokoknya adalah ketenangan. Suatu benda bergerak hanya ketika keluar dari tempat dan pusat alaminya, maka ia bergerak untuk kembali kepadanya. Keluarnya dari pusat dan tempat alaminya hanyalah karena penggerak yang memaksanya menggerakkannya. Maka benda itu memiliki gerakan paksaan yang bergerak dengan gerakan penggerak dan yang memaksanya, dan gerakan alami dengan sendirinya yang dengannya ia mencari kembali ke pusatnya. Kedua gerakannya mengikuti yang memaksa dan menggerakkan, maka dialah pokok kedua gerakan itu.
Dan gerakan pilihan kehendak adalah pokok dari kedua gerakan yang lain, dan ia mengikuti kehendak dan mahabbah.
Dalil atas terbatasnya gerakan pada tiga ini adalah: bahwa yang bergerak jika ia memiliki kesadaran terhadap gerakan maka itu gerakan iradiyyah (kehendak). Jika ia tidak memiliki kesadaran terhadapnya, maka gerakan itu bisa sesuai dengan tabiatnya atau tidak. Yang pertama adalah gerakan alami, dan yang kedua adalah gerakan paksaan.
Jika telah tetap hal ini, maka apa yang ada di langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya dari gerakan falak, matahari, bulan, bintang-bintang, angin, awan, hujan, tumbuhan, dan gerakan janin dalam perut ibunya, sesungguhnya semua itu melalui perantaraan malaikat dan para pengatur urusan dan para pembagi urusan, sebagaimana telah ditunjukkan dalam nash-nash dari Al-Quran dan Sunnah di beberapa tempat. Beriman kepada hal itu termasuk kesempurnaan iman kepada malaikat. Sesungguhnya Allah telah menugaskan malaikat pada rahim, malaikat pada hujan, malaikat pada tumbuhan, malaikat pada angin, malaikat pada falak, matahari, bulan, dan bintang-bintang. Dan Allah menugaskan pada setiap hamba empat malaikat: dua pencatat di kanan dan kirinya, dan dua penjaga dari depan dan belakangnya. Allah menugaskan malaikat untuk mencabut ruh dan mengantarnya ke tempatnya di surga dan neraka, malaikat untuk menginterogasi dan mengujinya di kuburannya, malaikat untuk mengazabnya di neraka atau membuatnya bernikmat di surga. Allah menugaskan malaikat pada gunung-gunung, malaikat pada awan yang menggiringnya ke mana mereka diperintahkan, malaikat pada hujan yang turun dengan perintah Allah dengan kadar yang diketahui sebagaimana Allah kehendaki. Allah menugaskan malaikat untuk menanam surga dan membuat peralatannya, permadaninya, dan mengurus surga, serta malaikat pada neraka demikian pula.
Maka tentara Allah yang paling besar adalah malaikat. Lafazh malak menunjukkan bahwa ia adalah utusan pelaksana perintah yang lain dan mereka tidak memiliki sedikitpun dari urusan itu, tetapi urusan itu seluruhnya milik Allah. Mereka mengatur urusan dan membaginya dengan perintah Allah dan izin-Nya. Allah berfirman memberitakan tentang mereka:
“Dan kami tidak turun kecuali dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nya-lah apa yang ada di hadapan kami, apa yang ada di belakang kami dan apa yang ada di antara keduanya. Dan tidaklah Tuhanmu lupa” (Surat Maryam: 64)
Dan Allah berfirman:
“Dan berapa banyak malaikat di langit yang syafaat mereka tidak berguna sedikitpun kecuali setelah Allah mengizinkan bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan yang diridhai-Nya” (Surat An-Najm: 26)
Dan Allah Subhanahu bersumpah dengan kelompok-kelompok malaikat yang melaksanakan perintah-Nya pada makhluk, sebagaimana firman-Nya:
“Demi (malaikat-malaikat) yang bershaf-shaf dengan sebenar-benarnya, dan (malaikat-malaikat) yang menghardik dengan keras, dan (malaikat-malaikat) yang membacakan zikir (Al-Quran)” (Surat Ash-Shaffat: 1-3)
Dan firman-Nya:
“Demi (malaikat-malaikat) yang diutus untuk membawa kebaikan, dan (malaikat-malaikat) yang bertiup dengan keras, dan (malaikat-malaikat) yang menyebarkan (rahmat) dengan luas, dan (malaikat-malaikat) yang membedakan dengan sejelas-jelasnya, dan (malaikat-malaikat) yang menyampaikan wahyu, untuk menjadi alasan atau peringatan” (Surat Al-Mursalat: 1-6)
Dan Allah berfirman:
“Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut, dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat, dan (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang, dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia)” (Surat An-Nazi’at: 1-5)
Dan kami telah menyebutkan makna hal itu dan rahasia bersumpah dengannya dalam kitab “At-Tibyan fi Aqsam Al-Quran”. Jika kamu telah mengetahui hal itu, maka seluruh mahabbah, penggerak, kehendak, dan perbuatan itu adalah ibadah dari mereka kepada Rabb bumi dan langit. Seluruh gerakan alami dan paksaan mengikutinya. Seandainya tidak ada cinta, niscaya falak tidak berputar, bintang-bintang yang bercahaya tidak bergerak, angin-angin yang ditundukkan tidak bertiup, awan-awan pembawa tidak berlalu, janin-janin tidak bergerak dalam perut ibu-ibu, biji-bijian tidak terbelah menjadi berbagai jenis tumbuhan, ombak-ombak yang menggelora tidak bergolak, para pengatur dan pembagi tidak bergerak, bumi dan langit serta apa yang ada di dalamnya dari berbagai jenis makhluk tidak bertasbih memuji Penciptanya. Maka Mahasuci Dzat yang:
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun” (Surat Al-Isra: 44)
Pasal: Cinta Hanya kepada Allah
Jika telah diketahui hal itu, maka setiap yang hidup memiliki kehendak, mahabbah, dan amal menurut kemampuannya. Setiap yang bergerak, maka pokok gerakannya adalah mahabbah dan kehendak. Dan tidak ada kebaikan bagi makhluk-makhluk kecuali dengan gerakan dan mahabbahnya kepada Pencipta dan Pembentuknya semata, sebagaimana tidak ada wujud baginya kecuali dengan penciptaan-Nya semata.
Karena itulah Allah berfirman:
“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, niscaya keduanya telah rusak binasa” (Surat Al-Anbiya: 22)
Dan Allah Subhanahu tidak berfirman: “Keduanya tidak akan wujud dan keduanya akan menjadi tiada”, dan tidak pula berfirman: “Keduanya akan musnah”, karena Dia Subhanahu berkuasa untuk memelihara keduanya dalam keadaan rusak. Tetapi tidak mungkin keduanya berada dalam keadaan baik dan lurus kecuali dengan Allah semata yang menjadi sesembahan keduanya, dan sesembahan apa yang terkandung di dalamnya dan tinggal di keduanya. Seandainya di alam ini ada dua tuhan, niscaya sistem alam ini rusak dengan kerusakan yang sangat parah. Karena setiap tuhan akan berusaha mengalahkan yang lain, mengatasi dan menyendiri tanpanya dengan ketuhanannya, karena kemitraan adalah kekurangan dalam kesempurnaan ketuhanan. Tuhan tidak rela bagi dirinya menjadi tuhan yang kurang. Jika salah satu dari keduanya mengalahkan yang lain, maka dialah tuhan yang tunggal, dan yang dikalahkan bukanlah tuhan. Jika tidak ada satu pun dari keduanya yang mengalahkan yang lain, maka keduanya lemah dan tidak ada yang sempurna ketuhanannya. Maka wajib ada tuhan yang mengatasi keduanya dan menguasai keduanya. Jika tidak, masing-masing akan membawa apa yang diciptakannya, dan masing-masing akan berusaha mengatasi yang lain. Dalam hal itu terdapat kerusakan urusan langit dan bumi serta yang ada di dalamnya, sebagaimana kerusakan yang biasa terjadi pada negeri jika di dalamnya ada dua raja yang setara, kerusakan istri jika dia memiliki dua suami, dan kerusakan kawanan jika di dalamnya ada dua jantan.
Dan akar kerusakan dunia sesungguhnya hanyalah dari perselisihan para raja dan khalifah. Oleh karena itu, musuh-musuh Islam tidak pernah berhasrat menyerang Islam pada suatu masa kecuali pada masa ketika ada banyak raja dari kalangan muslim yang saling berselisih, dan masing-masing dari mereka menyendiri di wilayahnya sendiri, serta sebagian dari mereka berusaha mengungguli sebagian yang lain.
Maka kebaikan langit dan bumi serta keteraturannya, dan keteraturan urusan makhluk-makhluk dalam sistem yang paling sempurna adalah termasuk dalil yang paling jelas bahwa tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. Dan bahwa segala sesembahan dari arasy-Nya hingga dasar bumi adalah batil kecuali wajah-Nya Yang Maha Tinggi. Allah Ta’ala berfirman: “Allah tidak mempunyai anak, dan tidak ada tuhan (yang lain) bersama-Nya, kalau ada tuhan lain bersama-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk ciptaannya, dan sebagian dari tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan. Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (Surat Al-Mu’minun: 91-92)
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Atau apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi yang dapat menghidupkan (orang mati)? Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai Arasy daripada apa yang mereka sifatkan. Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang ditanya.” (Surat Al-Anbiya’: 21-23)
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Jika ada tuhan-tuhan di samping Allah sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai Arasy’.” (Surat Al-Isra’: 42)
Maka dikatakan: mereka akan mencari jalan kepada-Nya dengan cara mengalahkan dan menguasai sebagaimana yang dilakukan para raja sebagian mereka terhadap sebagian yang lain. Dan hal ini ditunjukkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain: “dan sebagian dari tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain.”
Syaikh kami rahimahullah berkata: “Yang benar adalah bahwa maksudnya: mereka akan mencari jalan kepada-Nya dengan cara mendekatkan diri kepada-Nya dan mentaati-Nya. Maka bagaimana kalian menyembah mereka selain-Nya? Padahal seandainya mereka adalah tuhan-tuhan sebagaimana yang kalian katakan, niscaya mereka adalah hamba-hamba-Nya.” Beliau berkata: “Dan hal ini ditunjukkan oleh beberapa segi:
Pertama: firman-Nya Ta’ala: “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mereka mengharap rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya.” (Surat Al-Isra’: 57)
Artinya: mereka yang kalian sembah selain Aku adalah hamba-hamba-Ku sebagaimana kalian adalah hamba-hamba-Ku, dan mereka mengharap rahmat-Ku dan takut akan azab-Ku. Maka mengapa kalian menyembah mereka selain Aku?
Kedua: bahwa Allah Subhanahu tidak berfirman “mereka akan mencari jalan untuk mengatasi-Nya”, tetapi berfirman: “mereka akan mencari jalan kepada-Nya”. Dan lafaz ini hanya digunakan dalam konteks mendekatkan diri, seperti firman-Nya Ta’ala: “bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.” (Surat Al-Ma’idah: 35) Adapun dalam konteks mengalahkan, maka digunakan kata “atas” seperti firman-Nya: “maka jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka.” (Surat An-Nisa’: 34)
Ketiga: bahwa mereka tidak mengatakan bahwa tuhan-tuhan mereka mengalahkan-Nya dan berusaha mengungguli-Nya. Dan Dia Subhanahu telah berfirman: “Katakanlah: ‘Jika ada tuhan-tuhan di samping Allah sebagaimana yang mereka katakan'” sedangkan mereka hanya mengatakan bahwa tuhan-tuhan mereka berusaha mendekatkan diri kepada-Nya dan mendekatkan mereka kepada-Nya. Maka Allah berfirman: seandainya keadaannya sebagaimana yang kalian katakan, niscaya tuhan-tuhan itu adalah hamba-hamba-Nya. Maka mengapa kalian menyembah hamba-hamba-Nya selain-Nya?
[Bab: Pengaruh-Pengaruh Cinta]
Cinta memiliki pengaruh-pengaruh, konsekuensi-konsekuensi, keharusan-keharusan dan hukum-hukum, baik yang terpuji maupun yang tercela, yang bermanfaat maupun yang berbahaya, berupa perasaan dan pengecapan serta kelezatan, kerinduan dan ketenangan, bersambung dengan yang dicintai dan dekat dengannya, berpisah darinya dan jauh darinya, berpaling dan meninggalkan, kegembiraan dan kesenangan, tangisan dan kesedihan, serta lain-lain dari hukum-hukumnya dan keharusan-keharusannya.
Cinta yang terpuji adalah cinta yang bermanfaat yang mendatangkan bagi pemiliknya apa yang bermanfaat baginya di dunia dan akhiratnya. Cinta ini adalah tanda kebahagiaan. Sedangkan yang berbahaya adalah yang mendatangkan bagi pemiliknya apa yang membahayakannya di dunia dan akhiratnya, dan ini adalah tanda kesengsaraan.
Diketahui bahwa makhluk hidup yang berakal tidak akan memilih cinta terhadap sesuatu yang membahayakan dan menyengsarakannya. Hal itu hanya terjadi karena kebodohan dan kezaliman. Karena jiwa terkadang mencintai apa yang membahayakannya dan tidak bermanfaat baginya, dan itu termasuk kezaliman manusia terhadap dirinya sendiri. Entah karena jiwa itu bodoh tentang keadaan yang dicintainya sehingga mencintai sesuatu tanpa mengetahui bahaya yang ada dalam cintanya terhadap hal itu – dan ini adalah keadaan orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu. Atau karena mengetahui bahaya yang ada dalam cintanya tetapi lebih mengutamakan hawa nafsunya daripada ilmunya. Dan terkadang cintanya dibangun atas dua hal: keyakinan yang rusak dan ini tercela – dan ini adalah keadaan orang yang mengikuti prasangka dan apa yang diinginkan jiwa. Maka cinta yang rusak tidak terjadi kecuali karena kebodohan atau keyakinan yang rusak atau hawa nafsu yang mengalahkan, atau gabungan dari hal-hal tersebut sehingga sebagiannya membantu sebagian yang lain, maka muncullah syubhat (keraguan) dan syahwat (nafsu). Syubhat yang membuat kebenaran bercampur dengan kebatilan dan menghiasi urusan yang dicintai, dan syahwat yang mengajaknya untuk meraihnya. Maka bersatu tentara syubhat dan syahwat melawan tentara akal dan iman, dan kemenangan bagi yang paling kuat di antara keduanya.
Jika hal ini dipahami, maka konsekuensi setiap jenis cinta memiliki hukum yang sama dengan yang diikutinya. Cinta yang bermanfaat dan terpuji yang merupakan tanda kebahagiaan hamba dan semua konsekuensinya semuanya bermanfaat baginya. Maka hukumnya sama dengan hukum yang diikutinya. Jika ia menangis maka itu bermanfaat baginya, jika ia bersedih maka itu bermanfaat baginya, jika ia bergembira maka itu bermanfaat baginya, jika ia merasa sesak maka itu bermanfaat baginya, jika ia merasa lapang maka itu bermanfaat baginya. Maka ia berbolak-balik dalam tingkatan-tingkatan cinta dan hukum-hukumnya dalam penambahan, keuntungan dan kekuatan.
Sedangkan cinta yang berbahaya dan tercela, konsekuensi dan pengaruhnya semuanya berbahaya bagi pemiliknya, menjauhkannya dari Tuhannya. Bagaimanapun ia berbolak-balik dalam pengaruh-pengaruhnya dan turun di tingkatan-tingkatannya, ia berada dalam kerugian dan kejauhan.
Demikianlah halnya setiap perbuatan yang lahir dari ketaatan dan kemaksiatan. Semua yang lahir dari ketaatan adalah penambahan bagi pemiliknya dan pendekatan, dan semua yang lahir dari kemaksiatan adalah kerugian bagi pemiliknya dan kejauhan. Allah Ta’ala berfirman: “Yang demikian itu adalah karena mereka tidak ditimpa rasa haus, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Dan mereka tidak menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak (pula) melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh), karena Allah akan memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Surat At-Taubah: 120-121)
Maka Allah Subhanahu mengabarkan dalam ayat pertama bahwa apa yang timbul dari ketaatan dan perbuatan mereka dituliskan sebagai amal saleh. Dan Dia mengabarkan dalam ayat kedua bahwa amal saleh mereka yang langsung mereka lakukan dituliskan untuk mereka sendiri. Perbedaan antara keduanya adalah: yang pertama bukan dari perbuatan mereka, tetapi timbul darinya sehingga dituliskan bagi mereka sebagai amal saleh. Sedangkan yang kedua adalah amal mereka sendiri sehingga dituliskan untuk mereka.
Maka hendaklah orang yang terbunuh oleh cinta merenungkan bab ini dengan sungguh-sungguh agar ia mengetahui apa yang menguntungkan dan merugikannya.
Dia akan mengetahui pada hari penghadapan dagangan apa yang telah disia-siakan dan pada saat penimbangan apa yang telah dikumpulkan
[Bab: Cinta adalah Asal Setiap Agama]
Sebagaimana cinta dan kehendak adalah asal setiap perbuatan seperti yang telah disebutkan, maka ia adalah asal setiap agama, baik yang benar maupun yang batil. Karena agama terdiri dari amal-amal batin dan lahir, dan cinta serta kehendak adalah asal dari semua itu. Agama adalah ketaatan, ibadah dan akhlak. Maka ia adalah ketaatan yang wajib dan tetap yang telah menjadi akhlak dan kebiasaan. Oleh karena itu, akhlak ditafsirkan dengan agama dalam firman-Nya Ta’ala: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Surat Al-Qalam: 4)
Imam Ahmad berkata dari Ibnu Uyainah, Ibnu Abbas berkata: “berbudi pekerti agama yang agung.”
Aisyah ditanya tentang akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia berkata: “Akhlaknya adalah Al-Qur’an.”
Dan ad-din mengandung makna penghinaan dan pemaksaan, juga mengandung makna kerendahan, ketundukan, dan ketaatan. Oleh karena itu, kata ini digunakan dari yang lebih tinggi kepada yang lebih rendah, sebagaimana dikatakan: “dintuhu fa dana”, artinya “aku menaklukkannya maka dia tunduk”.
Sang penyair berkata: “Dia telah menaklukkan kaum Rabab ketika mereka membenci agama, maka mereka menjadi mulia dan perkasa”
Dan kata ini juga digunakan dari yang lebih rendah kepada yang lebih tinggi, sebagaimana dikatakan: “dintu Allah” dan “dintu lillah”, dan “si fulan tidak ber-din kepada Allah dengan suatu agama”, dan “tidak ber-din kepada Allah dengan agama”. Maka “dana Allah” artinya: taat kepada Allah, mencintai-Nya, dan takut kepada-Nya. Dan “dana Allah” berarti: merendahkan diri kepada-Nya, tunduk, patuh, dan mengikuti.
Ad-din yang batiniah harus mengandung cinta dan ketundukan sebagaimana ibadah, berbeda dengan ad-din yang zhahir, karena ia tidak mengharuskan adanya cinta, meskipun di dalamnya terdapat kepatuhan dan kerendahan dalam lahiriah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut hari kiamat sebagai “yaumuddin” (hari agama/pembalasan), karena hari itu adalah hari dimana manusia dibalas dengan amal perbuatan mereka, jika baik maka baik, jika buruk maka buruk. Hal itu mencakup balasan dan perhitungan mereka, oleh karena itu para mufasir menafsirkannya sebagai hari pembalasan dan hari perhitungan.
Allah Ta’ala berfirman: “Maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah), kamu tidak mengembalikannya (nyawa itu) jika kamu orang-orang yang benar?” (Surat Al-Waqi’ah: 86-87)
Artinya: mengapa kalian tidak mengembalikan ruh ke tempatnya jika kalian bukan makhluk yang dikuasai, ditaklukkan, dan tidak dibalas? Ayat ini memerlukan penafsiran, karena ia diturunkan untuk berargumentasi kepada mereka yang mengingkari kebangkitan dan perhitungan. Dalil harus meniscayakan yang ditunjuknya, sehingga pikiran berpindah darinya kepada yang ditunjukkan karena keterkaitan di antara keduanya, maka yang mengharuskan menjadi dalil atas yang diharuskan, namun tidak wajib sebaliknya.
Segi dalilnya adalah: bahwa jika mereka mengingkari kebangkitan dan pembalasan, maka mereka telah kafir kepada Tuhan mereka dan mengingkari kekuasaan, ketuhanan, dan hikmah-Nya. Maka mereka harus memilih: apakah mengakui bahwa mereka memiliki Tuhan yang berkuasa dan mengatur mereka, sebagaimana Dia akan mematikan mereka jika berkehendak dan menghidupkan mereka jika berkehendak, memerintah dan melarang mereka, memberi pahala kepada yang berbuat baik dan menghukum yang berbuat jahat; ataukah tidak mengakui Tuhan yang demikian. Jika mereka mengakui-Nya, maka mereka beriman kepada kebangkitan dan hari berbangkit, serta agama yang berupa perintah dan pembalasan. Jika mereka mengingkarinya, maka mereka kafir kepada-Nya. Mereka telah mengklaim bahwa mereka bukan makhluk yang dikuasai dan tidak ada yang menghukum mereka, serta tidak memiliki Tuhan yang mengatur mereka sesuai kehendak-Nya. Maka mengapa mereka tidak mampu menolak kematian dari diri mereka ketika datang, dan mengembalikan ruh ke tempatnya ketika telah sampai di kerongkongan? Ini adalah khitab kepada yang hadir di sisi orang yang sekarat, mereka menyaksikan kematiannya. Artinya: mengapa kalian tidak mengembalikan ruh ke tempatnya jika kalian memiliki kekuasaan dan kendali, dan kalian bukan makhluk yang dikuasai dan ditaklukkan oleh Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa, yang hukum-hukum-Nya berlaku atas kalian dan perintah-perintah-Nya dilaksanakan? Ini adalah puncak ketidakmampuan mereka, karena telah dijelaskan ketidakmampuan mereka untuk mengembalikan satu jiwa pun ke tempatnya, sekalipun jin dan manusia bersatu untuk itu. Sungguh ini adalah ayat yang menunjukkan keesaan dan ketuhanan-Nya Subhanahu, kendali-Nya atas hamba-hamba-Nya, berlakunya hukum-hukum-Nya pada mereka, dan berjalannya hukum-hukum itu atas mereka.
Ad-din ada dua macam: din syar’i amri (agama syariat yang berupa perintah) dan din hisabi jaza’i (agama perhitungan yang berupa pembalasan). Keduanya adalah milik Allah semata. Seluruh agama adalah milik Allah, baik berupa perintah maupun pembalasan. Cinta adalah asal dari kedua macam agama ini, karena apa yang disyariatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan diperintahkan-Nya, Dia mencintai dan meridhainya. Sedangkan apa yang dilarang-Nya, Dia benci dan murka kepadanya karena bertentangan dengan apa yang dicintai dan diridhai-Nya, maka Dia mencintai lawannya. Dengan demikian, agama perintah-Nya semuanya kembali kepada cinta dan ridha-Nya.
Agama hamba kepada Allah dengannya hanya diterima jika berdasarkan cinta dan ridha-Nya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Telah merasakan manisnya iman orang yang ridha kepada Allah sebagai Tuhan, kepada Islam sebagai agama, dan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasul.” Ini adalah agama yang tegak atas cinta, karena cinta itulah disyariatkan, demi cinta itulah disyariatkan, dan atas cinta itulah dibangun. Demikian pula agama pembalasan-Nya, karena ia mencakup membalas orang yang berbuat baik dengan kebaikannya dan orang yang berbuat jahat dengan kejahatannya. Kedua perkara itu dicintai oleh Tuhan, karena keduanya adalah keadilan dan karunia-Nya, dan keduanya termasuk sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Dia Subhanahu mencintai sifat-sifat dan nama-nama-Nya, dan mencintai orang yang mencintainya. Setiap dari kedua agama itu adalah jalan lurus-Nya yang Dia berada di atasnya Subhanahu, maka Dia berada di atas jalan yang lurus dalam perintah dan larangan-Nya, pahala dan siksa-Nya, sebagaimana firman-Nya yang mengabarkan tentang nabi-Nya Hud ‘alaihis shalatu was salam ketika berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah bahwa aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, selain Allah. Maka lakukanlah tipu daya terhadapku semuanya, kemudian jangan kamu beri tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhan kamu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (Surat Hud: 54-56)
Ketika nabi Allah Hud ‘alaihis salam mengetahui bahwa Tuhannya berada di atas jalan yang lurus dalam penciptaan, perintah, larangan, pahala, siksa, takdir, qadha, pemberian, pencegahan, kesehatan, cobaan, taufik, dan penghinaan-Nya, tidak keluar dalam hal itu dari tuntutan kesempurnaan-Nya yang suci, yang dikehendaki oleh nama-nama dan sifat-sifat-Nya berupa keadilan, hikmah, rahmat, ihsan, karunia, meletakkan pahala pada tempatnya, dan hukuman pada tempat yang layak baginya, serta meletakkan taufik, penghinaan, pemberian, pencegahan, petunjuk, dan penyesatan, semuanya pada tempat dan lokasi yang layak baginya, sehingga Dia berhak mendapat pujian dan sanjungan yang sempurna atas hal itu – maka ilmu dan ma’rifah itu mewajibkan baginya ketika ia berseru di hadapan kaumnya dengan hati yang teguh dan qalbu yang tidak takut bahkan tulus lillah: “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah bahwa aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, selain Allah. Maka lakukanlah tipu daya terhadapku semuanya, kemudian jangan kamu beri tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhan kamu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.”
Kemudian dia mengabarkan tentang keumuman kekuasaan dan keperkasaan-Nya atas selain-Nya, dan kehinaan segala sesuatu di hadapan keagungan-Nya, maka dia berkata: “Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.” Bagaimana aku takut kepada yang ubun-ubunnya di tangan selain-Nya, sedangkan dia berada dalam keperkasaan, genggaman, di bawah kekuasaan dan kekuatan-Nya? Bukankah ini termasuk kebodohan yang paling bodoh dan kezaliman yang paling buruk?
Kemudian dia mengabarkan bahwa Dia Subhanahu berada di atas jalan yang lurus, maka segala yang diputuskan dan ditakdirkan-Nya, hamba tidak takut akan kezaliman dan ketidakadilan-Nya. Aku tidak takut kepada yang selain-Nya karena ubun-ubunnya di tangan-Nya, dan aku tidak takut akan kezaliman dan ketidakadilan-Nya karena Dia berada di atas jalan yang lurus. Maka Dia Subhanahu berlaku hukum-Nya pada hamba-Nya, adil dalam keputusan-Nya terhadapnya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia tidak keluar dalam pengaturan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya dari keadilan dan karunia. Jika Dia memberi, memuliakan, memberikan petunjuk, dan memberi taufik, maka itu dengan karunia dan rahmat-Nya. Jika Dia mencegah, menghinakan, menyesatkan, menghinakan, dan menyengsarakan, maka itu dengan keadilan dan hikmah-Nya. Dia berada di atas jalan yang lurus dalam hal ini dan itu.
Dalam hadits shahih: “Tidaklah menimpa seorang hamba sedikitpun kekhawatiran dan kesedihan, lalu dia berkata: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu, dan anak dari hamba perempuan-Mu. Ubun-ubunku di tangan-Mu, berlaku padaku hukum-Mu, adil padaku keputusan-Mu. Aku memohon kepada-Mu ya Allah dengan setiap nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau namakan untuk diri-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau khususkan dalam ilmu ghaib di sisi-Mu: agar Engkau jadikan Al-Qur’an yang agung sebagai musim semi hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihanku, dan hilangnya kekhawatiranku dan kesusahanku, melainkan Allah akan menghilangkan kekhawatiran dan kesusahannya, dan menggantikannya dengan kelapangan.’ Mereka berkata: ‘Ya Rasulullah, tidakkah kami mempelajarinya?’ Beliau berkata: ‘Ya, sepatutnya bagi orang yang mendengarnya untuk mempelajarinya.'”
Ini mencakup hukum Tuhan yang kauniyah dan amariyah serta keputusan-Nya yang terjadi dengan pilihan hamba dan tanpa pilihannya. Kedua hukum itu berlaku pada hamba-Nya, dan kedua keputusan itu adil padanya. Hadits ini diambil dari ayat ini, di antara keduanya terdapat hubungan yang sangat dekat.
[Bab Cinta Terhadap Rupa-Rupa]
Kami akhiri jawaban ini dengan bab yang berkaitan dengan cinta terhadap rupa-rupa dan kerusakan yang ada di dalamnya baik yang cepat maupun yang akan datang, meskipun kerusakannya berlipat ganda dari apa yang disebutkan seseorang. Karena hal itu merusak hati secara hakiki, dan jika hati rusak, maka rusaklah keinginan-keinginan, perkataan-perkataan, dan perbuatan-perbuatan, serta rusaklah benteng tauhid sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, dan sebagaimana akan kami tegaskan lagi insyaAllahu ta’ala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya menceritakan penyakit ini dari dua golongan manusia, yaitu kaum Luth dan para wanita. Dia mengabarkan tentang cinta istri Al-Aziz kepada Yusuf, bagaimana dia merayunya dan memperdayanya, serta mengabarkan tentang keadaan yang dicapai Yusuf dengan kesabaran, kesucian, dan ketakwaannya, padahal yang menimpanya adalah perkara yang tidak dapat disabari kecuali oleh orang yang diberi kesabaran oleh Allah. Karena melakukan perbuatan itu tergantung pada kekuatan pendorong dan hilangnya penghalang. Pendorong di sini sangat kuat, hal itu dari beberapa segi:
Pertama: Apa yang Allah Subhanahu ciptakan dalam tabiat laki-laki berupa kecenderungannya kepada wanita, sebagaimana orang haus cenderung kepada air dan orang lapar kepada makanan, sampai-sampai banyak orang yang dapat sabar dari makanan dan minuman tetapi tidak dapat sabar dari wanita. Hal ini tidak tercela jika bertemu dengan yang halal, bahkan terpuji sebagaimana dalam Kitab Az-Zuhd karya Imam Ahmad dari hadits Yusuf bin Athiyyah Ash-Shaffar dari Tsabit Al-Bunani dari Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Dicintakan kepadaku dari dunia kalian: wanita dan wewangian. Aku dapat sabar dari makanan dan minuman tetapi tidak dapat sabar dari mereka.”
Kedua: Bahwa Yusuf ‘alaihis salam adalah seorang pemuda, dan syahwat pemuda serta semangatnya lebih kuat.
Ketiga: Bahwa dia masih bujangan, tidak memiliki istri atau selir yang dapat mematahkan hebatnya syahwat.
Keempat: Bahwa dia berada di negeri perantauan, dimana orang asing dapat melakukan pemenuhan hasrat yang tidak dapat dilakukannya di negeri dan di antara keluarga serta kenalan-kenalannya.
Kelima: Bahwa wanita itu memiliki kedudukan dan kecantikan, dimana setiap dari kedua perkara ini mengajak untuk mendekatinya.
Keenam: Bahwa wanita itu tidak menolak dan tidak enggan, karena sesungguhnya banyak orang yang hilang keinginannya terhadap wanita karena penolakan dan keengganannya, disebabkan apa yang ia rasakan dalam dirinya berupa kehinaan ketundukan dan meminta kepadanya. Dan banyak orang yang justru bertambah keinginan dan cintanya karena penolakan dan keengganan, sebagaimana dikatakan penyair:
“Dan bertambah kegilaan dalam cinta karena ia menolak… Sesuatu yang paling dicintai manusia adalah yang dilarang”
Sifat manusia berbeda-beda, di antaranya ada yang berlipat ganda cintanya ketika wanita memberikan diri dan menginginkannya, dan hilang ketika ia menolak dan enggan. Sebagian hakim memberitahuku bahwa keinginan dan syahwatnya hilang ketika istrinya atau budaknya menolak dan enggan, sehingga ia tidak mengulanginya lagi. Dan di antara mereka ada yang berlipat ganda cinta dan keinginannya karena penolakan, sehingga bertambah kerinduannya setiap kali dilarang, dan ia memperoleh kenikmatan dengan memperoleh yang berlawanan setelah penolakannya dan keengganannya, dan kenikmatan mencapai permasalahan setelah menganggapnya sulit, dan kuatnya keserakahan untuk mencapainya.
Ketujuh: Bahwa wanita itu meminta, menginginkan, dan mengerahkan usaha, sehingga menghindarkannya dari susah payah meminta dan hinanya keinginan kepadanya, bahkan dialah yang berkeinginan dan hina, sedangkan ia yang mulia dan diinginkan.
Kedelapan: Bahwa ia berada di rumahnya, dan di bawah kekuasaan dan pengaruhnya, sehingga ia khawatir jika tidak menaatinya akan mendapat gangguan darinya, maka berkumpullah motif keinginan dan ketakutan.
Kesembilan: Bahwa ia tidak khawatir wanita itu atau seseorang dari pihaknya akan mengadu kepadanya, karena dialah yang meminta dan menginginkan, dan ia telah menutup pintu-pintu dan menyembunyikan pengawas-pengawas.
Kesepuluh: Bahwa ia secara lahiriah adalah budaknya di rumah, sehingga ia keluar masuk dan hadir bersamanya tanpa ada yang mengingkarinya, dan keakraban mendahului permintaan, dan ini termasuk motif yang paling kuat, sebagaimana dikatakan kepada seorang wanita terhormat dari kaum Arab: “Apa yang mendorongmu berbuat zina?” Ia menjawab: “Dekatnya bantal, dan panjangnya kegelapan,” maksudnya dekatnya bantal laki-laki dari bantalku, dan panjangnya kegelapan di antara kami.
Kesebelas: Bahwa wanita itu meminta bantuan untuk melawannya dengan para pemimpin tipu daya dan akal, lalu ia memperlihatkan mereka kepadanya, dan mengadukan keadaannya kepada mereka untuk meminta bantuan mereka melawannya. Dan ia meminta bantuan kepada Allah untuk melawan mereka, maka ia berkata: “Dan jika Engkau tidak memalingkan dari padaku tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan) mereka dan tentulah aku termasuk orang-orang yang jahil” (Surat Yusuf: 33).
Keduabelas: Bahwa wanita itu mengancamnya dengan penjara dan kehinaan, dan ini adalah jenis paksaan, karena ia adalah ancaman dari orang yang sangat mungkin akan melaksanakan apa yang diancamkannya, maka berkumpullah motif syahwat dan motif keselamatan dari sempitnya penjara dan kehinaan.
Ketigabelas: Bahwa suami tidak menampakkan cemburu dan ghirah yang bisa memisahkan keduanya, dan menjauhkan masing-masing dari yang lain, bahkan yang paling maksimal dari sikapnya adalah berkata kepada Yusuf: “Berpalinglah dari ini” dan kepada wanita: “Dan mohonlah ampun untuk dosamu, sesungguhnya kamu adalah termasuk orang-orang yang berbuat salah”. Dan kuatnya ghirah bagi laki-laki adalah penghalang yang paling kuat, namun di sini tidak tampak darinya ghirah.
Dengan semua motif ini, ia lebih memilih ridha Allah dan takut kepada-Nya, dan cintanya kepada Allah membawanya untuk memilih penjara daripada zina: “Ia berkata: ‘Ya Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku'” (Surat Yusuf: 33).
Dan ia mengetahui bahwa ia tidak mampu memalingkan itu dari dirinya, dan bahwa Tuhannya Yang Maha Tinggi jika tidak melindunginya dan memalingkan tipu daya mereka darinya, ia akan cenderung kepada mereka sesuai tabiatnya, dan termasuk orang-orang yang jahil. Dan ini menunjukkan kesempurnaan pengetahuannya tentang Tuhannya dan tentang dirinya.
Dan dalam kisah ini terdapat pelajaran, faedah, dan hikmah yang lebih dari seribu faedah, mudah-mudahan jika Allah memberi taufik, kami akan mengkhususkannya dalam karya yang tersendiri.
Dan kelompok kedua yang Allah ceritakan tentang cinta mereka adalah kaum Luth, sebagaimana firman-Nya: “Dan penduduk negeri itu datang dengan gembira. Luth berkata: ‘Sesungguhnya mereka ini adalah tamuku, maka janganlah kamu mempermalukanku. Dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu menghinakan aku.’ Mereka menjawab: ‘Bukankah kami telah melarangmu (menerima) orang lain?’ Luth berkata: ‘Inilah puteri-puteriku jika kamu hendak berbuat.’ Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing dalam kemabukan (cinta)nya'” (Surat Al-Hijr: 67-72).
Maka umat ini telah jatuh cinta, dan Allah Maha Suci menceritakannya tentang dua kelompok, masing-masing jatuh cinta kepada bentuk-bentuk yang diharamkan baginya, dan tidak peduli dengan bahaya yang ada dalam cintanya.
Dan ini adalah penyakit yang membuat para dokter tidak berdaya mengobatinya, dan sulit bagi mereka menyembuhkannya. Demi Allah, ini adalah penyakit yang sangat berat dan racun yang mematikan, yang jika menempel pada hati, maka sulit bagi manusia untuk melepaskan diri dari belenggunya, dan jika apinya menyala dalam jiwa, maka sulit bagi makhluk untuk menyelamatkannya dari apinya.
Dan ia terbagi menjadi beberapa bagian:
Terkadang menjadi kekufuran: bagi orang yang menjadikan kekasihnya sebagai tandingan yang dicintainya sebagaimana ia mencintai Allah, apalagi jika cintanya lebih besar daripada cinta kepada Allah dalam hatinya. Maka ini adalah cinta yang tidak akan diampuni bagi pemiliknya, karena ia termasuk syirik yang paling besar, dan Allah tidak mengampuni syirik kepada-Nya, dan hanya mengampuni dengan taubat yang menghapus apa yang di bawah itu.
Dan tanda cinta syirik yang kafir adalah: bahwa si pencinta mendahulukan ridha kekasihnya atas Tuhannya, dan jika bertentangan padanya hak kekasihnya dan keuntungannya, dengan hak Tuhannya dan ketaatan kepada-Nya, ia mendahulukan hak kekasihnya atas hak Tuhannya, dan lebih memilih ridhanya daripada ridha-Nya, dan memberikan kepadanya sesuatu yang paling berharga yang mampu ia berikan, dan memberikan kepada Tuhannya -jika ia memberikan- sesuatu yang paling buruk yang ada padanya, dan menghabiskan kemampuannya dalam meridhai kekasihnya dan mentaatinya serta mendekatkan diri kepadanya, dan menjadikan bagi Tuhannya -jika ia mentaati-Nya- sisa waktu yang disisakan kekasihnya dari jam-jamnya.
Maka perhatikanlah keadaan kebanyakan pencinta bentuk-bentuk, engkau akan mendapatinya sesuai dengan itu, kemudian letakkan keadaan mereka di satu timbangan, dan tauhid serta iman mereka di timbangan lain, kemudian timbanglah dengan timbangan yang diridhai Allah dan Rasul-Nya dan sesuai dengan keadilan. Dan terkadang si pencinta di antara mereka terang-terangan menyatakan bahwa bersatu dengan kekasihnya lebih dicintainya daripada tauhid kepada Tuhannya, sebagaimana dikatakan pencinta yang buruk:
“Mereka menyeruput dari mulutku tegukan-tegukan… Yang lebih manis bagiku daripada tauhid”
Dan sebagaimana terang-terangan dikatakan orang buruk yang lain bahwa bersatu dengan kekasihnya lebih diinginkannya daripada rahmat Tuhannya, dan telah berlalu. Tanpa keraguan, sesungguhnya cinta ini termasuk syirik yang paling besar, dan banyak di antara mereka yang terang-terangan menyatakan bahwa tidak tersisa di hatinya tempat untuk selain kekasihnya sama sekali, bahkan telah menguasai seluruh hatinya sehingga menjadi budak murni dari segala segi bagi kekasihnya. Maka ia telah rela dari penghambaan kepada Pencipta -Maha Mulia dan Maha Agung- dengan penghambaan kepada makhluk sepertinya: karena sesungguhnya penghambaan adalah kesempurnaan cinta dan ketundukan, dan orang ini telah menghabiskan kekuatan cinta, ketundukan, dan kehinaannya untuk kekasihnya, maka ia telah memberikan kepadanya hakikat penghambaan.
Dan tidak ada perbandingan antara kerusakan perkara besar ini dengan kerusakan perbuatan keji, karena yang itu adalah dosa besar bagi pelakunya yang memiliki hukum seperti yang serupa dengannya, dan kerusakan cinta ini adalah kerusakan syirik. Sebagian syaikh dari para arif berkata: “Lebih aku sukai ditimpa perbuatan keji dengan bentuk itu daripada ditimpa cinta kepadanya yang membuat hatiku menyembahnya dan menyibukkannya dari Allah.”
Dan obat penyakit mematikan ini adalah: agar ia mengetahui bahwa apa yang menimpanya dari penyakit yang bertentangan dengan tauhid ini, hanyalah karena kebodohan dan kelalaian hatinya dari Allah Ta’ala, maka ia harus mengetahui tauhid Tuhannya dan sunnah-Nya terlebih dahulu, kemudian melakukan ibadah-ibadah lahir dan batin yang menyibukkan hatinya dari senantiasa memikirkannya, dan memperbanyak berlindung dan berdo’a kepada Allah Subhanahu agar memalingkan itu darinya, dan agar hatinya kembali kepada-Nya. Dan tidak ada obat yang lebih bermanfaat baginya daripada ikhlas kepada Allah, dan itulah obat yang disebutkan Allah dalam kitab-Nya di mana Dia berfirman: “Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih” (Surat Yusuf: 24).
Dan Allah Subhanahu mengabarkan bahwa Dia memalingkan darinya kemungkaran berupa cinta dan kekejian berupa perbuatan dengan keikhlasannya, karena sesungguhnya hati jika ikhlas dan mengikhlaskan amalnya untuk Allah, maka cinta kepada bentuk-bentuk tidak akan dapat menguasainya, karena ia hanya dapat menguasai hati yang kosong, sebagaimana dikatakan:
“Cintanya datang kepadaku sebelum aku mengenal cinta… Maka mendapati hati yang kosong lalu menguasainya”
Dan hendaknya orang berakal mengetahui bahwa akal dan syariat mewajibkan mencapai kemaslahatan dan menyempurnakannya, serta meniadakan kerusakan dan menguranginya. Jika orang berakal dihadapkan pada suatu perkara yang ia lihat di dalamnya ada kemaslahatan dan kerusakan, maka wajib baginya dua perkara: perkara ilmiah dan perkara amaliah. Yang ilmiah: mengetahui yang lebih kuat dari dua sisi kemaslahatan dan kerusakan. Jika telah jelas baginya yang lebih kuat, maka wajib baginya mengutamakan yang lebih baik baginya.
Diketahui bahwa dalam cinta terhadap bentuk fisik tidak terdapat kemaslahatan agama maupun dunia, bahkan kerusakannya terhadap agama dan dunia berlipat-lipat dibandingkan kemaslahatan yang diperkirakan darinya. Hal ini dari beberapa segi:
Pertama: Kesibukan dengan cinta makhluk dan mengingat makhluk tersebut mengalihkan dari cinta kepada Allah Ta’ala dan mengingat-Nya. Tidak dapat berkumpul dalam hati dua hal ini kecuali salah satunya akan mengalahkan yang lain, dan kekuasaan serta kemenangan akan berada pada salah satunya.
Kedua: Siksaan hati karenanya. Sesungguhnya barang siapa yang mencintai sesuatu selain Allah, pasti akan tersiksa karenanya, sebagaimana dikatakan:
Tidak ada di bumi yang lebih celaka dari seorang pencinta… meskipun ia merasakan manisnya hawa nafsu Kau lihat ia menangis di setiap waktu… karena takut berpisah atau karena kerinduan Ia menangis jika mereka menjauh karena rindu kepada mereka… dan menangis jika mereka mendekat karena takut berpisah Matanya memanas ketika berpisah… dan matanya memanas ketika bertemu
Meskipun si pencinta merasakan kelezatan dalam cintanya, namun itu lebih besar dari siksaan hati.
Ketiga: Hatinya menjadi tawanan dalam genggaman orang lain yang membuatnya hina, tetapi karena mabuk cintanya ia tidak merasakan musibahnya. Hatinya seperti burung kecil di tangan anak yang membuatnya menghadapi kehancuran, sementara anak itu bermain-main dan bergurau, sebagaimana dikatakan salah seorang dari mereka:
Engkau menguasai hatiku dengan memutus hubungan dan sikap dingin… sementara engkau tenang hatimu bermain dan bergurau
Kehidupan si pencinta adalah kehidupan tawanan yang terikat, sedangkan kehidupan yang bebas adalah kehidupan yang lepas dan merdeka.
Bebas menurut pandangan mata padahal ia tawanan… sakit berada di poros kebinasaan Dan mayat yang terlihat dalam bentuk yang hidup berjalan… tidak ada baginya kebangkitan hingga hari kebangkitan Saudara kegelapan-kegelapan, hatinya tersesat di dalamnya… maka tidak ada baginya kehadiran hingga kematian
Keempat: Ia disibukkan oleh cinta itu dari kemaslahatan agama dan dunianya. Tidak ada yang lebih merusak kemaslahatan agama dan dunia daripada cinta terhadap bentuk fisik. Adapun kemaslahatan agama, ia bergantung pada penyatuan hati dan menghadapkannya kepada Allah, sedangkan cinta terhadap bentuk fisik adalah hal yang paling merusak dan memecah belah hati.
Adapun kemaslahatan dunia, ia mengikuti kemaslahatan agama dalam hakikatnya. Barang siapa yang rusak kemaslahatan agamanya dan hilang darinya, maka kemaslahatan dunianya lebih rusak lagi.
Kelima: Bencana dunia dan akhirat lebih cepat menimpa para pencinta bentuk fisik daripada api pada kayu kering. Sebab hal itu: sesungguhnya hati semakin dekat dengan cinta dan semakin kuat hubungannya dengannya, semakin jauh dari Allah. Hati yang paling jauh dari Allah adalah hati para pencinta bentuk fisik. Jika hati jauh dari Allah, bencana-bencana akan menimpanya, setan akan menguasainya dari segala penjuru dan menguasainya. Setan tidak akan meninggalkan keburukan yang dapat disampaikannya kepadanya kecuali disampaikannya. Bagaimana sangkaan terhadap hati yang telah dikuasai musuhnya dan makhluk yang paling bersemangat terhadap kesesatan dan kerusakannya, sementara walinya menjauh darinya, padahal tidak ada kebahagiaan, kegembiraan, dan kesenangan baginya kecuali dengan kedekatan dan pertolongan-Nya?
Keenam: Jika cinta itu menguasai hati dan menguat serta kuat kekuasaannya, ia akan merusak pikiran, menimbulkan was-was, dan terkadang menyamakan pemiliknya dengan orang gila yang rusak akalnya sehingga tidak dapat memanfaatkannya.
Kabar-kabar para pencinta dalam hal itu terdapat di tempat-tempatnya, bahkan sebagiannya dapat disaksikan langsung. Yang paling mulia dalam diri manusia adalah akalnya, dan dengannya ia dibedakan dari hewan-hewan lainnya. Jika akalnya hilang, ia akan menyerupai hewan yang bodoh, bahkan terkadang keadaan hewan lebih baik dari keadaannya. Bukankah yang menghilangkan akal si gila Laila dan sejenisnya kecuali hal itu? Terkadang kegilaannya melebihi kegilaan orang lain sebagaimana dikatakan:
Mereka berkata: “Engkau gila karena orang yang engkau cintai”, maka aku katakan kepada mereka… “Cinta lebih besar daripada apa yang ada pada orang-orang gila” Cinta tidak akan sadar selamanya pemiliknya… sedangkan orang gila hanya kejang sesekali
Ketujuh: Cinta itu terkadang merusak indera atau sebagiannya, baik kerusakan makna maupun bentuk. Adapun kerusakan makna, ia mengikuti kerusakan hati. Sesungguhnya jika hati rusak, maka rusaklah mata, telinga, dan lidah. Ia melihat yang buruk sebagai baik dari dirinya dan dari kekasihnya, sebagaimana dalam Musnad secara marfu’: “Cintamu terhadap sesuatu membutakan dan memekakkan”. Ia membutakan mata hati dari melihat keburukan-keburukan yang dicintai dan cacatnya, sehingga mata tidak melihat hal itu. Ia memekakkan telinganya dari mendengarkan keadilan tentangnya, sehingga telinga tidak mendengar hal itu. Keinginan-keinginan menutupi cacat, maka orang yang menginginkan sesuatu tidak melihat cacatnya, hingga jika keinginannya hilang darinya, ia melihat cacatnya. Kuatnya keinginan adalah penutup mata yang menghalangi dari melihat sesuatu sebagaimana adanya, sebagaimana dikatakan:
Aku mencintaimu ketika mataku ada penutupnya… ketika terbuka, aku menyalahkan diriku
Orang yang masuk dalam sesuatu tidak melihat cacatnya, dan orang yang keluar darinya yang tidak pernah masuk ke dalamnya tidak melihat cacatnya. Yang melihat cacatnya hanya orang yang masuk ke dalamnya kemudian keluar darinya. Karena itulah para sahabat yang masuk Islam setelah kekafiran lebih baik dari mereka yang dilahirkan dalam Islam.
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya ikatan-ikatan Islam akan putus satu persatu, jika dilahirkan dalam Islam orang yang tidak mengenal jahiliah.”
Adapun kerusakan indera secara lahir, ia menyakitkan badan dan melemahkannya, bahkan terkadang menyebabkan kematiannya, sebagaimana dikenal dalam kabar-kabar orang yang dibunuh oleh cinta. Pernah dilaporkan kepada Ibnu Abbas ketika ia berada di Arafah seorang pemuda yang kurus hingga menjadi kulit dan tulang. Ia berkata: “Apa yang terjadi dengan orang ini?” Mereka berkata: “Ia terkena cinta.” Maka Ibnu Abbas berlindung kepada Allah dari cinta sepanjang harinya.
Kedelapan: Cinta sebagaimana telah disebutkan adalah berlebihan dalam kecintaan, sehingga yang dicintai menguasai hati si pencinta, hingga tidak kosong dari membayangkannya, mengingatnya, dan memikirkannya, sehingga tidak hilang dari benaknya dan pikirannya. Pada saat itu jiwa disibukkan dari menggunakan kekuatan hewani dan jiwa, maka kekuatan itu terganggu. Dengan terganggunya kekuatan itu terjadilah bencana pada badan dan ruh yang sulit obatnya dan sulit disembuhkan. Perbuatan, sifat, dan tujuannya berubah, dan semuanya terganggu, sehingga manusia tidak mampu memperbaikinya, sebagaimana dikatakan:
Cinta pada awalnya adalah perlawanan… yang datang bersamanya dan takdir menggiringnya Hingga jika pemuda mengarungi lautan hawa nafsu… datanglah perkara-perkara besar yang tidak tertahankan
Cinta pada awalnya mudah dan manis, pertengahannya adalah kesedihan, kesibukan hati, dan penyakit, akhirnya adalah kehancuran dan pembunuhan, jika tidak diselamatkan oleh pertolongan Allah Ta’ala, sebagaimana dikatakan:
Dan hiduplah kosong, karena cinta awalnya penderitaan… pertengahannya penyakit dan akhirnya pembunuhan
Yang lain berkata:
Ia terpesona dengan cinta hingga jatuh cinta… ketika cinta menguasainya, ia tidak kuat Ia melihat lautan yang dikira gelombang… ketika masuk ke dalamnya, ia tenggelam
Kesalahan ada padanya, ia yang berbuat jahat terhadap dirinya sendiri, dan ia telah duduk di bawah pepatah yang beredar: “Tanganmu yang mengikat, mulutmu yang meniup.”
Bab Tingkatan-Tingkatan Orang yang Sedang Jatuh Cinta
Orang yang sedang jatuh cinta memiliki tiga tingkatan: tingkatan permulaan, tingkatan pertengahan, dan tingkatan akhir.
Adapun tingkatan permulaannya: Para ulama berkata: Wajib baginya untuk melawannya dengan segala kemampuannya, jika bersatu dengan yang dicintainya tidak memungkinkan baik secara takdir maupun syariat. Jika ia tidak mampu melakukannya dan hatinya menolak kecuali melakukan perjalanan menuju kekasihnya – dan inilah tingkatan pertengahan dan akhir – maka wajib baginya menyembunyikan hal itu, tidak menyebarkannya kepada makhluk, dan tidak memfitnah kekasihnya serta mencemarkan namanya di antara manusia, sehingga ia menggabungkan antara syirik dan kezaliman. Sesungguhnya kezaliman dalam hal ini termasuk jenis kezaliman yang paling besar, dan mungkin lebih besar mudharatnya bagi yang dicintai dan keluarganya daripada kezaliman dalam hartanya, karena ia mengekspos yang dicintainya dengan mencemarkan dalam percintaannya kepada terjadinya pembicaraan orang-orang tentangnya, dan mereka terbagi menjadi yang membenarkan dan yang mendustakan. Kebanyakan manusia membenarkan dalam hal ini dengan prasangka yang sedikit saja. Jika dikatakan si fulan melakukan terhadap si fulan atau si fulanah, satu orang mendustakannya dan sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang membenarkannya.
Berita orang yang sedang jatuh cinta yang mencemarkan di mata manusia dalam hal ini memberikan keyakinan yang pasti. Bahkan jika yang menjadi objek perbuatan itu mengabarkan tentang dirinya sendiri dengan dusta dan fitnah terhadap orang lain, mereka yakin dengan kebenarannya dengan keyakinan yang tidak menerima keraguan. Bahkan seandainya suatu tempat menyatukan keduanya secara kebetulan, mereka akan yakin bahwa hal itu karena janji dan kesepakatan di antara keduanya. Keyakinan mereka dalam hal ini berdasarkan prasangka, khayalan, syubhat, waham, dan berita-berita bohong, seperti keyakinan mereka terhadap hal-hal yang dapat diindra dan disaksikan. Dengan demikian, ahli ifk (fitnah) menimpa yang suci lagi disucikan, kekasih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang dibebaskan dari tuduhan dari atas tujuh langit, dengan syubhat kedatangan Shafwan bin Mu’aththal bersamanya sendirian di belakang pasukan hingga binasalah yang binasa. Seandainya bukan karena Allah Subhanahu mengambil alih pembelaannya, membela darinya, dan mendustakan yang menuduhnya, maka akan menjadi perkara lain.
Yang dimaksud adalah: dalam menampakkan orang yang terkena ujian dengan cinta kepada yang tidak halal baginya untuk bersatu dengannya terdapat kezaliman dan gangguan yang merupakan permusuhan terhadapnya dan keluarganya, dan menyebabkan banyak manusia membenarkan prasangka mereka terhadapnya. Jika ia meminta bantuan terhadapnya kepada orang yang menarik hatinya kepadanya, baik dengan keinginan atau ketakutan, kezaliman itu meluas dan menyebar, dan orang yang menjadi perantara itu menjadi dayuts (germo) yang zalim. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknat ar-raisy – yaitu perantara antara penyuap dan yang disuap dalam menyampaikan suap – maka bagaimana menurutmu dengan dayuts yang menjadi perantara antara yang mencintai dan yang dicintai dalam penyatuan? Maka orang yang mencintai dan dayuts saling membantu dalam menzalimi yang dicintai dan menzalimi selain dia dari orang-orang yang pencapaian tujuannya bergantung pada mendzaliminya dalam jiwa, harta, atau kehormatan. Sesungguhnya seringkali yang diminta dalam hal itu bergantung pada pembunuhan jiwa yang hidupnya menjadi penghalang dari tujuannya. Betapa banyak korban yang darahnya tertumpah karena sebab ini, dari suami, tuan, dan kerabat. Betapa banyak wanita yang dihasut untuk melawan suaminya, budak perempuan dan laki-laki terhadap tuannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknat orang yang melakukan hal itu dan berlepas diri darinya, dan itu termasuk dosa-dosa besar.
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang seorang laki-laki melamar atas lamaran saudaranya, dan menawar atas tawaran saudaranya, maka bagaimana dengan orang yang berusaha memisahkan antara seorang laki-laki dengan istrinya dan budaknya hingga ia dapat bersatu dengan mereka?
Para pencinta gambar/bentuk dan para pembantunya dari kalangan dayuts tidak melihat hal itu sebagai dosa. Jika orang yang mencintai menginginkan penyatuan dengan kekasihnya dan berbagi dengan suami dan tuan, maka dalam hal itu terdapat dosa menzalimi orang lain yang mungkin tidak kurang dari dosa perbuatan keji, meskipun tidak sampai padanya. Hak orang lain tidak gugur dengan taubat dari perbuatan keji, karena taubat meskipun menggugurkan hak Allah, namun hak hamba tetap baginya untuk menuntutnya pada hari kiamat. Sesungguhnya termasuk kezaliman seorang ayah adalah merusak anaknya dan buah hatinya, dan orang yang lebih mulia baginya daripada dirinya sendiri. Maka kezaliman suami dengan merusak kekasihnya dan melakukan kejahatan terhadap ranjangnya lebih besar daripada mendzaliminya dengan mengambil seluruh hartanya. Karena itu hal tersebut lebih menyakitinya daripada pengambilan hartanya, dan tidak ada yang setara dengan itu di sisinya kecuali penumpahan darahnya. Sungguh suatu kezaliman yang dosanya lebih besar daripada melakukan perbuatan keji. Jika hal itu adalah hak seorang pejuang di jalan Allah, maka pelaku yang berbuat itu akan dihadapkan kepadanya pada hari kiamat, dan dikatakan kepadanya: “Ambillah dari kebaikan-kebaikannya sesukamu,” sebagaimana diberitakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maka apa pendapat kalian?” Yaitu: apa yang kalian sangka tersisa baginya dari kebaikan-kebaikannya? Jika ditambahkan pada hal itu bahwa yang dizalimi adalah tetangga, atau pemilik hubungan mahram, kezaliman itu berlipat menjadi kezaliman yang ditekankan karena memutus silaturahmi dan menyakiti tetangga. Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahmi, dan tidak pula orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya.
Jika orang yang mencintai meminta bantuan untuk bersatu dengan kekasihnya kepada setan-setan jin – baik dengan sihir atau penugasan atau semacam itu – ditambahkan kepada syirik dan kezaliman kekufuran sihir. Jika ia tidak melakukannya sendiri tetapi ridha dengannya, maka ia ridha dengan kekufuran dan tidak benci karena tercapainya tujuannya, dan ini tidak jauh dari kekufuran.
Yang dimaksud adalah bahwa kerjasama dalam hal ini adalah kerjasama dalam dosa dan permusuhan.
Adapun kezaliman yang menyebar dan meluas mudharatnya yang menyertai tercapainya tujuan orang yang mencintai adalah perkara yang tidak tersembunyi. Ketika ia mencapai tujuannya dari yang dicintai, maka yang dicintai memiliki tujuan-tujuan lain yang diinginkannya dari orang yang mencintai untuk membantunya mencapainya, sehingga ia tidak mendapati jalan lain kecuali membantunya. Maka masing-masing dari keduanya membantu yang lain dalam kezaliman dan permusuhan. Yang dicintai membantu yang mencintai dalam menzalimi orang-orang yang berhubungan dengannya dari keluarganya, kerabatnya, tuannya, dan suaminya. Yang mencintai membantu yang dicintai dalam menzalimi orang yang tujuan yang dicintai bergantung pada mendzaliminya. Masing-masing dari keduanya membantu yang lain dalam tujuan-tujuannya yang di dalamnya terdapat kezaliman terhadap manusia, sehingga terjadi permusuhan dan kezaliman karena keikutsertaan keduanya dalam keburukan karena kerjasama mereka dalam kezaliman, sebagaimana telah menjadi kebiasaan antara para pencinta dan yang dicintai, yaitu bantuan orang yang mencintai kepada kekasihnya dalam hal yang di dalamnya terdapat kezaliman, permusuhan, dan kedurhakaan, hingga terkadang ia berusaha untuknya dalam jabatan yang tidak pantas baginya dan tidak layak untuk orang sepertinya, dalam memperoleh harta bukan dari jalan yang halal, dan dalam berlebihan terhadap orang lain. Jika kekasihnya berselisih dengan orang lain atau saling mengadu, ia tidak akan kecuali di pihak yang dicintai, baik ia zalim atau terzalimi. Ini belum termasuk kezaliman orang yang mencintai terhadap manusia dengan menipu untuk mengambil harta mereka, dan menyampaikannya kepada kekasihnya dengan pencurian, perampokan, khianat, sumpah palsu, perampokan jalan, dan semacam itu. Terkadang hal itu membawa kepada pembunuhan jiwa yang diharamkan Allah, untuk mengambil hartanya agar dapat menyampaikannya kepada kekasihnya.
Semua bencana ini dan berlipat-lipatnya bahkan berlipat-lipat dari lipatannya muncul dari cinta terhadap bentuk/gambar. Terkadang hal itu membawa kepada kekufuran yang nyata. Telah masuk Nasrani sekelompok orang yang tumbuh dalam Islam karena sebab cinta, sebagaimana terjadi pada sebagian muazin ketika melihat seorang wanita cantik di atas atap, lalu terpesona dengannya, turun, masuk ke rumahnya, dan meminta dirinya. Wanita itu berkata: “Ia adalah Nasrani, jika engkau masuk ke dalam agamaku aku akan menikahinya.” Maka ia melakukannya. Lalu pada hari itu ia naik ke sebuah tangga di tempat mereka, lalu jatuh darinya dan mati. Hal ini disebutkan oleh Abdul Haq dalam kitab Al-Aqibah.
Ketika orang-orang Nasrani ingin menasranikan tawanan, mereka memperlihatkan kepadanya seorang wanita cantik dan memerintahkannya untuk memberi harapan kepadanya akan dirinya, hingga ketika cintanya telah menguasai hatinya, wanita itu memberikan dirinya kepadanya jika ia masuk ke dalam agama mereka. Di situlah: “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim, dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (Surat Ibrahim: 27)
Dalam cinta terdapat kezaliman masing-masing dari yang mencintai dan yang dicintai terhadap temannya dengan membantunya dalam perbuatan keji, dan mendzalimi dirinya sendiri. Masing-masing dari keduanya zalim terhadap dirinya dan temannya, dan kezaliman keduanya meluas kepada orang lain sebagaimana telah disebutkan. Yang lebih besar dari itu adalah kezaliman keduanya dengan syirik, maka cinta telah mencakup semua jenis kezaliman.
Yang dicintai jika tidak bertakwa kepada Allah, maka ia menyebabkan yang mencintai mengalami kehancuran, dan itu adalah kezaliman darinya. Yaitu dengan memberi harapan kepadanya akan dirinya, berhias untuknya, dan menarik hatinya dengan segala cara hingga mengeluarkan darinya hartanya dan manfaatnya, namun tidak memungkinkannya mendapatkan dirinya, agar tidak hilang tujuannya dengan terpenuhinya hasratnya. Maka ia menyiksa dengan siksaan yang buruk. Orang yang mencintai terkadang membunuh kekasihnya untuk menyembuhkan dirinya darinya, terutama jika ia memberikan penyatuan kepada orang lain. Betapa banyak korban cinta dari kedua belah pihak, betapa banyak nikmat yang dihilangkannya, betapa banyak kekayaan yang dijadikannya miskin, betapa banyak kedudukan yang dijatuhkannya, betapa banyak persatuan yang dicerai-beraikannya. Betapa banyak keluarga laki-laki dan anaknya yang dirusaknya. Sesungguhnya wanita jika melihat suaminya mencintai selain dirinya, ia mengambil kekasih untuk dirinya, sehingga laki-laki itu menjadi terpecah antara kehancuran rumahnya dengan perceraian dan antara menjadi germo. Di antara manusia ada yang memilih ini, dan di antara mereka ada yang memilih itu.
Maka bagi orang yang berakal hendaknya tidak menguasakan pada dirinya cinta terhadap bentuk/gambar, agar hal itu tidak membawanya kepada kerusakan-kerusakan ini atau kebanyakannya atau sebagiannya. Barangsiapa melakukan itu maka ia adalah orang yang berlebihan terhadap dirinya yang mempertaruhkannya. Jika ia binasa maka dialah yang membinasakannya. Seandainya bukan karena berulang-ulangnya melihat wajah kekasihnya dan mengharapkan penyatuan dengannya, cintanya tidak akan menguasai hatinya. Sesungguhnya sebab pertama cinta adalah menganggap baik, baik yang timbul dari penglihatan atau pendengaran. Jika tidak disertai harapan penyatuan dan disertai putus asa dari hal itu, tidak akan timbul baginya cinta. Jika disertai harapan lalu ia mengalihkannya dari pikirannya dan tidak menyibukkan hatinya dengannya, tidak akan timbul baginya hal itu. Jika ia memperpanjang dengan itu pikiran dalam kebaikan-kebaikan yang dicintai dan disertai rasa takut terhadap apa yang lebih besar di sisinya daripada kenikmatan penyatuan dengannya, baik ketakutan agama seperti masuk neraka, murka Yang Maha Perkasa, dan memikul dosa-dosa, dan ketakutan ini mengalahkan harapan dan pikiran itu, tidak akan timbul baginya cinta itu. Jika ketakutan ini luput darinya lalu disertai ketakutan duniawi seperti takut merusak dirinya, atau hartanya, atau hilangnya kewibawaannya dan jatuhnya kedudukannya di mata manusia, dan jatuhnya ia dari mata orang yang mulia baginya, dan ketakutan ini mengalahkan pendorong cinta maka menolaknya. Demikian pula jika ia takut kehilangan yang dicintai yang lebih dicintainya dan lebih bermanfaat baginya daripada kekasih itu, dan mendahulukan cintanya atas cinta kekasih itu, cinta itu akan hilang darinya. Jika semua itu tidak ada, dan cinta kepada yang dicintai mengalahkan itu, hati tertarik kepadanya sepenuhnya, dan jiwa condong kepadanya dengan segala kecenderungan.
Jika dikatakan: Kalian telah menyebutkan bencana cinta, mudharatnya, dan kerusakannya, mengapa kalian tidak menyebutkan manfaat dan faedahnya yang di antara keseluruhannya adalah: kelembutan tabiat, penyegaran jiwa dan keringannya, hilangnya beban dan latihannya, dan membawanya kepada akhlak mulia, dari keberanian, kemurahan, keperwiraan, kelembutan sikap, dan kelembutan sisi.
Dan telah dikatakan kepada Yahya bin Mu’adz ar-Razi: “Sesungguhnya anakmu telah jatuh cinta kepada si fulanah.” Maka dia berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikannya sesuai dengan tabiat manusia.”
Dan berkata sebagian mereka: “Cinta adalah obat bagi hati-hati orang mulia.”
Dan berkata yang lain: “Cinta tidak pantas kecuali bagi orang yang memiliki kemuliaan yang tampak dan akhlak yang suci, atau bagi orang yang memiliki lisan yang utama dan kebaikan yang sempurna, atau bagi orang yang memiliki adab yang cemerlang dan keturunan yang mulia.”
Dan berkata yang lain: “Cinta menguatkan hati orang penakut, menjernihkan pikiran orang bodoh, memurahkan tangan orang pelit, merendahkan keangkuhan raja-raja, menenangkan akhlak yang keras, dan dia adalah teman bagi orang yang tidak punya teman, serta sahabat bagi orang yang tidak punya sahabat.”
Dan berkata yang lain: “Cinta menghilangkan beban-beban berat, melembutkan jiwa, menjernihkan keruh hati, dan mewajibkan kegembiraan untuk perbuatan-perbuatan orang mulia, sebagaimana kata penyair:
Akan binasa di dunia orang yang mengasihi kalian Apabila dia tertimpa oleh bencana cinta yang menimpanya
Orang mulia yang mematikan rahasia hingga seakan-akan Ketika mereka menanyainya tentang kabar kalian, dia tidak mengetahuinya
Dia berharap agar dia menjadi sakit pada sore hari, barangkali dia Ketika dia mendengar tentang keluhannya, dia akan berkirim surat kepadanya
Dan dia bergembira karena kebaikan dalam mencari kemuliaan Agar suatu hari akhlaknya dipuji di sisi Laila
Maka cinta membawa kepada akhlak-akhlak mulia.
Dan berkata sebagian orang bijak: “Cinta melatih jiwa dan memperbaiki akhlak. Menampakkannya adalah tabiat, sedangkan menyembunyikannya adalah paksaan.”
Dan berkata yang lain: “Barangsiapa yang tidak tergerak jiwanya dengan suara yang merdu dan wajah yang indah, maka dia rusak perangainya, memerlukan pengobatan.” Dan mereka membacakan syair dalam hal itu:
Jika engkau tidak jatuh cinta dan tidak tahu apa itu hawa nafsu Maka engkau tidak memiliki bagian dalam kehidupan yang baik
Dan berkata yang lain:
Jika engkau tidak jatuh cinta dan tidak tahu apa itu hawa nafsu Maka engkau sama dengan keledai di padang pasir
Dan berkata yang lain:
Jika engkau tidak jatuh cinta dan tidak tahu apa itu hawa nafsu Maka berdirilah dan makanlah jerami, karena engkau adalah keledai
Dan berkata sebagian orang yang jatuh cinta yang memiliki kehormatan dan penjagaan diri: “Berlaku suci maka kalian akan mulia, dan jatuh cintalah maka kalian akan berhasil.”
Dan dikatakan kepada sebagian orang yang jatuh cinta: “Apa yang akan kamu lakukan jika kamu berhasil mendapatkan orang yang kamu cintai?” Maka dia berkata: “Aku akan memanjakan mataku dengan wajahnya, menyejukkan hatiku dengan mengingat dan berbicara dengannya, menutupi darinya apa yang dia tidak suka dibuka, dan tidak melakukan perbuatan buruk yang merusak janjinya.” Kemudian dia membacakan syair:
Aku menyendiri dengannya lalu aku menjaga kesucian darinya karena mulia Karena takut kepada agama, aku bukan termasuk orang-orang yang mencintainya
Seperti air di tangan orang yang berpuasa yang dia nikmati Karena dahaga lalu dia bersabar dari kelezatan rasanya
Dan berkata Abu Ishaq bin Ibrahim: “Jiwa-jiwa orang yang jatuh cinta harum dan lembut, badan-badan mereka halus dan ringan. Hiburan mereka adalah pergaulan, pembicaraan mereka menghidupkan hati-hati yang mati dan menambah akal. Seandainya tidak ada cinta dan hawa nafsu, niscaya sirna kenikmatan dunia.”
Dan berkata yang lain: “Cinta bagi jiwa-jiwa adalah seperti makanan bagi badan-badan. Jika kamu meninggalkannya, dia akan menyakitimu, dan jika kamu memperbanyaknya, dia akan membunuhmu.” Dan dalam hal itu dikatakan:
Wahai dua temanku, sesungguhnya cinta di dalamnya ada kelezatan Dan di dalamnya ada kesengsaraan yang kekal dan kesedihan
Meskipun demikian, tidak ada kehidupan yang enak tanpanya Dan tidak ada kehidupan kecuali dengan kekasih yang enak
Dan tidak ada kebaikan di dunia tanpa kerinduan Dan tidak ada kenikmatan yang tidak ada kekasih di dalamnya
Dan menceritakan al-Khara’iti dari Abu Ghassan dia berkata: Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu melewati seorang budak perempuan dan dia berkata:
Dan aku mencintainya sebelum putusnya jimat-jimatku Sambil bergoyang seperti ranting yang lembut
Dia bertanya kepadanya: “Apakah kamu orang merdeka atau budak?” Dia berkata: “Bahkan budak.” Maka dia berkata: “Siapa yang kamu cintai?” Maka dia ragu-ragu, lalu dia bersumpah kepadanya, maka dia berkata:
Dan akulah yang cinta bermain dengan hatinya Terbunuh karena cinta Muhammad bin al-Qasim
Maka dia membelinya dari tuannya dan mengirimkannya kepada Muhammad bin al-Qasim bin Ja’far bin Abu Thalib. Maka dia berkata: “Demi Allah, mereka inilah yang memikat laki-laki, dan demi Allah, betapa banyak orang mulia yang mati karena mereka, dan betapa banyak orang selamat yang celaka karena mereka.”
Dan datang seorang budak perempuan kepada Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu untuk mengadu tentang seorang laki-laki dari kaum Anshar. Maka Utsman berkata kepadanya: “Apa ceritamu?” Maka dia berkata: “Aku tergila-gila wahai Amirul Mukminin dengan anak saudara laki-lakinya, maka aku tidak berhenti memperhatikannya.” Maka Utsman berkata: “Entah kamu hibahkan dia kepada anak saudara laki-lakimu, atau aku berikan kepadamu harganya dari hartaku.” Maka dia berkata: “Aku bersaksi kepadamu wahai Amirul Mukminin bahwa dia untuknya.”
Dan kami tidak mengingkari kerusakan cinta yang objeknya adalah melakukan perbuatan keji dengan yang dicintai. Namun pembicaraan adalah tentang cinta yang suci dari laki-laki yang sopan, yang agamanya, kesuciannya, dan kemuliaan dirinya melarangnya untuk merusak apa yang ada antara dia dengan Allah, dan apa yang ada antara dia dengan orang yang dicintainya dengan yang haram. Dan ini adalah cinta para salaf yang mulia dan para imam yang terkenal.
Maka ini adalah Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud, salah satu dari tujuh ahli fiqih, dia jatuh cinta hingga terkenal urusannya, dan tidak diingkari atasnya, dan dia menganggap zalim orang yang mencacinya. Dan dari syairnya:
Kamu menyembunyikan cinta hingga penyembunyian itu menyakitimu Dan orang-orang mencacimu padahal cacian mereka adalah kezaliman
Maka orang-orang yang dengki membeberkan rahasiamu, dan sebelum mereka Cinta telah membeberkan rahasiamu seandainya penyembunyian bermanfaat
Maka kamu menjadi seperti al-Hindi ketika dia mati karena kesedihan Atas jejak Hind atau seperti orang yang dilemahkan oleh penyakit
Kamu menjauhi mendatangi kekasih karena takut berdosa Ketahuilah bahwa meninggalkan kekasih itulah dosa
Maka rasakanlah meninggalkannya, padahal kamu mengira bahwa itu Adalah petunjuk, ketahuilah bahwa terkadang dugaan itu bohong
Dan ini adalah Umar bin Abdul Aziz dan cintanya terkenal kepada budak perempuan Fatimah binti Abdul Malik. Dan dia adalah budak perempuan yang sangat cantik, dan dia kagum kepadanya. Dan dia memintanya dari istrinya dan bersemangat agar dia menghibahkannya kepadanya, tetapi dia menolak. Dan budak perempuan itu tidak berhenti ada dalam hati Umar.
Ketika dia diangkat menjadi khalifah, Fatimah memerintahkan agar budak perempuan itu disiapkan, dan dia adalah contoh dalam kecantikan dan keelokannya. Kemudian dia masuk kepada Umar dan berkata: “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya kamu dulu kagum dengan budak perempuanku si fulanah, dan kamu memintanya, lalu aku menolakmu. Dan sekarang hatiku telah rela untukmu dengannya.”
Ketika dia berkata demikian kepadanya, tampak kegembiraan di wajahnya, dan dia berkata: “Segerakan dia kepadaku.” Ketika dia masuk bersamanya kepadanya, dia semakin kagum dengannya, dan dia berkata kepadanya: “Lepaskan pakaianmu.” Maka dia melakukannya. Kemudian dia berkata kepadanya: “Pelan-pelan, beritahu aku, milik siapa kamu dulu? Dan dari mana kamu sampai kepada Fatimah?”
Maka dia berkata: “Hajjaj mendenda seorang pegawainya di Kufah dengan harta, dan aku adalah termasuk budak pegawai itu.” Dia berkata: “Maka dia mengambilku dan mengirimku kepada Abdul Malik, lalu dia menghibahkanku kepada Fatimah.” Dia berkata: “Apa yang terjadi pada pegawai itu?” Dia berkata: “Dia meninggal.” Dia berkata: “Apakah dia meninggalkan anak?” Dia berkata: “Ya.” Dia berkata: “Bagaimana keadaan mereka?” Dia berkata: “Buruk.”
Maka dia berkata: “Ikat pakaianmu dan pergilah ke tempatmu.” Kemudian dia menulis kepada pegawainya di Irak: “Kirimkan kepadaku si fulan bin fulan dengan pos cepat.”
Ketika dia datang, dia berkata kepadanya: “Sebutkan kepadaku semua yang didenda Hajjaj kepada ayahmu.” Maka dia tidak menyebutkan sesuatu kecuali dia memberikannya kepadanya. Kemudian dia memerintahkan agar budak perempuan itu diserahkan kepadanya. Kemudian dia berkata kepadanya: “Hati-hati dengan dia, barangkali ayahmu pernah menggaulinya.”
Maka pemuda itu berkata: “Dia untukmu wahai Amirul Mukminin.” Dia berkata: “Aku tidak memerlukan dia.” Dia berkata: “Maka belilah dia dariku.” Dia berkata: “Aku bukanlah termasuk orang yang melarang jiwa dari hawa nafsu.”
Ketika pemuda itu bertekad untuk pergi dengannya, dia berkata: “Di mana kerinduanmu kepadaku wahai Amirul Mukminin?” Dia berkata: “Tetap pada keadaannya, dan sungguh bertambah.” Dan budak perempuan itu tidak berhenti ada dalam hati Umar hingga dia meninggal rahimahullah.
Dan ini adalah Abu Bakar bin Muhammad bin Dawud az-Zahiri, seorang alim yang terkenal dalam berbagai cabang ilmu: fiqih, hadits, tafsir, dan sastra. Dan dia memiliki pendapat dalam fiqih, dan dia termasuk dari para ulama besar, dan cintanya terkenal.
Berkata Niftawaih: “Aku masuk kepadanya dalam sakitnya yang dia meninggal karenanya, maka aku berkata: ‘Bagaimana keadaanmu?’ Maka dia berkata: ‘Cinta kepada orang yang kamu ketahui mewariskan kepadaku apa yang kamu lihat.’ Maka aku berkata: ‘Apa yang menghalangimu dari menikmatinya padahal kamu mampu?’ Maka dia berkata: ‘Kenikmatan ada dua macam: yang pertama adalah pandangan yang dibolehkan, dan yang lain adalah kelezatan yang dilarang. Adapun pandangan yang dibolehkan maka itulah yang mewariskan kepadaku apa yang kamu lihat. Adapun kelezatan yang dilarang maka yang menghalangiku darinya adalah apa yang diceritakan ayahku kepadaku, dia bercerita kepada kami dari Suwaid bin Sa’id, dia bercerita kepada kami dari Ali bin Mushir dari Abu Yahya al-Qattab dari Mujahid dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma secara marfu’: “Barangsiapa yang jatuh cinta, menyembunyikan, menjaga kesucian, dan bersabar, maka Allah mengampuninya dan memasukkannya ke surga.”‘”
Saya akan menerjemahkan teks Arab ini ke dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar:
Kemudian dia (seseorang) melantunkan syair:
Lihatlah sihir yang mengalir dari pandangan matanya… dan lihatlah kehitaman di ujung matanya yang tenang Dan lihatlah rambut-rambut halus di atas pipinya… seolah-olah semut-semut yang merayap di atas gading
Kemudian dia melantunkan lagi:
Mengapa mereka mengingkari kehitaman di kedua pipinya… padahal mereka tidak mengingkari merahnya ranting-ranting? Jika cacat pipinya adalah dinginnya rambut… maka cacat mata adalah rambut kelopak mata
Maka aku berkata kepadanya: “Engkau menafikan qiyas (analogi) dalam fikih, namun menetapkannya dalam keburukan?” Dia menjawab: “Kemenangan cinta dan penguasaan jiwa memanggilku kepadanya.” Kemudian dia meninggal pada malam itu juga, dan karena kekasihnya dia menulis kitab Az-Zahrah.
Dari perkataannya dalam kitab tersebut: “Barangsiapa yang berputus asa dari orang yang dicintainya dan tidak mati pada saat itu, maka dia akan melupakannya. Dan itulah kejutan pertama dari keputusasaan yang datang ke hati sementara hati tidak siap menerimanya. Adapun yang kedua, maka datang ke hati setelah kejutan pertama telah mempersiapkannya.”
Dia bertemu dengan Abu al-Abbas Ibn Suraij di majlis Abu al-Hasan Ali ibn Isa al-Wazir. Mereka berdebat dalam satu masalah tentang ila’ (sumpah suami untuk tidak menyentuh istri). Ibn Suraij berkata kepadanya: “Engkau lebih pandai mengatakan: ‘Barangsiapa yang pandangannya terus-menerus, maka penyesalannya bertambah’ daripada berbicara tentang fikih.”
Maka dia (Abu Bakar) berkata: “Jika memang demikian, maka aku berkata:
Aku memandang kedua mataku di taman keindahan… dan aku mencegah diriku agar tidak meraih yang haram Aku memikul beban cinta yang seandainya… dicurahkan pada batu tuli pun akan hancur Dan mataku berbicara atas nama pemikiran hatiku… seandainya bukan karena aku mencuri cintanya, niscaya keduanya akan berbicara Aku melihat cinta adalah klaim dari semua manusia… maka aku tidak melihat cinta yang benar dan tulus
Abu al-Abbas Ibn Suraij berkata kepadanya: “Dengan apa engkau membanggakan diri atasku? Seandainya aku mau, tentu aku akan berkata:
Dan makanannya seperti madu dalam nada-nadanya… aku telah melarangnya tidur yang nikmat Dengan kerinduan, kecantikan dan percakapannya… dan aku menghindarkan pandangan dari pipi-pipinya Hingga ketika fajar datang dengan tiangnya… dia pergi dengan cincin Tuhannya dan surat bebas hutangnya”
Abu Bakar berkata: “Hendaknya wazir mengingat apa yang dia akui sampai dia menjadi saksi bahwa dia pergi dengan cincin Tuhannya dan surat bebas hutangnya.”
Ibn Suraij berkata: “Yang mengikatku dalam hal ini sama dengan yang mengikatmu dalam ucapanmu: ‘Aku memandang kedua mataku di taman keindahan… dan aku mencegah diriku agar tidak meraih yang haram.'”
Wazir tertawa dan berkata: “Sungguh kalian berdua telah mengumpulkan kelembutan dan kecerdasan.” Abu Bakar al-Khatib menyebutkan hal ini dalam tarikh-nya.
Suatu hari datang kepadanya sebuah fatwa yang isinya:
Wahai Ibn Dawud, wahai ahli fikih Irak… berilah kami fatwa tentang pembunuh mata Apakah ada dosa bagi mereka atas apa yang telah mereka lakukan… ataukah halal bagi mereka darah para kekasih?
Maka dia menulis dengan tangannya di bawah kedua bait tersebut:
Di sisiku ada jawaban masalah-masalah para kekasih… dengarkanlah dari yang sakit hatinya karena rindu Ketika engkau bertanya tentang cinta, engkau membuatku bergejolak… dan menumpahkan air mata yang tidak pernah tertumpah Jika kekasih menyiksa yang mencintai… maka yang tersiksa adalah yang paling bahagia di antara para kekasih
Penulis kitab “Manazil al-Ahbab”, Shihab al-Din Muhammad ibn Sulaiman ibn Fahd penulis kitab al-Insya’ berkata: “Dan aku berkata dalam menjawab kedua bait tersebut dengan qafiyah yang sama untuk menjawab si penanya:
Katakanlah kepada orang yang datang bertanya tentang pandangan mata… yang bermain-main dalam darah para kekasih Tidak ada dosa pada pedang di antara manusia… jika dia menekuk mata pedang dari darah yang tumpah Dan pedang-pedang pandangan lebih berhak untuk dimaafkan… dari apa yang telah mereka perbuat kepada para kekasih Sesungguhnya setiap orang yang mereka bunuh adalah syahid… dan karena itu dia mati dalam kerinduan namun tetap hidup”
Dan serupa dengan itu adalah fatwa yang datang kepada Syaikh Abu al-Khatthab Mahfuzh ibn Ahmad al-Kawzani, pemimpin mazhab Hanbali pada masanya rahimahullah:
Katakanlah kepada Imam Abu al-Khatthab: ada masalah… yang datang kepadamu dan tidak ada yang diciptakan selainmu untuknya Apa hukumnya bagi seorang laki-laki yang hendak shalat namun ketika… terlintas di pikirannya sosok yang cantik
Dia menjawab di bawah pertanyaan tersebut:
Katakanlah kepada sang sastrawan yang datang dengan masalah… yang menyenangkan hatiku ketika aku mendengarkannya Sesungguhnya wanita yang memesona dia dalam ibadahnya… adalah gadis cantik yang membuat dia terpesona karenanya Jika dia bertobat kemudian menunaikan ibadah yang tertinggal… maka rahmat Allah akan meliputi orang yang bermaksiat karenanya
Abdullah ibn Ma’mar al-Qaisi berkata: “Aku menunaikan haji pada suatu tahun, kemudian suatu malam aku masuk ke Masjid Madinah untuk ziarah kubur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika aku duduk antara kubur dan mimbar, tiba-tiba aku mendengar rintihan. Aku mendengarkan dengan seksama, ternyata dia berkata:
Apakah ratapan merpati pohon sidr membuatmu sedih… sehingga membangkitkan bulbul-bulbul di dadamu? Ataukah susah tidurmu karena mengingat seorang wanita cantik… yang mengirimkan kepadamu bisikan-bisikan pikiran? Wahai malam yang panjang bagi orang yang sakit… yang mengeluhkan tidak bisa tidur dan kurangnya kesabaran Apakah engkau menyerahkan yang kau cintai kepada panasnya hawa nafsu… yang menyala seperti nyala bara api? Bulan purnama menjadi saksi bahwa aku tergila-gila… terpesona cinta kepada yang serupa bulan purnama Aku tidak menyangka aku akan jatuh cinta kepadanya… hingga aku tertimpa musibah padahal aku tidak tahu
Kemudian suara itu terputus, aku tidak tahu dari mana asalnya. Tiba-tiba tangisan dan rintihan kembali terdengar, kemudian dia melantunkan:
Apakah bayangan Rayya yang bertamu membuatmu sedih… sementara malam berambut hitam dan keruh? Dan cinta membunuh jiwamu dengan bisikan halus… dan bayangan yang bertamu mengusik matamu Engkau memanggil Rayya sementara kegelapan seolah-olah… lautan yang bergelombang dengan ombak yang bergolak Dan bulan purnama berjalan di langit seolah-olah… raja yang turun dari kuda sementara bintang-bintang adalah tentaranya Dan engkau melihat rasi Jawza menari dalam kegelapan… seperti tarian kekasih yang dihiasi kemabukan yang nyata Wahai malam, engkau terlalu panjang bagi seorang kekasih yang tidak memiliki… selain fajar sebagai penolong dan pembantu
Maka malam menjawabku: “Matilah dengan hidungmu sendiri dan ketahuilah… bahwa cinta adalah kehinaan yang hadir”
Dia (Abdullah bin Ma’mar) berkata: “Ketika dia (Utbah) mulai menyanyikan syair-syair itu, aku pergi menemuinya. Dia tidak menyadari kehadiranku sampai aku berada di dekatnya. Aku melihat seorang pemuda yang sedang dalam masa mudanya, air mata telah membuat dua alur di pipinya. Aku mengucapkan salam kepadanya, lalu dia berkata: ‘Duduklah, siapa kamu?’ Aku menjawab: ‘Abdullah bin Ma’mar Al-Qaisi.’ Dia bertanya: ‘Apakah kamu memiliki keperluan?’ Aku berkata: ‘Ya, aku sedang duduk di taman, tiba-tiba aku terkejut mendengar suaramu. Demi diriku, aku ingin menebusmu, apa yang kamu rasakan?’
Dia berkata: ‘Aku Utbah bin Al-Hubab bin Al-Mundzir bin Al-Jamuh Al-Anshari. Suatu hari aku pergi pagi-pagi ke Masjid Al-Ahzab dan shalat di sana, kemudian aku menyendiri tidak jauh dari sana. Tiba-tiba datang sekelompok wanita berjalan anggun seperti burung qatha, dan di tengah-tengah mereka ada seorang gadis yang sangat cantik dan menawan. Dia berhenti di hadapanku dan berkata: “Wahai Utbah, apa pendapatmu tentang menjalin hubungan dengan orang yang ingin berhubungan denganmu?” Kemudian dia meninggalkanku dan pergi. Sejak itu aku tidak mendengar kabarnya dan tidak mengikuti jejaknya. Aku kebingungan berpindah dari satu tempat ke tempat lain.’
Kemudian dia berteriak dan jatuh pingsan. Setelah sadar, kedua pipinya seolah diwarnai dengan warna kuning, lalu dia melantunkan syair:
‘Aku melihat kalian dengan hatiku dari negeri yang jauh Maka apakah kalian melihatku dengan hati meski aku jauh? Hatiku dan mataku menyesal karena kalian Di sisi kalian ada jiwaku dan kenangan kalian ada padaku Aku tidak menikmati hidup sampai aku melihat kalian Sekalipun aku berada di Firdaus dalam surga yang kekal’
Aku berkata kepadanya: ‘Wahai saudaraku, bertobatlah kepada Tuhanmu dan mohonlah ampun atas dosamu, karena di hadapanmu ada kengerian hari akhir.’ Dia menjawab: ‘Aku tidak akan lupa sampai kedua pengumpul pohon qardh kembali.’ Aku tetap bersamanya sampai fajar tiba. Aku berkata: ‘Mari kita pergi ke Masjid Al-Ahzab, mudah-mudahan Allah mengangkat kesedihanmu.’ Dia berkata: ‘Aku berharap demikian, insya Allah, berkat keberkahan ketaatanmu.’
Kami pergi sampai tiba di Masjid Al-Ahzab. Aku mendengarnya berkata:
‘Wahai para pria, demi hari Rabu Tidakkah dia berhenti menciptakan kegembiraan bagiku setelah larangan? Tidak henti-hentinya seekor rusa darinya membunuhku Datang ke Masjid Al-Ahzab dengan berkerudung Dia memberitahu orang-orang bahwa pahala adalah tujuannya Padahal dia tidak datang mencari pahala dengan ikhlas Seandainya dia mengharap balasan, dia tidak akan datang dengan sombong Berminyak wangi dengan serbuk misk dan berpacar’
Kemudian kami duduk sampai shalat Zhuhur. Tiba-tiba datang para wanita itu, tetapi gadis itu tidak bersama mereka. Mereka berhenti di hadapnya dan berkata: ‘Wahai Utbah, apa dugaanmu tentang orang yang mencari hubungan denganmu dan yang menyedihkan hatimu?’ Dia bertanya: ‘Ada apa dengannya?’ Mereka menjawab: ‘Ayahnya membawanya dan berangkat dengannya ke tanah Samawah.’
Aku bertanya kepada mereka tentang gadis itu, mereka berkata: ‘Dia adalah Rayya binti Al-Ghidrif As-Sulami.’ Utbah mengangkat kepalanya kepada mereka dan berkata:
‘Wahai sahabatku, Rayya telah dikencangkan pelanapnya Dan dia pergi ke tanah Samawah selain dirinya Wahai sahabatku, aku telah buta karena menangis Apakah ada mata orang lain yang bisa kupinjam?’
Aku berkata kepadanya: ‘Aku datang dengan harta yang banyak untuk orang-orang terhormat. Demi Allah, aku akan mengorbankannya di hadapanmu sampai kamu mencapai kepuasan bahkan melebihi kepuasan. Mari kita pergi ke Masjid Al-Anshar.’
Kami bangkit dan berjalan sampai kami menghadap sekelompok dari mereka. Aku mengucapkan salam dan mereka membalas dengan baik. Aku berkata: ‘Wahai para pemuka, apa pendapat kalian tentang Utbah dan ayahnya?’ Mereka menjawab: ‘Dari para pemimpin Arab.’ Aku berkata: ‘Dia telah tertimpa musibah cinta dan aku tidak menginginkan dari kalian kecuali bantuan ke Samawah.’ Mereka berkata: ‘Kami dengar dan kami taati.’
Kami berangkat dan kaum itu ikut bersama kami sampai kami sampai di perkemahan Bani Sulaim. Al-Ghidrif diberitahu tentang kami, lalu dia keluar dengan tergesa-gesa menyambut kami dan berkata: ‘Selamat datang wahai orang-orang mulia.’ Kami berkata: ‘Dan kamu juga, selamat. Sesungguhnya kami adalah tamumu.’ Dia berkata: ‘Kalian turun di tempat yang paling mulia.’ Kemudian dia memanggil: ‘Wahai para budak, turunkan kaum ini.’ Lalu tikar dan bantal digelar, hewan-hewan disembelih.
Kami berkata: ‘Kami tidak akan makan makananmu sampai kamu memenuhi keperluan kami.’ Dia bertanya: ‘Apa keperluan kalian?’ Kami menjawab: ‘Kami melamar putrimu yang mulia untuk Utbah bin Al-Hubab bin Al-Mundzir.’ Dia berkata: ‘Sesungguhnya yang kalian lamar urusannya terserah pada dirinya sendiri, dan aku akan masuk memberitahunya.’
Kemudian dia masuk dengan marah kepada putrinya. Putrinya berkata: ‘Wahai ayahku, mengapa aku melihat kemarahan di wajahmu?’ Dia berkata: ‘Orang-orang Anshar datang melamarmu dariku.’ Dia berkata: ‘Mereka adalah para pemimpin yang mulia, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memohonkan ampun untuk mereka. Untuk siapa lamaran dari mereka?’ Dia berkata: ‘Untuk Utbah bin Al-Hubab.’ Dia berkata: ‘Demi Allah, aku telah mendengar tentang Utbah ini bahwa dia menepati janji dan mencapai apa yang dia tuju.’
Ayahnya berkata: ‘Aku bersumpah tidak akan menikahkanmu dengannya selamanya, dan telah sampai kepadaku sebagian pembicaraanmu dengannya.’ Dia berkata: ‘Itu tidak terjadi, tetapi jika kamu sudah bersumpah, maka orang-orang Anshar tidak boleh ditolak dengan penolakan yang buruk, beri mereka penolakan yang baik.’ Dia bertanya: ‘Dengan apa?’ Dia menjawab: ‘Beratkan mahar kepada mereka, maka mereka akan kembali dan tidak setuju.’
Ayahnya berkata: ‘Betapa baiknya yang kamu katakan.’ Lalu dia keluar dengan tergesa-gesa kepada mereka dan berkata: ‘Gadis kampung telah setuju, tetapi aku menginginkan mahar yang setara dengannya. Siapa yang akan menanggungnya?’ Abdullah bin Ma’mar berkata: ‘Aku, katakan apa yang kamu mau.’ Dia berkata: ‘Seribu mitsqal emas, seratus helai kain burda, dan lima kantong ambar.’
Abdullah berkata: ‘Kamu mendapat semua itu. Apakah kamu setuju?’ Dia berkata: ‘Ya.’ Abdullah berkata: ‘Aku mengirim beberapa orang Anshar ke Madinah, mereka datang dengan semua yang diminta. Kemudian walimah diadakan dan kami tinggal beberapa hari. Kemudian dia berkata: ‘Ambillah gadis kalian dan pulanglah dengan selamat.’
Kemudian dia menempatkannya dalam howdah dan membekalinya dengan tiga puluh unta berisi barang dan hadiah. Kami berpamitan dengannya dan berangkat. Ketika antara kami dan Madinah tinggal satu perjalanan, keluar pasukan yang ingin menyerang kami. Aku menduga mereka dari Sulaim. Utbah bin Al-Hubab menyerang mereka, membunuh beberapa orang dan melukai yang lain. Kemudian dia kembali dengan luka tusukan yang berdarah-darah, jatuh ke tanah, dan rebah dengan pipinya. Pasukan itu diusir dari kami dan Utbah telah meninggal.
Kami berkata: ‘Wahai Utbah!’ Gadis itu mendengar kami, lalu menjatuhkan dirinya dari unta dan mulai berteriak dengan sedih, lalu melantunkan syair:
‘Aku bersabar bukan karena aku sabar, tetapi Aku menghibur diriku bahwa ia akan menyusulmu Seandainya jiwaku adil, pastilah ia ke kematian Di depanmu lebih dulu dari seluruh makhluk Tidak ada seorang pun sesudahku dan sesudahmu yang adil Sebagai kekasih dan tidak ada jiwa yang cocok untuk jiwa’
Kemudian dia menghembuskan nafas terakhir dan meninggal. Kami menggali satu kubur untuk mereka berdua dan menguburkan mereka di dalamnya. Kemudian aku kembali ke Madinah dan tinggal tujuh tahun. Kemudian aku pergi ke Hijaz dan datang ke Madinah. Aku berkata: ‘Demi Allah, aku akan mendatangi kubur Utbah untuk menziarahinya.’
Aku datang ke kubur itu, ternyata di atasnya ada pohon yang diikat dengan kain merah dan kuning. Aku bertanya kepada pemilik tempat: ‘Apa yang disebut pohon ini?’ Mereka menjawab: ‘Pohon kedua mempelai.’
Seandainya tidak ada dalam cinta keringanan yang berbeda dengan ketegasan kecuali hadits yang datang dengan sanad yang baik, yaitu hadits Suwaid bin Sa’id bin Ali bin Mushir dari Abu Yahya Al-Qattat dari Mujahid dari Ibnu Abbas yang dirafa’kan: “Barangsiapa yang mencintai lalu menjaga kesucian dan merahasiakan kemudian meninggal, maka dia adalah syahid.” Suwaid juga meriwayatkannya dari Ibnu Mushir dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah secara marfu’. Al-Khatib meriwayatkannya dari Al-Azhari dari Al-Mu’afa bin Zakariya dari Qutbah dari Ibnu Al-Fadhl dari Ahmad bin Masruq darinya. Az-Zubair bin Bakkar meriwayatkannya dari Abdul Aziz Al-Majisyun dari Abdul Aziz bin Abi Hazim dari Ibnu Abi Najih dari Mujahid dari Ibnu Abbas.
Dan ini adalah pemimpin orang-orang terdahulu dan orang-orang yang akan datang kemudian serta utusan Tuhan semesta alam (yaitu Nabi Muhammad) shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang kepada Zainab binti Jahsy radiyallahu ‘anha lalu berkata: “Maha Suci Dzat yang membolak-balik hati”, dan ia (Zainab) ketika itu berada di bawah (dalam pernikahan dengan) Zaid bin Haritsah, budak yang dimerdekakan beliau. Ketika Zaid bermaksud menceraikannya, beliau berkata kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah dan pertahankanlah istrimu.” Setelah Zaid menceraikannya, Allah Subhanahu menikahkan dia dengan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dari atas tujuh langit. Allah sendiri yang menjadi walinya dan yang menikahkan dia dengan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Allah mengadakan akad nikahnya dari atas Arsy-Nya, kemudian menurunkan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Dan (ingatlah) ketika engkau berkata kepada orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dan engkau (juga) telah memberi nikmat kepadanya: ‘Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah’, sedang engkau menyembunyikan dalam hatimu apa yang akan dinyatakan oleh Allah, dan engkau takut kepada manusia, padahal Allah-lah yang lebih berhak engkau takutinya.” (Surat Al-Ahzab: 37).
Dan ini adalah Daud, nabi Allah ‘alaihis salam, ketika dia memiliki sembilan puluh sembilan istri, kemudian dia menyukai seorang wanita lalu menikahinya dan menyempurnakan dengan dia menjadi seratus.
Az-Zuhri berkata: “Cinta pertama yang ada dalam Islam adalah cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Aisyah radiyallahu ‘anha, dan Masruq biasa menyebutnya sebagai kekasih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Abu Qais, budak yang dimerdekakan Abdullah bin Amr berkata: “Abdullah bin Amr mengutusku kepada Umm Salamah untuk menanyakan kepadanya: ‘Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium keluarganya ketika sedang berpuasa?’ Dia menjawab: ‘Tidak.’ Lalu aku berkata: ‘Sesungguhnya Aisyah radiyallahu ‘anha berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menciumnya ketika sedang berpuasa.’ Maka Umm Salamah radiyallahu ‘anha berkata: ‘Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila melihat Aisyah tidak dapat menahan diri darinya.'”
Said bin Ibrahim menyebutkan dari Amir bin Said dari ayahnya, dia berkata: “Ibrahim Al-Khalil ‘alaihis salam mengunjungi Hajar setiap hari dari Syam dengan menunggang Buraq karena cintanya yang mendalam kepadanya dan ketidakmampuannya bersabar darinya.”
Al-Kharoithi menyebutkan bahwa Abdullah bin Umar radiyallahu ‘anhuma membeli seorang budak perempuan Romawi, dan dia sangat mencintainya dengan cinta yang mendalam. Suatu hari dia terjatuh dari bagalnya, maka Abdullah mulai menyeka debu dari wajahnya dan menciumnya. Budak itu sering mengatakan: “Ya Batrun anta Qalun” (artinya: wahai tuanku, engkau baik). Kemudian dia melarikan diri darinya, maka Abdullah sangat sedih karenanya dan berkata:
“Aku dulu mengira diriku adalah Qalun (baik) lalu dia pergi… Hari ini aku tahu bahwa aku bukan Qalun.”
Abu Muhammad bin Hazm berkata: “Dan sesungguhnya dari kalangan khulafa ar-rasyidin dan para imam yang mendapat petunjuk, banyak yang pernah jatuh cinta. Seorang laki-laki berkata kepada Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu: ‘Wahai Amirul Mukminin, aku melihat seorang wanita lalu aku jatuh cinta kepadanya.’ Umar menjawab: ‘Itu adalah sesuatu yang tidak dapat engkau kendalikan.'”
Jawaban, dan dengan pertolongan Allah: Sesungguhnya pembahasan dalam bab ini haruslah membedakan antara yang terjadi dan yang dibolehkan, antara yang bermanfaat dan yang merugikan. Tidak boleh menghukumnya dengan celaan dan pengingkaran secara mutlak, dan tidak pula dengan pujian dan penerimaan secara keseluruhan. Hukumnya akan menjadi jelas dan perkaranya akan terungkap dengan menyebutkan objeknya. Jika tidak demikian, maka cinta dari segi zatnya tidak dipuji dan tidak dicela. Kami akan menyebutkan cinta yang bermanfaat dan yang merugikan, yang dibolehkan dan yang haram.
Ketahuilah bahwa cinta yang paling bermanfaat secara mutlak, paling wajib, paling tinggi, dan paling mulia adalah cinta kepada Dzat yang hati-hati diciptakan untuk mencintai-Nya, dan makhluk diciptakan dengan fitrah untuk memuja-Nya. Dengan cinta kepada-Nya tegak bumi dan langit, dan atas dasar cinta itu makhluk diciptakan. Inilah rahasia kesaksian “La ilaha illa Allah” (tidak ada tuhan selain Allah), karena sesungguhnya “ilah” (tuhan) adalah Dzat yang hati-hati memuja dengan cinta, pengagungan, dan kemuliaan, serta kerendahan hati, ketundukan, dan penyembahan kepada-Nya. Ibadah tidak layak kecuali untuk-Nya semata. Ibadah adalah kesempurnaan cinta bersama kesempurnaan ketundukan dan kerendahan hati. Syirik dalam ibadah ini adalah kezaliman paling besar yang tidak akan Allah ampuni. Allah Ta’ala dicintai karena Dzat-Nya dari segala segi, sedangkan selain-Nya hanyalah dicintai sebagai pengikut dari cinta kepada-Nya.
Kewajiban mencintai-Nya Subhanahu telah ditunjukkan oleh semua kitab-kitab-Nya yang diturunkan, seruan semua rasul-rasul-Nya, fitrah yang dengannya Dia ciptakan hamba-hamba-Nya, akal yang Dia tanamkan dalam diri mereka, dan nikmat-nikmat yang Dia limpahkan kepada mereka. Sesungguhnya hati-hati diciptakan dan dijadikan dengan fitrah untuk mencintai siapa yang berbuat baik kepadanya dan berbuat ihsan kepadanya. Bagaimana lagi dengan Dzat yang semua kebaikan berasal dari-Nya? Dan tidak ada nikmat apa pun pada seluruh makhluk-Nya kecuali dari-Nya semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, sebagaimana firman-Nya Ta’ala: “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya). Kemudian apabila kamu ditimpa kesusahan, maka kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (Surat An-Nahl: 53).
Dan apa yang Dia perkenalkan kepada hamba-hamba-Nya dari nama-nama-Nya yang husna dan sifat-sifat-Nya yang tinggi, dan apa yang ditunjukkan oleh bekas-bekas ciptaan-Nya tentang kesempurnaan-Nya dan puncak keagungan serta kebesaran-Nya.
Cinta memiliki dua pendorong: keindahan dan keagungan. Tuhan Ta’ala memiliki kesempurnaan mutlak dari keduanya, karena Dia Maha Indah dan menyukai keindahan. Bahkan seluruh keindahan adalah milik-Nya, dan seluruh keagungan berasal dari-Nya. Maka tidak ada yang layak dicintai karena dzatnya dari segala segi selain-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah (Muhammad): ‘Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kamu.'” (Surat Ali Imran: 31).
Dan Dia Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang berlaku lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, tetapi berlaku keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas, Maha Mengetahui. Sesungguhnya wali kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, dalam keadaan rukuk. Dan barangsiapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai wali, maka sungguh, golongan Allah itulah yang pasti menang.” (Surat Al-Maidah: 54-56).
Perwalian asalnya adalah cinta, maka tidak ada perwalian kecuali dengan cinta, sebagaimana permusuhan asalnya adalah kebencian. Allah adalah wali orang-orang yang beriman dan mereka adalah wali-wali-Nya. Mereka menjadi wali-Nya dengan cinta mereka kepada-Nya, dan Dia menjadi wali mereka dengan cinta-Nya kepada mereka. Allah menjadi wali hamba-Nya yang mukmin sesuai dengan kadar cintanya kepada-Nya.
Karena itulah Dia Subhanahu mengingkari orang yang mengambil wali-wali selain-Nya, berbeda dengan orang yang menjadi wali kepada wali-wali-Nya, karena dia tidak mengambil mereka dari selain-Nya, bahkan perwaliannya kepada mereka adalah bagian dari kesempurnaan perwaliannya kepada-Nya.
Dan Dia telah mengingkari orang yang menyamakan antara-Nya dengan selain-Nya dalam cinta, dan memberitahukan bahwa siapa yang berbuat demikian maka dia telah mengambil dari selain Allah sekutu-sekutu yang dicintainya seperti cinta kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman: “Dan di antara manusia ada yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (Surat Al-Baqarah: 165).
Dan Dia memberitahukan tentang orang-orang yang menyamakan antara-Nya dengan sekutu-sekutu dalam cinta, bahwa mereka berkata di neraka kepada sesembahan mereka: “Demi Allah, sesungguhnya kami dahulu benar-benar dalam kesesatan yang nyata, ketika kami menyamakan kamu dengan Tuhan semesta alam.” (Surat Asy-Syu’ara: 97-98).
Dengan tauhid dalam cinta inilah Allah Subhanahu mengutus semua rasul-rasul-Nya, dan menurunkan semua kitab-kitab-Nya. Seruan semua rasul dari yang pertama hingga yang terakhir sepakat atasnya. Demi hal inilah diciptakan langit dan bumi serta surga dan neraka. Maka Dia jadikan surga untuk para pengikutnya, dan neraka untuk orang-orang yang mempersekutukan-Nya dalam hal itu.
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersumpah bahwa: “Tidak beriman seorang hamba hingga aku lebih dicintai olehnya daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” Bagaimana lagi dengan cinta kepada Tuhan Jalla Jalaluhu?
Dan dia berkata kepada Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu: “Tidak, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri,” yaitu engkau tidak beriman hingga cintamu mencapai batas ini.
Dan jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih berhak atas kita daripada diri kita sendiri dalam cinta dan konsekuensinya, maka bukankah Tuhan Jalla Jalaluhu wa Taqaddasat Asma’uhu lebih berhak dicintai dan disembah daripada diri mereka sendiri? Dan segala sesuatu yang daripadanya kepada hamba-Nya yang mukmin mengajak untuk mencintai-Nya, dari yang disukai hamba dan yang dibencinya – pemberian-Nya dan pencegahan-Nya, kesehatan yang diberikan-Nya dan ujian-Nya, pengambilan-Nya dan pemberian-Nya, keadilan-Nya dan karunia-Nya, mematikan-Nya dan menghidupkan-Nya, kelembutan-Nya dan kebaikan-Nya, rahmat-Nya dan ihsan-Nya, penutup-Nya dan maaf-Nya, kesabaran-Nya dan sabar-Nya terhadap hamba-Nya, pengabulan-Nya terhadap doanya, penyingkiran kesedihannya, pertolongan-Nya terhadap kegelisahannya, dan pemberian solusi atas kesusahannya tanpa ada kebutuhan dari-Nya kepada hamba tersebut, bahkan dengan kekayaan-Nya yang sempurna dari hamba itu dari segala segi – semua itu mengajak hati untuk memuja dan mencintai-Nya.
Bahkan memungkinkan hamba-Nya untuk bermaksiat kepada-Nya dan menolong dalam kemaksiatan itu, serta menutupinya hingga dia selesai dari nafsunya dalam kemaksiatan itu, penjagaan-Nya dan pengawasan-Nya terhadapnya, dan dia menyelesaikan keinginannya dari kemaksiatan-Nya, Dia menolong dan dia meminta pertolongan atas kemaksiatan itu dengan nikmat-nikmat-Nya – hal ini termasuk pendorong terkuat untuk mencintai-Nya. Andai makhluk berbuat kepada makhluk lain hal yang paling kecil dari itu, niscaya hatinya tidak akan mampu menahan diri dari mencintainya. Bagaimana hamba tidak mencintai dengan seluruh hati dan anggota tubuhnya Dzat yang selalu berbuat baik kepadanya setiap saat sebanyak nafasnya, padahal dia berbuat buruk? Kebaikan-Nya turun kepadanya, dan keburukan darinya naik kepada-Nya. Dia berusaha disukai olehnya dengan nikmat-nikmat-Nya padahal Dia kaya dari hamba itu, sedangkan hamba berusaha dibenci oleh-Nya dengan kemaksiatan-kemaksiatan padahal dia fakir kepada-Nya. Tidak ihsan-Nya, kebaikan-Nya, dan anugerah-Nya kepadanya yang menghalanginya dari bermaksiat kepada-Nya, dan tidak kemaksiatan hamba serta kelakuan buruknya yang memutus ihsan Tuhannya kepadanya.
Maka paling hina dari kehinaan adalah tertinggalnya hati dari mencintai Dzat yang demikian keadaan-Nya, dan terpautnya hati dengan cinta kepada selain-Nya.
Dan juga, setiap orang yang engkau cintai dari makhluk atau yang mencintaimu, dia menginginkanmu untuk dirinya dan tujuannya darimu, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala menginginkanmu untuk dirimu sendiri, sebagaimana dalam hadits qudsi: “Hambaku, setiap orang menginginkanmu untuk dirinya, sedangkan Aku menginginkanmu untuk dirimu.” Bagaimana hamba tidak malu bahwa Tuhannya bersikap demikian kepadanya, sedangkan dia berpaling dari-Nya, sibuk dengan cinta kepada selain-Nya, hatinya telah tenggelam dalam cinta kepada selain-Nya?
Dan juga, setiap orang yang engkau ajak berurusan dari makhluk, jika dia tidak mendapat keuntungan darimu, dia tidak akan berurusan denganmu, dan dia pasti butuh pada suatu jenis keuntungan. Sedangkan Tuhan Ta’ala berurusan denganmu agar engkau mendapat keuntungan daripadanya keuntungan terbesar dan tertinggi. Satu dirham dengan sepuluh kali lipatnya hingga tujuh ratus kali lipat hingga kelipatan yang banyak, sedangkan keburukan dengan satu saja dan itulah yang paling cepat terhapus.
Dan juga Dia Subhanahu menciptakanmu untuk-Nya, dan menciptakan segala sesuatu untukmu di dunia dan akhirat. Siapa yang lebih berhak dari-Nya untuk mendapat pengorbanan segala upaya dalam mencintai-Nya, dan mengerahkan segala usaha untuk mencari rida-Nya?
Dan juga kebutuhan-kebutuhanmu – bahkan kebutuhan seluruh makhluk semuanya – ada pada-Nya, dan Dia adalah Yang Maha Dermawan dari segala yang dermawan, Yang Maha Mulia dari segala yang mulia. Dia memberi hamba-Nya sebelum hamba itu meminta kepada-Nya melebihi yang diharapkannya. Dia berterima kasih atas amal yang sedikit dan mengembangkannya, dan mengampuni kesalahan yang banyak serta menghapusnya. “Semua yang ada di langit dan di bumi meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” Tidak ada suara yang mengalihkan-Nya dari suara lain, dan tidak ada banyaknya pertanyaan yang membuatnya keliru, dan Dia tidak bosan dengan desakan orang-orang yang mendesak. Bahkan Dia menyukai orang-orang yang mendesak dalam doa, dan menyukai untuk diminta, serta marah jika tidak diminta. Dia malu kepada hamba-Nya di tempat hamba tidak malu kepada-Nya, dan menutupinya di tempat dia tidak menutupi dirinya, dan merahmatinya di tempat dia tidak merahmati dirinya. Dia memanggil hamba dengan nikmat-nikmat-Nya, ihsan-Nya, dan pertolongan-pertolongan-Nya kepada kemuliaan dan rida-Nya, namun hamba menolak. Maka Dia mengutus rasul-rasul-Nya untuk mencarinya, dan mengirim kepada hamba bersama mereka perjanjian-Nya. Kemudian Dia sendiri Subhanahu turun kepadanya dan berkata: “Siapa yang meminta kepada-Ku maka Aku beri, siapa yang meminta ampun kepada-Ku maka Aku ampuni?” Sebagaimana dikatakan: “Aku memanggil engkau namun engkau menolak untuk bersatu, Aku mengutus utusan-Ku untuk mencarimu, Aku turun kepadamu dengan diri-Ku, Aku menemui engkau dalam tidur.”
Dan bagaimana hati tidak mencintai Dzat yang tidak mendatangkan kebaikan kecuali Dia, dan tidak menghilangkan keburukan kecuali Dia, dan tidak mengabulkan doa-doa, tidak memaafkan kesalahan-kesalahan, tidak mengampuni dosa-dosa, tidak menutupi aib-aib, tidak menyingkap kesedihan-kesedihan, tidak menolong kegelisahan-kegelisahan, dan tidak mengabulkan permintaan-permintaan selain-Nya?
Maka Dia-lah yang paling berhak untuk disebut, dan paling berhak untuk disyukuri, dan paling berhak untuk disembah, dan paling berhak untuk dipuji, dan paling memberikan pertolongan bagi siapa yang meminta pertolongan kepada-Nya, dan paling penyayang di antara yang memiliki kekuasaan, dan paling dermawan di antara yang diminta, dan paling luas di antara yang memberi, dan paling penyayang di antara yang diminta belas kasihan, dan paling mulia di antara yang dituju, dan paling mulia di antara yang diminta perlindungan dan paling mencukupi bagi yang bertawakal kepada-Nya. Dia lebih penyayang kepada hamba-Nya daripada seorang ibu kepada anaknya, dan lebih gembira dengan taubat orang yang bertaubat daripada kegembiraan seseorang yang kehilangan kendaraannya yang membawa makanan dan minumannya di tanah yang membinasakan ketika dia telah putus asa dari kehidupan kemudian menemukannya kembali.
Dan Dia adalah Raja yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan Esa yang tidak ada yang menyamai-Nya. Segala sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya. Tidak akan ada yang ditaati kecuali dengan izin-Nya, dan tidak akan ada yang bermaksiat kecuali dengan sepengetahuan-Nya. Jika ditaati maka Dia bersyukur, dan dengan taufik dan nikmat-Nya-lah Dia ditaati. Jika dimaksiat maka Dia mengampuni dan memaafkan, meskipun hak-Nya disia-siakan. Dia adalah saksi yang paling dekat, dan penjaga yang paling agung, dan paling menepati janji, dan paling adil dalam menegakkan keadilan. Dia menghalangi jiwa-jiwa, dan mengambil dengan ubun-ubun, dan mencatat jejak-jejak, dan menyalin ajal-ajal. Maka hati-hati terbuka kepada-Nya, dan rahasia di sisi-Nya adalah terang-terangan, dan yang gaib di sisi-Nya terbuka, dan setiap orang kepada-Nya sangat membutuhkan. Wajah-wajah tunduk kepada cahaya wajah-Nya, dan hati-hati tidak mampu memahami hakikat-Nya. Fitrah dan semua dalil menunjukkan kemustahilan adanya yang serupa dan menyerupai-Nya. Kegelapan-kegelapan bercahaya karena cahaya wajah-Nya, dan bumi dan langit menjadi terang karena-Nya, dan semua makhluk menjadi baik karena-Nya. Dia tidak tidur dan tidak layak bagi-Nya untuk tidur. Dia menurunkan timbangan dan mengangkatnya. Amal malam diangkat kepada-Nya sebelum amal siang, dan amal siang sebelum amal malam. Hijab-Nya adalah cahaya, dan seandainya Dia menyingkapnya niscaya cahaya wajah-Nya akan membakar apa yang dijangkau oleh pandangan-Nya dari makhluk-Nya.
Tidak akan mendapat ganti orang yang memberikan cintanya kepada selain-Nya dari ganti apapun, meskipun dia memiliki seluruh alam semesta.
[Pasal: Kesempurnaan Kenikmatan dalam Kesempurnaan yang Dicintai dan Kesempurnaan Cinta]
Dan ini adalah perkara besar yang wajib diperhatikan oleh orang yang berakal, yaitu bahwa kesempurnaan kenikmatan, kegembiraan, kebahagiaan, kenikmatan hati, dan kegembiraan ruh mengikuti dua perkara: Pertama: kesempurnaan yang dicintai pada dirinya sendiri dan keindahannya, dan bahwa dia lebih berhak untuk dipilih dalam cinta daripada segala sesuatu selain-Nya.
Dan perkara kedua: kesempurnaan cinta kepadanya, dan mencurahkan segala kemampuan dalam mencintainya, dan mengutamakan kedekatan dan sampai kepada-Nya atas segala sesuatu.
Dan setiap orang yang berakal mengetahui bahwa kenikmatan dengan tercapainya yang dicintai sesuai dengan kekuatan cintanya. Semakin kuat cinta maka semakin sempurna kenikmatan yang mencintai. Maka kenikmatan hamba yang sangat haus ketika menemukan air yang jernih, dan yang sangat lapar ketika makan makanan yang lezat, dan yang serupa dengan itu sesuai dengan kerinduan dan kuatnya keinginan dan cintanya.
Jika engkau telah mengetahui ini, maka kenikmatan, kebahagiaan, dan kegembiraan adalah perkara yang dicari untuk dirinya sendiri, bahkan itu adalah tujuan setiap yang hidup dan berakal. Jika kenikmatan dicari untuk dirinya sendiri maka ia tercela jika mengakibatkan kesakitan yang lebih besar darinya, atau menghalangi kenikmatan yang lebih baik dan lebih agung darinya. Bagaimana jika ia mengakibatkan penyesalan yang paling besar, dan menyia-nyiakan kenikmatan dan kebahagiaan yang paling besar? Dan ia terpuji jika membantu pada kenikmatan yang besar, kekal, dan tetap yang tidak ada gangguan di dalamnya dan tidak ada kekeruhan dengan cara apapun, yaitu kenikmatan akhirat dan kenikmatan serta kebaikan hidup di dalamnya. Allah Ta’ala berfirman: “Tetapi kamu lebih menyukai kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal” (Surat Al-A’la: 16-17).
Dan para penyihir berkata kepada Fir’aun ketika mereka beriman: “Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya dapat memutuskan mengenai kehidupan dunia ini. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni dosa-dosa kami dan sihir yang kamu paksa kepada kami mengerjakannya. Dan Allah lebih baik (bagi kami) dan lebih kekal” (Surat Thaha: 72-73).
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan makhluk untuk memberikan kepada mereka kenikmatan kekal ini di negeri keabadian. Adapun dunia maka terputus, dan kenikmatan-kenikmatan dunia tidak pernah bersih dan tidak kekal, berbeda dengan akhirat, karena kenikmatan-kenikmatan akhirat kekal, dan kenikmatan akhirat bersih dari segala kekeruhan dan kesakitan. Di dalamnya ada apa yang diinginkan jiwa-jiwa dan membahagiakan mata dengan keabadian selamanya. Dan tidak ada jiwa yang mengetahui apa yang Allah sembunyikan untuk hamba-hamba-Nya di dalamnya berupa penyejuk mata, bahkan di dalamnya ada apa yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia. Dan inilah makna yang dimaksudkan oleh penasihat untuk kaumnya: “Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal” (Surat Ghafir: 38-39).
Maka dia memberitahukan kepada mereka bahwa dunia dinikmati untuk menuju kepada selainnya, dan bahwa akhirat adalah tempat menetap.
Jika engkau telah mengetahui bahwa kenikmatan dunia dan kenikmatan dunia adalah kesenangan, dan jalan menuju kenikmatan akhirat, dan untuk itulah dunia dan kenikmatan-kenikmatan dunia diciptakan, maka setiap kenikmatan yang membantu pada kenikmatan akhirat dan mengantarkan kepadanya tidak tercela mengambilnya, bahkan terpuji sesuai dengan pengantarannya kepada kenikmatan akhirat.
Jika hal ini telah diketahui, maka kenikmatan akhirat yang paling besar dan kenikmatan-kenikmatan akhirat adalah: melihat wajah Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Agung, dan mendengar firman-Nya dari-Nya, dan dekat dengan-Nya, sebagaimana tetap dalam hadits shahih dalam hadits tentang melihat: “Demi Allah, Allah tidak memberikan kepada mereka sesuatu yang lebih mereka cintai daripada melihat kepada-Nya”, dan dalam hadits lain: “Sesungguhnya jika Dia menampakkan diri kepada mereka dan mereka melihat-Nya, mereka lupa apa yang mereka nikmati dari kenikmatan”. Dan dalam An-Nasa’i dan Musnad Imam Ahmad dari Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam doanya: “Dan aku memohon kepada-Mu ya Allah kenikmatan melihat wajah-Mu yang mulia, dan kerinduan untuk bertemu dengan-Mu”. Dan dalam Kitab As-Sunnah karya Abdullah putra Imam Ahmad secara marfu’: “Seakan-akan manusia pada hari kiamat tidak pernah mendengar Al-Qur’an, jika mereka mendengarnya dari Ar-Rahman maka seakan-akan mereka tidak pernah mendengar sebelum itu”.
Jika hal ini telah diketahui, maka sebab yang paling besar yang menghasilkan kenikmatan ini adalah kenikmatan dunia yang paling besar secara mutlak, yaitu kenikmatan mengenal-Nya Subhanahu, dan kenikmatan mencintai-Nya. Karena itu adalah surga dunia dan kenikmatan dunia yang tinggi. Perbandingan kenikmatan-kenikmatan dunia yang fana kepadanya seperti ludah di lautan. Karena ruh, hati, dan badan hanya diciptakan untuk itu. Maka yang paling baik di dunia adalah mengenal-Nya dan mencintai-Nya, dan yang paling nikmat di surga adalah melihat-Nya dan menyaksikan-Nya. Maka cinta dan pengenalan kepada-Nya adalah penyejuk mata, kenikmatan ruh-ruh, kebahagiaan hati-hati, kenikmatan dunia dan kebahagiaannya. Bahkan kenikmatan-kenikmatan dunia yang menghalangi dari itu berubah menjadi kesakitan dan siksaan, dan pemiliknya tetap dalam kehidupan yang sempit. Maka tidak ada kehidupan yang baik kecuali dengan Allah.
Dan ada sebagian orang yang mencintai yang melewati waktu-waktu maka dia berkata: Jika penduduk surga dalam kenikmatan seperti ini sesungguhnya mereka dalam kehidupan yang baik. Dan telah disebutkan sebelumnya. Dan yang lain berkata: Seandainya raja-raja dan anak-anak raja mengetahui apa yang kami rasakan niscaya mereka akan memerangi kami dengan pedang.
Dan jika pemilik cinta batil yang merupakan siksaan bagi hati yang mencintai berkata dalam keadaannya:
Dan tidak ada manusia kecuali yang mencintai yang memiliki keinginan Maka tidak ada kebaikan pada yang tidak mencintai dan tidak jatuh cinta
Dan yang lain berkata:
Celaka dunia jika tidak ada Pemilik dunia yang mencintai atau dicintai
Dan yang lain berkata:
Dan tidak ada kebaikan di dunia dan kenikmatan dunia Sedangkan engkau sendirian, menyendiri, tidak jatuh cinta
Dan yang lain berkata:
Tinggallah dengan tempat tinggal yang engkau nikmati cintanya Waktu telah berlalu sedangkan engkau menyendiri
Dan yang lain berkata:
Para pencinta mengeluh karena cinta, andaikan aku Menanggung apa yang mereka rasakan dari antara mereka sendirian Maka jadilah untuk hatiku semua kenikmatan cinta Maka tidak ada pencinta sebelumku yang merasakannya dan tidak setelahku
Maka bagaimana dengan cinta yang merupakan kehidupan hati-hati, dan makanan ruh-ruh. Tidak ada bagi hati kenikmatan, kenikmatan, keberuntungan, dan kehidupan kecuali dengannya. Jika hati kehilangannya maka sakitnya lebih besar daripada sakitnya mata jika kehilangan cahayanya, dan telinga jika kehilangan pendengarannya, dan hidung jika kehilangan penciumannya, dan lidah jika kehilangan bicaranya. Bahkan rusaknya hati jika kosong dari cinta kepada Pencipta, Pembuat, dan Tuhannya yang haq lebih besar daripada rusaknya badan jika ruh keluar darinya. Dan perkara ini tidak akan membenarkannya kecuali yang di dalamnya ada kehidupan,
Dan tidak ada rasa sakit bagi luka orang yang mati.
Dan maksudnya adalah: bahwa kelezatan terbesar dunia merupakan sebab yang mengantarkan kepada kelezatan terbesar di akhirat. Kelezatan dunia terbagi menjadi tiga jenis:
Yang paling besar dan paling sempurna adalah yang mengantarkan kepada kelezatan akhirat, dan manusia akan mendapat pahala yang paling sempurna atas kelezatan ini. Oleh karena itu, orang mukmin mendapat pahala atas apa yang diniatkannya karena Allah, seperti makan, minum, berpakaian, menikah, dan menyembuhkan kemarahannya dengan mengalahkan musuh Allah dan musuhnya. Apalagi kelezatan imannya, pengetahuannya tentang Allah, kecintaannya kepada-Nya, kerinduannya untuk bertemu dengan-Nya, dan harapannya untuk melihat wajah-Nya yang mulia di surga-surga yang penuh kenikmatan.
Jenis kedua: kelezatan yang menghalangi kelezatan akhirat dan berakibat pada kesakitan yang lebih besar darinya, seperti kelezatan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai berhala-berhala yang menjadi kasih sayang di antara mereka dalam kehidupan dunia, mereka mencintainya seperti cinta kepada Allah, dan mereka saling bersenang-senang satu sama lain, sebagaimana mereka katakan di akhirat ketika bertemu dengan Tuhan mereka:
“Ya Tuhan kami, sebagian kami telah bersenang-senang dengan sebagian yang lain dan kami telah sampai pada ajal yang telah Engkau tentukan bagi kami. Allah berfirman: ‘Neraka itulah tempat tinggal kalian, kalian kekal di dalamnya, kecuali apa yang Allah kehendaki. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain, disebabkan apa yang mereka kerjakan.” (Surat Al-An’am: 128-129)
Dan kelezatan para pelaku keji, kezaliman, kesombongan di bumi, dan berlaku tinggi tanpa hak.
Kelezatan-kelezatan ini pada hakikatnya hanyalah cara Allah memperdaya mereka untuk merasakan dengan kelezatan tersebut kesakitan yang paling besar, dan mengharamkan bagi mereka kelezatan yang paling sempurna, seperti orang yang memberikan kepada orang lain makanan lezat yang beracun untuk memperdayanya menuju kehancurannya. Allah Ta’ala berfirman: “Kami akan memperdaya mereka dari arah yang tidak mereka ketahui. Dan Aku beri tangguh kepada mereka. Sesungguhnya tipu daya-Ku amat kuat.” (Surat Al-A’raf: 182-183).
Sebagian salaf berkata dalam menafsirkannya: setiap kali mereka berbuat dosa, Kami berikan kepada mereka nikmat: “Hingga apabila mereka bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa. Maka berakhirlah riwayat kaum yang zalim itu. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (Surat Al-An’am: 44-45).
Dan Allah Ta’ala berfirman kepada pemilik kelezatan ini:
“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu, Kami bersegera memberikan kebaikan kepada mereka? Sebenarnya mereka tidak menyadari.” (Surat Al-Mu’minun: 55-56). Dan Allah berfirman tentang mereka: “Maka janganlah kamu kagum terhadap harta dan anak-anak mereka. Sesungguhnya Allah bermaksud menyiksa mereka dengan harta dan anak-anak itu dalam kehidupan dunia dan akan dicabut nyawa mereka dalam keadaan kafir.” (Surat At-Taubah: 55).
Dan kelezatan ini pada akhirnya berubah menjadi kesakitan dari kesakitan-kesakitan yang paling besar, sebagaimana dikatakan:
“Keinginan-keinginan yang dulu bagi pemiliknya dalam kehidupan… adalah siksaan, maka ia menjadi siksaan di hari kemudian.”
Jenis ketiga: kelezatan yang tidak berakibat kelezatan di negeri yang kekal dan tidak pula kesakitan, dan tidak menghalangi asal kelezatan negeri yang kekal, meskipun menghalangi kesempurnaannya. Ini adalah kelezatan yang mubah yang tidak digunakan untuk membantu kelezatan akhirat. Kelezatan ini waktunya sedikit, tidak ada nilai bagi jiwa dalam menikmatinya, dan pasti akan menyibukkan dari yang lebih baik dan lebih bermanfaat.
Bagian inilah yang dimaksud Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya: “Setiap permainan yang dimainkan seseorang adalah batil kecuali memanahnya dengan busurnya, melatih kudanya, dan bermain-main dengan istrinya, karena itu semua termasuk kebenaran.”
Maka apa yang membantu pada kelezatan yang dikehendaki untuk dirinya sendiri adalah benar, dan apa yang tidak membantu padanya adalah batil.
Pasal: Cinta yang Tidak Diingkari dan Tidak Dicela
Cinta ini tidak diingkari dan tidak dicela, bahkan ia adalah salah satu jenis cinta, demikian juga cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang kami maksud adalah kecintaan khusus yang menyibukkan hati, pikiran, dan ingatan orang yang mencintai dengan yang dicintainya. Kalau tidak, setiap muslim dalam hatinya ada kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak masuk Islam kecuali dengannya. Manusia berbeda-beda dalam tingkatan kecintaan ini dengan perbedaan yang tidak bisa dihitung kecuali oleh Allah. Antara kecintaan dua khalil (Ibrahim dan Muhammad) dengan kecintaan selain mereka ada perbedaan. Kecintaan inilah yang melembutkan dan meringankan beban-beban taklif, membuat kikir menjadi dermawan, membuat penakut menjadi berani, menjernihkan pikiran, melatih jiwa, dan benar-benar menjadikan hidup indah, bukan kecintaan kepada bentuk-bentuk yang haram. Ketika rahasia-rahasia diuji pada hari pertemuan, rahasia pemiliknya termasuk sebaik-baik rahasia hamba, sebagaimana dikatakan:
“Akan tetap bagi kalian dalam tersembunyi hati dan dada… rahasia cinta di hari rahasia-rahasia diuji.”
Kecintaan inilah yang menerangi wajah, melapangkan dada, menghidupkan hati. Demikian juga kecintaan kepada kalam Allah, karena itu termasuk tanda cinta kepada Allah. Jika kamu ingin tahu apa yang ada padamu dan pada orang lain dari kecintaan kepada Allah, maka lihatlah kecintaan Al-Quran dari hatimu, dan kenikmatanmu mendengarkannya lebih besar daripada kenikmatan para penikmat hiburan dan nyanyian yang memukau dengan mendengarkan mereka. Karena diketahui bahwa barangsiapa mencintai yang dicintai, maka kalam dan pembicaraannya adalah hal yang paling dicintai baginya, sebagaimana dikatakan: “Jika kamu mengaku mencintaiku, mengapa kamu meninggalkan kitab-Ku? Tidakkah kamu merenungkan apa yang ada di dalamnya dari manis firman-Ku?”
Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata: “Seandainya hati kami bersih, niscaya tidak akan kenyang dari kalam Allah.” Bagaimana orang yang mencintai bisa kenyang dari kalam yang dicintainya sedangkan itu adalah puncak yang diinginkannya?
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari berkata kepada Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu: “Bacakanlah kepadaku.” Ia berkata: “Aku membaca kepadamu sedangkan kepadamulah ia diturunkan?” Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku suka mendengarnya dari orang lain.” Maka ia membuka Surat An-Nisa, hingga ketika sampai pada firman-Nya: “Maka bagaimana halnya apabila Kami datangkan dari tiap-tiap umat seorang saksi dan Kami datangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu?” (Surat An-Nisa: 41), beliau berkata: “Cukup sekarang.” Lalu beliau mengangkat kepalanya dan ternyata kedua mata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlinang air mata.
Para sahabat jika berkumpul dan di antara mereka ada Abu Musa berkata: “Wahai Abu Musa, ingatkanlah kami kepada Tuhan kami.” Maka ia membaca dan mereka mendengarkan. Bagi pencinta Al-Quran – dari kerinduan, rasa, kenikmatan, kemanisan, dan kegembiraan – berlipat-lipat dari yang dimiliki pencinta mendengar setan. Jika kamu melihat seseorang, rasa, kerinduan, kegembiraan, dan kerinduannya kepada mendengar bait-bait syair melebihi mendengar ayat-ayat, dan mendengar lagu-lagu melebihi mendengar Al-Quran, sebagaimana dikatakan:
“Dibacakan kepadamu Al-Quran lengkap sedangkan kamu membeku seperti batu, dan sebuah bait syair yang dideklamasikan kamu bergoyang seperti orang mabuk.”
Ini termasuk dalil paling kuat atas kosongnya hatinya dari kecintaan kepada Allah dan kalam-Nya, dan keterkaitan dengan kecintaan mendengar setan. Orang yang tertipu meyakini bahwa ia berada di atas sesuatu.
Dalam kecintaan kepada Allah dan kalam Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat berlipat-lipat dari apa yang disebutkan penanya tentang faedah dan manfaat cinta. Bahkan tidak ada cinta yang pada hakikatnya lebih bermanfaat darinya. Setiap cinta selain itu adalah batil jika tidak membantu padanya dan tidak mengantarkan orang yang mencintai kepadanya.
Adapun kecintaan kepada istri: tidak ada celaan bagi orang yang mencintai dalam hal itu, bahkan itu termasuk kesempurnaannya. Allah Subhanahu telah menjadikannya sebagai karunia kepada hamba-hamba-Nya, Dia berfirman: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Surat Ar-Rum: 21).
Maka Dia menjadikan wanita sebagai ketenangan bagi pria, hatinya tenang kepadanya, dan Dia menjadikan di antara mereka cinta yang murni, yaitu kasih sayang yang disertai rahmat. Allah Ta’ala berfirman setelah menyebutkan apa yang dihalalkan bagi kita dari wanita dan apa yang diharamkan dari mereka: “Allah hendak memberikan penjelasan kepadamu dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang-orang yang sebelum kamu dan hendak menerima taubatmu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya. Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (Surat An-Nisa: 26-28).
Sufyan Ats-Tsauri menyebutkan dalam tafsirnya dari Ibnu Tawus dari ayahnya: “Jika ia melihat wanita-wanita, ia tidak sabar.”
Dalam shahih dari hadits Jabir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Bahwa beliau melihat seorang wanita, lalu mendatangi Zainab dan memenuhi kebutuhannya darinya, dan berkata: ‘Sesungguhnya wanita datang dalam bentuk setan dan pergi dalam bentuk setan. Jika salah seorang dari kalian melihat wanita yang memukau hatinya, hendaklah ia mendatangi keluarganya, karena itu akan menolak apa yang ada dalam jiwanya.'”
Dalam hadits ini terdapat beberapa faedah:
Di antaranya: petunjuk untuk menghibur diri dari yang diinginkan dengan jenisnya, sebagaimana makanan menggantikan makanan, dan pakaian menggantikan pakaian.
Di antaranya: perintah mengobati kekaguman terhadap wanita yang menyebabkan syahwat kepadanya dengan obat yang paling bermanfaat, yaitu memenuhi kebutuhannya dari keluarganya. Itu akan menghilangkan syahwatnya kepadanya. Ini sebagaimana beliau mengarahkan orang-orang yang saling mencintai kepada pernikahan, sebagaimana dalam Sunan Ibnu Majah secara marfu’: “Tidak dilihat bagi orang-orang yang saling mencintai seperti pernikahan.”
Maka menikahi yang dicintai adalah obat cinta yang dijadikan Allah sebagai obat secara syar’i. Daud ‘alaihissalam telah berobat dengannya dan nabi Allah tidak melakukan yang haram. Ia hanya menikahi wanita itu dan menggabungkannya dengan istri-istrinya karena kecintaannya kepadanya. Taubatnya sesuai dengan kedudukannya di sisi Allah dan tingginya martabatnya. Tidak pantas bagi kita menambah lebih dari ini.
Kisah Zainab binti Jahsy: Zaid telah berencana untuk menceraikan Zainab dan dia tidak setuju dengan hal itu. Zaid meminta nasihat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang berpisah dengannya, dan beliau memerintahkannya untuk tetap mempertahankannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa Zaid pasti akan menceraikannya, maka beliau menyembunyikan dalam hatinya bahwa beliau akan menikahinya jika Zaid menceraikannya. Beliau khawatir terhadap pembicaraan orang-orang yang akan mengatakan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi istri anaknya,” karena beliau telah mengangkat Zaid sebagai anak sebelum masa kenabian. Allah Ta’ala ingin menetapkan syariat umum yang mengandung kemaslahatan bagi hamba-hamba-Nya.
Ketika Zaid menceraikannya dan masa iddahnya telah berakhir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Zaid kepadanya untuk melamarnya bagi dirinya sendiri. Zaid datang dan membelakangi pintu, dia merasa berat ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan nama Zainab. Maka dia memanggilnya dari balik pintu: “Wahai Zainab, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melamarmu.” Zainab berkata: “Aku tidak akan berbuat sesuatu apapun sampai aku bermusyawarah dengan Rabbku.” Lalu dia berdiri menuju mihrabnya dan shalat.
Allah ‘azza wa jalla sendiri yang menangani pernikahan Zainab dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mengadakan akad nikah untuknya di atas Arsy-Nya. Wahyu turun dengan hal itu: “Maka ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan dia denganmu” (Surat Al-Ahzab: 37).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung bangkit pada saat itu dan masuk menemui Zainab. Zainab merasa bangga atas hal ini di hadapan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya, dia berkata: “Kalian dinikahkan oleh keluarga kalian, sedangkan aku dinikahkan oleh Allah dari atas tujuh langit.” Itulah kisah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab.
Tidak diragukan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah dicintakan kepadanya para wanita, sebagaimana dalam hadits shahih dari Anas dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Dicintakan kepadaku dari dunia kalian: wanita dan wangi-wangian, dan dijadikan penyejuk mataku dalam shalat.” Ini adalah lafal hadits yang benar, bukan seperti yang diriwayatkan sebagian orang: “Dicintakan kepadaku dari dunia kalian tiga hal.” Imam Ahmad menambahkan dalam Kitab Az-Zuhd dalam hadits ini: “Aku dapat bersabar dari makanan dan minuman, tetapi aku tidak dapat bersabar dari mereka (para wanita).”
Musuh-musuh Allah dari kalangan Yahudi mencemburui beliau atas hal itu, mereka berkata: “Tidak ada yang menjadi perhatiannya kecuali pernikahan.” Maka Allah Subhanahu membela Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membelanya, Allah berfirman: “Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) karena karunia yang telah Allah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami berikan kepada mereka kerajaan yang besar” (Surat An-Nisa: 54).
Inilah khalilullah Ibrahim, dia memiliki Sarah yang merupakan wanita tercantik di dunia, dan dia mencintai Hajar serta menjadikannya selir.
Inilah Dawud ‘alaihis salam, dia memiliki sembilan puluh sembilan istri, lalu dia mencintai seorang wanita dan menikahinya sehingga genap seratus. Dan inilah Sulaiman putranya ‘alaihis salam, dia berkeliling dalam satu malam kepada sembilan puluh wanita.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang orang yang paling dicintainya, maka beliau menjawab: ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.’ Dan beliau berkata tentang Khadijah: ‘Sesungguhnya aku dikaruniai kecintaan kepadanya.'”
Mencintai wanita adalah bagian dari kesempurnaan manusia. Ibnu Abbas berkata: “Sebaik-baik umat ini adalah yang paling banyak istrinya.” Imam Ahmad menyebutkan bahwa Abdullah bin Umar mendapat bagian pada hari perang Jalula seorang budak wanita yang lehernya bagaikan teko perak. Abdullah berkata: “Aku tidak dapat menahan diri untuk tidak menciumnya sementara orang-orang melihat.” Dengan ini Imam Ahmad berargumen tentang bolehnya bersenang-senang dengan budak wanita sebelum istibra’ tanpa bersetubuh, berbeda dengan budak wanita yang dibeli.
Perbedaan keduanya adalah bahwa pembatalan kepemilikan tidak dapat diduga pada budak wanita hasil perang, berbeda dengan yang dibeli, karena kepemilikannya mungkin dibatalkan, sehingga dia bersenang-senang dengan budak wanita orang lain.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi syafaat untuk seorang yang jatuh cinta agar kekasihnya mau berhubungan dengannya dengan menikah, tetapi wanita itu menolak. Itu dalam kisah Mughits dan Barirah. “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Mughits berjalan di belakang Barirah dengan air mata mengalir di pipinya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Barirah: ‘Bagaimana jika kamu rujuk dengannya?’ Barirah berkata: ‘Apakah Anda memerintahkan saya, ya Rasulullah?’ Beliau berkata: ‘Tidak, aku hanya memberi syafaat.’ Barirah berkata: ‘Aku tidak membutuhkannya.’ Maka beliau berkata kepada pamannya: ‘Wahai Abbas, tidakkah kamu heran dengan cinta Mughits kepada Barirah, dan kebencian Barirah kepadanya?’ Beliau tidak mengingkari cinta Mughits kepadanya, meskipun Barirah telah berpisah darinya.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlaku adil di antara istri-istrinya dalam pembagian giliran dan berkata: “Ya Allah, ini adalah bagianku dalam hal yang aku kuasai, maka jangan mencela aku dalam hal yang tidak aku kuasai” – maksudnya dalam hal cinta. Allah Ta’ala berfirman: “Dan kamu tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istrimu, walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian” (Surat An-Nisa: 129) – maksudnya dalam hal cinta dan hubungan intim.
Para khalifah yang mendapat petunjuk dan orang-orang yang penyayang senantiasa memberi syafaat untuk para pencinta kepada kekasih mereka yang halal untuk dihubungi, sebagaimana telah disebutkan dari perbuatan Abu Bakr dan Utsman. Demikian pula Ali radhiyallahu ‘anhu didatangi seorang pemuda Arab yang ditemukan di rumah suatu kaum pada malam hari. Ali bertanya kepadanya: “Apa ceritamu?” Pemuda itu berkata: “Aku bukan pencuri, tetapi aku akan jujur kepadamu:
Aku jatuh cinta di rumah Ar-Riyahi kepada seorang gadis Yang karena kecantikan penampilannya, bulan pun tunduk kepadanya Dia memiliki kecantikan dan penampilan di antara putri-putri Rum Jika dia membanggakan kecantikan, kebanggaan pun takut kepadanya Ketika aku mendatangi rumah karena panasnya jiwaku Aku menolak padahal di dalamnya ada bara dari kobaran cintanya Penghuni rumah bergegas menangkapku lalu berteriak Dia adalah pencuri, sudah pasti hukumannya mati dan ditawan”
Ketika Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mendengar syairnya, dia merasa kasihan dan berkata kepada Muhallab bin Rabah: “Berikanlah dia wanita itu.” Muhallab berkata: “Wahai Amirul Mukminin, tanyakan siapa dia?” Ali berkata: “An-Nahhas bin Uyainah.” Muhallab berkata: “Ambillah dia, dia untukmu.”
Muawiyah membeli seorang budak wanita dan sangat terpesona dengannya. Suatu hari dia mendengar wanita itu melantunkan syair:
Aku berpisah dengannya seperti dahan yang bergoyang di tanah Segar dan tampan setelah kumisnya tumbuh
Muawiyah bertanya, lalu wanita itu memberitahukan bahwa dia mencintai tuannya. Muawiyah mengembalikannya kepada tuannya meskipun ada perasaan di hatinya terhadap wanita itu.
Az-Zamakhsyari menyebutkan dalam Rabi’ah bahwa Zubaidah membaca di jalan menuju Mekkah pada sebuah dinding:
Tidakkah di antara hamba-hamba Allah atau budak-budak wanita-Nya Ada yang mulia yang dapat menghilangkan kesedihan dari orang yang hilang akal Dia memiliki mata yang sudutnya sakit Dan dadanya seperti api yang menyala
Zubaidah bernazar akan mencari cara untuk bertemu dengan penyair tersebut jika dia mengenalnya, sehingga dia dapat mempertemukan antara dia dengan orang yang dicintainya. Ketika dia berada di Muzdalifah, dia mendengar seseorang melantunkan kedua bait itu. Dia mencarinya, dan orang itu mengaku bahwa dia mengatakan kedua bait itu untuk seorang sepupu yang keluarganya bernazar tidak akan menikahkannya dengannya. Zubaidah mengirim utusan kepada suku itu dan terus memberikan harta kepada mereka sampai mereka menikahkan wanita itu dengannya. Ternyata wanita itu lebih mencintainya daripada dia mencintainya. Zubaidah menganggap hal itu sebagai salah satu kebaikan terbesarnya, dan berkata: “Tidak ada yang membuatku lebih senang daripada mempertemukan pemuda dan gadis itu.”
Al-Khara’iti berkata: Sulaiman bin Abdul Malik memiliki seorang budak laki-laki dan budak perempuan yang saling mencintai. Suatu hari budak laki-laki menulis kepadanya:
Sungguh aku telah melihatmu dalam mimpi seolah-olah Kamu memberiku air ludah sejuk dari mulutmu Dan seolah-olah tanganmu di tanganku dan seolah-olah kita Bermalam bersama dalam satu tempat tidur Aku menghabiskan hariku dengan terus berbaring Untuk melihatmu dalam tidurku padahal aku tidak tidur
Budak perempuan itu menjawabnya:
Kamu bermimpi baik dan semua yang kamu lihat Akan kamu dapatkan dariku meskipun ada yang dengki Sesungguhnya aku berharap kamu akan memelukku Sehingga kamu bermalam darisku di atas dada yang montok Dan aku melihatmu di antara gelang kaki dan gelang tanganku Dan aku melihatmu di atas tulang dada dan dadaku
Hal itu sampai kepada Sulaiman, maka dia menikahkan budak perempuan itu dengan budak laki-laki itu dan memperbaiki keadaan mereka meskipun dia sangat cemburu.
Jami’ bin Birkhiyyah berkata: “Aku bertanya kepada Sa’id bin Musayyab, mufti Madinah: ‘Apakah dalam cinta yang menimpa kami ada dosa?'” Sa’id berkata: “Sesungguhnya kamu hanya dicela atas perkara yang dapat kamu kendalikan.” Sa’id berkata: “Demi Allah, tidak ada seorang pun yang bertanya kepadaku tentang hal ini, dan seandainya ada yang bertanya, aku tidak akan menjawab kecuali dengan jawaban itu.”
Cinta kepada wanita terbagi menjadi tiga bagian:
Bagian pertama adalah yang merupakan ibadah dan ketaatan, yaitu cinta kepada istri dan budak wanitanya. Cinta ini bermanfaat karena lebih mendorong kepada tujuan-tujuan yang Allah syariatkan untuk pernikahan, dan lebih menahan pandangan dan hati dari melihat kepada selain keluarganya. Karena itu, pencinta seperti ini dipuji di sisi Allah dan di sisi manusia.
Cinta kedua adalah yang dimurkai Allah dan jauh dari rahmat-Nya, dan merupakan hal yang paling berbahaya bagi seorang hamba dalam agama dan dunianya, yaitu cinta kepada laki-laki muda. Tidak ada yang ditimpa oleh hal ini kecuali orang yang telah jatuh dari pandangan Allah, diusir dari pintu-Nya, dan hatinya dijauhkan dari-Nya. Hal ini termasuk hijab terbesar yang memutus hubungan dengan Allah. Sebagaimana yang dikatakan sebagian salaf: “Jika seorang hamba jatuh dari pandangan Allah, Allah akan menimpakan kepadanya cinta kepada laki-laki muda.” Cinta inilah yang mendatangkan kepada kaum Luth apa yang menimpa mereka. Mereka tidak ditimpa kecuali karena cinta ini. Allah Ta’ala berfirman: “Demi umurmu, sesungguhnya mereka dalam kemabukan mereka berkeliaran” (Surat Al-Hijr: 72).
Obat penyakit ini adalah meminta pertolongan kepada Dzat Yang Membolak-balik hati, bersungguh-sungguh berlindung kepada-Nya, sibuk dengan dzikir kepada-Nya, mengganti dengan cinta dan kedekatan kepada-Nya, merenung tentang kesakitan yang diakibatkan oleh cinta ini, dan kenikmatan yang hilang karenanya. Akibatnya adalah hilangnya yang paling dicintai dan terjadinya yang paling dibenci. Jika jiwanya tetap melakukan hal ini dan memilihnya, maka hendaklah dia bertakbir atas dirinya seperti takbir jenazah, dan hendaklah dia tahu bahwa bala telah mengelilinginya.
Bagian ketiga: Cinta yang mubah, yaitu yang terjadi tanpa sengaja, seperti cinta seseorang yang diceritakan kepadanya tentang seorang wanita cantik, atau dia melihatnya secara tiba-tiba tanpa sengaja, lalu hatinya terikat kepadanya, dan cinta itu tidak menimbulkan kemaksiatan baginya. Ini tidak dapat dikuasai dan tidak dihukum. Yang paling bermanfaat baginya adalah melawannya dan sibuk dengan yang lebih bermanfaat baginya. Wajib baginya merahasiakan, menjaga kehormatan, dan bersabar dalam ujian ini. Allah akan meneguhkannya atas hal itu dan memberikan ganti atas kesabarannya karena Allah, menjaga kehormatannya, meninggalkan mengikuti hawa nafsunya, dan mengutamakan ridha Allah dan apa yang ada di sisi-Nya.
Bab: Pembagian Manusia Dalam Percintaan
Manusia dalam percintaan terbagi menjadi tiga bagian:
Di antara mereka: ada yang mencintai keindahan mutlak, hatinya berkelana di setiap lembah, dia memiliki keinginan pada setiap wujud yang indah.
Di antara mereka: ada yang mencintai keindahan terbatas, baik dia mengharapkan penyatuan dengannya atau tidak.
Di antara mereka: ada yang tidak mencintai kecuali orang yang dia harapkan dapat bersatu dengannya.
Di antara ketiga jenis ini terdapat perbedaan dalam kekuatan dan kelemahan.
Pencinta keindahan mutlak, hatinya berkelana di setiap lembah, dan dia memiliki keinginan pada setiap wujud yang indah:
Suatu hari di Hazwa, dan suatu hari di Aqiq dan di Azib suatu hari dan suatu hari di Khulaysha… Dan kadang dia menuju Najd dan kadang lembah Aqiq dan kadang istana Tayma
Maka percintaannya ini lebih luas, namun tidak stabil dan banyak berpindah-pindah:
Dia jatuh cinta pada yang ini kemudian mencintai yang lain… Dan dia melupakannya dari waktunya ketika pagi tiba
Pencinta keindahan terbatas lebih stabil pada kekasihnya, dan lebih langgeng cintanya kepadanya, dan cintanya lebih kuat dari cinta yang pertama, karena keduanya berkumpul pada satu objek, namun yang melemahkan keduanya adalah tidak adanya harapan untuk bersatu. Sedangkan pencinta keindahan yang dia harapkan dapat bersatu dengannya adalah yang paling berakal di antara para pencinta dan paling mengetahui, dan cintanya lebih kuat karena harapan memberinya kekuatan dan menguatkannya.
Bab: Hadis “Barang Siapa Yang Jatuh Cinta Lalu Memelihara Kesucian”
Adapun hadis: “Barang siapa yang jatuh cinta lalu memelihara kesucian” ini diriwayatkan oleh Suwaid bin Sa’id, dan para ahli hafiz Islam telah mengingkarinya atasnya.
Ibnu Adi berkata dalam kitab Kamilnya: Hadis ini adalah salah satu yang diingkari atas Suwaid, demikian juga disebutkan oleh Al-Baihaqi dan Ibnu Tahir dalam Az-Zakhirah dan At-Tazkirah, dan Abu Al-Faraj Ibnu Al-Jauzi dan dia menghitungnya dari hadis-hadis palsu, dan Abu Abdullah Al-Hakim mengingkarinya meskipun dia toleran, dan dia berkata: “Aku heran dengannya.”
Aku berkata: Yang benar dalam hadis ini adalah bahwa itu dari perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma yang mauquf (berhenti) padanya, maka Suwaid salah dalam meninggikannya (menyandarkannya kepada Nabi).
Abu Muhammad bin Khalaf bin Al-Marzuban berkata: Abu Bakar bin Al-Azraq menceritakan kepada kami dari Suwaid dengannya, maka aku menegurnya tentang hal itu, lalu dia menghilangkan penyebutan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan setelah itu ketika ditanya tentangnya dia tidak meninggikannya, dan ini tidak menyerupai perkataan kenabian.
Adapun apa yang diriwayatkan Al-Khatib untuknya dari Az-Zuhri: Al-Mu’afa bin Zakariya menceritakan kepada kami, Qutbah bin Al-Fadhl menceritakan kepada kami, Ahmad bin Muhammad bin Masruq menceritakan kepada kami, Suwaid bin Mushir menceritakan kepada kami dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah secara marfu’ (dinisbatkan kepada Nabi), maka itu adalah kesalahan yang jelas dan Hisyam tidak membawa dari ayahnya dari Aisyah seperti ini menurut orang yang mencium sedikit saja aroma hadis, dan kami bersaksi dengan Allah bahwa Aisyah tidak pernah menceritakan ini dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali, dan Urwah tidak menceritakannya darinya, dan Hisyam tidak pernah menceritakannya sama sekali.
Adapun hadis Ibnu Al-Majisyun dari Abdul Aziz bin Abi Hazim dari Abu Najih dari Mujahid dari Ibnu Abbas secara marfu’, maka itu adalah kebohongan atas Ibnu Al-Majisyun, karena dia tidak menceritakan ini, dan Az-Zubair bin Bakkar tidak menceritakannya darinya, dan ini hanya dari susunan sebagian pemalsu, dan Subhanallah! Bagaimana sanad ini dapat menahan matan seperti ini? Maka Allah burukkan para pemalsu.
Dan Abu Al-Faraj Ibnu Al-Jauzi telah menyebutkannya dari hadis Muhammad bin Ja’far bin Sahl: Ya’qub bin Isa menceritakan kepada kami, dari anak Abdul Rahman bin Auf, dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid secara marfu’, dan ini adalah kesalahan yang buruk, karena Muhammad bin Ja’far ini adalah Al-Kharaiti, dan wafatnya tahun 327 H, maka mustahil dia bertemu dengan gurunya Ya’qub bin Abi Najih, apalagi dia telah meriwayatkannya dalam kitab Al-I’tidal, dari Ya’qub ini dari Az-Zubair dari Abdul Malik dari Abdul Aziz dari Ibnu Abi Najih, dan Al-Kharaiti ini terkenal dengan kelemahan dalam periwayatan, Abu Al-Faraj menyebutkannya dalam kitab Adh-Dhu’afa.
Perkataan para ahli hafiz Islam dalam mengingkari hadis ini adalah timbangan, dan kepada mereka dikembalikan dalam urusan ini, dan tidak ada seorang pun yang dapat diandalkan dalam ilmu hadis yang menshahihkan atau menghasankannya, dan dikembalikan dalam pentashihan kepadanya, dan tidak pula orang yang kebiasaannya toleran dan longgar, karena dia tidak membersihkan dirinya untuknya, dan cukuplah bahwa Ibnu Tahir yang toleran dalam hadis-hadis tasawuf, dan meriwayatkan darinya yang buruk dan yang baik, telah mengingkarinya dan bersaksi tentang kebatalannya.
Ya, dari Ibnu Abbas tidak diingkari hal itu darinya.
Dan Abu Muhammad bin Hazm telah menyebutkan darinya: bahwa dia ditanya tentang orang yang mati karena cinta, maka dia berkata: “Korban hawa nafsu tidak memiliki akal dan tidak ada qishash (pembalasan).”
Dan diangkat kepadanya di Arafah seorang pemuda yang telah menjadi seperti anak burung, maka dia berkata: “Apa yang terjadi padanya?” Mereka berkata: “Cinta.” Maka dia menghabiskan sebagian besar harinya meminta perlindungan dari cinta, dan telah disebutkan sebelumnya.
Maka inilah yang diriwayatkan darinya tentang hal itu.
Dan yang memperjelas hal itu adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menghitung para syuhada dalam hadis shahih, maka dia menyebutkan yang terbunuh dalam jihad, yang sakit perut, yang terbakar, wanita nifas yang dibunuh oleh anaknya, yang tenggelam, dan penderita radang selaput dada, dan dia tidak menyebutkan di antara mereka orang yang dibunuh oleh cinta.
Dan cukuplah bagi korban cinta bahwa sahih baginya atsar ini dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, bahwa dia tidak masuk surga sampai dia bersabar karena Allah, dan memelihara kesucian karena Allah, dan menyembunyikan karena Allah, namun pencinta jika dia bersabar dan memelihara kesucian dan menyembunyikan dengan kemampuannya atas kekasihnya, dan mengutamakan cinta Allah dan takut kepada-Nya dan ridha-Nya, maka dia lebih berhak masuk di bawah firman-Nya Ta’ala: “Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya” (Surat An-Nazi’at: 40-41).
Dan di bawah firman-Nya Ta’ala: “Dan bagi orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya ada dua surga” (Surat Ar-Rahman: 46).
Maka kami memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Tuhan Arsy Yang Mulia, agar Dia menjadikan kami termasuk orang yang mengutamakan cinta kepada-Nya atas hawa nafsunya, dan mengharapkan dengan itu kedekatan dan ridha-Nya.







