قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ:
“إِذَا اسْتَغْنَى النَّاسُ بِالدُّنْيَا فَاسْتَغْنِ أَنْتَ بِاللَّهِ، وَإِذَا فَرِحُوا بِالدُّنْيَا فَافْرَحْ أَنْتَ بِاللَّهِ، وَإِذَا أَنِسُوا بِأَحْبَابِهِمْ فَاجْعَلْ أُنْسَكَ بِاللَّهِ؛ تَنَلْ بِذَلِكَ غَايَةَ الْعِزِّ وَالرِّفْعَةِ.”
(Al-Fawa’id, hlm. 118)
“Jika manusia merasa cukup (merasa kaya) dengan dunia, maka jadikanlah Allah sebagai kecukupanmu. Jika mereka bergembira karena dunia, maka bergembiralah engkau karena Allah. Dan jika mereka merasa tenang (nyaman) dengan orang-orang yang mereka cintai, maka jadikanlah ketenanganmu hanya bersama Allah; niscaya dengan hal itu engkau akan meraih puncak kemuliaan dan derajat yang tinggi.”
Ibnu Al-Qayyim sedang mengajarkan konsep Isti’ghna’ billah (merasa cukup hanya dengan Allah). Beliau membagi ketergantungan manusia menjadi tiga aspek utama:
Ekonomi/Materi (Istighna): Merasa kaya bukan karena aset, tapi karena memiliki Sang Pemilik Aset.
Emosional (Farah): Mencari kebahagiaan pada sumber yang tidak akan sirna (Allah), bukan pada hiasan dunia yang fana.
Sosial (Uns): Menjadikan Allah sebagai sahabat sejati dalam kesendirian, sehingga tidak pernah merasa kesepian meskipun manusia menjauh.
Faedah:
1. Kemerdekaan Hati
Anda tidak akan mudah kecewa jika dunia menjauh, karena sandaran Anda adalah Dzat yang Maha Kekal.
2. Kesehatan Mental Mengurangi kecemasan (anxiety) akibat membandingkan pencapaian materi dengan orang lain (FOMO).
3. Eksklusivitas Spiritual Mencapai derajat Izzah (kemuliaan) yang tidak bisa dibeli dengan uang atau jabatan, karena kemuliaan tersebut datang langsung dari kedekatan dengan Sang Pencipta.
Refleksi Ramadan:
Di hari kedua ini, kutipan ini sangat relevan. Saat orang lain sibuk memikirkan menu berbuka yang mewah, kita diajak untuk lebih “kenyang” dengan kehadiran-Nya.
Penulis : Ustadz Kholid Syamhudi Hafidzahullah Ta’ala
👉 Ikuti saluran WhatsApp Ustadz Kholid Syamhudi:
https://whatsapp.com/channel/0029VayTSz317En4P2GFcH3f
Website: https://klikuk.ppiasragen.org







