Saudaraku…
Ramadhan akan datang…
Sebagian orang menyambutnya dengan daftar menu berbuka.
Sebagian lagi menyambutnya dengan jadwal libur dan rencana mudik.
Namun orang yang berilmu menyambut Ramadhan dengan hati yang gemetar.
Ia sadar, boleh jadi ini Ramadhan terakhirnya. Ia tahu, satu hari puasa bisa menjadi sebab diampuninya dosa-dosa bertahun-tahun. Maka ia tidak ingin puasanya sekadar menahan lapar, tetapi ingin menjadikannya persembahan terbaik untuk Rabb-nya.
Ilmu membuat puasa bernilai.
Ilmu membuat kita tahu bahwa menjaga lisan lebih berat daripada menahan haus.
Ilmu membuat kita sadar bahwa satu dosa bisa merusak pahala yang susah payah dikumpulkan.
Allah ﷻ berfirman:
﴿ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ﴾
“Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9).
Tidak sama…
Tidak sama antara yang berpuasa dengan ilmu dan yang berpuasa sekadar kebiasaan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ”
“Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, shahih).
Allah sendiri yang membalasnya… tanpa disebutkan batasnya.
Maka jangan biarkan puasa kita biasa-biasa saja.
Belajarlah sebelum Ramadhan tiba.
Pelajari fiqihnya, luruskan niatnya, bersihkan hatinya.
Agar ketika kita lapar dan haus, yang kita rasakan bukan sekadar kosong di perut — tetapi penuh di sisi Allah.
Semoga Allah mempertemukan kita dengan Ramadhan dalam keadaan siap, berilmu, dan layak mendapatkan pahala tanpa batas. Aamiin.
Penulis: Ustadz Agus Dwiyanto Nugroho, Lc.,M.P.I
Sumber: Saluran Whatsapp : Agus Dwiyanto Nugroho







