Utsman bin ‘Affan mengatakan:
إِنَّمَا أَعْطَاكُمُ اللهُ الدُّنْيَا لِتَطْلُبُوا بِهَا الدَّارَ الآخِرَةَ، وَلَمْ يُعْطِكُمُوهَا لِتَرْكَنُوا إِلَيْهَا، فَإِنَّ الدُّنْيَا تَفْنَى وَالآخِرَةَ تَبْقَى
“Sesungguhnya hanyalah Allah Ta‘ala memberikan dunia kepada kalian agar kalian mencari akhirat dengannya. Dia tidak memberikan dunia kepada kalian supaya kalian condong kepadanya. Karena sesungguhnya dunia itu akan sirna, sedangkan akhirat itu kekal abadi.”
📖 Al-Bidāyah wan Nihāyah 7/241
Nasihat Amirul Mukminin Utsman bin Affan ini memiliki makna yang sangat mendalam mengenai visi seorang mukmin terhadap kehidupan dunia.
1. Dunia adalah Alat (Sarana), Bukan Tujuan
Utsman menegaskan bahwa Allah memberikan dunia (harta, jabatan, kesehatan, waktu) sebagai modal. Kata kunci di sini adalah “li-tatlubu” (agar kalian mencari). Dunia ibarat kendaraan atau ladang garapan. Fungsinya adalah untuk mengantarkan manusia menuju tujuan akhir, yaitu akhirat.
2. Larangan untuk Condong (Terkecoh) pada Dunia
Kalimat “supaya kalian condong kepadanya” (dalam bahasa Arab menggunakan kata tarkanu) bermakna bersandar, merasa tenang, dan ridha sepenuhnya dengan dunia. Kholifah Utsman memperingatkan agar hati tidak terikat mati pada dunia.
Seorang mukmin boleh memegang dunia di tangannya, tetapi tidak boleh meletakkannya di dalam hatinya.
3. “Logika Keabadian vs. Kesementaraan
Nasihat ini ditutup dengan alasan yang sangat logis:
Dunia itu Fana (Sirna): Sehebat apapun nikmat dunia, ia memiliki batas waktu dan akan hancur/hilang.
Akhirat itu Baqa (Kekal): Tidak ada ujungnya.
Adalah sebuah kerugian besar jika seseorang menukar sesuatu yang kekal dan abadi demi sesuatu yang pasti akan lenyap.
Inti Pelajaran:
📌 Dunia hanyalah sarana, bukan tujuan. Gunakan ia untuk meraih akhirat yang kekal.







