Menggapai Cinta Ilahi dengan Zuhud

Minggu, 8 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Cinta Ilahi dapat juga digapai dengan berbuat zuhud didunia, sebagaimana dijelaskan dalam wasiat Nabi yang termaktub dalam hadits Sahl bin Sa’ad yang berbunyi:

أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اللَّهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُـحِبُّكَ النَّاسُ». حَدِيْثٌ حَسَنٌ ، رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَغَيْرُهُ بِأَسَانِيْدَ حَسَنَةٍ

“Ada seseorang yang datang kepada Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Wahai Rasulullâh! Tunjukkan kepadaku satu amalan yang jika aku mengamalkannya maka aku akan dicintai oleh Allah dan dicintai manusia.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Zuhudlah terhadap dunia, niscaya engkau dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya engkau dicintai manusia.” [Hadits hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Mâjah no. 4102, dan ini lafazhnya, Ibnu Hibbân dalam Raudhatul ‘Uqalâ` hlm. 128, Ath-Thabarâni dalam al-Mu’jamul Kabîr no. 5972, Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ’ VII/155, no. 9991, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iimân no. 10043, Ibnu ‘Adi dalam al-Kâmil III/458, Al-‘Uqaili dalam adh-Dhu’afâ` II/357, dan Al-Hâkim IV/313. Hadits ini dihasankan oleh Imam an-Nawawi, al-Hâfidz Ibnu Hajar al-Asqalâni, al-Irâqi, al-Haitsami, dan Syaikh al-Albâni rahimahumullâh dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah no. 944 dan Shahîh al-Jâmi’ash Shaghîr no. 922).

Hadits ini menjadi dasar dalam menjelaskan cara seorang memperoleh kecintaan Allah dan Manusia. Juga berisi pertanyaan yang menunjukkan ketinggian semangat para sahabat, karena kecintaan Allah adalah puncak semua cita-cita dan kecintaan manusia kepada seorang memiliki pengertian penunaian hak-hak mereka.

Seandainya seorang bersikap zuhud terhadap dunia dan menjadikan dunia ditangannya tidak dikalbunya, niscaya Allah Ta’ala mencintainya. Seandainya seorang tidak pernah meminta kepada orang lain dan tidak menginginkan harta milik mereka serta tidak kepo dan usil dengan orang lain, apakah manusia membencinya atau mencintainya?

Zuhud Sebab Meraih Cinta Alah dan Manusia.

Setiap manusia pada hakikatnya memiliki dua keinginan besar dalam hidupnya: dicintai oleh Allah dan dicintai oleh manusia. Dicintai Allah berarti memperoleh ridha, pertolongan, dan kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat. Dicintai manusia berarti memperoleh ketenangan sosial, kehormatan, dan kehidupan yang harmonis di tengah masyarakat.

Keinginan ini bukanlah sesuatu yang tercela. Bahkan, dalam hadits Sahl diatas, seorang sahabat secara jujur mengungkapkan harapan tersebut di hadapan Rasulullah. Ia tidak meminta harta, kedudukan, atau kemuliaan dunia. Ia justru meminta sesuatu yang lebih tinggi dan lebih mulia: amalan yang menjadikannya dicintai Allah dan dicintai manusia.

  1. Makna Zuhud dalam Perspektif Islam

Secara bahasa, zuhud berarti berpaling dari sesuatu karena menganggapnya kecil atau tidak bernilai. Adapun secara istilah syar’i, para ulama menjelaskan bahwa zuhud bukan berarti meninggalkan dunia secara total, bukan pula mengharamkan yang halal.

Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan:

الزهد في الدنيا ليس بتحريم الحلال ولا بإضاعة المال، ولكن أن تكون بما في يد الله أوثق منك بما في يدك

“Zuhud terhadap dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan bukan pula dengan menyia-nyiakan harta, tetapi hendaknya apa yang ada di sisi Allah lebih engkau yakini daripada apa yang ada di tanganmu.” (Jaami’ al-Ulum wa al-Hikam 1/188)

Dengan demikian, zuhud adalah sikap hati. Seseorang boleh memiliki harta, jabatan, dan kenikmatan dunia, tetapi hatinya tidak bergantung kepada semua itu. Dunia berada di tangannya, bukan di hatinya.

  1. Zuhud sebagai Jalan Meraih Cinta Allah

Dalam hadis tersebut, Nabi menyebutkan terlebih dahulu:

ازهد في الدنيا يحبك الله

“Bersikaplah zuhud terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu.”

Ini menunjukkan bahwa cinta Allah diraih dengan membersihkan hati dari dominasi dunia. Dunia pada hakikatnya bersifat sementara, sedangkan Allah mencintai hamba yang lebih mengutamakan akhirat.

Ibnul Qayyim al-Jauziyah berkata:

محبة الله لا تنال إلا بإيثار محابه على محاب النفس

“Cinta Allah tidak akan diraih kecuali dengan mendahulukan apa yang Allah cintai di atas kecintaan diri sendiri.” (Madarij as-Salikin 3/17).

Zuhud adalah bentuk nyata dari mendahulukan kecintaan Allah di atas kecintaan terhadap dunia. Ketika seorang hamba lebih memilih ridha Allah daripada kenikmatan dunia, maka ia telah menapaki jalan cinta Ilahi.

Zuhud juga melahirkan keikhlasan. Orang yang zuhud tidak beribadah demi pujian, tidak berdakwah demi popularitas, dan tidak beramal demi keuntungan materi. Ia beramal karena Allah semata. Hati yang ikhlas inilah yang dicintai Allah.

  1. Zuhud sebagai Jalan Meraih Cinta Manusia

Bagian kedua hadis menyatakan:

وازهد فيما في أيدي الناس يحبك الناس

“Dan bersikaplah zuhud terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya manusia mencintaimu.”

Manusia pada tabiatnya tidak menyukai orang yang tamak terhadap milik mereka. Mereka membenci orang yang selalu berharap pemberian, iri terhadap harta mereka, atau berambisi mengambil kedudukan mereka.

Sebaliknya, manusia akan mencintai orang yang qana’ah, merasa cukup, dan tidak mengganggu hak-hak mereka. Ketika seseorang tidak menggantungkan harapannya kepada manusia, ia akan hidup dengan terhormat. Ia tidak merendahkan dirinya dengan meminta-minta, dan tidak pula menyakiti hati orang lain dengan ambisi dunia.

Zuhud terhadap milik manusia melahirkan kemuliaan diri (ʿizzah), ketenangan sosial, dan hubungan yang harmonis.

Hadis ini menunjukkan keseimbangan Islam antara hubungan vertikal (hablum minallah) dan hubungan horizontal (hablum minannas).

  1. Zuhud terhadap dunia → memperbaiki hubungan dengan Allah.
  2. Zuhud terhadap milik manusia → memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

Zuhud bukan sekadar ajaran asketisme, tetapi metode pembinaan karakter. Ia melatih hati untuk ridha, sabar, dan tawakal. Ia menumbuhkan rasa cukup (qana’ah) dan menghilangkan sifat iri serta tamak.

Dengan demikian, zuhud adalah fondasi bagi kebahagiaan spiritual dan sosial sekaligus.

Kesimpulan

Hadis Nabi tentang zuhud merupakan kaidah besar dalam meraih cinta Allah dan cinta manusia.

Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia sepenuhnya, tetapi membersihkan hati dari ketergantungan yang berlebihan kepada dunia. Zuhud menjadikan seorang hamba lebih ikhlas, lebih tawakal, dan lebih mengutamakan akhirat. Sikap inilah yang mendatangkan cinta Allah.

Di sisi lain, zuhud terhadap apa yang ada di tangan manusia melahirkan kemuliaan diri, qana’ah, dan keharmonisan sosial. Inilah sebab seseorang dicintai manusia.

Dengan demikian, zuhud adalah jalan kebahagiaan yang menyatukan cinta langit dan cinta bumi.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang zuhud terhadap dunia dan memperoleh cinta-Nya.

 

Penulis : Ustadz Kholid Syamhudi Hafidzahullah Ta’ala

Artikel Terjkait

Arsitektur Jiwa dan Peta Pergaulan
Resep Penawar Hati yang Rusak
Meraih Cinta Allah dengan Ittibā’ dan Zuhud
Magnet Jiwa: Mengapa Kebahagiaan Hanya Hinggap pada Kebaikan?
TENANGKAN HATI DENGAN BERDZIKIR
MUHASABAH DI MALAM NAN SUNYI
Memperbaiki Diri Sebelum Menilai Orang Lain
Kesepian Sang Pendosa: Saat Hati Kehilangan Kedamaian
Berita ini 9 kali dibaca

Artikel Terjkait

Minggu, 22 Maret 2026 - 07:49 WIB

Arsitektur Jiwa dan Peta Pergaulan

Jumat, 13 Maret 2026 - 04:07 WIB

Resep Penawar Hati yang Rusak

Minggu, 8 Maret 2026 - 00:49 WIB

Meraih Cinta Allah dengan Ittibā’ dan Zuhud

Minggu, 8 Maret 2026 - 00:03 WIB

Menggapai Cinta Ilahi dengan Zuhud

Selasa, 3 Maret 2026 - 04:41 WIB

Magnet Jiwa: Mengapa Kebahagiaan Hanya Hinggap pada Kebaikan?

Artikel Terbaru

Fikih

MENGUTAMAKAN QADHA PUASA RAMADHAN DARIPADA PUASA SYAWWAL

Minggu, 29 Mar 2026 - 15:02 WIB

Fikih

MENYEMPURNAKAN RAMADHAN DENGAN PUASA SYAWWAL

Minggu, 29 Mar 2026 - 14:46 WIB

Ibadah

Istiqomah Pasca Ramadhan

Jumat, 27 Mar 2026 - 16:30 WIB

Dakwah

Ujian: Surat Cinta yang Mengajak Kembali ke Pelukan Ilahi

Jumat, 27 Mar 2026 - 16:25 WIB

Dakwah

Rahasia Terbukanya Pintu Rahmat

Rabu, 25 Mar 2026 - 14:45 WIB