Mengenal Nama Allah “Al-Majid”

Kamis, 20 Februari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Allah memiliki nama-nama yang indah dan penuh makna yang dikenal dengan Al-Asmaul Husna. Salah satunya adalah Al-Majid, nama yang mencerminkan kebesaran dan kemuliaan-Nya yang tak terbatas. Nama ini mengingatkan kita pada keagungan sifat-sifat Allah yang mencakup segala kesempurnaan yang tidak dapat dijangkau oleh makhluk.

Dalam artikel ini, kita akan membahas dalil, makna, dan implikasi nama Al-Majid bagi kehidupan seorang hamba. Semoga pembahasan ini menginspirasi kita untuk lebih mengenal dan mengagungkan Allah dalam setiap aspek kehidupan.

Dalil nama Allah “Al-Majid”

Nama ini disebutkan sebanyak dua kali dalam Al-Qur’an:

Pertama: Dalam firman Allah,

رَحْمَتُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَّجِيدٌ

“Rahmat Allah dan berkah-Nya atas kamu, wahai Ahlul Bait! Sesungguhnya Dia Maha Terpuji, Mahamulia.” (QS. Hud: 73)

Kedua: Dalam firman-Nya,

وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ  ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُ

“Dan Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Pengasih. Pemilik ‘Arsy yang mulia.” (QS. Al-Buruj: 14-15)

Pada ayat kedua ini, kata “Al-Majid” dibaca dengan dua cara:

Pertama: Dengan rafa’ (Al-Majidu) sebagai sifat Allah. [1]

Kedua: Dengan jar (Al-Majidi) sebagai sifat bagi ‘Arasy. [2]

Kandungan makna nama Allah “Al-Majid

Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-Majid” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.

Makna bahasa dari “Al-Majid

Az-Zajjaji (w. 337 H) mengatakan,

“Al-Majid adalah (الكريم) yang dermawan, dan al-majdu berarti kemurahan hati. Kata ini berasal dari ungkapan Arab, «أمجدت الدابة علفًا» ‘Aku memuliakan binatang dengan makanannya’; yang berarti (إذا أكثرته لها) memberinya makanan yang banyak.” [3]

Ibn Faris (w. 395 H) mengatakan,

“(huruf mimjim, dan dal) merupakan akar kata yang sahih, yang menunjukkan pencapaian pada puncak. Makna ini hanya digunakan dalam konteks yang terpuji. Dari akar kata ini muncul istilah al-majdu, yang berarti (بُلُوغُ النِّهَايَةِ فِي الْكَرَمِ) pencapaian puncak dalam kemurahan hati.” [4]

Al-Fayyumi (w. sekitar 770 H) mengatakan,

: (م ج د)

الْمَجْدُ الْعِزُّ وَالشَّرَفُ وَرَجُلٌ مَاجِدٌ كَرِيمٌ شَرِيف

(huruf mim, jim, dan dal) berarti kemuliaan dan kehormatan.

Seorang yang disebut majid adalah orang yang dermawan, mulia, dan terhormat.” [5]

Dapat disimpulkan bahwa makna al-majdu (secara bahasa) meliputi:

Pertama: Kemuliaan yang sempurna dan lengkap.

Kedua: Kelimpahan dan keluasan. [6]

Makna “Al-Majid” dalam konteks Allah

Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Si’diy mengatakan,

وأما المجد فهو سعة الصفات وعظمتها، فالمجيد يرجع إلى عظمة أوصافه وكثرتها وسعتها، وإلى عظمة ملكه وسلطانه، وإلى تفرده بالكمال المطلق والجلال المطلق والجمال المطلق، الذي لا يمكن العباد أن يحيطوا بشيء من ذلك.

Adapun Al-Majd adalah keluasan sifat-sifat Allah dan keagungannya. Maka, Al-Majid merujuk pada keagungan sifat-sifat Allah, banyaknya, dan luasnya sifat-sifat tersebut. Ia juga merujuk pada keagungan kerajaan dan kekuasaan-Nya, serta pada keunikan-Nya dalam kesempurnaan mutlak, keagungan mutlak, dan keindahan mutlak yang tidak mungkin dapat dilingkupi oleh hamba-hamba-Nya.” [7]

Secara lebih rinci, Syekh Abdul Razzaq Al-Badr mengatakan,

وهو من الأسماء الحسنى الدالة على أوصاف عديدة لا على معنى مفرد. ومعناه واسع الصفات عظيمها كثير النعوت كريمها

Al-Majid termasuk nama-nama Allah yang indah (Al-Asmaul Husna), yang menunjukkan banyak sifat, bukan hanya satu makna tunggal. Maknanya adalah luasnya sifat-sifat Allah, keagungannya, banyaknya sifat-sifat tersebut, dan kemuliaannya.

Kemudian, beliau melanjutkan, “Allah adalah yang terbesar dari segala sesuatu, yang paling agung dari segala sesuatu, yang paling mulia, dan yang paling tinggi. Dialah yang memiliki penghormatan dan keagungan di hati para wali-Nya dan hamba-hamba pilihan-Nya. Hati mereka penuh dengan penghormatan, keagungan, ketundukan, dan kerendahan kepada kebesaran-Nya.

Tidak ada kemuliaan, kecuali kemuliaan-Nya. Tidak ada keagungan, kecuali keagungan-Nya. Tidak ada keindahan, keagungan, atau kebesaran, kecuali milik-Nya. Nama-nama-Nya semua menunjukkan kemuliaan, sifat-sifat-Nya penuh dengan kemuliaan, dan perbuatan serta ucapan-Nya adalah kemuliaan. Allah adalah Yang Mahamulia dalam zat, sifat, dan perbuatan-Nya.” [8]

Konsekuensi dari nama Allah “Al-Majid” bagi hamba

Penetapan nama “Al-Majid” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:

Pertama: Beriman kepada luasnya karunia Allah

Keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki karunia yang luas dan anugerah-Nya yang melimpah, mencakup orang beriman dan kafir, yang baik maupun yang durhaka. Allah memuliakan diri-Nya dengan hal ini dalam firman-Nya,

وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34)

Kedua: Mengagungkan Allah melalui tilawah Al-Qur’an

Salah satu cara terbesar untuk mengagungkan dan memuliakan Allah adalah dengan membaca kitab-Nya pada waktu malam dan siang. Sebab, tidak ada seorang pun yang dapat menghitung pujian kepada Allah sebagaimana Dia memuji diri-Nya sendiri.

Dalam hadis qudsi, Allah berfirman,

قَسَمتُ الصلاةَ بيني وبين عبدي نِصْفَين؛ ولعبدي ما سَأل، فإذا قال العبد: (الحمدُ للهِ ربِّ العَالمين)، قال الله تعالى: حَمَدني عبدي، وإذا قال: (الرَّحْمَن الرَّحِيم)، قال الله تعالى: أثْنى عليَّ عبدي، وإذا قال: (مالك يوم الدين)، قال: مجَّدني عبدي…

“Aku membagi salat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Setengahnya untuk-Ku dan setengahnya untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.

Ketika hamba itu berkata, (الحمدُ للهِ ربِّ العَالمين), Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku.’

Ketika dia berkata, (الرَّحْمَن الرَّحِيم), Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.’

Ketika dia berkata, (مالك يوم الدين), Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah memuliakan-Ku …’ ” (HR. Muslim no. 296) [9]

Ketiga: Berzikir, bertasbih, dan memuji Allah

Kemudian, di antara cara terbesar untuk mengagungkan Allah adalah dengan banyak mengingat-Nya, bertasbih, memuji-Nya, bertakbir, bertahlil, dan melakukan zikir-zikir lain, seperti: hauqalah (ucapan lahaula walaquwwata illa billah), basmalahhasbalah (hasbunallah wa ni’mal wakil), istigfar, dan berdoa untuk kebaikan dunia dan akhirat.

Keadaan ini adalah ciri orang-orang yang berzikir, yang keberadaannya membawa kebahagiaan bagi teman mereka, seperti para nabi, orang-orang yang sangat jujur (shiddiqin), para syuhada, dan orang-orang saleh. Sebagaimana disebutkan dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إنَّ لله ملائكة يَطُوفون في الطُّرق؛ يلتمسون أهلَ الذكر، فإذا وَجَدوا قوماً يَذْكرون الله؛ تنادوا: هلُمُّوا إلى حَاجتكم، قال: فيَحفُّونهم بأجْنحتهم إلى السَّماء الدنيا، قال: فيَسألهم ربُّهم عزّ وجل وهو أعلمُ منهم: ما يقولُ عِبَادي؟ قال تقول: يُسبّحونك ويكبرِّونك ويَحْمدونك ويُمجِدُونك، قال فيقول: كيفَ لو رأوني؟ قال: يقولون: لو رأوك كانوا أشدَّ لكَ عبادةً، وأشدّ لك تمجيداً، وأكثر لك تسبيحاً…، حتى قال تعالى: فأُشْهدكم أني قد غفرتُ لهم، قال يقول ملكٌ من الملائكة: فيهم فلانٌ ليس منهم، إنما جاء لحاجة، قال: هم الجُلَساء لا يشقى جليسهم.

Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berkeliling di jalan-jalan mencari orang-orang yang berzikir. Ketika mereka menemukan suatu kaum yang berzikir kepada Allah, mereka memanggil satu sama lain, ‘Mari menuju tujuan kita!’ Maka, mereka mengelilingi mereka dengan sayap-sayap mereka hingga ke langit dunia. Kemudian Allah bertanya kepada mereka, padahal Dia lebih mengetahui dari mereka, ‘Apa yang diucapkan oleh hamba-hamba-Ku?’ Malaikat menjawab, ‘Mereka memuji-Mu, membesarkan-Mu, memuliakan-Mu, dan mengagungkan-Mu.’ Allah berfirman, ‘Bagaimana jika mereka melihat-Ku?’ Mereka berkata, ‘Jika mereka melihat-Mu, niscaya mereka akan lebih beribadah kepada-Mu, lebih memuliakan-Mu, dan lebih banyak bertasbih kepada-Mu’ … Hingga Allah berfirman, ‘Aku bersaksi kepada kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka.’ Kemudian seorang malaikat berkata, ‘Di antara mereka ada seorang yang bukan bagian dari mereka. Ia hanya datang untuk suatu keperluan.’ Allah berfirman, ‘Mereka adalah kaum yang tidak membuat celaka orang yang duduk bersama mereka.’” (HR. Bukhari, 11: 208-209) [10]

Ya Allah, kami memuji dan mengagungkan-Mu, dan memohon ampunan dari segala dosa dan kesalahan. Jadikan kami termasuk dalam golongan yang selalu menyebut nama-Mu, memuji, dan membaca kitab-Mu pada setiap waktu. Ampunilah dosa-dosa kami dan limpahkanlah karunia-Mu di dunia dan akhirat.

Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabat-sahabatnya.

 

Penulis: Prasetyo Abu Ka’ab

Facebook Comments Box

Artikel Terjkait

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT
Kontradiksi dalam Pengakuan & Pengingkaran
MAKNA BERIMAN KEPADA KITAB-KITAB
METODE ASY’ARIYAH DALAM AKIDAH
Pemikiran Ibnul Qayyim Tentang ‘Pemikiran’
Penjelasan Dalil Dalam Memutus Hujjah Ahli Ta’til (Penyangkal Sifat Allah)
Rukun Iman
Kelembutan Hati dan Tangisan
Berita ini 11 kali dibaca

Artikel Terjkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 03:47 WIB

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:36 WIB

Kontradiksi dalam Pengakuan & Pengingkaran

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:29 WIB

MAKNA BERIMAN KEPADA KITAB-KITAB

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:06 WIB

METODE ASY’ARIYAH DALAM AKIDAH

Kamis, 8 Januari 2026 - 14:59 WIB

Pemikiran Ibnul Qayyim Tentang ‘Pemikiran’

Artikel Terbaru

Pendidikan

KETIKA KEJUJURAN PUN BISA MENJADI FITNAH

Rabu, 4 Feb 2026 - 02:49 WIB

Dakwah

Fawaid ilmiya 12

Rabu, 4 Feb 2026 - 02:46 WIB

Kitab Ulama

AL-FAWAID (KUMPULAN FAIDAH)

Rabu, 4 Feb 2026 - 02:45 WIB

Kitab Ulama

Agama-agama dan Mazhab-mazhab

Rabu, 4 Feb 2026 - 02:44 WIB