Ahmad bin Sinan (wafat 256 H) berkata, “Dalam majelis Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah (wafat 198 H) tidak ada seorang pun yang berbicara, tidak ada pensil yang diraut, dan tidak ada seorang pun yang berdiri. Seolah-olah di kepala mereka ada burung atau seolah-olah mereka sedang salat.”
Dalam riwayat lain dari Ahmad bin Sinan ada kalimat tambahan, “Jika ia (Abdurrahman bin Mahdi) melihat salah seorang di antara mereka tersenyum atau bercakap-cakap, maka ia memakai sandalnya lalu keluar.”
Perkataan Ahmad bin Sinan itu termuat dalam kitab Tadzkiratul Huffazh dan Siyar A’lamin Nubala’ sebagaimana dinukil Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas dalam buku Adab & Akhlak Penuntut Ilmu (Pustaka At-Taqwa, Bogor).
Rupanya ada jarak yang cukup jauh antara majelis Abdurrahman bin Mahdi dengan kelas-kelas para pelajar di sekolah-sekolah Islam (juga sekolah umum) saat ini.
Sang guru bukanlah Abdurrahman bin Mahdi, dan murid-murid bukanlah thullabul hadits. Kita dan murid-murid adalah warga sekolah yang dituntut bertahan selama 4-5 sesi pelajaran (kira-kira dari awal duha hingga asar) untuk belajar dan mengajar, mendidik dan dididik, dengan harapan kelak dalam beberapa semester, murid-murid itu lulus sesuai dengan standar kompetensi atau profil lulusan yang ditetapkan sekolah.
Guru harus tetap mengajar dan melanjutkan jam pelajaran meski para murid mengantuk, berbicara dengan teman sebangku, tidak antusias atau tidak memperhatikan pelajaran. Guru tidak boleh menganggap mereka sebagai ‘lahan gersang’ yang mustahil digarap. Tidak. Itu sama artinya dengan melanggar etika dan profesionalisme guru. Justru merupakan tugas dan tanggung jawab guru untuk menggemburkan ‘lahan gersang’ yang dihadapinya.
Kelas yang sunyi tenang merupakan setting yang kondusif untuk guru selalu berceramah, akan tetapi kelas yang berisik bisa menjadi penunjuk ‘murid bermasalah’ -setidaknya bermasalah dari segi adab. Murid-murid kita sekali lagi bukanlah para penuntut ilmu zaman dulu yang ciri-cirinya bisa kita baca di kitab-kitab hadis, atsar atau riwayat. Mereka berangkat dari hingar-bingar medsos, dari pasangan-pasangan yang mungkin kurang menyadari pentingnya pendidikan keluarga, dan/atau mengikuti satu teori lama: merupakan para pembelajar bergaya kinestetik.
Kelas adalah akumulasi dari ‘pengalaman belajar’ murid sebelum dan setelah masuk kelas. Mungkin yang dipandang sebagai masalah adab, sebenarnya hanyalah masalah teknik mengajar, metode pembelajaran dan/atau manajemen kelas.
Beberapa rekan guru menerapkan pembelajaran menyenangkan, terutama di sesi-sesi terakhir, misalnya dengan mengadakan gamifikasi, kuis, atau belajar lewat ponsel. Ada yang menerapkan strategi follow the children (semacam yang digagas Montessori) yaitu menuruti kecenderungan murid. Jika suka coret-coret ditugasi menggambar, suka ngobrol ditugasi berdebat, dan suka bergerak ditugasi melakukan investigasi lapang.
Akan tetapi berdasar pengalaman pribadi: yang dipersepsi menyenangkan tidak selalu dibarengi terserapnya konten oleh murid. Murid gembira dan tampak belajar, tetapi konten tidak benar-benar sampai atau dipahami. Guru seakan diuntungkan dengan munculnya persepsi bahwa belajar bersama dirinya itu tidak sulit, menyenangkan, tetapi kompetensi yang diharapkan tidak tercapai. Saat guru menerapkan pembelajaran yang menekankan soft skill (kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, berpikir kritis dan kreatif), sebagian murid merasa tidak diajari apa-apa. Lagi-lagi selaku guru yang berusaha profesional, evaluasi dan revisi strategi pembelajaran menjadi satu hal yang perlu selalu dilakukan.
***
Kontrak belajar dan keharusan untuk taat aturan perlu ditegaskan ulang di awal pembelajaran. Misalnya tepat ketika bel berbunyi sudah tidak ada lagi murid yang izin ke toilet, mengisi botol air minum, atau masih santap makan siang. Guru harus menerapkan pembelajaran yang ‘tidak memberi ruang ngobrol’ (maksudnya ngobrol di luar materi) bagi murid.
Murid ngobrol biasanya karena guru terlalu lama berceramah. Untuk itu solusinya ceramah harus dipersingkat misalnya maksimal 10–15 menit. Masalah diperparah jika ternyata guru tidak pandai bercerita, materi ceramah tidak menarik, tidak ada media (misalnya tayangan slide atau video), materi terasa tidak dibutuhkan, tidak jelas manfaatnya atau kurang relevansinya dengan kehidupan nyata.
Pelibatan murid dalam pembelajaran, baik diskusi atau penugasan akan membuatnya tidak sempat mengobrol. Guru perlu melibatkan murid dalam pembelajaran aktif. Di tengah ceramah guru bisa menyelipkan pertanyaan cepat, meminta respon angkat tangan atau tugas singkat selama 1–2 menit. Setelah berceramah berilah lembar diskusi kelompok atau soal individual. Kemudian bisa dilanjutkan dengan presentasi, atau diskusi kelas. Teknik pembelajaran yang berseling dan variatif diharapkan dapat mencegah dan mengalihkan murid dari mengantuk, mengobrol atau mencari perhatian secara negatif dengan berulah di dalam kelas. Sesekali bisa diterapkan kegiatan-kegiatan ice breaking.
***
Dalam setting persekolahan, bukan pesantren atau kuttab, masalah adab berseliweran hampir tiap hari dan tiap saat. Sekolah bisa saja bilang bahwa budaya di rumah (didikan orang tua) yang keliru adalah sebab dari tidak tumbuhnya adab pada diri murid-murid. Orang tua kemudian menepis tudingan dan justru menunjuk sekolah sebagai pihak yang gagal menumbuhkan adab pada diri anaknya. Bukankah waktu jauh lebih banyak dihabiskan di sekolah ketimbang di rumah?
Harus diakui, sekolah-sekolah konvensional masih banyak yang bergaya ‘cetakan’ atau ‘pabrik’ profil lulusan. Dari sini, pendekatan invidual perlu diterapkan sebagai pengimbang. Perlu pendekatan pribadi yang merupakan bimbingan (guidance) daripada sekadar transfer pengetahuan secara massal. Banyak siswa kebingungan menghadapi dirinya sendiri, kebingungan merumuskan tujuan hidup, cita-cita atau profesi di masa depan. Problem intinya ialah ketidakselarasan antara minat, bakat, dan tekanan eksternal (misalnya keinginan orang tua dan proses pendidikan yang sedang dijalani).
Belum lagi masalah-masalah psikologis sehari-hari yang muncul akibat interaksi sosial dengan teman. Ini juga menghadirkan tekanan.
Sementara mesin pabrik terus berjalan, pengecekan terhadap bahan baku dan proses cetakan mesti dilakukan secara cermat dan hati-hati. Masalah-masalah adab di kelas seringkali merupakan pantulan atau percikan dari masalah-masalah psikologis yang lebih besar di bawahnya.
Kalau lembaga pendidikan melalaikan atau menganggap sepele masalah-masalah pribadi para muridnya, maka yang rugi adalah lembaga pendidikan itu sendiri. Murid menjadi konsumen yang tidak puas, demikian pula orang tua yang selama ini tidak pernah diajak dan tak tahu menahu tentang masalah-masalah putra-putrinya. Murid-murid ini kemudian lulus bersama testimoni negatif (meski disertai pula dengan pemakluman).
Masalah seperti berputar tiada akhir karena usaha penciptaan ekosistem adab tidak pernah diupayakan atau tidak dimaksimalkan. Guru masih tidak memberi teladan, tidak ada kerja sama orang tua-sekolah, penumbuhan adab tidak dijadikan tujuan utama pendidikan (tujuan utamanya lulus PTN atau kuliah di luar negeri), tidak ada integrasi nilai-nilai ke dalam pelajaran, tidak ada konseling dan pembinaan mental, tidak ada pelatihan musyrif atau guru pembimbing, tidak ada rekayasa kurikulum yang terintegrasi dan seterusnya.
Kalau kita berani mengambil solusi yang sistemik dan fundamental, maka masih ada titik-titik harapan bahwa kelas-kelas kita akan menjadi kelas yang kondusif, beradab dan karenanya efektif. Mungkin tidak sesyahdu majelisnya Abdurrahman bin Mahdi, akan tetapi paling kurang: tidak menjadi rimba raya yang karut marut lantaran masalah-masalah adab.
Wallahu a’lam bis shawab.
Penulis: Deny Firmansyah, S.S. (Praktisi Pendidikan)







