وَقَدْ قِيلَ: “مَثَلُ جُمْلَةِ النَّاسِ كَمَثَلِ الشَّجَرِ وَالنَّبَاتِ:
١- فَمِنْهَا مَا لَهُ ظِلٌّ وَلَيْسَ لَهُ ثَمَرٌ، وَهُوَ مَثَلُ الَّذِي يُنْتَفَعُ بِهِ فِي الدُّنْيَا دُونَ الْآخِرَةِ، فَإِنَّ نَفْعَ الدُّنْيَا كَالظِّلِّ السَّرِيعِ الزَّوَالِ.
٢- وَمِنْهَا مَا لَهُ ثَمَرٌ وَلَيْسَ لَهُ ظِلٌّ.
٣- وَمِنْهَا مَا لَيْسَ لَهُ وَاحِدٌ مِنْهُمَا كَأُمِّ غَيْلَانَ، تُمَزِّقُ الثِّيَابَ وَلَا طَعْمَ فِيهَا وَلَا شَرَابَ.
وَمِثْلُهُ مِنَ الْحَيَوَانِ: الْحَيَّةُ وَالْعَقْرَبُ وَالْفَأْرُ.
وَمِثْلُهُ فِي النَّبَاتِ: الْخُنَّيْزُ، فَإِنَّهُ يُضَيِّقُ عَلَى الزَّرْعِ وَيَضُرُّ مَنْ لَمَسَهُ وَلَا يُؤْكَلُ وَلَا لَهُ ثَمَرٌ يُؤْكَلُ، وَيَشْرَبُ مَاءَ الزَّرْعِ وَيَعُوقُ نُمُوَّهُ… إِذًا فَلَا بُدَّ مِنَ الْإِخْتِيَارِ قَبْلَ الْمُعَامَلَةِ.”
“Telah dikatakan: ‘Perumpamaan manusia secara umum adalah seperti pepohonan dan tumbuh-tumbuhan:
Ada yang memiliki naungan (bayangan) namun tidak berbuah. Ini adalah perumpamaan bagi orang yang memberi manfaat di dunia saja namun tidak untuk akhirat. Karena manfaat dunia itu seperti bayangan yang cepat hilang.
Ada yang memiliki buah namun tidak memiliki naungan.
Ada yang tidak memiliki keduanya (tidak teduh dan tidak berbuah), seperti pohon Ummu Ghailan (pohon berduri); ia merobek pakaian, tidak ada rasa (lezat) padanya, dan tidak pula ada air (untuk diminum).
Perumpamaannya dari jenis hewan adalah ular, kalajengking, dan tikus.
Perumpamaannya dari jenis tumbuhan adalah Khunnais; ia menyempitkan ruang tumbuh tanaman lain, menyakiti orang yang menyentuhnya, tidak bisa dimakan, dan tidak berbuah. Ia menyerap air tanaman lain dan menghambat pertumbuhannya…
Maka, harus ada seleksi (pilihan) sebelum menjalin hubungan (muamalah).'”
Mawariduz zaman 2/213-214
Penulis kitab Mawariduz Zam’an ini mengajak kita melihat realitas sosial melalui kacamata ekosistem. Ada manusia yang manfaatnya fana (hanya urusan materi/dunia), ada yang saleh secara pribadi namun kurang nampak manfaat sosialnya, dan ada tipe “parasit” atau “predator” yang tidak hanya tidak berguna, tetapi justru merusak orang-orang di sekitarnya.
Pelajaran Penting
Pentingnya Selektivitas dalam Bergaul
Kalimat penutup “Lā budda minal ikhtiyār” (Harus ada pilihan) adalah kunci. Kita tidak bisa sembarangan menjadikan seseorang teman dekat atau rekan bisnis tanpa melihat “buah” (karakter) dan “naungan” (manfaat)-nya.
Waspada Terhadap Karakter Parasit
Belajar dari analogi tumbuhan Khunnais, kita harus waspada terhadap orang yang hanya memanfaatkan sumber daya kita (menyerap air), menghambat kemajuan kita, namun justru menyakiti jika didekati.
Orientasi Manfaat yang Kekal
Manfaat duniawi disamakan dengan bayangan (zhill) karena ia bergerak dan hilang seiring matahari terbenam. Jadilah manusia yang tidak hanya memberi “teduh” (kenyamanan duniawi), tapi juga “buah” (pahala/amal jariyah).
Mengenali “Duri” dalam Pergaulan
Ada tipe manusia yang kehadirannya hanya merusak “pakaian” (harga diri atau urusan) orang lain tanpa memberikan solusi atau kebaikan sedikit pun.
Penulis : Ustadz Kholid Syamhudi Hafidzahullah Ta’ala







