KETIKA KITA MENGHUKUM NIAT ORANG LAIN
By. Madrasah Plus
Salah satu penyakit hati yang paling halus, namun paling berbahaya, adalah keberanian menilai niat orang lain. Ia sering datang tanpa disadari, menyamar sebagai “kewaspadaan”, “kritis”, atau bahkan “amar makruf”. Padahal, di baliknya, tersimpan kesombongan yang pelan-pelan mengeras di dalam hati.
Kita hidup di zaman ketika ekspresi ibadah mudah sekali dipertontonkan. Ada yang menangis dalam shalat, ada yang khusyuk dalam doa, ada yang istiqamah dalam amal. Sayangnya, tidak semua kebaikan disambut dengan doa. Sebagian justru disambut dengan kecurigaan.
“Paling riya.”
“Paling cari perhatian.”
“Ah, itu kan dibuat-buat.”
Kalimat-kalimat semacam ini sering meluncur ringan, seolah tidak membawa dampak apa pun. Padahal, dalam pandangan para ulama, menuduh niat adalah perkara besar yang bisa berbalik menjadi bencana bagi hati orang yang melakukannya.
Imam Makhul رحمه الله pernah memberikan pelajaran yang sangat dalam. Ibn Abi Dunya meriwayatkan ucapannya:
“Aku pernah melihat seorang laki-laki menangis dalam shalatnya. Lalu aku menuduhnya berbuat riya. Maka aku pun diharamkan untuk menangis selama satu tahun.”
Perhatikan kalimat terakhirnya. Bukan sekadar “aku menangis selama setahun”, tetapi “aku diharamkan menangis selama setahun”.
Ini bukan kisah tentang air mata semata. Ini adalah kisah tentang hukuman hati. Tentang bagaimana prasangka buruk kepada seorang hamba yang sedang beribadah justru membuat Allah menutup pintu kelembutan hati dari orang yang berprasangka itu sendiri.
Imam Makhul رحمه الله tidak sedang membicarakan orang yang ia tuduh. Ia sedang mengakui kesalahan dirinya. Kesalahan karena telah masuk ke wilayah yang bukan hak manusia. Kesalahan karena merasa mampu menilai sesuatu yang hanya Allah yang berhak menilainya.
Niat adalah rahasia terdalam antara seorang hamba dan Rabb-nya. Ia tidak bisa diukur dari suara tangisan, panjangnya doa, atau lamanya sujud. Bahkan air mata pun tidak selalu menjadi tanda keikhlasan, dan keringnya mata tidak selalu menjadi tanda kerasnya hati.
Seseorang bisa menangis karena Allah, sambil takut kalau air matanya tercampur riya. Dan seseorang bisa tampak tenang, sementara hatinya bergetar hebat di hadapan Rabb-nya.
Ketika kita menuduh riya, sering kali tanpa sadar kita sedang memposisikan diri seolah lebih suci. Seolah amal kita lebih aman. Padahal, bisa jadi prasangka itulah yang justru merusak amal kita sendiri.
Para ulama mengingatkan, menjaga hati dari penyakit batin sering kali lebih berat daripada menjaga anggota badan dari maksiat. Dan di antara penyakit batin yang paling licin adalah merasa aman saat menilai orang lain.
Maka, jika hari ini kita melihat kebaikan pada orang lain, doakan.
Jika hati tergelitik oleh kecurigaan, istighfar dan diamlah. Karena bisa jadi, orang yang kita curigai sedang diterima amalnya, sementara kita sibuk menghakimi dari kejauhan.
Semoga Allah menjaga hati kita dari keberanian menilai niat, dan menganugerahi kita kerendahan hati untuk sibuk memperbaiki diri sendiri.







