KETIKA KITA MENGHUKUM NIAT ORANG LAIN

Sabtu, 14 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KETIKA KITA MENGHUKUM NIAT ORANG LAIN
By. Madrasah Plus

Salah satu penyakit hati yang paling halus, namun paling berbahaya, adalah keberanian menilai niat orang lain. Ia sering datang tanpa disadari, menyamar sebagai “kewaspadaan”, “kritis”, atau bahkan “amar makruf”. Padahal, di baliknya, tersimpan kesombongan yang pelan-pelan mengeras di dalam hati.

Kita hidup di zaman ketika ekspresi ibadah mudah sekali dipertontonkan. Ada yang menangis dalam shalat, ada yang khusyuk dalam doa, ada yang istiqamah dalam amal. Sayangnya, tidak semua kebaikan disambut dengan doa. Sebagian justru disambut dengan kecurigaan.

“Paling riya.”
“Paling cari perhatian.”
“Ah, itu kan dibuat-buat.”

Kalimat-kalimat semacam ini sering meluncur ringan, seolah tidak membawa dampak apa pun. Padahal, dalam pandangan para ulama, menuduh niat adalah perkara besar yang bisa berbalik menjadi bencana bagi hati orang yang melakukannya.

Imam Makhul رحمه الله pernah memberikan pelajaran yang sangat dalam. Ibn Abi Dunya meriwayatkan ucapannya:

“Aku pernah melihat seorang laki-laki menangis dalam shalatnya. Lalu aku menuduhnya berbuat riya. Maka aku pun diharamkan untuk menangis selama satu tahun.”

Perhatikan kalimat terakhirnya. Bukan sekadar “aku menangis selama setahun”, tetapi “aku diharamkan menangis selama setahun”.
Ini bukan kisah tentang air mata semata. Ini adalah kisah tentang hukuman hati. Tentang bagaimana prasangka buruk kepada seorang hamba yang sedang beribadah justru membuat Allah menutup pintu kelembutan hati dari orang yang berprasangka itu sendiri.

Imam Makhul رحمه الله tidak sedang membicarakan orang yang ia tuduh. Ia sedang mengakui kesalahan dirinya. Kesalahan karena telah masuk ke wilayah yang bukan hak manusia. Kesalahan karena merasa mampu menilai sesuatu yang hanya Allah yang berhak menilainya.

Niat adalah rahasia terdalam antara seorang hamba dan Rabb-nya. Ia tidak bisa diukur dari suara tangisan, panjangnya doa, atau lamanya sujud. Bahkan air mata pun tidak selalu menjadi tanda keikhlasan, dan keringnya mata tidak selalu menjadi tanda kerasnya hati.

Seseorang bisa menangis karena Allah, sambil takut kalau air matanya tercampur riya. Dan seseorang bisa tampak tenang, sementara hatinya bergetar hebat di hadapan Rabb-nya.

Ketika kita menuduh riya, sering kali tanpa sadar kita sedang memposisikan diri seolah lebih suci. Seolah amal kita lebih aman. Padahal, bisa jadi prasangka itulah yang justru merusak amal kita sendiri.

Para ulama mengingatkan, menjaga hati dari penyakit batin sering kali lebih berat daripada menjaga anggota badan dari maksiat. Dan di antara penyakit batin yang paling licin adalah merasa aman saat menilai orang lain.

Maka, jika hari ini kita melihat kebaikan pada orang lain, doakan.
Jika hati tergelitik oleh kecurigaan, istighfar dan diamlah. Karena bisa jadi, orang yang kita curigai sedang diterima amalnya, sementara kita sibuk menghakimi dari kejauhan.

Semoga Allah menjaga hati kita dari keberanian menilai niat, dan menganugerahi kita kerendahan hati untuk sibuk memperbaiki diri sendiri.

Facebook Comments Box

Artikel Terjkait

Apakah Lailatul Qadar Masih Ada atau Sudah Diangkat?
KEWAJIBAN MENGKUTI SYARIAT AGAMA BUKAN HAKEKAT REALITA
Kemiskinan yang Menghasilkan Kekayaan: Rahasia Mengenal Diri dan Sang Pencipta
Cermin Sikap Hamba di Hadapan Rabb-nya
Petunjuk Menuju Aqidah yang Benar dan Bantahan terhadap Ahli Syirik dan Ateisme
QADA DAN QADAR
TALBIS IBLIS “Tipuan Iblis”
Ash-Shaarim Al-Battaar
Berita ini 10 kali dibaca

Artikel Terjkait

Kamis, 19 Maret 2026 - 19:22 WIB

Apakah Lailatul Qadar Masih Ada atau Sudah Diangkat?

Sabtu, 7 Maret 2026 - 23:57 WIB

KEWAJIBAN MENGKUTI SYARIAT AGAMA BUKAN HAKEKAT REALITA

Sabtu, 7 Maret 2026 - 23:52 WIB

Kemiskinan yang Menghasilkan Kekayaan: Rahasia Mengenal Diri dan Sang Pencipta

Kamis, 26 Februari 2026 - 00:10 WIB

Cermin Sikap Hamba di Hadapan Rabb-nya

Rabu, 18 Februari 2026 - 07:04 WIB

Petunjuk Menuju Aqidah yang Benar dan Bantahan terhadap Ahli Syirik dan Ateisme

Artikel Terbaru

Fikih

MENGUTAMAKAN QADHA PUASA RAMADHAN DARIPADA PUASA SYAWWAL

Minggu, 29 Mar 2026 - 15:02 WIB

Fikih

MENYEMPURNAKAN RAMADHAN DENGAN PUASA SYAWWAL

Minggu, 29 Mar 2026 - 14:46 WIB

Ibadah

Istiqomah Pasca Ramadhan

Jumat, 27 Mar 2026 - 16:30 WIB

Dakwah

Ujian: Surat Cinta yang Mengajak Kembali ke Pelukan Ilahi

Jumat, 27 Mar 2026 - 16:25 WIB

Dakwah

Rahasia Terbukanya Pintu Rahmat

Rabu, 25 Mar 2026 - 14:45 WIB