Imam Malik rahimahullah berkata:
“Jika jawaban sudah tepat, maka sedikitkanlah bicara. Dan jika bicara terlalu banyak, hampir pasti di dalamnya ada kesalahan.”
Beliau juga membenci sikap tergesa-gesa dalam ilmu dan banyaknya ocehan. Pernyataan ini diriwayatkan dalam Al-Jāmi‘ fī as-Sunan wa al-Ādāb wa al-Maghāzī.
Nasihat ini bukan anti penjelasan panjang
Nasihat ini bukan sedang mengkritik penjelasan panjang secara mutlak. Yang dibongkar adalah sesuatu yang lebih mendasar: sifat kebenaran itu sendiri.
Kebenaran yang kokoh biasanya jernih, tenang, dan tidak berputar-putar. Ia tidak membutuhkan narasi berlapis-lapis agar tampak meyakinkan.
Ketika substansi lemah, narasi diperbanyak
Dalam dunia pendidikan, kita sering melihat fenomena sebaliknya: ada penjelasan panjang dan muter-muter bukan untuk memperjelas, tetapi untuk menutup kekeliruan.
-
Ketika substansi lemah, narasi diperbanyak.
-
Ketika argumen rapuh, kata-kata diperpanjang agar terlihat benar.
-
Ketika ingin tampak unggul, penjelasan dibuat bertele-tele.
Padahal, panjangnya kata tidak selalu berarti dalamnya ilmu.
Adab ilmiah: cukupkan jika sudah cukup
Imam Malik rahimahullah sedang mengingatkan adab ilmiah yang sangat penting: orang yang berada di atas kebenaran tidak sibuk membangun citra keilmuan.
Jika satu kalimat sudah cukup menjelaskan, maka itulah yang disampaikan. Tidak ada dorongan untuk mengesankan, apalagi mengaburkan.
Relevansi bagi pendidikan: murid butuh kejelasan, bukan retorika
Bagi dunia pendidikan, pesan ini sangat relevan. Guru dan pendidik tidak diukur dari seberapa fasih ia berbicara, tetapi dari sejauh mana ia jujur terhadap ilmu.
Pendidikan akan kehilangan ruhnya ketika ruang belajar berubah menjadi panggung retorika. Murid tidak membutuhkan kekaguman; mereka membutuhkan kejelasan.
Era digital: terlihat pintar itu mudah, adab ilmu itu langka
Di era digital, godaan untuk menutupi kesalahan dengan narasi panjang semakin besar. Semua orang bisa berbicara, semua bisa terlihat pintar. Namun adab ilmu mengajarkan sebaliknya:
Kejelasan lebih utama daripada kesan canggih.
Ketepatan lebih berharga daripada banyaknya kata.
Kejernihan ilmu dan kesederhanaan bicara
Nasihat Imam Malik rahimahullah ini mengingatkan kita bahwa kebenaran tidak berisik. Justru kesalahanlah yang sering membutuhkan banyak suara agar tetap tampak hidup.
Mari bercermin
Dalam mendidik, berdiskusi, dan berbagi ilmu: apakah kata-kata kita lahir dari kejernihan kebenaran, atau dari kebutuhan untuk menutupi kekurangan?
Sumber: Saluran WhatsApp Madrasah Plus, 9 Februari 2026







