ILHAM PENA
وَحْيُ الْقَلَمِ
JILID 3 DARI 3
Mustafa Shadiq ar-Rafi’i
Terjemah:
Muhamad Abid Hadlori, S.Ag.,Lc.
Jilid Ketiga
Kemulian Spiritual Tertinggi dan Keindahan Seni dalam Balaghah Nabawi
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Ketika saya berkehendak menulis bab ini dan berniat melaksanakannya, muncullah sebuah permasalahan yang saya renungkan untuk mencari jawabannya. Kemudian saya membayangkan bahwa filosof bayan (retorika) terpandai di Eropa pada zaman ini adalah seorang yang menguasai bahasa Arab yang fasih, dan telah mencapai derajat para imamnya dalam ilmu dan cita rasa. Dia telah mempelajari sejarah Nabi ﷺ dengan kajian ruh terhadap amal-amal ruh, memahami syariat beliau dengan pemahaman hikmah terhadap rahasia-rahasia hikmah, menguasai hadits-hadits beliau dan mempertimbangkannya dengan seni kritik bayan yang meneliti kekhususan perkataan dari kekhususan jiwa. Saya membayangkan bertemu dengan orang ini lalu bertanya kepadanya: “Apakah keindahan seni menurutmu dalam balaghah Muhammad ﷺ? Apa yang dapat kamu ambil dari filsafat bayan darinya? Dan apa rahasianya yang terhimpun di dalamnya?”
Tidak lama setelah terlintas dalam pikiran saya hal itu, terkuaklah pemikiran dari sisi lain, yaitu bahwa makna pertanyaan yang sama persis ini mungkin telah terlintas dalam dialog hati salah seorang Arab terpandai yang telah melihat Nabi ﷺ, beriman kepadanya, dan mengikuti cahaya yang diturunkan bersamanya. Dia telah menemani beliau dalam waktu yang lama, tidak terlewatkan darinya sedikitpun dari perkataan beliau di hadapan orang banyak, dan bergaul dengannya hingga dia memiliki pengetahuan tentang keadaan jiwa beliau seperti sebagian sejarah. Dia merenungkan apa gerangan rahasia keindahan dalam balaghah beliau ﷺ, dan apa rujukan yang dapat dikembalikan kepadanya?
Seandainya pertanyaan itu bergulir dalam kedua putarannya – dalam naluri Arab yang kokoh ini yang kembali menjadi filsafat yang merasakan dan menghayati, dan dalam filsafat bayan yang mengilhami itu yang mencapai tingkat menjadi naluri yang mengkaji dan memikirkan – maka tidak akan keluar dari keduanya kecuali dengan satu pendapat yang dipertemukan oleh hakikat bayan dari kedua sisinya: yaitu bahwa keindahan seni dalam balaghah beliau ﷺ itu sesungguhnya adalah pengaruh pada perkataan dari ruh kenabian beliau yang baru bagi dunia dan sejarahnya.
Setelah itu, saya dalam halaman-halaman ini tidak melakukan apa-apa selain merinci jawaban ini dan menjelaskannya, dengan mengeluarkan makna-maknanya, menggali dalil-dalilnya, dan mengungkap rahasia-rahasia serta kebenarannya. Sungguh saya telah mengkaji perkataan beliau ﷺ, dan menghabiskan hari-hari dalam hal itu mengikuti jejak rahasia yang jatuh dalam sejarah yang gersang dan tandus lalu menyuburkannya dan menumbuhkan untuk dunia bunga-bunga kemanusiaan yang indah. Mereka adalah manusia yang jika engkau mencela mereka dengan sesuatu, engkau tidak mencela mereka kecuali karena mereka di bawah malaikat. Mereka adalah manusia yang bumi berputar dalam hitungan mereka tiga putaran: satu mengelilingi matahari, kedua mengelilingi dirinya sendiri, dan ketiga mengelilingi para sahabat Nabi ﷺ.
Kemudian saya membiarkan perkataan nabawi berbicara dalam diri saya dan mengilhami saya apa yang saya ungkapkan tentangnya, seakan-akan beliau berkata dalam sifat dirinya: “Sesungguhnya aku sedang membuat suatu umat yang memiliki sejarah bumi setelahnya, maka aku datang dari sini dan sana, dan pergi ke sana dan ke sini, bersama hati, jiwa, dan kebenaran, bukan bersama perkataan, manusia, dan waktu.
Sesungguhnya di sini dunia padang pasir akan melahirkan dunia berperadaban yang dari keturunannya adalah Eropa dan Amerika. Al-Qur’an dan Hadits bekerja dalam kehidupan penduduk bumi dengan cahaya yang menyempurnakan apa yang dikerjakan oleh cahaya matahari dan bulan.
Para muslim dahulu menaklukkan dunia dengan senjata yang secara lahiriah adalah senjata para pejuang, tetapi dalam maknanya adalah senjata para dokter. Mereka membawa Kitab dan Sunnah, kemudian melanjutkan jalan mereka dan perkataan tetap setelah mereka sebagai penakluk yang berperang di seluruh dunia dengan perang perubahan dan transformasi hingga Islam masuk ke apa yang dimasuki malam.”
Inilah titik tolak pembicaraan dalam diri saya. Saya membacanya sambil membayangkannya terucap dengan kefasihan tinggi itu dari mulut Nabi ﷺ di mana melewati kemukjizatan wahyu pertama kali ketika suara manusia keluar dengan itu ke dunia. Saya tidak melihat kecuali bahwa sesuatu yang ilahi, agung, yang terhubung dengan ruh seluruh alam dengan hubungan sebagian rahasia dengan sebagian rahasia, berbicara dengan perkataan manusiawi yaitu hadits ini yang datang dalam kata-kata yang kuat menakjubkan, seni dalam balaghahnya seperti pemuda abadi.
Saya merenungkannya sebagai potongan-potongan bayan, lalu saya melihatnya memindahkan saya ke seperti keadaan di mana saya merenungkan taman yang bernafas di hati, atau pemandangan yang keindahannya menggerakkan jiwa, atau emosi yang menambah kehidupan dalam darah, dengan ketenangan, ruh, perasaan, dan kenikmatan. Kemudian lebih dari itu, dia memperbaiki sisi-sisi kemanusiaan dalam diri saya, lalu Allah memberi rezeki dari padanya rezeki cahaya, maka saya dalam cita rasa bayan seakan-akan melihat sang pembicara ﷺ di balik perkataannya.
Yang lebih menakjubkan dari itu adalah saya sering berhenti pada hadits yang halus untuk mengenal rahasia-rahasianya, tiba-tiba dia menjelaskan kepada saya dan membimbing saya dengan bimbingannya. Kemudian saya merasakannya seakan-akan berkata kepada saya apa yang dikatakan guru kepada muridnya: “Apakah kamu paham?”
Saya berhenti pada sabdanya ﷺ: “Sesungguhnya suatu kaum naik kapal, lalu mereka membagi-bagi tempat, maka setiap orang mendapat tempatnya. Lalu seorang dari mereka mengorek tempatnya dengan kapak. Mereka berkata kepadanya: ‘Apa yang kamu lakukan?’ Dia berkata: ‘Ini tempatku, aku berbuat apa yang aku kehendaki di dalamnya!’ Jika mereka mencegah tangannya, maka dia selamat dan mereka selamat. Jika mereka membiarkannya, dia binasa dan mereka binasa.”
Maka hadits ini memiliki pembicaraan panjang dalam diri saya tentang mereka yang mengarungi lautan bersama kita dan menyebut diri mereka sebagai pembaharu, serta mengaku dengan berbagai sifat seperti: kebebasan berpikir, ghirah, dan perbaikan. Salah seorang dari mereka tidak berhenti mengorek tempatnya dari kapal agama, akhlak, dan adab kita dengan kapaknya, yaitu dengan penanya… mengklaim bahwa itu adalah tempatnya dari kehidupan sosial yang dia dapat berbuat sesuka hatinya di dalamnya, dan mengurusnya sekehendak hatinya, mengarahkan kebodohannya dengan berbagai alasan dan hujjah dari peradaban dan filsafat, tidak mengetahui bahwa hukum di kapal sesungguhnya adalah hukum akibat tanpa yang lain. Maka hukuman tidak dijatuhkan pada perbuatan setelah terjadi sebagaimana dihukumi perbuatan-perbuatan lain, melainkan sebelum terjadi. Dan siksa tidak dijatuhkan pada kejahatan yang diperbuat penjahat sebagaimana dihukum pencuri, pembunuh, dan lainnya, melainkan pada percobaan melakukannya, bahkan pada maksud niat kepadanya. Maka tidak ada kebebasan di sini dalam perbuatan yang merusak kayu kapal atau menyentuhnya dari dekat atau jauh selama dia terombang-ambing di lautnya, berjalan menuju tujuannya. Sebab kata “lubang” tidak membawa makna daratan di kapal, dan di sini ungkapan “lubang terkecil” tidak memiliki makna kecuali satu yaitu “kubur terluas”.
Maka renungkan filosof terbesar dunia bagaimanapun kebebasan dan keleluasaannya, dia di sini terbatas meski tidak suka dengan batas-batas dari kayu dan besi yang ditafsirkan dalam bahasa laut sebagai batas-batas kehidupan dan kemaslahatan. Sebagaimana kata “lubang” menjadi dari makna-maknanya di laut adalah kubur, tenggelam, dan kebinasaan, maka kata “filsafat” menjadi dari sebagian makna-maknanya dalam masyarakat adalah kebodohan, kelengahan, dan kebalauan. Kata “kebebasan” menjadi dari makna-maknanya adalah kejahatan, penyimpangan, dan kerusakan. Atas dasar analogi bahasa ini, maka pena di tangan sebagian penulis dari makna-maknanya adalah kapak, penulis dari makna-maknanya adalah perusak, dan tulisan dari makna-maknanya adalah pengkhianatan. Hadits berkata kepada saya: “Apakah kamu paham?”
Demikianlah harus merenungkan keindahan seni dalam perkataan beliau ﷺ. Dia adalah perkataan yang semakin engkau tambahkan pemikiran, semakin menambahkan makna kepadamu. Tafsirnya dekat, dekat seperti ruh dalam jasad manusianya, tetapi jauh, jauh seperti ruh dalam rahasia ilahinya. Dia bersamamu seukuran kebersamaanmu dengannya. Jika engkau berhenti pada batas, dia berhenti. Jika engkau memanjangkan, dia memanjang. Apa yang engkau lakukan dengannya, dia lakukan. Tidak ada di dalamnya sesuatu yang engkau lihat pada semua ahli balaghah dunia dari kerajinan main-main ucapan, cara menyusun perkataan, mengeluarkan posisi dari posisi, dan berdiri di atas kata hingga bertelur kata lain… keinginan memperbanyak hitam makna-makna, membiarkan lidah berkelana dengan kelanaannya yang linguistik bergantung pada semua yang muncul baginya, mewaspadai perkataan atas makna-makna lafaznya, mendatangkan untuknya dari padanya dan memaksanya untuk tujuan-tujuannya, mencari untuk kerajinannya dari mana dia mengerti dan lemah, dari mana dia ada dan tidak ada. Sesungguhnya dia adalah perkataan yang diucapkan agar makna-makna menjadi kepada hakikat-hakikatnya. Maka dia dari lisan yang di belakangnya hati, di belakangnya cahaya, di belakangnya Allah Jalla Jalaluhu. Dia adalah perkataan dalam keseluruhannya seakan-akan dunia yang dikeluarkan beliau ﷺ dari diri agungnya, tidak berhenti berjalan di jalan lurusnya atas agama fitrah. Maka tidak meluas untuk pertentangan, dan tidak terjadi di dalamnya ketidakharmonisan. Pertentangan dan ketidakharmonisan sesungguhnya terjadi dari kebinatangan yang berbeda dengan tabiatnya karena berdiri atas hukum persengketaan, dia melampaui batas, berbuat jahat, dan berdosa dengan itu. Maka dia turun kepada keburukan, dan keburukan sebagiannya lebih rendah dari sebagian. Adapun kerohanian fitrah maka harmonis dengan tabiatnya, tidak menerima dalam zatnya perpecahan dan perbedaan, karena awalnya adalah ketinggian di atas kediriaan, dan hukumnya adalah tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa. Maka dia naik kepada kebaikan, dan kebaikan sebagiannya lebih tinggi dari sebagian.
Maka perkataan beliau ﷺ adalah saluran amalnya: semuanya agama, takwa, dan pengajaran. Semuanya kerohanian, kekuatan, dan kehidupan. Sesungguhnya terbayang bagi saya setelah saya terambil oleh kesucian dan keindahannya bahwa termasuk seni menakjubkan adalah perkataan ini menjadi shalat dan puasa dalam lafaz-lafaz.
Adapun gaya beliau ﷺ, maka saya dapati untuknya dalam diri saya ruh syariat, tatanannya, dan ketekunannya. Maka tidak ada baginya kecuali kekuatan, kekuatan perintah yang berlaku tidak berbeda. Sesungguhnya baginya dengan itu susunan yang tenang tenangnya keyakinan, jelas jelasnya hikmah, murni murninya rahasia, jatuh dari jiwa mukmin jatuhnya nikmat dari yang bersyukur. Bagaimana tidak demikian, sedangkan dia adalah perintah ruh agung yang diarahkan dengan kalimat-kalimat Tuhannya dan wahyu-Nya agar dunia terarahkan dengannya seakan-akan dia darinya tempat poros: putarannya dengan dirinya adalah putaran dengan dirinya dan apa yang di sekelilingnya. Ruh nabi yang memperbaiki, penyayang, dia dengan perbaikan dan rahmatnya dalam kemanusiaan, dan dia dengan kenabian di atasnya, dan dia dengan ini dan itu dalam akhlak dan tabiatnya adalah kumpulan manusiawi agung yang jika diumpamakan dengan sesuatu akan dikatakan tentangnya: “Sesungguhnya dia seperti kumpulan lima benua untuk kemakmuran dunia.”
Siapa yang mengkaji sejarah beliau ﷺ dan memberikan haknya dari pandangan, pemikiran, dan penelitian, melihat susunan dari sejarah menakjubkan seperti sistem falak dari falak-falak yang diarahkan dengan cahaya dalam cahaya dari mana dimulai hingga mana berakhir. Maka tidak meragukan orang berakal yang membedakan bahwa kehidupan mulia ini, dengan sistem yang teliti itu, dalam pengarahan yang kokoh itu – tidak mampu ditanggung manusia dari daging dan darah atas hukum kehidupan kecuali jika ada dalam daging dan darahnya makna cahaya dan listrik atas hukum yang lebih kuat dari kehidupan.
Tidak ada seperti beliau ﷺ dalam kesabaran, keteguhan, kemantapan jiwa, dan ketentraman atas tipu daya dunia, tidak dalam rahmat, kelembutan hati, dan ketinggian di atas makna-makna kelangsungan duniawi. Maka beliau telah diciptakan demikian agar mengalahkan peristiwa-peristiwa dan menguasai materi. Maka tidak menjadi urusannya urusan orang lain dari manusia: dikubur makna-makna tanah dan mereka hidup di atas tanah, atau dibatasi jasad manusiawi dari semua sisi mereka dengan batas-batas tabiat dan kecenderungannya. Dengan itu, maka beliau ﷺ adalah sumber sejarah dalam seluruh kemanusiaan selamanya, dan untuk kepala dunia sistem pemikiran-pemikirannya yang benar.
Dari Abdullah bin Umar dia berkata: Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Tiga orang dari umat sebelum kalian berangkat hingga mereka bermalam di sebuah gua lalu memasukinya. Lalu turunlah batu dari gunung dan menutup gua itu atas mereka. Mereka berkata: ‘Sesungguhnya tidak akan menyelamatkan kalian dari batu ini kecuali kalian berdoa kepada Allah dengan amal saleh kalian!’ Maka berkata seorang dari mereka: ‘Ya Allah, aku memiliki dua orang tua yang sudah tua renta, dan aku tidak pernah memberi minum sebelum mereka, baik keluarga maupun harta. Suatu hari aku pergi jauh mencari sesuatu, maka aku tidak pulang kepada mereka hingga mereka tidur. Aku memerah susu untuk minuman malam mereka lalu mendapati mereka sedang tidur. Aku tidak suka memberi minum sebelum mereka, baik keluarga maupun harta. Aku memerah susu untuk minuman malam mereka lalu mendapati mereka sedang tidur. Aku tidak suka memberi minum sebelum mereka, baik keluarga maupun harta. Maka aku menunggu dengan gelas di tanganku menanti mereka bangun hingga fajar menyingsing. Mereka bangun lalu minum minuman malam mereka. Ya Allah, jika aku melakukan itu karena mengharap wajah-Mu, maka lapangkanlah apa yang kami hadapi dari batu ini!’ Maka batu itu terbelah sedikit namun mereka tidak dapat keluar.”
Nabi ﷺ bersabda: “Dan yang lain berkata: ‘Ya Allah, aku memiliki sepupu perempuan yang paling aku cintai dari manusia. Aku merayunya untuk diriku namun dia menolakku, hingga dia ditimpa tahun paceklik. Maka dia datang kepadaku, lalu aku memberinya seratus dua puluh dinar dengan syarat dia menyerahkan dirinya kepadaku! Dia melakukannya. Hingga ketika aku menguasainya, dia berkata: ‘Tidak halal bagimu membuka segel kecuali dengan haknya!’ Maka aku mundur dari menggaulinya, lalu aku meninggalkannya padahal dia orang yang paling aku cintai dari manusia, dan aku tinggalkan emas yang telah aku berikan kepadanya. Ya Allah, jika aku melakukan itu karena mengharap wajah-Mu, maka lapangkanlah apa yang kami hadapi!’ Maka batu itu terbelah namun mereka belum dapat keluar darinya.” Nabi ﷺ bersabda: “Dan yang ketiga berkata: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku mempekerjakan pekerja lalu aku berikan upah mereka kecuali seorang yang meninggalkan upahnya dan pergi. Maka aku kembangkan upahnya hingga banyak daripadanya harta-harta. Dia datang kepadaku setelah beberapa waktu lalu berkata: ‘Wahai hamba Allah, berikanlah kepadaku upahku.’ Aku berkata kepadanya: ‘Semua yang kamu lihat ini dari upahmu, dari unta, sapi, kambing, dan budak!’ Dia berkata: ‘Wahai hamba Allah, jangan mengejekku!’ Aku berkata: ‘Sesungguhnya aku tidak mengejekmu!’ Maka dia mengambil semuanya lalu membawanya pergi tidak meninggalkan sesuatu pun. Ya Allah, jika aku melakukan itu karena mengharap wajah-Mu, maka lapangkanlah apa yang kami hadapi!’ Maka batu itu terbelah dan mereka keluar berjalan.” Berakhir hadits.
Adapun saya, maka saya tidak tahu, apakah ini Nabi ﷺ berbicara dalam kemanusiaan dan hak-haknya dengan perkataan yang jelas dan tegas tanpa filsafat di dalamnya, menjadikan apa yang antara manusia dengan manusia dari niat adalah apa yang antara manusia dengan Tuhannya dari agama? Ataukah kemanusiaan berucap di lisannya dengan bayan tinggi ini, dalam syair dari syairnya yang memberikan perumpamaan di dalamnya, menunjuk di dalamnya kepada simbol-simbol, menempatkan manusianya antara kekerasan alam dan rahmat Allah, mengatur unsur-unsur cerita syairnya, merealisasikan dalam bayan terbukanya makna-makna tersamar dalam filsafat indera manusiawi ketika terhubung dengan hal-halnya lalu muncul kebutuhan manusiawi dan tersembunyi hikmah, dan filsafat ruh ketika terhubung dengan hal-hal yang sama itu lalu muncul hikmah dan tersembunyi kebutuhan – menjelaskan pengaruh ini dan itu dalam tabiat alam, menetapkan bahwa hakikat kemanusiaan tinggi tidak akan ada dalam apa yang diperoleh manusia dari kesenangannya, tidak dalam apa yang berhasil dari tujuan-tujuannya, tidak dalam apa yang meyakinkannya dari logikanya, tidak dalam apa yang terbayang dari khayalnya, tidak dalam apa yang teratur dari hukum-hukumnya; melainkan adalah ketinggian atas hakikat-hakikat palsu ini semuanya. Dan adalah rahmat yang mengalahkan keegoisan lalu manusia menyebutnya kebaikan, dan rahmat yang mengalahkan syahwat lalu manusia menyebutnya kesucian, dan rahmat yang mengalahkan ketamakan lalu manusia menyebutnya amanah. Dan adalah dalam pengendalian ruh atas tiga dari indera: indera kemalasan yang dengannya berdiri bagian kehinaan, indera kenikmatan yang dengannya berdiri bagian hawa nafsu, dan indera kepemilikan yang dengannya berdiri bagian kekuatan.
Kemanusiaan menambahkan atas itu dalam susunan syairnya bahwa dia menetapkan bahwa kebaikan dari kesucian dan amanah adalah secara mutlak seperti pondasi bagi keduanya. Siapa yang tumbuh atas kebaikan kepada kedua orang tuanya maka layak untuk merealisasikan kesucian dan amanah. Dan bahwa kesucian dari amanah dan kebaikan adalah pemersatu dan pengikat keduanya dalam jiwa. Dan bahwa amanah dari kebaikan dan kesucian adalah kesempurnaan keutamaan-keutamaan ini. Kesemuanya adalah tingkatan-tingkatan untuk satu hakikat, hanya saja sebagiannya lebih mulia dari sebagian dalam urusan dan kedudukan, dan sebagiannya jalan untuk sebagian yang menarik sebab dari padanya sebab dari padanya. Dan bahwa rahmat kemanusiaan yang sendirian adalah hakikat besar sesungguhnya adalah cinta ini, dimulai dari anak kepada kedua orang tuanya, dan itu adalah cinta khusus; kemudian dari pencinta kepada kekasihnya, dan itu adalah cinta yang lebih khusus; kemudian dari manusia kepada kemanusiaan, dan itu adalah cinta mutlak dengan keumumannya dan tanpa sebab-sebab yang memaksa dari kebutuhan dan naluri. Dan adalah tingkatan-tingkatan seperti tingkatan kehidupan itu sendiri dari masa kanak-kanak kepada masa muda kepada masa tua, dan dari emosi kepada keinginan kepada akal.
Kemudian sesungguhnya selama kesempurnaan keutamaan adalah amanah, maka apa sebelumnya adalah jenis-jenisnya. Kebaikan anak adalah amanah tabiat yang beradab, kesucian pencinta adalah amanah hati yang mulia, dan yang ketiga adalah amanah akhlak tinggi, dan itu adalah yang paling mulia; karena tidak akan menjadi akhlak yang tetap kecuali telah tunduk kepada hukumnya tabiat dan hati, dan masuk dalam sebab-sebabnya adab dan kemuliaan. Maka amanah sempurna dalam filsafat ini adalah amanah untuk kemanusiaan umum yang terhubung dengan seseorang dari sisi-sisi terjauhnya, bukan kemanusiaan khusus setiap orang dari ayah, atau ibu, atau kerabat; dan bukan yang lebih khusus yaitu kemanusiaan cinta.
Kita lihat dalam lafaz hadits bahwa setiap orang dari mereka yang mewakili cerita kemanusiaan utama dalam tiga babnya, tidak berkata bahwa dia melakukan apa yang dia lakukan dari amal saleh: “Kecuali karena mengharap wajah Allah” (QS. Al-Baqarah: 272), dan mereka semua sepakat atas kalimat ini. Itu termasuk yang paling teliti dalam filsafat kemanusiaan dalam syairnya itu, karena maknanya adalah bahwa orang dalam amal salehnya sesungguhnya sedang berjihad melawan dirinya, mencegahnya apa yang dia senangi dari bagiannya atau kesenangannya atau manfaatnya, yaitu terlepas dari tabiat duniawi yang berselisih dengan selainnya, menyendiri dengan zatnya, merealisasikan tabiat surgawi yang Allah tidak merahmati hamba kecuali dengannya, yaitu rahmat manusia kepada selainnya, yaitu peleburan dirinya dengan kemampuan dan kekuatannya, dan pemberian dari zat dirinya dan pertolongannya dengan menahan keburukannya.
Hadits seperti nash bahwa rahmat ini dalam jiwa adalah agama di sisi Allah, tidak baik agama tanpanya, dan Allah tidak menerima tebusan dan ganti dari jiwa yang kosong darinya. Jika demikian kedudukannya, dan adalah dasar apa yang diwajibkan atas manusia dari kebaikan dan kebenaran, maka dia dari itu dalam makna hadits adalah dasar apa yang memperbaiki kemanusiaan ini dari keburukan dan kebatilan. Dengan semua ini maka tujuan filosofis yang berakhir kepadanya perkataan beliau ﷺ, bahwa mendidik manusia atas kebaikan, kesucian, dan amanah untuk kemanusiaan adalah satu-satunya cara praktis yang mungkin untuk memecahkan masalah keburukan dan kejahatan dalam masyarakat manusia. Dan lihatlah bagaimana beliau menjadikan puncak ketinggian dalam rahmat harta yang mereka sifati bahwa dia adalah saudara ruh, seakan-akan manusia tidak mengeluarkan di dalamnya untuk selainnya dari sebagian hartanya, melainkan terlepas dari sebagian ruhnya. Ini menetapkan bagimu filsafat lain bahwa kebahagiaan kemanusiaan yang benar dalam memberi bukan mengambil, dan yang palsu adalah dalam mengambil bukan memberi. Itu adalah akhir yang dicapai filsafat akhlak. Maka tidaklah seseorang kecuali buah yang matang dengan bahan-bahannya, hingga jika matang dan manis maka tampak kesempurnaan dan manfaatnya dalam wujud adalah bahwa dia memberikan kemanisannya. Jika dia menahan kemanisan atas dirinya maka tidak akan ada kecuali kemanisan ini sendiri menjadi sebab dalam pembusukan dan kerusakannya setelah itu. Apakah kamu paham?
Selama kita telah menggambarkan rahmat harta, maka kita sempurnakan pembicaraan di dalamnya dengan hadits menakjubkan ini dalam seni perumpamaannya dan balaghah seninya: Dari Abu Hurairah bahwa dia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Perumpamaan orang bakhil dan orang yang berinfak seperti dua orang yang memakai baju besi, dari dada mereka hingga tulang selangka mereka. Adapun orang yang berinfak maka tidak berinfak kecuali melebar atau berlimpah di kulitnya hingga menutupi ujung jarinya dan menghapus bekasnya. Adapun orang bakhil maka tidak ingin menginfakkan sesuatu kecuali melekat setiap mata rantai di tempatnya, maka dia meluaskannya namun tidak meluas.” Berakhir.
Engkau melihat zahir hadits, tetapi seninya menakjubkan dalam besi ini yang dimaksudkan dengannya tabiat kebaikan dan rahmat dalam manusia. Maka dia termasuk tabiat yang paling keras, kaku, dan sulit jika menghalanginya bagian-bagian jiwa serakah dan hawa nafsunya. Meskipun demikian, sesungguhnya kemurahan dengan harta membentangkan daripadanya dan berakhir dalam tabiat hingga menjadikannya lembut, maka tidak berhenti memanjang dan melebar hingga infak melatihnya latihan praktis seperti latihan otot dengan beban besi dan mengalami kekuatan dalam pergulatan dan sejenisnya. Adapun kebakhilan maka tidak menentang tabiat itu tetapi membiarkannya kaku dan sulit tidak melunak, tidak merespons, dan tidak dimudahkan.
Dan telah dijadikan jubah itu dari dada hingga tulang selangka, dan ini termasuk hal yang paling menakjubkan dalam hadis tersebut; karena setiap manusia pasti mengeluarkan untuk kebutuhan pokoknya, sama saja dalam hal ini antara orang yang dermawan dan orang yang pelit, keduanya setara dari segi ini; dan perbedaannya hanya terletak pada yang berlebih dan berlimpah di luar batas ini. Di sinilah orang yang dermawan meluaskan kelapangan hatinya yang manusiawi, adapun orang pelit maka dia “menginginkan”; karena dia manusia, dan keinginan itu adalah pengetahuan akal semata, tidak lebih. Ketika dia mencoba mewujudkan keinginan ini, maka turunlah dari sifat jiwanya yang kikir apa yang dialami oleh orang yang melebarkan jubah dari besi yang setiap mata rantainya melekat di tempatnya, sehingga jubah itu keras dan kokoh, dia melebarkannya namun tidak mau melebar.
Tidakkah kamu melihat bagaimana hujah itu terarah, dan bagaimana filosofinya begitu halus padahal dalam penjelasan yang paling terang dan jelas? Apakah kamu mengira sifat orang pelit dalam detail-detail psikologisnya jika ia berbicara – bisa mencapai tingkat keindahan seni dan keajaiban dalam menggambarkan dirinya seperti ini? Dan inilah deskripsi yang jika diterjemahkan ke seluruh bahasa di bumi akan menghiasi semuanya, dan akan menjadi dalam semuanya seperti manusia itu sendiri: susunannya tidak berbeda sehingga tidak akan memiliki tiga mata, tidak di negeri Shakespeare maupun di negeri orang-orang kulit hitam.
Sesungguhnya perkataan Nabi kita ﷺ harus diterjemahkan dengan filosofi zaman kita dan sastranya, maka kamu akan melihatnya seolah-olah diucapkan sekali lagi dari mulut kenabian, dan kamu akan melihatnya dalam penjelasan filosofisnya seperti bunga-bunga yang segar: kehidupannya adalah keceriaannya dalam cahaya; dan kamu akan mengenalnya sebagai kemanusiaan yang tegak untuk memperbaiki kesalahan zaman pada penghuninya, dan kesalahan manusia pada zamannya; dan kamu akan mendapatinya mengayomi umat manusia yang malang dengan kasih sayang seperti kasih sayang ibu kepada anak-anaknya, dan manusia sekarang seperti anak-anak yang ibunya telah pergi, maka mereka dalam perselisihan kekanak-kanakan… Dan ibu itu pada hakikatnya tidak lain adalah timbangan bagi kesewenang-wenangan mereka, kebijaksanaan bagi kecerobohan mereka, kerukunan bagi perselisihan mereka, dan keteraturan bagi kesia-siaan mereka; dan secara keseluruhan, kasih sayang hati besarnya adalah hukum bagi segala perkara hati-hati kecil ini.
Dan kami telah menulis tentang filosofi sastra dan hakikatnya, serta makna-makna kemanusiaannya, dan bahwa sastrawan yang sempurna perangkatnya adalah manusia universal, selainnya adalah manusia saja, dan bahwa ilmu sastrawan adalah jiwa manusia dengan rahasia-rahasianya yang mengarah kepada alam, dan alam dengan rahasia-rahasianya yang mengarah kepada jiwa; oleh karena itu posisinya dalam kehidupan adalah posisi pemikiran yang batasnya dari segala sisinya adalah rahasia-rahasia – dan bahwa sastrawan ditugaskan memperbaiki jiwa manusia dan menghilangkan kepalsuan darinya, serta memurnikannya dari apa yang bercampur dengannya karena kebutuhan yang berkesinambungan, kemudian memperbaiki pemikiran manusia dalam wujud, dan menghilangkan penyembahan berhala dari pemikiran ini, serta meninggikannya ke atas, kemudian ke atas, dan selamanya ke atas.
Jika kamu merenungkan tulisan ini, dan mempertimbangkan perkataan Nabi ﷺ sesuai dengan yang kami jelaskan dan uraikan, dan mengambilnya dari zamannya dan dari zaman yang kita hidupi, dan melihat lafaz-lafaznya dan makna-maknanya, serta menyelidiki apa yang ada di antara keduanya berupa kekhususan seni dengan contoh takwil yang telah kami tunjukkan kepadamu yang telah berlalu, dan mengetahui bahwa setiap kebenaran seni tidak menjadi demikian kecuali dengan kekhususan di dalamnya, dan bahwa rahasia keindahannya terletak pada kekhususannya – jika kamu mengumpulkan semua itu, kamu tidak akan mendapatkan jalan lain selain mengakui bahwa Nabi ﷺ sebagaimana beliau adalah nabi terbesar dan pembaharu terbesar, maka beliau adalah sastrawan terbesar; karena seni sastranya adalah seni terbesar yang mewujudkan bagi kemanusiaan kehidupan akhlaknya, dan dengan semua itu beliau adalah manusia terbesar. ﷺ.
Maka seni dalam balaghah ini dalam detail-detailnya adalah pengaruh ruh agung itu dengan seluruh sifat-sifat besarnya yang dibutuhkan oleh wujud rohani di bumi ini, oleh karena itu kamu melihat perkataannya ﷺ keluar dari batas-batas zaman, setiap masa mendapatkan di dalamnya apa yang dikatakan kepadanya, dan dengan itu ia adalah kenabian yang tidak akan habis, dan ia hidup dengan kehidupan itu sendiri, dan seakan-akan ia adalah warna pada wajah darinya sebagaimana kamu melihat putih misalnya adalah warna pada wajah sekelompok dari jenis manusia… Jika kamu melihat seni ini maka lihatlah dalam hadisnya, dalam perbuatannya, dan dalam dunia yang ia susun dari sejarah dengan susunan bagian yang fasih dan langka dari perkataan, dan kembalikanlah semua yang kamu renungkan dari itu kepada ruh baru itu dalam sejarah bumi; maka ketahuilah saat itu bahwa setiap orang fasih adalah lilin yang menyala yang telah dibuat untuknya bahan cahaya menjadi cahaya dan keindahan di sisi matahari ini yang diciptakan di dalamnya bahan cahaya menjadi cahaya dan keindahan dan kehidupan dan kekuatan; di sana cahaya bagi yang bermata dua, dan di sini cahaya bagi setiap yang bermata dua, yang itu tampak seperti mimpi, dan ini berbicara seperti kebenaran, yang itu cahaya yang kegelapan mendekat di sekelilingnya, dan ini telah mengusir kegelapan dari setengah dunia ke setengah dunia; dan yang pertama cahaya tanpa ruh, dan yang kedua adalah ruh cahaya.
Itulah menurut pendapat kami cara yang digunakan para sahabatnya ﷺ untuk memahaminya, sebagaimana penyair memahami cahaya bulan di malam musim panas dengan makna-makna dari zaman dan tempat, dari jiwa dan keadaan, dari bentuk dan rupa, dari mata dan pikiran, dari langit dan bumi, maka di dalamnya ada cahaya dan tambahan, yaitu kebenaran dan apa yang ia tinggikan dengan dirinya di atas dirinya; dan dengan cara inilah mereka bersamanya seperti filsuf-filsuf seni terbesar dengan seni dalam hal kagum dan cinta dan kepatuhan serta ketaatan hingga mereka melepaskan diri dari zaman dan dunia mereka, dan keluar dari keadaan dan tabiat mereka, dan tertarik kepadanya dengan tarikan terkuat yang dikenal sejarah, dan menjadi terurus bersamanya dengan pengaturan peristiwa bukan pengaturan pribadi, dan jiwa mereka kembali seakan-akan pengaruh bumi bertemu di dalamnya dengan pengaruh langit sehingga terbersih dalam awan-awan tinggi sehingga tidak menjadi di dalamnya sebagaimana dikehendaki manusia, tetapi sebagaimana dikehendaki Allah; dan hati mereka kembali tidak mengenakan pada agama mereka pendapat atau hawa nafsu, dan seakan-akan agama ini diletakkan untuknya penjaga pada setiap pendengaran dan pada setiap penglihatan; dan secara keseluruhan mereka adalah kaum yang seakan-akan Nabi ﷺ mengambil mereka lalu mengosongkan mereka kemudian mengisinya, dan mereka tidak berpindah ke kedudukan tinggi mereka dalam sejarah kecuali setelah beliau memindahkan mereka ke suatu kedudukan dari kedudukan-kedudukan jiwa mulianya.
Dan cukuplah dari orang-orang yang beliau berikan contoh dengan contoh yang beliau berikan kepada mereka dalam keimanan agar mereka mencapainya atau mendekatinya, dari Khabbab bin Al-Aratt radhiyallahu anhu yang berkata: Kami mengadu kepada Rasulullah ﷺ dan beliau sedang bersandar pada kain wol di bawah naungan Ka’bah, kami berkata: Tidakkah engkau meminta pertolongan untuk kami? Tidakkah engkau berdoa kepada Allah untuk kami? Beliau bersabda: “Dahulu orang sebelum kalian digali lubang di bumi lalu dia dimasukkan ke dalamnya kemudian didatangkan gergaji lalu diletakkan di atas kepalanya kemudian dibelah menjadi dua dan hal itu tidak memalingkannya dari agamanya, dan disisir dengan sisir-sisir besi apa yang di bawah dagingnya berupa tulang atau urat dan hal itu tidak memalingkannya dari agamanya!”
Maka lihatlah wahai saudara, seandainya terkumpul kekuatan-kekuatan alam kemudian datang saling menguatkan satu sama lain lalu turun dalam ungkapan dari perkataan untuk mengisi jiwa-jiwa orang beriman dengan kekuatannya, niscaya tidak akan diletakkan kecuali dengan peletakan inilah dari contoh ini dengan sisir-sisir paku dan gigi-gigi gergaji pada tulang manusia hidup dan dagingnya. Dan tampak contoh itu atas apa yang kamu lihat dari keajaiban, tetapi ia memiliki batin yang lebih menakjubkan dari lahirnya, dan itulah balaghah seluruh balaghah dan bayan yang sebenar-benarnya, karena sesungguhnya beliau ﷺ ingin mengatakan bahwa besi tidak memakan dan tidak merobek dari orang-orang kuat itu dengan keimanan mereka tulang dan daging dan urat, tetapi ia adalah besi yang memakan besi sepertinya atau lebih keras darinya, karena sesungguhnya bagi ruh yang beriman ada kekuasaan atas tubuhnya yang kuat untuk membuat mukjizat ini, maka berlalulah besi pada tulang dan daging dan urat yang merampas kehidupannya, tetapi ia merampas darinya kekerasannya dan keteguhannya dan kesabarannya!
Dan semua yang datang dari perumpamaan dalam perkataan beliau ﷺ terlipat di dalamnya dari keajaiban seni bayan dan kemukjizatannya apa yang melampaui batas-batas orang fasih, hingga kamu tidak ragu jika kamu merenungkannya dengan haknya dari pandangan dan ilmu bahwa balaghahnya hanyalah sesuatu seperti balaghah kehidupan pada yang hidup: ia adalah balaghah tetapi ia lebih menakjubkan daripada yang ia ada; karena ia juga kehidupan.
Dan kamu tahu bahwa Nabi yang mulia ini ﷺ mengalami ketika turun wahyu kepadanya keadaan-keadaan yang digambarkan dalam kitab-kitab hadis: Aisyah radhiyallahu anha berkata: Dan sungguh aku melihatnya ketika turun wahyu kepadanya di hari yang sangat dingin lalu terlepas darinya dan sesungguhnya dahinya bercucuran keringat. Dan dalam hadis lain darinya ia berkata: Maka mengambilnya apa yang biasa mengambilnya berupa kesulitan hingga sesungguhnya mengalir darinya seperti butiran mutiara dari keringat di hari musim dingin. Dan dalam hadis Zaid bin Tsabit: Maka Allah Azza wa Jalla menurunkan kepada Rasul-Nya ﷺ, dan pahanya di atas pahaku, maka berat atasku hingga aku khawatir pahaku akan remuk. Dan dalam hadis Ya’la bin Umayyah ketika ia berkata kepada Umar: Tunjukkan kepadaku Nabi ﷺ ketika diwahyui kepadanya, maka Umar memberi isyarat kepadaku, maka aku datang dan di atas kepala Rasulullah ﷺ ada kain yang menaunginya maka aku masukkan kepalaku, maka tiba-tiba Rasulullah ﷺ memerah wajahnya dan beliau bersuara keras, yaitu mengulangi nafasnya karena beratnya wahyu. Maka semua ini adalah keadaan-keadaan yang menggambarkan kerja otak dengan segala apa yang ada di dalamnya berupa jerih payah kekuatan saraf; untuk terangkat dengan kehidupan ke atas darinya dan meninggalkannya untuk kesadaran ruh saja, tidak berbagi dengannya dalam kesadaran ini pikiran atau bisikan, dan tidak terhubung dengannya sesuatu dari kehidupan yang hidup, maka terwujudlah bagi Nabi ﷺ wujud lain selain wujudnya yang terbatas dengan tubuhnya dan tabiatnya dan dunianya; dan keluar dengan kesadarannya dari gravitasi bumi ini ke apa yang di balik batas-batas alam dari kekuatan-kekuatan gaib; dan dengan itu beliau menerima dari ruh alam semesta, kemudian terlepas darinya dan telah menyadari apa yang diwahyukan kepadanya. Dan apa yang digambarkan Zaid bin Tsabit bahwa pahanya hampir remuk adalah bukti tegas bahwa ruh beliau ﷺ tersebar dari tubuhnya saat wahyu sehingga tubuh menjadi berat; karena sesungguhnya ia ringan dengan ruh dan fungsi-fungsi kehidupan tetap bekerja dengan susah dan lambat; karena terhubung dengan sinar dari ruh tanpa ruh secara keseluruhan; dan kami di sini tidak sedang membicarakan wahyu, karena ia memiliki tempat insya Allah dalam kitab kami “Asrar Al-I’jaz”, dan sesungguhnya kami ingin menunjukkan bahwa persiapan ilahi untuk perangkat saraf itu memiliki pengaruh besar dalam seni balaghah beliau ﷺ, dan dengannya beliau berbeda dari semua orang fasih dunia; karena sesungguhnya yang diilhami dari jenius-jenius istimewa di bumi ini hanya mencapai apa yang dicapainya dengan sebagian dari apa yang kamu lihat ini, dan dalam sebagian ini tercipta yang paling menakjubkan yang diwariskan dunia dari seni-seni bayan, dan seakan-akan dalam otak ada bahan di suatu tempat darinya yang dibedakan dengannya orang-orang yang dipilih langit untuk hikmah dan ilhamnya, dan jika seni jenius adalah perkataan manusia yang paling tinggi; karena apa yang mereka khususkan dengan persiapan ini, maka sesungguhnya seni beliau ﷺ adalah dan tidak diragukan dari pintu yang lebih besar dari apa yang lebih besar dalam ilham seluruh kemanusiaan.
Dan karena kekuatan langka inilah bayan beliau kuat untuk mencampur makna-maknanya dengan jiwa dengan apa yang ada di dalamnya dari keahlian kehidupan, dan sesungguhnya filosofi bayan seni adalah bahwa kehidupan memanjang dari jiwa ke lafaz, sehingga membuat di dalamnya pembuatannya, sehingga memisahkan ungkapan seni dari penulisnya atau pengucapnya dan ia potongan dari kalimatnya; untuk berubah pada pembacanya atau pendengarnya menjadi potongan dari kehidupan dalam bentuk dari bentuk-bentuk kesadaran; maka bayan seni adalah sarana untuk membawa wujud dan menyebarkannya di tempat-tempat selain tempatnya, dan menciptakannya dengan penciptaan lain dalam jiwa manusia; dan dengan itu ditakwilkan sabda beliau ﷺ: “Sesungguhnya di antara bayan ada sihir”. Beliau menjadikan satu jenis dari bayan adalah sihir, bukan seluruh bayan, maka hadis itu seperti nash tentang apa yang disebut filosofi Eropa hari ini “dengan bayan seni”, seakan-akan beliau bersabda: Sesungguhnya di antara bayan ada seni yang adalah sihir dari pekerjaan jiwa dalam bahasa yang dengannya berubah segala sesuatu, dan ia memiliki keajaiban sihir dan pengaruhnya dan penguasaannya; dan ini makna yang tidak ditanggapi oleh siapa pun, dan tidak disebutkan bersamanya semua yang mereka katakan dalam menafsirkan hadis, dan dengan takwil itu hadis ini telah mengandung kebenaran filosofi paling tinggi untuk seni.
Dan dari pengaruh kekuatan itu juga apa yang kamu lihat dari kuatnya kejelasan dalam perkataan beliau ﷺ, dan sungguh kami melihat balaghah nabawi yang menakjubkan ini berdiri atas bahwa setiap lafaz adalah lafaz hakikat bukan lafaz bahasa, maka perhatian di dalamnya pada hakikat-hakikat, kemudian hakikat-hakikat itu memilih lafaz-lafaz bahasanya sesuai kedudukannya; dan dengan itu datanglah perkataan seakan-akan ia ucapan hakikat yang diungkapkan, dan kalimat yang benar berbicara sekali saja; maka bentuk bahasanya tidak lain kecuali tegas terbuka tentang maknanya yang bercahaya seakan-akan dilemparkan ke dalamnya cahaya.
Dan diketahui bahwa beliau ﷺ tidak bertakalluf dan tidak dibuat-buat, dan tidak menulis dan tidak mengarang, dan dengan ini kamu tidak menemukan dalam balaghahnya tempat yang menerima penyempurnaan, atau mengetahui untuknya kelemahan dari urusan seakan-akan antara lafaz-lafaz dan makna-maknanya dalam seluruh balaghahnya ada ukuran dan timbangan, atau seakan-akan balaghah ini terpancar dengan perkataan atas tabiat yang bekerja di dalamnya dengan kekuatan-kekuatannya yang berkesinambungan tetap, maka seni indahnya adalah susunan yang datang di dalamnya sebagaimana kamu melihat pohon misalnya berpakaian dari daun dan bunganya, maka kamu darinya berhadapan dengan pekerjaan indah karena kamu berhadapan dengan hakikat alami yang telah menyendiri dalam dirinya, dan makna menyendirinya dalam dirinya adalah bahwa demikianlah ia, maka tidak ada di dalamnya tempat untuk sesuatu selain apa yang ada padanya; kemudian jangan lupa bahwa kenabian adalah sebab terbesar dalam kejelasan bayan yang menakjubkan itu; karena sesungguhnya kehidupan tidak mengunci dalam balaghah pada manusia kecuali ia kaya darinya; dan mungkin kekaburan sebagian filsuf dan sebagian penyair adalah dari dalil alam bahwa mereka berlebihan dalam alam… Tidakkah kamu melihat bahwa di antara gaya bahasa filosofis dan puitis mereka ada yang menjadikan makna kalimat kadang-kadang adalah peniadaan maknanya karena mereka berkesenian untuk pikiran dan menarik-narik untuknya dan membelah-belah di dalamnya sebagaimana yang dilakukan ahli keahlian lafaz dengan lafaz-lafaz, maka di sini badi’ lafzi; dan di sana “badi’ fikri” dan tidak ada manfaat di balik keduanya kecuali keahlian dan kepura-puraan.
Dan kapan Nabi adalah bagian dari kehidupan, bahkan bahan untuk makna-makna barunya, maka tidak akan menjadi bayannya kecuali atas apa yang kami gambarkan kepadamu berupa keindahan, kejelasan, manfaat, ketepatan, dan ketinggian sebesar semua itu.
Dan di sini ada makna yang ingin kami tunjukkan dan bicarakan tentang rahasianya dan hakikatnya, karena sesungguhnya kamu membaca apa yang dikumpulkan dari perkataan nabawi maka kamu tidak mendapati di dalamnya apa yang kamu dapatkan dalam balaghah sastrawan dunia berupa seni perkataan tentang wanita, cinta, dan keindahan alam, dan ia dalam balaghah manusia seperti jantung dalam tubuh: tidak lepas darinya dan tidak berdiri kecuali dengannya, hingga kamu mendapati perkataan tentang wanita saja adalah separuh sastra manusia, sebagaimana wanita adalah separuh kemanusiaan, dan tidak diketahui untuknya ﷺ dalam tujuan-tujuan ini kecuali kalimat-kalimat bayan yang datang dengan apa yang melampaui deskripsi dari keindahan dan ketepatan, sangat indah dalam kebaikan, suci dalam petunjuk, tampak di wajah balaghahnya apa yang tampak di wajah gadis dari tabiat malu dan sopan; seperti sabdanya tentang wanita: “Lemah lembutlah dengan yang rapuh”, dan sabdanya kepada Usamah bin Zaid, dan sungguh beliau telah mengenakannya kain qibtiyyah lalu ia kenakan pada istrinya: “Aku takut ia menggambarkan ukuran tulang-tulangnya”, berkata Asy-Syarif Ar-Radhi dalam menjelaskan kalimat ini: Dan ini adalah isti’arah, dan yang dimaksud bahwa qibtiyyah karena tipisnya menempel pada tubuh, sehingga tampak ukuran dada, pantat, dan apa yang kencang dari daging lengan dan paha, sehingga orang yang melihatnya mengetahui ukuran anggota-anggota ini, hingga ia menjadi seperti yang tampak bagi pandangannya, dan memungkinkan bagi sentuhannya, maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikannya untuk tempat-tempat ini seperti yang menggambarkan apa yang di belakangnya, dan memberitahu tentang apa yang tersembunyi dengannya; dan ini dari ungkapan paling baik tentang makna ini, dan untuk tujuan ini Umar bin Al-Khattab melempar dalam ucapannya: “Jauhilah memakai qibati” karena sesungguhnya jika tidak menerawang ia menggambarkan”. Maka Rasulullah ﷺ adalah bapak keperawanan makna ini, dan siapa yang mengikutinya maka sesungguhnya ia menempuh jalannya.
Kami berkata: Dan ini perkataan yang baik, tetapi dalam ungkapan hadis ada rahasia yang merupakan mukjizat balaghah nabawi yang tidak mendapat petunjuk kepadanya Asy-Syarif, padahal ia adalah hakikat seni dalam kalimat ini secara khusus, dan kami tidak mengira bahwa orang fasih dari orang-orang fasih dunia bisa sepertinya, karena sesungguhnya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bersabda: Aku takut ia menggambarkan ukuran anggota-anggotanya, tetapi bersabda: “ukuran tulang-tulangnya”, padahal yang dimaksud adalah daging anggota-anggota dalam ukurannya dan pembentukannya, dan itu adalah puncak ketinggian dalam sastra, karena menyebut “anggota-anggota” wanita dalam konteks ini, dan dengan tampilan ini, adalah dalam sastra yang sempurna lebih mirip dengan kekotoran, dan lafaz “anggota-anggota” di bawah kain tipis putih mengingatkan pada gambaran mental yang banyak yang disebutkan Ar-Radhi dalam penjelasannya, dan ia menunjuk pada gambaran lain dari belakangnya, maka Nabi ﷺ bersuci dari semua itu, dan memasang hijab bahasa pada makna-makna terbuka ini… dan datang dengan kalimat “tulang-tulang”; karena ia adalah lafaz alami yang bersih dari setiap bisikan, tidak menerima untuk berbelit-belit, dan tidak membangkitkan makna, dan tidak membawa tujuan; karena ia ada pada yang hidup dan yang mati, bahkan ia dengan ini lebih khusus; dan pada yang cantik dan yang jelek, bahkan ia di sini lebih pantas; dan pada yang muda dan yang tua, bahkan ia dalam ini lebih jelas.
Dan anggota-anggota tidak berdiri kecuali dengan tulang-tulang maka majaz atas apa yang kamu lihat, dan hakikat adalah apa yang kamu ketahui.
Dan di antara kalimat-kalimatnya dalam deskripsi alami sabdanya ﷺ ketika beliau menyebut waktu-waktu shalat: “Ashar ketika bayangan setiap sesuatu sepertinya, dan demikian selama matahari hidup, dan Isya ketika syafaq hilang hingga berlalu pundak-pundak malam”, dan pundak-pundak malam: awal-awalnya dan cabang-cabangnya yang mendahului darinya, seperti yang mendahului unta-unta dari leher-lehernya yang memanjang sedikit pemanjangan; dan sabdanya ketika seorang laki-laki bertanya kepadanya kapan shalat Isya akhir, maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika malam memenuhi perut setiap lembah”; dan sabdanya: “Ketika terbit alis matahari maka akhirkanlah shalat hingga ia tinggi”, dan sabdanya: “Sesungguhnya seorang laki-laki dari ahli surga meminta izin Tuhannya untuk bercocok tanam, maka Dia berkata kepadanya: Bukankah kamu dalam apa yang kamu mau? Ia berkata: Ya tetapi aku suka bercocok tanam. Dia berkata: Maka menaburlah maka mendahului pandangan tumbuhannya dan tegaknya dan panennya maka ia menjadi seperti gunung-gunung”. Dan sabdanya: “Ketika seorang laki-laki berjalan maka haus sangat menimpanya, maka ia turun ke sumur, lalu minum darinya kemudian keluar, maka tiba-tiba ada anjing terengah-engah memakan tanah karena haus, maka ia berkata: Sungguh telah sampai ini seperti yang sampai padaku! Maka ia mengisi sepatunya kemudian memegang dengan mulutnya, kemudian naik lalu memberi minum anjing itu maka Allah berterima kasih kepadanya, maka Dia mengampuninya”, mereka berkata: Ya Rasulullah, dan apakah kami dalam binatang ada pahala? Beliau bersabda: “Dalam setiap hati yang basah ada pahala”.
Ini merupakan salah satu karya seni yang indah dan langka. Meskipun demikian, hal semacam ini tidak muncul dalam perkataan beliau Shallallahu alaihi wasallam kecuali dalam contoh-contoh yang telah Anda lihat. Tujuannya bukanlah untuk mengambil ungkapan yang menarik atau untuk membuat khayalan yang indah.
Orang yang tidak dapat membedakan dan tidak teliti akan mengira bahwa kosongnya retorika kenabian dari seni menggambarkan alam, keindahan, dan cinta adalah bukti dari apa yang mereka ingkari atau anggap kasar. Mereka mengatakan: “keterbelakangan, kesederhanaan, dan semacamnya” – hal yang disangkakan oleh kebodohan para orientalis dan orang-orang yang sederajat dengan mereka dari kalangan sastrawan kita yang lemah dan penulis kita yang bodoh.
Sesungguhnya hal itu tidak ada pada Nabi Shallallahu alaihi wasallam karena puisi memang tidak ada padanya dan tidak pantas baginya, sebagaimana telah kami jelaskan di tempatnya. Tugas beliau adalah membimbing kemanusiaan, bukan menghiaskannya; menunjukkan kepada mereka apa yang wajib dalam perbuatan, bukan apa yang bagus dalam seni berbicara; membimbing mereka kepada apa yang harus dilakukan untuk memuliakan diri, bukan kepada apa yang dibayangkan untuk bersenang-senang.
Khayalan adalah sesuatu yang nyata bagi jiwa hanya pada saat terpengaruh dan terkesan olehnya saja. Artinya, ia tidak akan pernah menjadi kenyataan yang tetap, sehingga ia hanyalah kebohongan terhadap kebenaran.
Kemudian beliau Shallallahu alaihi wasallam tidak seperti orator lainnya yang berhubungan dengan alam untuk mengambil inspirasi darinya. Beliau adalah nabi yang diutus, terhubung dengan sumber azali alam untuk menyampaikan kepada alam itu. Senyuman terakhir beliau di dunia adalah senyuman untuk shalat, berseri-seri karena kesucian jiwa mukmin dan keindahannya ketika berdiri di hadapan Penciptanya, dengan ruh cahaya yang mengalir dalam kesuciannya.
Setiap manusia melihat alam semesta sesuai dengan apa yang ada dalam jiwanya. Semua yang dilihat oleh orang yang shalat dengan khusyuk dalam shalatnya tampak baginya seolah-olah sedang shalat dalam bentuk ibadah dengan cara beragama tertentu. Semua yang dilihat orang mabuk dalam kemabukkannya hampir ia lihat terhuyung-huyung, meraung-raung tanpa bisa menahan diri!
Kemudian, berbicara tentang menggambarkan alam, keindahan, dan cinta dengan cara gaya bahasa yang indah hanyalah pintu dari mimpi-mimpi. Karena hal itu memerlukan mata penyair atau pandangan orang yang sedang jatuh cinta. Di sini ada seorang nabi yang menerima wahyu, maka tidak ada tempat untuk khayalan dalam urusannya, kecuali yang berupa perumpamaan yang dimaksudkan untuk menguatkan perasaan manusiawi terhadap kebenaran dalam beberapa hal yang muncul dari pintu bimbingan dan nasihat, sebagaimana telah berlalu contoh-contohnya.
Seperti sabda beliau Shallallahu alaihi wasallam: “Sesungguhnya orang mukmin melihat dosa-dosanya seperti ia duduk di bawah gunung yang takut akan jatuh menimpanya, sedangkan orang fasik melihat dosa-dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya!”
Ini adalah perkataan yang paling fasih yang akan Anda temukan penafsirannya pada jiwa mukmin dengan perasaannya yang halus, seolah-olah indera dari cahaya yang tertanam dalam perasaannya, dan jiwa fasik dengan perasaannya yang kasar, seolah-olah indera dari tanah.
Orang mukmin yang mendengar gambaran ini ketika mengingat dosa-dosanya hampir merasakan gerakan gunung yang akan tercabut dan condong menimpanya. Adapun orang fasik, ketika mendengarnya mengingat dosa-dosanya, maka dosa-dosa itu dalam khayalannya adalah titik-titik hitam yang berlalu seperti lalat, tidak ada darinya kecuali merasa seperti orang yang dipukul hidungnya dengan kaki lalat.
Beliau menyebutkan lalat hinggap di hidung, bukan di mata atau mulut. Itu adalah puncak keindahan dalam penggambaran, karena jika lalat hinggap di mulut atau mata, ia akan menetap dan keras kepala. Jika hinggap di batang hidung, hampir tidak berhenti dan langsung berlalu.
Alam semesta dalam pandangan Nabi Shallallahu alaihi wasallam adalah tanda hikmah, bukan tanda seni; pemandangan orang yang yakin, bukan pemandangan orang yang berimajinasi; bahan untuk penghambaan kepada Allah, bukan bahan untuk pemberhalaan manusia.
Dengan demikian, Islam mengharamkan beberapa hal dan memakruhkan beberapa hal yang tanpanya seni bukanlah seni, dalam berbagai jenis puisi, lukisan, musik, dan cinta. Karena Islam hanya memandang manusia secara individual dan kolektif, masa kini dan masa depan, kewajiban dan manfaat, kenikmatan dan kesakitan. Semua ini tidak ada kebebasan di dalamnya kecuali karena pembatasan, sementara seni tidak ada pembatasan di dalamnya kecuali karena kebebasan.
Dasar agama adalah kepentingan masyarakat dan pembatasannya, sedangkan dasar seni adalah individu dan kebebasannya. Kehidupan ini tidak tampak dalam keadaan tersusun dan teratur kecuali jika untuk kepentingan semua. Jika untuk individu, ia tampak dalam bentuk kehancuran dan kekacauan, dan menjadi di seluruh alam seperti umur satu orang saja.
Kemudian seni memiliki warna-warna yang tidak bisa dihindarkan untuk menggambarkan keindahan yang mengagumkan jiwa. Setan adalah warna merah di dalamnya – yaitu yang paling cemerlang, bersinar, dan indah dalam penggambaran artistik untuk semua yang ada pada wanita, cinta, keindahan, dan hawa nafsu.
Kami tidak mengingkari bahwa kehidupan yang kuat ketika bercampur dengan seni-seni ini memperoleh kegembiraan dan semangat serta memiliki daya tarik dan kenikmatan. Tetapi kehidupan tidak menjadi demikian kecuali karena ia meminum khamrnya. Maka baginya akibat dari seni-seni ini mirip dengan apa yang terjadi pada tubuh yang kuat akibat khamr ketika khamr meresap ke dalam urat-urat hatinya dan meliputi yang basah dan keringnya, sebagaimana terjadi dalam banyak fase sejarah bangsa-bangsa.
Pertimbangan dalam perumpamaan ini bukan pada pengaruh sesaat yang berlalu dengan kegembiraan dan seni kehidupannya, tetapi pada akibat yang pasti ketika datang saatnya yang kekal dengan kesedihan dan seni kehancurannya. Islam dalam apa yang diharamkan dan dimakruhkan dari hal itu tidak lebih dari menginginkan kehidupan untuk hidup, karena tidak mengakui bentuk bunuh diri kehidupan.
Barangsiapa yang tugas terbesarnya adalah menciptakan kebenaran-kebenaran kemanusiaan dan menetapkannya sebagai syariat, perasaan, dan perbuatan, maka seninya tentu berbeda dengan orang yang tugas terbesarnya adalah menyamarkan kebenaran-kebenaran itu dan menghiaskannya agar perasaan terhadapnya tidak sesuai dengan wujudnya yang sebenarnya, sehingga terasa ringan pada jiwa seperti ringannya kebohongan pada saat dipercayai. Inilah tugas terbesar puisi.
Di sini ada rahasia halus yang tidak sempurna pembicaraan kami kecuali dengan menjelaskannya untuk memutuskan perkataan dalam makna ini, sehingga tampak yang benar dari yang batil.
Kami katakan tadi bahwa Nabi Shallallahu alaihi wasallam tidak seperti orator lainnya yang berhubungan dengan alam untuk mengambil inspirasi darinya, tetapi beliau adalah nabi yang diutus, terhubung dengan sumber azalinya untuk menyampaikan kepadanya. Artinya, beliau tidak mengalami penyimpangan jiwa yang dialami orang lain.
Orang paling bijak di dunia pun tidak mampu memahami bagian kecil dari alam semesta dengan pemahaman yang benar dan pasti yang tidak sempurna kecuali dengan memahami seluruh alam semesta. Karena semuanya adalah partikel yang diperbesar tanpa batas. Kenabian tidak lain adalah hubungan dengan rahasia.
Masa kini yang ada pada seseorang hanyalah masa kini belaka karena berubah dan binasa. Ia termasuk penyimpangan yang menimpa jiwa, dan darinya semua tujuan kehidupan manusiawi yang fana. Karena itu, cap Allah pada nabi kami Shallallahu alaihi wasallam adalah pembersihan dari penyimpangan hawa nafsu dan kemewahan alam. Beliau dari kalangan manusia tetapi berakhlak dengan akhlak Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Beliau memiliki dalam hal ini apa yang tidak dimiliki dan tidak sanggup dilakukan oleh siapa pun. Wajib bagi yang membaca sirah, sifat-sifat, dan hadis beliau untuk selalu mencari cap Allah dalam setiap hal darinya. Maka ia akan melihat seolah-olah mempelajarinya bersama malaikat, bukan bersama manusia.
Akan tampak baginya dari penafsirannya bahwa dunia tidak mampu mewujudkan tujuan akhlak tertingginya kecuali padanya, dan bahwa beliau Shallallahu alaihi wasallam adalah manusia dan juga gerakan dalam kemajuan kemanusiaan. Di antara mukjizatnya adalah bahwa beliau melahirkan dalam sejarahnya apa yang tidak mampu dilakukan kemanusiaan dalam sejarahnya.
Semua urusan beliau Shallallahu alaihi wasallam diletakkan secara ilahi seolah-olah sifat-sifat yang diciptakan Allah dan digantungkan dalam sejarah untuk makna-makna kehidupan, seperti menggantungkan matahari di langit untuk bahan-bahan kehidupan.
Sesungguhnya syahwat dan kepentingan hanyalah pembatasan jiwa pada satu sisi perasaan yang terbatas dengan kenikmatan, kekhawatiran, dan perasaan yang menjadikan tujuan manusia adalah dirinya sendiri. Sebagaimana ia mengisi perutnya dan memilih dengan teliti untuknya, ia ingin dari semua itu mengisi kepribadiannya dengan cara yang sama persis, cara mengenyangkan perutnya.
Dengan ini hakikat-hakikat alam mengejeknya karena tidak terbatas pada seseorang dan tidak terbatas pada seorang pun. Setiap orang yang batas kemanusiaannya adalah tubuhnya dan kenikmatan tubuhnya, maka ia dalam ukuran alam semesta ini seperti mayat yang terbatas dari seluruh bumi hanya oleh kuburannya dan tanah kuburnya.
Ia menemukan tubuhnya dan kebohongan-kebohongan alam padanya, tetapi tidak akan menemukan ruh dan kebenarannya. Jika tidak menemukan ini, tidak akan mengenal alam semesta dan rahasianya. Jika kehilangan ini, maka ialah masa kini yang sempit, buruk, dan bohong.
Karena itu, seninya adalah syahwat perasaannya meskipun tertipu, syahwat pandangannya meskipun disamarkan, dan syahwat khayalannya meskipun penyamaran dan kepalsuan. Masa kini yang sempit, buruk, bohong, dan menipu ini disebut dalam bahasa Al-Qur’an dan hadis dengan “dunia”.
Jika manusia meluas untuk ruhnya, menyadari kebenarannya, memahami hubungan antara ruh itu dengan alam semesta, mulai mewujudkan ruh surgawi ini dalam perbuatannya, dan melampaui batas tubuhnya menuju ide keabadian, maka semua ini disebut dalam bahasa Al-Qur’an dan hadis dengan “akhirat”.
Keduanya adalah dua kata yang mencapai puncak kreativitas dalam seni dan filsafat. Berdasarkan itu dapat dipahami sabda beliau Shallallahu alaihi wasallam dalam khutbahnya: “Barangsiapa yang perhatiannya tertuju pada akhirat, Allah akan menyatukan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia datang kepadanya dalam keadaan hina. Barangsiapa yang perhatiannya tertuju pada dunia, Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kemiskinan di depan matanya, dan tidak datang kepadanya dari dunia kecuali yang telah ditetapkan untuknya.”
Jika Anda menafsirkan kata-kata ini dengan apa yang kami gambarkan kepada Anda dan mengarahkannya pada takwil tersebut, Anda akan melihat keajaiban maknanya yang tidak pernah habis dan menyadari rahasia sabda beliau Shallallahu alaihi wasallam: “Sesungguhnya aku memiliki ilmu dari Allah yang diajarkan-Nya kepadaku.”
Perluasan diri manusiawi dan persesuaiannya dengan hakikat-hakikat alam semesta menjadikan manusia seperti alam semesta itu sendiri, terkumpul tidak terpecah dalam kekhawatiran hidup, dan menjadikan kekayaan sebagai makna, bukan materi.
Seandainya seseorang memiliki semua yang disinari matahari dan memiliki harta di timur dan harta di barat, tidak akan mencapai sedikit pun dari kenikmatan makna ini di hatinya. Dalam keadaan ini, dunia yang luas yang membuat manusia binasa dalam meraihnya menjadi hanya kebutuhan kecil yang mungkin berupa pakaian, suapan makanan, dan semacamnya yang tidak berharga. Inilah penghinaannya padahal ia pemilik raja-raja.
Jika manusia menyempit dari ruhnya, jiwa menjadi seperti saringan yang diletakkan tepung halus di dalamnya untuk keluar darinya, sehingga menahan semuanya tetapi tidak menahan apa pun, dan diletakkan di depan matanya makna kemiskinan. Maka ia bekerja selamanya untuk terisi tetapi tidak pernah terisi. Jika saringan dibuat dengan cara seperti itu dibuat, maka kemiskinannya tentu bergantung padanya dari susunannya sendiri. Pahamkah?
Karena Nabi Shallallahu alaihi wasallam selaras dengan kebenaran, terhubung dengannya, dibatasi oleh Tuhannya bukan oleh dirinya, maka beliau keluar dari masa kini yang kita alami, meluas dengan makna kemanusiaannya yang sempurna menuju masa depan yang ada di balik kehidupan.
Apa yang kita batasi dengan sifat alami kita pada beberapa nama, beliau tidak memperhatikannya karena sifat alaminya. Di antaranya adalah sifat-sifat kekayaan, perhiasan, kenikmatan, kesenangan, keindahan, makanan, minuman, dan yang masuk alam dari makna-makna semacamnya.
Semua ini dilihat manusia dari segi kebutuhan dan ketamakan padanya karena lemahnya pemahaman dan sempitnya kesadaran mereka menciptakan kebohongan khayalan bagi mereka. Dari situlah muncul sifat-sifat mereka dan ragam sifat mereka.
Adapun Nabi Shallallahu alaihi wasallam melihat itu dari sisi kecukupan darinya dan ketinggian atasnya, karena beliau tidak memandang dengan sifat ruh agungnya kecuali pandangan yang tertinggi dan tersuci. Akhir pemahaman kita terhadap kebenaran dan alam adalah awal pemahaman beliau terhadap alam dan kebenaran. Apa yang tidak mampu dilakukan kemanusiaan, dari situlah kenabian dimulai.
Berdasarkan ini, salah satu bukti terkuat kesempurnaan beliau Shallallahu alaihi wasallam, kenabiannya, keluasan ruhnya, dan kedalaman pemahamannya terhadap hakikat alam semesta adalah bahwa beliau tidak mengembangkan seni-seni itu sebagaimana yang dilakukan para orator dan tidak mengambil cara mereka, karena semuanya termasuk kebohongan hati, pikiran, dan mata.
Dalam hukum kebenaran, segala sesuatu adalah semua hal dan sebagaimana adanya. Adapun dalam hukum kebohongan, semua hal adalah apa yang Anda pilih darinya dan sebagaimana Anda memilihnya.
Cukuplah bagi dunia dari keindahan seni beliau Shallallahu alaihi wasallam apa yang menambahkan pada kehidupan keagungan hal-hal agung dan mendorong kemanusiaan di jalannya yang satu, yaitu antara ayah dan ibu, jalan saudara kepada saudaranya, yang ada di dunia antara dua orang seperti yang ada dalam darah antara dua hati: kasih sayang dan cinta.
Cukuplah bagi kami dari keindahan seni ini apa yang membimbing manusia kepada kebenaran dirinya, meneguhkannya dalam keberadaan kemanusiaannya yang nyata, dan menjadikan semua kebajikan sebagai pendidikan hati yang membesarkannya, kemudian membesarkan, kemudian terus membesarkan hingga meluas untuk kebenaran kalimat agung ini: Allahu Akbar (Allah Maha Besar).
Ketika aku berusia sepuluh tahun, aku telah menghafal seluruh Al-Quran dengan baik dan menguasai kaidah-kaidah bacaannya. Saat itu kami tinggal di kota “Damanhur”, ibu kota provinsi Beheira. Ayahku rahimahullah adalah ketua hakim-hakim syariah di wilayah tersebut. Kebiasaannya adalah melakukan i’tikaf setiap tahun di salah satu masjid selama sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Dia masuk ke masjid dan tidak meninggalkannya kecuali pada malam Idul Fitri setelah berakhirnya puasa. Di sana dia bercontemplasi, beribadah, dan terhubung dengan makna yang hakiki. Dia memandang yang fana dengan makna yang kekal, mengamati dunia seperti orang yang berdiri menyaksikan hari-hari yang berlalu. Dia mengubah kehidupan dalam amal dan pikirannya, meninggalkan debu bumi sehingga tidak berjalan di atasnya, dan debu makna-makna duniawi sehingga tidak terpapar padanya. Dia memasuki waktu yang terbebas dari sebagian besar belenggu jiwa, dan menetap di tempat yang dipenuhi semua orang dengan satu pemikiran yang tidak berubah. Kemudian dia tidak melihat dari manusia kecuali jenis yang menyegarkan roh dengan wudu, yang dipanggil untuk memasuki masjid dengan panggilan kekuatan yang mulia, yang membungkuk dalam rukuknya untuk tunduk pada selain makna-makna yang hina, yang bersujud di hadapan Tuhannya untuk menyadari makna keagungan yang terbesar.
Apakah hikmah tempat-tempat yang didirikan untuk beribadah kepada Allah? Sesungguhnya tempat-tempat tersebut berdiri dalam kehidupan, membuat hati manusia dalam pertentangan dunia merasakan bahwa dia ada dalam diri manusia, bukan dalam binatang…
Suatu malam aku pergi dan bermalam bersama ayahku di masjid. Ketika kami berada di tengah malam yang terakhir, dia membangunkanku untuk sahur, kemudian memerintahkanku untuk berwudu untuk salat fajar, sementara dia sendiri meneruskan bacaannya. Ketika waktu sahur yang tinggi tiba, dia berseru dengan doa yang ma’tsur: “Ya Allah, bagi-Mu segala puji; Engkau adalah cahaya langit dan bumi, dan bagi-Mu segala puji; Engkau adalah keindahan langit dan bumi, dan bagi-Mu segala puji; Engkau adalah perhiasan langit dan bumi, dan bagi-Mu segala puji; Engkau yang menegakkan langit dan bumi serta siapa yang ada di dalamnya dan siapa yang ada di atasnya; Engkau adalah kebenaran dan dari-Mu kebenaran…” hingga akhir doa.
Orang-orang mulai berdatangan ke masjid, maka kami turun dari lantai atas yang mereka sebut “dakah” dan duduk menunggu salat. Masjid-masjid pada masa itu diterangi dengan lampu-lampu minyak. Di setiap lampu ada sumbu yang cahayanya bergetar samar dan redup, berkedip-kedip seolah-olah sebagian makna cahaya, bukan cahaya itu sendiri. Lampu-lampu ini dengan kegelapan yang bergetar di sekelilingnya tampak seperti celah-celah bercahaya di udara. Mereka tidak menyingkap malam tetapi menyingkap rahasia-rahasia indahnya, dan tampak dalam kegelapan seolah-olah penafsiran lemah untuk makna yang samar yang diisyaratkannya tetapi tidak dijelaskannya. Jiwa tidak merasakan kecuali bahwa mata memanjang dalam cahayanya dari yang terlihat ke yang tidak terlihat seolah-olah rahasia yang mengungkap rahasia.
Mereka memiliki pemandangan seperti pemandangan bintang-bintang yang menyempurnakan keindahan malam dengan melemparkan sinar di ujung-ujung atasnya dan mengenakan pada kegelapan perhiasan bercahayanya. Orang yang duduk di masjid pada waktu sahur merasakan kehidupan seolah-olah tersembunyi, dan merasakan di tempat itu sisa-sisa mimpi, dan mengalir di sekelilingnya hal yang majhul yang darinya akan keluar hari esok. Dalam kegelapan yang bercahaya ini tersingkap baginya kedalamannya yang tumpah di dalamnya roh masjid, sehingga dia mengalami keadaan rohani yang di dalamnya dia tenang terhadap takdir dengan hati yang damai dan tenang, kembali kepada dirinya, terkumpul dalam indera-inderanya, menyendiri dengan sifat-sifatnya, terpantul padanya cahaya hatinya; seolah-olah dia keluar dari kekuasaan apa yang diterangi siang hari, atau seolah-olah kegelapan telah menghapus dalam dirinya warna-warna bumi.
Kemudian dia merasakan fajar dalam senja itu ketika bercampurnya akhir kegelapan dengan awal cahaya, perasaan yang segar seolah-olah malaikat telah turun membawa awan tipis yang mereka usapkan pada hatinya agar segar dari kekeringan dan lembut dari kekasaran, dan seolah-olah mereka datang bersamanya dengan fajar agar dia menerima siang dari tangan-tangan mereka yang dimulai dengan rahmat dan dibuka dengan keindahan. Jika dia adalah penyair jiwa, maka bertemu di dalamnya cahaya langit dengan cahaya manusia, dan dia berkilau dalam rohnya di bawah fajar.
Aku tidak akan pernah melupakan saat itu sementara kami berada dalam suasana masjid, dan lampu-lampu tergantung seperti bintang-bintang di tempatnya dari langit, dan lampu-lampu itu bergetar di dalamnya seperti getaran pikiran cinta, dan orang-orang duduk dengan ketenangan roh mereka, dan di sekeliling setiap orang ada ketenangan hatinya. Benda-benda menjadi samar di mata agar dikenakan oleh perasaan rohani dalam jiwa, sehingga setiap benda memiliki maknanya yang darinya dan maknanya yang bukan darinya, maka terciptalah di dalamnya keindahan puitis sebagaimana diciptakan untuk pandangan yang berimajinasi.
Aku tidak akan pernah melupakan saat itu. Telah terpancar dalam suasana masjid suara merdu yang menyayat kegelapan malam seperti dentingan lonceng di bawah cakrawala yang tinggi sementara dia melantunkan ayat-ayat ini dari akhir Surah An-Nahl: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan jika kamu membalas dendam, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Dan bersabarlah dan tiadalah kesabaranmu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. An-Nahl: 125-128)
Pembaca ini menguasai suaranya dengan sempurna sebagaimana yang dimiliki pemilik suara yang merdu. Dia mengolahnya lebih indah daripada burung tekukur yang meratap dalam nada-nadanya, dan mencapai dalam kemerduannya setiap pencapaian yang mampu dilakukan orang yang mampu, hingga kenikmatan musikal tidak dapat ditafsirkan dengan lebih indah daripada yang ditafsirkan suara ini. Dia tidak lain seperti burung bulbul yang digerakkan alam dengan gaya-nya dalam keindahan bulan, maka dia bergetar menjawabnya dengan gayanya dalam keindahan kicauan.
Suaranya memiliki susunan yang menakjubkan dalam nada-nadanya, menggabungkan antara kekuatan kelembutan dan kelembutan kekuatan, dan bergetar dengan getaran rohani seperti kesedihan yang tiba-tiba dihinggapi kegembiraan. Dia berteriak teriakan yang bergema di udara dan di jiwa, dan bergema di tempat dan di hati, dan dengan itu kalam Ilahi berubah menjadi sesuatu yang nyata, menyentuh roh dan menyegarkannya seperti embun, sehingga dia bergetar lembut, dan dia seperti bunga yang diusap oleh embun.
Kami mendengar Al-Quran segar dan lembut seperti pertama kali turunnya wahyu. Suara indah ini berputar dalam jiwa seolah-olah sebagian rahasia yang berputar dalam sistem alam, dan hati ketika menerima ayat-ayat seperti hati pohon yang menerima air dan membalutnya darinya.
Tempat dan waktu bergetar seolah-olah Yang Maha Berbicara, Maha Suci dan Maha Tinggi, telah menampakkan diri dalam kalam-Nya, dan fajar tampak seolah-olah berdiri meminta izin kepada Allah untuk menerangi dari cahaya ini!
Kami mendengar Al-Quran fajar seolah-olah dunia yang di luar masjid telah terhapus dan kebatilannya menjadi batal, sehingga tidak tersisa di bumi kecuali kemanusiaan yang suci dan tempat ibadah. Inilah mukjizat roh ketika manusia berada dalam kenikmatan rohnya yang terangkat di atas tabiat duniawinya.
Adapun anak yang ada dalam diriku saat itu seolah-olah dipanggil dengan all itu untuk membawa risalah ini dan menyampaikannya kepada lelaki yang akan datang padanya setelahnya. Maka aku dalam setiap keadaan tunduk kepada suara ini: “Serulah kepada jalan Tuhanmu”; dan aku dalam setiap kesulitan khusyuk kepada suara ini: “Dan bersabarlah dan tiadalah kesabaranmu melainkan dengan pertolongan Allah!”
Bahasa, Agama, dan Adat Istiadat Sebagai Pilar Kemerdekaan
Hakikat bangsa bukanlah dalam penampakan lahiriah yang terlihat dari suatu rakyat yang berkumpul, diatur oleh hukum-hukum dan sistem-sistemnya; tetapi hakikat itu adalah makhluk rohani yang terkandung dalam rakyat, yang murni baginya dari tabiatnya, yang terbatas padanya dalam susunannya seperti sari pohon; tidak terlihat kerjanya padahal seluruh pohon adalah kerjanya.
Makhluk rohani ini adalah gambaran besar dari nasab pada mereka yang memiliki hubungan kekerabatan dari individu-individu, namun dia mewujudkan dalam rakyat kekerabatan sifat-sifat satu sama lain; maka dia menjadikan bangsa memiliki urusan keluarga, dan menciptakan dalam tanah air makna rumah, dan mengadakan dalam perbedaan kecenderungan kesamaan, dan mengembalikan yang beragam kepada tabiat kesatuan, dan menciptakan bagi bangsa kepribadiannya yang khas, dan mewajibkan bagi kepribadian ini terhadap yang lain hukum saling membantu dan membela; karena dia menjadikan pikiran-pikiran bersama, dorongan-dorongan setara, dan keinginan-keinginan saling mendukung; maka terkumpullah seluruh bangsa pada satu pendapat: mereka saling mendukung dengan kekuatan-kekuatan mereka dan sebagian menguatkan sebagian yang lain di dalamnya; dan dengan semua ini maka roh bangsa telah meletakkan dalam kalimat bangsa maknanya.
Akhlak kuat yang diciptakan oleh makhluk rohani bagi bangsa adalah prinsip-prinsip yang diambil dari pengaruh agama, bahasa, dan adat istiadat, dan dia adalah hukum yang berlaku yang mengambil kekuatannya dari dirinya sendiri; karena dia bekerja dalam wilayah batin dari belakang perasaan, menguasai pikiran, mengarahkan dorongan-dorongan jiwa; maka dia sendirilah yang memenuhi yang hidup dengan jenis kehidupannya, dan dia adalah cap waktu pada bangsa-bangsa, dan seolah-oleh sesungguhnya para nenek moyang telah meletakkan tanda khusus mereka pada keturunan mereka.
Adapun bahasa, maka dia adalah gambaran keberadaan bangsa dengan pikiran-pikiran, makna-makna, dan hakikat-hakikat jiwa mereka, keberadaan yang khas yang berdiri dengan ciri-cirinya; maka dia adalah kebangsaan pikiran, bangsa bersatu dengannya dalam bentuk-bentuk berpikir dan cara-cara mengambil makna dari materi; dan ketepatan dalam susunan bahasa adalah dalil atas ketepatan kemampuan-kemampuan pada ahlinya, dan kedalamannya adalah kedalaman roh dan dalil kebaikan atas kecenderungan bangsa kepada berpikir dan meneliti sebab-sebab dan illat-illat, dan banyaknya derivasi-derivasinya adalah bukti atas kecenderungan kebebasan dan ambisinya; karena roh perbudakan adalah sempit yang tidak meluas, dan kebiasaannya adalah melekat pada kata dan kata-kata yang sedikit.
Jika bahasa berada pada kedudukan ini, dan bangsanya bersemangat padanya, bangkit dengannya, luas di dalamnya, membesarkan urusannya, maka hal itu tidak datang kecuali dari roh penguasaan dalam rakyatnya dan kesesuaian antara tabiatnya dan kerja tabiatnya, dan karena dia adalah tuan atas urusnya; dan mewujudkan keberadaannya, dan menggunakan kekuatannya, dan mengambil haknya. Adapun jika darinya ada kelalaian dan penelantaran dan meninggalkan bahasa untuk tabiat pasar, dan meremehkan urusannya, dan menganggap enteng bahayanya, dan lebih menyukai yang lain dengan cinta dan penghormatan; maka ini adalah rakyat yang melayani bukan yang dilayani, pengikut bukan yang diikuti, lemah dalam tanggung jawab kepemimpinan, tidak sanggup memikul keagungan warisannya, puas dengan sebagian haknya, cukup dengan kebutuhan-kebutuhan hidup, ditetapkan bagi pemerintahannya hukum yang sebagian besarnya untuk perampasan dan sebagian kecilnya untuk keuntungan yang seperti perampasan.
Tidak heran bahasa bangsa adalah sasaran pertama para penjajah; karena rakyat tidak akan berubah pertama kali kecuali dari bahasanya; karena asal perubahan adalah dari pikiran-pikiran, perasaan-perasaan, dan harapan-harapannya, dan jika dia terputus dari nasab bahasanya maka dia terputus dari nasab masa lalunya, dan kembali kebangsaannya menjadi gambaran yang tersimpan dalam sejarah, bukan gambaran yang terwujud dalam keberadaannya; maka tidak ada seperti bahasa yang menjadi nasab bagi perasaan dan kecerdasan hingga anak-anak dari satu ayah jika berbeda bahasa mereka sehingga tumbuh dari mereka yang tumbuh dengan satu bahasa, dan yang kedua tumbuh dengan bahasa lain, dan yang ketiga dengan bahasa ketiga, mereka akan dalam perasaan seperti anak dari tiga ayah.
Tidak ada bahasa suatu rakyat yang hina kecuali dia hina, dan tidak merosot kecuali urusannya dalam kehilangan dan kemunduran; dan dari sini orang asing penjajah memaksakan bahasanya secara paksa pada bangsa yang dijajah, dan menunggangi mereka dengannya, dan membuat mereka merasakan keagungannya di dalamnya, dan menarik mereka dari sisinya; maka dia menghukum mereka dengan tiga hukuman dalam satu pekerjaan: adapun yang pertama adalah memenjarakan bahasa mereka dalam bahasanya dengan penjara seumur hidup; adapun yang kedua adalah menghukum masa lalu mereka dengan pembunuhan secara penghapusan dan pelupaan; adapun yang ketiga adalah membelenggu masa depan mereka dengan belenggu yang dia buat; maka urusan mereka setelahnya menjadi pengikut urusannya.
Mereka yang mempelajari bahasa-bahasa asing cenderung kepada ahlinya dengan tabiat pembelajaran ini, jika fanatisme mereka terhadap bahasa mereka tidak kuat dan mantap dari agama atau kebangsaan; maka kamu melihat mereka jika melemah fanatisme ini dalam diri mereka, mereka malu dengan kebangsaan mereka dan berlepas diri dari pendahulu mereka dan terkelupas dari sejarah mereka, dan timbul dalam diri mereka kebencian terhadap bahasa mereka dan sastra bahasa mereka, dan terhadap kaum mereka, dan hal-hal kaum mereka, sehingga tanah air mereka tidak dapat mengilhami kepada mereka rahasia-rahasia rohnya; karena tidak sesuai dari mereka respons dalam tabiat, dan mereka tunduk dengan cinta kepada yang lain, maka mereka melampaui tanah air mereka padahal mereka di dalamnya, dan mereka mewarisi darah mereka dari keluarga mereka, kemudian perasaan-perasaan dalam darah ini untuk orang asing, dan dari situlah menjadi pada mereka nilai hal-hal berdasarkan sumbernya bukan dirinya sendiri, dan berdasarkan khayalan yang dikira di dalamnya bukan berdasarkan hakikat yang dibawanya; maka menjadi hal orang asing dalam madzhab mereka lebih indah dan lebih berharga; karena kepadanya kecenderungan dan di dalamnya penghormatan dan pengagungan; dan mungkin yang nasional sama dengannya atau lebih indah darinya, tetapi dia kehilangan kecenderungan, maka lemah hubungannya dengan jiwa, sehingga kembali semua keistimewaannya menjadi lemah tidak membedakannya.
Yang lebih mengherankan dari ini dalam urusan mereka, bahwa hal-hal orang asing tidak membawa makna-makna yang mempesona dalam jiwa mereka kecuali jika tetap membawa nama-nama asingnya, maka jika yang asing dinamai dengan bahasa kebangsaan mereka berkurang maknanya pada mereka dan mengecil dan tampak di dalamnya kehinaan… Dan itu tidak lain karena kosongnya jiwa mereka dan kehinaannya; karena mereka tidak berpihak kepada kebangsaan mereka maka huruf dari bahasa mereka tidak mengilhami mereka apa yang diberikan huruf asing.
Timur terjangkit penyakit ini, dan darinya datang masalah-masalahnya atau sebagian besarnya; dan tidak ada di dunia bangsa yang mulia yang mendahulukan bahasa orang lain atas bahasa dirinya sendiri, dan dengan ini mereka tidak mengenal untuk hal-hal asing tempat kecuali dari belakang batas-batas hal-hal nasional; dan seandainya kita orang-orang Timur mengambil ini, maka ini saja akan menjadi pengobatan yang menyeluruh untuk sebagian besar masalah kita.
Maka bahasa-bahasa saling memperebutkan kebangsaan, dan dia, demi Allah, adalah pendudukan mental dalam rakyat-rakyat yang lemah fanatismenya; dan jika merendah bahasa kebangsaan pada ahlinya, berpengaruh bahasa asing dalam akhlak kebangsaan sebagaimana berpengaruh cuaca asing dalam tubuh yang pindah kepadanya dan tinggal di dalamnya.
Adapun jika kuat fanatisme, dan mulia bahasa dan bangkit untuknya pembelaan, maka tidak akan menjadi bahasa-bahasa asing kecuali pelayan yang terangkat dengannya, dan kembali satu jengkal orang asing menjadi satu jengkal bukan satu meter… Dan menjadi fanatisme itu untuk bahasa kebangsaan sebagai materi dan bantuan untuk semua yang bersifat kebangsaan, maka menjadi setiap hal asing telah tunduk kepada kekuatan yang mengalahkan dan menang; yaitu kekuatan iman kepada kemuliaan nasional dan kemerdekaan tanah air; dan ketika ditetapkan yang pertama bahwa dia yang pertama, maka semua kekuatan keberadaan tidak menjadikan yang setelahnya sesuatu kecuali bahwa dia yang kedua.
Agama adalah hakikat akhlak sosial dalam bangsa, dan dialah yang menjadikan hati-hati semuanya satu lapisan meskipun berbeda penampakan-penampakan sosial tinggi dan rendah dan yang di antaranya, maka dia dengan itu adalah hati nurani hukum rakyat, dan dengannya bukan yang lain ketetapan bangsa pada keutamaan-keutamaan psikisnya, dan di dalamnya bukan di lainnya makna kemanusiaan hati.
Karena itu agama termasuk sarana-sarana paling kuat yang diandalkan dalam membangunkan hati nurani bangsa, dan menyadarkan rohnya, dan menggairahkan khayalnya; karena di dalamnya kekuasaan terbesar yang hanya dialah yang memiliki kekuatan kemenangan atas materi-materi; maka kekuasaan agama adalah kekuasaan setiap individu atas dirinya dan tabiatnya; dan ketika kuat kekuasaan ini dalam suatu rakyat maka dia menjadi penjaga kehormatan yang enggan, tidak dipaksa oleh kekuatan, dan tidak tunduk pada penindasan.
Seandainya tidak ada ketaatan kepada syariat; tidak akan lurus ketaatan kepada hukum dalam jiwa; dan seandainya tidak ada ketaatan psikis kepada hukum-hukum; tidak akan teratur bangsa; maka tidak ada kerja agama kecuali menentukan tempat yang hidup dalam keutamaan-keutamaan kehidupan; dan menetapkan tanggung jawabnya dalam hak-hak dan kewajiban-kewajibannya, dan menjadikan semua itu sistem yang menetap di dalamnya tidak berubah, dan mendorong manusia dengan sistem ini menuju yang lebih sempurna, dan selalu menuju yang lebih sempurna.
Setiap bangsa yang lemah agama di dalamnya kacau rekayasa sosialnya dan berombak sebagiannya dalam sebagian; karena termasuk hikmah yang halus dalam agama ini bahwa dia tidak menjadikan tujuan terakhir dari kehidupan sebagai tujuan di bumi ini; dan itu agar teratur tujuan-tujuan duniawi dalam manusia sehingga tidak saling memakan sehingga kaya orang kaya sementara dia aman, dan miskin orang miskin sementara dia qana’ah, dan menjadi pahala yang atas dalam bahwa dia kembali kepada yang bawah dengan kebaikan, dan pahala yang bawah dalam bahwa dia sabar atas meninggalkan yang atas dalam kedudukannya; kemudian mereka semua mengarah dengan keutamaan-keutamaan mereka kepada mewujudkan tujuan Ilahiyah yang satu, yang tidak besar baginya yang besar, dan tidak kecil darinya yang kecil; yaitu kebenaran, dan kebaikan, dan kebaikan, dan tolong-menolong dalam kebajikan dan takwa.
Selama kerja agama adalah membentuk akhlak yang tetap yang tekun dalam kerjanya, yang bangga dengan kekuatannya, yang tenang kepada kesabarannya, yang lari dari kelemahan, yang enggan pada kehinaan, yang kafir pada perbudakan, dan faedah-faedahnya, yang bekerja dalam kepentingan jamaah, yang terikat dalam manfaat-manfaatnya dengan kewajiban-kewajibannya terhadap manusia; selama kerja agama adalah membentuk akhlak ini maka menjadi agama dalam hakikatnya adalah menjadikan perasaan terhadap syariat lebih kuat daripada perasaan terhadap materi; dan sungguh tidak menemukan kemerdekaan kekuatan yang lebih kuat baginya dan lebih kembali padanya dari makna ini jika ditetapkan dalam jiwa-jiwa bangsa dan tercetak padanya.
Dan bangsa yang religius inilah yang menjadi kewajibannya bahwa dia mulia dan menguasai dan bangga, dan menjadi kewajiban kewajiban ini di dalamnya bahwa dia tidak jatuh dan tidak tunduk dan tidak hina.
Dengan dasar-dasar agung yang diciptakan agama yang benar dan kuat dalam jiwa, maka terbentuk kesuksesan politik bagi rakyat yang memeliharanya dan menang untuknya; karena menjadi dari sifat-sifat alami dalam pemimpin-pemimpin dan orang-orangnya ketetapan pada kecenderungan politik, dan ketegasan dalam kebenaran, dan iman kepada kemuliaan amal, dan mengunggulkan itu atas keadaan-keadaan materi yang menghalangi pemilik pendapat; untuk memalingkan dia dari pendapat dan madzhab-nya; dari harta, atau kedudukan, atau jabatan, atau sesuai hawa nafsu, atau takut murka, atau takut ancaman… kepada lainnya dari semua yang menarik kebatilan atau ditakut-takuti dengan kezaliman. Dan jangan luput darimu bahwa orang yang beriman kuat keimanan penuh kepercayaan dan keyakinan dan kesetiaan dan kejujuran dan tekad dan kekukuhan pada keutamaannya dan ketegasan pada apa yang dia hadapi dalam jalannya tidak menjadi orang seperti manusia; bahkan dia adalah orang kemerdekaan yang kewajibannya bagian dari tabiatnya dan tujuan mulianya tidak terpisah darinya, dia adalah orang kejujuran prinsip, dan kejujuran kata, dan kejujuran harapan, dan kejujuran kecenderungan; dan dia adalah orang yang meledak dalam sejarah setiap kali kehidupan nasional membutuhkan pelepasan bom-bomnya untuk kemenangan.
Adat istiadat adalah masa lalu yang hidup dalam masa kini, dan dia adalah kesatuan sejarah dalam rakyat, mengumpulkannya sebagaimana dikumpulkan asal yang satu; kemudian dia seperti agama dalam berdirinya atas dasar adab dalam jiwa, dan dalam mencakupnya pengharaman dan penghalalalan; dan hampir adat istiadat rakyat menjadi agama sempit khusus baginya, yang membatasinya dalam sukunya dan tanah airnya, dan mewujudkan dalam individu-individunya keakraban dan keterkaitan, dan mengambil mereka semua dengan satu madzhab; yaitu menghormati masa lalu.
Menghormati masa lalu dalam setiap rakyat bersejarah adalah sarana rohani yang dengan itu rakyat mengambil ilham para pahlawannya, dan filosof-filosofnya, dan ulama-ulamanya dan sastrawan-sastrawannya, dan ahli seni darinya; maka mereka mengilhami kepadanya ilham orang-orang besar mereka yang tidak dikalahkan mati; dan dengan ini menjadi gambar-gambar besar mereka hidup dalam sejarahnya, dan hidup dalam harapan-harapan dan saraf-sarafnya.
Adat istiadat adalah satu-satunya yang menjadikan tanah air sesuatu yang psikis hakiki, hingga manusia merasakan bahwa untuk tanahnya ada keibuan ibu yang melahirkannya, dan untuk kaumnya ada kebapakan bapak yang membawanya kepada kehidupan, dan tidak mengenal ini kecuali orang yang merantau dari tanah airnya, dan bergaul dengan selain kaumnya, dan merasa asing dari selain adat istiadatnya; maka di sana tanah air menetapkan dirinya dengan keagungan dan kekuasaan seolah-olah dia saja adalah dunia.
Tabiat yang tumbuh dalam jiwa dari pengaruh adat istiadat inilah yang membangunkan dalam nasionalis roh pembedaan dari orang asing, dan membuat jiwanya asing darinya seolah-olah dia perasaan bumi yang membangunkan ahlinya dan memperingatkan mereka bahaya.
Ketika benar nasionalisme dalam jiwa maka dia mengakui setiap hal asing dalam hakikat asingnya; maka ini adalah penampakan pertama kemerdekaan, dan menjadi sarana paling kuat kepada kemuliaan nasional.
Dengan bahasa, agama, dan kebiasaan, suatu bangsa terikat pada jati dirinya yang luhur dengan segala ciri khas dan unsur pembentuknya. Maka, tidaklah mudah dicabut dari identitas itu, juga tidak mudah dipisahkan dari sejarahnya. Dan bila terpaksa berada dalam keadaan tertekan, ia tidak akan menyerah dan tidak akan hancur; ia akan terus bertahan dan bersikap seperti duri tajam: jika tidak dibiarkan sebagaimana adanya, maka ia tidak akan memberikan apa pun dari dirinya kecuali tusukan.
Pembaruan Islam: Misi Al-Azhar di Abad ke-20
“Al-Azhar” – inilah kata yang dalam khayalan bangsa Mesir tidak ada yang dapat menandinginya kecuali kata “Piramida”. Dalam kedua kata tersebut tersimpan rahasia tersembunyi dari rahasia-rahasia sejarah yang menjadikan beberapa kata sebagai warisan intelektual bangsa, yang melupakan substansi bahasa di dalamnya dan tidak menyisakan selain substansi jiwa. Sebab kata-kata ini menjadi ungkapan tentang sesuatu yang tetap seperti ketetapan ide yang tidak berubah, menetap dalam roh kebangsaan sebagaimana ketetapannya dalam waktu, terwujud dari maknanya seolah-olah alam telah mengkhususkannya dengan substansinya tanpa ada yang berbagi dalam substansi ini. Batu di Piramida Agung hampir-hampir menjadi waktu dalam akal, bukan batu, dan seni bukan jasad. Tempat di Al-Azhar hilang makna tempat di dalamnya dan berubah menjadi kekuatan intelektual yang memesona yang ada dalam yang terlihat maupun yang tidak terlihat.
Menurut saya, Al-Azhar di zaman kita ini hampir menjadi tafsir baru bagi hadis: “Mesir adalah tempat penyimpanan panah Allah di bumi-Nya”. Para ulamanya hari ini adalah panah-panah yang menembus dari panah-panah Allah yang Dia lemparkan kepada siapa yang bermaksud jahat terhadap agama-Nya, maka Dia memegangnya untuk pemberian dan melemparkannya untuk kemenangan. Dan inilah makna yang harus menjadi makna pertama mereka di abad ke-20 ini yang diuji dengan keberanian dua puluh abad terhadap agama-agama, pengabaiannya, dan kekafiran terhadapnya.
Hal pertama dalam misi Al-Azhar di abad ke-20 adalah bahwa ahlinya menjadi kekuatan ilahi yang disiapkan untuk kemenangan, dipersiapkan untuk perjuangan, ditujukan untuk ketepatan sasaran, diukur dalam sifatnya dengan ukuran terbaik, membuat manusia merasa tenang terhadap amalnya, dan mengilhami setiap orang yang melihatnya iman yang teguh dan mantap dengan maknanya. Dan ini tidak akan datang kepada mereka kecuali jika mereka kembali kepada sifat asli mereka yang benar, sehingga ilmu tidak menjadi penyimpangan, profesi, atau mata pencaharian, dan tidak ada dalam lembaran-lembaran kitab khayalan “lembaran bank”… Melainkan tampak pada mereka keagungan spiritual yang memerintah dan melarang dalam materi, bukan yang diperintah dan dilarang olehnya. Dan setiap mereka mengangkat dirinya, sehingga menjadi penentu akhlak dalam kehidupan sebelum menjadi pengajar ilmu dalam kehidupan, agar terpancar dari mereka magnet kenabian yang menarik jiwa-jiwa dengan mereka lebih kuat daripada yang menariknya kesesatan zaman. Sebab manusia di zaman ini tidak membutuhkan ulama – meskipun kitab-kitab dan ilmu-ilmu memenuhi dunia – tetapi mereka membutuhkan hati nurani ulama.
Peradaban telah gagal menciptakan hati nurani ini, padahal Islam dalam hakikatnya tidak lain adalah undang-undang hati nurani ini, karena ia adalah agama yang berdiri atas prinsip bahwa Allah tidak melihat manusia dari bentuknya tetapi dari amalnya. Maka hal pertama yang seharusnya dipikul Al-Azhar dari misinya adalah: hati nurani ahlinya.
Manusia tunduk kepada materi dengan hukum kehidupan mereka, dan dengan hukum lain yaitu hukum abad ke-20. Maka mereka sangat membutuhkan untuk menemukan di antara mereka orang yang menguasai materi dengan hukum kehidupannya, agar mereka melihat dengan mata mereka sendiri kekuatan-kekuatan hina yang terkalahkan, kemudian menemukan dalam manusia ini dasar keteladanan dan pengikutan, sehingga mereka terhubung dengannya dengan dua kekuatan: kekuatan pengajaran dan kekuatan transformasi.
Inilah rahasia Islam pertama yang dengan itu ia menembus dari satu umat ke umat lain tanpa ada yang dapat menghalanginya, karena ia menembus dalam sifat manusiawi itu sendiri.
Di antara kewajiban paling khusus Al-Azhar di abad ke-20 ini adalah bekerja terlebih dahulu untuk menetapkan makna Islam yang benar dalam diri kaum muslimin sendiri. Sebab kebanyakan mereka hari ini telah menjadi muslim hanya secara keturunan… Dan tidak ada di antara mereka kecuali yang membutuhkan pembaruan islamnya.
Pemerintah-pemerintah Islam lemah dalam hal ini, bahkan mereka menjadi sebab keburukan ini, karena mereka memiliki eksistensi politik dan eksistensi sipil. Adapun Al-Azhar, hanya dialah yang layak untuk menyempurnakan kekurangan pemerintah dalam bab ini, dan hanya dialah yang mampu melakukan apa yang tidak mampu dilakukan pemerintah. Sebab-sebab keberhasilannya tersedia dan tetap, karena ia memiliki dengan kekuatan sejarah hukum kepemimpinan Islam, dan ada padanya menurut kaum muslimin sisa wahyu di bumi, kemudian ia adalah gambaran temperamen psikis Islam yang murni. Namun ia telah lalai dalam kewajiban kepemimpinan ini, dan kehilangan kekuatan yang dengannya ia memerintah, yaitu kekuatan ideal tertinggi yang menjadikan seorang dari ulamanya sebagaimana pernah kami katakan: manusia yang dipilih makna-makna politik untuk tampil padanya dengan gaya praktis, sehingga ia menjadi di kaumnya semacam pendidikan dan pengajaran dengan kaidah yang diambil dari teladannya, dijelaskan dengan teladan itu sendiri.
Akidah dalam kebanyakan manusia tanpa ideal tertinggi ini adalah yang pertama terkalahkan dalam pertarungan kekuatan-kekuatan kehidupan. Kaum muslimin telah terbiasa sejak dulu menjadikan pandangan mereka kepada ulama Al-Azhar, mereka mengikuti mereka, meneladani mereka, memberikan ketaatan kepada mereka, tunduk kepada hukum mereka, mencari dalam sirah mereka jiwa untuk masalah-masalah jiwa, dan mengetahui melalui mereka makna kecilnya dunia dan makna besarnya amal-amal agung. Kekayaan ulama agama adalah sesuatu selain harta, bahkan sesuatu yang lebih agung dari harta, karena ia menemukan hakikat kekayaan dalam penghormatan manusia terhadap kemiskinannya seolah-olah ia adalah kerajaan bukan kemiskinan. Zuhudnya adalah kekuatan yang memerintah yang di dalamnya ada keteguhan, ketegasan, wibawa, dan keluhuran, dan di dalamnya semua kekuasaan kebaikan dan keburukan, karena di dalamnya semua kecenderungan kemerdekaan. Zuhud yang benar hampir-hampir menjadi satu-satunya kekuatan yang menjadikan ulama agama sebagai hakikat-hakikat yang berpengaruh dan bekerja dalam kehidupan manusia, orang kaya dan miskin mereka, bukan hakikat-hakikat yang ditinggalkan untuk diri mereka sendiri yang membuat manusia merasa ngeri karena ditinggalkan untuk diri mereka sendiri.
Ulama Al-Azhar sesungguhnya adalah undang-undang psikis yang berlaku pada rakyat, dan amal mereka lebih berpengaruh pada manusia daripada undang-undang pemerintah, bahkan mereka adalah perbaikan bagi undang-undang ini jika urusan berjalan sesuai sebab dan alasannya. Maka wajib bagi mereka mewujudkan eksistensi mereka, mengambil umat dari sisi hati dan roh mereka, dan menyiapkan murid-murid mereka di Al-Azhar sebagaimana mereka menyiapkan undang-undang yang teliti, bukan pelajar yang mencari nafkah dengan ilmu.
Di mana suara Al-Azhar dan amalnya dalam kehidupan yang bergolak ini dengan apa yang ada di permukaan dan apa yang ada di dasar… Dan di mana wahyu kekuatan ini yang piagamnya adalah menjadikan kenabian seolah-olah sesuatu yang nyata dalam kehidupan modern bukan berita sejarah di dalamnya?
Iman kaum muslimin telah menjadi seolah-olah kebiasaan beriman bukan iman itu sendiri. Islam kembali dalam kitab-kitab fiqihnya seolah-olah agama-agama yang berbeda dan bertentangan, bukan satu agama. Maka misi Al-Azhar adalah memperbarui amal kenabian dalam rakyat, membersihkan amal sejarah dalam kitab-kitab, membatalkan amal paganisme dalam kebiasaan-kebiasaan, dan memberikan kepada umat agama mereka yang jelas, toleran, dan mudah, serta undang-undang praktis mereka yang di dalamnya kebahagiaan dan kekuatan mereka.
Tidak ada jalan menuju itu kecuali Al-Azhar berani dalam memimpin gerakan spiritual Islam, berani dalam amalnya untuk kepemimpinan ini, mengambil sebab-sebab amal ini, mendesak dalam meminta sebab-sebab ini, bersikeras dalam permintaan ini. Semua ini akan sia-sia jika para ulama Al-Azhar dan pelajarnya bukan teladan-teladan dari teladan-teladan yang kuat dalam agama, akhlak, dan keteguhan, agar keadaan psikis dimulai pada mereka, karena jika dimulai maka tidak akan berhenti. Ideal tertinggi memerintah dengan sifatnya atas kemanusiaan, ditaati dengan hukumnya di dalamnya, dicintai dengan ketaatan mereka kepadanya. Materi yang memurnikan agama dan akhlak tidak ditemukan umat kecuali di Al-Azhar, maka Al-Azhar harus membuktikan bahwa di dalamnya ada materi itu dengan menampakkan amalnya, bukan dengan menempelkan kertas bertuliskan nama pada botol.
Maka kewajiban Al-Azhar adalah meminta pengawasan atas pendidikan Islam di sekolah-sekolah, dan mendorong gerakan agama dengan berbagai cara, yang pertama adalah memaksa Kementerian Pendidikan untuk menegakkan kewajiban shalat di semua sekolahnya, dari sekolah kebebasan berpikir ke bawah, dan seluruh umat Islam mendukung pendapat Al-Azhar dalam hal ini.
Jika kita mengeluarkan tafsir praktis untuk ayat mulia ini: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik” (An-Nahl: 125), maka ayat itu sendiri menunjukkan kepada kita semua cara tersebut. Hikmah di sini tidak lain adalah politik sosial dalam amal, dan pelajaran yang baik tidak lain adalah metode psikis dalam dakwah.
Ulama adalah pewaris para nabi. Tidak ada nabi dari para nabi kecuali sejarah kesulitan dan cobaan, berjihad dalam membimbing manusia, melawan eksistensi yang rusak, dan berjuang memperbaiki keadaan psikis umat. Semua inilah yang diwariskan dari para nabi, bukan hanya ilmu dan pengajarannya.
Jika misi Al-Azhar berdiri atas hakikat-hakikat ini, dan eksistensinya menjadi makna yang melengkapi pemerintah, membantu dalam mengatur kehidupan psikis rakyat, melindungi, mengamankan, mensejahterakan, dan menstabilkannya – maka sifatnya akan menuju pelaksanaan misi besarnya untuk abad ke-20, setelah ia mewujudkan sarana-sarana menuju misi ini, dari membuka pintu ijtihad, membersihkan sejarah fiqih, mendidik roh Islam dan memuliakannya dari makna-makna kalam perdebatan yang konyol, kemudian mengeluarkan rahasia-rahasia Al-Quran yang tersimpan di dalamnya untuk zaman-zaman ilmiah terakhir ini. Dan setelah terkumpul padanya kekuatan yang memegang Islam pada sunnahnya antara yang lama dan yang baru, tidak diingkari oleh yang ini dan tidak diubah oleh yang itu. Dan setelah Al-Azhar menyebar ke dunia Arab dengan kitab-kitabnya, para pendakwahnya, dan utusannya dari pembawa ilmunya dan rasul ilhamnya.
Adapun misi besar itu adalah menyebarkan dakwah Islam di Eropa, Amerika, dan Jepang, dengan bahasa-bahasa orang Eropa, Amerika, dan Jepang, dalam lisan-lisan Al-Azhar yang halus dan terpoles, yang memiliki bayan sastra, ketelitian ilmu, keluasan filsafat, ilham syair, wawasan hikmah, dan kemampuan politik. Lisan-lisan Al-Azhar yang saat ini tidak ada satu pun di Al-Azhar, tetapi tidak akan ada kecuali di Al-Azhar. Tidak ada nilai misinya di abad ke-20 jika ia tidak menciptakannya, sehingga menjadi yang berbicara tentangnya dan pembawa misinya. Misi-misi yang diputuskan Al-Azhar untuk dikirim ke Eropa tidak lain adalah sejarah pertama lisan-lisan tersebut.
Sesungguhnya cara yang menyebarkan Islam dahulu bukanlah sayap-sayap malaikat, dan bukan pula kekuatan dari neraka. Cara itu masih menyebarkannya. Maka tidak mustahil dan tidak sulit bagi agama ini menaklukkan Eropa, Amerika, dan Jepang sebagaimana ia menaklukkan dunia lama. Senjata dahulu tidak lain adalah cara untuk menciptakan Islam dalam umat yang asing darinya, sehingga ketika telah ada, ia mengambil alih dakwah untuk dirinya dengan kekuatan hukum alam yang berdiri atas prinsip bahwa yang paling layak adalah yang paling kekal, dan kemanusiaan berpihak kepadanya karena ia adalah undang-undang sifat asli mereka yang sehat, dan agama fitrah mereka yang kuat. Islam terus menyebar dan tidak ada yang membawanya kecuali pedagang, sebagaimana ia menyebar dan pembawanya adalah tentara. Maka tidak ada kewajiban atas kita kecuali mengubah senjata di zaman ini dan menjadikannya senjata dari filsafat agama dan rahasia-rahasia hikmahnya. Agama ini sebagaimana kami katakan dalam sebagian pembicaraan kami: amal-amal yang dirinci atas jiwa dengan perincian paling teliti dan paling memenuhi kemaslahatan jiwa, maka ia memberikan kehidupan di setiap zaman akal praktisnya yang tetap dan stabil untuk mengatur keadaan jiwa dengan keistimewaan dan wawasan, dan menyerahkan kepada kehidupan akal ilmiahnya yang terus diperbaharui dan berubah untuk mengatur keadaan alam dengan maksud dan petunjuk. Inilah hakikat Islam dalam makna paling khususnya: tidak ada agama lain yang dapat menggantikannya dalam hal itu, dan tidak ada sastra, ilmu, atau filsafat yang dapat melakukan fungsinya dalam kebutuhan ini, seolah-olah ia adalah mata air di bumi untuk makna-makna cahaya, berhadapan dengan matahari yang merupakan mata air cahaya di langit.
Al-Azhar hanya perlu menciptakan dari Islam dalam umat-umat itu apa yang bertahan, kemudian keberlangsungan itulah yang menemukan apa yang tetap, dan ketetapan menciptakan apa yang kekal. Seolah-olah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengisyaratkan hal ini dalam sabdanya: “Semoga Allah mencerahkan seseorang yang mendengar sesuatu dariku lalu menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya, maka mungkin orang yang disampaikan kepadanya lebih memahami daripada yang mendengar.”
Demi Allah, penyampai yang lebih memahami daripada pendengar itu tidak akan ada dalam sejarah dengan makna paling tepat kecuali Eropa dan Amerika di zaman ilmiah ini jika kita tahu bagaimana menyampaikan.
Saya yakin bahwa filosof Islam yang akan menyebarkan agama atas tangannya di Eropa dan Amerika tidak akan keluar kecuali dari Al-Azhar. Ustadz Imam Muhammad Abduh rahimahullah tidak lain adalah awal evolusi yang berakhir pada tujuan ini. Amal para filosof Al-Azhar akan mengeluarkan undang-undang kebahagiaan untuk umat-umat itu dari adab Islam dan amal-amalnya, kemudian berbicara kepada umat dengan pikiran dan perasaan mereka, dan menyampaikan dari itu kepada hati nurani sosial mereka, karena awal agama di sana adalah gaya yang ditampilkannya.
Inilah misi Al-Azhar di abad ke-20, dan harus diwujudkan dengan sarana-sarananya dari sekarang. Di antara sarana-sarananya adalah mengumumkannya, agar menjadi ikatan atasnya. Baik bagi Al-Azhar dalam jalan itu menggabungkan kepadanya setiap pemikir Islam yang memiliki ilham atau penelitian teliti atau keluasan menyeluruh, sehingga ia memiliki gelar-gelar ilmiah yang diberikan kepada mereka meskipun mereka tidak lulus darinya, kemudian menggunakan ilmu, ilham, dan pendapat mereka.
Dengan gelar-gelar ini Al-Azhar meluas ke batas-batas pemikiran yang jauh, menjadi lebih luas dalam pengaruhnya terhadap kehidupan Islam, dan mewujudkan untuk dirinya makna universitas.
Dalam jalan itu Al-Azhar harus memilih hari-hari dalam setiap tahun di mana ia mengumpulkan dari kaum muslimin “dirham Islam”, untuk menemukan materi pengeluaran yang luas dalam menyebarkan agama Allah. Tidak ada muslim laki-laki atau perempuan di muka bumi yang tidak mengulurkan tangannya. Pengaturan ini tidak membutuhkan lebih dari penetapan, pengorganisasian, dan pengumumannya di umat-umat Islam dan musim-musim besar mereka, khususnya musim haji.
Amal ini adalah sarana dari sarana paling kuat dalam menyadarkan perasaan Islam dan mewujudkan bantuan dalam menyebarkan agama dan melindunginya. Semoga ia memiliki hasil-hasil sosial yang tidak ada tempat untuk merincinya di sini, dan semoga “dirham Islam” menjadi materi untuk amal-amal Islam yang penting. Ia dalam segala keadaan adalah hubungan spiritual yang menjadikan Al-Azhar seolah-olah pemberi kepada setiap muslim, bukan pengambil.
Kesimpulannya, misi pertama Al-Azhar di abad ke-20 adalah: Al-Azhar menemukan hakikat kedudukannya di abad ke-20: “Dan datanglah kepadamu dalam (Al-Quran) ini kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang mukmin” (Hud: 120).
Abu Ali Ahmad bin Muhammad ar-Rubadi al-Baghdadi duduk dalam majelis pelajarannya di Mesir setelah wafatnya gurunya Abu al-Hasan Banan al-Hammal az-Zahid al-Wasithi, syekh Negeri Mesir. Dia terkenal karena ibadah dan kezuhdannya, dan sebagian besar penduduk Mesir keluar untuk menghadiri pemakamannya. Hari itu menjadi seperti bukti dari alam akhirat bagi penduduk dunia ini; tidak ada seorang pun yang tidak yakin bahwa dia dalam syahwat kehidupan dan kebatilannya seperti orang buta dalam buruknya pembedaan antara warna tanah dan warna tepung. Setiap orang melihat kepentingan dan manfaatnya dengan pandangan seperti ini, dengan rabaan bukan dengan penglihatan, dengan prasangka bukan dengan kepastian, atas dalil dirinya tentang sesuatu bukan atas dalil sesuatu pada dirinya, dan dengan persepsi dari satu sisi saja tanpa persepsi dari segala sisi. Kemudian datanglah kematian seperti air yang dituangkan pada tepung dan tanah bersama-sama, maka tidak ada yang ragu baik yang dapat melihat maupun yang buta, dan batallah yang batil dan benar yang hak.
Abu Ali berkata: Suatu hari saya berada di sisi guru kami al-Junaid di Baghdad, lalu datanglah surat dari Yusuf bin al-Hasan, syekh Rayy dan pegunungan pada masanya, yang mengatakan: “Semoga Allah tidak memberimu merasakan rasa nafsumu, karena jika engkau merasakannya, engkau tidak akan merasakan kebaikan setelahnya selamanya!” Katanya: Maka saya mulai memikirkan apa itu rasa nafsu, dan datang kepadaku pendapat yang tidak saya ridhai, hingga saya mendengar berita tentang Banan rahimahullah dengan Ahmad bin Tulun, penguasa Mesir. Itulah yang menjadi sebab kedatanganku ke sini; untuk melihat syekh, menemaninya, dan mengambil manfaat darinya.
Negeri yang di dalamnya terdapat seorang syekh dari ahli agama yang benar, jiwa yang sempurna, dan akhlak ilahiah, adalah dalam kebodohan seperti negeri yang sama sekali tidak memiliki buku, meskipun semua penduduknya adalah ulama, dan meskipun di setiap kampung ada madrasah, dan di setiap rumah ada perpustakaan. Buku-buku ini tidak dapat menggantikan manusia, karena buku-buku itu hanyalah benar atau salah yang berakhir pada akal, tetapi manusia sempurna adalah kebenaran yang berakhir pada ruh. Dia dalam pengaruhnya terhadap manusia lebih kuat daripada ilmu, karena dia adalah penafsiran hakikat-hakikat dalam amal nyata dan kehidupannya yang bekerja, terlihat, dan mengajak kepada dirinya sendiri. Seandainya manusia berdebat selama sepuluh tahun tentang makna-makna keutamaan dan cara-caranya, dan mereka menulis seratus buku tentang hal itu, kemudian mereka melihat seorang yang utama dengan makna keutamaan yang paling benar, dan bergaul serta menemaninya, maka orang itu sendirian akan lebih bermanfaat daripada perdebatan itu dan lebih berguna bagi manusia daripadanya, dan lebih menunjukkan keutamaan daripada seratus buku bahkan seribu buku. Karena itulah Allah mengutus nabi bersama setiap kitab yang diturunkan; untuk memberikan kekuatan keberadaan pada kalimat, mengeluarkan keadaan jiwa dari makna yang dapat dimengerti, dan menumbuhkan keutamaan-keutamaan manusiawi dengan cara seperti keturunan dari manusia besarnya.
Perumpamaan buku yang darinya seseorang belajar hakikat-hakikat akhlak yang tinggi, seperti seseorang yang meletakkan tangannya di bawah ketiaknya untuk mengangkat tubuhnya dari tanah; dia telah mulai bekerja, tetapi dia tidak akan terangkat. Dari sinilah orang-orang terburuk adalah para ulama dan guru jika akhlak mereka bukan pelajaran lain yang bekerja dengan cara lain selain perkataan. Salah seorang di antara mereka duduk di tempat guru, kemudian keburukan-keburukannya di sekelilingnya mengajar dengan pengajaran lain tanpa dia sadari atau tidak sadari, dan kitab Allah bersama manusia yang tampak darinya, sedangkan kitab setan bersama manusia yang tersembunyi di dalamnya.
Abu Ali berkata: Saya datang ke Mesir untuk melihat Abu al-Hasan, belajar darinya, dan membuktikan apa yang saya dengar tentang beritanya dengan Ibn Tulun. Ketika saya menemuinya, saya bertemu dengan seorang murid guru kami al-Junaid, yang bersinar cahayanya padanya dan bekerja rahasianya; mereka seperti lilin, dan lilin dalam cahaya meskipun kecil adalah satu dan besar adalah satu. Tanda orang dari golongan ini adalah keberadaannya bekerja pada orang-orang di sekelilingnya lebih daripada dia bekerja sendiri, seolah-olah antara ruh-ruh dan dirinya ada hubungan yang terjalin, sehingga dia memiliki makna kebapakan bapak pada anak-anaknya; tidak ada yang melihatnya dari mereka kecuali merasa bahwa dia adalah sosok yang lebih besar darinya. Inilah yang di dalamnya terdapat kesempurnaan manusiawi bagi manusia, dan seolah-olah dia diciptakan khusus untuk membuktikan bahwa yang tidak mungkin adalah mungkin.
Di antara keajaiban hikmah Allah bahwa penyakit-penyakit berat bekerja dengan menular pada yang mendekati atau menyentuhnya, dan kekuatan-kekuatan berat juga bekerja dengan menular pada yang berhubungan atau menemaninya. Karena itulah Allah menciptakan orang-orang saleh dan menjadikan takwa pada mereka seperti terkena penyakit: mengalihkan dari syahwat-syahwat dunia sebagaimana penyakit mengalihkan darinya, mematahkan nafsu sebagaimana penyakit mematahkannya, dan kehilangan sesuatu yang menjadikannya sesuatu, sehingga nilainya berubah, maka tidak menjadi karena apa yang ada di dalamnya dari prasangka tetapi karena apa yang ada di dalamnya dari kebenaran.
Jika manusia kehilangan orang yang menularkan mereka dengan kekuatan ajaibnya, maka jarang mereka cocok untuk kekuatan. Para saleh besar, pemimpin besar, panglima besar, pemberani besar, ulama besar dan sejenisnya – semua ini dari satu pintu, dan semuanya dalam hikmah seperti orang-orang sakit besar.
Abu Ali berkata: Suatu kali saya bermaksud menanyakan syekh tentang beritanya dengan Ibn Tulun, tetapi kewibawaan memotong niatku, maka saya berkata: Saya akan menyiasati dengan menanyakannya tentang kata syekh Rayy: “Semoga Allah tidak memberimu merasakan rasa nafsumu.” Sementara saya menyiapkan dalam diriku perkataan yang akan saya jalankan ungkapan ini, datanglah seorang laki-laki dan berkata kepada syekh: Saya memiliki piutang seratus dinar pada si fulan, dan surat yang berisi utang itu telah hilang, dan saya khawatir dia akan mengingkari jika dia tahu kehilangannya. Maka doakanlah untuk saya dan dia agar Allah memberiku utangku dan menetapkannya pada kebenaran. Syekh berkata: Saya seorang yang telah tua dan saya suka manisan, maka pergilah beli satu ritl dan bawalah kepadaku agar saya mendoakanmu!
Laki-laki itu pergi membeli manisan dan penjual membungkusnya dengan kertas, ternyata itu adalah surat yang hilang tadi. Dia datang kepada syekh dan memberitahunya, maka syekh berkata kepadanya: Ambillah manisan itu dan berikanlah kepada anak-anakmu. Semoga Allah tidak memberi kita merasakan rasa nafsu kita dalam apa yang kita inginkan! Kemudian dia menoleh kepadaku dan berkata: Seandainya pohon menginginkan selain apa yang menjadi kesehatan keberadaannya dan kesempurnaan manfaatnya, lalu diberi merasakan rasa nafsunya, niscaya dia akan memakan dirinya sendiri dan layu.
Abu Ali berkata: Mukjizat-mukjizat yang terjadi untuk para nabi, karamah-karamah yang ada untuk orang-orang bertakwa, dan apa yang menembus kebiasaan dan keluar dari urutan – semua itu seperti perkataan kekuasaan tentang orang yang luar biasa: Inilah dia. Maka tidak tersisa padaku kebutuhan untuk menanyakan syekh tentang beritanya dengan Ibn Tulun, dan saya seolah-olah melihat dengan mata kepalaku sendiri semua yang saya dengar. Namun saya tidak pergi hingga bertemu Abu Ja’far al-Qadhi Ahmad bin Abdullah bin Muslim bin Qutaibah ad-Dinawari, yaitu yang meriwayatkan kitab-kitab ayahnya semuanya dari hafalan, yaitu dua puluh satu karya yang ada yang besar dan kecil. Dia berkata kepadaku: Mungkin engkau puas dengan berita Banan dengan Ibn Tulun, karena itulah engkau katakan datang ke Mesir. Saya berkata: Dia merendah sehingga tidak memberitahuku dan saya segan sehingga tidak menanyakannya. Dia berkata: Mari saya ceritakan haditsnya.
Ahmad bin Tulun dari seorang budak wanita Turki, dan Tulun ayahnya adalah seorang budak yang dibawa Nuh bin Asad, gubernur Bukhara, kepada al-Ma’mun dalam apa yang diwajibkan atasnya berupa harta, budak, kuda, dan lain-lain. Ahmad lahir dalam kedudukan hina yang mencari dukungan dengan kezaliman, dan kedua hal ini menjadi tabiatnya hingga akhir umurnya. Dia pergi dengan cita-citanya ke jalan yang jauh, dan tumbuh sejak awal urusannya untuk menyempurnakan kekurangan ini dan menjadi lebih besar dari asalnya. Dia mencari kemampuan berkuda, ilmu, dan hadits, bergaul dengan para zahid dan ahli wara’, unggul di antara orang-orang Turki dan bercita-cita tinggi. Dia terus melemparkan dirinya, dan dalam hal itu dia menjadi besar dan terus menjadi besar, seolah-olah dia ingin terputus dari asalnya dan bergabung dengan para penguasa. Ketika dia bergabung dengan mereka, dia terus menjadi besar untuk menyusul para raja. Ketika dia mencapai mereka, niatnya Allah yang tahu.
Katanya: Akalnya karena pengaruh kedua tabiatnya seperti dua akal untuk dua orang yang berbeda, sehingga dia memiliki satu tangan bersama malaikat dan tangan lainnya bersama setan. Dialah yang membangun rumah sakit dan mengeluarkan biaya untuknya serta menempatkan dokter-dokter di dalamnya. Dia mensyaratkan jika ada orang sakit yang dibawa, pakaiannya dilepas dan disimpan pada penjaga rumah sakit, kemudian diberi pakaian dan diperlakukan dengan makanan pagi dan sore dengan obat-obatan, makanan, dan dokter hingga sembuh. Ini tidak ada sebelum kepemimpinannya. Dia orang pertama yang menangani kezaliman dari para penguasa Mesir. Dia pemilik hari sedekah; dia memperbanyak sedekahnya setiap kali nikmat Allah bertambah padanya. Pengeluarannya untuk itu setiap minggu tiga ribu dinar selain dapur-dapurnya yang didirikan setiap hari di rumahnya dan tempat lain, disembelih di sana sapi dan domba dan disendokkan untuk manusia. Setiap orang miskin mendapat empat roti, dua di antaranya berisi faluzaj dan dua lainnya dari panci, dan diseru: Siapa yang suka hadir di rumah penguasa, silakan hadir! Pintu-pintu dibuka dan manusia masuk sementara dia di majelis melihat orang-orang miskin dan memperhatikan kegembiraan mereka dengan apa yang mereka makan dan bawa, hal itu membuatnya senang dan dia memuji Allah atas nikmat-Nya. Anggaran dapurnya setiap hari seribu dinar. Anaknya Khumarawayh mengikuti jejaknya, maka dia mendirikan setelahnya dapur umum yang dibelanjakan tiga puluh tiga ribu dinar setiap bulan.
Yang dikirim Ibn Tulun kepada fakir miskin Baghdad dan ulamanya selama masa pemerintahannya mencapai satu juta dua ratus ribu dinar. Dia banyak membaca al-Qur’an, dan telah membuat kamar di dekatnya di istana dan menempatkan di dalamnya orang-orang yang disebutnya “para pengumandang takbir”, mereka bergiliran malam dengan shift bertakbir dan bertasbih, bertahmid dan bertahlil, membaca al-Qur’an dengan panjang, melantunkan syair-syair zuhd, dan azan pada waktu-waktu azan. Dialah yang membuka Antakya tahun dua ratus enam puluh lima, kemudian pergi ke Tarsus seolah-olah ingin membukannya. Ketika penduduknya melawannya dan dia memerangi mereka, dia memerintahkan pasukan-pasukannya untuk mundur darinya agar berita itu sampai kepada penguasa Romawi sehingga dia tahu bahwa tentara Ibn Tulun meskipun banyak dan kuat tidak dapat menghadapi penduduk Tarsus, sehingga dengan ini seolah-olah dia telah memeranginya dan menghalanginya dari suatu negeri Islam, dan menjadikan berita ini seperti tentara di daerah itu!
Dengan semua itu, dia adalah seorang yang pedangnya suka bergerak, berlaku zalim dan sewenang-wenang. Telah dihitung yang dibunuhnya dengan sabar atau mati di penjaranya, mereka delapan belas ribu orang. Dia memerintahkan memenjarakan hakim Bakkar bin Qutaibah dalam peristiwa yang terkenal. Dia berkata kepadanya: Apakah engkau tertipu dengan perkataan orang “Tidak ada di dunia seperti Bakkar”? Engkau syekh yang telah uzur! Kemudian dia memenjarakannya dan membelenggunya serta mengambil darinya semua pemberiannya selama masa jabatan kehakiman, yaitu sepuluh ribu dinar. Dikatakan bahwa itu ditemukan di rumah Bakkar dengan segelnya tidak tersentuh karena zuhd dan kehati-hatian.
Ketika gurumu Abu al-Hasan pergi dengan keras kepadanya dan menyuruhnya berbuat ma’ruf serta melarangnya dari yang munkar, akalnya menjadi tidak terkendali sehingga dia memerintahkan melemparkannya kepada singa, dan itulah berita yang tersebar di dunia hingga sampai kepadamu di Baghdad.
Katanya: Saya hadir menyaksikan perintah mereka hari itu, maka didatangkanlah singa dari istana anaknya Khumarawayh. Khumarawayh ini gemar berburu, hampir tidak mendengar tentang binatang buas di hutan atau lembah kecuali dia mendatanginya bersama orang-orang yang memakai baju bulu, mereka masuk kepada singa dan mengambilnya dengan tangan mereka dari sarangnya dengan paksa dalam keadaan selamat, lalu menempatkannya dalam kandang-kandang kayu yang kokoh pembuatannya, satu kandang dapat menampung binatang buas dalam keadaan berdiri.
Singa yang dipilih untuk syekh adalah yang paling besar di antara yang mereka miliki, berbadan besar, penyerang, liar buas, berotot kuat, keras penciptaan urat syarafnya, pemukul, perobek, berumur dengan mulut yang lebar terlihat mulutnya karena luasnya dan mengerikannya seperti lubang kubur memberitahu bahwa perutnya adalah kuburan, dan wajahnya tampak keluar dari surai, hendak menerkam siapa yang dilihatnya untuk dimakan!
Mereka mendudukkan syekh di ruangan dan mengawasi dari atas melihat, kemudian membuka pintu kandang dari atasnya lalu menariknya sehingga terangkat. Mereka menggertak singa membentak, maka lepas mengaum dan meraung dengan raungan yang membelah hati, yang mendengarnya mengira itu guntur yang diikuti petir!
Kemudian binatang buas itu mengumpulkan diri dalam nafsunya dan bergidik, kemudian meregangkan tubuh seperti ketapel yang melontarkan batu, maka tidak tersisa dari ajal syekh kecuali sekejap mata. Kami melihatnya dalam keadaan itu tenang menunduk tidak melihat kepada singa dan tidak peduli dengannya. Tidak ada di antara kami kecuali yang hampir robek hijab hatinya karena takut, gentar, dan khawatir terhadap orang itu.
Tidak terasa kami kecuali ketika singa lupa dari kebuasannya, maka dia duduk di atas ekornya, kemudian menempel ke tanah sebentar dengan merentangkan lengannya, kemudian bangkit dengan bangkitan lain seolah-olah dia bukan singa itu, maka berjalan perlahan-lahan dengan langkah berat terdengar persendiannya berderak karena kekuatan dan besarnya. Dia mendekati syekh dan mulai menggesek dan memandang serta menciumnya sebagaimana anjing berbuat dengan pemiliknya yang dia kenal, dan seolah-olah dia mengumumkan bahwa ini bukan pertarungan antara orang saleh dan singa, tetapi duel antara kehendak Ibn Tulun dan kehendak Allah! Ruh syekh memukulnya sehingga tidak tersisa antara dia dan manusia suatu pekerjaan, dan tidak ada dari syekh berhadapan dengan daging dan darah. Seandainya dia memakan cahaya, udara, batu, dan besi, itu lebih dekat dan mudah daripada memakan orang ini yang terwujud dalam keruhanian. Dia tidak merasakan bagi bentuk singa makna dari makna-makna yang mematikan, dan tidak melihat padanya kecuali kehidupan yang tunduk dan ditundukkan kepada kekuatan agung yang dia beriman kepadanya dan bertawakal kepadanya, seperti kehidupan cacing dan semut dan yang lebih kecil dari serangga dan debu!
Cahaya datang pada hati yang beriman ini menyingkap baginya tentang kedekatan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia bukan di hadapan singa tetapi dia dan singa di hadapan Allah, dan dia larut dalam keyakinan ayat ini: “Dan bersabarlah terhadap ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami” (Surah ath-Thur: 48).
Singa melihat seorang laki-laki yang adalah takut kepada Allah, maka dia takut kepadanya. Sebagaimana syekh keluar dari dirinya dan makna-maknanya yang kurang, binatang buas keluar dari dirinya dan makna-maknanya yang buas. Tidak ada pada orang itu takut, tidak ada kekhawatiran, tidak ada kepanikan, tidak ada keterikatan dengan keinginan, dan karena itu tidak ada pada singa pembunuhan, keganasan, kelaparan, atau keterikatan dengan keinginan.
Syekh lupa dirinya sehingga seolah-olah singa melihatnya mati dan tidak menemukan padanya “aku” yang dimakan olehnya. Seandainya suatu bisikan dari kekhawatiran dunia terbersit di hatinya pada saat itu atau bergerak dalam jiwanya suatu gerakan keraguan, niscaya tercium bau dagingnya di hidung singa lalu tercabik dalam taringnya dan cakarnya.
Katanya: Kami berpaling dari melihat binatang buas kepada melihat wajah syekh, maka dia dalam keadaan melamun berpikir, kemudian mereka mengangkatnya dan setiap dari kami menyangka sangkaan dalam pemikirannya. Ada yang berkata: Itu takut yang membuatnya lupa dirinya. Ada yang berkata: Itu pengarahan akalnya kepada kematian. Yang ketiga berkata: Itu adalah pikiran untuk mencegah gerakan dari badan sehingga tidak bergetar. Sekelompok orang menduga bahwa ini keadaan pemusatan perhatian yang menyihir singa. Kami banyak berbicara tentang itu dan berdebat, hingga Ibn Tulun bertanya kepadanya: Apa yang ada di hatimu dan apa yang engkau pikirkan?
Syekh berkata: Tidak ada bahaya padaku, dan saya hanya memikirkan air liur singa, apakah itu suci ataukah najis…
Pangeran-Pangeran untuk Dijual
Berkata Syekh Taj al-Din Muhammad bin Ali yang bergelar Tuwair al-Lail, salah seorang imam fuqaha di Madrasah Zhahiriyah di Kairo:
Guru kami, Imam Agung Syekh al-Islam Taqi al-Din bin Majd al-Din bin Daqiq al-‘Id tidak pernah menyapa sultan kecuali dengan ucapan: “Wahai manusia!” Beliau tidak takut kepadanya, tidak menyembahnya, tidak memberikan gelar-gelar kekuasaan dan keagungan, tidak memperindahnya dengan kemunafikan, dan tidak merendahkannya sebagaimana yang dilakukan ulama-ulama lain. Hal ini sungguh mengherankan, namun yang lebih mengherankan lagi adalah bahwa sang Syekh tidak pernah menyapa siapa pun dari kalangan rakyat biasa kecuali dengan kata yang sama persis: “Wahai manusia!” Beliau tidak meninggikan sultan dan para pangeran, dan tidak merendahkan orang-orang lemah dan miskin. Beliau tidak melihat sesuatu yang paling baik pada mereka semua kecuali hakikat kemanusiaan!
Kemudian beliau tidak memberikan penghormatan dalam sapaan kecuali kepada para imam fuqaha. Jika beliau menyapa salah seorang dari mereka, beliau berkata: “Wahai faqih.” Meskipun demikian, beliau tidak memberikan ini kecuali kepada orang seperti Syekh al-Islam Najm al-Din Ibn al-Ruq’ah. Kemudian beliau mengkhususkan ‘Ala al-Din bin al-Baji sendiri dengan ucapan: “Wahai imam,” karena dia adalah tanda dari tanda-tanda Allah dalam seni berargumentasi, hampir tidak ada seorang pun yang dapat mengalahkannya dalam perdebatan dan diskusi, seperti sebuah bukti yang kuat. Penghormatan kepadanya adalah penghormatan kepada kebenaran, karena padanya terdapat makna dan penetapan makna.
Suatu hari saya berkata kepadanya: “Wahai tuanku, saya melihat Anda menyapa sultan dengan sapaan untuk rakyat biasa. Entah Anda meninggikan atau merendahkan, Anda berkata: ‘Wahai manusia.’ Tidakkah hal ini membuatnya marah kepada Anda, padahal dia telah merasakan manisnya kata-kata ketaatan dan kepatuhan, dan kemunafikan telah mengkhususkannya dengan kata-kata yang merupakan bayangan dari kata-kata yang digunakan untuk menggambarkan Allah? Kemudian kekuasaan menjadikannya manusia dengan dirinya sendiri dalam keberadaan dirinya, hingga dia menjadi berbeda dari yang lain seperti gunung dan kerikil; keduanya sama dalam unsur tetapi berbeda dalam ukuran. Yang paling sedikit dari dirinya, meskipun sedikit, lebih banyak dari mereka yang paling banyak, meskipun besar. Keberadaannya adalah satu hal dan keberadaan mereka adalah hal lain?”
Syekh tersenyum dan berkata: “Wahai anakku, apa ini? Sesungguhnya kita adalah jiwa-jiwa kata-kata, dan kata dari orang yang mengucapkannya adalah dengan maknanya dalam dirinya, bukan dengan maknanya pada dirinya sendiri. Tidak pantas bagi pembawa syariat untuk mengucapkan perkataan yang akan ditolak syariat darinya. Seandainya agama bermunafik, maka agama itu akan batal menjadi agama. Dan seandainya ulama agama bermunafik, maka setiap munafik akan lebih mulia darinya. Noda pada kain putih tidaklah sama dengan noda pada kain hitam. Orang munafik adalah orang yang tertutup dalam hidupnya, tetapi ulama agama adalah orang yang terbuka dalam hidupnya, tidak tertutup. Dia untuk petunjuk, bukan untuk menyamarkan. Padanya terdapat makna-makna cahaya, bukan makna-makna kegelapan. Orang itu terhubung dengan agama dari sisi amal, jika dia bermunafik maka dia telah berdusta. Sedangkan ulama terhubung dengan agama dari sisi amal dan sisi penjelasan, jika dia bermunafik maka dia telah berdusta, menipu, dan berkhianat.
Makna para ulama syariat tidak lain adalah bahwa mereka merupakan perpanjangan dari amal kenabian di tengah manusia dari masa ke masa, mengucapkan kalimatnya, menegakkan hujjahnya, dan mengambil dari akhlaknya sebagaimana cermin mengambil cahaya – menampungnya dalam dirinya dan memantulkannya kepada yang lain. Cermin adalah alat untuk menampakkan cahaya dan menampakkan keindahannya sekaligus.
Tahukah engkau wahai anakku, apa perbedaan antara ulama haq dan ulama su’ (jahat), padahal keduanya mengambil dari satu cahaya yang tidak berbeda? Sesungguhnya yang pertama dalam akhlaknya seperti lempengan kristal; cahaya menampakkan dirinya di dalamnya dan menampakkan hakikat kristalnya. Sedangkan yang kedua dengan akhlaknya seperti lempengan kayu – cahaya menampakkan hakikat kayunya saja!
Ulama su’ berpikir tentang kitab-kitab syariat saja, sehingga mudah baginya untuk menta’wil, menyiasati, mengubah, menukar, menampakkan, dan menyembunyikan. Tetapi ulama haq berpikir bersama kitab-kitab syariat tentang pemilik syariat, sehingga dia bersamanya dalam setiap keadaan bertanya: ‘Apa yang engkau lakukan dan apa yang engkau katakan?’
Orang religius tidak mengubah akhlaknya, tidak berbeda-beda, dan tidak datang setiap hari dari peristiwa-peristiwa hari itu. Dia dengan seluruh akhlaknya, tidak kadang dengan sebagiannya dan kadang dengan sebagian lainnya. Engkau tidak akan melihatnya bersama pemilik kekuasaan, penguasa, dan orang-orang kaya seperti ulama su’ ini yang seandainya perbuatannya berbicara, maka akan berkata kepada Allah dengan lisannya: ‘Mereka memberiku dirham dan dinar, maka di mana dirham dan dinarmu?’
Sesungguhnya dinar, wahai anakku, jika benar pada salah satu sisinya tanpa sisi lainnya, atau pada sebagiannya tanpa sebagian lainnya, maka seluruhnya palsu. Para penguasa dan pejabat ketika berurusan dengan mereka, berurusan dengan kekuatan pencernaan pada mereka… Dengan demikian mereka turun ke tingkat binatang; memberikan amal mereka untuk mengambil perut mereka. Dan perut yang makan pada ulama su’ memakan agama ulama dalam apa yang dimakannya.
Jika engkau melihat para ulama su’ memiliki wibawa, maka itu adalah kebodohan. Atau kelembutan, maka namakan itu kelemahan. Atau kebaikan, maka katakan itu kemunafikan. Atau diam terhadap kezaliman, maka itu adalah suap yang mereka makan dengannya!”
Imam berkata: “Saya tidak pernah melihat seperti guruku, Sultan Ulama ‘Izz al-Din bin ‘Abd al-Salam. Sungguh, amar ma’ruf nahi munkar adalah sesuatu yang dibuat oleh tabiatnya sebagaimana tubuhnya membuat kehidupan. Dia tidak peduli apakah binasa atau hidup karenanya, karena itu dalam darah seperti jantung, tidak dapat dijangkau tangan pemiliknya maupun tangan orang lain. Dia tidak terikat dengan harta, jabatan, kemewahan, atau kenikmatan. Maka kelepasannya dari ilusi kekuatan tidak dapat dikalahkan. Dia mencabut ketakutan dunia dari hatinya sehingga ruh samawi memenuhinya – ruh yang menakuti segala sesuatu dan tidak takut. Dengan ruh inilah dia seolah-olah mengubah dan menukar tabiat manusia, hingga Raja Zahir Baibars berkata ketika melihat banyaknya orang di pemakamannya ketika melewati benteng: ‘Sekarang kerajaanku stabil. Seandainya syekh ini menyeru manusia untuk memberontak terhadapku, niscaya dia akan merebut kerajaan dariku!’
Sultannya di Damaskus adalah al-Salih Isma’il, yang meminta bantuan kepada orang-orang Franka melawan Raja Najm al-Din Ayyub, sultan Mesir. Syekh marah dan menghapus nama al-Salih dari khutbah dan keluar berhijrah. Al-Salih mengirim beberapa orang dekatnya untuk melembutkannya dan berkata kepadanya: ‘Tidak ada yang menghalangimu untuk kembali ke jabatanmu dan apa yang telah kau dapatkan, bahkan lebih dari itu, kecuali engkau merendahkan diri kepada sultan dan mencium tangannya.’ Syekh berkata kepadanya: ‘Wahai orang malang! Aku tidak rela sultan mencium tanganku! Kalian di lembah dan aku di lembah lain!’
Kemudian dia datang ke Mesir pada tahun 639 H. Sultan Najm al-Din Ayyub menyambutnya, menghormatinya, dan mengangkatnya sebagai khatib Mesir dan qadinya. Ayyub adalah raja yang keras, tidak ada yang berani berbicara kepadanya kecuali untuk menjawab, dan tidak ada yang berbicara di hadapannya tanpa diminta. Dia telah mengumpulkan mamluk-mamluk Turki yang tidak pernah terkumpul seperti itu untuk orang lain dari keluarganya, hingga kebanyakan pangeran tentaranya dari mereka. Mereka dikenal dengan kekasaran, kekerasan, kasar, dan meremehkan segala urusan. Ketika hari raya tiba, Syekh naik menghadapnya saat dia sedang mengawasi tentara dan menunjukkan kerajaan serta kekuasaannya, sementara para pangeran mencium tanah di hadapannya. Syekh memanggilnya dengan suara keras agar rombongan besar ini mendengar: ‘Wahai Ayyub!’ Kemudian memerintahkannya untuk menghapus kemunkaran yang sampai ke pengetahuannya berupa kedai yang menjual khamr. Sultan segera memerintahkan penghapusan kedai itu dan meminta maaf kepadanya.
Al-Baji menceritakan kepadaku, dia berkata: Aku bertanya kepada Syekh setelah dia kembali dari benteng dan berita telah tersebar, aku berkata: ‘Wahai tuanku, bagaimana keadaannya?’
Dia berkata: ‘Wahai anakku, aku melihatnya dalam keagungan itu, maka aku khawatir terhadap dirinya jangan sampai kesombongan memasukinya dan membuatnya angkuh, maka itulah yang kulakukan terhadapnya.’
Aku berkata: ‘Tidakkah Anda takut kepadanya?’ Dia berkata: ‘Wahai anakku, aku hadirkan keagungan Allah Ta’ala, maka sultan di hadapanku seperti kucing. Seandainya ada keperluan dunia dalam diriku, niscaya aku melihatnya sebagai seluruh dunia. Tetapi aku melihat dengan akhirat, maka mataku memandangnya kepada yang tidak terlihat oleh manusia. Tidak ada keagungan, tidak ada kekuasaan, tidak ada keabadian, tidak ada dunia, bahkan dia bukan apa-apa dalam bentuk sesuatu.
Kita wahai anakku, bersama mereka seperti makna yang membenarkan makna lain. Jika kita memerintah mereka, maka yang memerintah mereka pada kita adalah syariat, bukan manusia. Mereka adalah kaum yang melihat bagi diri mereka hak untuk membungkam kata yang benar atau menghapuskannya atau memutarbalikkannya. Maka tidak ada cara lain kecuali mereka dihadapi oleh para ulama dan orang-orang saleh yang melihat bagi diri mereka hak untuk mengucapkan kata ini, menjelaskannya, dan memperjelas-kannya. Jika demikian, maka di sini makna berhadapan dengan makna; tidak ada ketakutan, tidak ada kepedulian, tidak ada urusan hidup dan mati.
Sesungguhnya keburukan, seluruh keburukan, adalah ketika ulama mendatangi mereka untuk kepentingan dan manfaat dirinya, maka dia menjadi batil yang dipalsukan dalam bentuk kebenaran. Di sini diri berhadapan dengan diri, maka kelemahan tunduk di hadapan kekuatan, kemiskinan hina di hadapan kekayaan, dan kehidupan berharap untuk dirinya dan takut atas dirinya. Maka ulama dari sultan seperti kayu lapuk berusaha melawan pedang!
Tidak wahai anakku! Sesungguhnya sultan dan penguasa adalah alat-alat yang harus ditentukan kerjanya sebelum dipasang. Jika longgar dan membutuhkan paku, maka dipakukan. Jika kain robek, dari mana jarum dapat memasukkan benang yang ada padanya jika tidak menusuknya?
Sesungguhnya ulama haq seperti paku; jika paku ada untuk dirinya tanpa kerjanya, maka setiap papan akan mengingkarinya.”
Imam Taqi al-Din berkata: “Para pangeran mamluk berbuat zalim dan berat langkah mereka terhadap manusia. Di mana pun ditemukan kekuatan yang berkuasa dan sewenang-wenang, mereka menjadikan tirani dan kesewenang-wenangan mereka sebagai adab dan syariat, kecuali jika berdiri di hadapan mereka kekuatan maknawi yang lebih kuat. Guru kami berpikir tentang para pangeran ini dan berkata: ‘Sesungguhnya penipuan kekuatan palsu terhadap perasaan manusia adalah pintu kerusakan, karena mereka menganggap setiap kebaikan darinya adalah kebaikan, meskipun buruk pada hakikatnya dan tidak ada yang lebih buruk darinya. Mereka melihat setiap keburukan di sisinya adalah keburukan, meskipun baik dan tidak ada yang lebih baik darinya.’
Dia berkata: ‘Apa makna keamiran dan para pangeran? Sesungguhnya kekuatan keseluruhan yang besar adalah penyangga individu yang besar. Setiap bagian dari keseluruhan ini memiliki haknya dan kerjanya. Seharusnya keamiran ini adalah amal-amal yang bermanfaat yang telah besar dan agung sehingga layak mendapat gelar ini dengan tabiat di dalamnya seperti tabiat bahwa sepuluh lebih banyak dari satu, bukan hawa nafsu, syahwat, kehinaan, dan kerusakan yang mengambil gelarnya pada orang-orang lemah dengan tabiat seperti tabiat bahwa binatang buas adalah pemangsa.’
Syekh berpikir, maka pemikirannya menuntunnya bahwa para pangeran ini adalah mamluk, maka hukum perbudakan masih berlaku atas mereka untuk baitul mal kaum muslimin, dan wajib secara syariat menjual mereka sebagaimana budak dijual!
Berita ini sampai kepada mereka, maka mereka cemas dan besar masalah ini bagi mereka. Kemudian para pangeran marah dan yakin bahwa mereka berhadapan dengan syariat, bukan dengan Qadi Ibn ‘Abd al-Salam.
Syekh berfatwa bahwa tidak sah bagi mereka jual beli, nikah, talak, atau muamalah, dan dia tidak akan mengesahkan sesuatu pun dari ini bagi mereka hingga mereka dijual dan kebebasan mereka diperoleh dengan cara yang syar’i!
Kemudian mereka berusaha mencari keridaannya dan meminta syafaat kepadanya, sementara dia tetap pada pendiriannya, tidak peduli dengan keagungan bahaya mereka, tidak takut dicap sebagai musuh mereka. Mereka mengangkat perkara ini kepada sultan, maka sultan mengirim utusan kepadanya, tetapi dia tidak mengubah pendapat dan hukumnya.
Sultan menganggap buruk perbuatannya, marah kepadanya, dan mengingkari campur tangannya dalam urusan yang tidak menyangkut dirinya. Sultan memburukkan perbuatan dan kebijakannya serta apa yang telah dia jangkau, padahal dia hanya seorang yang tidak memiliki apa-apa kecuali dirinya dan tangannya hampir tidak dapat menjangkau apa yang mendirikannya, sementara mereka banyak dan di tangan mereka kekuatan, mereka yang memerintah dan melarang.
Hal ini sampai kepada Syekh Imam, maka dia marah dan tidak peduli dengan sultan, tidak membesarkan penolakan-nya. Dia bertekad berhijrah dari Mesir, maka dia menyewa keledai untuk mengangkut keluarga dan anaknya, dan dia berjalan di belakang mereka hendak keluar ke Syam. Dia belum jauh, sekitar setengah pos, hingga berita terbang di Kairo. Orang-orang panik dan mengikutinya, tidak ada yang tertinggal, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak. Di antaranya ada ulama, orang-orang saleh, pedagang, dan pekerja, seolah-olah kepergiannya adalah kepergian seorang nabi dari antara orang-orang yang beriman kepadanya. Kekuatan syariat tampak dalam wujud hakimnya yang memerintah dari massa ini. Dikatakan kepada sultan: ‘Jika orang ini pergi, kerajaanmu akan hilang!’
Sultan terkejut, maka dia naik sendiri dan mengejar Syekh untuk meraih keridaannya dan menolak kemarahan umat dengannya. Dia memberikan keleluasaan kepada Syekh untuk memerintahkan apa yang dia kehendaki, dan dia yakin bahwa Syekh bukanlah orang dinar dan dirham, kehidupan dan jabatan, serta mengenakan jubah ulama sebagaimana bulu direkatkan pada batu dalam bentuk burung.
Syekh kembali dan memerintahkan agar majelis diadakan, para pangeran dikumpulkan, dan mereka dipanggil untuk ditawar-menawar dalam penjualan mereka. Dia menetapkan batas waktu setelah perkara ini diketahui seluruh Kairo, agar yang mau bersiap untuk membeli dan menawar budak mahal ini dapat bersiap! Di antara para pangeran mamluk ada wakil sultan. Dia mengirim utusan kepada Syekh untuk melembutkan dan meredakan amarahnya, tetapi Syekh tidak peduli. Maka dia sangat marah dan berkata: ‘Bagaimana syekh ini menjual kami, menyerukan nama kami, menurunkan kami ke tingkat budak, merusak kedudukan kami di mata manusia, dan merendahkan martabat kami, padahal kami raja-raja bumi? Apa yang hilang dari dunia oleh syekh ini sehingga dia merasakan apa yang kami rasakan? Dia kehilangan apa yang tidak dia miliki, kehilangan yang tidak ada. Maka tidak mengherankan dia tidak peduli dan tidak kembali dari pendapatnya selama pendapat ini tidak melewati manfaatnya, tidak pada syahwatnya, tidak pada ketamakannya, seperti yang kami lihat dari ulama-ulama dunia. Demi Allah, aku akan memukulnya dengan pedangku ini, maka pendapatnya tidak akan mati selama dia hidup.’
Kemudian wakil sultan berkuda dengan tentaranya dan datang ke rumah Syekh, menghunus pedangnya dan mengetuk pintu. Putranya ‘Abd al-Latif keluar dan melihat apa yang dia lihat, maka dia kembali kepada ayahnya dan berkata kepadanya: ‘Selamatkanlah dirimu, ini adalah kematian, ini adalah pedang, ini dan ini…’
Syekh tidak peduli dengan itu, tidak cemas, tidak berubah, bahkan berkata kepadanya: ‘Wahai anakku! Ayahmu terlalu kecil untuk dibunuh di jalan Allah!’
Dia keluar tidak mengenal hidup atau mati, karena tidak ada yang insani padanya tetapi yang ilahi. Dia memandang wakil sultan dengan pedang di tangannya, maka sinar matanya menjalar ke syaraf tangan itu sehingga kering dan pedang jatuh darinya.
Dia mengambilnya dengan ruhnya yang kuat, maka orang itu guncang dan gemetar seolah-olah syarafnya patah, dia bergetar, tidak tenang, tidak diam.
Wakil sultan mulai menangis dan meminta Syekh mendoakannya. Kemudian berkata: ‘Wahai tuanku, apa yang Anda lakukan kepada kami?’
Syekh berkata: ‘Aku menyerukan nama kalian dan menjual kalian!’
‘Untuk apa harga kami digunakan?’
‘Untuk kemaslahatan kaum muslimin.’
‘Siapa yang menerimanya?’
‘Aku.’
Dan syariatlah yang berkata: ‘Aku.’ Maka sempurnalah bagi Syekh apa yang dia kehendaki. Dia menyerukan nama para pangeran satu per satu, menaikkan harga mereka tinggi-tinggi, tidak menjual seorang pun dari mereka hingga harga mencapai batas tertinggi. Setiap pangeran telah menyiapkan dari pengikutnya sekelompok orang untuk menawarnya agar membelinya…
Dia menghancurkan kezaliman, kemunafikan, tirani, kesombongan, dan kesewenang-wenangan terhadap manusia dengan kalimat yang diumumkan syariat ini:
“Pangeran-pangeran untuk dijual! Pangeran-pangeran untuk dijual!”
Pencerita berkata: Kedua syekh ini bertemu setelah berpisah selama empat puluh tahun, dan tempat pertemuan mereka itu adalah tempat yang terletak di tepi pantai di Alexandria di daerah tertentu. Mereka berdua adalah sahabat yang pada masa awal kehidupan mereka—ketika mereka masih memiliki hari-hari… keduanya adalah pegawai pemerintah yang bekerja di kantor yang sama. Dalam kehidupan mereka, mereka bersaudara dalam kesungguhan dan kegembiraan, dalam keutamaan dan keburukan. Mereka selalu berkumpul seperti pertanyaan dan jawaban, sehingga hubungan salah satu dari mereka dengan yang lain tidak pernah terputus. Seolah-olah di antara mereka dalam kehidupan ini ada kekerabatan antara senyuman dengan senyuman dan air mata dengan air mata.
Mereka tetap seperti itu selama Allah menghendaki, kemudian mereka berpisah dan cakrawala membawa mereka seperti kebiasaan “pegawai negeri”: mereka teratur dan tersebar, dan salah satu dari mereka terus dinaikkan oleh satu tanah dan diturunkan oleh tanah lain. Seolah-olah “pegawai” itu termasuk dalam tafsir firman Allah: “Dan tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati” (Luqman: 34).
Kedua sahabat itu berpisah dengan berat hati, dan seringkali perintah pemerintah untuk memindahkan sebagian “pegawainya” adalah perintah untuk merobek-robek mereka satu sama lain. Kemudian dunia mengatur mereka berdua sehingga mereka pergi ke ujung-ujung jalan yang tak pernah bertemu, dan masing-masing menjadi bagi yang lain seperti hari kemarin yang telah berlalu… diingat tapi tidak dilihat.
Pencerita berkata: Aku bersama Ustaz “M”, seorang pria berusia tujuh puluh tahun, namun dia berkata tentang dirinya bahwa dia adalah pemuda yang baru berusia tujuh puluh tahun. Dia mengklaim bahwa dalam tubuhnya ada hukum hijau yang menghidupkan pohon dengan satu kehidupan hingga akhir.
Pria yang elegan, rapi, berpakaian mewah, indah penampilannya, tinggi dan tegap seperti dituang dalam cetakan tanpa lengkungan atau kebengkokan. Semuanya terkumpul padanya, tidak ada yang hilang darinya. Teknik-teknik kekuatan yang dia lakukan dalam olahraga hariannya telah menjaganya. Sejak masa mudanya, dia tidak pernah berjalan kecuali dengan dada yang ditarik ke belakang, punggung yang tegak, leher yang tinggi, menyandarkan tengkuknya ke kerah bajunya. Dengan cara itulah dia tumbuh dewasa dan menua dengan kelurusan yang sama. Setiap kali ditanya tentang rahasia postur dan kekuatannya, dia tidak menambahkan selain berkata: “Ini adalah hasil dari menyandarkan tengkuk.”
Dia selalu harum wangi, dan tidak pernah menggunakan selain satu parfum yang tidak pernah diganti. Dia melihat bahwa wewangian ini menjaga khayalan anak kecil, dan bahwa wewangian itu menjaga aroma hari-hari.
Dia memiliki filsafat dari perasaannya, bukan dari akalnya. Filsafatnya memiliki kaidah dan dasar-dasar tetap yang tidak berubah. Sebagian kaidahnya adalah bunga, sebagian adalah musik, dan sebagian juga adalah shalat. Semua itu menurutnya adalah kaidah untuk menjaga kemudaan. Dari filsafatnya adalah bahwa prinsip-prinsip kemudaan dan kebiasaan-kebiasaannya jika tidak berubah, maka kemudaan akan terhubung di dalamnya dan berlanjut dalam roh, sehingga dari situ menjadi kekuatan yang menjaga kekuatan daging dan darah, dan menjaga kondisi psikis pertama tubuh.
Dia menambahkan dalam hikmah shalat sebuah ide olahraga praktis yang tidak diperhatikan siapa pun, yaitu olahraga perut dan usus dengan rukuk, sujud, dan berdiri. Dia berkata: “Harta shalat disimpan dalam dua peti: satu adalah roh untuk setelah kematian, dan yang lain adalah perut untuk sebelum kematian.” Dia melihat bahwa Islam tidak mewajibkan shalat subuh sebelum matahari kecuali untuk membuat fajar mengalir ke dalam roh setiap hari.
Pencerita berkata: Sementara kami duduk, lewatlah seorang syekh yang kurus kering, lemah di tubuhnya, berjalan dengan langkah pendek seolah beban tahun-tahun di punggungnya, gemetar karena tua, dadanya ke depan, membungkuk, bertumpu pada tongkat. Kebungkukannya menunjukkan bahwa umurnya juga telah bengkok. Dia tampak dalam kelemahan dan kekeringannya seolah pakaiannya diisi tulang bukan manusia, seolah pakaian itu hanya dijahit untuk menyatukan tulang dengan tulang.
“M” menatapnya tajam kemudian berteriak: “Rina! Rina!” Si tua itu menoleh, dan begitu matanya menangkap kami, dia berbalik kepadanya dan mendekat sambil tertawa berkata: “Oh! Rit, Rit!”
“M” bangkit dan memeluknya, mereka berpelukan lama. Kepala mereka berputar dan bergoyang, keduanya mencium sahabatnya dengan ciuman-ciuman dahaga yang tidak pernah aku saksikan pada dua sahabat, hingga aku mengira mereka tidak saling berpelukan atau saling menyesuaikan diri, tetapi ada ide di antara mereka yang mereka peluk dan cium bersama.
Aku berkata: “Apa ini, wahai dua orang tua?”
“M” tertawa dan berkata: “Ini sahabat lamaku ‘N’. Aku meninggalkannya empat puluh tahun lalu sebagai mukjizat dari mukjizat-mukjizat kemudaan, dan ini dia mukjizat lain dari mukjizat-mukjizat ketuaan. Tidak tersisa darinya yang utuh kecuali namanya saja.”
Kemudian dia menoleh kepadanya dan berkata: “Bagaimana kabarmu, Rina?”
Si tua “N” berkata: “Aku telah menjadi seperti yang kau lihat. Umur telah menambahkan pada kedua kakiku satu kaki lagi dari tongkat ini, dan sumber kehidupan dalam diriku kembali menjadi sumber penderitaan dan rasa sakit. Telah masuk dalam tabiatku kebiasaan keempat yaitu mengonsumsi obat.”
“M” tertawa dan berkata: “Terkutuklah kebiasaan tambahan ini! Apa saja tiga kebiasaan aslinya?”
Si tua berkata: “Yaitu makan, minum, dan tidur. Lalu kamu, Rit, bagaimana kamu membaca koran sekarang?”
“M” berkata: “Aku membacanya seperti orang-orang membacanya. Apa maksud pertanyaanmu tentang ini? Apakah koran dibaca pada suatu hari berbeda dengan hari lain?”
Dia berkata: “Ah! Hal pertama yang kubaca di koran adalah berita kematian, untuk melihat sisa-sisa dunia, kemudian ‘iklan obat-obatan’… Tapi bagaimana kabarmu, Rit? Aku melihatmu masih seperti empat puluh tahun lalu dalam kehidupan yang nyaman itu. Aku melihatmu memikul ketuaanmu dengan kekuatan seolah zaman tidak melukai kamu dari sini atau dari sana, seolah dia menyentuhmu dengan jari-jarinya bukan dengan pakunya. Apakah kamu mendapat mukjizat dari mukjizat-mukjizat ilmu modern?”
Dia berkata: “Ya.”
Dia berkata: “Demi Allah, apakah dalam mukjizat-mukjizat ilmu modern ada mukjizat untuk tulang-tulangku?”
“M” berkata: “Celaka kamu, Rina! Kamu masih seperti dulu, tetap menjadi tumpukan sampah pikiran. Apa yang bisa dilakukan ilmu modern padamu sementara kamu seperti yang terlihat berada di antara tulang dan kayu?!”
Pencerita berkata: Kami semua tertawa, kemudian aku berkata kepada Ustaz “M”: “Tapi apa itu ‘Rina dan Rit’? Bahasa apa ini? Di kamus mana penjelasannya?”
Kedua syekh itu saling berkedip mata, kemudian “M” berkata: “Nak, ini adalah bahasa yang makna-maknanya telah mati dan lafal-lafalnya tersisa, seperti lafal-lafal kuno yang tersisa dari zaman jahiliah pertama.”
Aku berkata: “Tapi zaman jahiliah pertama tidak berlalu kecuali pada kalian berdua… Dan setiap pemuda masih dalam zaman jahiliah pertama ini. Aku rasa ‘Rina dan Rit’ dalam bahasa kalian hanya bermakna ‘Soso dan Zozo’ dalam bahasa modern?”
“M” berkata: “Dengarkan, nak: Jika pria tahun 1935 bertanya kepada pria tahun 1895 tentang diriku: Apa arti Rina dan Rit? Maka dia menjawab: ‘Rina’ artinya ‘Katarina’, dan ‘N’ dulu sangat jatuh cinta padanya, dia terbunuh oleh cintanya. Adapun ‘Rit’, dia tidak tahu artinya.”
Si tua “N” tersinggung dan berkata: “Subhanallah! Dengarkan, nak: Pria tahun 1895 tentang diriku berkata kepadamu: ‘Rit’ artinya ‘Margaret’, dan dia adalah penyakit batin, kerinduan, dan api yang tidak padam di hati Ustaz ‘M’.”
Aku berkata: “Jadi kalian berdua, wahai dua orang tua, adalah pencinta tahun 1895. Bagaimana kalian melihat cinta sekarang?”
Si tua “N” berkata: “Nak, akhir umur itu seperti orang yang diasingkan. Kami berbicara dengan kata-kata yang kamu gunakan, kamu sekalian, kalian sekalian… tetapi makna-maknanya berbeda jauh sekali.”
Aku berkata: “Berikan contoh untuk mereka.”
Dia berkata: “Contohnya kata ‘makan’, bagi kami memiliki tiga makna: makan, gangguan pencernaan, dan sakit perut. Kata ‘berjalan’ juga memiliki tiga makna: berjalan, kelelahan, dan nyeri tulang… Dan kata ‘angin sepoi-sepoi’, angin sejuk nak, ditambah bagi kami dalam maknanya: bergeraknya ‘rematik’…”
“M” tertawa dan berkata: “Wahai syekh…”
Si tua berkata: “Dan penambahan itu, nak, tidak datang kecuali dari kekurangan. Di sini ada sisa dari dua tangan, sisa dari dua kaki, sisa dari perut, sisa dari ini dan itu… Dan jumlah semua itu adalah sisa dari manusia.”
Ustaz “M” berkata: “Semoga sisa itu dalam hidupmu.”
“N” berkata: “Singkatnya, nak, gerakan kehidupan pada pria tua itu berputar mengelilingi dirinya sendiri, bukan mengelilingi hal-hal lain. Betapa menakjubkannya bahwa gerakan terpendek bumi mengelilingi dirinya sendiri juga seperti itu. Jika pemuda dalam petualangannya berkata: ‘Biarlah waktu berlalu dan hari-hari berlalu!’ maka hari-hari itulah yang berlalu dan waktu itulah yang lewat. Adapun orang tua, mereka tidak akan pernah mengharapkannya. Siapa di antara mereka yang berkata: ‘Biarlah waktu berlalu,’ seolah dia berkata: ‘Biarlah aku berlalu…'”
“M” berteriak: “Wahai syekh, wahai syekh…”
Kemudian si tua berkata: “Ketahuilah, nak, bahwa ilmu itu sendiri menjadi tua bersama pria tua, sehingga menjadi sepertinya, lemah, tidak ada kekayaan padanya dan tidak ada tipu dayanya. Semua pabrik Lancashire, pabrik Bank Misr, Jepang, dan Amerika, dan apa yang tersisa dari pabrik-pabrik dunia, tidak ada faedahnya dari semuanya. Mereka tidak mampu memecahkan tulang-tulangku…”
Pencerita berkata: Ustaz “M” tertawa terbahak-bahak dan berkata: “Demi Allah, aku hampir menjadi kaku karena pembicaraan ini, dan makna-makna tulang hampir keluar dari tulang-tulangku. Orang-orang primitif itu bijak dalam urusan orang tua mereka. Jika usia lanjut menimpa sekelompok dari mereka, mereka tidak membiarkan mereka hidup kecuali dengan ujian. Mereka mengumpulkan mereka dan memaksa mereka ke pohon yang segar dan lembut cabangnya, memaksa mereka naik ke dalamnya lalu bergantung darinya dengan tangan mereka terikat pada cabang-cabangnya. Ketika mereka dalam posisi seperti ini, berkumpullah para pemuda kuat dari suku itu dan memegang batang pohon, mengayunkannya dan mengguncangkannya selama sejam. Siapa di antara orang tua itu yang lemah tangannya atau lelah penopang lengannya sehingga lepas dari cabang yang dipegangnya lalu jatuh, mereka ambil dan makan dia. Siapa yang masih bertahan, mereka turunkan dan beri waktu sampai saat tertentu!”
Si tua “N” merinding dan berkata: “A’uzubillah! Ini pohon yang tumbuh di dasar neraka, terkutuklah hikmah itu! Mereka memasaknya di pohon sebelum dimakan, atau mereka menjadikan mereka seperti itu supaya mengira mereka burung sehingga daging mereka lebih enak dan lezat, dan mereka berjatuhan dari pohon seperti merpati dan burung pipit.”
“M” berkata: “Jika dalam hal ini ada logika, maka tidak ada dalam logika ini ‘bab mengapa’ dan ‘bab bagaimana’. Seandainya maksud mereka adalah memakan mereka, tetapi ini adalah didikan alam untuk orang-orang alam. Melihat pria pada pohon ini, guncangan, dan akibatnya menjauhkan darinya kelemahan dan kelonggaran, mendorongnya untuk mengalami kekuatan, menambah jiwanya penyebaran pada kehidupan, tamak padanya, dan bersemangat untuk sebab-sebabnya. Maka lengannya adalah hal terakhir yang menua, dan tetap dalam ketajaman, keaktifan, dan kelincahan. Dia tidak lemah sebelum hari alaminya. Orang-orang primitif dengan ini telah menyiasati fitrah manusia sehingga memaksanya pada usahanya, dan memaksanya memberikan dari kekuatan sebanyak yang ditampung tubuh.”
“N” berkata: “Baiklah kalau begitu, dan terkutuklah makna-makna kelemahan. Demi Allah, aku hampir mengira bahwa aku tidak pernah menjadi pemuda suatu hari. Aku melihatmu tidak lain adalah orang primitif yang takut dimakan, sehingga tetap menjadi syekh pria bukan syekh anak-anak, dan melihat umur seperti orang bakhil melihat emasnya: bagaimanapun banyaknya, banyaknya tidak cukup banyak.”
Pencerita berkata: Dialog mereka membuatku jengkel, karena tidak ada lagi di dalamnya kecuali tubuh yang satu membalas tubuh yang lain. Sesungguhnya syekh dari orang-orang seperti ini adalah zaman yang berbicara, bercerita, menasihati, dan mengkritik. Syekh tidak akan bersamamu dalam hakikatnya jika kamu tidak berpindah bersamanya ke dunia lama. Maka aku berkata kepada mereka: “Wahai dua orang tua! Aku ingin bepergian ke tahun 1895…”
Pencerita berkata: Ketika saya berkata kepada mereka berdua: “Wahai para orang tua, saya ingin bepergian ke tahun 1895,” orang tua yang jenaka “N” menatap saya dan berkata: “Wahai anakku, saya kira melihatmu kepadaku telah mendekatkanmu kepada akhirat… maka kamu ingin kami berlindung pada berita-berita masa muda kami; agar kamu melihat kami dan melihat di dalam diri kami roh dunia.”
Guru “M” berkata: “Bagaimana dia tidak memperlihatkan akhirat kepadamu sedangkan sebagian besar dirimu sekarang berada dalam ‘yang tidak diketahui’?”
“N” berkata: “Celakalah kamu wahai ‘M’! Masih ada di wajahmu bekas-bekas setan di sana-sini; seakan-akan setan itulah yang memperbaiki di dalam dirimu apa yang rusak dari hukum-hukum alam, sehingga tidak tampak padamu usia padahal sudah melampaui tujuh puluh tahun, dan saya tidak mengira setan dalam membersihkanmu kecuali seperti orang yang menyapu rumahnya.”
“M” berkata: “Maka kamu wahai orang tua yang saleh adalah rumah yang telah ditinggalkan setan dan dia menggantungkan padamu kata ‘sewa’.” Maka “N” tertawa dan berkata: “Demi Allah, sesungguhnya ketuaan adalah mengulang pelajaran dunia, dan memahaminya sekali lagi dengan pemahaman yang tidak ada kesalahan di dalamnya; karena orang tua melihat dengan mata yang suci, mendengar dengan telinga yang suci, dan menyentuh dengan tangan yang suci… Demi Allah, sesungguhnya setan tidak ada artinya kecuali bahwa dia adalah kekurangajaran syaraf.”
“M” berkata: “Maka kamu wahai orang tua yang saleh hanya menjadi tanpa setan karena ketuaan telah mendidik syaraf-syarafmu…”
Orang tua yang jenaka berkata: “Dan pada siapa selain kami -para orang tua- perintah-perintah dan larangan-larangan adab ditaati dengan sebenar-benar ketaatan? Pada siapa selain para orang tua dikuduskan hikmah-hikmah tinggi seperti ini: jangan menyerang siapa pun… jangan merusak wanita terhadap suaminya…”
Pencerita berkata: Dan kami semua tertawa, dan orang tua “N” adalah salah satu keajaiban dalam hal jenaka dan lelucon, maka dia berkata: “Kamu mengira saya berusia tujuh puluh? Demi Allah, secara keseluruhan saya tidak berusia tujuh puluh tahun, demi Allah dan demi Allah.”
“M” berkata: “Orang tua itu sudah pikun wahai anakku; karena ini adalah kepikunannya maka jangan percaya kepadanya.”
“N” berkata: “Demi Allah saya tidak pikun dan saya tidak berkata kecuali kebenaran, karena di sini ada yang usianya hanya lima tahun saja, yaitu gigi-gigiku.”
Saya berkata: “Perlihatkan kepada kami tahun 1895?”
Guru “M” berkata: “Kamu wahai anakku termasuk golongan pembaharu, maka apa kecintaanmu pada yang lama dan apa urusanmu dengannya?”
Tidak ada yang bisa didengar orang tua “N” sampai dia berkedip dengan matanya dan menajamkan pandangannya kepadaku dan berkata: “Apakah kamu benar-benar dia? Demi hidupku, sesungguhnya di dalam matamu ada kegaduhan dan kebohongan dan perdebatan dan kesombongan dan klaim dan dakwaan dan kekafiran dan kesesatan; dan demi hidupku…”
Maka saya memotongnya dan berkata: “Demi hidupmu, sesungguhnya mereka berada dalam kemabukan mereka yang mengembara” (Surat Al-Hijr ayat 72). Sesungguhnya pembaharuan telah terjadi pada segala sesuatu kecuali pada para orang tua secara jasad dan para orang tua secara akal; karena mereka ini dan mereka itu berada di ujung, dan tidak mengherankan dari kelemahan mereka bahwa mereka beriman kepada masa lalu, karena hidup mereka tidak menyentuh masa kini kecuali dengan kelemahan!
Orang tua berkata: “Semoga Allah merahmati Syaikh ‘A’; dia adalah wahai anakku seorang laki-laki yang menyalin untuk para ulama di zaman lama kami, dan dia mengambil sepuluh qirsy sebagai upah untuk satu buku tulis, dan dia jelek tulisannya, maka jika dia menyalin untuk seorang sastrawan, dan tulisannya tidak berkenan kepadanya lalu dia berbicara tentang hal itu, maka syaikh itu akan bergantung kepadanya dan menuntutnya dua puluh qirsy untuk buku tulis itu; sepuluh untuk penulisan, dan sepuluh denda karena menghina tulisan… Ya anakku, sesungguhnya masa lalu memiliki tempat-tempat di hati kami di mana ia turun dan menguasai, tetapi kaidah ‘dua dan dua adalah empat’, tidak dihitung dalam masa lalu atau masa kini atau masa depan, dan kebenaran dengan dirinya sendiri bukan dengan namanya; dan api tidak membutuhkan pakaian wanita kecuali dalam pendapat orang bodoh.”
Guru “M” berkata: “Bagaimana itu?”
Orang tua berkata: “Mereka mengisahkan bahwa ada orang bodoh yang melihat istrinya menyalakan kayu bakar lalu meniupnya sampai menyala, maka suatu hari dia membutuhkan api untuk suatu keperluan, dan istrinya tidak ada di rumahnya, maka dia datang dengan kayu bakar dan menyalakannya dan mulai meniup, dan kayu bakar itu basah sehingga berasap dan tidak menyala, maka orang bodoh itu berpikir sebentar lalu pergi memakai pakaian istrinya dan kembali ke api, dan kayu bakar itu telah kering sehingga begitu dia meniup langsung menyala dan berkobar; maka orang bodoh itu yakin bahwa api takut kepada istrinya… dan bahwa api tidak akan menyala kecuali jika melihat pakaiannya!”
Guru “M” berkata: “Sesungguhnya pembicaraan tentang yang lama dan yang baru telah menjadi pada kami seperti seni perang yang menciptakan apa yang diciptakannya untuk mengubah apa yang tidak berubah pada hakikatnya, dan sejauh apa pun cara-cara kematian berkembang dalam yang lama dan yang baru, ia tidak mampu mematikan seseorang dua kali.
Saya telah banyak membaca wahai anakku, namun sampai sekarang saya tidak melihat dari karya-karya para pembaharu di negeri kami sesuatu yang berharga; apa yang berupa omong kosong dan peniruan maka itu dari mereka, dan apa yang bagus maka itu seperti barang berharga dalam kepemilikan pencuri: memiliki dua pertimbangan, jika yang satu ada pada pemiliknya… maka yang lain ada pada hakim.
Tidak wahai pencuri, kamu tidak akan disebut pemilik dengan cara ini; itu hanyalah kata yang kamu gunakan untuk mengolok-olok manusia dan kebenaran dan dirimu sendiri.
Mereka berkata: ilmu dan seni dan naluri dan syahwat dan emosi dan wanita dan kebebasan pikiran dan kemerdekaan pendapat dan membuang tradisi dan memecah belenggu, dan seterusnya dan seterusnya… Semua ini baik, dapat diterima, dan layak di atas kertas jika dalam artikel atau cerita, dan itu juga layak ketika terbatas pada batas-batasnya yang cocok dari pakaian para pemeran atau dari beberapa jiwa yang dengannya takdir memainkan adegan-adegan mengejeknya atau adegan-adegan yang menyedihkannya, tetapi ketika mereka mengeluarkan semua ini untuk kehidupan sebagai kekuatan positifnya, kehidupan mengembalikannya kepada mereka dengan kekuatan negatif; karena ia terus menciptakan ciptaan-Nya dan melakukan pekerjaan-pekerjaannya dengan mereka dan dengan yang lain, dan jika dalam kemanusiaan ada hukum ini yang membuat pikiran yang sakit ketika merusak dari pemiliknya -merusak di alam semesta dengan pemiliknya; maka di dalamnya juga ada hukum lain yang membuat pikiran yang sehat dan mulia ketika membangun dari ahlinya- dibangun di alam semesta dengan ahlinya.”
Orang tua “N” berkata: “Mereka mengisahkan bahwa salah satu kawat listrik adalah seorang filsuf pembaharu, maka dia berkata kepada yang lain: Saya tidak melihatmu kecuali reaksioner; karena kamu tidak pernah mengikutiku dan tidak pernah berhubungan denganku dan tidak mengalir dalam caraku; dan kamu tidak akan pernah berhasil kecuali jika kamu mengambil cara saya dan meninggalkan mazhabmu untuk mazhabku. Maka temannya berkata kepadanya: Wahai filsuf besar, jika saya mengikutimu, kita akan batal bersama-sama, maka saya tidak akan pergi dalam dirimu dan kamu tidak akan pergi dalam diriku; dan saya tidak pernah tahu kamu mencaciku dalam pandanganmu kecuali dengan apa yang kamu pujikan tentang saya dalam pandanganku.”
Orang tua berkata: “Dan inilah jawaban kami jika kami adalah reaksioner menurut mereka karena agama atau kebajikan atau kehidupan atau kesucian dan seterusnya dan seterusnya; dan kami tidak melihat para pembaharu ini dalam kenyataannya kecuali keharusan-keharusan dari mazhab-mazhab kehidupan dan syahwat-syahwatnya dan kebodohan-kebodohannya yang merasuki beberapa akal seperti yang merasuki yang serupa pada beberapa tabiat lalu menyesatkannya; dan bagi kehidupan dalam bahasa praktisnya ada sinonim-sinonim seperti sinonim-sinonim lafal: ada dua kata dan kata-kata dengan satu makna, maka perusak dan pengacau dan pembaharu bermakna sama!
Setiap pembaharu ingin meletakkan dalam segala sesuatu kaidah dirinya sendiri, maka jika kita menaati mereka, tidak akan tersisa bagi sesuatu apa pun suatu kaidah.”
Guru “M” berkata: “Sesungguhnya kehidupan tunggal ini di bumi ini harus berada pada sunnahnya dan apa yang memperbaikinya dari pengaturan dan penguasaan, dan menarik untuknya dan menolak darinya dan memeliharanya dengan cara-caranya yang teliti, terukur, terhitung, dan mudah dalam pelaksanaannya namun sulit dalam pengurusannya; maka sebagaimana kehidupan di dalam perut ibu, kita harus hidup di dalam perut alam semesta dengan batas-batas yang telah digambar dan kaidah-kaidah yang telah disiapkan dan ruang yang dikenal; jika tidak, gerakan-gerakan manusia ini akan tetap seperti gerakan-gerakan janin; ia bergerak keras untuk keluar dari hukumnya, maka jika ia terus melakukan pekerjaannya, ia akan melemparkannya sebagai makhluk cacat dan rusak dari tubuh yang bekerja dalam mengaturnya, atau melemparkannya mati dari tubuh yang segala sesuatu di dalamnya bekerja untuk kehidupan dan penjagaannya.
Seluruh tubuh ini membuat syariat untuk janin selama ia di dalamnya, dan seluruh masyarakat ini membuat syariat untuk individu selama ia di dalamnya; maka bagaimana akan menjadi urusan dari urusan jika janin itu adalah pembaharu yang tidak menyukai misalnya posisi jantung dan tidak ridha dengan kerja darah, dan tidak mau terikat; karena ia bebas.
Lihatlah polisi ini di jalan ini berjalan ke depan lalu ke belakang, dan ke belakang lalu ke depan, dan pemerintah telah memakainya pakaian yang membedakannya, dan pakaian itu berbicara dengan bahasa selain bahasa pakaian, dan seakan-akan berkata: Wahai manusia, sesungguhnya di sini ada manusia yang selalu menjadi hukum, dan yang selalu menjadi kekuatan, dan yang kadang-kadang menjadi penjara, dan yang menjadi kematian jika keadaan menghendaki.
Apakah kamu mengira wahai anakku polisi ini berdiri di jalan ini seperti dinding-dinding rumah-rumah ini? Tidak wahai anakku; ia juga berdiri dalam kehendak manusia dan dalam perasaan manusia dan dalam emosi yang hidup; maka bagaimana para pembaharu tidak menghapuskannya padahal ia pada hakikatnya adalah paksaan dalam satu makna, dan pemaksaan dalam makna lain, dan belenggu dalam satu keadaan, dan bencana dalam keadaan lain?
Tetapi ia adalah paksaan agar terjadi kemudahan dengannya, dan pemaksaan agar terlepas dengannya keinginan, dan belenggu agar termulia dengannya kebebasan; dan ia sendiri adalah bencana dari satu sisi; agar ia sendiri menjadi penjagaan dari sisi yang berhadapan dengannya.
Wahai anakku, setiap agama yang saleh, dan setiap kebajikan yang mulia, dan setiap akhlak yang baik -segala sesuatu dari itu hanyalah di jalan kemaslahatan-kemaslahatan manusia seperti polisi ini persis: maka antara menghancurkan dunia wahai para pembaharu, atau menghancurkan mazhab kalian.”
Orang tua “N” berkata: “Apakah kita mencari apa yang dengannya kita menguasai ataukah kita mencari apa yang menguasai kita? Dan apakah kita ingin naluri-naluri kita lebih kuat dari kita dan lebih keras, ataukah kita lebih keras darinya dan lebih kuat? Inilah masalahnya, bukan masalah yang baru dan yang lama.
Maka jika tidak ada ideal tertinggi yang dengannya kita menjadi besar dan dengannya kita menjadi besar, maka rusaklah perasaan dan rusaklah kehidupan; dan semua agama yang benar dan akhlak yang utama tidak lain adalah cara-cara ideal tertinggi ini untuk meninggikan kehidupan dalam harapan-harapan dan tujuan-tujuannya dari kehidupan itu sendiri dalam kejadian-kejadian dan makna-maknanya.”
Pencerita berkata: Dan saya melihat diri saya di antara kedua orang tua itu seakan-akan saya berada di antara dua taring; dan saya bukanlah pembaharu menurut mazhab Iblis yang menentang Allah dan para malaikat dan mengira karena kebodohannya bahwa kekuatan logika mengubah apa yang tidak berubah; maka saya diam, sampai ketika mereka selesai dari filsafat ini saya berkata: “Dan perjalanan ke tahun 1895?”
Pencerita berkata: Tampak pada si orang tua “N” bekas-bekas kelelahan, maka ia mengeluh dan mulai merintih seakan sebagian dirinya telah mati pada waktunya… atau terjadi gangguan baru padanya, atau ia tertimpa pukulan hari ini; dan orang tua manakala telah memasuki masa pikun berarti telah memasuki pertarungan yang menentukan antara dirinya dengan hari-harinya.
Kemudian ia menunjukkan ketidaksabaran dan gelisah sambil berkata: Sesungguhnya hal pertama yang tampak pada orang yang telah tua dan pikun adalah bahwa alam telah mengubah hukum yang dulu mengaturnya.
Profesor “M” berkata: Teman kita ini dahulu adalah seorang hakim yang memutuskan perkara di pengadilan, dan aku melihat pengadilan-pengadilan telah memutuskan terhadapnya dengan ketuaan ini “yang menerapkan padanya” beberapa pasal dari hukum pidana, sehingga ia tidak keluar dari pengadilan kecuali dalam penjara ketiga.
Maka “N” tertawa dan berkata: Kami telah mengenal “penjara biasa” dan “penjara dengan kerja paksa”, lalu apa penjara ketiga ini?
Ia berkata: Yaitu “penjara dengan penyakit”…
“N” berkata: Benar demi hidupku, sesungguhnya akhir tubuh kita tidak lain adalah hasil perhitungan dari pekerjaan kita; dan seakan kursi jabatan pemerintahan telah mengetahui bahwa ia adalah kursi pemerintahan, maka ia memungut pajak atas tulang-tulang para pegawai… Tahukah kamu makna firman Allah Ta’ala: “Dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling hina” (An-Nahl: 70) dan mengapa disebut yang paling hina?
Kami berkata: Mengapa disebut demikian?
Ia berkata: Karena ia mencampurkan manusia sebagian dengan sebagian yang lain, dan menyentuhnya dari awal sampai akhir, sehingga ia bukan laki-laki dewasa, bukan pemuda, dan bukan anak-anak, maka ia adalah yang paling buruk dan paling hina dalam dagangan…
Maka Profesor “M” tertawa dan berkata: Adapun aku, dahulu adalah orang tua ketika berusia tiga puluh tahun, dan inilah yang membuatku menjadi pemuda ketika mencapai usia tujuh puluh.
“N” berkata: Seakan hidup mengoreksi dirinya dalam dirimu. Ia berkata: Bahkan aku tidak suka ia mengoreksi dirinya; karena aku telah mengetahui sebelumnya bahwa pemborosan pengeluaran di masa muda adalah kesempitan kebangkrutan di masa tua, dan aku yakin bahwa alam memiliki “meteran” yang tidak salah hitung, maka jika aku berhemat ia akan menghitung untukku, dan jika aku boros ia akan menghitung merugikanku; dan dunia tidak akan memberikan kepadaku setelah masa muda kecuali dari apa yang ada dalam tubuhku; karena alam semesta tidak memberikan kepada makhluk hidup yang hendak ia akhiri, maka aku menjadikan diriku seperti orang tua yang dikatakan oleh kenikmatan-kenikmatan yang banyak kepadanya: kamu bukan untuknya; dan dari situ semua kenikmatanku berada dalam belenggu dua syariat: syariat agama dan syariat kehidupan.
Ia berkata: Dan aku mengetahui bahwa apa yang disebut orang sebagai kelemahan usia tua bukanlah dari usia tua tetapi dari masa muda; ia tidak lain adalah perbuatan manusia dalam meracuni tubuhnya selama tiga puluh atau empat puluh tahun dengan makanan dan minuman serta kelalaian dan kelelahan dan kegembiraan dan kesedihan dan kenikmatan dan kesakitan, maka aku bersama tubuh di masa mudanya agar ia bersamaku setelah masa mudanya, dan aku tidak berhenti memeliharanya sebagaimana seseorang memelihara rumahnya: menambah kebaikannya dan menghilangkan cacatnya, dan menjaga kekuatannya serta mencegah kelemahannya; dan menjadikannya selalu perhatian dan keprihatinannya, dan memandang pada hari dekatnya untuk masa depannya yang jauh, sehingga tidak terputus perhitungan akhirnya meski akhir itu jauh, dan ia senantiasa berhati-hati terhadap apa yang dikhawatirkan terjadi meski tidak terjadi.
Si orang tua “N” berkata: Benar -demi Allah- tidak beruntung kecuali orang yang memanfaatkan kesempatan; dan jenis usia tua tidak lain dari jenis masa muda; dan tubuh manusia ini seperti kota besar yang di dalamnya ada “dewan kotanya” yang bertanggung jawab atas pemeliharaan, sistem, dan penguatannya; dan ketua dewan ini adalah kehendak, dan hukumnya seluruhnya adalah kewajiban-kewajiban berat, dan ia seperti hukum-hukum lainnya: jika tidak dilaksanakan dari awal tidak berguna di akhir.
Profesor “M” berkata: Dan setiap sistem dalam tubuh adalah anggota dari anggota-anggota “dewan kota” tersebut, maka sistem pernapasan, sistem pencernaan, sistem otot, sistem saraf, dan peredaran darah, semua ini harus dibiarkan pada kebebasan alaminya dan dibantu sesuai sunnahnya, sehingga tidak dihalangi antara mereka dengan pekerjaan-pekerjaan mereka dengan suap dari kenikmatan, atau kerusakan dari perhiasan, atau ketamakan dalam kemewahan, atau ajakan kepada peradaban, atau sesuatu yang merusak keputusan mereka atau mengganggu pekerjaan mereka dan melemahkan sifat alami mereka.
Dan kaidah dalam umur adalah jika masa muda adalah masa kanak-kanak kedua dalam kepolosannya dan kesuciannya, maka usia tua adalah masa muda kedua dalam kekuatan dan aktivitasnya; dan aku tidak melihat seperti agama sebagai sarana yang menjadikan masa kanak-kanak terpanjang dengan hakikat-hakikat sampai akhir umur pada manusia ini; maka rahasia masa kanak-kanak sesungguhnya dalam kekuatannya untuk menghilangkan hal-hal berlebihan dan tambahan dari kehidupan ini, sehingga kekayaan tidak membuatnya sombong, kemiskinan tidak mematahkannya, nafsu tidak memperhinakannya, ketamakan tidak membuatnya takut, kegagalan tidak menakutinya, bahaya tidak membesarkannya, dan kematian tidak menakutinya; kemudian ia tidak bosan padahal ia sabar, tidak berlebihan padahal ia ridha, tidak ragu padahal ia yakin, tidak boros padahal ia qana’ah, tidak tumpul padahal ia bekerja, tidak beku padahal ia berjalan; kemudian ia tidak membebankan kepada kemanusiaan kecuali kasih sayang dan cinta dan keceriaan serta sifat-sifat kebaikan yang dimiliki setiap hati; dan tidak mewajibkan syariatnya dalam muamalah kecuali kaidah rahmat, dan tidak menetapkan filsafatnya untuk kehidupan kecuali kesucian pandangan; kemudian ia lebih mengejek dunia daripada peduli padanya, dan lebih merasa cukup daripada membutuhkan, dan senantiasa mengeluarkan kebahagiaan untuk dirinya dari apa yang mungkin, sedikit atau banyak.
Dan dengan semua ini masa kanak-kanak bekerja dalam menjaga kehidupan yang segar dan kelanjutannya serta pertumbuhannya, dan seandainya tidak demikian, tidak akan berseri anak-anak dan tidak tumbuh pemuda-pemuda, dan tidak akan melihat mata di antara keprihatinan dunia kemilau dan pemandangan itu pada wajah anak-anak yang menetapkan bahwa kepolosan dalam jiwa lebih kuat dari alam.
Dan semua itu juga termasuk ciri-ciri agama dan dengannya agama bekerja dalam mendidik kehidupan dan melancarkannya atas dasar-dasar yang kuat dan sehat, dan manakala agama ini kuat dalam diri seseorang, kerusakan dunia tidak akan berada kecuali di luar batas-batasnya, hingga seakan ia di suatu negeri dan dunia di negeri lain, dan kepolosan dalam jiwanya menjadi lebih kuat dari alam.
Kemudian ia berkata: Dan yang mengherankan bahwa keyakinan persamaan antara manusia tidak akan pernah terwujud dengan makna yang terbaik dan paling sempurna kecuali dalam dua hati: hati anak-anak; karena ia anak-anak, dan hati orang beriman; karena ia beriman.
Maka si orang tua “N” berkata: Memang seperti yang kamu katakan, dan laknat Allah atas nafsu-nafsu manusia yang batil ini, sesungguhnya satu nafsu dalam seribu jiwa membuat satu kebenaran seakan seribu kebenaran yang bermusuhan dan bertengkar; dan dua orang yang menginginkan satu wanita, nafsu salah satu dari mereka bisa jadi adalah nafsu dan pembunuhan; dan laknat Allah atas orang-orang ateis dan ateisme mereka, mereka mencela agama-agama karena merupakan beban dan belenggu serta kerajinan untuk kehidupan, kemudian mereka tidak mengetahui bahwa semua itu untuk kerajinan alat jiwa yang mampu menggerakkan orang-orang yang berbeda dengan satu gerakan, maka tidak ada yang menimpa kemanusiaan seperti perbedaan ini yang membuka dari setiap jiwa terhadap setiap jiwa pintu-pintu kezaliman, dan menjadikan antipati dan prasangka buruk lebih dekat kepada sifat manusia daripada keakraban dan kepercayaan.
Sungguh ilmu telah datang dengan mukjizat-mukjizat, tetapi dalam hubungan antara manusia dengan alam, dan antara manusia dengan manfaat-manfaatnya, dan antara manusia dengan nafsu-nafsunya; maka apakah selain agama yang datang dengan mukjizat-mukjizat praktis dalam hubungan antara jiwa dengan jiwa, dan antara jiwa dengan keprihatinannya, dan antara apa yang hak dan apa yang wajib?
Pencerita berkata: Kemudian si orang tua “N” memandangku dan berkata: Sambungkan pamanmu wahai anakku dengan pembicaraan yang telah berlalu, di mana kita sampai tadi dari masalah pembaharuan dan para pembaharu? Dan apa yang kita katakan dan apa yang kamu katakan? Ketahuilah bahwa kebodohan baru dan kejahatan baru dan kesalahan baru, semua itu jika baru dari pelakunya maka ia lama di dunia; dan tidak ada pada kita yang baru selain pembebasan kebebasan dalam penggunaan setiap sastrawan haknya dalam keangkuhan dan kebodohan dan kesombongan dan keras kepala.
Profesor “M” berkata: Dan yang tampak bukan dengan apa yang tampak bagimu darinya, tetapi dengan batin yang ada padanya, maka rumah sakit orang gila adalah istana dari istana-istana dalam penampakannya, tetapi orang-orang gila adalah hakikatnya bukan bangunannya, dan setiap pembaharu pada kita mengaku bahwa ia istana besar, padahal sebenarnya rumah sakit orang gila, hanya saja orang gila di dalamnya adalah tabiat dan nafsu dan kehendak; dan atas dasar ini apa yang menghalangi kemaksiatan yang kurang ajar menyebut dirinya sastra terbuka?
“N” berkata: Dan jika kamu pergi menentang penamaan ini mereka mengira bagimu bahwa seni memiliki keangkuhan yang suci… dan bahwa “ketidaksopanan” orang seni adalah “ketidakmoralan universal”…
Profesor “M” berkata: Maka keangkuhan nafsu jika terbuka di antara orang-orang yang malu dan orang-orang yang berkahlak mulia dan mengajak kepada mazhabnya, adalah pembaharuan tidak diragukan lagi; tetapi mazhab ini adalah yang paling lama di bumi, karena ia persis mazhab setiap pasangan yang berkumpul dari binatang-binatang sejak Allah menciptakan binatang-binatang..
“N” berkata: Dan katakan seperti itu tentang orang yang marah kepada Allah dan kepada manusia yang mengeluarkan dari kekufurannya di antara orang-orang beragama sastra baru, dan tentang orang sombong yang mengabaikan manusia, dan tentang pencuri pendapat, dan tentang peniru yang meniru secara buta -setiap satu dari mereka dan orang-orang seperti mereka terkena penyakit, maka mazhabnya adalah risalah penyakitnya; dan kebanyakan mereka ketetapannya pada pendapat yang rusak tidak lain dari ketetapan penyakit padanya.
Pencerita berkata: Dan aku termasuk para pembaharu, maka itu membuatku terbakar dan aku berkata kepada dua orang tua itu: Sesungguhnya ini setengah yang benar, adapun setengah yang lain maka pada banyak dari mereka yang mengaku membela agama dan kebaikan; ya mereka tidak menggunakan hak mereka dalam keangkuhan, tetapi uang menggunakan haknya..
Maka si orang tua “N” tertawa, dan berkata: Wahai anakku, sesungguhnya yang baru pada setiap keledai adalah bahwa ia mengaku bahwa ringkikannya adalah musik… maka keledai dan ringkikan dan musik semua itu tidak ada yang baru padanya, tetapi penamaan saja yang baru; dan seandainya bukti ada di tenggorokan keledai niscaya benar pembaharuan ini, tetapi pembenaran dan pendustaan di sini ada di telinga para musisi bukan di tenggorokan keledai kita yang terhormat…
“M” berkata: Dan mereka mengira bahwa seorang laki-laki memasang perangkap untuk menangkap burung-burung pipit, maka datang seekor burung pipit lalu melihat dari perangkap ini sesuatu yang baru, maka ia berkata: Hai kamu, mengapa kamu tertimbun dalam tanah? Perangkap berkata: Itu dari tawadhu kepada makhluk Allah! Ia berkata: Lalu mengapa kamu membungkuk? Perangkap berkata: Itu dari lamanya ibadahku kepada Allah! Ia berkata: Apa biji ini di sisimu? Perangkap berkata: Aku sediakan untuk burung-burung Allah yang berpuasa agar mereka berbuka dengannya! Burung pipit berkata: Apakah kamu membolehkannya untukku? Ia berkata: Ya.
Maka si malang itu maju kepadanya, ketika ia mengambilnya jatuh perangkap di lehernya, maka ia berkata sambil tercekik: Jika para hamba dicekik seperti cekikan ini maka telah diciptakan iblis baru.
“N” berkata: Maka hakikatnya adalah iblis yang memperbarui diri; agar cocok untuk zaman mesin-mesin dan penemuan-penemuan dan ilmu-ilmu dan seni-seni serta era kecepatan dan perubahan; dan selama kemajuan terus berjalan dan akal manusia ini tidak berhenti pada tujuan dalam menundukkan alam, maka akan berakhir urusan dengan menundukkan iblis sendiri bersama alam; untuk mengeluarkan semua kejahatan yang ada padanya.
“M” berkata: Tetapi yang mengherankan dari iblis ini; apakah ia berubah menjadi Eropa bagi orang-orang Eropa? Dan jika tidak mengapa ia mengeluarkan para pembaharu dari para penguasa akal dan khayalan, kemudian tidak memberikan kepada kita kecuali para pembaharu dari para penguasa taklid dan kebodohan?
Pencerita berkata: Maka aku berkata kepada mereka berdua: Wahai dua orang tua yang dahulu, aku akan menyebarkan perkataan kalian ini agar dibaca para pembaharu.
Profesor “M” berkata: Dan sebarkan wahai anakku bahwa Ar-Rabi’ -sahabat Imam Syafi’i, suatu hari melewati gang-gang Mesir lalu ditaburi di kepalanya bejana yang penuh abu, maka ia turun dari tunggangannya dan mulai menepuk pakaian dan kepalanya, maka dikatakan kepadanya: Mengapa tidak kamu tegur mereka? Ia berkata: Orang yang berhak mendapat neraka lalu didamaikan dengan abu, tidak pantas baginya marah!…
Kemudian pencerita kita berkata: Dan dua orang tua itu menguasaiku, dan aku melihat perkataan mereka mengatasi perkataanku, dan aku berusia dua puluh tujuh tahun, yaitu usia ketajaman akal, maka aku tidak menganggap diriku bersama mereka kecuali seperti sepertiga orang tua.. karena pengaruh mereka padaku, dan aku berubah tidak melihat para pembaharu kecuali setiap yang sakit dan rusak, dan aku menilai setiap satu dari mereka dengan penyakitnya, maka ternyata perkataan seperti yang dikatakan dua syaikh itu, dan ternyata di bawah setiap pendapat yang sakit ada penyakit, dan di balik setiap arah ada jarum magnet yang diketuk setan untuknya…
Dan kami selesai dari ini, maka aku berkata kepada dua syaikh itu: Sungguh telah tiba waktunya kalian turun dari antara awan-awan wahai dua filosof, bukankah kalian pada tahun 1895 termasuk jenis manusia..?
Pencerita kami berkata: Saya telah merasa jengah dengan perdebatan filosofis yang keukeuh ini, dan merasa terjepit di antara kedua orang tua itu, maka saya berkata kepada si kakek “N”: “Ceritakanlah kepadaku -semoga Allah merahmatimu- sesuatu dari masa lalu kalian berdua, karena kalian berdua adalah ringkasan dari semua yang telah berlalu dalam kehidupan yang dapat dijadikan petunjuk untuk asalnya yang panjang, kecuali dalam hal cinta… Dan kalian masih saja berbicara serius sambil mempermainkan aku sejak tadi, kalian telah memalingkan aku kepada urusan dan pandangan kalian tentang yang lama dan yang baru, dan tinggal aku yang harus memiringkan kalian sedikit ke tahun 1895, dan demi Allah, hatiku hampir bunuh diri karena putus asa mendengar berita tentang “Katrina dan Margaret”; seolah-olah kamu takut ketika memberitahuku tentang sahabat perempuanmu ini yang telah berusia empat puluh tahun lebih- seperti yang kamu takutkan dari seorang laki-laki yang akan mengejutkanmu bersamanya dalam kesendirian dalam keadaan tertentu, lalu menangkapmu “tertangkap basah” seperti yang kalian katakan dalam bahasa pengadilan….
Dia berkata: Kedua orang tua itu tertawa dan “N” berkata: Tidak -demi Allah- wahai anakku, tetapi aku mengatakan apa yang dikatakan oleh orang bijak Arab itu kepada kaumnya ketika ia telah berusia dua ratus tahun: “Hatiku adalah sepotong daging dari tubuhku, dan aku tidak mengira kecuali bahwa ia telah mengikis seluruh tubuhku”, dan ketahuilah wahai anakku bahwa apabila cinta telah hilang dari orang tua, yang tersisa darinya adalah kasih sayang yang bekerja seperti kerjanya, maka orang tua mencintai suatu tempat atau sesuatu atau makna apapun itu, agar hal itu mengembalikannya ke dunia atau membuatnya tetap di dalamnya “semampu mungkin”…
Profesor “M” tertawa dan berkata: Mungkin ocehan si kakek “N” sekarang adalah kekasih si kakek “N”.
Kemudian dia berkata: Dan segala sesuatu menjadi lembut di hati pria tua dan berubah arah seolah-olah tidak tepat untuk memandang maknanya yang kasar; dan tidak ada pilihan bagi orang tua kecuali keluar dari makna-makna dunia sebelum ia keluar dari dunia; dan karena itu orang tua tidak merasa senang kecuali jika ia hidup dengan pikiran-pikiran tubuhnya yang sekarang, dan mengukur urusan-urusan berdasarkan apa yang ada padanya sekarang bukan pada apa yang dahulu ada padanya; dan perbedaan antara tubuhnya yang sekarang dengan tubuhnya yang dulu adalah bahwa tubuh yang dulu, anggota-anggotanya yang memikul, maka ia berkumpul dari perbuatan-perbuatan dan nafsu-nafsunya, berlalu dalam mewujudkan eksistensi dan makna-maknanya; adapun yang sekarang, adapun tubuh yang tua, maka ia merasakan bahwa ia memikul semua anggota-anggotanya terbungkus dalam pakaiannya seperti barang-barang musafir sebelum bepergian… dan seolah-olah sebagiannya bersalam kepada sebagian yang lain dengan salam perpisahan yang mengatakan: kamu meninggalkanku dan aku meninggalkanmu.
Profesor “M” gelisah dan berkata: Ah, celakalah kamu dan apa yang kamu katakan! Tidak heran bahwa ini adalah bahasa tulang-tulangmu yang tidak ada kekerasannya, maka dari itu makna-maknamu dalam kehidupan tidak datang kecuali lemah dan kurus, kehilangan sebagian besarnya dan tersisa dari setiap sesuatu darinya sesuatu di akhir; apakah dalam usia tua tidak ada kecuali tubuh yang tersisa untuk tampak saja seperti tangkai buah anggur setelah buah anggurnya hilang, mengatakan: dulunya ada di sini dan di sini?
Ketahuilah wahai “N” bahwa usia tua ini hanyalah kemenangan spiritualitas tubuh atas kemanusiaannya, maka ini adalah fase kehidupan yang tidak ditinggalkan kehidupan kecuali di dalamnya ada kenikmatan dan kegembiraannya seperti yang dilakukan pada fase-fase lainnya; hanya saja kenikmatan-kenikmatan itu antara ruh dan keindahan, dan kegembiraan-kebahagiaannya antara akal dan alam, dan semua yang berkurang dari umur wajib menjadi tambahan dalam persepsi ruh dan kekuatan dan intensitas dan cahayanya; telah dikatakan kepada sebagian ahli urusan ini ketika ia dalam sakit kematiannya: bagaimana kamu rasakan penyakitnya? Maka dia berkata: tanyakan penyakit itu tentang aku bagaimana ia merasakan aku.
Dan sesungguhnya usia tua menjadi berat bagi pemiliknya apabila ia terbalik padanya dan menjadi pertentangan antara dia dengan kehidupan, maka orang tua mengharapkan apa yang telah berlalu dan tidak berhenti bergantung padanya dan marah karena kepergiannya dan membuatnya artifisial dan memaksakan sebab-sebabnya, padahal ia telah lupa bahwa kehidupan telah mengembalikannya menjadi anak-anak seperti anak-anak, kebahagiaan terbesarnya dalam menyelaraskan antara dirinya dengan hal-hal kecil yang polos, dan kenikmatan terkuatnya adalah ketika keindahan yang ada dalam imajinasinya selaras dengan keindahan yang ada di alam semesta, dan sesungguhnya ia sebagaimana yang kamu katakan: orang tua tidak merasa senang kecuali jika ia hidup dengan pikiran-pikiran tubuhnya yang sekarang.
Dan betapa benar dan bijaknya hadits mulia ini: “Sesungguhnya Allah Ta’ala dengan keadilan dan keadilanNya menjadikan jiwa dan kegembiraan dalam keridlaan dan keyakinan, dan menjadikan kesedihan dan kedukaan dalam keraguan dan kemarahan”. Maka ini dalam kaidah kehidupan: kehidupan tidak memperlakukanmu dengan apa yang kamu miliki dari dirimu, dan dengan itu kebahagiaan ada dalam hal-hal yang nyata, mungkin, ada, bahkan ada dalam semua yang mungkin dan semua yang ada; dan jika keridlaan adalah keselarasan antara jiwa dengan pemiliknya, dan keyakinan adalah keselarasan antara jiwa dengan Penciptanya, maka hukum kebahagiaan telah menjadi sesuatu yang maknawi dari keutamaan jiwa dan imannya dan akalnya, dan dari rahasia-rahasia yang ada di dalamnya, bukan sesuatu yang material dari anggota-anggotanya dan barang-barangnya dan dunianya dan khayalan-khayalan yang membebaninya.
Maka si kakek “N” menunduk sebentar kemudian berkata: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah melemah” (Surat Maryam: 4), alangkah bijaknya ayat ini! Demi Allah, aku membaca dan manusia membaca dalam menggambarkan usia tua yang fana, tidak ada yang lebih indah dan lebih tepat dan lebih sempurna darinya; tidakkah kamu merasakan bahwa yang mengucapkannya hampir jatuh karena kurus dan lemah dan lelah; dan bahwa ia tidak berdiri dalam kehidupan sebagaimana berdirinya dahulu, dan bahwa pertentangan kehidupan ini telah terjadi dalam tubuhnya sehingga mengganggu, dan bahwa makna-makna tanah telah menempel pada tubuh ini bekerja di dalamnya pekerjaannya, maka mulai hancur seolah-olah kubur menyentuh tulang-tulangnya sedang ia hidup, dan bahwa dengan semua ini ia hampir patah seperti patahnya tulang yang kikir telah mencapai lapisan terakhirnya?
Pencerita kami berkata: Maka aku berkata kepadanya: Menurutmu jika seorang jenius dari jenius-jenius lukisan di zaman kita ini mengambil dengan seninya makna menakjubkan itu lalu menulisnya menjadi gambar dan warna-warna, bukan huruf dan kata-kata, bagaimana menurutmu ia akan melakukannya?
Dia berkata: Ia akan melakukan begini: menggambar pemandangan musim dingin di langit yang awannya menggantung tebal bertumpuk-tumpuk satu di atas yang lain sehingga terlihat langit mendekat ke bumi, dan awan-awan telah menutupi cakrawala dan udara menjadi gelap dengan kegelapannya di bawah siang yang tertutup, dan kilat-kilat bertebaran di antaranya, kemudian ia meninggalkan dari matahari di sisi cakrawala sebuah sinar seperti cahaya lilin dalam celah dari celah-celah awan, kemudian ia mengirimkan dalam gambar angin dingin yang ia tunjukkan dengan bengkoknya pohon dan terbaliknya tumbuhan, kemudian ia menggambar laki-laki dan perempuan yang pemuda mendidih dalam mereka dengan kekuatan dan kesehatan, dan cinta dan kerinduan, dan mendidih dalam mereka pikiran-pikiran lain… dan mereka semua dalam bentuk orang-orang yang bergegas ke tempat dansa; dan mereka semua dari kalangan pembaharu.
Kemudian ia menggambar wahai anakku di belakang mereka “jauh dari mereka” pamanmu si kakek “N”, menggambarnya sebagaimana kamu lihat lemah kekuatan bengkok punggung, gemetar goyah lemah; angin telah menggoyangnya, dingin memukulnya, dan awan-awan mencekiknya; dan ia memiliki wajah yang layu dunia, memberitahukan bahwa darahnya telah diletakkan dari tubuhnya dalam pendingin, dan seluruh alam di sekelilingnya dan di atasnya adalah sebab-sebab rematik… kemudian menggambarnya telah berdiri di sana termangu sedih, mengangkat kepalanya memandang ke langit.
Pencerita berkata: Dan kami semua tertawa, kemudian Profesor “M” berkata: Demi hidupku, sesungguhnya kehidupan manusiawi ini seperti mesin yang pemiliknya adalah insinyurnya; jika baik dan lurus maka dari ilmunya tentangnya dan penjagaannya terhadapnya, dan jika rusak dan kacau maka dari main-mainnya dengannya dan kelalaiannya terhadapnya, dan tidak ada jalan mencela alam dalam hal itu; dan orang tua yang lemah tidak ada di dunia ini kecuali gambaran menggelikan dari kerusakan masa mudanya dan kelemahannya dan kelembutan dan kemanjanya, menampakkannya kepada dunia agar mengejek siapa yang mengejek dan mengambil pelajaran siapa yang mengambil pelajaran.
“N” berkata: Begitukah itu wahai profesor?
Profesor berkata: Bahkan itu adalah gambaran serius dari kehidupan batil ini yang kebiasaannya tidak menyatakan tentang hakikatnya kecuali di akhir, maka dunia menampakkannya agar diagungkan kebenaran oleh siapa yang mengagungkannya; dan tidak ada kecuali dengan cara ini diketahui dari kehancuran gambar kehancuran makna.
Si kakek “N” berkata: Ah dari pengagungan usia tua dan penghormatan manusia kepadanya! Mereka melihatnya sebagai penghormatan kepada orang tua dan orang tua tidak melihatnya kecuali sebagai penghiburan, dan orang-orang tua yang renta tidak lain adalah jenazah-jenazah sebelum waktunya, tidak mengilhami kepada manusia sesuatu selain ilham jenazah dari kewibawaan dan kekhusyukan.
Profesor berkata: Bahkan itu adalah gambaran serius dari kehidupan batil ini yang kebiasaannya tidak menyatakan tentang hakikatnya kecuali di akhir, maka dunia menampakkannya agar diagungkan kebenaran oleh siapa yang mengagungkannya; dan tidak ada kecuali dengan cara ini diketahui dari kehancuran gambar kehancuran makna.
Si kakek “N” berkata: Ah dari pengagungan usia tua dan penghormatan manusia kepadanya! Mereka melihatnya sebagai penghormatan kepada orang tua dan orang tua tidak melihatnya kecuali sebagai penghiburan. Dan orang-orang tua yang renta tidak lain adalah jenazah-jenazah sebelum waktunya, tidak mengilhami kepada manusia sesuatu selain ilham jenazah dari kewibawaan dan kekhusyukan.
Profesor berkata: Sesungguhnya kamu selalu dalam pembicaraan dirimu, dan seandainya kamu sungai wahai rawa-rawa, tidak akan ada dalam bahasamu huruf-huruf dari nyamuk ini.
Si kakek yang jenaka berkata: Sesungguhnya ini bukan dari pembicaraan filsafat yang kita perdebatkan di antara kita, kamu balas aku dan aku balas kamu, tetapi ini pembicaraan hukum yang hanya kamu yang boleh berbicara dengannya wahai hakim.
“M” berkata: Terangkan dan jelaskan; karena kami tidak memahami apapun.
Si kakek berkata: Ini pembicaraan yang aku katakan dahulu dalam peristiwa aneh, karena telah diajukan kepadaku suatu hari kasus seorang kakek renta yang telah mencuri ayam; dan aku lihat-lihat dia ternyata dari orang-orang yang paling cerdas, dan ternyata ia mulia dari kedudukannya dalam tuduhan, tetapi benar di sisiku bahwa ia telah mencuri, dan berdiri saksi atasnya dan wajib hukum; maka aku katakan kepadanya: Wahai kakek, tidakkah kamu malu dan kamu beruban menjadi pencuri?
Dia berkata: Wahai tuanku hakim, seolah-olah kamu berkata kepadaku: tidakkah kamu malu lapar?
Maka datang kepadaku dari jawabannya apa yang membuatku bingung, maka aku katakan kepadanya: Dan jika begitu tidakkah kamu malu mencuri?
Dia berkata: Wahai tuanku hakim, seolah-olah kamu berkata kepadaku: dan jika begitu tidakkah kamu malu makan?
Maka ini lebih berat bagiku, maka aku katakan kepadanya: Dan jika kamu makan, tidakkah kamu makan kecuali yang haram?
Maka dia berkata: Wahai tuanku hakim, sesungguhnya kamu jika memandangku membutuhkan tidak mendapat sesuatu, tidak melihatku pencuri ketika mendapat sesuatu. Maka orang itu memojokkanku dengan kebodohan dan kesederhanaannya, dan aku katakan dalam diriku: seandainya Plato mencuri pasti seperti ini? Maka aku tinggalkan pembicaraan dengan filsafat dan berbicara dengan hukum yang tidak memiliki orang itu bersamanya ucapan untuk membantahku dengannya, maka aku katakan: Tetapi kamu datang ke pengadilan ini dengan pencurian, maka tidak pergi dari pengadilan ini kecuali dengan penjara dua tahun.
Pencerita kami berkata: Dan si kakek cerewet ini membuatku geram dan memenuhi dadaku, karena ia tidak berhenti memutar aku dan aku memutarnya dari “Katrina dan Margaret”, dan aku lihat segala sesuatu telah tua padanya kecuali lidahnya, maka jengkel dan kesal membawaku untuk berkata kepadanya: Andai kasus itu adalah kasus “Katrina” dan telah diajukan kepadamu sebagai terdakwa, apakah kamu akan berkata kepadanya: kamu datang ke pengadilan dengan pencurian maka tidak pergi dari pengadilan kecuali dengan penjara dua tahun?
Dan kata itu terlontar dari lidahku dan aku tidak memperhatikannya dan tidak mengetahui bahayanya; maka si hakim tua murung dan wajahnya muram karena marah, dan berkata: Wahai yang menjijikkan! Apakah kamu kira aku akan berkata kepadanya: kamu datang ke pengadilan dengan pencurian maka tidak pergi dari pengadilan kecuali dengan hakim…?
Dan Profesor “M” marah dan berkata: Celakalah kamu! Apakah ini dari adab baru kalian yang kalian gunakan terhadap guru-guru di antara mereka orang-orang fasik yang mendustakan para nabi dan tidak beriman kecuali kepada agama naluri dan membolehkan bagi kalian mazhab-mazhab keledai dan bagal dalam kebebasan darah..? Adapun aku sungguh mengetahui bahwa kalian tumbuh dalam kebebasan berpendapat, tetapi kata antara dua orang tidak menjadi bebas sepenuh kebebasan kecuali kadang-kadang bodoh sepenuh kebodohan, seperti ucapan yang kamu ucapkan ini.
Sungguh manusia di zaman kami yang lampau adalah manusia-manusia tersendiri, dan adab-adab adalah keadaan-keadaan mental tetap yang tidak berubah dan tidak boleh berubah, dan guru yang kafir antara dia dengan dirinya tidak menjadi dengan murid-muridnya kecuali seperti pelacur; berusaha mendidik anak perempuan dengan cara yang bukan caranya!
Pencerita berkata: Maka aku tergagap dan pergi meminta maaf, tetapi si kakek “N” memotongku dan mulai berkata setelah kemarahannya meledak: Telah sempurna pada mereka ini buatan kebebasan berpikir, sebagaimana telah sempurna sebelumnya pada penceramah guru tua itu yang mereka ceritakan tentangnya bahwa ia biasa bercerita kepada manusia di masjid setiap Rabu lalu mengajarkan kepada mereka urusan agama mereka dan menasihati mereka dan memperingatkan mereka dan mengingatkan mereka kepada Allah dan surga dan nerakaNya; mereka berkata: maka ia tertahan dari mereka pada sebagian hari dan lama penantian mereka untuknya, maka ketika mereka begitu tiba-tiba datang utusan mereka lalu berkata: Abu Ka’ab berkata kepada kalian: pergilah karena aku telah menjadi mabuk…
Penceramah mabuk ini menurut orang-orang bodoh ini adalah imam dalam mazhab kebebasan berpikir, dan keutamaannya menurut mereka adalah bahwa ia jujur tidak munafik… dan ini akan menjadi ucapan tentang imam masjid seandainya bukan karena ia imam masjid; selain bahwa kebebasan berpikir selalu dibangun dalam semua yang dibangunnya atas bukan asalnya, dan menurutnya bahwa logika yang pokok bahasannya apa yang wajib, bukan logika yang benar; karena tidak ada yang wajib selama mazhabnya adalah kemutlakan dan kebebasan.
Setiap orang terpesona dari mereka mengira bahwa alam tidak boleh tidak melewati pemikirannya sebagaimana melewati kehendak Sang Pencipta, dan bahwa tidak boleh tidak baginya menghukumi hal-hal walau dengan kata bodoh yang membuatnya menghukumi, dan tidak boleh tidak mengatakan “jadilah” walau yang terjadi tidak lain adalah kebodohannya; dan mazhab akhlaknya: carilah kamu kekuatan untuk kumpulan, adapun aku maka mencari untuk diriku manfaat dan kenikmatan! Dan mereka mengira bahwa mereka memikul masyarakat, maka mereka sungguh memikulnya, tetapi dengan cara kutu-kutu busuk di sayap elang.
“M” berkata: Dan bagaimana itu?
Dia berkata: Mereka mengklaim bahwa segolongan kutu busuk berhubungan dengan sayap elang besar dan menyukainya dan menikmatinya, maka elang sabar terhadap mereka selama waktu, kemudian terganggu oleh mereka dan ingin membuang mereka dari dirinya, maka ia mulai mengepakkan sayap-sayapnya ingin mengibasnya, maka kutu-kutu busuk berkata kepadanya: Wahai elang yang bodoh! Tidakkah kamu tahu bahwa kami di sayap-sayapmu untuk memikul mu di udara?..
Adapun guru-guru kebebasan agama pikiran akhlak ini, maka telah berkata para bijak: bahwa kotoran dari kotoran adalah guru di sekolah.
“M” berkata: Dan bagaimana itu?
Dia berkata: Mereka mengklaim bahwa kotoran domba adalah guru di sekolah kerikil, maka ia mengarang untuk murid-muridnya sebuah buku yang ia kuasai dan panjang pemikiran untuknya, dan mencapai di dalamnya usaha maksimal yang mampu ia lakukan untuk menampakkan kejeniusan dahsyatnya; maka bab terbesar di dalamnya adalah bahwa gunung adalah dongeng dari dongeng-dongeng, tidak layak dalam akal bebas kecuali ini, dan tidak benar selain ini dalam logika; ia berkata: dan bukti atas itu bahwa mereka mengklaim bahwa gunung adalah sesuatu yang besar, yang besarnya domba besar seribu ribu kali; maka jika gunung besarnya domba seribu ribu kali bagaimana mungkin domba bisa membuang kotorannya?….
Profesor “M” berkata: Ini logika baru yang lurus seandainya bukan logika kotoran!
“N” berkata: Dan setiap yang lama bagi mereka memiliki yang baru, maka kata “laki-laki” telah menjadi banci, dan kata “pemuda” telah menjadi perempuan, dan kata “suci” telah menjadi kotor, dan kata “malu” telah menjadi najis; dan zaman baru tidak mengetahui pelajar pada tahun ini seperti apa akhlaknya pada tahun mendatang.. dan kehidupan baru adalah menguasai kecurangan lebih dari menguasai pekerjaan.. dan kewajiban baru adalah bahwa harta orang lain tidak disebut harta kecuali ketika menjadi di tanganmu.. dan kebenaran baru adalah kamu berbohong seratus kali, mudah-mudahan manusia mempercayai darinya satu kali.. kemudian manusia baru, dan cinta baru, dan perempuan baru, dan sastra baru, dan agama baru, dan ayah baru, dan anak baru, dan apa yang aku tahu dan yang tidak aku tahu.
Mereka berkata: Superman, dan mereka berlebih-lebihan dalam mengeluarkan makhluk sempurna tanpa agama dan akhlaknya, maka alam mengejek mereka dan tidak mengeluarkan kecuali yang kurang paling kurang, dan membiarkan mereka bekerja dalam teori dan ia bekerja kenyataan.
Pencerita kami berkata: Dan si kakek “N” berdiri sambil berkata: Maha Berkah dan Maha Tinggi wahai Pencipta makhluk ini! Seandainya mereka memahami dariMu pasti mereka memahami hikmah dalam bahwa Engkau telah membukakan atas ilmu baru dengan gas-gas beracun…
Dia berkata: Dan ketika si kakek pergi, aku berkata kepada Profesor “M”: Tetapi apa berita “Katrina” dan “Margaret” dan tahun 1895?
Maka dia berkata: Wahai yang bodoh, tidakkah kamu sadari setelah ini bahwa kedua orang tua telah mengejekmu dengan gaya baru..
Saya kembali kepada kertas-kertas lama milik saya yang berusia tiga puluh tahun atau sekitarnya, sedikit lebih atau sedikit kurang, dan saya mulai menelaah kertas-kertas ini satu per satu. Tiba-tiba saya berada di reruntuhan hari-hari dalam sebuah kota yang berdiri dari sejarah lama saya, tertidur di bawah kegelapannya yang dulunya adalah cahaya-cahaya masa yang telah berlalu; dan saya merasa seperti orang yang telah merantau tiga puluh tahun dari tanah airnya kemudian kembali lagi, sehingga ia tidak melihat sesuatu yang pernah ia kenal di masa mudanya dan masa aktifnya kecuali ada rahasia yang menghubungkan keduanya; dan dari sifat hati yang mencinta dalam kerinduannya adalah menjadikan segala sesuatu yang terhubung dengannya seolah memiliki hati seperti dirinya yang memiliki kerinduan dan bisikan hati!
Dan kepunahan yang terpelihara dalam kertas-kertas ini, menyimpan bagiku di dalamnya dan dalam apa yang dikandungnya jiwa dan sifat yang dulunya jiwa seorang penyair dan sifat taman, di masa kanak-kanak ketika aku maju dalam masa muda dan dalam alam semesta bersama-sama seolah segala sesuatu diciptakan dalam penciptaan yang lain; jika aku menulis syair dan tersusun bagiku sesuai yang aku sukai, aku merasakan perasaan raja yang menambahkan ke kerajaannya sebuah kota baru; dan jika aku mengambil setangkai bunga dan merenungkannya sesuai yang aku sukai, aku merasakannya seperti wanita tercantik yang membisikkan kepadaku bisikan seluruh keindahan; dan jika aku berdiri di tepi laut, laut berombak dengan gelombangnya dalam jiwaku, maka aku bersamanya lebih besar dari bumi dan lebih luas dari langit.
Adapun cinta… adapun cinta, ia memiliki makna-makna kecilnya yang seperti kebutuhan anak-anak bagi anak-anak: tidak ada hal besar di dalamnya, tetapi di dalamnya ada kebahagiaan terbesar, dan di dalamnya ada kesegaran hati.
Masa kanak-kanak ketika cara berpikir adalah cara bermimpi; dan emosi adalah emosi dalam jiwa, dan pada saat yang sama ia adalah tipu daya dari alam; dan apa yang datang selalu melupakan apa yang telah berlalu dan tidak mengingatnya; dan hari-hari seperti anak-anak yang bahagia: tidak ada seorang pun dari mereka yang tidur kecuali dengan pikiran bermain dan bersenang-senang, dan tidak ada yang bangun kecuali dengan pikiran bersenang-senang dan bermain; dan bahasa itu sendiri seolah di dalamnya ada kata-kata dari permen; dan penderitaan-meskipun sedikit-seperti orang sakit yang bersamanya obat yang telah teruji, dan filsafat keindahan tertawa dari filsuf kecilnya, yang jelas sekali kejelasannya, yang membatasi setiap kata pada apa yang ia ketahui dari maknanya, yang berfilsafat dalam mewujudkan keinginan lebih dari berfilsafat dalam membayangkan ide!
Itulah masa yang dari ciri khasnya yang paling khusus adalah kamu bekerja, maka pekerjaan itu dalam dirinya adalah pekerjaan dan dalam dirimu adalah kenikmatan.
Dalam kertas-kertasku itu aku mencari sebuah cerita berjudul “Pelajaran Pertama dalam Kotak Korek Api” yang kutuliskan pada tahun 1905, dan aku tidak tahu saat itu bahwa itu adalah cerita yang mengalir dalam suasananya takdir novelis yang menakjubkan, yang akan datang setelah tiga puluh tahun dan menulis di dalamnya baris terakhir yang melengkapi filsafat maknanya.
Dan inilah aku menerbitkannya sebagaimana aku menulisnya; dan pena ini saat itu masih segar belum mengeras, dan seperti dahan yang dimiringkan angin, meskipun dasar kefasihannya telah ada dan masih ada, kefasihan kegembiraannya atau kefasihan kesedihannya; dan inilah ceritanya:
“Abdul Rahman Abdul Rahim” adalah seorang anak petani, yang telah menyaksikan dari dunia ini sembilan tahun, berlalu baginya sebagaimana waktu berlalu pada orang mati; kehidupan orang-orang hidup tidak menambahkannya kecuali pengabaian, maka ia tumbuh seperti tumbuhnya anak-anak sejenisnya yang kehilangan kedua orang tua dan tercabut dari keluarga mereka sehingga diserahkan kepada alam untuk memisahkan dan menghubungkan mereka dengan kehidupan, dan menyempitkan bagi mereka di dalamnya dan meluaskan.
Dan alam menyiapkan darinya manusia hewani, tidak mencapai kedewasaannya sampai ia berjuang mencari rezeki dengan tipu daya atau kejahatan, dan mengambil kekuatannya sebagaimana binatang buas mencari makan dengan cakar dan taring; dan ia tidak akan menjadi setelahnya kecuali kumpulan dari akhlak-akhlak hewani yang mematikan dan berani, karena alam ketika memulai kerjanya dalam mengubah manusia dari kemanusiaannya, menurunkannya ke dunia hewani dan menghubungkannya dengan apa yang ada di dalamnya dari kejahatan dan kehinaan, kemudian tidak meninggalkan kerjanya sampai ia berubah kepadanya.
Dan “Abdul Rahman” di desanya mengenal warung seorang laki-laki miskin, yang mencukupi diri dengan berjualan daripada meminta-minta dan mengemis; maka anak itu sering berdiri di situ, dan ia kadang makan dari pemiliknya seperti rezeki burung, remah-remah dan sisa-sisa; karena anak itu adalah pengemis, dan pemilik warung tidak naik dari pengemisan kecuali dengan kedudukan yang membuat orang-orang bersedekah kepadanya dengan membeli dari barang-barang kecilnya yang ia sebut dagangan: seperti benang, jarum, korek api dan garam, mainan untuk anak, celak untuk gadis-gadis, tembakau untuk nenek-nenek, salinan Syekh Asy-Sya’rani, dan yang sejenisnya yang harganya bertahan dari pecahan milim, hingga milim dan pecahannya!
Dan anak itu lengah sekali dan mengarahkan tangannya ke harta warung, maka terangkatlah olehnya “kotak korek api” yang seluruh perbedaannya antara mencurinya dan membelinya adalah setengah milim; tetapi siapa yang memiliki “dua puluh pecahan” dan itu baginya seperti dinar emas yang berdering dan menari di kuku dengan tarian Inggris?
Dan apa yang akan ia lakukan dengan kotak itu? Jiwanya berpikir untuk berdebat dengannya dan belum tenang gemetar tangannya karena mengerikannya dosa, tetapi anak itu adalah alamiah dan bukan filosof, dan karena itu ia memutuskan untuk mengamankan kenyataan setelah tangannya jatuh padanya, dan orang-orang telah sepakat bahwa materi pencurian adalah “mengulurkan tangan” salah atau benar, membawa yang mahal atau membawa yang murah; maka ia mengepalkan jari-jarinya pada kotak itu dan menariknya, dan meninggalkan di tempatnya sifat amanah yang tidak dikenal orang-orang nilainya baginya sehingga menjadi hina pula pada dirinya sendiri, dan ia pergi sementara amanah itu memanggilnya:
Hai anak, apakah kamu membayar harga kotak korek api dengan dua tahun dari umurmu? Dan mengapa tidak ada orang yang mengetahui nilai umurmu?
Dan kembali gema suara tersembunyi ke hatinya tanpa ia sadari, maka hatinya berdetak karena ketakutan, dan melompat dengan lompatan yang gelisah; maka anak itu menoleh sekali lagi, kemudian mempercepat lari dan meninggalkan amanah memanggilnya:
Hai anak, sesungguhnya bagimu di akhirat ada api yang tidak dinyalakan dengan korek api ini, dan bagimu di dunia ada penjara seperti kotak ini, maka bermainlah bermain selama orang-orang mengabaikanmu! Bermainlah dengan kepercayaan yang di tanganmu sehingga berkembang padamu makna nyala sampai menjadikan hidupmu dalam umur orang-orang asap dan api; dan hari-harimu akan menjadi batang-batang seperti korek api ini: menyala di dunia dan membakar.
Dan seolah ekor-ekor cambuk menyala-nyalakan punggung anak malang itu, tetapi ia baru saja menoleh kali ini sampai ia berada dalam genggaman pemilik warung, dan tiba-tiba ada kata dari bahasa telapak tangannya yang kasar, terbayang baginya dalam pukulannya bahwa dinding runtuh padanya, dan diikuti kalimat dari sajak-sajak tamparan yang menggelegar di telinganya seperti guntur, dan setelah itu seperti ombak dari kelompok-kelompok anak-anak mengelilinginya sehingga meninggalkan perahu manusia kecil ini terguncang oleh benturan tangan-tangan, maka anak malang itu tidak merasakan kecuali bahwa korek api yang di tangannya telah menyala di kepalanya, dan jari-jari pemilik warung seolah menggosok batang-batangnya di kulit wajahnya yang kasar!
Dan mereka membawanya ke “duar” kepala desa untuk menghabiskan malam kemudian pagi hari berangkat ke markaz dan kejaksaan, dan terlempar si malang menunggu putusan pagi, berharap dalam akalnya yang kecil agar tidak fajar sampai “sayyiduna Azrail” telah menghapus kejahatan dan saksi-saksinya, kemudian tertidur tenang kepada malaikat maut dan bahwa ia telah mulai kerjanya dengan sungguh-sungguh, dan yakin pada dirinya bahwa ia akan mengemis pada hari Kamis dari apa yang dibagikan di kuburan sebagai sedekah untuk arwah kepala desa, pemilik warung, dan penjaga yang mereka percayakan untuk menyeretnya ke markaz… dan bagaimana ia meragukan bahwa ini akan menimpa mereka sedangkan ia telah bertawasul kepada wali fulan dan bernazar untuknya lilin yang akan ia curi dari warung lain…!
Begitulah kejahatan mengenal hati anak ini, dan keadilan manusia berakhir padanya ke yang lebih mengerikan dari kezaliman dirinya sendiri, dan seolah mereka dengan hukum yang mereka perbaiki dengannya menurut anggapan mereka, telah memberikan kepadanya tasbih; agar ia tampil dengannya dengan penampilan orang-orang saleh; dan mereka tidak membuatnya memahami sesuatu sehingga ia memahami bahwa mereka berkata kepadanya: ini kejahatan satu, maka hitunglah kejahatanmu pada tasbih ini; agar kamu tahu berapa jumlahnya!
Sebenarnya itu adalah permainan bukan pencurian, dan tangan anak dalam apa yang ia lakukan merespon hukum kegembiraan dan keaktifan dan gerakan, sebagaimana anggota tubuh anak bukan sebagaimana tangan pencuri; dan ia lebih mirip bayi yang mengulurkan tangannya untuk semua yang ia lihat, tidak membedakan yang berbahaya atau bermanfaat, dan hanya ingin merasakan dan mewujudkan sifatnya; dan semua yang ada dalam perkara dan puncak apa yang dicapai-bahwa khayalan anak ini menyusun cerita dari cerita-cerita permainan, dan orang-orang dewasa salah dalam memahami dan mengarahkannya… Pencurian anak bukanlah pencurian, tetapi itu adalah hak dari hak-hak kecerdasannya yang ingin ia tampilkan.
Dan “Abdul Rahman” berakhir di pengadilan, maka memutuskan memenjarakannya di “penjara anak-anak” selama dua tahun, dan beberapa orang baik di desanya mengajukan banding untuknya; sebagai sedekah dan mencari pahala; karena banding tidak berguna kecuali sebagai simbol dan kertas; ketika anak kecil itu tampil di hadapan ketua pengadilan, tidak ada bersamanya karena kemiskinannya pengacara yang membela dirinya, tetapi bangkit dari dalam dirinya pengacara setan yang berbicara dengan kata-kata aneh, yaitu ejekan kejahatan terhadap pengadilan, dan ejekan kerja setan terhadap kerja hakim..!
Ketua bertanya: “Siapa namamu?”
- “Namaku Abdu, tetapi kepala desa memanggilku: hai anak anjing!”
- “Berapa umurmu?”
- “Ayahku yang berumur”
- “Umurmu berapa?”
- “Umurku? Umurku tidak pernah berbuat nakal!” Jaksa kepada pengadilan: “Kecerdasan menakutkan wahai para hakim! Umurnya sembilan tahun!” Ketua: “Pekerjaanmu apa?”
- “Pekerjaanku bermain dengan Mahmud dan Maryam, dan memukul yang memukulku!”
- “Kamu tinggal di mana?”
- “Di desa”
- “Kamu makan dari mana?”
- “Aku makan dari makanan!” Jaksa kepada pengadilan: “Wahai para hakim, seperti ini tidak mencuri korek api kecuali untuk membakar desa dengannya…!” Ketua: “Apakah kamu punya ibu?”
- “Ibuku marah kepada ayahku, dan pergi duduk di makam; tidak mau kembali!”
- “Dan ayahmu?”
- “Ayahku akhirnya juga marah dan pergi kepadanya” Ketua sambil tertawa: “Dan kamu?”
- “Wallahi ya afandi aku ingin marah, tidak tahu bagaimana cara marah!”
- “Kamu mencuri kotak korek api?”
- “Itu terbang dari warung, aku kira burung dan menangkapnya…” Jaksa: “Dan mengapa yang lainnya di warung tidak ikut terbang?”
- “Aku tahu? Mungkin takut padaku!” Jaksa kepada pengadilan: “Keberanian menakutkan wahai para hakim, terdakwa di usia ini, merasakan dalam dirinya bahwa benda-benda takut padanya!” Maka anak itu berteriak gembira atas pujian ini: “Wallahi ya afandi kamu orang baik! Lihat kamu mengenalku, semoga Allah melindungimu dari kejahatan kepala desa dan penjaga!”
Dan putusan banding dijalankan, dan anak kecil keluar bersama para pria bersama para penjahat yang dikawal tentara, kemudian mereka semua ditahan sebentar di panitera pengadilan; agar ia menyelesaikan pekerjaan administrasinya, kemudian mereka dibawa setelah itu ke penjara.
Dan “Abdul Rahman” duduk di tanah, telah dikepung di kedua sisinya oleh sekelompok penjahat yang berbincang dan saling berkedip, dan mereka semua laki-laki tetapi hanya dia anak kecil di antara mereka; maka ia tenang sedikit, karena ia memperkirakan dalam dirinya bahwa jika orang-orang ini dimaksudkan untuk kejahatan tentu mereka tidak akan diam seperti ini, dan bahwa yang dimaksudkan untuk mereka tidak akan mengenainya kecuali lebih kecil dari itu, seperti tamparan satu atau dua misalnya.. dan ia mendengar bahwa laki-laki membunuh dan membakar dan meracuni dan menyerang dan merampok; dan apa “korek api” dibandingkan dengan itu? Apalagi setelah pemiliknya mengambilnya kembali, dan ia telah mendapat apa yang cukup sebelum hukuman!
Dan tidak lama setelah pikiran indah ini ia mengembalikan ketenangan di matanya menjadi air mata yang hampir ia tumpahkan karena panik, tetapi kecemasan telah membiasakan dirinya, maka ia menoleh ke panitera pengadilan sekali dan ke tentara sekali, kemudian memalingkan wajahnya dan tidak membolehkan dirinya berani berpikir tentang mereka; karena ia menyamakan keagungan mereka dengan dewa-dewa desanya: kepala desa dan para syekh dan penggali; maka ia menyadari bahwa tentara adalah pemerintah yang berkuasa, dan menyimpulkan itu dari kancing-kancing mereka yang berkilau, dan pisau-pisau mereka yang mengkilap: dan berjalan di hatinya rasa takut terhadap pisau-pisau ini, maka ia gelisah khawatir bahwa mereka telah menyerahkannya kepada yang menyembelihnya, maka ia melihat ke yang di sebelahnya dari para penjahat dan bertanya: “Mereka akan bawa aku ke mana?”, maka dijawabnya dengan pukulan tersembunyi yang mengalir air matanya, sampai didiamkan oleh yang di sebelahnya dari sisi lain, dan menurutnya ia termasuk orang-orang saleh?
Kemudian berhubung kepanikan antara hatinya dan matanya, maka keduanya gelisah ke empat arah, dan seolah ia berusaha mencari tahu dari mana kematian akan datang dengan penyembelihan; dan ia tidak memahami arti “penjara anak-anak”, dan para hakim memutuskan padanya seolah ia laki-laki yang memahami segala sesuatu, dan tidak mengasihani masa kanak-kanak ini dengan kata yang menjelaskan, dan keadilan pendidikan berbeda dengan keadilan hukum, maka wajib bagi hakim yang memutuskan pada anak, bahwa ia menjadikan putusannya lebih mirip rumusan cerita daripada rumusan putusan, dan bahwa ia membiarkan kejahatan pergi dan hilang sehingga tidak berkata padanya tinggallah..
Dan tetap pisau-pisau rasa takutnya di jiwa si malang ini, seandainya mereka membawanya ke tali gantungan tentu “tali” membuatnya memahami arti hukuman, adapun ia di antara pisau-pisau terselubung ini -dan dalam pisau ada arti penyembelihan- maka itu adalah penyembelihan tidak lain.
Dan telinga-telinganya tersentak oleh tawa penjahat di sebelah kanannya maka menyelamatkannya dari bahaya ini, maka ia menatap laki-laki itu, dan ia melihat wajah yang bersinar, dan tubuh yang tenang, dan sindiran dan ejekan terhadap tentara-tentara ini dan pisau-pisau mereka.
Dan anak itu merasa nyaman dengan temannya ini, dan memperhatikannya dengan seksama, dan mulai belajar filsafat dari wajahnya; dan filsafat tidak terbatas pada buku-buku, bahkan setiap manusia memiliki keadaan yang menyibukkannya, maka pandangannya dalam mempertimbangkan detail-detailnya dan mengungkap yang tersembunyi darinya itulah filsafat itu sendiri. Dan anak itu berkata pada dirinya: “Laki-laki ini lebih kuat dari segala kekuatan; maka ia divonis tetapi tidak peduli, bahkan tertawa terbahak-bahak; maka putusan ini tidak menakutkan; tidak, bahkan ia terbiasa dengan putusan-putusan; maka barang siapa terbiasa dengan putusan-putusan tidak takut putusan-putusan; maka ya Abdul Rahman kamu akan terbiasa, karena ketakutan kali ini telah menutupimu dari ‘kotak korek api’ dalam kebakaran yang membesar, dan apa kadar ‘kotak korek api’? Seandainya pencurian itu kerbau tidak akan mendapat lebih dari itu; ya andai saja aku… tetapi aku masih kecil, kapan aku besar… ah kapan aku besar..”
Dan hukum mulai kerjanya pada anak; maka mengusir darinya anak dan menetapkan padanya penjahat.
Dan “Abdul Rahman” menunduk tenang diam. Dan berdiri dalam jiwanya pengadilan dari setan-setan dengan hakim-hakimnya dan jaksanya; sebagian berdebat dengan sebagian, dan mereka bermusyawarah di antara mereka urusan anak ini dengan cara lain.
Dan berkata setan dari mereka: “Tetapi kami khawatir dua perkara: pertama bahwa ‘penjara anak-anak’ akan mengeluarkannya setelah dua tahun sebagai orang terhormat yang bekerja; dan kedua bahwa orang-orang mungkin akan memeliharanya dengan pendidikan dan pengajaran di sekolah-sekolah karena kasihan dan belas kasihan; maka keluar sebagai orang terhormat yang bekerja”.
Dan betapa cepatnya ketakutan hilang dari mereka dengan ucapan anak itu sendiri dengan nada yang di dalamnya dendam dan kemarahan setelah ditampar tentara yang membawanya ke penjara: “Dan ini semua karena kotak korek api?…”
……………………………………………………………………………….
Pada tahun 1934 pengadilan kejahatan memutuskan hukuman mati gantung atas pembunuh penjahat yang jahat yang berpengalaman dan pandai; bernama “Abdul Rahman Abdul Rahim”.
Di tepi Sungai Nil di wilayah “Gharbiyya” dari tanah ini, terdapat sebuah desa yang tidak memiliki gunung, namun jiwa gunung ada pada seorang pria dari penduduknya. Jika engkau bandingkan dia dengan orang-orang lain dalam hal kekuatan dan kelemahan, akan kau lihat dia bangkit di antara mereka dengan kedua bahunya seperti bangkitnya gunung di antara sekitarnya. Dia adalah pahlawan desa dan bendera setiap pertempuran yang terjadi antara pemuda-pemuda desanya dengan pemuda-pemuda dari desa-desa yang tersebar di sekitarnya. Pertempuran-pertempuran antara pemuda desa ini masih berlangsung seolah-olah merupakan gerakan darah bebas penakluk yang diwariskan kepada mereka dari generasi-generasi jauh yang mengalir dari gunung ke gunung, dan di dalamnya terdapat tetesan-tetesan pemberontak yang dulu mendidih dan bergejolak, dan sebagaimana keadaannya dulu, masih terus bergejolak dan mendidih. Mereka menjuluki pria kuat ini “Al-Jamal” (Unta) karena yang mereka ketahui tentang kebesaran tubuhnya dan kesabarannya menghadapi kesulitan, serta ketahannannya, dan dia selain itu mudah dipimpin, berwatak baik, dan berperangai lembut. Namun dia adalah orang yang paling tangguh tangannya jika amarahnya bangkit. Dia memiliki iman yang kuat yang dipegangnya sebagaimana gunung berpegang pada unsur batunya, kecuali bahwa dia mencampurnya dengan beberapa takhayul, karena dia pasti memerlukan beberapa kejahatan terhormat yang dipaksakan kepadanya oleh kelebihan kekuatan dan kemuliaan pada orang seperti dia dengan orang seperti dia.
Tidak ada laut di desa itu, namun di sana ada seorang pemuda yang lebih ganas kecerobohan dan kesombongannya daripada ombak di lautnya pada hari angin yang kencang. Penampilannya manis namun rasanya pahit, wajahnya jernih namun memiliki kedalaman yang jauh dari tipu daya dan kejahatan. Dia adalah anak kepala desa dan anak tunggal kedua orang tuanya serta pewaris dari dunia luas mereka, menguasai lima ratus feddan. Kemewahan telah merusaknya dan kemuliaannya telah menghinakannya di mata keluarganya. Seandainya berkumpul dua kebaikan yang menghasilkan kejahatan dengan suatu cara, tidak ada cara yang lebih tepat kecuali cara pengasuhannya oleh kedua orang tuanya yang baik. Dia belajar padahal tahu bahwa dia tidak memerlukan ilmu, maka sekolah-sekolah mulai mengeluarkannya satu demi satu seolah-olah dia adalah biji buah manusia. Jika dikatakan kepadanya tentang hal itu, dia berkata: “Lima ratus feddan tidak muat dalam sekolah….” Dia pergi ke Prancis untuk mencari ilmu yang sulit diperolehnya di Mesir, namun ilmu itu malah mempertajam khayalannya dan mengasah perasaannya. Dia kembali dari Paris dengan sifat lembut, banci, ekstrem, tidak cocok menjadi orang Timur maupun Barat!
Tidak ada keagungan di desa itu, namun di sana ada seorang gadis yang terbungkus dalam pakaian kecantikan alami yang menakjubkan, dan dia memiliki jiwa yang lebih sulit dijangkau daripada yang disembunyikan hutan. Di luarnya terdapat pesona yang mempesona sehingga menarik kepadanya, dan di dalamnya terdapat kekuatan yang melilit sehingga menolak darinya. Dia adalah anak sepupu “Al-Jamal” dan namanya “Khadra” (Hijau), seolah-olah di dalamnya terdapat kebanggaan hijau musim semi. Dia tidak mencintai kecuali kekuatan, maka tidak ada yang menarik baginya dari kalangan pria kecuali sepupunya. Dia sangat mengaguminya, dan kekaguman wanita terhadap seorang pria adalah salah satu kunci hatinya.
“Khadra” adalah wanita yang tidak terpelajar seperti wanita-wanita desa, namun dia adalah murid yang cerdas dari alam yang dia dibesarkan di dalamnya dan menjalani pekerjaannya. Dengan demikian dia lebih kuat jiwa dan lebih tahan banting daripada gadis-gadis terpelajar, karena dia telah mengambil bentuk tetap dari bentuk-bentuk kehidupan, dan kehidupan adalah pekerjaannya atau membentuknya dalam keadaan ini. Sementara yang terpelajar menghabiskan hari-hari pertumbuhan dan masa naluri dalam menerima dari kata-kata dan buku-buku, dan dalam membayangkan gambaran-gambaran berbeda tentang masyarakat tanpa mengalaminya langsung, dan dalam menghindari pekerjaan kehidupan alih-alih bergaul dengannya. Hal itu berujung pada kekuatan dalam imajinasi yang jarang memuaskan kenyataan manusiawi yang menyakitkan ketika suatu hari bertabrakan dengannya. Salah satu dari mereka menjadi sempurna, namun dengan pertimbangan bahwa dia sempurna sebagai murid sekolah, bukan sebagai wanita untuk kehidupan dengan segala yang menyenangkan dan tidak menyenangkan di dalamnya.
Khadra seperti siklus siang: membuka kelopak matanya pada sinar fajar setiap hari, dan sepanjang siang hari dalam kerja keras. Hal itu menghilangkan dari akhlaknya apa yang dibawa ketenangan berupa kemalasan dan kecenderungan pada kesenangan dan lelucon. Dia memperoleh dari kehidupan suatu kebenaran yang membuatnya tahu bahwa wanita adalah salah satu faktor terbesar dalam sistem kemanusiaan yang harus sabar menghadapi kerja keras dan kelelahan jika ingin tampil dengan tabiat aslinya, bukan tabiat palsu buatan. Dia melihat pria mengambil pekerjaan-pekerjaan besar dan tidak meninggalkan untuk wanita kecuali seperti yang ditinggalkan jarum jam untuk jarum detik dalam bidang yang menghimpun keduanya. Jarum kecil ini tidak berhenti bergetar dalam “lingkaran sempitnya” bergetar dari bagian ke bagian, hingga jika telah menyelesaikan menit dalam enam puluh getaran sempurna, yang pertama mengambil semua keutamaannya dan melangkah dengannya satu langkah, kemudian yang lemah dan malang itu kembali pada pekerjaan serupa dan tidak berhenti kerja keras mereka meskipun yang paling banyak bekerja dan mengikuti adalah yang paling sedikit nilai dan penampilannya. Namun yang lemah dan tertipu ini tidak memperoleh apa yang diperolehnya kecuali karena dialah satu-satunya yang dibangun dalam sistem ini atas dasar keutamaan kesabaran dan ketepatan, untuk menjadi dasar bagi yang lain. Maka “Khadra” tahu bagaimana mengikat tabiatnya sendiri, menetapkannya pada kesabaran, ridha, dan ketenangan pada bagiannya yang alami serta kegembiraan dengannya, karena keutamaan pria atas wanita bukan karena dia lebih utama darinya atau lebih banyak sebab keutamaan, namun karena dia lebih banyak cinta, toleransi, kesabaran, dan pengorbanan darinya. Keutamaan-keutamaan sejatinya itulah yang membuatnya lebih utama, sebagaimana ibu kelaparan untuk memberi makan anaknya!
“Anak kepala desa” melihatnya tidak lama setelah kepulangannya dari Eropa, setelah tinggal di sana beberapa tahun. Masa kenalnya dengan gadis itu ketika masih kecil, maka dalam sekali lompat melompat ke jiwanya, dan dia melihat kemudaan, kecantikan, dan keagungan yang menghiasi hatinya, dan menimbulkan baginya suatu harapan dari berbagai harapan, dan membuatnya melihat apa yang dilihatnya dengan suatu makna dan memahami darinya apa yang dipahaminya dengan makna lain.
Ketika dia melihatnya sedang berdiri di Nil mengisi kendarnya bersama wanita-wanita dari kaumnya sambil bercanda dan tertawa, seolah-olah kesuburan bumi memiliki pengaruh yang nyata dalam jiwa mereka. Jika mereka datang ke sungai untuk suatu keperluan, jiwa air menyentuh pengaruh itu sehingga bergetar dan wanita bergetar bersamanya. Jika dia memiliki sentuhan kecantikan, kau akan melihat baginya kilauan seperti kilauan bunga ketika embun menyentuhnya, dan dia mulai bergelombang dalam tubuhnya setelah menyingkap lengannya, dan air menyentuh darahnya yang menarik sehingga mengirimkan padanya arus kesehatan dan semangat yang terhubung darinya ke hati orang yang melihatnya jika dia adalah penyair yang merasakan. Jika jiwa pria haus dan melihat wanita dalam keadaan ini, aku tidak menyangka kecuali dia akan minum darinya dengan matanya, minuman yang dia rasakan dalam hatinya mabuk seperti mabuk khamar. Demikianlah gadis itu jatuh dari jiwa pemuda ini, maka tipu daya yang ada padanya menghiasinya baginya berlipat ganda dari kecantikan yang ada padanya yang menghiasinya baginya, dan takdir melemparkannya ke hatinya untuk mengeluarkan dari hati ini sejarah suatu kejahatan. Dia berdiri merenungkannya dengan mata seperti alat fotografi yang tidak melewatkan gerakan, dan mengarahkan pikirannya dan seleranya kepadanya, dan membangunkan baginya dalam dirinya makna-makna yang tertidur, maka terpasanglah dalam hatinya beberapa patung kecantikan yang mewujud dalam setiap satu darinya dalam bentuk seolah-olah dituang padanya.
Jiwa anak kepala desa termasuk jiwa-jiwa khayali yang melompat, karena tumbuh dengan kebiasaan meminta lalu dikabulkan, memerintah lalu ditaati, dan menginginkan lalu mendapatkan. Seolah-olah dia tidak diciptakan kecuali untuk mengembalikan hati kedua orang tuanya, dan keduanya adalah orang sederhana yang tidak mengetahui dari ilmu pendidikan kecuali bahwa pemerintah memiliki sekolah-sekolah untuk pendidikan, dan orang kaya yang tidak memahami dari makna kebutuhan di dunia ini kecuali bahwa itu adalah kebutuhan akan uang, terputus dari keturunan kecuali darinya, seolah-olah dia tidak dilahirkan untuk mereka, namun mereka yang dilahirkan untuknya… Maka baginya perintah atas mereka karena tidak ada perintah bagi mereka atasnya. Dengan demikian dia berlebihan baginya dari keutamaan kelembutan, kasih sayang, belas kasih dan yang serupa, dan itu dalam dirinya adalah keutamaan, namun ketika para ayah berlebihan dengan itu kepada anak-anak mereka, tidak menghasilkan pada anak-anak mereka kecuali dari apa yang menjadi kebalikannya, seperti pohon yang berlebihan disiram sehingga tidak menghasilkan padanya kecuali kekeringan dan layu, dan sesungguhnya kau memberikannya minuman kematian selama kau menyiraminya dengan takaran dari keinginanmu dengan takaran kebutuhannya.
Pemuda itu tumbuh dalam keadaan sosial yang berbeda-beda yang menjadikan salah satu sifat khasnya adalah menyamarkan dirinya kepada orang-orang, pamer dengan kekayaan, dan bersikap mulia dengan teman-teman dan para pengikut dari menteri-menteri dan pekerja-pekerjanya, serta berhias dengan pakaian dan mode. Maka batinnya beralih untuk mempercantik lahirnya, dan lahirnya kembali pada batinnya dengan syahwat dan kerendahan, dan membantunya dalam hal itu bahwa dia tampan dan menawan seolah-olah rupanya diciptakan “untuk halaman sensitif” dari hati wanita-wanita. Itu adalah kerajaan besar yang ayahnya, pria baik itu, darinya tidak lebih kecuali seperti menjadi menteri keuangan negara… Ketika dikirim ke Paris, dia jatuh darinya ke negeri ajaib seolah-olah khayalan yang dibayangkan yang tidak didatangi oleh seorang pria pun di dunia, baik yang sempurna atau kurang, terpelajar atau bodoh, mulia atau hina, kecuali dia melihat padanya apa yang memenuhi semua pintu masuk dan keluaran jiwanya. Seandainya berdiri sebuah kota dari mimpi-mimpi jiwa manusia dalam kebaikan dan kejahatannya, kesucian dan kefasikannya, kekacauan dan ketertiban, itulah Paris. Pemuda itu menyendiri di sana dengan dirinya dan dengan gambaran dirinya dari teman-teman jahat, maka tidak ada keluarga yang memaksanya pada keutamaan, tidak ada saudara yang mengembalikannya pada pendapat, tidak ada akhlak yang jelas yang dia lindungi dengannya, tidak ada jiwa yang pahit yang dia kembali padanya, tidak ada kemiskinan… yang membatasi baginya batas-batas dalam syahwat yang dia berhenti padanya. Dia tidak lain adalah khayalan yang menyala, temperamen yang berapi-api, pendidikan yang dimanja, tabiat yang berani, dan uang yang mengalir dalam pengeluarannya, dan di belakangnya seorang ayah kaya yang tertipu seolah-olah di tangan anaknya seperti bola benang: setiap kali ditarik darinya, mengulur baginya. Kemudian apa yang ada di sana dari seni-seni kecantikan dan kenikmatan kelezatan serta sebab-sebab hiburan, dari apa yang sampai padanya kerusakan orang fasik, dan apa yang dalam dirinya seolah-olah hukuman yang mengakar untuk akhlak-akhlak baik. Maka setan Paris dari orang malang ini ada di pendengaran dan penglihatannya, kakinya dan tangannya, mengarahkannya ke mana dia mau. Singkatnya, dia pergi untuk belajar lalu belajar apa yang dia mau dan kembali sebagai profesor dalam semua ilmu jiwa yang kacau dan gegabah serta seni-seninya, dan menambahkan pada ini dan itu kata-kata yang dia pelintir dengan lidahnya dari ilmu-ilmu dan perkataan yang tidak ada di dalamnya kecuali apa yang menunjukkan kepada orang yang cerdik bahwa pemuda ini tidak pernah berhasil di sekolah mana pun.
Ketika “Khadra” jatuh dari posisinya itu dan mengambil tempatnya dalam jiwanya, dia menganggapnya sebagai salah satu keinginannya. Tidak pantas bagi orang seperti dia mencintai orang seperti dia, dan dia tidak cukup baginya dalam hal apa pun kecuali menjadi hiburan sesaat dari waktu-waktunya, atau suatu peristiwa yang terjadi padanya suatu keadaan dari keadaan-keadaan percintaannya. Dia menganggap dia wanita yang hatinya tidak memiliki pintu-pintu yang menolak orang seperti dia, maka dia memperkirakan bahwa kekayaannya dan kemiskinannya mencabut sebuah pintu, ilmunya dan kebodohannya menghancurkan pintu lain, dan kecantikannya saja meletakkan apa yang tersisa dari kunci-kunci dari apa yang tersisa dari pintu-pintu! Dia menyangka bahwa kecantikan wanita dari wanita seperti perhiasan dari penjualnya, maka setiap orang yang memiliki harganya, tidak ada antara dia dan dia kecuali harga ini. Namun hari-hari mulai datang dan berlalu sementara dia tidak bertambah kecuali menggoda dia dan dia melemparnya dari keengganannya setiap hari dengan suatu penyebab dari penyebab-penyebab cinta. Dia tidak menemukan pada dirinya kekuatan untuk menambahkan padanya selain pandangan apa pun, dan meninggalkan wajahnya, pakaiannya, pandangannya, dan kekayaannya untuk menghubungkan antara hatinya dan hatinya dengan suatu sebab, namun tidak memperoleh hasil. Dia berlarut-larut dalam cintanya, dan menguasainya pikiran obsesi dengan wanita ini. Adapun dia, maka nalurinya membuatnya merasakan apa yang ada dalam hatinya darinya, dan dia sudah dijanjikan untuk sepupunya, maka dia menghindari pemuda ini dan sangat berhati-hati darinya, dan membayangkan bahwa orang-orang menghitung padanya pandangan dan perhatian dan menghitung padanya dalam hal serupa, dan jatuh dalam hatinya bahwa pria ini memiliki urusan yang berbeda dari urusan pria-pria lain, maka mereka tidak dapat melakukan tipu daya dengannya dan dia dapat melakukannya dengan kekayaan dan kedudukannya.
Pria itu memiliki seorang pelayan yang licik yang telah lulus di majelis-majelis pengadilan… karena seringnya divonis dalam pemalsuan, penipuan, kecurangan, tuntutan, penyangkalan dan semacamnya. Dia telah mengambilnya untuk dirinya dan menjadikannya teman dan sahabat, dan menjadikannya mata-mata untuk syahwat-syahwatnya yang rendah dan dia memanggilnya di antara mereka “Iblis”. Ketika dia ingin melemparkannya padanya, dia berkata: “Tuan, ini adalah perkara penipuan terhadapnya, jika sepupunya masuk sebagai lawan dalam perkara, itu akan menjadi perkara penipuan terhadap umurku!” Dia berkata: “Celakalah kamu, hai bodoh! Di mana kecerdikan dan tipumu? Sesungguhnya aku mengirimmu kepada seorang wanita miskin yang hidupnya pas-pasan, dan kamu menjanjikannya dan membujuknya serta mengeluarkan untukku apa yang kamu mau, dan ketika kamu membuatnya tamak akan uang, maka uang ini akan menciptakan apa yang diciptakannya di setiap tempat, maka membeli apa yang tidak dibeli dan menjual apa yang tidak dijual!” “Iblis” berkata: “Ya tuan, demikianlah dan begitulah, namun takut akan aib mengusir cinta uang!” Dia berkata: “Jadi kamu tidak menerima?” Dia berkata: “Dan tidak menolak…” Pemuda itu berkata: “Semoga Allah membinasakan kamu! Aku telah paham, aku akan membelinya darimu dengan dua harga: satu untukmu dan yang lain untuknya. Namun beritahu aku bagaimana kamu berbuat dengannya dan dari mana kamu sampai padanya?” “Iblis” berkata: “Ketika aku di penjara, aku mengenal seorang pencuri yang ganas yang membuat kaumnya kewalahan dengan kejahatan dan kejahatannya. Penjara ini dianggapnya sebagai hukuman, pencegahan, dan larangan dari dosa, padahal itu adalah sekolah yang didirikan pemerintah sendiri untuk mengajarkan ilmu-ilmu kejahatan dari para profesor besarnya, karena tidak mungkin para tokoh mereka berkumpul di suatu tempat di bumi kecuali di situ. Maka penjara adalah salah satu cara menyelesaikan masalah kemanusiaan, namun dia sendiri menciptakan bagi kemanusiaan masalah yang tidak terpecahkan!” Pemuda itu berkata: “Celakalah kamu! Ke mana kamu pergi? Aku mengirimmu kepada wanita bukan ke penjara!” Dia berkata: “Kamu mengirimku kepadanya namun tidak ada yang tahu kecuali Allah ke mana sepupunya mengirimku: ke penjara atau ke rumah sakit…! Maka dengarlah tuan: di antara nasihat guruku di penjara itu: bahwa tipu daya terhadap seorang pria supaya rapi perlu ada dalam beberapa sebabnya seorang wanita, dan tipu daya terhadap wanita harus ada dalam beberapa cara-caranya seorang pria… Diam! Lihat lihat!” Pemuda itu menoleh, maka tampaklah “Al-Jamal” datang bergoyang dalam jalannya, dan dia gemuk, jika melangkah dia menginjak bumi dengan kedua kakinya dan menumpuk sebagian dirinya pada sebagian. Dia sedang pergi waktu itu ke salah satu tujuannya, ketika sejajar dengan mereka dia berkata: “Assalamu’alaikum!” Mereka menjawab bersama-sama, dan anak kepala desa melemparkan pandangan, kemudian dia melanjutkan jalannya. Dia belum jauh sampai terdengar suara pemuda memanggilnya: “Hai fulan!” Dia berbalik padanya, pemuda itu berkata padanya: “Sudah lama engkau tidak menunjukkan kekuatan seperti yang kulihat.” Dia berkata: “Apa maksudmu?” Dia berkata: “Belumkah sampai padamu bahwa fulan di desa yang kita lewati akan menikah dengan istrinya setelah beberapa hari, dan kamu tahu pertempuran yang terjadi antara negeri kita dan negeri itu pada hari pernikahan fulan tahun lalu, dan bagaimana mereka menyerang penduduk negeri kita dan menghancurkan mereka dengan kehancuran yang parah, dan kalau bukan karena kamu menyelamatkan mereka dan melemparkan dirimu pada mereka hingga kamu mengusir mereka dari orang-orang dan menghalau mereka di depanmu seperti menghalau domba, niscaya negeri kita hari ini menjadi negeri yang paling hina, dan mereka akan sombong kepada kita karena mereka mengalahkan kita. Temanku ini menceritakan bagaimana kamu menghadapi dengan gada-mu pada hari itu dua puluh lima gada, maka kamu menerbangkan semuanya dalam seranganmu, dan mengalahkan para pemiliknya setelah mereka mengepungmu dan menyerangmu seperti anjing. Maka kamu adalah kebanggaan negeri kita dan pemilik kepemimpinannya, dan aku tidak melihat bagimu kecuali memanfaatkan kesempatan ini dan segera menyerang mereka dengan orang-orangmu, lalu kamu membalas mereka di tanah mereka dengan perbuatan seperti perbuatan mereka!”
Al-Jamal menggerakkan kedua bahu lebarnya dan berkata: “Bahkan aku akan menunggu mereka pada hari pernikahanku dengan anak sepupuku…!” Pemuda itu berkata: “Sampaikanlah apa yang kulihat, sesungguhnya kamu takut kepada mereka!” Dia berkata: “Aku tidak takut kepada mereka namun aku takut kepada pemerintah bahwa dia menunda hari pernikahanku… satu atau dua tahun!” Pemuda itu berkata: “Sesungguhnya perbuatanmu ini tidak memperkuat jiwa orang-orang kita, dan pasti mereka akan menunggu kalian dan mempersiapkan untuk kalian, jika kalian tidak menghadapi mereka di negeri mereka, mereka akan menganggapnya kekalahan dari kekalahan-kekalahan kalian, dan seolah-olah mereka memukul kalian tanpa pukulan!”
Al-Jamal berkata: “Mereka tidak tahu arti memukul tanpa pukulan, karena mereka adalah pria. Dan orang yang memukul tanpa pukulan tidak menjadi pria… Wassalamu’alaikum!” Kemudian dia pergi, ketika jauh pemuda itu berkata: “Perang telah dimulai dan aku harus menghancurkan petani terkutuk ini! Aku tahu sekarang dari wajahnya bahwa matanya padaku, dan aku tidak ragu bahwa anak sepupunya tidak menolak dengan kekuatannya namun dengan kekuatannya, dan kalau bukan karena pengetahuanku bahwa dia dari kemunduran naluri seperti binatang buas dalam membela betinanya…” “Iblis” berkata: “Aku telah merenungkan cerita ini lalu melihat bahwa tidak ada jalan bagimu kepada gadis itu selama dia masih gadis, jika dia sampai pada istrinya, kamu memotong dengan langkah ini separuh jalan padanya… Dan dia akan merasakan dari kekasarannya dan kasar tabiatnya apa yang memudahkan bagimu untuk mengajarkan padanya nilai kesopananmu dan kelembutan, dan dia akan mendapatkan dari buruknya perlakuan dan jeleknya dominasinya apa yang membuka hatinya bagi orang yang datang padanya dengan kelembutan dan lemah lembut, dan dia akan merasakan padanya dari sempit kehidupan dan kekurangan serta kekeringannya apa yang membuatnya memahami arti kehidupan manis hijau yang kamu tawarkan padanya. Kemudian dia pasti mengujinya dengan cemburu butanya setelah apa yang diketahui dari cintamu padanya, dan cemburu darimu itu menghadirkanmu di antara mereka selalu dan mengingatkan wanita itu padamu setiap kali dia tidak suka sesuatu dari suaminya yang tidak diridainya.”
Tidak lama kemudian wanita itu dinikahkan dengan suaminya, dan pernikahan itu dipercepat supaya dia dapat memasang tangan kuatnya sebagai hijab antara mereka dan orang yang tergila-gila ini, dan supaya dia memperoleh dari hukum suatu hak yang tidak dimilikinya sebelumnya jika dia mengulurkan tangan ini dan memeras dalam genggamannya leher yang menengadah kepada istrinya itu. Pemuda itu melihat bahwa keadaan ini tidak beres baginya dan bagi lawannya bersama-sama, dan cemburu memakan hatinya, dan dia menggoda wanita itu setiap kali dia keluar dengan keranjangnya ke pasar atau dengan kendarnya ke air, karena dia waktu itu berada di jalan yang tidak dimiliki siapa pun… Jika dia melihatnya, dia tidak lebih dari apa yang terjadi darinya jika dia melihat keledai yang menatapnya!
Dia sengaja mendatangi seorang wanita penata pengantin yang menghias pengantin-pengantin, dan dialah yang menghias “Khadra”. Dia memuliakannya dan memberinya hadiah serta memintanya agar membantu dengan tipu daya yang dia lakukan, dan agar dia menjadi jalannya kepada wanita itu. Dia memaksanya dengan “Iblis”-nya hingga dia yakin darinya, maka dia berbicara tentangnya di hadapan “Khadra”, menariknya untuk memperhatikan kemewahan dan kecantikannya, namun wanita itu kasar padanya dan memakainya serta memperingatkannya agar tidak kembali pada ucapan seperti itu, dan berkata padanya di akhir ucapannya: “Dan ketahuilah bahwa seandainya aku dipaksa pada dua jalan dan harus salah satunya, kemudian salah satunya kerikilannya dinar emas dan itu jalan aib, dan yang lain kerikilannya bara dan berujung pada kehormatan, niscaya aku akan enggan mengotori sandalku dengan emas dan akan menaburkan daging kakiku pada bara.”
Dan cinta tidak akan selamanya tetap cinta, karena ia akan menang lalu menjadi dingin dan berubah menjadi ketenangan, atau ia akan gagal lalu berkobar dan berubah menjadi kebencian dan dendam; demikianlah pemuda itu meledak karena marah, dan ia sangat murka karena kekecewaan, lalu ia mulai memutar pikirannya, hingga terbuka baginya siasat untuk membunuh orang yang mulia dengan kemuliaannya, dan wanita yang suci dengan kesuciannya; maka ia bersekongkol dengan setan untuk memberikan kepada wanita penggoda itu sebuah saputangan sutera yang ujungnya diikat dengan koin emas satu dinar, untuk dilemparkan ke dalam peti “Khadra” dan disembunyikan di lipatan pakaiannya.
Maka pergilah wanita itu, dan ia terus mendekati Khadra untuk memperbaiki hubungan dan meminta maaf kepadanya hingga ia dapat meredakan dendam di hatinya, kemudian ia meminta agar Khadra datang membawa “roti dan garam” agar keduanya dapat memakannya bersama dan terikat dengan kesakralannya; ketika Khadra bangkit untuk mendatangkannya, wanita jahat itu bergegas ke peti dan menyembunyikan saputangan itu di tempat yang paling tersembunyi; dan saputangan itu telah diberi wewangian agar dapat mengungkap dirinya sendiri jika tidak ada yang mengungkapkannya, kemudian ia kembali kepada pemuda itu untuk melaporkan apa yang telah dilakukannya.
Maka pemuda itu melepas pelayannya untuk berbisik kepada sebagian teman-teman Jamal bahwa ia melihat hari ini di tangan “Khadra” sebuah dinar emas padahal emas sangat langka dan berharga; maka dinar ini mulai terbang dari hati ke hati dengan kekuatan emas yang ada di dalamnya, dan cinta yang memberikannya, dan kecantikan yang mengambilnya; kemudian sampai kepada Jamal, seolah-olah berita itu mengangkatnya dan terbang dengannya ke rumahnya seperti orang gila, darahnya telah memanas karena amarah, dan jiwanya yang keras bergejolak.
Istrinya tidak ada di rumah, maka ia menebarkan isi peti, dan begitu bau wewangian menyeruak, setan meniupkan ke dalamnya tiupan kemarahan yang mengkafirkan, kemudian ia menemukan saputangan itu, dan melihat kilatan dinar, maka bumi berputar di hadapannya, dan ia yakin bahwa aib telah mengetuk pintunya, dan pintu telah terbuka untuknya; kemudian ia mengembalikan dirinya pada hal yang tidak disukainya dan mengembalikan segala sesuatu ke tempatnya, dan pikirannya tertuju pada dua kejahatan, lalu ia keluar dengan jiwanya yang berteriak karena pukulan saputangan, padahal dahulu pukulan-pukulan mematikan yang menghujamnya pun tidak membuatnya mengeluh!
Dan ia teringat bahwa “mertuanya” baru-baru ini memuji anak kepala desa dan menggambarkannya sebagai orang yang lembut dan kaya, maka ia mengirim pesan kepadanya untuk datang menginap bersama istrinya karena ia akan bepergian, dan ia seperti orang buta dalam kesesatannya: tidak melihat hal-hal kecuali seperti yang dibayangkannya dalam dirinya sendiri tanpa melihat sebagaimana adanya, maka istrinya bertanya: “Ke mana kau bermaksud pergi dan berapa lama kau akan meninggalkan kami?” Seolah-olah ia mendengarnya berkata: “Pergilah ke tempat yang jauh dan tinggalkan kami dalam waktu yang lama, karena kami sangat membutuhkan kepergianmu!” Dan ia hampir menyerangnya, tetapi ia memendam kepedihan di dadanya dengan menyebutkan nama tempat yang jauh dan berlalu dengan kepatahan yang terlihat padanya!
Orang-orang terkejut beberapa hari kemudian di tengah malam, tiba-tiba rumah Jamal terbakar dari lantai hingga langit-langit, dan mereka mendobraknya lalu mendapati wanita itu dan ibunya telah menjadi arang; maka rahasia lidah-lidah terungkap, dan lelaki itu ditangkap di negeri lain, dan anak kepala desa mengatur bukti-bukti terhadapnya, para saksi bersaksi tentang dinar, dan dinar bersaksi tentang api.
Jamal menyangkal dan tidak lelah dalam menegakkan hujah serta membela istrinya dan sangat meyakinkan tentang amanah dan kesuciannya dan bersaksi bahwa ia tidak mengetahui keburukan apa pun darinya, dan bahwa ia adalah wanita yang paling suci dan paling berbakti, kemudian keputusan dijatuhkan bahwa ia dihukum mati gantung!
Ketika hari pelaksanaan hukuman tiba, lelaki itu ditanya: “Apakah ada sesuatu yang kau inginkan?” Maka ia meminta sebatang rokok, lalu penjaga penjara memberikannya, ia menyalakannya dan menghirup asapnya sekali. Kemudian ia mulai berbicara dan umurnya habis bersama rokok itu napas demi napas, dan asap yang beterbangan itu seolah menjadi awan yang dihirup wahyu antara batas dunia dan batas akhirat; berkatalah si malang: “Aku tidak pernah belajar, dan seandainya aku belajar, aku tidak akan berdiri di sini; tetapi mungkin aku akan keluar sebagai orang hina seperti sebagian orang terpelajar yang hidup sebagai orang terhormat padahal di dalam mereka ada jiwa pembunuh dan pencuri!
Aku tidak mengaku kepada siapa pun tentang kejahatanku karena takut kata ‘aib’ disebut bersama namaku, dan aku lebih memilih mati digantung daripada hidup dan namaku mati karena aib!
Tetapi aku akan mengaku sekarang di hadapan kalian dan kalian sekarang berada di kuburanku, maka jadilah seperti malaikat yang tidak bersaksi dengan apa yang mereka ketahui kecuali di hadapan Allah semata.
Aku mengaku bahwa aku membunuh istriku dan ibunya; dan kalian mungkin akan berkata: bukanlah pekerjaan lelaki untuk membunuh wanita apalagi dua orang; sesungguhnya aku adalah lelaki yang akan digantung, adapun wanita-wanita tidak digantung tetapi mereka mengirim lelaki ke tiang gantungan.. Aku tidak pernah melihat ayahku karena ia meninggalkanku saat masih kecil, tetapi dikatakan bahwa ia adalah seorang lelaki, maka aku lelaki dan anak lelaki, dan tidak pernah ada lelaki yang menghinakanku, tetapi seandainya Allah menciptakan kekuatan seratus orang perkasa dalam tubuh satu lelaki, pasti seorang wanita akan menghinakannya!
Memang bukan sifat lelaki untuk membunuh wanita, tetapi wanita menghinakan lelaki dengan penghinaan yang membuatnya mudah untuk membunuh dirinya sendiri, maka bagaimana tidak mudah baginya untuk membunuhnya?
Ajarilah orang-orang terpelajar agar mereka menjadi dalam kehormatan, amanah, dan kesucian seperti lelaki bodoh sepertiku: yang tidak melihat nilai bagi seluruh kehidupan jika di dalamnya ada makna aib, dan menyerahkan lehernya untuk tiang gantungan agar tidak menundukkan kepalanya karena kehinaan.
Perbaikilah hukum yang memutuskan hukuman mati gantung dan merenggut jiwa-jiwa yang besar sementara jiwa-jiwa kecil mengalahkannya dengan tipu daya yang hina!
Meskipun demikian, aku akan bertemu Allah dan Dia mengetahui batinku apakah aku bersalah atau berdosa!”
Penjaga penjara: “Kau akan menemuiNya dengan suci.”
Tahanan: “Apakah kalian melihat dariku akhlak yang buruk? Apakah kalian menganggapku berdosa selama masa penjaraku?”
Penjaga: “Kami semua ridha terhadapmu.”
Tahanan: “Ini contoh dari akhlakku, dan segala puji bagi Allah bahwa kata terakhir yang aku dengar dari manusia di bumi adalah kata keridhan.
Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah!”
Sebulu halus dari burung pipit memandang bintang-bintang lalu mengiranya sebagai bulu yang berserakan, maka ia menunggangi badai dan berkata: “Ke langit!” Dan badai memutar dengannya sekehendak Allah, kemudian melemparkannya ke mana pun ia jatuh tanpa peduli apakah di tempat yang bermanfaat atau berbahaya; maka bulu itu datang dengan murka dan mengklaim bahwa ia adalah kekacauan yang memberontak tanpa hikmah dalam penciptaannya, dan bahwa angin adalah pengacau dalam tatanan dunia… Dan di sampingnya ada sebatang pohon yang bergoyang tetapi tidak terbang… Ketika pohon itu memahami perkataannya, ia mendekatinya dan berkata: “Wahai bulu! Sesungguhnya angin tidak akan menjadi pengacau dalam tatanan dunia kecuali jika seluruh dunia adalah bulu!”
Sahabatku, seorang sastrawan, mendekat kepadaku dan berkata: “Lihatlah, inilah dia, ia telah hadir di negeri ini dan aku tidak bertemu dengannya sejak setahun yang lalu.” Ia mengulurkan tangannya kepadaku, lalu aku melihat foto seorang wanita yang paling cantik wajah dan tubuhnya, ia tampak anggun dalam kain sutera tipis.
Seakan-akan sinar fajar terpancar di wajahnya, seakan-akan ia bulan yang terbit dari balik awan, dadanya hampir saja menghela napas padahal ia hanya foto, dan bentuk mulutnya tampak seolah-olah janji untuk sebuah ciuman, di matanya terdapat tatapan seperti keheningan setelah kata yang diucapkan berbisik antara dia dan kekasihnya.
Maka aku berkata: “Ini adalah foto yang kurasa hanya dilukis oleh dua sosok: si pelukis dan iblis; siapakah dia?” Ia berkata: “Tanyakan padanya, tidakkah kau lihat ia hampir melompat dari kertas? Jika ia tidak memberitahumu sesuatu, wajahnya akan memberitahumu bahwa ia adalah wanita tercantik dan termanja, yang paling indah wajah, mata, senyum, dan lehernya yang pernah kusaksikan, dan yang setelah itu…”
Aku berkata: “Celakalah kau, aku merasakan syairmu, ini adalah syair berwazan: Dan yang paling indah wajah dan mata yang kusaksikan… dan senyum dan leher dan yang setelah itu…”
Ia berkata: “Sesungguhnya setan wanita ini pastilah seorang penyair; tidakkah kau lihat ia menyusun dari keindahannya pada lukisan syair yang membuat setiap penyair terpesona?”
Aku berkata: “Dan ini juga syair berwazan: Tidakkah kau lihat ia menyusun dari keindahannya… pada lukisan syair yang membuat setiap penyair terpesona”
Ia berkata: “Ya, demi Allah, itulah setan, itulah setannya, ia memperlihatkan kepadamu jiwa yang anggun untuk tubuh ini, lembut seperti kelembutan tubuh, bahkan lebih anggun.”
Aku berkata: “Dan ini juga, dan qafiyah setelah bait ini: dan dengan mereka mereka terbelah…” Maka sahabat kami tertawa dan berkata: “Gerakkan foto di tanganmu, maka kau akan melihatnya dan tidak meragukan bahwa ia menari.”
Aku berkata: “Sekarang setanmu terputus, ini bukan syair dan tidak menghasilkan wazan.”
Kami tertawa bersama dan setan pun tertawa, dan wajah cantik dalam lukisan tampak seolah-olah tertawa.
Pemilik hati yang malang berkata: “Lihatlah kedua mata ini, ia termasuk mata-mata yang mempesona dan menyihir pria ketika menatapnya, dan menyiksanya serta membuatnya sengsara ketika hilang darinya; sesungguhnya dalam sinarnya terdapat kekuatan untuk meletakkan cahaya di hati yang bahagia, sebagaimana dalam kehitamannya terdapat kekuatan untuk meletakkan kegelapan di hati yang terabaikan.
Dan lihatlah mulut ini, mulut yang semua taman di bumi tidak mampu mengeluarkan mawar merah yang menyerupainya.
Dan lihatlah leher ini di bawahnya dada yang terbuka, di atasnya wajah yang bersinar; itu adalah tiga jenis cahaya: adapun wajah maka di dalamnya terdapat ruh matahari, adapun leher maka di dalamnya terdapat ruh bintang, dan adapun dada maka di dalamnya terdapat ruh bulan yang bersinar.
Lihatlah jarak putih ini dari atas dahinya hingga bawah dadanya, itu adalah wilayah ciuman dalam geografi keindahan ini…
Dan lihatlah dada yang memikul kedua payudara yang menonjol itu; ia adalah pameran yang dipilih alam dari tubuh wanita cantik untuk mengumumkan buah-buah kebun…
Lihatlah kedua payudara, mengapa mereka menonjol di dada wanita kecuali jika keduanya menantang dada yang lain…?!
Dan lihatlah pinggang yang ramping ini dengan apa yang di atasnya dan di bawahnya, tidakkah kau melihatnya sebagai pesona yang rendah hati di antara dua pesona yang sombong…?
Lihatlah dia seluruhnya, lihatlah semua keindahan ini, sihir ini, dan godaan ini; tidakkah kau melihat harta karun yang mengubah hati menjadi pencuri..?
Ini adalah makhluk yang diciptakan dua kali: yang pertama oleh Allah di dunia, dan yang kedua oleh cintaku dalam diriku: maka kata ‘cantik’ yang menggambarkan wanita sempurna, tidak menggambarkannya sebagian pun; dan lukisannya yang kau lihat ini adalah batas-batas jiwa yang memiliki kekuatan menguasai, dan mustahillah tampak dari jiwa itu kecuali apa yang tampak dari bara yang menyala—lukisan bara ini di kertas. Aku bersaksi bahwa setiap kali aku melihat lukisan ini kemudian melihat dia, aku menemukan perbedaan antara dia dalam dirinya dan dia dalam foto, seolah-olah itu permintaan maaf yang berbicara dari alat fotografi bahwa ia hanyalah sebuah alat.”
Aku berkata: “Ya Allah, ampunilah; lalu apa lagi, wahai temanku yang gila?”
Maka sastrawan itu menunduk dengan sedih, dan pikiran-pikirannya meledak di otaknya—ledakan di sini dan ledakan di sana; kemudian ia mengangkat kepalanya dan berkata:
“Wanita cantik ini telah menahan semua pikiranku dalam satu pikiran darinya tentang dia; dan menutup pintu-pintu jiwaku dan saluran-salurannya ke dunia, dan menyalakan dalam darahku bara dari neraka yang di dalamnya terdapat siksaan pembakaran namun tidak ada pembakaran itu sendiri; agar siksaan darinya tidak berakhir!
Dan di antara kami ada cinta tanpa cara cinta, karena sifat rohaniku yang sempurna mencintai padanya sifat kemanusiaannya yang tidak sempurna, maka aku bercampur dengannya dengan rohku sehingga aku menderita untuknya, dan aku menghindarinya dengan tubuhku sehingga aku menderita karenanya.
Cinta yang mandul, apapun yang ada di dalamnya, tidak ada di dalamnya sesuatu dari kenyataan…
Cinta yang aneh yang tidak hilang darinya penderitaannya dan tidak ada di dalamnya kenikmatan…
Cinta yang rumit yang terus melontarkan masalah demi masalah, kemudian menolak solusi yang masalah itu hanya dapat diselesaikan dengannya…
Cinta yang bodoh yang mencintai wanita yang tersedia untuk orang-orang, namun tidak melihatnya untuk dirinya kecuali sebagai orang suci yang tidak dapat dicapai…
Cinta yang dungu yang terus berada dalam kenyataan dunia seperti yang menunggu jatuh di bibirnya ciuman dari mulut yang ada dalam foto…
Cinta yang gila seperti yang melihat wanita cantik di depan cerminnya lalu berkata kepadanya pergilah kamu dan tinggallah dalam yang ada di cermin ini…”
Aku berkata: “Ya Allah, rahmatilah; lalu apa lagi, wahai temanku yang malang?”
Ia berkata: “Kemudian wanita yang kucintai ini adalah yang tidak ingin aku nikmati dan tidak aku tahan dan tidak aku temukan dalam sifatku keberanian untuk itu, seolah-olah ia emas dan seolah-olah aku orang miskin yang tidak ingin menjadi pencuri; setan harta berkata kepadanya: kamu bisa berharap; dan setan kebutuhan berkata kepadanya: dan kamu bisa berbuat; dan ia berkata pada dirinya: aku tidak bisa kecuali kebajikan! Sesungguhnya siksaan orang ini dengan dua setan bukan satu setan, kecuali bahwa kenikmatan dalam kemenangannya seperti kenikmatan orang yang mengalahkan dua pahlawan yang keduanya lebih kuat dan lebih keras darinya.”
Aku berkata: “Ya Allah, maafkanlah; lalu apa lagi, wahai penakluk dua setan?”
Maka ia menunduk lama seperti orang yang melihat urusan yang membuatnya bingung, tidak ada arah baginya dalam urusannya, kemudian ia menghela napas dan berkata: “Wahai panjangnya penyakit hatiku! Dari mana aku datang untuk mimpi-mimpiku dengan selain apa yang datang oleh mimpi-mimpi, padahal mereka berada di bawah tidur dan di belakang akal, dan di atas kehendak? Sungguh telah sampai di antara cintanya bahwa setiap kata dari kata-kata cinta dalam buku atau novel atau syair atau pembicaraan—aku melihatnya ditujukan kepadaku…”
Kemudian ia berkata: “Mari kita pergi melihatnya agar kamu mengetahui darinya sebuah pengetahuan, karena ia ada di teater itu, ia ada dalam kejahatan itu, ia ada dalam kegelapan itu, ia seperti mutiara yang tidak tumbuh mutiara kecuali di kedalaman laut.”
Dan kami pergi ke sebuah teater yang berdiri di taman hijau yang luas terbentang, jauh ujung-ujungnya, tampak di bawah malam dari kegelapan dan cahayanya seolah-olah ia terbebani dengan makna-makna perpisahan dan cinta.
Dan kami maju berjalan dalam remang-remang, maka sahabat kami yang sedang jatuh cinta berkata: “Aku merasakan bahwa kegelapan di sini hidup seolah-olah di dalamnya terdapat rahasia hati yang besar, maka aku tidak melihat perbedaan antara duduk di dalamnya dan duduk dengan filsuf besar yang sedih dengan kesedihan tak terhingga, maka marilah kita keluar ke cahaya itu di sekitar teater untuk melihatnya ketika ia datang, karena melihatnya sebagai nyonya berbeda dengan melihatnya sebagai penari, dan ini memiliki keindahan seni dan itu memiliki seni keindahan.”
Dan kami tidak menunggu lama hingga ia datang, dan aku melihatnya berjalan dengan langkah wanita pemalu seolah-olah ia menghormati pikiran orang-orang, membanggakannya atas itu perasaan mulia seperti perasaan ratu penyair dengan cinta rakyatnya, dan si gila kami bergidik dan memejamkan matanya seolah-olah ia melewati di antara lengannya bukan di jalannya, dan seolah-olah kenikmatan kedekatan darinya adalah kemungkinan yang tidak mungkin selainnya…
Dan sungguh mengherankan bahwa udara bergerak di taman dan pohon-pohonnya berguncang, maka ia berkata: “Kamu melihat; ini adalah protes dari penari-penari alam atas masuknya penari ini!” Aku berkata: “Ah wahai temanku! Sesungguhnya wanita tidak menjadi wanita dengan makna-maknanya kecuali jika ia berada dalam suasana hati yang mencintainya.”
Dan kami masuk ke teater, dan sahabat kami mencari tempat di mana ia dapat melihat kekasihnya dan tersembunyi darinya, kemudian tirai diangkat tentang dia di antara dua orang yang mengapitnya, dan ketiganya mengenakan pakaian pedesaan, dan tampak seperti keadaan mereka ketika memetik kapas.
Dan “dia” muncul dalam gaun sutera hitam, dan ia putih seputih bulan ketika penuh dan ia mengikat pinggangnya dengan ikat pinggang sutera merah, maka ia terbentuk dengannya dan tampak dua hal: atas dan bawah; kemudian ia melemparkan pada rambut emasnya topi merah dari sutera itu yang ia miringkan ke samping sehingga menahan sebagiannya dan memperlihatkan sisanya, dan ia mengambil dengan kedua tangannya dua simbal dan ketiga wanita itu mulai menari dan menyanyi lagu petani.
Aku tidak melihat selain dia, karena kedua temannya adalah petunjuk keindahannya tidak lebih tidak kurang, dan aku tidak mengira sutera merah bersamanya merah atau hitam di atasnya hitam, atau warna emas di pergelangan tangannya adalah warna emas; tidak tidak, ini adalah warna-warna di atas alam; karena wajah bersinar atasnya dengan keindahan dan kehidupan, dan tubuh itu mengalir baginya dengan ringan dan gembira dan jiwa itu membangkitkan di dalamnya kegembiraan dan kebahagiaan; ini adalah campuran dari anggur warna-warna bukan dari warna-warna itu sendiri.
Dan si gila kami berkata: “Sesungguhnya keindahan terindah dalam wanita yang mempesona adalah yang membuat setiap orang memiliki jenis perasaannya terhadapnya, dan aku merasakan saat ini bahwa hatiku hanya setengah hati saja, dan setengah lainnya ada dalam dia seorang; maka apa perasaanmu?”
Aku berkata: “Wahai temanku. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang, dan dari rahmat-Nya bahwa Ia menyembunyikan hati dan menyembunyikan pendorongnya agar setiap orang tetap tersembunyi dari setiap orang; maka biarkan aku tersembunyi darimu!”
Ia berkata: “Harus!”
Aku berkata: “Sesungguhnya lampu di tempat najis tidak memancarkan cahaya najis, dan aku tidak merasakan kecuali bahwa cahaya yang ada di hatiku telah bercampur dengan cahaya yang ada di matanya.”
Kemudian seolah-olah ia merasakan bahwa seseorang telah dipenuhi olehnya, maka ia memutar wajahnya sambil menari, dan melirik sahabat kami, dan ia mulai memotong pandangan antara dia dan dia seolah-olah ia mengenalnya dan tidak mengenalnya, kemudian ia menyadari desakan pandangannya maka ia tertawa; karena ia mengenalnya dan tidak tidak mengenalnya!
Adapun dia, adapun si gila, adapun pemilik hati yang malang!…
Adapun pemilik hati yang malang itu, dia melihat senyuman yang dilontarkan kekasihnya saat menari ketika mengenalinya —berbeda dengan yang kulihat dan berbeda dengan yang dilihat orang-orang: bagi kami, itu adalah senyuman manis dari mulut cantik yang kesempurnaannya tergenapi dengan bentuk ini, namun baginya, itu adalah bahasa dari mulut cantik ini yang melengkapi percakapan lama yang pernah terjadi di antara mereka; kami merasa gembira karenanya sedangkan dia tenggelam dalam pemikiran, bagi kami itu menggambarkan sejenis kecantikan dan baginya menggambarkan sejenis kerinduan, lewat di hadapan kami seperti sinar dalam cahaya namun jatuh di tangannya seperti kartu nama yang bertuliskan sebuah nama…
Perasaan penari cantik itu kemudian menguat lalu terpancar menunjukkan dirinya dengan cara yang tak terelakkan dari petunjuk tersembunyi, dan dia kembali dengan perasaan ini seperti kebenaran puitis yang samar yang penuh dengan seni simbolisme dan isyarat, seolah-olah dia bertambah dengan kesamaran ini secara nyata; dan perempuan memiliki saat-saat ketika dia berada dalam dua pemikiran ketika salah satu dari kedua pemikiran itu terwujud di hadapannya dalam sosok pria yang dicintainya; pada saat ini perempuan berbicara dengan kata-kata yang di dalamnya terdapat keheningan yang menjelaskan dan menafsirkan, bergerak dengan gerakan yang di dalamnya terdapat kelembutan yang condong dan memeluk, memandang dengan tatapan yang di dalamnya terdapat kepasrahan yang memerintah dan memohon; dan dia berada pada saat ini… maka dia—demi Allah—menguasai kekasihnya yang malang itu dan meninggalkan jiwanya seolah-olah terputus-putus karena kesedihan dan penyesalan; kemudian dia menjadi baginya seperti bunga yang harum: antara dia dan bunga itu terdapat keindahan dan wanginya serta udara dan indera yang ada padanya.
Dia mulai merasakan kehadirannya melalui anggota tubuhnya, kemudian berkata kepadaku: “Lihatlah—celaka kamu—! Seolah-olah pakaiannya memeluk dan melekat padanya seperti pelukan orang yang mencintai kepada yang dicintainya.”
Aku berkata: “Dia tidak lain seperti kedua perempuan yang menari bersamanya: seorang perempuan di antara dua perempuan meskipun dia yang tercantik dari ketiganya.”
Dia berkata: “Tidak, dia sendirian adalah puisi dari puisi yang paling mengagumkan, bergerak alih-alih dibaca dan dilihat alih-alih didengar; puisi tanpa kata-kata, tetapi siapa yang menghendaki dapat memberikan kata-kata darinya dari darahnya jika dia memahaminya dengan indera, pikiran, dan perasaannya.”
Aku bertanya: “Bagaimana dengan yang dua lainnya?”
Dia berkata: “Tidak, tidak, ini adalah seni yang lain, salah satu dari perempuan-perempuan malang ini hanya menari dengan perutnya… menari untuk roti tidak lebih; adapun ‘dia’ maka tariannya adalah kegembiraan yang dibuat di tubuhnya dan dibuat dari tubuhnya; dia seperti merak yang berbangga dengan warna-warnanya, dengan bulunya, dengan kesombongannya, kebanggaan yang kecantikan gandakan tiga kali; seandainya Allah menciptakan dua tubuh, satu dari permata merah, hijau, kuning, dan birunya, dan yang lain dari bunga-bunga dalam warna dan hiasannya, kemudian merak itu berjalan angkuh di antara keduanya sambil mengembangkan ekornya dalam keangkuhan rohnya yang ternoda, maka akan tampak padanya sendirian warna raja di antara warna-warna yang menjadi rakyatnya yang tunduk.”
Tarian si cantik yang mempesona berakhir dan dia menghilang di balik tirai setelah melemparkan ciuman ke udara… maka sahabat kami berkata: “Ah! Seandainya si cantik ini bersedekah dengan satu dirham kepada orang miskin, niscaya dia akan menjadikan sentuhan tangannya dirham dan ciuman…”
Aku berkata: “Wahai musuh dirinya sendiri! Ini adalah ciuman yang dibebaskan dan diarahkan dan kamu telah melihatnya jatuh di sini.. tetapi kamu selalu dalam pertengkaran antara dirimu dan kenyataan hidup; kamu mencintai ciuman tetapi bermusuhan dengan mulut yang melemparkannya, membangun sarang tetapi meninggalkannya kosong dari burungnya; seorang perempuan yang mencintaimu pasti akan berakhir dengan kegilaan selama dia bersamamu dalam hal yang tidak dipahami, tidak masuk akal, dan tidak mungkin.”
Kemudian dimulailah babak lain di atas panggung, dan muncul pria dan wanita serta cerita; di antara pria-pria ini ada seorang syeikh yang memerankan seorang ahli fiqih, dan yang lain memerankan seorang polisi; maka sahabat filsuf kami berkata: “Pakaian-pakaian ini telah datang kosong dan seolah-olah sekarang berbicara bahwa kebenaran kebanyakan hal dalam kehidupan ini hanyalah kebenaran lahiriah saja, selama yang lahir dapat dilepas dan dipakai dengan kemudahan ini; betapa banyak di dunia ini orang-orang terhormat yang jika kamu selidiki urusan mereka dan uji batin mereka—sesungguhnya mereka membanggakan kejahatan karena mereka melakukannya dengan kehormatan lahir… dan betapa banyak orang kaya yang tidak ada perbedaan antara mereka dan pencuri kecuali bahwa mereka mencuri dengan hukum… dan betapa banyak ahli fiqih yang tidak ada perbedaan antara mereka dan orang-orang fasik kecuali bahwa mereka berbuat fasik dengan logika dan dalil… Kemanusiaan tidaklah semudah yang dikira oleh orang yang mengira demikian, jika tidak demikian maka untuk apa jerih payah para nabi dan penderitaan para bijak dan perjuangan ahli jiwa?”
Ikatan surgawi di bumi ini adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menciptakan manusia kecuali sebagai hewan yang dihaluskan dengan kehalusan kemanusiaan, kemudian Dia memperlihatkan kepadanya kebaikan dan kejahatan dan berkata kepadanya: “Jadikan dirimu dengan dirimu sendiri manusia dan datanglah kepada-Ku.”
Aku berkata: “Wahai musuh dirinya sendiri! Maka apa pendapatmu tentang cintamu kepada penari ini sedangkan kamu adalah hewan yang dihaluskan dengan kehalusan kemanusiaan?”
Dia berkata: “Celaka kamu! Dan apakah ikatan itu kecuali di sini? Maka dia ini mudah didapat dan mungkin, kemudian dia bagiku seperti kebutuhan yang memaksa, maka cintanya tidak akan menjadi kecuali godaan untuk meraihnya, dan kemudahan meraihnya tidak akan menjadi kecuali godaan untuk godaan itu; maka aku darinya bukan dalam perempuan dan cinta, tetapi aku dalam ujian yang berat dan sulit; aku melawan hukum dari hukum-hukum alam semesta, dan menahan undang-undang dari undang-undang naluri dan menunjukkan kekuatanku atas kekuatan kebutuhan yang dimudahkan dengan sebab-sebabnya, dan itu adalah kebutuhan yang paling keras kekerasan, desakan, dan penguasaan terhadap jiwa, karena dikatakan bahwa itu adalah kebutuhan yang wajib, dan bahwa itu disiapkan dengan mudah; seandainya perempuan tercinta ini sulit dijangkau dan jauh dari jangkauan, maka tidak akan ada keutamaan bagiku dalam cinta yang keras ini, tetapi dia dekat dan mudah atas ketertarikan dan hawa nafsu; maka inilah ujian untuk aku membuat sendiri keutamaan jiwaku!”
Babak yang mereka perankan berlalu dan kami tidak merasakan dari itu sebuah peran, karena itu seperti gambaran akal yang menghalangi akal saat sedang memikirkan yang lain, dan “kebenaran” ada pada sesuatu yang lain selain ini; dan kapan saja perasaan tidak terkait dengan seni maka tidak ada seni di dalamnya; dan ini adalah rahasia setiap perempuan yang dicintai, maka dia sendirian yang membangkitkan kekasih dalam dirinya sehingga dia merasakan dari kecantikannya kebenaran kecantikan mutlak, dan menemukan dalam maknanya jawaban atas maknanya, dan datang kepadanya seolah-olah dia diciptakan untuknya saja, dan menjadikan baginya dalam waktu sebuah waktu hati yang membatasi keberadaannya dalam keberadaannya.
Dan seni cinta bukanlah sesuatu kecuali kemampuan kekasih untuk menjadikan syahwat pencinta merasakan dengannya, penuh darinya, bergantung padanya, seolah-olah hanya padanya tampak jasmaniah jasad ini dan kerohanian roh ini; dan segala yang digunakan kekasih untuk berhias bagi pencinta, maka itu adalah cara-cara dari berlebihan untuk menampakkan makna-makna yang ada padanya, agar membesar sehingga pencinta menangkapnya dengan tepat, dan bergolak sehingga pecinta merasakannya dengan keras dan menguasai sehingga si malang tunduk padanya dengan kekuatan.
Dan syahwat-syahwat seperti satu tabiat dalam syaraf manusia, dan ia mengikuti pikiran dan khayalnya; dan tidak ada perbedaan di antara keduanya kecuali dengan kekuatan dan kelemahan, atau kewaspadaan dan kelelapan, atau ketajaman dan ketenangan, tetapi dalam cinta ia menemukan untuknya pikiran dan khayal dari kekasih, maka menjadi seolah-olah ia telah melampaui tabiatnya dengan rahasia yang tidak diketahui dari rahasia-rahasia ketuhanan; dan dari sini kekasih menjadi tuhan padahal dia tetap dia, tidak bertambah dan tidak berkurang dan tidak berubah dan tidak berganti, dan kamu melihatnya dalam khayalan pencintanya menentukan ketentuan-ketentuan dan membuat syariat dari mana tidak ada nilai bagi ketentuan dan syariatnya kecuali dalam syahwat yang beriman hanya padanya. Dan karena itu tidak ada penjagaan atas pencinta kecuali jika dia berada di antara dua keimanan, yang terkuat adalah keimanan kepada halal dan haram; dan di antara dua ketakutan, yang terkeras adalah takut kepada Allah; dan di antara dua keinginan, yang terbesar adalah keinginan untuk kemuliaan.
Jika pecinta tidak memiliki agama dan keutamaan maka tidak ada penjagaan atas cinta kecuali jika keimanan yang terkuat adalah kehati-hatian terhadap kedudukan kekasih di mata manusia, dan ketakutan yang terkeras adalah takut kepada hukum… dan keinginan yang terbesar adalah keinginan akan hasil yang sah seperti pernikahan.
Jika tidak ada sesuatu dari ini atau itu maka jarang kamu menemukan cinta kecuali dalam keberanian dua kekufuran, dan kebodohan dua kegilaan, dan kemerosotan dua kehinaan; dan dengan ini tidak ada dalam manusia kecuali di bawah apa yang ada dalam dua binatang!
Kemudian datang babak ketiga dan dia muncul di atas panggung, muncul kali ini dalam gaun marquise Eropa yang berpegangan pinggang dengan kekasihnya, lalu mereka menari dalam adab Eropa yang beradab… beradab dengan setengah keculasan; beradab… beradab dengan setengah kekotoran; sah… sah dengan setengah kekufuran; dia setengah-setengah dalam segala hal, hingga menjadikan gadis setengah gadis dan istri setengah istri..!
Dan yang memerankan peran kekasih adalah gadis lain yang tampak seperti laki-laki dengan rambut pendek yang cacat antara perempuan dan laki-laki; ketika sahabat kami melihatnya dia berkata: “Ini lebih baik…”
Si cantik bergembira dan tersenyum dan mulai dengan tariannya yang indah, maka sahabat terpisah dariku, mengabaikanku dan mengarah padanya dengan tatapan demi tatapan demi tatapan, seolah-olah dia mengulangi yang tidak dipahami untuk memahaminya dan kembali bersamanya seolah-olah dia dalam dunia selain waktu kami yang mendahuluinya dari dunia kami satu jam atau mengakhirkannya satu jam; dan keseluruhan keadaannya seolah-olah berkata kepadaku: “Sesungguhnya dunia sekarang adalah seorang perempuan!” Dan dia begitu gembira seolah-olah cinta telah memindahkannya ke tingkat Adam, dan memindahkan kekasihnya ke tingkat Hawa, dan memindahkan panggung ke tingkat surga!
Yang mengherankan bahwa bulan terbit pada saat ini dan mengalirkan cahaya baru ke atas panggung terbuka di taman, seolah-olah dia melakukan ini untuk menyempurnakan kecantikan dan cinta; dan sinar bulan surgawi mulai menari mengelilingi bulan duniawi ini, maka terjalinlah hubungan yang sempurna dan erat antara jiwa sahabat kami dengan bumi dan langit dan kedua bulan.
Apa wajah perempuan ini? Dia antara saat dan saat mengekspresikan ekspresi baru dengan garis dan ciri mempesona; semua putih yang menyilaukan dalam bintang-bintang langit berkeliling dalam kulitnya yang bersinar, dan semua hitam yang ada dalam mata kijang berkumpul dalam matanya, dan semua merah yang ada dalam mawar ada dalam merah kedua bibir ini.
Apa tubuh yang seimbang bergelombang yang dicetak seolah-olah mengalir ke sana ke mari ini? Dia adalah tubuh yang sempurna kewanitaannya, dia berteriak berteriak, dia adalah dunia kecantikan sebagaimana filsafat berkata ketika menggambarkan dunia: di dalamnya ada “arah atas” dan “arah bawah”; seandainya tangan pencintanya mengulur kepadanya niscaya dia akan menjadikan dalam lima jarinya lima indera…
Apa ini? Tarian telah diakhiri dengan ciuman yang dilemparkan kekasih ke bibir kekasihnya, dan dia telah meninggalkan pinggangnya dalam kedua tangannya dan melepaskan diri condong dengan bagian atasnya mundur dengan kepalanya ke belakang, menurunkannya perlahan-lahan ke bumi, melarikan bibirnya dari mulut yang mendekat, dan mulut ini turun perlahan-lahan; untuk mengejar yang melarikan diri…
Dan sebelum ciuman itu jatuh dia menoleh sekali kepadaku.. kemudian menerima ciuman itu. Adapun dia, adapun orang gila kami, adapun pemilik hati yang malang?…
Adapun pemilik hati yang malang, ia menatapnya saat dia menoleh kepadanya dengan lirikan mata seperti kijang dengan kehitaman matanya: kehitaman yang indah itu membuat dalam satu pandangan menjadi dua pandangan bagi pencinta keindahan, yang satu berkata: “Kamu”, dan yang lain berkata: “Aku”. Kemudian ia melihatnya telah memejamkan kelopak matanya dan terkulai lemas di tangan aktor yang berperan sebagai kekasih, dan penampilannya mengungkapkan dengan fasih… fasih seperti tubuh wanita yang dicintai di antara pelukan orang yang dicintainya; lalu dia bergetar dan mengarahkan wajahnya, serta menyodorkan bibirnya dan menerima ciuman itu.
Dan dalam dirinya ada perasaan terhadap wanita itu yang hanya Allah yang mengetahuinya, maka terpancarlah dari dadanya erangan pilu yang mengerang, namun wanita itu berbicara kepadanya dengan matanya bahwa dia menciumnya; maka tidak diragukan lagi salah satu hembusan angin telah membawa sesuatu yang indah dari mulut itu kepadanya, jiwa menyentuh jiwa, dan ciuman tetaplah ciuman tetapi terjadi kesalahan dalam cara mengirimkannya…
Dan tidak ada sesuatu yang nyata di bawah khayalan, tetapi khayalan yang berkelana di antara dua kekasih terdapat banyak hal yang wajib ada; karena secara alami ia adalah aliran mimpi dari pikiran ke pikiran, dan panggung perasaan yang keluar masuk di antara dua hati dalam kehidupan yang penuh perasaan dengan makna-makna yang berdekatan; dan dengan khayalan ini terdapat roh alami bersama kedua hati yang saling mencintai seakan-akan hati ketiga yang menyampaikan dari yang satu kepada yang lain, menghubungkan rahasia dengan rahasia, menambah dan mengurangi hal-hal, memasuki yang tidak nyata dan menjadikannya lebih dari yang nyata; dari sinilah tidak ada kegembiraan atau kesedihan, tidak ada harapan atau putus asa, tidak ada kebahagiaan atau kesengsaraan, kecuali semua itu berlipat ganda bagi pecinta yang tulus cintanya sebesar dua hati; dan mereka yang mengenal ciuman birahi dan cinta, mereka tahu bahwa orang yang jatuh cinta mencium negeri empat bibir.
Dan setelah ciuman ini turunlah tirai panggung, dan si cantik yang dicintai menghilang seperti hilangnya pertunjukan. Maka aku berkata kepada pemilik hati yang malang: “Sesungguhnya roh kalian berdua telah menikah..” Dia berkata: “Ah!” dan memanjangannya dari hatinya seakan-akan dia sakit parah.
Aku berkata: “Dan apa setelah ‘ah’?” Dia berkata: “Dan apa yang ada sebelumnya? Itulah cinta: di dalamnya seperti yang ada dalam ‘operasi bedah’ berupa desahan sakit dan pedasnya, namun tersebar pada waktu-waktu dan sebab-sebab yang berbeda, tercerai-berai tidak terkumpul! ‘Ah’ inilah kata yang tidak pernah kosong dari hati-hati manusia, dan diucapkan dengan kerinduan yang sama dalam musibah yang menimpa, rasa sakit yang hebat, penyakit yang melemahkan, dan cinta yang mendalam; yang mendalam; maka ketika jiwa hampir tercekik dia bernapas dengan ‘ah’!”
Aku berkata: “Tidakkah kamu pernah melihatnya suatu kali ketika jiwanya hampir tercekik…?”
Dia berkata: “Dia telah membangkitkan penyakit lama bagiku; sesungguhnya kekasih ini memiliki jam-jam yang tertanam dalam waktuku seperti tertanamnya pohon, maka dari waktu ke waktu jam-jam ini berbuah pahit dan manisnya dalam jiwaku seperti berbuahnya pohon yang berbeda-beda; dan aku pernah melihatnya suatu kali dalam jam kekhawatirannya!” Kemudian dia tertawa dan diam.
Aku berkata: “Wahai musuh dirimu sendiri! Apa yang kamu lihat darinya? Dan bagaimana kerinduan memperlihatkan kepadamu apa yang kamu lihat darinya?”
Dia berkata: “Apakah kamu memercayaiku?” Aku berkata: “Ya.”
Dia berkata: “Aku melihat kekhawatiran di wajah si cantik ini seakan-akan itu adalah kekhawatiran perempuan yang dicintai oleh kekhawatiran laki-laki; maka baginya ada keindahan, kemanjaan, pesona, dan daya tarik, dan seakan-akan wajahnya membuat dari kesedihannya dua kesedihan: satu dengan makna kekhawatiran untuk hatinya, dan yang lain dengan makna pemberontakan untuk hatiku!”
Aku berkata: “Wahai musuh dirimu sendiri! Ini pembicaraan lain; ini adalah wanita yang lembut, gemuk, terlipat sebagiannya pada sebagian yang lain, berisi dari satu sisi ramping dari sisi lain, berat sedikit dan ringan sedikit, mengumpulkan keindahan dan tubuh serta seni yang mahir dalam ini dan seni yang unik dalam itu; dan dia cantik dalam segala yang kamu perhatikan darinya, mempesona dalam segala yang kamu bayangkan padanya, dan dia periang gembira ketika memandangmu dan memberimu makan; dan kamu adalah laki-laki yang jatuh cinta dan pria yang kuat kejantanannya; maka si cantik dan wanita keduanya bagimu dalam tubuh yang satu ini, jika kamu pergi memisahkan keduanya dalam khayalanmu mereka bercampur dalam darahmu; dan seandainya alat kamera menangkap pandanganmu kepadanya pasti akan tampak di dalamnya ujung-ujung api merah dari apa yang ada dalam jiwamu tentangnya; dan demi hidupku seandainya kereta lewat berguling di jalan dan kamu memandangnya dengan pandanganmu kepada wanita ini dengan naluri yang diperhitungkan dan tertutup ini pasti aku mengira kamu akan melihat roda belakang sebagai kekasih yang bergairah mengejar roda depan sementara dia lari darinya seperti larinya gadis perawan!” Maka dia tertawa dan berkata: “Tidak, tidak; sesungguhnya jenis pemotretan seseorang adalah jenis pengetahuan orang ini, dan dari setiap kekasih laki-laki dan perempuan terkumpul premis dan kesimpulan di antara keduanya yang saling berkaitan dalam makna, dan premis di sisiku adalah bahwa Iblis di sini bukan dalam ke-Iblis-annya, maka tidak mungkin kesimpulannya adalah menempatkannya dalam ke-Iblis-annya; dan aku tidak membayangkan dalam si cantik ini kecuali seni yang dilimpahkan keindahan kepadanya, maka dia adalah pengetahuan dan khayalanku seperti patung yang kreatif penciptaannya: tidak dapat melakukan pekerjaan kecuali menampakkan bentuknya yang indah sempurna penuh dengan makna-maknanya.
Dan wanita ini bukanlah yang pertama atau kedua atau ketiga di antara yang aku cintai; dia adalah pengulangan, penjelasan, dan penyempurnaan untuk sesuatu yang tidak pernah sempurna selamanya, yaitu makna-makna kewanitaan indah ini yang ditambahkan setan di dalamnya dari cinta setiap pencinta; sesungguhnya perut wanita adalah negeri, dan wajah wanita melahirkan!”
Aku berkata: “Ini jika wajahnya seperti wajah kekasihmu, tetapi bagaimana dengan yang jelek?”
Dia berkata: “Tidak, ini wajah yang mandul..”
Aku berkata: “Tetapi kesalahan dalam filosofimu ini adalah bahwa kamu memandang wanita dengan pandangan praktis ingin bekerja, kemudian mencegahnya bekerja, maka filosofimu datang jauh dari filsafat, dan seakan-akan memberi makan perut yang lapar hanya dengan aroma roti.”
Dia berkata: “Ya ini kesalahan, tetapi kesalahan yang mengeluarkan kebenaran-kebenaran khayali dari keindahan ini; maka jika kamu mengejek kebenaran material dengan cara tertentu maka dengan cara yang sama itu juga kamu menetapkan kebenaran itu sendiri dalam bentuk lain yang mungkin lebih indah dari bentuk aslinya.
Tahukah kamu bagaimana pandanganku terhadap cahaya bulan pada wanita ini dan terhadap keindahan wanita ini pada bulan? Sesungguhnya bulan membuatku lupa kemanusiaannya sehingga aku melihatnya melengkapinya seakan-akan dia melihat wajahnya di cermin, maka dia adalah bayangan wajahnya; dan dia membuatku lupa kebendaan bulan sehingga aku melihatnya melengkapinya seakan-akan dia bayangan wajahnya.
Tahukah kamu apa itu pandangan cinta? Sesungguhnya dalam hati manusia ini ada percikan listrik yang ketika menyala menambah pada mata pandangan-pandangan yang menyingkap, dan menambah pada indera cahaya-cahaya yang menyadari; maka pencinta menembus dengan pandangan dan semua inderanya ke dalam hakikat-hakikat benda, maka baginya atas manusia ada tambahan dalam penglihatan dan tambahan dalam persepsi yang dia kerjakan tentang apa yang dilihat dan dipersepsinya; dan dengan tambahan baru pada jiwa ini maka bagi dunia ada keadaan baru dalam jiwa ini; dan datang kegembiraan baru dan datang kesedihan baru juga; maka seribu ciuman yang diambil seribu pencinta dari seribu kekasih, adalah seribu jenis kenikmatan meskipun semuanya dalam satu bentuk; dan seandainya seribu pencinta menangis karena ditinggalkan seribu yang dicintai maka dalam setiap air mata ada jenis kesedihan yang tidak ada pada yang lain!”
Aku berkata: “Maka jenis bayanganmu terhadap penari yang kamu cintai ini, bahwa Iblis di sini bukan dalam ke-Iblis-annya!”
Dia berkata: “Begitulah dia di sisiku, dan dengan ini aku mengejek kebenaran Iblis.”
Aku berkata: “Atau kebenaran Iblis mengejekmu, dan itu yang lebih benar dan atasnya fatwa…?”
Maka dia tertawa panjang, dan berkata: “Aku akan menceritakan kepadamu hal yang aneh: kamu tahu bahwa gadis cantik ini tidak pernah muncul kecuali dalam sutra hitam; dan dia berkulit halus putih bersih, maka baginya dari kehitaman sutra ada putihnya putih dan indahnya keindahan; maka kemarin setelah makan malam aku dalam perjalanan ke tempat ini untuk melihatnya, dan malam gelap menghitam, dan telah memakai dan berpakaian serta menguasai lampu-lampu jalan hingga mengurung cahayanya sampai di antara setiap dua lampu ada kegelapan berdiri seperti pengawas di antara dua kekasih yang mencegah mereka bertemu; maka sementara aku membolak-balik mataku dalam cahaya dan senja dan aku dalam keadaan seperti keadaan di mana pikiran-pikiran sedih lebih sedih – tiba-tiba terangkat bagiku dari jauh bayangan hitam berjalan dengan jalannya yang tersenyum pendek langkah bergoyang dan berjalan angkuh; maka aku memperhatikannya dalam penampilannya dan aku tidak ragu bahwa itu dia, dan terbuka surga yang dalam khayalanku dan muncul kebenaran-kebenaran banyak mencari makna-maknanya dari kenikmatan cinta; dan jalan kosong, maka aku merasakan dengannya untuk kami berdua seperti jarak yang terkurung di antara dua mulut yang saling mencintai yang satu mendekat kepada yang lain, dan aku mempercepat seperti cepatnya hati kepada kesempatan ketika memungkinkan; maka ketika aku berada di posisi dapat membedakan bayangan itu ternyata dia.. ternyata dia pendeta..
Maka aku berkata: “Sungguh mengherankan! Betapa lucunya Iblis menggodamu kali ini! Dan seakan-akan dia berkata kepadamu: Hai pemilik kebajikan…”
Dan para aktor bergantian di panggung sementara kami sibuk dari mereka; karena gilirannya belum datang; dan setan melemparkan pada lidahku maka aku berkata kepada teman kami: “Apa yang mencegahmu mengirim si fulan kepadanya untuk membuka pembicaraannya kemudian mengundangnya, karena tidak ada di antara kamu dan dia kecuali kata ‘mari’ atau ‘silakan’?”
Dia berkata: “Tidak, dia harus terpisah dariku agar aku melihatnya dalam jiwaku bentuk-bentuk dan bentuk-bentuk; dan dia harus menjauh agar aku menyentuhnya sentuhan-sentuhan rohani; dan aku harus tidak tahu darinya hal-hal agar aku merealisasikan padanya ilmu hatiku; dan dia harus meninggalkan tubuhnya dan aku meninggalkan tubuhku dan di sana kami bertemu sebagai laki-laki dan perempuan tetapi atas pemahaman baru dan sifat baru. Dengan pemahaman ini aku menulis, dan dengan sifat ini aku mencintai! Apa bagian yang mempesona aku darinya? Ini adalah keseluruhan dengan semua bagiannya.
Dan apa keseluruhan ini? Ini yang menafsirkan dirinya dalam hatiku dengan cinta ini.
Dan apa cinta ini? Ini aku dan dia dalam keadaan putus asa ini.
Ya aku sengsara, tetapi perasaan sengsara adalah jenis kekayaan dalam seni: tidak ada kekayaan ini kecuali dari perasaan menyakitkan ini, dan kekasih yang tidak kamu raih dia sendiri yang mampu dengan kemampuan keindahan dan sihir; membuatmu tidak tahu di mana keindahannya bersembunyi darinya sehingga membiarkanmu mencarinya dengan kenikmatan; dan tidak tahu di mana keindahannya muncul darinya sehingga membiarkanmu melihatnya dengan kenikmatan lain; aku mematangkan permen ini di atas api yang menyala, di atas api yang menyala di hatiku!”
Aku berkata: “Wahai temanku yang malang! Ini masalah yang ditampilkan kebetulan dan kebetulan juga akan menyelesaikannya.” Dan betapa herannya aku ketika belum selesai dari kata itu sampai kami melihat “masalah” datang kepada kami.
Adapun dia: Adapun pemilik hati yang malang…?
Adapun pemilik hati yang malang, begitu dia melihat sang kekasih mendekat ke arah kami, hal itu mengejutkannya, sehingga kegelisahan menyelimutinya, dan dia mengalami apa yang dialami kekasih yang terabaikan ketika orang yang mengabaikannya tiba-tiba muncul di jalan; pernahkah kau melihat seorang pecinta yang dijauhi kekasihnya dan tidak bisa melihatnya sepanjang masa, dan kekasihnya memutuskan hubungan dengannya dalam waktu lama tanpa berbicara dengannya, hingga tidur hilang dari malamnya, ketenangan hilang dari siangnya, dunia hilang dari tangannya, dan dia mencapai tingkat kesakitan dan kelelahan yang parah, kemudian tiba-tiba saat dia sedang berjalan, kekasih itu mengejutkannya dengan turun di jalan yang sama?
Sungguh, jika engkau melihat hati si malang ini pada saat itu, engkau akan melihatnya berguncang hebat karena detak jantung yang keras, dan seolah-olah dalam detak-detaknya dia tergagap mengulang satu kata: dia dia dia..
Dan jika engkau menembus ke dalam perasaan si malang ini, engkau akan melihatnya merasakan seperti perasaan orang yang sekarat bahwa dunia ini telah mengusirnya!
Dan jika engkau melihat darahnya di dalam pembuluhnya, engkau akan melihatnya mundur dengan putus asa seolah-olah darah yang lain mengusirnya.
Ini adalah momen di mana si terabaikan melihat dengan matanya sendiri bahwa semua hasratnya sia-sia, maka cinta mengembalikan kepadanya bersama setiap hasrat sejenis kehinaan, sehingga dia di hadapan sang kekasih seperti orang yang kalah seratus kali di hadapan orang yang telah mengalahkannya seratus kali.
Momen di mana si malang tidak merasakan apa-apa dari kejutan, kelemahan, keguncangan, dan ketakutan kecuali bahwa rohnya melompat ke kepalanya kemudian tiba-tiba jatuh ke kakinya!
Namun teman kami ini tidak diabaikan oleh kekasihnya, tetapi dari keajaiban cinta adalah bahwa dia kadang-kadang bekerja dengan satu cara melalui dua emosi yang berbeda; karena dia selalu berlebihan selama itu adalah cinta, maka segala sesuatu di dalamnya dekat dengan lawannya, dan kejujuran di dalamnya dari satu sisi selalu siap untuk dihadapi dengan tuduhan kebohongan dari sisi lain, dan keyakinan secara alami disiapkan untuk keraguan; dan cinta itu sendiri adalah takdir atas keadilan, karena dia tidak tunduk pada hukum apa pun, dan sang kekasih -meskipun dia kekasih- ditakuti oleh pencintanya justru karena dia adalah kekasih! Dan seorang pecinta mungkin pucat karena kejutan pertemuan seperti dia pucat karena kejutan perpisahan, dan inilah keadaan teman kami ketika dia melihatnya mendekat kepadanya; dan dia masih takut kedatangannya, menjaga dirinya dari prasangka orang-orang; dan kebanyakan yang pandai dilakukan orang adalah berprasangka buruk; dan dia adalah pria berpengaruh besar, dan ucapan buruk kepada orang sepertinya cepat menyebar jika terlihat dengan wanita sepertinya, dan seolah-olah dia menyadari semua ini atau wajahnya yang berwibawa dan serius memberitahunya; maka dia mengubah jalannya dari kami dan berhenti di depan pemimpin kelompok musik, dan antara kami dan dia hanya beberapa langkah; dan aku melihatnya telah menyiapkan di matanya tatapan yang memarahi kami, kemudian tidak lama dia berdamai dengan kami dengan tatapan lain!
Dan seolah-olah dia memberi perintah kepada pemimpin musik untuk bersiap-siap untuk bagiannya, kemudian berniat untuk kembali, kemudian kembali kepadanya dan mulai berbicara dengannya sementara matanya tertuju pada kami; maka teman kami berkata dan dia kagum dengan perbuatan itu: Sungguh dia mulia bahkan dalam kejatuhannya!
Dan aku tidak tahu apa yang dikatakannya kepada pemimpin musik, tetapi pria ini tidak tampak bagiku saat itu kecuali seperti telepon yang tergantung!
Matanya tertuju pada kekasihnya tidak pernah lepas darinya dan tidak beralih ke yang lain, dan tidak mencuri pandang darinya tetapi menguasainya dengan paksa; dan aku melihatnya juga telah memaku matanya padanya sehingga aku merasa bahwa keberadaan ini telah terkurung keindahannya di antara empat mata yang sedang jatuh cinta; dan dia mengucapkan kata-kata tersembunyi di bawah tatapan ini, dan dia membalasnya, dan mereka telah melupakan apa yang ada di sekitar mereka, dan merasakan apa yang dirasakan setiap dua kekasih ketika mereka bertemu dalam beberapa momen jiwa yang luhur: bahwa dunia besar ini hanya bekerja untuk dua orang saja: dia dan dia..
Dan mulutnya yang indah masih menjatuhkan kata-katanya kepada pemimpin musik, dan seolah-olah dia menceritakan kepadanya kisah yang dituturkan, atau mendiskusikan dengan hafalannya kata-kata yang dia hafal dari dialog akting atau nyanyian; jadi dia berbicara sementara matanya berpikir dan menatap, maka pria itu tidak mengingkari sikapnya ini; tetapi bagaimana matanya?
Dia ingin pada awalnya membuat kekuatan tatapannya menjadi kata-kata, hingga engkau akan mengira bahwa tatapan pertama ini berteriak dari jauh: Engkau ya engkau!
Kemudian muncul di matanya haus yang lemah, haus cinta yang sombong dan memberontak; karena itu adalah cinta wanita yang dicintai, dan karena dia memiliki dua kenikmatan, salah satunya adalah tetap haus untuk sementara waktu..
Kemudian dia mengirimkan tatapan yang kadang-kadang menyala di atas kata-kata wanita cantik dalam beberapa keadaan jiwanya, sehingga membakar dalam kata-katanya percikan jiwa yang menunjukkan kata-kata seolah-olah mereka membakar dan terbakar.. Kemudian tatapan menjadi sakit; karena mereka menghubungkannya dengan pria yang tidak seperti pria-pria lain, sehingga dia tidak meminta ketundukannya sebagai hadiah dan tidak membelinya; dan pria sejati menurut wanita ini adalah dia yang tidak seperti yang lain dari mereka yang dia kenal, jadi jika dia mencintainya seolah-olah dia mencintainya sebagai gadis perawan yang pemalu yang tidak tersentuh, dan seolah-olah dia dari itu menghubungkannya dengan masa lalunya dan kesuciannya dan hidupnya dan apa yang tidak mungkin bisa dia wujudkan kecuali dalam cinta seperti cintanya.
Kemudian mata indahnya layu, dan itu bukan layu mata wanita yang melihat kekasihnya; itu adalah penyerahan pikirannya pada suatu ide, atau keras kepala suatu makna dalam dirinya terhadap suatu makna dalam dirinya, atau penegasan suatu pikiran yang perlu ditegaskan; dan kadang-kadang itu seperti ucapannya: Mengapa? dan kadang-kadang itu seperti ucapannya: Apakah kau mengerti? dan kadang-kadang, dan kadang-kadang itu adalah akhir perlawanan.
Dan selesailah kisah yang dituturkan yang telah dia sampaikan kepada telepon.. dia kembali ke panggung setelah tatapannya berteriak sekali lagi seperti di awal: Engkau ya engkau.. maka aku berkata kepada teman kami: Celakalah engkau ya musuh dirimu sendiri! Jika setan memilih dua mata penyihir untuk melihatmu dengan tatapan fitnah, dia tidak akan memilih selain matanya, di wajahnya, dalam penampilannya, dalam posisinya; dan aku melihatmu dengan ini seperti menunggu apa yang tidak ada dan tidak mungkin ada; dan aku melihatnya bersamamu dalam cintanya seperti hewan peliharaan ketika menginginkan yang mustahil.
Dia berkata: Dan apa yang mustahil yang diinginkan hewan peliharaan?
Aku berkata: Itu menginginkan memiliki hak atas tuannya di atas keakraban dan manfaat.
Dia berkata: Engkau berbicara samar dalam ungkapan, jelaskan kepadaku sesuatu yang lebih jelas.
Aku berkata: Misalkan seekor anjing betina akrab dengan tuannya dan mencintainya, dia tunduk dan patuh kepadanya, kemudian cinta membawanya untuk menginginkan kehormatan penuh, sehingga tuannya tidak berkata tentangnya: Ini anjing betinaku, tetapi dia berkata: Ini istriku..
Dia berkata: Celaka engkau! Celaka engkau! Engkau telah memukul paku di kepalanya seperti yang mereka katakan. Ini adalah yang mustahil antara aku dan dia, ini adalah perumpamaan. Ya kata permen! Ya kata permen! Jika aku mengulangimu dengan lidahku seribu kali, apakah engkau akan meletakkan rasanya di lidahku..?
Aku berkata: Tenangkan dirimu ya pemilik hati yang malang, engkau tidak lebih dari seorang pecinta.
Dia berkata: Bahkan aku dengan wanita ini lebih dari seorang pecinta; karena dalam pecinta ada yang menginginkan dan dalam diriku ada yang bertapa, dan di dalamnya ada yang berani dan dalam diriku yang mengkerut, dan dia mengambil satu tegukan dari air terjun yang mengalir lalu meminumnya lalu memuaskan dahaga dan aku mengambil tegukan dengan tanganku, dan menyimpannya di tanganku, dan berharap dia mengalir di tanganku seperti air terjun. Aku lebih dari seorang pecinta; karena dia mencinta untuk mengakhiri rasa sakit keindahan, dan aku mencinta untuk terus dalam rasa sakit ini!
Ini dia; yang aneh ya temanku bahwa khayalan manusia menangkap banyak gambar dari gambar-gambar keindahan yang datang secara kebetulan, tetapi dia menangkap satu gambar dengan kesempurnaan yang menakjubkan, yaitu gambar cinta; maka ini dia.
Bukankah aku telah berkata kepadamu bahwa Iblis di sini bukan dalam hakikat keiblisennya dan engkau tidak memahami maksudku? Maka pahamilah sekarang bahwa jika kita tidak melihat malaikat, sungguh kita merasa seolah-olah kita melihat mereka dalam orang-orang yang kita cintai; dan selama rahasia cinta mengubah waktu dan jiwa dan datang dengan hal-hal dari luar kehidupan, maka semua kebenaran cinta ini bukan dalam hakikatnya.
Ini dia; aku tidak mencari wanita lain yang lebih cantik darinya, karena ini seperti yang mustahil, tetapi aku mencari dalam dirinya seorang wanita yang lebih suci darinya, dan ini juga seperti yang mustahil; dia adalah tubuh yang paling indah, tetapi celaka! Dia adalah tubuh paling indah untuk makna-makna yang harus aku jauhi!
Dan teman kami terdiam; ketika tirai panggung terangkat dan dia muncul sekali lagi, muncul dalam hiasan yang tidak ada batasannya, memerankan pengantin di malam pengantinnya; betapa pahitnya ejekan darimu wahai si malang! Pengantin tetapi untuk siapa?
Dia berkilau di panggung seolah-olah dia adalah bintang cemerlang cahayanya adalah cahaya dan keindahan dan emosi puisi.
Dan dia datang bergoyang dengan tubuh yang lembut halus mengalir keindahan yang mengalir keindahan dan masa muda di dalamnya dari atas ke bawah.
Dan wajahnya menampakkan keindahan dan menunjukkan tubuhnya keindahan lain, maka keindahan menjadi sempurna dengan keindahan.
Berdiri seperti yang sedang tidur, karena suasananya adalah suasana mimpi, dan cinta sedang bermimpi, dan kegembiraan sedang bermimpi!
Bergoyang seperti ombak di dalam ombak, apakah jiwa laut diciptakan dalam tubuhnya yang bergerak sehingga sesuatu naik dan sesuatu turun dan sesuatu bergolak dan bergetar?
Kemudian musik mengetuk dengan melodi-melodinya yang berbicara, dan anggota tubuh ini mengetuk dengan melodi-melodinya yang bergerak, dan kami merasakan seolah-olah jiwa yang modern duduk di antara kami memandangnya dan takjub. Takjub pada tubuhnya untuk dahan yang hidup, dan pada badannya untuk bunga yang hidup, dan pada wanginya untuk angin yang hidup.
Adapun pemilik hati yang malang..
Adapun pemilik hati yang malang itu, hatinya berguncang karena apa yang dilihatnya; dia terus memandang wanita yang mempesona ini yang berperan sebagai pengantin wanita. Kecantikannya telah bersinar dan memancar serta berkilau, sehingga tampak baginya seperti penafsir dalam pakaian-pakaian pengantin ini; dan apakah pakaian-pakaian pengantin itu?
Pakaian-pakaian itu adalah busana yang hanya menyelimuti pemakainya untuk sesaat saja.. pakaian yang keindahan terbesarnya adalah ia mempersembahkan kecantikan kepada cinta, sehingga warna-warna yang paling cemerlang adalah warna yang bersinar dari jiwa pemakainya, dan cahaya yang paling terang di atasnya adalah cahaya yang terpancar dari kegembiraan dua hati.
Pakaian-pakaian itu terbuat dari sutra murni dan kain mewah yang halus, dan ketika dikenakan oleh wanita mempesona seperti ini, hampir-hampir seolah berbicara bahwa dia bukanlah terbuat dari sutra; karena dia tahu bahwa sutra itu ada di balik pakaian tersebut.
Kemudian si malang itu menghela napas dan berkata: “Apakah kamu paham?”
Aku berkata: “Paham apa?”
Dia berkata: “Inilah balasan dendamnya.”
Aku berkata: “Aneh sekali! Apakah kamu menginginkannya mengenakan pakaian biarawati yang kusut seperti barang dagangan yang dilemparkan ke dalam karung, di antara warna hitam yang merupakan lambang berkabung atas kewanitaan yang mati, dan warna putih yang merupakan lambang kain kafan bagi kewanitaan ini?”
Dia berkata: “Kamu tidak mengenalnya; sesungguhnya drama yang diperankannya antara jiwa dan jasad, itulah yang membutuhkan adegan ini untuk memperkuat makna; dan setiap wanita yang mencintai, maka cintanya adalah drama yang diperankannya, yang dikarang oleh pengarang bernama cinta ini, dan dia tidak tahu apa yang dibuat dan apa yang dikarang, kecuali bahwa dia terus mengarang dan membuat serta menguntungkan seiring berjalannya keadaan demi keadaan, dan seiring berjalannya kebetulan demi kebetulan; dan dia harus memerankannya..”
Aku berkata: “Begitulah; tetapi bagaimana ini bisa menjadi balasan dendam?”
Dia berkata: “Sesungguhnya pikiran-pikiran adalah hal-hal yang nyata, dan seandainya suasana ini tersingkap bagimu saat ini, kamu akan melihatnya tertulis kalimat demi kalimat seolah-olah artikel surat kabar.
Adegan ini adalah dialog panjang tentang kesedihan dan penderitaan serta kelembutan kerinduan dan kehancuran karena cinta, dan jika dituliskan judul untuknya, maka judulnya akan seperti ini: Betapa menggairahkannya dan betapa beruntungnya dia! Sesungguhnya udara di antara setiap sepasang kekasih yang saling bertempur akan mengambil dan memberi..”
Aku berkata: “Wahai musuh dirinya sendiri! Betapa anehnya ketelitianmu! Sekarang aku telah menyadari bahwa wanita mempersenjatai diri dengan apa yang dikehendakinya, bukan untuk membela diri, tetapi untuk menambah senjata-senjatanya dalam senjata orang yang dicintainya, sehingga dia menginginkannya menjadi kekuatan untuk mengalahkan dan menundukkannya..”
Adapun “pengantin wanita” ini, pikiran-pikirannya tidak menemukan kata-kata untuk membatasinya, sehingga tampak bagaimanapun kebetulannya, mengalir begitu saja dalam pandangan dan gerakan serta sikap dan berdiri dan duduk, dan dialah yang kita kenal; wanita yang hidup untuk kebenaran-kebenaran, dan di antara kebenaran-kebenaran, seperti setiap orang yang ahli dalam keahliannya. Maka dalam keberlebihannya, dia adalah bahaya apa pun bahayanya bagi pemilik hati yang malang, memerankan sesuatu yang aku tidak tahu apakah itu tampak dengan tersembunyinya atau tersembunyi dengan tampakannya; dan teman kita telah jatuh darinya pada apa yang tidak masuk dalam perhitungannya, maka jadilah si licik yang nakal itu seolah-olah memabukkannya dengan minuman keras yang nyata, namun dari tubuhnya bukan dari botol khamar.
Dan bagi pikirannya yang berkhayal, dia seperti awan yang penuh dengan kilat; berkilat setiap saat dengan cahaya demi cahaya, dan di antara jeda dan jeda melemparkan petir.
Dan tampak seolah-olah dia adalah wanita yang diciptakan dari darah dan api; maka aku yakin saat itu bahwa cinta tidak lain adalah naluri hewani itu sendiri yang berusaha menjadi sesuatu yang memiliki keberadaan artistik selain keberadaan alaminya, maka dia adalah dua musibah dalam satu, dan seluruh pekerjaannya adalah membuat kenikmatan lebih nikmat, dan kesakitan lebih keras, dan yang sedikit menjadi banyak, dan yang banyak menjadi lebih banyak, dan apa yang merupakan akhir seolah-olah tidak ada akhirnya..
“Pengantin wanita” ini sebelum sekarang berdiri di batas-batas temannya, tetapi sekarang dia menerobos batas-batas dan menyerang serangannya dan memiliki…
Wahai sihir cinta yang menyihir! Segala yang ada di alam dari keindahan ditampakkan oleh alam kepada pencintanya dalam salah satu bentuk pemahaman, adapun kekasih yang cantik maka dialah satu-satunya yang menampakkan diri kepada pencintanya dalam semua bentuk pemahaman, dan dengan ini waktu bersamanya menjadi waktu-waktu yang berbeda dan bertentangan, maka pada suatu saat menjadi akal dan pada saat lain menjadi kegilaan. Wahai sihir cinta! Wanita ini telah berkehendak untuk pergi dengan akal temannya, dan memindahkannya kepada kebuasan manusia pertama yang tersembunyi di dalamnya, dan untuk melemparkannya jauh-jauh di belakang keutamaan dan kemuliaannya; maka dia menampakkan diri kepadanya seperti buruan menampakkan diri kepada pemburu yang membawa dalam tubuhnya daging lezatnya.. dan meninggalkan perasaannya lapar akan keindahan-keindahannya seperti laparnya perut.. dan tampil kepadanya dengan terus terang sebagaimana adanya, dan untuk apa adanya; dan dari sisi bahwa dialah dia; dan semua itu ketika dia mengenakan pada tubuhnya pakaian kebenaran yang bersifat feminin.
Ah dari “dia” jika huruf ha dan ya terisi dari hati seorang pria yang mencinta! Dan ah dari “dia” jika kata ini keluar dari bahasa manusia menuju bahasa seorang pria saja!
Sesungguhnya dalam setiap wanita.. ada wanita yang disebut “dia” dengan pertimbangan kata ganti untuk perempuan saja, sebagaimana dipertimbangkan pada hewan dan serangga dan administrasi dan semacamnya dari kata benda perempuan ini yang dirujuk oleh kata ganti ini; tetapi “dia” yang tunggal di seluruh alam tidak terdapat pada wanita kecuali ketika ada untuknya “dia” (laki-laki)..
Aku, akulah yang menceritakan kepada para pembaca kisah ini, telah mengalami dari dahsyatnya cinta dan berlebihannya rindu apa yang memenuhi dua hati malang bukan satu hati saja; dan ada bagiku “dia” dari para dewi yang kualami di dalamnya cinta dan kesakitan sepanjang masa yang lama; dan dia telah membawaku dalam cintanya ke segala cara kecuali cara yang menghalalkan yang haram, atau cara yang merusak kehormatan; dan sungguh aku telah mengetahui bahwa hal yang mulia dalam cinta adalah tidak keluarnya dari pencinta yang terlarang.
Maka urusan, seluruh urusan adalah agar pria mampu memisahkan antara cinta karena keindahan perempuan yang tampak padanya, dan antara cinta karena perempuan yang tampak dalam keindahannya; maka pada yang pertama dia menyaksikan ketuhanan dalam penciptaan-Nya yang mulia dan indah, dan pada yang kedua tidak melihat selain kemanusiaan kebinatangannya yang bersolek..
Dan aku telah menyadari dari filsafat cinta bahwa kebenaran besar dari keindahan abadi ini yang memenuhi dunia – telah menjadikan kerinduan cinta di hati manusia adalah contoh praktis pertamanya dalam mengajarkannya kerinduan kepada-Nya jika dia mau belajar, maka sebagaimana seorang manusia mencinta dengan roh syahwat, seorang manusia lain mencinta dengan roh ibadah; dan inilah yang disebut oleh para filosof: “penyulingan rahasia”, yaitu menjadikannya siap untuk menuju kepada cahaya dan kebenaran dan kebaikan, dan mereka telah menghitung di antara yang membantu hal itu, pemikiran yang teliti dan cinta yang hebat. Dan demikian pula aku memahami dari apa yang diajarkan cinta kepadaku bahwa pengusiran Adam dan Hawa dari surga, maknanya adalah beratnya makna-makna surga dan penyajiannya kepada setiap Adam dan Hawa yang memerankan drama.. Maka jika “keduanya memetik buah” maka keduanya diusir dari makna-makna surga, dan turun setelah itu dari khayalan langit menuju kenyataan bumi.
Ya, cinta adalah satu hal pada setiap pencinta untuk setiap yang indah, namun perbedaan di antara ahlinya adalah pada keindahan perbuatan atau kejelekan perbuatan; dan jiwa-jiwa ini adalah pabrik-pabrik yang berbeda untuk bahan yang satu ini; maka cinta pada sebagiannya menjadi kekuatan dan pada sebagiannya menjadi kelemahan; dan dalam jiwa, hawa nafsu menjadi hewani yang menumpuk kezaliman di atas kegelapan dalam kehidupan, dan dalam jiwa lainnya menjadi rohani yang menyingkap kegelapan dari kehidupan.
Dan mukjizat pada manusia yang lemah ini adalah bahwa dia dengan tabiat segala sesuatu yang tabii merasakannya, maka dia mampu menemukan kenikmatan jiwanya dalam kesakitan, mampu mengambil pemberian dari makna-makna perampasan; dan dengan tabiat ini yang mulia menjadi mulia, dan dia pada kesempurnaan dan kekuatannya pada jiwa-jiwa yang besar, hingga seolah-olah hal-hal datang kepada orang-orang ini dalam kegelapan bertanya: apa yang mereka inginkan darinya?
Maka barangsiapa yang ingin menjadi mulia dengan cinta hendaknya dia letakkan di dalam jiwanya di antara dua hal: akhlak yang tinggi, dan hikmah yang matang; jika tidak mampu maka tidak kurang dari dua hal: yang halal, dan yang haram.
Aku, akulah yang menceritakan kepada para pembaca kisah ini, mengetahui semua ini, dan dengan semua ini aku memahami perkataan pemilik hati yang malang: Sesungguhnya penampakan temannya dalam adegan pengantin wanita adalah balasan dendamnya, matanya mengepung matanya, dan makna-maknanya menyerang makna-maknanya, dan berperang perang tubuh wanita tercinta dalam pertempuran cintanya, dan dengan satu kata: seolah-olah pakaian ini bukan untuk menampakkannya kepadanya tanpa pakaian..
Dan aku ingin mencela apa yang diperbuatnya untuk dirinya sendiri, dan mencela dia sendiri karena masuk dalam apa yang tidak menyerupainya, dan aku berkata dengan sia-sia dan tidak berguna, maka aku tidak lain seperti orang yang mencela mawar dengan berkata: wahai wangi semerbak, dan wahai merah pipi!
Dan dia berhenti dari menjawabku, dan keindahan-keindahannya menjadikan kata-kataku jelek, dan kejernihannya menjadikan makna-maknaku samar, dan kemanisannya menjadikan ucapan-ucapanku pahit, dan pakaian pengantin wanita saat dia mengantar memperlihatkan kepadanya kata-kataku dalam pakaian wanita tua yang dicerai; dan setiap kali aku membuatnya marah dengan dirinya sendiri, dia menjadikan perdamaian antara dia dan dirinya sendiri. Dan yang aneh dalam cinta ini adalah bahwa membuka mata pada yang indah tercinta adalah sejenis menutupnya untuk tidur dan mimpi dalam tidur; tidak lain hanya ini, dan tidak akan pernah kecuali ini; maka apapun argumen yang dia berikan maka meyakinkan pencinta yang tergila-gila seperti meyakinkan orang yang tidur nyenyak; dan bagaimana, sedangkan dia memiliki kata-kata dari akalnya bukan dari akalmu, dan antara kamu dan dia adalah kelupaannya kepadamu, dan dia telah meninggalkanmu di permukaan dunia dan dia menyelam dalam dunia batinnya tidak memiliki dalam hal itu pengambilan dan penolakan kecuali apa yang diberikan dan apa yang dicegah.
Kemudian…. kemudian “pengantin wanita” menghilang setelah dia memandangnya dan tertawa.
Tertawa dengan sedih.. sedihnya orang yang mengejek dari satu kebenaran; karena dia menderita dari kebenaran lainnya; dan pemandangannya yang indah dan patah adalah filsafat lengkap yang tergambar untuk kebaikan yang diserang kejahatan lalu mengubahnya, dan kehendak yang dipaksa takdir lalu menundukkannya, dan kesucian malang yang dihinakan oleh kebutuhan hidup, dan keutamaan yang terkalahkan yang dihalangi antara dia dan menjadi keutamaan!
Dan betapa indahnya dia memandang dengan makna tangisan tertawa tanpa makna tawa; garis-garis wajahnya menghela napas dan mulutnya tersenyum!
Pemandangannya berbicara bahwa hatinya yang sedih bertanya satu pertanyaan yang ditampakkannya di wajahnya dengan lembut dan halus; dia bertanya kepada seorang manusia: Tidakkah kamu melepaskan ikatan ini? …
Dan pertunjukan berakhir dan orang-orang bangkit.
Adapun pemilik hati yang malang?..
Adapun pemilik hati yang malang itu bangkit untuk keluar, sementara kesedihan-kesedihan telah memenuhinya dan saling berlomba menyerangnya hingga ia patah dan lesu; seakan-akan ia telah berpisah dengan kekasihnya dalam tangisan, dia menangis dan dia pun menangis, di mana tidak ada yang melihat tangisannya selain dia, dan tidak ada yang melihat tangisannya selain dia!
Aku melihatnya memandang ke sekelilingnya seakan-akan dunia telah diselimuti warna jiwanya yang sedih; karena jiwanya telah melemparkan bayangannya pada segala sesuatu yang dilihatnya; dan mulai melangkah perlahan-lahan tanpa berjalan seakan-akan ia terbebani oleh beban yang dipikul di atas hatinya.
Sesungguhnya tidak ada yang lebih ringan daripada air mata, namun jiwa-jiwa yang menderita tidak memikul yang lebih berat daripadanya, bahkan kadang-kadang tersebar di atas jiwa seakan-akan ia dan seakan-akan jiwa itu adalah bangunan yang berdiri yang runtuh di atas jasad; dan sebagian helaan nafas meskipun lembut dan ringan, jiwa merasakannya dalam sebagian kesedihannya seakan-akan ia adalah gunung kesedihan yang diguncang gempa sehingga bergoyang bersamanya, lalu bergoncang, maka ia retak dan runtuh menimpanya.
Ah, ketika hati berubah maka berubah pula segala sesuatu dalam pandangan mata! Sungguh teman kita tadi seakan-akan seluruh kegembiraan di dunia berkata kepadanya: Aku untukmu! lalu kembali sekarang dan tidak ada yang berkata kepadanya: “Aku untukmu” kecuali kesedihan; dan bertemulah ia dengan kegelapan dan dunia yang sunyi!
Mulai melangkah perlahan tanpa berjalan seakan-akan ia terbebani beban yang dipikul di atas hatinya; dan ketika burung jatuh dari angkasa dengan sayap patah, terbalik semua hukum alam yang terganggu padanya, dan angkasa itu sendiri tampak patah di mata burung malang itu; dan terpisahlah rohnya dari langit dan cahaya-cahayanya, bahkan jika cahaya menyelimutinya sementara ia tergeletak di tanah, ia merasakannya di atas tanah saja bukan di atas tubuhnya..
Kemudian kami keluar, lalu teman kami tersadar dari keadaannya; dan dengan kesadaran yang menyakitkan ini ia menyadari apa yang dialaminya dari segi lain, maka ia tersiksa dengan dua siksaan: adapun yang satu karena hal itu pernah ada tetapi tidak bertahan, dan yang lain karena hal itu hilang dan tidak kembali lagi; dan kegembiraan dalam cinta adalah sesuatu yang berbeda dari kegembiraan yang dikenal orang-orang; karena ia pada yang pertama adalah roh yang menggandakan roh dengannya, maka segala yang menggembirakan dan berakhir kau merasakan bahwa ia berakhir; tetapi apa yang berakhir dari kegembiraan kekasih yang terpana membuatnya merasa bahwa ia mati, maka padanya dalam jiwanya ada kesedihan kematian dan duka kehilangan, dan padanya dalam jiwanya ada duka kehilangan dan kesedihan kematian!
Dan pemilik hati yang malang memandang maka tiba-tiba cahaya-cahaya telah padam di taman, dan bulan juga seakan-akan di dalamnya ada panggung dan mereka mulai memadamkan cahaya-cahayanya.
Wajah bulan seperti kesedihan wajah kekasih yang menjauh dari kekasihnya ke ujung-ujung dunia, maka ia putih kuning pucat, tergambar di dalamnya makna-makna air mata yang ditahan oleh ketabahan agar tidak berjatuhan.
Ada pada wajah bulan dan pada wajah teman kami bersama-sama penampakan pengaruh takdir yang tiba-tiba dengan musibah.
Dan tampak bagi kami kehidupan di bawah kegelapan tandus kosong di atas reruntuhannya, hampa seperti kekosongan tengah malam dari segala yang bersinar di tengah hari; wahai engkau penyihir hai cinta; karena engkau menjadikan dalam malam kekasih dan siangnya kegelapan dan cahaya yang tidak ada pada hari-hari dan malam-malam!
Adapun taman itu berpakaian makna perpisahan, dan betapa cepatnya ia tampak seakan-akan semuanya layu seketika dan saat itu juga, dan angin sepoi-sepoi mengingkarinya lalu lari darinya maka ia diam, dan berubah rohnya menjadi kayu kering, maka tidak ada kesegaran padanya bagi jiwa; dan tampak pohon-pohonnya dalam kegelapan, berdiri dalam kehitamannya seperti perempuan-perempuan yang meratap memukul dada dan melolong, dan menyangkal di dalamnya pemandangan alam sebagaimana selalu terjadi ketika terputus hubungan antara tempat dan jiwa makhluk.
Apa yang terjadi?
Tidak ada kecuali apa yang terjadi dalam jiwa, karena telah berubah cara memahami, dan taman itu memiliki makna dari jiwanya lalu makna itu dirampas, dan ia memiliki limpahan dari hatinya lalu limpahan itu terhalang darinya; dan dengan ini dan itu ia tampak dalam perampasan dan ketiadaan dan pengingkaran, maka tidak tersisa kreativitas dalam sesuatu yang kreatif, dan tidak ada keindahan dalam pemandangan yang indah.
Beginikah yang dilakukan cinta ketika meletakkan dalam jiwa yang mencinta makna kecil dari makna-makna kepunahan seperti perpisahan ini?
Beginikah ia meninggalkan roh jika kehilangan sesuatu yang dicintai, membayangkan seakan-akan ia mati sebesar sesuatu itu?
Malang engkau wahai hati yang mencinta! Malang engkau!
Dan kami berjalan lalu condong ke sebuah kelab untuk duduk di dalamnya, dan aku ingin menggoda teman kami yang menderita karena cinta dan menderita karena ia menderita, maka aku berkata kepadanya: Aku tidak melihatmu kecuali seakan-akan engkau menikahi dan menceraikannya lalu jiwamu mengikutinya!
Ia berkata: Ah! Siapa aku sekarang? Dan mengapa khayalan yang menata dunia bagiku dalam bentuk-bentuk terindahnya telah kembali lalu mengacaukannya? Tahukah kau bahwa dunia ada padaku kemudian diambil dariku maka aku sekarang kekosongan, kekosongan.
Aku berkata: Aku tahu bahwa setiap kekasih adalah dunia pribadi bagi pencintanya.
Ia berkata: Dan karena itu hidup pencinta yang ditinggalkan, atau berpisah, atau menunggu, seakan-akan ia dalam hari-hari yang telah berlalu, dan kau melihatnya seakan-akan ia datang ke dunia setiap hari dan kembali.
Aku berkata: Sesungguhnya sebagian dari apa yang menjadikan keindahan itu indah adalah bahwa ia zalim, perkasa, kasar, seperti raja yang bertindak sewenang-wenang untuk memastikan berlakunya perintahnya, dan seakan-akan yang indah tidak sempurna keindahannya kecuali jika kadang-kadang ia tidak indah dalam perlakuan!
Ia berkata: Tetapi perkara dengan kekasih ini sebaliknya; ia mencariku dan aku menghindarinya, dan ia mendatangi tetapi mendatangi penolakkanku; dan seakan-akan ia pencari yang berlari mengejar yang dicari yang lari, maka tidak yang ini berhenti dan tidak yang itu tercapai.
Aku berkata: Maka inilah masalahnya, dan ketika kekasih seperti dia, dan pencinta sepertimu, maka datang simpul di antara keduanya tersimpul dengan sendirinya maka tidak ada solusi untuknya.
Ia berkata: Demikian itu, maka tahukah kau dalam kesengsaraan dan kesedihan gelas kekasih yang tidak memikirkan bagaimana mengambil kekasihnya, tetapi bagaimana meninggalkannya? Berapa jarak antara aku dan dia? Satu langkah, dua langkah? Tidak, tidak; bahkan keutamaan-keutamaan dan keutamaan-keutamaan yang memenuhi seluruh dunia. Sesungguhnya jarak antara halal dan haram jauh terbentang berlanjut menuju tanpa akhir; dan jika cinta yang rusak tidak menerima dari kekasih kecuali “ya” tanpa syarat dan ikatan; karena ia rusak, maka cinta yang suci menerima “tidak” karena ia suci! Kemudian ia tidak ridha “ya” kecuali dengan syarat dan ikatannya dari adab dan syariat dan martabat kemanusiaan dalam wanita dan pria.
Dan jika cinta tidak berakhir dengan dosa dan kerendahan, maka ia telah membuktikan bahwa ia cinta; dan kehormatan padanya adalah rahasia kekuatannya dan unsur kelangsungannya.
Tahukah kau bahwa sebagian kekasih Arab berharap seandainya ia unta jantan dan kekasihnya unta betina.. Ia dengan ini berharap agar tidak ada di antara keduanya akal dan hukum dan pengharaman ini yang disebut kehormatan, dan agar tidak ada di antara keduanya kecuali ikatan naluri perempuan yang terlepas dengan sendirinya pada suatu saat, dan bahwa ia diserahkan kepada kekuatannya dan dia diserahkan kepada kelemahannya; dan kekuatan serta kelemahan dalam hukum alam adalah kepemilikan dan pemberian kepemilikan serta perampasan dan penyerahan.
Aku berkata: Dan inilah yang dilakukan setiap kekasih terhadap penari seperti ini jika tidak ada padanya kecuali binatang; maka di antara keduanya ada kekuatan dan kelemahan dari jenis lain, bersamanya ada harga dan padanya ada kebutuhan, dan keduanya dalam hukum kebutuhan adalah kepemilikan dan pemberian kepemilikan.
Ia berkata: Dan ini yang memotong hatiku; seandainya umat memiliki agama dan kehormatan maka tidak akan tersisa tempat istri kosong dari pria, dan sesungguhnya perempuan ini dan sejenisnya turun di tempat-tempat kosong itu pertama kali mereka turun, maka setiap pelacur adalah dalam makna agama yang ditinggalkan dan kehormatan yang dinodai dalam umat.
Aku berkata: Maka ceritakan kepadaku tentang dirimu apa kerinduan ini kepadanya dan apa pembakaran ini padanya, sedangkan kau telah berada di hadapannya secara khayali murni seakan-akan kau mengumpulkannya dalam inderamu lalu mengambil dan meninggalkannya dalam waktu bersamaan, dan inderamu ini masih sebagaimana adanya, bahkan bertambah tajam, maka sebagaimana ia membuatmu dari dekat ia membuatmu dari jauh?
Ia berkata: Aku di hadapannya mencintainya sebagaimana kau lihat dengan kadar yang ia katakan di dalamnya bahwa kau tidak mencintaiku, karena ada di antara kami yang lain bernama akhlak; tetapi dalam ketidakhadirannya aku kehilangan timbangan yang menimbang kadar dan membatasinya, dan jika kau tidak mengetahui bagaimana kekasih berbuat dalam ketidakhadiran yang dicintai, maka ketahuilah bahwa kebanggaannya pada saat itu tidak melihat di hadapannya apa yang melawannya, maka ia meninggalkannya dan mengecewakannya; dan keutamaannya tidak menemukan tempat untuk menampakkan diri, maka ia bersembunyi dan meninggalkannya; dan kepribadiannya tidak menemukan tempat untuk tampil, maka ia bersembunyi dan mengabaikannya; maka tidak terjadi dari semua itu kecuali munculnya si malang sendirian dengan segala yang ada padanya dari kelemahan dan kekurangan serta intensitas kerinduan; dan di sinilah cinta membalas apa yang dipalsukan oleh kebanggaan dan keutamaan dan kepribadian terhadapnya, maka ia memukul dengan hakikat-hakikatnya pukulan-pukulan menyakitkan yang tidak dapat ditahan kekuatan, dan menjadikan ketidakhadiran kekasih seakan-akan kehadirannya yang tersembunyi untuk melihat kebenaran yang disembunyikan darinya; dan betapa banyak perempuan pencinta yang sombong terhadap yang dicintainya berpaling dan menjauhkannya, sementara dalam kesendirannya ia sujud di atas kaki khayalannya menggosok-gosokkan wajahnya di sini dan di sana pada kaki ini dan pada kaki ini!
Tidak, sesungguhnya harus ada dalam cinta pertunjukan lakon penolakan atau berpaling atau meremehkan atau lakon-lakon sejenisnya; tetapi pakaian panggung adalah selalu pakaian pinjaman selama pemakainya dalam perannya dari cerita.
Kemudian si malang meletakkan tangannya di atas hatinya dan berkata: Ah! Sesungguhnya hati ini marah kepada seluruh kehidupan ketika ingin membuat pemiliknya merasa bahwa ia marah.
Siapa di antara manusia yang tidak mengenal kesedihan-kesedihannya? Tetapi siapa di antara mereka yang mengenal rahasia-rahasia kesedihannya dan hikmahnya? Adapun jika tersingkap rahasia kegembiraan dan kesedihan adalah pekerjaan dalam jiwa dari pekerjaan-pekerjaan persaingan kelangsungan hidup; maka hukum ini bekerja dalam menciptakan yang terbaik dan terkuat, kemudian bekerja demikian juga untuk menciptakan yang terbaik dan terlembut, dan dari situ rasa sakit cinta kuat hingga seakan-akan pada pria dan wanita mempersiapkan salah satu hati; agar layak mendapat hati yang lain.
Ah dari bara api ini! Ia hampir tidak menyala hingga mengembalikan jiwa seakan-akan ia tungku yang menyala dengan bara, dan dengan itu melebur logam kemanusiaan dan dibuat dengan buatan baru; dan sampai melebur dan bersih dan dibuat, apa yang terjadi pada manusia dalam segala sesuatu dari kekasihnya?
Terjadi padanya dalam segala sesuatu rohnya yang terguncang.
Aku berkata: Bagus bagus! Beginilah seharusnya cinta; sesungguhnya ia ketika membangkitkan kerinduan kepadanya dalam jiwamu memberimu apa yang lebih indah dari keindahannya dan apa yang lebih menakjubkan dari tubuhnya; karena ia memberimu puisi terkuat dan hikmah terbaik.
Ia berkata: Dan rasa sakit terkuat dan penderitaan terberat! Sungguh ajaib! Seakan-akan kehidupan tidak memberikan dalam cinta yang dicintai kecuali cintanya sendiri; maka jika terjadi kekeringan, atau datang perpisahan, atau menimpa keputusasaan – kematian menghadirkan dirinya sendiri maka semua itu menyerupai kematian.
Sesungguhnya kesedihan yang datang dari musuh datang bersamanya dengan kekuatan yang memikulnya dan sabar karenanya dan sombong di dalamnya; tetapi di mana itu dalam kesedihan yang sumbernya kekasih? Dan dari mana kekuatan jika hati lemah?
Aku berkata: Allah tidak berbuat kecuali kebaikan kepadamu; maka jika esok hari dan siang terkelupas dari malam kami datang kepadanya lalu melihatnya di panggung, dan mudah-mudahan perkara keluar dari jalan lain.
Ia berkata: Aku berharap..
Dan ia hampir tidak mengucapkan harapan ini hingga lewat pada kami tujuh orang pria yang tertawa terbahak-bahak, kemudian kami bertemu dan datang; dan celaka kami terhadap si malang ketika mengetahui bahwa ia telah pergi; sungguh ia menyadari bahwa setan sedang tertawa dengan tujuh mulut.. dari ucapannya: Aku berharap..
Dan mengapa ia pergi? Mengapa?
Dan adapun dia..?
Adapun pemilik hati yang malang itu, ia tidak menyadari bahwa sang kekasih telah pergi dari malamnya hingga kegelapan menyelimutinya. Seakan-akan ketika dia hadir, ada cahaya yang tak terlihat menerangi, maka ketika dia pergi, cahaya itu pun padam. Aku melihatnya murung dan sedih, bergulat dengan perasaan yang tidak kutahu, seakan kepergian sang kekasih jatuh dalam jiwanya bagaikan peringatan perang.
Mengapa para penyair meratapi reruntuhan dan tersiksa karenanya serta terbakar olehnya, padahal itu hanyalah batu-batu, bekas-bekas, dan sisa-sisa? Dan apa yang menyambut mereka dari tempat itu setelah kepergian para kekasih? Tempat itu menyambut mereka dengan kekosongan hati yang tidak dapat dipenuhi oleh seluruh alam semesta kecuali keberadaan satu orang saja. Dan di hadapan kekosongan ini, dunia berdiri lama seakan ia telah sampai pada akhir di dalam jiwa yang sedang jatuh cinta, maka batallah pertukaran antara makna-makna kehidupan dengan perasaan orang yang hidup. Orang yang jatuh cinta itu ada di tempatnya tetapi makna-makna yang melewatinya tidak menemukannya, lalu kembali darinya seperti hakikat-hakikat yang menyinggung kekosongan dari kesadaran seorang yang mabuk.
Wahai bekas kekasih ketika kekasih berpisah! Apakah yang memberikan padamu kekuatan sihir itu? Apakah karena engkau memisahkan antara waktu dan waktu, ataukah karena engkau mengumpulkan masa lalu dalam sekejap; ataukah karena engkau mengubah kehidupan menjadi ide, ataukah karena engkau membesarkan kenyataan hingga berlipat ganda dari kenyataannya, ataukah karena engkau menggambarkan kerohanian dunia dalam teladan yang dirasakan oleh roh, ataukah karena engkau membuat jiwa merasakan seperti kematian bahwa kehidupan dibangun atas perubahan, ataukah karena kemampuanmu menambah keadaan baru bagi duka dan kesedihan, ataukah karena engkau membawa kembali kenikmatan yang terlihat namun tidak dapat diraih, ataukah engkau adalah semua itu; karena hati mengosong sesaat dari dunia dan terisi oleh dirimu seorang?
Wahai bekas kekasih ketika kekasih berpisah! Apakah kekuatan sihir ini dalam dirimu yang menarik dada untuk memelukmu, yang memikat mulut untuk menciummu, yang memanggil air mata untuk mengalir untukmu, dan yang menggerakkan kerinduan untuk bangkit dalam dirimu? Apakah semua itu karena engkau adalah bekas kekasih, ataukah karena hati mengosong sesaat dari dunia dan tidak menemukan apa yang berdebar-debar untuknya selain dirimu?
Dan berdirilah sahabat kami yang malang dalam kesedihan seakan sesuatu menghubungkannya dengan semua duka dunia. Itulah sifat rasa sakit yang mengejutkan manusia dari tempat kenikmatan dan sumber kegembiraannya, lalu merampas darinya sejenis kehidupan dengan cara merampas kehidupan itu sendiri, dan mengambil dari hatinya sesuatu yang mati lalu menguburkannya di kubur masa lalu. Itu menjadi rasa sakit karena di dalamnya ada kepedihan, dan kesuraman karena di dalamnya ada kekecewaan, dan kebingungan karena di dalamnya ada penyesalan. Ketiga duka ini dilengkapi dengan kesempitan yang amat sangat dalam jiwa karena berkumpulnya ketiganya pada jiwa. Maka si malang itu terkejut seakan rasa sakit menerkamnya dari empat penjuru, sehingga hatinya penuh retakan-retakan…
Aku mulai menegur sahabat kami namun ia tidak mau dinasihati. Setiap kali aku berusaha membuktikan kepadanya adanya kesabaran, aku seakan membuktikan kepadanya bahwa kesabaran itu tidak ada. Kemudian ia menghela napas hingga hampir pecah karena marah dan berkata: “Mengapa dia pergi? Mengapa?”
Aku berkata: “Engkau telah merendahkan kecantikannya dengan cara yang engkau kira dapat memuliakan kecantikannya itu. Engkau telah bersikap keras padanya dan pada dirimu sendiri, dan engkau telah keras kepala terhadap hatimu dan hatinya. Dia anggun dalam cintanya sedangkan engkau kasar dalam cintamu. Dia memberikan hakmu kepadamu namun engkau menolaknya, dia hancur dan menyerah sedangkan engkau menjauh. Dia meninggikan kedudukanmu di atas dirinya karena cinta dan kasih sayang, sedangkan engkau merendahkan kedudukannya di bawah dirimu karena mengabaikan dan bersikap dingin. Dia menghabiskan segala daya upayanya untuk memuaskanmu sedangkan engkau marah-marah. Dia melepaskan keindahan-keindahannya satu per satu, bertanya dengan setiap hal itu namun engkau tidak memberikan jawaban apa pun…”
Dari sifat wanita bahwa ketika dia jatuh cinta, dia menolak untuk menjadi yang memulai. Maka dia berputar-putar dengan pasangannya padahal dia sedang jatuh cinta, dan menyangkal padahal dia mengakui. Pertama, dia ingin memastikan bahwa dia dicintai. Kedua, dia ingin bukti bahwa dia layak untuk didekati. Ketiga, dia ingin agar dia tidak diambil kecuali oleh kekuatan yang kuat, maka dia menguji kekuatan ini. Dan dengan ketiga hal ini, sifat kegembiraan dan kenikmatan dalam dirinya menolak kecuali jika kegembiraan dan penolakan ini memiliki nilai dan makna, maka dia memberi pasangannya rasa pahit sebelum manis agar yang satu ini membesar karena yang itu.
Namun ketika kerinduan mengalahkannya dan cinta memaksanya untuk memulai pasangannya, kemudian dia memulai namun tidak mendapat jawaban darinya, atau tidak datang urusan di antara dia dan pasangannya sesuai yang dia sukai, maka permulaan itu menjadi akhir, dan cinta berubah menjadi musuh cinta. Aku mengenal seorang wanita yang kesombongannya menempatkannya dalam keadaan seperti ini dan berkata kepada pasangannya: “Aku akan menderita tetapi tidak akan kalah.” Dan yang terjadi -sayang sekali- adalah dia menderita hingga gila, tetapi tidak kalah…
Dia berkata: “Lalu apa dengan wanita ini? Tidakkah engkau melihat dia memulai setiap hari dengan seorang laki-laki?” Aku berkata: “Dia memulai untuk mencari keuntungan, bukan karena jatuh cinta. Ketika dia mencintai dengan cinta yang benar, dia menginginkan nilainya sesuai dengan nilai dirinya. Aku kira dia mencintai dalam dirimu kekerasan ini, kekejaman ini, dan kerohanian yang perkasa ini; karena itu adalah kenikmatan baru bagi wanita yang tidak menemukan siapa yang dapat menundukkannya. Dalam sifat setiap wanita ada sesuatu yang tidak menemukan kesempurnaannya kecuali dalam kekerasan laki-laki, namun itu adalah kekerasan yang awalnya kelembutan dan akhirnya kelembutan.”
Demi Allah, keajaiban-keajaiban cinta lebih banyak daripada sekadar mengherankan. Sesuatu yang aneh disebut aneh, dan itu cukup sebagai penjelasan dalam mendefinisikannya. Namun ketika itu terjadi dalam cinta, disebut aneh namun penamaan itu tidak cukup, maka dideskripsikan bersama penamaan bahwa itu aneh namun deskripsi tidak mencapainya, maka terjadilah kekaguman bersama deskripsi dan penamaan bahwa itu sesuatu yang aneh, kemudian tersisa di balik itu tingkatan untuk tenggelam dalam kekaguman antara yang jatuh cinta dengan jiwa-raganya; dan begitulah mereka merasakan.
Maka semua rahasia cinta adalah dari rahasia roh dan dari alam gaib. Seakan kenabian itu ada dua: besar dan kecil, umum dan khusus. Yang satu dengan jiwa agung pada para nabi, dan yang lain dengan hati lembut pada para pecinta. Dalam yang ini ada kemiripan dengan yang itu karena adanya keagungan rohani dalam keduanya yang menguasai materi, yang terlepas dari manusia tanah liat menjadi cahaya, yang menggerakkan sifat adamik ini dengan gerakan baru dalam ketinggian, yang membawa pengetahuan manusiawi kepada yang lebih baik dan lebih indah, yang meletakkan prinsip pembaruan dalam segala yang melewati jiwa, yang terpancar dengan kegembiraan dari sumber atasnya yang surgawi.
Namun dalam cinta ada nabi-nabi palsu. Ketika cinta merendah dalam keagungan, dan kebinatan-an menampakkan diri dalam kebesaran, dan terlepas dari manusia tanah liat menjadi manusia batu, dan sifat adamik bergerak dengan gerakan baru dalam kejatuhan, dan pengetahuan manusiawi pergi kepada yang lebih jelek dan lebih buruk, dan terbaharui bagi segala sesuatu dalam jiwa makna yang rusak, dan terpancar kegembiraan dari sumber bawahnya – ketika semua ini terjadi dari cinta, maka apa yang akan terjadi?
Tidak lain adalah setan meniru kenabian kecil pada sebagian pecinta, sebagaimana dia meniru kenabian besar pada sebagian dukun palsu.
Demikianlah kata pemilik hati yang malang ketika dia berbicara tentang cinta sementara kami duduk di taman. Kami masuk ke sana agar dia memperbaharui kenangan dengan tempat duduknya, mudah-mudahan dapat menenangkan sebagian yang ada padanya. Pembicaraan kami meluas dalam menggambarkan wanita cantik yang memikat itu yang telah menempatkannya di tempat ini dan membawanya sampai pada keadaan yang dialaminya. Dia dalam kelembutan yang tidak ada kelembutan setelahnya, dan dalam cinta yang tidak ada akhir di baliknya bagi seorang pecinta. Terbayang bagiku bahwa dia melihat pembicaraan tentangnya seakan menghadirkannya dalam bentuk tertentu!
Dan yang paling bermanfaat dalam pembicaraan pecinta tentang cinta dan rasa sakitnya adalah bahwa kata-kata mengeluarkannya dari keadaan pikiran, dan menghibur hatinya dengan ungkapan-ungkapan, dan meringankan gerakan jiwanya dengan gerakan lidahnya, dan mengarahkan indera-inderanya kepada yang tampak bergerak. Maka ungkapan-ungkapannya merampas sebagian besar makna-makna khayalannya, dan mendatangkan hakikat-hakikat kepadanya sesuai kadarnya dalam bahasa bukan dalam jiwa. Dalam semua itu ada tipu daya menuju lupa, dan menghibur untuk sesaat. Itu adalah pengaturan dari rahmat bagi para pecinta dalam bencana yang disebut perpisahan atau hijrah.
Dan di antara hal yang paling mengherankan bagiku adalah seorang teman lewat dan dipanggil oleh sahabat kami seraya berkata sambil menunjuk kepadaku: “Aku dan si anu ini berbeda pendapat sejak hari ini. Dia tidak memberikan alasan dan aku tidak memberikan argumen. Aku kira engkau punya pendapat, maka putuskanlah di antara kami…”
Teman itu bertanya: “Apa masalahnya?” Dia berkata sambil menunjuk kepadaku:
“Orang ini hatinya berlubang karena cinta sehingga tidak tahu dari mana harus menambal hatinya… Dia jatuh cinta pada si anu penari yang ada di teater ini, dan mengaku kepadaku bahwa dia adalah yang terindah, termemikat, dan termanis dari yang pernah disinari matahari, dan bahwa tidak ada wajah wanita lain antara wajahnya dan bulan di seluruh yang disinari bulan, dan bahwa kedua matanya adalah sesuatu yang tidak akan pernah terlupakan selama-lamanya… karena pandangannya meleleh dalam darah dan mengalir di dalamnya, dan bahwa setan seandainya ingin memerangi kesucian dan zuhud dalam perang yang menentukan antara dia dan ahli ibadah yang paling zuhud, dia akan meninggalkan semua tipu daya dan cara-caranya dan mengajukan tubuh dan seninya…”
Orang yang ditanya berkata: “Apa pendapatmu?”
Dia menjawab: “Seandainya dia sadar tentang wanita itu, sungguh dia telah sadar. Masalah dalam cinta adalah bahwa setiap pecinta memiliki hatinya yang adalah hatinya sendiri. Cukuplah baginya bahwa orang seperti ini yang menggambarkannya. Kita tidak tahu dari takdir nasib wanita malang ini apa yang menimpanya dan apa yang menguntungkannya. Mungkin dia adalah kecantikan yang dihukum untuk disiksa oleh kejelekan orang-orang, dan mungkin dia adalah kegembiraan yang diputuskan untuk dipenjara dalam kesedihan!”
Aku berkata kepadanya: “Wahai temanku yang malang! Apakah semua ini untuknya di hatimu? Hati macam apa yang engkau bawa dan tersiksa karenanya?” Dia berkata: “Demi Allah, itu adalah hati anak kecil, dan cintanya tidak lain adalah mencari kasih sayang kedua dari kekasih, setelah kasih sayang pertama dari ibu. Semua perkataanku tentang cinta hanyalah dikte hati ini kepada pikirannya seakan dia menciptakan dengannya penciptaan pemikirannya.”
Ah temanku! Dari ejekan terhadap dunia ini dan isinya adalah bahwa hati tidak terus menjadi anak kecil setelah masa kanak-kanak kecuali pada dua orang: yang menjadi filosof besar, dan yang menjadi orang bodoh besar!
Kami berpisah. Kemudian aku ingin mengetahui kabarnya maka aku menemuinya keesokan harinya. Aku memiliki urusan aneh dalam mimpiku malam itu, dan dia memiliki urusan yang lebih aneh lagi. Adapun aku, para pembaca tidak perlu tahu urusanku dan ceritaku.
Adapun dia?…
Adapun dia telah menceritakan kepadaku kisah menakjubkan ini dari kehalusan ilhamnya dan seninya, dia berkata: Aku pulang ke rumahku dan merasa berat hatiku bahwa ini terjadi dari padanya dan ini terjadi dariku, dan dia baik hadir maupun tidak hadir bagiku seperti matahari bagi dunia: dunia tidak menjadi gelap di satu sisi kecuali karena dia menerangi sisi yang lain; maka kegelapannya adalah hasil dari cahayanya; dan malamku kosong dari tidur maka aku bermalam gelisah, dan hati mulai berdegup di sisiku seperti alat dalam jam bukan hati manusia; dan di dunia sekitarku ada keheningan seperti keheningan orang yang terdiam setelah pidato panjang, dan dalam diriku ada keheningan lain seperti keheningan orang yang terdiam setelah pertanyaan yang tak ada jawabannya; dan udara stagnan seperti orang mabuk yang terjatuh karena beban mabuknya setelah lama mengigau dan mengamuk; dan seluruh keberadaan tampak seperti yang tercekik; karena makna tercekik ada di hatiku dan pikiranku; dan aku menatap bintang-bintang maka mereka tenggelam satu demi satu, seakan makna kepergian menyebar di bumi dan langit ketika kekasih pergi; dan seakan setiap wajah yang bercahaya berkata padaku: jangan menunggu!
Ketika malam mulai redup aku melemparkan diriku lalu tidur dengan akal yang terjaga, dan mimpi melakukan apa yang dilakukannya, maka aku melihatnya dalam kejernihan di mana dia tampil sebagai pengantin; dan betapa menakjubkan kebanggaan wanita yang dicintai! Sungguh dia tampak di mata kekasihnya seperti telanjang di balik tirai tipis yang tembus pandang seperti cahaya, lalu dia menggoda dirinya untuk mengangkat tirai ini, jika dia tidak berani maka dia pun tidak berani; dan seakan dia berkata padanya: aku telah mengangkatnya dengan caraku maka angkatlah dengan caramu..
Dan dia tergambar dalam mimpi dengan gambaran lain; tidak mengalir dari tubuhnya makna keindahan yang kurenungkan dan kupahami, tetapi makna kemabukan yang membuat seseorang tanpa akal; dan pakaian tipisnya di badannya bukan seperti pakaian pada wanita, tetapi dia tampak padaku seperti warna pada mawar yang mekar: menampakkan pesona dan menyempurnakan pesona.
Wahai mimpi-mimpi, apa yang kalian ciptakan selain makhluk darah manusia, apa yang kalian ciptakan? Aku berkata: wahai temanku tinggalkan filsafat ini sekarang dan ceritakanlah apa yang kau lihat, lalu apa setelah mawar dan warna mawar?
Dia berkata: Sungguh hati yang malang selalu, sungguh hati yang malang, dia tertawa padaku dan berkata: aku sudah datang! Dan dia datang memamerkan wajahnya padaku, dan merayu dengan matanya, dan mendesah dengan dadanya, dan melemparkan tangannya ke tanganku, maka aku merasakan kedua tangan saling memeluk bukan bersalaman; lalu kami biarkan keduanya tidur satu di atas yang lain, dan kami terdiam sebentar dan kami kira jika kami berbicara tangan kami akan terbangun!
Pernahkah kau bersalaman dengan wanita yang kau cintai dan mencintaimu? Pernahkah kau merasakan tangannya tidur di tanganmu walau sejenak? Pernahkah kau melihat dengan matamu kantuk tangannya yang berpindah ke matanya maka keduanya menjadi lemah dan layu, dan di bawah kelopak matanya ada mimpi pendek?
Aku berkata: wahai temanku tinggalkan filsafat; lalu apa yang terjadi setelah tangan tidur di atas tangan?
Dia berkata: Lalu terjadi ejekan dari setan yang paling buruk yang pernah ada.
Aku berkata: cukup seakan kau telah menjelaskan padaku apa yang tersisa..
Maka dia tertawa panjang, dan berkata: Sungguh setan sekarang mengejekmu juga, dan seakan dia berkata padamu: dan terjadilah apa yang terjadi yang tidak kusebutkan.. tahukah kau apa yang terjadi dan sisa ceritanya?
Aku dulu gemar menguji kekuatan tanganku dalam menekan batang besi yang berdiri, atau tangan orang-orang kuat ketika aku bersalaman dengan mereka; ketika dia bersalaman denganku aku menunggu beberapa saat lalu menekan tangannya sedikit demi sedikit, maka aku tersadar pada kebiasaan ini, maka mimpi rusak dan khayalanku beralih ke gambaran yang paling buruk dan mengerikan dan paling jauh dari apa yang ada padaku yaitu cinta dan kenikmatan cinta; maka di hadapanku ada wajah, wajah siapa? Wajah pegulat Jerman yang kukenal dua puluh tahun lalu dan kuteken tangannya..
Aku berkata: ini hanyalah kebanggaanmu atau kesucianmu yang tersadar dalam tekanan tanganmu itu, dan urusanmu masih menakjubkan; apakah bersamamu ada malaikat dan bersama orang lain ada setan?
Dia berkata: Yang lebih menakjubkan adalah aku melihat dalam mimpi kacauku seakan hati malangku bertengkar denganku dan aku bertengkar dengannya; dan dia keluar dari lengkungan tulang rusuk seakan makhluk bayangan yang terlihat dan tidak terlihat karena tidak ada bentuknya; dan dia mencaci dan aku mencacinya, dan aku berkata padanya dan dia berkata padaku, dan kami saling kasar seakan kami musuh; dia melihat bahwa aku yang menghalangi kenikmatan-kenikmatan-nya, dan aku melihat bahwa dialah yang menghalangiku, dan bahwa dia menyakitiku seperti aku menyakitinya; dan aku berkata padanya di antara yang kukatakan: tidak ada hukuman atas kejahatanmu, maka pergilah dariku dan jangan memakai namaku karena tidak ada si fulan bagimu setelah hari ini; dan kalau bukan karena kau tertolak dalam cinta tentu kau tahu bahwa sentuhan tangan pria pada tangan wanita cantik adalah jenis ciuman yang diringankan, jika dia membiarkannya naik dalam darah suatu hari akan berakhir pada ciuman mulut dengan mulut; dan kalau bukan karena kau tertolak dalam cinta tentu kau tahu bahwa pelukan antara tangan ini adalah jenis pelukan yang diringankan, jika dia membiarkannya menguat dalam darah suatu hari akan berakhir pada pelukan dada dengan dada; tetapi kau tertolak dalam cinta, tetapi kau tertolak!.
Dan dia berkata padaku di antara yang dikatakannya: Dan kau wahai yang gagal? Tidakkah kau tahu bahwa jari-jari lembutnya adalah jari-jarinya, bukan batang besimu? Bagaimana kau menekannya celaka kau dengan tekanan yang mengeluarkan wajah pegulat bagimu? Tetapi kau gagal dalam cinta, tetapi kau gagal!
Aku berkata: Maka ini masalah antara aku dan kau wahai hati musuh; kau telah meninggalkanku dalam kekhawatiran seperti pohon yang berlubang sudah lapuk dan menjadi berlubang-lubang; tidak hidupnya seperti hidup dan tidak matinya seperti mati, dan berapa banyak kau gantungkan aku pada si pemikat demi pemikat tidak ada kekurangan yang berakhir dan tidak ada harapan yang dimulai; kau tidak lain dalam diriku selain binatang buas yang kenikmatan terbesarnya menjilat darah!
Dan mimpi berputar maka tak lama aku melihat diriku di pengadilan pidana, dan seakan aku mengadukan hatiku padanya maka dia duduk di kandang besi di antara penjahat menunggu apa yang mereka tunggu yaitu putusan urusan mereka; dan tiga hakim naik ke mimbar keputusan, dan jaksa penuntut umum duduk di tempatnya menangani perkara dan di hadapannya kertas-kertasnya yang dia periksa, dan aku melihat di antaranya sampul yang tertulis di luarnya: perkara hati yang malang.
Dan ketua pengadilan berbicara pertama kali dan berkata: Tidak ada pengacara dalam perkara hati, maka carikan yang membela dia; lalu dia menoleh padanya dan berkata: siapa yang kau pilih untuk membela dirimu?
Hati berkata: Apakah ini tempat untuk memilih wahai ketua? Sungguh tidak ada di bawah ini -dan dia menunjuk langit- dan tidak di atas ini -dan dia menunjuk bumi- kecuali …
Maka jaksa penuntut umum menyela dan berkata: Kecuali kekasih? Begitukah? Hanya saja dia guru tari bukan hukum! – Hati: Tetapi aku tidak memilih selain dia baik diputuskan untukku atau diputuskan atasku; aku ingin melihat padanya dan kalian lihatlah perkara ini..
- Ketua: Baiklah; ini kejahatan perasaan, izinkan dia wahai penjaga.
Maka petugas memanggil: Guru! Guru!
Dan dia datang segera, dan masuk berjalan dengan jalannya dan senyumnya merekah menampakkan cahaya yang bersinar dalam jiwa; dan dia melirik kanan kiri dengan wajahnya, maka semua orang mengalihkan pandangan padanya dan mereka melihat pesona dari segala pesona; dan bangkit di setiap hati kecenderungan, dan kenyataan manusiawi menang maka sifat yang hadir di ruang sidang berubah, dan hukum kecantikannya membatalkan hukum pengadilan, maka terjadi keributan dan suara naik dan bercampur; dan bergema di antara dinding tempat itu gema demi gema seakan dinding berbicara dengan yang berbicara.
Suara-suara: Subhanallah! Subhanallah! Tabarakallah! Tabarakallah! Ah ah! Ah ah! Dan terdengar suara berkata: dakwa aku juga.. maka kata-kata berteriak: dan aku, dan aku, dan aku! Dan pengadilan menghilang dan panggung muncul dengan masuknya penari yang mempesona; dan para hakim dan jaksa penuntut umum di mata orang seperti lukisan tergantung di dinding; tidak ada yang takut mereka melihat apa yang dilakukan!
Maka ketua berteriak: Ini pengadilan! Ini pengadilan! Subhanallah.. pengadilan pengadilan!
-Jaksa penuntut umum: Ini awal yang tidak diridhai kejaksaan dan tidak menerima untuk mundur darinya, ya sungguh wajah cantik ini pengacara terpandai dalam perkara ini, dan ya sungguh tubuhnya.. ah apa? Kalian mendatangkan nafsu yang menang dan mengalahkan untuk membela yang bernafsu.. yang terdakwa, ini posisi seperti posisi uzur di samping dosa, dan seakan kalian wahai para hakim..
Maka pengacara menyela berkata dengan nada manja dan lemah: Dan seakan kalian wahai para hakim telah lupa bahwa jaksa penuntut umum juga punya hati…
Dan ini keras bagi jaksa, dan kemarahan tampak di wajahnya; maka dia berkata: Wahai ketua..
-Ketua sambil tersenyum: Satu dengan satu, dan kuharap tidak ada yang kedua, dan makna ini seperti yang jelas tidak ada yang ketiga.. “tertawa”. Pemilik hati yang malang berkata: Dan aku tanpa hati.. maka aku tidak memperhatikan kecantikan, tetapi aku takjub pada kecerdasan pengacara dan ketajamannya dan bagusnya dia menemukan dalil pada pukulan pertamanya, dan aku heran akan hal itu sangat heran, dan aku yakin jaksa penuntut umum akan jatuh di lidahnya, bukan seperti jatuhnya yang seperti dia di lidah pengacara mahir, tetapi seperti jatuhnya suami di lidah istri tercinta yang manja yang berdebat dengannya dengan dalil banyak sebagiannya kata-kata.. dan aku berkata dalam hati: wahai rahmat Allah jangan jadikan dari wanita cantik mempesona pengacara di pengadilan-pengadilan ini, kalau mereka memakai jenggot palsu pun suara merdu saja dari mulut cantik manis itu, akan menjadi panggilan hukum untuk ciuman..
Dan pengacara ajaib itu bangkit lalu mengarahkan mata penyihirnya pada jaksa, lalu berkata menyapa pengadilan: Sebelum melihat perkara ini perkara cinta dan kecantikan, perkara hatiku yang malang.. aku ingin mengetahui pendapat hukum dalam menganggap kejahatan. Apakah personal, maka terbatas pada pemiliknya; atau khusus, maka merugikan selain pelakunya, atau umum, maka diambil oleh umum terbatas bagi yang dikumpulkan oleh ikatan cinta; atau lebih umum, maka diambil oleh umum mutlak bagi masyarakat; apa kejahatan hatiku?
-Ketua: Apa pendapat kejaksaan?
Jaksa “tertawa”: “Rayuan gazelle-nya bagus” seperti kata penari dan aktris.. Aku melihat bahwa ini kejahatan yang datang dari pukulan khusus pada umum.. “tertawa”.
Pengacara: Jawaban seperti jawab si penjawab: cinta Abu Bakar; ada seorang laki-laki mencintai istri cantiknya dan takut padanya, dan dia kejam padanya sangat kejam dan kasar dalam kata-kata, dan dia takut padanya dan tidak menentangnya; maka dia melihatnya suatu hari dan hatinya sedang baik, maka dia ingin memanfaatkan kesempatan dan mengadu kekejamannya; maka dia berkata: wahai si fulanah sungguh -demi Allah- telah membakar hatiku.. dan dia tidak membiarkannya menyelesaikan kata, maka dia menajamkan pandangannya padanya dan mengerutkan wajahnya dan berkata: Membakar hatimu apa? Maka dia takut dan tidak mampu berkata padanya kecuali akhlakmu yang buruk. Maka dia berkata; cinta Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu.. “tertawa”, dan tawa pengacara berdering maka hati-hati bergetar karenanya, dan jatuh di setiap darah, dan di darah jaksa juga; maka dia mundur dan tidak menambah selain berkata: Aku protes dengan segenap hatiku..
Ketua: Mari masuk ke pokok dan biarkan pembelaan mutlak; karena batas-batas dalam kejahatan hati turun dan naik seperti tirai-tirai ini di panggung pertunjukan. Dan dua puluh tirai mungkin semuanya untuk satu sandiwara. – Jaksa penuntut umum: Wahai para hakim, dakwaanku tidak panjang; karena hati ini adalah tuduhan yang berbicara.
Pengacara: Tetapi dia hati.
Jaksa: Dan aku wahai nyonya tidak mengubah kata dan tidak berkata bahwa dia anjing. “tertawa”, dan wajah pengacara memerah dan malu.
- Ketua: Pokok pokok.
- Jaksa: Wahai para hakim, sungguh sakit kejahatan ini ada pada diri pelaku atau hartanya, atau sifatnya seperti menjadi suami misalnya, atau reputasi sastranya; adapun diri maka ini jelas, dan adapun harta maka ya sungguh hati yang malang memutuskan untuk dirinya dan pemiliknya untuk tidak pernah membeli tiket masuk ke neraka.. “tertawa”.
- Pengacara: Aku minta maaf jaksa jika aku.. jika aku memahami dari ungkapan ini bahwa beliau tahu setidaknya di mana “tiket-tiket” ini dijual.. “tertawa” dan wajah jaksa penuntut umum cerah dan malu.
- Ketua: Aku berharap tidak ada yang kedua untuk yang pertama, dan aku berkata: bahwa makna ini seperti yang jelas tidak ada yang ketiga; apakah aku perlu berkata bahwa makna logis tidak ada yang keempat untuk yang ketiga?
- Jaksa: Wahai para hakim, dan adapun sifat, maka hati yang malang ini hati laki-laki yang menikah; dan jangan tertipu oleh tasawuf hati ini, dan jangan tertipu oleh ketuhanannya dan klaimnya akan ketinggian. Dia bagaimanapun mencintai penari, dan ini penyerangan yang di dalamnya ada penyerangan, pada pernikahan dan kehormatan; dan anggaplah dia sufi bertuhan dan tidak berhubungan dengan penari, maka dia bagaimanapun telah mengambilnya dan menjadikannya tetapi dengan gayanya sendiri.. dan dengan ini melakukan kejahatan; ah! Sungguh perkara ini kurang; dan itu kekurangan di dalamnya aku takut akan menjadi kekurangan dalam putusan juga, maka lengkapilah kalian. Wahai para hakim, sungguh kekurangan di dalamnya bahwa tidak ada saksi di dalamnya; tetapi ini pekerjaan ilahi yang tidak tampak kecuali di hari ketika lidah dan tangan dan kaki mereka bersaksi atas mereka dengan apa yang mereka kerjakan (merujuk QS. Ya-Sin ayat 65). -Pengacara: Ini ungkapan lebih besar dari kemampuan pengucapnya dan dari kedudukannya dan jabatannya, ini ungkapan berani! Wahai jaksa, siapa yang tidak membawa saksi di lidah dan tangan dan kakinya, bahkan seribu saksi pada satu malam.. harus dipahami di antara kita wahai jaksa bahwa nun dan ba dalam kata “nayib” (jaksa) berbeda dengan nun dan ba dalam kata “nabi” (nabi).
-Jaksa: Wahai para hakim, aku tidak melihat yang membuatku malu dalam dakwaan untuk menyatakan pada kalian bahwa yang membuatku bingung dalam kejahatan ini bahwa tidak ada dari sifat kejahatan kecuali merusak martabat, maka tidak ada fitnah tidak ada caci tidak ada pelecehan kehormatan tidak ada kefasikan, tidak ada yang lebih kecil dari itu, tidak ada segelas anggur untuk penari..
-Pengacara: Aku tidak melihat di hadapan jaksa segelas air, dan tenggorokannya akan kering dalam perkara ini; mungkin pengadilan memerintahkan untukku segelas.. “tertawa”.
-Jaksa: Wahai para hakim, mencintai penari; isim fa’il dari raqasha yarqushu; wanita yang tidak memakai pakaian, tetapi telanjang dalam bentuk pakaian.. wanita tidak seperti wanita, dustanya adalah kebenaran dari bibirnya; mengapa? Karena keduanya merah tipis manis dicintai diinginkan..
Pengacara: tertawa..
- Jaksa “setelah tergagap”: wanita tidak seperti wanita, profesinya menjadikannya wanita dalam pekerjaan, dan laki-laki dalam pencarian..
-Pengacara: Tetapi kau tidak tahu anak mana yang gugur si malang, dan mungkin dalam keburukan ada keburukan seperti sebagian pemilik gelar: yang mulia..
-Jaksa: Mencintai penari yaitu menempatkannya dalam akal batin dan menginginkannya; ya menginginkannya, maka dari akal batinnya, dan dengan ungkapan bahasa, dari kesadarannya -keluar kejahatan atau setidaknya, pikiran kejahatan.
Dan reputasi sastra wahai para hakim? Apakah ada martabat bagi yang mencintai penari? Bahkan apakah ada martabat dalam cinta? Bukankah mereka berkata: Sungguh martabat laki-laki berada di bawah kaki wanita yang dicintai seperti lap kasar yang dia usapkan sandalnya!
Cinta? Apa itu cinta? Sungguh itu bukan pikiran, tetapi setan yang menjelma pada tubuh yang mencintai; untuk melakukan perbuatannya dengan alat hidup, dan susunan hewani manusia inilah yang menyiapkan dari cinta pintu masuk dan keluar bagi setan dalam tubuhnya; dan apakah pemilik hati yang malang ridha dengan kejahatan hatinya padanya, dan besarnya yang dilanggar dari akhlak luhurnya? Apakah dia ridha cintanya pada penari? Jika dia tidak ridha dengan keridaan yang benar, atau ridha secukupnya; maka pada keduanya berdiri dalam dirinya pencegah; dan pencegah dari keridaan adalah penyebab hukuman.
-Pengacara: Tetapi secukupnya keridaan menurunkan kejahatan maka mengembalikannya ke pelanggaran seperti dalam hukum Inggris, dan para penafsir memutuskan bahwa selama keridaan tidak dicabut sepenuhnya, maka kejahatan tidak terjadi sepenuhnya.
-Jaksa: Pelanggaran setiap hati adalah kejahatan dari hati khusus ini, dengan cara “kebaikan orang shalih adalah keburukan orang yang didekatkan”; dan yang dianggap di sini adalah kenyataan bukan sifat hukum, dan para penafsir memutuskan bahwa kenyataan kadang menjadi sebab dalam pemberatan hukuman, maka harus diberatkan hukuman dalam perkara ini. Aku tidak meminta putusan dengan pasal 230 pidana tetapi dengan pasal-pasal dari 230 sampai 241 satu pukulan.
-Pengacara: Kau lupa bahwa ini hati dan hukumannya adalah hukuman bagi pemiliknya yang tidak bersalah.
-Jaksa: Kalau begitu aku meminta hukumannya dengan merampas kecantikan: dan ini lebih berat baginya dari hukuman dengan dua belas pasal dan dua puluh dan tiga puluh.
Ketua: Dan apa cara untuk melaksanakan putusan perampasan ini?
Jaksa: Pengadilan memerintahkan semua tempat menari untuk tutup, dan semua teater untuk tutup, dan sinema untuk dibatalkan kecuali yang tidak ada kecantikan di dalamnya tidak ada rayuan tidak ada cinta, dan melarang buka aurat pada wanita kecuali yang tua dan jelek, dan melarang menerbitkan gambar kecantikan di koran dan buku, dan …
Pengacara: Katakan dalam satu kata: harus memperbaiki seluruh dunia untuk memperbaiki hati manusia!
Dan jaksa duduk, maka ketua menoleh ke pengacara dan berkata padanya: Dan adapun dia?..
Pemilik hati yang malang berkata: Pengacara wanita itu berdiri seolah-olah dikelilingi para penjaga yang berdesak-desakan di sekitarnya dari segala penjuru, dan dia tampil di hadapan yang hadir seperti keindahan tampil di hadapan cinta, membawa mereka dalam waktu ke suasana seperti jam bergambar di mana anak-anak menunggu mendengar cerita yang menakjubkan; suasana yang di dalamnya terdapat segala gambaran kenikmatan bagi hati.
Dia membela dengan kata-katanya dan wajahnya membela kata-katanya, sehingga jika dia mengucapkan kebodohan atau kebenaran, maka yang ini benar dan yang itu pun benar, karena salah satu kebenaran itu dapat dilihat dengan mata.
Suara jaksa penuntut adalah kata-kata yang didengar dan dipahami: adapun suara pengacara cantik itu dapat didengar, dipahami, dirasakan, dan dikecap. Dia melemparkannya dari sisi apa yang dapat dipahami, dan jiwa menerimanya dari sisi apa yang dicintai; maka suara itu terhubung dengan dua kebenaran dari maknanya dan makna wanita itu, dan semuanya manis; karena keluar dari mulutnya yang manis.
Dia memulai dan mengambil cermin kecil dari barang-barangnya lalu melihat ke dalamnya.
- Jaksa Penuntut: Apa ini Bu Pengacara?
- Pengacara: Kalian mengklaim bahwa kejahatan ini adalah karangan mata saya, maka saya bertanya kepada mata saya sebelum berbicara!
- Jaksa: Ya Bu, tetapi saya berharap Anda tidak memasukkan perkara ini ke dalam rahasia cermin dan saudara-saudaranya… Kejaksaan khawatir terhadap dakwaannya jika bahasa pembelaan bercelak!
Pengacara wanita itu tertawa, tawa yang merupakan awal kefasihan yang berpengaruh…
- Jaksa: Dari keagungan hukum, pengacara yang mempesona seharusnya tidak mempesona dan tidak menarik di hadapan pengadilan.
- Pengacara: Anda ingin menjadikannya nenek tua atas perintah kejaksaan? (tertawa).
- Jaksa: Kecantikan seorang wanita cantik, dalam kepandaian seorang penggoda, dalam sifat-sifat penari, dalam semangat kekasih, dalam kecerdasan pengacara, dalam kemampuan cinta; ini terlalu banyak!
- Pengacara: Wahai para hakim terhormat, cermin itu bukanlah kelalaian dari sifat wanita, tetapi kata pertama dalam pembelaan, kata yang jawabannya dari jaksa penuntut adalah bahwa dia mengakui pengaruh kecantikan dan bahayanya, sampai-sampai dia khawatir terhadap dakwaannya jika bahasa saya bercelak untuknya.
- Para hakim tersenyum.
- Jaksa: Saya hanya meminta keagungan hukum, keagungan, ya keagungan; karena pengacara di hadapan pengadilan adalah pembicara, bukan wanita yang berbicara.
- Pengacara: Pembicara dengan jenggot yang diprediksi yang dicegah kemunculannya oleh kesulitan (tertawa)…
Tidak wahai Tuan Jaksa; perkara ini memiliki hukum lain yang darinya dapat diambil bukti-bukti; hukum sihir wanita terhadap pria, jadi jika diperlukan saya menari maka saya akan menari, atau menyanyi maka saya akan menyanyi, atau sihir kecantikan maka saya akan membuktikannya pertama-tama pada jaksa…
- Ketua: Bu Pengacara!
- Pengacara: Saya tidak melanggar hukum, karena jaksa dalam kejahatan kita adalah lawan perkara, dan dia juga lawan sifat kewanitaan.
- Jaksa: Jika terjadi sesuatu dari ini, maka itu akan menjadi bisikan kepada emosi pengadilan… maka saya protes!
- Pengacara: Proteslah sesuka Anda, karena dalam perkara cinta keadilan menjadi dua keadilan; karena keadaan terpaksa telah memutuskan dengan hukumnya sebelum Anda memutuskan dengan hukum Anda.
- Jaksa: Kerumitan ini bukan kerumitan dalam sapu tangan Bu, tetapi kerumitan dalam hukum.
- Pengacara: Dan perkara ini bukan perkara penggosongan rumah Tuan, tetapi perkara penggosongan hati!
- Ketua: Pokok persoalan, pokok persoalan!
- Pengacara: Wahai para hakim terhormat, jika niat jahat tidak ada maka pembebasan wajib diberikan.
Ini adalah prinsip yang tidak ada perselisihan padanya; maka apa perbuatan nyata dalam kejahatan hati saya yang malang?
- Jaksa: Permulaannya mencintai penari.
- Pengacara: Ah! Selalu deskripsi ini? Anggaplah dia dalam maknanya tidak layak dikenal; karena dia laki-laki yang takwa, bukankah dalam kecantikannya layak dicintai; karena dia laki-laki penyair? Putuskanlah wahai para hakim; ini penari yang mencari rezeki dan keuntungan, dan artinya dia tergadai oleh sebab-sebabnya, dan artinya dia tunduk pada kata yang membayar… Maka mengapa dia tidak mendapatkannya padahal dia menampakkan diri kepadanya, dan keduanya dari temannya sampai akhir, dan dalam sifat-sifat kerinduan terakhir? Bukankah ini layak mendapat kekaguman hukum Anda sebagaimana layak mendapat kekaguman agama dan akal? Dan jika cinta ini bukan nafsu pikiran, maka apa yang menghalanginya dan mencegahnya menikahi wanita itu?
- Para hakim tersenyum.
- Jaksa: Pengacara lupa bahwa dia pengacara dan berpindah ke kepribadiannya yang berada di ujung dan dalam sifat-sifat kerinduan terakhir… maka saya mohon kembali ke pokok masalah, masalah penari.
- Pengacara: Ah! Selalu penari, siapa wanita malang yang tertawan ini di tangan kelaparan, kebutuhan, dan keterpaksaan? Bukankah dia kumpulan kebajikan yang tertindas? Bukankah dia wanita lapar yang tidak menemukan dari orang-orang jahat kecuali daging bangkai? Ya dia tergelincir, dia jatuh, tetapi dengan apa? Dengan kemiskinan tidak lain, kemiskinan hati nurani dan kewajiban pada laki-laki rusak yang menipunya dan meninggalkannya, dan kemiskinan keadilan dan rahmat dalam masyarakat rusak yang mengecewakannya dan mengabaikannya! Wahai rahmat bagi anak yatim dari keluarga, padahal keluarganya ada! Dan yang terputus dari manusia, padahal manusia di sekelilingnya!
Kalian berkata: wajib dan tidak wajib, kemudian kalian biarkan kehidupan yang zalim membalikkan apa yang dikehendaki sehingga menjadikan apa yang tidak sepatutnya adalah yang sepatutnya, dan membalik apa yang wajib menjadi apa yang tidak wajib, maka jika hilang siapa yang hilang dalam kekacauan ini, kalian berkata kepadanya: urusanmu dengan dirimu sendiri, dan kalian mengibaskan tangan dari dia sehingga kalian menghilangkannya sekali lagi, celakalah kalian wahai kaum! Ubahlah arah sebab-sebab dalam masyarakat rusak ini, maka akan keluar untuk kalian akibat-akibat lain yang tidak rusak.
Wanita datang dari perbuatan laki-laki bukan dari perbuatan dirinya sendiri, maka dia pengikut dan tampak seolah-olah diikuti; dan itulah kezaliman alam terhadap wanita malang; dan karena dia tampak seolah-olah diikuti, masyarakat menzaliminya dengan kezaliman lain sehingga mengambilnya sendirian dengan kejahatan, dan dikatakan: rendah, dan jatuh; padahal dia tidak datang kecuali dari yang rendah dan jatuh!
Mengapa syariat mewajibkan rajam dengan batu pada pezina yang sudah menikah? Apakah syariat menginginkan pembunuhan, penyiksaan, dan pembalasan? Tidak; karena pembunuhan mungkin dengan selain ini dan dengan yang lebih keras dari ini, tetapi itulah hikmah tinggi yang menakjubkan: sesungguhnya pezina ini menghancurkan rumah maka dia dirajam dengan batu-batunya!
Betapa agung dan mulianya engkau wahai syariat alam! Semua batu harus membalas dendam untuk batu rumah keluarga jika runtuh.
Kalian menjatuhkan wanita malang, dan seandainya kalian mengingat penderitaannya pasti kalian akan menemukan di lidah kalian kata-kata perbaikan dan rahmat bukan kata-kata celaan dan aib; dia berusaha dengan keburukannya untuk rezeki; maka apakah arti ini kecuali bahwa dia berusaha untuk rezeki dengan kekuatan terkuatnya? Ya itu adalah arti kefasikan, tetapi bukankah itu juga arti makanan wahai manusia?
- Ketua sambil menyeka matanya: Pokok persoalan, pokok persoalan!
- Pengacara: Apa perbuatan nyata dalam kejahatan hati saya yang malang? Apa kenyataan dari kejahatan yang pelakunya menjadikan dirinya teladan bagi para pemuda dalam meninggikan nalurinya dari maknanya ke yang lebih suci dan lebih indah dari maknanya? Buruk sekali hukum jika hukum menghukum atas perkara yang telah menjadi perbuatan agama dari perbuatan-perbuatan kebajikan!
- Jaksa: Tidakkah dia malu dari perasaannya bahwa dia mencintai penari?
- Pengacara: Apa yang membuatnya malu? Dari keindahan perasaannya atau dari seni perasaannya? Apakah dia malu dari keagungan dalam ketinggian dalam kesempurnaan? Apakah pahlawan malu dari perbuatan perang padahal itu juga perbuatan kemenangan dan kemuliaan?
Apakah kalian mengizinkan wahai para hakim terhormat agar saya menggambarkan untuk kalian keindahan kekasihnya dan menampakkan sesuatu dari rahasia seninya yang merupakan rahasia penjelasan dalam seninya?
- Jaksa: Dia bermain-main dengan kita wahai para hakim terhormat, karena yang diadili karena mabuk tidak masuk pengadilan dengan membawa botol…
- Ketua: Tidak perlu jenis terjemahan kata-kata ke perbuatan ini Bu Pengacara.
- Pengacara: Seringkali kata-kata diterjemahkan salah oleh niat-niat yang mengucapkannya atau yang mendengarkannya; maka kata cinta misalnya mungkin berakhir pada suatu pikiran membawa makna kefasikan, dan kata yang sama itu sampai pada pikiran membawa ke ketinggiannya dari ketinggiannya; dan seperti ini berbeda arti kata hijab pada orang Timur dan Eropa; maka dasar peradaban mereka adalah membolehkan makna-makna ringan dari kesucian… dan memuliakan wanita adalah memuliakan rayuan… mereka berkata: angka satu berbeda dengan angka sepuluh, maka mereka menempatkannya dalam kehidupan wanita, maka betapa cepatnya datang “nol” sehingga menjadi sepuluh itu sendiri!
Adapun orang Timur maka dasar peradaban mereka adalah berpegang pada kesucian dan mengakui wanita dalam hakikatnya, maka tidak heran jika hijab di sini dan di sana dengan dua makna yang bertentangan: kesewenang-wenangan dan keadilan, kekejaman dan rahmat, dan…
- Jaksa: Dan wanita rumah dan wanita jalanan…
- Pengacara: Dan penglihatan hukum dan kebutaan hukum…
- Ketua: Dan sopan santun yang baik dan sopan santun yang buruk… Pokok persoalan, pokok persoalan.
- Pengacara: Tidak, demi Yang memuliakan kalian dengan kehormatan memutuskan, wahai para hakim terhormat; hati yang malang tidak melihat dalam kekasihnya kecuali ekspresi keindahan, maka dia memahaminya dengan pemahaman ekspresi seperti semua objek seni, dan tidak ada antara dia dan dia kecuali bahwa hakikat keindahan mengenalnya padanya, apakah jika penyair merasakan rahasia dari rahasia alam dalam suatu pemandangan dari pemandangan-pemandangannya, kalian berkata dia berdosa dan berbuat dosa?
Ini hati yang memiliki pikiran-pikiran, dan jalannya adalah dibantu pada apa yang terwujud darinya dari seni ini, kalian mungkin berkata: sesungguhnya di alam ada keindahan selain keindahan wanita maka ambillah dari alam dan berilah darinya; tetapi apa yang menghidupkan alam kecuali mengambilnya dari hati? Dan apa cara mengambilnya dari hati kecuali dengan cinta? Dan kalian mungkin berkata: dia menderita dan tersiksa; tetapi tanyalah kepadanya: apakah dia menderita dengan menyadari penderitaan dalam cinta, atau dengan menyadari kekejaman kenyataan dan rahasia kerumitan dalam kebaikan dan kejahatan?
Sesungguhnya penyair-penyair hati tidak selalu berada kecuali di salah satu dari dua ujung: mereka lebih besar dari kesedihan, kebahagiaan lebih dari kebahagiaan; maka jika mereka jatuh cinta mereka melampaui objek tengah yang tidak ada cinta sedang kecuali di dalamnya; dan dari ini maka tidak ada untuk mereka penderitaan sedang dan tidak ada kebahagiaan sedang.
Ini hati yang dipilih dari kekuatan yang memberi wahyu kepadanya, maka yang dicintainya tidak akan ada kecuali dipilih dari kekuatan ini dengan pilihan raja wahyu, dan keduanya dengan ini adalah dua kekuatan di tangan keindahan untuk menyimpan bekas agung sepenuh dua kekuatan yang keduanya agung…
Maka jika kalian berkata bahwa cinta hati ini adalah kejahatan terhadap dirinya, hakikat seni berkata: bahkan menahan kejahatan ini adalah kejahatan.
Sesungguhnya lima puluh dan lima puluh datang darinya seratus, maka ini jelas, tetapi tidak ada yang lebih jelas atau lebih tampak atau lebih terang dari ucapan kita: sesungguhnya kekasih ini dan yang dicintai ini datang darinya seni.
Pemilik hati yang malang berkata: Para hakim pergi ke ruang mereka; untuk bermusyawarah tentang apa yang akan mereka putuskan, dan pengacara cantik memberi isyarat kepadaku memanggilku kepadanya, maka aku bangkit berdiri ternyata aku sedang duduk dan telah terbangun dari tidur.
Hadiah¹: Bagi yang pandai menulis putusan dalam perkara ini lima eksemplar buku “Wahyu Pena”, dan artikel-artikel dikirim “atas nama kami ke Tanta”, dan batas waktu “sampai akhir bulan Januari ini” dan syaratnya ridha para juri, dan di antara mereka pemilik hati yang malang dan kekasihnya…
¹ Catatan: Ini adalah kompetisi yang diadakan oleh pengarang asli untuk pembaca pada masa itu.
Segala yang ditulis tentang dua kekasih tidaklah dapat dipahami sebagaimana yang dipahami dari melihat wajah salah seorang dari mereka menatap wajah yang lain.
Apa yang diketahui mata dari mata tidak diketahui dengan kata-kata, tetapi dengan rahasia-rahasia.
Dan api kerinduan yang berkobar dalam darah sang pencinta bagaikan kegilaan orang gila: ia khusus untuk kepalanya sendiri.
Pelukan kekasih terhadap kekasihnya adalah perasaan yang tidak dapat dipinjam dari dada yang lain, sebagaimana bayi tidak dapat dipinjam untuk perut yang tidak mengandungnya.
Dan kata “ciuman” yang artinya meletakkan mulut, tidak akan sampai kepadanya apa yang dirasakan oleh kedua bibir!
Hari cinta adalah hari yang panjang, tidak berakhir dalam waktu kecuali jika hari pelupaan mulai dalam waktu.
Maka dapatkah makhluk membuat batas yang memisahkan antara dua waktu agar salah satunya berakhir?
Seandainya mereka membuat pelupaan dari bahan nasihat dan manfaat, dan dari seribu dalil dan dalil, bagaimana mereka dapat melakukan yang mustahil, dan bagaimana mereka dapat menempatkan pelupaan dalam hati yang sedang jatuh cinta?
Jika jiwa meleleh karena kelembutan cinta, dengan bahan apakah dibuat padanya kekerasan batu?
Apakah cinta itu selain penampakan tubuh yang indah membawa untuk tubuh yang lain semua rahasianya, yang dipahami olehnya sendiri di dalam dirinya sendiri?
Apakah cinta itu selain tergantungnya jiwa pada jiwa yang tidak dapat dipenuhi oleh yang lain dengan perasaan?
Apakah cinta itu selain pancaran cahaya yang di dalamnya terdapat kekuatan hidup, seperti cahaya matahari dari matahari saja? Dan apakah dalam emas dunia dan kepemilikan dunia terdapat sesuatu yang dapat membeli rahasia-rahasia, perasaan, dan cahaya hidup itu?
Maka apakah cinta itu selain bahwa ia adalah cinta?
Apakah rahasia ini dalam keindahan yang dicintai, selain bahwa pencintanya menyadarinya seolah-olah ia adalah akal bagi akal? Dan apakah kesadaran ini selain terkurungnya perasaan dalam keindahan yang menguasai seolah-olah ia adalah hati bagi hati? Dan apakah keindahan yang menguasai manusia atas manusia, selain kemunculan yang dicintai seolah-olah ia adalah ruh bagi ruh? Tetapi apakah rahasia dalam cinta kepada yang dicintai tanpa yang lainnya? Di sinilah masalah berhenti dan jawaban terputus.
Di sini terdapat rahasia tersembunyi seperti rahasia keesaan; karena ia adalah keesaannya “aku dan kamu”.
Mereka mendebat cinta; mereka berkata: Dunia telah menjadi dunia materi, dan kerohanian hari ini seperti tulang-tulang tua yang tidak berbalut daging yang mencinta.
Dan cinta berkata: Tidak, bahkan materi tidak memiliki nilai dalam ruh; dan hati ini tidak akan berubah menjadi tangan atau kaki.
Mereka mendebat cinta; mereka berkata: Sesungguhnya zaman adalah zaman mesin-mesin, dan kerja rohani tidak ada dalam mesin dan tidak bersama mesin.
Cinta berkata: Tidak, manusia membuat apa yang ia kehendaki, dan hati tetap selalu sebagaimana Sang Pencipta membuatnya.
Dan mereka berkata: Yang lemah keduanya: cinta dan agama, dan yang kuat keduanya: harta dan kedudukan; maka dengan apa cinta menjawab?
Ia datang dengan mutiara rohani dalam diri “Mrs. Simpson”; dan meletakkan untuknya dalam timbangan harta dan kedudukan mahkota terbesar di dunia Edward VIII “Raja Britania Raya dan Irlandia serta wilayah-wilayah Britania di seberang lautan dan Raja-Kaisar India”.
Dan berkompetisilah kerohanian dan materialisme, maka kembalilah mahkota dan apa yang ada padanya hanyalah yang terlemah dari dua makna hati.
Dan cinta mengumumkan tentang dirinya dengan penemuan terbaru dalam pengumuman, maka ia mengguncang seluruh dunia dengan guncangan pers:
Cinta. Cinta. Cinta… “Mrs. Simpson”, wanita cantik itu dengan setengah kecantikan, yang bercerai dua kali. Inilah pilihan cinta!
Tetapi ia adalah yang dicintai; dan setiap yang dicintai adalah perawan bagi kekasihnya meskipun ia menikah dua kali; inilah rahasia cinta!
Tetapi ia adalah yang mempesona dengan segala pesonanya, dan yang menarik dengan segala daya tariknya, dan wanita dengan segala kewanita-annya, inilah perbuatan cinta!
Tetapi ia adalah akal bagi saraf-saraf yang gila, dan ketenangan bagi hati yang gelisah, dan cahaya dalam kegelapan kesedihan; inilah hukum cinta!
Dan karenanya Raja Inggris berkata kepada dunia: “Aku tidak dapat hidup tanpa wanita yang aku cintai”; maka inilah pengumuman cinta.
Jika mereka mengambilnya darinya, mereka mengambilnya dari darahnya, maka itu memiliki makna penyembelihan.
Dan jika mereka merenggutnya, mereka merenggutnya dari jiwanya, maka itu memiliki makna pembunuhan.
Dan apakah pada yang lain terdapat ruh kerinduan yang ada di hatinya, sehingga ada jalan kepada yang lain? Seolah-olah mereka memintanya untuk mati kematian yang di dalamnya terdapat kehidupan.
Dan seolah-olah mereka menginginkan darinya untuk gila kegilaan dengan akal. Inilah kekuasaan cinta!
Dan bagi politik ada argumen-argumen, dan pada “Mrs. Simpson” ada argumen-argumen, dan pada hawa nafsu…
Mahkota, kerajaan, wanita yang bercerai, wanita dari rakyat; maka inilah yang dikatakan politik.
Tetapi ia adalah wanita hatinya, yang menikah dua kali; agar baginya terdapat kenikmatan tiga istri; dan inilah yang dikatakan cinta!
Dan saat yang mengantuk, dan senyuman yang tertidur, dan isyarat yang bermimpi, dan kata “tuanku”; inilah yang dikatakan kecantikan.
Dan cinta menang atas politik. Dan raja menolak untuk menjadi seperti ibu janda dalam kerajaan anak-anaknya yang dewasa.
Tahta menerima seorang laki-laki sebagai pengganti dari laki-laki, maka yang kedua menjadi seperti yang pertama.
Dan cinta tidak menerima seorang wanita sebagai pengganti dari wanita, maka yang kedua tidak akan menjadi seperti yang pertama.
Dan terbanglah di dunia pesan ini: “Aku Edward VIII… melepaskan tahta dan keturunanku setelahku”!
“Dan cinta mengumumkan tentang dirinya dengan penemuan terbaru dalam pengumuman; maka ia mengguncang seluruh dunia dengan guncangan pers”.
Cinta. Cinta. Cinta…
Bom dengan Mesiu, Bukan dengan Air Suling:
Semoga Allah memberikan kehidupan yang baik kepada kalian wahai para pemuda universitas Mesir; kalian telah menulis kata-kata yang membuat setan-setan berteriak ketakutan.
Kata-kata yang jika masing-masing dari mereka dinisbatkan, maka setiap satu dari mereka akan dinisbatkan kepada ayat dari apa yang diturunkan melalui wahyu dalam kitab Allah.
Maka permintaan pengajaran agama untuk para pemuda universitas termasuk dalam ayat ini: “Sesungguhnya Allah hanya hendak menghilangkan dosa dari kalian” (QS. Al-Ahzab: 33).
Dan permintaan pemisahan antara para pemuda dan gadis-gadis kembali kepada ayat ini: “Yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka” (QS. Al-Ahzab: 53).
Dan permintaan untuk menciptakan teladan akhlak bagi umat ini dari para pemuda terdidiknya adalah makna ayat: “Ini adalah pedoman bagi manusia dan petunjuk serta rahmat” (QS. Al-Jatsiyah: 20).
Kekuatan akhlak wahai para pemuda universitas; kalian telah menulis kata-kata yang mendapat tepuk tangan dari seluruh dunia Islam.
Kata-kata yang tidak ada sesuatu yang baru dalam Islam di dalamnya, tetapi segala yang baru bagi kaum Muslim tidak ada kecuali di dalamnya. Kata-kata kekuatan spiritual yang ingin memimpin sejarah sekali lagi dengan kekuatan-kekuatan kemenangan, bukan dengan faktor-faktor kekalahan.
Kata-kata para pemuda suci yang merupakan gerakan kemajuan dalam seluruh umat, maka akan menjadi penggerak bagi seluruh umat.
Kata-kata yang bukan undang-undang, tetapi akan menjadi sebab perbaikan undang-undang…
Kekuatan akhlak wahai para pemuda, kekuatan akhlak: sesungguhnya langkah maju dimulai dari sini…
Para pemuda menginginkan bersama hakikat ilmu juga hakikat agama; karena ilmu tidak mengajarkan kesabaran, kejujuran, maupun tanggung jawab.
Mereka menginginkan kekuatan jiwa bersama kekuatan akal, karena hukum moral dalam masyarakat tidak ditetapkan oleh akal saja dan tidak dilaksanakan olehnya saja.
Mereka menginginkan kekuatan akidah, sehingga jika tidak bermanfaat bagi mereka dalam beberapa kesulitan hidup apa yang mereka pelajari, maka bermanfaat bagi mereka apa yang mereka yakini.
Mereka menginginkan ketinggian religius, karena pemikiran tentang memahami syahwat dengan maknanya adalah pemikiran tentang memahami kewajiban tanpa maknanya.
Mereka menginginkan para pemuda yang luhur dan suci dari kedua jenis kelamin, agar lahir umat baru yang luhur dan suci.
Kekuatan akhlak wahai para pemuda, kekuatan akhlak; sesungguhnya langkah maju dimulai dari sini…
Para pemuda merasakan bahwa mereka kehilangan kekuatan kekebalan spiritual sebesar apa yang mereka abaikan dari agama.
Dan apa itu keutamaan kecuali kekuatan kekebalan dari lawannya? Maka kejujuran adalah kekebalan dari kebohongan dan kehormatan adalah kekebalan dari kehinaan.
Dan para pemuda yang dibebani dengan kewajiban-kewajiban kekuatan adalah kekuatan itu sendiri; dan apa itu agama kecuali kewajiban-kewajiban kekuatan atas jiwa?
Dan para pemuda syahwat adalah para pemuda yang bangkrut dari modal sosialnya, selalu mengeluarkan dan tidak pernah memperoleh!
Dan sekolah-sekolah meluluskan para pemudanya ke kehidupan, lalu kehidupan bertanya kepada mereka: apa yang kalian biasakan bukan apa yang kalian pelajari! Kekuatan akhlak wahai para pemuda, kekuatan akhlak; sesungguhnya langkah maju dimulai dari sini…
Dan para pemuda merasakan makna banyaknya gadis-gadis di universitas, dan mereka memahami makna kelembutan ini yang diciptakan oleh hikmah Sang Pencipta.
Dan wanita adalah alat pemikat secara alami, bekerja tanpa kehendak seperti yang dia kerjakan dengan kehendak, karena melihatnya adalah awal pekerjaannya.
Ya, sesungguhnya magnet tidak bergerak ketika menarik, tetapi besi bergerak kepadanya ketika tertarik!
Dan kapan salah satu dari dua jenis kelamin memahami jenis kelamin yang lain, dia memahaminya dengan dua pemahaman sekaligus dalam satu pemahaman!
Dan kecantikan wanita jika berakhir di hati pria, dan kecantikan pria jika menetap di hati wanita…
Keduanya saat itu adalah dua makna. Tetapi keduanya meskipun bertentangan dengan ilmu adalah dua makna yang menikah.
Tidak, tidak; wahai para pria universitas, jika ada sesuatu yang disebut kebebasan berpikir maka tidak ada sesuatu yang disebut kebebasan akhlak.
Dan kalian berkata: Eropa dan meniru Eropa! Dan kami menginginkan para pemuda yang bekerja untuk kemerdekaan kita bukan untuk ketundukan kita kepada Eropa.
Dan kalian berkata: sesungguhnya universitas-universitas bukan tempat agama, dan siapa yang tidak tahu bahwa dengan ini mereka menjadi tempat kekacauan akhlak.
Dan kalian mengklaim bahwa para pemuda telah belajar cukup agama di sekolah dasar dan menengah sehingga tidak perlu lagi di universitas…
Apakah kalian melihat Islam hanya pelajaran dasar dan menengah saja; ataukah kalian menginginkannya sebagai pohon yang ditanam di sana untuk dicabut di tempat kalian.
Tidak, tidak; wahai para pria universitas, sesungguhnya bom para pemuda pejuang diisi dengan mesiu bukan dengan air suling.
Sesungguhnya para pemuda diciptakan untuk selain zaman kalian, maka jangan kalian rusak kepada mereka indera sosial yang dengannya mereka merasakan zaman mereka. Jangan jadikan mereka budak pendapat-pendapat kalian sedangkan mereka adalah pemuda kemerdekaan; mereka adalah murid-murid kalian, tetapi mereka juga adalah guru-guru umat.
Sungguh telah berbicara dengan lisan kalian bangunan kecil ini yang disebut universitas, dan berbicara dengan lisan-lisan mereka bangunan besar ini yang disebut tanah air.
Adapun bangunan kalian maka dibatasi oleh pendapat-pendapat, impian-impian, dan pemikiran-pemikiran, adapun tanah air maka dibatasi oleh ambisi-ambisi, peristiwa-peristiwa, dan kenyataan-kenyataan.
Tidak, tidak; sesungguhnya kaum Muslim yang memberi petunjuk kepada dunia, telah memberi petunjuk kepadanya dengan roh religius yang mereka kerjakan dengannya bukan dengan impian-impian para filosof.
Tidak, tidak, sesungguhnya keutamaan adalah fitrah bukan ilmu, dan tabiat bukan undang-undang, dan akidah bukan pemikiran; dan dasarnya adalah akhlak agama bukan pendapat-pendapat buku-buku.
Siapa pembicara ini yang berkata kepada umat: “Para universitasan tidak akan menerima siapapun masuk dalam urusan-urusan mereka bagaimanapun keadaannya”?
Apakah ini suara lonceng sekolah untuk anak-anak sekolah berbunyi ting ting.. lalu mereka berkumpul dan patuh?
Sekali-kali tidak wahai orang! Bagiku di universitas ada cetakan yang di dalamnya dicetak kaum Muslim menurut ukuran yang kau inginkan.
Sesungguhnya pendidikan di universitas tanpa agama yang melindungi kepribadian, adalah pengajaran kemaksiatan tingkat tinggi.
“Dan mereka meminta penjelasan kepadamu (Muhammad), ‘Benarkah itu?’ Katakanlah, ‘Ya, demi Tuhanku, sesungguhnya itu benar dan kalian tidak dapat melemahkan (Allah)'” (QS. Yunus: 53).
Kekuatan akhlak wahai para pemuda, kekuatan akhlak… sesungguhnya langkah maju dimulai dari sini.
Yang menyibukkanku adalah apa yang menyibukkan orang-orang tentang pembicaraan mengenai Universitas Mesir dan apa yang diinginkan para mahasiswanya berupa ketakwaan yang menghalangi mereka dari hal-hal yang diharamkan Allah, serta agama yang dapat memurnikan iman ke dalam hati mereka, sehingga sebutan Muslim bagi seorang Muslim tidak seperti sekadar tertulis di atas kertas; kemudian mereka menghendakinya melalui pemisahan antara pemuda dan gadis, sebagai pembersihan bagi tabiat dan nafsu jiwa, menjaga diri dari buruknya pergaulan, menjauh dari kendaraan dosa, dan menjaga sebab-sebab kejantanan pada laki-laki serta sifat-sifat kewanitaan pada perempuan.
Aku membaca semua yang diterbitkan surat kabar, meneliti dan mengkajinya secara mendalam, melihat kata-kata serta maknanya dan makna dari makna-maknanya; dan sebelum itu aku mengikuti rubrik “Si Fulan dan Si Fulanah” di majalah-majalah mingguan yang menulis tentang peristiwa-peristiwa percampuran di universitas, menyebutkan nama-nama, menggambarkan sifat-sifat dan menceritakan hal-hal aneh; semua itu memenuhi dadaku dan terkumpullah kata-kata yang menerjemahkan dirinya kepadaku dalam sebuah mimpi yang aku lihat, dan inilah aku menceritakannya:
Aku melihat diriku di depan pintu universitas seolah-olah aku akan pergi untuk memastikan dengan keyakinan atas prasangka, dan aku telah mengetahui bahwa prasangka dalam hikmah syariat menempati posisi seperti kenyataan; karena tersembunyinya dan banyaknya keberadaannya; maka jika dalam percampuran dua jenis kelamin ada yang dikhawatirkan akan terjadi, maka itu seperti telah terjadi…
Kemudian aku melihat seorang setanah keluar dari universitas dan pergi mengikuti hidungnya, mencium-cium udara dan menghirupnya seolah-olah ada sesuatu di dalamnya, hingga ia condong ke rumpun pohon di sana dari pepohonan yang rimbun di sebelah kanan jalan, lalu berhenti di situ sambil bernapas dan menghela nafas; kemudian ia memperhatikan dan ternyata ada seorang setan menuju ke universitas seperti penyerang dalam serangannya, maka ia memberi isyarat kepadanya, lalu setan itu menghampirinya dan memberinya salam dengan salam para setan, kemudian berkata kepadanya: “Mengapa kau berdiri di sini wahai yang keji? Dan bagaimana kau meninggalkan temanmu yang kau tugasi untuk menjaganya? Dan apa yang bisa dilakukan setan di antara dua jenis kelamin jika tidak dibantu oleh setanah?”
Setanah itu berkata: “Yang menarikku ke sini adalah aroma dua kekasih yang berada dalam bayangan ini, tersembunyi dari mata-mata, dan aku lihat kau seperti sedang pilek, apakah kau dari Al-Azhar…?”
Maka setan itu tertawa dan berkata: “Aku diutus dari rumah sakit jiwa sebagai bantuan untuk setan-setan universitas; mereka membutuhkan pertolongan… Tapi kau bagaimana meninggalkan temanmu karena aroma ciuman pada jarak lima ratus meter? Aku kira sekarang ia tidak lain sedang duduk menulis tentang pencegahan percampuran jenis kelamin dan kewajiban memasukkan pendidikan agama di universitas!”
Setanah itu berkata: “Sesungguhnya temanku lebih mahir dariku dalam kemahiran, lebih teliti dalam tipu daya dan lebih pandai dalam mencari alasan, lebih tajam dalam mencapai tujuan, dan yang sepertinya sedikit di sini, tetapi sedikit kejahatan bukanlah sedikit, karena ia adalah penghubung dan jalan sebagaimana kau ketahui; dan gadis tidak menemukan tempat yang lebih baik dari tempat ini yang menjauhkan darinya kecurigaan sementara ia mendekatkannya kepada kecurigaan dengan percampuran ini bersama para pemuda, dan menyiapkan bagi akalnya sebab-sebab yang menjadi sebab-sebab hatinya; dan aku pernah berada di Eropa, tidakkah kau melihat di sana seorang pemuda dan gadis di sekitar buku ilmu pengetahuan seolah-olah mereka di atas sebotol khamar?”
“Sesungguhnya ilmu pengetahuan ini adalah satu hal dan pergaulan dengan para pemuda adalah hal lain; yang pertama membebaskan pikirannya melampaui batas-batas, sedangkan percampuran membuat pikirannya terbatas dalam batas-batas perasaannya; yang satu menajamkan pikirannya untuk memahami berbagai hal, yang lain menajamkan emosinya untuk memahami laki-laki; dan Allah telah selesai dari penciptaan perempuan, maka ia tidak diciptakan lagi di sini sekali lagi berlawanan dengan fitrah yang diciptakan atas dasar cinta dalam salah satu bentuk yang mungkin, dan bentuk itu adalah pemuda di sini; dan aku setanah telah belajar di universitas bahwa kaidah: ‘tidak ada kehidupan dalam ilmu’, adalah yang memutuskan dalam beberapa keadaan kaidah: ‘tidak ada kehidupan dalam cinta’.”
Setan berkata: “Kau lebih tahu tentang kekuasaan tabiat pada wanita, tetapi yang aku ketahui adalah bahwa kerusakan-kerusakan Eropa masuk ke Timur dalam banyak hal, di antaranya khamar, wanita, kebiasaan, hukum, buku-buku, dan sistem sekolah!”
Setanah berkata: “Dan sesungguhnya kekuasaan tabiat pada wanita selalu mencari rakyatnya selama tidak dikekang dan dicegah dari pencarian; karena ia tidak yakin bahwa ia adalah penguasa kecuali dengan berlakunya hukumnya dan sahnya perintahnya; dan dari rakyatnya adalah pandangan-pandangan kagum, kata-kata pujian, ungkapan-ungkapan rayuan, emosi kecenderungan, dan makna-makna kepatuhan; dan betapa banyak kata dari laki-laki kepada wanita yang tidak ada apa-apanya padanya tetapi seluruh laki-laki itu ada di dalamnya, masuk ke hatinya dan menyusup ke khayalnya; dan betapa banyak ibu yang melihat putrinya pulang ke rumah dan merasakan dengan naluri kewanitaan bahwa bersama putrinya ada khayalan dari jenis kelamin lain!”
“Dan dari manakah muncul cinta selain dari keakraban, percakapan, saling tarik-menarik, dan persaingan yang mereka sebut di sini sebagai kompetisi antara dua jenis kelamin dan mereka anggap sebagai kebaikan dari kebaikan-kebaikan percampuran? Ya, sesungguhnya itu mengasah pikiran dan mendorong untuk mencapai tujuan dari usaha keras, dan dengannya lidah menjadi halus dan terlepas ikatan-ikatannya, dan pemuda menjadi sebagaimana mereka katakan: ‘anak lelucon dan mengerti sindiran…’ dan gadis kembali sementara ia berusaha menjadi manisnya yang dirasa oleh ruh; tetapi amal itu tergantung niat dan perkara-perkara pada akhirnya: dan tabiat itu sendiri menyeimbangkan akal ilmiah dengan kebodohan akhlak, dan mungkin orang yang paling banyak seni dalam kefasikan dan kemesumannya tidak lain adalah seorang alim dari ahli seni atau zindiq dari ahli ilmu, dan tidak ada yang memperbaiki keseimbangan ini kecuali agama, karena dialah yang menetapkan kaidah-kaidah tetap dalam kedua sisi, dan inilah yang diminta oleh orang-orang gila dari para pemuda universitas ini dan hampir mereka berhasil mendapatkannya, kalau saja umat ini tidak diuji dalam setiap peristiwa agamanya dengan memutar-mutar pendapat hingga hilang pendapat itu.”
“Dengarkan -celakalah kau- pemuda ini yang membaca…” Maka setan itu menyimak dan ternyata seorang mahasiswa membaca di hadapan sekelompok orang sebuah tulisan di surat kabar dari salah seorang lulusan universitas yang mengatakan di dalamnya: “Dan karena itu aku nyatakan bahwa percobaan partisipasi dua jenis kelamin di universitas berhasil hingga batas terjauh; dan tidak pernah terjadi selama itu apa yang menyebabkan kegelisahan orang-orang yang gelisah dan seruan untuk pemisahan; bahkan sebaliknya, terjadi apa yang menyebabkan dorongan untuk mengambil percobaan lebih dari keadaannya hari ini.”
Maka setan itu terbahak dan berkata: “‘Kegelisahan orang-orang yang gelisah’… Aku tidak pernah melihat perkataan yang lebih kasar dan kaku dari ini; seandainya ia membela setan dengan kata-kata sinis ini, ia akan kalah dalam perkara…”
Kemudian ia mengguncang setanah itu dan berkata kepadanya: “Kau berbohong kepadaku wahai yang keji, maka apa urusanmu di universitas sementara kau keluar karena aroma ciuman antara dua kekasih pada jarak lima ratus meter; sesungguhnya kata-kata sinis ini adalah bukti, bukti terkuat bahwa gadis di sini melihat sebagai gadis ketika melihat, tetapi mendengar sebagai laki-laki ketika berbicara!”
Setanah berkata: “Tetapi tidakkah kau mendengar perkataannya: ‘mendorong percobaan lebih dari keadaannya hari ini’…? Tidakkah ini membuatmu senang yang pasti akan menyebabkan ‘kegelisahan orang-orang yang gelisah?’ Kemudian aku, si fulanah setanah, telah menjadi sebab dalam sebuah peristiwa yang terjadi dan di dalamnya seorang mahasiswa dari universitas terjebak, tidakkah rayuan dan kebohongan dalam beberapa kata membuatmu senang?”
Setan berkata: “Semua kesenangan, karena ini seni lain dan ilmu yang mengingkari peristiwa yang terjadi dari seorang siswi dan tidak mengakui bahwa itu terjadi, pengingkarannya tidak lain adalah izin untuk terjadinya yang serupa!” Setanah berkata: “Dan seandainya peristiwa itu tidak terjadi, bagaimana universitas mengetahui apa yang terjadi di dalam hati? Dan siapakah yang mampu membaca kisah yang dikarang oleh empat mata di dua wajah? Dan bagaimana mengungkap kebenaran yang awal keberadaannya adalah menyembunyikan pembicaraan tentangnya, dan awal pembicaraan tentangnya adalah bisikan antara dua orang tanpa yang lain? Dan siapakah yang mampu mengulurkan tangannya ke dua hati dalam menerima surat-surat seperti dua kotak pos…?”
“Dengar, dengar yang ini…” Maka setan mencuri dengar dan ternyata seorang mahasiswa membaca di surat kabar lain kepada kelompoknya:
“Dan mereka yang mengklaim bahwa hubungan antara mahasiswi dan mahasiswa berbahaya, sesungguhnya mereka merendahkan akhlak kalian… Dan yang benar wahai teman-teman bahwa yang mendorongku untuk marah dan bangkit tidak lain adalah pembelaan terhadap martabat universitas.”
Setan berkata: “Semua kesenangan, semua kesenangan… Ini perkataan orang cerdik yang licik, sungguh baik perkataannya semoga Allah memberinya kebaikan! Ini ungkapan-ungkapan universitas yang rapi susunannya berdiri atas dasar-dasarnya dari seni politik retorik; dan setiap orang yang mereka sangka dengan tuduhan, ia tidak bisa mengelabui orang dengan lebih baik dari ini atau seperti ini.”
“Dan tidak ada yang lebih kuat bagi kita dari tabiat kuat ini yang merasa kurang sehingga tidak ada urusan baginya kecuali membuktikan dirinya dalam semua yang ia perdebatkan tanpa membuktikan kebenaran meskipun semua orang berada di sisi ini dan ia sendirian di sisi kesalahan.”
“Tetapi ah! Apa yang telah dilakukan orang yang berkata ini? Dan di mana tuduhan yang tidak mengubah namanya dalam bahasa? Dan di mana dosa yang rela diletakkan tangan di atasnya? Dan apakah penyangkalan orang berdosa selain protes dari martabatnya yang palsu dan menampakkan kemarahan dalam beberapa kata?…”
“Sesungguhnya ini seperti yang lain dari orang-orang lemah ketika mereka berargumentasi; alangkah bohongnya kebohongan di sini! Karena kerusakan itu terjadi dari percampuran dua jenis kelamin di universitas Eropa kemudian itu tidak dianggap oleh mereka sebagai perendahan akhlak, dan tidak mengurangi martabat universitas; dan di Prancis berkumpul para pemuda dan gadis dari mahasiswa universitas dan mereka minum khamar dan menari dan berjanji kemudian akhlak tidak berkata kepada mereka: di mana kalian?… Dan di sana di klub-klub khusus mahasiswa mereka memilih ratu kecantikan dari antara mahasiswi setiap tahun, kemudian mereka melepaskan dengan tangan mereka pakaiannya yang disebut pakaian, dan mengelilinginya di ruang-ruang klub seperti seorang pengantin yang dipamerkan kepada seratus suami dalam arti, ‘dan dengan malam yang indah’ wahai martabat universitas… Dan percampuran di sana hampir menjadi salah satu bentuk mazhab sosialis, dan semua yang tersisa pada mereka dari bahasa malu adalah mereka berlembut mengatakan: bahwa mahasiswi ini adalah teman si fulan mahasiswa; mereka mengungkapkan dengan kata persahabatan tentang awal makna dan membiarkan keadaan-keadaan lainnya; karena tidak peduli urusan mereka berdua siapa pun tidak dari mahasiswa maupun dosen… Dan di sana mereka bermaaf kepada para pemuda dalam hal seperti ini bahwa ia adalah pemuda, maka berdiri kata pemuda dalam adat dengan makna kata darurat dalam syariat!”
“Dan mereka telah mengetahui bahwa universitas untuk kebebasan pikiran, dan dari kebebasan pikiran adalah kebebasan kecenderungan, dan dari ini adalah kebebasan minat pribadi, dan dari kebebasan minat adalah kebebasan cinta; dan apakah cinta mengetahui di universitas bahwa ia di universitas sehingga malu dan menjadi sesuatu yang lain selain apa yang ia di setiap tempat? Atau bukankah dalam bahasa pernikahan pada mereka ungkapan ‘melupakan masa lalu gadis’…”
“Tetapi dengar, dengar…”
Maka setanah menyimak; ternyata seorang mahasiswa dari Al-Azhar membaca untuk mahasiswa dari fakultas hukum di surat kabar dari pembelaan salah seorang lulusan universitas!
“Dan mengapa saudara-saudara kita Al-Azhar murka kepada universitas dan percampuran dua jenis kelamin di dalamnya, sementara di Mesir ada sisi-sisi lain yang lebih berhak untuk diperangi dan lebih pantas mendapat perhatian mereka? Mungkin mereka telah lupa keadaan kita di musim panas di pantai-pantai laut, dan orang-orang tinggal di sana berbulan-bulan telanjang atau seperti telanjang.”
Maka setanah berkata: “Apa urusannya dengan ini? Sungguh ia telah mempermalukan dirinya dan mempermalukan universitas, dan apakah ia melakukan sesuatu selain berkata kepada orang-orang Al-Azhar: bahwa kerusakan teringan dari percampuran ini di universitas, dan paling banyak di pantai-pantai laut; maka mengapa kalian membiarkan yang paling berat dan mengambil yang paling ringan?”
Setan berkata: “Celakalah dia! Dan apakah mereka mengambil yang paling ringan di universitas; kecuali karena itu di universitas bukan di tempat lain? Tetapi dengar, apa ini…?”
Maka mereka berdua menyimak suara, ternyata seorang mahasiswa membaca di majalah: “Nona fulanah muncul mengenakan gaun merah transparan pink crepe bermotif coklat dan pita merah di atas putih…”
Setanah berkata: “Ini dia, apakah itu selain warna-warna pikiran di bawah warna-warna pakaian? Dan apakah kekuasaan tabiat pada wanita muncul mencari rakyatnya kecuali dalam warna-warna indah yang merupakan pertanyaan-pertanyaan untuk mata? Sungguh sekelompok mahasiswi di universitas ini memerankan adegan dalam beberapa pesta yang mereka sebut ‘peragaan busana’ dan gadis memamerkan pakaian, dan pakaian memamerkan tubuh, dan tubuh dan pakaian bersama-sama memamerkan gadis! Dan peragaan busana di universitas adalah perintah dari universitas untuk mengabaikan ayat ini: {Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya} (QS. An-Nur: 31).”
Setan berkata: “Beritahu aku tentang temanmu yang kau tugasi untuk menjaganya, apakah kau lihat ia akan datang ke universitas ini jika mereka memakaikan mereka seperti pakaian biarawati dan berkerudung dengan kerudung dan menghilangkan luas tubuh dalam luas pakaian dan mendudukkan mereka di barisan belakang seperti di masjid? Sungguh mereka melakukan seperti ini di beberapa universitas Eropa, melarang mengecat bibir pada gadis-gadis, dan melarang mereka menampakkan perhiasan; maka hilang perhiasan dan yang berhias bersamanya, dan mereka meninggalkan universitas, dan berkata dalam apa yang mereka katakan: bahwa cermin dan merah dan putih dan semacamnya adalah hakikat-hakikat dalam ilmu wanita, dan itu dari cara-cara pencarian setiap gadis tentang laki-lakinya yang tersembunyi di antara laki-laki di universitas atau selain universitas, dan ilmu adalah sarana kehidupan, dan laki-laki adalah sarana sepertinya, tetapi dialah yang lebih berguna dari dua sarana itu bagi wanita dan lebih berhak mendapat perhatian; karena ia tidak menikahi kimia atau fisika atau hukum, dan makna ini dengan selain bahasa yang ada di universitas Mesir bahwa keberadaan gadis bersama para pemuda untuk pendidikan, demikian juga keberadaannya di antara mereka untuk memikat dan tipu daya wanita yang menarik.”
“Dengar, dengar; apa suara yang munkar, kaku, dan kasar ini?”
Maka ia menyimak, ternyata mahasiswa Al-Azhar berkata kepada temannya sambil berdialog dengannya: “Mereka berkata: dan diharamkan atas wanita melihat sesuatu dari laki-laki meskipun tanpa kecenderungan atau takut fitnah, dan jika ia terpaksa untuk pengobatan atau memberi kesaksian atau mengajar atau jual beli atau semacam itu – maka boleh pandangannya sekadar darurat.”
Maka setanah berkata: “Ini perkataan semoga Allah merahmatinya… Sungguh itu dapat diterima seandainya para pemuda belajar di universitas untuk membawa bersama mereka kebenaran sebagaimana mereka membawa bersama mereka ilmu; dan bagaimana mereka bisa demikian sementara makna-makna agama telah menjadi bagi mereka seperti nama-nama negeri yang jauh dalam buku geografi: mereka tidak melihatnya dan tidak meyakininya? Sesungguhnya mereka ingin pengajaran agama di sini. Maka pemimpin-pemimpin mereka berkata kepada mereka: Tidakkah kalian mengetahui shalat dan bahwa itu shalat, puasa dan bahwa itu puasa, zakat dan bahwa itu zakat, haji dan bahwa itu haji? Dan ini perkataan yang menyerupai pelajaran lokasi negeri-negeri di peta, maka Paris adalah kata, dan London adalah kata, tidak lebih; adapun hakikat yang agung dan mengagumkan adalah sesuatu selain perkataan geografis pendidikan ini; karena apa semua kewajiban agama kecuali amal-amal teliti tetap yang harus diwajibkan kepada semua untuk mewujudkan jiwa yang satu dalam semua, dan itu adalah rahasia kekuatan, keagungan, dan kesuksesan; maka pengajaran agama di universitas adalah meyakinkan jiwa dengan menjadikan kewajiban-kewajibannya dari hukum-hukum tetapnya, bukan dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban ini saja, yaitu dengan menganggapnya sebagai ilmu filsafat ruh praktis untuk umat, kemudian menjadikan para pengajar sebagai yang pertama mengamalkannya; agar terwujud makna keyakinan, sehingga pelajaran tidak berubah menjadi olok-olok dan ejekan; dan dengan itu keluarlah pemuda dari universitas dan dalam ruhnya kekuatan tetap yang menggerakkannya pada amal saleh, mengarahkannya kepada kebaikan, memeliharanya di antara hawa nafsu kehidupan dan kesulitan-kesulitannya, dan menjadikannya selalu merasa bahwa ia di tempat yang mulia dari kemanusiaan meskipun ia di tingkat terendah harta dan kedudukan, dan dari situ kembalilah para pemuda dalam umat sebagai alat-alat kekuatan teratur yang bekerja, dan yang paling mudah dikerjakan alat-alat ini adalah menghilangkan kemungkaran-kemungkaran, dan membuat rakyat dengan karya baru untuk damai dan perang…”
Setan berkata: “Dan apa lagi wahai yang keji? Sungguh kau telah menakutiku!”
Setanah berkata: “Dan mengusir kami para setan dari universitas!”
Setan berkata: “Diam celakalah kau! Maka aku tidak diutus dari rumah sakit jiwa kecuali untuk ini; maka tidak akan terjadi pemisahan antara dua jenis kelamin, dan tidak akan masuk pengajaran agama di universitas, dan mereka akan membela bahwa semua ini adalah bentuk kegilaan…”
Kebangkitan Negeri-Negeri Arab 1:
Tidak diragukan lagi bahwa kebangkitan sedang terjadi di negeri-negeri Arab, menyebar ke seluruh penjurunya seperti percikan api yang menyulut api yang berkobar di setiap arah, dan mengambil dari segala sesuatu yang berhubungan dengannya untuk unsur yang membara itu. Tidak diragukan lagi bahwa Timur telah terbebas dari delusi-delusi politik dan takhayul-takhayulnya, dan telah berbeda pendapat dengan Barat setelah sebelumnya menyamainya untuk suatu masa, mengikutinya untuk suatu periode, dan mengenalnya sejauh ia mengujinya, serta mendustakan apa yang pernah dipercayainya, dan menjauh darinya sejauh ia pernah merasa tenang kepadanya. Tidak diragukan lagi bahwa akal Timur telah berkembang dan memahami makna pengingkaran janji dan pelanggaran perjanjian dalam politik Barat, dan mengetahui bahwa hal itu adalah janji dan perjanjian yang sesungguhnya dalam politik ini selama perundingan dan kontrak berlangsung antara serigala dan domba… Tidak diragukan lagi bahwa Timur kini sedang menarik kembali kendali yang telah dilepaskannya, dan memukul rantai-rantai yang mengikatnya, serta mengalami pasang surut dalam kebangkitannya ini. Ia telah sampai pada tingkat rela dengan kehinaan dan menetap dalam penderitaan, serta kebodohan dan pengabaiannya—hingga Eropa mengikat seluruh negerinya dalam beberapa armada yang menariknya seperti tarikan planet-planet terhadap bumi.
Namun dengan semua ini, saya tidak menyebut kebangkitan ini kecuali dari segi kiasan dan perluasan ungkapan, serta petunjuk dari apa yang telah ada kepada apa yang akan terjadi. Karena sebab-sebab kebangkitan yang benar yang berlangsung seiring waktu, tumbuh seperti pertumbuhan pemuda, dan bergerak maju seperti perjalanan umur menuju ajal tertentu—antara kita dan kebangkitan itu masih seperti kematian yang memisahkan kita dari leluhur dan asal-usul kita. Jika tidak, di mana akhlak Timur, dan di mana temperamen akal yang sehat bagi bangsa-bangsa Timur, dan apa ini yang kita alami dari roh yang tidak Timur dan tidak Barat? Kemudian di mana para reformis yang tidak bernegosiasi dengan kekuasaan atau emirat, dan tidak mencari dengan reformasi suatu tujuan dari tujuan-tujuan dunia atau kebatilan dari perhiasannya? Kemudian di mana mereka yang prinsip-prinsip tinggi dan kuat mereka menjadikan mereka korban pertama prinsip-prinsip itu, dan menyirami dari mereka urat bumi yang mendapat nutrisi dari sisa-sisa leluhur untuk menumbuhkan darinya cucu-cucu?
Sesungguhnya jawaban atas kebangkitan suatu bangsa yang kukuh tidak datang dari kata-kata dan seni-seninya, melainkan dari prinsip tetap yang berkelanjutan yang bekerja dalam jiwa rakyatnya. Dan prinsip ini tidak akan demikian kecuali jika berdiri di atas empat rukun: kehendak yang kuat, akhlak yang mulia, meremehkan kehidupan, dan corak khusus bangsa.
Adapun kehendak yang kuat, orang-orang Timur tidak kekurangan itu, dan sesungguhnya keutamaan dalam hal itu adalah bagi politisi Barat yang telah membuat kita melihat diri kita sendiri ketika mereka menempatkan kita bersama bangsa-bangsa lain di hadapan satu cermin dan terus berkata bahwa kita berbeda dari mereka, dan bahwa manusia yang ada di cermin ini berbeda dari individu yang ada di dalamnya… Tetapi di mana akhlak? Dan di mana kemuliaan bangsa? Dan di mana fanatisme Timur? Dan semua kerusakan Eropa ini tercurah ke dalam akhlak orang-orang Timur seperti tercurahnya kotoran kota besar ke dalam sungai kecil yang jernih. Maka agama tidak tersisa dalam diri kita sebagai akhlak, dan akhlak tidak tersisa dalam diri kita sebagai agama. Dan ciri khas Timur menjadi rusak dari segala sisinya dalam roh dan selera, dan tidak tersisa bagi kita sesuatu yang dapat disebut peradaban Timur. Dan orang-orang bodoh dan lemah di antara kita mulai berusaha dalam reformasi mereka untuk menyatukan bangsa dengan akhlak baru yang mereka ambil dari peradaban Barat, dan mereka tidak mengetahui bahwa akhlak yang datang kemudian tidak mengakar sejauh ia merusak akhlak yang telah mengakar. Mereka bergembira jika dikatakan kepada mereka misalnya: bahwa Mesir adalah bagian dari Eropa; dan mereka tidak mengetahui apa yang ada di balik kata ini dari penonaktifan peradaban Timur, dan menghilangkannya, merusaknya, mengeksposnya untuk dicela, dan menguasakan negeri-negeri atasnya, yang tidak perlu kita perluas dalam menjelaskannya.
Saya tidak mengatakan bahwa kebangkitan Timur Arab tidak memiliki dasar; karena ia memiliki dasar dari semangat pemuda, dan pengetahuan orang-orang terpelajar, dan dari kebodohan Eropa yang terungkap oleh perang. Tetapi semua ini, meskipun kuat dan memadai dalam beberapa waktu untuk mendirikan peristiwa-peristiwa besar dan menggelorakan badai-badai politik—tidak dapat memikul beban waktu yang panjang, dan tidak cukup untuk menjadi dasar kukuh yang dapat didirikan di atasnya bangunan beberapa abad peradaban Timur yang tinggi. Bahkan betapa cepatnya ia menuju kehancuran dan pembongkaran, jika tertabrak oleh metode-metode halus dari kecerdikan Eropa yang beragam… Jika ditakdirkan bagi Eropa untuk menang dengan gayanya yang baru, gaya memperbudak Timur dengan persahabatan… dengan cara rubah mengklaim kepada ayam bahwa ia telah berhaji dan bertobat serta datang untuk mengimami mereka…
Yang saya lihat adalah bahwa kebangkitan Timur Arab ini tidak dapat dianggap berdiri di atas dasar yang kukuh kecuali jika dibangkitkan oleh dua rukun yang kekal: agama Islam, dan bahasa Arab. Selain keduanya, mungkin tidak memiliki nilai dalam penghakiman waktu yang tidak memutuskan penghakimannya terhadap sesuatu kecuali dengan dua saksi dari permulaan dan pengakhiran.
Jelas bahwa mayoritas Timur Arab dan materi besarnya adalah yang beragama Islam, dan Islam dalam hakikatnya tidak lain adalah kumpulan akhlak kuat yang bertujuan untuk menguatkan kumpulan dari segala sisi. Demi hidupku, sungguh saya menganggap tokoh-tokoh besar Amerika seakan-akan mereka adalah Muslim sejarah modern dalam sebagian besar akhlak mereka, kalau saja tidak ada perbedaan yang tidak menghalangi mereka untuk jatuh ketika mereka mencapai puncak. Karena salah satu keajaiban dunia adalah bahwa puncak peradaban tinggi adalah permulaan kejatuhan bangsa-bangsa. Dan ini menurut kami adalah rahasia bahwa agama Islam membenci bagi pemeluknya jenis-jenis kemewahan, perhiasan, dan kelembekan, dan tidak melihat seni pahat, lukis, musik, dan berlebihan dalam hal itu serta dalam syair kecuali sebagai yang dimakruhkan, bahkan mungkin ada di dalamnya yang haram jika ada sebab untuk mengharamkannya. Karena seni-seni ini pada umumnya dan dalam sifat manusia adalah yang membawa pada akhirnya kepada kejatuhan akhlak bangsa; dengan apa yang mengikutinya dari gaya kemewahan dan kelemahan yang terampil, dan apa yang diciptakannya bagi jiwa dari seni-seni kelezatan dan tenggelam serta sembrono di dalamnya. Negara Romawi dan negara Arab tidak jatuh kecuali karena gelas dan wanita dan dawai, serta khayalan syair yang memesona dan menghias ketiganya.
Jika bangsa dalam kebangkitannya harus mengalami perubahan, maka kembalinya kita kepada akhlak Islam yang mulia adalah perubahan terbesar yang baik bagi kita dan yang dapat memperbaiki kita darinya. Karena telah jauh jarak antara kita dengan sebagiannya, dan terputus apa yang ada antara kita dengan sebagian yang lain. Jika kita membuang khamar, zina, judi, dusta, dan riya; dan jika kita menolak kewanitaan, bersolek, sembrono terhadap kemungkaran, berlebihan dalam kemaksiatan, kekonyolan, dan kerendahan; dan jika kita mengambil sebab-sebab kekuatan, dan mengamalkan akhlak yang kokoh: dari kehendak, keberanian, dan semangat; dan jika kita menjadikan bagi diri kita corak khusus yang membedakan kita dari selain kami, dan menunjukkan bahwa kita adalah ahli roh dan akhlak—jika semua itu terjadi, maka demi hidupku, apa mudaratnya dalam semua itu, dan bukankah itu adalah akhlak Islam yang benar, dan adakah di bumi kebangkitan yang kukuh yang berdiri di atas selainnya?
Sesungguhnya dari ciri-ciri agama akhlak ini adalah bahwa ia keras dalam hal yang tidak dapat dihindari oleh jiwa manusia jika menginginkan kesempurnaan manusiawi, tetapi fleksibel dalam hal yang tidak dapat dihindari untuk kondisi zaman yang berbeda dari hal yang tidak menghilangkan prinsip-prinsip mulia. Dan tidak tersembunyi bahwa tidak ada yang mencukupi seperti agama dalam kebangkitan bangsa-bangsa Timur khususnya, karena ia sendirian asal yang mengakar dalam darah dan saraf. Dan jika kaum Muslim bangkit dan mereka adalah materi Timur, bangkit pula saudara-saudara mereka dalam tanah air, manfaat, dan kebiasaan dari ahli agama-agama lain, dan mereka terpaksa menyerupai mereka dalam sebagian besar akhlak sosial mereka, dan tidak ada larangan atas kebebasan mereka dalam hal itu kecuali seperti sebagian larangan atas kebebasan pasien jika diberi obat pahit.
Dan karena kaum Muslim adalah saudara berdasarkan nash agama mereka, dan prinsip-prinsip mereka satu, manfaat mereka satu, dan kitab mereka satu; maka tidak heran jika mudah—seandainya mereka kembali kepada akhlak agama mereka dan menjauhi apa yang menghalangi mereka darinya—bahwa mereka menyatukan dari seluruh Timur negara-negara bersatu yang diperhitungkan Barat dengan hitungan yang angka-angkanya tidak berakhir…
Sesungguhnya Timur ini membutuhkan prinsip-prinsip dan akhlak, dan ia dengan itu tersimpan di dalamnya, dan masa depannya tersimpan di dalamnya; namun ia tidak baik dalam buku-buku dan dalam seni-seni, melainkan dalam orang-orang yang berdiri di atasnya. Maka hati dan otak adalah dasar kebangkitan yang benar dan kukuh, dan jika kita merenungkan kebangkitan yang sedang berlangsung ini kita dapati dasarnya rusak dari banyak sisi, dan kita dapati tempat yang tidak dapat diisi kecuali oleh hati yang besar tidak ada di dalamnya kecuali khayalan seorang penulis dari para penulis, dan posisi yang tidak dapat ditutup kecuali oleh kepala yang besar telah ditutup oleh secarik kertas koran…
Dan sungguh Nabi agama ini shallallahu ‘alaihi wa sallam telah meramalkan keadaan ini yang telah sampai kepadanya Timur Arab berhadapan dengan Barat, maka beliau berkata kepada para sahabatnya suatu hari: “Bagaimana kalian jika Bani Ashfar (bangsa Romawi/Barat) berkumpul atas kalian seperti berkumpulnya orang-orang yang makan di atas piring?” Maka Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Apakah karena sedikitnya kami pada hari itu wahai Rasulullah ataukah karena banyaknya?” Beliau berkata: “Bahkan karena banyaknya, tetapi kalian seperti buih seperti buih banjir, telah dilemahkan hati kalian karena cinta dunia.”
Maka lemahnya hati karena cinta dunia—dengan apa yang terkandung dalam ungkapan ini dari makna-makna yang berbeda—adalah penyakit Timur, dan tidak ada obat untuk penyakit ini selain akhlak, dan tidak ada akhlak tanpa agama yang menjadi penopangnya. Ketahuilah bahwa dasar kebangkitan telah diletakkan, tetapi batu besar masih tersisa dan akan diletakkan suatu hari, dan ini yang saya yakini; karena Barat mendorong bersama kita batu ini untuk menetapkannya di tempatnya dari dasar, dan ia mengira bahwa ia mendorong kita menuju lubang untuk mendorong kita ke dalamnya…
Dan ini adalah kebutaan dalam politik yang tidak terjadi kecuali dengan kehinaan dari Allah yang telah ditakdirkan dan ditetapkan-Nya. Dan saya melihat bahwa tidak sepantasnya bagi ahli negeri-negeri Arab untuk mengambil dari unsur-unsur peradaban Barat dengan cara taklid, melainkan dengan cara tahqiq (penelitian), setelah mereka memberikan setiap hal haknya dari pemeriksaan dan membolak-balikkannya dalam keadaan Timur dan Baratnya. Karena taklid tidak menjadi sifat alami kecuali pada lapisan-lapisan yang merosot, dan kerajinan taklid dan kerajinan menyimpang adalah dua cabang dari satu asal, dan tidaklah peniru meniru tanpa penelitian dan pertimbangan kecuali ia menghilangkan sesuatu dalam dirinya dari kemampuan berinovasi dan menghilangkan sebagian ciri khas akalnya. Namun kami tidak menginginkan dari itu untuk tidak mengambil dari kaum itu sesuatupun; karena perbedaan jauh antara mengambil dalam penemuan-penemuan dan ilmu-ilmu, dengan mengambil dari perhiasan peradaban dan hawa nafsu dan seni khayalan serta kilau yang buruk dan baik. Karena pemikiran manusia sesungguhnya menghasilkan untuk seluruh kemanusiaan, maka ia bukan milik suatu bangsa tanpa yang lain; dan akal yang kuat tidak lain adalah bagian dari kekuatan alam.
Jika kita mengambil dari sistem-sistem politik, maka ambillah apa yang sesuai dengan asal yang mengakar dalam adab kita dari syura dan kebebasan sosial sampai batas yang tidak merusak akhlak bangsa dan tidak merusak temperamennya serta tidak melemahkan kekuatannya.
Dan jika kita memindahkan dari sastra dan syair, maka biarkanlah khurafat kaum dan kekonyolan cerita mereka menuju inti pemikiran dan khayalan yang menakjubkan serta inti hikmah, dan marilah kita ikuti cara mereka dalam penelitian dan tahqiq, dan gaya mereka dalam kritik dan perdebatan, serta pendekatan mereka kepada jiwa manusia dengan gaya-gaya bayan yang indah yang merupakan hikmah itu sendiri.
Adapun dalam kebiasaan sosial, maka ingatlah bahwa Timur adalah Timur dan Barat adalah Barat—dan saya tidak melihat kata ini benar kecuali dalam makna ini saja—dan kaum itu di setengah bumi dan kita di setengah yang lain, dan bagi mereka temperamen dan iklim dan sifat dan warisan dari semua itu, dan bagi kita ada yang sesuai dan tidak berbeda. Dan sesungguhnya dalil pertama kemerdekaan kita adalah bahwa kita melepaskan diri dari kebiasaan kaum itu, karena ini pasti membawa kepada pembatalan sifat taklid dalam diri kita, dan memikul kita untuk mengambil bagi diri kita apa yang sesuai dengan tabiat kita dan menumbuhkan selera khusus kita, serta melepaskan bagi kita kebebasan dalam kemerdekaan pribadi. Dan sungguh kita adalah tuan dunia sebelum ada kebiasaan-kebiasaan Barat ini yang kita lihat darinya dan dari pengaruhnya dalam diri kita dari yang paling merusak kejantanan laki-laki kita dan kewanitaan perempuan kita secara sama. Dan para pemuda miskin ini yang menyeru kepada sebagian kebiasaan ini dan bekerja untuk menyebarkannya di lapisan-lapisan bangsa tidak lain seperti yang mengira bahwa Eropa dapat masuk di bawah tarboushnya… Dan sungguh kita lalai bahwa kita mengundang orang-orang Eropa kepada diri kita dan kepada penguasaan atas negeri kita dengan mengadopsi kebiasaan sosial mereka; karena itu adalah jenis kemiripan antara kita dan mereka, dan sisi pendekatkan antara dua jenis yang membantu peleburan yang lebih lemah ke dalam yang lebih kuat dan mempersempit lingkaran perbedaan antara keduanya, kemudian ia dari mana pun dipandang didapati dalam manfaatnya bagi orang-orang Eropa lebih mirip dengan melunakkan suapan keras di bawah gigi pemotong. Dan apakah orang-orang Timur lupa bahwa tidak ada hujah bagi Barat dalam memperbudak mereka kecuali bahwa ia ingin memadanikan mereka?
Dan di mana pun kita mengatakan “agama Islam” maka kita hanya menginginkan akhlak yang ditegakkan olehnya, dan hukum yang menguasai dari akhlak ini atas jiwa Timur. Dan ini menurut pandangan kami adalah segala sesuatu; karena ia adalah yang pertama dan yang terakhir.
Keterangan:
- Bani Ashfar: Sebutan untuk bangsa Romawi/Barat dalam hadits ** Hadits riwayat Abu Dawud dan Ahmad
Jurnalisme Tidak Merugikan Sastra, Melainkan Seni Sastranya
Mereka berkata: Sesungguhnya Al-Asma’i pernah menyangkal penggunaan kata “maalih” dalam bahasa Arab, dan dia berkata: “Yang benar adalah ‘milh’, sedangkan ‘maalih’ ini adalah bahasa rakyat jelata.” Ketika mereka membacakan syair Dzu ar-Rummah yang menggunakan kata tersebut untuk berargumen dengannya, dia berkata: “Sesungguhnya Dzu ar-Rummah pernah bermalam di kedai-kedai pedagang sayur di Bashrah selama bertahun-tahun…”
Guru kami ini bermaksud: bahwa “maalih” pada umumnya adalah barang dagangan para pedagang sayur, dan bahasa mereka adalah bahasa rakyat yang telah menyimpang dari kaidah yang fasih, dialihkan ke arah perdagangan. Namun bagaimana mungkin Dzu ar-Rummah bermalam di kedai-kedai pedagang sayur selama bertahun-tahun hingga kata tersebut melekat pada ucapannya dan sifat kerakatan menariknya ke arah itu, sementara tidak ada yang mencampuri bahasa Arabnya selain kata tunggal ini saja? Al-Asma’i tidak mengatakan apa-apa, tetapi riwayatnya menceritakan bahwa Dzu ar-Rummah turun dari padang pasir ke Bashrah untuk mencari apa yang dicari para penyair. Ketika dia berada di sana, dia mengalami kesulitan dan tidak mendapat makanan untuk perutnya selain roti, dan tidak menemukan untuk roti itu selain “maalih” (asin) dan sayuran “maalih”. Mereka mengenalnya sebagai orang yang sedang dalam kesulitan menuju kemudahan, maka mereka memberikan hutang kepadanya sampai waktu tertentu hingga dia memuji dan mendapat hadiah.
Mereka berkata: Kemudian orang yang dipuji menunda-nunda dan mempermainkannya, dan dia tidak melihat kemudahan dalam mencari nafkah kecuali pada “maalih”, maka dia terus membeli dan mereka terus memberinya hutang karena kasihan kepadanya dan mempertimbangkan kedudukannya dan syairnya dengan baik. Dia melihat bahwa tidak ada jaminan untuk melunasinya kecuali dirinya sendiri. Maka tak ada pilihan baginya selain menampakkan diri kepada mereka dari waktu ke waktu, bergaul dengan mereka, berbicara dengan mereka, dan mendengar dari mereka, sementara mereka pada tabiat mereka dan dia pada wataknya. Kemudian mereka tidak menagih harga darinya, dan terus memberi hutang kepadanya, maka “maalih” tetap menjadi yang paling mudah didapat baginya, sebagaimana dia paling menginginkannya, dan di dalam perutnya lebih enak, karena sifat badui dan kekakuan hidupnya, maka dia mendapat kenikmatan dari “maalih” ini di sisi mereka.
Mereka berkata: Kemudian para pedagang sayur melihat bahwa tidak ada jaminan untuk apa yang telah terkumpul padanya kecuali penyair itu bersama mereka, maka mereka menahan dia di kedai-kedai sepanjang siang hari, dan mengunci dia di dalamnya sepanjang malam yang gelap. Mereka menahannya di siang hari dan dinding-dinding serta pintu-pintu menahan dia di malam hari! Ketika hutang bertambah besar dan mencapai jumlah yang melampaui hitungan hari-hari menjadi hitungan bulan-bulan, penyair itu merasakan kesedihan dan kekhawatiran. “Maalih” tidak lagi bermanfaat baginya, tidak lagi dia rasakan sebagai makanan, melainkan seperti api dalam darah. Dia melihat bahwa dia telah diuji dengan “maalih” yang buruk ini dan telah menggadaikan dirinya untuk itu dan terikat dengannya.
Maka tidak henti-hentinya dari “maalih” itu ada kekhawatiran dalam jiwanya, sakit perut dalam perutnya, kata di lidahnya, dan hutang dalam tanggungannya. Dia tidak berhenti merasa khawatir karenanya, karena dia berada di salah satu dari dua jalan: antara membayar hutang padahal tidak mampu karena bangkrut, atau dipenjara padahal tidak sanggup untuk seorang penyair. Penjara Dzu ar-Rummah karena harga “maalih” adalah penjara di hadapan polisi, tetapi itu adalah pembunuhan atau lebih buruk dari pembunuhan di hadapan kekasihnya “Mayy” jika berita itu sampai kepadanya.
Orang badui kasar yang dipenjara karena harga “maalih” di hadapan penguasa setelah bermalam bertahun-tahun sebagai sandera karenanya di kedai-kedai pedagang sayur, tidak pantas menjadi kekasih bagi Mayy yang adalah: siapa dia: “Dia memiliki kulit seperti sutera dan ucapan yang lembut pinggirnya…” Maka “maalih” bukanlah makanannya, dan kata “maalih” bukan dari ucapan yang ada di mulutnya yang manis. Semoga Allah menjauhkan budak perempuan Habasyahnya jika dia tidak muak dengan dirinya dan kedudukannya dari cinta orang badui kasar dan keras ini yang “maalih” telah menyamakan dengan pencuri dan orang berhutang. Semoga Allah menghinakannya jika cinta orang badui ini kepadanya tidak menjadi kegelapan atas kegelapannya di mata orang, bagaimana lagi dengan Mayy yang lebih jernih dari wanita suci dan lebih putih dari bunga putih?
Mereka berkata: Allah menolong Ghaylan yang malang itu, dia memuji, berpura-pura, dan menyiasat. Orang yang dipuji menjanjikan hadiah jika dia datang besok, dan itu terjadi ketika matahari sedang turun ke peraduannya. Maka penyair itu kembali ke kedai-kedai para kreditornya dari pedagang sayur untuk bermalam lagi di sana malam-malam lainnya. Mereka mengunci dia sementara mereka sudah bosan dengan dia yang makan dan menunda-nunda. Dia sudah hina di mata mereka, mereka tidak menganggapnya kecuali seperti tikus dari tikus-tikus kedai mereka, kecuali bahwa dia makan sampai kenyang. Namanya di sisi mereka bukan lagi Dzu ar-Rummah (Pemilik Tombak), melainkan Dzu al-Ghummah (Pemilik Kesedihan).
Maka mereka tidak memberinya untuk makan malam kali ini kecuali “maalih” lama yang sudah rusak dan busuk. Itu adalah busuk yang disebut makanan, penyakit yang dijual dengan harga, dan kehancuran yang dipaksa dimakan seperti dipaksa makan bangkai. Mereka telah meletakkannya dalam wadah kotor dan berlumut yang sudah lama tidak dicuci dan dibersihkan, di dalamnya ada sisa busuk lama, maka menempel padanya apa yang menempel dan bertumpuk padanya apa yang bertumpuk, dan masuk ke dalamnya apa yang masuk.
Kemudian penyair itu bersiap untuk shalat Isya dengan harapan mendapat berkahnya, agar Allah mengabulkan doanya dan melepaskan dia dari kesulitan. Dia memiliki gelas air untuk wudhunya, tetapi “maalih” yang dia makan telah membakar perutnya dan menyalakan api di ususnya, dan ini di musim panas yang terik. Dia tidak berhenti memadamkannya dengan tegukan demi tegukan, isapan demi isapan, hingga gelas itu habis. Maka dia malas untuk shalat dan melaknat “maalih” dan apa yang ditimbulkannya!
Kemudian rasa lapar menggigitnya, dia memecah kebiasaannya, membaca basmalah dan mencelupkan suapan, kemudian mengangkatnya dan mencium bau busuk. Dia melihat ke dalam wadah dan cahaya telah masuk kepadanya dari lentera penjaga, ternyata dalam “maalih” itu ada kumbang yang telah meledak karena kenyang, dan dia memperhatikan dengan seksama ternyata ada serangga kecil lain yang telah membusuk dan “maalih” telah menghancurkannya dan melakukan ini dan itu!
Mereka berkata: Jiwanya melompat ke tenggorokannya, dan dia tidak melihat wabah dan negeri kuning dan merah kecuali “maalih” ini. Maka dia pindah ke lubang angin kedai untuk menghirup udara darinya dan merasakan kehidupan, sementara itu tertutup besi. Dia tidak berhenti mengawasi malam darinya dan mengukurnya tempat demi tempat dengan hitungan padang pasir. Di antara itu dia melaknat “maalih” sebanyak tasbih orang yang shalat di tengah malam, dan itu berlangsung lama baginya.
Hingga ketika fajar mulai merekah bagi matanya, penyair itu tidak melihatnya kecuali seperti kolam yang memancar air jernih, dan dia berharap cahaya ini mengalir ke dalam perutnya untuk mencucinya dari “maalih” dan kotoran “maalih”. Kemudian Allah mendatangkan pertolongan dan pemilik kedai datang membukakan untuknya. Dzu ar-Rummah pergi kepada orang yang dipuji dan menerima hadiah, lalu kembali ke kedai-kedai pedagang sayur dan melunasi hutangnya kepada pemiliknya. Tidak tersisa bersamanya kecuali dirham yang terhitung, maka dia keluar dari Bashrah dengan keledai sewaan, dan cakrawala dunia telah terbuka baginya, seakan-akan dia lari dari kematian selain kematian, yang namanya bukan kebinasaan, kehancuran, atau pembunuhan, tetapi namanya “maalih”!
Mereka berkata: Keledai itu menggerakkannya untuk bersyair sebagaimana unta pernah menggerakkannya, maka dia berkata: “Semoga Allah menghinakan kamu, hai keledai Bashrah! Kamu dalam kendaraan tidak lain seperti ‘maalih’ dalam makanan!” Kemudian tabiat mengalahkannya, kegembiraan membuatnya melompat dan kehidupan mengguncangnya, maka dia bergairah untuk bersyair dan mengingat kerinduannya, cintanya, dan rumah Mayy. Dalam “alam bawah sadarnya” ada kedai-kedai dan kedai-kedai dari “maalih”, maka “maalih” ini datang dalam syairnya dan masuk dalam bahasanya.
Maka dia mengucapkan syair yang diabaikan Al-Asma’i untuk diriwayatkan karena di dalamnya ada “maalih”, dan saya tidak tahu apa itu, tetapi mungkin seperti ucapan yang lain: “Seandainya dia meludah ke laut dan laut itu ‘maalih’ (asin) … niscaya air laut akan menjadi tawar karena ludahnya”
Atau seperti ucapan yang berkata: “Gadis Bashrah menikah dengan lelaki Bashrah … dia memberinya makan ‘maalih’ dan yang segar”
Ini dalam riwayat yang menggambarkan penjelasan ucapan Al-Asma’i, dan tidak ada jalan lain dalam penjelasan ini. Karena “maalih” telah menjadi kata psikologis dalam bahasa Dzu ar-Rummah, meskipun Al-Ahmar, Al-Aswad, Al-Asma’i, dan Abu Ubaidah tidak menyukainya. Orang itu adalah salah satu hujjah dalam bahasa Arab kecuali dalam kata “maalih”, karena di sini dia adalah pedagang sayur rakyat jelata yang tabiatnya tunduk pada hukum penghidupan, dan dikalahkan oleh apa yang tidak dapat tidak mengalahkan dari dominasi “alam bawah sadarnya”.
Hikmah yang keluar dari riwayat ini adalah bahwa orang yang paling fasih pun akan menyimpang dalam karyanya sesuai kehendak profesinya, dan pasti terjadi kemiripan antara jiwanya dan pekerjaannya. Mungkin dia menginginkan satu makna dengan ucapannya tetapi angan-angan membawanya pada makna lain. Jika ada tempat dalam jiwa yang dirusak oleh pekerjaan, maka kerusakannya akan tampak dalam cita rasa dan pemahaman, lalu mengaburkan tempat-tempat lain.
Maka jangan mengharapkan dari wartawan yang telah menggadaikan jiwanya dengan profesi kata-kata untuk tidak memiliki “maalih” dalam sastra dan retorika seperti maalih Dzu ar-Rummah, meskipun dia adalah orang yang paling fasih, bukan hanya penulis koran yang paling fasih.
“Maalih” yang kami lihat dari seorang penulis fasih dari teman-teman kami adalah bahwa dia menulis di salah satu koran tentang diwan yang dalam syair zaman ini seperti kebangkitan setelah matinya Shawqi dan Hafizh rahimahuma Allah. Dia mendatangkan majaz setelah isti’arah setelah kinayah dari apa yang dikatakan penyair, kemudian berkata: “Ini mengherankan cara berpikirnya. Saya tidak tahu apa yang dia inginkan. Keausan untuk sinar tidak dapat diterima.” Dia terus melanjutkan cara kritik ini kemudian menyimpulkan dengan berkata: “Asal tulisan adalah untuk pemahaman, yaitu memindahkan pikiran atau perasaan dari satu pikiran ke pikiran lain dan dari satu jiwa ke jiwa saya. Tidak ada jalan untuk itu jika ungkapan dihinggapi kelemahan, ketidakjelasan, kekakuan, dan kurangnya perhatian pada ketepatan penyampaian. Jika kamu menggunakan kata tidak pada tempatnya dan bukan untuk apa yang dimaksudkan dengannya, bagaimana kamu mengharapkan saya memahami darimu?”
Tidak, tidak, ini “maalih” dari maalih sastra. Jika kelemahan, ketidakjelasan, kekakuan, buruknya pemahaman, dan lemahnya penyampaian – menurut pendapat penulis – datang dari penggunaan kata tidak pada tempatnya dan bukan untuk apa yang dimaksudkan untuknya, maka keindahan bayan dari tashbih, isti’arah, majaz, dan kinayah tidak memiliki sumber kecuali penggunaan kata tidak pada tempatnya dan bukan untuk apa yang dimaksudkan untuknya.
Dengan cara penulis itu, bagaimana dia menjelaskan firman Allah Ta’ala: “Dan Kami hadapi segala amal yang telah mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan” (QS. Al-Furqan: 23)
Apakah dia akan berkata: Bagaimana Allah menghadapi, apakah Dia sedang tidak ada atau bepergian, dan bagaimana menghadapi suatu amal, apakah amal itu rumah atau kota? Kemudian bagaimana dia menjelaskan ayat ini: “Dan dikatakan: ‘Hai bumi, telanlah airmu'” (QS. Hud: 44). Apakah dia akan bertanya: Apakah bumi memiliki tenggorokan yang digerakkan ototnya untuk menelan, dan jika dia memiliki tenggorokan, apakah tidak boleh melempar ke dalamnya sehingga perlu berkumur dan pengobatan dan kedokteran?
Dan apa yang akan dia katakan tentang hadis Bukhari: “Sesungguhnya aku mendengar suara seperti suara darah, atau suara yang menetes darinya darah” – sebagaimana dalam Al-Aghani. Apakah dia akan mengarahkan keberatan pada suara dan lukanya dan darahnya, dan bertanya: dengan apa dia terluka, dan apa warna darah ini, apakah suara memiliki pembuluh darah sehingga darah mengalir di dalamnya?
Sesungguhnya pemahaman dan pemindahan pikiran serta perasaan bukanlah retorika meskipun itu adalah bagian darinya. Jika tidak, maka tulisan koran semuanya adalah ayat-ayat yang jelas dalam sastra, karena dari segi ini tidak ada yang mencela atau menguranginya, dan tidak pernah gagal dalam memindahkan pikiran atau sulit dipahami.
Di sini ada khewan di restoran seperti restoran “Al-Hati” misalnya, di atasnya ada daging panggang, garam, lada, dan acar berbagai jenis tersusun, dan yang lain di perjamuan pernikahan di istana dengan warna-warna dan bunga-bunganya, dari atasnya ada sinar dan di sekelilingnya sinar-sinar lain dari setiap yang bercahaya di hati menerangi wajah cantiknya. Apakah kamu melihat kemudahan seluruhnya kecuali pada yang pertama? Dan apakah kerumitan seluruhnya kecuali pada yang kedua? Tetapi kerumitan macam apa itu? Itu adalah kerumitan artistik tidak lain, dengannya keindahan ditambahkan pada manfaat, maka berkumpul faedah dan kenikmatan, dihiasi meja dan jiwa bersama-sama. Dan itu juga kerumitan artistik yang menyerasikan antara kreasi alam dan kreasi pikiran, dan mendatangkan roh musik yang menjadi dasar alam semesta yang indah lalu menyebarkannya dalam hal-hal yang menjadi dasar meja yang indah, dan menarik turun rahasia daya tarik sehingga menjadikan meja dengan apa yang ada di atasnya memiliki perasaan yang terhubung dengan hati-hati dari segi menjadikan hati-hati memiliki perasaan yang terhubung dengan meja.
Kerumitan ini yang menggambarkan dalam benda mati ketepatan seni perasaan, itulah seni kemudahan dan spiritualitasnya. Sedangkan kesederhanaan yang ada pada meja yang lain adalah kemudahan material tanpa seni dan roh. Perbedaan antara keduanya adalah bahwa salah satunya membawa puisi yang menakjubkan dari makanan dan apa yang berhubungan dengannya, sedangkan yang lain membawa dari makanan dan apa yang berhubungan dengannya artikel seperti artikel koran!
Wajah pada yang buruk dan yang cantik adalah sama: tidak berbeda dengan anggota-anggotanya atau manfaatnya, tidak dalam menyampaikan makna kehidupan dengan yang paling sempurna. Tetapi keserasian yang indah datang dari kemukjizatan susunannya, takaran bentuknya, dan ketepatan keseimbangannya, dan menjadikannya dengan semua itu menampakkan seni psikisnya dengan kemudahan yang serasi yang merupakan seni dan spiritualitasnya. Sedangkan yang lain tidak menerima seni ini dan tidak menampakkan sesuatu darinya, karena telah kehilangan ketepatan geometris yang merupakan kerumitan seni keseimbangan, dan datang dengan ukuran-ukuran mudah dari panjang ke pendek, ke yang bulat dan yang lebar, ke yang tumbuh dari sini dan cekung dari sana, seperti pipi yang menonjol dan rahang yang cekung. Kemudahan dalam penempatan sebagaimana kebetulan ini, itulah kerumitan mutlak pada seni yang tidak ada tempat di dalamnya untuk kata “sebagaimana kebetulan”.
Cara yang menjadikan keindahan itu indah adalah cara yang sama yang menjadikan bayan itu fasih. Rujukan dalam keduanya adalah pada pengaruhnya pada jiwa. Kamu katakan saja: ini dapat dipahami dan ini tidak dapat dipahami, itu mudah dan yang lain rumit, jelas dan tertutup, lurus pada jalannya dan dialihkan dari jalannya. Kamu dalam hal itu tidak menunjukkan sesuatu yang kamu cela atau puji dalam keindahan atau retorika lebih dari apa yang kamu tunjukkan tentang apa yang dipuji atau dicela dalam dirimu, cita rasamu, dan pemahamanmu.
Makna perbedaan tidak ada pada hal yang diperselisihkan, melainkan pada jiwa-jiwa yang berbeda tentangnya. Sesungguhnya mustahil orang yang cantik dipuji dan dicela karena kecantikannya pada waktu yang sama, jika tidak, dia akan jelek dengan apa yang membuatnya cantik, dan ini lebih jauh dalam kemustahilan. Penilaianmu terhadap sesuatu adalah akalmu sendiri dalam hal itu.
Ketika orang-orang sepakat pada suatu makna yang mereka anggap baik, kamu akan mendapati motif-motif penganggapan baik dalam jiwa mereka berbeda-beda, demikian juga mereka dalam motif celaan jika mereka mencela. Tetapi ketika aspek-aspek yang dengannya terjadi penilaian telah ditetapkan, dan yang berselisih kembali kepadanya serta berkomitmen pada dasar-dasar yang telah ditetapkannya dan cara dalam cita rasa dan pemahaman telah ditetapkan pada mereka, maka itu meniadakan sebab-sebab perselisihan karena makna kesetaraan dan sifat kesesuaian khusus.
Karena itu syarat dalam kritik bayan adalah harus dari penulis yang kreatif dalam bayannya yang tidak dirusak oleh kecenderungan lain, dan dalam kritik syair harus dari penyair yang tinggi derajatnya dan lama berlatih seni ini sehingga dia tidak memiliki kecenderungan lain yang merusaknya.
Majaz, isti’arah, kinayah, dan semacamnya dari gaya retorika tidak lain adalah gaya alami yang tidak dapat dihindari oleh jiwa artistik, karena secara alami dia selalu menginginkan yang lebih besar, yang lebih indah, dan yang lebih tepat. Mungkin itu tampak bagi jiwa selain ini sebagai kepura-puraan, kesusahan, dan meletakkan hal-hal tidak pada tempatnya, dan keluar dari ini bahwa itu adalah kerja kosong, buruknya penyampaian, dan upaya yang tidak berarti. Tetapi seni jiwa penyair menolak kecuali menambah makna-maknanya, maka dia membuat kata-katanya dengan pembuatan yang memberinya kekuatan yang menembus jiwa dan menggandakan perasaannya.
Dari situ penambahan dalam bentuk-bentuk ucapan, pembalikan kata-katanya, dan perputaran makna-maknanya tidak lain adalah persiapan untuk penambahan dalam perasaan jiwa ini. Dari situ syair selalu datang bertambah dengan industri bayan, untuk mengeluarkannya dari menjadi alami dalam alam menjadi spiritual dalam kemanusiaan, dan perasaan yang bergejolak dan bergetar berbeda dengan yang tenang dan tumpul.
Bayan dalam industri bahasa sejajar dengan cara ini, maka kamu akan mendapati dari ungkapan yang hidup bergerak, dan yang kaku terbaring seperti tidur atau seperti mati. Dengan ini hakikat hiasan-hiasan bayan tidak lebih dari industri artistik yang tidak dapat dihindari untuk menimbulkan gejolak dalam kata-kata bahasa yang sensitif agar kata-kata memberikan apa yang tidak dalam kemampuan kata-kata untuk memberikannya.
Mereka telah berbicara akhir-akhir ini tentang kejahatan jurnalisme terhadap sastra. Jurnalisme menurutku tidak merugikan sastra, melainkan seninya. Dia memiliki pengaruh pada naluri orang fasih dan tabiatnya yang dekat dengan apa yang ada pada kedai-kedai pedagang sayur di Bashrah terhadap tabiat Dzu ar-Rummah dan nalurinya. Semakin dekat wartawan dengan keahlian dan haknya pada masyarakat, semakin jauh dia dari seni, keindahannya, dan haknya pada jiwa. Ini jelas tanpa perlu perenungan besar, bahkan jelas tanpa perenungan sama sekali…
Ketika buku saya “Wahyu Hati” terbit, saya membawanya kepada para penulis terkemuka di kantor-kantor surat kabar dan majalah untuk saya berikan kepada mereka; agar mereka membacanya dan menulis tentangnya. Saya adalah orang yang tidak lebih dari apa yang ada pada diri saya, seperti bintang yang mustahil memiliki genangan air; maka saya tidak mengetahui dalam tabiat saya tempat untuk kemunafikan yang dapat mengubah bawang menjadi apel, dan tidak ada tempat dari ketakutan yang dapat mengubah apel menjadi bawang. Saya tidak memberikan hadiah dari buku-buku saya kecuali salah satu dari dua hadiah: entah penghormatan bagi mereka yang saya percayai kesusastraan, kemampuan, dan kebaikan hati mereka, atau peringatan perang bagi selain mereka!
Al-Qur’an sendiri telah ditetapkan Allah di dalamnya perkataan-perkataan orang yang mencela Al-Qur’an, untuk menunjukkan dengan itu bahwa kebenaran membutuhkan orang yang mengingkarinya dan menolaknya, sebagaimana kebutuhannya kepada orang yang mendekatkannya dan menerimanya. Dengan yang satu ia menetapkan keberadaannya, dan dengan yang lain ia menetapkan kemampuannya untuk ada dan bertahan.
Perasaan terhadap kebenaran tidak pernah bisu; jika jiwa itu kuat dan jujur, maka ia mengalir dari batinnya ke lahirnya dalam kata yang murni. Jika ia berkata: tidak atau ya, maka ia jujur dalam keduanya. Jika jiwa itu bengkok, maka tujuan-tujuan dan kepentingan-kepentingan menghalanginya, sehingga ia mengalir dari batin ke batin hingga sampai ke lahir dalam kata yang terbalik; karena ia adalah perasaan terhadap kebenaran yang ditutupi tujuan lain seperti iri hati dan semacamnya. Jika ia berkata: tidak atau ya, maka ia berbohong dalam keduanya.
Ketika saya berkeliling ke kantor-kantor surat kabar dan majalah, saya merasakan di setiap tempat ada pertanyaan yang diajukan tempat itu kepada saya: mengapa kamu tidak datang? Karena pada awal urusan saya, saya tertarik untuk bekerja di pers, dan saya saat itu adalah pelajar yang belum berpengalaman dan sastrawan pemula. Tetapi ayah saya rahimahullah mencegah saya dari itu dan mengarahkan saya ke jalan saya ini, alhamdulillah. Seandainya saya tumbuh sebagai wartawan, saya sekarang akan seperti beberapa huruf yang rusak dalam cetakan.
Pers Arab memiliki urusan yang aneh. Ia semakin lengkap, semakin kurang, dan semakin kurang, semakin lengkap; karena urusan di dalamnya bergantung pada pertimbangan bahwa kebanyakan pembacanya adalah setengah pembaca atau setengah buta huruf. Dengan ini ia seperti metode untuk mengajar membaca sosial atau politik atau sastra; kelengkapannya dengan memperhatikan kaidah-kaidah kekurangan pada pembaca. Ia harus terikat dengan khayalan massa lebih dari terikat dengan kenyataan dirinya sendiri. Ia bersama massa seperti istri yang belum melahirkan, memiliki dari suaminya orang yang memerintahnya dan membuatnya dalam kekuasaan dan keinginannya, dan tidak memiliki dari anak-anaknya orang yang dia perintah dan dia jadikan dalam ketaatan dan pendapat serta adabnya. Kemudian ia adalah pekerjaan jam dan hari, maka betapa jauhnya dari hakikat sastra yang benar; karena di dalamnya dipandang waktu yang kekal, bukan waktu yang berlalu, dan diinginkan dengannya makna keabadian, bukan makna kelupaan.
Tidak ada yang membunuh kejeniusan seperti bekerja di pers ini dengan caranya; karena dasar kejeniusan adalah “apa yang harus sebagaimana harus”; dan kebiasaannya adalah kedalaman dan penetrasi ke dalam rahasia-rahasia hal-hal dan mengeluarkan buah kecil dari pohon besar dengan kerja panjang yang teliti. Adapun pers, dasarnya adalah “apa yang mungkin sebagaimana mungkin” dan kebiasaannya adalah kecepatan dan sekilas pandang dan pengetahuan selintas dan kerajinan seperti kerajinan membuat judul tidak lebih.
Tidak pantas bagi sastrawan untuk bekerja di pers harian ini kecuali jika ia sudah matang dan sempurna dan menjadi seperti negara di “peta”, bukan seperti kota dalam negara di peta; maka saat itu ia tidak mudah dihapus atau diganti. Kemudian ia memberi kekuatan kepadanya dan tidak mengambil kekuatan darinya, dan menjadi mahkota dari mahkota-mahkotanya, bukan manik-manik dari manik-maniknya, dan berdiri di dalamnya seperti mercusuar besar yang memancarkan sinar-sinarnya dari atas udara ke jangkauan yang jauh dari cakrawala, bukan seperti lampu dari lampu-lampu jalan!
Keadaan massa di sini menjadikan pers tempat alami bagi politisi sebelum yang lain; karena politisi adalah suara peristiwa yang bertanya dan menjawab, kemudian diikuti oleh orang yang semi-sarjana, kemudian orang yang semi-aktor komedi. Sastrawan besar berada di atas mereka semua, tetapi ia di pers kita berada di belakang mereka semua!
Setelah saya selesai berkeliling ke kantor-kantor surat kabar, pers itu datang berkeliling pada saya dalam tidur saya. Saya melihat diri saya suatu malam memasuki salah satunya untuk memberikan “Wahyu Hati” kepada sastrawan yang mengkhususkan diri di dalamnya untuk penulisan sastra. Mereka menunjukkan dia kepada saya, ternyata seorang pria sedang bertubuh sedang, buruk rupa, kepala kecil, leher kurus, mata melotot, berputar di rongga matanya dengan putaran liar seolah-olah kehidupan telah menakutinya sejak ia masih janin di perut ibunya; karena ia diciptakan untuk merasakan dan menggambarkan, atau seolah-olah pandangan mengejek ini dipasang padanya agar ia melihat lebih banyak dari yang dilihat orang lain dari rahasia-rahasia ejekan sehingga ia jenius dalam seni-seninya, atau ia diciptakan dengan kedua mata melotot ini sebagai tanda darinya dari kekuatan Ilahi bahwa ia adalah orang yang telah diutus untuk mempertajam pandangan.
Orang yang memperkenalkan saya kepadanya berkata: ini adalah Amr Efendi Al-Jahiz.. dan dia adalah sastrawan surat kabar.
Saya berkata: guru kami Abu Utsman Amr bin Bahr?
Al-Jahiz tertawa dan berkata: dan sastrawan surat kabar, yaitu pengemis surat kabar, menulis untuknya seperti pembaca membaca di makam: dengan roti dan keju dan telur dan uang..
Saya berkata: Inna lillahi! Bagaimana kamu berakhir, wahai Abu Utsman, ke akhir ini padahal kamu termasuk keajaiban dunia? Dan bagaimana kamu padam di pers padahal kamu dahulu pemimpin dalam berbicara?
Dia berkata: akhlakku berhasil maka harapanku gagal, dan seandainya keadaan terbalik, urusan akan terbalik; dan musibah di surat kabar-surat kabar ini adalah bahwa satu orang adalah hukum setiap orang di sini.
Saya berkata: dan orang satu itu, apa hukumnya?
Dia berkata: dia memiliki tiga hukum: pihak-pihak atas dan apa yang dia ilhami darinya, pihak-pihak bawah dan apa yang dia ilhami kepadanya, dan hukum hubungan antara kedua pihak yaitu..
Saya berkata: dan apa itu?
Dia menatap saya dan berkata: apa kebodohan ini? Dan itu adalah yang “dia”.. tidakkah kamu melihat surat kabar seperti segala sesuatu yang dijual? Dan kamu yang terpilih -dan untukmu negara dan kekuasaan di mata pembaca- tidakkah kamu melihat dengan mata kepalamu sendiri bahwa seandainya kamu datang membayar delapan ratus qirsh, kamu akan lebih besar di hati mereka daripada kamu yang datang memberikan delapan ratus halaman penjelasan dan sastra?
Saya berkata: wahai Abu Utsman, maka apa yang kamu tulis di sini?
Dia berkata: sesungguhnya menulis di pers ini adalah gambaran dari penglihatan, maka apa yang kamu lihat dalam… dan dalam… dan dalam?… Dahulu kami meriwayatkan dalam hadis: “akan ada kaum yang memakan dunia dengan lidah mereka seperti sapi menjilat tanah dengan lidahnya”; maka mungkin dari lidah-lidah panjang ini adalah lidah pemilik surat kabar…
Saya berkata: tetapi kamu wahai guru kami telah lupa pembaca dan penilaian mereka terhadap surat kabar.
Dia berkata: pembaca apa pembaca? Dan apa yang membuatmu tahu apa itu pembaca? Dan apa dasar kebanyakan mereka kecuali kebodohan sekolah-sekolah, dan kekonyolan malu, dan kelemahan akhlak, dan kebohongan politik? Sesungguhnya kreativitas, semua kreativitas dalam kebanyakan yang ditulis surat kabar-surat kabar ini, adalah membuat kebohongan berbohong dengan cara baru… dan selama prinsipnya adalah kebohongan, maka penampilannya adalah lelucon; dan manusia dalam kehidupan yang telah mati di dalamnya makna-makna yang keras, kuat, tinggi, maka mereka menginginkan pers yang murah, bahasa yang murah, dan bacaan yang murah; dan dengan ini Al-Jahiz dan orang-orang sepertinya menjadi “paria-paria pers”.
Bel berdering memanggil Abu Utsman kepada pemimpin redaksi, maka dia bangkit kepadanya, kemudian kembali dengan mata yang tidak dikatakan padanya melotot, tetapi keluar… dan berkata: ah. “Dan sia-sialah apa yang mereka perbuat di dalamnya dan batallah apa yang mereka kerjakan” (QS. Hud: 16).
“Tidak demi Dzat yang mengharamkan berlebihan kepada ulama, dan menjelekkan kepura-puraan di hadapan orang bijak, dan memalsukan para pendusta di hadapan para fuqaha, tidak ada yang mengira ini kecuali orang yang sesat usahanya”.
Saya berkata: apa yang menimpamu wahai Abu Utsman?
Dia berkata: celakalah pers! Katakanlah tentang pamanmu apa yang dikatakan peribahasa: pekerjaannya melotot kepadanya.
Saya berkata: tetapi apa ceritanya?
Dia berkata: celakalah pers! Dan Al-Ahnaf berkata: “empat hal jika ada pada seseorang maka dia sempurna, dan siapa yang bergantung pada satu sifat darinya maka dia termasuk orang-orang saleh kaumnya: agama yang membimbingnya, atau akal yang mengarahkannya, atau keturunan yang menjaganya, atau malu yang membuatnya qana’ah”. Dan dia berkata: “mukmin berada di antara empat: mukmin yang iri kepadanya, munafik yang membencinya, kafir yang memeranginya, dan setan yang menfitnah, dan empat hal tidak kurang darinya: yakin, keadilan, dirham halal, dan saudara di jalan Allah”. Dan Hasan bin Ali berkata:…
Saya berkata: wahai guru kami, biarkanlah kita sekarang dari periwayatan dan hafalan dan Hasan dan Al-Ahnaf; maka apa yang menimpamu di hadapan pemimpin redaksi?
Dia berkata: saya tidak pandai dalam perdebatan sengit dalam artikel yang saya tulis hari ini… dan pemimpin redaksi berkata: jika setengah pengelabuan adalah kehinaan? Maka setengah lainnya menunjukkan bahwa itu adalah pengelabuan. Dan dia berkata: kemuliaan tulisan adalah kemerosotan yang fasih; karena pembaca di zaman ini tidak keluar dari hafalan Al-Qur’an dan hadis dan mempelajari buku-buku ulama dan orang-orang fasih, tetapi dari novel-novel dan majalah-majalah lelucon. Dan hafalan Al-Qur’an dan hadis dan perkataan ulama meletakkan dalam jiwa hukum jiwa, dan membuat makna-maknanya siap secara alami untuk merespons makna-makna besar itu dalam agama dan keutamaan dan kesungguhan dan kekuatan; tetapi apa yang diperbuat novel-novel dan majalah-majalah dan foto-foto aktris penyanyi dan berita pelajar si fulan dan pelajar si fulanah dan teater-teater dan tempat-tempat hiburan?
Dan pemimpin redaksi berkata: sesungguhnya penulis yang tidak bertanya pada dirinya apa yang dikatakan tentang saya dalam sejarah, dialah penulis pers yang sesungguhnya; karena uang adalah uang dan sejarah adalah sejarah; dan percetakan surat kabar yang sukses adalah anak perempuan bibi percetakan bank nasional; dan tidak terwujud nasab di antara keduanya kecuali dalam mengeluarkan kertas yang semuanya dibelanjakan dan tidak dikembalikan darinya apa pun!
Mereka ingin menampilkan aib-aib tertulis, seperti peristiwa kemaksiatan dan pencurian dan pembunuhan dan cinta dan lainnya; mereka mengklaim bahwa itu adalah berita yang diriwayatkan dan diceritakan untuk hikayat atau pelajaran, padahal kenyataannya itu adalah berita mereka kepada saraf-saraf pembaca…
Bel berdering memanggil Abu Utsman kepada pemimpin redaksi…
Syekh kami Abu Utsman hilang dari pandangan ke ruang pemimpin redaksi selama beberapa saat, kemudian kembali dengan mata yang berputar di rongganya yang menonjol, wajahnya muram dan cemberut seolah-olah darah hitam yang mengalir di wajahnya, bukan darah merah. Dia hampir meledak karena amarah, sebagian dirinya mendidih seperti air di atas api. Begitu dia duduk, datanglah dua lalat hinggap di kedua sisi hidungnya, melengkapi kesuraman wajahnya yang cacat. Pemandangan keduanya dari mata hitamnya yang menonjol tampak seperti dua lalat yang dilahirkan dari dua lalat lainnya.
Pria itu membiarkan kedua lalat itu dan diam tentang mereka. Maka saya katakan kepadanya: “Wahai Abu Utsman, itu dua lalat, dan konon lalat membawa penyakit.”
Dia tertawa dengan tawa orang yang marah dan berkata: “Sesungguhnya lalat di sini keluar dari percetakan, bukan dari alam. Kebanyakan perkataan dalam surat kabar ini adalah serangga-serangga kata: di antaranya ada yang menjijikkan dan membuat jiwa muak, ada yang mengandung penyakit, dan ada yang berbahaya. Tidak ada pilihan bagi wartawan kecuali membiasakan diri bersabar terhadap sebagian perkataan, seperti orang miskin yang membiasakan diri bersabar terhadap sebagian serangga di pakaiannya. Pemilik surat kabar atau pemimpin redaksi mungkin menyuruhnya menulis kata-kata yang seandainya dia dibebaskan darinya dan disuruh mengumpulkan kutu dan pinjal dari puing-puing orang miskin dan gelandangan sebanyak yang bisa mengisi satu artikel… itu akan lebih ringan dan mudah baginya, dan itu akan lebih jelas dari makna permintaan dan penugasan.”
Bagaimanapun keadaannya, sesungguhnya banyak perkataan surat kabar seandainya Allah mengubahnya menjadi sesuatu selain huruf cetak, semuanya akan menjadi lalat di wajah para pembaca!
Saya berkata: “Tetapi wahai Abu Utsman, kamu pergi dengan ramah kepada pemimpin redaksi dan kembali dengan kesal. Apa yang kamu ingkari darinya?”
Dia berkata: “Seandainya urusan berjalan sesuai dengan yang diinginkan orang naif dan yang tidak tahu akibat-akibat perkara, maka akan batallah pemikiran dan apa yang mengasahnya serta apa yang menyerunya, akan terhentilah jiwa-jiwa dari makna-maknanya dan akal dari buah-buahnya, akan hilang lah hak dan bagian segala sesuatu. Di sana ada seorang pria dari mereka yang berkecimpung dalam politik di negeri ini… dia ingin menciptakan makna-makna lain dalam peristiwa-peristiwa, menghubungkan satu sama lain dengan sebab-sebab yang bukan sebab-sebabnya, mengeluarkan hasil-hasil yang bukan hasil-hasilnya, dan menambal logika dengan tambalan-tambalan seperti tambalan pada kain yang robek. Kemudian dia tidak rela kecuali jika itu menjadi bantahan terhadap kelompok musuh-musuhnya, padahal itu adalah bantahan terhadapnya dan kelompoknya. Dia tidak rela dengan bantahan kecuali jika seperti angin topan yang mendorong seperti arus laut di rawa yang stagnan.
Kemudian pemimpin redaksi tidak menemukan untuk urusan itu selain pekerjaan Abu Utsman dengan kepekaan perasaannya, kekuatan tabiatnya, keindahan penyampaiannya, dan kemampuannya menguasai makna dan lawannya. Seolah-olah Abu Utsman bukan termasuk orang yang menghisab diri mereka sendiri, bukan termasuk yang membedakan dalam pendapat, bukan termasuk yang berdalil dengan dalil, dan bukan termasuk yang memandang dengan hujah. Seolah-olah Abu Utsman ini adalah seorang yang seperti huruf…
Seperti huruf percetakan: diangkat dari satu tingkat dan diletakkan di tingkat lain, dan menjadi apa yang kamu kehendaki. Keadaan terrendahnya adalah tangan diulurkan kepadanya, maka tiba-tiba dia ada di tanganmu.
Aku adalah seorang pria yang mulia dalam diriku, aku adalah pria yang jujur, dan aku bukan seperti mereka yang tidak merasakan sakit dan tidak merasa hina. Jika aku terlibat dalam hal seperti ini, tabiatku akan rusak, kemampuanku akan melemah, kekurangan akan tampak dalam tulisanku, dan aku akan turun dalam kedua sisi. Maka perkataanku tidak akan berjalan sebagaimana yang kuharapkan, dan tidak akan lurus sebagaimana yang kusuka. Maka aku pergi menentangnya dan membantahnya. Dia terbengong menatapku dan membolak-balik matanya di wajahku, seolah-olah penulis baginya adalah pelayan pendapatnya seperti pelayan dapur dan makanannya, ini dari itu.
Kemudian dia berkata kepadaku: ‘Wahai Abu Utsman, aku malu untuk keras kepadamu.’ Dengan perkataan ini dia tidak malu untuk keras kepada Abu Utsman… Dan demi Allah, aku hampir membacakan kepadanya syair Abbas bin Mirdas:
Wahai Kulaib, mengapa setiap hari kamu zalim… Kezaliman itu paling buruk wajahnya yang diketahui
Seandainya aku tidak ingat perkataan yang lain:
Dan tidak ada antara yang tidak memberikan pendengaran dan ketaatan… dan antara Tamim kecuali memotong tenggorokan
Dan memotong tenggorokan serta “memotong dirham” dari satu qafiyah… Dan Saeed bin Abi Arubah berkata: “Agar aku memiliki setengah wajah dan setengah lidah dengan segala keburukan penampilan dan ketidakmampuan berbicara yang ada padanya – lebih aku sukai daripada menjadi orang yang berwajah dua, berlidah dua, dan berkata dua hal yang berbeda.” Dan Ayyub as-Sakhtiyani berkata…” Syekh kami salah ingat dalam hafalan dan riwayat menurut cara biasanya, maka saya katakan: “Dan pemimpin redaksi berkata…?”
Dia tertawa dan berkata: “Adapun pemimpin redaksi, dia berkata: Sesungguhnya tipu daya, menyembunyikan, dan membolak-balik logika adalah semua kefasihan dalam jurnalisme modern. Itu seperti mengubah benda-benda dalam mukjizat para nabi – semoga shalawat Allah atas mereka. Sebagaimana tongkat berubah menjadi ular yang bergerak, padahal itu tongkat dan terbuat dari kayu, demikian pula peristiwa berubah dalam mukjizat jurnalisme jika ditangani oleh penulis fasih dengan kecerdasan yang menakjubkan, logika yang berwarna-warni, dan pengetahuan tentang metode-metode politik. Maka menjadi untuk menakut-nakuti, padahal dalam dirinya adalah ketenangan; untuk tuduhan padahal dalam dirinya adalah kepolosan; untuk kejahatan padahal dalam maknanya adalah keselamatan. Seandainya wartawan yang cerdik meniup segenggam debu, darinya akan beterbangan api dan naik nyala merahnya dalam asap hitamnya.”
Dia berkata: “Dan sesungguhnya logika berwarna-warni dalam politik ini tidak lain adalah penguasaan tipu daya agar orang-orang memercayaimu. Karena rakyat awam dan yang seperti rakyat awam tidak memercayai kebenaran karena dirinya sendiri, tetapi karena tujuan yang disampaikan untuknya. Karena pokok urusan pada mereka adalah iman dan pengagungan, maka berilah mereka rasa manis iman dengan kebohongan, maka mereka tidak akan mengenalnya kecuali sebagai kebenaran dan di atas kebenران. Mereka dari diri mereka sendiri menegakkan bukti-bukti yang menakjubkan dan membantu orang yang berbohong kepada mereka ketika kebohongan itu dikuasai, untuk meyakinkan diri mereka bahwa mereka telah meneliti, memandang, dan meneliti dengan teliti…”
Kemudian Abu Utsman berkata: “Makna semua ini adalah bahwa sebagian rumah pers seandainya menulis kalimat terang-terangan untuk iklan, kalimatnya akan seperti ini: Politik untuk dijual…”
Saya berkata: “Wahai syekh kami, maka kamu di sini pada mereka untuk menulis sebagaimana mereka menulis. Artikel-artikel politik palsu seperti surat-surat cinta palsu: dibaca di dalamnya makna-makna yang tidak ditulis, dan ada dalam ungkapannya kehidupan dan dalam kandungannya permintaan yang membuatnya malu… Peristiwa-peristiwa pada mereka sesuai dengan waktu-waktu, maka yang putih adalah hitam di malam hari, dan yang hitam adalah putih di siang hari. Tidakkah kamu melihat si fulan bagaimana dia berbuat, bagaimana dia tidak kehabisan dalil, dan bagaimana dia mengeluarkan makna-makna?”
Dia berkata: “Ya, dia dan yang sepertinya adalah saksi yang baik! Mereka dipercaya bahkan dalam sejarah penggalian sumur Zamzam.”
Saya berkata: “Bagaimana itu?”
Dia berkata: “Seorang pria bersaksi di hadapan salah seorang hakim tentang pria lain. Pria ini ingin merusak kesaksiannya, maka dia berkata kepada hakim: ‘Apakah kamu menerima darinya padahal dia pria yang memiliki dua puluh ribu dinar tetapi tidak haji ke Baitullah?’ Saksi berkata: ‘Tidak, aku sudah haji.’ Lawan berkata: ‘Maka tanyakan kepadanya wahai hakim tentang Zamzam bagaimana keadaannya?’ Saksi berkata: ‘Aku sudah haji sebelum Zamzam digali, maka aku tidak melihatnya…'”
Abu Utsman berkata: “Inilah cara sebagian mereka dalam hal yang dengan itu mereka mensucikan diri: mereka turun ke makna seperti ini meskipun mereka naik dari ungkapan seperti ini. Karena kehidupan politik adalah perdebatan di surat kabar untuk menafikan yang dinafikan dan menetapkan yang ditetapkan, bukan pekerjaan yang mereka kerjakan dengan penafian dan penetapan. Ketika bangsa ini merdeka, wajib mengubah pers ini dan memaksanya untuk jujur, maka tidak akan ada urusan dalam melepaskan kata pers kecuali dari makna kenyataannya.
Kehidupan merdeka memiliki kaidah-kaidah dan hukum-hukum yang teliti, tidak boleh dilonggarkan selama dasarnya adalah menciptakan kekuatan, menjaga kekuatan, dan mengamalkan kekuatan. Selama tabiatnya berdiri atas menjadikan akhlak rakyat yang memerintah, bukan yang diperintah. Pekerjaan politik sampai sekarang adalah menciptakan kelemahan, menjaga kelemahan, dan kelangsungan kelemahan. Maka kaidah-kaidah kami dalam kehidupan adalah salah. Dari situ akhlak yang kuat dan benar adalah yang aneh dan langka, muncul pada seorang pria setelah pria dan periode setelah periode. Itulah sebabnya pada kami perkataan munafik lebih banyak dari yang bebas, yang bohong lebih banyak dari yang benar, yang membantah lebih banyak dari yang terang-terangan. Maka tidak heran gelar-gelar naik di atas kenyataannya, dan menjadi sifat-sifat jabatan dan kata-kata ‘Pasha’ dan ‘Bey’ dari perkataan yang suci secara jurnalistik…
Ya hamba-hamba Allah! Datang kepada mereka nama sastrawan besar, maka mereka tidak menemukan tempat untuknya dalam ‘berita lokal surat kabar’. Datang kepada mereka nama Pasha atau Bey atau pemilik jabatan besar, maka dengan apa ‘berita lokal’ akan terhormat kecuali dengannya? Ini wajar, tetapi dalam tabiat kemunafikan. Ini wajib, tetapi ketika tunduk adalah yang wajib. Seandainya sastrawan memiliki berat dalam timbangan bangsa, dia akan memiliki seperti itu dalam timbangan pers. Maka kamu melihat bahwa pers di sini adalah gambaran dari rakyat awam, tidak lebih… Siapakah yang akan memperbaiki makna kehormatan yang bekerja untuk bangsa ini dan sejarahnya, padahal kebanyakan gelar pada kami adalah kesalahan dalam makna kehormatan…?”
Kemudian Abu Utsman tertawa dan berkata: “Mereka bercerita bahwa seekor lalat hinggap di kapal perang seorang ‘Admiral’ Inggris pada zaman Perang Besar. Dia melihat panglima besar itu telah membentangkan di hadapannya gulungan kertas dan dia menggambar di dalamnya gambar dari gambar-gambar perang. Dia melihat dia meletakkan titik demi titik tinta dan berkata: ‘Ini kota ini, ini benteng ini, ini medan ini.’ Mereka berkata: Lalat itu mengejeknya dan berkata: ‘Betapa mudahnya pekerjaan ini, betapa ringan dan mudah!’ Kemudian dia hinggap di halaman putih dan mulai meletakkan kotorannya di sana-sini dan berkata: ‘Ini kota, dan ini benteng…’ al-Jahizh menoleh seolah-olah mengira lonceng berbunyi… Ketika dia tidak mendengar apa-apa, dia berkata:
‘Seandainya aku menerbitkan surat kabar harian, aku akan menamakannya “Kebohongan-kebohongan”, maka betapapun aku berbohong kepada orang-orang, aku telah jujur dalam nama, dan betapapun aku salah, aku tidak akan salah dalam menempatkan kemunafikan di bawah judulnya.'”
Dia berkata: “Kemudian aku tulis di bawah nama surat kabar tiga baris dengan tulisan ketiga, ini separuhnya:
Apa kehormatan orang-orang hina? Adalah kebohongan yang mengejek. Apa kekuatan orang-orang lemah? Adalah kebohongan yang membandel.
Apa keutamaan para pembohong? Adalah kelanjutan kebohongan.”
Dia berkata: “Kemudian tidak akan mengedit di surat kabarku kecuali ‘para gelandangan pers’ dari orang-orang seperti al-Jahizh. Kemudian aku berbohong kepada orang-orang kaya, maka aku memuliakan orang-orang miskin yang bekerja; kepada orang-orang terhormat, maka aku mengagungkan pekerja-pekerja miskin; kepada pemilik gelar-gelar, maka aku mendahulukan para sastrawan dan pengarang, dan…”
Dan lonceng berbunyi memanggil Abu Utsman kepada pemimpin redaksi…
Tidak lama kemudian Abu Utsman kembali dari pertemuan kali ini, dan seolah-olah dia tidak datang ke pemimpin redaksi untuk urusan pekerjaan dan tugasnya, melainkan datang ke kepala polisi untuk urusan kejahatan dan hukumannya. Dia tampak berubah wajah dengan perubahan yang buruk yang mengubah penampilannya dan membuatnya semakin jelek… Aku melihatnya dengan wajah yang memanjang dengan cara yang mengerikan, matanya yang menonjol tampak seolah-olah tidak menetap di wajahnya, melainkan tergantung di dahinya…
Dia mulai memukul salah satu tangannya dengan tangan yang lain sambil berkata: “Ini adalah pintu tersendiri dalam ujian dan cobaan, dan tidak ada di dalamnya kecuali beban besar dan kesulitan yang berat. Bekerja di pers ini tidak lain adalah mengujimu dengan kesabaran terhadap dua hal: terhadap hati nuranimu, dan terhadap pemimpin redaksi!”
Salah seorang teman kami bertanya kepada Abu Luqman al-Mamrur tentang bagian yang tidak dapat dibagi itu apa? Dia menjawab: “Bagian yang tidak dapat dibagi adalah Ali bin Abi Thalib semoga damai bersamanya.” Abu al-Aina Muhammad berkata kepadanya: “Apakah tidak ada di bumi bagian yang tidak dapat dibagi selain dia?” Dia berkata: “Ada, Hamzah adalah bagian yang tidak dapat dibagi…” Dia berkata: “Lalu apa pendapatmu tentang Abu Bakar dan Umar?” Dia berkata: “Abu Bakar dapat dibagi…” Dia berkata: “Lalu apa pendapatmu tentang Utsman?” Dia berkata: “Dan dia dapat dibagi dua kali, dan Zubair dapat dibagi dua kali…” Dia berkata: “Lalu apa yang kamu katakan tentang Muawiyah?” Dia berkata: “Tidak dapat dibagi.”
“Kami telah memikirkan takwil Abu Luqman ketika dia menjadikan hari-hari sebagai bagian-bagian yang tidak dapat dibagi, kemana dia pergi? Kami tidak menemukan selain bahwa Abu Luqman adalah ketika dia mendengar para ahli kalam menyebut bagian yang tidak dapat dibagi, hal itu membuatnya takjub dan menjadi besar di dadanya dan dia mengira bahwa itu adalah pintu terbesar dari ilmu filsafat, dan bahwa sesuatu jika menjadi besar bahayanya mereka menamakannya dengan bagian yang tidak dapat dibagi.”
Aku berkata: “Dan pembicaraan kembali kepada pemimpin redaksi…”
Dia tertawa sampai wajahnya cerah kemudian berkata: “Sesungguhnya pemimpin redaksi baru saja menerima perintah bahwa bagian yang tidak dapat dibagi hari ini adalah si fulan, dan bahwa si fulan yang lain dapat dibagi dua kali… dan bahwa makna yang menjadi dasar pendapat surat kabar pada siang hari ini adalah urusan ini dalam pekerjaan ini. Dan bahwa berita ini harus digambarkan dalam bentuk yang sesuai dengan kelaparan rakyat sehingga membuatnya seperti roti yang dimakan semua orang, dan membangkitkan nafsu di jiwa seperti nafsu makan dan sifat seperti sifat pencernaan…
Pemimpin redaksi telah melemparkan keseluruhan berita kepadaku, dan tugasku setelah itu adalah menyalakan api dan membuat tanah menjadi tepung putih yang diuleni, dipanggang, dimakan, dan mudah ditelan di tenggorokan, dicerna perut, dan mengalir di pembuluh darah.
Jika aku menulis tentang ini, aku membutuhkan tambal sulam dan penyamaran, penipuan dan kesalahan, kelicikan dan tipu daya, kebohongan dan fitnah – seperti yang dibutuhkan orang zindiq, dahri, dan mu’aththil dalam mendirikan dalil-dalil tentang kebenaran mazhab yang diketahui semua orang bahwa itu rusak secara pasti, karena diketahui dari agama secara pasti bahwa itu rusak. Di mana lagi kamu lihat kecuali dalam aliran-aliran itu dan dalam pers ini bahwa pembicara mengingkari padahal dia tahu bahwa dia mengingkari, dan berani padahal dia yakin bahwa dia berani, dan keras kepala padahal dia yakin bahwa dia keras kepala?
Memang telah muncul suatu takdir dari takdir, dan pekerjaan dari pekerjaan, dan mazhab dari mazhab. Bahaya mereka adalah bahwa mereka tidak menggunakan dalam meyakinkan, berdebat, dan menipu kecuali kebenaran-kebenaran yang pasti; mereka mengambilnya jika ada dan membuatnya jika tidak ada. Karena pengaruh tidak sempurna kecuali dengan membuat pembaca seperti orang yang bermimpi: pikiran menguasainya dan dia tidak menguasai sesuatu darinya, dan pikiran itu melemparkan kepadanya dan dia tidak menolak, memberi dan tidak membalas kepada yang memberinya.
Aku berkata: “Tetapi apa kebaikan yang mereka inginkan darimu sehingga kamu membuat dari tanahnya tepung putih?”
Dia berkata: “Itu persis urusan yang aku tulis untuk surat kabar ini sendiri untuk membantahnya, mengejeknya, dan menolaknya, dan pada waktu itu dia adalah bagian yang dapat dibagi… Jika hari ini aku membuat kefasihan untuk mendukungnya, menghiasinya, dan memujinya, dan ini tidak mematahkanku, dan tidak menghalangi antara aku dan jiwaku sendiri – paling tidak ini menjadi Jahiz yang mendustakan Jahiz. Ah, seandainya radio diletakkan di ruang pemimpin redaksi agar orang-orang bisa mendengar…”
Aku berkata: “Wahai Abu Utsman, ini seperti ucapanmu: seandainya radio diletakkan di ruang komandan tentara atau kepala pemerintahan.”
Dia berkata: “Ini bukan seperti itu, karena tentara memiliki makna selain kepandaian dalam mengatur kehidupan, mencari rezeki, dan mengumpulkan harta. Dalam rahasianya ada rahasia kekuatan bangsa dan kerja kekuatannya. Dan pemerintahan memiliki hal-hal dalam politik yang tidak digerakkan oleh naik turunnya si fulan, dan tidak dibelokkan sepuluh lebih dari lima. Dalam rahasianya ada rahasia keberadaan bangsa dan sistem keberadaannya.”
Abu Utsman berkata: “Sesungguhnya yang menurunkan pers kita dari kedudukannya adalah bahwa dia tidak menemukan rakyat pembaca yang membedakan, yang benar membacanya dan benar membedakannya, kemudian dia ingin menghabiskan uangnya untuk menciptakan dan membesarkannya. Kerja pers dari rakyat adalah seperti kerja arus dari kapal dalam menggerakkannya dan memudahkan jalannya, hanya saja yang lucu adalah bahwa arus kita pergi dengan satu kapal dan kembali dengan kapal lain…
Seandainya pers Arab menemukan rakyat yang membaca, memahami, membedakan, mempertimbangkan, dan berwawasan, dia tidak akan melemparkan dirinya pada pemerintahan dan partai-partai karena lemah, tidak berdaya, dan malas, dan tidak keluar dari pola alami yang ditetapkan untuknya. Sesungguhnya rakyat dikuasai pemerintahan, dan pemerintahan dikuasai pers, maka dia dari situ adalah lidah rakyat. Pembaca membacanya hanya untuk melihat kata-katanya tertulis. Perasaan individu bahwa dia memiliki hak dalam mengawasi pemerintahan dan bahwa dia bagian dari gerakan politik dan sosial, itulah yang mewajibkan dia membeli surat kabar setiap hari.
Abu Utsman berkata: “Pers tidak kuat kecuali di mana setiap orang adalah pembaca, dan di mana setiap pembaca surat kabar seolah-olah dia editor di dalamnya, maka dia berpartisipasi dalam pendapat karena dia salah satu dari mereka yang pendapat beredar di antara mereka, mengikuti peristiwa karena dia dari bahannya atau peristiwa itu dari bahannya. Dia karena itu menginginkan bahwa surat kabar adalah cerita waktu dan tafsir waktu, dan menjadi baginya seperti pemikiran yang benar bagi pemikir. Maka dia mewajibkan kejujuran dan meminta kekuatan dan mencari petunjuk darinya, dan datang kepadanya di awal setiap hari atau petangnya seperti masuknya salah satu anggota keluarga yang tinggal di rumahnya ke rumahnya.
Dalam sedikitnya membaca di antara kita ada dua bencana: yang pertama adalah kekurangan yang tidak mencukupi apa-apa, dan yang kedua adalah mereka dalam kekurangan mereka tidak terlihat urusan mereka yang terbesar kecuali penyembahan suatu kaum kepada kaum, penghinaan orang kepada yang lain, keterikatan kemunafikan dengan kemunafikan, dan pembenaran kebohongan untuk kebohongan. Bencana ketiga keluar dari pertemuan keduanya: yaitu bahwa kebanyakan mereka dalam membaca surat kabar tidak lain seperti penonton yang berkumpul untuk menyaksikan apa yang mereka hiburan dengannya, atau seperti kekosongan yang mencari apa yang mereka potong waktu dengannya. Mereka mengambil politik dengan cara orang yang tidak berpartisipasi di dalamnya, mengambil keseriusan dengan cara orang yang bermain-main dengannya, menerima pekerjaan dengan semangat pengangguran, tekad dengan gaya tidak peduli, pembahasan dengan pikiran mengabaikan, oposisi dengan sifat ejekan dan penghinaan. Mereka seperti orang yang shalat di masjid; bayangkan bagi dirimu jenis orang yang shalat jika mereka berbaris di belakang imam, mereka meninggalkannya shalat untuk dirinya sendiri dan untuk mereka, lalu mereka pergi.
Abu Utsman berkata: “Dengan ini dan sejenisnya datang surat kabar di antara kita dan kebanyakannya tidak memiliki ketetapan kecuali di tempat dia berada di antara manfaat-manfaatnya dan sarana manfaat-manfaatnya. Dari ini dan sejenisnya adalah bahan terkuat di antara kita bahwa surat kabar muncul penuh dengan pemerintahan, kekuasaan, pasha, dan bey… Dan adalah alamiah bahwa tempat pasha, bey, dan peristiwa pemerintahan yang remeh tidak lain dari surat kabar kecuali di tempat jantung yang hidup dari yang hidup.”
Kemudian syaikh kami tertawa dan berkata: “Aku pernah menulis suatu hari artikel yang aku usulkan kepada pemerintahan untuk memperbaiki gelar-gelar ini, yaitu dengan meletakkan gelar baru yang menjadi penafsir semua gelar dan yang menjadi gelar terbesar di dalamnya. Jika dianugerahkan kepada seseorang, surat kabar menulis begini: Pemerintahan menganugerahi si fulan gelar ‘pemilik harta’.”
Lonceng berbunyi memanggil Abu Utsman ke pemimpin redaksi…
Dia tidak lama kemudian kembali dengan gembira tertawa dan hatinya senang sehingga tidak ada lagi menonjolnya mata kecuali dalam kadar alamiah. Dia duduk kepadaku sambil berkata:
“Akan tetapi pemimpin redaksi tidak menerbitkan artikel itu, dan tidak melihat di dalamnya sesuatu yang menarik atau pembaruan atau lelucon atau hujah yang benar, bahkan berkata: ‘Sepertinya kamu wahai Abu Utsman ingin edisi hari ini memakan edisi besok. Jika kita tidak tertarik pada gelar-gelar dan mengecilkan urusannya dan mengejeknya dan mengatakan bahwa gelar-gelar itu merusak makna penghargaan kemanusiaan dan meninggalkan orang yang tidak mendapatkannya dari pemilik kedudukan dan kekayaan melihat dirinya di samping yang mendapatkannya seperti wanita yang dicerai di samping yang menikah…
Dan kita mengatakan bahwa gelar-gelar itu karena itu hampir menjadi sarana dari sarana mendorong ke penjilatan, kepatuhan, dan kemunafikan kepada orang yang memegang urusan, atau sarana kepada yang lebih hina dari itu seperti yang terjadi pada masa Daulah Utsmaniyah yang telah lalu ketika tanda jasa seperti tambalan dari kulit negara yang mereka tambalkan padanya dada yang mereka robek dan mereka cabut hati nuraninya – jika kita mengatakan ini dan melakukan ini, kita tidak akan menemukan rakyat yang memutuskan untuk kita, dan kita akan menemukan pemilik harta, kedudukan, dan jabatan yang memutuskan atas kita. Maka kita seperti orang yang maju dalam tuduhan tanpa pengacara kepada hakim yang lemah.
Wahai Abu Utsman, hidup ini hanyalah tiga hal: surat kabar, kemudian surat kabar, kemudian kebenaran… Pikiran pertama untuk surat kabar, dan pikiran kedua juga untuk surat kabar. Kapan datang rakyat yang mengatakan: tidak, tetapi kebenaran, kemudian kebenaran, kemudian surat kabar – maka saat itu tidak akan dikatakan dalam pers apa yang dikatakan kepada orang Yahudi dalam kitab Musa: {Kamu jadikan Al-Quran lembaran-lembaran kertas yang kamu perlihatkan dan kamu sembunyikan sebagian besar} (QS. Al-An’am: 91).”
Aku berkata: “Aku lihat kamu wahai Abu Utsman tidak mengingkari sesuatu dari pemimpin redaksi kali ini, maka sulit bagimu untuk tidak mencacinya, lalu kamu sindirnya dengan pembicaraan tentang waktu yang lalu.”
Dia berkata: “Adapun kali ini aku yang menjadi pemimpin bukan dia, dan dalam hal seperti ini pamanmu Abu Utsman tidak termasuk ‘orang-orang terlantar pers’. Laki-laki itu bingung dalam kata: apa wajahnya: apakah dia marfu’ ataukah manshub? Dan dalam lafazh apa itu: apakah Arab ataukah muwallad? Dan dalam ungkapan asing apa yang dinyatakannya dari bahasa Arab yang benar? Dan dalam kalimat: apakah dia dalam polanya lebih fasih ataukah diganti.
Sesungguhnya kamus di sini tidak memberi mereka manfaat apa-apa kecuali jika berbicara…
Sungguh bangsa ini telah diuji di masa akhirnya dengan cinta kemudahan yang dipengaruhi oleh penjajahan dan kebijakannya dan memikul beban darinya dan menjadi sasaran bahaya tanpanya. Maka menyerupainya bahasa sehari-hari dalam bahasa surat kabar, dalam beritanya, dan dalam caranya tidak lain adalah gambaran dari kemudahan hidup itu, dan seolah-olah itu penguatan untuk kelemahan dan kelesuan. Kamu tahu bahwa segala sesuatu berubah dengan apa yang diciptakan sifatnya tinggi atau rendah. Kemudahan telah berubah dari menyerupai bahasa sehari-hari menjadi setengah bahasa sehari-hari dalam tulisan kebanyakan majalah dan dalam surat siswa sekolah, sampai artikel-artikel tampak dalam kata-kata dan maknanya seolah-olah landak yang ingin membawa makanan anak-anaknya, lalu dia memotong sekelompok anggur, membuangnya ke tanah dan menginjaknya dan berguling di dalamnya, kemudian berjalan membawa setiap butir yang rusak dalam dua puluh jarum dari durinya.”
Kemudian Abu Utsman mengulurkan tangannya mengambil majalah dari yang ada di hadapannya yang tangannya kebetulan jatuh padanya lalu memberikannya kepadaku dan berkata: “Baca dan jangan lewati judul setiap artikel.” Maka aku membaca judul-judul ini:
“Tanggung jawab dokter atas gadis perawan”, “Persahabatan penari Cina”, “Dia jatuh pingsan karena mereka menemukan foto kekasihnya”, “Apakah menerima hadiah dianggap sebagai bukti cinta, dan jika itu pakaian dalam… apakah dianggap sebagai janji menikah? Apakah ayah berhak menuntut ganti rugi dari teman putrinya jika putrinya tidak sah”, “Antara dua tunangan untuk satu pemuda”, “Setelah dia ceritakan kepada istrinya berita pesta… mengapa dia menembaknya”, “Pengantin mengambil ‘kalung’ dari dua pemuda lalu mengusir mereka”, “Istri pegawai kemana perginya”, “Mengapa pengantin diculik pada hari yang ditetapkan untuk pernikahan?”, “Di jalan: cinta dengan paksaan” si fulan dan si fulanah, nikah dan cerai, dan berita tempat dansa, dan peristiwa tempat-tempat pelacuran”… dll dll.
Abu Utsman berkata: “Ini adalah kebebasan penerbitan. Jika ini alamiah dalam hukum pers, sesungguhnya itu dosa besar dalam hukum pendidikan. Sesungguhnya anak-anak dan orang lemah menemukan itu pada diri mereka seperti pilihan antara mengambil kewajiban dan meninggalkannya, dan mereka tidak memahami dari kebolehan menerbitkannya kecuali ini.”
“Dan pintu lain dari bentuk ini jauh lebih besar kebutuhan kalian untuk mengetahuinya dan berhenti padanya, yaitu apa yang dibuat berita terutama jika bertemu dari pendengar kurangnya pengalaman. Jika bergabung antara kurangnya pengalaman dan kurangnya kehati-hatian, berita itu masuk ke tempat menetapnya dari hati dengan mudah, dan bertemu tempat yang empuk dan sifat yang menerima dan jiwa yang tenang. Kapan bertemu hati seperti itu dia mengakar dengan akar yang tidak ada cara menghilangkannya.
Kapan dilemparkan kepada para pemuda sesuatu dari urusan para gadis di waktu kepolosan dan ketika dikuasai sifat dan mudanya syahwat dan sedikitnya kesibukan dan…”
Lonceng berbunyi memanggil Abu Utsman ke pemimpin redaksi…
Sambungan:
Abu Utsman datang dengan mata yang menonjol, membuatnya terlihat seperti dua tanda seru yang dilemparkan alam di wajahnya. Mereka memanggilnya “Al-Hadaqi” selain julukan Al-Jahiz, seolah satu julukan saja tidak cukup menggambarkan kejelekan tonjolan pada matanya kecuali dengan sinonim dan bantuan dari bahasa… Dan aku hanya mengingat kedua julukan itu ketika melihat matanya kali ini.
Dia duduk di tempat duduknya seolah sebagian tubuhnya melempar sebagian yang lain karena murka dan kemarahan, atau seolah ada bagian dari tubuhnya yang tidak ingin menjadi bagian dari makhluk yang cacat ini. Kemudian dia tegakkan wajahnya untuk merenungi, dan matanya tampak menonjol seolah hendak melarikan diri dari wajah yang dihuni kesedihan seperti duka yang hidup di dalam hati. Lalu dia terdiam; karena pikirannya sedang berbicara padanya.
Aku memotong keheningannya dan berkata: “Wahai Abu Utsman, engkau pulang dari ruang pemimpin redaksi dengan sesuatu yang bertambah atau berkurang; apa itu, semoga Allah merahmatimu?”
Dia berkata: “Aku pulang dengan bertambahnya kekuranganku, dan ada sesuatu yang tidak akan kukatakan meski ada malaikat-malaikat di bumi yang berjalan dengan tenang, mereka pasti akan berhenti pada pamanmu dan orang-orang seperti pamanmu dari para penulis surat kabar, heran dengan jenis syahid baru ini!”
Dan Ibn Yahya An-Nadim berkata: “Al-Mutawakkil memanggilku suatu hari dalam keadaan mabuk dan berkata: ‘Bacakan untukku syair Imarah tentang penduduk Baghdad,’ maka kubacakan:
Dan siapa yang akan membeli dariku para raja yang mulia Aku jual Hasan dan putraku Hisyam dengan satu dirham
Dan aku beri ‘Raja’ setelah itu sebagai tambahan Dan aku berikan ‘Dinar’ tanpa penyesalan”
Abu Utsman berkata: “Jika mereka meminta tambahan dariku, aku akan menambahkan ‘Abu Dalaf’ dan ‘Al-Mustathil bin Aktsam'”
Celaka penyair ini! Dua orang dengan satu dirham, dan dua orang tambahan di atasnya karena besarnya dirham, dan dua orang tambahan lagi di atas tambahan karena kemuliaan dirham: seolah dia pemimpin redaksi surat kabar yang melihat dunia telah dipenuhi penulis, tapi ada sesuatu yang tidak akan kukatakan.
Mereka menceritakan bahwa Kisra Abarwiz berada di rumah istrinya Syirin, ketika seorang nelayan datang membawa ikan besar. Dia kagum dan memerintahkan memberi empat ribu dirham kepadanya. Syirin berkata: “Engkau memerintahkan memberi nelayan empat ribu dirham, jika engkau memerintahkan hal itu untuk orang terhormat, dia akan berkata: ‘Dia hanya memerintahkan untukku seperti yang diperintahkan untuk nelayan!'”
Kisra berkata: “Bagaimana aku berbuat sedangkan aku sudah memerintahkannya?”
Dia berkata: “Jika dia datang padamu, katakan: ‘Beritahu aku tentang ikan itu, jantan atau betina?’ Jika dia berkata betina, katakan: ‘Tidak akan jatuh padamu sampai engkau membawa pasangannya,’ dan jika dia berkata selain itu, katakan hal yang sama.”
Ketika nelayan datang ke raja keesokan harinya, raja berkata: “Beritahu aku tentang ikan itu, jantan atau betina?” Dia berkata: “Betina.” Raja berkata: “Maka bawakan aku pasangannya.” Nelayan berkata: “Semoga Allah memperpanjang umur raja, ikan itu masih perawan, belum menikah…”
Aku berkata: “Wahai Abu Utsman, apakah engkau mengalami dilema seperti ini dengan pemimpin redaksi?”
Dia berkata: “Tidak berguna bagi pamanmu bahwa ikannya masih perawan, karena mereka hanya ingin mengeluarkannya dari surat kabar; dan apa arti kefasihan Abu Utsman Al-Jahiz dibandingkan kefasihan telegraf, kefasihan berita, kefasihan angka, kefasihan kuning, dan kefasihan putih… tapi ada sesuatu yang tidak ingin kukatakan.
Dan ikan ini adalah artikel yang kujadikan bagus dan kukuasai, dan kucapai dengan kata-kata dan maknanya tingkatan tertinggi kemuliaan dan derajat tertinggi kefasihan, dan kujadikan dalam kefasihan sebagai kelas tersendiri. Sebelum orang Eropa mengatakan ‘Yang Mulia Pers’, Al-Ma’mun berkata: ‘Para penulis adalah raja atas manusia.’ Maka pamanmu Abu Utsman ingin menjadikan dirinya raja dengan artikel itu, tapi ternyata dia menjadi ‘gelandangan pers’.
Artikel itu seperti pengantin dengan hiasannya di malam penampilan untuk kekasihnya, tidak lain adalah matahari yang bersinar, tidak lain adalah kerinduan dan kenikmatan, tidak lain adalah penemuan rahasia cinta, tidak lain adalah dirinya; tapi pengantin itu di mata pemimpin redaksi adalah yang diceraikan, dan yang dikagumi menjadi yang ditertawakan. Dan orang itu berkata: ‘Secara teori ya, tapi secara praktis tidak; ini zaman ringan yang menginginkan yang ringan, masa awam yang menginginkan yang awam, dan khalayak mudah yang menginginkan yang mudah; dan kefasihan adalah i’rab kalimat bukan mengarahkannya dengan kekuatan kefasihan, pikiran, dan bahasa, maka hari ini telah keluar dari seni-seninya dan menetap dalam ilmu nahwu.
Dan cukuplah bagimu perbedaan antara engkau dan pembaca awam: bahwa engkau tidak salah tata bahasa sementara dia salah.”
Abu Utsman berkata: “Dan ini – semoga Allah memuliakanmu – adalah kedudukan di mana yang khusus berkurang dan yang awam bertambah, sehingga hampir tidak ada setelahnya kecuali kemenangan bahasa awam, dan kembali semua kalimat jurnalistik menjadi pasar, kampungan, ‘hanshashi’, dan terbalik nahwu itu sendiri menjadi tidak lain adalah kepura-puraan, kesulitan, dan kemegahan seperti yang mereka lihat sekarang dalam kefasihan. Yang sedikit dari kewajiban berakhir pada yang lebih sedikit; dan yang lebih sedikit berakhir pada ketiadaan, dan kemerosotan cepat dimulai dengan satu langkah, lalu setelahnya engkau tidak dapat mengendalikan banyak langkah.
Tidak heran rasa rusak dan sastra rusak dan banyak hal rusak yang semuanya dulunya baik, dan datang seni-seni penulisan yang tidak lain adalah tabiat penulisnya yang bekerja pada pembacanya seperti kerja tabiat hidup pada yang bergaul dengannya. Seandainya dalam undang-undang negara ada tuduhan merusak sastra atau merusak bahasa, pasti ditangkap banyak orang yang tidak menulis kecuali sebagai profesi hiburan dan pengisi waktu luang serta kerusakan dan perusakan; dan musibahnya pada orang-orang ini adalah apa yang mereka klaim bahwa mereka menyegarkan pembaca dan menghibur mereka, padahal kita bekerja dalam kebangkitan ini untuk mengobati hiburan yang menjadikan separuh keberadaan politik kita tiada; lalu untuk mengisi kekosongan yang menjadikan separuh kehidupan sosial kita pengangguran; dan ini juga yang menjadikan pamanmu Abu Utsman dalam pers ini sebagai ‘gelandangan pers’, dan meninggalkannya dalam perbandingan antara dia dan sebagian penulis seolah dia di kemarin dan mereka di besok.
Dan bel berbunyi memanggil Abu Utsman ke pemimpin redaksi…
Aku tidak ragu mereka akan memecatnya, karena Allah tidak menganugerahinya lidah percetakan yang cerewet yang seperti tersambung dari otaknya ke kotak huruf… dan tidak menjadikannya seperti politisi-politisi ini yang dengannya kemunafikan sempurna dan mereka berubah-ubah, atau seperti sastrawan-sastrawan ini yang dengannya penyesatan sempurna dan mereka berubah bentuk.
Dan kembali guru kami seperti tercekik yang dilepaskan sambil berkata: “Celaka orang itu! Celaka karena ucapan manis yang dikatakan di depan wajah untuk didorong di belakang tengkuk… Seharusnya pers harian ini tidak dimiliki kecuali oleh majelis umat; itulah perbaikan umat, pers, dan penulis semuanya; adapun di surat kabar ini, penulis memanggang rotinya di atas api yang memakan darinya seukuran yang dia makan dari rotinya; seandainya pamanmu dalam kemudahan, kemewahan, dan kelapangan, maka dalam ketidakbutuhannya pada mereka adalah kebutuhan mereka padanya; tapi pedang yang tidak menemukan pekerjaan untuk pahlawan, lebih disukai jarum yang bekerja untuk penjahit. Dan apa yang pamanmu Abu Utsman miliki? Dia memiliki apa yang tidak akan turun darinya tanpa raja-raja, tidak dengan seluruh dunia, tidak dengan matahari dan bulan; karena dia memiliki akalnya dan kefasihannya, meski dia disewa di sini dengan akalnya dan kefasihannya, dan dia berakal apa yang mereka mau dan menulis apa yang mereka mau.
Demi Allah aku akan jujur padamu tentang profesi harian ini: bahwa penulis ketika keluar dari surat kabar ke surat kabar, tulisannya keluar dari agama ke agama…”
Dan aku melihat guru kami seolah pemimpin redaksi meletakkan seperti mesiu di otaknya lalu menyalakannya, maka aku ingin bercanda dengannya dan menghiburnya, aku berkata: “Dengar wahai Abu Utsman, kemarin datang padaku kasus yang akan dibawa pemiliknya ke pengadilan, dan dia menulis dalam pengajuan gugatannya bahwa tetangga rumahnya merampas sebidang tanah halamannya yang ditinggalkannya di sekitar rumah, dan membangun rumah di tanah ini, dan membuka jendela-jendela untuk rumah ini, maka dia ingin dari hakim untuk memutuskan pengembalian tanah yang dirampas, menghancurkan rumah yang dibangun di atasnya… dan menutup jendelanya yang terbuka!..”
Al-Jahiz tertawa sampai memegang perutnya dengan tangannya dan berkata: “Ini sastrawan besar seperti sebagian yang menulis sastra di pers; kata-katanya banyak dan akalnya kurang. ‘Ditanya sebagian ulama: kapan sastra menjadi lebih buruk dari ketiadaannya?’ Dia berkata: ‘Jika sastra banyak dan bakat kurang.’ Dan sebagian orang terdahulu berkata: ‘Barang siapa akalnya tidak paling dominan dari sifat-sifat kebaikan padanya, maka kematiannya ada pada sifat kebaikan yang paling dominan padanya; dan semua ini saling berdekatan.'”
Dan sastra sendiri adalah yang ditinggalkan dalam pers ini bagi siapa yang menanganinya bagaimana dia menanganinya; karena dia yang termurah di dalamnya, dan itu hanya sastra; karena bangsa-bangsa hidup harus memiliki sastra, dan kemudian setelah nama besar ini mengisi kekosongan yang harus diisi, dan halaman sastra sendiri adalah yang muncul di surat kabar harian seperti bercak karat pada besi: memakan darinya dan tidak memberinya apa-apa.
Kemudian yang dibiarkan halaman ini menolak kecuali menjadikan dirinya ‘pemimpin redaksi’ atas para sastrawan, maka dia tidak meninggalkan sifat kebrilianaan atau sifat kejeniusan kecuali dia berikan pada dirinya dan letakkan di bawah bajunya; dan betapa mudah kebesaran dan mudah dicapai jika tidak membutuhkan kecuali keberanian, klaim, dan tuduhan, serta merangkaikan kata-kata dari gejala buku-buku dan pinggiran berita-berita.
Dan bisa jadi orang itu dalam tulisannya seperti awam, jika engkau mencela dengan kekakuan, kebodohan, keusangan, dan kekosongan apa yang dia tulis, dia berkata: “Ini yang cocok untuk pembaca.” Dan bisa jadi dia termasuk orang paling bohong dalam apa yang dia klaim untuk dirinya dan apa yang dia gembar-gemborkan untuk memperkuat urusannya dan mengecilkan yang memusuhinya, jika yang mengenalnya mendustakannya dia berkata: “Ini yang cocok untukku,” dan dia yakin bahwa dia dalam jenis pembaca yang tidak ada padanya kecuali mengisi mereka dengan klaim-klaim ini seperti mengisi jam, maka mereka semua berkata: “Tik tak… tik… tak.”
Barang siapa mengklaim bahwa kefasihan adalah pendengar memahami makna pembicara, dia menjadikan kefasihan, gagap, salah, benar, kegelapan, penjelasan, yang salah tata bahasa, dan yang benar tata bahasa, semuanya sama dan semuanya kefasihan. Dan Al-Makki baik hujjahnya, pintar tipu dayanya, menakjubkan alasannya, dan dia mengklaim segala sesuatu dengan sempurna tapi tidak pernah menyempurnakan apa pun dari yang besar atau yang kecil; dan karena sudah disebutkan namanya, akan kuceritakan beberapa ceritanya. Kukatakan padanya suatu kali: “Tahukah engkau bahwa Asy-Syari menceritakan padaku bahwa Al-Makhluk (maksudnya Al-Amin) mengirim ke Al-Ma’mun karung berisi wijen, seolah memberitahunya bahwa dia masih punya tentara setelah itu, dan Al-Ma’mun mengirim kepadanya ayam jantan buta sebelah, ingin mengatakan bahwa Thahir bin Al-Husain akan membunuh mereka semua seperti ayam jantan mematuk biji-bijian?”
Dia berkata: “Cerita ini akulah yang melahirkannya, tapi lihat bagaimana tersebar ke penjuru…”
Kemudian Abu Utsman berkata: “Dan salah seorang sastrawan kalian mengklaim bahwa dia menemukan dalam sejarah sastra penemuan yang diabaikan orang-orang terdahulu dan dilupakan orang-orang kemudian, maka pamanmu melihat apa yang dia klaim ini, ternyata orang itu sesungguhnya seperti yang mengklaim menemukan Amerika dalam buku geografi…
Dan orang-orang bodoh masih memercayai tulisan yang diterbitkan di surat kabar, bukan karena itu benar, tapi karena itu ‘tertulis di surat kabar’… Maka tidak heran jika penulis halaman sastra – jika dia sombong – mengira jika dia mengancam seseorang, dia tidak mengancamnya dengan halamannya, tapi dengan pemerintahannya…
Ya, wahai orang, itu pemerintahan dan negara; tapi celaka engkau, tiga lalat bukanlah tiga bagian dari armada Inggris!…”
Dan Abu Utsman tertawa dan aku tertawa! Maka aku terbangun.
Abu Hanifah Tetapi Tanpa Fikih 1:
Kami telah sampai pada suatu titik akhir yang aneh dalam dunia sastra dan jurnalistik, dimana setiap orang yang menulis akan diterbitkan karyanya, dan setiap orang yang karyanya diterbitkan menganggap dirinya sebagai seorang sastrawan, dan setiap orang yang menganggap dirinya sastrawan merasa berhak memiliki mazhab sendiri serta boleh berbicara tentang mazhabnya dan menyanggah mazhab orang lain.
Maka hari ini kita memiliki kata-kata besar yang beredar di surat kabar di antara para sastrawan sebagaimana nama-nama koloni beredar di antara para politisi yang memperebutkannya, yang menimbulkan ketamakan, memicu fitnah, dan menimbulkan permusuhan serta kebencian, seperti ucapan mereka: sastra para syeikh dan sastra para pemuda; kediktatoran sastra dan demokrasi sastra, sastra lafal dan sastra kehidupan, kejumudan dan perubahan, yang lama dan yang baru. Lalu apa yang ada di balik semua itu dari para penganut mazhab ini?
Di balik itu adalah bahwa di antara mereka ada Abu Hanifah tetapi tanpa fikih, ada Asy-Syafi’i tetapi tanpa ijtihad, ada Malik tetapi tanpa riwayat, dan ada Ibnu Hanbal tetapi tanpa hadis; nama-nama yang hubungannya dengan amal adalah bahwa nama-nama itu berdusta atas amal, dan amal menolaknya.
Sastra tidak akan menjadi sastra kecuali jika ia berupaya menciptakan dan menemukan sesuatu yang baru sebagaimana yang dilakukan oleh para jenius dari kalangan ahlinya hingga mereka menjadi tonggak sejarah sehingga dikatakan: sastra si fulan, cara si fulan, dan mazhab si fulan; karena urusan tidak berjalan baik pada tingkat tinggi, menengah maupun rendah kecuali dengan kreasi tanpa taklid, taklid tanpa ikut-ikutan, dan ikut-ikutan tanpa penyerahan diri; maka tidak boleh tidak harus ada pendapat, kecemerlangan pendapat, dan kemandirian pendapat sehingga dalam tulisan ada sosok manusia yang duduk sebagai penulisnya, sebagaimana orang hidup yang duduk dalam setiap yang hidup adalah sistem sarafnya, maka keluarlah suatu jenis sastra seakan-akan dari perubahan dalam eksistensi manusiawi yang mengembalikan kehidupan kepada atom-atom maknanya, kemudian menggambar dari makna-makna ini seperti apa yang diciptakan atom-atom ciptaan dalam suatu susunan dari susunan, maka tidak ada definisi bagi sastrawan kecuali bahwa dia adalah peniru Ilahi.
Dan jika kita mempertimbangkan prinsip ini, apakah sastra Arab di zaman kita ini sedang dimulai atau berakhir; dan apakah menurutmu ia sedang naik atau turun; dan apakah ia sedang mengumpulkan kekuatan atau runtuh, dan apakah ia dari masa lalunya yang murni jauh dari yang jauh atau dekat dari yang dekat atau berada di tempat di antara keduanya?
Ini adalah makna-makna yang seandainya aku menjelaskannya secara detail akan membawaku menerjang sejarah panjang yang di dalamnya aku akan melewati tulang-tulang berserakan dalam pakaiannya bukan dalam kuburnya… tetapi aku akan meringkas dan membatasi pada suatu makna yang merupakan inti dari semua aspek ini, dan kepadanyalah saja kembali apa yang kita alami berupa permusuhan antara selera-selera dan kemerosotan dalam kecenderungan pendapat serta kekacauan dan gejolak dalam semua itu; hingga urusan sastra menjadi pada keadaan yang paling buruk sementara mereka melihatnya pada keadaan yang paling baik, hingga dikatakan tentang: gaya bahasa sebagai gaya telegraf, dan tentang fasahah sebagai fasahah rakyat jelata, dan tentang bahasa sebagai bahasa surat kabar, dan tentang syair sebagai syair artikel; dan muncullah yang muncul dari setiap penyakit dan mereka menganggap indah bahwa itu adalah kekuatan yang telah mengeras dan menguat, dan sastra Arab condong kepada ejekan taklid dan menjadi pengikut palsu yang menempel pada sastra bangsa-bangsa, dan ia dikonsumsi oleh penyia-nyiaan dan buruknya pandangan terhadapnya pada saat dianggap bahwa semua itu adalah dari menjaganya dan memeliharanya dan berbuat baik kepadanya serta menyediakan materi untuknya.
Di mana engkau menemukan penyakit itu jika engkau mencarinya? Apakah pada sastra dari segi bahasanya dan gaya-gaya bahasanya, makna-maknanya dan tujuan-tujuan maknanya? Ataukah pada orang-orang yang mengurusinya dalam mazhab-mazhab mereka dan metode-metode mereka serta apa yang terjadi dari sebab-sebab dan daya tarik mereka?
Jika engkau mengatakan bahwa itu ada pada bahasa dan gaya-gaya dan makna-makna dan tujuan-tujuan, maka semua ini akan berubah sesuai dengan apa yang dikehendaki darinya, dan akan menanggung kemalangan dari setiap orang yang bekerja dengannya; dan ia telah mencakup dan meluas serta menyediakan untuk zaman-zaman yang banyak hingga masa kita, maka ia tidak terkena karena kesempitan atau kejumudan atau kelemahan, kemudian ia adalah materi dan tidak ada salahnya dari orang yang tidak pandai meletakkan tangannya darinya di tempat yang memenuhi genggamannya atau di tempat tangannya jatuh pada kebutuhannya.
Dan jika engkau mengatakan bahwa penyakit itu ada pada para sastrawan dan mazhab-mazhab mereka dan metode-metode mereka serta dorongan-dorongan dan sebab-sebab mereka, kami bertanya kepadamu: mengapa mereka gagal mencapai tujuan, mengapa mereka jatuh dalam perselisihan, dan bagaimana mereka tersesat dari kemaslahatan, dan bagaimana pikiran menjadi mandul dan selera menjadi rusak padahal sastra yang benar masih tegak dalam buku-bukunya sebagai suatu umat dari ahlinya yang terdiri dari orang-orang badui dan fasih serta penulis dan penyair, dan dengan luasnya cakrawala akal di zaman ini dan berkumpulnya dari penjuru-penjurunya bagi siapa yang menghendaki, hingga engkau dapat menemukan akal para jenius dari lima benua terkumpul dalam tas buku-buku, atau tersimpan dalam peti kitab-kitab.
Bagaimana para sastrawan dalam bahasa Arab ini pergi tercerai-berai terpecah-belah, naik turun lingkaran, maka semuanya tinggi dan semuanya rendah? Ini si fulan penyair yang telah menguasai syair Arab dan asingnya dan dia menyusunnya dan mempesona dalam tujuan-tujuannya dan melahirkan dan mencuri dan menyalin dan mengubah, dan dia pada dirinya sendiri adalah penyair yang hilang dari setiap bangsa dalam sejarahnya dan jatuh dalam sejarah Arab saja sebagai cobaan dan ujian; dan dia seperti semua orang yang tertipu ini mengira bahwa seandainya mereka berada dalam bahasa selain Arab mereka akan tampil sebagai bintang-bintang, tetapi bahasa Arab menjadikan setiap dari mereka kerikil di antara kerikil-kerikil, dan engkau membaca syairnya maka ia adalah syair yang dari membacanya engkau membayangkan koyaknya pakaianmu, ketika jiwamu tertarik untuk lari darinya dengan lari.
Dan ini si fulan penulis yang dan yang… dan yang naik ke langit paling tinggi dengan sayap lalat.
Dan ini firaun sastra yang berkata: “Akulah tuhan kalian yang paling tinggi!” (merujuk pada Surat An-Nazi’at ayat 24) Dan ini si fulan dan ini si fulan…
Di mana kendali atas mereka dan orang-orang seperti mereka; agar mereka mengetahui keadaan mereka sebagaimana adanya, dan agar mereka mengendalikan pendapat-pendapat dan bisikan-bisikan mereka, dan agar mereka tahu bahwa perhitungan mereka ada pada manusia bukan pada diri mereka sendiri, maka satu dari mereka adalah satu meskipun mereka mengiranya seratus dan sebagian dari mereka mengiranya seribu atau dua ribu, dan kapan manusia berkata: salah, maka mereka telah salah, dan kapan mereka berkata: bodoh maka mereka bodoh.
Dan di mana kendali atas mereka padahal mereka telah terlepas seakan-akan mereka dipaksa secara paksa pada hukum penghancuran dan perusakan, maka tidak ada di antara mereka kecuali tabiat yang keras kepala tanpa pengakuan darinya, melampaui batas tanpa keadilan bersamanya, liar tanpa jalan kepadanya, mencurigakan tanpa kepercayaan kepadanya; tabiat yang segala sesuatu di dalamnya berubah menjadi jejak darinya sebagaimana berubahnya air pohon dalam kayu basah yang menyala menjadi asap hitam!
Kekacauan ini dalam pendapatku kembali kepada satu sebab: yaitu kosongnya zaman dari imam dalam arti yang sesungguhnya yang padanya ijma’ berkumpul dan yang memenuhi zaman dalam hikmah dan akal dan pendapat dan lisannya serta akhlak mulia dan sifat-sifatnya; karena imam seperti ini selalu dikhususkan dengan kehendak yang tidak ada baginya kecuali kemenangan dan keunggulan dan yang memberikan kekuatan untuk membunuh hal-hal kecil dan remeh; dan dia jika diletakkan dalam timbangan ketika terjadi perbedaan pendapat, diletakkan di dalamnya dengan mayoritas besar dari para pendukungnya dan orang-orang yang mengagumi adabnya, dan dengan mayoritas yang menang dari semua aktivitas yang mengelilinginya dan tertarik kepadanya; dan dari situ terhimpun kekuatan tarjih dan terbentuk keyakinan dan keraguan; dan timbangan hari ini kosong dari kekuatan ini maka tidak mentarjih dan tidak menentukan.
Dan kedudukan imam ini membatasi tempat-tempat, dan ukurannya menimbang ukuran-ukuran, maka dialah logika manusiawi dalam kebanyakan perselisihan manusiawi: hujjah tegak dengannya, maka ia mengikat meskipun yang mengingkari mengingkarinya, dan berjalan meskipun yang keras kepala bersikeras di dalamnya, dan diambil dengannya meskipun yang bersikeras bersikeras pada selainnya; karena dengan ijma’ atas qiyas antara ekstrem dalam penambahan atau kekurangan; dan ijma’ jika memukul memukul kemaksiatan dengan ketaatan, dan penyimpangan dengan kelurusan, dan keras kepala dengan penyerahan; maka keluarlah yang keluar dan padanya tandanya, dan menyimpanglah yang menyimpang dan di dalamnya sifatnya, dan bersikeraslah yang keras kepala dan namanya si keras kepala tidak lain, meskipun dia berdusta dan takwil, dan meskipun dia mengklaim apa yang diklaim.
Dan setiap kaidah memiliki pengecualian tetapi kaidah adalah imam babnya; maka tidak ada pengecualian yang menganggap dirinya terlepas bebas, kecuali dia terbatas dengannya dikembalikan kepadanya, berhubungan dari sisi-sisinya yang paling luas dengan sisi-sisinya yang paling sempit; hingga dia tidak diketahui sebagai pengecualian kecuali dengan apa yang dengannya diketahui bahwa itu adalah kaidah, maka urusannya pada dirinya dengan apa yang ditentukan untuknya atas keterpaksaan dan kecintaannya.
Dan imam menyebarkan dalam sastra zamannya pemikiran dan pendapat, dan menambah di dalamnya kekuatan dan kreasi, dan menghiasi masa lalunya dengan bahwa dia ada di ujungnya, dan masa depannya dengan bahwa dia ada di awalnya, maka dia menjadi seperti penyeimbang antara keamanan dari satu sisi, dan perpindahan di dalamnya dari sisi lain; karena imam ini hanya dipilih untuk menampakkan kekuatan eksistensi manusiawi dari beberapa wajahnya dan menetapkan universalitas dan cakupannya seakan-akan dia ayat dari ayat-ayat jenis yang jenis merasa tenang di dalamnya kepada kesempurnaannya yang jauh, dan menerima darinya hukum kesempurnaan atas kekurangan, dan hukum kekuatan atas yang lemah, dan hukum yang diharapkan atas yang terjadi; dan kaumnya menemukan di dalamnya sebagaimana mereka menemukan dalam kebenaran yang tidak ada orang yang keras kepala padanya dengan takwil, dan dalam kekuatan yang tidak ada orang yang menyalahi padanya yang batil dengan keras kepala, dan dalam yang mulia yang tidak ada orang yang menghindar darinya yang sewenang-wenang dengan tipu daya; dan manusia tidak akan sesat dalam hak yang mereka ketahui batasnya, karena apa yang di balik batas adalah pelanggaran; dan mereka tidak akan salah dalam hukum yang mereka tepati wajahnya karena apa selain wajah adalah perselisihan dan perdebatan.
Dan manusia telah diciptakan dalam bab teladan dengan fitrah yang tidak berubah, maka siapa yang menyendiri dengan kesempurnaan dialah teladan, dan siapa yang menang dialah arah; dan tidak boleh tidak ada bagi mereka yang dengannya mereka mengukur dan menyeimbangkan diri sehingga mereka lurus atas petunjuk dan kemaslahatan mereka, maka imam seakan-akan timbangan dari akal, maka dia berkuasa dalam hukum atas yang kurang dan yang cukup dari semua yang sejalan dengannya, kemudian tidak ada perselisihan atasnya; karena ada di dalamnya timbangan kekuatan-kekuatan timbangan demi timbangan, dan ada di dalamnya tingkatan-tingkatan keadaan mereka tingkatan demi tingkatan.
Dia adalah manusia yang dipilih beberapa makna yang luhur; untuk tampak di dalamnya dengan gaya praktis, maka dia menjadi di kaumnya sebagai pendidikan dan pengajaran dengan kaidah yang diambil dari contohnya, dijelaskan dengan contoh ini sendiri, maka kepadanya dikembalikan urusan dalam hal itu dan dengan mengikutinya diikuti dan atas jalannya ditempuh, maka tidak ada sesuatu yang berhubungan dengan seni yang dia imam di dalamnya, kecuali ada di dalamnya sesuatu darinya, dan dia dari itu berhubungan dengan kekuatan jiwa-jiwa seakan-akan dia petunjuk di dalamnya; karena dia dengan seninya menghukumi atasnya, maka dia menjadi kekuatan dan peringatan, dan memudahkan dan memperjelas, dan menyampaikan dan petunjuk; dan menjadi seorang laki-laki padahal dia makna-makna yang banyak, dan menjadi pada dirinya padahal dia ada di semua jiwa, dan memberikan dari pengagungan manusia apa yang dengannya namanya seakan-akan diciptakan dari cinta jalannya atas akal bukan atas hati.
Dan mungkin itu dari hikmah penetapan khalifah dalam Islam dan wajibnya itu atas kaum muslimin; maka tidak boleh tidak ada di bumi ini cahaya dalam daging dan darah, dan beberapa makna khalifah dalam pengangkatannya seperti beberapa makna “Syahid yang Tidak Dikenal” pada bangsa-bangsa yang berperang menang beradab: simbol penghormatan, dan makna pengorbanan, dan diam yang berbicara, dan tempat yang mengilhami, dan kekuatan yang diminta, dan menyendiri dengan berkumpul, dan hukum patriotisme atas ahlinya dengan hukum-hukum yang banyak dalam kemuliaan hidup dan mati; bahkan perang tersembunyi dalam lubang, dan kemenangan tertutup dengan kubur; bahkan yang tidak dikenal yang di dalamnya semua yang sepatutnya diketahui.
Maka zaman kita ini goncang kacau; karena tidak ada imam di dalamnya yang manusia berkumpul padanya, dan karena setiap orang yang mengklaim dirinya imam dia dari beberapa sisinya seakan-akan Abu Hanifah tetapi tanpa fikih!
Demi umurku, tidak muncul ucapan mereka: “Yang baru dan yang lama” kecuali karena di sini ada tempat kosong yang kekosongannya tampak sebagai tempat pemisah antara kedua sisi dan menjadikan satu sisi berbeda dari sisi lain, maka sejak meninggalnya imam besar Syeikh Muhammad Abduh rahimahullah terjadilah peristiwa-peristiwa, dan muncullah kepala-kepala, dan menyimpanglah tabiat-tabiat seakan-akan bukan seorang laki-laki yang mati, tetapi Al-Qur’an yang diangkat.
Jika Anda mempertimbangkan imajinasi dalam kecerdasan manusia dan mengutamakan ketajaman pandangan dan keindahan pembedaan, Anda tidak akan menemukan bahwa itu sebenarnya merupakan peniruan jiwa terhadap ketuhanan dengan cara-cara yang lemah dan terputus, mampu membayangkan dan berangan-angan sebatas ketidakmampuannya untuk menciptakan dan mewujudkan.
Dan jiwa manusia ini yang datang dari yang tidak diketahui di awal kehidupannya, dan kembali kepadanya di akhir kehidupannya, dan dibimbing dalam jalannya sepanjang hidupnya, tidak mungkin dapat memutuskan dalam imajinasinya bahwa sesuatu yang ada telah berakhir dengan keberadaannya, dan sifat alaminya tidak rela dengan apa yang berakhir; maka ia tidak memperlakukan yang ada dalam hubungannya dengan imajinasinya seolah-olah telah selesai darinya sehingga tidak dimulai, dan sempurna sehingga tidak ditambah, dan kekal sehingga tidak berubah; namun ia terus mengarahkan sangkaannya dan mengalihkan angannya pada segala yang dilihatnya atau yang terlintas dalam pikirannya, sehingga ia tidak berhenti melihat dalam setiap keberadaan sesuatu yang ghaib, dan menyingkap dari yang samar serta menambah kesamarannya, dan berjalan terus menerus pada jalur-jalur imajinatifnya yang menguatkan hubungannya dengan yang tidak diketahui; maka dari itu tidak dapat tidak dalam urusannya dengan yang ada terdapat apa yang tidak ada, ia melekat padanya dan merasa tenteram kepadanya; dan atas dasar itu tidak dapat tidak dalam setiap hal -dengan makna-makna yang dimilikinya dalam kenyataan- terdapat makna-makna yang dimilikinya dalam imajinasi; dan di sinilah tempat sastra dan retorika dalam sifat alami jiwa manusia, maka keduanya adalah alamiah padanya sebagaimana yang Anda lihat.
Dan jika dikatakan: sastra, maka ketahuilah bahwa bersamanya pasti ada retorika; karena jiwa menciptakan kemudian membayangkan kemudian memperindah bayangan; dan sesungguhnya kesempurnaan komposisi terletak pada tempat penyajiannya dan keindahan bentuknya serta ketepatan pandangannya; bahkan retorika menempati kedudukan dari makna yang dikenakannya seperti kedudukan kematangan dari buah yang manis jika buah itu sendiri sebelum matang adalah sesuatu yang bernama atau dibedakan dengan sendirinya, maka ia tidak akan menjadi sesuatu yang sempurna atau benar tanpa kematangan, dan tidak ada pilihan selain ia harus memenuhi kesempurnaan masa hijaunya yang merupakan retorika dan kefasihannya.
Dan ini adalah persoalan bagaimana pun Anda mengambilnya maka ia tetap ia hingga Anda menjalaninya dengan cara yang Anda lihat pada buah dan kematangannya, karena retorika adalah keahlian keindahan dalam sesuatu yang keindahannya berasal dari faedahnya, dan faedahnya dari keindahannya; maka jika kosong dari keahlian ini, ia bergabung dengan yang lain, dan menjadi pintu penggunaan setelah menjadi pintu pengaruh; dan perbedaan antara kedua keadaannya seperti perbedaan antara buah ketika ia merupakan pintu dari tumbuhan, dan buah ketika ia merupakan pintu dari khamar; dan karena itulah dasar dalam sastra adalah retorika dan gaya dalam semua bahasa pemikiran manusia, karena demikianlah dalam sifat alami jiwa manusia.
Maka tujuan pertama sastra yang jelas adalah menciptakan bagi jiwa dunia makna-makna yang sesuai dengan kecenderungan tetap yang ada padanya terhadap yang tidak diketahui dan terhadap kiasan kenyataan, dan meletakkan rahasia-rahasia dalam urusan-urusan yang terbuka dengan apa yang dibayangkan padanya, dan mengembalikan yang sedikit dari kehidupan menjadi banyak dan mencukupi dengan apa yang dilipatgandakan dari makna-maknanya, dan meninggalkan yang telah lalu darinya tetap dan menetap dengan apa yang diabadikan dari sifatnya, dan menjadikan yang menyakitkan darinya menjadi kenikmatan yang ringan dengan apa yang ditetapkan padanya dari perasaan dan yang membosankan menjadi menyenangkan dan manis dengan apa yang disingkap padanya dari keindahan dan hikmah; dan pusat semua itu adalah memberikan jiwa kenikmatan yang nyata yang dalam dirinya sendiri juga merupakan kenikmatan yang tidak diketahui; karena jiwa ini adalah pemandangan yang berubah-ubah, tidak mencari yang tidak diketahui murni atau yang diketahui murni, seolah-olah ia menyadari dengan fitrahnya bahwa tidak ada dalam alam semesta yang terang-terangan mutlak atau yang tersembunyi mutlak; dan ia hanya mencari keadaan yang sesuai di antara keduanya, yang padanya bangkit kegelisahan atau darinya tenang kegelisahan.
Dan kerinduan jiwa adalah bahan sastra; maka tidak akan menjadi sastra kecuali jika meletakkan makna dalam kehidupan yang tidak memiliki makna, atau terhubung dengan rahasia kehidupan ini sehingga menyingkapnya atau mengisyaratkannya dari dekat, atau mengubah bagi jiwa kehidupan ini dengan perubahan yang sesuai dengan tujuan dan kerinduannya; karena sebagaimana manusia berpindah dari iklim ke iklim lainnya, sastra memindahkannya dari kehidupannya yang tidak berbeda ke kehidupan lain yang di dalamnya terdapat perasaan dan kenikmatannya meskipun tidak memiliki tempat dan waktu; kehidupan yang di dalamnya kerinduan jiwa menjadi sempurna; karena di dalamnya terdapat kenikmatan dan penderitaan tanpa keharusan dan beban; dan demi hidupku, surga dan neraka dalam agama-agama tidak datang sia-sia; karena Pencipta jiwa dengan apa yang dirangkai-Nya padanya dari keajaiban-keajaiban, akal tidak memutuskan bahwa Dia telah menyempurnakan penciptaannya kecuali dengan menciptakan surga dan neraka bersamanya; karena keduanya adalah bentuk-bentuk abadi yang setara dengan kerinduan kekalnya jika ia lurus dan terarah atau terbalik dan terhalang.
Dan telah sahih bagiku bahwa jiwa tidak menyadari kebebasannya dan tidak terlepas dengan keterlepasan kekalnya sehingga merasakan kesatuan perasaan dan kesatuan kesempurnaan tertinggi kecuali dalam jam-jam dan periode-periode yang padanya ia terselip dari waktunya dan kehidupannya serta pertentangan-pertentangannya dan kegoncangan-kegoncangannya ke “zona netral” yang berada di luar waktu dan tempat; maka jika jiwa turun kepadanya seolah-olah ia berpindah ke surga dan merasakan keabadian; dan zona ajaib ini tidak ada kecuali dalam empat hal: kekasih yang memukau dan dicintai yang diberi kekuatan sihir jiwa, maka ia lupa dengannya; dan sahabat yang dicintai dan setia yang diberi kekuatan tarik jiwa, maka ia lupa bersamanya; dan karya sastra yang menawan, maka ia menyihir seperti kekasih atau menarik seperti sahabat; dan pemandangan seni yang menakjubkan, maka di dalamnya terdapat dari segala sesuatu sesuatu.
Dan semua ini membuat seseorang lupa waktunya dalam durasi yang panjang dan pendek; dan itu padanya dalil bahwa jiwa manusia memperoleh darinya cara-cara spiritual untuk hubungannya sejenak dengan roh abadi dalam momen-momen perasaan seolah-olah bukan dari dunia ini dan seolah-olah dari keabadian; dan dari itu kita dapat memutuskan bahwa dasar seni secara mutlak adalah pemberontakan yang kekal dalam manusia terhadap yang fana padanya; dan penggambaran pemberontakan ini dalam angan-angan dan kenyataannya dengan seperti getarannya dalam perasaan dan pengaruh- adalah makna sastra dan gayanya.
Kemudian keharmonisan dan kebaikan dan kebenaran dan keindahan -yang membuat kehidupan manusia memiliki rahasia-rahasianya- adalah urusan-urusan yang tidak alamiah dalam dunia yang berdiri di atas kegoncangan dan kepentingan diri dan perselisihan dan nafsu-nafsu; maka dari itu datang penyair dan sastrawan dan ahli seni sebagai pengobatan dari hikmah kehidupan untuk kehidupan, maka mereka menciptakan untuk sifat-sifat manusia yang indah itu dunianya yang padanya ia menjadi alamiah, dan ia adalah dunia yang tiang-tiangnya adalah keharmonisan dalam makna-makna yang mengalir padanya, dan keindahan dalam ungkapan yang disampaikan dengannya, dan kebenaran dalam pemikiran yang berdiri di atasnya, dan kebaikan dalam tujuan yang diarahkan kepadanya, dan terdapat dalam sastra dari kekurangan dan kesempurnaan menurut apa yang berkumpul padanya dari keempat ini, dan tidak ada ukuran yang lebih tepat darinya jika Anda pergi menilainya dengan pandangan dan pendapat; maka dalam karya sastrawan keluar kebenaran ditambah padanya seni, dan datang ungkapan ditambah padanya keindahan, dan terwujud alam yang kaku keluar dari jiwa yang hidup, dan tampak perkataan yang di dalamnya terdapat kelembutan kehidupan hati dan panasnya dan perasaannya dan keteraturannya dan detakan musiknya; dan memakai nafsu-nafsu manusia bentuknya yang sopan untuk menjadi karena penetapan teladan tertinggi, yang merupakan rahasia dalam pemberontakan yang kekal dari manusia terhadap yang fana, dan yang merupakan tujuan akhir dari sastra dan seni bersama; dan dengan ini sastra memberikan kepadamu kekuatan gaib yang meluaskan dirimu hingga kamu merasakan dunia dan peristiwa-peristiwanya berlalu melalui jiwamu, dan merasakan hal-hal seolah-olah berpindah ke dirimu; dan itu rahasia sastrawan jenius; karena ia tidak melihat pendapat dengan pengulangan dan ijtihad sebagaimana orang-orang melihatnya, dan ia hanya merasakannya; maka tidak jatuh kepadanya pendapatnya dengan pikiran, namun ia mengilhamkannya dengan ilham; dan tidak datang kepadanya ilham kecuali dari kenyataan bahwa hal-hal melewatinya dengan makna-maknanya dan melaluinya sebagaimana kapal-kapal melalui sungai, maka ia merasakan pengaruhnya padanya sehingga terilham apa yang terilham, dan orang-orang menganggapnya menembus dengan pikirannya melalui alam semesta, padahal kenyataan alam semesta adalah yang menembus melaluinya. Dan jika Anda ingin mengetahui siapa sastrawan itu, Anda tidak akan menemukan yang lebih komprehensif dan lebih tepat dalam maknanya daripada menyebutnya manusia kosmik, dan yang lain adalah manusia saja; dan dari itu tercapai kedalaman terpengaruhnya oleh keindahan hal-hal dan makna-maknanya, kemudian apa yang terjadi dari hubungan makhluk-makhluk dengannya dengan penderitaan dan kegembiraan mereka; karena padanya bersama sifat khusus manusia terdapat sifat khusus alam semesta menyeluruh, maka alam membuktikan dengan keindahan seninya yang indah bahwa ia darinya, dan langit menunjukkan dengan apa yang ada dalam keahliannya dari wahyu dan rahasia bahwa ia demikian darinya, dan kehidupan membuktikan dengan filsafat dan pendapatnya bahwa ia juga darinya; dan ini dan itu dan itu adalah kemenyuluruhan yang tidak terbatas, dan keluasan yang setiap akhir padanya untuk sesuatu, adalah awal padanya untuk sesuatu.
Dan ia adalah manusia yang ditunjukkan keindahan pada dirinya untuk menunjukkan yang lain kepadanya, dan dengan itu ditambah pada maknanya makna, dan ditambahkan kepadanya dalam perasaannya kekuatan menciptakan perasaan pada yang lain; maka dasar karyanya selalu adalah menambah pada setiap pemikiran bentuk untuknya, dan menambah pada setiap bentuk pemikiran padanya, maka ia menciptakan makna-makna untuk bentuk-bentuk yang kaku sehingga menciptakan kehidupan padanya, dan menciptakan bentuk-bentuk untuk makna-makna yang abstrak sehingga menciptakannya dalam kehidupan, seolah-olah ia diciptakan untuk menerima kebenaran dan memberikannya kepada manusia serta menambah pada mereka perasaan akan keindahan seninya; dan dengan sastrawan dan ilmuwan tumbuh makna-makna kehidupan, seolah-olah hikmah menciptakan mereka; untuk memindahkan dengan mereka dunia dari keadaan ke keadaan; dan seolah-olah alam semesta yang besar ini melewati otak-otak mereka untuk mewujudkan dirinya.
Dan partisipasi ilmuwan dengan sastrawan mengharuskan sastrawan dibedakan dengan gaya retoris; karena ia seperti cap pada karya seni, dan seperti kesaksian dari kehidupan maknawi untuk manusia berbakat ini yang datang melalui jalannya, kemudian karena gaya adalah pengkhususan untuk jenis dari cita rasa dan cara dari pemahaman, seolah-olah keindahan berkata dengan gaya: bahwa ini adalah karya si fulan.
Dan kelebihan antara ilmuwan dan sastrawan, bahwa ilmuwan adalah pemikiran, tetapi sastrawan adalah pemikiran dan gayanya; maka ilmuwan adalah karya-karya yang terhubung dan serupa yang ditunjuk kepada mereka sebagai satu kelompok, sementara dikatakan pada setiap sastrawan jenius: ini dia, ini sendirian; dan ilmu sastrawan adalah jiwa manusia dengan rahasia-rahasianya yang menuju alam, dan alam dengan rahasia-rahasianya yang menuju jiwa; dan karena itu posisi sastrawan dari kehidupan adalah posisi pemikiran yang batas-batasnya dari semua sisinya adalah rahasia-rahasia.
Dan jika orang-orang melihat kemanusiaan ini sebagai komposisi yang sempurna yang berdiri dengan kenyataan-kenyataan dan sifat-sifatnya, maka sastra jenius tidak melihatnya kecuali bagian-bagian, seolah-olah ia menyaksikan penciptaan dan komposisinya, dan seolah-olah urusannya dalam “laboratoriumnya”, atau seolah-olah Allah -Maha Suci- memanggilnya untuk melihat padanya pendapatnya … dan dengan itu datang yang unggul dari sastra para jenius dan sebagiannya seperti usulan-usulan untuk memperindah dunia dan mendidik kemanusiaan, dan sebagiannya seperti persetujuan dan penetapan hikmah; dan dasarnya dalam semua keadaan ini adalah kritik, kemudian kritik, dan tidak ada selain kritik; seolah-olah kekuatan abadi berkata kepada yang terilham ini: Engkau adalah kata-Ku maka katakanlah katamu..
Dan Anda melihat keindahan di mana Anda menemukannya satu hal yang tidak besar dan tidak kecil, tetapi perasaan terhadapnya membesar pada sebagian orang dan mengecil pada sebagian orang; dan di sini sastra menjadi ilahi; maka ia adalah pencipta keindahan dalam pikiran, dan memungkinkan sebab-sebab yang membantu untuk memahaminya dan menjelaskan sifat-sifat dan makna-maknanya, dan ia yang menentukan untuk dunia ini nilai kemanusiaannya dengan menambahkan bentuk-bentuk pemikiran dan keindahan kepadanya, dan mencoba menampakkan sistem yang tidak diketahui dalam pertentangan-pertentangan jiwa manusia, dan mengangkat jiwa ini dari kenyataan yang rendah yang terkumpul dari tabir fitrah dan serangan naluri dan keluguan tabiat hewani.
Dan jika urusan dalam sastra demikian; maka dengan keharusan kehidupan menjadi beradab dan bersopan santun padanya, dan kekuasaannya terhadap dorongan-dorongan jiwa menjadi latihan untuk memperbaiki dan menegakkannya, bukan untuk merusaknya dan menyimpangkannya ke kesesatan dan ketersesatan; dan dengan keharusan sastrawan ditugaskan memperbaiki jiwa manusia, dan meniadakan pemalsuan darinya, dan memurnikannya dari apa yang tercampur dengannya dalam rangkaian keharusan-keharusan; kemudian memperbaiki pemikiran manusia dalam keberadaan, dan meniadakan paganisme dari pemikiran ini, dan mengangkatnya ke atas, kemudian ke atas, dan selalu ke atas!
Dan sastrawan ditugaskan itu karena ia berpandangan tajam dari sifat-sifat khususnya pembedaan dan kemajuan pandangan dan jatuhnya ilham, dan karena dasar dalam karya seninya adalah tidak meneliti hal itu sendiri, tetapi yang indah darinya; dan tidak melihat keberadaannya, namun rahasianya; dan tidak peduli dengan komposisinya, namun dengan keindahan dalam komposisinya; dan karena bahan karyanya adalah keadaan-keadaan manusia, dan akhlak mereka, dan warna-warna kehidupan mereka, dan mimpi-mimpi mereka, dan aliran-aliran imajinasi dan pemikiran mereka dalam makna seni, dan perbedaan perasaan mereka terhadapnya, dan sebab-sebab kesesatan dan petunjuk mereka; ia mengarahkan pada semua itu pendapatnya, dan mengedarkan padanya pandangannya, dan mencampurnya dalam dirinya, dan menembusnya dari indera-inderanya, seolah-olah ia dalam rahasia-rahasia memiliki genggaman dan lapangan, dan seolah-olah ia wali pemerintahan atas bagian tersembunyi dalam manusia yang berdiri atas politik dan pengaturannya, dan membimbingnya ke teladan tertinggi, dan apakah jenius diciptakan kecuali seperti bukti dari Allah untuk hamba-hamba-Nya bahwa di antara mereka ada yang mampu terhadap yang lebih sempurna dan yang lebih indah, sehingga akal manusia tidak putus asa dan tidak lemah, maka terus menerus dalam mencari kesempurnaan dan keindahan yang tidak berakhir?
Maka sastrawan mengawasi dunia ini dari pandangan batinnya maka tiba-tiba peristiwa-peristiwa kehidupan dalam satu pola perselisihan dan pertentangan, dan tiba-tiba ia terus menerus menghapus kepribadian manusia, meninggalkan setiap yang hidup dari manusia seolah-olah ia pribadi yang berdiri dari karyanya dan peristiwa-peristiwanya dan sebab-sebab kehidupannya; maka jika itu berguncang dalam jiwa sastrawan, jiwa tinggi ini mengarah untuk menjaga bagi dunia kenyataan-kenyataan hati nurani dan kemanusiaan dan iman dan kebajikan, dan berdiri sebagai penjaga atas apa yang disia-siakan manusia, dan ditugaskan dalam itu dengan penugasan yang tidak ia miliki dengannya untuk menolak darinya, dan tidak layak baginya untuk menutup mata padanya; dan memindahkan kemanusiaan seluruhnya dan menempatkan pada kiasan jalannya ke mana pun ia menuju, maka teguh urusan padanya, dan terhubung dengannya, dan mengetahui bahwa ia dari murni Allah, risalahnya untuk dunia adalah menetapkan cinta untuk yang bermusuhan, dan menyebarkan rahmat untuk yang berselisih, dan mengumpulkan semua pada keindahan dan ia tidak berbeda dalam kenikmatannya dan menghubungkan di antara mereka dengan kebenaran dan ia tidak terpisah dalam nasihatnya, dan merasakan hikmah dan ia tidak berselisih dalam cara-caranya: maka sastra dari sisi ini menyerupai agama: keduanya membantu kemanusiaan untuk melanjutkan karyanya, dan keduanya dekat dari dekat; hanya saja agama menghadapi keadaan-keadaan jiwa untuk memerintah dan melarang, dan sastra menghadapinya untuk mengumpulkan dan membandingkan; dan agama mengarahkan manusia kepada Tuhannya, dan sastra mengarahkannya kepada dirinya; dan itu wahyu Allah kepada malaikat kepada nabi yang dipilih, dan ini wahyu Allah kepada pandangan batin kepada manusia yang dipilih.
Maka jika tidak ada bagi sastrawan teladan tertinggi yang ia berjuang untuk mewujudkannya dan bekerja dalam jalannya, maka ia adalah sastrawan keadaan dari keadaan-keadaan, bukan sastrawan zaman dan bukan sastrawan generasi; dan dengan itu saja menjadi ahli teladan tertinggi dalam setiap zaman adalah angka-angka kemanusiaan yang dilontarkan zaman dalam hari-hari terakhirnya untuk menghitung untung dan ruginya …
Dan jangan tertipu tentang ini bahwa Anda melihat sebagian jenius tidak didatangi dalam sastranya atau kebanyakannya kecuali kepada keburukan-keburukan, meresap ke dalamnya, dan terisi dengannya, dan berada darinya pada apa yang tidak ada padanya seorang pun kecuali orang-orang rendah dan massa dari tiran manusia dan rakyat jelata mereka; karena ini dan sebangsanya ditugaskan untuk melayani kebajikan dan mewujudkannya dari sisi apa yang ada padanya dari larangan; untuk menjadi teladan dan pendahulu dan pelajaran; dan sering kali nasihat dengan keburukan-keburukan mereka lebih kuat dan lebih besar pengaruhnya daripada yang ada dalam kebajikan-kebajikan; bahkan mereka bagiku seperti sebagian keadaan-keadaan jiwa yang halus yang padanya larangan memerintah lebih kuat daripada yang memerintah perintah, seperti apa yang terjadi dari bacaanmu nasihat kebajikan sastra yang memerintahmu untuk menjadi suci bersih; kemudian apa yang terjadi dari penglihatanmu orang jahat yang tertimpa musibah yang cacat yang hancur yang melarangmu dengan bentuknya untuk menjadi sepertinya; dan untuk kebenaran yang kuat dalam pengaruhnya ini -kebenaran perintah dengan larangan- para jenius dalam sebagian sastra mereka sengaja memalingkan tabiat jiwa dari wajahnya, dengan membalik hasil situasi yang mereka gambarkan, atau pemindahan dalam peristiwa yang mereka sifatkan; maka berakhir pendeta yang taat dalam cerita menjadi kafir jahat, dan kembali wanita pelacur menjadi santa, dan kembali anak yang berbakti menjadi pembunuh gila kegilaan darah; hingga banyak yang berjalan dalam pola ini, sebagaimana Anda lihat pada Anatole France dan Shakespeare dan lainnya, dan itu bukan karena kelalaian dari mereka atau kejahatan, tetapi gaya dari seni, yang dihadapi dengan gaya dari penciptaan; untuk menciptakan gaya dari pengaruh; dan semua itu aneh terhitung yang seharusnya terbatas dan tidak melampaui; karena ia adalah sifat untuk keadaan-keadaan halus yang muncul pada jiwa, bukan ungkapan tentang kenyataan-kenyataan tetap yang menetap padanya.
Dan syarat dalam jenius yang itu sifatnya dan itu sastranya, bahwa ia tinggi dengan keburukan … dalam gaya dan makna-maknanya, mengambil dengan tujuan keahlian, mencapai puncak dalam keindahan ungkapan; hingga menjadi seolah-olah keburukan-keburukan adalah yang memilih darinya penafsir jenius anehnya yang dalam ketinggian seni retorisnya ia sendirian adalah sisi yang berhadapan dengan ketinggian ungkapan tentang kebajikan, maka menciptakan ilham dalam ini dan dalam ini karyanya seni dengan cara yang indah pengaruhnya, dasarnya dalam sastrawan kebajikan apa yang ia inginkan dan berjuang padanya, dan dalam sastrawan keburukan apa yang memimpinnya dan terdorong kepadanya, seolah-olah dari keduanya adalah manusia yang menjadi malaikat yang menulis, dan manusia yang kembali hewan yang menulis …
Dan jika Anda membedakan antara keburukan sastrawan jenius dalam seninya, dan keburukan sastrawan bodoh yang menyerupainya -dalam penulisan dan pendapat dan pengikutan dan aliran- Anda melihat yang satu dari yang lain seperti tangisan lelaki penyair dari tangisan lelaki kasar yang tidak halus: ini air matanya adalah penderitaannya, dan itu air matanya adalah penderitaannya dan puisinya; dan dalam tulisan tingkat jenius ini khususnya terwujud bagimu bahwa gaya adalah dasar seni sastra, dan kenikmatan dengannya adalah tanda kehidupan padanya; karena Anda tidak melihat selain karya sastra seni, saksinya dari dirinya sendiri bahwa ia dengan gayanya dalam kenyataan hanyalah lelucon jiwa untuk menggerakkan dorongan-dorongan dalam jiwa pembaca-pembacanya, dan bahwa ia atas dasar itu juga adalah persoalan dari persoalan-persoalan kemanusiaan yang dilemparkan untuk pandangan dan penyelesaian, dengan apa yang ada padanya dari keindahan seni dan kehalusan analisis.
Dan kenikmatan dengan sastra berbeda dengan hiburan dengannya dan mengambilnya untuk main-main dan pengangguran maka datang diletakkan atas dasar itu maka keluar menjadi hiburan dan kebodohan dan pemborosan; karena kenikmatan dengannya datang dari keindahan gayanya dan kefasihan makna-maknanya dan penanganannya terhadap alam semesta dan kehidupan dengan cara-cara puitis yang dalam jiwa, dan ia adalah dasar dalam keindahan gaya; kemudian ia setelah kenikmatan ini adalah manfaat seluruhnya seperti sisa apa yang dirangkai dalam tabiat yang hidup; karena merasakan cita rasa kenikmatan makanan misalnya atas dasar menjadi dari perbuatannya yang alami menyelami nutrisi untuk membangun tubuh dan menjaga kekuatan serta menambahnya; adapun hiburan maka datang dari kebodohan sastra; dan kekosongan makna-maknanya, dan mengikuti nafsu-nafsu rendah dan mencari sisi-sisi sempit dari kehidupan; dan itu ketika bukan sastra rakyat atau kemanusiaan namun sastra kelompok tertentu dan keadaan-keadaannya; karena sastrawan keahliannya atau sastrawan kelompoknya, berbeda dengan sastrawan kaumnya dan sastrawan zamannya, salah satunya sampai batas terbatas dari kehidupan, dan yang lain karya yang komprehensif berkelanjutan beragam; karena karya sastranya dan ia keberadaannya, dan segala sesuatu dalam kaumnya tidak berhenti berkata kepadanya: tulislah …
Dan dari dasar-dasar sosial yang tidak berubah, bahwa jika negara untuk rakyat, maka sastra adalah sastra rakyat dalam kehidupannya dan pemikiran-pemikirannya dan cita-citanya dan warna-warna kehidupannya, dan sastra berkelimpahan dengan itu dan beragam dan berubah dan dibangun atas kehidupan sosial; maka jika negara untuk selain rakyat, maka sastra adalah sastra penguasa dan dibangun atas kemunafikan dan basa-basi dan berlebihan buatan dan kebohongan dan penipuan, dan sastra kering darinya dan sedikit dan berulang dari satu bentuk; dan dalam yang pertama sastrawan meluas dari merasakan kehidupan dan seni-seninya dan rahasia-rahasianya dalam setiap yang di sekitarnya, ke merasakan alam semesta dan wilayah-wilayahnya dan rahasia-rahasianya dalam segala yang di sekitarnya; adapun yang kedua maka tidak merasakan padanya kecuali keadaan-keadaan dirinya dan campurannya, maka sastranya menjadi mirip dengan jarak terbatas dari alam semesta luas yang tidak berhenti pergi dan datang di dalamnya hingga bosan pergi dan datangnya.
Dan keajaiban yang tidak disadari oleh siapa pun hingga hari ini dari semua yang mempelajari sastra Arab dahulu dan sekarang, bahwa Anda tidak menemukan penetapan makna filosofis sosial untuk sastra dalam makna-makna tertingginya kecuali dalam bahasa Arab saja, dan tidak diabaikan dengannya kecuali oleh ahli bahasa ini saja!
Jika kamu menginginkan sastra yang menetapkan gaya sebagai syaratnya, dan yang menghadirkan kekuatan bahasa sebagai gambaran kekuatan watak, keagungan ungkapan sebagai gambaran kemuliaan akhlak, kelembutan penjelasan sebagai gambaran kelembutan jiwa, dan ketepatan yang mendalam sebagai gambaran ketelitian pandangan terhadap kehidupan; yang menunjukkan kepadamu bahwa perkataan adalah suatu bangsa dari kata-kata yang bekerja dalam kehidupan suatu bangsa dari manusia, yang mengatur mereka dengan ukuran-ukuran sejarah, yang mengokohkan bagi mereka tatanan-tatanan kemanusiaan, yang mensyaratkan di dalamnya teladan tertinggi, yang membawa bagi mereka cahaya Ilahi di bumi…
Dan jika kamu menginginkan sastra yang menciptakan bangsa dengan penciptaan yang mulia, mendorongnya menuju keluhuran dengan dorongan yang kuat, menghindarkannya dari hal-hal rendah dalam kehidupan, mengarahkannya dengan ketepatan jarum magnet menuju cakrawala yang luas, membimbingnya dalam tujuan-tujuan sejarah yang tinggi seperti pembimbingan peluru yang keluar dari meriam besar yang kokoh dan rapi, mengisi lubuk hatinya dengan keyakinan, jiwanya dengan keteguhan, pandangannya dengan penglihatan, akalnya dengan hikmah, dan menembus bersamanya dari manifestasi alam semesta menuju rahasia-rahasia ketuhanan…
Jika kamu menginginkan sastra dari segala segi pertimbangan ini – maka kamu akan mendapati Al-Quran Al-Hakim telah meletakkan dasar yang asli dan hidup dalam semua itu. Yang paling mengagumkan di dalamnya adalah bahwa ia menjadikan dasar ini suci, mewajibkan kesucian ini sebagai akidah, dan menganggap akidah ini tetap yang tidak akan berubah; namun dengan semua itu, para sastrawan tidak menyadarinya dan tidak mengikuti jejak sastra dengannya, mereka menganggapnya hanya sebagai agama saja, dan mereka membawa sastra mereka kepada kesenangan sia-sia, kemaksuman, dan kemunafikan; seolah-olah tidak ada dari mereka kecuali sisa-sisa sejarah yang sekarat karena penyakit-penyakit yang mematikan, yang menuju kepada kehancuran yang pasti!
Dan Al-Quran dengan gaya, makna-makna, dan tujuan-tujuannya tidak dapat diambil darinya untuk sastra kecuali satu definisi yaitu ini: Sesungguhnya sastra adalah peninggian nurani bangsa.
Dan tidak dapat diambil darinya untuk sastrawan kecuali satu definisi yaitu ini: Sesungguhnya sastrawan adalah orang yang bagi bangsanya dan bahasanya dalam bakat-bakat penanya terdapat gelar dari gelar-gelar sejarah.
Rahasia Kecemerlangan dalam Sastra 1
Seandainya kita menerjemahkan pikiran yang melintas dalam benak binatang cerdas ketika ia dipimpin oleh tangan seorang manusia lemah dan dungu yang mengarahkan dan mengendalikannya sesuai tujuannya, lalu kita alihkan dari pemikiran binatang itu ke dalam bahasa kita, dan kita sampaikan dengan makna yang ada di antara manusia dan binatang – maka dalam ungkapan itu akan berbunyi demikian: “Wahai orang dungu, engkau dalam hal membangun dan antara kebenaran yang mengatur alam semesta tidak lain adalah nabi yang diutus shallallahu ‘alaihi wasallam…” Itu karena susunan yang membedakan manusia dari binatang telah menjadikan otak binatang ini sebagai stempel dari Allah yang Dia tempelkan pada ciri-ciri khususnya, lalu Allah tuangkan dalam kulitnya, dan letakkan di kepalanya kunci ilahi yang mengurungnya dalam pintu keterpaksaan dari naluri-naluri kebinatangannya, dan mengunci dunia akal yang luas antara dirinya dan manusia; maka alam semesta baginya adalah sia-sia belaka yang tidak mengandung kecuali kebenaran-kebenaran sederhana, kemudian tidak ada penjelasan untuk kebenaran-kebenaran ini kecuali dari tabiatnya sendiri, kulitnya adalah tafsir astronomi paling halus… untuk matahari, cahaya, udara dan apa yang datang darinya; perutnya adalah ungkapan geografis paling benar… untuk bola bumi dan apa yang dibawanya, lapar dan kenyangnya adalah seluruh filsafat kejahatan dan kebaikan di dunia!…
Maka dasar kecerdasan yang tinggi maupun rendah adalah susunan alami tidak lain: seandainya bertambah satu atom dalam otak atau berkurang, maka akan bertambah satu gambaran untuk dunia atau berkurang; dengan demikian keharusan inilah yang menjadi kaidah dalam apa yang kita lihat dari perbedaan ketajaman kecerdasan pada individu-individu setiap jenis binatang, dan apa yang kita saksikan dari hal itu pada keadaan manusia, dari kecerdikan ke kecerdasan ke kecemerlangan ke kehebatan ke kecemerlangan luar biasa ke kejeniusan; dan ini adalah tingkatan-tingkatan dari kata-kata bahasa untuk keadaan-keadaan yang berdiri dari makna-makna ini yang kembali kepada derajat-derajat tetap dalam susunan otak.
Dan di antara yang membuat akal manusia bersujud dengan sujud panjang jika ia merenungkan hikmah Allah dan terus memperhatikan rahasia-rahasia dari apa yang sedang kita bicarakan tentang kecemerlangan luar biasa – bahwa wujud ini yang membawa rahasia-rahasia ketuhanan dalam bola yang terlempar di ruang abadi, dan bahwa bumi yang membawa rahasia-rahasia kemanusiaan, adalah bola yang terbang dalam apa yang membentang baginya dari wujud, dan bahwa setiap makhluk hidup di dalamnya membawa rahasia-rahasia kehidupannya dalam bola khusus baginya yaitu kepalanya, dan bahwa wujud dari setiap makhluk hidup setelah itu bukanlah sesuatu dalam pandangan maupun dalam perasaan maupun dalam pemahaman kecuali sebagaimana ia melihat, merasakan dan memahami dalam kepala itu sendiri menurut caranya dan susunannya, maka naiklah penjenjangan kepada yang besar kepada yang lebih besar, dan turunlah kepada yang kecil kepada yang lebih kecil; kemudian tidak ada makna bagi yang naik kecuali dari yang turun, dan dengan ini akan menjadi akhir semua ilmu ketika para ilmuwan menembus rahasia yang sebenarnya, bahwa akal manusia memahami segala sesuatu dan tidak memahami apa-apa…
Dan manusia berbeda dengan susunan otak mereka pada yang serupa dengan penjenjangan ini; maka ada seorang yang otaknya dalam hal kecerdasan dan akal dari manusia lainnya seperti wujud yang meliputi, dan ada yang lain seperti matahari, kemudian selain keduanya seperti bumi, kemudian yang keempat seperti manusia, kemudian ada di antara mereka yang seperti binatang dan di antara mereka yang seperti serangga; dan tidak ada sebab bagimu untuk ini kecuali apa yang telah disiapkan takdir “dengan sebab-sebabnya yang banyak”, bagi setiap manusia dalam susunan otaknya dalam jenis materi abu-abu dari otak, dan keadaan-keadaan susunan dalam jutaan sel saraf, dan apa yang tak terhitung dari cabang-cabang sel-sel ini dan ranting-rantingnya: kemudian apa yang terjadi sebelumnya dari hubungan-hubungan antara cabang-cabang ini yang bagi setiap kepala seperti pasir bola bumi, kemudian perbedaan kadar bahan-bahan kimia yang tercipta dalam kelenjar-kelenjar tubuh dan dikeluarkan kelenjar-kelenjar itu ke dalam darah.
Maka mungkin karya cemerlang yang memberontak terhadap akal-akal datang dari setetes dalam kelenjar-kelenjar ini, sebagaimana bangkitnya raksasa pemberonti dengan tulang-tulangnya yang memanjang dan papan-papannya yang terbentang dari kelenjar pituitarinya tidak lain.
Maka orang cerdas dari yang cerdas seperti dirinya hanyalah seperti tentara dari tentara yang menghadapinya: terjadi perbedaan antara keduanya dalam apa yang mereka miliki dari banyaknya prajurit, dan sifat-sifat mereka dari kekuatan dan kelemahan, dan keadaan-keadaan mereka dari keteraturan dan kekacauan, dan kekuatan alat-alat mereka dan ukurannya dan jenis penemuan di dalamnya, kemudian tabiat tempat mereka dan baiknya pengarahan dan kepemimpinan mereka, dan apa yang mengelilingi mereka dari yang sulit atau mudah, dan apa yang tampak atas mereka dari peristiwa-peristiwa dan takdir-takdir, kemudian taufik yang tidak ada daya padanya jika jatuh dalam bagian salah satu dari keduanya dan menetap, atau jatuh ringan dan terbang kepada yang lain, dan dengan yang serupa dengan semua ini adalah perbandingan jika engkau membandingkan antara dua orang cemerlang dalam hakikat kecemerlangan mereka.
Maka orang cemerlang adalah ciptaan dari Penciptanya, berbuat sebagaimana engkau lihat dengan takdir-takdir Allah; karena ia adalah takdir atas kaumnya dan atas zamannya, dan ia dari manusia seperti kartu menang dari kartu-kartu undian “lotre”: suatu tarikan tangan yang menjadikannya uang dan meninggalkan yang lainnya sebagai kertas dan menimbulkan di antara keduanya perbedaan emas; dan dengan ini dunia tidak sanggup menambah seorang yang cemerlang kecuali jika ia sanggup menambah sebuah bintang pada planet lalu membuatnya; dan seandainya ia membuatnya dari listrik, maka tinggal membawanya, dan jika sudah membawanya tinggal mengangkatnya ke langit-langit; dan seandainya sudah mengangkatnya maka tinggal segala sesuatu… tinggal baginya menerjunkannya ke dalam bintang-bintang dan mengirimkannya di dalamnya berputar dan beredar.
Dan sebagaimana orang cemerlang diciptakan dengan susunannya, diciptakan baginya keadaan-keadaan yang sesuai untuk karyanya yang ia dikhususkan dengannya dalam rahasia-rahasia takdir sebagai pekerja yang bermanfaat, walaupun tidak sesuai baginya sendiri sebagai yang diuntungkan; karena ia sendiri tidak dimaksudkan kecuali dari segi bahwa ia adalah sarana atau alat yang menanggung apa yang ia pikul dalam kerja-kerjanya, dan didatangi baginya untuk mengambil dengan satu cara dan memberi dengan satu cara; dan dengan itu takdir kembali menjadi bahwa akal bagi orang cemerlang adalah petunjuk bagi manusia dari manusia mereka sendiri kepada Sang Pencipta yang hanya Dia-lah yang punya urusan.
Dan jika keindahan tampak jelas dalam perkataan orang-orang cemerlang ini, dan khayalan tampak dalam ungkapan mereka, dan hikmah turun ke dunia dalam pemikiran mereka, dan teladan tertinggi mereka adalah yang menyeru kepadanya, dan kerinduan-kerinduan jiwa mereka adalah yang membangkitkannya, dan emosi-emosi mereka adalah yang menggambarkannya, dan kegembiraan hidup mereka adalah yang mengubahnya menjadi seni – jika semua ini demikian maka semua ini hanyalah penegasan hubungan mereka dengan kekuatan abadi yang mengatur, dan bahwa mereka adalah alat-alatnya dalam makna-makna ini; maka karya-karya mereka tidak lebih dari karya-karyanya; dan mungkin manusia mengira bahwa orang cemerlang mencari kekuatan-kekuatan yang mengelilinginya untuk berkreasi darinya, padahal kenyataannya ia-lah yang mencarinya untuk berkreasi dengannya.
Dan selanjutnya; maka orang cemerlang seakan-akan manusia dari langit, maka ia menyimpan sinar-sinar akal dan memancarkannya, dan di tangannya cahaya-cahaya dan bayangan-bayangan dan warna-warna ia bekerja dengannya kerja fajar setiap kali gelap atas manusia makna-makna kehidupan; dan hikmah tidak berhenti melemparkan kepadanya ide yang indah agar ia memberikannya gambaran idenya, dan mengilhamkan kepadanya makna penciptaan agar ia datangkan kepadanya makna keindahan penciptaan; dan alam diciptakan Allah sendiri, tetapi ia tidak masuk akal kecuali dengan ilmu, dan tidak indah kecuali dengan puisi, dan tidak dicintai kecuali dengan seni; maka orang-orang cemerlang dalam semua ini adalah penjelasan-penjelasan dan tafsir-tafsir seputar kalimat-kalimat Allah, dan semua mereka merasakan wujud sebagai seni yang sempurna dan merasakan dirinya sebagai penjelasan untuk hal-hal dari seni ini, dan melihat makna-makna alam seakan-akan datang kepadanya mencari dalam tulisan dan puisinya kehidupan yang lebih besar dan lebih luas dari apa yang ada padanya dari kebenaran-kebenarannya yang terbatas, dan menampakkan diri kepadanya kesedihan-kesedihan kemanusiaan memintanya agar ia betulkan pandangan tentangnya dengan mengeluarkan makna khayalnya yang indah, karena walaupun ia adalah kesakitan-kesakitan dan kesedihan-kesedihan tetapi makna khayalnya adalah kegembiraan yang dibawanya untuk manusia; karena dari tabiat jiwa manusia bahwa ia tenang kepada gambaran kesakitan-kesakitannya dan filsafat hikmahnya ketika tampak mata batin mereka membawa pengaruh ilahinya, seakan-akan yang menyakitkan bukanlah kesakitan itu, melainkan ketidaktahuan akan rahasianya.
Dan secara keseluruhan maka alam semesta memilih dalam setiap hal penafsir jeniusnya untuk mengungkap dari kesamarannya dan menambah padanya juga… kemudian untuk didatangkan kepada manusia teladan tertinggi dari makna atas tangan teladan tertinggi dari pemikiran; dan karena itu tepatlah perkataan yang ditulis orang cemerlang yang diilhami pada waktu-waktu tajalli atasnya seakan-akan perkataan yang menggambarkan dirinya dan membentuknya, atau seakan-akan potongan dari perasaan yang telah membeku dalam baris-baris; dan pasti kalimat itu membuatmu merasakan bahwa ia terlempar sebagai wahyu; karena engkau tidak mendapatinya kecuali seakan-akan dalam kata-katanya ada roh yang bergetar; dan sungguh terpikir olehku ketika aku membaca sebagian makna-makna indah untuk pikiran dari pikiran-pikiran yang diilhami seperti Shakespeare dan Al-Mutanabbi dan lainnya – ketika aku merenungkan penemuan makna dan penciptaan konteksnya dan sinar keterangan atasnya dan pancaran di dalamnya dan apa yang diberikan kepadanya dari keagungan yang tampak dalam bentuk hidup yang mengisyaratkan rahasianya dalam jiwa – terbayang bagiku dari itu bahwa rahasia alam yang berkuasa bekerja kerjanya kadang-kadang dengan pikiran manusia untuk menciptakan ungkapan tentang keagungannya dalam serupa keagungannya.
Dan engkau, seandainya engkau mengambil makna dari makna-makna yang datang dari ilham ini dan mengalirkannya dalam tulisan penulis atau puisi penyair dari mereka yang tidak memiliki kecuali pikiran-pikiran mereka yang mereka peras, dan buku-buku mereka yang mereka jadikan pikiran-pikiran mereka kadang-kadang… niscaya engkau akan melihat perbedaan antara sesuatu dan sesuatu dalam yang terbaik yang engkau temukan dari mereka seperti apa yang engkau lihat antara bunga sutra yang datang dari karya manusia dengan jarum dan benang, dan bunga lain yang telah muncul harum segar di rantingnya yang hijau dari karya kehidupan dengan langit dan bumi.
Dan orang jenius adalah selamanya di balik apa yang tak berakhir dari keindahan, awalnya dalam dirinya dan akhirnya dalam keindahan paling suci yang menyapu jiwa indah luhur ini; maka selama ada padanya rahasia kejeniusan maka ia terus bekerja merobek hidupnya dalam pancaran-pancaran cahaya robekan yang berkumpul darinya kesusastraannya; dan kesusastraannya tidak lain adalah gambaran hidupnya; dan ia setiap kali berkreasi sesuatu mencari yang lebih kreatif darinya; maka ia tidak berhenti menderita jika bekerja karena tabiatnya tidak berhenti pada suatu tujuan dari kerjanya, dan menderita jika tidak bekerja; karena tabiat itu sendiri tidak tenang kecuali dalam kerja, dan ia tabiat yang memberontak dengan keindahan paling suci itu pemberontakan cinta dalam pembawanya; karena keduanya adalah dua gambaran untuk satu perkara sebagaimana akan kami isyaratkan kepadanya; maka semua yang engkau temukan dalam jiwa orang yang jatuh cinta yang menggantung yang membuatnya terjerumus kepada kegilaannya dan kehancurannya, engkau temukan yang serupa dengannya dalam jiwa orang jenius; maka keduanya hukumnya dari tabiat sendiri; karena sudah mengambil hidupnya bentuk seninya dari seleranya sendiri; maka ia tidak mengikuti cara siapa pun, bahkan ia dalam cara dirinya sendiri, dan keduanya mengalir selamanya kepada keindahan yang menyebar atas rohnya berbolak-balik di dalamnya dengan kenikmatan dan kesakitan kembali kepadanya dan mengambil darinya, dan keduanya tidak menemukan makna indah dalam alam sebagai makna, bahkan sebagai utusan dari keindahan yang dikirim kepadanya sendiri, dan tidak berhenti merasakan setiap waktu bahwa baginya surat-surat dan utusan-utusan ia masih dalam menunggunya, dan keduanya ketika berhasil dengan sesuatu dari sumber keindahan berakhir dari hebatnya kegembiraannya kepada dugaan bahwa ia mendapat dari alam semesta keuntungan yang tidak ada baginya sebelumnya, dan keduanya hancur antara belenggu-belenggu kehidupan yang dalam kehidupan dan kenyataan, dan antara kebebasannya yang dalam khayalan dan harapannya, seakan-akan atasnya dalam jalan kebebasan ini bahwa ia memotong malam dan siang tiada belenggu dari belenggu-belenggu kemasyarakatan atau kehidupan; dan keduanya terhubung dengan kekuatan gaib di balik apa yang ia lihat dan apa yang ia rasakan yang menjadikan pandangannya dalam hal-hal tunduk kepada hukum pandangan yang jatuh cinta dalam mata-mata yang mempesona yang dicintai, maka jika ia mengulurkan matanya pada sesuatu yang indah maka di sana ada pertanyaan dan jawabannya, dan wahyu dan terjemahannya, dan lewat dari bangun kepada mimpi, dan perpindahan dari kenyataan kepada khayalan!
Kecuali bahwa tabiat orang jenius menambah atas semua itu kesakitan yang menyendiri dengannya tidak menetap bersamanya atas ridha, dan tidak berhenti menguasai kesulitan atasnya dan menenggelamkannya dalam kekhawatiran-kekhawatiran luhur; dan itu kesakitan kesempurnaan seni yang tidak meraih orang jenius tujuannya pada dirinya, walaupun pada manusia sudah meraih tujuan-tujuan dan tujuan-tujuan; maka tabiat setiap orang jenius berjuang sekuat tenaganya dalam kerja untuk mengeluarkannya dari apa yang sanggup dilakukan manusia, maka jika pemiliknya berhasil untuk itu dan berjuang di dalamnya dan meraih darinya dan mencapai dan melemahkan, melesat tabiatnya untuk keluar dari apa yang ia sanggup… seakan-akan ia keluar dari alam dan masuk dalam alam pada waktu bersamaan, dan seakan-akan ia dirinya dan di atas dirinya dalam keadaan, dan ini rahasia kebebasannya dan ketinggiannya, sebagaimana ia rahasia kesakitannya dan kebingungannya.
Dan dari pengaruh itu apa yang engkau rasakan jika engkau membaca untuk sastrawan fasih sempurna pemilik pemikiran dan gaya dan pikiran yang diilhami; maka engkau berdiri pada makna dari makna-maknanya memenuhi jiwamu dan meregang di dalamnya dan bergetar dengannya dengan kegembiraan dan kekaguman, lalu engkau berkata: Aku tidak merasakan dari ini! Kemudian engkau berharap dengan itu bahwa engkau menemukan darinya apa yang lebih baik dari ini… seakan-akan ia walaupun sampai kepada tujuan masih ada padamu di atas tujuan; dan ini aneh, tetapi tidak ada dalil atas kejeniusan kecuali keanehan selamanya; maka ia sistem tidak ada sistem padanya; karena ia cara tidak ada cara baginya; dan dengan keanehan ini datanglah kejeniusan keseluruhannya contoh-contoh dan tidak ada di dalamnya kaidah-kaidah yang ditiru atasnya dan tidak ada petunjuk di dalamnya kecuali dari roh; dan jika seni adalah kemampuan yang bertasarruf dalam keindahan, maka kejeniusan adalah kemampuan yang bertasarruf dalam seni, dan orang cemerlang seperti orang cerdik yang bersamanya kekuatan-kekuatan akal dan ingin bertambah atas kadarnya darinya, tetapi orang jenius seperti orang ilahi yang bersamanya kekuatan-kekuatan roh dan ingin menambah manusia atas kadar mereka dengannya; dan yang itu rujukannya pemikiran halus yang mencari; dan ini sandarannya mata batin yang tembus pandang yang menembus, dan ia paling aneh keanehan dalam manusia; karena ia segi mutlak dalam makhluk terikat ini, dan dengannya meluas manusia untuk meraih yang mutlak yang tampak dari balik wujud-wujud, dan di dalamnya berubah hal-hal dari sistem perasaan kepada sistem roh maka terdengar yang tampak dan telihat yang terdengar, dan melepas tubuh-tubuh melodi-melodi, dan memakai suara-suara bentuk-bentuk, dan tampak padanya setiap makhluk seakan-akan ada padanya sisa yang lebih dari penciptaannya dibiarkan agar bekerja di dalamnya penulis atau penyair yang bercerita karya seninya, yang lebih dari alam dengan perasaan yang lebih dari pikirannya, dan ia yang kami sebut ilham.
Dan perasaan ini adalah demikian juga dari sebagian keanehan, ada pada pemiliknya yang berbakat sebagaimana ada perasaan arah pada burung-burung yang memotong di angkasa langit kepada tujuan-tujuan jauhnya dari kutub bumi kepada kutub yang lain tanpa petunjuk yang dibawanya, dan tanpa gambar yang dilihatnya, dan tanpa ilmu yang dirujuknya; dan sebagaimana ada perasaan pembedaan pada lebah yang membangun sarangnya atas ilmu ukur yang bukan dari buku dan bukan dari sekolah, dan perasaan pengaturan pada semut yang mengatur kerajaannya tanpa ilmu-ilmu kerajaan dan politiknya; dan sering datang sastrawan yang diilhami dari kebenaran-kebenaran pemikiran dan keterangannya dan rahasia-rahasia tabiat dan sifat-sifatnya dengan apa yang menutupi filsafat para filosof dan ilmu para ilmuwan, dan orang jenius seperti ini menurutku di atas ilmu, aku tidak berkata dengan derajat, tetapi dengan perasaan.
Dan dengan ilham menjadi bagi setiap orang jenius pikirannya yang bersamanya dan pikirannya yang tidak bersamanya; karena ada baginya dari balik khayalnya kekuatan yang tidak tampak yang tidak ada padanya, dan dengan itu bekerja sebagaimana bekerja anggota-anggota dalam tubuhnya, mudah tunduk seakan-akan ia bertasarruf atas kelangsungan kebiasaan tanpa pikir dan tanpa pertimbangan dan tanpa kesulitan selama ia menampakkan diri atasnya. Dan tidak terhubung kekuatan ini kecuali dengan susunan saraf yang ada padanya ciri-ciri khusus yang layak untuk menerima darinya, dan ia pada orang-orang jenius ciri-ciri sakit pada umumnya, bahkan mungkin demikian selamanya; agar mudah bagi orang jenius keadaan ringan dari kematian… ia pikul dengannya susah payahnya dan lelahnya dan apa yang dideritanya dari pedihnya pemikiran dan beratnya; kemudian agar menjadi keadaan ini seperti pendekat antara alam syahadat padanya dan antara alam gaib darinya; maka susunan saraf dalam otak orang jenius adalah manusia tersendiri dengan manusia lain, salah satunya untuk apa yang dalam alam dan yang kedua untuk apa di balik alam; dan dari situ adalah laki-laki dari golongan ini seperti lampu: menyala dan padam; karena ia alat cahaya terkenai sebab-sebab lalu hilang kemampuannya atasnya, dan kering materi cahaya darinya, maka demikian tidak berkuasa atasnya, dan menjadi menyala lalu padam karena sebab yang bukan darinya dan bukan dari cahayanya, dan ia atas semua keadaan ini tidak memiliki dari keadaan; maka sementara orang jenius yang memenuhi dunia dari jejak-jejaknya yang cemerlang, engkau lihat ia dalam keadaan dari keadaan-keadaannya berjuang tidak berhenti maka rajin dalam kerja dan mengeluarkan daya di dalamnya dan sabar atas lamanya kelelahan dalam menguasainya dan melimpah dengannya limpahan seakan-akan dalam tabiat musim semi yang mekar sepanjang hari-harinya dengan keindahan – tiba-tiba ia dalam keadaan lain berlambat dan menunggu tidak bekerja apa-apa seakan-akan masuk dalam bakatnya musim dingin, dan dalam ketiga ia melambat dan berlama-lama maka tidak terlintas baginya yang baru seakan-akan terhambat darinya pikirannya atau menolak tabiatnya atau ia dalam panas tabiatnya dan kelemahannya dan kejenuhannya; kemudian tidak berlalu atas itu kecuali sebentar dan sejam maka tiba-tiba atas musim panasnya angin November dan Desember… dan tiba-tiba ia bangkit penuh kekuatan dan kegiatan; dan mungkin ia mengambil dalam tujuan dari penulisan sudah digambar baginya makna dan disiapkan baginya materi, maka hampir tidak berlalu untuk arahnya sampai berubah dalam pikirannya makna-makna maka tiba-tiba ia menulis apa yang tidak didiktekan; dan mungkin ia memulai makna kemudian memotong darinya dengan yang datang dari kerja atau pembicaraan, kemudian mengulanginya maka tiba-tiba ia makna lain dan tiba-tiba segi dari pemikiran ia adalah segi penciptaan dan penemuan dalam pokok bahasannya, dan tiba-tiba ia hanya ditarik dengan penarik itu dari makna pertamanya tarikan untuk meninggalkannya kepada yang lebih sempurna dan lebih benar, dan yakin bahwa seandainya ia menyelesaikan atas apa yang dimulai niscaya menyesal dan lemah dan datang dengan apa yang lainnya lebih mampu atasnya; seakan-akan kekuatan tersembunyi yang mengilhaminya memperbaiki baginya juga dengan cara-caranya yang aneh; dan mungkin ia sedang mengambil dalam kerjanya berjalan atas tabiatnya mengalir kepada apa yang terbuka baginya dari rahasia-rahasia makna yang dipetik dari sini dipetik dari sana, kemudian melihat maka tiba-tiba ia telah menghapus papan khayalnya, dan mencari makna maka tidak diberikan kepadanya, dan melanjutkan maka tidak bertambah kecuali susah payah dan kesulitan seakan-akan pergi ilhamnya dalam kesamaran dari kesamaran keabadian; dan setiap orang yang berlatih dengan keahlian pemikiran dan menguat baginya kebiasaannya dan melalui tingkatan-tingkatannya sampai mencapai kedudukan yang mengintai darinya untuk ilham dan menghadapkan diri di dalamnya dengan rohnya dan mata batinnya untuk getaran-getaran wahyu dan tersingkapnya gaib, mengetahui bahwa setiap makna baru yang datang dengannya dalam keahliannya hanya terjadi baginya sebagai ilham dari makna hidup yang meluas itu dalam semua makhluk, tampak dalam sesuatu darinya dengan cahaya, dan dalam hal-hal dengan warna-warna, dan dalam sebagiannya dengan gerakan, dan dalam sebagiannya dengan keserasian, dan dalam sebagiannya dengan kehebatan dan kemegahan, dan dalam lainnya dengan getaran keadaan; dan tampak dalam keadaan-keadaan banyak bahwa ia tidak tampak; dan mengetahui demikian juga bahwa makna menyeluruh yang tidak terbatas ini adalah yang memindahkan wujud keseluruhan kepada jiwa-jiwa orang-orang cemerlang ketika bergetar dalam jiwa-jiwa halus ini dan merasakan rahasianya, dan jika orang cemerlang itu ingin menerangkannya ia tidak melihat sesuatu, dan jika ingin hujjah atasnya tidak sanggup menjelaskan tentang keterangannya dengan kata, dan jika mencari definisi dengannya tidak menemukan kecuali apa yang disaksikan perasaannya dan hatinya, dan ini yang terpantik dalam pikiran-pikiran orang-orang cemerlang sebagai ide-ide ketika melimpah bagi setiap mereka dengan sebab dari bacaan atau penyaksian atau keadaan atau latihan, dan ia ia sendiri yang terpantik cinta dalam hati-hati orang-orang yang mencintai ketika tampak bagi setiap mereka dalam makna atas wajah yang indah; dan dari situ adalah orang cemerlang dalam sastra tidak sempurna kesempurnaannya kecuali jika mencintai dan jatuh cinta, dan adalah sastra sendiri dalam memperoleh hakikat filosofisnya tidak lain sesuatu selain keahlian keindahan pemikiran…
Dan kerja dalam sistem saraf khusus itu pada beberapa otak adalah yang disebut oleh para sarjana sastra Arab dengan at-tawlid (penciptaan/kelahiran makna), dan mereka telah mengenali pengaruhnya, tetapi mereka tidak menyadari hakikatnya dan tidak memahami sedikitpun dari rahasianya. Dan yang terbaik yang kami baca tentang hal itu adalah perkataan Ibnu Rasyiq dalam kitab Al-Umda: “Sesungguhnya penyair disebut penyair karena ia merasakan apa yang tidak dirasakan oleh orang lain. Jika tidak ada pada penyair penciptaan makna atau penemuan makna, atau penggunaan lafaz yang asing dan penciptaan lafaz, atau penambahan pada makna yang dikurangi orang lain, atau pengurangan pada lafaz yang diperpanjang orang lain, atau pengalihan makna dari satu sisi ke sisi lain – maka nama penyair padanya adalah majaz bukan hakikat, dan tidak ada baginya kecuali kelebihan dalam wazan (irama)”. Ini adalah perkataan Ibnu Rasyiq, dan mereka tidak memiliki yang lebih baik darinya, namun itu adalah percampuran yang tidak bernilai dan tidak ada di dalamnya dari pembahasan kita kecuali lafaz at-tawlid.
Dan yang tidak habis-habisnya mengherankan kami dalam menelusuri filosofi bahasa Arab yang menakjubkan ini, bahwa kami melihat kebanyakan kosakatanya seperti sempurna tidak kurang sedikitpun dari ketelitian makna dalam asal peletakannya, sementara para ulama kami tidak memahami dari kosakata ini kecuali sebagian dari apa yang ditunjukkannya, seakan-akan kosakata itu diturunkan dari Dzat yang mengetahui rahasia. Dan kami telah mengingatkan hal ini dalam kitab “Tarikh Adab al-Arab” dan kami telah memperluas dan menyelesaikan filosofinya di sana. Al-Quran Karim datang dengan keajaiban-keajaiban dari hal ini yang melampaui akal, hingga kebanyakan kosakatanya hampir menjadi tersegel turun demikian untuk membuka segel ilmu-ilmu dan filsafat pada zaman-zaman mendatang yang tidak diragukan lagi. Dan kata at-tawlid yang tidak dipahami para ulama kecuali mengambil makna dari makna lain dengan salah satu cara pengambilan yang mereka tunjukkan dalam kitab-kitab sastra – adalah kata yang tidak keluar darinya sedikitpun dari rahasia-rahasia kejeniusan dan kamu tidak akan menemukan yang dapat menggantikan posisinya dalam hal itu atau yang dapat mencakup seperti cakupannya. Dan kami tidak menyangka dalam bahasa manapun ada yang menyerupainya dalam petunjuk ini dan mencakup semua rahasia makna. Karena dengan lafaznya ia menetapkan kehidupan alam semesta dalam pikiran manusia, dan bahwa ia mengambilnya sebagai sarana untuk mencipta makna-maknanya, sebagaimana rahasia kehidupan mengambil rahim ibu sebagai sarana untuk mencipta makhluk-makhluknya. Dan bahwa makna-makna saling membuahi sehingga sebagian melahirkan sebagian dalam gaya kehidupan, dan bahwa inilah satu-satunya cara untuk evolusi pemikiran dan mengeluarkan keturunan-keturunan makna yang sebagian lebih indah dari sebagian, sebagaimana hal itu terjadi dalam keturunan dengan cara-cara pembuahan dari darah-darah yang berbeda. Dan bahwa kejeniusan tidak lain adalah susunan saraf khusus dalam pikiran, kemudian pertumbuhan susunan ini dengan kehidupan dalam cara yang sama dengan cara kelahiran yang menghidupkan yang kembali juga kepada susunan khusus dalam rahim betina yang tumbuh, kemudian matang kemudian bekerja dengan kerjanya yang menakjubkan. Dan jika dari segala sesuatu di alam ada pasangan, maka kata itu menetapkan bahwa pikiran-pikiran para jenius adalah pikiran-pikiran yang bersifat feminin dalam tabiat yang dibangun atasnya. Dan ini benar, karena ia adalah pikiran terkuat di bumi dalam merasakan penderitaan dan kegembiraan, dan makna air mata dan senyuman lebih cepat datang kepadanya daripada lainnya, bahkan itu adalah tabiat di dalamnya. Dan hanya ialah yang mencipta keindahan dan yang melahirkan selera, dan kerjanya dalam hal itu adalah hukum keberadaannya. Kemudian ia berdiri atas kesabaran dan pemberian dan ridha dengan kekurangan demi hal itu dan kecanduan sabar terhadap kelelahan dan ketelitian dan perhatian pada detail-detail dan dasarnya adalah cinta. Dan semua itu dari tabiat betina dan ialah yang jenius di dalamnya, bahkan ialah jenius karenanya.
Maka rahasia kejeniusan dalam sastra dan lainnya adalah at-tawlid, dan rahasia at-tawlid dalam kematangan pikiran yang disiapkan dengan peralatan sarafnya, yang menuju kepada yang ghaib dan makna-maknanya sebagaimana semua alat observatorium astronomi menuju langit dan benda-benda langitnya. Dan dengan unsur pikiran itulah sang jenius melebihi lainnya, sebagaimana berlian melebihi kaca, dan permata melebihi batu, dan baja melebihi besi, dan emas melebihi tembaga. Maka semua ini jenius kejeniusannya dengan at-tawlid dalam rahasia susunannya. Dan para jenius sendiri berbeda-beda dalam kekuatan kemampuan ini, sebagian dari mereka lebih sempurna dari sebagian, dan memperluas bagi mereka dalam perbedaan keadaan zaman mereka dan kehidupan mereka dan peristiwa-peristiwa mereka dan semacamnya. Dan dengan perbedaan inilah berkumpul bagi setiap mereka kepribadian dan tersusun baginya cara. Dan dengan itu beragamlah gaya-gaya, dan ucapan diulang tidak seperti yang ada pada dirinya, dan dunia diperbarui dengan makna-maknanya dalam pikiran setiap sastrawan yang memahami dunia dan hal-hal yang berjalan biasa mengambil keanehan yang tidak ada dalam kebiasaan dan yang hakiki kembali lebih dari hakikatnya.
Dan seorang pelukis yang kreatif pernah ditanya dengan apa ia mencampur warna-warnanya sehingga datang dan memiliki pancaran dan keindahan dan kejeniusan bangunannya dan kebanggaan kehidupan dalam gambar, maka ia berkata: “Sesungguhnya aku mencampurnya dengan otakku.” Dan inilah itu. Karena warna-warna ada pada semua orang, tetapi otaknya ada padanya sendiri dan memiliki susunan khusus dengannya sendiri dan rahasia keahlian dalam at-tawlid otak ini seakan-akan warna-warnanya dalam keahliannya datang darinya secara khusus. Dan demikian pula segala yang ditangani sang jenius, maka kamu akan mendapati puisi dalam wazan khusus dengannya yang menunjukkan padanya dan menyempurnakan tujuan darinya dan menambahkan pada makna-maknanya keanggunan dari keindahan dan kebaikannya dan pada gambarnya nada dari musik dan kegembiraannya. Maka betapa mirip sistem saraf dalam otak setiap jenius menjadi wazan puitis bagi jenius ini secara khusus. Tidakkah kamu lihat bahwa kamu tidak membaca sastrawan sejati kecuali kamu dapati semua yang ditulisnya datang dalam wazan khusus dengannya hingga tidak keluar darinya sekali pun, atau kamu menambah dan mengurangi padanya kecuali tampak bagimu bahwa itu rusak…?
Dan pikiran jenius tidak mengambil makna-makna sebagai objek penelitian dan peninjauan dan pelacakan yang diekstrak darinya atau digantungkan padanya, karena ini adalah kerja pikiran cerdas saja dan itu adalah puncak puncak di dalamnya: meneliti dan melihat dan memeriksa dan mengumpulkan dari sini dan mengambil dari sana dan menyanggah dan membetulkan dan mendatangimu dengan artikel yang diperhitungkan di dalamnya segala sesuatu padahal tidak ada di dalamnya kecuali hal-hal dia dan sesamanya. Adapun pikiran jenius maka tidak ada baginya dari makna-makna kecuali bahan kerja, maka tidak sempat ia bersentuhan dengannya hingga berubah di dalamnya dan tumbuh dan beragam dan berjatuhan baginya bentuk-bentuk dan gambar-gambar seperti kilatan petir. Dan mungkin ia membanjiri dengan satu makna dalam keindahan dan ketinggian dan kekuatan pengaruhnya beberapa artikel orang-orang cerdas itu sehingga menghapusnya dan menjadikannya darinya seperti lilin yang dinyalakan di hadapan matahari. Jika kamu pergi menyeimbangkan antara makna seperti ini dan artikel-artikel seperti ini dalam kemegahan dan keagungan dan kamu melihat keangkuhan artikel dan kesombongannya, kamu tidak dapat kecuali berkata kepadanya: “Wahai kerikil timbangan di salah satu piringannya, tidakkah cukup bagimu gunung di piring yang lain…?”
Dan semua sastrawan telah mengetahui bahwa penulis besar Prancis Anatole France menulis kalimat, kemudian merevisinya, kemudian mengeditnya, kemudian mengulanginya, kemudian kembali padanya, dan begitu lima kali hingga delapan dan memajukan dan mengakhirkan dari tempat ke tempat, dan mereka menganggap ini sebagai penyempurnaan dan pengeditan, padahal itu bukan apa-apa darinya dan aku tidak menyangka orang Eropa sendiri menyadari rahasia cara ini. Dan sesungguhnya rahasianya dari alat at-tawlid di kepala penulis besar itu, maka jika ia membaca tulisan ia mengubahnya menjadi pemikiran dan mencipta baginya darinya tanpa bekerja dalam hal itu atau memaksakan diri kecuali seperti yang dipaksakan orang yang menggoyangkan batang pohon untuk dijatuhkan padanya buah yang matang manis yang dipetik. Maka setiap kali ia membaca, pikirannya melahirkan dan ia menetapkan apa yang datang kepadanya, maka tidak henti-hentinya gambar keluar dari gambar hingga datang makna pada akhirnya dan sungguh ia adalah yang paling aneh dari keanehan, akal hampir tidak dapat menemukan caranya dan alur pemikiran di dalamnya karena ia tidak datang kecuali diubah dari wajahnya beberapa kali bukan sekali saja.
Maka alat at-tawlid bila terus berlanjut dan menguat dalam seseorang menjadi baginya berkedudukan seperti raja wahyu dari nabi, dan itu menurut kami dalil dari dalil-dalil terkuat tentang kebenaran kenabian dan terjadinya wahyu dan kemungkinannya. Karena tidak bertindak dengannya kecuali kekuatan ghaib yang tidak ada kerja manusia di dalamnya, bahkan ia mencipta ciptaannya dan melemparkan padanya lemparan. Dan tidak setiap orang yang menghadapnya meraih darinya, dan tidak setiap yang meraih darinya mencapai dengannya, bahkan harus ada untuknya sistem saraf yang kokoh seperti alat nirkabel yang teliti yang dibuat untuk menerima gelombang-gelombang listrik terjauh dan terkuat. Dan kekuatan ini jika menginginkan makna-makna keindahan mengeluarkan penyair, dan jika menginginkan penyingkapan rahasia tentang hal-hal mengeluarkan sastrawan, dan jika menginginkan hakikat-hakikat wujud mengeluarkan hakim. Jika urusannya lebih besar dari semua ini dan urusan mengubah kehidupan dan menuangkan zaman-zaman baru bagi kemanusiaan dan melompat dengan dunia ini satu derajat atau beberapa derajat dalam kemajuan, maka di sini sarananya lebih besar dari wawasan, maka tidak ada baginya dari kekuatan ghaib kecuali wahyu, dan tujuannya lebih besar dari penyair dan sastrawan dan hakim, maka tidak dipilih kecuali nabi. Kemudian tidak diwahyukan kepadanya kecuali saat ia dalam perasaan untuk saat wahyu saja, dan itu saat yang bukan dari waktu tetapi dari ruh yang berpaling dari waktu dan apa yang ada di dalamnya untuk menerima dari ruh keabadian. Dan dekat dari itu khalwat jenius dengan dirinya di saat at-tawlid. Maka rahasia kejeniusan dari rahasia wahyu, tidak diragukan dalam hal itu. Dan betapa mudah rahasia wahyu dan mudah urusannya, tetapi hanya pada para nabi, dan di sini semua kesulitan… “Menjadi atau tidak menjadi; inilah masalahnya”.
Penyair menurut pandangan kami adalah sosok yang melihat seluruh alam dengan mata yang memiliki cinta khusus dan di dalamnya terdapat rayuan tersendiri, yang diciptakan dalam keadaan siap dengan kumpulan jiwa yang sensitif untuk melihat keajaiban yang hanya dapat dilihat dengan mata tersebut, bahkan keajaiban yang tidak akan ada dalam alam yang hidup tanpa mata sang penyair, sebagaimana tidak ada keberadaannya dalam keindahan yang hidup tanpa mata sang pencinta.
Jika penyair besar itu buta seperti Homerus dan Milton serta Bashar dan al-Ma’arri dan rekan-rekan mereka, maka penglihatan puitik terpancar dari balik setiap indera yang dimilikinya, dan ia melihat dari pikiran-pikirannya yang tersebar dalam setiap makna, sehingga jiwa dalam keberadaan yang gelap dapat memberikan lebih banyak daripada yang dapat diberikan jiwa ini dalam keberadaan yang terang, dan ia tertinggal dari orang-orang yang dapat melihat dalam makna-makna tertentu namun mengungguli mereka dalam makna-makna lain, maka terkumpullah puisi dari mereka semua sebagai luapan jiwa yang diilhami dari ujung-ujung cahaya hingga kedalaman kegelapan.
Dan puisi itu terletak dalam rahasia-rahasia segala sesuatu, bukan pada benda-benda itu sendiri, karena itulah bakat penyair dibedakan dengan kemampuannya menciptakan warna-warna kejiwaan yang mewarnai segala sesuatu dan memberikan corak padanya untuk menampakkan hakikat dan kehalusannya hingga mengalir sesuai jalannya dalam jiwa dan melewati tempat jalannya di dalamnya; setiap sesuatu yang digunakan manusia dari hal-hal dunia ini, maka ia hanya memberikan kepada mereka materi dalam bentuknya yang bisu, hingga ketika penyair sampai kepadanya, ia memberikan materi ini dalam bentuknya yang berbicara, sehingga ia mengungkapkan dirinya dalam puisinya yang indah dengan sifat-sifat dan kehalusan yang tidak pernah dilihat orang sebelumnya seolah-olah tidak ada padanya.
Dengan puisi, alam berbicara dalam jiwa dan jiwa berbicara kepada kebenaran dan kebenaran datang dalam bentuk yang paling anggun dan penampilan yang paling indah, yaitu dalam ungkapan yang dibuat oleh jiwa yang diilhami ini ketika menerima cahaya dari segala yang ada di sekelilingnya dan memantulkannya dalam karya bercahaya yang bergelombang dengan warna-warna dalam makna, kata-kata, dan irama.
Dan manusia di antara manusia hidup dalam satu umur, tetapi penyair tampak seolah-olah ia dalam banyak umur dari perasaan-perasaannya, dan seolah-olah ia mengandung jiwa-jiwa yang berbeda yang mengumpulkan kemanusiaan dari ujung-ujungnya, dan dengan demikian ia diciptakan untuk melimpahkan kehidupan ini kepada dunia, seolah-olah ia adalah mata air kemanusiaan untuk perasaan yang dari padanya orang-orang mengambil air agar setiap manusia dapat menambah makna keberadaannya yang terbatas selama keberadaan ini tidak bertambah durasinya, kemudian agar manusia dengan itu dapat mempertajam saraf-sarafnya sehingga dapat merasakan sesuatu yang melampaui yang dapat dirasakan, dan menjadikannya sebagai bagian dari kebenaran abadi yang meluas dengan jiwa dan mengeluarkannya dari batas-batas kebutuhan sempit yang di dalamnya ia hidup untuk menghubungkannya dengan kenikmatan makna-makna yang bebas, indah, dan sempurna; dan seolah-olah puisi tidak datang dalam bentuk wazan kecuali untuk membawa jiwa pembacanya kepada kenikmatan itu di atas getaran irama; dan puisi tidak akan memberikan kegembiraan kecuali jika kamu merasakannya seolah-olah telah mengambil jiwa sejenak lalu mengembalikannya.
Dan penyair yang benar-benar layak dengan nama ini -yaitu yang menguasai puisi dan membuka makna-maknanya serta menemukan rahasia-rahasianya dan mengambil puncak keahlian di dalamnya- kamu melihatnya menempatkan dirinya di tempat apa yang dialaminya dari berbagai hal dan apa yang ia tangani untuk digambarkannya dari hal-hal tersebut, kemudian ia berpikir dengan akalnya seolah-olah akal benda ini ditambah kepadanya kemanusiaan yang tinggi, dan dengan ini jiwanya merangkum keberadaan sehingga mengeluarkan segala sesuatu dalam ciptaan yang indah dari makna-maknanya dan jiwa ini menjadi ciptaan lain bagi setiap makna yang masuk ke dalamnya atau berhubungan dengannya; oleh karena itu tidak diragukan bahwa jiwa penyair besar hampir menjadi salah satu indera alam semesta.
Dan seandainya masa-masa dunia ditanya bagaimana penghuninya memahami makna-makna kehidupan yang mulia dan bagaimana mereka melihatnya dalam jejak-jejak ketuhanan padanya, maka setiap generasi akan mengajukan dalam jawaban atas itu makna-makna agama dan makna-makna puisi.
Dan pemikiran bukanlah puisi jika datang sebagaimana adanya dalam ilmu dan pengetahuan, karena dalam hal itu ia adalah ilmu dan filsafat, adapun puisi adalah dalam penggambaran sifat-sifat keindahan yang tersembunyi dalam pemikiran ini dengan ketelitian dan kelembutan sebagaimana berubah dalam pikiran penyair yang mewarnainya dengan kerja jiwanya padanya dan mengambilnya dari sisi rahasia-rahasianya.
Maka pemikiran-pemikiran adalah hal yang dialami oleh semua pikiran dan di dalamnya hati setiap manusia dan lisannya bersepakat, namun seni penyair adalah seni sifat-sifat indah dan berpengaruhnya, dan seolah-olah khayalan puitis adalah lebah dari lebah-lebah yang hinggap pada berbagai hal untuk menciptakan di dalamnya materi manis untuk cita rasa dan perasaan, dan berbagai hal tetap setelahnya sebagaimana adanya tidak diubah oleh khayalan, dan datang darinya dengan apa yang tidak kamu kira darinya; dan kekuatan inilah satu-satunya yang merupakan kepenyairan.
Maka penyair besar tidak mengirimkan pemikiran untuk menciptakan ilmu dalam jiwa pembacanya saja, tetapi ia membuatnya dan menjaga kata-kata di dalamnya sebagian atas sebagian lain, dan ia mengolahnya dengan pengolahan itu untuk menciptakan dengannya ilmu dan cita rasa sekaligus; dan keagungan sastra tidak terletak pada penetapan pemikiran-pemikiran secara ilmiah murni, tetapi dalam mengirimkannya dengan cara pengarahan yang tidak ada penghalang antara itu dengan menetapkannya di tempatnya dari jiwa manusia. Dan seringkali pemikiran-pemikiran sastra tinggi yang diilhamkan oleh para jenius puisi dan penulisan adalah pemikiran-pemikiran akal sejarah manusia, maka pemikiran tidak terpisah dari mereka dalam gaya ungkapannya yang indah hingga mengambil posisi historisnya di dunia, dan berdiri atas dasarnya dalam perbuatan manusia, sehingga terwujud dalam keberadaan dan diamalkan; dan ini adalah bagian dari kesamaan antara sastra tinggi dengan agama-agama.
Dan apabila kebenaran-kebenaran turun dalam puisi maka wajib ia berwazan dalam bentuknya seperti wazannya, sehingga tidak datang dengan narasinya dan tidak diambil dengan mudah seperti ucapan tanpa kerja dan tanpa keahlian, karena jika penyair tidak memberikan padanya keindahan dan keteraturan ungkapan yang menjadi serupa dengan wazan, dan meletakkan di dalamnya ruh musikal sehingga puisi datang dengannya dan memiliki dua wazan dalam bentuk dan ruhnya -maka itu adalah kebenaran-kebenaran yang patah yang tampak dalam cita rasa seperti nazam yang dimasuki kecacatan sehingga datang terganggu telah menyimpang atau rusak.
Dan khayalan adalah wazan puitis bagi kebenaran yang dikirimkan, dan mengkhayalkan penyair hanyalah melemparkan cahaya dalam sifat makna agar jernih dengannya, maka ia dengan ini mengangkat alam satu tingkat kemanusiaan, dan mengangkat kemanusiaan satu tingkat surgawi; dan semua keajaiban para ilmuwan dan penemu adalah darinya dengan makna ini, maka ia pada asalnya adalah kecerdasan ilmu, kemudian meninggi sehingga menjadi mata batin filsafat, kemudian bertambah tinggi sehingga menjadi ruh puisi; dan jika kamu membalikkan susunan ini lalu menurunkannya turun sebagaimana kamu naikkannya, maka terjadilah bersamamu bahwa khayalan adalah ruh puisi, kemudian turun sedikit sehingga menjadi mata batin filsafat, kemudian bertambah turun sehingga menjadi kecerdasan ilmu, maka penyair sebagaimana kamu lihat adalah yang pertama jika dunia naik, dan ia yang pertama jika dunia turun; dan seolah-olah kemanusiaan manusia dimulai darinya.
Jika kita menetapkan bagi puisi makna ini dan mengetahui bahwa ia adalah seni jiwa besar yang peka dan diilhami ketika mengambil keberadaan dari atas keberadaannya dalam kelembutan rohani yang tampak dalam makna, bahasa, dan penyampaian -maka wajib kita mempertimbangkan kritik puisi dengan pertimbangan dari apa yang telah kita tetapkan, dan mendirikannya atas dasar-dasar ini; karena kritik sastra di zaman kita ini -khususnya kritik puisi- sebagian besarnya telah menjadi yang tidak ada nilainya, dan buruk penggunaannya, dan terjadi kekacauan di dalamnya, dan ditangani oleh sebagian besar ahlinya dengan ilmu yang kurang, tabiat yang lemah, dan cita rasa yang rusak, dan tamak padanya orang yang tidak memperoleh mazhab yang benar, dan tidak menuju pada pendapat yang baik, hingga datang ucapan mereka dan memang dalam omong kosong dan kekacauan ada yang lebih baik darinya dan lebih ringan bebannya, karena kamu dari keduanya ini dalam kenyataan yang terbuka mengetahuinya sebagai kekacauan dan omong kosong, tetapi kamu dari kritik mereka itu dalam sastra palsu dan klaim kosong dan tambahan-tambahan dari hal yang tidak berguna dan pemaksaan yang mereka tambahkan untuk menggembungkan dan pamer serta membuat orang mengira bahwa penulis tidak melihat seorang pun kecuali dia di bawah kekuasaannya… padahal usaha kerjanya jika kamu teliti dan kamu pertimbangkan atasnya apa yang ia kacaukan di dalamnya, bahwa ia menulis di mana ia ingin kritik itu merealisasikan, dan mengisi kekosongan dari kertas di mana penelitian menghendakinya mengisi kekosongan dari pengetahuan. Dan kami telah berkata dalam buku kami “Di Bawah Bendera Al-Quran”: bahwa guru sastra harus mengumpulkan kepada penguasaan sejarahnya dan penelusuran bahan-bahannya cita rasa seni yang terdidik dan terasah, dan tidak mungkin datang kepadanya cita rasa ini kecuali dari pendalaman dalam keahlian puisi dan prosa, kemudian mengumpulkan kepada keduanya ini: “yaitu penguasaan dan cita rasa” bakat aneh itu yang menggabungkan antara ilmu, pemikiran, dan khayalan sehingga menciptakan dari sejarawan filsuf penyair alim seseorang dari mereka semua yang kita sebut kritikus sastra.
Inilah sifat-sifat kritikus menurut pandangan kami; maka lihatlah di mana kamu menemukannya di antara para guru yang memendekkan… dalam sastra mereka, yang memperpanjang… dalam gelar-gelar mereka, dan sungguh mereka menekuni kritik padahal tidak bagi mereka alat-alatnya kecuali yang berupa kelemahan, kekurangan, dan kemunduran, dan telah luput dari mereka apa yang tidak dapat dipikul oleh takdir mereka dan tidak dapat dicapai oleh kekuatan mereka, dan mereka tidak tahu bahwa kritikus sastra hanya memberikan pelajaran tinggi yang di dalamnya ia tidak menunjukkan cacat-cacat seni kecuali dengan menampakkan kebaikan-kebaikan yang berhadapan dengannya dalam yang paling tinggi yang dicapai seni dari jejak-jejak sejarahnya, sehingga kritik menjadi pendidikan dan pemurnian bagi semua seni sastra; dan ia dengan cara ini menjelaskannya kepada orang-orang dan berinovasi di dalamnya serta menambah materinya dan memudahkannya bagi para pembaca dan menghimpunkannya bagi mereka dengan penghimpunan yang tidak mereka capai dengan diri mereka sendiri, dan memberikan kepada mereka dari setiap yang lemah apa yang kuat, dan dari setiap yang kuat apa yang lebih kuat.
Dan kami melihat mereka dalam kritik puisi tidak menambah selain mengomentari ucapan penyair, sehingga datang karya mereka secara keseluruhan seolah-olah ia penggolongan dari puisi ini dan penjelasan baginya serta penelaahan atas sebagian maknanya; dan dengan ini kembali penyair dan sungguh dialah yang mengendalikan kritikusnya memutarnya sekehendak hatinya, dan datang kritikus ini berlebihan menumpang, sehingga datang tulisannya dan sungguh ia adalah jenis ejekan yang dikritik kepada kritikusnya, dan menjadi posisi ucapan terbalik, maka penyair yang dikritik tidak berbicara tetapi ia menunjukkan kekurangan kritikus dan ketidaktahuannya, maka dialah kritikus walaupun diam, dan itu adalah yang dikritik walaupun berbicara.
Dan ini yang tergantung pada berita penyair dan puisinya seperti ketergantungan ringkasan pada asalnya yang panjang dan penjelasan pada matannya yang ringkas, hanyalah penulis yang menemukan dari itu materi tulisan lalu mengolahnya untuk menulis; dan tidak dimaksudkan dari kritik bahwa penyair dan puisinya menjadi materi tulisan, tetapi materi perhitungan yang diukur dengan kebenaran-kebenaran tertentu yang tidak dapat tidak ada; maka kritik puisi adalah sesungguhnya ilmu perhitungan puisi, dan empat kaidahnya yang berhadapan dengan penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian: adalah pengetahuan, cita rasa, khayalan, dan bakat yang diilhami.
Dan ada jenis lain dari ketergantungan orang-orang lemah, yang mengambil penyair dengan mempertimbangkannya sebagai laki-laki yang memiliki tempatnya dari manusia dan kedudukan dari kehidupan, kemudian tidak melampaui itu; dan ini adalah pemalsuan bagi sejarawan dengan menjadikannya kritikus, dan pemalsuan bagi kritikus dengan mengembalikannya sebagai sejarawan; padahal ini tidak dapat tidak ada darinya dalam kritik yang benar, tetapi ia tidak berdiri sendiri dan tidak menembus dengannya mata batin kritik; karena penyair tidak menjadi penyair dengan dia adalah laki-laki dari manusia dan hidup di antara yang hidup dan umur dari peristiwa-peristiwa yang dihistorikan, tetapi dengan posisinya dari rahasia-rahasia kehidupan dan hubungan jiwanya dengannya serta kemampuan jiwa ini untuk menembus kepada kebenaran-kebenaran alam dalam makhluk-makhluknya secara umum, dan dalam manusianya secara khusus, kemudian dengan kemampuan seperti ini dalam menembus kepada rahasia-rahasia bahasa puitis yang merupakan keberadaan maknawi bagi semua itu, dan pengolahan dengannya atas lapisan-lapisan maknanya hingga tidak terlambat dari tujuan dan tidak jatuh di bawah maksud, karena puisi tidak lain adalah penampakan keagungan jiwa penyair dengan penampakan bahasa mereka, dan jika ada dalam kritik puisi sejarah yang kritik tidak sempurna kecuali dengannya, maka ia adalah sejarah puisi dalam jiwa pengucapnya, kemudian sejarah jiwa ini dalam makna-makna puisi dari masanya, kemudian sastra penyair ini dari keberadaan sastra bahasa yang ia gunakan untuk menggubah; dan itu tidak dapat tidak terjadi di dalamnya sejarah penyair sendiri yang dihimpun dari sisi-sisinya dalam arah-arah kehidupan, diperdalam di dalamnya dengan penelusuran, dimasuki kepadanya dengan kritik…
Dan sungguh bagi kami ada pendapat yang telah kami bentangkan berulang kali, yaitu bahwa tidak sepatutnya menghadapi kritik penyair dan pembicaraan tentangnya kecuali penyair besar yang memiliki tabiat dalam kritik, atau penulis agung yang memiliki tabiat dalam puisi; yaitu tidak dapat tidak dari sastra dan puisi sekaligus untuk kritik puisi saja sehingga datang pembicaraan di dalamnya dari ilmu, cita rasa, perasaan, dan ilham semuanya, sehingga jelas bagi kritikus wajah-wajah kekurangan seni, dan mengetahui dengan apa ia kurang dan apa yang seharusnya baginya dan apa wajah kesempurnaannya, kemudian mengetahui dari kesempurnaan seni seperti itu, dan merasakan pada kedua keadaan makna-makna yang dirasakan penyair ketika mengeluarkan puisinya darinya, dan apa yang menggerakkan dirinya pada waktu itu dari pemikiran dan tergambar baginya dari bentuk-bentuk maknawi yang mengilhaminya dengan ilhamnya; karena makna-makna yang tertulis adalah puisi penyair, tetapi makna-makna yang dirasakan itu adalah puisi dari puisi, dan hanya dapat dihentikan padanya dengan perkiraan dan kelancaran kepada apa di balik alam dari pendorong-pendorongnya, dan apa yang bergelombang dengannya ruh penyair ketika kerjanya, dan apa yang ditampakkan kepadanya dengannya tabiat-tabiat makna; dan semua ini tidak dirasakan kritikus jika ia tidak menjadi penyair dalam kekuatan apa yang dikritiknya atau lebih kuat darinya tabiat puisi.
Dan kritik hanyalah memberikan ucapan lidah yang berbicaranya tentang dirinya ucapan yang dipahami dalam pengadilan; untuk menegakkan atau menghilangkan syubhat atau mengakui kebenaran atau menerangkan makna atau mengarahkan illat atau menyingkap yang tersembunyi atau menetapkan kekurangan atau menampakkan kebaikan; dan secara keseluruhan maka ia adalah kritik terhadap yang buruk dan yang baik, dan jatuhnya dalil-dalil ilmu, seni, dan cita rasa pada tempat-tempatnya, dan berbicaranya ucapan dengan dirinya sendiri apa yang diingkari darinya dan apa yang disetujui; dan penyair serta kritikus bertemu berdua dalam pembaca maka wajib dari situ bahwa kritikus menjadi kekuatan yang menyingkap kekuatan sepertinya atau di bawahnya; untuk memperbaiki seni dengan seni sepertinya atau membenarkannya atau menambah padanya kelebihan penjelasan dan keistimewaan pemikiran; dan dengan ini menjadi pembaca seperti wisatawan yang bersamanya pemandu dan di hadapannya pemandangan, yaitu bersamanya sejarah yang berbicara dan di seberangnya sejarah yang diam. Dan jika penyair dan puisinya hanyalah jiwa yang istimewa dan peristiwa-peristiwanya serta makna-makna kehidupan di dalamnya, maka tidak tepat bahwa kritikus menjadi sempurna kecuali dengan jiwa dari jenisnya dalam kehalusan rasa dan lembut pandangan serta kecemerlangan dan kekuatan terpengaruh oleh makna-makna kehidupan serta tinggi ilham dan keagungan, dan dengan itu datang kritik yang benar sebagai penjelasan murni yang diayak seolah-olah ia penjelasan jiwa untuk jiwa sepertinya.
Dan bukan hidung yang mengkritik mawar harum semerbak, tetapi mengkritiknya indera yang ada dalam hidung, dan kritikus puisi jika tidak menjadi penyair maka ia hidung yang benar susunannya, tetapi dengan kulit dan tulang tanpa indera itu yang merupakan ruh saraf yang tersebar dalam susunan ini dan terhubung dengan apa di belakangnya dari saraf-saraf otak, maka hidung ini… dapat mengambil mawar, tetapi merasakan kasar yang dirusak oleh bencana sebagaimana mengambil batu atau besi atau kayu mana saja, maka mawar baginya sesuatu dari berbagai hal yang dibedakan dengan kelunakan dan dikhususkan dengan kehalusan dan bersinar dengan kilau dan bermegah dengan warna, dan pergi berbicara dalam semua ini, dan semua ini ada dalam mawar, tetapi ia bukan mawar.
Dan apabila penelitian adalah penelitian dalam langit dan planet-planetnya serta benda-benda langitnya maka tidak dapat mandiri dengannya kecuali pengamat yang tersusun yaitu yang bersamanya matanya dan teleskopnya dan ilmunya semuanya, jika kurang dari itu maka sesuai kekurangannya menjadi kelemahannya, dan jika sempurna maka sesuai kesempurnaannya menjadi ketepatannya; dan seandainya mungkin penyair terpisah dari puisinya sehingga memotong apa yang ada antara dia dan makna-makna dari hubungan jiwanya, dan menjauh dari puisi untuk melihatnya baru baginya dan membedakannya dari semua sisinya -maka ia adalah kritikus; maka kritikus puisi adalah penyair sendiri, tetapi dalam posisi yang lebih sempurna dan lebih tepat, dan keadaan yang lebih jelas dan lebih melihat, yaitu seolah-olah ia penyair sendiri yang diperbaiki sempurna tanpa kelemahan dan tanpa kekurangan.
Dan oleh karena itu kamu melihat dari tanda kritik yang bagus dan rapi jika kamu membacanya apa yang terkhayalkan kepadamu bahwa puisi menampakkan dirinya kepadamu dengan penampakan dan memperoleh bagimu urusannya dan menjelaskan keadaannya dalam pikiran penyairnya.
Dan bagaimana ia bertemu dan bersatu, dan bagaimana penyair mengeluarkannya dari kehidupan, dan apa yang terjadi padanya dari takdir ilham, dan apa yang mengenainya dari pengaruh manusia dan apa yang terjadi dari keberuntungan alam dan berbagai hal, dan secara keseluruhan kritik menghadirkan kepadamu apa yang kamu lihat bersamanya seolah-olah gerakan darah dan saraf telah kembali sekali lagi kepada puisi.
Ketahuilah bahwa puisi Arab kita yang indah kini sangat membutuhkan seseorang yang mengajarkan pembaca bagaimana merasakan dan memahaminya, serta mengungkap rahasia pengaruhnya. Seseorang yang dapat mengeluarkannya dengan cara yang rahasia melalui irama dan nadanya, serta menghadirkannya dari jiwa penyair dan dari jiwanya sendiri secara bersamaan. Kekuatan pembedaan dalam semua hal ini dengan tepat dan benar itulah yang diberikan kritikus kepada para pembacanya. Puisi adalah pemikiran dan membacanya adalah pemikiran lain. Jika yang kedua tidak mampu mencapai yang pertama untuk berhubungan dan menyatu dengannya, maka para pemikir memerlukan hubungan intelektual berupa tulisan kritikus yang dari satu sisi merupakan kesempurnaan bagi sifat yang tidak sempurna, dari sisi lain penjelasan bagi sifat yang sempurna, dan dari sisi ketiga dengan citarasa dan seninya merupakan hukum keteraturan yang cermat yang menjelaskan apa yang lurus dalam perkataan dan apa yang bengkok.
Metode kami dalam kritik puisi berdiri di atas dua pilar: penelitian terhadap bakat penyair, yang mencakup jiwanya, ilhamnya, dan peristiwa-peristiwa hidupnya; dan penelitian terhadap seni retorikanya, yang mencakup diksi, struktur, dan metodenya. Kami akan membahas keduanya bersama-sama:
Adapun pembahasan tentang seni puisi, yang dimaksud dengan puisi -yaitu menyusun kata-kata- menurut pendapat kami adalah mempengaruhi jiwa, tidak lebih. Seluruh seni itu hanyalah pengaruh ini, yaitu upaya menggerakkan jiwa dengan kata-kata puisi, timbangannya, penyusunan maknanya, dan cara menyampaikannya kepada jiwa. Serta menyatukan materi perasaan dari semua itu secara harmonis dan seimbang dalam tenunannya, tidak terjadi perbedaan atau cacat di dalamnya, tidak dipaksakan atau dibuat-buat. Maka datanglah puisi dari ketepatannya, komposisi hidupnya, dan susunan alaminya seolah-olah mengetuk hati manusia untuk membuka maknanya ke dalam roh.
Puisi Arab, jika sempurna dalam kerajinannya dengan sarana-sarana pengaruh dan dikuasai dari segala sisinya, adalah puisi manusiawi yang paling tinggi. Anda melihatnya berjalan dengan kata-kata indah yang mengalir seolah-olah tidak membawa makna di dalamnya, tetapi membawa gerakan-gerakan saraf yang tidak ada penghalang antara keduanya dengan mengalir dalam darah. Maka yang terjadi hanyalah ia membanjiri Anda dengan kegembiraan, menggerakkan Anda dari kedalaman jiwa, dan menghadirkan kepada Anda dalam hembusan roh sesuatu yang jika Anda renungkan dalam diri Anda dan ungkapkan dengan perasaan Anda, Anda akan melihatnya dalam hakikatnya sebagai wajah dari melupakan kehidupan duniawi dan berpindah ke kehidupan lain berupa kegembiraan, kegairahan, kepedihan, dan kesedihan yang dihidupi oleh darah yang terpengaruh sendiri tanpa ada yang berbagi kecuali dari hati.
Dan mereka yang tidak mengetahui hal itu dari urusan puisi Arab dalam temperamennya yang khusus -sehingga mereka tidak menganggapnya hidup yang memiliki sifat dan karakteristik yang harus diperhatikan, ditaati hukumnya, dan diterima dengan yang sesuai dengannya, sebagaimana hal serupa diperlukan untuk seorang wanita cantik- Anda melihat mereka melanggar hukum-hukum kerajinan retorikanya, merendahkan kata-katanya dari tempat yang semestinya, menyalurkan maknanya tidak dengan cara puitis yang seharusnya, dan mengujinya dengan banyak kelebihan yang seperti bencana dan penyakit. Maka mereka datang dengan susunan yang jika Anda baca saat membacanya dan Anda menggeliat seolah-olah mengetuk hati Anda dengan kepalan tangan yang membawa batu…
Jenis puisi ini telah menyebar di masa-masa ini dan menjadi akibat dari rusaknya citarasa sastra, hancurnya urusan bahasa, bengkoknya jalan filsafat, dan meratanya bencana peniruan Eropa. Sering kali saya melihat qasidah dari puisi ini seperti seorang wanita yang wajahnya dikupas dan diberi kulit wajah orang mati… Penyair dari golongan ini tidak mengarahkan puisi pada batas-batas jiwanya dan tidak menguasainya di dalamnya, tetapi kata-kata mengarahkannya bagaimanapun kebetulan untuknya pada wajah-wajah yang bengkok, dan makna-makna memimpinnya dengan kepemimpinan buta yang kehilangan kedua penglihatannya sekaligus. Mereka mengira ucapan mereka dari cahaya akal, tetapi itu adalah cahaya dalam potongannya delapan puluh ribu mil per detik, sehingga hampir tidak dikatakan di dunia ini, sampai keluar darinya, terlupa, dan menyusul ketidakterbatasan…
Jenis kerajinan rusak ini persis sama dengan jenis kerajinan yang merusak puisi sejak abad kelima, hanya saja yang kuno adalah kerusakan dalam kata-kata yang menjadikan semuanya atau sebagian besarnya tidak mungkin dari segi kerajinan, sedangkan yang modern datang sebagai kerusakan dalam makna yang menjadikan semuanya atau sebagian besarnya tidak mungkin dari segi retorika.
Pemilik puisi ini mengklaim bahwa mereka adalah filsuf, tetapi mereka demikian hanya dalam mencuri dari para filsuf saja… Seandainya mereka tahu, mereka akan tahu bahwa kata-kata puisi adalah kata-kata dari perkataan yang puisi tempatkan di dalamnya perkataan dan musik sekaligus. Dengan demikian keluar dari sifat bahasa yang berdiri di atas penyampaian makna dengan petunjuk saja menuju sifat bahasa khusus yang lebih tinggi darinya yang menyampaikan makna dengan petunjuk, nada, dan rasa. Maka setiap kata dalam puisi menarik untuk maknanya dari komposisinya, kemudian untuk tempatnya dari susunannya, kemudian untuk bunyinya dalam melodinya. Semua itu yang membuat kata memiliki warna maknawi dalam keseluruhan penggambaran dengan puisi. Tidak ada penyair besar yang melewati sebuah kata dari bahasa kecuali seolah-olah kata itu berbicara kepadanya berkata: “Tinggalkan aku atau ambil aku.”
Sebagaimana bunga-bunga memerlukan atmosfer sinar, demikian pula makna-makna puitis memerlukan atmosfer bahasa retoris. Retorika hanyalah sinar makna-makna qasidah. Mereka mungkin mengira bahwa kerajinan retoris adalah kerajinan yang dibuat-buat yang tidak ada hubungannya dengan keindahan puisi dan ketepatan ungkapan. Kami tidak menyangkal bahwa dari retorika yang indah ada hal-hal yang dibuat-buat, tetapi itu menempati dari gaya-gaya retorika dunia seperti kedudukan kemesraan, keluwes, dan rayuan pada kekasih yang cantik.
Sesungguhnya seni-seni ini bukan dari keindahan penciptaan dan komposisi pada wanita, tetapi ketika muncul dalam kecantikan yang memukau, ia menjadi tanpanya -padahal selalu cantik- seolah-olah tidak cantik kadang-kadang.
Di sini ada kerajinan yang merupakan roh keindahan dalam kehidupan, dan kerajinan sepertinya yang merupakan roh keindahan kadang-kadang dalam retorika. Struktur-struktur retoris di tempatnya dari puisi yang hidup tidak lain seperti garis-garis wajah dan pembagian di tempatnya dari kecantikan yang hidup. Sering kali terbayang bagi saya ketika merenungkan retorika lafaz yang anggun di samping lafaz yang indah dalam puisi yang struktur-strukturnya rapi, bahwa kata ini dari kata itu seperti cinta seorang laki-laki yang bersinar mendekat dari cinta seorang wanita cantik, dan kasih sayang keibuan pada masa kanak-kanak, dan kerinduan perasaan untuk perasaan, hingga yang serupa dan sejenis dari susunan halus yang sensitif ini. Ketika saya membaca dalam puisi rekan-rekan kami itu, saya melihat dari lafaz seperti polisi yang memegang kerah lafaz seperti penjahat… hingga dua kata yang keduanya seperti yang memukul dan yang dipukul… hingga orang-orang liar dan hina, kekacauan dan keributan, kehebohan dan fitnah. Adapun qafiyah, sering kali dalam puisi mereka berupa lafaz yang meninju… tidak ada di depannya kecuali kepala pembaca.
Sebagaimana mereka mengabaikan pemilihan lafaz dan qafiyah, mereka juga mempermudah dalam memilih wazan yang sesuai dengan musikal topik. Karena dari wazan ada yang cocok untuk satu tujuan makna dan tidak cocok untuk yang lain, sebagaimana dari qafiyah ada yang cocok untuk satu topik dan tidak cocok untuk selainnya. Wazan dari perkataan itu seperti penambahan melodi pada suara: dimaksudkan darinya menambahkan kerajinan dari kegembiraan jiwa kepada kerajinan pemikiran. Mereka yang mengabaikan semua itu tidak memahami sesuatu dari filsafat puisi dan tidak tahu bahwa mereka hanya merusak yang terkuat dari dua sifat dalam kerajinannya. Karena makna bisa datang dalam bentuk prosa sehingga itu tidak menguranginya dari puisi dari segi ia adalah makna, bahkan mungkin prosa menambahnya kekukuhan, rincian, dan kekuatan dengan apa yang tersedia di dalamnya berupa perluasan, penjelasan, dan urutan. Tetapi dalam puisi ia datang sebagai nyanyian, dan inilah yang tidak bisa dilakukan prosa dalam keadaan apapun.
Jika penyair tidak mampu menghadirkan dalam susunannya rawi yang memikat, tenunan yang harmonis, struktur yang seimbang, dan makna-makna bagus yang sampai ke jiwa sampainya sifat kepada sifat yang bercampur dengannya, dan Anda melihatnya menghadirkan puisi yang kaku dan kasar, kata-kata yang berat dan buruk, qafiyah yang gelisah dan menolak, metafora-metafora yang tidak seimbang dan kacau, dan perbandinga-perbandingan yang jauh dan cacat -maka ketahuilah bahwa ia adalah orang yang telah dijauhkan Allah dari puisi dan diuji dengan itu pula oleh penyimpangan sifat dan berlebihan dalam peniruan. Maka tidak datang puisi di lidahnya dalam satu bait kecuali setelah datang omong kosong di lidahnya dalam seratus bait atau lebih atau kurang.
Demikianlah perkataan kami tentang seni penyair. Adapun pembahasan tentang bakatnya yang dengannya ia menjadi penyair dan sesuai kadarnya menjadi kadarnya serta sambungan sebab-sebabnya atau terputusnya dari puisi, maka itu adalah pintu yang tidak mungkin dijelaskan maknanya dan tidak mungkin diperoleh kehalusannya kecuali jika digambarkan roh penyair yang halus dan menakjubkan serta ditimbang dalam timbangan ilahinya, diketahui kekurangannya jika kurang dan kesempurnaannya jika sempurna, dan dimungkinkan melacak tempat-tempatnya dari rahasia-rahasia segala sesuatu dan tempat jatuhnya dari kedudukan-kedudukan ilham. Ini tidak ada jalan kepadanya kecuali dengan khayalan jiwa, karena roh-roh yang kuat saling melihat sekilas satu sama lain. Mungkin sekilas pandang roh penyair kepada roh sepertinya adalah perenungannya, penimbangannya, dan pemahaman apa yang tersimpan di dalamnya, sebagaimana Anda lihat dari meletakkan cahaya berhadapan dengan cahaya. Karena penempatan ini adalah dirinya sendiri dan penimbangan bagi keduanya dalam timbangan penglihatan tanpa ada penimbangan kecuali dalam kerlipan dan sinar. Maka keduanya dalam keadaan ini adalah dua cahaya yang menerangi, tetapi keduanya juga dua kata yang menjelaskan tentang apa yang ada pada keduanya dari yang lebih banyak dan yang lebih sedikit.
Karena itulah kami katakan: Penyair tidak cukup untuk kritiknya dan tidak diliputi kecuali oleh orang yang memiliki roh puitis yang setara dengannya dalam timbangannya atau melebihi kadarnya. Karena di sana ada kekuatan-kekuatan rohani untuk memahami keindahan dan menciptakannya dalam segala sesuatu, penciptaan yang merupakan roh puisi dan roh seninya. Dan kekuatan-kekuatan lain untuk hubungan perasaan dengan pemikiran, hubungan yang merupakan rahasia puisi dan rahasia seninya. Dan kekuatan-kekuatan selain ini dan itu untuk mengubah apa yang menggelora dalam jiwa penyair, perubahan hiperbola yang merupakan kekuatan puisi dan kekuatan seninya. Dengan keseluruhan kekuatan-kekuatan ini semua, roh penyair dibedakan dari yang bukan penyair. Adapun apa yang membedakan roh ini dari roh penyair sepertinya adalah apa yang terjadi dari perbedaan kadar-kadar yang diberikan Allah semata. Maka Dia mengkhususkan seorang penyair dengan penambahan dan yang lain dengan kekurangan, dan menganugerahkan sebab-sebabnya yang darinya terjadi, maka Dia melapangkan untuk satu orang dan menyempitkan untuk yang lain. Ketika kekuatan-kekuatan itu sempurna dan kuat, tersusun darinya untuk penyair perangkat saraf murni yang merupakan perangkat pembangkit. Tidak lewat padanya suatu makna kecuali terwujud di dalamnya dengan bentuk selain bentuknya.
Kami telah menyempurnakan pembahasan tentang itu dalam artikel kami “Rahasia Kejeniusan dalam Sastra.” Dan itu tidak lain adalah rahasia kecemerlangan.
Maka jalan terbaik dalam kritik bakat penyair adalah memahaminya dengan roh puitis yang kuat dari segi perasaannya dan menembus ke dalam wawasannya, menyelami kadar-kadar ilham di dalamnya, merenungkan bekasnya dalam kegembiraan dan kesedihan dengan yang paling menyentuh dan halus yang bergejolak dalam jiwa yang sensitif, mengetahui kekuatan perubahan dalam perasaannya untuk makna-makna kemanusiaan dan alam, perubahan yang menjadikan kekuatan lebih kuat dari yang dicapainya, dan kebenaran lebih besar dari yang tampak, serta menghadirkan setiap sesuatu bersamanya sesuatu. Kritikus tidak sampai pada itu kecuali dengan penelitian terhadap tujuan-tujuan yaitu “topik-topik” yang di dalamnya penyair menyusun dan apa yang menghubungkannya dengan hal-hal kehidupannya dan keadaan zamannya, bagaimana ia menanganinya dari sisinya dan dari sisinya, dan apa yang ia ciptakan. Kemudian di kedudukan mana puisinya berada dari puisi orang lain dalam sejarah bahasanya dan sastranya. Kemudian pandangan filosofisnya terhadap kehidupan dan masalah-masalahnya, keluasannya untuk kegembiraan dan kepedihannya, dan kekuatan gelombang-gelombang rohaninya dalam lautan manusiawi yang bergetar dan bergejolak ini yang sampai dalam jiwa sebagian penyair menjadi seperti samudra dan pada sebagian yang lain menjadi seperti rawa… Kemudian ketepatan pemahamannya tentang wahyu alam dan pengawasan terhadap kejernihan maknanya dengan bisikan dan sentuhan, serta menerima ilham gaib darinya dengan isyarat dan pandangan.
Semua ini tidak teratur bagi kritikus besar kecuali jika ia bersama roh puitis yang dikhususkan untuknya menguasai karya-karya penyair dalam bahasanya, memiliki wawasan tentang sumber-sumbernya, menguasai sebab-sebab perbandingan di antaranya, bertindak dengan alat yang kuat dari kerajinan bahasa dan retorika serta seni-seni sastra.
Jika dari kritik puisi ada ilmu maka itu adalah ilmu anatomi pemikiran, jika darinya ada seni maka itu adalah seni kajian perasaan, jika darinya ada kerajinan maka itu adalah kerajinan menampakkan keindahan retoris dalam bahasa…
Saat ini aku merenungkan pena di tanganku—sambil memikirkan apa yang akan aku tulis untuk Zahra—maka aku melihat gagang pena ini berbentuk rusuk-rusuk merah seperti warna karang, yang sedikit memanjang, kemudian membulat, lalu mengecil, kemudian keluar darinya bagian hitam yang datang seperti batang bulu dari sayap. Dan terbayang bagiku bahwa warna merah yang cemerlang ini berkata kepada yang hitam: “Sesungguhnya kamu adalah kesalahan dari yang membuatku. Bagaimana dia terinspirasi dalam ilhamnya lalu menciptaku dengan bentuk yang indah dari segi warna dan susunan ini, kemudian lalai menimpamu sehingga dia salah, dan ketidakmampuan menguasainya sehingga dia tidak bisa membedakan, dan kelemahan masuk pada pendapatnya sehingga dia menghubungkanmu denganku seperti keburukan setelah kebaikan, dan menempatkanmu dariku pada posisi keburukan dari keindahan! Di mana kebenaran pendapatnya yang dengannya dia mencapai yang terbaik ketika dia berhasil, sedangkan padamu dia mencapai yang terburuk yang mungkin bisa dia buat?”
Maka berkatalah yang hitam: “Sesungguhnya padamu terdapat kesalahan sang pembuat dan padamu dia salah arah seni. Dia tidak menimbang darimu sebagaimana dia menimbang dariku, dan tidak mengukur untukmu seperti yang dia ukur untukku. Kamu datang kasar tidak terpahat, dan kamu condong ke lebar bukan ke panjang, dan kamu merah bukan hitam. Aku tidak melihatmu kecuali rusak perasaan, berubah selera. Aku tidak melihat orang ini membuatmu kecuali di saat sedih yang mendekatkan antara jiwanya dan pendapatnya, sehingga tidak memadukan antara pendapatnya dan pekerjaannya, maka dia menggabungkan antara pekerjaannya dan kesalahannya.”
Itulah logika kedua warna dari apa yang aku pahami dari keduanya, dan keduanya salah dalam hal yang dijadikan dalil atau yang direnungkan. Kebenaran ada di balik keduanya, karena hikmah tidak ada pada salah satunya karena merah atau hitam, tetapi hikmah ada pada keduanya bersama-sama karena keserasian keduanya bersama-sama. Hikmah tidak terbagi di antara keduanya dengan pembagian apa pun, karena hikmah datang dari pertentangan antara keduanya. Dan apa yang tidak pernah keluar kecuali dari dua hal, maka dia selamanya satu tidak memiliki setengah; seperti anak dari kedua orang tuanya: kamu tidak akan mengenal separuhnya dari ibunya karena kamu tidak akan mengenal separuhnya dari ayahnya.
Adakah di seluruh bumi ini yang mampu membagi satu anak sehingga menjadikannya dua anak yang dengannya kehidupan menjadi seimbang dan memberikan kepada keduanya dua ruh dari satu ruh? Kamu tidak akan menemukan pencipta duniawi ini… kecuali pada dua golongan: yang pertama adalah kaum yang hilang akalnya yang menciptakan segala sesuatu karena mereka tidak menciptakan apa-apa; dan yang kedua adalah kaum dari para penguasa akal… kamu mengenal dari mereka kekacauan dan konyolnya pendapat yang mereka inginkan untuk meninggikan diri mereka atas manusia; karena manusia tidak melampaui hakikat-hakikat, maka golongan ini menyangka bahwa jika mereka melampaui dan melebihi hakikat-hakikat, mereka keluar ke tingkat di atas akal manusia.
Kegilaan memiliki dua ujung: yang satu adalah orang gila tidak berakal dari manusia, dan yang lain adalah manusia tidak berakal dari yang berakal. Yang itu adalah yang itu dan yang ini adalah yang ini. Seakan-akan di kepala masing-masing dari mereka tersimpan kekuatan penciptaan yang mengandung rahasia ketuhanan yang tersembunyi. Masing-masing dari mereka menambahkan dalam penciptaan apa yang mereka kehendaki, dan masing-masing dari mereka di atas alam karena mereka termasuk pemilik rahasia-rahasia yang tidak diketahui yang tidak tampak bagi kita karena tersembunyinya, kemudian tidak tersembunyi bagi mereka karena tampaknya.
Yang membuatku tertawa dari para penguasa akal ini adalah bahwa mereka melihat agama terkadang sebagai kebiasaan, kadang sebagai rekayasa, kadang sebagai pikun, dan kadang sebagai perbudakan. Semua itu adalah pendapat mereka, dan semua itu mereka ikat dengan hujah dan kuatkan dengan dalil. Ketika datang Tagore sang penyair India yang bersufi ke Mesir, dan mereka duduk bersamanya dan mendengarkannya, mereka keluar berbicara seakan-akan mereka berada di kuil, dan seakan-akan turun kepada mereka hakikat ketuhanannya, dan seakan-akan dunia ini menjadi rendah dari tempat di mana orang itu duduk, sehingga mereka tidak mengenalnya dari bumi ini, dan tidak dari dunia ini. Bahkan mereka berada dalam pingsan yang mereka lari kepadanya dan tenang kepadanya.
Aku tidak melihat mereka terlepas dari akal mereka atau akal mereka terlepas dari mereka, tetapi Tagore adalah penyair filosof, dan mereka mengenal diri mereka sebagai pencuri buku-buku dan pendapat-pendapatnya. Mereka berada darinya pada posisi sofisme kosong dari dalil yang tegak. Jika mereka dibandingkan dengannya, mereka seperti lalat yang mengklaim dirinya elang-elang sampah, tetapi tidak bisa menyombongkan diri bahwa mengejek mereka dengan membandingkan mereka dengan elang-elang langit.
Sungguh Tagore telah memukul mereka, bukan karena dia menyentuh mereka, tetapi karena mereka menyentuhnya… Dan dia mempermalukan mereka seperti mutiara mempermalukan kaca yang mengaku sebagai mutiara. Dia menampakkan kepada kita keindahan akal mereka seperti cat-cat di wajah wanita buruk: dia berusaha mempercantik diri dan tidak tahu bahwa jika cat dan pewarnanya adalah ruh pelukis, maka di wajahnya ada makna dinding!
Sungguh aku telah membaca semua yang mereka tulis tentang Tagore untuk mencari kebenaran ini guna melihat bagaimana para penguasa akal ketika tersingkap dari mereka alasan-alasan dan terangkat penyakit-penyakit dan terkoyak tabir-tabir. Ternyata dalam semua yang mereka tulis, mereka tidak merasakan kecuali kebenaran ini, dan tidak menggambarkan kecuali perasaan ini. Tidak tampak bagi kami dari mereka kecuali gambaran ini. Maka semua yang mereka puji dari penyair filosof itu, kami baca sebagai celaan bagi mereka, dan kami ketahui sebagai kritik terhadap mereka, dan kami ambil sebagai tuduhan atas mereka. Semua yang mereka agungkan dari urusannya mengecilkan urusan mereka.
Sungguh mereka menjadikannya manusia seakan-akan puncak dunia ini berakhir di kakinya, dan kakinya dimulai dari puncak dunia. Kami tidak mengenal dari itu ukuran untuk ketinggian Tagore dan kemuliaan jiwanya, tetapi ukuran untuk kemerosotan jiwa mereka dan kehinaan urusan mereka dan sedikitnya bahaya mereka. Sesungguhnya orang peniru yang tertipu tidak berhenti memanjang dalam tiruan, dan tidak berhenti sulit dalam pendapat yang dilihatnya dan memaksakan jalan-jalan ilmu dengan paksaan, hingga Allah melempar kepadanya asal dari asal-asal kemanusiaan yang dia tiru. Maka dia terbungkam menjadi pendek dari panjang, dan menjadi mudah dari sulit, dan terpimpin dari tersesat, dan turun ke lembah setelah berada di gunung, dan menyerah dalam dirinya, dan tunduk dengan pendapatnya, dan terpimpin dari mana dia menolak dan dari mana dia tidak menolak. Dia menjadi dan telah diselimuti jiwa itu lebih mirip bayangan daripada yang dilempar dan memberi bayang. Dia adalah makhluk aneh dalam meniru gambar, dan dia adalah kebohongan atasnya dengan yang memanjang dan memendek. Dia dalam semua keadaannya adalah kekaburan konyol gelap untuk hakikat mulia terang.
Dan tidakkah kamu melihat ini dari para penguasa akal seperti sifat itu dalam akhlak rakyat, karena mereka tidak pernah baik kecuali menjadi pengikut, dan tidak ada ilmu bagi mereka kecuali apa yang terikat di dada mereka dari fulan dan fulan. Kemudian mereka bekerja tanpa tahqiq, dan membawa tanpa pembedaan. Kemudian tidak ada kerakusan jiwa mereka dengan orang alim—jika mereka berkumpul dengannya—kecuali dalam menyerah kepadanya, dan menghindar dari hakikat-hakikatnya, dan turun dari pendapat mereka ke pendapatnya, dan keluar dari diri mereka ke dirinya!
Sungguh kami telah berkata sebelumnya: Sesungguhnya para penguasa akal ini yang menolak kecuali menjadi ulama kami dan pemimpin kami untuk memalingkan akal kami dan mengubah aqidah kami dan memperbaiki adab kami dan memasukkan kami dalam kemurkaan Allah dan menyerang dengan kami larangan-larangan-Nya dan menunggangi kami kemaksiatan-Nya—sesungguhnya mereka dalam diri mereka hanyalah rakyat dan jahil dan bodoh jika ditimbang dengan ulama umat dan diukur dengan hukama dunia. Apa yang mereka tulis untuk umat dalam nasihat dan pengajarannya hanyalah apa yang berubah dari kata-kata dan kalimat-kalimat dalam surat kabar dan buku-buku hingga menjadi dalam kenyataan orang-orang fasik dan fujur dan murtad dan pengejek dan perusak.
Musibah pada mereka dari sisi ilmu yang kurang dalam timbangan musibah karena mereka dari sisi akhlak yang rusak. Dan kedua ini bersama-sama dalam timbangan musibah besar yang mereka perbuat atas umat untuk menghancurkannya dalam apa yang mereka ketahui, dan memperbaruinya dalam apa yang mereka klaim.
Aku tidak pernah tertipu pada mereka ini dari filosof atau doktor atau penguasa, dan aku tidak meletakkan urusan mereka kecuali pada haknya. Sesungguhnya aku mengetahui bahwa kucing dari suku singa, tetapi singa-nya hanya atas tikus… Dan mungkin akibat kejahilan lebih baik bagi umat daripada akibat ilmu mereka dan kekacauan mereka dan kebodohan mereka. Sesungguhnya mereka adalah kaum peniru, dan mereka memiliki tabiat yang sakit menyimpang, dan akal yang tidak ada pegangan baginya dari agama atau hati nurani. Mereka tidak condong kecuali kepada bidah buruk, atau bencana yang ditakuti, atau pemikiran yang tertuduh. Mereka tidak bekerja kecuali apa yang menyerupai prasangka kepada mereka, dan pendapat tentang mereka; dari memadankan akhlak rendah dan menghubungkannya dengan ilmu atau filsafat, dengan tetapnya akal sehat menghukumi atas yang buruk ini sebagaimana dia menghukumi atas yang baik itu.
Tidak ada jalan untuk ini kecuali dari sisi mengubah akhlak. Jika akhlak berpegang teguh dan tidak berubah, maka di sini tempat perselisihan dan tempat perbedaan, dan pasti ada perang dari kami seperti perang kemerdekaan, kemudian perang dari mereka seperti perang penjajahan.
Yang ada antara kami dan mereka bukanlah lama dan baru, bukan keterlambatan dan kemajuan, bukan kejumudan dan perubahan; tetapi akhlak kami dan ketelanjangannya dari akhlak, dan agama kami dan keingkaran mereka padanya, dan kesempurnaan kami dan kekurangan mereka, dan kepercayaan kami dan keterlarutan mereka, dan berpegang teguh kami pada apa yang memungkinkan kami dan kelonggaran mereka seperti kelonggaran tali yang tidak menemukan apa yang menariknya.
Dan sekarang aku melihat ke penaku maka aku melihat bagian hitamnya tidak dijadikan demikian kecuali untuk menambah keindahan warna merah dan kilaunya, dan memberikannya kilau yang tidak datang kepadanya kecuali dari kehitaman khususnya. Kejahatan adalah kebaikan kecuali jika tetap terbatas di tempatnya dan tidak melampauinya. Jika umat sadar terhadap para penguasa akal ini, kami katakan tidak apa-apa dengan kehitaman gelap jika hikmahnya merah…
Syaitanku dan Syaitan Tagore … 1:
Tagore ini adalah penyair India, dia singgah di Mesir bagaikan matahari musim dingin di hari hujan: cahayanya hanya jatuh di hati-hati yang ringan dan terpesona, yang menolak dan angkuh, yang lembut dan halus; dan cahaya itu memancar di antara awan-awan yang mengembara, sehingga memiliki keindahan, pesona, dan keajaiban bagaikan bara api yang dikeluarkan langit sebagai mukjizat bagi manusia, yang mereka lihat memancarkan sinar di satu waktu dan menurunkan hujan di waktu lain.
Aku tidak bertemu Tagore, tetapi aku mengirim syaitanku kepadanya dan berkata, aku berpesan kepadanya sebelum dia pergi menemui wajahnya: Aku tahu bahwa pria ini orang India; tetapi dia manusia, maka tidak ada tanah yang lebih pantas baginya dari tanah lain; dan dia penyair, tetapi dia makhluk, maka tidak ada sifat yang lebih menguasainya dari sifat lain; dan dia bijaksana, tetapi dia susunan yang tidak diciptakan dari tanah liat selain tanah liat; dan dia surgawi, namun dia surgawi seperti para ahli astronomi: surga miliknya ada dalam teleskop, buku, pena, dan tinta… Maka pergilah kepadanya dan masuklah ke dalam syaitannya, karena kamu akan mendapati padanya seperti yang dimiliki semua penyair, dan mungkin kamu mengenal syaitannya dari kerabat-kerabatmu atau keluarga dekatmu, kemudian datanglah kepadaku dengan perkataannya dari sisi apa yang dia pikirkan, bukan dari sisi apa yang dia katakan; dan ambillah apa yang terlintas di hatinya, dan tinggalkan apa yang mengalir di lidahnya; karena hal ini akan dibawa oleh saudara-saudaramu dari “utusan-utusan pers”… Dan ketahuilah bahwa setiap orang bijaksana menyiapkan pembicaraan untuk pertanyaan-pertanyaan dari sekitarnya. Namun makna-makna dari sekitarnya menyiapkan untuknya pertanyaan-pertanyaan lain yang dia pikirkan setiap jawabannya tetapi tidak mengucapkan jawabannya.
Maka syaitanku menceritakan kepadaku setelah kembali, dia berkata: Syaitan Tagore bercerita kepadaku: Ketika Tagore turun ke lembah ini, dia memandang matahari, kemudian berkata: Kamu di sini dan kamu di sana, kamu mendekat dengan pengaruh dan menjauh dengan pengaruh, kamu terbit dengan udara dan tenggelam dengan udara, maka kamu tidak berubah tetapi daerah-daerah berubah karenamu, kemudian bangsa-bangsa berubah karena daerah-daerah, kemudian tujuan dan kepentingan mereka berubah karena pemikiran dan kecenderungan, kemudian kebenaran-kebenaran kemanusiaan berubah karena kepentingan dan tujuan mereka; dan sesungguhnya yang batil dan yang benar adalah dalam hal kebenaran-kebenaran ini menghadap atau membelakangi, dan politik telah menguasai segala sesuatu hingga kebenaran-kebenaran kemanusiaan ini menjadi geografis, memiliki bangsa-bangsa dan koloni-koloni; maka persaudaraan di Barat adalah kekuasaan di Timur, dan kesetaraan di sana adalah hak istimewa di sini, dan kebebasan di suatu kerajaan adalah perbudakan bagi kerajaan lain, dan sapaan di suatu tempat adalah tamparan di tempat lain, dan keramahan di suatu tempat adalah eksploitasi di tempat lain; “Dan mereka senantiasa berselisih, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka” (Hud: 118-119). Maka manusia tidak akan terhubung dengan Ruh Yang Maha Tinggi kecuali dari satu sisi yang tidak berubah dan tidak akan berubah pada mereka, yaitu sisi air mata yang tidak berbeda pada orang hitam atau merah, dan yang tidak muncul kecuali dari kelembutan, kerinduan, kesedihan, dan penderitaan, dan dengan itu menjadi nasab setiap hati kepada setiap hati, maka jika seluruh dunia diliputi satu bencana yang tidak dapat dihindari oleh penduduk tanah mana pun dan bangsa-bangsa tidak dapat berlindung darinya, hal itu akan merebut ambisi manusia satu sama lain, dan mengembalikan kemanusiaan yang menyimpang ke tempatnya yang semula, maka mereka akan terlepas dari dunia sementara mereka di dunia, terhubung dengan yang tak terbatas sementara mereka dalam keterbatasan; jika tidak ada bencana umum maka pemikiran umum tentang bencana yang mematikan syahwat-syahwat yang bebas dan menjadi seperti penyakit yang menempel pada umat manusia seperti yang digambarkan agama-agama tentang neraka dan kembali kepadanya serta hisab di sisinya dan balasan atas kejahatan dengannya, hingga tidak tersisa jiwa kecuali dia dalam ikatan halal dan haramnya, dan tidak tersisa kejahatan yang dibayangkan atau diinginkan kecuali seperti barang berharga di antara empat dinding yang runtuh dan terbakar tidak menemukan di antara semua pencuri seorang pencuri pun, jika tidak ada ini dan itu maka cinta umum hingga tidak tersisa tentara, senjata, politik, atau negara, dan kerajaan-kerajaan hanya menjadi rumah-rumah kemanusiaan antara yang satu dan yang semua dari jalinan dan daging seperti antara yang semua dan yang satu, dan hingga Mesir berkata kepada Inggris: Wahai sepupu… Jika semua ini mustahil maka kebebasan umum dengan syarat dibatasi dari segala sisinya oleh puisi, dan puisi dibatasi oleh alam dan alam dibatasi oleh Allah, maka tidur dicabut dari bumi agar terjaga terhubung dengan mimpi… melalui jalan selain tidur.
Syaitan Tagore berkata: Kemudian Tagore bersedih dan berkata: Semua itu mustahil atau seperti mustahil tetapi dalam harapan mungkin atau seperti mungkin; dan kata memiliki dua makna: pertama apa yang terjadi, dan kedua apa yang seharusnya terjadi; yang itu harus ada dari kita; karena itu sisi sistem Ilahi, dan ini harus ada untuk kita; karena itu sisi khayalan manusiawi; yang itu dari alam yang bekerja dan tidak berbicara, dan ini dari puisi yang berbicara dan tidak bekerja. Ah ah! Sesungguhnya perdamaian umum adalah bahwa wujud menjadi persekutuan Ilahi-manusiawi dengan rida dan kesepakatan antara kedua pihak… Demi hidupku, semua kemustahilan itu mungkin dibandingkan dengan kemustahilan ini. Kemudian Tagore tersenyum ketika terlintas dalam pikirannya bahwa dia seorang penyair yang harus menggambarkan mawar dan berkata tentangnya apa yang membuatnya menjadi bait puisi dalam kitab alam yang memiliki timbangan dan irama, tetapi alam sebelum itu harus menumbuhkannya segar, harum, indah yang berbeda dari yang lain dengan bau, warna, dan bentuk.
Syaitannya berkata: Dan ketika dia selesai dari perenungannya pada pikiran ini, seorang wanita India memberikan kepadanya kalung bunga, dan sementara wanita itu mengalungkannya kepadanya, dia berkata dalam hatinya: Sesungguhnya bunga-bunga ini dari makna air tawar; maka jika kita lepaskan dalam khayalan kita mengejar cinta umum dan perdamaian umum, maka untuk siapa makna air asin, dan itu tiga perempat bumi, dan di antara bunganya adalah armada Inggris.
Syaitanku menceritakan kepadaku: Syaitan Tagore bercerita kepadaku: Dan ketika Tagore menetap di istana Syauqi Bey dan melihatnya seperti keindahan dinar dan ukirannya dan kemuliaannya, dia berkata: Tidak salah lagi ini adalah bangsa yang memperkaya penyairnya, maka aku tidak salah perkiraan, dan jika aku salah maka aku tidak jauh dari perbandingan jika aku memperkirakan bahwa penyair ini mencetak untuk bangsa ini setengah juta eksemplar dari setiap diwan puisi atau buku hikmah atau kitab cerita, dan seandainya aku mengerti bahasa Arab untuk mengetahui bagaimana bangsa ini menciptakan filsafatnya dalam lagu-lagunya yang terhubung dengan awan langit yang berbicara dengan yang terbaik dan tersuci yang mungkin menjadi terjemahan kebenaran abadi yang diwariskan oleh bangsa yang abadi.
Puisi adalah ide wujud dalam manusia, dan ide manusia dalam wujud, dan tidak cukup bahwa manusia ini diciptakan sekali dari daging dan darah, tetapi harus diciptakan lagi dari makna dan kata-kata, jika tidak dia akan keluar sebagai hewan bisu; maka penyair menciptakan bangsa yang sempurna, jika dia tidak menciptakannya maka dia menciptakan pemikiran-pemikiran indahnya dan hikmah abadinya dan adab tingginya dan politik yang berhasil, dan aku tidak menyangka kebangkitan Mesir kecuali dengan lagu-lagu dan nyanyian, maka datang dari Inggris tentara dan keluar untuknya dari rumah-rumah nyanyian dan pertunjukan tentara-tentara lain; sungguh aku diilhami ketika suatu kali aku berkata: “Sesungguhnya Allah berbicara kepada manusia melalui musik”.
Ya melalui musik, karena segala sesuatu adalah musik dalam dirinya sendiri bahkan ketika manusia saling berperang dan saling menyembelih, maka gemerincing senjata dan gemuruh bom dan desis peluru dan teriakan tentara -semua itu adalah lagu yang disiapkan Allah Yang Maha Mulia “dan musikNya”… untuk pemakaman bangsa-bangsa.
Syaitanku menceritakan kepadaku: Syaitan Tagore bercerita kepadaku: Dan ketika Tagore melihat profesor terhormat direktur Universitas Mesir -yang mengundangnya untuk memberikan ceramah- dia berkata: Ya dan dengan senang hati, sesungguhnya tidak masuk akal bahwa universitas ini mengundang penyair rohani sepertiku kecuali dia adalah lingkaran cahaya yang disiapkan Allah dari bintang-bintangNya, dan aku tidak menyangka profesor sastra Arabnya kecuali butiran mutiara yang bertetangga denganku dalam tanah liat penciptaan azali, maka jika delapan butiran yang di sekitar kita diciptakan di zaman kita ini dan terbagi pada bangsa-bangsa filosofis, kita dan mereka akan menjadi sepuluh wasiat Allah di zaman materialistik ini… dan kita akan memenuhi lipatan-lipatannya dengan iman kepada Allah, dan Allah -Yang Maha Tinggi- akan menjadi di bumiNya sepuluh alat surgawi nirkabel antara Dia dan makhluk, Universitas Mesir berbangga bahwa di dalamnya ada salah satunya… Sungguh telah menggangguku di masa tua ini bahwa aku tidak belajar bahasa Arab, dan bagaimana aku bisa melagukan nyanyian-nyanyian profesor sastra di Universitas Mesir untuk menikmati irama-irama surgawinya dalam puisi dan lagu-lagunya, dan mendengar malaikat dari menara manusiawi ini di universitas berteriak dengan kata Islam yang menakutkan menyerukan kebenaran wujud dalam wujud: Allah Akbar Allah Akbar, aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah…
Syaitanku berkata: Dan syaitan Dr. Taha Hussein profesor universitas hadir bersama kami, maka ketika dia memahami apa yang ada di jiwa Tagore, dia berkata kepadaku: Sungguh adalah kebaikan bahwa orang India ini tidak mengerti bahasa Arab; karena jika dia mengerti bahasa Arab maka bahasa Arab tidak akan memuaskannya, begitu juga adab bahasa Arab dan profesor adab bahasa Arab! Maka aku berkata: Diam engkau celaka dan biarkan orang itu dalam mimpinya, dan jangan menjadi awan langitnya yang cerah; tidakkah kamu melihat dia bermimpi, tidakkah kamu mendengar dia berkata: “Dan kebenaran dari segi dia adalah keindahan tidak ada keindahan yang menyamainya; tidakkah kamu melihat gambar wanita tua ini yang diciptakan seniman mahir, sesungguhnya kamu melihat gambar itu dan mengakui keindahannya, tetapi wanita tua yang ada di dalamnya tidak memiliki keindahan apa pun; tetapi keindahan gambar adalah bahwa dia menggambarkan wanita tua ini sesuai kenyataannya”, maka ini adalah kata-kata dalam cahaya suci, dan itu dari bahasa langit yang memiliki bintang-bintang bukan dari bahasa jiwa yang memiliki emosi; jika tidak, apakah masuk akal bahwa menggambar orang tua yang terganggu timbangan penciptaannya sehingga tidak menimbang darinya kecuali sisa-sisa penciptaan dan puing-puing umur dan reruntuhan wanita… menjadi keindahan dalam gambar karena menampakkan keburukannya dan kehancurannya dan keriput kulitnya dan matinya lahirnya -karena dia jelek pada asalnya? Bukankah jika itu benar maka museum dan istana akan dipenuhi dengan lukisan-lukisan orang tua, dan tidak akan tersisa di bumi orang tua kecuali pergi ke salah satu pelukis berkata kepadanya: Ciptakanlah aku!…
Syaitanku menceritakan: Syaitan Tagore bercerita: Dan Tagore lembab lidahnya dalam ceramahnya seakan hutan dari hutan-hutan India membekalinya dengan semua yang diperas matahari di dalamnya air dan kehidupan dan kesegaran, maka dia dalam perkataannya dan maknanya adalah daun dan bunga dan angin sepoi-sepoi dan bayangan dan gemerisik dan kicauan, mempesona penonton; karena penonton tidak melihat bentuk manusiawinya di dalamnya, tetapi melihatnya sesuatu dari khayalannya seakan terpisah darinya lalu menjelma menjadi manusia yang sempurna, dan seandainya kamu suatu hari melihat di cermin lalu khayalanmu di dalamnya berbicara kepadamu dan menemanimu dan bersikap lembut kepadamu, hal itu tidak akan membuatmu heran atau gembira atau mengeluarkan dari takjub dan terpanamu kecuali seperti yang menimpa jiwamu ketika Tagore berbicara kepadamu; dan kamu melihat dia mengeluarkan pendapat-pendapatnya yang berubah dengan perkataannya dari ruh hukum-hukum Ilahi yang mengatur alam semesta, maka kamu merasakan dia menyempitkan kepadamu kelebihan yang tidak ada padamu; maka dengan apa kamu besar, jiwamu mengecil padamu di hadapannya; kemudian dia terhubung dengan rohmu sekali dalam keagungan cinta ayah kepada anaknya, dan sekali dalam kelembutan gembira anak kepada ayahnya; maka kamu berada darinya di posisi aneh dari mukjizat manusiawi yang mengejutkanmu dengan anak tua yang telah berkumpul di dalamnya dua ujung umur dan datang seakan dia manifestasi rohnya yang tidak memiliki umur.
Manusia elektrik yang berusaha menambah dalam susunan manusia kebesaran dari besi atau saraf dari kawat; agar terhubung dengan mereka semua nyala api yang mengapung itu; maka mereka adalah makhluk lain seperti penghuni surga: “Cahaya mereka berjalan di hadapan mereka dan di sebelah kanan mereka” (Al-Hadid: 12); tetapi dia melihat dan dia keluar dari panggung dengan pengumuman bioskop yang bersebelahan dengannya dan apa yang ada padanya dari gambar-gambar dan hal-hal menakutkan, maka dia berkata dalam hatinya: Sebentar lagi datang ke sini London dan Paris dan New York dan lainnya dari bumi Allah dengan manusia, hewan, dan tumbuhannya, orang yang duduk melihatnya dengan mata kepala dan terhubung dengannya hubungan jauh yang tidak membuat mereka di dalamnya tetapi tidak mengosongkan mereka darinya; dan wajib bagi kemakmuran bumi ini bahwa penduduk Mesir tetap di Mesir maka tidak meninggalkannya semua; agar mereka semua terhubung dengan apa yang dirindukan jiwa-jiwa mereka dari Paris atau selain Paris dari kebenaran-kebenaran dunia yang besar, dan hubungan ini tidak baik kecuali jika khusus dan tidak umum, maka dilakukan oleh satu dan dua orang dan kelompok dan bangsa tetap dengan apa adanya dan bagaimana adanya; karena dengan itu saja dia bangsa, sebagaimana manusia dengan sifat-sifat mereka adalah manusia, dan alam semesta dengan perbedaannya adalah alam semesta, maka jauh-jauh cinta umum dan perdamaian umum dan hubungan umum dengan kebenaran rohani yang tinggi. Kemudian dia tersenyum dan berkata: Betapa miripnya aku dengan bioskop ini, namun filmku tidak dilihat orang-orang di dalamnya cerita dari London dan Paris, tetapi cerita yang terjadi peristiwanya di surga firdaus…
Filosofi Cerita dan Mengapa Saya Tidak Menulis di Dalamnya…?
Saya tidak banyak menulis cerita, jika Anda menginginkan cara penulisan yang lazim disebut dengan nama ini, namun meskipun demikian saya tidak melihat diri saya telah meletakkan semua buku dan artikel saya kecuali dalam satu cerita tertentu, yaitu cerita akal yang ada di kepala saya ini, dan hati yang ada di antara rusuk saya ini…
Saya tidak peduli dengan penampilan dan tujuan-tujuan yang datang pada suatu hari dan dihapus oleh hari lain, dan kiblat yang saya tuju dalam sastra adalah jiwa Timur dalam agama dan keutamaannya, maka saya tidak menulis kecuali apa yang membangkitkannya hidup dan menambah kehidupannya serta keluhuran tujuannya, dan memungkinkan keutamaan dan karakteristiknya dalam kehidupan; oleh karena itu saya tidak menyentuh dari seluruh sastra kecuali sisi-sisi luhurnya; kemudian tampak bagi saya seolah-olah saya adalah utusan bahasa yang diutus untuk membela Al-Quran dan bahasanya serta kefasihannya, maka saya selamanya berada dalam posisi tentara “dalam keadaan siaga”: baginya apa yang diderita dan apa yang ditanggung dan apa yang dicoba dan dipenuhi, dan apa yang dihindari dan dijaga, dan sejarah kemenangan dan kekalahannya dalam karya-karyanya tanpa yang lain; dan bagaimana jika Anda menghadang tentara, Anda akan melihat seninya sendiri, bukan seni Anda dan bukan seni selain Anda; karena ia untuk caranya dan tujuannya dan apa yang dihantarkan dengannya untuk kehidupan dan sejarah.
Tidakkah Anda melihat bahwa novel-novel itu ditulis sebagai cerita, kemudian dibaca dan tetap sebagai cerita? Dan jika mereka berbuat sesuatu pada pembacanya, mereka tidak menambah lebih dari apa yang dilakukan obat bius; menjadi penenang saraf untuk sementara waktu, kemudian berubah sendiri setelah beberapa saat menjadi perangsang saraf?
Dan saya tidak menyangkal bahwa dalam cerita ada sastra yang tinggi, tetapi sastra tinggi ini menurut pendapat saya tidak terjadi kecuali dengan mengambil peristiwa-peristiwa dan mendidiknya dalam novel seperti mendidik anak-anak dengan metode yang sama dalam ilmu dan keutamaan; maka cerita dari sisi ini adalah sekolah yang memiliki hukum yang ditetapkan, dan cara yang telah diuji, dan tujuan yang tertentu; dan tidak sepatutnya yang menanganinya selain orang-orang istimewa dari para filosof pemikiran yang bakat mereka menobatkan mereka untuk melemparkan kata yang menentukan dalam masalah yang menggugah kehidupan atau digugah oleh kehidupan; dan para tokoh dari filosof kefasihan yang diberi rizki dari sastra mereka kekuatan terjemahan tentang apa yang ada antara jiwa manusia dan kehidupan, dan apa yang ada antara kehidupan dan bahan-bahan jiwanya pada orang-orang ini dan mereka itu, membayangkan kehidupan lalu menciptakan puisi yang paling indah, dan merenungi lalu mengeluarkan hikmah yang paling luhur, dan menetapkan hukum lalu meletakkan hukum-hukum yang paling benar.
Adapun selain mereka dari orang-orang yang berprofesi menulis cerita, maka mereka dalam sastra adalah rakyat jelata dan kaum barbar, adalah dari pengaruh cerita-cerita mereka apa yang dialami dunia hari ini berupa kekacauan naluri, kekacauan yang dibenci ini yang jika Anda teliti dalam jiwa-jiwa, Anda tidak akan melihatnya kecuali sebagai kemasyarakatan rohani yang merosot di mana jiwa berkeliaran tersesat dalam jalan-jalan kejahatannya.
Jika Anda membaca novel yang palsu, Anda merasakan dalam diri Anda hal-hal yang mulai merendah, dan jika Anda membaca novel yang benar, Anda menyadari dari diri Anda hal-hal yang mulai meninggi, yang pertama berakhir dalam diri Anda dengan pengaruh buruknya, dan yang kedua dimulai dari Anda dengan pengaruh baiknya; dan ini menurut saya adalah perbedaan antara seni cerita dan seni rekayasa cerita!!
Pada tanggal dua puluh satu bulan Maret tahun kita ini, puisi Arab melepaskan dari kepalanya surban kesyeikhan dan membentangkannya untuk kematian, maka ia menjadi kain kafan yang dibungkuskan padanya sisa-sisa syeikh sastra: almarhum Ismail Pasha Sabri.
Dia rahimahullah termasuk orang-orang yang tumbuh dalam sejarah yang tidak melahirkan seseorang, dan datang bukan pada zamannya agar zamannya datang dengannya kemudian; dan orang-orang ini jika tidak ada pada mereka kekuatan yang lebih besar dari kekuatan, maka mereka adalah takdir dan peristiwa yang lahir dan tumbuh dan berkembang dalam gaya manusiawi; agar dengan mereka sempurna sesuatu yang dahulu kurang, dan menjadi baik sesuatu yang dahulu cacat, dan ada sesuatu perkara yang dahulu tiada; kemudian agar bagi zaman ada batas-batas darinya yang dimulai pada salah satunya lalu berubah padanya dan berubah dengannya dan keluar bersamanya dalam sebagian maknanya sebagai zaman baru dalam manusia baru.
Demikianlah Sabri dalam satu arah dari arah-arah puisi, dan demikian pula Al-Barudi -rahimahuma Allah- dalam arah lain; maka keduanya adalah ujung poros yang berputar padanya falak ini untuk memulai setelah sejarah matinya sejarah yang hidup, dan untuk keluar dari suasana kelam di permukaan bumi menuju angkasa yang bersinar dengan makna-makna langit, kemudian untuk mengguncangkan darinya di hembusan angin-angin tinggi apa yang menempel padanya dari tabiat kaumnya dan akhlak mereka, dan menutup dengannya apa yang dibuka zaman atas mereka dari pintu-pintu profesi ini, maka puisi membutuhkan seorang raja, lalu mendapat dua orang; dan Allah tahu saya tidak melihat dalam semua yang saya lihat dari para penyair jiwa yang setara dengan keduanya, dan tidak ada akhlak yang berjalan dalam akhlak keduanya, dan tidak ada keanggunan dan tidak ada kelembutan dan tidak ada kesopanan dan tidak ada sesuatu yang layak menjadi penjelasan dari keduanya atau penegasan untuk sesuatu pada keduanya atau penguatan untuk makna dari makna-makna keduanya, seolah-olah keduanya ada agar salah satunya menjadi permulaan dan yang lain menjadi akhir, dan agar keduanya menyendiri dengan penyendirian ujung-ujung dari jarak sejauh apa pun jaraknya.
Puisi pada zaman keduanya adalah sisa usang dalam pameran ciptaan dari apa yang disebut oleh sastrawan Andalusia sebagai tujuan-tujuan Masyriqiah dan cara orang-orang Masyriq, dan mereka maksudkan dengan itu keahlian dan kepura-puraan untuk badi’ dan berpaling kepada lafaz dan memaksakannya pada wajah yang mereka inginkan, hingga apa yang bercabang dari itu dan keluar atau masuk dalam babnya; dan ini dan semisalnya dahulu dapat diterima dan ditoleransi pada abad kedelapan dan kebanyakan abad kesembilan Hijriah, kemudian pada hari-hari setelah itu; namun ia usang dan rusak di Mesir khususnya dan tidak tersisa darinya hingga pertengahan abad ketiga belas kecuali tambalan dan benang-benang dalam qasidah dan penggalan-penggalan.
Kemudian kebanyakan penyair pada waktu itu hanya berprofesi seni sastra sebagai keahlian seperti profesi dan keahlian lainnya yang dengannya tegak penghidupan bagi orang-orang yang mencari makan dan pencari keuntungan dari rakyat jelata dan tentara bayaran.
Al-Barudi muncul dan cemerlang dalam puisinya sebelum Sabri mengatakan puisi bertahun-tahun, tetapi sastra Persia dan kegagahan Arab adalah keduanya yang berubah padanya; kemudian Sabri cemerlang setelah itu dengan waktu, maka berubah padanya sastra Eropa dan kelembutan Arab; dan ini adalah tempat perbedaan dalam puisi kedua orang yang menangkap khayalan puitis dari ujung-ujung bumi, dan keduanya pergi dengan madzhab dan kembali kepada tabiat dan melatih puisinya pada wajah; maka Al-Barudi mengagungkan dan menggabungkan kepada pengubahannya yang baik kekuatan kemegahan dan kekuatan kegagahan, kemudian menghadang khayalan dari tempat ia turun pada jiwa dalam jalur wahyu; dan Sabri memperlembut dan menambahkan kepada kejernihan lafaznya keindahan pemilihan dan manisnya kelembutan, dan menentang pikiran dari tempat ia berhubungan dengan hati; dan Al-Barudi tidak melihat kecuali timbangan lidah yang ia tegakkan padanya huruf-huruf dan kata-katanya, dan Sabri tidak melihat kecuali timbangan rasa yang ada di balik lidah; dan telah dimudahkan bagi keduanya sebab-sebab sisinya dalam sebaik-baik apa yang ia tasarruf padanya; maka datang Al-Barudi sebagai penghafal seolah-olah ia kumpulan dari diwan-diwan Arab dan para maulud, dan datang Sabri sebagai pemikir seolah-olah ia kumpulan rasa dan pikiran; dan keduanya berserikat bersama dalam kesabaran pada keahlian puisi dan berhati-hati dalam karyanya dan membolak-baliknya pada wajah-wajah dari penelitian, dan mengujinya dengan kritik dan cobaan lafaz demi lafaz dan kalimat demi kalimat, kemudian memanjangkan makna-maknanya dan bersabar dengannya seolah-olah keduanya mencabut keindahan-keindahannya dari tangan-tangan malaikat; dan saya mengetahui itu pada keduanya; dan Sabri Pasha berkata kepada saya suatu kali ketika saya menyertai dia dalam sebagian makna ini: bahwa ia mengetahui ini dari Al-Barudi dan dari dirinya sendiri. Saya berkata: Apakah sampai dengannya hal itu sehingga ia menghapus putih hari dalam hitam satu bait? Dia berkata: Dan dalam hitam setengah bait kadang-kadang! Dan tidak mengurangi keduanya perkara ini sedikitpun, karena berita Zuhair dalam qasidah tahunannya terkenal, dan dia telah membuat tujuh qasidah dalam tujuh puluh: dia menenun qasidah darinya dalam setahun.
Dan mereka meriwayatkan dari Marwan bin Abi Hafshah bahwa dia berkata: Aku biasa membuat qasidah dalam empat bulan, dan mengasahnya dalam empat bulan, dan memaparkannya dalam empat bulan, kemudian aku keluar dengannya kepada manusia; maka dikatakan ini adalah yang tahunan yang dipoles.
Rujukan Al-Barudi adalah kepada hafalan, maka ia cemerlang dalam lompatan sedikit; adapun Sabri maka ia membutuhkan waktu hingga kukuh sisinya dan datang kepadanya sebab-sebabnya atas kebaikan, karena rujukannya kepada rasa, dan ini diperoleh dengan latihan dan matang ketika pikiran matang dan tidak datang dengan air dan kilau hingga datang kepadanya sebab-sebab banyak; dan Anda mengetahui itu pada kedua orang dari awal-awal puisi mereka, maka Al-Barudi telah meratapi ayahnya pada usia dua puluh dengan bait-bait daliyah-nya yang terkenal yang matla’nya:
“Tidak ada ksatria hari ini yang melindungi padang rumput di lembah … Kebinasaan menimpa meteor kaum dan perkumpulan”
Dan itu delapan belas bait, dan yang baiknya baik, dan seolah-olah keluar dari lidah Arab; dan hanya datang kepadanya dari keahlian hafalan, seperti yang terjadi pada Asy-Syarif Ar-Radhi dalam bait-bait kha’iyah-nya yang ia tulis dengannya kepada ayahnya dan umurnya empat belas tahun, dan ayahnya ditahan di benteng Syiraz dan matla’nya:
“Sampaikanlah dariku kepada Al-Husain sebagai utusan … Sesungguhnya gunung ini setelah jauhmu goyah”
“Dan meteor yang aku terbakar apinya … Cahayanya dibalikkan oleh musibah-musibah lalu padam”
Ini atas bahwa permulaan sebagaimana dikatakan adalah tergelincir; dan kami telah diberi taufiq untuk berdiri pada yang pertama yang diterbitkan dari puisi Sabri Pasha, yaitu dua qasidah yang diterbitkan di majalah Raudhah Al-Madaris dalam memuji Ismail Pasha, maka diterbitkan yang pertama dalam edisi yang terbit pada akhir Syawwal tahun 1287 Hijriah – 1870 Masehi; dan diterbitkan yang kedua dalam edisi bulan Rabi’ Al-Akhir tahun 1288 H – 1871 M; dan antara keduanya lima bulan, lompatan padanya lemah dan pendek, yang menunjukkan lambatnya kematangan dengan tabiat sebab-sebab yang menyebabkannya kepada puisi; dan Ar-Raudhah pada waktu itu menerbitkan untuk sekumpulan dari tokoh-tokoh zamannya: seperti As-Sayyid Shaleh Majdi, dan Rifa’ah Bey Rafi’, dan Muhammad Efendi Qadri “dan jenius zaman Muhammad Efendi Ridhwan”, dan lain-lain. Dan ia menyambut qasidah-qasidah mereka dengan sajak-sajak yang memekakkan dan bergemuruh, yaitu untuk masa itu paling mirip dengan tembakan meriam penghormatan untuk raja-raja dan pangeran-pangeran; maka ketika ia menerbitkan untuk Sabri ia berkata dalam qasidah pertama: “Ucapan selamat untuk Hari Raya Besar untuk Khedive Yang Agung dengan pena Ismail Sabri Efendi”. Dan berkata dalam yang kedua: “Qasidah ra’iyah dalam memuji Hadrat Khediviah dari nazham pemuda mulia Ismail Sabri Efendi dari murid-murid sekolah administrasi”.
Dan matla’ qasidah pertama:
“(Dia) tersingkap maka tampak bagi kami bulan sabit keberuntungan … Dan tumbuh cinta di hatiku yang ditopang”
Dan tidak ada sesuatu padanya lebih dari huruf-huruf percetakan… Dan matla’ yang kedua:
“Apakah wajahmu yang putih menggodamu ataukah kemunculan bulan purnama … Dan tubuhmu yang ramping ataukah keadilan yang sawo matang”
Dan dalam qasidah ini ada satu bait yang aku berhenti padanya aku melihat Sabri Pasha dalam Sabri Efendi seolah-olah ia bayangan yang lahir menangis, yaitu perkataannya:
“Maka panjang dari perpisahan mungkin berdiri kami … Panjang bersama -wahai pembunuhku- saat hari pembalasan”
Dan hampir bait ini menjadi perubahan pertama gagasan padanya: dan ia aneh, dan perenungan padanya lebih aneh, tetapi ia menunjukkan khayalan yang akan melompat suatu hari ke penjuru-penjuru langit.
Dan pada waktu itu sendiri Al-Barudi adalah meteor yang menyala, dan ia telah mencapai tempat tingginya dan mengumpulkan sebab-sebab akhirnya, bahkan ia menggubah sebelum itu enam tahun qasidah-nya yang terkenal:
“Kantuk mengambil tempat-tempat kelopak mata … Dan perjalanan malam bergegas dengan tali kekang kuda-kuda”
Maka tidak akan hilang wajah puisi dari Sabri, dan tidak akan pejam mata ketika meniru keahlian mahir ini dan mengambil yang lain seandainya tidak ada padanya tabiat mandiri yang pergi kepada kesempurnaannya dalam gaya lain seperti gaya setiap bunga dalam rantingnya; dan paling khusus keadaan Sabri bahwa ia tidak ingin menjadi penyair maka datang lebih besar dari penyair, dan sebab yang membuangnya dari sisi adalah dia sendiri yang datang dengannya dari sisi lain.
Penyair cemerlang dengan empat hal yang tidak boleh tidak ada: cara belajar yang ia tangani dengannya puisi, dan buku-buku cara ini, dan orang-orang yang merupakan contoh-contohnya dalam dirinya, kemudian… dan demi Allah dari “kemudian” ini, karena ia adalah kilatan langit yang bersinar pada hati penyair dari wajah yang indah, dan tiga yang pertama melahirkan kecemerlangan yang dikenal dalam jenisnya dan kadarnya, tetapi yang keempat adalah jalan takdir yang tidak diketahui ujungnya; dan jika ia diperbaharui dalam kehidupan penyair atau bersambung diperbaharui dengannya kecemerlangan atau bersambung, maka sesuai kadar apa yang ia cintai langit mencintainya dari rahasia-rahasia keindahan, dan ia sendiri adalah sebab puisi yang paling indah dan makna-maknanya yang paling indah dan tujuan-tujuannya yang paling indah, maka ia adalah bahan yang menyusun antara jiwa penyair dan antara makna keindahan puitis dalam alam semesta ini semua; dan jika Anda mencabut pandangan dan senyuman -dan keduanya adalah unsur bahan itu- dari kehidupan penyair, Anda mencabut kehidupan sendiri dalam puisinya maka tidak tersisa darinya kecuali bahwa ia kuburan untuk lafaz-lafaz dan makna-makna, dan Anda mendengar puisinya maka Anda tidak membalasnya dengannya yang lebih baik dari ucapanmu: semoga Allah merahmatimu…
Dan Sabri tidak belajar puisi dalam buku-buku lebih dari yang ia pelajari dalam wajah-wajah dan mata-mata, dan ia telah menangani puisi ini dalam permulaannya agar dapat dicapai kepadanya dari jalan-jalannya yang jauh; adapun orang-orang yang menjadi contoh-contohnya adalah orang-orang keanggunan dan kelembutan dan jenaka Mesir yang terkenal yang menyendiri dengannya tabiat Mesir dan dinashkan padanya ulama balaghah, seperti As-Sakkaki dan lainnya; bahkan zamannya keseluruhan adalah zaman jenaka ini, maka berubah dalam tabiatnya yang lembut yang inovatif perubahan lembut yang mengembalikannya kepada keanggunan murni yang berkumpul padanya semua tabiatnya seperti berkumpul awan dari air.
Dan sungguh ia dalam puisinya adalah orang yang paling berhak dengan perkataan Ibnu Sa’id Al-Maghribi:
“Wahai penduduk Mesir, Sungai Nil bertetangga dengan negeri kalian … Maka memberi kalian kemanisan itu dalam puisi”
“Dan ada di negeri itu sihir maka tidak tersisa … Kecuali bekas yang tampak pada nazham dan natsar”
Dan sesungguhnya aku mengetahui bahwa ia selalu cinta: mencampur kenangan masa lalunya dengan masa kininya maka keluar dari keduanya cinta baru; dan orang itu seolah-olah hatinya terluka, maka tidak berhenti mengerang bahkan dalam sebagian nafasnya; ketika ia melepaskan nafas panjang antara sesaat dan lainnya, dan seolah-olah ia ingin meyakinkan bahwa nafasnya padanya, atau bahwa sesuatu tersisa dalam nafasnya; dan itu adalah gumaman yang tidak ada pada penyair dari para penyair tanpa makna.
Pandangan dan senyuman tergambar baginya di mana ia mau dan menghadangnya di mana ia ingin melihatnya, maka ia menemukan dalam segala sesuatu roh dari puisi, dan membaca kilatan-kilatannya ketika berkilat, dan ia hidup dalam diri sendiri seolah-olah ia makna dalam qasidah ia adalah pangeran bait-baitnya.
Maka penyair kami ini dikeluarkan oleh dua: keanggunan dan keindahan; dan ini rahasia penolakannya bahwa ia dihitung dari para penyair; karena ia lebih mulia dari masuk di antara mereka dalam cobaan dan bencana yang mereka diuji dengannya…
Dan sungguh Sabri dalam akhir umurnya berniat menghapus puisinya seandainya ia ada dalam jangkauan tangannya atas bahwa ia menghapus darinya dengan mengabaikannya lebih dari yang ia tetapkan; dan aku mengetahui darinya bahwa ia tidak mencatat sesuatu, dan bahwa ia lupa ketika mereka sampai kepada tahqiq mereka melihat umur mereka seluruhnya permulaan dan melihat apa yang mereka lakukan batil maka mereka mencuci buku-buku mereka atau membakarnya, tetapi kami tidak mengenal tabiat ini pada penyair setelah zaman penulisan dan pencatatan, dan walau sebagian mereka enggan untuk dirinya bahwa ia dihitung dari para penyair dan ia dengan itu mengumpulkan tangannya pada puisinya, seperti Asy-Syarif Ar-Radhi yang berkata:
“Apa bagimu rela bahwa kau dihitung penyair … Jauh untuknya dari hitungan keutamaan-keutamaan”
Dan berkata dalam memuji ayahnya:
“Sesungguhnya aku rela bahwa aku melihatmu dipuji … Dan kemuliaan tidak rela bahwa aku penyair”
Dan sepertinya Abu Thalib Al-Ma’muni dan lain-lain mengklaim itu sebagai klaim dan di lidah mereka apa yang tidak ada di hati mereka.
Karena kepiawaiannya yang berlebihan dalam hal keanggunan dan keindahan, serta puisinya yang berdiri di atas dua pilar ini, ia termasuk di antara para penyair yang sedikit karya (muqill). Kesedikitannya justru menambah nilai puisinya, sehingga penggalan-penggalan puisinya muncul layaknya sesuatu yang menawan yang membuat orang lebih takjub pada keberadaannya daripada takjub karena langkanya. Dengan demikian, ia meraih keuntungan dari jerih payah para penyair yang banyak menulis dan memperpanjang karya, karena ia hanya berkata dalam hal-hal yang sesuai dengan tabiatnya dan kecenderungan alaminya. Maka dekatilah cara pengambilannya, banyaklah manfaat dari sedikitnya karya, dan ia melemparkan darinya seperti dalil dan bukti yang menghapus pembicaraan panjang dan perdebatan luas.
Tidaklah tercela bagi seorang penyair yang sedikit karya bahwa ia memang sedikit menulis, jika kebaikan-kebaikannya banyak. Bahkan hal itu lebih membantu memengaruhi hati dan jiwa ketika mereka menemukan dalam puisinya sesuatu yang menggoda mereka untuk mencari lebih banyak lagi darinya. Mereka telah menghitung di antara para penyair yang sedikit karya pada masa Jahiliah: Tharfah bin al-Abd, Ubaid bin al-Abras, Alqamah al-Fahl, Adi bin Zaid, Salamah bin Jandal, Hushain bin al-Hamam, al-Mutalammis, al-Harits bin Hilzah, Ibn Kultsum, dan lainnya yang telah kami sebutkan nama-nama mereka dalam jilid ketiga “Tarikh Adab al-Arab”. Di antara mereka ada yang dikenal hanya dengan satu qasidah seperti Tharfah, ada yang dikenal dengan tiga qasidah seperti Alqamah, atau empat seperti Adi bin Zaid. Ada pula yang dikenal dengan bait-bait yang tersebar, dan tidak ada artinya apa yang dinisbatkan kepada mereka menurut selain para pengkaji dan ahli tahqiq, karena penambahan karya pada penyair Jahiliah itu banyak. Terkadang mereka mengenal seorang penyair hanya dengan satu bait tunggal, karena orang Arab hanya menilai puisi berdasarkan seberapa besar ia menggerakkan timbangan alaminya yaitu hati, bukan berdasarkan panjang atau pendeknya. Mereka berkata tentang bait an-Nabighah:
“Dan aku tidak akan memelihara seorang saudara yang tidak kau maafkan karena kekurangannya; siapakah di antara manusia yang beradab?”
Bahwa tidak ada bandingannya dalam perkataan orang Arab, dan itu tidak lain berdasarkan pertimbangan yang telah kami tunjukkan. Mereka menyebut satu bait sebagai “yatim” (yatim), jika mencapai dua atau tiga bait disebut “nutfah”, sampai sepuluh bait disebut “qith’ah”, dan jika mencapai dua puluh bait berhak disebut “qasid”.
Di antara para penyair ada yang sengaja tidak membuat puisi baiknya selain dua atau tiga bait hingga penggalan-penggalan kecil, seperti penyair kami Sabri Pasha. Di antara mereka ada Aqil bin Alqamah yang memendekkan celaan dan berkata: “Cukup bagimu dari kalung apa yang melingkari leher.” Di antara mereka ada Abu al-Mahwas yang berdalih bahwa ia tidak menemukan perumpamaan yang langka kecuali satu bait, dan tidak menemukan puisi yang beredar kecuali satu bait. Di antara mereka ada al-Jummaz: seseorang berkata kepadanya setelah ia membacakan dua bait: “Apakah kau tidak menambah selain satu atau dua bait?” Maka ia berkata: “Apakah kau ingin aku membacakan ukuran hasta untukmu??” Dan Ibn Lankak al-Mishri, Ibn Faris, Manshur al-Faqih yang dikatakan tentangnya: “Jika ia melempar dengan dua baitnya, ia membunuh.” Kami tidak akan menguraikan hal ini secara mendetail, biarlah kami tinggalkan karena ada tempatnya tersendiri.
Namun Sabri memiliki, selain kebaikan dalam penggalan-penggalan, juga kebaikan dalam qasidah ketika ia membuat qasidah, seperti sekelompok orang yang dikenal dengan hal itu dalam sejarah, di antaranya al-Abbas bin al-Ahnaf dan lainnya. Di antara sebab-sebab kesedikitannya adalah apa yang telah ia beritahukan kepadaku bahwa cara pendekatannya dalam sebagian besar yang ia susun adalah menentang makna yang ia temukan, atau menyertakan hikmah, atau membuat perumpamaan dengan cara pandang dan pengamatan, atau mencatat suatu pikiran yang terlintas untuknya, atau kilasan yang diilhamkan kepadanya. Ia berlaku adil dan seimbang dalam hal itu sehingga tidak mengklaim sesuatu yang bukan miliknya, bahkan ia menunjukkan sendiri asal yang darinya ia mengambil atau contoh yang ia ikuti.
Ia berkata kepadaku suatu kali: “Sesungguhnya al-Bustani mengikat hikmah Persia dalam perkataannya:
‘Telah Kau tetapkan, Tuhanku, siksa, maka di mana gerangan tempat Engkau akan menyiksa? Tidaklah ada siksa di mana pun Engkau berada, dan tempat mana yang tidak ada Engkau di dalamnya?'”
Kemudian ia berkata: “Maka aku mengambil dari makna ini dan berkata:
‘Ya Rabb, di mana menurut-Mu akan didirikan neraka untuk orang-orang zalim esok dan untuk orang-orang jahat? Tidak tersisa dari ampunan-Mu di langit yang tinggi dan di bumi sejengkal pun yang kosong untuk api. Ya Rabb, anugerahkanlah kepadaku keutamaan-Mu dan cukupkanlah aku dari berlebihan akal dan fitnah pikiran. Dan perintahkanlah wujud ini menjadi jernih tentang-Mu agar aku melihat murka Yang Lemah Lembut dan rahmat Yang Maha Perkasa. Ya Yang Mengetahui rahasia-rahasia, cukuplah bagiku cobaan pengetahuanku bahwa Engkau Maha Mengetahui rahasia-rahasia.'”
Perbedaan antara kedua puisi itu adalah bahwa al-Bustani datang dengan perkataannya menurut cara para sufi yang mereka sebut cara ahli tahqiq, seperti Ibn Arabi dan asy-Shushtari. Adapun Sabri, lihatlah bagaimana ia menyempurnakan, bagaimana ia menyerasikan, dan bagaimana sisi-sisi puisinya penuh. Ia terkadang mengambil cara yang halus yang tidak diperhatikan kecuali oleh orang yang ahli dan cakap dalam seni kalam, seperti perkataannya:
“Ketika seorang sahabat mendurhakaiku dengan permusuhan, dan suatu hari aku membidikkan anak panah ke sasaran vitalnya, Bayangan kasih sayang menghadang antara aku dan dia, maka patah anak panahku, aku berbalik dan tidak memanah.”
Ini mengacu pada perkataan al-Harits bin Wa’lah:
“Kaumku, mereka yang membunuh Umaim saudaraku, maka ketika aku memanah, anak panahku mengenai diriku.”
Tetapi ini tidak seperti itu, karena dasar maknanya adalah perkataannya: “Bayangan kasih sayang menghadang antara aku dan dia,” dan ini dari perkataan al-Abbas bin al-Ahnaf:
“Dan ketika aku memekarkan pandanganku kepada selain engkau, aku membayangkan engkau di hadapannya maka aku melihatmu.”
Maka perhatikanlah bagaimana ia berinovasi dalam mengambil makna, bagaimana ia membuatkan untuknya arena baru, dan bagaimana ia menyampaikannya dengan penyampaian terbaik dalam wajah yang paling halus seakan-akan ia sesuatu yang diciptakan. Dari puisinya yang tersebar, perkataannya tentang pelukan dan saling melekatnya dua kekasih:
“Dan ketika kami bertemu, kerinduan mendekatkan usahanya, dua yang sedih yang mencurahkan kesedihan dan teguran, Seakan-akan seorang sahabat di dalam sahabatnya merembes di sela-sela pelukan dan menghilang.”
Makna ini, meskipun ia berinovasi di dalamnya, sudah beredar, dan asalnya dari Basysyar -kurasa- dalam perkataannya:
“Dan kami bermalam bersama, seandainya segelas anggur ditumpahkan di antara kami, niscaya tidak akan merembes.”
Maka Sabri berinovasi dalam pengambilannya dan menjadikan dari gelas yang retak ini permata yang berkilau. Namun aku tidak menganggap baik perkataannya: “Seakan-akan seorang sahabat…,” karena ini bukan pelukan para sahabat, sekalipun sahabat itu kembali dari perjalanan akhirat. Jika yang satu menghilang dalam yang lain, maka yang lain membawanya… Dan aku telah mengambil makna ini darinya, dan tanpa dia aku tidak akan menemukan jalannya, maka aku berkata dalam hal itu:
“Dan ketika kami bertemu, cinta merangkul kami dengan rangkulan yang berisi semua yang ada di dalam dua hati kami dari cinta, Dan birahi mengikat dada ke dada seakan-akan birahi ingin meneruskan hati ke hati.”
Yang terbaik yang kau temukan dari puisi Sabri adalah dalam ghazal, nasib, deskripsi, dan hikmah. Ini adalah unsur-unsur hati dan rasanya, dan tidak bergerak bersamanya sekuat yang bergerak kecuali dalam tujuan-tujuan ini. Mungkin jika ia melampaui itu, ia akan sedikit lemah dan alatnya sedikit melemah, karena ia akan menjadi penyair keahlian sedangkan ia menolaknya dan membenci menjadi penyair karenanya. Jarang ada yang menandinginya dalam tujuan-tujuan itu, dan dialah yang membuka pintu-pintunya. Cukuplah bagimu bahwa dialah contoh yang diikuti oleh Shauqi Bey. Makna tunggal terkadang terbagi pada dua orang ketika ditakdirkan, maka jika salah satunya tidak ada, yang lain tidak akan ada. Aku melihat dan mengetahui bahwa tanpa Sabri, Shauqi tidak akan unggul. Shauqi sering datang kepadanya memperlihatkan puisinya dan kembali dengan bekas rasanya di dalamnya. Demikian pula yang dilakukan khalifah al-Barudi, Hafiz Bey Ibrahim. Shauqi mengambil dari Sabri Pasha bait yang tersebar ini:
“Jagalah kecantikanmu dari kami, sesungguhnya kami manusia dari tanah, dan kecantikan ini rohani.”
Itu milik Sabri Pasha. Pengambilan manfaat adalah tradisi yang dikenal sejak dahulu, dan itu berbeda dari pengklaiman, pencurian, dan apa yang disebut penyerbuan dan perampasan. An-Nabighah telah mengambil manfaat dari Zuhair untuk anaknya Ka’b, maka ia memberinya manfaat, dan kisah dalam hal itu terkenal tentang dia dan lainnya.
Tidak ada di Mesir dari yang ahli dalam rasa bayan dan membedakan kadar kata-kata satu dari yang lain serta warna-warna petunjuknya seperti al-Barudi, Sabri, Ibrahim al-Muwaylihi, dan Syeikh Muhammad Abduh, semoga Allah merahmati mereka semua. Al-Barudi merasa dengan naluri, Sabri dengan perasaan, al-Muwaylihi dengan keanggunan, dan Syeikh dengan wawasan yang tajam. Itu adalah sesuatu yang Allah ciptakan dalam tabiat Sabri yang tidak ia peroleh dengan pembelajaran lebih dari yang ia peroleh dengan perasaan. Karenanya ia lebih menyukai al-Buhturi daripada yang lain, dan ia tanpa perselisihan adalah al-Buhturi-nya Mesir, sebagaimana mereka menjuluki Ibn Zaidun sebagai al-Buhturi Maghrib. Sungguh kau akan menemukan beberapa kata dalam puisi orang itu seakan-akan ia puisi dengan puisi, maka kau berhenti pada ungkapan darinya sementara hatimu bernapas padanya seakan-akan ia ditempatkan khusus untuk hatimu, maka ia menekan padanya dengan tekanan seakan-akan ia hembusan malaikat dari para malaikat yang datang kepadamu dalam napas dari napas-napas surga.
Nasibnya (puisi cinta) dibedakan karena ia hampir dalam kesucian dan kesopanannya menjadi cahaya dari keindahan matahari dan bulan, dan menurutku ia lebih pantas dari al-Abbas bin al-Ahnaf yang menghabiskan seluruh puisinya untuk makna ini. Seandainya zamannya adalah zaman sastra yang benar, niscaya ia akan mengalahkan semua penyair pintu ini, dari Ibn Abi Rabi’ah hingga generasi para pecinta Arab hingga imam-imam aliran cinta sampai akhir abad ketujuh.
Dari ghazalnya yang indah, perkataannya:
“Wahai yang menegakkan hatiku ketika menguasainya antara dua api, dari kerinduan dan kesedihan, Semoga mata-mata kaum di sekelilingmu yang berdesakan menebus engkau, haus kepada tegukan dari wajahmu yang cantik. Engkau telanjangkan setiap yang cantik dari kecantikannya, tidak takut kepada Allah terhadap kijang atau dahan.”
Dan perkataannya:
“Berhentilah hatiku, karena kenangan tidak bermanfaat dan tidak memberi syafaat dalam mengembalikan apa yang telah terjadi. Hatiku yang telah berbagi bersamaku suatu zaman lupakan, denyutan cinta muda, maka berdenyutlah sendirian sekarang.”
Dan ya rahmat Allah bagi hati yang memahami bait ini, karena ia sungguh akan gila karenanya siapa saja yang memiliki kesiapan untuk jenis kegilaan ini.
Dari kalung-kalung cintanya, perkataannya:
“Wahai penyembuh orang hidup, apakah engkau telah memeriksa hatiku dan apakah engkau telah melihat jelas penyakit di sudut-sudutnya? Aduh dari api yang telah memusnahkan sebagian besarnya, dan masih berjalan-jalan di sisa-sisanya. Wahai kerinduan, lembutlah dengan tulang-tulang rusuk yang telah engkau hantam, karena hati berdenyut ketakutan di sela-selanya.”
Ia memiliki qasidah “Patung Kecantikan” yang ia susun untuk diterjemahkan ke bahasa Prancis, dan dari mutiara-mutiara matanya, perkataannya:
“Dan tersenyumlah, siapa yang memiliki senyuman seperti ini yang memenuhi dunia dengan senyuman dan kegembiraan? Jangan takut berlebihan dari jiwa-jiwa yang tersandung kemudaan padanya dengan malu. Kebanggaan telah menjinakkan dari akhlak kami dan adab kami merelakan kesetiaan yang baik. Maka seandainya angan-angan kami terbentang hingga kerajaan, tidak akan mengotori kejernihan itu.”
Para penyair dari awal sejarah sastra hingga hari ini berkata dalam makna perkataannya: “Jangan takut berlebihan” bait-bait itu, dan tidak ada di antara mereka yang berhasil menyamai bait terakhir ini, meskipun sebagian mereka mencapai puncak, seperti Ibn Nabatah as-Sa’di, as-Sirri ar-Raffa’, dan lainnya.
Di antara yang paling indah yang terjadi baginya dalam deskripsi adalah bait-bait tentang tintero yang ia transisikan di akhirnya untuk memuji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan itu adalah transisi yang tidak ada dalam seluruh puisi Arab yang menyamainya dalam inovasi dan kebaikan penciptaan. Ia berkata di dalamnya:
“Muliakanlah ilmu dan berikanlah kepada para pelayan-pelayannya airmu yang mahal, berharga, dan berharga tinggi. Dan berikanlah yang jernih lagi suci darinya untuk para penuntun hati yang terpimpin. Dan ketika kezaliman dan kekelaman meminta bantuan pada hari sial dengan orang yang paling bodoh di antara orang-orang bodoh, Dan meminta dari kejahatan-kejahatan tinta, maka jadikanlah itu dari bagian orang-orang zalim. Dan lemparkanlah dalam titik yang di dalamnya tinggal murka Yang Maha Kuasa Yang Menghinakan sebagai pengintai, Untuk pena seseorang yang jika menulis satu baris membuang kebenaran dan menjadikan penipuan sebagai agama. Dan jika ada padamu titik kejahatan yang terbentuk dari kerendahan penciptaan, Maka jadikanlah itu bagian mereka yang menghalalkan dalam politik kehormatan orang-orang lemah. Dan jika engkau takut akan ada dari batu-batu besar yang merajam para pendengar, Maka kikir-lah dengan tinta secara kikir, dan jika engkau memberi padanya ratusan kemudian ratusan. Maka jika tinta kekurangan tabib yang mendeskripsikan penyakit dengan tekun sambil meminta bantuan, Maka berikanlah kepadanya yang diinginkan dari kami dan kebaikan, dan nikmati pertolongan orang-orang yang berbuat baik. Dan jika hati merpati-merpati menyumbangkan titik rahasia-rahasianya yang suci lagi terjaga, Maka jadikanlah itu wakaf untuk kasih sayang dan berikanlah untuk surat-surat orang-orang yang berahi. Maka jika tidak ada di hatimu kecuali yang telah keikhlasan siapkan untuk orang-orang yang ikhlas, Maka jadikanlah itu bagiaku untuk aku tulis darinya penjelasan keadaanku untuk pemimpin para rasul.”
Ini demi Allah adalah puisi, dan tidak ada yang berhasil menyamai seperti itu siapa pun di zaman ini.
Kami tidak akan memperpanjang dengan mengutip dari puisinya dan mengikuti tujuan-tujuannya, karena ia seperti berlian di bawah matahari: bersinar dari setiap arah, dan cahayanya tidak berbeda kecuali dalam beberapa warna dari yang menjadi yang terindah dalam semua yang indah, dan memuntahkan dari sinar apa yang tidak kau temukan keindahannya dalam sinar itu sendiri. Terkadang ia menjadi halus seperti beberapa kristal sehingga menyerap panas matahari dan menyala dengannya dalam dirinya untuk membakar apa yang di balik hatinya, dan yang di baliknya tidak lain adalah hati-hati kami yang sedih… Semoga rahmat Allah atasnya!
Saya telah selesai membaca puisi Hafez setelah Hafez tidak lagi berada di antara kita kecuali puisi dan prosa-prosanya. Demi Allah saya bersumpah, tidak ada satu halaman pun yang saya lihat dari yang ada di hadapan saya kecuali saya merasakan bahwa penyair agung itu berkata dalam keterangan cemerlangnya dan keahliannya yang menakjubkan: “Saya di sini!”
Bahasa puisi ini mengalir dengan kehidupan seolah-olah kata-kata kuatnya adalah urat nadi dalam tubuh yang hidup dan bergairah, tidak keluar dari bahasa Arab yang jelas dalam keperkasaan, kejernihan, dan ketepatan susunan retoriknya. Namun demikian, tidak ada seorang pun di zaman ini yang menyangkal atau mempertanyakan bahwa bahasa itu adalah bahasa Hafez seorang, seolah-olah dia memaksa sejarah untuk mempertahankannya dalam warisan terindahnya.
Saya mengetahui dalam puisinya tempat-tempat kekacauan, kelemahan, dan kekurangan yang akan saya tunjukkan sebagiannya. Namun dengan apa yang saya ketahui, saya mendapati puisi ini seperti arus yang mengalir deras tidak peduli apa yang berhamburan darinya, apa yang mengendap, dan apa yang jatuh tidak pada tempatnya, karena keagungannya terletak pada kumpulan materinya bukan pada bagian-bagiannya, dan pada rahasia yang mendorongnya di setiap tempat bukan pada penampakan yang dimilikinya di satu tempat tanpa tempat lain. Dia selalu berkata kepada siapa yang mengkajinya atau mengkritiknya: “Lihatlah apa yang tersisa.”
Persahabatan saya dengan Hafez rahimahullah kembali ke tahun 1900, awal masa saya dengan sastra dan pencarian ilmunya. Saya telah menyaksikan sejak saat itu bangunan sastranya tinggi dan terus naik ke puncak yang dicapainya. Dia mengikhlaskan kepercayaannya kepadaku dan memberiku kasih sayangnya, dan dia adalah perhatian dari seorang saudara yang mulia. Dia memiliki tempat di hatiku yang tidak pernah diingkari sejak aku mengenalnya, dan tidak pernah sempit dengan cintanya sejak hati terbuka untuknya. Aku dan dia saling melihat dari bahasa ini seperti dua sisi dari satu gambar: tidak mungkin dalam alam bahwa keduanya berbeda sementara gambar masih berdiri, atau kacau di antara keduanya sementara gambar dari keduanya dalam keseimbangan dan ukuran yang tepat.
Namun ini tidak mencegah saya untuk menetapkan bahwa dia, menurut saya, lebih besar dari puisinya – dan mungkin demikian juga menurut semua orang yang mencampurnya dengan diri mereka sendiri – karena dia mengagumkanmu dengan jiwanya yang kuat dan dengan makna yang kamu rasakan pada orang jenius tapi tidak tahu apa itu. Itu adalah sihir para jenius dan pengaruh mereka pada jiwa orang yang berhubungan dengan mereka, sehingga tersusun bagi mereka dua perkara dari satu perkara, dua keberuntungan dengan satu keberuntungan, dan dua bagian dengan satu bagian. Karena bersama kekaguman pada karya-karya mereka ada kekaguman lain pada kekuatan yang menciptakan karya-karya tersebut. Dalam diri mereka yang dicintai, kekaguman berlanjut seperti yang berjalan di jalan tanpa perhentian, dan dalam karya-karya mereka kekaguman berada dalam perhentian yang telah berakhir jalannya, sehingga berhenti pada batas baik yang jauh maupun yang dekat.
Tidak diragukan bahwa penyair kita adalah seorang jenius dengan keahlian yang menakjub, inspirasi yang kuat, pengaruh yang fasih di zamannya, menyerupai perubahan yang terjadi dalam salah satu bentuk sejarah. Namun demikian dalam mazhab-mazhab puisi tertentu tanpa yang lain, sehingga tidak ada padanya kesempurnaan dalam seni-seni puisi yang dengannya seseorang menjadi penyair yang sempurna atau sastrawan yang lengkap dalam penyampaian. Berapa kali saya berbicara dengannya tentang hal itu dan mengingatkannya bahwa dia seperti pola tunggal, dan bahwa puisinya harus mengalir di antara jiwa-jiwa manusia dan tujuan-tujuan mereka yang banyak dan berbeda. Jika politik adalah bagian dari kehidupan, maka kehidupan bukanlah politik, dan puisinya tidak seharusnya semuanya seperti matahari musim panas, karena musim semi memiliki matahari yang lebih indah dan lebih dicintai seolah-olah terkumpul dari bunga-bunga, aroma, dan anginnya.
Dia bangga bahwa dia adalah “penyair sosial”, dan ini adalah julukan yang diberikan kepadanya oleh sahabat kita Profesor Muhammad Kurd Ali ketika dia berada di Mesir dahulu. Hafez melekat padanya dan melihatnya sebagai ungkapan yang benar untuk apa yang ada dalam jiwanya dan untuk bakat yang dia khususkan. Dia berkata kepadaku suatu hari di tahun 1903: “Saya tidak menganggap seseorang sebagai penyair kecuali jika dia berpuisi tentang hal-hal sosial.” Maka saya berkata kepadanya: “Mengapa kau tidak mengatakan dengan ungkapan yang terbuka: bahwa kau tidak menganggap penyair kecuali yang berpuisi tentang artikel-artikel surat kabar…”
Saya harus menjelaskan makna ini dalam bab ini, karena selalu terbayang bagi saya bahwa penyair kita “Hafez” diciptakan untuk sejarah dalam asal sifatnya, kemudian ditambahkan padanya bakat puisi agar menjadi sejarawan yang hidup dalam deskripsi, fasih dalam pengaruh, kuat dalam tindakan. Dari situ datanglah sebagian besar yang dia puisikan dengan dasar sejarah dan politik, dan dengan pertimbangan ini benar baginya untuk mengatakan bahwa dia adalah penyair sosial. Namun materi puisi berbeda dengan roh puisi. Jika dalam materi dia sosial dan politik, maka dalam roh dia hanyalah penyair secara mutlak. Hal-hal sosial bukanlah semua realitas kehidupan, dan setelah itu adalah makna-makna khusus yang terbatas pada waktu dan tempatnya. Selain itu, realitas bukanlah puisi, tetapi puisi adalah penggambarannya dan perasaan terhadapnya dalam bentuk hidup yang dikenakan realitas dalam jiwa.
Penyair sosial adalah penyair dalam ruang terbatas dari wajah-wajah puisi dan mazhab-mazhabnya. Jika sosial adalah semua puisinya, maka puisinya tidak disebut seni, karena seni adalah manusiawi dan menyeluruh serta umum. Ukuran-ukuran yang dijalankan seni sastra tidak ada dalam waktu atau tempat, tetapi dalam jiwa manusia yang tidak khusus untuk waktu atau tempat tertentu. Jika puisi tidak manusiawi dan umum yang lahir untuk setiap generasi manusia sehingga mereka menemukannya seolah-olah ditempatkan untuknya dan terikat dengan tujuan-tujuan dan realitas-realitasnya, maka itu adalah puisi “seperti berita lokal”, dan inilah wajah kemiripan antara itu dengan apa yang saya tunjukkan tadi yaitu puisi artikel-artikel surat kabar.
Artikel-artikel surat kabar ini tidak datang kepada kita dengan hal-hal yang kita ada darinya dalam kemanusiaan, alam, keindahan, dan realitas kehidupan dan kematian, tetapi yang darinya terbentuk hari kita yang bertanggal bahwa itu adalah hari sekian dari bulan sekian dari tahun sekian… Jika hari itu mati, maka surat kabar mati, kemudian lahir lagi kemudian mati. Al-Mutanabbi memahami rahasia puisi dan bahwa itu berdiri pada pengubahan perasaan manusiawi menjadi pengetahuan manusiawi, sehingga puisinya kekal dan tidak mungkin terhapus dari bahasa Arab selama bahasa itu ada. Ini dengan apa yang dikritik dari wajah-wajah keberatan dan kekurangan, dan bahwa Al-Mutanabbi lemah dalam sisi keindahan dan cinta dengan kelemahan yang nyata seperti kelemahan penyair kita Hafez dalam makna ini. Namun hikmah manusiawinya, ketepatan deskripsinya, dan penegakannya kebajikan-kebajikan dan keburukan-keburukan dalam kesempurnaan seninya di tempat patung-patung yang brilian dari keindahan, semua itu meninggalkan puisinya berlanjut dengan berlangsungnya kehidupan, berlangsungnya kemanusiaan, dan berlangsungnya selera.
Alam semesta ini dibangun dalam dirinya dari apa yang diketahui ilmu susunannya tetapi tidak mengetahui rahasia susunannya kecuali Allah saja. Namun dia dibangun dalam diri kita dari kerja indra-indra, kemudian dari penjelasan dan penafsiran. Adapun indra-indra, maka ada pada setiap yang hidup, tidak diciptakan dengan keahlian atau kerja. Adapun penjelasan dan penafsiran, maka keduanya dari keahlian penyair dan sastrawan. Keduanya menciptakan untuk menyempurnakan penciptaan dalam realitas, dan ini adalah kedudukan yang saya tidak tahu bagaimana mungkin bisa dirusak sehingga terbatas pada makna penyair sosial atau politik, sehingga kembali menjadi pola tunggal, padahal karya-karya sastra termasuk puisi – tidak lain adalah kekuatan-kekuatan ide, ilham jiwa, dan pandangan roh yang semua tercatat dalam pendorong-pendorong dan sebab-sebabnya dari jiwa yang tinggi dan istimewa. Kekuatan-kekuatan ini banyak berubah, maka harus karya-karyanya banyak bervariasi. Variasi gambaran-gambaran pemikiran dalam karya-karya penyair atau sastrawan dan datangnya berlimpah berturut-turut adalah ukuran sastranya dan ukuran kejeniusannya tinggi atau rendah, mengikuti atau berinovasi, dan dalam apa yang bersinar dari sisi-sisinya dan apa yang padam.
Penyair sosial kita “sebagaimana seharusnya digambarkan rahimahullah meskipun dia telah meniupkan dalam roh rakyat nafas-nafas ilahiahnya, dan baik dalam menggambarkan peristiwa-peristiwa, penderitaan-penderitaan, dan cacat-cacatnya, dan fasih dalam semua itu – dia turun dalam tingkatan ini dari posisi yang benar, sehingga dia dalam kedudukannya seperti tempat polisi di jalan: berdiri untuk kejahatan dan peristiwa, padahal tempat sosialnya dari rakyat adalah tempat guru di sekolahnya: duduk untuk sifat-sifat dan akhlak. Bukan masalah bahwa kau menemukan dalam puisi penyair peristiwa-peristiwa zamannya lebih banyak atau lebih sedikit, karena di atas ini ada kedudukan yang lebih tinggi darinya, yaitu bahwa ditemukan peristiwa-peristiwa kebangkitan dengan puisi penyair, dan bahwa ada dalam puisinya unsur berapi dari bahasa rakyat.
Hafez rahimahullah menyadari semua ini di akhir masanya, sehingga dia ingin mematikan diwan-nya dan mengeluarkan darinya bagian kecil yang dipilihnya seribu bait dan menggugurkan selainnya meskipun… dan meskipun di dalamnya ada puisi sosial… Dengan kekurangan ini yang didorong oleh sifat zaman dan sifat penyair bersama-sama, maka kesempurnaan Hafez dalam mazhab sosialnya yang dia unggul di dalamnya datang dari belakang kekuatan dan di atas kemampuan, tidak ada penyair lain yang menyamai-nya, sehingga menunjukkan bahwa orang jenius adalah takdir ilahi yang tidak mengurangi keagungannya bahwa dia menjadi satu peristiwa yang bergema gaungnya di dunia. Dia dimudahkan sejak tumbuhnya untuk apa yang diciptakan baginya dari itu. Sekolah militer menyempurnakannya, kemudian tentara mengikatnya, kemudian Sudan melemparkannya, kemudian kezaliman melemparkannya, kemudian imam zamannya Syeikh Muhammad Abduh mengambil alihnya. Dia demikian dalam tujuan-tujuannya yang sulit dan maksud-maksud kemakmurannya dan perjuangannya untuk perbaikan – sekolah militer, tentara, dan padang gurun. Hafez tidak lain adalah suara manusiawi yang dipersiapkan dengan karakteristiknya untuk mengungkapkan peristiwa-peristiwa dan karakteristik bangsanya, seolah-olah dalam perpindahannya dari Sudan ke Mesir dia telah berpindah dari tentara yang memerangi kaum-kaum musuh bangsanya, ke tentara lain yang memerangi makna-makna musuh bangsanya.
Hafez Ibrahim lahir tahun 1871. Buku pertama yang membimbingnya ke rahasia sastra Arab dan mengasah seleranya serta menyempurnakan sifatnya adalah buku “Al-Wasilah Al-Adabiyyah” karya Syeikh Hussein Al-Marashifi, yang dicetak di Mesir lima puluh lima tahun lalu. Dalam buku ini Hafez membaca ringkasan pilihan yang diteliti dari seni-seni sastra Arab dalam zaman-zamannya yang berbeda, mempelajari selera retorika dalam yang tertinggi yang dicapai selera dengannya, berdiri pada rahasia-rahasia susunannya, dan mengetahui darinya cara yang digunakan Al-Barudi untuk unggul, yaitu membaca diwan-diwan penyair-penyair terkemuka dari Arab dan setelah mereka, dan menghafalkan banyak darinya. Maka penyair kita membangun sejak saat itu bakatnya atas hafalan, dan tidak berhenti menghafal sampai akhir umurnya, karena bakatnya seperti alat fotografi: tidak peka terhadap sesuatu kecuali menangkapnya. Ini salah satu sebab kelemahan imajinasinya, tetapi dia membalasnya dengan kekuatan dalam bahasa yang mencapai batas tertinggi.
Kebetulan pada masa itu dicetak Luzumiyyat Al-Ma’arri di Mesir, maka Hafez mengambilnya dan menghafalkan sebagian besarnya, sehingga itu menjadi pendorong kecenderungan dan arahnya ke puisi sosial. Perbedaan antara Hafez dan Al-Ma’arri dalam bakat filosofis adalah yang menembus Al-Ma’arri ke rahasia-rahasia banyak dan menghentikan Hafez pada yang tampak dan sekitarnya, terbang di sana dan hinggap.
Sahabat kita lemah dari sisi ini, sehingga sulit baginya rahasia-rahasia dan tertutup rahasia-rahasia lain dari rahasia kebaikan dan kejahatan dalam kehidupan, keindahan dan kebaikan dalam makhluk, keagungan dan penciptaan dalam alam semesta, pengakuan dan keraguan dalam semua itu. Al-Ma’arri mencapai dari ini tingkatan yang tidak buruk, kecuali bahwa dia tidak jernih sebagaimana jernihnya hal-hal di mata yang melihat, maka dia meraba-raba dan mencampur, dan meletakkan dari tujuan-tujuan jiwanya yang sakit pada yang sehat dan sakit bersama-sama. Hafez mengikutinya dalam cara lain yang akan kita tunjukkan nanti.
Penyair kita terpesona dengan apa yang dibacanya dalam “Al-Wasilah” dari puisi Al-Barudi, maka sejak saat itu dia menjadi muridnya, dan berjalan mengikuti jalannya dalam kekuatan lafaz, kemegahan susunan, kekuatan keahlian, dan kebaikan komposisi pada irama lafaz-lafaz dan bunyi huruf-huruf. Namun dia tidak mencapai tingkatan Al-Barudi dalam hal itu, karena Al-Barudi mengumpulkan dari diwan-diwan penyair dan buku-buku sastra apa yang tidak terjadi bagi yang lain di zamannya, dan memasukkan dalam puisinya yang terbaik yang dibuat dunia dalam seribu tahun dari sejarah retorika Arab. Karena itu Hafez berpindah darinya ke cara Muslim bin Al-Walid dalam penyusunan dan melekat padanya sampai akhir masanya.
Dia mulai menggarap puisi di Sudan dan berpuisi dalam jenis apa yang menjadi jalannya yaitu menggambarkan kesedihan yang menguasainya dari segala sisinya, karena dia yatim, miskin, terlantar, dan melihat dirinya sebagai penyair yang dihalangi kehidupan dari kedudukan penyair dan dari tempat-tempat puisi, seperti yang dirampas warisannya dari tahta dan kerajaan, diasingkan ke bukan tanahnya, dan jiwanya dihadapkan dengan roh kemiskinan dan dikatakan kepadanya: musuh yang tidak boleh tidak bersahabat dengannya.
Kemudian dia datang ke Mesir dan berhubungan dengan Imam Syeikh Muhammad Abduh, mengundurkan diri dari tentara dan berdedikasi pada sastra. Dari situ dimulai pembentukan sastranya yang menyatu dan kokoh. Adapun sebelum itu sampai tahun 1901 ketika bagian pertama diwannya dicetak, puisinya sedikit dan tampak dipaksakan, dan sebagian besarnya menunjukkan cara yang kacau yang belum kuat, pemikiran yang belum matang, dan bakat dalam kelahiran puitis antara itu dan kemandirian jarak yang dekat.
Dia belajar di sekolah Syeikh Muhammad Abduh dari tahun 1899 sampai tahun 1905. Imam ini rahimahullah dari segala sisinya adalah orang yang luar biasa, seolah-olah nabi yang terlambat dari zamannya. Dia diberi syariat, tetapi dalam tekadnya, diberi wahyu tetapi dalam akalnya, dan berhubungan dengan rahasia suci tetapi dari hatinya. Kalau bukan karena dia dan bukan karena dia dengan karakteristik-karakteristik ini, Hafez akan menjadi penyair kelas kedua, karena dari Syeikh saja dia memiliki kekuatan ini yang membuatnya mendapat ilham dari setiap orang besar yang dikenalnya, dan dari pengaruhnya dia memiliki puisi yang kuat ini dalam menggambarkan orang-orang besar dan hal-hal besar, dan itu adalah puisinya yang terbaik.
Hafez tidak menemukan dari kaumnya apa yang membuatnya menjadi lisan mereka sehingga psikologi sejarah besar mereka berbicara melaluinya dengan wahyu, dan tidak diambil alih oleh raja atau pangeran yang menginginkan sastranya dengan keinginan sastrawan raja atau sastrawan pangeran, untuk menampakkan darinya kejeniusan baru dalam sejarah. Dia juga tidak mengenal cinta yang membuat bagi penyair dari sihir kekasih apa yang mengumpulkan psikologi sejarah dan kerajaan bersama-sama dan menambah keduanya. Ketiga hal ini yang tidak terjadi bagi Hafez adalah yang dengannya penyair tidak unggul dengan keunggulan yang menyendirikan dan membedakannya kecuali dengan salah satunya atau dengan dua atau dengan semuanya. Namun Hafez menemukan dalam Imam apa yang lebih tinggi dari semua mereka dalam jiwa dan daya tarik, dan mengenal padanya dari selera sastra dan retorika apa yang tidak dikenal penyair pada raja atau pangeran. Dia menghadiri kelasnya dalam logika dan rahasia-rahasia retorika dan petunjuk-petunjuk kemukjizatan, dan keluar darinya dengan seleranya yang halus dan gayanya yang mampu. Dia menghadiri majlis-majlisnya dan keluar darinya dengan topik-topik sosialnya dan tujuan-tujuannya yang melompat. Dia menghadiri pandangan matanya dan keluar darinya dengan spiritualitas kuat yang menyala dalam puisinya selamanya. Maka Hafez adalah salah satu kebaikan Syeikh pada dunia Arab, dan dia adalah rencana dari rencana-rencananya dalam kerjanya untuk perbaikan Timur Islam dan kebangkitan Mesir kebangsaan dan menghidupkan bahasa Arab dan sastra-sastranya. Jika disebutkan kebaikan-kebaikan Syeikh atau dihitung untuk sejarah, wajib dikatakan: dia memperbaiki, berbuat, berbuat, menafsirkan Al-Quran, dan menciptakan Hafez Ibrahim…
Penyair kita berlanjut diarahkan oleh ide dan roh Imam, dan berlanjut dalam hal itu setelah kematian Syeikh sebagaimana berlanjutnya sungai jika dialirkan: tidak mampu keluar darinya selama mengalir ke muaranya.
Hafez dalam kehebatan dan keahliannya mengikuti mazhab Muslim bin Al-Walid sebagaimana kami katakan, dan dia sepertinya lambat dalam kerja puisi, dan menunda-nunda dalam menenunnya, dan menyendiri dengan setiap lafaz darinya, dan membolak-balik pandangan pada apa di antara kata dan kata, dan menganggap setiap bait seperti pengantin: untuknya ada tempat pamer, perhiasan, dan hiasan. Jika dia membuat puisi, dia menyebarkan khawatir-khawatirnya ke segala arah, pergi mengejar lafaz-lafaz dan makna-makna, dan meninggalkan bisikan “akal bawah sadar”-nya bekerja pada apa yang rumit atau sulit baginya, dan dia yakin bahwa itu akan tunduk dan mudah dengan kekuatan jika tidak ada sekarang maka akan ada padanya. Kemudian dia berpuisi apa yang mudah jika datang di tempatnya dalam qasidah atau bukan di tempatnya, maka dia tidak mengikuti urutan tertentu di dalamnya, tetapi qasidah menurutnya adalah keseluruhan yang akan berkumpul nanti, bagian-bagiannya tersusun tertata dan berserakan sebagaimana datang oleh ilham dan sebab-sebab kebetulan. Maka qasidah pertama dalam bait-baitnya, kemudian bait-baitnya ada di dalamnya, yaitu kemudian bait-bait diatur dan ditempatkan di tempat-tempatnya. Dia tidak berpuisi kecuali sambil bernyanyi, melatih puisi dengan itu, karena jiwa terbuka untuk musik maka mudah dan tunduk. Dia mengikuti dalam hal itu cara yang dikenal yang disebutkan Ibn Hijjah Al-Hamawi dalam bukunya “Khazanah Al-Adab”, dan itu dari wasiat Abu Tammam kepada Al-Buhturi, dan Al-Mutanabbi bekerja dengannya. Secara keseluruhan, Hafez menggadaikan pikirannya dengan qasidah yang dibuat dan memfokuskan padanya dan pada sebab-sebabnya, bukan sebagaimana penyair meluangkan untuk puisi, tetapi sebagaimana pengarang besar memfokuskan pada buku yang dikarangnya. Dia demikian lambat dalam prosanya lebih dari lambatnya dalam puisi. Dia menunjukkan sendiri kepadaku rahimahullah sebuah halaman dalam bagian kedua terjemahan Les Misérables, dan berkata: bahwa dia menerjemahkannya dalam lima belas hari.
Dan aku pernah menyaksikannya suatu kali menerjemahkan beberapa baris dari bagian pertama “di kedai kopi shisha”, dia menuliskannya dalam buku kecil berukuran tidak lebih dari telapak tangan. Dalam tiga jam, dia berhasil menyelesaikan tiga baris, dan ini tidak mencacatnya selama dia menginginkan bagian terbaik dari seni, dan selama dia berusaha mengeluarkan kata-kata dari dunianya ke dunianya sendiri yang bergelombang dengan lafaz-lafaz dan ungkapan-ungkapan seperti bintang-bintang dalam keseimbangan, daya tarik, sinar, kemegahan, dan keindahan.
Dia berpendapat bahwa dalam keahliannya, puisinya harus dituang seperti tuangan seorang Badui yang alami: kokoh, mudah, bersinar, penuh, seimbang bagian-bagiannya dan pembagiannya, berbunyi seakan-akan dilontarkan oleh naluri seorang Arab fasih, di bawah cahaya bintang-bintang padang pasir, di atas dinginnya pasir, dalam hembusan malam, ketika jiwa Badui itu dipenuhi rindu cinta, atau kerinduan keindahan, atau keagungan kekuatan. Inilah prinsip yang dia ikuti, yang dia tunjukkan kepadaku sendiri pada tahun 1902, dan dia memuji dengan prinsip itu dalam bagian pertama diwanku dengan berkata:
“Demi Allah, engkau adalah penulis perkotaan… jika kami menghitungmu sebagai penyair Badui.”
Seandainya engkau mengalirkan puisi Hafiz pada ucapan paling fasih dari orang-orang Arab yang alami dan penyair-penyair abad pertama, niscaya akan menyatu dengannya dan melebihinya dalam keahlian dan sebagian makna. Jarang engkau temukan dalam puisinya kata yang tidak pada tempatnya, kecuali beberapa lafaz yang dipaksakan, yang dia kira dapat membuatnya tampak unik dan melihat dalam keanehannya sesuatu yang baru. Ini adalah kesalahan pendapatnya dalam gaya, karena meskipun fasih, dia kurang memiliki sifat filosof dalam kefasihan.
Aku berpendapat bahwa seandainya dia memiliki bakat filosofis yang sempurna, tidak ada penyair lain yang dapat menyainginya, tetapi kesempurnaan itu langka dalam kemanusiaan. Aku mengetahui pendapatnya tentang gaya pada tahun 1906, ketika majalah Al-Aqlam yang diterbitkan sahabat kami, sastrawan Jirjis Tanus, menerbitkan kata-kata yang ingin dia masukkan dalam bukunya “Layali Satih”. Dia menunjukkan pendapatnya tentang para penyair: tentang Ismail Sabri dia berkata: “Dia menulis puisi untuk dirinya sendiri, bukan untuk orang lain”; tentang Shawqi: “Penyair paling halus secara alami dan paling mulia imajinasinya”; tentang Mutran: “Paling cepat intuisinya dan paling mampu berinovasi.”
Tentang diriku – padahal belum berlalu kecuali enam tahun dalam menuntut sastra – dia berkata: “Banyak berkarya, tinggi imajinasi, jauh langkahnya di medan-medan sastra, tetapi gayanya belum matang.” Ketika aku bertemu dengannya, aku membahas hal itu dan menanyakan pendapatnya tentang gaya yang matang, namun aku tidak melihat penjelasan yang memadai darinya. Yang dia katakan hanyalah: “Syaikh Abdul Qahir Al-Jurjani telah menetapkan bahwa kefasihan bukan pada lafaz dan bukan pada makna, tetapi pada gaya.”
Abdul Qahir tidak pernah mengatakan ini, begitu pula yang lainnya. Menurutnya, gaya adalah “cara khusus dalam menyusun lafaz-lafaz satu dengan yang lain untuk mengatur makna-makna dalam jiwa dan menempatkannya”, dan “bahwa kedudukan itu dari wilayah makna bukan lafaz, dan bahwa itu bukan untukmu di mana engkau mendengar dengan telingamu, tetapi di mana engkau melihat dengan hatimu dan meminta bantuan pikiranmu.”
Aku telah menetapkan bahwa lafaz-lafaz memiliki sesuatu yang menyerupai warna-warna, tidak semuanya biru, kuning, atau merah. Ada kata halus yang terasa lemah di suatu tempat, maka kelemahannya di tempat itu adalah seluruh kefasihannya dan kekuatannya, seperti jeda keheningan di antara nada-nada musik: ia dalam dirinya adalah keheningan yang tidak bernilai, tetapi di tempatnya di antara nada-nada, ia adalah nada lain yang berpengaruh dengan keheningannya, bukan dengan dengungannya. Ini adalah ruh seni dalam gaya.
Penyair kita menyadari sejak saat itu apa yang kusebut “kekuatan kelemahan”, dan mungkin inilah sebabnya tabiatnya kembali menyesuaikan diri dengan kemudahan, sampai-sampai dalam puisinya terdapat bait-bait yang lemah namun dia tetap menyajikannya dan tidak mengingkarinya. Dia pernah menemuiku dan melantunkan syair seorang penyair:
“Aku tidak dikaruniai cintanya… sesungguhnya bagi hamba hanya apa yang dikaruniakan.”
Dia kagum pada kefasihan ucapannya “tidak dikaruniai” meskipun itu lemah dan klise yang mengalir dalam tutur kata setiap orang awam. Aku berkata: “Tetapi ‘cintanya’ menjadikannya seperti cintanya…”
Kelemahan bakat filosofis dalam Hafiz diganti dengan sisi lain yang paling kuat dalam puisi, yaitu penemuannya pada hakikat tujuan yang dia tulis, meninggalkan hal-hal sampingan dan tambahan, mengalokasikan kekuatannya pada ketepatan deskripsi ketika mendeskripsikan, dan lebih mengandalkan perasaannya daripada pikirannya. Hal itu menambah kemegahan dan keindahan puisinya, mengarahkannya pada jalan para penyair alami, sehingga puisinya mengalir dengan kelancaran dan kemanisan, penuh dengan ketepatan makna, kefasihan penyampaian, dan kekuatan pengaruh.
Dengan ini dia menonjol dalam ratapan dan deskripsi bencana dengan keunggulan yang menyendiri, sampai aku mengira ada ruh yang membantunya dalam situasi-situasi ini, dan bahwa kebenaran berdandan untuknya khususnya dalam hal-hal besar ini agar dia melihat apa yang tidak dilihat orang lain. Dia menyatu dengan orang besar yang diratapi, sehingga dia unggul untuk orang yang dikenalnya dengan keunggulan yang tiada bandingannya, yang dapat dibedakan dengan puisinya untuk orang yang tidak dikenalnya dengan pengenalan itu.
Aku kira dia bertanya pada ruh orang besar yang dia gambarkan atau ratapi: “Di mana makna yang mengandung hakikatmu? Dan di mana hakikat yang mengandung maknamu?”
Seluruh filsafat puitis adalah bahwa dalam diri penyair yang diilhami terdapat rahasia indah yang menarik sekaligus tertarik, stabil sekaligus berubah, batin sekaligus zahir dalam satu waktu. Maka penyair memahami apa yang tidak dipahami orang lain, berdiri pada keindahan, kebaikan, dan kelembutan, diilhami hikmah dan wawasan, menangani tujuan-tujuan dengan analisis dan sintesis, dan diberi kemampuan mengekspresikan semua itu dengan cara khusus yang menjadi gayanya.
Hal ini tidak terjadi secara sempurna dan terbaik pada Hafiz, sehingga membatasinya dalam melahirkan makna-makna inovatif dan menurunkannya dalam ghazal dan deskripsi keindahan. Namun, keagungan yang sama ini terjadi padanya dalam “sisi yang menderita dari puisinya”, yaitu ratapan, keluhan, dan deskripsi bencana.
Jika engkau mengkaji ratapan-ratapan dalam puisi Arab dan membandingkannya dengan ratapan Hafiz untuk orang-orang besar yang bergaul dengannya, seperti Al-Ustaz Al-Imam, Al-Barudi, Mustafa Kamil, dan Tsarwat, engkau akan takjub bahwa engkau mendapati para penyair memiliki makna yang lebih tinggi dan imajinasi yang lebih kuat darinya, tetapi engkau sama sekali tidak akan menemukan yang lebih mulia dan lebih tepat dari apa yang dia bawakan dalam bidang ini, seakan-akan dia menyendiri dalam bahasa Arab dengan kekhasan ini.
Al-Ma’arri berkata: “Seandainya tidak ada ucapanmu ‘Allah adalah Tuhanku’… niscaya kami terpesona dengan kemunculanmu.”
Dan dia berkata dalam puisi lain: “Panjang lebar dalam mendeskripsikannya kepada kami… sampai kami khawatir jiwa-jiwa akan menyembahnya.”
Kedua bait ini engkau lihat seperti pengemis jika engkau bandingkan dengan ucapan Hafiz dalam meratapi Syaikh Muhammad Abduh:
“Janganlah kalian dirikan patung ‘Abduh’ untuk manusia… meskipun itu kenangan hikmah dan keteguhan. Sesungguhya aku khawatir mereka akan sesat dan menunjuk… pada cahaya wajah ini dengan sujud-sujud.”
Meskipun makna Hafiz diambil dari keduanya, tetapi lihatlah bagaimana dia menyajikannya!
Al-Ma’arri berkata dalam meratapi ayahnya: “Seandainya mereka menggali dalam mutiara, aku tidak akan meridainya… untuk jasadmu, kasihan padamu dari penguburan.”
Dan dia berkata dalam meratapi yang lain: “Kafanilah dia dengan lembaran-lembaran dari mushaf… karena kemuliaan atas jiwa-jiwa yang mulia.”
Kedua ini juga seperti pengemis di hadapan ucapan Hafiz tentang Al-Barudi: “Seandainya mereka adil, niscaya mereka tempatkan dia dalam rongga mutiara… dari harta hikmahnya, bukan rongga parit. Dan kafani dia dengan gulungan dari lembaran tulisannya… atau yang jelas dari kemeja fajar yang terpotong.”
Meskipun Hafiz terpengaruh ucapan Al-Ma’arri. Di antara yang indah yang terjadi padanya dalam qasidah “Dua Umat Bersalaman”, ucapannya menggambarkan orang-orang Suriah:
“Mereka menuju mata air di dunia, seandainya mereka menemukan… ke galaksi rombongan yang naik, niscaya mereka naik. Atau dikatakan pada matahari bagi yang berharap tempat… rentangkanlah untuknya sebab di udara dan bersiaplah.”
Bacalah kedua ini dan bacalah setelahnya ucapan Al-Mutanabbi tentang Saif Al-Dawlah: “Sampai pada yang sulit dengan kuda-kudanya… seandainya tanduk matahari adalah air, niscaya dia datangkan.”
Engkau akan mendapati bait Al-Mutanabbi seperti pengemis dibanding dua bait Hafiz, meskipun dia adalah pencipta yang mendahului.
Yang paling mengagumkan dari yang mengagumkanku adalah bait ini dari puisi sahabat kita dalam penggalan yang dia tujukan kepada orang-orang Amerika, yang diterbitkannya di Al-Muqtam sekitar tiga tahun lalu:
“Dan kalian jadikan gelombang ether sebagai kurir… ketika kalian kira bahwa kilat-kilat itu malas.”
Kebetulan saat itu aku sedang duduk mengunjungi sahabat Ustaz Fuad Saruf, editor Al-Muqtataf, lalu datanglah Hafiz. Baru saja dia bersalaman denganku, dia berkata: “Bagaimana menurutmu bait ini: ‘Dan kalian jadikan gelombang ether sebagai kurir…’ dst?” Aku memujinya sesuai yang dia suka, mengucapkan selamat atas makna ini, dan menunjukkan padanya kekaguman yang dia inginkan. Tetapi aku menyimpan kekagumanku atas keindahan yang terjadi padanya, karena keindahan puitis dalam bait itu adalah pada metafora kemalasan untuk kilat, dan ini persis dari ucapan Ibnu Nabatah As-Sa’di tentang Saif Al-Dawlah:
“Dan dia tidak berlama-lama sehari dalam kemurahan dan kerusakan… kecuali engkau putuskan untuk kilauan kilat dengan kemalasan.”
Namun Hafiz memindahkan makna itu pada haknya, memantapkannya dengan baik di awal kalimatnya, dan menyempurnakan keindahannya dalam ucapannya “ketika kalian kira”, sehingga dia merebut makna dan menyendiri dengannya. Makna As-Sa’di menjadi seperti pengemis di pintu baitnya. Pertemuan ini di Al-Muqtataf adalah pertemuan terakhirku dengan Hafiz, aku tidak melihatnya lagi setelah itu. Semoga Allah merahmatinya!
Yang telah berlalu bagimu adalah dari keahlian puisi dalam selain bagian pertama diwannya setelah dia berkembang dan lulus dari madrasah Al-Imam. Adapun dalam bagian pertama, dia memiliki pengemis-pengemis… seperti ucapannya tentang khamar:
“Khamar yang dikatakan mereka peras… dari pipi para pelaut di hari pernikahan.”
Bait ini pengemis dibanding ucapan Ibnu Al-Jahm: “Bersinar dari tangan kijang seakan-akan… dia ambil dari pipinya lalu edarkan.”
Ucapan Hafiz “mereka peras di pipi para pelaut” adalah ucapan dari yang belum matang dalam bayan dan selera, hampir tidak dapat dibayangkan kecuali bahwa di pipi para pelaut ada “bisul-bisul” yang diperas…
Berbeda dengan ucapan Ibnu Al-Jahm “dia ambil dari pipinya”, ini kata yang lebih lembut dari pipi itu dan lebih indah kesegarannya.
Ucapan Hafiz dalam memuji Khedive: “Wahai yang kata-kataku berlomba dalam sifat-sifatnya… berlomba seperti orang Arab yang mulia dalam nasab.”
Ini pengemis dibanding bait Abu Tammam: “Puisi berbeda tentangnya ketika aku begadang untuknya… sampai aku kira qafiyah-qafiyahnya akan berkelahi.”
Kita tidak memperpanjang penelusuran, karena kita hanya ingin memberi contoh saja.
Penyair di awal pertumbuhannya mengambil cara Al-Ma’arri yang buta terhadap alam sehingga dia menciptakannya dari pikiran dan hafalannya dengan berlebihan bohong yang dia tenggelamkan, mengira bahwa dengan itu dia membesarkan hakikat-hakikat sehingga keluar untuknya imajinasi-imajinasi besar. Dia tidak tahu bahwa dengan berlebihan ini dia tidak datang kecuali dengan kebatilan-kebatilan besar…
Tetapi Hafiz dalam watak, susunan, dan pertumbuhannya adalah orang yang dibangun atas kejelasan dan maksud. Dia tidak berhasil dalam cara Al-Ma’arri. Kejelasannya juga menjauhkannya dari filsafat dan kesamarannya, dari alam dan teka-tekinya, dari ghazal dan bisikan-bisikannya. Inilah yang mengantarkannya pada kegandrungan terhadap kebenaran dan mengekstraknya dalam semua tujuan yang dia kuasai. Maka puisinya kosong atau seakan kosong… dari deskripsi alam dalam keindahannya dengan bahasa pikiran yang merenungkan, dan dari deskripsi keindahan dalam sihirnya dengan bahasa hati yang mencinta.
Janganlah engkau mengira penyair unggul dalam ghazal dan nasib karena dia penyair yang pandai berkesenian dan menguasai gaya, sehingga menjadi tujuan dari puisi jalan menuju tujuan, dan seni bantuan atas seni, dan menjadi kelembutan lafaz dan kelonggaran anyaman, dan “hatiku”, dan “hatiku”, dan “wahai malam” dan “wahai bulan”, dan “wahai kijang”… dan yang serupa itu adalah ghazal dan nasib. Tidak, kemudian tidak, dan yang ketiga juga tidak…
Sesungguhnya ghazal dan deskripsi keindahan adalah bakat dalam penyair atau penulis yang disediakan untuknya kekuatan-kekuatan yang lebih mirip dalam mukjizatnya dengan apa yang disediakan untuk Sulaiman dari kekuatan jin dan angin, tetapi itu adalah kekuatan-kekuatan penderitaan, kenikmatan, dan bisikan. Itu adalah keagungan dalam beberapa jiwa penyair seperti keagungan raja-raja dan pahlawan, tetapi tidak sempurna kecuali gagal atau terkalahkan. Jika menang, dia jatuh, maka harus ada untuknya sejarah, peristiwa, dan watak saraf yang menyiapkan untuknya dengan spiritualitas yang sangat peka, sangat bergejolak, memberontak selamanya, tidak tenang kecuali dengan melahirkan makna indah dalam keindahan yang dicintainya atau seperti keindahannya.
Kemudian jika tenang dengan itu, dia diganggu bahwa dia tenang, maka kembali melahirkan, tidak berhenti berinovasi dan mendeskripsikan seakan-akan dia alat ekspresi yang berputar dengan hati dan saraf. Di sana ada dua kekuatan: salah satunya memberikan cinta sebagaimana layaknya asmara dan cinta, yang lain di atas ini memberikan cinta sebagaimana layaknya pikiran dan ekspresi.
Yang pertama menjadikan pemiliknya pencinta yang mencinta dan menyadari saja, yang kedua menjadikannya pencinta yang pekerjaannya memindahkan dari bahasa apa yang dalam jiwanya kepada apa yang di sekelilingnya, dan dari bahasa apa yang di sekelilingnya kepada apa yang dalam jiwanya. Maka dia penerjemah jiwa kepada alam, dan penerjemah alam kepada jiwa.
Yang kuketahui bahwa Hafiz tidak dikaruniai tidak ini dan tidak itu, maka tidak ada tabiat dalam dirinya untuk ghazal dan filsafat keindahan. Kemudian sejarah membatasinya dalam “penyair sosial” yang dia pilih untuk dibedakan dengannya, maka dia dalam kebanyakan puisinya bukan ada dalam dirinya pribadi, tetapi ada dalam dirinya rakyat yang tertawan yang lengah dari keindahan, dari alam, dan dari kemabukan keduanya, karena hidup dalam penderitaan kebebasan bukan dalam kontemplasi indah, dan dalam sebab-sebab kekuatan bukan dalam sebab-sebab kelembutan, dan ingin bekerja untuk mengadakan hakikatnya sebelum bekerja untuk mencipta imajinasinya.
Meskipun demikian, dalam diwan Hafiz terdapat sedikit ghazal yang semuanya mengikuti dan meniru dalam seni yang pandai meniru kecuali di dalamnya khususnya. Dia membuat pembuka untuk qasidah yang dengannya dia memuji Khedive dengan matla’:
“Berapa banyak di bawah ekor kegelapan yang jatuh cinta… berdarah hatinya dan malamnya tidak tahu.”
Dia meniru Ibnu Abi Rabi’ah dalam hikayat cinta yang dia karang dengan karangan yang jelas, kemudian mengklaim bahwa kekasih berkata kepadanya di akhirnya:
“Maka pergilah dengan sihirmu, aku telah mengenalmu, dan berhemat… dalam apa yang kau hiasi untuk para cantik dan kau bayangkan.”
Sedangkan kata sahabat Ibnu Abi Rabi’ah: “Apakah ini sihirmu terhadap wanita… kau telah mengenalku pengalaman.” “Apakah ini sihirmu terhadap wanita?” Ini kata yang tidak keluar kecuali dari mulut kekasihnya yang merupakan ayat dalam keluwesan, di dalamnya ada kepura-puraan dan pengenalannya, senyumnya dan cahaya pipinya. Aku hampir demi Allah melihat di dalamnya wanita cantik itu ketika dia mengetuk dadanya dengan tangannya ketukan pertanyaan yang manja yang pura-pura heran, agar di dalamnya mendesah perkataan dan si pembicara bersama-sama.
Adapun ucapan kekasih Hafiz yang seperti kayu atau batu… “Pergilah… aku telah mengenalmu dan berhemat…” ini pantas keluar dari mulut hakim ketika menasihati terdakwa setelah perintah membebaskannya… atau kepala bagian ketika menangkap kejadian!
Sangka besarku bahwa ruh Hafiz sendiri yang mengilhami hingga sekarang “lelucon” ini, karena dia semoga Allah merahmatinya adalah ayat dalam bidang itu, dan dia memiliki anekdot yang dihafal dan diciptakan yang tidak dapat dikejar di dalamnya. Seandainya dia penulis seukuran dengan apa yang dia penyair, dan menekuni kritik serta mempersiapkan untuk menulis di dalamnya dengan bakat pencipta itu dalam humor dan sindiran, dengan apa yang dia beri dari kekuatan dalam bahasa dan bayan – niscaya nikmat telah sempurna dengannya atas sastra Arab, dan kami akan katakan dalam puisi, tulisan, dan sastranya apa yang dia katakan tentang Al-Ustaz Al-Imam:
“Maka engkau munculkan cahaya dari tiga arah.”
Selama kita telah menyebut kritik, maka dari kesetiaan pada sejarah sastra bahwa kita sebut mazhab penyair kita di dalamnya: tidak ada padanya darinya kecuali selera perkataan, dan pemahaman keengganan dan penolakan dalam huruf, kekasaran dan kerasnya dalam lafaz, kelemahan dan keruntuhan dalam susunan, kemudian apa yang bergejolak dalam khayalan atau bergemerincing dalam pikiran dari selera makna dan pemahaman hakikatnya serta penetrasi pada jejak-jejak jiwa yang hidup di dalamnya. Seakan-akan kritik adalah perasaan terhadap perkataan sebagaimana engkau raba yang panas dan dingin dan apa di antaranya.
Dia gambarkan kepadaku suatu kali Ismail Sabri Pasha dan ingin berlebihan dalam ketepatan pembedaannya dan baiknya pandangannya terhadap puisi dan pemahamannya kehalusan makna-makna, maka dia berkata: “Penikmat wahai Mustafa” dan tidak menambah.
Mazhab perasaan terhadap perkataan ini meskipun layak menjadi sebagian dari makna kritik, tidak dapat menjadi kritik itu dengan makna filosofis atau sastranya, dan secara keseluruhan seperti ucapanmu baik itu baik, buruk itu buruk. Adapun bagaimana itu baik atau buruk, dengan apa dan mengapa, itu yang tidak ada jalan kepadanya dari mazhab “penikmat”… dan tidak ada sarana untuknya kecuali ilmu yang meluas, wawasan yang luas, perasaan yang tajam, kemampuan yang mantap, semuanya ditambah pada sastra yang unggul dan filsafatnya yang halus.
Kita tidak mengetahui tulisan Hafiz dalam kritik sama sekali, dan dia pernah mencoba sesuatu dari ini dalam mukadimah bukunya “Layali Satih”, lalu dia tangani beberapa lawannya dengan kata-kata yang dia lihat untuk menghapusnya setelah dicetak lembaran pertama, maka dia gugurkan dan tulis ulang mukadimah dan cetak lagi. Ada padaku naskah yang dia hapus, dan ini yang tidak kukira ada yang mengetahuinya sekarang. Semoga Allah merahmati penyair yang lebih bersih dari awan, dan puisinya seakan-akan kilat dan guntur…
Aku membawa hatiku ke segala tempat, lalu kutemukan tempat-tempat segala sesuatu namun tak kutemukan tempat hatiku; wahai hati yang malang, ke mana aku harus membawamu?
Inilah yang kujawab kepada “Hafez” ketika ia bertanya kepadaku suatu kali: “Mengapa engkau tak pernah puas, tak pernah tenang, dan tak pernah menetap?” Dan aku membayangkan bahwa dialah yang puas, menetap, dan tenang, seakan-akan ia telah memuaskan dahaganya terhadap kehidupan dan tak ada lagi yang tersisa dalam jiwanya yang mengatakan bahwa jiwanya bukanlah untuknya! Aku heran dengan sifat ini padanya dan tak tahu penjelasannya kecuali bahwa ia mungkin diciptakan dengan tabiat yatim sehingga sejak ia sadar, ia hanya mengenal dirinya sebagai anak takdir; kegembiraan dan kesedihan datang kepadanya dari satu tangan yang sama seperti seorang anak menerima kasih sayang ayahnya dan tamparan ayahnya…
Suatu kali aku berkata kepadanya: “Seakan-akan engkau, wahai Hafez, tidur tanpa mimpi!” Ia tertawa dan berkata: “Atau seakan-akan aku bermimpi tanpa tidur…”
Aku mengenalnya sejak tahun 1900 hingga ia kembali kepada Tuhannya pada tahun 1932, dan aku tak pernah melihatnya dalam segala keadaannya kecuali seperti anak yatim: dikuasai oleh roh kubur, dan di kubur adalah awalnya; ketika ia berniat bepergian ke Yunani, aku berkata kepadanya: “Tidakkah engkau takut mati di sana sehingga mati sebagai orang Yunani?” Ia menjawab: “Tidakkah engkau melihat bahwa aku belum mati di Mesir? Yang tersisa itu mudah!”
Di antara keajaiban anak yatim yang sedih ini adalah bahwa ia memiliki kemampuan yang kuat dalam seni tertawa, seakan-akan takdir menggantinya dengan itu; untuk menciptakan dalam diri manusia kasih sayang para ayah dan cinta para saudara. Dan meskipun miskin, ia tidak kehilangan cara yang kuat menuju kedudukan, dan sarana yang pasti menuju sesuatu yang lebih baik dari kekayaan; sebab jalan-jalannya menuju Guru Imam Syekh Muhammad Abduh, kemudian Hasymat Basha, kemudian Sa’d Basha Zaghlul; dan ini adalah sistem yang mengagumkan di zaman “Hafez” yang mengimbangi ketidakseimbangan yang mengagumkan dalam jiwa Hafez; sebab orang itu seperti kapal yang condong: gelombang membuatnya miring dan gelombang lain meluruskannya, dan dengan yang ini dan yang itu ia berlalu dan berjalan.
Para pemimpin besar itu yang dijadikan takdir sebagai sistem di zaman Hafez, adalah orang-orang yang paling membutuhkan humor dan anekdot, maka ia bagi mereka seperti kekayaan dalam bidang ini, dan menjadi perbaikan dalam kehidupan mereka, sedangkan mereka menjadi perbaikan dalam kehidupannya; seandainya takdir menyerupai sekolah-sekolah yang berbeda, kita akan mengatakan bahwa “Hafez” lulus darinya di sekolah perdagangan tinggi… sebab ia adalah yang paling mahir berdagang dengan anekdot.
Dan anekdot-anekdot ini seakan-akan juga menciptakan “Hafez” dalam bentuk anekdot; ia miskin, namun demikian uang baginya memiliki pelengkap, yaitu membelanjakannya dan mengeluarkannya dari tangannya; ia yatim, tetapi selalu ramah; ia sedih, tetapi menyenangkan penampilannya; ia putus asa, tetapi bersih hatinya; ia dalam kesempitan, tetapi luas akhlaknya; dan kesempurnaan anekdot dalam dirinya adalah bahwa sepanjang hidupnya ia santai dan gembira seakan-akan memiliki waktu sendiri yang berbeda dari waktu manusia, maka kekhawatiran menumpuk padanya sementara ia bersandar pada kenyamanan, dan kelaparan menyerangnya seperti kemalasan kenyang, dan ia larut dalam pengangguran seakan-akan ia bersemangat untuk kerja keras, dan kesedihan menguasainya dalam satu jam lalu ia mengancam kesedihannya dengan jam berikutnya…
Aku melihatnya pada salah satu hari-hari penderitaannya yang pertama sebelum kehidupannya tersambung, dan ia sedang menghitung piastre di tangannya, maka aku berkata: “Apa piastre-piastre ini?”
Ia berkata: “Aku tadi berjudi dan kehilangan tiga puluh piastre dan tidak tersisa bagiku selain piastre-piastre terkutuk ini, ayo kita makan malam.” Dan ia masuk ke sebuah restoran yang ada di belakang Taman Azbakiyah, maka aku mengaku kepadanya bahwa aku sudah makan malam… lalu ia makan dan membayar harga makanannya tiga piastre; aku memperhatikan wajahnya saat ia makan, dan aku tidak mengingatnya sekarang kecuali seperti ketika aku memperhatikannya dua puluh tahun setelah tanggal itu ketika “Hafez” mengundangku ke restoran Bar al-Liwa dan jari-jarinya telah berlimpah emas dan perak, dan ia rahimahullah telah menerbitkan jilid kedua “al-Bu’asa'” (Yang Melarat) dan melihatku di Kairo lalu menahan aku hingga aku membaca bersamanya seluruh buku itu antara zuhur dan maghrib, dan kami naik kereta di sore hari dan keluar berjalan-jalan, yaitu keluar membaca…
Dan di wajah “Hafez” terdapat warna kepuasan yang tidak berubah dalam kemiskinan maupun kemakmuran, seperti putihnya yang putih dan hitamnya yang hitam; dan ini termasuk keajaiban orang yang dalam dirinya sendiri merupakan seni dari kekacauan manusiawi, hingga seakan-akan ia adalah mimpi puitis yang dimulai dari kedua orang tuanya kemudian terputus dan diserahkan kepada alam untuk menyelesaikannya!
Siapa yang memandang “Hafez” dengan menganggap bahwa ia adalah seni dari kekacauan manusiawi akan melihatnya indah dengan keindahan benda-benda alam bukan keindahan manusia; maka pada dirinya terdapat gurun, gunung, batu, hutan, kilat, guntur dan sejenisnya; dan aku melihatnya dengan mata ini sehingga aku menganggapnya indah, dan ia tampak bagiku gagah dan berisi, dan aku melihat dalam bentuknya geometri seperti geometri alam semesta; yang menyempurnakan keindahannya dengan kekurangannya. Betapa sering aku berkata kepadanya: “Sesungguhnya engkau, wahai Hafez, lebih indah dari padang pasir…”
Adapun ia sendiri, ia melihat dirinya jelek, mengerikan penampilannya, tidak seimbang penciptaannya seakan-akan ia manusia yang salah dalam susunannya…
Suatu kali aku bertanya kepadanya: “Apakah engkau pernah mencintai?”
Ia berkata: “Wanita itu ada dua: yang cantik yang lari dari kekuranganku, atau yang jelek yang kulari dari kekurangannya!” Karena itu ia tidak berhasil dalam rayuan dan percintaan, dan tidak menguasai sesuatu dari bidang ini yang bisa disebut sesuatu; dan ia tetap penyair yang tidak sempurna, sebab wanita bagi penyair seperti Hawa bagi Adam: hanya dialah yang dengan cintanya memberikan kepadanya dunia baru yang tidak pernah ia masuki, dan semua kejahatannya adalah bahwa ia membawanya melewati langit-langit turun…
Dan Hafez runtuh di akhir hari-harinya karena penyakit dan usia tua, dan perjumpaan terakhir dengannya adalah ketika ia datang ke kantor “al-Muqtataf” dan aku ada di sana, ia tidak melihatku hingga ia memulai dengan perkataannya: “Bagaimana pendapatmu tentang bait ini dalam menggambarkan orang Amerika:
“Dan kalian menjadikan gelombang ether sebagai kurir… ketika kalian mengira bahwa kilat-kilat itu malas”
Maka aku memandang wajahnya yang berotot dan berkerut dan berkata kepadanya: “Seandainya ada tempat di dirimu untuk kucium, pasti akan kucium karena bait ini!” Ia tertawa dan memalingkan pipinya kepadaku; tetapi pipinya tetap tanpa ciuman.
Dan ketenaran sastrawan besar ini dengan anekdot-anekdotnya dan hafalannya dari seni ini adalah perkara yang disepakati; ia mengumpulkan anekdot dan humor serta permainan kata dari sumber-sumbernya dalam buku-buku dan para sastrawan dan ahli jenaka, maka ketika ia menceritakannya kepada orang yang duduk bersamanya, ia menambahkan gaya bahasanya sendiri pada gaya bahasa itu, dan mulai membalik-baliknya dan mengembangkannya dan menyampaikannya dengan penyampaian terbaik dengan ucapannya, wajahnya, dan nada dalam lidahnya serta nada dalam tangannya.
Dan ia adalah al-Asma’i bidang ini khususnya, meriwayatkan darinya riwayat yang luas, maka ketika ia mulai, ia mencurahkan anekdot bagaikan hujan deras seakan-akan itu adalah qafiyah qasidah yang satu memanggil saudaranya yang berikutnya.
Dan “qafiyah” mengingatkanku pada sebuah majelis yang kuhadiri dahulu pada tahun 1901 atau 1900, dan “Misbah asy-Syarq” telah menerbitkan qasidah ra’iyyah karya Ibnu ar-Rumi, maka almarhum Syekh Muhammad al-Mahdi heran dengan keluasan Ibnu ar-Rumi dalam qafiyah-qafiyahnya, maka “Hafez” berkata kepadanya: “Ayo kita beradu dalam wazan ini hingga salah satu dari kita terputus;” dan qafiyah-nya dari wazan: qadaruha, ahmaruha, akhdaruha… dst, dan aku mulai menghitung untuk mereka berdua; ketika kata-kata menyempit, Syekh al-Mahdi berpikir lama kemudian mengucapkan lafaz, dan hampir saja ia tidak melakukannya hingga Hafez melemparkannya secara spontan, maka orang itu kembali tertunduk dan berpikir; kemudian akhirnya ia terputus dan Hafez tetap menyampaikan kepadanya dari hafalannya yang aneh.
Adapun dalam anekdot, yang mengagumkan yang terjadi padanya dalam bidang ini adalah bahwa ia datang ke Tanta pada tahun 1912 dan mudir-nya saat itu adalah almarhum “Muhammad Muhibb Basha” dan ia adalah orang yang cerdik, pintar, dan jenaka yang pandai, dan aku bergaul dengannya dan berhubungan dengannya, maka ia mengundang “Hafez” untuk makan malam di rumahnya; ketika tangan-tangan terulur, Basha berkata: “Aku punya syarat untukmu, wahai Hafez,” ia berkata: “Apa itu?” ia berkata: “Setiap suapan dengan anekdot!”
Maka Hafez berseri-seri dan berkata: “Ya, itu kewajibanku kepadamu,” kemudian ia mulai bercerita dan makan, dan makan malam itu berlimpah, dan Hafez adalah orang yang rakus, maka ia tidak terputus dan tidak lengah hingga memenuhi syarat; dan ini tidak menghalangi bahwa Basha sering mengabaikan dan memaklumi serta sibuk tertawa, maka Hafez bergegas dan menipu dengan mulutnya…
Tetapi hal-hal yang menggelikan ini membuat orang tertawa pada “Hafez” suatu kali sebagaimana mereka tertawa karena dia; ketika ia menerjemahkan “Macbeth” karya Shakespeare -dan ini seperti karya-karyanya yang selalu tidak lengkap- mereka mengundangnya untuk memberikan ceramah di Klub Sekolah Tinggi, dan klub saat itu mengumpulkan pemuda terbaik dalam semangat dan ilmu dan sekretarisnya adalah perhiasan pemuda nasionalis almarhum Amin Bek ar-Rafi’i; maka Hafez berdiri dan membacakan kepada mereka sebagian dari apa yang ia terjemahkan dalam bentuk syair dari Shakespeare, dan memperagakannya dengan pertunjukan yang ia curahkan segenap tenaganya, maka ia menggembirakan dan mengagumkan: kemudian mereka meminta ceramah darinya maka ia mulai menyampaikan kepada mereka anekdot-anekdotnya, dan ia memulai pembicaraannya dengan anekdot ini: “Ditawarkan kepada al-Mu’tasim seorang budak wanita untuk dibelinya, maka ia bertanya kepadanya: ‘Apakah engkau perawan atau janda?’ maka ia berkata: ‘Penaklukan-penaklukan banyak terjadi pada masa al-Mu’tasim…'”
Dan Hafez memandang wajah-wajah orang-orang lalu mengingkarinya… dan wajah-wajah ini tetap hingga akhir ceramah seakan-akan berkata kepadanya: “Sesungguhnya engkau tidak berhasil!”
Dan ini adalah salah satu sebab terkuat dalam kesadaran “Hafez” tentang apa yang menjadi kewajiban pemuda kepadanya jika ia ingin menjadi penyair mereka, maka ia mengerjakan qasidah-qasidah politik yang dengan itu ia memenangkan mereka setelahnya; dan anekdot al-Mu’tasim seperti aurat yang terbuka; dan aku tidak tahu apakah Hafez mengetahui anekdot indah yang lain atau tidak; sebab telah ditawarkan seorang budak wanita yang sastra dan jenaka kepada ar-Rasyid maka ia bertanya kepadanya: “Apakah engkau perawan atau apa?”
Maka ia berkata: “Aku adalah ‘ibu apa’ wahai Amirul Mukminin…”
Dan seni “syair sosial” yang dengannya Hafez dikenal, bukanlah seninya sebelumnya, dan ia tidak pernah menyadarinya atau mencarinya dalam metodenya; ketika Permaisuri “Eugenie” datang ke Mesir, ia menggubah qasidahnya yang ber-qafiyah nun yang di dalamnya ia berkata:
“Maka maafkanlah kami atas kekurangan, kita berdua… diubah oleh kejadian-kejadian zaman”
Dan aku bertemu dengannya setelah itu lalu ia bertanya pendapatku tentang qasidah ini, dan ia bangga dan kagum dengan itu, seperti kebiasaannya pada semua syairnya; maka aku mengkritik darinya beberapa hal dalam lafaz dan maknanya, dan menunjuk pada metode yang seharusnya baik untuk menyapa Permaisuri dengan itu; seakan-akan aku membuatnya marah; maka ia berkata: “Sesungguhnya Syekh Muhammad Abduh, dan Sa’d Zaghlul, dan Qasim Amin -sepakat bahwa pola ini adalah sebaik-baik syair, dan mereka berkata kepadaku: ‘Jika engkau menggubah maka gubahkanlah seperti ‘syair sosial’ ini,” kemudian seakan-akan ia menyadari bahwa itu adalah metode yang bisa ia kuasai sendiri, bahwa semua qasidah Syauqi sekarang adalah ghazal dan pujian, dan tidak ada jejak di dalamnya untuk syair ini, padahal inilah syair.
Dan qasidah-qasidah sosialnya berturut-turut, maka ia menemuiku setelah itu sekali lagi dan berkata kepadaku: “Sesungguhnya penyair yang tidak menggubah dalam bidang sosial tidak kuberi sebutan penyair.” Dan aku ingin membuatnya kesal maka aku berkata kepadanya: “Dan apa itu sosial kecuali menjadikan artikel-artikel surat kabar sebagai qasidah?…”
Maka Guru Imam dan Sa’d Zaghlul dan Qasim Amin: salah satu dari mereka atau semuanya adalah asal dari mazhab ini yang ditempuh Hafez, dan ia sering mengambil dari pemikiran-pemikiran yang muncul di majelis Syekh Muhammad Abduh, dari pembicaraannya atau pembicaraan orang lain, lalu membangun di atasnya atau memasukkannya ke dalam syairnya, dan ia kadang buruk sekali dalam mengambil ketika maknanya filosofis; karena kemampuan filsafat padanya seperti yang tidak berfungsi, dan sesungguhnya itu pada penyair dari kemampuan cinta, dan sesungguhnya awal dan asalnya adalah masuknya wanita ke dalam dunia kata-kata dengan khayalan dan ocehannya…
Dan aku pada awal masa berkenalan dengan syair menggubah qasidah yang di dalamnya aku memuji Guru Imam dan mengirimkannya kepadanya, kemudian aku bertemu Hafez setelah itu maka ia berkata kepadaku: “Bahwa dialah yang membacakannya kepada Imam, dan bahwa ia menyukainya;” aku berkata: “Lalu apa kata-katanya tentang itu?” ia berkata: “Bahwa ia berkata: ‘Tidak apa-apa…'”
Maka setanku guncang karena marah, dan aku berkata kepadanya: “Bahwa Syekh bukanlah penyair, maka pendapatnya tentang syair tidak memiliki arti besar!” ia berkata: “Celaka engkau! Bahwa itulah batas kesukaan padanya.”
Aku berkata: “Dan apa yang ia katakan kepadamu ketika engkau membacakan kepadanya?” ia berkata: “Lebih tinggi dari itu sedikit..” maka demi Allah aku puas bahwa ada “sedikit” antara aku dan Hafez dan aku berambisi sejak hari itu.
Dan aku melihat bahwa “Hafez Ibrahim” tidak lain adalah diwan Syekh “Muhammad Abduh”: seandainya bukan karena yang ini adalah ini, tidak akan ada yang itu adalah itu.
Dan dari pengaruh Syekh pada Hafez adalah bahwa ia selalu membutuhkan orang yang mendengarkannya, maka ketika ia membuat bait-bait ia naik ke Ismail Basha Sabri di Qasr al-Aini, dan berkeliling di kedai-kedai kopi dan klub-klub mendengarkan orang-orang dengan paksa… karena telinga Imam itulah yang mendidik kemampuan padanya; dan kami telah menjelaskan ini dalam artikel kami di “al-Muqtataf”.
Dan kesempurnaan syair Hafez adalah bahwa Hafez sendiri yang membacakannya; dan aku tidak pernah mendengar dalam pembacaan yang lebih fasih bahasa Arabnya dari al-Barudi, dan tidak lebih merdu dari al-Kazimi, dan tidak lebih megah dari Hafez rahimahullahu jami’an.
Dan sastrawan kami mengagungkan al-Barudi dengan pengagungan yang besar, dan ketika ia berkata dalam pujiannya:
“Maka berlalulah setiap makna Persia dengan ketaatanku… dan setiap keengganan darinya untuk bermanja-manja”
Aku berkata kepadanya: “Apa makna ini? Dan bagaimana al-Barudi memerintahkan setiap makna Persia padahal ia bukan orang Persia?” ia berkata: “Bahwa ia mengetahui bahasa Persia, dan telah menggubah dalam bahasa itu, dan ia memiliki kumpulan yang di dalamnya ia mengumpulkan semua makna-makna Persia yang indah yang ia temukan;” aku berkata: “Maka seharusnya engkau berkata kepadanya: ‘Pinjamkan aku kumpulan yang ada padamu…'”
Adapun al-Kazimi, Hafez menjauhinya dan menjauhkannya, hingga ia berkata kepadaku suatu kali ketika aku menyebutkannya: “Kami telah mengusirnya wahai Mustafa!”
Dan aku tidak lupa, tidak akan lupa kegembiraan Hafez ketika aku memberitahunya bahwa al-Kazimi hafal salah satu qasidahnya, dan itu adalah bahwa mereka pada tahun 1901 -seingat aku- mengumumkan tentang hadiah-hadiah yang mereka berikan kepada siapa yang mahir dalam memuji Khedive, dan menjadikan keputusan dalam hal itu kepada al-Barudi dan Sabri dan al-Kazimi, kemudian al-Barudi dan Sabri mengundurkan diri, dan al-Kazimi memutuskan sendiri, maka Hafez memperoleh medali emas, dan al-Sayyid Taufiq al-Bakri memperoleh yang serupa.
Dan ketika aku mengunjungi al-Kazimi dan aku saat itu pemula dalam syair, dan masih dalam tahap belajar, ia berkata: “Mengapa engkau tidak ikut dalam perlombaan ini?” aku berkata: “Dan di mana aku dari Syauqi dan Hafez dan si fulan dan si fulan?” maka ia berkata: “Mengapa engkau biarkan semangatmu lemah?” kemudian ia memperdengarkan kepadaku qasidah Hafez dan ia kagum dengannya, maka aku sampaikan itu kepada Hafez, ia hampir terbang dari kursinya di kedai kopi.
Dan keras kepalanya Hafez terhadap al-Kazimi adalah karena ia bukan orang Mesir, maka pada tahun 1903 terbit di Kairo sebuah majalah bernama “ats-Tsuraya”, maka muncul di salah satu edisinya artikel tentang para penyair dengan tanda tangan ini, dan artikel ini meledak bagaikan letusan gunung berapi, dan para penyair bangkit karenanya dan duduk, dan itu dalam menyerang mereka seperti hembusan tentara dan gemuruh senjata, dan surat kabar harian mengangkatnya, dan getaran sastranya berlanjut sekitar sebulan; dan berakhir kepada Khedive; dan dibicarakan di hadapan Guru Imam dalam majlisnya, dan berkumpul untuknya sekelompok dari guru-guru besar zaman dari Suriah, seperti Allamah Sulaiman al-Bustani, dan sastrawan zamannya Syekh Ibrahim al-Yaziji, dan sejarawan besar Jurji Zaidan -karena pemilik majalah adalah orang Suriah- dan mereka mulai mengirim mata-mata demi mata-mata kepada pemilik majalah untuk mengetahui siapa penulis artikel itu.
Dan tersebar saat itu bahwa akulah yang menulis artikel itu; dan al-Kazimi berada di puncak para penyair di dalamnya, maka Hafez marah karena itu dengan sangat marah, dan hampir saja ia tidak melihatku di Kairo hingga ia memulai dengan perkataannya: “Demi Rabb al-Ka’bah engkau penulis artikel itu, dan demi dzimmah Islam engkau penulisnya!”
Kemudian kami masuk ke “Qahwah asy-Syisyah”, maka ia berkata dalam pembicaraannya: “Yang membuatku kesal adalah penulis artikel itu mendatangkan penyair dari luar Mesir lalu menempatkannya di atas kepala kami orang-orang Mesir!” maka aku berkata: “Dan mungkin ini telah membuatmu kesal sebesar apa yang membuatmu senang bahwa yang di atas kepalamu bukanlah Syauqi…”
Dan al-Sayyid Taufiq al-Bakri marah dengan kemarahan dari jenis lain, maka ia meminta bantuan almarhum al-Sayyid Mustafa al-Manfaluti dengan bantuan emas… dan al-Manfaluti menyingsingkan lengan maka menulis artikel di “Majalah Sarkis” yang dengannya ia menentang artikel “ats-Tsuraya”, dan menjadikan di dalamnya al-Bakri di puncak para penyair… dan memujinya dengan pujian yang berdering.
Adapun aku, ia menyerangku dengan apa yang ia mampu dari celaan, dan menceraikanku dari lafaz dan makna semuanya, dan menghitungku dalam para penyair untuk mengatakan bahwa aku bukan penyair… maka ini adalah jawaban dirinya atas dirinya sendiri.
Dan artikel al-Manfaluthi dikaitkan dengan artikel yang pertama sehingga ia menjadi terkenal karenanya, bukan karena al-Manfaluthi sendiri; dan Hafizh marah untuk kedua kalinya, lalu menulis surat kepadaku yang menyebutkan kesewenang-wenangan dan keberpihakan penulis tersebut, dan berkata: “Aku telah menyerahkan kepadamu urusan mendidiknya…”
Maka aku menulis artikel di surat kabar “al-Minbar”, yang diterbitkan oleh dua ustadz Muhammad Mas’ud dan Hafizh ‘Audh, dan aku menempatkan kata-kata al-Manfaluthi yang digunakannya untuk mencelaku di bagian awal artikelku sebagai kebanggaan… dan aku berkata: “Aku adalah filsuf yang mereka inginkan untuk memberikan syafaat kepada rajanya, maka ia mencium kaki raja hingga raja memberikan syafaat; ketika mereka mencela bahwa ia telah merendahkan kehormatan filsafat dengan membungkuk di kaki raja dan bersujud kepadanya, ia berkata: ‘Celakalah kalian! Lalu bagaimana aku harus berbuat jika raja telah menjadikan telinganya di kakinya…'”
Belum berlalu dua tahun bagiku dalam menangani syair ketika artikel “ats-Tsuraiya” muncul, dan meskipun demikian setiap penyair ingin mengetahui pendapatku tentang dirinya; suatu hari aku melewati “Hafizh” dan ia berada dalam kelompok orang-orang yang tidak aku kenal, ketika aku telah merasa tenang di majelis itu, Hafizh berkata: “Apa pendapatmu tentang syair al-Yaziji?” Maka aku menjawabnya. Ia berkata: “Lalu al-Bustani?” “Lalu Najib al-Haddad?” “Lalu si fulan?” “Lalu si fulan?” “Lalu Dawud ‘Amun?” Aku berkata: “Yang ini aku belum membaca karyanya kecuali sedikit yang tidak memungkinkan untuk menilai syairnya.” Ia berkata: “Lalu apa yang telah kamu baca darinya?” Aku berkata: “Balasannya terhadap qasidahmu untuknya:
Syajatna mathali’ aqmariha (Kami terharu melihat terbitnya bulan-bulannya)
Ia berkata: “Lalu apa pendapatmu tentang qasidahnya ini?” Aku berkata: “Ini termasuk syair menengah yang tidak tinggi dan tidak rendah.”
Tiba-tiba aku terkejut dengan seorang laki-laki di majelis itu berkata: “Demi Allah, engkau telah berlaku adil!” Maka Hafizh berkata: “Aku perkenalkan kepadamu Dawud Bek ‘Amun!”…
Semoga Allah merahmati hari-hari itu!
Inilah sosok yang menurut saya telah dipilih Mesir dari seluruh penduduknya untuk menempatkan jiwa berbahasa Mesir padanya. Mesir mewajibkan untuknya apa yang tidak diwajibkan untuk orang lain, membantu dia dengan apa yang tidak terjadi pada yang lainnya, dan menganugerahkan kepadanya kemampuan, kekuasaan, dan sarana-sarana kepemimpinan serta karakteristiknya sesuai dengan kadar sebuah bangsa yang ingin menjadi penyair, bukan sekadar sesuai dengan kadar seorang individu. Dan hanya melalui dialah Mesir mampu berkata kepada sejarah: inilah puisi dan sastraku!
Shauqi: inilah nama yang dalam sastra bagaikan matahari dari timur – kapan pun ia terbit di suatu tempat, maka ia telah terbit di setiap tempat. Kapan pun disebutkan di negara mana pun dari negara-negara dunia Arab, makna namanya meluas hingga menunjukkan seluruh Mesir, seakan-akan disebutkan Sungai Nil atau Piramida atau Kairo – kata-kata bersinonim bukan dalam tatanan bahasa, tetapi dalam keagungan bahasa.
Seorang yang hidup hingga sempurna, dan itu adalah bukti sejarah atas pemilihannya oleh Mesir, dan dalil kejeniusan bahwa di dalam dirinya terdapat rahasia bergerak yang tidak berhenti, tidak lelah, dan tidak memutus sistem kerjanya, seakan di dalam dirinya ada naluri lebah di kebun. Puisinya semakin besar seiring waktu yang semakin besar, tidak tertinggal dari zamannya, tidak jatuh di bawah tujuan-tujuan terjauhnya, seakan dia bersama zaman dalam satu alur, dan seakan puisinya adalah sejarah dari perkataan yang berevolusi dalam tahap-tahap pertumbuhannya, tidak membeku dan tidak mundur. Imajinasi pemiliknya tetap hingga akhir umurnya dalam pengaturan langit seperti awan yang meluas – awannya banyak kilat, penuh, dan menuangkan hujan dari satu sisi sambil terisi dari sisi lain.
Manusia ditetapkan masa muda, dewasa, dan tua bagi mereka, tetapi sastrawan sejati ditetapkan masa muda, dewasa, dan muda lagi – karena di dalam hatinya terdapat tujuan-tujuan hidup yang berpuisi, yang terus melahirkan satu sama lain tanpa putus, karena tujuan-tujuan itu bukan dari kehidupan penyair yang diciptakan di hatinya, tetapi dari kehidupan makna-makna di hati ini. Saya menegaskan hal ini tentang Shauqi rahimahullah, dan saya termasuk orang yang paling mengenal kekurangan-kekurangannya dan tempat-tempat kelemahan dalam sastra dan puisinya. Namun orang ini terlepas dari sejarah sastra hanya untuk Mesir seperti terlepasnya tetesan hujan dari awannya yang bergerak di udara, sehingga Mesir menjadi penguasa dunia Arab dalam puisi berkat dirinya, padahal dahulu Mesir tidak dikenal dalam sastra kecuali karena jenaka, kelembutan, dan kerajinan badi’iyyah yang dibuat-buat, dan tidak tersebar namanya karena seorang yang cerdas atau jenius. Mesir seperti peminta-minta dari sejarah kota-kota besar di dunia.
Sampai-sampai Abu Muhammad yang bergelar Wali al-Daulah, pemilik diwan al-insha’ (kantor surat-menyurat) di Mesir untuk al-Zahir bin al-Mustansir – yang wafat tahun 341 H, dan gajinya tiga ribu dinar per tahun selain honorarium yang dia dapatkan dari semua yang dia tulis – menyerahkan kepada utusan pedagang ke Mesir dari Baghdad dua jilid puisi dan surat-suratnya untuk dibawa ke Baghdad agar ditunjukkan kepada al-Sharif al-Murtada dan sastrawan Baghdad lainnya, untuk meminta saran mereka tentang mengabadikan sastra Mesir ini di Dar al-Ilm jika mereka menganggapnya bagus dan menerimanya. Seakan menyimpan diwan puisi Mesir dan prosa di perpustakaan Baghdad dahulu menyerupai dalam peristiwa zaman kita, kemerdekaan Mesir dan penerimaannya di Liga Bangsa-Bangsa.
Dan ini Ahmad bin Ali al-Aswani, imam dari para imam sastra di Mesir (wafat tahun 562), yang merupakan penulis dan penyair yang menggabungkan ilmu-ilmu sastra dengan fikih, logika, geometri, kedokteran, musik, dan astronomi – ingin mendokumentasikan puisi orang-orang Mesir, lalu mengumpulkan dari puisi mereka “dan puisi orang-orang yang datang kepada mereka” empat jilid. Seakan puisi Mesir saja hingga akhir abad keenam Hijriah, di masa yang belum ada buku dan diwan yang hilang, tidak memenuhi empat jilid… dengan perbedaan mereka dalam ukuran jilid, bisa jadi berupa juz berukuran kecil; dan al-Aswani sendiri diwannya sekitar seratus lembar.
Dan saudaranya al-Hasan yang dikenal dengan al-Muhadhdhab (al-Aswani yang wafat tahun 561), al-Imad al-Katib berkata: tidak ada di Mesir pada zamannya yang lebih penyair darinya, dan tersebar di kalangan manusia sebuah qasidah yang mereka namakan “al-Nawahah” (ratapan), dia menggambarkan di dalamnya kerinduannya kepada saudaranya yang telah pergi ke Mekah dan lama tidak kembali sehingga dikhawatirkan akan keselamatannya. Maka orang tersebut adalah penyair terbaik Mesir di zamannya, dan peristiwa al-Nawahah menjadikannya dalam makna ini lebih penyair dari dirinya sendiri, meskipun dengan semua itu dia tidak berkata kecuali seperti ini:
Wahai bekas tempat, di mana kita melihat kekasih menuju… Apakah mereka pergi ke Najd setelah kita atau ke Tihamah Mereka pergi dan di hati yang tersiksa setelah mereka Kerinduan yang berkemah sepanjang masa Dan jiwaku mengganti keakraban dengan kesendirian Semoga Allah tidak menjadikan sepi tempat-tempat tinggal dari mereka…
Seandainya tidak ada Ibn al-Farid, al-Baha’ Zuhair, Ibn Qalaqis al-Iskandari dan seumpama mereka – yang semuanya pemilik diwan-diwan kecil, dan dalam puisi mereka tidak ada kecuali cap Sungai Nil, yaitu kelembutan dan kemanisan – seandainya tidak ada mereka di kalangan terdahulu, niscaya keringlah sejarah puisi di Mesir. Dan seandainya tidak ada al-Barudi, Sabri, dan Hafiz di kalangan kemudian – yang semuanya juga pemilik diwan-diwan kecil – Mesir tidak akan diingat karena puisinya di dunia Arab. Namun semua mereka dan semua itu tidak mampu meletakkan mahkota puisi di ubun-ubun Mesir, dan Shauqi sendirilah yang meletakkannya!
Yang menakjubkan adalah diwan-diwan penyair Mesir yang mahir hanya berukuran kecil, seakan tabiat Sungai Nil berpengaruh pada makna-makna sebagaimana pengaruhnya pada materi, sehingga tidak ada limpahan dan kesuburan kecuali pada waktu tertentu setelah waktu-waktu lain, dan dalam tiga bulan dari setiap dua belas bulan. Dari keindahan kupu-kupu adalah bahwa dia kecil, dan cukup baginya pada dirinya bahwa sayap-sayapnya bertitik emas, dan bahwa dia adalah jenaka dari keajaiban alam!
Namun engkau akan menemukan dalam sejarah sastra Mesir sebuah keajaiban dari keajaiban dunia yang tidak disebutkan bersamanya Iliad, Aeneid, Shahnamah, atau lainnya, tetapi keajaiban yang dipenuhi jiwa gurun jika diwan-diwan kecil itu dari jiwa Sungai Nil. Yaitu qasidah yang digubah Abu Raja’ al-Aswani yang wafat tahun 335 H, yang merupakan penyair, fakih, sastrawan, dan alim sebagaimana mereka katakan. Mereka mengklaim bahwa dia mengisahkan dalam gubahannya berita-berita dunia dan kisah-kisah para nabi satu demi satu. Mereka berkata: dan dia ditanya sebelum wafatnya, “Berapa bait qasidahmu?” Dia menjawab: “Seratus tiga puluh ribu bait…”
Saya tidak meragukan bahwa orang ini mendapat sejarah al-Tabari dan buku-buku sirah serta kisah-kisah Israiliyyat lalu menggubahnya menjadi matan-matan… dan menghabiskan umurnya dalam 130.000 bait yang mengubah sejarah menjadi berita yang diabaikan dalam tiga baris.
Setiap penyair Mesir adalah bagian dari bagian menurutku, tetapi Shauqi adalah bagian dari keseluruhan. Perbedaan antara kedua bagian itu adalah yang terakhir dalam kekuatan, keagungan, kemampuan, dan keluasan puisinya adalah bagian besar seakan dia sendiri adalah keseluruhan. Tidak ada penyair di Mesir dahulu dan sekarang yang meninggalkan apa yang ditinggalkan Shauqi, dan terkumpul padanya apa yang tidak terkumpul pada yang lain. Itu adalah bukti bahwa dia adalah yang terpilih untuk negerinya, sehingga dia menyamai penyair-penyair terpilih di zamannya dan naik di atas mereka dalam banyak hal yang merupakan rezeki sejarahnya dari kekuatan pengatur yang tidak ada daya bagi siapa pun untuk mengambil darinya apa yang tidak diberikannya, atau menambah apa yang dikuranginya, atau mengurangi apa yang ditambahkannya.
Mereka berulang kali mencoba menjatuhkan Shauqi, namun dia memperlihatkan debu (kecepatan)nya dan terus maju, dan yang kembali dari mereka kembali untuk mencuci matanya… dan melihat dengan keduanya bahwa Shauqi dari jiwa Mesir berkedudukan seperti kemuliaan yang tertulis baginya dalam sejarah dengan perang dan kemenangan, bukan berkedudukan seperti penyair dan puisinya.
Penyair kita lahir tahun 1868 dalam kenikmatan Khedive Ismail Pasha, dan Khedive menaburkan emas untuknya saat dia masih bayi dalam kisah yang disebutkan Shauqi dalam mukadimah diwan lamanya. Kemudian Khedive Taufiq Pasha memeliharanya, mendidiknya, dan membelanjainya dengan lapang, menempatkan dirinya sebagai ayah kaya sebagaimana Shauqi katakan dalam mukadimahnya. Kemudian Khedive Abbas Pasha mengasuhnya dan menjadikannya penyairnya, membiarkannya berkata:
Penyair Yang Mulia dan tidaklah sedikit gelar ini
Dan jika engkau menafsirkan gelar penyair amir ini dengan sang amir sendiri pada masa itu, keluar bagimu dari tafsiran: penyair yang halus dan dibantu dengan berbagai sebab, untuk menjadi alat politik di kalangan rakyat Mesir, bekerja untuk menghidupkan sejarah dalam jiwa Mesir, memberikan pencerahan tentang keagungannya, melibatkannya dalam pertempuran zamannya, mempersiapkannya untuk pembelaan, dan menghubungkan puisi dengan politik agama yang diarahkan khilafah saat itu untuk memukul gagasan Eropa dalam pembagian negara dengan gagasan Jamaah Islamiyah.
Dan tidak keluar bagimu Shauqi dari tafsiran ini sebagai seorang sesuai kadar dirinya, tetapi sesuai kadar amirnya itu. Dia penuh dengan semangat muda yang mendidih, dan dipersiapkan saat itu untuk ambisi-ambisi jauh yang dibuat-buat yang isinya dinamit politik…
Suatu ketika saya berbicara dengan sahabatku penulis yang mendalam Farah Antun pemilik “al-Jami’ah”, dan dia sangat mengagumi Shauqi. Dia berkata kepadaku: “Shauqi sekarang berada di cakrawala raja-raja, bukan di cakrawala penyair!” Saya berkata: “Seakan engkau mengasingkannya dari raja-raja dan penyair sekaligus. Jika dia keluar dari yang ini, dia bukan apa-apa, dan jika dia masuk ke yang itu, dia tidak lagi menjadi apa-apa. Sesungguhnya orang itu dalam politik berliku yang menghubungkannya dengan amir – kadang dia seperti menteri perang, kadang seperti menteri pendidikan.”
Politik ini yang dilatih Shauqi dan dipraktikkannya sejak awal masa, dan puisinya mengarah pada aliran-alirannya, dari nasionalisme Mesir ke kecenderungan Fir’aun ke Jamaah Islamiyah, menjadi sebab kejeniusannya dan materi aliran puisinya, yang juga menjadi materi kekurangannya. Politik ini mengujinya dengan cinta diri dan cinta pujian atasnya, menundukkan manusia dalam hal itu sesuai kemampuan kekuatannya, hingga kecemburuan yang lebih hebat dari kecemburuan wanita cantik yang bergidik setiap rambutnya jika datang kepadanya kecantikan kedua.
Kecemburuan ini meskipun tercela dalam hubungannya dengan sastrawan yang menyakitinya dengan bara… dan kami termasuk di antara mereka, namun terpuji pada tempatnya dari tabiatnya. Kecemburuan ini menjadikannya seperti kuda keturunan mulia yang berlomba bahkan dengan bayangannya sendiri, sehingga dia menentang pendahulu dengan puisinya seakan mereka bersamanya, bersaing dengan kontemporer untuk membuat mereka seakan tidak bersamanya, dan bersaing dengan dirinya juga untuk membuat Shauqi lebih penyair dari Shauqi.
Menurutku semua kontradiksi dalam diri orang ini kembali pada jejak politik berliku itu yang membelokkan tabiat kekuatan dari wajah-wajah terang-terangannya, sehingga bergejolak dalam wajah-wajah tipu daya dan sebab-sebab yang terencana dan maju, terpandu dalam semua jalan gelap dengan jarum magnet ajaib yang tidak ada bandingannya di alam kecuali hidung rubah yang selalu menuju bau ayam.
Sejarawan sastra yang ingin menulis tentang Shauqi tidak berbuat apa-apa jika dia tidak menyebutkan bahwa penyair besar ini adalah hadiah Khedive Taufiq dan Khedive Abbas untuk Mesir, seperti delta di antara dua cabang Sungai Nil. Apa yang menimpa al-Mutanabbi dari Saif al-Daulah yang membangkitkan bakatnya, mengembangkan sayap surgawinya, memperbagus bulunya, dan melompat dengannya pada tujuan-tujuan jauh dalam sejarah sastra, menimpa Shauqi dari kemuliaan Khedive Abbas lebih dari itu. Seharusnya dia menyamai al-Mutanabbi atau melampaui nya, tetapi dia tidak mencapai kedudukannya, karena Khedive tidak seperti Saif al-Daulah dalam pengetahuannya tentang sastra Arab dan keinginannya padanya.
Rahasia al-Mutanabbi ada dalam tiga hal: dalam sistem sarafnya yang ajaib yang menurutku tidak kurang dari apa yang ada di otak Shakespeare, dalam orang yang dipujinya yaitu sastrawan raja yang menempati kedudukan dari sistem ini seperti insinyur listrik dari mesin besar yang dijalankannya dengan ilmu, diurus dengan perencanaan, dan dijaga dengan perhatian, kemudian dalam cakrawala zamannya yang berkilau dengan bintang-bintang sastra yang tidak mungkin muncul di antaranya kecuali yang sekaliber mereka, tidak dapat dibedakan di dalamnya kecuali yang lebih besar dari mereka, dan tidak meninggalkan mereka seperti yang padam kecuali matahari seperti matahari al-Mutanabbi yang meledak di dunia dengan mukjizat-mukjizat cahayanya.
Demi Allah, al-Mutanabbi ini seakan membagi-bagikan kehormatan kepada raja-raja dan pemimpin. Adakah bukti yang lebih jelas daripada Abu Ishaq al-Sabi syaikh para penulis di zamannya berkorespondensi agar dia memujinya dengan dua qasidah dan memberinya lima ribu dirham, lalu al-Mutanabbi mengirim kepadanya: “Saya tidak melihat di Irak yang layak dipuji selain engkau, tetapi jika saya memujimu, wazir (maksudnya al-Muhallabl) akan mengingkarimu karena saya tidak memujinya. Jika engkau tidak peduli keadaan ini, maka saya akan memenuhi permintaanmu dan tidak menginginkan darimu harta dan tidak dari puisiku ganti!” Maka di mana di zaman kita yang merasakan kemuliaan sastra seperti perasaan ini untuk datang dengan puisi dari jiwa yang yakin bahwa dunia menunggu kata-katanya?
Namun Shauqi tidak kurang apa pun dengan mempertimbangkan zamannya kecuali “penonton puitis”, dan semua bencana puisi Arab adalah tidak menemukan penonton ini. Penyair dengan itu tertuju pada makna-makna individual dari orang terpuji yang agung atau kekasih yang agung atau kejatuhan yang agung… bahkan alam tampak dalam puisi Arab seakan potongan-potongan terputus dari alam semesta yang masuk dalam batas-batas dengan memakai pakaian.
Dari situlah penyair menjadi jenius dan tidak ada di dalamnya dari perasaan kecuali sekadar dirinya bukan sekadar penonton nya, dan kecuali memenuhi kebutuhan-kebutuhannya bukan memenuhi alam. Maka tidak heran dia jatuh jauh dari makna menyeluruh yang terhubung dengan yang tidak diketahui, dan jatuh dengan puisinya pada gambaran-gambaran individual yang sempit batasnya, sehingga engkau tidak menemukan dalam tabiatnya kekuatan merangkul, meluas, menyeluruh, dan mendetail, dan tabiatnya tidak memungkinkannya mencakup setiap gambaran puitis dengan karakteristiknya.
Maka dia pada khayalan yang muncul mengambil dari spontanitasnya dan tidak pandai mendalaminya, dan dia pada keinginan-keinginan lemah dari pemikiran yang tidak lama pencariannya dan tidak maju pandangannya, dan jiwanya melewati alam dengan cepat, dan puisinya terpotong-potong, dan kepedihan serta kegembiraannya sifat-sifat bukan perasaan, dan kata-kata bukan kenyataan, dan bayangan kabur yang dilempar di bumi jika engkau bandingkan dengan detail tubuh hidup yang berjalan di bumi.
Terkumpul pada Shauqi dalam warisan darahnya dan aliran keturunannya unsur Arab, yang lain Turki, ketiga Yunani, dan keempat Sirkasia. Ini adalah kemajemukan kemanusiaan yang tidak datang darinya penyair kecuali layak menjadi negara dari negara-negara puisi. Selain itu, penyair kita lahir dengan gangguan saraf di matanya, seakan ini dalil alami bahwa di belakang keduanya ada mata-mata untuk makna yang bersaing dengan mata penglihatan.
Jika susunan saraf dalam penyair tidak siap untuk kejeniusan, maka ketahuilah bahwa dia jatuh dari pembagian dunia bukan dalam puisi, dan tidak ada dalam alam atau kerajinan kekuatan yang menjadikan tenggorokan bulbul pada selain bulbul. Dengan semua yang telah lewat, Shauqi dibantu untuk puisi dengan keleluasaannya untuknya empat puluh empat tahun, tidak berbagi pekerjaan, tidak terbagi pikiran, dalam kelapangan rezeki, keluasan kedudukan, dan ketinggian martabat, dan di hadapannya diwan-diwan puisi Arab, Eropa, Turki, dan Persia.
Jika engkau lupa, jangan lupa bahwa penyair kita ini dikhususkan dengan aktivitas kehidupan, dan itu adalah roh puisi – tidak ada roh bagi puisi tanpanya. Dia bepergian dan berkelana serta berbolak-balik di bumi, bergaul dengan bangsa-bangsa dan mengamati alam menembus dengan penglihatannya antara Andalusia dan Istanbul, dengan dukungan hartanya dan keleluasaannya. Sesungguhnya kekuatan puisi dalam tempat-tempat jatuh udara, maka di setiap udara baru ada roh baru bagi penyair.
Alam seperti manusia: putih di suatu tempat dan hitam di tempat lain, tidur bermimpi di suatu tempat dan berdiri bekerja di tempat lain, di suatu negeri seperti wanita cantik, dan di negeri lain seperti pria pegulat. Tidak akan terkumpul bagimu roh sistem saraf pada terkuat dan terkeras kecuali jika engkau memberinya makan bersama jenis-jenis makanan lezat yang bermanfaat, warna-warna udara lezat yang bermanfaat.
Menurutku tidak ada harapan tumbuh bagi Mesir penyair besar dalam tingkat penyair tangguh dari penyair dunia, kecuali jika diulang sejarah Shauqi yang diperbaiki dalam seorang yang dianugerahi Allah bakat-bakatnya, kemudian pemerintah Mesir menganugerahinya bakat-bakatnya.
Kitab pertama yang melatih imajinasi Shauqi, mengasah tabiatnya, dan membenarkan tumbuh kembang sastranya, adalah kitab yang sama yang menjadi wawasan Hafiz dan telah kami sebutkan dalam artikel kami tentangnya, yaitu kitab “al-Wasilah al-Adabiyyah” karya al-Marsafi. Rahasianya bukan pada apa yang ada di dalamnya dari cabang-cabang balaghah dan pilihan puisi serta tulisan, karena semua ini sudah ada di Mesir dahulu dan tidak bermanfaat apa-apa serta tidak menghasilkan penyair seperti Shauqi. Tetapi rahasianya adalah pada puisi al-Barudi yang ada dalam kitab, karena dia kontemporer, dan ke-kontemporeran adalah peneladanan dan pengikutan pada yang benar jika itu benar, dan pada yang salah jika itu salah.
Telah berlalu abad-abad banyak dan penyair-penyair mewariskan diwan al-Mutanabbi dan lainnya, kemudian mereka tidak datang kecuali dengan puisi kerajinan dan pemaksaan, dan generasi mereka tidak abadi kecuali untuk apa yang dilihat di zamannya, dan tidak membuka kecuali pintu yang dibuka untuknya, hingga datanglah al-Barudi. Dia bodoh tentang cabang-cabang bahasa Arab dan ilmu balaghah, tidak pandai apa-apa darinya, dan kebodohannya ini adalah seluruh dunia yang mengubah puisi sesudahnya – betapa ajaibnya hikmah ini! Ini adalah dalil bahwa perbuatan manusia tidak lain adalah ketundukan pada hukum-hukum yang berlaku atas manusia.
Al-Barudi tekun pada apa yang mampu, yaitu menghafal dari puisi para penyair tangguh, karena menghafal tidak butuh selain membaca, kemudian penghayatan dan praktik. Pada dirinya ada saliqa (naluri sastra), maka keluar seperti keluarnya yang serupa pada penyair Jahiliyyah dan awal Islam dari hafalan dan riwayat, dan datang dengan puisi mantap yang dipindahkan al-Marsafi dengan ilham dari Allah Ta’ala untuk menghasilkan Hafiz, Shauqi, dan lainnya bagi bahasa Arab.
Semua yang ada dalam kitab itu hanyalah memindahkan roh ke-kontemporeran ke roh sastrawan yang tumbuh, maka roh ini membangkitkannya pada pembedaan dan kebenaran peneladanan. Maka dia pada kekhususan dan wawasan, dan dia pada jalan yang berakhir padanya sesuai kekuatan jiwanya selama ada padanya kecerdasan dan tabiat. Dengan ini Shauqi dan Hafiz memulai dari tempat yang sama, dan keduanya berakhir pada cara yang berbeda dari yang lain, dan kedua cara itu berbeda dari cara al-Barudi.
Shauqi beralih dengan puisi ini bukan ke cara al-Barudi, karena dia tidak mampu dan tidak siap dalam sebab-sebabnya, khususnya di awal masanya, dan seakan bahasa al-Barudi ada dari gelarnya, yaitu ada mesiu di dalamnya… Tetapi peralihan jenius kita dari cara kontemporer seperti al-Laithi, Abu al-Nasr, dan lainnya, maka dia meninggalkan yang hidup dan meluncur mengikuti yang mati dalam diwan-diwan mereka yang termasuk keberuntungannya bahwa banyak darinya dicetak pada masa itu: seperti al-Mutanabbi, Abu Tammam, al-Buhturi, al-Ma’arri, kemudian ahli kelembutan pemilik cara cinta: seperti Ibn al-Ahnaf, al-Baha’ Zuhair, al-Shabb al-Zarif, al-Tal’afari, al-Hajari, kemudian penyair terkenal mutaakhirin: seperti Ibn al-Nahhas, al-Amir Manjak, al-Sharqawi.
Shauqi mencoba di awal perkaranya menggabungkan semua ini, maka tampak dalam puisinya peniruan dan usahanya dalam mencoba inovasi, kreasi, dan penguasaan pengembangan, dengan kemudahan dan kelembutan serta paksaan ghazal dengan tabiat yang mengalir bukan dengan cinta yang benar.
Ketika saya menulis tentang seorang penyair, perhatian saya hanya terfokus pada penelitian terhadap cara dia menciptakan makna-maknanya, bagaimana dia memahami dan memerhatikan, bagaimana makna itu menjadi inspirasi baginya, dan apakah dia berinovasi atau meniru, apakah dia merasakan makna dengan perasaan yang mendalam sehingga bercampur dengan jiwanya dan muncul darinya, ataukah dia hanya memindahkannya secara harfiah sehingga datang dari buku-buku; dan apakah dia memperluas gagasan filosofis untuk makna-maknanya, mempertajam pandangan terhadap rahasia-rahasia segala sesuatu, dan pandai mengungkap awan-awan yang di dalamnya berenang hal-hal puitis yang tak dikenal dan terhubung dengannya serta membawa inspirasi bagi manusia darinya; ataukah pemikirannya hanya mengalir dan menebak-nebak dalam imajinasi dan mengambil yang ada sebagaimana adanya dalam kenyataan? Singkatnya, apakah dia sebuah kepribadian yang di dalamnya melewati makhluk-makhluk maknanya untuk diciptakan sehingga mereka memiliki kehidupan dari jiwanya bersama kehidupan dalam diri mereka sendiri, ataukah dia hanya pengikut seperti makelar antara dua pihak: berada di antara keduanya, tetapi bukan dari keduanya atau dari salah satunya? Dalam cara penelitian ini terdapat sejarah bakat penyair, dan tidak ada yang mengantarkan Anda pada sejarah ini kecuali pendekatan tersebut jika Anda mampu melakukannya. Adapun sejarah penyair itu sendiri, betapa mudahnya; karena itu adalah gambaran hari-harinya dan hubungannya dengan zamannya, dan dalam menulis sejarah tentang apa yang terjadi tidak ada yang lain selain memindahkannya sebagaimana adanya.
Ketika kita mengkaji Shauqi dengan cara tersebut, kita melihatnya sebagai seorang jenius sejak awal kariernya, karena dalam dirinya terdapat bakat yang saya sebut sebagai kepekaan terhadap suasana; dengan itu para jenius mengamati makna-makna di balik yang terlihat, dan dengan itu mereka mengambil dari setiap makna, makna yang lain.
Lihatlah bait-baitnya yang dia tulis di awal masa mudanya ketika usianya saat itu 23 tahun menurut perkiraan saya, dan ini dari puisinya yang terkenal:
Mereka menipu dia dengan mengatakan “cantik” … dan para wanita tertipu oleh pujian Tidakkah kau lihat dia melupakan namaku ketika … banyak nama dalam percintaannya Jika dia melihatku, dia berpaling dariku seolah tidak … pernah ada sesuatu antara aku dan dia Pandangan lalu senyuman lalu salam … lalu percakapan lalu janji lalu pertemuan
Abaikan kesalahannya dalam ucapannya “berpaling dariku”, karena yang benar adalah “bosan”; karena itu adalah jawaban dari syarat “jika”; tetapi perhatikanlah bagaimana dia mengeluarkan makna-maknanya; dan saya selalu dan masih kagum dengan bait kedua dan keempat, bukan karena mengagungkan maknanya, karena keduanya tidak berarti apa-apa bagi saya, tetapi karena kekaguman terhadap bakat Shauqi dalam menghasilkan, karena dia mengambil bait kedua dari ucapan Abu Tammam:
Aku datang pada hatinya mengadu kepadanya … tetapi aku tidak bisa mencapainya karena kerumunan
Maka makna itu melewati pikiran Shauqi seperti udara melewati taman, dan datang sebagai angin sepoi-sepoi yang bergelombang setelah sebelumnya seperti angin yang membawa debu; karena kerumunan dalam bait Abu Tammam layak untuk pasar yang berdiri untuk jual beli, bukan untuk hati wanita yang dicintainya, bahkan dia menjadikan hati wanita itu sesuatu yang aneh seolah itu bukan organ dalam tubuhnya, tetapi ruangan di rumahnya… Dan penyair kita telah melampaui Abu Tammam dengan langkah-langkah dalam kreasi, selera, dan kelembutan.
Dan bait keempat dari ucapan penyair yang jenaka:
Berhenti dan dengarkanlah kisah para pencinta yang terbunuh … mati dalam cinta mereka tanpa mencapai tujuan Dia melihat lalu mencinta lalu meminta penyatuan tetapi mereka menolak … lalu dia mencoba sabar tetapi gagal mencapainya lalu mati
Dan “fa'” (maka) ini mengarah ke kubur dan kita berlindung kepada Allah darinya… Dan di antara yang selalu saya kritik pada Shauqi adalah kelemahannya dalam bidang-bidang sastra, karena al-Muwaylihi, penulis terkenal itu, mengkritik bait-bait “mereka menipu dia” di surat kabarnya “Misbah al-Sharq” ketika Shauqiyyat muncul pada tahun 1899, maka Shauqi panik dan meminta bantuan agar dia berhenti mengkritik, padahal ucapan al-Muwaylihi tidak akan menjatuhkan seekor lalat dari ketinggian setengah meter… Dan dari musibah sastra di sisi kita, bahkan dari rahasia terbesar kelemahannya, adalah bahwa para penyair kita tidak mampu menghadapi kritik, dan mereka lari darinya dan berusaha menghindarinya dan mereka tidak pandai selain puisi; tidak al-Barudi, tidak Sabri, tidak Hafiz, tidak Shauqi, tidak satu pun dari mereka yang pandai membela diri atau menulis artikel dalam kritik sastra, atau meneliti masalah dalam sejarah sastra.
Dan di antara makna-makna Shauqi yang terkenal:
Bagimu nasihatku dan tidak ada untukmu perdebatanku … bencana nasihat adalah menjadi perdebatan
Dan dia mengulanginya dalam puisi lain dengan berkata:
Bencana nasihat adalah menjadi perdebatan … dan gangguan nasihat adalah menjadi terang-terangan
Kedua bait itu juga dalam puisi masa mudanya, dan keduanya dari ucapan Ibn al-Rumi:
Dan dalam nasihat ada kebaikan dari penasihat yang lembut … dan tidak ada kebaikan di dalamnya dari penasihat yang melompat
Maka Shauqi memperbaiki makna dan mengganti lompatan dengan perdebatan, dan itulah yang tidak mampu dilakukan Ibn al-Rumi; dan dari kreasi dalam puisinya “Gema Perang” dia menggambarkan kekalahan Yunani:
Mereka hampir karena ketakutan, rumah-rumah mereka lari … dan gunung-gunung batu selamat jika lembah melindungi mereka Tanah hampir dari bawah mereka masuk ke tanah … dan sebagian bumi memakan sebagian yang lain dan memotong
Dan ini adalah khayalan yang indah sekali, dia menjadikan kekalahan mereka seolah bukan dari dahsyatnya orang Turki, tetapi dari dahsyatnya hari kiamat; dan dia dengan itu dilahirkan dari ucapan Abu Tammam dalam menggambarkan kemurahan hati orang yang dipujinya Abu Dalf:
Hampir tempat-tempat tinggalnya bergembira halaman-halamannya … lalu naik karena rindu kepada setiap pengendara
Maka penyair kita mengukur dengan itu; dan jika rumah hampir naik kepada pengendara kepadanya karena kegembiraannya, maka dia hampir lari bersama yang kalah karena ketakutannya; tetapi Shauqi membangun dan menguatkan serta melampaui Abu Tammam dengan tambahan yang dia bawa dalam bait kedua.
Dan di antara puisi terbaiknya dalam percintaan:
Dia mengumpulkan kecantikan, jika kau pergi menambahkannya … dalam khayalan kecantikan, kau tidak akan mampu menambah
Dan itu dari ucapan seseorang:
Pemilik kecantikan, jika dia meminta tambahan dari kecan- … tikan kepadanya, dia tidak akan mendapat tambahan
Tetapi Shauqi berkata: jika kau pergi menambahkannya dalam khayalan… dan penyair berkata: jika dia sendiri meminta tambahan; maka jika bait Shauqi kosong dari kata “dalam khayalan” tidak akan menjadi apa-apa, tetapi kata ini merealisasikan di dalamnya makna yang menjadi dasar seluruh filosofi kecantikan; karena kecantikan kekasih tidak lain adalah makna-makna yang ada dalam khayalan pencintanya; maka tambahan itu dari khayalan, dan dia secara alami tidak berakhir; maka jika tidak ada lagi tambahan kecantikan di dalamnya, setelah itu tidak ada kecantikan, dan kami telah menguraikan makna ini dalam banyak gambaran dalam buku-buku kami: “Surat-surat Kesedihan” dan “Awan Merah”, dan “Daun-daun Mawar”; maka lihatlah di dalamnya.
Dan yang melengkapi bait itu adalah ucapan Shauqi dalam puisi jiwa:
Wahai boneka yang tidak bisa ditambah kecantikannya … tambahi dia kecantikan orang baik yang berbuat baik
Dan makna ini jatuh di hatiku pada tempatnya dan memiliki tempat kekagumanku; maka tambahan yang ada di dalamnya seperti tambahan umur jika mungkin, dan dia di tempatnya seperti garis terputus lalu tersambung, dan seperti harapan mustahil lalu terjadi dan mudah; dan kau telah mengetahui sumber setengah bait pertama, adapun yang kedua dari ucapan Ibn al-Rumi:
Wahai kecantikan wajah, sungguh kau telah merusaknya … maka gabungkan pada kecantikanmu kebaikan
Dan dalam puisi yang dengannya dia meratapi Tharwat Pasha dan itu dari puisi terbaiknya, kau temukan dari bait-baitnya ini bait yang langka:
Dan mungkin banyak yang mati tidak kau rasakan mereka … seolah mereka karena hinanya musibah tidak pernah ada
Dan Shauqi berlawanan dengan puisi ini Abu Khalid ibn Muhammad al-Muhallabi dalam daliyyahnya yang dengannya dia meratapi al-Mutawakkil, dan al-Muhallabi hadir saat pembunuhannya dia dan al-Buhturi, maka masing-masing dari mereka meratapi dia dengan puisi yang mereka katakan: itu dari yang terbaik yang dikatakan dalam maknanya; dan bait Shauqi diambil dari ucapan al-Muhallabi:
Sesungguhnya kami kehilangan kau hingga tidak ada kesabaran bagi kami … dan mati sebelum kau kaum-kaum maka mereka tidak hilang
Yaitu tidak ada yang merasakan kematian mereka; tetapi bait itu tidak lurus; karena yang mati dan tidak hilang adalah yang kekal seolah dia tidak mati; maka Shauqi mengeluarkan makna yang benar dan menjadikan ketiadaan yang merupakan akhir keberadaan pada manusia, awal keberadaan dan tengah dan akhirnya pada mereka yang hina bagi kehidupan maka mereka ada dan mati seolah mereka mati dan tidak pernah ada.
Dan pada apa yang kau ketahui dari kekuatan kepenyairan ini, dan ketelitiannya dalam apa yang dia lakukan, dan datangnya dengan makna-makna langka yang dikeluarkan seperti mengeluarkan emas, dipoles seperti memoles permata, diseimbangkan dengan pikiran, ditimbang dengan logika- kau temukan padanya keruntuhan seperti keruntuhan orang lemah, dan keluguan seperti keluguan anak-anak; hingga kau mengira bahwa masa kanak-kanak Shauqi sering kali muncul dalam puisinya bermain dan bercanda, atau seolah pria itu memiliki dua kepribadian seperti yang dikatakan dokter, maka keduanya bergantian dalam puisinya kesempurnaan dan kekurangan, tinggi dan rendah, atau katakanlah itu Arab dan Yunani di satu sisi jiwanya, dan Turki dan Circassian di sisi lain: untuk yang itu inovasi dan retorika dan logika, dan untuk ini pembesaran dan berlebihan dan pencampuran; dan Shauqi adalah dengan keduanya sekaligus; yang kuat dari keduanya mempesonanya maka dia kagum padanya kekaguman kekuatan, dan yang lemah menipunya maka dia kagum padanya kekaguman kelembutan; betapa menakjubkan baitnya yang dia katakan dalam kerinduan pada tanah air dari puisi Andalusianya yang terkenal:
Tanah airku, jika aku disibukkan dengan surga darinya … jiwaku menarikku kepadanya di surga
Dan bait ini di antara yang dicontohkan oleh para pemuda dan penulis pers, dan tidak ada yang menyadari kerusakannya dan kekonyolan maknanya; karena surga tidak menjadi surga kecuali setelah lenyapnya yang fana dari manusia dan sifat-sifat duniawinya, dan setelah tidak ada bumi atau tanah air atau kerinduan atau fanatisme; maka Shauqi berkata: jika aku disibukkan dari tanah air ketika tidak ada bumi atau tanah air atau negara atau bangsa atau kerinduan pada sesuatu dari itu- maka aku dengan itu merindukan tanah air yang tidak ada keberadaannya dalam diriku atau dalam dirinya sendiri…. Dan semua ini sia-sia… Dan maknanya setelah dari ucapan Ibn al-Rumi:
Dan dicintakan tanah air orang-orang kepada mereka … kepentingan-kepentingan yang dipenuhi masa muda di sana Jika mereka mengingat tanah air mereka, mereka teringat … perjanjian-perjanjian masa kecil di dalamnya maka mereka rindu untuk itu
Dan penarikan jiwa adalah kerinduan, dan makna Ibn al-Rumi walaupun benar tetapi tidak cocok untuk filosofi patriotisme di zaman kita. Dan sesungguhnya dalam Shauqi ada dua cacat yang menghilangkan banyak kebaikannya: salah satunya adalah berlebihan ala Turki-Persia yang menariknya kepadanya sifat Turkinya dan tidak ada berlebihan di dunia yang mendekatinya, seperti ucapan sebagian penyair mereka bahwa semut dengan embusan napasnya mengeringkan ketujuh lautan… Dan itu tenggelam konyol yang tidak datang dengan khayalan menakjubkan seperti yang mereka kira, tetapi datang dengan mengigau yang menakjubkan; dan jika kebenaran enggan dari kebohongan, maka kebohongan itu sendiri enggan dari tenggelam ini; dan dari sifat Turki ini dalam Shauqi adalah penambahan-penambahan khayalan, yang dari berlebihan itu seperti ekor keledai dari keledai: potongan di dalamnya dan dalil padanya dan akhir untuk awalnya dan tidak ada tempat baginya dalam selera retorika Arab, seperti ucapannya:
Isa perasaan jika berjalan … mengembalikan bangsa-bangsa pada kehidupan
Dan ucapannya pada Sa’d Pasha dalam peristiwa penyerangan padanya:
Dan jika tergelincir gaib “Amru al-Umur” … dan mengosongkan mimbar-mimbar Sahbannya
Dan masuk dalam kejahatan sifat Turki ini pada puisinya pengulangan nama-nama suci dan nama-nama sejarah: seperti Yusya’ dan Isa dan Musa dan Khalid dan Badar dan Sinai dan Hatim dan Ka’b dan lainnya yang tersebar dalam puisinya dan kau tidak menemukannya lebih banyak kecuali berat membosankan; dan kata-kata ini pada kami memiliki filosofi yang tidak ada tempatnya sekarang, maka kadang-kadang menjadi sihir seluruhnya dan retorika seluruhnya, dengan syarat bahwa hati yang menempatkannya di tempatnya, dan bahwa tidak menempatkannya kecuali dalam bentuk hati, maka seolah dia menempatkan dirinya dalam puisi untuk berdebar degupan hidupnya dalam beberapa kata, dan ini yang tidak pandai dilakukan Shauqi. Dan cacat kedua bahwa kata-kata penyair kita tetap lebih banyaknya pada kritik; karena kelemahannya dalam keahlian retorika, kemudian karena lemahnya bakat filosofis padanya dan menganggapnya pembesaran sebagai puisi dan berlebihan sebagai retorika walaupun rusak dengan keduanya retorika dan puisi; lihatlah ucapannya dari puisinya yang terkenal 28 Februari:
Mereka berkata: perlindungan hilang, aku berkata tidak heran … sungguh kebatilannya pada kalian adalah keheranan Kepala perlindungan terpotong maka tidak hilang … peti panah Allah ketegasan yang memotong ekor
Kami berkata: maka jika terpotong “kepala perlindungan” dan tersisa darinya sisa apa ekor atau tangan atau kaki; maka sisa ini dalam bahasa politik yang menyelamatkan kata-kata dan huruf-hurufnya dan titik huruf-hurufnya… tidak akan menjadi ekor atau tangan atau kaki, tetapi dia “kepala perlindungan” itu sendiri…. Padahal Shauqi hanya membalik ucapan penyair:
Jangan potong ekor ular dan lepaskan dia … jika kau pemberani maka ikuti kepalanya ekor
Dan ini ucapan dalam konteksnya dari akal, maka apa gunanya memotong ekor ular jika kepalanya tersisa, dan hanya ular seluruhnya adalah kepala ini.
Sesungguhnya telah tampak bagiku dari mempelajari Shawqi dalam diwannya (kumpulan puisinya) suatu hal yang membuatku takjub; karena aku melihat dia mengambil dari Abu Tammam, al-Buhturi, al-Ma’arri, Ibnu ar-Rumi dan yang lainnya; terkadang dia menyamai mereka dan terkadang melebihi mereka, hingga ketika dia sampai kepada al-Mutanabbi, dia jatuh ke daratan dan tenggelam; karena dia tumbuh dengan rasa takut kepadanya sebagaimana ditunjukkan oleh ungkapannya dalam mukadimah diwan pertamanya; dan dia mendeskripsikan kuda-kuda Turki dalam qasidah Ankara dengan perkataannya:
“Kesabaran ada pada mereka dan pada kuda-kuda mereka sebagai sifat bawaan… yang mereka wariskan turun-temurun dalam ketakutan ayah demi ayah
Sebagaimana kalian dilahirkan di atas punggung mereka, mereka dilahirkan… di medan perang bukan di halaman yang lapang”
Dan seluruh puisinya ini gemetar di hadapan perkataan al-Mutanabbi:
“Aku menghadapi mereka dengan kuda-kuda putih seakan-akan… tangan-tangan Bani Imran ada di dahi mereka
Yang tetap dalam berkuda seperti kulit mereka… di punggung mereka, dan tusukan tombak di leher mereka
Seakan-akan mereka melahirkan sambil berdiri di bawah mereka… dan seakan-akan mereka dilahirkan di atas pelana mereka”
Maka lihatlah di mana keahlian dibanding keahlian dan di mana puisi dibanding puisi? Dan dia berkata dalam “Gema Perang” mendeskripsikan meriam Dardanelles:
“Peluru-peluru yang ditakuti jiwa matahari setiap kali… naik tinggi karena mereka tidak meleset
Jika penjaganya bertiup di atas kapal-kapal, mereka mundur… dan yang selamat mendapat keuntungan, maka bagaimana dengan yang gagal”
Dan pertanyaan ini “maka bagaimana dengan yang gagal” adalah pertanyaan yang lucu; karena jika yang selamat mendapat keuntungan, maka yang gagal pasti rugi tanpa pertanyaan dan tanpa filsafat; dan kata puitis dalam semua ini adalah perkataannya “dan yang selamat mendapat keuntungan”, dan itu seperti yang melarikan diri bersembunyi karena takut pada bait Abu Tayyib:
“Musuh-musuhnya jika mereka selamat dengan melarikan diri… mereka sombong dengan apa yang telah mereka lakukan”
Inilah puisi yang sesungguhnya bukan yang itu; walaupun aku bersaksi bahwa dalam qasidah “Gema Perang” ada bait-bait yang termasuk puisi paling tinggi, dan seakan-akan Shawqi rahimahullah menggubah qasidah ini dari imannya dan dari darahnya dan dari seluruh ambisi dunia dan akhiratnya, dia mengharapkan dengannya kemasyhuran abadi di kalangan manusia, dan kedudukan tinggi di sisi Khedive, dan kemuliaan martabat di sisi Khalifah, dan pahala di sisi Allah Ta’ala; dan seandainya dia di tengah pembuatannya menghapus separuhnya atau lebih, niscaya ia akan menjadi karya unik dalam puisi Arab, namun keserakahan memperdayanya, dan sepanjang umurnya dia terpesona dengan puisinya; maka datanglah dalam puisi ini dengan yang berlebihan dan yang meluap sebagaimana mereka katakan; dan dia memiliki banyak perkataan yang buruk dan jatuh karena kelemahannya dan kerapuhannya; dan seandainya bukan karena sifat Turki-Persia itu dan kelemahan bayan-nya, niscaya dia tidak rela bahwa hal itu ada dalam puisinya; dan andai saja aku tahu bagaimana tersembunyi dari seseorang seperti dia bahwa berlebihan dan tenggelam dan kemustahilan adalah hal-hal yang merusak puisi dan menghilangkan pengaruhnya di jiwa dan mengubahnya menjadi keahlian yang lebih buruk dari keahlian badi’iyyah; karena ini terjadi pada lafaz-lafaz; dan lafaz-lafaz dapat menahan permainan badi’i dan keluarlah urusan itu menjadi semacam olahraga seperti mengerjakan beberapa masalah dalam aljabar dan geometri secara penyusunan dan penyelesaian; tetapi makna-makna tidak dapat menahan hal itu; karena itu adalah pemikiran yang tidak boleh bengkok kecuali akan rusak, dan makna-makna yang dibawa penyair harus memiliki keistimewaan khusus dari keindahan dan keterangan, dan khayalan-khayalannya adalah kebenaran-kebenaran yang tempat pertamanya di atas kebenaran-kebenaran manusia.
Dan ada jenis lain dari berlebihan yang datang dari jatuhnya khayalan; karena di bawah ada berlebihan sebagaimana di atas, dan jika berlebihan di bawah adalah tambahan dalam mengejek dan mencemoohnya; dan berlebihan ini datang dari mengumpulkan bagian-bagian yang berbeda dan meleburkan semuanya dalam satu makna, seperti ini yang mencoba meleburkan seluruh alam dalam kekasihnya lalu mengklaim bahwa padanya ada dari segala sesuatu, dan lupa bahwa setiap yang jelek dan setiap yang dibenci adalah dari segala sesuatu…
Sesungguhnya khayalan puitis menyimpangkan kebenaran dalam logika penyair bukan untuk menerimanya dari kedudukannya dan datang dengannya dalam keadaan cacat dan rusak, tetapi untuk menyeimbangkannya dalam pemahaman manusia dan menjadikannya sempurna dalam pengaruhnya; dan itu dari mukjizat-mukjizatnya; karena padanya ada kekuatan di atas kekuatan yang kerjanya adalah menambah yang ada keberadaannya dengan kejelasannya sekali dan dengan kesamarannya di lain waktu.
Dan para ulama sastra Arab memiliki perkataan yang tidak kulihat mereka memahaminya dengan sebenarnya dan tidak menembus rahasianya; mereka berkata: puisi yang paling manis adalah yang paling bohong; mereka maksudkan bahwa puisi adalah berlebihan dan khayalan: dan mereka tidak menembus kepada apa yang di balik itu, dan yang di baliknya tidak lain adalah kebenaran yang menakjubkan dengan kejujuran dan kemuliaannya; dan filsafat itu adalah bahwa seluruh alam adalah bohong terhadap indera manusia, dan bahwa penglihatan dan pendengaran dan indera kita adalah karya puitis dalam kenyataannya; karena memindahkan sesuatu tidak sebagaimana adanya pada dirinya; agar menjadi sesuatu dalam jiwa kita, maka berpengaruh dengannya pengaruhnya berupa keindahan dan keburukan dan yang di antaranya; dan apakah khamer puisi misalnya? Itu adalah air liur kekasih; tetapi sang pecinta seandainya melihat air liur ini di bawah mikroskop akan melihat… akan melihat rawa kecil. Dan seandainya mikroskop ini berkali-kali lipat dari yang dia lihat dengannya akan kaulihat air liur itu bergerak-gerak dengan serangga dan binatang kecil yang tidak tersembunyi dengan dirinya tetapi disembunyikan oleh pengaturan Ilahi dengan menjadikan tingkatannya dalam wujud di balik pandangan manusia, sebagai rahmat dari Allah kepada manusia; maka puisi yang paling manis adalah yang bekerja dalam memperindah alam sebagaimana indera hidup bekerja dengan rahasia kehidupan; dan untuk makna inilah para penyair jenius di setiap masyarakat adalah seperti indera bagi masyarakat ini.
Dan dari kekonyolan berlebihan dalam puisi Shawqi adalah perkataannya dalam meratapi Mustafa Pasha Kamil, dan itu adalah bait-bait yang dia kira dia menempatkan perkataannya di tempat yang indah dari keanehan:
“Seandainya tanah air dapat membayangkan sosok… mereka akan menguburkanmu di antara rusuk tanah air
Atau mayat dapat dibawa di tulang rusuk… mereka akan membawamu di pendengaran dan kelopak mata
Atau untuk dzikir yang bijaksana masih ada sisa… yang belum datang, engkau akan diratapi dalam Al-Quran”
Maka ini adalah anggapan-anggapan di atas yang mustahil dengan empat tingkat… dan bayangkanlah engkau sebagai mayat yang dibawa di tulang rusuk lalu membusuk di dalamnya dan hancur… dan penyair masih dalam bait-baitnya keluar dari bencana ke bencana, hingga dia berkata: diratapi dalam Al-Quran, dan seandainya aku ditanya i’rab “law” dalam bait-bait ini akan kukatakan: itu adalah huruf kekurangan dan tambal sulam dan ketidakmampuan… Dan bagaimana dapat dibenarkan dalam anggapan bahwa Al-Quran masih memiliki sisa yang belum turun, sedangkan Allah Ta’ala berfirman tentangnya: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu” (QS. Al-Maidah: 3); dan urusan itu adalah urusan agama yang telah sempurna, dan kitab suci yang telah ditutup, dan kenabian yang telah berakhir; dan penyair berjalan dalam kelalaiannya tidak sadar akan sesuatu dan tidak tahu bahwa dia membuat anggapan dengan meruntuhkan seluruh Islam, bahkan dia mengira bahwa dia datang dengan khayalan dan balaghah Persia; dan Shawqi dalam kenyataannya sempurna sebagai yang kurang, dan sesungguhnya dari mukjizat penyair ini adalah menjadi kurang dengan segala kekurangan ini dan sempurna.
Dan dalam ash-Shawqiyyat ada halaman-halaman yang hampir berkicau, dan di dalamnya ada halaman-halaman lain yang mengorek seperti suara katak; dan dalam diwan ini ada cacat-cacat yang tidak ingin kami hitung; karena itu membutuhkan buku tersendiri jika kami pergi membawanya dan menjelaskan sebab-sebabnya dan mengeluarkan bukti-buktinya, tetapi dari cacatnya dalam pengulangan adalah bahwa dia memiliki bait yang berputar dalam qasidah-qasidahnya berputar seperti keledai di kincir air, dan itu adalah bait ini:
“Dan sesungguhnya umat-umat adalah akhlak selama tetap… jika mereka pergi akhlak mereka hilang mereka hilang”
Bahkan bait ini:
“Dan sesungguhnya umat-umat adalah akhlak selama tetap… jika berpaling mereka berjalan mengikuti jejak keduanya”
Bahkan itu ini:
“Demikianlah manusia dengan akhlak tetap kebaikan mereka… dan hilang dari mereka urusan mereka ketika hilang”
Bahkan itu bait ini:
“Dan bukan musibah-musibah ketika melempar manusia dengannya… yang membunuh jika akhlak tidak terkena”
Dan telah berulang “dalam apa yang kubaca dari diwannya” tiga belas kali, maka kembalilah makna seperti jubah Ibnu Harb yang penyair jadikan untuk ditambal lalu ditambal hingga hilang jubah dan tinggal tambalan… Dan bait pertama adalah dari mata air yang langka, tetapi dia merusaknya dalam yang tersisa karena buruknya sifat keserakahan dalam Shawqi, atau lemahnya rasa bayan, atau merendahkan puisi tidak pada tempatnya, atau lemahnya pemikiran filosofisnya dari banyak sisi; dan keempat ini adalah pintu-pintu yang melaluinya kritik menyerbu puisi sahabat kita, dan seandainya dia telah membentenginya dengan lawan-lawannya niscaya dia akan menjadi penyair Arab dari zaman Jahiliyah hingga hari ini, dan mudah-mudahan dia akan memindahkan puisi ke fase baru dalam sejarah; tetapi kekacauan terjadi pada Shawqi dari awal urusannya; maka dia dikirim ke Eropa untuk belajar hukum padahal seharusnya dikirim untuk belajar sastra dan filsafat, dan berspekulasi dalam politik bumi, padahal yang benar dia harus bekerja dengan politik langit, dan terjatuh dalam materi dunia, padahal yang benar dia harus terjatuh dalam makna-maknanya.
Sesungguhnya kekacauan berjalan dalam arah-arahnya dalam sastra dan puisi, maka setiap penyair pada kita seperti pengarang yang meletakkan drama lalu memainkannya sendiri dan dia harus memainkannya sendiri, maka dia keluar kepada penonton dengan pakaian raja lalu mengucapkan perkataan raja, lalu berbalik datang dengan pakaian panglima lalu mengucapkan perkataan perang, lalu berubah kembali dalam wujud pedagang lalu mengucapkan perkataan pasar, lalu pergi kembali dalam pakaian lusuh pelayan, lalu… lalu… bersembunyi lalu muncul dalam kulit orang barbar… dan kekacauan ini yang diabaikan pemerintah dan diabaikan para amir dan orang-orang besar adalah kenyataan yang menyakitkan, tetapi itulah kenyataannya!
Dan Shawqi dengan semua ini adalah Shawqi: orang pertama yang menaruh perhatian pada sejarah Mesir dari para penyair, dan orang pertama yang memperluas dalam menggubah drama puitis lalu meletakkan darinya enam drama, dan dia pemilik ayat-ayat indah dalam deskripsi, dan sisi ini adalah sisi terkuatnya, dan sungguh telah mengilhamiku pembacaan yang cemerlang dari puisinya dalam tujuan dan seni-seninya yang berbeda bahwa Allah Ta’ala memberikan nikmat kepada sastra-sastra yang indah dengan individu-individu istimewa dalam keindahan jiwa mereka dan kekuatannya, sastra menemukan kenikmatan padanya dan ketinggian dengannya, seakan-akan urusan itu qiyas pada apa yang terjadi dari cinta manusia untuk beberapa makna, maka ada dalam makna-makna apa yang dicintai beberapa orang, dan ketika cinta makna untuk seseorang sampai tingkat kekhususan dan kerinduan muncullah seni paling indah yang terlihat, seakan-akan makna sastra berhias dan merayu untuk menarik hati manusia yang menguasainya dengan kekuasaan cinta.
Maka wahai Mesir, sungguh telah mati penyairmu yang mencoba mengeluarkan generasi sekarang ke zaman yang belum datang, maka jika datang zaman yang kaya dengan seni dan sastra tingginya ini, dan kau ingat kemuliaan puisi masa lalumu, maka hendaklah para gurumu saat itu berkata: adalah masa lalu ini seorang penyair bernama Shawqi!
Dahulu ada anggapan tentang Shauqi rahimahullah, diklaim oleh para pengklaim bahwa Shauqi menghidupkan puisinya, meninggikannya, dan menyebarkan di sekelilingnya kekuatan tarik magnetis dari kekayaan dan kedudukan. Bahwa orang tersebut tidak mengungguli semua penyair karena dia yang terbaik di antara mereka, melainkan karena dia yang terkaya di antara mereka; bukan karena dia yang terkuat dalam kekuatan, tetapi karena dia yang terpandai dalam tipu daya; dan bahwa jika hari sang penyair tiba, maka sihir dan penyihir akan sirna, tongkat akan kembali menjadi tongkat setelah berubah menjadi ular, puisi ini akan kembali kepada hakikatnya, dan kebenaran akan menunjukkan ciri khasnya; seolah-olah Shauqi bekerja untuk puisinya dengan kekuatan langit dan bumi, bukan dengan kekuatan seorang manusia biasa.
Telah pergi orang itu kepada Tuhannya, tempat tinggalnya kosong, semua sarananya lenyap, ia tertidur dari puisinya dengan tidur yang kekal, dan meninggalkannya pada apa yang ada padanya untuk memelihara atau menyia-nyiakannya jika di dalamnya ada kebenaran puisi atau kebatilan. Sang penyair beserta harta, jabatan, dan puisinya kini berada dalam keputusan kata yang diucapkan zaman, dan kata ini tidak lagi berada dalam keputusannya; maka apakah zaman menetapkannya atau menafikannya, apakah menyerahkannya atau melawannya, apakah mengembalikannya ke barisan penyair biasa atau menjadikan penyair-penyair setelahnya sebagai bukti-bukti dari bukti-buktinya?
Yang pertama kali tampak bagiku adalah bahwa zaman setelah Shauqi menjadi lebih kuat dalam menunjukkan kepadanya dan lebih jujur dalam bersaksi untuknya, sebagaimana kegelapan setelah bulan terbenam menjadi penjelasan panjang tentang makna cahaya itu, meskipun bintang-bintang bersinar di dalamnya dan sesuatu menyala dan sesuatu berkilau; zaman telah menunjukkan bahwa kedudukan itu bukan untuk seorang penyair seperti penyair lainnya yang dikatakan dalam menggambarkannya bahwa dia terpesona, mahir, dan kreatif; tetapi untuk dia yang dikatakan bahwa dia adalah suara negerinya dan teriakan kaumnya.
Ketika terjadi suatu peristiwa, atau orang-orang dilanda makna dari kekhawatiran yang melanda mereka, atau mereka dipenuhi kegembiraan dari kegembiraan tanah air, atau hilang seorang yang agung dari para tokoh besar sehingga menambah halaman dalam sejarah, atau muncul dunia kecil dari dunia-dunia peradaban di Timur seperti Bank Misr, atau terjadi gempa dalam kehidupan Arab di manapun itu terjadi, maka semua itu terjadi di dunia dalam dua bentuk: yang pertama dalam pikiran Shauqi, lalu dia mengirimkan kasidahnya yang mengembara, berjalan dengan menggelegar dan bergemuruh, hampir tidak muncul di Mesir hingga pikiran-pikiran berkumpul di sekelilingnya di seluruh dunia Arab, menjadi puisi dari puisi yang paling menawan dan terbaik, kemudian melampaui itu menjadi hubungan dari hubungan pemikiran yang paling kuat dan paling erat antara sastrawan Arab, kemudian melampaui itu menjadi perasaan yang menyatukan hati pada maknanya, kemudian meningkat di atas semua itu menjadi kepemimpinan Mesir atas puisi Arab.
Dan hari ini terjadi hal serupa, maka beterbanganlah beberapa gelembung puitis dari sini dan sana yang berwarna, mengembung, berjalan menurut hukum gelembung di alam, bahwa saat keberadaannya adalah saat kehancurannya, dan kemunculannya hanya untuk muncul saja, tidak untuk bermanfaat.
Aku tidak menyangkal bahwa di antara kita ada beberapa penyair yang pandai berpuisi, mereka memiliki pikiran, pernyataan, mazhab, dan cara; tetapi tidak ada seorang pun di antara mereka kecuali dia merasakan dari dalam dirinya bahwa peristiwa-peristiwa tidak memilihnya sebagaimana memilih Shauqi, dan bahwa dia dalam kehidupan seperti orang yang berdiri di pintu kantor menunggu untuk dipercayakan kepadanya, dan untuk dikeluarkan baginya surat penugasan; maka dia menunggu dan akan terus menunggu.
Dan ini menakjubkan hingga seolah-olah itu adalah sihir dari sihir zaman ketika dunia memisahkan antara jenius yang luar biasa dengan mereka yang menyerupainya atau bersaing dengannya dengan ragam halangan dan rintangan yang tersembunyi, yang tidak semuanya dari kekuatan sang jenius, dan tidak semuanya dari ketidakmampuan yang lain.
Dan yang lebih menakjubkan dari itu adalah bahwa “Shauqi” berada di dunia Arab seolah-olah dia adalah karya sejarah yang khas dari karya-karya Mesir, namun dinamai dengan nama seorang laki-laki; dan dia pada hakikatnya bukan pada kiasan seperti memiliki sesuatu dari roh sejarah yang menang ini yang mengabadikan dengan nama-nama karya seni dan memberikan keagungan dalam dua keberadaan: dari tempatnya dan dari jiwa manusia.
Dan yang lebih menakjubkan dari ini dan itu adalah bahwa aku tidak pernah melihat puisi Arab yang pandai dalam menggambarkan peninggalan Mesir sebagaimana puisi Shauqi pandai menggambarkannya, hingga aku bertanya pada diriku sendiri: apakah beberapa hal besar memilih yang menggambarkannya dan penafsir keagungannya, sebagaimana wanita cantik memilih kekasihnya dan yang mengungkap keindahannya?
Shauqi tidak unggul dari yang lain kecuali karena dia adalah laki-laki yang dituangkan dalam kepalanya pikiran puitis yang besar, maka dalam kepalanya ada pabrik yang pekerjanya adalah saraf-saraf, bahannya adalah makna-makna, dan insinyurnya adalah ilham; dan dunia mengirim kepadanya dan mengambil darinya; dan tanda itu dari setiap penyair besar adalah bahwa dunianya meletakkan atas namanya kesaksiannya baginya; dan karena inilah sebagian penyair menjadi seolah-olah namanya seberat nama kerajaan, jika kau berkata: Shakespeare dan Inggris, maka keduanya dalam keagungan psikis memiliki bobot yang sama, demikian juga Al-Mutanabbi dan dunia Arab, demikian juga Shauqi dan Mesir.
Mereka berkata: adalah Al-Farazdaq memperbaiki puisi, dan adalah Jarir “mengkayu” yaitu mengirimkan puisinya apa adanya tanpa memperhaluskannya dan memperbaikinya; dan kayu Jarir lebih baik dari perbaikan Al-Farazdaq. Tidak ada yang menyadari rahasia dalam hal itu; dan itu tidak lain adalah rahasia yang ada pada Shauqi sendiri, rahasia kepenuhan rohani yang didukung oleh tabiat, dibantu oleh rasa, dan diberi kekuatan untuk berubah dengan jejak-jejaknya dalam kata-kata; maka semua yang darinya adalah darinya: selalu datang saling berdekatan, dan hampir tidak menembus ke perasaan kecuali bersatu dengannya.
Dan adalah Amr bin Dzar, penceramah yang fasih, jika berbicara di majlisnya menyebar di sekelilingnya suasana dari rohnya, menjadikan semua yang di sekelilingnya bergelombang dengan gelombang psikis; maka kata-katanya menerpa orang-orang seperti terpaan angin terhadap laut yang membuatnya naik dan turun. Dan ada di antara penceramah yang menirunya dan mencontohnya tanpa menyadari bahwa dengan itu dia memaparkan kesalahan pada penolakannya dan kebenarannya. Maka berkata sebagian yang bergaul dengannya dan dengan mereka: aku tidak mendengar Amr bin Dzar berbicara kecuali aku teringat tiupan sangkakala, dan aku tidak mendengar seorang pun menirunya kecuali aku berharap dia dicambuk delapan puluh kali.
Maka perbedaannya adalah rohani alami sebagaimana kau lihat, tidak ada upaya di dalamnya untuk siapa pun atau pemiliknya, dan menyerupai perbedaan antara badai angin dengan hembusan angin yang dikirimkan pada dua arah di laut; di satu sisi air bergolak dan melompat dan saling memukul dan menggelegar seperti guntur, di sisi lain bergetar dan merayap dan merinding dan berbisik seperti bisikan perhiasan.
Dan urusannya, seluruh urusan untuk kuantitas perasaan dalam jiwa penyair atau yang istimewa, dialah yang menentukan bagi jiwa ini kerjanya dengan cara tertentu, dan mempersiapkannya untuk apa yang diinginkan darinya sesuai kadar tertentu, dan menegakkannya dalam kebiasaannya hingga waktu tertentu, dan mengkhususkannya dengan ciri-ciri khasnya untuk tujuan tertentu; dan jika kau teliti kau tidak akan menemukan perbedaan antara para jenius satu sama lain kecuali perbedaan dalam kuantitas ini sendiri, kadar demi kadar; seandainya tidak demikian, terkecil para ilmuwan akan lebih besar dari terbesar para penyair; maka penyair mungkin seperti murid dalam ilmu, kemudian ilmu menjadi seperti murid bagi hati penyair ini dan perasaannya; dan jika kritik ilmiah tidak mampu meraih penyair jenius, maka dulu juga tidak mampu di setiap bangsa. Dan ada di antara mereka yang mencoba menjatuhkan Shauqi yang lebih luas darinya dalam pengetahuan tentang sastra bangsa-bangsa, dan lebih mengetahui tujuan puisi dan hakikatnya, dan dia dengan itu adalah orang yang iri dan benci yang telah tertusuk di hatinya kebencian; dan orang yang iri dan benci dalam keluasan kata-kata dan keangkuhan ungkapan adalah saudara orang yang mencinta dan sedang jatuh cinta; keduanya berputar darah di hatinya makna-makna dan bisikan, dan keduanya kata-katanya berjalan atas dasar apa yang ada di dalam hatinya, maka kau tidak menemukan salah satunya kecuali meninggikan yang dicintainya, dan kau tidak menemukan yang lain kecuali menurunkan yang dibencinya; dan kritikus ini adalah penyair, maka puisinya bergabung dengan irinya, dengan kebenciannya, dengan kecerdasannya, dengan pengetahuannya, dengan usahanya, dengan lamanya waktu dan kelambatan zaman; dan semua ini adalah pemecah-belah psikis, sebagiannya lebih keras dari sebagian seperti mesiu, ke dinamit, ke milinitrit; tetapi Shauqi berada di ketinggian yang tidak dicapai kritikus, maka usaha orang ini berubah menjadi ketidakmampuan, dan mesiu dan tanah di tangannya menjadi bermakna sama.
Dan di antara hal paling menakjubkan yang membuatku heran dari urusan kritikus ini, bahwa aku melihatnya menetapkan untuk orang-orang kebenaran yang benar menurut klaimnya, ternyata dia menetapkan kesalahannya, kebodohannya, dan kesewenang-wenangannya; dan dia dalam semua yang ditulisnya tentang Shauqi menjadi seperti orang yang melihat air tawar dan kerjanya dalam menumbuhkan taman dan menghiasinya dan mewarnainya, lalu pergi mencela air itu kepada orang-orang karena itu bukan bensin yang menggerakkan mobil dan pesawat!
Dia membahas Shauqi setelah kematiannya lalu menanggalkannya dari kepribadian, yaitu dari indra puisi, dan dari pemahaman rahasia yang tidak menciptakan penyair sejati kecuali untuk memahaminya dan mengungkap hakikatnya; dan di antara apa yang dijadikannya dalil untuk itu adalah tidak pandai menggambarkan musim semi seperti yang digambarkan Ibnu Rumi dalam ucapannya:
“Kau dapati binatang buas di sana kecukupannya … dan burung di dalamnya makanan yang tersedia Kijangnya pagi hari dengan saling menanduk … dan merpatinya pagi hari dengan saling bertikai”
Dan dia mengklaim bahwa Ibnu Rumi telah dilahirkan dengan indra yang tidak dimiliki Shauqi saat lahir, dan dengan indra ini dia menyatu dengan alam sehingga memahami rahasia musim semi, bahwa itu adalah bergolaknya kehidupan dalam makhluk hidup, maka kijang saling menanduk karena kegirangan… dan seterusnya, dan dia membangun atas itu pencakar langit… bukan penanduk kijang.
Adapun Shauqi sang penyair yang lemah dan tidak mampu, tidak dilahirkan dengan indra seperti itu, seandainya dia menyaksikan seribu musim semi tidak akan merasakan perasaan ini, dan tidak mampu mengucapkan perkataan mu’jizat ini; dan semua itu dari kritikus ini adalah kebodohan dalam kebodohan dalam kebodohan, dan alasan-alasan palsu dengan kesesatan dengan kebatilan; maka Ibnu Rumi dalam makna ini adalah pencuri, tidak lebih tidak kurang, dia tidak merasakan apa-apa dan tidak berinovasi dan tidak menemukan.
Al-Jahizh berkata: dikatakan dalam kesuburan yaitu musim semi: kambing betina berbulu kepada saudarinya; dan meninggalkan tanah yang saling menindas kambingnya yaitu saling menindas; dia berkata: karena dia mengembangkan bulunya dan menegakkan tanduknya di salah satu sisinya lalu menanduk saudarinya, dan itu karena pengaruh yaitu ketika gemuk dan subur dan terkesan dengan dirinya sendiri.
Maka kau lihat bahwa Ibnu Rumi tidak berbuat apa-apa kecuali mencuri makna dan lafaz sekaligus, kemudian datang untuk qafiyah dengan tambahan konyol ini yang di dalamnya dia mengqiyaskan merpati dengan kijang dan kambing… maka dia memaksa merpati untuk bertikai pada waktu tertentu padahal dia bertikai setiap hari; dan syarat tambahan dalam pencurian puitis adalah ditambahkan pada makna sehingga menjadikannya seperti menyendiri dengan dirinya atau seperti yang diciptakan.
Demi hidupku, seandainya alam memiliki seratus gambaran dalam khayalan puitis, kemudian Shauqi menyajikan kepada orang-orang sembilan puluh sembilan darinya, kritikus yang keras kepala itu akan berkata: tidak, kecuali gambaran yang tidak dia sajikan.
Dan puisi Shauqi dalam kemegahan dan kelancarannya seolah-olah membawa tongkat bagi sebagian penyair untuk mengembalikan mereka dari kesepelean, kekacauan, dan ketidakstabilan dalam lafaz dan susunan; maka banyaklah kerusakan pada generasi muda setelahnya, dan mereka datang dengan kata-kata kacau yang didorong oleh kelembutan tabiat dan kelemahan naluri, maka kau lihatnya terbuka dan mudah tetapi kemudahannya lebih jelek dalam rasa daripada kekakuan i’rab pada kata-kata mereka yang liar dan ditinggalkan.
Dan bencana adalah bahwa penganut mazhab ini memaksakan mazhabnya pada puisi Arab, seolah-olah mereka berkata kepada orang-orang: tinggalkan bahasa dan ambillah kami! Dan tidak ada dalam pikiran mereka kecuali apa yang bercampur aduk pada mereka dari meniru sastra Eropa, maka setiap mereka penyembah kehidupan, berbaur dalam kesatuan alam semesta, mengambil alam dari tangan Allah dan menyertai ketakberhinggaan, dan lenyap dalam kenikmatan, dan memeluk angkasa, dan bernyanyi dengan kecapinya untuk bintang-bintang; dan singkatnya: setiap mereka gila bahasa.
Dan aku tidak melihat kebanyakan puisi ini kecuali seperti bangkai, namun mereka berkata: sesungguhnya bangkai tidak dianggap demikian dalam keberadaan yang agung, tetapi di dalamnya adalah kerja analitis ilmiah yang teliti; mereka benar; tetapi apakah berdusta orang yang berkata: sesungguhnya bangkai adalah kerusakan dan bau busuk dan kotor dalam pertimbangan keberadaan pribadi kita, keberadaan penglihatan dan penciuman, dan pengerutan dan peregangan, dan kesehatan rasa dan kerusakan rasa.
Dan orang-orang yang iri kepada Shauqi mengira bahwa jika dia disingkirkan dari jalan mereka akan tampak kemajuan mereka; ketika dia disingkirkan dari jalan-jalan tampaklah kemunduran mereka… dan ini saja dari keajaiban-keajaibanya rahimahullah.
Dan penyair besar ini adalah pemberian tiga raja untuk rakyat, maka mustahillah muncul yang sepertinya kecuali jika rakyat bekerja dalam pelayanan puisi dan sastra seperti kerja tiga raja… dan mustahil!
Puisi Arab dalam Lima Puluh Tahun 1:
Jika Anda memperhatikan puisi Arab lima puluh tahun yang lalu (yaitu sebelum pendirian Al-Muqtataf) dan merenungkan keadaan serta penampilannya, serta melihat metode dan cara pendekatannya, kemudian menelaah makna dan tujuan-tujuannya – Anda tidak akan melihat darinya kecuali sesuatu yang menyerupai apa yang Anda lihat dari sisa-sisa daun hijau pada pohon yang dibebani bayangan, sehingga ia menjadi kaku dan lesu. Sinar matahari redup di bawah bayangannya sehingga dingin dan menggigil. Kehidupan di dalamnya lemah dan hancur – tidak mati seperti kematian dan tidak hidup seperti kehidupan. Yang ada hanyalah air yang mengering, kemilau yang sakit, dan pemandangan pohon yang lemah seperti tubuh musim semi yang sakit dengan urat dan tulang-tulangnya yang terlihat.
Puisi pada masa itu rusak susunannya, terbelakang kedudukannya, kurang daya tariknya. Antara pujian yang setiap maknanya telah diulang-ulang dalam sejarah bahasa ini dengan jumlah yang hanya dapat dihitung oleh malaikat yang bertugas menghitung kebohongan, dan antara celaan yang jatuh yang merupakan sebagian bahan yang menyalakan api Allah ketika ia muncul di atas hati-hati, dan antara rayuan yang dicuri dari hati-hati yang pernah mencinta dan bercinta, dan antara deskripsi yang tidak ada cacat pada yang dideskripsikan selain deskripsi itu sendiri, dan keluhan terhadap zaman yang membuat zaman mengeluh darinya, dan kesedihan serta keputusasaan dan ratapan yang membuat diwan penyair seperti yang disebutkan salah seorang humoris abad kedua belas Hijriah tentang diwan salah seorang temannya sebagai “tempat menampar”, dan elegi seperti bacaan para pembaca di pemakaman orang mati – tidak ada di dalamnya pelajaran dari keheningan maupun manfaat dari ucapan.
Semua itu ditutupi oleh berbagai jenis keahlian yang jelas dipaksakan, peniruan yang lemah. Anda tidak melihat yang datang kemudian bersama yang terdahulu kecuali mirip dengan apa yang dilakukan pencuri dalam mengambil harta dibandingkan dengan pemilik harta dalam mengumpulkannya. Yang mengherankan adalah jika Anda meneliti puisi dari abad kesepuluh Hijriah hingga abad ketiga belas (abad keenam belas hingga kesembilan belas Masehi), Anda melihatnya turun dari satu masa ke masa lain secara bertahap dari yang lemah ke yang lebih lemah, seolah-olah ia turun dengan kekuatan alami seperti kekuatan gravitasi – semakin turun semakin cepat hingga menempel di tanah.
Sebagian orang menyebut masa-masa ini sebagai masa-masa gelap, dan tidak ada yang menyadari bahwa dalam sastra ada hukum seperti hukum reaksi, yang mengeluarkan kelemahan paling lemah dari kekuatan paling kuat, dan bahwa kemunduran puisi di masa-masa itu – meskipun itu hanyalah keahlian badi’ – penyebabnya adalah kekuatan keahlian yang menakjubkan yang dimiliki puisi sejak abad keenam hingga kesepuluh, setelah munculnya Qadhi Al-Fadhil yang meninggal tahun 596 H (1199 M). Ia adalah seorang dari orang-orang yang menciptakan batas-batas bagi peristiwa-peristiwa dimana masa-masa dimulai dan berakhir darinya. Ia memukau orang-orang dengan sastra dan keahliannya, dan mengalihkan puisi serta penulisan ke gaya-gaya humor badi’.
Setelahnya muncul kelompoknya yang disebut kelompok Fadhiliyah, dan tidak ada di antara mereka kecuali imam dalam sastra dan ilmu-ilmunya. Di Mesir ada Qadhi Ibnu Sana Al-Mulk, Siraj Al-Din Al-Warraq, Abu Al-Husayn Al-Jazzar, dan sejenisnya. Di Syam ada Abdul Aziz Al-Anshari, Amir Mujir Al-Din bin Tamim, Badr Al-Din Yusuf bin Lu’lu’ Al-Zahabi, dan sejenisnya. Kelompok ini dalam sejarah sastra Arab berhadapan dengan kelompok badi’ pertama seperti Muslim, Abu Tammam, Ibnu Al-Mu’taz, dan lainnya. Kedua kelompok ini menguasai puisi dan mengalihkannya untuk satu masa, serta mengadakan revolusi sejarah yang khas di dalamnya.
Namun kelompok Fadhiliyah mencapai tingkat keahlian yang tidak ada harapan bagi siapa pun setelah mereka untuk menyamainya, seolah-olah mereka tidak meninggalkan satu kata pun dalam bahasa yang dapat diterapkan padanya suatu jenis badi’ kecuali mereka mendatangkannya dan membuat keahlian di dalamnya. Sebagian dari mereka mengambil dari sebagian yang lain dan menambahkannya, hingga akhir abad kedelapan. Mereka tidak meninggalkan pintu bagi yang datang setelah mereka kecuali pintu pencurian dengan gaya-gayanya yang dikenal di kalangan ulama sastra.
Karena itu, Anda hampir tidak menemukan puisi Arab setelah abad kesembilan kecuali awal kebangkitan modern, kecuali Anda melihatnya sebagai gambaran-gambaran yang cacat dari yang sebelumnya. Semua penyair abad-abad ini tidak berbeda dari yang sebelum mereka kecuali seperti bayangan dari manusia – tidak ada keberadaan baginya dari dirinya sendiri, dan ia selalu cacat kecuali dalam keadaan langka ketika ia bersinar dalam cermin yang jernih.
Ketika para penyair hanya berkarya berdasarkan seni-seni retorika dan keahlian-keahliannya, dan semua itu telah diselesaikan oleh yang terdahulu, maka tidak ada yang baru dalam sastra dan seni kecuali kelahiran dan kematian para penyair, dan kecuali perubahan tahun-tahun. Ini jika kita tidak menghitung sebagai sastra keahlian-keahlian baru yang diciptakan oleh yang datang kemudian yang akan kami tunjukkan sebagiannya, seperti sejarah puitis dan lainnya.
Sesungguhnya pikiran manusia tidak menjalani sejarah, tidak menentukan takdir di dalamnya, dan tidak memindahkannya dari satu bentuk ke bentuk lain, karena ia sendiri sebagaimana diciptakan sebagai pembaharu juga diciptakan sebagai perusak. Sebagaimana ia mampu mengadakan, ia juga mampu memusnahkan. Sebagaimana suatu jalan lurus dengannya, jalan lain berkelok-kelok dengannya. Pikiran ini dalam kemegahannya menyerupai kereta api: terbang seperti badai, membawa beban seperti gunung, dan menakjubkan seperti mukjizat. Namun dengan semua itu, ia tidak ada artinya tanpa dua rel yang terbentang di jalannya, yang mengalihkannya ke mana pun mereka menyimpang, membawanya ke mana pun mereka bergerak, dan menghentikannya di mana pun mereka berakhir. Kemudian ia secara keseluruhan dapat terbalik karena gangguan paling lemah yang terjadi pada keduanya.
Tidak heran jika masa-masa tergambar dengan pola tertentu menuju kesempurnaan atau menurun menuju kekurangan, sesuai dengan tujuan-tujuan yang telah ditentukan yang dengannya pikiran berjalan di jalan takdir yang memimpinnya.
Inilah ilmu-ilmu retorika yang menciptakan seni yang menarik dalam sastra Arab, dan melahirkan selera sastra dalam kelahirannya yang keempat dalam sejarah bahasa ini, setelah selera jahiliyah, muhaddats, dan muwallad – ia sendirilah yang melemahkan sastra, merusak selera, dan menjadikannya seperti yang kita lihat dalam puisi orang-orang yang datang kemudian, seolah-olah ilmu-ilmu itu berubah menjadi ilmu-ilmu kebodohan bagi mereka, hingga pola puisi tinggi seolah-olah tidak memiliki nilai karena tidak ada minat padanya dan tidak dipedulikan, karena berbeda dari apa yang mereka kenal dan kosong dari humor dan keahlian. Bahkan di antara ahli sastra dan pengajarnya ada yang tidak mengenal diwan Al-Mutanabbi!
Tidak ada yang menggambarkan makna puisi dalam pandangan sastrawan masa itu seperti perkataan Syaikh Nashif Al-Yaziji yang meninggal tahun 1871:
“Aku bosan dengan puisi dan berkata cukuplah Untuk urusan yang kekuatannya bercampur kelemahan Aku berusaha mencari humor dalam setiap bait Dan itu mungkin tidak mampu dicapai tanganku Puisi terbaik adalah apa yang ada dalam bait darinya Keanehan humor atau jenis kelembutan”
Ia menginginkan humor retoris dan jenis-jenis badi’, dan itulah yang tidak mampu dicapai tangannya maupun tangan orang lain, karena itu adalah sesuatu yang sudah selesai, hingga orang yang datang kemudian tidak dapat membuat contoh di dalamnya kecuali ditemukannya persis sama dengan yang mendahuluinya dalam bentuk-bentuk berbeda yang saling memandang. Perbedaannya hanya datang dari aspek kecakapan dalam menyembunyikan pencurian dengan penambahan dan pengurangan, isyarat dan perhatian, sindiran dan pernyataan terang-terangan, dan lainnya yang diketahui para imam keahlian. Tidak dapat dicapai dengan sebab-sebab terkuatnya kecuali oleh mereka yang diberi kekuatan untuk melahirkan dan menciptakan.
Jika Anda mengetahui rahasia kejatuhan, kekacauan, dan kemunduran puisi itu, Anda tidak akan melihat sebagai aneh apa yang aneh pada dirinya sendiri, dan bahwa awal kebangkitan puitis modern bukanlah ilmu yang memperbaiki pandangan, bukan wawasan yang memberikan pemikiran, bukan peradaban yang menghaluskan perasaan, bukan sistem pemerintahan yang melahirkan akhlaq, melainkan suatu jenis kebodohan yang menjadi penghalang kuat antara masa seni-seni retorika dengan masa kita. Ia seperti pantai bagi gelombang yang mengalir selama delapan ratus tahun dari abad keenam hingga keempat belas Hijriah.
Allah memiliki rahasia-rahasia menakjubkan dalam membalik-balik urusan, menciptakan peristiwa-peristiwa, mendorong kehidupan intelektual dari satu pola ke pola lain, mengeluarkan akal yang kreatif dari satu keadaan ke keadaan lain, menjadikan sebagian jiwa seperti mata air bagi arus kemanusiaan dalam satu masa atau masa-masa berturut-turut, dan menetapkan sebagian individu sebagai batas-batas pada masa dan sejarah.
Yang mengadakan revolusi keempat dalam sejarah puisi Arab dan melahirkan selera dalam kelahirannya yang kelima adalah penyair tangguh Mahmud Pasha Al-Barudi yang sama sekali tidak mengetahui apa-apa dari ilmu-ilmu Arab atau seni-seni retorika. Hanya cita-cita tinggi yang mengangkatnya, karena ia adalah peristiwa yang dikirim untuk hati dan perubahan. Allah menjauhkannya dari ilmu-ilmu itu dan mengeluarkannya untuk kita dari diwan-diwan Arab, sebagaimana lahir seperti Ibnu Al-Muqaffa’ dan Al-Jahizh dari orang-orang Arab yang fasih. Allah memudahkan baginya sebab-sebab yang tidak terjadi pada orang lain yang tidak ada tempat untuk menjelaskannya di sini.
Anda hampir tidak menemukan puisi sastrawan yang datang kemudian yang layak disebutkan dalam puisi setiap masa dari masa kita hingga awal Islam tanpa menurun derajatnya, kecuali kalam Al-Barudi ini. Ia sendirilah yang berhadapan dengan Qadhi Al-Fadhil dalam periode-periode sejarah sastra, meskipun ada jarak jauh di antara keduanya, karena puisinya yang menghapus ayat keahlian, beredar di lidah para perawi, dan menjadi teladan yang diikuti dalam kekuatan, kepadat-an, ketepatan penggambaran, dan pembetulan bahasa. Allah tidak menghendaki ada yang mendahuluinya dalam hal itu, karena kebangkitan sosial di Timur Arab ini dalam ilmu Allah terikat dengan waktu dan sebab-sebabnya.
Seandainya tidak demikian, ia akan didahului oleh penyair abad kesebelas, Amir Manjak yang meninggal tahun 1080 H (1669 M). Amir ini memiliki pertumbuhan seperti pertumbuhan Al-Barudi – banyak menghafal dari diwan-diwan masa awal, meniru Abu Firas Al-Hamdani dan mengikuti teladannya. Namun masanya berada di masa-masa yang binasa, maka keluarlah penyair yang lemah sebagaimana keluar segala sesuatu di luar waktunya, tidak pada kesempurnaannya, dan tanpa sarana-sarana alaminya.
Lahirlah kelompok Barudi yang di dalamnya ada Ismail Sabri, Shauqi, Hafizh, Mutran, dan lainnya. Mereka mencapai apa yang tidak dicapai Al-Barudi dan datang dengan apa yang tidak ia datangkan. Puisi saling terhubung satu sama lain, koran-koran menyebarkannya, mulut ke mulut menyampaikannya. Sebutan retorika dan seni-seninya dilupakan dengan pertumbuhan sekolah modern yang menjadikan meninggalkan retorika sebagai retorika, karena ia bertepatan dengan awal-awal revolusi saja.
Dengan demikian berakhirlah di Mesir masa Abu Nashr, Al-Laythi, As-Sa’ati, An-Nadim dan kelompok mereka; di Syam masa Al-Yaziji, Al-Kusti, Al-Unsi, Al-Ahdhab dan sejenisnya; di Iraq masa Al-Faruqi, Al-Mushili, Al-Bazzaz, At-Tamimi dan lainnya. Puisi menjadi mandiri secara Arab dan keluar sebagaimana keluar pemikiran yang kreatif, berjalan di jalan yang tidak terbatas.
Tidak diragukan bahwa cara-cara yang diikuti dalam mendidik umat dan membentuk jiwa dunianya pasti memiliki pengaruh yang jelas dalam puisi para penyairnya. Puisi tidak lain adalah pemikiran yang berdenyut dan emosi yang bergetar. Saya melihat penyair sejati dari umatnya tidak lain seperti bunga kecil dari pohonnya: jika bukan rangkuman kekuatan yang ada padanya, maka ia rangkuman makna keindahan, warna, dan sentuhan yang ada pada pohon. Dengan sifat ini tidak kehilangan menjadi satu-satunya bintang yang bersinar di seluruh cakrawala hijau ini.
Kebangkitan telah berlangsung sejak lima puluh tahun atau sekitarnya, dalam sastra dan ilmu, dalam pemikiran, seni, dan kerajinan. Kita memperoleh dari itu apa yang tidak pernah terjadi pada umat ini di masa mana pun dari masa-masanya, hingga kita mencapai seolah-olah kita telah menaklukkan sebidang tanah dari Eropa dan menguasainya, atau menciptakan Eropa Arab dan masih terus membangunnya serta memindahkan ke sana ilmu pengetahuan, seni, dan sastra, menggali teladan dan gaya-gaya.
Namun puisi Arab dengan semua ini belum memenuhi bagiannya dan belum mencapai tingkatannya dalam menyertai kebangkitan ini dengan kekuatan inovasi, keselamatan kreasi, dan kebaikan variasi, karena dua sebab:
Pertama, ia masih sebagaimana adanya sejak bahasa Arab rusak: puisi kelompok, bukan puisi umat. Ia ditulis untuk kalangan khusus, bukan untuk rakyat, dan berputar dengan maksud dan kebutuhan, bukan dengan tabiat dan selera. Itu jika Anda renungkan adalah sebagian rahasia dalam ketinggian puisi ini, kekuatan kekokohannya, keindahan kreasi susunannya, dan keindahan hiasannya sejak Daulah Abbasiyah hingga abad kelima, kemudian kemundurannya setelah itu dan penurunannya sedikit demi sedikit hingga mencapai tingkat terendah di masa-masa yang datang kemudian.
Kelompok yang untuknya puisi ditulis, menggambarkan keinginan dan maksud mereka, menerimanya, memberi imbalan atasnya, menilai dengan baik timbangan dan kritiknya, berada dalam kedua aspek seperti yang Anda lihat dari kedua ujung teropong yang mendekatkan yang jauh: dengan melihat awalnya jelas dan terang terbentang ke berbagai arah, dengan melihat akhirnya kecil dan cacat hampir tidak dikenal.
Sungguh mengherankan kelalaian sebagian penulis di zaman ini ketika mereka melawan bahasa Arab, meremehkan kefasihan, dan berusaha mengecilkan jumlah dan mengurangi ahlinya. Mereka tidak tahu bahwa dengan itu mereka menjatuhkan puisi sebelum penulisan, dengan sengaja atau tidak sengaja. Jarang Anda temukan seorang dari mereka yang pandai menangani puisi. Jika Anda mendapat puisinya, Anda mendapatinya tidak berisi atau sebagian besarnya, dan di mana pun Anda meletakkan tangan, Anda tidak salah menemukan contoh dari apa yang menjadi contoh cacat retorika.
Kebangkitan yang sedang kita bicarakan ini lebih luas jangkauan dan lebih kaya sebab daripada yang ada pada Daulah Abbasiyah, dengan masuknya sastra setiap bangsa dan terhubungnya dengan gaya-gaya pemikiran. Namun di mana orang-orang fasih yang menguasainya, fanatik terhadapnya, bekerja menyebarkannya di lidah-lidah, padahal masa mereka lebih luas dari masa para perawi, dengan banyaknya buku-buku induk dan diwan-diwan yang dikeluarkan percetakan, hingga setiap percetakan sastra menggantikan seorang perawi dari imam para perawi.
Sebab kedua mengapa puisi masih tertinggal dari kedudukan yang seharusnya adalah jatuhnya seni kritik sastra dalam kebangkitan ini. Sebab terkuat yang mengangkat puisi setelah abad kedua dan membuat ahlinya berlebihan dalam memperbaiki dan menghaluskannya adalah banyaknya kritikus dan penghafal, pelacakan mereka terhadap para penyair, penghargaan terhadap perkataan mereka, dan pembukuan kitab-kitab dalam kritik mereka, seperti yang ada dalam pelajaran ulama, halaqah periwayatan, dan majelis sastra, dan seperti yang disusun Muhalhal bin Yamut dalam kritik Abu Nuwas dan Ahmad bin Thahir, Ibnu Ammar untuk Abu Tammam, Bishr bin Tamim untuk Al-Buhturi, Al-Amidi dalam Al-Muwazanah, Al-Hatimi dalam risalahnya, Al-Jurjani dalam Al-Wasathah, dan yang tidak terhitung dari kitab dan risalah semacam itu.
Anda dalam kritik di kebangkitan ini berada di antara dua: teman yang benar-benar teman atau musuh yang benar-benar musuh. Jika Anda mencari yang ketiga bagi keduanya, maka penulis yang sarana kritiknya tidak seimbang sehingga tidak ada kebaikan dalam kata-katanya. Adapun kritikus yang menguasai ilmu bahasa Arab dan sastranya, seorang penyair penulis yang kuat daya kritisnya, halus perasaannya, tajam pikirannya, lurus pandangannya, berpengalaman dalam mazhab-mazhab sastra, menguasai filosofi kritik, unggul dalam semua itu – maka khayalan inilah yang mengingatkan saya pada kata yang pernah saya katakan kepada Al-Barudi ketika saya berkata kepadanya: “Penyair tidak menjadi lidah zamannya hingga ada bersamanya kritikus yang merupakan akal zamannya.” Ia berkata: “Siapa kritikus puisi menurutmu?” Saya berkata: “Penulis yang juga penyair, sastrawan yang juga filsuf, pembaharu yang juga berhasil.” Seolah-olah saya menakut-nakutinya hingga ia berkata, semoga Allah merahmatinya: “Di mana semua itu?” Saya berkata: “Mungkin tidak akan melahirkan untuk kita akal yang berapi-api ini kecuali masa yang mengadakan untuk kita armada laut seperti armada Inggris.”
Meskipun puisi kontemporer mengalami dua sebab ini, cara pendekatannya telah mandiri dan tampak padanya pengaruh perubahan ilmiah dan revolusi intelektual. Ahlinya mengalihkannya ke gambaran-gambaran kehidupan setelah sebagian besarnya berupa gambaran-gambaran dari bahasa, menambahkan dengannya materi yang baik ke kumpulan pemikiran Arab, membuat darinya jenis-jenis setelah ia seperti satu hal, dan memperluas di dalamnya lingkaran khayalan dengan apa yang mereka pindahkan kepadanya dari makna-makna terjemahan dari bahasa-bahasa berbeda.
Dari segi ini ia lebih luas dari puisi setiap masa dalam sejarah bahasa ini, karena orang-orang terdahulu hanya mengambil dari bahasa Yunani dan Persia, kemudian orang-orang yang datang kemudian mengambil sedikit demi sedikit dari bahasa Turki. Adapun di masa akhir, hampir seluruh akal manusia menjadi materi penyair Arab, seandainya tidak ada kelemahan sebagian besar kaum muda generasi baru dalam bayan dan gaya-gayanya, jauhnya mereka dari cita rasa bahasa dan sulitnya tujuan-tujuannya bagi mereka, hingga mereka menyangka bahwa puisi adalah makna dan pemikiran, dan bahwa setiap kalam yang menyampaikan makna adalah kalam, tidak peduli dengan bahasa dan keahliannya, bayan dan hakikatnya.
Hingga kita, demi Allah, karena sebagian kegersangan, kerendahan, dan kekacauan berada dalam keadaan lebih buruk dari sulitnya nazham jahiliyah, kasarnya lafazh, dan kerasnya maknanya. Apakah ada perbedaan antara jiwa yang lari dari puisi karena kasar lafazhnya, sulit penggaliannya, sangat dipaksakan, dengan jiwa yang menolaknya karena jatuh lafazhnya, makna yang meminta-minta, susunan yang kacau?
Kemudian Anda melihat mereka menyelesaikan seluruh puisi dengan berbagai maksudnya dalam satu pola tunggal dari kemudahan lafazh dan penurunannya, seolah-olah bahasa ini tidak bervariasi dalam lafazh-lafazhnya dan bunyi-bunyi lafazhnya, padahal variasi ini adalah salah satu keindahan terbaiknya dan ciri paling khususnya dibanding bahasa-bahasa lain, sebagaimana setiap variasi adalah sebab keindahan dan kekuatan paling indah dalam setiap seni.
Teman-teman kita tidak tahu bahwa semua itu dari pekerjaan mereka adalah sia-sia dalam kesia-siaan jika mereka tidak memberikan kepada puisi haknya dari keahlian bahasa. Ini adalah penyair Persia terkenal Muslih Al-Din As-Sa’di Asy-Shirazi, seorang imam dari imam-imam retorika di kaumnya yang tidak terbantahkan kedudukannya. Puisinya adalah contoh dari contoh-contoh tertinggi dalam keindahan ucapan rohani, dan tidak ada seorang pun kecuali menyerahkan kepadanya tempat keunggulan ini.
Namun ketika ia menyusun puisi, tidak bermanfaat baginya manfaat apa pun dari hikmah, khayalan, atau pemikiran. Ia pergi dalam pemaksaan dengan segala cara, dan membebankan pada kalam-nya dari cacat-cacat yang dengannya tidak selamat kecuali kebenaran timbangan, seperti perkataannya dalam menggambarkan musibah Baghdad dan penghancurannya:
“Sungguh ibu kota-kota telah kehilangan dan bagi Ka’bah Air mata di timbangan tercurah di batu Di dinding Mustansiriyah ada ratapan Atas ulama-ulama yang kokoh pemilik pikiran Musibah-musibah zaman, andai aku mati sebelumnya Dan tidak melihat kezaliman orang bodoh terhadap tinta Tinta-tinta menangis setelah mereka dengan kehitamannya Dan sebagian hati manusia suka dengan pengkhianatan Laknat Allah bagi siapa yang diperlakukan dengan nikmat Dan ketika datang putus asa lebih hitam dari tinta”
Lihatlah puisi macam apa ini dalam kerendahan, omong kosong, dan kebodohannya, dalam padam-nya pemikiran, lemahnya roh, dan hilangnya kemilau. Renungkan bagaimana As-Sa’di jatuh dari kedudukannya yang ditempat-kannya oleh sastranya yang tinggi, dan bagaimana ia jatuh ke tempat yang Anda lihat, padahal ia dalam mihrab pemikiran adalah imam dengan barisan-barisan dari masa-masa retorika di belakangnya.
Dari sinilah muncul di masa kita apa yang mereka namakan “puisi prosa”, dan ini adalah penamaan yang menunjukkan kebodohan yang meletakkannya dan orang yang meridainya untuk dirinya. Prosa tidak sempit dengan makna-makna puitis, dan ia tidak kosong darinya dalam sejarah sastra. Namun rahasia penamaan ini adalah bahwa puisi Arab adalah keahlian musikal yang halus yang tampak padanya kekacauan karena sebab paling lemah dan alasan paling mudah, dan tidak berhasil menyusun makna-makna di dalamnya kecuali yang diberi Allah tabiat paling sehat, selera paling selamat, dan bayan paling fasih.
Karena itu ia tidak menahan sesuatu dari kekasaran lafazh, kerusakan ungkapan, atau kelemahan susunan, dan tidak lurus padanya makna-makna termulia dengan sesuatu dari cacat-cacat ini dan sejenisnya. Anda melihatnya melemparkan seperti “As-Sa’di” dari langit tertinggi ke jurang, tidak menegakkan baginya timbangan, tidak memelihara baginya tempat, tidak menerima padanya uzur atau keringanan.
Prosa menahan setiap gaya, dan tidak ada gambaran padanya kecuali di bawahnya ada gambaran hingga berakhir pada bahasa umum yang jatuh dan pasar yang dingin. Sifatnya adalah mengembang dan mengkerut pada apa yang Anda kehendaki darinya. Apa yang terjadi padanya dari keindahan puitis hanyalah seperti yang terjadi pada suara pelantun ketika berbicara, bukan ketika menyanyi.
Barang siapa berkata “puisi prosa”, ketahuilah bahwa maknanya adalah ketidakmampuan penulis dari puisi dari satu sisi dan klaimnya dari sisi lain.
Yang saya anggap baru dalam puisi Arab yang diciptakan oleh kebangkitan ini adalah beberapa hal:
Pertama: Jenis naratif ini di mana puisi-puisi panjang ditempatkan, karena kesusastraan Arab kosong darinya. Orang Arab dan generasi setelah mereka, ketika menyebutkan cerita, mereka menyinggungnya secara singkat dan menyajikannya dalam rangkaian konteks sebagai perumpamaan, hikmah yang disampaikan, dalil yang berdiri, bantahan, atau penjelasan dan hal-hal sejenis yang tidak menghadirkan cerita untuk dirinya sendiri atau untuk merinci peristiwa-peristiwanya. Hal ini banyak terdapat dalam puisi orang Arab Jahiliyah dan Islam, namun yang bagus sedikit bahkan dalam puisi para penyair ulung, karena sifat puisi Arab menolaknya. Mereka yang menghadirkannya dari kalangan kontemporer tidak menemukan darinya kecuali penggalan-penggalan yang muncul dalam puisi dan bait-bait yang selaras dalam sebagian makna dan tujuannya yang mengalir sesuai asalnya dalam seluruh puisi, panjang atau pendek.
Alasannya adalah bahwa cerita hanya sempurna dengan perluasan dalam penceritaannya, penyusunan peristiwa-peristiwanya, penyebutan tokoh-tokohnya, penyebutan sifat-sifat mereka, penggambaran perbuatan mereka dan hal-hal yang masuk ke dalamnya atau berkaitan dengannya. Puisi Arab dalam meter dan qafiyah-nya dibangun atas pengaruh, bukan atas penceritaan; atas perasaan, bukan atas hikayat. Mereka tidak menginginkan darinya pembicaraan lisan tetapi pembicaraan jiwa. Puisi dalam kenyataannya menurut mereka adalah kerajinan rohani yang dengannya mereka membuat kadar-kadar kegembiraan, kegoncangan, kebahagiaan, kesedihan, kemarahan, semangat, dan kecenderungan.
Maka tidak heran jalan mereka menuju hal itu adalah pembatasan, bukan kebebasan; pengendalian kadar, bukan pemborosan. Karena sifat hal-hal ini dalam tabiat jiwa adalah bahwa apa yang berlebihan dari kadarnya berubah dan berbalik dalam pengaruhnya. Itulah juga alasan mengapa puisi ini, jika tidak berdiri atas pilihan kata, kerajinan ungkapan, penyaringan dan penyempurnaannya, pemilihan meter untuk makna, dan pengarahan pikiran pada hal-hal yang menarik dari berbagai jenis metafora dan kiasan dan sejenisnya – maka akan jatuh dan lemah sesuai kadar kekurangannya dari hal itu.
Masalahnya bukan pada memanjangkan puisi. Di antara penyair ada yang menggubah satu rawi dalam empat ribu bait, dan ada yang menggubah tafsir seluruh Al-Qur’an. Tetapi cacat puisi semacam ini dalam bahasa Arab adalah bahwa ia puisi… Dan tidak ada yang membuat Ibn Rumi redup meskipun keagungan kedudukannya kecuali panjang puisi-puisinya dan penyusunan kalimat di dalamnya dengan cara yang menyerupai gaya hikayat dan keluarnya dengan cara artikel yang ia bicarakan. Maka tidak hidup baginya kecuali penggalan-penggalan dan bait-bait, sementara sisa puisinya mati padahal ia hidup dan mati sama saja, sampai penulis Al-Wasathah berkata tentangnya: “Kami membaca puisi darinya yang mendekati seratus bait atau lebih atau kurang, lalu tidak kami temukan di dalamnya kecuali bait yang menarik atau dua bait, kemudian puisi-puisi darinya berlalu sedangkan ia berdiri di bawah naungannya, mengalir di bawah ketentuannya, pendengar tidak memperoleh darinya kecuali jumlah qafiyah…”
Yang mengherankan adalah sebagian penulis di zaman kita yang tidak memiliki penelitian dalam masalah-masalah seperti ini, menganggap keindahan terbaik Ibn Rumi adalah yang merupakan cacat terburuknya. Celaka kerajinan menulis, sebagaimana ia untuk mengisi kekosongan, ia juga untuk mengosongkan yang penuh.
Kedua: Penggubahan sebagian puisi atas dasar pemikiran dalam bahasa Inggris atau Prancis atau bahasa-bahasa bangsa lain, sehingga puisi keluar dalam bahasa Arab tetapi gaya penyampaian maknanya asing. Jenis ini paling banyak datang dari Amerika, dan saya kagum dengan banyak darinya karena keanehan dan keindahannya.
Bangsa-bangsa masih ada yang sempit dengan hal-hal tertentu dan ada yang luas dengan hal-hal tertentu, maka kita tidak terikat dengan pemikiran Arab atau caranya. Kita harus menambahkan pada keindahan bahasa kita keindahan bahasa-bahasa lain, tetapi tanpa merusaknya atau merugikannya atau menjualnya dengan harga murah. Ketika jenis puisi ini kokoh, rapi, bagus susunannya, anggun penampilannya, maka pada akhirnya ia mencapai kelembutan dan keindahan. Pembaruan dalam bahasa ini tidak datang kecuali dari sisi ini, seperti yang kau lihat dalam apa yang diambil Abdul Hamid dan Ibn Muqaffa dari pola penyampaian dalam bahasa Persia.
Ketiga: Berpaling dari merusak puisi dengan kerajinan pujian dan ratapan, yaitu dengan pengaruh kebebasan pribadi di zaman ini. Pujian jika bukan merupakan pintu dari sejarah yang benar, tidak menunjukkan keluhuran jiwa yang dipuji, tetapi kejatuhan jiwa yang memuji. Kau melihatnya sebagai pujian ketika dibacakan pada pendengarnya, tetapi ia celaan ketika dinisbahkan kepada pengucapnya! Tidak ada bahasa di dunia yang diuji dengan pujian, ratapan, dan hinaan seperti bahasa Arab ini. Untuk itu ada sebab-sebab yang tidak perlu dirinci.
Keempat: Memperbanyak deskripsi dan berinovasi dalam sebagian aspeknya serta beragam dalam sebagian tujuan modernnya. Itu termasuk jenis puisi tertinggi, tidak terwujud kebaikan dan kemerbanyakan di dalamnya kecuali jika puisi hidup, kecenderungan zaman kepadanya kuat, dan pandangan terhadapnya benar. Ketika Syaikh Ahmad Al-Kurdi (dari penyair abad kedua belas) menggambarkan kapal dan memulai dengan deskripsi ini pujian untuk menteri Raghib Pasha, mereka menganggap itu sebagai peristiwa dari peristiwa sastra di zamannya, maka renungkanlah!
Kelima: Mengabaikan kerajinan-kerajinan badi’ yang dulu dijadikan dasar puisi, sehingga bait digubah untuk menjadi jinas, thibaq, istikhddam, tauriyah, dll., atau jenis lain dari kerajinan bilangan dan hitung, seperti sejarah puitis dengan jenisnya, atau kerajinan huruf, seperti maqlab dan muhmal dan lainnya, atau kerajinan pikiran, seperti teka-teki dan mu’amma, atau kerajinan penyusunan seperti tasyjir dan tathriz, hingga hal-hal yang terkait dengan bab ini yang ahlinya telah pergi sehingga tidak mudah bagi siapa pun setelah mereka untuk menyaingi mereka di dalamnya. Mereka memiliki keajaiban-keajaiban dalam semua itu yang telah kami catat secara lengkap dalam tempatnya dari “Tarikh Adab Al-Arab”.
Namun mengabaikan kerajinan badi’ adalah satu hal dan mengabaikan seni badi’ itu sendiri adalah hal lain. Dari sinilah datang apa yang kita lihat dalam sebagian puisi modern dan “puisi bebas” berupa keberlebihan konyol yang tidak berdiri atas dasar, dari pelanggaran dalam jenis-jenis istiarah, jauhnya dalam majaz, kemustahilan dalam penyusunan, dan sejenisnya yang kembali kepada ketidaktahuan tentang sifat balaghah, dan yang tidak kami anggap kecuali sebagai jenis kerusakan yang terkait dengan apa yang ada di zaman-zaman lalu meskipun berlawanan dengannya.
Keenam: Menggubah dalam urusan-urusan kebangsaan dan peristiwa-peristiwa sosial, yang membuat puisi meliputi roh zaman, pemikiran, dan khayalnya. Ini adalah pintu yang tidak bangkit dengannya kecuali sedikit individu, dan masih lemah belum menguat. Mereka berkata bahwa Al-Qadhi Al-Fadhil memiliki dua belas ribu bait dalam memuji tanah air dan kerinduan kepadanya, tetapi saya tidak mengira ada di dalamnya seratus dari jenis yang digubah di zaman ini yang membawa puisi masuk ke dalam pintu politik dan dianggap dari sarana-sarananya, dan dalam cara-cara pendidikan dan dianggap dari sebab-sebabnya.
Ketujuh: Mengambil sebagian meter baru dari bahasa Persia dan Turki, dan ini sedikit, dibawa oleh Syauqi dalam dua puisi dan tidak ada yang mengikutinya karena berlebihan meter itu dalam keringanan sampai kembali kepada keberatan. Kemudian menggubah sebagian puisi dari meter-meter berbeda yang dekat kesesuaiannya atas kaidah muwasyah, tetapi ia puisi bukan tausyih, sebagaimana menggubah sebagian penyair Amerika dan Suriah. Hal seperti itu tidak pernah terjadi dalam bahasa Arab, karena puisi digubah dari satu bahr, dan mungkin keluar darinya meter lain. Kita tidak mengenal dalam sejarah sastra puisi yang terdiri dari dua meter kecuali yang mereka katakan bahwa Husain bin Abdul Shamad yang wafat tahun 984 H (1576 M) telah menciptakannya dan menggubah di dalamnya bait-baitnya yang matla’nya:
“Semerbak aroma subuh dan berkokok ayam… Dan melengkung ban mengeluh karena gerakan” “Bangunlah kita menikmati yang bersinar… Yang sombong dari sifat-sifatnya dengannya si pertapa”
Dan putranya, Imam terkenal Bahaauddin Al-Amili pemilik Al-Kasykul menandinginya dengan bait-bait yang mereka katakan tersebar di zamannya seperti perumpamaan, dan penyair zaman itu meniru polanya, seperti An-Nabulusi dan lainnya, dengan matla’:
“Wahai teman minumku, dengan jiwaku aku menebus dirimu… Bangun dan bawalah cawan-cawan dari yang itu” “Khamar jika kau tersesat di halamannya… Maka cahaya nur cawannya akan membimbingmu”
Meter ini dengan kedua shatr-nya diambil dari Al-Khafif, maka bukan ciptaan sebagaimana mereka klaim, tetapi inovasi dalam susunan puitis. Kami cukupkan dengan apa yang telah diisyaratkan, karena itulah semua yang mengubah pola dalam kerajinan ini. Kami tinggalkan contoh-contoh untuk menghindari kepanjangan.
Setelah itu, tidak diragukan bahwa jiwa manusia selamanya membutuhkan bersama agama rohaninya agama kemanusiaan yang berdiri atas perasaan, keinginan, dan pengaruh, sehingga menafsirkan baginya hakikat-hakikat kehidupan dan menjadi sarana dari sarana mengubahnya, untuk membuatnya lebih lembut dari kelembutannya, lebih halus dari kehalusannya, dan lebih indah dari keindahannya. Itulah yang menghubungkan dengan kemunculan dan kesamarannya antara yang jelas dan samar, yang kekal dan yang fana. Itulah yang tidak memperindah keindahan kecuali dengannya, dan jiwa tidak tenang kecuali kepadanya. Itulah puisi!
Guru kami ini adalah seorang laki-laki yang bijaksana, berperangai baik, dan berpandangan lurus. Ia memiliki kemampuan yang kuat dalam menghadapi masalah-masalah bahasa yang dihadapinya, serta mampu menguasai berbagai kondisi yang terjadi dalam urusan tata bahasa dalam hal penerjemahan dan pengalihan bahasa dengan berbagai arah dan ragam jenisnya. Padahal ilmu-ilmu tersebut setiap hari terus bermunculan dari pengetahuan, diperkaya dengan pemikiran, dan mengalir seperti banjir seolah-olah merupakan dunia intelektual yang tidak pernah berhenti diselami dan dibangun oleh akal manusia dari makna-makna alam semesta dan rahasia-rahasianya. Alam semesta tidak akan habis sehingga ilmu itu selesai, dan ilmu itu tidak akan selesai sebelum alam semesta habis.
Guru kami bertahan dalam hal itu selama umur sebuah negara, yaitu lima puluh tahun lebih. Penanya menggoreskan tulisan dalam hal yang mudah dan sulit, dalam hal yang mungkin dan mustahil. Ia melewati semua itu dengan langkah yang tidak terhenti, mengikuti jejak yang tidak berubah, seolah-oleh yang sulit baginya sama seperti yang mudah, dan yang mustahil sama seperti yang mungkin. Seandainya aku berkata bahwa ia pada dasarnya diciptakan dan dibentuk untuk menjadi salah satu kekuatan transformasi guna mewujudkan kesamaan intelektual antara Timur dan Barat, tidaklah aku berlebihan. Dan seandainya aku menyatakan bahwa pena hidup itu tidak lain adalah sebuah tanda dalam tubuh kemanusiaan, mungkin saja…
Guru kami pada akhir masa hidupnya telah mencapai kedudukan sebagai satu-satunya rujukan bahasa Arab di zamannya yang keras, tidak hanya dalam hal asal-usul, qiyas (analogi), dan keanehan-keanehan bahasa serta hal-hal yang berkaitan dengan hafalan, kedisiplinan, dan penguasaan, tetapi dalam hal yang lebih jauh dari itu dan lebih bermanfaat bagi bahasa, sejarahnya, dan bangsa penuturnya. Bahkan dalam hal yang tidak pernah dicapai oleh para ulama, penulis, dan sastrawan bahasa lainnya. Telah terjadi ijmak (kesepakatan) bahwa ia menyendiri dalam menegakkan dalil ilmiah tentang keluasan bahasa Arab, fleksibilitasnya, kemudahannya untuk diatur, dan kecukupannya. Bahwa bahasa Arab dapat mengikuti setiap ahli dalam bidangnya, dan dapat menyediakan materi bagi setiap zaman. Bahwa bahasa Arab memiliki ketelitian struktur dan fleksibilitas yang sempurna beserta kelengkapan alat dan sarananya, sehingga seorang laki-laki dengan usaha dan karyanya dapat menempati kedudukan seperti banyak kelompok dalam bahasa-bahasa lain, seolah-olah bahasa Arab adalah puncak terakhir yang dicapai peradaban sebelum peradaban dimulai.
Janganlah kamu melupakan perbedaan antara seorang laki-laki yang hafal dan kitab yang lebih hafal darinya—ia keluar dari kitab dan kembali kepada kitab—dengan seorang laki-laki yang menjadi penerjemah dari para penerjemah akal manusia yang bertugas menafsirkan dan menjelaskan alam semesta, serta terbang dengan kata-kata manusia di atas sayap ilmu pengetahuan, seni, penemuan-penemuan, dan makna-makna. Yang pertama memindahkan dari kenyataan kemudian tidak melampaui kedudukan ini dan tidak melewati teks-teks kata, sedangkan yang kedua terus bergulat dengan kata-kata dan maknanya, menarik dan mendorongnya, kemudian terus meletakkan tangannya dalam tenunan bahasa untuk menenun dan menyambung. Ia didorong ke jalan-jalan halus dari mazhab-mazhab penetapan dan metode-metodenya, serta gaya-gaya pengambilan dan penarikan. Ia selamanya terikat dengan kekhususan makna dan kekhususan lafaz dalam penentuan dan pembatasan, tidak menemukan kelapangan dari dua kesempitan. Jika ia tidak berada dalam kedudukan penetap, maka ia berada dalam kedudukan setelahnya tanpa ragu.
Sesungguhnya ahli bahasa terbesar menurutku adalah alam semesta ini, dan orang yang ahli dalam bahasa dan seni-seninya hanyalah sarana untuk menghaluskan metode secara intelektual. Oleh karena itu, wajib bagi ahli bahasa memiliki pandangan, ilmu, kecerdasan, dan penglihatan. Wajib pula ia sesuai dengan hukum-hukum alam, tidak melampaui batas antara dirinya dan hukum-hukum tersebut, karena ia hanyalah sarana untuk membuatnya berbicara. Dari sinilah aku melihat Dr. Sarruf berada pada puncaknya. Ia memiliki kecenderungan dalam mazhab bahasanya berupa kecenderungan ilmiah yang teliti, dapat ditimbang, diukur, dan diuji, namun tidak menyimpang, tidak lemah, dan tidak kacau. Kamu melihatnya bergerak bebas padahal terikat, dan terikat padahal bebas. Sebab ia tidak menganggap bahasa itu Arab untuk orang Arab, tetapi Arab untuk kehidupan. Apa yang ia hancurkan dan bangun, apa yang ia ciptakan dan hapus, tetap berdasar pada asal-usulnya pada orang-orang sebelum kita, tetapi cabang-cabangnya ada pada kita dan orang-orang setelah kita dan orang-orang setelah mereka, selama kita mengurusinya berdasarkan asal-usul tersebut dan hal-hal yang mirip dengannya dalam metode ketika keadaan berpindah dan bentuk berubah, karena suatu alasan jika wajib, dan karena qiyas jika dibolehkan.
Dr. Sarruf dengan pertimbangan ini bersikeras berpegang pada kaidah-kaidah dan aturan-aturan serta tidak memberikan keringanan dalam hal apapun darinya, namun ia tidak seperti orang-orang yang melihat cabang-cabang telah keluar dari akar-akar, lalu mengira buah-buahan juga jalan keluarnya dari akar-akar… walaupun tidak berasal darinya, tetapi akan berasal darinya.
Suatu hari salah seorang ahli bahasa ini mengkritikku di surat kabar Al-Muqattam tentang salah satu qasidah yang aku persembahkan kepada Raja Fuad. Ia mencari-cari dalam kritiknya dan berdalil dengan sebagian yang ia nukil dari kitab-kitab bahasa. Di antara yang ia bicarakan adalah lafaz “al-azahir wal-wurud” (bunga-bunga dan mawar-mawar). Ia berkata bahwa keduanya bukan dari bahasa Arab dan tidak terdapat dalam kitab-kitabnya. Jawabanku kepadanya adalah: “Sesungguhnya orang Arab menjamakkan unta (jamal) dengan enam bentuk jamak, dan menjamakkan unta betina (naqah) dengan tujuh bentuk karena ia lebih mulia bagi mereka daripada unta jantan. Setiap kehidupan memiliki bentuk-bentuknya yang beredar dalam kata-katanya. Bunga dan mawar bagi orang-orang generasi baru dan kontemporer lebih mulia daripada unta jantan dan betina bagi orang Arab, atau keduanya seperti keduanya. Kemudian keduanya termasuk kata-kata khusus yang baru, maka kita boleh menjamakkannya dengan semua bentuk jamak yang dibolehkan qiyas, karena di sini ada sebab yang tidak ada pada orang Arab untuk keduanya. Maka benar jika kamu berkata: zuhur, azhar, azahir, azahir, dan seterusnya.”
Ketika aku bertemu Dr. Sarruf setelah penerbitan jawaban ini, ia mengucapkan selamat kepadaku, kemudian berkata: “Mereka mengira bahwa orang Arab itu hanya unta jantan dan betina, tidak ada selain yang menjadi unta… Adapun zaman yang panjang dan luas ini, bagi mereka bukan apa-apa. Mereka dapat mengingkari seribu kata kepada orang-orang generasi baru, tetapi apakah mereka mampu mengingkari seribu tahun kepada sejarah?”
Aku mengingatkannya pada asal yang ditetapkan Abu Ali Al-Farisi tentang bahasa Arab yang benar itu sendiri: bahwa tidak semua yang dibolehkan dalam qiyas harus keluar dengannya sama’ (riwayat yang didengar). Jika seseorang mengambil cara orang Arab dan menuju mazhab mereka, maka tidak ditanya dalilnya, sama’nya, dan riwayatnya, dan tidak wajib baginya sesuatu dari itu. Sampai Abu Ali berkata: “Seandainya seorang penyair atau orang yang berbicara luas ingin membangun dengan menambahkan lam pada kata benda, kata kerja, dan sifat, dibolehkan baginya, dan itu termasuk dari kalam orang Arab.” Seperti kamu berkata: “kharajaj lebih banyak dari dakhalal, dan daraban Zaid Amran, dan aku melewati seorang laki-laki daraban dan karaman,” dan semacam itu.
Muridnya Ibnu Jinni berkata: “Aku berkata kepadanya: ‘Apakah kamu membuat bahasa secara spontan?’ Ia berkata: ‘Bukan spontan, tetapi dianalogikan dari kalam mereka, maka ia adalah dari kalam mereka.'”
Ia bertanya kepadaku suatu kali tentang wajah perbedaan antara yang mereka sebut qadim (lama) dan jadid (baru). Aku berkata kepadanya: “Sesungguhnya perbedaan itu bukan pada baru dan lama, tetapi pada lemah dan kuat. Sesungguhnya ada orang-orang yang menulis dan menyusun syair, tetapi kefasihan dan kebalagahan tidak dibagi sesuai kadar yang mereka mampu dari itu, dan yang benar tidak cukup luas untuk pandangan mereka dalam bahasa dan sastra. Mereka ingin meluaskan semua itu dari tempat yang sempit bagi mereka, meninggikan dari tempat yang rendah bagi mereka, dan meraihnya dari tempat ketidakmampuan mereka. Mereka mengira perkara itu seperti yang dikira seseorang yang berjalan di atas bumi dan tahu bahwa bumi berputar, lalu menafsirkan bahwa dialah yang memutar bumi pada porosnya dengan gerakan kakinya… Kami berkata: gaya yang lemah, mereka berkata: tidak, tetapi baru. Kamu berkata: bahasa yang sakit, mereka berkata: tetapi kontemporer. Kami berkata: satu wajah kesalahan, mereka berkata: tetapi satu jenis kebenaran, dan seterusnya…”
Kemudian aku berkata kepadanya: “Apakah kamu mendapati kelemahan, kesalahan tata bahasa, kesalahan, dan keburukan serta saudara-saudaranya sebagai pintu baru atau perkara yang diciptakan atau sesuatu yang membutuhkan nama baru selain nama Arabnya?” Ia berkata: “Tidak, dan aku bersamamu dalam hal ini. Metode ku di Al-Muqtataf adalah bahwa bahasa dalam kaidah-kaidahnya adalah Arab, tetapi dari kaidah-kaidahnya bahwa setiap maqam (tempat) memiliki maqal (perkataan). Maka kami menulis tulisan yang benar dan kami ingin dengannya mengangkat orang awam dan tidak menurunkan orang khusus, maka kami melayani bahasa Arab dari kedua sisi.”
Kemudian ia menerbitkan setelah itu dalam edisi bulan Mei tahun 1927 sebuah artikel dengan judul “Gaya Kami dalam Penerjemahan dan Pengaraban” dan memulainya dengan ungkapan ini: “Bahasa adalah tubuh yang hidup dan tumbuh. Urusan orang yang mencoba mencegahnya dari tumbuh seperti urusan orang-orang Cina yang mengikat kaki anak perempuan mereka agar tidak tumbuh dan mencapai batas alaminya. Tetapi jika pertumbuhan itu cacat, maka harus dibatasi dan dihaluskan. Semua yang kami katakan adalah pembatasan dan penghalusan serta menghindari kecacatan menimpa bahasa dan gaya-gayanya sehingga keburukan-keburukan bertumpuk di atas keindahan-keindahannya, dan menghapus daya tariknya dengan kejelek-annya. Sesungguhnya keburukan-keburukan dan kejeleken-kejelakan ini jika terkumpul dan masuk dalam suatu bahasa, akan memakainya dengan bentuk-bentuknya sehingga terus mengingkarinya sampai tidak tersisa baginya sifat yang dikenal. Keindahan saja yang dibatasi dengan sifat-sifat dan definisi-definisi, dan dialah yang diperinci dan dilebih-lebihkan dalam qiyas dan perkiraannya. Jika terjadi kelebihan padanya dan batas-batas bercampur serta kesesuaian melemah dan sifat berjalan kurang dan lebih, maka ia telah keluar kepada kejeleken. Jika keluar kepada kejeleken, orang-orang tidak lagi membuat batasnya atau memedulikan kaidahnya, dan mereka mendapati padanya semua sifat indah terbalik dan mungkar, karena ia adalah keindahan yang terbalik.” “Pembatasan kecacatan dan penghalusannya” adalah dua kata yang mengandung semua pembicaraan, atau keduanya adalah dua daun pintu untuk pintu ini.
Karena itulah kami menganggap Dr. Sarruf sebagai dalil kami atas pengusung “yang baru”, karena ia paling luas cakupannya, paling banyak ilmunya, dan paling panjang amalnya di antara mereka. Tidak ada seorang pun dari mereka yang dapat mendekatinya kecuali jika ia mengumpulkan untuk dirinya dua umur. Adakah dalam “yang baru” seorang laki-laki dengan dua umur?
Kami berkata: Sesungguhnya sang syaikh berada dalam kedudukan yang mengikuti kedudukan peletap. Ilmu pengetahuan telah mendorongnya ke situ, karena ia terikat dengan kekhususan makna dalam semua yang ia terjemahkan atau arabkan, kemudian dengan karakteristik-karakteristik ilmiah yang teliti yang tidak dapat mentolerir dalam penyampaiannya apa yang dapat ditolerir makna-makna sastra. Ia telah memimpin penulisan dan penerjemahan sejak masa muda zaman ini, dan sejak orang-orang mulai membaca ilmu-ilmu baru di Timur. Maka tidak heran ia tidak menjadi ahli bahasa seperti Abu Amr, Abu Zaid, Al-Khalil, Al-Asma’i, Abu Hatim, Abu Ubaidah, dan sejenisnya dari orang-orang yang memikul dari orang Arab dan menyampaikan apa yang mereka pikul. Ia juga tidak menjadi ahli bahasa dengan cara Sibawayh, Al-Kisa’i, Al-Zajjaj, Al-Akhfasy, Al-Yazidi, dan sejenisnya dari orang-orang yang melihat dalam bahasa, illah-illahnya, qiyas-qiyasnya, dan keanehan-keanehannnya. Tetapi ia ahli bahasa dalam hal yang membangun antara Timur dan Barat, memikul dengan satu lisan dan menyampaikan dengan lisan lainnya, menyesuaikan antara makna-makna baru dan lafaz-lafaz lama, menyilangkan benang-benang sejarah dalam ini dan itu, mengambil bahasa untuk penggunaan bukan untuk hafalan, untuk pengajaran bukan untuk pembukuan, untuk manfaat bukan untuk kemegahan, untuk faedah bukan untuk kebanggaan. Ia menerjemahkan padahal dalam khayalnya ada dunia luas yang ia pindahkan darinya dengan para ulama, sastrawan, kitab-kitab, majalah-majalah, dan istilah-istilahnya. Ia menulis padahal ia memiliki kemampuan teliti yang dibentuk oleh ilmu-ilmu matematika, alam, filsafat, dan lainnya.
Maka tidak ada pilihan kecuali ia berinovasi, dan ia memiliki metode yang ia sesuaikan dan bedakan di dalamnya. Ia telah menyebarkan kaidah-kaidah yang ia ambil dan jalani, maka ia menulis tentangnya artikel di “Al-Muqtataf” bulan Juli tahun 1906, dan menerbitkannya kembali dalam edisi bulan Mei tahun 1927. Ia menyetujui kebanyakan ulama di dalamnya, khususnya Imam Al-Jahiz. Meskipun kaidah Al-Jahiz tidak dikenal saat itu, tetapi kedua syaikh itu bijaksana pandangannya, sempurna pengurusannya dalam pekerjaannya, kuat perhitungan dan pengaturannya dalam apa yang ia ambil dan apa yang ia tinggalkan.
Ringkasan pandangan Dr. Sarruf adalah bahwa ia melihat kata asing, jika ia mendapat padanannya dalam bahasa Arab yang membatasinya dan mencukupinya, maka itulah yang dipilih. Jika tidak, ia menggunakan kata asing itu dalam tulisannya dengan terikat pada kaidah pembaca dan apa yang lebih ringan bagi pembacanya dalam biaya dan lebih jelas baginya dalam penunjukan. Jika kata asing itu lebih memadai dan lebih mengenyangkan dalam penggunaan, ia condong kepadanya. Ia berkata: “Tidak perlu dijelaskan bahwa kami berkomitmen untuk mengikuti para ulama dalam istilah-istilah ilmiah yang kehilangan petunjuknya dengan pengarabannya, seperti asam sulfat dan sulfurik… dan seterusnya. Sesungguhnya setiap dari akhiran dan tambahan yang ada padanya memiliki makna khusus yang menunjukkan susunan asam yang dimaksud sebagaimana diketahui pelajar kimia.” Ia berkata: “Barangsiapa menyebut asam sulfurik dengan asam sulfur seperti orang yang menyebut kuda dengan keledai, karena masing-masing memiliki kepala dan ekor…”
Al-Jahiz berkata dalam hal semacam itu: “Sesungguhnya pandanganku dalam jenis kata ini adalah bahwa aku berada selama aku dalam makna-makna yang merupakan ungkapannya dan materi di dalamnya dengan mengucapkan sesuatu yang siap dan ada” -maksudnya lafaz ilmiah istilah- “dan meninggalkan pemaksaan untuk apa yang mungkin tidak mudah dan tidak gampang kecuali setelah latihan panjang… Setiap keahlian memiliki kata-kata yang telah dibuat untuk ahlinya setelah ujian selainnya, maka tidak melekat pada keahlian mereka kecuali setelah ada kesesuaian antara kata-kata itu dan makna-makna keahlian tersebut.”
Maka kamu melihat Al-Jahiz tidak menolak kata-kata asing dan umum sebagaimana adanya selama makna-maknanya berdiri, dan kaidahnya adalah yang lebih ringan, lebih menunjuk, lebih dipahami, dan lebih tersebar. Ini persis yang dikatakan Dr. Sarruf: “Disyaratkan dalam baiknya ungkapan bahwa ia menyampaikan makna yang dimaksud kepada pikiran pendengar dengan sesedikit mungkin waktu, biaya, dan pemborosan kekuatan saraf.”
Ada yang berbicara kepadaku tentang kesalahan Dr. Sarruf dari sisi kata-kata asing dan memasukkannya dalam tulisannya, bahwa ia condong kepada itu dengan sebab yang lemah. Aku tidak melihatnya sebagai kesalahan, bahkan aku mengembalikan itu kepada apa yang ia jelaskan sebelumnya tentang urusan penerjemah dan peletap. Tidak sulit bagi kami menemukan untuk perbuatan Dr. Sarruf sebuah nash yang dapat mendirikannya dan membangkitkan dalilnya. Abu Ali Al-Farisi berkata: “Sesungguhnya orang Arab jika menurunkan dari kata asing, mereka mencampur di dalamnya. Jika ini dalam penurunan dan itu tidak terjadi kecuali dari asal, bagaimana dengan pengaraban?” Padahal tidak ada pencampuran dan kekacauan, tetapi hanya jalan penetapan dan hikmah petunjuk, dan bahwa bahasa begitu datangnya, kemudian datang setelah itu ahli nahwu berkata mengapa dan karena…
Aku kagum dengan baiknya pembagian Dr. Sarruf untuk kaidah-kaidahnya yang ia sebarkan dalam artikelnya yang panjang, sampai aku melihatnya sebagai pintu baru dalam pembagian yang dikenal di kalangan ulama balaghah dan bahasa untuk kata-kata biasa dan anehnya, karena tidak tersisa pada kami aneh dan biasa serta tidak ada di antara kami Arab dan muhdithin (generasi baru).
Namun di antara kaidah-kaidah itu adalah bahwa profesor memberikan keringanan dalam kata-kata umum padahal ia menemukan yang fasih, dan ia berkata dalam hal itu: “Jika petani Mesir mendengar kata ‘bizaar’ (benih) sekali dalam seminggu atau sebulan, ia mendengar kata ‘taqawi’ seratus kali dan seribu kali, maka kami melihat bahwa upaya mengubah bahasa awam dalam kata-kata ini dan sejenisnya adalah sia-sia, membuang waktu, dan menghilangkan manfaat, maka kami mengikuti mereka dalam apa yang kami tulis untuk mereka.”
Inilah yang aku perdebatkan dengannya dan tidak menyerahkan kepadanya sesuatu pun darinya, karena ia mengabaikan asal sosial yang besar. Sesungguhnya orang awam kami tidak terputus dari bahasa Arab fasih, dan masih ada pada mereka warisannya dari Al-Quran, hadits, dan perkataan ulama dalam urusan agama mereka. Inilah sarana-sarana pencampuran mereka dengan yang fasih dan pengembalian mereka kepadanya. Sarana-sarana ini terus melakukan apa yang dilakukan hukum-hukum pasti, dan tanpanya tidak akan tersisa bagi yang fasih sisa setelahnya.
Beberapa tahun yang lalu datang ke Mesir seorang laki-laki dari Amerika yang merupakan murid lama Dr. Sarruf. Ia pindah ke sana lalu berdagang dan menjadi kaya, dan ia mendapat nikmat yang besar. Ketika aku bertemu dengannya, aku melihat di tangannya sebuah halaman yang berisi masalah-masalah dalam bahasa dan nahwu, seolah ia menyiapkannya untuk ditanyakan. Di awalnya ada pertanyaan ini: “Mengapa dikatakan ‘fashaha ar-rajulu fashahatan fahuwa fashih’ (laki-laki itu berbicara fasih), kemudian dikatakan ‘sya’ara syi’ran fahuwa sya’ir’ (ia bersyair)? Bukankah qiyas menghendaki dikatakan ‘sya’ara sya’aratan fahuwa sya’ir’, dan kefasihan serta syair dari satu pintu?”
Pertanyaan ini walaupun dalam pandangan lahir sia-sia dan main-main, tetapi teliti dalam sejarah bahasa dan qiyas-qiyasnya. Tidak ada tempat untuk memperluas pembicaraan tentangnya di tempat ini, namun aku menyampaikan berita kepada Dr. Sarruf dan berkata kepadanya: “Sesungguhnya temanmu ini meletakkan kaidah-kaidah bahasa dalam timbangan yang ada di tokonya… dan kamu juga kadang-kadang mengobati sebagian kata dengan sebagian gas dan asam.”
Aku berkata ini karena aku tidak pernah menyerahkan kepadanya dalam apa yang ia lihat dalam hal seperti bizaar dan taqawi, meskipun ia membatasi pembicaraan dengan perkataannya “dalam apa yang kami tulis untuk mereka”, dan ini adalah kehati-hatian yang membelanya dengan kuat sebagaimana kamu lihat.
Tidak ada yang meragukan bahwa kebangkitan bahasa yang kami saksikan dan kami kerjakan tidak lain adalah pertumbuhan alami dari karya laki-laki istimewa yang kami anggap Dr. Sarruf di barisan depan mereka, karena ia paling panjang perjuangannya, paling banyak karyanya, dan paling tampak pengaruhnya. Al-Muqtataf datang kepadanya setiap bulan seolah potongan waktu yang didorong oleh hukum seperti hukum evolusi, sampai aku melihat Al-Muqtataf ini seperti sebuah zaman yang keluar dalam bentuk tulisan.
Dr. Sarruf menceritakan kepadaku di hari-hari terakhirnya bahwa ia ingin mengakhiri karyanya dengan menyusun kamus dalam bahasa yang layak dikatakan sebagai kamus rakyat, dan ia menjelaskan metodenya kepadaku. Ketika aku berbicara dengannya tentang kitab bahasa yang aku mulai kerjakan sejak lama dan tidak ada yang tahu kabarnya, ia berkata kepadaku: “Ambil antara metode ku dan metode mu, dan berjalannya kamu dalam karya ini. Sesungguhnya aku seandainya mendapat waktu luang, tidak akan mengganti karya ini dengan sesuatu. Dan tidak semua yang mudah itu mudah…”
Sesungguhnya guru kami ini seandainya ia telah meluangkan waktu untuk bahasa dan memusatkan perhatian padanya serta berkumpul untuknya dengan umur, ilmu-ilmu, dan alat-alat itu, ia akan berada di dalamnya dengan sekelompok syaikh-syaikh terdahulu dari Abu Amr bin Al-Ala sampai Dr. Ya’qub Sarruf. Tetapi mungkin zaman terlalu sempit untuk diperluas atau terlalu luas untuk disempitkan… untuk imam lain seperti Abu Ali Al-Farisi yang meluangkan tujuh puluh tahun untuk satu cabang dari ilmu-ilmu bahasa yaitu ilmu qiyas, istiqaq (penurunan), dan illah-illah sharfiyyah (sebab-sebab morfologi) dan menjadikannya perhatian dan kesibukan utamanya sebagaimana dikatakan muridnya Ibnu Jinni: “Tidak menghalanginya anak, tidak menentangnya perdagangan, tidak dituntut dengan tuntutan, tidak melayani pemimpin dengannya, seolah ia hanya diciptakan untuk itu.”
Dokter memiliki cara yang berani dalam mengembalikan kata-kata Arab kepada asal-usulnya dan merujuknya kembali kepada sebab-sebab pengambilannya, penurunannya, dan perubahannya dari satu bahasa ke bahasa lain. Yang membantunya dalam hal ini adalah ketajaman pikirannya, luasnya ilmu, ketelitian pembedaannya, dan kecenderungannya yang dominan dalam mewujudkan hukum evolusi dan menjelaskan jejak-jejaknya pada makhluk-makhluk maknawi yang disebut dengan kata-kata. Dia kagum dengan segala sesuatu yang datang kepadanya dari bidang ini meskipun itu keliru, karena dia bertujuan kepada pendapat, memungkinkan cara, dan berjalan dengan masa kini.
Ini adalah bidang yang memerlukan kelonggaran dan toleransi, karena tidak mungkin dapat diwujudkan dengan pasti, dan kehati-hatian tidak dapat disepakati di dalamnya. Yang ada hanyalah terlihat sesuatu darinya, muncul sesuatu, dan tampak sebab serta alasan. Kemudian hal itu pada Dokter menunjukkan sebagian dari penguasaan kemampuan meletakkan dalam dirinya, dan kecenderungannya untuk mengqiyaskan dengan qiyasnya dan mengeluarkan dari sebab-sebabnya. Kamu dapat melihatnya berlebihan dalam hal itu sehingga dia menegakkan bukti untukmu dari balik beberapa ribu tahun.
Sekarang saya membantu ingatan saya dan memutar-mutarnya dari sini dan sana untuk menemukan sebuah kata yang pernah dia katakan kepada saya tentang sejarahnya: “Sesungguhnya orang Arab mengambilnya dari Yunani ketika Mekah sendiri berada di bawah kekuasaan mereka.” Namun saya lupa kata ini karena tidak mengaitkannya, dan karena saya tidak melihat mazhab ini dan tidak pandai mengatakan sesuatu di dalamnya. Saya menganggap semua yang dikatakan di dalamnya sebagai penyusunan dalil-dalil, seperti serigala Badui itu yang ingin menjadikan pada manusia darinya seperti naluri domba… maka dia berkata: “Jika kamu tidak melihatnya, kamu mengiranya.”
Dokter Sarruf adalah orang yang ekonomis dalam harta dan dalam bahasa sekaligus. Mazhabnya adalah hemat dalam petunjuk, hemat dalam waktu, dan hemat dalam tenaga. Ketiganya telah memalingkannya dari syair dan dari apa yang seukuran dengannya berupa menghias prosa dan memperindahnya, padahal dia pandai keduanya jika mau dan jika jiwanya bersedia dengan waktu yang dibelanjakan tanpa mengetahui berapa yang telah berlalu darinya dalam jam-jam ini, bahkan dalam jam alam semesta yang besar di mana jarum siang dan malam silih berganti, sebagaimana Al-Barudi dahulu menghabiskan satu hari untuk satu atau dua bait.
Guru kami dalam pertemuan terakhir saya dengannya sebelum wafatnya sekitar sebulan atau lebih, menunjukkan kepada saya semua syair yang telah dia terbitkan dalam jilid-jilid “Al-Muqtataf”. Saya kagum dengan beberapa hal darinya, dan saya menyarankan kepada sahabat kami Profesor Fuad Sarruf untuk menerbitkan ulang qasidah Ar-Raqasy yang diterjemahkan Dokter dari bahasa Inggris dalam susunan yang lancar dengan qafiyah yang indah, yang di dalamnya pemiliknya berkata menggambarkan aib-aib peradaban:
“Aib-aib berturut-turut yang memisah dan menjadi… pada mimpi seperti ulat dan dalam tulang seperti rayap.”
Dokter bertanya kepada saya setelah selesai membaca syairnya: “Dalam tingkatan mana kamu menggolongkan saya dari para penyair mereka?” Saya berpikir sebentar lalu berkata kepadanya: “Dalam tingkatan Dokter Sarruf!” Dia tertawa keras karenanya.
Dia memiliki pandangan tentang syair Arab yang berbeda sebagiannya di akhir masanya. Di antara yang pernah dia katakan kepada saya: “Sesungguhnya yang ingin mengabadikan namanya di Timur ini agar tidak dilupakan, tidak pantas dia berharap pada ini kecuali jika membangun piramida seperti piramida Giza!” Ini adalah kata filosofis besar yang mengandung penjelasan panjang yang diketahui oleh yang mengetahuinya.
Kaidah hemat yang saya isyaratkan hampir berakhir dengannya di akhir masanya kepada pendapat menghapuskan i’rab sama sekali. Saya kira itu adalah pikiran yang muncul kepadanya lalu dia mengambil awalnya dan meninggalkan untuk melihat akibat-akibatnya. Saya mengunjunginya suatu kali pada bulan Januari tahun 1927, dan dia sedang mengoreksi tulisan tangannya sebuah jawaban yang dia tulis tentang pertanyaan yang datang kepadanya: “Apakah mungkin kembali kepada bahasa fushah dalam membaca dan berbicara, dan apa faedahnya?” Ketika dia selesai meninjau jawabannya, dia memberikannya kepada saya lalu saya membacanya. Ternyata dia berpendapat bahwa setiap harakat dari harakat i’rab dan bina’ membuang-buang waktu. Dia berkata: “Jika kita mewajibkan anak-anak Arab untuk tidak berbicara kecuali dengan kalam yang mu’rab, kita telah menyia-nyiakan sepertiga waktu yang mereka habiskan untuk berbicara tanpa faedah yang diperoleh.”
Sungguh saya berdebat dengannya dalam hal itu dan berkeras dalam perselisihan dengannya. Saya berkata kepadanya: “Ini adalah kaidah ekonomi, kemudian kamu mengabaikan urusan kebiasaan dan apa yang dimudahkannya. Dalam kalam ada ijaaz yang berdiri dengan i’rab, kedudukan ini tidak bisa tidak ada ijaz, dan dalam dialek-dialek awam ada isian, pemanjangan suara, dan kerusakan susunan yang menghilangkan lebih dari sepertiga waktu.” Saya kira dia yakin meskipun saya melihat dia tidak yakin.
Sesungguhnya hadir dalam ingatan saya setelah ini banyak pembicaraan tentang keutamaan-keutamaannya, adab-adabnya, sifat-sifat jiwanya yang suci, dan kecenderungannya pada akhlak yang baik dan mulia. Seandainya saya mau berlebihan, saya akan keluar kepada pembahasan panjang lebar dalam berbagai bidang. Namun saya cukupkan dari semua itu bahwa dia selalu tampak kepada saya seolah-olah berada dalam naungan cinta Allah.
Kitab telah berubah menjadi sebuah kitab, dan pemikir kembali menjadi sebuah pemikiran, dan orang yang dahulu mengajar manusia kini menjadi pelajaran yang diingat atau dilupakan. Sejarah pun telah mengambil seorang ulama dari para ulamanya dan menjadikannya sebuah berita dari berita-beritanya. Ia yang dahulu membangun sejarah, kini diletakkan dalam bangunannya. Dan dikatakan: Syekh Al-Khudhari telah meninggal!
Ah, seandainya satu orang saja bisa kembali dari jalan kematian yang awalnya adalah titik kecil bernama bola bumi ini, dan akhirnya adalah tempat di mana kamu menemukan kata “akhirat” tanpa makna yang tak terbatas dan tak terduga! Dan ah, seandainya kita bisa berbicara tentang orang mati seolah-olah dia hidup di antara kita, padahal kita sering berbicara tentang orang hidup seolah-olah dia telah mati pada suatu masa! Sungguh, aku menulis kata-kata ini seakan-akan aku melihat wajah ayahku rahimahullah dan menyaksikan sikap menakjubkan itu, serta wibawa yang memenuhi jiwa dengan rasa hormat dan keagungan. Aku merasakan cinta itu yang merupakan salah satu dari tiga jalan yang berakhir dari bumi ke langit, dan dari makhluk kepada penciptaan, serta yang dimulai dari langit ke bumi dan dari Pencipta kepada makhluk: jalan ibu, jalan ayah, dan jalan kemanusiaan. Aku menulis seakan-akan ada tangan dari balik materi yang mengusap hatiku sehingga aku merasakan beban dan kelemahan, dan aku merasakan kerinduan dan hasrat, serta merasakan hati ini menarikku kepada kaum yang telah pergi tanpa kembali, berpisah tanpa pamit, dan menghilang dari kita tanpa kabar. Mereka masuk ke dalam jiwa kita namun jiwa kita tidak menampung mereka, dan mereka keluar darinya namun jiwa kita tidak kosong dari mereka. Mereka tidak masuk dan tidak keluar, dan inilah kebingungan yang ditinggalkan orang mati yang terkasih bagi orang hidup yang berduka agar dia mengetahui melalui orang-orang matinya apa itu kematian!
Tiga puluh sekian tahun yang lalu kami berada di kota Manshura, dan ayahku saat itu adalah kepala hakim syariah di wilayah tersebut. Suatu hari aku sedang bermain di serambi rumah kami ketika ada yang mengetuk pintu. Aku pergi membuka pintu dan melihat seorang syekh yang belum mencapai usia memakai sorban, dan aku tidak bisa membedakan dari penampilannya apakah dia seorang penuntut ilmu atau ulama. Dia masih muda namun menunjukkan tanda-tanda keseriusan. Aku melihat jubah tidak bergelombang padanya seperti para ulama, tetapi juga tidak menolaknya seperti para pelajar. Di tangannya ada sebuah jilid tebal yang seandainya bisa berbicara akan berkata kepadanya: “Biarkanlah aku untuk orang yang lebih tua darimu!” Aku memperkirakan beratnya sama dengan dua puluh jilid semacam itu. Dia menatapku dengan tatapan yang sepertinya masih kulihat di matanya hingga saat ini. Aku memberi salam kepadanya lalu dia berkata: “Di mana sang syekh?” maksudnya ayah. Aku berkata: “Dia baru saja keluar.” Dia berkata: “Sampaikan buku ini kepadanya, dan katakan bahwa Al-Khudhari yang membawanya.”
Lalu aku menutup pintu dan menyendiri, membuka jilid itu. Ternyata itu adalah bagian dari Tafsir Kabir karya Fakhruddin Ar-Razi yang dia pinjam dari perpustakaan kami. Sejak saat itulah aku mengenal sang syekh. Dia adalah guru bahasa Arab di sekolah kerajinan, meletakkan buku nahwu dan sharaf bersama palu, gergaji, dan kapak, sehingga semuanya bercampur seakan dia tidak mengetahui apa-apa. Jarang kami menyebutnya di sekolah kami karena kami memiliki syekh yang handal dan terpercaya dari kalangan Al-Azhar. Namun Al-Khudhari memiliki tempat di setiap majelis, dan dia bergaul dengan sekelompok orang khusus yang memperhatikan permasalahan-permasalahan Islam, filsafatnya, dan pendekatannya kepada masyarakat umum. Atas isyarat dari beberapa orang ini, dia menyusun buku pertamanya: “Nur al-Yaqin fi Sirat Sayyid al-Mursalin” (Cahaya Keyakinan dalam Biografi Pemimpin Para Rasul). Judul ini hampir menunjukkan bobot sang guru di awal masa pengabdiannya, bahwa dia masih tertinggal di belakang sajak yang datang dari abad-abad terakhir, belum maju dan belum dikenal dengan suatu mazhab.
Siapa yang ingin mengatakan perkataan yang benar tentang faqih, ulama, sejarawan, sastrawan, dan pendidik ini, harus kembali dengan arusnya ke sumbernya untuk mengetahui seberapa besar pancaran, kekuatan aliran, dan luasnya gelombang. Al-Khudhari bukanlah apa-apa sebelum dia terkait dengan orbit bintang kemanusiaan agung yang diberikan langit kepada bumi dan dinamai dengan nama-namanya “Muhammad Abduh”. Dar al-Ulum telah meluluskannya sebagaimana meluluskan banyak orang lain, tetapi dar al-ulum yang sesungguhnya adalah akhlak sang guru imam, sifat-sifatnya, pandangan-pandangannya, kefasihannya, dan keluhuran jiwanya. Ketahuilah bahwa pasti ada satu orang yang menjadi “yang satu” tempat dimulainya hitungan di setiap zaman. Jika engkau merenungkan Al-Khudhari, ketahuilah bahwa engkau berhadapan dengan salah satu makna dari Syekh Muhammad Abduh, meskipun ada perbedaan antara kedua jiwa itu. Bahkan dari Al-Khudhari engkau seakan melihat sang syekh berjalan dalam salah satu manifestasi zaman.
Dia menghadiri pelajaran-pelajaran sang syekh, datang ke majlisnya, berdiskusi dengannya tentang beberapa pendapat, dan menyunting bersamanya beberapa buku yang sang syekh rujuk untuk dikoreksi atau diawasi pencetakannya. Maka sang syekh memasuki jiwanya dan menemukan jalan untuk menetap di dalamnya. Sejak itu dia menjadi orang yang menjaga waktunya, rajin dalam pekerjaannya, tekun di jalannya, berpegang pada akhlak mulia, seorang pembaharu dan pendidik yang penuh ghirah, dan semua itu dengan sikap berwibawa, pendapat yang matang, kemuliaan cita-cita, dan keikhlasan yang sesungguhnya. Aku tidak melihat kekacauan zaman kita ini, kemundurannya, kerendahannya, dan kesia-siaan ucapan mereka: baru dan lama, berani dan reaksioner, bebas dan kaku – kecuali karena kekosongan zaman dan ketiadaan jiwa besar, serta kebutuhannya kepada imam yang agung. Kapan kita menjadi berputar dalam lingkaran tanpa pusat, maka ia adalah bujur sangkar, persegi panjang, dan segala bentuk kecuali lingkaran. Mereka yang melihat Tagore, penyair India yang sufi ketika singgah di Mesir, dan melihat sihir serta perubahannya, mengubah segala yang baru selama beberapa hari menjadi lama, membungkam lidah-lidah ini dari kritik dan perlawanan, serta dari menentang kebenaran karena kebodohan, kecerobohan, kesesatan, dan pembaruan… mereka dapat memahami apa yang kami isyaratkan, melihat rahasia apa yang kami hadapi, dan membayangkan apa yang dimiliki Syekh Muhammad Abduh di zamannya, bahkan dalam menciptakan zamannya.
Al-Khudhari berakhir di sekolah peradilan syariah, lalu menyusun bukunya tentang ushul fiqh. Dia meringkas, memperbaiki, dan mendekatkan di dalamnya, sehingga itu adalah buku tentang ilmu ini, bukan buku ilmu ini. Para guru ushul adalah kelompok lain. Jika engkau seperti Syekh Ar-Rafi’i yang besar, engkau akan melihat lautan yang pantainya memanjang setengah panjang bumi. Al-Khudhari terdorong untuk melakukan itu karena sekelompok orang saat itu, termasuk sahabat kami almarhum Hafni Nashif, Syekh Al-Mahdi, dan lain-lain, berkumpul untuk menciptakan kebangkitan dalam penulisan. Tiga orang dari mereka mengambil bagian sastra, dan Al-Khudhari mengambil ushul. Hafni Bek rahimahullah memberitahuku hal itu.
Kemudian ketika para pengurus Universitas Mesir lama memilih sahabat kami, ulama sejarawan Jurji Zaidan, untuk mengajar sejarah Islam di sana, berita itu tersebar di kalangan umat bahwa mereka telah memilih “bom”. Orang-orang merasakan makna kehancuran sebelum ada sesuatu yang hancur, sehingga universitas terpaksa menyingkirkannya dan mempercayakan pelajaran kepada Ustaz Al-Khudhari. Dia menyampaikan pelajaran-pelajaran yang dikumpulkannya dalam bukunya “Tarikh al-Umam al-Islamiyyah” (Sejarah Umat-Umat Islam). Dalam mukaddimah buku ini dia berkata: “Aku berharap telah berhasil mengatasi kesulitan besar, yaitu kesulitan mengambil manfaat dari sejarah Arab dari buku-bukunya.” Kami katakan: Meskipun sang syekh berbuat baik dalam bukunya dan menghadirkan materi yang melimpah dari pemikiran dan pendapatnya, meluaskan dan meringkas, menjauhkan dan mendekatkan, namun perkataannya ini entah lebih besar dari sejarah atau lebih besar dari bukunya.
Tahun lalu dia menanggapi buku “Asy-Syi’r al-Jahili” (Puisi Jahiliyah) karya Dr. Taha Hussein. Tanggapannya berupa pidato yang ingin dia sampaikan kepada mahasiswa universitas karena dia adalah guru dari guru mereka, seakan dia ingin menjadikan guru mereka ini sebagai murid bersama mereka. Universitas menolak apa yang dia inginkan, mungkin mereka menyadari maksud ini. Ketika dia tahu bahwa aku mulai mencetak tanggapanku terhadap Dr. Taha, dia berbicara kepadaku untuk memasukkan tulisannya dan menjadikannya tambahan dalam buku tersebut. Kami memperkirakan saat itu sekitar lima puluh halaman atau kurang. Aku minta dia menghilangkan yang ukurannya seperti peluru timah dan hanya menyisakan yang seberat bom. Dia berkata: “Semuanya bom!” Kemudian bukuku meluas dan melebihi ukurannya menjadi dua kali lipat, maka dia memperluas tanggapannya, menambahnya, dan mencetaknya secara terpisah hampir dua kali lipatnya.
Tinggalkan bukunya yang terkenal “Muhadhdhab al-Aghani” (Penyuci Lagu-lagu), karena ini tidak bisa dikatakan bahwa sang syekh menulisnya, tetapi lima belas tahun yang menulisnya. Aku rasa semua itu tidak disebutkan dibandingkan dengan buku yang sedang dia kerjakan akhir-akhir ini, yaitu buku “Al-Adab al-Mishri” (Sastra Mesir). Dia memberitahuku bahwa buku itu terdiri dari dua jilid dan mengundangku ke rumahnya untuk melihat “Perpustakaan Al-Khudhariyyah” dan melihat buku ini. Aku berjanji kepadanya tetapi tidak bisa terlaksana. Dia menceritakan kepadaku bahwa dia sangat memperhatikan pengumpulan perbedaan-perbedaan yang membedakan sastra Mesir dari sastra Hijaz, Syam, Irak, dan Andalusia, dan bahwa dia menemukan hal-hal yang berbeda sejak Dinasti Thuluniyyah, yang berhak bagi Mesir untuk mengatakan: “Ini sastraku.” Dia menyembunyikan berita tentang buku ini, hingga sahabat kami Ustaz Hafiz Bek Awad, pemilik surat kabar “Kaukab asy-Syarq” (Bintang Timur), mengusulkan kepadanya untuk menulis bab tentang penyair-penyair Mesir dan sastra mereka untuk buku perayaan penghormatan terhadap Syauqi Bek. Kemudian dia menemuinya setelah itu dan sang Syekh berkata kepadanya: “Penelitian berjalan dengan sangat baik!”
Al-Khudhari senang bertemu denganku dan bersikap ramah kepadaku. Aku melihat di wajahnya sinar-sinar jiwanya yang jernih, dan mungkin dia melihat padaku dalam dirinya sosok syekh yang memberiku jilid itu, sebagaimana aku melihat padanya dalam diriku sosok murid yang mengambil jilid darinya! Namun sesungguhnya hal itu kembali kepada kelapangan dadanya, keluasan pandangannya, keluasan toleransinya, kemuliaan adab dan keadilannya. Dia tidak mendendam, tidak iri, tidak melampaui kadarnya, tidak menurunkan seseorang dari kadarnya, dan tidak mengklaim apa yang tidak dia kuasai. Para pembaca “Al-Muqtataf” mengenal sebagian atau lebih dari akhlaknya ini ketika sahabat kami Ustaz Abdurrahim bin Mahmud mengkritiknya dan membahas jilid pertama bukunya “Muhadhdhab al-Aghani” dan mulai berguncang seperti bongkahan batu besar. Sang syekh meluaskan toleransinya kepadanya, memperhatikannya, dan menanggapinya di “Al-Muqtataf”, menyebutnya sebagai ustaz yang cerdas, membela diri darinya, dan berbuat adil kepadanya sekaligus.
Suatu kali aku mengusulkan kepadanya untuk menyusun buku tentang hikmah syariat Islam dan filsafatnya. Dia berkata kepadaku: “Masy qaddu” (bukan ukuranku), maksudnya pekerjaan itu lebih besar darinya. Tetapi ini mengingatkannya untuk menyusun bukunya tentang “Tarikh at-Tasyri’ al-Islami” (Sejarah Legislasi Islam).
Ketika aku menerbitkan jilid pertama “Tarikh Adab al-Arab” (Sejarah Sastra Arab) tahun 1911, aku tidak mempersembahkannya kepada sang syekh. Dia membelinya dan membacanya, kemudian aku bertemu dengannya dan menanyakan pendapatnya tentang buku itu. Dia berkata: “Jiddan kuwayis” (sangat bagus). Kata “jiddan” (sangat) adalah pujian, dan “kuwayis” (bagus) adalah pujian lain. Dia mengatakan ini pada saat beberapa saudara syekh lainnya hampir mati karena sedih dengan buku ini dan apa yang ditulis tentangnya, dan pada saat sebagian dari mereka berbicara kepadaku dua kali untuk meninggalkan pekerjaan ini dan melepaskan tanganku darinya karena – menurutnya – pekerjaan yang berat tanpa faedah.
Aku mengunjungi Ustaz Al-Khudhari di Kementerian Pendidikan tahun lalu. Setelah aku duduk di sampingnya, dia berdiri lagi dan mulai menguatkanku di kursi dengan kuat, seakan dia belum yakin bahwa aku sudah duduk. Kemudian dia berbicara panjang lebar. Di antara yang dia katakan: “Sekarang aku hidup bukan di zamanku.” Seakan dia meratapi dirinya sendiri dengan kata ini tanpa dia tahu dan aku tahu. Dia berkata kepadaku bahwa dia duduk di perpustakaannya setiap hari enam jam, membaca dan menulis atau menyalin, karena semua buku-buku tulisan tangannya dia yang memindah, menyalin, dan mengoreksinya. Dia membaca empat juz Al-Quran setiap hari. Dia berkata: “Aku tidak terserang pilek atau penyakit-penyakitnya karena kebiasaan melatih dadaku dengan tilawah ini.” Dia berkata bahwa semua yang ada padanya hanyalah dari berkah Al-Quran.
Mari kita berhenti sampai di sini, karena kenangan menggetarkan hati. Secara keseluruhan, dia rahimahullah adalah seorang ulama seperti penulis, dan penulis seperti ulama. Dia dari kedua kelompok ini menggabungkan dua tingkatan, dan dia sendiri adalah tingkatan di antara dua tingkatan. Dengan demikian dia dibedakan dan tampak, karena dia di salah satu sisi adalah akal yang berani yang didukung oleh riwayat luas dalam berbagai ilmu. Kita melihatnya menghidupkan masa lalu dari akalnya hingga seakan masa lalu itu tidak berlalu. Di sisi lain, dia adalah ilmu yang luas yang tidak berhenti pada batas halaman atau buku, bahkan terus mencari akal yang mengeluarkannya dan bertindak dengannya, hingga lebih besar dari sekadar kuno murni sehingga menggabungkan masa kini dengan masa lalunya dan melepaskan keduanya dengan satu kebebasan.
Sang syekh tidak baru kecuali dengan yang lama, dan tidak lama kecuali dengan yang baru. Karena kita tidak mengenal yang lama murni atau yang baru murni, dan kita tidak menetapkan bobot salah satunya kecuali dengan bobot yang lain jika kita menginginkan keduanya sebagai sunnah kehidupan. Engkau tidak akan menemukan yang hidup terputus dari apa yang di belakangnya, bahkan engkau melihat alam mengikat setiap yang hidup baru kepada dua asal dari yang lama, bukan satu asal, yaitu kedua orang tuanya. Dari keduanya dia datang, dari keduanya dia mengambil, dan keduanya selamanya ada padanya meskipun dia terpisah.
Setelah itu, seandainya aku mengikuti kebodohan zaman yang terkenal, aku akan berkata: Sesungguhnya mazhab lama telah runtuh salah satu rukunnya, dan berkurang satu qinthar buku dari timbangannya. Tetapi kebodohan ini menurutku seperti yang engkau lihat dari sekelompok orang yang bersekutu untuk memadamkan bintang di langit karena dia lama. Mereka sepakat tentang hal itu dan menyepakatinya di antara mereka serta menyelesaikan urusannya, lalu sebagian dari mereka menghadap kepada sebagian yang lain bertanya bagaimana mereka menyiapkan kereta dan pompa yang membawa ke langit beberapa lautan untuk disiramkan pada bintang itu…
Pandangan Baru Pertama dalam Kitab-kitab Sastra Klasik:
Kitab “Adab al-Katib” karya Ibnu Qutaibah merupakan salah satu dari empat karya fundamental yang disebutkan Ibnu Khaldun dalam pembahasannya tentang ilmu sastra. Ibnu Khaldun berkata: “Kami mendengar dari para guru kami dalam majelis-majelis pengajaran bahwa dasar-dasar bidang ilmu ini dan pilar-pilarnya adalah empat kitab, yaitu: ‘Adab al-Katib’ karya Ibnu Qutaibah, ‘Kitab al-Kamil’ karya al-Mubarrad, ‘Kitab al-Bayan wa al-Tabyin’ karya al-Jahizh, dan kitab ‘al-Nawadir’ karya Abu Ali al-Qali al-Baghdadi. Selain keempat kitab ini hanyalah cabang dan turunan dari keempat kitab tersebut.”
Para sastrawan zaman kita mungkin mengira bahwa perkataan Ibnu Khaldun ini hanya cocok untuk zamannya dan kaumnya, dan bahwa perkataan itu mengikuti cara generasi sebelum mereka dalam rantai periwayatan yang mereka sebut: “diceritakan kepada kami si fulan dari si fulan” hingga sampai kepada al-Asma’i atau Abu Ubaidah atau Abu Amr bin al-Ala dan para guru periwayatan serta ahli bahasa lainnya. Namun hal itu tidak sesuai dengan sastra kita dan tidak termasuk dalam khazanah kita serta tidak masuk dalam pengetahuan kita. Bahkan hampir-hampir orang yang tertipu di antara mereka oleh pandangan-pandangan Eropa yang mereka sebut sebagai ilmunya… dan orang yang larut dalam taklid yang mereka sebut sebagai mazhabnya… hingga mereka menganggap bahwa kitab-kitab tersebut dan yang sejalan dengannya adalah buku-buku yang mati, dan merupakan kuburan dari kertas-kertas, dan bahwa kita harus mengabaikannya lebih daripada jarak waktu yang memisahkan kita dengannya, dan bahwa membangkitkan dan menghidupkan kitab-kitab tersebut hampir seperti membangkitkan orang mati: pertanda kehancuran dunia.
Adapun bahwa hal itu merupakan pertanda kehancuran dunia, maka itu benar jika yang dimaksud dunia adalah pemimpin redaksi koran… dari kalangan rekan-rekan kita ini. Adapun kitab-kitab tersebut, saya menganggapnya tidak disusun kecuali untuk zaman kita ini dan untuk para sastrawan serta penulisnya secara khusus. Seakan-akan takdir telah menetapkan perkataan itu dalam muqaddimah Ibnu Khaldun agar sampai kepada kita dengan teksnya sehingga kita dapat mengambil darinya apa yang dapat menegakkan kita di atas jalan yang benar di zaman ini, di mana para sastrawannya terjerumus dalam keluasan yang panjang dari cabang-cabang sastra dan kekacauan yang luas dari mazhab-mazhab penulisan serta cakrawala yang tidak menetap batasnya dari ilmu-ilmu dan filsafat…
Sesungguhnya materi yang kaya dengan makna-makna ini menghidupkan sastra bangsa-bangsa di Eropa dan Amerika, namun hampir-hampir melenyapkan sastra kita dan memusnahkan kita secara total yang menghilangkan kekhasan dan dasar-dasar kita, mengalihkan kita dari tatanan sejarah kita, merusak akal dan kecenderungan kita, serta melemparkan kita ke berbagai arah di antara setiap bangsa, hingga seakan-akan kita bukan suatu bangsa dalam ruang kemanusiaannya yang terbatas dari satu sisi oleh sejarah, dari sisi lain oleh sifat-sifat, dari sisi lain oleh ilmu-ilmu, dan dari sisi lain oleh sastra.
Dari situlah kebanyakan penulis kita tertimpa penyimpangan dari sastra Arab atau fanatisme terhadapnya atau meremehkannya. Di antara mereka ada yang tampaknya telah tertimpa kegilaan karena kebodohannya, di antara mereka ada yang seakan-akan dalam kedengkiannya telah mempersenjatai hatinya, di antara mereka ada peniru yang tidak tahu apakah dia berada di jalan yang benar atau menyimpang, di antara mereka ada yang bingung pergi dengan satu mazhab dan datang dari mazhab lain tanpa menuju tujuan yang jelas, dan di antara mereka ada yang memang demikian adanya.
Jarang ada yang memperhatikan sebab hal ini. Sebabnya dalam kehinaan dan kelemahannya seperti “penyakit”: benih yang tersembunyi yang tidak berarti, tetapi bila tumbuh akan menumbuhkan kesakitan, penderitaan, kematian, kesedihan, dan berbagai musibah.
Sebabnya adalah bahwa para sastrawan tersebut semuanya, kemudian orang yang mengikuti mereka atau mengambil pendapat mereka, tidak ada satu pun di antara mereka yang terlihat dalam dasar sastranya memiliki akar-akar Arab murni yang berdiri di atas studi bahasa, pengumpulannya, pengklasifikasiannya, penjelasan sebab-sebab dan tasrifnya serta tempat-tempat lidah di dalamnya, yang dengan itu sampai kepada penguasaan sastrawan pemula terhadap rahasia-rahasia bahasa ini dan menjinakkannya untuknya, sehingga dia menjadi pengayom bahasa itu dan bahasa itu pun responsif terhadap penanya, mengalir dalam tabiatnya, dan tepat dalam tindakannya. Hingga bila dia tumbuh dengan bahasa itu dan menguasainya dengan baik, dia akan berbuat baik untuknya, menambah materinya, mengambil untuknya dari yang lain, dan layak untuk mengembangkannya serta membuat keharmonisan yang baik antara bahasa itu dengan sastra-sastra lain, menjadikan itu sebagai tenunan yang satu dan keterangan yang sebagiannya dari sebagian yang lain. Maka sastra Arab akan tumbuh dalam karyanya sebagaimana pohon hidup tumbuh: mengambil dari segala yang di sekelilingnya untuk unsur dan tabiatnya, dan hanya unsur dan tabiatnya saja.
Sesungguhnya “Adab al-Katib” dan syarahnya ini oleh Imam al-Jawaliqi serta apa yang disusun mengikuti keduanya dengan cara pengumpulan bahasa, berita, syair-syair bukti, penelitian mendalam dalam hal itu, dan perluasan dalam aspek-aspek serta sebab-sebab nahwu dan sharaf, serta pendalaman dalam penelitian, semua itu adalah karya yang patut dikenal dengan haknya di zaman kita ini. Karya itu bukanlah sastra sebagaimana dipahami dari makna filosofis kata ini, bahkan merupakan hal yang paling jauh dari makna ini. Karena kamu tidak akan menemukan dalam kitab dari kitab-kitab ini kecuali karya tulis yang ada di hadapanmu, adapun penulisnya, kamu tidak akan menemukannya dan tidak mengenalnya darinya kecuali seperti kata yang terpenjarakan dalam kaidah… seakan-akan tidak ada di dalamnya jiwa manusia melainkan jiwa materi yang padat, seakan-akan dia tidak tumbuh untuk bekerja di zamannya melainkan agar zamannya bekerja di dalamnya, seakan-akan tidak ada dalam kitab itu aspek kemanusiaan yang tertentu. Ada karya tulis tetapi di mana penulisnya? Dan ini adalah kitab Ibnu Qutaibah, tetapi di mana Ibnu Qutaibah di dalamnya?
Para pendahulu tidak salah dalam menamai kitab-kitab ini sebagai sastra, karena itulah gambaran sastra di zaman mereka. Hanya saja gambaran ini telah berpindah di zaman kita, maka kita lah yang salah hari ini dalam penamaan ini, sebagaimana kalau kita menyebut unta di padang pasir sebagai “ekspres”, dan tandu sebagai kereta “pullman”.
Dari kesalahan penamaan ini, sastra Arab tampak bagi orang yang berpandangan pendek seakan-akan pengulangan satu zaman sepanjang waktu. Jika orang belakangan menambahkan, dia tidak mengambil kecuali dari orang terdahulu. Kitab-kitab ini menjadi seakan-akan secara keseluruhan merupakan undang-undang kewarganegaraan yang berlaku sepanjang masa, tidak patut bagi zaman yang datang kecuali menjadi dari jenis abad pertama.
Kitab-kitab ini dari segi ini seperti cuka: disebut untukmu sebagai madu kemudian kamu merasakan nya sehingga tidak ada yang merugikannya di sisimu kecuali nama yang dipalsukan untuknya. Adapun dia sendiri sebagaimana adanya dalam dirinya, dalam manfaatnya, dalam tabiatnya, dan dalam kebutuhan kepadanya, tidak berkurang dari itu dan tidak berubah.
Kebenaran yang ditunjukkan oleh penetapan yang benar adalah bahwa karya-karya tulis itu sesungguhnya disusun untuk menjadi adab, bukan dari makna adab pikiran, seninya, keindahannya, dan filsafatnya, melainkan dari makna adab jiwa, pembudayaannya, pendidikannya, dan penegakannya. Jadi kitab-kitab itu adalah kitab-kitab pendidikan bahasa yang berdiri di atas dasar-dasar yang kokoh dalam bidang ini, hingga orang non-Arab yang membacanya akan keluar darinya menjadi orang Arab atau dalam kecintaan kepada bahasa Arab dan kecenderungan kepadanya.
Karena itu kitab-kitab ini dibangun di atas tatanan yang membuat pembaca yang cerdas seakan-akan berteman dengan seorang Arab badui yang fasih dari kitab itu, dia bertanya kepadanya lalu dia menjawab, meminta petunjuk darinya lalu dia memberi petunjuk. Kitab itu mengeluarkannya melalui penelaahan dan bacaan sebagaimana padang pasir mengeluarkannya melalui pendengaran dan pembelajaran langsung. Pembaca dalam semua itu ditarik kepada arabisasi secara bertahap dari kecintaan jiwa and kasih sayangnya. Maka bab-bab itu melakukan kepadanya dalam apa yang direncanakan untuknya seperti yang dilakukan kitab-kitab pendidikan dalam pembentukan akhlak dengan metode-metode yang diterapkan padanya, bukti-bukti yang ditetapkan untuknya, dan tanda-tanda jiwa yang dirinci di dalamnya.
Dari sini datanglah kitab-kitab Arab ini semuanya dengan satu pola yang tidak berbeda secara umum. Yaitu berita-berita, syair-syair, bahasa, arab, pengumpulan, penelitian, dan pemurnian. Hanya berbeda dalam penambahan, pengurangan, ringkasan, perluasan, peringan, pemberatan, dan semacam itu dalam hal materi bukan dalam penempatan, hingga terbayang untukmu bahwa ini adalah kitab-kitab geografi untuk bahasa, kosa katanya, dan berita-beritanya, karena seperti kitab-kitab geografi: semuanya serupa dalam menggambarkan tabiat yang tetap yang tidak berubah tanda-tandanya dan tidak ada yang menciptakan selainnya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Bila kamu merenungkan apa yang kami jelaskan ini, kamu tidak akan heran sebagaimana herannya para penyusup sastra Arab dan orang-orang yang kebingungan di dalamnya ketika melihat keimanan para penulis terhubung dengan kitab-kitab mereka dan nyata pengaruhnya di dalamnya, dan bahwa mereka semua mengakui bahwa mereka menginginkan dengannya kedudukan di sisi Allah dalam bekerja untuk menjaga lisan ini yang dengannya Al-Quran diturunkan dan menyampaikannya dalam kitab-kitab ini kepada kaum mereka sebagaimana amanah disampaikan kepada ahlinya, hingga kalau bukan karena Al-Quran niscaya tidak akan disusun dari itu apa pun sama sekali.
Saya selalu melihat faktor ilahi dalam semua fase bahasa ini dan melihatnya menjalankannya untuk menjaga Al-Quran yang merupakan mukjizat besarnya. Saya melihat dari pengaruhnya datangnya kitab-kitab itu dengan tatanan tersebut, dan penundukan akal-akal luas dari para perawi, ulama, dan hafizh generasi demi generasi dalam pengumpulan, penjelasan, dan komentar tanpa inovasi, penetapan, filsafat, atau penyimpangan dari batas-batas yang digambarkan yang telah kami isyaratkan hikmahnya.
Seandainya ada di antara mereka pembaharu dari tipe rekan-rekan kita ahli kekacauan, kemudian diserahkan kepada mereka urusan ini untuk mereka kelola sebagaimana kita lihat dengan pandangan pendek, pendapat yang menentang, hawa nafsu yang menyimpang, kesombongan yang keras kepala, perkataan berdasarkan bisikan, ilmu berdasarkan dugaan, dan perdebatan guru yang saling bertentangan… niscaya sebagian dari mereka akan memukul wajah sebagian yang lain, datanglah kitab-kitab yang saling membelakangi, sejarah akan rusak, bahasa Arab akan hilang, dan seluruh urusan itu akan rusak, sehingga tidak ada yang teratur darinya.
Di antara apa yang dikembalikan kepada pembacanya oleh kitab-kitab itu dalam pendidikannya untuk bahasa Arab adalah bahwa kitab-kitab itu menanamkan padanya kesabaran, perjuangan, penelitian, keteguhan dalam pencarian, dan ketelitian dalam penelaahan. Inilah sifat-sifat yang hilang dari para sastrawan zaman ini, sehingga mereka tidak bertahan dan tidak meneliti, mereka merasa lama untuk melihat bahasa Arab, dan merasa berat untuk mendalami kitab-kitabnya. Seandainya mereka dididik dalam kitab-kitab itu dan dengan gaya Arab tersebut, niscaya akan sempurna keharmonisan antara bahasa dalam kekuatan dan kemuliaannya dengan apa yang mungkin diingkari oleh selera mereka dalam kelemahan dan kekasarannya, dan mereka akan lebih berhak atasnya dan menjadi ahlinya.
Itulah justru rahasia bahwa orang-orang yang tidak membaca kitab-kitab itu pada awal pertumbuhan mereka, kamu tidak akan melihat mereka menulis kecuali dengan gaya yang rendah, tidak datang kecuali dengan kalimat yang sakit dan hambar, tidak melihat dalam sastra Arab kecuali pendapat-pendapat yang bengkok. Kemudian mereka tidak mampu bertahan dalam mempelajari kitab Arab. Maka mereka memudahkan diri mereka sendiri dan menghukumi bahasa dan sastra dengan apa yang mereka rasakan dalam keadaan mereka itu, terjerumus dalam perkataan-perkataan yang menggelikan, dan lupa bahwa tidak boleh memutuskan tentang sesuatu dari segi perasaan selama perasaan berbeda pada manusia karena perbedaan sebab-sebab dan keadaan-keadaannya, dan tidak dari segi yang mungkin ada kesalahan di dalamnya. Mereka selamanya berada di salah satu dari kedua segi atau keduanya.
Syarah al-Jawaliqi ini merupakan salah satu kitab paling menyenangkan yang telah kami tunjukkan. Penulisnya adalah Imam Abu Manshur Mauhub al-Jawaliqi yang lahir tahun 465 Hijriah dan wafat tahun 540 Hijriah. Dia adalah murid Imam Syeikh Abu Zakariya al-Khatib al-Tabrizi, orang pertama yang mengajarkan sastra di Madrasah Nizhamiyah Baghdad. Al-Jawaliqi belajar kepada gurunya ini selama tujuh belas tahun, menyelesaikan di dalamnya ilmu-ilmu sastra dari bahasa, syair, berita, dan arab dengan cabang-cabangnya. Kemudian menggantikan gurunya dalam mengajar sastra di Nizhamiyah setelah Ali bin Abi Zaid yang dikenal dengan al-Fashihi.
Kami tidak ragu bahwa syarah ini adalah sebagian dari pelajaran-pelajarannya di madrasah itu. Maka kamu dari kitab ini seakan-akan berada di hadapan kursi pengajaran di zaman itu, mendengar dari seorang yang kepadanya berakhir kepemimpinan bahasa di zamannya. Dia adalah orang yang teliti, menyeluruh, berlebihan dalam penelitian, tidak luput darinya sesuatu yang menjadi jalurnya dalam penjelasan, peduli dengan tashrif dan aspek-aspeknya dari apa yang sampai kepadanya dari pengaruh Imam Ibnu Jinni, filosof ilmu ini dalam sejarah sastra Arab. Karena antara al-Jawaliqi dan Ibnu Jinni ada dua guru sebagaimana kamu ketahui dari sanadnya dalam syarah ini.
Mereka berkata: Abu Manshur dalam bahasa lebih baik daripada dalam nahwu, meskipun dia imam dalam keduanya. Karena dia kadang-kadang dalam beberapa alasan nahwu pergi kepada pendapat-pendapat yang aneh yang dia sendirian padanya. Abdul Rahman al-Anbari telah menyebutkan darinya dua contoh dalam kitabnya “Nuzhah al-Albab”. Tetapi keanehan ini sendiri adalah bukti kemandirian pikiran, keluasannya, dan upayanya untuk berada di tingkat atas dari para imam bahasa Arab. Dia dalam hal itu adalah orang yang terpercaya, jujur, banyak yang tepat, menakjubkan dalam kehati-hatian dan ketelitian, hingga dari pengaruh itu dalam tabiatnya bahwa dia terbiasa berpikir dan lama diam, tidak berkata apa-apa kecuali setelah pertimbangan dan pikiran panjang. Jika tidak menemukan sesuatu, dia berkata: “Saya tidak tahu,” dan sering dia ditanya tentang masalah lalu tidak menjawab kecuali setelah beberapa hari.
Dia adalah orang yang wara’, kuat imannya. Imannya, ilmunya, dan takwanya sampai pada titik bahwa dia menjadi guru Khalifah al-Muqtafi li Amr Allah, khusus dengan kepemimpinannya dalam shalat-shalat, dan al-Muqtafi membaca kepadanya sesuatu dari kitab-kitab, mendapat manfaat dari itu, dan nyata pengaruhnya dalam surat-suratnya sebagaimana mereka katakan.
Orang yang merenungkan syarah ini dengan perenungan lebih akan melihat penulisnya seakan-akan Allah menciptakannya sebagai orang statistik dalam bahasa, tidak luput darinya sesuatu yang dikenal hingga zamannya. Dia tanpa ragu berjalan dalam jalan pikiran yang ditempuh Ibnu Jinni dan gurunya Abu Ali al-Farisi. Dari pengaruh jalan ini padanya bahwa dia tidak kaku dan tidak mencegah qiyas dalam bahasa, menyamakan apa yang ditetapkan orang-orang belakangan dengan apa yang didengar dari orang Arab, meriwayatkan semua itu, menghafalnya, dan menyampaikannya kepada murid-muridnya.
Di antara yang paling menyenangkan dari itu dalam syarahnya adalah perkataannya di halaman 235, yaitu bab yang tidak dipenuhi oleh yang lain dan tidak kamu temukan kecuali dalam kitabnya. Ini ungkapannya:
Perkataan mereka: “tanganku dari itu berbau”: yang didengar dari mereka dalam hal itu adalah kata-kata yang sedikit. Sebagian ahli bahasa telah mengqiyaskan atas itu lalu berkata: tanganku dari lemak berbau tengik, dari telur berbau amis, dari tanah berbau tanah, dari tin dan anggur serta buah-buahan berbau busuk dan berbau asam dan lengket, dari rumput berbau busuk juga, dari keju berbau apek, dari kapur berbau menyengat, dari besi dan logam serupa serta kuningan dan timah berbau logam dan berkarat juga, dari lumpur berbau lumpur dan berlumpur, dari pacar berbau pacar, dari gandum dan adonan serta roti berbau tepung, dari cuka dan nabidz berbau asam, dari gula aren dan madu berbau lengket dan lengket juga, dari darah berbau darah dan berbau anyir, dari minyak berbau tengik, dari bunga harum berbau harum, dari bunga berbau bunga, dari minyak zaitun berbau tengik, dari ikan berbau logam dan berbau amis, dari minyak samin berbau berlemak dan berbau lemak, dari madu dan tanah liat berbau lengket, dari wangi-wangian berbau wangi, dari minyak wangi berbau harum, dari air cucian dan panci berbau hangus, dari buah tin berbau pahit, dari susu berbau susu, dari daging dan kuah berbau daging, dari air berbau basah dan berbau air, dari misk berbau wangi dan berbau harum, dari bau busuk berbau tengik, dari minyak bumi berbau keriting. Selesai.
Yang didengar dari kata-kata ini dari orang Arab tidak melebihi tujuh sejauh yang kami lihat, dan sisanya semua dijalankan oleh ulama bahasa dan ahli sastra berdasarkan qiyas. Maka qiyas menciptakan dari padanya tiga puluh empat kata. Seandainya kamu merenungkan cara mengambilnya dan kembali kepada asal-asal yang diambil darinya, niscaya kamu yakin bahwa bahasa Arab ini adalah yang paling luas dari semua bahasa, dan bahwa dia dari ahlinya seperti kenabian yang kekal dalam agamanya yang kuat: menunggu setiap generasi yang datang sebagaimana mengantarkan setiap generasi pergi, karena dia adalah kemanusiaan untuk ini dan itu.
Sesungguhnya munculnya syarah seperti ini seperti teguran bagi kebanyakan penulis zaman ini supaya membaca dan belajar, khususkan bahasa kalian dengan sebagian dari perhatian kalian, didiklah untuk bahasa itu dengan pendidikannya di sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga kalian, bersabarlah dalam memperjuangkannya seperti sabarnya orang yang mencintai kepada kekasihnya. Jika kalian lemah, maka seperti sabarnya orang yang berbakti kepada yang wajib haknya baginya. Jika kalian lemah dari ini, maka seperti sabarnya orang yang memaksakan diri yang berhias paling tidak!
Maksud dari menulis secara khusus tentang seorang penyair atau penulis dari masa lalu adalah agar kamu seolah menghidupkannya kembali di dunia melalui sebuah buku. Dia yang dulunya adalah manusia dan memiliki umur, kamu kembalikan menjadi cerita padahal dia dulunya adalah karya. Kamu memindahkannya bersama zamannya ke zamanmu, dan memperkenalkannya bersama kaumnya kepada kaummu, hingga seolah-olah setelah Allah menciptakannya dengan penciptaan wujud melalui penciptaan akal, Dia menciptakannya dengan penciptaan pemikiran.
Oleh karena itu, penulis harus meneliti secara mendalam dalam mengumpulkan jejak-jejak dan berita-berita tentang orang yang diterjemahkannya, dan harus menanggung kesulitan dalam hal itu sebagaimana yang akan ditanggungnya seandainya dia berlari mengejar dua raja dari orang yang diterjemahkannya untuk membaca buku karya-karya mereka di tangan keduanya. Dan penulis harus berlebihan dalam penelitian dan perbandingan, teliti dalam istinbat (penyimpulan) dan penggalian, menambahkan pada umumnya apa yang ditemukan dari ilmu dan berita dengan khususnya apa yang ada padanya dari pendapat dan pemikiran. Dia bekerja untuk menyempurnakan apa yang telah dicapai masa lalu dalam sastra dan ilmunya dengan apa yang dicapai masa kini dalam seni dan filsafatnya. Itu adalah kerja akal yang selalu diperbaharui dan berkesinambungan dalam kehiduan ini dengan mazhab-mazhabnya yang berbeda, menyerupai kerja zaman yang selalu diperbaharui dan berkesinambungan dengan malam dan siang di bumi ini. Setiap siang atau malam adalah yang terakhir dan yang pertama, demikian pula semua akal adalah yang terakhir dari satu sisi dan yang pertama dari sisi lain.
Pembaharuan dalam sastra hanya terjadi melalui dua cara: pertama, penyimpanan oleh sastrawan yang hidup dalam jejak-jejak pemikirannya melalui apa yang diciptakannya berupa gambaran-gambaran baru dalam bahasa dan bayan (retorika). Kedua, penciptaan oleh yang hidup dalam jejak-jejak yang mati melalui apa yang ditanganinya berupa mazhab-mazhab kritik yang baru dan gaya-gaya seni yang baru. Dalam penciptaan pertama ada penciptaan apa yang belum ada, dan dalam yang kedua ada penyempurnaan apa yang belum sempurna. Maka tidak heran jika pada keduanya terdapat hakikat pembaharuan dengan semua maknanya, dan tidak ada pembaharuan kecuali dari situ, maka tidak ada yang baru kecuali bersama yang lama.
Jika kamu memahami dan meneliti ini, kamu akan menyadari mengapa para pengaku pembaharu di antara kita terombang-ambing, dan kebanyakan mereka mengklaimnya dengan kebodohan dan menyandangnya dengan kepalsuan. Keseluruhan kerja mereka seperti orang negro yang meletakkan bedak putih di wajahnya lalu pergi mengklaim bahwa dia lahir putih dari ibunya bukan dari kotak bedak. Sebab di antara mereka ada yang membuat risalah tentang penyair padahal dia tidak memahami puisi, tidak pandai menafsirkannya, dan tidak menemukannya dalam tabiatnya. Di antara mereka ada yang mempelajari penulis yang fasih padahal Allah telah menjauhkannya dari kefasihan, mazhab-mazhabnya, dan rahasia-rahasianya. Di antara mereka ada yang memperbarui sejarah sastra, tetapi dengan berdusta terhadapnya, menerobos masuk ke dalamnya, dan berjalan dengan mazhab perbedaan. Dia memukul wajah yang menghadap hingga datang membelakangi, dan wajah yang membelakangi hingga kembali menghadap. Maka untuk setiap kelompok ada yang baru, dan dia lupa bahwa kebaruannya dengan kerajinan bukan dengan alam, dan dengan kepalsuan bukan dengan kebenaran.
Ketahuilah bahwa setiap orang yang mau bisa mengobati setiap orang sakit, hal itu tidak membutuhkan darinya kecuali perkataan yang dikatakannya dan rekayasa yang diaturnya. Tetapi apakah demikian setiap orang yang menuliskan obat bisa menyembuhkan dengannya?
Setelah itu, aku telah membaca risalah Imru’ul Qais yang ditulis oleh sastrawan Sayyid Muhammad Salih Samak. Aku melihat penulisnya – meskipun dia masih muda – telah memahami hakikat seni dalam penulisan ini dari pembaharuan sastra. Dia tegak di jalan yang tidak bengkok, berjalan dalam manhaj yang benar, tidak meninggalkan penelitian, ketelitian pandangan, pembolak-balikan pikiran, dan penguatan pendapat. Dia tidak kurang dalam pencapaian ilmu, keluasan wawasan, dan penelitian mendalam. Aku tidak melihat dia terlewatkan kecuali apa yang pasti terlewatkan oleh orang lain dari apa yang hilang karena kelalaian para perawi terdahulu, sehingga pembicaraan tentangnya setelah mereka menjadi tebakan dengan yang gaib dan putusan dengan dugaan.
Sesungguhnya Imru’ul Qais dalam pandanganku adalah akal bayan (retoris) besar dari akal-akal tunggal yang diciptakan dengan penciptaannya dalam bahasa ini. Dia meletakkan dalam bayannya (retorikanya) aturan-aturan yang dia adalah pencipta dan yang pertama mendahuluinya. Dia menempuh jalan bagi yang setelahnya dalam mengikutinya, menambahkannya, dan melahirkan darinya. Itulah kemuliaan yang dia tersendiri dengannya dan yang menjadi rahasia keabadiannya di setiap zaman hingga zaman kita ini dan hingga bahasa tetap ada. Dia adalah salah satu asal dari asal-asal dalam bab-bab balaghah seperti tasybih (perumpamaan), isti’arah (metafora), dan lainnya, hingga seolah-olah dia pabrik dari pabrik-pabrik bahasa bukan pria dari pria-prianya. Sebagaimana dikatakan di negara-negara industri: mobil Ford dan mobil Fiat, bisa dikatakan seperti itu dalam beberapa jenis balaghah Arab: metafora Imru’ul Qais, dan perumpamaan Imru’ul Qais.
Tetapi penelitian bab ini dan penghitungan apa yang dia tersendiri dengannya serta tarikh kata-kata bayannya tidak bisa dilakukan peneliti, dan kita tidak memiliki dalam hal itu kecuali berhenti pada apa yang dibawa oleh nash (teks).
Sungguh kami telah mengingatkan dalam “I’jaz Al-Qur’an” tentang hal seperti ini, karena kami yakin bahwa sebagian besar apa yang datang dalam Al-Qur’an Al-Karim adalah baru dalam bahasa, tidak diletakkan sebelumnya dengan peletakan itu dan tidak berjalan dalam penggunaan Arab sebagaimana dijalankannya. Maka dia menuangkan bahasa dengan menuangkan dalam aturan-aturannya untuk pemiliknya bukan dalam aturan pemiliknya. Dengan demikian dia merealisasikan dari sekitar seribu empat ratus tahun yang lalu apa yang kami tidak sangka filsafat seni telah mencapainya di zaman ini. Karena hakikat seni menurut apa yang kami lihat adalah bahwa segala sesuatu seolah-olah kurang dalam dirinya sendiri, tidak ada dalam susunannya kecuali kekuatan yang dibangun atasnya. Jika kerajinan yang cekatan dan terilhami mengambilnya, dia menambahkan padanya dari ungkapannya apa yang membuatmu merasakan bahwa dia menciptakan di dalamnya keindahan akal, seolah-olah dalam penciptaan dia kurang hingga disempurnakan.
Makna yang kami jelaskan inilah yang dulu dikelilingi oleh para perawi dan ulama puisi, mereka merasakannya tetapi tidak menemukan penjelasan dan takwilnya. Kamu melihat Al-Asma’i misalnya berkata tentang puisi Labid: “Sesungguhnya itu taylasan (jubah) Thabari,” yaitu kokoh kuat, tetapi tidak ada kilauannya, yaitu di dalamnya ada kekuatan dan tidak ada keindahan, yaitu di dalamnya ada susunan dan tidak ada seni.
Akal bayan sebagaimana kami katakan di selain perkataan ini, adalah kekayaan bahasa, dan dengannya dan dengan yang sepertinya sejarah berurusan. Dialah yang merealisasikan di dalamnya seni kata-kata dan gambarannya. Maka dengan itu dia adalah perpanjangan waktunya dan perpindahan sejarahnya serta penciptaannya bersama pemiliknya kemanusiaan setelah kemanusiaan dalam waktu setelah waktu. Tidak ada pembaharuan dan perkembangan kecuali dalam penciptaan ini ketika datang dari ahlinya dan yang layak dengannya. Dia adalah akal yang diciptakan untuk tafsir dan generasi, menerima wahyu dan menyampaikannya, memeras makna dari setiap materi, dan menjalankan gaya pada semua yang berhubungan dengannya dari makna-makna dan pendapat-pendapat. Dia memindahkannya dari penciptaannya dan bentuk-bentuknya yang umum ke penciptaan manusia tertentu, yaitu jenius ini yang dikaruniai bayan.
Karena alasan yang kami isyaratkan, Imru’ul Qais tetap seperti timbangan yang dipasang dalam puisi Arab untuk menjelaskan yang kurang dan yang sempurna. Al-Baqillani berkata dalam bukunya “Al-I’jaz”: “Kamu melihat para sastrawan pertama-tama menyeimbangkan dengan puisi – maksudnya Imru’ul Qais – si anu dan si anu, dan mereka menggabungkan puisi-puisi mereka dengan puisinya, hingga terkadang mereka menyeimbangkan antara puisi orang yang kami temui – Al-Baqillani wafat tahun 403 Hijriah – dengan puisinya dalam hal-hal yang halus dan perkara-perkara yang indah. Terkadang mereka mengutamakannya atasnya atau menyamakannya antara mereka dengannya atau mendekatkan posisi keterdahuluannya atas mereka dan ketonjolan di hadapan mereka.”
Makna perkataannya bahwa Imru’ul Qais adalah asal dalam balaghah, telah mati tetapi masih terus mencipta, dunia berkembang tetapi dia masih datang bersamanya, puisi Arab mencapai puncaknya tetapi masih Arab di puncak itu.
Al-Baqillani menyajikan dalam bukunya qasidah panjang Imru’ul Qais lalu mengkritik darinya banyak bait, untuk menunjukkan dengan itu bahwa puisi terbaik, terindah, terfasih, dan yang disepakati keterdahuluannya dalam kerajinan dan bayan, adalah tingkat terakhir selain susunan Al-Qur’an yang tidak terhindar dari bencana kemanusiaan, kekurangannya, dan cacatnya. Maka dia menggabungkan dalam itu kepala dan kakinya bersama-sama… Dia benar dan salah, memaksakan dan terpimpin, adil dan berat sebelah. Semua itu karena kedudukan Imru’ul Qais dalam inovasi bayannya yang tidak mungkin ditolak darinya.
Ketika dia mengkritik perkataannya: “Dan putih pingitan yang tidak bisa didekati kemahnya… aku menikmati dari bermain dengannya tanpa tergesa-gesa”
Dia berkata: “Mereka telah berkata: yang dimaksud dengan itu bahwa dia seperti putih pingitan dalam kejernihan dan kehalusannya, dan ini adalah kata yang baik tetapi dia tidak mendahului kepadanya bahkan itu beredar di mulut-mulut Arab.” Adakah Al-Baqillani mendengar dari mulut-mulut Arab di zaman Imru’ul Qais sebelum dia berkata “dan putih pingitan”?
Padahal kinayah (sindiran) tentang kekasih dengan “putih pingitan” adalah dari perkataan terindah dan terbaik yang didatangkan akal puitis. Seandainya hari ini seorang penyair di London atau Paris mengatakannya dengan makna yang dimaksud Imru’ul Qais – dengan apa yang ditafsirkan Al-Baqillani – pasti akan dianggap aneh dari yang mengatakannya dan akan menjadi bersama ciuman di setiap mulut yang indah. Bahkan mereka melewati dalam sebagian bayan mereka dari jalan kata ini, mereka berkinayah tentang rumah tempat dua kekasih bertemu dengan “sarang”, dan sarang tidak dibuat kecuali untuk telur.
Penyair besar itu bermaksud bahwa kekasihnya dalam kelembutan dan kemewahan serta kelunakan apa yang mengelilinginya, kemudian dalam sentuhannya dan panasnya masa muda padanya, kemudian dalam kehalusannya, kejernihan warnanya, dan kilaunya, kemudian dalam berdirinya keluarga dan kerabatnya atasnya dan melekatnya mereka padanya, kemudian dalam kehati-hatian dan kewaspadaan mereka, kemudian dalam penyerahan mereka dengan keseluruhan hidup kepada urusannya dan dengan keseluruhan kekuatan untuk menjaganya dan membelanya – dia dalam semua itu dari mereka dan dari dirinya seperti telur burung pemangsa di sarangnya, kecuali bahwa dia putih pingitan. Karena itu dia berkata setelah bait ini:
“Aku melewati para penjaga kepadanya dan sekumpulan orang… yang bersemangat untukku seandainya mereka menyembunyikan pembunuhanku”
Itulah sebagian makna kata itu sebagaimana kamu lihat, dan demikianlah seharusnya bayan ditafsirkan…
Hafez menerjemahkan bagian kedua dari “Para Malang” ini sehingga ia melampaui bagian pertama, padahal mereka mengira bahwa bagian pertama telah membuat kefasihan menjadi mandul sehingga tidak ada yang dapat menyamainya lagi. Di antara kedua bagian tersebut terdapat waktu yang jika dimanfaatkan oleh seorang sastrawan untuk membaca buku-buku sastra, ia akan dapat menguasai semuanya. Seakan-akan bertambahnya usia Hafez dalam periode ini menjadikannya seperti dua orang Hafez yang menerjemahkan bersama-sama dalam kekuatan sastra.
“Para Malang” dalam terjemahannya tidak lain adalah pemikiran seorang filsuf yang tergantung pada pena seorang penyair, sehingga terpancarlah darinya berbagai aspek kefasihan dari segala sisi. Hasilnya adalah sesuatu yang tidak kau ketahui apakah itu syair dari prosa ataukah prosa dari syair. Tulisan tersebut tampil dalam warna kejernihan dan kecemerlangan seakan-akan sinar fajar menyinarinya.
Hafez menerjemahkan dengan menempatkan bahasa di antara pikirannya dan lisannya, dan berdiri di bawah awan-awan yang dikipasi oleh sayap Jibril. Maka tidak ada kiasannya yang kosong dari bayangan yang menghembuskan kepadamu aroma kemukjizatan. Kau melihatnya mengalir bersama kata-kata, mengambil darinya dan meninggalkannya. Tidak ada arah yang ditempuh kata-kata kecuali ia menguasainya dan mencapainya di mana pun ia mencapainya seperti arus yang melingkupi awal dan akhir sungai sepanjang alirannya. Ia berada di mana pun, baik di tempat yang mudah maupun sulit, hanya saja ia tersembunyi di satu tempat dan tampak di tempat lain, bergelombang, menderu, dan merambah ke kedalaman sehingga bergema.
Dari sinilah sebagian orang mengira bahwa ia cenderung pada kata-kata yang dianggap kasar, dan memaksa sebagian lafaz serta membebani sebagian yang lain. Padahal itu adalah salah satu bentuk bahasa dan salah satu mazhab kefasihan. Perkataan harus keras dan lembut, dan dalam dentingan huruf-huruf harus ada yang seperti dalam nada irama. Betapa miripnya arsitektur kefasihan dengan arsitektur alam yang memencet sungai, melempar lautan, dan menghempaskan gunung yang tinggi. Gunung, jika kau renungkan dalam aspek keseimbangan alami, tidak lain adalah laut yang telah membatu sehingga gelombang-gelombangnya tersebar dari batu-batunya. Keduanya, dengan segala yang ada antara kekerasan dan kelembutan, adalah ungkapan dalam gaya kekuatan tentang kekuatan, dan menjelaskan yang terkuat yang tidak mungkin tampak dengan yang terkuat yang tidak mungkin tersembunyi.
Para penulis yang lemah keliru, terutama di zaman kita ini, jika mereka mengira kefasihan Arab hanya satu jenis lafaz yang halus dan akrab. Kau akan mendapati sebagian dari mereka yang lemah ini melihat dalam perkataan yang kokoh dan fasih seperti apa yang ia lihat dalam tengkorak orang asing ketika mereka berbicara namun tidak jelas. Padahal itu adalah bahasa Arab, dan kefasihannya terletak pada keseluruhan yang membuat perkataan mengalir. Kefasihan secara keseluruhan dan detail adalah penyempurnaan keseimbangan antara lafaz dan makna, serta tujuan yang dituju oleh keduanya. Ketika perkataan disusun dengan cara ini dan disempurnakan dengan metode ini, kau akan melihat keindahannya jelas dan nyata dalam setiap lafaz yang membangun ungkapan, dari tenunan yang longgar dan halus, hingga rajutan yang rapi dan teliti, hingga gaya yang menyatu dan kuat yang mengalir dengan kekuatan besi. Di mana setiap huruf untuk tempatnya, dan setiap tempat untuk hurufnya, dan semua itu dengan takaran yang tidak berlebihan, ukuran yang tidak salah, dan timbangan yang tidak berbeda. Inilah sifat kefasihan Arab yang tidak dimiliki bahasa-bahasa lain, dan dengannya kemukjizatan dimungkinkan dalam bahasa ini dan tidak mungkin dalam bahasa lainnya.
Penerjemah “Para Malang” adalah salah satu individu terpilih yang menguasai metode ini dan menembus rahasianya. Di setiap tempat dalam tulisannya terdapat keagungan, sehingga kau tidak tahu apakah ia menulis, menyusun, ataukah melukis. Seakan-akan ia tidak memindahkan dari satu bahasa ke bahasa lain, melainkan dari pikiran ke pikiran, sehingga kau melihat kebanyakan kalimat seakan-akan lampu-lampu menyala di dalamnya.
Salah satu kekhususan yang hanya dimiliki Hafez adalah bahwa ia tampak dalam keahlian menyusun lafaz-lafaznya sebagaimana Hugo tampak dalam keahlian menyusun makna-maknanya. Kau tidak akan menemukan penerjemah lain yang mampu menguasai gaya ini atau menanggungnya. Kebanyakan buku yang diterjemahkan ke bahasa Arab justru menghapus nama penerjemah sebelum membuka nama pengarang, sehingga yang mati tidak hidup kecuali dengan matinya yang hidup. Dalam kebanyakan yang mereka lakukan, mereka tidak lebih dari memperbaiki bahasa sehari-hari atau memfasihkannya sedikit, sehingga dalam keahlian kefasihan sama saja apakah penerjemah buku itu si ini, si itu, atau si itu lagi, karena mereka sama rata, dan buku-buku mereka tidak memberimu lebih dari apa yang diberikan nama yang digantungkan pada yang diberi nama.
Namun dalam “Para Malang” kau melihat bersama terjemahan ada keahlian selain terjemahan, seakan-akan Hugo mengarang buku ini sekali dan Hafez mengarangnya dua kali, karena ia memindahkan dari bahasa Prancis, kemudian memukau dalam mengungkapkan apa yang ia pindahkan, kemudian menyempurnakan keahlian dalam apa yang ia pukau, kemudian berlebihan dalam apa yang ia sempurnakan. Maka kau dari bukunya berada dalam bahasa terjemahan, kemudian dalam kefasihan bahasa, kemudian dalam kekuatan kefasihan. Dengan ini lahirlah buku tersebut dan penerjemahnya lebih berhak atasnya dalam bahasa Arab daripada pengarangnya, dan muncul sehingga tidak ada seorang pun yang bisa melupakan bahwa itu milik Hafez dan bukan orang lain.
Itulah metode dalam penulisan yang tidak dapat dibantu kecuali dengan sastra yang melimpah, selera yang matang, dan kefasihan yang alami, kemudian dengan kesabaran menghadapi kelelahan yang berkepanjangan dan kesulitan dalam memilih lafaz, memperbaiki gaya, dan menjernihkan ungkapan. Seorang penulis mungkin menghabiskan waktu sepanjang malam untuk menghasilkan satu baris di cahaya fajar. Dengan cara inilah lahir halaman-halaman “Para Malang” yang meskipun sedikit namun seperti masa muda cinta; setiap harinya memiliki fajar dan matahari, dan setiap malamnya memiliki bulan dan bintang-bintang.
Yang kami kritik dari terjemahan ini adalah bahwa rasa jemu terkadang menguasai sahabat kami sehingga memaksanya berlawanan dengan tabiatnya, dan mengembalikannya kepada yang bukan kebiasaannya. Maka tergoncang selera dan nalurinya atau hilang darinya, sehingga ia menyimpangkan makna dari lafaz yang dikenal yang digunakan para sastrawan untuknya, seperti penggunaannya “qārana baina kadzā wa kadzā” (membandingkan antara ini dan itu), padahal mereka menggunakan “matsala bainahumā” (membandingkan di antara keduanya), atau melanggar timbangan kata dalam neraca selera, sehingga kau melihat ungkapan yang kering dalam kalimat hijau yang subur. Itu adalah sesuatu yang tidak ada harapan bagi siapa pun untuk terhindar darinya, karena itu adalah pengaruh kelemahan manusiawi pada mereka yang menggadaikan diri mereka dengan bersentuhan dengan kekuatan tertinggi dalam kemanusiaan ini.
Tidak ada kitab yang terbebas dari hal itu kecuali Kitab mulia yang membuat tujuh langit dan bumi serta isinya bergetar karenanya.
Jika saya ingin menulis tentang puisi yang telah saya baca, kebiasaan saya adalah membacanya dengan teliti, mengamatinya dari segi huruf dan kata, hingga ke bait dan qasidah serta manhajnya, hingga kepada apa yang ada di balik perkataan berupa dorongan jiwa penyair dan pendorong kehidupan di dalamnya. Dari keadaan jiwa manakah penyair ini berkarya, dengan cara apa dia mencapai ilham, dalam keadaan apa ilham itu terhubung dengannya, bagaimana dia mengelola makna-maknanya, bagaimana dia mengikuti tabiatnya, dari mana asal-muasal karya buruk dan kegagalannya, dan dengan apa dia menuju pada keindahan dan kreativitasnya.
Kemudian bagaimana ketajaman bakatnya dan kecerdasan pikirannya serta kemampuan jiwa dalam berekspresi, apakah ia merupakan kekuatan yang dominan dan memaksa yang menguasai ekspresi dari batas-batas bahasa dalam lafaz hingga batas-batas ilham dalam makna, kemampuan yang mandiri yang dapat menjalankan perintah dan larangan sekaligus, ataukah ia lemah dan lembek yang hanya memiliki kekacauan dan kebingungan, dan tidak memiliki apa-apa yang dapat memikul yang lemah sesuai tabiatnya yang lelah, sehingga setiap kali dipaksa maka ia akan jatuh bersamanya?
Saya mengamati semua ini dalam puisi yang saya baca, kemudian saya tambahkan dengan mengkritiknya dengan apa yang akan saya lakukan jika saya menangani tujuan ini atau mengambil makna ini, kemudian saya tambahkan pada semua itu apa yang saya buktikan dari berbagai jenis getaran yang ditimbulkan puisi dalam jiwa saya; karena saya terpesona dengan puisi yang bagus dan kokoh dengan berbagai jenis pesona, bukan hanya satu jenis, dan itu menyerupai perbedaan antara tetes embun yang jernih di daun bunga bakung dan tetes sinar yang berkilau dalam permata berlian dan gelombang cahaya yang bersinar dalam planet Venus.
Dan kebanyakan puisi di zaman kita ini tidak terhubung dengan jiwa saya dan tidak ringan bagi tabiat saya, dan saya tidak melihatnya sebagai puisi yang benar kecuali dari jauh, dan ia bagiku seperti orang yang lewat di jalan yang tidak saya kenal: dia tidak melihat saya dan saya tidak melihat dia, sehingga saya tidak melihat darinya seorang manusia dan kemanusiaan dan kehidupan lebih dari yang saya lihat sebagai baju dan sepatu dan tarbus! Yang aneh adalah bahwa semakin lemah penyair dari mereka ini, semakin kuat dia dalam membela kelemahannya, dan dia mendapat ilham dari dalil-dalil dan hujjah-hujjah yang seandainya dia mendapat ilham sejumlah itu dari makna-makna dan pikiran-pikiran, mungkin dia akan…
Jika makna-makna berlawanan dengan lafaz-lafaznya dan lafaz-lafaz berbeda dengan makna-maknanya, dia berkata: Bahwa ini dalam seni… adalah keseimbangan dan keteraturan dan kesesuaian dan kekuatan anyaman; dan jika dia gagal dan dikhianati oleh lafaz dan makna sekaligus dan berbuat buruk untuk memaksa diri dan berjatuhan untuk pamer dan datang kepadamu dengan puisinya dan tafsir puisinya dan cara memahami puisinya, dia berkata: Bahwa dia lebih tinggi dari pemahaman orang-orang sezamannya, dan bahwa kesombongan makna-maknanya ini datang dari puisinya yang berada di balik bahasa, di balik keadaan jiwa, di balik zaman, di balik yang gaib: seakan-akan yang ada di dunia di antara manusia adalah bayangan dirinya bukan dirinya, dan bayangan secara alami kabur dan samar tidak menjelaskan seperti penjelasan diri. Dan jika penyair merusak metafora dan menyakitkan perumpamaan dan mencekik majaz dengan tali – dia berkata kepadamu: Bahwa dia mengikuti cara modern dan dia telah mengarahkan dan mendekati dan tepat dan mengukuhkan, dan jika dia menyebut artikel sebagai qasidah… dan mencampurnya dengan campurannya dan datang dalam penampilan terburuk dan terjelek dan keluar kepada apa yang tidak tertahankan dari kekakuan dan kebodohan – dia berkata kepadamu: Ini adalah kesatuan qasidah, maka ia adalah satu kesatuan yang dituangkan seperti penuangan tubuh yang hidup: kepalanya tidak bisa berada kecuali di tempat kepalanya dan kakinya tidak bisa berada kecuali di tempat kakinya…
Itulah tingkatan-tingkatan kelemahan yang hujjah-hujjah dari para pemiliknya menampakkan bahwa itu adalah tingkatan-tingkatan kekuatan, namun kebenaran kesaksian bagi yang kuat adalah tulang-tulang mereka yang terbentang, dan otot-otot mereka yang kekar, dan hati-hati mereka yang berani, adapun lidah-lidah maka ia adalah saksi palsu dalam perkara ini khusus.
Ada timbangan untuk penyair yang benar dan untuk yang lain yang menyamar sebagai penyair: yang pertama kamu ambil dari cara dan keseluruhan puisinya bahwa dia tidak menggubah kecuali untuk membuktikan bahwa dia telah meletakkan puisi, dan yang kedua kamu ambil dari puisi dan caranya bahwa dia hanya menggubah untuk membuktikan bahwa dia telah membaca puisi… Dan yang kedua ini membuatmu merasakan kelemahannya dan kepalsuan bahwa dia melayani puisi; agar menjadi penyair, tetapi yang pertama menunjukkan kepadamu dengan kekuatan dan kegeniusannya bahwa puisi itu sendiri melayaninya; agar dia menjadi penyairnya.
Adapun kelompok penyair palsu, maka biarlah pembaca menggambarkannya dengan apa yang dia mau dan dia dalam kelapangan… Adapun kelompok penyair maka dalam contoh-contoh awalnya menurut saya adalah penyair insinyur Ali Mahmud Taha. Saya bersaksi: bahwa saya menulis tentang dia sekarang dengan jenis kekaguman yang saya tulis dengan itu di “Al-Muqtataf” tentang teman-teman lama saya: Mahmud Pasha Al-Barudi, dan Ismail Pasha Sabri, dan Hafez, dan Shauqi semoga Allah merahmati mereka dan memperpanjang umur sahabat kita – maka pemuda insinyur ini diberi dari teknik bangunan kekuatan pembedaan dan ketelitian perhitungan, dan diberi kemampuan pemisahan antara yang indah dan yang jelek dalam bentuk-bentuk dari apa yang diajarkan kepadanya dari ilmu dan apa yang diajarkan kepadanya dari selera dan ini kepada kejernihan kecerdasan dan asahan tabiat dan gelombang khayalan dan keluasan ingatan dan keteraturan hal-hal di dalamnya; dan dengan semua ini dia dibantu dalam puisinya dan dia telah diciptakan sebagai insinyur penyair, dan makna ini adalah bahwa dia diciptakan sebagai penyair insinyur; dan seakan-akan Allah -Ta’ala- tidak menakdirkan untuk penyair mulia ini mempelajari teknik dan mempraktikkannya dan mahir di dalamnya kecuali untuk apa yang telah ditetapkan dalam ilmu-Nya bahwa dia akan bersinar sinarnya untuk bahasa Arab di zaman kekacauan dan masa kekurangan, dan ketika rusaknya cara dan mundurnya selera dan mundurnya tabiat dan terjadinya kesalahan dalam logika ini karena terbaliknya persoalan, sehingga bukti bahwa ini penyair dan itu jenius dan itu genius – adalah sama dengan bukti bahwa tidak ada puisi dan tidak ada kejeniusan dan tidak ada kegeniusan; dan ini adalah kekacauan yang membutuhkan dalam pengaturannya “dinas pengaturan” dengan teknik dan alatnya dan matematika dan dasar-dasarnya dan bentuk-bentuk dan gambar-gambar dan seni-seninya, maka datanglah penyair kita ini dan padanya obat untuk apa yang kita gambarkan; maka dia menggubah puisinya dengan bakat ekspresi teknik, dasarnya adalah keseimbangan dan kontrol, dan kebenaran perhitungan dalam apa yang dia takdirkan untuk makna, dan penciptaan bentuk dalam apa yang dia ciptakan dari lafaz, dan tidak membiarkan bangunan puisi berdiri untuk jatuh ketika ia rapuh dalam dasarnya dari kerajinan, tetapi untuk kokoh ketika dasarnya dari kerajinan dalam kekukuhan dan sesuai ukuran.
Dan diwan “Al-Mallah At-Ta’ih” (Pelaut yang Tersesat) yang dikeluarkan penyair ini tidak menurunkan pemiliknya dari puisi zaman di bawah tempat yang kita tunjukkan; maka tidak lain adalah kamu membacanya dan mempertimbangkan apa yang ada di dalamnya dengan puisi orang lain sampai kamu mendapati penyair insinyur seakan-akan dia datang untuk zaman dengan membawa pikiran dan perasaan dan alat-alat dan ukuran-ukurannya untuk memperbaiki apa yang rusak, dan menegakkan apa yang runtuh, dan mereparasi apa yang hancur, dan menghancurkan dan membangun.
Diwan penyair yang benar adalah pembuktian kepribadiannya dengan dalil-dalil dari rohnya, dan di sini dalam “Al-Mallah At-Ta’ih” ada roh yang kuat filosofis ekspresif, yang memberikanmu puisi yang bagus yang kamu baca dengan hati dan akal dan selera, dan kamu melihatnya sesuai dengan tujuan-tujuannya yang dia gubah di dalamnya; maka dia banyak bicara ketika banyak bicara adalah puisi, sedikit bicara ketika puisi adalah sedikit bicara; kemudian dia di atas itu kokoh dan mantap, mahir khayalan, luas cakupan, kamu melihatnya seperti lingkaran: naik denganmu kelilingnya dan turun bukan karena dia turun atau naik, tetapi karena dia berputar menyatu, berimbang terukur, ditempatkan penempatannya itu untuk memutar denganmu.
Dan dia adalah puisi yang kamu kenali di dalamnya seni kehidupan, dan bukanlah penyair orang yang tidak memindahkan untukmu tentang kehidupan pemindahan yang artistik puitis, sehingga kamu melihat sesuatu di alam seakan-akan ada dengan lahirnya saja, dan kamu melihatnya dalam puisi dengan lahir dan batinnya bersama; dan bukanlah puisi apa jika kamu membacanya, dan mengalir kepadanya tidak ada padamu wajah dari wajah-wajah pemahaman dan penggambaran untuk kehidupan dan alam dalam jiwa yang istimewa yang menyadari yang menggambarkan.
Dan karena itu bukanlah syarat menurutku bahwa zaman penyair dan lingkungannya ada dalam puisinya, tetapi syaratnya adalah bahwa ada di sana jiwanya yang penyair dengan caranya dalam memahami dan menggambarkan, dan kamu membuktikan jiwa ini dengan cara ini bahwa dia berhak mengatakan kata barunya, dan bahwa dia diberi hak untuk mengatakannya; karena dia untuk akal-akal dan roh-roh adalah saudara kata lama: kata syariat yang dibawa oleh kenabian dari sebelumnya.
Dan tidak ada dalam puisi Ali Taha dari kemodernan kita kecuali sedikit, tetapi yang aneh bahwa dia tidak menggubah dalam sedikit ini kecuali ketika makna keluar dari zamannya dan bergabung dengan sejarah, seperti meratapi Shauqi, dan Hafez, dan Adli Pasha, dan Fauzi Al-Ma’luf, dan pilot Dos dan Hajjaj, dan Raja Agung Faisal; jika ini adalah pengaturan dengan sengaja dan kehendak maka dia aneh, dan jika kebetulan dan kecocokan maka dia lebih aneh; namun dia dalam semua itu hanya menuju pada pengagungan seni dan kepahlawanan dalam manifestasinya, berbicara, dan politik, dan petualangan, dan kepemilikan.
Adapun sisa tujuan-tujuannya maka kemanusiaan umum, jiwa bernyanyi dalam sebagiannya, dan bergembira dalam sebagiannya, dan berdoa dalam sebagiannya; dan tidak ada di dalamnya kecerobohan atau kefasikan atau ateisme kecuali… bayangan-bayangan dari kebingungan atau keraguan, seperti yang ada dalam qasidah “Allah dan Penyair”, dan saya kira dia mengikuti Al-Ma’arri di dalamnya; dan saya tidak tahu berapa banyak orang tertipu oleh Al-Ma’arri ini, dan dia menurut pendapat saya penyair besar, namun dia memiliki barang dagangan dari kepalsuan yang menyamai apa yang dikeluarkan “Lancashire” dari barang-barangnya ke pasar-pasar dunia.
Dan yang mengagumkan saya dalam puisi Ali Taha bahwa dia dalam kecenderungan filosofinya dan arah pemikirannya sesuai dengan pendapat saya yang selalu saya lihat, yaitu bahwa revolusi roh manusia dan pertempuran besarnya dengan keberadaan – keduanya tidak dalam tampak revolusi atau pertempuran dengan Allah seperti yang dilakukan Al-Ma’arri dan kawan-kawannya dalam kecerobohan dan kebodohan mereka, tetapi dalam ketenangan puitis roh yang merenungkan, ketenangan itu yang membuat alam itu sendiri tersenyum dengan perkataan penyair seperti dia tersenyum dengan bunga-bunganya dan bintang-bintangnya, dan membuat penyair alat alami yang diambil untuk mengungkap hikmah dan menutupinya bersama; karena keajaiban yang tidak ada yang lebih ajaib darinya dalam pengaturan Ilahi untuk jiwa-jiwa yang sensitif – bahwa hiasan puisi dan yang sejalan dengannya dalam seni hanyalah pukulan dari hiasan alam ketika dia menciptakan bentuk yang indah untuk menyelesaikan tujuan-tujuannya dari baliknya; dan seandainya bunga-bunga – misalnya – memberontak terhadap keberadaan dan penciptanya pemberontakan para penyair itu, maka tidak akan berbuat apa-apa kecuali merusak hikmahnya sendiri dan apa yang terhubung dengan hikmah ini dari kemaslahatan dan manfaat, dan tidak akan menang kecuali dengan tetap menjadi bunga, maka itu adalah perang dan damainya bersama.
Dan gaya penyair kita adalah gaya yang kokoh, atau kepada kekokoan, bahasa tampak di dalamnya dan padanya warna khusus dari warna-warna jiwa yang indah yang bermegah kemegahannya sehingga banyak darinya dalam jiwa pengaruh dan keindahannya, dan ini adalah bahasa puisi khususnya; dan kita harus mengingatkan di sini kepada makna yang aneh, yaitu bahwa kamu mendapati sebagian penulis yang pandai dari bahasa dan seni-seni sastra, maka jika mereka menggubah dan kosong gubahan mereka dari roh puisi – tampak lafaz-lafaz dalam timbangan mereka seakan-akan mereka kehilangan sesuatu dari nilainya, seakan-akan tempatnya kemudian yang mengumumkan kebangkrutannya; karena menempati tempat yang ingin memberi kemudian dia jika berdiri tidak berbuat apa pun kecuali meminta maaf bahwa dia tidak menemukan apa yang diberikannya… Maka ini adalah seorang laki-laki dari manusia, dan ada dalam perlindungan dan kesehatan, maka ketika dia berdiri di tempatnya berubah menjadi penipu pembohong pengaku sehingga berbeda dengannya keadaan dan dia sendiri tidak berubah.
Dan tidaklah gaya ekspresif kecuali sarana artistik untuk menggandakan ekspresi, jika tidak ada ini yang diberikannya maka adalah sarana artistik lain untuk menggandakan kekecewaan; dan ini yang kamu rasakan dalam banyak puisi penulis atau ahli badi’ di zaman-zaman mati, dan kamu rasakan dalam puisi mati yang masih diterbitkan di antara kita.
Dan Ali Taha jika berhati-hati pada gayanya dan berlebihan dalam penyempurnaannya dan terus dengan jalannya pada caranya yang baik maju di dalamnya, mendalami rahasia-rahasia lafaz dan apa di balik lafaz, yaitu kemegahan ekspresif itu yang berada di balik ekspresi dan tidak memiliki nama dalam ekspresi, menganggap bahasa puitis – seperti dalam kenyataannya – komposisi musikal bukan komposisi bahasa… maka dia tanpa ragu akan menemukan dari pertolongan tabiatnya yang kuat, dan bantuan pikirannya yang berapi, dan ilham bakatnya yang melahirkan – apa yang mengumpulkan baginya kejeniusan dari ujung-ujungnya, sehingga keberadaan menghitungnya dari pelukis-pelukis besarnya, dan kehidupan mengambilnya dari para penceramah yang mengekspresikannya dalam bahasa Arab; dan dari sana bahasa Arab mengaturnya dalam untaian permata-permata sejarahnya yang berharga, dan benang menghubungkannya dengan Shauqi dan Hafez dan Al-Barudi dan Sabri, kepada Al-Mutanabbi dan Al-Buhturi dan Ibn Ar-Rumi dan Abu Tammam, kepada apa di balik itu, kepada permata besar yang disebut gunung cahaya ekspresif, kepada Imru’ Al-Qais.
Dan ini tidak jauh bagi orang yang berkata dalam sifat hati:
Wahai hati, padamu rahasia apa… yang masih dalam terbuka dan terlipat Wahai revolusi yang berapi-api… yang meresahkan tubuh makhluk hidup Kamu memikul beban yang darinya… gunung-gunung takut dan merasa khawatir Dan kamu bangkitkan darinya roh maka terlepas… meneguk yang panas dan memakan api Dan aku heran darimu dan dari keangkuhanmu dalam… tawanan keindahan dan belenggu cinta Dan kamu palingkan yang sombong yang keras kepala… dari kehinaan yang tertakluk dalam perang Dan kamu bermimpi api yang berkilat… maka kamu bentangkan tanganmu ke arahnya takut Lewat di matamu sekilas masa lalu… maka kamu melompat memegang kilat yang berkilau Dan bumi sempit ruangnya yang luas… dan kosong tidak ada keluarga dan penghuni Berubah cinta dan bercerai kawan… dan kamu tinggal sendirian kamu dan zaman
Dan seandainya kita pergi memilih dari diwan ini maka kita akan memilih sebagian besarnya, karena qasidah-qasidahnya dan potongan-potongannya berturut-turut, tetapi berturut-turut matahari pada hari-harinya: tampak baru keindahan setiap pagi; karena di balik pagi ada bahan fajar, dan demikian pula datang qasidah-qasidah dari jiwa penyairnya.
“Al-Muqtataf” dan “Al-Mutanabbi” 1:
“Al-Muqtataf” adalah sesepuh majalah-majalah kita; semuanya adalah anak-anak dan cucu-cucunya; dan ia bagaikan kakek yang agung: masa yang berkumpul, sejarah yang bertumpuk, keunikan yang tak tertandingi, dan ilmu yang bertambah atas ilmu karena ia berada dalam diri yang memaksakan penghormatan secara wajib dan mengharuskan kehormatan secara mutlak, dan dari dirinya berlipat ganda kelayakan sehingga berlipat ganda pula haknya.
Bukankah kakek itu tidak lain adalah kebapakan yang di dalamnya terdapat kebapakan lainnya? Bukankah ia tidak lain adalah singgasana hidup yang anak tangganya adalah generasi di bawah generasi? Dan bukankah ia tidak lain adalah perpanjangan yang jaraknya adalah zaman di atas zaman?
Al-Muqtataf bertumbuh tetapi tidak menua, maju dalam waktu seperti majunya penemuan-penemuan yang berjalan dengan hukum-hukum menuju hukum-hukum, terikat dengan prinsip menuju tujuan; dan ia seperti akal yang menyendiri dengan kejeniusannya: kewajiban pertamanya adalah untuk selalu menjadi yang pertama; karena Al-Muqtataf ini didirikan ketika belum ada dalam majalah-majalah Arab yang dapat menggantikannya, kemudian ia melewati masa dengan delapan puluh tujuh jilid yang dijadikannya delapan puluh tujuh bukti bahwa tidak ada yang dapat menggantikannya; kemudian dunia berubah di sekelilingnya dengan akhlak dan tabiatnya, dan banyak majalah berubah menjadi seperti penari, penyanyi, dan aktris… namun ia tetap pada kesetiaannya terhadap prinsip ilmiahnya dan ketinggian di dalamnya serta ketinggian dengannya, seakan-akan ia telah mengambil perjanjian dalam ilmu dan sastra seperti perjanjian para nabi dalam agama dan keutamaan; maka di hadapannya adalah kewajiban bukan kepentingan, dan perhatiannya adalah kreasi dengan kekuatan akal bukan tipu daya dengannya, dan petunjuknya adalah kebenaran yang tetap di dunia bukan mimpi-mimpi yang berubah-ubah dengan dunia ini, dan jalannya dalam semua itu adalah jalan filsuf, dari ketenangan jiwanya bukan dari keadaan zaman, maka ia berjalan atas keyakinan, menembus menuju kepercayaan, berpindah dalam tingkatan demi tingkatan dari keyakinannya menuju kepercayaannya, dan dari kepercayaannya menuju keyakinannya.
Al-Muqtataf telah memulai jilid kedelapan puluh delapannya dengan edisi besar yang dikhususkan untuk Al-Mutanabbi. Dan meskipun klub-klub dan majalah-majalah telah merayakan penyair besar ini, aku tidak mengira kecuali bahwa roh penyair besar itu telah merayakan edisi Al-Muqtataf ini. Dan aku tidak berlebihan jika berkata: bahwa roh yang sombong ini telah menunjukkan kesombongannya sekali lagi, maka ia mengasingkan diri dari penulis dan sastrawan terkenal, dan melekat pada sahabat kita yang rendah hati Profesor Mahmoud Syakir selama ia menulis penelitian berharga ini yang diterbitkan Al-Muqtataf dalam sekitar seratus enam puluh halaman, membimbingnya dalam pemikirannya, mengilhaminya dalam penggaliannya, membangunkannya dalam perasaannya, dan membuatnya melihat hal-hal yang tersembunyi, dan di dalamnya terdapat kebenaran, untuk membalas hal-hal yang sudah dikenal, dan di dalamnya terdapat kebohongan, kemudian menolongnya dengan semua itu untuk menulis kehidupan yang datang dari jiwa itu sendiri, bukan kehidupan yang datang dari jiwa musuh-musuh dan orang-orang yang dengki kepadanya.
Sesungguhnya hal pertama yang terlintas dalam pikiranku setelah aku membaca edisi ini adalah bahwa penulis telah datang dengan sesuatu yang dapat dikatakan bahwa ia telah menulis sejarah Al-Mutanabbi dan tidak memindahkannya; kemudian aku hampir tidak mendalami bacaan hingga terbayang bagiku bahwa ia telah meletakkan untuk syair Al-Mutanabbi setelah tafsir para penafsir terdahulu dan kemudian suatu tafsir baru dari Al-Mutanabbi sendiri, dan tidak ada kata baru dalam sejarah penyair misterius ini kecuali kata yang disebarkan Al-Muqtataf hari ini.
Sesungguhnya Al-Mutanabbi ini tidak akan habis dan berakhir, karena kekaguman terhadap syairnya tidak akan berakhir dan habis, dan ia adalah jiwa besar yang diciptakan Allah sebagaimana Dia kehendaki, dan diciptakan untuknya materi besarnya tidak seperti yang diinginkannya, seakan-akan dengan itu Dia menjadikannya masa yang memanjang dalam masa.
Dan orang itu menyimpan rahasia yang diselimuti kegelapan sejak awal sejarahnya, dan itu adalah rahasia jiwanya, dan rahasia syairnya, dan rahasia kekuatannya; dan dengan rahasia ini Al-Mutanabbi bagaikan raja yang dirampas yang melihat mahkota dan pedang menunggu kepalanya bersama-sama, maka ia menjaga diri dari pedang dengan kewaspadaan dan berselimut dan kegelapan, dan mencari mahkota dengan menyembunyikan dan tipu daya dan harapan.
Dan dari rahasia ini penulis Al-Muqtataf memulai, maka penelitiannya datang mengalir dalam susunan yang menakjubkan, berurutan dengan sejarah seakan-akan ia adalah kelahiran dan pertumbuhan dan masa muda; dan di antara itu ia menampilkan syair Abu Thayyib dengan cara yang membuatku terbayang bahwa syair ini telah diucapkan sekali lagi dari mulut penyairnya tentang peristiwa jiwanya dan keadaan-keadaannya; dan dengan itu terkuaklah rahasia yang menjadi bahan pembesar-besaran dalam syair yang megah itu, karena dalam kesadaran orang itu terdapat negara yang paling besar, ia tidak mampu menciptakan dan mewujudkannya maka ia ciptakan syair yang paling besar, dan datanglah hiperbola-hiperbolanya seakan-akan ia adalah kebohongan harapan-harapannya yang jauh terwujud dalam bentuk dari bentuk-bentuk kemungkinan kebahasaan.
Dan di antara hal paling menakjubkan yang dikuaknya dari rahasia-rahasia Al-Mutanabbi adalah rahasia cintanya, maka ia berkata: bahwa ia mencintai Khaulah saudari Pangeran Saif Ad-Daulah, dan ia menulis tentang itu lima belas halaman besar, dan seakan-akan itu tidak memuaskannya maka ia berkata: bahwa ia berharap dapat menulis bab ini dalam lima puluh halaman Al-Muqtataf; dan bab ini adalah salah satu keajaiban penelitian ini, karena tidak ada seorang pun di dunia yang tertulis “yakni sejarah” yang mengetahui rahasia ini atau menduganya, dan bukti-bukti yang dibawa penulis menempatkan peneliti yang teliti antara penetapan dan penolakan; dan ketika seseorang tidak dapat menolak atau menetapkan dalam berita baru yang dikuak peneliti dan tidak ada orang lain yang menemukannya, maka itu cukup menjadi kekaguman yang patut disebutkan, dan itu cukup menjadi kemenangan yang patut dihitung.
Demi umurku, seandainya aku berada di tempat Al-Mutanabbi dari Saif Ad-Daulah, aku akan berkata bahwa penulis telah benar… karena di sana ada tempat yang pasti harus dicari dalam hati penyair yang di dalamnya dunia meletakkan hikmahnya, dan kekuatan melipat rahasianya, dan keindahan menyebarkan wahyunya di dalamnya; dan yang terkecil dari ketiga ini lebih besar dari raja-raja dan kerajaan-kerajaan, tetapi kekasih lebih besar dari semuanya…
Karya Profesor Taufiq Al-Hakim dalam menyusun buku ini paling mirip dengan karya “Christopher Columbus” dalam menemukan Amerika dan menampakkannya dari dunia untuk dunia: ia tidak menciptakan keberadaannya, tetapi ia mewujudkannya dalam sejarah manusia, dan pergi kepadanya maka dikatakan ia membawanya ke dunia, dan mukjizatnya adalah bahwa ia melihatnya dengan mata yang ada di akalnya, kemudian meletakkan antara dirinya dan Amerika kesabaran dan penderitaan dan kecakapan dan ilmu hingga ia sampai kepadanya sebagai kenyataan yang nyata.
Profesor membaca buku-buku sirah dan apa yang membahasnya dari buku-buku sejarah dan thabaqat dan hadits dan syama’il, dengan bakat yang bukan bakat sejarawan, dan pemikiran yang bukan pemikiran faqih, dan cara yang bukan cara muhaddits, dan khayalan yang bukan khayalan pencerita, dan akal yang bukan akal zindik, dan tabiat yang bukan tabiat pendapat, dan tujuan yang bukan tujuan perdebatan; maka tersucilah baginya seni indah yang ada di dalamnya; karena ia membacanya dengan bakat seninya yang menyala, dan memerintahkannya pada perasaan penyairnya yang bergejolak, dan mengeluarkannya dari sejarah dengan bakat ini dan perasaan ini sebagaimana adanya dalam tabiat mulianya yang menuju tujuan ilahinya yang mewujudkan keajaiban-keajaiban rohaninya yang mukjizat.
Dan sirah telah memberinya semua yang ia inginkan, dan tunduk kepadanya atas apa yang ia kehendaki, dan lembut di tangannya sebagaimana emas lembut di tangan pandai emasnya; maka ia datang dengannya dari esensi dan tabiatnya tidak ada baginya di dalamnya khayalan atau pendapat atau ungkapan, dan datang bersamaan dengan itu dalam susunannya penuh dengan khayalan yang paling indah, dan pendapat yang paling tinggi, dan ungkapan yang paling fasih; karena ia menyadari dengan pandangan seninya keadaan-keadaan psikologis yang fasih itu, maka ia menyusunnya menurut hukumnya dalam kehidupan, dan mengumpulkan peristiwa-peristiwanya yang tercatat lalu menggambarkannya dalam bentuk kejadiannya sebagaimana terjadi, dan mengeluarkan kisah-kisah yang terkirim lalu memutarnya menjadi dialog sebagaimana datang dalam lidah-lidah ahlinya; dan dengan cara ini ia mengembalikan sejarah hidup yang berbicara dan di dalamnya ada pemikiran dan malaikat-malaikatnya dan setan-setannya, dan mengungkap keindahan rohani itu maka itulah seni, dan memoles jiwa-jiwa universal itu maka itulah filsafat, dan mempertahankan fasih itu maka itulah bayan, sirah itu seperti mutiara dalam kerang, maka ia mengeluarkannya lalu menjadikannya mutiara saja.
Sesungguhnya buku ini memaksakan dirinya dengan cara seni yang indah ini, maka tidak mungkin dikatakan bahwa tidak perlu keberadaannya; karena ia adalah yang diperlukan dari sirah di zaman kita ini, dan tidak dapat dicela bahwa ia adalah omong kosong dan pemalsuan dan rekayasa; karena tidak ada satu huruf pun dari itu di dalamnya, dan tidak dapat ditolak bahwa ia adalah pendapat-pendapat yang salah dari yang salah dan benar dari yang benar; karena ia berdasarkan nash sejarah sebagaimana dipelihara sanad-sanad, dan tidak dapat dituduh dengan keburukan dan kelemahan dan lemahnya susunan; karena ia adalah fasih orang Arab yang fasih murni sebagaimana diriwayatkan dengan lafaz-lafaznya; maka penulis telah membentenginya dengan benteng yang tidak dapat ditembus, dan dalam karyanya ia ikhlas dengan keikhlasan yang sempurna, amanah dengan amanah yang paling sempurna, teliti dengan segala ketelitian, hati-hati dengan puncak kehati-hatian.
Dan di antara faedah cara ini adalah bahwa ia menyiapkan sirah untuk diterjemahkan ke bahasa-bahasa lain dalam bentuk dari bentuk-bentuk terbaiknya yang memaksa zaman ini untuk membaca dengan kagum kisah yang menyendiri itu dalam sejarah kemanusiaan; sebagaimana ia mendekatkan dan memudahkan sehingga menjadikan sirah, dalam nash Arabnya sebagai buku sekolah yang fasih dengan fasih hati dan lidah, mendidik roh, meruncingkan selera, memperbaiki kemampuan bayan.
Dan cukup bagi penulis bahwa dikatakan setelah hari ini dalam sejarah sastra Arab: bahwa Ibnu Hisyam adalah orang pertama yang menyelaraskan sirah dengan penyelarasan sejarah menurut sistem sejarah, dan bahwa Taufiq Al-Hakim adalah orang pertama yang menyelaraskannya dengan penyelarasan seni menurut pola seni.
Abu Al-Wafa adalah penyair yang memenuhi jiwanya, tidak diragukan lagi, madzhab-nya adalah keindahan dalam makna yang ia ciptakan seakan-akan ia berbunga dengannya, dan keindahan dalam gambaran yang ia keluarkan dari bayannya sebagaimana ranting dan daun keluar dari pohonnya, dan ia memiliki tabiat dan di dalamnya ada kelembutan, dan ia mengalir dari bayan atas urat, dan nalurinya menjadikannya lebih terikat pada tiang syair dan lebih dekat pada hakikatnya, hingga ia dihitung sebagai salah satu dari mereka yang syair Arab berlindung dengan mereka, dan mereka sedikit di zaman kita, karena syair menurun di zaman ini ke bahasa sehari-hari dalam polanya dan maknanya, sebagaimana pementasan menurun, dan sebagaimana gaya penulisan di beberapa koran dan majalah menurun.
Dan bahasa sehari-hari memiliki wajah-wajah banyak yang kehidupan berubah di dalamnya, dan kembaliannya pada roh kebebasan yang menyebar di antara kita dan generasi tumbuh atasnya dalam peradaban ini yang bekerja di Timur tidak seperti kerjanya di Barat, maka ia di sana adalah kemudahan dan kemauan keras, dan di sini ia memudahkan dan memberikan kemudahan, dalam naungan yang lemah dari kemauan keras, dan mengabaikan balaghah Arab yang indah sebagaimana adanya dalam hukum-hukumnya tidak lain adalah manifestasi bagi roh itu yang dihadapi manifestasi-manifestasi lain, dari mengabaikan akhlak, dan jatuhnya keutamaan, dan kemunafikan kejantanan, dan penyimpangan kewanitaan, dan rusaknya aqidah, dan kacaunya politik, hingga apa yang mengalir dalam aliran ini dari apa yang ada dalam balaghah kehidupan yang jelas seperti yang tercela dan yang terbuang dan yang remeh dalam balaghah kalam yang fasih; semua itu di tempatnya adalah pelepasan dari ikatan dan kebebasan dan kemudahan dan pemberian kemudahan, dan semua itu adalah bahasa sehari-hari sebagian dari sebagian, dan semua itu adalah kesalahan dalam balaghah dan akhlak dan keutamaan dan kejantanan dan kewanitaan dan aqidah dan politik.
Dan syair hari ini kebanyakannya adalah “syair penerbitan” di koran-koran, menurut tabiat koran bukan menurut tabiat syair; dan ini adalah kebebasan jurnalistik yang menenggelamkan koran-koran, dan menundukkan selera penulis-penulisnya pada hukum-hukum perdagangan, karena mereka menerbitkan beberapa qasidah sebagaimana “iklan” diterbitkan: tidak menjadi penilaian dalam ini dan ini untuk bayan atau pembedaan atau manfaat, tetapi seukuran harga atau apa yang di dalamnya ada makna harga!
Dan dari materialisme zaman ini dan tirani bahasa sehari-hari atasnya, bahwa kita melihat di kepala beberapa koran kadang-kadang syair yang tidak ada dalam kerajinan syair atau dalam tingkatan nazm yang lebih lemah atau lebih dingin daripadanya. Dan tidak ada yang lebih menunjukkan rusaknya selera syair, tetapi ia atas dasar itu yang kita isyaratkan kepadanya dianggap sebagai kalam yang layak untuk diterbitkan, meskipun layak untuk syair.
Dan demikianlah bahasa sehari-hari dalam kemampuannya menjadikan dari kelengahan kecakapan perdagangan, dan dari kejatuhan ketinggian filosofis, dan dari kelemahan balaghah jurnalistik, dan ketika makna kecakapan berubah, dan kebebasan memasukinya, dan penafsiran jatuh di dalamnya, dan dikelilingi dengan penyamaran dan syubhat maka keragu-raguan saat itu adalah saudari kepercayaan, dan ketidakmampuan adalah pintu dari kemampuan, dan kelemahan adalah makna dari pemberdayaan, dan semua yang tidak dapat berdiri di dalamnya alasan yang benar adalah ia menurut tabiat rekayasa alasan dirinya.
Dan kebanyakan yang diterbitkan koran-koran dari syair adalah dalam pendapatku kerajinan mengumpulkan kayu dari kalam… dan telah batallah kelelahan kecuali kelelahan mengumpulkan dan memikul, maka tidak lagi ada kerajinan psikologis dalam menghias kalam, atau tabiat musikal dalam menyusun bahasa, atau cara pemikiran dalam mencetak makna, dan dengan bahasa sehari-hari yang berat ini syair mulai hilang dari jalannya, dan sesat dari jalan-nya, dan jatuh di dalamnya kemudahan yang kasar… dan paksaan yang dicintai… dan kita sampai pada pukulan baru dalam kekasaran, yaitu ujung yang berhadapan dengan syair kasar di hari-hari jahiliyah; karena selama kalam aneh, dan nazm gelisah, dan datangnya jauh, dan makna habis, dan tenunan tidak lurus, dan cara tidak menyerupai maka semua itu adalah cacat dan buruk rupa secara keseluruhan meskipun sebab-sebabnya berbeda secara terperinci, dan jika cacat itu jahili dengan aneh dari lafaz-lafaz, dan menyimpang dari bahasa-bahasa, dan kasar dari makna-makna; dan itu zaman dengan lemah dari lafaz-lafaz, dan rendah dari ungkapan, dan campuran dari gaya-gaya, dan bodoh dari makna-makna; kemudian dengan jatu dan kekacauan dan gangguan dan kerumitan, maka apakah sebagian itu kecuali dari sebagiannya? Dan apakah ia dalam syair yang indah kecuali seperti menguliti manusia yang dimutasi Allah maka Dia menguliti-nya dari makna-makna yang dengannya ia menjadi manusia, untuk menempatkannya dalam makna-makna yang dengannya ia menjadi kera atau babi yang tidak ada padanya kecuali lahir yang menyerupai, dan tidak bersamanya kecuali sisa asal?
Maka kekere-an syair, dan kebabi-an syair, terwujud dalam banyak syair yang diterbitkan di antara kita, tetapi pemilik syair ini tidak melihatnya kecuali sebagai kesempurnaan dalam perkembangan seni dan ilmu dan filsafat; dan engkau ketika pergi berargumen untuk penyimpangan syair dari sisi filsafat, dan mendorong tentang kelemahannya dengan alasan ilmu, dan berdalih untuk membenarkan kerusakannya dengan seni – maka itu sendiri adalah dalil kami bahwa syair ini adalah kekere-an kebabi-an, tidak lurus dalam susunannya, dan tidak datang menurut tabiatnya, dan tidak keluar dalam bentuknya; dan tidak menjadi dalil atas syair dari pendapat penyairnya dan keterpesonaannya dengannya dan pembelaannya tentangnya, tetapi dari perasaan pembacanya dan getarannya untuknya dan terpengaruhnya dengannya.
Dan penyair Abu Al-Wafa baik caranya, bagus penuangannya, berkata atas pikiran dan bakat, dan kembali pada tabiat dan naluri, tetapi jiwanya gelisah dalam posisi syair-nya dari kehidupan; dan dalam pendapatku bahwa penyair tidak sempurna dengan sastra dan bakatnya hingga kesempurnaannya dengan posisi jiwa syairnya yang ditempatkan kehidupan padanya; dan pembicaraan panjang dalam sifat posisi ini, tetapi ia secara keseluruhan seperti tanah tumbuh bunga: tidak tumbuh subur pertumbuhannya dan tidak mencapai tujuannya kecuali di tempat yang menghubungkan unsur-unsurnya dengan unsur-unsur kehidupan dengan sempurna lengkap, maka tidak memutuskannya dari sesuatu dan tidak menghalangi sesuatu daripadanya; karena ia dengan apa yang ada dalam susunannya dan persiapannya hanya sempurna dengan posisinya itu untuk persiapan dan susunannya, maka jika bunga itu seperti yang kita sifatkan, dan jika tidak maka tidak ada pilihan dari sakit warna, dan tuanya wangi, dan kurusnya segar, dan sakitnya keindahan.
Dan seandainya hikmah tidak memberikan Profesor Abu Al-Wafa bagiannya dari rasa sakit, dan menganugerahinya jiwa yang menderita yang dikurungnya dalam sebab-sebab sakitnya dengan kurungan yang tidak ada jalan keluar daripadanya – niscaya bunganya kehilangan unsur pewarnaan, dan keluarlah syairnya sebagai nazm yang hambar kacau terputus sebab-sebabnya dari wahyu; namun sisi rasa sakit padanya adalah sisi langit kepadanya, dan seandainya ia setara sisi-sisi maknawi lainnya, dan diberikan setiap sisi haknya, dan dibersihkan dari apa yang menyertainya -niscaya ia naik dari tingkat rasa sakit ke tingkat perasaan terhadap yang samar dan kabur, dan menjadi akal dari akal-akal besar yang melahirkan yang hidup di dalamnya segala sesuatu kehidupan syair yang memiliki rasa.
Tetapi selama kehidupan telah menimbangnya dengan ukuran, dan mulai bersamaan dengan itu dan menipu, maka pantas baginya untuk membatasi syairnya pada pintu-pintu desahan dan air mata dan keinginan, atau terputus wasilahnya kepadanya untuk mencapai; dan tampak bagiku bahwa Abu Al-Wafa mengikuti jejak Ismail Pasha Shabri, dan ia menyerupainya dalam bahwa tidak terbuka baginya terhadap alam kecuali satu jendela; namun Shabri menghadap jendelanya dan melihat seluas kemampuan melihat, adapun Abu Al-Wafa maka ia mencoba menggali di dinding untuk menjadikannya dua jendela.
Adapun bahwa bukan dari syair bahwa kebingungan filosofis turun dari kedudukannya antara keyakinan dan akal, atau yang disaksikan dan yang tertutup, atau kenyataan dan sebab, atau gambar dan makna -lalu berubah antara syair hati yang cinta, dan syair pikiran yang bertafakur, syair perut yang lapar, dan meletakkan antara kerinduan alam kerinduannya pada makanan dan pakaian dan harta…
Namun yang lebih baik dalam pengaturan, dan lebih dekat pada cara jiwa penyair bahwa Abu Al-Wafa mengalihkan perasaan materi yang ia deritai, lalu mengubahnya menjadikannya pintu dari hikmah ejekan syair terhadap dunia dan ahlinya dan peristiwa-peristiwanya, sebagaimana Ibnu Ar-Rumi mengalihkannya dahulu lalu salah dalam pengalihannya, maka ia jadikan kadang pintu dari pujian dan kemunafikan, dan kadang pintu dari hinaan dan kekejian.
Meskipun penyair Abu al-Wafa telah mencurahkan segenap kemampuannya dalam hal itu, menuduh dunia lalu mengadilinya, menetapkan hukum untuknya, mendudukkan hakim, membuka persidangan, dan mengangkat perkara demi perkara, kemudian mengambil keputusan demi keputusan, kadang dalam anekdot demi anekdot, terkadang dalam hikmah demi hikmah, dan di waktu lain dalam sindiran demi sindiran – maka penyair yang halus dan penuh penderitaan ini pasti akan menemukan sisi lain dari rahasia bakat yang ada dalam jiwanya, sehingga ia mengeluarkan kandungan tersembunyi dari sisi yang kuat ini, dan tanpa ragu ia akan menjadi penyair zamannya dalam bidang ini, dan pemimpin masanya dalam cara ini.
Namun di halaman-halaman diwannya terdapat hal-hal sedikit yang menunjukkan kepada kemampuan ini, tetapi tersebar di sela-sela syairnya, padahal seharusnya wajahnya berada di sela-sela hal-hal tersebut. Dan sesungguhnya ia menghasilkan kalimat yang paling mulia dan paling indah, ketika ia menuju kepada asal yang telah kami tunjukkan, lalu mengalihkan kerinduan jiwanya kepada sebagian wajah-wajah syairnya, seperti ucapannya dalam “Mimpi Para Gadis” yang merupakan salah satu karya indahnya dan kebaikan syairnya:
Inilah kedua matamu yang meng- goda padaku dengan berbagai prasangka Di dalamnya ada laut dan gelombang dan dataran serta bukit-bukit Dan kejelasan dan kesamaran dan kegoncangan serta ketenangan Dan makna-makna yang jelas serta makna-makna yang tidak tampak Dan khayalan-khayalan beragam dari petunjuk dan kegilaan Dan sinar-sinar bingung dari angan atau kerinduan Seandainya aku tahu rahasia apa di balik kelopak mata itu Ah, sesungguhnya rahasia itu diberitakan oleh kedua burung yang terbang itu Ketika keduanya condong di atas dua dahan- nya sambil berpelukan..
Maka ini adalah bait-bait dalam syair kecantikan bagaikan mihrab yang penuh dengan penyembahnya..
Kesuksesan dan Buku Rahasia Kesuksesan 1:
Allah tidak menciptakan manusia yang berakal kecuali menanamkan dalam susunannya dua hal seperti mukadimah dan natijah (kesimpulan), dan memberikan kepadanya kemampuan untuk mencapai sarana dan tujuan, “agar hidup orang yang hidup atas dasar bukti yang nyata dan binasa orang yang binasa atas dasar bukti yang nyata” (QS. Al-Anfal: 42). Dalam susunan manusia terdapat kekuatan keinginan untuk sukses dan dapat mencapai rahasianya atau mendekatinya atau menghampirinya. Dan dalam susunan yang sama ini terdapat sesuatu yang dapat menyingkap tabir ini dan mengantarkannya kepada rahasia ini serta mengumpulkannya bersamamu.
Saya tidak mengingkari bahwa kesuksesan adalah salah satu takdir, tetapi ia adalah takdir yang memiliki aroma khas yang kuat yang dapat dicium oleh orang yang berada di bawah langit sementara ia masih di langit, dan antara dirinya dengan bumi masih ada jarak waktu yang panjang serta sebab-sebab dan takdir-takdir yang banyak. Seandainya tidak ada kekhususan ini pada kesuksesan dan pada manusia, niscaya tidak akan timbul keinginan untuk bekerja, tidak akan benar semangat dalam berkeinginan, tidak akan terarah tekad kepada semangat, dan tidak akan kokoh ikatan pada tekad.
Namun dalam diri manusia juga terdapat hal-hal yang merusak kekhususan ini atau melemahkannya atau melumpuhkannya sama sekali. Maka jadilah ia menyesatkan dan tidak memberi petunjuk, padahal sebelumnya ia memberi petunjuk dan tidak menyesatkan. Dan jadilah ia menyimpang dari kebenaran dan berbelok dari tujuan yang benar, padahal sebelumnya ia adalah jalan menuju kebenaran dan petunjuk kepada tujuan yang benar. Tidak ada yang dapat mengganggu kekhususan ini kecuali salah satu dari tiga hal: kelemahan, lemahnya semangat, dan kegoncangan pendapat.
Adapun kelemahan, maka itu adalah kedudukan yang menjadikan manusia seperti tumbuhan yang terangkat dari bumi dengan batangnya, tetapi tertanam di dalamnya dengan akar-akar kehidupannya. Adapun lemahnya semangat, maka itu adalah kedudukan hewan yang tidak memiliki perhatian kecuali hanya ada bagaimanapun adanya dan di manapun tempatnya dalam wujud ini; karena ia dilahirkan, bekerja keras, dan bersusah payah hanya untuk menjadi daging, tulang, bulu domba, bulu unta, dan rambut sebagai perabot dan barang kebutuhan, seolah-olah ia adalah jenis tumbuhan lain, hanya saja ia adalah jenis kemanfaatan yang lain.
Adapun kegoncangan pendapat, maka itu adalah kedudukan di antara dua kedudukan yang kembali ke satu kadang-kadang dan ke yang lain kadang-kadang, dan jatuh dari keduanya pada tempatnya. Kelemahan, lemahnya semangat, dan kegoncangan pendapat dalam bahasa akal adalah tiga makna untuk satu kata yaitu kekecewaan. Dan rahasia-rahasia kesuksesan tidak lain adalah tiga hal yang berseberangan dengannya, yaitu kekuatan, tekad, dan keteguhan.
Tetapi dalam diri manusia ini ada masa kanak-kanak dan masa muda, dan keduanya adalah dua keadaan yang tidak dapat dihindari, dan keduanya secara alami lemah dan gegabah. Dalam kedua masa ini manusia menjadi berat menuju tujuan-tujuannya, mundur dari kesulitan-kesulitannya, dan menyerah di hadapan cita-cita terakhirnya. Anak kecil tidak mungkin dapat mencapai pemahaman orang dewasa dalam makna-maknanya, dan pemuda tidak mungkin dapat mencapai orang bijak dalam kesempurnaannya. Seolah-olah kedua golongan ini tidak memiliki harapan dalam sebab-sebab kesuksesan, dan seolah-olah keduanya tidak pandai melipat hatinya pada sesuatu atau mengumpulkan pendapatnya pada suatu perkara.
Namun dari hikmah Allah dan rahmat-Nya, Dia telah menyediakan dari hukum-hukum-Nya yang kuat untuk kelemahan masa kanak-kanak dan kegegabahan masa muda, sesuatu yang menjadi sandaran yang mencegah, tempat berlindung yang melindungi, dan kekuatan yang memperbaiki. Yaitu hukum keteladanan yang terwujud dalam ayah, ibu, sahabat, teman bergaul, guru, dan buku. Karena Allah Yang Maha Tinggi kekuasaan-Nya menyebarkan dalam makhluk apa yang selalu mengarahkan mereka kepada keyakinan, memikul mereka kepadanya, dan memberi mereka penglihatan dengannya, hingga seolah-olah seluruh kehidupan ini hanyalah praktik untuk keutamaan beriman kepada-Nya, baik manusia menyadarinya atau tidak.
Dan “Buku Rahasia Kesuksesan” yang diterjemahkan oleh guru kami yang alim, Doktor Yaqub Sarruf pada tahun 1880, dan cetakan keempatnya muncul pada hari-hari ini, adalah demi Allah dalam bidang keteladanan sebuah hukum tersendiri. Saya tidak pernah melihat buku yang begitu selaras susunannya, rata bagian-bagiannya, akhirnya sesuai dengan awalnya, seluruhnya tertuju kepada tujuan yang untuknya ditulis, dan datang sebagai satu potongan dalam makna dan manfaatnya – seperti buku ini yang mengajarkan orang lemah bagaimana menjadi kuat, orang yang tidak mampu bagaimana bergantung pada diri sendiri, orang yang goncang bagaimana menerima, orang yang terjatuh bagaimana bangkit, dan mengajarkanmu juga bagaimana mengistirahatkan kelelahan dengan kelelahan, bagaimana menghilangkan kepenatan dengan kepenatan, bagaimana melaksanakan tekadmu dan meyakininya serta memukul bola bumi dengan kedua kakimu meskipun kamu bukan raja, bukan pemimpin, bukan penakluk, meskipun kamu dari kalangan rakyat biasa, dan meskipun kemiskinanmu berada di balik satu ambang pintu.
Saya tidak mengatakan bahwa buku ini adalah ilmu, karena perkataan ini akan merendahkannya dari kedudukannya dan tidak lebih dalam menggambarkannya selain menjadikannya kumpulan kertas halus dengan cetakan yang baik, padahal ia adalah kumpulan jiwa-jiwa, tekad-tekad, dan urat-urat hati. Tetapi saya katakan dalam menggambarkannya secara ilmiah bahwa sekolah-sekolah mengeluarkan murid-murid dari buku-buku… dan buku ini mengeluarkan dari murid-murid menjadi laki-laki yang kuat, keras, terlindungi seperti kerasnya batang-batang pohon yang kokoh, dari kekuatan jiwa dan kekerasannya, kebenaran tekad dan ketajamannya, ketegasan pendapat dan daya tembusnya; dan dari apa yang diberikannya berupa kekuatan sabar dan keteguhan serta bertahan menghadapi kelelahan hingga batas-batas terjauh kemampuan manusia.
Dan tidaklah kamu membacanya dengan benar dan menyelesaikannya dengan sempurna dalam hal perenungan dan penelitian yang mendalam, kecuali kamu keluar darinya dan telah diletakkan dalam jiwamu sesuatu yang lebih besar dari jiwamu sendiri, siapapun kamu dan bagaimanapun keadaanmu. Jika kamu seorang anak, kamu keluar sebagai laki-laki; jika kamu seorang laki-laki, kamu keluar sebagai orang bijak; dan jika kamu seorang bijak, kamu akan memperoleh dalam jiwamu sesuatu yang menjadikanmu dengan kebijaksanaan di atas dunia, padahal sebelumnya kamu dengan kebijaksanaan itu berada dalam dunia.
Guru penerjemah berkata dalam mukadimahnya: “Saya bersaksi untuk anak-anak tanah airku bahwa saya tidak pernah mendapat manfaat dari sebuah buku sebanyak yang saya dapatkan dari buku ini.” Dan inilah kata-kata yang tidak akan diucapkan selain oleh orang yang membaca “Rahasia Kesuksesan”, dan tidak mungkin mengatakan selain itu; karena ia dibangun dalam susunan manfaat jiwa dan apa yang mengasah ketajamannya, membangkitkan kemampuan-kemampuannya, membangunkan kekuatan-kekuatannya, dan mengerahkan sarana-sarananya berdasarkan sesuatu yang menyerupai kaidah-kaidah yang tidak menghasilkan kecuali satu hasil dari manapun kamu memandangnya, seperti “dua ditambah dua sama dengan empat”, dan tiga ditambah satu sama dengan empat, dan empat satuan sama dengan empat, dan seterusnya…
Itulah kesaksian penerjemah. Adapun saya, maka saya bersaksi bahwa saya pernah mengenal sejak lama seorang mahasiswa di Al-Azhar. Ketika ia berkenalan denganku, ia mulai mengeluh dan merasa jengkel, membuka hatinya kepadaku dan berkata: “Al-Azhar dengan ilmu-ilmunya, bidang-bidangnya, masalah-masalahnya, dan problema-problemanya, matn-matn dan apa yang ada di dalamnya, syarh-syarh dan apa yang berkaitan dengannya, hawasyi dan apa yang dibantah, dikritik, dijawab, dan dikatakan di dalamnya. Setiap kata dengan sejam dari umur, setiap baris dengan sehari, setiap jilid dengan setahun. Saya telah meninggalkan di belakangku sekian dan sekian feddan (lahan) dan menghadapi sekian dan sekian ilmu, tetapi tidak saya panen dari yang ini maupun dari yang itu!”
Saya berkata: “Apa yang menahanmu padahal pintu terbuka, Al-Azhar tidak menanyakanmu mau ke mana, dan dunia tidak menanyakanmu jika kamu keluar kepadanya dari mana?”
Dia berkata: “Demi Allah, yang mengikatku pada tiang-tiang ini selama lima belas tahun penuh dalam keputusasaan dan kepahitan tidak lain adalah buku ‘Rahasia Kesuksesan’. Dan tidaklah saya melaksanakan niat saya sekali pun pada satu sisi dari sisi-sisi kehidupan, kecuali saya melihat buku ini telah memukul wajah niat ini lalu mengembalikannya ke tempat ini dan melemparkannya ke tempat tinggal ini. Dan tidaklah saya berniat meninggalkan Al-Azhar kecuali berdiri di hadapanku semua pahlawan yang telah saya baca berita-berita mereka di dalamnya dan mereka menahanku, bukan dari tanganku atau dari kakiku, tetapi dari keyakinanku, imanku, dan harapanku!”
Saya berkata: “Demi Allah, dia tidak akan melepaskanmu hingga kamu berhasil. Dan tidaklah Allah mengikat hatimu dengan buku ini dan meneguhkan dadamu dengan keyakinan yang ada di dalamnya, kecuali Dia telah menuliskan bagimu segala kebaikan.”
Abu Tammam Sang Penyair: Penelitian Masa Tinggalnya di Mesir
Tidak ada pilihan lain selain kita sampai pada kesimpulan yang benar dalam masalah ini, menyelidikinya hingga ke esensinya, dan mencapai dari esensi tersebut hingga ke bukti-buktinya. Sebab para ulama sastra, baik yang dahulu maupun yang sekarang, telah menyampaikan berita tentang Abu Tammam sebagai cerita yang disebarkan secara bebas dalam periwayatan dengan berbagai jalurnya, bukan berdasarkan sejarah dalam bentuknya yang pasti. Berita ini diterima sebagai berita biasa—jika benar maka benar, jika salah maka begitulah adanya. Karena yang mereka pedulikan dari seorang penyair hanyalah syair-syairnya, yang mereka terima darinya atau ambil dari para perawinya, atau mereka temukan dalam kumpulan syairnya. Adapun berita-berita tentang sang penyair, itu tidak berkaitan dengan Kitab (Al-Quran) dan Sunnah, sehingga terkumpul bagi mereka sebagaimana adanya dan mereka ambil sebagaimana yang terjadi dengan segala kebohongan, penambahan, dan rekayasa yang masuk di dalamnya, dan apa yang ada di dalamnya yang saling mendukung atau saling bertentangan satu sama lain. Yang kritis di antara mereka meriwayatkan yang benar dan yang salah sekaligus untuk terlepas dari tanggung jawab, karena pasti ada tanggung jawab pada salah satu dari dua hal yang bertentangan itu; dan agar terlepas dengan kebenaran salah satunya dari kebohongan yang lainnya, sebagaimana yang dilakukan Ibn Khallikan dalam menyampaikan berita Abu Tammam. Ini adalah teks ungkapannya:
“Kelahiran Abu Tammam… di Jasim, yaitu sebuah desa antara Damaskus dan Tiberias, dan ia tumbuh di Mesir. Dikatakan: bahwa ia dulu menjual air dengan kendi di Masjid Mesir, dan dikatakan ia dulu melayani seorang penenun yang bekerja di tempatnya di Damaskus, dan ayahnya adalah penjual khamar di sana.”
Mereka yang mengenal cara-cara periwayatan dan istilah-istilahnya memahami dari ungkapan ini bahwa Ibn Khallikan menghindari tanggungjawab atas salah satu atau kedua berita tersebut. Karena dalam periwayatan, ketika suatu berita dimulai dengan “dikatakan” atau “konon”, itu menunjukkan bahwa berita ini tidak pasti kebenarannya. Bentuk seperti ini mereka sebut sebagai “sighat al-tamridh” (bentuk meragukan), yang tidak memberikan kepastian kebenaran atau keyakinan. Jelas bahwa Abu Tammam tidak mungkin tumbuh di Mesir dan di Damaskus pada waktu yang bersamaan.
Ibn Khallikan telah melihat kitab yang disusun al-Shuli tentang berita-berita Abu Tammam dan mengutip darinya, dan itu adalah rujukan dalam bidang ini. Pasti kitab ini kosong dari penelitian periwayatan ini, bahkan kami memperkirakan bahwa kitab itu sama sekali kosong darinya, sehingga tidak menyebutkan bahwa Abu Tammam tumbuh di Mesir. Karena penulis Kitab al-Aghani mengabaikannya dan tidak menyinggungnya sama sekali, padahal ia mengutip dari al-Shuli sendiri dan berkata dalam kitabnya: “al-Shuli memberitahukan kepadaku”. Demikian pula penulis Muruj al-Zahab mengabaikannya, padahal ia juga mengutip dari al-Shuli. Ini membuktikan kepada kita bahwa berita itu tidak dikenal pada masa itu, kalau bukan itu sejarah menurut Abu al-Faraj dan al-Mas’udi, lalu apa?
Namun periwayatan itu disebutkan dalam kitab al-Anbari “Thabaqat al-Udaba'”, dan pengutipnya hanya menyebutkan bahwa Abu Tammam tumbuh di Mesir dan bahwa ia dulu menjual air di sana, tidak menyebutkan periwayatan tentang pekerjaannya di Damaskus. Al-Anbari adalah ulama yang hidup belakangan, meninggal tahun 577 H, jadi ia hidup tiga setengah abad setelah kematian Abu Tammam, sehingga periwayatannya tidak bernilai, dan statusnya sama dengan pengutip-pengutip lainnya. Kami melihat bahwa periwayatan ini dibuat di Mesir sendiri untuk merendahkan Abu Tammam dan mencela dia, dan tetap diriwayatkan di sana kemudian disebarkan sebagaimana setiap periwayatan disebarkan karena dirinya sendiri, bukan karena penelitiannya, baik itu sesuai dengan kebenaran maupun menyimpang darinya. Tidak ada pekerjaan yang lebih rendah dari menjual air di masjid dengan kendi, dan demi hidupku, “kendi” tidak disebutkan di sini dengan sia-sia. Berlebihan dalam merendahkan adalah bukti kebohongan itu sendiri, kata ini seperti jejak penjahat dalam kejahatannya.
Setelah itu, kami menetapkan bahwa penyair agung ini tidak tumbuh di Mesir, dan bahwa ia lahir serta belajar di Syam kemudian datang ke Mesir sebagai penyair muda yang mencari nafkah dengan sastranya, sebagaimana yang lain datang ke Mesir dari Andalusia, Maghrib, Syam, dan Iraq. Ia tidak datang ke Mesir kecuali pada masa pemerintahan Abdullah bin Thahir—sastrawan, penyair, dan panglima agung—yang diberi pemerintahan atas Mesir, Syam, dan Jazirah pada tahun 210 atau 211 H menurut perbedaan pendapat para sejarawan. Usia Abu Tammam saat itu antara 21-23 tahun. Ibn Thahir adalah magnet bagi para penyair di setiap tempat yang ia singgahi, hingga salah seorang dari mereka berkata dan berniat hijrah ke Mesir:
“Orang-orang berkata bahwa Mesir itu jauh, Padahal Mesir tidak jauh jika di sana ada Ibn Thahir. Yang lebih jauh dari Mesir adalah orang-orang yang kita lihat, Di hadapan kita, kebaikan mereka dikenal tapi tidak tampak. Mereka mati dari kebaikan, tidak peduli apakah kamu mengunjungi mereka, Dengan harapan atau kamu mengunjungi penghuni kuburan.”
Abu Tammam mendatanginya ke Mesir, sebagaimana ia kemudian mendatanginya ke Khurasan pada tahun 220 H, yaitu tahun ketika Abu Tammam menyusun atau pada tahun berikutnya kitab “al-Hamasah” sebagaimana yang telah kami teliti dan tidak perlu disebutkan di sini.
Kami sampaikan bukti-bukti kami atas kebenaran pendapat kami dalam menolak bahwa Abu Tammam tumbuh di Mesir atau datang kepada kami sebagai anak kecil, atau bahwa tabiatnya dalam syair berasal dari Mesir, atau Mesir memiliki pengaruh dalam kegeniusannya:
1.
Yang disepakati tanpa perselisihan bahwa sang penyair lahir di Syam, dan selama demikian, alam telah berkata dalam asal mula kecemerlangan dan kegeniusannya. Karena seorang sastrawan terlahir dan tidak dibuat sebagaimana kata orang Inggris. Semua ulama mengenalnya sebagai al-Tha’i! Tidak ada yang meragukan nasabnya kecuali yang tidak meneliti, sedangkan ia sendiri bangga dengan ke-Tha’i-annya, dan itu seperti penjelasan atas kata alam dalam sebab-sebab kecemerlangan keturunannya. Ia telah berpindah antara Mesir, Syam, Iraq, Khurasan, Armenia dan lainnya, maka tidak ada negeri yang lebih pantas dari negeri lain untuk menjadi sumber kegeniusannya.
2.
Seorang penyair hanya mencari nafkah dari syairnya dengan memuji orang yang tersentuh atau memberi hadiah karenanya. Abu Tammam tidak memuji seorang pun dari penduduk Mesir. Jika ia memuji Abdullah bin Thahir di Mesir, maka kepada dialah ia datang dan untuknya ia datang. Ibn Thahir bukanlah orang Mesir, ia datang ke Mesir dan kembali darinya sebelum setahun berlalu. Seandainya penyair ini tumbuh di Mesir dan belajar di sana, tentu kami akan menemukan banyak pujian darinya kepada tokoh-tokoh dan ulama-ulamanya, karena ketika ia bersyair, ia tidak mencari nafkah kecuali darinya. Dalam diwan sang penyair ada sindiran untuk Ibn al-Jaludi yang ia buat di Mesir, tetapi Ibn al-Jaludi bukanlah orang Mesir, melainkan panglima dari panglima-panglima al-Ma’mun, yang diberi tugas memerangi Zuth pada tahun 205 H, kemudian datang ke Mesir setelah itu, kemudian menjadi gubernur di sana pada tahun 214 H. Semua yang “Mesir” dalam syair Abu Tammam adalah dalam sindirannya terhadap penyair Mesir Yusuf al-Sarraj, dan mungkin dalam beberapa penggalan lain dari ghazal atau deskripsi.
3.
Abu Tammam lahir pada tahun 188 atau 190 H, dan yang pasti ia berada di Mesir pada tahun 214 H ketika ia menyusun qashidah dal-iyyah dan nun-iyyah-nya dalam meratap Umair bin al-Walid—Umair ini bukanlah orang Mesir, melainkan dari Khurasan, dan berada di Mesir sebagai pegawai Abu Ishaq al-Mu’tashim bin al-Rasyid. Seandainya Abu Tammam datang ke Mesir sebagai anak kecil sebagaimana dikatakan, maka masa bersyairnya di sana tidak akan kurang dari sepuluh tahun, padahal semua yang ia susun ketika berada di sana tidak mencapai sepuluh qashidah. Inilah diwannya di hadapan kita dan kepadanya saja rujukan dalam menunjukkan pemiliknya.
4.
Al-Marzubani meriwayatkan dalam “al-Muwashshash” dari al-Abbas bin Khalid al-Barmaki berkata: “Pertama kali Abu Tammam al-Tha’i tampil (yaitu bersyair), ia datang kepadaku di Damaskus memuji Muhammad bin al-Jahm, lalu aku berbicara kepadanya tentang hal itu dan ia mengizinkannya. Ia masuk menemuinya dan melantunkan syair, kemudian keluar dan ia memerintahkan memberinya dirham yang sedikit, kemudian berkata: ‘Jika orang ini hidup, pasti akan keluar menjadi penyair.'”
Ini adalah teks yang menyatakan bahwa sang penyair saat itu hanya dalam permulaan bersyair, dan belum menjadi penyair, dan syairnya dari tingkatan yang diberi upah “dirham sedikit”. Abu Tammam setelah itu adalah dia sendiri yang diberi hadiah oleh Abdullah bin Thahir seribu dinar lalu ia enggan menyentuhnya dan membiarkan para pelayan mengambilnya, dan itu menjadi sebab berubahnya Ibn Thahir terhadapnya.
5.
Ibn Khallikan mengutip dalam biografi Dik al-Jinn, penyair Himsh yang terkenal, dari Abdullah bin Muhammad bin Abdul Malik al-Zubaidai berkata: “Aku sedang duduk di sisi Dik al-Jinn (yaitu di Himsh) ketika seorang pemuda masuk menemuinya dan melantunkan syair yang ia buat. Dik al-Jinn mengeluarkan dari bawah sajadahnya gulungan besar berisi banyak syairnya, lalu menyerahkannya kepadanya dan berkata: ‘Wahai anak muda, carilah nafkah dengan ini dan gunakan untuk membantumu dalam bersyair.’ Ketika ia keluar, aku bertanya tentang dia, ia berkata: ‘Ini pemuda dari penduduk Jasim, ia menyebutkan bahwa ia dari Tha’i, berkunyah Abu Tammam, namanya Habib bin Aus, dan padanya ada adab dan kecerdasan serta ia memiliki bakat dan kemampuan alami.'”
Ini teks lain bahwa Abu Tammam saat itu masih muda—yaitu anak laki-laki—dan masih dalam tahap mencari ilmu, dan gurunya telah membantunya dengan menyalin qashidah-qashidahnya untuk ia pelajari dan tiru. Ia tumbuh di Syam dan belajar di sana.
6.
Abu Tammam menyusun qashidah lam-iyyah-nya:
“Aku menumpahkan dengan demam gelasnya yang membunuh celaan”
Ia menggambarkan kesempitan rezeki atasnya di Mesir dan kekecewaan harapannya yang diharapkan dari harta. Dalam qashidah ini ia merindukan Syam dan meminta hujan untuknya serta menyebut tanah Buqa’ain dan desa-desa Golan tempat ia tumbuh. Seorang penyair tidak merindukan tanah kecuali jika di sana ada cinta atau masa mudanya dan pendidikannya. Adapun masa kanak-kanak terlupakan dengan bekasnya, karena tidak ada bekasnya dalam jiwa ketika seseorang dewasa kecuali jauh sekali. Kerinduan hanyalah untuk apa yang dikaitkan dengan naluri yang membedakan.
7.
Dalam qashidah ini Abu Tammam berkata menyapa kekasih-kekasihnya:
“Perpisahan memaksa aku menjauh dari kalian, Ia memiliki kepentingan agar berlalu dan tidak berhenti”
Al-Nawa dalam bahasa sang penyair adalah kepergiannya untuk mencari nafkah dengan syairnya. Ketika Auf bin Muhallam al-Syaibani kembali ke kampung halamannya setelah menghadap Abdullah bin Thahir di Khurasan, ia ditanya tentang keadaannya, ia berkata: “Aku kembali dari sisi Abdullah dengan kekayaan dan ketenangan dari al-nawa.” Diperkuat oleh ucapan Abu Tammam dalam qashidah itu:
“Aku pergi, tidak mengumpulkan harta dan tidak tinggal, Untuk menikmati, ketika aku ditimpa kehilangan harta dan keluarga”
Artinya ia merantau terpaksa hanya mencari nafkah, dan tidak ada nafkah bagi penyair kecuali dari syairnya. Ia dengan teks ucapannya tentang dirinya sendiri datang ke Mesir sebagai penyair yang mencari nafkah dan mengharapkan kekayaan sebagaimana yang dilakukan orang lain.
8.
Dalam qashidah lam-iyyah ini Abu Tammam rahimahullah menyajikan kepada kita bukti yang mengalahkan semua bukti, seakan ia diilhami dari wahyu ghaib bahwa kami akan membutuhkan bukti ini suatu hari untuk membela dia. Ia merindukan kekasih di Syam dan berkata bahwa perpisahan al-nawa yang ia gambarkan:
“Setelah berpisah dari kekasih, maka menggerakkan, Kerinduan apa yang tersisa dari sikap dingin dari penyambungan”
“Lima keadaan telah berlalu sejak kepergiannya? Dan dua bulan bahkan dua hari adalah duka dari duka”
Artinya ia mengucapkan syair ini ketika telah berlalu masa tinggalnya di Mesir selama lima tahun, dan ia telah datang dari Syam dengan cinta yang di dalamnya ada “sikap dingin dan penyambungan”. Anak kecil tidak mencintai seperti cinta ini dan tidak merindukan kerinduan seperti itu. Jika sang penyair datang ke Mesir pada tahun 210 H sebagaimana kami perkirakan, dan usianya antara 21-23 tahun, maka ia menyusun qashidah ini pada tahun 215 H, dan usianya saat itu antara 26-28 tahun. Seandainya Abu Tammam datang dari Syam sebagai anak kecil, bagaimana seorang anak bisa mengucapkan syair seperti ini setelah lima tahun? Dan apa itu perpisahan kekasih “dan kerinduan apa yang tersisa dari sikap dingin dari penyambungan”?
9.
Penyair kita memuji Muhammad bin Hassan al-Dhabbi dengan qashidah nun-iyyah yang di dalamnya ia menyebutkan perpindahannya di negeri-negeri, ia berkata:
“Di Syam keluargaku, Baghdad adalah cinta, dan aku, Di Ruqmatain, dan di Fustat saudara-saudaraku”
“Aku tidak mengira al-nawa ridha dengan apa yang dilakukannya, Hingga ia bertatap muka denganku di ujung Khurasan!”
Kamu melihat bahwa ia menjadikan keluarganya di Syam, dan menjadikan teman-temannya di Mesir. Seandainya ia tumbuh di sana, tentu ia akan menjadikan keluarganya di sana, karena tidak ada yang tumbuh kecuali bersama ayah dan ibunya. Bait kedua adalah bukti darinya bahwa ia tidak tinggal di Mesir sebagai penduduk tetap atau menetap, melainkan sebagai pengembara sebagaimana ia singgah di tempat lain.
10.
Buku-buku sastra dalam sekolah-sekolah pemerintahan mengatakan: bahwa Abu Tammam dipindahkan ke Mesir ketika kecil lalu tumbuh di sana—dan telah kami jelaskan kerusakannya—kemudian keluar ke pusat kekhalifahan lalu memuji al-Mu’tashim. Ini tidak benar. Abu Tammam keluar dari Mesir sebelum al-Ma’mun memasukinya pada tahun 216 H ketika ia datang ke sana dan membunuh Abdus al-Fahri. Seandainya sang penyair ada saat itu, tentu ia memuji al-Ma’mun dan menyebutkan peristiwa ini. Al-Mu’tashim menjadi khalifah pada tahun 218 H, dan diwan Abu Tammam membuktikan bahwa pada tahun 217 H ia berada di Iraq, dan telah memuji al-Ma’mun dengan qashidah mim-iyyah-nya, dan menyebutkan dalam pujiannya perang Rum, dan ini terjadi pada tahun itu.
Kesimpulan
Dari semua yang telah disampaikan, disimpulkan bahwa Abu Tammam lahir di Syam dan belajar di sana, datang ke Mesir sebagai orang dewasa mencari nafkah dengan syair, lalu tinggal di sana antara lima sampai enam tahun, dan tidak menemukan penghidupan di sana setelah terbunuhnya Umair bin al-Walid yang terbunuh pada tahun 214 H, karena ia hidup dalam perlindungannya, dan telah ia nyatakan dalam qashidah nun-iyyah yang dengannya ia meratapnya bahwa ia berharap setelahnya pada anaknya Muhammad.
Kedatangan sang penyair ke Mesir adalah pada tahun 210 H atau sekitarnya, dan keluarnya dari sana adalah pada tahun 215 H atau sekitarnya, wallahu a’lam (Allah lebih mengetahui).
Saya berkata kepada Profesor terhormat Dr. Taha Husein “dengan lemah lembut dan halus” namun juga dengan tergesa-gesa: Bahwa saya di hari-hari ini sangat kikir dengan waktu yang saya miliki, sangat kikir sekali. Saya merasa langit akan meledak dari hari saya pada suatu saat seperti fajar, maka tidak ada yang dapat mengalihkan saya dari saat itu dan tidak ada yang dapat mengalihkannya dari saya; karena di hadapan saya ada sebuah buku tentang surat-surat yang sedang saya kerjakan dan saya memohon pertolongan Allah untuk menyelesaikannya pada waktu yang telah ditentukan, dan saya hampir menaunginya atau hampir; maka janganlah Profesor berpikir bahwa saya dapat terbang kali ini seperti terbangan yang pertama, karena sayap saya berada di angkasa yang lain, dan sesungguhnya buku yang sedang saya tangani ini tidak membuat saya mengalami kesulitan seperti adat desa sebagaimana mereka katakan dahulu, bahkan mungkin dalam kesukarannya lebih mirip dengan “operasi” bedah jantung, dan menit-menit yang saya gunakan untuk menulis kata-kata ini akan berlalu dengan disesali, karena ia menghabiskan dua halaman dari buku saya.
Adapun setelah itu, saya tidak melihat adanya keadilan jika Doktor sengaja mengambil kalimat-kalimat yang dipotongnya dari artikel saya di majalah Al-Hilal kemudian menjadikannya sasaran untuk dibantah, padahal seharusnya dia menjelaskan sesuatu yang sebelum atau sesudahnya atau memperkuat beberapa sisinya atau membawanya dalam konteks yang menjelaskan maknanya.
Dan Profesor mengklaim bahwa dia tidak memahami dari ucapan saya kalimat ini: “Dan kamu tahu bahwa cita rasa sastra pada sesuatu hanyalah pemahamannya, dan bahwa penilaian terhadap sesuatu hanyalah pengaruh cita rasa padanya, dan bahwa kritik hanyalah cita rasa dan pemahaman sekaligus..” Kemudian dia berputar dengan kata-kata ini seperti putaran badai dan menjadikannya masalah seperti masalah lingkaran dan rangkaian yang terkenal, bahkan menjadikannya seperti “cerita dan kasus”.. Maka kamu melihatnya berkata: cita rasa adalah pemahaman, dan pemahaman adalah cita rasa, dan pemahaman bukanlah cita rasa, dan cita rasa bukanlah pemahaman, dan seterusnya naik turun; dan dia memberi kita contoh dengan musik lalu berkata: “Kita tidak menyangka bahwa mereka yang menguasai musik dan terpesona dengannya semuanya memahaminya”. Dan saya menjelaskan ucapan saya dengan contoh yang sama ini, saya membatasi diri padanya dan tidak melampaui.
Sekarang kita datangkan seorang profesor yang telah mahir dalam musik dan musik telah bercampur dengan saraf, daging, dan darahnya, dan kita berikan kepadanya sebuah karya yang dikomposisikan dan berkata kepadanya: Dengarlah dan pahamilah dan berikan penilaian dan kritiklah; dia mendengarkannya sekali dengan akalnya atau untuk akalnya untuk mengetahui apa yang benar di dalamnya dan apa yang salah, kemudian apa yang lebih tinggi dari kebenaran berupa kebaikan dan kesempurnaan, dan apa yang lebih rendah dari kesalahan berupa keburukan dan kekacauan; maka inilah pemahaman.
Dan dia mendengarkannya kali kedua dengan perasaannya atau untuk perasaannya, maka dia melihat pengaruh dari apa yang dipahaminya, dan dia memutar-mutarnya dalam cita rasanya untuk mengetahui bagaimana kedudukannya dari tujuan yang ditempatkan untuknya, karena ia tidak ditempatkan untuk menjadi suara-suara, melainkan untuk menciptakan sesuatu dari suara-suara; maka inilah cita rasa, dan sebagaimana kamu lihat ia setelah pemahaman dan timbul darinya. Dan orang seperti Profesor Taha Husein tidak tersembunyi darinya bahwa orang yang berkata: Sesungguhnya cita rasa pada sesuatu hanyalah pemahamannya, atau hanyalah dari pemahamannya, atau hanyalah timbul dari pemahamannya, maka ungkapan dalam ranah kiasan adalah satu tidak berbeda.
Kemudian sesungguhnya profesor musik setelah mendengar karya itu dua kali, atau sekali seperti dua kali jika dia sampai memiliki dua telinga di setiap telinganya, dia meminta fatwa dari cita rasa seninya dan memutuskan mendukung atau menentang karya itu; maka inilah pengaruh cita rasa.
Sekarang profesor telah memutuskan dan mengkritik dan memastikan pendapatnya, maka seseorang mengutusnya berkata: Kamu salah dan buruk dan bodoh dan lalai, atau fanatik dan jatuh dalam hawa nafsu pencipta lagu; maka dari mana datangnya perbedaan ini dan bagaimana terjadi ucapan ini? Bahkan bagaimana pantas bagi yang kedua untuk mengabaikan yang pertama dan melihat selain pendapatnya dan memutuskan selain keputusannya, kecuali jika dia telah memahami selain pemahamannya maka pemahaman menciptakan baginya cita rasa dan cita rasa menghasilkan baginya keputusan dan dari premis-premis ini datanglah kesimpulan yang kita sebut kritik, dan ia sebenarnya tidak lain adalah cita rasa dan pemahaman sekaligus, maka mereka yang merasakan musik dan terpesona dengannya dan tidak memahaminya sesungguhnya telah memahaminya sesuai kadar apa yang telah menetap dalam jiwa mereka dari gaya-gaya musik dan apa yang ada dalam diri mereka dari ketundukan pada emosi ini; atau tidakkah kamu melihat mereka berkata tentang orang-orang seperti ini: Bahwa mereka memiliki telinga musikal? Maka telinga ini adalah pemahaman itu sendiri, karena ia adalah indra yang terkumpul dari latihan panjang, dan bisa berdiri pada sebagian orang yang tidak tahu musik di tempat ilmu tersendiri.
Dan Profesor Taha berkata: Bahwa dia mungkin membaca ucapan saya dan memahaminya namun tidak merasakannya, tetapi ketiadaan cita rasa di sini adalah cita rasa itu sendiri; dan andai saja saya tahu apa makna ucapan Al-Mutanabbi:
Dan barangsiapa yang memiliki mulut pahit…
Dan seandainya Profesor dan orang-orang sepertinya adalah meter dan kilometer dalam perbandingan ini, maka seharusnya saya tidak menemukan siapa pun yang merasakan ucapan saya dan mengaguminya dan berlebihan terhadapnya dan menjadi dosa dari dosa-dosa saya di sisi Allah karena berlebihan dalam pujian, padahal saya menemukan untuk setiap satu seperti Profesor Taha sepuluh dan seratus dari yang lain, dan seandainya dia keluar ke dunia akan melihat dan mendengar, dan di antara mereka ada yang lebih tinggi darinya derajat dan lebih panjang leher dan lebih besar kepala dan lebih hebat karya dan lebih fasih dan lebih baik dan lebih berilmu hingga sejumlah waw-waw ini. Dan saya heran dengan Doktor yang ingin tidak memahami dari ungkapan saya sebagaimana dia katakan kecuali bahwa “cita rasa adalah pemahaman itu sendiri, maka kedua lafaz menunjukkan satu makna, maka dengan demikian dan dengan demikian dan dengan demikian..”.
Apakah dia melihat jika saya berkata kepadanya: Saya melihat bulan dan si fulanah malam ini maka dia hanyalah bulan -bahwa saya bermaksud dengan keduanya satu makna sehingga dia berkata kepadanya: “Maka dengan demikian” mereka bukan dua hal yang berbeda melainkan satu hal, maka dengan demikian bagaimana dia memiliki wajah di langit dan wajah di bumi dan tetap dengan itu sebagai perempuan dari manusia; maka dengan demikian ini adalah ucapan yang tidak dipahami…
Sebagian mereka berkata bahwa “seandainya” membuka pekerjaan setan, maksudnya ia adalah alat harapan, dan mazhab baru akan menggabungkan “maka dengan demikian” dengan “seandainya” kemudian apa kata ketiga itu ya?
Saya -dengan kekaguman saya pada Doktor yang mulia- melihat bahwa dia meremehkan hal-hal, dan bahwa dari tabiatnya adalah apa yang tidak dia ridhai dan apa yang tidak dia pahami “bukanlah dua hal yang berbeda”. Maka jika tidak ada pilihan dari pemahaman dia berkata: Bahwa dia tidak yakin, maka jika kamu menyulitkannya dan menyempitkannya tidak tersisa kecuali apa yang dikatakan para nahwu tentang “ai” yang membingungkan mereka dalam i’rab dan bina’nya: ai demikian diciptakan…
Dan saya dan orang-orang seperti saya hanyalah bersemangat sangat bersemangat pada bahasa ini; karena ia adalah dasar umat Islam maka kita tidak ridha kecuali dasar ini kokoh kuat tidak dapat digoyahkan oleh sesuatu dan tidak dapat dirusak oleh sesuatu dan tidak dapat dilemahkan oleh sesuatu; dan Doktor dan orang-orang sepertinya tidak peduli bahwa umat ini seperti rumah-rumah Amerika yang bergerak…
Saya tidak mengingkari pembaharuan, bahkan mungkin Doktor ingat diskusi saya dengannya di “Al-Jarida” dan kekerasan kepalanya waktu itu bahwa tidak ada seorang pun yang boleh memasukkan kata dalam bahasa, dan bahwa ucapan orang tanzuh dan mutanazzah dan nuzhah dll semuanya dari kita kepada ucapan awam, dan keterikatan dia dengan nash Ibnu Sayyidah dalam hal itu, dan pengeluaran saya kepadanya nash Ibnu Qutaibah dan ucapan banyak dari penggunaan ulama, kemudian ucapannya “bagus, tetapi seandainya kamu datang kepadaku dengan lafaz dalam ucapan Al-Mubarrad dan Al-Jahiz dan fulan dan fulan tidak akan aku yakin.
Saya hanya mengingkari satu hal, yaitu dikatakan mazhab lama dan mazhab baru; karena Allah telah melapangkan manusia dalam apa yang mereka ketahui dan apa yang mereka jahili, tetapi teman-teman kita ingin kita tidak menulis kecuali pola tertentu, dan tidak pergi kecuali mazhab tertentu; karena semua itu adalah yang baru; maka mana yang lebih baik bagi kita dan mereka dan bagi mereka yang akan mengeluarkan sejarah mereka dari kubur kita: bahwa kita menganggap bahasa dan sastra semua yang terkumpul dari lama dan baru dan kita kuasai bahasa ini dan kita jaga dan kita bela dan kita jadikan pembaharuannya seperti pembaharuan wanita cantik dalam pakaiannya dan dalam warna-warnanya tanpa cacat dan tanpa rusak dan tanpa menyentuh tubuh yang indah, atau mengatakan: ini bibir dan ini hidung dan ini tempat yang penuh montok dan ini tempat yang kurus ramping dan mari Doktor bawa pisau bedah dan pisau dan gunting dan gergaji dan jarum dan benang maka dengan demikian…?
Sungguh saya ingat bahwa saya melihat dalam beberapa artikel Profesor Taha Husein atau dalam beberapa pujiannya terhadap buku-buku bahwa dia berkata: Bahwa yang lama telah selalu membuktikan bahwa ia lebih kuat dan lebih kokoh dan lebih benar; maka apakah dia kembali dari pendapat ini ataukah muncul dalam yang baru apa yang lebih kuat dan lebih kokoh dan lebih benar? Kemudian wahai kaum beritahukan kepadaku apa ini yang baru? Apakah itu khayalan yang liar gila, ataukah syahwat-syahwat yang melompat tergesa-gesa, ataukah gaya yang mentah kotor, ataukah bahasa daerah yang sakit salah; ataukah ia sebenarnya antara keinginan untuk menonjol sebelum alat sempurna dan cara menguat, sebagaimana keadaan sebagian penulis, maka mereka mempersingkat jalan dengan satu kata yaitu mazhab baru – dan antara keterasingan dalam fanatisme terhadap sastra asing sebagaimana keadaan sebagian yang lain – dan antara keinginan untuk merendahkan nilai sebagian orang dan melempari mereka dengan kebodohan dan kesia-siaan dan bahwa tidak ada nilai bagi apa yang mereka bawa, semua itu dalam ungkapan ilmiah yang layak menjadi teori ilmiah… Dan sebelum mereka orang Arab mengatakannya dalam Al-Quran yang mulia: “Seandainya kita mau, niscaya kita katakan seperti ini. Ini tidak lain hanyalah dongeng orang-orang terdahulu” (QS. Al-Anfal: 31) maka mereka telah mau tetapi tidak mengatakan; dan seandainya mazhab baru menafsirkan Al-Quran suatu hari.. akan berkata dalam makna dongeng orang terdahulu bahwa mereka bermaksud dengan ini mazhab lama…
Dan Doktor Taha berkata: Bahwa ada kaum yang mendukung mazhab baru dan mereka tidak memiliki dari bahasa-bahasa asing dan sastranya bagian, dan bagian mereka dari bahasa Arab dan sastranya berlimpah; kemudian dia meminta pendapat saya tentang mereka dan apa asal mazhab baru mereka; maka saya katakan: Sesungguhnya saya kenal sebagian mereka, dan saya tahu bahwa otak mereka tidak menyerupai sesuatu kecuali kulit sebagian buku yang tidak ada di dalamnya kecuali matan dan syarah dan hasyiyah: kulit yang terbungkus pada kertas, dan kertas yang melipat pada kaidah-kaidah yang dihafal, dan mereka adalah orang yang paling miskin pendapat; dan ini adalah penyakit cinta mereka pada gaya-gaya baru yang berdiri atas terjemahan dan pemindahan pendapat dari Barat ke Timur, dan dengan makna yang terang terbuka: dari otak-otak yang penuh ke otak-otak yang kosong, dan di antara mereka ada sebagian yang cerdas, tetapi kecerdasan mereka di indra mereka, maka jika bukan ini maka biarlah mereka berkata mengapa?
Dan seandainya kamu bertanya pada laba-laba: Apa itu kijang putih bermata cantik yang kamu inginkan dan kamu pasang untuknya semua jaring dan tali ini? dia akan berkata kepadamu: Tunggulah sampai jatuh maka kamu akan melihatnya! Maka ketika jatuh kamu melihatnya di sana dan kamu melihatnya lalat..
Tetapi apa yang dikatakan Doktor tentang Profesor Imam Besar Syeikh Muhammad Abduh? Apakah dia menyeru kepada mazhab baru dalam bahasa dan sastra dan terpesona dengan novel-novel percintaan dan dengan gaya “Emile Zola” dalam novelnya yang terkenal dan dengan seperti novel “L’Assommoir”.
Jika orang-orang menurut Doktor adalah dari sebagian hujjah maka Syeikh sendiri dengan umat penuh dari mereka yang mereka maksudkan.
Dan saya akhiri kata-kata ini dengan terima kasih kepada Profesor Taha Husein dan pujian kepadanya, kemudian sesungguhnya saya melanjutkan pekerjaan saya, dan ini adalah uzur saya kepadanya.
Saya telah membaca di surat kabar “Al-Muqattam” tulisan dari penulis terkenal Salama Musa dalam apa yang dikatakannya sebagai jawaban singkat atas keberatan-keberatan yang melemahkan pendapatnya dalam seruan untuk menyamakan perempuan dengan laki-laki dalam hal warisan. Dia menyarankan kepada siapa saja yang ingin berdiskusi dengannya untuk membaca teks ceramahnya di “As-Siyasah Al-Usbu’iyyah” (Politik Mingguan).
Saya telah merujuk pada teks ceramah tersebut, dan ternyata sang penulis masih sama dalam kelemahan pemikirannya dan buruknya peniruan yang dilakukannya. Dia hampir tidak dapat membedakan antara pendapat yang benar dan tetap dalam dirinya—karena berdasarkan hikmah yang mendorongnya—dengan pendapat yang berubah-ubah dalam setiap jiwa sesuai kondisinya—karena berdasarkan kecenderungan, kelalaian, atau penyakit dalam jiwa.
Anda akan melihat bahwa penulis tersebut hanya menyeru kepada peniruan terhadap Eropa, dan ungkapan-ungkapannya dalam hal itu hampir tak terhitung. Dia berkata bahwa “reformis yang berbuah di antara kita adalah peniru Eropa tanpa penipuan dalam peniruannya.” Jadi tidak ada selain Eropa dan menirunya. Dan jika di Eropa tidak ada Al-Quran dan Islam, maka reformasi yang berbuah menurut penulis tersebut adalah tidak ada yang tersisa dari itu semua…
“Peniru Eropa tanpa penipuan dalam peniruannya”—dan apa itu penipuan dalam peniruan? Yaitu menggunakan pendapat dan pemikiranmu sendiri, sehingga kamu meninggalkan dan mengambil berdasarkan pengetahuan dalam kedua hal, dan kamu menolak untuk memaksakan pada tabiat ketimuranmu apa yang tidak cocok untukmu dan tidak dapat kamu lakukan. Dan jika Eropa berubah menjadi komunis atau permisif, maka wajib untuk tidak menipu dalam peniruan… Dan jika matahari tidak terbit selama enam bulan di beberapa bagian Eropa dan terbit di Mesir setiap hari, maka wajib bagi orang Mesir untuk buta selama enam bulan…
Tampaknya penulis tersebut mengatakan peniruan karena itu alami baginya… Dan pendapatnya tentang warisan hanyalah terjemahan dari tindakan Mustafa Kemal. Meskipun Mustafa Kemal telah mereformasi Turki dalam beberapa tahun seperti yang mereka katakan, bukti sejarah tidak tunduk pada kesulitan atau pengadilan kemerdekaan dan tidak datang kecuali pada waktunya yang akan datang, dan orang-orang akan melihat pada saat itu apa yang akan menjadi khayalan dan apa yang akan menjadi kenyataan.
Penulis tersebut menanggapi pendapat guru moral pemimpin redaksi “Al-Muqattam” yang khawatir bahwa reformasi hanya terbatas pada kulit luar tanpa inti, dengan berkata bahwa dia “yakin bahwa bangsa yang mulai mengadopsi peradaban modern harus memulai dengan kulit luar… karena itu lebih mudah baginya daripada inti, bahkan dia tidak mampu selain itu.” Apakah begitulah Jepang memulai? Dan apakah semua tabiat seperti tabiat sebagian orang, mampu memakan kulit luar peradaban… dan berpaling kepada hal-hal kecil dan remehnya?
Tidak diragukan lagi bahwa dia tidak memahami agama Islam karena dia bukan dari golongannya, jadi dia mengakui hal itu kepada kita, dan dengan itu dia mengakui kepada kita bahwa dia adalah orang luar dalam usulannya. Dan siapa yang membaca dalam ceramahnya perkataannya: “Bahwa kelas kaya dalam bangsa adalah yang menentukan agama bangsa…” akan yakin bahwa dia tidak memahami agama apa pun, dan bahwa dia pendek pandangan dalam urusan sosial dan pintu-pintu politik, dan bahwa kanan, kiri, depan, dan belakangnya tidak lain adalah arah-arah kendali yang dia ikuti; jadi tidak ada kepribadian baginya, tetapi dia hanya mengikuti dan tunduk pada pendapat-pendapat yang dia terjemahkan tanpa kritik atau pembedaan.
Sesungguhnya warisan anak perempuan dalam syariat Islam tidak dimaksudkan untuk dirinya sendiri, tetapi disusun berdasarkan sistem pernikahan di dalamnya, dan seperti operasi pengurangan setelah operasi penjumlahan untuk menghasilkan hasil yang benar dari kedua operasi tersebut. Jadi jika wajib bagi perempuan untuk mengambil dari satu sisi, maka wajib baginya untuk meninggalkan dari sisi yang berhadapan dengannya. Dan agama ini berdiri dalam dasarnya pada pendidikan moral yang tinggi yang dengannya dia menciptakan tabiat-tabiat dan memperbaiki tabiat-tabiat lain, sebagaimana telah kami jelaskan dalam artikel kami yang diterbitkan di “Muqtataf” bulan ini. Maka dia menempatkan laki-laki pada posisi yang tidak tamak terhadap harta perempuan atau menjadi beban baginya. Dari situ dia mewajibkan laki-laki untuk memberi mahar kepadanya dan menafkahi dia dan anak-anaknya, dan membiarkan dia memiliki pendapat dan tindakannya dalam hartanya, tidak dibatasi kemauannya oleh tindakannya atau ketamakannya atau hawa nafsunya. Dan semua itu tidak dimaksudkan kecuali agar laki-laki tumbuh sebagai pekerja, pencari nafkah yang mandiri, siap untuk urusan-urusan mulia. Karena akhlak sebagaimana telah ditetapkan, yang satu memanggil yang lain, dan sesuatu darinya membantu sesuatu yang menyerupainya, dan yang kuat mendorong yang lemah, dan yang tinggi merasa mulia dari yang rendah. Dan kami telah mengatakan bahwa tidak boleh bagi seorang pembicara untuk berbicara tentang hikmah agama Islam kecuali jika dia kuat akhlaknya, karena siapa yang tidak memiliki sesuatu dalam tabiatnya tidak memahaminya kecuali pemahaman perdebatan bukan pemahaman keyakinan.
Bagi perempuan ada hak yang wajib dalam harta suaminya, dan laki-laki tidak memiliki hak seperti itu dalam harta istrinya. Dan Islam mendorong pernikahan, bahkan mewajibkannya. Maka dengan ini dia menambahkan kepada perempuan seorang laki-laki dan memberikan kepadanya hak baru. Jika dia menyamakan saudaranya dalam warisan dengan keistimewaan yang dia miliki sendiri, maka kesetaraan yang sesungguhnya akan hilang, sehingga dia bertambah dan dia berkurang; karena baginya ada hak warisan dan hak nafkah dan bagi dia tidak ada kecuali seperti haknya dalam warisan jika mereka setara. Jika kamu berkata seperti yang dikatakan Salama Musa: bahwa seharusnya perempuan menafkahi laki-laki dan membayar mahar kepadanya kemudian menyamakannya dalam warisan, kami katakan: jika ini ditetapkan dan menjadi prinsip yang dijalankan, maka akan batal pernikahan semua perempuan miskin dan mereka adalah mayoritas kaum perempuan; karena mereka tidak memiliki apa yang bisa dijadikan mahar dan tidak memiliki apa yang bisa dinafkahkan. Dan inilah yang dihindari Islam karena di dalamnya ada kerusakan masyarakat dan kehancuran kedua jenis kelamin sekaligus, dan ini secara alami mengarah pada menjadikan pernikahan untuk sementara, untuk sehari, dan untuk waktu terbatas… dan untuk menciptakan anak-anak jalanan yang terlantar, bukannya pernikahan untuk seumur hidup, untuk kewajiban, dan untuk mendidik laki-laki menanggung tanggung jawab sosial dengan menciptakan keluarga, membangunnya, mengurusnya, dan berusaha untuk kepentingannya.
Dari sini wajib terbalik ukurannya jika diinginkan agar hasil sosial menjadi lurus, yang pada akhirnya bukan dari hak laki-laki atau hak perempuan tetapi dari hak bangsa. Dan perempuan-perempuan jalanan dan perempuan-perempuan pabrik di Eropa adalah hasil dari sistem terbalik itu, maka mereka adalah kesalahan-kesalahan rumah-rumah yang rusak dan tanggung jawab yang runtuh, dan mereka adalah kewajiban-kewajiban yang dibuang laki-laki dari diri mereka sehingga jatuh di mana mereka jatuh!
Dan jika tanggung jawab perempuan terhadap laki-laki hilang, maka tanggung jawabnya terhadap keturunan juga hilang, sehingga dia menjadi untuk dirinya sendiri bukan untuk bangsanya. Dan jika cacat sosial ini meluas dalam masyarakat, maka penuaan akan mempercepat di dalamnya dan kelemahan akan menimpa mereka, dan pemerintahan-lah yang akan menghasilkan manusia dengan cara yang dengannya mereka menghasilkan hewan. Dan beberapa penulis Eropa telah mulai menyeru pemerintahan mereka kepada hal ini yang mereka derita dan mereka tidak tahu sebabnya, dan sebabnya tidak lain adalah apa yang telah kami jelaskan tadi.
Kemudian ada hikmah yang luhur, yaitu bahwa perempuan tidak meninggalkan setengah haknya dalam warisan untuk saudaranya yang dengannya dia unggul—setelah prinsip yang telah kami tunjukkan—kecuali untuk membantu dengan tindakan ini dalam pembangunan sosial; karena dia meninggalkan apa yang ditinggalkannya atas dasar bahwa itu untuk perempuan lain, yaitu istri saudaranya. Maka dia telah membantu saudaranya untuk melaksanakan kewajibannya kepada bangsa, dan melakukan kepada bangsa tindakan lain yang lebih mulia darinya dengan memudahkan pernikahan seorang perempuan dari kaum perempuan.
Maka kamu melihat bahwa masalah warisan ini berkaitan erat dengan masalah-masalah banyak, tidak berdiri sendiri, dan bahwa itu adalah hikmah yang paling bijak jika yang diinginkan dengan laki-laki adalah laki-laki bangsanya dan dengan perempuan adalah perempuan bangsanya. Adapun jika yang diinginkan adalah laki-laki untuk dirinya sendiri dan perempuan untuk dirinya sendiri, dan ditetapkan bahwa masyarakat dalam dirinya adalah kebodohan dan bahwa pemerintahan adalah khurafat, dan bahwa bangsa adalah kesesatan, maka saat itu bukan hanya ayat warisan yang terbalik tetapi kebenaran yang terbalik.
Dan yang kami herankan adalah bahwa Salama Musa berbicara dalam ceramahnya seolah-olah semua orang tua memiliki harta dan properti, maka setengah bangsa dengan demikian dirampas setengah haknya, dan seolah-olah dia tidak tahu bahwa mayoritas terbesar manusia tidak meninggalkan apa yang diwariskan, tidak seperempat atau setengah; dan bahwa banyak dari mereka yang mati meninggalkan warisan, warisan mereka tidak hidup kecuali beberapa hari setelah mereka, kemudian hilang dalam hutang-hutang, karena tidak ada warisan dengan hutang, dan banyak orang warisan mereka tidak menggemukkan dan tidak mencukupi. Maka tidak tersisa kecuali kelompok-kelompok tertentu dari setiap bangsa yang tidak boleh dibalik untuk mereka hikmah sosial itu yang menjadi bagian dari seluruh keibuan karena berdirinya beberapa akhlak di atasnya sebagaimana telah kami uraikan.
Dan yang membuat jiwa-jiwa mulia jijik adalah perkataan sang penerjemah dalam ceramahnya: seandainya gadis-gadis mewarisi seperti saudara-saudara laki-laki mereka, maka “dalam kekayaan mereka” ada godaan bagi para pemuda untuk menikah…
Sesungguhnya agama Islam tidak mengenal kemerosotan akhlak seperti ini dan tidak membenarkannya, bahkan dia menghancurkannya dan mewajibkan setiap laki-laki untuk memikul bagiannya dari tanggung jawab selama dia mampu, suka atau tidak suka. Demi hidupku, sesungguhnya kata itu saja dari penulisnya lebih menunjukkan daripada nama toko terhadap barang dagangan toko tersebut…
Kata Beriman dalam Menanggapi “Kata Kafir” 1:
Saya menerima sebuah surat, ini adalah salinannya:
Saya menulis kepadamu dengan tergesa-gesa setelah membaca “Kata Kafir” di “Kaukab asy-Syarq” yang terbit pada sore Jumat 27 Oktober. Tulisan itu dibuat oleh seseorang yang seperti pepatah mereka: “Alangkah indahnya kepemimpinan walaupun hanya atas batu-batu…” Dan dia menyebut dirinya “Tuan”, jika dia jujur dalam tulisannya maka dia jujur dalam penyebutan ini.
Dia mencela Al-Quran dan mengingkari kefasihan bahasanya, dan mengutamakan suatu kalimat dari karya-karya Arab atas ayat dari kalam Allah. Dia membuat bagian dengan judul “Kekeliruan” berdasarkan pengutamaan tersebut, seolah-olah ayat itu adalah kekeliruan dari kekeliruan-kekeliruan kitab yang dia perbaiki dan dia mengatakan padanya seperti yang dia katakan tentang kesalahan surat kabar dan para pemula dalam menulis. Dia menutupi wajahnya dan takut untuk menampakkan diri, maka dia mengumumkan dengan kesesatannya bahwa dia baru dalam kesesatan.
Darah mendidih di kepalaku ketika saya melihat penulis itu bersikeras dalam mengutamakan perkataan Arab: “Pembunuhan adalah peniadaan terbesar bagi pembunuhan” atas firman Allah Ta’ala dalam kitab-Nya yang bijaksana: “Dan dalam qishash itu ada kehidupan bagimu” (QS. Al-Baqarah: 179), maka saya teringat ayat yang mengatakan: “Dan sesungguhnya setan-setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya” (QS. Al-An’am: 121) dan ayat ini: “Setan-setan dari jenis manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain” (QS. Al-An’am: 112), kemudian saya bermaksud menulis namun terpikir tentangmu, maka saya meletakkan pena; untuk mengambilnya lagi setelah itu dan menulis dengannya kepadamu.
Maka di lehermu ada amanah semua umat Islam agar engkau menulis dalam menanggapi kata kafir ini untuk menunjukkan wajah kemukjizatan dalam ayat yang mulia, dan di mana posisi kata jahiliah itu darinya. Sesungguhnya ini adalah kesesatan jika dibiarkan mengambil tempatnya di kalangan manusia; menjadikan orang baik sebagai pendosa, dan menambah kefasikan orang fasik: “Dan takutlah kamu akan fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim di antara kamu saja” (QS. Al-Anfal: 25). Dan ketahuilah bahwa tidak ada alasan bagimu. Saya katakan dengan ikhlas, yang didiktekan oleh kebenaran yang saya tahu engkau beriman padanya, dan pengorbananmu dalam menetapkannya dan membelanya serta membela ayat-ayatnya. Kemudian ketahuilah bahwa engkau adalah tempat berlindung yang dijadikan perlindungan oleh orang-orang beriman ketika mereka diserang serigala-serigala kesesatan sastra yang menjadikan tujuan mereka untuk menjilat air liur mereka di dalam kefasihan Al-Quran.
Dan saya tidak akan menambah lagi, karena posisiku ini adalah posisi orang yang menuntut haknya dan hak teman-temannya dari orang-orang beriman, dan saya ingat hadits Rasulullah saw: “Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu lalu dia menyembunyikannya, maka dia akan datang pada hari kiamat dengan dikekang dengan kekang dari api” atau sebagaimana sabda beliau…
Wassalamu’alaikum warahmatullahi. M. M. Sy
Saya membaca surat ini maka tubuhku merinding karena ancaman Nabi saw, dan saya mulai mengulang-ulang hadits syarif itu, memperbanyaknya dan memenuhi diriku dengan maknanya. Dan sesungguhnya itu semakin banyak padaku setiap kali, maka itu adalah sindiran paling mengena bagi ulama yang berpura-pura bodoh, dan orang bodoh yang sok pintar. Dan sesungguhnya diambil dari zahirnya bahwa ulama yang menyembunyikan ilmunya yang bermanfaat dari manusia akan datang pada hari kiamat dengan dikekang, dan diambil dari batinnya bahwa orang bodoh yang menyebarkan kebodohannya yang berbahaya di kalangan manusia akan datang pada hari kiamat dengan dikekang dan bertopeng… yaitu: ini dan itu keduanya adalah keledai-keledai neraka!
Dan saya mencari edisi “Al-Kaukab” yang berisi artikel itu dan membacanya, dan saya tidak menyangka bahwa di dunia ada sastrawan terpandang yang menempatkan dirinya pada posisi seperti ini dalam melecehkan kalam Allah dan berperilaku buruk dalam menempatkan ayat darinya di antara kekeliruan-kekeliruan kitab, apalagi sampai berani mengutamakan kata dari kalam Arab atas ayat itu, apalagi sampai bersikeras dalam pengutamaan ini, apalagi sampai tergila-gila dalam kekekalan ini; tetapi ini telah terjadi, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah!
Demi umurku dan umur ayahmu wahai pembaca, seandainya seorang penulis pergi lalu makan lalu mencampur lalu kenyang lalu tidur lalu tidur nyenyak lalu bermimpi… bahwa dia berbicara dalam mengutamakan kata Arab atas ayat itu, dan dia bersungguh-sungguh, dan dia tertidur tanpa sadar sehingga tidak mengutamakan mengigau dan memperpanjang, dan akalnya yang batin mulai menyapu otaknya dan mengeluarkan darinya “sampah akal” untuk dilemparkan ke jalan lupa atau ke jalan setan – tidak akan datang dalam upayanya dengan yang lebih konyol atau lebih dingin dari artikel “Tuan” ini. Sama saja apakah pengutamaan ini terjadi dari segi mengigau dan omong kosong seperti yang dilakukan penulis tidur, atau terjadi dari segi kekacauan dan kebingungan seperti yang dilakukan penulis Al-Kaukab – ini sama dengan itu, perbandingan kekonyolan dengan kekonyolan…
Ya, artikel Al-Kaukab lebih baik dari artikel penulis yang bermimpi… tetapi sedikit minyak dalam botol yang dihadiahkan kepada Juha tidak dianggap minyak selama sedikit ini mengapung di atas botol yang penuh dengan… dengan air kencing!
Dan sungguh Hakim Al-Baqillani telah meramalkan artikel Al-Kaukab ini ratusan tahun lalu maka dia merendahkannya dengan jawabannya: “Jika terbingungkan pada seorang yang terpelajar atau penyair atau pemula atau orang tua tentang kefasihan Al-Quran dan tempat kefasihannya dan keajaiban kepandaiannya, maka tidak ada urusanmu dengannya, dia hanya memberitahu tentang dirinya sendiri, dan menunjukkan ketidakmampuannya, dan menjelaskan kebodohannya, dan menyatakan kekonyolan pemahamannya dan kelemahan akalnya” tidak apa-apa…
Penulis Al-Kaukab berkata dengan teks: Arab dahulu berkata dalam makna qishash: “Pembunuhan adalah peniadaan terbesar bagi pembunuhan”, kemudian Al-Quran yang mulia datang mengikuti jejak Arab “seperti ini” maka berkata: “Dan dalam qishash itu ada kehidupan bagimu, hai orang-orang yang berakal, agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 179), dan telah berlalu tradisi ulama dari tokoh-tokoh bayan bahwa mereka mengadakan perbandingan antara perkataan Arab ini dengan ayat yang bijaksana, mana yang lebih mirip dengan kefasihan “seperti ini”, kemudian mereka menyimpulkan darinya dengan mendahulukan ayat dan bayan Quranic… Kemudian dia berkata: menurut pendapat penulis kata ini mendahulukan kata Arab atas ayat yang mulia, “Ya Allah ampunilah” atas kedinginan dada dengan kemukjizatan Al-Quran “kata untuk perlindungan dari perwakilan… kalau tidak apa yang tersisa dari kemukjizatan padahal ayat telah lemah? Hush hush wahai orang…”
Kemudian dia berkata: Sesungguhnya dalam apa yang dia dahulukan kata Arab atas ayat yang bijaksana – “Ya Allah ampunilah” – ada tiga keunggulan: Pertama dari tiga keunggulan ini, ijaaz yang mempesona di dalamnya; yaitu bahwa: “Pembunuhan adalah peniadaan terbesar bagi pembunuhan” tiga kata tidak lebih, adapun ayat maka tujuh kata “begitu”, dan itu lebih tua masa dan lebih dulu lahir dari ayat tanzil “renungkan” kecuali kalam Allah yang qadim, dan ijaaz adalah keunggulan apa keunggulan; keunggulan kedua kata adalah kemandirian tulisan dan telah ada kontrak antara dia dengan sesuatu yang lain sebelumnya, sehingga orang yang mengambil contoh darinya yang mengutip memulai dengannya pembicaraan yang sempurna dan mengakhirinya tanpa tambahan atau kelebihan, maka dia tidak berhenti dan tidak meminta bantuan dari yang lain, adapun ayat maka dia disambung dengan apa sebelumnya dengan waw, maka dia terikat kontrak saling terkait dengannya, tidak mengambil contoh darinya yang mengambil contoh sampai dia meminta bantuan dengan sesuatu selainnya, dan bukanlah yang bergantung pada yang lain sehingga tidak mandiri seperti yang bergantung pada dirinya sendiri sehingga mandiri; keunggulan ketiga bahwa kata tidak terhubung di akhirnya dengan kelebihan dari perkataan yang tidak dia butuhkan, sedangkan ayat terhubung dengan apa yang tidak dia butuhkan dari perkataan. Dan dia menganggap seperti kelebihan yaitu dua kata “hai orang-orang yang berakal” (QS. Al-Baqarah: 179) dan “agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 179), walau tidak ada tambahan dalam Al-Quran dan tidak ada yang sia-sia. Kemudian dia berkata: Sesungguhnya seorang guru datang dengan bab yang dibuat Imam As-Suyuthi dalam kitabnya “Al-Itqan” untuk mengutamakan ayat atas kata dan di dalamnya sekitar dua puluh lima hujah; dia berkata: dia merosot setelah dia melemparkannya dengan pandangan tingginya menjadi empat: “Adapun yang tersisa dari tenunan plagiat dan berlebihan”, dia berkata: dan yang pertama bahwa ayat lebih ringkas lafaznya, dan penulis melihat ayat: “tujuh kata dalam batasan dan ketepatan”, dia berkata: jika demikian maka batallah hujah ijaaz dalam ayat “Ya Allah ampunilah”, dia berkata: dan yang kedua: “bahwa dalam kata Arab ada pengulangan kata pembunuhan yang ayat selamat darinya, dan penulis menjawab bahwa pengulangan ini: “berubah menjadi keindahan dan meneteskan kelembutan”, dia berkata: “dan ini mulutku di dalamnya rasa madu”, katakah: “dan padanya lalat wahai tuan kita…” dan yang ketiga: bahwa dalam ayat ada penyebutan qishash dengan lafaznya sedangkan kata tidak menyebut kecuali pembunuhan saja, dan tidak setiap pembunuhan adalah qishash; dan penulis menolak ini bahwa kata terlipat pada dua pembunuhan salah satunya meniadakan temannya, maka itulah qishash; dia berkata: “maka kata dan ayat dalam tujuan qishash bertemu dua kuda balap”; dan yang keempat: bahwa qishash dalam ayat lebih umum mencakup pembunuhan dan selainnya. Dan penulis mengakui bahwa ayat memiliki kelebihan atas kata dari segi ini, tetapi kata adalah hikmah bukan syariat, dan dia dari hukum jahiliah, maka tidak ada padanya untuk menjelaskan apa yang tidak diketahui Arab dan tidak diciptakan lagi, dia berkata: “maka kata tidak kurang dari penjelasan, tidak bodoh dari kebaikan”.
Ini semua artikelnya dengan huruf-hurufnya setelah dibersihkan dari kekaburan dan isian dan apa yang tidak ada gunanya, dan kami memohon ampun kepada Allah dan meminta pertolongan-Nya dan mengatakan perkataan kami, tetapi kami mendahulukan di hadapan itu masalah, maka dari mana bagi penulis bahwa kata: “Pembunuhan adalah peniadaan terbesar bagi pembunuhan” dari apa yang benar penisbatannya kepada Arab jahiliah, dan bagaimana baginya untuk menetapkan sanadnya kepada mereka dan memastikan sanad ini sehingga lurus perkataannya: bahwa Al-Quran datang mengikuti jejak Arab?…
Saya menetapkan bahwa kata ini adalah kata baru yang dibuat setelah turunnya Al-Quran yang mulia dan diambil dari ayat, dan pembaruan jelas di dalamnya, dan bekas kerajinan tampak padanya; maka pada penulis untuk menolak ini dengan apa yang menetapkan bahwa dia dari apa yang benar naqelnya dari jahiliah; dan sungguh Abu Tammam datang dengan yang lebih indah dan lebih fasih dari kata ini dalam perkataannya: “Dan saya menakut-nakuti kalian agar kalian sarungkan pedang-pedang kalian… Sesungguhnya darah yang berdebu dijaga oleh darah” “Darah dijaga oleh darah” ini adalah kerajinan dan ini adalah kefasihan bukan itu, dan dengan ini kata penyair dibuat baru dari ayat, ditunjukkan padanya seluruh bait; dan seolah Abu Tammam tidak pernah mendengar perkataan mereka: “Pembunuhan adalah peniadaan terbesar bagi pembunuhan”, dan saya yakin bahwa kata tidak dibuat sampai hari itu*.
Dan seandainya orang yang mengambil contoh ingin mengambil contoh dengan perkataan Abu Tammam lalu mengambil dari padanya misal ini “darah dijaga oleh darah”, apakah menjadi keharusan dari keharusan bahwa dikatakan padanya: tidak wahai ini karena bait tujuh kata maka tidak benar mengambil misal darinya dan tidak boleh tidak membaca bait dengan dua misra’nya seperti yang dikatakan penulis Al-Kaukab dalam ayat mulia untuk mengklaim bahwa dia tidak menghadapi kata Arab dalam ijaaz?
Sesungguhnya yang dalam makna ayat Quranic dari apa yang melihat kepada makna perkataan mereka “pembunuhan adalah peniadaan terbesar bagi pembunuhan” dua kata tidak lebih, yaitu “qishash, kehidupan”; dan perbandingan dalam makna yang dicontohkan hanya terjadi dengan lafaz yang menunjukkan makna ini tanpa apa yang terkait dengannya atau terkait dengannya dari apa yang menghubungkan makna dengan yang lain atau menghubungkan yang lain dengannya; karena perbandingan antara dua makna tidak terjadi kecuali dalam kerajinan susunannya, dan saya kira penulis ingin mengatakan bahwa dalam sisa ayat mulia ada sia-sia dan isian, maka dia beban pada dua kata: qishash kehidupan, dia ingin mengatakannya, tetapi dia tersedak dengannya, kalau tidak mengapa dia bersikeras bahwa tidak boleh tidak dalam pengambilan contoh, yaitu tidak boleh tidak dalam perbandingan, dari mengembalikan ayat dengan semua lafaznya?
Jika dikatakan: bahwa tidak boleh i’rab berubah dalam ayat, dan harus contoh diambil darinya pada tilawah, kami katakan: maka yang menghadapi kata darinya ketika itu adalah ini, “dalam qishash kehidupan”, dan jumlahnya dua belas huruf, padahal kata empat belas, maka ijaaz ketika perbandingan adalah dalam ayat bukan kata.
Adapun firman-Nya: “orang-orang yang berakal agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 179), seandainya penulis dari orang-orang yang berakal tentu dia memahaminya dan mengetahui posisinya dan hikmahnya, dan bahwa kemukjizatan ayat tidak sempurna kecuali dengannya, karena dimaksudkan untuk menjadi mukjizat zaman seperti yang akan kami tunjukkan padanya, tetapi mana baginya dan dia dari seni bayan pada jarak yang sangat jauh ini, tidak mengetahui bahwa ayat-ayat Al-Quran yang mulia seperti waktu dalam susunannya: apa di dalamnya dari sesuatu yang menampakkannya kecuali dan dari belakangnya rahasia yang membenarkannya.
Kemudian sesungguhnya ijaaz dalam kata Arab bukan dari “ijaaz yang mempesona” seperti yang digambarkan penulis, bahkan dia pada kami dari ijaaz yang jatuh; dan bukan dari jenis ijaaz ayat mulia dan tidak terkait dengannya apalagi sampai menyerupainya; karena tidak boleh tidak dalam memahami shighah tafdil dari taqdir yang difadilkan atasnya, maka menjadi maknanya “pembunuhan lebih banyak peniadaannya bagi pembunuhan dari begini”, maka apa ini “begini” wahai penulis yang tersandung?
Bukankah membayangkan makna ungkapan dan menghadirkannya dalam pikiran telah merendahkannya dan menurunkannya ke dalam percakapan pasar yang vulgar dan menyebabkan kekacauan di dalamnya? Dan apakah ungkapan itu tidak lain hanyalah kerajinan puitis imajinatif yang dibuat-buat sebagaimana kami telah mengisyaratkan sebelumnya, sehingga ketika Anda menjalankannya menurut metodenya dari bahasa Arab, Anda melihatnya dalam gaya bahasa Arab-Amerika ini seperti ucapan seseorang: “Kegembiraan lebih besar daripada kesedihan”, “Hidup adalah yang diberikan untuk hidup”…?
Dengan jawaban singkat ini, batallah tiga keunggulan yang diklaim penulis untuk kata tersebut, dan kata itu sendiri berlepas diri kepada Allah dari memiliki satu keunggulan pun atas ayat tersebut, apalagi tiga.
Mari kita anggap “secara asumsi” bahwa kata tersebut memiliki sanad yang kuat kepada bangsa Arab Jahiliyah dan bahwa itu dari ungkapan mereka, lalu apa yang ada di dalamnya?
- Ungkapan itu menyerupai ucapan orang yang berkata kepadamu: Jika kamu membunuh musuhmu, dia tidak akan membunuhmu. Dan bukankah ini sama saja dengan itu? Dan bukankah itu tidak lain adalah kefasihan dari omong kosong?
- Ungkapan itu menyerupai bahasa perampok jalan yang ganas yang menerkam yang halal dan haram, yang tidak keluar untuk urusannya kecuali dengan memutuskan dalam dirinya bahwa dia adalah pembunuh atau yang dibunuh, dan karena itu pembunuhan berulang di kedua sisinya, maka itu adalah pengulangan yang paling keji dan mengerikan.
- Di dalamnya terdapat kebodohan, kezaliman, dan keterbelakangan, karena kebiasaan bangsa Arab adalah bahwa suku yang terhormat tidak menyerahkan pembunuh dari mereka, bahkan melindungi dan membela mereka, sehingga seluruh suku menjadi pembunuh karena fanatisme ini; maka dari itu tidak ada yang menghilangkan aib pembunuhan dari suku si terbunuh kecuali perang dan pemusnahan dengan pembunuhan demi pembunuhan dan kehidupan memakan kehidupan, inilah salah satu makna dari kata tersebut: yaitu pembunuhan lebih menghilangkan aib pembunuhan, maka tidak ada qisas dan tidak ada peradilan sebagaimana diklaim penulis.
- Pembunuhan dalam kata ini tidak mungkin dikhususkan dengan makna qisas kecuali jika ayat yang mengkhususkannya, sehingga datang bersamanya, maka ia membutuhkannya dalam makna ini, dan ayat itulah yang memberikannya sifat kemanusiaan sebagaimana Anda lihat, dan akal tidak akan memasukinya kecuali dari makna-maknanya; dan ini saja adalah kemukjizatan dalam ayat dan kelemahan dari kata tersebut.
Dan sebelum kami menjelaskan aspek-aspek kemukjizatan dalam ayat yang mulia dan mengungkap rahasia-rahasianya, kami katakan kepada orang yang menumpang ini: Tidak setiap orang yang mampu menerbangkan selembar kertas dalam buluh dengan tali di udara boleh berkata dalam membanggakan kertasnya atas balon zeppelin, dan bahwa dalam apa yang ia unggulkan atas balon yang mulia itu terdapat tiga keunggulan: ekor, kertas berwarna, dan tali…
Allah Ta’ala berfirman: “Dan dalam qisas itu ada kehidupan bagimu” (QS. Al-Baqarah: 179).
- Ayat dimulai dengan firman-Nya “Dan bagimu”, dan ini adalah pembatasan yang menjadikan ayat ini khusus bagi kemanusiaan yang beriman yang mencari kesempurnaannya dalam iman, dan mencari dalam kesempurnaannya keteraturan jiwa, dan menetapkan keteraturan jiwa dengan keteraturan kehidupan; jika ini tidak terwujud dalam manusia maka tidak ada kehidupan dalam qisas, bahkan saat itu berlaku kata keterbelakangan: pembunuhan lebih menghilangkan pembunuhan, yaitu bunuhlah musuh-musuhmu dan jangan biarkan seorang pun dari mereka, inilah yang membuat kalian tetap hidup dan menghilangkan pembunuhan dari kalian; maka ayat yang mulia dengan petunjuk kata pertamanya ditujukan kepada kemanusiaan yang tinggi, untuk mengarahkan kemanusiaan ini dalam sebagian maknanya kepada kebenaran dari kebenaran-kebenaran kehidupan.
- Dia berfirman: “dalam qisas” dan tidak berkata dalam pembunuhan, maka Dia membatasinya dengan bentuk ini yang menunjukkan bahwa itu adalah balasan dan pertanggungjawaban, sehingga tidak mungkin darinya ada inisiatif permusuhan, dan tidak mungkin darinya ada yang keluar dari kadar pembalasan, sedikit atau banyak.
- Kata ini “qisas” dengan bentuknya “bentuk saling berbuat” menunjukkan perlunya penelitian dan memberi kesempatan kepada pembunuh untuk berselisih dan membela diri, dan bahwa tidak ada qisas kecuali dengan hak dan keadilan; karena itu tidak datang dengan kata dari “iqtasa” meskipun itu lebih banyak digunakan; karena iqtisas adalah syariat individu, dan qisas adalah syariat masyarakat.
- Dari kemukjizatan kata qisas ini adalah bahwa Allah Ta’ala menamakan dengan itu pembunuhan terhadap pembunuh, maka Dia tidak menyebutnya pembunuhan sebagaimana dilakukan kata Arab; karena salah satu dari dua pembunuhan itu adalah kejahatan dan permusuhan, maka Dia mensucikan keadilan syariat bahkan dari kemiripannya dengan lafaz kejahatan; dan ini adalah puncak keluhuran sastra dalam ungkapan.
- Dan dari kemukjizatan kata ini adalah bahwa dengan memilihnya selain kata pembunuhan menunjukkan bahwa akan datang di zaman-zaman kemanusiaan yang berilmu dan beradab suatu zaman yang tidak melihat dalam pembunuhan pembunuh karena kejahatannya kecuali kejahatan yang lebih buruk dari pembunuhan si terbunuh; karena si terbunuh binasa karena sebab-sebab yang banyak dan berbeda, sementara mengambil pembunuh untuk pembunuhannya tidak ada di dalamnya kecuali niat membunuhnya; maka ayat mengungkapkan dengan bahasa yang sesuai dengan zaman hukum filosofis ini, dan datang dengan kata yang tidak akan Anda temukan dalam bahasa ini apa yang dapat menggantikannya dalam keluasan untuk semua yang dimaksudkan dengannya dari filsafat hukuman.
- Dan dari kemukjizatan kata itu adalah bahwa ia juga memuat semua jenis qisas dari pembunuhan hingga yang lebih rendah, dan aneh bahwa ia dengan kemutlakan ini bersama pembatasannya dengan pembatasan-pembatasan yang telah berlalu padamu; maka dengan itu ia adalah bahasa syariat ilahi yang sesungguhnya, sementara kata pembunuhan dalam peribahasa Arab berbicara dengan tegas bahwa ia adalah bahasa naluri manusia dengan makna-maknanya yang paling buruk; dan dengan itu pengulangan dalam peribahasa seperti pengulangan kesalahan; maka ayat dengan kata qisas menempatkanmu di hadapan ketuhanan dengan keadilan dan kesempurnaan-Nya, dan peribahasa dengan kata pembunuhan menempatkanmu di hadapan kemanusiaan dengan kekurangan dan kezalimannya.
- Dan jangan lupa bahwa ungkapan dengan qisas adalah ungkapan yang membiarkan kemanusiaan pada tempatnya jika ia terbebas dari kebuasan pertamanya dan kejahiliyahan lamanya, sehingga qisas mencakup mengambil diyat dan maaf dan lainnya; adapun peribahasa maka tidak ada di dalamnya kecuali satu keadaan tertentu seakan-akan ia binatang buas yang tidak ada dalam tabiatnya kecuali memangsa.
- Datang kata qisas dengan definit dengan alat pengenal, untuk menunjukkan bahwa ia dibatasi dengan pembatasan-pembatasannya yang banyak; karena ia dalam kenyataannya adalah kekuatan dari kekuatan-kekuatan penghancuran manusia maka kemanusiaan tidak baik tanpa membatasinya.
- Datang kata “kehidupan” dengan tanwin, untuk menunjukkan bahwa di sini tidak secara khusus dibatasi dengan istilah tertentu; mungkin dalam qisas ada kehidupan sosial, dan mungkin di dalamnya ada kehidupan politik, dan mungkin kehidupan itu bersifat moral, dan mungkin agung dalam beberapa keadaan melebihi menjadi kehidupan.
- Kata “kehidupan” adalah dalam hakikat filosofisnya lebih umum dari ungkapan “dengan meniadakan pembunuhan”; karena meniadakan pembunuhan hanyalah satu kehidupan, yaitu meninggalkan ruh dalam jasad, maka tidak menampung sesuatu dari makna-makna yang luhur, dan tidak ada di dalamnya selain makna alami yang sederhana ini; dan ungkapan kata Arab tentang kehidupan “dengan meniadakan pembunuhan” adalah ungkapan kasar awam yang menunjukkan kebodohan total yang tidak ada tempat di dalamnya untuk ilmu dan pemikiran, seperti orang yang berkata kepadamu: Bahwa panas adalah meniadakan dingin.
- Menjadikan hasil pembunuhan sebagai kehidupan adalah ungkapan dari yang paling mengagumkan dalam puisi yang mencapai puncak khayalan, tetapi yang paling mengagumkan di dalamnya adalah bahwa itu bukan khayalan, bahkan berubah menjadi ungkapan ilmiah yang mencapai puncak ketepatan, seakan-akan ia berkata dengan lisan ilmu: dalam jenis pencabutan kehidupan ada jenis pemberian kehidupan.
- Jika Anda merenungkan apa yang telah disebutkan dan memperhatikannya dengan baik, Anda akan yakin bahwa ayat yang mulia tidak sempurna kemukjizatannya kecuali dengan apa yang disempurnakan dengannya dari firman-Nya: “wahai orang-orang yang berakal” (QS. Al-Baqarah: 179), maka ini adalah seruan yang mengagumkan yang disujudi oleh orang yang memahaminya; karena ia ditujukan kepada bangsa Arab dalam zahirnya sesuai dengan apa yang mereka capai dari makna-makna akal, tetapi dalam hakikatnya ditujukan untuk menegakkan bukti kepada sekelompok filsuf hukum dan sosial, yaitu mereka yang melihat kejahatan penjahat sebagai penyimpangan dalam susunan saraf, atau keturunan yang pasti, atau keadaan jiwa yang memaksa, hingga yang mengalir dalam alur ini; maka dari itu mereka melihat bahwa tidak ada hukuman atas kejahatan; karena penjahat menurut mereka adalah orang sakit yang memiliki hukum orang sakit; dan ini adalah filsafat yang dipikul oleh otak dan buku, dan ia mengalihkan hati kepada kepentingan individu dan memalingkannya dari kepentingan masyarakat, maka Allah mengingatkan mereka kepada akal mereka bukan kepada pikiran mereka, seakan-akan Dia menetapkan bagi mereka bahwa hakikat ilmu bukan dengan akal dan pendapat, bahkan sebelum itu dengan akal dan pandangan, dan filsafat akal ini adalah akhir yang dicapai oleh filsafat dunia.
- Dan ayat berakhir dengan firman Allah Ta’ala: “agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 179), dan itu adalah kata dari bahasa setiap zaman, dan maknanya di zaman kita: wahai orang-orang yang berakal, sesungguhnya bukti kehidupan dalam hikmah qisas yang disampaikan kepada kalian, agar kalian bertakwa atas kehidupan sosial dari akibat menyelisihinya maka jadikanlah tujuan kalian kepada penjagaan masyarakat bukan kepada penjagaan individu.
Dan setelah itu, jika dalam ayat yang mulia -sebagaimana yang Anda lihat- terdapat tiga belas aspek dari aspek-aspek keterangan yang mukjizat, maka makna itu dari sisi lain bahwa ia telah menjatuhkan kata Arab itu tiga belas kali.
“Membunuh Lebih Mencegah Pembunuhan” Bukanlah Terjemahan
Setelah saya menerbitkan artikel “Kata yang Beriman” di surat kabar “Al-Balagh”, sastrawan Palestina Ustaz Is’af al-Nashashibili menulis bahwa kata ini diterjemahkan dari bahasa Persia, dan telah dipindahkan oleh al-Tsa’alibi dalam bukunya “Al-Ijaz wa al-I’jaz”. Maka kami menerbitkan komentar ini di “Al-Balagh”:
Ustaz besar Muhammad Is’af al-Nashashibili mengatakan dalam komentarnya untuk Al-Balagh bahwa ungkapan “Membunuh lebih mencegah pembunuhan” bukanlah bahasa Arab asli maupun yang dipinjam, melainkan terjemahan; artinya ungkapan ini telah kabur identitasnya karena berasal dari bahasa asing dan terjadi kesalahan dalam menterjemahkannya ke bahasa Arab, sehingga menjadi kesalahan dari dua sisi.
Sesungguhnya saya akan senang jika ternyata ungkapan itu berasal dari bahasa Zanj yang diterjemahkan ke bahasa Malta, kemudian diterjemahkan ke bahasa Arab, sehingga menjadi kesalahan dari empat sisi, bukan hanya dua sisi… Tetapi kata ini tidak ada yang menunjukkan asal-usulnya selain “al-Tsa’alibi”, dan dia pun tidak memutuskan dengan pasti, melainkan hanya mengisyaratkan terjemahannya dalam bentuk ungkapan yang meragukan yang dikenal para perawi, yaitu katanya: “Diceritakan bahwa dalam apa yang diterjemahkan dari Ardasir…” Dan kata “diceritakan” ini bukanlah teks yang pasti dalam bab periwayatan, dan mungkin imam ini bertakwa kepada Allah sehingga menjauhkan kata itu dan melemparkannya ke luar negeri Arab, atau mungkin kata itu disampaikan kepadanya sebagai sesuatu yang meragukan dalam penisbatannya; seandainya ungkapan itu terjemahan, tentu para imam akan menyebarkannya dengan menisbatkannya kepada yang mengatakannya atau bahasa asalnya.
Al-Askari telah menyebutkannya dalam bukunya “Ash-Shina’atain” sebagai “dari perkataan mereka”, yaitu orang Arab atau yang menggunakan bahasa Arab; ar-Razi menyebutkannya dalam tafsirnya dengan mengatakan: Sesungguhnya orang Arab memiliki kata-kata dalam makna ini, di antaranya “Membunuh sebagian adalah menghidupkan semuanya” dan yang terbaik adalah “Membunuh lebih mencegah pembunuhan”; demikian juga Ibnu al-Atsir menyebutkannya dalam kitab “Al-Matsal as-Sa’ir” tanpa menisbatkannya; dan mufassir Andalusia Abu Hayyan mengatakan dalam tafsirnya: Ungkapan ini diriwayatkan dengan riwayat lain yaitu: “Membunuh lebih melindungi dari pembunuhan”, dan semua itu jelas menunjukkan bahwa berita tentang terjemahan ini hanya dikemukakan oleh al-Tsa’alibi sendiri. Bukti tentang terjemahannya tidak akan tegak kecuali dengan munculnya asal bahasa Persianya, jika ada yang mengetahui hal itu, hendaklah dia berkenan memberitahukannya dengan mendapat terima kasih dan pahala.
Peringatan: Kami telah menerbitkan kata ini dan berlalu bertahun-tahun setelahnya, namun tidak ada seorang pun yang menemukan bahwa ungkapan itu memiliki asal bahasa Persia, maka tidak ada lagi keraguan pada kami bahwa ungkapan itu adalah buatan sebagian orang zindik yang menciptakannya dari ayat yang mulia untuk menjalankannya sebagai bentuk perlawanan; dan Ustaz besar Abdul Qadir Hamzah, pemilik surat kabar “Al-Balagh” telah menulis bahwa ungkapan tersebut adalah hikmah Mesir kuno; kami tidak menolak kemungkinan ini, karena sebagian hikmah adalah sesuatu yang dapat muncul dari akal-akal manusia yang cerdas; karena sifat manusia seolah-olah mendiktekannya; namun ungkapan itu tidak ada dalam ucapan orang Jahiliah lama maupun baru, dan kata-kata Mesir berbeda dengan kata-kata Arab, maka tidak tersisa kecuali kebetulan pikiran, dan Allah lebih mengetahui.
“Membunuh Lebih Mencegah Pembunuhan” Bukanlah dari Masa Jahiliah
Setelah pernyataan kami tentang terjemahan itu, seorang sastrawan menerbitkan di Al-Balagh bahwa kata tersebut berasal dari masa Jahiliah, maka kami mengomentarinya dengan komentar ini:
Ustaz Abdul Aziz al-Azhari telah membuktikan dalam apa yang diterbitkannya di “Al-Balagh” bahwa kata ini adalah Arab dalam klaimnya, dan dia berargumen dengan dalil-dalil, yang terkuat adalah klaimnya: “bahwa ungkapan itu muncul dalam surat perintah peradilan yang dikirim oleh Sayyidina Umar kepada Abu Musa al-Asy’ari”; kami tidak tahu di mana penulis menemukan kata: “pembunuhan”, apalagi: “Membunuh lebih mencegah pembunuhan” dalam surat yang terkenal dan terpelihara itu, yang telah diriwayatkan oleh al-Jahiz dalam “Al-Bayan wa at-Tabyin”, disebutkan oleh al-Mubarrad dalam “Al-Kamil”; dipindahkan oleh Ibnu Qutaibah dalam “Uyun al-Akhbar”, disebutkan oleh Ibnu Abd Rabbih dalam “Al-Iqd al-Farid”, dan dikutip oleh Qadhi al-Baqillani dalam “Al-I’jaz”; dalam semua riwayat yang terpercaya ini, kata tersebut tidak muncul dalam perkataan Umar, bahkan tidak ada tempatnya dalam konteksnya, yang ada hanyalah perkataannya: “Jika dia menghadirkan saksi, ambillah haknya, jika tidak, berikanlah keputusan atasnya, karena itu lebih menghilangkan keraguan”.
Adapun dalil-dalil lain dari penulis itu tidak memiliki bobot dalam bab periwayatan sejarah dan telah menjadi terbalik seperti yang Anda lihat.
Yang saya yakini adalah bahwa kata itu tidak dikenal dalam bahasa Arab hingga akhir abad ketiga Hijriah, dan Imam al-Jahiz ini berkata di suatu tempat dalam bukunya “Al-Bayan wa at-Tabyin”, dalam menjelaskan perkataan Ali -semoga Allah memuliakannya-: “Sisa pedang lebih berkembang jumlahnya dan lebih banyak keturunannya”, yang bunyinya: “Orang-orang melihat hal itu dengan nyata dari apa yang terjadi pada keturunannya berupa kekuatan pedang, banyak keturunan dan kemuliaan anak; Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: ‘Dan bagi kamu dalam qishas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup, hai orang-orang yang berakal’ (QS. Al-Baqarah: 179) dan sebagian orang bijak berkata: ‘Membunuh sebagian adalah menghidupkan semuanya'”. Al-Jahiz tidak menambah lebih dari ini, seandainya kata itu dikenal pada masanya, tentu tidak akan luput darinya sebagaimana kebiasaannya dalam buku-bukunya, terutama karena ungkapan itu lebih ringkas dan lebih manis daripada yang dinisbatkannya kepada sebagian orang bijak; dan ungkapan terakhir ini “Membunuh sebagian…” adalah yang diklaim ar-Razi dalam tafsirnya sebagai milik orang Arab… maka tidak ada nilai dalam bab ini bagi perkataan para mufassir dan para ulama balaghah yang terlambat, yang penting adalah penelitian sejarah.
Al-Jahiz menyatakan dalam kitab “Hujaj an-Nubuwwah” bahwa suatu kaum di antara mereka Ibnu Abi al-Awja’, Ishaq bin al-Maut, dan an-Nu’man bin al-Munzir: “Orang-orang sejenisnya dari kalangan najis yang menukar kemuliaan dengan kehinaan, iman dengan kekafiran, kebahagiaan dengan kesengsaraan, dan hujjah dengan syubhat, mereka biasa membuat atsar-atsar, menciptakan berita-berita, menyebarkannya di berbagai negeri, dan mencela Al-Qur’an dengannya”; maka ini menurut kami termasuk dari yang itu.
Jika bukti yang pasti tidak dapat tegak bahwa kata itu diterjemahkan dari bahasa Persia dengan munculnya asalnya dalam bahasa itu dan kembalinya ke masa sebelum Islam, maka -tanpa ragu- ia termasuk yang dibuat dengan cara Ibnu ar-Rawandi sang zindik atheis yang hidup di pertengahan abad ketiga dan mengarang untuk mencela Al-Qur’an serta berkata dalam bukunya: “Az-Zumurrudah”: “Kami menemukan dalam perkataan Aktam bin Shaifi sesuatu yang lebih bagus dari ‘Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu al-Kautsar’ (QS. Al-Kautsar: 1)”, seolah-olah pencipta kata itu berkata dengan cara ini: “Kami menemukan dalam perkataan orang Arab sesuatu yang lebih fasih dari ‘Dan bagi kamu dalam qishas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup’ (QS. Al-Baqarah: 179).
Para ekstremis terhadap Al-Qur’an yang mulia ini dengan apa yang mereka buat dari kata semacam ini hanyalah ingin memberikan jalan kepada orang awam dan sejenisnya dari kalangan remaja, orang bodoh, ahli penyimpangan dan yang lemah dalam ilmu untuk berkata dalam membantah kemukjizatan, dan celah untuk menuduh bahwa Al-Qur’an adalah wahyu; kesalahan dalam hal seperti ini melampaui makna kesalahan dalam penjelasan kepada makna kekafiran dalam agama, dan itulah yang mereka tuju; dan inilah persis cara para misionaris hari ini, seolah-olah Iblis dari masa para zindik itu hingga masa para misionaris tidak dapat berubah, dan tidak dapat menjadi… menjadi pembaharu…”
Selesai bagian ketiga dari Wahyu Hati, dan dengannya selesai pula kitab ini.







