Dalam sebuah majelis, Syekh Shalih Al Ushaimi hafizhahullah pernah ditanya, berapa banyak matan yang perlu dihafal oleh seorang penuntut ilmu agar ia bisa menjadi istimewa. Beliau tidak langsung menjawab dengan angka. Justru beliau meluruskan arah pertanyaannya.
Apa maksud menjadi istimewa? Apakah untuk lebih tinggi dari manusia lain? Untuk mengungguli orang lain?
Beliau menegaskan bahwa ukuran dalam ilmu agama bukanlah tamayyuz dalam arti unggul di atas manusia, tetapi mencapai derajat ihsan dan kuatnya hubungan dengan Allah. Seorang penuntut ilmu seharusnya bertanya, berapa yang perlu aku pelajari agar aku menjadi hamba Allah yang muhsin.
Dari sini kita mendapatkan fondasi penting dalam merumuskan visi pendidikan.
Dalam ilmu agama, orientasinya bukan keunggulan kompetitif. Ilmu syar’i adalah jalan ibadah. Ia membentuk hati, adab, dan ketundukan. Jika seseorang belajar fikih, hadis, atau tafsir dengan niat agar dikenal lebih alim, lebih unggul, atau lebih dihormati, maka ia telah menggeser niat dari ubudiyah menuju ambisi pribadi.
Keunggulan dalam ilmu agama boleh jadi muncul sebagai hasil. Namun ia bukan tujuan. Tujuan utamanya adalah ihsan.
Namun ketika kita berbicara tentang ilmu dunia, konteksnya berbeda. Dalam sains, teknologi, ekonomi, manajemen, dan berbagai disiplin umum, mengejar keunggulan bisa menjadi bagian dari tanggung jawab peradaban. Umat yang tidak unggul dalam kompetensi akan tertinggal. Umat yang tidak kuat dalam profesionalisme akan bergantung pada pihak lain.
Di sini, keunggulan bukan untuk meninggikan diri, tetapi untuk memperluas manfaat. Keunggulan akademik membuka akses. Keunggulan profesional memperkuat daya saing. Keunggulan kompetensi memungkinkan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Selama orientasinya tetap pengabdian dan kemaslahatan, maka excellence dalam ilmu umum adalah wasilah yang sah dan bahkan diperlukan.
Maka visi sekolah dan pesantren yang ideal bukanlah mencampuradukkan orientasi ini, tetapi menempatkannya secara proporsional.
Ilmu agama membentuk arah dan nilai.
Ilmu umum membentuk daya dan kekuatan.
Arah tanpa daya membuat umat lemah.
Daya tanpa arah membuat umat tersesat.
Begitu pula visi para pendidik terhadap santri dan muridnya. Dalam pelajaran agama, guru berharap muridnya semakin dekat kepada Allah, semakin halus adabnya, dan semakin kuat imannya. Dalam pelajaran umum, guru berharap muridnya unggul, kompeten, dan siap bersaing secara sehat demi membawa manfaat yang luas.
Jika suatu hari seorang lulusan menjadi pakar sains yang berprestasi sekaligus hamba yang khusyuk dalam shalatnya, maka itulah buah dari visi yang seimbang. Ihsan dalam ruh, keunggulan dalam karya.
Semoga Allah menuntun lembaga-lembaga pendidikan kita untuk membangun generasi yang tidak terobsesi unggul dalam agama demi pujian, dan tidak lalai mengejar keunggulan dunia demi kemaslahatan
Sumber : Madrasah Plus







