APA YANG KITA INGINKAN DARI RAMADHAN?

Rabu, 11 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

APA YANG KITA INGINKAN DARI RAMADHAN?

Penulis:
Majdi Al-Hilali

Judul Asli:
ماذا نريد من رمضان؟

Terjemah Oleh:
Muhamad Abid Hadlori, S.Ag.,Lc.

 

 Pendahuluan

Ya Allah, permudahlah dan bantulah kami, wahai Yang Maha Mulia.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan semoga shalawat serta salam tercurah kepada Rasul yang paling mulia, junjungan kita Muhammad, kepada keluarganya dan semua sahabatnya.

Selanjutnya: Sesungguhnya di antara rahmat dan karunia Allah kepada kita adalah bahwa Dia telah menjadikan untuk kita dalam kehidupan dunia ini tempat-tempat pemberhentian di mana kita dapat membekali diri dengan iman dan takwa, dan menghapus bekas-bekas dosa dan kelalaian yang melekat di hati kita. Di dalamnya kita dapat mengambil nafas dan menyusun kembali lembaran-lembaran hidup kita, sehingga kita keluar darinya dengan semangat baru, tekad yang tinggi dan kekuatan jiwa yang membantu kita menghadapi kehidupan dengan segala daya tarik dan gangguannya, serta memudahkan kita dalam menunaikan tugas yang karenanya Allah Azza wa Jalla menciptakan kita.

Maka jika salah satu dari kita mencari tempat-tempat pemberhentian tersebut, akan mendapatinya banyak sekali. Di antaranya ada yang harian seperti shalat lima waktu, ada yang mingguan seperti hari Jumat, ada yang tahunan seperti bulan Ramadhan, dan ada yang mungkin hanya sekali seumur hidup seperti haji dan umrah.

Dan berbahagialah orang yang telah menyusun urusannya dan mempersiapkan dirinya untuk mengambil manfaat dari kesempatan-kesempatan tersebut sebelum datangnya, sehingga dia tidak membiarkannya berlalu kecuali telah mengambil bekal darinya dengan segala yang dia butuhkan dalam perjalanannya menuju Allah Azza wa Jalla, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

﴿ وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ ﴾ ( البقرة/2: 197-197)

“Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.” [Al-Baqarah: 197]

Dan di antara tempat pemberhentian terpenting yang datang kepada kaum muslimin sekali setiap tahun adalah: bulan Ramadhan. Maka inilah hari-hari berlalu dan muncullah bulan yang mulia dengan kebaikan dan berkahnya. Allah Azza wa Jalla telah menjadikannya musim untuk berlomba dalam kebaikan; amalan sunnah di dalamnya seperti amalan wajib, dan amalan wajib seperti tujuh puluh amalan wajib di bulan lainnya. Seruannya: “Wahai pencari kebaikan, majulah! Dan wahai pencari keburukan, mundurlah!”… Setan-setan di dalamnya dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, dan suasana dipersiapkan untuk meraih ampunan, rahmat dan pembebasan dari neraka. Surga berhias di dalamnya dan memanggil para peminatnya: “Kemarilah kepadaku, dan percepatlah langkah, maka pasar telah terbuka, barang dagangan telah tersedia, dan Pemiliknya Maha Pemurah lagi Maha Mulia.

Mari kita persiapkan diri sebaik-baiknya untuk menyambutnya agar kita tidak terkejut dengan kedatangannya. Dan di antara hal yang membantu kita dalam hal itu adalah mengetahui apa yang kita inginkan dari tamu yang mulia ini? Dan apa sarana-sarana yang akan kita gunakan?

Dan lembaran-lembaran yang ada di hadapan kita ini adalah upaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.

Dan Allah-lah yang mengetahui maksud kita dan Dia-lah yang memberi petunjuk ke jalan yang lurus.

Bulan Pengampunan

Rasulullah ﷺ bersabda: “Celakalah seseorang yang mendapati bulan Ramadhan kemudian berlalu sebelum dia mendapatkan ampunan…” [[1]]

Maka jika seseorang tidak diampuni di bulan Ramadhan, kapankah dia akan diampuni?!

Apakah dia akan diampuni sementara dia tenggelam dalam lautan dunia jauh dari akhirat?! Ataukah dia akan diampuni sementara dia terengah-engah mengejar dirham dan dinar serta tuntutan istri dan anak-anak?! Kita tidak mendahului kehendak Allah Ta’ala, tetapi sebagaimana Allah -Subhanahu wa Ta’ala- telah memberitahu kita bahwa pengampunan memiliki sebab-sebabnya, dan masuk surga memiliki syarat-syaratnya. Keimanan bukanlah dengan angan-angan belaka, tetapi apa yang tertanam dalam hati dan dibuktikan dengan amal.

Dan engkau – wahai pembaca – dapat merenungkan firman Allah Ta’ala:

﴿ ۞ وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ ﴾ ( اٰل عمران/3: 133-135)

  1. Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,
  2. (yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.
  3. Demikian (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka (segera) mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. Siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan apa yang mereka kerjakan (perbuatan dosa itu) sedangkan mereka mengetahui(-nya).

Adakah yang Bersiap untuk Surga?!

Rasulullah ﷺ bersabda: “Ketahuilah! Adakah yang bersiap menuju surga? Karena sesungguhnya surga itu tidak ada tandingannya. Demi Tuhan Ka’bah, ia adalah cahaya yang berkilauan, tumbuhan yang bergoyang, istana yang megah, sungai yang mengalir, buah yang masak, istri yang cantik jelita, pakaian yang banyak di tempat yang kekal dalam negeri yang damai, buah-buahan dan kehijauan, kebahagiaan, dan kenikmatan di tempat yang tinggi lagi indah.” Para sahabat berkata: “Ya, wahai Rasulullah, kami siap menuju surga!” Beliau bersabda: “Ucapkanlah: ‘Insya Allah’.” Maka kaum itu mengucapkan: “Insya Allah.” [[2]]

Sesungguhnya masuk surga memerlukan – setelah berharap rahmat Allah – banyak dari usaha yang kita curahkan dalam ketaatan kepada Allah, dan mengapa tidak? Ini hanyalah hari-hari yang terhitung yang kita lalui di kehidupan dunia ini, kemudian diikuti dengan tahun-tahun yang panjang – tanpa akhir – di dalam kubur dan akhirat.

Hendaklah setiap dari kita membayangkan besarnya penyesalan dan kesedihan yang memenuhi hati orang-orang yang lalai ketika mereka menghadapi perhitungan yang mengerikan sebagai balasan atas kelalaian mereka dalam beribadah kepada Pencipta mereka:

﴿قٰلَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِى الْاَرْضِ عَدَدَ سِنِيْنَ ١١٢ قَالُوْا لَبِثْنَا يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَسْـَٔلِ الْعَاۤدِّيْنَ ١١٣ قٰلَ اِنْ لَّبِثْتُمْ اِلَّا قَلِيْلًا لَّوْ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ١١٤ اَفَحَسِبْتُمْ اَنَّمَا خَلَقْنٰكُمْ عَبَثًا وَّاَنَّكُمْ اِلَيْنَا لَا تُرْجَعُوْنَ ١١٥ ﴾ ( المؤمنون/23: 112-115)

“Dia (Allah) bertanya, ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menjawab, ‘Kami tinggal (hanya) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada mereka yang menghitung.’ Dia (Allah) berfirman, ‘Kamu tinggal (di bumi) hanya sebentar saja, jika kamu benar-benar mengetahui. Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?'” [Al-Mu’minun: 112-115]

Sesungguhnya angan-angan termahal penghuni kubur adalah kembali ke dunia walau hanya sesaat: untuk bertasbih kepada Allah satu kali tasbih atau bersujud kepada-Nya satu kali sujud.

Maka tidakkah kita mengambil pelajaran dari mereka?!

Bukankah sudah waktunya kita terbangun dari kelalaian kita dan bersiap menghadapi takdir yang menanti kita?!

Sesungguhnya kita masih di dunia dan kesempatan masih terbuka di hadapan kita untuk mempersiapkan bekal untuk setelah kematian, dan inilah bulan Ramadhan yang mengajak kita untuk hal itu.

Mari kita singsingkan lengan baju kita, tinggalkan tempat tidur kita, bangunkan keluarga kita, dan mengangkat bendera jihad melawan diri kita sendiri beserta syahwat dan keinginannya.

Mari kita menjawab panggilan Allah:

﴿اِسْتَجِيْبُوْا لِرَبِّكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ يَوْمٌ لَّا مَرَدَّ لَهٗ مِنَ اللّٰهِ ۗمَا لَكُمْ مِّنْ مَّلْجَاٍ يَّوْمَىِٕذٍ وَّمَا لَكُمْ مِّنْ نَّكِيْرٍ ٤٧ ﴾ ( الشورى/42: 47-47)

“Penuhilah seruan Tuhanmu sebelum datang hari yang tidak dapat ditolak kedatangannya dari Allah. Tidak ada tempat berlindung bagimu pada hari itu dan tidak ada pula kesempatan untuk mengingkari.” [Asy-Syura: 47]

Kondisi Manusia Menghadapi Ramadhan

 

Ya… Ramadhan adalah kesempatan besar yang hanya datang sekali dalam setahun, tetapi apakah semua muslim menyikapinya dengan cara yang sama?

  • Di antara manusia ada yang menganggap kedatangan bulan ini sebagai beban berat yang ingin mereka hindari, mereka hanya melihatnya sebagai masa penuh larangan… Mereka adalah orang-orang yang Ramadhan datang lalu berlalu, tanpa meninggalkan bekas pada diri mereka atau menciptakan kenangan bagi mereka.
  • Dan di antara mereka ada yang menyadari nilainya lalu menyingsingkan lengan baju dengan sungguh-sungguh dan berjuang sekuat tenaga dalam melakukan sebanyak mungkin ketaatan; memperbanyak khatam Al-Qur’an dan menunaikan shalat serta ibadah-ibadah tanpa memperhatikan kehadiran bisikan hati di dalamnya. Mereka memperlakukan setiap sarana seolah-olah itu adalah tujuan itu sendiri, dan tidak melihat kepada tujuan tertinggi yang ingin dicapai oleh puasa. Tidak diragukan bahwa mereka ini merasakan pengaruh yang baik dalam hati mereka. Namun pengaruh ini segera hilang setelah berakhirnya Ramadhan dalam beberapa hari saja.
  • Dan ada golongan manusia yang menganggap Ramadhan sebagai kesempatan langka untuk menghidupkan hati dan membangunkannya dari tidurnya serta menyalakan sumbu takwa dan bara keimanan di dalamnya. Mereka melihat tujuan puasa dalam firman Allah Azza wa Jalla:

﴿يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ﴾ ( البقرة/2: 183-183)

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” [Al-Baqarah: 183]

Maka takwa kepada Allah Azza wa Jalla adalah tujuan dari ibadah-ibadah:

﴿ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ﴾ ( البقرة/2: 21-21)

“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” [Al-Baqarah: 21], dan sesuai kadarnya dalam hati itulah kedekatan atau jauhnya seorang hamba dari Allah Azza wa Jalla:

﴿يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ﴾ ( الحجرٰت/49: 13-13)

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” [Al-Hujurat: 13]

Golongan ini mengetahui bahwa bulan Ramadhan datang hanya untuk mendekatkan manusia kepada Tuhan mereka, meningkatkan hubungan mereka dengan-Nya, dan memutuskan hubungan hati mereka dengan dunia. Ia membekali hati dengan sebaik-baik bekal:

﴿اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَّعْلَمْهُ اللّٰهُ ۗ وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ ﴾ ( البقرة/2: 197-197)

“Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.” [Al-Baqarah: 197]

Maka mereka menyingsingkan lengan dengan sungguh-sungguh dan menggunakan dengan baik sarana-sarana yang telah Islam tetapkan di bulan yang diberkahi ini, menggabungkan antara amal hati dan amal anggota badan. Tidak diragukan bahwa golongan terakhir inilah yang paling beruntung dari Ramadhan; karena melaluinya mereka telah memperbaiki hati mereka dan meluncur dengannya di jalan orang-orang yang berjalan menuju Allah…

Tanda-Tanda Kebaikan Hati

Jika ada yang bertanya: Apa tanda-tanda kebaikan hati yang dicari oleh Ramadhan?

Ketika iman terbangun dan baranya menyala dalam hati, maka tanda-tanda kebaikan akan tampak jelas pada anggota tubuh, membenarkan sabda Rasulullah ﷺ: “Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati.” [[3]]

Maka engkau lihat pemilik hati ini bersegera dalam kebaikan, mengagungkan syiar-syiar Allah, membenarkan firman-Nya:

﴿ذٰلِكَ وَمَنْ يُّعَظِّمْ شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ فَاِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ ﴾ ( الحج/22: 32-32)

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” [Al-Hajj: 32]

Terwujud padanya inisiatif dan kemandirian:

﴿لَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ اَنْ يُّجَاهِدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌۢ بِالْمُتَّقِيْنَ ﴾ ( التوبة/9: 44-44)

“Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa.” [At-Taubah: 44]

Dan kamu melihatnya juga sebagai seseorang yang zuhud terhadap dunia, lebih menginginkan apa yang ada di sisi Allah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Ketika cahaya masuk ke dalam hati, hati itu menjadi lapang dan terbuka.” Kami bertanya: “Apa tandanya itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Kembali kepada negeri keabadian, berpaling dari negeri tipuan (dunia), dan mempersiapkan diri untuk kematian sebelum ia datang.” [[4]]

Jika ini adalah sebagian tanda-tanda tercapainya tujuan, maka pertanyaannya yang muncul adalah bagaimana cara mencapainya?

Sesungguhnya, sarana untuk itu sudah kita ketahui, bahkan sebagian besar telah kita lakukan sebelumnya. Namun, yang menjadi hal baru adalah bagaimana kita memperlakukan sarana tersebut dan mengambil manfaat darinya untuk mencapai tujuan Ramadan yang diharapkan?!

Sarana-sarana ini dapat dibagi menjadi dua kategori utama:

Pertama adalah kategori yang memperbaiki hubungan seorang hamba dengan Allah, yang bisa disebut sebagai sisi perasaan dan keimanan.

Adapun kategori kedua berkaitan dengan hubungan individu dengan masyarakatnya dan disebut sebagai sisi perilaku sosial. Tidak mungkin salah satu dari kedua kategori ini dapat menggantikan yang lain; keduanya memiliki peran penting dalam keberhasilan tugas seorang Muslim di bumi. Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَمَنْ اَحْسَنُ دِيْنًا مِّمَّنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَّاتَّبَعَ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗوَاتَّخَذَ اللّٰهُ اِبْرٰهِيْمَ خَلِيْلًا ﴾ ( النساۤء/4: 125-125)

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia berbuat ihsan.” (QS. An-Nisa: 125)

Menyeluruhkan penyerahan diri kepada Allah – yang merupakan sisi perasaan dan keimanan – harus diiringi dengan ihsan (berbuat baik) kepada makhluk. Adalah sebuah kesalahan jika seseorang hanya berfokus pada satu sisi tanpa memperhatikan sisi yang lain.

Orang yang mengerahkan seluruh usahanya hanya untuk memperbaiki hubungannya dengan Allah, sementara mengabaikan segala sesuatu yang memberi manfaat kepada orang lain, keimanannya tidak sempurna; karena iman itu meliputi perkataan dan perbuatan. Bahkan, salah satu hasil terpenting dari amal saleh adalah meningkatnya iman pelakunya dan semakin kuatnya dasar iman tersebut di hatinya. Allah Ta’ala berfirman:

﴿اِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهٗ ﴾ ( فاطر/35: 10-10)

“Kepada-Nya naik perkataan yang baik, dan amal saleh-lah yang mengangkatnya.” (QS. Fatir: 10)

Disebutkan dalam atsar: “Sesungguhnya ketika seorang hamba mengucapkan ‘La ilaha illa Allah’ dengan niat yang tulus, para malaikat memeriksa amal perbuatannya. Jika amalnya sesuai dengan ucapannya, keduanya akan naik bersama-sama. Tetapi jika amalnya bertentangan, maka ucapannya akan tertahan hingga ia bertaubat dari amal perbuatannya.” [[5]]

Sebaliknya, kesibukan dengan pekerjaan dan aktivitas di tengah masyarakat untuk memenuhi kebutuhan mereka, menyelesaikan masalah mereka, dan memberikan manfaat kepada mereka tanpa disertai hati yang hidup yang terhubung dengan Allah, adalah hal yang berbahaya yang dapat menimbulkan dampak negatif pada jiwa pelakunya. Rasulullah telah memperingatkan kita tentang hal ini dengan bersabda: ‘Perumpamaan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia namun melupakan dirinya sendiri adalah seperti lampu yang menerangi orang lain namun membakar dirinya sendiri.’ [[6]]

Al-Rafi’i berkata: ‘Sesungguhnya kesalahan terbesar adalah ketika engkau mengatur kehidupan di sekelilingmu namun membiarkan kekacauan dalam hatimu.’ [[7]]

Kedua hal ini harus ada bersama-sama agar masing-masing membentuk sisi yang mengikat tali yang kokoh, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

﴿۞ وَمَنْ يُّسْلِمْ وَجْهَهٗٓ اِلَى اللّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰىۗ وَاِلَى اللّٰهِ عَاقِبَةُ الْاُمُوْرِ ٢٢ ﴾ ( لقمٰن/31: 22-22)

‘Dan barangsiapa yang menyerahkan wajahnya kepada Allah, sedang dia berbuat kebajikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang kokoh.’ [Luqman: 22]

 

 

Bagian Pertama: Bersama Allah

 

Bulan Ramadhan memberikan berbagai sarana bagi umat Islam yang dapat menghidupkan hatinya dan memperbaiki hubungannya dengan Tuhannya.

Pertama: Puasa

Puasa adalah sarana yang luar biasa untuk menguasai dan mengendalikan jiwa. Mengapa tidak? Karena jiwa adalah penghalang terbesar dalam perjalanan hamba menuju Allah. Jiwa selalu mencari kesenangan dan menghindari kewajiban, dan salah satu cara terbaik untuk mengendalikannya adalah dengan puasa, karena puasa melemahkan materi syahwatnya.

Jika kita ingin mendapatkan manfaat dari sarana ini, kita tidak boleh menghabiskan sebagian besar siang hari untuk tidur. Kita juga harus moderat (bijak) dalam mengonsumsi makanan dan minuman saat berbuka puasa, dan tidak perlu berlebihan dalam jenis makanan – cukup satu atau dua jenis saja. Al-Halimi berkata: “Semua makanan halal, tetapi seseorang tidak seharusnya makan sampai memberatkan tubuhnya sehingga membuatnya mengantuk dan menghalanginya dari ibadah. Hendaklah ia makan sekadar untuk menghilangkan rasa lapar, dan tujuan makannya adalah agar dapat beribadah dan kuat melakukannya.” [[8]]

Selain berpuasa dari makanan dan minuman, kita juga harus mengurangi berbicara dan tertawa sebisa mungkin, dan mengangkat slogan: “Jagalah lisanmu”.[[9]] Hendaklah perkataan kita jauh dari sia-sia dan segala penyakit lisan.

Kedua: Keterikatan dengan Masjid

Masjid memiliki peran besar dalam menerangi hati. Di akhir firman Allah:

﴿۞ اَللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ﴾ ( النّور/24: 35-35)

“Allah adalah cahaya langit dan bumi” [An-Nur: 35], Allah berfirman:

﴿ يَهْدِى اللّٰهُ لِنُوْرِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ۙ ٣٥ ﴾ (النّور/24: 35-35)

“Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” [An-Nur: 35].

Dalam ayat berikutnya, Allah menentukan tempat utama untuk menerima cahaya-Nya dengan firman-Nya:

﴿فِيْ بُيُوْتٍ اَذِنَ اللّٰهُ اَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيْهَا اسْمُهٗۙ يُسَبِّحُ لَهٗ فِيْهَا بِالْغُدُوِّ وَالْاٰصَالِ ۙ ٣٦ ﴾ (النّور/24: 36-36)

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang” [An-Nur: 36].

Di masjid, hati terikat pada ketaatan kepada Allah dan jiwa tertahan dari bermaksiat kepada-Nya.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?” Para sahabat menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Menyempurnakan wudhu dalam kondisi yang tidak menyenangkan, banyak melangkah menuju masjid, dan menunggu shalat setelah shalat. Itulah ribath (penjagaan).” [[10]]

Sesungguhnya hati seorang mukmin sering berubah-ubah dari satu keadaan ke keadaan lain sebagai akibat dari pertarungan terus-menerus antara seruan iman dan seruan hawa nafsu, dan hati membutuhkan pengikatan dan pemantapan pada kondisi keimanan. Di sinilah peran masjid muncul. Abu Hurairah berkata tentang firman Allah:

﴿ اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْا ﴾ ( اٰل عمران/3: 200-200)

“Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga” [Ali Imran: 200]: “Pada zaman Nabi tidak ada perang yang dijaga (ribath), tetapi yang dimaksud adalah menunggu shalat setelah shalat.” [[11]]

Maka hendaklah kita datang lebih awal ke masjid dan tidak meninggalkan tempat kita setelah shalat kecuali karena keperluan mendesak agar kita mendapatkan shalawat dari para malaikat. Rasulullah bersabda: “Para malaikat akan bershalawat kepada salah seorang dari kalian selama dia tetap berada di tempat shalatnya yang ia gunakan untuk shalat, selama ia tidak berhadats. Para malaikat berdoa: ‘Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, rahmatilah dia.'” [[12]]

Dan bagi saudari muslimah hendaknya mengkhususkan satu tempat di rumahnya yang dijadikan sebagai masjid, lalu ia bergegas menuju ke sana, menunggu waktu shalat, mengulang-ulang adzan, dan memperpanjang waktu di tempat tersebut setiap ada kesempatan.

Ketiga: Al-Qur’an Al-Karim

Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an, dan telah menjadi petunjuk Rasulullah ﷺ untuk mempelajari Al-Qur’an di dalamnya. Al-Qur’an adalah sarana yang agung untuk menyembuhkan hati, memberi petunjuk dan pencerahan. Allah berfirman:

﴿يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ ٥٧ ﴾ ( يونس/10: 57-57)

“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman” [Yunus: 57].

Sejauh mana hubungan seorang muslim dengan Al-Qur’an, begitulah hubungannya dengan Allah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Bergembiralah, karena Al-Qur’an ini, satu ujungnya di tangan Allah dan ujung lainnya di tangan kalian. Berpegang teguhlah dengannya karena kalian tidak akan binasa dan tidak akan sesat setelahnya selamanya.” [[13]]

Sarana yang agung ini tidak akan mencapai tujuannya dan tidak akan menjadi petunjuk, penyembuh, dan cahaya kecuali jika kita berinteraksi dengannya dengan cara yang dikehendaki Allah Azza wa Jalla. Al-Qur’an diturunkan agar kita mentadabburinya dan mengambil manfaat darinya, bukan hanya untuk dibaca dengan lisan saja. Allah berfirman:

﴿كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ ٢٩ ﴾ ( ص/38: 29-29)

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya” [Shad: 29].

Tadabbur dalam makna yang benar adalah sebuah perenungan akal terhadap ayat-ayat dan berusaha agar perasaan merespon dengannya, serta tertanamnya makna respon tersebut dalam hati yang kemudian dapat menghasilkan amalan anggota badan.

Sebagian salaf berkata: “Tidaklah seseorang duduk bersama Al-Qur’an dan bangkit dalam keadaan selamat, ia akan beruntung atau merugi.” Allah berfirman:

﴿وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا ٨٢ ﴾ ( الاسراۤء/17: 82-82)

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” [Al-Isra: 82].

Saudaraku… kita telah membaca Al-Qur’an dengan lisan kita sebelumnya berkali-kali, dan yang menjadi perhatian seseorang hanyalah menyelesaikan khatamnya, bahkan sebagian dari kita berlomba-lomba dalam jumlah khatam yang bisa diselesaikan terutama di bulan Ramadhan. Manfaat nyata apa yang kita dapatkan dari itu? Apa yang telah diubah Al-Qur’an dalam diri kita?!

Sesungguhnya membaca hanya dengan lisan tanpa kehadiran hati seperti dedak – besar ukurannya namun sedikit manfaatnya, dan ini yang selalu ditekankan oleh orang-orang shalih sepanjang zaman.

Ali berkata: “Tidak ada kebaikan dalam membaca (Al-Qur’an) tanpa tadabbur (perenungan).” [[14]]

Al-Hasan berkata: “Wahai anak Adam, bagaimana hatimu bisa lembut? Padahal perhatianmu hanya pada akhir surah yang kamu baca!” [[15]]

Ibnu Qayyim menegaskan makna ini dengan mengatakan: “Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi hati daripada membaca Al-Qur’an dengan tadabbur dan tafakkur (perenungan), karena ia mencakup semua tingkatan para penempuh jalan (spiritual), keadaan orang-orang yang berilmu, dan maqam orang-orang yang arif. Jika manusia mengetahui apa yang terkandung dalam membaca Al-Qur’an dengan tadabbur, mereka akan menyibukkan diri dengannya daripada yang lainnya; membaca satu ayat dengan perenungan lebih baik daripada mengkhatamkan Al-Qur’an tanpa tadabbur dan pemahaman.” [[16]]

Jadikanlah Ramadhan sebagai awal yang sejati untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an secara benar.

Bagaimana kita mengambil manfaat dari Al-Qur’an?

Al-Qur’an adalah sarana terpenting untuk melunakkan hati. Wuhaib bin Al-Ward berkata: “Kami telah mengamati hadits-hadits dan nasihat-nasihat ini, dan kami tidak menemukan sesuatu yang lebih melembutkan hati dan lebih kuat dalam mendatangkan kesedihan daripada membaca Al-Qur’an, memahaminya, dan merenungkannya.” [[17]]

Abu Hamid Al-Ghazali mengatakan bahwa membaca Al-Qur’an dengan benar melibatkan tiga hal: lisan, akal, dan hati. Bagian lisan adalah membenarkan huruf-huruf dengan tartil, bagian akal adalah menafsirkan makna, dan bagian hati adalah mengambil pelajaran dan terpengaruh untuk menghindari larangan dan melaksanakan perintah. [[18]]

Beberapa cara praktis yang dapat memudahkan kita – dengan izin Allah – untuk mengambil manfaat dari Al-Qur’an:

Sebelum mulai membaca, berdoalah kepada Allah dan memohon dengan sungguh-sungguh agar Dia membuka hati kita untuk cahaya kitab-Nya, dan agar Dia memuliakan dan membantu kita dalam tadabbur dan penghayatan yang benar. Doa ini memiliki peran besar dalam mempersiapkan hati untuk menerima Al-Qur’an:

﴿وَمَا يَتَذَكَّرُ اِلَّا مَنْ يُّنِيْبُ ١٣ فَادْعُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ١٤ ﴾ ( غافر/40: 13-14)

“Dan tidak dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang kembali (kepada Allah). Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (Ghafir: 13-14)

Mencari petunjuk dalam Al-Qur’an, karena Al-Qur’an, seperti yang telah disebutkan, adalah sarana terbesar untuk mendapat petunjuk, penyembuhan, dan perubahan mendasar bagi jiwa.

Kita harus berinteraksi dengan Al-Qur’an dari sudut pandang ini, jadi tujuan kita bukan hanya menyelesaikan bacaan sebanyak mungkin ayat, tetapi tujuan kita dalam membaca adalah untuk mendapatkan petunjuk, penyembuhan, dan perubahan dengan izin Allah. Yang dapat membantu kita di awal perjalanan dengan Al-Qur’an adalah menghadirkan makna keimanan yang kita cari selama membaca.[[19]] Allah berfirman:

﴿۞ لَقَدْ كَانَ فِيْ يُوْسُفَ وَاِخْوَتِهٖٓ اٰيٰتٌ لِّلسَّاۤىِٕلِيْنَ ٧ ﴾ ( يوسف/12: 7-7)

“Sungguh, dalam (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang bertanya.” (Yusuf: 7)

Memperbanyak bacaan Al-Qur’an dan memperpanjang waktu bersamanya. Sebaiknya membaca Al-Qur’an dilakukan di tempat yang tenang – semampunya – jauh dari kebisingan, agar membantu seseorang untuk berkonsentrasi dan tidak terganggu pikirannya. Jangan lupa berwudhu dan bersiwak sebelum membaca.

Membaca dari mushaf dengan suara yang dapat didengar dan dengan tartil, karena tartil memiliki fungsi besar dalam menyentuh perasaan, sehingga membangkitkan dan meresponsnya dengan pemahaman yang akan dihasilkan dari perenungan, sehingga iman tumbuh ketika pemahaman bertemu dengan penghayatan.

Membaca dengan tenang dan khusyuk. Ketika kita membaca Al-Qur’an dengan tartil, kita harus memberikan hak-hak huruf, dengung, dan mad (panjang), sehingga memudahkan kita untuk menghayati ayat-ayat, merenungkannya, dan terpengaruh olehnya. Kita juga harus membaca Al-Qur’an dengan suara yang khusyuk untuk mendatangkan pengaruh. Dengan bacaan yang tenang ini, kita harus menyimak dengan sempurna… Menyimak adalah tingkat tertinggi dari konsentrasi seseorang dengan suara sehingga berada dalam keadaan fokus dan penghayatan penuh dengan ayat-ayat. Ini adalah wasiat Allah kepada kita. Allah berfirman:

﴿وَاِذَا قُرِئَ الْقُرْاٰنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ وَاَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ٢٠٤ ﴾ ( الاعراف/7: 204-204)

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat.” (Al-A’raf: 204)

Pemahaman umum ayat-ayat melalui penggunaan akal dalam memahami khitab (pesan), ini membutuhkan konsentrasi penuh saat membaca. Menggunakan akal dalam memahami khitab bukan berarti kita harus berhenti di setiap kata dan memaksakan diri untuk mengetahui maknanya dan apa yang ada di baliknya, tetapi cukup dengan makna umum yang ditunjukkan oleh satu ayat atau ayat-ayat sehingga kita dapat terus membaca dengan lancar, kemudian terjadi peningkatan bertahap dalam gerakan perasaan, hingga mencapai pengaruh dan respons dalam waktu yang lebih cepat.

Berusaha keras dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an seolah-olah ia diturunkan kepadamu, dan seolah-olah kamu adalah yang diajak bicara dengannya. Juga berusaha keras dalam berinteraksi dengan khitab ini dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terkandung dalam ayat-ayat, mengucapkan “amin” pada tempat-tempat doa, bertasbih pada tempat-tempat tasbih, memohon surga kepada Allah, dan berlindung dari neraka pada tempatnya… dan seterusnya.

Mengulang-ulang ayat atau ayat-ayat yang mendapatkan respons dan pengaruh hati, agar hati dapat menambah cahaya yang masuk dan iman yang tumbuh pada saat-saat tersebut.

Tidak mengapa memiliki tafsir ringkas di samping kita, untuk menjelaskan keraguan atau mengetahui makna yang sulit kita pahami. Lebih baik merujuk kepadanya setelah selesai membaca agar tidak keluar dari suasana Al-Qur’an dan perasaan spiritual yang kita alami, kecuali jika ada kata yang mendesak kita ingin mengetahui maknanya saat itu juga. [[20]]

Berusaha keras dalam menyimak ayat-ayat dan berkonsentrasi saat membaca. Kita harus berusaha keras dalam menyimak ayat-ayat yang sampai ke telinga kita semampu mungkin. Allah berfirman:

﴿وَاِذَا قُرِئَ الْقُرْاٰنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ وَاَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ٢٠٤ ﴾ ( الاعراف/7: 204-204)

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat.” (Al-A’raf: 204)

Menyimak – seperti disebutkan sebelumnya – adalah tingkat tertinggi konsentrasi dengan suara. Seseorang menyimak ketika ia merasa pentingnya apa yang ia dengar atau baca, dan merasakan kebutuhan yang sangat terhadapnya. Maka bagaimana dengan orang yang membaca Al-Qur’an! Tidak ada yang lebih menunjukkan hal ini daripada keadaan jin ketika mereka mendengar Al-Qur’an untuk pertama kali. Mereka menyadari pentingnya yang tertinggi dan kebutuhan mendesak mereka terhadapnya. Apa yang mereka katakan?

﴿وَاِذْ صَرَفْنَآ اِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُوْنَ الْقُرْاٰنَۚ فَلَمَّا حَضَرُوْهُ قَالُوْٓا اَنْصِتُوْاۚ فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا اِلٰى قَوْمِهِمْ مُّنْذِرِيْنَ ٢٩ ﴾ ( الاحقاف/46: 29-29)

“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu serombongan jin yang mendengarkan Al-Qur’an, maka ketika mereka menghadiri (pembacaan)nya mereka berkata, ‘Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).’ Ketika telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” (Al-Ahqaf: 29)

Maka sudah sepatutnya kita melakukan seperti yang mereka lakukan agar dapat mengambil manfaat dari Al-Qur’an:

﴿اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَذِكْرٰى لِمَنْ كَانَ لَهٗ قَلْبٌ اَوْ اَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيْدٌ ٣٧ ﴾ ( ق/50: 37-37)

“Sungguh, pada yang demikian itu terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (Qaf: 37)

Keempat: Qiyamul Lail (Shalat Malam)

Qiyamul lail adalah salah satu sarana penting dalam menghidupkan hati. Rasulullah bersabda: “Hendaklah kalian melakukan qiyamul lail karena itu adalah kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian, dan sesungguhnya qiyamul lail adalah cara mendekatkan diri kepada Allah, pencegah dari dosa, penghapus kejahatan, dan pengusir penyakit dari tubuh.” [[21]]

Sesungguhnya terpapar pada hembusan malam dan saling berbagi ghanimah (hasil) dengan orang-orang yang bersungguh-sungguh (ibadah) adalah termasuk sarana terbesar untuk menanamkan keimanan dalam hati. Allah telah mewajibkan qiyamul lail (shalat malam) kepada Rasulullah dan para sahabat yang mulia sebelum turunnya kewajiban-kewajiban lain, sebelum ditetapkannya hudud (hukuman), bahkan sebelum diwajibkannya shalat lima waktu; karena ketika manusia berkhalwat dengan Tuhannya dan hatinya terhubung dengan-Nya di keheningan malam, hati akan menjadi suci dan turunlah limpahan karunia.

Sarana yang agung ini yang menggabungkan antara tadabbur Al-Quran dengan segala khazanah di dalamnya dan ruku’ serta sujud – yang di dalamnya terkandung makna kerendahan hati, ketundukan, dan kehancuran di hadapan Allah – adalah termasuk sarana terpenting untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla. Maka tidak sepatutnya kita melewatkan satu malam pun tanpa qiyam (shalat malam) bagaimanapun keadaannya. Yang terbaik, di samping menunaikan shalat tarawih, adalah bangun sebelum fajar dalam waktu yang cukup untuk tahajud dan istighfar, agar kita dapat merasakan nikmatnya kehidupan yang hakiki dengan menghirup hembusan udara waktu sahur sambil bermunajat kepada Ar-Rahman.

Sebagian orang saleh berkata: ‘Tidak ada waktu di dunia yang menyerupai kenikmatan surga kecuali apa yang dirasakan oleh ahli taqarrub dalam hati mereka di malam hari berupa manisnya munajat’.[[22]] Dan Iqbal berkata: ‘Bergurulah dengan siapa saja dalam ilmu dan hikmah, namun engkau tidak akan mendapat hasil yang berarti sampai engkau memiliki keluhan (rindu) di waktu sahur’ [[23]].

Beliau – rahimahullah – ingin mengatakan: Jadilah da’i yang sukses… jadilah khatib yang fasih… jadilah penceramah yang handal, jadilah seperti yang kamu inginkan, tetapi kamu tidak akan memberi manfaat pada dirimu sendiri kecuali jika kamu memiliki waktu bersama Allah di waktu sahur, di mana kamu menanggalkan pakaian ketenaran dan kemuliaan, melepaskan gelar-gelar palsu dan hidup dalam keadaan sebagai hamba yang takut akan murka Tuhannya dan mengharap rahmat-Nya.

Maka siapkanlah permintaanmu, tentukan tujuanmu, dan jadilah orang yang ringan tidurnya menunggu detik-detik jam untuk berkhalwat dengan Yang Tercinta…

Diantara Fiqih Shalat Malam:

Ketika Allah memberi kita nikmat untuk bangun sebelum fajar dengan waktu yang cukup, kita tidak hanya memperpanjang berdiri dan bacaan saja, tetapi juga memperpanjang ruku’ dan sujud.

Maka, keadaan hamba yang paling dekat dengan Rabb-nya adalah saat dia bersujud. Dalam sujud, terwujudlah makna kerendahan hati, kehancuran diri, serta pengungkapan rasa butuh dan hina di hadapan Dzat yang memiliki kerajaan langit dan bumi.

Bermunajat kepada Allah dalam sujud merupakan salah satu bentuk pelarian terbaik kepada-Nya, untuk mencari keridhaan-Nya, memohon ampunan dan maaf dari-Nya, serta menampakkan rasa tunduk dan patuh kepada-Nya. Dalam sujud, seorang hamba menyampaikan permohonannya dan mengangkat kebutuhannya.

Bersujudlah dan mendekatlah!.

Apabila kita ingin sujud kita mencapai tujuannya, mendekatkan kita kepada Allah sedikit demi sedikit sebagaimana firman-Nya:

﴿ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ ۩ ࣖ ١٩ ﴾ ( العلق/96: 19)

Sujud dan mendekatlah (kepada Allah).  (Al-‘Alaq/96:19)

Maka kita harus menjadikan sujud itu sebagai sujud yang tulus, penuh dengan tetesan air mata, agar menjadi tinta dari surat-surat permohonan kita kepada Tuhan kita.

Abdullah bin Al-Mubarak berkata:

“Apabila malam menyelimuti mereka, mereka bangkit berjihad melawan diri, hingga pagi menjelang, mereka masih dalam keadaan ruku’. Ketakutan kepada Allah mengusir tidur dari mata mereka, sehingga mereka berdiri (untuk beribadah), sementara orang-orang yang merasa aman di dunia terlelap tidur. Dalam kegelapan, mereka bersujud dengan penuh kerendahan, hingga terdengar rintihan yang mengguncangkan dada-dada.”

Apa yang harus kita lakukan jika kita terhalang untuk bangun malam?

Kadang, kita sudah melakukan segala upaya agar dapat bangun untuk shalat tahajud, tetapi tiba-tiba terdengar adzan subuh tanpa kita sempat melakukannya. Apa yang harus kita lakukan?

Hal ini adalah pesan dari Allah – ‘Azza wa Jalla – yang mengandung banyak makna, di antaranya:

  • Mungkin penghalangan ini disebabkan oleh dosa yang kita lakukan atau kelalaian dalam menunaikan hak-hak tertentu.
  • Bisa jadi keinginan kita untuk bangun malam tidak benar-benar kuat.
  • Atau mungkin ini adalah ujian dari Allah untuk melihat bagaimana kita akan bertindak.

Jika hal ini terjadi, maka kita harus segera berlindung kepada Allah melalui shalat dan doa. Kita perlu mencari keridhaan-Nya, memohon ampun, dan merendahkan diri dengan penuh harap agar Dia mengampuni kita. Selain itu, kita dianjurkan untuk bersedekah secara sembunyi-sembunyi, karena sedekah dapat meredam kemurkaan Allah.

Rasulullah ﷺ juga memberikan rekomendasi bahwa siapa saja yang melewatkan shalat malamnya, hendaknya ia menggantinya antara waktu shalat subuh dan zhuhur, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya. [[24]]

Ada kalanya, kita bangun sebelum waktu subuh, tetapi ketika mulai shalat, hati kita malah tersesat dalam urusan dunia. Setiap kali kita mencoba menghadirkan hati kepada Allah, hati kita malah melarikan diri. Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Ibnu Al-Jauzi berkata: “Jika engkau duduk di tengah malam dalam gelap, berdiri di hadapan Tuhanmu, maka bersikaplah seperti anak kecil. Jika seorang anak meminta sesuatu kepada ayahnya namun tidak diberi, dia akan menangis.” [[25]]

Dalam keadaan seperti ini, kita harus terus-menerus memohon kepada Allah dengan penuh desakan dan mengulang istighfar berkali-kali, hingga Allah membukakan pintu-Nya untuk kita. Bukankah Allah telah berfirman:

﴿فَلَوْلَآ اِذْ جَاۤءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوْا ٤٣ ﴾ ( الانعام/6: 43-43)

“Mengapa mereka tidak memohon dengan penuh kerendahan hati ketika azab Kami datang kepada mereka?” (Al-An’am: 43).

Kegagalan untuk bangun malam, kehilangan manisnya munajat, atau hati yang tidak hadir dalam ibadah adalah bentuk hukuman dari Allah. Hukuman ini menuntut kita untuk memperbanyak doa, memohon dengan penuh kesungguhan, dan memperbanyak istighfar, hingga Allah melihat keadaan kita dan memberikan pengampunan-Nya.

Kelima: Memanfaatkan Waktu-Waktu Utama

Ibnu Rajab berkata: Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan beberapa bulan memiliki keutamaan dibandingkan bulan lainnya, sebagaimana Dia juga menjadikan beberapa hari dan malam lebih utama daripada yang lain. Allah menjadikan malam Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan. Pada setiap musim keutamaan ini, Allah memberikan tugas ibadah tertentu yang dengannya hamba bisa mendekatkan diri kepada-Nya. Dalam waktu-waktu ini, terdapat hembusan rahmat dari Allah yang akan dirasakan oleh siapa saja yang dikehendaki-Nya dengan karunia dan rahmat-Nya. Maka beruntunglah orang yang memanfaatkan waktu-waktu tersebut untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya melalui ibadah-ibadah yang disyariatkan di dalamnya. Barangkali ia akan mendapatkan salah satu dari hembusan rahmat tersebut, yang akan membuatnya bahagia dengan kebahagiaan abadi, selamat dari api neraka dan penderitaan yang ada di dalamnya. [[26]]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Tuhan kalian memiliki hembusan rahmat pada hari-hari dalam perjalanan hidup kalian. Maka hadapilah hembusan-hembusan itu, barangkali salah seorang dari kalian akan mendapatkannya sehingga ia tidak akan pernah sengsara setelah itu selamanya.” [[27]]

Hembusan rahmat ini, tanpa diragukan lagi, akan mengenai mereka yang menyadarinya. Adapun orang yang lalai darinya, semoga Allah memberinya penghiburan.

Pada masa sekarang, terdapat tiga waktu yang disebut oleh para ulama sebagai waktu terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah, yaitu: akhir malam, awal pagi, dan akhir siang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidak ada seorang pun yang mempersulit diri dalam agama ini kecuali ia akan dikalahkan. Maka bersikaplah moderat, mendekatlah pada kebaikan, dan berbahagialah. Mintalah bantuan dengan waktu pagi, waktu petang, dan sedikit waktu malam.” [[28]]

Keutamaan Zikir Pagi Dan Petang

Banyak dalil yang menunjukkan keutamaan zikir pagi dan petang, yang menunjukkan pentingnya menjaga waktu-waktu utama tersebut untuk meningkatkan kedekatan kepada Allah. Para salaf lebih memberikan penghormatan pada akhir hari dibandingkan awalnya.

Hasan Al-Banna berkata: “Wahai saudara tercinta, setiap hari ada tiga momen yang dapat kamu manfaatkan untuk menjadikan jiwamu yang suci terangkat menuju tempat tertinggi: saat pagi hari, petang, dan waktu sahur. Dalam momen-momen ini, kamu bisa meraih kebaikan dunia dan akhirat. Di hadapanmu juga terdapat musim-musim ketaatan, hari-hari ibadah, dan malam-malam mendekatkan diri yang telah diarahkan oleh kitab sucimu dan Rasul agungmu. Maka, berusahalah agar kamu termasuk orang yang berzikir, bukan orang yang lalai; orang yang beramal, bukan orang yang malas. Manfaatkanlah waktu, karena waktu itu seperti pedang. Tinggalkanlah sikap menunda-nunda, karena itu adalah hal yang paling berbahaya.” [[29]]

Keutamaan Hari Jumat

Adapun dalam sepekan, hari Jumat memiliki kehormatan yang besar. Pada hari ini, terdapat waktu mustajab untuk berdoa. Maka, berusahalah untuk memanfaatkan waktu tersebut. Imam Nawawi berkata: “Sangat dianjurkan untuk memperbanyak doa sepanjang hari Jumat, sejak terbit fajar hingga matahari terbenam, dengan harapan dapat menemukan waktu mustajab untuk berdoa.” (Kitab Al-Adzkar, Hal. 129).

Maka, hendaknya kita bersungguh-sungguh pada hari yang mulia ini, menyusun program khusus untuknya, dan bersegera pergi ke masjid untuk melaksanakan salat Jumat dengan sebaik-baiknya.

Keutamaan Ramadan dan Malam Lailatul Qadar

Jika bulan Ramadan memiliki keutamaan khusus dibandingkan bulan-bulan lainnya, maka Malam Lailatul Qadar memiliki kehormatan yang sangat agung. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang mendirikan salat pada Malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” [[30]]

Pencarian Lailatul Qadar dilakukan pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Oleh karena itu, disunnahkan untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah pada waktu tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, beliau mengetatkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya.

Keutamaan Umrah di Bulan Ramadan

Di antara musim ibadah lainnya adalah musim umrah, yang dalam bulan Ramadan memiliki keutamaan setara dengan haji. Maka, berusahalah untuk melaksanakannya.

Hendaknya setiap orang mengatur urusannya sedemikian rupa agar dapat memanfaatkan waktu-waktu yang mulia ini. Jika ia kehilangan kesempatan pada sebagian waktu tersebut, janganlah ia meninggalkan kesungguhan untuk memanfaatkan sisa waktu lainnya.

Keenam: I’tikaf

I’tikaf adalah berdiam diri di masjid untuk menaati Allah. Amalan ini disunnahkan kapan saja, baik di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan. Namun, yang paling utama adalah i’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan, agar hamba dapat mencari Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan.

Imam Ahmad berpendapat bahwa seorang yang beri’tikaf sebaiknya tidak banyak berinteraksi dengan orang lain, bahkan untuk mengajarkan ilmu atau membaca Al-Qur’an bersama. Sebaliknya, lebih utama baginya menyendiri untuk bermunajat kepada Allah, berzikir, dan berdoa.

I’tikaf seperti ini adalah khalwah syar’iyyah (penyendirian syar’i) yang tetap menjaga pelaksanaan salat berjamaah dan salat Jumat. Hendaknya kita memanfaatkan waktu, meskipun singkat, di siang atau malam Ramadan untuk berniat i’tikaf dan mengkhususkan diri bersama Allah.

Sangat dianjurkan melaksanakan i’tikaf di sepuluh malam terakhir, terutama pada malam-malam ganjil. Selain itu, kita juga perlu berhati-hati dari terlalu banyak berinteraksi, berbicara, atau hal-hal lain yang dapat mengganggu keintiman kita bersama Allah.

Ibnu Rajab berkata: “Hakikat i’tikaf adalah memutuskan hubungan dengan makhluk untuk mengabdi kepada Sang Khalik.” [[31]]

I’tikaf bagi Wanita

Bagi wanita, ia dapat beri’tikaf di tempat salat rumahnya sesuai dengan pendapat mazhab Hanafi yang membolehkannya. Ia dapat menyisihkan waktu tertentu dari harinya untuk tetap berada di tempat salat rumahnya dan mendekatkan diri kepada Allah.

Ketujuh: Doa

Doa adalah inti dari ibadah, dan tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa. Dalam doa, tampak kefakiran, kerendahan, dan ketundukan seorang hamba kepada Sang Pemilik segalanya. Ada waktu-waktu khusus yang dianjurkan untuk berdoa, seperti:

  • Antara azan dan iqamah
  • Setelah salat
  • Pada sepertiga malam terakhir
  • Hari Jumat, sejak khatib naik mimbar hingga salat selesai, serta pada waktu terakhir di hari itu
  • Malam Lailatul Qadar
  • Saat turun hujan
  • Doa orang yang berpuasa
  • Doa orang yang bepergian
  • Dalam setiap malam Ramadan, terdapat orang-orang yang dibebaskan dari neraka

Selain itu, doa paling mustajab adalah saat seseorang bersujud, karena saat itu hamba berada paling dekat dengan Tuhannya. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk memanfaatkan waktu-waktu tersebut, merendahkan diri di hadapan Allah, melepaskan segala kebergantungan pada kekuatan dan kemampuan diri sendiri, serta memohon dengan penuh kerendahan hati.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai dan berpaling.” [[32]]

Kita juga dianjurkan untuk memperbanyak doa bagi saudara-saudara Muslim yang tertindas di seluruh penjuru dunia, khususnya mereka yang berjihad dan menjaga tanah suci Palestina. Selain itu, kita juga diperintahkan untuk mendoakan agar para tiran dan penguasa zalim yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya dihapuskan dari muka bumi. Semoga Allah mengangkat kesulitan, menghilangkan penderitaan, dan menurunkan pertolongan-Nya yang telah dijanjikan-Nya:

﴿وَكَانَ حَقًّاۖ عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ ٤٧ ﴾ ( الرّوم/30: 47-47)

“Dan menjadi hak Kami untuk menolong orang-orang yang beriman.” (QS. Ar-Rum: 47).

Kedelapan: Sedekah

Barang siapa yang merenungkan kitab Allah akan mendapati banyak ayat yang menganjurkan umat Islam untuk berinfak di jalan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling dermawan, dan kedermawanannya semakin meningkat pada bulan Ramadan. Allah berfirman:

﴿خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا﴾ ( التوبة/9: 103-103)

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103).

Orang yang paling diuntungkan oleh sedekah adalah dirinya sendiri, karena sedekah dapat membersihkan dirinya dari sifat kikir dan dosa-dosa.

Awal mula perjalanan jiwa menuju langit dan pembebasannya dari tarikan bumi adalah dengan membersihkan dirinya dari sifat kikir yang memang manusia cenderung memilikinya, melalui konsistensi dalam bersedekah di jalan Allah. Hingga sedekah itu menjadi salah satu sifat yang melekat pada dirinya, membuat hati tidak lagi terpaut pada harta, dan kecintaannya terhadap harta pun lenyap dari hati.

Sedekah memiliki keutamaan yang besar di dunia dan akhirat. Ia menyembuhkan orang yang sakit, menolak bala, memudahkan urusan, mendatangkan rezeki, melindungi dari keburukan, meredakan murka Allah, menghapus dosa, menjadi naungan bagi pelakunya pada hari kiamat, melindunginya dari neraka, dan menghindarkannya dari azab. Sedekah juga memiliki hubungan yang erat dengan perjalanan menuju Allah. Allah berfirman:

﴿فَاٰتِ ذَا الْقُرْبٰى حَقَّهٗ وَالْمِسْكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَ اللّٰهِ ۖوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ٣٨ ﴾ ( الرّوم/30: 38-38)

“Maka berikanlah kepada kerabat dekat haknya, begitu juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang menginginkan wajah Allah.” (QS. Ar-Rum: 38).

 

 

 

Allah juga berfirman:

﴿وَمِنَ الْاَعْرَابِ مَنْ يُّؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَيَتَّخِذُ مَا يُنْفِقُ قُرُبٰتٍ عِنْدَ اللّٰهِ وَصَلَوٰتِ الرَّسُوْلِ ۗ اَلَآ اِنَّهَا قُرْبَةٌ لَّهُمْ ۗ سَيُدْخِلُهُمُ اللّٰهُ فِيْ رَحْمَتِهٖ ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ࣖ ٩٩ ﴾ ( التوبة/9: 99-99)

“Dan di antara orang-orang Arab Badui itu ada yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta menjadikan apa yang mereka nafkahkan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan untuk mendapatkan doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya itu adalah sarana mendekatkan diri bagi mereka. Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya.” (QS. At-Taubah: 99).

Tidak ada alasan bagi siapa pun untuk meninggalkan sedekah, karena Allah tidak menentukan jumlah tertentu yang harus dikeluarkan untuk bersedekah. Pintu kebaikan ini terbuka bagi semua orang sesuai kemampuan masing-masing.

Agar sedekah memberikan hasil yang diharapkan, ia perlu dilakukan secara rutin setiap hari, sebagaimana firman Allah:

﴿اَلَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ بِالَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً فَلَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ ٢٧٤ ﴾ ( البقرة/2: 274-274)

“Orang-orang yang menginfakkan hartanya di malam dan siang hari, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapatkan pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 274).

Maka keluarkanlah sedekah setiap hari, meskipun hanya setara dengan separuh kurma. Kita bisa menyediakan sebuah kotak di rumah sebagai tempat menyimpan sedekah, agar lebih mudah melakukannya secara rutin. Kemudian, sedekah tersebut dapat diberikan secara berkala kepada mereka yang berhak menerimanya.

Kesembilan: Berpikir dan Berdzikir

Mengingat Allah – Subhanahu wa Ta’ala – adalah makanan hati dan sumber kehidupannya. Rasulullah ﷺ bersabda: Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya dan yang tidak mengingat Tuhannya adalah seperti orang yang hidup dan yang mati.” [[33]]

Ibnu Taimiyah berkata: “Dzikir bagi hati seperti air bagi ikan. Bagaimana keadaan ikan jika ia berpisah dari air?” [[34]]

Bangunan surga dibangun dengan dzikir. Jika seorang hamba berhenti berdzikir, maka para malaikat pun berhenti membangun untuknya. maka ketika seseorang mulai berdzikir, para malaikat melanjutkan pembangunannya kembali. [[35]]

Agar seorang Muslim mendapatkan manfaat dari dzikir dan agar lisannya selaras dengan hatinya sehingga memberikan pengaruh yang diharapkan, dzikir tersebut harus diiringi dengan ibadah berpikir (tadabbur), sebagaimana firman Allah:

﴿اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ ١٩٠ الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ١٩١ ﴾ ( اٰل عمران/3: 190)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. Mereka adalah orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring, serta memikirkan penciptaan langit dan bumi seraya berkata, ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari azab neraka.'” (QS. Ali Imran: 190-191).

Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Sesungguhnya orang-orang yang berakal selalu menghubungkan dzikir dengan pikirannya, dan menghubungkan pikirannya dengan dzikir, hingga hati mereka terbangun, lalu mereka pun berbicara dengan kebijaksanaan.” [[36]]

Permulaan adalah dengan merenungi suatu bidang tertentu, kemudian diikuti dengan dzikir yang sesuai. Sebagai contoh: Jika seseorang merenungi dosa-dosanya dan kelalaiannya terhadap Allah, ia seharusnya segera mengikutinya dengan istighfar.

Jika ia merenungi keindahan ciptaan Allah dan tanda-tanda kebesaran-Nya dalam diri dan alam semesta, maka ia pun bertasbih dan memuji-Nya. Setelah itu, ia melanjutkan dengan tasbih dan tahmid.

Ketika seorang hamba merenungkan kebutuhannya yang mendalam kepada Allah dan kefakirannya yang hakiki kepada-Nya, ia mengulang-ulang dzikir: “Laa haula wa laa quwwata illa billaah” (Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah). Demikianlah halnya dengan dzikir-dzikir lainnya.

Kita perlu menetapkan wird (amalan dzikir) harian yang kita komitmenkan, dan berusaha menyelaraskan hati dengan lisan dalam mengamalkannya. Perlu kita ketahui bahwa pahala yang sempurna sebanding dengan amal yang sempurna; sebab amalan tidak dinilai dari bentuk atau jumlahnya, tetapi dinilai dari apa yang ada dalam hati. Bisa saja dua amalan memiliki bentuk yang sama, namun perbedaannya dalam nilai seperti perbedaan antara langit dan bumi.

Dzikir pagi dan petang, begitu pula dzikir-dzikir yang terkait dengan keadaan tertentu, mengandung makna-makna yang agung. Kita harus merenungkan maknanya saat melafalkannya pada waktunya masing-masing.

Kesepuluh: Muhasabah Diri

Setelah beberapa hari berlalu di bulan Ramadan, jiwa menjadi lebih mudah diarahkan. Pada saat itu, kita harus mulai melakukan muhasabah (introspeksi) atas apa yang telah berlalu dari amal perbuatan kita.

Ada banyak aspek dalam muhasabah diri yang mencakup seluruh sisi kehidupan seorang Muslim. Kita harus berdiri di hadapan setiap poin dari aspek tersebut untuk mengetahui di mana posisi kita. Alangkah baiknya jika kita mencatat dosa-dosa dan kekurangan-kekurangan kita, agar hal itu menjadi pendorong bagi kita untuk bertaubat dengan sungguh-sungguh dan memperbaiki arah hidup.

Bidang-Bidang Muhasabah

  1. Ibadah Anggota Tubuh
  • Contohnya: shalat lima waktu di awal waktu di masjid, shalat sunnah rawatib, dzikir setelah shalat, puasa Ramadan dan puasa sunnah, senantiasa bersedekah di jalan Allah, dzikir pagi dan petang, serta mengikuti sunnah dalam ucapan dan perbuatan.
  1. Dosa Anggota Tubuh
  • Contohnya: ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), mengejek atau mencemooh orang lain, perdebatan yang sia-sia, membocorkan rahasia, mencela, memfitnah, berdusta, berbicara sia-sia dan banyak bicara, tidak menundukkan pandangan, membahas hal yang batil, cepat marah, dan tidak menepati janji.
  1. Ibadah Hati
  • Contohnya: khusyuk dalam shalat, takut kepada Allah dan merasakan pengawasan-Nya, ridha terhadap takdir Allah, tawakal kepada-Nya, sabar saat menghadapi musibah, dan bersyukur atas nikmat yang diberikan.
  1. Dosa Hati
  • Contohnya: kagum terhadap amal sendiri dan ingin dipuji, merasa tidak nyaman terhadap kritik, hasad (dengki), sombong, membanggakan diri, mengungkit-ungkit pemberian, mengikuti hawa nafsu, meremehkan orang lain, dan berprasangka buruk terhadap mereka.
  1. Hak-Hak
  • Seperti: hak istri, anak, orang tua, kerabat, tetangga, hak jalan, hak dakwah, dan hak persaudaraan.
  1. Perilaku dan Keutamaan Amal
  • Seperti berusaha memenuhi kebutuhan orang lain, bersikap lembut, rendah hati, menjenguk orang sakit, mengikuti jenazah, berbuat baik kepada sesama, mengembalikan amanah kepada pemiliknya, selalu tersenyum dan berwajah ceria, serta bekerja dengan penuh kesungguhan.

Setelah setiap sesi muhasabah seperti ini, kita dianjurkan untuk memperbanyak istighfar. Jika memungkinkan, sebaiknya juga melaksanakan shalat—misalnya shalat taubat. Allah berfirman:

﴿وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ ١٣٥ ﴾ ( اٰل عمران/3: 135-135)

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri mereka sendiri, mereka mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosa mereka, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Mereka juga tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135).

Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah seorang laki-laki berbuat dosa, lalu ia bangkit, bersuci, melaksanakan shalat, kemudian memohon ampunan kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuni dosanya.” [[37]]

Ringkasan Bagian Pertama

Terdapat sepuluh cara yang, insya Allah, dapat membantu mencapai hasil yang diharapkan dari bulan Ramadan. Kita perlu menyusun program pribadi yang akan kita ikuti sepanjang bulan mulia ini, dan menetapkan kebiasaan harian yang tidak kita tinggalkan.

  1. Waktu untuk I’tikaf di Masjid
  • Tetapkan waktu khusus untuk i’tikaf di masjid, misalnya dari fajar hingga matahari terbit. Jika tidak memungkinkan, bisa dilakukan dari waktu ashar hingga maghrib. Pada waktu ini, bacalah bagian dari Al-Qur’an dengan metode yang telah disebutkan sebelumnya.
  1. Sedekah Harian
  • Sediakan kotak di rumah untuk mengumpulkan sedekah harian.
  1. Qiyamullail (Shalat Malam)
  • Tetapkan waktu untuk melaksanakan shalat tahajud sebelum fajar, meskipun hanya selama setengah jam, selain dari shalat tarawih.
  1. Dzikir Harian
  • Tentukan dzikir tertentu, seperti membaca Subhanallah wa bihamdih sebanyak 100 kali, istighfar beberapa kali, shalawat atas Nabi ﷺ beberapa kali, dan dzikir seperti Laa hawla wa laa quwwata illa billah beberapa kali. Sebaiknya, dzikir-dzikir ini dibagi sepanjang hari dan malam.
  1. Waktu Doa Mustajab
  • Manfaatkan waktu-waktu mustajab untuk berdoa. Bermohonlah kepada Allah dengan penuh kesungguhan, layaknya seseorang yang terdesak dan hampir tenggelam. Doakan kebaikan untuk diri sendiri, keluarga, saudara-saudara Muslim, dan seluruh kaum Muslimin.
  1. Muhasabah Diri
  • Cari waktu yang sesuai untuk menyendiri dan mengintrospeksi diri atas apa yang telah berlalu.

 

 

Bagian Kedua: Bersama Manusia

 

Sesungguhnya berusaha berbuat baik di tengah-tengah manusia memiliki dampak keimanan yang besar dalam hati seorang hamba muslim; hal itu meningkatkan keimanan, mengokohkannya, dan membuat pelakunya menjadi dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla.

Rasulullah bersabda: “Manusia yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain, dan amalan yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah kebahagiaan yang engkau masukkan ke dalam hati seorang muslim, atau menghilangkan kesusahannya, atau melunasi hutangnya, atau menghilangkan kelaparannya. Dan sungguh berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi kebutuhannya lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini – yakni Masjid Madinah – selama sebulan. Dan barangsiapa menahan amarahnya, Allah akan menutupi aibnya. Dan barangsiapa menahan kemarahannya padahal jika ia mau ia bisa melampiaskannya, Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari kiamat. Dan barangsiapa berjalan bersama saudaranya untuk memenuhi kebutuhannya hingga terpenuhi, Allah akan mengokohkan kakinya pada hari dimana kaki-kaki terpeleset. Dan sesungguhnya akhlak yang buruk merusak amal seperti cuka merusak madu.” [[38]]

Wahai saudaraku muslim, berikut adalah beberapa amal kebaikan yang harus kita lakukan di bulan Ramadhan, dengan syarat hal itu tidak mengorbankan waktu beramal pada diri kita sendiri. Fokus utama di bulan Ramadhan dan bulan lainnya seharusnya pada amal-amal individual seseorang yang memenuhi hati dengan keimanan, yang nantinya akan mendorong kita sepanjang tahun untuk mencurahkan usaha dalam segala bentuk kebaikan, dakwah, kebajikan, dan silaturahmi.

Pertama: Berbuat Baik kepada Istri dan Anak-anak

Berbuat baik yang sesungguhnya kepada istri dan anak-anak adalah dengan menuntun tangan mereka ke jalan Allah dan berlomba-lomba dengan mereka dalam perlombaan menuju surga. Allah telah memerintahkan kita untuk itu, Allah berfirman:

﴿يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا ﴾ ( التحريم/66: 6-6)

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” [At-Tahrim: 6].

Kita harus memanfaatkan musim Ramadhan untuk meningkatkan keimanan dan perilaku baik mereka. Kita duduk bersama mereka menjelang datangnya bulan yang diberkahi ini, dan membuat program untuk masing-masing dari mereka yang memperhatikan aspek tali yang kokoh, yaitu – seperti yang telah kita bahas sebelumnya – keikhlasan beribadah kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama makhluk.

Kita juga harus mengatur waktu mereka agar mereka dapat melaksanakan kewajiban-kewajiban mereka, dan menyediakan tempat di rumah yang bisa dijadikan seperti masjid bagi mereka.

Hendaknya kita memiliki pertemuan harian bersama mereka – meskipun sebentar – dan memilih waktu yang sesuai untuk semua. Di dalamnya kita membaca bersama apa yang mudah dari Al-Qur’an dan mendengarkan pemikiran-pemikiran bermanfaat yang mereka utarakan.

Bersamaan dengan Al-Qur’an, kita juga harus mempelajari kitab yang bermanfaat lain seperti kitab hadits atau sirah, kemudian mengevaluasi hasil amal shalih hari itu, mendorong yang sudah baik dan memotivasi yang kurang, dan mengakhiri pertemuan dengan doa untuk diri kita dan kaum muslimin.

Kedua: Kedermawanan dan Kemurahan Hati

Ini adalah pintu besar dari pintu-pintu kebaikan yang harus kita masuki di bulan Ramadhan. Dari Ibnu Abbas berkata: “Nabi ﷺ adalah orang yang paling dermawan dalam kebaikan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan. Jibril menemuinya di setiap malam bulan Ramadhan sampai akhir bulan, Rasulullah ﷺ membacakan Al-Qur’an kepadanya, dan ketika Jibril menemuinya, beliau lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus. [[39]]

Mari kita tunjukkan kepada Allah kebaikan dari diri kita di bulan yang diberkahi ini, karena Allah mencintai orang-orang yang dermawan dan murah hati. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Maha Mulia dan mencintai kemuliaan, Maha Dermawan dan mencintai kedermawanan, dan Dia mencintai akhlak yang mulia dan membenci yang rendah.” [[40]]

Di antara sifat orang yang mulia dan dermawan adalah mereka memberi dari apa yang mereka miliki tanpa perhitungan, baik itu harta, ilmu, waktu, maupun tenaga.

Rasulullah ﷺ berpesan kepada Asma’ binti Abu Bakar dengan berkata: “Janganlah engkau menghitung-hitung (dalam bersedekah), karena Allah akan menghitung-hitung (rezeki) untukmu.” [[41]] Maknanya – seperti yang dijelaskan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari: “Larangan menahan sedekah karena takut habis, karena itu adalah sebab terbesar terputusnya keberkahan; karena Allah memberi pahala tanpa batas atas pemberian, dan siapa yang tidak dihitung (amalnya) saat pembalasan, maka tidak akan dihitung saat memberi.” [[42]]

Mari kita jadikan Ramadhan sebagai sarana untuk membiasakan diri dengan kemuliaan, kedermawanan, dan kemurahan hati. Janganlah kita kikir kepada Allah dengan harta, waktu, dan tenaga kita, dan marilah kita berkorban tanpa perhitungan.

Diriwayatkan dalam Syu’abul Iman oleh Baihaqi bahwa Yazid bin Marwan ketika mendapat harta, dia membungkusnya dalam kantong-kantong dan mengirimkannya kepada saudara-saudaranya sambil berkata: “Sesungguhnya aku malu kepada Allah untuk meminta surga untuk saudaraku, kemudian aku kikir kepadanya dengan dinar dan dirham.” [[43]]

Ketiga: Silaturahmi

Sebelum kita membahas kewajiban kita di bulan Ramadhan terhadap kerabat kita, saya mengajak pembaca untuk merenungkan hadits Nabi yang mulia ini agar kita mengetahui betapa kita telah lalai terhadap diri kita sendiri, dan zuhud terhadap kebaikan dunia dan akhirat.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk dipercepat hukumannya oleh Allah Ta’ala kepada pelakunya di dunia, di samping apa yang disimpan untuknya di akhirat, daripada memutus silaturahmi, khianat, dan dusta. Dan sesungguhnya amalan yang paling cepat mendapat pahala adalah silaturahmi, sampai-sampai sebuah keluarga yang berbuat maksiat, harta mereka akan berkembang dan jumlah mereka bertambah jika mereka menyambung silaturahmi.” [[44]]

Dan janganlah sebagian orang beralasan dengan adanya pemutusan dan permusuhan lama antara dia dan keluarganya serta kerabatnya. Seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki kerabat yang aku sambung hubungan dengan mereka tapi mereka memutuskannya, aku berbuat baik kepada mereka tapi mereka berbuat buruk kepadaku, dan aku bersabar terhadap mereka tapi mereka berbuat jahil kepadaku.” Beliau bersabda: “Jika benar seperti yang kamu katakan, maka seolah-olah kamu memberi mereka makan abu panas, dan Allah akan senantiasa menjadi penolongmu atas mereka selama kamu tetap seperti itu.” [[45]]

Keempat: Memberi Makan

Ini adalah pintu besar dari pintu-pintu kebaikan yang banyak dilalaikan orang. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya di surga ada kamar-kamar yang bagian dalamnya terlihat dari luarnya, dan bagian luarnya terlihat dari dalamnya.” Seorang Arab Badui bertanya: “Untuk siapa itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Untuk orang yang bertutur kata baik, memberi makan, dan shalat malam ketika orang-orang tidur.” [[46]]

Suhaib sering memberi makan dalam jumlah banyak. Umar berkata kepadanya: “Wahai Suhaib, engkau memberi makan terlalu banyak dan itu pemborosan harta.” Suhaib menjawab: “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Sebaik-baik kalian adalah yang memberi makan dan menyebarkan salam.’ Itulah yang mendorongku untuk memberi makan.” [[47]]

Ali berkata: “Sungguh memberi makan beberapa orang dari sahabatku satu sha’ makanan lebih aku sukai daripada aku pergi ke pasar membeli seorang budak lalu memerdekakannya.” [[48]]

Dan di antara bentuk terpenting dari hal itu adalah memberi makan kepada orang-orang miskin karena di dalamnya terdapat kebaikan yang besar. Rasulullah ﷺ bersabda kepada seorang laki-laki yang mengeluhkan kekerasan hatinya: “Jika engkau ingin hatimu menjadi lembut, maka berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” [[49]]

Marilah kita menyiapkan makanan berbuka untuk orang-orang fakir dan miskin, duduk bersama mereka, berbagi makanan dengan mereka, dan membuat mereka merasakan persaudaraan kita. Dan sambil mengingat mereka, kita jangan lupa saudara-saudara kita yang tertindas di banyak negara di dunia yang penduduknya menderita karena kezaliman, penindasan, kelaparan, dan kekurangan. Mari kita ingat kabar gembira dari Rasulullah ﷺ: “Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa itu.” [[50]]

Kelima: Mendamaikan Antara Manusia

Jika kita melihat sebab-sebab yang membuat orang berselisih, kita akan menemukan bahwa sebenarnya itu perkara kecil dan sepele, yang ditiup-tiup oleh setan hingga menyebabkan putusnya hubungan antara ayah dan anaknya, tetangga dengan tetangganya, dan teman dengan temannya. Dalam suasana beracun ini, prasangka meningkat, silaturahmi terputus, dan permusuhan diwariskan. Oleh karena itu, usaha untuk mendamaikan memiliki keutamaan yang besar. Allah Ta’ala berfirman:

﴿۞ لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَاحٍۢ بَيْنَ النَّاسِۗ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا ١١٤ ﴾ ( النساۤء/4: 114-114)

“Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.” [An-Nisa: 114]

Rasulullah ﷺ menjanjikan kepada orang yang melakukan pekerjaan mulia ini derajat yang lebih tinggi dari orang yang berpuasa, shalat malam, dan bersedekah, karena hal itu menyebarkan suasana kasih sayang dan cinta di antara anggota masyarakat. Rasulullah ﷺ bersabda: “Maukah aku beritahu kalian sesuatu yang lebih utama derajatnya dari puasa, shalat dan sedekah?” Mereka berkata: “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Mendamaikan perselisihan, karena rusaknya hubungan adalah pemutus (agama).” [[51]]

Mari kita mulai dari diri kita sendiri dengan memaafkan orang yang menzalimi kita, berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepada kita, dan jadilah teladan bagi orang lain dalam kesabaran, ketenangan, dan lapang dada.

Keenam: Memenuhi Kebutuhan Orang Lain

Di antara bentuk kebaikan yang agung adalah berusaha memenuhi kebutuhan orang lain. Dan karena orang yang berbuat baik adalah seseorang yang telah berupaya melayani orang lain karena cinta kepada Allah dan kasih sayang kepada makhluk-Nya, maka balasannya sesuai dengan amalnya. Rasulullah ﷺ bersabda: “Manusia yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Dan amalan yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah memasukkan kegembiraan ke dalam hati seorang muslim, atau menghilangkan kesusahannya, atau melunasi hutangnya, atau menghilangkan kelaparannya. Dan sungguh berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi kebutuhannya lebih aku sukai daripada beri’tikaf di masjid ini – yakni Masjid Madinah – selama sebulan. Dan barangsiapa menahan amarahnya, Allah akan menutupi aibnya. Dan barangsiapa menahan kemarahannya padahal jika dia mau dia bisa melampiaskannya, Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari kiamat. Dan barangsiapa berjalan bersama saudaranya untuk memenuhi kebutuhannya hingga terpenuhi, Allah akan menetapkan kakinya pada hari dimana kaki-kaki terguncang. Dan sesungguhnya akhlak yang buruk merusak amal seperti cuka merusak madu.” [[52]]

Adapun orang yang membantu janda dan orang miskin mendapat pahala khusus. Rasulullah ﷺ bersabda: “Orang yang membantu janda dan orang miskin seperti mujahid di jalan Allah, atau seperti orang yang shalat malam dan berpuasa di siang hari.” [[53]]

Sesungguhnya hadits-hadits ini tidak memerlukan reaksi komentar lagi selain dorongan untuk berusaha memenuhi kebutuhan orang lain dan berinisiatif memenuhinya. Hakim bin Hizam bersedih pada hari dimana dia tidak menemukan orang yang membutuhkan bantuan, dia berkata: “Tidaklah aku memasuki pagi hari tanpa ada orang yang membutuhkan di pintuku, kecuali aku tahu bahwa itu adalah musibah yang aku mohon pahala kepada Allah atasnya.” [[54]]

Ketujuh: Selamatkan Orang Lain

Iblis telah berhasil menyesatkan banyak manusia; mengalihkan mereka dari ibadah kepada Tuhan mereka dan menyibukkan mereka dengan perhiasan kehidupan dunia, dan menuntun mereka ke jalan yang membawa mereka ke neraka. Apakah kita membiarkan mereka begitu saja atau berusaha menyelamatkan mereka?! Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ ٣٣ ﴾ ( فصّلت/41: 33-33)

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?'” [Fussilat: 33].

Tidak ada cara untuk membangunkan orang-orang yang malang ini kecuali dengan mengajak mereka kepada Allah. Allah mendorong hamba-hamba-Nya yang beriman untuk melaksanakan tugas ini, menjadikan kedudukannya setara dengan kedudukan para nabi dan rasul, adapun pahalanya tidak terbatas.

﴿ قُلْ اِنِّيْ لَنْ يُّجِيْرَنِيْ مِنَ اللّٰهِ اَحَدٌ ەۙ وَّلَنْ اَجِدَ مِنْ دُوْنِهٖ مُلْتَحَدًا ۙ ٢٢ اِلَّا بَلٰغًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِسٰلٰتِهٖ٢٣ ﴾ ( الجن/72: 22-23)

Katakanlah, “Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan aku tidak akan memperoleh tempat berlindung selain-Nya. (Yang aku mampu lakukan) hanyalah menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya.” (Al-Jinn/72:22-23)

Maka, wahai saudaraku, apakah kita akan meraih kehormatan menjalankan tugas mulia ini dan berusaha menyelamatkan orang-orang di sekitar kita dari neraka?

Apakah kita akan memanfaatkan suasana Ramadan, di mana jiwa-jiwa menjadi lembut dan setan-setan terbelenggu?

Rasulullah ﷺ bersabda: “Demi Allah, jika Allah memberikan petunjuk kepada seseorang melalui tanganmu, itu lebih baik bagimu daripada apa yang terbit dan terbenam atasnya matahari.” [[55]]

Mari kita berusaha menjadi sebab hidayah dan keselamatan bagi orang lain.

Mari kita bangunkan yang lalai, berikan petunjuk kepada yang bingung, dan bimbing yang tersesat.

Mari kita mulai dari kerabat terdekat kita, berusaha menyadarkan mereka tentang hakikat dunia dan menarik mereka untuk bersama kita ke masjid.

Mari kita pilih beberapa orang yang rajin ke masjid di bulan Ramadan, lalu luruskan pemahamannya dan tunjukkan jalan yang benar menuju Allah.
Mari kita ulangi doa Rasulullah ﷺ: “Jadikanlah kami petunjuk yang diberi petunjuk.” [[56]]

 

Ringkasan Bagian Kedua

Kunci kebahagiaan dan porosnya berputar pada dua hal: ikhlas dalam beribadah kepada Allah dan berbuat ihsan kepada sesama makhluk. Bentuk-bentuk ihsan sangat banyak, dan kita harus berusaha melakukannya. Kita juga harus memanfaatkan suasana Ramadan untuk melatih diri dalam perilaku ini.

Di antaranya adalah:

  • Berbuat baik kepada istri dan anak-anak dengan selalu memantau mereka, membuat program yang membantu kemajuan mereka, serta meluangkan waktu setiap hari untuk duduk bersama mereka pada saat yang sesuai.
  • Bentuk ihsan lainnya adalah menyambung tali silaturahmi, memberi makan orang lain, terus berbagi dan memberi, membantu memenuhi kebutuhan orang-orang, mendamaikan mereka yang berselisih, dan mengajak mereka kepada Allah.

 

 

Aku Berjanji

Dan akhirnya, wahai saudaraku, setujukah engkau bahwa kita masing-masing perlu mengambil janji atas diri kita sendiri untuk melaksanakan hal-hal ini? Allah Ta’ala telah berfirman:

﴿ اِنْ يَّعْلَمِ اللّٰهُ فِيْ قُلُوْبِكُمْ خَيْرًا يُّؤْتِكُمْ خَيْرًا ٧٠ ﴾ ( الانفال/8: 70-70)

“Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, Dia akan memberimu yang lebih baik.” (QS. Al-Anfal: 70)

Rasulullah ﷺ juga bersabda dalam hadis: “Barang siapa mencari kebaikan, maka dia akan diberi kebaikan.” [[57]]

Semoga Allah ﷻ melihat kejujuran kita, lalu mengabulkan permohonan kita dan mewujudkan tujuan kita. Sebagaimana yang dikatakan: “Pertolongan datang sesuai dengan persiapan.”

Wahai saudaraku, sesungguhnya jiwa cenderung pada kemalasan dan kebiasaan santai. Semakin banyak istirahat yang diberikan, semakin banyak ia meminta. Bulan Ramadan hanyalah waktu yang terbatas, maka ambillah janji dari dirimu sendiri untuk melaksanakan tugas-tugas ini dengan kekuatan dan mintalah kepada Allah bantuan serta penerimaan-Nya.

Langkah-langkah Praktis:

  1. Jangan terlalu banyak tidur di siang hari.
  2. Jangan berlebihan dalam makan dan minum.
  1. Tidak terlalu banyak berbicara dan tertawa.
  2. Merenungkan isi Al-Qur’an dan mengulang bacaan yang sebelumnya dilakukan tanpa konsentrasi.
  3. Memperbanyak mengingat kematian.
  4. Memperpanjang waktu berada di masjid.
  5. Datang lebih awal ke shalat berjamaah.
  6. Menyiapkan tempat khusus di rumah untuk beribadah bagi istri dan anak-anak.
  7. Meluangkan waktu setiap hari bersama istri dan anak-anak untuk memantau kondisi mereka serta membaca buku yang bermanfaat.
  8. Melakukan shalat malam, berdoa, dan beristighfar di sepertiga malam terakhir (sebelum Subuh).
  9. Memanfaatkan waktu-waktu utama setiap hari dan tidak menyia-nyiakannya dengan tidur atau kelalaian.
  10. Memperbanyak doa dengan hati yang hadir, terutama di waktu-waktu yang mustajab.
  11. Membuat kotak sedekah di rumah dan memberikan sedekah setiap hari.
  1. Menghubungkan ibadah zikir dengan pemikiran dan berusaha menghadirkan hati sebanyak mungkin.
  2. Melakukan i’tikaf, meskipun hanya satu jam setiap hari, dan bersungguh-sungguh dalam i’tikaf pada sepuluh malam terakhir.
  3. Melakukan muhasabah (introspeksi) atas periode yang telah lalu dalam berbagai aspek kehidupan.
  4. Memperbanyak amal kebaikan.
  5. Memberi makan, terutama kepada kaum miskin.
  6. Berusaha membantu memenuhi kebutuhan orang lain.
  7. Memaafkan, bersikap sabar, dan memiliki kelapangan dada.
  8. Mengajak orang lain kepada Allah.

 

 

Program Saya di Bulan Ramadan

 

Saudaraku tercinta,

Kita semua memiliki kondisi dan kesibukan masing-masing. Agar hari-hari Ramadan tidak berlalu begitu saja tanpa hasil, saya mengusulkan agar kita menyusun program harian yang memanfaatkan langkah-langkah praktis sebelumnya sesuai dengan waktu dan situasi kita. Berikut ini adalah poin-poin usulan dalam bentuk pertanyaan yang bisa Anda jawab dan tambahkan sesuai kebutuhan:

Pertanyaan untuk Membuat Program Ramadan

  1. Bagaimana saya mengatur waktu untuk shalat lima waktu agar selalu berjamaah?
  2. Kapan waktu terbaik bagi saya untuk membaca Al-Qur’an setiap hari, dan berapa banyak yang ingin saya capai?
  3. Bagaimana saya menyisihkan waktu untuk merenungkan isi Al-Qur’an, bukan hanya membacanya?
  4. Berapa waktu yang saya luangkan untuk dzikir pagi dan petang?
  5. Kapan saya melaksanakan shalat malam, dan berapa lama waktu yang ingin saya gunakan untuk berdoa dan beristighfar di waktu tersebut?
  6. Bagaimana saya mengatur pola makan saat sahur dan berbuka agar tidak berlebihan?
  7. Apa target saya dalam meningkatkan hubungan dengan keluarga selama Ramadan (contoh: waktu khusus bersama istri dan anak-anak)?
  8. Bagaimana saya bisa memanfaatkan sepuluh hari terakhir Ramadan (contoh: i’tikaf atau memperbanyak ibadah)?
  9. Kapan waktu yang cocok untuk saya duduk di masjid setelah shalat berjamaah untuk berdzikir atau membaca Al-Qur’an?
  10. Bagaimana saya menyusun jadwal untuk kegiatan sedekah harian atau mingguan, termasuk membantu orang lain?
  11. Apa yang bisa saya lakukan untuk mengajak orang lain ke arah kebaikan atau dakwah?
  12. Bagaimana saya memanfaatkan waktu-waktu mustajab doa setiap hari, seperti menjelang berbuka atau di sepertiga malam terakhir?
  13. Apa amalan baik lainnya yang bisa saya tambahkan ke dalam program Ramadan saya (contoh: memberi makan orang miskin atau memperbanyak silaturahmi)?

Langkah Selanjutnya:

  • Tuliskan jawaban dari setiap pertanyaan ini sesuai dengan situasi dan prioritas Anda.
  • Susun jadwal harian berdasarkan jawaban-jawaban tersebut.
  • Evaluasi pelaksanaan program ini secara berkala agar Ramadan Anda benar-benar menjadi bulan yang penuh manfaat dan keberkahan.

Dan pada akhirnya,

Apakah engkau telah memahami, wahai saudaraku, apa yang kita inginkan dari Ramadan?

Kita memohon kepada Allah agar menerima puasa dan qiyam (shalat malam) kita, serta mengabulkan tujuan-tujuan mulia kita.

Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam.

 

Selesai terjemah: 25/11/2024.

[[1]] Diriwayatkan oleh Ahmad (12/421 no. 7451), At-Tirmidzi (5/550 no. 3545) dan berkata: hasan gharib, dan Ibnu Hibban (3/189 no. 908). “Raghima anfu” (celakalah) secara bahasa berarti hidung yang menempel ke tanah sebagai kiasan dari kehinaan.

[[2]] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (5/380 no. 4332), Ibnu Hibban dalam Shahihnya (16/389 no. 7381), Al-‘Azhamah oleh Abu Asy-Syaikh Al-Ashbahani (3/1104 no. 601).

[[3]] Diriwayatkan oleh Bukhari: (201) no. 52, dan Muslim: (3/1219 no. 1599)

[[4]] Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam kitab Al-Qadha wa Al-Qadar (no. 389) dan Az-Zuhd (hal. 356 no. 974). Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Al-Hakim dengan lafaz yang mendekati, yang menyebutkan ayat:

﴿فَمَنْ يُّرِدِ اللّٰهُ اَنْ يَّهْدِيَهٗ يَشْرَحْ صَدْرَهٗ لِلْاِسْلَامِ﴾ ( الانعام/6: 125-125)

“Maka barangsiapa yang Allah kehendaki untuk diberi petunjuk, Dia melapangkan dadanya untuk Islam.”

[[5]] Tafsir Al-Qurthubi (14/330-331).

[[6]] Majma’ Al-Zawaid karya Al-Haithami (2/880) diriwayatkan dari Al-Tabrani dalam Al-Kabir, dan Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Iqtida’ Al-‘Ilm Al-‘Amal (nomor: 71).

[[7]] Wahyu Al-Qalam (2/42).

[[8]] Syu’abu Al-Iman, (7/433).

[[9]] Sebagian dari hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Al-Mubarak dalam kitab Az-Zuhd (nomor: 134), Ahmad dalam kitab Al-Musnad (3/370, 57 nomor: 22350), dan At-Tirmidzi (4/60 nomor: 240).

[[10]] Diriwayatkan oleh Muslim (1/219 nomor: 251).

[[11]] Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain oleh Al-Hakim (2/329 nomor: 3177).

[[12]] Diriwayatkan oleh Bukhari: (1/96) nomor (445), dan Muslim: (1/459 nomor: 649).

[[13]] Diriwayatkan oleh Thabrani dalam Al-Kabir (2/126) nomor 1539), Ibnu Hibban: (1/329 nomor: 122), Al-Bazzar: Kasyful Astar (1/77 nomor: 120), dan Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (10/481).

[[14]] Mukhtashar Qiyam Al-Lail (hal. 148).

[[15]] Sumber yang sama (hal. 148).

[[16]]Miftah Dar As-Sa’adah karya Ibnul Qayyim (1/187), dan atsar tersebut diriwayatkan oleh Al-Ajurri dalam Akhlaq Ahlul Qur’an (nomor: 1).

[[17]] Ihya’ Ulumiddin (1/285).

[[18]] Ihya’ Ulumiddin (1/287).

[[19]] Telah disebutkan dengan karunia Allah contoh-contoh makna keimanan yang dapat dihadirkan selama membaca dalam buku “Membangun Iman melalui Al-Qur’an” yang tersedia untuk diunduh dan dibaca di situs Al-Iman Awwalan

[[20]] Kita bisa membaca dari mushaf yang memiliki catatan kaki dengan makna kata-kata, sehingga bisa melihat dengan cepat kata yang tidak saya pahami tanpa memutus bacaan.

[[21]] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (5/552, nomor: 3549) dan Ath-Thabrani (6/258, nomor: 6154).

[[22]] Qutul Qulub karya Abu Thalib Al-Makki (1/71)

[[23]] Rawa’i Iqbal karya Abul Hasan An-Nadwi (45, 46) – Darul Qalam – Damaskus.

[[24]] Dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu secara marfu’: “Barang siapa yang tertidur dari bacaan wirid malamnya, atau sebagian darinya, kemudian ia membacanya di antara waktu shalat subuh dan shalat zhuhur, maka akan dicatat baginya seakan-akan ia membacanya di malam hari.”

[[25]] Al-Mudhisy: 1/219.

[[26]] Tafsir Ibnu Rajab (1/532).

[[27]] Al-Mu’jam Al-Kabir Thabrani (19/233 no. 519), Majma’ Az-Zawaid wa Manba’ Al-Fawaid (10/231 no. 17712).

[[28]] Shahih Bukhari (1/16 no. 39).

[[29]] Ar-Raqa’iq karya Ar-Rasyid (Hal. 18), Penerbit Al-Resalah.

[[30]] Shahih Bukhari (3/26, No. 1901).

[[31]] Lathaif Al-Ma’arif karya Ibnu Rajab (Hal. 191).

[[32]] Jami’ At-Tirmidzi (5/517, No. 3479). Musnad Al-Bazzar (17/307, No. 10061). Mustadrak Al-Hakim (1/670, No. 1817). Hadis ini disahihkan oleh Al-Hakim sebagai hadis dengan sanad yang lurus, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

[[33]] Al-Bukhari dalam kitab “Ad-Da’awat” pada bab “Keutamaan Berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla” (11/208), dan Muslim dalam kitab tentang “Shalatnya Para Musafir dan Qashar Shalat” pada bab “Dikabulkannya Shalat Sunnah di Rumahnya dan Kebolehannya di Masjid” (1/539).

[[34]] “Al-Wabil Ash-Shayyib” dari “Al-Kalim Ath-Thayyib” (hal. 42).

[[35]] Sumber sebelumnya.

[[36]] Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’ (10/19).

[[37]] Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah seorang laki-laki melakukan suatu dosa, kemudian dia bangkit, berwudhu, lalu shalat, kemudian memohon ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuni dosanya.” (HR. At-Tirmidzi, Juz 5/228, No. 3006).

[[38]] Diriwayatkan oleh Thabrani (12/453) dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (6/348)

[[39]] Al-Bukhari (4997). Muslim (4/1803)

[[40]] Mākarim al-Akhlāq karya Ibnu Abi Dunya (19/1 no. 8)

[[41]] Al-Bukhari : 2/113. No: 1433.

[[42]] Fath al-Bari karya Ibnu Hajar, jilid 3 halaman 100.

[[43]] Syu’abul Iman 13/316. Mākarim al-Akhlāq karya Ibnu Abi Dunya hal: 71.

[[44]] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (4/276) nomor (4902), dan Tirmidzi (4/245 nomor: 2511), dan Ibnu Majah (2/1408 nomor: 4211), dan Ahmad (34/8 nomor: 20374) dengan sedikit perbedaan, Al-Jami’ As-Shaghir (nomor: 10642).

[[45]] Shahih Muslim (4/1982 nomor: 2558).

[[46]] Diriwayatkan oleh Ahmad (2/449 nomor: 1338), dan Ibnu Khuzaimah (3/306 nomor: 2136).

[[47]] Musnad Ahmad edisi Ar-Risalah (39/348 nomor: 23926), Hilyatul Auliya wa Thabaqatul Ashfiya (1/153).

[[48]] Al-Adab Al-Mufrad (1/199 nomor: 566) dengan sedikit perbedaan, Makarimul Akhlaq karya Thabrani (1/375 nomor: 171) dan lafazh ini miliknya.

[[49]] Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad (13/21 nomor: 7576), dan dinilai hasan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (11/151).

[[50]] Musnad Ahmad yang di-takhrij (28/261 nomor: 17033) dan ini adalah lafazh darinya, dan Sunan Ad-Darimi (2/1062 nomor: 1744), dan Ibnu Majah (1/555 nomor: 1746).

[[51]] Diriwayatkan oleh Ahmad (45/499 nomor: 27508), dan Abu Dawud (4/280 nomor: 4919), dan Sunan At-Tirmidzi (4/244 nomor: 2509) dan ini adalah lafazh darinya.

[[52]] Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani (12/453) dan Abu Nu‘aim dalam Al-Hilyah (6/348). Ucapan “Dan sesungguhnya akhlak yang buruk…” adalah tambahan dari Abu Nu‘aim.

[[53]] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (7/62, no. 5353) dan Muslim (4/2286, no. 2982).

[[54]] Siyar A‘lam An-Nubala’, cetakan Ar-Risalah (3/51).

[[55]] “Kitab ‘Jami’ al-Jawami”, yang juga dikenal sebagai ‘al-Jami’ al-Kabir’ karya as-Suyuti (6/529).

[[56]] Sunan an-Nasa’i (54/3) dengan nomor: 1305), dan Musnad Ahmad (30/260) dengan nomor: 18325.

[[57]] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam kitab Al-Hilm (43/1, no. 47), dan oleh Al-Khatib dalam Tarikh Baghdad (10/184, no. 4697) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu secara marfu’.”

Facebook Comments Box

Artikel Terjkait

PENJELASAN HUKUM-HUKUM DARI KITAB BULUGH AL-MARAM JILID 03 DARI 16
PENJELASAN HUKUM-HUKUM DARI KITAB BULUGH AL-MARAM JILID 04 DARI 16
PENJELASAN HUKUM-HUKUM DARI KITAB BULUGH AL-MARAM JILID 02 DARI 16
PENJELASAN HUKUM-HUKUM DARI KITAB BULUGH AL-MARAM JILID 01 DARI 16
PENYAKIT DAN OBATNYA
PENYEMBUHAN ORANG SAKIT Dalam Masalah-masalah Takdir, Qada, Hikmah, dan Alasan
PERJALANAN IMAN BERSAMA PRIA DAN WANITA YANG MASUK ISLAM
Pertengahan dalam Apa yang Dikatakan tentang Maulid Nabi antara Berlebihan dan Mengabaikan
Berita ini 8 kali dibaca

Artikel Terjkait

Rabu, 18 Februari 2026 - 07:27 WIB

PENJELASAN HUKUM-HUKUM DARI KITAB BULUGH AL-MARAM JILID 03 DARI 16

Rabu, 18 Februari 2026 - 07:26 WIB

PENJELASAN HUKUM-HUKUM DARI KITAB BULUGH AL-MARAM JILID 04 DARI 16

Rabu, 18 Februari 2026 - 07:25 WIB

PENJELASAN HUKUM-HUKUM DARI KITAB BULUGH AL-MARAM JILID 02 DARI 16

Rabu, 18 Februari 2026 - 07:24 WIB

PENJELASAN HUKUM-HUKUM DARI KITAB BULUGH AL-MARAM JILID 01 DARI 16

Rabu, 18 Februari 2026 - 07:23 WIB

PENYAKIT DAN OBATNYA

Artikel Terbaru

Fikih

MENGUTAMAKAN QADHA PUASA RAMADHAN DARIPADA PUASA SYAWWAL

Minggu, 29 Mar 2026 - 15:02 WIB

Fikih

MENYEMPURNAKAN RAMADHAN DENGAN PUASA SYAWWAL

Minggu, 29 Mar 2026 - 14:46 WIB

Ibadah

Istiqomah Pasca Ramadhan

Jumat, 27 Mar 2026 - 16:30 WIB

Dakwah

Ujian: Surat Cinta yang Mengajak Kembali ke Pelukan Ilahi

Jumat, 27 Mar 2026 - 16:25 WIB

Dakwah

Rahasia Terbukanya Pintu Rahmat

Rabu, 25 Mar 2026 - 14:45 WIB