AN-NABA’ AL-AZIM (BERITA BESAR)
Pandangan Baru tentang Al-Qur’an Al-Karim
ٱلنَّبَأُ ٱلْعَظِيمُ، نَظَرَاتٌ جَدِيدَةٌ فِي ٱلْقُرْآنِ ٱلْكَرِيمِ
Penulis:
Muhammad bin Abdullah Draz (wafat: 1377 H – 1958 M)
Penerjemah:
Muhamad Abid Hadlori, S.Ag., Lc.
Mukadimah Edisi Kedua Buku Ini
Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Al-Kitab kepada hamba-Nya sebagai petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berakal. Shalawat dan salam kepada Nabi yang taat kembali kepada Allah, penyampai Al-Kitab, dan kepada keluarga serta para sahabat, shalawat yang kekal hingga hari perhitungan, dan semoga dengan shalawat itu kami mendapat kedekatan dan tempat kembali yang baik di sisi Allah. Amma ba’du:
Sungguh, Allamah Dr. Daraz rahimahullah telah meninggalkan berbagai karya tulis yang beragam, namun yang paling terkenal adalah “An-Naba'”. Buku ini tetap menjadi pengenal bagi Daraz, dan generasi demi generasi terus mengenal Daraz melalui “An-Naba'”. Mereka mungkin cukup dengan buku ini, atau mungkin masuk ke dalam kecemerlangan “Daraz” melalui buku ini.
Tidaklah berlebihan jika kami katakan: bahwa buku ini adalah kebanggaan dari kebanggaan zaman kita dalam penulisan.
Kita dapat mencari rahasia keistimewaan buku ini dan pencapaiannya pada kedudukan ini. Tidak diragukan bahwa keterikatan buku ini dengan Al-Qur’an Al-Majid yang terpelihara, bersama keikhlasan pengarangnya – sejauh yang kami duga – memiliki pengaruh dalam pemanfaatan orang-orang terhadapnya. Setelah itu kami katakan:
Pertama: Sesungguhnya kepribadian orang ini dan keterikatan permanennya dengan Al-Qur’an Al-Karim memiliki pengaruh besar dalam penulisan bukunya. Orang ini membaca (enam juz dari Al-Qur’an setiap hari!). Ia adalah sahabat yang akrab dan yang dicintai, pencinta yang penyayang, membimbing dengan cintanya sebagaimana ia menjelaskan dengan hujahnya. Ia memiliki kepribadian yang zahid dan tenang, iman yang kuat dan mendalam, menjauh dari dunia dan kemegahannya, berpaling dari materi dan pesonanya, menyibukkan dirinya dengan amal shalih yang kekal. Kamu tidak akan melihatnya ketika menyendiri kecuali sedang berdzikir kepada Allah atau membaca kitab-Nya. Jika kita merenungkan semua karya ilmiah orang ini, kita akan mendapatinya berkisar tentang Al-Qur’an dan dalam pelayanannya. Jika kamu mendengarkan ceramah-ceramahnya di radio tentang Al-Qur’an, kamu akan mendapati hati yang berdebar berbicara tentang Al-Qur’an dengan pembicaraan orang yang mengetahuinya dan mencintainya.
Kedua: Sungguh Al-Qur’an memiliki pengaruh mendalam terhadap gaya dan tulisan Syaikh. Lihatlah misalnya perkataannya dari An-Naba’: “Pernahkah kamu melihat empat tahapan yang ditempuh Al-Qur’an dalam berdakwah kepada Bani Israil, bagaimana ia mengurutkannya tahap demi tahap, dan bagaimana ia berjalan dalam setiap tahapannya langkah demi langkah.
Kembalikanlah pandangan sekali lagi kepada tahapan terakhir ini, untuk melihat bagaimana ia menggunakan posisinya ini untuk mewujudkan dua tujuan yang berbeda, dan menjadikannya mata rantai penghubung antara dua maksud yang berjauhan.
Maka bertemulah kedua maksud itu padanya atas suatu perkara yang telah ditentukan.
Tidakkah kamu lihat bagaimana ia memulainya dengan menceritakan kepada orang-orang beriman perkataan musuh-musuh mereka tentang sebagian kebenaran Islam, dan ia sengaja menuju kebenaran-kebenaran yang mereka perdebatkan itu, lalu ia mulai menghapus debu keraguan dari wajahnya hingga ia menampakkannya putih bersih bagi yang memandang.”
Demikianlah Syaikh melanjutkan dengan gaya dari orang yang Al-Qur’an telah bercampur dengan hati dan akalnya, hingga ia telah terwarnai dengan kosakatanya dan mengambil dari cahaya-cahayanya apa yang tampak dalam bukunya yang tertulis.
Bahkan hal itu tampak dalam tulisan-tulisannya yang lain. Ia berkata dalam surat kepada seorang temannya: “Saudaraku yang terkasih, semoga Allah membahagiakan waktumu dan menjauhkan tahun-tahunmu dariku. Demi Allah, sungguh kenangan tentangmu telah membuatku terjaga di tempat tidurku, membuatku lalai dalam studiku, dan merampas dariku sebagian waktu yang sangat aku butuhkan untuk menghabiskannya pada yang bermanfaat bagiku dan tidak membahayakanku dengan membangkitkan yang tersembunyi di dada dan menumpahkan darah hati, jika bukan karena takdir yang telah ditetapkan, dan yang ditakdirkan telah dipastikan, dan Allah adalah Hakim yang paling bijaksana.
Telah diputuskan perkara itu, dan telah terlaksana keputusan dengan perpisahan ini, dan dihalangi antara dua jasad untuk bertemu, dan antara dua hati untuk memperoleh bagian mereka dari nikmatnya kedekatan. Namun tahukah aku, apakah dari hikmah meninggalkan sebagian jika tidak dapat meraih keseluruhan?! Dan apakah pena harus kering ketika kaki telah terkekang?! Tidak! Demi Allah, sungguh kerinduan sangat mendalam kepada hembusan dari hembusan pena kalian yang sesungguhnya adalah bangkitan dari bangkitan kemanusiaan kalian yang penuh kasih agar menyembuhkan hati yang telah dibelah zaman menjadi dua bagian, dan tidak ada obat baginya kecuali balsam surat kalian yang menyembuhkan insya Allah Ta’ala. Jika kalian ingin mewujudkan harapan-harapan saudara yang lambungnya menjauh dari tempat tidur, maka lakukanlah, dan jika tidak maka aku tidak mampu mencari terowongan di bumi atau tangga di langit.”
Begitulah seharusnya keterikatan dengan Al-Qur’an! Dan begitulah “An-Naba'” muncul.
Aku telah menaruh perhatian pada buku ini, dan telah dicetak beberapa kali dengan pujian kepada Allah Ta’ala. Kemudian terlintas dalam pikiranku untuk memperbarui pandangan terhadapnya setelah datangnya sejumlah koreksi dari para pembaca yang mulia. Maka aku lakukan hal itu dengan pujian kepada Allah dan pertolongan-Nya, melalui langkah-langkah berikut:
Pertama: Aku memberikan mukadimah untuk buku ini dengan beberapa mukadimah:
Yang pertama: Dalam memperkenalkan Syaikh pengarang. Aku sengaja mengabaikan biografinya dalam edisi pertama karena kemasyhurannya dan banyaknya orang yang menerjemahkan biografinya. Dalam edisi ini aku merangkum maksud-maksud biografinya, sebagai respons terhadap sejumlah pembaca mulia yang menginginkan hal itu.
Yang kedua: Merangkum maksud-maksud buku dan memaparkan dalil-dalilnya tanpa detail, agar sesuai dengan kalangan pembaca yang lebih luas, dan menjadi bantuan bagi mereka untuk memahami benang merah buku ini.
Yang ketiga: Menjelaskan sikap kelompok-kelompok Islam terhadap Al-Qur’an yang agung, dan menyebutkan sebagian dalil akal untuk menafikan tahrif (perubahan) dari Al-Qur’an Al-Majid, agar seorang Muslim mengetahui kesepakatan umat Islam tentang keagungan kitab ini, dan kami sebutkan segi-segi perhatian mereka terhadap kitab Tuhan mereka yang diturunkan-Nya untuk membimbing mereka sebagai cahaya dan rahmat bagi kaum yang berakal.
Yang keempat: Meringkas buku “Madkhal ila Al-Qur’an” karya pengarang, karena ia terkait dengan buku kita dan melengkapi sebagian aspeknya, serta serupa dengannya dalam penyajian.
Yang kelima: Aku cantumkan mukadimah Syaikh untuk buku “Az-Zahirah Al-Qur’aniyyah” karya guru besar Malik bin Nabi. Mukadimah ini terkait dengan topik buku dan di dalamnya terdapat isyarat-isyarat baik yang patut diperhatikan.
Kedua: Aku mengoreksi buku ini berdasarkan cetakan-cetakannya yang paling benar, dan aku mengandalkan cetakan “Dar Ats-Tsaqafah” sebagai asli karena ia paling sedikit kesalahannya dari segi kesalahan, dan karena ia bebas dari campur tangan dalam teks sebagaimana terjadi pada banyak cetakan buku ini.
Dan aku koreksi beberapa teks dari cetakan “Dar Al-Qalam” dengan perhatian Syaikh yang mulia Mustafa Fadliyah. Ia adalah orang yang sangat menaruh perhatian pada buku-buku Syaikh Daraz, biografinya, dan studi-studinya… dan lain-lain yang terkait dengan Syaikh rahimahullahu.
Aku juga mengandalkan cetakan “Dar Taibah” dengan koreksi Syaikh Abdul Hamid Ad-Dakhakhini. Ini adalah cetakan yang beredar pada suatu periode di kalangan penuntut ilmu dan mereka saling berwasiat dengannya.
Ketiga: Aku melakukan takhrij ulang hadits-hadits dalam buku ini secara lengkap. Takhrij dalam seluruh buku ini adalah dariku, meskipun aku tidak mengingatkan hal itu di beberapa tempat.
Keempat: Aku jelaskan apa yang mungkin menjadi masalah dari perkataan Syaikh rahimahullah.
Kelima: Aku tambahkan di margin buku ungkapan-ungkapan penjelasan untuk kandungan paragraf-paragraf buku, dan aku tidak campur tangan dalam inti buku dengan apapun.
Dalam penutup pengantar ini, aku ingin mempersembahkan karya ini kepada orang pertama yang aku dengar darinya nama Syaikh Daraz, dan aku mengenal darinya buku besar ini. Aku mengenal Syaikh Daraz pertama kali melalui bukunya “Al-Mukhtar min Kunuz As-Sunnah”, kemudian bukunya yang aku banggakan untuk memberikan pengantar dan menaruh perhatian padanya “An-Naba’ Al-Azim” dari guruku, yang kedudukannya bagiku seperti ayahku: Abu Abdullah Ahmad bin Ahmad Al-Aisawi, semoga Allah menjaganya, menyempurnakan nikmat-Nya padanya dan meridhainya.
Aku mohon kepada Allah agar menerimanya dengan penerimaan yang baik, dan agar bermanfaat bagi penuntut ilmu dan ahlinya. Sungguh aku berharap agar tidak ada seorangpun yang melihat kesalahan dalam buku ini – dariku -, atau sesuatu yang baik untuk dikemukakan menggantikan sesuatu, agar segera memberitahuku. Aku akan berterima kasih padanya, dan aku akan mengikuti nasihatnya – insya Allah. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Ditulis oleh: Amr Subhi Ali Asy-Syarqawi amr.alsharqawi@gmail.com
Mukadimah Pertama: Mengenal Pengarang
Mukadimah tentang Pentingnya Mengenal Para Tokoh:
Ibn Abd Al-Barr (wafat: 463) berkata tentang biografi para tabiin dan imam-imam Muslim: “Dan orang-orang telah mengumpulkan keutamaan mereka dan menaruh perhatian pada biografi dan berita-berita mereka. Barangsiapa membaca keutamaan mereka dan keutamaan Malik dan keutamaan Asy-Syafi’i dan keutamaan Abu Hanifah setelah keutamaan para sahabat dan tabiin radhiyallahu ‘anhum dan menaruh perhatian padanya, serta mengetahui biografi mulia mereka dan berusaha mencontoh mereka, menempuh jalan mereka dalam ilmu, sikap dan petunjuk mereka, maka itu adalah amal yang suci baginya. Semoga Allah Azza wa Jalla memberikan manfaat kepada kita dengan cinta kepada mereka semua.”
Ibn Ash-Shalah (wafat: 643) berkata: “Dan kami telah meriwayatkan dari Muslim bin Al-Hajjaj pemilik (Ash-Shahih) radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: Sesungguhnya hal pertama yang wajib bagi pencari ilmu dan penuntutnya adalah mengetahui tingkatan para ulama dalam ilmu, dan kelebihan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mengenal orang-orang khusus adalah ikatan dan nasab, dan itu pada hari kiamat adalah wasilah untuk mendapat syafaat mereka dan sebabnya, dan karena seorang alim terhadap orang yang mengambil ilmunya berkedudukan seperti ayah bahkan lebih mulia, maka jika ia tidak mengenalnya maka ia seperti orang yang tidak mengenal ayahnya bahkan lebih sesat.
Demi hidupku, sesungguhnya orang yang bertanya kepada para fuqaha tentang Al-Muzani dan Al-Ghazali misalnya, lalu tidak dapat menunjukkan jarak jauh antara keduanya dari segi waktu dan kedudukan; adalah orang yang dinisbatkan kepada kekurangan pada apa yang membuatnya sedih, dan dari kelemahan pada apa yang merendahkannya.”
Ibn Al-Jauzi (wafat: 597) berkata: “Maka demi Allah, demi Allah, dan atas kalian untuk memperhatikan biografi para salaf, dan menelaah karya-karya dan berita-berita mereka. Banyak menelaah buku-buku mereka adalah melihat mereka, sebagaimana dikatakan:
Aku terlewatkan untuk melihat negeri dengan mataku … Mungkin aku melihat negeri dengan pendengaranku.”
An-Nawawi (wafat: 676) berkata: “Dan ini termasuk hal-hal penting yang diinginkan, dan mutiara-mutiara mulia yang patut diketahui oleh mutafaqqih dan faqih, dan memalukan baginya ketidaktahuan terhadapnya. Karena guru-gurunya dalam ilmu adalah ayah-ayah dalam agama, dan penghubung antara dirinya dengan Tuhan semesta alam. Bagaimana tidak memalukan ketidaktahuan terhadap [sanad] dan wasilah antara dirinya dengan Tuhannya Yang Mulia Maha Pemberi, padahal ia diperintahkan untuk mendoakan mereka, berbakti kepada mereka, menyebutkan kebaikan mereka, memuji mereka, dan berterima kasih kepada mereka.”
Ibn Taimiyah (wafat: 728) berkata: “Dan kesempurnaan tidak terjadi kecuali dengan ilmu, kemampuan dan keinginan yang asalnya adalah cinta. Dimana seseorang merasa nikmat dengan ilmu, maka pasti ada cinta terhadap apa yang ia nikmati.
Terkadang yang diketahui itu dicintai sehingga ia merasa nikmat dengan mengetahuinya dan menyebutkannya, sebagaimana orang-orang beriman merasa nikmat dengan mengenal Allah dan menyebut-Nya, bahkan mereka merasa nikmat dengan menyebut para nabi dan orang-orang shalih. Karena itulah dikatakan: Ketika menyebut orang-orang shalih turunlah rahmat, karena apa yang terjadi dalam jiwa berupa gerakan untuk mencintai kebaikan, menginginkannya, bergembira dengannya, senang dan nikmat. Dan perkara-perkara universal, jiwa suka mengetahuinya karena di dalamnya terdapat penguasaan yang mengantarkannya untuk mengenal hal-hal yang tertentu.”
Kunci Kepribadian: (Bersahabat dengan Wahyu)
Ahmad Hasan Az-Zayyat (wafat: 1968) berkata: “Dua orang yang membingungkan penulis jika ia berusaha menulis tentang mereka: orang yang ia tidak dapat menemukan apa yang harus dikatakannya tentangnya, dan orang yang ia tidak dapat meringkas apa yang diketahuinya tentangnya.”
Tidak diragukan bahwa Allamah Dr. Muhammad Daraz (wafat: 1377 – 1958) termasuk tipe kedua.
Cukup bagi kita untuk mengetahui besarnya kepribadian ini bahwa namanya telah terkait dengan Al-Qur’an, dan manusia mengambil dari cahaya-cahaya Al-Qur’an Al-Majid sesuai dengan hubungannya dengannya.
Allamah Dr. Daraz senantiasa terhubung dengan wahyu, Al-Qur’an dan Sunnah.
Adapun Al-Qur’an Al-Majid, sahabatnya Allamah besar Syaikh Muhammad Abu Zahrah (wafat: 1974) berkata tentangnya: “… kemudian masing-masing dari kita pergi ke tempat tidurnya setelah ia mengimami kita dalam shalat Isya, tetapi ia melanjutkan shalawat-shalawatnya. Ia mengurangi tidur, tidurnya sedikit seperti tidur para nabi, kemudian ia bangun malam untuk shalat tahajjud, atau membaca Al-Qur’an. Ia radhiyallahu ‘anhu telah membiasakan dirinya membaca seperenam Al-Qur’an setiap hari. Kamu tidak akan melihatnya ketika menyendiri kecuali sedang shalat atau membaca Al-Qur’an.”
Itulah kehidupan Syaikh: untuk Al-Qur’an, dan bersama Al-Qur’an. Karena itu Allah kekalkan namanya, dan melanggengkan hubungan orang-orang generasi demi generasi dengan tulisan-tulisannya, mereka mengambil manfaat darinya dan menimba darinya.
Adapun Sunnah, ia berkata tentang dirinya: “Aku meriwayatkan Shahih Al-Bukhari, dan sebagian besar Shahih Muslim, melalui jalur guru-guru kami orang Mesir dengan bacaan dari mereka, dan aku mendengar.
Adapun kitab-kitab Sunnah lainnya, melalui ijazah tulisan dari ulama Maghrib As-Sayyid Muhammad Abdul Hayy Al-Kattani, muhaddits terkenal, ketika ia melewati negeri Mesir dalam perjalanannya ke haji, dan melalui ijazah dan munawwalah serta muqabalah naskah-naskah dan pembacaan untuk sebagian dan mendengar untuk sebagian yang lain dari guru besar kami, qari muhaddits ushuli faqih sastrawan, yang menggabungkan sanad-sanad Masyriq dan Maghrib, Syaikh Muhammad Habibullah Asy-Syinqithi yang tinggal di Mesir sejak beberapa tahun.”
Asal-Usul
Syaikh lahir pada tahun 1894 di desa Mahallat Diyai yang termasuk dalam Provinsi Kafr asy-Syaikh, yang terletak di ujung utara Mesir di Delta Sungai Nil.
Ayahnya adalah Syaikh Abdullah Daraz (wafat: 1932), seorang ulama ushul, yang berguru kepada sejumlah tokoh besar zamannya, di antaranya Syaikh Muhammad Abduh (wafat: 1905), Syaikh Salim al-Bisyri (wafat: 1917), dan Syaikh Muhammad Bakhit al-Muti’i (wafat: 1935). Beliau telah mentahqiq dan mensyarah kitab “al-Muwafaqat” karya Abu Ishaq asy-Syatibi (wafat: 790), dan mengawasi penerbitan yang dilakukan oleh putranya.
Syaikh Abdullah Daraz “menjadikan rumahnya dengan adab-adab takwa; beliau menjadi imam bagi keluarganya dalam shalat Isya dan Subuh, membaca Shahih Bukhari di malam-malam Ramadan, dan memperhatikan pendidikan anak-anaknya, membiasakan mereka dengan sunnah-sunnah kebaikan berupa shalat, puasa, zakat, cinta kepada kebaikan, dan menjauhi kehinaan.”
Dan putranya mengambil darinya “kecintaannya kepada Kitab Allah, mengambil darinya kewajiban membaca enam juz setiap hari, dan beliau tidak pernah meninggalkan ibadah ini sehari pun, dan kamu tidak akan melihatnya kecuali sedang membaca Al-Quran. Bacaan seorang ulama pemikir seperti beliau terhadap wirid harian ini, pasti akan membukakan baginya apa yang menerangi bashirahnya dan memberikan bekal yang paling lezat.”
Syaikh menghafal Al-Quran dan menghapal beberapa matan ilmiah yang terkenal pada zamannya, kemudian bergabung dengan Al-Azhar asy-Syarif. Beliau selalu unggul dalam ujian-ujian tahunannya dan meraih Syahadah Alamiyyah pada tahun 1916. Beliau diangkat menjadi guru di Al-Azhar karena mendapat peringkat pertama dalam ujian, dan belajar bahasa Prancis serta menguasainya dalam tiga tahun.
Burung Hud-hud Kaumnya
Syaikh bepergian ke Prancis pada tahun 1936 bersama delegasi yang dipilih untuk bepergian, dan tinggal di sana lebih dari sepuluh tahun serta memperoleh gelar doktor dalam disertasinya yang terkenal: “Dustur al-Akhlaq fi al-Quran” (Konstitusi Akhlak dalam Al-Quran).
Syaikh Abu Zahrah (wafat: 1974) berkata: “Sungguh Dr. Muhammad Abdullah Daraz meninggalkan kami ke Eropa sebagaimana yang lain meninggalkan kami, dan beliau menetap di Prancis selama yang Allah kehendaki. Masa tinggalnya lebih lama dari yang lain, dan lebih produktif. Beliau tinggal di sana sekitar dua belas tahun dan meraih gelar ilmiah tertinggi di sana.
Beliau kembali setelah perjalanan yang panjang, berat, dan melelahkan ini. Kami mengira akan menemukan perubahan pada penampilan, pakaian, kebiasaan, atau ketaqwaannya, sebagaimana yang kami lihat pada sebagian orang yang pergi dan tinggal seperti beliau. Namun kami mendapatinya seperti yang kami tinggalkan dalam akhlak, agama, dan keimanan. Beliau membuktikan dengan itu kesucian substansinya, karena logam yang baik dipoles oleh pengalaman dan diasah oleh peristiwa tanpa rusak dan usang.
Beliau semakin berpegang teguh pada agamanya dan semakin tegas di dalamnya, bertambah keindahan, cahaya, dan keagungan.
Hubungan batin saya tidak pernah terputus dengan saudara yang cerdas itu sejak kami saling kenal, meski beliau menghilang dari saya beberapa waktu. Kami bertemu setelah kepergian, dan kegembiraan pertemuan menghilangkan masa perpisahan, seolah-olah melipatnya atau menghapusnya.”
Dr. as-Sayyid Muhammad Badawi, menantunya, berkata: “Saya bersama mahasiswa-mahasiswa Arab di Paris mencari perlindungan di bawah naungan guru yang mulia ini ketika kami membutuhkannya di saat kesulitan. Beliau mengumpulkan kami di rumahnya dalam acara-acara keagamaan dan nasional untuk membuat kami merasakan suasana keluarga yang kami rindukan karena jauh dari tanah air.
Kami mendapatkan keramahan Arab di sisinya dan menikmati pembicaraan serta diskusinya dalam urusan agama, ilmu, dan politik.
Beliau rahimahullah tidak merasa sempit dengan pendapat-pendapat ekstrem yang kadang kami kemukakan, bahkan membantahnya dengan jiwa ulama yang tercerahkan, dengan toleransi dan lapang dada. Beliau terus bersama kami hingga meyakinkan kami dengan sudut pandangnya yang berdasarkan dalil ilmiah dan logis.”
Perjalanannya di Prancis bukanlah perjalanan yang mewah, bahkan Syaikh mengalami kesulitan dan bersabar. Dr. as-Sayyid Badawi, menantunya, berkata tentang disertasinya “Dustur al-Akhlaq fi al-Quran al-Karim”: “Penulisan disertasi ini memakan waktu sekitar enam tahun.
Tampaknya ulama yang mulia ini memulainya pada tahun 1941 setelah berakhirnya kampanye Prancis, dan kembali ke Paris setelah satu tahun yang dihabiskan di Bordeaux – barat daya Prancis ketika tentara Nazi mendekati ibu kota Prancis dan keruntuhannya hampir terjadi. Jika kita tambahkan enam tahun ini dengan lima tahun sebelumnya yang dihabiskan guru dalam mengenal metodologi ilmu-ilmu di Barat dan mempersiapkan gelar lisensi, maka beliau telah menghabiskan antara persiapan dan pelaksanaan proyeknya sekitar sebelas tahun.
Ini bukanlah periode yang panjang jika kita pertimbangkan tahun-tahun perang yang sulit yang mengelilinginya, dan masalah-masalah material dan psikologis yang ditimbulkan perang ini yang ditanggung oleh guru, dan beliau berusaha menjauhkannya dari keluarga besarnya yang menemaninya dalam pengasingan.
Saya ingat beliau terpaksa – selama serangan Sekutu untuk membebaskan Prancis – menghabiskan hari-hari panjang bersama keluarganya di bunker bawah tanah, beliau mengumpulkan kertas-kertasnya yang sangat beliau jaga dan bekerja di tengah bom-bom yang meledak di sekelilingnya, dengan cahaya lilin atau lampu redup.
Diskusi disertasi berlangsung di hadapan komisi yang terdiri dari lima profesor Sorbonne dan College de France pada 15-12-1947.”
Penerang Cahaya
Syaikh rahimahullah mewakili Al-Azhar dalam berbagai konferensi internasional; di antaranya ceramahnya tentang perdamaian dan Islam dalam konferensi agama-agama di Paris tahun 1939, mewakili mashyakhah dalam konferensi hukum internasional di Paris tahun 1951 dengan penelitiannya tentang riba, dan konferensi terakhir yang beliau wakili untuk Al-Azhar adalah konferensi agama-agama dunia di Lahore, Pakistan tahun 1958, dengan penelitiannya yang disampaikan tentang: “Posisi Islam terhadap Agama-agama Lain dan Hubungannya dengan Mereka.” Itu adalah ceramah terakhirnya; karena beliau memenuhi panggilan Tuhannya selama berlangsungnya konferensi dan sebelum menyampaikan pidatonya karena serangan jantung mendadak, yaitu pada Januari 1958. Jenazahnya kembali ke Mesir, dan pemakamannya dihadiri setelah dishalatkan di Masjid al-Azhar. Mahmud Syaltut (wafat: 1963) berkata tentang Syaikh: “Sungguh telah mati penerang cahaya yang memadamkan penerang-penerang kebodohan.”
Inti Sari
“Penting untuk mengingatkan pembaca yang belum berpengalaman dengan karya-karya Daraz bahwa inti pemikirannya terdapat dalam empat kitab yaitu (Dustur al-Akhlaq fi al-Quran), (ad-Din), (an-Naba’ al-Azhim), dan (Madkhal ila al-Quran al-Karim).
Dalam karya-karya ini Daraz mencurahkan jiwa dan akalnya, sehingga karya-karya ini mencukupi bagi yang bukan spesialis dari karya lainnya, dan selain ini dari karya-karya Daraz hanyalah pengembangan dan penjelasan dari ide-ide besar yang terdapat dalam empat kitab ini.
Sebagaimana kitab-kitab ini – bersama (al-Mukhtarat min Kunuz as-Sunnah), dan (al-Mizan baina as-Sunnah wa al-Bid’ah) adalah yang diberi judul oleh Daraz, adapun selain itu adalah kumpulan artikel dan ceramah yang berserakan, dan para pengumpulnya telah memberikan judul-judul dari inisiatif mereka sendiri.”
Pengantar Kedua
Penguatan Maksud-Maksud Kitab “an-Naba’ al-Azhim”
Yang dimaksud dengan Al-Quran dalam pembahasan kita adalah: “Kitab Allah, yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, yang terpelihara di antara dua sampul, yang dinukilkan kepada kita dari generasi ke generasi, dan yang ditantangkan dengan surat terpendek darinya.”
Dalam Al-Quran sendiri telah dijelaskan sumbernya, dan bahwa itu adalah kalam Allah yang dibawa oleh Muhammad bin Abdullah shallallahu alaihi wa sallam, dan tidak ada bagi Muhammad alaihish shalatu was salam dalam Al-Quran selain:
- Kesadaran dan hafalan, kemudian
- Penyampaian dan tabligh, kemudian
- Penjelasan dan tafsir, kemudian
- Penerapan dan pelaksanaan.
[Ringkasan Hujjah-hujjah dalam Kitab]
Kita dapat membagi hujjah-hujjah tentang sumber Al-Quran menjadi dua bagian:
- Hujjah-hujjah eksternal. Yang kami maksud dengannya: penelitian tentang Al-Quran dari luarnya, bukan dari substansinya.
- Hujjah-hujjah internal. Yang kami maksud dengannya: penelitian tentang Al-Quran dalam substansinya.
Bagian Pertama: Hujjah-hujjah Eksternal
Hujjah Pertama: Pengakuan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bahwa Al-Quran bukan dari dirinya
[Pengakuan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bahwa Al-Quran bukan dari dirinya]
Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah mengakui atas dirinya bahwa Al-Quran yang dibawanya bukan dari perkataannya, melainkan wahyu dari Tuhannya kepadanya.
Kekuatan hujjah pengakuan ini adalah: bahwa Al-Quran telah mengalahkan orang Arab dan mereka tidak mampu menghadapinya. Maka kepentingan menuntut agar Muhammad shallallahu alaihi wa sallam menisbahkan Al-Quran kepada dirinya, agar kepemimpinannya laku dan kedudukannya terangkat di mata kaum tersebut, namun beliau tidak melakukannya, dan jauh dari beliau untuk melakukannya!
Dan beliau tidak melakukannya karena beliau adalah orang yang jujur dan terpercaya, dan beliau tidak akan meninggalkan kedustaan kepada manusia lalu berdusta kepada Allah.
Jika ada yang berkata: Beliau tidak melakukan itu kecuali untuk menarik lebih banyak pengikut dengan menisbahkan perkataan ini kepada Tuhan, dan mengundang bagi dirinya ketaatan dan kekuasaan.
Maka kami katakan: Perkataan ini rusak dari dua sisi:
Sisi pertama: Bahwa Muhammad alaihish shalatu was salam telah mengeluarkan perkataan yang dinisbahkannya kepada dirinya, dan perkataan yang dinisbahkannya kepada Tuhannya. Al-Quran mewajibkan kepada manusia ketaatan kepada Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dan menjadikan ketaatan kepadanya dari ketaatan kepada Allah Ta’ala. Mengapa beliau tidak menjadikan semua perkataannya sebagai kalam Allah sebagaimana yang dikatakan pembicara ini.
Sisi kedua: Bahwa perkataan ini dibangun atas asumsi yang batil, yaitu: bahwa Muhammad shallallahu alaihi wa sallam telah membolehkan bagi dirinya untuk mencapai tujuannya, meskipun dengan kedustaan dan tipu daya.
Dan ini batil; karena sirah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan keadaannya menolak itu.
Sesungguhnya sifat-sifat dan akhlaknya sebelum kenabian dan sesudahnya menolak bahwa beliau adalah pendusta. Musuh-musuhnya sebelum sahabatnya bersaksi baginya dengan kejujuran dan amanah, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang pernah berkata: Sesungguhnya beliau pendusta.
Kemudian keterlambatan turunnya wahyu kepadanya dalam peristiwa-peristiwa penting yang berkaitan dengan urusan pribadinya, seperti peristiwa Ifk, dan ayat-ayat yang mengandung teguran kepadanya alaihish shalatu was salam, dan penghentiannya dalam takwil beberapa ayat hingga turun wahyu, dan seluruh urusan-urusan umumnya = semua itu adalah dalil atas batilnya bahwa kepribadian ini termasuk kepribadian-kepribadian yang mencapai kehendaknya dengan kedustaan dan tipu daya.
Sesungguhnya pemilik akhlak agung ini dan pemilik sikap-sikap rendah hati tersebut terhadap Al-Quran, tidak pantas bagi seorang pun untuk meragukan kejujurannya ketika beliau mengumumkan tentang dirinya bahwa bukan beliau yang menyusun kitab itu, dan bahwa kedudukannya darinya adalah kedudukan pelajar yang mengambil manfaat. Bahkan seharusnya kami catat dari pengakuan yang tulus ini dalil lain atas ketulusan dan kerendahan hatinya.
Hujjah Kedua: Dalam Al-Quran terdapat apa yang tidak dapat disimpulkan dengan akal dan pemikiran, dan di dalamnya terdapat apa yang tidak dapat dipahami dengan perasaan dan kesadaran
[Dalam Al-Quran terdapat apa yang tidak dapat disimpulkan dengan akal dan pemikiran, dan di dalamnya terdapat apa yang tidak dapat dipahami dengan perasaan dan kesadaran]
Mungkin ada yang berkata: Bahwa fitrah yang sehat dan bashirah yang tajam Muhammad shallallahu alaihi wa sallam yang memungkinkannya menghasilkan Al-Quran ini.
Jawabannya: Sesungguhnya dalam Al-Quran terdapat sisi besar dari makna-makna naqliyyah murni yang tidak ada tempat bagi kecerdasan dan istinbath di dalamnya.
- Peristiwa-peristiwa sejarah tidak ada jalan masuk bagi akal dan kecerdasan di dalamnya.
Dari yang diketahui bahwa peristiwa-peristiwa sejarah tidak mungkin dibuat dengan menggunakan pemikiran dan firasat. Pengetahuan tentang keadaan umat-umat terdahulu dan apa yang terjadi pada mereka, dan ringkasan apa yang terjadi dari peristiwa-peristiwa pada zaman-zaman itu, bahkan rincian apa yang terjadi juga dengan menyebut angka-angka yang tepat = semua itu tidak mungkin berasal dari kecerdasan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, melainkan wahyu yang diwahyukan Allah kepadanya.
Sungguh orang-orang atheis Jahiliyyah lebih jujur dalam menjelaskan fenomena ini daripada orang-orang atheis zaman ini, ketika mereka berkata tentang berita-berita ini: {Dan mereka berkata: “Dongen-dongen orang terdahulu yang ia tulis, maka dibacakanlah kepada dia pada pagi dan petang”} [al-Furqan: 5].
Al-Quran telah menjawab mereka dengan jawaban yang fasih: {Katakanlah: “Jika Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu. Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa tahun sebelum Al Quran itu. Apakah kamu tidak memahami?”} [Yunus: 16].
- Hakikat-hakikat keagamaan ghaib tidak ada jalan masuk bagi akal di dalamnya.
Sesungguhnya Al-Quran telah merinci penyebutan batasan-batasan iman, menggambarkan surga dan nikmatnya, neraka dan azabnya, menggambarkan alam-alam lain seperti malaikat dan jin, bahkan menyebut beberapa angka dalam bidang itu; seperti jumlah malaikat yang ditugaskan di neraka. Masih adakah keraguan setelah ini bahwa Al-Quran telah dibuat-buat selain dari Allah? Sesungguhnya Al-Quran adalah pembenar apa yang ada di hadapannya, dan penjelasan rinci kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya dari Tuhan semesta alam.
- Kabar-kabar masa depan yang pasti dan petunjuknya atas sumber Al-Quran.
Al-Quran telah datang dengan penjelasan bahwa agama telah ditakdirkan Allah untuk tetap dan kekal, dan bahwa Al-Quran ini akan membuat dunia semuanya tidak mampu, Al-Quran menantang seluruh orang Arab dengan ini, dan terbukti ketidakmampuan mereka. Dari mana Muhammad shallallahu alaihi wa sallam mendapat ghaib ini, dan dari mana beliau yakin dengannya?
Di antara berita ghaib yang diberitakan, yang cukup dalam membenarkannya dan membenarkan apa yang dibawanya, adalah apa yang diberitakan Al-Quran dalam firman-Nya: {Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanah-Nya. Allah akan memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir} [al-Maidah: 67]. Jaminan apakah ini?
Dan bukan hanya itu, melainkan hal ini terjadi pada tempatnya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam meninggalkan pengambilan penjaga setelah ayat ini, dan terbukti pemeliharaan ini baginya di berbagai tempat.
Sesungguhnya pasti beliau mengambil berita-berita ini dari sumber ilmiah yang terpercaya, dan bergantung padanya atas pengetahuan yang luas dan penelitian yang teliti. Tidak mungkin semua berita itu adalah hasil akalnya dan buah kecerdasan serta kejeniusannya.
Dalil Ketiga: Buta Huruf Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Tidak Belajar dari Manusia, Sebagai Bukti bahwa Al-Quran dari Allah
[Buta Huruf Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Tidak Belajar dari Manusia, Sebagai Bukti bahwa Al-Quran dari Allah]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah sosok yang merujuk kepada kitab-kitab ilmu dan dokumentasinya, karena berdasarkan pengakuan para lawan pun, beliau dilahirkan dalam keadaan buta huruf. Dan dalam Al-Quran sendiri disebutkan: “Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al-Quran) sesuatu Kitab pun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), tentulah orang-orang yang mengingkari menjadi ragu.” (Al-Ankabut: 48).
Kemampuan membaca dan menulis bukanlah nilai intrinsik, namun nilai membaca dan menulis adalah nilai instrumental yang bertujuan untuk memperoleh ilmu, dan hal ini telah dicapai oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menurut pandangan kami – melalui wahyu.
Di samping petunjuk ayat sebelumnya tentang masalah ini, terdapat beberapa hal yang memperkuat persoalan tersebut, antara lain:
- Beliau mengangkat para penulis wahyu dari kalangan sahabat khususnya.
- Beliau tidak mengetahui posisi namanya yang tertulis dalam Perjanjian Hudaibiyah.
- Ketenaran yang meluas tentang ketidaktahuan beliau terhadap tulisan.
Bagaimanapun juga, telah disepakati bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mempraktikkan membaca dan menulis sebelum diutus.
Beliau tidak memiliki guru dari kalangan yang buta huruf dari kaumnya, dan ini tidak ada keraguan bagi siapa pun, karena mereka kehilangan dasar ilmu dalam diri mereka sendiri hingga dari kebodohan mereka diturunkan sebuah nama!
Dan beliau tidak memiliki guru dari selain mereka, dan tidak ada seorang pun yang dapat mengklaim bahwa Muhammad memiliki guru dari kalangan manusia.
Adapun yang mengklaim bahwa beliau mengambil ilmu ini dari Bahira sang rahib, atau Waraqah bin Naufal, maka sungguh telah menjauh dari kebenaran dan menyelisihi yang hak. Sebab pertemuan beliau dengan Bahira sang rahib atau Waraqah bin Naufal tidak terjadi jauh dari pandangan orang-orang, karena telah disaksikan oleh pamannya Abu Thalib dan istrinya Khadijah. Pertemuan beliau dengan keduanya pun hanya sebentar, maka apa yang diceritakan sejarah tentang pertemuan ini, dan apa yang mungkin dapat dipikul dalam menit-menit tersebut?!
Apakah ini semua ilmu secara keseluruhan?!
Kemudian, musuh-musuh ketatnya tidak menggunakan senjata ini, dan tidak mengacungkannya di hadapan Muhammad, padahal senjata ini lebih dekat kepada mereka dan lebih tajam dari segala yang mereka gunakan.
Selain itu, sejarah telah mengabarkan kepada kita bahwa kedua orang tersebut bergembira dengan bertemu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan salah satunya memperkirakan urusan besar baginya, dan yang lain berharap dapat menyaksikan kerasulannya sehingga menjadi pembantunya!
Tuduhan Mengambil dari Yahudi dan Nasrani:
Mustahil Al-Quran diambil dari Yahudi dan Nasrani. Hendaknya orang yang mengatakan hal tersebut melihat pembicaraan Al-Quran tentang Ahlul Kitab, penyebutan mereka, dan bagaimana Al-Quran menggambarkan ilmu-ilmu mereka sebagai kebodohan, keyakinan-keyakinan mereka sebagai tahayul, dan perbuatan-perbuatan mereka sebagai kejahatan dan kemunkaran.
Al-Quran bagaikan guru yang mengoreksi kesalahan-kesalahan Ahlul Kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani, dan mengecam buruknya keadaan mereka.
Ditambah lagi dengan apa yang dilakukan Ahlul Kitab berupa menyembunyikan kebenaran dan mengubah kalimat dari tempatnya.
Adapun orang-orang yang teguh dalam ilmu dari Ahlul Kitab, mereka telah beriman kepada Al-Quran.
Tuduhan Kaum Musyrik bahwa Muhammad Memiliki Guru dari Manusia!
Ketika kaum musyrik terdesak dalam perdebatan yang serius, tidak ada tempat bagi mereka selain arena main-main, maka mereka mengklaim bahwa Muhammad belajar dari seorang budak di Mekkah. Budak ini adalah seorang Nasrani yang dikenal di toko-toko dan pasar-pasar, yang lidahnya pun ‘ajam (non-Arab)?!
Kita dapat berkata: apa yang menghalangi kaumnya – jika ucapan mereka benar – untuk mengambil sebagaimana Muhammad mengambil, sedangkan budak itu ada di tengah-tengah mereka? Dengan demikian mereka dapat beristirahat dari kesusahan mereka terhadap Muhammad, dan mengobatinya dengan jenis penyakitnya. Bahkan apa yang menghalangi budak itu sendiri untuk menempati kedudukan ini, atau memimpin sendiri kepemimpinan tersebut?
Hal itu tidak dapat dijelaskan kecuali dengan satu hal; bahwa itu adalah khayalan orang-orang jahiliyah, karena mereka tidak menemukan apa yang dapat menumbangkan hujjah yang terang kecuali dengan main-main dalam perkataan seperti ini.
Dari uraian di atas kita sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada sumber manusiawi bagi Al-Quran, baik dalam diri pemiliknya, maupun pada seseorang dari manusia, dan bahwa setiap orang yang berusaha menjadikan Al-Quran sebagai “karya manusia” akan menemui kegagalan.
Dalil Keempat: Fenomena Wahyu Sebagai Bukti bahwa Al-Quran dari Allah
[Fenomena Wahyu Sebagai Bukti bahwa Al-Quran dari Allah]
Fenomena wahyu adalah keadaan yang tidak bersifat pilihan, dan bukan termasuk keadaan sakit yang mungkin menimpa sebagian orang; karena ia adalah sumber cahaya bukan kegelapan, ia memberi pemiliknya ilmu bukan kebodohan, bahkan datang bersamanya ilmu dan cahaya yang membuat akal-akal tunduk kepadanya.
Kekuatan wahyu adalah kekuatan eksternal, karena ia berhubungan dengan jiwa Muhammad sewaktu-waktu, dan ia adalah kekuatan yang berilmu, dan ia adalah kekuatan yang lebih tinggi dari kekuatannya, karena ia menimbulkan pengaruh-pengaruh pada badannya, dan ia adalah kekuatan yang baik lagi ma’shum, tidak mewahyukan kepadanya kecuali kebenaran.
Maka apa gerangan kekuatan itu jika bukan kekuatan malaikat yang mulia?! Dan ini adalah hujjah bagi orang yang beriman kepada yang gaib.
Ringkasan Dalil-dalil Eksternal
Yang telah kita lakukan hanyalah mempelajari jalan dari mana Al-Quran datang; maka kita tidak menemukan dalam pengakuan-pengakuan pemiliknya, tidak dalam kehidupan akhlaknya, tidak dalam sarana-sarana dan hubungan-hubungan ilmiahnya, tidak dalam seluruh kondisi umum atau khusus di mana Al-Quran muncul, kecuali saksi-saksi yang berbicara bahwa Al-Quran ini tidak memiliki di atas bumi siapa pun yang dapat kita nisbatkan kepadanya selain Allah.
Dan semua itu adalah kajian-kajian eksternal yang hanya ditempuh oleh seseorang yang berdiri bersama kita pada sisi yang baik dari kehidupan kenabian ini dan kondisi-kondisinya, dan dengan itu memiliki fitrah yang sehat yang mengenal sesuatu dengan misal-misalnya dan mendapat petunjuk kepadanya dengan tanda-tanda yang paling dekat.
Maka orang seperti ini akan rela dengan kadar ini dari kita dan mendapat petunjuk dengannya.
Adapun mereka yang tidak mengetahui tentang kehidupan kenabian itu kecuali sedikit – dan banyaklah mereka – dan mereka yang ingin mengambil hujjah Al-Quran untuk dirinya dari dirinya sendiri, maka mereka tidak dapat tidak kita majukan selangkah lagi untuk menjelaskan kepada mereka bahwa Kitab mulia ini menolak dengan tabiatnya untuk menjadi buatan manusia, dan menyerukan dengan lisan keadaannya bahwa ia adalah risalah takdir dan ketentuan, hingga seandainya ia ditemukan tergeletak di padang pasir, orang yang memandangnya akan yakin bahwa bukan dari bumi ini sumber dan tempatnya, melainkan dari ufuk langit tempat terbit dan turunnya.
Bagian Kedua: Dalil-dalil Internal = Penelitian dalam Al-Quran Itu Sendiri
Inti dari bagian ini adalah melihat kemukjizatan Al-Quran, dan kita akan membagi hujjah ini menjadi beberapa hujjah, yaitu:
Dalil Pertama: Tantangan
[Tantangan dengan Al-Quran]
Al-Quran yang mulia tidak dapat ditandingi oleh siapa pun sejak masa turunnya hingga zaman kita, dan para ulama besar sastra dan balaghah, pengetahuan mereka tentang ilmu-ilmu ini hanya menambah ketundukan mereka kepada Al-Quran yang mulia, dan keimanan kepada kesucian serta kedudukannya.
Dan orang Arab – yang merupakan ahli fasahah dan bayan – telah dikalahkan oleh Al-Quran sehingga tidak dapat mendatangkan yang semisal dengannya, bahkan tidak ada seorang pun dari mereka yang mampu menandinginya, ataupun mencela kearabannya.
Dan setiap celaan yang diarahkan kepada Al-Quran dari segi kearabannya oleh pencela yang terlambat dari Abu Jahal, Abu Lahab dan orang-orang semisalnya, maka ketahuilah bahwa itu batil pada dirinya; karena jika itu benar, tentu tidak luput dari para musuh tersebut, sedangkan mereka adalah orang yang paling memahami bahasa, dan paling bersemangat mencela Al-Quran. Al-Quran telah menantang mereka, dan mengulangi tantangan kepada mereka dalam berbagai bentuk:
Menyeru mereka untuk mendatangkan yang semisal dengannya. Kemudian mendatangkan sepuluh surat seperti itu. Kemudian mendatangkan satu surat seperti itu. Kemudian mendatangkan satu surat yang semisal dengannya. Dan membolehkan mereka – dengan itu – untuk meminta bantuan kepada siapa yang mereka mau.
Dengan semua itu; mereka putus asa dari kemampuan mereka, dan yakin akan ketidakmampuan mereka, maka mereka menempuh jalan kematian, dan membuat pedang berbicara menggantikan huruf-huruf, dan berlalulah abad demi abad tanpa ada seorang pun yang mampu menghadapi tantangan yang berdiri hingga Allah mewarisi bumi dan isinya.
Dan tidak benar perkataan: bahwa orang Arab berpaling perhatiannya dari menandingi Al-Quran, karena beberapa perkara:
- Karena sebab-sebab yang mendorong penentangan tersedia dan saling mendukung, apalagi dengan membangkitkan kebanggaan mereka, dan seruan yang berulang untuk penentangan ini, dan itu lebih mudah bagi mereka daripada apa yang mereka lakukan.
- Bahwa orang Arab bahkan tidak mencoba penentangan, dan tidak ada yang memulai dari mereka kecuali yang paling sedikit jumlahnya, dan paling bodoh pendapatnya. Jadi: mereka dalam kondisi tidak memerlukan pengetahuan darurat ini untuk mencari dalil atasnya dengan percobaan-percobaan dan eksperimen-eksperimen.
Al-Quran sendiri telah menjadi sumber keheranan dan kekaguman mereka, dan mereka jatuh sujud mendengarnya.
Dalil Kedua: Kebaruan Bahasa Al-Quran
[Kebaruan Bahasa Al-Quran]
Al-Quran tidak keluar dari bahasa Arab, tidak pula dari cara-caranya dalam berbicara, tetapi yang baru dalam bahasa Al-Quran: bahwa dalam setiap urusan yang dibicarakannya dari urusan-urusan perkataan, ia memilih bahan-bahan yang paling mulia, dan yang paling dekat hubungannya dengan makna yang dikehendaki, dan yang paling mengumpulkan hal-hal yang tersebar, dan yang paling dapat menyatu, dan meletakkan setiap berat zarrah pada tempatnya yang paling berhak atasnya dan ia paling berhak atas tempat itu, sehingga makna tidak menemukan dalam lafaznya kecuali cerminnya yang bening, dan gambarnya yang sempurna, dan lafaz tidak menemukan dalam maknanya kecuali kampung halamannya yang aman, dan tempatnya yang kokoh. Bukan satu hari atau sebagian hari, melainkan sampai masa-masa berlalu dan masa-masa datang, maka tidak tempat menginginkan penggantinya bagi penghuninya, dan tidak penghuni mencari tempat lain selain kediamannya.. Dan secara keseluruhan datang kepadamu dari gaya ini dengan apa yang merupakan teladan tertinggi dalam kerajinan bayan.
Bahkan bahasa Al-Quran berbeda dari bahasa penyampai Al-Quran, yaitu Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita melihat gaya Al-Quran maka kita melihatnya sebagai corak tersendiri, dan kita melihat gaya kenabian, maka kita melihatnya sebagai corak tersendiri yang tidak berlari bersama Al-Quran di medan kecuali seperti burung-burung yang terbang tinggi di angkasa langit yang tidak mampu naik ke sana, kemudian kita melihat gaya-gaya manusia maka kita melihatnya dengan perbedaannya sebagai satu corak yang tidak naik dari permukaan bumi, ada yang merangkak, ada yang berlari kencang, dan perbandingan yang terkuat di antaranya dengan Al-Quran seperti perbandingan kendaraan-kendaraan bumi ini dengan kendaraan-kendaraan langit itu!
Bahkan orang yang fasih dan berilmu dapat meragukan sebuah kata dari kata-kata kenabian, yang mirip dengannya dengan kata-kata sahabat dan tabiin, tetapi ia sama sekali tidak meragukan gaya Al-Quran, karena ia memiliki cap yang tidak tercampur dengan yang lain.
Argumen Ketiga: Sistem Fonetik dan Keindahan Struktural
[Sistem Fonetik dan Keindahan Struktural]
- Sistem Fonetik:
Sesungguhnya Al-Qur’an memiliki kekhasan dalam komposisi fonetiknya baik dalam bentuk maupun substansinya. Hal pertama yang dirasakan oleh telinga Arab dalam susunan Al-Qur’an adalah sistem fonetik yang indah, di mana gerakan dan sukun dibagi secara bervariasi yang menyegarkan semangat pendengar untuk mendengarkannya. Huruf-huruf mad dan ghunnah didistribusikan dengan proporsi yang membantu resonansi suara dan membuat jiwa bergerak secara berkesinambungan, hingga sampai pada fāṣilah terakhir dan menemukan kenyamanan terbesar di sana.
Jenis pengaturan fonetik seperti ini, jika bangsa Arab pernah menggunakannya dalam syair-syair mereka, maka mereka berlebihan dalam mempesona, kemudian berlebihan dalam mengulang-ulang hingga membosankan.
Mereka tidak pernah mengenalnya sama sekali dan tidak mungkin bisa melakukannya dengan kemudahan seperti itu dalam prosa mereka, baik yang bebas maupun yang bersajak. Bahkan dalam prosa terbaik mereka terdapat cacat yang mengurangi kelancaran strukturnya, dan tidak mungkin dibaca dengan baik kecuali dengan menambahkan sesuatu padanya atau mengurangi sesuatu darinya.
- Keindahan Struktural:
Engkau akan melihat dalam Al-Qur’an suatu kalam yang bukan kalam perkotaan yang lemah, dan bukan pula kalam pedesaan yang kasar. Engkau akan melihatnya telah memadukan kekuatan dan kemegahan pedesaan dengan kelembutan dan kelancaran perkotaan, dan keduanya dipadukan secara seimbang tanpa yang satu menguasai yang lain. Maka jadilah campuran dari keduanya seolah-olah adalah sari pati dari kedua bahasa dan turunannya, atau seolah-olah titik pertemuan antar suku-suku, di mana selera mereka bertemu dan hati mereka bersatu.
Dari kekhasan ini dan yang sebelumnya terbentuklah lapisan permukaan keindahan Al-Qur’an.
Argumen Keempat: Karakteristik Balaghah Al-Qur’an Al-Karim
[Karakteristik Balaghah Al-Qur’an Al-Karim]
Sesungguhnya gaya Al-Qur’an (di mana segala ujung keutamaan bertemu meski berbeda-beda ujungnya).
Karakteristik balaghah dalam Al-Qur’an Al-Karim sangat beragam, di antaranya:
- Hemat dalam lafaz, sempurna dalam makna.
Engkau akan menemukan dalam Al-Qur’an penjelasan yang telah diukur sesuai kebutuhan jiwa dengan ukuran terbaik, yang menyampaikan dari setiap makna gambaran yang murni dan lengkap. Kitab Allah jika dicabut darinya satu kata, kemudian diputar lidah Arab untuk mencari kata yang lebih baik darinya, maka tidak akan ditemukan.
- Menggabungkan khitab untuk umum dan khusus.
Al-Qur’an adalah satu yang dilihat oleh para ahli balaghah sebagai kalam yang paling sempurna dengan kehalisan ungkapan, dan dilihat oleh orang awam sebagai kalam yang paling baik dan paling dekat dengan akal mereka, tidak berbelit-belit pada pemahaman mereka, dan mereka tidak membutuhkan penerjemah selain ketetapan bahasa. Maka ia adalah kenikmatan bagi orang awam dan khusus secara sama, dimudahkan bagi siapa yang menginginkannya.
- Meyakinkan akal dan menghibur perasaan.
Dalam jiwa manusia terdapat dua kekuatan: kekuatan berpikir dan kekuatan perasaan, dan kebutuhan masing-masing berbeda dengan yang lain.
Dalam Al-Qur’an terdapat pemenuhan kedua kebutuhan ini secara sempurna. Bacalah misalnya firman Allah Ta’ala: “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” (Al-Anbiya: 22). Dan lihatlah bagaimana terkumpul dalam kalimat-kalimat yang sedikit ini istidlal, penakutan, dan pengagungan. Bahkan dalil itu sendiri menggabungkan antara kedalaman premis-premis yang yakin, kejelasan premis-premis yang diterima, dan ketelitian penggambaran tentang akibat perselisihan berupa kerusakan yang mengerikan. Maka ia sekaligus bersifat burhani, khitabi, dan emosional.
- Menggabungkan penjelasan dan ringkasan.
Ini adalah keajaiban lain yang engkau temukan dalam Al-Qur’an dan tidak engkau temukan pada selainnya. Engkau membaca bagian dari Al-Qur’an dan menemukan dalam lafaz-lafaznya kejernihan, kelembutan, kekuatan, dan bebas dari segala yang asing dari tujuan, sehingga makna utamanya bergegas menuju jiwamu tanpa susah payah berpikir dan tanpa mengulang pembicaraan. Seolah-olah engkau tidak mendengar kalam dan bahasa, tetapi melihat gambaran-gambaran dan hakikat-hakikat yang nyata. Demikianlah engkau merasa telah menguasainya sepenuhnya dan memahami maknanya secara terbatas. Padahal jika engkau kembali lagi kepadanya, engkau akan melihat makna baru yang berbeda dengan yang pertama kali engkau pahami.
- Kesatuan tematik.
Tidak diragukan bahwa Al-Qur’an turun secara bertahap sesuai dengan peristiwa-peristiwa dan sebab-sebab, dan susunannya terjadi dengan wahyu dari Allah. Tidak diragukan pula bahwa kebanyakan Al-Qur’an membahas berbagai urusan perkataan, dan berpindah-pindah antara urusan-urusan tersebut dari deskripsi, ke kisah, ke syariat, ke perdebatan, ke berbagai macam lainnya. Meskipun demikian, terpisahnya waktu dan perbedaan hakikat ini seharusnya mengakibatkan terpotong-potongnya kalam dan terpisahnya bagian-bagiannya, namun kita mendapati surah dari Al-Qur’an seperti satu kesatuan yang tidak ada keretakan antara satu bagian dengan bagian lain, dan tidak antara pembukaan dengan penutup.
Tidak ada yang berani dalam kedalaman gaib meletakkan rencana terperinci dan tersusun ini kecuali salah satu dari dua: orang bodoh yang berada di lembah kebodohan paling rendah, atau orang alim yang berada di atas tingkatan-tingkatan akal, tidak ada yang ketiga.
Engkau membaca surah panjang yang diturunkan secara berangsur-angsur yang dikira orang bodoh sebagai kumpulan makna yang disusun secara sembarangan dan susunan kalimat yang dikumpulkan secara kebetulan. Namun jika engkau renungkan, ternyata ia adalah bangunan yang kokoh yang dibangun dari tujuan-tujuan umum atas dasar-dasar dan pokok-pokok, dan didirikan atas setiap pokok tersebut cabang-cabang dan bagian-bagian, dan memanjang dari setiap cabang tersebut ranting-ranting yang pendek atau panjang. Maka engkau terus berpindah antara bagian-bagiannya seperti berpindah antara kamar-kamar dan halaman-halaman dalam satu bangunan yang rancangan dasarnya dibuat sekali jadi. Engkau tidak merasakan sesuatu dari ketidakserasian posisi dalam pembagian dan koordinasi, dan tidak merasakan sesuatu dari keterpisahan dalam perpindahan dari satu jalan ke jalan lain. Bahkan engkau melihat antara jenis-jenis yang berbeda kesempurnaan keakraban, sebagaimana engkau melihat antara individu-individu dari jenis yang sama puncak keterpaduan dan keterkaitan.
Semua itu tanpa dibuat-buat dan tanpa bantuan dari hal-hal di luar makna itu sendiri, tetapi hanya dengan kebaikan penyusunan dan kehalusan persiapan pada awal setiap tujuan, akhir, dan pertengahannya, yang memperlihatkan kepadamu yang terpisah menjadi tersambung, dan yang berbeda menjadi harmonis.
Pendahuluan Ketiga
Sikap Kaum Muslimin terhadap Al-Qur’an dan Terjaganya Teks Al-Qur’an dari Perubahan
Pendahuluan
Kami mengakui bahwa kami tidak mampu memenuhi hak pembahasan ini dalam pendahuluan yang ringkas ini, tetapi kami akan berusaha meletakkan dalil-dalil yang cukup bagi siapa yang memiliki hati tentang terjaganya teks Al-Qur’an dari apa yang terjadi pada kitab-kitab lainnya.
[Sikap Firqah-firqah Islam terhadap Al-Qur’an Al-Karim]
Telah sepakat seluruh kaum muslimin bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah dan hujjah dari hujjah-hujjah terbesar-Nya atas hamba-hamba-Nya dan yang paling jelas petunjuknya. Telah ditetapkan di antara mereka “bahwa ia adalah keseluruhan syariat, tiang agama, sumber hikmah, tanda risalah, cahaya mata dan mata batin, dan bahwa tidak ada jalan menuju Allah selain dengannya, tidak ada keselamatan tanpanya, dan tidak ada berpegang pada sesuatu yang menyelisihinya”. Semua ini tidak membutuhkan penguatan dan dalil lebih lanjut karena ia diketahui dari agama secara darurat dan merupakan tiang pokok dari tiang-tiang akidah Islam bagi setiap orang yang mengakui agama ini dan menyerahkan diri kepadanya.
Kaum muslimin juga telah berijma’ dahulu dan sekarang bahwa Al-Qur’an sampai kepada kita dengan sempurna dan lengkap kata demi kata, huruf demi huruf, selamat dari kekurangan atau perubahan, dan terpelihara dari kerusakan para perusak.
Abu Muhammad Ibnu Hazm (wafat: 456 H), yang termasuk orang yang teliti dalam memindahkan ijma’ dan menisbatkannya kepada ahlinya, telah menceritakan kesepakatan tentang dua perkara sebelumnya dari semua firqah yang menisbatkan diri kepada Islam seperti Ahlus Sunnah, Mu’tazilah, Khawarij, Murji’ah, dan Zaidiyyah. Mereka semua mewajibkan “mengambil apa yang ada dalam Al-Qur’an dan bahwa ia adalah yang dibaca di sisi kita sendiri. Yang menyelisihi dalam hal itu hanyalah segolongan dari ghulat Rawafid yang dengan itu mereka kafir dan musyrik menurut seluruh Ahli Islam”.
Adapun perhatian Ahlus Sunnah terhadap Al-Qur’an dan kepedulian mereka terhadapnya sejak zaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum, maka itu terkenal masyhur, telah disusun karya-karya di dalamnya. Mereka memperhatikan Al-Qur’an dalam pengumpulan, pengajaran, tafsir, dan pengamalan.
Ibnu Al-Wazir (wafat: 840 H) berkata: “Adapun Kitab Allah Ta’ala, jika engkau memperhatikan kemukjizatannya dalam balaghah dan gayanya, atau dalam apa yang terkandung di dalamnya berupa kabar-kabar gaib, engkau akan mengetahui secara darurat dan adat tentang ketidakmampuan seluruh makhluk – dari jin dan manusia seluruhnya – untuk mendatangkan yang semisal dengannya atau satu surah yang semisal dengannya. Betapa jelasnya firman-Nya Ta’ala dalam hal itu: “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (Al-Baqarah: 23).
Jika engkau memperhatikan apa yang terkandung di dalamnya berupa pencegahan dari kerusakan-kerusakan, perintah kepada kemaslahatan-kemaslahatan, kabar-kabar yang benar, dan hukum-hukum yang adil, engkau akan mengetahui dengan burhan – jika engkau termasuk orang yang mengenalnya – dan dengan Al-Qur’an – jika engkau termasuk orang yang mentadabburi-nya – kebenaran perkataan Dia Yang menurunkannya Subhanahu: “Dan Al Quran itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk. Dan tidak layak bagi syaitan-syaitan itu dan tidak pula mereka sanggup (untuk membuat yang semisal Al Quran). Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan dari pendengaran (wahyu).” (Asy-Syu’ara: 210-212).
Dia Subhanahu telah mengumpulkan dalam ayat mulia ini – bagi siapa yang merenungkannya – antara tiga segi yang telah disebutkan. Dia mengisyaratkan kepada yang pertama yaitu ketidakmampuan mendatangkan yang semisal dengannya dengan firman-Nya: “dan tidak pula mereka sanggup” (Asy-Syu’ara: 211). Kepada yang kedua yaitu ketidaktahuan mereka terhadap gaib yang ada di dalamnya dengan firman-Nya: “Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan dari pendengaran (wahyu)” (Asy-Syu’ara: 212). Dan kepada yang ketiga yaitu bahwa tidak akan keluar dari mereka apa yang di dalamnya terdapat petunjuk kepada kebaikan dan pencegahan dari kejahatan dengan firman-Nya: “Dan tidak layak bagi syaitan-syaitan itu” (Asy-Syu’ara: 211)”.
Para imam Ahlus Sunnah menyebutkan bahwa yang paling berhak untuk dicurahkan perhatian kepada ilmunya dan mencapai puncak dalam mengetahuinya adalah apa yang menjadikan ridha Allah dalam mengetahuinya dan menjadikan orang yang mengetahuinya mendapat petunjuk kepada jalan kebenaran. Yang paling lengkap untuk pencarinya adalah Kitab Allah yang tidak ada keraguan padanya dan tanzil-Nya yang tidak ada kekeliruan padanya. Orang yang membacanya mendapat simpanan yang besar dan pahala yang tinggi. Ia yang tidak didatangi kebatilan dari depannya dan dari belakangnya, tanzil dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat: 728 H) berkata tentang pentingnya memperhatikan Al-Qur’an dan memahami makna-maknanya: “Adapun dalam (bab memahami Al-Qur’an), ia senantiasa berpikir tentang makna-maknanya dan merenungkan lafaz-lafaznya, dan cukup dengan makna-makna Al-Qur’an dan hikmah-hikmahnya dari perkataan manusia lainnya. Jika ia mendengar sesuatu dari perkataan manusia dan ilmu-ilmu mereka, ia menampilkannya kepada Al-Qur’an. Jika Al-Qur’an bersaksi dengan penyuciannya, ia menerimanya. Jika tidak, ia menolaknya. Jika Al-Qur’an tidak bersaksi dengan penerimaan atau penolakan, ia menghentikannya. Perhatiannya terpusat pada maksud Rabb-nya dari kalam-Nya.
Ia tidak menjadikan perhatiannya pada apa yang menghalangi kebanyakan manusia dari ilmu-ilmu tentang hakikat-hakikat Al-Qur’an, baik dengan was-was dalam keluarnya huruf-hurufnya dan tarqiq dan tafkhim-nya dan imālah-nya serta pengucapan mad yang panjang, pendek, dan sedang dan lainnya, karena ini menghalangi hati dan memotongnya dari memahami maksud Rabb dari kalam-Nya.
Demikian juga memperhatikan nada dan memperindah suara.
Demikian juga mengikuti wajah-wajah i’rab dan mengeluarkan ta’wil-ta’wil yang dipaksakan yang lebih menyerupai teka-teki dan tebak-tebakan daripada penjelasan.
Demikian juga mengalihkan pikiran kepada menceritakan pendapat-pendapat manusia dan hasil-hasil pemikiran mereka.
Demikian juga menta’wil Al-Qur’an atas pendapat orang yang ia taqlidi agamanya atau mazhabnya, maka ia memaksa dengan segala cara hingga menjadikan Al-Qur’an mengikuti mazhabnya dan memperkuat pendapat imamnya.
Semuanya terhalangi dengan apa yang mereka miliki dari memahami maksud Allah dari kalam-Nya dalam banyak hal itu atau sebagian besarnya.
Demikian juga orang yang tidak menghargai Al-Qur’an dengan harga yang sebenarnya menyangka bahwa ia tidak cukup dalam mengenal tauhid, asma dan sifat, dan apa yang wajib bagi Allah dan yang disucikan dari-Nya. Bahkan yang cukup dalam itu adalah akal-akal orang yang bingung dan tersesat yang setiap mereka telah menyelisihi yang sharih dari Al-Qur’an dengan penyelisihan yang nyata. Mereka ini adalah manusia yang paling tebal hijabnya dari memahami Kitab Allah Ta’ala. Wallahu Subhanahu wa Ta’ala a’lam”. Perkataan mereka dalam hal ini panjang.
Demikian juga, sesungguhnya sisa firqah-firqah Islam atas keyakinan ini. Al-Qur’an telah diagungkan sebagai rujukan di kalangan umum kelompok-kelompok yang menisbatkan diri kepada Islam. Al-Qashshab (wafat: 360 H) – yang menisbatkan diri kepada arah Ahlul Hadits – menyebutkan maksud penulisan kitabnya “Nukat Al-Qur’an”,
Ia berkata: “Ini adalah kitab (Nukatu al-Qur’an) yang Menunjukkan Penjelasan dalam Berbagai Jenis Ilmu dan Hukum serta Menjelaskan Perbedaan Umat Manusia dalam Pokok-pokok Agama dan Syariat-syariatnya.. aku telah memasukkannya – dengan pertolongan Allah yang Maha Tinggi – dalam kitabku ini sebagai persediaan untuk melawan para penentang, dan hujjah terhadap para pembuat bid’ah; karena ia dengan pujian bagi Allah adalah menyembuhkan dan mencukupi”.
Demikian pula halnya pada aliran kalam, maka Mu’tazilah – yang dianggap sebagai mazhab akidah yang paling mengandalkan akal -, menegaskan otoritas rujukan ini, Khayyath (wafat: 300) berkata dalam apa yang ia ceritakan tentang mereka: “Dari berita-berita Allah menurut Mu’tazilah adalah al-Qur’an, dan ia adalah hujjah mereka terhadap siapa yang menyelisihi mereka dalam tauhid, atau keadilan, atau ancaman, atau perintah berbuat ma’ruf, atau larangan dari yang munkar”.
Dan Qadi Abdul Jabbar al-Mu’tazili (wafat: 415) menetapkannya dengan ucapannya: “Adapun apa yang terkandung dalam al-Qur’an berupa makna-makna dan petunjuk, serta hukum-hukum syariah dan kelurusan semua itu di atas cahaya dan ujian dan hilangnya pertentangan ketika melakukan pensyarahan dan istinbath dan kejelasan perkataan dalam hal itu sepanjang masa, hingga sesungguhnya ahli setiap ilmu berlindung kepadanya dalam pokok-pokok ilmu mereka, dan membangun kitab-kitab mereka di atasnya; maka sesungguhnya para mutakallimun hanyalah membangun pembicaraan dalam tauhid berdasarkan apa yang disebutkan oleh Allah yang Maha Tinggi dalam kitab-Nya, seperti firman-Nya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (Ali Imran: 190) .. dan berdasarkan firman-Nya: Tidakkah kamu perhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (al-Baqarah: 258) dan selain itu; dan mereka bersandar dalam tauhid dan kebangkitan, dan syura, dan kembali dan dalam pembicaraan tentang jasad-jasad dan penetapan hal-hal yang melekat dan kewajiban melihat dan berpikir, berdasarkan apa yang disebutkan-Nya dalam kitab-Nya dari apa yang panjang penyebutannya..”.
Perkara yang sama pada aliran Syiah, maka ath-Thusi al-Imami (wafat: 460) menyebutkan bahwa salah satu tujuan tafsirnya adalah: menyebutkan dalil-dalil akidah yang di dalamnya terdapat bantahan terhadap para penentang, ia berkata: “Pembicaraan tentang mutasyabih dan jawaban terhadap celaan para mulhid, dan berbagai jenis pembuat bathil, seperti jabariyah dan musyabbihah dan mujassimah dan lain-lain, dan menyebutkan apa yang khusus bagi sahabat-sahabat kami berupa istidlal dengan tempat-tempat yang banyak darinya tentang kebenaran mazhab mereka dalam pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya..”. Dan Ibnu al-Wazir (wafat: 840) telah menceritakan dalam (Tarjih Asalib al-Qur’an ala Asalib al-Yunan), tentang Syiah dan Zaidiyah dan Mu’tazilah dan Asy’ariyah bahwa al-Qur’an mengandung dalil-dalil yang mencukupi.
Dan Fakhruddin ar-Razi (wafat: 606) menisbahkannya dalam (al-Arba’in) kepada semua golongan dengan ketidakmampuan untuk menambahkan dalam menetapkan dalil-dalil akidah melebihi apa yang terdapat dalam al-Qur’an.
Dan aku akan merinci dalam pendahuluan ini sikap beberapa firqah Islam terhadap al-Qur’an al-Karim, untuk menegaskan ijmak ahli Islam atas otoritas rujukan tersebut, dan penegasan atas keagungan kitab ini, dan bahwa pengagungannya adalah sikap umum di kalangan firqah-firqah Islam meskipun berbeda.
Dan ini termasuk dalil-dalil penting tentang tidak terubahnya al-Qur’an al-Karim, dan tidak terjadi perubahan dalam nash al-Qur’an al-Karim, dan penerimaan semua pihak terhadap nash ini, dan bahwa tidak ada kecuali satu al-Qur’an untuk semua firqah Islam meskipun berselisih, adalah di antara hujjah terbesar tentang kebenaran nash yang diturunkan yang ada bersama kita.
Pertama: Sikap Mu’tazilah terhadap Hujjiyyah al-Qur’an dan Kepastian Penetapannya
Berturut-turut perkataan para imam Mu’tazilah dalam menjelaskan hujjiyyah al-Qur’an al-Karim, dan menetapkan petunjuknya terhadap masalah-masalah akidah, dan kemungkinan berdalil dengannya, dan mengandalkannya, baik dengan tegas, dan mendirikan dalil-dalil serta bukti-bukti atas itu, atau dengan menyanggah dan membantah kebathilan orang yang mencela al-Qur’an, atau membangkitkan syubhat dan keraguan di sekitarnya.
Dan Mu’tazilah telah menganggap al-Qur’an sebagai salah satu sumber yang dijadikan dalil untuk mengetahui hakikat-hakikat, dan sampai kepadanya, Washil bin Atha’ berkata: “Kebenaran diketahui dari empat wajah: kitab yang berbicara, dan khabar yang disepakati, dan hujjah akal, dan ijmak”, dan isterinya menceritakan tentangnya “bahwa ia apabila malam menutupinya ia menyusun kedua kakinya untuk shalat, dan loh serta tinta diletakkan di sampingnya, maka apabila melewati ayat yang di dalamnya terdapat hujjah atas penentang ia duduk lalu menulisnya, kemudian kembali dalam shalatnya”.
Dan Mu’tazilah telah menyusun dalam tafsir al-Qur’an, dan mereka menulis tentang kemukjizatannya.
Dan al-Jahizh (wafat: 255) telah menggunakan penanya yang mengalir dan kejelasannya yang tinggi dalam menolong mazhab Mu’tazilah, dan menyanggah para penentangnya, dan di antara itu adalah berdalilnya untuk al-Qur’an dan pembelaannya atasnya, dan usaha-usahanya dalam hal ini telah sampai derajat yang menyebabkan al-Khayyath berlebihan dalam pujian atasnya dan memujinya, dengan yakin bahwa tidak ada di antara para mutakallimun seorang pun yang menolong risalah dan berdalil untuk kenabian seperti yang dilakukan al-Jahizh, dan tidak dikenal kitab dalam berdalil untuk susunan al-Qur’an dan menakjubkan penyusunannya selain kitabnya yang bergelar “Nazhm al-Qur’an”, dan telah disebutkan bahwa ia melelahkan dirinya di dalamnya, dan sampai paling jauh yang mungkin bagi orang sepertinya dalam berdalil untuk al-Qur’an dan menyanggah setiap pencela.
Dan perkataan al-Jahizh (wafat: 255) dibedakan dengan kekhususan yang ia sendirian dari seluruh sahabat-sahabatnya para mutakallimun, yang tampak jelas dalam kefasihan yang jelas, dan kefasihannya yang tinggi, dan bahasanya yang kuat, yang membasahi banyak dari kekeringan gaya kalam dan ungkapan-ungkapannya yang tertutup.
Maka dalam pembicaraannya tentang al-Qur’an dan hujjiyyahnya, dan agung kedudukan dan kedudukannya, ia menggambarkannya bahwa ia “hujjah atas mulhid, dan penjelasan bagi muwahhid, dan berdiri dengan halal yang diturunkan, dan haram yang dijelaskan, dan pemisah antara haq dan bathil, dan hakim yang dirujuki oleh orang alim dan jahil, dan imam yang ditegakkan dengannya fardhu-fardhu dan sunnah-sunnah, dan pelita yang tidak padam cahayanya, dan lampu yang tidak tersimpan kecerdasannya, dan meteor yang tidak padam nurnya, dan tambang yang tidak putus perbendaharaannya”, dan tidak tersembunyi perbedaan antara gaya ini dan antara cara kalam yang memiliki pembagian-pembagian, dan pensyarahan-pensyarahan yang bercabang, dan jalan-jalan akal yang halus yang sulit dipahami kecuali oleh segelintir orang khusus.
Dan jika kita pindah kepada orang-orang yang menggabungkan antara Mu’tazilah dan Syiah dengan dua cabangnya Zaidi dan Itsna Asy’ari, maka kita akan mendapati mereka tidak keluar dari sikap umum Mu’tazilah dalam menetapkan hujjiyyah al-Qur’an, dan kedudukannya dalam istidlal, dan yang menelaah risalah-risalah adl dan tauhid akan melihat dengan jelas arus yang dibedakan dengan banyaknya berdalil dengan nash al-Qur’ani baik dari segi kuantitas ayat-ayat dan jumlahnya, atau dari segi kualitas berdalil dengannya.
Dan kita sampai kepada Qadi Abdul Jabbar (wafat: 415) yang kepadanya berakhir warisan Mu’tazilah melalui tahapan-tahapannya yang berbeda lalu ia mengakarkannya, dan mendirikan darinya bangunan yang berciri keharmonisan falsafi, dan mengkristalkan pokok-pokok mazhab, dan memperluas dalam menjelaskannya, dan pembelaannya, dan sikapnya terhadap hujjiyyah al-Qur’an seperti sikap seluruh sahabat-sahabatnya, meskipun dibedakan dengan jenis perluasan dan perincian yang membantunya masa akhirnya – secara relatif – dan ketersediaannya pada warisan para pendahulu sahabat-sahabatnya, kemudian perasaannya dengan banyaknya apa yang diarahkan kepada pemikiran Mu’tazilah berupa tuduhan-tuduhan yang menggambarkannya dengan sedikitnya perhatian terhadap nash-nash, dan tidak menempatkannya pada kedudukan utama dalam istidlal, dan dari itu tulisan-tulisannya datang untuk menolak tuduhan ini dan yang menyerupainya.
Dan Qadi (wafat: 415) menyebutkan dalam lebih dari satu tempat tentang pentingnya berdalil dengan al-Qur’an dalam masalah-masalah akidah dan seluruh ilmu, menjelaskan bahwa “ahli setiap ilmu berlindung kepadanya dalam pokok-pokok ilmu mereka, dan membangun kitab-kitab mereka di atasnya, maka sesungguhnya para mutakallimun hanyalah membangun pembicaraan dalam tauhid berdasarkan apa yang disebutkan Allah yang Maha Tinggi dalam kitab-Nya”.
Dan Mu’tazilah sepakat dengan seluruh umat dalam mengatakan kepastian penetapan nash al-Qur’ani secara keseluruhan dan terperinci, dan sampainya kepada kita sebagaimana diturunkan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, selamat dari segala perubahan dengan penambahan atau pengurangan, dan dari keadilan Abu al-Hasan al-Asy’ari (wafat: 324) dan amanat ilmiahnya: bahwa ia tidak mengurangi hak Mu’tazilah dalam masalah ini, dan tidak membuatnya apa yang ada antara dirinya dan mereka berupa permusuhan dan perselisihan untuk menisbahkan kepada mereka apa yang tidak mereka katakan, terlebih lagi karena tema ini menyentuh sisi berbahaya dari sisi-sisi akidah, maka ketika ia menyajikan untuk menceritakan mazhab Rafidhah dalam al-Qur’an, dan menyebutkan bahwa sebagian mereka mengklaim terjadinya kekurangan atau penambahan di dalamnya, ia berkomentar setelah itu dengan menjelaskan mazhab orang yang terpengaruh oleh Mu’tazilah dari Rafidhah, dan bahwa mereka menyelisihi mereka, dan meyakini bahwa al-Qur’an “tidak dikurangi darinya, dan tidak ditambahi, dan bahwa ia sebagaimana yang diturunkan Allah yang Maha Tinggi kepada Nabi-Nya tidak diubah, dan tidak diganti, dan tidak berpindah dari apa yang ada padanya”.
Dan perkataan Mu’tazilah murni lebih terperinci, dan lebih jelas petunjuknya, maka al-Jahizh memberikan pendapatnya dalam masalah ini, dan memastikan kebenaran nash yang disepakati oleh kaum muslimin salaf dan khalaf, dan yang terwujud dalam mushaf Utsman radhiyallahu ‘anhu; di mana disepakati kebenarannya awal umat dan akhirnya, dan apa yang demikian keadaannya maka ia jelas kebenarannya, terang buktinya.
Dan al-Hakim al-Jusyami (wafat: 494) menegaskan bahwa keselamatan nash al-Qur’ani dari kekurangan atau penambahan lebih jelas daripada dapat dibayangkan adanya perbedaan di dalamnya, dan ia telah membuka kitabnya “at-Tahdzib fi at-Tafsir” dengan khutbah yang menunjukkan tentang mazhabnya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala “menurunkan al-Qur’an, dan menjaganya dari perubahan dan penambahan dan pengurangan, dan menghapus dengannya seluruh agama”.
Dan az-Zamakhsyari (wafat: 538) mengikuti jejak pendahulu-pendahulunya; maka ia mengadakan perbandingan antara pemeliharaan Allah terhadap al-Qur’an, dan antara kitab-kitab samawi sebelumnya, yang terkena berbagai jenis perubahan dan penggantian, dan mengembalikan sebab dalam itu kepada jaminan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap pemeliharaan al-Qur’an, maka Dia adalah “penjaganya di setiap waktu, dari setiap penambahan dan pengurangan, dan perubahan dan penggantian, berbeda dengan kitab-kitab terdahulu, maka sesungguhnya Dia tidak mengambil alih pemeliharaannya, dan hanyalah Dia meminta para rabbani dan ahbar menjaganya, maka mereka berselisih di antara mereka karena kezhaliman, maka terjadilah perubahan”.
Dan dari sekumpulan keyakinan mukallaf dalam al-Qur’an menurut Qadi Abdul Jabbar (wafat: 415) bahwa ia terjaga dari celaan-celaan tidak ada penambahan di dalamnya dan tidak ada pengurangan, dan ia memutuskan dengan kekufuran – dalam gaya yang tegas, dan ungkapan yang memutus – atas orang yang mengingkari sesuatu darinya, baik berupa surat atau ayat, dan menisbahkan hukum pengkafiran kepada seluruh kaum muslimin, “maka umat mengkafirkan orang yang mengingkari surat darinya dan ayat, sebagaimana mereka mengkafirkan orang yang mengingkari keharaman khamr, dan zina, dan kewajiban shalat lima waktu, dan puasa bulan Ramadhan; karena mereka mengetahui itu dengan naql secara dharuri sebagaimana mereka mengetahui selainnya”. Dan tampak pentingnya nash ini dalam menentukannya sikap Mu’tazilah terhadap penetapan nash al-Qur’ani secara pasti dan yakin, sebagaimana ia menyajikan hujjah yang kuat di hadapan tuduhan-tuduhan yang menimpa mereka, dengan apa yang kita simpulkan darinya bahwa mereka tidak keluar dari pendapat-pendapat sisa umat, dan tidak ada antara mereka dan antara Ahlu as-Sunnah perbedaan yang berarti dalam masalah ini.
Kedua: Sikap Asy’ariyah terhadap Hujjiyyah al-Qur’an dan Kepastian Penetapannya
Sikap Asy’ari tidak membutuhkan tambahan panjang lebar dalam penyajiannya, atau pemberian dalil atasnya, maka nash-nash para imam mazhab banyak dan beragam dalam hal ini, dan hubungan mereka dengan studi-studi al-Qur’ani pada berbagai jenisnya – dan khususnya tafsir – hubungan yang menonjol, dan jelas untuk mata, dimulai dari pendiri mazhab Abu al-Hasan al-Asy’ari (wafat: 324), dan melalui al-Baqillani (wafat: 403), dan Ibnu Furak (wafat: 406), hingga kita sampai kepada tokoh-tokoh mazhab dari para mutaakhkhirin.
Dan banyak dari para imam tafsir dari mutaakhkhirin bermazhab Asy’ariyah dalam akidah, dan karya-karya mereka terkumpul dan tersusun, dan ringkas bermanfaat.
Dan al-Asy’ari (wafat: 324) menceritakan ijmak salaf umat tentang membenarkan al-Qur’an, dan pengakuan dengan semua yang terdapat di dalamnya secara keseluruhan dan terperinci, maka mereka “bersepakat untuk membenarkan semua yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Kitab Allah … dan pengakuan dengan nash muhkam dan mutasyabihnya, dan mengembalikan semua yang tidak dicakup oleh ilmunya tentang tafsirnya kepada Allah dengan iman terhadap nashnya”, dan perkataan terbaik dan manhaj pilihan menurut beliau adalah berpegang teguh dengan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, dan perkataan para Sahabat dan Tabi’in, dan sebagai penerapan amaliah bagi jalan teoretis ini al-Asy’ari menyebutkan dalam kitabnya “al-Ibanah” – meskipun ukurannya kecil – tidak kurang dari dua ratus lima puluh ayat, sehingga hampir tidak ada halaman yang kosong dari menyebut ayat atau lebih, berbeda dengan apa yang kita lihat dalam kitab-kitab para mutakallimun dari mutaakhkhirin, dan yang mungkin berlalu puluhan halaman dan tidak disebutkan di dalamnya satu nash pun, bahkan terbatas pada menyebutkan hujjah-hujjah akal, dan menyebutkan syubhat, dan menyanggahnya.
Al-Baqlani (wafat: 403 H) – teoretikus kedua mazhab Asy’ariyah – merupakan tokoh paling menonjol yang memperhatikan permasalahan ini di kalangan Asy’ariyah; ia memberikan perhatian khusus padanya, dan memusatkan perhatiannya pada masalah tersebut, karena ia menyadari bahwa agama Islam pada dasarnya berdiri di atas Al-Qur’an yang mulia, dan bahwa setiap upaya untuk meragukan kebenaran kitab ini dan mencela nya tidak lain adalah tangga untuk menghancurkan agama dan meruntuhkan landasan utamanya.
Ia mengkhususkan dua kitab tersendiri untuk masalah ini, “I’jaz Al-Qur’an”, untuk membuktikan bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diwahyukan dari sisi-Nya, dan bahwa ia adalah hujjah dari hujjah-hujjah yang paling agung, di dalamnya terdapat hikmah dan fashl al-khithab (pemisah antara yang benar dan batil), tersaji di hadapanmu dalam pemandangan yang indah, susunan yang elok, dan tampilan yang anggun, tidak memberatkan pendengaran, tidak sulit bagi pemahaman, penuh dengan kesegaran dan kecemerlangan, kelembutan dan kesuburan, mengalir di hati sebagaimana mengalirnya kegembiraan, dan masuk ke tempat-tempatnya sebagaimana masuknya anak panah, bersinar sebagaimana bersinarnya fajar, dan bergelombang sebagaimana bergelombangnya lautan. Kitabnya ini termasuk kitab-kitab perintis dalam bidang i’jaz Al-Qur’an, mendapat kekaguman banyak orang, menjadi pusat beberapa studi, dan digambarkan sebagai bab tersendiri dalam i’jaz.
Adapun kitab kedua, ia mengkhususkannya untuk membuktikan kebenaran periwayatan Al-Qur’an dan kepastian penetapannya, dan judulnya menunjukkan isinya pada pandangan pertama; ia menamakannya “Al-Intishar li Naql Al-Qur’an” dan di dalamnya ia membuat bab-bab panjang untuk membuktikan kebenaran mushaf Utsmani, dan menjawab syubhat-syubhat Rafidhah (Syiah) yang mereka bangkitkan seputarnya, serta tuduhan mereka terhadap para sahabat dengan mengurangi dan menambahi Al-Qur’an, sebagaimana ia membahas perselisihan yang terjadi seputar tujuh huruf (ahru as-sab’ah) yang diturunkan dengan Al-Qur’an, qira’at-qira’at yang dibaca dengannya, dan topik-topik berbeda lainnya yang berkaitan dengan periwayatan Al-Qur’an, cara pengumpulannya, dan cara membacanya, berakhir dengan kesimpulan bahwa “seluruh Al-Qur’an yang diturunkan Allah Ta’ala, dan diperintahkan untuk ditetapkan, tidak dinasakh, dan tidak diangkat bacaannya, adalah ini yang ada di antara dua sampul, yang terhimpun dalam mushaf Utsman radhiyallahu ‘anhu, tidak berkurang sedikitpun, dan tidak ditambahi sedikitpun, diriwayatkan oleh khalaf dari salaf”. Telah mengutip darinya Ibnu Taimiyah (wafat: 728 H), Az-Zarkasyi (wafat: 794 H), As-Suyuthi (wafat: 911 H), dan lain-lain.
Para imam Asy’ariyah memiliki nash-nash yang banyak dalam membuktikan kepastian nash Al-Qur’an, dan mengkafirkan orang yang mengingkari sesuatu darinya. Di antaranya perkataan Al-Halimi (wafat: 403 H): “Barangsiapa membolehkan seseorang dapat menambah sesuatu pada Al-Qur’an, atau menguranginya, atau mengubahnya, atau mengganti nya; maka sungguh ia telah mendustakan Allah dalam berita-Nya, dan membolehkan terjadinya hal itu, dan itu adalah kekafiran”.
Seluruh kelompok Islam lainnya berada pada pendapat ini. Telah dikenal tentang Khawarij penghormatan mereka yang berlebihan terhadap kitab Allah, ketekunan mereka membacanya, dan beribadah dengannya. Memang benar bahwa penghormatan ini ternoda oleh sikap berlebihan dan salah paham yang membawa mereka pada bid’ah dan kesesatan yang mereka capai, namun itu tidak mempengaruhi penghormatan mereka terhadap Al-Qur’an, dan keyakinan mereka bahwa Al-Qur’an tidak diubah. Ibnu Taimiyah (wafat: 728 H) telah menunjukkan bahwa Khawarij memuliakan Al-Qur’an dan mewajibkan mengikutinya.
Ketiga: Sikap Rafidhah Terhadap Al-Qur’an yang Mulia.
[Sikap Rafidhah Terhadap Al-Qur’an yang Mulia]
Sebelum memulai penjelasan masalah ini, baik bagi kita untuk mengetahui bahwa aliran Syiah Imamiyah terbagi dari segi metodologi menjadi dua aliran: aliran Akhbari dan aliran Ushuli:
Akhbariyah adalah: mereka yang mengandalkan dalam istinbath ahkam hanya pada akhbar saja, sebagaimana mereka didefinisikan demikian oleh syaikh Akhbariyyin mutaakhirin Al-Astarabadi.
Artinya: ia adalah aliran yang mengandalkan naql saja, dan tidak melihat tempat dan pertimbangan bagi akal.
Adapun Ushuliun adalah: “mereka yang berlindung dalam maqam istinbath ahkam kepada empat dalil yaitu kitab, sunnah, ijma’, dan dalil akal”.
[Dua Aliran Akhbari dan Ushuli]
Pembedaan antara kedua aliran ini muncul dengan dimulainya masuknya ilmu kalam ke dalam mazhab Syiah melalui Al-Mufid dan Ath-Thusi pada abad keempat, dan setelah mereka Asy-Syarif Al-Murthada dan Ar-Radhi. Di antara nash-nash paling tua yang menunjukkan adanya perpecahan ini adalah apa yang dikatakan Al-Mufid dalam mendiskusikan gurunya Ash-Shaduq: “Yang disebutkan Asy-Syaikh Abu Ja’far rahimahullah dalam bab ini tidak dapat diterima, maknanya berbeda dan bertentangan, sebabnya adalah bahwa ia bekerja berdasarkan zhahir hadits-hadits yang berbeda, dan ia bukan termasuk orang yang berpendapat dengan nazhar, sehingga ia dapat membedakan antara yang benar dan batil darinya, dan bekerja berdasarkan apa yang mewajibkan hujjah. Barangsiapa mengandalkan dalam mazhabnya pada perkataan-perkataan yang berbeda dan taqlid kepada para perawi, keadaannya dalam kelemahan seperti yang telah kami gambarkan”.
Ia memiliki kitab yang dinamainya: “Maqabis Al-Anwar fi Ar-Radd ‘ala Ahl Al-Akhbar”, dan itu adalah penamaan tegas yang menunjukkan adanya arus ini pada mereka sejak zaman terdahulu. Karena itu arus Akhbari ini dikenal sebagai (Ashhab Al-Hadits), yang di antara mereka Ash-Shaduq yang digambarkan muridnya Al-Mufid – sebagaimana telah lalu – bahwa ia: “bermazhab Ashhab Al-Hadits dalam mengamalkan zhahir lafazh-lafazh, dan berpaling dari jalan i’tibar”.
Al-Murthada berkata mengkritik para penganut aliran Akhbari: “Biarlah kami dari karya-karya Ashhab Al-Hadits dari kalangan kita, karena di antara mereka tidak ada yang berargumen, tidak ada yang mengenal hujjah, dan kitab-kitab mereka tidak dibuat untuk berargumen”.
Di antara nash-nash paling tegas dalam menyebut pembagian ini dan yang paling tua adalah nash Ibnu Al-Muthahhir Al-Hilli (wafat: 726 H), ia berkata: “Adapun Imamiyah; maka Akhbariyun di antara mereka dengan bahwa mayoritas Syiah pada zaman dahulu tidak lain hanya dari mereka, tidak berkata dalam ushul ad-din kecuali berdasarkan akhbar ahad yang diriwayatkan dari para imam ‘alaihimus salam, dan Ushuliun di antara mereka seperti Abu Ja’far Ath-Thusi rahimahullah dan lainnya setuju menerima khabar wahid, dan tidak mengingkarinya kecuali Al-Murthada dan pengikutnya”.
Beberapa ahli maqalat telah menyebutkan pembagian ini dalam mazhab Syiah: seperti Asy-Syahrastani (wafat: 548 H), dan perkataannya dianggap dari nash-nash paling tua dalam kitab-kitab maqalat yang menyebutkan bahwa Akhbariyah adalah kelompok yang berdiri dalam entitas Imamiyah. Ia berkata tentang mereka: “Mereka pada mulanya bermazhab seperti imam-imam mereka dalam ushul, kemudian ketika riwayat-riwayat dari imam-imam mereka berbeda, dan masa berlalu, setiap kelompok dari mereka memilih jalan, maka Imamiyah menjadi sebagiannya Mu’tazilah baik wa’idiyah maupun tafdhiliyah, dan sebagiannya Akhbariyah baik musyabbihah maupun salafiyah, dan barangsiapa yang sesat dan tersesat, Allah tidak peduli di lembah mana ia binasa”.
Disebutkan juga oleh Al-Iji (wafat: 756 H) dan lainnya.
Nash-nash ini menunjukkan ketuaan adanya fenomena ini berbeda dengan yang berpendapat bahwa keberadaannya terlambat melalui Al-Astarabadi (wafat: 1036 H).
Setelah mengetahui perpecahan Syiah Itsna ‘Asyariyah menjadi dua aliran ini, maka ketahuilah bahwa Syiah terpecah seputar isu terjadinya tahrif dalam Al-Qur’an menjadi dua aliran juga:
Aliran pertama: pendapat mayoritas Akhbariyyin dan sejumlah ulama Ushuliyin, mereka berpendapat terjadinya tahrif dalam Al-Qur’an yang mulia – na’udzu billah – baik tahrif dengan penambahan atau pengurangan.
Aliran kedua: pendapat mayoritas Ushuliyin, mereka berpendapat menolak terjadinya tahrif, dan keselamatan Al-Qur’an dari segala jenis penambahan atau pengurangan.
Beberapa ulama Syiah telah berusaha menolak tuduhan ini, dan menukil ijma’ atas keselamatan nash Al-Qur’an dari terjadinya tahrif dengan penambahan atau pengurangan, namun ini tidak mungkin terjadi, terutama dengan adanya kitab-kitab yang menyatakan dengan tegas adanya tahrif.
[Bantahan Beberapa Ulama Syiah terhadap Masalah Tahrif]
Namun ini membuktikan keburukan perkataan ini yang mendorong para ulama Syiah sendiri untuk mengingkari hal ini, dan mencela yang mengatakannya. Asy-Syarif Al-Murthada telah berkata: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kebenaran periwayatan Al-Qur’an seperti pengetahuan tentang negeri-negeri dan peristiwa-peristiwa besar dan kejadian-kejadian agung dan kitab-kitab terkenal dan syair-syair Arab yang tertulis, karena perhatian menguat dan motif-motif terkumpul untuk meriwayatkannya dan menjaganya, dan mencapai batas yang tidak dicapainya dalam hal-hal yang kami sebutkan, karena Al-Qur’an adalah mu’jizat kenabian, dan sumber ilmu-ilmu syar’iyah, dan hukum-hukum agama, dan ulama-ulama Islam telah mencapai dalam menjaga dan melindunginya pada tingkat maksimal hingga mereka mengetahui setiap sesuatu yang diperselisihkan darinya tentang i’rabnya dan qira’atnya dan huruf-hurufnya dan ayat-ayatnya, bagaimana mungkin dibolehkan ia diubah dan dikurangi dengan perhatian yang sungguh-sungguh dan penjagaan yang ketat”.
Kemudian ia menyebutkan bahwa seandainya seseorang berniat menambah atau mengurangi dari kitab terkenal seperti kitab Sibawaihi dan Al-Muzani pasti akan diketahui dan diriwayatkan, karena ahli perhatian dalam urusan ini “mengetahui dari rinciannya apa yang mereka ketahui dari keseluruhannya hingga seandainya ada yang memasukkan dalam kitab Sibawaihi satu bab dalam nahwu yang bukan dari kitab tersebut pasti akan diketahui dan dibedakan, dan diketahui bahwa ia tambahan, dan bukan dari asal kitab. Demikian juga perkataan tentang kitab Al-Muzani.
Dan diketahui bahwa perhatian terhadap Al-Qur’an dan penjagaannya lebih benar daripada perhatian terhadap periwayatan kitab Sibawaihi dan diwan-diwan syair”.
Seluruh ulama Islam telah berdiri menanggapi mereka, dan hampir kata-kata Mu’tazilah dan Asy’ariyah sepakat mencap mereka dengan tuduhan tersebut.
Yahya bin Al-Husain, Zaidi Mu’tazili, telah mengarang kitab bernama: “Ar-Radd ‘ala man Za’ama anna Al-Qur’an qad Dzahaba Ba’dhuhu”, dan tampak dari judulnya bahwa ia dalam menanggapi Syiah Imamiyah, sebagaimana memberikan isyarat untuk membebaskan Zaidiyah dari tuduhan tersebut. Demikian juga Al-Khayyath melancarkan serangan keras terhadap Rawafidhh dalam kitabnya “Al-Intishar”, dan mengkhususkan mereka dengan bagian terbesar dari serangannya, dan mengulangi di lebih dari satu tempat bahwa mereka mengklaim bahwa: “Al-Qur’an telah diubah dan diganti, ditambahi dan dikurangi, dan diubah dari tempat-tempatnya”.
Di masa Qadhi Abdul Jabbar (wafat: 415 H) hubungan perpaduan dan kedekatan politik dan pemikiran mencapai perkembangan maksimalnya karena akumulasi pengaruh timbal balik antara I’tizal dan Tasyi’ dengan kedua cabangnya: Zaidi dan Itsna ‘Asyari; namun komunikasi ini tidak menghalangi Qadhi untuk mengkritik sikap Syiah terhadap Al-Qur’an.
Ketika ia menghitung para penentang Mu’tazilah dalam Al-Qur’an, ia memasukkan di antara mereka Imamiyah Rawafidhh, yang membolehkan terjadinya penambahan dan pengurangan, dan mengklaim bahwa pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Al-Qur’an berlipat-lipat dari yang ada di antara kita. Qadhi telah mewajibkan mereka mengikuti Al-Jahizh dengan kebenaran mushaf Utsmani berdasarkan pengakuan Ali radhiyallahu ‘anhu padanya, dan tidak mengingkarinya, sebagaimana ia menyetujui gurunya Abu Ali Al-Jubba’i dalam menjauhkan kemungkinan bahwa penganut pendapat tersebut adalah muslim; karena kesalahan dalam ijtihad tidak dapat mencapai jurang yang dalam ini dalam mencela Al-Qur’an, dan menisbatkan tahrif kepadanya, maka tidak boleh tidak pencipta pendapat tersebut dari orang yang dendam terhadap Islam telah memakan hatinya sehingga ia menciptakan mazhab ini untuk mencela Islam di bawah slogan tasyi’ dan cinta Ahlul Bait.
Para imam Asy’ariyah pada gilirannya menisbatkan pendapat tahrif kepada Rafidhah, meskipun mereka berbeda dalam penerapan itu pada seluruh mazhab, atau hanya pada sebagian individunya saja.
Kita akan mencoba pada sisa pendahuluan ini, merangkum aspek-aspek penerimaan tidak adanya tahrif nash Al-Qur’an, dan alasan-alasan keimanan pada keselamatannya.
Alasan-alasan Keimanan pada Keselamatan Nash Al-Qur’an
Kata-kata seluruh umat Islam telah sepakat bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah, dan hujjah dari hujjah-hujjah-Nya yang paling agung atas hamba-hamba-Nya, dan paling jelas petunjuknya. Di antara hujjah terbesar atas kebenaran nash Al-Qur’an yang ada di tangan kita:
Hujjah Pertama: Perhatian terhadap Al-Qur’an di Masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Masa Sahabat.
Perhatian maksimal terhadap Al-Qur’an di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terwujud dalam menghafal Al-Qur’an di hati para ulama yang mendalam dari sahabat-sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, penulisan mereka terhadapnya, dan bacaan mereka pada saat-saat malam dan ujung-ujung siang.
Ketika kebutuhan muncul – yaitu banyaknya terbunuh para penghafal dalam perang Yamamah – terjadilah pengumpulan pertama Al-Qur’an di masa Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu.
Setelah pengumpulan Abu Bakar, Al-Qur’an yang mulia tersimpan terjaga dalam mushaf Abu Bakar di antara dua sampul, dan beberapa lembaran serta mushaf-mushaf khusus yang mengumpulkan surat-suratnya dan ayat-ayatnya semuanya atau sebagiannya.
Adapun mushaf Abu Bakar maka telah berpindah dari Abu Bakar kepada Umar bin Al-Khattab, dan darinya kepada rumah Hafshah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha.
Kemudian muncul kebutuhan untuk menjadikan tulisan ini dalam mushaf-mushaf dengan bentuk yang dapat menutup pintu perbedaan pendapat dari mereka yang tidak mengetahui, maka selesailah pengumpulannya dan perhatian yang sangat besar terhadapnya pada masa Utsman radhiyallahu anhu.
Setelah itu terjadi proses-proses pengembangan tulisan Mushaf yang mulia, dan terus berlanjut upaya-upaya ini serta penjagaan ketat hingga masa percetakan dan penyebaran mushaf-mushaf di seluruh negeri Islam, serta perpindahannya kepada kaum muslimin dari generasi ke generasi.
Dan tidak ada dalam Al-Quran dengan segala puji bagi Allah kesalahan yang dapat dibuktikan oleh siapapun sejak masa penulisannya hingga zaman manusia sekarang, dan apa yang ditimbulkan dari keraguan-keraguan seputar penulisan, atau apa yang diklaim bertentangan dengan bahasa Arab, telah ditangani oleh para ulama Islam dengan penjelasan dan penelitian mendalam, dan karya-karya mereka tersedia dan dekat bagi pencari kebenaran dan petunjuk.
Dalil Kedua: Penerimaan Al-Quran Secara Lisan Langsung
Sesungguhnya Al-Quran telah terpelihara di dalam dada sebagaimana ia tertulis dalam lembaran-lembaran, dan manusia dahulu dan hingga sekarang menerima Al-Quran ini dari para guru mereka, hingga bersambung sanadnya dengan para sahabat besar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan para sahabat ini mengambilnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dalil ini dapat diketahui rinciannya dari kitab-kitab sejarah qiraat dan penjelasan usaha para ulama yang dicurahkan dalam menetapkan wajah-wajah Quraniyang dengannya Al-Quran dibaca.
Siapakah yang dapat membayangkan terjadinya perubahan dalam surat Al-Hamd (Al-Fatihah)? Yaitu surat yang dibaca di mihrab-mihrab kaum muslimin setiap hari beberapa kali, demikian pula seluruh Al-Quran dibaca di mihrab-mihrab kaum muslimin berulang kali, apakah semua orang ini sepakat untuk mengubah, dan kita tidak mendapati pengingkaran terhadap mereka? Mahasuci Engkau, ini adalah tuduhan yang besar!
Dalil Ketiga: Tidak Adanya Kesenjangan Sejarah dalam Perjalanan Al-Quran
Hal ini berbeda dengan Taurat yang terputus sanadnya setelah Musa alaihissalam selama paling sedikit enam abad, dan berbagai salinannya bertambah banyak serta berbeda satu sama lain, dan berbeda dengan Injil yang tetap diturunkan secara lisan dan mengalami banyak perubahan hingga ditulis terlambat setelah mengalami berbagai perubahan. Al-Quran telah sampai kepada kita dengan bahasa aslinya sebagaimana adanya, sehingga tidak mengalami apa yang mungkin dialami oleh terjemahan berupa perbedaan dan kemungkinan salah paham dalam memahami dan semacamnya.
Al-Quran telah sampai kepada kita secara lisan langsung, dan dipegang oleh sejumlah besar manusia, dan ditulis pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan dikumpulkan setelahnya dalam dua sampul setelah waktu yang sangat singkat sebagaimana telah disebutkan. Sesungguhnya orang yang meneliti naskah-naskah kuno Mushaf yang mulia yang ada, yang kuno dan berasal dari abad-abad pertama turunnya Al-Quran, akan mengetahui bagaimana Allah Ta’ala telah melindungi Al-Quran dengan penjagaan khusus, agar tidak didatangi kebatilan dari depan dan belakangnya, karena ia adalah wahyu dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.
Dengan segala badai yang menimpa umat Islam, tidak seorangpun dari mereka yang mengulurkan tangan untuk mengubah Al-Quran, bahkan tidak mampu, dan mana mungkin bisa, bahkan mereka meskipun berbeda pendapat dan bermusuhan, mereka tetap mengagungkan Al-Quran dan memperhatikan urusannya, sebagaimana diketahui dari sejarah penulisan mushaf dan perhatian terhadapnya.
Dan selanjutnya, sesungguhnya dalil terbesar tentang tidak terubahnya Al-Quran adalah Al-Quran itu sendiri, Al-Quran telah mempertahankan semua sifat-sifatnya yang ada pada zaman kenabian. Al-Quran tetap berpengaruh terhadap umat dan mukjizat sepanjang masa, manusia masih mengambil darinya dan mendatanginya sehingga keajaibannya tidak pernah habis dan tidak pernah usang meski sering didatangi.
Aspek-aspek Perhatian Umat terhadap Al-Quran Al-Karim
Kaum muslimin merayakan kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan perayaan yang tak tertandingi oleh perayaan lainnya, dan memperhatikannya dengan perhatian yang besar, yang dahulu dan masih menjadi kebanggaan dan kemegahan atas semua umat.
- Aspek tafsir dan perhatian terhadapnya merupakan contoh yang cemerlang dalam umat ini.
Biografi mereka yang memperhatikan penjelasan kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala dan syarahnya – yang telah kita ketahui dan yang ada di hadapan kita – melebihi dua ribu tokoh yang memperhatikan pelayanan Al-Quran Al-Karim dari segi penjelasan makna dan hukum-hukumnya, adapun jumlah mereka yang tidak kita ketahui biografinya dari para mufassir jauh lebih banyak dari itu, dan hasil karya umat dalam bidang ini sangat luas dan besar.
Di antara karya-karya dalam ilmu tafsir ada yang hilang dan kita tidak mengetahui apa-apa tentangnya, hanya saja kita mendengar tentangnya dan membacanya di dalam buku-buku, dan ada kitab-kitab yang masih berupa manuskrip dan belum keluar ke dunia percetakan, dan ada kitab-kitab yang telah dicetak.
Tiga bagian ini membentuk lebih dari dua belas ribu karya, dan ini adalah angka perkiraan, dan Kompleks Raja Fahd untuk Percetakan Mushaf Syarif di Madinah Al-Munawwarah memiliki upaya sederhana dalam menghitung apa yang ditulis seputar kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa syarah dan tafsir dari awal Islam hingga tahun 1424 H, maka keluar upaya ini dengan statistik yang melebihi tujuh ribu kitab yang membahas penjelasan kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam bahasa Arab saja, apalagi dalam bahasa-bahasa lain? Bahasa-bahasa bangsa-bangsa Islam, atau bahasa-bahasa dunia lainnya, dari mereka yang berusaha menjelaskan makna kalam Allah atau mensyarahnya.
Di antara arah tafsir yang paling penting adalah perhatian terhadap pengalihan atsar para sahabat dan salaf dalam penjelasan kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan tafsir-tafsir yang mengumpulkan pendapat-pendapat sahabat, tabiin dan orang-orang setelah mereka dari kalangan salaf, dari mereka yang berusaha menjelaskan kalam Allah sebagaimana kata Al-Hafizh Ibnu Hajar (wafat: 852) ada empat:
Tafsir pertama: Tafsir Abdul bin Humaid Al-Kasyi (wafat: 249), dan telah dicetak sebagiannya.
Tafsir kedua: Tafsir “Jami’ Al-Bayan” karya Ibnu Jarir Ath-Thabari (wafat: 310), dan ini telah dicetak dan beredar.
Tafsir ketiga: Tafsir Al-Quran karya Muhammad bin Ibrahim bin Al-Mundzir An-Naisaburi (wafat: 318), dan telah dicetak sebagiannya.
Tafsir keempat: Tafsir Ibnu Abi Hatim Ar-Razi (wafat: 327), dan ini telah dicetak.
Al-Hafizh Ibnu Hajar (wafat: 852) berkata: “Keempat tafsir ini jarang ada yang terlewat darinya sesuatu dari tafsir marfu’, mauquf kepada sahabat, dan maqthu’ dari tabiin.”
Karena itu, siapa yang datang setelah mereka dari para ulama seperti As-Suyuthi (wafat: 911), dan Asy-Syaikh Al-Amir Muhammad bin Ismail Ash-Shan’ani (wafat: 1182), dan lain-lain dari mereka yang memperhatikan aspek atsar dalam tafsir, hampir tidak keluar dari keempat tafsir ini, maka materi penulisan mereka dan ilmu-ilmu yang mereka uraikan dalam tafsir-tafsir yang mereka karang – seperti Ad-Durr Al-Mantsur dan Mafatih Ar-Ridhwan – tidak keluar secara keseluruhan dari keempat tafsir ini.
- Di antara para ulama ada yang tertarik dengan penjelasan hukum-hukum Al-Quran sehingga memperhatikan syarah hukum-hukum ini dan penjelasannya, baik sesuai urutan Al-Quran Al-Karim dan urutannya, dari surat Al-Fatihah dan Al-Baqarah serta surat-surat yang mengikutinya, atau memperhatikan penjelasan hukum-hukum ini secara tematik; seperti Imam Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath-Thahawi (wafat: 321) yang bangkit untuk menafsirkan hukum-hukum Al-Quran Al-Karim sesuai metode tematik dalam tafsir, seperti karya-karya kitab para fuqaha; karena ia membahas ayat-ayat yang berbicara tentang thaharah di satu tempat, dan ayat-ayat yang berbicara tentang shalat di satu tempat, dan ayat-ayat yang berbicara tentang zakat di satu tempat, kemudian mensyarah dan menafsirkannya, berbeda dengan mayoritas yang memperhatikan tafsir ayat-ayat ahkam, karena mereka menafsirkan ayat-ayat sesuai urutan surat-surat Al-Quran Al-Karim, sehingga mereka membahas apa yang ada dalam surat Al-Baqarah dari ayat-ayat ahkam, kemudian apa yang ada dalam surat An-Nisa dari ayat-ayat ahkam, dan surat-surat lainnya yang di dalamnya terdapat hukum-hukum fiqih yang menonjol.
- Ada tafsir-tafsir dalam sejarah ilmu tafsir yang di dalamnya ada sesuatu yang menarik, patut kita berhenti padanya walau sebentar, di antara tafsir-tafsir ini:
- Tafsir Al-Quran Al-Karim oleh salah seorang amir Sijistan, bernama Khalaf bin Ahmad As-Sijistani, wafat tahun 399, amir ini mengarang tafsir besar dengan partisipasi ahli ilmu dari negerinya, dan ia mendatangkan mereka dan membiayai mereka, dan mereka memindahkan pendapat-pendapat ahli ilmu dalam tafsir ini dari para fuqaha, qurra, nahwiyyin, ahli bahasa, ahli bayan dan maani, dan menuliskannya dengan pengawasan dan bantuannya, hingga selesai tafsir ini, dan dikatakan bahwa ia mendekati seratus dua puluh jilid.
- (Anwar Al-Fajr Al-Munir), yaitu tafsir yang sangat besar karya Ibnu Al-Arabi Al-Maliki (wafat: 543) rahimahullah selain kitabnya: (Ahkam Al-Quran) yang ada di tangan, dan selain kitabnya yang lain bernama: (Qanun At-Ta’wil) yang telah dicetak yang merupakan perjalanan ilmiah baginya dengan menyebutkan sebagian dari ilmu-ilmu Al-Quran Al-Karim, dan dikatakan bahwa tafsir ini terdiri dari delapan puluh jilid, dan Adz-Dzahabi (wafat: 748) berkata: “Ia datang di dalamnya dengan setiap yang indah,” maksudnya ia datang dalam tafsir ini dengan setiap yang bagus dan terpuji.
- Di antara tafsir-tafsir yang menarik adalah kitab salah seorang ulama abad kedelapan yang dikenal dengan Ibnu An-Naqqasy Ad-Dukkali (wafat: 763), Al-Hafizh Ibnu Hajar (wafat: 852) berkata: “Ia berkomitmen di dalamnya untuk tidak memindahkan satu huruf pun dari kitab tafsir siapapun dari orang-orang sebelumnya,” dan ini adalah syarat yang di dalamnya ada keanehan dan keunikan.
- Menyerupai kitab ini adalah salah satu hasyiyah dari hasyiyah-hasyiyah tafsir Al-Baidhawi, dan tafsir Al-Baidhawi (Anwar At-Tanzil) termasuk tafsir yang paling terkenal dan paling beredar pada abad yang lalu, dan ahli ilmu pada masa Khilafah Utsmaniyah memiliki perhatian besar terhadap tafsir ini, bahkan dikatakan: bahwa di antara syarat penting bagi siapa yang ingin memegang jabatan masyikhah Islam dalam Negara Utsmaniyah adalah harus menguasai dan mengetahui serta memahami seluk-beluk tafsir Al-Baidhawi.
Tafsir ini didirikan atasnya syarah-syarah, hasyiyah-hasyiyah, ta’liqat-ta’liqat dan ta’qibat-ta’qibat yang melebihi tiga ribu hasyiyah, dan di antara hasyiyahnya adalah hasyiyah salah seorang ulama Damaskus, yaitu: Muhammad Amin bin Abidin (wafat: 1252), pemilik hasyiyah (Radd Al-Muhtar ‘ala Ad-Durr Al-Mukhtar) dalam fiqih Hanafi, yang berkomitmen dalam hasyiyahnya pada Al-Baidhawi: tidak menyebutkan sesuatu yang disebutkan para mufassir, seperti apa yang disyaratkan Ibnu An-Naqqasy Ad-Dukkali (wafat: 763).
- Di antara keunikan juga dalam aspek ini, dan contoh-contoh ini saya sebutkan untuk menjelaskan perhatian-perhatian ini dan keragaman upaya-upaya ini dalam pelayanan kitab agung ini, ada dua tafsir juga dari tafsir-tafsir Al-Quran Al-Karim keduanya menafsirkan Al-Quran Al-Karim dengan huruf-huruf yang tidak berharakat; maksudnya: tidak ada di keduanya misalnya huruf (jim), dan huruf (kha), dan huruf (ghain); yaitu tidak ada di keduanya huruf bertitik yang disebutkan dalam tafsir, hanya ada di keduanya huruf-huruf yang tidak berharakat, seperti huruf ha, ain, shad, dan semacamnya.
Hal ini adalah perkara yang aneh, maka tafsir pertama dari dua tafsir ini adalah (Sawathi’ Al-Ilham) karya Faidhullah bin Mubarak Al-Akbarabadi, (wafat: 1004), dan tafsirnya telah dicetak, meskipun orang itu ada penyimpangan akidah, tetapi ia menempuh jalan ini dalam tafsirnya. Tafsir kedua: oleh ulama dari ulama Damaskus mutaakhirin yaitu: Ibnu Hamzah Ad-Dimasyqi: Mahmud bin Muhammad Nasib Al-Hamzawi (wafat: 1305), memiliki kitab bernama (Durr Al-Asrar) telah dicetak satu jilid, ia menafsirkan di dalamnya Al-Quran dengan huruf-huruf yang tidak berharakat, karena ia tidak menyebutkan huruf-huruf bertitik dalam tafsirnya, dan tidak mengambil manfaat dari tafsir orang Hindi sedikitpun.
Sejarah ilmu tafsir penuh dan panjang, dan As-Suyuthi rahimahullah (wafat: 911) telah mencoba menyebutkan sesuatu dari sejarah penulisan dalam aspek ini dan perhatian umat terhadapnya dalam muqaddimah hasyiyahnya pada tafsir Al-Baidhawi, yang ia beri nama: “Nawahid Al-Abkar wa Syawarid Al-Afkar”, dan yang dalam muqaddimahnya ia memantau sejarah penulisan dalam ilmu tafsir dan perhatian para ulama terhadapnya.
Kemudian datang ulama Turki Al-Hajj Khalifah (wafat: 1067) – yang terkenal di kalangan Arab dengan Haji Khalifah, dan dikenal di kalangan Turki dengan Katib Jalabi – dan mengarang kitab yang ia beri nama: “Kasyf Azh-Zhunun”, ia mengumpulkan di dalamnya nama-nama kitab yang dikarang dalam ilmu-ilmu Islam dan Arab dan ringkasan tentang isinya, dan mengambil apa yang dikatakan As-Suyuthi (wafat: 911) dalam muqaddimah hasyiyahnya pada tafsir Al-Baidhawi secara lengkap kemudian menambah padanya, dengan mengambil manfaat juga dari muqaddimah tafsir Ats-Tsa’labi, yang menggambarkan sejumlah tafsir dan kitab-kitab gharib Al-Quran dan musykilnya.
- Di antara ahli ilmu ada yang mengarang dalam sebagian ilmu-ilmu Al-Quran secara terpisah; seperti fadhail Al-Quran, dan di antara mereka ada yang mengarang dalam nasikh dan mansukh, dan di antara mereka ada yang mengarang dalam berbagai bidang yang banyak dan terpisah.
- Di antara mereka ada yang berbicara tentang pembahasan-pembahasan ilmu-ilmu Al-Quran dan jenisnya secara terkumpul dan terbatas dalam satu tempat, seperti Al-Harits bin Asad Al-Muhasibi (wafat: 243) rahimahullah dalam kitab yang ia beri nama: (Fahm Al-Quran), dan kitab ini dari pandangan pertama memberi kesan bahwa ia berbicara tentang tafsir, atau bagaimana kita memahami Al-Quran, tetapi ia meletakkannya dalam bab-bab yang di dalamnya ia berbicara tentang jenis-jenis yang berbeda dari ilmu-ilmu Al-Quran.
Dan Al-Harits Al-Muhasibi diikuti oleh sekelompok ahli ilmu seperti Ibnu al-Jauzi (wafat: 597) dalam kitab “Funun al-Afnan”, dan As-Sakhawi (wafat: 643) dalam kitab “Jamal al-Qurra”, dan Az-Zarkasyi (wafat: 794) dalam kitab “Al-Burhan fi Ulum al-Quran”, dan As-Suyuthi (wafat: 911) dalam sejumlah kitabnya.
Dan di antara yang paling luas menulis tentang berbagai jenis ilmu Al-Quran secara terkumpul dan teratur dalam satu tempat adalah salah seorang ulama Mekkah pada abad kedua belas, yaitu Ibnu Aqilah Al-Makki (wafat: 1150), yang mengarang kitab bernama: “Az-Ziyadah wal Ihsan” yang mengumpulkan sekitar (154) jenis dari berbagai jenis ilmu Al-Quran, yang dasarnya ada dalam kitab As-Suyuthi (wafat: 911) “Al-Itqan”, tetapi ia mengembangkannya, merinci, menambah, memperbaiki dan merevisinya.
6 – Dan di antara ulama umat ini ada yang menaruh perhatian pada qiraah Al-Quran Al-Karim, dan menetapkan hukum-hukum serta kaidah-kaidahnya dalam kitab-kitab tersendiri, dan ini adalah aspek agung dari perhatian umat dalam bidang ini, dan perhatian para ahli ilmu dalam aspek ini sulit dihitung dan sulit dipahami sepenuhnya, karena terdapat kitab-kitab besar dan sangat banyak dalam ilmu qiraah yang jumlahnya melebihi ribuan.
Dan di antara kitab-kitab yang paling lengkap, dan paling banyak mengumpulkan berbagai qiraah Al-Quran Al-Karim adalah kitab “Al-Kamil” karya Abu al-Qasim Yusuf bin Jubarah Al-Hudzali (wafat: 465) yang memuat sepuluh qiraah mashur, dan menambahkan empat puluh qiraah lainnya dari qiraah para sahabat dan yang setelah mereka.
Dan salah seorang ulama dari Mekkah yaitu: Abdul Karim bin Abdul Shamad Ath-Thabari, yang dikenal dengan kunyahnya: Abu Ma’syar, memiliki kitab yang disebut “Suq al-Arus”, yang di dalamnya pengarangnya memasukkan (1550) riwayat dan jalan, dan kitab itu masih berupa manuskrip, tetapi kehilangan bagian akhirnya, yaitu dari surat Al-Muthaffifin sampai akhir kitab. Dan tidak diketahui ada orang yang mengumpulkan dalam ilmu qiraah lebih banyak dari Al-Hudzali dan Ath-Thabari kecuali apa yang dimuat dalam kitab Isa bin Abdul Aziz Al-Iskandarani, dari ulama abad ketujuh (wafat: 629) yang diberi nama: “Al-Jami’ al-Akbar wa al-Bahr al-Azakhar”, dan sepengetahuan ini adalah kitab terbesar dalam qiraah, yang memuat (7000) riwayat dan jalan.
Dan di antara manifestasi perhatian dalam aspek ini adalah upaya Hafizh Ibnu al-Jazari (wafat: 833) rahimahullah dalam ilmu qiraah, dan seolah-olah Allah Subhanahu wa Ta’ala memilihnya untuk menetapkan ilmu ini, dan membingkainya dengan kerangka tertentu, sehingga kerangka yang ditetapkan oleh Ibnu al-Jazari (wafat: 833) ini menjadi sumber kaya yang digali oleh setiap orang yang datang sesudahnya; karena ia rahimahullah melihat kitab-kitab qiraah yang ada pada masa itu; yaitu: pada abad kedelapan dan kesembilan Hijriyah; karena ia hidup antara tahun (751) sampai tahun (833) maka dalam periode yang luas dari hidupnya ini ia meneliti kitab-kitab qiraah terpenting di zamannya, lalu meneliti sekitar (57) kitab dari kitab-kitab qiraah kemudian menyaringnya, dan meneliti sanad-sanadnya dengan teliti, dan mensyaratkan syarat yang tinggi – yang tidak pernah disyaratkan oleh siapapun sebelumnya di antara yang menulis dalam ilmu qiraah – yaitu bahwa setiap perawi dari yang lain dalam sanad qiraah harus terbukti pernah bertemu dengannya dan benar sezaman dengannya, selain bahwa perawi ini harus adil dan terpercaya dalam apa yang dikatakannya dan diriwayatkannya dalam bidang ilmu qiraah.
Maka ini adalah syarat yang tidak pernah dipegang oleh siapapun sebelum Ibnu al-Jazari (wafat: 833) rahimahullah, lalu ia menyusun kitab besar dalam qiraah yaitu kitab “An-Nasyr fi al-Qiraah al-Asyr”, yang dikarangnya dalam sekitar sepuluh bulan di Turki di kota Bursa tahun (799) dan karya ini menjadi kitab terpenting dari kitab-kitab qiraah, sejak tanggal pengarangnya menulis kitab tersebut hingga zaman kita sekarang, sehingga setiap orang yang menaruh perhatian pada ilmu qiraah pasti harus kembali kepada kitab ini dan mengambil manfaat darinya.
7 – Dan terdapat perhatian-perhatian yang berlimpah dan beragam dari umat dalam melayani Kitab Allah, maka di antara para ahli ilmu ada yang menaruh perhatian pada bahasa Al-Quran dan dialek-dialek yang dengannya Al-Quran diturunkan, dan di antara mereka ada yang menaruh perhatian pada penjelasan kata-kata asing Al-Quran, atau i’rabnya, dan di antara mereka ada yang menaruh perhatian pada syair-syair yang mendukungnya, dan di antara mereka ada yang menaruh perhatian pada kemukjizatan dan lain-lain bentuk perhatian dan kepedulian.
8 – Dan di antara orang-orang baik ada yang menaruh perhatian pada wakaf untuk Al-Quran Al-Karim, dan mewakafkan hasil dari apa yang diwakafkannya berupa tanah, atau properti, atau saham di perusahaan-perusahaan untuk hasil yang diperoleh dalam cara-cara mengajarkan Al-Quran, dan belanja untuk para pelajar dan qari.
Maka ini hanyalah sedikit dari banyaknya manifestasi perhatian umat ini kepada Kitab yang mulia dan kepedulian mereka kepadanya.
Pengantar Keempat
Pintu Masuk ke Al-Quran Al-Karim
Bab Pertama: Fakta-Fakta Sejarah Awal
Pasal Pertama: Kehidupan Rasul Sebelum Diutus
[Kehidupan Rasul Sebelum Diutus]
Nabi shallallahu alaihi wa sallam tumbuh sebagai yatim di Mekkah, dan kakeknya Abdul Muthalib mengasuhnya, dan setelah kehilangan kakeknya, pamannya yang bergelar Abu Thalib mengasuhnya.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam menemani pamannya untuk berdagang ke Syam, dan dalam perjalanan itu bertemu dengan seorang rahib bernama Bahira, dan dengan beberapa tanda yang dilihat Bahira pada Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, ia memperkirakan bahwa urusan besar akan terjadi padanya.
Dan ia telah menyaksikan beberapa peristiwa di masa Jahiliyah, di antaranya: Hilf al-Fudhul, dan renovasi Ka’bah, dan pada saat itu ia dikenal sebagai: Ash-Shadiq al-Amin, dan ia telah memikat hati setiap orang yang bergaul dengannya.
Dan ia sering melakukan perjalanan ke Syam untuk berdagang, dan menikah dengan Khadijah radhiyallahu anha, dan darinya ia memiliki: beberapa anak.
Dan manifestasi pertama dari pengutusan beliau shallallahu alaihi wa sallam adalah bahwa ia tidak pernah melihat mimpi kecuali terwujud, kemudian ia condong kepada menyendiri di gua Hira, kemudian setelah itu ia mengalami pengalaman pertamanya dengan wahyu.
Ia kembali ke rumahnya setelah kedatangan malaikat, dan ia demam dengan demam dingin, dan meminta Khadijah untuk menyelimutinya dengan selimut tebal yang menghilangkan ketakutannya. Dan setelah ia menyampaikan kekhawatirannya kepada Khadijah, ia menenangkan ketakutannya, dan membawanya kepada sepupu Khadijah yaitu Waraqah bin Naufal, dan ia adalah seorang syekh tua yang memiliki pengetahuan besar dalam ilmu kitab-kitab samawi, dan Waraqah menyadari bahwa ini adalah nabi zaman, dan memberitahunya: bahwa jika ia masih hidup pada masanya, ia akan menolongnya dengan pertolongan yang kuat.
Pasal Kedua: Bagaimana Teks At-Tanzil Al-Hakim Dikumpulkan?
[Pengumpulan Al-Quran]
Al-Quran turun sebagai bagian-bagian yang terpisah, yang berbeda-beda panjangnya dari satu surat lengkap sampai satu ayat, dan kadang-kadang sampai bagian dari ayat, dan orang-orang menunggu wahyu dengan penuh semangat, dan berharap menerimanya begitu turun.
Dan musuh-musuh Al-Quran juga menerimanya demikian, tetapi penerimaan mereka adalah untuk mencari titik-titik kelemahan di dalamnya, atau untuk memenuhi kebutuhan mendesak mereka dalam apresiasi sastra.
Dan Al-Quran pada fase itu tidak terbatas hanya sebagai kumpulan ayat-ayat yang dibaca dan ditilawatkan, tetapi juga sebagai kitab yang ditulis dengan tinta, karena wahyu memiliki penulis-penulisnya, yang menulisnya pada apapun yang ada dalam jangkauan tangan mereka, tetapi masa Nabi berlalu, dan tidak ada salinan lengkap dari Al-Quran.
Dan agar tersedia kesempatan bagi surat-surat Al-Quran untuk dapat diselesaikan pembangunannya secara bertahap, perlu menunggu sampai wahyu semuanya selesai untuk mengeluarkan salinan yang lengkap, namun ini tidak menghalangi orang-orang beriman dari pengetahuan lisan tentang tempat setiap ayat baru dari setiap surat secara spesifik, dan dalam setiap tahap dari tahap-tahap turunnya wahyu.
Al-Quran dikumpulkan sebagai satu kesatuan pada masa Khalifah pertama Abu Bakar Ash-Shiddiq, kemudian dikumpulkan lagi pada masa Utsman, dan sebagian Syi’ah mengira bahwa Utsman telah mengubah teks Al-Quran, atau bahwa ia menghilangkan sesuatu yang berkaitan dengan Ali bin Abi Thalib, maka jika itu benar, para penghafal Al-Quran akan meninjaunya, dan betapa banyaknya mereka pada waktu penyebaran mushaf Utsman.
Dan bahkan Ibnu Mas’ud mengakui kebenaran mushaf Utsman, meskipun dengan pertentangan politiknya pada saat itu, dan mustahil kita menjelaskan penerimaan semua orang terhadap mushaf Utsman sebagai kepatuhan yang tidak berdasar dari pihak mereka, dan bukti ini dianggap sebagai bukti terkuat bahwa teks Al-Quran dalam “bentuk terbaik dari kesempurnaan dan kesesuaian”.
Dan kami ingin menegaskan bahwa peran Utsman radhiyallahu anhu terangkum dalam menyebarkan teks yang dibaca pada zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan mushaf hanya dinisbahkan kepadanya dari segi bahwa ia yang memerintahkan pengumpulan, bukan dari segi bahwa ia telah campur tangan dalam teks.
Dan Utsman radhiyallahu anhu tidak bermaksud menghapuskan perbedaan qiraah, bahkan ia bermaksud:
1 – Memberikan sifat syar’i pada qiraah-qiraah yang berbeda, yang masuk dalam kerangka teks yang tertulis, dan memiliki dasar Nabawi yang disepakati, dan melindunginya, dan dalam hal ini mencegah terjadinya pertengkaran antara kaum muslimin mengenainya.
2 – Mengesampingkan apa yang sama sekali tidak sesuai dengan teks asli, untuk menjaga kaum muslimin dari jatuh dalam perpecahan berbahaya di antara mereka, dan melindungi teks itu sendiri dari setiap penyimpangan.
Dan pada fase itu qiraah-qiraah lisan tetap sebagaimana adanya, dan tidak disebutkan bahwa Utsman mewajibkan seluruh jamaah muslimin dengan qiraah tertentu tanpa yang lainnya.
Dan setelah itu dilakukan pemusnahan mushaf-mushaf individual, untuk menyelamatkan kesatuan teks agama, dan tindakan ini dilakukan dengan bermusyawarah dengan orang-orang, dan tindakan ini diambil dengan kesepakatan semua sahabat.
Pasal Ketiga: Bagaimana Prinsip Al-Quran Disampaikan kepada Dunia?
Sesungguhnya yang kami maksud dengan prinsip Al-Quran adalah “Islam”, maka ia berjalan dengan langkah-langkah yang menang menuju utara dan selatan, dan menuju timur dan barat, sehingga dalam periode yang relatif singkat ia menyebar di setengah dunia yang dikenal pada saat itu.
Ketika Islam datang, segala sesuatu berubah dalam semalam, dan tidak terbatas hanya pada aspek politik dan ekonomi di kota-kota besar saja, tetapi meresap ke dalam kedalaman jiwa semua bangsa ini: bahasa-bahasa dan pemikiran-pemikiran dan hukum dan harapan-harapan dan kebiasaan-kebiasaan dan pandangan dunia dan ide tentang: Allah! = semua itu telah mengalami perubahan yang radikal dan cepat.
Bab Kedua: Al-Quran Melalui Tiga Manifestasinya .. Agama .. dan Akhlak .. dan Sastra
Pasal Pertama: Kebenaran atau Unsur Agama
Sesungguhnya ciri pertama kekuatan dalam dakwah Islam, terletak dalam gambaran yang dengannya kebenaran agama disampaikan dalam upaya untuk mengakhiri perselisihan-perselisihan yang bangkit mengenainya.
Al-Quran telah menjelaskan akidah dengan gambaran yang tidak memungkinkan manusia untuk menyimpang darinya, karena ia menyajikan pemikiran yang disepakati oleh seluruh rasul.
[Teori Agama dalam Al-Quran]
Sesungguhnya teori agama dalam Al-Quran didirikan melalui dua bagian:
Bagian pertama: Tidak ada sesuatu pun dalam wujud yang layak disembah dan dipatuh selain Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.
- Al-Quran memusatkan perhatian pada ide penting, yaitu ide kembali kepada kesatuan pertama, kesatuan yang dulu menyatukan manusia, yaitu bahwa Islam adalah dakwah umum untuk semua rasul, tidak berbeda nabi dengan nabi dalam urusannya.
- Bahwa akidah ini adalah akidah fitrah, meskipun tenggelam dan tertutup di bawah kepercayaan-kepercayaan lain, Al-Quran datang untuk menghapus kotoran-kotoran yang menempel pada fitrah pertama ini.
Bagian kedua: Iman kepada kehidupan akhirat. Al-Quran membangun iman kepada kebenaran ini atas dasar bahwa Dzat yang menciptakan manusia pertama kali, mampu mengembalikannya setelah kematiannya, sesungguhnya Dzat yang mengubah bumi yang kering gersang menjadi bumi yang subur, mampu mengembalikan kehidupan kepada manusia.
Sesungguhnya iman kepada Hari Akhir, adalah keputusan Tuhan yang Allah Ta’ala wajibkan atas diri-Nya, sesungguhnya akhirat adalah salah satu keharusan keadilan Ilahi, dan hikmah yang luhur, “Agar Dia menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan” [An-Nahl: 39], “Dan agar setiap jiwa dibalas dengan apa yang dikerjakannya dan mereka tidak dizhalimi” [Al-Jatsiyah: 22].
Dan demikianlah kita melihat bahwa dua kutub yang atasnya didirikan agama tauhid yang Al-Quran serukan, berdiri baik atas kebenaran-kebenaran yang sebelumnya telah diakui, atau dibangun atas prinsip-prinsip yang jelas.
Sesungguhnya dalil teoritis apa pun tidak memerlukan lebih dari kekuatan dalam berdalil dan meyakinkan ini.
Pasal Kedua: Kebaikan atau Unsur Akhlak dalam Al-Quran
Sesungguhnya jiwa manusia tidak hanya bergizi dari kebenaran-kebenaran teoritis saja, ada kebutuhan kepada landasan praktis yang mampu mengarahkan aktivitasnya dalam setiap saat dari hidupnya.
Al-Quran menekankan bahwa agama adalah akidah dan hukum, yaitu: keyakinan dan ketaatan.
Dan Allah menanamkan di dalam diri setiap kita pandangan akhlak naluriah, dan Al-Quran bersandar pada naluri manusia dalam mengenal keadilan dan kezhaliman, kebaikan dan kejahatan.
Dan karena kebutuhan alamiah tidak sama kekuatan dan efektivitasnya pada semua orang untuk mewajibkan mereka tunduk kepada kaidah perilaku, maka Al-Quran meletakkan metode lengkap dalam pendidikan, dan Al-Quran bersandar pada bahwa akhlak telah diajak para rasul kepadanya, maka para rasul telah membawa akhlak kepada manusia, dan mencela kecenderungan materialis, dan cinta dunia, dan kefasikan, dan penipuan.
Sesungguhnya Al-Quran telah mengumpulkan dalam dirinya dalam teori akhlak hikmah orang-orang terdahulu, dan menyempurnakan bangunan para rasul sebelumnya.
BAB KETIGA: KEINDAHAN ATAU ASPEK SASTRA
Sesungguhnya syarat-syarat akhlak sudah cukup dalam membuktikan ketuhanan risalah ini, dan jiwa-jiwa yang memiliki ketajaman batin tidak memerlukan lebih dari tersedianya dua faktor sebelumnya: pengajaran kebenaran dan seruan kepada keutamaan.
Namun kebanyakan manusia sangat memperhatikan bentuk lahiriah, jauh dari kekuatan isi, maka yang dapat dirasakan oleh mereka mendahului yang dapat dipahami akal.
[Al-Qur’an dan Sastra Arab] Oleh karena itu Al-Qur’an datang sebagai contoh yang tak tertandingi dalam sastra Arab. Al-Qur’an adalah teladan tertinggi bagi apa yang dapat disebut sastra secara umum, bahasanya menawan hati, mematahkan dengan hujah, dan mendatangkan kegembiraan yang tenang, bukan yang gaduh.
- Bahasa Al-Qur’an adalah materi suara yang menjauh dari kelembutan bahasa ahli perkotaan dan kekasaran bahasa ahli pedalaman. Al-Qur’an menggabungkan kelembutan yang pertama dengan kekuatan yang kedua.
- Al-Qur’an adalah susunan suku kata dalam sistem yang lebih terpadu dari prosa dan kurang tertata dari puisi.
- Kata-katanya terpilih, jarang dapat disifati sebagai asing, memiliki keistimewaan ringkas yang mengagumkan dan jernih dalam ungkapan.
- Al-Qur’an adalah gaya bahasa yang menggabungkan antara akal dan perasaan meskipun ada jarak di antara keduanya.
- Al-Qur’an dalam kesatuan surat-suratnya, susunannya, dan keserasian bagian-bagiannya adalah ayat dan sungguh ayat!
BAB KETIGA: SUMBER SEJATI AL-QUR’AN
Bab Pertama: Pencarian Sumber Al-Qur’an pada Periode Makkah
[Al-Qur’an pada Periode Makkah]
Kehidupan orang Arab pada masa turunnya Al-Qur’an adalah kehidupan “kesesatan yang nyata”, dan zaman mereka adalah zaman “jahiliyah yang pertama”. Di tengah kerumunan kebodohan yang memalukan ini, terlihat golongan kecil yang sedikit jumlahnya yang dikenal dalam sejarah dengan nama “Hunafa”.
Sistem-sistem agama yang dikenal pada waktu itu terwakili dalam beberapa kelompok, di antaranya: Sabiah, yaitu kelompok penyembah berhala. Kami melihat bahwa paganisme yang tersebar di Hijaz tidak memberikan penjelasan yang benar tentang sumber Al-Qur’an Al-Karim.
Jika kita melihat lingkungan Yahudi dan Kristen, kita akan mendapati bahwa mustahil keduanya menjadi asal Al-Qur’an, karena Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bertemu dengan ulama Yahudi dan Nasrani dalam waktu yang memungkinkan beliau mengambil dari mereka.
- Adapun pertemuannya dengan Bahira sang rahib, itu adalah pertemuan kebetulan dan dalam kehadiran seluruh anggota kafilah, dan beliau adalah yang bertanya bukan yang mendengarkan.
- Adapun perjalanan dagangnya ke Syam, tidak dapat diandalkan karena beberapa hal:
- Kesibukannya yang menjadi tujuan kepergiannya
- Beliau bersama kaumnya dan teman-temannya
- Bahasa asing menjadi penghalang penting
- Para penentangnya tidak menggunakan hujah ini padahal lebih dekat bagi mereka daripada kebohongan yang mereka buat-buat
Dalam kajian sejarah gereja pada masa ini ada yang menolak fitnah ini dari dasarnya.
Inilah pemandangan hidup yang terbentang di hadapan pengamat. Ke mana pun ia mengarah akan menemukan kesesatan yang membutuhkan hidayah dan penyimpangan yang memerlukan perbaikan. Ia tidak akan pernah menemukan teladan akhlak dan agama yang layak untuk dipindahkan Muhammad atau dijadikan dasar sistem perbaikannya.
Adapun hubungan dengan kitab-kitab suci, tidak mungkin karena beberapa hal:
- Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bisa membaca dan menulis, dan tidak ada yang menunjukkan bahwa beliau pernah membaca sebuah kitab pun.
- Kitab-kitab samawi pada waktu itu tidak ditulis dalam bahasa Arab.
Tidak mungkin Al-Qur’an diambil dari puisi sebagian orang Arab seperti Umayyah bin Ash-Shalt dan lainnya karena beberapa hal:
- Al-Qur’an telah menafikan bahwa ia adalah puisi. Dengan merenungkan puisi sebagian penyair kita akan menemukan mereka menggambarkan hal-hal seperti minum khamr, yang tidak kita temukan jejaknya dalam Al-Qur’an.
- Orang Arab yang ahli fasih dan berpengetahuan, tidak ada seorang pun dari mereka yang mengklaim bahwa Al-Qur’an dicuri atau dipalsukan dari puisi yang ada pada masa itu siapa pun penciptanya.
Tidak mungkin Al-Qur’an adalah buah renungan pribadi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena beberapa hal:
- Dalam Al-Qur’an terdapat informasi yang tidak dapat dicapai dengan renungan semacam itu, seperti sejarah dan kisah-kisah yang ada dalam Al-Qur’an.
- Rincian informasi yang tersebar dalam Al-Qur’an seperti sifat-sifat Allah yang beragam, asma-Nya yang husna, nasib yang menanti manusia setelah matinya, dan rincian-rincian lain yang tersebar dalam Al-Qur’an, dengan tidak adanya penarikan kembali dari kebenaran-kebenaran tersebut. Semua itu tidak mungkin dicapai akal betapa pun tinggi kejernihan dan kekuatannya.
Bab Kedua: Pencarian Al-Qur’an pada Periode Madinah
[Al-Qur’an pada Periode Madinah]
Pada periode ini terjadi hubungan dengan kelompok yang terorganisir secara agama, yaitu orang Yahudi. Pertanyaan yang dapat diajukan: mungkinkah Al-Qur’an mengambil sesuatu dari orang-orang Yahudi ini?
Orang yang melihat Al-Qur’an akan melihat sikapnya yang keras terhadap masyarakat Yahudi secara umum. Al-Qur’an menyebutkan sejumlah sifat mereka, di antaranya: mereka tidak menjaga kitab mereka, melakukan riba, memakan harta manusia dengan batil, menghalalkan suap dan kebohongan. Maka tidak dapat dikatakan bahwa Al-Qur’an diambil dari para ahli kitab Yahudi.
Harus dikatakan: tidak ada sejarawan yang menghargai tanggung jawabnya berani mengklaim bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil dari seseorang atau beberapa orang tertentu yang darinya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menerima.
Al-Qur’an memberitahu kita tentang ulama Ahli Kitab bahwa mereka terbagi dua:
- Mayoritas besar yang menaruh permusuhan besar terhadap Islam dan ahlinya. Mereka berusaha keras mempermalukan Muhammad dan mengingkari nash-nash yang ada dalam kitab mereka karena kedengkian dan kebencian.
- Ada kelompok yang mendengarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mencocokkan sifat-sifatnya dengan yang mereka ketahui tentang sifat nabi penutup. Mereka segera tunduk pada kebenaran dan datang kepadanya dengan patuh, seperti Abdullah bin Salam yang termasuk orang Yahudi paling luas ilmunya.
Hubungan orang seperti Abdullah bin Salam atau yang beriman pada tahap itu dari penganut agama lain seperti Salman Al-Farisi atau Maria Al-Qibthiyyah – semua ini berdiri dalam posisi pengikut, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah yang diikuti.
Akhirnya, harus dibedakan antara mengutip dan menyetujui. Tidak diragukan bahwa Al-Qur’an menyetujui kitab-kitab sebelumnya dalam banyak prinsip dan ajaran karena kitab-kitab tersebut keluar dari sumber yang satu.
PENUTUP
Kita telah meneliti dengan dipandu fakta-fakta sejarah asumsi adanya sumber manusiawi bagi ajaran Al-Qur’an. Kita mengikuti pendiri Islam dalam tahap-tahap kehidupannya yang ganda: kehidupan biasa dan kehidupan risalah, di tempat kelahirannya atau di tempat terakhirnya, dalam perjalanannya dan dalam hubungannya. Kita membahas kemampuannya membaca dan sejauh mana ketersediaan dokumen di tangannya.
Semua jalan penelitian yang berada di tangan kita dan kita bahas terbukti lemah dan tidak mampu memberikan kemungkinan apa pun bagi jalan alami yang membuka kesempatan hubungan dengan kebenaran-kebenaran suci.
Meskipun upaya mental yang kita lakukan untuk memperbesar informasi yang didengarnya dan pengetahuan lingkungannya, mustahil bagi kita menganggapnya penjelasan yang memadai bagi bangunan tinggi ilmu-ilmu luas dan terperinci yang diberikan Al-Qur’an Al-Karim kepada kita dalam bidang agama, sejarah, akhlak, hukum, dan alam semesta.
Wahyu adalah titik balik dalam ilmu Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam.
Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki akhlak yang baik dalam hidupnya sebelum diutus, diakui oleh musuh-musuhnya. Bahkan beliau dikenal di antara mereka sebagai Ash-Shadiq Al-Amin (yang jujur dan terpercaya). Beliau sendiri tidak mengharapkan akan diberi peran sebagai rasul dari Allah.
Namun hidupnya berubah ketika wahyu turun kepadanya. Dalam memahami karakteristik wahyu ada pemahaman terhadap sumbernya juga.
- Wahyu turun bertahap dan terbagi-bagi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak membuat-buat wahyu, tetapi wahyu turun kepadanya tanpa pengetahuan sebelumnya darinya, bahkan tanpa persiapan!
- Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersikap mengagungkan wahyu dan sangat takut menisbatkan kepada Allah Ta’ala apa yang tidak difirman-Nya, {Katakanlah: “Tidaklah patut bagiku mengubahnya dari pihak diriku sendiri”} (Yunus: 15).
- Wahyu tidak mencerminkan kepribadian Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Pada kebanyakan waktu tidak disebutkan sesuatu tentang beliau. Perhatikanlah misalnya: ketika pamannya Abu Thalib dan istrinya Khadijah meninggal, beliau bersedih karenanya dengan sedih yang amat, namun wahyu tidak menunjukkan hal itu. Bahkan kita mendapati dalam wahyu ayat-ayat teguran dan celaan bagi beliau ‘alaihish shalatu wassalam.
- Wahyu tidak mungkin bersumber dari keikhlasan pribadi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau dari khayalan tak sadar, dan bahwa itu adalah ruminasi pengetahuan lama yang terlupakan karena beberapa hal:
Pertama: Karena kita tidak menemukan dalam sejarah apa yang dapat berdiri untuk menjelaskan lurus jalur yang diikuti Al-Qur’an dan menjelaskan langkah-langkahnya yang tegas dan menentukan.
Kedua: Tidak ada tanda sekecil apa pun yang menunjukkan dari dekat atau jauh adanya gangguan mental, bahkan sebaliknya yang benar.
Karena kita tidak dapat mengalami pengalaman wahyu untuk memastikan kebenarannya, kita dapat memverifikasi kebenaran wahyu dengan beberapa hal:
- Kesesuaian dalam inti ajarannya dengan yang ditetapkan para nabi sebelumnya. Kesesuaian ini membuka mata orang yang lalai tentang kejujuran mereka dan kebenaran prinsip-prinsip mereka yang menggambarkan kebenaran-kebenaran tinggi dari sudut berbeda.
- Kebenaran-kebenaran ilmiah – yang sesuai sempurna dengan pengamatan indrawi dan kenyataan ilmiah – yang tersebar dalam Al-Qur’an.
- Berita-berita masa depan yang diberitakan Al-Qur’an akan terjadi dan terjadi sebagaimana diberitakan.
Metode Al-Qur’an yang sempurna berdiri sebagai bukti yang memadai atas sumber ketuhanannya. Dakwah Al-Qur’an pada awalnya tersebar di Jazirah Arab di kalangan orang Arab, tetapi tujuannya adalah seluruh umat manusia.
PENGANTAR KELIMA
Pengantar Buku: “Fenomena Al-Qur’an”, karya Profesor Malik bin Nabi rahimahullah
Saudara terhormat Bin Nabi. Saya baru saja selesai membaca buku Anda yang berharga (Fenomena Al-Qur’an). Yang memberikan kepentingan besar pada topik Anda adalah bahwa topik itu lama dan baru sekaligus.
Dalam cahaya ilmu modern, Anda memasuki isu utama yang terus menyibukkan para mufasir di setiap zaman. Mungkin saya menyentuhnya dalam berbagai kajian sebelumnya, baik yang berbahasa Arab maupun Perancis.
Kegembiraan yang saya rasakan saat membacanya sedalam yang ditimbulkan pembacaan ini bagi saya untuk menyadari kembali upaya serius yang independen dan objektif yang membawa para pencari kebenaran kepada hasil yang serupa, bahkan terpadu meskipun ada jarak yang memisahkan mereka dalam ruang dan waktu.
Jika kita mengesampingkan gaya teknis Anda dalam menulis dan cara Anda yang mengagumkan dalam menyajikan hal-hal, kita menemukan cara-cara kita dalam kajian serupa secara mencolok.
Bukan hanya itu, bahkan tidak jarang pemeriksaan kita terhadap perkara membawa teladan yang sama dan menunjukkan makna yang sama.
Masalahnya adalah pencarian sumber sejati Al-Qur’an, dan mengetahui apakah kitab ini mungkin diambil dari ilmu atau pemahaman orang yang diutus dengannya, atau dari pengetahuan manusia secara umum, ataukah sebaliknya ada alasan yang tidak dapat ditolak yang mendorong kita untuk meyakini sumber ilahi dari atas.
Itulah masalah yang Anda pun mengikat diri untuk menyelesaikannya dengan menemukan dasar-dasar tetap dan rasional bagi keimanan kepada sumber ilahi kitab ini dan menyorotinya.
Jika para mufasir tradisional, untuk mencapai tujuan yang sama, telah menegaskan secara khusus aspek sastra dari masalah ini, maka sikap ini bagaimanapun juga menemukan penjelasan dan pembenaran dalam prinsip umum Al-Qur’an.
Prinsip yang membedakan gaya Al-Qur’an dalam keindahan yang tak tertandingi dan keagungan yang khas, dan dengan pengakuan langsung atas ketidakmampuan membuat yang sepertinya, yang merupakan sisi paling dapat dicapai oleh seluruh orang fasih dari kalangan Badui.
Namun benar juga bahwa para mufasir ini, saat memandang isi Al-Qur’an, telah melihat dalam keluasan dan kedalaman pengetahuan yang dibawanya untuk kemanusiaan, bukti pada dirinya tentang karakteristiknya yang melampaui kemampuan manusia, dan bahwa pertentangan antara arahan sebagian ayat, seperti ayat {Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dan yang telah kamu beri nikmat: “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti} (Al-Ahzab: 37) misalnya, dan perasaan pribadi Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, adalah kesaksian yang tidak dapat ditolak atas kemandirian Al-Qur’an dari Nabi.
Dapatkah dikatakan bahwa hasil-hasil yang disimpulkan oleh nenek moyang kita ini membuat setiap upaya penafsiran baru tidak berguna?
Dapatkah dikatakan bahwa kewajiban kita ditentukan sejak sekarang dan seterusnya dengan mencatat hasil-hasil siap ini dan memandangnya sebagai kata terakhir tentang kebenaran hal-hal?
Tidak, sama sekali tidak.
Karena sejauh pengetahuan kita tentang alam dan jiwa manusia berkembang, dan setiap kali kita memperoleh alasan baru yang mendorong kita melihat hal-hal dari sudut berbeda, maka itu mengajak kita menempatkan masalah-masalah saat kita mempelajarinya sesuai dengan kenyataan baru ilmu ini.
Masalah Al-Qur’an tidak boleh keluar dari kaidah ini.
Jika benar bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat yang berkelanjutan, dan jika tanda-tanda kebenarannya di sisi lain tidak terbatas pada ungkapannya saja, tetapi juga pada alam dan jiwa sebagaimana dikatakan Al-Qur’an sendiri {Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar} (Fushshilat: 53).
Jika demikian halnya, maka kewajiban terletas pada setiap mukmin yang terhubung dengan data-data ilmu pengetahuan.
Kewajiban itu adalah mendekatkan kedua sisi jiwanya: antara keyakinan dan ilmunya, ketika ia menghadapi nash-nash yang diturunkan, saya tidak mengatakan dengan hipotesis-hipotesis para ilmuwan yang belum terbukti atau yang tidak dapat dibuktikan, tetapi dengan hasil-hasil yang tetap dan yang dihasilkan dari percobaan-percobaan mereka, dan agar ia mengambil dari penyajian tersebut pelajaran-pelajaran yang dihasilkannya.
Dan jika pada kenyataannya terdapat dua kebenaran, maka tidak berhak bagi salah satunya untuk mengingkari yang lain, bahkan sebaliknya, keduanya harus saling meneguhkan dan saling menguatkan.
Dan jika seorang mukmin yang berilmu kebetulan memiliki bakat menulis di samping kedua sifat iman dan ilmu tersebut, maka kewajiban lain tertumpah pada pundaknya: yaitu mengeluarkan buah-buah ilmunya dengan bahasa zamannya, sebagaimana yang dilakukan seorang nabi yang berbicara kepada kaumnya dengan bahasa mereka.
Sesungguhnya saya dapat menegaskan bahwa Anda telah melaksanakan kedua kewajiban tersebut.
Anda telah merenungkan dengan matang, hubungan antara akal dan turats, antara ilmu dan akidah, dan menuangkan dalam penyajian yang indah, jelas dan padu percikan api yang meledak dari pertemuan tersebut.
Ketepatan pendapat Anda, kehangatan akidah Anda, kebaruan istilah-istilah Anda, dan keindahan gaya bahasa Anda; semua ini adalah keistimewaan-keistimewaan yang menonjol yang tidak dapat saya berikan ucapan selamat yang setimpal kepada Anda atas hal tersebut, namun saya merasa berkewajiban untuk mengarahkan sepatah kata kepada para pemuda terpelajar agar mereka menghindari kerancuan yang mungkin mereka alami seputar tujuan sebenarnya dari kajian ini.
Saya ingin mengatakan kepada para pemuda tersebut: bahwa masalah ini di sini bukanlah buletin untuk mengumpulkan informasi dan menyimpannya dalam ingatan, melainkan contoh hidup dari diskusi dialektis, yang manfaat vitalnya yang besar adalah dengan menyalakan energi spiritual bagi seluruh pembaca yang mampu berpikir secara metodologis, sebagaimana ia juga menempatkan masing-masing mereka untuk membahas masalah (kebenaran) dan mencari dengan sarana-sarana dirinya sendiri tentang apa yang harus ia ambil untuk mencapainya.
Jika buletin semacam ini dapat berfungsi sebagai obat untuk keraguan keagamaan maka itu adalah tambahan kebaikan, namun tujuan utama sebelum segala sesuatunya tetaplah memerangi ketidakpedulian terhadap masalah (kebenaran ilahiyah).
Bagaimanapun juga, kajian seperti ini tidak bermaksud memaksakan dirinya sebagai sejenis akidah yang kita terima dengan mata tertutup dan tanpa diskusi, hal ini menurut saya sangat jauh dari pemikiran penulis, apalagi hal itu bertentangan dengan prinsip-prinsip Al-Qur’an yang ia bela. Al-Qur’an tidak hanya menyatakan bahwa iman tidak dapat dipaksakan dari luar, tetapi ia juga dengan keras mengecam setiap pengikutan buta yang menyerahkan kendali kepada otoritas yang tidak bersandar pada akal, dan ia selalu secara terus-menerus menyeru kepada perenungan individual yang terlepas dari pengaruh lingkungan luar dan praduga-praduga, serta dari setiap ide yang diambil secara spontan tanpa penelitian.
Sesungguhnya Descartes tidak melakukan selain itu, ketika ia menolak metode dominasi, menuntut hak akal, menegaskan kewajiban setiap orang untuk tidak mengambil kecuali yang tetap dan aksiomatik yang tidak diragukan lagi.
Lebih dari itu; dalam kerangka ini tampak bagi kita mazhab Cartesian dari segi ini, kurang ketat dan terpaku dibandingkan Al-Qur’an. Telah dikenal dengan perhatian apa filosof Prancis itu menjelaskan renungan-renungannya, ketika ia meletakkan kaidah metodologis yang tidak menerima kecuali ide-ide yang jelas dan terbatas.
Dia tidak bermaksud dengan itu berbicara tentang hal-hal yang berkaitan dengan iman dan ideal-ideal, tetapi tentang kebenaran-kebenaran abstrak yang tidak dapat diketahui kecuali dengan cahaya alamiah saja.
Jika Descartes terpaksa melakukan kehati-hatian seperti itu; karena ia menganggap iman Kristen mengandung hal-hal yang samar sebagai objeknya, maka siapakah yang tidak melihat bahwa kehati-hatian ini tidak ada tempatnya dalam akidah Al-Qur’an?
Bagaimanapun juga saya tidak melihat dengan baik alasan yang dapat membenarkan meremehkan pemikiran Cartesian. Ada kesan bahwa Anda secara metodis melemahkan pemikiran ini, seolah-olah Descartes, wajah besar dalam filsafat modern itu, adalah seorang kafir atau skeptis atau orang yang meyakini dengan naif akan kesempurnaan pemikiran manusia dan kemerdekaannya yang mutlak terhadap setiap sentuhan luar, yang bersumber dari alam atau yang di atas alam.
Karena itu saya berharap cetakan-cetakan mendatang akan membawa apa yang dengan hati-hati menghilangkan kerancuan ini.
Dan ada catatan kecil lainnya.
Hal itu berkaitan dengan kehidupan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Tampak bagi saya bahwa Anda, dengan mengambil penegasan-penegasan beberapa orientalis, menerima tanpa kesulitan asumsi mereka tentang masa uzlah Nabi sebelum turunnya wahyu. Kita mengetahui topik favorit mereka dalam kerangka ini.
Hal itu bertumpu pada pernyataan bahwa itu adalah masa inkubasi dan fermentasi ide-ide keagamaan yang mendahului kejernihan Al-Qur’an dalam kesadaran Muhammad.
Dan karena ide untuk karya besar yang luas seperti Al-Qur’an, tidak dapat dibayangkan bahwa ciri-cirinya terbentuk dalam semalam, dan memerlukan waktu yang perlu dan alamiah untuk persiapannya, maka para penulis tersebut telah berpegang pada sisi asumsi, dan mengasumsikan untuk pengasingan ini masa yang terbentang selama bertahun-tahun.
Dan demikianlah Muhammad harus menghilang sejak pernikahannya di usia dua puluh lima tahun, untuk meluangkan waktu bagi renungan-renungannya, dan tidak kembali muncul kecuali sambil membawa risalahnya di suatu pagi.
Dan meskipun Anda telah berusaha membantah dan menolak ide uzlah ini, namun Anda tampak tetap memberi ruang bagi keberadaan latar belakang dan sandaran material untuknya, maksud saya dengan itu adalah pengasingan Rasul selama lima belas tahun.
Sesungguhnya hipotesis ketidakhadiran seperti itu, bukan hanya tidak berdasar tanpa dukungan, bahkan ia sama sekali tidak benar dari segi historis.
Sumber-sumber yang sangat terpercaya sesungguhnya menentukan tanggal uzlah ini dengan tepat yaitu sebulan sebelum turunnya Al-Qur’an, sebagaimana juga menentukan dengan lebih tepat bahwa bulan ini diselingi dengan kembali ke rumahnya beberapa kali untuk berbekal, dan bulan ini juga didahului oleh mimpi-mimpi jelas yang dilihat Rasul dalam tidurnya kemudian ia segera mendapatinya sebagai kenyataan seperti terbelahnya fajar.
Semua pertanda ini terjadi di usia empat puluh tahun, yaitu pada tahun turunnya wahyu.
Dan jika kita melangkah jauh, dan mengasumsikan secara dialektis bahwa bulan uzlah ini, telah diteruskan Rasul setiap tahun, sejak pernikahannya hingga turunnya wahyu; tetap harus kita perhatikan bahwa sebelas dari dua belas bulan dari tahun-tahun hidupnya dalam periode ini telah ia habiskan dalam lingkungan sosial, dan di depan mata warga negaranya.
Dan Al-Qur’an Al-Karim dalam firman Allah Ta’ala: “Katakanlah: ‘Kalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu. Sesungguhnya aku telah tinggal di antara kamu beberapa umur sebelum Al Quran itu. Maka apakah kamu tidak memahami?'” (Yunus: 16) sesungguhnya mengambil dalil dengan tepat, dari kesinambungan tinggalnya Rasul di antara kaumnya selama periode yang luas dan memadai, agar semua orang mengetahui keistimewaan-keistimewaan dan perhatian-perhatiannya, serta ketidakmampuan pribadinya untuk menyusun ayat-ayat Al-Qur’an.
Lalu apa sajakah pekerjaannya pada masa transisi tersebut?
Ada peristiwa yang pasti dan yakin setidaknya, yaitu sekitar usia tiga puluh tahun ia berpartisipasi dalam pembangunan kembali Ka’bah, dan diketahui di sisi lain bahwa ia dengan cakap dan aktif memikul beban-beban keluarganya; karena ia dikaruniai sebagian besar anak-anaknya sebelum ia menjalankan risalah.
Dan jika kita tidak memiliki rincian yang lebih besar tentang pekerjaan sehari-harinya sebelum diutus, maka sebab hal itu tanpa ragu, adalah bahwa selain keistimewaan yang menonjol dari akhlaknya yang agung, kita tidak menemukan dalam periode waktu tersebut suatu hal yang terpisah dari kebiasaan lingkungannya yang dapat dibicarakan.
Maka diamnya seluruh ahli sirah, tentang rincian-rincian tambahan dalam hal ini, adalah poin yang kita catat sebagaimana Anda amati dengan benar, untuk kepentingan turats Islam yang selalu menghiasi diri dengan kejujuran historis yang sangat ketat, ketika ia menahan diri dari setiap perluasan atau penyempitan, terhadap data-data tetap yang ia temukan dalam jangkauannya, baik data-data ini untuk kepentingan urusannya atau tidak untuk kepentingannya.
Setelah semua ini, saya kembali mengucapkan selamat kepada Anda sekali lagi atas usaha yang luas, yang dengannya Anda berhasil melemparkan cahaya indah seputar masalah keagamaan secara umum, dan seputar pemikiran Al-Qur’an khususnya, agar Anda berkontribusi dalam mendukung landasan rasional bagi iman.
Semoga Anda mendapati pahala terbesar Anda dalam kesuksesan makna yang layak diperoleh buku Anda, dan semoga seruan logis dan puitis yang Anda luncurkan untuk menyentuh pemilik akal-akal yang cemerlang, meresap ke dalam jiwa mereka yang mendalam sehingga membangkitkan di dalam mereka kehidupan hati dan akal sekaligus.
Paris, 15 September 1946 M
Muhammad Abdullah Daraz
Profesor di Al-Azhar Asy-Syarif
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
[Pengantar Penulis untuk Cetakan Kedua]
Jilid pertama dari buku (An-Naba’ Al-‘Azim) adalah kelahiran baru.. lama.. baru dalam potongan dan akhirannya, lama dalam awal dan permulaannya.
Tempat kelahirannya adalah di kampus universitas, sejak lebih dari dua puluh tahun yang lalu; tetapi ia tidak muncul darinya kala itu kecuali leher dan dadanya.. adapun anggota-anggotanya belum tumbuh, dan penciptaannya belum sempurna kecuali hari ini.
Para mahasiswa masa lalu telah menyaksikan awal urusannya, ketika ia didiktekan kepada mereka berupa bintang-bintang yang terpisah, dalam periode-periode yang berturut-turut atau tidak berturut-turut, dan mereka setiap kali terkumpul darinya halaman-halaman yang terhitung tidak lebih dari sepuluh dan beberapa puluh, mereka mempercepat pencetakannya, dan mulai memacu semangat penulis untuk menyusun kelanjutannya.
Kemudian datang setelah itu urusan-urusan yang menghalangi penyelesaian penyusunannya, apalagi penyempurnaan pencetakannya; maka tetaplah bagian yang telah dicetak darinya terkurung di percetakan, atau terbatas pada barisan pertama dari mahasiswa penelitian ini.. hingga Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa mengizinkan – dan segala sesuatu di sisi-Nya dengan ukuran – agar penulis menambahkan padanya hari ini sel-sel lain, yang dengannya perawakannya menjadi sempurna, dan dengannya ia bersiap-siap untuk keluar dari lingkup budaya universitas, ke ruang budaya dunia, agar ia berbicara kepada setiap akal yang sadar dan kritis, yang tidak mengambil apa yang ia ambil kecuali atas dasar basharah dan bayyinah, dan tidak meninggalkan apa yang ia tinggalkan kecuali atas dasar basharah dan bayyinah; dan kepada setiap hati nurani eksperimental yang merasakan, yang tidak cukup dengan berita tentang penyaksian; dan tidak mencukupkan diri dengan penimbangan dari perbandingan.
Sesungguhnya ia adalah pembicaraan yang dimulai dari titik awal..
Maka ia tidak menuntut dari pembacanya bergabung di bawah panji tertentu; dan tidak memeluk mazhab tertentu, dan tidak mengandaikan padanya spesialisasi dalam budaya tertentu; dan tidak memperoleh kualifikasi tertentu, bahkan ia memohon kepadanya agar ia kembali dengan dirinya sebagai lembaran putih; kecuali dari fitrah yang sehat; dan perasaan yang halus; dan keinginan yang jujur dalam mencapai kebenaran dalam urusan Al-Qur’an ini.
Dan sesungguhnya ia pasti akan bersambung insya Allah.
Dalam Sya’ban tahun 1376 H – (Maret 1957 M)
Muhammad Abdullah Daraz
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
[Pengantar Penulis untuk Cetakan Pertama]
Segala puji bagi Allah yang telah mengutamakan kita dengan Al-Qur’an atas seluruh umat, dan memberikan kepada kita dengannya apa yang tidak diberikan kepada seorang pun dari alam semesta, menurunkannya sebagai petunjuk dunia yang kekal, dan menjadikannya sebagai penutup bagi syariat-syariat samawi, kemudian menjadikan baginya dari dirinya sendiri hujjah atas zaman yang tegak.
Dan shalawat dan salam atas orang yang akhlaknya adalah Al-Qur’an, dan wasiatnya adalah Al-Qur’an, dan warisannya adalah Al-Qur’an, yang berkata: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya”.
Ya Allah sebagaimana Engkau telah memberikan kepada kami bagian dari warisan dzikir yang bijaksana ini, maka Engkau mudahkan bagi kami menghafalnya dan mengingatnya, dan Engkau cintakan kepada kami membacanya dan merenunginya, kami memohon kepada-Mu agar Engkau menjadikan kami dari sebaik-baik pewarisnya yang berpegang teguh dengan petunjuk-Nya, dan yang tegak menjaga keamanannya, dan yang di bawah benderanya pada hari kiamat mereka dibangkitkan, dalam barisan imam agung kami, dan rasul mulia kami, Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan atas keluarganya dan para sahabatnya, dan pengikut-pengikutnya dan kekasih-kekasihnya.
Amma ba’du:
Maka ini adalah penelitian-penelitian tentang Al-Qur’an Al-Karim, yang saya sajikan di hadapan pelajaran-pelajaran tafsir untuk mahasiswa Fakultas Ushul al-Din di Universitas Al-Azhar yang makmur, saya maksudkan dengannya untuk menggambarkan Kitabullah dengan perhiasan dan kekhususannya, dan untuk mengangkat tabir dari sebagian kebenaran-kebenaran yang terkait dengannya, dan untuk menggambar rencana yang seharusnya ditempuh dalam mempelajarinya. Dan saya telah memperhatikan dalam sebagian besar penelitian ini sesuatu dari perincian dan analisis, dan sesuatu dari penerapan dan perumpamaan, maka saya tidak cukup dengan isyarat di mana ungkapan dimungkinkan, dan tidak dengan dalil jika penglihatan langsung dimungkinkan, dengan harapan bahwa mata-mata orang-orang yang lalai akan terbuka untuknya; maka mereka akan mendapati cahaya mereka berjalan di depan mereka dan di sebelah kanan mereka, dan agar dada-dada orang-orang mukmin terbuka karenanya, maka mereka bertambah iman di atas iman mereka.
Rabbana atmim lana nurana waghfir lana innaka ‘ala kulli syai’in qadir, wa bil-ijabati jadir.
Pada tahun 1352 H – 1933 M.
Muhammad Abdullah Daraz
PENELITIAN PERTAMA: DALAM MENENTUKAN MAKNA AL-QUR’AN, DAN PERBEDAAN ANTARA AL-QUR’AN DENGAN HADITS QUDSI DAN HADITS NABAWI
[Makna Al-Qur’an dalam Bahasa]
Al-Qur’an pada asalnya adalah masdar dengan wazan fu’lan dengan dhammah, seperti al-ghufran dan asy-syukran dan at-tuklan. Kita mengatakan: “Aku membacanya dengan qira’an, qira’atan, dan qur’anan” dengan makna yang sama, yaitu: aku melafalkannya dengan tilawah. Penggunaan Al-Qur’an dengan makna masdar ini telah datang dalam firman Allah Taala: “Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya dan membacakannya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu” (Al-Qiyamah: 17) dan ayat sesudahnya, yaitu bacaannya.
Kemudian ia menjadi nama khusus untuk Kitab yang mulia itu, dan inilah penggunaan yang paling umum, dan dari sini firman Allah Taala: “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus” (Al-Isra: 9).
Al-Qur’an juga disebut Al-Kitab, dan dari sini firman Allah Taala: “Alif Lam Mim. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya” (Al-Baqarah: 1-2).
[Rahasia Penamaan Al-Qur’an: Al-Qur’an dan Al-Kitab]
Diperhatikan dalam penamaannya sebagai “qur’an” karena ia dibaca dengan lisan, sebagaimana diperhatikan dalam penamaannya sebagai “kitab” karena ia ditulis dengan pena. Kedua penamaan itu adalah penamaan sesuatu dengan makna yang mengenainya.
Dalam penamaan dengan kedua nama ini terdapat isyarat bahwa Al-Qur’an berhak mendapat perhatian untuk dihafal di dua tempat, tidak hanya di satu tempat, yaitu: ia wajib dihafal di dalam dada dan di dalam baris-baris tulisan sekaligus, agar bila salah satu lupa maka yang lain mengingatkan. Maka kita tidak percaya pada hafalan seorang penghafal hingga ia sesuai dengan mushaf yang telah disepakati oleh para sahabat, yang dinukil kepada kita secara turun-temurun dengan bentuknya yang ditetapkan pertama kali.
Dan kita tidak percaya pada tulisan seorang penulis hingga ia sesuai dengan apa yang ada pada para penghafal dengan sanad yang sahih dan mutawatir.
Dengan perhatian ganda inilah yang Allah bangkitkan dalam jiwa umat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dengan mengikuti teladannya, Al-Qur’an tetap terpelihara dalam penjagaan yang ketat, sebagai perwujudan janji Allah yang telah menjamin penjagaannya ketika Allah berfirman: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (Al-Hijr: 9). Al-Qur’an tidak tertimpa apa yang menimpa kitab-kitab terdahulu berupa tahriif (pengubahan), tabdiil (penggantian) dan terputusnya sanad, karena Allah tidak menjamin penjagaan kitab-kitab itu, melainkan menyerahkannya kepada penjagaan manusia. Allah Taala berfirman: “Dan orang-orang rabbani, dan pendeta-pendeta mereka disuruh memelihara kitab-kitab Allah” (Al-Maidah: 44), yaitu dengan apa yang diminta kepada mereka untuk menjaganya.
[Rahasia Perbedaan antara Al-Qur’an dan Kitab-Kitab Samawi dalam Hal Penjagaan]
Rahasia perbedaan ini adalah bahwa seluruh kitab-kitab samawi datang secara temporer bukan untuk keabadian, sedangkan Al-Qur’an ini datang untuk membenarkan kitab-kitab yang ada di hadapannya dan mengawasi atas kitab-kitab tersebut. Al-Qur’an mengumpulkan kebenaran-kebenaran yang tetap yang ada dalam kitab-kitab itu, ditambah dengan apa yang Allah kehendaki sebagai tambahannya. Al-Qur’an menggantikan posisi kitab-kitab itu, sedangkan tidak ada satupun dari kitab-kitab itu yang bisa menggantikan posisi Al-Qur’an. Maka Allah menetapkan agar Al-Qur’an tetap menjadi hujjah hingga hari kiamat. Bila Allah menetapkan suatu perkara, Dia akan memudahkan sebab-sebabnya, dan Dia Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.
[Definisi Al-Qur’an dengan Batasan-Batasan Logis]
Ketika Al-Qur’an dengan makna yang paling tinggi ini merupakan juziyyah (partikular) yang hakiki, maka sulit untuk membatasinya dengan definisi-definisi logis yang memiliki genus, diferensia, dan karakteristik khusus.
Demikianlah keadaan semua juziyyah yang hakiki, tidak mungkin dibatasi dengan cara ini, karena bagian-bagian definisi logis adalah kulliyyat (universal), sedangkan yang universal tidak sesuai dengan yang partikular secara konseptual. Karena universal dapat diterapkan pada segala sesuatu yang diandaikan serupa dengannya dalam sifat tersebut secara mental meskipun tidak ada dalam kenyataan, sehingga tidak membedakannya dari selain yang lainnya, maka tidak akan menjadi batasan yang benar. Sesungguhnya yang partikular dibatasi dengan menunjuk kepadanya ketika hadir dalam indra atau dikenal dalam pikiran.
Bila engkau ingin mendefinisikan Al-Qur’an dengan definisi yang membatasi, maka tidak ada cara selain dengan menunjuk kepadanya tertulis dalam mushaf atau dibaca dengan lisan. Engkau berkata: “Ia adalah apa yang ada di antara dua sampul ini”, atau engkau berkata: “Ia adalah ‘Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam'” (Al-Fatihah: 1-2), sampai: “dari (golongan) jin dan manusia” (An-Nas: 6).
Adapun apa yang disebutkan para ulama tentang mendefinisikannya dengan genus dan diferensia sebagaimana mendefinisikan hakikat-hakikat universal, sesungguhnya mereka menginginkan mendekatkan maknanya dan membedakannya dari sebagian yang lain yang mungkin ikut serta dengannya dalam nama meskipun hanya berupa dugaan. Hal itu karena seluruh kitab-kitab Allah Taala dan hadits-hadits qudsi dan sebagian hadits-hadits nabawi ikut serta dengan Al-Qur’an dalam hal merupakan wahyu ilahi. Maka mungkin ada orang yang menyangka bahwa semua itu ikut serta dengannya dalam nama Al-Qur’an juga. Mereka ingin menjelaskan kekhususan nama itu baginya dengan menjelaskan sifat-sifatnya yang membedakannya dari jenis-jenis tersebut.
[Definisi Al-Qur’an]
Maka mereka berkata: “Al-Qur’an adalah kalam Allah Taala, yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, yang diperintahkan untuk dibaca sebagai ibadah.”
[Penjelasan Definisi]
“Kalam” adalah genus yang mencakup seluruh kalam, dan penyandarannya kepada “Allah” membedakannya dari kalam selain-Nya dari manusia, jin, dan malaikat.
“Yang diturunkan” mengeluarkan kalam ilahi yang Allah khususkan bagi diri-Nya sendiri, atau yang Dia sampaikan kepada malaikat-Nya untuk mereka amalkan bukan untuk diturunkan kepada seseorang dari manusia. Karena tidak semua kalam-Nya Taala diturunkan, melainkan yang diturunkan darinya hanya sedikit dari yang banyak: “Katakanlah: ‘Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)'” (Al-Kahf: 109), “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Luqman: 27).
Yang diturunkan dibatasi dengan “kepada Muhammad” untuk mengeluarkan apa yang diturunkan kepada nabi-nabi sebelumnya, seperti Taurat yang diturunkan kepada Musa, Injil yang diturunkan kepada Isa, Zabur yang diturunkan kepada Dawud, dan Shuhuf yang diturunkan kepada Ibrahim, alaihimussalam.
Dibatasi dengan “yang diperintahkan untuk dibaca sebagai ibadah”, yaitu yang diperintahkan untuk dibaca dalam shalat dan lainnya sebagai bentuk ibadah, untuk mengeluarkan apa yang tidak diperintahkan untuk dibaca dari hal tersebut, seperti qiraat yang dinukil kepada kita melalui jalur ahad, dan seperti hadits-hadits qudsi, yaitu yang disandarkan kepada Allah Azza wa Jalla jika kita katakan: bahwa hadits-hadits itu diturunkan dari sisi Allah dengan lafaz-lafaznya.
[Perbedaan antara Al-Qur’an dan Hadits-Hadits Nabawi]
Adapun hadits-hadits nabawi, maka berdasarkan makna yang dikandungnya terbagi menjadi dua bagian:
Bagian taufiiqi (bimbingan): yaitu yang Nabi istinbathkan dengan pemahamannya terhadap kalam Allah atau dengan perenungannya terhadap hakikat-hakikat alam. Bagian ini sama sekali bukan kalam Allah.
Bagian tauqiifi (petunjuk): yaitu yang Rasul shallallahu alaihi wa sallam terima kandungannya dari wahyu lalu beliau jelaskan kepada manusia dengan kalam beliau.
Bagian ini meskipun ilmu yang ada di dalamnya dinisbatkan kepada pengajar dan pemberi ilhamnya Subhanahu, namun dari sisi ia adalah kalam, layak dinisbatkan kepada Rasul shallallahu alaihi wa aalihii wa sallam. Karena kalam itu dinisbatkan kepada yang menyusun dan mengucapkannya yang merangkainya dengan cara khusus, meskipun makna yang ada di dalamnya telah diterima berbagai pemikiran dan yang kedua menerima dari yang pertama.
Maka hadits nabawi keluar dengan kedua bagiannya dari batasan pertama dalam definisi ini.
[Perbedaan antara Al-Qur’an dan Hadits-Hadits Qudsi]
Demikian juga hadits qudsi jika kita katakan: “Ia diturunkan dengan maknanya saja”, dan inilah pendapat yang paling zhahir menurut kami. Karena jika ia diturunkan dengan lafaznya, maka ia akan memiliki kehormatan dan kesucian dalam pandangan syarak sebagaimana yang dimiliki nazhm Al-Qur’an, karena tidak ada alasan untuk membedakan antara dua lafaz yang diturunkan dari sisi Allah.
Konsekuensi dari hal itu adalah wajibnya menjaga nash-nashnya, tidak bolehnya meriwayatkannya dengan makna secara ijmak, haramnya menyentuh lembaran tulisannya bagi yang berhadats, dan tidak ada yang berpendapat demikian semua.
Dan juga: Al-Qur’an karena dimaksudkan darinya selain pengamalan kandungannya ada hal lain yaitu tantangan dengan uslubnya dan ibadah dengan membacanya, maka dibutuhkan penurunan lafaznya. Sedangkan hadits qudsi tidak diturunkan untuk tantangan dan tidak untuk ibadah melainkan hanya untuk mengamalkan apa yang ada di dalamnya. Faedah ini diperoleh dengan menurunkan maknanya. Maka pendapat tentang penurunan lafaznya adalah pendapat tentang sesuatu yang tidak ada motivasi rasional kepadanya dan tidak ada dalil syar’i tentangnya, kecuali apa yang mungkin terlihat dari penisbatan hadits qudsi kepada Allah dengan shighah “Allah Tabaraka wa Taala berfirman begini”. Namun qarain (indikasi) yang kita sebutkan tadi cukup memberikan ruang untuk mentakwilkannya bahwa yang dimaksud adalah penisbatan kandungannya bukan penisbatan lafaz-lafaznya. Ini adalah takwil yang umum dalam bahasa Arab.
Sesungguhnya engkau mengatakan ketika menjelaskan bait syair: “Penyair berkata begini” dan engkau berkata ketika menafsirkan ayat dari kitab Allah dengan kalam dari dirimu: “Allah Taala berfirman begini”. Berdasarkan kaidah inilah Allah Taala mengisahkan dari Musa dan Firaun dan lainnya kandungan kalam mereka dengan lafaz-lafaz selain lafaz mereka, dan uslub selain uslub mereka, dan Dia nisbatkan hal itu kepada mereka.
[Bantahan terhadap Apa yang Telah Disebutkan]
Jika engkau mengklaim bahwa jika dalam hadits qudsi tidak ada sesuatu yang lain yang suci di balik makna, maka boleh bagi kita menyebut sebagian hadits nabawi juga sebagai qudsi, karena adanya makna ini di dalamnya.
Jawabannya: bahwa ketika kita memutuskan dalam hadits qudsi tentang turunnya maknanya karena datangnya nash syar’i tentang penisbatannya kepada Allah, dengan sabda beliau shallallahu alaihi wa aalihii wa sallam: “Allah Taala berfirman begini”, maka kita menyebutnya qudsi karena itu. Berbeda dengan hadits-hadits nabawi karena tidak datang di dalamnya nash seperti ini, maka boleh pada setiap hadits bahwa kandungannya diajarkan dengan wahyu, dan boleh juga diistinbath dengan ijtihad dan ra’yu. Maka semuanya disebut nabawi dengan menghentikan penamaan pada batas yang diyakini. Andai ada tanda yang membedakan bagian wahyu bagi kita, niscaya kita sebut itu qudsi juga.
Sungguh perbedaan ini tidak menghasilkan kesimpulan praktis. Sama saja bagi kita ketika mengamalkan hadits apakah dari bagian ini atau bagian itu. Karena Nabi shallallahu alaihi wa aalihii wa sallam dalam menyampaikannya adalah jujur dan terpercaya, dalam ijtihadnya adalah cerdas dan diberi taufiq. Ruhul Qudus mendukungnya sehingga tidak membiarkannya berbuat salah jika salah dalam perkara syariat. Maka kembalinya perkara sesungguhnya kepada wahyu dalam kedua keadaan, baik dengan pengajaran dari awal, atau dengan penetapan atau nasakh di akhir. Karena itu wajib kita terima seluruh sunnahnya dengan penerimaan: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah” (Al-Hasyr: 7), “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (Al-Ahzab: 36).
PENELITIAN KEDUA: DALAM MENJELASKAN SUMBER AL-QUR’AN, DAN MENETAPKAN BAHWA IA DARI SISI ALLAH DENGAN LAFAZ DAN MAKNANYA
Sungguh seluruh manusia telah mengetahui dengan pengetahuan yang tidak bercampur keraguan bahwa Kitab yang mulia ini datang melalui lisan seorang laki-laki Arab yang ummi yang lahir di Makkah pada abad keenam Masehi, namanya Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib, shallawatullahi wa salamuhu alaihi wa ala aalih. Kadar ini tidak ada perselisihan di dalamnya antara mukmin dan mulhid, karena kesaksian sejarah yang mutawatir dengannya tidak ada yang menyamainya atau mendekatinya dalam kesaksiannya untuk kitab lain, dan tidak untuk peristiwa lain yang muncul di muka bumi.
Adapun setelah itu, dari mana Muhammad bin Abdullah shallallahu alaihi wa ala aalih wa sallam datang dengannya? Apakah dari dirinya sendiri dan dari wahyu hati nuraninya, ataukah dari seorang guru? Dan siapakah guru itu?
[Al-Qur’an Memperkenalkan Dirinya dan yang Berbicara Dengannya]
Kita membaca dalam kitab itu sendiri bahwa ia bukan dari karya pemiliknya, melainkan ia adalah perkataan rasul yang mulia, yang memiliki kekuatan di sisi Dzat yang memiliki Arasy lagi terpercaya, yang ditaati lagi amanah: yaitu Jibril alaihissalam yang menerimanya dari sisi Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, kemudian menurunkannya dengan bahasa Arab yang jelas ke dalam hati Muhammad shallallahu alaihi wa ala aalih wa sallam. Muhammad menerima darinya sebagaimana murid menerima dari gurunya sebuah nash dari nash-nash, dan tidak ada baginya dalam hal itu suatu pekerjaan setelah itu kecuali:
(1) Memahami dan menghafal. Kemudian
(2) Mengisahkan dan menyampaikan. Kemudian
(3) Menjelaskan dan menafsirkan. Kemudian
(4) Menerapkan dan melaksanakan.
Adapun menciptakan makna-maknanya dan menyusun bangunan-bangunannya maka dia tidak melakukan keduanya sama sekali, dan tidak ada baginya dari kedua perkara itu sesuatu. Ia tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan.
Demikianlah Al-Qur’an menyebutnya ketika berfirman: “Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat kepada mereka, mereka berkata: ‘Mengapa tidak kamu buat sendiri?’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dari Tuhanku'” (Al-A’raf: 203), dan berfirman: “Katakanlah: ‘Tidaklah pantas bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku'” (Yunus: 15). Nash-nash seperti ini banyak dalam perkara wahyu makna-makna.
Kemudian berfirman dalam perkara wahyu lafzi: “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur’an dengan berbahasa Arab” (Yusuf: 2), “Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa” (Al-A’la: 6), “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya” (Al-Qiyamah: 16), “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah” (Al-Alaq: 1-3), (dan bacalah – surat Al-Kahf), (dan bacalah dengan tartil – surat Al-Muzzammil). Perhatikanlah bagaimana Dia mengungkapkan dengan qira’ah dan iqra’, tilawah dan tartiil, menggerakkan lisan, dan kalam yang berbahasa Arab. Semua itu adalah sifat-sifat lafaz bukan makna-makna murni.
[Al-Qur’an Menyatakan Secara Tegas Bahwa Tidak Ada Buatan di Dalamnya untuk Muhammad dan Tidak untuk Selain Muhammad dari Makhluk]
Al-Qur’an dengan demikian tegas dalam menyatakan bahwa tidak ada buatan di dalamnya untuk Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan tidak untuk seorangpun dari makhluk, melainkan ia diturunkan dari sisi Allah dengan lafaz dan maknanya.
Sungguh mengherankan bahwa masih ada sebagian manusia yang membutuhkan dalil tentang bagian pertama dari masalah ini, yaitu bahwa Al-Qur’an bukan dari Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.
[Pengakuan Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa Al-Qur’an Bukan dari Beliau Merupakan Dalil Terkuat bahwa Al-Qur’an adalah Kalam Allah]
Sesungguhnya perkara ini andai menemukan hakim yang memutus dengan adil, maka cukup baginya mendengar kesaksian ini yang datang melalui lisan pemiliknya terhadap dirinya sendiri, dan tidak perlu mencari di baliknya kesaksian saksi lain dari akal atau naqal. Hal itu karena ia bukan termasuk jenis “da’wa” (tuntutan) sehingga butuh bayyinah (bukti), melainkan ia termasuk jenis “iqrar” (pengakuan) yang pemiliknya dituntut dengannya dan tidak ada sahabat maupun musuh yang ragu dalam menerimanya darinya.
Apa keuntungan bagi orang berakal yang mengklaim bagi dirinya hak kepemimpinan dan menantang manusia dengan keajaiban-keajaiban dan mukjizat untuk mendukung kepemimpinan tersebut, kami berkata: apa keuntungan baginya dalam menisbatkan dagangannya kepada orang lain, dan melepaskan diri darinya secara total? Padahal dia mampu mengklaimnya untuk dirinya sehingga bertambah kemuliaan dan kehebatan kedudukannya, dan seandainya dia mengklaimnya, niscaya tidak akan ada seorang manusiapun yang menentangnya dan mengklaimnya untuk dirinya sendiri.
Yang kita ketahui bahwa banyak sastrawan merampas karya orang lain lalu mencurinya atau mencuri darinya apa yang ringan bebannya dan mahal nilainya serta aman tuduhannya, bahkan di antara mereka ada yang menggali kuburan orang mati dan memakai kain kafannya kemudian keluar kepada kaumnya dengan perhiasan dari pakaian-pakaian pinjaman tersebut. Adapun seseorang menisbatkan kepada orang lain karya paling berharga dari akalnya dan paling mahal yang dapat dihasilkan oleh pikirannya, maka ini belum pernah dilahirkan oleh zaman.
Seandainya kita mengandaikannya secara hipotetis, niscaya kita tidak mengetahui penjelasan yang masuk akal atau yang menyerupai masuk akal baginya, kecuali satu hal yang mungkin terlintas dalam dada orang bodoh, yaitu pemimpin ini melihat bahwa dalam (penisbatan Al-Quran kepada wahyu Ilahi) terdapat yang membantunya dalam memperbaiki manusia dengan mewajibkan ketaatan mereka kepadanya dan berlakunya perintahnya bagi mereka; karena penisbatan tersebut menjadikan perkataannya memiliki kehormatan dan pengagungan yang tidak akan ada padanya seandainya dia menisbatkannya kepada dirinya sendiri.
Dan ini adalah qiyas (analogi) yang rusak pada dirinya sendiri, rusak pada dasarnya.
[Kerusakan Hakiki dari Asumsi Sebelumnya]
Adapun kerusakan pada dirinya sendiri; adalah karena pemilik Al-Quran ini telah mengeluarkan perkataan yang dinisbatkan kepada dirinya sendiri dan perkataan yang dinisbatkan kepada Allah Taala; maka penisbatan apa yang dia nisbatkan kepada dirinya sendiri tidaklah mengurangi kewajiban taat kepadanya sedikitpun, dan penisbatan apa yang dia nisbatkan kepada Tuhannya tidaklah menambahnya sedikitpun, bahkan dia mewajibkan atas manusia ketaatan kepadanya dalam keduanya sama rata, maka kehormatan keduanya dalam jiwa-jiwa sama rata, dan ketaatan kepadanya adalah ketaatan kepada Allah, dan kemaksiatan kepadanya adalah kemaksiatan kepada Allah, maka mengapa dia tidak menjadikan semua perkataannya dari kalam Allah Taala seandainya perkara itu sebagaimana yang dikira oleh prasangka tersebut.
[Mengetahui Keadaan Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah Dalil atas Kejujurannya dalam Perkataannya: Al-Quran adalah Kalam Allah]
Adapun kerusakan qiyas ini dari dasarnya; adalah karena ia dibangun atas asumsi yang batil, yaitu membolehkan bahwa pemimpin ini termasuk dari mereka yang tidak keberatan dalam mencapai tujuan perbaikan untuk melewatinya melalui jembatan kebohongan dan penyesatan, dan itu adalah perkara yang ditolak oleh realitas sejarah dengan penolakan sepenuhnya. Karena siapa yang mengikuti sirah beliau yang mulia dalam gerak dan diamnya, ungkapan dan isyarahnya, dalam ridha dan amarahnya, dalam kesendirian dan perkumpulannya.. tidak akan ragu bahwa beliau adalah manusia yang paling jauh dari kemunafikan dan kelicikan, dan bahwa rahasia dan terang-terangannya sama dalam ketelitian kejujuran dan ketegasan kebenaran dalam perkara besar dan kecilnya, dan bahwa itu adalah sifat khusus beliau yang paling khas dan paling nyata sebelum kenabian dan sesudahnya, sebagaimana disaksikan dan terus disaksikan oleh sahabat-sahabat dan musuh-musuhnya hingga hari kita ini {Katakanlah: “Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepada kamu dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepada kamu”. Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa tahun sebelum Al Quran ini (diturunkan). Apakah kamu tidak memikirkan?} [Yunus: 16] dan ayat-ayat sesudahnya.
Dan seakan-akan aku melihat engkau di sini ingin aku sampaikan kepadamu dari sirah beliau yang suci contoh yang jelas dalilnya atas tingkat kejujuran dan amanahnya dalam dakwaan wahyu yang sedang kita bicarakan, dan bahwa beliau tidak akan membawa sesuatu dari Al-Quran dari dirinya sendiri, maka inilah sebagiannya bagimu:
[Kebutuhan Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada Wahyu, dan Keterlambatannya, adalah Dalil bahwa Al-Quran dari Sisi Allah]
Sungguh telah turun kepadanya masalah-masalah yang sepatutnya mendorongnya untuk berbicara, dan kebutuhan tertingginya mendesaknya untuk berbicara sedemikian rupa sehingga seandainya perkara itu terserah kepadanya niscaya dia mendapat perkataan dan kesempatan, tetapi malam-malam dan hari-hari berlalu diikuti malam-malam dan hari-hari lagi dan dia tidak mendapati tentang hal itu Al-Quran yang dibacakannya kepada manusia.
[Peristiwa Ifk]
Bukankah orang-orang munafik telah menyebarkan berita bohong tentang isterinya Aisyah radhiyallahu anha dan wahyu terlambat, dan perkara itu berlangsung lama sedangkan manusia membicarakannya, hingga hati-hati mencapai tenggorokan, dan beliau tidak mampu kecuali berkata dengan sangat hati-hati dan waspada: “Aku tidak mengetahui tentang dirinya kecuali kebaikan”, kemudian setelah beliau berusaha keras dalam meneliti dan bertanya serta bermusyawarah dengan para sahabat, dan berlalu sebulan penuh sedangkan semua berkata: Kami tidak mengetahui keburukan apa-apa padanya, beliau tidak menambah selain berkata kepadanya di akhir perkara: “Wahai Aisyah, sungguh telah sampai kepadaku begini dan begini, jika engkau bersih maka Allah akan membersihkanmu, dan jika engkau terlibat dosa maka mintalah ampun kepada Allah”.
Ini adalah perkataannya dengan wahyu hati nuraninya, dan ia sebagaimana engkau lihat adalah perkataan manusia yang tidak mengetahui gaib, dan perkataan orang yang sangat jujur dan hati-hati yang tidak mengikuti prasangka dan tidak mengatakan apa yang tidak diketahuinya, padahal beliau tidak meninggalkan tempatnya setelah mengucapkan kata-kata ini hingga turunlah awal surat An-Nur mengumumkan kebersihan dirinya, dan mengeluarkan hukuran yang pasti tentang kehormatan dan kesuciannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dan yang lainnya.
Maka apa yang menghalanginya – seandainya perkara Al-Quran terserah kepadanya – untuk mengucapkan kata tegas ini dari sebelumnya untuk melindungi kehormatannya dengannya, dan membela sarangnya dengannya, dan menisbatkannya kepada wahyu langit agar terputus lidah-lidah para pembohong?
Tetapi beliau tidak akan meninggalkan kebohongan kepada manusia dan berbohong kepada Allah {Dan seandainya dia mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami, untuk mengazabnya)} [Al-Haqqah: 44] dan ayat-ayat sesudahnya.
[Dalil Ayat-ayat Teguran atas Sumber Al-Quran]
Dan lainnya adalah datangnya perkataan kepadanya dalam hal itu tidak sesuai dengan yang dia cintai dan sukai, maka menilainya salah dalam pendapat yang dilihatnya, dan mengizinkannya dalam hal yang dia tidak condong kepadanya, jika dia berlambat-lambat sedikit saja maka Al-Quran menemuinya dengan hardikan yang keras, dan teguran yang kasar, dan kritikan yang pahit, bahkan dalam hal-hal yang paling kecil bahayanya: {Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu} [At-Tahrim: 1], {dan kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedangkan Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti} [Al-Ahzab: 37], {Allah memaafkan kamu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar dan sebelum kamu mengetahui orang-orang yang dusta?} [At-Taubah: 43], {Tidak patut bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampunan (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka} [At-Taubah: 113], {Tidak patut bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau kiranya tidak ada ketetapan yang dahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa azab yang besar karena tebusan yang kamu ambil} [Al-Anfal: 67-68], {Adapun orang yang merasa dirinya cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapat petunjuk), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya} [Abasa: 5] dan ayat-ayat sesudahnya.
Apakah engkau melihat seandainya teguran-teguran yang menyakitkan ini bersumber dari hati nuraninya, mengekspresikan penyesalan dan tusukan hati nuraninya ketika tampak baginya kebalikan dari apa yang telah berlalu dari pendapatnya, apakah dia akan mengumumkannya dari dirinya sendiri dengan penggeraman dan pencacian ini?! Bukankah baginya dalam diam tentang hal itu adalah penutup atas dirinya, dan mempertahankan kehormatan pendapat-pendapatnya?! Ya, sungguh Al-Quran ini seandainya mengalir dari hati nuraninya niscaya dia mampu ketika diperlukan untuk menyembunyikan sesuatu dari hati nurani itu, dan seandainya dia menyembunyikan sesuatu niscaya dia sembunyikan yang serupa dengan ayat-ayat ini, tetapi ia adalah wahyu yang tidak bisa dia sembunyikan {Dan dia sekali-kali tidak kikir untuk menerangkan yang ghaib itu} [At-Takwir: 24].
Dan perhatikanlah ayat Al-Anfal yang disebutkan, engkau akan mendapati di dalamnya fenomena yang mengagumkan, karena ia tidak turun kecuali setelah pembebasan tawanan Badar dan penerimaan tebusan dari mereka, dan telah dimulai dengan penyalahan dan pengingkaran terhadap perbuatan ini, kemudian tidak lama kemudian berakhir dengan pengakuannya dan melegakan hati-hati dengannya, bahkan preseden inilah yang mendapat teguran ini menjadi kaidah bagi yang datang sesudahnya. Maka apakah keadaan jiwa yang mengeluarkan awal perkataan ini – seandainya sumbernya dari jiwa – mungkin mengeluarkan akhirnya, sedangkan belum berlalu antara keduanya masa yang memisahkan antara gertakan kemarahan dan penyesalan dengan senyuman ridha dan persetujuan? Tidak sama sekali, dan sesungguhnya kedua khangan ini seandainya diandaikan keluarnya dari jiwa secara berturut-turut niscaya yang kedua darinya adalah berpaling dari yang pertama dan menghapusnya, dan akan kembali akhir pikiran sesuai dengan apa yang telah berjalan dalam amal, maka dorongan apa yang menyeru untuk menggambarkan khangan yang terhapus itu dan mencatatnya, dengan apa yang ada padanya dari teguran terbuka tanpa hak, dan mengganggu kelezatan makanan ini yang ingin dijadikan halal yang baik? Sesungguhnya yang dipahami oleh para ahli jiwa dari membaca teks ini bahwa – di sini – sama sekali ada dua kepribadian yang terpisah, dan bahwa ini adalah suara tuan yang berkata kepada hambanya: (Engkau telah berbuat salah, tetapi aku memaafkanmu dan mengizinkanmu).
Dan engkau seandainya memperhatikan dosa-dosa ini yang mendapat teguran niscaya engkau dapati ia terbatas pada satu hal, yaitu bahwa beliau alaihi as-salam ketika mempertimbangkan antara dua perkara dan tidak mendapati keduanya mengandung dosa, beliau memilih yang paling dekat kepada rahmat keluarganya, dan petunjuk kaumnya, dan menarik hati musuhnya, dan paling jauh dari kekerasan dan kekasaran, dan dari membangkitkan syubhat dalam agama Allah, beliau tidak memiliki di hadapannya nash lalu menyelisihinya secara terang-terangan, atau melampauinya karena salah dan lupa, bahkan seluruh dosanya adalah bahwa beliau mujtahid yang telah mengerahkan kemampuannya dalam memandang, dan melihat dirinya diberi pilihan lalu memilih. Anggaplah dia mujtahid yang salah dengan memilih selain yang paling utama.. bukankah dia dimaafkan dan diberi pahala? Padahal yang beliau pilih adalah sebaik-baik yang dipilih oleh pemilik hikmah manusiawi, dan hanya Al-Quran yang mengingatkannya kepada yang lebih kuat dalam timbangan hikmah Ilahi.
Apakah engkau melihat dalam hal itu dosa yang menurut akal layak mendapat teguran dan celaan ini?! Ataukah itu adalah maqam rububiyyah dan maqam ubudiyyah, dan sunnah naik dengan kekasih dalam tangga-tangga pengajaran dan pendidikan?!
Abdullah bin Ubay pemimpin orang-orang munafik meninggal dunia; maka Nabi mengkafaninya dengan kainnya, dan ingin memintakan ampun baginya dan menshalatkannya, maka Umar radhiyallahu anhu berkata: Apakah engkau akan menshalatkannya padahal Tuhanmu telah melarangmu? Maka beliau shallallahu alaihi wa aalihi wasallam berkata: “Sesungguhnya Tuhanku memberiku pilihan maka Dia berkata: {Mintalah ampun untuk mereka atau jangan kamu mintakan ampun untuk mereka. Kalaupun kamu mintakan ampun untuk mereka tujuh puluh kali} dan aku akan menambahkannya atas tujuh puluh” dan beliau menshalatkannya, maka Allah Taala menurunkan: {Dan janganlah kamu sekali-kali menshalati (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri di atas kuburnya} [At-Taubah: 80-84], maka beliau meninggalkan shalat atas mereka – bacalah kisah yang shahih ini dengan riwayat Bukhari dan Muslim dan lihatlah apa yang engkau lihat? – Sungguh ia menggambarkan untukmu jiwa hamba yang tunduk ini dan telah mengambil dari Al-Quran konstitusi yang mengambil hukum-hukumnya dari nash-nash harfiahnya, dan menggambarkan untukmu hati manusia yang penyayang ini dan telah merasakan dari zhahir nash pertama pilihan baginya antara dua jalan, maka dengan cepat dia menempuh yang paling dekat kepada kemurahan dan rahmat, dan tidak berlindung kepada jalan yang lain kecuali setelah datang kepadanya nash yang tegas dengan larangan.
Dan demikianlah setiap kali engkau mempelajari sikap-sikap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari Al-Quran dalam tempat-tempat ini atau lainnya, tampak bagimu padanya makna penghambaan yang tunduk dan makna kemanusiaan yang penyayang lembut; dan tampak bagimu sebagai lawannya dari sisi Al-Quran, makna kekuatan yang tidak dikendalikan oleh motif-motif dan tujuan-tujuan, bahkan menyerukan dengan keterangan sebagai pemisah antara haq dan bathil, dan timbangan untuk yang buruk dan baik, suka manusia atau tidak suka, ridha atau marah, beriman atau kafir; karena tidak menambahkannya ketaatan orang-orang yang taat, dan tidak menguranginya kemaksiatan orang-orang yang bermaksiat, maka engkau melihat antara kedua maqam apa yang ada di antara keduanya, dan sangat berbeda antara tuan dan yang dikuasai, dan penyembah dan yang disembah.
[Berhentinya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam Penjelasan Al-Quran, dan Dalilnya atas Sumber]
Dan sungguh kadang-kadang datang kepadanya perkara dengan perkataan yang global atau perintah yang musykil yang tidak jelas baginya dan para sahabatnya takwilnya hingga Allah menurunkan kepada mereka penjelasannya sesudahnya.
Katakan kepadaku demi Tuhanmu: orang berakal mana yang hati nuraninya mengilhami kepadanya perkataan yang tidak dia pahami maknanya, dan memerintahkannya perintah yang tidak dia mengerti hikmahnya? Bukankah itu termasuk dalil-dalil yang jelas bahwa dia adalah penyampai bukan yang berkata, dan bahwa dia yang diperintah bukan yang memerintah? Turun firman-Nya: {Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatan itu} [Al-Baqarah: 284], maka ayat itu mengkhawatirkan para sahabat dengan kekhawatiran yang sangat, dan masuk ke dalam hati-hati mereka sesuatu yang tidak masuk dari hal yang lain; karena mereka memahami darinya bahwa mereka akan dihisab atas segala sesuatu bahkan gerak-gerik hati dan khatiran-khatiran – maka mereka berkata: Ya Rasulullah, telah diturunkan kepada kami ayat ini dan kami tidak mampu menanggungnya – maka Nabi shallallahu alaihi wa aalihi wasallam berkata kepada mereka: “Apakah kalian ingin mengatakan sebagaimana yang dikatakan ahli dua kitab sebelum kalian: Kami mendengar dan kami durhaka? Bahkan katakanlah: Kami mendengar dan kami taat, ampunan-Mu wahai Tuhan kami dan kepada-Mu tempat kembali” maka mereka terus bermunajat dengan doa-doa ini hingga Allah menurunkan penjelasannya dengan firman-Nya: {Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya} [Al-Baqarah: 286], hingga akhir surat yang disebutkan, dan di sana mereka mengetahui bahwa mereka hanya dihisab atas yang mereka mampu dari urusan hati, yaitu apa yang berupa niat-niat yang diperoleh dan tekad-tekad yang menetap, bukan dari bisikan-bisikan dan angan-angan yang berjalan pada jiwa tanpa pilihan.
Hadits dalam Muslim dan lainnya, dan Bukhari mengisyaratkannya dalam tafsir secara ringkas. Dan tempat syahid darinya: bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam seandainya mengetahui takwilnya dari awal perkara niscaya beliau menjelaskan kepada mereka kesalahan mereka dan menghilangkan kerancuan mereka dari saat itu juga; karena beliau tidak akan menyembunyikan pengetahuan ini dari mereka sedangkan mereka dalam kebutuhan yang sangat kepadanya, dan beliau tidak akan membiarkan mereka dalam kekhawatiran ini yang hampir mencabut hati-hati mereka sedangkan beliau penyayang kepada mereka lagi penyayang, tetapi beliau seperti mereka menunggu takwilnya.
Dan untuk suatu urusan Allah mengakhirkan penjelasan ini dari mereka, dan untuk suatu urusan Allah meletakkan huruf yang menunjukkan kelambatan dalam firman-Nya: {kemudian sesungguhnya atas Kami-lah penjelasannya} [Al-Qiyamah: 19].
Perjanjian Hudaibiyah dan Petunjuknya tentang Sumber Al-Quran
Bacalah dalam Shahih Al-Bukhari dan Sunan Abu Dawud serta kitab-kitab lainnya tentang peristiwa Hudaibiyah, di dalamnya terdapat tanda yang nyata: Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengizinkan orang-orang beriman untuk memerangi siapa saja yang menyerang mereka di mana pun mereka menemukannya, kecuali mereka tidak boleh memerangi di tanah haram orang yang tidak memerangi mereka di sana, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu” (Al-Baqarah: 190) dan ayat-ayat sesudahnya. Ketika mereka sepakat untuk mengunjungi Baitullah Haram pada tahun itu – yaitu tahun keenam Hijriyah – mereka membawa senjata-senjata mereka sebagai tindakan waspada jika ada yang memerangi mereka sehingga mereka dapat mempertahankan diri dengan pembelaan yang dibenarkan.
Ketika mereka sudah dekat dengan perbatasan tanah haram, mereka mengetahui bahwa kaum Quraisy telah mengumpulkan pasukan-pasukannya tidak jauh dari mereka, namun hal itu tidak menyurutkan tekad mereka; karena mereka dalam keadaan siap siaga penuh, bahkan hal itu menambah keberanian mereka dan mereka bertekad untuk melanjutkan perjalanan ke Baitullah. Siapa yang menghalangi mereka darinya akan mereka perangi. Kaum Quraisy telah lelah karena peperangan-peperangan, maka semua faktor pendorong telah bersatu dan kesempatan terbuka lebar untuk bertempur dalam pertempuran yang menentukan di mana kebenaran dapat mengalahkan kebatilan dan menghancurkannya. Mereka sedang berjalan menuju Hudaibiyah ketika unta tunggangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam berbaring dan para sahabatnya berusaha membangunkannya menuju arah tanah haram tetapi unta itu tidak mau bangun. Mereka berkata: “Al-Qashwa telah bandel, Al-Qashwa telah bandel,” artinya: “Unta betina itu keras kepala.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda: “Al-Qashwa tidak bandel, dan itu bukan tabiatnya, tetapi dia ditahan oleh Yang menahan gajah.”
Maksudnya: bahwa Allah yang telah menahan gajah dan mencegah para pemiliknya memasuki Mekah dengan berperang, Dialah yang menahan unta betina ini dan mencegah pasukan kaum muslimin memasuki Mekah sekarang dengan paksa. Demikianlah beliau yakin bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengizinkan mereka pada tahun ini untuk memasuki Mekah dengan berperang, baik sebagai pihak yang memulai maupun yang membalas.
Beliau menegur unta betina itu lalu ia bangkit ke arah lain, maka beliau turun bersama para sahabatnya di ujung Hudaibiyah dan memalingkan mereka dari melanjutkan perjalanan sebagai ketaatan terhadap isyarat ilahiah ini yang tidak diketahui hikmahnya. Beliau berusaha untuk memasuki Mekah melalui jalan perdamaian dengan kaum Quraisy sambil berkata: “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, mereka tidak akan meminta kepadaku suatu rencana yang di dalamnya mereka mengagungkan kehormatan-kehormatan Allah kecuali aku akan memberikannya kepada mereka.” Namun kaum Quraisy menolak agar beliau memasuki Mekah pada tahun itu, baik sebagai pihak yang berperang maupun yang damai. Mereka mengajukan syarat-syarat yang keras yaitu agar beliau kembali dari tahunnya itu, dan agar mengembalikan setiap orang yang datang kepadanya dari Mekah dalam keadaan muslim, sedangkan mereka tidak akan mengembalikan siapa pun yang datang kepada mereka dari Madinah dengan meninggalkan agamanya. Beliau menerima syarat-syarat tersebut yang tidak seharusnya pihak seperti kaum Quraisy dalam kelemahan mereka dapat memaksakan kepada pihak seperti kaum beriman dalam kekuatan mereka. Beliau memerintahkan para sahabatnya untuk bertahallul dari umrah mereka dan kembali dari tempat mereka datang. Janganlah kamu bertanya tentang dampak buruk perjanjian ini terhadap jiwa-jiwa kaum muslimin, hingga ketika mereka mulai mencukur sebagian dari yang lain, hampir saja sebagian mereka membunuh sebagian yang lain karena kebingungan dan kesedihan. Hampir saja hati sekelompok sahabat besar menyimpang, mereka mulai bertanya-tanya di antara mereka dan mengajukan keberatan kepada beliau sendiri dengan berkata: “Mengapa kita memberikan kehinaan dalam agama kita?” Demikianlah hampir saja pasukan itu memberontak terhadap perintah pemimpinnya dan lepas kendali dari tangannya. Bukankah hal itu wajar pada saat itu jika pemimpin ini adalah orang yang menyusun rencana ini sendiri atau ikut menyusunnya atau mengetahui rahasia-rahasianya, bahwa dia menjelaskan kepada para sahabat besarnya hikmah dari tindakan-tindakan ini yang di atas akal, sehingga dapat memadamkan api fitnah sebelum percikannya berterbangan? Namun lihatlah bagaimana jawabannya ketika Umar mengajukan keberatan kepadanya: “Sesungguhnya aku adalah rasul Allah, dan aku tidak mendurhakai-Nya, dan Dia adalah penolongku.”
Beliau berkata: Sesungguhnya aku hanyalah hamba yang diperintah, tidak ada bagiku dari urusan ini kecuali melaksanakan perintah Tuanku dengan yakin akan pertolongan-Nya yang dekat atau jauh. Demikianlah mereka berjalan pulang dalam keadaan tidak mengetahui takwil dari masalah ini hingga turunlah Surah Al-Fath yang menjelaskan kepada mereka hikmah-hikmah yang cemerlang dan kabar gembira yang benar. Ternyata apa yang mereka sangka sebagai kezaliman dan ketidakadilan pada pandangan pertama adalah kemenangan yang nyata dan kemenangan terbesar. Di mana rencana manusia dibandingkan dengan takdir: “Dan Dialah yang menahan tangan-tangan mereka dari kamu dan tangan-tangan kamu dari mereka di lembah Mekah setelah Dia memenangkan kamu atas mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Mereka itulah orang-orang yang kafir dan menghalangi kamu dari Masjidil Haram dan (menghalangi) hadyu dari sampai ke tempat penyembelihannya. Dan kalau tidaklah karena orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan yang tidak kamu ketahui bahwa kamu akan menginjak mereka lalu kamu ditimpa kemudharatan karena mereka, tanpa pengetahuan (bahwa mereka orang-orang mukmin), tetapi Allah hendak memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Kalau mereka telah berpisah, tentulah Kami timpakan kepada orang-orang kafir di antara mereka azab yang pedih. Ketika orang-orang yang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah, lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin dan mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya: sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram insya Allah dalam keadaan aman, sebagian kamu mencukur rambut kepala dan sebagian lagi memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat” (Al-Fath: 24) dan ayat-ayat sesudahnya.
Keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Ketika Turun Wahyu dan Petunjuknya tentang Sumber Al-Quran
Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Al-Quran diturunkan kepadanya di awal masa wahyunya, beliau menerimanya dengan tergesa-gesa dan menggerakkan lidah serta bibirnya karena ingin menghafalnya dan khawatir akan hilang dari dadanya. Hal itu tidak dikenal dari kebiasaannya dalam menyiapkan pembicaraannya, baik sebelum beliau mengaku sebagai nabi maupun sesudahnya, dan itu pun bukan kebiasaan orang Arab. Mereka biasanya menyusun pembicaraan mereka dalam hati mereka. Seandainya Al-Quran memancar dari sumber jiwanya sendiri, tentu mengalir menurut cara pembicaraannya dan pembicaraan mereka, dan tentu beliau memiliki pemikiran dan ketenangan yang diam yang dapat menjamin kebutuhannya untuk mematangkan pendapat dan meneliti gagasan. Namun beliau melihat dirinya di hadapan pengajaran yang mengejutkannya secara tiba-tiba dan menimpanya dengan cepat, sehingga pemikiran tidak berguna sama sekali dalam mendatangkannya jika beliau menginginkannya, atau dalam menangkap dan mengingatnya kembali jika ada yang hilang darinya. Beliau harus mengulangi semua yang disampaikan kepadanya secara harfiah. Maka tidak ada pilihan baginya di awal masa kondisi baru ini yang tidak pernah dialaminya dari dirinya sendiri kecuali sangat berhati-hati dalam mengikuti secara harfiah, hingga Allah menjamin baginya penjagaan dan penjelasannya dengan firman-Nya: “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Quran karena hendak cepat-cepat (menguasainya)” (Al-Qiyamah: 16) dan ayat-ayat dari Surah Al-Qiyamah, serta firman-Nya: “Dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al-Quran sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan'” (Thaha: 114).
Sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Secara Umum dan Petunjuknya bahwa Al-Quran dari Allah
Inilah sebagian dari sirahnya berkaitan dengan Al-Quran, dan semuanya merupakan saksi-saksi yang berbicara tentang kejujurannya bahwa Al-Quran tidak bersumber darinya, tetapi datang kepadanya, dan bahwa Al-Quran tidak mengalir dari hatinya, tetapi dialirkan kepadanya. Jika engkau mengarahkan pandanganmu kepada sirah umumnya, engkau akan mendapati dari sisi-sisinya kumpulan akhlak mulia yang menakjubkan.
Cukup bagimu sekarang contoh-contoh sederhana darinya yang jika engkau renungkan akan menggambarkan bagimu seorang manusia yang kesucian memenuhi pakaiannya dan kesungguhan mengisi tubuhnya. Lidahnya enggan membicarakan apa yang tidak diketahuinya, matanya enggan menyembunyikan yang bertentangan dengan apa yang diumumkannya, dan telinganya enggan mendengarkan berlebih-lebihan orang-orang yang memujinya. Ia memiliki kerendahan hati yang merupakan perhiasan orang-orang besar, kejujuran yang langka pada para pemimpin, dan keteguhan yang jarang ditemukan pada para ulama. Maka dari mana datangnya penipuan atau pemalsuan, atau kesombongan atau penyesatan? Mahasuci Allah!
Penolakan Beliau terhadap Pengetahuan Gaib
Gadis-gadis kecil duduk memukul rebana di pagi hari pernikahan Rabi’ binti Mu’awwidz Al-Anshariyyah, dan mereka menyebutkan ayah-ayah mereka dari para syuhada Badar hingga salah seorang gadis dari mereka berkata: “Dan di antara kami ada nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi besok.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda: “Jangan berkata demikian, dan katakanlah apa yang biasa kamu katakan.” Pembenarnya ada dalam Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Katakanlah: ‘Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang gaib'” (Al-An’am: 50), “Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya” (Al-A’raf: 188).
Lahiriah seperti Batin, Tidak Pernah Berkhianat
Abdullah bin Abi Sarh adalah salah seorang dari orang-orang yang dikecualikan Nabi dari jaminan keamanan pada hari Fathu Mekah karena sangat menyakiti kaum muslimin dan menghalangi mereka dari Islam. Ketika ia datang kepada Nabi, beliau tidak membaiatnya kecuali setelah Utsman radhiyallahu ‘anhu memberikan syafa’at untuknya tiga kali. Kemudian beliau menghadap para sahabatnya dan berkata: “Bukankah ada di antara kalian seorang yang bijaksana yang berdiri menghadapi orang ini ketika aku menahan tanganku dari membaiatnya lalu membunuhnya?” Mereka berkata: “Kami tidak tahu apa yang ada dalam hatimu. Mengapa tidak memberikan isyarat kepada kami dengan matamu!” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya tidak pantas bagi seorang nabi memiliki mata yang berkhianat.”
Didatangkan seorang anak kecil dari kaum Anshar untuk dishalatkan. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Beruntunglah anak ini, dia tidak pernah berbuat jahat.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda: “Atau selain itu wahai Aisyah, sesungguhnya Allah menciptakan surga dan menciptakan penghuninya, dan menciptakan surga untuk mereka sementara mereka masih dalam tulang belakang ayah-ayah mereka, dan menciptakan neraka dan menciptakan penghuninya, dan menciptakannya untuk mereka sementara mereka masih dalam tulang belakang ayah-ayah mereka.” Diriwayatkan Muslim dan para pemilik Sunan.
Ketika Utsman bin Mazh’un radhiyallahu ‘anhu wafat, Ummu Al-‘Ala’ – seorang wanita dari kaum Anshar – berkata: “Rahmat Allah untukmu Abu As-Sa’ib, kesaksianku untukmu bahwa Allah telah memuliakanmu.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda: “Dan apa yang membuatmu tahu bahwa Allah memuliakannya?” Ia berkata: “Demi ayahku, wahai Rasulullah, lalu siapa yang dimuliakan Allah?” Beliau berkata: “Adapun dia, telah datang kepadanya keyakinan, dan demi Allah sesungguhnya aku berharap kebaikan untuknya, dan demi Allah aku tidak tahu – dan aku adalah rasul Allah – apa yang akan diperbuat kepadaku.” Ia berkata: “Demi Allah, aku tidak akan memuji siapa pun sesudahnya selamanya.” Diriwayatkan Al-Bukhari dan Imam Ahmad. Pembenarnya dalam Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Katakanlah: ‘Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu'” (Al-Ahqaf: 9).
Apakah engkau melihat seandainya beliau ketika menghindari kebohongan menghindarinya karena kecerdikan dan politik, karena khawatir akan segera atau suatu saat nanti terbongkar kebenaran yang bertentangan dengan apa yang dikatakannya, apa yang menghalanginya untuk mengatakan apa yang diinginkannya tentang urusan setelah kematian sementara ia tidak takut ada yang mempertanyakannya dan tidak gentar dengan hukuman sejarah atasnya? Tetapi yang menghalanginya adalah akhlak mulia dan penghargaan terhadap tanggung jawab besar di hadapan hakim lain yang lebih tinggi dari sejarah dan para ahlinya “Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai para rasul. Maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat) dengan (berdasarkan) pengetahuan (Kami) dan Kami sekali-kali tidak pernah gaib (dari mereka)” (Al-A’raf: 6-7).
Petunjuk Keseluruhan Lebih Kuat dari Petunjuk Peristiwa Tunggal
Ketahuilah bahwa betapa pun engkau menyingkirkan dari dirimu kenyamanan keyakinan dan memberikan kebebasan kepadanya untuk meragukan serta membiarkannya mengandaikan asumsi terburuk terhadap peristiwa tunggal dan kejadian tersendiri dari sirah mulia ini, jika engkau berdiri di hadapannya dengan kumpulan yang baik, engkau tidak akan mampu menolak keyakinan ini dari dirimu kecuali setelah engkau menuduh hati nuranimu dan meragukan keselamatan akalmu.
Kita melihat orang-orang mempelajari kehidupan penyair-penyair dalam syair-syair mereka lalu mengambil dari seorang penyair dari perkataannya gambaran lengkap yang tercermin di dalamnya keyakinan-keyakinannya, kebiasaan-kebiasaannya, akhlaknya, jalan pikirannya dan gaya hidupnya. Perhiasan syair dan lapisannya tidak menghalangi mereka dari menggali khayalannya dan mengungkap busanya dari yang murninya; karena kebenaran memiliki kekuatan yang mengalahkan yang menembus hijab penyembunyian lalu membaca di antara baris-baris dan mengenali dalam nada ucapan. Manusia betapa pun berusaha dalam kepalsuan dan diplomasinya tidak akan luput dari kelepasan dalam ucapan dan perbuatannya yang menunjukkan tabiatnya jika ia marah atau keluar atau butuh atau menang atau sendirian dengan orang yang dipercayainya.
Dan betapa pun ada pada seseorang sifat tertentu… meskipun dia menyangka dapat menyembunyikannya dari manusia, pasti akan diketahui
Maka bagaimana menurutmu tentang kehidupan kenabian ini yang memberikan kepadamu di setiap lingkarannya cermin jernih untuk jiwa pemiliknya; menunjukkan kepadamu batinnya dari lahiriahnya, menunjukkan kepadamu kejujuran dan keikhlasan yang tampak dalam setiap ucapan dari ucapan-ucapannya dan setiap perbuatan dari perbuatan-perbuatannya.
Bahkan orang yang memandangnya jika kuat kecerdasannya dan baik firasat nya akan melihat akhlak-akhlaknya yang tinggi terlihat di wajahnya meskipun ia tidak berbicara atau bekerja. Dari sinilah banyak orang yang Allah lapangkan dada mereka untuk Islam tidak meminta kepada Rasulullah atas apa yang dikatakannya suatu dalil. Di antara mereka ada tetangga yang mengenalnya karena keagungan sirahnya; dan di antara mereka ada orang asing yang mengenalnya karena tanda-tanda di wajahnya.
Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, orang-orang bergegas kepadanya dan dikatakan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah tiba!” “Maka aku datang bersama orang-orang untuk melihatnya, ketika aku yakin akan wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, aku tahu bahwa wajahnya bukanlah wajah pendusta,” diriwayatkan At-Tirmidzi dengan sanad shahih.
Sekarang, dan kami telah menepati janji kepadamu dengan menyajikan contoh-contoh dari sirah nabawiyyah ini, kami kembali kepada menetapkan apa yang kami maksudkan dari penyajian ini, maka kami katakan: sesungguhnya pemilik akhlak mulia ini dan pemilik sikap-sikap rendah hati tersebut berkaitan dengan Al-Quran, tidak pantas bagi siapa pun meragukan kejujurannya ketika ia mengumumkan tentang dirinya bahwa ia bukanlah penyusun kitab tersebut, dan bahwa kedudukannya terhadapnya adalah kedudukan orang yang belajar dan mengambil manfaat. Bahkan wajib bagi kita mencatat dari pengakuan yang polos ini dalil lain atas kejujuran dan kerendahan hatinya.
Mungkinkah Al-Quran adalah Ilham Diri dari Jiwa Muhammad?
Adapun urusan di hadapan kita lebih jelas dari perlu mendengar pengakuan lisan ini darinya shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau bergantung pada mempelajari sisi akhlak dari sejarahnya.
Bukankah cukup untuk memutuskan kebersihan seseorang dari suatu pekerjaan bahwa berdiri dari tabiatnya saksi akan ketidakmampuan materinya untuk menghasilkan pekerjaan tersebut?
Maka hendaklah orang yang berakal berpikir: apakah Nabi yang buta huruf ini – semoga sholawat Allah senantiasa tercurah kepadanya – layak menurut sarana-sarana ilmiahnya untuk jiwa beliau dipenuhi dengan makna-makna Al-Quran tersebut?
Orang-orang bodoh dari kaum ateis akan berkata: ya; sesungguhnya beliau memiliki kecerdasan fitri dan wawasan yang tajam yang membuatnya mampu memahami yang haq dan yang batil dari berbagai pendapat, yang baik dan yang buruk dari akhlak, yang baik dan yang jahat dari perbuatan-perbuatan, bahkan jika ada sesuatu di langit yang dapat dijangkau oleh firasat atau diilhami oleh fitrah atau diwahyukan oleh pemikiran, maka Muhammad akan dapat menggapainya dengan fitrahnya yang lurus, akalnya yang sempurna, dan perenungannya yang jujur.
Makna-Makna Naqli dalam Al-Quran Tidak Dapat Disimpulkan dengan Akal, dan Tidak Dapat Dipahami dengan Hati Nurani
Kami boleh jadi beriman dengan lebih dari apa yang mereka sifatkan dari sifat-sifat mulia beliau, tetapi kami bertanya: apakah semua yang ada dalam Al-Quran termasuk hal yang dapat disimpulkan oleh akal dan pemikiran, dan termasuk hal yang dapat dipahami oleh hati nurani dan perasaan? Tentu saja tidak, sesungguhnya dalam Al-Quran terdapat aspek besar dari makna-makna naqli murni yang tidak ada ruang di dalamnya untuk kecerdasan dan istinbath, dan tidak ada jalan untuk mengetahuinya bagi orang yang tidak mengetahuinya kecuali dengan belajar, menerima, dan belajar.
Apa yang akan mereka katakan tentang apa yang dikisahkan Al-Quran kepada kita dari berita-berita masa lalu, dan apa yang dirinci dari berita-berita tersebut secara benar sebagaimana terjadi? Apakah mereka akan berkata: bahwa sejarah dapat juga disusun dengan menggunakan pemikiran dan ketajaman firasat? Ataukah mereka keluar dengan kebanggaan besar sehingga berkata: bahwa Muhammad telah hidup sezaman dengan umat-umat yang telah berlalu, dan berkeliling di antara mereka selama satu abad, sehingga menyaksikan peristiwa-peristiwa ini bersama penduduknya sebagai saksi mata, atau bahwa beliau mewarisi kitab-kitab orang terdahulu dan tekun mempelajarinya hingga menjadi orang yang mendalam dalam ilmu seluk-beluknya?! Mereka tidak dapat mengatakan ini ataupun itu; karena mereka mengakui bersama seluruh dunia bahwa beliau alaihissalam bukanlah dari golongan itu maupun ini “Dan engkau (Muhammad) tidak berada di sisi mereka ketika mereka melemparkan pena-pena mereka (untuk menentukan) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam” (Ali Imran: 44), “Dan engkau tidak berada di sisi mereka ketika mereka menetapkan keputusan mereka, sedang mereka bermusyawarah” (Yusuf: 102), “Dan engkau tidak berada di sisi bukit sebelah barat ketika Kami sampaikan kepada Musa perintah (kenabian)” (Al-Qashash: 44) dan seterusnya, “Dan engkau tidak pernah membaca suatu kitab sebelum (Al-Quran) dan engkau tidak (pernah) menulis dengan tangan kananmu. Sekiranya (engkau pernah membaca dan menulis), niscaya ragu orang-orang yang mengingkari” (Al-Ankabut: 48), “Itu adalah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad). Engkau tidak mengetahuinya dan kaummu pun tidak (mengetahuinya) sebelum ini” (Hud: 49), “Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Quran ini kepadamu, dan sungguh, sebelum (turunnya) Al-Quran ini engkau benar-benar termasuk orang yang tidak mengetahui” (Yusuf: 3).
Berita-Berita Gaib dalam Al-Quran, dan Petunjuknya Bahwa Al-Quran Berasal dari Allah
Kami tidak mengatakan: bahwa pengetahuan tentang nama-nama beberapa nabi dan umat-umat masa lalu serta gambaran umum dari peristiwa-peristiwa penghancuran di negeri Aad dan Tsamud dan banjir Nuh alaihissalam dan yang sejenisnya sama sekali tidak sampai kepada orang-orang yang buta huruf; sesungguhnya potongan-potongan kecil ini jarang sekali tidak diketahui oleh seseorang dari penduduk badui atau perkotaan; karena hal-hal ini telah diwariskan oleh generasi-generasi dan beredar dalam perumpamaan-perumpamaan, tetapi yang menjadi persoalan adalah rincian-rincian yang akurat dan harta karun yang terpendam dalam perut kitab-kitab, itulah ilmu berharga yang tidak dapat dijangkau oleh tangan orang-orang yang buta huruf, dan hanya diketahui oleh sedikit dari para pelajar, dan sesungguhnya engkau akan mendapati yang benar dan bermanfaat dari berita-berita ini telah diteliti dalam Al-Quran.
Bahkan angka-angka.. sesuai dengan angka-angka: maka engkau melihat misalnya dalam kisah Nuh alaihissalam dalam Al-Quran bahwa beliau tinggal di tengah kaumnya seribu tahun kurang lima puluh tahun, dan dalam kitab Kejadian dari Taurat bahwa beliau hidup sembilan ratus lima puluh tahun.
Dan engkau melihat dalam kisah Ashhabul Kahfi menurut Ahli Kitab bahwa mereka tinggal di dalam gua mereka tiga ratus tahun matahari, dan dalam Al-Quran bahwa mereka tinggal di dalam gua mereka “tiga ratus tahun dan mereka menambah sembilan tahun” (Al-Kahf: 25), dan sembilan tahun ini adalah selisih antara jumlah tahun matahari dan tahun bulan, kata Az-Zajjaj, yaitu: “dengan melengkapi pecahan”.
Maka lihatlah perhitungan yang akurat ini pada umat yang buta huruf yang tidak menulis dan tidak menghitung.
Cukuplah ilmu pada orang yang buta huruf sebagai mukjizat Di masa jahiliah dan pendidikan pada anak yatim
Ya; sesungguhnya itu benar-benar menakjubkan: seorang laki-laki yang buta huruf di tengah-tengah kaum yang buta huruf, menghadiri majelis-majelis mereka – selain dalam kebatilan dan kemaksiatan – dan hidup dengan kehidupan mereka yang sibuk dengan rezeki dirinya, istrinya, dan anak-anaknya, sebagai penggembala dengan upah, atau pedagang dengan upah, tidak ada hubungannya dengan ilmu dan ulama; menghabiskan dalam tingkatan ini lebih dari empat puluh tahun dari hidupnya, kemudian muncul kepada kita dalam waktu antara sore dan pagi hari lalu berbicara kepada kita dengan apa yang tidak pernah ada dalam kehidupannya yang lalu, dan dengan apa yang tidak pernah dibicarakannya kepada seseorang pun sebelum itu, dan menampakkan kepada kita dari berita-berita abad-abad pertama itu apa yang disembunyikan oleh ahli ilmu dalam catatan-catatan dan buku-buku mereka. Apakah dalam hal seperti ini orang-orang bodoh berkata: bahwa beliau mendapat ilham dari akalnya dan mendapat petunjuk dari hati nuraninya? Logika manakah yang membenarkan bahwa fase baru yang ilmiah ini menjadi hasil alamiah dari kehidupan masa lalu yang buta huruf itu? Sesungguhnya tidak ada jalan lain dalam perkara akal kecuali bahwa perpindahan yang mendadak ini memiliki rahasia lain yang dicari di luar batas-batas jiwa dan di luar lingkaran informasi lama.
Dan sesungguhnya orang-orang atheis Jahiliah yang merupakan orang-orang kasar Arab di padang pasir pada umumnya lebih jujur dalam menjelaskan fenomena ini dan lebih dekat pemahaman terhadap rahasia ini daripada orang-orang atheis zaman ini, ketika mereka tidak berkata sebagaimana yang dikatakan orang-orang ini: bahwa beliau menimba berita-berita ini dari wahyu jiwanya sendiri, tetapi mereka berkata: bahwa pasti telah didiktekan kepadanya sejak saat itu ilmu-ilmu baru, maka beliau mempelajari dari ilmu-ilmu itu apa yang tidak pernah beliau pelajari, dan mempelajari apa yang tidak beliau ketahui “Dan demikianlah Kami mengulang-ulangi ayat-ayat (Kami) dan agar mereka mengatakan ‘Engkau telah mempelajari (dari Ahli Kitab)'” (Al-An’am: 105), “Dan mereka berkata, ‘(Al-Quran) itu adalah dongengan orang-orang terdahulu yang dimintanya untuk dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya pada waktu pagi dan petang'” (Al-Furqan: 5).
Dan mereka benar; sesungguhnya beliau mempelajarinya, tetapi pada gurunya Ruhul Amin, dan menuliskannya, tetapi dari lembaran-lembaran yang mulia, terangkat, disucikan, di tangan para duta, yang mulia lagi berbakti “Katakanlah, ‘Sekiranya Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu.’ Sesungguhnya aku telah tinggal di antara kamu sebelum ini beberapa tahun. Maka tidakkah kamu mengerti?” (Yunus: 16).
Demikianlah urusan apa yang ada dalam Al-Quran dari berita-berita sejarah, tidak ada perdebatan bahwa jalannya adalah naqli bukan akal, dan bahwa hal itu datang dari luar jiwa bukan dari dalamnya.
Akal Memiliki Batas dalam Memahami
Adapun ilmu-ilmu Al-Quran lainnya maka boleh jadi dikatakan: bahwa hal itu termasuk jenis yang dapat dipahami dengan akal, sehingga mungkin orang yang cerdas dapat menggapainya dengan firasat atau dengan perenungan, dan ini adalah perkataan yang mungkin tampak benar pada pandangan pertama, tetapi tidak lama kemudian runtuh di hadapan ujian.
Hal itu karena akal-akal manusia memiliki dalam memahami sesuatu jalan tertentu yang ditempuhnya, dan batas yang ditentukan yang ia berhenti padanya dan tidak melampauinya, maka setiap sesuatu yang tidak berada di bawah indera lahir atau batin secara langsung, dan tidak tertanam dalam naluri jiwa, sesungguhnya pemahaman akal terhadapnya hanya melalui mukadimah-mukadimah yang diketahui yang menghantarkan kepada yang tidak diketahui itu, baik dengan cepat seperti dalam intuisi, maupun dengan lambat seperti dalam istidlal dan istinbath dan qiyas. Dan setiap sesuatu yang tidak dimudahkan oleh sarana-sarana dan mukadimah-mukadimah ini tidak mungkin dapat dijangkau oleh tangan akal sama sekali, dan sesungguhnya jalannya adalah ilham, atau naqli dari orang yang mendapat ilham itu.
Maka apakah apa yang ada dalam Al-Quran dari makna-makna non-historis memiliki sarana dan mukadimah yang siap dalam pandangan akal?
Itulah yang akan datang beritanya kepadamu setelah ini, tetapi kami segera memberikan kepadamu sekarang dua contoh dari makna-makna tersebut yang kami cukupkan menyebutkannya di sini daripada mengulanginya setelah ini:
- Bagian akidah-akidah keagamaan.
- Bagian nubuat-nubuat gaib.
Gaib, dan Petunjuknya pada Sumber Al-Quran
Adapun urusan agama maka batas maksimal yang dipetik akal dari buah penelitiannya yang mandiri dalam hal itu, setelah dibantu oleh fitrah-fitrah yang lurus, adalah bahwa ia mengetahui bahwa di atas dunia ini ada tuhan yang menguasai yang mengaturnya, dan bahwa Dia tidak menciptakannya dengan sia-sia, tetapi meletakkannya sesuai dengan tuntutan hikmah dan keadilan, maka pasti Dia akan mengembalikannya sekali lagi; agar setiap pekerja mendapat balasan atas amalnya; baik kebaikan maupun keburukan.
Inilah semua yang dapat dicapai akal yang sempurna dari urusan agama, tetapi Al-Quran tidak berhenti dalam sisinya pada tahap ini, bahkan kita melihatnya menjelaskan kepada kita batas-batas iman secara terperinci, dan menggambarkan kepada kita awal penciptaan dan akhirnya, dan menggambarkan surga dan jenis-jenis kenikmatan-nya, dan neraka serta warna-warna siksanya, seakan-akan keduanya adalah pandangan mata, bahkan ia menghitung jumlah pintu-pintu, dan jumlah malaikat yang ditugaskan pada pintu-pintu tersebut, maka atas teori akal yang manakah dibangun informasi-informasi perhitungan ini, dan sifat-sifat yang menentukan itu? Sesungguhnya itu adalah apa yang tidak diwahyukan oleh akal sama sekali, bahkan ia baik batil sehingga berasal dari wahyu khayalan dan perkiraan, atau benar maka tidak diperoleh kecuali dengan pengajaran dan penerimaan, tetapi ia adalah kebenaran yang disaksikan oleh kitab-kitab dan diyakini oleh ahlinya “Dan Kami tidak menjadikan penjaga neraka kecuali dari malaikat dan Kami tidak menjadikan bilangan mereka melainkan sebagai cobaan bagi orang-orang kafir, agar orang-orang yang diberi kitab menjadi yakin dan orang-orang yang beriman bertambah imannya” (Al-Muddatstsir: 31), “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidak mengetahui apakah kitab (Al-Quran) dan tidak (pula mengetahui) apakah iman itu” (Asy-Syura: 52), “Aku tidak mempunyai pengetahuan tentang malaikat yang tinggi ketika mereka berselisih” (Shad: 69), “Dan Al-Quran ini tidaklah mungkin dibuat-buat selain dari Allah, tetapi (Al-Quran itu) membenarkan kitab yang sebelumnya dan menjelaskan kitab (yang tidak ada keraguan di dalamnya), yang diturunkan dari Tuhan seluruh alam” (Yunus: 37).
Masa Depan, dan Petunjuknya pada Sumber Al-Quran
Dan adapun nubuat-nubuat gaib maka tahukah engkau bagaimana pemilik akal yang sempurna memutuskan mengenainya? Sesungguhnya ia mengambil dari pengalaman-pengalamannya yang lalu sebagai lampu yang menyinari dengan cahayanya beberapa langkah dari jalannya peristiwa-peristiwa yang akan datang, menjadikan yang tampak dari ini sebagai ukuran bagi yang tidak tampak dari itu, kemudian mengeluarkan keputusannya dikelilingi dengan segala kehati-hatian dan kewaspadaan, berkata: (itulah yang diputuskan oleh tabiat peristiwa-peristiwa seandainya urusan-urusan berjalan sesuai tabiatnya dan tidak terjadi apa yang tidak dalam perhitungan).
Adapun memutuskan keputusan dengan tegas dan menentukannya dengan pasti bahkan dalam hal yang tidak ditunjukkan oleh mukadimah dari mukadimah-mukadimah ilmiah, dan tidak tampak darinya tanda dari tanda-tanda dugaan yang biasa, maka itulah yang tidak dilakukan kecuali oleh salah satu dari dua orang: baik orang yang sembrono yang tidak peduli bahwa orang-orang berkata tentangnya: benar atau bohong, dan itulah kebiasaan orang-orang bodoh dari para peramal dari dukun-dukun dan ahli nujum, atau orang yang mengambil janji di sisi Allah maka Allah tidak akan mengingkari janjinya, dan itulah sunnah para nabi dan rasul, dan tidak ada yang ketiga kecuali orang yang meriwayatkan berita-beritanya dari salah satu dari keduanya.
Maka siapakah dari kedua orang itu menurutmu pada pemilik Al-Quran ini ketika datang di lisannya berita yang pasti tentang apa yang akan terjadi setelah setahun dan apa yang akan terjadi dalam beberapa tahun, dan apa yang akan ada selamanya, dan apa yang tidak akan pernah ada selamanya? Itu sementara beliau tidak menekuni ilmu ramalan dan perbintangan, dan tidak pula akhlaknya seperti akhlak mereka yang mewakili klaim dan keberanian, dan tidak pula berita-beritanya seperti berita-berita mereka yang merupakan campuran antara kebenaran dan kebohongan, ketepatan dan kesalahan, bahkan beliau dengan bersihnya dari ilmu gaib dan duduknya dari mencarinya dan memaksanya, datang kepadanya dengan sendirinya apa yang putaran zaman dan perubahan-perubahannya dalam masa-masa yang panjang tidak mampu membatalkan satu huruf pun dari apa yang beliau beritakan “Dan sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji” (Fushshilat: 41-42) dan seterusnya.
Contoh-Contoh dari Pemberitahuan Al-Quran tentang Masa Depan
Dan mari kita uraikan untukmu di sini beberapa nubuat Al-Quran dengan penjelasan beberapa keadaan historisnya; agar engkau melihat apakah mukadimah-mukadimahnya yang dekat atau jauh sudah hadir sehingga nubuat-nubuat tersebut termasuk jenis yang diwahyukan oleh firasat dan kecerdasan? Dan kita akan membatasi pembicaraan pada tiga jenis:
- Yang berkaitan dengan masa depan Islam dalam dirinya sendiri, atau dalam sosok kitab dan rasulnya.
- Yang berhubungan dengan masa depan orang-orang beriman.
- Yang berhubungan dengan masa depan kedua golongan: golongan Allah, dan golongan setan.
Yang Berkaitan dengan Masa Depan Islam
(Contoh jenis pertama) apa yang datang dalam penjelasan bahwa agama ini telah Allah takdirkan untuknya kelangsungan dan keabadian, dan bahwa Al-Quran ini telah Allah jamin penjagaan dan pemeliharaannya “Demikianlah Allah menjelaskan yang haq dan yang batil. Adapun yang batil itu akan hilang seperti buih, dan adapun yang bermanfaat bagi manusia maka akan tetap di bumi” (Ar-Ra’d: 17), “Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, memberikan buahnya setiap saat dengan izin Tuhannya” (Ibrahim: 24-25), “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Az-Zikr (Al-Quran) dan pasti Kami yang memeliharanya” (Al-Hijr: 9), tahukah engkau kapan dan di mana dikeluarkan kabar gembira yang pasti ini, bahkan janji-janji yang kuat?
Sesungguhnya ayat-ayat tersebut adalah ayat-ayat Makkiyah dari surat-surat Makkiyah, dan engkau telah mengetahui bagaimana urusan dakwah Muhammad di Makkah, sepuluh tahun semuanya berupa penolakan dari kaumnya terhadap mendengarkan Al-Qurannya, dan menghalangi orang lain dari mendengarkannya, dan penganiayaan serta penyiksaan terhadap kelompok kecil yang beriman kepadanya, kemudian pemboikotan terhadapnya dan klannya serta mengepung mereka dalam waktu yang tidak sebentar di sebuah lembah dari lembah Makkah, kemudian konspirasi-konspirasi rahasia atau terang-terangan untuk membunuhnya atau mengusirnya.
Maka apakah seseorang dapat melihat di sela-sela malam yang gelap gulita yang panjangnya sepuluh tahun ini, sinar walaupun kecil dari harapan bahwa fajarnya akan bernafas dengan izin bagi orang-orang yang terzalimi ini untuk mengangkat suara mereka dan mengumumkan dakwah mereka? Dan seandainya si pembaharu mencium kilat harapan itu di sisi-sisi jiwanya dari tabiat dakwahnya, bukan di cakrawala peristiwa, maka apakah kebetulan baginya dalam keadaan seperti ini bahwa tumbuh dalam jiwanya harapan hingga menjadi keputusan yang pasti? Dan andaikata ia dipenuhi dengan harapan munculnya dakwahnya dalam hidupnya selama ia merawatnya dengan dirinya sendiri, maka siapakah yang menjamin baginya setelah kematiannya kelangsungan dakwah ini dan perlindungannya di tengah gelombang masa depan yang mengamuk? Dan bagaimana datang kepadanya keyakinan dalam hal itu sementara ia mengetahui dari pelajaran masa yang melemahkan lengan keyakinan ini? Berapa banyak pembaharu yang berteriak dengan teriakan perbaikan maka tidak lama suara-suaranya pergi dihembus angin, dan berapa banyak peradaban yang berdiri dalam sejarah kemudian pudar dan hilang jejaknya, dan berapa banyak nabi yang dibunuh, dan berapa banyak kitab yang hilang atau dikurangi atau diganti. Dan apakah Muhammad shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam termasuk orang yang terbawa angan-angan sehingga berlari mengikuti khayalan? Sesungguhnya beliau sebelum kenabiannya tidak berharap menjadi nabi yang diberi wahyu “Dan engkau tidak pernah mengharap bahwa Al-Kitab (Al-Quran) itu diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) sebagai rahmat dari Tuhanmu” (Al-Qashash: 86), dan tidak pula setelah kenabiannya menjamin untuk dirinya sendiri bahwa wahyu ini akan tetap terpelihara padanya “Dan sungguh, jika Kami menghendaki, pasti akan Kami hilangkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, kemudian engkau tidak akan mendapat seorang penolong pun dalam hal itu untuk menghadapi Kami, kecuali rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya karunia-Nya kepadamu sangat besar” (Al-Isra: 86) dan seterusnya.
Maka pasti ada yang menjamin pemeliharaan ini dari luar dirinya, dan siapakah yang memiliki jaminan ini terhadap zaman yang berubah-ubah yang penuh dengan kejutan? Kecuali Tuhan zaman yang di tangannya kendali semua peristiwa, dan yang menakdirkan awal dan akhirnya, dan meliputi dengan ilmu jalannya dan tempat berlabuhnya.
Maka seandainya tidak ada karunia Allah dan rahmatnya yang dijanjikan dalam ayat di atas, maka Al-Quran tidak akan mampu melawan perang-perang sengit yang telah diadakan dan masih diadakan terhadapnya dari waktu ke waktu.
Tanyalah sejarah: berapa kali zaman mengingkari negara-negara Islam, dan menguasakan orang-orang jahat atas kaum muslimin sehingga mereka membantai mereka, dan memaksa umat-umat dari mereka untuk kafir, dan membakar kitab-kitab, dan menghancurkan masjid-masjid, dan melakukan apa yang cukup sebagian kecilnya untuk hilangnya Al-Quran ini seluruhnya atau sebagian; sebagaimana yang dilakukan terhadap kitab-kitab sebelumnya; seandainya bukan tangan pemeliharaan yang menjaganya maka ia tetap di tengah pertempuran-pertempuran ini mengangkat panji-panjinya, dan tanda-tandanya, memelihara ayat-ayat dan hukum-hukumnya, bahkan tanyalah lembaran berita harian: berapa quintal emas dan perak yang dikeluarkan setiap tahun untuk menghapus Al-Quran ini dan menghalangi manusia dari Islam dengan penyesatan dan fitnah dan penipuan dan rayuan, kemudian pemiliknya tidak mendapat dari balik itu kecuali apa yang Allah Ta’ala firmankan: “Sesungguhnya orang-orang kafir menginfakkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menginfakkan harta itu, kemudian (infak itu) akan menjadi sesalan bagi mereka, kemudian mereka akan dikalahkan” (Al-Anfal: 36).
Hal itu karena Yang memegangnya agar tidak hilang: adalah Yang memegang langit dan bumi agar tidak lenyap.
Hal itu karena Allah “Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas semua agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai” (Ash-Shaff: 9), (At-Taubah: 33), dan Allah mencapai urusan-Nya, dan menyempurnakan cahaya-Nya, maka ia menang dan akan terus menang tidak membahayakannya orang yang menyelisihinya hingga datang perintah Allah.
Tantangan Al-Quran dan Petunjuknya terhadap Sumber Keilahian
(Dan contoh lain) adalah apa yang datang dalam tantangan dengan Al-Quran ini dan melemahkan seluruh dunia dari kemampuan mendatangkan yang serupa dengannya “Katakanlah: ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Quran ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu sebagian yang lain'” (Surat Al-Isra: 88), “Maka jika kamu tidak dapat membuatnya – dan pasti kamu tidak akan dapat membuatnya” (Surat Al-Baqarah: 24).
Perhatikanlah penyangkalan yang tegas ini, bahkan hukuman yang abadi! Apakah seorang Arab yang mengetahui apa yang dikatakannya dapat mengeluarkan hukuman ini sedangkan dia tahu bahwa medan perdebatan antara orang-orang Arab terbuka lebar, dan bahwa pengkritik yang datang kemudian ketika menerapkan pemikiran dalam melacak perkataan orang yang berkata dahulu tidak sulit baginya menemukan kekurangan yang perlu diperbaiki; atau yang kurang untuk dilengkapi, atau perkataan untuk ditambah kesempurnaannya? Tidakkah dia takut dengan tantangan ini dapat membangkitkan semangat sastra mereka sehingga mereka bangkit untuk menyaingkannya sedangkan mereka semua waspada? Dan apa yang mungkin dapat dia lakukan seandainya sekelompok orang fasih dari mereka bersepakat bahwa salah seorang dari mereka membuat rumusan penentangan, kemudian yang lainnya mengambil alih dengan perbaikan dan penyempurnaan sebagaimana yang biasa mereka lakukan dalam kritik puisi, sehingga yang kedua melengkapi apa yang kurang dari yang pertama, dan begitu seterusnya, hingga mereka menghasilkan kalimat yang jika tidak mengalahkannya maka setidaknya menyamainya walaupun dalam beberapa sisinya? Kemudian seandainya jiwanya memungkinkan dia mengeluarkan hukuman ini terhadap orang-orang di zamannya, bagaimana dia mengeluarkannya terhadap generasi-generasi yang akan datang hingga hari kiamat, bahkan terhadap manusia dan jin? Sesungguhnya ini adalah petualangan yang tidak akan didatangi oleh seorang laki-laki yang mengetahui kadar dirinya kecuali dia memenuhi tangannya dengan berbagai keputusan takdir dan berita langit. Dan demikianlah dia melemparkannya di tengah-tengah dunia, maka itu adalah keputusan yang telah ditetapkan yang ditimpakan pada akal dan mulut-mulut, sehingga tidak ada yang berniat menentangnya kecuali kembali dengan kelemahan yang jelas dan kegagalan yang memalukan, sepanjang zaman dan masa.
Kabar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang Perlindungannya dari Manusia, Bukti atas Sumber Keilahian Al-Quran
(Dan contoh ketiga) adalah ayat yang dengannya Allah menjamin perlindungan pribadi Nabi-Nya dan keamanan atas hidupnya hingga dia menyampaikan risalah-risalah Rabbnya: “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. Jika tidak kamu lakukan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Dan Allah akan memelihara kamu dari (gangguan) manusia” (Surat Al-Maidah: 67).
Sesungguhnya ini – demi Allah – adalah jaminan yang tidak dimiliki manusia, walaupun dia raja yang terlindungi yang para pengawal berjalan di depan dan di belakangnya, sebab betapa banyak kita lihat dan orang-orang lihat dari raja-raja dan orang-orang besar yang diculik oleh tangan pembunuh bayaran sedangkan mereka dalam iring-iringan mereka yang dikelilingi tentara dan pembantu-pembantu.
Tetapi perhatikanlah tingkat kepercayaan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap janji yang benar ini: At-Tirmidzi dan Al-Hakim meriwayatkan dari Aisyah, dan Ath-Thabrani meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah dijaga pada malam hari, ketika ayat ini turun dia meninggalkan penjagaan dan berkata: “Wahai manusia, pulanglah, sesungguhnya Allah telah memeliharaku”.
Dan benar-benar Allah telah memeliharanya dari mereka di banyak tempat di mana bahaya kematian lebih dekat kepadanya daripada tali sandalnya, dan dia tidak memiliki pelindung di tempat-tempat itu kecuali Allah semata.
Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan Ibnu Hibban dalam Shahihnya dari Abu Hurairah, dan diriwayatkan Muslim dalam Shahihnya dari Jabir dia berkata: (Kami jika mendatangi dalam perjalanan kami pohon yang rindang, kami tinggalkan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika kami berada di Dzat Ar-Riqa’, Nabi Allah turun di bawah pohon dan menggantungkan pedangnya di sana, lalu datang seorang laki-laki dari kaum musyrikin dan mengambil pedang lalu mencabutnya dan berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apakah kamu takut kepadaku?” Beliau menjawab: “Tidak.” Dia berkata: “Lalu siapa yang mencegahku darimu?” Beliau berkata: “Allah mencegahku darimu, letakkan pedangnya,” maka dia meletakkannya).
Dan cukuplah bagimu untuk mengetahui bahwa keamanan ini terjadi dalam perang yang di dalamnya disyariatkan shalat khauf (shalat dalam keadaan takut)!
Dan di antara peristiwa terbesar yang membenarkan berita yang benar ini adalah sikap menakjubkan yang diambil Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perang Hunain, sendirian di antara musuh-musuh, sedangkan kaum muslimin telah mundur dan berpaling lari, maka beliau berkuda dengan bagalnya menuju arah musuh, dan Abbas bin Abdul Muthalib memegang tali kekangnya menahannya agar tidak mempercepat laju, maka orang-orang musyrik mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika mereka mengelilinginya, beliau tidak lari dan tidak mundur, bahkan turun dari bagalnya seakan-akan memungkinkan mereka menguasai dirinya, dan beliau terus berkata: “Aku adalah Nabi, bukan bohong, aku adalah putra Abdul Muthalib” seakan-akan beliau menantang mereka dan menunjukkan tempat beliau kepada mereka. Demi Allah, mereka tidak dapat meraih sedikitpun darinya, bahkan Allah menolongnya dengan tentara-Nya, dan menahan tangan-tangan mereka dengan tangan-Nya. Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Al-Bara’ bin Azib, dan diriwayatkan Muslim dari Abbas dan Salamah bin Al-Akwa’, dan diriwayatkan Ahmad dan ashab sunan serta yang lainnya.
Dan demikianlah Allah memberikan manfaat kepada umatnya dengannya, maka Dia tidak memanggilnya kepada-Nya hingga beliau menyampaikan risalah dan menunaikan amanah, dan hingga diturunkan kepada beliau firman-Nya: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (Surat Al-Maidah: 3).
(Dan untukmu contoh dari jenis yang kedua)
Yang Berkaitan dengan Masa Depan Orang-Orang Beriman
Al-Quran di Makkah menceritakan kepada kaum muslimin dari berita-berita para rasul apa yang menetapkan hati mereka, dan menjanjikan mereka keamanan dan pertolongan yang ada bagi orang-orang sebelum mereka “Dan sesungguhnya telah terdahulu ketetapan Kami untuk hamba-hamba Kami yang diutus, sesungguhnya mereka itulah yang pasti akan ditolong, dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang” (Surat Ash-Shaffat: 171-173), “Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi” (Surat Ghaafir: 51). Ketika mereka berhijrah ke Madinah untuk melarikan agama mereka dari fitnah-fitnah, mereka menyangka bahwa mereka telah menemukan tempat aman mereka di tempat hijrah mereka, tetapi mereka tidak lama kemudian diserang perang bersenjata dari segala penjuru, maka mereka berpindah dari ketakutan kepada ketakutan yang lebih hebat, dan menjadi seluruh angan-angan mereka bahwa akan datang hari di mana mereka meletakkan senjata-senjata mereka. Dan di waktu-waktu sulit ini Al-Quran memberitahu mereka tentang apa yang akan terjadi bagi mereka berupa khilafah dan kerajaan, di samping keamanan dan ketenangan. Apa ini? Apakah mimpi dan angan-angan? Tidak, bahkan janji yang dipastikan dengan sumpah: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa” (Surat An-Nur: 55).
Al-Hakim meriwayatkan dan menshahihkannya dari Ubayy bin Ka’b dia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya tiba di Madinah dan orang-orang Anshar melindungi mereka, orang-orang Arab memanah mereka dari satu busur. Dan mereka tidak bermalam kecuali dengan senjata dan tidak pagi kecuali dengan senjata pula, maka mereka berkata: “Apakah kalian melihat bahwa kami akan hidup di mana kami bermalam aman tenang tidak takut kecuali kepada Allah?” Maka turunlah ayat tersebut. Dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Al-Bara’ dia berkata: “Ayat ini turun sedangkan kami dalam ketakutan yang hebat”.
Perhatikanlah bagaimana takwilnya datang dengan makna yang paling luas di masa para sahabat sendiri yang mendapat khitab langsung dalam firman-Nya: “di antara kamu”. Mereka diberi ganti dari ketakutan mereka dengan keamanan yang tidak ada ketakutan di dalamnya, dan dijadikan khalifah di pelosok-pelosok bumi sehingga mewarisi timur dan baratnya.
Dan renungkanlah firman-Nya dalam ayat ini “dan mengerjakan amal-amal saleh” dan firman-Nya dalam ayat yang lain “Dan sungguh Allah akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar” (Surat Al-Hajj: 40) dan seterusnya, kamu akan menemukan di dalamnya berita lain tentang rahasia apa yang kadang dialami orang-orang beriman berupa pengurangan tanah mereka dan penguasaan musuh-musuh mereka atas mereka “Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: ‘Dari mana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah: ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri'” (Surat Ali ‘Imran: 165), “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri” (Surat Al-Anfaal: 53).
(Contoh lain) Kaum muslimin dicegah masuk Makkah tahun Hudaibiyah, dan Quraisy mensyaratkan kepada mereka jika mereka datang pada tahun berikutnya agar mereka memasukinya tanpa senjata apapun kecuali pedang dalam sarungnya. Apakah mereka patut percaya pada kesetiaan orang-orang musyrik terhadap perjanjian mereka sedangkan mereka telah mengalami dari mereka pelanggaran janji dan pemutusan hubungan kekerabatan dan pelanggaran syiar-syiar Allah? Bukankah mereka hari ini menahan hewan kurban mereka agar tidak sampai ke tempatnya? Maka apa yang akan mereka lakukan besok? Seandainya mereka jujur dalam memungkinkan kaum muslimin masuk, bagaimana kaum muslimin aman dari sisi mereka jika mereka masuk kepada mereka ke negeri mereka dengan terbebas dari perisai dan kekuatan mereka, bukankah ini adalah tipu daya yang dimaksudkan untuk menjebak mereka ke dalam perangkap? Dan tanda hal itu adalah persyaratan mereka terbebas dari senjata kecuali pedang dalam sarung, dan itu adalah senjata yang mungkin dapat menenangkan kaum muslimin bahwa mereka tidak akan dapat meraih mereka dengan tangan dan tombak mereka, tetapi mereka tidak aman dengan itu bahwa mereka tidak akan meraih mereka dengan panah dan anak panah mereka. Dalam keadaan yang mencurigakan ini datang kepada mereka janji yang pasti dengan tiga perkara secara bersamaan: masuk, keamanan, dan pelaksanaan syiar “Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan memotong rambut, dengan tidak merasa takut” (Surat Al-Fath: 27). Maka mereka memasukinya dalam umrah qadha dengan aman, dan tinggal di dalamnya tiga hari hingga mereka menyempurnakan umrah mereka dan menunaikan manasik mereka… Hadits ini dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim.
(Dan contoh ketiga): Orang-orang musyrik berdebat dengan kaum muslimin di Makkah sebelum hijrah, mereka berkata kepada mereka: Sesungguhnya Rum mengakui bahwa mereka adalah ahli kitab, dan Majusi telah mengalahkan mereka, dan kalian mengklaim bahwa kalian akan mengalahkan kami dengan kitab yang diturunkan kepada kalian, maka kami akan mengalahkan kalian sebagaimana Persia mengalahkan Rum; maka turunlah ayat “Alif laam miim. Telah dikalahkan bangsa Rum, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun lagi” (Surat Ar-Rum: 1-4).
Sesungguhnya memberitahukan kemenangan ini dan bahwa ia akan terjadi dalam waktu tertentu adalah memberitahukan dua perkara yang masing-masing berada di luar jangkauan dugaan-dugaan, karena negara Rum telah mencapai tingkat kelemahan sedemikian rupa yang cukup dari bukti-buktinya bahwa ia diserang di pusat negerinya dan dikalahkan di negerinya sebagaimana firman Allah Ta’ala: “di negeri yang terdekat”, maka tidak ada seorangpun yang menyangka bahwa ia akan bangkit lagi setelah itu, apalagi menentukan waktu di mana akan ada kemenangan baginya; karena itu orang-orang musyrik mendustakan dan mereka bertaruh untuk mendustakannya. Al-Quran tidak cukup dengan dua janji ini, bahkan memperkuatnya dengan yang ketiga, ketika berfirman: “Dan di hari (kemenangan bangsa Rum) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah” isyarah bahwa hari di mana akan ada kemenangan di sana bagi Rum atas Persia akan terjadi di sini kemenangan bagi kaum muslimin atas orang-orang musyrik. Dan jika masing-masing dari dua kemenangan itu pada dirinya sendiri sangat tidak mungkin menurut orang-orang, bagaimana dugaan tentang terjadinya keduanya bersamaan dalam satu hari? Karena itu Allah memperkuatnya dengan penguatan terbesar dengan firman-Nya: “(Itu adalah) janji Allah. Allah tidak menyalahi janji-Nya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Surat Ar-Rum: 6).
Dan sungguh Allah membenarkan janji-Nya, maka terlaksanalah bagi Rum kemenangan atas Persia, dengan ijma’ para sejarawan dalam waktu kurang dari sembilan tahun. Dan hari kemenangannya adalah hari yang terjadi di dalamnya kemenangan bagi kaum muslimin atas orang-orang musyrik dalam perang Badar Al-Kubra, sebagaimana diriwayatkan At-Tirmidzi dari Abu Sa’id, dan diriwayatkan Ath-Thabari dari Ibnu Abbas dan yang lainnya.
Yang Berkaitan dengan Masa Depan Kedua Golongan
(Dan ini adalah contoh-contoh dari jenis ketiga): Penduduk Makkah membangkang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka beliau mendoa atas mereka dengan tahun-tahun seperti tahun-tahunnya Yusuf. Perhatikanlah apa yang dikatakan Al-Quran dalam jawaban doa ini: “Maka tunggulah hari ketika langit mendatangkan kabut yang nyata, yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih” (Surat Ad-Dukhan: 10) dan seterusnya. Maka apa yang terjadi? Mereka ditimpa kekeringan hingga memakan tulang-tulang, dan hingga seseorang melihat ke langit maka ia melihat apa yang ada antara dirinya dan langit seperti kabut dari kesusahan. Diriwayatkan Bukhari dari Ibnu Mas’ud.
Kemudian perhatikanlah firman-Nya setelah itu: “Sesungguhnya Kami akan melenyapkan azab itu sebentar. Sesungguhnya kamu akan kembali (kepada kekafiran). (Ingatlah) hari (ketika) Kami hajar dengan hantaman yang keras. Sesungguhnya Kami akan mendendam” (Surat Ad-Dukhan: 15-16). Kamu akan melihat di dalamnya tiga nubuwah lainnya: melenyapkan penderitaan dari mereka, kemudian kembalinya mereka kepada tipu daya jahat mereka, kemudian pembalasan atas mereka setelah itu. Dan hal itu semuanya terjadi sebagaimana dijelaskan hadits shahih yang disebutkan, karena ketika mereka datang kepada Rasulullah meminta hujan dan memohon kepada Allah: “Ya Tuhan kami, hilangkanlah azab dari kami, sesungguhnya kami akan beriman” (Surat Ad-Dukhan: 12), Allah memberi mereka hujan maka mereka makmur, tetapi mereka segera kembali kepada kesombongan dan keangkuhan mereka, maka Allah menghantam mereka dengan hantaman besar pada hari Badar, di mana terbunuh dari pemuka-pemuka mereka tujuh puluh orang dan ditawan tujuh puluh orang.
Dan telah berulang dalam Al-Quran Makki memberitahu mereka tentang pembalasan ini dalam berbagai bentuk:
Kadang datang secara global, seperti dalam firman-Nya: “Dan orang-orang kafir itu senantiasa akan ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka atau bencana itu akan terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datang janji Allah” (Surat Ar-Ra’d: 31), dan firman-Nya: “Maka berpalinglah kamu dari mereka sampai suatu waktu. Dan lihatlah mereka, maka mereka akan melihat (azab)” (Surat Ash-Shaffat: 174) dan seterusnya.
Dan kadang menentukan jenis azab bahwa itu adalah kekalahan perang sebagaimana dalam firman-Nya: “Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur” (Surat Al-Qamar: 45). Dan ini sebagaimana kamu lihat termasuk berita yang menakjubkan di Makkah, di mana tidak ada ruang untuk dasar pemikiran perang dan bertemu pasukan, apalagi mengharapkan pelarian dan kekalahannya, hingga Umar radhiyallahu ‘anhu ketika ayat ini turun terus berkata: Golongan manakah ini? Dia berkata: Ketika tiba hari Badar aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkannya. Diriwayatkan Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawaih, dan akhirnya dalam Bukhari dan Muslim.
Dan kadang menyebutkan secara khusus peristiwa-peristiwa bagian yang terbatas darinya – dan ini lebih menakjubkan dan aneh – sebagaimana dalam firman-Nya tentang laki-laki pendengki yang berkata tentang Al-Quran: Sesungguhnya itu adalah dongeng orang-orang dahulu “Kelak akan Kami beri tanda pada belalainya” (Surat Nuun: 16), maka dia terkena pedang di hidungnya pada hari Badar. Dan itu adalah tanda baginya yang dicela dengannya selama hidup. Diriwayatkan Ath-Thabari dan yang lainnya dari Ibnu Abbas.
Serupa dengan berita-berita ini tentang orang-orang kafir Quraisy adalah apa yang datang tentang orang-orang kafir Yahudi. Perhatikanlah bagaimana Allah berfirman tentang mereka: “Mereka tidak akan dapat membahayakan kamu sedikitpun kecuali gangguan mulut saja. Dan jika mereka memerangi kamu, niscaya mereka akan membelakangi kamu kemudian mereka tidak akan mendapat pertolongan” (Surat Ali ‘Imran: 111) dan seterusnya, dan telah terjadi. Kemudian berfirman: “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia” (Surat Ali ‘Imran: 112). Dan berfirman: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengumumkan (kepada Bani Israil), bahwa Dia sungguh-sungguh akan mengirim kepada mereka sampai hari kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang seburuk-buruknya” (Surat Al-A’raaf: 167).
Sungguh menakjubkan ayat-ayat ini! Apakah ia tersusun dari huruf dan kata-kata? Ataukah ia adalah belenggu yang diletakkan di leher mereka untuk selamanya, dan borgol yang diikatkan dengan tangannya sehingga tidak ada pembebasan? Tidakkah kamu melihat mereka sejak dikeluarkan atas mereka hukuman-hukuman ini bercerai-berai di setiap lembah, hina di setiap perkumpulan, tidak pernah berdiri bagi mereka di suatu zaman dari zaman-zaman sebuah negara, dan tidak pernah mengumpulkan mereka sebuah negeri, dan mereka hari ini meskipun membengkaknya kekayaan harta mereka hingga mendekati separuh kekayaan dunia, mereka tetap tercerai-berai terkoyak-koyak tidak mampu mendirikan untuk diri mereka negara kecil seperti negara-negara kecil terkecil, bahkan kamu lihat mereka di negeri-negeri Barat Kristen diberi berbagai jenis kehinaan dan siksaan, kemudian akibat mereka adalah pengusiran dari sana dengan diusir, dan negeri-negeri Islam yang merupakan bumi Allah yang paling luas dada, hanya menerima mereka sebagai rakyat yang diperintah bukan tuan yang memerintah.
Dan sudahkah sampai kepadamu kabar terbaru mereka?
[Hadits Syaikh tentang Tanah Suci]
Sekarang telah menghiasi impian mereka untuk menjadikan (Tanah Suci) sebagai tanah air nasional yang menampung komunitas-komunitas mereka dari berbagai penjuru bumi, hingga apabila dari mereka terbentuk suatu bangsa yang bersatu dan waktu berlalu lama tanpa ada yang mengganggu mereka, mereka berusaha untuk menghapus aib sejarah ini dari diri mereka dengan mengembalikan kerajaan lama mereka di negeri-negeri tersebut.
Berdasarkan kilatan harapan ini, rombongan demi rombongan dari mereka mulai berhijrah ke sana secara berkelompok maupun sendirian, dan mereka menetap di sana dalam keadaan ringan atau berat… Maka apakah mereka mampu melangkah maju dalam langkah pertama ini – atau mungkin ini langkah pertama sekaligus terakhir – dengan bersandar pada kekuatan mereka sendiri? Tidak. Tetapi dengan bersandar pada (tali dari manusia!!) Maka apa pendapatmu? Katakanlah: Allah benar, dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah.
Adapun praduga mereka yaitu bahwa dengan mengusik penduduk di tanah dan kampung halaman mereka, mereka sedang mempersiapkan apa yang mereka impikan yaitu mengusik mereka nantinya dalam kerajaan dan kekuasaan mereka, maka itu adalah sesuatu yang sangat sulit, mereka hendak mengubah firman Allah, padahal tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya {Ataukah mereka mempunyai bagian dari kerajaan (Allah)? Kalau demikian, niscaya mereka tidak akan memberikan sedikitpun kepada manusia} (An-Nisa: 53), {Dan Allah meliputi (menguasai) mereka dari belakang} (Al-Buruj: 20).
Maka lihatlah keajaiban ramalan-ramalan Al-Quran bagaimana ia menembus tabir masa depan, baik yang dekat maupun yang jauh, dan menguasai sifat peristiwa-peristiwa dalam hal waktu dan dukungan, dan bagaimana masa akan menjadi pembenar baginya dalam hal yang sedikit dan banyak, dalam hal yang dekat dan jauh?
Bahkan lihatlah keseluruhan aspek-aspek pemberitaan dalam Al-Quran bagaimana Muhammad shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam membahas dengannya hal-hal di luar indera dan akalnya berupa berita-berita masa lalu, masa yang akan datang dan masa yang sedang terjadi, dan bagaimana setiap kali ia menceritakan kepada kita tentang masa lalu, saksi-saksi sejarah membenarkannya, dan setiap kali ia menceritakan kepada kita tentang masa depan, malam-malam dan hari-hari membenarkannya, dan setiap kali ia menceritakan kepada kita tentang Allah dan malaikat-malaikat-Nya serta urusan-urusan gaib-Nya, para nabi dan kitab-kitab membenarkannya.
Kemudian tanyakan pada dirimu setelah itu (Apakah kau melihat lelaki buta huruf ini mendatangkan semua pembicaraan ini dari dirinya sendiri?)… kau akan mendengar darinya jawaban yang jelas tanpa keraguan (Sesungguhnya ia pasti telah menimba berita-berita ini dari sumber ilmiah yang terpercaya, dan mengandalkannya pada pengetahuan yang luas dan kajian yang teliti, dan tidak mungkin berita-berita itu semua lahir dari akalnya dan buah kecerdasan serta kejeniusannya) kalau tidak, maka di mana orang cerdas atau jenius yang diberi jaminan oleh masa untuk melindungi semua praduganya dari kesalahan dalam mengungkap peristiwa-peristiwa masa lalu sekuno apapun, dan berita-berita masa depan sejauh apapun?
Sesungguhnya para nabi sendiri – dan mereka berada di tingkat atas kecerdasan dan kepandaian menurut kesaksian semua orang – tidak memperoleh jaminan ini dari masa dalam peristiwa-peristiwa yang paling dekat dengan mereka, karena mereka dalam hal selain menyampaikan wahyu, jika mereka berijtihad dengan pendapat mereka dalam hal yang gaib dari majelis mereka, firasat mereka kadang benar dan kadang salah.
Ini Ya’qub ‘alaihissalam kita lihat ia menuduh anak-anaknya ketika mereka datang dengan darah palsu pada bajunya, kemudian ia kembali menuduh mereka ketika mereka berkata kepadanya: Sesungguhnya anakmu mencuri, lalu ia berkata kepada mereka setiap kali: {Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu, maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku)} (Yusuf: 18, 83), dan ia benar dalam yang pertama, tetapi dalam yang kedua ia menuduh mereka padahal mereka tidak bersalah.
Dan ini Musa ‘alaihissalam kita lihat ia berkata kepada hamba yang salih {Insya Allah engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar dan tidak akan menentang perintahmu} (Al-Kahf: 69), kemudian ia lupa sehingga tidak sanggup bersabar bersamanya dan tidak menaati perintahnya.
Dan ini Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam terkadang orang-orang hampir menyesatkannya dalam hukum-hukum, lalu ia membela penjahat karena mengira bahwa dia tidak bersalah, hingga Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal memberitahunya.
Jika kamu ragu tentang itu maka bacalah firman Allah Ta’ala: {Dan janganlah kamu menjadi pembela orang-orang yang khianat, dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang} (An-Nisa: 105-113).
Dan telah sahih dalam sebab turunnya bahwa seorang pencuri pada suatu malam menyerang tempat minum seorang laki-laki Anshar yang bernama Rifa’ah, lalu ia melubangi tempat minumnya dan mencuri makanan dan senjata yang ada di dalamnya. Ketika pagi tiba, orang Anshar itu mencari barang-barangnya hingga yakin bahwa itu ada di rumah Bani Ubairiq, dan di antara mereka ada orang-orang munafik. Maka ia mengutus keponakan lelakinya kepada Nabi untuk mengadukan hal itu kepadanya, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda: (Aku akan menyelidiki hal itu). Ketika Bani Ubairiq mendengar hal itu, mereka datang kepada Nabi lalu berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya Qatadah bin An-Nu’man dan pamannya Rifa’ah sengaja menuduh keluarga dari kami yang beragama Islam dan salih dengan tuduhan pencurian tanpa bukti dan keterangan. Maka datanglah Qatadah, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam berkata kepadanya: “Wahai Qatadah, kamu sengaja menuduh keluarga yang disebutkan memiliki Islam dan kesalihan dengan tuduhan pencurian tanpa keterangan dan bukti!” Maka Qatadah kembali kepada pamannya dan memberitahunya, lalu pamannya berkata: Allah tempat meminta pertolongan. Kemudian tidak lama berselang turunlah ayat yang menjelaskan kepada Nabi tentang khianat Bani Ubairiq, dan memerintahkannya untuk beristighfar dari apa yang dikatakannya kepada Qatadah. Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan Al-Hakim berkata sahih menurut syarat Muslim.
Bahkan dengarkanlah sabdanya shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam tentang dirinya dalam apa yang diriwayatkan Ahmad dan Ibnu Majah: “Sesungguhnya aku hanya manusia seperti kalian, dan sesungguhnya praduga itu bisa salah dan bisa benar, tetapi apa yang aku katakan kepada kalian: Allah berfirman, maka aku tidak akan berdusta atas nama Allah”, dan sabdanya: “Sesungguhnya aku hanya manusia, dan kalian bersengketa kepadaku, mungkin sebagian dari kalian lebih pandai berargumentasi daripada sebagian yang lain sehingga aku mengira bahwa ia jujur lalu aku memutuskan untuknya sesuai dengan apa yang aku dengar. Barangsiapa yang aku putuskan untuknya dengan hak seorang muslim maka itu hanyalah sepotong api, maka hendaklah ia mengambilnya atau meninggalkannya”, diriwayatkan oleh Malik, Syaikhan (Bukhari dan Muslim) dan ahli sunan.
Maka siapa yang demikian lemah dengan dirinya sendiri sehingga tidak mampu memahami hakikat apa yang terjadi antara dua pihak yang bersengketa di zamannya dan di negerinya, padahal ia telah melihat pribadi mereka dan mendengar ucapan mereka, ia tanpa ragu lebih lemah lagi dalam memahami apa yang telah berlalu dan apa yang akan datang.
Itulah jurang gaib yang padanya padam pelita-pelita firasat dan kecerdasan, maka akal tidak mendekatinya kecuali dalam keadaan seperti orang yang mencari kayu bakar di malam hari dan meraba-raba dalam kegelapan: jika ia mengenai kebenaran sekali, ia meleset berkali-kali, dan jika ia mengenainya beberapa kali, ia meleset puluhan kali, sedangkan kebenaran yang berhasil ia peroleh tidak mungkin dipercaya akan tetap terjaga dari perubahan dan penggantian, bahkan mungkin angin kebetulan akan membawanya pergi sebagaimana angin kebetulan membawanya datang {Dan kalau Al-Quran itu bukan dari Allah, tentulah mereka menemukan pertentangan yang banyak di dalamnya} (An-Nisa: 82).
[Apakah Al-Quran Diambil dari Seorang Guru?]
Maka tidak ada jalan lagi bagi pencari sumber Al-Quran selain memperluas lingkaran penelitiannya. Karena ia tidak memperoleh tujuannya pada pemilik Al-Quran dalam segi akal dan firasatnya, maka wajib ia mencarinya – dan ia pasti akan memperolehnya – dalam segi pengajaran dan pembelajaran; karena orang yang berbicara dengan suatu perkataan tidak lain adalah orang yang mengucapkannya atau yang memindahkannya, dan tidak ada yang ketiga.
Ya. Sesungguhnya pemilik Al-Quran ini bukan termasuk orang yang merujuk sendiri kepada kitab-kitab ilmu dan kumpulannya, karena dengan pengakuan musuh-musuhnya, sebagaimana ia lahir buta huruf, ia tumbuh buta huruf dan hidup buta huruf, maka tidak pernah suatu hari dari hari-harinya ia membaca kitab di kertas atau menulisnya dengan tangan kanannya. Maka tidak ada pilihan baginya kecuali seorang guru yang telah memberitahukan kepadanya makna-makna ini bukan melalui jalan tulisan dan pembukuan, tetapi melalui jalan dikte dan pengajaran langsung. Inilah hukum logika.
Kamu akan berkata: Maka siapakah guru itu?
Kami katakan: Inilah bagian kedua dari masalah Al-Quran.
Dan jika kamu merenungkan bukti-bukti yang telah kami kemukakan kepadamu tentang bagian pertama, kamu akan menemukan di samping setiap bukti itu bukti lain tentang bagian kedua ini, dan kamu akan mengetahui siapakah guru itu? Namun kami ingin menambah pengetahuanmu tentangnya; hingga kamu mengatakan bersama kami tentangnya: (Ini bukan manusia, ini tidak lain adalah malaikat yang mulia, yang menyampaikan dari Tuhan semesta alam).
[Pertumbuhan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di antara Umat Buta Huruf, yang Namanya Diambil dari Kejahilan]
Adapun bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam tidak memiliki guru dari kaumnya yang buta huruf, maka itu adalah hal yang tidak diragukan oleh siapa pun, dan kami tidak mengira ada seorang pun yang memerlukan dalil untuk hal itu lebih dari nama (Ummiyyah/buta huruf) yang menjadi saksi terhadap mereka bahwa mereka keluar dari perut ibu mereka tidak mengetahui sedikit pun tentang urusan agama, demikian juga nama (Jahiliyyah/kebodohan) yang menjadi gelar paling khusus bagi masa Arab sebelum Islam. Maka orang-orang yang kehilangan dasar ilmu ini dalam diri mereka sendiri hingga diambilkan nama untuk mereka dari kebodohan, bagaimana mereka membawa tanda penghargaan pengajaran dalam hal itu untuk orang lain, apalagi pengajaran untuk guru mereka yang mencap mereka dengan kebodohan berkali-kali dalam kitabnya, dan menyebutkan kebodohan-kebodohan mereka dalam beberapa surah dari kitab ini, hingga dikatakan: Jika engkau senang mengetahui kebodohan Arab maka bacalah apa yang setelah ayat seratus dari surah Al-An’am.
[Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Tidak Memiliki Guru dari Selain Umatnya]
Dan adapun bahwa beliau tidak memiliki guru dari selain mereka, cukuplah bagi peneliti dalam hal ini kami rujukkan kepada sejarah dan biarkan ia membalik halaman-halaman yang lama maupun baru, yang Islami maupun yang dunia, kemudian kami tanyakan kepadanya: Apakah ia membaca di dalamnya satu baris pun? yang mengatakan: Sesungguhnya Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bertemu sebelum mengumumkan kenabian dengan si fulan dari para ulama lalu duduk kepadanya mendengarkan pembicaraannya tentang ilmu-ilmu agama, dan dari kisah-kisahnya tentang orang-orang terdahulu dan yang akan datang.
Bukan kewajiban kami untuk mendirikan bukti yang lebih besar dari tantangan ini untuk membuktikan bahwa hal itu tidak terjadi, tetapi kewajiban orang-orang yang mengklaim sebaliknya untuk membuktikan bahwa hal itu telah terjadi. Jika mereka memiliki ilmu maka hendaklah mereka keluarkan untuk kami jika mereka orang-orang yang benar.
[Pertemuan dengan Rahib Bahira, dan dengan Waraqah bin Naufal Bukan Rahasia yang Tersembunyi]
Kami tidak mengatakan: Bahwa beliau ‘alaihissalam tidak bertemu dan tidak melihat dengan matanya seorang pun dari ulama bidang ini baik sebelum klaim kenabian maupun sesudahnya.
Karena kami telah mengetahui bahwa beliau melihat dalam masa kanak-kanaknya seorang rahib bernama Bahira di pasar Bushra di Syam, dan bahwa beliau bertemu di Makkah sendiri dengan seorang ulama bernama Waraqah bin Naufal, dan ini setelah datangnya wahyu terang-terangan kepadanya dan sebelum mengumumkan kenabiannya selama tiga puluh bulan. Sebagaimana kami mengetahui bahwa beliau bertemu setelah mengumumkan kenabiannya dengan banyak ulama Yahudi dan Nasrani di Madinah, tetapi kami mengklaim klaim yang terbatas, kami katakan: Bahwa beliau tidak menerima dari seorang pun dari ulama-ulama ini baik sebelum maupun sesudah, dan bahwa sebelum kenabiannya beliau tidak mendengar dari mereka sedikit pun dari pembicaraan-pembicaraan ini sama sekali. Adapun orang-orang yang ditemuinya setelah kenabian, maka beliau telah mendengar dari mereka dan mereka mendengar dari beliau, tetapi mereka adalah penanya kepadanya dan pengambil darinya, sedangkan beliau adalah guru bagi mereka dan penasihat serta pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira.
Dan adapun orang-orang yang dilihatnya sebelumnya, maka urusan pertemuannya dengan mereka bukan rahasia yang tersembunyi, bahkan bersama beliau setiap kali ada saksi: pamannya Abu Thalib adalah temannya ketika beliau melihat rahib Syam, dan istrinya Khadijah adalah temannya ketika beliau bertemu Waraqah. Maka apa yang didengar kedua teman ini dari ilmu-ilmu kedua guru? Mengapa sejarah tidak menceritakan kepada kita berita tentang apa yang terjadi? Dan mengapa ia tidak menceritakan kepada kita pembicaraan menakjubkan ini yang mengumpulkan dalam saat singkat itu ilmu-ilmu Al-Quran dan detail berita-beritanya tentang apa yang antara permulaan dunia dan akhirnya!! Dan mengapa musuh-musuhnya tidak menjadikan hujah yang jelas ini sebagai senjata yang menentukan untuk hujahnya dengan kuatnya usaha mereka dalam meruntuhkan dakwahnya, dan pelarian mereka kepada syubhat-syubhat yang paling lemah dalam mendustakan beliau, padahal senjata ini lebih dekat kepada mereka, dan ia sendirian lebih tajam dalam membatalkan urusannya daripada semua yang mereka jadikan pelarian berupa perdebatan dan keras kepala.
Sesungguhnya diamnya sejarah tentang semua itu adalah hujah yang cukup atas ketidakadaannya; karena itu bukan termasuk kesalahan-kesalahan ringan yang diabaikan oleh orang-orang yang berdiri mengintai urusan ini.
[Cerita Sejarah tentang Pertemuan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Bahira dan Waraqah]
Sedangkan sejarah tidak diam, tetapi memberitakan kepada kita apa yang terjadi dari urusan kedua orang itu: ia telah menceritakan kepada kita tentang rahib Syam bahwa ketika ia melihat anak ini, ia melihat di dalamnya tanda-tanda kenabian terakhir dan ciri-cirinya dalam kitab-kitab yang lalu yang membuatnya mengucapkan kabar gembira kepada pamannya dengan berkata: Sesungguhnya anak ini akan memiliki kedudukan yang besar.
Dan menceritakan kepada kita tentang Waraqah bahwa ketika ia mendengar apa yang diceritakan Nabi kepadanya tentang sifat wahyu, ia menemukan di dalamnya ciri-ciri khusus Namus (hukum/wahyu) yang turun kepada Musa yang membuatnya mengakui kenabiannya dan berharap agar ia hidup hingga menjadi penolong-penolongnya.
Maka siapa yang mengetahui kehormatan sejarah dan beriman dengan kejadian-kejadiannya sebagaimana adanya, maka kejadian-kejadian ini adalah hujah bagi kami atasnya. Dan siapa yang tidak malu menambah dalam sejarah satu huruf dari dirinya lalu berkata: Sesungguhnya Muhammad menggabungkan mendengar dengan bertemu, maka hendaklah ia mengatakan apa yang dikehendakinya, dan hendaklah ia mengetahui bahwa ia akan mengeluarkan untuk kami dengan tambahan ini sejarah yang bertentangan yang dustanya awal dengan akhir, dan akhirnya dengan awal; karena bagaimana dapat dimengerti bahwa seorang laki-laki yang melihat tanda-tanda kenabian dalam seseorang lalu memberi kabar gembira kepadanya sebelum terjadinya, atau beriman kepadanya setelah terjadinya, jiwanya mendorongnya untuk berdiri dari pemilik kenabian ini dalam posisi pembimbing yang mengajar! Maka kemana mereka pergi?!
[Apakah Ada di Antara Ulama Pada Masa Itu yang Layak Memiliki Tangan Ilmiah terhadap Muhammad dan Al-Qurannya?]
Sedangkan kami kembali bertanya: Apakah ada di antara ulama pada masa itu yang layak memiliki tangan ilmiah terhadap Muhammad dan Al-Qurannya?
Para ateis sendiri mengatakan: (Sesungguhnya Al-Quran adalah satu-satunya karya sejarah yang merepresentasikan roh masanya dengan representasi yang paling jujur), dan ini adalah kata yang benar dalam batas makna yang benar, maka kami ambil mereka dengan pengakuan mereka dan kami ajak mereka untuk menjelaskan gambaran yang disimpan Al-Quran dalam cerminnya yang bersih sebagai contoh yang jelas bagi ulama masanya.
Maka hendaklah mereka membaca Az-Zahrawain: Al-Baqarah dan Ali Imran; dan apa yang ada di keduanya dari dialog dengan ulama Yahudi dan Nasrani dalam akidah, sejarah dan hukum-hukum, atau hendaklah mereka membaca apa yang mereka kehendaki dari surah-surah Madaniyah atau Makkiyah yang di dalamnya disebutkan Ahli Kitab, dan hendaklah mereka melihat dengan bahasa apa Al-Quran berbicara tentang mereka, dan bagaimana ia menggambarkan kepada kita ilmu mereka sebagai kebodohan-kebodohan, dan akidah mereka sebagai kesesatan-kesesatan dan khurafat, dan amal mereka sebagai kejahatan-kejahatan dan kemungkaran.
[Koreksi Al-Quran terhadap Kesalahan-kesalahan Ahli Kitab di Masanya, dan Penjelasan Kebodohan Mereka]
Jika engkau ingin tambahan penjelasan maka inilah contoh dari penggambaran dan bantahannya terhadap kesalahan-kesalahan dan kelicikan sejarah mereka: {Hai Ahli Kitab, mengapa kamu berbantah-bantahan tentang Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berakal?} (Ali Imran: 65) dan seterusnya, {Ataukah kamu mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya adalah penganut Yahudi atau Nasrani} (Al-Baqarah: 140), {Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah)} (Ali Imran: 96), {Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil, kecuali makanan yang diharamkan oleh Israil atas dirinya sendiri} (Ali Imran: 93).
Dan ini sebagian dari penggambaran dan bantahannya terhadap khurafat-khurafat agama mereka {Dan Kami tidak merasa letih} (Qaf: 38), {Dan bukanlah Sulaiman yang kafir} (Al-Baqarah: 102), {Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah itu miskin dan kami ini kaya”} (Ali Imran: 181), {Dan orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”} (Al-Maidah: 64), {Dan orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”}
Surat At-Taubah ayat 30: Dan orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah.”
Surat Al-Maidah ayat 18: Dan berkatalah orang-orang Yahudi dan Nasrani: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.”
Surat Al-Maidah ayat 72: Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam.”
Surat Al-Maidah ayat 73: Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga.”
Surat Ali Imran ayat 64: Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.”
Pembicaraan Al-Quran tentang Ulama Agama pada Zamannya
Lihatlah bagaimana Al-Quran menggambarkan akidah ulama agama pada zamannya, terutama ulama Nasrani. Corak syirik dalam agama mereka tidak tersembunyi dari siapapun, bahkan orang-orang awam memahaminya dan menjadikannya sebagai penghiburan bagi kesyirikan mereka sendiri.
Surat Az-Zukhruf ayat 57-58: Dan tatkala putera Maryam dijadikan perumpamaan, tiba-tiba kaummu (hai Muhammad) bersorak karenanya. Dan mereka berkata: “Manakah yang lebih baik, tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)?”
Bahkan mereka menjadikannya sebagai hujjah bahwa tauhid yang diserukan Al-Quran kepada mereka adalah bid’ah dalam agama yang belum pernah ada sebelumnya. Mereka berkata:
Surat Shad ayat 7: Kami tidak pernah mendengar (seruan yang seperti) ini dalam agama yang terakhir.
Maksudnya adalah agama Nasrani. Dan ini adalah rangkaian lain dari kejahatan mereka yang Al-Quran ceritakan secara berkesinambungan:
Surat An-Nisa ayat 155-161: Maka disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan ucapan mereka: “Hati kami tertutup”… hingga firman-Nya: Dan disebabkan kekafiran mereka dan tuduhan mereka yang keji terhadap Maryam. Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putera Maryam”… hingga firman-Nya: Dan karena mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah dengan banyak (cara) dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil.
Apakah kamu melihat dalam semua ini gambaran para guru yang pemilik Al-Quran mengambil ilmu-ilmu darinya? Ataukah sebaliknya kamu melihat darinya seorang guru yang meluruskan kesalahan-kesalahan mereka dan mencela keburukan keadaan mereka?
Kita tidak mengingkari bahwa di antara Ahli Kitab ada sedikit ulama yang mendalam ilmunya, tetapi mereka yang mendalam ilmunya di antara mereka beriman kepada Al-Quran dan Nabi pemilik Al-Quran, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:
Surat Ar-Ra’d ayat 43: Katakanlah: “Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu dan (juga) orang yang mempunyai ilmu Al Kitab.”
Seandainya mereka menjadi guru-gurunya, niscaya mereka akan beriman kepada diri mereka sendiri daripada beriman kepadanya.
Mari kita kembali sekali lagi dan bertanya: Apakah ilmu para ulama pada waktu itu disebarkan kepada para pencarinya dan diperbolehkan bagi para penanyanya? Ataukah keengganan mereka terhadap ilmu ini lebih keras daripada keengganan mereka terhadap hidup mereka, dan mereka pelit dengannya bahkan kepada anak-anak mereka sendiri demi mempertahankan kepemimpinan mereka, atau karena tamak terhadap kedudukan kenabian yang mereka nanti-nantikan pada zaman itu?
Ahli Kitab adalah Orang-orang yang Paling Pelit dengan Ilmu Mereka pada Zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Mari kita tanyakan kepada Al-Quran yang telah diterima para ateis sebagai hakim antara kita dan mereka, karena ia telah mencukupi kita dalam menjawab pertanyaan ini. Al-Quran memberitahu kita bahwa mereka dalam hal pelit dengan kitab-kitab dan ilmu-ilmu mereka tidak segan melakukan kemungkaran. Kadang-kadang:
Surat Al-Baqarah ayat 79: Mereka menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu mereka berkata: “Ini dari sisi Allah,” (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu.
Dan kadang-kadang:
Surat An-Nisa ayat 46: Mereka memutar-mutar lidahnya untuk (menyebutkan) Al Kitab supaya kamu menyangka yang mereka ucapkan itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Itu dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah.
Dan kadang-kadang:
Surat Al-Maidah ayat 13: Mereka suka merubah perkataan dari tempat-tempatnya.
Dan kadang-kadang mereka memotong kitab-kitab, menampakkan sebagiannya dan menyembunyikan sebagiannya:
Surat Al-An’am ayat 91: Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan ia lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya.”
Dan kadang-kadang mereka berdebat dengan hafalan mereka, tetapi ketika dikatakan kepada mereka:
Surat Ali Imran ayat 93: Maka bawalah Taurat lalu bacalah dia jika kamu memang orang-orang yang benar.
Mereka terdiam dan tidak menjawab. Bahkan mungkin mereka membawanya lalu membaca apa yang sebelum dalil dan sesudahnya, dan menutupi dengan telapak tangan mereka tempat nash yang diperdebatkan, sebagaimana terjadi dalam kisah rajam.
Lihat Shahih Bukhari dalam tafsir ayat tersebut di atas.
Maka datanglah Al-Quran melempar mereka secara terang-terangan dengan tuduhan mencampur-adukkan dan menyembunyikan:
Surat Ali Imran ayat 71: Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur-adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran sedang kamu mengetahui?
Bahkan Al-Quran datang mengungkap apa yang mereka tutup-tutupi, menjelaskan apa yang mereka sembunyikan, memutuskan apa yang mereka perselisihkan:
Surat Al-Maidah ayat 15: Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan.
Surat An-Naml ayat 76: Sesungguhnya Al Quran ini menceritakan kepada Bani Israil sebagian besar dari hal-hal yang mereka berselisih tentangnya.
Surat An-Nahl ayat 63 dan selanjutnya: Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat sebelum kamu, lalu syaitan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan-pekerjaan mereka, maka syaitan itulah pemimpin mereka pada hari ini, dan untuk mereka azab yang pedih. Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu.
Lihatlah ayat-ayat ini dari surat An-Nahl dan An-Naml yang Makkiyah bagaimana menjadikan di antara tujuan-tujuan pokok Al-Quran adalah menjelaskan apa yang diperselisihkan oleh Ahli Kitab, bahkan menjadikannya sebagai tujuan pertama di mana dimulai dengannya, kemudian kedua dengan petunjuk dan rahmat bagi orang-orang beriman.
Bantahan Al-Quran terhadap Syubhat Adanya Guru untuk Rasul
Dan kita kembali untuk ketiga kalinya, maka kita katakan kepada orang yang mengklaim bahwa Muhammad diajar oleh manusia: Katakanlah kepada kami siapa nama guru ini! Dan siapa yang melihatnya dan mendengarnya? Dan apa yang didengar darinya? Dan kapan hal itu terjadi? Dan di mana tempatnya? Karena kata “manusia” menggambarkan kepada kita orang alim yang berjalan di bumi dengan tenang, yang dilihat orang-orang pergi dan pulang, maka jangan dengar klaimnya tanpa penentuan dan penunjukan yang jelas. Bahkan penganut klaim seperti itu seperti orang-orang yang menciptakan sekutu bagi Allah yang tidak ada kecuali dalam angan-angan dan wahm. Maka dikatakan kepadanya sebagaimana dikatakan kepada mereka:
Surat Ar-Ra’d ayat 33: Katakanlah: “Sebutkanlah nama-nama mereka atau apakah kamu kabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di bumi, ataukah kamu hanya mengatakan yang lahir saja dari ucapan?”
Bahkan kita katakan: Apakah Nabi ini dilahirkan di Mars, atau tumbuh di tempat yang jauh dari dunia, sehingga ia tidak turun kepada kaumnya kecuali setelah ia mencapai kematangan dan kesempurnaan, kemudian setelah itu mereka tidak melihatnya kecuali sesekali? Bukankah ia dilahirkan dalam pangkuan mereka? Bukankah ia berjalan di antara mereka di pagi dan sore hari? Bukankah mereka melihatnya dengan mata mereka sendiri dalam keadaan menetap dan bepergian?
Surat Al-Mu’minun ayat 69: Atau apakah mereka tidak mengenal rasul mereka sehingga mereka mengingkarinya?
Ya, sesungguhnya kaum mereka telah diilhami jiwa mereka untuk mengatakan kalimat ini:
Surat An-Nahl ayat 103: Sesungguhnya yang mengajarkan kepadanya itu hanyalah seorang manusia.
Tetapi apakah kamu melihat mereka serius dalam kalimat ini, dan mereka menunjuk dengan kalimat itu kepada manusia yang benar-benar mereka kenal memiliki kedudukan ilmiah tersebut? Tidak sama sekali! Mereka tidak peduli untuk menjadi serius dan benar, yang mereka pedulikan hanyalah menolak dari diri mereka sendiri aib diam dan tidak mampu menjawab, dengan cara apapun yang mereka temukan dari bentuk-bentuk ucapan: dengan kebenaran atau kebohongan, dengan keseriusan atau main-main.
Dan tahukah kamu siapa manusia yang mereka katakan mengajarinya?
Apakah kamu menyangka mereka berani mengatribusikan pengajaran ini kepada salah satu di antara mereka? Tidak sama sekali! Karena mereka melihat diri mereka sendiri lebih jelas kebodohannya daripada bisa mengajar seseorang yang datang kepada mereka dengan sesuatu yang tidak mereka kenal, mereka dan bapak-bapak mereka. Ataukah kamu menyangka bahwa ketika mereka mendapati tanah Makkah tandus dari ulama agama dan sejarah pada masa kenabian Muhammad, mereka menunjuk kepada seorang dari para ulama tersebut di Madinah atau di Syam atau lainnya lalu menisbatkan pengajaran itu kepadanya? Tidak! Lidah mereka tidak mengizinkan mereka mengucapkan kalimat ini juga.
Lalu siapa, kalau bukan…?
Mereka mendapati diri mereka terpaksa mencari sosok yang memenuhi dua syarat:
Pertama: Bahwa ia adalah penduduk Makkah sendiri agar laku klaim mereka bahwa ia bertemu dengannya dan mendiktekan kepadanya pagi dan sore.
Kedua: Bahwa ia bukan dari bangsa dan agama mereka agar bisa dikatakan bahwa di sisinya ada ilmu yang tidak mereka ketahui.
Dan mereka mencari sifat-sifat ini lalu menemukannya. Tahukah kamu di mana mereka menemukannya? Di seorang pandai besi Romawi!
Ya, mereka menemukan di Makkah seorang budak yang dikenal oleh toko-toko dan pasar-pasar, tetapi tidak dikenal oleh ilmu-ilmu itu sedikit atau banyak, hanya saja ia bukan orang buta huruf dan bukan penyembah berhala seperti mereka, tetapi ia adalah seorang Nasrani yang bisa membaca dan menulis. Maka karena itu ia layak menurut anggapan mereka menjadi guru Muhammad, dan dengan demikian menjadi guru para ulama Yahudi dan Nasrani dan seluruh dunia. Dan jika kamu bertanya kepada mereka apakah budak itu punya waktu luang untuk mempelajari kitab-kitab dan memilah mana yang asli dari yang palsu, dan mengembalikan yang mutasyabih kepada yang muhkam, dan apakah ia diperlengkapi dalam akal dan lidahnya dengan sarana-sarana pemahaman dan pengajaran… kamu akan tahu bahwa ia adalah seorang pandai besi yang tenggelam dengan palu dan landasannya, dan ia adalah orang awam yang berfikiran sederhana yang tidak mengetahui Al-Kitab kecuali angan-angan, berlidah a’jami (asing) yang bacaannya tidak lebih dari ocehan yang tidak dimengerti Muhammad atau siapapun dari kaumnya. Tetapi semua itu tidak menghalanginya dari gelar guru yang mereka berikan kepadanya, meski dengan keengganan para pendengki!
Demikianlah menyempit bagi mereka lingkaran keseriusan sehingga tidak ada tempat bagi mereka kecuali ruang main-main. Dan demikianlah mereka berlebihan dalam main-main mereka hingga keluar dari kehormatan akal, sehingga perumpamaan mereka seperti orang yang berkata: Sesungguhnya ilmu dipetik dari kebodohan, dan manusia belajar bicaranya dari burung beo! Dan cukuplah ini sebagai kekalahan dan aib bagi yang mengatakannya.
Surat An-Nahl ayat 103: Lisan orang yang mereka tuduhkan (bahwa Muhammad belajar) kepadanya adalah lisan ‘ajam (asing), sedang ini (Al-Quran) adalah dalam bahasa Arab yang terang.
Ya, mereka melihat dalam gaya ini dari manisnya humor dan lelucon apa yang memperhalus pahitnya dusta dan kebatilan, dan mereka melihat dalam gambaran khayalan ini dari ejekan dan sindiran apa yang menyembuhkan dada mereka dan membuat mereka tertawa terbahak-bahak. Tetapi mereka tidak tahu bahwa dalam lipatan sindiran ini ada sindiran terhadap mereka, dan bahwa mereka telah bersaksi atas diri mereka sendiri bahwa mereka adalah umat yang paling bodoh, dan bahwa setiap orang asing dari mereka – meski seorang budak jalanan – pantas dikatakan tentangnya bahwa di sisinya ada ilmu yang tidak ada pada mereka. Alangkah bicara yang kebisuan di tempatnya lebih baik bagi mereka dan lebih menutupi mereka. Dan alangkah senjata yang mereka ingin melukai dengannya lawan mereka, tetapi mereka melukai diri mereka sendiri tanpa mereka sadari.
Adapun kebenaran yang mereka lawan, demi Allah ia bertambah kuat dengan tuduhan ini. Hal itu karena ketika mereka keluar mencari seseorang dari manusia yang dapat dinisbatkan kepadanya ilmu Muhammad ini, mereka tidak mampu mengandaikan baginya sumber pendidikan di luar batas desanya. Bahkan usaha terakhir yang mereka lakukan dari tipu muslihat mereka dan anak panah terakhir yang mereka lemparkan dari tempat panah mereka adalah mereka datang dari antara mereka dengan budak yang telah kamu ketahui kabarnya.
Andaikata saja budak ini dapat menjadi rujukan ilmiah sebagaimana mereka ingin menggambarkannya, lalu apa yang mencegah mereka untuk mengambil darinya sebagaimana teman mereka mengambil? Dan dengan demikian mereka akan beristirahat dari susah payahnya dan mengobatinya dengan jenis penyakitnya. Bahkan apa yang mencegah budak itu menampakkan kepada dunia halamannya sehingga meraih dalam sejarah kehormatan guru? Atau ia sendiri yang menangani kepemimpinan dunia itu? Dan andaikata, mengapa mereka tidak menisbatkan ilmu-ilmu yang asing bagi mereka itu kepada ahlinya yang terkenal dengan ilmu-ilmu itu dari para ulama rabbani dan ahbar di Madinah atau dari para pendeta dan rahib di Syam, mereka yang menghabiskan umur mereka dalam mempelajari dan mengajarkannya? Bukankah hal itu – seandainya mungkin atau menyerupai yang mungkin – lebih baik rekayasanya dan lebih bagus susunannya dan lebih dekat kepada keberterimaan dan lebih jauh dari kemustahilan daripada menisbatkannya kepada pandai besi Makkah? Ataukah bumi menjadi sempit bagi mereka sehingga mereka tidak menemukan seorangpun yang lebih baik darinya dan lebih mengetahui agama dan sejarah? Demi Allah, seandainya mereka tidak mendapati pintu pengajaran luar lebih kokoh tertutup daripada pintu-pintu lainnya dan lebih masuk dalam makna membantah yang tidak dapat diterima, niscaya mereka tidak akan menyempitkan atas diri mereka lingkaran tuduhan hingga terjebak dalam kemustahilan yang terbuka ini dan tercela dengan ucapan yang buruk ini.
Mereka adalah kaum Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka adalah orang-orang yang paling semangat memusuhinya, dan paling mengetahui perjalanan-perjalanannya, dan paling menghitung gerakan-gerakan dan diamnya. Mereka telah tidak mampu sebagaimana kamu lihat untuk menjalin hubungan ilmiah antara dia dengan para ahli ilmu di zamannya. Lalu untuk apa para ateis hari ini, padahal telah berlalu lebih dari tiga belas abad di mana pasar peristiwa telah bubar, pena-pena telah kering, dan lembaran-lembaran telah digulung, mereka masih mencari hubungan itu dalam sampah sejarah, dan di sudut yang enggan ditengok oleh kaumnya?
Biarlah mereka mengistirahatkan diri mereka dari susah payah pencarian, karena Quraisy telah mencukupi mereka. Dan biarlah mereka sibuk dengan selain sudut ini yang telah diputuskan sejarah dan logika atas setiap usaha di dalamnya dengan kegagalan. Jika mereka enggan, biarlah mereka tahu bahwa setiap syubhat yang didirikan menghadapi kebenaran yang jelas akan dijadikan kebenaran sebagai hujjah bagi dirinya yang ia gabungkan dengan hujjah-hujjah dan dalil-dalilnya.
Kita kembali keempat kalinya dan terakhir, lalu kita katakan: Seandainya menisbatkan ilmu-ilmu Al-Quran ini kepada pengajaran manusia adalah dari klaim-klaim yang mengungkapkan pemikiran atau syubhat yang ada pada jiwa pemiliknya, niscaya para pencela akan berhenti padanya dan tidak melampauinya. Hal itu karena akal jika dibiarkan sendiri dalam menjelaskan perbedaan menyeluruh antara masa lalu kehidupan Muhammad dan masa kininya – maksudku sebelum kenabian dan sesudahnya – tidak akan mampu kecuali memutuskan bahwa ilmu baru ini adalah hasil pengajaran baru.
Dan karena orang-orang tidak mengenal guru-guru di bumi selain manusia, maka yang pertama terlintas dalam pikiran adalah bahwa ada manusia yang menangani pengajaran ini. Seandainya pencela menemukan sandaran yang paling ringan dari faktor-faktor nyata atau mungkin yang membuatnya sedikit yakin dengan penjelasan ini antara dia dan dirinya sendiri, niscaya ia tidak rela dengan penggantinya dan tidak berpaling darinya kepada penjelasan lain apapun. Tetapi para pencela ini tidak henti-hentinya sejak turunnya Al-Quran hingga hari ini bingung dalam nasab Al-Quran ini. Mereka tidak tahu apakah akan menisbatkannya kepada pengajaran manusia sebagaimana telah kita dengar tadi, ataukah mengembalikannya kepada jiwa pemiliknya sebagaimana telah kita dengar sebelumnya, ataukah menggabungkan untuknya kedua penisbatan itu lalu berkata kepada pemiliknya bahwa ia “terpelajar” sekaligus “gila” sebagaimana datang dalam surat Ad-Dukhan ayat 14.
Jenis-jenis Perdebatan yang Diceritakan Al-Quran dari Para Pencela
Dan barangsiapa mengikuti jenis-jenis perdebatan yang diceritakan Al-Quran dari para pencelanya akan melihat bahwa penisbatan mereka terhadap Al-Quran kepada pengajaran manusia adalah kalimat yang paling sedikit berputar di lidah mereka, dan yang paling sering muncul dalam perdebatan mereka adalah menisbatkannya kepada jiwa pemiliknya, dengan kebingungan mereka dalam menentukan keadaan jiwa yang Al-Quran keluar darinya: apakah itu syair, ataukah kegilaan, ataukah bunga tidur…
Lihatlah: berapa banyak segi pendapat yang mereka bolak-balik dalam masalah ini? Hingga mereka tidak berhenti pada batas-batas yang dapat diandaikan dalam kalam yang kokoh seperti Al-Quran, dan dalam akal yang kokoh seperti akal pemiliknya. Bahkan mereka pergi ke keadaan jiwa yang paling jauh yang mungkin keluar darinya perkataan orang-orang berakal dan orang-orang gila. Sesungguhnya hal itu adalah salah satu dalil yang paling jelas bahwa mereka tidak menunjuk… (teks asli berhenti di sini).
[Masalah Wahyu Kejiwaan, dan Bantahan terhadapnya]
Dengan cara ini atau itu menuju tuduhan yang pasti yang memiliki pembangkit di luar atau dalam keyakinan mereka, namun mereka hanya ingin mengemukakan semua kemungkinan dan perkiraan dengan memejamkan mata terhadap kemustahilan, kejanggalan, dan keanehan yang ada di dalamnya, agar mereka dapat membangkitkan debu khayalan di mata orang-orang yang mengharapkan cahaya kebenaran, dan agar mereka dapat melemparkan duri-duri keraguan di jalan orang-orang yang menuju taman keyakinan.
Sungguh kami mengetahui bahwa mereka di lubuk hati mereka tidak merasa tenang dengan pendapat yang baik yang mereka ridhai di antara pendapat-pendapat tersebut, dan bahwa mereka setiap kali meletakkan tangan mereka pada satu pendapat dan ingin menenun darinya pakaian untuk Al-Qur’an, mereka mendapatinya janggal bagi selera mereka, tidak layak menjadi pakaian baginya, maka mereka langsung beralih untuk mencoba pendapat kedua, ternyata itu tidak lebih baik perbandingannya dari yang mereka tolak, lalu mereka beralih mencoba yang ketiga… begitu seterusnya mereka tidak pernah tenang dari kegelisahan. Jika engkau ingin melihat gambaran menggelikan dari kekacauan perdebatan ini, maka bacalah penggambarannya dalam Al-Qur’an: “Bahkan mereka berkata: ‘Ini adalah mimpi-mimpi yang kacau, bahkan dia mengada-adanya, bahkan dia adalah seorang penyair.'” (Al-Anbiya: 5). Kalimat pendek ini menggambarkan bagimu dengan rangkaian huruf-huruf bantahan di dalamnya seberapa besar kebingungan dan kegoncangan yang menimpa mereka dalam pendapat mereka, dan memperlihatkan kepadamu gambaran saksi palsu ketika dia merasa terjepit kedudukannya: bagaimana dia berbolak-balik ke kanan dan ke kiri, dan bagaimana jalan-jalan bercerai-berai darinya dalam membenarkan kemustahilan yang dia coba lakukan. “Perhatikanlah bagaimana mereka membuat perumpamaan tentangmu, lalu mereka sesat, maka mereka tidak dapat menemukan jalan.” (Al-Isra: 48, Al-Furqan: 9).
[Fenomena Wahyu, dan Petunjuknya terhadap Sumber]
Sekarang setelah kami melewati bersamamu kedua tahap penelitian ini, dan kami telah menunjukkan kepadamu bahwa tidak ada sumber manusiawi bagi Al-Qur’an, tidak pada diri pemiliknya maupun pada seseorang dari manusia, dan bahwa setiap orang yang berusaha menjadikan Al-Qur’an ini sebagai “karya manusia” telah kehabisan akal, dan menegakkan hujah atas kegagalannya dengan kegoncangan dan kedegilan serta kemustahilan dan keangkuhannya: maka wajib bagi kami untuk beralih ke tahap ketiga untuk mencari sumber tersebut di cakrawala di luar cakrawala manusiawi secara keseluruhan; dan tidak berhenti pada Al-Qur’an di tempat kaum ateis dulu dan sekarang menghentikannya dengan ragu-ragu di antara dua ujung ini, kadang mengambil yang satu, kadang yang kedua, dan kadang mengambil keduanya bersama-sama, berpindah-pindah demikian dari yang rusak ke yang rusak, ke gabungan keduanya yang lebih rusak dari keduanya. Tidak, sesungguhnya akal menetapkan kepada kami untuk membatalkan apa yang telah dibatalkan oleh dalil tanpa keangkuhan, dan mengikutinya dalam perjalanannya hingga kami sampai pada kebenaran yang nyata.
[Pandangan terhadap Ilmu Pengetahuan Alam, dan Hubungannya dengan Ghaib]
Adapun kaum ateis ini, mereka tidak terhenti dari melanjutkan penelitian – menurut anggapan mereka – kecuali karena pemeliharaan mereka terhadap kehormatan sunnatullah (hukum-hukum alam), dan menjaga sebab-sebab biasa yang darinya muncul perkataan manusia dalam hal yang masuk akal maupun yang dinukil; sungguh kesetiaan mereka kepada ilmu-ilmu alam ini menolak mereka untuk menerobos batas-batasnya dan keluar untuk mencari sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh mata mereka, dan tidak pernah mereka coba contohnya dalam diri mereka. Engkau telah mengetahui bahwa apa yang mereka sangka sebagai kesetiaan kepada sifat alami segala sesuatu telah membalik mereka kepada lawannya; karena mereka telah merobek demi itu pagar alami bagi akal manusia dan kenyataan sejarah, lalu mereka menggabungkan hal-hal yang bertentangan dan mengubah tanda-tanda sejarah, dan memaksa sifat alami segala sesuatu hingga memikul apa yang tidak sanggup dipikulnya. Orang berakal mana yang rela berdiri pada posisi seperti ini yang di dalamnya dia membela kebiasaannya dengan mengorbankan akalnya!!
Bahkan yang benar adalah ada penghalang lain yang menghalangi mereka dari melanjutkan perjalanan bersama kami, tetapi mereka menyembunyikannya dari kami: mereka merasa berat di dada mereka untuk menyerahkan kendali mereka kepada seorang manusia yang datang kepada mereka dari atas kepala mereka yang mengklaim bahwa dia adalah utusan Allah kepada mereka, lalu dia memerintah dan melarang mereka serta mewajibkan ketaatan kepada mereka, kemudian dia dengan itu menghadapi mereka dengan kenyataan-kenyataan pahit, lalu dia menghalangi antara mereka dengan masa lalu yang mereka pegang teguh, dan hawa nafsu yang mereka sembah. “Bahkan dia datang kepada mereka dengan kebenaran, sedang kebanyakan mereka benci kepada kebenaran.” (Al-Mu’minun: 70).
Maka biarlah kami tinggalkan mereka duduk di tempat mereka ridhai untuk duduk, dan mari kami lanjutkan penelitian tentang kebenaran ini dengan mengharap kepada Allah petunjuk kepadanya, dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk.
Jangan kira bahwa pada tahap ketiga ini kami akan mengembara di padang tandus yang sesat, atau bahwa perjalanan akan membawa kami ke tempat yang jauh dan perjalanan yang tidak terarah. Tidak, kami tidak akan mengeluarkan penelitian kami dari lingkaran terbatas yang kami lihat sebagai tempat dugaan rahasia yang kami cari, yaitu dengan mempelajari keadaan-keadaan langsung yang di dalamnya Al-Qur’an muncul di lisan Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam.
Kita semua mengenal fenomena menakjubkan itu yang tampak pada wajah mulianya setiap kali Al-Qur’an turun kepadanya, dan urusannya tidak tersembunyi dari siapa pun yang melihatnya. Mereka melihatnya tiba-tiba wajahnya memerah dan dia diserang kesulitan hingga dahinya berkeringat, dan tubuhnya menjadi berat hingga hampir menghancurkan paha orang yang duduk di sampingnya dan hingga jika dia sedang berkendaraan, untanya akan berlutut, dan mereka juga mendengar di dekat wajahnya suara-suara bercampur yang menyerupai dengungan lebah, kemudian tidak lama kemudian kesulitan itu dihilangkan darinya lalu dia membaca Al-Qur’an yang baru dan dzikir yang baru.
Barang siapa yang ingin mencari sumber Al-Qur’an ini, maka di sinilah tempat dugaan yang paling dekat, maka di dalamnya hendaklah para peneliti membatasi penelitian mereka, dan hendaklah para pencari kebenaran mencari yang hilang mereka. Di mana lagi dicari sebab-sebab yang benar bagi suatu akibat jika tidak dicari di tempat akibat itu muncul, dan di tempat keberadaan dan ketiadaannya berputar?
[Analisis Fenomena Wahyu]
Mari kita lihat sekarang fenomena ini: apakah itu sesuatu yang dibuat-buat dan cara persiapan untuk mengumpulkan pikiran dan pertimbangan? Ataukah itu urusan yang tidak ada campur tangan pilihan di dalamnya? Dan jika itu urusan yang bukan pilihan, apakah itu memiliki dalam diri jiwa suatu asal dari sebab-sebab alami biasa, seperti pembangkit tidur, atau dari sebab-sebab alami yang menyimpang, seperti gangguan kekuatan saraf? Ataukah itu reaksi karena sebab luar yang terpisah dari kekuatan jiwa?
Sesungguhnya satu pandangan yang kita lemparkan pada unsur-unsur fenomena ini akan membimbing kita bahwa itu tidak mungkin merupakan rekayasa dan kepura-puraan, terutama jika engkau renungkan suara-suara bercampur itu yang terdengar di dekat wajah Nabi yang mulia. Dan juga jika itu rekayasa dan kepura-puraan, tentu akan berada dalam genggaman kanannya, maka dia tidak akan menginginkan suatu hari untuk datang dengan Al-Qur’an baru melainkan dia datang dengan itu melalui jalan yang biasa dia tempuh dalam mempersiapkannya.
Engkau telah mengetahui bahwa dia sering mencarinya di saat-saat yang paling membutuhkannya, dan dia tidak memperolehnya kecuali ketika Allah menghendaki.
Maka itu adalah keadaan yang bukan pilihan.
[Perbedaan antara Wahyu dan Tidur]
Kemudian kami kembalikan pandangan sekali lagi lalu kami melihat jarak yang sangat jauh antara itu dengan gangguan tidur alami yang menimpa seseorang di waktu dia membutuhkan tidur; karena itu menimpanya dalam keadaan berdiri atau duduk, berjalan atau berkendaraan, pagi atau sore, dan di sela percakapannya dengan sahabat-sahabatnya atau musuh-musuhnya, dan itu menimpanya tiba-tiba dan hilang tiba-tiba, dan berakhir dalam waktu sebentar, bukan secara bertahap yang terjadi pada orang yang mengantuk, dan disertai suara-suara aneh itu yang tidak terdengar darinya maupun dari yang lain ketika tidur. Secara keseluruhan itu adalah keadaan yang berbeda dengan keadaan orang tidur dalam posisi, waktu, bentuk, dan keseluruhan penampakannnya.
Maka itu adalah gangguan yang tidak biasa.
[Perbedaan antara Wahyu dan Serangan Sakit atau Saraf]
Kemudian kami melihat perbedaan sempurna dan pertentangan menyeluruh antara itu dengan gejala-gejala sakit dan serangan saraf yang di dalamnya wajah menguning, anggota badan mendingin, gigi bergemeretak, aurat terbuka, cahaya akal tertutup, dan kegelapan kebodohan menaungi; karena itu seperti yang engkau ketahui merupakan sumber pertumbuhan dalam kekuatan badan, kecerahan warna, dan kenaikan derajat suhu, dan di samping itu merupakan sumber cahaya bukan kegelapan, dan sumber ilmu bukan kebodohan, bahkan bersamanya datang ilmu dan cahaya yang membuat akal-akal tunduk kepada hikmahnya, dan cahaya-cahaya menjadi kecil di hadapan kemunculannya.
Kini kami hampir sampai… Maka berhentilah bersama kami sebentar untuk melihat sumber cahaya ini yang kadang muncul dan kadang tersembunyi dari tempat yang tidak ada campur tangan pemiliknya dalam kemunculan maupun penyembunyiannya: apakah mungkin itu terpancar dari sifat jiwa Muhammad ini? Kalau begitu demi Allah tentu layak terpancar darinya selalu, dan lebih berhak terpancar darinya dalam keadaan terjaga biasa dan pertimbangan pikiran lebih dari terpancar darinya dalam saat-saat sebentar itu ketika menyelimutinya awan tipis ini yang mungkin menyerupai kantuk atau pingsan.
Maka pasti ada di balik awan ini sumber cahaya yang memasok jiwa Muhammad ini dari waktu ke waktu, lalu meninggikannya dari cakrawala kesadarannya yang terbatas, dan membekalinya dengan ilmu-ilmu yang Allah kehendaki, kemudian melepaskannya kepada kami dengan membawa muatan ilmu ini hingga dia bertemu lagi dengannya lain kali.
Sebagaimana manusia beriman bahwa cahaya bulan tidak diperoleh dari dirinya sendiri, melainkan diperoleh dari sinar matahari; karena mereka melihat perubahan cahaynya selalu mengikuti perubahan kedudukannya dari matahari, dekat dan jauh, maka demikian pula hendaklah mereka beriman bahwa cahaya bulan Nabi ini sesungguhnya adalah sinar yang terpantul dari cahaya matahari yang mereka lihat bekasnya meskipun mereka tidak melihatnya.
Ya, mereka tidak melihatnya dengan mata mereka terbit di siang hari, dan tidak mendengar suaranya dengan telinga mereka sebagai lonceng yang dapat dipahami dan perkataan yang dimengerti manusia; tetapi mereka melihat bara darinya di dahi, dan mereka mendengar desisnya di sekitar wajah yang mulia, dan sesungguhnya dalam itu adalah petunjuk bagi orang-orang yang mendapat petunjuk.
Itu adalah kekuatan luar; karena itu tidak berhubungan dengan jiwa Muhammad ini kecuali dari waktu ke waktu, dan itu tentu kekuatan yang berilmu; karena itu memberikan wahyu kepadanya berupa ilmu.
Dan itu kekuatan yang lebih tinggi dari kekuatannya; karena itu menimbulkan pada jiwa dan badannya pengaruh-pengaruh besar itu. “Yang mengajarkan kepadanya (malaikat Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai kekuatan, lalu dia menampakkan diri dengan rupa yang asli.” (An-Najm: 5).
Dan itu kekuatan yang baik lagi ma’shum, karena itu tidak memberikan wahyu kecuali kebenaran dan tidak memerintah kecuali yang benar, maka tidak heran itu bukan kekuatan yang sembrono dan jahat seperti kekuatan jin dan setan; karena apa hubungan jin dengan ilmu ghaib sedangkan “jin itu mengetahui bahwa seandainya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tinggal dalam siksa yang menghinakan.” (Saba: 14), dan apa hubungan setan dengan berita langit sedangkan ia terjaga dari setiap setan yang terkutuk. “Dan ia (Al-Qur’an) bukanlah dibawa turun oleh setan-setan. Tidak layak bagi mereka dan tidak pula mereka sanggup. Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan dari pendengaran (ke langit).” (Asy-Syu’ara: 210 dan seterusnya).
Bahkan kami katakan: bukankah ruh-ruh itu tentara yang berbarisan, yang saling kenal akan bersatu, dan yang saling mengingkari akan berselisih? Bukankah seseorang dikenal dari temannya, dan yang serupa akan tertarik kepadanya? Bagaimana mungkin bersatu ruh-ruh yang buruk itu dengan hati yang bersih suci? Atau bagaimana mungkin bersatu kekuatan-kekuatan yang sembrono itu dengan akal yang sempurna dan kokoh ini? “Maukah aku kabarkan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada setiap pendusta yang banyak berdosa. Mereka menyampaikan apa yang didengar, dan kebanyakan mereka adalah pendusta.” (Asy-Syu’ara: 221 dan seterusnya).
Maka apa gerangan kekuatan ini jika bukan kekuatan malaikat yang mulia?
Itulah sampainya ilmu dalam menggambarkan kekuatan ghaib ini menurut apa yang ditunjukkan oleh penelitian akal yang lurus.
Dan bagi mukmin yang sederhana tidak butuh lebih dari kadar ini untuk memuaskan syahwat ilmiahnya, dan tidak untuk memperkuat akidah agamanya. Barang siapa yang menginginkan tambahan dari sifat dan hiasannya maka bukan jalannya kembali kepada petunjuk akal-akal, melainkan jalannya kembali kepada nukilan yang shahih dari tempat turun rahasianya dan tempat munculnya cahayanya shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, karena hanya dialah yang mampu berbicara tentang pemilik rahasia ini dengan pembicaraan saksi mata yang melihat orangnya dan mendengar suaranya, bahkan pembicaraan murid yang duduk bersama gurunya berkali-kali.
Adapun yang beriman kepada yang ghaib maka dia akan beriman kepada pembicaraan ini tentangnya meskipun dia tidak melihatnya; karena dia melihat bekasnya, dan karena dia beriman kepada yang mengabarinya.
Adapun orang-orang bodoh yang diberi sedikit dari ilmu lahir kehidupan lalu mengira bahwa mereka menguasai segala sesuatu dengan ilmu, maka mereka akan mendustakan semua yang tidak mereka kuasai dengan ilmu mereka, dan akan berkata kepadamu: mungkin itu gangguan pada saraf penglihatan yang membuatnya mengira bahwa dia melihat sesuatu dari tiada! Maka berlarilah kepada Allah dari kebutaan hati dan mata, dan katakanlah: tidak, “penglihatan(nya) tidak berpaling dari yang seharusnya dilihat dan tidak (pula) melampauinya.” (An-Najm: 17). Atau mereka berkata: mungkin itu gangguan pada kekuatan pikiran yang menggambarkan baginya makna-makna sebagai bayangan yang nyata, dan mimpi-mimpi sebagai kenyataan yang berwujud. Maka berlarilah kepada Allah dari kegilaan ini, dan katakanlah: tidak, “hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.” (An-Najm: 11).
Ya; mereka heran bahwa ada manusia yang melihat malaikat secara nyata dan berbicara dengan mereka secara terang-terangan, bahkan mereka heran bahwa ada di dunia ini makhluk yang tidak mereka lihat dengan mata mereka, dan suara yang tidak mereka dengar dengan telinga mereka, lalu mereka berkata: bagaimana Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat apa yang tidak kami lihat, dan mendengar apa yang tidak kami dengar! Demi umurku; sungguh kami lebih berhak untuk heran dari keheranan ini; karena kami paham bahwa jika hal seperti itu dapat diterima di zaman kebodohan awal, tidak mungkin dapat diterima hari ini sedangkan bumi telah dipenuhi dengan tanda-tanda ilmiah yang menerangkan kepada akal kami kenyataan-kenyataan ghaib tersebut.
[Bukti-Bukti Kontemporer tentang Kemungkinan Wahyu]
Dan sesungguhnya di antara ayat-ayat yang paling dekat dengan jangkauan masyarakat umum adalah ayat tentang telepon.
Kini dua orang dapat berada, yang satu di ujung timur yang paling jauh dan yang lainnya di ujung barat yang paling jauh, kemudian mereka saling berbicara dan saling melihat, sementara orang-orang yang duduk di majelis pembicaraan itu tidak melihat apa-apa, dan tidak mendengar kecuali desisan seperti dengungan lebah yang terdapat dalam sifat wahyu.
Jika mereka menginginkan bukti ilmiah yang lebih jelas dari ini yang menggambarkan wahyu bagi mereka secara nyata, dan menunjukkan kepada mereka melalui percobaan-percobaan – yang mereka tidak beriman kecuali dengannya – bahwa hubungan jiwa manusia dengan kekuatan yang lebih tinggi darinya dapat menimbulkan padanya fenomena sejenis dengan fenomena ini, dan mengukir padanya informasi-informasi yang tidak tersimpan dalam akal maupun dalam indera sebelumnya, maka Allah telah menunjukkan kepada mereka ayat yang menakjubkan itu dalam (keajaiban hipnotis magnetis). Kini seorang laki-laki yang kuat kehendaknya dapat menguasai dengan kekuatan kehendaknya orang yang lebih lemah darinya hingga membuatnya tidur dengan perintahnya, tidur yang sangat nyenyak sehingga tidak merasakan tusukan jarum. Di sana dia menjadi tergantung pada isyaratnya, dan kehendaknya terhapus dalam kehendaknya: seandainya dia menghendaki menghapus dari jiwanya suatu pendapat atau keyakinan, niscaya dia akan menghapusnya dengan satu kata saja. Bahkan seandainya dia menghendaki menghapus dari dadanya nama dirinya sendiri dan mengajarinya nama lain serta meyakinkannya bahwa itulah namanya, niscaya dia tidak akan mendapati darinya kecuali keimanan dan penyerahan. Nama aslinya akan menjadi sesuatu yang terlupa dan terlupakan, dan nama buatan ini akan tetap terukir di hatinya dan lidahnya setelah dia bangun selama yang Allah kehendaki. Jika demikian perbuatan manusia ini terhadap manusia, maka bagaimana menurutmu dengan Dia yang lebih kuat darinya?
Demikianlah perumpamaan pembawa wahyu dan penerimanya, keduanya mendapat salam: yang ini adalah manusia yang patuh yang memiliki jiwa yang bersih yang menerima jejak ilmu-ilmu padanya, dan yang itu adalah malaikat yang sangat kuat yang memiliki kekuatan, yang membawa kepadanya risalahnya dan membacakannya kepadanya, maka dia tidak lupa kecuali apa yang Allah kehendaki.
Namun ada jarak yang sangat jauh antara wahyu kenabian ini dengan wahyu manusia sebagiannya kepada sebagian yang lain. Manusia sebagaimana kamu ketahui kadang-kadang menyampaikan hiasan kata-kata yang memperdaya, dan sering kali wahyu mereka meninggalkan pada jiwa penerimanya gejala-gejala mental atau fisik yang sulit diobati.
Mana ada kesamaan antara ini dengan wahyu antara dua rasul yang didukung yang dipilih Allah untuk risalah-Nya: seorang rasul dari kalangan malaikat, dan seorang rasul dari kalangan manusia? Adapun rasul malaikat, maka dia sebagaimana kamu ketahui tidak menyampaikan wahyu kecuali kebenaran, dan tidak memerintahkan kecuali kebaikan. Adapun rasul manusia, maka dia tetap setelahnya sebagaimana sebelumnya: teguh hatinya, sempurna akalnya, kuat jiwa dan badannya. “Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan risalah-Nya” (Al-An’am: 124).
[Rangkuman Penelitian tentang Dalil-Dalil Eksternal yang Menunjukkan Sumber Al-Qur’an]
Setelah itu, sesungguhnya kita dalam metode yang kita tempuh dari awal penelitian hingga batas ini tidak bermaksud membahas Al-Qur’an pada esensinya, melainkan yang paling jauh yang kita lakukan adalah kita mempelajari jalan dari mana dia datang. Maka kita tidak menemukan dalam pengakuan-pengakuan pembawanya, tidak pula dalam kehidupan akhlaknya, tidak pula dalam sarana-sarana dan hubungan-hubungan ilmiahnya, tidak pula dalam seluruh keadaan umum atau khusus di mana Al-Qur’an muncul, kecuali saksi-saksi yang berbicara bahwa Al-Qur’an ini tidak memiliki ayah di muka bumi yang kita nisbatkan kepadanya selain Allah.
Dan semua itu adalah kajian-kajian eksternal yang hanya ditempuh oleh seseorang yang berdiri bersama kita pada bagian yang baik dari kehidupan kenabian ini dan keadaan-keadaannya, dan di samping itu memiliki fitrah yang sehat yang mengenali segala sesuatu dengan contohnya dan terbimbing kepadanya dengan tanda-tanda yang paling dekat. Maka orang seperti ini akan ridha dari kita dengan kadar ini dan terbimbing dengannya.
Adapun mereka yang tidak mengetahui tentang kehidupan kenabian itu kecuali sedikit – dan mereka banyak – dan mereka yang ingin mengambil hujjah Al-Qur’an untuk dirinya dari dirinya sendiri, maka mereka ini tidak dapat tidak kita majukan selangkah lagi untuk kita jelaskan kepada mereka bahwa kitab mulia ini menolak dengan tabiatnya untuk menjadi buatan manusia, dan menyeru dengan lisan halnya bahwa dia adalah risalah takdir dan qadar, hingga seandainya dia ditemukan terlempar di padang pasir niscaya orang yang melihatnya akan yakin bahwa bukan dari bumi ini sumber dan tempatnya tumbuh, melainkan dari ufuk langit tempat terbitnya dan tempat turunnya.
Yang demikian itu karena kemampuan manusia meskipun berbeda-beda namun sampai pada batas-batas terbatas yang tidak melampaui, sedangkan kemampuan Sang Pencipta terhadap hal-hal yang mungkin tidak ada batasnya. Maka setiap makhluk yang melampaui batas-batas kemampuan duniawi pasti berada dalam batas-batas kemampuan Ilahi, dan tidak ada yang ketiga.
Contohnya: seorang laki-laki mungkin dapat mengalahkan seorang laki-laki, mungkin dapat mengalahkan dua laki-laki, mungkin dapat mengalahkan orang-orang perorangan dan puluhan, tetapi apakah ada di antara manusia yang dapat berdiri menghadapi seluruh dunia lalu mengalahkan bangsa-bangsa baik perorangan maupun kelompok-kelompok?
Dan Allah mendatangkan matahari dari timur, maka siapa yang dapat mendatangkannya dari barat?
Dan kamu dapat memadamkan lampu dan menyalakannya kapan kamu mau, tetapi apakah manusia semuanya dapat memunculkan matahari sebelum waktunya, atau mengundurkannya dari jamnya, atau memadamkan cahayanya, atau mendatangkan yang sepertinya meskipun sebagian dari mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain?
Sesungguhnya mereka tidak dapat menciptakan lalat meskipun mereka berkumpul untuknya, dan jika lalat merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak dapat merebutnya kembali darinya. Maka dari mana bagi mereka untuk menyamai makhluk-makhluk tinggi itu yang tidak terjangkau oleh tangan-tangan mereka dan proyektil-proyektil mereka, dan yang mereka tidak memiliki dari urusannya selain memandangnya dan mengaguminya, serta mengambil manfaat darinya, dan tunduk kepadanya.
Maka ketidakmampuan umum itu untuk menyamai penciptaan dan meniru keahlian adalah tanda bahwa ia bukan dari buatan manusia, dan itulah cap Ilahi dan penampakan surgawi yang membedakan keahlian Sang Pencipta dari keahlian makhluk. Dan inilah contoh yang ingin kita terapkan pada Al-Qur’an yang mulia.
Namun di antara manusia ada kelompok yang tenggelam dalam lumpur kedengkian; mereka berkata: “Apa pun ayat yang kamu datangkan kepada kami untuk menyihir kami dengannya, maka kami tidak akan beriman kepadamu” (Al-A’raf: 132), “Dan sekalipun Kami turunkan malaikat kepada mereka dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan di hadapan mereka segala sesuatu, mereka tidak akan beriman kecuali jika Allah menghendaki” (Al-An’am: 111), dan yang lain tidak menemukan ketenangan mereka kecuali dalam kegoncangan keraguan, mereka berkata: “Kami tidak menyangka kecuali sangkaan dan kami tidak yakin” (Al-Jatsiyah: 32), “Dan sekiranya Kami bukakan kepada mereka pintu langit, lalu mereka terus naik ke atasnya, niscaya mereka berkata: ‘Sesungguhnya pandangan kami telah dibutakan, bahkan kami adalah kaum yang kena sihir'” (Al-Hijr: 14) dan selanjutnya, “Dan sekalipun Kami turunkan kepadamu kitab yang tertulis di atas kertas, lalu mereka menyentuhnya dengan tangan mereka, niscaya orang-orang kafir itu berkata: ‘Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata'” (Al-An’am: 7). Maka mereka ini dan mereka itu tidak ada jalan bagi kita atas mereka, dan tidak berguna bagi mereka nasihat kita jika Allah menghendaki menyesatkan mereka, karena bukan urusan kita memperdengarkan kepada orang tuli atau memberi petunjuk kepada orang buta dan tidak pula kepada orang-orang yang memasukkan jari-jari mereka ke telinga mereka sehingga mereka tidak mendengar, atau meletakkan telapak tangan mereka di atas mata mereka sehingga matahari yang terbit bukanlah terbit. “Dan barang siapa yang Allah kehendaki fitnah baginya, maka kamu sekali-kali tidak akan memiliki sesuatu pun (untuk menolongnya) dari Allah” (Al-Maidah: 41). Dan sesungguhnya jalan kita adalah menegakkan hujjah bagi orang yang bodoh dari para pencari kebenaran, dan menjelaskan jalan bagi yang melewatinya dari para pencari keyakinan.
[Kemukjizatan Al-Qur’an]
Inilah kita mengundang setiap orang yang mencari kebenaran dengan adil, untuk melihat bersama kita pada Al-Qur’an dari sisi mana pun yang dia sukai: dari sisi gaya bahasanya, atau dari sisi ilmu-ilmunya, atau dari sisi pengaruh yang ditimbulkannya di dunia dan mengubah wajah sejarah dengannya, atau dari sisi-sisi tersebut secara keseluruhan; dengan syarat dia memiliki pilihan setelah itu untuk memandangnya dalam batas-batas lingkungan dan zaman di mana dia muncul, atau mengandaikan bahwa dia muncul di lingkungan dan zaman sejarah yang paling maju. Dan sama saja bagi kita juga apakah dia memandang kepada kepribadian pendakwa yang membawanya atau mencari sosok khayali yang terkumpul padanya latihan para sastrawan, kekuasaan para pemimpin, dan kajian para ulama dengan segala ilmu kemanusiaan. Kemudian kita bertanya kepadanya: Apakah dia menemukan padanya kecuali kekuatan yang menyimpang yang mengalahkan setiap penakluk, dan mengecilkan kekuatan setiap ulama, setiap pemimpin, setiap penyair dan penulis, kemudian berlalu generasi-generasi dan masa-masa namun tidak habis keajaiban-keajaiban yang ada padanya, bahkan mungkin berlalu seluruh dunia dan belum selesai manusia memahami takwil semua yang ada padanya, “Pada hari datang takwilnya, berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu: ‘Sungguh telah datang rasul-rasul Tuhan kami dengan kebenaran'” (Al-A’raf: 53).
Maka marilah kita sekarang – dengan pertolongan dan taufik Allah – mempelajari tiga sisi kemukjizatan Al-Qur’an ini: yaitu sisi kemukjizatan bahasa, sisi kemukjizatan ilmiah, dan sisi kemukjizatan perbaikan, pendidikan, dan sosial.
Dan hendaklah perhatian kita lebih banyak pada sisi bahasanya; karena dari sisi itulah terjadi tantangan dengan Al-Qur’an secara keseluruhan dan terperinci dalam satu surah darinya, karena itu kita memulai dengannya.
Al-Qur’an adalah Mukjizat Bahasa
[Membongkar Keraguan seputar Kemukjizatan Al-Qur’an]
Barang siapa yang ada padanya sedikit keraguan dalam masalah ini, maka izinkanlah kami untuk menanyainya: di mana letak keraguan itu?
Apakah jiwanya mengatakan kepadanya bahwa dia dapat mendatangkan kalam pada tingkat kefasihan Al-Qur’an? Ataukah dia telah mengenal dari dirinya kekurangan dari derajat itu, tetapi dia tidak mengenal dari manusia apa yang dia kenal dari dirinya?
Ataukah dia mengetahui bahwa semua manusia telah diam dari menentang Al-Qur’an, tetapi dia tidak mengetahui bahwa diam mereka terhadapnya adalah karena ketidakmampuan, dan tidak bahwa ketidakmampuan mereka datang dari sisi Al-Qur’an itu sendiri?
Ataukah dia mengetahui bahwa mereka telah tidak mampu menghadapinya dan bahwa dialah yang membuat mereka tidak mampu, tetapi dia tidak mengetahui bahwa gaya bahasanya termasuk sebab-sebab kemukjizatannya?
Ataukah dia yakin bahwa Al-Qur’an yang mulia adalah dan masih menjadi mukjizat bayan bagi seluruh manusia, tetapi dia tidak yakin bahwa dia juga mukjizat demikian bagi orang yang membawanya?
Ataukah dia beriman dengan semua ini; tetapi dia tidak tahu: apa rahasia-rahasianya dan apa sebab-sebabnya?
Ini enam wajah, untuk setiap wajah darinya ada pengobatan yang khusus untuknya, dan kita akan mengobatinya sesuai urutan ini:
[Barang Siapa yang Menguasai Kunci Bayan akan Tampak baginya Tanda-Tanda Kemukjizatan]
1 – Adapun jika sumber keraguan padanya adalah bahwa dia telah menekuni sesuatu dari keahlian syair atau penulisan, dan merasakan dari dirinya kemampuan dalam bayan lalu setan kekaguman pada diri dan ketidaktahuan tentang Al-Qur’an membisikkan kepadanya bahwa dia dapat mendatangkan seperti gaya bahasanya, maka itu adalah dugaan yang tidak ada seorang pun dari para tokoh besar yang telah sampai yang menduganya tentang dirinya, dan hanya muncul – jika muncul – pada para pemula yang tidak berpengalaman. Dan orang seperti ini obatnya pada kami adalah nasihat yang kami sampaikan kepadanya agar dia memperpanjang pandangan dalam gaya-gaya bahasa Arab, dan agar dia menghafal untuk memahaminya dengan mempelajari sebagian dari ilmu-ilmu sastra, hingga kokoh padanya kemampuan kritik bayan, dan jelas baginya jalan penilaian dalam tingkat-tingkat kalam dan derajat-derajatnya, kemudian dia memandang Al-Qur’an setelah itu.
Dan aku menjaminnya bahwa setiap langkah yang dia langkahkan dalam jalan ini akan menambah pengetahuannya tentang kedudukannya, dan akan melepaskan dari jiwanya satu ikatan dari ikatan-ikatan keraguan dalam urusannya; karena dia akan melihat di sana bahwa semakin dia bertambah wawasan tentang rahasia-rahasia bahasa, dan kebaikan dalam mengatur perkataan, dan menguasai kunci bayan; dia semakin bertambah sesuai kadar itu merendahkan dirinya, dan mengingkari kekuatannya, dan tunduk dengan totalitasnya di hadapan gaya Al-Qur’an. Dan ini mungkin tampak aneh bagimu, bahwa bertambah perasaan seseorang tentang ketidakmampuannya terhadap keahlian sesuai kadar kesempurnaan kekuatannya padanya dan meluasnya ilmunya dengannya. Tetapi tidak aneh, karena itu adalah sunnah Allah pada ayat-ayat-Nya yang Dia buat dengan tangan-Nya: tidak menambahmu ilmu tentangnya dan berdiri pada rahasia-rahasianya kecuali tunduk pada kebesarannya dan yakin pada ketidakmampuan menghadapinya. Dan tidak demikian keahlian-keahlian makhluk, karena kelebihan ilmu tentangnya memungkinkanmu darinya dan membuka jalanmu untuk menambahnya, dan dari sinilah para penyihir Fir’aun adalah orang-orang pertama yang beriman kepada Tuhan Musa shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Harun ‘alaihis salam.
Jika orang yang sombong menolak kecuali tetap pada kesombongannya, dan berat baginya untuk mengakui ketidakmampuan dan kekurangannya, kita undang dia ke medan untuk mencoba dirinya dan menguji kekuatannya, dan kita katakan kepadanya: Keluarkanlah untuk kita yang terbaik yang ada padamu agar kita lihat apakah kamu benar ataukah termasuk orang-orang yang berdusta.. Namun kita menasihatinya dengan satu lagi: jangan keluar kepada manusia dengan dagangannya hingga dia memperpanjang pertimbangan dan memantapkan perbandingan, dan hingga dia yakin akan kebaikan dan keunggulan; karena jika dia melakukan itu akan lebih dekat agar dia memperbaiki kesalahannya dan menyembunyikan aibnya, jika tidak maka orang yang malang itu telah berbuat buruk kepada dirinya dari mana dia ingin berbuat baik kepadanya.
Dan dalam sejarah ada pelajaran-pelajaran yang diriwayatkan tentang orang-orang yang mencoba percobaan seperti ini; maka mereka datang dalam menentang Al-Qur’an dengan kalam yang tidak menyerupai Al-Qur’an dan tidak menyerupai kalam diri mereka sendiri; bahkan mereka turun ke jenis kebodohan dan kehinaan yang tampak cacatnya, abadi aib dan cemarnya: di antara mereka ada yang berakal yang malu menyelesaikan percobaannya, lalu dia menghancurkan penanya dan merobek lembarannya.
Di antara mereka ada yang licik yang mendapati manusia di zamannya lebih berakal dari pada bisa beredar pada mereka kebodohan-kebodohannya, lalu dia melipat lembaran-lembarannya dan menyembunyikannya sampai waktu tertentu.
Di antara mereka ada yang ceroboh yang muncul dengannya kepada manusia, maka dia menjadi olok-olok bagi para pengolok dan contoh bagi yang kemudian. Maka barang siapa yang jiwanya mengatakan kepadanya untuk mengulangi percobaan ini sekali lagi, maka hendaklah dia memandang pelajaran-pelajaran itu dan mengambil yang terbaiknya, dan barang siapa yang tidak malu maka hendaklah dia berbuat apa yang dia mau.
[Bangsa Arab telah tidak mampu mendatangkan yang serupa dengan Al-Quran, dan ketidakmampuan selain mereka adalah lebih utama]
2 – Adapun jika jalur masuk keraguannya adalah karena dia melihat di antara manusia ada yang lebih tinggi darinya tingkatannya dalam bidang ini, lalu dia berkata dalam hatinya: “Jika aku bukan termasuk pendekar dalam medan ini, dan tidak memiliki kemampuan dalam menghadapi Al-Quran, mungkin perkara ini mudah bagi orang yang lebih fasih lidahnya dariku dan lebih memukau bayan-nya.” Maka kepada orang seperti ini kami katakan: kembalilah kepada ahli dzikir dari para sastrawan zamanmu dan tanyakanlah kepada mereka apakah mereka mampu mendatangkan yang serupa dengannya? Jika mereka berkata kepadamu: “Seandainya kami mau, tentu kami akan mengatakan yang serupa dengan ini,” maka katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kalian!” Dan jika mereka berkata: “Kami tidak memiliki kemampuan untuk itu,” maka katakanlah: Apa hal yang lebih besar dari ketidakmampuan sebagai kesaksian atas kemukjizatan?
Kemudian kembalilah kepada sejarah dan tanyakanlah kepadanya: Bagaimana dengan abad-abad yang pertama? Sejarah akan memberitahumu bahwa tidak seorang pun mengangkat kepalanya di hadapan Al-Quran dalam satu zaman pun dari zaman-zamannya, dan bahwa beberapa orang yang menundukkan kepala mereka kepadanya berakhir dengan kehinaan dan kerendahan, dan masa telah menyeret jejak-jejak mereka dengan ekor kelupaan.
Ya, sungguh sejarah telah mencatat ketidakmampuan ini atas ahli bahasa mereka sendiri dalam zaman turunnya Al-Quran. Dan tahukah engkau apa itu zaman turunnya Al-Quran? Ia adalah zaman paling gemilang dari zaman-zaman bayan Arab, dan tingkatan paling tinggi dari periode-periode penghalusan bahasa. Dan apakah akademi-akademi bahasa dalam suatu umat dari umat-umat mencapai apa yang dicapai umat Arab dalam zaman itu dari perhatian terhadap bahasa mereka, hingga bahasa ini mencapai puncaknya; dan sempurnalah bagi mereka sesuai kadar kemampuan manusia penghalusan kata-kata dan gaya-gayanya? Dan apakah gerombolan-gerombolan yang berkumpul di padang pasir ini, dan apakah mimbar-mimbar yang didirikan di sana-sini ini? Itulah pasar-pasar orang Arab yang mereka pajang di dalamnya barang dagangan paling berharga mereka dan kerajinan-kerajinan paling baik mereka; dan itu tidak lain adalah barang dagangan perkataan, dan kerajinan syair serta pidato. Mereka berlomba dalam memaparkan dan mengkritiknya, serta memilih yang paling baik dan berbangga dengannya, dan mereka bersaing di dalamnya dengan persaingan yang sangat keras, sama antara laki-laki dan perempuan mereka. Dan perkara Hassan dan Khansa dan lain-lainnya tidaklah tersembunyi bagi orang yang beradab.
Maka tidak lain ketika Al-Quran datang… tiba-tiba pasar-pasar telah bubar, kecuali darinya, dan tiba-tiba perkumpulan-perkumpulan telah sepi, kecuali tentangnya. Maka tidak ada seorang pun dari mereka yang mampu menandinginya atau menyainginya, atau mengusulkan padanya penggantian satu kata dengan kata lain, atau penghapusan satu kata, atau penambahan satu kata, atau mendahulukan satu dan mengakhirkan yang lain; padahal dia tidak menutup bagi mereka pintu perlawanan, bahkan membukanya dengan lebar-lebar, bahkan mengajak mereka kepadanya secara individu atau berkelompok, bahkan menantang mereka dan mengulangi tantangan itu kepada mereka dalam berbagai bentuk, dengan mengejek mereka dan turun bersamaan mereka kepada yang lebih ringan dan lebih ringan: maka dia mengajak mereka pertama kali agar mereka datang dengan yang serupa dengannya, kemudian mengajak mereka agar mereka datang dengan sepuluh surat yang serupa dengannya, kemudian agar mereka datang dengan satu surat yang serupa dengannya, kemudian dengan satu surat dari yang serupa dengannya, dan dia membolehkan bagi mereka setiap kali untuk meminta pertolongan siapa yang mereka mau dan siapa yang mereka mampu, kemudian dia menuduh mereka dan seluruh dunia dengan ketidakmampuan tanpa berbelit-belit; maka Dia berfirman: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain'” (Al-Isra: 88), dan Dia berfirman: “Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) – dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu” (Al-Baqarah: 24). Maka lihatlah betapa menyulut, dan betapa memprovokasi! Sungguh dia telah memberikan putusan final yang kekal dalam firman-Nya: “dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya)” kemudian mengancam mereka dengan neraka, kemudian menyamakan mereka dengan batu-batu. Demi hidupku, jika ada di antara mereka lidah yang bergerak, tentu mereka tidak akan diam dari menyainginya padahal mereka adalah musuh-musuh yang keras, dan orang-orang mulia yang menolak kehinaan, dan dia telah menyerang tempat kemuliaan dan kebanggaan mereka. Tetapi mereka tidak menemukan celah yang bisa mereka masuki untuk melawannya, dan tidak ada tangga yang bisa mereka naiki untuk berdesak-desakkan dengannya, bahkan mereka mendapati diri mereka di hadapannya seperti di depan gunung yang menjulang, “maka mereka tidak sanggup memanjatnya dan mereka tidak sanggup pula melubanginya”… hingga ketika mereka putus asa dari kemampuan mereka dan meyakini ketidakmampuan mereka, jawaban mereka tidak lain adalah menunggangi punggung kematian, dan membuat pedang berbicara menggantikan huruf-huruf. Dan itulah siasat yang digunakan oleh setiap orang yang dikalahkan dalam hujjah dan bukti, dan setiap orang yang tidak mampu membela dirinya dengan pena dan lidah.
Dan berlalulah zaman Al-Quran dengan tantangan tetap berdiri agar setiap orang mencoba dirinya sendiri, dan datanglah zaman sesudahnya, dan di padang pasir serta pinggir-pinggirnya ada kaum-kaum yang nasab mereka tidak bercampur, lidah mereka tidak menyimpang, dan naluri mereka tidak berubah. Dan di antara mereka ada yang jika mereka mampu mendatangi agama ini dari dasarnya, dan membuktikan bahwa mereka mampu dari urusan Al-Quran atas apa yang tidak mampu dilakukan pendahulu-pendahulu mereka: tentu mereka lakukan. Tetapi leher-leher mereka tunduk kepadanya dengan tunduk, dan terhalang antara mereka dan apa yang mereka inginkan sebagaimana yang dilakukan kepada pengikut-pengikut mereka sebelumnya.
Kemudian berlalulah abad-abad itu, dan bahasa ini diwarisi dari ahlinya oleh para pewaris, hanya saja orang-orang yang datang sesudahnya ini, mereka lebih tidak mampu dan kurang berharap pada tuntutan mulia ini. Maka kesaksian mereka atas diri mereka sendiri ditambahkan kepada kesaksian sejarah atas pendahulu-pendahulu mereka, dan bukti kemukjizatan tetap berdiri di hadapan mereka dari dua jalan: wujdani (perasaan) dan burhani (logika)… Dan tidak henti-hentinya keadaan manusia dan Al-Quran seperti ini hingga Allah mewarisi bumi dan siapa yang ada di atasnya.
[Perkataan tentang Sharfah]
3 – Maka jika dia berkata kepada kami: Ya, aku telah mengetahui bahwa tidak ada seorang pun yang datang dengan sesuatu dalam melawan Al-Quran, tetapi tidaklah setiap apa yang tidak dilakukan manusia itu berada di luar batas kemampuan mereka. Barangkali manusia meninggalkan suatu perbuatan yang termasuk jenis perbuatan-perbuatan pilihannya karena tidak berdirinnya sebab-sebab yang dari kebiasaannya mendorong kepadanya, atau karena penghalang ilahi telah mematahkan semangatnya dan mengalihkan kehendaknya darinya meski sebab-sebab yang mendorong kepadanya tersedia, atau karena penghalang tiba-tiba telah merusak alat-alatnya dan menghalangi kemampuannya dari menimbulkan perbuatan itu setelah kehendaknya menuju kepadanya. Maka pada dua dugaan yang pertama, tidak adanya perlawanan terhadap Al-Quran adalah kurangnya kepedulian terhadap urusannya, bukan ketidakmampuan mendatangkan yang serupa dengannya. Dan pada dugaan yang terakhir, meninggalkannya adalah ketidakmampuan terhadapnya secara benar, tetapi bukan karena penghalang di dalamnya dari sisi tingginya tingkatannya dari level kemampuan manusia, melainkan karena penghalang luar yaitu perlindungan Kekuatan Yang Maha Tinggi terhadapnya, dan penjagaan-Nya terhadapnya dari perlawanan para pelawan. Dan jika penghalang ini dihilangkan, tentu manusia akan datang dengan yang serupa dengannya.
Kami katakan kepadanya: Semua dugaan ini sama sekali tidak berlaku pada topik kami.
[Berpadu padunya sebab-sebab yang mendorong perlawanan terhadap Al-Quran]
Adapun yang pertama: sesungguhnya sebab-sebab yang mendorong perlawanan itu tersedia dan berpadu padu. Dan hal apa yang lebih kuat dalam membangkitkan ghirah lawanmu dari celaan fasih yang berulang itu yang kau tujukan kepadanya dengan mengumumkan di dalamnya ketidakmampuannya menyamai karyamu? Sesungguhnya tantangan ini cukup sendiri dalam membangkitkan kemarahan orang pengecut dan menyalakan semangatnya untuk membela dirinya dengan apa yang dicapai kemampuannya. Apalagi jika yang kau tantang itu terbentuk atas kebanggaan dan ghirah? Dan bagaimana jika karya yang kau tantang dia dengannya adalah keahliannya yang dengannya dia berbangga, dan yang di dalamnya dia adalah pelatih yang mahir? Dan bagaimana jika kau dengan itu menuduhnya dengan kebodohan pendapat dan kesesatan jalan? Dan bagaimana jika kau mengharapkan dari balik perang argumentatif ini menghancurkan akidah-akidahnya, dan menghapus kebiasaan-kebiasaannya serta memutus hubungan antara masa lalunya dan masa depannya?
[Kesibukan ahli syirik dengan urusan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan risalahnya]
Adapun yang kedua: sesungguhnya sebab-sebab ini telah kami saksikan benar-benar membuahkan hasil-hasilnya, dan membangunkan semangat para pelawan hingga batas-batas terjauhnya, hingga urusan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan Al-Quran adalah kesibukan mereka yang menyibukkan, dan kekhawatiran mereka yang melelahkan. Maka mereka tidak meninggalkan suatu sarana dari sarana-sarana untuk melawannya dengan lemah lembut atau dengan kekerasan kecuali mereka mendalaminya dan menggunakannya sebagai sarana: Apakah mereka menipu dia dari agamanya agar dia lunak kepada mereka dan condong sedikit kepada agama mereka? Atau mereka menawar dia dengan harta dan kerajaan agar dia berhenti dari dakwahnya? Atau mereka saling berwasiat untuk memboikotnya, dan menahan perbekalan darinya dan dari kerabat terdekatnya hingga mereka mati kelaparan atau menyerahkannya? Atau mereka mencegah suara Al-Quran keluar dari rumah-rumah kaum muslimin karena khawatir ada seorang dari anak-anak mereka yang mendengarnya? Atau mereka melemparkan padanya keragu-raguan dan celaan? Atau mereka menuduh pemiliknya dengan sihir dan kegilaan untuk menghalangi darinya orang yang tidak mengenalnya dari suku-suku yang datang dalam musim-musim? Atau mereka bertipu daya dengannya untuk mengikatnya atau membunuhnya atau mengeluarkannya (Al-Anfal: 30)? Atau mereka mempertaruhkan jiwa, harta, dan keluarga mereka dalam memeranginya? Apakah semua ini adalah ketersibukan dari Al-Quran dan kurangnya perhatian terhadap urusannya?! Kemudian mengapa semua ini padahal dia telah menunjukkan kepada mereka bahwa jalan satu-satunya untuk membungkamnya adalah mereka datang kepadanya dengan perkataan seperti yang dibawanya kepada mereka? Bukankah itu lebih dekat kepada mereka dan lebih kekal bagi mereka seandainya urusannya ada di tangan mereka? Tetapi mereka mengetuk semua pintu kecuali pintu ini, dan pembunuhan, tawanan, kemiskinan, dan kehinaan, semua itu lebih ringan bagi mereka daripada menempuh jalan terjal ini yang ditunjukkannya kepada mereka. Maka hal apa yang akan menjadi ketidakmampuan jika ini bukan ketidakmampuan?!
Tidak diragukan bahwa semua serangan ini tidak diarahkan kepada pribadi Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya, sebab mereka sebelumnya telah disayangi oleh mereka karena hubungan kekerabatan, dan dicintai oleh mereka karena kemuliaan akhlak mereka. Sebagaimana serangan itu tidak diarahkan kepada Al-Quran di dalam dada dan tidak pula di dalam rumah; sebab mereka menerima dari mereka bahwa setiap orang menyembah Tuhannya di rumahnya bagaimana dia mau. Serangan itu hanya ditujukan kepada satu sasaran, dan melawan satu bahaya, yaitu pengumuman Al-Quran ini dan penyebarannya di antara orang Arab.
Dan janganlah terlintas dalam benakmu bahwa mereka tidak marah dari pengumuman Al-Quran kecuali karena ia adalah dakwah baru kepada agama baru saja. Tidak demikian, sebab telah ada di antara orang Arab hanif-hanif dari tokoh-tokoh penceramah dan penyair seperti Quss bin Sa’idah, dan Umayyah bin Abi Ash-Shalt, dan lain-lainnya. Dan pidato-pidato serta syair-syair mereka dipenuhi dengan dakwah kepada apa yang didakwahi Al-Quran dari agama fitrah.
Maka mengapa mereka telah dipusingkan oleh urusan Muhammad dan Al-Qurannya dengan apa yang tidak menjadi perhatian mereka dari urusan selain dia? Itu tidak lain karena mereka mendapati baginya urusan lain yang tidak menyerupai urusan manusia, dan bahwa mereka merasakan dalam Al-Qurannya kekuatan yang mengalahkan dan arus yang menghanyutkan yang ingin meluaskan kekuasaannya di mana sampai gema suaranya. Dan bahwa mereka tidak menemukan jalan untuk melawannya melalui jalur perlawanan kalam yang adalah rutinitas mereka, dan yang adalah jalan langsung yang menantang mereka dengannya. Maka tidak heran jalan satu-satunya menurut mereka untuk melawannya adalah menghalangi dengan berbagai cara antara Al-Quran ini dan manusia berapa pun biaya pengorbanan yang ditanggung mereka, dan demikianlah mereka lakukan, dan demikianlah berlaku sunnah pada orang-orang setelah mereka dari musuh-musuh Al-Quran hingga hari ini.
[Perasaan orang Arab akan ketidakmampuan mendatangkan yang serupa dengannya]
Adapun yang ketiga: sesungguhnya jika ketidakmampuan mereka menyamai Al-Quran itu karena penghalang yang menimpa mereka yang menghalangi antara mereka dan sesuatu yang dalam kemampuan mereka, niscaya ketidakmampuan itu tidak akan jelas bagi mereka kecuali setelah mereka mengulurkan lidah mereka kepadanya, dan mencoba kemampuan mereka atasnya; karena tidaklah mungkin bagi seseorang merasakan hilangnya kemampuannya dari sesuatu yang tadinya dia mampu atasnya seperti kemampuannya berdiri dan duduk kecuali setelah usaha dan percobaan. Dan kita telah mengetahui bahwa mereka tidak melakukan percobaan ini, dan tidak ada yang memulai usaha ini dari mereka kecuali yang paling sedikit jumlahnya, dan paling bodoh pendapatnya. Maka itu adalah tanda putus asa alami mereka dari diri mereka sendiri, dan tanda perasaan mereka bahwa ketidakmampuan mereka darinya adalah ketidakmampuan fitri yang sudah jadi, seperti ketidakmampuan mereka memindahkan gunung-gunung, dan meraih bintang-bintang dari langit. Dan bahwa mereka dalam tidak perlu dengan pengetahuan daruri ini untuk mencari dalil atasnya dengan usaha-usaha dan percobaan-percobaan.
Padahal jika mereka tidak mengetahui ketidakmampuan mereka darinya pada mulanya, dan ketidakmampuan baru menimpa mereka setelah perasaan mereka bahwa ia dalam tingkat perkataan mereka, tentu keheranan mereka ketika itu adalah dari diri mereka sendiri: bagaimana kami menjadi tidak mampu dengannya padahal ia dari kami di ujung rumput? Dan tentu mereka saling bertanya di antara mereka penyakit apa yang menimpa kami sehingga mengikat lidah kami dari melawan perkataan ini yang seperti setiap perkataan? Atau tentu mereka kembali kepada bayan mereka yang lama sebelum ketidakmampuan menimpa mereka lalu datang dengan sesuatu darinya dalam menghadapinya. Tetapi mereka tidak datang padanya dengan yang lama dan tidak pula yang baru, dan Al-Quran sendiri yang menjadi sumber keheranan dan kekaguman mereka, hingga mereka sujud karena mendengarnya sebelum berlalu waktu yang mereka bandingkan di dalamnya antara dia dan perkataan mereka, bahkan di antara mereka ada yang dikalahkan oleh perasaan ini sehingga melimpah pada lidahnya pengakuan yang benar: “Ini bukan perkataan manusia.”
[Al-Quran dan bahasa Arab]
4 – Maka jika dia berkata: Aku telah memahami sekarang bahwa diamnya manusia dari melawan Al-Quran adalah ketidakmampuan, dan bahwa mereka mendapati dalam sifat Al-Quran rahasia dari rahasia kemukjizatan yang meninggikan dia di atas kemampuan mereka. Tetapi aku tidak memahami bahwa sisi bahasanya bisa menjadi dari tempat-tempat dugaan rahasia ini; karena aku membaca Al-Quran dan tidak mendapatinya keluar dari kebiasaan orang Arab dalam bahasa Arab mereka: dari huruf-huruf mereka tersusun kata-katanya, dan dari kata-kata mereka tersusun kalimat-kalimat dan ayat-ayatnya, dan atas metode mereka dalam penyusunan datang penyusunannya. Maka hal baru apa dalam mufradat Al-Quran yang tidak dikenal orang Arab dari bahan-bahan dan bangunan-bangunannya? Dan hal baru apa dalam susunan Al-Quran yang tidak dikenal orang Arab dari jalan-jalannya dan tidak diambil dengannya dalam mazhab-mazhabnya, hingga kita katakan: sesungguhnya dia telah datang kepada mereka dengan apa yang di atas kemampuan bahasa mereka?
Kami katakan kepadanya: Adapun bahwa Al-Quran Al-Karim tidak keluar dalam bahasanya dari sunnah orang Arab dalam perkataan mereka secara mufradat dan tarkib, maka itu secara keseluruhan adalah benar yang tidak diragukan, dan dengan itu dia lebih masuk dalam kemukjizatan, dan lebih jelas dalam memutus alasan-alasan “Dan jikalau Kami jadikan Al-Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: ‘Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?’ Apakah (patut Al-Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab?” (Fushshilat: 44).
Adapun setelah itu, apakah luput darimu bahwa misal kerajinan bayan seperti misal kerajinan bangunan? Para insinyur pembangun tidak menciptakan bahan bangunan yang tidak ada di bumi, dan tidak keluar dalam kerajinan mereka dari kaidah-kaidahnya yang umum, dan tidak lebih dari apa yang mereka buat kecuali dinding-dinding yang diangkat, dan atap-atap yang diletakkan, dan pintu-pintu yang dibuka. Tetapi kerajinan-kerajinan mereka saling berbeda di balik itu dalam memilih bahan yang paling kokoh dan paling kekal terhadap zaman, dan paling melindungi manusia dari panas dan dingin, dan dalam memperdalam pondasi dan memanjangkan bangunan, dan meringankan yang diangkat darinya atas yang mengangkatnya, dan memanfaatkan luas yang sedikit dalam fasilitas-fasilitas yang banyak, dan menata kamar-kamar dan ruang-ruang, sehingga cahaya dan udara menerobosnya. Maka di antara mereka ada yang memenuhi itu semua atau kebanyakannya, dan di antara mereka ada yang mengabaikan sesuatu darinya atau beberapa hal… hingga kepada macam-macam hiasan dan ukiran yang selera arsitektur berbeda di dalamnya dengan perbedaan yang jauh.
Demikianlah kau lihat ahli bahasa yang satu menyampaikan tujuan yang satu dengan jalan-jalan yang berbeda-beda yang berbeda bagiannya dalam kebaikan dan penerimaan. Dan tidaklah dari satu kata dari perkataan mereka dan tidak pula satu penempatan dari penempatan-penempatan mereka yang keluar dari bahan-bahan bahasa dan kaidah-kaidahnya secara keseluruhan. Tetapi baiknya pemilihan dalam bahan-bahan dan penempatan-penempatan itu bisa mengangkat perkataan hingga menarik pendengaranmu, dan menyejukkan dadamu, dan menguasai hatimu. Dan buruknya pemilihan dalam sesuatu dari itu bisa menurunkannya hingga telingamu menolaknya, dan jiwamu muak darinya, dan tabi’atmu menjauh darinya.
Itu karena dalam bahasa ada yang umum dan khusus, dan mutlak dan muqayyad, dan mujmal dan mubayyyan. Dan di dalamnya ada ibarah dan isyarah dan fahwa dan ima. Dan di dalamnya ada khabar dan insya. Dan di dalamnya ada kalimat ismiyyah dan fi’liyyah. Dan di dalamnya ada nafi dan itsbat. Dan di dalamnya ada hakikat dan majaz. Dan di dalamnya ada ithnab dan ijaz. Dan di dalamnya ada dzikir dan hadzf. Dan di dalamnya ada ibtida dan athf. Dan di dalamnya ada ta’rif dan tankir. Dan di dalamnya ada taqdim dan ta’khir, dan seterusnya… Dan dari semua jalan ini manusia menembus kepada tujuan-tujuan mereka, tanpa menyimpang dengan satu penempatan darinya dari penempatan-penempatan bahasa secara keseluruhan, bahkan mereka dalam lembah-lembahnya berpencar, dan di batas-batasnya bertemu.
Namun tidak ada satu pun dari jalan-jalan ini yang pantas dalam setiap tempat, dan tidak ada satu pun dari jalan-jalan tersebut yang buruk dalam setiap tempat. Jika demikian halnya, maka urusan itu akan mudah bagi orang yang mencarinya, dan balaghah (keindahan berbicara) akan menjadi satu rasa di lidah manusia dan satu nada di telinga mereka. Tidak demikian, karena satu jalan terkadang dapat membawamu ke tempat yang aman, namun di waktu lain jatuh pendek dari tujuanmu. Betapa sering suatu kata yang kaulihat di suatu tempat seperti mutiara yang hilang, kemudian kaulihat yang sama persis di tempat lain, seperti permata yang berkilau.
Maka urusan sesungguhnya adalah dalam memilih jalan-jalan ini: mana yang lebih berhak untuk ditempuh dalam suatu tujuan, dan mana yang lebih dekat untuk mengantarkan kepada suatu maksud. Dalam perdebatan, mana yang lebih kokoh dalam berargumen dan lebih menghancurkan keragu-raguan. Dalam deskripsi, mana yang lebih teliti dalam mewakili kenyataan. Di tempat kelembutan, mana yang lebih ringan di telinga dan lebih lembut bagi tabiat. Di tempat ketegasan, mana yang lebih kuat menembus hati dengan api yang menyala. Secara keseluruhan, mana yang lebih memenuhi kebutuhan penjelasan dan lebih terjaga kesegarannya sepanjang zaman.
Urusan dalam pemilihan ini sulit, bukan mudah, karena bidang pilihan memiliki banyak cabang, berbeda warna dalam bentuk-bentuk kata tunggal dan susunan kalimat. Manusia tidaklah sama dalam mengkaji warna-warna ini, apalagi dalam menyeimbangkan di antara kesemuanya, apalagi dalam memilih dengan baik di antara kesemuanya. Betapa sering dua orang, yang satu mendapat petunjuk pada sesuatu yang tidak diperhatikan temannya, dan masing-masing mengabaikan apa yang dipetunjuki yang lain. Betapa sering satu aspek yang terlewatkan darimu di sini sepadan dengan dua aspek yang kau peroleh di sana, atau sebaliknya.
Dan dari keseluruhan pengamatan-pengamatan yang diperhatikan pembicara dalam perkataannya, lahirlah gambaran khusus yang serupa dalam susunan makna ini seperti “temperamen” dalam susunan unsur-unsur materi tersebut. “Temperamen” inilah yang kita sebut dengan gaya atau cara, dan menurut hal itulah terjadi perbedaan dalam tingkatan-tingkatan perkataan dan dalam bagiannya dari keindahan dan penerimaan.
[Yang Baru dalam Bahasa Al-Quran]
Yang baru dalam bahasa Al-Quran adalah bahwa dalam setiap urusan yang ditanganinya dari urusan-urusan perkataan, ia memilih untuknya bahan-bahan yang paling mulia, yang paling dekat hubungannya dengan makna yang dimaksud, yang paling mengumpulkan hal-hal yang tersebar, dan yang paling dapat menerima pencampuran. Dan ia menempatkan setiap mitsqal dzarrah di tempatnya yang paling berhak baginya dan ia paling berhak baginya, sehingga makna tidak mendapati dalam lafaznya kecuali cerminnya yang bersih dan gambarannya yang sempurna. Lafaz tidak mendapati dalam maknanya kecuali tanah airnya yang aman dan tempat kediamannya yang kokoh, bukan sehari atau sebagian hari, melainkan hingga zaman-zaman berlalu dan zaman-zaman datang, maka tempat tidak menginginkan penggantinya dari penghuninya, dan penghuni tidak mencari perpindahan dari tempat tinggalnya. Secara keseluruhan, gaya ini mendatangkan kepadamu apa yang merupakan teladan tertinggi dalam keahlian bayan (penjelasan).
Ini adalah tuntutan yang memiliki dalilnya, dan ringkasan yang memiliki rinciannya. Bukan maksud kami untuk mempercepat kepadamu sekarang dengan penelitian dalil-dalil dan rinciannya, tetapi kami hanya ingin menghilangkan keraguan ini darimu agar kamu tahu bahwa tidak setiap perkataan Arab seperti setiap perkataan Arab, dan bahwa aspek kebahasaan ini pantas untuk berbeda di dalamnya kekuatan-kekuatan, turun hingga batas ketidakmampuan, atau naik hingga batas kemukjizatan.
[Jalan Memahami Ayat Al-Quran, dan Bukti Kebenarannya bagi yang Tidak Mengetahui Perbedaan antara Tingkatan-tingkatan Perkataan]
Jika engkau ingin mengetahui keunggulan Al-Quran Al-Karim dan pencapaiannya pada puncak dalam bidang ini sementara engkau belum dikaruniai kekuatan untuk membedakan antara tingkatan-tingkatan perkataan, maka ketahuilah bahwa tidak ada jalan bagimu untuk memutuskan dalam urusan ini berdasarkan perasaan dan pengalaman. Jalan bagimu hanyalah mengambil keputusannya secara pasrah dari ahlinya dan puas dengannya melalui kesaksian orang-orang yang mengenalnya. Maka sudah menjadi hakmu atas kami bahwa kami menyajikan untukmu contoh dari kesaksian-kesaksian mereka. Ambillah sekarang contoh ini:
Al-Walid bin Al-Mughirah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, dan ketika beliau membacakan kepadanya Al-Quran, seolah-olah ia terharu karenanya. Hal itu sampai kepada Abu Jahal, lalu ia mendatanginya dan berkata: “Wahai paman, sesungguhnya kaummu berpendapat untuk mengumpulkan harta untukmu.” Al-Walid berkata: “Untuk apa?” Abu Jahal berkata: “Untuk memberikannya kepadamu, karena engkau mendatangi Muhammad untuk meminta apa yang ada padanya.” Al-Walid berkata: “Quraisy telah mengetahui bahwa aku termasuk orang yang paling banyak hartanya di antara mereka.” Abu Jahal berkata: “Maka katakanlah tentangnya suatu perkataan yang sampai kepada kaummu bahwa engkau mengingkarinya dan membencinya.” Al-Walid berkata: “Dan apa yang harus kukatakan? Demi Allah, tidak ada di antara kalian seorang laki-laki yang lebih mengetahui dariku tentang syair, baik rajaznya, qasidahnya, maupun syair-syair jin. Demi Allah, apa yang dikatakannya itu tidak menyerupai sesuatu pun dari semua itu. Demi Allah, sesungguhnya perkataannya itu memiliki kelezatan, padanya terdapat keindahan, ia bercahaya bagian atasnya, bersinar bagian bawahnya, ia tinggi dan tidak ada yang meninggikannya, dan ia menghancurkan apa yang berada di bawahnya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Hakim dari Ibnu Abbas, dan ia berkata: “Sahih menurut syarat Bukhari.”
Ya, jika engkau tidak membedakan antara perkataan dengan perkataan, maka ini adalah kesaksian yang cukup bagimu dari kesaksian. Cukuplah bahwa itu adalah kesaksian ahli bahasa mereka sendiri, bahkan kesaksian musuh-musuh kepada musuh mereka.
“Jika engkau tidak melihat hilal, maka berserahlah kepada orang-orang yang melihatnya dengan mata kepala”
[Jalan Memahami Ayat Al-Quran, dan Bukti Kebenarannya bagi yang Membedakan antara Tingkatan-tingkatan Perkataan]
Adapun jika engkau telah diberi bagianmu dari pengetahuan tentang perbedaan-perbedaan perkataan dan kemampuan membedakan antara gaya-gayanya, maka bacalah apa yang engkau kehendaki dari pidato-pidato Arab dan syair-syairnya, hikmah-hikmahnya dan perumpamaan-perumapaannya, surat-suratnya dan percakapan-percakapannya. Telusurilah dalam hal itu masa-masa jahiliah dan Islam dengan berbagai tingkatannya yang berbeda. Kemudian bukalah satu halaman dari kitab yang mulia ini dan lihatlah apa yang engkau dapati!
Gaya yang menakjubkan, dan metode berbicara yang unik dan baru, seolah-olah apa selain Al-Quran dari cara-cara penyusunan perkataan itu adalah tiruan, dan seolah-olah Al-Quran di antara kesemuanya, menurut perkataan sebagian sastrawan: “Karya yang spontan”, engkau tidak melihat ada yang terdahulu datang dengan contohnya, dan tidak ada yang datang kemudian yang meniru sesuai pola dasarnya. Seandainya satu ayat darinya datang kepadamu di tengah kumpulan perkataan para ahli balaghah, niscaya ia akan menunjukkan tempatnya dan membedakan diri dari antara kesemuanya, sebagaimana nada yang halus membedakan diri di antara macam-macam nada, atau buah yang segar di antara berbagai jenis makanan.
[Tingginya Tingkat Bayan Quranic di atas Segala Bayan]
5 – Penanya akan berkata ketika sampai bersama kami pada tempat ini: “Kalian telah menutup dari kami dengan penjelasan ini satu pintu keraguan, tetapi kalian tidak lama kemudian membukakan bagi kami darinya pintu yang baru. Bukankah kalian telah berkata kepada kami: Sesungguhnya keahlian bayan ini tidaklah sama tingkatannya pada manusia, dan bahwa kekuatan-kekuatan berbeda di dalamnya dengan tingkatan-tingkatan yang beragam. Maka kami tidak melihat ada halangan bagi kami untuk menganggap kemukjizatan yang kalian ceritakan kepada kami sebagai hal yang umum yang berlaku dalam gaya-gaya manusia sebagaimana berlaku dalam Al-Quran.
Tidakkah kalian melihat bahwa setiap pembicara atau penulis sesungguhnya menempatkan dalam penjelasannya sepotong dari akal dan perasaannya sesuai dengan gambaran yang dipetunjukkan kepadanya oleh fitrah dan bakat-bakatnya? Dan bahwa perbedaan manusia dalam sarana-sarana ini pasti diikuti oleh perbedaan cara-cara mereka dalam mengungkapkan maksud-maksud mereka? Kalian dapat menghitung dalam bahasa Arab bentuk-bentuk kalam sebanyak orang yang berbicara dengannya, sehingga kalian tidak mendapati seorang penulis yang menulis seperti penulis lain secara sama, dan tidak pula pembicara seperti itu. Bahkan kalian pasti mendapati pada setiap orang metode khusus dalam penyampaian. Orang badui tidak seperti orang kota, yang cerdas tidak seperti yang bodoh, yang ceroboh tidak seperti yang penyabar, yang sakit tidak seperti yang sehat. Yang rendah dalam bidang ini tidak mampu naik kepada yang tinggi, dan yang tinggi tidak mampu turun kepada yang rendah.
Bahkan yang serupa fitrah dan temperamennya, yang sama pendidikan dan pengajarannya, terkadang minum dari satu gelas kemudian tidak berbicara dengan kata-kata dalam satu bentuk. Bagaimana kalian memerintahkan manusia untuk mendatangkan kepada kalian seperti Al-Quran sementara mereka tidak mampu sebagian mereka mendatangkan seperti perkataan sebagian yang lain? Dan bagaimana kalian menganggap ketidakmampuan mereka terhadapnya sebagai tanda kesuciannya sementara kalian tidak menganggap ketidakmampuan setiap orang untuk mendatangkan dengan gaya orang lain sebagai tanda bahwa gaya itu adalah buatan ilahi murni yang tidak ada usaha di dalamnya bagi orang yang mengalir di lidahnya? Bukankah qiyas ini membenarkan bagi kami untuk mengandaikan Al-Quran sebagai perkataan manusia seperti perkataan manusia pada umumnya, hanya saja gayanya khusus bagi pemiliknya sebagaimana setiap orang memiliki gaya dirinya sendiri?”
Jawaban kami untuk penanya ini adalah dengan berkata kepadanya: “Kami tidak membantah bahwa perkataan pembicara sesungguhnya adalah gambaran yang didiktekan kepadanya oleh fitrah dan bakat-bakatnya, dan tidak pula bahwa fitrah dan bakat ini karena perbedaannya pada kebanyakan manusia pasti meninggalkan pengaruhnya berupa perbedaan dalam bentuk perkataan mereka, dan tidak pula bahwa fitrah dan bakat tersebut jika serupa pada sekelompok manusia sehingga mendiktekan kepada mereka bentuk-bentuk yang serupa dari perkataan, maka pada umumnya tidak mengeluarkannya dalam satu bentuk.
Semua ini kami akui dan tidak kami ingkari, tetapi hal itu tidak merugikan kami dan tidak melemahkan sesuatu pun dari dalil kami. Hal itu karena ketika kami menantang manusia dengan Al-Quran, kami tidak menuntut mereka untuk mendatangkan kepada kami bentuk kalam yang sama persis. Tidak, itu yang tidak kami harapkan, dan kami tidak mengajak para penentang kepadanya. Tetapi kami meminta kalam apa pun polanya dan metodenya, sesuai dengan cara yang dikuasai pembicara apa pun fitrah dan temperamennya, sehingga jika ditimbang dengan Al-Quran dengan timbangan keutamaan bayan, ia menyamainya atau mendekatinya dalam timbangan tersebut walaupun tidak dalam bentuk khususnya. Maka perkara yang kami ajak mereka untuk menyamai atau mendekatinya adalah bagian ini yang di dalamnya para ahli balaghah bersaing, dan di dalamnya mereka menyamai atau saling mendekati. Itu berbeda dengan cara-cara dan bentuk-bentuk tertentu yang pasti berbeda antara pembicara dengan pembicara.
Jika sulit bagimu memahami bagaimana kesamaan terjadi dengan perbedaan ini, kami berikan untukmu perumpamaan: suatu kaum yang berlomba menuju tujuan yang telah ditentukan, dan mereka telah mengambil untuk itu arena yang luas di mana sebagian tidak berdesakan dengan sebagian, dan tidak ada seorang pun yang meletakkan kakinya di tempat kaki temannya. Tetapi setiap orang dari mereka pergi di jalannya sendiri yang sejajar dengan lawannya dalam permulaan dan tujuan. Kemudian di antara mereka ada yang mendahului dan yang mengikuti, yang ketiga dan yang keempat, dan di antara mereka ada yang tidak mendapat bagian dalam perlombaan, dan di antara mereka ada yang saling menyamai dan berimbang. Demikianlah engkau melihat mereka walaupun berbeda tempat, terjadi di antara mereka kesamaan sebagaimana terjadi di antara mereka kelebihan sesuai dengan apa yang ditempuh masing-masing dari jalannya menuju tujuan bersama.
Demikian pula orang-orang yang bersaing dalam gelanggang bayan, setiap orang menuju tujuan dari jalan yang diridainya, dan dengan cara yang menarik dirinya dari dirinya. Kemudian terjadi di antara mereka kesamaan atau kelebihan sesuai dengan apa yang mereka penuhi dari kebutuhan bayan atau mereka kurangi darinya, walaupun berbeda mazhab yang dianut setiap orang di antara mereka.
[Keadaan Orang-orang yang Ditantang Al-Quran]
Anggaplah – kalau begitu – orang-orang yang ditantang untuk menandingi Al-Quran di antara mereka ada yang sepadan dan sederajat dengan nabi Al-Quran dalam fitrah dan selera Arab, atau yang lebih sempurna darinya dalam hal itu, atau anggaplah mereka semua berada di bawahnya dalam kedudukan itu. Adapun yang lebih tinggi, mereka akan datang sesuai dengan selera mereka dengan perkataan yang lebih bagus dari perkataannya. Adapun yang sederajat, mereka akan datang dengan sesuatu yang sepertinya. Adapun yang lainnya, tidak sulit bagi mereka untuk mendekati dan datang dengan sesuatu yang serupa dengannya. Sesuatu dari ketiga tingkatan ini jika terjadi, akan cukup untuk menolak dalil dan membatalkan tantangan.
Engkau akan berkata: “Sebaliknya, aku memilih kenyataan, yaitu bahwa orang-orang Arab dengan berbagai tingkatan mereka dalam bayan tidak naik ke tingkat balaghah Muhammad, dan aku mengklaim bahwa kekurangan hakiki ini yang menghalangi mereka dari menyainginya dalam keseluruhan perkataannya adalah yang menghalangi mereka dari menandingi Al-Qurannya. Maka ketidakmampuan ini tidak menjadi dalil bagi kalian tentang kesucian gaya Quranic sebagaimana tidak menjadi dalil menurut kalian tentang kesucian gaya kenabian.”
Kami menjawab: “Adapun bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam adalah orang Arab yang paling fasih, dan ia memiliki dalam keutamaan bayan ini kedudukan pertama di antara mereka tanpa saingan, maka itu yang tidak kami ragukan – bahkan tidak kami sangsi – di dalamnya, baik kami maupun siapa pun yang mengenal bahasa Arab. Namun kami bertanya: berapa besar perbedaan ini yang terjadi antara mereka dengan beliau? Apakah itu termasuk yang biasa terjadi dalam alur kebiasaan antara sebagian manusia dengan sebagian dalam batas-batas kekuatan manusia, ataukah merupakan perkara yang menyimpang dan luar biasa dari kebiasaan sama sekali?
Adapun jika seperti yang biasa kami saksikan yang serupa dengan apa yang terjadi dalam kebiasaan antara yang fasih dengan yang lebih fasih, dan antara yang bagus dengan yang lebih bagus, maka tidak diragukan bahwa jenis ketinggian ini jika menghalangi antara mereka dengan mendatangkan seperti semua perkataannya, tidak akan menghalangi antara mereka dengan satu bagian darinya. Dan jika bagian kecil ini memang membuat mereka tidak mampu meniru secara sempurna, tidak akan membuat mereka tidak mampu turun darinya di tempat yang dekat.
Ketahuilah bahwa kami telah memberikan kebebasan kepada mereka dalam menandingi Al-Quran dengan ini atau itu, dan kami maklumi mereka dalam apa yang mereka datangkan kepada kami, baik keseluruhan atau sebagian, banyak atau sedikit, menyamai atau mendekati kesamaan. Maka ketidakmampuan mereka terhadap semua itu adalah sama.
Adapun jika dikatakan: Bahwa perbedaan antara beliau ‘alaihis salam dengan para ahli balaghah lainnya adalah sampai batas terputusnya hubungan mereka dengannya secara keseluruhan karena kekhususannya di antara orang Arab dan di antara manusia dengan fitrah yang menyimpang yang tidak berhubungan dengan fitrah-fitrah lainnya dalam sedikit maupun banyak kecuali seperti hubungan kekuatan dengan ketidakmampuan, atau kemungkinan dengan kemustahilan, maka tidak diragukan bahwa perkataan dengan itu adalah saudara dari perkataan bahwa dari manusia ada yang bukan manusia, atau pengakuan bahwa apa yang didatangkan oleh manusia ini bukan dari pekerjaan manusia. Hal itu karena tabiat manusia yang umum adalah satu, dan tabiat-tabiat personal terjadi di dalamnya keserupaan dan kemiripan dalam sesuatu demi sesuatu dan dalam yang satu demi yang satu. Jika tidak demikian dalam setiap zaman, maka dalam zaman-zaman yang panjang. Dan jika tidak dalam semua jenis perkataan, maka dalam sebagian jenisnya.
Betapa banyak yang kami lihat dari orang-orang banyak yang serupa hati, akal, dan lidah mereka sehingga selaras pikiran dan ungkapan mereka kadang, dan saling berdekatan di waktu lain, hingga terkadang terlintas kepadamu bahwa roh yang mengalir dalam dua perkataan adalah satu roh, dan bahwa jiwa di sini adalah jiwa di sana. Demikian pula kami melihat dari sastrawan-sastrawan mutakhir yang menulis dengan gaya Ibnu Al-Muqaffa’ dan Abdul Hamid, dan yang menulis dengan gaya Al-Hamadzani dan Al-Khawarizmi, dan seterusnya.
Seandainya gaya Al-Quran adalah dari pekerjaan pemiliknya yang manusia, niscaya pantas datang dengan sesuatu yang serupa dengannya orang yang paling mirip dengan manusia ini dalam temperamen, yang paling dekat kepadanya dalam petunjuk dan sifat, yang paling erat hubungannya dengannya, dan yang paling banyak mengambil dan belajar darinya. Atau pantas bagi para sahabatnya yang Al-Quran turun di tengah-tengah mereka lalu mereka membacanya dan menghafalnya, merasakan maknanya dan menjadikannya teladan, mengikuti langkah-langkahnya dan mengambil dari sumber-sumbernya – bahwa mereka mendekatkan gaya mereka sedikit dengan gayanya sesuai dengan yang dituntut oleh naluri meneladani dan sifat memindahkan tabiat dari tabiat. Tetapi sesuatu dari semua itu tidak terjadi. Yang terjadi adalah puncak keutamaan orang fasih di antara mereka sebagaimana usaha orang fasih di antara kami hanyalah memperoleh sesuatu yang dikutipnya darinya dalam lipatan perkataan mereka untuk menambahkan kepadanya ketinggian dan kemuliaan.”
Keunikan Gaya Al-Qur’an dan Dalilnya tentang Sumbernya
Bahkan kami katakan: seandainya gaya Al-Qur’an merupakan gambaran fitrah Muhammad tersebut, maka berdasarkan muqaddimah-muqaddimah yang telah kami tetapkan, seharusnya tercetak dari gambaran ini pada seluruh ucapan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam apa yang tercetak darinya pada gaya Al-Qur’an; karena fitrah yang satu tidak menjadi dua fitrah, dan jiwa yang satu tidak menjadi dua jiwa. Dan kami melihat gaya Al-Qur’an sebagai satu corak tersendiri, dan kami melihat gaya Nabi sebagai satu corak tersendiri yang tidak berjalan bersama Al-Qur’an di medan yang sama kecuali sebagaimana burung-burung yang terbang melayang-layang di angkasa tidak mampu naik ke sana, kemudian kami melihat gaya-gaya manusia dan melihatnya meski berbeda-beda namun tetap satu corak yang tidak naik dari permukaan bumi, maka ada yang merangkak-rangkak, ada yang berlari kencang, dan perbandingan yang terkuat di antaranya terhadap Al-Qur’an seperti perbandingan kendaraan-kendaraan bumi ini dengan kendaraan-kendaraan langit itu!
Ya, Anda mungkin membaca potongan dari ucapan Nabi lalu berambisi untuk menangkap dan menyaingnya sebagaimana Anda berambisi menangkap atau menyaingi burung; dan mungkin Anda membaca kalimat hikmah lalu bingung perihalnya: apakah dari kalimat-kalimat kenabian ataukah dari kalimat-kalimat para sahabat atau tabi’in? Itu dengan yang telah Anda ketahui tentang keunggulan gaya Nabi dengan kelebihan fasahah, kejernihan susunan kata, dan kerapian narasi, namun itu keunggulan yang mungkin halus bagi yang tidak ahli dalam bidang ini. Dan mungkin selera saja tidak cukup untuk memahaminya, sehingga terpaksa merujuk pada riwayat untuk membantu membedakan sebagian hadits marfu’ dari hadits mauquf atau maqtu’.
Adapun gaya Al-Qur’an, ia membawa ciri khas yang tidak akan tertukar dengan yang lainnya, dan tidak membuat orang yang berambisi berharap bisa mengitari bentengnya; bahkan ia membuat leher-leher terangkat kepadanya kemudian mengembalikannya dengan dagu tertunduk ke dada.
Setiap orang yang melihat dengan dua mata atau mendengar dengan dua telinga, ketika menempatkan Al-Qur’an berhadapan dengan selain Al-Qur’an dalam dua timbangan, kemudian melihat dengan salah satu matanya atau mendengar dengan salah satu telinganya pada gaya Al-Qur’an, dan dengan yang lainnya pada gaya hadits Nabi dan gaya-gaya manusia lainnya, dan ia telah dikarunia bagian dari indera bayan dan selera bahasa, maka pastilah ia akan beriman bersama kami akan kebenaran yang jelas ini, yaitu bahwa gaya Al-Qur’an tidak ada yang dapat menandinginya dari semua gaya ini, dan kami kira bahwa setelah beriman akan kebenaran ini, ia tidak akan mampu kecuali beriman pada yang berikutnya… dengan berdaliI dari karya “tidak ada yang menyerupainya” kepada Sang Pencipta {Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat} (Asy-Syura: 11).
6 – Jika penanya adalah dari para pencari kebenaran sebagaimana kami gambarkan, dan berakhir dari penelitiannya ke tempat yang kami tunjukkan, lalu ia melihat dan mendengar, membandingkan dan menimbang, merasakan dan mendapati, maka ia akan maju kepada kami dengan kalimat terakhirnya berkata: Ya, aku telah mengeluarkan tempat anak panah dari ucapan di hadapanku, dan menguji anak-anak panahnya namun tidak mendapati yang seperti Al-Qur’an yang paling kuat batangnya, dan sungguh aku telah mendatangi mata air-mata air perkataan dan merasakan rasa-rasanya namun tidak mendapati yang seperti Al-Qur’an yang paling manis mata airnya, dan sekarang aku beriman bahwa ia sebagaimana kalian gambarkan – karya yang unik, dan ia tinggi tanpa bisa ditinggikan, dan ia menghancurkan apa yang di bawahnya, namun aku yang telah memahami dari kekuatan gaya Al-Qur’an dan kemanisannya yang telah kupahami – masih yang kurasakan dari itu makna yang bergolak di dada yang tidak bisa kutafsirkan dan tidak mampu kujelaskan, dan jiwa setelah ini dan itu masih condong pada pelajaran tentang kekhususan-kekhususan dan keunggulan-keunggulan yang dimonopoli Al-Qur’an dari seluruh ucapan, dan padanya terdapat rahasia kemukjizatan bahasanya.
Apakah ada jalan untuk menampilkan sesuatu dari itu kepada kami agar hati kami tenang dengannya, dan kami bertambah iman di atas iman kami?
Kami katakan: Adapun sekarang, demi Allah engkau telah meminta kepada kami perkara besar, dan membebani kami tujuan yang jauh yang untuknya para ulama dan sastrawan sebelum kami dan di zaman kami mengabdikan diri, namun pena-pena mereka aus karenanya, dan mereka tidak bertambah kecuali membuat perumpamaan-perumpamaan untuknya, dan mengakui bahwa yang tersembunyi bagi mereka darinya lebih banyak daripada yang mereka sadari, dan apa yang mereka gambarkan dari yang mereka pahami lebih sedikit daripada yang sempit ungkapan-ungkapan mereka, dan tidak sampai padanya isyarat-isyarat mereka.
Dan kami, ketika giliran telah sampai kepada kami setelah mereka, apakah Anda kira bahwa kami akan menempuh jalan selain jalan mereka lalu mengklaim bahwa kami dalam tergesa-gesa ini akan menampilkan kepadamu rahasia kemukjizatan secara keseluruhan? Tidak, dan bukan pula penelitian menyeluruh terhadap apa yang telah diungkap orang-orang dari sisi-sisinya, tidak, dan bukan pula penelitian lengkap terhadap apa yang kami rasakan dari sisi-sisi tersebut.
Dan sesungguhnya kami ingin menggambarkan kepadamu sebagian dari kekhususan-kekhususan tersebut yang kami temui dari Kitab Allah setiap kali kami mendengarkannya atau membacanya dan merenungkannya, semoga engkau mendapati dalam yang sedikit darinya apa yang tidak engkau dapati dalam yang banyak dari apa yang dihitung orang-orang, maka jika orang-orang menambahimu dari itu jenis-jenis, kami berharap kami menambahimu dari satu jenis keyakinan dan manfaat.
Hal Pertama yang Mengejutkanmu:
Studi dalam Gaya Al-Qur’an
Hal pertama yang menyambutmu dan menarik perhatianmu dari gaya Al-Qur’an yang mulia adalah kekhususan komposisi suaranya dalam bentuk dan substansinya.
Keindahan Suara Al-Qur’an
1 – Biarkanlah pembaca yang menguasai tajwid membaca Al-Qur’an dengan melagukan sesuai lagunya, turun dengan jiwanya sesuai kehendak Al-Qur’an, bukan menurunkan Al-Qur’an sesuai kehendak jiwanya, kemudian menjauh darinya di tempat yang agak jauh di mana Anda tidak mendengar bunyi huruf-hurufnya, tetapi Anda mendengar harakat dan sukuknya, mad dan gunnah-nya, sambungan dan waqaf-nya, kemudian perhatikanlah kumpulan suara ini, yang telah dipisahkan secara terpisah dan dilepaskan polos di udara, maka Anda akan mendapati diri Anda darinya berhadapan dengan lagu aneh yang menakjubkan yang tidak Anda dapati dalam ucapan lain seandainya dipisahkan pemisahan ini dan dibaguskan pembagusan ini.
Anda akan mendapati keserasian dan keharmonisan yang menarik dari pendengaran Anda apa yang ditarik oleh musik dan syair, padahal ia bukan nada-nada musik dan bukan pula wazan-wazan syair, dan Anda akan mendapati sesuatu yang lain yang tidak Anda dapati dalam musik maupun dalam syair.
Itu karena Anda mendengar qasidah dari syair maka ia bersatu wazan-wazannya bait demi bait, dan baris demi baris, dan Anda mendengar potongan musik maka ia serupa nafsu-nafsunya dan mengambil arah yang berdekatan, sehingga tidak lama pendengaran Anda jenuh, dan tabiat Anda bosan, jika diulang dan diulangi kepada Anda dengan irama yang satu.
Sedangkan Anda dari Al-Qur’an selamanya dalam lagu yang beragam dan selalu baru, Anda berpindah-pindah di dalamnya antara sebab dan watad dan fawashil dengan keadaan-keadaan yang berbeda, mengambil dari setiap senar dari senar-senar hati Anda bagian yang sama, maka tidak menimpamu darinya meski sering diulang-ulang kebosanan dan kejemuan, bahkan Anda tidak henti-hentinya meminta darinya tambahan.
Keindahan irama dalam bahasa Al-Qur’an ini tidak tersembunyi bagi siapa pun dari yang mendengar Al-Qur’an, bahkan mereka yang tidak mengetahui bahasa Arab, maka bagaimana bisa tersembunyi bagi orang Arab sendiri?
Perbandingan antara Al-Qur’an dan Syair
Dan Anda melihat orang-orang mungkin bertanya: mengapa orang Arab ketika berselisih tentang Al-Qur’an membandingkan antara dia dan syair secara negasi dan afirmasi, dan tidak menyinggung seluruh ucapan mereka dari khitabah dan lainnya?
Dan Anda, apakah telah Anda pahami di sini jawabannya, dan apakah Anda telah dibimbing kepada rahasia yang disadari oleh orang Arab, dan tidak disadari oleh orang yang belajar bahasa Arab?
Sesungguhnya hal pertama yang dirasakan telinga Arab itu dalam nazhm Al-Qur’an adalah sistem suara yang indah itu di mana dibagi-bagi di dalamnya harakat dan sukun dengan pembagian yang beragam yang memperbaharui semangat pendengar untuk mendengarkannya, dan dibagi-bagikan di sela-selanya huruf-huruf mad dan gunnah dengan pembagian secara adil yang membantu pada pengulangan suara dengannya dan kelembutan nafas di dalamnya waktu demi waktu, hingga sampai pada fashilah yang terakhir maka mendapati di sisinya istirahat yang besar, dan cara penataan suara seperti ini jika orang Arab telah menuju kepada sesuatu darinya dalam syair-syair mereka lalu pergi di dalamnya hingga batas berlebihan dalam memikat hati, kemudian hingga batas membosankan dalam pengulangan, maka mereka tidak pernah mengenal itu sama sekali dan tidak mungkin bagi mereka dengan kemudahan itu dalam ucapan mereka yang terurai baik yang bebas maupun yang bersajak; bahkan terjadi bagi mereka dalam prosa terbaik mereka cacat-cacat yang menurunkan dari kelancaran susunannya, dan tidak mungkin bersamanya membaguskan tilawahnya kecuali dengan memasukkan sesuatu kepadanya atau menghilangkan sesuatu darinya.
Tidak heran maka gelar yang paling dekat kepada Al-Qur’an dalam khayalan orang Arab bahwa ia syair; karena mereka mendapati dalam iramanya getaran yang tidak mereka dapati sesuatu darinya kecuali dalam syair.
Dan tidak heran mereka kembali kepada diri mereka, lalu berkata: ia bukan syair; karena ia – sebagaimana kata Al-Walid – bukan atas arudh syair dalam rajaznya dan tidak dalam qashidnya, kemudian tidak heran mereka menjadikan kembalinya kebingungan ini akhirnya kepada bahwa ia sejenis sihir; karena ia mengumpulkan antara dua ujung kebebasan dan keterikatan dalam batas tengah, maka baginya dari prosa keagungan dan kehebatannya, dan dari syair keindahan dan kenikmatannya.
Susunan Suara Huruf-huruf Al-Qur’an
2 – Maka ketika Anda mendekatkan telinga Anda sedikit demi sedikit, lalu memukul pendengaran Anda permata-permata huruf-hurufnya keluar dari makhraj-makhrajnya yang benar, mengejutkan Anda darinya kenikmatan lain dalam nazhm huruf-huruf itu dan susunannya dan pengaturan keadaan-keadaannya di antara mereka; ini mengetuk dan itu bersiul, dan ketiga berbisik dan keempat bersuara keras, dan lainnya meluncur padanya nafas, dan lainnya tertahan di situ nafas, dan seterusnya.
Maka Anda melihat keindahan bahasa tampak di hadapan Anda dalam kumpulan yang berbeda yang harmonis tidak ada kekakuan dan tidak ada ocehan, dan tidak ada kelembutan berlebihan dan tidak ada kesulitan pengucapan, dan tidak ada pertentangan dan tidak ada permusuhan.
Dan demikianlah Anda melihat ucapan yang bukan perkotaan yang lemah, dan bukan pedalaman yang kasar, tetapi Anda melihatnya telah bercampur di dalamnya kekokohan badui dan kemegahannya dengan kelembutan perkotaan dan kehalusannya, dan ditakdirkan di dalamnya perkara dengan takdir yang tidak mendzalimi sebagian pada sebagian, maka campuran dari keduanya seakan-akan ia sari dari dua bahasa dan keturunannya, atau seakan-akan ia titik sambungan antara suku-suku, di situ selera mereka bertemu, dan padanya hati mereka bersatu. Dan dari kekhususan ini dan yang sebelumnya tersusun kulit permukaan untuk keindahan Al-Qur’an, dan tidaklah urusan dalam sampul ini kecuali seperti urusan kerang-kerang dari yang dikandungnya dari mutiara-mutiara berharga, maka Dia yang Maha Agung kudratnya telah menjalankan sunnatNya dalam sistem alam ini bahwa menutupi rahasia-rahasia agungNya dengan tirai-tirai yang tidak kosong dari kenikmatan dan keindahan, agar itu menjadi dari faktor-faktor penjagaannya dan kelangsungannya dengan persaingan yang bersaing di dalamnya dan kerakusan mereka padanya.
Lihatlah bagaimana Dia menjadikan dorongan makan dan ikatan kasih sayang tegaknya kelangsungan manusia individu dan kelompok, maka demikian pula ketika firmanNya telah mendahului untuk menjaga bagi kita permata-permata ilmu yang Dia titipkan dalam Kitab yang mulia ini, hikmatNya memutuskan untuk memilih baginya tempat yang membuat orang-orang mencintainya dengan kemanisannya, dan membuat mereka rakus padanya dengan keindahannya, dan menjadi pada posisi huda yang mendorong jiwa-jiwa untuk berjalan kepadanya, dan memudahkan bagi mereka kesulitan perjalanan dalam mencari kesempurnaannya, maka tidak heran Dia memilih baginya dari lisan Arab yang jelas ini cetakan yang manis dan indah itu, dan karena itu suara Al-Qur’an akan selamanya tetap di mulut orang-orang dan telinga mereka selama ada pada mereka indera yang merasakan dan indera yang mendengar, meski tidak ada bagi kebanyakan mereka hati yang memahami dengannya hakikat rahasianya, dan menembus dengannya jauh kedalaman {Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Dzikr (Al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya} (Al-Hijr: 9).
Apakah Anda telah tahu bahwa nazhm Al-Qur’an yang mulia mengumpulkan kepada keindahan keagungan dan keanehan? Dan apakah Anda telah tahu bahwa keindahan ini adalah kekuatan ilahiah yang dengannya Al-Qur’an dipelihara dari kehilangan dan kebinasaan?
Maka ketahuilah sekarang bahwa keanehan ini adalah kekuatan lain yang dengannya berdiri hujjah Al-Qur’an dalam tantangan dan kemukjizatan, dan berlindung dengannya dari tangan-tangan yang menentang dan mengubah, dan bahwa keindahan itu tidak akan cukup sendirian dalam menahan tangan-tangan mereka darinya, bahkan lebih pantas memancing mereka dengannya. Itu karena manusia -sebagaimana kata Al-Baqillani-: jika mereka menganggap baik sesuatu mereka mengikutinya, dan bersaing dalam menirunya dengan dorongan fitrah.
Dan demikianlah kami melihat ahli-ahli keahlian ini sebagian mereka mengikuti sebagian dalam apa yang mereka anggap baik dari gaya-gaya, dan mungkin yang datang kemudian di antara mereka mencapai jejak yang terdahulu atau melebihinya, sebagaimana diperbuat Ibnu Al-‘Amid dengan gaya Al-Jahizh, dan sebagaimana diperbuat para penulis dan orator hari ini dalam mengikuti sebagian mereka sebagian.
Dan tidaklah gaya-gaya manusia meski berbeda jalan-jalannya dalam prosa dan syair kecuali mata air yang didatangi, dan jalan-jalan yang diratakan, diambil dengan belajar, dan dilatih lidah-lidah dan pena-pena padanya dengan latihan, seperti keahlian-keahlian lainnya.
Maka apa yang mencegah manusia untuk tundukkan gaya Al-Qur’an pada lidah-lidah mereka dan pena-pena mereka padahal mereka syari’ah dalam menganggap baik jalannya, dan kebanyakan mereka adalah pencari-pencari untuk membatalkan hujjahnya?
Tidak lain karena ada di dalamnya ketahanan alami yang menahan dan masih menahan tangan-tangan mereka darinya, dan tidak ragu bahwa yang pertama menyambutmu ketahanan ini dalam apa yang kami gambarkan kepadamu dari aneh komposisinya dalam bangunannya, dan apa yang diambilnya dalam susunan huruf-hurufnya dan kata-katanya, dan kalimat-kalimatnya dan ayat-ayatnya, dari sistem yang memiliki sikap tersendiri, dan cap khusus dengannya, keluar di dalamnya dari bentuk setiap nazhm yang digeluti manusia atau mereka geluti.
Maka tidak heran mereka tidak menemukan baginya contoh yang mereka sejajarkan dengannya, dan tidak ada jalan yang mereka tempuh untuk menaklukkan metodenya, dan buktinya bahwa siapa pun seandainya mencoba memasukkan padanya sesuatu dari ucapan manusia dari yang terdahulu di antara mereka atau yang datang kemudian, dari orang-orang bijak atau orang-orang fasih atau nabi-nabi dan rasul-rasul, pasti merusak dengan itu campurannya dalam mulut setiap pembaca dan membuat sistemnya goyah di telinga setiap pendengar, maka akan menyerukan yang masuk pada dirinya bahwa ia penyusup asing, dan Al-Qur’an akan menolaknya dari dirinya sebagaimana tanur menolak kotoran besi {Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji} (Fushshilat: 41).
Maka jika Anda tidak terlena keindahan pemberian dari apa yang di bawahnya dari harta karun yang tersembunyi, dan tidak terhalang kemegahan tirai-tirai dari apa yang di baliknya dari rahasia yang terjaga, tetapi mengupas kulit dari isinya, dan membuka kerang dari mutiaranya, maka menembus dari sistem lafzhiy ini kepada sistem ma’nawy itu, maka tampak bagimu apa yang lebih indah dan lebih memukau, dan menyambutmu darinya apa yang lebih menakjubkan dan lebih menakjubkan.
Kami tidak ingin berbicara kepadamu di sini tentang makna-makna Al-Qur’an dan apa yang dikandungnya dari ilmu-ilmu yang keluar dari jangkauan manusia, karena untuk pembicaraan ini ada tempatnya yang akan datang – insya Allah Ta’ala – dalam pembahasan “Kemukjizatan Ilmiah” dan pembicaraan kami sebagaimana Anda lihat masih dalam urusan “Kemukjizatan Bahasa” dan sesungguhnya bahasa adalah lafazh-lafazh.
Namun lafazh-lafazh ini dipandang terkadang dari segi ia adalah bangunan-bangunan suara yang bahannya huruf-huruf dan bentuknya harakat dan sukun tanpa melihat pada dalilnya. Dan segi ini telah berlalu bagi kami perkataan di dalamnya tadi, dan terkadang dari segi ia adalah alat untuk menggambarkan makna-makna dan memindahkannya dari jiwa pembicara kepada jiwa yang diajak bicara dengannya, dan inilah segi yang akan kami tangani sekarang, dan tidak ragu bahwa ia adalah yang paling besar pengaruhnya dalam kemukjizatan bahasa yang sedang kami bahas; karena bahasa-bahasa saling unggul dari segi ia adalah bayan; lebih dari saling unggulnya dari segi ia adalah bunyi-bunyi dan nada-nada.
Adapun mempertimbangkan makna-makna Al-Quran dari segi ilmu-ilmu menakjubkan yang terkandung di dalamnya, maka itu adalah langkah yang lain dan pandangan yang keluar dari pembahasan linguistik secara keseluruhan; karena keutamaan bayan (kemahiran berbahasa) sesungguhnya bergantung pada ketepatan penggambaran dan keindahan pengungkapan makna sebagaimana adanya, sama saja baginya apakah makna tersebut termasuk jenis yang dapat dijangkau oleh akal manusia atau tidak, bahkan sama saja baginya apakah makna tersebut merupakan kebenaran atau khayalan; dan apakah itu petunjuk atau kesesatan; berbeda dengan keutamaan ilmiah, karena ia kembali kepada makna itu sendiri dalam bentuk apa pun ia dikeluarkan, dan dengan bahasa apa pun ia diekspresikan.
Ya, bahasa-bahasa memang dapat berbeda dalam memenuhi hak makna, maka ungkapan yang baik dapat menambah nilai ilmiahnya, namun pandangan di sini adalah terhadap nilai bayan bukan nilai yang dibayan-kan, maka janganlah engkau tergesa-gesa kepada kami dengan pandangan ilmiah tersebut hingga kami selesai dari pandangan linguistik ini.
[Penjelasan Beberapa Karakteristik Bayan Al-Quran Al-Karim]
Dan sekarang marilah kita mulai penggambaran kita terhadap beberapa karakteristik bayan Al-Quran, dan mari kita susun dalam empat tingkatan:
- Al-Quran dalam bagian demi bagian
- Al-Quran dalam surah demi surah
- Al-Quran dalam hubungan antara sebagian surah dengan sebagian lainnya
- Al-Quran secara keseluruhan
“Al-Quran dalam Bagian Demi Bagian”
[Gaya Al-Quran Tempat Bertemunya Puncak-puncak Keutamaan Seluruhnya, Meskipun Berjauhan Ujung-ujungnya]
Demi Allah, kami tidak tahu apa yang harus kami katakan kepadamu tentang gaya yang menakjubkan dalam penggambarannya, sebagaimana ia menakjubkan dalam dirinya sendiri? Hanya saja kami mengatakan satu kalimat yang merupakan kesimpulan dari semua perkataan tentangnya, yaitu bahwa “padanya bertemu puncak-puncak keutamaan seluruhnya meskipun berjauhan ujung-ujungnya”.
Kalimat ini memerlukan penjelasan panjang yang memenuhi dada namun tidak terucapkan oleh lisan, dan semua yang akan kami coba adalah menjelaskan kepadamu sebagian darinya sesuai kemampuan, namun sebelum kami berbicara kepadamu tentang segi ini mengenai Al-Quran, kami akan berbicara kepadamu tentang perkataan manusia, pembicaraan yang dipahami oleh setiap orang yang telah menggeluti keahlian bayan dengan dirinya sendiri, agar engkau mengetahui dari segi-segi kekurangan di sini segi-segi kesempurnaan di sana, dan dari pintu-pintu kelemahan di sini sebab-sebab kemukjizatan di sana:
“Kehematan dalam Lafaz” dan “Memenuhi Hak Makna”
Dua tujuan yang setiap orang yang mencoba menggabungkan keduanya akan berdiri di antara keduanya seperti posisi suami di antara dua madunya yang tidak mampu berlaku adil di antara keduanya tanpa condong sedikit kepada salah satunya: Maka orang yang sengaja menyimpan lafaznya dan tidak membelanjakan darinya kecuali sesuai kebutuhan, tidak akan terlepas dari berlaku tidak adil terhadap makna sedikit atau banyak, karena ia akan menyampaikan maksudnya kepadamu secara global bukan terperinci, maka jalannya adalah jalan orang yang berkata dalam bab perdebatan: (mereka benar, atau mereka bohong) dan dalam bab penggambaran (bagus, atau jelek) dan dalam bab pemberitaan: (ada atau tidak ada) dan dalam bab permintaan: (lakukanlah, atau jangan lakukan) tidak lebih dari itu.
Atau ia akan mengarah pada sesuatu dari perincian, namun ketika ia dihinggapi kewaspadaan dari banyak bicara dan pemborosan, ia mengerahkan usahanya dalam menyatukan ujung-ujungnya dan membuang apa yang ia mampu dari alat-alat persiapan dan pemikat, serta sarana-sarana penetapan dan penegasan, dan hal-hal semacam itu yang dibutuhkan jiwa dalam bayan, hingga ia mengeluarkannya sebagai pakaian yang menyusut tidak mencapai tujuannya, atau kerangka tulang yang tidak dibalut daging dan urat, dan terkadang satu huruf yang dikurangi dari perkataan menghilangkan air dan keindahannya, dan menggelapkan matahari kefasihannya, dan terkadang ikhtisar melipat perkataan dengan lipatan yang mematikan ruhnya dan membutakan jalannya; dan mengembalikan ijaznya menjadi ketidakmampuan dan teka-teki.
Dan orang yang sengaja memenuhi hak makna dan menganalisisnya menjadi unsur-unsurnya; dan menampakkan semua detail-detailnya “sesuai dengan apa yang dicakup oleh ilmunya dan apa yang disampaikan kepadanya oleh ilhamnya” tidak menemukan jalan lain kecuali memanjangkan dalam dirinya suatu pemanjangan; karena ia tidak menemukan dalam sedikitnya lafaz apa yang menyembuhkan dadanya, dan menyampaikan dari dirinya risalahnya secara lengkap, maka ketika ia memberikan dirinya bagiannya dari itu, tidak lama kemudian ia menjauhkan ujung-ujung perkataannya, dan memperlambatmu dalam mencapai tujuannya, maka engkau merasakan kekuatan semangatmu dan pendorong perhatianmu mulai mengecil dan lenyap.
Umumnya orang-orang fasih yang kami kenal – klasik dan modern – mereka didatangi dari sisi ini kebanyakan, maksudku sisi kebosanan dan pemborosan, bukan sisi pengabaian dan ketidakadilan.
Dan kebanyakan mereka terbawa oleh syahwat bayan ke lebih jauh dari batas ini, maka di antara mereka ada yang mengarah pada tekalluf dan tafashuh dengan menggunakan yang aneh dari kosakata dan susunan, maka ia memaksamu untuk menampakkan dan mengulangi dan menghadap dan membelakangi hingga engkau menemukan wajah maksudnya, dan demikianlah perkataannya tidak bertambah dengan perluasan kecuali menyempit dari pemahaman. Dan di antara mereka ada yang melemparkan di sekeliling makna tumpukan sampah dan kelebihan yang berat dibawa, atau memakainya pakaian longgar dari sinonim dan yang hampir sama yang tersandung pada ujung-ujungnya, ia mengira bahwa ia memenuhi makna untukmu dan menentukannya, padahal sebenarnya ia hanya menyebarkan dan memcerai-beraikannya, dan barangkali yang paling baik jalannya di antara mereka adalah orang yang jika engkau membuang separuh perkataannya niscaya separuh lainnya mencukupimu. Itu pun dengan catatan bahwa para pujangga seberapa pun mereka memacu kendaraan mereka, dan seberapa pun mereka mengumpulkan pasukan berkuda dan berjalan kaki mereka, tidak ada seorang pun dari mereka yang mencapai dengan karyanya puncak cita-citanya, dan mereka hanya sampai seperti yang kami katakan kepada kesempurnaan nisbi (sesuai dengan apa yang dicakup oleh ilmunya, dan apa yang disampaikan kepadanya oleh ilhamnya pada saat itu). Adapun memenuhi makna dengan sebenar-benar pemenuhan sehingga tidak luput darinya satu unsur pun atau satu perhiasan dari perhiasan-perhiasannya dan tidak ditambahkan kepadanya hal asing yang dianggap sebagai tambal sulam pada pakaiannya, dan tidak berubah padanya satu posisi dari posisi-posisinya yang mengurangi keindahan pembentukannya, dan sehingga tidak ada jalan padanya untuk pembongkaran atau usulan baru; maka itu adalah perkara yang tidak mampu diklaim oleh orang yang terbakar oleh api bayan, apalagi untuk diberikan kepada manusia lainnya.
Dan buktinya adalah bahwa engkau melihatnya ketika menelaah perkataan dirinya sendiri dari waktu ke waktu ia menemukan padanya yang berlebihan yang ia hapus, dan yang kurang yang ia tetapkan; dan ia menemukan padanya apa yang perlu dihaluskan dan diganti, dan apa yang dimajukan atau diakhirkan, hingga ia menempuh jalannya ke jiwa dengan lurus.
Dan barangkali jika ia kembali kepadanya tujuh puluh kali niscaya ia memiliki pada setiap kali satu pandangan, dan semakin tajam penglihatannya dan semakin halus perasaannya, semakin kurang ia merasa puas dan semakin jauh cita-citanya; karena ia melihat di balik usahanya suatu tujuan yaitu ideal tertinggi yang ia cita-citakan namun tidak dapat ia capai, dan kesempurnaan bayan yang melekat pada khayalnya namun tidak dapat ia raih {seperti orang yang mengulurkan kedua telapak tangannya ke air supaya sampai ke mulutnya, padahal air itu tidak akan sampai kepadanya} [Ar-Ra’d: 14].
Ini adalah nasib perkataan fasih pada pembicara, maka bagaimana menurutmu dengan pengkritik dan pesaingnya?
Demikianlah; padahal ia hanya menuju satu tujuan, maka bagaimana jika ia menuju bersamanya tujuan lainnya, dan berusaha menempatkan kekayaan maknawi ini dalam lafaz yang hemat? Dan bagaimana mungkin ia dapat melakukan itu sedangkan ia adalah tahanan fitrah manusiawi ini yang tidak mendekatkannya kepada salah satu ujung jalan kecuali sejauh ia menjauhkannya dari ujung lainnya?
Dan jika engkau menemukan seseorang yang berhasil mendekatkan kedua tujuan tersebut sampai batas tertentu dalam satu atau dua kalimat, maka tunggulah bagaimana keadaannya setelah itu, dan lihatlah bagaimana ia dihinggapi kelelahan dan kepenatan serta kelemahan tabiat manusiawi maka terurailah dari simpul perkataannya apa yang kuat, dan layulah dari bunganya apa yang segar dan lembab, kemudian ia tidak kembali pada kekuatannya kecuali pada hal-hal tertentu, sebagaimana engkau jumpai dalam tanah sepotong emas di sini dan sepotong di sana, maka engkau berkata: ini bagus dan bernilai, dan ini lebih bagus dan lebih bernilai, dan ini adalah pusatnya dan inti masalahnya.
Tanyalah para ahli kritik syair dan perkataan: (Pernahkah kalian melihat qasidah atau risalah yang keseluruhan atau sebagian besarnya bermakna jernih, lafaz yang komprehensif, dan susunan yang mengagumkan?!), sungguh kata mereka telah sepakat bahwa penyair paling mahir pun tidak mencapai tingkat keindahan kecuali dalam bait-bait terbatas, dari qasidah-qasidah yang dapat dihitung, dan mereka memiliki selain itu yang sedang-sedang dan buruk, dan yang hambar dan terpaksa, dan demikian pula mereka katakan tentang para penulis dan penceramah, dan perkara pada mereka lebih jelas.
Jika engkau senang melihat bagaimana kedua tujuan ini berkumpul dalam kesempurnaannya tanpa kelemahan dan terputus, maka lihatlah di mana pun engkau mau dari Al-Quran Al-Karim, engkau akan menemukan bayan yang telah ditakdirkan sesuai kebutuhan jiwa dengan sebaik-baik takdir, maka engkau tidak merasakan padanya kekenyangan pemborosan atau kelaparan kekikiran, ia menyampaikan kepadamu dari setiap makna gambaran yang bersih dan sempurna: (bersih) tidak dicampur olehnya sesuatu yang asing darinya, (sempurna) tidak menyimpang darinya sesuatu dari unsur-unsur aslinya dan pelengkap-pelengkap kesempurnaannya, semua itu dalam lafaz paling ringkas dan paling bersih, maka dalam setiap kalimatnya terdapat perangkat dari perangkat makna, dan dalam setiap katanya terdapat anggota dari anggota-anggotanya, dan dalam setiap hurufnya terdapat bagian sesuai ukurannya, dan dalam posisi kata-katanya dari kalimat-kalimatnya, dan posisi kalimat-kalimatnya dari ayat-ayatnya terdapat rahasia kehidupan yang mengatur makna dengan penyampaiannya.
Dan secara keseluruhan engkau melihat sebagaimana yang dikatakan Al-Baqillani: (keindahan-keindahan yang berturut-turut, dan keajaiban-keajaiban yang beruntun). Letakkan tanganmu di mana pun engkau mau dari mushaf, dan hitunglah apa yang dihitung jemarimu dari kata-kata, kemudian hitunglah jumlahnya dari perkataan paling fasih yang engkau pilih di luar kedua sampul, dan lihatlah perbandingan makna yang dikandung perkataan ini dengan yang itu. Kemudian lihatlah: berapa kata yang dapat engkau buang atau ganti dari perkataan ini tanpa merusak tujuan pembicara? Dan kata apa yang dapat engkau buang atau ganti di sana? Maka Kitab Allah Ta’ala -sebagaimana yang dikatakan Ibnu Athiyyah: (seandainya dicabut darinya satu lafaz kemudian diputarkan lisan Arab untuk menemukan yang lebih baik darinya niscaya tidak ditemukan) bahkan ia sebagaimana Allah menggambarkannya {(Ini adalah) kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi, kemudian dijelaskan secara terperinci, dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui} [Hud: 1].
“Khitab Umum” dan “Khitab Khusus”
Dan kedua ini adalah dua tujuan lain yang berjauhan pada manusia, jika engkau berbicara kepada orang-orang cerdas dengan yang jelas terbuka yang dengannya engkau berbicara kepada orang-orang bodoh, engkau menurunkan mereka ke tingkat yang tidak mereka ridhai bagi diri mereka dalam pembicaraan, dan jika engkau berbicara kepada orang awam dengan kiasan dan isyarat yang dengannya engkau berbicara kepada orang-orang cerdas, engkau datang kepada mereka dengan apa yang tidak mampu ditanggung akal mereka, maka tidak ada gunanya bagimu – jika engkau ingin memberikan kedua kelompok itu bagian mereka yang sempurna dari bayanmu – kecuali berbicara kepada setiap satu dari mereka dengan selain apa yang engkau bicarakan kepada lainnya; sebagaimana engkau berbicara kepada anak-anak dengan selain apa yang engkau bicarakan kepada laki-laki dewasa, adapun bahwa satu kalimat dilemparkan kepada para ulama dan orang jahil, dan kepada orang-orang cerdas dan orang-orang bodoh, dan kepada pedagang dan raja-raja maka masing-masing dari mereka melihatnya ditakdirkan sesuai ukuran akalnya dan sesuai kebutuhannya, maka itu yang tidak engkau temukan dalam kesempurnaannya kecuali dalam Al-Quran Al-Karim, maka ia adalah satu Al-Quran yang dilihat para pujangga sebagai perkataan paling sempurna dengan kehalusan-kehalusan ungkapan, dan dilihat orang awam sebagai perkataan paling bagus dan paling dekat dengan akal mereka, tidak berbelit-belit pada pemahaman mereka, dan mereka tidak memerlukan padanya penerjemah selain kedudukan bahasa, maka ia adalah kesenangan orang awam dan khusus secara sama, dimudahkan bagi setiap orang yang menginginkan {Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?} [Al-Qamar: 17].
“Meyakinkan Akal” dan “Menyenangkan Perasaan”
Dan dalam jiwa manusia ada dua kekuatan: kekuatan berpikir, dan kekuatan perasaan, dan kebutuhan setiap satu dari keduanya berbeda dengan kebutuhan saudarinya, adapun salah satunya maka ia menyelidiki kebenaran untuk mengetahuinya, dan tentang kebaikan untuk mengamalkannya, adapun lainnya maka ia mencatat perasaannya terhadap apa yang ada pada benda-benda dari kenikmatan dan rasa sakit, dan bayan yang sempurna adalah yang memenuhi kedua kebutuhan ini bagimu dan terbang ke jiwamu dengan kedua sayap ini, maka ia memberikan padanya bagiannya dari faedah akal dan kesenangan perasaan sekaligus.
Pernahkah engkau melihat kesempurnaan ini dalam perkataan manusia?
Sungguh kami telah mengenal perkataan para ulama dan ahli hikmah, dan kami telah mengenal perkataan para sastrawan dan penyair, maka kami tidak menemukan dari mereka ini maupun mereka itu kecuali berlebihan di satu sisi, dan kekurangan di sisi lain.
(Adapun) para ahli hikmah maka mereka hanya menyampaikan kepadamu buah-buah akal mereka sebagai makanan akalmu, dan jiwa mereka tidak menuju pada memikat jiwamu dan mempesona perasaanmu, maka engkau melihat mereka ketika menyajikan kepadamu hakikat-hakikat ilmu tidak peduli dengan apa yang ada padanya dari kekeringan dan ketelanjangan dan kekasaran terhadap tabiat.
(Adapun) para penyair maka mereka hanya berusaha membangkitkan perasaanmu, dan menggerakkan dawai-dawai perasaan dari jiwamu, maka mereka tidak peduli dengan apa yang mereka gambarkan untukmu apakah itu sesat atau petunjuk; dan apakah itu kebenaran atau khayalan, maka engkau melihat mereka serius padahal mereka bergurau, mereka membuat menangis padahal mereka tidak menangis, dan mereka menggembirakan padahal mereka tidak gembira {Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah, dan bahwasanya mereka mengatakan apa yang mereka tidak kerjakan} [Asy-Syu’ara: 224] dan ayat setelahnya.
Dan setiap orang ketika berpikir maka dia hanyalah filosof kecil, dan setiap orang ketika merasa dan merasakan maka dia hanyalah penyair kecil, maka tanyalah para ahli jiwa: (Pernahkah kalian melihat seseorang yang seimbang padanya kekuatan berpikir dan kekuatan perasaan serta seluruh kekuatan jiwa lainnya secara rata? Dan jika kekuatan-kekuatan ini condong pada sesuatu dari keseimbangan pada sedikit manusia, apakah kalian melihatnya bekerja dalam jiwa sekaligus dan dengan perbandingan yang sama?) Mereka menjawabmu dengan satu suara: (Tidak, bahkan tidak bekerja kecuali bergantian dalam keadaan demi keadaan, dan setiap kali salah satunya menguasai yang lain lenyap dan hampir terhapus bekasnya. Maka orang yang tenggelam dalam berpikir berkurang kekuatan perasaannya, dan orang yang jatuh di bawah pengaruh kenikmatan atau rasa sakit melemah pikirnya, dan demikianlah jiwa manusia tidak menuju kedua tujuan ini dengan satu tujuan, atau ia akan menghadap dan membelakangi sekaligus, dan benar Allah: {Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya} [Al-Ahzab: 4].
Maka bagaimana engkau berharap dari manusia agar ia memberikan kepadamu kedua permintaan ini secara sama, sedangkan ia tidak mengumpulkannya dalam dirinya secara sama? Dan perkataan pembicara tidak lain adalah gambaran keadaan yang menguasainya di antara keadaan-keadaan itu. Ini adalah ukuran yang dapat engkau gunakan untuk membedakan dalam setiap lisan dan pena manakah dari kedua kekuatan itu yang ia tunduk kepadanya ketika ia berkata atau menulis: (Jika) engkau melihatnya menuju pada penetapan hakikat teoritis atau penggambaran cara praktis, engkau berkata: ini buah pikiran.
(Dan jika) engkau melihatnya sengaja menggerakkan jiwa atau menakut-nakutinya, dan mengepalkan atau melapangkannya, dan membangkitkan tersembunyi kenikmatan atau rasa sakitnya, engkau berkata: ini buah perasaan.
(Dan jika) engkau melihatnya telah berpindah dari salah satu dari kedua jenis ini kepada lainnya maka ia mengosongkan diri untuknya setelah ia menyelesaikan hajatnya dari yang sebelumnya, sebagaimana berpindah dari tujuan ke tujuan, engkau mengetahui dengan itu bergantiannya berpikir dan merasa pada dirinya.
Adapun bahwa satu gaya menuju satu arah dan mengumpulkan dalam tanganmu kedua ujung ini sekaligus, sebagaimana satu dahan dari pohon membawa daun-daun dan bunga-bunga dan buah-buahan sekaligus, atau sebagaimana ruh berjalan dalam jasad dan air dalam kayu hijau, maka itu yang tidak engkau peroleh dalam perkataan manusia, dan ia bukan dari sunnah Allah pada jiwa manusia.
Maka siapa bagimu dengan perkataan satu ini yang datang dari hakikat burhaniah yang tegas dengan apa yang memuaskan bahkan para filosof yang mendalam itu, dan dari kesenangan perasaan yang baik dengan apa yang memuaskan bahkan para penyair yang gembira ini?
Itulah Allah Rabb semesta alam, maka Dia-lah yang tidak disibukkan oleh satu urusan dari urusan lain, dan Dia-lah Yang Maha Mampu berbicara kepada akal dan hati sekaligus dengan satu lisan, dan mencampur kebenaran dan keindahan sekaligus sehingga keduanya bertemu dan tidak saling mendahului, dan mengeluarkan dari antara keduanya minuman yang murni, segar bagi yang meminumnya, dan inilah yang engkau temukan dalam Kitab-Nya yang mulia di manapun engkau menuju; tidakkah engkau melihatnya dalam luasnya kisah-kisah dan berita-beritanya tidak melupakan hak akal dari hikmah dan ibrah?
Atau tidakkah engkau melihatnya dalam gempuran dalil-dalil dan hukum-hukumnya tidak melupakan bagian hati dari targhib dan tarqiq, dan tahdhir dan tanfir, dan tahwil dan ta’jib, dan tabkit dan ta’nib? Ia menyebarkan itu dalam pembuka-pembuka ayat-ayat-Nya dan penutup-penutupnya dan bagian-bagian tengahnya {merinding karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit mereka dan hati mereka di waktu mengingat Allah} [Az-Zumar: 23], {Sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar firman yang menentukan, dan yang demikian itu bukanlah main-main} [At-Tariq: 13-14].
“PENJELASAN” DAN “KERINGKASAN”
Ini adalah keajaiban lain yang Anda temukan dalam Al-Qur’an dan tidak Anda temukan pada selainnya. Hal itu karena manusia apabila mereka bermaksud menjelaskan tujuan-tujuan mereka, maka penjelasan itu tidak memberikan ruang untuk takwil. Namun apabila mereka meringkasnya, maka mereka akan jatuh pada ketidakjelasan atau kerancuan, atau pada kesia-siaan yang tidak memberikan manfaat. Dan hampir tidak mungkin bagi mereka untuk menggabungkan kedua sisi ini dalam satu kalimat.
Anda membaca sepenggal ayat Al-Qur’an, maka Anda akan menemukan pada lafal-lafalnya kejernihan, kehalusan, kekukuhan, dan bebas dari segala sesuatu yang asing dari tujuan, sehingga maksudnya bergegas menuju jiwa Anda tanpa memerlukan pemikiran yang sulit atau pengulangan pembahasan.
Seolah-olah Anda tidak mendengar kata-kata dan bahasa, tetapi melihat gambar-gambar dan kebenaran-kebenaran yang nyata. Demikianlah terbayang bagi Anda bahwa Anda telah memahaminya secara menyeluruh dan mengetahui maknanya secara terbatas. Padahal jika Anda kembali kepadanya sekali lagi, Anda akan melihat diri Anda berhadapan dengan makna baru selain yang pertama kali Anda pahami, dan begitu seterusnya… Hingga Anda melihat satu kalimat atau satu kata memiliki beberapa wajah yang semuanya benar atau mungkin benar, seolah-olah ia adalah permata berlian yang setiap sisinya memberikan sinar kepada Anda. Jika Anda melihat seluruh sisinya secara bersamaan, ia akan memukau Anda dengan semua warna pelangi, sehingga Anda tidak tahu mana yang harus dipilih mata Anda dan mana yang harus ditinggalkan. Dan barangkali jika Anda menyerahkan pengamatan kepadanya kepada orang lain, ia akan melihat darinya lebih banyak daripada yang Anda lihat.
Demikianlah Anda menemukan sebuah kitab yang terbuka sepanjang zaman, setiap orang mengambil darinya apa yang dimudahkan baginya. Bahkan Anda melihat lautan yang terbentang luas yang tidak dibatasi oleh akal-akal individu maupun generasi-generasi.
Tidakkah Anda melihat bagaimana Al-Qur’an menampung kelompok-kelompok Islam yang berbeda dalam perselisihan mereka pada pokok-pokok dan cabang-cabang agama? Dan bagaimana ia menampung pendapat-pendapat ilmiah yang berbeda dalam sarana-sarananya pada masa lampau dan modern? Ia dalam kelembutan terhadap akal dan pemahaman adalah kokoh dan kuat, tidak bertentangan dan tidak berubah. Setiap kelompok berargumen dengannya untuk pendapat mereka dan mengklaimnya untuk diri mereka sendiri. Sementara ia dalam ketinggiannya berada di atas semuanya, memandang pertempuran mereka di sekelilingnya. Seolah-olah lisan halnya berkata kepada kelompok ini dan itu: “Katakanlah: ‘Setiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing.’ Maka Tuhan-mu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” (Al-Isra: 84)
[Contoh tentang Karakteristik Penjelasan Al-Qur’an]
Inilah kami telah menampilkan kepada Anda satu sisi dari keajaiban-keajaiban penjelasan tersebut yang tidak dapat dicapai oleh tangan-tangan manusia. Dan kami telah memberikan kepada Anda di pinggir setiap keajaiban contoh kecil yang membuka pintu bagi Anda untuk meniru hal serupa dalam seluruh Al-Qur’an.
Apakah Anda melihat dalam hal ini pemenuhan terhadap apa yang kami janjikan kepada Anda dan apa yang biasa kami berikan, yaitu mengikuti jejak-jejak penjelasan rinci dengan sesuatu berupa penerapan dan perumpamaan? Ataukah Anda masih memerlukan lebih banyak contoh seperti ini?! Kami akan menambah untuk Anda, dan kami akan mengarahkan pandangan Anda secara khusus kepada ketelitian ungkapan Al-Qur’an dan kekuatan susunannya, serta keajaiban penanganannya, sehingga ia menyampaikan kepada Anda makna yang berlimpah dan kaya dalam lafal yang tepat sasaran dan bersih, karena karakteristik pertama ini – dari karakteristik-karakteristik yang kami sebutkan – paling memerlukan bimbingan dan petunjuk.
Janganlah Anda mengira bahwa kami akan memberikan contoh kepada Anda dengan ayat-ayat mulia yang telah dipilih orang dan mereka saling memuji kekagumannya, seperti firman Allah Ta’ala: “Dan dikatakan: ‘Hai bumi, telanlah airmu…” (Hud: 44) ayat tersebut, dan firman-Nya: “Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu.” (Al-Baqarah: 179), dan yang sejenisnya.
Tetapi kami ingin membawakan kepada Anda contoh dari isi Al-Qur’an dalam makna yang tidak diperhatikan orang dan tidak jatuh pilihan mereka padanya biasanya, agar menjadi dalil atas apa yang ada di baliknya.
Allah Ta’ala berfirman dalam menyebutkan bantahan orang-orang Yahudi: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Berimanlah kamu kepada apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka berkata: ‘Kami beriman kepada apa yang telah diturunkan kepada kami.’ Dan mereka kafir terhadap apa yang sesudahnya, padahal yang sesudah itu adalah kebenaran yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: ‘Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika kamu benar-benar orang yang beriman?'” (Al-Baqarah: 91), dan dua ayat setelahnya.
Ini adalah penggalan dari satu bab dari kisah Bani Israil. Unsur-unsur pokok yang ditonjolkan kepada kita oleh kata-kata sedikit ini dapat diringkas sebagai berikut:
- Perkataan yang dinasehati oleh penasihat kepada orang-orang Yahudi ketika ia mengajak mereka beriman kepada Al-Qur’an.
- Jawaban mereka kepada penasihat ini dengan perkataan yang mengandung dua maksud.
- Jawaban terhadap jawaban ini dengan kedua rukunnya dari beberapa segi.
Demi Allah, seandainya seorang pengacara yang fasih diserahi tugas berdebat dengan bahasa Al-Qur’an dalam perkara ini, kemudian ia dibimbing untuk menggali makna-makna yang bergejolak dalam jiwa pendakwa dan terdakwa, ia tidak akan mampu menyampaikannya kecuali dengan berlipat-lipat ganda dari kata-kata ini. Dan mungkin setelah itu ia tidak akan dapat memenuhi apa yang ada di sekelilingnya berupa isyarat-isyarat, kehati-hatian, adab, dan akhlak.
Penasihat berkata kepada orang-orang Yahudi: Berimanlah kepada Al-Qur’an sebagaimana kalian beriman kepada Taurat. Bukankah kalian telah beriman kepada Taurat yang dibawa oleh Musa karena Allah menurunkannya? Maka Al-Qur’an yang dibawa oleh Muhammad juga diturunkan Allah, maka berimanlah kepadanya sebagaimana kalian beriman kepadanya.
Lihatlah bagaimana Al-Qur’an mengumpulkan makna yang banyak ini dalam lafal yang ringkas ini: “Berimanlah kamu kepada apa yang telah diturunkan Allah” (Al-Baqarah: 91). Rahasia hal itu adalah karena ia mengalihkan kalimat dari nama Al-Qur’an secara terang-terangan kepada kiasannya, sehingga menjadikan ajakan mereka beriman kepadanya sebagai ajakan kepada sesuatu dengan hujjahnya. Dengan demikian, ia mengeluarkan dalil dan dakwaan dalam satu lafal.
Kemudian lihatlah bagaimana ia melipat penyebutan yang diturunkan kepadanya, sehingga tidak berkata: “Berimanlah kepada apa yang diturunkan Allah (kepada Muhammad)” padahal ini adalah bagian yang menyempurnakan sifat Al-Qur’an yang dimaksud dengan ajakan. Tahukah Anda mengapa demikian? Karena seandainya disebutkan, hal itu dalam pandangan hikmah penjelasan adalah berlebihan, dan dalam pandangan hikmah petunjuk adalah merusak.
Adapun yang pertama: karena kekhususan ini tidak ada tempatnya dalam kewajiban, maka urusan diputar pada bagian yang sama dan pada batas tengah yang merupakan tiang dalil.
Adapun yang kedua: karena melemparkan nama ini pada pendengaran musuh-musuh dari kebiasaannya akan mengeluarkan kedengkian mereka dan membangkitkan kebencian mereka, sehingga mengantarkan kepada kebalikan dari apa yang dimaksud pendakwa berupa persatuan dan perbaikan.
Hal itu sampai kepada apa yang terdapat dalam penghapusan ini berupa isyarat kepada corak Islam, yaitu bahwa ia bukan agama perpecahan dan permusuhan, tetapi ia mengumpulkan apa yang dicerai-beraikan orang dari agama-agama, mengajak beriman kepada kitab-kitab semuanya secara sama: kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim dan Ismail dan Ishaq dan Ya’qub dan cucu-cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan sesuatu dari kitab-kitab-Nya, sebagaimana kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.
Jawaban orang-orang Yahudi adalah bahwa mereka berkata: Sesungguhnya yang mengajak kami beriman kepada Taurat bukan hanya karena Allah menurunkannya, tetapi kami beriman kepadanya karena Allah menurunkannya kepada kami. Sedangkan Al-Qur’an tidak diturunkan-Nya kepada kami, maka bagi kalian Al-Qur’an kalian dan bagi kami Taurat kami, dan bagi setiap umat ada syariat dan jalan.
Inilah makna yang diringkas Al-Qur’an dalam firman-Nya: “Kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami” dan inilah maksud yang pertama. Dan bertambah ringkas ungkapan ini karena menghapus darinya fa’il (pelaku) penurunan yaitu lafal keagungan (Allah), karena penyebutannya telah mendahului pada padanannya.
Jelas bahwa pembatasan mereka pada beriman kepada apa yang diturunkan kepada mereka mengisyaratkan kekafiran mereka terhadap apa yang diturunkan kepada selain mereka. Dan inilah maksud yang kedua, tetapi mereka menghindari terang-terangan menyatakannya karena didalamnya terdapat keburukan pencatatan atas diri mereka sendiri dengan kekafiran. Maka Al-Qur’an bermaksud mengeluarkannya.
Lihatlah bagaimana ia mengeluarkannya? Sesungguhnya ia tidak menjadikan konsekuensi madhab mereka sebagai madhab mereka, dan tidak memasukkan kandungan perkataan mereka dalam kumpulan apa yang dinukil dari ucapan mereka, tetapi mengeluarkannya dalam bentuk penjelasan dan komentar atas perkataan mereka, maka berkata: “Dan mereka kafir terhadap apa yang sesudahnya”. Bukankah itu adalah puncak amanah dalam nukilan?
Kemudian lihatlah ungkapan tentang Al-Qur’an dengan lafal “apa yang sesudahnya”. Sesungguhnya kata ini memiliki sisi yang umum dengannya selain Al-Qur’an dan sisi yang mengkhususkan keumuman ini. Hal itu karena mereka sebagaimana kafir terhadap Al-Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka juga kafir terhadap Injil yang diturunkan kepada Isa, dan keduanya sesudah Taurat, yaitu datang setelahnya. Tetapi mereka tidak kafir terhadap apa yang sebelum Taurat seperti lembaran-lembaran Ibrahim misalnya. Demikianlah Anda melihatnya telah menentukan kejahatan dengan penentuan yang sempurna dengan menggunakan lafal yang menyeluruh dan mencegah ini. Dan inilah puncak keadilan dan meneliti kebenaran dalam tuduhan.
Datanglah giliran jawaban dan diskusi terhadap apa yang mereka umumkan dan apa yang mereka sembunyikan.
Anda melihatnya tidak memulai dengan berdialog dengan mereka dalam dakwaan iman mereka kepada kitab mereka, tetapi meninggalkannya untuk sementara seolah-olah itu telah diterima untuk membangun di atasnya kewajiban beriman kepada kitab-kitab lainnya, maka berkata: Bagaimana mungkin iman mereka kepada kitab mereka menjadi pendorong kekafiran terhadap apa yang benar sepertinya? – Tidak, bahkan “Ia adalah kebenaran” seluruhnya – dan apakah kebenaran saling bertentangan sehingga beriman kepada salah satunya mewajibkan kafir kepada yang lain?! Kemudian ia naik tingkat seraya berkata: Dan bukan urusan antara kitab baru ini dengan kitab-kitab yang mendahuluinya seperti urusan antara setiap kebenaran dengan kebenaran. Mungkin saja sesuatu itu benar dan lainnya juga benar sehingga tidak saling mendustakan, tetapi keduanya dalam dua urusan yang berbeda sehingga sebagian tidak bersaksi untuk sebagian. Adapun kitab ini, maka ia datang bersaksi dan “membenarkan” apa yang ada di hadapannya dari kitab-kitab, maka bagaimana orang yang beriman kepadanya mendustakan hal itu?!
Kemudian ia melanjutkan dalam melengkapi sisi ini seraya berkata: Seandainya penyelewengan atau kehilangan yang menimpa kitab-kitab ini telah menghilangkan tanda-tanda kebenaran di dalamnya secara keseluruhan, maka mereka mempunyai sebagian alasan dalam mendustakan Al-Qur’an, karena berhak bagi mereka untuk berkata: (Sesungguhnya sisa yang terpelihara dari kitab-kitab ini di zaman kami tidak ada antara keduanya dengan Al-Qur’an kesesuaian dan kebenaran ini, maka beriman kepadanya tidak mewajibkan beriman kepadanya)… Bahkan seandainya sisa ini tidak ada pada mereka tetapi mereka lalai dari mempelajarinya, maka mereka mempunyai alasan seperti itu. Adapun Al-Qur’an ini membenarkan apa yang tegak dari kitab di zaman mereka dan di tangan mereka dan mereka mempelajarinya di antara mereka, maka dengan apa mereka beralasan dan ke mana mereka pergi?! Makna ini seluruhnya disampaikan kepada kita oleh Al-Qur’an dengan kata “apa yang ada pada mereka”.
Lihatlah kekukuhan dalam pembuatan penjelasan: Hanya sebuah kata yang diangkat dan kata lain yang diletakkan di tempatnya ketika membutuhkannya. Maka kata ini menjadi penghentian setiap alasan dan penutupan setiap pintu dari pintu-pintu pelarian. Bahkan kata ini sendiri berkedudukan seperti gerakan pengepungan terhadap lawan yang selesai dalam satu langkah, dan tanpa keributan dan kebisingan.
Ketika selesai menghilangkan keinginan jiwa dari sisi yang terlipat ini yang dibawanya sebagai bentuk keberatan dan keluar dari pokok, ia tegak lurus kepada jawaban terhadap maksud asli yang mereka banggakan dengan mengumumkan dan membanggakannya, yaitu dakwaan mereka beriman kepada apa yang diturunkan kepada mereka. Maka ia memberikan kepada mereka pendustaan dan sanggahan yang luas, dan menjelaskan bahwa penyakit pengingkaran pada mereka adalah penyakit lama yang telah meresap ke dalam hati mereka dan berlalu berabad-abad sehingga menjadi penyakit kronis. Dan bahwa apa yang mereka lakukan hari ini berupa kekafiran terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah mata rantai yang bersambung dengan rangkaian kekafiran mereka terhadap apa yang diturunkan kepada mereka. Dan ia mengajukan atas hal itu bukti-bukti sejarah yang mengerikan yang tidak ada jalan untuk mengingkarinya dalam kebodohan mereka terhadap Allah, pelanggaran mereka terhadap kehormatan para nabi-Nya, dan pembangkangan mereka terhadap perintah-perintah-Nya: “Katakanlah: ‘Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika kamu benar-benar orang yang beriman?'” (Al-Baqarah: 91).
- Perhatikanlah bagaimana perpindahan ini telah disiapkan jiwa untuknya di akhir tahap sebelumnya, karena pendengar memahami dari pendustaan mereka terhadap apa yang membenarkan kitab mereka bahwa mereka telah menjadi pendustai terhadap kitab mereka sendiri. Dan apakah orang yang mendustai orang yang membenarkan Anda akan tetap membenarkan Anda?!
Namun makna ini hanya diambil sebagai kesimpulan dari perkataan-perkataan mereka dan sebagai kewajiban kepada mereka dengan akibat madhab mereka, dan tidak diambil secara langsung dari kenyataan keadaan-keadaan mereka. Maka inilah tugas jawaban yang baru.
Demikianlah kata “membenarkan apa yang ada pada mereka” menjadi penutup untuk apa yang sebelumnya dan pembuka untuk apa yang sesudahnya, dan menjadi tangga terakhir dalam tangga tujuan pertama sekaligus tangga pertama dalam tangga tujuan kedua.
Alangkah kuatnya keterpaduan antara bagian-bagian kalimat ini! Dan alangkah bijaksananya kepemimpinan ini terhadap jiwa dengan kendali penjelasan, memberikan tingkatan kepadanya pada tangga-tangganya, dan menurunkannya menurut kadar kebutuhannya dan pada waktu kebutuhan itu! Tidak lain hanyalah ketika ia merasakan keinginan jiwa dan kesiapannya dari kata itu kepada tujuan, maka ia telah tegak dengannya kepada tujuan itu dan menghentikannya padanya dengan sempurna.
- Dan lihatlah bagaimana ia mengalihkan penyandaran dari kedudukan aslinya dan berpaling dari penyebutan pelaku sebenarnya dari kejahatan-kejahatan itu, sehingga tidak berkata: (mengapa nenek moyang kalian membunuh para nabi Allah, dan mengambil anak sapi, dan berkata kami dengar dan kami durhaka?) karena perkataan dengan susunan ini adalah hujjah yang gugur pada pandangan pertama, seperti halnya bantahan serigala terhadap anak domba dalam dongeng yang terkenal. Maka berhak bagi mereka dalam menjawabnya untuk berkata: (apa urusan kami dengan nenek moyang kami? Itu adalah umat yang telah berlalu, dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain).
Seandainya ditambah misalnya: (dan kalian seperti mereka, hati kalian dan hati mereka serupa) maka pemulihan ini datang setelah kehilangan waktu, dan akan mengendur tali kalimat dan melemah kekuatannya. Maka meringkas kalimat pada apa yang Anda lihat – dengan menempatkan mereka sejak awal dalam posisi tuduhan – adalah mempercepat mengarahkan anak panah hujjah kepada sasarannya, dan sekaligus mengingatkan bahwa mereka adalah keturunan yang sebagiannya dari sebagian, dan bahwa mereka sama dalam kejahatan. Maka siapa pun di antara mereka yang Anda letakkan tangan, maka Anda telah meletakkannya pada pelaku yang berdosa, karena mereka tidak terlepas dari mengikuti sunnah nenek moyang mereka, atau ridha terhadap perbuatan-perbuatan mereka, atau mengandung maksud-maksud seperti mereka.
- Dan lihatlah bagaimana makna ini bertambah kuatnya dengan mengeluarkan kejahatan pertama yaitu kejahatan pembunuhan dalam bentuk fi’il mudhari’ (kata kerja masa kini) untuk menggambarkannya dengan gambaran urusan yang terjadi sekarang, seolah-olah dengan itu ia menampilkan kepada kita kaum ini sendiri dengan tangan-tangan mereka yang kotor dengan darah-darah suci itu.
- Dan sesungguhnya ungkapan dengan bentuk ini dengan menyebutkan para nabi dengan lafal umum adalah membuka pintu kecemasan bagi hati Nabi Arab yang mulia, dan membuka pintu keserakahan bagi musuh-musuhnya dalam keberhasilan rencana-rencana dan usaha-usaha mereka untuk membunuhnya.
Lihatlah bagaimana ia menolong kita dengan kehati-hatian dari semua itu dengan firman-Nya: “dahulu”, maka ia memutus dengan kata ini keserakahan mereka dan meneguhkan dengannya hati kekasih-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena hal itu berkedudukan seperti janji-Nya kepadanya dengan perlindungan-Nya dari manusia. Hal itu sampai kepada apa yang ada di dalamnya berupa peringatan pada asal kedudukan kalimat dan pada apa yang dibuat dengannya dari perluasan yang disebutkan tadi dalam penyandaran dan dalam bentuk.
- Dan lihatlah bagaimana datangnya kata kerja-kata kerja dalam kejahatan-kejahatan berikutnya dengan bentuk masa lampau setelah dirintis untuknya dengan kata ini: “dahulu”, maka tegaklah sejarah pada kedudukan alaminya ketika tidak ada lagi kebutuhan kepada ungkapan seperti yang pertama.
- Dan lihatlah adab yang tinggi dalam menampilkan kejahatan kedua yaitu kejahatan syirik. Karena ketika ia lebih kasar dari sebelumnya dan lebih keras pengingkarannya dalam akal, maka dingatkan akan hal itu dengan peringatan yang paling halus dengan menghapus salah satu rukunnya, sehingga tidak berkata: kalian mengambil anak sapi sebagai tuhan, tetapi melipat maf’ul (obyek) kedua ini karena memandang jelek terang-terangan menyebutkannya dalam bersama yang pertama, dan menjelaskan perpisahan di antara keduanya… Dan betapa banyaknya dalam penghapusan ini ungkapan dan penakutan!! Maka betapa banyak diamnya yang lebih fasih dengan hukuman dan lebih menyakitkan bagi lawan.
- Kemudian lihatlah sisi-sisi yang dipilih di dalamnya keringkasan atas perincian, berpaling dari setiap tambahan yang tidak disentuh kebutuhan penjelasan kepadanya pada saat itu. Maka ia berkata: Sesungguhnya Al-Qur’an membenarkan apa yang ada pada mereka, dan tidak menjelaskan batas pembenaran ini: apakah pada pokok-pokok agama saja, ataukah pada pokok dan cabang semuanya, ataukah pada pokok dan sebagian cabang, dan sampai batas mana? Hal itu karena ini adalah perkataan raja-raja yang tidak turun kecuali dengan kadar yang diketahui. Dan apa artinya bagi pendakwa kepada pokok keimanan bahwa kesesuaian antara agama-agama meluas kepada cabang-cabangnya atau tidak meluas? Biarlah para ulama syariat meneliti!
Dan ia berkata: Sesungguhnya mereka membunuh para nabi Allah, maka siapakah para nabi itu?… Biarlah para ulama sejarah meneliti!
Dan ia berkata: Sesungguhnya Musa datang kepada mereka dengan bukti-bukti nyata, maka berapa banyaknya? Dan apa saja itu?
Dan ia berkata: Sesungguhnya Dia mengambil perjanjian atas mereka, maka atas apa perjanjian itu?
Sesungguhnya hikmah penjelasan Al-Qur’an lebih mulia daripada menampilkan perincian-perincian ini dalam tempat seperti ini. Seandainya disebutkan di sini, maka halnya seperti orang yang bertanya: mengapa kamu memukul budakmu? Lalu dia berkata: karena dia memukul seorang anak yang namanya begini dan nama ayahnya begini dan ciri-cirinya begini, dan lahir pada tahun begini. Tidakkah Anda melihat bahwa ini berlebihan dan banyak.
- Keistimewaan Lainnya dalam Gaya Bahasa Al-Quran
Jika kita melanjutkan untuk mengikuti seluruh keindahan yang terdapat dalam penggalan ini, kita akan keluar dari batas contoh dan peringatan yang kita maksudkan.
Maka cukuplah kita mengarahkan perhatianmu padanya kepada rahasia halus yang tidak kamu lihat dalam perkataan manusia, yaitu bahwa seseorang jika dipusingkan oleh suatu urusan pembelaan atau persuasi atau lainnya, maka tampak pada perkataannya sentuhan emosi terhadap tujuan-tujuannya, dan pengaruhnya terhadap jiwamu sesuai dengan kadar pengaruhnya dia sendiri; secara alami atau dibuat-buat, sehingga kamu hampir merasakan apa yang menggejolak dalam dirinya berupa kegembiraan ketika menang dan kekecewaan ketika gagal, bahkan kamu melihat dia hampir binasa karena sedih jika manusia berpaling dari petunjuknya ketika dia beriman pada perjuangannya, tulus dalam seruannya, sebagaimana halnya para Nabi alaihimus salaam.
Adapun di sini, kamu melihat di balik perkataan itu kekuatan yang lebih tinggi dari sekedar terpengaruh oleh tujuan-tujuan ini, kekuatan yang mempengaruhi dan tidak terpengaruh, yang menggambarkan kebenaran-kebenaran untukmu: kebaikan dan keburukannya, dalam kemuliaan dari yang tidak diuntungkan oleh kebaikan, dan kekuasaan dari yang tidak dirugikan oleh keburukan.
Corak kebanggaan dan keagungan ini kamu lihat jelas melalui gaya bahasa yang hemat dalam berargumentasi mengambil dan menolak, hemat dalam menggambarkan memuji dan mencela.
Lihatlah dia ketika berargumen tentang Al-Quran maka tidak menambah dalam menggambarkannya selain kata ini: “Dialah yang haq”, ya memang kata yang memenuhi jiwa, tetapi apakah kata itu membuatmu puas wahai manusia jika kamu ingin menggambarkan suatu kebenaran yang kamu yakini dan kamu suka meyakinkan manusia dengannya?
Dan lihatlah dia setelah mencatat atas Bani Israil yang paling keji yaitu mereka menjadikan sapi yang merupakan contoh kebodohan sebagai tempat sembahan yang paling suci, dan setelah menggambarkan kekerasan hati mereka dalam menolak perintah-perintah Allah meski mereka dipaksa dengan ayat-ayat yang menakutkan; maka kamu melihat dia tidak menambah selain mengatakan pada yang pertama: bahwa ini (kezaliman) dan pada yang kedua: (alangkah buruknya) yang kalian perbuat. Apakah itu saja semua yang kamu hadapi dengan kejahatan-kejahatan ini? Ya, keduanya adalah dua kata yang cukup sesuai kadar kejahatan jika dipahami dengan benar, tetapi mana rasa sakit dan panasnya dorongan dalam membalas dendam? Bahkan mana celaan dan fitnah? Dan mana berlebihan dan kekejian yang kamu lihat dalam perkataan manusia jika mereka marah karena diserang kedudukannya?
Demi Allah betapa bersihnya perseteruan ini, dan betapa mulianya kedudukan ini dan betapa tidak membutuhkannya syukur orang-orang yang bersyukur dan kekufuran orang-orang kafir, dan demi Allah sesungguhnya ini adalah perkataan yang tidak keluar dari jiwa manusia.
Keringkasan dalam Al-Quran
Kita katakan: bahwa Al-Quran Al-Karim selalu dengan lembut memanfaatkan sesedikit mungkin dari lafaz dalam menghasilkan sebanyak mungkin makna.
Ya; itu adalah fenomena yang menonjol dalam keseluruhannya; sama rata di tempat-tempat ringkasannya yang orang sebut sebagai tempat ijaz (keringkasan), dan tempat-tempat perinciannya yang mereka sebut sebagai tempat itnab (panjang lebar).
Oleh karena itu kita menyebutnya keringkasan semuanya; karena kita melihatnya dalam kedua tempat tidak melampaui jalan keseimbangan, dan tidak condong kepada berlebihan sedikitpun, dan kita melihat bahwa tujuan-tujuannya dalam kedua tempat tidak mungkin ditunaikan lengkap unsur dan perhiasannya dengan kurang dari lafaz-lafaznya atau yang menyamainya, maka tidak ada di dalamnya kata kecuali dia adalah kunci untuk faidah yang mulia, dan tidak ada di dalamnya huruf kecuali datang untuk makna.
Apakah dalam Al-Quran Ada yang Berlebihan?!
Tinggalkanlah perkataan orang yang mengatakan pada beberapa kata-kata Al-Quran bahwa itu (dipaksakan) dan pada beberapa hurufnya bahwa itu (berlebihan) secara maknawi, dan tinggalkanlah perkataan orang yang meremehkan kata (ta’kid/penguatan) sehingga melemparkannya di setiap tempat yang dia sangka ada kelebihan, tidak peduli apakah kelebihan itu mengandung makna yang dikuatkan sehingga layak untuk menguatkannya atau tidak, dan tidak peduli apakah di tempat itu ada kebutuhan untuk penguatan ini atau tidak ada kebutuhan untuknya.
Ya, tinggalkanlah ini dan itu, karena sesungguhnya hukum dalam Al-Quran dengan jenis kelebihan ini atau semisalnya hanyalah jenis dari kebodohan – terselubung atau terbuka – terhadap ketelitian timbangan yang dijadikan dasar gaya bahasa Al-Quran.
Dan ambillah dirimu dengan menyelam mencari rahasia-rahasia bayan-nya dengan cahaya lentera ini, maka jika samar bagimu wajah hikmah dalam satu kata darinya atau huruf maka janganlah kamu terburu-buru sebagaimana terburu-burunya orang-orang yang menyangka ini; tetapi katakanlah perkataan yang benar yaitu yang lebih dekat kepada amanah dan keadilan, katakan: (Allah lebih tahu dengan rahasia-rahasia firman-Nya, dan tidak ada pengetahuan bagi kita kecuali dengan pengajaran-Nya), kemudian janganlah kamu bersandar kepada kenyamanan keputusasaan sehingga kamu duduk dari mengungkap rahasia-rahasia itu dengan mengatakan: mana aku dibanding fulan dan fulan?.. Tidak, karena berapa banyak yang kecil yang kurang ternyata memahami apa yang tidak dipahami oleh yang besar yang utama.
Tidakkah kamu melihat kisah Ibnu Umar dalam teka-teki yang terkenal? Maka bersungguh-sungguhlah dalam mencari dan katakan: Rabbku tambahkanlah aku ilmu, mudah-mudahan Allah membukakan bagimu pintu pemahaman yang kamu singkap dengannya sesuatu yang samar dari yang lain, dan Allah pelindung orang-orang yang beriman mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan kepada cahaya. Dan mari kita berikan untukmu contoh, firman-Nya Ta’ala:
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia” (Asy-Syura: 11).
Penjelasan tentang Firman Allah Ta’ala: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia” (Asy-Syura: 11)
(Mayoritas) ahli ilmu telah bersepakat kata mereka atas kelebihan kaf bahkan atas wajibnya kelebihan dalam kalimat ini, melarikan diri dari kemustahilan akal yang berujung padanya dengan tetapnya kaf pada makna aslinya dari penyerupaan; karena mereka melihat bahwa dia ketika itu menjadi menafikan yang serupa dari misal Allah, maka dia menjadi pengakuan dengan tetapnya misal bagi-Nya Subhanahu, atau setidaknya mengandung kemungkinan tetapnya dan tidak ada; karena yang menafikan – sebagaimana kata ahli mantik – benar dengan tidak adanya subjek.
Atau karena penafian – sebagaimana kata ahli nahwu – mungkin diarahkan kepada yang dibatasi dan batasannya bersama-sama, kamu katakan: (tidak ada bagi fulan anak yang menolongnya) jika tidak ada baginya anak sama sekali atau ada baginya anak dan tidak menolongnya, dan kamu katakan: (Muhammad bukanlah saudara bagi Ali) jika dia saudara selain Ali atau tidak menjadi saudara bagi siapapun.
(Dan sedikit dari mereka) yang berpendapat bahwa tidak apa-apa tetap pada asalnya; karena melihat bahwa dia tidak menuju pada kemustahilan itu tidak secara nash maupun kemungkinan; karena menafikan misal dari misal diikuti dalam akal dengan menafikan misal juga.
Dan itu bahwa jika ada misal bagi Allah maka bagi misal ini ada misal pasti yaitu Ilah yang Haq itu sendiri, karena setiap dua yang bermisal masing-masing dianggap misal bagi temannya, dan jadi tidak sempurna hilangnya misal dari misal kecuali dengan hilangnya misal dan itulah yang dituju.
Dan kesimpulan pengarahan ini – jika kamu renungkan – bahwa dia adalah penyehat bukan penguat, artinya bahwa dia menafikan bahaya dari huruf ini, tetapi dia tidak menetapkan faidahnya dan tidak menjelaskan sangat perlunya dia; bukankah kamu melihat bahwa makna kalimat dengannya seperti maknanya tanpanya sama, dan bahwa jika dia bertambah dengannya sesuatu maka hanya bertambah sesuatu dari keterpaksaan dan berputar dan jenis dari penyamaran dan kerumitan.
Dan bukankah jalannya kecuali jalan orang yang ingin mengatakan: (ini fulan) lalu dia katakan: (ini anak saudara perempuan bibi fulan)? Maka ujungnya jadi kepada perkataan dengan kelebihan yang mereka sembunyikan dengan nama ta’kid, nama yang tidak kamu kenal masmunyya di sini; karena ta’kid penyerupaan tidak dimaksud sama sekali, dan ta’kid penafian dengan huruf yang menunjukkan penyerupaan adalah dari kemustahilan tempatnya.
Dan jika kamu kembali kepada dirimu sedikit tentunya kamu lihat huruf ini dalam tempatnya mempertahankan kekuatan petunjuknya, berdiri dengan bagian mulia dari makna yang dimaksud dalam kalimatnya, dan bahwa jika dia gugur darinya maka gugur bersamanya penyangga makna, atau roboh rukun dari rukun-rukunnya, dan kita jelaskan untukmu ini dari dua jalan, salah satunya lebih halus jalannya dari yang lain.
Jalan Pertama
Dan dia yang lebih dekat dari dua jalan kepada pemahaman jumhur: bahwa jika dikatakan: (tidak ada misal baginya sesuatu) maka itu adalah penafian untuk misal yang setara, yaitu misal yang sempurna penyerupaannya saja; karena sesungguhnya makna inilah yang mengalir kepadanya pemahaman dari lafaz misal ketika dilepas, dan jadi merayap ke jiwa rayapan was-was dan wahm: bahwa mungkin di sana ada tingkatan yang tidak menyamai tingkatan ketuhanan tetapi mengikutinya, dan bahwa mudah-mudahan kedudukan ini untuk malaikat dan nabi, atau untuk bintang-bintang dan kekuatan alam, atau untuk jin dan berhala dan dukun, sehingga ada bagi mereka dengan Ilah yang Haq kemiripan dalam kekuasaan atau ilmu-Nya, dan keikutsertaan dalam penciptaan atau perintah-Nya.. maka menjadilah penempatan huruf ini dalam kalimat pengusiran untuk alam semua dari penyerupaan dan dari yang menyerupai penyerupaan dan yang mendekatinya, seakan dikatakan: tidak ada di sana sesuatu yang menyerupai menjadi misal bagi Allah, apalagi menjadi misal bagi-Nya secara hakikat, dan ini adalah pintu dari peringatan dengan yang lebih rendah kepada yang lebih tinggi, sesuai firman-Nya Ta’ala:
“Maka janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka” (Al-Isra: 23)
larangan dari sedikit gangguan secara terang, dan dari yang di atas sedikit dengan jalan lebih utama.
Jalan Kedua
Dan dia yang lebih halus jalannya: bahwa yang dimaksud pertama dari kalimat ini yaitu menafikan yang serupa, dan meskipun cukup untuk menunaikannya bahwa dikatakan: (tidak ada seperti Allah sesuatu) atau (tidak ada misal baginya sesuatu) tetapi kadar ini bukan dia semua yang dituju oleh ayat yang mulia, bahkan dia sebagaimana ingin memberikanmu hukum ini dia ingin di waktu yang sama menarik perhatianmu kepada wajah hujjah dan jalan burhannya yang akal.
Tidakkah kamu lihat bahwa kamu jika ingin menafikan dari seseorang kekurangan dalam akhlaknya lalu kamu katakan: (fulan tidak bohong dan tidak pelit) kamu keluarkan perkataanmu tentang dia keluaran dakwah yang terlepas dari dalilnya.
Maka jika kamu tambah padanya kata lalu kamu katakan: (seperti fulan tidak bohong dan tidak pelit) tidaklah kamu dengan itu menunjuk kepada orang lain yang menyerupainya yang bersih dari kekurangan-kekurangan itu, tetapi ini adalah pembersihan baginya dia dengan burhan kulli, yaitu bahwa yang berada pada seperti sifat-sifat dan perangai-perangai mulianya tidak akan begitu; karena adanya pertentangan antara tabiat sifat-sifat ini dengan kekurangan yang diwahmkan itu.
Atas manhaj balaghah inilah diletakkan ayat yang bijak dengan mengatakan: (misal-Nya Ta’ala tidak mungkin ada misal bagi-Nya), bermaksud: bahwa yang memiliki sifat-sifat husna itu dan misal a’la itu tidak mungkin ada yang menyerupainya, dan tidak luas wujud untuk dua dari jenisnya, maka tidak heran digunakan padanya dua lafaz, masing-masing darinya menunaikan makna penyerupaan; supaya berdiri salah satunya rukun dalam dakwah, dan yang lain penyangga baginya dan burhan.
Maka penyerupaan yang ditunjukkan (oleh kaf) ketika penafian diarahkan kepadanya terlaksanalah dengannya asal tauhid yang dituju; dan lafaz (misal) yang diterangkan di tempat lafaz Jalalah atau dhamir-nya mengingatkan pada burhan dari yang dituju itu.
Dan ketahuilah bahwa burhan yang ditunjukkan oleh ayat pada wajah ini adalah burhan yang aneh dalam menetapkan keesaan Pencipta, kita tidak tahu seorangpun dari ulama kalam berkeliling di sekitarnya; karena semua burhan mereka dalam keesaan berdiri atas membatalkan keberagaman dengan membatalkan konsekuensi dan pengaruh praktisnya, sebagaimana ditunjukkan oleh firman-Nya Ta’ala:
“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak” (Al-Anbiya: 22)
Adapun ayat Asy-Syura yang disebutkan maka dia memandang kepada makna di balik itu yang membatalkan asumsi keberagaman dari dasarnya, dan menetapkan kemustahilannya yang dzati pada dirinya dengan memutus pandangan dari pengaruh-pengaruh itu. Seakan kita dengannya dia berkata kepada kita: sesungguhnya hakikat Ilah bukan dari hakikat-hakikat yang menerima keberagaman dan keikutsertaan dan penyerupaan dalam konsepnya, tidak, karena yang menerima itu hanyalah kesempurnaan relatif yang kurang, adapun kesempurnaan sempurna mutlak yang merupakan penegak makna ketuhanan, maka hakikatnya menolak akal menerima padanya penyerupaan dan kedua-duaan; karena kamu manapun kamu tahqiq makna ketuhanan kamu tahqiq pendahuluan atas segala sesuatu dan penciptaan segala sesuatu:
“Pencipta langit dan bumi” (Asy-Syura: 11)
dan kamu tahqiq kekuasaan atas segala sesuatu dan ketinggian di atas segala sesuatu:
“Kepunyaan-Nya kunci-kunci langit dan bumi” (Asy-Syura: 12)
maka jika kamu pergi mengasumsikan dua yang berserikat dalam sifat-sifat ini maka kamu bertentangan; karena kamu jadikan masing-masing dari keduanya pendahulu yang didahului, dan pencipta yang diciptakan, dan yang tinggi yang ditinggikan atasnya, atau kamu jadikan kesempurnaan mutlak kepada kesempurnaan terbatas pada keduanya; karena kamu jadikan masing-masing dari keduanya dengan menisbatkan kepada temannya bukan pendahulu dan bukan yang tinggi, maka bagaimana masing-masing dari keduanya menjadi ilah, dan bagi Ilah misal a’la?!
Tidakkah kamu lihat berapa banyak kita peroleh dari (kaf) ini wajuh-wajuh dari makna semuanya menyembuhkan dan mencukupi?!
Maka hafalkan contoh ini dan kenalilah dengannya ketelitian timbangan yang dijadikan dasar nazhm yang bijak huruf demi huruf.
Kemukjizatan dengan Hazf (Penghilangan)!
(Dan setelahnya) maka sesungguhnya rahasia ijaz dalam Al-Quran tidak berhenti pada batas yang kita tunjukkan, dari menghindari kelebihan dan kemubaziran sama sekali, dan memilih lafaz-lafaz yang mengumpulkan dan mencegah yang – secara tabiat kebahasaannya – lebih sempurna penentuan untuk tujuan, dan lebih besar keluasan untuk makna-maknanya yang sesuai, tidak, bahkan dia sering kali menempuh dalam ijaz-nya jalan yang lebih mulia dan lebih menakjubkan.
Karena sungguh kamu melihat dia sengaja – setelah menghapus kelebihan kalimat dan tambahannya – kepada menghapus sesuatu dari pokok-pokok dan rukun-rukunnya yang kalimat biasanya tidak sempurna tanpanya, dan tidak lurus makna kecuali dengannya, dan mungkin dia ambil dengan penghapusan ini kata-kata dan kalimat-kalimat banyak yang berurutan dan bercerai-berai dalam satu penggalan, kemudian kamu melihat dia di waktu yang sama memanfaatkan sisa yang tersisa dari lafaz dalam menunaikan makna semuanya dengan jelas dan terang, dan dalam kelezatan dan kemanisan, sampai terbayang bagimu dari mudahnya jalan makna dalam lafaznya bahwa lafaznya lebih luas darinya sedikit.
Maka jika kamu cari rahasia itu kamu lihat dia telah menitipkan makna kata-kata atau kalimat-kalimat yang dilipat dalam satu kata di sini dan huruf di sana, kemudian dia putar gaya bahasa dengan putaran yang menakjubkan dan dia jalankan atasnya jendral bayan dengan tangan pekerja seni, maka dia kuat dengannya ciptaan-Nya dan dia ratakan, kemudian dia tiup padanya dari ruh-Nya, maka tiba-tiba dia licin halus, dan tiba-tiba dia terang bercahaya, tidak merasakan jiwa dengan apa yang ada padanya dari hazf dan lipatan, dan tidak dengan apa yang dia menuju dari kecukupan dan kelengkapan, kecuali setelah perenungan dan pemeriksaan teliti.
Tidak dapat disangkal bahwa orang Arab mengenal sesuatu dari hazf dalam kalimat mereka, dan melihat itu dari keutamaan bayan ketika berdiri petunjuk-petunjuk yang tampak pada yang dihapus itu, meskipun dari bagian-bagian kalimat dan penegaknya. Maka jika dikatakan kepada Arab: mana saudaramu? Dia katakan: di rumah. Dan jika dikatakan kepadanya: siapa di rumah? Dia katakan: saudaraku. Dan jika dia katakan: saudaraku di rumah, maka itu dianggap darinya jenis kesia-siaan dan kelebihan.
Tetapi jarak yang dicapai Al-Quran dalam pintu ini – seperti lainnya dari pintu-pintu balaghah – bukan dalam jangkauan lidah dan pena, dan bukan dalam jangkauan angan-angan dan impian.
Contoh tentang Kemukjizatan Hazf
Ambillah untuk itu contoh firman-Nya Ta’ala:
“Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan keburukan bagi manusia seperti permintaan mereka menyegerakan kebaikan, tentulah telah ditetapkan bagi mereka ajal mereka. Maka Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharap pertemuan dengan Kami, dalam kesesatan mereka berkelana” (Yunus: 11).
Ayat disampaikan dalam urusan pengingkar kebangkitan yang berkata kepada mereka Nabi: sesungguhnya aku rasul Allah kepada kalian, dan sesungguhnya aku pemberi peringatan kepada kalian di hadapan azab yang pedih, maka mereka katakan dengan mengejek:
“Ya Allah, jika ini benar-benar kebenaran dari sisi-Mu, maka hujanilah kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih” (Al-Anfal: 32)
maka ketika Allah tidak mengabulkan usulan mereka dan mengakhirkan dari mereka azab sampai waktunya yang ditentukan, maka melampaui batas mereka panjangnya rasa aman dan ketenangan dan kesehatan yang hadir sampai mereka lupa kekhawatiran zaman dan merasa aman dari tipu daya Allah, maka mereka mulai minta disegerakan dengan keburukan seperti permintaan mereka disegerakan dengan kebaikan, dan mereka berkata: kapan dia; dan apa yang menahannya jika dia datang?!
Al-Quran ingin mengatakan dalam menjawab permintaan untuk mempercepat ini: seandainya sunnatullah telah berlaku bahwa Allah mempercepat keburukan bagi manusia ketika mereka meminta dipercepat, sebagaimana Dia mempercepat kebaikan bagi mereka ketika mereka meminta dipercepat, niscaya Dia akan mempercepat keburukan itu untuk orang-orang ini. Namun sunnatullah yang tidak berubah telah berlaku bahwa Dia menangguhkan para zalim dan menunda perhitungan mereka sampai waktu yang ditentukan. Sesuai dengan sistem yang telah ditetapkan ini, Dia akan membiarkan orang-orang ini dengan keadaan mereka sampai waktu mereka tiba.
Inilah keadaan yang diletakkan pada ucapan manusia dan dalam sifat bahasa untuk menyampaikan makna global yang dituju oleh ayat, maka lihatlah apa yang terjadi…?
- Awalnya ucapan dalam keadaan biasa terdiri dari tiga proposisi: dua di antaranya sebagai muqaddimah (premis), dan yang ketiga sebagai natijah (kesimpulan). Al-Quran hanya menyebutkan yang pertama dan yang terakhir, adapun yang tengah yaitu istidrak (pengecualian) – atau yang disebut para ahli logika sebagai istitsnaiyah – maka ia melipatnya.
- Muqaddimah pertama dalam keadaan sederhana terdiri dari empat unsur: percepatan dari Allah dalam kebaikan dan keburukan, serta permintaan percepatan dari manusia demikian pula. Namun ucapan di sini hanya terdapat satu percepatan dari Allah dan satu permintaan percepatan dari manusia.
- Perbandingan dalam tasyabuh (perumpamaan) menurut zahir hanya antara percepatan dengan percepatan, atau antara permintaan percepatan dengan permintaan percepatan. Namun ucapan dalam ayat dijalankan dengan cara yang aneh, dan perumpamaan dibuat antara percepatan dengan permintaan percepatan.
Setelah semua tindakan ini, apakah engkau melihat ucapan yang terpotong atau jalan yang berliku-liku yang membuat pemahaman tersandung? Ataukah engkau melihat maksud ayat terlihat jelas bagi umum dan khusus, seperti bulan purnama yang tidak terhalang awan?
Maka kembalilah untuk mencari sesuatu dari rahasia bayan (kefasihan), dan katakanlah: bagaimana cahaya ini datang dengan ringkasan yang fasih ini? Kami katakan: (Adapun yang pertama) ia tidak meninggalkan muqaddimah yang dilipat itu kecuali setelah mengangkat dua tanda dari kedua sisinya yang menunjukkan tempatnya dan menyiratkannya kepada jiwa dari balik tabir. Ia menegakkan di sebelah kanannya kata “lau” (seandainya) yang bermakna imtina’ (tidak terjadi) yang memulai muqaddimah pertama, menunjukkan bahwa tidak akan terjadi percepatan ini dariNya. Di sebelah kirinya haruf tafri’ (cabang) yang memulai natijah dalam firmanNya: “fanadharu” (maka Kami biarkan) agar mengisyaratkan bahwa cabang ini memiliki asal dari jenisnya yang dapat dikatakan: “tetapi urusanNya adalah membiarkan manusia, maka karena itu Dia membiarkan orang-orang ini.”
Karena fa’ saja bukan nash (teks tegas) untuk maksud yang diinginkan – sebab ia sebagaimana untuk tafri’ juga untuk sekedar ‘athf (sambungan) – maka mungkin pembaca menyambungkannya sebagai ‘athf pada jawab syarat sebelumnya, sebelum jelas baginya rusaknya makna jika di-‘athf-kan – maka tidak cukup dengan fa’, bahkan menguatkannya dengan dua kekuatan lain, yaitu mengubah shighah natijah dari madi ke mudhari’, kemudian dari ghaibah ke takallum; agar putusnya lafaz ini antara ia dengan sebelumnya menjadi pertanda putusnya maknanya darinya, dan izin untuk berhenti di bawahnya, sehingga jiwa tidak jatuh sejenak pun dalam gangguan atau kekaburan sedikit pun. Itu ditambah dengan apa yang ada dalam perubahan ini berupa iftinan dalam uslub untuk memperbaharui semangat pendengar, dan menimbulkan ketakutan dalam hati dengan keluarnya ucapan ancaman dan istidraj dari lisan keagungan raja itu sendiri.
(Adapun yang kedua) ketika menghapus dua unsur dari empat unsur, ia tidak menghapusnya dari satu jenis, bahkan menyisakan dari setiap dua pasang satu yang merupakan pasangan apa yang dihapusnya dari temannya, untuk mengingatkan dengan yang disebutkan pada yang dihapus. Maka kata “ta’jil” (percepatan) mengingatkan pada pasangannya dalam yang diserupai, dan kata “isti’jal” (permintaan percepatan) mengingatkan pada lawannya dalam yang menyerupai.
(Adapun yang ketiga) ia mengingatkan dengannya pada makna yang sangat halus, yaitu rahasia penangguhan dan hikmah tidak mempercepat dari Allah. Itu karena ia menggambarkan percepatan yang diandaikan ini dengan gambaran yang menyerupai permohonan peminta dan keharisannya yang sangat untuk menyenangkan syahwatnya dan memenuhi kebutuhannya yang mendesak yang mendorongnya untuk meminta percepatan, apalagi jika ia meminta kebaikan untuk dirinya. Seakan-akan dikatakan: sesungguhnya Allah Ta’ala seandainya mempercepat untuk mereka itu, maka Dia akan serupa dengan mereka dalam percepatan ini seperti orang-orang yang meminta percepatan ini, dalam dorongan motif terhadapNya, dan Mahasuci Allah.
Ini ditambah dengan tindakan-tindakan menakjubkan lainnya:
Kehalusan Bayan dalam Ayat Surat Yunus
(Di antaranya) bahwa kata “lau” (seandainya) menurut kedudukannya dan sifat maknanya menghendaki diikuti fi’l madi, tetapi yang diinginkan di sini bukan hanya menafikan kemadiannya saja, melainkan menjelaskan bahwa perbuatan ini bertentangan dengan sunnatullah yang tidak akan engkau dapati baginya perubahan. Seandainya makna disampaikan dengan kedudukan ini tentu panjang ucapannya, dan akan dikatakan: “seandainya sunnatullah yang terus-menerus dalam ciptaanNya adalah mempercepat… dst”. Maka lihatlah bagaimana meringkas ucapan dalam satu lafaz dengan mengeluarkan fi’l dalam bentuk mudhari’ yang menunjukkan takrar (pengulangan) dan istimrar (kesinambungan), dan cukup dengan meletakkan “lau” sebagai qariinah bahwa apa sesudahnya bermakna madi. Demikianlah ia menyampaikan kedua tujuan sekaligus dengan lemah lembut.
(Di antaranya) bahwa tuntutan kesesuaian antara syarat dan jawab adalah meletakkan jawab setara dengannya sehingga dikatakan: “la’ajjalahu” (niscaya Dia mempercepatnya). Tetapi ia beralih kepada yang lebih agung dan menakutkan, yaitu menjelaskan bahwa seandainya Dia mempercepat keburukan bagi manusia, niscaya Dia mempercepat bagi orang-orang ini jenis khusus dari keburukan yang mereka layak mendapatkannya, yaitu azab yang menghancurkan yang dengannya ajal mereka diputuskan.
(Di antaranya) bahwa tuntutan zahir dalam menegaskan natijah adalah mengatakan: “fanadhuruhum” (maka Kami biarkan mereka) atau “fanadharu ha’ula’i” (maka Kami biarkan orang-orang ini). Tetapi Dia berfirman: “Maka Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami” (Yunus: 11) untuk meraih dua tujuan penting: pertama, mengingatkan bahwa asal permintaan percepatan dari mereka adalah ketidakimanan mereka pada kebangkitan. Kedua: mengingatkan bahwa kaidah penangguhan dari Allah adalah kaidah umum bagi mereka dan orang-orang seperti mereka.
(Dan selain itu…).
Katakanlah kepada kami demi Tuhanmu: seandainya engkau memperoleh dalam ucapan manusia satu saja dari tindakan-tindakan ini, maka dalam uslub mana selain uslub Al-Quran engkau akan memperoleh kumpulan ini atau yang mendekatinya, dalam ukuran ini atau dua kali lipatnya dari kata-kata?
Dan inilah contoh lain dengan makna yang sama:
Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Bagaimana pendapat kalian jika azab-Nya datang kepada kalian pada malam hari atau siang hari, apakah yang dipercepat oleh orang-orang yang berdosa darinya? Kemudian apakah setelah azab itu terjadi kalian baru beriman kepadanya? Sekarangkah (kalian beriman) padahal kalian dahulu meminta supaya disegerakan kedatangannya?'” (Yunus: 50-51).
Allah Ta’ala berfirman: beritahukanlah kepadaKu tentang keadaan kalian jika azab datang kepada kalian secara mendadak di malam atau siang hari, apa yang akan kalian perbuat saat itu? Sesungguhnya kalian saat itu berada di antara dua perkara: bersikeras pada apa yang kalian lakukan sekarang berupa pendustaan dan permintaan percepatan, atau beriman.
Mana yang kalian pilih? Apakah kalian meminta dipercepat azab saat itu sebagaimana kalian meminta dipercepat hari ini? Sekali-kali tidak, karena kalian adalah orang-orang yang berdosa. Bagaimana mungkin orang yang berdosa merindukan melihat azab yang jika datang maka ia pasti akan menimpanya? Kemudian beritahukanlah kepadaKu jenis mana darinya yang kalian minta dipercepat? Sebab azab itu bukan satu jenis saja melainkan berbagai warna dan macam. Ataukah kalian hari ini mendustakan kemudian jika terjadi setelah beberapa waktu kalian beriman kepadanya? Ketahuilah bahwa iman kalian tidak akan bermanfaat saat itu setelah kalian menunda-nunda dan menangguhkan sampai menyia-nyiakan kesempatan dan terlewat waktu perbaikan. Bahkan di sana akan dikatakan kepada kalian dengan menyesalkan dan menyedihkan: “Sekarangkah kalian beriman padahal kalian dahulu mendustakannya dan meminta dipercepat!!”
Inilah makna dalam pakaian alaminya.
Maka lihatlah berapa banyak kata dan berapa banyak kalimat yang dilipat dalam dada ucapan dan dalam kedua sisinya? Bagaimana ketika dilipat tidak ada sesuatu pun yang ditinggalkan kecuali telah dibuat dalam lafaz lampu yang mengungkapkannya dan kunci yang menghantarkan kepadanya? Maka diletakkan dua istifham (pertanyaan) yang saling berhadapan dalam ucapan menunjukkan bahwa di sana ada istifham yang menghimpun keduanya dan memilih di antara keduanya, yaitu:
Apa yang kalian perbuat, dan jalan mana yang kalian tempuh?
Istifham tentang jenis yang diminta dipercepat dari azab menunjukkan istifham tamhiidi sebelumnya tentang terjadinya asal permintaan percepatan. Kata “al-mujrimuun” (orang-orang yang berdosa) menunjukkan kemustahilan sisi pilihan ini dari pengulangan. Kata “tsumma” yang menyambung menunjukkan yang disambung yang dilipat antara ia dan hamzah. Lafaz zharaf “al-aan” (sekarang) menunjukkan ‘amilnya yang diperkirakan. Qiyaskanlah pada itu semua yang dihapus… sampai masa istifham yang masuk pada zharaf ini telah menunjukkan panjangnya masa penundaan yang mencegah diterimanya iman mereka, karena mereka diberi umur yang cukup untuk mengingat bagi yang mengingat.
Maka siapakah yang mampu berlari dalam arena ini satu atau dua langkah kemudian napasnya tidak tersengal-sengal, dan tidak tersandung kendaraan bayan dan kuda-kudanya?
Ya Allah, sesungguhnya di bawah itu adalah perjalanan yang jauh dan safar yang tidak terarah. Sesungguhnya di bawah itu adalah batas i’jaz.
Al-Quran dalam Setiap Suratnya
Katsrah (Keberagaman) dan Wahdah (Kesatuan):
Pengasasan Ilmu Kesatuan Tematik pada Pengarang
Apa yang telah kami ceritakan kepadamu tentang keagungan kekayaan makna dalam uslub Al-Quran dengan ringkasnya lafaznya, ditambahkan kepadanya perkara lain, yaitu hiasan kekayaan itu dan keindahannya. Yaitu keteraturan kedudukannya, keserasian unsur-unsurnya, dan saling mengambil sebagian dengan sebagian yang lain, sampai ia menjadi kesatuan yang rapi yang tidak terpisahkan.
Engkau telah mengetahui bahwa ucapan dalam satu urusan jika buruk susunannya maka akan terurai kesatuan maknanya, sehingga bercerai-berai dari bagian-bagiannya apa yang tadinya berkumpul, dan terpisah apa yang tadinya tersambung; sebagaimana berhamburan satu gambar pada cermin jika permukaannya tidak rata. Bukankah ucapan adalah cermin makna? Maka tidak mungkin untuk menampakkan kesatuan alami (makna) itu kecuali dengan memantapkan kesatuan seni (bayan) ini, yaitu dengan penyempurnaan pendekataan antara bagian-bagian bayan dan penyusunan antara unsur-unsurnya, sampai ia saling berpegang teguh dan berpelukan dengan sangat kuat.
Itu bukanlah perkara mudah sebagaimana mungkin disangka orang yang jahil tentang keahlian ini; melainkan tuntutan besar (yang membutuhkan) keahlian dan kepandaian serta kehalusan rasa dalam memilih tempat terbaik untuk bagian-bagian itu: mana yang lebih berhak dijadikan asal atau penyempurna, mana yang lebih berhak dimulai dengannya atau diakhiri atau menempati tempat tengah? (Kemudian membutuhkan) hal serupa dalam memilih cara terbaik untuk mencampurnya dengan isnad, atau ta’liiq, atau ‘athf, atau lainnya. Semua ini setelah kehalusan dalam memilih bagian-bagian itu sendiri, dan ketenteraman pada hubungan setiap bagian dengan ruh makna, dan bahwa ia bersih dari hasyuu (tambahan tidak berguna), sedikit isthithraad (menyimpang), dan bahwa ujung-ujung dan tengah-tengahnya sama dalam menuju tujuan, dan tujuan sama dalam mengarah kepadanya, sebagaimana sama jarak titik-titik lingkaran terhadap pusat, dan pusat sama terhadap setiap titik.
Itulah keadaan makna satu yang bagian-bagiannya berhubungan antara satu dengan lainnya secara alami.
Bagaimana sangkaanmu tentang makna-makna yang berbeda dalam substansinya, terpisah secara alami? Berapa banyak keahlian dan kepandaian, bahkan berapa banyak kemampuan ajaib yang dituntut oleh penyusunan antara sifat-sifat anehnya dan arah-arahnya yang bercabang? Sampai pengumpulan antara mereka dalam pembicaraan tidak seperti mengumpulkan antara pena dan sepatu dan gergaji dan air; melainkan sampai mereka memiliki sifat satu dan arah satu, dan sampai dari kesatuan-kesatuan kecilnya terbentuk kesatuan lain yang menghimpun.
Sesungguhnya karena langkanya tuntutan ini kita lihat para ahli balaghah meskipun mereka berbuat baik dan bagus sampai batas tertentu dalam satu tujuan, mereka melakukan kesalahan dan keburukan dalam menyusun tujuan-tujuan itu secara keseluruhan atau sebagian besar.
(Para penyair) ketika mereka datang dalam satu qashidah dengan beberapa makna, kebanyakan mereka datang dengan makna-makna yang tercerai-berai yang tidak saling mengikat satu dengan lainnya. Jarang mereka menemukan cara baik berpindah dari satu tujuan ke tujuan lain, seperti dalam perpindahan dari nasiib ke madah.
(Para penulis) mungkin mereka meminta bantuan untuk menutup celah-celah itu dengan menggunakan alat-alat tanbih atau berbicara tentang diri; seperti ucapan mereka: (alaa wa inna – haadza walaakin – baqiya ‘alainaa – walantaqil – na’uud – qulnaa – wasanaquul).
Inilah urusan tujuan-tujuan yang berbeda ketika ditangani oleh satu ucapan dalam satu majlis. Bagaimana jika ia datang dalam keadaan yang berbeda dan masa yang panjang? Bukankah hubungan di dalamnya akan lebih terputus, dan jurang di antara mereka lebih luas?
Jika engkau telah kagum dari Al-Quran sistem penyusunan bayannya dalam satu potongan darinya, di mana topiknya satu secara alami, maka marilah melihat pada satu surat darinya di mana topik-topiknya beragam dan keadaannya berbeda-beda, untuk melihat dari sistem ini yang lebih menakjubkan dan lebih menunjukkan i’jaz. Bukankah engkau mengetahui bahwa apa yang menjadi keistimewaan uslub Al-Quran berupa menghindari jalan panjang lebar dan berpegang pada sisi ringkas – sesuai dengan yang dapat ditampung oleh keindahan bahasa – telah menjadikannya ucapan yang paling beragam bentuknya, maksudnya paling banyak menangani urusan-urusan perkataan dan paling cepat berpindah di antaranya, dari wasf, ke qashash, ke tasyri’, ke jadal, ke berbagai macam, bahkan menjadikan satu bentuk darinya bercabang menjadi bentuk-bentuk, dan satu urusan di dalamnya meliputi urusan-urusan dan urusan-urusan.
Turunnya Al-Quran Secara Berangsur dan Dalilnya pada I’jaz
Ataukah engkau tidak mengetahui bahwa Al-Quran – dalam sebagian besar perkaranya – tidak turun dengan makna-makna yang berbeda ini sekaligus, melainkan turun secara berangsur satu persatu sesuai dengan peristiwa dan motif yang terjadi, dan bahwa keterpisahan waktu di antara mereka serta perbedaan hakikat antara motif-motifnya, secara alami mengakibatkan terpisahnya pembicaraan tentangnya dengan cara kemandirian dan pembaruan yang tidak meninggalkan di antara mereka jalan untuk berhubungan dan berkaitan?
Bukankah kedua sebab ini adalah dua kekuatan yang saling membantu dalam mengurai kesatuan ucapan dan memotong-motong anggotanya jika diinginkan menyusun sekelompok dari pembicaraan-pembicaraan itu dalam satu rangkaian di bawah nama satu surat?
Ambillah dengan tanganmu beberapa matan lengkap dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang pembicaraannya dalam waktu yang berbeda-beda, dan menangani tujuan-tujuan yang berlainan; atau ambillah dari ucapan siapa pun dari para ahli balaghah yang engkau kehendaki beberapa pembicaraan seperti itu. Dan cobalah datang dengan itu secara berurutan untuk menjadikannya satu pembicaraan, tanpa menambahkan sesuatu di antaranya atau mengurangi sesuatu. Kemudian lihatlah: bagaimana makna-maknanya saling mengingkari dan bangunan-bangunannya saling menolak di telinga dan pemahaman! Bagaimana tampak padanya dari tambal sulam dan ketidakserasian dan perpisahan yang tidak tampak pada ucapan satu yang mengalir!
Keajaiban Ketiga yang Besar yang Membuat Penyusunan Al-Quran Keluar dari Sifat Penyusunan Manusia:
Dan sebab ketiga yang lebih pantas menambah keteruraian susunan surat dan keteroyekan kesatuannya, yaitu cara yang diikuti dalam menggabungkan bintang-bintang Al-Quran sebagiannya dengan sebagian yang lain, dan dalam menyusun kesatuan-kesatuan surat dari bintang-bintang itu. Sesungguhnya itu adalah cara yang menarik, kami akan menunjukkan kepadamu di dalamnya keajaiban ketiga yang besar yang mengeluarkan penyusunan Al-Quran ini dari sifat penyusunan manusia, maka marilah dan lihatlah!
Lihatlah manusia ketika melakukan suatu keahlian dari keahlian-keahlian susunannya, tidakkah engkau melihatnya selalu memulai pekerjaannya dengan mengenal bagian-bagian susunan dan unsur-unsurnya, dan mengetahui elemen-elemen dan penyempurnanya, sebelum memutuskan dalam menentukan kedudukan setiap bagian darinya? Ini adalah dua tahap, yang kedua menempati kedudukan bentuk dari materinya, maka tak ayal membalik masalah di dalamnya hanya akan menjadi berjalan dengan akal manusia bukan pada jalannya, dan bepergian dengannya di tempat tergelincir yang tidak ada tempat berpijak di atasnya, dan tidak ada petunjuk bagi yang menempuhnya. Pernahkah engkau melihat seseorang menempuh jalan terbalik ini, kemudian urusannya lurus bersamanya sampai akhirnya?
Bahkan lihatlah manusia ketika mulai menyusun bagian-bagian susunan setelah mengumpulkannya, tidakkah engkau melihatnya tunduk pada sunnah jalan alami yang tunduk kepadanya setiap yang berjalan menuju tujuan; indrawi atau akal? Maka jika ia memotong jalannya dengan langkah-langkah, ia tidak dapat melewati yang terakhir sebelum yang pertama. Jika ia naik di dalamnya dengan tingkatan-tingkatan, ia tidak dapat mengakhirkan yang di bawah dari yang di atas.
Itulah batasan-batasan yang digambar oleh hukum-hukum fitrah umum, maka tak seorang pun dapat melampauinya, baik dalam keahlian-keahlian materinya atau maknanya. Tukang bangunan dan tukang tenun dan penulis dan penyair dalam batasan-batasan ini sama.
Kami berikan contoh untukmu:
[Perumpamaan dalam Ayat tentang Penghimpunan Al-Quran secara Bertahap, dan Petunjuknya pada Sumber Asalnya]
Bayangkanlah dalam dirimu bahwa seorang laki-laki turun ke sebuah lembah yang luas, tidak ada bangunan yang berdiri di atasnya, dan tidak ada padanya sesuatu pun dari bahan-bahan bangunan dan puing-puingnya. Tidak lama kemudian dia merasakan guncangan tanah atau badai dari langit, dan tiba-tiba puncak gunung retak sedikit sehingga melemparkan ke sampingnya sebuah batu atau beberapa batu… Kemudian berlalu waktu yang panjang atau pendek, dan tiba-tiba guncangan kedua atau ketiga melemparkan kepadanya serpihan besi dan lava, atau butiran perak dan emas… Apakah kamu melihat bahwa laki-laki ini atau seseorang dari orang-orang berakal mampu sejak saat-saat pertama untuk meletakkan rancangannya dalam membangun kota yang lengkap dari bahan-bahan yang berserakan itu dan dari apa yang mungkin datang serupa dengannya? Dan bahwa dia memulai dengan bekerja dalam tugas perencanaan dan pembangunan? Apa yang membuatnya tahu bahwa fenomena ini tidak akan berulang lagi di hadapannya sekali lagi, kemudian apa yang membuatnya tahu bahwa jika itu kembali berapa kali akan kembali, dan apa jenis bahan yang akan jatuh bersamanya setiap kali, dan berapa jumlah potongan dalam setiap bahan dari bahan-bahan ini, dan berapa jumlah bangunan yang dapat didirikan darinya, dan apa sistem arsitektur khusus untuk setiap bangunan: luas dan tinggi serta ukiran dan hiasan, dan berapa ukuran ruang yang akan ditempati oleh bangunan-bangunan ini secara keseluruhan?…
Dalam suasana yang penuh dengan kegelapan dan ketidakjelasan ini, tidak ada orang berakal yang berani mengambil risiko dengan rancangannya dalam membangun gubuk yang hina, apalagi negeri yang besar, apalagi dia segera bangkit untuk melaksanakan tekadnya sehingga melanjutkan tugas pembangunan sejak sampai kepadanya batu bata pertama itu.
Dan jika kamu mengandaikan seseorang mengambil risiko ini, dan takdir mempercepat keinginannya, dan membantunya dengan apa yang dia inginkan dari bahan-bahan bangunan yang dia bayangkan dan impikan, apakah kamu melihat bahwa dia akan mengambil risiko lain; sehingga dia mengambil dalam pembangunan itu gaya yang melawan hukum alam, dengan cara dia bersumpah pada dirinya sendiri untuk tidak membiarkan batu bata yang sampai ke tangannya kecuali dia menempatkannya – pada saat kedatangannya – pada tempatnya yang layak di mana pun itu berada? Itu sementara batu bata tersebut tidak jatuh kepadanya secara seragam dan tersusun sesuai urutannya dalam posisi yang diharapkan, tetapi mulai berserakan ringan dan berat, berbeda warna dan ukuran serta unsur dan kemampuannya. Mungkin jatuh kepadanya hiasan dan menara sebelum jatuh kepadanya sebagian pondasi dan lantai, dan mungkin jatuh kepadanya secara berturut-turut bagian-bagian yang tidak lengkap untuk ditempatkan di tempat-tempat yang terpisah dari bangunan-bangunan yang berjauhan. Tidakkah kamu melihat bahwa jika dia pergi meletakkan setiap bagian pada saat turunnya di tempatnya yang ditentukan, dia tidak menemukan jalan keluar selain menyebarkan bagian-bagian bangunan di sana-sini dengan jarak yang tidak sama dan tidak seimbang, sehingga dia mendekatkan antara keduanya kadang dan menjauhkan kadang, dan meninggikan kadang serta menurunkan kadang lain, hingga dia mungkin membangun bagian atas rumah sebelum bagian bawahnya, dan memegang yang dipikul menggantung tanpa pikulannya.
Bagaimana manusia siapa pun mampu menangani tugas ini? Kemudian bagaimana dia melanjutkan maju dalam urusan ini sampai akhirnya, sehingga dia tidak kembali ke bagian tertentu untuk memindahkannya dari tempatnya yang dia tempatkan pertama kali, atau untuk berlindung padanya dengan memecah atau memahat atau mengisi atau penyangga? Kemudian bagaimana akhir urusannya adalah bahwa pada saat dia meletakkan batu bata terakhir dengan cara ini dia mengangkat tangannya dari kota yang tertata tidak ada di dalamnya istana atau kamar atau batu bata atau bagian kecil atau besar kecuali telah turun ke tempatnya yang kokoh yang disetujui selera seni, hingga seandainya salah satu darinya berganti tempat dengan yang lain maka akan rusak bangunan atau buruk sistemnya? Bukankah itu jika terjadi akan menjadi tantangan bagi kemampuan manusia seluruhnya?
[Menerapkan Perumpamaan pada Al-Quran]
Sungguh telah terjadi perwujudan perumpamaan ini dalam masalah kita, inilah penjelasannya:
Adapun laki-laki itu adalah Nabi yang ummi ini, semoga shalawat Allah atasnya.
Adapun kota lengkap yang dia mulai bangun sejak jatuh kepadanya batu bata pertamanya, yaitu Kitab yang mulia itu yang dia mulai sejak sampai kepadanya buah pertama risalahnya menyusun bagian-bagiannya dengan susunan orang yang yakin dan tenang bahwa dia akan memiliki dari padanya mushaf yang lengkap dan menyeluruh.
Adapts istana-istana, kamar-kamar, dan batu bata, yaitu bagian-bagian mushaf ini: dari surat-surat, bintang-bintang (ayat-ayat yang turun secara terpisah), dan ayat-ayat.
Adapun faktor-faktor mendadak yang mulai menurunkan dari berbagai tambang gunung apa yang tersusun darinya istana-istana yang dibangun ini, yaitu peristiwa-peristiwa alam dan sosial, dan masalah-masalah agama dan duniawi yang menghadang manusia dari waktu ke waktu dalam urusan umum dan khusus mereka. Maka orang beriman di antara mereka maju dengan itu meminta fatwa dan petunjuk, dan yang mendustakan mempersulit dan berdebat. Sesuai dengan itu turunlah firman bintang demi bintang, dengan makna-makna yang berbeda sesuai perbedaan sebab-sebab dan motif-motif itu, dengan ukuran-ukuran yang bervariasi sedikit dan banyak, dan dengan cara-cara yang beragam lembut dan keras… Dan dari bintang-bintang yang berbeda dan terpisah ini mulailah tersusun kumpulan-kumpulan yang disebut surat-surat, bukan atas dasar keseragaman antara bagian-bagian setiap kumpulan darinya, tetapi atas dasar menampung dalam satu kandang apa yang kamu kehendaki dari jenis-jenis satu genus dan genus-genus yang berbeda.
Adapun cara yang menakjubkan yang diikuti dalam menyusun bangunan-bangunan itu dari bagian-bagiannya – dan ini adalah sebab ketiga yang mengangkat masalah dari batas kesulitan ke batas kemustahilan – yaitu bahwa dia yang turun kepadanya Az-Zikr (Al-Quran) tidak menunggu untuk menyusun bintang-bintangnya hingga sempurna turun, bahkan tidak menunda menyusun satu surat pun darinya hingga selesai bab-babnya, tetapi setiap kali disampaikan kepadanya ayat atau beberapa ayat dia memerintahkan untuk meletakkannya segera di tempat yang tersusun dari surat tertentu. Sementara ayat-ayat dan surat-surat ini tidak mengambil dalam kedatangan turunnya jalan yang diikutinya dalam penempatan susunannya; betapa banyak surat yang turun seluruhnya atau terpisah-pisah dalam periode-periode antara bintang-bintang dari surat lain, dan betapa banyak ayat dalam satu surat yang mendahului di dalamnya dalam turun dan tertunda dalam susunan, dan betapa banyak ayat yang sebaliknya.
Ya, sesungguhnya bagi bintang-bintang Al-Quran dalam turun dan susunannya ada dua fenomena yang berbeda, dan dua jalan yang jarang bertemu. Sungguh telah jelas bagi kita dari antara perbedaan keduanya pelajaran terbesar dalam urusan nazam (susunan) Al-Quran ini.
Seandainya kamu melihat bintang-bintang ini ketika turun, dan melihat apa yang dipersiapkan baginya dari sebab-sebabnya, sehingga kamu melihat setiap bintang tergadai dengan turunnya kebutuhan yang mendesak, atau terjadinya sebab umum atau khusus, maka kamu akan melihat dalam setiap satu darinya zikir yang diciptakan untuk waktunya, dan perkataan yang spontan pada motifnya, tidak didahului perasaan jiwa tentangnya sebelum terjadinya sebabnya. Dan kamu akan melihat padanya juga keseluruhan yang berdiri sendiri tidak mengikuti sistem tertentu yang menghimpunnya dengan yang lain dalam satu untaian.
Dan seandainya kamu melihat padanya pada saat yang sama sehingga kamu melihatnya dan telah disiapkan bagi setiap bintang darinya ketika turun pagar khusus yang menampungnya lebih dahulu atau kemudian; dan ditentukan baginya tempat tertentu di dalam pagar itu terdahulu atau terkemudian, maka kamu akan melihat melalui pembagian langsung yang terbatas ini bahwa di sana ada rencana rinci yang menyeluruh telah digambar di dalamnya posisi-posisi semua bintang sebelum turunnya, bahkan sebelum diciptakan sebab-sebabnya, bahkan sebelum dimulai tahap-tahap yang mempersiapkan terjadinya sebab-sebabnya. Dan bahwa rencana ini yang digambar dengan batas dan rincian yang paling tepat telah diputuskan dengan tekad dan keputusan yang paling kuat: tidak ada bintang yang ditempatkan di suatu surat kemudian berpindah ke yang lain, dan tidak ada bintang yang dijadikan di suatu tempat dari surat akhir atau awal, kemudian ditemukan darinya sepanjang masa pergantian atau perpindahan.
Dan di sini kamu berdiri dalam posisi kebingungan dalam urusanmu, dan hampir mengingkari apa yang ada di bawah pendengaran dan penglihatanmu, kemudian kamu kembali kepada dirimu menanyainya tentang cara menggabungkan antara apa yang kamu lihat dan apa yang kamu lihat: Bukankah turunnya ini telah kamu dengar sekarang baru anak hari itu, dan tunggal tergadai sebabnya; mengapa aku melihatnya bukan baru dan bukan tunggal? Seolah-olah aku melihatnya dan Al-Quran seluruhnya telah tampak di hati laki-laki ini sebelum tampak di lisannya, dan telah tersusun dalam dadanya dengan bentuk ini sebelum dia menyusunnya dengan keterangannya. Jika tidak mengapa dia menyusun susunan ini antara individu-individu yang tidak saling mengajak untuk berkumpul dengan tabiatnya? Mengapa dia tidak membiarkannya sebagaimana datang satu-satu berserakan? Dan mengapa ketika dia hendak mengumpulkannya tidak memasukkannya semuanya dalam satu kumpulan? Atau mengapa tidak membaginya menjadi kumpulan-kumpulan yang sama atau seragam? Kamu lihat atas dasar apa dibangun pembagiannya dan penentuan posisi-posisinya begini sebelum selesainya atau selesai sebagian darinya? Apakah mungkin posisi-posisi ini semuanya berjalan atas kebetulan dan kecocokan belaka? Tidak, sungguh telah tampak dalam setiap posisi darinya bahwa itu dimaksudkan kepadanya secara khusus, sebagaimana tampak maksud dalam setiap kelompok bahwa tersusun darinya kesatuan yang terbatas dengan susunan dan ukuran tertentu… Ataukah mungkin posisi-posisi ini – meskipun dimaksudkan – bukanlah hasil perhitungan sebelumnya, dan hanyalah percobaan uji coba yang dihasilkan ide sesaat? Tidak, karena yang meletakkannya ketika meletakkannya telah memukulnya pukulan yang tidak berubah, kemudian tidak kembali padanya dengan penggantian atau perubahan. Maka atas dasar apa maksud itu dan keputusan ini?
Dan tidak akan ada jawaban yang kamu dengar dari dirimu jika dia mendengarkan intuisi akal kecuali mengatakan:
Sesungguhnya tidak berani dalam kedalaman gaib meletakkan rencana rinci dan terputus ini kecuali salah satu dari dua:
Orang bodoh yang bodoh di dasar kebodohan.
Atau orang yang tahu yang tahu di atas tahap-tahap akal.
Tidak ada yang ketiga. Adapun jika dia telah selesai dari sistem penyusunannya dan bentuk perkiraannya sebelum kokoh baginya ilmu tentang sebab-sebab itu dan maksud-maksudnya serta urusan-urusan dan akibat-akibatnya, dan hanya membangun urusannya atas prasangka dan perasaan serta atas khayalan dan angan-angan, maka itu adalah seseorang yang mencapai keberaniannya pada dirinya sehingga mengumumkan kepemilikan apa yang tidak dimilikinya dan mengaku tahu apa yang akan dibuka hari-hari tentang kebodohannya. Tidak ada atasmu kecuali menunggunya sebentar untuk melihat batalnya urusannya dan rusaknya pekerjaannya, maka jauh kebodohan melahirkan sistem yang berjalan, dan pengaturan yang tetap.
Adapun jika dia telah merinci atas ilmu dan penglihatan, dan memberikan setiap bagian darinya tempatnya dengan timbangan dan ukuran, maka tidak ragu bahwa sistemnya akan menjadi contoh kesempurnaan dan tanda keindahan. Tetapi yang meletakkannya kemudian tidak mungkin adalah manusia ini; kecuali dia telah mengambilnya dari cakrawala yang lebih tinggi dari cakrawala dirinya dan lingkungan yang lebih luas dari lingkungan ilmunya; karena bagaimana bagi manusia dan dia ini yang dikuasai tabiat masa untuk menguasainya? Atau bagaimana tersedia baginya dan dia dalam kebodohan yang sudah siap dengan mukadimah-mukadimah kerjanya untuk mengetahui hasil-hasilnya yang rinci? Apakah dia dengan satu hal menjadi bodoh dan tahu sekaligus? Atau apakah dia dari satu segi menjadi penguasa dan dikuasai sekaligus?
Dan apakah kamu pernah melihat atau mendengar bahwa seseorang dari penulis atau penyair mampu pada awal kehidupan sastranya menghitung semua yang akan datang di lisannya dari syair atau prosa yang baik dalam kesempatan-kesempatan yang beragam sampai akhir masanya dengan dunia, dan meletakkan sejak hari pertama manhaj untuk diwannya yang dinanti, merinci dengan perincian tidak puas di dalamnya dengan memperkirakan bab-bab dan fasal-fasalnya hingga memperkirakan bagi setiap bab jumlah apa yang dikandungnya dari pidato atau qasidah, dan menentukan bagi setiap satu dari keduanya tempat yang diketahui tidak maju darinya dan tidak mundur, hingga jika datang pada motifnya dia kembalikan ke tempatnya tanpa berlambat dan berhenti, kemudian berhasil dalam percobaan ini dengan keberhasilan yang terus menerus berlaku di dalamnya hukum-hukumnya dan terwujud dengannya mimpi-mimpinya, sehingga lurus baginya untaian antara potongan-potongan ini semuanya, tanpa dia mendahulukan sesuatu atau mengakhirkan sesuatu, dan tanpa dia menambah di antara keduanya atau mengurangi sesuatu.
Demi umurku jika benar anggapan ini pada seseorang dari manusia maka benar yang serupa dengannya pada nabi Al-Quran shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapi manusia adalah manusia. Dan barangsiapa tidak mengetahui dengan ilmu apa yang akan menghadangnya di masanya dari motif-motif perkataan dan jenis-jenisnya maka dia lebih jauh dari mengetahui nash-nash perkataan ini, dan dia lebih jauh lagi dari mengetahui tingkatan-tingkatan nash-nash ini. Bahkan manusia ketika memotivasinya motif perkataan dan datang kepadanya kesempatannya, dia tidak lebih dalam padanya dari salah satu dari dua rencana: dia baik membiarkannya sebagaimana adanya kesempatan yang terisolasi, dan begitulah dia lakukan dalam yang serupa dengannya, hingga jika mencapai tujuan dia kembali dengan jejaknya sehingga mengambil di dalamnya pengumpulan dan pemisahan, serta pembabakan dan penyusunan.
Atau dia mulai menggabungkan nash-nash ini secara beruntun sesuai kedatangannya yang pertama kemudian yang pertama.
Adapun yang ketiga yaitu dia menjadikannya begini (terpisah-pisah), dan tidak berhenti menempatkannya dari dekat dan jauh, dari kanan dan kiri serta di sela-selanya, dengan cara yang terbatas ini, dan dengan cara yang terburai dan rumit ini, dengan syarat menjadikan tempat yang dia tempatkan setiap kesempatan di dalamnya tempat yang tercatat tidak berubah darinya dan tidak hilang, kemudian mengharapkan keluar baginya dengan pekerjaan itu diwan yang lengkap pembagian dan pembabakan, baik pengaturan dan penyusunan, saling terkait dan kokoh dalam keseluruhan dan perinciannya, kata demi kata dan huruf demi huruf, maka itu angan-angan tidak mendapat seseorang darinya kecuali kebalikan apa yang diangan-angankan.
Inilah kamu telah mengetahui manhaj penyusunan manusiawi dalam pekerjaan keterangan dan selain keterangan, dan melihat jauhnya apa yang antara itu dengan manhaj penyusunan dalam bintang-bintang Al-Quran, dan mengetahui apa yang seharusnya terjadi dalam nazam Al-Quran dari akibat manhaj menakjubkan ini, dalam sebab-sebab tiga yang dari urusannya tidak lurus dengannya bagi perkataan tabiat, dan tidak menyatu baginya bersamanya perkumpulan.
Maka lihatlah sekarang apakah sebab-sebab ini dalam bersamanya mampu meraih sesuatu dari kelurusan nazam dalam surat-surat yang disusun atas metode ini?
Adapun orang-orang Arab yang ditantang Al-Quran dengan satu surat darinya, sungguh kamu telah tahu seandainya mereka menemukan dalam nazam satu surat darinya harapan bagi yang berharap, apalagi celah bagi yang mencela, pasti ada bagi mereka bersamanya urusan selain urusan mereka, dan mereka adalah mereka.
Dan adapun para ahli balaghah setelah mereka, kami tidak berhenti mendengar mereka membuat perumpamaan dalam baiknya penggabungan dan pengaturan cerita dengan Al-Quran ini ketika berpindah dari satu bagian ke bagian lain.
Sedangkan engkau, maka hadapkanlah dirimu untuk merenungkan susunan yang mulia ini agar kamu mengetahui dengan tangan siapakah bangunannya diletakkan? Dan dengan mata siapakah sistemnya dibuat? Sehingga menjadi sebagaimana Allah menggambarkannya “Al-Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan padanya” (Surat Az-Zumar: 28).
[Susunan Al-Quran dalam Surat-suratnya, dan Kumpulannya]
Beralihlah kepada salah satu surat dari surat-surat yang membahas lebih dari satu makna – dan betapa banyaknya dalam Al-Quran, karena itu adalah inti Al-Quran – dan beralihlah dengan pemikiranmu bersamanya tahap demi tahap, kemudian kembalikanlah pandangan berulang kali: bagaimana ia dimulai? Dan bagaimana ia diakhiri? Dan bagaimana keadaan-keadaannya saling berhadapan dan seimbang? Dan bagaimana rukun-rukunnya bertemu dan berpelukan? Dan bagaimana muqaddimah-muqaddimahnya berpasangan dengan kesimpulan-kesimpulannya dan bagian awalnya mengantarkan kepada bagian akhirnya?
Dan aku menjamin bagimu bahwa kamu sama sekali tidak akan menemukan dalam sistem makna-maknanya atau bangunan-bangunannya sesuatu yang dengannya kamu dapat mengetahui apakah surat ini telah turun dalam satu rombongan atau dalam beberapa rombongan yang berbeda.
Dan sungguh kamu akan mengira bahwa tujuh surat panjang dari surat-surat Al-Quran telah turun masing-masing sekaligus, hingga sejarah memberitahumu bahwa semuanya atau sebagian besarnya telah turun secara berangsur-angsur.
Atau kamu akan berkata: “Sesungguhnya jika surat-surat itu setelah diturunkan telah dikumpulkan dari keadaan terpisah, maka sungguh dalam penurunannya ia terpisah dari keadaan terkumpul; seperti bangunan yang berdiri di atas fondasi-fondasinya, ketika hendak dipindahkan dengan bentuknya ke tempat lain, ukuran-ukurannya diukur dan batu bata-batu batanya diberi nomor, kemudian dipisahkan menjadi puing-puing, maka tidak lama setiap batu bata mengetahui tempatnya yang bernomor, dan tiba-tiba bangunan itu kembali tersusun rapi saling menguatkan satu sama lain seperti keadaannya pertama kali.”
Ya, sungguh kamu membaca surat panjang yang turun secara berangsur-angsur yang dianggap orang jahil sebagai kumpulan makna yang diisi secara sembarangan, dan potongan-potongan bangunan yang dikumpulkan tanpa aturan; namun ternyata – jika kamu merenungkan – ia adalah bangunan yang kokoh yang telah dibangun dari tujuan-tujuan keseluruhan di atas fondasi dan dasar-dasar, dan didirikan di atas setiap dasar dari fondasi itu cabang-cabang dan bagian-bagian, dan memanjang dari setiap cabang daripadanya ranting-ranting yang pendek atau panjang; maka kamu tidak berhenti berpindah di antara bagian-bagiannya sebagaimana kamu berpindah di antara kamar-kamar dan halaman-halaman dalam satu bangunan yang rancangannya telah ditetapkan sekali saja, kamu tidak merasakan sesuatu dari ketidaksesuaian keadaan dalam pembagian dan pengaturan, dan tidak merasakan sesuatu dari terputusnya hubungan dalam perpindahan dari satu jalan ke jalan lain, bahkan kamu melihat di antara jenis-jenis yang berbeda kesempurnaan keakraban, sebagaimana kamu melihat di antara individu-individu dari jenis yang sama puncak kekompakan dan penyatuan. Semua itu tanpa kepura-puraan dan tanpa meminta bantuan dari hal di luar makna-makna itu sendiri, dan sesungguhnya itu adalah kebaikan rangkaian dan kehalusan pengantar dalam pembukaan setiap tujuan dan penutupnya dan bagian tengahnya, yang memperlihatkanmu yang terpisah sebagai tersambung, dan yang berbeda sebagai selaras.
Dan mengapa kami berkata: “Sesungguhnya makna-makna ini tersusun dalam surat sebagaimana kamar-kamar tersusun dalam bangunan?” Tidak, bahkan sesungguhnya makna-makna itu menyatu di dalamnya sebagaimana anggota-anggota tubuh menyatu dalam tubuh manusia, maka di antara setiap bagian dan tetangganya ada ikatan tempat dari diri mereka sendiri, sebagaimana dua tulang bertemu di persendian dan di atas keduanya terbentang jaringan pengikat yang mengelilingi keduanya dengan erat, sebagaimana dua anggota tubuh saling terkait dengan pembuluh darah dan urat dan syaraf; dan di balik semua itu mengalir dalam keseluruhan surat suatu arah tertentu, dan melaksanakan dengan keseluruhannya tujuan khusus, sebagaimana tubuh mengambil bentuk yang satu, dan bekerja sama dengan keseluruhannya untuk melaksanakan satu tujuan, meskipun berbeda fungsi organiknya.
Maka seandainya aku tahu: jika semua bagian dan unsur yang membentuk kesatuan surat-surat bergantung pada sebab-sebab yang tidak semuanya terjadi atau diharapkan, dan harus untuk kesempurnaan kesatuan ini terjadi semua sebab itu pada masa turunnya Al-Quran agar ia membahasnya dengan penjelasannya, maka apakah yang menundukkan putaran falak kepada sistem kesatuan-kesatuan ini dan menjadikan peristiwa-peristiwa ini berdatangan seluruhnya pada masa penurunan? Mengapa tidak terjadi dalam satu peristiwa pun dari peristiwa-peristiwa itu bahwa ia terlambat dari alam wujud pada saat itu sehingga sistem ini rusak, lalu datanglah salah satu surat dalam keadaan terpotong di awalnya atau di akhirnya atau di antara keduanya? Bukankah ketundukan peristiwa-peristiwa semesta itu dan bantuannya dengan tepat selalu terhadap sistem kesatuan-kesatuan penjelasan ini, menjadi saksi yang jelas bahwa perkataan ini dan perbuatan itu datang dari satu jalan, dan bahwa Dzat yang keluar kata-kata ini dari ilmu-Nya, adalah Dia juga yang keluar makhluk-makhluk itu dari kehendak-Nya?
Bahkan seandainya aku tahu seandainya manusia aneh ini yang Al-Quran datang melalui lisannya telah menghitung apa yang akan dilahirkan zaman dari kejutan peristiwa-peristiwa masa depan kecil dan besar dalam masa hidupnya, kemudian ia memperkirakan apa yang akan dituntut oleh peristiwa-peristiwa itu dari ajaran-ajaran Al-Furqan, maka apa pengetahuannya tentang sistem penjelasan yang akan diletakkan padanya rumusan ajaran-ajaran itu? Kemudian apa pengetahuannya ajaran mana dari ajaran-ajaran ini yang akan menjadi pasangan bagi bagian ini atau itu; sehingga ia bersiap untuk pasangan-pasangan itu sebelum datangnya maka ia menitipkan dalam setiap bagian pada saat turunnya tali pengikat yang sesuai dengan pasangannya yang telah ditentukan, hingga apabila ia datang ia berpegang teguh dengan tali pengikatnya lalu berpasangan dengan pasangannya dengan pasangan yang kokoh itu? Dan mengapa ketika setiap pasangan datang ia mendapati dari pasangannya tetangga yang tidak berbuat aniaya dan tidak dianiaya, dan mendapati di sampingnya tempat yang menunggunya, tidak sempit sehingga menyesakkannya dan merasa terbebani dengannya, dan tidak luas sehingga terputus hubungan antara keduanya, bahkan ia mendapatinya terukur sesuai ukurannya, hingga tidak ada kebutuhan untuk memperbaiki yang lalu dengan menghapus satu huruf, atau menambah satu huruf, atau mengubah posisi, dan hingga tidak ada tempat di sini untuk berkata: “Seandainya..” dan “Andai saja..”.
Bahkan bagaimana setiap bagian dari bagian-bagian ini mengetahui di mana kumpulannya, dan di mana tempatnya di antara mereka di kepala atau dada atau ujung: sebelum jelas bagian-bagian lain dan kelompok-kelompoknya.. hingga apabila telah selesai pembagian bagian-bagian yang terpisah itu, dan anggota-anggota yang tercabik-cabik, tiba-tiba tirai terangkat di setiap surat atas boneka cantik yang sempurna anggotanya selaras perhiasannya?
Pengaturan yang kokoh manakah, dan penetapan yang pasti manakah, dan ilmu yang meliputi manakah yang tidak sesat dan tidak lupa, dan tidak ragu-ragu dan tidak lambat; yang telah menyiapkan untuk bahan-bahan yang berserakan ini sistemnya, dan membimbingnya pada masa penyebarannya kepada apa yang telah ditetapkan baginya, hingga dibentuk darinya kalung yang tersusun itu, dan mengalir di antara mereka campuran yang menakjubkan ini? Maha Suci Allah! Apakah orang berakal meragukan bahwa ilmu manusia ini; dan bahwa akal yang sombong dan primitif ini yang berkata tentang sesuatu: “Seandainya aku menghadapi dari urusanku apa yang telah kulewati niscaya aku akan berkata atau berbuat, dan niscaya aku akan mendahulukan atau mengakhirkan” tidak pantas untuk mendahului zaman dan mendahului peristiwa-peristiwa dengan pengaturan yang menakjubkan ini? Bukankah itu saja menjadi tanda yang jelas bahwa susunan Al-Quran ini bukan dari buatan manusia, dan sesungguhnya ia adalah karya Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal? Ya; “Dan seandainya Al-Quran itu dari selain Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya” (Surat An-Nisa: 82).
[Contoh Kesatuan Tematik dalam Surat-surat Al-Quran = Surat Al-Baqarah]
Adapun jika kamu meminta saksi dari yang melihat langsung tentang kebenaran apa yang kami tetapkan dalam bab ini tentang sistem kesatuan-kesatuan dalam surat-surat meskipun banyak sebab-sebab perbedaannya, dan adapun jika kamu ingin kami memperlihatkanmu contoh dari surat-surat yang turun secara berangsur-angsur bagaimana tersusun darinya satu rantai pemikiran yang berurutan di dalamnya bagian-bagian dan mata rantai, dan satu susunan penjelasan yang saling berpelukan di dalamnya kalimat-kalimat dan kata-kata, maka hal apa yang lebih besar kesaksiannya dan lebih benar contohnya daripada surat yang kami tampilkan kepadamu yang merupakan surat terpanjang dari seluruh surat Al-Quran, dan yang paling banyak mengumpulkan makna-makna yang berbeda, dan yang paling banyak turun secara berangsur-angsur dalam penurunan, dan yang paling jauh dalam penurunan berangsur-angsur ini rentang waktunya.
Itulah Surat Al-Baqarah yang mengumpulkan sekitar dua ratus delapan puluh tiga ayat, dan memuat dalam apa yang sampai kepada kami dari sebab-sebab turunnya lebih dari delapan puluh rombongan, dan jarak waktu antara rombongan-rombongannya sembilan tahun.
Dan ketahuilah bahwa bukan urusan kami sekarang untuk mengungkapkan kepadamu seluruh ikatan lafal dan makna yang menghubungkan bagian-bagian surat yang mulia ini satu sama lain, karena itu adalah kajian terperinci yang tempatnya di kitab-kitab tafsir.
Demikian itu dan seandainya kami mau niscaya kami perlihatkan kepadamu dalam satu bagian darinya sebab-sebab yang terbentang dari kanan dan kirinya yang berhubungan dengannya kepada tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dalam jaringan hubungan yang membuat yang melihat bingung dengan benang-benangnya, ke mana ia harus menuju? Dan tidak tahu mana di antaranya yang dimaksud dengan maksud pertama.
Dan sesungguhnya kami ingin menampilkan surat kepadamu dengan satu tampilan yang kami gambarkan dengannya garis jalannya menuju tujuannya, dan kami tonjolkan dengannya kesatuan sistem maknanya secara keseluruhan, agar kamu melihat dalam cahaya penjelasan ini bagaimana setiap mata rantai jatuh pada tempatnya dari rantai besar itu.
[Kebijakan Bijaksana dalam Mempelajari Susunan Al-Quran]
Namun sebelum kami mengambil apa yang kami maksudkan, kami ingin mengatakan “kata” yang pembicaraan mengantarkan kepadanya: yaitu bahwa kebijakan bijaksana dalam mempelajari susunan Al-Quran menuntut bahwa cara kajian ini menjadi langkah pertama di dalamnya, maka jangan yang melihat mendahului penelitian hubungan tempat antara bagian demi bagian darinya – yaitu hubungan-hubungan yang tersebar di sela-sela ayat-ayat dan pembukaan-pembukaan dan penutupan-penutupannya – kecuali setelah ia menguasai pandangan terhadap surat secara keseluruhan dengan menghitung bagian-bagiannya dan menguasai tujuan-tujuannya dengan cara yang akan membantunya untuk berjalan dalam rincian-rincian itu dengan terang; dahulu para imam berkata: “Sesungguhnya surat bagaimanapun beragamnya masalah-masalahnya ia adalah satu pembicaraan yang akhirnya berhubungan dengan awalnya, dan awalnya dengan akhirnya, dan menuju dengan keseluruhan kepada satu tujuan, sebagaimana kalimat-kalimat saling berhubungan satu sama lain dalam satu masalah. Dan sesungguhnya tidak ada yang membuat yang memahami susunan surat tidak membutuhkan pemenuhan pandangan dalam keseluruhan, sebagaimana tidak ada yang membuatnya tidak membutuhkan itu dalam bagian-bagian masalah.”
[Dari Kesalahan-kesalahan yang Terjadi dalam Mempelajari Hubungan antara Ayat-ayat]
Dan dengan ini kamu mengetahui besarnya kesalahan yang terkena kepada yang melihat hubungan antara ayat-ayat ketika mereka tekun pada penelitian hubungan-hubungan parsial itu antara ayat-ayat dengan pandangan dekat kepada dua masalah atau masalah-masalah yang bertetangga, memalingkan mata mereka dari sistem keseluruhan ini yang diletakkan padanya surat secara keseluruhan, maka betapa banyak pandangan yang tidak mencukupi ini membawa pemiliknya dari penyimpangan dari maksud, dan betapa menjauhkannya dari sisi-sisi keindahan yang paling mengagumkan dalam susunan; dan apakah bandingannya dalam hal itu kecuali seperti seorang laki-laki yang ditampilkan kepadanya jubah bermotif yang halus motifnya untuk ia merenungkan ukiran-ukirannya maka ia melihatnya benang demi benang dan bagian demi bagian, tidak melampaui dengan pandangannya tempat telapak tangannya, ketika ia melihatnya berdampingan di dalamnya benang putih dan benang hitam dan benang-benang lain yang berbeda warnanya perbedaan dekat atau jauh ia tidak mendapati di dalamnya dari kebaikan bertetangga antara warna dengan warna apa yang menyenangkan dan memukau.
Tetapi seandainya ia memanjangkan pandangannya lebih jauh dari itu kepada keindahan dari ukiran-ukirannya niscaya ia melihat dari kebaikan kemiripan antara kalimat dengan kalimat, apa yang tidak dilihatnya antara yang satu dengan yang satu, dan niscaya jelas baginya dari tempat setiap warna dalam kumpulannya berhadapan dengan setiap warna dalam kumpulan yang lain apa yang tidak jelas baginya sebelumnya, hingga apabila ia melemparkan pada jubah seluruhnya pandangan yang menyeluruh yang mengatur ujung-ujung dan pertengahannya tampak baginya dari keselarasan bentuk-bentuknya dan kehalusan pembuatannya apa yang lebih indah dan lebih memukau, demikian pula seharusnya yang melihat berbuat dalam perenungannya terhadap susunan surat dari surat-surat Al-Quran.
[Hal-hal Penting tentang Penelitian Susunan Al-Quran]
(Dan kata lain) yang menyentuh kebutuhan peneliti dalam susunan jika ia menghadapi hubungan-hubungan tempat itu antara bagian-bagian surat: yaitu hendaknya ia mengetahui bahwa hubungan antara bagian dengan bagian tidak berarti persatuan keduanya atau kemiripan keduanya atau saling masuk keduanya atau semacam itu dari hubungan-hubungan jenis saja, sebagaimana disangka sebagian peneliti dalam hubungan, maka kelompok dari mereka pergi dalam percobaan jenis hubungan ini ke jalan-jalan kepura-puraan dan pemaksaan, dan kelompok lain ketika tidak mendapati hubungan ini dari sisi dekat bergegas kepada perkataan bahwa di tempat itu ada pemotongan semata; berjalan menurut kebiasaan orang Arab dalam pemotongan. Ketahuilah bahwa pendapat ini dengan dua cabangnya lebih dalam dalam kesalahan dari sebelumnya, dan sesungguhnya mengambilnya begitu saja dalam Al-Quran adalah kelengahan yang sangat terhadap tingkat kefasihan yang membedakan Al-Quran dari seluruh perkataan.
Seandainya yang pergi pergi menghapus perbedaan-perbedaan alami itu antara makna-makna berbeda yang diatur Al-Quran dalam salah satu suratnya maka sungguh ia akan mengosongkannya dari karakteristik utamanya, yaitu bahwa ia tidak larut dalam pembicaraan tentang jenis yang satu dengan kelarutan yang mengembalikannya kepada kepanjangan yang membosankan, bagaimana mungkin sedang ia adalah pembicaraan yang tidak membosankan?
Dan seandainya ia – demi mempertahankan kemerdekaan makna-makna ini – pergi memisahkannya, dan memutuskan hubungan kekeluargaannya, dan menghilangkan panggilan makna dan susunan dari antara mereka, maka sungguh ia akan mengosongkannya dari karakteristik lainnya, yaitu bahwa ia tidak berpindah dalam pembicaraannya perpindahan melompat yang mengeluarkannya kepada batas perbedaan kekanak-kanakan yang mengumpulkan berbagai pembicaraan tanpa sistem, dan yang tidak membiarkan jiwa pendengar menantikan penyelesaian pembicaraan dan pembukaan pembicaraan, bagaimana mungkin sedang ia adalah perkataan yang kokoh lagi kokoh?
Sekali-kali tidak, bahkan pembicaraan di dalamnya sebagaimana kamu ketahui mempunyai cabang-cabang, tetapi ketika ia mengumpulkan jenis-jenis yang berbeda ia tidak membiarkannya hingga ia menampilkannya dalam bentuk yang selaras, dan hingga ia menjadikan dari perbedaan itu sendiri dasar untuk keselarasannya, dan penyesuaian antara yang berbeda-beda ini senantiasa menjadi “simpul” yang dicari pemecahannya dalam setiap seni dan kerajinan yang indah, dan ia adalah ukuran tepat yang dengannya diukur tingkat-tingkat kecerdasan dan kehalusan selera dalam seni dan kerajinan itu, maka sesungguhnya penilaian susunan dan penyeimbangan campuran antara warna-warna dan unsur-unsur yang banyak lebih sulit ditangani dan lebih keras penderitaannya daripada dalam bagian-bagian warna yang satu dan unsur yang satu.
Dan atas dasar ini kamu melihat Al-Quran kadang sengaja kepada hal-hal yang berlawanan ia bertetangga di antara mereka, maka ia keluarkan dengan itu kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukannya dalam penampakan yang paling jelas, dan kadang lain ia sengaja kepada perkara-perkara yang berbeda pada dirinya tanpa pertentangan maka ia jadikan mereka bekerja sama dalam hukum-hukumnya dengan menggiring sebagian kepada sebagian lainnya cara menggiring perumpamaan atau cabang, atau kesaksian atau istinbat, atau penyempurnaan atau kehati-hatian, kepada selain itu.
Dan terkadang ia jadikan berpasangannya dua makna dalam kejadian sejarah, atau bertetangganya dua hal dalam posisi tempat, sandaran untuk berpasangannya dalam susunan, maka yang jahil dengan sebab-sebab turun dan sifat tempat menganggapnya keluar padahal ia bukan keluar, dan sesungguhnya ia adalah jawaban untuk kebutuhan-kebutuhan jiwa yang saling memanggil di dalamnya makna-makna itu.
Jika tidak ada di antara dua makna nasab dan hubungan perkawinan dengan salah satu dari sisi-sisi ini dan sejenisnya, kamu melihatnya berlaku lembut dalam perpindahan dari salah satunya kepada yang lain baik dengan kebaikan peralihan dan pengantar, dan baik dengan memiringkan rumusan-rumusan susunan pada posisi yang bertemu di dalamnya yang berjauhan, dan berjabat tangan dengannya yang saling mengingkari.
Dan semua ini adalah wajah-wajah yang bagus jika dipandang dari segi makna-makna secara individu, maka sebagian akan mencukupi sebagian yang lain dalam menegakkan susunan yang rapi.
Terlebih lagi, kemegahan susunan Al-Qur’an sebagaimana telah kamu ketahui tidak selalu berdiri pada keindahan kedekatan antara bagian-bagian individual, tetapi terkadang kamu melihatnya telah menyelesaikan sekelompok makna kemudian kembali kepada kelompok lain yang berhadapan dengannya, maka keindahan posisi dalam kedekatan antara kedua kelompok akan menjadi penyebab keindahan perlawanan antara bagian-bagian awal dari masing-masing kelompok, atau antara bagian-bagian akhir demikian pula, bukan antara bagian awal dari kelompok ini dengan bagian akhir dari kelompok itu.
Inti permasalahan dalam hal itu adalah bahwa kamu memandang kepada sistem menyeluruh yang telah ditetapkan untuk seluruh surat sebagaimana telah kami wasiatkan kepadamu sebelumnya. Dan kami sekarang menyebutkan contoh darinya untukmu, jika kamu menjadikannya sebagai pedoman di hadapan matamu dan mengikutinya dalam surat-surat yang lain, maka itu akan menjadi sebaik-baik petunjuk dalam studimu.
Dan dengan pertolongan Allah lah kesuksesan.
Sistem Rangkaian Makna dalam Surat Al-Baqarah
Ketahuilah bahwa surat ini dengan panjangnya tersusun kesatuannya dari: mukadimah, empat tujuan pokok, dan penutup, dengan urutan seperti ini:
(Mukadimah) dalam memperkenalkan kedudukan Al-Qur’an ini, dan menjelaskan bahwa petunjuk yang ada di dalamnya telah mencapai tingkat kejelasan yang tidak membuat ragu orang yang memiliki hati yang sehat, dan hanya akan berpaling darinya orang yang tidak memiliki hati, atau orang yang di dalam hatinya ada penyakit.
(Tujuan Pokok Pertama) dalam menyeru seluruh manusia untuk memeluk Islam.
(Tujuan Pokok Kedua) dalam menyeru Ahli Kitab dengan seruan khusus untuk meninggalkan kebatilan mereka dan masuk ke dalam agama yang benar ini.
(Tujuan Pokok Ketiga) dalam menyajikan syariat-syariat agama ini secara terperinci.
(Tujuan Pokok Keempat) menyebutkan pendorong dan pencegah agama yang mendorong untuk berpegang teguh pada syariat-syariat tersebut dan melindungi dari penyimpangannya.
(Penutup) dalam memperkenalkan orang-orang yang memenuhi seruan yang menyeluruh terhadap tujuan-tujuan pokok tersebut dan menjelaskan apa yang diharapkan bagi mereka di masa depan dan masa sekarang mereka.
Harapan kami kepadamu wahai pembaca yang mulia ketika kamu mempelajari bersama kami rincian susunan ini adalah agar kamu menghafalkan dengan mushaf di hadapanmu supaya kamu termasuk orang-orang yang yakin terhadap kebenaran apa yang kami tunjukkan dalam setiap langkah.
Mukadimah dalam Dua Puluh Ayat (1-20)
Huruf-Huruf Terpisah
- Surat yang mulia ini dimulai dengan tiga huruf terpisah yang tidak biasa bagi orang Arab untuk memulai karya tulis dan syair seperti itu; mereka hanya mengenalnya dari para pembaca yang menulis dalam memulai pengajaran mengeja untuk anak-anak (A. L. M).
Apa pun makna yang dimaksudkan dengan huruf-huruf ini, dan rahasia yang ditempatkan di sini karena hal tersebut, maka mendahulukannya di hadapan pembicaraan dengan susunannya yang aneh dan posisinya akan membangunkan pendengaran dan mengarahkan hati untuk apa yang mengikuti gaya yang aneh ini.
Pembicaraan tentang Al-Qur’an
- Dan dihubungkan dengan ketiga huruf ini tiga kalimat:
Adapun yang pertama adalah pengumuman kepada pendengar bahwa apa yang akan dibacakan kepadanya sekarang adalah sebaik-baik kitab yang dikeluarkan untuk manusia, dan bahwa tidak ada di alam semesta yang layak disebut kitab jika dibandingkan dengannya: “Kitab (Al-Qur’an) itu” (Al-Baqarah: 2).
Adapun dua yang lainnya mendukung penilaian ini dengan dalil dan bukti, bukankah keutamaan kitab-kitab itu hanya dengan ukuran apa yang dikandungnya dari kebenaran yang tidak dicampur kebatilan, bukankah kesempurnaan kebenaran ini adalah bahwa ia terang tidak menimbulkan keraguan, bukankah kesempurnaan yang paling sempurna setelah ini dan itu adalah bahwa kebenaran tersebut merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan manusia dalam menerangi jalan dan menegakkan dalil ketika jalan-jalan menjadi samar bagi mereka dan jalur-jalur bercerai-berai, maka Al-Qur’an itulah yang merupakan kumpulan ketiga keutamaan ini: ia adalah kebenaran murni yang tidak ada kebatilan di dalamnya, bahkan ia adalah kebenaran yang jelas yang tidak ada keraguan kebatilan di dalamnya, kemudian ia setelah itu adalah petunjuk yang jelas yang mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya: “tidak ada keraguan padanya, petunjuk” (Al-Baqarah: 2).
Demikianlah posisi ketiga kalimat ini setelah ketiga huruf tersebut sebagai posisi penghormatan terhadap yang dimaksudkan setelah peringatan kepadanya.
Demikian pula pendidik yang baik (memulai) pembicaraannya yang agung dengan meminta perhatian manusia dan menarik pendengaran mereka (dan mengulangi) dengan mengambil cara-cara yang menarik yang membangkitkan dalam diri mereka dorongan untuk menghadap mencari manfaat.
Pengaruh Al-Qur’an
- Pertama kali yang ditunggu-tunggu jiwa setelah mendengar gambaran yang fasih tentang Al-Qur’an dan petunjuknya ini adalah mengetahui pengaruh yang akan ditimbulkannya pada manusia dan kadar respons mereka terhadap seruannya, maka dirasakan perlunya agar pembicaraan mengalir untuk menjelaskan kenyataan yang menakjubkan ini, yaitu terbaginya manusia dalam persoalan Al-Qur’an kepada tiga golongan: golongan yang beriman kepadanya, golongan lain yang kafir, dan golongan ketiga yang ragu-ragu bingung, tidak kepada golongan ini dan tidak kepada golongan itu.
Bagaimana menurutmu perpindahan dari pembicaraan tentang kitab kepada pembicaraan tentang manusia? Apakah pembicaraan tentang mereka dijadikan pembicaraan yang baru sama sekali? Ataukah disampaikan dengan cara pengecualian terhadap yang sebelumnya?
Tidak ada yang demikian, tetapi lihatlah ia telah mencampurkan kedua pembicaraan dengan pencampuran yang menakjubkan yang membuat orang yang paling tajam kecerdasannya dalam mengatur bentuk-bentuk perkataan tidak menyadari perpindahan yang terjadi di antara keduanya, hal itu karena pada awalnya ia tidak menyebut dua golongan yang lainnya, bahkan berpaling dari keduanya, seolah-olah Al-Qur’an tidak diturunkan untuk mereka, kemudian ia menuju kepada golongan pertama dan menjadikan pembicaraan tentang mereka sebagai pelengkap pembicaraan tentang petunjuk Al-Qur’an itu sendiri dengan mengatakan: sesungguhnya ia “petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman” (Al-Baqarah: 2-3) maka lam jer inilah yang menjadi jembatan rahasia yang dengannya perkataan mengalir dan mengalir dalam satu aliran sampai akhir pembicaraan tentang orang-orang beriman.
Golongan-Golongan Manusia
- Sungguh pembatasan pengambilan manfaat dari petunjuk Al-Qur’an hanya pada golongan ini saja setelah penggambaran Al-Qur’an sebagai kebenaran yang jelas yang tidak ada keraguan di dalamnya – pada pandangan pertama layak dianggap sebagai paradoks yang menimbulkan keheranan paling hebat dalam jiwa pendengar, karena bagaimana kebenaran-kebenaran Al-Qur’an berada pada tingkat kejelasan ini kemudian tidak menembus ke hati setiap orang yang mendengarnya?!
Di sisi lain, sikap Nabi yang pengasih shallallahu alaihi wasallam ini dalam kesungguhannya yang besar dalam menyeru umatnya, dan keinginannya yang kuat untuk memberi petunjuk kepada mereka, digambarkan dalam pandangan orang yang melihatnya sebagai gambaran orang yang mengharapkan iman seluruh manusia, yang menyangka bahwa cita-cita ini akan menjadi dalam jangkauan tangannya ketika ia mengambil sebab-sebab biasanya, seolah-olah ia melihat bahwa tidak ada antara mereka dengan petunjuk ini kecuali sampainya suara Al-Qur’an ke telinga mereka maka tiba-tiba mereka menjadi muslim, itu dengan Al-Qur’an hampir menentukan tugasnya sekarang dan mengatakan: Sesungguhnya yang akan mengambil manfaat dari petunjuknya hanyalah orang-orang yang bertakwa, maka penentuan ini menjadi dugaan bahwa Rasul shallallahu alaihi wasallam akan bermohon kepada Tuhannya dengan mengatakan: Mahasuci Engkau ya Allah, dan mengapa tidak mendapat petunjuk dengannya seluruh manusia?!
Wajib maka ditetapkan kenyataan dengan cara yang tegas untuk setiap ketamakan dan keragu-raguan, yang menenangkan jiwa dari mencari apa yang tidak ada jalan kepadanya, dan bahwa dijelaskan bersama itu penghalang-penghalang alami dari umumnya petunjuk Al-Qur’an dengan cara yang mensucikan Al-Qur’an itu sendiri dari noda kekurangan, dan mengembalikan kekurangan kepada kemampuan penerima bukan kepada kemampuan pemberi, dan apakah mengurangi keahlian dokter bahwa pasien menolak mengambil obat darinya lalu mati karena kebodohannya? Dan apakah merugikan matahari tidak mendapat manfaat dari cahayanya orang-orang buta atau yang membutakan diri? “Sesungguhnya orang-orang yang kafir, sama saja bagi mereka apakah kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman” (Al-Baqarah: 6).
Demikianlah perpindahan pembicaraan dari orang-orang beriman yang telah ada kebaikan bagi mereka, kepada orang-orang kafir yang telah pasti bagi mereka kalimat azab, bukan atas dasar penggabungan kedua pembicaraan dalam maksud dari awal, kalau begitu tentu salah satunya diatafkan kepada yang lainnya, tetapi atas dasar dibangunnya sebagian perkataan atas sebagian, sebagai jawaban pertanyaan yang diucapkan oleh keadaan, dan penghilangan keheranan yang ditimbulkan oleh perkataan sebelumnya, dan inilah yang dinamakan oleh ahli balaghah dengan istinaf bayani (kalimat penjelas).
- Dan berjalannya pembicaraan tentang mereka sampai akhirnya, maka bentuk bergabung dengan bentuknya, dan golongan ketiga diatafkan kepada saudarinya; karena mereka dalam menjauh dari petunjuk berserikat, hati mereka serupa meskipun lidah mereka berbeda: “Dan di antara manusia ada yang mengatakan: ‘Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian’, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman” (Al-Baqarah: 8).
Kelengkapan Pembicaraan tentang Golongan-Golongan Manusia
- Dan kembalilah sekarang sebentar kepada sistem pembicaraan tentang tiga golongan, untuk melihat bagaimana keadaan mereka saling berhadapan dengan sempurna, pembicaraan dalam setiap golongan mencakup tiga unsur yang disusun menurut pola ini: penggambaran kenyataan yang terjadi, kemudian penjelasan sebabnya, kemudian pemberitaan tentang akibatnya yang dinanti-nantikan.
(Kenyataan) golongan pertama adalah bahwa mereka kaum yang memperoleh keutamaan takwa dengan dua rukunnya yang ilmiah dan amaliah, (sebab hal itu) berpegang teguhnya mereka pada petunjuk dan pemberian taufik dari Tuhan mereka, dan (hasil akhir urusan mereka) (kemenangan dan keberuntungan).
(Dan kenyataan) golongan kedua adalah bahwa mereka terlepas dari dasar takwa yaitu iman, dan bahwa mereka berkeras pada hal itu dengan kekeras-kepalaan yang tidak bermanfaat bersamanya peringatan, (dan sebabnya) tidak mengambil manfaatnya mereka dari apa yang Allah berikan kepada mereka berupa sarana-sarana ilmu, maka mereka memiliki hati tidak memahami dengannya, dan mereka memiliki mata tidak melihat dengannya, dan mereka memiliki telinga tidak mendengar dengannya, (dan akibat urusan mereka) azab yang besar.
(Dan kenyataan) golongan ketiga adalah sifat yang tersusun dari lahir yang baik dan batin yang buruk, mereka mengatakan dengan lidah mereka: sesungguhnya mereka beriman, dan tidak ada dalam hati mereka dari iman sedikitpun, dan bagi setiap sifat ada (sebab) dan (balasan) adapun pengakuan mereka beriman (maka sebabnya) maksud menipu, dan (balasan) penipuan kembali kepada mereka, adapun menyembunyikan kekafiran mereka (maka sebabnya) penyakit hati mereka, dan (balasannya) bertambahnya penyakit dan azab yang pedih.
Dan sebagaimana dijelaskan dalam golongan kedua bahwa mereka mencapai dari kekeras-kepalaan dan kebodohan tingkat yang tidak berguna bersamanya peringatan, dijelaskan dalam golongan ketiga bahwa mereka mencapai dari kesombongan dan kebodohan berlapis tingkat yang tidak bermanfaat padanya nasihat orang-orang yang menasihati, mereka adalah orang-orang yang merusak dan menyangka bahwa mereka orang-orang yang memperbaiki, dan mereka adalah orang-orang bodoh dan menyangka bahwa mereka orang-orang yang berakal, dan siapa yang bisa menyembuhkan orang sakit yang meyakini bahwa dia sehat?
Kemudian sebagaimana ditutup perkataan dalam urusan golongan pertama dengan dicatatkan bagi mereka sifat petunjuk dan keberuntungan, ditutup perkataan dalam urusan dua golongan yang lainnya dengan dicatatkan atas keduanya sifat kesesatan dan kerugian.
Dua Perumpamaan di Awal Surat Al-Baqarah
- Akan tetapi gambaran-gambaran hakiki untuk kedua golongan ini tidak cukup sendirian untuk menyembuhkan jiwa dari keheranan dalam urusan mereka, karena kebiasaan manusia bahwa mereka hanya berbeda dalam perkara-perkara yang samar bukan dalam kebenaran-kebenaran yang jelas, maka perbedaan mereka dalam persoalan Al-Qur’an pada kejelasannya dianggap menyimpang dari kebiasaan yang berlaku, membutuhkan gambaran tamtsil yang mendekatkannya dari yang disaksikan dan dirasakan, hingga hati tenang terhadap kemungkinannya.
Karena itu Allah membuatkan perumpamaan untuk kedua golongan yang sesuai dengannya.
Perumpamaan yang Dibuat untuk Orang-Orang Kafir
Maka Dia membuatkan perumpamaan untuk orang-orang yang keras kepala yang dimeterai hati mereka dengan kaum yang berjalan dalam kegelapan malam lalu berdiri di antara mereka seorang laki-laki yang menyalakan api untuk mereka supaya mereka mendapat petunjuk dengan cahayanya, maka ketika menerangi apa di sekitarnya sebagian kaum tidak membuka mata mereka untuk cahaya yang terang ini, bahkan karena sesuatu hal dicabut cahaya penglihatan mereka dan terlumpuh seluruh indra mereka pada kejutan ini.
Itulah perumpamaan cahaya yang terbit dengannya Muhammad shallallahu alaihi wasallam dalam umat yang ummi itu pada masa kekosongan dari rasul-rasul, maka terbuka untuknya mata batin yang terang di sana sini, tetapi ia tidak sesuai dengan hawa nafsu orang-orang yang sombong yang telah biasa hidup dalam kegelapan jahiliah, maka mereka tidak mengangkat kepalanya untuknya, bahkan menundukkan kepala mereka dan tidak membuka mata untuknya bahkan tersungkur atasnya tuli dan buta: “Katakanlah: ‘Al-Qur’an itu bagi orang-orang yang beriman adalah petunjuk dan penyembuh. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, dan Al-Qur’an itu bagi mereka adalah kebutaan. mereka itu seakan-akan dipanggil dari tempat yang jauh'” (Fushshilat: 44).
Perumpamaan yang Dibuat untuk Orang-Orang Munafik
Dan Dia membuatkan perumpamaan untuk orang-orang yang ragu-ragu penipu dengan kaum yang didatangi langit dengan hujan yang deras dalam malam yang berisi guntur dan kilat, adapun hujan maka mereka tidak mempedulikannya, dan tidak mendapat darinya sedikitpun, maka mereka tidak minum darinya setetes, dan tidak menumbuhkan dengannya buah, dan tidak memberi minum dengannya tanaman dan hewan.
Adapun perubahan-perubahan cuaca dari kegelapan dan guntur dan kilat maka itulah yang menjadi pusat perhatian mereka, dan tempat bergantung pemikiran mereka; karena itu mereka mulai mengamatinya dan mengatur urusan mereka sesuai dengannya, memakai untuk setiap keadaan pakaiannya: berjalan sekali, dan berhenti sekali, dan bersembunyi sekali lain.
Itulah perumpamaan Al-Qur’an yang Allah turunkan sebagai hujan yang dengannya hati hidup, dan tumbuh dengannya buah-buah akhlak yang suci dan amal-amal saleh; kemudian Allah menguji dengannya orang-orang beriman dengan jihad dan sabar dan menjadikan bagi mereka hari-hari berganti antara damai dan perang, dan antara kalah dan menang, maka tidak ada bagian sebagian manusia darinya kecuali mereka memakai simbolnya pada kulit mereka tanpa meminum cintanya dalam hati mereka atau merasakan apa yang ada di dalamnya berupa makanan ruh dan akal, bahkan diri mereka menjadi penting bagi mereka dan kesibukan duniawi mereka mengalihkan mereka; maka mereka membatasi seluruh pemikiran mereka pada apa yang mungkin mengelilinginya berupa keuntungan yang mereka tuju, atau kerugian yang mereka hindari, atau kesulitan yang menghentikan mereka darinya pada posisi pertimbangan dan penantian, dan demikianlah mereka berjalan dalam beragama dengannya dengan jalan yang berkelok-kelok berubah-ubah yang dibangun atas dasar untung dan rugi, dan keselamatan duniawi.
Mereka ketika melihat keuntungan yang dekat dan perjalanan yang mudah serta berkilauan bagi mereka kilat harapan untuk mendapat ghanimah (harta rampasan perang), mereka berjalan bersama orang-orang mukmin berdampingan. Namun ketika roda perang berputar dan kilat-kilatnya menyambar sebagai pemberi peringatan tentang kematian dan kekalahan, mereka mengambil sikap hati-hati dan lari dari hadapan musuh sambil berkata: “Sesungguhnya rumah-rumah kami tidak terlindungi” (Al-Ahzab: 13), atau mereka kembali dari sebagian jalan sambil berkata: “Kalau kami mengetahui akan ada peperangan, tentulah kami mengikuti kalian” (Ali Imran: 167). Hingga ketika datang kejadian ketiga dan mereka tidak melihat secercah harapan pun dan tidak mengharapkan petir siksaan, bahkan urusan menjadi samar bagi mereka dan suasana menjadi mendung tertutup awan, maka di situlah mereka berdiri menunggu, tidak maju dan tidak mundur, tetapi mereka berpegang pada sikap netral sampai awan keraguan itu hilang. “Maka jika kamu memperoleh kemenangan dari Allah mereka berkata: ‘Bukankah kami bersama kamu?’ Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan mereka berkata: ‘Bukankah kami telah mengalahkan kamu dan membela kamu dari orang-orang mukmin?'” (An-Nisa: 141). “Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang yang berlambat-lambat, maka jika kamu ditimpa musibah dia berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah menganugerahkan nikmat kepadaku karena aku tidak ikut berperang bersama mereka’. Dan sungguh jika kamu mendapat karunia dari Allah, niscaya dia akan berkata seakan-akan tidak pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dan dia: ‘Alangkah baiknya kalau aku bersama mereka, tentu aku memperoleh kemenangan yang besar'” (An-Nisa: 72-73).
Demikianlah selamanya kebiasaan orang-orang munafik dalam segala urusan mereka; jika mereka mengharapkan keuntungan yang cepat, mereka mencarinya di barisan mana pun mereka menemukannya, dan jika mereka mengharapkan bahaya seperti itu juga mereka menyangkal kelompok yang karena mereka mendapat sesuatu yang tidak disukai, dan jika urusan menjadi gelap bagi mereka, mereka berdiri jauh tidak kepada kelompok ini dan tidak kepada kelompok itu.
Adapun orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka baginya ada satu kiblat yang dia hadapkan wajahnya ke arahnya, yaitu kiblat kebenaran yang dia tidak takut celaan orang yang mencela di dalamnya.
Dan tidaklah dia peduli ketika dibunuh sebagai muslim… di sisi mana pun dalam jalan Allah dia mati syahid.
[Ringkasan Mukadimah] Di sini telah selesai mukadimah setelah menggambarkan Al-Quran dengan apa yang menjadi haknya, dan menggambarkan para pengikut dan penentangnya masing-masing dengan apa yang pantas mereka terima.
Dan tidak diragukan bahwa penggambaran semua golongan ini pada akhirnya kembali kepada pujian terhadap Al-Quran; karena sesuatu yang para pengikutnya adalah ahli hidayah dan keberuntungan, sedangkan para penentangnya adalah ahli kesesatan dan kerugian, tidaklah menjadi kecuali kebenaran yang jelas tanpa keraguan di dalamnya. Lalu apakah kebenaran itu yang tidak mengikutinya kecuali orang yang mendapat hidayah dan beruntung, dan tidak berpaling darinya kecuali orang yang sesat dan rugi? Bahkan apakah kebenaran itu yang telah dibuat untuknya perumpamaan dengan cahaya yang terang dan hujan yang banyak?
Tidak diragukan bahwa semua ini adalah penarik perhatian yang sangat menarik untuk mendengar kebenaran-kebenaran yang Al-Quran serukan kepada manusia, maka lihatlah dengan cara bagaimana Al-Quran menyampaikan penjelasannya.
Sungguh, zahir konteks menuntut untuk dikatakan: bahwa kebenaran-kebenaran ini adalah hendaknya mereka menyembah Tuhan mereka saja dan beriman kepada kitab-Nya dan nabi-Nya (dan seterusnya) mengikuti gaya ghaib (orang ketiga) yang telah dijalankan dalam menggambarkan kitab, dan dalam menggambarkan manusia, akan tetapi Al-Quran mengalihkan alur pembicaraan dari berita dan ghaib kepada seruan dan khitab dengan berfirman: “Hai manusia, sembahlah Tuhan kalian” (Al-Baqarah: 21).
Tahukah kamu sesuatu dari rahasia perubahan ini?
Sesungguhnya penggambaran yang teliti yang dengannya Al-Quran menggambarkan tiga golongan: (orang-orang bertakwa, orang-orang kafir, dan orang-orang yang menipu) telah memindahkan mereka di hadapan pendengar dari satu keadaan ke keadaan lain, sehingga setelah mereka ghaib di awal pembicaraan tentang mereka, kini setelah penggambaran yang memuaskan itu mereka menjadi hadir dalam khayalan pendengar seakan-akan mereka terlihat dengan mata, dan di tempat yang dari sana mereka dipanggil, maka mereka berhak untuk diarahkan pembicaraan kepada mereka sebagaimana diarahkan kepada orang-orang yang hadir dalam indera dan penglihatan, ini dari segi umum.
Adapun dari segi lain, maka perumpamaan-perumpamaan yang fasih yang dibuat dalam urusan orang-orang yang berpaling khususnya telah menampilkan mereka di hadapan pendengar dalam gambaran yang menyedihkan yang membangkitkan dalam jiwanya dorongan yang paling kuat untuk menasihati dan memperingatkan mereka, hingga tidak melegakan dadanya kecuali dia memanggil mereka atau mendengar orang yang memanggil mereka: bukalah mata kalian wahai kaum dan marilah ke jalan keselamatan. Dan demikianlah jiwa bersiap dengan persiapan yang sempurna untuk mendengar seruan ini, “Hai manusia, sembahlah Tuhan kalian” (Al-Baqarah: 21) ayat-ayat hingga akhir maksud yang pertama.
Maksud Pertama dari Maksud-maksud Surah: dalam Lima Ayat (21-25)
[Maksud Pertama] Dalam lima ayat ini kamu mendengar seruan yang kuat yang ditujukan kepada seluruh dunia dengan tiga tuntutan:
1 – Janganlah kalian menyembah kecuali Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu.
2 – Hendaklah kalian beriman kepada kitab-Nya yang telah diturunkan-Nya kepada hamba-Nya.
3 – Hendaklah kalian bertakwa kepada siksa-Nya yang pedih, dan carilah pahala-Nya yang melimpah.
Tiga tuntutan ini adalah tiga rukun akidah Islam, kamu melihatnya telah dijabarkan tersusun pada susunan alaminya, dari prinsip, kepada perantara, kepada tujuan.
Dan kamu melihat masing-masing dari dua rukun pertama telah ditegakkan atas dasar dalil akal yang memutus setiap syubhat, adapun rukun ketiga maka didatangkan tanpa jenis dalil ini, akan tetapi ditiupkan ke dalamnya dari ruh penyemangat dan menggerakkan perasaan dengan peringatan dan kabar gembira apa yang menggantikan dalil di tempatnya.
Padahal jika kamu merenungkan rukun ini kamu akan mendapatinya tidak memerlukan dalil baru setelah mantapnya dua rukun sebelumnya, karena ia dari keduanya seperti kedudukan kesimpulan logis dari premis-premisnya.
Tahukah kamu seandainya seorang raja yang besar kekuasaannya dan berlaku hukumnya mengirim kepadamu seorang duta yang membawa surat darinya, dan kamu yakin bahwa yang ada di tangan duta itu adalah kitab raja yang dimeterai dengan segel-nya, apakah kamu memerlukan dalil baru untuk memastikan apa yang terkandung dalam kitab itu berupa kabar-kabar yang menakjubkan dan ancaman-ancaman, setelah apa yang tertanam dalam jiwamu berupa pengetahuan bahwa itu adalah ucapan orang yang jika berkata maka benar, dan jika berjanji maka menepati?
Maka demikianlah kamu melihat pembicaraan di sini tentang perkara-perkara sam’iyyah (yang didengar dari wahyu) didatangkan sebagai cabang dari apa yang telah mantap dalam urusan kenabian, dan dengan cara peralihan yang sangat indah dan mahir, “Jika kalian tidak melakukannya dan tidak akan pernah dapat melakukannya maka takutlah kepada neraka” (Al-Baqarah: 24).
Kembali ke Awal: dalam Empat Belas Ayat (26-39)
(1) Pembicaraan dalam surah dimulai – sebagaimana kamu ketahui – dengan menggambarkan Al-Quran dengan apa yang ada padanya berupa hidayah secara global: maka adalah benar bahwa kembali kepada menggambarkan cara Al-Quran dalam hidayah ini, untuk mengatakan: bahwa itu adalah hidayah yang sempurna dengan penjelasan yang memadai dan menyeluruh untuk segala sesuatu, maka lihatlah bagaimana dia merintis untuk peralihan ini dengan perintisan yang menyambung dari awal surah hingga tempat ini:
Adapun mukadimah maka telah menggambarkan di dalamnya tiga golongan dengan penggambaran yang memuaskan dengan membuat perumpamaan untuk manusia, dan memastikan bahwa orang-orang yang kafir mengikuti kebatilan, dan bahwa orang-orang yang beriman mengikuti kebenaran dari Tuhan mereka.
Dan adapun maksudnya maka telah dijelaskan di dalamnya bahwa bagi Allah saja sifat tertinggi yang tidak disekutukan oleh sesuatu pun dari sekutu-sekutu, kemudian diletakkan di dalamnya pemisah antara nabi dan orang yang mengaku nabi dengan mukjizat universal itu yang tidak sanggup seorang pun selain Allah mendatangkan yang serupa dengannya, kemudian disebutkan perumpamaan neraka yang disediakan untuk orang-orang kafir, dan perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang bertakwa.
Maka kamu melihatnya telah membahas dalam perumpamaan-perumpamaan ini macam-macam yang beragam dari kebenaran-kebenaran; langit dan bumi, materi dan makna.. hingga berakhirnya pembicaraan dengan menyajikan apa yang ada di surga dari jenis-jenis kenikmatan dan kelezatan pribadi dan jenis, makna-makna yang mungkin seseorang malu menyebutkannya, dan mungkin orang jahil mengiranya tidak pantas dengan cara khitab Ilahi yang agung, lengah bahwa Dia adalah Yang Haq yang tidak malu dari kebenaran, dan bahwa Dia adalah Yang Maha Penyayang yang turun dengan rahmat-Nya ke tingkat akal-akal manusia maka Dia menjelaskan kepada mereka semua yang mereka butuhkan penjelasannya dari apa yang mereka cintai atau mereka benci, dan dari apa yang mereka harapkan atau mereka takuti.
Dan demikianlah pembicaraan mengalir dari menyebut contoh-contoh yang bervariasi ini kepada menyimpulkan kaidah umum darinya, dengan penjelasan bahwa inilah cara Al-Quran dalam hidayahnya, maka dia membuat semua perumpamaan, dan menjelaskan kebenaran-kebenaran; yang manis dan yang pahit, meletakkan setiap sesuatu pada tempatnya, menamainya dengan namanya, tidak peduli bahwa dia membahas dalam penjelasannya perkara-perkara besar atau yang kecil “Sesungguhnya Allah tiada malu membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang di atasnya” (Al-Baqarah: 26).
Benar; sesungguhnya urusan kitab ini dalam merinci yang haq dan bathil serta yang berbahaya dan yang bermanfaat adalah urusan kitab amal dalam merinci kebaikan dan keburukan, keduanya tidak meninggalkan yang kecil dan tidak yang besar kecuali dihitungnya.
Dan sebagaimana menggambarkan Al-Quran dengan hidayah secara global telah menyeret di sana kepada menyebut terbaginya manusia dalam menerima hidayahnya, dan kepada mencela orang yang berpaling darinya, demikian juga menggambarkan caranya dalam hidayah telah menyeret di sini kepada pembagian seperti ini: “Dia menyesatkan dengan Al-Quran itu banyak orang, dan memberi petunjuk dengan itu pula kepada banyak orang” (Al-Baqarah: 26) dan kepada mencela orang-orang sesat dengan menyebut keburukan-keburukan mereka dan merinci kekurangan-kekurangan mereka “dan tidak disesatkan Allah dengan Al-Quran itu melainkan orang-orang yang fasik” (Al-Baqarah: 26).
Dan sebagaimana penjelasan sifat-sifat mereka di sana telah menampakkan mereka di hadapan pendengar dalam gambaran yang menggerakkan dorongannya untuk mendengar panggilan mereka dengan nasihat dan pengajaran, demikian juga penjelasan sifat-sifat mereka di sini telah menggerakkan jiwa-jiwa untuk mendengar pembicaraan kepada mereka dengan keheranan dan pengingkaran.. “Mengapa kalian kafir kepada Allah” (Al-Baqarah: 28) ayat-ayat.
[Kembalinya Pembicaraan kepada Maksud Pertama]
(2) Dan demikian juga pembicaraan kembali kepada maksud pertama dengan tiga rukunnya, akan tetapi dalam baju yang baru:
(Adapun dalam rukun pertama) maka kamu mendengarnya di sana memerintahkan untuk menyembah Allah, dan kamu mendengarnya di sini melarang dari kufur kepada Allah.
Dan di sana Dia mengingatkan mereka dengan nikmat menciptakan mereka secara global, dan di sini Dia mengingatkan mereka dengannya secara terperinci dan lengkap, dan di sana Dia mengenalkan mereka dengan nikmat menundukkan bumi dan langit untuk mereka, dan di sini Dia mengenalkan mereka dengan itu dalam sesuatu secara terperinci.
(Dan adapun dalam rukun kedua) maka telah disebutkan di sana kenabian Nabi penutup ini shallallahu ‘alaihi wa sallam dan di sini disebutkan kenabian Nabi pertama itu Adam, agar kita tahu bahwa nabi kita bukanlah bid’ah dari para rasul, dan bahwa urusan syariat dan kenabian adalah urusan lama yang bersambung dengan kelahiran manusia. Dan telah dirintis untuk penjelasan ini dengan menyebut sejarah kelahiran yang menakjubkan itu dan apa yang terjadi dalam urusannya berupa pembicaraan dengan para malaikat, pembicaraan itu yang menunjukkan kelebihan perhatian Ilahi kepada jenis manusia ini, karena Allah memilihnya untuk khalifah bumi dan mengutamakannya atas seluruh makhluk dengan keutamaan ilmu, agar pemberian nikmat dengan itu berjalan bersama pemberian nikmat dengan nikmat-nikmat yang disebutkan dalam rukun pertama dengan susunan yang paling baik, kemudian bersambung dari keutamaan ini kepada menjelaskan apa yang muncul darinya berupa dengki Iblis dan permusuhannya yang lama kepada manusia pertama dan tipunya kepadanya dengan bisikan-bisikannya, dan apa yang berakhir kepada urusan penipu dan yang tertipu berupa cobaan bagi keduanya dan cobaan bagi keturunan keduanya dengan taklif-taklif, dan itu – sebagaimana kamu lihat – pembicaraan yang sebagiannya meminta sebagian, dan sebagiannya menarik leher sebagian.**
(Dan adapun dalam rukun ketiga) maka kamu melihatnya di sana menggambarkan surga dan neraka dengan apa yang ada pada keduanya berupa sifat yang indah atau mengerikan, dan kamu melihatnya di sini cukup dari menggambarkan keduanya dengan menyebut nama keduanya dan menentukan penduduk keduanya dengan merangkai peletakan balasan-balasan dengan peletakan taklif-taklif dalam satu rangkaian, dan beralih dengan peralihan terbaik dari salah satunya kepada yang lain, dengan memastikan bahwa mengikuti taklif-taklif atau tidak mengikutinya adalah penentu kebahagiaan atau kecelakaan di akhirat.**
Dan sungguh telah ditutup pembicaraan di sini – sebagaimana ditutup dalam mukadimah – dengan urusan orang-orang yang menentang; sebagai perintisan untuk peralihan sekali lagi kepada panggilan salah satu golongan di antara mereka dan menyeru mereka kepada Islam yaitu maksud kedua.
Maksud Kedua dari Maksud-maksud Surah: dalam Seratus Dua Puluh Tiga Ayat (40-162)
[Maksud Kedua] Cukuplah bagimu mengetahui bahwa surah ini adalah mutiara surah-surah Madaniyyah, dan bahwa Madinah didiami oleh orang-orang yang paling keras permusuhannya kepada orang-orang beriman, dan paling banyak perdebatan mereka dalam agama mereka dengan apa yang diberikan kepada mereka berupa ilmu sebelum mereka.
Cukuplah bagimu mengetahui ini dan itu untuk mengetahui rahasia perhatian yang berlimpah pada sisi dakwah ini, yakni menyeru Bani Israil khususnya setelah menyeru manusia umumnya, dan untuk mengetahui hikmah perluasan itu dalam pembicaraan bersama mereka di satu waktu, dan pembicaraan tentang mereka di waktu lain, dengan warna-warna yang berbeda penyerangan, pembelaan, penarik simpati, dan perpanjangan, hingga setelah separuh surah.
Dan kamu akan melihat ketika berpindah dalam pembicaraan-pembicaraan ini tahap demi tahap apa yang menguasai hatimu dari keindahan tatanannya dan ketelitian pembagiannya.
[Permulaan Pembicaraan tentang Yahudi]
(Dimulai) pembicaraan dengan mereka dengan ayat yang istimewa (40) yang dengan sedikitnya kata-katanya mencakup maksud-maksud seluruh pembicaraan: di dalamnya dia memanggil mereka dengan nama yang paling mereka cintai dan nasab yang paling mulia dan mengingatkan mereka dengan nikmat Allah yang terdahulu kepada mereka secara global, dan membangun atas itu seruan kepada mereka untuk menepati janji mereka, dan memberi harapan serta menakut-nakuti mereka.
(Kemudian) dia kembali kepada maksud-maksud ini merinci-nya secara bertahap dan dengan kadar yang diketahui maka dia menjelaskan janji yang diminta dari mereka untuk menepatinya, dalam enam ayat (41-46), dan menjelaskan kadar nikmat yang dengannya Dia berterima kasih kepada mereka dalam satu ayat (47), dan kadar ketakutan yang dengannya Dia menakut-nakuti mereka dalam ayat yang lain (48).
(Kemudian) dia membagi pembicaraan menjadi empat bagian:
(Bagian pertama) disebutkan di dalamnya masa lalu Yahudi sejak diutus kepada mereka Musa ‘alaihissalam. (Bagian kedua) disebutkan di dalamnya keadaan-keadaan orang-orang yang sezaman di antara mereka dengan bi’tsah Muhammadiyyah.
(Bagian ketiga) disebutkan di dalamnya kepeloporan orang-orang muslim sejak Ibrahim ‘alaihissalam.
(Bagian keempat) disebutkan di dalamnya masa kini orang-orang muslim pada waktu bi’tsah.
1 – Menyebut Masa Lalu Yahudi (49-74):
[Menyebut Sejarah Yahudi]
Dimulai khitab dalam bagian ini dengan delapan ayat yang dengannya dia mengenalkan Bani Israil dengan rincian pemberian nikmat yang dengannya Dia berterima kasih kepada mereka berkali-kali, yaitu nikmat-nikmat sejarah lama yang pengaruhnya bersambung dan manfaatnya mengalir dari pokok kepada cabang, maka Dia mulai mengingatkan mereka dengan hari-hari Allah pada mereka; hari Dia menyelamatkan mereka dari keluarga Fir’aun, dan hari Dia menyelamatkan mereka dari laut dan menenggelamkan musuh-musuh mereka di dalamnya, dan hari Dia berjanji kepada mereka untuk menurunkan kitab kepada mereka, dan hari Dia merealisasikan janji-Nya dengan menurunkannya, dan hari Dia menerima taubat mereka dari kemurtadan dan syirik kepada Allah, dan hari Dia menerima taubat mereka dari pembangkangan kepada nabi mereka dan mengusulkan perkara-perkara besar kepadanya, dan sungguh itu adalah nikmat-nikmat yang mulia (mendahului dosa dan mengikutinya) yang dengan mengingatnya hati-hati menjadi lembut, dan menggerakkan semangat untuk bersyukur kepada Yang Memberi nikmat dan menaati perintah-Nya.
Dan sebelum berpindah dari mengingatkan mereka dengan nikmat-nikmat mulia itu yang memberi harapan kepada orang-orang yang bersyukur untuk tambahan, kepada mengingatkan mereka dengan kejahatan-kejahatan mereka dan apa yang menimpa mereka dari macam-macam siksaan yang mengharuskan ketaatan dan i’tibar, dia menjadikan antara dua pembicaraan itu pembatas yang dia campurkan di dalamnya menyebut sebagian nikmat dengan menyebut apa yang mereka balas dengannya, setelah dia mempersiapkan jiwa untuk berjalan di atas pembatas ini dengan pantulan kecil, yang di dalamnya isyarat berpaling dan tidak ridha, maka dia jelaskan bahwa Allah ta’ala memberikan kepada mereka di atas semua itu kenikmatan yang baik; karena Dia menaungi mereka dengan awan, dan memberi rezeki kepada mereka dari makanan dan minuman rezeki yang enak dari tempat yang tidak mereka duga, dan dari tempat yang tidak ada lelah dan tidak ada capek, maka mereka menzalimi diri mereka dan menyombongkan nikmat itu dan mengubah kalimat syukur dengan mengganti-nya dengan main-main dan permainan, dan mereka mengusulkan sebagai ganti rezeki yang enak itu kehidupan yang penuh lelah dan susah payah, maka Allah mewajibkan kepada mereka apa yang mereka wajibkan, dan menetapkan atas mereka kehinaan dan kemiskinan.
Pelanggaran Orang Yahudi dan Hukuman-hukuman bagi Mereka
Dan di sini murni pembicaraan untuk menyebutkan pelanggaran-pelanggaran dan hukuman-hukuman, maka disebutkan bahwa mereka mendapat murka dari Allah; karena mereka kafir terhadap ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi, (namun dikecualikan orang-orang beriman di antara mereka dari murka ini) dan mereka memberontak terhadap perintah-perintah Taurat secara keseluruhan hingga mereka dipaksa menjalankannya, kemudian mereka berpaling darinya setelah itu hingga mereka menjadi layak untuk ditimpa seperti yang menimpa ahli Sabtu seandainya bukan karena karunia Allah kepada mereka; dan mereka lambat dalam melaksanakan perintah nabi mereka, dan kebodohan mereka terhadap kedudukan kenabian sampai pada tingkat bahwa mereka mengira dalam sebagian penyampaiannya dari Tuhannya bahwa dia bergurau dan tidak serius…
Penghubung antara Bagian Pertama dan Kedua (74):
Al-Quran ingin menghubungkan keadaan mereka saat ini dengan masa lalu mereka, maka lihatlah bagaimana Al-Quran menempatkan penghubung di antara keduanya dalam ayat ini yang dengannya ditutup bagian pertama: “Kemudian hati kalian menjadi keras sesudah itu, maka ia seperti batu, bahkan lebih keras lagi” (Al-Baqarah: 74). Maka firman-Nya: “sesudah itu” (Al-Baqarah: 74) adalah kata yang menentukan awal sejarah kekerasan hati dan tidak menentukan akhirnya, seakan-akan dengan itu memberikan cap kesinambungan dan membiarkannya melampaui zaman dan generasi dalam khayalan pendengar, hingga dia menyangka bahwa pembicaraan telah mengawasi zaman sekarang, kemudian sangkaan ini tidak lama bertambah kuat, dengan rumusan kalimat ismiah dalam firman-Nya: “maka ia seperti batu” (Al-Baqarah: 74) tanpa mengatakan: maka ia dahulu seperti batu.
Kemudian lihatlah bagaimana berakhirnya pada sifat hati mereka dengan sifat ini sebagai persiapan untuk mengubah gaya terhadap mereka, karena orang yang hatinya sampai pada tingkat kekerasan yang tidak ada kelembutan di dalamnya menjadi tidak bijaksana untuk melanjutkan pembicaraan dengannya, dan menjadi layak untuk mengalihkan pembicaraan darinya kepada selainnya yang memiliki hati yang sehat, dan demikianlah pembicaraan akan berpindah dari berbicara dengan mereka tentang urusan leluhur mereka kepada berbicara dengan kita tentang urusan mereka sendiri.
2 – Penyebutan Orang Yahudi yang Sezaman dengan Bi’tsah (75 – 121):
Dimulai pembicaraan dalam bagian ini dengan kalimat yang menarik yang tidak mengikuti kebiasaan sebelum dan sesudahnya dari penceritaan informatif, yaitu kalimat istifham (pertanyaan) yang diapit oleh dua huruf yang menakjubkan: (yang pertama) mengembalikan ke ingatan semua peristiwa yang telah berlalu dari bagian pertama, (dan yang lainnya) membuka pintu untuk semua kejadian yang akan datang dari bagian ini, dan terletak di antara dua sejarah lama dan baru pada posisi pelajaran yang diambil dan kesimpulan yang ditetapkan, antara sebab-sebab yang telah berlalu dan sebab-sebab yang akan datang: “Maka apakah kalian mengharapkan bahwa mereka akan beriman kepada kalian” (Al-Baqarah: 75)?!
Maka huruf fa’ ini mengatakan kepada kita: setelah semua yang telah kami ceritakan, masih adakah yang mengharapkan keimanan kaum ini yang merupakan pewaris sejarah yang tercemar itu? Dan huruf waw ini mengatakan “Dan bagi mereka ada amalan-amalan selain itu yang mereka akan melakukannya” (Al-Mukminun: 63). Dan penceritaan informatif kembali ke jalur terperinci, maka menceritakan kepada kita dari sifat-sifat buruk orang-orang sekarang di antara mereka dan perbuatan-perbuatan serta ucapan-ucapan munkar mereka sekitar dua puluh sebab yang tidak meninggalkan harapan bagi yang mengharapkan keimanan mereka, baik yang khusus bagi mereka, maupun yang mereka ikut sertakan dengan selain mereka dari leluhur mereka, atau dari orang Nasrani atau orang-orang penyembah berhala.
Kemudian tidak membiarkan klaim dari klaim-klaim mereka kecuali mengiringinya dengan bantahan dan sanggahan yang pantas.
(Dan telah dimulai penggambaran ini) dengan membagi mereka kepada dua golongan: para ulama yang mengubah kalam Allah dan saling berpesan untuk menyembunyikan ilmu yang ada pada mereka agar tidak menjadi hujjah atas mereka. Dan orang-orang bodoh yang buta huruf yang menjadi tawanan angan-angan dan khayalan, serta korban penyesatan dan penipuan yang dilakukan oleh para ulama mereka, maka siapakah yang mengharapkan kebaikan umat yang orang bodohnya disesatkan dan tertipu mengambil atas nama agama sesuatu yang bukan agama, dan orang alimnya menyesatkan dan menipu menulis kitab dengan tangannya dan berkata ini dari sisi Allah.
(Dan yang kedua) dengan menjelaskan asal keberanian mereka terhadap setiap keburukan, yaitu kesombongan mereka dengan sangkaan mereka bahwa neraka tidak akan menyentuh mereka kecuali beberapa hari yang terbilang. Dan sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diperintahkan untuk meluaskan sangkaan ini dengan bantahan dan pembatalan, dan untuk bertahap dengan mereka dalam perdebatan ini dengan tingkatan logika yang benar dan penelitian yang lurus, dimulai dengan menuntut mereka bukti atas apa yang mereka sangka. Kemudian membatalkannya dengan menjelaskan pertentangannya dengan hukum keadilan Ilahi yang tidak mengenal sedikitpun kezaliman dan pilih kasih kepada siapapun, bahkan makhluk di hadapan-Nya sama: setiap orang terikat dengan amalnya, dan barangsiapa mengerjakan keburukan atau kebaikan akan dibalas dengannya. Kemudian menentangnya dengan membalik perkara kepada mereka dengan menjelaskan kepada mereka bahwa mereka termasuk orang-orang yang mendapat kejelekan dan dikelilingi oleh dosa-dosa mereka: bukankah telah diambil perjanjian dari kalian dengan takwa kepada Allah dan berbuat baik kepada manusia lalu kalian berpaling? Bukankah telah diambil perjanjian dari kalian untuk meninggalkan dosa dan permusuhan lalu kalian melampaui batas? Kemudian kalian beriman kepada sebagian kitab dan kafir terhadap sebagian, dan menghakimi hawa nafsu kalian dalam syariat-syariat, maka setiap kali datang kepada kalian rasul dengan apa yang tidak disukai jiwa kalian, kalian menyombongkan diri.
Dari Kejahatan-kejahatan Orang Yahudi
(Kemudian mengiringi itu dengan sisa keburukan-keburukan mereka) maka disebutkan:
1 – Tuli mereka dari mendengar kebenaran dengan dalih bahwa hati mereka terkunci. 2 – Kekafiran mereka terhadap kitab yang baru karena diturunkan kepada selain mereka, setelah leher-leher mereka terangkat menunggu kemunculannya di tangan seorang nabi yang menolong mereka terhadap orang-orang musyrik. 3 – Klaim mereka melaksanakan kewajiban mereka yaitu beriman kepada apa yang diturunkan kepada mereka dan cukup, padahal mereka kafir bahkan terhadap apa yang diturunkan kepada mereka, dan itu adalah kebiasaan mereka sejak mereka menyembah anak sapi dan menyerap kecintaannya dalam hati mereka. 4 – Sangkaan mereka bahwa bagi mereka akhirat khusus, kemudian kontradiksi mereka dengan diri mereka sendiri dalam hal itu dengan kebencian mereka terhadap kematian dan keserakahan mereka yang kuat terhadap kehidupan. 5 – Permusuhan mereka terhadap Jibril; karena dia menurunkan kitab kepada selain mereka, padahal dia hanya menurunkan dengan sepengetahuan Allah. 6 – Berulangnya mereka melempar janji-janji. 7 – Kesibukan mereka dengan kitab-kitab sihir dan meninggalkan kitab-kitab Allah di belakang punggung mereka. 8 – Membelokkan lidah mereka dalam khitab kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kata yang mengandung ejekan kepadanya dan mencela agamanya walaupun zahirnya pengagungan kepadanya, atau dimaksudkan darinya memalukan dengan banyaknya pertanyaan-pertanyaan dan usulan-usulan sebagaimana Musa ditanya sebelumnya (dan ini telah diungkapkan dalam bentuk peringatan kepada orang-orang mukmin agar tidak mengatakan kata itu). 9 – Dendam dan keegoisan mereka bersama seluruh penentang dari ahli kitab dan orang-orang musyrik serta kebencian mereka bahwa wahyu diturunkan kepada selain mereka, padahal bagi Allah untuk mengkhususkan dengan kenabian siapa yang Dia kehendaki, dan bagi-Nya untuk menghapus syariat dan mendatangkan syariat lain yang seperti itu atau lebih baik darinya. 10 – Keinginan kebanyakan mereka agar dapat mengembalikan orang-orang mukmin menjadi kafir. 11 – Sangkaan masing-masing dari orang Yahudi dan Nasrani bahwa tidak akan masuk surga selain mereka. Angan-angan yang mereka inginkan tanpa bukti. 12 – Celaan kedua golongan terhadap saudaranya dengan ucapan orang Yahudi: orang Nasrani tidak berdasar pada sesuatu, dan ucapan orang Nasrani: orang Yahudi tidak berdasar pada sesuatu, dan celaan orang-orang musyrik terhadap keduanya. 13 – Keikutsertaan tiga golongan dalam berusaha mengosongkan masjid-masjid dari zikir Allah. 14 – Keikutsertaan mereka dalam kebodohan tentang Allah dan menisbahkan anak kepada-Nya. 15 – Keikutsertaan mereka dalam berhenti dari beriman kepada para rasul alaihimus salam hingga Allah berbicara kepada mereka tanpa perantara atau menurunkan kepada mereka ayat yang memaksa.
(Kemudian menutup keburukan-keburukan ini) dengan yang paling mendorong kepada putus asa dari keimanan mereka, yaitu bahwa mereka mengharapkan dapat mengubah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri untuk mengikuti hawa nafsu mereka, maka bagaimana dia mengharapkan dapat mengikutkan mereka kepada petunjuknya? Sekali-kali tidak, tetapi cukup baginya bahwa orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka yaitu yang membaca kitab dengan bacaan yang sebenarnya beriman kepada petunjuk yang dibawanya ini dan orang-orang kafir merekalah yang merugi.
3 – Penyebutan Kaum Muslimin Terdahulu sejak Zaman Ibrahim (122 – 134):
Urusan pembaharu yang bijaksana dalam dakwahnya seperti urusan petani, dia memulai dengan tanah lalu mencabut duri-durinya dan membersihkannya dari rumput-rumput liar yang merugikan sebelum menaburkan benih-benih yang baik atau menanam pohon-pohon yang bermanfaat di dalamnya, dan demikian juga pendakwah yang bijaksana memulai dengan jiwa-jiwa lalu menjauhkannya dari kebatilan dan kerusakan kemudian mengarahkannya ke jalan kebenaran dan petunjuk.
Maka ini adalah dua putaran, dalam salah satunya melakukan pembersihan dan pengosongan, dan dalam yang kedua melakukan penyempurnaan dan pengisian, dan engkau telah melihat pembicaraan dalam dakwah kepada Bani Israil telah berlalu sampai batas ini dalam menjelaskan kebengkokan jalan yang mereka lalui, dan engkau melihatnya telah meluaskan penjelasan dalam hal itu hingga sampai pada akhir putaran pertama: bukankah dari kebenaran kalau begitu untuk memulai putaran kedua lalu menjelaskan jalan lurus yang harus mereka lalui?
Kemudian engkau melihat bagaimana penutupan penjelasan sebelumnya dengan menyebut petunjuk Allah dan ilmu yang diajarkan-Nya kepada nabi-Nya serta menyebut golongan yang diharapkan keimanan mereka dari ahli kitab, yaitu mereka yang membaca kitab dengan bacaan yang sebenarnya, bukankah penutupan ini sendiri merupakan pembukaan yang darinya jiwa melihat pembukaan ini?
Kemudian engkau melihat pembicaraan dalam putaran pertama terbagi kepada dua bagian: bagian yang dibicarakan tentang masa lalu orang Yahudi, dan bagian yang dibicarakan tentang keadaan mereka saat ini. Bukankah dari kebaikan perbandingan bahwa membagi pembicaraan kedua kepada dua bagian tentang masa lalu kaum muslimin dan tentang keadaan mereka saat ini?
Itulah yang engkau lihat dalam hal berikut:
Bahkan engkau akan melihat apa yang lebih sempurna perbandingan dan kemiripannya, maka akan berlangsung pembicaraan dalam bagian pertama di sini dengan cara khitab kepada Bani Israil, dan pembicaraan dalam bagian kedua dengan cara berbicara tentang mereka, sebagaimana berlangsung di sana dalam kedua bagian sama.
Dan yang lebih besar dari semua ini bahwa engkau melihat dua ayat mulia yang dengannya dimulai awal pembicaraan di sana telah dimulai dengannya awal pembicaraan di sini; untuk mengajak mereka memeluk kebenaran dengan seperti apa yang mengajaknya untuk menjauhi kebatilan, dan untuk menetapkan dalam jiwa pendengar dari awal perkara bahwa pembicaraan akan kembali seperti dimulai, tetapi dalam jalan yang berhadapan dengan jalan itu, dan dengan makna baru yang setara dengan makna lama itu “Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Ku-anugerahkan kepadamu dan bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas sekalian alam (122) Dan takutlah kepada suatu hari yang tidak dapat seorang menanggung sesuatu dari orang lain; dan tidak akan diterima daripadanya tebusan, dan tidak akan memberi manfaat kepadanya syafaat, dan mereka tidak akan ditolong (123) Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat” (Al-Baqarah: 122 – 124).
Dan demikianlah mulai mengajak Bani Israil kepada jalan salaf shalih, bukan dengan cara perintah dan dorongan yang telah dicoba sebelumnya lalu tidak berhasil pada mereka, tetapi dengan gaya cerita yang menarik yang dipaparkan di dalamnya sejarah mulia Ibrahim alaihis salam dan anak-anaknya serta cucu-cucunya di masa-masa emas yang tidak ada seorangpun dari ahli kitab dan orang-orang musyrik yang berbeda dalam mengagungkannya dan mencintainya serta mencintai menisbahkan diri kepadanya, mengulangi di lisan mereka semua kata manis yang ditinggalkan Ibrahim tetap dalam keturunannya, yang diwariskan anak-anaknya dan cucu-cucunya dengan setiap mereka mewasiatkan dengannya kepada anak-anaknya, yaitu kata (berserah diri kepada Allah Tuhan semesta alam).
Dan engkau melihat dalam pemaparan sejarah Ibrahim alaihis salam dan kepemimpinannya untuk manusia tidak lupa mengisahkan kata-katanya yang dengannya berdoa kepada Tuhannya agar menjadikan dari keturunannya seorang imam untuk manusia sebagaimana menjadikan dia. Kemudian engkau melihat ketika menceritakan berdirinya Ibrahim dan anaknya Ismail membangun rumah yang dimuliakan yang dijadikan Allah tempat yang aman dan tempat kembali bagi manusia serta kiblat untuk shalat mereka, tidak lupa mengisahkan permohonan keduanya kepada Allah agar menjadikan dari keturunan mereka umat yang muslim dan mengutus di antara mereka seorang rasul dari mereka yang mengajari mereka dan menyucikan mereka.
Mengutamakan dengan ini dan itu untuk menetapkan hubungan sejarah yang kuat yang menghubungkan nabi ini dan umatnya dengan kedua nabi mulia itu; bukan hanya hubungan kenabian keturunan, tetapi hubungan prinsip dan ikatan kesatuan agama juga, maka mereka dari keturunan keduanya, dan keberadaan mereka perwujudan penerimaan doa keduanya, dan agama mereka agama keduanya; dan kiblat mereka kiblat keduanya, dan tempat kembali mereka dalam haji mereka tempat kembali keduanya.
Dan menetapkan pada waktu yang sama terputusnya hubungan mulia seperti ini dari orang Yahudi yang menisbahkan diri dengan keanak-an kepada Ibrahim dan Yakub, sedang mereka dari agama keduanya menyimpang dan terhadap wasiat keduanya menyelisihi. Maka apa gunanya keturunan tanpa adab? Dan barangsiapa lambat karena amalnya tidak akan dipercepat oleh keturunannya “Itu adalah umat yang telah lalu; bagi mereka apa yang telah mereka kerjakan dan bagimu apa yang telah kamu kerjakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang dahulu mereka kerjakan” (Al-Baqarah: 141).
4 – Penyebutan Keadaan Kaum Muslimin Saat Bi’tsah (135 – 162):
Dan tersambunglah penyebutan khalaf dengan penyebutan salaf, dan keluarlah pembicaraan dari sindiran kepada tegas, maka mulai menetapkan – dengan jelas – hubungan umat muslim ini dengan umat salih itu dalam pokok-pokok agamanya, dan dalam cabang-cabang yang terpenting, dan mengisahkan kepada kita apa yang dicoba oleh orang-orang bodoh di antara Bani Israil dan lainnya untuk merampas kaum muslimin dari hubungan itu, yaitu dengan mengajak kaum muslimin mengikuti agama mereka suatu waktu, dan dengan mencela kiblat mereka di waktu lain, dan menyerang kedua percobaan itu dengan penghancuran dan pemusnahan.
Dan engkau telah melihat pembicaraan sebelumnya bagaimana bercampur di dalamnya penyebutan agama Ibrahim dengan penyebutan kiblatnya, maka lihatlah bagaimana itu adalah fondasi yang kuat untuk apa yang dibangun di sini dari penyebutan agama kaum muslimin dan penyebutan kiblat mereka.
Berkata dalam urusan agama bahwa ahli kitab mengajak kalian – setelah penjelasan ini – agar kalian menjadi Yahudi atau Nasrani, maka katakanlah kepada mereka: bahkan kami mengikuti agama Ibrahim yang hanif, dan kenalkanlah kepada mereka kejelasan perkara dalam agama hanif ini, dan bahwa ia adalah iman kepada Allah dan iman kepada semua yang diturunkan kepada para nabi, kami tidak membeda-bedakan di antara seorangpun dari mereka, ini akidah kami putih bersih, maka rukun mana dari keduanya yang kalian ingkari dari kami? Dan dalam mana kalian bermusuhan dengan kami? Apakah dalam Allah sedang Dia Tuhan kami dan Tuhan kalian, ataukah dalam Ibrahim dan anak-anaknya, sedang mereka tidak pernah Yahudi atau Nasrani “Itu adalah umat yang telah lalu; bagi mereka apa yang telah mereka kerjakan dan bagimu apa yang telah kamu kerjakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang dahulu mereka kerjakan” (Al-Baqarah: 141).
Dan pengulangan ini saja sudah cukup untuk membungkam mereka dan menutup pintu di hadapan mereka dari segi ini; karena telah jelas bahwa pokok-pokok agama ini lebih terjaga dari menerima perdebatan dalam sesuatu darinya.
Maka berpindahlah darinya dengan segera kepada membatalkan percobaan mereka yang lain dalam masalah (Ka’bah yang dimuliakan) yang padanya berputar pelaksanaan dua syi’ar, yaitu syi’ar Islam yang terbesar dan paling tampak (shalat dan haji), dan yang telah ditetapkan apa yang dimilikinya dari asal yang asli dalam agama dengan pengambilan Ibrahim dan Ismail kepadanya sebagai tempat kembali dan tempat shalat.
Namun hal ini belum cukup untuk membungkam para pembantah yang menjadikan perpindahan umat Islam ke arah kiblat baru dan meninggalkan kiblat yang mereka gunakan sebelumnya sebagai celaan terhadap kenabian, sehingga mereka menggoyahkan sebagian orang beriman yang lemah. Maka diperlukan penjelasan yang lebih luas mengenai masalah kiblat ini agar hujah menjadi kokoh dan keraguan dapat terbantahkan. Oleh karena itu, kamu melihat Allah mengarahkan perhatian yang lebih besar kepadanya:
Maka Allah memerintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada awal pembahasan untuk menjawab orang-orang yang bertanya tentang hikmah perpindahan kiblat ini dengan jawaban yang penuh kehormatan dan penolakan tegas, dengan mengembalikan perkara ini kepada Zat yang tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dengan berkata kepada mereka: Sesungguhnya semua arah itu sama saja, Allah mengarahkan kita ke arah mana yang dikehendaki-Nya, dan Dia-lah yang memberi petunjuk ke jalan yang lurus.
Kemudian Allah mulai memerintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di satu waktu, dan orang-orang beriman di waktu lain, dan keduanya secara bersamaan di waktu yang lain lagi, dengan gaya yang tegas dan terperinci agar mereka tetap teguh pada kiblat ini di mana pun mereka berada, dan di setiap tempat mereka bermukim dalam keadaan tidak bepergian, dan di setiap tempat mereka berangkat dalam perjalanan.
Dan Allah mulai menyebarkan dalam sela-sela perintah-perintah tegas ini berbagai penjelasan tentang rahasia-rahasia syariat lama dan baru, dengan berfirman: Sesungguhnya penetapan kiblat sementara itu hanyalah sebagai ujian bagi keimanan para muhajirin; agar dapat dibedakan siapa yang mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dan siapa yang berbalik ke belakang. Adapun penetapan kiblat yang kekal ini mengandung hikmah-hikmah yang mendalam dan tujuan-tujuan yang mulia, yaitu kiblat tengah yang pantas bagi kalian wahai umat tengah, dan kiblat yang engkau ridhai wahai Nabi dan yang selama ini engkau palingkan wajahmu ke langit mengharapkan wahyu tentangnya, dan kiblat yang diketahui oleh Ahli Kitab bahwa itu adalah kebenaran dari Rabb mereka, meskipun mereka menyembunyikannya karena hasad dan permusuhan, dan kiblat yang Allah saksikan bahwa itu adalah kebenaran dari sisi-Nya, dan akhirnya kiblat yang tidak menyisakan alasan bagi siapa pun dari orang-orang yang adil untuk mencela kalian. Adapun orang-orang yang zalim, perdebatan mereka tentangnya tidak akan pernah putus selama permusuhan mereka terhadap kalian masih ada, tetapi jangan takut kepada mereka, tetapi siapkanlah diri kalian untuk berkorban di jalan Allah, dan bersabarlah serta jangan bersedih atas orang yang akan terbunuh di antara kalian di jalan ini; karena kematian di jalan itu adalah kehidupan yang kekal.
Kemudian Allah mengisyaratkan bahwa perdebatan tentang kiblat ini bukan hanya menghalangi dari syiar-syiar yang ada di dalam Masjidil Haram saja, tetapi juga menghalangi dari syiar-syiar yang ada di sekitarnya: “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar-syiar Allah” (Al-Baqarah: 158).
Kemudian Allah menegaskan perkara kedua syiar ini sebagaimana menegaskan perkara kiblat dengan menyindir Ahli Kitab yang mengetahui asal-usul keduanya dalam sejarah Ibrahim alaihissalam, tetapi mereka menyembunyikan apa yang diturunkan Allah berupa keterangan-keterangan yang jelas padahal mereka mengetahuinya.
Apakah kamu melihat empat tahapan yang ditempuh Al-Quran dalam dakwah kepada Bani Israil bagaimana diatur tahap demi tahap, dan bagaimana berjalan dalam setiap tahap itu langkah demi langkah.
Maka lihatlah sekali lagi tahap terakhir ini, untuk melihat bagaimana Allah memanfaatkan posisinya untuk mencapai dua tujuan yang berbeda, dan menjadikannya sebagai penghubung antara dua maksud yang berjauhan. Secara keseluruhan, tahap ini merupakan pembicaraan dari Allah kepada Nabi dan orang-orang beriman mengenai urusan khusus mereka dan apa yang menyangkut perkara agama mereka, tetapi Allah membuat pembicaraan ini memiliki dua ujung, mewarnai setiap ujung dengan warna maksud yang berhubungan dengannya, sehingga kedua maksud itu bertemu padanya atas perkara yang telah ditentukan.
Tidakkah kamu lihat bagaimana Allah memulainya dengan mengisahkan kepada orang-orang beriman perkataan musuh-musuh mereka tentang sebagian kebenaran-kebenaran Islam, dan Allah sengaja mengambil kebenaran-kebenaran yang mereka perdebatkan ini, lalu mulai menghapus debu keraguan dari wajahnya hingga menampakkannya putih bersih bagi orang yang melihat, sehingga permulaan ini sebagaimana kamu lihat menjadi akhir dari pertempuran-pertempuran panjang di mana kebatilan diperangi di setiap medan. Kemudian kamu lihat bagaimana Allah mengarahkan pembicaraan untuk mengukuhkan langkah orang-orang beriman pada kebenaran-kebenaran teoritis dan praktis tersebut, dan mendorong mereka untuk berpegang teguh padanya dalam beberapa ayat… Bukankah akhir ini menjadi permulaan untuk maksud baru setelahnya yang dimaksudkan untuk membimbing orang-orang beriman kepada ajaran-ajaran Islam secara terperinci.
Ya.. Itulah yang diisyaratkan oleh rangkaian pembicaraan yang berkesinambungan ini, yang memanjangkan khitab kepada orang-orang beriman, dan mengalihkan arah pembicaraan dengan mereka secara perlahan-lahan, hingga setiap orang yang mendengarkannya dengan saksama, akan mendengar di dalamnya panggilan tersembunyi: Bahwa hari ini kita telah selesai berjihad melawan musuh-musuh, dan kita menghadap kepada para wali untuk mengajar dan membimbing, dan bahwa kita telah menutup kitab orang-orang durhaka, dan datang untuk membuka kitab orang-orang yang berbakti, dan bahwa halaman terakhir dari dakwah kepada Bani Israil ini hanyalah pelopor dari pasukan-pasukan kebenaran, yang mengabarkan bahwa akan menyusul setelahnya tentara yang besar, atau sinar dari fajar petunjuk yang akan mengubah zaman dari kegelapan malam menjadi putihnya siang. Tidakkah kamu lihat medan telah menjadi kosong dari bayangan-bayangan Israil yang tampak bagimu dalam kegelapan kebatilan yang kamu serang dan menyerangmu. Apakah kamu merasakan kehadiran mereka atau mendengar suara mereka?
Atau tidakkah kamu lihat sinar-sinar pertama dari matahari syariat Islam telah muncul, yang satu mendorong yang lain.
Prinsip-prinsip umum yang teoritis, yang diikuti oleh sekelompok cabang-cabang besar yang praktis… Bukankah sudah saatnya bagi seluruh cabang-cabang lain untuk datang dari belakangnya hingga matahari mencapai siang harinya.
Demikianlah telinga-telinga terbuka untuk mendengar syariat-syariat Islam secara terperinci, sehingga jika ia datang kepada kita sekarang secara berturut-turut dan berurutan, kita tidak menganggap pembicaraan tentangnya sebagai pembicaraan yang singkat.
Tetapi Al-Quran, yang telah diletakkan pada timbangan keterangan yang paling teliti dan paling memperhatikan kebutuhan jiwa, tidak ingin menyerang tujuan dengan hanya puas pada persiapan ini, tetapi ingin mendahulukan di hadapannya suatu jarak untuk jiwa beristirahat dari perjalanan jauh itu.. dan mengambil persiapan untuk perjalanan lain menuju tujuan baru itu.. Maka lihatlah yang berikut ini: Pintu masuk kepada maksud ketiga: dalam lima belas ayat (163 – 177):
Lebih dari sepuluh ayat mulia, yang berfungsi sebagai serambi antara pintu dan rumah yang dilewati oleh pejalan dalam tiga langkah: (Langkah pertama) menetapkan keesaan Pencipta yang disembah. (Langkah kedua) menetapkan keesaan yang Memerintah dan ditaati. (Langkah ketiga) daftar umum perintah-perintah dan ketaatan yang diperlukan.
(Langkah pertama) menetapkan keesaan Pencipta yang disembah:
- [Menetapkan keesaan Pencipta yang disembah]
Langkah ini datang pada saat yang paling dibutuhkan antara yang sebelumnya dan sesudahnya, karena apa yang telah berlalu dari pengagungan perkara Kakbah, Maqam, Shafa dan Marwah dapat menimbulkan dalam pikiran orang yang baru masuk Islam makna-makna dari paganisme awal dalam mengagungkan batu-batu dan benda-benda, apalagi tempat-tempat suci ini pada waktu itu menjadi tempat berkumpulnya berhala-berhala dan patung-patung di sekitar dan di atasnya; maka wajib agar pengagungan ini tidak dibiarkan tanpa pembatasan dan pengekangan, dan jangan dibiarkan gejolak jiwa ini tanpa penolakan dan penjauhan, hingga tidak tersisa keraguan bahwa berdirinya orang-orang yang shalat di Maqam Ibrahim dan menghadapkan wajah mereka ke arah Kakbah, dan menyentuhnya orang-orang yang thawaf pada sudut-sudutnya, dan thawafnya para haji dan umrah antara Shafa dan Marwah, semua itu tidak dimaksudkan oleh Islam untuk mengarahkan hati kepada batu-batu dan peninggalan ini; sebagai penghampiran dengan menyembahnya atau mengharap rahmatnya atau meminta syafaatnya, tetapi dimaksudkan untuk mengagungkan Tuhan Yang Haq dan mentaati perintah-Nya dengan menyembah-Nya di tempat-tempat rahmat-Nya dan kemungkinan berkah-Nya yang turun di dalamnya kepada hamba-hamba-Nya yang saleh sebelumnya, kemudian memperbaharui kenangan para hamba saleh itu dalam jiwa, dan mengokohkan kecintaan kepada mereka dalam hati, dengan mengikuti jejak-jejak mereka, dan meneladani gerak-gerik dan ketenangan mereka, hingga masa kini umat terhubung dengan masa lalunya, dan hingga tersusun darinya satu umat yang berputar mengelilingi satu poros, dan menuju kepada satu tujuan yang merupakan tujuan paling tinggi dan paling mulia “Dan Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan selain Dia” (Al-Baqarah: 163) Tahukah kalian siapa Dia…? Dia bukanlah Kakbah dan bukan pula Shafa dan Marwah, bukan Ibrahim dan bukan Maqam Ibrahim, tetapi Dia adalah “Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” (Al-Baqarah: 163) yang meliputi segala sesuatu dengan rahmat dan nikmat “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi” … “terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berakal” (Al-Baqarah: 164) dan yang di tangan-Nya semua kekuatan dan semua kekerasan: tidak ada yang menyiksa seperti siksa-Nya dan tidak ada yang mengikat seperti ikatan-Nya “Dan seandainya orang-orang yang zalim itu melihat ketika mereka melihat azab, bahwa kekuatan itu seluruhnya milik Allah, dan bahwa Allah amat keras azab-Nya” (Al-Baqarah: 165).
Ini dari sisi maksud yang telah selesai.
Adapun dari sisi maksud yang kita hadapi, maka langkah ini merupakan dasar dan pendahuluan yang tidak dapat dihindari sebelum memulai merinci hukum-hukum praktis, agar menjadi pengarahan pandangan kepada sisi yang seharusnya diterima darinya khitab mengenai hukum-hukum tersebut. Hal itu karena seseorang jika mengenal seorang tuan tunggal dan menyerahkan wajahnya kepadanya, maka wajib tidak bertindak kecuali atas perintahnya dan tidak mengambil syariat kecuali dari tangannya. Dan siapa yang memiliki tuhan-tuhan yang tersebar, dan bersengketa padanya sekutu-sekutu yang bertengkar yang masing-masing menuntutnya bagian ketaatan kepadanya, dan banyak padanya sumber-sumber perintah yang ditaati. Maka ada perintah untuk bapak-bapak dan suku, dan perintah untuk adat dan kebiasaan yang diwariskan dan yang baru, dan perintah untuk para pemimpin dan pembesar, dan perintah untuk setan-setan dan hawa nafsu.. Oleh karena itu diperkuat dengan langkah kedua.
(Langkah kedua) menetapkan keesaan yang Memerintah dan ditaati:
- [Menetapkan keesaan yang Memerintah dan ditaati]
Dan ini adalah rukun akidah tauhid dalam Islam, sebagaimana dari pokok tauhid adalah tidak mengambil dalam ibadahmu tuhan selain Allah Yang Maha Pengasih yang di tangan-Nya penciptaan dan rezeki dan bahaya dan manfaat, demikian pula dari pokok tauhid adalah tidak menjadikan bagi selain-Nya hukum dalam seluruh tindakanmu, tetapi meyakini bahwa tidak ada hukum kecuali milik-Nya, dan bahwa di tangan-Nya saja perintah dan larangan, dan halal apa yang dihalalkan Allah, dan haram apa yang diharamkan Allah, dan siapa yang menghalalkan yang haram-Nya atau mengharamkan yang halal-Nya maka dia telah kafir. Dan sebagaimana tidak pantas bahwa Dia adalah Pencipta tetapi yang lain disembah, dan Pemberi rezeki tetapi yang lain disyukuri, tidak pantas bahwa Dia adalah Hakim tetapi yang lain ditaati.
“Wahai manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian” (Al-Baqarah: 168).
Dan sungguh Allah telah menempuh dalam menetapkan keesaan syariat ini cara seperti jalan-Nya dalam menetapkan keesaan ketuhanan.
- [Cara Al-Quran dalam menetapkan Keesaan Syariat]
(Dimulai) dengan memperkenalkan kepada manusia nikmat Allah yang menyeluruh dan rahmat-Nya yang sempurna dalam kemudahan syariat dan kesesuaiannya dengan fitrah, karena dalam keluasan pilihan Dia tidak mengharamkan bagi mereka dari makanan kecuali 4. [Keesaan Syariat] empat hal yang semuanya najis dan buruk, dan menghalalkan bagi mereka selain itu agar mereka memanfaatkan seluruh yang ada di bumi dari yang halal lagi baik, dan dalam kesempitan darurat Dia menjadikan semua yang dilarang berubah menjadi dibolehkan dengan diangkatnya kesulitan “Barang siapa dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Al-Baqarah: 173), dan cukuplah dengan gaya ini untuk melunakkan hati dan membawanya untuk tunduk pada perintah Rabb yang penyayang kepada hamba-hamba-Nya ini. Maka siapakah yang lebih berhak ditaati, Yang menghalalkan bagi kalian yang baik-baik dan mengharamkan atas kalian yang buruk-buruk, ataukah yang “hanya menyuruh kalian kepada kejahatan dan kekejian dan agar kalian mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui” (Al-Baqarah: 169), maka siapakah yang lebih berhak diikuti, Yang memberi petunjuk kepada kebenaran ataukah yang “tidak berakal apa-apa dan tidak mendapat petunjuk” (Al-Baqarah: 170).
(Kemudian ditutup) dengan mengenalkan kepada mereka kadar murka dan pembalasan-Nya terhadap siapa yang menyembunyikan perintah dan larangan-Nya dan menggantinya dengan selain apa yang diperintahkan dan dilarang dan mengambil atas hal itu suap dan harta haram “Mereka itu tidak memakan ke dalam perut mereka kecuali api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan mensucikan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih” (Al-Baqarah: 174).
Dan orang yang memperhatikan metode penetapan ini jika merenungkan wajah pemilihan pembicaraan tentang makanan dan pendapatan dari antara macam-macam halal dan haram akan melihat dari keindahan posisinya di sini yang dengannya diketahui bahwa itulah pegangan kuat yang diikat dengannya ikatan keterangan, dan ditutup dengannya celah-celah antara langkah-langkahnya yang terdahulu dan yang akan datang.
Dari segi praktis ia adalah salah satu cabang yang akan beralih kepadanya pembicaraan tidak lama lagi, maka penyebutan di sini dianggap sebagai isyarat akan segera dimulainya maksud yang baru, kemudian dari segi akidah ia terhubung secara historis dan erat dengan akidah tauhid yang sedang dibahas, yaitu bahwa ahli jahiliah dari penyembah berhala dan ahli kitab ketika mereka mengikuti langkah-langkah setan sehingga menyesatkan mereka dari tauhid Yang Disembah hingga mereka mengambil selain Allah sekutu-sekutu yang mereka cintai seperti cinta kepada Allah, tidak lama kemudian terbuka bagi mereka pintu persekutuan dalam syariat setelah persekutuan dalam ibadah. Maka mereka mulai mengharamkan dari tanaman dan hewan yang halal, dan menghalalkan yang haram, bahkan mereka ketika menyembelih hewan mereka mengumandangkan selain Allah – mereka berteriak dengan nama-nama tuhan mereka – dan menghalalkan makanannya dengan itu, maka mereka mengumpulkan padanya tiga kerusakan: maksiat, bidah, dan syirik besar. (Dan) seakan-akan pintu pengharaman dan penghalalaan dalam makanan dan pendapatan adalah pintu pertama yang dibuka dalam jahiliah untuk bersyariat tanpa izin Allah, oleh karena itu ia adalah pintu pertama yang ditutup Al-Quran setelah syirik besar. Maka kamu lihat larangan daripadanya dan penetapannya serta penjelasan kebenaran di dalamnya mengikuti penyebutan akidah bahkan dalam surat-surat Makkiyah seperti surat Al-An’am, Al-A’raf, Yunus, An-Nahl, dan lainnya.
Dan yang menambah kebaikan posisinya di sini adalah datangnya dalam konteks penyebutan tauhid yang seimbang dengan datangnya hukum kiblat dalam konteks penyebutan millah Ibrahim, karena keduanya adalah cabang besar yang terhubung dengan pokok yang besar. Tidakkah kamu lihat bagaimana ditutup pembicaraan tentang masalahnya dengan seperti apa yang ditutup di sana dari ancaman kepada para pembangkang “yang menyembunyikan apa yang diturunkan Allah” (Al-Baqarah: 174)? Atau tidakkah kamu lihat bagaimana Islam menjadikan masalah kiblat dan sembelihan keduanya dari syiar yang membedakan muslim dari yang lain. Sebagaimana dia dibedakan dengan syahadat dan shalat: “Siapa yang shalat seperti shalat kita, dan menghadap kiblat kita, dan makan sembelihan kita, maka itulah muslim yang baginya perlindungan Allah dan Rasul-Nya”.
Namun bidah pengharaman dengan pendapat dalam masalah ini tidak terbatas pada kelompok di luar agama saja, bahkan sebagian muslim pada masa kenabian hampir terkena penularan umat-umat sebelum mereka, ketika mereka bermaksud bertarāhub, dan mengharamkan atas diri mereka yang baik-baik dari makanan dan selainnya, bukan pengharaman terhadap apa yang dihalalkan Allah daripadanya, tetapi zuhud padanya dan memaksa diri untuk sabar meninggalkannya dengan cara nazar atau sumpah atau tekad yang bulat, maka Al-Quran menolak bidah ini dan menutup pintunya rapat-rapat, agar tidak menjadi tangga menuju yang di belakangnya, dan mengingatkan mereka bahwa dari konsekuensi mengesakan Allah adalah turun pada hukum-Nya dalam apa yang dihalalkan bagi mereka; sebagai pelaksanaan syariat syukur di dalamnya, sebagaimana mereka turun pada hukum-Nya dalam apa yang diharamkan atas mereka sebagai pelaksanaan syariat sabar di dalamnya: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari yang baik-baik yang Kami rezekikan kepada kalian dan bersyukurlah kepada Allah jika kalian hanya menyembah kepada-Nya” (Al-Baqarah: 172).
Maka lihatlah bagaimana khitab kepada manusia secara umum dengan prinsip ini dan konsekuensi-konsekuensinya sebagai persiapan untuk khitab kepada orang beriman secara khusus dengannya dan dengan apa yang akan menyusul dari hukum-hukum, sebagaimana khitab kepada manusia secara umum dengan rukun-rukun Islam di awal surat adalah persiapan untuk apa yang menyusul dari khitab kepada Bani Israil secara khusus dengan dakwah mereka untuk masuk ke dalamnya secara lahir batin, apakah kamu melihat yang lebih baik dari susunan yang saling berhadapan dan seimbang ini?
Dan sekarang; setelah jiwa mengambil persiapannya untuk menerima seluruh perintah dan larangan, lihatlah bagaimana melangkah kepadanya dengan langkah ketiga dan terakhir.
(Langkah terakhir) ringkasan syariat-syariat agama:
[Ringkasan Syariat-Syariat Agama]
Dan Anda akan melihat dalam Al-Quran keajaiban-keajaiban dari keindahan susunannya:
- Lihatlah keindahan transisi dalam menghubungkan tujuan yang lama dengan tujuan yang baru dengan cara yang mengikat keduanya secara lafadz namun memisahkan keduanya secara hukum. Dalam menggabungkan lafadznya, seakan-akan Dia meletakkan salah satu kaki Anda di akhir masa lalu dan kaki yang lain di awal masa depan. Namun dalam memisahkan hukumnya dengan dua alat penafian dan pengecualian, seakan-akan Dia menggerakkan kedua kaki Anda sepenuhnya ke depan: “Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke arah barat, tetapi kebajikan itu” (QS. Al-Baqarah: 177).
Al-Quran berkata: Sesungguhnya masalah penentuan tempat-tempat dan arah-arah dalam penampakan ibadah – masalah yang telah menyibukkan pikiran orang-orang yang menentang dan yang mendukung dengan kritik dan bantahan – bukanlah semua yang dituntut untuk diperhatikan dalam urusan kebajikan, bahkan itu hanyalah satu cabang dari keseluruhan cabang yang tercakup dalam satu sifat dari keseluruhan sifat-sifatnya. Kebajikan adalah kata yang mencakup seluruh sifat kebaikan; teoritis dan praktis, dalam berinteraksi dengan makhluk, beribadah kepada Khaliq, dan penyucian akhlaq. Dengan sifat-sifat tersebut semuanya hendaklah orang-orang beriman yang jujur menyibukkan diri.
- Kemudian lihatlah ketika Dia hendak merinci sifat-sifat tersebut, bagaimana Dia tidak langsung membahasnya sekaligus, tetapi Dia mulai bertahap menuju hal itu dengan lembut dan halus. Dia memulai dengan kata yang berada di atas penjabaran global namun di bawah rincian, yaitu seperti daftar isi untuk kaidah-kaidah iman dan syariat-syariat Islam: “tetapi kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi” (QS. Al-Baqarah: 177).
- Dan lihatlah penyebutan kaidah-kaidah iman di sini bagaimana ia menyimpang dari urutan alami yang telah diperhatikan di awal surat berkali-kali. Anda akan melihat di sini ia menggabungkan antara kedua ujung (iman kepada Allah dan hari Akhir) dan mengakhiri dengan perantara (iman kepada malaikat, kitab-kitab, dan para nabi). Hal ini karena dari perantara-perantara inilah diketahui hukum-hukum syariat dan darinya diambil, maka ia mengakhirkannya agar hukum-hukum tersebut terhubung dengannya, sehingga tidak ada penghalang antara asal dan cabangnya. Oleh karena itu ia memperhatikan urutan rukun-rukun perantara ini di antara mereka. Ia memulai dengan malaikat yang membawa wahyu, kedua kitab yang merupakan wahyu yang dibawa, dan ketiga para nabi yang merupakan tempat turunnya wahyu. Dari sinilah terhubung dengan penjelasan syariat-syariat yang sampai kepada kita melalui jalur kenabian.
Tujuan Ketiga dari Tujuan-Tujuan Surat: Dalam Seratus Enam Ayat (178-283)
[Perluasan Syariat-Syariat Islam]
Setelah peletakan dasar, kemudian dilakukan pembangunan; dan setelah ketenangan akan keselamatan bagian luar, tibalah giliran pembangunan dan konstruksi di bagian dalam.
Ya, telah selesai (perbaikan akidah) yang merupakan ruh agama dan intinya; maka hendaklah dimulai (perincian syariat) yang merupakan penampakan agama dan kerangkanya. Telah dihilangkan syubhat orang-orang yang membangkang dan ditegakkan hujjah atas mereka, maka tidak tersisa kecuali penerangan jalan bagi para penempuh dan penjelasan jalan lurus di hadapan mereka. Perhatian sebelumnya tertuju kepada penjelasan (hakikat-hakikat iman), maka sekarang hendaklah tertuju kepada perluasan (syariat-syariat Islam).
Dan Anda telah melihat bagaimana surat ini mempersiapkan peralihan ini, yaitu dengan meletakkan penghalang yang menghubungkan ujung-ujung pembicaraan dan bertemunya konteks sebelum dan sesudahnya. Jika Anda menoleh sebentar ke samping, Anda akan melihat bagian penghalang yang paling dekat dengan Anda adalah ayat yang komprehensif (ayat tentang kebajikan) yang mengatur pokok-pokok dakwah dengan dua bagiannya: teoritis dan praktis; dan Anda akan melihat bagian yang paling dekat dengan Anda dari kedua bagian ini adalah bagian praktis.
Ketahuilah sekarang bahwa bagian praktis ini, yang sebelumnya kita lihat terlipat dalam daftar isi yang ringkas, akan kita lihat selanjutnya diperluas dalam penjelasan yang terperinci.
Dalam lebih dari seratus ayat, kita akan melihat seni baru dari makna-makna, tugasnya adalah menggambar sistem kerja bagi orang-orang beriman dan merinci yang wajib, haram, dan halal bagi mereka dalam berbagai aspek kehidupan: dalam urusan individu, keluarga, dan umat. Penjelasan yang baru dimulai terkadang, dan jawaban atas pertanyaan di waktu lain, secara keseluruhan membahas puluhan cabang hukum.
Hikmah umum dalam menunda pembangunan hingga pondasi terpasang kokoh, dan menunda cabang-cabang hingga pokok-pokoknya terpasang rapi, akan tampak dari baliknya hikmah-hikmah parsial dan rahasia-rahasia halus bagi siapa yang menghadapi cabang-cabang ini, melihat keterkaitan bata-batanya dalam strukturnya dan keserasian butir-butirnya dalam kalungnya, kemudian kembali melihat aspek perbandingan antara penjabaran global sebelumnya dengan perincian yang mengikuti.
Mari kita mulai mengkaji lingkaran-lingkaran utama dari rangkaian baru ini:
Ayat tentang kebajikan telah berakhir sebagaimana Anda lihat, dengan satu sifat dari sifat-sifat kebajikan yang dibedakan dalam i’rabnya sebagai tamyiz, maka hal itu merupakan penghormatan terhadap kedudukannya. Sifat itu adalah sifat sabar yang oleh ayat tersebut dibagi menjadi tiga cabang: sabar dalam kesempitan, sabar dalam kesulitan, dan sabar ketika perang. Tahukah Anda bahwa sekarang ketika fase perincian telah dimulai, sifat ini dengan ketiga cabangnya akan menjadi yang pertama diperhatikan surat untuk disebarkan dari sifat-sifat tersebut, dan akan disebarkan secara berurutan dengan urutan naik berlawanan dengan urutan pelipatan: sabar ketika perang, kemudian sabar dalam kesulitan, kemudian sabar dalam kesempitan. Dan tahukah Anda bahwa sistem naik ini akan diikuti dalam seluruh sifat: menepati janji dan akad, kemudian mendirikan shalat, membayar zakat, berkorban dan berderma di jalan Allah? Berikut penjelasan terperincinya:
Sabar Ketika Perang (178-182):
Janganlah Anda mengira ini adalah sabar terhadap luka-luka dalam perang, karena itu makna negatif yang pasrah; dan jangan mengira ini sabar dalam menyerang dan membunuh musuh, karena itu usaha praktis yang positif memang, namun kembali kepada kekuatan otot dan urat syaraf, bukan kepada kekuatan akhlaq dan adab (“Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah”). Demikianlah Allah akan memilihkan untuk kita dari contoh-contoh sabar yang paling baik, dan dari timbangan-timbangannya yang paling berbobot dalam ukuran nilai, yaitu mengendalikan diri ketika perang, menahannya dari terlarut mengikuti dorongan balas dendam, mencegahnya dari berlebihan dalam pembunuhan, dan menghentikannya pada batas keseimbangan dan kesetaraan yang adil (Qishas: 178-179). Dan karena rangkaian makna membawa kita dari pembicaraan tentang orang yang terbunuh kepada pembicaraan tentang orang yang akan mati, maka tepatlah melengkapi pembicaraan dengan penjelasan kewajiban orang yang akan mati untuk berwasiat kepada kerabatnya sebagai bentuk berbakti kepada mereka (Wasiat: 180-182).
Sabar Dalam Kesulitan:
Demikian pula Allah akan memilihkan untuk kita dari pintu-pintu sabar dalam kesulitan yang paling tinggi: bukan sabar terhadap penyakit dan kesakitan secara mutlaq, tetapi sabar terhadap dahaga dan kelaparan dalam ketaatan kepada Allah (Puasa: 183-187). Dan pembicaraan mengalir dari puasa sementara terhadap sebagian yang halal kepada puasa permanen terhadap harta haram (188).
Sabar Dalam Kesempitan:
Dengan pola yang sama, kita akan melihat sabar dalam kesempitan di sini bukanlah sabar terpaksa terhadap kemiskinan, krisis keuangan, dan bencana dari langit, tetapi sabar pilihan terhadap pengorbanan harta dengan menginfakkannya di jalan Allah. Contoh yang dipilih Al-Quran Al-Hakim di sini adalah contoh ganda yang mengatur sabar dalam kesempitan dan kesulitan sekaligus; karena menggabungkan antara jihad dengan jiwa dan jihad dengan harta (Haji ke Baitullah: 189-203).
Jangan lupa di sini untuk melihat peralihan halus yang dengannya pembicaraan berpindah dari puasa ke haji, yaitu masalah hilal yang dijadikan Allah sebagai waktu-waktu untuk puasa dan haji sekaligus (189).
Mari kita berhenti sebentar di sini untuk menunjukkan hal menakjubkan dari urusan-urusan susunan Al-Quran di tempat ini:
Ketika dimulai penyebutan haji, hukum-hukumnya tidak langsung tersambung, tetapi dipisah antara permulaan pembicaraan tentangnya dengan hukumnya oleh enam ayat tentang hukum-hukum jihad dengan jiwa dan harta dalam memerangi musuh (190-195). Selingan yang dikira orang awam sebagai tambalan asing dalam kain makna baru. Tetapi orang yang mengetahui sejarah Islam dan sebab-sebab turunnya Al-Quran mengetahui kedudukan terhormat selingan ini dan ketepatannya mengenai sasaran, bukan hanya karena bersamaan waktu antara pensyariatan haji dengan perang Hudaibiyah pada tahun keenam hijriyah; tetapi karena pelaksanaan manasik pada tahun itu adalah tekad yang tidak terlaksana dan harapan yang tidak terwujud, karena kaum muslimin saat itu terhalang dari Baitullah dan berniat menyerang musuh-musuh mereka yang menghalangi mereka darinya. Seandainya Allah tidak melarang mereka memulai permusuhan dan memerintahkan agar tidak memerangi di Masjidil Haram kecuali yang memerangi mereka di sana, mereka pulang dengan pasrah kepada perintah Allah, menunggu terwujudnya janji Allah. Demikian pula hendaklah pembaca atau pendengar di sini kembali dalam keadaan haus untuk menyelesaikan pembicaraan haji dengan janji akan kembali kepadanya setelah selingan, sebagaimana kaum muslimin saat itu kembali dari Makkah dalam keadaan haus kepadanya dengan janji akan kembali kepadanya tahun depan. Demikianlah ayat-ayat selingan ini menjadi kenangan abadi peristiwa-peristiwa awal itu. Dan demikianlah Al-Quran Al-Hakim adalah cermin jernih tempat kita melihat gambaran-gambaran hakikat dari segala warna yang kita petik terkadang dari penjelasan tegas ungkapannya, dan terkadang dari metode dan gaya dalam mempercepat penjelasan atau menundanya. Kemudian ayat-ayat selingan ini sekaligus menjadi pelajaran praktis tentang sabar peserta didik terhadap gurunya, tidak membuatnya tergesa-gesa dengan pertanyaan tentang suatu perkara di tengah pembicaraannya; tetapi menunggu sebentar hingga guru menceritakan kepadanya tentang hal itu di saat yang telah ditentukan. Dan demikian tidak akan lama kita menunggu hingga melihat hukum-hukum haji dan umrah datang setelah itu dengan rindu dan dahaga, lalu memuaskan dan menyegarkan dengan penjelasan yang menyembuhkan dan mencukupi (196-203). Dengan selesainya penjelasan ini, selesailah lingkaran pertama dari hukum-hukum, yaitu kewajiban sabar dalam kesempitan, kesulitan, dan ketika perang.
Istirahat (204-214):
Hikmah Allah dan kelembutanNya kepada kita dalam mendidik jiwa kita untuk taat kepada perintahNya menghendaki agar tidak langsung naik ke lingkaran kedua, tetapi setelah istirahat yang berisi nasihat umum untuk menguatkan hati terhadap apa yang telah berlalu dan mempersiapkan jalan untuk yang tersisa. Dari keindahan posisi nasihat umum ini adalah terhubungnya dengan nasihat khusus yang mengakhiri pembicaraan haji, yang membagi manusia dari segi harapan dan cita-cita menjadi dua kelompok: kelompok yang hanya menginginkan kebaikan dunia dan tidak memikirkan urusan akhirat, dan kelompok yang dunianya tidak membuatnya lupa kepentingan akhiratnya (200-202). Maka datanglah nasihat umum membagi manusia dari segi apa yang ada pada mereka berupa sifat egois atau mengutamakan orang lain menjadi dua golongan: golongan yang tidak peduli mengorbankan kehidupan hamba dan kemakmuran negeri demi hawa nafsunya, dan golongan yang sebaliknya tidak berat mengorbankan dirinya demi ridha Allah (204-207).
Ayat-ayat bijak beralih dari pembagian ini kepada pengarahan nasihat bagi orang-orang beriman agar memurnikan jiwa mereka dari kotoran hawa nafsu dan berserah diri sepenuhnya kepada perintah-perintah Allah tanpa membeda-bedakan antara sebagian dengan sebagian yang lain; memperingatkan mereka dari tergelincir setelah mendapat petunjuk dan berdiri di atasnya, menghibur mereka dari kesempitan dan kesulitan yang mungkin menimpa mereka dalam menegakkannya, memberikan contoh dengan sunnah salaf saleh dari umat-umat sebelumnya (208-214).
Di sini selesai istirahat dengan nasihat umum.
Dan lingkaran selanjutnya akan merinci sifat kedua dari sifat-sifat praktis yang dijabardalam ayat tentang kebajikan, yaitu menepati janji dan akad; dan akan memilih dari akad-akad ini yang paling berhak mendapat perhatian dan pemeliharaan: akad pernikahan dan hal-hal yang berputar di sekitar porosnya dari urusan keluarga. Bukankah keluarga adalah medan pertama untuk berlatih bergaul dengan baik dan menjauhi sifat tercela egois dan mementingkan diri? Kemudian bukankah perkara-perkara jika lurus dalam masyarakat kecil ini, akan lurus secara bertahap dalam masyarakat besar, kemudian dalam masyarakat yang lebih besar?
Perincian Urusan Keluarga Yang Saling Berkaitan (Ayat 215 sampai 237):
Bagaimana peralihan ke lingkaran kedua ini? Apakah Al-Quran langsung naik kepada perincian urusan-urusan rumah tangga yang rumit dan bercabang ini? Tidak! Penjelasan yang mendidik dan bijak ini tidak akan menyerang kita sekaligus, tetapi akan berlaku lembut dalam membawa kita kepadanya melalui tangga pertanyaan dan jawaban, yang awal-awalnya terhubung dengan hukum-hukum sebelumnya: infaq dan jihad (215-218) dan akhir-akhirnya terhubung dengan hukum-hukum selanjutnya: bergaul dengan anak yatim, syarat-syarat pernikahan, dan penghalang-penghalang hubungan intim (220-222). Demikianlah kita sampai dengan lembut dan halus, tanpa terburu-buru atau terpotong kepada inti lingkaran kedua (223-237) di mana kita menerima tentang kehidupan berumah tangga sebuah konstitusi bijak yang terdiri dari dua bagian; bagian pertamanya mengurus urusan keluarga selama masih terhubung (223-232), dan bagian akhirnya mengurus urusan mereka ketika terurai dan terpisah (233-237).
Ambillah lingkaran baru dari surat mulia ini, dan ketahuilah sebab-sebab turunnya, dan lihatlah bagaimana setiap kasus adalah fatwa dalam peristiwa tertentu yang terpisah dari yang lain; kemudian kembalilah melihat gaya penjelasannya secara keseluruhan; dan cobalah melihat padanya bekas perpisahan atau perpindahan, atau merasakan padanya bekas buatan penempelan atau paksaan penyambungan. Dan ketahuilah sejak sekarang bahwa Anda akan mencoba dengan sia-sia; karena Anda tidak akan menemukan di hadapan Anda kecuali satu batangan logam yang mengalir di dalamnya satu urat dan mengalir di dalamnya satu air, meskipun ia terhimpun dari logam-logam yang beragam.
Renungkanlah pertama-tama garis perjalanan makna-makna:
Lihatlah bagaimana pembicaraan dimulai dengan peletakan dasar, yaitu dengan menetapkan hak bergaul dan bercampur suami istri (223). Kemudian lihatlah bagaimana dilanjutkan dengan larangan memasukkan sumpah dalam hak-hak suci semacam ini, baik dengan bersumpah mencegah kebaikan dari yang berhak atau memutus apa yang diperintahkan Allah untuk disambung (224-225). Dan bagaimana dilanjutkan dengan hukum cabang dari cabang-cabang prinsip ini yang berkaitan dengan hubungan suami istri, yaitu hukum orang yang bersumpah tidak akan mendekati istrinya (226-227). Dan bagaimana dari sini tersambung dengan hukum-hukum talaq dan hak-hak serta kewajiban-kewajiban yang mengikuti talaq (228).
Jika Anda terpesona dengan rangkaian makna dan tahapan logis ini dalam urusan-urusan yang tadinya terpisah yang dimunculkan peristiwa secara mendadak, maka marilah bersama saya agar saya letakkan tangan Anda dalam bagian ini pada satu huruf tempat Anda merasakan sejauh mana kehebatan dalam menyusun hal-hal yang terpisah ini hingga menjadi satu urusan dengan satu susunan:
Itulah tempat peralihan dari fatwa ila’ menuju fatwa talak: “Dan jika mereka berazam untuk talak, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 227). Tidakkah engkau melihat bagaimana gaya dalam hukum ila’ diatur dengan cara tertentu, yang pembaca dapat melihat dari cakrawala yang gelap yang memperingatkan kemungkinan perpisahan; maka ketika datang setelahnya pembicaraan tentang hukum-hukum perpisahan, hal itu tidak asing, bahkan ia menemukan tempatnya telah dipersiapkan untuknya sebelumnya; seolah-olah penutup hukum ila’ adalah seperti mata rantai terbuka, yang mengantisipasi mata rantai lain untuk bertautan dengannya; maka ketika fatwa talak datang pada waktunya, ia adalah mata rantai yang dinantikan itu, dan tidak lama setelah kedua mata rantai itu bertemu hingga saling bertautan dan menjadi satu lingkaran yang tidak diketahui di mana kedua ujungnya, dan demikianlah kedua pembicaraan itu menjadi satu pembicaraan.
Siapakah yang mengajarkan Muhammad – seandainya Al-Quran berasal darinya – bahwa suatu hari nanti dia akan diminta fatwa tentang rincian-rincian halus hukum talak tersebut? Dan siapa yang mengajarkannya bahwa dia akan menemukan jawaban untuk pertanyaan ini, dan bahwa jawaban ini akan diletakkan dalam satu rangkaian dengan hukum ila’, dan bahwa untuk kebenaran seluruh rangkaian itu, hukum ila’ yang ditanyakan fatwa sekarang ini harus disajikan dengan cara yang membuat bagian akhirnya paling dekat dengan pembicaraan talak yang akan ditanyakan beberapa saat kemudian; agar bentuk bergabung dengan bentuknya ketika waktu penjelasannya tiba? … Mustahil ilmu manusia dapat mencapai cakrawala yang tinggi ini; karena itu adalah urusan Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, yang telah memberikan kepada segala sesuatu penciptaannya kemudian memberinya petunjuk.
Dan surat itu berlanjut dalam pola baru ini, merinci akibat-akibat talak dan semua konsekuensinya: iddah, rujuk, khuluk, menyusui, meminta susuan, khitbah, mahar, dan mut’ah… sampai selesainya lingkaran kedua ini (237).
Dan di sanalah dimulai lingkaran ketiga “Peliharalah semua salat dan salat wustha, dan berdirilah karena Allah dengan khusyuk” (238-274).
Mari kita lihat: bagaimana peralihan antara kedua lingkaran ini terjadi? Sesungguhnya sebagaimana kita melihat kelambatan dan penundaan, serta istirahat dan nafas antara lingkaran pertama dan kedua, kita akan melihat sebaliknya antara lingkaran kedua dan ketiga, yaitu peralihan yang hampir mendadak bahkan lompatan yang sangat mengejutkan, yang mungkin dianggap oleh pengamat sebagai pemendekan; padahal itu bukanlah pemendekan kecuali menurut pandangan yang dangkal… Adapun bagi yang mengikuti bersama kita perjalanan kafilah makna sejak awal, dan menempuh bersama kita dua pertiga jalan yang digambarkan oleh ayat kebaikan: dari menepati janji, bersabar dalam kesempitan dan penderitaan serta saat pertempuran, maka dia pasti akan mengantisipasi bersama kita sepertiga yang tersisa: mendirikan salat, menunaikan zakat, dan memberikan harta karena cintanya di jalan Allah, dan dia akan melihat bahwa lingkaran ketiga ini telah datang di sini pada urutan dan tempatnya yang telah ditentukan, sesuai dengan urutannya dalam ayat yang komprehensif.
Ada yang akan berkata: Ya, memang ia datang pada tempat dan urutannya, tetapi peralihan kepadanya terjadi tanpa persiapan psikis, dan tanpa pendahuluan penjelasan.
Kami katakan: bahkan telah ada persiapan dan pendahuluan itu, dalam ayat mulia yang menutup lingkaran sebelumnya: “Dan bahwa kamu memaafkan itu lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Baqarah: 237). Ayat ini, jika direnungkan, adalah jembatan emas yang diletakkan pada saat dibutuhkan setelah pembicaraan tentang rincian hak dan kewajiban rumah tangga berkepanjangan; sebuah jembatan yang didatangkan untuk memindahkan kita dari hiruk pikuk perhitungan dan perselisihan, menuju ketenangan pemaafan dan kemuliaan; maka ia menjadi tangga tengah yang menaikkan kita ke cakrawala yang lebih tinggi, sebagai persiapan untuk naik selanjutnya ke cakrawala yang paling tinggi… Tidakkah engkau mendengar kata-kata ini: “Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu” (QS. Al-Baqarah: 237) (janganlah kamu lupakan… keutamaan… di antara kamu).
Sesungguhnya setiap huruf dalam kata-kata ini menyeru bahwa ia adalah kata-kata kekasih yang berpamitan, yang telah tinggal di antara kita untuk beberapa waktu, untuk memutuskan urusan-urusan kita; kemudian sekarang mulai melipat lembaran hukum-hukumnya, untuk berpaling bersama kita darinya kepada yang lebih penting; maka dia berkata kepada kita sambil melipatnya: Tinggalkan pertengkaran dalam urusan-urusan kecil ini, selesaikan di antara kamu dengan hukum kebaikan dan keutamaan, yang lebih tinggi dari hukum hak dan keadilan; dan arahkan pandangan kamu bersamaku kepada urusan-urusan besar yang menyeluruh, yang lebih berhak untuk dicurahkan kepadanya tekad dan tujuan, dan lebih layak untuk disibukkan dengannya akal dan hati… Ya, ya. Cukuplah bagi kamu pembicaraan tentang hak-hak suami dan anak, maka dengarkanlah sekarang pembicaraan tentang hak-hak Allah dan tanah air:
Peliharalah salat… Belanjakanlah di jalan Allah… Berjihadlah di jalan Allah… (Dan setelah itu) apakah pembicaraan tentang salat di sini dianggap sebagai tujuan asli yang mandiri, ataukah ia adalah bagian dari tujuan lain.
Agar kita dapat menjawab pertanyaan ini dengan baik, sebaiknya kita mengarahkan pandangan sekali lagi, untuk melihat kumpulan sifat-sifat yang dikumpulkan dalam ayat kebaikan, dan yang dirinci dalam ayat-ayat setelahnya hingga mendekati akhir surat, dan kita bandingkan bagian-bagian mereka dari perhatian Az-Zikr Al-Hakim, maka apa yang kita lihat?
Kita melihat pujian terhadap keutamaan infak dan jihad di jalan Allah, terus diulang-ulang dalam pembukaan dan penutup pembicaraan, dalam keumumannya dan dalam rinciannya, pengulangan yang menyeru bahwa itulah tujuan yang paling penting, dan sasaran yang paling agung, dari penetapan syariat dalam surat ini… Seandainya kita, dalam cahaya gaya ini, membayangkan lingkungan dan peristiwa-peristiwanya, dan membayangkan kaum itu sementara dibacakan kepada mereka syariat-syariat surat ini dan hukum-hukumnya, pasti kita akan membayangkan sebuah kemah yang tetap untuk jihad ganda; harta dan badan, dan kita akan membayangkan di puncak kemah ini seorang pemimpin yang waspada dan berhati-hati, tidak luput darinya satu pun urusan prajuritnya; khusus dan umumnya, dan dia tidak berhenti memberikan kepada mereka perintah-perintah dan bimbingannya dalam berbagai urusan tersebut. Setiap kali selesai memberikan fatwa kepada mereka dalam masalah-masalah sementara yang muncul, dia kembali dengan pembicaraan kepada alurnya yang biasa, dalam urusan tugas utama mereka…
Letakkan lukisan kemiliteran ini di depan matamu… Maka tidak akan ada heran bagimu melihat pembicaraan tentang jihad muncul sekarang setelah urusan-urusan tersebut; karena karpetnya selalu terbentang, dan seruan kepadanya selalu tegak; maka jika disebutkan kembali setelah hilangnya gangguan-gangguan sementara di sekitarnya, ia hanya datang sesuai asalnya dan sifatnya; maka tidak perlu ditanyakan tentang sebabnya…
Apa yang kita katakan?… Urusan jihad!! Bukankah pembicaraan sekarang akan dibuka dengan urusan salat, dan iddah wafat, bukan dengan urusan jihad? Bahkan kita katakan, dan kita maksud apa yang kita katakan: bahwa pembicaraan sekarang kembali kepada urusan jihad, dan bahwa khitab di sini tentang salat dan lainnya ditujukan kepada para mujahid dari segi mereka adalah mujahid, untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ditimbulkan oleh posisi jihad itu sendiri, sebelum diarahkan kepada mereka perintah tegas untuk berperang…
Maka masalah pertama dari masalah-masalah ini adalah masalah salat dalam perang: Bukankah jihad menjadi rukhsah dalam menggugurkan kewajiban ini atau dalam menundanya?
Kitab Yang Mulia menjawab kita: Tidak ada rukhsah dalam meninggalkan salat dan tidak dalam menundanya, tidak dalam damai maupun dalam perang, tidak dalam aman maupun dalam takut: “Peliharalah semua salat dan salat wustha, dan berdirilah karena Allah dengan khusyuk” (QS. Al-Baqarah: 238). Dan rukhsah saat takut hanya dalam satu hal: dalam sifat-sifat salat dan bentuknya: “Jika kamu dalam keadaan takut, maka salatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (salat), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang tidak kamu ketahui” (QS. Al-Baqarah: 239).
Dan salat sebagaimana kita ketahui adalah kekuatan spiritual melawan musuh, dan persiapan dari peralatan kemenangan, tidak heran merupakan hikmah untuk membekali jiwa-jiwa para mujahid dengannya, sebelum mereka diperintah berperang dengan perintah tegas. Dan salat pada saat yang sama adalah penyucian jiwa dari akhlak yang buruk, membersihkannya dari kotoran kikir dan tamak terhadap puing-puing dunia, tidak heran juga merupakan hikmah menjadikannya penyangga bagi wasiat tadi, yang memerintahkan kita untuk toleransi dan kemuliaan dalam muamalah… Demikianlah penempatan pembicaraan tentang salat memiliki manfaat ganda: obat sekaligus makanan, melihat ke depan dan ke belakang sekaligus, bahkan katakanlah: ia memiliki manfaat tiga lipat; karena dalam pandangannya ke belakang tidak hanya melihat ayat sebelumnya saja, tetapi juga melihat ayat yang komprehensif, untuk merinci keumumannya dalam aspek ini. Dan prajurit dalam perang paling tidak disibukkan oleh dua ketakutan: takut pada dirinya dan pada para mujahid bersamanya dari bahaya kematian atau kekalahan, dan takut pada keluarganya dari kesengsaraan dan kemiskinan jika dia terbunuh… Oleh karena itu penjelasan yang mulia mengalir untuk mengusir dari hatinya kedua ketakutan itu. Adapun keluarganya, Allah telah berwasiat untuk istri, jika suaminya meninggal, agar diberi nafkah satu tahun penuh di rumahnya, demikian juga yang ditalaknya akan ditetapkan haknya dalam mut’ah yang tidak dilupakan, maka hendaklah dia tenang dari segi ini (240-242). Dan adapun takut mati, hendaklah dia ketahui bahwa yang mencari kematian mungkin dianugerahi kehidupan: “Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka: ‘Matilah kamu’, kemudian Allah menghidupkan mereka” (243).
Dan adapun takut kekalahan, maka kemenangan di tangan Allah “Berapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah” (QS. Al-Baqarah: 249) dan itu adalah sunnatullah terhadap para rasul (246-253).
Demikianlah semua ketakutan dijauhkan dari hati para mujahid, setelah jiwa-jiwa mereka dibekali dengan bekal takwa, dan demikianlah mereka menjadi dalam kesiapan psikis yang sempurna, untuk menerima perintah-perintah tinggi, maka hendaklah dikeluarkan kepada mereka perintah tegas untuk berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka (244-245).
Dan hendaklah dirinci untuk mereka pelajaran-pelajaran sejarah, yang meneguhkan kaki mereka saat pertempuran, dan yang menambah harapan mereka akan kemenangan (246-253).
Dan jihad sebagaimana kita katakan ada dua: jihad dengan jiwa, dan jihad dengan harta. Dan jihad dengan harta tidak terbatas pada urusan perang, bahkan ia adalah memberikannya dalam segala hal yang menyenangkan umat, menguatkan kekuatan negara, dan melindungi benteng agama. Dan jihad dengan jiwa telah mendapat bagiannya dari seruan dalam ayat pendek (244) kemudian dalam ayat-ayat banyak (246-253), dan jihad dengan harta mendapat sebagian bagiannya dalam ayat pendek (245) maka dari keadilan bahwa ia mendapat bagian penuhnya dalam ayat-ayat banyak juga.
Dan demikianlah kita lihat seruan kepadanya sekarang mengambil bagiannya; terkadang bercorak keras (254-260), terkadang bercorak lembut (261) dan terkadang bercorak pengajaran terperinci untuk adab-adab pemberian (262-274).
Ayat-ayat dari (275-283):
Kemudian pembicaraan mengalir dari keutamaan berkorban dan mengutamakan orang lain, yang merupakan keutamaan sosial paling tinggi, kepada kehinaan tamak dan mementingkan diri sendiri, yang berada di sisi berlawanan, sebagai jenis muamalah manusia yang paling hina (maksudku kehinaan riba, yang di dalamnya dieksploitasi kebutuhan yang lemah, dan ditarik bayaran atas kebaikan yang diberikan) (275-279).
Dan pengaitan antara keduanya dalam penjelasan ini adalah penampakan sejauh mana perbedaan antara nilai keduanya dalam hukum hati nurani yang hidup.
Dan antara dua ujung yang berjauhan ini, Al-Quran menegakkan timbangan keadilan pada batas tengah, memberikan kepada pemilik hak kekuasaan dalam menuntut seluruh pokok hartanya tanpa dikurangi sedikit pun “kamu tidak menganiaya dan tidak dianiaya” (QS. Al-Baqarah: 279). Namun ia memperingatkan kita dari buruknya penggunaan hak ini terhadap orang-orang yang kesulitan; maka ia memerintahkan kita untuk mengambil salah satu dari dua kebaikan terhadap mereka: menunggu sampai ada kemudahan, atau melepaskan hutang kepada mereka secara final, dan ini lebih mulia dan lebih baik “Dan jika kamu bersedekah itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (280-281).
Dan karena corak yang menonjol dalam syariat Quranniy ini, yaitu corak qana’ah dan kemurahan hati, mungkin memberikan bisikan kepada jiwa-jiwa sesuatu dari kelalaian dalam urusan harta, dan mungkin condong kepada berlebihan dalam menjaga dan mengembangkannya, maka datanglah ayat hutang dan gadai (282-283) untuk menolak dari jiwa-jiwa kita sangkaan ini, dan menyusun bagi orang-orang mukmin konstitusi yang merupakan konstitusi sipil paling teliti, dalam menjaga hak-hak dan mengaturnya serta mendokumentasikannya dengan berbagai cara, sebagai persiapan untuk membelanjakannya dalam cara-cara terbaik… Maka barangsiapa tidak menemukan jalan untuk berpegang pada dokumen apa pun, dan tidak tersisa di hadapannya kecuali menyerahkan orang yang berutang kepada kewajibannya dan amanahnya “Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanahnya” (QS. Al-Baqarah: 283).
Dan demikianlah ditutup bagian praktis dari surat, dengan kaidah ideal ini, yang merupakan dasar setiap muamalah yang mulia, yaitu kaidah kejujuran dan amanah, semoga Allah menjadikan kita termasuk ahli kejujuran dan amanah… Amin.
Tujuan keempat dari tujuan-tujuan surat: dalam satu ayat (284).
Dalam ayat sebelumnya, berakhirlah tugas hukum-hukum terperinci, pada batas yang Allah kehendaki penjelasannya dalam surat ini; dan dengannya ditutup bagian kedua dari hakikat agama, yaitu bagian praktisnya; setelah menegakkan bagian akidahnya dalam ayat (122) dan sesudahnya.
Dan demikianlah penjelasan hingga sekarang telah mencakup:
- Hakikat-hakikat iman.
- Syariat-syariat Islam.
Apakah masih tersisa dalam bangunan agama sesuatu di atas rukun-rukun ini?
Ya; telah tersisa puncaknya yang tinggi, dan perhiasannya yang besar… setelah iman… dan Islam… tersisa ihsan; dan ia sebagaimana ditafsirkan oleh pemilik risalah shallallahu alaihi wa sallam adalah bahwa engkau mengawasi Allah dalam setiap urusanmu, dan engkau merasakan pengawasanNya terhadapmu dalam rahasia dan terang-teranganmu, dan engkau bersiap untuk perhitunganNya terhadapmu, bahkan terhadap isi dadamu, dan batin jiwamu… Tuntutan yang mulia yang tidak mampu dipenuhi oleh setiap mukmin, dan tidak setiap muslim; melainkan hanya berkeliling di sekitar bentengnya sekelompok pilihan dari para bertakwa… Dan seolah-olah karena kemuliaannya tuntutan ini dan kemuliaannya, Allah menjaga mutiara yatimnya dalam satu ayat ini, yang dengannya Dia memahkotai puncak surat: “Dan jika kamu melahirkan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang hal itu” (QS. Al-Baqarah: 284).
Penutup: dalam dua ayat (285-286):
Dan sekarang setelah penjelasan mencakup rukun-rukun agama semuanya, dan meliputi unsur-unsurnya semua: iman, dan Islam, dan ihsan; tidak tersisa setelah sempurnanya pembicaraan kecuali melipat lembarannya, dan mengumumkan penutupnya? Maka apakah engkau tahu bagaimana dilipat lembaran surat ini, dan bagaimana diumumkan penutupnya?
Mari kita kembali dengan ingatan kita kepada lima ayat yang membuka surat Al-Baqarah; untuk melihat bagaimana mukadimah itu bergema dengan penutup ini; kemudian bagaimana kedua ujung itu berpelukan demikian untuk bersatu dari kedua lengkungannya menjadi tembok yang kokoh yang mengelilingi surat ini, maka jadilah ia surat sungguh-sungguh, yaitu bangunan yang terjalin dan bertembok…
Bukankah pembuka surat itu janji yang mulia bagi siapa yang akan beriman kepadanya dan menaati perintahnya bahwa mereka adalah ahli petunjuk dan ahli keberuntungan?
Bukankah kita sekarang menantikan gema janji ini? Ya; sesungguhnya kita sekarang menunggu surat memberitahu kita: apakah ada yang beriman kepadanya, dan apakah ada yang mengikuti petunjuknya, kemudian kita menunggu darinya jika hal itu telah terjadi, bahwa ia memberitahu kita tentang balasan bagi yang mendengar dan mengikuti…
Dan demikianlah akan menjadi penggalan surat:
- Pemberitaan tentang keberhasilan seruannya: “Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman”… “dan mereka berkata: ‘Kami dengar dan kami taat'” (QS. Al-Baqarah: 285).
- Memenuhi janjinya kepada setiap jiwa yang mengerahkan kemampuannya dalam mengikutinya: “Baginya pahala apa yang telah diusahakannya dan baginya siksa apa yang telah diperbuatnya” (QS. Al-Baqarah: 286).
- Membuka pintu harapan lebar-lebar di hadapan orang-orang yang mendapat petunjuk ini, maka hendaklah mereka bentangkan telapak tangan mereka sambil memohon: (Ya Tuhan kami… Ya Tuhan kami… Ya Tuhan kami)… “Engkaulah Pelindung kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir” (QS. Al-Baqarah: 286).
Itulah surat Al-Baqarah… Apakah engkau melihat kesatuannya dalam kemajemukan? Apakah engkau mengetahui arah garis-garisnya dalam lukisannya? Apakah engkau melihat bagaimana batu-batu bangunannya tersambung tanpa semen yang menahannya, dan langitnya terangkat tanpa tiang yang menyangga? Apakah engkau melihat bagaimana tersusun dari kepala dan dada dan isi perut dan anggota-anggotanya, bukan katakanlah boneka terindah, tetapi gambaran hidup terindah, setiap partikel dalam selnya, dan setiap sel dalam anggotanya, dan setiap anggota dalam sistemnya, dan setiap sistem dalam tubuhnya, menyeru bahwa ia telah mengambil tempatnya yang terbagi, sesuai dengan garis menyeluruh yang dirancang, yang dirancang oleh pendidik jiwa-jiwa dan penyuci mereka.
Dan yang menerangi akal-akal serta membimbingnya, dan yang mengarahkan jiwa-jiwa serta menggembalanya.. Demi Allah, seandainya surah ini disusun setelah turunnya secara lengkap, niscaya penggabungan bagian-bagiannya yang terpencar dalam bentuk seperti ini merupakan sebuah mukjizat, lalu bagaimana halnya padahal setiap bagian darinya – sebagaimana bagian-bagian lain dalam surah-surah lainnya – ditempatkan pada urutannya sejak saat turunnya, dan telah disediakan tempat bagi yang lain sambil menunggu turunnya; dan demikianlah apa yang belum turun darinya telah diketahui urutannya dan ditentukan tempatnya sebelum turun? Kemudian bagaimana halnya padahal surah ini telah dikhususkan di antara surah-surah yang turun secara berangsur-angsur dengan penentuan tempat-tempat bagiannya bukan sebelum turunnya dengan setahun atau sebagian tahun, melainkan dengan sembilan tahun?
Demi hidupku, jika Al-Quran memiliki mukjizat-mukjizat dalam kefasihan ungkapannya, dan mukjizat-mukjizat dalam metode-metode pendidikannya, dan mukjizat-mukjizat dalam ramalan-ramalannya yang benar, dan mukjizat-mukjizat dalam syariat-syariatnya yang kekal, dan dalam segala yang digunakannya dari hakikat-hakikat ilmu kejiwaan dan kealaman (mukjizat-mukjizat) dan mukjizat-mukjizat, demi hidupku sesungguhnya dalam penyusunan ayat-ayatnya dengan cara seperti ini sungguh merupakan mukjizat dari segala mukjizat!







