Al-Bidayah wa An-Nihayah (Permulaan dan Akhir) 01

Rabu, 7 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Al-Bidayah wa An-Nihayah (Permulaan dan Akhir) 01

Mukaddimah Penulis

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Berkata Syaikh Imam, Ulama yang Sangat Terpelajar, Abu Al-Fida’ Imaduddin Isma’il bin Katsir semoga Allah Ta’ala merahmatinya: Segala puji bagi Allah Yang Awal lagi Yang Akhir, Yang Batin lagi Yang Zahir, Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, Yang Awal maka tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya, Yang Akhir maka tidak ada sesuatu pun sesudah-Nya, Yang Zahir maka tidak ada sesuatu pun di atas-Nya, Yang Batin maka tidak ada sesuatu pun di bawah-Nya, Yang Azali lagi Qadim yang senantiasa ada dan dikenal dengan sifat-sifat kesempurnaan, dan akan senantiasa terus-menerus kekal abadi tanpa berakhir, tanpa terputus, dan tanpa lenyap, Yang mengetahui gerak semut hitam di atas batu yang keras pada malam yang gelap gulita, dan bilangan butiran pasir, dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar lagi Maha Agung, Yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia yang telah menciptakan segala sesuatu lalu menentukannya dengan sebaik-baiknya, dan mengangkat langit-langit tanpa tiang, dan menghiasinya dengan bintang-bintang yang gemerlap, dan menjadikan di dalamnya matahari yang bersinar dan bulan yang bercahaya, dan di atasnya Dia telah menyeimbangkan Arasy yang tinggi, mulia, luas, berkubah dan bulat, itulah Arasy yang agung yang memiliki tiang-tiang besar yang diangkat oleh para malaikat yang mulia, dan dikelilingi oleh para Karubiyin alaihimus shalatu was salam, dan mereka bertasbih dengan pensucian dan pengagungan, begitu pula penjuru-penjuru langit dipenuhi dengan para malaikat, dan setiap hari tujuh puluh ribu malaikat turun ke Baitul Ma’mur di langit ketujuh, mereka tidak kembali lagi selamanya sambil bertahlil, bertahmid, bertakbir, bershalawat dan memberi salam. Dan Dia meletakkan bumi untuk makhluk di atas aliran air, dan menjadikan padanya gunung-gunung yang kokoh di atasnya dan memberkatinya dan menentukan padanya makanan-makanan penghuninya, dalam empat masa yang sama bagi orang-orang yang bertanya sebelum penciptaan langit, dan menumbuhkan padanya dari segala pasangan dua-dua sebagai petunjuk bagi orang-orang yang berakal dari segala yang dibutuhkan oleh para hamba dalam musim dingin dan musim panas mereka, serta segala yang mereka butuhkan dan mereka miliki dari hewan ternak.

Dan Dia memulai penciptaan manusia dari tanah, dan menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina dalam tempat yang kokoh, lalu menjadikannya mendengar dan melihat setelah sebelumnya dia tidak termasuk sesuatu yang disebut-sebut, dan memuliakan dia dengan ilmu dan pengajaran, Dia menciptakan dengan Tangan-Nya yang Mulia Adam bapak manusia dan membentuk jasadnya dan meniupkan padanya dari ruh-Nya, dan memerintahkan para malaikat-Nya bersujud kepadanya dan menciptakan darinya pasangannya Hawa ibu manusia, maka dia menghibur kesendiriannya dengan Hawa dan menempatkannya di surga-Nya dan melimpahkan kepada keduanya nikmat-Nya, kemudian menurunkan keduanya ke bumi karena apa yang telah ditentukan dalam hal itu dari hikmah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, dan menyebarkan dari keduanya laki-laki yang banyak dan perempuan-perempuan dan membagi mereka dengan takdir-Nya yang agung: raja-raja dan rakyat jelata, orang-orang fakir dan orang-orang kaya, orang-orang merdeka dan budak-budak, wanita-wanita merdeka dan budak-budak wanita, dan menempatkan mereka di penjuru-penjuru bumi panjang dan lebarnya, dan menjadikan mereka khalifah-khalifah padanya, sebagian dari mereka menggantikan sebagian yang lain sampai hari perhitungan dan pemaparan kepada Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, dan menundukkan bagi mereka sungai-sungai dari berbagai negeri yang mengalir melintasi berbagai wilayah sampai ke kota-kota, antara yang kecil dan yang besar, sesuai dengan kadar kebutuhan dan keperluan, dan memancurkan bagi mereka mata air-mata air dan sumur-sumur, dan menurunkan kepada mereka awan dengan hujan-hujan sehingga menumbuhkan bagi mereka berbagai jenis tanaman dan buah-buahan dan memberikan kepada mereka dari segala yang mereka minta dengan lisan keadaan mereka dan ucapan mereka: “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim lagi sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Surat Ibrahim: 34). Maka Maha Suci Yang Maha Dermawan, Maha Kaya, Maha Agung, Maha Penyantun, dan adalah termasuk nikmat-Nya yang paling agung kepada mereka dan kebaikan-Nya kepada mereka setelah Dia menciptakan mereka dan memberi rezeki kepada mereka dan memudahkan bagi mereka jalan dan membuat mereka berbicara; yaitu bahwa Dia mengutus para rasul-Nya kepada mereka dan menurunkan kitab-kitab-Nya kepada mereka yang menjelaskan halal-Nya dan haram-Nya serta berita-berita-Nya dan hukum-hukum-Nya dan perincian segala sesuatu dalam permulaan dan kembali sampai hari kiamat; maka orang yang berbahagia adalah orang yang menyambut berita-berita dengan membenarkan dan berserah diri, dan menyambut perintah-perintah dengan patuh, dan larangan-larangan dengan mengagungkan; maka dia akan memperoleh kenikmatan yang kekal dan dijauhkan dari kedudukan orang-orang yang mendustakan di neraka Jahanam yang memiliki pohon zaqqum dan air yang sangat panas serta adzab yang pedih.

Aku memuji-Nya dengan pujian yang banyak, baik, dan penuh berkah yang memenuhi penjuru langit dan bumi selamanya abadi sepanjang masa dan waktu sampai hari kiamat, di setiap saat dan waktu, dan masa dan hari, sebagaimana yang layak bagi keagungan-Nya yang agung dan kekuasaan-Nya yang qadim dan Wajah-Nya yang mulia, dan aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada anak bagi-Nya, tidak ada ayah bagi-Nya, tidak ada istri bagi-Nya, tidak ada yang semisal bagi-Nya, tidak ada menteri bagi-Nya, tidak ada penasihat bagi-Nya, tidak ada yang setara dan tidak ada yang sepadan dan tidak ada yang menyamai, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya dan kekasih-Nya dan khalil-Nya yang terpilih dari kalangan bangsa Arab yang murni, penutup para nabi, pemilik telaga yang paling besar dan segar, pemilik syafaat yang agung pada hari kiamat, dan pembawa panji yang akan Allah bangkitkan pada maqam mahmud yang semua makhluk mengharapkan padanya termasuk Khalilullah Ibrahim shallallahu ‘alaihi wa ‘ala sa’iri ikhwanihi minan nabiyyin wal mursalin wa sallam wa syarrafa wa karram azka shalatin wa taslim wa a’la tasyrif wa takrim, dan semoga Allah meridhai semua sahabatnya yang mulia dan terhormat, para pemimpin yang cerdas yang terhormat, pilihan dunia setelah para nabi selama malam bercampur dengan siang dan muadzin menyerukan azan dan siang menghapus kegelapan malam yang kelam.

Amma ba’du (adapun setelah itu), maka ini adalah kitab yang di dalamnya aku akan menyebutkan dengan pertolongan Allah dan baik taufik-Nya apa yang Allah Ta’ala mudahkan dengan daya dan kekuatan-Nya dari penyebutan permulaan makhluk-makhluk: dari penciptaan Arasy, Kursi, langit-langit dan bumi-bumi serta apa yang ada padanya dan apa yang ada di antara keduanya dari para malaikat, jin, dan setan-setan, dan bagaimana penciptaan Adam alaihis salam dan kisah-kisah para nabi, dan apa yang mengikuti hal tersebut sampai masa Bani Israil dan masa Jahiliyah hingga kenabian berakhir sampai masa nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kami akan menyebutkan sirahnya sebagaimana mestinya sehingga menyembuhkan dada dan rasa dahaga dan menghilangkan penyakit dari orang yang sakit, kemudian kami akan menyebutkan apa yang terjadi setelah itu sampai zaman kami dan menyebutkan fitnah-fitnah dan peperangan, dan tanda-tanda hari kiamat, kemudian kebangkitan dan penghimpunan, dan peristiwa-peristiwa mengerikan hari kiamat, kemudian sifat hari itu dan apa yang terjadi pada hari itu dari perkara-perkara yang menakutkan, kemudian sifat neraka, kemudian sifat surga dan apa yang ada padanya dari kebaikan-kebaikan yang indah dan selain itu serta apa yang berkaitan dengannya dan apa yang disebutkan dalam hal itu dari Kitab dan Sunnah serta atsar-atsar dan berita-berita yang dinukil yang diterima di sisi para ulama dan pewaris para nabi yang mengambil dari pelita kenabian terpilih Muhammadiyah atas orang yang membawanya, shalawat dan salam yang paling utama. Dan kami tidak akan menyebutkan dari Israiliyat kecuali apa yang diizinkan oleh syariat untuk dinukil, apa yang tidak bertentangan dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu bagian yang tidak dibenarkan dan tidak pula didustakan dari apa yang di dalamnya terdapat perincian bagi yang ringkas pada kami, atau penamaan bagi yang mubham yang disebutkan oleh syariat kami dari apa yang tidak ada faedahnya bagi kami dalam penentuan secara spesifik, maka kami menyebutkannya dalam rangka berhias dengannya bukan dalam rangka membutuhkannya dan bersandar padanya. Dan sesungguhnya yang menjadi sandaran dan pegangan adalah Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apa yang shahih nukilan atau hasan, dan apa yang di dalamnya terdapat kelemahan kami akan menjelaskannya dan kepada Allah-lah tempat meminta pertolongan dan kepada-Nya-lah tempat bertawakal, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, Maha Tinggi lagi Maha Agung, maka Allah Ta’ala telah berfirman dalam kitab-Nya: “Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al-Quran).” (Surat Thaha: 99). Dan Allah telah mengisahkan kepada nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam berita tentang apa yang telah berlalu: dari penciptaan makhluk-makhluk, dan penyebutan umat-umat yang telah berlalu, dan bagaimana Dia berbuat kepada para wali-Nya, dan apa yang Dia turunkan kepada musuh-musuh-Nya dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan hal itu kepada umatnya dengan penjelasan yang sempurna – sebagaimana akan kami sebutkan pada setiap bab apa yang sampai kepada kami dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal itu mengikuti ayat-ayat yang disebutkan dalam hal tersebut – maka beliau telah memberitahukan kepada kami tentang apa yang kami butuhkan dari hal itu dan meninggalkan apa yang tidak ada faedahnya padanya dari apa yang mungkin diperebutkan ilmunya dan diterjemahkan pemahamannya oleh kelompok-kelompok dari ulama Ahli Kitab dari apa yang tidak ada faedahnya bagi banyak orang, dan mungkin diriwayatkan secara lengkap oleh sekelompok ulama kami juga namun kami tidak mengikuti jejak mereka dan tidak menempuh jalan mereka, dan kami tidak akan menyebutkan darinya kecuali sedikit dalam rangka meringkas, dan kami akan menjelaskan apa yang di dalamnya terdapat kebenaran darinya, yang sesuai dengan apa yang ada pada kami, dan apa yang menyelisihinya maka akan terjadi pengingkaran terhadapnya.

Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahullah dalam Shahih-nya dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sampaikanlah dariku walau satu ayat, dan ceritakanlah dari Bani Israil dan tidak mengapa, dan ceritakanlah dariku dan jangan berdusta atas namaku, dan barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia menempati tempatnya di neraka.” Maka hadits ini dibawa kepada Israiliyat yang tidak disebutkan pada kami, maka tidak ada pada kami apa yang membenarkannya dan tidak pula apa yang mendustakannya, maka boleh meriwayatkannya untuk dijadikan pelajaran, dan inilah yang kami gunakan dalam kitab kami ini. Adapun apa yang disaksikan oleh syariat kami dengan kebenaran maka tidak ada kebutuhan kami kepadanya karena cukup dengan apa yang ada pada kami, dan apa yang disaksikan oleh syariat kami darinya dengan kebatilan maka itu ditolak dan tidak boleh diceritakan kecuali dalam rangka pengingkaran dan pembatalan, maka jika Allah Subhanahu – dan bagi-Nya segala puji – telah mencukupkan kami dengan rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari semua syariat, dan dengan kitab-Nya dari semua kitab; maka kami tidak mengandalkan apa yang ada pada tangan mereka dari apa yang telah terjadi padanya kekacauan dan percampuran dan dusta dan pemalsuan dan perubahan dan penggantian dan setelah semua itu penghapusan dan pengubahan, maka yang dibutuhkan darinya telah dijelaskan kepada kami oleh rasul kami dan diuraikan dan dijelaskan, diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak mengetahuinya sebagaimana yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib: Kitabullah di dalamnya terdapat berita tentang apa yang sebelum kalian dan berita tentang apa yang setelah kalian dan hukum tentang apa yang di antara kalian, dan itulah pemisah bukan main-main, barangsiapa yang meninggalkannya dari orang yang sombong maka Allah akan menghancurkannya, dan barangsiapa yang mencari petunjuk pada selainnya maka Allah akan menyesatkannya, dan Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata: Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat dan tidak ada burung yang terbang dengan sayapnya kecuali beliau telah menyebutkan kepada kami ilmu tentangnya.

Dan Imam Bukhari berkata dalam kitab Permulaan Penciptaan: Dan Isa bin Musa Ghunjar meriwayatkan, dari Riqbah, dari Qais bin Muslim dari Thariq bin Syihab dia berkata: Aku mendengar Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di tengah kami dengan berdiri dan memberitahukan kepada kami tentang permulaan penciptaan sampai penghuni surga memasuki tempat-tempat mereka dan penghuni neraka memasuki tempat-tempat mereka, menghafalnya orang yang menghafalnya dan melupakannya orang yang melupakannya. Abu Mas’ud Ad-Dimasyqi berkata dalam Athraf-nya: Demikianlah yang dikatakan oleh Imam Bukhari, dan sesungguhnya Isa Ghunjar meriwayatkannya dari Abu Hamzah dari Riqbah. Dan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata dalam Musnad-nya: Telah menceritakan kepada kami Abu Ashim telah menceritakan kepada kami Azrah bin Tsabit telah menceritakan kepada kami Ilba’ bin Ahmar Al-Yaskuri telah menceritakan kepada kami Abu Zaid Al-Anshari dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat bersama kami shalat Subuh, kemudian naik mimbar lalu berkhutbah kepada kami hingga datang waktu Zhuhur, kemudian turun lalu shalat Zhuhur, kemudian naik mimbar lalu berkhutbah kepada kami hingga datang waktu Ashar, kemudian turun lalu shalat Ashar, kemudian naik mimbar lalu berkhutbah kepada kami hingga matahari terbenam, maka beliau menceritakan kepada kami tentang apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, maka orang yang paling tahu di antara kami adalah yang paling hafal. Diriwayatkan secara khusus oleh Imam Muslim maka dia meriwayatkannya dalam kitab Fitnah dari Shahih-nya dari Ya’qub bin Ibrahim Ad-Dauraqiy, dan Hajjaj bin Asy-Sya’ir keduanya, dari Abu Ashim Adh-Dhahhak bin Makhlad An-Nabil, dari Azrah, dari Ilba’, dari Abu Zaid Amr bin Akhtab bin Rifa’ah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan hadits yang serupa.

Dan Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun dan Affan keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, telah memberitahukan kepada kami Ali bin Yazid, dari Abu Nadhrah, dari Abu Sa’id dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah kepada kami khutbah setelah Ashar sampai terbenamnya matahari, menghafalnya orang yang menghafalnya dan melupakannya orang yang melupakannya. Affan berkata: Hammad berkata: Dan yang paling banyak aku hafal bahwa beliau bersabda: tentang apa yang akan terjadi sampai hari kiamat maka beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian bersabda: Amma ba’du (adapun setelah itu) maka sesungguhnya dunia itu hijau lagi manis, dan sesungguhnya Allah akan menjadikan kalian khalifah di dalamnya maka Dia akan melihat bagaimana amal kalian, ketahuilah maka bertakwalah kepada dunia dan bertakwalah kepada wanita.

Dan dia menyebutkan lengkap khutbah tersebut sampai dia berkata: Maka ketika tiba waktu terbenamnya matahari beliau bersabda: Ketahuilah bahwa sesungguhnya perumpamaan sisa dunia terhadap apa yang telah berlalu darinya seperti perumpamaan sisa hari kalian ini terhadap apa yang telah berlalu darinya. Kemudian Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, telah memberitahukan kepada kami Ma’mar, dari Ali bin Zaid bin Jad’an, dari Abu Nadhrah, dari Abu Sa’id dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat bersama kami shalat Ashar pada suatu hari siang, kemudian berdiri lalu berkhutbah kepada kami hingga matahari terbenam, maka beliau tidak meninggalkan sesuatu pun yang akan terjadi sampai hari kiamat kecuali beliau menceritakannya kepada kami, menghafalnya orang yang menghafalnya dan melupakannya orang yang melupakannya, maka termasuk di antara apa yang beliau katakan: Wahai manusia sesungguhnya dunia itu hijau lagi manis, dan sesungguhnya Allah akan menjadikan kalian khalifah di dalamnya maka Dia akan melihat bagaimana amal kalian, maka bertakwalah kepada dunia dan bertakwalah kepada wanita. Dan dia menyebutkan lengkapnya sampai dia berkata: Kemudian matahari semakin dekat untuk terbenam, maka beliau bersabda: “Dan sesungguhnya sisa dunia terhadap apa yang telah berlalu darinya seperti sisa hari kalian ini terhadap apa yang telah berlalu darinya.”

Dan inilah yang mahfuzh (terpelihara), wallahu a’lam (dan Allah yang lebih mengetahui).

Pasal (Bab)

Allah Ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia: “Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” (Surat Az-Zumar: 62). Maka segala sesuatu selain-Nya Ta’ala adalah makhluk-Nya, dalam kekuasaan-Nya yang mengatur, tercipta setelah tidak ada, baru setelah tidak adanya, maka Arasy yang merupakan atap makhluk-makhluk sampai yang ada di bawah tanah dan apa yang ada di antara itu dari yang padat dan yang bernyawa, semuanya adalah ciptaan-Nya dan milik-Nya dan hamba-hamba-Nya dan di bawah kekuasaan-Nya dan kekuatan-Nya dan di bawah pengaturan-Nya dan kehendak-Nya. “Dia menciptakan langit dan bumi dalam enam masa kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.” (Surat Al-Hadid: 4). Dan telah sepakat para ulama Islam secara keseluruhan tidak diragukan dalam hal itu oleh seorang muslim bahwa Allah menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari sebagaimana yang ditunjukkan oleh Al-Quran yang bijaksana, dan mereka berbeda pendapat tentang hari-hari ini apakah seperti hari-hari kita ini, atau setiap hari seperti seribu tahun menurut perhitungan kalian? Atas dua pendapat sebagaimana kami jelaskan hal itu dalam Tafsir dan kami akan mengemukakan penyebutannya pada tempatnya.

Dan mereka berbeda pendapat apakah sebelum penciptaan langit dan bumi ada sesuatu yang diciptakan sebelum keduanya? Maka sekelompok ahli kalam berpendapat bahwa tidak ada sesuatu pun sebelum keduanya, dan bahwa keduanya diciptakan dari ketiadaan murni. Dan yang lain berkata: bahkan sebelum langit dan bumi ada makhluk-makhluk lain karena firman-Nya Ta’ala: “Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa dan adalah Arasy-Nya di atas air.” (Surat Hud: 7). Ayat tersebut. Dan dalam hadits Imran bin Hushain sebagaimana akan datang: Allah telah ada dan tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya, dan Arasy-Nya di atas air, dan Dia menulis dalam Adz-Dzikr (Lauhul Mahfuzh) segala sesuatu, kemudian Dia menciptakan langit dan bumi. Dan Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Bahz, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, telah memberitahukan kepada kami Ya’la bin Atha’, dari Waki’ bin Hudus, dari pamannya Abu Razin Laqith bin Amir Al-Uqailiy bahwa dia berkata: Wahai Rasulullah, di mana Rabb kami sebelum Dia menciptakan langit dan bumi? Beliau bersabda: “Dia berada di Ama’ (kabut), tidak ada udara di atasnya dan tidak ada udara di bawahnya, kemudian Dia menciptakan Arasy-Nya di atas air.” Dan diriwayatkan darinya dari Yazid bin Harun, dari Hammad bin Salamah dengannya dan lafadznya: di mana Rabb kami sebelum Dia menciptakan makhluk-Nya? Dan selebihnya sama, dan dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dari Ahmad bin Mani’, dan Ibnu Majah dari Abu Bakar bin Abi Syaibah, dan Muhammad bin Ash-Shabbah, tiga orang semuanya dari Yazid bin Harun, dan At-Tirmidzi berkata: Hasan. Dan mereka berbeda pendapat yang mana di antara keduanya yang diciptakan lebih dahulu? Maka sekelompok berkata: Qalam diciptakan sebelum semua hal-hal ini, dan ini adalah pilihan Ibnu Jarir dan Ibnul Jauzi dan selain keduanya. Ibnu Jarir berkata: Dan setelah Qalam adalah awan yang tipis. Dan mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dari Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya yang pertama kali Allah ciptakan adalah Qalam, kemudian Dia berfirman kepadanya: Tulislah, maka mengalirlah pada saat itu apa yang akan terjadi sampai hari kiamat.” Lafadz Ahmad, dan At-Tirmidzi berkata: Hasan Shahih Gharib. Dan yang menjadi pendapat jumhur (mayoritas ulama) sebagaimana yang dinukil oleh Al-Hafizh Abu Al-‘Ala’ Al-Hamadzani dan selainnya; bahwa Arasy diciptakan sebelum itu. Dan inilah yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari jalan Adh-Dhahhak, dari Ibnu Abbas sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya ketika dia berkata: Telah menceritakan kepadaku Abu Ath-Thahir Ahmad bin Amr bin As-Sarh, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah memberitahukan kepadaku Abu Hani’ Al-Khaulani, dari Abu Abdirrahman Al-Hubuli, dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah menulis takdir-takdir makhluk sebelum Dia menciptakan langit dan bumi lima puluh ribu tahun.” Dia berkata: “Dan Arasy-Nya di atas air.”

Mereka berkata: Maka takdir ini adalah penulisannya dengan pena tentang segala takdir, dan hadits ini menunjukkan bahwa hal itu terjadi setelah penciptaan Arsy, maka terbukti bahwa penciptaan Arsy mendahului penciptaan pena yang dengannya ditulis segala takdir sebagaimana pendapat jumhur ulama. Dan hadits tentang pena itu dimaksudkan bahwa ia adalah makhluk pertama dari alam ini, dan yang menguatkan hal ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Imran bin Hushain ia berkata: Orang-orang Yaman berkata kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Kami datang kepadamu untuk mempelajari agama dan untuk bertanya kepadamu tentang permulaan urusan ini? Maka beliau bersabda: Allah ada dan tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya. Dan dalam riwayat lain: bersama-Nya, dan dalam riwayat lain: selain-Nya dan Arsy-Nya berada di atas air dan Dia menulis dalam Adz-Dzikr segala sesuatu dan menciptakan langit dan bumi. Dan dalam lafal lain: kemudian menciptakan langit dan bumi. Maka mereka bertanya kepada beliau tentang permulaan penciptaan langit dan bumi, dan karena itulah mereka berkata: Kami datang kepadamu untuk bertanya tentang permulaan urusan ini, maka beliau menjawab apa yang mereka tanyakan saja, dan karena itulah beliau tidak mengabarkan kepada mereka tentang penciptaan Arsy sebagaimana beliau mengabarkan dalam hadits Abu Razin yang telah disebutkan sebelumnya.

Ibnu Jarir berkata: Dan yang lain berkata: Bahkan Allah Azza wa Jalla menciptakan air sebelum Arsy. Diriwayatkan oleh As-Suddi dari Abu Malik, dan dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas, dan dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud, dan dari beberapa orang dari sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, mereka berkata: Sesungguhnya Allah, Arsy-Nya berada di atas air, dan Dia tidak menciptakan sesuatu pun selain apa yang Dia ciptakan sebelum air. Dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari Muhammad bin Ishaq bahwa ia berkata: Yang pertama kali Allah Azza wa Jalla ciptakan adalah cahaya dan kegelapan, kemudian Dia memisahkan antara keduanya, maka Dia menjadikan kegelapan sebagai malam yang hitam gelap, dan menjadikan cahaya sebagai siang yang terang benderang. Ibnu Jarir berkata: Dan telah dikatakan bahwa yang Rabb kita ciptakan setelah pena adalah Kursi, kemudian Dia menciptakan setelah Kursi adalah Arsy, kemudian Dia menciptakan setelah itu udara dan kegelapan, kemudian Dia menciptakan air lalu meletakkan Arsy-Nya di atas air. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih mengetahui.

Pasal tentang Apa yang Diriwayatkan Mengenai Sifat Penciptaan Arsy dan Kursi

Allah Ta’ala berfirman: “Yang Maha Tinggi derajat-derajat-Nya, yang mempunyai Arsy” (QS. Ghafir: 15). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenarnya; tidak ada tuhan selain Dia, Rabb yang mempunyai Arsy yang mulia” (QS. Al-Mu’minun: 116). Dan Allah berfirman: “Tidak ada tuhan selain Dia, Rabb yang mempunyai Arsy yang agung” (QS. An-Naml: 26). Dan Dia berfirman: “Dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang mempunyai Arsy yang mulia” (QS. Al-Buruj: 14). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Ar-Rahman, yang bersemayam di atas Arsy” (QS. Thaha: 5). Dan Dia berfirman: “Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy” (QS. Al-A’raf: 54) dalam beberapa ayat dari Al-Qur’an. Dan Allah Ta’ala berfirman: “(Malaikat-malaikat) yang memikul Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Rabbnya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu” (QS. Ghafir: 7). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka” (QS. Al-Haqqah: 17). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan kamu akan melihat malaikat-malaikat berlingkar di sekeliling Arsy bertasbih dengan memuji Rabbnya; dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil dan diucapkan: “Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam” (QS. Az-Zumar: 75).

Dan dalam doa yang diriwayatkan dalam Shahih dalam doa kesusahan: Tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Agung lagi Maha Penyantun, tidak ada tuhan selain Allah Rabb Arsy yang agung, tidak ada tuhan selain Allah Rabb langit dan Rabb bumi, Rabb Arsy yang mulia.

Dan Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad yaitu Abu Bakar bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Abdah bin Sulaiman, dari Muhammad bin Ishaq, dari Ya’qub bin Utbah, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas: Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membenarkan Umayyah bin Abi Ash-Shalt dalam sesuatu dari syairnya, maka ia berkata:

Seorang lelaki dan seekor sapi di bawah kaki kanannya Dan burung rajawali untuk yang kiri dan singa yang mengintai

Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Benar. Lalu ia berkata:

Dan matahari terbit setiap akhir malam Merah, warnanya menjadi bersinar di pagi hari Tidaklah terbit bagi mereka dengan tenangnya Kecuali tersiksa atau dicambuk

Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Benar.

Maka ini adalah hadits shahih sanadnya, para perawinya tsiqah, dan ia menunjukkan bahwa pemikul Arsy hari ini adalah empat, maka ia bertentangan dengan hadits al-au’al (kambing gunung), kecuali jika dikatakan: Bahwa penetapan empat ini dengan sifat-sifat ini tidak menafikan yang selain mereka, wallahu a’lam.

Dan dari syair Umayyah bin Abi Ash-Shalt tentang Arsy adalah ucapannya:

Agungkanlah Allah maka Dia adalah ahli keagungan Rabb kami di langit menjadi maha besar Dengan bangunan tinggi yang memukau manusia Dan menyamakan di atas langit sebuah singgasana Yang tinggi yang tidak dapat dijangkau oleh pandangan mata Engkau melihat di sekelilingnya para malaikat dengan kepala menengadah

Shuwar adalah jamak dari ashwar, yaitu yang memiringkan lehernya untuk melihat ke atas, dan asy-syarja’ adalah yang tinggi menjulang, dan as-sarir adalah arsy dalam bahasa.

Dan dari syair Abdullah bin Rawahah radhiyallahu anhu yang ia sampaikan untuk mengelak dari tuduhan istrinya ketika ia menuduhnya dengan budaknya:

Aku bersaksi bahwa janji Allah adalah benar Dan bahwa neraka adalah tempat tinggal orang-orang kafir Dan bahwa Arsy mengapung di atas air Dan di atas Arsy adalah Rabb semesta alam Dan memikulnya para malaikat yang mulia Para malaikat Allah yang ditandai

Disebutkan oleh Ibnu Abdul Barr dan lebih dari seorang imam.

Dan Abu Dawud berkata: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hafs bin Abdullah, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Thahman, dari Musa bin Uqbah, dari Muhammad bin Al-Munkadir, dari Jabir bin Abdullah, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Aku diizinkan untuk menceritakan tentang seorang malaikat dari malaikat Allah Azza wa Jalla dari pemikul Arsy, bahwa jarak antara cuping telinganya hingga bahunya adalah perjalanan tujuh ratus tahun. Dan diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, dan lafadnya: Kepakan burung terbang selama tujuh ratus tahun.

Adapun Kursi: Maka Ibnu Jarir meriwayatkan dari jalur Juwaibar dan ia lemah dari Hasan Al-Bashri bahwa ia berkata: Kursi adalah Arsy. Dan ini tidak shahih dari Hasan, bahkan yang shahih darinya dan dari yang lain dari sahabat dan tabi’in adalah bahwa Kursi selain Arsy. Dan dari Ibnu Abbas dan Sa’id bin Jubair bahwa keduanya berkata dalam firman Allah Ta’ala: “Kursi-Nya meliputi langit dan bumi” (QS. Al-Baqarah: 255), yaitu ilmu-Nya. Dan yang terjaga dari Ibnu Abbas sebagaimana diriwayatkan oleh Hakim dalam Mustadraknya, dan ia berkata: Ini sesuai syarat dua syaikh dan mereka tidak mengeluarkannya, dari jalur Sufyan Ats-Tsauri, dari Ammar Ad-Duhni, dari Muslim Al-Bathin, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata: Kursi adalah tempat kedua telapak kaki, dan Arsy tidak dapat diukur ukurannya kecuali oleh Allah Azza wa Jalla. Dan telah diriwayatkan oleh Syuja’ bin Makhlad Al-Fallas dalam tafsirnya dari Abu Ashim An-Nabil, dari Ats-Tsauri lalu menjadikannya marfu’, dan yang benar adalah ia mauquf kepada Ibnu Abbas. Dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari, Ad-Dhahhak bin Muzahim, Ismail bin Abdurrahman As-Suddi Al-Kabir, dan Muslim Al-Bathin. Dan As-Suddi berkata dari Abu Malik: Kursi di bawah Arsy. Dan As-Suddi berkata: Langit dan bumi berada di dalam rongga Kursi, dan Kursi berada di hadapan Arsy.

Dan Ibnu Jarir serta Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Ad-Dhahhak, dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata: Seandainya tujuh langit dan tujuh bumi dihamparkan, kemudian disambungkan satu sama lain, tidaklah keluasan Kursi kecuali seperti cincin di padang pasir. Dan Ibnu Jarir berkata: Telah menceritakan kepadaku Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb ia berkata: Ibnu Zaid berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Tidaklah tujuh langit di dalam Kursi kecuali seperti tujuh dirham yang dilemparkan ke dalam perisai. Ia berkata: Dan Abu Dzar berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Tidaklah Kursi di dalam Arsy kecuali seperti cincin dari besi yang dilemparkan di tengah-tengah padang pasir. Awal hadits adalah mursal. Dan dari Abu Dzar adalah munqathi’. Dan telah diriwayatkan darinya dari jalur lain secara muttashil.

Maka Hafidh Abu Bakar bin Mardawaih berkata dalam tafsirnya: Telah mengabarkan kepada kami Sulaiman bin Ahmad Ath-Thabrani, telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Wuhaib Al-Ghazi, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abi As-Sarri, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdullah At-Tamimi, dari Al-Qasim bin Muhammad Ats-Tsaqafi, dari Abu Idris Al-Khaulani, dari Abu Dzar Al-Ghifari bahwa ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang Kursi, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, tidaklah tujuh langit dan tujuh bumi di sisi Kursi kecuali seperti cincin yang dilemparkan di tanah lapang, dan sesungguhnya keutamaan Arsy atas Kursi seperti keutamaan tanah lapang atas cincin tersebut.

Dan Ibnu Jarir berkata dalam Tarikhnya: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Waki’ ia berkata: Telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Sufyan, dari Al-A’masy, dari Al-Minhal bin Amr, dari Sa’id bin Jubair ia berkata: Ibnu Abbas ditanya tentang firman Allah Azza wa Jalla: “Dan adalah Arsy-Nya di atas air” (QS. Hud: 7), di atas apa air itu berada? Ia berkata: Di atas punggung angin. Ia berkata: Dan langit dan bumi serta segala yang ada di dalamnya dari sesuatu pun dikelilingi oleh lautan, dan yang mengelilingi semua itu adalah al-haikal, dan yang mengelilingi al-haikal menurut yang dikatakan adalah Kursi. Dan diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih seperti itu, dan Wahb menafsirkan al-haikal lalu berkata: Sesuatu dari ujung-ujung langit yang mengelilingi bumi dan lautan seperti tali-tali kemah.

Dan telah dikira oleh sebagian orang yang menisbatkan diri kepada ilmu hai’ah (astronomi) bahwa Kursi adalah ungkapan dari falak kedelapan yang mereka namakan falak bintang-bintang tetap, dan dalam apa yang mereka kira itu terdapat kejanggalan, karena sesungguhnya telah tetap bahwa ia lebih besar dari tujuh langit dengan sesuatu yang banyak, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang telah disebutkan sebelumnya bahwa perbandingannya dengannya seperti perbandingan cincin yang dilemparkan di padang pasir, dan ini bukanlah perbandingan falak dengan falak. Jika penganut mereka berkata: Kami mengakui hal itu dan kami menyebutnya bersama itu sebagai falak, maka kami katakan: Kursi dalam bahasa bukanlah ungkapan dari falak, dan ia hanyalah sebagaimana yang dikatakan oleh lebih dari seorang salaf: Bahwa Kursi berada di hadapan Arsy seperti tangga kepadanya. Dan yang semacam ini tidak mungkin menjadi falak. Dan barangsiapa dari mereka yang mengira bahwa bintang-bintang tetap terpasang padanya maka sungguh ia telah mengatakan apa yang tidak diketahuinya, dan tidak ada dalil bagi mereka atas hal itu, ini bersama dengan perbedaan pendapat mereka dalam hal itu juga sebagaimana yang ditetapkan dalam kitab-kitab mereka, wallahu a’lam.

 

 

Bab Tentang Lauh Mahfuzh

Al-Hafizh Abu al-Qasim ath-Thabarani berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Minjab bin al-Harits, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Yusuf, telah menceritakan kepada kami Ziyad bin Abdullah, dari Laits, dari Abdul Malik bin Said bin Jubair, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi Allah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah menciptakan Lauh Mahfuzh dari mutiara putih, lembarannya dari permata merah, penanya cahaya, dan tulisannya cahaya. Bagi Allah di dalamnya setiap hari terdapat tiga ratus enam puluh pandangan, Dia menciptakan dan memberi rezeki, mematikan dan menghidupkan, memuliakan dan menghinakan, serta melakukan apa yang Dia kehendaki.”

Ishaq bin Basyir berkata: Telah mengabarkan kepadaku Muqatil dan Ibnu Juraij, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, dia berkata: Sesungguhnya di bagian depan Lauh tertulis: Tiada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, agama-Nya adalah Islam, dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Barangsiapa beriman kepada Allah, membenarkan janji-Nya, dan mengikuti rasul-Nya, maka Dia akan memasukkannya ke dalam surga. Dia berkata: Lauh itu adalah lauh dari mutiara putih, panjangnya sejauh antara langit dan bumi, lebarnya sejauh antara timur dan barat, tepinya dari mutiara dan permata, sampulnya permata merah, penanya cahaya, dan kalam-Nya terikat dengan Arasy, dan dasarnya berada di pangkuan seorang malaikat.

Anas bin Malik dan selain mereka dari kalangan Salaf berkata: Lauh Mahfuzh berada di dahi Israfil. Muqatil berkata: Lauh itu berada di sebelah kanan Arasy.

 

 

Bab Tentang Apa Yang Diriwayatkan Mengenai Penciptaan Langit Dan Bumi Serta Apa Yang Ada Di Antara Keduanya

Allah Ta’ala berfirman: “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menjadikan kegelapan dan cahaya, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.” (al-An’am: 1)

Dan Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Tuhan kalian adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari.” (al-A’raf: 54) Dalam beberapa ayat Al-Quran.

Para mufassir telah berbeda pendapat tentang kadar enam hari ini dalam dua pendapat: Jumhur berpendapat bahwa hari-hari tersebut seperti hari-hari kita ini. Dari Ibnu Abbas, Mujahid, adh-Dhahhak, dan Ka’ab al-Ahbar: bahwa setiap hari dari hari-hari itu seperti seribu tahun menurut perhitungan kalian. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim. Imam Ahmad bin Hanbal memilih pendapat ini dalam kitabnya yang di dalamnya dia membantah golongan Jahmiyyah, dan Ibnu Jarir memilihnya, serta sekelompok ulama mutaakhkhirin, wallahu a’lam. Dan akan datang apa yang menunjukkan pendapat ini.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari adh-Dhahhak bin Muzahim dan selainnya bahwa nama-nama enam hari itu adalah: Abjad Hawwaz Huththi Kalaman Sa’fas Qarsyat. Ibnu Jarir menyebutkan tentang hari pertama tiga pendapat: Dia meriwayatkan dari Muhammad bin Ishaq bahwa dia berkata: Ahli Taurat mengatakan Allah memulai penciptaan pada hari Ahad. Ahli Injil mengatakan: Allah memulai penciptaan pada hari Senin. Kami umat Islam mengatakan berdasarkan apa yang sampai kepada kami dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Allah memulai penciptaan pada hari Sabtu.

Pendapat yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari kaum Muslimin ini condong kepada sekelompok fuqaha dari kalangan Syafi’iyyah dan selain mereka. Dan akan datang di dalamnya hadits Abu Hurairah: “Allah menciptakan tanah pada hari Sabtu.” Pendapat bahwa hari pertama adalah Ahad diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari as-Suddi, dari Abu Malik dan Abu Shalih, dari Ibnu Abbas, dan dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud, dan dari sekelompok Sahabat. Dia juga meriwayatkannya dari Abdullah bin Salam, dan Ibnu Jarir memilihnya. Ini adalah nash Taurat, dan sekelompok fuqaha lainnya condong kepadanya. Ini lebih sesuai dengan lafazh al-Ahad (Minggu/hari pertama). Oleh karena itu, penciptaan sempurna dalam enam hari, maka hari terakhirnya adalah Jumat. Maka umat Islam menjadikannya sebagai hari raya mereka dalam seminggu. Ini adalah hari yang disesatkan Allah darinya Ahli Kitab sebelum kita, sebagaimana akan datang penjelasannya insya Allah.

Allah Ta’ala berfirman: “Dialah yang menciptakan untuk kalian apa yang ada di bumi semuanya, kemudian Dia menuju ke langit, lalu menjadikannya tujuh langit, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (al-Baqarah: 29)

Dan Ta’ala berfirman: “Apakah kalian mengingkari (Allah) yang menciptakan bumi dalam dua hari dan kalian menjadikan bagi-Nya sekutu-sekutu? Itulah Tuhan seluruh alam. Dan Dia menjadikan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya, dan Dia memberkahinya dan menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat hari, sama bagi orang-orang yang meminta. Kemudian Dia menuju kepada langit dan langit itu masih merupakan asap. Maka Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: ‘Datanglah kalian berdua menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.’ Keduanya menjawab: ‘Kami datang dengan suka hati.’ Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua hari dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Fushshilat: 9-12)

Ini menunjukkan bahwa bumi diciptakan sebelum langit, karena bumi adalah seperti fondasi bagi bangunan, sebagaimana firman Ta’ala: “Allah-lah yang menjadikan bumi sebagai tempat menetap bagi kalian dan langit sebagai atap, dan membentuk kalian lalu membaguskan bentuk kalian serta memberi kalian rezeki dari yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhan kalian, Maha Suci Allah, Tuhan seluruh alam.” (Ghafir: 64)

Dan Ta’ala berfirman: “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan, dan gunung-gunung sebagai pasak,” hingga firman-Nya: “Dan Kami bangun di atas kalian tujuh yang kokoh, dan Kami jadikan pelita yang amat terang.” (an-Naba’: 6-13)

Dan berfirman: “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (al-Anbiya’: 30) Yakni Kami pisahkan antara langit dan bumi sehingga angin berhembus, hujan turun, mata air dan sungai-sungai mengalir, dan makhluk hidup berkembang.

Kemudian berfirman: “Dan Kami jadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya.” (al-Anbiya’: 32) Yakni dari apa yang diciptakan padanya berupa bintang-bintang tetap dan berjalan, bintang-bintang yang bercahaya, dan benda-benda yang bersinar, dan apa yang ada dalam itu sebagai dalil atas hikmah Pencipta bumi dan langit, sebagaimana firman Ta’ala: “Dan berapa banyak tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling daripadanya. Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (Yusuf: 105-106)

Adapun firman Ta’ala: “Apakah kalian yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunnya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, (semua itu) sebagai kesenangan bagi kalian dan bagi binatang-binatang ternakmu.” (an-Nazi’at: 27-32)

Sebagian orang berpegang dengan ayat ini untuk mendahulukan penciptaan langit atas penciptaan bumi, maka mereka menyelisihi sharih dua ayat sebelumnya, dan mereka tidak memahami ayat yang mulia ini. Sesungguhnya yang dimaksud ayat ini adalah bahwa penghampaaran bumi dan pengeluaran air serta tumbuhan darinya secara aktual adalah setelah penciptaan langit, dan sesungguhnya itu telah ditakdirkan padanya secara potensial, sebagaimana firman Ta’ala: “Dan Dia memberkahinya dan menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya.” (Fushshilat: 10) Yakni menyediakan tempat-tempat pertanian dan lokasi-lokasi mata air dan sungai-sungai. Kemudian ketika Dia menyempurnakan penciptaan gambaran alam bawah dan atas, Dia menghamparkan bumi, lalu mengeluarkan darinya apa yang tersimpan di dalamnya, maka mata air keluar, sungai-sungai mengalir, tumbuhan dan buah-buahan tumbuh. Oleh karena itu, penghampaaran dijelaskan dengan pengeluaran air dan tumbuhan darinya dan pemancangan gunung-gunung, maka berfirman: “Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya.” Dan firman-Nya: “Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh.” Yakni menetapkannya di tempat-tempatnya yang Dia letakkan padanya, dan meneguhkannya, mengokohkannya, dan memantapkannya.

Dan firman-Nya: “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya. Dan bumi itu Kami hamparkan, maka sebaik-baik yang menghamparkan (adalah Kami). Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kalian mengingat akan kebesaran Allah.” (adh-Dhariyat: 47-49)

“Dengan kekuasaan” yakni dengan kekuatan. “Dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya”: Demikian itu karena setiap yang di atas meluas, maka setiap langit yang lebih tinggi dari yang di bawahnya adalah lebih luas darinya. Oleh karena itu Kursi lebih tinggi dari langit-langit, dan ia lebih luas dari semuanya. Dan Arasy lebih besar dari semua itu dengan banyak.

Dan firman-Nya setelah ini: “Dan bumi itu Kami hamparkan.” Yakni Kami bentangkan dan Kami jadikan sebagai tempat tidur, yakni tetap, tidak bergerak, tidak goyah dan tidak miring dengan kalian. Oleh karena itu berfirman: “Maka sebaik-baik yang menghamparkan (adalah Kami).” Huruf waw tidak menuntut urutan dalam kejadian, tetapi hanya menuntut pemberitahuan mutlak dalam bahasa, wallahu a’lam.

Al-Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh bin Ghiyats, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami al-A’masy, telah menceritakan kepada kami Jami’ bin Syaddad, dari Shafwan bin Muhrriz bahwa dia menceritakan kepadanya dari Imran bin Hushain, dia berkata: Aku masuk menemui Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan aku menambatkan untaku di pintu. Lalu datang kepadanya orang-orang dari Bani Tamim, maka beliau bersabda: “Terimalah kabar gembira wahai Bani Tamim.” Mereka berkata: Engkau telah memberi kami kabar gembira, maka berilah kami. (Ucapan ini diulang dua kali). Kemudian masuklah kepadanya orang-orang dari Yaman, maka beliau bersabda: “Terimalah kabar gembira wahai penduduk Yaman karena Bani Tamim tidak menerimanya.” Mereka berkata: Kami telah menerima wahai Rasulullah. Mereka berkata: Kami datang kepadamu untuk bertanya tentang perkara ini. Beliau bersabda: “Allah ada dan tidak ada sesuatu pun selain-Nya, dan Arasy-Nya di atas air, dan Dia menulis dalam Dzikir (Lauh Mahfuzh) segala sesuatu, dan Dia menciptakan langit-langit dan bumi.” Lalu seorang penyeru memanggil: Untamu telah pergi wahai Ibnu al-Hushain. Maka aku berangkat dan ternyata unta itu terhalang olehku karena fatamorgana. Demi Allah, sungguh aku berharap seandainya aku meninggalkannya. Demikianlah dia meriwayatkannya di sini, dan dia telah meriwayatkannya dalam Kitabul Maghazi dan Kitabut Tauhid, dan dalam sebagian lafazhnya: “Kemudian Dia menciptakan langit-langit dan bumi.” Dan ini adalah lafazh an-Nasa’i juga.

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj, telah menceritakan kepadaku Ibnu Juraij, telah mengabarkan kepadaku Ismail bin Umayyah, dari Ayyub bin Khalid, dari Abdullah bin Rafi’ maula Ummu Salamah, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memegang tanganku lalu bersabda: “Allah menciptakan tanah pada hari Sabtu, dan menciptakan gunung-gunung padanya pada hari Ahad, dan menciptakan pepohonan padanya pada hari Senin, dan menciptakan yang dibenci pada hari Selasa, dan menciptakan cahaya pada hari Rabu, dan menyebarkan padanya hewan-hewan pada hari Kamis, dan menciptakan Adam setelah waktu Ashar pada hari Jumat, akhir dari penciptaan pada waktu terakhir dari waktu-waktu Jumat, antara Ashar hingga malam.”

Demikianlah Muslim meriwayatkannya dari Suraij bin Yunus, dan Harun bin Abdullah, dan an-Nasa’i dari Harun dan Yusuf bin Said, ketiganya dari Hajjaj bin Muhammad al-Mishishi al-A’war, dari Ibnu Juraij dengannya sepertinya. An-Nasa’i telah meriwayatkannya dalam Tafsir, dari Ibrahim bin Ya’qub al-Juzajani, dari Muhammad bin ash-Shabbah, dari Abu Ubaidah al-Haddad, dari al-Akhdar bin Ajlan, dari Ibnu Juraij, dari Atha’ bin Abi Rabah, dari Abu Hurairah: Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memegang tanganku lalu bersabda: “Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya Allah menciptakan langit-langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy pada hari ketujuh, dan menciptakan tanah pada hari Sabtu.” Dan dia menyebutkan tamam haditsnya sepertinya. Telah terjadi perselisihan padanya terhadap Ibnu Juraij.

Telah berbicara tentang hadits ini Ali bin al-Madini, al-Bukhari, al-Baihaqi, dan selain mereka dari para hafizh. Al-Bukhari berkata dalam at-Tarikh: Sebagian mereka berkata dari Ka’ab, dan ini lebih shahih. Yakni bahwa hadits ini termasuk yang didengar Abu Hurairah dan diterima dari Ka’ab al-Ahbar, karena keduanya saling menemani dan duduk bersama untuk hadits. Maka yang ini menceritakan kepadanya dari shuhufnya, dan yang ini menceritakan kepadanya dengan apa yang membenarkannya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Maka hadits ini termasuk yang diterima Abu Hurairah dari Ka’ab dari shuhufnya, lalu sebagian perawi terwahm menjadikannya marfu’ kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan menegaskan marfu’nya dengan ucapannya: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memegang tanganku.”

Kemudian dalam matannya terdapat keanehan yang sangat, di antaranya bahwa tidak ada padanya penyebutan penciptaan langit-langit, dan padanya ada penyebutan penciptaan bumi dan apa yang ada padanya dalam tujuh hari. Ini menyelisihi Al-Quran, karena bumi diciptakan dalam empat hari, kemudian diciptakan langit-langit dalam dua hari dari asap, yaitu uap air yang terangkat ketika air yang besar bergolak yang diciptakan dari busanya bumi dengan kekuasaan yang besar lagi mencapai, sebagaimana dikatakan Ismail bin Abdurrahman as-Suddi al-Kabir dalam berita yang disebutkannya dari Abu Malik, dan dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas, dan dari Murrah al-Hamdani, dari Ibnu Mas’ud.

Dan dari sejumlah Sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang firman-Nya: “Dialah yang menciptakan untuk kalian apa yang ada di bumi semuanya, kemudian Dia menuju ke langit, lalu menjadikannya tujuh langit.” (al-Baqarah: 29) Mereka berkata: Sesungguhnya Allah, Arasy-Nya di atas air, dan Dia tidak menciptakan sesuatu dari apa yang Dia ciptakan sebelum air. Ketika Dia hendak menciptakan makhluk, Dia mengeluarkan dari air asap, lalu ia naik di atas air dan meninggi di atasnya, maka Dia menamainya langit. Kemudian Dia mengeringkan air lalu menjadikannya satu bumi, kemudian membelahnya dan menjadikannya tujuh bumi dalam dua hari: Ahad dan Senin. Dan Dia menciptakan bumi di atas ikan hut, yaitu Nun yang difirmankan Allah Ta’ala: “Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis.” (al-Qalam: 1) Dan ikan hut itu di dalam air, dan air di atas batu datar, dan batu datar di atas punggung malaikat, dan malaikat di atas batu besar, dan batu besar di dalam angin. Itulah batu besar yang disebutkan Luqman, tidak di langit dan tidak di bumi. Lalu ikan hut bergerak dan bergolak, maka bumi berguncang. Lalu Dia menegakkan di atasnya gunung-gunung, maka ia stabil.

Allah menciptakan pada hari Selasa gunung-gunung dan apa yang ada padanya dari manfaat-manfaat. Dan Dia menciptakan pada hari Rabu pohon-pohon, air, kota-kota, pemukiman, pembangunan, dan kehancuran. Dan Dia membelah langit, dan ia adalah rapat, lalu menjadikannya tujuh langit dalam dua hari: Kamis dan Jumat. Dan sesungguhnya dinamai hari Jumat karena padanya dikumpulkan penciptaan langit-langit dan bumi. “Dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya.” Kemudian dia berkata: Dia menciptakan di setiap langit makhluk-makhluk-Nya dari malaikat-malaikat, lautan-lautan, gunung-gunung es, dan apa yang tidak diketahui selain-Nya. Kemudian Dia menghiasi langit dengan bintang-bintang, maka menjadikannya hiasan dan penjagaan yang menjaga dari setan-setan. Ketika Dia selesai dari menciptakan apa yang Dia cintai, Dia bersemayam di atas Arasy.

Isnad ini disebutkan oleh as-Suddi banyak perkara yang di dalamnya terdapat keanehan, dan banyak darinya yang diterima dari Isra’iliyyat. Karena Ka’ab al-Ahbar ketika masuk Islam di zaman Umar, dia berbicara di hadapan Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu dengan beberapa perkara dari ilmu-ilmu Ahli Kitab. Maka Umar mendengarkan kepadanya untuk ta’lif kepadanya dan kagum dengan apa yang ada padanya yang banyak darinya sesuai dengan kebenaran yang datang dengan syariat yang suci. Maka banyak orang membenarkan memindahkan apa yang disampaikan Ka’ab al-Ahbar karena makna ini, dan karena apa yang datang dari izin dalam menceritakan dari Bani Israil. Akan tetapi sering terjadi dalam apa yang diriwayatkannya kesalahan.

Al-Bukhari telah meriwayatkan dalam Shahihnya dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan bahwa dia dahulu berkata tentang Ka’ab al-Ahbar: Dan sesungguhnya kami dengan itu menguji kepadanya kebohongan. Yakni dalam apa yang dia pindahkan, bukan bahwa dia sengaja melakukan itu, wallahu a’lam.

Kami akan menyebutkan apa yang kami sebutkan dari apa yang disampaikan banyak dari imam-imam besar terdahulu dari mereka, kemudian kami ikuti itu dari hadits-hadits dengan apa yang menjadi saksi kepadanya dengan keshahihan atau mendustakannya. Dan tetap yang tersisa dari apa yang tidak dibenarkan dan tidak didustakan, dan dengan pertolongan Allah tempat meminta dan kepada-Nya tempat bertawakkal.

Al-Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Mughirah bin Abdurrahman al-Qurasyi, dari Abu Zinad, dari al-A’raj, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ketika Allah menyelesaikan penciptaan, Dia menulis dalam kitab-Nya yang ada pada-Nya di atas Arasy: Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku.” Demikianlah Muslim dan an-Nasa’i meriwayatkannya dari Qutaibah dengannya.

Kemudian Imam Bukhari berkata: Bab tentang apa yang datang mengenai tujuh bumi, dan firman-Nya: “Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari bumi yang serupa dengannya. Perintah Allah berlaku di antara keduanya agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu dan bahwa Allah benar-benar meliputi segala sesuatu dengan ilmu-Nya.” (Surat At-Talaq: 12). Kemudian ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Ulayyah, dari Ali bin Al-Mubarak, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abi Katsir, dari Muhammad bin Ibrahim bin Al-Harits, dari Abu Salamah bin Abdurrahman, bahwa pernah terjadi persengketaan antara dia dengan beberapa orang mengenai sebidang tanah, lalu dia menemui Aisyah dan menceritakan hal itu kepadanya. Maka Aisyah berkata: “Wahai Abu Salamah, jauhilah tanah (yang dizalimi), karena sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Barangsiapa mengambil tanah sejengkal dengan zalim, maka ia akan dikalungkan (kepadanya) dari tujuh lapis bumi.’” Hadits ini juga diriwayatkan Bukhari dalam Kitab Al-Mazhalim (Kezaliman), dan Muslim dari berbagai jalur dari Yahya bin Abi Katsir dengannya. Ahmad meriwayatkannya dari hadits Muhammad bin Ibrahim, dari Abu Salamah dengannya. Ahmad juga meriwayatkannya dari Yunus, dari Aban, dari Yahya bin Abi Katsir, dari Abu Salamah, dari Aisyah dengan serupa.

Kemudian Imam Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Muhammad, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abdullah, dari Musa bin Uqbah, dari Salim, dari ayahnya, ia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengambil sesuatu dari bumi tanpa haknya, maka ia akan dibenamkan dengannya pada hari kiamat hingga tujuh lapis bumi.” Hadits ini juga diriwayatkan Bukhari dalam Kitab Al-Mazhalim dari Muslim bin Ibrahim, dari Abdullah yaitu Ibnu Mubarak, dari Musa bin Uqbah dengannya. Ini termasuk hadits yang diriwayatkan Bukhari sendirian. Bukhari menyebutkan di sini hadits Muhammad bin Sirin dari Abdurrahman bin Abi Bakrah, dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya zaman telah berputar sebagaimana bentuknya pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun ada dua belas bulan.” (Hadits). Maksudnya – wallahu a’lam (Allah Yang Maha Mengetahui) – adalah membenarkan firman-Nya: “Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari bumi yang serupa dengannya” (Surat At-Talaq: 12), yaitu dalam jumlah sebagaimana jumlah bulan sekarang adalah dua belas yang sesuai dengan jumlah bulan di sisi Allah dalam kitab-Nya yang pertama. Ini adalah kesesuaian dalam waktu sebagaimana yang itu kesesuaian dalam tempat.

Kemudian Imam Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Ubaid bin Ismail, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Hisyam, dari ayahnya, dari Said bin Zaid bin Amr bin Nufail: bahwa Arwa bersengketa dengannya mengenai sebuah hak yang dia klaim telah ia kurangi dari haknya kepada Marwan. Maka Said radhiyallahu anhu berkata: Apakah aku mengurangi sesuatu dari haknya! Aku bersaksi sungguh aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengambil sejengkal tanah dengan zalim, maka sesungguhnya ia akan dikalungkan dengannya pada hari kiamat dari tujuh lapis bumi.”

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Hasan, dan Abu Said maula Bani Hasyim, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Lahi’ah, telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Abi Ja’far, dari Abu Abdurrahman, dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: Aku berkata: Wahai Rasulullah, kezaliman apakah yang paling besar? Beliau bersabda: “Sejengkal tanah yang dikurangi oleh seseorang Muslim dari hak saudaranya. Tidaklah seseorang mengambil satu kerikil pun dari tanah melainkan ia akan dikalungkan dengannya pada hari kiamat hingga ke dasar bumi, dan tidak ada yang mengetahui dasarnya kecuali Yang menciptakannya.” Hadits ini diriwayatkan Ahmad sendiri, dan ini isnad (rangkaian perawi) yang tidak mengapa.

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Wuhaib, telah menceritakan kepada kami Suhail, dari ayahnya, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengambil sejengkal tanah tanpa haknya, maka ia akan dikalungkan dengannya dari tujuh lapis bumi.” Hadits ini diriwayatkan Ahmad sendiri dari jalur ini, dan ini sesuai syarat Muslim. Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya, dari Ibnu Ajlan, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengambil sejengkal tanah tanpa haknya, maka ia akan dikalungkan dengannya hingga tujuh lapis bumi.” Hadits ini juga diriwayatkan Ahmad sendiri, dan ini sesuai syarat Muslim.

Ahmad juga berkata: Telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Abu Awanah, dari Umar bin Abi Salamah, dari ayahnya, dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengambil sejengkal tanah tanpa haknya, maka ia akan dikalungkan dengannya dari tujuh lapis bumi.” Hadits ini juga diriwayatkan Ahmad sendiri. Ath-Thabrani telah meriwayatkannya dari hadits Mu’awiyah bin Qurrah, dari Ibnu Abbas secara marfu’ (disandarkan kepada Nabi) seperti itu.

Maka hadits-hadits ini seperti mutawatir (diriwayatkan sangat banyak) dalam menetapkan tujuh lapis bumi, dan yang dimaksud dengan itu adalah bahwa setiap lapis berada di atas yang lainnya, dan yang di bawahnya berada di pusatnya menurut ahli astronomi sehingga perkaranya berakhir pada yang ketujuh, dan ia adalah padat tidak berongga. Di pusatnya terdapat pusat bumi, yaitu titik yang ditaksir dan dibayangkan, dan ia adalah tempat jatuhnya benda-benda berat, kepadanya berakhir apa yang turun dari setiap sisi jika tidak ada penghalang. Mereka berbeda pendapat apakah lapisan-lapisan itu bertumpuk tanpa pemisah ataukah di antara setiap lapis dengan yang di sebelahnya ada kekosongan? Ini dua pendapat. Perbedaan pendapat ini juga berlaku pada falak (orbit). Yang jelas bahwa di antara setiap lapis dengan yang lainnya ada jarak, sebagaimana zahir (makna lahiriah) firman-Nya: “Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari bumi yang serupa dengannya. Perintah Allah berlaku di antara keduanya” (Surat At-Talaq: 12), ayat ini.

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Suraij, telah menceritakan kepada kami Al-Hakam bin Abdul Malik, dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari Abu Hurairah, ia berkata: Ketika kami berada di sisi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, tiba-tiba ada awan lewat, maka beliau bersabda: “Tahukah kalian apa ini?” Kami menjawab: Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Beliau bersabda: “Awan dan sudut-sudut bumi, Allah menggiring awan itu kepada hamba-hamba-Nya yang tidak bersyukur kepada-Nya dan tidak berdoa kepada-Nya. Tahukah kalian apa yang di atas kalian ini?” Kami menjawab: Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Beliau bersabda: “Ar-Raqi’ (langit), gelombang yang tertahan dan atap yang terpelihara. Tahukah kalian berapa jarak antara kalian dengannya?” Kami menjawab: Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Beliau bersabda: “Perjalanan lima ratus tahun.” Kemudian beliau bersabda: “Tahukah kalian apa yang di atasnya?” Kami menjawab: Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Beliau bersabda: “Perjalanan lima ratus tahun.” Hingga beliau menghitung tujuh langit. Kemudian beliau bersabda: “Tahukah kalian apa yang di atasnya?” Kami menjawab: Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Beliau bersabda: “Arasy. Tahukah kalian berapa jarak antara Arasy dengan langit yang ketujuh?” Kami menjawab: Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Beliau bersabda: “Perjalanan lima ratus tahun.” Kemudian beliau bersabda: “Tahukah kalian apa yang di bawah kalian ini?” Kami menjawab: Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Beliau bersabda: “Bumi. Tahukah kalian apa yang di bawahnya?” Kami menjawab: Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Beliau bersabda: “Bumi yang lain. Tahukah kalian berapa jarak di antara keduanya?” Kami menjawab: Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Beliau bersabda: “Perjalanan tujuh ratus tahun.” Hingga beliau menghitung tujuh lapis bumi. Kemudian beliau bersabda: “Demi Allah, seandainya salah seorang dari kalian diikat tali dan diturunkan ke bumi yang paling bawah yang ketujuh niscaya ia akan turun.” Kemudian beliau membaca: “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (Surat Al-Hadid: 3). Hadits ini diriwayatkan At-Tirmidzi, dari Abdul bin Humaid dan beberapa orang lain, dari Yunus bin Muhammad Al-Muaddib, dari Syaiban bin Abdurrahman, dari Qatadah, ia berkata: Telah menceritakan Al-Hasan dari Abu Hurairah, dan ia menyebutkannya, kecuali bahwa ia menyebutkan bahwa jarak antara setiap dua bumi adalah lima ratus tahun, dan ia menyebutkan di akhirnya sebuah kalimat yang telah kami sebutkan ketika menafsirkan ayat ini dari Surat Al-Hadid. Kemudian At-Tirmidzi berkata: Ini hadits gharib (asing/jarang) dari jalur ini. Ia berkata: Diriwayatkan dari Ayyub, Yunus bin Ubaid, dan Ali bin Zaid bahwa mereka berkata: Al-Hasan tidak mendengar dari Abu Hurairah. Hadits ini diriwayatkan Abu Muhammad Abdurrahman bin Abi Hatim dalam tafsirnya dari hadits Abu Ja’far Ar-Razi, dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari Abu Hurairah, maka ia menyebutkan seperti lafaz At-Tirmidzi sama tanpa tambahan di akhirnya. Ibnu Jarir meriwayatkannya dalam tafsirnya dari Bisyr, dari Yazid, dari Sa’id bin Abi Arubah, dari Qatadah secara mursal (tidak tersambung sampai Nabi), dan boleh jadi ini yang lebih mirip, wallahu a’lam.

Hadits ini diriwayatkan oleh dua hafizh (ahli hadits), Abu Bakar Al-Bazzar dan Al-Baihaqi dari hadits Abu Dzar Al-Ghifari, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan serupa, tetapi isnadnya tidak sahih, wallahu a’lam.

Telah disebutkan sebelumnya pada sifat Arasy dari hadits Al-Au’al yang menyelisihi ini dalam ketinggian Arasy dari langit yang ketujuh, dan apa yang mendukungnya. Di dalamnya: “Dan jarak antara setiap dua langit adalah lima ratus tahun, dan ketebalannya yaitu ketinggiannya adalah lima ratus tahun.”

Adapun pendapat sebagian ahli kalam tentang hadits “dikalungkan dari tujuh bumi” bahwa yang dimaksud adalah tujuh iklim, maka ini pendapat yang menyelisihi zahir ayat dan hadits sahih, serta bertentangan dengan banyak lafaz hadits yang jelas, bersama dengan apa yang telah kami sebutkan dari hadits yang kami kemukakan dari jalur Al-Hasan dari Abu Hurairah. Kemudian, ini adalah mengalihkan makna hadits dan ayat dari zahirnya tanpa sandaran dan dalil, wallahu a’lam.

Demikian pula apa yang disebutkan oleh banyak Ahli Kitab, dan diambil dari mereka oleh sekelompok ulama kita bahwa bumi ini terbuat dari tanah, yang di bawahnya dari besi, yang lainnya dari batu belerang, dan yang lainnya dari begini. Maka semua ini jika tidak dikabarkan dan sahih sanadnya kepada orang yang ma’shum (terlindungi dari kesalahan, yaitu Nabi), maka ia tertolak atas yang mengatakannya. Demikian juga atsar (riwayat) yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata: Di setiap bumi ada makhluk seperti apa yang ada di bumi ini hingga Adam seperti Adam kalian, dan Ibrahim seperti Ibrahim kalian. Ini disebutkan oleh Ibnu Jarir secara ringkas, dan Al-Baihaqi menjelaskannya secara lengkap dalam Al-Asma’ wash-Shifat, dan ini dipahami jika sahih riwayatnya dari beliau bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma mengambilnya dari Israiliyyat (riwayat dari Yahudi), wallahu a’lam.

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Al-Awwam bin Hausyab, dari Sulaiman bin Abi Sulaiman, dari Anas bin Malik, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Ketika Allah menciptakan bumi, bumi itu berguncang, maka Allah menciptakan gunung-gunung lalu melemparkannya ke atasnya, maka bumi pun stabil. Maka malaikat-malaikat heran dengan penciptaan gunung-gunung, lalu mereka berkata: Wahai Rabb, apakah ada sesuatu dari ciptaan-Mu yang lebih keras dari gunung? Allah berfirman: Ya, besi. Mereka berkata: Wahai Rabb, apakah ada sesuatu dari ciptaan-Mu yang lebih keras dari besi? Allah berfirman: Ya, api. Mereka berkata: Wahai Rabb, apakah ada sesuatu dari ciptaan-Mu yang lebih keras dari api? Allah berfirman: Ya, air. Mereka berkata: Wahai Rabb, apakah ada sesuatu dari ciptaan-Mu yang lebih keras dari air? Allah berfirman: Ya, angin. Mereka berkata: Wahai Rabb, apakah ada sesuatu dari ciptaan-Mu yang lebih keras dari angin? Allah berfirman: Ya, anak Adam yang bersedekah dengan tangan kanannya sambil menyembunyikannya dari tangan kirinya.” Hadits ini diriwayatkan Ahmad sendiri.

Para ahli astronomi telah menyebutkan jumlah gunung-gunung bumi di seluruh wilayahnya, timur dan barat, dan mereka menyebutkan panjangnya, jauh bentangannya, dan ketinggiannya, serta mereka memperluas pembahasan tentang itu dengan apa yang panjang penjelasannya di sini. Allah Ta’ala telah berfirman: “Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka warna dan ada yang hitam pekat” (Surat Fathir: 27). Ibnu Abbas dan lebih dari seorang berkata: Al-judad adalah garis-garis. Ikrimah dan yang lainnya berkata: Gharabib adalah gunung-gunung yang panjang dan hitam. Inilah yang disaksikan dari gunung-gunung di seluruh bumi yang berbeda sesuai perbedaan wilayah dan warnanya. Allah Ta’ala telah menyebutkan dalam kitab-Nya Gunung Judi secara khusus, yaitu gunung besar di sebelah timur Jazirah Ibnu Umar di sisi Sungai Tigris dekat Mausil. Bentangannya dari selatan ke utara sepanjang perjalanan tiga hari, dan ketinggiannya perjalanan setengah hari. Gunung ini hijau karena di dalamnya ada pohon dari jenis pohon ek. Di sisinya ada sebuah kampung yang disebut Kampung Delapan Puluh karena tempat tinggal mereka yang selamat dalam bahtera bersama Nabi Nuh alaihissalam di lokasinya, sebagaimana disebutkan oleh lebih dari seorang mufassir, wallahu a’lam. Allah juga menyebutkan Gunung Sinai.

Al-Hafizh Al-Baha’ Ibnu Asakir telah menyebutkan dalam kitabnya Al-Mustaqsha fi Fadha’il Al-Masjid Al-Aqsha dalam bab gunung-gunung yang suci dari jalur Amr bin Bakr, dari Tsaur bin Yazid, dari Khalid bin Mi’dan, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rabb kita Azza wa Jalla bersumpah dengan empat gunung, maka Dia berfirman: “Demi buah Tin dan buah Zaitun, dan demi Gunung Sinai, dan demi negeri (Makkah) yang aman ini” (Surat At-Tin: 1-3). Maka Tin adalah gunung Rabb kita Masjidil Aqsha, dan Zaitun adalah gunung Rabb kita, “dan demi Gunung Sinai dan demi negeri (Makkah) yang aman ini”, yaitu gunung Makkah. Qatadah berkata: Tin adalah gunung yang di atasnya Damaskus, dan Zaitun adalah gunung yang di atasnya Baitul Maqdis. Al-Hafizh Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ka’b Al-Ahbar bahwa ia berkata: Empat gunung pada hari kiamat: Gunung Khalil (Hebron), Gunung Lebanon, Gunung Sinai, dan Gunung Judi, setiap satu dari mereka pada hari kiamat akan menjadi mutiara putih yang menerangi antara langit dan bumi. Mereka akan kembali ke Baitul Maqdis hingga diletakkan di sudut-sudutnya sebagai cahaya, dan Allah meletakkan Kursi-Nya di atasnya hingga Dia memutuskan perkara antara ahli surga dan ahli neraka.

“Dan kamu akan melihat para malaikat berlingkar di sekeliling Arasy bertasbih memuji Tuhannya, dan diputuskan perkara di antara mereka dengan adil, dan dikatakan: Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam” (Surat Az-Zumar: 75). Dari jalur Al-Walid bin Muslim, telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abi Atikah, dari Ali bin Yazid, dari Al-Qasim Abu Abdurrahman, ia berkata: Allah mewahyukan kepada Gunung Qasiyun: Berikanlah naungan dan berkahmu kepada Gunung Baitul Maqdis. Ia berkata: Maka gunung itu melakukannya. Maka Allah Ta’ala mewahyukan kepadanya: Karena engkau telah melakukan itu, maka sesungguhnya Aku akan membangun untuk-Ku di pangkuanmu sebuah rumah. Abdurrahman berkata: Al-Walid berkata: Di pangkuanmu, yaitu di tengahnya, dan itu adalah masjid ini – maksudnya masjid Damaskus – Aku beribadah di dalamnya setelah rusaknya dunia selama empat puluh tahun, dan tidak akan berakhir hari-hari dan malam-malam hingga Aku mengembalikan kepadamu naungan dan berkahmu. Ia berkata: Maka gunung itu di sisi Allah seperti kedudukan orang mukmin yang lemah dan merendah. Dari Khalil bin Da’laj: Bahwa Shafiyyah istri Nabi shallallahu alaihi wasallam datang ke ujung Baitul Maqdis lalu shalat di dalamnya, dan naik ke Gunung Rabb kita lalu shalat di dalamnya, dan bermalam di ujung gunung. Maka ia berkata: Dari sinilah manusia akan berpencar pada hari kiamat menuju surga dan menuju neraka.

Pasal tentang Laut dan Sungai

Allah Subhanahu Wataala berfirman: “Dan Dialah yang menundukkan laut (untukmu), agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) daripadanya, dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur. Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi agar bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk. Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang mereka mendapat petunjuk. Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surah An-Nahl: 14-18).

Dan Allah Subhanahu Wataala berfirma: “Dan tidak sama (antara) dua laut; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit. Dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya, dan di laut itu kamu lihat kapal-kapal berlayar membelah laut agar kamu dapat mencari karunia-Nya dan agar kamu bersyukur.” (Surah Fathir: 12).

Dan Allah Subhanahu Wataala berfirman: “Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Surah Al-Furqan: 53).

Dan Allah Subhanahu Wataala berfirma: “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.” (Surah Ar-Rahman: 19-20).

Yang dimaksud dengan dua laut adalah: laut yang asin lagi pahit yaitu laut yang asin sekali, dan laut yang tawar yaitu sungai-sungai yang mengalir di antara berbagai negeri untuk kepentingan para hamba. Demikian yang dikatakan Ibnu Juraij dan lebih dari satu ulama.

Dan Allah Subhanahu Wataala berfirman: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah kapal-kapal (yang berlayar) di laut seperti gunung-gunung. Jika Dia menghendaki, Dia akan menenangkan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur. Atau Dia menghancurkan kapal-kapal itu karena perbuatan mereka atau Dia memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan mereka).” (Surah Asy-Syura: 32-34).

Dan Allah Subhanahu Wataala berfirman: “Tidakkah kamu memperhatikan bahwa kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, agar diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi setiap orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur. Dan apabila mereka digulung ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, lalu sebagian dari mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar.” (Surah Luqman: 31-32).

Dan Allah Subhanahu Wataala berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, kapal yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (Surah Al-Baqarah: 164).

Maka Allah Subhanahu Wataala menyebutkan nikmat-Nya kepada para hamba-Nya dengan apa yang telah Dia ciptakan untuk mereka berupa laut dan sungai. Laut yang melingkupi seluruh bagian bumi, dan apa yang muncul darinya di berbagai sisinya, semuanya berasa asin dan pahit. Dan dalam hal ini terdapat hikmah yang agung untuk kesehatan udara; karena seandainya air laut itu tawar niscaya udara akan berbau busuk dan rusak; disebabkan oleh hewan-hewan besar yang mati di dalamnya, sehingga akan mengakibatkan kepunahan bani Adam dan rusaknya kehidupan mereka. Maka hikmah yang sempurna mengharuskan agar laut itu memiliki sifat seperti ini demi kemaslahatan tersebut.

Oleh karena itu ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya tentang laut, beliau bersabda: “Ia adalah yang suci airnya, halal bangkainya.”

Adapun sungai-sungai, maka hikmah menghendaki agar airnya tawar, mengalir, segar dan mudah diminum. Dan Dia menjadikannya mengalir dengan cara memunculkannya di suatu negeri dan mengalirkannya ke negeri lain sebagai rezeki bagi para hamba. Di antaranya ada yang besar dan ada yang kecil sesuai dengan kebutuhan dan kemaslahatan.

Para ahli ilmu astronomi dan geografi telah membahas tentang penghitungan laut dan sungai-sungai besar, asal-usul sumber mata airnya, dan kemana berakhir alirannya dengan pembahasan yang di dalamnya terdapat hikmah dan dalil-dalil atas kekuasaan Sang Pencipta Subhanahu Wataala, dan bahwa Dia adalah Zat yang berbuat dengan pilihan dan hikmah.

Firman Allah Subhanahu Wataala: “Dan laut yang penuh gelombang.” (Surah Ath-Thur: 6). Di dalamnya terdapat dua pendapat. Pertama: yang dimaksud adalah laut yang berada di bawah Arasy yang disebutkan dalam hadits tentang kambing gunung, dan bahwa ia berada di atas tujuh langit, antara bagian bawahnya dan atasnya seperti jarak antara satu langit ke langit lainnya, dan itulah tempat turunnya hujan sebelum hari kebangkitan yang dengannya tubuh-tubuh hidup kembali dari kubur mereka. Pendapat ini adalah pilihan Ar-Rabi’ bin Anas. Kedua: bahwa laut adalah nama jenis yang mencakup seluruh laut yang ada di bumi, dan ini adalah pendapat jumhur.

Mereka berbeda pendapat tentang makna laut yang penuh gelombang. Ada yang mengatakan: yang penuh. Ada yang mengatakan: akan menjadi api yang berkobar pada hari Kiamat yang melingkupi penduduk padang mahsyar. Sebagaimana kami sebutkan dalam tafsir dari Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, Said bin Jubair, Mujahid dan lain-lain. Ada yang mengatakan yang dimaksud adalah: yang dicegah, ditahan, dijaga agar tidak meluap sehingga menggenangi bumi dan siapa yang ada di atasnya lalu mereka tenggelam. Diriwayatkan oleh Al-Walabi dari Ibnu Abbas, dan ini adalah pendapat As-Suddi dan lain-lain.

Yang menguatkannya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad: telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Al-Awwam, telah menceritakan kepadaku seorang syaikh yang pernah bertugas menjaga pantai, ia berkata: Aku bertemu Abu Shalih, budak Umar bin Al-Khaththab, lalu ia berkata: telah menceritakan kepada kami Umar bin Al-Khaththab, dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidak ada malam kecuali laut mengangkat (permukaannya) tiga kali meminta izin kepada Allah Azza wa Jalla untuk menelan mereka, lalu Allah Azza wa Jalla menahannya.”

Diriwayatkan oleh Ishaq bin Rahawaih, dari Yazid bin Harun, dari Al-Awwam bin Hausyab, telah menceritakan kepadaku seorang syaikh penjaga, ia berkata: Pada suatu malam aku keluar untuk berpatroli, tidak ada seorang pun dari penjaga yang keluar selain aku. Lalu aku mendatangi pelabuhan dan naik ke atas, lalu aku membayangkan bahwa laut itu mengangkat (permukaannya) sejajar dengan puncak gunung-gunung, ia melakukan itu berulang kali sedangkan aku dalam keadaan terjaga. Lalu aku bertemu Abu Shalih dan ia berkata: telah menceritakan kepada kami Umar bin Al-Khaththab: bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada malam kecuali laut mengangkat (permukaannya) tiga kali meminta izin kepada Allah untuk menelan mereka, lalu Allah Azza wa Jalla menahannya.”

Dalam sanadnya terdapat seseorang yang tidak dikenal, wallahu a’lam. Dan ini termasuk nikmat Allah Subhanahu Wataala kepada hamba-hamba-Nya bahwa Dia menahan bahaya laut agar tidak meluap menimpa mereka, dan Dia menundukkannya untuk mereka, membawa kapal-kapal mereka agar mereka sampai dengannya ke negeri-negeri yang jauh untuk berdagang dan lain-lain. Dia memberi mereka petunjuk di dalamnya dengan apa yang Dia ciptakan di langit dan di bumi berupa bintang-bintang dan gunung-gunung yang Dia jadikan sebagai tanda-tanda bagi mereka agar mendapat petunjuk dalam perjalanan mereka. Dan dengan apa yang Dia ciptakan untuk mereka di dalamnya berupa perhiasan yang mereka pakai dari mutiara dan permata yang berharga, langka, indah dan mahal yang tidak ditemukan kecuali di laut. Dan dengan apa yang Dia ciptakan di dalamnya berupa hewan-hewan yang aneh, dan Dia menghalalkannya untuk mereka bahkan bangkainya, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wataala: “Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut.” (Surah Al-Ma’idah: 96).

Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ia adalah yang suci airnya, halal bangkainya.”

Dan dalam hadits lain: “Dihalalkan bagi kami dua bangkai dan dua darah; ikan dan belalang, hati dan limpa.” Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah, dan dalam sanadnya terdapat masalah.

Al-Hafizh Abu Bakr Al-Bazzar telah berkata dalam musnadnya: Aku menemukan dalam kitabku dari Muhammad bin Muawiyah Al-Baghdadi, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abdullah bin Umar, dari Suhail bin Abi Shalih, dari ayahnya, dari Abu Hurairah secara marfu’, ia berkata: “Allah berbicara kepada laut barat ini, dan berbicara kepada laut timur. Lalu Dia berkata kepada yang barat: Sesungguhnya Aku akan membawa hamba-hamba-Ku di dalammu, lalu bagaimana kamu akan berbuat kepada mereka? Ia menjawab: Aku akan menenggelamkan mereka. Allah berfirman: Kemarahanmu ada di sisi-sisimu. Dan Dia mengharamkan perhiasan dan hasil buruan darinya. Dan Dia berbicara kepada laut timur ini lalu berfirman: Sesungguhnya Aku akan membawa hamba-hamba-Ku di dalammu, lalu apa yang akan kamu lakukan kepada mereka? Ia menjawab: Aku akan membawa mereka di tanganku, dan aku akan menjadi bagi mereka seperti ibu bagi anaknya. Maka Dia memberinya imbalan berupa perhiasan dan hasil buruan.”

Kemudian ia berkata: Kami tidak mengetahui seorang pun yang meriwayatkannya dari Suhail selain Abdurrahman bin Abdullah bin Umar, dan dia adalah orang yang haditsnya mungkar. Ia berkata: Dan hadits ini telah diriwayatkan oleh Suhail dari An-Nu’man bin Abi Ayyasy, dari Abdullah bin Amr secara mauquf.

Aku katakan: Yang mauquf kepada Abdullah bin Amr bin Al-Ash lebih tepat karena dia pernah menemukan pada hari perang Yarmuk dua beban penuh dengan kitab-kitab dari ilmu-ilmu Ahli Kitab, lalu dia menceritakan banyak hal dari keduanya berupa Israiliyat, di antaranya ada yang dikenal dan masyhur, dan ada yang mungkar dan tertolak. Adapun yang marfu’, maka Abdurrahman bin Abdullah bin Umar bin Hafsh bin Ashim bin Umar bin Al-Khaththab Abu Al-Qasim Al-Madani yang menjadi hakim di sana menyendiri dalam meriwayatkannya. Imam Ahmad berkata tentangnya: Tidak ada nilainya, dan aku telah mendengar darinya, kemudian aku merobek haditsnya, dia adalah pendusta dan hadits-haditsnya mungkar. Demikian pula Ibnu Ma’in, Abu Zur’ah, Abu Hatim, Al-Jauzajani, Al-Bukhari, Abu Dawud, dan An-Nasa’i melemahkannya. Ibnu Adiy berkata: Kebanyakan haditsnya mungkar, dan yang paling buruk adalah hadits tentang laut.

Para ahli geografi yang membahas tentang garis lintang, garis bujur, laut, sungai, gunung, pengukuran, apa yang ada di bumi berupa kota-kota, tanah tandus dan pemukiman, tujuh iklim yang sebenarnya menurut istilah mereka, dan iklim-iklim yang banyak menurut kebiasaan, apa yang ada di negeri-negeri dan iklim-iklim berupa kekhususan dan tumbuh-tumbuhan, dan apa yang terdapat di setiap wilayah dari berbagai jenis tambang dan perdagangan, mereka berkata: Bumi tertutup oleh air yang besar kecuali seperempat darinya, yaitu sembilan puluh derajat. Dan kehendak Ilahi mengharuskan air surut dari bagian ini agar hewan-hewan dapat hidup di atasnya, dan tanaman serta buah-buahan dapat tumbuh di dalamnya, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wataala: “Dan bumi Dia bentangkan untuk makhluk(-Nya). Di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang. Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Surah Ar-Rahman: 10-13).

Mereka berkata: Yang berpenghuni dari bagian yang tampak ini mendekati dua pertiganya atau sedikit lebih, yaitu enam puluh lima derajat. Mereka berkata: Maka laut yang melingkupi sebelah barat, dan disebut Okeanus, yaitu yang berbatasan dengan negeri-negeri Maghrib, dan di dalamnya terdapat pulau-pulau Khalidah, dan antara pulau-pulau itu dengan pantainya sepuluh derajat, kira-kira perjalanan sebulan. Ia adalah laut yang tidak mungkin dilalui dan dilayari karena banyaknya badai dan gelombangnya serta apa yang ada di dalamnya berupa angin dan ombak. Tidak ada hasil buruan di dalamnya, tidak diambil sesuatu darinya, dan tidak ada perjalanan di dalamnya untuk berdagang atau lainnya. Ia mengarah ke sisi selatan hingga sejajar dengan gunung-gunung Qamar, disebut juga Jabal al-Qamar yang darinya terdapat asal sumber sungai Nil Mesir, dan melewati garis khatulistiwa. Kemudian memanjang ke timur dan menjadi selatan bumi, dan di sana terdapat pulau-pulau Zanzi, dan di pantainya banyak tanah tandus. Kemudian memanjang ke timur dan utara hingga bersambung dengan laut China dan India. Kemudian memanjang ke timur hingga sejajar dengan ujung bumi timur yang tersingkap, dan di sana terdapat negeri China. Kemudian membelok di timur China menuju utara hingga melampaui negeri China dan sejajar dengan benteng Ya’juj dan Ma’juj. Kemudian membelok dan melingkar di atas bumi yang kondisinya tidak diketahui. Kemudian memanjang ke barat di utara bumi, dan sejajar dengan negeri Rusia dan melampauinya, dan membelok ke barat dan selatan, dan melingkar di atas bumi, dan kembali ke arah barat. Dan memancar dari yang barat ke tengah bumi berupa selat yang ujungnya berakhir di pinggiran Syam dari barat, kemudian mengarah ke negeri Romawi hingga bersambung dengan Konstantinopel dan negeri-negeri mereka lainnya.

Dan memancar dari Samudra Timur laut-laut lain yang di dalamnya terdapat pulau-pulau yang banyak hingga dikatakan bahwa di Laut India terdapat seribu tujuh ratus pulau yang di dalamnya terdapat kota-kota dan pemukiman selain pulau-pulau yang tidak berpenghuni, dan disebut Laut Hijau. Timurnya adalah Laut China, baratnya adalah Laut Yaman, utaranya adalah Laut India, dan selatannya tidak diketahui.

Dan mereka menyebutkan bahwa antara Laut India dan Laut China terdapat gunung-gunung yang memisahkan keduanya, dan di dalamnya terdapat celah-celah yang dilalui kapal-kapal yang dijalankan untuk mereka oleh Dzat yang menciptakannya, sebagaimana Dia menjadikan yang serupa di daratan juga. Allah Subhanahu Wataala berfirman: “Dan Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.” (Surah Al-Anbiya’: 31).

Ptolemeus, salah seorang raja India telah menyebutkan dalam kitabnya yang bernama Almagest yang diterjemahkan pada zaman Al-Ma’mun, dan ia adalah dasar ilmu-ilmu ini, bahwa laut-laut yang memancar dari Samudra Barat, Timur, Selatan, dan Utara sangat banyak. Di antaranya ada yang satu, tetapi dinamai sesuai dengan negeri yang berbatasan dengannya. Di antaranya adalah Laut Qulzum, dan Qulzum adalah sebuah desa di pantainya dekat dengan Ailah, Laut Persia, Laut Khazar, Laut Warank, Laut Romawi, Laut Bantusyi, Laut Azraq (dinamai sebuah kota di pantainya), dan ia juga Laut Qaram. Ia menyempit hingga mengalir ke Laut Romawi di selatan Konstantinopel, dan ia adalah teluk Konstantinopel. Oleh karena itu kapal-kapal cepat berlayar dari Qaram ke Laut Romawi, dan lambat ketika datang dari Aleksandria ke Qaram karena melawan arus air. Dan ini termasuk keajaiban di dunia, karena setiap air yang mengalir itu tawar kecuali ini, dan setiap laut yang tergenang itu asin lagi pahit kecuali yang disebutkan tentang Laut Khazar yaitu Laut Jurjan dan Laut Thabaristan bahwa di dalamnya terdapat bagian besar air yang tawar dan segar sebagaimana yang diberitakan oleh para musafir tentangnya.

Ahli astronomi berkata: Ia adalah laut yang bentuknya bulat memanjang. Ada yang mengatakan: Berbentuk segitiga seperti layar dan tidak bersambung dengan sesuatu pun dari laut yang melingkupi tetapi berdiri sendiri. Panjangnya delapan ratus mil dan lebarnya enam ratus mil. Ada yang mengatakan: Lebih dari itu, wallahu a’lam.

Di antara itu adalah laut yang darinya keluar pasang surut di dekat Basrah, dan di negeri Maghrib juga ada yang serupa. Air bertambah dari awal bulan dan terus bertambah hingga malam keempat belas yaitu pasang, kemudian mulai berkurang yaitu surut hingga akhir bulan.

Mereka telah menyebutkan batas-batas laut-laut ini, awal dan akhirnya. Dan mereka menyebutkan apa yang ada di bumi berupa danau-danau yang terkumpul dari sungai-sungai dan lain-lain berupa aliran air, dan itulah rawa-rawa. Dan mereka menyebutkan apa yang ada di bumi berupa sungai-sungai besar yang masyhur, dan menyebutkan awal dan akhirnya.

Kita tidak sedang membahas perluasan hal itu dan memperpanjangnya, tetapi kita hanya berbicara tentang apa yang berkaitan dengan sungai-sungai yang disebutkan dalam hadits. Allah Subhanahu Wataala telah berfirman: “Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air (hujan) dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan (air hujan) itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu; dan Dia menundukkan kapal bagimu agar berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus-menerus beredar (dalam orbitnya); dan menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinungkannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Surah Ibrahim: 32-34).

Dalam Shahihain dari jalan Qatadah, dari Anas bin Malik, dari Malik bin Sha’sha’ah: bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika menyebutkan Sidratul Muntaha, beliau bersabda: “Maka keluar dari pangkalnya dua sungai yang batin dan dua sungai yang zhahir. Adapun yang batin, keduanya di Surga, dan adapun yang zhahir, keduanya adalah Nil dan Furat.”

Dan dalam lafazh di Bukhari: “Unsurnya,” yaitu asalnya atau bentuknya, dan sesuai sifat dan keadaannya. Tidak ada di dunia dari apa yang ada di Surga kecuali nama-namanya. Dan dalam Shahih Muslim dari hadits Abdullah bin Umar, dari Khubaib bin Abdurrahman, dari Hafsh bin Ashim, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Saihan, Jaihan, Furat dan Nil, semuanya dari sungai-sungai Surga.”

Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dan Yazid, telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Mengalir empat sungai dari Surga: Furat, Nil, Saihan dan Jaihan.” Ini sanad yang shahih menurut syarat Muslim.

Dan sepertinya yang dimaksud, wallahu a’lam, dari ini adalah bahwa sungai-sungai ini menyerupai sungai-sungai Surga dalam kejernihannya, kesegarannya dan alirannya, dan dari jenis sungai-sungai itu dalam sifat-sifat ini dan yang sejenisnya. Sebagaimana yang dikatakan dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dia menshahihkannya dari jalan Said bin Amir, dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ajwah (kurma) dari Surga, dan di dalamnya terdapat penyembuhan dari racun.” Yaitu menyerupai buah Surga, bukan berarti dipetik dari Surga karena indra menyaksikan sebaliknya, maka jelas yang dimaksud adalah selainnya. Demikian juga sabda beliau shallallahu alaihi wasallam: “Demam dari panasnya Jahannam, maka dinginkanlah dengan air.” Demikian juga sabda beliau: “Panasnya panas dari panasnya Jahannam.” Demikian juga sungai-sungai ini, asal sumbernya tampak dari bumi.

Tentang Sungai Nil

Adapun Sungai Nil, yaitu sungai yang tidak ada tandingannya di antara sungai-sungai dunia dalam hal kejernihannya, kelembutannya, dan jauhnya perjalanan dari titik awal hingga akhir. Titik awalnya dari Pegunungan Qamar, yaitu Pegunungan Putih. Di antara mereka ada yang mengatakan: Pegunungan Qamar dengan penambahan pada bintang. Pegunungan ini berada di barat bumi, di belakang garis khatulistiwa menuju bagian selatan. Dikatakan bahwa pegunungan-pegunungan itu merah, mata air-mata air muncul dari celah-celahnya, kemudian terkumpul dari sepuluh aliran yang berjauhan, kemudian setiap lima aliran berkumpul di sebuah danau, kemudian mengalir enam sungai, kemudian semuanya berkumpul di danau lain, kemudian keluarlah satu sungai yaitu Sungai Nil. Sungai ini melewati negeri-negeri Sudan di Habasyah (Ethiopia), kemudian melewati Nubia dengan kota besarnya Dumqulah, kemudian melewati Aswan, lalu tiba di negeri Mesir. Sungai ini telah membawa kepada Mesir tambahan air hujan dari negeri Habasyah, serta tanah yang terkikis dari sana. Mesir membutuhkan keduanya; karena hujannya sedikit tidak mencukupi untuk tanaman dan pohon-pohonnya, dan tanahnya berupa pasir yang tidak menumbuhkan apa pun hingga datanglah Sungai Nil dengan air yang meluap dan lumpurnya, lalu tumbuh di sana apa yang mereka butuhkan. Mesir adalah negeri yang paling berhak masuk dalam firman Allah Ta’ala: “Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Kami menghalau air ke bumi yang tandus, lalu Kami keluarkan dengan air itu tanaman yang darinya makan hewan-hewan ternak mereka dan diri mereka sendiri? Maka mengapakah mereka tidak memperhatikan?” (Surat As-Sajdah ayat 27).

Kemudian Sungai Nil melewati Mesir sedikit dan terpecah menjadi dua cabang di sebuah desa di tepinya yang disebut Syatnuf. Cabang barat melewati Rosetta dan bermuara ke laut asin. Adapun cabang timur, ia juga terpecah di Jaujar menjadi dua cabang: cabang baratnya melewati Damietta dari sebelah barat dan bermuara ke laut, sedangkan cabang timurnya melewati Asymun Thanah dan bermuara di sana ke sebuah danau di timur Damietta yang disebut Danau Tanis dan Danau Damietta. Ini adalah jarak yang sangat jauh antara titik awal hingga titik akhir. Oleh karena itu, air Sungai Nil adalah yang paling jernih. Ibnu Sina berkata: Sungai Nil memiliki kekhususan yang tidak dimiliki air-air di seluruh bumi. Di antaranya adalah bahwa ia memiliki jarak terjauh dari aliran hingga ujungnya, di antaranya adalah bahwa ia mengalir di atas bebatuan dan pasir tanpa ada lumut hijau atau lumpur atau endapan, di antaranya adalah bahwa tidak ada batu atau kerikil yang menghijau di dalamnya. Semua itu tidak lain karena keseimbangan susunannya yang baik, kemanisannya dan kelembutannya. Di antaranya adalah bahwa kenaikan airnya terjadi pada hari-hari berkurangnya sungai-sungai lain, dan berkurangnya terjadi pada hari-hari bertambahnya dan banyaknya air sungai-sungai lain. Adapun apa yang disebutkan sebagian orang bahwa asal muasal Sungai Nil dari tempat yang tinggi yang pernah dikunjungi seseorang, lalu ia melihat di sana hal-hal yang mengerikan, gadis-gadis cantik, dan hal-hal aneh, dan bahwa orang yang melihat itu tidak bisa berbicara setelah itu, maka itu adalah dongeng para sejarawan dan omong kosong para pembohong.

Abdullah bin Lahi’ah telah meriwayatkan dari Qais bin Al-Hajjaj dari orang yang menceritakan kepadanya, ia berkata: Ketika Mesir ditaklukkan, penduduk Mesir datang kepada Amru bin Al-Ash ketika masuk bulan Baunah dari bulan-bulan Qibti Ajam, mereka berkata: “Wahai Amir, sungai Nil kami ini memiliki kebiasaan yang tanpanya ia tidak akan mengalir.” Ia berkata kepada mereka: “Apa itu?” Mereka berkata: “Ketika telah lewat dua belas malam dari bulan ini, kami mencari gadis perawan yang masih bersama kedua orang tuanya, lalu kami merelakan kedua orang tuanya, kami memberinya perhiasan dan pakaian yang terbaik, kemudian kami melemparkannya ke Sungai Nil ini.” Amru berkata kepada mereka: “Sesungguhnya ini tidak boleh dalam Islam, dan sesungguhnya Islam menghapus apa yang sebelumnya.” Maka berlalulah bulan Baunah, sementara Sungai Nil tidak mengalir baik sedikit maupun banyak. Dalam riwayat lain: maka berlalulah Baunah, Abib, dan Misra sementara sungai tidak mengalir hingga mereka hampir berpindah. Maka Amru menulis kepada Umar bin Al-Khaththab tentang hal itu. Umar menulis kepadanya: “Sesungguhnya engkau telah benar dengan apa yang engkau lakukan, dan sesungguhnya aku telah mengirim kepadamu sebuah kartu di dalam suratku ini, maka lemparkanlah itu ke Sungai Nil.” Ketika suratnya tiba, Amru mengambil kartu itu dan membukanya, ternyata di dalamnya tertulis: “Dari hamba Allah Umar Amirul Mukminin kepada Sungai Nil Mesir. Amma ba’du, jika engkau mengalir dengan sendirinya, maka janganlah mengalir. Tetapi jika Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa yang mengalirkanmu, maka kami memohon kepada Allah agar Dia mengalirkanmu.” Maka Amru melemparkan kartu itu ke Sungai Nil. Pada hari Sabtu pagi, Allah telah mengalirkan Sungai Nil enam belas hasta dalam satu malam, dan Allah memutuskan kebiasaan itu dari penduduk Mesir hingga hari ini.

Adapun Sungai Efrat, asalnya dari utara Arzun Romawi, lalu melewati dekat Malatya, kemudian melewati Sumaisat, kemudian melewati Elbira di selatannya, kemudian ke timur menuju Balis dan Qal’ah Ja’bar, kemudian ke Ar-Raqqah, kemudian ke Ar-Rahbah di utaranya, kemudian ke Anah, kemudian ke Hit, kemudian ke Kufah, kemudian keluar ke dataran Irak dan bermuara ke rawa-rawa besar yaitu danau-danau, dan mengalir ke sana dan keluar darinya sungai-sungai besar yang terkenal yang bermuara di Basrah.

Adapun Saihan, disebut juga Saihun, asalnya dari negeri Romawi, dan mengalir dari utara dan barat ke selatan dan timur. Ia berada di barat aliran Jaihan dan lebih kecil darinya. Ia berada di negeri Armenia yang dikenal hari ini dengan negeri Sis. Negeri ini pada awal Daulah Islamiyah berada di tangan kaum muslimin. Ketika Fatimiyyun menguasai negeri Mesir dan menguasai Syam dan wilayah-wilayahnya, mereka tidak mampu menjaganya dari musuh, maka Niqfur Al-Armani menguasai negeri ini, yaitu negeri Sis, sekitar tahun tiga ratus hingga hari ini. Kami memohon kepada Allah agar mengembalikannya kepada kami dengan pertolongan dan kekuatan-Nya. Kemudian Saihan dan Jaihan bertemu di Azzanah dan menjadi satu sungai, kemudian bermuara ke Laut Romawi antara Ayas dan Tarsus.

Adapan Jaihan, disebut juga Jaihun, orang awam menyebutnya Jahan. Asalnya di negeri Romawi, dan mengalir di negeri Sis dari utara ke selatan. Ia hampir sama dengan Sungai Efrat dalam ukuran. Kemudian ia dan Saihan bertemu di Azzanah dan menjadi satu sungai, kemudian bermuara ke laut di Ayas dan Tarsus. Wallahu a’lam.

Pasal

Allah Ta’ala berfirman: “Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu. Dan Dia-lah yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (Surat Ar-Ra’d ayat 2-4)

Allah Ta’ala berfirman: “Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran). Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.” (Surat An-Naml ayat 60-61)

Allah Ta’ala berfirman: “Dia-lah yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya). Dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran.” (Surat An-Nahl ayat 10-13)

Maka Allah Ta’ala menyebutkan apa yang telah Dia ciptakan di bumi berupa gunung-gunung, pepohonan, buah-buahan, dataran-dataran, dan tempat-tempat curam, dan apa yang telah Dia ciptakan dari berbagai jenis makhluk dari benda-benda mati dan hewan-hewan di padang-padang, gurun-gurun, dan lautan yang menunjukkan keagungan-Nya, kekuasaan-Nya, hikmah-Nya, dan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya, dan apa yang telah dimudahkan bagi setiap binatang berupa rezeki yang dibutuhkannya di malam dan siangnya, musim panas dan musim dinginnya, pagi dan petangnya sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Surat Hud ayat 6)

Al-Hafizh Abu Ya’la telah meriwayatkan dari Muhammad bin Al-Mutsanna dari Ubaid bin Waqid dari Muhammad bin Isa bin Kaisan dari Muhammad bin Al-Munkadir dari Jabir dari Umar bin Al-Khaththab, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Allah menciptakan seribu umat, enam ratus di antaranya di laut dan empat ratus di darat. Yang pertama kali binasa dari umat-umat ini adalah belalang, maka jika ia binasa, maka akan berurutan seperti untaian manik-manik jika talinya putus.” Ubaid bin Waqid Abu Abbad Al-Bashri dilemahkan oleh Abu Hatim. Ibnu Adi berkata: kebanyakan apa yang ia riwayatkan tidak ada yang membenarkannya, dan gurunya lebih lemah darinya. Al-Fallas dan Al-Bukhari berkata: haditsnya munkar. Abu Zur’ah berkata: tidak patut diriwayatkan darinya. Ia dilemahkan oleh Ibnu Hibban dan Ad-Daraquthni. Ibnu Adi mengingkari atasnya hadits ini sendiri dan lainnya. Wallahu a’lam.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.” (Surat Al-An’am ayat 38)

Bab: Penyebutan Hal yang Berkaitan dengan Penciptaan Langit-langit dan Ayat-ayat yang Ada di Dalamnya

Telah kami sebutkan bahwa penciptaan bumi mendahului penciptaan langit sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Surat Al-Baqarah ayat 29)

Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam’. Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu) sama bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap. Maka Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: ‘Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa’. Keduanya menjawab: ‘Kami datang dengan suka hati’. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Surat Fushshilat ayat 9-12)

Allah Ta’ala berfirman: “Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membinanya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan mengeluarkan siangnya. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.” (Surat An-Nazi’at ayat 27-30)

Kami telah menjawab tentang firman-Nya “Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya” bahwa menghamparkan berbeda dengan menciptakan, dan ia setelah penciptaan langit.

Allah Ta’ala berfirman: “Maha Suci Allah yang di tangan-Nya segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah. Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.” (Surat Al-Mulk ayat 1-5)

Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami bangun di atas kamu tujuh (langit) yang kokoh, dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari).” (Surat An-Naba’ ayat 12-13)

Allah Ta’ala berfirman: “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?” (Surat Nuh ayat 15-16)

Allah Ta’ala berfirman: “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (Surat Ath-Thalaq ayat 12)

Allah Ta’ala berfirman: “Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya. Dan Dia-lah yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.” (Surat Al-Furqan ayat 61-62)

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap syaitan yang sangat durhaka, syaitan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) Para Malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru, untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksa yang kekal, akan tetapi (barangsiapa) yang mencuri-curi (pembicaraan); maka ia dikejar oleh semburan api yang cemerlang.” (Surat Ash-Shaffat ayat 6-10)

Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang(nya). Dan Kami menjaganya dari tiap-tiap syaitan yang terkutuk. Tetapi syaitan yang mencuri-curi (pembicaraan); maka ia dikejar oleh semburan api yang terang.” (Surat Al-Hijr ayat 16-18)

Allah Ta’ala berfirman: “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (Surat Adz-Dzariyat ayat 47)

Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya. Dan Dia-lah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (Surat Al-Anbiya’ ayat 32-33)

Allah Ta’ala berfirman: “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan. Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (Surat Yasin ayat 37-40)

Allah Ta’ala berfirman: “Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan Dia-lah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui.” (Surat Al-An’am ayat 96-97)

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (Surat Al-A’raf ayat 54)

Ayat-ayat tentang ini sangat banyak, dan kami telah membahas setiap ayat di dalam tafsir.

Yang dimaksud adalah bahwa Allah Ta’ala memberitahukan tentang penciptaan langit-langit, keagungan keluasan dan ketinggiannya, dan bahwa langit-langit itu dalam puncak keindahan, cahaya, kesempurnaan, dan kecemerlangan sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Demi langit yang mempunyai jalinan yang indah.” (Surat Adz-Dzariyat ayat 7), yaitu ciptaan yang indah.

Allah Ta’ala berfirman: “Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah.” (Surat Al-Mulk ayat 3-4), yaitu penglihatan mundur karena tidak melihat kekurangan atau cacat di dalamnya, dan ia dalam keadaan lelah yaitu lemah. Seandainya ia melihat hingga lelah dan lemah, ia tidak akan menemukan kekurangan di dalamnya atau cacat, karena Allah Ta’ala telah menyempurnakan penciptaannya dan menghiasi cakrawalanya dengan bintang-bintang sebagaimana firman-Nya: “Demi langit yang mempunyai gugusan bintang.” (Surat Al-Buruj ayat 1), yaitu bintang-bintang. Ada yang berkata: tempat-tempat penjagaan yang dari sana dilemparkan syihab (meteor) kepada pencuri pendengaran, dan tidak ada pertentangan antara dua pendapat ini.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang(nya). Dan Kami menjaganya dari tiap-tiap syaitan yang terkutuk.” (Surat Al-Hijr ayat 16-17)

Maka Allah Ta’ala menyebutkan bahwa Dia menghiasi pemandangannya dengan bintang-bintang yang tetap dan yang beredar: matahari, bulan, dan bintang-bintang yang bersinar, dan bahwa Dia menjaga wilayahnya dari turunnya syaitan-syaitan ke sana. Ini adalah hiasan makna, maka Dia berfirman: “Dan Kami menjaganya dari tiap-tiap syaitan yang terkutuk.” Sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap syaitan yang sangat durhaka, syaitan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) Para Malaikat.” (Surat Ash-Shaffat ayat 6-8)

Al-Bukhari berkata dalam Kitab Bada’ul Khalqi (Permulaan Penciptaan): Qatadah berkata tentang: “Dan sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang.” (Surat Al-Mulk ayat 5): Bintang-bintang ini diciptakan untuk tiga hal: menjadikannya hiasan bagi langit, sebagai alat pelempar bagi syaitan-syaitan, dan sebagai tanda-tanda untuk petunjuk. Maka barangsiapa menafsirkannya dengan selain itu, maka ia salah, menyia-nyiakan bagiannya, dan memaksakan diri dengan apa yang tidak diketahuinya. Dan apa yang dikatakan Qatadah ini disebutkan dengan jelas dalam firman Allah Ta’ala: “Dan sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan.” (Surat Al-Mulk ayat 5)

Allah Ta’ala berfirman: “Dan Dia-lah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut.” (Surat Al-An’am ayat 97)

Maka barang siapa membebani diri dengan selain tiga hal ini—yakni mengaku mengetahui hukum-hukum yang ditunjukkan oleh pergerakan benda-benda langit, keterkaitan satu sama lain dalam peredarannya, dan menganggap bahwa semua itu menunjukkan terjadinya peristiwa-peristiwa di bumi—maka sungguh ia telah keliru. Hal itu karena kebanyakan ucapan mereka dalam bab ini tidak lain hanyalah dugaan-dugaan dan prasangka-prasangka yang palsu serta klaim-klaim yang batil. Dan Allah Ta‘ala menyebutkan bahwa Dia menciptakan tujuh langit yang berlapis-lapis, yaitu satu di atas yang lain.

Dan para ahli ilmu astronomi berbeda pendapat: apakah langit-langit itu bertumpuk? Atau terpisah-pisah dengan ada ruang kosong di antara mereka? Menjadi dua pendapat. Yang benar adalah pendapat kedua, berdasarkan hadits yang telah kami sebutkan sebelumnya dari Abdullah bin Umairah, dari Ahnaf, dari Abbas dalam hadits tentang kambing gunung bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tahukah kalian berapa jarak antara langit dan bumi?” Kami menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Jarak antara keduanya adalah perjalanan lima ratus tahun, dan dari setiap langit ke langit berikutnya adalah lima ratus tahun, dan ketebalan setiap langit adalah lima ratus tahun.” Hadits ini secara lengkap diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi yang menghasankannya. Dan dalam Shahihain dari hadits Anas dalam hadits Isra disebutkan: Beliau menemukan di langit dunia Adam, lalu Jibril berkata kepadanya: “Ini adalah ayahmu Adam.” Maka beliau mengucapkan salam kepadanya, dan Adam membalas salamnya seraya berkata: “Selamat datang kepada anakku, sebaik-baik anak engkau.” Sampai beliau bersabda: Kemudian aku dinaikkan ke langit kedua. Demikian pula disebutkan untuk langit ketiga, keempat, kelima, keenam, dan ketujuh. Ini menunjukkan adanya pemisahan di antara langit-langit itu karena sabda beliau: Kemudian kami dinaikkan hingga sampai ke langit kedua, lalu dimintakan izin, maka ditanyakan: “Siapa ini?” Sampai akhir hadits. Dan ini menunjukkan apa yang kami katakan, wallahu a’lam.

Telah dinukil oleh Ibnu Hazm, Ibnu Munadi, Abu Faraj Ibnu Jauzi, dan sejumlah ulama lainnya adanya ijma bahwa langit-langit itu berbentuk bulat melingkar. Mereka beralasan dengan firman Allah: “Masing-masing beredar di garis edarnya.” (Yasin: 40) Hasan berkata: mereka berputar. Dan Ibnu Abbas berkata: dalam putaran seperti putaran alat pintal. Mereka berkata: yang menunjukkan hal itu adalah bahwa matahari terbenam setiap malam dari barat, kemudian terbit di akhir malam dari timur, sebagaimana dikatakan oleh Umayyah bin Abi Shalt:

Dan matahari terbit setiap akhir malam Merah yang warnanya menjadi kemerahan Tidaklah ia terbit bagi mereka dengan tenangnya Kecuali ia tersiksa dan dicambuk

Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari di mana beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari A’masy, dari Ibrahim at-Taimi, dari ayahnya, dari Abu Dzar berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Abu Dzar ketika matahari terbenam: “Tahukah engkau ke mana ia pergi?” Aku menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya ia pergi hingga bersujud di bawah Arsy, lalu meminta izin maka diizinkan. Dan hampir saja ia bersujud tetapi tidak diterima darinya, dan ia meminta izin tetapi tidak diizinkan. Dikatakan kepadanya: ‘Kembalilah dari mana engkau datang,’ maka ia terbit dari baratnya. Maka itulah firman Allah: “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.” (Yasin: 38)

Ini adalah lafazhnya dalam bab penciptaan. Dan beliau meriwayatkannya dalam Tafsir dan dalam Tauhid dari hadits A’masy juga. Dan Muslim meriwayatkannya dalam Iman dari jalur A’masy, dan dari jalur Yunus bin Ubaid, dan Abu Daud dari jalur Hakam bin Utaibah, semuanya dari Ibrahim bin Yazid bin Syarik, dari ayahnya, dari Abu Dzar dengan hadits yang serupa. Dan Tirmidzi berkata: hasan shahih.

Jika ini telah diketahui, maka sesungguhnya ini adalah hadits yang tidak bertentangan dengan apa yang kami sebutkan tentang bulatnya langit-langit yang menurut pendapat terkuat adalah langit-langit. Ia juga tidak menunjukkan bulat berbentuk bola Arsy sebagaimana diklaim oleh sebagian orang yang telah kami bantah pendapat mereka sebelumnya. Ia juga tidak menunjukkan bahwa matahari naik ke atas langit-langit dari arah kita hingga bersujud di bawah Arsy, bahkan ia terbenam dari pandangan kita, sementara ia terus berjalan dalam garis edarnya yang ia berada di dalamnya, yaitu yang keempat menurut apa yang dikatakan oleh sejumlah ulama astronomi, dan tidak ada dalam syariat yang membantahnya. Bahkan dalam pengamatan yaitu gerhana yang menunjukkan dan menghendakinya. Maka jika ia berjalan di dalamnya hingga berada di tengah-tengahnya yaitu pada waktu tengah malam misalnya ketika musim sedang, di mana berada di antara kutub selatan dan utara, maka ia berada pada jarak terjauh dari Arsy, karena Arsy itu melengkung dari arah permukaan dunia. Inilah tempat sujudnya yang sesuai dengannya, sebagaimana ia paling dekat dengan Arsy pada waktu Zhuhur dari arah kita. Maka jika ia berada di tempat sujudnya, ia meminta izin kepada Rabb Yang Mahaagung untuk terbit dari timur, lalu diizinkan, maka ia muncul dari arah timur, sementara ia dengan itu tidak suka kepada orang-orang yang durhaka dari Bani Adam bahwa ia terbit atas mereka. Oleh karena itu Umayyah berkata:

Tidaklah ia terbit bagi mereka dengan tenangnya Kecuali ia tersiksa dan dicambuk

Maka jika tiba waktu yang Allah kehendaki untuk terbitnya dari arah baratnya, ia bersujud sesuai kebiasaannya dan meminta izin untuk terbit sesuai kebiasaannya tetapi tidak diizinkan. Maka datang riwayat bahwa ia bersujud lagi, kemudian meminta izin tetapi tidak diizinkan, kemudian ia bersujud tetapi tidak diizinkan. Dan malam itu menjadi panjang sebagaimana kami sebutkan dalam Tafsir. Lalu ia berkata: “Wahai Rabb, sesungguhnya fajar telah dekat, sementara jaraknya jauh.” Maka dikatakan kepadanya: “Kembalilah dari mana engkau datang,” lalu ia terbit dari baratnya. Maka ketika manusia melihatnya, mereka semua beriman. Dan itu adalah waktu di mana tidak bermanfaat bagi seseorang imannya jika ia tidak beriman sebelumnya atau tidak mengusahakan kebaikan dalam imannya. Dan mereka menafsirkan dengan itu firman Allah: “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya.” (Yasin: 38) Dikatakan: untuk waktunya di mana ia diperintahkan untuk terbit dari baratnya. Dan dikatakan: tempat peredarannya adalah tempatnya yang ia bersujud di sana di bawah Arsy. Dan dikatakan: akhir perjalanannya yaitu akhir dunia. Dan dari Ibnu Abbas bahwa ia membaca: “Dan matahari berjalan tidak ada tempat perederan baginya,” yaitu ia tidak menetap. Berdasarkan ini ia bersujud sementara ia berjalan. Oleh karena itu Allah berfirman: “Matahari tidak mungkin mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (Yasin: 40) Artinya: matahari tidak mendapatkan bulan lalu terbit dalam kekuasaan dan masanya, dan ia pun tidak, dan malam tidak mendahului siang. Artinya: malam tidak mendahului siang dengan jarak sehingga siang itu tertinggal darinya. Bahkan jika siang pergi, malam datang mengikutinya secara berurutan, sebagaimana firman-Nya dalam ayat lain: “Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam.” (al-A’raf: 54) Dan Allah berfirman: “Dan Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.” (al-Furqan: 62) Artinya: ini menggantikan itu dan itu menggantikan ini, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Jika malam datang dari sini, dan siang pergi dari sana, dan matahari terbenam, maka orang yang berpuasa telah berbuka.” Maka waktu yang pasti terbagi menjadi malam dan siang, dan tidak ada di antara keduanya selain keduanya. Oleh karena itu Allah berfirman: “Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan hingga waktu yang ditentukan.” (Fathir: 13) Artinya: Dia memasukkan dari yang ini ke dalam yang itu, yaitu: Dia mengambil dari panjangnya yang ini dalam pendeknya yang itu sehingga keduanya seimbang sebagaimana di awal musim semi; malam sebelum itu panjang dan siang pendek, lalu malam terus berkurang dan siang bertambah hingga keduanya seimbang yaitu awal musim semi, kemudian siang mulai memanjang dan bertambah, dan malam berkurang hingga akhir musim semi, kemudian keadaan berubah dan berbalik, lalu siang mulai berkurang dan malam bertambah hingga keduanya seimbang juga di awal musim gugur, kemudian malam mulai memanjang dan siang memendek hingga akhir musim gugur, kemudian siang mulai bertambah sedikit demi sedikit, dan malam berkurang sedikit demi sedikit hingga keduanya seimbang di awal musim semi sebagaimana kami sebutkan sebelumnya. Demikianlah setiap tahun. Oleh karena itu Allah berfirman: “Dan milik-Nya lah pergantian malam dan siang.” (al-Mu’minun: 80) Artinya: Dialah Yang mengatur semua itu, Penguasa yang tidak ada yang melawan dan tidak ada yang menandingi. Oleh karena itu Dia berfirman dalam tiga ayat ketika menyebut langit, bintang-bintang, malam dan siang: “Demikian itu ketetapan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.” (al-An’am: 80, Yasin: 38, Fushshilat: 12) Artinya: Yang Mahaperkasa yang telah mengalahkan segala sesuatu dan segala sesuatu tunduk kepada-Nya sehingga tidak ada yang melawan dan tidak ada yang menandingi, Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, lalu Dia menentukan segala sesuatu dengan ketetapan dalam sistem yang tidak berbeda dan tidak kacau.

Dan telah shahih dalam Shahihain dari hadits Sufyan bin Uyainah, dari Zuhri, dari Sa’id bin Musayyib, dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Allah berfirman: “Anak Adam menyakiti-Ku dengan mencela masa, padahal Akulah masa itu. Di tangan-Ku segala urusan, Aku yang membolak-balikkan malam dan siang.” Dan dalam riwayat lain: “Maka Akulah masa itu, Aku yang membolak-balikkan malamnya dan siangnya.”

Para ulama seperti asy-Syafi’i, Abu Ubaid Qasim bin Salam, dan lainnya berkata: mencela masa artinya berkata: masa telah melakukan kepada kami ini dan itu, celaka masa ini yang menjadikan anak-anak yatim dan wanita-wanita janda. Allah berfirman: “Dan Akulah masa itu.” Artinya: Akulah masa yang ia maksudkan, karena Dialah yang melakukan hal itu yang ia sandarkan kepada masa, sedangkan masa itu makhluk. Dan sesungguhnya yang melakukan ini adalah Allah Sang Pencipta, maka Dialah Yang Maha Perkasa. Maka ia mencela pelaku hal itu dan menyangka itu adalah masa, padahal Allah adalah pelaku hal itu, Pencipta segala sesuatu, Yang mengatur segala sesuatu, sebagaimana firman-Nya: “Dan Akulah masa itu. Di tangan-Ku segala urusan, Aku yang membolak-balikkan malamnya dan siangnya.” Dan sebagaimana firman Allah: “Katakanlah: ‘Wahai Allah, Pemilik kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu lah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab.'” (Ali Imran: 26-27) Dan Allah berfirman: “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan. Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya kepada orang-orang yang mengetahui. Sesungguhnya pada pergantian malam dan siang dan apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, pasti terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya bagi kaum yang bertakwa.” (Yunus: 5-6) Artinya: Dia membedakan antara matahari dan bulan dalam cahaya mereka, dalam bentuk mereka, dalam waktu mereka, dan dalam perjalanan mereka. Maka Dia menjadikan yang ini cahaya yaitu sinar matahari yang merupakan bukti yang terang dan cahaya yang cemerlang, sedangkan bulan adalah cahaya, artinya lebih lemah dari cahaya matahari dan dijadikan memperoleh dari cahayanya. Dan Dia menetapkan tempat-tempat orbitnya, artinya: ia terbit pada malam pertama bulan kecil, tipis, sedikit cahayanya karena dekatnya dengan matahari dan sedikitnya perhadapannya dengannya. Maka sesuai kadar perhadapannya dengannya akan menjadi cahayanya. Oleh karena itu pada malam kedua ia lebih jauh darinya dua kali lipat dari malam pertama, maka cahayanya menjadi dua kali lipat cahaya malam pertama. Kemudian semakin jauh ia semakin bertambah cahayanya hingga sempurna bulan purnama pada malam perhadapannya dengannya dari timur, yaitu malam empat belas dari bulan. Kemudian ia mulai berkurang karena mendekatnya kepadanya dari arah yang lain hingga akhir bulan, lalu ia tertutup hingga kembali seperti awalnya di awal bulan kedua. Dengan itu diketahui bulan-bulan, dan dengan matahari diketahui malam-malam dan hari-hari, dan dengan itu diketahui tahun-tahun dan masa-masa. Oleh karena itu Allah berfirman: “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan.” (Yunus: 5) Dan Allah berfirman: “Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari karunia dari Tuhanmu, dan agar kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.” (al-Isra’: 12) Dan Allah berfirman: “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: ‘Itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan bagi ibadah haji.'” (al-Baqarah: 189) Dan kami telah menjelaskan secara panjang lebar semua ini dalam Tafsir.

Maka bintang-bintang yang di langit, di antaranya ada yang beredar; yaitu yang berputar-putar dalam istilah para ahli astronomi, dan itu adalah ilmu yang kebanyakannya benar berbeda dengan ilmu hukum bintang yang kebanyakannya batil dan mengklaim sesuatu yang tidak ada dalilnya. Dan bintang-bintang beredar itu ada tujuh; bulan di langit dunia, Utarid di langit kedua, Zuhrah di langit ketiga, matahari di langit keempat, Marikh di langit kelima, Musytari di langit keenam, dan Zuhal di langit ketujuh. Dan sisa bintang-bintang mereka menamakannya bintang tetap, dan menurut mereka berada di langit kedelapan, yaitu Kursi dalam istilah kebanyakan ulama mutaakhirin.

Dan berkata kelompok lain: bahkan semua bintang berada di langit dunia, dan tidak ada yang menghalangi sebagian dari mereka berada di atas sebagian yang lain. Dan boleh jadi beralasan dengan ini firman Allah: “Dan sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat pelempar syaitan.” (al-Mulk: 5) Dan dengan firman-Nya: “Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.” (Fushshilat: 12) Maka Dia mengkhususkan langit dunia dari antara mereka dengan hiasan bintang-bintang. Jika ini menunjukkan bahwa bintang-bintang tertanam di dalamnya maka demikianlah, jika tidak maka tidak ada yang menghalangi apa yang dikatakan kelompok lain, wallahu a’lam.

Dan menurut mereka bahwa tujuh langit bahkan delapan langit berputar dengan apa yang ada di dalamnya dari bintang-bintang tetap dan yang beredar dalam sehari semalam satu putaran penuh dari timur ke barat. Dan menurut mereka bahwa setiap satu dari bintang-bintang yang beredar berputar berlawanan dengan langitnya dari barat ke timur. Maka bulan memotong langitnya dalam sebulan, dan matahari memotong langitnya yaitu yang keempat dalam setahun. Jika perjalanan keduanya tidak ada perbedaan di antara mereka dan gerakan keduanya berdekatan, maka ukuran langit keempat adalah sebesar langit dunia dua belas kali. Dan Zuhal memotong langitnya yaitu yang ketujuh dalam tiga puluh tahun, berdasarkan ini maka ia sebesar langit dunia tiga ratus enam puluh kali.

Dan mereka telah membicarakan tentang ukuran benda langit bintang-bintang ini, perjalanan mereka dan gerakan mereka, dan mereka memperluas dalam hal-hal ini hingga melampaui batas pada ilmu hukum bintang dan apa yang diatur dari kejadian-kejadian bumi, dan dari apa yang banyak dari mereka tidak memiliki ilmu tentangnya. Dan bangsa Yunani yang dulu tinggal di Syam sebelum zaman Masih alaihissalam dengan masa yang lama memiliki tentang ini banyak pembicaraan yang panjang penjelasannya. Dan mereka adalah yang membangun kota Damaskus dan menjadikan untuknya tujuh pintu, dan mereka menjadikan di atas setiap pintu kuil menurut bentuk tujuh bintang, mereka menyembah setiap satu di kuilnya dan menyeru mereka dengan doa yang diriwayatkan dari mereka oleh sejumlah ahli sejarah dan lainnya. Dan disebutkan oleh pengarang kitab as-Sirr al-Maktum fi Mukhatabah asy-Syams wal Qamar wan Nujum dan itu adalah dongeng yang tidak perlu diperhatikan. Dan lainnya dari para ulama bangsa Harran, para filosof Harran di zaman dahulu. Dan mereka adalah orang-orang musyrik yang menyembah tujuh bintang, dan mereka adalah satu kelompok dari kaum Shabiin. Oleh karena itu Allah berfirman: “Dan di antara tanda-tanda-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari maupun kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu benar-benar hanya kepada-Nya saja menyembah.” (Fushshilat: 37) Dan Allah berfirman memberitakan dari burung Hud-hud bahwa ia berkata kepada Sulaiman alaihissalam memberitakan tentang Balqis dan tentaranya; ratu Saba’ di Yaman dan sekitarnya: “Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan Allah, sehingga mereka tidak dapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Tuhan yang mempunyai Arsy yang besar.” (an-Naml: 23-26) Dan Allah berfirman: “Tidakkah kamu tahu bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit dan di bumi dan matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar dari manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah pasti azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak ada yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (al-Hajj: 18) Dan Allah berfirman: “Dan apakah mereka tidak memperhatikan segala sesuatu yang Allah ciptakan yang bayangannya berbolak-balik ke kanan dan ke kiri dalam keadaan bersujud kepada Allah, sedang mereka berendah diri? Dan kepada Allah saja bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan para malaikat, sedang mereka tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan.” (an-Nahl: 48-50) Dan Allah berfirman: “Hanya kepada Allah bersujud siapa saja yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa dan demikian pula bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.” (ar-Ra’d: 15) Dan Allah berfirman: “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (al-Isra’: 44) Dan ayat-ayat tentang ini sangat banyak.

Ketika benda-benda yang paling mulia yang dapat disaksikan di langit dan bumi adalah bintang-bintang, dan yang paling cemerlang penampakannya serta paling mulia untuk dijadikan pelajaran adalah matahari dan bulan, maka Khalilullah (Ibrahim) membuktikan kebatilan anggapan bahwa sesuatu dari benda-benda itu adalah tuhan. Hal itu terdapat dalam firman Allah Taala dalam Surah Al-Anam ayat 77-79: “Ketika ia melihat bulan terbit, dia berkata: ‘Inilah tuhanku.’ Tetapi ketika bulan itu tenggelam, dia berkata: ‘Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang sesat.’ Kemudian ketika ia melihat matahari terbit, dia berkata: ‘Inilah tuhanku, ini yang lebih besar.’ Tetapi ketika matahari itu tenggelam, dia berkata: ‘Wahai kaumku, sungguh aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan).'” Maka Ibrahim menjelaskan melalui jalan bukti yang pasti bahwa benda-benda yang dapat disaksikan ini berupa bintang-bintang, bulan, dan matahari, tidak ada satu pun yang layak menjadi tuhan; karena semuanya adalah makhluk yang dikuasai, diatur, dan ditundukkan dalam peredarannya, tidak menyimpang dari apa yang telah diciptakan untuknya, dan tidak condong daripadanya kecuali dengan takdir yang kokoh dan teratur, tidak goyah dan tidak berbeda-beda. Itu adalah bukti bahwa semuanya dikuasai, dibuat, ditundukkan, dan dipaksa. Oleh karena itu Allah Taala berfirman dalam Surah Fussilat ayat 37: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.”

Telah tetap dalam Shahihain (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) dalam bab shalat gerhana, dari hadits Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Aisyah, dan beberapa sahabat lainnya bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda dalam khutbahnya pada hari itu: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah Azza wa Jalla, dan keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang atau karena kehidupannya.”

Al-Bukhari meriwayatkan dalam bab awal penciptaan: telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Mukhtar, telah menceritakan kepada kami Abdullah Ad-Danaj, telah menceritakan kepadaku Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Matahari dan bulan akan digulung pada hari kiamat.” Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Bukhari. Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar meriwayatkannya dengan sanad yang lebih lengkap. Ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Ziyad Al-Baghdadi, telah menceritakan kepada kami Yunus bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Mukhtar, dari Abdullah Ad-Danaj, aku mendengar Abu Salamah bin Abdurrahman pada masa Khalid bin Abdullah Al-Qasri di masjid ini, Masjid Kufah, dan Al-Hasan datang lalu duduk bersamanya, kemudian ia menceritakan, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua banteng jantan di neraka pada hari kiamat.” Maka Al-Hasan berkata: “Apa dosa keduanya?” Maka Abu Salamah berkata: “Aku menceritakan kepadamu dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan kamu berkata ‘apa dosa keduanya?'” Kemudian Al-Bazzar berkata: hadits ini tidak diriwayatkan dari Abu Hurairah kecuali dari jalur ini, dan Abdullah Ad-Danaj tidak meriwayatkan dari Abu Salamah selain hadits ini.

Al-Hafizh Abu Yala Al-Mushili meriwayatkan dari jalur Yazid Ar-Raqasyi, yang lemah, dari Anas, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Matahari dan bulan adalah dua banteng jantan mandul di neraka.” Ibnu Abi Hatim berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Said Al-Asyaj dan Amr bin Abdullah Al-Audi, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Mujalid, dari seorang syaikh dari Bajilah, dari Ibnu Abbas mengenai firman dalam Surah At-Takwir ayat 1: “Apabila matahari digulung.” Ia berkata: Allah akan menggulung matahari, bulan, dan bintang-bintang pada hari kiamat di dalam lautan, dan Allah akan mengirimkan angin selatan yang akan menyalakan semuanya menjadi api.

Atsar-atsar ini menunjukkan bahwa matahari dan bulan adalah makhluk Allah yang diciptakan-Nya untuk tujuan yang dikehendaki-Nya, kemudian Dia berbuat terhadapnya apa yang Dia kehendaki. Bagi-Nya hujjah yang kuat, hikmah yang sempurna, Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat karena ilmu, hikmah, kekuasaan, kehendak-Nya yang menang, dan hukum-Nya yang tidak dapat ditolak, tidak dapat dilawan, dan tidak dapat dikalahkan.

Betapa baiknya apa yang dikemukakan Imam Muhammad bin Ishaq bin Yasar di awal kitab As-Sirah dari syair Zaid bin Amr bin Nufail tentang penciptaan langit dan bumi, matahari, bulan, dan lainnya. Ibnu Hisyam berkata: syair ini adalah karya Umayyah bin Abi Ash-Shalt:

Kepada Allah aku persembahkan pujian dan sanjunganku Dan perkataan yang kokoh yang akan kekal sepanjang masa Kepada Raja Yang Maha Tinggi yang tidak ada di atas-Nya Tuhan dan Rabb yang menjadi tandingan Wahai manusia, takutlah kehancuran Karena engkau tidak dapat menyembunyikan sesuatu dari Allah Dan jangan sekali-kali engkau menjadikan selain Allah bersama-Nya Karena jalan petunjuk telah jelas terlihat Karunia-Mu, sesungguhnya jin dahulu adalah harapan mereka Dan Engkau wahai Tuhanku, Rabb kami dan harapan kami Aku ridha dengan Engkau ya Allah sebagai Rabb, maka aku tidak akan pernah Beragama kepada tuhan selain Engkau ya Allah sebagai yang kedua Dan Engkau adalah Yang dari karunia dan rahmat Mengutus kepada Musa sebagai rasul yang menyeru Lalu Engkau berkata kepadanya: Pergilah bersama Harun dan ajaklah Kepada Allah, Firaun yang telah melampaui batas Dan katakan kepadanya: Apakah engkau yang menyusun ini tanpa Tiang hingga kokoh sebagaimana adanya Dan katakan kepadanya: Apakah engkau yang mengangkat ini tanpa Tiang, lebih lembutlah Engkau sebagai pembangunnya Dan katakan kepadanya: Apakah engkau yang menyusun di tengahnya Penerang ketika malam menyelimutinya sebagai pemberi petunjuk Dan katakan kepadanya: Siapa yang mengutus matahari di pagi hari Sehingga menjadi terang apa yang disinarinya dari bumi Dan katakan kepadanya: Siapa yang menumbuhkan biji di dalam tanah Sehingga menjadi tunasnya yang bergoyang subur Dan mengeluarkan darinya bijinya di pucuk-pucuknya Dan dalam itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang memahami Dan Engkau dengan karunia-Mu menyelamatkan Yunus Padahal ia bermalam dalam perut ikan berhari-hari Dan sesungguhnya walaupun aku bertasbih dengan nama-Mu ya Rabb kami Sangat banyak, kecuali yang Engkau ampuni kesalahanku Maka Rabb para hamba, limpahkanlah kebaikan dan rahmat Kepadaku dan berkahilah anak-anakku dan hartaku

Apabila telah diketahui hal ini, maka bintang-bintang yang ada di langit, baik yang tetap maupun yang beredar, semuanya adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah Taala sebagaimana firman-Nya dalam Surah Fussilat ayat 12: “Dan Dia mewahyukan pada setiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang (yang cemerlang) dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui.” Adapun apa yang disebutkan oleh banyak mufassir dalam kisah Harut dan Marut bahwa bintang Zuhrah (Venus) dulunya adalah seorang wanita cantik yang mereka berdua rayu untuk berbuat mesum, namun wanita itu menolak kecuali mereka berdua mengajarkan kepadanya Asma Al-A’zham (nama Allah yang paling agung), lalu mereka mengajarkannya, kemudian wanita itu mengucapkannya dan terangkat menjadi bintang ke langit, maka aku kira ini adalah cerita dari Bani Israil, walaupun Ka’ab Al-Ahbar pernah menceritakannya dan sekelompok salaf menerimanya darinya lalu menyebutkannya sebagai riwayat dan cerita dari Bani Israil. Imam Ahmad dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya meriwayatkan hadits tentang hal itu; Ahmad meriwayatkannya dari Yahya bin Bukair, dari Zuhair bin Muhammad, dari Musa bin Jubair, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan disebutkan kisahnya secara panjang lebar. Di dalamnya disebutkan: “Maka Zuhrah menjelma bagi keduanya sebagai seorang wanita dari wanita terindah di antara manusia, lalu ia datang kepada keduanya dan mereka memintanya untuk berbuat mesum.” Dan disebutkan kisahnya. Abdurrazzaq meriwayatkannya dalam tafsirnya dari Ats-Tsauri, dari Musa bin Uqbah, dari Salim, dari Ibnu Umar, dari Ka’ab Al-Ahbar. Dan ini lebih shahih dan lebih kuat. Al-Hakim dalam Mustadraknya dan Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas lalu menyebutkannya. Di dalamnya disebutkan: “Pada masa itu ada seorang wanita yang kecantikannya di antara para wanita seperti kecantikan bintang Zuhrah di antara bintang-bintang lainnya.” Dan disebutkan kelanjutannya. Ini adalah lafazh terbaik yang diriwayatkan dalam kisah ini, wallahu a’lam.

Demikian pula hadits yang diriwayatkan oleh Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdul Malik Al-Wasithi, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, telah menceritakan kepada kami Mubasysyir bin Ubaid, dari Zaid bin Aslam, dari Ibnu Umar, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dan telah menceritakan kepada kami Amr bin Isa, telah menceritakan kepada kami Abdul A’la, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Yazid, dari Amr bin Dinar, dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebutkan bintang Suhail lalu bersabda: “Ia dulunya adalah pemungut cukai yang zalim, lalu Allah mengubahnya menjadi bintang jatuh.” Kemudian ia berkata: tidak ada yang meriwayatkannya dari Zaid bin Aslam kecuali Mubasysyir bin Ubaid, dan ia lemah dalam hadits. Tidak ada yang meriwayatkannya dari Amr bin Dinar kecuali Ibrahim bin Yazid, dan ia lemah dalam hadits. Kami hanya menyebutkannya meskipun ada cacatnya karena kami tidak mengetahuinya kecuali dari dua jalur ini. Aku (Ibnu Katsir) berkata: Adapun Mubasysyir bin Ubaid Al-Qurasyi, ia adalah Abu Hafsh Al-Himshi, asalnya dari Kufah, maka ia telah dilemahkan oleh semua ulama. Imam Ahmad dan Ad-Daruquthni berkata tentangnya: ia membuat-buat hadits dan berdusta. Adapun Ibrahim bin Yazid, ia adalah Al-Khuzi, dan ia lemah menurut kesepakatan mereka. Ahmad dan An-Nasa’i berkata tentangnya: matruk (ditinggalkan). Ibnu Ma’in berkata: tidak tsiqah (terpercaya) dan tidak bernilai. Al-Bukhari berkata: mereka diam tentangnya. Abu Hatim dan Abu Zur’ah berkata: munkar haditsnya, lemah haditsnya. Sanad seperti ini sama sekali tidak dapat menetapkan sesuatu. Jika kita berbaik sangka, maka kita katakan: ini adalah dari berita-berita Bani Israil sebagaimana telah disebutkan sebelumnya dari riwayat Ibnu Umar, dari Ka’ab Al-Ahbar, dan termasuk khayalan-khayalan mereka yang tidak dapat diandalkan, wallahu a’lam.

Pasal tentang Pembahasan Bimasakti dan Pelangi

Abu Al-Qasim Ath-Thabrani berkata: telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Arim Abu An-Nu’man, telah menceritakan kepada kami Abu Awanah, dari Abu Bisyr, dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas: bahwa Heraklius menulis kepada Muawiyah. Ia berkata: jika masih tersisa pada mereka sesuatu dari kenabian, maka mereka akan memberitahuku tentang apa yang aku tanyakan kepada mereka. Ia berkata: maka ia menulis kepadanya menanyakan tentang bimasakti, pelangi, dan tempat yang tidak disinari matahari kecuali satu jam saja. Ia berkata: ketika surat dan utusan itu datang kepada Muawiyah, ia berkata: ini adalah sesuatu yang tidak aku pedulikan untuk menanyakannya sampai hari ini, siapa yang dapat menjawab hal ini? Dikatakan: Ibnu Abbas. Maka Muawiyah melipat surat Heraklius dan mengirimkannya kepada Ibnu Abbas. Lalu Ibnu Abbas menulis kepadanya: sesungguhnya pelangi adalah tanda keamanan bagi penduduk bumi dari tenggelam (banjir besar), dan bimasakti adalah pintu langit yang darinya langit akan terbelah. Adapun tempat yang tidak disinari matahari kecuali satu jam dari siang adalah laut yang terbelah untuk Bani Israil. Ini adalah sanad yang shahih sampai kepada Ibnu Abbas radhiyallahu anhu.

Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani: telah menceritakan kepada kami Abu Az-Zanba’ Rauh bin Al-Faraj, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Makhlad, telah menceritakan kepada kami Al-Fadhl bin Mukhtar, dari Muhammad bin Muslim Ath-Tha’ifi, dari Ibnu Abi Nujaih, dari Mujahid, dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Wahai Mu’adz, sesungguhnya aku akan mengutususu kepada suatu kaum ahli kitab, maka jika engkau ditanya tentang bimasakti yang ada di langit, maka katakanlah: ia adalah air liur ular yang berada di bawah Arsy.” Maka ini adalah hadits yang sangat munkar (ganjil), bahkan lebih tepat dikatakan bahwa ia maudhu’ (palsu). Periwayatan Al-Fadhl bin Mukhtar ini, ia adalah Abu Sahl Al-Bashri, kemudian pindah ke Mesir. Abu Hatim Ar-Razi berkata tentangnya: ia majhul (tidak dikenal) dan meriwayatkan kebatilan-kebatilan. Al-Hafizh Abu Al-Fath Al-Azdi berkata: sangat munkar haditsnya. Ibnu Adiy berkata: tidak ada yang mengikutinya dalam hadits-haditsnya, baik dalam matan maupun sanadnya.

Allah Taala berfirman dalam Surah Ar-Ra’d ayat 12-13: “Dialah yang memperlihatkan kepadamu kilat yang menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan mendung. Dan guntur bertasbih dengan memuji-Nya, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, sedang mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia Mahakuasa melaksanakan hukuman.” Dan Allah Taala berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 164: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang mengerti.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Yazid bin Harun, dari Ibrahim bin Sa’d, dari ayahnya, dari seorang syaikh dari Bani Ghifar, ia berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mengadakan awan, lalu ia berbicara dengan ucapan yang paling baik, dan tertawa dengan tawa yang paling baik.” Musa bin Ubaidah bin Sa’d bin Ibrahim meriwayatkan bahwa ia berkata: sesungguhnya ucapannya adalah guntur dan tawanya adalah kilat. Ibnu Abi Hatim berkata: telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Hisyam, dari Ubaidillah Ar-Razi, dari Muhammad bin Muslim, ia berkata: telah sampai kepada kami bahwa kilat adalah malaikat yang memiliki empat wajah; wajah manusia, wajah sapi, wajah elang, dan wajah singa. Apabila ia mencambukkan ekornya, maka itulah kilat.

Imam Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Al-Bukhari dalam kitab Al-Adab, dan Al-Hakim dalam Mustadraknya meriwayatkan dari hadits Al-Hajjaj bin Arthaah, telah menceritakan kepadaku Abu Mathar, dari Salim, dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam apabila mendengar guntur dan petir berdoa: “Ya Allah, janganlah Engkau membunuh kami dengan kemurkaan-Mu, dan janganlah Engkau membinasakan kami dengan azab-Mu, dan berilah kami keselamatan sebelum itu.” Ibnu Jarir meriwayatkan dari hadits Laits, dari seseorang, dari Abu Hurairah secara marfu’: apabila ia mendengar guntur ia berdoa: “Mahasuci Yang guntur bertasbih dengan memuji-Nya.” Dari Ali, bahwa ia biasa berdoa: “Mahasuci Yang guntur bertasbih untuk-Nya.” Demikian pula dari Ibnu Abbas, Al-Aswad bin Yazid, Thawus, dan lainnya.

Malik meriwayatkan dari Abdullah bin Az-Zubair: bahwa ia apabila mendengar guntur meninggalkan pembicaraan dan berkata: “Mahasuci Yang guntur bertasbih dengan memuji-Nya, dan para malaikat karena takut kepada-Nya.” Dan ia berkata: “Sesungguhnya ini adalah ancaman yang keras bagi penduduk bumi.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Rabb kalian berfirman: Seandainya hamba-hamba-Ku menaati-Ku, niscaya Aku akan menurunkan hujan untuk mereka pada malam hari, dan menyinari mereka dengan matahari pada siang hari, dan Aku tidak akan memperdengarkan kepada mereka suara guntur.” Ath-Thabrani meriwayatkan dari Ibnu Abbas secara marfu’: “Apabila kalian mendengar suara guntur, maka berzikirlah kepada Allah, karena ia tidak akan menimpa orang yang berzikir.”

Semua ini telah dijelaskan secara rinci dalam kitab tafsir, dan segala puji serta karunia bagi Allah.

Bab Penyebutan Penciptaan Malaikat dan Sifat-Sifat Mereka Alaihimus Salam

Allah Taala berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 18: “Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang-orang yang berilmu, yang menegakkan keadilan. Tidak ada tuhan selain Dia Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” Dan Allah berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 166: “Tetapi Allah memberikan kesaksian terhadap apa yang diturunkan-Nya kepadamu. Dia menurunkannya dengan ilmu-Nya dan para malaikat pun menjadi saksi. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.” Dan Allah Taala berfirman dalam Surah Al-Anbiya ayat 26-29: “Dan mereka berkata: ‘Tuhan Yang Maha Pengasih telah mengambil anak.’ Mahasuci Dia, sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-Nya. Dia mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka dan yang di belakang mereka, dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai (Allah), dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. Dan barangsiapa di antara mereka mengatakan: ‘Sesungguhnya aku adalah tuhan selain Dia’, maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahanam, demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang zalim.”

Dan Allah Taala berfirman dalam Surah Asy-Syura ayat 5: “Hampir saja langit itu pecah dari atas mereka (karena kebesaran Tuhan) dan malaikat-malaikat bertasbih dengan memuji Tuhannya dan memohonkan ampunan bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Dan Allah Taala berfirman dalam Surah Ghafir ayat 7-8: “(Malaikat-malaikat) yang memikul Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memohonkan ampunan bagi orang-orang yang beriman (seraya berkata), ‘Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan (agama) Engkau dan peliharalah mereka dari azab neraka yang menyala-nyala. Ya Rabb kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, pasangan-pasangan mereka, dan keturunan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.'”

Dan Allah Taala berfirman: “Jika mereka menyombongkan diri, maka sesungguhnya malaikat-malaikat yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu.” (Fushshilat: 38). Dan Allah berfirman: “Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya tidak menyombongkan diri untuk beribadah kepada-Nya dan tidak pula merasa letih. Mereka bertasbih di malam dan siang hari tanpa henti.” (Al-Anbiya: 19-20). Dan Allah Taala berfirman: “Dan tidak ada seorang pun di antara kami melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu. Dan sesungguhnya kami benar-benar bershaf-shaf. Dan sesungguhnya kami benar-benar bertasbih.” (Ash-Shaffat: 164-166). Dan Allah Taala berfirman: “Dan tidaklah kami turun kecuali dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nya apa yang ada di hadapan kami, apa yang ada di belakang kami, dan apa yang ada di antara keduanya. Dan tidaklah Tuhanmu lupa.” (Maryam: 64). Dan Allah Taala berfirman: “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada malaikat-malaikat yang mulia dan yang mencatat, yang mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Infithar: 10-12). Dan Allah Taala berfirman: “Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia.” (Al-Muddatstsir: 31). Dan Allah Taala berfirman: “Dan para malaikat masuk ke tempat mereka dari semua pintu sambil mengucapkan: ‘Salamun alaikum bima shabartum’, maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (Ar-Ra’d: 23-24). Dan Allah Taala berfirman: “Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang mempunyai sayap, masing-masing dua, tiga, dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Fathir: 1). Dan Allah Taala berfirman: “Dan pada hari ketika langit terbelah dengan awan dan para malaikat diturunkan dengan sebenar-benarnya. Kekuasaan pada hari itu adalah benar-benar milik Yang Maha Pengasih. Dan adalah hari itu suatu hari yang amat sulit bagi orang-orang kafir.” (Al-Furqan: 25-26). Dan Allah Taala berfirman: “Dan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: ‘Mengapa tidak diturunkan malaikat kepada kami atau mengapa kita tidak melihat Tuhan kami?’ Sesungguhnya mereka telah menyombongkan diri dan telah melampaui batas dengan sebenar-benarnya. Pada hari mereka melihat malaikat, tidak ada kabar gembira pada hari itu bagi orang-orang yang berdosa dan mereka berkata: ‘Semoga tidak terjadi!'” (Al-Furqan: 21-22). Dan Allah Taala berfirman: “Barangsiapa yang menjadi musuh Allah dan malaikat-malaikat-Nya dan rasul-rasul-Nya dan Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.” (Al-Baqarah: 98). Dan Allah Taala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6).

Dan ayat-ayat yang menyebutkan tentang malaikat sangatlah banyak. Allah Taala menggambarkan mereka dengan kekuatan dalam beribadah dan dalam penciptaan, keindahan penampilan, keagungan bentuk, dan kekuatan bentuk dalam berbagai rupa. Sebagaimana firman Allah Taala: “Dan tatkala datang utusan-utusan Kami kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata: ‘Ini adalah hari yang amat sulit.’ Dan kaumnya datang kepadanya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan jahat.” (Hud: 77-78) dan ayat-ayat berikutnya. Maka kami telah menyebutkan dalam kitab tafsir apa yang disebutkan oleh lebih dari satu ulama bahwa malaikat-malaikat menampakkan diri kepada mereka dalam bentuk pemuda-pemuda tampan sebagai ujian dan cobaan hingga tegaklah hujah atas kaum Luth, dan Allah mengazab mereka dengan azab yang keras lagi kuat.

Dan demikian pula Jibril datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam berbagai bentuk; terkadang datang dalam wujud Dihyah bin Khalifah Al-Kalbi, terkadang dalam bentuk seorang Arab badui, dan terkadang dalam bentuk asli yang ia diciptakan padanya yaitu memiliki enam ratus sayap, jarak antara setiap dua sayap seperti jarak antara timur dan barat, sebagaimana beliau melihatnya dalam bentuk ini dua kali; satu kali ketika turun dari langit ke bumi, dan satu kali di Sidratul Muntaha yang di sisinya terdapat Jannatul Maawa. Inilah makna firman Allah Taala: “Yang diajarkan kepadanya oleh yang sangat kuat, yang mempunyai kekuatan yang sempurna. Maka ia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi.” (An-Najm: 5-8). Yakni Jibril, sebagaimana telah kami sebutkan dari lebih dari satu sahabat di antara mereka: Ibnu Mas’ud, Abu Hurairah, Abu Dzar, dan Aisyah. “Maka jadilah dia dekat dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi. Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya apa yang telah Allah wahyukan.” Yakni kepada hamba Allah, Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Kemudian Allah berfirman: “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu sekali lagi, di Sidratul Muntaha.” (An-Najm: 13-14). Dan semuanya yang dimaksud adalah Jibril.

Dan sungguh telah kami sebutkan dalam hadis-hadis Isra dalam Surat Subhan bahwa Sidratul Muntaha berada di langit ketujuh, dan dalam riwayat lain: di langit keenam, yakni: pangkalnya, dan cabang-cabangnya di langit ketujuh, “ketika meliputi pohon bidara itu apa yang meliputi.” Dikatakan: yang meliputinya adalah cahaya Tuhan Yang Mahaagung. Dan dikatakan: meliputinya burung-burung dari emas. Dan dikatakan: meliputinya warna-warna yang beragam, banyak, dan tidak terbatas. Dan dikatakan: meliputinya malaikat-malaikat seperti burung gagak. Dan dikatakan: meliputinya dari Allah suatu perkara, sehingga tidak ada seorang pun yang mampu menggambarkannya; yakni dari keindahan dan kecemerlangan. Dan tidak ada pertentangan antara pendapat-pendapat ini karena semuanya mungkin terjadi dalam satu waktu.

Dan telah kami sebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Kemudian diangkat untukku Sidratul Muntaha, dan ternyata buahnya seperti tempayan.” Dan dalam riwayat lain: “seperti tempayan Hajar, dan daunnya seperti telinga gajah, dan keluar dari pangkalnya dua sungai batin dan dua sungai zhahir; adapun yang batin keduanya di surga, dan adapun yang zhahir adalah Sungai Nil dan Sungai Furat.” Dan telah dijelaskan pembahasan ini dalam penyebutan penciptaan bumi dan apa yang ada di dalamnya dari lautan dan sungai-sungai. Dan dalam hadis: “Kemudian diangkat untukku Baitul Makmur, dan ternyata memasukinya setiap hari tujuh puluh ribu malaikat, kemudian mereka tidak kembali kepadanya lagi selamanya.” Dan disebutkan bahwa beliau menemukan Ibrahim Al-Khalil alaihissalam bersandar punggungnya pada Baitul Makmur. Dan kami sebutkan wajah kesesuaian dalam hal ini: bahwa Baitul Makmur di langit ketujuh berkedudukan seperti Ka’bah di bumi.

Dan telah meriwayatkan Sufyan Ats-Tsauri, Syu’bah, dan Abu Al-Ahwash, dari Simak bin Harb, dari Khalid bin Ar’arah; bahwa Ibnul Kawwa bertanya kepada Ali bin Abi Thalib tentang Baitul Makmur, maka ia berkata: Ia adalah masjid di langit yang dinamakan Adh-Dharah, dan ia berada di atas Ka’bah, kehormatannya di langit seperti kehormatan Baitullah di bumi, shalat di dalamnya setiap hari tujuh puluh ribu malaikat yang tidak kembali kepadanya selamanya. Dan demikianlah meriwayatkan Ali bin Rabi’ah dan Abu Ath-Thufail, dari Ali sepertinya.

Dan berkata Ath-Thabarani: memberitahu kami Al-Hasan bin Alawiyah Al-Qaththan, menceritakan kepada kami Ismail bin Isa Al-Aththar, menceritakan kepada kami Ishaq bin Bisyr Abu Hudzaifah, menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, dari Shafwan bin Sulaim, dari Kuraib, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Baitul Makmur di langit dinamakan Adh-Dharah, dan ia berada seperti Baitulharam di atasnya, seandainya jatuh niscaya jatuh di atasnya, memasukinya setiap hari tujuh puluh ribu malaikat, kemudian mereka tidak melihatnya lagi selamanya, dan sesungguhnya baginya di langit kehormatan sesuai kadar kehormatan Makkah.” Yakni di bumi. Dan demikianlah berkata Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Ar-Rabi bin Anas, As-Suddi, dan lebih dari satu orang.

Dan berkata Qatadah: disebutkan kepada kami bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata suatu hari kepada para sahabatnya: “Tahukah kalian apa itu Baitul Makmur?” Mereka berkata: Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. Beliau bersabda: “Sesungguhnya ia adalah masjid di langit di atas Ka’bah, seandainya jatuh niscaya jatuh di atasnya, shalat di dalamnya setiap hari tujuh puluh ribu malaikat, apabila mereka keluar darinya tidak kembali lagi selamanya.”

Dan mengklaim Adh-Dhahhak bahwa yang memakmurkannya adalah segolongan malaikat yang disebut Al-Hann dari golongan Iblis laknatullah alaih. Ia berkata: pelayan-pelayannya dan pembantu-pembantunya dari mereka, wallahu a’lam.

Dan berkata yang lain: di setiap langit ada rumah yang dimakmurkan oleh para malaikatnya dengan ibadah di dalamnya, dan mereka berdatangan kepadanya secara bergiliran dan bergantian, sebagaimana penduduk bumi memakmurkan Baitulharam dengan haji setiap tahun, umrah di setiap waktu, dan thawaf serta shalat di setiap saat.

Berkata Sa’id bin Yahya bin Sa’id Al-Umawi di awal kitabnya Al-Maghazi: menceritakan kepada kami Abu Ubaid dalam hadis Mujahid: bahwa tanah haram itu haram manah, yakni ukurannya dari tujuh langit dan tujuh bumi, dan ia adalah yang keempat dari empat belas rumah; di setiap langit ada rumah, dan di setiap bumi ada rumah, seandainya berjatuhan niscaya jatuh sebagiannya di atas sebagian yang lain. Kemudian ia meriwayatkan dari Mujahid, ia berkata: manah; yakni yang sejajar dengannya, dan ia adalah huruf yang maqshur (pendek). Kemudian ia berkata: menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Abu Sulaiman muadzin Al-Hajjaj, aku mendengar Abdullah bin Amr berkata: Sesungguhnya tanah haram itu diharamkan di tujuh langit sesuai ukurannya di bumi, dan sesungguhnya Baitul Maqdis itu disuci-sucikan di tujuh langit sesuai ukurannya di bumi. Sebagaimana berkata sebagian penyair:

Sesungguhnya Yang meninggikan langit telah membangun untuk kami, rumah yang tiang-tiangnya lebih kokoh dan lebih tinggi

Dan nama rumah yang di langit dunia adalah Baitul Izzah, dan nama malaikat yang menjadi pemimpin malaikat di sana adalah Ismail. Maka berdasarkan ini, tujuh puluh ribu malaikat yang masuk setiap hari ke Baitul Makmur, kemudian tidak kembali kepadanya lagi selamanya: yakni tidak mendapat giliran di sana hingga akhir zaman; mereka adalah dari penduduk langit ketujuh saja, dan karena itu Allah Taala berfirman: “Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia.” (Al-Muddatstsir: 31).

Dan berkata Imam Ahmad: menceritakan kepada kami Aswad bin Amir, menceritakan kepada kami Israil, dari Ibrahim bin Muhajir, dari Mujahid, dari Mauriq, dari Abu Dzar, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kalian lihat, dan aku mendengar apa yang tidak kalian dengar. Langit berderak, dan berhak baginya untuk berderak; tidak ada tempat seluas empat jari di dalamnya melainkan ada malaikat yang bersujud. Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis, dan kalian tidak akan menikmati perempuan-perempuan di atas tempat tidur, dan kalian akan keluar ke dataran tinggi memohon kepada Allah Azza wa Jalla.” Maka Abu Dzar berkata: Demi Allah, andai aku menjadi pohon yang ditebang. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari hadis Israil, maka At-Tirmidzi berkata: hasan gharib, dan diriwayatkan dari Abu Dzar secara mauquf.

Dan berkata Al-Hafizh Abu Al-Qasim Ath-Thabarani: memberitahu kami Husain bin Arfah Al-Mishri, menceritakan kepada kami Urwah bin Marwan Ar-Raqqi, menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Amr, dari Abdul Karim bin Malik, dari Atha bin Abi Rabah, dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada di tujuh langit tempat seluas telapak kaki, sejengkal, atau satu genggam melainkan di dalamnya ada malaikat yang berdiri atau malaikat yang sujud atau malaikat yang ruku’. Apabila tiba hari kiamat mereka semua berkata: ‘Kami tidak beribadah kepada-Mu dengan sebenar-benar ibadah kecuali bahwa kami tidak menyekutukan-Mu dengan sesuatu pun.'”

Maka kedua hadis ini menunjukkan bahwa tidak ada tempat di tujuh langit melainkan dipenuhi dengan malaikat, dan mereka dalam berbagai macam ibadah; di antara mereka ada yang berdiri selamanya, di antara mereka ada yang ruku selamanya, di antara mereka ada yang sujud selamanya, dan di antara mereka ada yang dalam macam-macam lain yang Allah lebih mengetahuinya, dan mereka terus-menerus dalam ibadah mereka, tasbih mereka, zikir mereka, dan amal-amal mereka yang Allah perintahkan kepada mereka, dan mereka memiliki kedudukan di sisi Tuhan mereka. Sebagaimana firman Allah Taala: “Dan tidak ada seorang pun di antara kami melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu. Dan sesungguhnya kami benar-benar bershaf-shaf. Dan sesungguhnya kami benar-benar bertasbih.” (Ash-Shaffat: 164-166). Dan beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Tidakkah kalian bershaf sebagaimana malaikat bershaf di sisi Tuhan mereka?” Mereka bertanya: Bagaimana mereka bershaf di sisi Tuhan mereka? Beliau bersabda: “Mereka menyempurnakan shaf-shaf yang pertama, dan mereka saling merapatkan dalam shaf.” Dan beliau bersabda: “Kami diutamakan atas manusia dengan tiga perkara; dijadikan untuk kami bumi sebagai masjid, tanahnya sebagai alat bersuci untuk kami, dan dijadikan shaf-shaf kami seperti shaf-shaf malaikat.”

Dan demikian pula mereka datang pada hari kiamat di hadapan Tuhan Yang Mahaagung dalam shaf-shaf. Sebagaimana firman Allah Taala: “Dan datanglah Tuhanmu dan malaikat bershaf-shaf.” (Al-Fajr: 22). Dan mereka berdiri dalam shaf-shaf di hadapan Tuhan mereka Azza wa Jalla pada hari kiamat. Sebagaimana firman Allah Taala: “Pada hari berdirinya ruh dan para malaikat dalam shaf-shaf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Yang Maha Pengasih dan ia mengucapkan yang benar.” (An-Naba: 38). Dan yang dimaksud dengan ruh di sini adalah bani Adam. Demikianlah kata Ibnu Abbas, Al-Hasan, dan Qatadah. Dan dikatakan: sejenis malaikat yang menyerupai bani Adam dalam bentuk. Demikianlah kata Ibnu Abbas, Mujahid, Abu Shalih, dan Al-A’masy. Dan dikatakan: Jibril. Demikianlah kata Asy-Sya’bi, Sa’id bin Jubair, dan Adh-Dhahhak.

Dan dikatakan: malaikat yang disebut Ar-Ruh seukuran semua makhluk. Berkata Ali bin Abi Thalhah: dari Ibnu Abbas tentang firman-Nya: Pada hari berdirinya ruh. Ia berkata: Ia adalah malaikat dari malaikat yang paling besar penciptaannya. Dan berkata Ibnu Jarir: menceritakan kepadaku Muhammad bin Khalaf Al-Asqalani, menceritakan kepada kami Rawwad bin Al-Jarrah, dari Abu Hamzah, dari Asy-Sya’bi, dari Alqamah, dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: Ar-Ruh di langit keempat ia lebih besar dari langit-langit dan gunung-gunung, dan dari para malaikat, ia bertasbih setiap hari dua belas ribu tasbih, Allah menciptakan dari setiap tasbih malaikat dari malaikat-malaikat yang datang pada hari kiamat dalam shaf sendiri. Dan ini sangat aneh.

Dan berkata Ath-Thabarani: menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam Al-Mishri, menceritakan kepada kami Wahhab Allah bin Rizq Abu Hurairah, menceritakan kepada kami Bisyr bin Bakr, menceritakan kepada kami Al-Auza’i, menceritakan kepadaku Atha, dari Abdullah bin Abbas, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat seandainya dikatakan kepadanya: ‘Telanlah langit dan bumi dengan satu suapan,’ niscaya ia melakukannya, tasbihnya: ‘Subhanaka haitsuma kunta’ (Mahasuci Engkau di mana pun Engkau berada).” Dan ini juga hadis yang sangat aneh, dan boleh jadi ia mauquf.

Dan telah kami sebutkan dalam sifat para malaikat pemikul Arasy, dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Aku diberi izin untuk menceritakan tentang malaikat dari malaikat Allah dari pemikul Arasy, sesungguhnya jarak antara cuping telinganya hingga pundaknya adalah perjalanan tujuh ratus tahun.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Abi Hatim, dan lafaznya: “terbang burung tujuh ratus tahun.”

Dan sungguh diriwayatkan tentang sifat Jibril alaihissalam perkara yang agung. Allah Taala berfirman: “Yang diajarkan kepadanya oleh yang sangat kuat.” (An-Najm: 5). Dikatakan: termasuk dari kuatnya kekuatannya adalah bahwa ia mengangkat negeri-negeri kaum Luth, dan mereka tujuh negeri dengan siapa yang ada di dalamnya dari umat-umat, dan mereka hampir empat ratus ribu, dan apa yang bersama mereka dari hewan-hewan dan binatang-binatang, dan apa bagi negeri-negeri itu dari tanah-tanah dan perkebunan dan kemakmuran dan selain itu, ia mengangkat semua itu pada ujung sayapnya hingga mencapai dengan mereka cakrawala langit, hingga para malaikat mendengar gonggongan anjing-anjing mereka dan kokok ayam-ayam mereka, kemudian ia membalikkannya sehingga menjadikan atasnya menjadi bawahnya. Maka inilah yang sangat kuat.

Dan firman-Nya: “Yang mempunyai kekuatan yang sempurna.” Yakni penciptaan yang baik dan keindahan serta cahaya. Sebagaimana Allah berfirman dalam ayat yang lain: “Sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar firman utusan yang mulia.” (At-Takwir: 19). Yakni: Jibril utusan dari Allah “yang mulia”. Yakni: baik penampilan “yang mempunyai kekuatan”. Yakni: ia memiliki kekuatan dan kekuasaan yang kuat “yang berkedudukan tinggi di sisi Yang mempunyai Arasy.” Yakni: ia memiliki kedudukan dan martabat yang tinggi lagi mulia di sisi Allah Yang memiliki Arasy Yang Mahamulia. “Yang ditaati di sana.” Yakni: ditaati di alam atas “lagi dipercaya.” Yakni: memiliki amanah yang agung, dan karena itu ia adalah duta antara Allah dan para nabi-Nya alaihimussalam yang menurunkan kepada mereka wahyu yang di dalamnya berita-berita yang benar dan syariat-syariat yang adil.

Dan ia datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dan turun kepadanya dalam berbagai bentuk sebagaimana telah kami jelaskan. Dan sungguh beliau melihatnya dalam bentuk asli yang Allah ciptakan ia padanya dua kali, ia memiliki enam ratus sayap. Sebagaimana meriwayatkan Al-Bukhari, dari Thalq bin Ghannam, dari Za’idah, dari Asy-Syaibani, ia berkata: Aku bertanya kepada Zirr tentang firman-Nya: “Maka jadilah dia dekat dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi. Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya apa yang telah Allah wahyukan.” (An-Najm: 9-10). Ia berkata: menceritakan kepada kami Abdullah, yakni Ibnu Mas’ud: bahwa Muhammad shallallahu alaihi wa sallam melihat Jibril yang memiliki enam ratus sayap.

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Jami’ bin Abi Rasyid, dari Abu Wail, dari Abdullah yang berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat Jibril dalam wujud aslinya, dan ia memiliki enam ratus sayap; setiap sayap telah menutupi ufuk, berjatuhan dari sayapnya berbagai keajaiban berupa mutiara dan yakut yang hanya Allah yang mengetahuinya.

Ahmad juga berkata: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Ashim bin Bahdalah, dari Zirr bin Hubaisy, dari Ibnu Mas’ud tentang ayat ini: “Dan sungguh dia (Muhammad) telah melihat Jibril itu turun untuk kali yang lain, di dekat Sidratil Muntaha (pohon bidara di langit yang paling tinggi)” (An-Najm: 13-14). Dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku melihat Jibril dan ia memiliki enam ratus sayap yang berguguran dari bulunya berbagai keajaiban; mutiara dan yakut.”

Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al-Hubab, telah menceritakan kepada kami Al-Husain, telah menceritakan kepadaku Ashim bin Bahdalah, aku mendengar Syaqiq bin Salamah berkata: Aku mendengar Ibnu Mas’ud berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku melihat Jibril di Sidratil Muntaha dan ia memiliki enam ratus sayap.” Lalu aku bertanya kepada Ashim tentang sayap-sayap itu, tetapi ia enggan memberitahuku. Dia berkata: Lalu salah seorang sahabatnya memberitahuku bahwa satu sayap itu luasnya antara timur dan barat. Ini adalah sanad-sanad yang bagus dan kuat. Ahmad menyendiri dalam meriwayatkannya.

Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al-Hubab, telah menceritakan kepadaku Husain, telah menceritakan kepadaku Hashain, telah menceritakan kepadaku Syaqiq, aku mendengar Ibnu Mas’ud berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jibril datang kepadaku dengan mengenakan pakaian hijau yang tergantung padanya mutiara.” Sanadnya shahih.

Ibnu Jarir berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Bazi’ Al-Baghdadi, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Manshur, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Israil, dari Abu Ishaq, dari Abdurrahman bin Yazid, dari Abdullah tentang ayat: “Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya” (An-Najm: 11). Dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat Jibril mengenakan dua helai pakaian sutra halus yang memenuhi antara langit dan bumi. Sanadnya bagus dan kuat.

Dalam Shahihain dari hadits Amir Asy-Sya’bi, dari Masruq, dia berkata: Aku berada di sisi Aisyah lalu aku berkata: Bukankah Allah berfirman: “Dan sungguh dia (Muhammad) telah melihat Jibril itu di ufuk yang terang” (At-Takwir: 23), dan “Dan sungguh dia (Muhammad) telah melihat Jibril itu turun untuk kali yang lain” (An-Najm: 13). Maka ia berkata: Aku adalah orang pertama dari umat ini yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang hal itu, maka beliau bersabda: “Sesungguhnya itu adalah Jibril, beliau tidak melihatnya dalam wujud aslinya yang ia diciptakan dengan wujud itu kecuali dua kali, beliau melihatnya turun dari langit ke bumi, kebesaran penciptaannya menutupi antara langit dan bumi.”

Al-Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim, telah menceritakan kepada kami Umar bin Dzar, dan telah menceritakan kepadaku Yahya bin Ja’far, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Umar bin Dzar, dari ayahnya, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Jibril: “Mengapa engkau tidak mengunjungi kami lebih sering dari kunjunganmu?” Dia berkata: Maka turunlah ayat: “Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nya-lah apa yang ada di hadapan kami, apa yang ada di belakang kami” (Maryam: 64) sampai akhir ayat.

Al-Bukhari meriwayatkan dari hadits Az-Zuhri, dari Ubaidullah bin Abdullah, dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan dalam kebaikan, dan beliau paling dermawan ketika bulan Ramadhan saat bertemu dengan Jibril, dan Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadhan lalu mereka saling mengulang Al-Quran, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang bertiup.

Al-Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Al-Laits, dari Ibnu Syihab bahwa Umar bin Abdul Aziz mengakhirkan shalat Ashar sedikit, maka Urwah berkata kepadanya: Ketahuilah bahwa Jibril telah turun lalu shalat di depan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Umar berkata: Ketahuilah apa yang engkau katakan wahai Urwah. Dia berkata: Aku mendengar Basyir bin Abi Mas’ud berkata: Aku mendengar Abu Mas’ud berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jibril turun lalu mengimami aku dan aku shalat bersamanya, kemudian aku shalat bersamanya, kemudian aku shalat bersamanya, kemudian aku shalat bersamanya, kemudian aku shalat bersamanya.” Beliau menghitung dengan jari-jarinya lima shalat.

Tentang Sifat Israfil ‘alaihissalam

Dia adalah salah satu pemikul Arasy, dan dialah yang meniup sangkakala atas perintah Tuhannya dengan tiga tiupan; yang pertama: tiupan ketakutan, yang kedua: tiupan kematian, dan yang ketiga: tiupan kebangkitan. Sebagaimana akan dijelaskan pada tempatnya dalam kitab kami ini dengan pertolongan Allah dan kekuatan-Nya serta taufik-Nya yang baik. Sangkakala itu adalah terompet yang ditiup, setiap lubangnya seperti antara langit dan bumi, dan di dalamnya terdapat tempat roh-roh para hamba ketika Allah memerintahkannya untuk meniup untuk kebangkitan, maka ketika dia meniup, roh-roh keluar berhamburan, lalu Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Mulia berfirman: “Demi keagungan dan kebesaran-Ku, setiap roh akan kembali ke jasad yang pernah ditempatinya di dunia.” Maka roh-roh masuk ke dalam jasad-jasad di dalam kubur mereka; lalu meresap di dalamnya seperti racun yang meresap pada orang yang tersengat, maka jasad-jasad hidup kembali, dan kuburan terbelah untuk mereka, lalu mereka keluar darinya dengan cepat menuju tempat pengumpulan. Sebagaimana akan dijelaskan secara terperinci pada tempatnya.

Karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bagaimana aku bisa tenang, sedangkan pemilik sangkakala telah meletakkan sangkakala di mulutnya, dan menundukkan dahinya, serta menunggu untuk diberi izin?” Mereka bertanya: Apa yang harus kami katakan wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “Katakanlah: Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik Pelindung, kepada Allah kami bertawakal.” Diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzi dari hadits Athiyyah Al-Aufi, dari Abu Sa’id Al-Khudri.

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Sa’d Ath-Tha’i, dari Athiyyah Al-Aufi, dari Abu Sa’id, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut pemilik sangkakala lalu bersabda: “Di sebelah kanannya ada Jibril, dan di sebelah kirinya ada Mikail ‘alaihimassalam.”

Hafizh Abu Al-Qasim Ath-Thabrani berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah Al-Hadhrami, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Umar bin Abi Laila, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Ibnu Abi Laila, dari Al-Hakam, dari Miqsam, dari Ibnu Abbas, dia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama Jibril di suatu tempat, tiba-tiba ufuk langit terbelah dan Israfil mendekat ke bumi sambil bergerak perlahan, maka tiba-tiba seorang malaikat telah hadir di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata: Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk memilih antara nabi yang hamba atau nabi yang raja? Dia berkata: Maka Jibril memberi isyarat kepadaku dengan tangannya agar merendah diri. Lalu aku tahu bahwa dia adalah penasihatku, maka aku berkata: Hamba yang nabi. Maka malaikat itu naik ke langit, lalu aku berkata: Wahai Jibril, sungguh aku ingin bertanya kepadamu tentang ini tetapi aku melihat keadaanmu yang membuatku sibuk dari bertanya, siapakah ini wahai Jibril? Dia berkata: Ini adalah Israfil ‘alaihissalam, Allah menciptakannya pada hari Dia menciptakannya berdiri di hadapan-Nya dengan kedua kakinya menjejak, tidak mengangkat pandangannya, antara dia dan Tuhan ada tujuh puluh cahaya, tidak ada satu cahaya pun yang dia hampiri kecuali akan terbakar, di hadapannya ada lembaran (lauh), maka jika Allah menghendaki sesuatu di langit atau di bumi, lembaran itu terangkat lalu memukul dahinya, dan dia melihat, jika itu adalah dari pekerjaanku maka dia memerintahku dengannya. Dan jika itu adalah dari pekerjaan Mikail maka dia memerintahnya dengannya. Dan jika itu adalah dari pekerjaan malaikat maut maka dia memerintahnya dengannya. Aku berkata: Wahai Jibril, apa yang menjadi tugasmu? Dia berkata: Angin dan pasukan. Aku berkata: Dan apa tugas Mikail? Dia berkata: Tumbuhan dan hujan. Aku berkata: Dan apa tugas malaikat maut? Dia berkata: Mencabut nyawa. Dan aku tidak menyangka bahwa dia turun kecuali untuk hari kiamat, dan apa yang engkau lihat dariku hanyalah ketakutan dari hari kiamat. Ini adalah hadits ghaib (langka) dari jalur ini.

Dalam Shahih Muslim, dari Aisyah: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila bangun di malam hari untuk shalat, beliau berdoa: “Ya Allah, Tuhan Jibril, Mikail, dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Engkau yang memutuskan di antara hamba-hamba-Mu dalam hal yang mereka perselisihkan, tunjukilah aku kepada kebenaran dalam hal yang diperselisihkan dengan izin-Mu, sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus.”

Dalam hadits tentang sangkakala: Bahwa Israfil adalah orang pertama yang dibangkitkan Allah setelah kematian untuk meniup sangkakala. Muhammad bin Al-Hasan An-Naqqasy menyebutkan: Bahwa Israfil adalah malaikat pertama yang sujud, maka dia diberi balasan dengan kewenangan atas Lauhul Mahfuzh. Dikisahkan oleh Abu Al-Qasim As-Suhaili dalam kitabnya At-Ta’rif wal I’lam bima Ubhima fil Quran minal A’lam.

Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang menjadi musuh Allah dan malaikat-malaikat-Nya serta rasul-rasul-Nya, dan Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir” (Al-Baqarah: 98). Kedua nama mereka disebutkan setelah malaikat karena kemuliaan mereka, maka Jibril adalah malaikat yang agung yang telah disebutkan sebelumnya, adapun Mikail maka dia diberi tugas atas hujan dan tumbuhan, dan dia memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Tuhannya ‘azza wajalla, dan termasuk malaikat-malaikat muqarrabin yang mulia.

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Yaman, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ayyasy, dari Imarah bin Ghaziyah Al-Anshary: Bahwa dia mendengar Humaid bin Ubaid, budak Bani Al-Mu’alla berkata: Aku mendengar Tsabit Al-Bunani menceritakan dari Anas bin Malik, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda kepada Jibril: “Mengapa aku tidak pernah melihat Mikail tertawa?” Dia berkata: “Mikail tidak pernah tertawa sejak neraka diciptakan.”

Inilah para malaikat yang disebutkan secara jelas namanya dalam Al-Quran, dan dalam hadits-hadits shahih, mereka adalah yang disebutkan dalam doa Nabi: “Ya Allah, Tuhan Jibril, Mikail, dan Israfil.” Maka Jibril turun dengan petunjuk kepada para rasul untuk menyampaikan kepada umat-umat, dan Mikail diberi tugas atas hujan dan tumbuhan yang darinya diciptakan rezeki di dunia ini, dan dia memiliki pembantu-pembantu yang melakukan apa yang diperintahkan kepadanya dengan perintah Tuhannya, mereka mengatur angin dan awan sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Mulia. Dan telah diriwayatkan kepada kami bahwa tidak ada setetes pun yang turun dari langit kecuali bersamanya ada malaikat yang mengaturnya di tempatnya di bumi. Dan Israfil diberi tugas meniup sangkakala untuk bangkit dari kubur, dan hadir pada hari kebangkitan dan pembalasan agar orang yang bersyukur menang, dan orang kafir mendapat balasan, maka itu dosanya diampuni dan usahanya disyukuri, dan ini amalnya telah menjadi seperti debu yang berterbangan dan dia berdoa dengan kecelakaan dan kehancuran.

Maka Jibril ‘alaihissalam, dengannya turun petunjuk, dan Mikail, dengannya diperoleh rezeki yang menjadi tugasnya, dan Israfil, dengannya diperoleh kemenangan dan pembalasan yang menjadi tugasnya. Adapun malaikat maut, namanya tidak disebutkan secara jelas dalam Al-Quran, maupun dalam hadits-hadits shahih, dan telah datang penyebutan namanya dalam sebagian atsar dengan Azrail, wallahu a’lam.

Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan” (As-Sajdah: 11). Dan dia memiliki pembantu-pembantu yang mengeluarkan roh hamba dari jasadnya hingga sampai ke kerongkongan, lalu malaikat maut mengambilnya dengan tangannya, maka ketika dia mengambilnya, dia tidak membiarkannya di tangannya sekejap mata pun hingga mereka mengambilnya dari tangannya lalu membungkusnya dengan kain kafan yang sesuai dengannya. Sebagaimana telah dijelaskan secara lengkap pada firman-Nya: “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat” (Ibrahim: 27). Kemudian mereka naik dengannya, jika ia roh yang shalih maka pintu-pintu langit dibukakan untuknya, dan jika tidak maka pintu-pintu itu tertutup, dan dilemparkan ke bumi.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan Dialah Yang Maha Kuasa atas hamba-hamba-Nya dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya. Kemudian mereka dikembalikan kepada Allah Penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah, bahwa segala hukum (di hari itu) kepunyaan-Nya. Dan Dia adalah Pembuat perhitungan yang paling cepat” (Al-An’am: 61-62).

Dari Ibnu Abbas, Mujahid, dan lebih dari satu orang bahwa mereka berkata: Sesungguhnya bumi di hadapan malaikat maut seperti nampan, dia mengambil darinya dari mana saja yang dia kehendaki. Dan kami telah menyebutkan bahwa malaikat-malaikat maut mendatangi manusia sesuai dengan amalnya, jika ia mukmin maka datang kepadanya malaikat-malaikat yang berwajah putih berpakaian putih dengan roh yang harum, dan jika ia kafir maka sebaliknya dari itu, berlindunglah kepada Allah Yang Maha Agung dari itu.

Ibnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abi Yahya Al-Maqri, telah menceritakan kepada kami Amr bin Syamir, dia berkata: Aku mendengar Ja’far bin Muhammad berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat malaikat maut di kepala seorang laki-laki dari Anshar, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: “Wahai malaikat maut, lembutlah terhadap sahabatku karena dia mukmin.” Maka malaikat maut berkata: “Wahai Muhammad, tenangkanlah hatimu dan sejukkanlah matamu, karena sesungguhnya aku lemah lembut terhadap setiap mukmin, dan ketahuilah bahwa tidak ada rumah dari tanah maupun bulu di darat maupun di laut kecuali aku memeriksa mereka setiap hari lima kali, hingga sesungguhnya aku lebih mengenal anak kecil dan orang dewasa mereka daripada mereka mengenal diri mereka sendiri, demi Allah wahai Muhammad, seandainya aku ingin mencabut nyawa seekor nyamuk, aku tidak mampu melakukan itu hingga Allah-lah yang memerintahkan pencabutannya.”

Ja’far bin Muhammad dan dia adalah Ja’far Ash-Shadiq berkata: Sampai kepadaku bahwa dia memeriksa mereka pada waktu-waktu shalat, maka ketika hadir pada saat kematian, jika ia termasuk orang yang menjaga shalat, malaikat mendekat kepadanya, dan menjauhkan setan darinya, dan malaikat mentalqinkannya: Tidak ada tuhan selain Allah, Muhammad Rasulullah. Pada keadaan yang agung itu. Ini adalah hadits mursal, dan di dalamnya ada yang perlu diteliti.

Kami sebutkan dalam hadits tentang sangkakala dari jalur Ismail bin Rafi’ Al-Madani Al-Qashsh, dari Muhammad bin Ziyad, dari Muhammad bin Ka’b Al-Qurazhi, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Hadits secara panjang lebar, dan di dalamnya: Allah memerintahkan Israfil dengan tiupan kematian, maka dia meniup tiupan kematian; lalu mati penduduk langit dan penduduk bumi kecuali yang dikehendaki Allah, maka tiba-tiba mereka telah padam, datanglah malaikat maut kepada Yang Maha Perkasa ‘azza wajalla, lalu berkata: Wahai Tuhan, telah mati penduduk langit dan bumi kecuali yang Engkau kehendaki. Maka Allah berfirman dan Dia lebih mengetahui siapa yang tersisa: Siapa yang tersisa? Maka dia berkata: Wahai Tuhan, tersisa Engkau Yang Mahahidup yang tidak mati, dan tersisa pemikul arasy-Mu, dan tersisa Jibril dan Mikail. Maka Allah berfirman: Hendaklah Jibril dan Mikail mati. Maka Arasy berbicara dan berkata: Wahai Tuhan, apakah Jibril dan Mikail mati? Maka Allah berfirman: Diamlah, karena sesungguhnya Aku telah menetapkan kematian atas setiap yang berada di bawah arasy-Ku. Maka keduanya mati, kemudian malaikat maut datang kepada Yang Maha Perkasa ‘azza wajalla, lalu berkata: Wahai Tuhan, telah mati Jibril dan Mikail. Maka Allah berfirman dan Dia lebih mengetahui: Siapa yang tersisa? Maka dia berkata: Tersisa Engkau Yang Mahahidup yang tidak mati, dan tersisa pemikul arasy-Mu, dan tersisa aku. Maka Allah berfirman: Hendaklah pemikul arasy-Ku mati. Maka mereka mati, dan Allah memerintahkan Arasy lalu mengambil sangkakala dari Israfil, kemudian malaikat maut datang lalu berkata: Wahai Tuhan, telah mati pemikul arasy-Mu. Maka Allah berfirman dan Dia lebih mengetahui siapa yang tersisa: Siapa yang tersisa? Maka dia berkata: Tersisa Engkau Yang Mahahidup yang tidak mati, dan tersisa aku. Maka Allah berfirman: Engkau adalah makhluk dari makhluk-Ku yang Aku ciptakan untuk apa yang Aku lihat, maka matilah. Maka dia mati, maka ketika tidak tersisa kecuali Allah Yang Maha Esa, Maha Mengalahkan, Maha Tunggal, Maha Bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada bagi-Nya yang setara, Dia adalah Yang Akhir sebagaimana Dia adalah Yang Awal. Dan disebutkan penyempurnaan hadits secara panjang lebar. Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, dan Ibnu Jarir, dan Al-Baihaqi. Dan diriwayatkan oleh Hafizh Abu Musa Al-Madini dalam kitab Ath-Thawaalaat, dan di sisinya ada tambahan yang langka, yaitu ucapannya: Maka Allah berfirman kepadanya: “Engkau adalah makhluk dari makhluk-Ku yang Aku ciptakan untuk apa yang Aku kehendaki, maka matilah dengan kematian yang tidak akan hidup lagi setelahnya selamanya.”

Di antara malaikat yang disebutkan namanya dalam Al-Quran adalah Harut dan Marut, menurut pendapat banyak ulama salaf. Telah diriwayatkan dalam kisah keduanya dan peristiwa yang menimpa mereka banyak riwayat yang kebanyakannya adalah Israiliyyat. Imam Ahmad meriwayakan hadits marfu’ dari Ibnu Umar, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban dalam kitabnya Taqasim. Namun menurut saya, keshahihannya masih dipertanyakan, dan yang lebih mendekati kebenaran adalah bahwa hadits tersebut mauquf pada Abdullah bin Umar, dan kemungkinan beliau menerimanya dari Ka’ab Al-Ahbar sebagaimana akan dijelaskan nanti, wallahu a’lam. Dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa bintang Zahrah menampakkan diri kepada keduanya dalam wujud seorang wanita yang paling cantik di antara manusia. Dari Ali, Ibnu Abbas, dan juga Ibnu Umar disebutkan bahwa Zahrah adalah seorang wanita, dan ketika keduanya meminta darinya apa yang disebutkan, wanita itu menolak kecuali jika mereka mengajarkan kepadanya nama yang paling agung (Asmaul A’dzam), maka mereka mengajarkannya. Lalu wanita itu mengucapkannya dan terangkat ke langit menjadi sebuah bintang. Al-Hakim meriwayakan dalam kitabnya Mustadrak dari Ibnu Abbas, ia berkata: Pada masa itu ada seorang wanita yang kecantikannya di antara para wanita seperti kecantikan bintang Zahrah di antara seluruh bintang-bintang. Lafazh ini adalah yang terbaik yang diriwayatkan mengenai bintang Zahrah. Kemudian dikatakan: Peristiwa dan kisah keduanya terjadi pada zaman Idris. Dan ada yang mengatakan: Pada zaman Sulaiman bin Dawud, sebagaimana kami telah meneliti hal tersebut dalam kitab tafsir.

Secara keseluruhan, ini adalah berita Israili yang bersumber dari Ka’ab Al-Ahbar, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdur Razzaq dalam tafsirnya dari Ats-Tsauri, dari Musa bin Uqbah, dari Salim, dari Ibnu Umar, dari Ka’ab Al-Ahbar dengan kisah tersebut. Ini adalah sanad yang paling shahih dan para perawinya paling terpercaya, wallahu a’lam.

Kemudian ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan firman Allah: “Dan yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babilonia, Harut dan Marut” (Al-Baqarah: 102) adalah dua suku dari bangsa jin. Ini dikatakan oleh Ibnu Hazm, dan ini adalah pendapat yang aneh dan jauh dari makna lafazh. Ada sebagian orang yang membaca “wa maa unzila ‘alal malikaini” dengan kasrah pada mim, dan mereka menjadikan keduanya dua orang Persia dari penduduk Persia. Ini dikatakan oleh Adh-Dhahhak. Ada pula yang mengatakan: Keduanya adalah dua malaikat dari langit. Namun telah terjadi dalam takdir Allah kepada keduanya apa yang disebutkan tentang peristiwa mereka jika memang berita itu shahih, dan hukum keduanya seperti hukum Iblis jika dikatakan bahwa ia termasuk malaikat. Namun yang shahih adalah bahwa ia dari golongan jin, sebagaimana akan dijelaskan nanti.

Di antara malaikat yang disebutkan namanya dalam hadits adalah Munkar dan Nakir alaihimassalam, dan telah tersebar luas dalam hadits-hadits penyebutan keduanya dalam pertanyaan kubur. Kami telah menyebutkannya ketika membahas firman Allah Ta’ala: “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan dunia dan akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki” (Ibrahim: 27). Keduanya adalah penguji kubur, yang ditugaskan untuk menanyai mayit dalam kuburnya tentang Tuhannya, agamanya, dan nabinya, dan mereka menguji orang yang berbakti maupun yang durhaka. Keduanya berwarna biru, berambut keriting, memiliki taring dan bentuk yang mengerikan serta suara yang menakutkan. Semoga Allah melindungi kami dari azab kubur, dan meneguhkan kami dengan perkataan yang teguh, amin.

Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Yunus, dari Ibnu Syihab, telah menceritakan kepadaku Urwah: bahwa Aisyah istri Nabi shallallahu alaihi wasallam menceritakan kepadanya, bahwa ia berkata kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Apakah pernah ada hari yang lebih berat bagimu daripada hari Uhud?” Beliau menjawab: “Sungguh aku telah mengalami (kesusahan) dari kaummu, dan yang paling berat yang aku alami dari mereka adalah hari Aqabah, ketika aku menawarkan diriku kepada Ibnu Abdi Yalil bin Abdul Kulal, namun ia tidak memenuhi apa yang aku inginkan, maka aku pergi dalam keadaan sedih, dan aku tidak sadar kecuali ketika aku berada di Qarnuts Tsa’alib. Lalu aku mengangkat kepalaku dan tiba-tiba aku melihat awan yang menaungi diriku, maka aku melihat ke dalamnya dan ternyata di dalamnya ada Jibril. Ia memanggilku dan berkata: Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan apa yang mereka tolak darimu, dan Allah telah mengutus kepadamu malaikat gunung untuk kamu perintah apa yang kamu kehendaki terhadap mereka. Maka malaikat gunung memanggilku dan memberi salam kepadaku, kemudian berkata: Wahai Muhammad, itulah yang kamu kehendaki: jika kamu mau aku timpakan kepada mereka dua gunung besar. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata: Bahkan aku berharap agar Allah mengeluarkan dari sulbi mereka orang-orang yang menyembah Allah semata tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” Diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Ibnu Wahb.

Pasal

Kemudian malaikat alaihimussalam berdasarkan tugas yang Allah persiapkan untuk mereka terbagi menjadi beberapa golongan: Di antara mereka adalah para pemikul Arasy sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, dan di antara mereka adalah Karrubiyyun yang berada di sekitar Arasy, dan mereka adalah malaikat yang paling mulia bersama para pemikul Arasy, dan mereka adalah malaikat-malaikat yang dekat (muqarrabun) sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Al-Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah)” (An-Nisa: 172). Di antara mereka adalah Jibril dan Mikail alaihimassalam. Allah menyebutkan tentang mereka bahwa mereka memohonkan ampunan untuk orang-orang beriman secara ghaib, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan mereka memohonkan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam jannah ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, istri-istri mereka, dan keturunan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan siapa yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu, maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya; dan itulah kemenangan yang besar'” (Ghafir: 7-9).

Karena sifat mereka adalah sifat yang suci ini, maka mereka mencintai orang yang memiliki sifat ini dan mereka berdoa sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Ash-Shadiq Al-Mashdug bahwa beliau bersabda: “Apabila seorang hamba berdoa untuk saudaranya secara ghaib, malaikat berkata: Amin, dan bagimu yang serupa.”

Di antara mereka adalah penghuni tujuh langit yang memakmurkannya dengan ibadah terus menerus siang dan malam, pagi dan petang, sebagaimana firman Allah: “Mereka bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya” (Al-Anbiya: 20). Di antara mereka ada yang senantiasa rukuk, ada yang senantiasa berdiri, ada yang senantiasa sujud, dan di antara mereka ada yang bergiliran rombongan demi rombongan ke Baitul Ma’mur setiap hari tujuh puluh ribu malaikat yang tidak kembali lagi kepadanya untuk terakhir kalinya. Di antara mereka ada yang ditugaskan untuk mengurus surga, dan menyiapkan kemuliaan untuk penghuninya, dan menyiapkan jamuan untuk para penghuninya berupa pakaian, perhiasan, tempat tinggal, makanan, minuman, dan lain-lain yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia.

Penjaga surga adalah seorang malaikat yang dinamai Ridwan, sebagaimana disebutkan secara jelas dalam beberapa hadits. Di antara mereka adalah yang ditugaskan untuk mengurus neraka, dan mereka adalah Zabaniyah, dan pemimpin mereka berjumlah sembilan belas, dan penjaganya adalah Malik, dialah yang memimpin seluruh penjaga, dan mereka adalah yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala: “Dan orang-orang yang di dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga Jahannam: ‘Mohonkanlah kepada Tuhanmu supaya Dia meringankan azab kami barang sehari'” (Ghafir: 49) ayat selanjutnya. Dan firman Allah Ta’ala: “Dan mereka berseru: ‘Hai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja.’ Dia menjawab: ‘Sesungguhnya kamu akan tetap tinggal (di neraka ini).’ Sesungguhnya Kami telah membawa kebenaran kepadamu, tetapi kebanyakan kamu benci kepada kebenaran itu” (Az-Zukhruf: 77-78). Dan firman Allah Ta’ala: “Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (At-Tahrim: 6). Dan firman Allah Ta’ala: “Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). Dan tidaklah Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): ‘Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?’ Demikianlah Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri” (Al-Muddatstsir: 30-31).

Di antara mereka adalah yang ditugaskan untuk menjaga anak-anak Adam sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Sama saja (bagi Tuhan), siapa di antara kamu yang merahasiakan ucapannya dan siapa yang berterus terang dengan ucapan itu dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari. Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah” (Ar-Ra’d: 10-11) ayat-ayat selanjutnya.

Al-Walabi berkata dari Ibnu Abbas tentang “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah”: Mereka adalah malaikat. Ikrimah berkata dari Ibnu Abbas “mereka menjaganya atas perintah Allah”, beliau berkata: Malaikat-malaikat menjaganya dari depan dan belakangnya, maka apabila datang takdir Allah mereka meninggalkannya. Mujahid berkata: Tidak ada seorang hamba pun kecuali ada malaikat yang ditugaskan untuk menjaganya dalam tidur dan terjaganya dari jin, manusia, dan binatang melata, maka tidak ada sesuatu pun yang mendatanginya hendak menyakitinya kecuali malaikat itu berkata: Minggir! Kecuali sesuatu yang Allah izinkan sehingga menimpanya. Abu Umamah berkata: Tidak ada seorang anak Adam pun kecuali bersamanya ada malaikat yang melindunginya, hingga menyerahkannya kepada apa yang telah ditakdirkan untuknya. Abu Mijlaz berkata: Seseorang datang kepada Ali lalu berkata: Sesungguhnya sekelompok orang dari Murad ingin membunuhmu. Maka ia berkata: Sesungguhnya bersama setiap orang ada dua malaikat yang menjaganya dari apa yang belum ditakdirkan, maka apabila datang takdir, keduanya membiarkannya. Sesungguhnya ajal adalah benteng yang kokoh.

Di antara mereka adalah yang ditugaskan untuk menjaga amal-amal para hamba, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Yang di kanan dan yang di kiri sebagai penjaga. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (Qaf: 17-18). Dan firman Allah Ta’ala: “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al-Infithar: 10-12).

Al-Hafizh Abu Muhammad Abdurrahman bin Abi Hatim Ar-Razi berkata dalam tafsirnya: Telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad Ath-Thanafisi, telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Sufyan dan Mis’ar, dari Alqamah bin Martsad, dari Mujahid, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Muliakanlah malaikat-malaikat yang mulia yang mencatat, yang tidak berpisah dari kalian kecuali pada salah satu dari dua keadaan: junub dan buang air besar. Maka apabila salah seorang dari kalian mandi, hendaklah ia berlindung di balik tembok atau untanya atau hendaklah saudaranya menutupinya.” Ini adalah hadits mursal dari jalur ini, dan telah disambungkan oleh Al-Bazzar dalam Musnadnya dari jalur Hafsh bin Sulaiman Al-Qari’ yang terdapat kritikan padanya, dari Alqamah, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah melarang kalian dari telanjang, maka malulah kepada malaikat-malaikat Allah yang bersama kalian, yang mulia lagi mencatat, yang tidak berpisah dari kalian kecuali pada salah satu dari tiga keadaan: buang air besar, junub, dan mandi. Maka apabila salah seorang dari kalian mandi di tempat terbuka, hendaklah ia berlindung dengan pakaiannya, atau di balik tembok, atau untanya.”

Makna memuliakan mereka adalah dengan malu kepada mereka sehingga tidak mendiktekan kepada mereka amal-amal buruk yang mereka catat, karena Allah menciptakan mereka sebagai makhluk yang mulia dalam penciptaan dan akhlak mereka. Di antara kemuliaan mereka adalah bahwa telah tetap dalam hadits yang diriwayatkan dalam Shahih, Sunan, dan Musnad dari hadits sekelompok sahabat, dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Malaikat tidak masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada gambar atau anjing atau orang junub.” Dalam riwayat lain dari Ashim bin Dhamrah, dari Ali: “atau air kencing.” Dalam riwayat Rafi’, dari Abu Said marfu’: “Malaikat tidak masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada gambar atau patung.” Dalam riwayat Mujahid dari Abu Hurairah marfu’: “Malaikat tidak masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada anjing atau patung.” Dalam riwayat Dzakwan Abu Shalih As-Samman, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Malaikat tidak menyertai rombongan yang bersama mereka ada anjing atau lonceng.” Diriwayatkan oleh Zurarah bin Aufa darinya: “Malaikat tidak menyertai rombongan yang bersama mereka ada lonceng.”

Al-Bazzar berkata: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Sulaiman Al-Baghdadi yang dikenal dengan Al-Falusi, telah menceritakan kepada kami Bayan bin Hamran, telah menceritakan kepada kami Salam, dari Manshur bin Zadzan, dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya malaikat-malaikat Allah mengenal anak-anak Adam.” Dan aku mengira beliau bersabda: “Dan mereka mengenal amal-amal mereka. Maka apabila mereka melihat seorang hamba yang beramal dengan ketaatan kepada Allah, mereka menyebutkannya di antara mereka dan menyebut namanya, dan berkata: Beruntunglah malam ini si fulan, selamatlah malam ini si fulan. Dan apabila mereka melihat seorang hamba yang beramal dengan kemaksiatan kepada Allah, mereka menyebutkannya di antara mereka dan menyebut namanya, dan berkata: Celakalah si fulan malam ini.” Kemudian Al-Bazzar berkata: Salam ini aku kira adalah Salam Al-Madaini, dan ia lemah dalam hadits.

Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Yaman, telah menceritakan kepada kami Syu’aib, telah menceritakan kepada kami Abu Az-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Malaikat-malaikat bergiliran; malaikat malam dan malaikat siang, dan mereka berkumpul pada shalat Subuh dan shalat Ashar. Kemudian naiklah kepada-Nya malaikat-malaikat yang bermalam di antara kalian, lalu Dia bertanya kepada mereka padahal Dia lebih mengetahui: ‘Bagaimana kalian meninggalkan hamba-hamba-Ku?’ Mereka menjawab: ‘Kami meninggalkan mereka dalam keadaan shalat, dan kami datang kepada mereka dalam keadaan shalat.'” Lafazh ini terdapat dalam Kitab Badu Al-Khalq dengan redaksi ini. Lafazh ini diriwayatkan olehnya sendiri tanpa Muslim dari jalur ini. Keduanya telah mengeluarkannya dalam Shahihain dalam Bab Badu dari hadits Malik, dari Abu Az-Zinad dengannya.

Al-Bazzar berkata: Telah menceritakan kepada kami Ziyad bin Ayyub, telah menceritakan kepada kami Mubasysyir bin Ismail Al-Halabi, telah menceritakan kepada kami Tammam bin Najih, dari Al-Hasan yaitu Al-Bashri, dari Anas, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah ada dua malaikat penjaga yang mengangkat kepada Allah Azza wa Jalla apa yang mereka jaga pada suatu hari, lalu Dia melihat di awal lembaran dan di akhirnya ada istighfar, kecuali Allah Ta’ala berfirman: Sungguh Aku telah mengampuni hamba-Ku apa yang ada di antara dua ujung lembaran.” Kemudian ia berkata: Tammam bin Najih menyendiri dalam meriwayatkan hadits ini, dan ia adalah perawi yang baik haditsnya. Aku katakan: Ia telah ditautsiq oleh Ibnu Ma’in, dan didhaifkan oleh Bukhari, Abu Hatim, Abu Zur’ah, An-Nasa’i, dan Ibnu Adi. Ibnu Hibban menuduhnya dengan memalsukan hadits. Imam Ahmad berkata: Aku tidak mengetahui hakikat keadaannya.

Maksudnya adalah bahwa setiap manusia memiliki dua malaikat penjaga: satu dari depannya dan satu lagi dari belakangnya yang menjaganya dari perintah Allah dengan perintah Allah Azza wa Jalla, dan dua malaikat pencatat: di sebelah kanannya dan di sebelah kirinya. Pencatat sebelah kanan adalah pemimpin atas pencatat sebelah kiri yang mencatat kebaikan-kebaikannya, dan pencatat sebelah kiri mencatat keburukan-keburukannya. Apabila malaikat yang di kiri hendak mencatatnya, malaikat yang di kanan berkata kepadanya: Tunggulah, mudah-mudahan ia bertaubat atau memohon ampunan. Dan apabila ia beramal kebaikan, malaikat yang di kanan mencatatnya tanpa menunggu dan tanpa meminta izin dari malaikat yang di kiri. Sebagaimana kami sebutkan hal tersebut ketika membahas firman Allah Ta’ala: “Yang di kanan dan yang di kiri sebagai penjaga. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (Qaf: 17-18).

Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami Manshur, dari Salim bin Abil Ja’d, dari ayahnya, dari Abdullah yaitu Ibnu Mas’ud, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah ada seorang pun di antara kalian kecuali telah ditugaskan bersamanya qarin (teman karib) dari jin, dan qarin dari malaikat.” Mereka bertanya: “Dan engkau juga wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Dan aku juga, tetapi Allah menolongku atas qarin-ku sehingga ia tidak memerintahku kecuali dengan kebaikan.” Muslim menyendiri dalam mengeluarkan hadits ini dari hadits Manshur dengannya. Maka dimungkinkan bahwa qarin dari malaikat ini selain qarin yang menjaga manusia, dan ia hanya ditugaskan kepadanya untuk membimbingnya dan mengarahkannya dengan izin Tuhannya kepada jalan kebaikan dan jalan petunjuk, sebagaimana bahwa juga telah ditugaskan kepadanya qarin dari setan-setan yang tidak bosan-bosannya berusaha untuk mencelakakan dan menyesatkan, dan yang terjaga adalah yang dijaga oleh Allah Azza wa Jalla, dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d, telah menceritakan kepada kami Ibnu Syihab, dari Abu Salamah bin Abdurrahman dan Al-Agharr, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apabila hari Jumat tiba, pada setiap pintu dari pintu-pintu masjid ada malaikat-malaikat yang mencatat orang pertama kemudian yang berikutnya. Maka apabila imam duduk (di atas mimbar), mereka melipat lembaran-lembaran dan datang mendengarkan dzikir.” Demikian diriwayatkannya sendiri dari jalur ini, dan hadits ini terdapat dalam Shahihain dari jalur lain.

Dan Allah Ta’ala telah berfirman: “Dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)” (Al-Isra: 78). Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Asbath, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Ibrahim, dari Ibnu Mas’ud, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang firman-Nya: “Dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)”. Beliau bersabda: “Disaksikan oleh malaikat malam dan malaikat siang.” Diriwayatkan oleh Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah dari hadits Asbath. Tirmidzi berkata: Hasan shahih. Aku katakan: Ini adalah hadits yang terputus.

Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah mengkhabarkan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Abu Salamah dan Sa’id bin Al-Musayyab, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Keutamaan shalat berjamaah atas shalat sendiri adalah dua puluh lima derajat, dan berkumpul malaikat malam dan malaikat siang pada shalat Subuh.” Abu Hurairah berkata: Bacalah jika kalian mau: “Dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)”.

Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Abu Awanah, dari Al-A’masy, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apabila seorang laki-laki memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu ia menolak sehingga ia bermalam dalam keadaan marah kepadanya, maka malaikat-malaikat melaknatnya hingga ia bangun pagi.” Al-A’masy diikuti oleh Syu’bah, Abu Hamzah, Ibnu Dawud, dan Abu Mu’awiyah dalam meriwayatkan hadits ini.

Telah ditetapkan dalam Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim) bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila imam mengucapkan ‘Amin’, maka ucapkanlah ‘Amin’ pula. Karena siapa yang ucapan amin-nya bertepatan dengan ucapan amin para malaikat, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Dalam Shahih al-Bukhari disebutkan: Ismail meriwayatkan dengan lafaz: “Apabila imam mengucapkan ‘Amin’, maka para malaikat di langit pun mengucapkan ‘Amin’. Maka siapa yang ucapan amin-nya bertepatan dengan ucapan amin para malaikat, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Dan dalam Shahih al-Bukhari juga diriwayatkan: Ismail meriwayatkan kepada kami, Malik meriwayatkan kepadaku, dari Sumayy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Apabila imam mengucapkan: ‘Sami‘allahu liman hamidah’, maka ucapkanlah: ‘Allahumma rabbana wa lakal-hamd’. Karena siapa yang ucapannya bertepatan dengan ucapan para malaikat, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Hadis ini juga diriwayatkan oleh seluruh penyusun kitab hadis utama selain Ibnu Majah, melalui jalur Malik, dari Sumayy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah.

Dan berkata Imam Ahmad: telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah, telah menceritakan kepada kami al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, atau dari Abu Sa’id—ini adalah keraguan dari al-A’masy—ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang berkeliling di bumi selain para pencatat (amal) manusia. Apabila mereka menemukan suatu kaum yang berdzikir kepada Allah, mereka saling berseru: ‘Mari kita datangi tujuan kalian!’ Maka mereka pun datang dan mengelilingi mereka hingga ke langit dunia. Lalu Allah berfirman: ‘Apa yang kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku sedang melakukan?’ Mereka menjawab: ‘Kami tinggalkan mereka sedang memuji-Mu, mengagungkan-Mu, dan berdzikir kepada-Mu.’ Allah berfirman: ‘Apakah mereka melihat-Ku?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Allah berfirman: ‘Bagaimana seandainya mereka melihat-Ku?’ Mereka menjawab: ‘Seandainya mereka melihat-Mu, niscaya mereka akan lebih keras lagi memuji, mengagungkan, dan berdzikir.’ Allah berfirman: ‘Apa yang mereka minta?’ Mereka menjawab: ‘Mereka meminta surga.’ Allah berfirman: ‘Apakah mereka melihatnya?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Allah berfirman: ‘Bagaimana seandainya mereka melihatnya?’ Mereka menjawab: ‘Seandainya mereka melihatnya, niscaya mereka akan lebih keras lagi bersemangat dan lebih keras lagi memintanya.’ Allah berfirman: ‘Dari apa mereka meminta perlindungan?’ Mereka menjawab: ‘Dari neraka.’ Allah berfirman: ‘Apakah mereka melihatnya?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Allah berfirman: ‘Bagaimana seandainya mereka melihatnya?’ Mereka menjawab: ‘Seandainya mereka melihatnya, niscaya mereka akan lebih keras lagi lari darinya dan lebih keras lagi takut darinya.’ Allah berfirman: ‘Aku persaksikan kalian bahwa sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka.’ Mereka berkata: ‘Sesungguhnya di antara mereka ada fulan si pendosa, dia tidak bermaksud (ikut berkumpul dengan mereka), ia hanya datang karena ada keperluan.’ Allah berfirman: ‘Mereka adalah kaum yang tidak akan celaka orang yang duduk bersama mereka.'”

Demikian pula diriwayatkan oleh al-Bukhari, dari Qutaibah, dari Jarir bin Abdul Hamid, dari al-A’masy dengannya. Dan ia berkata: diriwayatkan oleh Syu’bah, dari al-A’masy, dan ia tidak merafa’kannya (menyebutkan sampai kepada Nabi), dan dirafa’kan oleh Suhail, dari ayahnya. Dan telah diriwayatkan oleh Ahmad, dari Affan, dari Wuhaib, dari Suhail, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan redaksi yang serupa sebagaimana disebutkan oleh al-Bukhari secara mu’allaq dari Suhail. Dan diriwayatkan oleh Muslim, dari Muhammad bin Hatim, dari Bahz bin Asad, dari Wuhaib dengannya. Dan telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad juga dari Ghundar, dari Syu’bah, dari Sulaiman—yaitu al-A’masy—dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, dan ia tidak merafa’kannya dengan redaksi yang serupa sebagaimana ditunjukkan oleh al-Bukhari rahimahullah.

Dan berkata Imam Ahmad: telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah, telah menceritakan kepada kami al-A’masy, dan Ibnu Numair mengabarkan kepada kami al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa melepaskan seorang mukmin dari satu kesusahan dunia, Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupinya di dunia dan akhirat. Barangsiapa memudahkan orang yang kesulitan, Allah akan memudahkan baginya di dunia dan akhirat. Dan Allah senantiasa menolong hamba selama hamba itu menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah (masjid) membaca Kitabullah dan mempelajarinya bersama-sama di antara mereka, melainkan turunlah kepada mereka ketenangan, diliputi rahmat, dikelilingi para malaikat, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan (makhluk) yang ada di sisi-Nya. Dan barangsiapa yang lambat amalnya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya.” Demikian pula diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Abu Muawiyah.

Dan berkata Imam Ahmad: telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Abu Ishaq, dari al-Agharr Abu Muslim, dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidaklah berkumpul suatu kaum berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla melainkan para malaikat mengelilingi mereka, rahmat meliputi mereka, ketenangan turun kepada mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan (makhluk) yang ada di sisi-Nya.” Demikian pula diriwayatkannya juga dari hadits Israil, Sufyan ats-Tsauri, dan Syu’bah, dari Abu Ishaq dengannya dengan redaksi yang serupa. Dan diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Syu’bah. Dan at-Tirmidzi dari hadits ats-Tsauri, dan ia berkata: hasan sahih. Dan diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dari Abu Bakar bin Abi Syaibah, dari Yahya bin Adam, dari Ammar bin Raziq, dari Abu Ishaq dengan sanadnya dengan redaksi yang serupa. Dan dalam makna ini terdapat banyak hadits.

Dan dalam Musnad Imam Ahmad, dan as-Sunan, dari Abu ad-Darda’ secara marfu’: “Dan sesungguhnya malaikat-malaikat meletakkan sayap-sayap mereka untuk penuntut ilmu, sebagai ridha atas apa yang ia lakukan.” Yaitu: mereka merendahkan diri kepadanya sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan rendahkanlah kepada mereka berdua sayap kehinaan karena kasih sayang” (Al-Isra’: 24). Dan firman Allah Ta’ala: “Dan rendahkanlah sayapmu kepada orang-orang yang mengikutimu dari kalangan orang-orang mukmin” (Asy-Syu’ara’: 215). Dan berkata Imam Ahmad: telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan, dari Abdullah bin as-Sa’ib, dari Zadzan, dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang berkeliling di bumi menyampaikan salam dari umatku kepada-Ku.” Demikian pula diriwayatkan oleh an-Nasa’i dari hadits Sufyan ats-Tsauri dan Sulaiman al-A’masy, keduanya dari Abdullah bin as-Sa’ib dengannya. Dan berkata Imam Ahmad: telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Para malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api yang panas, dan Adam diciptakan dari apa yang telah disebutkan kepada kalian.” Dan diriwayatkan oleh Muslim, dari Muhammad bin Rafi’ dan Abd bin Humaid, keduanya dari Abdurrazaq dengannya.

Demikian pula hadits yang diriwayatkan bahwa bagi malaikat ada bisikan di hati hamba, dan bagi setan ada bisikan di hatinya. Maka bisikan malaikat adalah janji dengan kebaikan dan pembenaran terhadap kebenaran, sedangkan bisikan setan adalah ancaman dengan kefakiran—dan dalam suatu riwayat: dengan keburukan—dan pendustaan terhadap kebenaran. Demikian pula hadits yang diriwayatkan: “Apabila hamba memasuki pagi, setan dan malaikat mendahuluinya. Malaikat berkata: ‘Bukalah dengan kebaikan.’ Dan setan berkata: ‘Bukalah dengan keburukan.’ Apabila ia berdzikir kepada Allah dan memuji-Nya, malaikat mengambil alih (menjaganya) dan mengusir setan darinya hingga malam. Apabila datang malam, malaikat berkata: ‘Tutuplah dengan kebaikan,’ dan setan berkata: ‘Tutuplah dengan keburukan.’ Jika ia menutup harinya dengan kebaikan, malaikat mengambil alih (menjaganya) hingga ia memasuki pagi dan mengusir setan darinya.” Demikian pula apabila hamba keluar dari rumahnya dan berkata: “Bismillah, tawakkaltu ‘alallah, wa la haula wa la quwwata illa billah (Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).” Malaikat berkata kepadanya: “Engkau telah diberi petunjuk, dicukupkan, dan dilindungi.” Kemudian setan menjauh darinya. Dan seterusnya. Dan hadits-hadits tentang penyebutan malaikat sangat banyak sekali. Dan kami telah menyebutkan apa yang dimudahkan oleh Allah Ta’ala, dan bagi-Nya segala puji.

Pasal (Bagian)

Dan manusia telah berbeda pendapat dalam keutamaan malaikat atas manusia menjadi beberapa pendapat. Kebanyakan permasalahan ini ditemukan dalam kitab-kitab para mutakallimin (ahli kalam), dan perselisihan di dalamnya adalah dengan kaum Mu’tazilah dan orang-orang yang menyepakati mereka. Dan perkataan paling awal yang saya lihat dalam permasalahan ini adalah apa yang disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Asakir dalam kitab sejarahnya dalam biografi Umayyah bin Amr bin Sa’id bin al-Ash: bahwa ia menghadiri suatu majelis Umar bin Abdul Aziz dan di sana ada beberapa orang. Maka Umar berkata: “Tidak ada seorang pun yang lebih mulia di sisi Allah daripada orang yang mulia dari Bani Adam.” Dan ia beralasan dengan firman-Nya Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka itulah sebaik-baik makhluk” (Al-Bayyinah: 7). Dan Umayyah bin Amr bin Sa’id menyepakatinya dalam hal itu. Maka ‘Irak bin Malik berkata: “Tidak ada seorang pun yang lebih mulia di sisi Allah daripada malaikat-malaikat-Nya. Mereka adalah pelayan dua rumah-Nya (surga dan neraka) dan utusan-utusan-Nya kepada para nabi-Nya.” Dan ia beralasan dengan firman-Nya Ta’ala: “Tiada yang melarang kalian berdua dari pohon ini, melainkan (karena) kalian akan menjadi dua orang malaikat atau menjadi orang-orang yang kekal” (Al-A’raf: 20). Maka Umar bin Abdul Aziz berkata kepada Muhammad bin Ka’b al-Qurazhi: “Apa pendapatmu, wahai Abu Hamzah?” Maka ia berkata: “Sesungguhnya Allah telah memuliakan Adam dengan menciptakannya dengan tangan-Nya, meniupkan ruh-Nya padanya, menyuruh malaikat sujud kepadanya, dan menjadikan dari keturunannya para nabi dan rasul, serta orang-orang yang dikunjungi oleh malaikat.” Maka ia menyepakati Umar bin Abdul Aziz dalam hukum, dan beralasan dengan selain dalilnya, dan lebih lemah penunjukannya dari apa yang ia nyatakan dari ayat tersebut, yaitu firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh.” Kandungannya adalah bahwa itu tidak khusus untuk manusia karena sesungguhnya Allah telah mensifati malaikat dengan iman dalam firman-Nya: “Dan mereka beriman kepada-Nya” (Ghafir: 7). Demikian pula jin: “Dan sesungguhnya tatkala kami mendengar petunjuk (Al-Qur’an), kami beriman kepadanya” (Al-Jin: 13). Dan: “Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang berserah diri (muslim)” (Al-Jin: 14). Saya berkata: Dan sebaik-baik dalil yang dapat dijadikan alasan dalam permasalahan ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Utsman bin Sa’id ad-Darimi, dari Abdullah bin Amr secara marfu’, dan itu adalah yang paling sahih, ia berkata: “Ketika Allah menciptakan surga, para malaikat berkata: ‘Wahai Rabb kami, jadikanlah ini untuk kami, kami makan darinya dan minum, karena sesungguhnya Engkau telah menciptakan dunia untuk Bani Adam.’ Maka Allah berfirman: ‘Aku tidak akan menjadikan (keturunan) saleh dari (Adam) yang Aku ciptakan dengan tangan-Ku seperti (kalian) yang Aku katakan kepadanya: Jadilah, maka jadilah.'”

Bab Penyebutan Penciptaan Jin dan Kisah Setan

Allah Ta’ala berfirman: “Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar, dan Dia menciptakan jin dari nyala api” (Ar-Rahman: 14-16). Dan firman-Nya Ta’ala: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas” (Al-Hijr: 26-27). Dan berkata Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid, al-Hasan, dan lebih dari satu orang tentang “min marij min nar (dari nyala api)”: mereka berkata: dari ujung nyala api, dan dalam suatu riwayat: dari yang paling murni dan paling baiknya. Dan kami telah menyebutkan sebelumnya dari jalur az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Para malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api yang panas, dan Adam diciptakan dari apa yang telah disebutkan kepada kalian.” Diriwayatkan oleh Muslim. Berkata banyak ulama tafsir: Jin diciptakan sebelum Adam ‘alaihis salam, dan sebelum mereka di bumi ada al-Hinn dan al-Binn, maka Allah menguasakan jin atas mereka, lalu mereka membunuh mereka, mengusir mereka dari bumi, dan memusnahkan mereka darinya, dan mereka mendiaminya setelah mereka disebabkan apa yang mereka timbulkan. Dan disebutkan oleh as-Suddi dalam tafsirnya dari Abu Malik, dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas, dan dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud, dan dari beberapa orang dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: Ketika Allah selesai dari penciptaan apa yang Dia kehendaki, Dia bersemayam di atas Arsy, maka Dia menjadikan Iblis atas kerajaan langit dunia, dan ia dari suatu kaum dari malaikat yang disebut al-Jinn, dan mereka dinamai al-Jinn karena mereka adalah penjaga surga, dan Iblis dengan kerajaannya adalah penjaga. Maka terbesit di dalam hatinya: “Sesungguhnya Allah memberiku ini karena kelebihan yang ada padaku atas para malaikat.” Dan disebutkan oleh ad-Dahhak, dari Ibnu Abbas: bahwa jin ketika membuat kerusakan di bumi dan menumpahkan darah, Allah mengutus kepada mereka Iblis dan bersamanya pasukan dari malaikat, maka mereka membunuh mereka dan mengusir mereka dari bumi ke pulau-pulau lautan.

Dan berkata Muhammad bin Ishaq, dari Khallad, dari Atha’, dari Thawus, dari Ibnu Abbas: Nama Iblis sebelum ia melakukan kemaksiatan adalah Azazil, dan ia termasuk penghuni bumi, dan termasuk malaikat yang paling keras dalam beribadat dan paling banyak ilmunya, dan ia dari suatu kaum yang disebut jin. Dan diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, dari Sa’id bin Jubair dari dia (Ibnu Abbas): Namanya adalah Azazil, dan ia termasuk malaikat yang paling mulia, dari yang memiliki empat sayap. Dan berkata Sunaid, dari Hajjaj, dari Ibnu Juraij, berkata Ibnu Abbas: Iblis termasuk malaikat yang paling mulia dan paling terhormat kaumnya, dan ia adalah penjaga surga-surga, dan ia memiliki kekuasaan atas langit dunia, dan ia memiliki kekuasaan atas bumi. Dan berkata Shalih maula at-Tau’amah, dari Ibnu Abbas: Ia mengatur apa yang ada antara langit dan bumi, diriwayatkan oleh Ibnu Jarir. Dan berkata Qatadah, dari Sa’id bin al-Musayyab: Iblis adalah pemimpin malaikat langit dunia.

Dan berkata al-Hasan al-Bashri: Ia tidak pernah menjadi bagian dari malaikat sekedipan mata pun, dan sesungguhnya ia adalah asal dari jin sebagaimana Adam adalah asal dari manusia. Dan berkata Syahr bin Hausyab dan lainnya: Iblis termasuk jin yang diusir oleh malaikat, maka sebagian dari mereka menawannya lalu pergi dengannya ke langit, diriwayatkan oleh Ibnu Jarir. Mereka berkata: Maka ketika Allah berkehendak menciptakan Adam untuk berada di bumi, ia dan keturunannya setelahnya, dan Dia membentuk jasadnya darinya, maka Dia menjadikan Iblis—dan ia adalah pemimpin jin dan yang paling banyak ibadahnya pada waktu itu, dan namanya adalah Azazil—berkeliling padanya. Maka ketika ia melihatnya berongga, ia mengetahui bahwa ia makhluk yang tidak bisa menahan diri. Dan ia berkata: “Sungguh, jika aku diberi kuasa atasmu, niscaya aku akan membinasakanmu, dan jika aku diberi kuasa atasku, niscaya aku akan mendurhakai-Mu.” Maka ketika Allah meniupkan ruh-Nya pada Adam sebagaimana akan datang dan memerintahkan malaikat untuk sujud kepadanya, Iblis masuk ke dalamnya rasa iri yang sangat besar, dan ia enggan sujud kepadanya. Dan ia berkata: “Aku lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api, dan Engkau ciptakan dia dari tanah.” Maka ia menyelisihi perintah, dan mengkritik Rabb Azza wa Jalla, dan salah dalam perkataannya, dan menjauh dari rahmat Rabbnya, dan diturunkan dari kedudukan yang telah ia capai dengan ibadahnya, dan ia telah menyerupai malaikat, namun ia tidak dari jenis mereka, karena ia diciptakan dari api, sedangkan mereka dari cahaya. Maka tabiatnya menghianatinya di saat ia paling membutuhkannya, dan kembali kepada asalnya yang berapi. “Maka para malaikat sujud semuanya bersama-sama, kecuali Iblis; ia menyombongkan diri dan ia termasuk orang-orang kafir” (Shad: 73-74). Dan firman-Nya Ta’ala: “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kalian kepada Adam,’ maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia adalah dari (golongan) jin, maka ia mendurhakai perintah Rabbnya. Patutkah kalian menjadikan dia dan keturunannya pemimpin-pemimpin selain Aku, padahal mereka musuh bagimu? Alangkah buruknya (Iblis itu) sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim” (Al-Kahf: 50). Maka Iblis diturunkan dari alam yang tinggi, dan diharamkan baginya untuk mendiaminya selamanya, maka ia turun ke bumi dalam keadaan hina, rendah, tercela, terusir, diancam dengan neraka, ia dan siapa yang mengikutinya dari jin dan manusia. Akan tetapi, ia dengan itu semua berusaha sekuat tenaga untuk menyesatkan Bani Adam dengan segala jalan dan dengan segala cara, sebagaimana firman-Nya: “Iblis berkata: ‘Terangkanlah kepadaku, tentang (Adam) yang Engkau muliakan ini atas diriku. Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya aku akan menguasai keturunannya, kecuali sedikit.’ Allah berfirman: ‘Pergilah! Barangsiapa di antara mereka yang mengikutimu, maka neraka Jahannam adalah balasan kalian, balasan yang cukup. Dan hasutlah siapa yang engkau sanggup di antara mereka dengan suaramu, dan kerahkanlah kepada mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki, dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah kepada mereka.’ Dan tidak ada yang dijanjikan setan kepada mereka melainkan tipuan. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, tidak ada bagimu kekuasaan atas mereka. Dan cukuplah Rabbmu sebagai pelindung” (Al-Isra’: 62-65).

Dan kami akan menyebutkan kisah itu secara panjang lebar ketika menyebut penciptaan Adam ‘alaihis salam. Dan yang dimaksud adalah bahwa jin diciptakan dari api, dan mereka seperti Bani Adam, mereka makan, minum, dan berkembang biak. Di antara mereka ada yang beriman dan ada yang kafir sebagaimana Allah Ta’ala mengabarkan tentang mereka dalam surah al-Jinn, dan dalam firman-Nya Ta’ala: “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu (Muhammad) serombongan jin yang mendengarkan (bacaan) Al-Qur’an, maka ketika mereka menghadiri (pembacaan) nya, mereka berkata: ‘Diamlah kalian (untuk mendengarkannya).’ Ketika pembacaan telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: ‘Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan Kitab (Al-Qur’an) yang diturunkan setelah Musa, membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, membimbing kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Wahai kaum kami! Sambullah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Dia mengampuni sebagian dosa-dosa kalian dan melindungi kalian dari azab yang pedih. Dan barangsiapa tidak menyambut (seruan) orang yang menyeru kepada Allah, maka dia tidak akan melemahkan (Allah) di bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Dia. Mereka itu berada dalam kesesatan yang nyata'” (Al-Ahqaf: 29-32). Dan firman-Nya Ta’ala: “Katakanlah (Muhammad): ‘Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur’an), lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Rabb kami, dan bahwa Mahasuci keagungan Rabb kami, Dia tidak mempunyai istri dan tidak (pula) anak, dan bahwa orang bodoh di antara kami (dahulu) telah mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah, dan bahwa sesungguhnya kami mengira bahwa manusia dan jin tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah, dan bahwa ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka (perlindungan) itu menambah mereka kedurhakaan, dan bahwa mereka (jin) menyangka sebagaimana persangkaan kalian (orang-orang musyrik), bahwa Allah tidak akan membangkitkan seorang pun, dan bahwa sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan bahwa sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya), dan bahwa sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Rabb mereka menghendaki kebaikan bagi mereka, dan bahwa sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan ada (pula) di antara kami yang tidak demikian. Kami menempuh jalan yang berbeda-beda, dan bahwa sesungguhnya kami yakin bahwa kami tidak akan mampu melemahkan Allah di bumi dan tidak (pula) dapat lari (dari azab-Nya) dengan melarikan diri, dan bahwa sesungguhnya ketika kami mendengar petunjuk (Al-Qur’an), kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Rabbnya, maka dia tidak khawatir akan pengurangan pahala dan tidak (pula) kezaliman, dan bahwa di antara kami ada orang-orang muslim dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran.’ Adapun orang-orang yang berserah diri (muslim), mereka itu telah memilih jalan yang lurus. Dan adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, mereka menjadi kayu api untuk neraka Jahannam. Dan bahwa sekiranya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), pasti Kami akan memberi mereka minum air yang segar (rezeki yang banyak), untuk Kami menguji mereka dengannya. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan Rabbnya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang sangat berat'” (Al-Jinn: 1-17).

Kami telah menyebutkan tafsir surah ini, serta kisahnya secara lengkap di akhir Surah Al-Ahqaf. Di sana juga telah kami sebutkan hadis-hadis yang berkaitan dengannya. Telah kami jelaskan bahwa sekelompok makhluk itu berasal dari jin Nashibin, dan dalam sebagian riwayat disebutkan dari jin Bushra. Mereka melewati Rasulullah ketika beliau sedang berdiri menunaikan salat bersama para sahabatnya di lembah Nakhlah, di wilayah Mekah. Mereka pun berhenti dan mendengarkan bacaan beliau.

Kemudian Nabi bertemu dan berkumpul dengan mereka selama satu malam penuh. Mereka bertanya kepada beliau tentang berbagai perkara; beliau memerintahkan mereka beberapa hal dan melarang mereka dari beberapa hal lainnya. Mereka juga meminta bekal kepada beliau. Maka beliau bersabda:

“Bagi kalian setiap tulang yang disebutkan nama Allah padanya; kalian akan mendapatkannya dalam keadaan paling banyak dagingnya. Dan setiap kotoran hewan adalah makanan bagi hewan-hewan kalian.”

Rasulullah pun melarang bersuci (istinja’) dengan kedua benda tersebut. Beliau bersabda: “Keduanya adalah bekal saudara-saudara kalian dari golongan jin.”

Beliau juga melarang kencing di lubang-lubang (di tanah), karena itu adalah tempat tinggal jin.

Rasulullah membacakan kepada mereka Surah Ar-Rahman. Setiap kali beliau sampai pada ayat: “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

mereka menjawab: “Tidak ada satu pun dari nikmat-Mu, wahai Tuhan kami, yang kami dustakan. Maka bagi-Mu segala puji.”

Nabi pun memuji mereka atas hal itu. Ketika beliau membaca surah ini kepada manusia lalu mereka diam, beliau bersabda: “Sesungguhnya jin lebih baik dalam memberikan jawaban daripada kalian. Setiap kali aku membacakan kepada mereka ayat ‘Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?’, mereka menjawab: ‘Tidak ada satu pun dari nikmat-Mu, wahai Tuhan kami, yang kami dustakan. Maka bagi-Mu segala puji.’

Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Jabir, serta oleh Ibnu Jarir dan Al-Bazzar dari Ibnu Umar.

Para ulama berbeda pendapat tentang apakah jin yang beriman akan masuk surga, ataukah balasan bagi jin yang taat hanya sekadar tidak diazab di neraka. Ada dua pendapat dalam masalah ini. Pendapat yang paling sahih adalah bahwa mereka masuk surga, berdasarkan keumuman dalil Al-Qur’an dan keumuman firman Allah Ta‘ala: “Dan bagi orang yang takut akan kedudukan Tuhannya ada dua surga.” (Surah Ar-Rahman: ayat 46–47)

Allah menganugerahi mereka dengan hal itu, maka seandainya mereka tidak mendapatkannya, niscaya Allah tidak akan menyebutkannya dan menghitungnya sebagai nikmat bagi mereka, dan ini sendiri merupakan dalil yang mandiri dan cukup dalam masalah ini, dan Allah lebih mengetahui.

Bukhari berkata: Qutaibah menceritakan kepada kami, dari Malik, dari Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abi Sha’sha’ah, dari ayahnya: bahwa Abu Said Al-Khudri berkata kepadanya: “Aku melihat kamu menyukai kambing dan pedalaman. Maka jika kamu berada di antara kambingmu dan pedalaman lalu kamu mengumandangkan adzan untuk shalat, maka keraskan suaramu dalam menyeru (adzan), karena tidak ada jin, manusia, maupun sesuatu apa pun yang mendengar jangkauan suara muadzin kecuali ia akan menjadi saksi untuknya pada hari Kiamat.” Abu Said berkata: “Aku mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Hanya Bukhari yang meriwayatkannya, tidak Muslim.

Adapun kaum kafir dari jin, maka di antara mereka adalah setan-setan, dan pemimpin terbesar mereka adalah Iblis, musuh Adam bapak manusia. Allah telah menguasakan dia dan keturunannya atas Adam dan keturunannya, dan Allah ‘azza wa jalla menjamin perlindungan bagi orang yang beriman kepada-Nya, membenarkan para rasul-Nya, dan mengikuti syariat-Nya dari mereka, sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, tidak ada kekuasaan bagimu atas mereka. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai Pelindung.” (Surat Al-Isra: 65). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Iblis telah membenarkan persangkaannya terhadap mereka, lalu mereka mengikutinya, kecuali segolongan dari orang-orang yang beriman. Dan tidak ada kekuasaan baginya atas mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentangnya. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu.” (Surat Saba’: 20-21). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Wahai anak cucu Adam! Janganlah sampai kamu tertipu oleh setan sebagaimana dia telah mengeluarkan kedua orang tuamu dari surga, dia menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya. Sesungguhnya dia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Surat Al-A’raf: 27). Dan Allah berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan Aku telah meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.’ Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali Iblis. Dia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu. Allah berfirman: ‘Wahai Iblis! Mengapa kamu tidak (ikut) bersama-sama (malaikat) yang sujud itu?’ Dia (Iblis) berkata: ‘Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk.’ Allah berfirman: ‘Kalau begitu keluarlah kamu dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk. Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari Kiamat.’ Iblis berkata: ‘Ya Tuhanku, (kalau begitu) beri tangguhlah aku sampai hari (manusia) dibangkitkan.’ Allah berfirman: ‘Maka sesungguhnya kamu termasuk yang diberi tangguh, sampai hari (datangnya) waktu yang telah ditentukan.’ Iblis berkata: ‘Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlash di antara mereka.’ Allah berfirman: ‘Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang dijanjikan bagi mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya. Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan tertentu dari mereka.'” (Surat Al-Hijr: 28-44).

Dan Allah Ta’ala telah menyebutkan kisah ini dalam Surat Al-Baqarah, dalam Al-A’raf, di sini, dalam Surat Al-Isra (Subhan), dalam Surat Thaha, dan dalam Surat Shad. Dan kami telah membahas semua itu di tempatnya masing-masing dalam kitab tafsir kami, segala puji bagi Allah. Dan kami akan menyebutkannya dalam kisah Adam insya Allah.

Yang dimaksud adalah bahwa Allah memberikan tangguh kepada Iblis dan mengakhirkannya hingga hari Kiamat sebagai ujian bagi hamba-hamba-Nya dan cobaan dari-Nya untuk mereka, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan tidak ada kekuasaan baginya atas mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentangnya. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu.” (Surat Saba’: 21). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan setan berkata ketika perkara (hisab) telah diselesaikan: ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Tidak ada kekuasaan bagiku terhadap kamu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencela aku, tetapi celalah dirimu sendiri. Aku tidak dapat menolongmu dan kamu pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.’ Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat azab yang pedih. Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh dimasukkan ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan izin Tuhan mereka. Ucapan penghormatan mereka di dalamnya ialah: ‘Salam.'” (Surat Ibrahim: 22-23).

Maka Iblis, semoga Allah melaknatnya, masih hidup sekarang, diberi tangguh hingga hari Kiamat berdasarkan nash Al-Quran, dan dia memiliki singgasana di atas permukaan laut, dia duduk di atasnya, dan dia mengutus pasukan-pasukannya yang menyebarkan kejahatan dan fitnah di antara manusia. Dan Allah Ta’ala telah berfirman: “Sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah.” (Surat An-Nisa’: 76). Dan namanya sebelum kemaksiatannya yang besar adalah Azazil. An-Naqqasy berkata: Dan kuniahnya adalah Abu Kardus. Oleh karena itu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Ibnu Shayyad: “Apa yang kamu lihat?” Dia berkata: “Aku melihat singgasana di atas air.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: “Celakalah kamu, kamu tidak akan melampaui kadarmu.” Beliau mengetahui bahwa sumber mukasyafah yang dengannya dia bermukasyafah bersifat setani yang bersumber dari Iblis yang dia menyaksikan singgasananya di atas laut. Oleh karena itu beliau berkata kepadanya: “Celakalah kamu, kamu tidak akan melampaui kadarmu.” Artinya: kamu tidak akan melampaui nilaimu yang hina, rendah, dan remeh.

Dan dalil bahwa singgasana Iblis berada di atas laut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad: Abu Al-Mughirah menceritakan kepada kami, Shafwan menceritakan kepada kami, Ma’iz At-Tamimi menceritakan kepadaku, dari Jabir bin Abdullah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Singgasana Iblis berada di laut, dia mengutus pasukan-pasukannya setiap hari untuk memfitnah manusia, maka yang paling tinggi kedudukannya di sisinya adalah yang paling besar fitnahnya terhadap manusia.”

Dan Imam Ahmad berkata: Rauh menceritakan kepada kami, Ibnu Juraij menceritakan kepada kami, Abu Az-Zubair mengabarkan kepadaku: bahwa dia mendengar Jabir bin Abdullah berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Singgasana Iblis berada di atas laut, dia mengutus pasukan-pasukannya lalu mereka memfitnah manusia, maka yang paling besar di sisinya adalah yang paling besar fitnahnya.” Hanya diriwayatkan dari jalur ini.

Dan Imam Ahmad berkata: Mu’ammal menceritakan kepada kami, Hammad menceritakan kepada kami, Ali bin Zaid menceritakan kepada kami, dari Abu Nadhrah, dari Jabir bin Abdullah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Ibnu Sha’id: “Apa yang kamu lihat?” Dia berkata: “Aku melihat singgasana di atas air.” Atau dia berkata: “Di atas laut di sekelilingnya ada ular-ular.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Itu adalah singgasana Iblis.” Demikianlah dia meriwayatkannya dalam musnad Jabir. Dan dia berkata dalam musnad Abu Said: Affan menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, Ali bin Zaid mengabarkan kepada kami, dari Abu Nadhrah, dari Abu Said, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Ibnu Sha’id: “Apa yang kamu lihat?” Dia berkata: “Aku melihat singgasana di atas laut di sekelilingnya ada ular-ular.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dia benar, itu adalah singgasana Iblis.”

Dan Imam Ahmad meriwayatkan dari jalur Ma’iz At-Tamimi dan Abu Az-Zubair, dari Jabir bin Abdullah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya setan telah berputus asa untuk disembah oleh orang-orang yang shalat, tetapi (dia tidak berputus asa) dalam hal menghasut permusuhan di antara mereka.” Dan Imam Muslim meriwayatkan dari hadits Al-A’masy, dari Abu Sufyan Thalhah bin Nafi’, dari Jabir, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya setan meletakkan singgasananya di atas air, kemudian dia mengutus pasukan-pasukannya kepada manusia, maka yang paling dekat kedudukannya di sisinya adalah yang paling besar fitnahnya di sisi dia. Salah seorang dari mereka datang lalu berkata: ‘Aku terus (menggoda) si fulan hingga aku meninggalkannya dan dia mengatakan begini dan begitu.’ Maka Iblis berkata: ‘Tidak, demi Allah, kamu tidak berbuat apa-apa.’ Dan salah seorang dari mereka datang lalu berkata: ‘Aku tidak meninggalkannya hingga aku memisahkan antara dia dan keluarganya.’ Dia berkata: ‘Maka dia mendekatkannya, mendekatkannya kepadanya, dan memeluknya, dan berkata: ‘Ni’ma anta (bagus kamu).'” Diriwayatkan dengan fathah nun yang berarti: Ya, kamu itulah yang pantas mendapat penghormatan. Dan dengan kasrah nun artinya: Bagus darimu. Dan sebagian ahli nahwu telah menggunakan hadits ini sebagai dalil atas bolehnya fail ni’ma berupa dhami_r_, dan ini jarang. Dan guru kami Al-Hafizh Abu Al-Hajjaj memilih pendapat pertama dan menguatkannya, serta menjelaskannya sebagaimana yang kami sebutkan, dan Allah lebih mengetahui.

Dan kami telah menyebutkan hadits ini ketika membahas firman Allah Ta’ala: “Dengan sihir itu, mereka memisahkan antara seorang (suami) dengan istrinya.” (Surat Al-Baqarah: 102). Artinya: bahwa sihir yang diterima dari setan-setan dari kalangan manusia dan jin dapat digunakan untuk memisahkan antara orang-orang yang paling rukun kerukunannya dan paling saling mencintai, dan oleh karena itu Iblis berterima kasih atas usaha orang yang menjadi sebab dalam hal itu. Maka apa yang dicela oleh Allah, dia memujinya, dan apa yang memurkai Allah, membuatnya ridha, semoga laknat Allah atasnya. Dan Allah ‘azza wa jalla telah menurunkan dua surat Al-Mu’awwidzatain (surat-surat perlindungan) untuk mengusir berbagai jenis kejahatan beserta sebab-sebab dan tujuan-tujuannya, terutama surat: “Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.'” (Surat An-Nas). Dan telah shahih dalam Shahihain dari Anas, dan dalam Shahih Bukhari dari Shafiyyah binti Huyay bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya setan mengalir dalam diri anak Adam seperti mengalirnya darah.”

Dan Al-Hafizh Abu Ya’la Al-Maushili berkata: Muhammad bin Bahr menceritakan kepada kami, Adi bin Abi Amarah menceritakan kepada kami, Ziyad An-Numairi menceritakan kepada kami, dari Anas, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya setan meletakkan moncongnya pada hati anak Adam, maka jika dia berdzikir kepada Allah, setan itu menyusut, dan jika dia lupa, setan itu menelan hatinya, maka itulah al-waswas al-khannas.”

Dan ketika dzikir kepada Allah adalah pengusir setan dari hati, maka di dalamnya terdapat pengingat bagi orang yang lupa, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu apabila kamu lupa.” (Surat Al-Kahfi: 24). Dan firman pemuda Musa: “Dan tidak ada yang membuat aku lupa menyebutkannya kecuali setan.” (Surat Al-Kahfi: 63). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Maka setan menjadikan dia lupa menyebut (Yusuf kepada) tuannya.” (Surat Yusuf: 42). Maksudnya adalah saki ketika Yusuf berkata kepadanya: “Sebut (namaku) kepada tuanmu.” Saki itu lupa menyebutkannya kepada tuannya yaitu raja. Dan kelupaan ini adalah dari setan, maka Yusuf tinggal di penjara beberapa tahun. Oleh karena itu Allah berfirman setelahnya: “Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) setelah beberapa waktu lamanya.” (Surat Yusuf: 45). Artinya: dia teringat perkataan Yusuf kepadanya: “Sebut (namaku) kepada tuanmu.” Setelah beberapa waktu. Dan ada qira’ah: “Ba’da umah” artinya kelupaan. Dan apa yang kami katakan bahwa yang lupa adalah saki itulah yang benar dari dua pendapat, sebagaimana kami jelaskan dalam tafsir, dan Allah lebih mengetahui.

Dan Imam Ahmad berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Ashim, aku mendengar Abu Tamimah menceritakan dari orang yang membonceng Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia berkata: Keledai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tersandung, maka aku berkata: “Celakalah setan.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jangan kamu katakan ‘celakalah setan’, karena jika kamu mengatakan ‘celakalah setan’, dia akan merasa besar dan berkata: ‘Dengan kekuatanku aku menjatuhkannya.’ Dan jika kamu mengatakan: ‘Bismillah’, dia akan mengecil hingga menjadi seperti lalat.” Hanya Ahmad yang meriwayatkannya, dan ini sanad yang baik. Dan Ahmad berkata: Abu Bakar Al-Hanafi menceritakan kepada kami, Adh-Dhahhak bin Utsman menceritakan kepada kami, dari Said Al-Maqburi, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya salah seorang dari kalian ketika berada di masjid, setan datang lalu mengganggu dia sebagaimana seseorang mengganggu hewannya. Maka jika dia tenang untuknya, dia mencubitnya atau memasangkan lagam padanya.” Abu Hurairah berkata: “Dan kalian melihat itu; adapun yang dicubit maka kalian melihatnya condong begini tidak berdzikir kepada Allah, dan adapun yang dilagami maka dia membuka mulutnya tidak berdzikir kepada Allah ‘azza wa jalla.” Hanya Ahmad yang meriwayatkannya. Dan Imam Ahmad berkata: Ibnu Numair menceritakan kepada kami, Tsaur yaitu Ibnu Yazid menceritakan kepada kami, dari Makhul, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mata (jahat) itu benar, dan setan menghadirinya serta hasad anak Adam.” Dan Imam Ahmad berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Manshur, dari Dzar bin Abdullah Al-Hamdani, dari Abdullah bin Syaddad, dari Ibnu Abbas, dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku membisikkan sesuatu pada diriku; terjun dari langit lebih aku sukai daripada aku mengucapkannya.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allahu akbar, alhamdulillah yang telah mengembalikan tipuannya kepada waswasah.” Dan diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An-Nasa’i dari hadits Manshur. An-Nasa’i menambahkan: dan Al-A’masy, keduanya dari Dzar dengannya.

Dan Bukhari berkata: Yahya bin Bukair menceritakan kepada kami, Al-Laits menceritakan kepada kami, dari Uqail, dari Ibnu Syihab, dia berkata: Urwah mengabarkan kepadaku, dia berkata: Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setan datang kepada salah seorang dari kalian lalu berkata: ‘Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan ini?’ Hingga dia berkata: ‘Siapa yang menciptakan Tuhanmu?’ Maka jika sampai pada itu, hendaklah dia berlindung kepada Allah dan berhenti.” Dan demikian pula diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Al-Laits, dan dari hadits Az-Zuhri dan Hisyam bin Urwah, keduanya dari Urwah dengannya. Dan Allah Ta’ala telah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).” (Surat Al-A’raf: 201). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan katakanlah: ‘Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung (pula) kepada-Mu ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.'” (Surat Al-Mu’minun: 97-98). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Surat Al-A’raf: 200). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Apabila kamu membaca Al-Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang menjadikannya pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.” (Surat An-Nahl: 98-100).

Dan Imam Ahmad serta ahli Sunan meriwayatkan dari hadits Abu Al-Mutawakkil, dari Abu Said, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berdoa: “A’udzu billahis sami’il ‘alimi minasy syaithanir rajim min hamzihi wa nafkhihi wa nafsihi.” Dan datang hadits serupa dari riwayat Jubair bin Muth’im, Abdullah bin Mas’ud, dan Abu Usamah Al-Bahili. Dan penafsirannya dalam hadits: hamznya adalah kematian, yaitu pencekikan yang merupakan epilepsi, nafkhnya adalah kesombongan, dan nafsihnya adalah syair. Dan telah shahih dalam Shahihain dari Anas: bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila masuk kamar kecil berdoa: “A’udzu billahi minal khubutsi wal khaba’its.” Banyak ulama berkata: Beliau berlindung dari setan-setan jantan dan betina.

Dan Imam Ahmad meriwayatkan dari Suraij, dari Isa bin Yunus, dari Tsaur, dari Al-Hushain, dari Abu Sa’d Al-Khair, dan dia termasuk sahabat Umar, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mendatangi tempat buang air, hendaklah dia menutupi diri, maka jika dia tidak menemukan kecuali mengumpulkan gundukan pasir, hendaklah dia membelakanginya, karena setan bermain dengan tempat buang air anak Adam. Barangsiapa melakukan itu maka dia telah berbuat baik, dan barangsiapa tidak, maka tidak mengapa.” Dan diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah dari hadits Tsaur bin Yazid dengannya. Dan Bukhari berkata: Utsman bin Abi Syaibah menceritakan kepada kami, Jarir menceritakan kepada kami, dari Al-A’masy, dari Adi bin Tsabit, dia berkata: Sulaiman bin Shurad berkata: Dua orang laki-laki saling mencaci di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan kami duduk di sisinya. Salah seorang dari mereka mencaci temannya dengan marah, wajahnya telah memerah. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku mengetahui suatu kalimat, jika dia mengucapkannya niscaya hilang darinya apa yang dia rasakan. Jika dia mengatakan: ‘A’udzu billahi minasy syaithanir rajim.'” Mereka berkata kepada laki-laki itu: “Tidakkah kamu mendengar apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam katakan!” Maka dia berkata: “Sesungguhnya aku bukan orang gila.” Dan diriwayatkan juga oleh Muslim, Abu Dawud, dan An-Nasa’i dari beberapa jalur, dari Al-A’masy dengannya.

Dan Imam Ahmad berkata: Muhammad bin Ubaid menceritakan kepada kami, Ubaidullah bin Umar menceritakan kepada kami, dari Nafi’, dari Ibnu Umar: bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah salah seorang dari kalian makan dengan tangan kirinya dan jangan minum dengan tangan kirinya, karena setan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya.” Dan ini sesuai syarat Shahihain dengan sanad ini, dan ada dalam Shahih dari jalur lain.

Dan Imam Ahmad meriwayatkan dari hadits Ismail bin Abi Hakim, dari Urwah, dari Aisyah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa makan dengan tangan kirinya, setan makan bersamanya, dan barangsiapa minum dengan tangan kirinya, setan minum bersamanya.”

Dan Imam Ahmad berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Syu’bah mengabarkan kepada kami, dari Abu Ziyad Ath-Thahhan, aku mendengar Abu Hurairah berkata: dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau melihat seorang laki-laki minum sambil berdiri, maka beliau berkata kepadanya: “Muntahkan!” Dia berkata: Mengapa? Beliau berkata: “Apakah kamu senang jika kucing minum bersamamu?” Dia berkata: Tidak. Beliau berkata: “Sesungguhnya telah minum bersamamu yang lebih jahat darinya, yaitu setan.” Hanya Ahmad yang meriwayatkannya dari jalur ini. Dan dia juga berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, Ma’mar menceritakan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari seorang laki-laki, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seandainya orang yang minum sambil berdiri mengetahui apa yang ada di perutnya, niscaya dia memuntahkannya.”

Abdurrazzaq meriwayatkan kepada kami, dari Ma‘mar, dari Al-A‘masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, dari Nabi, dengan redaksi yang sama seperti hadis Az-Zuhri.

Imam Ahmad berkata: Musa meriwayatkan kepada kami, Ibnu Lahi‘ah meriwayatkan kepada kami, dari Abu Az-Zubair, bahwa ia bertanya kepada Jabir: “Apakah engkau mendengar Nabi ﷺ bersabda:‘Apabila seseorang masuk ke rumahnya lalu menyebut nama Allah ketika masuk dan ketika makan, setan berkata: “Tidak ada tempat bermalam dan tidak ada makan malam bagi kalian di sini.” Namun jika ia masuk ke rumahnya tanpa menyebut nama Allah ketika masuk, setan berkata: “Kalian mendapatkan tempat bermalam.”

Dan jika ia tidak menyebut nama Allah ketika makan, setan berkata: “Kalian mendapatkan tempat bermalam dan makan malam.”’”

Jabir menjawab: “Ya.”

Al-Bukhari berkata: Muhammad meriwayatkan kepada kami, ‘Abdah meriwayatkan kepada kami, Muhammad meriwayatkan kepada kami, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila tepi matahari mulai terbit, maka tunda salat sampai matahari benar-benar tampak. Dan apabila tepi matahari mulai terbenam, maka tunda salat sampai matahari benar-benar tenggelam. Janganlah kalian mengerjakan salat bertepatan dengan terbit atau terbenamnya matahari, karena ia terbit di antara dua tanduk setan atau setan-setan.”

Hisyam berkata: “Aku tidak tahu mana yang benar, apakah ‘setan’ atau ‘setan-setan’.”

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Muslim dan An-Nasa’i melalui Hisyam dengan sanad yang sama.

Al-Bukhari juga berkata: Abdullah bin Maslamah meriwayatkan kepada kami, dari Malik, dari Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar, ia berkata:

“Aku melihat Rasulullah memberi isyarat ke arah timur, lalu beliau bersabda: ‘Ketahuilah, sesungguhnya fitnah itu di sana. Ketahuilah, sesungguhnya fitnah itu di sana, dari arah terbitnya tanduk setan.’”

Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari secara tersendiri melalui jalur periwayatan ini.

Dalam kitab Sunan diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang seseorang duduk di antara tempat yang terkena sinar matahari dan tempat yang teduh. Beliau bersabda: “Sesungguhnya itu adalah tempat duduk setan.” Para ulama telah menyebutkan berbagai makna mengenai hal ini; yang terbaik di antaranya adalah karena duduk di tempat seperti ini menyebabkan bentuk wajah terlihat buruk, maka hal itu disukai oleh setan, karena bentuk penciptaan setan sendiri memang buruk. Hal ini sudah tertanam dalam benak manusia, oleh karena itu Allah Taala berfirman: “Buahnya seakan-akan kepala setan-setan” (Surah Ash-Shaffat: 65). Yang benar adalah bahwa yang dimaksud adalah para setan, bukan sejenis ular sebagaimana yang diklaim oleh sebagian mufassir, wallahu a’lam. Karena dalam jiwa manusia sudah terpatri bahwa setan itu buruk rupa dan malaikat itu indah bentuknya, meskipun mereka tidak pernah melihatnya. Oleh karena itu Allah Taala berfirman: “Buahnya seakan-akan kepala setan-setan”, dan Allah berfirman tentang para wanita ketika melihat ketampanan Yusuf: “Maha Suci Allah, ini bukan manusia. Sungguh, ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia” (Surah Yusuf: 31).

Al-Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ja’far, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah Al-Anshari, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, telah mengabarkan kepadaku Atha’, dari Jabir, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Apabila malam telah tiba atau ketika malam mulai gelap, maka tahanlah anak-anak kalian, karena setan-setan bertebaran pada saat itu. Apabila telah lewat satu jam dari waktu Isya, maka lepaskanlah mereka, dan tutuplah pintumu sambil menyebut nama Allah, padamkanlah lampumu sambil menyebut nama Allah, ikatlah tempat air minummu sambil menyebut nama Allah, dan tutuplah bejanamu sambil menyebut nama Allah, meskipun hanya dengan meletakkan sesuatu di atasnya.”

Ahmad meriwayatkannya dari Yahya, dari Ibnu Juraij dengan sanad yang sama. Dan dalam riwayatnya disebutkan: “Sesungguhnya setan tidak dapat membuka pintu yang tertutup.” Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Fithr, dari Abu Az-Zubair, dari Jabir, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tutuplah pintu-pintu kalian, tutuplah bejana-bejana kalian, ikatlah tempat air minum kalian, dan padamkanlah pelita-pelita kalian, karena setan tidak dapat membuka pintu yang tertutup, tidak dapat membuka tutup, dan tidak dapat melepaskan ikatan, dan sesungguhnya tikus dapat membakar rumah beserta penghuninya.” Maksudnya adalah tikus.

Al-Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Adam, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Manshur, dari Salim bin Abi Al-Ja’d, dari Kuraib, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Seandainya salah seorang dari kalian ketika hendak mendatangi istrinya mengucapkan: Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan, dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami. Maka jika di antara keduanya dikaruniai anak, setan tidak akan dapat membahayakannya dan tidak akan berkuasa atasnya.” Telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Salim, dari Kuraib, dari Ibnu Abbas seperti itu.

Al-Bukhari juga meriwayatkannya dari Musa bin Isma’il, dari Hammam, dari Manshur, dari Salim, dari Kuraib, dari Ibnu Abbas, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Adapun jika salah seorang dari kalian ketika mendatangi istrinya mengucapkan: Dengan nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari setan, dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami. Lalu keduanya dikaruniai seorang anak, maka setan tidak akan dapat membahayakannya.”

Al-Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Isma’il, telah menceritakan kepada kami saudaraku, dari Sulaiman, dari Yahya bin Sa’id, dari Sa’id bin Al-Musayyab, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Setan mengikat tiga ikatan di tengkuk kepala salah seorang dari kalian ketika ia tidur; ia memukul setiap ikatan dengan berkata: Malammu masih panjang, maka tidurlah. Jika ia bangun lalu berdzikir kepada Allah, terlepaslah satu ikatan. Jika ia berwudhu, terlepaslah satu ikatan lagi. Jika ia shalat, terlepaslah semua ikatannya, maka ia akan bangun dalam keadaan bersemangat dan jiwa yang baik, dan jika tidak demikian, ia akan bangun dalam keadaan jiwa yang buruk dan malas.” Demikianlah Al-Bukhari meriwayatkannya sendirian dari jalur ini.

Al-Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Hamzah, telah menceritakan kepadaku Ibnu Abi Hazim, dari Yazid yaitu Ibnu Al-Hadi, dari Muhammad bin Ibrahim, dari Isa bin Thalhah, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya lalu berwudhu, hendaklah ia membersihkan hidungnya tiga kali, karena setan bermalam di batang hidungnya.” Muslim meriwayatkannya dari Bisyr bin Al-Hakam, dari Ad-Darawardi, dan An-Nasa’i dari Muhammad bin Zanbur, dari Abdul Aziz bin Abi Hazim, keduanya dari Yazid bin Al-Hadi dengan sanad yang sama.

Al-Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Manshur, dari Abu Wa’il, dari Abdullah, ia berkata: disebutkan di hadapan Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang seorang laki-laki yang tidur sepanjang malam hingga pagi. Beliau bersabda: “Itu adalah orang yang telah kencing setan di telinganya.” Atau beliau bersabda: “Di telinganya.” Muslim meriwayatkannya dari Utsman dan Ishaq, keduanya dari Jarir dengan sanad yang sama. Al-Bukhari juga mengeluarkannya, begitu juga An-Nasa’i dan Ibnu Majah dari hadits Manshur bin Al-Mu’tamir.

Al-Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf, telah mengabarkan kepada kami Al-Auza’i, dari Yahya bin Abi Katsir, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apabila adzan untuk shalat dikumandangkan, setan lari terbirit-birit sambil kentut, maka ketika selesai ia datang kembali, ketika iqamah dikumandangkan ia lari, ketika selesai ia datang kembali hingga ia membisikkan di antara manusia dan hatinya, ia berkata: Ingatlah ini dan itu. Hingga seseorang tidak tahu apakah ia shalat tiga rakaat atau empat rakaat. Jika ia tidak tahu apakah ia shalat tiga rakaat atau empat rakaat, hendaklah ia sujud dua kali sujud sahwi.” Demikianlah diriwayatkan sendirian dari jalur ini.

Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir, telah menceritakan kepada kami Ja’far yaitu Al-Ahmar, dari Atha’ bin As-Sa’ib, dari Anas, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Rapatkanlah shaf-shaf kalian karena setan-setan berdiri di celah-celahnya.”

Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Aban, telah menceritakan kepada kami Qatadah, dari Anas bin Malik, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Rapatkanlah shaf-shaf kalian, dekatkanlah antara satu dengan yang lain, dan luruskan barisan leher. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya aku melihat setan masuk dari celah shaf seperti anak kambing.”

Al-Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Ma’mar, telah menceritakan kepada kami Abdul Warits, telah menceritakan kepada kami Yunus, dari Humaid bin Hilal, dari Abu Shalih, dari Abu Sa’id, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apabila sesuatu melintas di hadapan salah seorang dari kalian, hendaklah ia mencegahnya, jika ia menolak maka cegahlah lagi, jika ia menolak maka perangilah ia, karena sesungguhnya itu adalah setan.” Muslim juga meriwayatkannya, begitu juga Abu Dawud dari riwayat Sulaiman bin Al-Mughirah, dari Humaid bin Hilal.

Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Masarrah bin Ma’bad, telah menceritakan kepada kami Abu Ubaid sahabat Sulaiman, ia berkata: aku melihat Atha’ bin Yazid Al-Laitsi berdiri shalat, lalu aku hendak melintas di hadapannya maka ia menghalangiku, kemudian ia berkata: telah menceritakan kepadaku Abu Sa’id Al-Khudri: bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdiri shalat Subuh dan ia berada di belakang beliau, lalu beliau membaca tetapi bacaannya terganggu. Ketika selesai dari shalatnya, beliau bersabda: “Seandainya kalian melihatku dengan Iblis, aku mengulurkan tanganku dan aku terus mencekiknya hingga aku merasakan dinginnya air liurnya di antara dua jariku ini: ibu jari dan yang di sebelahnya. Seandainya bukan karena doa saudaraku Sulaiman, niscaya ia akan terikat di salah satu tiang masjid dan anak-anak Madinah bermain-main dengannya. Barangsiapa di antara kalian mampu agar tidak ada sesuatu yang menghalangi antara dirinya dengan kiblat, maka hendaklah ia melakukannya.”

Abu Dawud meriwayatkan sebagiannya: “Barangsiapa di antara kalian mampu…” hingga akhir, dari Ahmad bin Abi Surayj, dari Abu Ahmad Muhammad bin Abdullah bin Az-Zubair Az-Zubairi. Al-Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Mahmud, telah menceritakan kepada kami Syababah, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Muhammad bin Ziyad, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, bahwa beliau shalat kemudian bersabda: “Sesungguhnya setan menghadangku dan menyerangku untuk memutuskan shalatku, maka Allah memberikan kekuatan kepadaku atasnya.” Lalu beliau menyebutkan haditsnya. Muslim dan An-Nasa’i meriwayatkannya dari hadits Syu’bah secara panjang lebar.

Lafadz Al-Bukhari dalam tafsir firman Allah Taala yang mengabarkan tentang Sulaiman alaihi salam bahwa ia berkata: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun sesudahku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi” (Surah Shad: 35), dari hadits Rauh dan Ghundar, dari Syu’bah, dari Muhammad bin Ziyad, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya seekor ifrit dari kalangan jin menyelinap kepadaku tadi malam.” Atau kata-kata yang senada “untuk memutuskan shalatku, maka Allah memberikan kekuatan kepadaku atasnya. Aku ingin mengikatnya di salah satu tiang masjid hingga kalian semua bangun pagi dan melihatnya, tetapi aku teringat perkataan saudaraku Sulaiman: Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun sesudahku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.” Rauh berkata: “Maka beliau mengusirnya dalam keadaan hina.”

Muslim meriwayatkan dari hadits Abu Idris, dari Abu Ad-Darda’, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdiri shalat, lalu kami mendengar beliau berkata: “Aku berlindung kepada Allah darimu.” Kemudian beliau berkata: “Aku melaknatmu dengan laknat Allah.” Tiga kali, dan beliau mengulurkan tangannya seakan-akan mengambil sesuatu. Ketika selesai dari shalat, kami berkata: Ya Rasulullah, kami mendengarmu mengatakan sesuatu dalam shalat yang belum pernah kami dengar sebelumnya, dan kami melihatmu mengulurkan tanganmu. Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya musuh Allah Iblis datang dengan membawa bara api untuk diletakkan di wajahku, maka aku berkata: Aku berlindung kepada Allah darimu tiga kali. Kemudian aku berkata: Aku melaknatmu dengan laknat Allah yang sempurna, namun ia tidak mundur. Lalu aku ingin menangkapnya, demi Allah seandainya bukan karena doa saudara kami Sulaiman, niscaya ia akan terikat dan anak-anak Madinah bermain-main dengannya.”

Allah Taala berfirman: “Maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kalian dan janganlah (setan) yang pandai menipu, memperdayakan kalian tentang Allah” (Surah Luqman: 33), yang dimaksud adalah setan. Allah Taala berfirman: “Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagi kalian, maka anggaplah ia sebagai musuh (kalian), karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (Surah Fathir: 6). Setan tidak henti-hentinya berusaha keras mencelakakan manusia dengan segala kemampuannya dalam semua keadaannya, gerak dan diamnya, sebagaimana Al-Hafizh Abu Bakar bin Abi Ad-Dunya rahimahullah telah menyusun kitab tentang hal tersebut yang ia beri nama Mashaid Asy-Syaithan (Perangkap-perangkap Setan) yang memuat banyak manfaat. Dalam Sunan Abu Dawud disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam biasa berdoa: “Dan aku berlindung kepada-Mu agar setan tidak menggodaku saat kematian.”

Kami meriwayatkan dalam beberapa khabar bahwa setan berkata: “Ya Tuhanku, demi kemuliaan dan keagungan-Mu, aku tidak akan berhenti menyesatkan mereka selama ruh mereka masih berada dalam jasad mereka.” Maka Allah Taala berfirman: “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku tidak akan berhenti mengampuni mereka selama mereka meminta ampun kepada-Ku.”

Allah Taala berfirman: “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat keji (kikir); sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepada kalian. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui” (Surah Al-Baqarah: 268). Maka janji Allah adalah kebenaran yang nyata, sedangkan janji setan adalah kebatilan. At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Hibban dalam Shahihnya, dan Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya meriwayatkan dari hadits Atha’ bin As-Sa’ib, dari Murrah Al-Hamdani, dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya setan memiliki bisikan kepada anak Adam, dan malaikat juga memiliki bisikan. Adapun bisikan setan adalah ancaman dengan keburukan dan pendustaan terhadap kebenaran, sedangkan bisikan malaikat adalah ancaman dengan kebaikan dan pembenaran terhadap kebenaran. Barangsiapa menemukan yang demikian, maka ketahuilah bahwa itu dari Allah, hendaklah ia memuji Allah. Dan barangsiapa menemukan yang lain, maka hendaklah ia berlindung dari setan.” Kemudian beliau membaca: “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat keji (kikir); sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepada kalian. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Kami telah menyebutkan dalam keutamaan Surah Al-Baqarah bahwa setan lari dari rumah yang dibacakan surah tersebut, dan kami sebutkan dalam keutamaan Ayat Kursi bahwa barangsiapa membacanya di malam hari, setan tidak akan mendekatinya hingga pagi.

Al-Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf, telah mengabarkan kepada kami Malik, dari Sumayy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengucapkan: Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, dalam sehari seratus kali, maka baginya pahala seperti memerdekakan sepuluh budak, dan dituliskan baginya seratus kebaikan, dan dihapuskan darinya seratus kesalahan, dan menjadi pelindung baginya dari setan pada hari itu hingga sore, dan tidak ada seorang pun yang datang dengan yang lebih baik dari apa yang ia bawa kecuali orang yang beramal lebih banyak dari itu.” Muslim, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah mengeluarkannya dari hadits Malik. At-Tirmidzi berkata: hasan shahih.

Al-Bukhari berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu Al-Yaman, telah mengabarkan kepada kami Syu’aib, dari Abu Az-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah, ia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Setiap anak Adam ditusuk oleh setan di kedua sisinya dengan jarinya ketika ia dilahirkan, kecuali Isa putra Maryam. Setan hendak menusuknya tetapi ia menusuk hijab.” Hanya Al-Bukhari yang meriwayatkan dari jalur ini.

Al-Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Ashim bin Ali, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dzi’b, dari Sa’id Al-Maqburi, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Menguap itu dari setan, maka apabila salah seorang dari kalian menguap, hendaklah ia menahannya sedapat mungkin, karena sesungguhnya apabila salah seorang dari kalian berkata: Ha, setan tertawa.” Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi yang menshahihkannya, dan An-Nasa’i meriwayatkannya dari hadits Ibnu Abi Dzi’b. Dalam lafadz lain disebutkan: “Apabila salah seorang dari kalian menguap, hendaklah ia menahannya sedapat mungkin karena setan masuk.”

Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah mengabarkan kepada kami Sufyan, dari Muhammad bin Ajlan, dari Sa’id Al-Maqburi, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah menyukai bersin, dan membenci atau tidak menyukai menguap. Apabila salah seorang dari kalian berkata: Ha ha, maka sesungguhnya itu adalah setan yang tertawa dari dalam perutnya.” At-Tirmidzi dan An-Nasa’i meriwayatkannya dari hadits Muhammad bin Ajlan.

Al-Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Ar-Rabi’, telah menceritakan kepada kami Abu Al-Ahwash, dari Asy’ats, dari ayahnya, dari Masruq, ia berkata: Aisyah berkata: aku bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang orang yang menoleh dalam shalatnya. Maka beliau bersabda: “Itu adalah pencurian yang dicuri oleh setan dari shalat salah seorang dari kalian.” Demikian juga Abu Dawud dan An-Nasa’i meriwayatkannya dari riwayat Asy’ats bin Abi Asy-Sya’tsa’ Sulaim bin Aswad Al-Muharibi, dari ayahnya, dari Masruq.

Al-Bukhari meriwayatkan dari hadits Al-Auza’i, dari Yahya bin Abi Katsir, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abi Qatadah, dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Mimpi yang baik itu dari Allah, sedangkan mimpi buruk itu dari setan. Apabila salah seorang dari kalian bermimpi buruk yang ia takuti, hendaklah ia meludah ke sebelah kirinya dan berlindung kepada Allah dari keburukannya, maka mimpi itu tidak akan membahayakannya.”

Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Hammam, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Janganlah salah seorang dari kalian berjalan menuju saudaranya dengan membawa senjata, karena tidak tahu seseorang dari kalian, barangkali setan menarik tangannya hingga ia jatuh ke dalam lubang neraka.” Al-Bukhari dan Muslim mengeluarkannya dari hadits Abdur Razzaq.

Allah Taala berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala” (Surah Al-Mulk: 5). Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, dan (Kami ciptakan bintang-bintang itu) untuk menjaga dari setiap setan yang sangat durhaka, setan-setan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru, untuk diusir dan bagi mereka siksa yang kekal, akan tetapi barangsiapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan); maka ia dikejar oleh semburan api yang cemerlang” (Surah Ash-Shaffat: 6-10). Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang di langit dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang(nya), dan Kami menjaganya dari tiap-tiap setan yang terkutuk. Akan tetapi (setan) yang mencuri-curi (berita), maka ia dikejar oleh semburan api yang terang” (Surah Al-Hijr: 16-18). Allah berfirman: “Dan Al-Quran itu bukanlah dibawa turun oleh setan-setan, dan tidaklah layak bagi mereka dan mereka tidak akan sanggup, sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan dari (dapat) mendengar(nya)” (Surah Asy-Syu’ara’: 210-212). Allah berfirman yang mengabarkan tentang jin: “Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya)” (Surah Al-Jinn: 8-9).

Al-Bukhari berkata: dan Al-Laits berkata, telah menceritakan kepadaku Khalid bin Yazid, dari Sa’id bin Abi Hilal, bahwa Abu Al-Aswad mengabarkan kepadanya, dari Urwah, dari Aisyah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Para malaikat berbicara di awan tentang perkara yang akan terjadi di bumi, lalu para setan mendengar kata-kata itu dan membisikkannya ke telinga dukun, sebagaimana air dituangkan ke dalam botol, lalu mereka menambahkan bersama kata itu seratus kebohongan.” Demikianlah diriwayatkan dalam bab tentang sifat Iblis secara mu’allaq dari Al-Laits. Dan diriwayatkannya dalam bab tentang sifat malaikat dari Sa’id bin Abi Maryam, dari Al-Laits, dari Ubaidullah bin Abi Ja’far, dari Muhammad bin Abdurrahman Abu Al-Aswad, dari Urwah, dari Aisyah dengan sanad yang serupa. Hanya Al-Bukhari yang meriwayatkan kedua jalur ini tanpa Muslim.

Al-Bukhari meriwayatkan di tempat lain, dan Muslim dari hadits Az-Zuhri, dari Yahya bin Urwah bin Az-Zubair, dari ayahnya, ia berkata: Aisyah berkata: ada orang-orang yang bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang dukun. Maka beliau bersabda: “Mereka tidak ada apa-apanya.” Mereka berkata: Ya Rasulullah, sesungguhnya mereka kadang menceritakan sesuatu kepada kami lalu itu menjadi kenyataan. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Kata-kata yang benar itu dicuri oleh jin lalu ia bisikkan ke telinga temannya seperti suara ayam betina berkokok, lalu mereka mencampurkannya dengan seratus kebohongan.” Ini adalah lafadz Al-Bukhari.

Dan Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Humaidi, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami Amru, ia berkata: saya mendengar Ikrimah berkata: saya mendengar Abu Hurairah berkata: Sesungguhnya Nabi Allah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Apabila Allah menetapkan suatu perkara di langit, para malaikat mengepakkan sayap mereka dengan tunduk terhadap firman-Nya seperti rantai di atas batu licin. Maka ketika rasa takut telah hilang dari hati mereka, mereka bertanya: Apa yang telah dikatakan Tuhan kalian? Mereka menjawab: Yang benar, dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. Maka didengar oleh pencuri pendengaran, dan pencuri pendengaran itu tersusun seperti ini, sebagian di atas sebagian yang lain. Dan Sufyan menggambarkan dengan telapak tangannya, lalu memiringkannya dan merenggangkan jari-jarinya. Maka ia mendengar kalimat itu lalu melemparkannya kepada yang di bawahnya, kemudian yang lain melemparkannya kepada yang di bawahnya hingga sampai ke lisan penyihir atau dukun. Kadang-kadang meteor mengenainya sebelum ia melemparkannya, dan kadang-kadang ia melemparkannya sebelum meteor mengenainya. Lalu ia berdusta seratus dusta bersamanya. Maka dikatakan: Bukankah ia telah mengatakan kepada kita pada hari ini dan itu, begini dan begitu? Maka mereka membenarkannya dengan kalimat yang didengar dari langit itu. Hadits ini diriwayatkan secara khusus oleh Bukhari. Dan Muslim meriwayatkan dari hadits Az-Zuhri, dari Ali bin Al-Husain Zainul Abidin, dari Ibnu Abbas, dari beberapa orang Anshar, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam yang serupa dengan ini.

Dan Allah taala berfirman: Dan barangsiapa berpaling dari mengingat Allah Yang Maha Pengasih, Kami adakan baginya setan yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya setan-setan itu menghalangi mereka dari jalan yang benar, dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. Hingga apabila dia datang kepada Kami, dia berkata: Aduhai, sekiranya antaraku dan kamu ada jarak antara dua timur, maka setan itu adalah seburuk-buruk teman. (Surat Az-Zukhruf: 36-38). Dan Allah taala berfirman: Dan Kami adakan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang baik apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka. (Surat Fushshilat: 25). Ayat tersebut. Dan Allah taala berfirman: Temannya berkata: Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya tetapi dia sendiri yang berada dalam kesesatan yang jauh. Allah berfirman: Janganlah kamu berbantah-bantahan di hadapan-Ku, padahal Aku dahulu telah memberikan ancaman kepadamu. Keputusan-Ku tidak dapat diubah, dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku. (Surat Qaf: 27-29). Dan Allah taala berfirman: Dan demikianlah Kami jadikan bagi setiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan dari jenis manusia dan dari jenis jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah sebagai tipuan. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka biarkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. Dan agar hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, dan agar mereka menyukainya, dan agar mereka melakukan apa yang mereka kerjakan itu. (Surat Al-An’am: 112-113).

Dan telah kami sebutkan sebelumnya dalam sifat malaikat apa yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim dari jalur Manshur, dari Salim bin Abi Al-Ja’d, dari ayahnya yang bernama Rafi’, dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Tidaklah seorang pun dari kalian melainkan telah ditugaskan kepadanya teman dari jin dan teman dari malaikat. Mereka bertanya: Dan engkau juga ya Rasulullah? Beliau menjawab: Dan aku juga, tetapi Allah telah menolongku atasnya sehingga ia tidak memerintahku kecuali kepada kebaikan.

Dan Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Qabus, dari ayahnya yang bernama Hushain bin Jundub yang merupakan Abu Zhibyan Al-Janbi, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Tidaklah seorang pun dari kalian melainkan telah ditugaskan kepadanya temannya dari setan-setan. Mereka bertanya: Dan engkau ya Rasulullah? Beliau menjawab: Ya, tetapi Allah telah menolongku atasnya maka ia masuk Islam. Hanya Ahmad yang meriwayatkannya, dan sanadnya memenuhi syarat shahih.

Dan Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Harun, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb, telah mengabarkan kepadaku Abu Shakhr, dari Yazid bin Qusaith yang menceritakan kepadanya bahwa Urwah bin Az-Zubair menceritakan kepadanya bahwa Aisyah, istri Nabi shallallahu alaihi wasallam menceritakan kepadanya: bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar dari sisinya pada suatu malam, ia berkata: Maka aku cemburu kepadanya. Ia berkata: Lalu beliau datang dan melihat apa yang aku lakukan. Maka beliau bersabda: Ada apa denganmu wahai Aisyah, apakah kamu cemburu? Maka aku berkata: Mengapa aku tidak cemburu, orang sepertiku kepada orang sepertimu. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Apakah setanmu telah menguasaimu? Ia berkata: Aku bertanya: Ya Rasulullah, apakah bersamaku ada setan? Beliau menjawab: Ya. Aku bertanya: Dan bersama setiap manusia? Beliau menjawab: Ya. Aku bertanya: Dan bersamamu ya Rasulullah? Beliau menjawab: Ya, tetapi Tuhanku telah menolongku atasnya hingga ia masuk Islam. Dan demikian pula diriwayatkan oleh Muslim, dari Harun yang merupakan Ibnu Sa’id Al-Aili dengan sanadnya secara serupa.

Dan Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah, dari Musa bin Wardan, dari Abu Hurairah: bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya orang mukmin membuat setannya kurus kelelahan sebagaimana salah seorang dari kalian membuat untanya kurus kelelahan dalam perjalanan. Hanya Ahmad yang meriwayatkannya dari jalur ini. Adapun makna membuat setannya kurus kelelahan adalah: memegang tengkuknya lalu mengalahkan dan menaklukannya, sebagaimana yang dilakukan terhadap unta jika ia lari lalu ditaklukkan.

Dan firman Allah taala yang mengabarkan tentang Iblis: Ia berkata: Karena Engkau telah menyesatkanku, saya benar-benar akan menghadang mereka di jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur. (Surat Al-A’raf: 16-17).

Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Abu Aqil yang merupakan Abdullah bin Aqil Ats-Tsaqafi, telah menceritakan kepada kami Musa bin Al-Musayyab, dari Salim bin Abi Al-Ja’d, dari Sabrah bin Abi Fakih, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya setan menghadang anak Adam di jalan-jalannya. Ia menghadangnya di jalan Islam, lalu berkata: Apakah kamu akan masuk Islam dan meninggalkan agamamu dan agama bapak-bapakmu? Maka ia mendurhakai setan dan masuk Islam. Dan ia menghadangnya di jalan hijrah, lalu berkata: Apakah kamu akan berhijrah dan meninggalkan negerimu dan langitmu? Padahal perumpamaan muhajir itu seperti kuda yang terikat. Maka ia mendurhakai setan dan berhijrah. Kemudian ia menghadangnya di jalan jihad, padahal itu adalah perjuangan jiwa dan harta. Lalu berkata: Apakah kamu akan berperang lalu terbunuh sehingga istrimu dinikahi dan hartamu dibagi? Maka ia mendurhakai setan dan berjihad. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Maka barangsiapa melakukan itu dari mereka, menjadi hak atas Allah untuk memasukkannya ke dalam surga. Jika ia terbunuh, menjadi hak atas Allah untuk memasukkannya ke dalam surga. Jika ia tenggelam, menjadi hak atas Allah untuk memasukkannya ke dalam surga. Jika ia terinjak tunggangannya, menjadi hak atas Allah untuk memasukkannya ke dalam surga.

Dan Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Ibadah bin Muslim Al-Fazari, telah menceritakan kepadaku Jubair bin Abi Sulaiman bin Jubair bin Muth’im, aku mendengar Abdullah bin Umar berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan doa-doa ini ketika pagi dan petang: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku dan amankanlah ketakutanku. Ya Allah, peliharalah aku dari depanku, dari belakangku, dari kananku, dari kiriku, dan dari atasku. Dan aku berlindung dengan keagungan-Mu agar aku tidak ditelan dari bawahku. Waki’ berkata: Maksudnya tanah longsor. Dan diriwayatkan oleh Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim dari hadits Ibadah bin Muslim dengannya. Dan Al-Hakim berkata: Sanadnya shahih.

Bab Apa yang Diriwayatkan tentang Penciptaan Adam alaihissalam

Allah taala berfirman: Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata: Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? Tuhan berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama benda seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar. Mereka menjawab: Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Allah berfirman: Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan? Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat: Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. Dan Kami berfirman: Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula. Kami berfirman: Turunlah kamu, sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan. Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Kami berfirman: Turunlah kamu semuanya dari surga itu. Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (Surat Al-Baqarah: 30-31).

Dan Allah taala berfirman: Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah adalah seperti Adam. Allah menciptakan Isa dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: Jadilah, maka jadilah dia. (Surat Ali Imran: 59). Dan Allah taala berfirman: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya, dan dari pada keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (Surat An-Nisa: 1). Sebagaimana firman-Nya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Surat Al-Hujurat: 13). Dan Allah taala berfirman: Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. (Surat Al-A’raf: 189). Ayat tersebut.

Dan Allah taala berfirman: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu, lalu Kami bentuk rupamu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: Bersujudlah kamu kepada Adam, maka mereka pun bersujud kecuali Iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman: Apakah yang menghalangimu untuk bersujud ketika Aku menyuruhmu? Iblis menjawab: Saya lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah. Allah berfirman: Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina. Iblis berkata: Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan. Allah berfirman: Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh. Iblis menjawab: Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghadang mereka di jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur. Allah berfirman: Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang yang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar akan Aku penuhi neraka Jahannam dengan kamu semuanya. Dan hai Adam bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua dari mana yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua dekati pohon ini, maka menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim. Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya, dan setan berkata: Tuhan kamu tidak melarang kamu berdua dari mendekati pohon ini melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal. Dan dia bersumpah kepada keduanya: Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua. Maka setan membujuk keduanya dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua? Keduanya berkata: Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. Allah berfirman: Turunlah kamu, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan. Allah berfirman: Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu pula kamu akan dibangkitkan. (Surat Al-A’raf: 11-25). Sebagaimana firman-Nya dalam ayat yang lain: Dari bumi itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan dari padanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain. (Surat Thaha: 55).

Dan Allah taala berfirman: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum manusia dari api yang sangat panas. Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya roh ciptaan-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. Lalu bersujud para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali Iblis, dia enggan ikut bersama-sama malaikat yang sujud itu. Allah berfirman: Hai Iblis, apa sebabnya kamu tidak ikut sujud bersama-sama mereka yang sujud itu? Berkata Iblis: Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Allah berfirman: Kalau begitu keluarlah kamu dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk. Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat. Berkata Iblis: Ya Tuhanku, oleh sebab itu beri tangguhlah kepadaku sampai hari mereka dibangkitkan. Allah berfirman: Maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai hari waktu yang ditentukan. Berkata Iblis: Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik perbuatan maksiat di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka. Allah berfirman: Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah menjaganya. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka seluruhnya. Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu memiliki bagian yang tertentu dari mereka. (Surat Al-Hijr: 26-44).

Dan Allah taala berfirman: Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat: Bersujudlah kamu sekalian kepada Adam, maka mereka pun bersujud kecuali Iblis. Dia berkata: Apakah aku akan bersujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah? Dia berkata: Terangkanlah kepadaku tentang orang yang Engkau muliakan ini, sungguh jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil. Allah berfirman: Pergilah, maka barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya Jahannam adalah balasan kamu, balasan yang cukup. Dan hasunglah siapa yang kamu sanggup di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai Pelindung. (Surat Al-Isra: 61-65).

Dan Allah taala berfirman: Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat: Sujudlah kamu kepada Adam, maka mereka pun bersujud kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan keturunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, padahal mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti bagi orang-orang yang zalim. (Surat Al-Kahf: 50).

Dan Allah taala berfirman: Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa, dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat. Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat: Sujudlah kamu kepada Adam, maka mereka pun bersujud kecuali Iblis, ia enggan. Maka Kami berfirman: Hai Adam, sesungguhnya ini adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. Dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak pula akan ditimpa panas matahari di dalamnya. Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa? Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk. Allah berfirman: Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat? Allah berfirman: Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu pula pada hari ini kamupun dilupakan. (Surat Thaha: 115-126).

Allah Ta‘ala berfirman:

“Katakanlah: Itu adalah berita yang sangat besar, yang kalian berpaling darinya. Aku tidak mempunyai pengetahuan tentang para penghuni langit yang tinggi ketika mereka saling berselisih. Tidaklah diwahyukan kepadaku melainkan bahwa sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang jelas. (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah. Maka apabila telah Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan ke dalamnya ruh dari-Ku, maka tunduklah kalian kepadanya dengan bersujud.’ Lalu para malaikat semuanya bersujud bersama-sama, kecuali Iblis; ia menyombongkan diri dan termasuk golongan orang-orang kafir. Allah berfirman: ‘Wahai Iblis, apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku? Apakah engkau menyombongkan diri atau engkau termasuk golongan yang merasa tinggi?’ Ia menjawab: ‘Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’ Allah berfirman: ‘Maka keluarlah dari surga, sesungguhnya engkau terkutuk. Dan sesungguhnya kutukan-Ku atasmu sampai hari pembalasan.’ Ia berkata: ‘Wahai Tuhanku, beri aku penangguhan sampai hari mereka dibangkitkan.’ Allah berfirman: ‘Sesungguhnya engkau termasuk yang diberi penangguhan, sampai hari waktu yang telah ditentukan.’ Ia berkata: ‘Demi kemuliaan-Mu, sungguh aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.’ Allah berfirman: ‘Maka kebenaran itu adalah ketetapan-Ku, dan kebenaran itulah yang Aku katakan: sungguh Aku akan memenuhi neraka Jahanam denganmu dan dengan siapa saja di antara mereka yang mengikutimu semuanya.’ Katakanlah: ‘Aku tidak meminta upah kepada kalian atasnya, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mengada-ada.’ Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh alam. Dan sungguh, kalian akan mengetahui beritanya setelah beberapa waktu.” (Surah Shad: ayat 67–88)

Maka inilah penyebutan kisah tersebut dari berbagai tempat yang berbeda dalam Al-Qur’an. Seluruhnya telah kami jelaskan dalam pembahasan tafsir. Dan di sini kami akan menyebutkan ringkasan kandungan yang ditunjukkan oleh ayat-ayat mulia ini, serta hadis-hadis yang berkaitan dengannya yang diriwayatkan dari Rasulullah. Dan kepada Allah-lah kami memohon pertolongan.

Maka Allah Subhanahu Wata’ala mengabarkan bahwa Dia berbicara kepada para malaikat dengan berfirman kepada mereka: Sesungguhnya Aku akan menjadikan di bumi seorang khalifah. Dia lebih mengetahui apa yang akan Dia ciptakan, yaitu Adam dan keturunannya yang saling menggantikan satu sama lain, sebagaimana firman-Nya: Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi (QS. Al-An’am: 165). Dan firman-Nya: Dan Dia menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi (QS. An-Naml: 62). Maka Dia mengabarkan hal itu kepada mereka sebagai bentuk pengagungan terhadap penciptaan Adam dan keturunannya, sebagaimana seseorang mengabarkan perkara besar sebelum terjadi. Maka para malaikat bertanya untuk mengetahui dan memahami hikmah di baliknya, bukan sebagai bentuk keberatan dan merendahkan bani Adam serta iri kepada mereka, sebagaimana yang dibayangkan oleh sebagian mufassir yang bodoh: Mereka berkata: Apakah Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?

Dikatakan: mereka mengetahui bahwa hal itu akan terjadi karena apa yang mereka lihat dari kaum Jin dan Bin yang ada sebelum Adam. Demikian menurut Qatadah.

Abdullah bin Umar berkata: Kaum Jin dan Bin ada sebelum Adam selama dua ribu tahun, mereka menumpahkan darah, maka Allah mengutus kepada mereka pasukan dari malaikat yang mengusir mereka ke pulau-pulau di lautan. Dari Ibnu Abbas ada riwayat serupa, dan dari Al-Hasan: mereka mendapat ilham tentang hal itu. Dan dikatakan: karena mereka melihatnya di Lauh Mahfuzh. Maka dikatakan: Harut dan Marut memberi tahu mereka dari malaikat yang di atas mereka yang bernama As-Sijil. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Abu Ja’far Al-Baqir. Dan dikatakan: karena mereka mengetahui bahwa bumi tidak akan diciptakan darinya kecuali yang pada umumnya akan bersikap seperti ini. Dan kami bertasbih dengan memuji-Mu dan mensucikan-Mu. Artinya: kami menyembah-Mu terus-menerus, tidak ada seorang pun dari kami yang bermaksiat kepada-Mu. Jika tujuan menciptakan mereka adalah agar mereka menyembah-Mu, maka inilah kami yang tidak berhenti siang dan malam. Allah berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak. Artinya: Aku lebih mengetahui kemaslahatan yang lebih besar dalam penciptaan mereka yang tidak kalian ketahui. Artinya: akan muncul dari kalangan mereka para nabi, rasul, orang-orang shiddiq, dan para syuhada.

Kemudian Dia menjelaskan kepada mereka keutamaan Adam atas mereka dalam hal ilmu, maka berfirman: Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya. Ibnu Abbas berkata: yaitu nama-nama yang dikenal oleh manusia seperti: manusia, hewan, bumi, dataran, laut, gunung, unta, keledai, dan yang serupa dari berbagai umat dan lainnya. Dan dalam riwayat lain: Dia mengajarkannya nama piring, panci, bahkan hingga sendok besar dan sendok kecil. Mujahid berkata: Dia mengajarkannya nama setiap hewan, setiap burung, dan segala sesuatu.

Demikian pula dikatakan oleh Sa’id bin Jubair, Qatadah, dan banyak lainnya. Ar-Rabi’ berkata: Dia mengajarkannya nama-nama malaikat. Abdurrahman bin Zaid berkata: Dia mengajarkannya nama-nama keturunannya. Yang benar adalah Dia mengajarkannya nama-nama zat dan perbuatannya, yang besar dan yang kecil, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma. Al-Bukhari menyebutkan di sini apa yang diriwayatkannya bersama Muslim melalui jalur Sa’id dan Hisyam, dari Qatadah, dari Anas bin Malik, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang bersabda: Orang-orang mukmin berkumpul pada hari kiamat lalu mereka berkata: seandainya kita meminta syafaat kepada Tuhan kita. Maka mereka mendatangi Adam dan berkata: engkau adalah bapak manusia, Allah menciptakanmu dengan tangan-Nya, menyuruh malaikat-Nya bersujud kepadamu, dan mengajarkanmu nama segala sesuatu. Dan disebutkan kelanjutan hadits tersebut. Kemudian Dia memperlihatkan mereka kepada para malaikat, lalu berfirman: Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama ini jika kalian benar. Al-Hasan Al-Bashri berkata: ketika Allah hendak menciptakan Adam, para malaikat berkata: Tuhan kami tidak akan menciptakan makhluk kecuali kami lebih berilmu darinya. Maka mereka diuji dengan ini. Dan itulah firman-Nya: Jika kalian benar. Dan dikatakan selain itu, sebagaimana kami jelaskan dalam tafsir. Mereka menjawab: Maha Suci Engkau, tidak ada pengetahuan bagi kami selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Artinya: Maha Suci Engkau bahwa seseorang dapat mengetahui sesuatu dari ilmu-Mu tanpa Engkau mengajarkannya, sebagaimana firman-Nya: Dan mereka tidak mengetahui sesuatu pun dari ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki (QS. Al-Baqarah: 255). Dia berfirman: Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama ini. Maka setelah dia memberitahukan kepada mereka nama-nama itu, Allah berfirman: Bukankah sudah Aku katakan kepadamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kalian lahirkan dan apa yang kalian sembunyikan. Artinya: Aku mengetahui yang rahasia sebagaimana Aku mengetahui yang terang-terangan. Dan dikatakan: yang dimaksud dengan firman-Nya: Dan Aku mengetahui apa yang kalian lahirkan adalah apa yang mereka katakan: Apakah Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya. Dan dengan firman-Nya: Dan apa yang kalian sembunyikan yang dimaksud dengan perkataan ini adalah Iblis dan apa yang dia simpan dan sembunyikan dalam dirinya berupa kesombongan dan permusuhan terhadap Adam ‘Alaihissalam. Demikian dikatakan oleh Sa’id bin Jubair, Mujahid, As-Suddi, Ad-Dhahhak, Ats-Tsauri, dan dipilih oleh Ibnu Jarir. Abu Al-‘Aliyah, Ar-Rabi’, Al-Hasan, dan Qatadah berkata: Dan apa yang kalian sembunyikan adalah perkataan mereka: Tuhan kami tidak akan menciptakan makhluk kecuali kami lebih berilmu darinya dan lebih mulia bagi-Nya darinya.

Firman-Nya: Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat: Bersujudlah kalian kepada Adam, maka mereka bersujud kecuali Iblis, dia enggan dan menyombongkan diri. Ini adalah kemuliaan yang sangat besar dari Allah Subhanahu Wata’ala kepada Adam ketika Dia menciptakannya dengan tangan-Nya dan meniupkan ke dalamnya ruh-Nya, sebagaimana firman-Nya: Maka apabila Aku telah menyempurnakannya dan meniupkan kepadanya ruh-Ku, maka tunduklah kalian kepadanya dengan bersujud (QS. Al-Hijr: 29). Maka ini adalah empat kehormatan: penciptaan-Nya dengan tangan-Nya yang mulia, peniupan ruh-Nya ke dalamnya, perintah-Nya kepada malaikat untuk bersujud kepadanya, dan pengajaran-Nya tentang nama-nama segala sesuatu. Oleh karena itu Musa Al-Kalim berkata kepadanya ketika dia dan Adam bertemu di Malā’ A’lā dan berdebat, sebagaimana akan datang: Engkau adalah Adam, bapak manusia yang Allah ciptakan dengan tangan-Nya, tiupkan ke dalammu ruh-Nya, suruh malaikat-malaikat-Nya bersujud kepadamu, dan ajarkan kepadamu nama segala sesuatu. Dan demikianlah yang akan dikatakan oleh penduduk Mahsyar kepadanya pada hari kiamat, sebagaimana telah disebutkan dan akan datang insya Allah Subhanahu Wata’ala.

Dan Dia berfirman dalam ayat yang lain: Dan sungguh Kami telah menciptakan kalian, kemudian Kami membentuk kalian, kemudian Kami berfirman kepada para malaikat: Bersujudlah kalian kepada Adam, maka mereka pun bersujud kecuali Iblis. Dia tidak termasuk orang-orang yang bersujud. Allah berfirman: Apakah yang menghalangimu untuk bersujud ketika Aku memerintahkanmu? Iblis menjawab: Saya lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah (QS. Al-A’raf: 11-12). Al-Hasan Al-Bashri berkata: Iblis berqiyas (analogi), dan dia adalah orang pertama yang berqiyas. Muhammad bin Sirin berkata: Orang pertama yang berqiyas adalah Iblis, dan matahari serta bulan tidak disembah kecuali karena qiyas. Keduanya diriwayatkan oleh Ibnu Juraij. Makna ini adalah bahwa dia memandang dirinya melalui jalur perbandingan antara dirinya dan Adam lalu melihat dirinya lebih mulia daripada Adam, maka dia menolak untuk bersujud kepadanya, padahal ada perintah kepadanya dan kepada seluruh malaikat untuk bersujud. Dan qiyas jika bertentangan dengan nash, maka tidak sah untuk digunakan, kemudian qiyas itu sendiri rusak karena sesungguhnya tanah lebih bermanfaat dan lebih baik daripada api. Tanah memiliki: keteguhan, kelembutan, kesabaran, dan pertumbuhan. Sedangkan api memiliki: kecerobohan, kegugupan, kecepatan, dan pembakaran. Kemudian Adam dimuliakan Allah dengan penciptaan-Nya dengan tangan-Nya dan peniupan ruh-Nya ke dalamnya, oleh karena itu Dia memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadanya, sebagaimana firman-Nya: Dan ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan kepadanya ruh-Ku, maka tunduklah kalian kepadanya dengan bersujud. Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali Iblis. Dia enggan ikut bersama-sama malaikat yang bersujud itu. Allah berfirman: Hai Iblis, apa sebabnya kamu tidak ikut serta bersama-sama malaikat yang bersujud itu? Iblis menjawab: Aku sekali-kali tidak akan bersujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Allah berfirman: Kalau begitu keluarlah kamu dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan-Ku atasmu sampai hari pembalasan (QS. Al-Hijr: 28-35). Dia layak mendapat ini dari Allah Subhanahu Wata’ala karena sikapnya yang merendahkan Adam, meremehkannya, dan menyombongkan diri atas Adam, yang mengakibatkan pelanggaran terhadap perintah Ilahi dan menentang kebenaran dalam nash yang menyebutkan Adam secara spesifik. Dia mulai berdalih dengan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya, dan alasannya lebih buruk daripada dosanya, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala dalam surah Al-Isra: Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat: Bersujudlah kalian kepada Adam, maka mereka pun bersujud kecuali Iblis. Dia berkata: Apakah aku akan bersujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah? Dia berkata: Terangkanlah kepadaku tentang orang yang Engkau muliakan ini atas diriku, jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil. Allah berfirman: Pergilah, barangsiapa di antara mereka yang mengikutimu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasan kalian, balasan yang cukup. Dan hasutlah siapa yang kamu sanggup di antara mereka dengan suaramu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukan berjalanmu dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai Pelindung (QS. Al-Isra: 61-65).

Dan Dia berfirman dalam surah Al-Kahf: Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat: Bersujudlah kalian kepada Adam, maka mereka pun bersujud kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka dia mendurhakai perintah Tuhannya (QS. Al-Kahf: 50). Artinya: keluar dari ketaatan Allah dengan sengaja, menentang, dan menyombongkan diri dari melaksanakan perintah-Nya. Dan itu tidak lain karena tabiat dan materi api yang buruk mengkhianatinya ketika dia sangat membutuhkannya. Karena sesungguhnya dia diciptakan dari api, sebagaimana dia katakan. Dan sebagaimana kami sebutkan dalam Shahih Muslim, dari ‘Aisyah, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang bersabda: Malaikat diciptakan dari cahaya, dan jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah diterangkan kepada kalian.

Al-Hasan Al-Bashri berkata: Iblis tidak pernah termasuk malaikat sedikit pun. Syahr bin Hausyab berkata: Dia dari golongan jin, ketika mereka membuat kerusakan di bumi, Allah mengutus kepada mereka pasukan dari malaikat yang membunuh dan mengusir mereka ke pulau-pulau di lautan. Iblis termasuk yang ditawan lalu dibawa ke langit, dan dia berada di sana. Ketika malaikat diperintahkan untuk bersujud, Iblis menolak. Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, dan sejumlah sahabat, Sa’id bin Al-Musayyab, dan lainnya berkata: Iblis adalah pemimpin malaikat di langit dunia. Ibnu Abbas berkata: dan namanya adalah ‘Azazil. Dan dalam riwayat darinya: Al-Harits. An-Naqqasy berkata: dan kuniahnya adalah Abu Kardus. Ibnu Abbas berkata: dan dia dari golongan malaikat yang disebut Al-Hinn, mereka adalah penjaga surga, dan dia termasuk yang paling mulia di antara mereka, paling banyak ilmunya dan ibadahnya, dan memiliki empat sayap. Maka Allah mengubahnya menjadi setan yang terkutuk. Dan Dia berfirman dalam surah Shad: Ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh-Ku, maka hendaklah kalian sujud kepadanya. Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali Iblis. Dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang kafir. Allah berfirman: Hai Iblis, apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu termasuk orang-orang yang tinggi? Iblis berkata: Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah. Allah berfirman: Kalau begitu keluarlah kamu dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan. Iblis menjawab: Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan. Allah berfirman: Maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai hari waktu yang telah ditentukan. Iblis berkata: Maka demi kemuliaanMu, aku pasti akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlas di antara mereka. Allah berfirman: Maka yang benar dan kebenaran itulah yang Aku katakan, sesungguhnya akan Aku penuhi neraka Jahannam dengan kamu dan dengan orang-orang yang mengikutimu di antara mereka semuanya (QS. Shad: 71-85). Dan Dia berfirman dalam surah Al-A’raf: Iblis menjawab: Karena Engkau telah menyesatkan aku, maka aku benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (QS. Al-A’raf: 16-17). Artinya: karena Engkau menyesatkanku, maka aku akan menghadang mereka di setiap tempat pengintaian, dan akan mendatangi mereka dari setiap arah. Maka orang yang beruntung adalah yang menentangnya, dan orang yang celaka adalah yang mengikutinya.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad: menceritakan kepada kami Hasyim bin Al-Qasim, menceritakan kepada kami Abu ‘Aqil yaitu Abdullah bin ‘Aqil Ats-Tsaqafi, menceritakan kepada kami Musa bin Al-Musayyab, dari Salim bin Abi Al-Ja’d, dari Sabrah bin Abi Al-Fakih, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Sesungguhnya setan menghadang anak Adam di jalan-jalannya. Dan disebutkan hadits sebagaimana kami sebutkan sebelumnya dalam sifat Iblis.

Para mufassir berbeda pendapat tentang malaikat yang diperintahkan untuk bersujud kepada Adam, apakah mereka semua malaikat? Sebagaimana ditunjukkan oleh keumuman ayat-ayat, dan ini adalah pendapat jumhur, ataukah yang dimaksud adalah malaikat bumi? Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jarir melalui jalur Ad-Dhahhak, dari Ibnu Abbas, dan di dalamnya ada keterputusan, dan dalam konteksnya ada yang aneh, meskipun sebagian ulama mutaakhkhirin telah menguatkannya, tetapi yang lebih jelas dari konteks-konteks adalah pendapat pertama, dan hadits menunjukkan hal itu: Dan menyuruh malaikat-malaikat-Nya bersujud kepadanya. Dan ini juga umum, wallahu a’lam.

Dan firman Allah Subhanahu Wata’ala kepada Iblis: Maka turunlah kamu darinya dan keluarlah kamu darinya adalah dalil bahwa dia berada di langit, maka diperintahkan untuk turun darinya dan keluar dari kedudukan dan posisi yang telah dia raih melalui ibadahnya dan penyerupaan dirinya dengan malaikat dalam ketaatan dan ibadah. Kemudian semua itu dicabut karena kesombongannya, iri hatinya, dan pelanggaran terhadap Tuhannya, maka dia diturunkan ke bumi dalam keadaan hina dan terusir. Allah memerintahkan Adam ‘Alaihissalam untuk tinggal bersama istrinya di surga, maka berfirman: Dan Kami berfirman: Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim (QS. Al-Baqarah: 35). Dan Dia berfirman dalam Al-A’raf: Allah berfirman: Keluarlah kamu darinya dalam keadaan terhina dan terusir. Sungguh barangsiapa di antara mereka mengikutimu, pasti akan Aku penuhi neraka Jahannam dengan kalian semua. Dan Kami berfirman: Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, maka makanlah di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, yang menyebabkan kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim (QS. Al-A’raf: 18-19). Dan firman Allah Subhanahu Wata’ala: Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat: Bersujudlah kalian kepada Adam, maka mereka pun bersujud kecuali Iblis, dia enggan. Maka Kami berfirman: Hai Adam, sesungguhnya ini adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka janganlah sekali-kali dia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak akan ditimpa panas matahari di dalamnya (QS. Thaha: 116-119). Dan konteks ayat-ayat ini menunjukkan bahwa penciptaan Hawa terjadi sebelum Adam masuk surga karena firman-Nya: Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini. Dan ini telah ditegaskan dengan jelas oleh Ibnu Ishaq bin Yasar, dan ini jelas dari ayat-ayat ini.

Tetapi As-Suddi meriwayatkan dari Abu Shalih dan Abu Malik, dari Ibnu Abbas, dan dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud, dan dari sejumlah sahabat bahwa mereka berkata: Iblis dikeluarkan dari surga, dan Adam ditempatkan di surga lalu dia berjalan di dalamnya sendirian, tidak ada pasangan untuknya yang bisa dia tempati. Lalu dia tidur sejenak kemudian bangun dan di dekat kepalanya duduk seorang wanita yang Allah ciptakan dari tulang rusuknya. Maka dia bertanya kepadanya: siapa kamu? Dia menjawab: wanita. Dia berkata: dan untuk apa kamu diciptakan? Dia menjawab: agar kamu tinggal bersamaku. Maka para malaikat berkata kepadanya sambil melihat sejauh mana pengetahuannya: siapa namanya wahai Adam? Dia menjawab: Hawa. Mereka bertanya: dan mengapa dinamai Hawa? Dia menjawab: karena dia diciptakan dari sesuatu yang hidup. Muhammad bin Ishaq menyebutkan dari Ibnu Abbas: bahwa dia diciptakan dari tulang rusuk paling pendek di sebelah kiri saat dia tidur, dan tempatnya ditutup dengan daging. Pembenaran hal ini terdapat dalam firman Allah Subhanahu Wata’ala: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya, dan dari keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak (QS. An-Nisa: 1). Ayat tersebut. Dan dalam firman Allah Subhanahu Wata’ala: Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (QS. Al-A’raf: 189). Ayat tersebut. Dan kita akan membahasnya nanti insya Allah Subhanahu Wata’ala.

Dan dalam Shahihain dari hadits Zaidah, dari Maisarah Al-Asyja’i, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda: Berbuat baiklah kepada para wanita, karena sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian atasnya. Jika kamu berusaha meluruskannya, kamu akan mematahkannya, dan jika kamu membiarkannya, dia akan tetap bengkok. Maka berbuat baiklah kepada para wanita. Lafazh Al-Bukhari.

Para mufassir berbeda pendapat mengenai firman Allah Ta’ala: dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini. Ada yang mengatakan pohon itu adalah anggur. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Sa’id bin Jubair, Asy-Sya’bi, Ja’dah bin Hubairah, Muhammad bin Qais, dan As-Suddi dalam riwayatnya dari Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, dan beberapa orang dari kalangan Sahabat. Disebutkan: Orang-orang Yahudi mengira bahwa pohon itu adalah gandum. Ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Al-Hasan Al-Bashri, Wahb bin Munabbih, Athiyyah Al-‘Aufi, Abu Malik, Muharib bin Ditsar, dan Abdurrahman bin Abi Laila. Wahb berkata: Bijinya lebih lembut dari mentega dan lebih manis dari madu. Ats-Tsauri berkata, dari Hushain, dari Abu Malik: dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, yaitu pohon kurma. Ibnu Juraij berkata, dari Mujahid: Pohon itu adalah pohon tin. Ini juga pendapat Qatadah dan Ibnu Juraij. Abu Al-‘Aliyah berkata: Pohon itu adalah pohon yang siapa saja memakan darinya akan buang air, dan tidak pantas ada hajat di surga.

Perbedaan pendapat ini dekat satu sama lain. Allah telah menyamarkan penyebutan dan penentuan pohon itu. Seandainya dalam penyebutan pohon itu ada kemaslahatan yang kembali kepada kita, pasti Allah akan menjelaskannya kepada kita, sebagaimana dalam hal-hal lain yang disamarkan dalam Al-Quran.

Adapun perbedaan pendapat yang mereka sebutkan tentang apakah surga yang ditempati Adam ini berada di langit atau di bumi, itulah perbedaan pendapat yang sepatutnya dibahas dan diselesaikan. Jumhur ulama berpendapat bahwa surga itu adalah surga yang ada di langit, yaitu Jannah Al-Ma’wa, berdasarkan zhahir ayat-ayat dan hadits-hadits, seperti firman Allah Ta’ala: Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini” (QS. Al-Baqarah: 35). Alif lam dalam kata “al-jannah” bukan untuk umum dan bukan untuk ma’hud lafzi, melainkan kembali kepada ma’hud dzihni, yaitu yang telah ditetapkan secara syar’i dari Jannah Al-Ma’wa. Dan seperti perkataan Musa ‘alaihissalam kepada Adam ‘alaihissalam: “Mengapa engkau mengeluarkan kami dan dirimu dari surga?” Hadits ini akan dibahas lebih lanjut nanti.

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya dari hadits Abu Malik Al-Asyja’i, namanya adalah Sa’d bin Thariq, dari Abu Hazim Salamah bin Dinar, dari Abu Hurairah, dan Abu Malik dari Rib’i, dari Hudzaifah, keduanya berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah mengumpulkan manusia, lalu kaum mukminin berdiri ketika surga didekatkan kepada mereka. Mereka lalu mendatangi Adam dan berkata: ‘Wahai ayah kami, bukakan untuk kami surga.’ Ia menjawab: ‘Bukankah yang mengeluarkan kalian dari surga hanyalah kesalahan ayah kalian!'” Hadits ini disebutkan dengan lengkap. Hadits ini mengandung dalil yang kuat dan jelas bahwa surga itu adalah Jannah Al-Ma’wa, namun tidak sepenuhnya lepas dari keraguan.

Kelompok lain berpendapat bahwa surga yang ditempati Adam bukanlah Jannah Al-Khuld (surga kekal), karena di dalamnya ia diberi beban untuk tidak memakan pohon tertentu, karena ia tidur di dalamnya dan dikeluarkan darinya, serta Iblis masuk ke dalamnya. Hal-hal ini bertentangan dengan kemungkinan surga itu adalah Jannah Al-Ma’wa. Pendapat ini diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Abbas, Wahb bin Munabbih, Sufyan bin ‘Uyainah. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Qutaibah dalam kitab Al-Ma’arif, Al-Qadhi Mundzir bin Sa’id Al-Baluthi dalam tafsirnya, dan ia membuat karya khusus tentang hal ini. Pendapat ini diriwayatkan dari Imam Abu Hanifah dan para pengikutnya rahimahumullah. Abu Abdullah Muhammad bin Umar Ar-Razi Ibnu Khathib Ar-Rayy dalam tafsirnya menyebutkannya dari Abu Al-Qasim Al-Balkhi dan Abu Muslim Al-Ashbahani. Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkannya dari Mu’tazilah dan Qadariyah. Pendapat ini adalah nash Taurat yang ada di tangan Ahli Kitab.

Di antara yang menyebutkan perbedaan pendapat dalam masalah ini adalah Abu Muhammad Ibnu Hazm dalam kitab Al-Milal wa An-Nihal, Abu Muhammad Ibnu ‘Athiyyah dalam tafsirnya, Abu ‘Isa Ar-Rummani dalam tafsirnya. Mereka menyebutkan pendapat jumhur yang pertama. Demikian pula Abu Al-Qasim Ar-Raghib dan Al-Qadhi Al-Mawardi dalam tafsirnya. Ia berkata: Terjadi perbedaan pendapat tentang surga yang ditempati Adam dan Hawa pada dua pendapat: Pertama, bahwa surga itu adalah Jannah Al-Khuld. Kedua, surga yang disediakan Allah untuk keduanya dan dijadikan sebagai tempat ujian, bukan Jannah Al-Khuld yang dijadikan sebagai tempat balasan. Yang berpendapat demikian berbeda pada dua pendapat: Pertama, bahwa surga itu di langit, karena Allah menurunkan keduanya darinya. Ini adalah pendapat Al-Hasan. Kedua, bahwa surga itu di bumi, karena Allah menguji keduanya di dalamnya dengan larangan untuk memakan pohon yang dilarang tanpa buah-buahan lainnya. Ini adalah pendapat Ibnu Jubair, dan hal itu terjadi setelah Iblis diperintahkan untuk sujud kepada Adam. Allah lebih mengetahui yang benar dalam hal ini. Demikian ucapannya.

Ucapannya mencakup tiga pendapat, dan ucapannya menunjukkan bahwa ia ragu-ragu dalam masalah ini. Oleh karena itu, Abu Abdullah Ar-Razi dalam tafsirnya menyebutkan empat pendapat dalam masalah ini: tiga pendapat yang disebutkan Al-Mawardi, dan yang keempat adalah tawaquf (menunda sikap). Ia menguatkan pendapat pertama. Wallahu a’lam. Disebutkan bahwa pendapat surga itu di langit namun bukan Jannah Al-Ma’wa dari Abu Ali Al-Jubba’i.

Penganut pendapat kedua mengajukan pertanyaan yang perlu dijawab. Mereka berkata: Tidak diragukan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengusir Iblis ketika ia menolak sujud dari hadirat ilahi, dan memerintahkannya untuk keluar darinya dan turun darinya. Perintah ini bukan termasuk perintah syar’i yang dapat dilanggar, melainkan perintah qadari yang tidak dapat dilanggar dan ditentang. Oleh karena itu Allah berfirman: Keluarlah dari surga itu, karena sesungguhnya kamu terkutuk (QS. Al-A’raf: 18). Allah berfirman: Turunlah kamu daripadanya; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya (QS. Al-A’raf: 13). Allah berfirman: Keluarlah dari surga itu, karena sesungguhnya kamu terkutuk (QS. Al-Hijr: 34). Dhamir (kata ganti) kembali kepada surga, langit, atau kedudukan. Apa pun yang dimaksud, sudah jelas bahwa Iblis tidak boleh berada setelah ini di tempat yang ia diusir darinya dan dijauhkan darinya, baik untuk menetap maupun untuk lewat dan singgah.

Mereka berkata: Diketahui dari zhahir konteks Al-Quran bahwa Iblis membisikkan kepada Adam dan berbicara kepadanya dengan perkataannya: Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa? (QS. Thaha: 120). Dan dengan perkataannya: Tuhan kamu tidak melarang kamu berdua dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal. Dan dia (Iblis) bersumpah kepada keduanya: “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua.” Maka Iblis membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya (QS. Al-A’raf: 20-21). Ayat ini jelas menunjukkan bahwa Iblis berkumpul dengan keduanya di surga mereka. Pertanyaan ini dijawab bahwa tidak mustahil Iblis berkumpul dengan keduanya di surga secara lewat, bukan untuk menetap di dalamnya, atau bahwa ia membisikkan kepada keduanya sementara ia berada di pintu surga, atau dari bawah langit. Ketiga jawaban ini masih dipertanyakan. Wallahu a’lam.

Di antara dalil penganut pendapat ini adalah yang diriwayatkan Abdullah bin Imam Ahmad dalam Az-Ziyadat, dari Hudbah bin Khalid, dari Hammad bin Salamah, dari Humaid, dari Al-Hasan Al-Bashri, dari ‘Utayy—yaitu Ibnu Dhamrah As-Sa’di—dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata: Ketika Adam akan wafat, ia menginginkan setangkai buah anggur dari surga. Anak-anaknya berangkat untuk mencarinya. Malaikat-malaikat menemui mereka dan berkata: “Mau kemana kalian, wahai anak-anak Adam?” Mereka menjawab: “Ayah kami menginginkan setangkai buah anggur dari surga.” Malaikat berkata kepada mereka: “Kembalilah, kalian sudah cukup (tidak perlu mencari).” Mereka kembali kepadanya, lalu malaikat mencabut nyawanya, memandikannya, mengkafaninya, mengkafaninya, dan Jibril menyalatkannya dengan anak-anaknya di belakang malaikat, lalu mereka menguburkannya. Malaikat berkata: “Ini adalah sunnah kalian untuk orang-orang yang meninggal di antara kalian.” Hadits ini akan disebutkan dengan sanadnya dan lafaznya yang lengkap ketika menyebutkan wafatnya Adam ‘alaihissalam.

Mereka berkata: Seandainya akses menuju surga tempat Adam berada, tempat ia menginginkan setangkai buah anggur, tidak mungkin dijangkau, mereka tidak akan pergi mencarinya. Ini menunjukkan bahwa surga itu ada di bumi, bukan di langit. Wallahu Ta’ala a’lam.

Mereka berkata: Dalil bahwa alif lam dalam firman Allah: Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, tidak didahului oleh sesuatu yang ma’hud yang kembali kepadanya, sehingga ia adalah ma’hud dzihni, memang benar. Namun ma’hud dzihni yang dimaksud adalah yang ditunjukkan oleh konteks pembicaraan. Adam diciptakan dari bumi dan tidak diriwayatkan bahwa ia diangkat ke langit. Ia diciptakan untuk berada di bumi. Dengan hal ini Allah memberitahukan kepada para malaikat ketika berfirman: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi (QS. Al-Baqarah: 30).

Mereka berkata: Ini seperti firman Allah Ta’ala: Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (penduduk Mekah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun (QS. Al-Qalam: 17). Alif lam bukan untuk umum dan tidak didahului ma’hud lafzi. Ia adalah untuk ma’hud dzihni yang ditunjukkan oleh konteks, yaitu kebun.

Mereka berkata: Penyebutan hubuth (turun) tidak menunjukkan turun dari langit. Allah Ta’ala berfirman: Dikatakan: “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh berkah dari Kami atasmu dan atas umat-umat yang bersama dengan kamu” (QS. Hud: 48). Ayat ini turun ketika Nuh berada di kapal setelah kapal itu berlabuh di gunung Judi dan air surut dari muka bumi. Ia diperintahkan turun ke bumi bersama yang bersamanya dengan penuh berkah atas dirinya dan atas mereka. Allah Ta’ala berfirman: Turunlah kamu ke suatu kota, maka di sana ada bagimu apa yang kamu minta (QS. Al-Baqarah: 61). Allah Ta’ala berfirman: Dan sesungguhnya di antaranya ada yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah (QS. Al-Baqarah: 74). Dalam hadits-hadits dan bahasa Arab banyak contoh seperti ini.

Mereka berkata: Tidak ada yang menghalangi, bahkan itulah yang terjadi, bahwa surga yang ditempati Adam adalah surga yang tinggi dari seluruh permukaan bumi, memiliki pepohonan, buah-buahan, keteduhan, kenikmatan, kesegaran, dan kegembiraan, sebagaimana firman Allah Ta’ala: Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. Dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya (QS. Thaha: 118-119). Artinya: Batinmu tidak akan dihinakan oleh kelaparan dan zhahirmu tidak akan dihinakan oleh ketelanjangan. Dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya. Artinya: Batinmu tidak akan terkena panas dahaga dan zhahirmu tidak akan terkena panas matahari. Oleh karena itu, Allah menggabungkan antara yang satu dengan yang ini, dan antara yang ini dengan yang ini karena ada pertentangan di antara keduanya.

Ketika Adam memakan pohon yang dilarang, ia diturunkan ke bumi yang penuh kesengsaraan, keletihan, kesulitan, kekeruhan, usaha keras, penderitaan, cobaan, ujian, dan pengujian, serta perbedaan penduduk dalam agama, akhlak, amal perbuatan, tujuan, kehendak, perkataan, dan perbuatan, sebagaimana firman Allah Ta’ala: Dan bagimu di bumi itu tempat kediaman dan kesenangan sampai waktu yang telah ditentukan (QS. Al-Baqarah: 36). Tidak harus dari ini bahwa mereka berada di langit, sebagaimana firman Allah Ta’ala: Dan Kami firmankan sesudah itu kepada Bani Israil: “Diamlah di bumi (Palestina); maka apabila datang waktu janji akhirat, Kami datangkan kamu sekelompok demi sekelompok (untuk dihisab)” (QS. Al-Isra’: 104). Diketahui bahwa mereka berada di bumi, tidak berada di langit.

Mereka berkata: Pendapat ini bukan merupakan cabang dari pendapat orang yang mengingkari adanya surga dan neraka sekarang, dan tidak ada keterkaitan antara keduanya. Setiap orang yang diriwayatkan darinya pendapat ini dari kalangan salaf dan kebanyakan khalaf adalah orang yang menetapkan adanya surga dan neraka sekarang, sebagaimana ditunjukkan oleh ayat-ayat dan hadits-hadits shahih, sebagaimana akan disebutkan nanti pada tempatnya. Wallahu Subhanahu wa Ta’ala a’lam bish-shawab.

Firman Allah Ta’ala: Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu (QS. Al-Baqarah: 36), artinya: dari surga. Lalu Kami keluarkan keduanya dari keadaan sebelumnya (keadaan yang senang). Artinya: dari kenikmatan, kesegaran, dan kegembiraan menuju bumi yang penuh keletihan, kesulitan, dan penderitaan. Hal itu karena bisikan yang dilakukan Iblis dan ia menghiasi hal itu di dalam dada keduanya, sebagaimana firman Allah Ta’ala: Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya, dan setan berkata: “Tuhan kamu tidak melarang kamu berdua dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal” (QS. Al-A’raf: 20). Artinya: Tuhan kamu tidak melarang kamu berdua dari memakan pohon ini kecuali agar kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal. Artinya: Seandainya kamu berdua memakan darinya, kamu berdua akan menjadi seperti itu. Dan dia (Iblis) bersumpah kepada keduanya, artinya: ia bersumpah kepada keduanya atas hal itu: “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua” (QS. Al-A’raf: 21).

Sebagaimana dalam ayat lain: Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?” (QS. Thaha: 120). Artinya: Maukah saya tunjukkan kepadamu pohon yang jika kamu makan darinya, kamu akan kekal dalam kenikmatan yang sedang kamu rasakan, dan kamu akan terus berada dalam kerajaan yang tidak akan musnah dan tidak akan berakhir? Ini adalah penipuan, pemalsuan, dan pemberitaan yang berlawanan dengan kenyataan. Intinya adalah bahwa perkataan: pohon khuldi, yaitu jika memakan darinya akan kekal.

Mungkin pohon itu adalah pohon yang disebutkan Imam Ahmad: Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Abu Adh-Dhuha, aku mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya di surga ada pohon yang penunggang kuda berjalan di bawah naungannya selama seratus tahun tidak putus; (yaitu) pohon khuldi.” Demikian juga diriwayatkan dari Ghundar dan Hajjaj, dari Syu’bah. Diriwayatkan Abu Dawud Ath-Thayalisi dalam Musnadnya dari Syu’bah juga dengannya.

Ghundar berkata: Aku bertanya kepada Syu’bah: Apakah itu pohon khuldi? Ia menjawab: Tidak ada dalam hadits kata “yaitu”. Hanya Imam Ahmad yang menyendiri meriwayatkannya.

Firman Allah: Maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga (QS. Al-A’raf: 22). Sebagaimana dalam surat Thaha: Maka keduanya memakannya, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga. Hawa memakan dari pohon itu sebelum Adam, dan dialah yang mendorong Adam untuk memakannya. Wallahu a’lam.

Berdasarkan hal ini ditafsirkan hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari: Bisyr bin Muhammad menceritakan kepada kami, Abdullah memberitakan kepada kami, Ma’mar memberitakan kepada kami, dari Hammam bin Munabbih, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Seandainya bukan karena Bani Israil, daging tidak akan berbau busuk. Dan seandainya bukan karena Hawa, tidak ada perempuan yang berkhianat kepada suaminya.” Hadits ini hanya diriwayatkan dari jalur ini. Diriwayatkan dalam Shahihain dari hadits Abdurrazzaq, dari Ma’mar, dari Hammam, dari Abu Hurairah dengannya. Diriwayatkan Ahmad dan Muslim dari Harun bin Ma’ruf, dari Abu Wahb, dari Amr bin Harits, dari Abu Yunus, dari Abu Hurairah.

Dalam kitab Taurat yang ada di tangan Ahli Kitab disebutkan bahwa yang menunjukkan Hawa untuk memakan dari pohon itu adalah ular, yang merupakan makhluk dengan bentuk paling cantik dan paling besar. Hawa lalu makan karena perkataan ular, dan memberi makan Adam ‘alaihissalam. Tidak disebutkan di dalamnya tentang Iblis. Disebutkan ketika itu mata keduanya terbuka, dan keduanya mengetahui bahwa mereka telanjang. Keduanya lalu menyambung daun-daun pohon tin dan membuat pakaian. Di dalamnya disebutkan bahwa keduanya telanjang. Demikian pula Wahb bin Munabbih berkata: Pakaian keduanya adalah cahaya di atas kemaluan Adam dan kemaluan Hawa.

Apa yang ada dalam Taurat yang ada di tangan mereka ini adalah kesalahan dari mereka, penyelewengan, dan kesalahan dalam penterjemahan. Menerjemahkan perkataan dari satu bahasa ke bahasa lain hampir tidak bisa dilakukan oleh setiap orang, apalagi oleh orang yang tidak menguasai bahasa Arab dengan baik dan tidak memahami secara menyeluruh kitab mereka juga. Oleh karena itu, dalam terjemahan mereka terdapat banyak kesalahan dalam lafaz dan makna. Al-Quran yang agung telah menunjukkan bahwa pada keduanya ada pakaian dalam firman-Nya: Dia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya aurat mereka. Ini tidak dapat ditolak oleh perkataan lain. Wallahu Ta’ala a’lam.

Ibn Abi Hatim berkata: telah menceritakan kepada kami Ali bin Al-Hasan bin Isykab, telah menceritakan kepada kami Ali bin Ashim, dari Sa’id bin Abi Arubah, dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari Ubay bin Ka’b, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam sebagai lelaki yang tinggi besar, banyak rambut di kepalanya, seakan-akan ia pohon kurma yang menjulang tinggi. Ketika ia merasakan pohon itu, pakaiannya terlepas. Maka yang pertama kali terlihat darinya adalah auratnya. Ketika ia melihat auratnya, ia berlari kencang di dalam surga, lalu rambutnya tersangkut oleh pohon dan ia menarik-nariknya. Maka Allah Yang Maha Pengasih ‘azza wajalla memanggilnya: Wahai Adam, apakah engkau lari dari-Ku? Ketika ia mendengar panggilan Yang Maha Pengasih, ia berkata: Wahai Tuhan, tidak, tetapi karena malu.”

Ats-Tsauri berkata, dari Ibnu Abi Laila, dari Al-Minhal bin ‘Amr, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas mengenai ayat: “Dan keduanya mulai menutupi tubuhnya dengan daun-daun surga.” (Al-A’raf: 22) Ia berkata: Daun pohon tin. Ini sanad yang shahih kepadanya, dan seolah-olah itu diambil dari Ahli Kitab. Zahir ayat menunjukkan yang lebih umum dari itu, dan dengan anggapan itu diserahkan, maka tidak berbahaya, dan Allah Ta’ala lebih mengetahui.

Al-Hafizh Ibnu Asakir meriwayatkan dari jalur Muhammad bin Ishaq, dari Al-Hasan bin Dzakwan, dari Al-Hasan Al-Bashri, dari Ubay bin Ka’b, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya bapakmu Adam adalah seperti pohon kurma yang menjulang tinggi, enam puluh hasta, banyak rambutnya, tertutup auratnya. Ketika ia melakukan kesalahan di surga, tampaklah auratnya. Maka ia keluar dari surga, lalu sebuah pohon menjumpainya dan memegang ubun-ubunnya. Lalu Tuhannya memanggilnya: Apakah engkau lari dari-Ku wahai Adam? Ia berkata: Tidak, demi Allah wahai Tuhan, tetapi karena malu dari-Mu atas apa yang telah aku lakukan.” Kemudian ia meriwayatkannya dari jalur Sa’id bin Abi Arubah, dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari ‘Atiy bin Dhamrah, dari Ubay bin Ka’b, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan serupa. Dan ini lebih shahih, karena Al-Hasan tidak bertemu dengan Ubay. Kemudian ia juga mengutipnya dari jalur Khaitsamah bin Sulaiman Ath-Tharablusiy, dari Muhammad bin Abdul Wahhab Abu Qurshafah Al-Asqalaniy, dari Adam bin Abi Iyas, dari Syaiban, dari Qatadah, dari Anas secara marfu’ dengan serupa.

“Dan Tuhan mereka berseru kepada keduanya: Bukankah Aku telah melarang kamu dari pohon itu dan Aku katakan kepadamu bahwa sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua? Keduanya berkata: Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Al-A’raf: 22-23). Dan ini adalah pengakuan, dan kembali kepada pertaubatan, serta kerendahan dan ketundukan, dan kepasrahan serta kebutuhan kepada-Nya Ta’ala pada saat itu juga. Dan rahasia ini tidak mengalir dalam diri seseorang dari keturunannya melainkan akibatnya akan menjadi baik dalam dunia dan akhiratnya.

“Allah berfirman: Turunlah kamu, sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat tinggal di bumi dan kesenangan sampai waktu yang ditentukan.” (Al-A’raf: 24). Dan ini adalah khitab kepada Adam, Hawa, dan Iblis. Dikatakan: dan ular bersama mereka. Mereka diperintahkan untuk turun dari surga dalam keadaan bermusuhan dan berperang, dan dapat dijadikan dalil untuk menyebutkan ular bersama mereka dengan apa yang tetap dalam hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau memerintahkan untuk membunuh ular. Dan beliau bersabda: “Kami tidak berdamai dengan mereka sejak kami berperang dengan mereka.”

Firman-Nya dalam surat Thaha: “Allah berfirman: Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain.” (Thaha: 123). Ini adalah perintah kepada Adam dan Iblis serta apa yang dilahirkan dari keduanya, permusuhan yang terus menerus, dan Adam menyertakan Hawa, dan Iblis menyertakan ular. Dan dikatakan: ini adalah perintah kepada mereka dengan bentuk dual. Sebagaimana dalam firman-Nya Ta’ala: “Dan Daud dan Sulaiman ketika keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman ketika kambing kaum masuk ke dalamnya, dan Kami menyaksikan keputusan mereka.” (Al-Anbiya: 78). Dan yang benar bahwa ini karena hakim tidak memutuskan kecuali antara dua orang, penggugat dan tergugat. Ia berfirman: “Dan Kami menyaksikan keputusan mereka.” Adapun pengulangan perintah turun dalam surat Al-Baqarah dalam firman-Nya: “Dan Kami berfirman: Turunlah kamu, sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat tinggal di bumi dan kesenangan sampai waktu yang ditentukan. Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Kami berfirman: Turunlah kamu semua dari surga, kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 36-39). Sebagian mufassir berkata: Yang dimaksud dengan turun yang pertama adalah turun dari surga ke langit dunia, dan yang kedua dari langit dunia ke bumi. Dan ini lemah karena firman-Nya dalam yang pertama: “Dan Kami berfirman: Turunlah kamu, sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat tinggal di bumi dan kesenangan sampai waktu yang ditentukan.” Maka ini menunjukkan bahwa mereka diturunkan ke bumi dengan turun yang pertama, wallahu a’lam.

Yang benar bahwa Allah mengulanginya secara lafazh, meskipun ia satu, dan mengaitkan pada setiap kali suatu hukum; maka dikaitkan dengan yang pertama: permusuhan mereka antara satu sama lain, dan dengan yang kedua: syarat kepada mereka bahwa barangsiapa mengikuti petunjuk-Nya yang akan diturunkan-Nya kepada mereka setelah itu maka ia orang yang beruntung, dan barangsiapa menyelisihinya maka ia orang yang celaka, dan gaya ini dalam perkataan memiliki contoh-contoh serupa dalam Al-Quran Al-Hakim.

Al-Hafizh Ibnu Asakir meriwayatkan dari Mujahid, ia berkata: Allah memerintahkan dua malaikat untuk mengeluarkan Adam dan Hawa dari sisi-Nya. Maka Jibril melepas mahkota dari kepalanya, dan Mikail melepas mahkota dari dahinya, dan sebuah dahan tersangkut padanya, maka Adam mengira bahwa ia segera mendapat hukuman, lalu ia menundukkan kepalanya seraya berkata: Maaf, maaf. Maka Allah Subhanahu berfirman: Apakah engkau lari dari-Ku wahai Adam? Ia berkata: Tidak, tetapi karena malu dari-Mu wahai Tuanku. Al-Auza’i berkata, dari Hassan yaitu Ibnu ‘Athiyyah: Adam tinggal di surga seratus tahun, dan dalam riwayat enam puluh tahun, dan menangisi surga tujuh puluh tahun, dan atas kesalahannya tujuh puluh tahun, dan atas anaknya ketika terbunuh empat puluh tahun. Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir.

Ibnu Abi Hatim berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah, telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari ‘Atha’, dari Sa’id, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Adam ‘alaihis salam diturunkan ke tanah yang disebut Dahnaa antara Mekah dan Thaif. Dan dari Al-Hasan ia berkata: Adam diturunkan di Hindia, dan Hawa di Jeddah, dan Iblis di Dastumisan dari Bashrah sejauh beberapa mil, dan ular diturunkan di Ashbahan. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim juga. As-Suddi berkata: Adam turun di Hindia, dan turun bersamanya Hajar Aswad dan segenggam daun surga, lalu ia menyebarkannya di Hindia maka tumbuhlah pohon-pohon wangi di sana. Dan dari Ibnu Umar ia berkata: Adam diturunkan di Shafa, dan Hawa di Marwah. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim juga.

Abdur Razzaq berkata: Ma’mar berkata: telah memberitakan kepadaku ‘Auf, dari Qasamah bin Zuhair, dari Abu Musa Al-Asy’ari, ia berkata: Sesungguhnya Allah ketika menurunkan Adam dari surga ke bumi mengajarinya pembuatan segala sesuatu, dan membekalinya dari buah-buahan surga. Maka buah-buahan kalian ini dari buah-buahan surga, hanya saja yang ini berubah, dan yang itu tidak berubah. Al-Hakim berkata dalam Mustadrak-nya: telah memberitakan kepada kami Abu Bakar bin Balawaih, dari Muhammad bin Ahmad bin An-Nadhr, dari Mu’awiyah bin ‘Amr, dari Za’idah, dari ‘Ammar bin Abi Mu’awiyah Al-Bajaliy, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Adam tidak ditinggalkan di surga kecuali antara shalat Ashar hingga terbenamnya matahari. Kemudian ia berkata: Shahih menurut syarat Syaikhain, dan keduanya tidak mengeluarkannya.

Dalam Shahih Muslim dari hadits Az-Zuhri, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hari terbaik ketika matahari terbit adalah hari Jumat; pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu ia dimasukkan ke surga, pada hari itu ia dikeluarkan darinya.” Dan dalam Shahih dari jalur lain: “Dan pada hari itu hari Kiamat terjadi.” Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mush’ab, telah menceritakan kepada kami Al-Auza’i, dari Abu ‘Ammar, dari Abdullah bin Farrukh, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Hari terbaik ketika matahari terbit adalah hari Jumat; pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu ia dimasukkan ke surga, pada hari itu ia dikeluarkan darinya, dan pada hari itu hari Kiamat terjadi.” Dan sanadnya sesuai syarat Muslim.

Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari jalur Abu Al-Qasim Al-Baghawi, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Al-Warkaniy, telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Maisarah, dari Anas, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Adam dan Hawa turun dalam keadaan telanjang bersama-sama, pada mereka berdua ada daun surga. Maka panas menyentuhnya hingga ia duduk menangis, dan berkata kepadanya: Wahai Hawa, panas telah menyakitiku.” Ia berkata: “Maka Jibril datang kepadanya dengan kapas, dan memerintahkannya untuk memintal, dan mengajarinya, dan memerintahkan Adam dengan tenunan, dan mengajarinya untuk menenun. Dan ia berkata: Adam tidak pernah mencampuri istrinya di surga hingga turun darinya karena kesalahan yang menimpa keduanya dengan memakan dari pohon.” Ia berkata: “Dan dahulu masing-masing dari keduanya tidur sendiri-sendiri, salah satu dari mereka tidur di tanah lapang, dan yang lain di sisi lain hingga Jibril datang kepadanya dan memerintahkannya untuk mendatangi istrinya.” Ia berkata: “Dan ia mengajarinya bagaimana mendatanginya. Ketika ia mendatanginya, Jibril datang kepadanya lalu berkata: Bagaimana engkau dapati istrimu? Ia berkata: Baik.” Maka ini hadits gharib, dan rafa’nya sangat munkar, dan mungkin ini dari perkataan sebagian salaf. Dan Sa’id bin Maisarah ini adalah Abu ‘Imran Al-Bakri Al-Bashri. Al-Bukhari berkata tentangnya: Munkar haditsnya. Dan Ibnu Hibban berkata: Ia meriwayatkan hadits-hadits palsu. Dan Ibnu ‘Adiy berkata: Gelap urusannya.

Firman-Nya: “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 37). Dikatakan: Itu adalah ucapannya: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Al-A’raf: 23). Ini diriwayatkan dari Mujahid, Sa’id bin Jubair, Abu Al-‘Aliyah, Ar-Rabi’ bin Anas, Al-Hasan, Qatadah, Muhammad bin Ka’b, Khalid bin Mi’dan, ‘Atha’ Al-Khurasaniy, dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam. Ibnu Abi Hatim berkata: telah menceritakan kepada kami Ali bin Al-Husain bin Isykab, telah menceritakan kepada kami Ali bin ‘Ashim, dari Sa’id bin Abi Arubah, dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari Ubay bin Ka’b, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Adam ‘alaihis salam berkata: Bagaimana menurutmu wahai Tuhanku jika aku bertaubat dan kembali, apakah Engkau akan mengembalikanku ke surga? Allah berfirman: Ya. Maka itulah firman-Nya: Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya.” Dan ini gharib dari jalur ini, dan di dalamnya ada keterputusan.

Ibnu Abi Najih berkata: dari Mujahid ia berkata: Kalimat-kalimat itu: Ya Allah tidak ada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau dan segala puji bagi-Mu, wahai Tuhanku sesungguhnya aku telah menganiaya diriku maka ampunilah aku sesungguhnya Engkau sebaik-baik pemberi ampun; Ya Allah tidak ada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau dan segala puji bagi-Mu, wahai Tuhanku sesungguhnya aku telah menganiaya diriku maka ampunilah aku sesungguhnya Engkau sebaik-baik pemberi rahmat; Ya Allah tidak ada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau dan segala puji bagi-Mu, wahai Tuhanku sesungguhnya aku telah menganiaya diriku maka terimalah taubatku sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Al-Hakim meriwayatkan dalam Mustadrak-nya dari jalur Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas mengenai firman-Nya: “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya.” Ia berkata: Adam berkata: Wahai Tuhanku, bukankah Engkau menciptakanku dengan tangan-Mu? Dikatakan kepadanya: Ya. Dan meniupkan padaku dari roh-Mu? Dikatakan kepadanya: Ya. Dan aku bersin, lalu Engkau berkata: Semoga Allah merahmatimu, dan rahmat-Mu mendahului kemurkaan-Mu? Dikatakan kepadanya: Ya. Dan Engkau telah menulis atasku bahwa aku akan melakukan ini? Dikatakan kepadanya: Ya. Ia berkata: Bagaimana menurutmu jika aku bertaubat, apakah Engkau akan mengembalikanku ke surga? Allah berfirman: Ya. Kemudian Al-Hakim berkata: Shahih sanadnya, dan keduanya tidak mengeluarkannya.

Al-Hakim juga meriwayatkan, dan Al-Baihaqi, dan Ibnu Asakir dari jalur Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Umar bin Al-Khaththab, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika Adam melakukan kesalahan, ia berkata: Wahai Tuhanku, aku memohon kepada-Mu dengan hak Muhammad, kecuali Engkau ampuni aku. Maka Allah berfirman: Bagaimana engkau mengetahui Muhammad sedangkan Aku belum menciptakannya? Ia berkata: Wahai Tuhanku, karena ketika Engkau menciptakanku dengan tangan-Mu, dan meniupkan padaku dari roh-Mu, aku mengangkat kepalaku maka aku melihat pada tiang-tiang Arasy tertulis: Tidak ada tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah. Maka aku mengetahui bahwa Engkau tidak menambahkan pada nama-Mu kecuali makhluk yang paling Engkau cintai. Maka Allah berfirman: Engkau benar wahai Adam, sesungguhnya ia adalah makhluk yang paling Aku cintai, dan karena engkau memohon kepada-Ku dengan haknya maka sungguh Aku telah mengampunimu, dan seandainya bukan karena Muhammad niscaya Aku tidak menciptakanmu.” Al-Baihaqi berkata: Abdurrahman bin Zaid bin Aslam menyendiri dengan ini dari jalur ini, dan ia lemah, wallahu a’lam. Dan ayat ini seperti firman-Nya Ta’ala: “Dan Adam mendurhakai Tuhannya, maka ia sesat. Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.” (Thaha: 21-22).

Perdebatan Adam dan Musa Alaihimash Shalatu Was Salam

Al-Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Ayyub bin An-Najjar, dari Yahya bin Abi Katsir, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Musa berdebat dengan Adam alaihimas salam, maka ia berkata kepadanya: Engkau adalah orang yang mengeluarkan manusia dengan dosamu dari surga dan membuatmereka celaka! Adam berkata: Wahai Musa, engkau adalah orang yang Allah pilih dengan risalah-Nya dan dengan kalam-Nya! Apakah engkau menyalahkanku atas perkara yang telah Allah tuliskan atasku sebelum Dia menciptakanku, atau takdirkan atasku sebelum Dia menciptakanku?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maka Adam mengalahkan Musa dalam berargumen.” Dan ini diriwayatkan oleh Muslim, dari ‘Amr An-Naqid, dan An-Nasa’i, dari Muhammad bin Abdullah bin Yazid, dari Ayyub bin An-Najjar dengannya. Abu Mas’ud Ad-Dimasyqi berkata: Dan keduanya tidak mengeluarkan dari dia dalam dua Shahih selain ini. Dan ini diriwayatkan oleh Ahmad, dari Abdur Razzaq, dari Ma’mar, dari Hammam, dari Abu Hurairah. Dan diriwayatkan oleh Muslim, dari Muhammad bin Rafi’, dari Abdur Razzaq dengannya.

Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Kamil, telah menceritakan kepada kami Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ibnu Syihab, dari Humaid bin Abdurrahman, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Adam berdebat dengan Musa, maka Musa berkata kepadanya: Engkau adalah Adam yang kesalahanmu mengeluarkanmu dari surga! Maka Adam berkata kepadanya: Dan engkau adalah Musa yang Allah pilih dengan risalah-Nya dan dengan kalam-Nya! Apakah engkau menyalahkanku atas perkara yang ditakdirkan atasku sebelum aku diciptakan!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maka Adam mengalahkan Musa dalam berargumen, maka Adam mengalahkan Musa dalam berargumen.” Dua kali. Saya katakan: Dan hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Az-Zuhri, dari Humaid bin Abdurrahman, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan serupa.

Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Muawiyah bin Amru, telah menceritakan kepada kami Zaidah, dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Adam dan Musa saling berargumen. Musa berkata: ‘Wahai Adam, engkau adalah orang yang Allah ciptakan dengan tangan-Nya sendiri, Dia meniupkan ruh-Nya padamu, namun engkau menyesatkan manusia dan mengeluarkan mereka dari surga!’ Adam berkata: ‘Dan engkau Musa yang Allah pilih dengan kalam-Nya! Apakah engkau mencela perbuatanku yang telah Allah tuliskan atasku sebelum Dia menciptakan langit dan bumi?’ Maka Adam mengalahkan Musa dalam berargumen.”

Dan hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Nasa’i semuanya dari Yahya bin Habib bin Arabi, dari Mu’tamir bin Sulaiman, dari ayahnya, dari Al-A’masy dengannya. Tirmidzi berkata: Ini gharib (asing) dari hadits Sulaiman At-Taimi, dari Al-A’masy. Dia berkata: sebagian mereka meriwayatkannya dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Sa’id.

Saya berkata: demikianlah Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar meriwayatkannya dalam musnadnya, dari Muhammad bin Mutsanna, dari Mu’adz bin Asad, dari Al-Fadhl bin Musa, dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah. Dia berkata: sebagian mereka meriwayatkannya dari Abu Shalih, dari Abu Sa’id. Dan Al-Bazzar juga meriwayatkannya, telah menceritakan kepada kami Amru bin Ali Al-Fallas, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah atau Abu Sa’id, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Kemudian dia menyebutkan yang serupa dengannya.

Dan Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Amru, dia mendengar Thawus, dia mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Adam dan Musa berargumen, Musa berkata: ‘Wahai Adam, engkau adalah ayah kami, engkau mengecewakan kami dan mengeluarkan kami dari surga.’ Adam berkata kepadanya: ‘Wahai Musa, engkau adalah orang yang Allah pilih dengan kalam-Nya!'” Dan pada suatu kali dia berkata: dengan risalah-Nya, dan menulis untukmu dengan tangan-Nya sendiri! Apakah engkau mencelaku atas urusan yang Allah takdirkan untukku sebelum Dia menciptakanku empat puluh tahun?’ Beliau bersabda: “Adam mengalahkan Musa dalam berargumen, Adam mengalahkan Musa dalam berargumen, Adam mengalahkan Musa dalam berargumen.”

Dan demikianlah Bukhari meriwayatkannya, dari Ali bin Al-Madini, telah menceritakan kepada kami dari Sufyan, dia berkata: kami mendengar dari Amru, dari Thawus, dia berkata: saya mendengar Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Adam dan Musa berargumen, Musa berkata: ‘Wahai Adam, engkau adalah ayah kami, engkau mengecewakan kami dan mengeluarkan kami dari surga.’ Adam berkata kepadanya: ‘Wahai Musa, Allah memilihmu dengan kalam-Nya dan menulis untukmu dengan tangan-Nya sendiri! Apakah engkau mencelaku atas urusan yang Allah takdirkan untukku sebelum Dia menciptakanku empat puluh tahun!’ Maka Adam mengalahkan Musa dalam berargumen, maka Adam mengalahkan Musa dalam berargumen.” Demikian tiga kali.

Sufyan berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Az-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam yang serupa dengannya. Dan hadits ini diriwayatkan oleh semua perawi kecuali Ibnu Majah dari sepuluh jalur, dari Sufyan bin Uyainah, dari Amru bin Dinar, dari Abdullah bin Thawus, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan yang serupa dengannya.

Dan Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Abdurrahman, telah menceritakan kepada kami Hammad, dari Ammar, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Adam bertemu Musa, maka dia berkata: ‘Engkau adalah Adam yang Allah ciptakan dengan tangan-Nya, malaikat-malaikat-Nya bersujud untukmu, dan Dia menempatkanmu di surga, lalu engkau berbuat demikian!’ Dia berkata: ‘Engkau adalah Musa yang Allah ajak bicara, memilihmu dengan risalah-Nya, dan menurunkan Taurat kepadamu! Apakah aku lebih dahulu atau Az-Dzikr (catatan)?’ Dia berkata: ‘Tidak, bahkan Az-Dzikr.’ Maka Adam mengalahkan Musa dalam berargumen.” Ahmad berkata: dan telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad, dari Ammar bin Abi Ammar, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan Humaid, dari Al-Hasan, dari seorang lelaki. Hammad berkata: saya mengira dia adalah Jundab bin Abdullah Al-Bajali, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Adam bertemu Musa.” Kemudian dia menyebutkan maknanya. Ahmad menyendiri meriwayatkannya dari jalur ini.

Dan Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Husain, telah menceritakan kepada kami Jarir yaitu Ibnu Hazim, dari Muhammad yaitu Ibnu Sirin, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Adam bertemu Musa, maka dia berkata: ‘Engkau adalah Adam yang Allah ciptakan dengan tangan-Nya, menempatkanmu di surga-Nya, dan malaikat-malaikat-Nya bersujud untukmu, lalu engkau berbuat apa yang engkau perbuat!’ Adam berkata: ‘Wahai Musa, engkau adalah orang yang Allah ajak bicara dan menurunkan Taurat kepadanya?’ Dia berkata: ‘Ya.’ Dia berkata: ‘Apakah engkau mendapatinya tertulis untukku sebelum aku diciptakan?’ Dia berkata: ‘Ya.’ Beliau bersabda: ‘Maka Adam mengalahkan Musa dalam berargumen, maka Adam mengalahkan Musa dalam berargumen.'” Dan demikianlah Hammad bin Zaid meriwayatkannya, dari Ayyub, dan Hisyam, dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah secara marfu’.

Dan demikianlah Ali bin Ashim meriwayatkannya, dari Khalid, dan Hisyam, dari Muhammad bin Sirin, dan ini sesuai syarat keduanya dari jalur-jalur ini.

Dan Ibnu Abi Hatim berkata: telah menceritakan kepada kami Yunus bin Abdul A’la, telah memberitakan kepada kami Ibnu Wahb, telah mengabarkan kepadaku Anas bin Iyadh, dari Al-Harits bin Abi Dzubab, dari Yazid bin Hurmuz, saya mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Adam dan Musa berargumen di hadapan Tuhan mereka, maka Adam mengalahkan Musa dalam berargumen. Musa berkata: ‘Engkau adalah orang yang Allah ciptakan dengan tangan-Nya, meniupkan ruh-Nya padamu, malaikat-malaikat-Nya bersujud untukmu, dan menempatkanmu di surga-Nya, kemudian engkau menurunkan manusia ke bumi karena kesalahanmu!’ Adam berkata: ‘Engkau adalah Musa yang Allah pilih dengan risalah dan kalam-Nya, memberikan kepadamu Al-Alwah (lembaran-lembaran) yang di dalamnya penjelasan segala sesuatu, dan mendekatkanmu secara najwa (berbisik). Berapa (tahun) engkau mendapati Allah menulis Taurat?’ Musa berkata: ‘Empat puluh tahun.’ Adam berkata: ‘Apakah engkau mendapati di dalamnya: Dan Adam mendurhakai Tuhannya, lalu ia sesat (QS. Thaha: 121)?’ Dia berkata: ‘Ya.’ Dia berkata: ‘Apakah engkau mencelaku karena aku melakukan perbuatan yang Allah tuliskan atasku bahwa aku akan melakukannya sebelum Dia menciptakanku empat puluh tahun?'” Beliau bersabda: “Maka Adam mengalahkan Musa dalam berargumen.”

Al-Harits berkata: dan telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Hurmuz dengan itu, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dan Muslim meriwayatkannya, dari Ishaq bin Musa Al-Anshari, dari Anas bin Iyadh, dari Al-Harits bin Abdurrahman bin Abi Dzubab, dari Yazid bin Hurmuz, dan Al-A’raj, keduanya dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan yang serupa dengannya.

Dan Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, telah memberitakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Adam dan Musa berargumen, Musa berkata kepada Adam: ‘Wahai Adam, engkau adalah orang yang memasukkan keturunanmu ke dalam neraka!’ Adam berkata: ‘Wahai Musa, Allah memilihmu dengan risalah-risalah-Nya dan kalam-Nya, dan menurunkan Taurat kepadamu, apakah engkau mendapati bahwa aku diturunkan?’ Dia berkata: ‘Ya.’ Beliau bersabda: ‘Maka Adam mengalahkannya dalam berargumen.'” Dan ini sesuai syarat keduanya, namun keduanya tidak mengeluarkannya dari jalur ini. Dan dalam perkataan: “memasukkan keturunanmu ke dalam neraka” ada keanehan.

Demikianlah jalur-jalur hadits ini dari Abu Hurairah. Diriwayatkan darinya oleh Humaid bin Abdurrahman, dan Dzakwan Abu Shalih As-Samman, dan Thawus bin Kaisan, dan Abdurrahman bin Hurmuz Al-A’raj, dan Ammar bin Abi Ammar, dan Muhammad bin Sirin, dan Hammam bin Munabbih, dan Yazid bin Hurmuz, dan Abu Salamah bin Abdurrahman.

Dan Al-Hafizh Abu Ya’la Al-Maushili telah meriwayatkannya dalam musnadnya dari hadits Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu anhu, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Harits bin Miskin Al-Mishri, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb, telah mengabarkan kepadaku Hisyam bin Sa’d, dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya, dari Umar bin Al-Khaththab, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Musa alaihissalam berkata: ‘Wahai Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku Adam yang mengeluarkan kami dan dirinya sendiri dari surga.’ Maka Dia memperlihatkan kepadanya Adam alaihissalam, lalu dia berkata: ‘Engkau adalah Adam!’ Adam berkata kepadanya: ‘Ya.’ Dia berkata: ‘Engkau adalah orang yang Allah tiupkan ruh-Nya padamu, malaikat-malaikat-Nya bersujud untukmu, dan Dia mengajarkanmu semua nama! Apa yang mendorongmu untuk mengeluarkan kami dan dirimu dari surga?’ Adam berkata kepadanya: ‘Siapa engkau?’ Dia berkata: ‘Aku adalah Musa.’ Dia berkata: ‘Engkau adalah Musa nabi Bani Israil, engkau adalah orang yang Allah ajak bicara dari balik hijab sehingga Dia tidak menjadikan antara engkau dan-Nya seorang rasul dari makhluk-Nya!’ Dia berkata: ‘Ya.’ Dia berkata: ‘Apakah engkau mencelaku atas urusan yang keputusan Allah Azza wa Jalla telah mendahuluinya sebelumnya!'” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Maka Adam mengalahkan Musa dalam berargumen, maka Adam mengalahkan Musa dalam berargumen.” Dan Abu Dawud meriwayatkannya, dari Ahmad bin Shalih Al-Mishri, dari Ibnu Wahb dengannya. Abu Ya’la berkata: dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsanna, telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Ash-Shabbah Al-Musma’i, telah menceritakan kepada kami Imran, dari Ar-Rudaini bin Abi Majlaz, dari Yahya bin Ya’mar, dari Ibnu Umar, dari Umar, dia berkata: Abu Muhammad, kebanyakan dugaanku bahwa dia merafa’kannya, dia berkata: “Adam dan Musa bertemu, Musa berkata kepada Adam: ‘Engkau adalah ayah manusia, Allah menempatkanmu di surga-Nya, dan malaikat-malaikat-Nya bersujud untukmu!’ Adam berkata: ‘Wahai Musa, bukankah engkau mendapatinya tertulis untukku!’ Beliau bersabda: ‘Maka Adam mengalahkan Musa dalam berargumen, maka Adam mengalahkan Musa dalam berargumen.'” Dan sanad ini juga tidak mengapa. Wallahu a’lam.

Dan telah didahulukan riwayat Al-Fadhl bin Musa untuk hadits ini dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Sa’id. Dan riwayat Imam Ahmad untuknya dari Affan, dari Hammad bin Salamah, dari Humaid, dari Al-Hasan, dari seorang lelaki. Hammad berkata: saya mengira dia adalah Jundab bin Abdullah Al-Bajali, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Adam bertemu Musa.” Kemudian dia menyebutkan maknanya.

Dan manusia berbeda pendekatan dalam hadits ini. Segolongan dari Qadariyah menolaknya karena hadits ini mengandung penetapan takdir yang mendahului. Dan segolongan dari Jabariyah berdalil dengannya, dan hadits ini jelas bagi mereka pada pandangan pertama ketika beliau bersabda: “Maka Adam mengalahkan Musa dalam berargumen” ketika dia berdalil atasnya dengan catatan yang mendahului, dan akan datang jawaban tentang ini. Dan yang lain berkata: sesungguhnya dia mengalahkannya karena dia mencelanya atas dosa yang telah dia bertaubat darinya, dan orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa. Dan dikatakan: sesungguhnya dia mengalahkannya karena dia lebih besar darinya dan lebih dahulu. Dan dikatakan: karena dia adalah ayahnya. Dan dikatakan: karena keduanya dalam dua syariat yang berbeda. Dan dikatakan: karena keduanya di alam barzakh, dan pembebanan taklif telah terputus menurut dugaan mereka.

Dan yang benar: sesungguhnya hadits ini diriwayatkan dengan lafal-lafal yang banyak, sebagiannya diriwayatkan dengan makna dan di dalamnya ada perdebatan, dan sebagian besarnya beredar dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dan selain keduanya bahwa Musa mencelanya karena mengeluarkan dirinya dan keturunannya dari surga. Maka Adam berkata kepadanya: aku tidak mengeluarkan kalian, sesungguhnya yang mengeluarkan kalian adalah Zat yang menetapkan pengeluaran atas makanku dari pohon, dan Zat yang menetapkan itu, menakdirkannya dan menulisnya sebelum aku diciptakan adalah Allah Azza wa Jalla, maka engkau mencelaku atas urusan yang tidak memiliki perbandingan kepadaku lebih dari bahwa aku dilarang makan dari pohon lalu aku makan darinya, dan kenyataan bahwa pengeluaran menjadi konsekuensi dari itu bukanlah dari perbuatanku, maka aku tidak mengeluarkan kalian dan tidak diriku dari surga, dan sesungguhnya ini adalah takdir Allah dan perbuatan-Nya, dan bagi-Nya hikmah dalam itu, maka karena itu Adam mengalahkan Musa dalam berargumen.

Dan barangsiapa mendustakan hadits ini maka dia adalah orang yang keras kepala, karena hadits ini mutawatir dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dan cukuplah dia dalam keadilan, hafalan, dan ketepatan, kemudian dia diriwayatkan dari selain dia dari para sahabat, sebagaimana telah kami sebutkan. Dan barangsiapa yang menta’wilkannya dengan ta’wil-ta’wil yang disebutkan sebelumnya maka dia jauh dari lafal dan makna, dan tidak ada di antara mereka yang pendekatan mereka lebih kuat dari Jabariyah. Dan dalam apa yang mereka katakan ada perdebatan dari beberapa segi: Pertama, bahwa Musa alaihissalam tidak mencela atas urusan yang pelakunya telah bertaubat darinya. Kedua, bahwa dia telah membunuh jiwa yang tidak diperintahkan untuk membunuhnya, dan dia telah memohon kepada Allah dalam hal itu dengan perkataannya: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, maka ampunilah aku, maka Allah mengampuninya (QS. Al-Qashash: 16). Ketiga, bahwa jika jawaban tentang celaan atas dosa dengan takdir yang pencatatannya mendahului atas hamba akan terbuka ini bagi setiap orang yang dicela atas urusan yang telah dia lakukan, maka dia berdalil dengan takdir yang mendahului, maka akan tertutup pintu qishash dan hudud, dan jika takdir adalah hujjah, niscaya setiap orang berdalil dengannya atas urusan yang dia lakukan dalam perkara-perkara besar dan kecil, dan ini akan mengantarkan kepada konsekuensi-konsekuensi yang mengerikan. Maka karena itu sebagian ulama berkata bahwa jawaban Adam sesungguhnya adalah berdalil dengan takdir atas musibah bukan kemaksiatan. Dan Allah Ta’ala lebih mengetahui akan yang benar, dan Dia adalah yang cukup bagiku dan sebaik-baik Wakil.

Penyebutan Hadits-Hadits yang Datang tentang Penciptaan Adam alaihissalam

Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Yahya, dan Muhammad bin Ja’far, telah menceritakan kepada kami Auf, telah menceritakan kepadaku Qusamah bin Zuhair, dari Abu Musa, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari genggaman yang Dia genggam dari seluruh bumi, maka datanglah anak cucu Adam sesuai dengan bumi; datang dari mereka yang putih, yang merah, yang hitam, dan yang di antara itu, yang buruk, yang baik, yang mudah, yang keras, dan yang di antara itu.”

Dan dia juga meriwayatkannya dari Haudzah, dari Auf, dari Qusamah bin Zuhair, saya mendengar Al-Asy’ari berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari genggaman yang Dia genggam dari seluruh bumi, maka datanglah anak cucu Adam sesuai dengan bumi; datang dari mereka yang putih, yang merah, yang hitam, dan yang di antara itu, yang mudah, yang keras, dan yang di antara itu, yang buruk, yang baik, dan yang di antara itu.” Dan demikianlah Abu Dawud, dan Tirmidzi, dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya meriwayatkannya dari hadits Auf bin Abi Jumailah Al-A’rabi, dari Qusamah bin Zuhair Al-Mazini Al-Bashri, dari Abu Musa Abdullah bin Qais Al-Asy’ari, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan yang serupa dengannya. Dan Tirmidzi berkata: hasan shahih.

Dan As-Suddi telah menyebutkan, dari Abu Malik, dan Abu Shalih, dari Ibnu Abbas, dan dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud, dan dari sejumlah orang dari sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, mereka berkata: maka Allah Azza wa Jalla mengutus Jibril ke bumi agar dia membawa tanah liat darinya, maka bumi berkata: aku berlindung kepada Allah darimu bahwa engkau mengurangi dariku atau memburukanku. Maka dia kembali dan tidak mengambil. Dan dia berkata: wahai Tuhanku, sesungguhnya dia berlindung kepada-Mu maka Engkau melindunginya. Maka Dia mengutus Mikail, maka dia berlindung darinya, maka Dia melindunginya, maka dia kembali, dan dia berkata sebagaimana yang Jibril katakan. Maka Dia mengutus malaikat maut, maka dia berlindung darinya, maka dia berkata: dan aku berlindung kepada Allah bahwa aku kembali dan tidak melaksanakan perintah-Nya, maka dia mengambil dari permukaan bumi dan mencampurnya, dan tidak mengambil dari satu tempat, dan dia mengambil dari tanah putih, merah, dan hitam, maka karena itu keluar anak cucu Adam yang berbeda-beda, maka dia naik dengannya, kemudian tanah itu dibasahi hingga menjadi tanah liat yang lengket, dan lazib adalah yang lengket sebagiannya dengan sebagian yang lain, kemudian Dia berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah liat. Maka apabila Aku telah menyempurnakannya dan meniupkan kepadanya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud (QS. Shad: 71-72). Maka Allah menciptakannya dengan tangan-Nya sendiri agar Iblis tidak sombong darinya, maka Dia menciptakannya sebagai manusia, maka dia adalah jasad dari tanah liat selama empat puluh tahun dari ukuran hari Jumat, maka para malaikat melewatinya dan mereka ketakutan darinya ketika mereka melihatnya, dan yang paling ketakutan di antara mereka darinya adalah Iblis, maka dia melewatinya lalu memukulnya maka jasad itu berbunyi, sebagaimana berbunyi tembikar yang memiliki dengung, maka karena itu ketika Dia berfirman: dari tanah kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk (QS. Al-Hijr: 26), dari tanah liat kering seperti tembikar (QS. Ar-Rahman: 14). Dan dia berkata: untuk urusan apa dia diciptakan, dan dia masuk dari mulutnya dan keluar dari duburnya. Dan dia berkata kepada para malaikat: jangan takut dari ini karena sesungguhnya Tuhan kalian adalah Ash-Shamad (Yang Maha Kekal), dan ini berongga, jika aku diberi kuasa atasnya niscaya aku akan membinasakan dia. Maka ketika tiba waktu yang Allah Azza wa Jalla kehendaki untuk meniupkan ruh kepadanya, Dia berfirman kepada para malaikat: apabila Aku meniupkan kepadanya dari ruh-Ku maka bersujudlah kepadanya, maka ketika Dia meniupkan kepadanya ruh maka ruh masuk ke kepalanya, dia bersin, maka para malaikat berkata: ucapkan Alhamdulillah. Maka dia berkata: Alhamdulillah. Maka Allah berfirman kepadanya: semoga Tuhanmu merahmatimu. Maka ketika ruh masuk ke kedua matanya, dia melihat kepada buah-buahan surga, maka ketika ruh masuk ke perutnya, dia menginginkan makanan, maka dia bangkit sebelum ruh sampai ke kedua kakinya dengan tergesa-gesa menuju buah-buahan surga, dan itu adalah ketika Allah Ta’ala berfirman: Manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa (QS. Al-Anbiya: 37). Maka para malaikat bersujud semuanya tanpa terkecuali kecuali Iblis, dia enggan termasuk orang-orang yang bersujud (QS. Al-Hijr: 30-31).

Dan ia menyebutkan lengkap kisah itu.

Sebagian dari riwayat ini memiliki penguat dari hadits-hadits, meskipun banyak di antaranya diambil dari kisah-kisah Israiliyat. Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdus Shamad, telah menceritakan kepada kami Hammad, dari Tsabit, dari Anas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Ketika Allah menciptakan Adam, Dia membiarkannya selama yang Dia kehendaki. Iblis mulai mengelilinginya. Ketika dia melihatnya berongga, dia mengetahui bahwa makhluk itu diciptakan tidak dapat menahan diri.

Dan Ibnu Hibban berkata dalam Shahihnya: Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Sufyan, telah menceritakan kepada kami Hudbah bin Khalid, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Tsabit, dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Ketika ruh ditiupkan ke dalam Adam dan sampai ke kepalanya, dia bersin lalu berkata: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin (segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam). Maka Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman kepadanya: Yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu).

Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Muhammad bin As-Sakan, telah menceritakan kepada kami Hibban bin Hilal, telah menceritakan kepada kami Mubarak bin Fadhalah, dari Ubaidullah, dari Habib, dari Hafsh yaitu Ibnu Ashim bin Ubaidillah bin Umar bin Al-Khaththab, dari Abu Hurairah secara marfu’ dia berkata: Ketika Allah menciptakan Adam, dia bersin lalu berkata: Alhamdulillah. Maka Tuhannya berfirman kepadanya: Rahimaka rabbuka ya Adam (semoga Tuhanmu merahmatimu wahai Adam). Sanad ini tidak mengapa. Dan mereka tidak mengeluarkannya.

Umar bin Abdul Aziz berkata: Ketika para malaikat diperintahkan untuk sujud, yang pertama sujud di antara mereka adalah Israfil, maka Allah membalasnya dengan menuliskan Al-Quran di dahinya. Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir.

Al-Hafizh Abu Ya’la berkata: Telah menceritakan kepada kami Uqbah bin Mukrim, telah menceritakan kepada kami Amru bin Muhammad, dari Ismail bin Rafi’, dari Al-Maqburi, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian menjadikannya tanah liat, lalu membiarkannya sampai menjadi lumpur hitam yang berbau. Allah menciptakan dan membentuknya, kemudian membiarkannya sampai menjadi tanah kering seperti tembikar. Iblis melewatinya dan berkata: Sungguh engkau diciptakan untuk urusan yang besar. Kemudian Allah meniupkan ruh-Nya ke dalamnya. Yang pertama kali dialiri ruh adalah penglihatannya dan lubang hidungnya, lalu dia bersin. Allah memberikan rahmat Tuhannya kepadanya, maka Allah berfirman: Yarhamuka rabbuka (semoga Tuhanmu merahmatimu). Kemudian Allah berfirman: Wahai Adam, pergilah kepada kelompok malaikat itu dan ucapkanlah salam kepada mereka, lalu perhatikan apa yang mereka katakan. Maka dia datang dan mengucapkan salam kepada mereka, mereka menjawab: Wa’alaikassalam wa rahmatullahi wa barakatuh (dan semoga kesejahteraan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya untukmu). Allah berfirman: Wahai Adam, ini adalah salammu dan salam keturunanmu. Dia bertanya: Wahai Tuhanku, siapakah keturunanku? Allah berfirman: Pilihlah tangan-Ku wahai Adam. Dia berkata: Aku memilih tangan kanan Tuhanku, dan kedua tangan Tuhanku adalah tangan kanan. Allah membentangkan telapak tangan-Nya, maka di dalamnya ada setiap orang yang akan ada dari keturunannya di telapak tangan Ar-Rahman. Di antara mereka ada laki-laki yang mulutnya bercahaya, dan ada seorang laki-laki yang cahayanya mengagumkan Adam. Dia bertanya: Wahai Tuhanku, siapakah ini? Allah berfirman: Ini adalah anakmu Daud. Dia bertanya: Wahai Tuhanku, berapa umur yang Engkau tetapkan untuknya? Allah berfirman: Aku menetapkan untuknya enam puluh tahun. Dia berkata: Wahai Tuhanku, tambahkan untuknya dari umurku sehingga umurnya menjadi seratus tahun. Maka Allah melakukan itu dan menyaksikan hal tersebut. Ketika umur Adam habis, Allah mengutus malaikat maut. Adam berkata: Bukankah masih tersisa dari umurku empat puluh tahun? Malaikat itu berkata kepadanya: Bukankah engkau telah memberikannya kepada anakmu Daud? Maka Adam mengingkarinya dan keturunannya juga mengingkari, dia lupa maka keturunannya juga lupa.

Ini telah diriwayatkan oleh Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i dalam Al-Yaum wa Al-Lailah dari hadits Shafwan bin Isa, dari Al-Harits bin Abdurrahman bin Abi Dzubab, dari Sa’id Al-Maqburi, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

At-Tirmidzi berkata: Hadits hasan gharib dari jalur ini. An-Nasa’i berkata: Ini adalah hadits munkar. Muhammad bin Ajlan telah meriwayatkannya dari Sa’id Al-Maqburi, dari ayahnya, dari Abdullah bin Salam sebagai perkataannya.

Abu Hatim dan Ibnu Hibban meriwayatkannya dalam Shahihnya, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar, telah menceritakan kepada kami Shafwan bin Isa, telah menceritakan kepada kami Al-Harits bin Abdurrahman bin Abi Dzubab, dari Sa’id Al-Maqburi, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Ketika Allah menciptakan Adam dan meniupkan ruh ke dalamnya, dia bersin lalu berkata: Alhamdulillah. Dia memuji Allah dengan seizin Allah. Tuhannya berfirman kepadanya: Yarhamuka rabbuka ya Adam (semoga Tuhanmu merahmatimu wahai Adam), pergilah kepada para malaikat itu, kepada sekelompok dari mereka yang sedang duduk, lalu ucapkan salam kepada mereka. Dia berkata: Assalamu’alaikum. Mereka menjawab: Wa’alaikassalam wa rahmatullah. Kemudian dia kembali kepada Tuhannya, Allah berfirman: Ini adalah salammu dan salam anak-anakmu di antara mereka. Allah berfirman dengan kedua tangan-Nya tergenggam: Pilihlah salah satunya yang engkau kehendaki. Dia berkata: Aku memilih tangan kanan Tuhanku, dan kedua tangan Tuhanku adalah tangan kanan yang diberkahi. Kemudian Allah membentangkan keduanya, maka di dalamnya ada Adam dan keturunannya. Dia bertanya: Wahai Tuhanku, siapakah mereka ini? Allah berfirman: Mereka ini keturunanmu. Dan setiap orang di antara mereka tertulis umurnya di antara kedua matanya. Di antara mereka ada seorang laki-laki yang paling bercahaya atau termasuk yang paling bercahaya, namun tidak tertulis untuknya kecuali empat puluh tahun. Dia bertanya: Wahai Tuhanku, siapakah ini? Allah berfirman: Ini adalah anakmu Daud. Allah telah menetapkan umurnya empat puluh tahun. Dia berkata: Wahai Tuhanku, tambahkan umurnya. Allah berfirman: Itulah yang telah ditetapkan untuknya. Dia berkata: Maka sesungguhnya aku telah memberikan untuknya dari umurku enam puluh tahun. Allah berfirman: Engkau dan itu, tinggallah di surga. Maka dia tinggal di surga selama yang Allah kehendaki, kemudian turun darinya. Adam menghitung untuk dirinya sendiri. Lalu malaikat maut datang kepadanya. Adam berkata kepadanya: Engkau terlalu cepat, telah ditetapkan untukku seribu tahun. Malaikat itu berkata: Benar, tetapi engkau telah memberikan kepada anakmu Daud enam puluh tahun darinya. Maka Adam mengingkarinya, keturunannya juga mengingkari, dia lupa maka keturunannya juga lupa. Pada hari itulah diperintahkan tentang tulisan dan saksi. Ini adalah lafadznya.

At-Tirmidzi berkata: Telah menceritakan kepada kami Abd bin Humaid, telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim, telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Sa’d, dari Zaid bin Aslam, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Ketika Allah menciptakan Adam, Dia mengusap punggungnya, maka jatuh dari punggungnya setiap jiwa yang akan Dia ciptakan dari keturunannya hingga hari kiamat. Dia menjadikan di antara kedua mata setiap orang dari mereka cahaya putih yang bersinar, kemudian menampakkan mereka kepada Adam. Dia bertanya: Wahai Tuhanku, siapakah mereka ini? Allah berfirman: Mereka ini keturunanmu. Dia melihat seorang laki-laki di antara mereka dan dia kagum dengan cahaya yang ada di antara kedua matanya. Dia bertanya: Wahai Tuhanku, siapakah ini? Allah berfirman: Ini adalah seorang laki-laki dari umat-umat akhir dari keturunanmu yang dinamakan Daud. Dia bertanya: Tuhanku, berapa umur yang Engkau tetapkan untuknya? Allah berfirman: Enam puluh tahun. Dia berkata: Wahai Tuhanku, tambahkan untuknya dari umurku empat puluh tahun. Ketika umur Adam habis, malaikat maut datang kepadanya. Dia berkata: Bukankah masih tersisa dari umurku empat puluh tahun? Malaikat itu berkata: Bukankah engkau telah memberikannya kepada anakmu Daud? Maka dia mengingkarinya, keturunannya juga mengingkari, Adam lupa maka keturunannya juga lupa, Adam berbuat salah maka keturunannya juga berbuat salah.

Kemudian At-Tirmidzi berkata: Hasan shahih, dan telah diriwayatkan dari beberapa jalur dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Al-Hakim meriwayatkannya dalam Mustadraknya dari hadits Abu Nu’aim Al-Fadhl bin Dukain. Dia berkata: Shahih menurut syarat Muslim, dan keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengeluarkannya.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari hadits Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, dari ayahnya, dari Atha’ bin Yasar, dari Abu Hurairah secara marfu’, lalu menyebutkannya. Di dalamnya disebutkan: Kemudian menampakkan mereka kepada Adam, lalu Allah berfirman: Wahai Adam, mereka ini keturunanmu. Di antara mereka ada yang berkudis, berpenyakit belang, buta, dan berbagai jenis penyakit. Adam bertanya: Wahai Tuhanku, mengapa Engkau melakukan ini kepada keturunanku? Allah berfirman: Agar engkau mensyukuri nikmat-Ku. Kemudian dia menyebutkan kisah Daud, dan akan disebutkan juga dari riwayat Ibnu Abbas.

Imam Ahmad berkata dalam Musnadnya: Telah menceritakan kepada kami Al-Haitsam bin Kharijah, telah menceritakan kepada kami Abu Ar-Rabi’, dari Yunus bin Maisarah, dari Abu Idris, dari Abu Ad-Darda’, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: Ketika Allah menciptakan Adam, Dia memukul bahu kanannya lalu mengeluarkan keturunan yang putih seperti mutiara, dan memukul bahu kirinya lalu mengeluarkan keturunan yang hitam seperti bara api. Dia berfirman kepada yang ada di tangan kanan-Nya: Ke surga dan Aku tidak peduli. Dan berfirman kepada yang ada di bahu kirinya: Ke neraka dan Aku tidak peduli.

Ibnu Abi Ad-Dunya berkata: Telah menceritakan kepada kami Khalaf bin Hisyam, telah menceritakan kepada kami Al-Hakam bin Sinan, dari Hausyab, dari Al-Hasan, dia berkata: Ketika Allah menciptakan Adam, Dia mengeluarkan penghuni surga dari sisi kanannya dan mengeluarkan penghuni neraka dari sisi kirinya, lalu mereka dijatuhkan ke permukaan bumi. Di antara mereka ada yang buta, tuli, dan yang tertimpa musibah. Adam berkata: Wahai Tuhanku, mengapa Engkau tidak menyamakan di antara anak-anakku? Allah berfirman: Wahai Adam, sesungguhnya Aku ingin disyukuri. Demikian juga diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, dari Ma’mar, dari Qatadah, dari Al-Hasan dengan serupa.

Al-Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, telah mengabarkan kepada kami Ma’mar, dari Hammam bin Munabbih, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: Allah menciptakan Adam dengan tinggi enam puluh hasta, kemudian berfirman: Pergilah dan ucapkan salam kepada para malaikat itu, lalu dengarkan bagaimana mereka menjawab salammu, karena itu adalah salammu dan salam keturunanmu. Dia berkata: Assalamu’alaikum. Mereka menjawab: Assalamu’alaika wa rahmatullah, mereka menambahkan ‘wa rahmatullah’. Setiap orang yang masuk surga sesuai dengan bentuk Adam, dan terus berkurang penciptaannya hingga sekarang.

Demikian diriwayatkan Al-Bukhari dalam Kitab Al-Isti’dzan dari Yahya bin Ja’far, dan Muslim dari Muhammad bin Rafi’, keduanya dari Abdurrazzaq dengannya.

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Rauh, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Ali bin Zaid, dari Sa’id bin Al-Musayyab, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Tinggi Adam adalah enam puluh hasta dengan lebar tujuh hasta. Hanya diriwayatkan oleh Ahmad.

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Ali bin Zaid, dari Yusuf bin Mihran, dari Ibnu Abbas, dia berkata: Ketika turun ayat tentang utang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya yang pertama kali mengingkari adalah Adam, sesungguhnya yang pertama kali mengingkari adalah Adam, sesungguhnya yang pertama kali mengingkari adalah Adam. Sesungguhnya Allah ketika menciptakan Adam dan mengusap punggungnya, lalu mengeluarkan darinya siapa yang akan Dia ciptakan hingga hari kiamat. Dia mulai menampakkan keturunannya kepadanya. Dia melihat di antara mereka seorang laki-laki yang bercahaya. Dia bertanya: Wahai Tuhanku, siapakah ini? Allah berfirman: Ini adalah anakmu Daud. Dia bertanya: Wahai Tuhanku, berapa umurnya? Allah berfirman: Enam puluh tahun. Dia berkata: Wahai Tuhanku, tambahkan umurnya. Allah berfirman: Tidak, kecuali Aku menambahkannya dari umurmu. Umur Adam adalah seribu tahun, maka dia menambahkan empat puluh tahun untuknya. Allah menulis untuknya dengan itu sebuah tulisan dan mempersaksikan para malaikat atas hal itu. Ketika Adam hampir meninggal, para malaikat datang untuk mencabut nyawanya. Adam berkata: Bukankah masih tersisa dari umurku empat puluh tahun? Dikatakan kepadanya: Bukankah engkau telah memberikannya kepada anakmu Daud? Dia berkata: Aku tidak melakukan itu. Maka Allah menunjukkan tulisan itu kepadanya dan para malaikat menjadi saksi atas hal itu.

Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Ali bin Zaid, dari Yusuf bin Mihran, dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya yang pertama kali mengingkari adalah Adam. Beliau mengatakannya tiga kali. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla ketika menciptakannya, mengusap punggungnya lalu mengeluarkan keturunannya dan menampakkan mereka kepadanya. Dia melihat di antara mereka seorang laki-laki yang bercahaya. Dia bertanya: Wahai Tuhanku, tambahkan umurnya. Allah berfirman: Tidak, kecuali engkau sendiri menambahkannya dari umurmu. Maka dia menambahkan empat puluh tahun dari umurnya. Allah Ta’ala menulis untuknya sebuah tulisan dan mempersaksikan para malaikat atas hal itu. Ketika Dia hendak mencabut ruhnya, dia berkata: Sesungguhnya masih tersisa dari ajalku empat puluh tahun. Dikatakan kepadanya: Sesungguhnya engkau telah memberikannya kepada anakmu Daud. Maka dia mengingkarinya. Allah mengeluarkan tulisan itu dan menegakkan bukti atas hal itu, lalu menyempurnakannya untuk Daud menjadi seratus tahun dan menyempurnakan untuk Adam umurnya seribu tahun.

Hanya diriwayatkan oleh Ahmad. Ali bin Zaid dalam haditsnya ada keanehan. Ath-Thabrani meriwayatkannya dari Ali bin Abdul Aziz, dari Hajjaj bin Minhal, dari Hammad bin Salamah, dari Ali bin Zaid, dari Yusuf bin Mihran, dari Ibnu Abbas. Dan lebih dari satu orang dari Al-Hasan berkata: Ketika turun ayat tentang utang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya yang pertama kali mengingkari adalah Adam. Tiga kali. Dan dia menyebutkannya.

Imam Malik bin Anas berkata dalam Muwaththa’nya, dari Zaid bin Abi Unaisah, bahwa Abdul Hamid bin Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khaththab mengabarkan kepadanya dari Muslim bin Yasar Al-Juhani, bahwa Umar bin Al-Khaththab ditanya tentang ayat ini: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami).” (Surat Al-A’raf: 172). Maka Umar bin Al-Khaththab berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang ayat ini, lalu beliau bersabda: Sesungguhnya Allah menciptakan Adam ‘alaihissalam, kemudian mengusap punggungnya dengan tangan kanan-Nya lalu mengeluarkan darinya keturunan. Dia berfirman: Aku ciptakan mereka ini untuk surga, dan dengan amal ahli surga mereka beramal. Kemudian mengusap punggungnya lalu mengeluarkan darinya keturunan. Dia berfirman: Aku ciptakan mereka ini untuk neraka, dan dengan amal ahli neraka mereka beramal. Maka seorang laki-laki bertanya: Wahai Rasulullah, lalu untuk apa amal? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Apabila Allah menciptakan hamba untuk surga, Dia mempekerjakan dia dengan amal ahli surga hingga dia mati atas amal dari amal-amal ahli surga lalu masuk surga karenanya. Dan apabila Allah menciptakan hamba untuk neraka, Dia mempekerjakan dia dengan amal ahli neraka hingga dia mati atas amal dari amal-amal ahli neraka lalu masuk neraka karenanya.

Demikian juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, dan Abu Hatim bin Hibban dalam Shahihnya dari beberapa jalur, dari Imam Malik dengannya. At-Tirmidzi berkata: Ini adalah hadits hasan. Muslim bin Yasar tidak mendengar dari Umar. Demikian juga dikatakan oleh Abu Hatim dan Abu Zur’ah. Abu Hatim menambahkan: Dan di antara keduanya ada Nu’aim bin Rabi’ah. Abu Dawud meriwayatkannya dari Muhammad bin Mushaffa, dari Baqiyyah, dari Umar bin Ja’tsam, dari Zaid bin Abi Unaisah, dari Abdul Hamid bin Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khaththab, dari Muslim bin Yasar, dari Nu’aim bin Rabi’ah, dia berkata: Aku berada di sisi Umar bin Al-Khaththab dan dia ditanya tentang ayat ini, lalu dia menyebutkan hadits itu. Al-Hafizh Ad-Daruquthni berkata: Umar bin Ja’tsam diikuti oleh Abu Farwah Yazid bin Sinan Ar-Rahawi, dari Zaid bin Abi Unaisah. Dia berkata: Perkataan keduanya lebih tepat dengan kebenaran daripada perkataan Malik rahimahullah.

Semua hadits ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala mengeluarkan keturunan Adam dari punggungnya seperti semut, dan membagi mereka menjadi dua golongan: golongan kanan dan golongan kiri. Dia berfirman: Mereka ini untuk surga dan Aku tidak peduli, dan mereka ini untuk neraka dan Aku tidak peduli. Adapun tentang pengambilan kesaksian atas mereka dan meminta mereka mengakui dengan perkataan tentang keesaan Allah, maka itu tidak datang dalam hadits-hadits shahih. Menafsirkan ayat yang ada di Surat Al-A’raf dan membawanya kepada hal ini, di dalamnya ada perdebatan, sebagaimana telah kami jelaskan di sana. Kami telah menyebutkan hadits-hadits dan riwayat-riwayat secara lengkap dengan sanad-sanadnya dan lafadz-lafadz matnnya. Barangsiapa ingin meneliti hal itu, hendaklah dia merujuk ke sana, dan Allah Maha Mengetahui.

Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Jarir yaitu Ibnu Hazim, dari Kaltsam bin Jabr, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: Sesungguhnya Allah mengambil perjanjian dari punggung Adam ‘alaihissalam di Nu’man pada hari Arafah, lalu mengeluarkan dari sulbinya setiap keturunan yang Dia ciptakan, kemudian menaburkan mereka di hadapan-Nya, lalu berbicara kepada mereka secara langsung. Dia berfirman: Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul, kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar kamu tidak mengatakan pada hari Kiamat: “Sesungguhnya kami lengah terhadap ini,” atau agar kamu tidak mengatakan… hingga firman-Nya: …orang-orang yang mengada-adakan kebatilan.

Ini dengan sanad yang baik dan kuat menurut syarat Muslim. Diriwayatkan oleh An-Nasa’i, Ibnu Jarir, dan Al-Hakim dalam Mustadraknya dari hadits Husain bin Muhammad Al-Maruzi dengannya. Al-Hakim berkata: Shahih sanadnya, dan keduanya tidak mengeluarkannya. Namun terjadi perbedaan padanya atas Kaltsam bin Jabr; diriwayatkan darinya secara marfu’ dan mauquf. Demikian juga diriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas secara marfu’. Demikian juga diriwayatkan oleh Al-Aufi, Al-Walibi, Ad-Dhahhak, dan Abu Jamrah, dari Ibnu Abbas sebagai perkataannya. Dan ini lebih banyak dan lebih kuat, wallahu a’lam. Demikian juga diriwayatkan dari Abdullah bin Amru secara mauquf dan marfu’. Dan yang mauquf lebih shahih.

Para pendukung pendapat ini – yaitu pengambilan perjanjian dari keturunan (dzurriyah), yang merupakan pendapat jumhur (mayoritas ulama) – menguatkan pendapat mereka dengan apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad: telah menceritakan kepada kami Hajjaj, telah menceritakan kepadaku Syu’bah, dari Abu Imran Al-Jauni, dari Anas bin Malik, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Akan dikatakan kepada seseorang dari penghuni neraka pada hari kiamat: ‘Seandainya kamu memiliki segala sesuatu yang ada di bumi, apakah kamu akan menebus dirimu dengannya?’ Ia menjawab: ‘Ya.’ Maka Allah berfirman: ‘Aku telah meminta darimu sesuatu yang lebih ringan dari itu. Aku telah mengambil perjanjian darimu di punggung Adam agar tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun, namun kamu menolak kecuali menyekutukan Aku.'” Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari hadits Syu’bah.

Abu Ja’far Ar-Razi berkata: dari Ar-Rabi’ bin Anas, dari Abu Al-Aliyah, dari Ubay bin Ka’ab tentang firman Allah Ta’ala: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka” (Al-A’raf: 172) dan ayat sesudahnya, dia berkata: Maka Allah mengumpulkan mereka pada hari itu semuanya, siapa saja yang akan ada hingga hari kiamat, lalu Dia menciptakan mereka, kemudian membentuk mereka, kemudian memerintahkan mereka berbicara maka mereka pun berbicara. Allah mengambil janji dan perjanjian dari mereka, dan menjadikan diri mereka sendiri sebagai saksi: “Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: ‘Benar (Engkau Tuhan kami).'” Dia berkata: “Sesungguhnya Aku menjadikan tujuh langit dan tujuh bumi sebagai saksi atas kalian, dan Aku jadikan bapak kalian Adam sebagai saksi, agar kalian tidak mengatakan pada hari kiamat: ‘Kami tidak mengetahui hal ini.’ Ketahuilah bahwa tidak ada tuhan selain Aku, tidak ada Tuhan selain Aku, dan janganlah kalian menyekutukan Aku dengan sesuatu apa pun. Sesungguhnya Aku akan mengutus kepada kalian para rasul yang akan memperingatkan kalian tentang janji dan perjanjian-Ku, dan Aku akan menurunkan kepada kalian kitab-kitab-Ku.” Mereka berkata: “Kami bersaksi bahwa Engkau adalah Tuhan kami dan sesembahan kami, tidak ada Tuhan bagi kami selain Engkau, dan tidak ada sesembahan bagi kami selain Engkau.” Maka mereka mengikrarkan ketaatan kepada-Nya pada hari itu. Dan Allah mengangkat bapak mereka Adam sehingga ia melihat mereka, ia melihat di antara mereka ada yang kaya dan miskin, yang tampan dan yang kurang dari itu. Maka dia berkata: “Ya Tuhan, seandainya Engkau menyamakan di antara hamba-hamba-Mu.” Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku mencintai untuk disyukuri.” Dan ia melihat di antara mereka para nabi seperti pelita yang memiliki cahaya, mereka dikhususkan dengan perjanjian lain dari risalah dan kenabian. Itulah yang Allah Ta’ala firmankan: “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi dan dari kamu (Muhammad), dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kuat” (Al-Ahzab: 7). Dan itulah yang difirmankan-Nya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam) sesuai fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah” (Ar-Rum: 30). Dan tentang hal itu Dia berfirman: “Ini adalah pemberi peringatan dari pemberi-pemberi peringatan yang dahulu” (An-Najm: 56). Dan tentang hal itu Dia berfirman: “Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji, dan sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik” (Al-A’raf: 102). Hadits ini diriwayatkan oleh para imam: Abdullah bin Ahmad, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Jarir, dan Ibnu Mardawayh dalam kitab-kitab tafsir mereka melalui jalur Abu Ja’far. Dan diriwayatkan dari Mujahid, Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Al-Hasan Al-Bashri, Qatadah, As-Suddi, dan lebih dari satu ulama salaf dengan riwayat-riwayat yang sesuai dengan hadits-hadits ini.

Telah disebutkan sebelumnya bahwa Allah Ta’ala ketika memerintahkan para malaikat untuk sujud kepada Adam, mereka semua melaksanakan perintah Ilahi itu, dan Iblis menolak untuk sujud kepadanya karena iri hati dan permusuhan terhadapnya. Maka Allah mengusirnya dan menjauhkannya, mengeluarkannya dari hadirat Ilahi dan mengasingkannya, serta menurunkannya ke bumi sebagai makhluk yang terusir, terlaknat, dan setan yang terkutuk.

Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Waki’, Ya’la, dan Muhammad putra Ubaid, mereka berkata: telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila anak Adam membaca ayat sajdah lalu bersujud, setan menjauh sambil menangis seraya berkata: ‘Celakalah aku! Anak Adam diperintahkan sujud lalu ia sujud maka baginya surga, sedangkan aku diperintahkan sujud namun aku durhaka maka bagiku neraka.'” Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Waki’ dan Abu Mu’awiyah, dari Al-A’masy.

Kemudian ketika Adam ditempatkan di surga yang ditempatinya – baik itu di langit atau di bumi sesuai dengan perbedaan pendapat yang telah disebutkan sebelumnya – ia tinggal di sana bersama istrinya Hawa ‘alaihimas salam, makan dari surga dengan lapang di mana saja mereka kehendaki. Ketika mereka berdua memakan dari pohon yang dilarang bagi mereka, mereka kehilangan pakaian yang mereka kenakan dan diturunkan ke bumi. Kami telah menyebutkan perbedaan pendapat tentang tempat-tempat turunnya mereka. Para ulama berselisih pendapat tentang lamanya ia tinggal di surga; ada yang berpendapat: sebagian dari satu hari di dunia. Kami telah menyebutkan sebelumnya apa yang diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah secara marfu’: “Dan Adam diciptakan pada jam terakhir dari jam-jam hari Jumat.” Juga disebutkan hadits darinya: “Dan pada hari itu – yaitu hari Jumat – Adam diciptakan, dan pada hari itu pula ia dikeluarkan darinya.” Jika hari ketika ia diciptakan adalah hari ketika ia dikeluarkan, dan kita berpendapat bahwa keenam hari itu seperti hari-hari ini, maka ia tinggal sebagian hari dari hari-hari ini. Dan dalam hal ini ada pertanyaan. Jika pengeluarannya bukan pada hari ketika ia diciptakan, atau kita berpendapat bahwa masa keenam hari itu adalah enam ribu tahun sebagaimana disebutkan sebelumnya dari Ibnu Abbas, Mujahid, dan Ad-Dhahhak, dan dipilih oleh Ibnu Jarir, maka ia telah tinggal di sana waktu yang lama. Ibnu Jarir berkata: Dan diketahui bahwa ia diciptakan pada jam terakhir dari hari Jumat, dan satu jam darinya adalah delapan puluh tiga tahun dan empat bulan, maka ia tetap sebagai tanah liat yang terbentuk sebelum roh ditiupkan kepadanya selama empat puluh tahun, dan ia tinggal di surga sebelum diturunkan selama empat puluh tiga tahun dan empat bulan. Wallahu Ta’ala a’lam (Dan Allah yang Maha Mengetahui).

Abdur Razzaq meriwayatkan dari Hisyam bin Hassan, dari Sawar berita dari Atha’ bin Abi Rabah bahwa ketika Adam diturunkan, kedua kakinya di bumi dan kepalanya di langit, maka Allah menurunkannya menjadi enam puluh hasta. Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas semisalnya. Dalam hal ini ada pertanyaan, karena apa yang telah disebutkan dari hadits yang disepakati kesahihannya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dengan tinggi enam puluh hasta, dan makhluk terus berkurang tingginya hingga sekarang.” Ini menunjukkan bahwa ia diciptakan demikian, tidak lebih tinggi dari enam puluh hasta, dan keturunannya terus berkurang bentuknya hingga sekarang.

Ibnu Jarir menyebutkan dari Ibnu Abbas bahwa Allah berfirman: “Wahai Adam, sesungguhnya Aku memiliki tanah haram berhadapan dengan Arasy-Ku, maka pergilah dan bangunlah bagi-Ku sebuah rumah di sana dan thawaf lah di sekelilingnya sebagaimana para malaikat-Ku thawaf mengelilingi Arasy-Ku.” Allah mengutus malaikat kepadanya yang menunjukkan tempatnya, dan mengajarkan kepadanya manasik haji. Disebutkan bahwa setiap tempat langkah yang diinjak Adam menjadi kampung setelah itu.

Dari Ibnu Abbas bahwa makanan pertama yang dimakan Adam di bumi adalah ketika Jibril datang kepadanya dengan tujuh butir gandum. Adam bertanya: “Apa ini?” Jibril menjawab: “Ini dari pohon yang kamu dilarang darinya namun kamu memakannya.” Adam bertanya: “Apa yang harus aku lakukan dengan ini?” Jibril menjawab: “Tanamlah di bumi.” Maka ia menanamnya, dan setiap butir beratnya lebih dari seratus ribu. Lalu tumbuh, kemudian ia memanennya, kemudian menumbuknya, kemudian menampikannya, kemudian menggiling, kemudian menguleninya, kemudian memanggangnya, lalu memakannya setelah usaha yang besar, kelelahan, dan kesusahan. Itulah firman-Nya Ta’ala: “Maka janganlah sampai kamu berdua dikeluarkan dari surga, lalu kamu menjadi sengsara” (Thaha: 117). Pakaian pertama mereka adalah dari bulu domba yang dicukur, kemudian mereka memintalnya lalu Adam menenun untuknya sebuah jubah, dan untuk Hawa sebuah baju dan kerudung.

Para ulama berselisih pendapat apakah mereka memiliki anak di surga. Ada yang berpendapat: mereka tidak melahirkan anak kecuali di bumi. Ada yang berpendapat: bahkan mereka melahirkan anak di sana, sehingga Qabil dan saudara perempuannya termasuk yang lahir di sana. Wallahu a’lam (Dan Allah yang Maha Mengetahui).

Mereka menyebutkan bahwa setiap kelahiran dilahirkan baginya seorang laki-laki dan perempuan, dan diperintahkan untuk menikahkan setiap anak laki-laki dengan saudara perempuan saudaranya yang lahir bersamanya, dan yang lain dengan yang lain, dan seterusnya. Tidak halal seorang saudara perempuan untuk saudara laki-lakinya yang lahir bersamanya.

Kisah Dua Putra Adam, Qabil dan Habil

Allah Ta’ala berfirman: “Dan bacakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari keduanya berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): ‘Aku pasti membunuhmu!’ Berkata Habil: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa. Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam. Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosaku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim.’ Maka hawa nafsu Qabil mendorongnya untuk membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi. Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: ‘Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?’ Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal’ (Al-Ma’idah: 27-31). Kami telah membahas kisah ini dalam Surah Al-Ma’idah dalam tafsir dengan cukup detail, dan segala puji bagi Allah.

Mari kita sebutkan di sini ringkasan apa yang disebutkan oleh para imam salaf dalam hal itu. As-Suddi menyebutkan dari Abu Malik, Abu Shalih, dari Ibnu Abbas, dan dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud, dan dari sejumlah sahabat, bahwa Adam menikahkan anak laki-laki dari setiap kelahiran dengan anak perempuan dari kelahiran lainnya, dan bahwa Habil ingin menikahi saudara perempuan Qabil, sedangkan Qabil lebih tua dari Habil, dan saudara perempuan Qabil lebih cantik. Qabil ingin memilikinya sendiri tanpa saudaranya, dan Adam ‘alaihis salam memerintahkannya untuk menikahkan gadis itu dengannya namun ia menolak. Maka Adam memerintahkan mereka berdua untuk mempersembahkan kurban. Adam pergi untuk menunaikan haji ke Makkah, dan meminta langit untuk menjaga anak-anaknya namun mereka menolak, begitu juga bumi dan gunung-gunung menolak, maka Qabil menerima untuk menjaganya. Ketika Adam pergi, mereka berdua mempersembahkan kurbannya. Habil mempersembahkan seekor kambing betina yang gemuk, dan ia adalah pemilik ternak, sedangkan Qabil mempersembahkan seikat tanaman dari tanamannya yang buruk. Lalu turunlah api yang memakan kurban Habil dan meninggalkan kurban Qabil. Maka ia marah dan berkata: “Aku pasti akan membunuhmu agar kamu tidak menikahi saudara perempuanku!” Habil berkata: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa.” Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas melalui jalur-jalur lain, dan dari Abdullah bin Amr. Abdullah bin Amr berkata: “Demi Allah, sesungguhnya orang yang terbunuh itu adalah yang lebih kuat dari keduanya, tetapi kehati-hatiannya mencegahnya untuk mengulurkan tangannya kepadanya.”

Abu Ja’far Al-Baqir menyebutkan bahwa Adam yang langsung menghadiri persembahan kurban mereka, dan diterimanya kurban dari Habil tanpa Qabil. Maka Qabil berkata kepada Adam: “Kurbannya diterima karena kamu berdoa untuknya, dan kamu tidak berdoa untukku.” Dan ia mengancam saudaranya di antara mereka berdua. Ketika suatu malam Habil terlambat dalam penggembalaan, Adam mengutus saudaranya Qabil untuk melihat apa yang membuatnya terlambat. Ketika ia pergi dan melihatnya, ia berkata kepadanya: “Kurbanmu diterima, dan kurbanku tidak diterima.” Habil berkata: “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.” Qabil marah pada saat itu, dan memukulnya dengan besi yang ada bersamanya lalu membunuhnya. Ada yang berpendapat: sesungguhnya ia membunuhnya dengan batu yang ia lemparkan ke kepalanya saat ia tidur dan menghancurkannya. Ada yang berpendapat: ia mencekiknya dengan keras dan menggigitnya, seperti yang dilakukan binatang buas sehingga ia mati. Wallahu a’lam (Dan Allah yang Maha Mengetahui).

Perkataan Habil ketika ia diancam dengan pembunuhan: “Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam,” menunjukkan akhlak yang baik, ketakutan kepada Allah Ta’ala, kewaspadaan terhadap-Nya, dan kehati-hatian untuk tidak membalas saudaranya dengan keburukan yang dimaksudkan saudaranya terhadapnya. Oleh karena itu tetap dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Apabila dua orang Muslim berhadapan dengan pedang mereka, maka pembunuh dan yang terbunuh berada di neraka.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, ini pembunuh, lalu bagaimana dengan yang terbunuh?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya ia sangat bersemangat untuk membunuh temannya.”

Firman-Nya: “Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosaku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim.” Artinya: sesungguhnya aku ingin meninggalkan perkelahian denganmu, meskipun aku lebih kuat darimu dan lebih perkasa, karena kamu telah bertekad pada apa yang kamu tekadkan, agar kamu menanggung dosa membunuhku bersama dengan dosa-dosa yang telah kamu lakukan sebelumnya. Ini dikatakan oleh Mujahid, As-Suddi, Ibnu Jarir, dan lebih dari satu ulama. Bukan maksudnya bahwa dosa-dosa orang yang terbunuh berpindah hanya dengan pembunuhannya kepada pembunuh, sebagaimana yang diduga sebagian orang, karena Ibnu Jarir telah menyebutkan ijma’ (konsensus) yang bertentangan dengan itu.

Adapun hadits yang disampaikan oleh sebagian orang yang tidak mengetahui dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Pembunuh tidak meninggalkan dosa apa pun pada yang terbunuh,” tidak memiliki dasar, dan tidak dikenal dalam kitab-kitab hadits manapun dengan sanad shahih, hasan, maupun dhaif (lemah). Namun mungkin terjadi pada sebagian orang pada hari kiamat bahwa orang yang terbunuh menuntut pembunuh, dan kebaikan-kebaikan pembunuh tidak cukup untuk kezaliman ini, maka dipindahkan dari kejahatan-kejahatan orang yang terbunuh kepada pembunuh, sebagaimana tetap dalam hadits shahih tentang berbagai kezaliman lainnya, dan pembunuhan termasuk yang paling besar. Wallahu a’lam (Dan Allah yang Maha Mengetahui). Kami telah menjelaskan semua ini dalam tafsir, dan segala puji bagi Allah.

Imam Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash bahwa ia berkata pada saat fitnah Utsman bin Affan: “Aku bersaksi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya akan terjadi fitnah, yang duduk di dalamnya lebih baik dari yang berdiri, yang berdiri lebih baik dari yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik dari yang berlari.'” Sa’d bertanya: “Bagaimana pendapatmu jika seseorang masuk ke rumahku dan mengulurkan tangannya kepadaku untuk membunuhku?” Rasulullah menjawab: “Jadilah seperti putra Adam.” Ibnu Mardawayh meriwayatkan dari Hudzaifah bin Al-Yaman secara marfu’, dan disebutkan: “Jadilah seperti yang terbaik dari dua putra Adam.” Muslim dan Ahli Sunan kecuali An-Nasa’i meriwayatkan dari Abu Dzar semisalnya.

Adapun yang lain (Qabil), Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dan Waki’, mereka berkata: telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Abdullah bin Murrah, dari Masruq, dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah terbunuh seseorang dengan kezaliman melainkan putra Adam yang pertama menanggung sebagian dari darahnya, karena dialah yang pertama kali mempraktikkan pembunuhan.” Hadits ini diriwayatkan oleh semua perawi kecuali Abu Dawud dari hadits Al-A’masy. Demikian juga diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash dan Ibrahim An-Nakha’i bahwa mereka berdua berkata serupa dengan ini.

Di Jabal Qasiyun di utara Damaskus terdapat sebuah gua yang disebut: Gua Darah. Terkenal bahwa itu adalah tempat di mana Qabil membunuh saudaranya Habil. Hal itu mereka terima dari Ahlul Kitab, maka Allah lebih mengetahui kebenaran itu. Al-Hafizh Ibnu Asakir telah menyebutkan dalam biografi Ahmad bin Katsir – dan disebutkan bahwa ia termasuk orang-orang shalih – bahwa ia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, dan Habil, dan bahwa ia meminta Habil bersumpah bahwa ini adalah darahnya maka ia bersumpah untuknya. Disebutkan bahwa Habil meminta Allah Ta’ala agar menjadikan tempat ini sebagai tempat dikabulkannya doa, maka Allah mengabulkan permintaannya, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membenarkannya dalam hal itu. Beliau berkata: “Sesungguhnya ia, Abu Bakar, dan Umar mengunjungi tempat ini setiap hari Kamis.” Ini adalah mimpi yang jika benar dari Ahmad bin Katsir ini, tidak ada hukum syar’i yang didasarkan padanya. Wallahu a’lam (Dan Allah yang Maha Mengetahui).

Firman-Nya Ta’ala: “Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: ‘Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?’ Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal.” Sebagian mereka menyebutkan bahwa ketika ia membunuhnya, ia memikul mayatnya di punggungnya selama setahun. Yang lain berkata: ia memikulnya selama seratus tahun. Ia tetap demikian hingga Allah mengutus dua burung gagak. As-Suddi berkata dengan sanadnya dari para sahabat: Dua saudara, keduanya berkelahi lalu salah satunya membunuh yang lain. Ketika ia membunuhnya, ia pergi ke tanah dan menggali untuknya, kemudian melemparkannya dan menguburkannya serta menutupinya. Ketika Qabil melihatnya melakukan itu, ia berkata: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Maka ia melakukan seperti apa yang dilakukan burung gagak, ia menutupinya dan menguburkannya.

Para penulis sejarah dan sirah menyebutkan bahwa Adam bersedih atas anaknya Habil dengan kesedihan yang sangat, dan ia mengucapkan syair tentang itu. Inilah ucapannya sebagaimana disebutkan Ibnu Jarir dari Ibnu Humaid:

Negeri-negeri dan yang ada di atasnya telah berubah, Wajah bumi menjadi berdebu dan buruk. Setiap yang memiliki rasa dan warna telah berubah, Dan berkurang keceriaan wajah yang cantik.

Maka dijawablah Adam:

Wahai bapak Habil, mereka berdua telah terbunuh, Dan yang hidup menjadi seperti mayat yang disembelih. Dan datang kabar gembira yang darinya Dengan ketakutan, maka datanglah dengan teriakan.

Syair ini masih dipertanyakan. Mungkin Adam alaihissalam mengucapkan kata-kata kesedihan dalam bahasanya sendiri, lalu sebagian orang menyusunnya menjadi seperti ini, dan dalam hal ini ada berbagai pendapat, wallahu a’lam.

Mujahid menyebutkan bahwa Qabil segera mendapat balasan pada hari ia membunuh saudaranya, betisnya menempel ke pahanya, wajahnya menghadap matahari ke manapun matahari bergerak, sebagai hukuman dan pembalasan cepat atas dosanya, kelaliman, dan iri hatinya kepada saudaranya terhadap kedua orang tuanya.

Dalam hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam disebutkan bahwa beliau bersabda: “Tidak ada dosa yang lebih layak untuk Allah percepat hukumannya di dunia, di samping yang Allah simpan untuk pelakunya di akhirat, selain dari kezaliman dan memutus hubungan kerabat.”

Yang saya lihat dalam kitab yang ada di tangan Ahli Kitab yang mereka klaim sebagai Taurat adalah bahwa Allah ‘azza wajalla memberi tenggang waktu kepadanya, dan ia tinggal di tanah Nod di sebelah timur Eden. Mereka menyebutnya Qain. Lahir baginya Khanukh, bagi Khanukh lahir ‘Andar, bagi ‘Andar lahir Mahuawail, bagi Mahuawail lahir Matusyail, bagi Matusyail lahir Lamik. Lamik menikahi dua wanita, ‘Ada dan Shilla. ‘Ada melahirkan anak laki-laki bernama Abal, dialah orang pertama yang tinggal di kemah dan memelihara harta. ‘Ada juga melahirkan Tubal, dialah orang pertama yang memainkan rebab dan simbal. Shilla melahirkan anak laki-laki bernama Tubalqain, dialah orang pertama yang mengolah tembaga dan besi, serta seorang putri bernama Na’ma.

Di dalamnya juga disebutkan bahwa Adam menggauli istrinya lalu ia melahirkan anak laki-laki dan menamainya Syits, ia berkata: karena sungguh telah dikaruniakan kepadaku pengganti dari Habil yang dibunuh oleh Qabil. Lahir bagi Syits, Anush.

Mereka berkata: Usia Adam ketika lahir baginya Syits adalah seratus tiga puluh tahun, dan ia hidup setelah itu delapan ratus tahun. Usia Syits ketika lahir baginya Anush adalah seratus enam puluh lima tahun, dan ia hidup setelah itu delapan ratus tujuh tahun. Lahir baginya anak-anak laki-laki dan perempuan selain Anush. Lahir bagi Anush, Qainan, ketika usianya sembilan puluh tahun, dan ia hidup setelah itu delapan ratus lima belas tahun. Lahir baginya anak-anak laki-laki dan perempuan. Ketika usia Qainan tujuh puluh tahun, lahir baginya Mahlail, dan ia hidup setelah itu delapan ratus empat puluh tahun. Lahir baginya anak-anak laki-laki dan perempuan. Ketika usia Mahlail enam puluh lima tahun, lahir baginya Yarid, dan ia hidup setelah itu delapan ratus tiga puluh tahun. Lahir baginya anak-anak laki-laki dan perempuan. Ketika usia Yarid seratus enam puluh dua tahun, lahir baginya Khanukh, dan ia hidup setelah itu delapan ratus tahun. Lahir baginya anak-anak laki-laki dan perempuan. Ketika usia Khanukh enam puluh lima tahun, lahir baginya Matusyalakh, dan ia hidup setelah itu delapan ratus tahun. Lahir baginya anak-anak laki-laki dan perempuan. Ketika usia Matusyalakh seratus delapan puluh tujuh tahun, lahir baginya Lamik, dan ia hidup setelah itu tujuh ratus delapan puluh dua tahun. Lahir baginya anak-anak laki-laki dan perempuan. Ketika usia Lamik seratus delapan puluh dua tahun, lahir baginya Nuh, dan ia hidup setelah itu lima ratus sembilan puluh lima tahun. Lahir baginya anak-anak laki-laki dan perempuan. Ketika usia Nuh lima ratus tahun, lahir baginya anak-anak laki-laki: Sam, Ham, dan Yafits. Demikianlah ringkasan isi kitab mereka secara tegas.

Mengenai apakah kronologi ini terpelihara dalam apa yang turun dari langit, masih dipertanyakan, sebagaimana disebutkan oleh lebih dari satu ulama yang mengkritik mereka dalam hal itu. Yang jelas, kronologi itu dimasukkan ke dalamnya. Sebagian dari mereka menyebutkannya sebagai tambahan dan tafsir. Di dalamnya terdapat banyak kesalahan, sebagaimana akan kami sebutkan di tempat-tempatnya insya Allah Ta’ala.

Imam Abu Ja’far bin Jarir telah menyebutkan dalam kitab sejarahnya dari sebagian mereka bahwa Hawa melahirkan untuk Adam empat puluh anak dalam dua puluh kali melahirkan. Demikian dikatakan Ibnu Ishaq, dan ia menyebutkan nama-nama mereka, wallahu Ta’ala a’lam. Ada yang mengatakan: seratus dua puluh kali melahirkan, setiap kali melahirkan satu laki-laki dan satu perempuan, yang pertama adalah Qabil dan saudara perempuannya Qalima, dan yang terakhir Abdul Mughits dan saudara perempuannya Amatul Mughits. Kemudian manusia berkembang biak setelah itu, bertambah banyak, menyebar di bumi dan berkembang, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.” (Surah An-Nisa: 1)

Ahli sejarah menyebutkan bahwa Adam alaihissalam tidak meninggal sehingga ia melihat dari keturunannya dari anak-anaknya dan cucu-cucunya empat puluh ribu jiwa, wallahu a’lam.

Allah Ta’ala berfirman: “Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) dan daripadanya Dia menciptakan pasangannya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, (istrinya) mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian ketika (kandungan) itu berat, keduanya (Adam dan Hawa) bermohon kepada Allah, Tuhan mereka (seraya berkata), ‘Jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.’ Maka tatkala Allah memberi mereka anak yang saleh, mereka menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah diberikan-Nya itu. Maka Mahatinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (Surah Al-A’raf: 189-190)

Ini adalah pengingat pertama dengan menyebut Adam, kemudian beralih kepada jenis manusia secara umum. Yang dimaksud di sini bukan hanya Adam dan Hawa, tetapi ketika disebutkan individu, kemudian beralih kepada jenis secara umum, sebagaimana dalam firman-Nya Ta’ala: “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).” (Surah Al-Mu’minun: 12-13). Dan firman-Nya Ta’ala: “Dan sungguh, Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang itu panah-panah pelempar setan.” (Surah Al-Mulk: 5). Diketahui bahwa pelempar setan bukanlah bintang-bintang langit itu sendiri, tetapi hanya beralih dari individu ke jenisnya.

Adapun hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, menceritakan kepada kami Abdush Shamad, menceritakan kepada kami Umar bin Ibrahim, menceritakan kepada kami Qatadah, dari Al-Hasan, dari Samurah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Ketika Hawa melahirkan, Iblis mendatanginya, dan anak-anaknya tidak ada yang hidup. Maka Iblis berkata: Beri nama dia Abdu Al-Harits, maka ia akan hidup. Maka mereka menamainya Abdu Al-Harits, lalu ia hidup. Itu adalah bisikan dan perintah syetan.” Demikian pula diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, dan Ibnu Mardawaih dalam tafsir mereka pada ayat ini dari Surah Al-A’raf. Al-Hakim mengeluarkannya dalam Mustadrak-nya, semuanya dari hadits Abdush Shamad bin Abdul Warits dengannya. Al-Hakim berkata: sanad-nya shahih, dan keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengeluarkannya. At-Tirmidzi berkata: hasan gharib, kami tidak mengetahuinya marfu’ kecuali dari hadits Umar bin Ibrahim. Sebagian mereka meriwayatkannya dari Abdush Shamad dan tidak mengangkatnya (menjadikannya marfu’). Ini adalah kelemahan yang merusak hadits, yaitu diriwayatkan mauquf pada sahabat, dan ini lebih menyerupai, yang jelas ia menerimanya dari Israiliyyat. Demikian pula diriwayatkan mauquf pada Ibnu Abbas, dan yang jelas ini diterima dari Ka’b Al-Ahbar dan yang di bawahnya, wallahu a’lam. Al-Hasan Al-Bashri, perawi hadits, menafsirkan ayat ini dengan berbeda dari ini. Jika menurutnya ada dari Samurah secara marfu’, ia tidak akan berpaling darinya ke yang lain, wallahu a’lam. Juga, Allah Ta’ala menciptakan Adam dan Hawa agar menjadi asal manusia, dan agar Dia memperbanyak dari keduanya laki-laki dan perempuan yang banyak. Bagaimana mungkin Hawa tidak ada anak yang hidup untuknya, sebagaimana disebutkan dalam hadits ini jika memang terpelihara. Yang diduga, bahkan yang pasti, adalah bahwa mengangkatnya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah kesalahan. Yang benar adalah mauquf, wallahu a’lam. Kami telah meneliti ini dalam kitab tafsir kami, walhamdulillah. Kemudian, Adam dan Hawa lebih bertakwa kepada Allah dari apa yang disebutkan tentang keduanya dalam hal ini. Karena Adam adalah bapak manusia yang Allah ciptakan dengan tangan-Nya, tiupkan ruh-Nya ke dalamnya, perintahkan malaikat-Nya bersujud kepadanya, ajarkan kepadanya nama segala sesuatu, dan tempatkanlah ia di surga-Nya.

Ibnu Hibban meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Dzar berkata: Aku berkata: Wahai Rasulullah, berapa jumlah para nabi? Beliau bersabda: “Seratus ribu dan dua puluh empat ribu.” Aku berkata: Wahai Rasulullah, berapa jumlah rasul dari mereka? Beliau bersabda: “Tiga ratus tiga belas, jumlah yang banyak.” Aku berkata: Wahai Rasulullah, siapa yang pertama di antara mereka? Beliau bersabda: “Adam.” Aku berkata: Wahai Rasulullah, apakah ia nabi yang diutus? Beliau bersabda: “Ya. Allah menciptakannya dengan tangan-Nya, kemudian meniupkan ruh-Nya ke dalamnya, kemudian menyempurnakannya secara langsung.”

Ath-Thabarani berkata: menceritakan kepada kami Ibrahim bin Na’ilah Al-Ashbahani, menceritakan kepada kami Syaiban bin Farukh, menceritakan kepada kami Nafi’ bin Hurmuz, dari Atha’ bin Abi Rabah, dari Ibnu Abbas berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maukah kalian aku beritahu tentang sebaik-baik malaikat, Jibril, sebaik-baik nabi, Adam, sebaik-baik hari, hari Jumat, sebaik-baik bulan, Ramadhan, sebaik-baik malam, Lailatul Qadr, dan sebaik-baik wanita, Maryam binti Imran.” Ini sanad yang lemah, karena Nafi’ Abu Hurmuz didustakan oleh Ibnu Ma’in, dan dilemahkan oleh Ahmad, Abu Zur’ah, Abu Hatim, Ibnu Hibban, dan lainnya, wallahu a’lam.

Ka’b Al-Ahbar berkata: Tidak ada seorang pun di surga yang memiliki jenggot kecuali Adam, jenggotnya hitam sampai pusarnya. Tidak ada yang memiliki kunyah di surga kecuali Adam, kunyahnya di dunia Abu Al-Basyar (Bapak Manusia), dan di surga Abu Muhammad.

Ibnu Adi meriwayatkan dari jalan Syaikh Ibnu Abi Khalid, dari Hammad bin Salamah, dari Amr bin Dinar, dari Jabir bin Abdullah secara marfu’: “Penghuni surga dipanggil dengan nama mereka kecuali Adam, ia dikunya Abu Muhammad.” Ibnu Adi juga meriwayatkannya dari hadits Ali bin Abi Thalib, dan ini lemah dari segala sisi, wallahu a’lam.

Dalam hadits Isra yang ada di Shahihain bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika melewati Adam yang berada di langit dunia, Adam berkata kepadanya: “Selamat datang bagi anak yang saleh dan nabi yang saleh.” Beliau berkata: “Dan jika di sebelah kanannya ada sekelompok orang, dan di sebelah kirinya ada sekelompok orang. Jika ia melihat ke kanannya ia tertawa, dan jika ia melihat ke kirinya ia menangis. Maka aku bertanya: Wahai Jibril, apa ini? Ia berkata: Ini Adam dan mereka adalah ruh anak-anaknya. Jika ia melihat ke arah ahli kanan, yaitu ahli surga, ia tertawa. Jika ia melihat ke arah ahli kiri, yaitu ahli neraka, ia menangis.” Demikianlah makna hadits.

Abu Bakar Al-Bazzar berkata: menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsanna, menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, mengabarkan kepada kami Hisyam bin Hassan, dari Al-Hasan berkata: “Akal Adam seperti akal seluruh keturunannya.”

Sebagian ulama berkata tentang sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam: “Maka aku melewati Yusuf dan ia telah diberi setengah dari kecantikan,” mereka berkata: maknanya adalah bahwa ia memiliki setengah dari ketampanan Adam alaihissalam. Ini sesuai, karena Allah menciptakan Adam dan membentuknya dengan tangan-Nya yang mulia, dan meniupkan ruh-Nya ke dalamnya, maka tidak mungkin Dia menciptakan kecuali yang terindah. Kami meriwayatkan dari Abdullah bin Umar, dan Ibnu Amr juga secara mauquf dan marfu’: “Sesungguhnya Allah Ta’ala ketika menciptakan surga, para malaikat berkata: Wahai Tuhan kami, jadikanlah ini untuk kami, karena Engkau telah menciptakan untuk bani Adam dunia, mereka makan dan minum di dalamnya. Allah Ta’ala berfirman: Demi keagungan dan kemuliaan-Ku, Aku tidak akan menjadikan keturunan yang saleh dari yang Aku ciptakan dengan tangan-Ku seperti mereka yang Aku katakan kepadanya kun fayakun (jadilah maka jadilah).”

Hadits yang diriwayatkan di Shahihain dan lainnya dari berbagai jalan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam atas rupa-Nya.” Dan dalam selain Shahihain: “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam atas rupa Ar-Rahman ‘azza wajalla.” Para ulama telah membicarakan hadits ini dan menyebutkan di dalamnya berbagai pendekatan yang banyak, ini bukan tempat untuk merincinya, wallahu a’lam.

Wafat Adam dan Wasiatnya kepada Anaknya Syits

Makna Syits adalah: Hibah Allah. Mereka berdua menamainya demikian karena mereka diberikan ia setelah Habil terbunuh. Abu Dzar berkata dalam haditsnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya Allah menurunkan seratus empat lembaran, kepada Syits lima puluh lembaran.”

Muhammad bin Ishaq berkata: Ketika Adam menjelang wafat, ia berwasiat kepada anaknya Syits, mengajarkan kepadanya waktu-waktu malam dan siang, mengajarkan kepadanya ibadah-ibadah pada waktu-waktu itu, dan memberitahukan kepadanya tentang terjadinya banjir besar setelah itu. Ia berkata: dikatakan bahwa semua nasab bani Adam sekarang berakhir kepada Syits, dan anak-anak Adam lainnya selain dia telah punah dan musnah, wallahu a’lam.

Ketika Adam alaihissalam wafat, itu terjadi pada hari Jumat, para malaikat datang membawa harum-haruman dan kain kafan dari Allah ‘azza wajalla dari surga, dan mereka memberikan ta’ziah kepada anaknya dan penerusnya Syits alaihissalam. Ibnu Ishaq berkata: Dan matahari serta bulan mengalami gerhana selama tujuh hari dengan malam-malamnya.

Abdullah bin Imam Ahmad berkata: menceritakan kepada kami Hudbah bin Khalid, menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Humaid, dari Al-Hasan, dari ‘Utbiy yaitu Ibnu Dhamrah As-Sa’di berkata: Aku melihat seorang syaikh di Madinah berbicara, lalu aku bertanya tentangnya. Mereka berkata: Ini Ubay bin Ka’b. Ia berkata: “Sesungguhnya Adam ketika kematian mendatanginya, ia berkata kepada anak-anaknya: Wahai anak-anakku, aku menginginkan dari buah-buahan surga.” Ia berkata: “Maka mereka pergi mencarinya, lalu para malaikat menyambut mereka, dan bersama mereka ada kain kafan dan harum-harumannya, serta bersama mereka ada kapak, sekop, dan keranjang. Mereka berkata kepada mereka: Wahai bani Adam, apa yang kalian inginkan dan apa yang kalian cari? Atau apa yang kalian inginkan dan kemana kalian mencari? Mereka berkata: Ayah kami sakit dan menginginkan dari buah-buahan surga. Mereka berkata kepada mereka: Kembalilah karena ayah kalian telah meninggal. Maka mereka datang, ketika Hawa melihat mereka ia mengenali mereka lalu berlindung kepada Adam. Adam berkata: Menjauh dariku, karena aku hanya didatangi karena dirimu, maka biarkan antara aku dan malaikat Tuhanku ‘azza wajalla. Maka mereka mengambil ruhnya, memandikannya, mengafaninya, mengharuminya, menggali untuknya, melahad untuknya, menshalatkan untuknya, kemudian masuk ke kuburnya lalu menempatkannya di kuburnya, kemudian menutupnya dengan tanah. Kemudian mereka berkata: Wahai bani Adam, inilah tradisi kalian.” Sanadnya shahih kepadanya.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari jalan Syaiban bin Farukh, dari Muhammad bin Ziyad, dari Maimun bin Mihran, dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Para malaikat bertakbir atas Adam empat kali. Abu Bakar bertakbir atas Fathimah empat kali. Umar bertakbir atas Abu Bakar empat kali. Shuhaib bertakbir atas Umar empat kali.” Ibnu Asakir berkata: selainnya meriwayatkannya dari Maimun lalu berkata: dari Ibnu Umar.

Mereka berbeda pendapat tentang tempat penguburannya. Yang terkenal adalah bahwa ia dikuburkan di dekat gunung tempat ia diturunkan di India. Ada yang mengatakan: di Jabal Abu Qubais di Makkah. Ada yang mengatakan bahwa Nuh alaihissalam pada masa banjir besar membawa ia dan Hawa dalam peti lalu menguburkan keduanya di Baitul Maqdis, demikian diceritakan Ibnu Jarir. Ibnu Asakir meriwayatkan dari sebagian dari mereka bahwa ia berkata: Kepalanya di dekat masjid Ibrahim, dan kakinya di dekat batu Baitul Maqdis. Hawa meninggal setelahnya satu tahun.

Mereka berbeda pendapat tentang berapa lama umurnya alaihissalam. Telah kami sebutkan sebelumnya dalam hadits dari Ibnu Abbas dan Abu Hurairah secara marfu’: bahwa umurnya tertulis di Lauh Mahfuzh seribu tahun. Ini tidak bertentangan dengan apa yang ada di Taurat bahwa ia hidup sembilan ratus tiga puluh tahun, karena perkataan mereka ini dipertanyakan dan ditolak jika menyelisihi kebenaran yang ada di tangan kami yang terpelihara dari yang Ma’shum. Juga, perkataan mereka ini bisa dikompromikan dengan apa yang ada dalam hadits. Karena apa yang ada di Taurat jika memang terpelihara dipahami sebagai masa tinggalnya di bumi setelah diturunkan, yaitu sembilan ratus tiga puluh tahun matahari, yang dalam tahun qomariah adalah sembilan ratus lima puluh tujuh tahun. Ditambahkan pada itu empat puluh tiga tahun masa tinggalnya di surga sebelum diturunkan sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Jarir dan lainnya, maka totalnya adalah seribu tahun.

Atha Al-Khurasani berkata: Ketika Adam meninggal, semua makhluk menangisinya selama tujuh hari. Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir. Ketika Adam alaihis salam meninggal, yang mengemban beban urusan sepeninggalnya adalah putranya Syits alaihis salam, dan ia adalah seorang nabi berdasarkan nash hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya, dari Abu Dzar secara marfu: bahwa diturunkan kepadanya lima puluh shahifah. Ketika ajalnya tiba, ia berwasiat kepada putranya Anusy, lalu ia mengemban urusan sepeninggalnya, kemudian setelahnya putranya Qainan, kemudian setelahnya putranya Mahlaail, dan dialah yang menurut dugaan orang-orang Ajam dari Persia bahwa ia adalah raja tujuh iklim, dan dialah orang pertama yang menebang pohon-pohon dan membangun kota-kota serta benteng-benteng besar, dan dialah yang membangun kota Babil dan kota Sus yang paling jauh, dan bahwa ia mengalahkan Iblis dan bala tentaranya, dan mengusir mereka dari bumi ke pinggir-pinggirnya dan celah-celah gunungnya, dan bahwa ia membunuh banyak jin yang durhaka dan ghilan, dan ia memiliki mahkota yang agung, dan ia biasa berkhutbah kepada manusia, dan kekuasaannya berlangsung empat puluh tahun. Ketika ia meninggal, yang mengemban urusan sepeninggalnya adalah putranya Yarid. Ketika kematiannya menjelang, ia berwasiat kepada putranya Khanukh, dan dialah Idris alaihis salam menurut pendapat yang masyhur, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Mengetahui.

Kisah Idris alaihis salam

Allah Ta’ala berfirman: Dan sebutlah (Muhammad) di dalam Kitab (Al-Quran ini) kisah Idris. Sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi (Maryam: 56-57). Idris alaihis salam telah dipuji oleh Allah, dan Dia mensifatinya dengan kenabian dan siddiqiyah, dan dialah Khanukh ini, dan ia berada dalam jalur nasab Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana disebutkan oleh lebih dari satu orang ulama nasab. Ia adalah orang pertama dari Bani Adam yang diberi kenabian setelah Adam dan Syits alaihimas salam. Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa ia adalah orang pertama yang menulis dengan pena. Ia sempat hidup di masa Adam selama tiga ratus delapan tahun. Sekelompok orang berkata: Bahwa dialah yang dimaksud dalam hadits Muawiyah bin Hakam As-Sulami ketika ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang garis-garis di pasir, maka beliau bersabda: Dahulu ada seorang nabi yang membuat garis dengannya, maka barangsiapa yang cocok garisnya dengan garisnya, itulah dia. Banyak ulama perbintangan dan ahli hukum menyangka bahwa dialah orang pertama yang berbicara tentang hal itu, dan mereka menamakannya Hermes Al-Haramisa, dan mereka banyak berdusta atas namanya dengan banyak hal, sebagaimana mereka berdusta atas nama para nabi, ulama, hukama, dan wali lainnya.

Firman-Nya Ta’ala: Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi, adalah sebagaimana yang shahih dalam dua kitab shahih dalam hadits Isra bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melewatinya dan ia berada di langit keempat. Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Yunus bin Abdul A’la, dari Ibnu Wahb, dari Jarir bin Hazim, dari Al-A’masy, dari Syamar bin Athiyyah, dari Hilal bin Yasaf, ia berkata: Ibnu Abbas bertanya kepada Ka’ab, dan aku hadir, lalu ia berkata kepadanya: Apa makna firman Allah Ta’ala kepada Idris: Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi? Ka’ab berkata: Adapun Idris, sesungguhnya Allah mewahyukan kepadanya bahwa Aku mengangkat untukmu setiap hari seperti seluruh amal Bani Adam, mungkin maksudnya dari orang-orang di zamannya, maka ia ingin menambah amal. Lalu datanglah kepadanya seorang teman dari kalangan malaikat, maka ia berkata: Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku begini dan begini, maka bicaralah dengan malaikat maut agar menangguhkan (ajalku) sehingga aku dapat menambah amal. Maka ia (malaikat itu) membawanya di antara dua sayapnya, kemudian naik bersamanya ke langit. Ketika berada di langit keempat, ia bertemu dengan malaikat maut yang sedang turun, lalu ia berbicara dengan malaikat maut tentang apa yang diminta Idris kepadanya. Maka malaikat maut berkata: Di mana Idris? Ia berkata: Dia ada di punggungku. Maka malaikat maut berkata: Sungguh mengherankan, aku diutus dan dikatakan kepadaku: Cabutlah ruh Idris di langit keempat. Maka aku berkata dalam hati: Bagaimana aku bisa mencabut ruhnya di langit keempat padahal ia berada di bumi! Lalu ia mencabut ruhnya di sana, itulah makna firman Allah Azza wa Jalla: Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi. Dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkannya ketika menafsirkan ayat ini, dan dalam riwayatnya: Maka ia (Idris) berkata kepada malaikat itu: Tanyakan untukku kepada malaikat maut berapa sisa umurku? Maka ia bertanya kepadanya dan ia bersamanya, berapa sisa umurnya? Ia berkata: Aku tidak tahu sampai aku melihat. Lalu ia melihat dan berkata: Sesungguhnya engkau bertanya kepadaku tentang seorang lelaki yang tidak tersisa dari umurnya kecuali sekejap mata. Maka malaikat itu melihat ke bawah sayapnya kepada Idris, ternyata ia telah dicabut ruhnya dan ia (malaikat) tidak menyadarinya. Ini termasuk Israiliyyat, dan di dalamnya ada yang ganjil. Perkataan Ibnu Abi Nujaih dari Mujahid dalam firman-Nya: Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi, ia berkata: Idris diangkat dan tidak mati, sebagaimana Isa diangkat. Jika ia bermaksud bahwa ia tidak mati hingga sekarang, maka dalam hal ini ada kejanggalan. Dan jika ia bermaksud bahwa ia diangkat dalam keadaan hidup ke langit, kemudian dicabut ruhnya di sana, maka tidak bertentangan dengan apa yang telah dikemukakan dari Ka’ab Al-Ahbar, dan Allah Yang Maha Mengetahui.

Al-Aufi berkata dari Ibnu Abbas dalam firman-Nya: Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi, ia berkata: Diangkat ke langit keenam dan meninggal di sana. Demikian pula yang dikatakan Ad-Dhahhak. Adapun hadits yang disepakati bahwa ia berada di langit keempat lebih shahih, dan ini adalah pendapat Mujahid dan lebih dari seorang. Hasan Al-Bashri berkata tentang: Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi, ia berkata: Ke surga. Dan sekelompok orang berkata: Ia diangkat pada masa hidupnya ayahnya Yarid bin Mahlaail, dan Allah Yang Maha Mengetahui.

Sebagian mereka menyangka bahwa Idris tidak ada sebelum Nuh, melainkan pada zaman Bani Israil. Al-Bukhari berkata: Dan disebutkan dari Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas: Bahwa Ilyas adalah Idris. Dan mereka merujuk dalam hal itu dengan apa yang datang dalam hadits Az-Zuhri dari Anas dalam Isra bahwa ketika beliau melewatinya alaihis salam, ia berkata kepadanya: Selamat datang saudara yang salih dan nabi yang salih. Dan ia tidak mengatakan sebagaimana yang dikatakan Adam dan Ibrahim: Selamat datang nabi yang salih dan anak yang salih. Mereka berkata: Jika ia berada dalam jalur nasabnya, tentu ia akan mengatakan kepadanya sebagaimana yang mereka berdua katakan kepadanya. Ini tidak menunjukkan hal itu dengan pasti, karena bisa jadi perawi tidak menghafalnya dengan baik, atau mungkin ia mengatakannya kepadanya dengan sikap rendah hati dan tawadhu, dan ia tidak berdiri dalam posisi kebapakan sebagaimana ia berdiri untuk Adam, bapak manusia, dan Ibrahim yang merupakan khalilurrahman, dan ia adalah yang terbesar dari Ulul Azmi setelah Muhammad shallallahu alaihim ajma’in.

۞۞۞۞۞

Kisah Nuh alaihis salam

Ia adalah Nuh bin Lamik bin Matusyalikh bin Khanukh, dan ia adalah Idris bin Yarid bin Mahlaail bin Qainan bin Anusy bin Syits bin Adam bapak manusia alaihis salam. Kelahirannya adalah setelah wafat Adam seratus dua puluh enam tahun sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Jarir dan lainnya. Menurut tarikh Ahli Kitab yang telah disebutkan sebelumnya, antara kelahiran Nuh dan kematian Adam adalah seratus empat puluh enam tahun. Dan antara keduanya ada sepuluh generasi, sebagaimana dikatakan oleh Al-Hafizh Abu Hatim Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Umar bin Yusuf, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdul Malik bin Zanjawih, telah menceritakan kepada kami Abu Taubah, telah menceritakan kepada kami Muawiyah bin Salam, dari saudaranya Zaid bin Salam, aku mendengar Abu Salam, aku mendengar Abu Umamah bahwa seorang lelaki berkata: Wahai Rasulullah, apakah Adam seorang nabi? Beliau bersabda: Ya, yang diajak bicara. Ia berkata: Berapa lama antara dia dan Nuh? Beliau bersabda: Sepuluh generasi. Aku berkata: Dan ini sesuai syarat Muslim, dan ia tidak mengeluarkannya. Dan dalam shahih Al-Bukhari, dari Ibnu Abbas ia berkata: Antara Adam dan Nuh ada sepuluh generasi, semuanya beragama Islam. Jika yang dimaksud dengan generasi adalah seratus tahun, sebagaimana yang dipahami oleh banyak orang, maka antara keduanya tentu seribu tahun. Namun tidak menafikan bisa jadi lebih banyak dengan mempertimbangkan pembatasan Ibnu Abbas dengan Islam; karena mungkin antara keduanya ada generasi-generasi lain yang terlambat yang tidak beragama Islam. Namun hadits Abu Umamah menunjukkan pembatasan pada sepuluh generasi, dan Ibnu Abbas menambahkan kepada kita bahwa mereka semua beragama Islam, dan ini membantah perkataan orang yang menyangka dari ahli tarikh dan lainnya dari Ahli Kitab bahwa Qabil dan anak-anaknya menyembah api, dan Allah Yang Maha Mengetahui.

Dan jika yang dimaksud dengan generasi adalah satu angkatan manusia, sebagaimana dalam firman-Nya Ta’ala: Dan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan setelah Nuh (Al-Isra: 17). Dan firman-Nya: Kemudian Kami jadikan sesudah mereka umat yang lain (Al-Mu’minun: 42). Dan firman Ta’ala: Dan generasi-generasi yang banyak antara yang demikian itu (Al-Furqan: 38). Dan firman-Nya: Dan berapa banyak generasi sebelum mereka yang telah Kami binasakan (Maryam: 74). Dan seperti sabda beliau alaihis salam: Sebaik-baik generasi adalah generasiku. Hadits. Maka sesungguhnya satu angkatan sebelum Nuh hidup dalam masa yang sangat panjang. Maka berdasarkan ini, antara Adam dan Nuh adalah ribuan tahun, dan Allah Yang Maha Mengetahui.

Kesimpulannya, Nuh alaihis salam sesungguhnya diutus oleh Allah Ta’ala ketika berhala-berhala dan thagut-thagut disembah, dan manusia mulai dalam kesesatan dan kekafiran. Maka Allah mengutusnya sebagai rahmat bagi para hamba. Ia adalah rasul pertama yang diutus kepada penduduk bumi, sebagaimana yang dikatakan kepadanya oleh penduduk mahsyar pada hari kiamat. Kaumnya disebut Bani Rasib sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Jarir dan lainnya.

Mereka berbeda pendapat tentang jumlah umurnya ketika diutus. Ada yang berkata: Ia berusia lima puluh tahun. Ada yang berkata: Tiga ratus lima puluh tahun. Ada yang berkata: Empat ratus delapan puluh tahun, yang disebutkan oleh Ibnu Jarir, dan yang ketiga ia sandarkan kepada Ibnu Abbas.

Allah telah menyebutkan kisahnya dan apa yang terjadi dari kaumnya, dan apa yang diturunkan kepada orang-orang yang mengingkarinya berupa azab berupa taufan, dan bagaimana Dia menyelamatkannya dan penghuni perahu di berbagai tempat dalam Kitab-Nya yang mulia; dalam Al-A’raf, Yunus, Hud, Al-Anbiya, Al-Mu’minun, Asy-Syu’ara, Al-Ankabut, Ash-Shaffat, dan Iqtarabat. Dan Dia menurunkan untuknya satu surah yang lengkap. Allah berfirman dalam surah Al-A’raf: Sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Sungguh, aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang besar (kiamat).” Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata, “Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata.” Dia (Nuh) berkata, “Wahai kaumku, tidak ada kesesatan padaku sedikit pun, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan seluruh alam. Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasihat kepadamu; dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui. Apakah kamu heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu melalui seorang laki-laki dari kalanganmu sendiri agar dia memberi peringatan kepadamu dan agar kamu bertakwa dan agar kamu mendapat rahmat?” Maka mereka mendustakannya, lalu Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sungguh, mereka adalah kaum yang buta (hatinya) (Al-A’raf: 59-64).

Dan Allah berfirman dalam surah Yunus: Dan bacakanlah kepada mereka berita Nuh ketika dia berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku, jika keberadaanku (di tengah-tengah kamu) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah itu adalah berat bagimu, maka kepada Allah aku bertawakkal, sebab itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta imbalan apa pun kepadamu. Imbalanku hanyalah dari Allah belaka, dan aku diperintahkan agar aku termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya).” Maka mereka mendustakannya, lalu Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka khalifah(-khalifah), dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu (Yunus: 71-73). Dan Ta’ala berfirman dalam surah Hud: Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata), “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang jelas bagi kamu, agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sungguh, aku takut kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyakitkan.” Maka pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata, “Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki suatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.” Dia (Nuh) berkata, “Wahai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku, dan diberinya aku rahmat dari sisi-Nya, tetapi rahmat itu disamarkan bagimu. Apakah akan kami paksakan kamu menerimanya, padahal kamu tidak menyukainya? Dan wahai kaumku, aku tidak meminta harta benda kepadamu (sebagai upah) untuk itu. Upahku hanyalah dari Allah dan aku tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, tetapi aku memandang kamu adalah kaum yang bodoh. Dan wahai kaumku, siapakah yang akan menolongku dari (azab) Allah jika aku mengusir mereka? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran? Dan aku tidak mengatakan kepadamu bahwa aku mempunyai perbendaharaan Allah, dan tidak (pula) aku mengetahui yang gaib, dan tidak (pula) aku mengatakan bahwa aku adalah malaikat, dan tidak (pula) aku mengatakan terhadap orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu, (bahwa) Allah tidak akan memberikan kebaikan kepada mereka. Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka; sesungguhnya aku kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.” Mereka berkata, “Wahai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” Dia (Nuh) menjawab, “Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab-Nya). Dan nasihatku tidak akan bermanfaat kepada kamu, sekalipun aku hendak memberi nasihat kepada kamu, jika Allah hendak menyesatkan kamu. Dia adalah Tuhanmu dan kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.” Atau (apakah) mereka mengatakan dia (Muhammad) mengada-adakannya (Al-Qur’an)? Katakanlah, “Jika aku mengada-adakannya, maka dosaku tertimpakan padaku; dan aku berlepas diri dari dosa yang kamu perbuat.” Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwa tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang mereka kerjakan. Dan buatlah bahtera dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan-Ku tentang orang-orang yang zalim; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. Dan dia (Nuh) mulai membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya. Dia berkata, “Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) akan mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal.” Hingga apabila perintah Kami datang dan tanur telah memancarkan air, Kami berfirman, “Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah ditetapkan terlebih dahulu (akan ditimpa azab), dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.” Dan tidak beriman bersamanya kecuali sedikit. Dan dia (Nuh) berkata, “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya. Dengan nama Allah (bahtera) itu berlayar dan berlabuh. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Dan bahtera itu berlayar membawa mereka ke dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, “Wahai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu bersama orang-orang yang kafir.” Dia (anaknya) menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” (Nuh) berkata, “Tidak ada yang melindungi (seseorang) pada hari ini dari azab Allah selain (Allah) Yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka dia (anak Nuh itu) termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. Dan difirmankan, “Wahai bumi, telanlah airmu, dan wahai langit, berhentilah (dari menurunkan hujan).” Dan air pun disurutkan, dan perintah pun diselesaikan. Dan (bahtera) itu berlabuh di atas (gunung) Judi, dan dikatakan, “Binasalah orang-orang yang zalim!” Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan janji-Mu itu pasti benar. Dan Engkau adalah hakim yang paling adil.” Dia (Allah) berfirman, “Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak kamu ketahui (hakekatnya). Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu agar (jangan) kamu termasuk orang-orang yang bodoh.” Dia (Nuh) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang rugi.” Difirmankan, “Wahai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan hidup (di dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami.” Itu adalah sebagian dari berita-berita penting tentang yang gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa (Hud: 25-49). Dan Ta’ala berfirman dalam surah Al-Anbiya: Dan (ingatlah kisah) Nuh, ketika dia berdoa sebelum itu, lalu Kami memperkenankan (doa)nya, maka Kami selamatkan dia beserta keluarganya dari bencana yang besar. Dan Kami menolongnya dari kaum yang telah mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat, maka Kami tenggelamkan mereka semuanya (Al-Anbiya: 76-77). Dan Ta’ala berfirman dalam surah Qad Aflaha Al-Mu’minun: Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” Maka pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata, “Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi orang yang lebih mulia dari kamu. Dan sekiranya Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu. Dia tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang gila, maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai waktu tertentu.” Dia (Nuh) berdoa, “Ya Tuhanku, tolonglah aku, karena mereka mendustakanku.” Maka Kami wahyukan kepadanya, “Buatlah bahtera di bawah pengawasan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami datang dan tanur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalamnya dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka; dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim, sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera, maka ucapkanlah, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zalim.’ Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat.'” Sesungguhnya pada (kejadian) itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) dan sesungguhnya Kami benar-benar menguji (mereka) (Al-Mu’minun: 23-30).

Allah Ta‘ala berfirman dalam Surat Asy-Syu‘arā’ ayat 105–122:

Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka, Nuh, berkata kepada mereka: “Tidakkah kalian bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul yang terpercaya bagi kalian. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatilah aku. Dan aku tidak meminta kepada kalian suatu upah pun atas seruanku ini; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan seluruh alam. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatilah aku.”

Mereka berkata: “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikutimu adalah orang-orang yang hina?” Dia (Nuh) berkata: “Dan aku tidak mengetahui apa yang telah mereka kerjakan. Perhitungan mereka hanyalah kepada Tuhanku, kalau kalian menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. Aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang jelas.”

Mereka berkata: “Sungguh, jika engkau tidak berhenti, wahai Nuh, niscaya engkau akan termasuk orang-orang yang dirajam.”

Dia (Nuh) berdoa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakanku. Maka berilah keputusan antara aku dan mereka dengan keputusan yang jelas, dan selamatkanlah aku beserta orang-orang beriman yang bersamaku.”

Maka Kami menyelamatkannya dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera yang penuh muatan. Kemudian setelah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tersisa.

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat suatu tanda, tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sungguh, Tuhanmu benar-benar Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.

Dan Allah Taala berfirman dalam Surah Al-Ankabut: “Dan sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian mereka ditimpa banjir besar, sedang mereka adalah orang-orang yang zalim. Maka Kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu dan Kami jadikan peristiwa itu sebagai pelajaran bagi seluruh umat manusia.” (Al-Ankabut: 14-15).

Dan Allah Taala berfirman dalam Surah Ash-Shaffat: “Dan sungguh Nuh telah menyeru kepada Kami, maka sebaik-baik Yang mengabulkan (do’a) adalah Kami. Dan Kami selamatkan dia beserta keluarganya dari bencana yang besar. Dan Kami jadikan keturunannya yang tetap bertahan. Dan Kami abadikan untuk Nuh itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Kemudian Kami tenggelamkan orang-orang yang lain.” (Ash-Shaffat: 75-82).

Dan Allah Taala berfirman dalam Surah Iqtarabat (Al-Qamar): “Sebelum mereka, kaum Nuh telah mendustakan (rasulnya), maka mereka mendustakan hamba Kami dan berkata: (Dia) seorang gila, dan dia diusir dengan kekerasan. Maka dia (Nuh) berdoa kepada Tuhannya: Sesungguhnya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku). Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku. Yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai balasan bagi orang yang telah diingkari (kaumnya). Dan sungguh Kami telah menjadikannya (bahtera itu) sebagai pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? Maka bagaimanakah (dahsyatnya) azab-Ku dan peringatan-peringatan-Ku? Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Quran untuk peringatan, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Al-Qamar: 9-17).

Dan Allah Taala berfirman dengan Bismillahirrahmanirrahim: “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan perintah): Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepada mereka azab yang pedih. Dia (Nuh) berkata: Wahai kaumku, sesungguhnya aku ini seorang pemberi peringatan yang jelas bagi kalian. Yaitu sembahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku. Niscaya Dia akan mengampuni sebagian dosa-dosa kalian dan menangguhkan (azab) kalian sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, sekiranya kalian mengetahui. Dia (Nuh) berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam. Tetapi seruanku itu tidak menambah (iman) mereka, malah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan jari-jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat sombong. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan. Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (dengan) terang-terangan dan (dengan) diam-diam. Maka aku katakan (kepada mereka): Mohonlah ampun kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepada kalian. Dan Dia memperbanyak harta dan anak-anak kalian, dan mengadakan kebun-kebun bagi kalian dan mengadakan sungai-sungai bagi kalian. Mengapa kalian tidak takut akan kebesaran Allah? Padahal Dia sungguh telah menciptakan kalian dalam beberapa tingkatan (kejadian). Tidakkah kalian melihat bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis? Dan Dia menciptakan bulan di langit itu sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita? Dan Allah menumbuhkan kalian dari tanah dengan sebaik-baiknya. Kemudian Dia akan mengembalikan kalian ke dalam tanah dan mengeluarkan kalian (pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya. Dan Allah menjadikan bumi untuk kalian sebagai hamparan. Agar kalian dapat pergi bolak-balik di jalan-jalan yang luas. Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakai aku, dan mereka mengikuti orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka. Dan mereka membuat tipu daya yang sangat besar. Dan mereka berkata: Jangan sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kalian dan jangan pula sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr. Dan sungguh mereka (berhala-berhala itu) telah menyesatkan banyak (orang). Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan. Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat bagi mereka penolong-penolong selain Allah. Dan Nuh berkata: Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir. Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan.” (Nuh: 1-28).

Dan kami telah membahas setiap tempat dari ayat-ayat ini dalam Tafsir, dan kami akan menyebutkan inti kisah ini secara terkumpul dari tempat-tempat yang terpisah ini, dan dari apa yang ditunjukkan oleh hadits-hadits dan atsar-atsar. Dan sungguh telah disebutkan juga dalam tempat-tempat yang terpisah dari Al-Quran di dalamnya terdapat pujian baginya dan celaan bagi orang yang menentangnya. Maka Allah Taala berfirman dalam Surah An-Nisa: “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah memberikan wahyu kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yakub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu sebelumnya, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (Mereka Kami utus) sebagai rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah diutusnya rasul-rasul itu. Dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (An-Nisa: 163-165).

Dan Allah berfirman dalam Surah Al-An’am: “Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan derajat siapa yang Kami kehendaki. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana, Maha Mengetahui. Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishaq dan Yakub. Kepada ketiganya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh. Dan Ismail, Alyasa’, Yunus dan Luth. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di zamannya). Dan sebagian dari bapak-bapak mereka, keturunan dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Al-An’am: 83-87).

Ayat-ayat selanjutnya. Dan telah disebutkan kisahnya dalam Al-A’raf. Dan Allah berfirman dalam Surah Bara’ah (At-Taubah): “Belumkah datang kepada mereka berita orang-orang sebelum mereka (yaitu) kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa bukti-bukti yang nyata; maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (At-Taubah: 70).

Dan telah disebutkan kisahnya dalam Yunus dan Hud. Dan Allah berfirman dalam Surah Ibrahim: “Belumkah sampai kepadamu berita tentang orang-orang sebelum kalian (yaitu) kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud dan orang-orang sesudah mereka yang tidak diketahui (bilangan mereka) kecuali oleh Allah; telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa bukti-bukti yang nyata, lalu mereka menutupkan tangannya ke mulutnya dan berkata: Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kalian diutus untuk menyampaikannya dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap apa yang kalian serukan kepada kami kepadanya.” (Ibrahim: 9).

Dan Allah berfirman dalam Surah Subhan (Al-Isra): “(Mereka itu ialah) keturunan orang-orang yang Kami bawa bersama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (Al-Isra: 3).

Dan Allah berfirman di dalamnya juga: “Dan berapa banyaknya umat-umat yang telah Kami binasakan sesudah Nuh. Dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui dan Maha Melihat dosa-dosa hamba-hamba-Nya.” (Al-Isra: 17).

Dan telah disebutkan kisahnya dalam Al-Anbiya, Al-Mu’minun, Asy-Syu’ara, dan Al-Ankabut. Dan Allah berfirman dalam Surah Al-Ahzab: “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi dan dari engkau (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh.” (Al-Ahzab: 7).

Dan Allah berfirman dalam Surah Shad: “Sebelum mereka telah mendustakan (rasul) kaum Nuh, ‘Ad, Firaun yang mempunyai pasak-pasak. Dan Tsamud, kaum Luth, dan penduduk Aikah. Mereka itulah golongan-golongan yang bersekutu (menentang rasul-rasul). Tidak ada seorang pun dari mereka melainkan telah mendustakan rasul-rasul, maka sudah sepantasnya azab-Ku (menimpa mereka).” (Shad: 12-14).

Dan Allah berfirman dalam Surah Ghafir: “Sebelum mereka, kaum Nuh dan golongan-golongan (yang kafir) sesudah mereka telah mendustakan (rasul-rasul). Dan setiap umat telah merencanakan (makar) terhadap rasul mereka untuk menawannya, dan mereka membantah dengan yang batil untuk melenyapkan yang hak dengan itu, karena itu Aku siksa mereka. Maka alangkah hebatnya azab-Ku. Dan demikianlah, telah pasti berlaku ketetapan Tuhanmu terhadap orang-orang yang kafir, bahwa mereka adalah penghuni neraka.” (Ghafir: 5-6).

Dan Allah berfirman dalam Surah Asy-Syura: “Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kalian berpecah belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada (agama)-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya).” (Asy-Syura: 13).

Dan Allah Taala berfirman dalam Surah Qaf: “Sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasulnya pula) kaum Nuh, penduduk Rass, Tsamud. Dan ‘Ad, Firaun, dan kaum Luth. Dan penduduk Aikah, serta kaum Tubba’. Semuanya telah mendustakan rasul-rasul maka sudah semestinya (azab) ancaman-Ku menimpa mereka.” (Qaf: 12-14).

Dan Allah berfirman dalam Adz-Dzariyat: “Dan (demikian pula) kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.” (Adz-Dzariyat: 46).

Dan Allah berfirman dalam An-Najm: “Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zalim dan paling melampaui batas.” (An-Najm: 52).

Dan telah disebutkan kisahnya dalam Surah Iqtarabat As-Sa’ah (Al-Qamar). Dan Allah Taala berfirman dalam Surah Al-Hadid: “Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan Kami berikan kepada keturunan keduanya kenabian dan kitab, maka di antara mereka ada yang mendapat petunjuk dan banyak di antara mereka yang fasik.” (Al-Hadid: 26).

Dan Allah Taala berfirman dalam Surah At-Tahrim: “Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan istri Luth. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksaan) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): Masuklah ke dalam neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).” (At-Tahrim: 10).

Adapun inti dari apa yang terjadi padanya bersama kaumnya yang diambil dari Al-Kitab, As-Sunnah dan atsar-atsar, maka sungguh kami telah menyebutkan dari Ibnu Abbas bahwa antara Adam dan Nuh ada sepuluh generasi yang semuanya menganut Islam. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, dan kami telah menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan generasi adalah kelompok manusia atau masa sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Kemudian setelah generasi-generasi yang saleh itu, muncul hal-hal yang menyebabkan keadaan manusia pada zaman itu berujung pada penyembahan berhala. Dan penyebabnya adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari hadits Ibnu Juraij, dari Atha’, dari Ibnu Abbas ketika menafsirkan firman Allah Taala: “Dan mereka berkata: Jangan sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kalian dan jangan pula Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.” (Nuh: 23).

Dia berkata: Ini adalah nama-nama orang-orang saleh dari kaum Nuh. Ketika mereka meninggal, setan membisikkan kepada kaum mereka agar mendirikan tugu-tugu di tempat-tempat di mana mereka biasa duduk dan menamainya dengan nama-nama mereka. Maka mereka pun melakukannya, namun belum disembah. Ketika generasi itu meninggal dan ilmu telah terhapus, barulah berhala-berhala itu disembah. Ibnu Abbas berkata: Dan berhala-berhala yang ada pada kaum Nuh ini kemudian berada di kalangan bangsa Arab.

Dan demikianlah yang dikatakan oleh Ikrimah, Adh-Dhahhak, Qatadah, dan Muhammad bin Ishaq.

Dan Ibnu Jarir berkata dalam Tafsirnya: Ibnu Humaid menceritakan kepada kami, Mihran menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Musa, dari Muhammad bin Qais dia berkata: Mereka adalah kaum yang saleh antara Adam dan Nuh, dan mereka memiliki pengikut yang meneladani mereka. Ketika mereka meninggal, teman-teman mereka yang biasa meneladani mereka berkata: Seandainya kita membuat gambar mereka, itu akan lebih membangkitkan semangat kita untuk beribadah ketika kita mengenang mereka. Maka mereka pun membuat gambar mereka. Ketika generasi itu meninggal dan datang generasi lain, iblis mendatangi mereka dan berkata: Sesungguhnya mereka (generasi sebelum kalian) menyembah mereka dan dengan mereka hujan diturunkan, maka mereka pun menyembah mereka.

Dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Urwah bin Az-Zubair bahwa dia berkata: Wadd, Yaghuts, Ya’uq, Suwa’, dan Nasr adalah anak-anak Adam. Dan Wadd adalah yang tertua dan paling berbakti kepada Adam.

Dan Ibnu Abi Hatim berkata: Ahmad bin Manshur menceritakan kepada kami, Al-Hasan bin Musa menceritakan kepada kami, Ya’qub menceritakan kepada kami, dari Abu Al-Muthahhir dia berkata: Mereka menyebutkan di hadapan Abu Ja’far—yaitu Al-Baqir, sementara dia sedang berdiri shalat—tentang Yazid bin Al-Muhallab. Dia berkata: Ketika dia selesai dari shalatnya, dia berkata: Kalian menyebutkan Yazid bin Al-Muhallab, ketahuilah bahwa dia terbunuh di tanah pertama yang di dalamnya disembah selain Allah. Dia berkata: Disebutkan Wadd, seorang laki-laki muslim, dan dia adalah orang yang dicintai di kalangan kaumnya. Ketika dia meninggal, mereka berkemah di sekitar kuburnya di tanah Babil dan mereka sangat berduka atasnya. Ketika iblis melihat kesedihan mereka atasnya, dia menjelma dalam bentuk manusia, kemudian berkata: Aku melihat kesedihan kalian atas orang ini, apakah kalian mau aku buatkan patung sepertinya untuk ditempatkan di tempat berkumpul kalian agar kalian mengingatnya? Mereka berkata: Ya. Maka dia pun membuat patung sepertinya. Dia berkata: Dan mereka menempatkannya di tempat berkumpul mereka dan mereka mulai mengingatnya. Ketika iblis melihat apa yang mereka lakukan dalam mengingat dia, dia berkata: Bagaimana jika aku membuat di rumah setiap orang di antara kalian patung sepertinya agar ada di rumahnya sehingga kalian mengingatnya? Mereka berkata: Ya. Dia berkata: Maka dia membuat untuk setiap keluarga patung sepertinya. Mereka pun mulai mengingatnya dengannya. Dia berkata: Dan anak-anak mereka tumbuh dan mereka terus melihat apa yang dilakukan (orangtua mereka) dengannya. Dia berkata: Dan mereka beranak cucu, dan urusan mengingat dia menjadi usang sampai mereka menjadikannya sesembahan yang mereka sembah selain Allah—anak cucu dari anak cucu mereka. Maka itulah pertama kali yang disembah selain Allah, yaitu berhala yang mereka namakan Wadd.

Dan maksud dari rangkaian kisah ini adalah bahwa setiap berhala dari berhala-berhala ini disembah oleh sekelompok manusia. Dan telah disebutkan bahwa ketika masa dan zaman berlalu lama, mereka menjadikan gambar-gambar itu sebagai patung-patung yang berbentuk untuk lebih kokoh, kemudian disembah setelah itu selain Allah Azza wa Jalla. Dan mereka memiliki banyak cara dalam menyembahnya yang telah kami sebutkan dalam kitab Tafsir kami di berbagai tempat, dan segala puji dan anugerah bagi Allah.

Dan telah shahih dalam dua kitab Shahih (Bukhari dan Muslim) dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa ketika disebut di hadapannya oleh Ummu Salamah dan Ummu Habibah tentang gereja yang mereka lihat di tanah Habasyah yang disebut Mariyah, dan mereka menyebutkan tentang keindahannya dan gambar-gambar yang ada di dalamnya, beliau bersabda: “Mereka itu, apabila ada orang saleh yang meninggal di antara mereka, mereka membangun masjid di atas kuburnya, kemudian mereka membuat gambar-gambar tersebut di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah Azza wa Jalla.”

Dan maksudnya adalah bahwa ketika kerusakan tersebar di bumi, dan bencana melanda dengan penyembahan berhala di dalamnya, Allah mengutus hamba dan rasul-Nya Nuh alaihissalam untuk menyeru kepada penyembahan Allah semata tanpa sekutu bagi-Nya, dan melarang penyembahan selain-Nya. Maka dia adalah rasul pertama yang Allah utus kepada penduduk bumi, sebagaimana shahih dalam dua kitab Shahih dari hadits Abu Hayyan, dari Abu Zur’ah bin Amr bin Jarir, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam hadits syafa’at, beliau bersabda: “Maka mereka mendatangi Adam dan berkata: Wahai Adam, engkau adalah bapak manusia, Allah menciptakanmu dengan tangan-Nya, meniupkan ruh-Nya ke dalammu, memerintahkan para malaikat untuk sujud kepadamu, dan menempatkanmu di surga. Tidakkah engkau memberi syafa’at kepada kami di hadapan Tuhan kami, tidakkah engkau melihat keadaan kami dan apa yang telah menimpa kami? Maka dia berkata: Tuhanku telah murka dengan kemarahan yang sangat, tidak pernah murka sebelumnya seperti itu, dan tidak akan murka setelahnya seperti itu, dan Dia melarangku dari pohon namun aku melanggarnya, diriku diriku, pergilah kepada yang lain, pergilah kepada Nuh. Maka mereka mendatangi Nuh dan berkata: Wahai Nuh, engkau adalah rasul pertama kepada penduduk bumi, dan Allah menamakanmu hamba yang banyak bersyukur, tidakkah engkau melihat keadaan kami, tidakkah engkau melihat apa yang telah menimpa kami, tidakkah engkau memberi syafa’at untuk kami di hadapan Tuhan Azza wa Jalla? Maka dia berkata: Tuhanku telah murka hari ini dengan kemarahan yang belum pernah murka sebelumnya seperti itu, dan tidak akan murka setelahnya seperti itu. Diriku diriku.” Dan disebutkan kelanjutan hadits secara lengkap, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kisah Nuh.

Ketika Allah mengutus Nuh alaihissalam, dia menyeru mereka untuk meng-esakan ibadah kepada Allah semata tanpa sekutu bagi-Nya, dan agar mereka tidak menyembah bersama-Nya berhala, patung, atau thaghut, dan agar mereka mengakui keesaan-Nya, dan bahwa tidak ada tuhan selain-Nya, dan tidak ada Tuhan selain-Nya, sebagaimana Allah Taala perintahkan kepada para rasul setelahnya yang semuanya dari keturunannya, sebagaimana Allah Taala berfirman: “Dan Kami jadikan keturunannya yang tetap bertahan.” (Ash-Shaffat: 77). Dan Allah berfirman tentang dia dan Ibrahim: “Dan Kami berikan kepada keturunan keduanya kenabian dan kitab.” (Al-Hadid: 26). Artinya: setiap nabi setelah Nuh adalah dari keturunannya, demikian juga Ibrahim. Allah Taala berfirman: “Dan sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul (yang menyerukan): Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (An-Nahl: 36). Dan Allah Taala berfirman: “Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum engkau: Adakah Kami menjadikan tuhan-tuhan selain Yang Maha Pengasih untuk disembah?” (Az-Zukhruf: 45). Dan Allah Taala berfirman: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku.” (Al-Anbiya: 25).

Dan oleh karena itu Nuh berkata kepada kaumnya: “Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagi kalian selain-Nya. Sesungguhnya aku takut kalian akan ditimpa azab pada hari yang besar.” (Al-A’raf: 59). Dan dia berkata: “Agar kalian tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku takut kalian akan ditimpa azab pada hari yang pedih.” (Hud: 26). Dan dia berkata: “Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagi kalian selain-Nya. Tidakkah kalian bertakwa?” (Al-Mu’minun: 23).

Allah berfirman dalam Surat Nuh ayat 2–14:

(Nuh berkata): “Wahai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang jelas bagi kalian: sembahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya, dan taatilah aku. Niscaya Dia akan mengampuni sebagian dosa-dosa kalian dan menangguhkan kalian sampai waktu yang telah ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang, tidak dapat ditunda, seandainya kalian mengetahui.”

Dia (Nuh) berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam, tetapi seruanku itu tidak menambah mereka kecuali makin lari. Dan setiap kali aku menyeru mereka agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan jari-jari mereka ke dalam telinga, menutupkan pakaian ke wajah mereka, tetap bersikeras, dan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar. Kemudian sesungguhnya aku menyeru mereka dengan terang-terangan. Lalu sesungguhnya aku menyeru mereka secara terbuka dan secara sembunyi-sembunyi. Maka aku berkata: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan untukmu kebun-kebun, dan mengadakan (pula) untukmu sungai-sungai. Mengapa kalian tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya, padahal Dia telah menciptakan kalian dalam beberapa tahapan?’”

Ayat-Ayat Mulia

Disebutkan bahwa dia (Nabi Nuh alaihissalam) menyeru mereka kepada Allah dengan berbagai cara dakwah di malam dan siang hari, secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, dengan targhib (memberi harapan) di suatu waktu dan tarhib (memberi ancaman) di waktu lain, namun semua itu tidak berhasil pada mereka. Bahkan kebanyakan mereka tetap dalam kesesatan dan kedurhakaan, menyembah berhala-berhala dan patung-patung, mereka memasang permusuhan terhadapnya di setiap waktu dan kesempatan, mencela dia dan mencela orang-orang yang beriman kepadanya, mengancam mereka dengan rajam (lemparan batu) dan pengusiran, menyakiti mereka, dan berlebihan dalam urusan mereka.

“Berkata pembesar-pembesar dari kaumnya” yaitu: para pemimpin yang terhormat di antara mereka: “Sesungguhnya kami memandangmu dalam kesesatan yang nyata. Dia (Nuh) berkata: ‘Wahai kaumku, tidak ada padaku kesesatan, tetapi aku adalah utusan dari Rabb semesta alam.'” (Surah Al-A’raf: 60)

Artinya: aku bukan seperti yang kalian sangka bahwa aku sesat, melainkan aku berada di atas petunjuk yang lurus, utusan dari Rabb semesta alam, yaitu: Dzat yang mengatakan kepada sesuatu “kun” (jadilah) maka jadilah ia. “Aku menyampaikan kepadamu risalah-risalah Tuhanku dan aku memberi nasihat kepadamu dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kalian ketahui.” (Surah Al-A’raf: 62)

Dan inilah sifat rasul bahwa dia harus fasih, yaitu: pandai bicara, penuh nasihat, dan paling mengetahui tentang Allah Azza wa Jalla.

Dan mereka berkata kepadanya dalam ucapan mereka: “Kami tidak melihatmu melainkan (sebagai) seorang manusia seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikutimu melainkan orang-orang yang hina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki suatu kelebihan atas kami, bahkan kami yakin kamu adalah orang-orang yang dusta.” (Surah Hud: 27)

Mereka heran bahwa seorang manusia menjadi rasul, dan mereka merendahkan orang-orang yang mengikutinya, dan memandang mereka sebagai orang-orang rendah mereka. Dikatakan: sesungguhnya mereka adalah dari kalangan budak manusia, yaitu orang-orang lemah mereka, sebagaimana dikatakan Heraklius: “dan mereka adalah para pengikut rasul-rasul.”

Hal itu tidak lain karena tidak ada penghalang bagi mereka untuk mengikuti kebenaran. Dan ucapan mereka: “lekas percaya saja” yaitu: begitu saja kamu menyeru mereka, mereka langsung menyambutmu tanpa pertimbangan dan perenungan. Dan hal yang mereka cela dari mereka itu justru menjadi sumber pujian bagi mereka, radhiyallahu ‘anhum, karena sesungguhnya kebenaran yang jelas tidak memerlukan perenungan, tidak pemikiran, dan tidak pertimbangan, bahkan wajib mengikutinya dan tunduk kepadanya kapan pun dia tampak.

Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada seorang pun yang aku ajak masuk Islam kecuali dia mengalami keraguan, kecuali Abu Bakar, dia tidak ragu-ragu.” dalam memuji Ash-Shiddiq.

Karena itulah bai’ahnya pada hari Saqifah juga cepat tanpa pertimbangan dan perenungan; karena keutamaannya atas selain dia jelas dan terang di mata para sahabat radhiyallahu ‘anhum, dan karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika hendak menulis surat yang ia ingin menegaskan kekhalifahannya di dalamnya, maka beliau membatalkannya. Dan bersabda: “Allah dan orang-orang mukmin tidak akan menerima kecuali Abu Bakar.” radhiyallahu ‘anhu.

Dan ucapan orang-orang kafir kaum Nuh kepadanya dan kepada orang-orang yang beriman kepadanya: “Dan kami tidak melihat kamu memiliki suatu kelebihan atas kami” yaitu: tidak tampak bagi kalian suatu perkara setelah kalian menyifati diri dengan iman, dan tidak ada keutamaan atas kami: “bahkan kami yakin kamu adalah orang-orang yang dusta. Dia (Nuh) berkata: ‘Wahai kaumku, bagaimana pendapat kalian jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan diberinya aku rahmat dari sisi-Nya, tetapi rahmat itu disamarkan atasmu. Apakah akan kami paksakankah kamu menerimanya, padahal kamu tidak menyukainya?'” (Surah Hud: 27-28)

Dan ini adalah kelembutan dalam berbicara kepada mereka, dan bersikap lembut kepada mereka dalam dakwah kepada kebenaran, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (Surah Thaha: 44)

Dan firman Allah Ta’ala: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.” (Surah An-Nahl: 125)

Dan ini darinya (Nuh) berkata kepada mereka: Bagaimana pendapat kalian jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan diberinya aku rahmat dari sisi-Nya, yaitu kenabian dan kerasulan, tetapi disamarkan atasmu, yaitu: kalian tidak memahaminya, dan tidak mendapat petunjuk kepadanya, apakah akan kami paksakankah kamu menerimanya, yaitu: apakah kami memaksa kalian dengannya, dan kami paksa kalian atasnya, padahal kamu tidak menyukainya, yaitu: tidak ada daya upayaku terhadap kalian dalam keadaan ini.

“Dan wahai kaumku, aku tidak meminta harta benda kepada kalian sebagai upah atas seruanku. Upahku hanyalah dari Allah.” Yaitu: aku tidak menginginkan dari kalian upah atas penyampaianku kepada kalian apa yang bermanfaat bagi kalian di dunia dan akhirat kalian. Aku tidak menuntut itu kecuali dari Allah yang pahalanya lebih baik bagiku, dan lebih kekal daripada apa yang kalian berikan kepadaku.

Dan firman-Nya: “Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan menemui Tuhannya, tetapi aku memandang kamu sebagai kaum yang tidak mengetahui.” (Surah Hud: 29)

Seolah-olah mereka meminta darinya untuk menjauhkan orang-orang ini darinya, dan mereka berjanji akan berkumpul dengannya jika dia melakukan itu, maka dia menolak mereka akan hal itu, dan berkata: Sesungguhnya mereka akan menemui Tuhannya, maka aku takut jika aku mengusir mereka mereka akan mengadukan aku kepada Allah Azza wa Jalla, karena itulah dia berkata: “Dan wahai kaumku, siapakah yang akan menolongku dari (azab) Allah jika aku mengusir mereka? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (Surah Hud: 30)

Karena itulah ketika orang-orang kafir Quraisy meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengusir orang-orang mukmin yang lemah darinya; seperti Ammar, Shuhaib, Bilal, Khabbab, dan orang-orang seperti mereka, Allah melarangnya dari itu, sebagaimana kami jelaskan di Surah Al-An’am dan Al-Kahf.

“Dan aku tidak mengatakan kepada kalian: ‘Aku mempunyai perbendaharaan Allah,’ dan tidak pula aku mengatakan: ‘Aku mengetahui yang gaib,’ dan tidak pula aku mengatakan: ‘Aku adalah malaikat.'” Yaitu: bahkan aku adalah hamba utusan, aku tidak mengetahui dari ilmu Allah kecuali apa yang Dia ajarkan kepadaku, dan aku tidak mampu kecuali atas apa yang Dia kuasakan kepadaku, dan aku tidak memiliki bagi diriku manfaat dan tidak pula mudarat kecuali apa yang Allah kehendaki.

“Dan aku tidak mengatakan kepada orang-orang yang kamu hina: ‘Allah sekali-kali tidak akan memberikan kebaikan kepada mereka.'” Maksudnya dari pengikut-pengikutnya. “Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka; sesungguhnya aku kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.” (Surah Hud: 31)

Yaitu: aku tidak bersaksi atas mereka bahwa tidak ada kebaikan bagi mereka di sisi Allah pada hari kiamat. Allah lebih mengetahui mereka, dan Dia akan membalas mereka atas apa yang ada dalam jiwa mereka, jika kebaikan maka kebaikan, dan jika keburukan maka keburukan.

Sebagaimana mereka berkata di tempat lain: “Apakah kami harus beriman kepadamu, padahal yang mengikutimu itu orang-orang yang hina? Dia (Nuh) menjawab: ‘Dan tahukah aku apa yang mereka kerjakan? Perhitungan mereka tidak lain hanyalah atas Tuhanku, kalau saja kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan yang nyata.'” (Surah Asy-Syu’ara: 111-115)

Dan telah lama berlalu waktu, dan perdebatan antara dia dan mereka, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Maka Nuh tinggal bersama mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, sedang mereka orang-orang yang zalim.” (Surah Al-Ankabut: 14)

Yaitu: dan dengan masa yang panjang ini, tidak ada yang beriman kepadanya kecuali sedikit dari mereka, dan setiap kali suatu generasi punah, mereka berwasiat kepada generasi setelah mereka untuk tidak beriman kepadanya, melawannya, dan menentangnya. Dan seorang ayah jika anaknya dewasa dan mengerti perkataannya, dia berwasiat di antara dia dan dia untuk tidak beriman kepada Nuh selama-lamanya selagi dia hidup dan selalu selama dia ada. Dan tabiat mereka menolak keimanan dan mengikuti kebenaran, karena itulah Allah berfirman: “Dan mereka tidak akan melahirkan kecuali anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.” (Surah Nuh: 27)

Karena itulah mereka berkata: “Wahai Nuh, sungguh kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu memperpanjang bantahan dengan kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar. Dia (Nuh) menjawab: ‘Hanya Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri (dari azab-Nya).'” (Surah Hud: 32-33)

Yaitu: hanya yang berkuasa atas itu adalah Allah Azza wa Jalla karena sesungguhnya Dialah yang tidak ada sesuatu pun yang mengalahkan-Nya, dan tidak ada urusan yang memberatkan-Nya, bahkan Dialah yang mengatakan kepada sesuatu: “kun” (jadilah) maka jadilah ia.

“Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasihatku jika aku hendak memberi nasihat kepada kalian, sekiranya Allah hendak menyesatkan kalian. Dialah Tuhan kalian dan kepada-Nya kalian dikembalikan.” (Surah Hud: 34)

Yaitu: barangsiapa yang Allah kehendaki fitnahnya maka tidak ada seorang pun yang mampu memberi petunjuk kepadanya. Dialah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan Dialah Maha Pelaksana atas apa yang Dia kehendaki, dan Dialah Maha Perkasa Maha Bijaksana Maha Mengetahui siapa yang layak mendapat petunjuk dan siapa yang layak mendapat kesesatan, dan bagi-Nya hikmah yang sempurna, dan hujjah yang mengalahkan.

“Dan diwahyukan kepada Nuh bahwa tidak akan beriman di antara kaummu kecuali orang yang telah beriman (saja), maka janganlah kamu bersedih hati terhadap apa yang mereka kerjakan.” (Surah Hud: 36)

Dan ini adalah penghiburan bagi Nuh alaihissalam tentang kaumnya bahwa tidak akan beriman dari mereka kecuali orang yang telah beriman, dan penghiburan baginya atas apa yang terjadi dari mereka kepadanya. “Maka janganlah kamu bersedih hati terhadap apa yang mereka kerjakan” yaitu: janganlah menyedihkanmu apa yang terjadi karena sesungguhnya kemenangan sudah dekat, dan berita itu mengherankan.

“Dan buatlah bahtera dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.”

Dan itu karena Nuh alaihissalam ketika sudah putus asa dari kebaikan mereka, dan keberuntungan mereka, dan melihat bahwa tidak ada kebaikan pada mereka, dan mereka berusaha menyakitinya, menentangnya, dan mendustakannya dengan setiap cara baik perbuatan maupun perkataan, dia berdoa kepada mereka dengan doa karena murka kepada Allah, maka Allah mengabulkan doanya dan mengabulkan permintaannya.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan sungguh, Nuh telah berdoa kepada Kami, maka Kami adalah sebaik-baik yang mengabulkan (doa).” (Surah Ash-Shaffat: 75-76)

Dan firman Allah Ta’ala: “Dan (ingatlah) Nuh, ketika dia berdoa sebelum itu, maka Kami kabulkan (doanya) dan Kami selamatkan dia beserta keluarganya dari bencana yang besar.” (Surah Al-Anbiya: 76)

Dan firman Allah Ta’ala: “Dia (Nuh) berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku, maka berilah keputusan antara aku dan mereka dengan keputusan yang adil, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang bersamaku dari orang-orang yang beriman.'” (Surah Asy-Syu’ara: 117-118)

Dan firman Allah Ta’ala: “Maka dia berdoa kepada Tuhannya: ‘Sesungguhnya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).'” (Surah Al-Qamar: 10)

Dan firman Allah Ta’ala: “Dia (Nuh) berkata: ‘Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendustakan aku.'” (Surah Al-Mu’minun: 26)

Dan firman Allah Ta’ala: “Karena kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke dalam api, maka mereka tidak memperoleh penolong bagi mereka selain Allah. Dan Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.'” (Surah Nuh: 25-27)

Maka terkumpullah pada mereka kesalahan-kesalahan mereka dari kekafiran mereka dan kefasikan mereka, dan doa nabi mereka kepada mereka. Maka pada saat itulah Allah Ta’ala memerintahkannya untuk membuat bahtera, yaitu kapal besar yang tidak ada tandingannya sebelumnya, dan tidak akan ada yang serupa dengannya setelahnya.

Dan Allah Ta’ala telah menyampaikan kepadanya bahwa apabila datang perintah-Nya, dan turun azab-Nya yang tidak dapat ditolak dari kaum yang berdosa, bahwa dia tidak boleh mengajukan permintaan kepada-Nya tentang mereka dan tidak merajuk kepada-Nya, karena barangkali dia akan merasakan kasihan kepada kaumnya ketika menyaksikan azab yang turun kepada mereka, karena sesungguhnya kabar bukan seperti menyaksikan langsung. Karena itulah Allah berfirman: “Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.”

“Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewatinya, mereka mengejeknya.” Yaitu: mengolok-oloknya karena menganggap mustahil terjadinya apa yang dia ancamkan kepada mereka.

“Dia berkata: ‘Jika kalian mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) akan mengejek kalian sebagaimana kalian mengejek (kami).'” Yaitu: kamilah yang mengejek kalian, dan heran kepada kalian dalam ketekunan kalian pada kekafiran kalian, dan kekerasan kepala kalian yang mengharuskan turunnya azab kepada kalian dan datangnya atas kalian.

“Kelak kalian akan mengetahui siapa yang akan datang kepadanya azab yang menghinakannya dan yang akan menimpa dia azab yang kekal.” (Surah Hud: 38-39)

Dan memang tabiat mereka adalah kekafiran yang keras, dan kekerasan kepala yang berlebihan di dunia. Dan begitu juga di akhirat, karena sesungguhnya mereka juga mengingkari bahwa telah datang kepada mereka dari Allah seorang rasul.

Sebagaimana yang diriwayatkan Al-Bukhari: telah menceritakan kepada kami Musa bin Ismail, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid bin Ziyad, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Sa’id berkata: bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: _”Akan datang Nuh alaihissalam dan umatnya, maka Allah Azza wa Jalla bertanya: ‘Apakah kamu telah menyampaikan?’ Dia menjawab: ‘Ya, wahai Tuhanku.’ Maka Allah bertanya kepada umatnya: ‘Apakah dia telah menyampaikan kepada kalian?’ Mereka menjawab: ‘Tidak, tidak ada nabi yang datang kepada kami.’ Maka Allah bertanya kepada Nuh: ‘Siapa yang bersaksi untukmu?’ Dia menjawab: ‘Muhammad dan umatnya.’ Maka mereka bersaksi bahwa sesungguhnya dia telah menyampaikan. Dan itulah firman-Nya: ‘Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian.'”** (Surah Al-Baqarah: 143)

Dan “wasath” (pertengahan): adil. Maka umat ini bersaksi atas kesaksian nabinya yang jujur lagi dibenarkan bahwa sesungguhnya Allah telah mengutus Nuh dengan kebenaran, dan menurunkan kepada-Nya kebenaran dan memerintahkannya dengannya. Dan bahwa dia telah menyampaikannya kepada umatnya dengan cara yang paling sempurna dan paling lengkap, dan tidak meninggalkan sesuatu pun yang bermanfaat bagi mereka dalam agama mereka kecuali dia telah memerintahkan mereka dengannya. Dan tidak ada sesuatu pun yang dapat membahayakan mereka kecuali dia telah melarang mereka darinya dan memperingatkan mereka darinya.

Dan begitulah keadaan semua rasul, bahkan dia memperingatkan kaumnya dari Al-Masih Ad-Dajjal, meskipun tidak diperkirakan kemunculannya di zaman mereka, karena berhati-hati terhadap mereka dan kasih sayang dan rahmat kepada mereka.

Sebagaimana yang diriwayatkan Al-Bukhari: telah menceritakan kepada kami Abdan, telah menceritakan kepada kami Abdullah, dari Yunus, dari Az-Zuhri berkata Salim: berkata Ibnu Umar: berdiri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di hadapan manusia, maka beliau memuji Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya, kemudian menyebut Ad-Dajjal, maka bersabda: “Sesungguhnya aku memperingatkan kalian darinya, dan tidak ada seorang nabi pun kecuali dia telah memperingatkan kaumnya. Sungguh Nuh telah memperingatkan kaumnya darinya, tetapi aku akan mengatakan kepada kalian tentangnya perkataan yang tidak pernah dikatakan oleh seorang nabi pun kepada kaumnya; ketahuilah bahwa dia buta sebelah mata, dan sesungguhnya Allah tidaklah buta.”

Dan hadits ini juga terdapat dalam Shahihain dari riwayat Syaiban bin Abdurrahman, dari Yahya bin Abi Katsir, dari Abu Salamah bin Abdurrahman, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maukah aku ceritakan kepada kalian tentang Ad-Dajjal suatu hadits yang tidak pernah diceritakan oleh seorang nabi pun kepada kaumnya? Sesungguhnya dia buta sebelah mata, dan sesungguhnya dia akan datang membawa yang seperti surga dan neraka, dan yang dia katakan sebagai surga itu adalah neraka, dan sesungguhnya aku memperingatkan kalian sebagaimana Nuh memperingatkan kaumnya.” Lafazh Al-Bukhari.

Dan telah berkata sebagian ulama salaf: Ketika Allah mengabulkan doanya, Dia memerintahkannya untuk menanam pohon agar membuat kapal darinya, maka dia menanamnya, dan menunggunya seratus tahun, kemudian menggergajinya dalam seratus tahun lagi. Dan dikatakan: dalam empat puluh tahun. Maka wallahu a’lam.

Berkata Muhammad bin Ishaq, dari Ats-Tsauri: Dan adalah dari kayu jati. Dan dikatakan: dari kayu pinus. Dan itu adalah nash Taurat.

Berkata Ats-Tsauri: Dan Dia memerintahkannya untuk menjadikan panjangnya delapan puluh dzira’, dan lebarnya lima puluh dzira’, dan untuk mengecat bagian luarnya dan dalamnya dengan ter, dan untuk menjadikan baginya haluan yang runcing yang membelah air.

Dan berkata Qatadah: panjangnya tiga ratus dzira’ dalam lebar lima puluh dzira’. Dan inilah yang ada dalam Taurat sebagaimana yang aku lihat.

Dan berkata Al-Hasan Al-Bashri: enam ratus dalam lebar tiga ratus. Dan dari Ibnu Abbas: seribu dua ratus dzira’ dalam lebar enam ratus dzira’. Dan dikatakan: panjangnya dua ribu dzira’, dan lebarnya seratus dzira’. Mereka semua berkata: Dan tingginya tiga puluh dzira’, dan adalah tiga tingkat, setiap satu sepuluh dzira’; bagian bawah untuk hewan-hewan dan binatang buas, dan bagian tengah untuk manusia, dan bagian atas untuk burung-burung, dan pintunya di bagian sampingnya, dan baginya ada penutup dari atasnya yang tertutup rapat atasnya.

Allah Ta’ala berfirman: “Dia (Nuh) berkata: ‘Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendustakan aku.’ Maka Kami wahyukan kepadanya: ‘Buatlah bahtera dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami.'” (Surah Al-Mu’minun: 26-27)

Yaitu: dengan perintah Kami kepadamu, dan dengan pengawasan Kami atas pembuatanmu untuk itu, dan penyaksian Kami atas itu untuk membimbingmu kepada yang benar dalam pembuatannya.

“Apabila perintah Kami datang dan tanur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari setiap (jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka; dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim, sesungguhnya mereka itu pasti ditenggelamkan.” (Surah Al-Mu’minun: 27)

Maka Dia menyampaikan kepadanya dengan perintah-Nya yang agung dan tinggi bahwa apabila datang perintah-Nya, dan turun azab-Nya, untuk membawa dalam kapal ini sepasang dari setiap jenis dari hewan-hewan dan seluruh yang di dalamnya ada ruh dari makanan dan selainnya untuk menjaga keturunannya, dan untuk membawa bersamanya keluarganya yaitu: ahli rumahnya kecuali orang yang telah ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka; yaitu kecuali orang yang kafir karena sesungguhnya telah berlaku padanya seruan yang tidak dapat ditolak, dan wajib atasnya turunnya azab yang tidak dapat ditolak.

Dan Dia memerintahkannya untuk tidak merajuk kepada-Nya tentang mereka ketika turun kepada mereka apa yang dia saksikan dari azab yang dahsyat yang telah Dia tetapkan atas mereka, Maha Pelaksana atas apa yang Dia kehendaki, sebagaimana kami telah menjelaskannya sebelumnya.

Yang dimaksud dengan tannur menurut jumhur ulama adalah permukaan bumi, yaitu; bumi memancarkan air dari seluruh penjurunya hingga air memancar dari tungku-tungku yang merupakan tempat api. Menurut Ibnu Abbas: tannur adalah sebuah mata air di India. Menurut Asy-Sya’bi: di Kufah. Menurut Qatadah: di Jazirah. Ali bin Abi Thalib berkata: Yang dimaksud dengan tannur adalah terbelahnya fajar, dan tanwir fajar artinya: cahaya dan sinarnya, yaitu: pada saat itulah “angkatlah ke dalamnya dari setiap pasangan dua ekor”, dan ini adalah pendapat yang aneh.

Firman Allah Ta’ala: “Hingga apabila telah datang perintah Kami dan air telah memancar dari tannur, Kami berfirman: ‘Angkatlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatlah pula) orang-orang yang beriman.’ Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.” (Hud: 40) Ini adalah perintah kedua ketika azab menimpa mereka, yaitu agar ia memuat ke dalamnya dari setiap pasangan dua ekor. Dalam kitab Ahli Kitab disebutkan bahwa ia diperintahkan untuk memuat dari setiap hewan yang dapat dimakan tujuh pasang, dan dari yang tidak dapat dimakan sepasang, jantan dan betina. Ini berbeda dengan pemahaman firman Allah Ta’ala dalam kitab kami yang benar: “dua ekor”, jika kita menjadikannya sebagai objek. Adapun jika kita menjadikannya sebagai penegas bagi “pasangan”, dan objeknya dibuang, maka tidak ada pertentangan, wallahu a’lam.

Disebutkan oleh sebagian ulama, dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas: bahwa yang pertama masuk dari burung-burung adalah burung merpati, dan yang terakhir masuk dari hewan adalah keledai, dan iblis masuk dengan bergelantungan di ekor keledai. Ibnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Shalih, telah menceritakan kepadaku Al-Laits, telah menceritakan kepadaku Hisyam bin Sa’d, dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika Nuh memuat ke dalam bahtera dari setiap pasangan dua ekor, sahabat-sahabatnya berkata: ‘Bagaimana kami merasa tenang atau bagaimana hewan-hewan ternak merasa tenang sementara bersama kami ada singa?’ Maka Allah menimpakan demam kepadanya, dan itulah demam pertama yang turun di bumi. Kemudian mereka mengeluhkan tikus betina dan berkata: ‘Tikus ini merusak makanan dan barang-barang kami.’ Maka Allah mewahyukan kepada singa lalu ia bersin, keluarlah kucing darinya, maka tikus bersembunyi darinya.” Ini adalah hadits mursal.

Firman-Nya: “dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya” yaitu orang yang telah pasti terkena doa yang berlaku bagi mereka dari kalangan yang kafir, di antaranya adalah anaknya Yam yang tenggelam, sebagaimana akan dijelaskan nanti: “dan (orang-orang) yang beriman”, yaitu muatlah ke dalamnya orang yang beriman kepadamu dari umatmu. Allah Ta’ala berfirman: “Dan tidak beriman bersamanya kecuali sedikit.” Ini terjadi meskipun waktu sangat lama dan ia tinggal di tengah-tengah mereka, serta dakwahnya yang tegas siang dan malam dengan berbagai macam perkataan, berbagai bentuk kelembutan, ancaman dan peringatan di satu sisi, dan janji serta harapan di sisi lain.

Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah orang yang bersamanya di bahtera; menurut Ibnu Abbas mereka berjumlah delapan puluh jiwa bersama istri-istri mereka. Menurut Ka’ab Al-Ahbar mereka berjumlah tujuh puluh dua jiwa. Ada yang mengatakan: mereka berjumlah sepuluh orang. Ada pula yang mengatakan: mereka hanya Nuh dan ketiga anaknya, serta empat menantunya, dengan istri Yam yang mengundurkan diri, memisahkan diri dan menempuh jalan lain dari jalan keselamatan, maka ia tidak adil ketika berpaling. Pendapat ini bertentangan dengan zhahir ayat, bahkan ayat ini adalah nash bahwa telah naik bersamanya dari selain keluarganya sekelompok orang yang beriman kepadanya, sebagaimana firman-Nya: “Dan selamatkanlah aku beserta orang-orang yang beriman yang bersamaku.” (Asy-Syu’ara: 118) Ada yang mengatakan: mereka berjumlah tujuh orang.

Adapun istri Nuh, yaitu ibu dari semua anaknya; mereka adalah Ham, Sam, Yafits, Yam—yang oleh Ahli Kitab disebut Kan’an—dan dialah yang tenggelam, serta ‘Abir yang telah meninggal sebelum banjir. Dikatakan: bahwa ia tenggelam bersama orang-orang yang tenggelam, dan ia termasuk orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya karena kekufurannya. Menurut Ahli Kitab bahwa ia ada di bahtera, maka dimungkinkan bahwa ia kafir setelah itu atau bahwa ia diberi kesempatan hingga hari kiamat, dan yang zhahir adalah pendapat pertama karena firman-Nya: “Janganlah Engkau biarkan di atas bumi seorang pun dari orang-orang kafir.” (Nuh: 26)

Allah Ta’ala berfirman: “Maka apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu, maka ucapkanlah: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zalim.’ Dan berdoalah: ‘Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat.'” (Al-Mu’minun: 28-29) Allah memerintahkannya untuk memuji Tuhannya atas apa yang telah ditundukkan baginya berupa bahtera ini yang menyelamatkannya, dan Allah memberikan keputusan antara dia dengan kaumnya, serta menyenangkan hatinya terhadap orang yang menentangnya dan mendustakannya, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Yang menciptakan semua pasangan dan menjadikan bagimu dari kapal-kapal dan hewan ternak yang kamu naiki, supaya kamu duduk di atas punggungnya, kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya, dan supaya kamu mengucapkan: ‘Maha Suci yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.'” (Az-Zukhruf: 12-14)

Demikianlah perintah untuk berdoa di awal berbagai urusan agar berjalan dengan baik dan penuh berkah, serta agar akibatnya terpuji, sebagaimana firman Allah Ta’ala kepada rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam ketika berhijrah: “Dan katakanlah: ‘Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.'” (Al-Isra: 80)

Nuh ‘alaihissalam telah melaksanakan wasiat ini dan berkata: “Naiklah ke dalamnya dengan (menyebut) nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Hud: 41) Yaitu dengan nama Allah dimulai pelayarannya dan berakhirnya. “Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”, yaitu dan memiliki azab yang pedih meskipun Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, tidak menolak azab-Nya dari kaum yang berdosa, sebagaimana yang ditimpakan kepada penduduk bumi yang mengingkari-Nya dan menyembah selain-Nya.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung.” (Hud: 42) Hal itu karena Allah Ta’ala menurunkan dari langit hujan yang tidak pernah dialami bumi sebelumnya dan tidak akan turun lagi setelahnya, seperti mulut-mulut kantong air, dan Allah memerintahkan bumi sehingga air memancar dari semua jalan dan penjurunya, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Maka ia berdoa kepada Tuhannya: ‘Sesungguhnya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).’ Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku.” (Al-Qamar: 10-13)

Ad-Dusur artinya: paku-paku. “Yang berlayar dengan pemeliharaan Kami”, yaitu dengan penjagaan, pengawasan, pemeliharaan dan pengawasan Kami terhadapnya, “sebagai balasan bagi orang yang telah diingkari (kaumnya).” (Al-Qamar: 14)

Ibnu Jarir dan lainnya menyebutkan bahwa banjir terjadi pada tanggal tiga belas bulan Ab di puncak musim panas. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya ketika air telah naik (sampai batas yang ditetapkan), Kami bawa kamu ke dalam bahtera yang berlayar.” (Al-Haqqah: 11) yaitu bahtera. “Agar Kami jadikan (peristiwa itu) peringatan bagi kamu, dan agar diperhatikan oleh telinga yang mendengarkan.” (Al-Haqqah: 12)

Sekelompok mufassirin mengatakan: Air naik di atas gunung tertinggi di bumi setinggi lima belas hasta. Demikian pula menurut Ahli Kitab. Ada yang mengatakan: delapan puluh hasta. Dan merata di seluruh bumi; panjang dan lebarnya, dataran dan bukitnya, gunung-gunungnya, tanah tandusnya dan padang pasirnya, dan tidak tersisa di permukaan bumi satu pun makhluk hidup yang berkedip, tidak kecil maupun besar.

Imam Malik berkata, dari Zaid bin Aslam: Penduduk pada masa itu telah memenuhi dataran dan gunung. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: Tidak ada satu tempat pun di bumi kecuali ada pemilik dan penguasanya. Keduanya diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.

“Dan Nuh berseru kepada anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: ‘Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.’ Anaknya menjawab: ‘Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!’ Nuh berkata: ‘Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) yang Maha Penyayang.’ Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (Hud: 42-43)

Anak ini adalah Yam, saudara Sam, Ham, dan Yafits. Ada yang mengatakan: namanya adalah Kan’an. Ia adalah orang kafir yang beramal tidak saleh, menentang ayahnya dalam agama dan mazhabnya, maka ia binasa bersama orang-orang yang binasa. Sementara orang-orang yang bukan kerabat berdasarkan nasab selamat bersama ayahnya karena mereka sepaham dalam agama dan mazhab.

“Dan difirmankan: ‘Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,’ dan airpun disurutkan, dan perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: ‘Binasalah orang-orang yang zalim.'” (Hud: 44) Yaitu; ketika telah selesai (menghancurkan) penduduk bumi, dan tidak tersisa seorang pun dari mereka yang menyembah selain Allah Azza wa Jalla, Allah memerintahkan bumi untuk menelan airnya, dan memerintahkan langit untuk berhenti, yaitu menahan hujan. “Dan airpun disurutkan”, yaitu berkurang dari yang ada. “Dan perintahpun diselesaikan”, yaitu terjadi kepada mereka apa yang telah terdahulu dalam ilmu dan takdir-Nya, yaitu ditimpakan kepada mereka apa yang ditimpakan. “Dan dikatakan: ‘Binasalah orang-orang yang zalim'”, yaitu; diproklamirkan kepada mereka dengan lisan kekuasaan bahwa mereka jauh dari rahmat dan ampunan.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Lalu mereka mendustakannya, maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya).” (Al-A’raf: 64)

Allah Ta’ala berfirman: “Lalu mereka mendustakannya, maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka itu pengganti (kaum yang dibinasakan), dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami; maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.” (Yunus: 73)

Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami tolong dia dari kaum yang telah mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat, maka Kami tenggelamkan mereka semuanya.” (Al-Anbiya: 77)

Allah Ta’ala berfirman: “Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera yang penuh muatan. Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (Asy-Syu’ara: 119-122)

Allah Ta’ala berfirman: “Lalu Kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu dan Kami jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semesta alam.” (Al-Ankabut: 14-15)

Allah Ta’ala berfirman: “Kemudian Kami tenggelamkan orang-orang yang lain.” (Ash-Shaffat: 82)

Dan firman-Nya: “Dan sesungguhnya Kami telah tinggalkan (bahtera itu) sebagai tanda (kekuasaan Kami), maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? Maka alangkah hebatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Al-Qamar: 15-17)

Allah Ta’ala berfirman: “Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain Allah. Dan Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku janganlah Engkau biarkan di atas bumi ini seorang pun dari orang-orang yang kafir. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.'” (Nuh: 25-27)

Allah Ta’ala telah mengabulkan—dan bagi-Nya segala puji dan karunia—doanya sehingga tidak tersisa dari mereka satu pun yang berkedip.

Kedua imam: Abu Ja’far bin Jarir dan Abu Muhammad bin Abi Hatim meriwayatkan dalam tafsir mereka dari jalur Musa bin Ya’qub Az-Zam’i, dari Fa’id bekas budak Ubaidillah bin Abi Rafi’, bahwa Ibrahim bin Abdurrahman bin Abi Rabi’ah mengabarkan kepadanya, bahwa Aisyah Ummul Mukminin mengabarkan kepadanya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seandainya Allah merahmati seseorang dari kaum Nuh, niscaya Dia akan merahmati ibu bayi itu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Nuh ‘alaihissalam tinggal di tengah kaumnya selama seribu tahun—yaitu kurang lima puluh tahun—dan menanam pohon selama seratus tahun hingga tumbuh besar, dan pergi ke berbagai arah, kemudian ia menebangnya, lalu menjadikannya bahtera, dan mereka melewatinya dan mengejeknya, mereka berkata: ‘Kamu membuat bahtera di daratan, bagaimana ia akan berlayar?’ Ia berkata: ‘Kalian akan mengetahuinya.’ Ketika ia selesai dan air memancar serta mengalir di jalan-jalan, ibu bayi itu takut terhadap anaknya—padahal ia sangat mencintainya—ia keluar membawanya ke gunung hingga mencapai sepertiga gunung. Ketika air mencapainya, ia keluar bersamanya hingga sampai di puncak gunung. Ketika air mencapai lehernya, ia mengangkatnya dengan kedua tangannya, lalu keduanya tenggelam. Seandainya Allah merahmati seseorang dari mereka, niscaya Dia akan merahmati ibu bayi itu.”

Ini adalah hadits ganjil, dan telah diriwayatkan dari Ka’ab Al-Ahbar, Mujahid, dan banyak lainnya kisah yang mirip dengan ini, dan lebih tepat hadits ini adalah mauquf yang diambil dari Ka’ab Al-Ahbar, wallahu a’lam.

Yang dimaksud adalah bahwa Allah tidak menyisakan satu pun orang kafir. Lalu bagaimana sebagian mufassirin menyangka bahwa ‘Uj bin ‘Anaq—ada yang mengatakan: Ibnu ‘Anaq—masih ada sejak sebelum Nuh hingga zaman Musa, dan mereka mengatakan: Ia adalah orang kafir yang durhaka, penindas yang keras kepala. Mereka mengatakan: Ia dilahirkan oleh ibunya ‘Anaq binti Adam dari hasil zina, dan ia dengan tingginya dapat mengambil ikan dari dasar laut dan memanggang di sinar matahari, dan ia berkata kepada Nuh ketika di bahtera: “Apa ini piring kecilmu?” sambil mengejeknya. Mereka menyebutkan bahwa tingginya adalah tiga ribu hasta dan tiga ratus tiga puluh tiga hasta dan sepertiga, dan berbagai omong kosong lainnya yang seandainya tidak tercatat dalam banyak kitab tafsir dan kitab sejarah serta peristiwa manusia, kami tidak akan menyebutkannya karena kelemahannya dan kerapuhannya, kemudian ia bertentangan dengan yang masuk akal dan yang dinukilkan.

Adapun dari segi akal, bagaimana dapat dibenarkan bahwa Allah membinasakan anak Nuh karena kekufurannya, padahal ayahnya adalah nabi umat dan pemimpin ahli iman, tetapi tidak membinasakan ‘Uj bin ‘Anaq yang—menurut mereka—lebih zalim dan lebih melampaui batas, dan bagaimana Allah tidak merahmati seorang pun dari mereka, tidak ibu bayi, tidak pula bayinya, tetapi membiarkan anak haram ini, penindas keras kepala, pelaku dosa yang sangat kafir, setan yang durhaka—menurut apa yang mereka sebutkan?!

Adapun dari segi nukilan, Allah Ta’ala telah berfirman: “Kemudian Kami tenggelamkan orang-orang yang lain.” Dan firman-Nya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau biarkan di atas bumi ini seorang pun dari orang-orang yang kafir.” Kemudian tinggi yang mereka sebutkan ini bertentangan dengan apa yang ada dalam Shahihain dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dengan tinggi enam puluh hasta, kemudian tinggi makhluk terus berkurang hingga sekarang.”

Inilah nash dari Ash-Shadiq Al-Mashduk (yang benar dan dibenarkan) yang ma’shum (terpelihara dari kesalahan) yang tidak berbicara menurut hawa nafsu, melainkan wahyu yang diwahyukan, bahwa tinggi makhluk terus berkurang hingga sekarang, yaitu: manusia terus berkurang tingginya dari Adam hingga hari beliau mengabarkan hal itu, dan terus demikian hingga hari kiamat.

Ini menunjukkan bahwa tidak ada dari keturunan Adam yang lebih tinggi darinya, lalu bagaimana ini ditinggalkan dan dilupakan, dan berpaling kepada perkataan orang-orang kafir yang pembohong dari Ahli Kitab yang telah mengubah kitab-kitab Allah yang diturunkan, mengubahnya, menakwilkannya dan meletakkannya bukan pada tempatnya, lalu bagaimana persangkaan kalian terhadap apa yang mereka nukil sendiri atau mereka dipercaya untuk menjaganya, padahal mereka adalah orang-orang pembohong yang khianat, atas mereka laknat Allah yang berturut-turut hingga hari kiamat. Aku tidak menyangka bahwa berita tentang ‘Uj bin ‘Anaq ini kecuali rekayasa dari sebagian zindik dan orang jahat mereka yang memusuhi para nabi, wallahu a’lam.

Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan permohonan Nuh kepada Tuhannya tentang anaknya, dan pertanyaannya kepada-Nya tentang tenggelamnya sebagai bentuk mencari penjelasan dan pemahaman. Pertanyaan itu adalah bahwa Engkau telah menjanjikan kepadaku keselamatan keluargaku bersamaku sedangkan ia termasuk mereka namun ia tenggelam, maka dijawab bahwa ia bukan termasuk keluargamu, yaitu yang dijanjikan akan diselamatkan. Bukankah Kami telah berfirman kepadamu: “dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya” maka ia termasuk orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dari mereka bahwa ia akan tenggelam karena kekufurannya. Oleh karena itu takdir membawanya hingga ia memisahkan diri dari kelompok ahli iman, maka ia tenggelam bersama kelompoknya yaitu ahli kekufuran dan kedurhakaan.

Kemudian Allah Ta’ala berfirman: “Difirmankan: ‘Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami atasmu dan atas umat-umat dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami.'” (Hud: 48)

Ini adalah perintah kepada Nuh ‘alaihissalam ketika air telah surut dari permukaan bumi, dan memungkinkan untuk berjalan di atasnya dan menetap, untuk turun dari bahtera yang telah berlabuh setelah pelayarannya yang dahsyat di atas Gunung Judi, yaitu sebuah gunung di tanah Jazirah yang terkenal, dan telah kami sebutkan sebelumnya ketika membahas penciptaan gunung-gunung. “Dengan selamat sejahtera dari Kami dan penuh keberkahan”, yaitu turunlah dengan selamat dan penuh berkah atasmu, “dan atas umat-umat” dari orang yang akan lahir setelahnya, yaitu dari anak-anakmu. Karena Allah tidak menjadikan bagi seorang pun dari yang bersamanya dari orang-orang beriman keturunan dan anak cucu selain Nuh ‘alaihissalam.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami jadikan keturunannya orang-orang yang melanjutkan (kehidupan).” (Ash-Shaffat: 77) Maka setiap orang yang ada di permukaan bumi hari ini dari berbagai jenis bani Adam dinasabkan kepada ketiga anak Nuh; mereka adalah Sam, Ham, dan Yafits.

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab, dari Sa’id, dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari Samurah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sam adalah bapak orang Arab, Ham adalah bapak orang Habasyah, dan Yafits adalah bapak orang Romawi.” Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Bisyr bin Mu’adz Al-‘Aqadi, dari Yazid bin Zurai’, dari Sa’id bin Abi ‘Arubah, dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari Samurah secara marfu’ seperti itu.

Asy-Syaikh Abu Umar bin Abdul Bar berkata: Dan telah diriwayatkan dari ‘Imran bin Hushain, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti itu. Beliau berkata: Yang dimaksud dengan Romawi di sini adalah Romawi pertama, yaitu orang-orang Yunani yang dinasabkan kepada Rumi bin Lithi bin Yunan bin Yafits bin Nuh ‘alaihissalam.

Kemudian ia meriwayatkan dari hadits Ismail bin ‘Ayyasy, dari Yahya bin Sa’id, dari Sa’id bin Al-Musayyab bahwa ia berkata: Nuh melahirkan tiga anak: Sam, Yafits, dan Ham. Dan setiap orang dari mereka melahirkan tiga anak; Sam melahirkan orang Arab, Persia, dan Romawi. Yafits melahirkan orang Turki, Saqalibah, serta Yakjuj dan Makjuj. Dan Ham melahirkan orang Qibth, Sudan, dan Barbar.

Saya (penulis) berkata: Al-Hafizh Abu Bakr Al-Bazzar telah berkata dalam musnadnya: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Hani dan Ahmad bin Husain bin ‘Abbad Abu Al-‘Abbas, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yazid bin Sinan Ar-Rahawi, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Yahya bin Sa’id, dari Sa’id bin Al-Musayyab, dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: _”Nuh melahirkan; Sam, Ham, dan Yafits. Sam melahirkan orang Arab, Persia, dan Romawi, dan kebaikan ada pada mereka. Yafits melahirkan Yakjuj dan Makjuj, bangsa Turki, dan bangsa Saqalibah (Slavia); dan tidak ada kebaikan pada mereka. Dan Ham memperanakkan bangsa Qibthi (Koptik), bangsa Barbar, dan bangsa Sudan.

Kemudian ia berkata: Kami tidak mengetahui hadis ini diriwayatkan secara marfū‘ (disandarkan kepada Nabi) kecuali dari jalur ini saja; Muhammad bin Yazid bin Sinan meriwayatkannya secara tunggal dari ayahnya. Padahal sejumlah ulama telah meriwayatkan darinya dan mereka masih mentolerir hadisnya.

Hadis ini juga diriwayatkan oleh selainnya dari Yahya bin Sa‘id secara mursal dan tidak menyandarkannya (kepada Nabi), melainkan menjadikannya sebagai perkataan Sa‘id.

Aku berkata: apa yang disebutkan oleh Abu ‘Umar inilah yang terjaga (mahfūzh), yaitu sebagai perkataan Sa‘id. Demikian pula diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih dengan makna yang sama. Dan Allah Maha Mengetahui.

Sedangkan Yazid bin Sinan Abu Furwah ar-Rahawi adalah perawi yang sangat lemah, sehingga tidak dapat dijadikan sandaran.

Telah dikatakan: Sesungguhnya Nuh ‘alaihissalam tidak dilahirkan baginya ketiga anak ini kecuali setelah air bah, dan sesungguhnya telah dilahirkan baginya sebelum bahtera itu Kan’an yang tenggelam, dan ‘Abir yang meninggal sebelum air bah. Yang benar adalah bahwa ketiga anaknya itu bersama dengannya di dalam bahtera, mereka dan istri-istri mereka serta ibu mereka, dan ini adalah nash Taurat. Dan telah disebutkan bahwa Ham bersetubuh dengan istrinya di dalam bahtera, maka Nuh berdoa agar bentuk nutfahnya menjadi buruk, lalu lahirlah baginya seorang anak yang hitam yaitu Kan’an bin Ham, kakek orang-orang Sudan. Dan dikatakan: bahkan ia melihat ayahnya sedang tidur dan auratnya terlihat namun ia tidak menutupinya, lalu kedua saudaranya menutupinya. Oleh karena itu ia berdoa agar nutfahnya berubah dan agar anak-anaknya menjadi hamba bagi saudara-saudaranya.

Dan Al-Imam Abu Ja’far bin Jarir menyebutkan dari jalur Ali bin Zaid bin Jud’an, dari Yusuf bin Mihran, dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata: Para hawari berkata kepada Isa Ibnu Maryam: Seandainya engkau mengutus kepada kami seorang yang menyaksikan bahtera lalu ia menceritakan kepada kami tentangnya? Ia berkata: Maka ia pergi bersama mereka hingga mendatangi sebuah bukit dari tanah, lalu ia mengambil segenggam dari tanah itu dengan tangannya. Ia berkata: Apakah kalian tahu apa ini? Mereka berkata: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Ia berkata: Ini adalah tumit Ham bin Nuh. Ia berkata: Dan ia memukul bukit itu dengan tongkatnya, dan berkata: Bangunlah dengan izin Allah. Maka tiba-tiba ia berdiri mengebaskan tanah dari kepalanya, telah beruban. Maka Isa ‘alaihissalam berkata kepadanya: Begitukah engkau binasa? Ia berkata: Tidak. Tetapi aku mati sedangkan aku masih muda, namun aku menyangka bahwa ini adalah hari kiamat, maka dari itu aku beruban. Ia berkata: Ceritakanlah kepada kami tentang bahtera Nuh. Ia berkata: Panjangnya adalah seribu dua ratus hasta, dan lebarnya enam ratus hasta, dan ia memiliki tiga tingkat; satu tingkat di dalamnya hewan-hewan ternak dan binatang buas, dan satu tingkat di dalamnya manusia, dan satu tingkat di dalamnya burung-burung. Maka ketika kotoran hewan-hewan bertambah banyak, Allah ‘azza wa jalla mewahyukan kepada Nuh ‘alaihissalam: Tekan ekor gajah. Maka ia menekannya lalu keluarlah darinya babi jantan dan betina, lalu keduanya menyerbu kotoran itu. Dan ketika tikus jatuh melubangi bahtera dengan gigigitannya, Allah ‘azza wa jalla mewahyukan kepada Nuh ‘alaihissalam: Pukullah di antara kedua mata singa. Maka keluarlah dari lubang hidungnya kucing jantan dan betina, lalu keduanya menyerbu tikus. Maka Isa berkata kepadanya: Bagaimana Nuh ‘alaihissalam mengetahui bahwa negeri-negeri telah tenggelam? Ia berkata: Ia mengutus burung gagak untuk membawa kepadanya berita. Maka ia menemukan bangkai lalu hinggap di atasnya. Maka ia berdoa kepadanya dengan rasa takut, maka karena itu ia tidak terbiasa dengan rumah-rumah. Ia berkata: Kemudian ia mengutus burung merpati, lalu ia datang dengan daun zaitun di paruhnya dan lumpur di kakinya. Maka ia mengetahui bahwa negeri-negeri telah tenggelam, lalu ia memberikan kalung hijau yang ada di lehernya, dan berdoa untuknya agar berada dalam keramahan dan keamanan, maka dari itu ia terbiasa dengan rumah-rumah. Ia berkata: Maka mereka berkata: Ya Rasulullah, tidakkah kami pergi dengannya kepada keluarga kami, lalu ia duduk bersama kami dan menceritakan kepada kami? Ia berkata: Bagaimana mengikuti kalian orang yang tidak memiliki rezeki? Ia berkata: Maka ia berkata kepadanya: Kembalilah dengan izin Allah, maka ia kembali menjadi tanah. Dan ini adalah atsar yang sangat aneh.

Dan ‘Ilba’ bin Ahmar meriwayatkan, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Bersama Nuh di dalam bahtera terdapat delapan puluh laki-laki bersama keluarga mereka, dan bahwa mereka berada di dalam bahtera seratus lima puluh hari, dan bahwa Allah mengarahkan bahtera itu ke Mekah lalu ia berputar mengelilingi Baitullah selama empat puluh hari, kemudian mengarahkannya ke Al-Judi lalu ia menetap di atasnya. Maka Nuh ‘alaihissalam mengutus burung gagak agar membawa kepadanya berita tentang bumi, lalu ia pergi dan hinggap di atas bangkai-bangkai, maka ia terlambat kepadanya. Lalu ia mengutus burung merpati, maka ia datang kepadanya dengan daun zaitun dan melumuri kakinya dengan lumpur. Maka Nuh mengetahui bahwa air telah surut. Lalu ia turun ke bawah Al-Judi dan membangun sebuah kampung, dan menamainya Tsamanin (delapan puluh). Maka mereka bersiap pada suatu hari, dan bahasa mereka telah berubah-ubah menjadi delapan puluh bahasa; salah satunya adalah bahasa Arab. Maka sebagian mereka tidak memahami perkataan sebagian yang lain, dan Nuh ‘alaihissalam menerjemahkannya.

Dan Qatadah dan lainnya berkata: Mereka menaiki bahtera pada hari kesepuluh dari bulan Rajab, lalu mereka berlayar seratus lima puluh hari, dan bahtera menetap dengan mereka di atas Al-Judi selama sebulan, dan keluarnya mereka dari bahtera adalah pada hari Asyura dari bulan Muharram. Dan telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir sebuah berita marfu’ yang sesuai dengan ini, dan bahwa mereka berpuasa pada hari itu.

Dan Al-Imam Ahmad berkata: Abu Ja’far menceritakan kepada kami, Abdussamad bin Habib Al-Azdi menceritakan kepada kami, dari ayahnya Habib bin Abdullah, dari Syibl, dari Abu Hurairah, ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan orang-orang dari kalangan Yahudi, dan mereka telah berpuasa pada hari Asyura, maka beliau berkata: “Puasa apakah ini?” Maka mereka berkata: Ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Musa dan Bani Israil dari tenggelam, dan Fir’aun tenggelam di dalamnya, dan ini adalah hari di mana bahtera menetap di atas Al-Judi. Maka Nuh dan Musa ‘alaihimassalam berpuasa sebagai syukur kepada Allah ‘azza wa jalla. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Aku lebih berhak dengan Musa dan lebih berhak dengan puasa hari ini.” Dan beliau berkata kepada para sahabatnya: “Barangsiapa di antara kalian yang memulai pagi dengan berpuasa maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, dan barangsiapa yang telah makan dari sarapan keluarganya maka hendaklah ia menyempurnakan sisa harinya.” Dan hadits ini memiliki syahid dalam Shahih dari jalur lain, dan yang aneh adalah penyebutan Nuh juga. Wallahu a’lam.

Adapun apa yang disebutkan oleh banyak orang jahil: bahwa mereka makan dari sisa bekal mereka, dan dari biji-bijian yang bersama mereka yang telah mereka bawa, dan mereka menggiling biji-bijian pada hari itu, dan mereka berkohl dengan celak untuk menguatkan penglihatan mereka karena silau dari cahaya setelah mereka berada dalam kegelapan bahtera, maka semua ini tidak ada yang shahih di dalamnya, dan hanya disebutkan di dalamnya atsar-atsar yang terputus dari Bani Israil yang tidak dapat diandalkan dan tidak dapat diteladani. Wallahu a’lam.

Dan Muhammad bin Ishaq berkata: Ketika Allah berkehendak untuk menghentikan air bah itu, Dia mengutus angin di atas permukaan bumi maka air pun tenang, dan mata air bumi tertutup, maka air mulai berkurang dan surut dan hilang. Dan adalah menetapnya bahtera di atas Al-Judi menurut apa yang diklaim oleh para ahli Taurat pada bulan ketujuh pada tujuh belas malam berlalu darinya, dan pada hari pertama dari bulan kesepuluh terlihat puncak-puncak gunung. Maka ketika berlalu setelah itu empat puluh hari, Nuh membuka jendela bahtera yang ia buat di dalamnya, kemudian ia mengutus burung gagak untuk melihat apa yang terjadi dengan air, namun ia tidak kembali kepadanya. Lalu ia mengutus burung merpati, maka ia kembali kepadanya namun tidak menemukan tempat untuk kakinya, maka ia mengulurkan tangannya kepada burung merpati lalu mengambilnya dan memasukkannya. Kemudian berlalu tujuh hari, lalu ia mengutusnya untuk melihat, maka ia kembali ketika sore dan di mulutnya daun zaitun, maka Nuh mengetahui bahwa air telah berkurang dari permukaan bumi. Kemudian ia menunggu tujuh hari, lalu ia mengutusnya maka ia tidak kembali kepadanya, maka Nuh mengetahui bahwa bumi telah muncul. Maka ketika genap satu tahun antara Allah mengutus air bah hingga Nuh mengutus burung merpati, dan masuk satu hari dari bulan pertama tahun kedua, muncullah permukaan bumi dan daratan nampak, dan Nuh membuka penutup bahtera. Dan ini yang disebutkan oleh Ibnu Ishaq adalah sama persis kandungan kisah Taurat yang ada di tangan Ahli Kitab.

Ibnu Ishaq berkata: Dan pada bulan kedua dari tahun kedua pada dua puluh enam malam darinya, dikatakan: Hai Nuh, turunlah dengan selamat dari Kami dan berkah atasmu dan atas umat-umat dari yang bersamamu, dan umat-umat yang akan Kami beri kenikmatan kemudian akan ditimpa oleh Kami azab yang pedih. Dan dalam apa yang disebutkan oleh Ahli Kitab bahwa Allah berbicara kepada Nuh dengan berkata kepadanya: Keluarlah dari bahtera, engkau dan istrimu dan anak-anakmu dan istri-istri anak-anakmu bersamamu, dan semua hewan yang bersamamu, dan hendaklah berkembang dan bertambah banyak di bumi. Maka mereka pun keluar, dan Nuh membangun altar untuk Allah ‘azza wa jalla, dan mengambil dari semua hewan halal dan burung halal lalu menyembelihnya sebagai kurban kepada Allah ‘azza wa jalla, dan Allah berjanji kepadanya bahwa tidak akan mengulangi air bah kepada penduduk bumi, dan menjadikan pengingat perjanjian kepadanya adalah busur yang ada di awan, yaitu pelangi yang telah kami sebutkan dari Ibnu Abbas bahwa ia adalah keamanan dari tenggelam. Sebagian mereka berkata: Di dalamnya terdapat isyarat bahwa ia adalah busur tanpa tali. Maksudnya: bahwa awan ini tidak akan terjadi darinya air bah seperti pertama kali. Wallahu a’lam.

Dan telah mengingkari sekelompok dari orang-orang jahil Persia dan ahli India terjadinya air bah, dan diakui oleh yang lain dari mereka. Dan mereka berkata: Sesungguhnya itu hanya terjadi di tanah Babel, dan tidak sampai kepada kami. Mereka berkata: Dan kami tidak berhenti mewarisi kerajaan dari generasi ke generasi sejak Kayumart, yaitu maksudnya Adam, hingga zaman kami ini. Dan ini dikemukakan oleh yang mengemukakannya dari kaum zindik Majusi, penyembah api, dan pengikut syaitan. Dan ini adalah sofisme dari mereka, dan kekufuran yang nyata, dan kebodohan yang terang, dan membantah hal-hal yang indrawi, dan mendustakan Rabb bumi dan langit. Dan telah sepakat para penganut agama-agama yang memindahkan dari para rasul ar-Rahman bersama apa yang telah mutawatir di sisi manusia pada seluruh zaman tentang terjadinya air bah, dan bahwa ia melanda seluruh negeri, dan Allah tidak menyisakan seorang pun dari kaum kafir; sebagai pengabulan doa Nabi-Nya yang ditolong dan ma’shum, dan pelaksanaan apa yang telah terjadi dalam takdir yang pasti.

Penyebutan Sesuatu dari Berita-berita Nuh Sendiri ‘Alaihishshalatu Wassalam

Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya dia adalah seorang hamba yang banyak bersyukur. (Al-Isra’: 3) Dikatakan: Sesungguhnya ia memuji Allah atas makanannya, dan minumannya, dan pakaiannya, dan semua urusannya. Dan Al-Imam Ahmad berkata: Abu Usamah menceritakan kepada kami, Zakariya bin Abi Za’idah menceritakan kepada kami, dari Sa’id bin Abi Burdah, dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sesungguhnya Allah ridha kepada hamba ketika ia makan makanan lalu ia memuji-Nya atasnya, atau ia minum minuman lalu ia memuji-Nya atasnya.” Dan demikian diriwayatkan oleh Muslim, dan at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i dari hadits Abu Usamah. Dan yang zhahir bahwa asy-Syakur adalah orang yang mengerjakan semua ketaatan hati, lisan, dan perbuatan, karena syukur itu dengan ini dan ini, sebagaimana dikatakan oleh penyair:

Nikmat-Nikmat memberikan padamu dariku tiga hal … Tanganku dan lisanku serta hati yang tersembunyi

Penyebutan Puasanya ‘Alaihissalam

Dan Ibnu Majah berkata: Bab puasa Nuh ‘alaihissalam: Sahl bin Abi Sahl menceritakan kepada kami, Sa’id bin Abi Maryam menceritakan kepada kami, dari Ibnu Lahi’ah, dari Ja’far bin Rabi’ah, dari Abu Firas bahwa ia mendengar Abdullah bin Amr berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Nuh berpuasa sepanjang masa kecuali hari Fitri dan hari Adha.” Demikianlah diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari jalur Abdullah bin Lahi’ah dengan sanadnya dan lafaznya. Dan telah berkata ath-Thabrani: Abu az-Zanba’ Ruh bin al-Faraj menceritakan kepada kami, Amr bin Khalid al-Harrani menceritakan kepada kami, Ibnu Lahi’ah menceritakan kepada kami, dari Abu Qanan, dari Yazid bin Rabah Abu Firas bahwa ia mendengar Abdullah bin Amr berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Nuh berpuasa sepanjang masa kecuali hari Fitri dan Adha, dan Daud berpuasa setengah masa, dan Ibrahim berpuasa tiga hari dari setiap bulan, berpuasa sepanjang masa dan berbuka sepanjang masa.”

Penyebutan Haji Nuh ‘Alaihissalam

Dan al-Hafizh Abu Ya’la berkata: Sufyan bin Waki’ menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami, dari Zam’ah yaitu Ibnu Shalih, dari Salamah bin Wahram, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berhaji, maka ketika sampai di Wadi ‘Asfan beliau berkata: “Wahai Abu Bakar, lembah apakah ini?” Ia berkata: Ini adalah Wadi ‘Asfan. Beliau berkata: “Sungguh telah melewati lembah ini Nuh dan Hud dan Ibrahim di atas unta-unta merah milik mereka, tali kekangnya dari sabut, sarung mereka adalah kain tebal, dan selimut mereka adalah kain bergaris, mereka berhaji ke Baitullah yang kuno.” Di dalamnya ada keanehan.

Penyebutan Wasiatnya untuk Anaknya ‘Alaihishshalatu Wassalam

Al-Imam Ahmad berkata: Sulaiman bin Harb menceritakan kepada kami, Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami, dari ash-Shaq’ab bin Zuhair, dari Zaid bin Aslam, ia berkata: Hammad, aku menyangkanya dari ‘Atha’ bin Yasar, dari Abdullah bin Amr, ia berkata: Kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu datang seorang laki-laki dari penduduk dusun yang mengenakan jubah dari sutera yang dikancing dengan sutera tebal, lalu ia berkata: “Ketahuilah bahwa temanmu ini telah merendahkan setiap penunggang kuda anak penunggang kuda,” atau ia berkata: “hendak merendahkan setiap penunggang kuda anak penunggang kuda, dan mengangkat setiap penggembala anak penggembala.” Ia berkata: Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil kerah jubahnya, dan berkata: “Tidakkah aku melihat padamu pakaian orang yang tidak berakal.” Kemudian beliau berkata: “Sesungguhnya Nabi Allah Nuh ‘alaihissalam ketika kematian mendatanginya berkata kepada anaknya: Sesungguhnya aku akan menceritakan wasiat kepadamu, aku memerintahkanmu dengan dua perkara dan melarangmu dari dua perkara; aku memerintahkanmu dengan La ilaha illallah, karena sesungguhnya tujuh langit dan tujuh bumi jika diletakkan pada satu timbangan, dan diletakkan La ilaha illallah pada satu timbangan, niscaya La ilaha illallah lebih berat daripada keduanya, dan seandainya tujuh langit dan tujuh bumi adalah cincin yang tertutup niscaya La ilaha illallah merusaknya, dan Subhanallahi wa bihamdihi, karena sesungguhnya ia adalah shalat segala sesuatu, dan dengannya diciptakan rezeki. Dan aku melarangmu dari kesyirikan dan kesombongan.” Ia berkata: Aku berkata, atau dikatakan: Wahai Rasulullah, ini kesyirikan telah kami ketahui, maka apakah kesombongan itu? Apakah salah seorang dari kami memiliki dua sandal yang bagus dengan dua tali yang bagus? Beliau berkata: “Bukan.” Ia berkata: Apakah salah seorang dari kami memiliki pakaian lengkap yang ia kenakan? Beliau berkata: “Bukan.” Ia berkata: Apakah salah seorang dari kami memiliki kendaraan yang ia tunggangi? Beliau berkata: “Bukan.” Ia berkata: Apakah salah seorang dari kami memiliki teman-teman yang duduk bersamanya? Beliau berkata: “Bukan.” Dikatakan: Wahai Rasulullah, maka apakah kesombongan itu? Beliau berkata: “Menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” Dan ini adalah sanad yang shahih, dan mereka tidak mengeluarkannya. Dan diriwayatkan oleh Abu al-Qasim ath-Thabrani dari hadits Abdurrahim bin Sulaiman, dari Muhammad bin Ishaq, dari Amr bin Dinar, dari Abdullah bin Amr bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Ada dalam wasiat Nuh kepada anaknya: Aku wasiatkan kepadamu dengan dua sifat, dan aku larang engkau dari dua sifat.” Lalu ia menyebutkan sepertinya. Dan telah diriwayatkan oleh Abu Bakar al-Bazzar, dari Ibrahim bin Sa’id, dari Abu Mu’awiyah adh-Dharir, dari Muhammad bin Ishaq, dari Amr bin Dinar, dari Abdullah bin Umar bin al-Khaththab, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sepertinya. Dan yang zhahir bahwa ia dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad dan ath-Thabrani. Wallahu a’lam.

Dan mengklaim Ahli Kitab bahwa Nuh ‘alaihissalam ketika menaiki bahtera umurnya adalah enam ratus tahun, dan kami telah sebutkan dari Ibnu Abbas sepertinya. Dan tambahan ia hidup setelah itu tiga ratus lima puluh tahun. Dan dalam perkataan ini ada pertimbangan, kemudian jika tidak mungkin dikompromikan antara itu dan petunjuk al-Qur’an maka itu adalah kesalahan murni, karena sesungguhnya al-Qur’an mengandung bahwa Nuh tinggal di tengah kaumnya setelah diutus dan sebelum air bah seribu tahun kurang lima puluh tahun sebagaimana firman Allah Ta’ala: Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun, lalu mereka ditimpa air bah dan mereka adalah orang-orang yang zalim. (al-‘Ankabut: 14) Kemudian Allah lebih mengetahui berapa lama ia hidup setelah itu. Maka jika apa yang disebutkan dari Ibnu Abbas terpelihara bahwa ia diutus sedangkan ia berumur empat ratus delapan puluh tahun, dan bahwa ia hidup setelah air bah tiga ratus lima puluh tahun, maka ia hidup berdasarkan ini seribu tujuh ratus delapan puluh tahun.

Adapun kuburnya ‘alaihissalam, maka diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan al-Azraqi, dari Abdurrahman bin Sabit atau selain dia dari kalangan Tabi’in secara mursal, bahwa kubur Nuh ‘alaihissalam di Masjidil Haram. Dan ini lebih kuat dan lebih tetap dari penyebutan yang disebutkan oleh banyak dari orang-orang kemudian, bahwa ia di sebuah negeri di Biqa’ yang dikenal hari ini dengan Karak Nuh, dan di sana terdapat masjid yang telah dibangun karena itu dan diwakafkan untuknya wakaf-wakaf dalam apa yang disebutkan. Wallahu a’lamubish shawab.

۞۞۞۞۞

Kisah Nabi Hud alaihissalam

Beliau adalah Hud bin Syalikh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh alaihissalam. Ada yang mengatakan bahwa Hud adalah Abir bin Syalikh bin Sam bin Nuh. Ada pula yang mengatakan Hud bin Abdullah bin Rabah bin al-Jarud bin Ad bin Awsh bin Iram bin Sam bin Nuh alaihissalam, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Jarir. Mereka adalah bangsa Arab yang mendiami al-Ahqaf, yaitu gunung-gunung pasir. Lokasinya di Yaman, dari Oman dan Hadramaut, di daerah yang menghadap ke laut yang disebut asy-Syihr. Nama lembah mereka adalah Mughits. Mereka sering mendiami kemah-kemah dengan tiang-tiang besar, sebagaimana firman Allah Taala: “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum Ad (yaitu) kaum Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi” (al-Fajr: 6-7), yaitu kaum Ad Iram. Mereka adalah kaum Ad yang pertama. Adapun kaum Ad yang kedua muncul belakangan, sebagaimana akan dijelaskan pada tempatnya. Adapun kaum Ad yang pertama, mereka adalah kaum Ad Iram yang mempunyai bangunan-bangunan tinggi “yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain” (al-Fajr: 7-8), yaitu seperti kaum itu. Ada yang mengatakan, seperti tiang-tiang itu. Yang benar adalah pendapat pertama, sebagaimana telah kami jelaskan dalam Tafsir.

Siapa yang mengira bahwa Iram adalah sebuah kota yang berputar di bumi, kadang di Syam, kadang di Yaman, kadang di Hijaz, dan kadang di tempat lain, maka sesungguhnya ia telah terlalu jauh dalam berkhayal. Ia telah mengatakan sesuatu yang tidak ada dalilnya, tidak ada bukti yang dapat diandalkan, dan tidak ada landasan yang dapat dipegang. Dalam Shahih Ibnu Hibban dari Abu Dzar dalam haditsnya yang panjang tentang para nabi dan rasul, ia berkata di dalamnya: “Di antara mereka ada empat orang dari bangsa Arab: Hud, Shalih, Syuaib, dan nabimu wahai Abu Dzar.” Ada yang mengatakan bahwa Hud alaihissalam adalah orang pertama yang berbicara dengan bahasa Arab. Wahb bin Munabbih berpendapat bahwa ayahnya yang pertama berbicara dengannya. Ada yang mengatakan orang pertama yang berbicara dengannya adalah Nuh. Ada yang mengatakan Adam, dan ini yang lebih tepat. Ada juga pendapat lain, wallahu alam.

Bangsa Arab yang ada sebelum Nabi Ismail alaihissalam disebut “al-Arab al-Aribah” (Arab asli). Mereka adalah suku-suku yang banyak, di antaranya: Ad, Tsamud, Jurhum, Thasm, Jadis, Umaim, Madyan, Amaliq, Abiil, Jasim, Qahthan, Banu Yaqthan, dan lain-lain. Adapun “al-Arab al-Mustaribah” (Arab yang ter-Arabitkan) adalah keturunan Ismail bin Ibrahim al-Khalil. Ismail bin Ibrahim alaihima assalam adalah orang pertama yang berbicara dengan bahasa Arab yang fasih dan balig. Beliau telah mempelajari bahasa Arab dari suku Jurhum yang tinggal di dekat ibunya Hajar di tanah Haram, sebagaimana akan dijelaskan pada tempatnya insya Allah Taala. Namun Allah membuat beliau mengucapkannya dengan tingkat kefasihan dan kejelasan yang luar biasa. Demikian pula Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengucapkannya.

Yang dimaksud adalah bahwa kaum Ad—yaitu kaum Ad yang pertama—adalah yang pertama kali menyembah berhala setelah banjir besar. Berhala mereka ada tiga: Shada, Shamud, dan Hara. Maka Allah mengutus kepada mereka saudara mereka Hud alaihissalam, yang menyeru mereka kepada Allah. Sebagaimana firman Allah Taala setelah menyebutkan kaum Nuh dan apa yang terjadi pada mereka dalam surah al-Araf: “Dan kepada kaum Ad (Kami utus) saudara mereka, Hud. Ia berkata: ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa?’ Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: ‘Sesungguhnya kami benar-benar memandangmu dalam keadaan bodoh dan kami yakin bahwa kamu benar-benar termasuk orang-orang yang berdusta.’ Dia berkata: ‘Wahai kaumku, tidak ada kebodohan padaku, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Aku menyampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku ini adalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu. Apakah kamu heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari kalammu agar dia memberi peringatan kepadamu? Dan ingatlah ketika Dia menjadikan kamu sebagai pengganti setelah kaum Nuh dan Dia lebihkan kamu dalam kekuatan tubuh dan perawakan. Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah agar kamu mendapat keberuntungan.’ Mereka berkata: ‘Apakah kamu datang kepada kami agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh nenek moyang kami? Maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.’ Dia berkata: ‘Sesungguhnya kamu telah ditimpakan kemurkaan dan kemalangan dari Tuhanmu. Apakah kamu hendak membantah aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya, padahal Allah tidak menurunkan hujah untuk (menyembah) nya? Maka tunggulah (azab-Ku), sesungguhnya aku termasuk orang yang menunggu (pula).’ Kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya dengan rahmat dari Kami, dan Kami binasakan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan mereka tidak beriman” (al-Araf: 65-72).

Dan Allah Taala berfirman setelah menyebutkan kisah Nuh dalam surah Hud: “Dan kepada kaum Ad (Kami utus) saudara mereka, Hud. Ia berkata: ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Kamu tidak lain hanyalah mengada-adakan saja. Wahai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu atas seruanku ini. Upahku hanyalah dari (Allah) yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu mengerti? Dan (dia berkata): Wahai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambah kekuatan atas kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.’ Mereka berkata: ‘Wahai Hud, kamu tidak membawa bukti yang nyata kepada kami, dan kami tidak akan meninggalkan tuhan-tuhan kami karena perkataanmu, dan kami tidak percaya kepadamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian tuhan kami telah menimpakan penyakit gila kepadamu.’ Dia (Hud) berkata: ‘Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan selain Dia; maka lakukanlah tipu dayamu semuanya terhadapku, kemudian jangan kamu memberi tangguh kepadaku (barang sesaatpun). Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhan kamu. Tidak ada suatu makhluk melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan) nya kepadamu. Dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu.’ Dan tatkala datang keputusan Kami, Kami selamatkan Hud dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami; dan Kami selamatkan (pula) mereka dari azab yang berat. Dan itulah (kaum) Ad yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka, dan mendurhakai rasul-rasul-Nya dan mengikuti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran). Dan mereka selalu dilaknat di dunia ini dan di hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum Ad kafir kepada Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Ad, kaum Hud itu” (Hud: 50-60).

Dan Allah Taala berfirman dalam surah Qad Aflaha al-Muminun setelah kisah kaum Nuh: “Kemudian Kami ciptakan sesudah mereka suatu generasi yang lain. Lalu Kami utus kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri (yang berkata): ‘Sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa?’ Dan pemuka-pemuka kaumnya yang kafir dan mendustakan pertemuan di akhirat dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan dunia berkata: ‘Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia makan dari apa yang kamu makan, dan minum dari apa yang kamu minum. Dan sesungguhnya jika kamu menaati manusia yang sama (dengan kamu), niscaya kamu benar-benar rugi. Apakah dia mengancam kamu bahwa apabila kamu sudah mati dan menjadi tanah dan tulang belulang, kamu sesungguhnya akan dikeluarkan (dari kubur)? Mustahil, mustahil apa yang diancamkan kepadamu itu. Kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Orang itu tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang mengada-adakan dusta terhadap Allah, dan kami sekali-kali tidak akan beriman kepadanya.’ Dia (Hud) berkata: ‘Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendustakanku.’ Allah berfirman: ‘Dalam waktu yang dekat, pasti mereka akan menjadi orang-orang yang menyesal.’ Maka mereka ditimpa suara yang mengguntur dengan hak, lalu Kami jadikan mereka (seperti) sampah banjir; maka kebinasaanlah bagi kaum yang zalim itu” (al-Muminun: 31-41).

Dan Allah Taala berfirman dalam surah asy-Syuara setelah kisah kaum Nuh juga: “Kaum Ad telah mendustakan rasul-rasul. Ketika saudara mereka (Hud) berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)? Dan apabila kamu menyiksa, kamu menyiksa sebagai orang-orang yang kejam lagi bengis. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku, dan bertakwalah kepada (Allah) yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu hewan-hewan ternak dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).’ Mereka berkata: ‘Sama saja bagi kami apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat. (Agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan diazab.’ Maka mereka mendustakannya, lalu Kami binasakan mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat suatu tanda kekuasaan Allah. Dan tidak sebagian besar dari mereka yang beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang” (asy-Syuara: 123-140).

Dan Allah Taala berfirman dalam surah Ha Mim as-Sajdah: “Adapun kaum Ad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: ‘Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?’ Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya dari mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuasaan) Kami. Maka Kami kirimkan kepada mereka angin topan dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan sesungguhnya siksa akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak ditolong” (Fushshilat: 15-16).

Dan Allah Taala berfirman dalam surah al-Ahqaf: “Dan ingatlah (Hud) saudara kaum Ad yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al Ahqaf—dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar.’ Mereka menjawab: ‘Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) tuhan-tuhan kami? Maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.’ Dia berkata: ‘Sesungguhnya ilmu (tentang itu) hanya di sisi Allah, dan aku hanya menyampaikan kepada kamu apa yang aku diutus dengannya, tetapi aku lihat kamu adalah kaum yang bodoh.’ Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: ‘Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.’ (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa” (al-Ahqaf: 21-25).

Dan Allah Taala berfirman dalam adz-Dzariyat: “Dan pada (kisah) kaum Ad (pun ada tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan. Angin itu tidak membiarkan suatupun yang dilandanya melainkan dijadikannya seperti serbuk” (adz-Dzariyat: 41-42).

Dan Allah Taala berfirman dalam an-Najm: “Dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum Ad yang pertama, dan kaum Tsamud maka Dia tidak menyisakan (seorangpun dari mereka). Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zalim dan paling durhaka. Dan negeri yang dijungkirbalikkan (negeri kaum Luth), Dia biarkan tertimpa (azab). Maka menimpanya azab yang menimpanya. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu ragu-ragukan?” (an-Najm: 50-55).

Dan Allah Taala berfirman dalam surah Iqtarabat: “Kaum Ad telah mendustakan (rasulnya), maka bagaimanakah (dahsyatnya) azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Sesungguhnya Kami telah meniupkan kepada mereka angin puting beliung pada hari yang sial secara terus-menerus, yang mencabut manusia seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang tumbang. Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (al-Qamar: 18-22).

Dan Allah berfirman dalam al-Haqqah: “Adapun kaum Ad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus; maka kamu lihat kaum Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka apakah kamu melihat seorangpun yang masih tersisa di antara mereka?” (al-Haqqah: 6-8).

Dan Allah berfirman dalam surah al-Fajr: “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum Ad? (yaitu) kaum Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain. Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah. Dan Firaun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak). Yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri. Lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu. Karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi” (al-Fajr: 6-14).

Kami telah membahas setiap kisah ini di tempat-tempatnya dalam kitab Tafsir kami, walhamdulillahi wal minnah. Kisah Ad telah disebutkan dalam surah Bara’ah, Ibrahim, al-Furqan, al-Ankabut, dalam surah Shad, dan dalam surah Qaf. Sekarang marilah kita sebutkan inti kisah yang terkumpul dari berbagai penggalan ayat ini bersama apa yang ditambahkan dari berita-berita lainnya. Telah kami sebutkan sebelumnya bahwa mereka adalah umat pertama yang menyembah berhala setelah banjir besar. Hal itu jelas dalam firman Allah kepada mereka: “Dan ingatlah ketika Dia menjadikan kamu sebagai pengganti setelah kaum Nuh dan Dia lebihkan kamu dalam kekuatan tubuh dan perawakan” (al-Araf: 69), yaitu Allah menjadikan mereka yang paling kuat di antara manusia pada zaman mereka dalam penciptaan, kekuatan, dan kekuasaan.

Dan Allah berfirman dalam al-Muminun: “Kemudian Kami ciptakan sesudah mereka suatu generasi yang lain” (al-Muminun: 31). Mereka adalah kaum Hud menurut pendapat yang benar. Ada yang berpendapat bahwa mereka adalah kaum Tsamud karena firman-Nya: “Maka mereka ditimpa suara yang mengguntur dengan hak, lalu Kami jadikan mereka (seperti) sampah banjir” (al-Muminun: 41). Mereka berkata: Kaum Shalih adalah yang dibinasakan dengan suara yang mengguntur, sedangkan kaum Ad dibinasakan “dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang” (al-Haqqah: 6). Apa yang mereka katakan ini tidak menghalangi berkumpulnya suara mengguntur dan angin kencang menimpa mereka, sebagaimana akan datang dalam kisah penduduk Madyan, yaitu Ashabul Aikah. Sesungguhnya mereka ditimpa berbagai jenis hukuman. Kemudian tidak ada perbedaan pendapat bahwa Ad lebih dahulu daripada Tsamud.

Yang dimaksud adalah bahwa kaum Ad adalah bangsa Arab yang kasar, kafir, pembangkang, dan durhaka dalam menyembah berhala. Maka Allah mengutus kepada mereka seorang laki-laki dari kalangan mereka sendiri yang menyeru mereka kepada Allah dan mengikhlaskan ibadah hanya untuk-Nya. Namun mereka mendustakannya, menentangnya, dan merendahkannya. Maka Allah mengazab mereka dengan azab Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa. Ketika ia memerintahkan mereka untuk beribadah kepada Allah, mendorong mereka untuk taat dan memohon ampunan kepada-Nya, menjanjikan kepada mereka kebaikan dunia dan akhirat atas hal itu, dan mengancam mereka dengan hukuman dunia dan akhirat jika menentangnya, “Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: ‘Sesungguhnya kami benar-benar memandangmu dalam keadaan bodoh'” (al-Araf: 66), yaitu urusan yang kamu serukan kepada kami ini adalah kebodohan dibandingkan dengan apa yang kami anut, yaitu menyembah berhala-berhala ini yang kami harapkan darinya pertolongan dan rezeki. Di samping itu kami menduga bahwa kamu berdusta dalam pengakuanmu bahwa Allah mengutusmu.

Hud berkata: “Wahai kaumku, tidak ada kebodohan padaku, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam” (al-Araf: 67), yaitu bukan seperti yang kalian sangka dan yakini. “Aku menyampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku ini adalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu” (al-Araf: 68). Penyampaian mengharuskan tidak ada kedustaan dalam asal yang disampaikan, tidak ada penambahan atau pengurangan di dalamnya, dan mengharuskan menyampaikannya dengan ungkapan yang fasih, ringkas, komprehensif, mencegah, tidak ada kesamaran di dalamnya, tidak ada perbedaan dan tidak ada kekacauan. Ia dengan penyampaian yang dengan sifat ini berada dalam puncak nasihat kepada kaumnya, kasih sayang kepada mereka, dan semangat atas hidayah mereka. Ia tidak mengharapkan upah dari mereka dan tidak meminta bayaran dari mereka. Bahkan ia ikhlas kepada Allah Azza wa Jalla dalam berdakwah kepada-Nya dan memberi nasihat kepada makhluk-Nya. Ia tidak meminta upahnya kecuali dari Yang mengutusnya, karena kebaikan dunia dan akhirat semuanya ada di tangan-Nya dan urusannya kepada-Nya. Oleh karena itu ia berkata: “Wahai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu atas seruanku ini. Upahku hanyalah dari (Allah) yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu mengerti?” (Hud: 51), yaitu tidak adakah kalian memiliki akal untuk membedakan dan memahami bahwa aku menyeru kalian kepada kebenaran yang nyata yang disaksikan oleh fitrah kalian yang diciptakan atasnya? Inilah agama yang benar yang Allah utus Nuh dengannya dan membinasakan siapa yang menentangnya dari makhluk. Dan inilah aku menyeru kalian kepadanya dan aku tidak meminta upah atas itu dari kalian. Bahkan aku mengharapkan itu di sisi Allah yang memiliki kemudharatan dan manfaat. Oleh karena itu mumin Yasin berkata: “Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan?” (Yasin: 21-22).

Kaum Hud berkata kepadanya di antara perkataan mereka: “Wahai Hud, kamu tidak membawa bukti yang nyata kepada kami, dan kami tidak akan meninggalkan tuhan-tuhan kami karena perkataanmu, dan kami tidak percaya kepadamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian tuhan kami telah menimpakan penyakit gila kepadamu” (Hud: 53-54). Mereka berkata: Kamu tidak membawa kepada kami mukjizat yang menjadi bukti kebenaran apa yang kamu bawa. Kami bukan orang-orang yang meninggalkan penyembahan berhala-berhala kami hanya karena perkataanmu tanpa dalil yang kamu tegakkan dan tanpa bukti yang kamu hadirkan. Kami tidak menduga kecuali bahwa kamu gila dalam pengakuanmu. Menurut kami, yang menimpamu ini adalah karena sebagian tuhan kami marah kepadamu sehingga menimpamu pada akalmu, lalu kamu terkena kegilaan karena itu. Itulah perkataan mereka: “Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian tuhan kami telah menimpakan penyakit gila kepadamu.’ Dia (Hud) berkata: ‘Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan selain Dia; maka lakukanlah tipu dayamu semuanya terhadapku, kemudian jangan kamu memberi tangguh kepadaku (barang sesaatpun)” (Hud: 54-55).

Ini adalah tantangan dari Hud kepada mereka, berlepas diri dari tuhan-tuhan mereka, merendahkan tuhan-tuhan itu, dan penjelasan bahwa tuhan-tuhan itu tidak memberi manfaat sedikit pun dan tidak membahayakan, bahwa tuhan-tuhan itu adalah benda mati yang hukumnya sama dengan hukumnya dan perbuatannya sama dengan perbuatannya. Jika tuhan-tuhan itu seperti yang kalian sangka, bahwa mereka menolong, memberi manfaat, dan membahayakan, maka inilah aku berlepas diri dari mereka dan melaknat mereka. “Maka lakukanlah tipu dayamu semuanya terhadapku, kemudian jangan kamu memberi tangguh kepadaku (barang sesaatpun)”, kalian dan tuhan-tuhan itu bersama-sama dengan semua yang kalian mampu untuk sampai kepadaku dan yang kalian kuasai. Janganlah kalian mengundaku satu jam pun, bahkan sekejap mata pun, karena aku tidak peduli dengan kalian dan tidak berpikir tentang kalian dan tidak memandang kepada kalian. “Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhan kamu. Tidak ada suatu makhluk melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus” (Hud: 56), yaitu aku bertawakal kepada Allah dan mendapat dukungan dari-Nya, yakin dengan perlindungan-Nya yang tidak akan menyia-nyiakan orang yang berlindung kepada-Nya dan bersandar kepada-Nya. Aku tidak peduli kepada makhluk selain-Nya, aku tidak bertawakal kecuali kepadaNya, aku tidak menyembah kecuali hanya Dia. Hal ini saja sudah merupakan bukti yang tegas dan pasti bahwa Hud adalah hamba dan utusan Allah. Sedangkan mereka berada dalam kebodohan dan kesesatan dalam penyembahan mereka kepada selain Allah.

Hal itu karena mereka tidak mampu menimpakan keburukan apa pun kepadanya dan tidak pula menimbulkan mudarat sedikit pun. Ini menunjukkan kebenaran Hud dalam apa yang ia bawa kepada mereka, sekaligus membatalkan keyakinan yang mereka anut dan merusak dasar pandangan yang mereka pegang.

Dalil yang sama inilah yang sebelumnya juga digunakan oleh Nabi Nuh dalam firman Allah: ‘Wahai kaumku, jika terasa berat bagi kalian keberadaanku dan peringatanku dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah aku bertawakal. Maka kumpulkanlah urusan kalian beserta sekutu-sekutu kalian, kemudian janganlah keputusan kalian itu masih samar bagi kalian, lalu laksanakanlah terhadapku dan jangan kalian menangguhkanku.’ (Yunus: 71).

Demikian pula yang diucapkan oleh al-Khalil (Ibrahim): ‘Aku tidak takut kepada apa yang kalian persekutukan dengan Allah, kecuali jika Tuhanku menghendaki sesuatu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka tidakkah kalian mengambil pelajaran? Bagaimana aku takut kepada apa yang kalian persekutukan, sedangkan kalian tidak takut karena telah mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Dia tidak menurunkan bukti untuk itu? Maka golongan manakah yang lebih berhak mendapatkan keamanan, jika kalian mengetahui? Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.’ ‘Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim terhadap kaumnya. Kami angkat derajat siapa yang Kami kehendaki. Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.’ (Al-An‘am: 80–83).

Dan para pemuka dari kaumnya yang kafir dan mendustakan pertemuan dengan akhirat, serta yang telah Kami beri kemewahan dalam kehidupan dunia, berkata: ‘Dia ini tidak lain hanyalah manusia seperti kalian; dia makan dari apa yang kalian makan dan minum dari apa yang kalian minum. Jika kalian menaati manusia seperti kalian, sungguh kalian benar-benar akan merugi. Apakah dia menjanjikan kepada kalian bahwa apabila kalian telah mati dan menjadi tanah serta tulang-belulang, kalian akan dikeluarkan kembali?’ (Al-Mu’minun: 33–35).

Mereka menganggap mustahil bahwa Allah mengutus seorang rasul dari kalangan manusia. Syubhat (kerancuan) ini telah dilontarkan oleh banyak orang kafir yang bodoh, baik dahulu maupun sekarang. Sebagaimana firman Allah: ‘Apakah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki dari kalangan mereka agar memberi peringatan kepada manusia?’ (Yunus: 2).

Dan firman-Nya: ‘Tidak ada yang menghalangi manusia untuk beriman ketika petunjuk datang kepada mereka selain ucapan mereka: “Apakah Allah mengutus seorang manusia sebagai rasul?” Katakanlah: “Seandainya di bumi ada malaikat-malaikat yang berjalan dengan tenang, niscaya Kami turunkan kepada mereka dari langit seorang malaikat sebagai rasul.”’ (Al-Isra’: 94–95).

Karena itulah Hud berkata kepada mereka: ‘Apakah kalian heran bahwa telah datang kepada kalian peringatan dari Tuhan kalian melalui seorang laki-laki dari kalangan kalian sendiri untuk memberi peringatan kepada kalian?’

Maksudnya: hal ini sama sekali tidak mengherankan, karena Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan risalah-Nya.

Adapun ucapan mereka: ‘Apakah dia menjanjikan kepada kalian bahwa jika kalian mati dan menjadi tanah serta tulang-belulang, kalian akan dikeluarkan kembali? Jauh, sangat jauh dari apa yang dijanjikan kepada kalian. Kehidupan ini hanyalah kehidupan dunia; kami mati dan kami hidup, dan kami tidak akan dibangkitkan. Dia hanyalah seorang laki-laki yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, dan kami tidak akan beriman kepadanya.’ (Al-Mu’minun: 35–39).

Mereka mengingkari kebangkitan dan menganggap mustahil kembalinya jasad setelah berubah menjadi tanah dan tulang-belulang. Mereka berkata: ‘Jauh, sangat jauh.’ Artinya, janji itu sangat mustahil.

Ucapan mereka: ‘Kami mati dan kami hidup’ maksudnya adalah sebagian manusia mati dan sebagian yang lain lahir dan hidup. Inilah keyakinan kaum dahriyyah. Sebagaimana ucapan sebagian orang zindik yang bodoh: ‘Rahim yang melahirkan, dan bumi yang menelan.’

Adapun kaum Dauriyah, mereka adalah orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan kembali ke dunia ini setelah setiap tiga puluh enam ribu tahun. Semua ini adalah kebohongan, kekufuran, kebodohan dan kesesatan, pendapat-pendapat yang batil, dan khayalan yang rusak tanpa bukti dan tanpa dalil yang dapat menarik akal orang-orang yang jahat dan kafir dari bani Adam yang tidak berakal dan tidak mendapat petunjuk, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan agar hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat cenderung kepadanya, dan agar mereka menyukainya, dan agar mereka mengerjakan apa yang akan mereka kerjakan.” (Surah Al-An’am: 113). Dan Allah berfirman kepada mereka dalam nasihat-Nya: “Apakah kamu mendirikan pada setiap tempat yang tinggi suatu tanda untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan harapan kamu akan hidup kekal? Dan apabila kamu menyiksa, kamu menyiksa sebagai orang-orang yang kejam.” Allah berfirman kepada mereka: Apakah kalian mendirikan di setiap tempat yang tinggi bangunan yang besar dan megah seperti istana-istana dan semacamnya hanya untuk bermain-main dengan membangunnya, karena kalian tidak membutuhkannya. Hal itu karena mereka tinggal di kemah-kemah, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad, yaitu penduduk Iram yang mempunyai tiang-tiang yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain.” Maka ‘Ad Iram adalah kaum ‘Ad yang pertama yang tinggal di tiang-tiang yang menopang kemah-kemah.

Barangsiapa yang mengira bahwa Iram adalah kota dari emas dan perak, dan kota itu berpindah-pindah di berbagai negeri, maka sungguh dia telah keliru dan salah. Dan dia mengatakan sesuatu yang tidak ada dalilnya. Firman-Nya: “Dan kamu membuat benteng-benteng.” Ada yang mengatakan: yaitu istana-istana. Ada yang mengatakan: menara-menara untuk merpati. Dan ada yang mengatakan: tempat-tempat penampungan air. “Dengan harapan kamu akan hidup kekal.” Artinya: dengan harapan dari kalian bahwa kalian akan berumur panjang di dunia ini dengan umur yang sangat panjang. “Dan apabila kamu menyiksa, kamu menyiksa sebagai orang-orang yang kejam. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan bertakwalah kepada Tuhan yang telah memberikan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia memberikan kepadamu hewan ternak dan anak-anak, kebun-kebun dan mata air-mata air. Sesungguhnya aku takut kalian akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat.” Dan mereka berkata kepadanya: “Apakah kamu datang kepada kami supaya kami menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh nenek moyang kami? Maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” Artinya: Apakah kamu datang kepada kami supaya kami menyembah Allah saja, dan menyelisihi nenek moyang dan leluhur kami, serta apa yang mereka anut? Jika kamu benar dalam apa yang kamu bawa, maka datangkanlah kepada kami azab dan siksaan yang kamu janjikan itu, karena kami tidak akan beriman kepadamu, tidak akan mengikutimu, dan tidak akan membenarkanmu, sebagaimana mereka berkata: “Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat. Ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang-orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan diazab.” Adapun menurut qiraat dengan fathah pada huruf kha, maka yang dimaksud adalah kebohongan orang-orang dahulu, yaitu bahwa apa yang kamu bawa ini hanyalah kebohongan darimu, dan kamu mengambilnya dari kitab-kitab orang dahulu. Demikianlah penafsirannya oleh lebih dari satu orang dari kalangan sahabat dan tabi’in. Adapun menurut qiraat dengan dhammah pada huruf kha dan lam, maka yang dimaksud adalah agama, yaitu bahwa agama yang kami anut ini hanyalah agama bapak-bapak dan kakek-kakek kami dari leluhur kami, dan kami tidak akan berubah darinya, tidak akan berganti, dan akan tetap berpegang teguh padanya. Dan kedua qiraat, yang pertama dan yang kedua, sesuai dengan perkataan mereka: “Dan kami sekali-kali tidak akan diazab.” Nabi Hud berkata: “Sungguh, telah pasti kalian akan mendapat kemurkaan dan kemarahan dari Tuhanmu. Apakah kamu hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah tidak menurunkan suatu keterangan tentang itu? Maka tunggulah (azabku), sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menunggu (pula).” Artinya: Kalian telah berhak mendapat kemurkaan dan kemarahan dari Allah karena perkataan ini. Apakah kalian menghadap-hadapkan ibadah kepada Allah Yang Maha Esa yang tiada sekutu bagi-Nya dengan penyembahan kepada berhala-berhala yang kalian pahat sendiri, dan kalian namakan sebagai tuhan-tuhan dari diri kalian sendiri, kalian dan bapak-bapak kalian bersepakat membuat namanya sendiri, padahal Allah tidak menurunkan tentang itu suatu keterangan. Artinya: Allah tidak menurunkan dalil atau bukti tentang apa yang kalian anut. Dan jika kalian menolak kebenaran dan terus-menerus dalam kebatilan, dan sama saja bagi kalian apakah aku melarang kalian dari apa yang kalian lakukan atau tidak, maka tunggulah sekarang azab Allah yang akan menimpa kalian, dan siksaan-Nya yang tidak dapat ditolak, dan siksa-Nya yang tidak dapat dibendung. Dan Allah Ta’ala berfirman: “Nabi Hud berkata: ‘Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendustakan aku.’ Allah berfirman: ‘Dalam waktu yang dekat mereka pasti akan menjadi orang-orang yang menyesal.’ Kemudian mereka dibinasakan oleh suara yang mengguntur dengan hak, lalu Kami jadikan mereka sampah banjir. Maka kebinasaanlah bagi kaum yang zalim itu.” Dan Allah Ta’ala berfirman: “Mereka berkata: ‘Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) tuhan-tuhan kami? Maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.’ Nabi Hud berkata: ‘Sesungguhnya pengetahuan (tentang azab itu) hanya di sisi Allah, dan aku hanya menyampaikan kepadamu apa yang aku diutus dengannya, tetapi aku lihat kamu adalah kaum yang bodoh.’ Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: ‘Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.’ (Nabi Hud berkata): ‘Bahkan itulah azab yang kamu minta supaya segera datang, yaitu angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya.’ Maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.”

Dan Allah Ta’ala telah menyebutkan berita kebinasaan mereka di banyak ayat, sebagaimana telah disebutkan secara ringkas dan terperinci seperti firman-Nya: “Maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya dengan rahmat dari Kami, dan Kami binasakan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan mereka bukanlah orang-orang yang beriman.” Dan seperti firman-Nya: “Dan tatkala datang ketetapan Kami, Kami selamatkan Hud dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami, dan Kami selamatkan mereka dari azab yang berat. Itulah kaum ‘Ad yang mengingkari ayat-ayat Tuhannya dan mendurhakai rasul-rasul-Nya serta mengikuti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran). Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum ‘Ad itu kafir kepada Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum ‘Ad, kaum Nabi Hud itu.” Dan seperti firman-Nya: “Kemudian mereka dibinasakan oleh suara yang mengguntur dengan hak, lalu Kami jadikan mereka sampah banjir. Maka kebinasaanlah bagi kaum yang zalim itu.” Dan Allah Ta’ala berfirman: “Maka mereka mendustakannya, lalu Kami binasakan mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.”

Adapun perincian kebinasaan mereka, maka ketika Allah Ta’ala berfirman: “Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: ‘Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.’ (Nabi Hud berkata): ‘Bahkan itulah azab yang kamu minta supaya segera datang, yaitu angin yang mengandung azab yang pedih.'” Ini adalah permulaan azab yang menimpa mereka, bahwa mereka sedang mengalami kemarau panjang dan paceklik, lalu mereka meminta hujan. Maka mereka melihat awan di langit dan mereka mengiranya sebagai hujan rahmat, ternyata itu adalah hujan azab. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: “Bahkan itulah azab yang kamu minta supaya segera datang.” Artinya: tentang turunnya azab, yaitu perkataan mereka: “Maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” Dan seperti itu pula dalam Surah Al-A’raf.

Para mufassir dan lainnya telah menyebutkan di sini berita yang disebutkan oleh Imam Muhammad bin Ishaq bin Yasar. Ia berkata: Ketika mereka menolak kecuali kekufuran kepada Allah Azza wa Jalla, maka Allah menahan hujan dari mereka selama tiga tahun sehingga hal itu menyusahkan mereka. Ia berkata: Pada masa itu, jika orang-orang mengalami kesulitan dan mereka memohon pertolongan dari Allah untuk keluar dari kesulitan itu, mereka memohonnya dengan kehormatan dan tempat Baitul Haram. Dan hal itu dikenal oleh penduduk pada masa itu, dan di sana tinggal kaum Amaliq yang merupakan keturunan Imliq bin Laud bin Sam bin Nuh. Pemimpin mereka pada waktu itu adalah seorang laki-laki yang bernama Mu’awiyah bin Bakr, dan ibunya dari kaum ‘Ad yang bernama Jalhadah binti Al-Khaibari. Ia berkata: Maka kaum ‘Ad mengutus delegasi sekitar tujuh puluh orang untuk meminta hujan bagi mereka di Baitul Haram. Mereka melewati Mu’awiyah bin Bakr di luar Makkah dan tinggal di tempatnya selama sebulan, mereka minum khamr dan dihibur oleh Al-Jaradatan, dua budak perempuan penyanyi milik Mu’awiyah. Mereka tiba di tempatnya dalam sebulan. Ketika mereka tinggal lama di tempatnya, dan Mu’awiyah merasa kasihan kepada kaum mereka, dan dia malu kepada mereka untuk menyuruh mereka pulang, maka dia membuat syair yang mengisyaratkan agar mereka pulang, dan dia menyuruh kedua budak penyanyi itu untuk menyanyikannya kepada mereka. Dia berkata:

Wahai Qail, celakalah kamu, bangunlah dan bergeraklah Mudah-mudahan Allah menurunkan awan kepada kita Sehingga menyiram tanah ‘Ad, karena sesungguhnya kaum ‘Ad Telah menjadi tidak bisa berbicara dengan jelas Karena kehausan yang sangat, maka kami tidak mengharapkan Orang tua yang sudah lanjut maupun anak muda Dan sesungguhnya istri-istri mereka dahulu dalam keadaan baik Namun sekarang istri-istri mereka telah menjadi janda Dan binatang buas datang kepada mereka dengan terang-terangan Dan tidak takut kepada anak panah kaum ‘Ad Sedangkan kalian di sini dalam apa yang kalian inginkan Siang dan malam kalian dalam kenikmatan sempurna Maka alangkah buruknya delegasi kalian sebagai utusan suatu kaum Dan mereka tidak mendapat penghormatan dan salam

Ia berkata: Maka pada saat itu kaum itu tersadar untuk apa mereka datang, lalu mereka bangkit menuju Baitul Haram dan berdoa untuk kaum mereka. Maka orang yang berdoa di antara mereka, yaitu Qail bin ‘Antar berdoa, lalu Allah menciptakan tiga awan: putih, merah, dan hitam. Kemudian ada yang memanggil dari langit: Pilihlah untuk dirimu dan kaummu dari awan ini. Maka dia berkata: Aku memilih awan hitam karena awan itu paling banyak airnya. Maka ada yang memanggilnya: Kamu telah memilih abu yang menghancurkan, tidak menyisakan seorang pun dari ‘Ad, tidak meninggalkan ayah dan tidak pula anak, kecuali dijadikan binasa, kecuali Bani Al-Laudhiyyah Al-Mahda. Ia berkata: Dan mereka adalah suku dari ‘Ad yang tinggal di Makkah sehingga tidak terkena apa yang menimpa kaum mereka. Ia berkata: Dan yang tersisa dari keturunan dan anak cucu mereka adalah kaum ‘Ad yang terakhir. Ia berkata: Dan Allah menggiringkan awan hitam yang dipilih oleh Qail bin ‘Antar dengan azab yang ada di dalamnya kepada kaum ‘Ad hingga keluar kepada mereka dari sebuah lembah yang disebut Al-Mughits. Ketika mereka melihatnya, mereka bergembira dan berkata: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.” Maka Allah Ta’ala berfirman: “Bahkan itulah azab yang kamu minta supaya segera datang, yaitu angin yang mengandung azab yang pedih. Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya.” Artinya: segala sesuatu yang diperintahkan kepadanya. Maka orang pertama yang melihat apa yang ada di dalamnya dan mengetahui bahwa itu adalah angin, menurut yang mereka sebutkan, adalah seorang wanita dari ‘Ad yang bernama Mahd. Ketika dia memastikan apa yang ada di dalamnya, dia berteriak, kemudian pingsan. Ketika dia sadar, mereka bertanya: Apa yang kamu lihat, wahai Mahd? Dia berkata: Aku melihat angin di dalamnya seperti percikan api, di depannya ada laki-laki yang menggiring angin itu. “Maka Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus.” Husum artinya: terus-menerus. Maka angin itu tidak meninggalkan seorang pun dari ‘Ad kecuali binasa. Ia berkata: Dan Nabi Hud alaihissalam menyendiri, menurut yang disebutkan kepadaku, bersama orang-orang mukmin yang bersamanya di dalam kandang, tidak ada yang menimpa mereka kecuali yang melembutkan kulit dan menyenangkan jiwa. Dan sesungguhnya angin itu melewati kaum ‘Ad dengan membawa penunggang di antara langit dan bumi, dan membenturkan mereka dengan batu, dan ia menyebutkan kelanjutan kisahnya.

Dan Imam Ahmad telah meriwayatkan hadits dalam Musnad-nya yang mirip dengan kisah ini. Ia berkata: Zaid bin Al-Hubab menceritakan kepada kami, Abu Al-Mundzir Salam bin Sulaiman An-Nahwi menceritakan kepadaku, ‘Ashim bin Abi An-Nujud menceritakan kepada kami, dari Abu Wa’il, dari Al-Harits yaitu Ibnu Hassan, dan ada yang mengatakan: Ibnu Yazid Al-Bakri. Ia berkata: Aku keluar untuk mengadukan Al-‘Ala’ bin Al-Hadhrami kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu aku melewati Ar-Rabdzah dan di sana ada seorang wanita tua dari Bani Tamim yang terdampar. Maka dia berkata kepadaku: Wahai hamba Allah, sesungguhnya aku mempunyai keperluan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, apakah engkau akan menyampaikan aku kepadanya? Ia berkata: Maka aku membawanya dan kami tiba di Madinah, ternyata masjid penuh dengan orang-orang, dan ada bendera hitam berkibar, dan Bilal menggantung pedang di hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka aku bertanya: Apa yang terjadi dengan orang-orang? Mereka berkata: Beliau ingin mengutus Amr bin Al-‘Ash ke suatu tempat. Ia berkata: Maka aku duduk. Ia berkata: Lalu beliau masuk ke rumahnya atau ia berkata: ke tempat tinggalnya. Maka aku minta izin kepadanya, lalu beliau mengizinkan aku. Maka aku masuk dan memberi salam. Lalu beliau bersabda: “Apakah ada sesuatu antara kalian dengan Bani Tamim?” Aku berkata: Ya. Ia berkata: Dan kami menang atas mereka. Dan aku melewati seorang wanita tua dari Bani Tamim yang terdampar, maka dia memintaku untuk membawanya kepadamu, dan sekarang dia di pintu. Maka beliau mengizinkannya masuk. Aku berkata: Wahai Rasulullah, jika engkau memandang perlu untuk menjadikan pemisah antara kami dengan Bani Tamim, maka jadikanlah Ad-Dahna’. Maka wanita tua itu marah dan bangkit, lalu berkata: Wahai Rasulullah, kemana engkau akan menyempitkan orang-orang Mudhar? Ia berkata: Aku berkata: Sesungguhnya perumpamaanku seperti yang dikatakan orang pertama: Kambing membawa kehancurannya sendiri. Aku membawa wanita ini tanpa aku sadari bahwa dia adalah lawanku. Aku berlindung kepada Allah dan Rasul-Nya agar tidak menjadi seperti utusan ‘Ad. Ia berkata: Bagaimana dan apa itu utusan ‘Ad? Dan beliau lebih mengetahui tentang hadits daripada dia, tetapi beliau ingin mendengarkannya. Aku berkata: Sesungguhnya kaum ‘Ad mengalami kemarau, maka mereka mengutus delegasi mereka yang disebut Qail. Lalu dia melewati Mu’awiyah bin Bakr dan tinggal di tempatnya selama sebulan, dia memberinya minum khamr dan dua budak perempuan menyanyikan lagu untuknya yang disebut Al-Jaradatan. Ketika sebulan berlalu, dia keluar menuju gunung-gunung Tihamah. Lalu dia berkata: Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak datang kepada orang sakit untuk mengobatinya, dan tidak kepada tawanan untuk menebusnya. Ya Allah, siramilah ‘Ad sebagaimana Engkau biasa menyiraminya. Maka dia dilewati oleh awan-awan hitam, lalu dipanggil darinya: Pilihlah. Maka dia menunjuk kepada salah satu awan yang hitam. Lalu dipanggil darinya: Ambillah, abu yang menghancurkan, tidak menyisakan seorang pun dari ‘Ad. Ia berkata: Maka tidak sampai kepadaku bahwa yang ditimpakan kepada mereka dari angin kecuali seukuran yang mengalir dalam cincinku ini dari angin hingga mereka binasa. Abu Wa’il berkata: Dan dia benar. Dan dahulu jika wanita dan laki-laki mengutus delegasi mereka, mereka berkata: Jangan kamu seperti utusan ‘Ad. Dan demikian pula diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari ‘Abd bin Humaid, dari Zaid bin Al-Hubab dengannya. Dan diriwayatkan oleh An-Nasa’i dari hadits Salam Abu Al-Mundzir, dari ‘Ashim bin Bahdalah, dan dari jalurnya diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Dan demikianlah hadits ini dan kisah ini disebutkan oleh lebih dari satu mufassir seperti Ibnu Jarir dan lainnya ketika menafsirkan kisah ini.

Dan mungkin saja riwayat ini tentang kebinasaan kaum ‘Ad yang terakhir, karena dalam apa yang disebutkan oleh Ibnu Ishaq dan lainnya ada penyebutan tentang Makkah, padahal Makkah tidak dibangun kecuali setelah Ibrahim Al-Khalil ketika dia menempatkan Hajar dan anaknya Ismail di sana, lalu Jurhum tinggal bersama mereka, sebagaimana akan dijelaskan nanti. Sedangkan kaum ‘Ad yang pertama sebelum Al-Khalil. Dan di dalamnya ada penyebutan Mu’awiyah bin Bakr dan syairnya, dan itu termasuk syair yang terlambat dari masa kaum ‘Ad yang pertama, tidak mirip dengan perkataan orang-orang terdahulu. Dan di dalamnya disebutkan bahwa dalam awan itu ada percikan api, sedangkan kaum ‘Ad yang pertama dibinasakan dengan angin yang sangat dingin. Dan Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, dan lebih dari satu imam tabi’in telah berkata: Yaitu angin yang dingin dan keras hembusan anginnya. “Yang ditimpakan Allah kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus.” (Surah Al-Haqqah: 7). Artinya: sempurna dan berturut-turut. Ada yang mengatakan: hari pertamanya adalah hari Jumat. Dan ada yang mengatakan: hari Rabu. “Sehingga kamu dapat melihat kaum itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” (Surah Al-Haqqah: 7). Allah menyerupakan mereka dengan tunggul pohon kurma yang tidak ada kepalanya, dan itu karena angin datang kepada salah seorang dari mereka lalu mengangkatnya, lalu mengangkatnya ke udara, kemudian menghempaskannya di atas kepalanya sehingga menghancurkannya, maka tinggallah jasadnya tanpa kepala, sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya Kami menimpakan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari yang sial yang terus-menerus.” (Surah Al-Qamar: 19). Artinya: pada hari yang sial bagi mereka, azabnya terus-menerus kepada mereka. “Yang mencabut manusia seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang tercabut.” (Surah Al-Qamar: 20). Dan barangsiapa yang mengatakan bahwa hari yang sial yang terus-menerus adalah hari Rabu, dan menganggapnya sial karena pemahaman ini, maka sungguh dia telah salah dan menyelisihi Al-Qur’an, karena Allah berfirman dalam ayat yang lain: “Maka Kami timpakan kepada mereka angin yang sangat dingin pada hari-hari yang sial.” (Surah Fushshilat: 16). Dan diketahui bahwa itu adalah delapan hari berturut-turut. Maka jika hari-hari itu sial pada dirinya sendiri, maka semua hari ketujuh yang termasuk di dalamnya adalah sial. Dan ini tidak dikatakan oleh siapa pun, hanya saja yang dimaksud adalah: pada hari-hari yang sial artinya: bagi mereka. Dan Allah Ta’ala berfirman tentang kaum ‘Ad: “(yaitu) ketika Kami menimpakan kepada mereka angin yang mandul.” (Surah Adz-Dzariyat: 41). Artinya: yang tidak menghasilkan kebaikan, karena angin yang sendirian tidak menyebarkan awan dan tidak menyerbuki pohon, bahkan ia mandul tidak ada hasil kebaikan darinya. Oleh karena itu Allah berfirman: “Angin itu tidak membiarkan sesuatu pun yang dilandanya, melainkan dijadikannya seperti serbuk.” (Surah Adz-Dzariyat: 42). Artinya: seperti sesuatu yang sudah lapuk dan rusak yang sama sekali tidak bermanfaat. Dan telah shahih dalam Shahihain dari hadits Syu’bah, dari Al-Hakam, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Aku dimenangkan dengan angin timur, dan kaum ‘Ad dibinasakan dengan angin barat.”

Adapun firman Allah Ta’ala: “Dan ingatlah saudara ‘Ad yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al-Ahqaf, padahal orang-orang yang memberi peringatan telah silih berganti sebelumnya dan sesudahnya: ‘Janganlah kamu menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat.'” (Surah Al-Ahqaf: 21). Maka yang jelas bahwa kaum ‘Ad ini adalah kaum ‘Ad yang pertama karena riwayatnya mirip dengan riwayat kaum Hud, dan mereka adalah yang pertama. Dan mungkin saja yang disebutkan dalam kisah ini adalah kaum ‘Ad yang kedua. Dan yang menunjukkan hal itu adalah apa yang kami sebutkan, dan apa yang akan datang dari hadits dari Aisyah radhiyallahu anha. Adapun firman-Nya: “Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: ‘Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.'” (Surah Al-Ahqaf: 24). Maka sesungguhnya kaum ‘Ad ketika melihat awan ini, yaitu yang muncul di udara seperti awan, mereka mengiranya awan hujan, ternyata itu awan azab. Mereka mengiranya rahmat ternyata itu azab. Mereka berharap kebaikan di dalamnya ternyata mereka mendapat keburukan yang sangat. Allah Ta’ala berfirman: “Bahkan itulah azab yang kamu minta supaya segera datang.” (Surah Al-Ahqaf: 24). Artinya: tentang azab. Kemudian Allah menjelaskannya dengan firman-Nya: “Yaitu angin yang mengandung azab yang pedih.” (Surah Al-Ahqaf: 24).

Ada kemungkinan bahwa azab itu adalah apa yang menimpa mereka berupa angin sharsar yang sangat dingin, sangat kencang, dan berhembus dengan dahsyat, yang terus menerpa mereka selama tujuh malam dan delapan hari. Tidak seorang pun dari mereka yang tersisa. Bahkan angin itu mengejar mereka sampai masuk ke gua-gua pegunungan dan lubang-lubang persembunyian, membinasakan mereka, menghempaskan mereka keluar, dan memusnahkan mereka.

Angin itu juga menghancurkan rumah-rumah mereka yang kokoh dan istana-istana yang megah. Maka sebagaimana mereka dahulu berbangga dengan kekuatan dan kedahsyatan mereka, serta berkata: ‘Siapakah yang lebih kuat dari kami?’ Allah—Yang jauh lebih kuat daripada mereka—menimpakan kepada mereka sesuatu yang lebih kuat dari mereka dan lebih berkuasa atas mereka, yaitu angin yang mandul (angin penghancur).

Ada pula kemungkinan bahwa angin ini, pada tahap akhir, mengangkat awan sehingga orang-orang yang masih tersisa dari mereka mengira bahwa itu adalah awan yang membawa rahmat dan hujan penolong bagi mereka. Namun Allah mengirimkannya kepada mereka sebagai percikan api dan api yang membakar, sebagaimana disebutkan oleh lebih dari satu ulama.

Dengan demikian, azab ini serupa dengan apa yang menimpa para penghuni azh-Zhullah dari kaum Madyan, di mana Allah menghimpunkan bagi mereka antara angin yang dingin dan azab api. Ini merupakan bentuk azab yang paling berat, karena menggunakan berbagai unsur yang saling berlawanan, ditambah dengan teriakan keras (ash-shayhah) yang disebutkan dalam surah Qad Aflaha al-Mu’minun. Dan Allah Maha Mengetahui.

Dan Ibn Abi Hatim telah berkata: telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya bin adh-Dharris, telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudail, dari Muslim, dari Mujahid, dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah Allah membukakan (mengirimkan) kepada kaum Ad dari angin yang membinasakan mereka kecuali sebesar lubang cincin, lalu ia melewati penduduk Badui (pedalaman) kemudian mengangkat mereka beserta hewan ternak dan harta benda mereka di antara langit dan bumi. Maka ketika penduduk kota dari kaum Ad melihat angin itu dan apa yang di dalamnya, mereka berkata: Ini adalah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami (Al-Ahqaf: 24). Lalu angin itu melemparkan penduduk Badui beserta hewan ternak mereka kepada penduduk kota.”

Dan telah diriwayatkan oleh ath-Thabrani, dari Abdan bin Ahmad, dari Ismail bin Zakariya al-Kufi, dari Abu Malik, dari Muslim al-Mila’i, dari Mujahid, dan Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas – demikianlah katanya – ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah dibukakan kepada kaum Ad dari angin kecuali sebesar lubang cincin, kemudian dilepaskan kepada mereka lalu angin itu membawa penduduk Badui menuju penduduk kota. Maka ketika penduduk kota melihatnya mereka berkata: Ini adalah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami menghadap lembah-lembah kami. Dan penduduk Badui berada di dalamnya, lalu penduduk Badui dilemparkan kepada penduduk kota hingga mereka binasa.” Ia berkata: “Ia (angin itu) membangkang terhadap penyimpanannya hingga keluar dari celah-celah pintu.” Saya (penulis) berkata: Dan selain dia berkata: ia keluar tanpa perhitungan.

Dan yang dimaksud bahwa hadits ini dalam status marfu’nya masih dipertanyakan, kemudian ada perbedaan pendapat tentangnya atas Muslim al-Mila’i, dan di dalamnya terdapat semacam kerancuan, wallahu a’lam.

Dan yang zhahir dari ayat bahwa mereka melihat awan, dan yang dipahami darinya secara bahasa adalah awan. Sebagaimana ditunjukkan oleh hadits al-Harits bin Hassan al-Bakri jika kita menjadikannya sebagai penafsir kisah ini, dan yang lebih jelas dari itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya di mana ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu ath-Thahir, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, aku mendengar Ibnu Juraij menceritakan kepada kami dari Atha’ bin Abi Rabah, dari Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata: “Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam apabila angin bertiup kencang, beliau berdoa: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan apa yang ada padanya, dan kebaikan apa yang dengannya ia diutus. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan apa yang ada padanya, dan keburukan apa yang dengannya ia diutus.” Ia (Aisyah) berkata: “Dan apabila langit mendung, wajah beliau berubah dan beliau keluar masuk serta mendekat dan menjauh. Maka apabila hujan turun, kelegaan tampak padanya.” Maka Aisyah mengenali hal itu lalu bertanya kepada beliau, maka beliau bersabda: “Boleh jadi wahai Aisyah, sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Ad: Maka tatkala mereka melihatnya berupa awan yang menghadap lembah-lembah mereka, mereka berkata: Ini adalah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.” Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i, dan Ibnu Majah dari hadits Ibnu Juraij.

Jalan lain. Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Harun bin Ma’ruf, telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Wahb, telah mengabarkan kepada kami Amr, yaitu Ibnu al-Harits, bahwa Abu an-Nadhr menceritakan kepadanya dari Sulaiman bin Yasar dari Aisyah bahwa ia berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tertawa terbahak-bahak sampai terlihat anak tekaknya, beliau hanya tersenyum saja.” Dan ia berkata: “Apabila beliau melihat awan atau angin, hal itu dikenali di wajah beliau.” Ia berkata: “Wahai Rasulullah, orang-orang apabila melihat awan mereka bergembira; berharap akan ada hujan di dalamnya, sedangkan aku melihatmu apabila melihatnya tampak kekhawatiran di wajahmu?” Maka beliau bersabda: “Wahai Aisyah, apa yang membuatku aman bahwa di dalamnya ada azab? Sungguh telah diazab kaum Nuh dengan angin, dan sungguh kaum telah melihat azab lalu mereka berkata: Ini adalah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.”

Dan demikianlah diriwayatkan oleh Muslim, dari Harun bin Ma’ruf, dan dikeluarkan oleh al-Bukhari, dan Abu Dawud dari hadits Ibnu Wahb. Maka hadits ini seperti tegas dalam perbedaan dua kisah tersebut, sebagaimana kami isyaratkan padanya pertama kali. Maka berdasarkan ini, kisah yang disebutkan dalam surat al-Ahqaf menjadi berita tentang kaum Ad yang kedua, dan penjelasan-penjelasan yang lain dalam al-Quran menjadi berita tentang Ad yang pertama, wallahu a’lam bish-shawab.

Dan telah kami kemukakan tentang haji Hud alaihi salam ketika menyebutkan haji Nuh alaihi salam. Dan diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib bahwa ia menyebutkan sifat kubur Hud alaihi salam di negeri Yaman. Dan disebutkan oleh yang lain bahwa ia berada di Damaskus, dan di masjidnya ada tempat di dinding kiblatnya yang sebagian orang mengira bahwa itu adalah kubur Hud alaihi salam, wallahu a’lam.

Kisah Shalih, Nabi Kaum Tsamud alaihi salam

Dan mereka adalah suku yang masyhur dikatakan: Tsamud dengan nama kakek mereka Tsamud, saudara Jadis, dan keduanya adalah anak Abir bin Iram bin Sam bin Nuh, dan mereka adalah orang Arab dari al-Aribah yang mendiami al-Hijr yang berada di antara Hijaz dan Tabuk, dan sungguh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melewatinya, dan beliau sedang pergi ke Tabuk bersama orang-orang Muslim yang bersamanya, sebagaimana akan datang penjelasannya, dan mereka hidup setelah kaum Ad, dan mereka menyembah berhala-berhala seperti mereka, maka Allah mengutus kepada mereka seorang laki-laki dari kalangan mereka, yaitu Abdullah dan Rasul-Nya Shalih bin Ubaid bin Masikh bin Ubaid bin Hajir bin Tsamud bin Abir bin Iram bin Sam bin Nuh, maka ia menyeru mereka untuk menyembah Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, dan agar meninggalkan berhala-berhala dan sekutu-sekutu, dan tidak mempersekutukan sesuatu dengan-Nya, maka beriman kepadanya segolongan dari mereka, dan kafir mayoritas mereka, dan mereka menyakitinya dengan perkataan dan perbuatan, dan mereka berniat membunuhnya, dan mereka membunuh unta yang Allah jadikan sebagai hujjah atas mereka, maka Allah menyiksa mereka dengan siksa yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa, sebagaimana firman-Nya ta’ala dalam surat al-A’raf: Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shalih. Ia berkata: Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Ini adalah unta Allah sebagai tanda untukmu, maka biarkanlah ia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu sentuh ia dengan keburukan, maka kamu akan ditimpa azab yang pedih. Dan ingatlah ketika Dia menjadikan kamu pengganti (yang berkuasa) setelah kaum Ad dan menempatkan kamu di bumi; kamu membangun istana-istana di dataran-dataran dan memahat gunung-gunung menjadi rumah-rumah. Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di bumi membuat kerusakan. Berkata pemuka-pemuka yang menyombongkan diri dari kaumnya kepada orang-orang yang dianggap lemah yang beriman di antara mereka: Apakah kamu yakin bahwa Shalih diutus dari Tuhannya? Mereka menjawab: Sesungguhnya kami beriman dengan apa yang dengannya ia diutus. Berkata orang-orang yang menyombongkan diri: Sesungguhnya kami mengkafiri apa yang kamu beriman dengannya. Maka mereka menyembelih unta itu dan berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan mereka dan berkata: Wahai Shalih, datangkanlah kepada kami apa yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang diutus. Maka mereka ditimpa gempa, lalu mereka menjadi (mayat-mayat) yang bergelimpangan di rumah mereka. Maka ia berpaling dari mereka dan berkata: Wahai kaumku, sungguh aku telah menyampaikan kepada kamu pesan Tuhanku dan aku telah menasihati kamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang menasihati (al-A’raf: 73-79).

Dan firman-Nya ta’ala dalam surat Hud: Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shalih. Ia berkata: Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Dia-lah yang menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya, maka mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan. Mereka berkata: Wahai Shalih, sesungguhnya kamu adalah orang yang kami harapkan di antara kami sebelum ini. Apakah kamu melarang kami menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? Dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap apa yang kamu seru kami kepadanya. Ia berkata: Wahai kaumku, bagaimana pendapat kamu jika aku berada di atas bukti yang nyata dari Tuhanku dan Dia telah memberiku rahmat dari sisi-Nya, maka siapakah yang akan menolongku dari (azab) Allah jika aku mendurhakai-Nya? Maka tidaklah kamu menambahkan kepadaku kecuali kerugian. Dan wahai kaumku, ini adalah unta Allah sebagai tanda untukmu, maka biarkanlah ia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu sentuh ia dengan keburukan, maka kamu akan ditimpa azab yang dekat. Maka mereka menyembelihnya, lalu ia berkata: Bersenang-senanglah di rumahmu tiga hari. Itu adalah janji yang tidak dapat didustakan. Maka ketika datang perintah Kami, Kami selamatkan Shalih dan orang-orang yang beriman bersamanya dengan rahmat dari Kami dan dari kehinaan hari itu. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Dan orang-orang yang zalim ditimpa suara yang mengguntur, lalu mereka menjadi (mayat-mayat) yang bergelimpangan di rumah-rumah mereka. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di sana. Ketahuilah, sesungguhnya Tsamud mengkafiri Tuhan mereka. Ketahuilah, kebinasaan bagi Tsamud (Hud: 61-68).

Dan firman-Nya ta’ala dalam surat al-Hijr: Dan sungguh telah mendustakan penduduk al-Hijr para rasul. Dan Kami telah memberikan kepada mereka tanda-tanda Kami, namun mereka berpaling darinya. Dan mereka memahat dari gunung-gunung rumah-rumah dengan merasa aman. Maka suara yang mengguntur menimpa mereka di waktu pagi. Maka tidak berguna bagi mereka apa yang mereka usahakan (al-Hijr: 80-84).

Dan firman-Nya Maha Suci lagi Maha Tinggi dalam surat al-Isra’: Dan tidaklah Kami menghalangi untuk mengutus (rasul dengan membawa) tanda-tanda kecuali karena orang-orang terdahulu telah mendustakannya. Dan Kami berikan kepada Tsamud unta itu sebagai (tanda) yang dapat dilihat, namun mereka menganiayanya. Dan Kami tidak mengutus (rasul dengan membawa) tanda-tanda kecuali untuk menakut-nakuti (al-Isra’: 59).

Dan firman-Nya ta’ala dalam surat asy-Syu’ara’: Telah mendustakan Tsamud para rasul. Ketika berkata kepada mereka saudara mereka Shalih: Tidakkah kamu bertakwa? Sesungguhnya aku adalah rasul yang terpercaya untukmu. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatilah aku. Dan aku tidak meminta kepada kamu upah atasnya. Upahku hanyalah dari Tuhan semesta alam. Apakah kamu akan dibiarkan aman di sini dalam kebun-kebun dan mata air-mata air, dan tanaman-tanaman serta kurma yang mayangnya lembut? Dan kamu memahat dari gunung-gunung rumah-rumah dengan mahirnya. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatilah aku. Dan janganlah kamu taati perintah orang-orang yang melampaui batas, yang membuat kerusakan di bumi dan tidak berbuat baik. Mereka berkata: Sesungguhnya kamu hanyalah salah seorang dari yang terkena sihir. Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami. Maka datangkanlah suatu tanda jika kamu termasuk orang-orang yang benar. Ia berkata: Ini adalah unta, baginya giliran minum dan bagi kamu giliran minum pada hari yang ditentukan. Dan janganlah kamu sentuh ia dengan keburukan, maka kamu akan ditimpa azab hari yang besar. Maka mereka menyembelihnya, lalu mereka menjadi orang-orang yang menyesal. Maka azab menimpa mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda, dan tidaklah kebanyakan mereka orang-orang yang beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang (asy-Syu’ara’: 141-159).

Dan firman-Nya ta’ala dalam surat an-Naml: Dan sungguh Kami telah mengutus kepada Tsamud saudara mereka Shalih, (untuk menyeru): Sembahlah Allah, maka tiba-tiba mereka menjadi dua golongan yang berselisih. Ia berkata: Wahai kaumku, mengapa kamu minta disegerakan kejahatan sebelum kebaikan? Mengapa kamu tidak memohon ampun kepada Allah agar kamu mendapat rahmat? Mereka berkata: Kami bernasib sial karena kamu dan orang-orang yang bersamamu. Ia berkata: Nasib sial kamu ada di sisi Allah. Sebenarnya kamu adalah kaum yang diuji. Dan di kota itu ada sembilan orang yang membuat kerusakan di bumi dan tidak berbuat baik. Mereka berkata: Bersumpahlah dengan nama Allah bahwa kita akan menyergapnya di malam hari beserta keluarganya, kemudian kita akan berkata kepada walinya: Kami tidak menyaksikan kebinasaan keluarganya dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar. Dan mereka merencanakan tipu daya dan Kami pun merencanakan tipu daya, sedang mereka tidak menyadari. Maka perhatikanlah bagaimana akibat tipu daya mereka, bahwa sesungguhnya Kami binasakan mereka dan kaum mereka semuanya. Maka itulah rumah-rumah mereka yang roboh karena kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi kaum yang mengetahui. Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan yang bertakwa (an-Naml: 45-53).

Dan firman-Nya ta’ala dalam surat Fusshilat: Dan adapun Tsamud, maka Kami telah memberi petunjuk kepada mereka, namun mereka lebih menyukai kebutaan daripada petunjuk, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan karena apa yang mereka usahakan. Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan yang bertakwa.

Dan firman-Nya ta’ala dalam surat al-Qamar: Telah mendustakan Tsamud peringatan-peringatan. Maka mereka berkata: Apakah manusia dari kalangan kami seorang diri yang kita ikuti? Sesungguhnya kita benar-benar dalam kesesatan dan kegilaan. Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya dari antara kita? Bahkan ia adalah pendusta yang sombong. Mereka akan mengetahui besok siapa pendusta yang sombong itu. Sesungguhnya Kami akan mengirim unta sebagai cobaan bagi mereka, maka tunggulah mereka dan bersabarlah. Dan beritahukanlah kepada mereka bahwa air itu terbagi antara mereka, setiap giliran minum dihadiri. Maka mereka memanggil teman mereka, lalu ia berani dan menyembelih. Maka betapa (dahsyatnya) azab-Ku dan peringatan-peringatan-Ku. Sesungguhnya Kami mengirimkan kepada mereka satu suara yang mengguntur, maka mereka menjadi seperti rumput kering yang dikumpulkan oleh pembuat kandang. Dan sungguh Kami telah mudahkan al-Quran untuk peringatan, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (al-Qamar: 23-32).

Dan firman-Nya ta’ala: Telah mendustakan Tsamud karena kedurhakaannya. Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka. Maka berkata kepada mereka Rasulullah: (Jagalah) unta Allah dan giliran minumnya. Namun mereka mendustakannya lalu mereka menyembelihnya. Maka Tuhan mereka membinasakan mereka karena dosa mereka, lalu meratakan (azab itu atas) mereka. Dan Dia tidak takut akan akibatnya (asy-Syams: 11-15).

Dan seringkali Allah menggandengkan dalam Kitab-Nya antara penyebutan Ad dan Tsamud, seperti dalam surat at-Taubah, dan Ibrahim, dan al-Furqan, dan surat Shad, dan surat Qaf, dan an-Najm, dan al-Fajr. Dan dikatakan: Sesungguhnya dua umat ini tidak diketahui berita mereka oleh Ahli Kitab, dan tidak ada penyebutan mereka dalam kitab mereka at-Taurat, akan tetapi dalam al-Quran ada yang menunjukkan bahwa Musa mengabarkan tentang mereka, sebagaimana firman-Nya ta’ala dalam surat Ibrahim: Dan berkata Musa: Jika kamu kafir, kamu dan siapa yang di bumi semuanya, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Tidakkah datang kepada kamu berita orang-orang sebelum kamu, kaum Nuh dan Ad dan Tsamud, dan orang-orang setelah mereka, tidak ada yang mengetahui mereka kecuali Allah. Telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan bukti-bukti yang nyata (Ibrahim: 8-9). Ayat yang zhahir bahwa ini dari sempurna perkataan Musa dengan kaumnya, akan tetapi karena dua umat ini dari Arab, mereka tidak menetapkan berita mereka dengan baik, dan tidak memperhatikan untuk menjaganya, meskipun berita mereka adalah masyhur pada zaman Musa alaihi salam, dan sungguh telah kami bicarakan tentang semua ini dalam Tafsir secara lengkap, dan bagi Allah segala puji dan karunia.

Dan yang dimaksud sekarang adalah menyebutkan kisah mereka, dan apa yang terjadi dari urusan mereka, dan bagaimana Allah menyelamatkan nabi-Nya Shalih alaihi salam dan orang-orang yang beriman kepadanya. Dan bagaimana Allah memutus keturunan kaum yang zalim dengan kekafiran dan keangkuhan mereka, dan penentangan mereka terhadap rasul mereka alaihi salam. Sungguh telah kami kemukakan bahwa mereka adalah orang Arab, dan mereka hidup setelah Ad, dan mereka tidak mengambil pelajaran dari apa yang terjadi pada urusan mereka; dan karena itu nabi mereka alaihi salam berkata kepada mereka: Sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Ini adalah unta Allah sebagai tanda untukmu, maka biarkanlah ia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu sentuh ia dengan keburukan, maka kamu akan ditimpa azab yang pedih. Dan ingatlah ketika Dia menjadikan kamu pengganti (yang berkuasa) setelah kaum Ad dan menempatkan kamu di bumi; kamu membangun istana-istana di dataran-dataran dan memahat gunung-gunung menjadi rumah-rumah. Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di bumi membuat kerusakan. Yakni sesungguhnya Dia menjadikan kamu pengganti setelah mereka agar kamu mengambil pelajaran dari apa yang terjadi pada urusan mereka, dan beramal dengan kebalikan dari amal mereka, dan Dia membolehkan bagimu bumi ini, kamu membangun di dataran-datarannya istana-istana, dan kamu memahat dari gunung-gunung rumah-rumah dengan mahir. Yakni cekatan dalam pembuatannya dan kesempurnaannya dan penguatannya, maka balas nikmat Allah dengan syukur dan amal saleh dan ibadah kepada-Nya semata tiada sekutu bagi-Nya, dan jauhilah penentangan-Nya, dan berpaling dari ketaatan kepada-Nya karena akibat dari itu buruk; dan karena itu Dia memberi nasihat kepada mereka dengan firman-Nya: Apakah kamu akan dibiarkan aman di sini dalam kebun-kebun dan mata air-mata air, dan tanaman-tanaman serta kurma yang mayangnya lembut. Yakni berlimpah banyak baik indah matang. Dan kamu memahat dari gunung-gunung rumah-rumah dengan mahirnya. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatilah aku. Dan janganlah kamu taati perintah orang-orang yang melampaui batas, yang membuat kerusakan di bumi dan tidak berbuat baik.

Dan ia juga berkata kepada mereka: Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Dia-lah yang menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya. Yakni Dia-lah yang menciptakan kamu lalu menjadikan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya. Yakni memberikan kepada kamu ia dengan apa yang di dalamnya dari tanaman-tanaman dan buah-buahan, maka Dia-lah Pencipta Pemberi Rezeki, maka Dia-lah yang berhak diibadah semata tiada yang lain. Maka mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Yakni berhentilah dari apa yang kamu berada di dalamnya, dan hadaplah kepada ibadah kepada-Nya karena sesungguhnya Dia menerima dari kamu, dan memaafkan kamu. Sesungguhnya Tuhanku Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan. Mereka berkata: Wahai Shalih, sesungguhnya kamu adalah orang yang kami harapkan di antara kami sebelum ini. Yakni sungguh kami mengharapkan bahwa akalmu sempurna sebelum perkataan ini, yaitu seruanmu kepada kami untuk mengikhlaskan ibadah kepada Allah semata, dan meninggalkan apa yang kami sembah dari sekutu-sekutu, dan berpaling dari agama bapak-bapak dan kakek-kakek; dan karena itu mereka berkata: Apakah kamu melarang kami menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? Dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap apa yang kamu seru kami kepadanya. Ia berkata: Wahai kaumku, bagaimana pendapat kamu jika aku berada di atas bukti yang nyata dari Tuhanku dan Dia telah memberiku rahmat dari sisi-Nya, maka siapakah yang akan menolongku dari (azab) Allah jika aku mendurhakai-Nya? Maka tidaklah kamu menambahkan kepadaku kecuali kerugian.

Dan ini adalah kelembutan darinya kepada mereka dalam ungkapan dan lemah lembut, dan baik dalam menyeru mereka kepada kebaikan. Yakni maka apa sangkaan kamu jika perkara itu sebagaimana aku katakan kepada kamu, dan aku seru kamu kepadanya? Apa uzur kamu di sisi Allah? Dan apa yang menyelamatkan kamu di hadapan-Nya? Sedang kamu meminta dariku agar aku meninggalkan seruan kamu kepada ketaatan kepada-Nya? Dan aku tidak mungkin ini; karena ia adalah kewajiban atasku, dan seandainya aku meninggalkannya, tidak akan mampu seorang pun dari kamu dan tidak dari selain kamu untuk melindungiku darinya, dan tidak menolongku. Maka aku tidak akan berhenti menyeru kamu kepada Allah semata tiada sekutu bagi-Nya hingga Allah memutuskan antara aku dan antara kamu.

Dan mereka juga berkata kepadanya: Sesungguhnya kamu hanyalah salah seorang dari yang terkena sihir. Yakni dari yang terkena sihir. Maksud mereka terkena sihir, tidak tahu apa yang kamu katakan dalam seruan kamu kepada kami untuk mengikhlaskan ibadah kepada Allah semata, dan meninggalkan apa selain-Nya dari sekutu-sekutu. Dan pendapat ini menurut jumhur bahwa yang dimaksud dengan al-musahharin adalah yang terkena sihir. Dan ada yang berkata: dari al-musahhirin. Yakni yang memiliki paru-paru, seolah mereka berkata: Sesungguhnya kamu hanyalah manusia yang memiliki paru-paru. Dan yang pertama lebih jelas karena perkataan mereka setelah ini: Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami.

Dan perkataan mereka: Maka datangkanlah suatu tanda jika kamu termasuk orang-orang yang benar. Mereka meminta darinya agar datang kepada mereka dengan sesuatu yang luar biasa yang menunjukkan atas kebenaran apa yang ia datangkan kepada mereka. Maka ia berkata: ‘Ini adalah seekor unta betina; baginya jatah minum, dan bagi kalian jatah minum pada hari yang telah ditentukan. Janganlah kalian menyentuhnya dengan keburukan apa pun, karena nanti azab pada hari yang besar akan menimpa kalian.’

Dan ia berkata pula: ‘Sungguh telah datang kepada kalian bukti yang nyata dari Tuhan kalian. Ini adalah unta Allah sebagai tanda bagi kalian. Maka biarkanlah ia makan di bumi Allah dan jangan kalian menyentuhnya dengan keburukan apa pun, karena azab yang pedih akan menimpa kalian.’

Allah Ta‘ala berfirman: ‘Dan Kami telah memberikan kepada kaum Tsamud unta betina itu sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka berbuat zalim terhadapnya.’

Para mufassir telah menyebutkan: Bahwa kaum Tsamud pada suatu hari berkumpul di tempat pertemuan mereka, lalu datanglah kepada mereka Rasulullah Saleh dan ia menyeru mereka kepada Allah, mengingatkan mereka, memperingatkan mereka, menasihati mereka dan memerintahkan mereka. Maka mereka berkata kepadanya: Jika engkau mengeluarkan untuk kami dari batu karang ini -dan mereka menunjuk kepada sebuah batu karang di sana- seekor unta dengan ciri-ciri begini dan begitu, dan mereka menyebutkan sifat-sifat yang mereka sebutkan dan mereka gambarkan dan mereka mempersulit dalam hal itu, dan unta itu harus bunting dan panjang dengan ciri-ciri begini dan begitu. Maka Nabi Saleh alaihis salam berkata kepada mereka: Bagaimana pendapat kalian jika aku memenuhi apa yang kalian minta sesuai dengan cara yang kalian kehendaki, apakah kalian akan beriman dengan apa yang aku bawa kepada kalian, dan membenarkanku dalam apa yang aku diutus dengannya? Mereka berkata: Ya. Maka ia mengambil perjanjian dan ikrar mereka atas hal itu, kemudian ia pergi ke tempat sholatnya dan ia sholat untuk Allah Azza wa Jalla sebagaimana yang ditakdirkan baginya, kemudian ia berdoa kepada Tuhannya Azza wa Jalla agar memenuhi apa yang mereka minta. Maka Allah Azza wa Jalla memerintahkan batu karang itu agar terbelah mengeluarkan seekor unta yang besar, berpunuk, bunting sesuai dengan apa yang diminta dan sesuai dengan sifat yang mereka gambarkan. Ketika mereka menyaksikannya demikian, mereka melihat suatu perkara yang sangat besar, pemandangan yang menakjubkan, kekuasaan yang gemilang, dalil yang pasti, dan bukti yang terang. Maka banyak dari mereka yang beriman, namun kebanyakan mereka tetap pada kekufuran, kesesatan dan keingkaran mereka. Oleh karena itu Allah berfirman: “Maka mereka berlaku zalim terhadapnya.” Artinya mereka mengingkarinya, dan tidak mengikuti kebenaran karenanya. Yaitu kebanyakan mereka. Adapun pemimpin orang-orang yang beriman adalah Junda’ bin Amr bin Mukhlah bin Labid bin Jawwas, dan ia termasuk pemimpin mereka, dan mereka hampir mengikuti para pembesar dengan memeluk Islam namun Dzu’ab bin Amr bin Labid, Al-Habab pemelihara berhala-berhala mereka, dan Rabab bin Suma’r bin Jalhis menghalangi mereka. Dan Junda’ memanggil anak pamannya Syihab bin Khalifah, dan ia termasuk pembesar mereka, maka ia hampir memeluk Islam namun mereka melarangnya sehingga ia cenderung kepada mereka. Maka berkatalah tentang hal itu seorang laki-laki dari kaum muslimin yang bernama Mahrasy bin Ghanamah bin Ad-Dumil rahimahullah dalam syairnya:

Dan adalah sekelompok dari keluarga Amr … Kepada agama Nabi mereka menyeru Syihab

Orang mulia Tsamud semuanya … Maka ia hampir memenuhinya dan seandainya ia memenuhi

Niscaya Saleh menjadi mulia di antara kami … Dan mereka tidak menyamakan dengan sahabat mereka Dzu’ab

Tetapi orang-orang sesat dari keluarga Hajar … Mereka berpaling setelah petunjuk mereka menjadi serigala-serigala

Oleh karena itu Saleh alaihis salam berkata kepada mereka: “Inilah unta betina milik Allah sebagai mukjizat untuk kalian.” Ia menisbatkannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan penisbatan penghormatan dan pengagungan, seperti ucapan: Baitullah (rumah Allah), dan Abdullah (hamba Allah). “Sebagai mukjizat untuk kalian.” Artinya sebagai dalil atas kebenaran apa yang aku bawa kepada kalian. “Maka biarkanlah ia makan di bumi Allah dan jangan kalian sentuh ia dengan keburukan sehingga kalian akan ditimpa azab yang dekat.” Maka keadaan menjadi kesepakatan bahwa unta ini tetap berada di tengah-tengah mereka, merumput di mana ia kehendaki dari tanah mereka, dan datang ke air sehari bergantian. Apabila ia datang ke air, ia meminum air sumur pada harinya itu. Maka mereka mengambil kebutuhan mereka dari air pada hari mereka untuk esok harinya. Dan dikatakan bahwa mereka meminum dari susunya sebagai kecukupan mereka. Oleh karena itu Allah berfirman: “Untuknya minum dan untuk kalian minum pada hari yang ditentukan.” Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami akan mengirimkan unta betina sebagai cobaan bagi mereka.” Artinya sebagai ujian bagi mereka, apakah mereka akan beriman dengannya ataukah mereka akan kafir? Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. “Maka tunggulah mereka,” artinya tunggulah apa yang akan terjadi dari urusan mereka, dan bersabarlah atas gangguan mereka, maka akan datang kepadamu berita dengan jelas. “Dan beritahukanlah kepada mereka bahwa air itu terbagi di antara mereka, setiap giliran minum dihadiri.” Ketika keadaan ini berlangsung lama bagi mereka, berkumpullah pemuka-pemuka mereka, dan bersepakatlah pendapat mereka untuk menyembelih unta betina ini agar mereka bisa tenang darinya, dan air mereka menjadi cukup untuk mereka. Dan setan menghiasi bagi mereka perbuatan-perbuatan mereka. Allah Ta’ala berfirman: “Maka mereka menyembelih unta betina itu dan berlaku sombong terhadap perintah Tuhan mereka dan berkata: Wahai Saleh, datangkanlah kepada kami apa yang engkau janjikan kepada kami jika engkau termasuk orang-orang yang diutus.” (Al-A’raf: 77). Yang menangani pembunuhan unta itu dari mereka adalah pemimpin mereka Qadar bin Salif bin Junda’, dan ia berkulit merah kebiruan, pendek. Dan dikatakan: Bahwa ia anak zina, dilahirkan di atas ranjang Salif. Padahal ia dari seorang laki-laki yang bernama Shaiban. Perbuatannya itu dilakukan atas kesepakatan mereka semua, oleh karena itu perbuatan itu dinisbatkan kepada mereka semua.

Dan Ibnu Jarir serta ulama mufassir lainnya menyebutkan: Bahwa dua orang wanita dari Tsamud, nama salah satunya Shaduf binti Al-Muhya bin Zuhair bin Al-Muhya, dan ia adalah wanita yang memiliki keturunan dan harta, dan ia adalah istri seorang laki-laki yang telah memeluk Islam, kemudian ia menceraikannya. Maka ia memanggil anak pamannya yang bernama Mushda’ bin Muhrij bin Al-Muhya, dan ia menawarkan dirinya kepadanya jika ia mau menyembelih unta itu. Nama wanita yang lain adalah ‘Anizah binti Ghunaim bin Majlaz, dan ia bergelar Ummu Utsman, dan ia adalah seorang wanita tua kafir, yang memiliki anak-anak perempuan dari suaminya Dzu’ab bin Amr salah seorang pemimpin. Maka ia menawarkan keempat anak perempuannya kepada Qadar bin Salif jika ia mau menyembelih unta itu, maka baginya anak perempuan mana yang ia kehendaki. Maka bangkitlah kedua pemuda ini untuk menyembelihnya, dan mereka berusaha pada kaum mereka dengan hal itu, maka tujuh orang lainnya menyambut mereka sehingga mereka menjadi sembilan orang. Mereka adalah yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala: “Dan adalah di kota itu sembilan kelompok yang membuat kerusakan di bumi dan tidak berbuat kebaikan.” Mereka berusaha pada sisa suku, dan mereka membaguskan bagi mereka untuk menyembelihnya, maka mereka menyambut mereka untuk itu, dan menaati mereka dalam hal itu. Maka mereka pergi mengintai unta itu. Ketika ia keluar dari tempat minumnya, Mushda’ bersembunyi untuknya lalu melemparnya dengan anak panah hingga menembus tulang kakinya. Datanglah para wanita, wanita-wanita suku itu dalam pembunuhannya, dan mereka membuka wajah-wajah mereka sebagai rangsangan bagi mereka. Maka Qadar bin Salif mendahului mereka, ia menyerangnya dengan pedang lalu memotong urat lututnya, maka terjerumuslah ia jatuh ke tanah, dan ia meraung satu raungan yang dahsyat, memperingatkan anaknya. Kemudian ia menikam lehernya dan menyembelihnya. Anaknya pergi, yaitu anak untanya, lalu naik ke gunung yang tinggi, dan meraung tiga kali. Abdur Razzaq meriwayatkan dari Ma’mar dari orang yang mendengar Al-Hasan bahwa ia berkata: Wahai Tuhanku, di mana ibuku? Kemudian ia masuk ke dalam batu dan menghilang di dalamnya. Dan dikatakan: Bahkan mereka mengikutinya dan menyembelihnya juga. Allah Ta’ala berfirman: “Maka mereka memanggil temannya, lalu ia mengambil (pedang) dan menyembelih (unta itu). Maka bagaimana azab-Ku dan peringatan-Ku?” Dan Allah Ta’ala berfirman: “Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka. Maka Rasulullah (Saleh) berkata kepada mereka: (Janganlah kalian ganggu) unta betina Allah dan minumannya.” Artinya hati-hatilah terhadapnya. “Maka mereka mendustakannya, lalu mereka menyembelihnya, maka Tuhan mereka membinasakan mereka karena dosa mereka, lalu meratakan (azab itu atas) mereka. Dan Dia tidak takut akan akibatnya.”

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair, telah menceritakan kepada kami Hisyam yaitu Ibnu Urwah, dari ayahnya dari Abdullah bin Zam’ah ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkhutbah, lalu ia menyebutkan unta betina, dan menyebutkan orang yang menyembelihnya, maka ia bersabda: “Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, bangkit untuknya seorang laki-laki yang berani, perkasa, kebal dalam sukunya seperti Abu Zam’ah.” Mereka berdua (Bukhari dan Muslim) mengeluarkannya dari hadits Hisyam dengannya. ‘Arim artinya pemberani. ‘Aziz artinya pemimpin. Mani’ artinya ditaati di kaumnya.

Muhammad bin Ishaq berkata: Telah menceritakan kepadaku Yazid bin Muhammad bin Khutsaim, dari Muhammad bin Ka’b, dari Muhammad bin Khutsaim Abu Yazid, dari Ammar bin Yasir ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada Ali: “Maukah aku memberitahumu tentang manusia yang paling celaka?” Ia berkata: Ya. Ia bersabda: “Dua orang laki-laki, salah satunya si merah kecil Tsamud yang menyembelih unta betina, dan yang memukulmu wahai Ali pada ini -yaitu kepalanya- hingga basah ini darinya. Yaitu jenggotnya.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim. Dan Allah Ta’ala berfirman: “Maka mereka menyembelih unta betina itu dan berlaku sombong terhadap perintah Tuhan mereka dan berkata: Wahai Saleh, datangkanlah kepada kami apa yang engkau janjikan kepada kami jika engkau termasuk orang-orang yang diutus.” (Al-A’raf: 77). Mereka menggabungkan dalam ucapan mereka ini kekufuran yang besar dari beberapa segi. Di antaranya adalah bahwa mereka menentang Allah dan Rasul-Nya dalam melanggar larangan yang keras dalam menyembelih unta betina yang dijadikan Allah bagi mereka sebagai mukjizat. Di antaranya adalah bahwa mereka meminta segera datangnya azab kepada mereka, maka mereka berhak mendapatkannya dari dua segi. Pertama: Syarat bagi mereka dalam firman-Nya: “Dan jangan kalian sentuh ia dengan keburukan sehingga kalian akan ditimpa azab yang dekat.” Dan dalam ayat lain: “Besar.” Dan dalam ayat yang lain: “Pedih.” Dan semuanya benar. Kedua: Mereka meminta cepat akan hal itu. Di antaranya adalah bahwa mereka mendustakan Rasul yang telah berdiri dalil yang pasti atas kenabian dan kebenarannya, dan mereka mengetahui hal itu dengan pengetahuan yang pasti. Tetapi kekufuran, kesesatan dan keingkaran mereka membuat mereka menganggap mustahil kebenaran, dan jatuhnya azab kepada mereka. Allah Ta’ala berfirman: “Maka mereka menyembelihnya, lalu ia (Saleh) berkata: Bersenang-senanglah kalian di rumah kalian selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.” Mereka menyebutkan bahwa ketika mereka menyembelih unta betina, yang pertama kali menyerangnya adalah Qadar bin Salif la’natullah, maka ia memotong urat lututnya hingga jatuh ke tanah. Kemudian mereka menyerangnya dengan pedang-pedang mereka memotongnya. Ketika anak untanya menyaksikan hal itu, yaitu anaknya, ia lari dari mereka lalu naik ke atas gunung di sana, dan meraung tiga kali. Oleh karena itu Saleh berkata kepada mereka: “Bersenang-senanglah kalian di rumah kalian selama tiga hari,” artinya selain hari mereka itu. Mereka tidak membenarkannya juga dalam janji yang pasti ini. Bahkan ketika sore hari mereka berniat membunuhnya, dan mereka ingin menurut sangkaan mereka mengirimnya menyusul unta betina. Mereka berkata: “Bersumpahlah kalian demi Allah, sesungguhnya kita akan menyerangnya dan keluarganya pada malam hari,” artinya kita akan menyerangnya di rumahnya bersama keluarganya lalu kita bunuh dia. Kemudian kita akan ingkari pembunuhannya, dan kita akan menyangkalnya jika wali-walinya menuntut kami dengan darahnya. Oleh karena itu mereka berkata: “Kemudian kita akan katakan kepada walinya: kami tidak menyaksikan kebinasaan keluarganya dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang jujur.” Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan mereka membuat tipu daya dan Kami pun membuat tipu daya, sedang mereka tidak menyadari. Maka perhatikanlah bagaimana akibat tipu daya mereka, bahwa Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya. Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda kekuasaan (Allah) bagi kaum yang mengetahui. Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” Yaitu bahwa Allah Ta’ala mengirimkan kepada sekelompok orang itu yang bermaksud membunuh Saleh batu-batu yang meremukkan mereka terlebih dahulu dan dengan segera sebelum kaum mereka. Dan kaum Tsamud pada pagi hari Kamis, yaitu hari pertama dari hari-hari penangguhan, dengan wajah-wajah mereka menguning, sebagaimana yang telah diperingatkan oleh Saleh alaihis salam kepada mereka. Ketika sore hari mereka berseru semuanya: Ketahuilah telah berlalu satu hari dari batas waktu. Kemudian mereka bangun pada hari kedua dari hari-hari penangguhan, yaitu hari Jumat, dengan wajah-wajah mereka memerah. Ketika sore hari mereka berseru: Ketahuilah telah berlalu dua hari dari batas waktu. Kemudian mereka bangun pada hari ketiga dari hari-hari kesenangan, yaitu hari Sabtu, dengan wajah-wajah mereka menghitam. Ketika sore hari mereka berseru: Ketahuilah telah habis batas waktunya. Ketika pagi hari Ahad mereka mengharumi diri dan bersiap-siap, dan mereka duduk menunggu azab apa yang akan menimpa mereka dan siksa dan hukuman, mereka tidak tahu bagaimana akan diperlakukan, dan dari mana datangnya azab kepada mereka. Ketika matahari terbit, datanglah kepada mereka teriakan dari langit dari atas mereka, dan guncangan yang dahsyat dari bawah mereka, maka mengalirlah roh-roh dan terlepas jiwa-jiwa, dan berhenti gerakan-gerakan, dan diam suara-suara, dan benarlah hakikat-hakikat. “Maka mereka menjadi di negeri mereka dalam keadaan berlutut,” mayat-mayat tanpa roh di dalamnya, dan tidak ada gerakan padanya. Mereka berkata: Dan tidak tersisa dari mereka seorang pun kecuali seorang gadis yang lumpuh, namanya Kalbah binti As-Salaq, dan dikatakan untuknya: Az-Zari’ah. Ia sangat kafir dan memusuhi Saleh alaihis salam. Ketika ia melihat azab, terlepas kedua kakinya, maka ia bangkit berlari secepat sesuatu, lalu ia mendatangi suatu kabilah dari Arab, lalu ia memberitahukan kepada mereka apa yang ia lihat dan apa yang menimpa kaumnya, dan ia meminta minum dari mereka air. Ketika ia minum, ia mati. Allah Ta’ala berfirman: “Seakan-akan mereka tidak pernah berdiam di dalamnya.” Artinya tidak pernah tinggal di dalamnya dalam kelapangan, rezeki dan kecukupan. “Ketahuilah bahwa sesungguhnya Tsamud itu kafir kepada Tuhan mereka. Ketahuilah kebinasaan bagi Tsamud.” Artinya lisan takdir menyeru kepada mereka dengan ini.

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Utsman bin Khutsaim, dari Abu Az-Zubair, dari Jabir ia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melewati Al-Hijr, ia bersabda: “Jangan kalian meminta mukjizat-mukjizat, karena sesungguhnya kaum Saleh telah memintanya, maka ada yaitu unta betina keluar dari celah ini, dan keluar dari celah ini, lalu mereka berlaku sombong terhadap perintah Tuhan mereka, maka mereka menyembelihnya. Ia meminum air mereka satu hari, dan mereka meminum susunya satu hari. Maka mereka menyembelihnya, lalu mereka ditimpa teriakan yang membinasakan siapa yang ada di bawah lapisan langit dari mereka kecuali seorang laki-laki yang berada di tanah haram Allah.” Maka mereka berkata: Siapa dia wahai Rasulullah? Ia bersabda: “Dia adalah Abu Righal. Ketika ia keluar dari tanah haram, menimpanya apa yang menimpa kaumnya.” Dan hadits ini sesuai dengan syarat Muslim, dan tidak ada dalam kitab-kitab yang enam, wallahu a’lam.

Dan Abdur Razzaq juga berkata: Ma’mar telah mengabarkan kepadaku Isma’il bin Umayyah, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam melewati kubur Abu Righal, maka ia bersabda: “Tahukah kalian siapa ini?” Mereka berkata: Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Ia bersabda: “Ini kubur Abu Righal, seorang laki-laki dari Tsamud yang berada di tanah haram Allah, maka tanah haram Allah melindunginya dari azab Allah. Ketika ia keluar, menimpanya apa yang menimpa kaumnya, maka ia dikubur di sini dan dikubur bersamanya dahan dari emas.” Maka kaum itu turun lalu mereka menyerangnya dengan pedang-pedang mereka, lalu mereka menggali tentangnya, maka mereka mengeluarkan dahan itu. Abdur Razzaq berkata: Ma’mar berkata: Az-Zuhri berkata: Abu Righal adalah ayah Tsaqif. Ini mursal dari jalan ini. Dan telah datang dari jalan lain bersambung, sebagaimana disebutkan oleh Muhammad bin Ishaq dalam As-Sirah, dari Isma’il bin Umayyah, dari Bujair bin Abi Bujair, aku mendengar Abdullah bin Amr, aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Ketika kami keluar bersamanya ke Thaif, lalu kami melewati sebuah kubur, maka ia bersabda: “Sesungguhnya ini kubur Abu Righal, dan ia adalah ayah Tsaqif, dan ia adalah dari Tsamud, dan ia berada di tanah haram ini dilindungi darinya. Ketika ia keluar darinya, menimpanya hukuman yang menimpa kaumnya di tempat ini, maka ia dikubur di sana. Tandanya adalah bahwa ia dikubur bersamanya dahan dari emas, jika kalian menggalinya kalian akan mendapatkannya bersamanya.” Maka orang-orang menyerangnya lalu mereka mengeluarkan darinya dahan itu. Demikian diriwayatkan oleh Abu Dawud dari jalan Muhammad bin Ishaq dengannya. Syaikh kami Al-Hafizh Abu Al-Hajjaj Al-Mizzi rahimahullah berkata: Ini hadits hasan aziz. Aku berkata: Diriwayatkan sendirian oleh Bujair bin Abi Bujair ini, dan ia tidak dikenal kecuali dengan hadits ini, dan tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Isma’il bin Umayyah. Syaikh kami berkata: Maka mungkin bahwa ia keliru dalam merafa’kannya, dan sesungguhnya itu adalah dari perkataan Abdullah bin Amr dari kedua keranjangnya, wallahu a’lam. Aku berkata: Tetapi dalam mursal yang sebelumnya, dan dalam hadits Jabir juga ada penguat untuknya, wallahu a’lam.

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Maka berpalinglah dia dari mereka seraya berkata: ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.'” (Al-A’raf: 79)

Ini adalah pemberitahuan tentang Nabi Saleh alaihissalam bahwa ia berbicara kepada kaumnya setelah mereka binasa, dan ketika ia hendak pergi meninggalkan tempat tinggal mereka menuju tempat lain dengan mengatakan kepada mereka: Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku dan aku telah memberi nasihat kepadamu. Artinya, aku telah bersungguh-sungguh dalam memberi petunjuk kepada kalian dengan segala kemampuanku, dan aku sangat bersemangat untuk itu dengan ucapanku, perbuatanku, dan niatku, tetapi kalian tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat. Artinya, sifat-sifat kalian tidak mau menerima kebenaran dan tidak menginginkannya, karena itulah kalian sampai pada apa yang kalian alami sekarang berupa azab yang pedih yang terus-menerus menimpa kalian dan akan berlanjut sampai selamanya, dan aku tidak memiliki cara untuk membantu kalian, dan aku tidak memiliki kekuatan untuk menolak (azab) dari kalian, sedangkan kewajiban yang harus kupenuhi untuk menyampaikan risalah dan memberi nasihat kepada kalian telah kulakukan dan kuberikan kepada kalian, tetapi Allah melakukan apa yang Dia kehendaki.

Demikian pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara kepada penghuni sumur Badar setelah tiga malam, ia berdiri di hadapan mereka, dan beliau telah mengendarai untanya, dan memerintahkan untuk berangkat di akhir malam, lalu bersabda: “Wahai penghuni sumur, apakah kalian telah menemukan apa yang dijanjikan Tuhan kalian sebagai kebenaran? Sesungguhnya aku telah menemukan apa yang dijanjikan Tuhanku sebagai kebenaran.” Dan beliau berkata kepada mereka di antara sabdanya: “Kalian adalah kaum yang buruk bagi seorang Nabi. Kalian telah mendustakanku sedangkan manusia membenarkanku, kalian telah mengusirku sedangkan manusia memberi perlindungan kepadaku, dan kalian memerangiku sedangkan manusia menolongku, maka kalian adalah seburuk-buruk kaum bagi seorang Nabi.”

Lalu Umar berkata kepadanya: Wahai Rasulullah, apakah engkau berbicara kepada orang-orang yang sudah menjadi bangkai? Maka beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian tidaklah lebih mendengar apa yang aku katakan daripada mereka, tetapi mereka tidak dapat menjawab.” Dan hal ini akan dijelaskan pada tempatnya insya Allah.

Dan dikatakan: Sesungguhnya Nabi Saleh alaihissalam berpindah ke tanah haram Allah (Makkah) dan tinggal di sana hingga wafat.

Imam Ahmad berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, Zam’ah bin Shalih menceritakan kepada kami, dari Salamah bin Wahram, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas dia berkata: Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati lembah Usfan saat haji, beliau bersabda: “Wahai Abu Bakar, lembah apakah ini?” Abu Bakar berkata: Lembah Usfan. Beliau bersabda: “Sesungguhnya Nabi Hud dan Nabi Saleh alaihimassalam telah melewati lembah ini dengan menunggangi unta betina yang merah dengan tali kekangnya dari sabut kelapa, kain sarung mereka adalah jubah, dan selendang mereka adalah kain bergaris-garis, mereka bertalbiyah melaksanakan haji ke Baitullah yang mulia.” Sanadnya hasan, dan telah disebutkan sebelumnya dalam kisah Nabi Nuh alaihissalam dari riwayat Ath-Thabrani, dan di dalamnya disebutkan Nuh, Hud, dan Ibrahim.

Kisah Berlalunya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Lembah Al-Hijr dari Tanah Tsamud pada Perang Tabuk

Imam Ahmad berkata: Abdush-Shamad menceritakan kepada kami, Shakhr bin Juwairiyah menceritakan kepada kami, dari Nafi’, dari Ibnu Umar dia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam turun bersama orang-orang di Tabuk, mereka turun di Al-Hijr di dekat rumah-rumah kaum Tsamud, maka orang-orang mengambil air dari sumur-sumur yang biasa diminum oleh kaum Tsamud, lalu mereka menguleni adonan dengannya dan memasang periuk, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk membuang isi periuk itu, dan memberi makan adonan tersebut kepada unta-unta, kemudian beliau berangkat bersama mereka hingga turun di sumur yang biasa diminum oleh unta betina (Nabi Saleh), dan beliau melarang mereka untuk masuk ke tempat kaum yang diazab, dan bersabda: “Sesungguhnya aku khawatir akan menimpa kalian seperti apa yang menimpa mereka, maka janganlah kalian memasuki (tempat) mereka.”

Dan Ahmad juga berkata: Affan menceritakan kepada kami, Abdul Aziz bin Muslim menceritakan kepada kami, Abdullah bin Dinar menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Umar dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika berada di Al-Hijr: “Janganlah kalian memasuki (tempat) orang-orang yang diazab ini kecuali kalian dalam keadaan menangis, maka jika kalian tidak menangis, janganlah kalian memasukinya agar tidak menimpa kalian seperti apa yang menimpa mereka.” Keduanya (Bukhari dan Muslim) mengeluarkannya dalam Shahih dari berbagai jalur.

Dan dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa beliau alaihissalam ketika melewati tempat tinggal mereka, beliau menutup kepalanya, dan mempercepat laju untanya, dan melarang untuk memasuki tempat tinggal mereka kecuali dalam keadaan menangis. Dan dalam satu riwayat: “Maka jika kalian tidak menangis, berpura-puralah menangis,” karena takut menimpa kalian seperti apa yang menimpa mereka. Shalawat dan salam Allah atasnya.

Dan Imam Ahmad berkata: Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, Al-Mas’udi menceritakan kepada kami, dari Ismail bin Awsath, dari Muhammad bin Abi Kabsyah Al-Anmari, dari ayahnya, yang bernama: Amr bin Sa’d, dan ada yang mengatakan: Amir bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Ketika dalam perang Tabuk, orang-orang bergegas menuju penduduk Al-Hijr dan memasuki (tempat) mereka, maka berita itu sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau menyeru kepada orang-orang: Shalat berjama’ah. Ia berkata: Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau sedang memegang untanya, dan beliau bersabda: “Mengapa kalian memasuki (tempat) kaum yang dimurkai Allah terhadap mereka?” Lalu seorang laki-laki berteriak: Kami takjub terhadap mereka wahai Rasulullah. Beliau bersabda: “Tidakkah aku kabarkan kepada kalian yang lebih menakjubkan dari itu? Seorang laki-laki dari kalian sendiri yang mengabarkan kepada kalian tentang apa yang terjadi sebelum kalian, dan apa yang akan terjadi setelah kalian, maka istiqamahlah dan luruskanlah, karena sesungguhnya Allah tidak peduli sedikitpun dengan azab kalian, dan akan datang suatu kaum yang tidak dapat menolak sedikitpun dari diri mereka sendiri.” Sanadnya hasan, dan mereka tidak mengeluarkannya.

Dan telah disebutkan bahwa kaum Saleh memiliki umur yang panjang, maka mereka membangun rumah-rumah dari tanah liat namun runtuh sebelum salah seorang dari mereka meninggal, maka mereka memahat untuk mereka rumah-rumah di gunung-gunung, dan mereka menyebutkan bahwa Nabi Saleh alaihissalam ketika mereka meminta mukjizat kepadanya, maka Allah mengeluarkan untuk mereka unta betina dari batu besar, beliau memerintahkan mereka dengannya dan dengan anak yang ada di dalam kandungannya, dan memperingatkan mereka tentang kemurkaan Allah jika mereka menimpakan keburukan terhadapnya, dan mengabarkan kepada mereka bahwa mereka akan menyembelihnya, dan itu akan menjadi sebab kehancuran mereka, dan menyebutkan kepada mereka sifat orang yang menyembelihnya, bahwa ia berkulit merah kebiruan berambut pirang kemerahan, maka mereka mengutus para bidan di negeri itu agar jika menemukan bayi yang lahir dengan sifat ini mereka membunuhnya, maka mereka terus seperti itu dalam waktu yang lama, dan berlalulah suatu generasi dan datang generasi lain, maka ketika pada suatu masa, seorang pemimpin dari pemimpin mereka melamar untuk anaknya putri pemimpin lain seperti dirinya dalam kepemimpinan, lalu ia menikahkannya, maka lahirlah di antara keduanya orang yang menyembelih unta, yaitu Qidar bin Salif, maka para bidan tidak dapat membunuhnya karena kemuliaan kedua orang tua dan kakeknya di antara mereka, maka ia tumbuh dengan cepat, ia tumbuh dalam seminggu sebagaimana orang lain tumbuh dalam sebulan, hingga dari urusannya adalah bahwa ia keluar ditaati oleh mereka menjadi pemimpin di antara mereka, maka jiwanya membisikkan kepadanya untuk menyembelih unta itu, dan mengikutinya dalam hal itu delapan orang dari pembesar mereka, dan mereka adalah sembilan orang yang ingin membunuh Nabi Saleh alaihissalam, maka ketika terjadi dari urusan mereka apa yang terjadi dari penyembelihan unta, dan berita itu sampai kepada Nabi Saleh alaihissalam, ia datang kepada mereka menangisi unta itu, maka mereka menemuinya meminta maaf kepadanya, dan berkata: Sesungguhnya ini tidak terjadi atas perintah kami, dan hanyalah yang melakukan ini adalah pemuda-pemuda di antara kami, maka dikatakan bahwa ia memerintahkan mereka untuk mengejar anaknya agar mereka berbuat baik kepadanya sebagai ganti darinya, maka mereka pergi mengejarnya, lalu ia naik ke sebuah gunung di sana, maka ketika mereka naik ke gunung itu mengejarnya, gunung itu naik hingga tinggi sehingga burung pun tidak dapat mencapainya, dan anak unta itu menangis hingga air matanya mengalir, kemudian ia menghadap Nabi Saleh alaihissalam, dan meraung tiga kali, maka pada saat itulah Saleh berkata: “Bersenang-senanglah kalian di rumah kalian selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.” (Hud: 65)

Dan ia mengabarkan kepada mereka bahwa mereka akan menjadi kuning wajahnya pada keesokan harinya, kemudian menjadi merah wajah mereka pada hari kedua, dan pada hari ketiga menjadi hitam wajah mereka, maka ketika pada hari keempat datanglah kepada mereka teriakan yang di dalamnya suara setiap petir yang memadamkan mereka, maka mereka menjadi orang-orang yang mati bergelimpangan di rumah mereka,” dan dalam sebagian kisah ini ada pandangan dan perbedaan dengan zhahir apa yang dipahami dari Al-Quran tentang urusan dan kisah mereka, sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih mengetahui akan kebenaran, dan Dia adalah penolong kami dan sebaik-baik pelindung.

۞۞۞۞۞

Kisah Nabi Ibrahim Khalilullah alaihissalam

Beliau adalah Ibrahim bin Tarikh (250 tahun) bin Nahur (148 tahun) bin Saruugh (230 tahun) bin Raghu (239 tahun) bin Faligh (439 tahun) bin Abir (464 tahun) bin Syalikh (433 tahun) bin Arfakhsyadz (438 tahun) bin Sam (600 tahun) bin Nuh alaihissalam. Ini adalah nash Ahli Kitab dalam kitab mereka, dan kami telah menuliskan umur mereka di bawah nama-nama mereka dengan angka Hindi, sebagaimana mereka sebutkan tentang masa hidup, dan telah kami sebutkan sebelumnya pembahasan tentang umur Nabi Nuh alaihissalam sehingga tidak perlu mengulanginya.

Dan Al-Hafizh Ibnu Asakir meriwayatkan dalam biografi Nabi Ibrahim Al-Khalil dari kitab sejarahnya dari Ishaq bin Bisyr Al-Kahili penulis kitab Al-Mubtada bahwa nama ibu Ibrahim adalah Umailah, kemudian ia meriwayatkan darinya tentang berita kelahirannya untuk beliau sebuah kisah yang panjang. Dan Al-Kalbi berkata: Namanya adalah Nuna binti Karnaba bin Kautsa dari Bani Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh.

Dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari berbagai jalur, dari Ikrimah bahwa ia berkata: Ibrahim alaihissalam berkunyah Abu Adh-Dhayifan (Bapak para tamu). Mereka berkata: Dan ketika umur Tarikh tujuh puluh lima tahun, lahirlah untuknya Ibrahim alaihissalam, dan Nahur, dan Haran, dan lahir untuk Haran seorang anak bernama Luth. Dan menurut mereka bahwa Ibrahim alaihissalam adalah yang tengah, dan bahwa Haran meninggal dalam masa hidup ayahnya di negerinya tempat ia dilahirkan, yaitu tanah Kasdiyyin yang maksudnya tanah Babil. Dan inilah yang benar dan masyhur di kalangan ahli sirah, tarikh, dan akhbar, dan Al-Hafizh Ibnu Asakir membenarkan hal itu setelah ia meriwayatkan dari jalur Hisyam bin Ammar, dari Al-Walid, dari Sa’id bin Abdul Aziz, dari Makhul, dari Ibnu Abbas dia berkata: Ibrahim dilahirkan di Ghuthah Damaskus di sebuah desa yang disebut Barzah di sebuah gunung yang disebut Qasyun. Kemudian ia berkata: Dan yang benar bahwa ia dilahirkan di Babil, dan hanyalah maqam ini dinisbatkan kepadanya karena ia shalat di sana ketika datang menolong Luth alaihissalam.

Mereka berkata: Maka Ibrahim menikahi Sarah, dan Nahur menikahi Milka anak perempuan Haran, maksudnya anak perempuan saudaranya. Mereka berkata: Dan Sarah adalah seorang wanita yang mandul tidak dapat melahirkan. Mereka berkata: Dan Tarikh berangkat bersama anaknya Ibrahim, dan istrinya Sarah, dan anak saudaranya Luth bin Haran, lalu ia keluar bersama mereka dari tanah Kasdiyyin menuju tanah Kan’aniyyin, maka mereka singgah di Harran, lalu Tarikh meninggal di sana dan umurnya dua ratus lima puluh tahun. Dan ini menunjukkan bahwa ia tidak dilahirkan di Harran, dan hanyalah tempat kelahirannya di tanah Kasdiyyin, yaitu tanah Babil dan sekitarnya. Kemudian mereka berangkat menuju tanah Kan’aniyyin, yaitu negeri Baitul Maqdis, maka mereka tinggal di Harran, yaitu tanah Kasyidyyin pada masa itu, demikian juga tanah Jazirah dan Syam juga, dan mereka menyembah bintang-bintang yang tujuh, dan orang-orang yang memakmurkan kota Damaskus dahulu menganut agama ini, mereka menghadap Kutub Utara, dan menyembah bintang-bintang yang tujuh dengan berbagai macam perbuatan dan perkataan; karena itulah pada setiap pintu dari tujuh pintu Damaskus yang lama terdapat kuil untuk satu bintang dari bintang-bintang itu, dan mereka mengadakan perayaan dan persembahan untuk bintang-bintang itu. Demikian juga penduduk Harran menyembah bintang-bintang dan berhala-berhala, dan setiap orang yang ada di muka bumi adalah orang-orang kafir kecuali Ibrahim Al-Khalil, dan istrinya, dan anak saudaranya Luth alaihimussalam. Dan Al-Khalil alaihissalamlah yang dengannya Allah menghilangkan kejahatan-kejahatan itu, dan membatalkan kesesatan itu. Karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya petunjuk pada masa kecilnya, dan mengutusnya sebagai rasul, dan menjadikannya kekasih pada masa tuanya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Ibrahim petunjuk kebenaran sebelumnya, dan adalah Kami Maha Mengetahui (keadaan)nya.” (Al-Anbiya: 51). Artinya, ia adalah orang yang layak untuk itu.

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan (ingatlah kisah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: ‘Sembahlah Allah dan bertakwalah kepada-Nya; yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu, adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan. Dan jika kamu mendustakan, maka sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah mendustakan (pula); dan kewajiban rasul tidak lain hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Katakanlah: ‘Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.’ Allah mengazab siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi rahmat kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. Dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) baik di bumi dan tidak (pula) di langit. Dan kamu tidak mempunyai pelindung dan penolong selain Allah. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan (kafir akan) menemui-Nya, mereka itu berputus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu akan memperoleh azab yang pedih. Maka tidak ada jawaban kaumnya melainkan mereka berkata: ‘Bunuhlah dia atau bakarlah dia.’ Maka Allah menyelamatkannya dari api itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman. Dan Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah karena kasih sayang sesama kamu dalam kehidupan dunia. Kemudian di hari kiamat sebagian kamu mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kamu mela’nat sebagian (yang lain), dan tempat kembali kamu adalah neraka, sedang kamu tidak mempunyai penolong.’ Maka Luth beriman kepada Ibrahim. Dan Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku (kepadaku); sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.’ Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub, dan Kami jadikan kenabian dan Al Kitab pada keturunannya, dan Kami berikan kepadanya balasannya di dunia; dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (Al-Ankabut: 16-27)

Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan perdebatannya dengan ayahnya dan kaumnya, sebagaimana akan kami sebutkan insya Allah Ta’ala, dan awal dakwahnya adalah untuk ayahnya, dan ayahnya termasuk orang yang menyembah berhala, karena ia adalah orang yang paling berhak mendapatkan keikhlasan nasihat darinya, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang nabi. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya: ‘Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan.’ Bapaknya berkata: ‘Apakah kamu (Ibrahim) benci kepada tuhan-tuhanku? Jika kamu tidak berhenti (menyeru mereka), maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama.’ Ibrahim berkata: ‘Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri dari kamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku.'” (Maryam: 41-48)

Allah Ta’ala menyebutkan apa yang terjadi antara Ibrahim dan ayahnya dari percakapan dan perdebatan, dan bagaimana ia mengajak ayahnya kepada kebenaran dengan ungkapan yang paling lembut dan isyarat yang paling baik, ia menjelaskan kepadanya kerusakan apa yang ia lakukan dari penyembahan berhala-berhala yang tidak mendengar doa orang yang menyembahnya dan tidak melihat tempatnya, bagaimana ia dapat memberi manfaat kepadanya sedikitpun atau memberikan kepadanya kebaikan berupa rezeki atau pertolongan?

Kemudian dia (Ibrahim) berkata sambil mengingatkan apa yang telah Allah berikan kepadanya berupa petunjuk dan ilmu yang bermanfaat, meskipun dia lebih muda usianya dari ayahnya: Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku ilmu yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. (Surat Maryam: 43) Yaitu jalan yang lurus, jelas, mudah, hanif (lurus cenderung kepada kebenaran), yang akan menghantarkanmu kepada kebaikan di dunia dan akhiratmu. Ketika petunjuk yang benar ini ditawarkan kepadanya, dan nasihat ini disampaikan kepadanya, dia tidak mau menerimanya dan tidak mau mengambilnya. Bahkan dia mengancam dan memperingatkannya dengan keras. Dia berkata: Apakah kamu benci kepada tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, niscaya kamu akan kurajam. (Surat Maryam: 46) Ada yang mengatakan: dengan perkataan. Ada yang mengatakan: dengan perbuatan. Dan tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama. Yaitu putuskan hubungan denganku dan perpanjanglah perpisahanmu dariku. Maka ketika itu Ibrahim berkata kepadanya: Salam sejahtera untukmu. (Surat Maryam: 47) Yaitu tidak akan sampai kepadamu dariku sesuatu yang tidak kamu sukai, dan tidak akan menimpamu dariku gangguan apa pun, bahkan kamu selamat dari pihakku. Dan dia menambahkan kebaikan dengan berkata: Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. (Surat Maryam: 47) Ibnu Abbas dan yang lainnya berkata: artinya lemah lembut. Maksudnya dalam hal memberikan petunjuk kepadaku untuk beribadah kepada-Nya dan mengikhlaskan diri kepada-Nya. Karena itu dia berkata: Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku. (Surat Maryam: 48)

Ibrahim semoga Allah memberikan kesejahteraan kepadanya telah memohonkan ampunan untuknya sebagaimana janjinya dalam doa-doanya. Namun ketika menjadi jelas baginya bahwa dia adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya, sebagaimana firman Allah: Dan permintaan ampunan Ibrahim untuk ayahnya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada ayahnya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa ayahnya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (Surat At-Taubah: 114)

Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Ismail bin Abdullah, telah menceritakan kepadaku saudaraku Abdul Hamid, dari Ibnu Abi Dzi’b, dari Sa’id Al-Maqburi, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: Ibrahim akan bertemu ayahnya Azar pada hari kiamat, dan di wajah Azar terdapat kegelapan dan debu. Maka Ibrahim berkata kepadanya: Bukankah aku telah mengatakan kepadamu jangan durhaka kepadaku? Ayahnya berkata: Hari ini aku tidak akan durhaka kepadamu. Maka Ibrahim berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menjanjikan kepadaku bahwa Engkau tidak akan menghinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, dan penghinaan apa yang lebih menghinakan daripada ayahku yang dijauhkan (dari rahmat-Mu)? Maka Allah berfirman: Sesungguhnya Aku telah mengharamkan surga bagi orang-orang kafir. Kemudian dikatakan: Wahai Ibrahim, apa yang ada di bawah kakimu? Maka dia melihat, ternyata ada seekor dubuk (sejenis binatang) yang berlumuran kotoran, lalu diambil kakinya dan dilemparkan ke dalam neraka. Demikianlah dia meriwayatkannya dalam kisah Ibrahim secara tersendiri.

Dan dia berkata dalam Tafsir: dan Ibrahim bin Thahman berkata, dari Ibnu Abi Dzi’b, dari Sa’id bin Abi Sa’id Al-Maqburi, dari ayahnya, dari Abu Hurairah. Demikianlah An-Nasa’i meriwayatkannya dari Ahmad bin Hafs bin Abdullah, dari ayahnya, dari Ibrahim bin Thahman dengannya. Dan telah meriwayatkannya Al-Bazzar dari hadits Hammad bin Salamah, dari Ayyub, dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam sepertinya. Dan dalam susunannya ada keanehan. Dan dia juga meriwayatkannya dari hadits Qatadah, dari Uqbah bin Abdul Ghafir, dari Abu Sa’id, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam sepertinya.

Allah berfirman: Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya Azar: Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata. (Surat Al-An’am: 74) Ini menunjukkan bahwa nama ayah Ibrahim adalah Azar. Dan mayoritas ahli nasab di antara mereka Ibnu Abbas berpendapat bahwa nama ayahnya adalah Tarih. Adapun Ahli Kitab mengatakan: Tarakh dengan kha yang bertitik. Ada yang mengatakan: itu adalah julukan dari berhala yang disembahnya yang bernama Azar. Ibnu Jarir berkata: Yang benar adalah bahwa namanya Azar, dan mungkin dia memiliki dua nama, atau salah satunya adalah julukan dan yang lainnya adalah nama asli. Ini yang dikatakannya memungkinkan, dan Allah lebih mengetahui.

Kemudian Allah berfirman: Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim kerajaan langit dan bumi dan agar dia termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang, dia berkata: Ini adalah Tuhanku. Tetapi ketika bintang itu tenggelam dia berkata: Saya tidak suka kepada yang tenggelam. Kemudian ketika dia melihat bulan terbit dia berkata: Ini adalah Tuhanku. Tetapi ketika bulan itu tenggelam, dia berkata: Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat. Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata: Ini adalah Tuhanku, ini yang lebih besar. Maka ketika matahari itu tenggelam, dia berkata: Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan). Dan kaumnya membantahnya. Ibrahim berkata: Apakah kamu membantah aku tentang Allah, padahal sesungguhnya Dia telah memberi petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (berhala-berhala) yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali jika Tuhanku menghendaki sesuatu (yang datang dari berhala-berhala itu). Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran? Dan mengapa aku harus takut kepada (berhala-berhala) yang kamu persekutukan, padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan keterangan kepadamu untuk mempersekutukannya (dengan Allah). Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan, jika kamu mengetahui? Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan derajat siapa yang Kami kehendaki. Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana, Maha Mengetahui. (Surat Al-An’am: 75-83)

Ini adalah maqam (posisi) berdebat dengan kaumnya, dan penjelasan bagi mereka bahwa benda-benda langit yang dapat disaksikan ini, dari bintang-bintang yang bercahaya, tidak layak untuk dipertuhankan dan tidak layak untuk disembah bersama Allah yang Mahamulia. Karena benda-benda itu adalah makhluk, dipelihara, diciptakan, diatur, ditundukkan, terbit pada suatu waktu dan tenggelam pada waktu lain, sehingga menghilang dari dunia ini. Sedangkan Tuhan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya, dan tidak ada yang tersembunyi dari-Nya. Bahkan Dia adalah Yang Kekal, Yang Tetap tanpa sirna, tidak ada tuhan selain Dia, dan tidak ada Tuhan selain-Nya. Maka dia menjelaskan kepada mereka pertama-tama ketidaklayakan bintang – dikatakan: yaitu Venus – untuk itu, kemudian naik dari itu ke bulan yang lebih terang dan lebih indah darinya, kemudian naik ke matahari yang merupakan benda langit yang paling terang, bercahaya, dan cemerlang yang dapat disaksikan. Lalu dia menjelaskan bahwa matahari itu ditundukkan, diatur, ditakdirkan, dipelihara, sebagaimana firman Allah: Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. (Surat Fushshilat: 37) Karena itu dia berkata: Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, yaitu muncul, dia berkata: Ini adalah Tuhanku, ini yang lebih besar. Maka ketika matahari itu tenggelam, dia berkata: Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan). Dan kaumnya membantahnya. Ibrahim berkata: Apakah kamu membantah aku tentang Allah, padahal sesungguhnya Dia telah memberi petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (berhala-berhala) yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali jika Tuhanku menghendaki sesuatu. Yaitu: Aku tidak peduli dengan tuhan-tuhan ini yang kalian sembah selain Allah, karena mereka tidak bermanfaat apa pun, tidak mendengar, dan tidak berakal. Bahkan mereka dipelihara dan ditundukkan seperti bintang-bintang dan sejenisnya, atau dibuat, dipahat, dan diukir.

Yang jelas bahwa nasihatnya ini tentang bintang-bintang ditujukan kepada penduduk Harran, karena mereka menyembah bintang-bintang. Dan ini menolak pendapat orang yang mengira bahwa dia mengatakan ini ketika keluar dari gua saat masih kecil, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Ishaq dan lainnya. Itu berdasarkan kisah-kisah Israiliyat yang tidak dapat dipercaya, terutama jika bertentangan dengan kebenaran. Adapun penduduk Babil, mereka menyembah berhala-berhala, dan merekalah yang dia debat tentang penyembahan berhala, dan dia menghancurkannya, menghinakannya, dan menjelaskan kebatilannya, sebagaimana firman Allah: Dan dia berkata: Sesungguhnya kamu hanya mengambil berhala-berhala sebagai tuhan selain Allah karena kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia. Kemudian pada hari kiamat sebagian kamu mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kamu melaknat sebagian (yang lain), dan tempat kembali kamu adalah neraka, dan sekali-kali tidak ada bagimu penolong-penolong. (Surat Al-Ankabut: 25)

Allah berfirman dalam Surat Al-Anbiya: Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Ibrahim hidayah-Nya (petunjuk) sebelum (Musa dan Harun), dan Kami mengetahui (keadaan)nya. Ketika dia berkata kepada ayahnya dan kaumnya: Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya? Mereka menjawab: Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya. Ibrahim berkata: Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata. Mereka menjawab: Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main? Ibrahim berkata: Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya, dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu. Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka dia membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar di antara mereka, agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia benar-benar termasuk orang-orang yang zalim. Mereka berkata: Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim. Mereka berkata: (Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan. Mereka bertanya: Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim? Ibrahim menjawab: Sebenarnya yang melakukan itu adalah patung yang terbesar ini, maka tanyakanlah kepada mereka, jika mereka dapat berbicara. Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan berkata: Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri). Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): Sesungguhnya kamu (Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara. Ibrahim berkata: Maka mengapa kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudarat kepadamu? Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami? Mereka berkata: Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak. Kami berfirman: Wahai api, menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim! Mereka hendak berbuat makar terhadapnya, tetapi Kami menjadikan mereka orang-orang yang paling merugi. (Surat Al-Anbiya: 51-70)

Allah berfirman dalam Surat Asy-Syu’ara: Dan bacakanlah kepada mereka berita Ibrahim. Ketika dia berkata kepada ayahnya dan kaumnya: Apa yang kamu sembah? Mereka menjawab: Kami menyembah berhala-berhala, maka kami senantiasa tekun menyembahnya. Ibrahim berkata: Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu ketika kamu menyembahnya? Atau (dapatkah) memberi manfaat kepadamu atau (dapatkah) memberi mudarat? Mereka menjawab: Sebenarnya kami mendapati bapak-bapak kami berbuat demikian. Ibrahim berkata: Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang selalu kamu sembah, kamu dan bapak-bapak kamu yang dahulu, karena sesungguhnya berhala-berhala itu adalah musuh bagiku, kecuali Tuhan seluruh alam. Yaitu (Tuhan) yang telah menciptakan aku, maka Dia-lah yang menunjuki aku. Dan Tuhanku yang Dia memberi makan dan minum kepadaku. Dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkan aku. Dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali). Dan yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat. Ya Tuhanku, berilah aku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam (golongan) orang-orang yang saleh. (Surat Asy-Syu’ara: 69-83)

Allah berfirman dalam Surat Ash-Shaffat: Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan (Nuh) itu. Ketika dia datang kepada Tuhannya dengan hati yang bersih. Ketika dia berkata kepada ayahnya dan kaumnya: Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu hendak menyembah tuhan-tuhan yang palsu selain Allah? Maka apakah persangkaanmu tentang Tuhan seluruh alam? Kemudian dia memandang sekali pandang pada bintang-bintang. Lalu dia berkata: Sesungguhnya aku sakit. Maka mereka berpaling daripadanya dengan pergi. Maka dia pergi dengan diam-diam kepada tuhan-tuhan mereka, lalu berkata: Mengapa kamu tidak makan? Mengapa kamu tidak berbicara? Maka dia menyerang berhala-berhala itu dengan memukul dengan tangan kanannya. Kemudian orang-orang musyrik itu datang kepada Ibrahim dengan bergegas. Ibrahim berkata: Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat sendiri? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu buat itu. Mereka berkata: Bangunkanlah baginya bangunan, lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala. Mereka hendak melakukan tipu daya terhadapnya, tetapi Kami jadikan mereka orang-orang yang sangat hina. (Surat Ash-Shaffat: 83-98)

Allah mengabarkan tentang Ibrahim kekasih-Nya semoga Allah memberikan kesejahteraan kepadanya bahwa dia mengingkari penyembahan berhala oleh kaumnya, dan merendahkannya di hadapan mereka, mengecilkannya, dan mencela mereka. Dia berkata: Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya? Yaitu beriktikaf di sisinya dan tunduk kepadanya. Mereka menjawab: Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya. Hujjah mereka tidak lain hanyalah perbuatan bapak-bapak dan kakek-kakek, dan apa yang mereka lakukan dalam menyembah sesembahan-sesembahan. Ibrahim berkata: Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata. Sebagaimana firman Allah: Ketika dia berkata kepada ayahnya dan kaumnya: Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu hendak menyembah tuhan-tuhan yang palsu selain Allah? Maka apakah persangkaanmu tentang Tuhan seluruh alam? Qatadah berkata: Apa persangkaanmu tentang apa yang akan Dia lakukan terhadapmu ketika kamu bertemu dengan-Nya padahal kamu telah menyembah selain-Nya. Dan dia berkata kepada mereka: Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu ketika kamu menyembahnya? Atau (dapatkah) memberi manfaat kepadamu atau (dapatkah) memberi mudarat? Mereka menjawab: Sebenarnya kami mendapati bapak-bapak kami berbuat demikian. Mereka mengakui kepadanya bahwa berhala-berhala itu tidak mendengar orang yang berdoa, tidak memberi manfaat, dan tidak memberi mudarat apa pun. Hanya saja yang mendorong mereka untuk menyembahnya adalah mengikuti pendahulu-pendahulu mereka, dan orang yang seperti mereka dalam kesesatan dari bapak-bapak yang bodoh. Karena itu dia berkata kepada mereka: Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang selalu kamu sembah, kamu dan bapak-bapak kamu yang dahulu, karena sesungguhnya berhala-berhala itu adalah musuh bagiku, kecuali Tuhan seluruh alam. Ini adalah dalil yang jelas tentang batal

nya ketuhanan yang mereka klaim dari berhala-berhala. Karena dia berlepas diri darinya dan merendahkannya, seandainya berhala-berhala itu bisa membahayakan pasti mereka telah membahayakannya, atau bisa mempengaruhi pasti mereka telah mempengaruhinya. Mereka menjawab: Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main? Mereka berkata: Perkataan ini yang kamu katakan kepada kami, dan kamu mencela tuhan-tuhan kami dengannya, dan kamu mencerca nenek moyang kami karenanya, apakah kamu mengatakannya dengan benar dan serius ataukah main-main? Ibrahim berkata: Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya, dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu. Maksudnya: Sebenarnya aku mengatakan itu kepada kalian dengan serius dan benar. Sesungguhnya tuhan kalian adalah Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, Tuhan kalian dan Tuhan segala sesuatu, Pencipta langit dan bumi tanpa contoh sebelumnya. Maka Dia-lah yang berhak untuk disembah sendirian tanpa sekutu. Dan aku termasuk orang yang bersaksi atas hal itu.

Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Dia bersumpah akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala yang mereka sembah ini setelah mereka pergi dengan membelakangi mereka menuju perayaan mereka. Ada yang mengatakan: Dia mengatakannya dengan lirih dalam dirinya. Ibnu Mas’ud berkata: Sebagian dari mereka mendengarnya. Mereka memiliki perayaan yang mereka datangi setiap tahun sekali di luar kota. Ayahnya mengajaknya untuk menghadirinya, lalu dia berkata: Sesungguhnya aku sakit. Sebagaimana firman Allah: Kemudian dia memandang sekali pandang pada bintang-bintang. Lalu dia berkata: Sesungguhnya aku sakit. Dia memberikan alasan kepada mereka dalam perkataan sampai dia mencapai tujuannya untuk menghinakan berhala-berhala mereka dan menolong agama Allah yang benar dalam membatalkan apa yang mereka lakukan dalam menyembah berhala-berhala yang layak untuk dihancurkan dan dihinakan dengan penghinaan yang sempurna. Ketika mereka keluar menuju perayaan mereka, dan dia tinggal di negeri mereka, maka dia pergi dengan diam-diam kepada tuhan-tuhan mereka, yaitu pergi kepada mereka dengan tergesa-gesa dan sembunyi-sembunyi. Dia mendapatinya di sebuah balai yang besar, dan mereka telah meletakkan di hadapannya berbagai jenis makanan sebagai persembahan kepada mereka. Lalu dia berkata kepada mereka dengan mengejek dan meremehkan: Mengapa kamu tidak makan? Mengapa kamu tidak berbicara? Maka dia menyerang berhala-berhala itu dengan memukul dengan tangan kanannya. Karena tangan kanan lebih kuat, lebih gesit, lebih cepat, dan lebih dominan. Dia menghancurkannya dengan kapak di tangannya, sebagaimana firman Allah: Maka dia membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, yaitu remuk, dia menghancurkan semuanya kecuali yang terbesar di antara mereka, agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Dikatakan: Dia meletakkan kapak di tangan yang terbesar sebagai isyarat bahwa dia cemburu karena berhala-berhala kecil ini disembah bersamanya. Ketika mereka kembali dari perayaan mereka dan mendapati apa yang menimpa sesembahan mereka, mereka berkata: Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia benar-benar termasuk orang-orang yang zalim.

Dan dalam hal ini terdapat bukti yang jelas bagi mereka seandainya mereka berakal, yaitu apa yang menimpa sesembahan-sesembahan mereka yang dahulu mereka sembah. Seandainya sesembahan itu benar-benar tuhan, niscaya mereka akan membela diri dari orang yang bermaksud buruk terhadap mereka. Namun karena kebodohan, kurangnya akal, banyaknya kesesatan, dan kebingungan mereka, mereka berkata: Siapa yang melakukan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sungguh dia termasuk orang-orang yang zalim. Mereka berkata: Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela sesembahan itu, namanya Ibrahim. Maksudnya, dia mencela dengan mencacat, meremehkan, dan menghina sesembahan itu, maka dialah yang menyerang dan memecahkannya. Menurut pendapat Ibnu Mas’ud, maksudnya adalah dengan perkataannya: “Demi Allah, aku benar-benar akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu setelah kamu pergi meninggalkannya.” Mereka berkata: Maka datangkanlah dia dengan disaksikan orang banyak agar mereka menjadi saksi. Maksudnya di hadapan khalayak ramai agar mereka menyaksikan perkataannya, mendengar ucapannya, dan menyaksikan hukuman yang dijatuhkan kepadanya. Dan ini adalah maksud terbesar dari Khalilullah Ibrahim alaihissalam, yaitu agar semua orang berkumpul sehingga dia dapat menegakkan hujjah atas seluruh penyembah berhala tentang kebatilan apa yang mereka lakukan, sebagaimana Musa alaihissalam berkata kepada Firaun: “Janji antara kita adalah hari raya dan hendaklah manusia dikumpulkan pada waktu dhuha (pagi).” (QS. Thaha: 59)

Ketika mereka berkumpul dan mendatangkan Ibrahim, sebagaimana disebutkan, mereka berkata: Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim? Ibrahim menjawab: Sebenarnya yang melakukan ini adalah ketua mereka ini. Ada yang mengatakan: Maksudnya adalah dialah yang mendorongku untuk menghancurkannya. Dia hanya berbicara secara sindiran kepada mereka: maka tanyakanlah kepada mereka, jika mereka dapat berbicara. Yang dia maksud dengan perkataannya ini adalah agar mereka segera mengatakan bahwa sesembahan ini tidak dapat berbicara, sehingga mereka mengakui bahwa itu adalah benda mati seperti benda-benda mati lainnya. Maka mereka kembali kepada kesadaran mereka dan berkata: Sesungguhnya kamulah orang-orang yang zalim. Maksudnya, mereka menyalahkan diri mereka sendiri dan berkata: Sesungguhnya kamulah orang-orang yang zalim, yaitu dalam meninggalkan sesembahan itu tanpa ada yang menjaga atau mengawalnya. Kemudian kepalanya tertunduk. As-Suddi berkata: Maksudnya kemudian mereka kembali kepada fitnah. Menurut pendapat ini, maka makna perkataan mereka: Sesungguhnya kamulah orang-orang yang zalim, adalah dalam menyembahnya. Qatadah berkata: Kaum itu tertimpa kebingungan yang buruk, maksudnya mereka terdiam, kemudian berkata: Sesungguhnya kamu (Ibrahim) telah mengetahui bahwa sesembahan ini tidak dapat berbicara. Maksudnya, wahai Ibrahim, kamu telah mengetahui bahwa ini tidak dapat berbicara, lalu bagaimana kamu memerintahkan kami untuk bertanya kepadanya. Pada saat itulah Khalilullah alaihissalam berkata kepada mereka: Maka apakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak pula memberi mudarat kepadamu? Cis! bagi kamu dan bagi apa yang kamu sembah selain Allah. Apakah kamu tidak berakal? (QS. Al-Anbiya’: 66-67). Sebagaimana firman-Nya: Maka mereka mendatanginya dengan bergegas. (QS. Ash-Shaffat: 94). Mujahid berkata: dengan tergesa-gesa. Ibrahim berkata: Apakah kamu menyembah apa yang kamu pahat sendiri? (QS. Ash-Shaffat: 95). Maksudnya, bagaimana kamu menyembah berhala-berhala yang kamu pahat sendiri dari kayu dan batu, kamu bentuk dan kamu rupa sesuai kehendakmu, padahal Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat? (QS. Ash-Shaffat: 96). Baik kata “ma” bermakna mashdariyah atau bermakna “yang”, maka maksud kalimat ini adalah bahwa kalian adalah makhluk dan berhala-berhala ini adalah makhluk, lalu bagaimana makhluk dapat menyembah makhluk yang seperti dirinya. Sebab penyembahan kalian kepada sesembahan itu tidak lebih pantas daripada penyembahan sesembahan itu kepada kalian, dan ini adalah batil maka yang terakhir juga batil karena sewenang-wenang; karena sesungguhnya ibadah tidak pantas dan tidak wajib kecuali kepada Sang Pencipta saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Mereka berkata: Buatlah bangunan untuknya lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala. Mereka hendak berbuat tipu daya terhadapnya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang paling hina. (QS. Ash-Shaffat: 97-98).

Mereka berpaling dari perdebatan dan diskusi ketika mereka sudah terputus argumentasinya dan terkalahkan, tidak tersisa bagi mereka hujjah atau syubhat, lalu mereka menggunakan kekuatan dan kekuasaan mereka untuk membela kebodohan dan kedurhakaan mereka. Maka Allah yang Mahamulia menggagalkan tipu daya mereka, meninggikan kalimat-Nya, agama-Nya, dan dalil-Nya, sebagaimana firman-Nya: Mereka berkata: Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu hendak berbuat. Kami berfirman: Hai api, jadilah kamu dingin dan sejahtera atas Ibrahim. Mereka hendak berbuat tipu daya terhadapnya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang paling merugi. (QS. Al-Anbiya’: 68-70).

Mereka mulai mengumpulkan kayu bakar dari semua tempat yang memungkinkan. Mereka mengumpulkannya untuk waktu yang lama sampai-sampai wanita di antara mereka jika sakit akan bernazar: jika sembuh, dia akan membawa kayu bakar untuk membakar Ibrahim. Kemudian mereka membuat lubang besar dan menempatkan kayu bakar itu di dalamnya, lalu menyalakan api sehingga berkobar-kobar, menyala-nyala, dan bergelora dengan percikan api yang tidak pernah terlihat sebelumnya. Kemudian mereka menempatkan Ibrahim alaihissalam di atas ketapel yang dibuat oleh seorang laki-laki Kurdi bernama Haizan. Dialah orang pertama yang membuat ketapel, maka Allah membenamkannya ke dalam bumi dan dia bergetar di dalamnya sampai hari kiamat. Kemudian mereka mulai membelenggunya dan mengikatnya, sementara dia mengucapkan: “Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, bagi-Mu segala puji dan bagi-Mu kerajaan, tidak ada sekutu bagi-Mu.”

Ketika Khalilullah alaihissalam diletakkan di atas ketapel dalam keadaan terbelenggu dan terikat, kemudian mereka melemparkannya ke dalam api, dia berkata: “Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik Pelindung.” Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Ibnu Abbas bahwa dia berkata: “Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik Pelindung” diucapkan oleh Ibrahim ketika dia dilemparkan ke dalam api, dan diucapkan oleh Muhammad shallallahu alaihi wasallam ketika dikatakan kepada mereka: Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: Cukuplah Allah menjadi Pelindung kami dan Dia sebaik-baik Pelindung. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia dari Allah, mereka tidak ditimpa bahaya sedikitpun. (QS. Ali Imran: 173-174) dan ayat berikutnya.

Abu Ya’la berkata: Abu Hisyam Ar-Rifa’i menceritakan kepada kami, Ishaq bin Sulaiman menceritakan kepada kami, dari Abu Ja’far Ar-Razi, dari ‘Ashim bin Abi An-Nujud, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah yang berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ketika Ibrahim dilemparkan ke dalam api, dia berkata: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Satu di langit, dan aku satu di bumi yang menyembah-Mu.”

Sebagian salaf menyebutkan bahwa Jibril menemuinya di udara dan berkata: Apakah kamu memerlukan sesuatu? Maka dia menjawab: Adapun kepadamu, tidak. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Sa’id bin Jubair bahwa dia berkata: Malaikat hujan berkata: Kapan aku diperintahkan untuk menurunkan hujan? Tetapi perintah Allah lebih cepat. Kami berfirman: Hai api, jadilah kamu dingin dan sejahtera atas Ibrahim. (QS. Al-Anbiya’: 69). Ali bin Abi Thalib berkata: Maksudnya tidak menyakitinya. Ibnu Abbas dan Abu Al-‘Aliyah berkata: Seandainya Allah tidak berfirman: dan sejahtera atas Ibrahim, niscaya Ibrahim akan menderita karena dinginnya. Ka’b Al-Ahbar berkata: Penduduk bumi pada hari itu tidak dapat memanfaatkan api, dan tidak ada yang terbakar darinya kecuali ikatannya. Adh-Dhahhak berkata: Diriwayatkan bahwa Jibril alaihissalam bersamanya mengusap keringat dari wajahnya, tidak menimpanya sesuatu pun selain itu. As-Suddi berkata: Bersamanya juga ada malaikat bayangan.

Ibrahim alaihissalam berada seolah-olah di dalam taman, sekelilingnya api, sementara dia berada di taman yang hijau, dan orang-orang memandangnya tetapi tidak mampu mendekatinya, dan dia tidak keluar kepada mereka. Dari Abu Hurairah bahwa dia berkata: Sebaik-baik perkataan yang diucapkan oleh ayah Ibrahim adalah ketika dia melihat anaknya dalam keadaan itu, dia berkata: “Sebaik-baik Tuhan adalah Tuhanmu, wahai Ibrahim.”

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ikrimah: Sesungguhnya ibu Ibrahim melihat anaknya alaihissalam lalu memanggilnya: “Wahai anakku, aku ingin datang kepadamu, maka berdoalah kepada Allah agar menyelamatkanku dari panasnya api di sekelilingmu.” Maka dia menjawab: “Baiklah.” Lalu ibunya mendatanginya dan api tidak menyentuhnya sedikitpun. Ketika dia sampai kepadanya, dia memeluknya dan menciumnya, kemudian kembali. Dari Al-Minhal bin ‘Amr bahwa dia berkata: Aku diberitahu bahwa Ibrahim tinggal di sana selama empat puluh atau lima puluh hari, dan bahwa dia berkata: “Aku tidak pernah mengalami hari-hari dan malam-malam yang lebih menyenangkan hidupnya daripada ketika aku berada di dalamnya, dan aku berharap hidupku dan seluruh kehidupanku seperti ketika aku berada di dalamnya.” Shalawat dan salam Allah atasnya.

Mereka bermaksud untuk menang tetapi mereka dipermalukan, mereka bermaksud untuk terangkat tetapi mereka direndahkan, mereka bermaksud untuk mengalahkan tetapi mereka dikalahkan. Allah Ta’ala berfirman: Mereka hendak berbuat tipu daya terhadapnya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang paling merugi. (QS. Al-Anbiya’: 70). Dan dalam ayat yang lain: yang paling hina. (QS. Ash-Shaffat: 98). Maka mereka memperoleh kerugian dan kehinaan di dunia ini, adapun di akhirat, maka api mereka tidak akan menjadi dingin dan sejahtera atas mereka, dan mereka tidak akan menemui salam dan keselamatan di dalamnya, bahkan sebagaimana firman Allah Ta’ala: Sesungguhnya neraka itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. (QS. Al-Furqan: 66).

Al-Bukhari berkata: Ubaidullah bin Musa atau Ibnu Salam menceritakan kepada kami dari dia, Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, dari Abdul Hamid bin Jubair, dari Sa’id bin Al-Musayyab, dari Ummu Syarik bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan untuk membunuh cicak. Dia berkata: “Dahulu cicak meniup api kepada Ibrahim.” Muslim meriwayatkannya dari hadits Ibnu Juraij, dan keduanya (Al-Bukhari dan Muslim) mengeluarkannya, begitu juga An-Nasa’i dan Ibnu Majah dari hadits Sufyan bin ‘Uyainah, keduanya dari Abdul Hamid bin Jubair bin Syaibah dengannya.

Ahmad berkata: Muhammad bin Bakr menceritakan kepada kami, Ibnu Juraij menceritakan kepada kami, Abdullah bin Abdurrahman bin Abi Umayyah mengabarkan kepadaku bahwa Nafi’ bekas budak Ibnu Umar mengabarkan kepadanya bahwa Aisyah mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Bunuhlah cicak karena dahulu ia meniup api kepada Ibrahim.” Dia berkata: Maka Aisyah membunuh cicak-cicak itu.

Ahmad berkata: Ismail menceritakan kepada kami, Ayyub menceritakan kepada kami, dari Nafi’ bahwa seorang wanita masuk menemui Aisyah, tiba-tiba ada tombak yang berdiri, maka dia bertanya: Apa tombak ini? Maka Aisyah menjawab: Kami membunuh cicak dengannya, kemudian dia menceritakan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Sesungguhnya ketika Ibrahim dilemparkan ke dalam api, semua binatang berusaha memadamkan api untuknya kecuali cicak yang justru meniupnya.” Hanya Ahmad yang meriwayatkannya dari dua jalan ini.

Ahmad berkata: Affan menceritakan kepada kami, Jarir menceritakan kepada kami, Nafi’ menceritakan kepada kami, Sa’ibah bekas budak Al-Fakih bin Al-Mughirah menceritakan kepadaku, dia berkata: Aku masuk menemui Aisyah dan melihat di rumahnya ada tombak yang diletakkan. Maka aku bertanya: Wahai Ummul Mukminin, apa yang engkau lakukan dengan tombak ini? Dia menjawab: Ini untuk cicak-cicak ini, kami membunuh mereka dengannya. Karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menceritakan kepada kami bahwa ketika Ibrahim dilemparkan ke dalam api, tidak ada binatang di bumi kecuali berusaha memadamkan api untuknya selain cicak yang meniupnya. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kami untuk membunuhnya. Ibnu Majah meriwayatkannya dari Abu Bakr bin Abi Syaibah, dari Yunus bin Muhammad, dari Jarir bin Hazim dengannya.

Kisah Perdebatan Ibrahim Al-Khalil dengan Orang yang Hendak Menyaingi Yang Mahaagung dan Mahamulia dalam Selendang Keagungan dan Jubah Kebesaran, yang Mengklaim Ketuhanan Padahal Dia Adalah Salah Satu Hamba yang Lemah

Allah Ta’ala berfirman: Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu kerajaan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan, orang itu berkata: Aku pun dapat menghidupkan dan mematikan. Ibrahim berkata: Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat, maka terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al-Baqarah: 258).

Allah Ta’ala menyebutkan perdebatan Khalil-Nya dengan raja yang sombong dan durhaka ini yang mengklaim ketuhanan untuk dirinya sendiri. Maka Khalilullah alaihissalam membatalkan dalilnya, menunjukkan kebodohannya yang besar dan minimnya akalnya, membungkamnya dengan hujjah dan menjelaskan kepadanya jalan yang benar.

Para mufassir dan para ulama nasab serta akhbar berkata: Raja ini adalah raja Babil, namanya Namrudz bin Kan’an bin Kush bin Sam bin Nuh, demikian menurut Mujahid. Yang lain berkata: Namrudz bin Falih bin ‘Abir bin Shalih bin Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh. Mujahid dan yang lain berkata: Dia adalah salah satu dari raja-raja dunia. Disebutkan bahwa yang menguasai dunia ada empat orang: dua mukmin dan dua kafir. Adapun yang mukmin adalah Dzulqarnain dan Sulaiman. Adapun yang kafir adalah Namrudz dan Bukhtunashar. Mereka menyebutkan bahwa Namrudz ini bertahan dalam kerajaannya selama empat ratus tahun. Dia sangat durhaka, melampaui batas, sombong, dan membangkang, serta lebih memilih kehidupan dunia. Ketika Ibrahim Al-Khalil mengajaknya untuk menyembah Allah saja tanpa sekutu bagi-Nya, kebodohan, kesesatan, dan lamanya penangguhan membawanya untuk mengingkari Sang Pencipta. Maka dia berdebat dengan Ibrahim Al-Khalil tentang hal itu dan mengklaim ketuhanan untuk dirinya sendiri. Ketika Khalilullah berkata kepadanya: Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan, orang itu berkata: Aku pun dapat menghidupkan dan mematikan.

Qatadah, As-Suddi, dan Muhammad bin Ishaq berkata: Maksudnya adalah jika didatangkan kepadanya dua orang yang sudah pasti akan dibunuh, lalu dia memerintahkan membunuh salah satu dan memaafkan yang lain, maka seolah-olah dia telah menghidupkan yang ini dan mematikan yang lain. Dan ini bukanlah tanggapan terhadap Khalilullah, bahkan ini adalah ucapan yang menyimpang dari pembahasan perdebatan, bukan penolakan dan bukan pula tanggapan, bahkan hanya kekacauan semata, dan ini adalah kekalahan dalam hakikatnya. Karena Khalilullah menggunakan dalil adanya Sang Pencipta dengan kejadian makhluk-makhluk yang dapat disaksikan ini, dari menghidupkan hewan-hewan dan mematikannya, atas adanya Pelaku yang pasti ada sebagai sandaran kejadian-kejadian itu secara dharurat, dan ketidakmampuan berdiri sendiri, dan pasti ada pelaku bagi kejadian-kejadian yang dapat disaksikan ini; dari penciptaan, penundukan, dan pengaturan bintang-bintang, angin, awan, hujan, dan penciptaan hewan-hewan yang tercipta dengan dapat disaksikan, kemudian mematikannya. Karena itulah Ibrahim berkata: Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan. Maka ucapan raja yang bodoh ini: Aku pun dapat menghidupkan dan mematikan, jika yang dimaksud adalah bahwa dialah pelaku dari kejadian-kejadian yang dapat disaksikan ini, maka dia telah keras kepala dan membangkang. Dan jika yang dimaksud adalah apa yang disebutkan oleh Qatadah, As-Suddi, dan Muhammad bin Ishaq, maka dia tidak mengatakan sesuatu yang berkaitan dengan ucapan Khalilullah; karena dia tidak menolak premis dan tidak menanggapi dalil.

Ketika kekalahan raja ini dalam perdebatan mungkin tidak terlihat oleh banyak orang yang hadir dan yang lain, maka Ibrahim menyebutkan dalil lain yang menjelaskan adanya Sang Pencipta dan batalnya apa yang diklaim oleh Namrudz, serta kekalahannya secara terang-terangan. Dia berkata: Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat. Maksudnya, matahari ini ditundukkan setiap hari terbit dari timur sebagaimana ditundukkan oleh Penciptanya, Pengaturnya, dan yang Mengalahkannya, yaitu Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, Pencipta segala sesuatu. Maka jika kamu seperti yang kamu klaim bahwa kamu yang menghidupkan dan mematikan, maka datangkanlah matahari ini dari barat. Karena sesungguhnya Dia yang menghidupkan dan mematikan adalah Dia yang melakukan apa yang Dia kehendaki, tidak ada yang menentang dan tidak ada yang mengalahkan, bahkan telah mengalahkan segala sesuatu, dan segala sesuatu tunduk kepada-Nya. Maka jika kamu seperti yang kamu klaim, lakukanlah ini. Jika kamu tidak melakukannya, maka kamu bukan seperti yang kamu klaim, dan kamu mengetahui demikian juga setiap orang bahwa kamu tidak mampu melakukan sedikitpun dari ini, bahkan kamu lebih lemah dan lebih kecil daripada menciptakan seekor nyamuk atau mempertahankan diri darinya. Maka dia menjelaskan kesesatan, kebodohannya, dan kedustaannya dalam apa yang dia klaim, serta batalnya apa yang dia tempuh dan dia sombongkan di hadapan orang-orang bodoh dari kaumnya. Tidak tersisa baginya ucapan untuk menjawab Khalilullah, bahkan dia terputus dan diam. Karena itu Allah berfirman: Maka terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al-Baqarah: 258).

As-Suddi menyebutkan bahwa perdebatan ini terjadi antara Ibrahim dan Namrudz pada hari Ibrahim keluar dari api, dan Ibrahim tidak pernah bertemu dengannya kecuali pada hari itu, maka terjadilah perdebatan ini di antara mereka berdua. Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ma’mar, dari Zaid bin Aslam bahwa Namrudz memiliki persediaan makanan, dan orang-orang datang kepadanya untuk mendapatkan jatah makanan. Ibrahim datang bersama rombongan untuk mendapatkan jatah makanan, lalu terjadilah perdebatan ini di antara mereka berdua. Ibrahim tidak diberi makanan sebagaimana yang diberikan kepada orang-orang lain, bahkan ia keluar tanpa membawa sedikitpun makanan. Ketika ia mendekati keluarganya, ia mengambil gundukan pasir lalu mengisi kedua karung bebannya dengan pasir tersebut. Ia berkata, “Aku akan menyibukkan keluargaku ketika aku datang kepada mereka.” Ketika ia tiba, ia meletakkan beban perjalanannya lalu datang dan bersandar sambil tidur. Istrinya Sarah bangkit menuju kedua karung tersebut dan mendapatinya penuh dengan makanan yang baik, lalu ia membuat makanan darinya. Ketika Ibrahim terbangun, ia menemukan makanan yang telah mereka siapkan. Ia bertanya, “Dari mana kalian mendapat ini?” Sarah menjawab, “Dari yang engkau bawa.” Maka Ibrahim mengetahui bahwa itu adalah rezeki yang Allah Azza wa Jalla berikan kepada mereka. Zaid bin Aslam berkata: Allah mengutus kepada raja yang penindas itu seorang malaikat yang memerintahkannya untuk beriman kepada Allah, tetapi ia menolaknya. Kemudian malaikat itu menyerunya untuk kedua kalinya tetapi ia menolak, kemudian untuk ketiga kalinya tetapi ia menolak. Ia berkata, “Kumpulkanlah pasukanmu dan aku akan mengumpulkan pasukanku.” Maka Namrudz mengumpulkan tentara dan pasukannya pada waktu terbitnya matahari. Allah mengirimkan kepadanya lalat dari jenis nyamuk sehingga mereka tidak melihat matahari. Allah menguasakan nyamuk-nyamuk itu atas mereka, maka nyamuk-nyamuk itu memakan daging dan darah mereka, dan menyisakan mereka sebagai tulang-belulang yang lapuk. Salah satu dari nyamuk itu masuk ke dalam lubang hidung raja, lalu ia tinggal di dalam lubang hidungnya selama empat ratus tahun. Allah Ta’ala menyiksanya dengan nyamuk itu. Raja itu memukul kepalanya dengan palu-palu selama masa itu sampai Allah Azza wa Jalla membinasakannya dengannya. Wallahu Ta’ala a’lam.

Kisah Hijrah Khalil ke Negeri Syam, Masuknya ke Tanah Mesir, dan Penetapannya di Tanah Suci

Allah Ta’ala berfirman: Maka Luth beriman kepadanya. Dan Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku akan berhijrah ke tempat yang diperintahkan Tuhanku kepadaku, sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Dan Kami anugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya’qub, dan Kami jadikan pada keturunannya kenabian dan Kitab. Dan Kami berikan kepadanya balasannya di dunia, dan sesungguhnya dia di akhirat termasuk orang-orang yang saleh. (Al-Ankabut: 26-27). Dan Allah Ta’ala berfirman: Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke negeri yang Kami berkahi untuk sekalian alam. Dan Kami anugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya’qub sebagai tambahan, dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang saleh. Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami. Dan Kami wahyukan kepada mereka agar berbuat kebajikan, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Dan mereka adalah penyembah-penyembah Kami. (Al-Anbiya: 71-73). Ketika ia meninggalkan kaumnya karena Allah dan berhijrah dari tengah-tengah mereka, sementara istrinya mandul tidak melahirkan anak, dan ia tidak memiliki anak sama sekali, hanya bersama dengannya keponakan Ibrahim yaitu Luth bin Haran bin Azar, maka Allah Ta’ala menganugerahkan kepadanya setelah itu anak-anak yang saleh, dan menjadikan kenabian dan Kitab pada keturunannya. Setiap nabi yang diutus setelahnya adalah dari keturunannya, dan setiap kitab yang diturunkan dari langit kepada seorang nabi dari para nabi setelahnya adalah kepada salah satu dari keturunannya dan anak cucunya, sebagai karunia dari Allah dan kemuliaan baginya ketika ia meninggalkan negerinya, keluarganya, dan karib kerabatnya, dan berhijrah ke negeri yang ia dapat beribadah kepada Rabbnya Azza wa Jalla dan menyeru makhluk kepada-Nya. Negeri yang ia tuju dengan hijrah adalah tanah Syam, yaitu yang difirmankan Allah Azza wa Jalla: ke negeri yang Kami berkahi untuk sekalian alam. Demikian yang dikatakan Ubay bin Ka’ab, Abu Al-Aliyah, Qatadah, dan lain-lain.

Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firman-Nya: ke negeri yang Kami berkahi untuk sekalian alam, yaitu Makkah. Tidakkah kamu mendengar firman-Nya: Sesungguhnya rumah pertama yang dibangun untuk manusia ialah yang di Bakkah (Makkah), yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam (Ali Imran: 96). Ka’ab Al-Ahbar menyebutkan bahwa negeri itu adalah Harran. Telah kami sebutkan sebelumnya dari para Ahli Kitab bahwa Ibrahim keluar dari tanah Babil bersama keponakannya Luth, saudaranya Nahur, istri Ibrahim yaitu Sarah, dan istri saudaranya Milka. Mereka singgah di Harran, maka Tarikh, ayah Ibrahim, meninggal di sana.

As-Suddi berkata: Ibrahim dan Luth pergi menuju Syam, lalu Ibrahim bertemu dengan Sarah. Ia adalah putri raja Harran yang telah mengkritik kaumnya dalam agama mereka, maka Ibrahim menikahinya dengan syarat tidak akan mengubahnya. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dan ini adalah riwayat yang ganjil. Yang masyhur adalah bahwa Sarah adalah putri paman Ibrahim yaitu Haran yang Harran dinisbatkan kepadanya. Barang siapa yang menyangka bahwa Sarah adalah putri saudara Ibrahim yaitu Haran, kakak perempuan Luth, sebagaimana yang dikutip As-Suhaili dari Al-Qutabi dan An-Naqqasy, maka ia telah sangat jauh dari kebenaran dan berkata tanpa ilmu. Ia mengklaim bahwa menikahi putri saudara laki-laki pada saat itu disyariatkan, tetapi ia tidak memiliki dalil untuk itu. Seandainya diandaikan bahwa hal ini disyariatkan pada suatu waktu, sebagaimana yang dinukil dari para rabi Yahudi, maka sesungguhnya para nabi tidak melakukannya, wallahu a’lam. Kemudian yang masyhur adalah bahwa Ibrahim Alaihissalam ketika berhijrah dari Babil, ia keluar bersama Sarah dalam keadaan berhijrah dari negerinya, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, wallahu a’lam. Ahli Kitab menyebutkan bahwa ketika Ibrahim tiba di Syam, Allah mewahyukan kepadanya: “Sesungguhnya Aku akan menjadikan negeri ini untuk keturunanmu setelahmu.” Maka Ibrahim membangun mezbah untuk Allah sebagai syukur atas nikmat ini, dan mendirikan kemahnya di sebelah timur Baitul Maqdis. Kemudian ia berangkat menuju Yaman. Mereka menyebutkan bahwa terjadi kelaparan yaitu paceklik dan kesulitan serta kemelut, maka mereka berpindah ke Mesir. Mereka menyebutkan kisah Sarah dengan rajanya, dan bahwa Ibrahim berkata kepadanya, “Katakanlah: aku adalah saudara perempuannya.” Mereka menyebutkan bahwa raja menghadiahkan Hajar kepadanya, kemudian ia mengeluarkan mereka dari sana. Mereka kembali ke negeri Taiman yaitu tanah Baitul Maqdis dan sekitarnya, bersama Ibrahim ada hewan ternak, budak, dan harta benda.

Al-Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mahbub, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid, dari Ayyub, dari Muhammad, dari Abu Hurairah, ia berkata: Ibrahim tidak pernah berdusta kecuali tiga kedustaan, dua di antaranya demi Allah, yaitu perkataannya: “Sesungguhnya aku sakit” dan perkataannya: “Bahkan yang melakukannya adalah patung besar mereka ini.” Dan ia berkata: “Ketika suatu hari ia bersama Sarah, seorang penguasa dari para penguasa didatangi, lalu dikatakan kepadanya: Di sini ada seorang laki-laki bersama seorang wanita yang paling cantik di antara manusia. Maka ia mengutus utusan kepada Ibrahim dan bertanya kepadanya tentang Sarah. Ia berkata, ‘Siapa wanita ini?’ Ibrahim menjawab, ‘Saudara perempuanku.’ Lalu ia datang kepada Sarah dan berkata, ‘Wahai Sarah, tidak ada orang beriman di muka bumi selain aku dan kamu, dan sesungguhnya penguasa ini bertanya kepadaku, maka aku mengabarinya bahwa kamu adalah saudara perempuanku, maka jangan dustai aku.’ Maka raja mengutus utusan kepada Sarah. Ketika Sarah masuk kepada raja, ia hendak menyentuhnya dengan tangannya, lalu tangannya tertahan. Ia berkata, ‘Berdoalah kepada Allah untukku, dan aku tidak akan menyakitimu.’ Maka Sarah berdoa kepada Allah, lalu tangan raja dilepaskan. Kemudian ia menyentuh Sarah untuk kedua kalinya, lalu tangannya tertahan seperti yang pertama atau lebih keras. Ia berkata, ‘Berdoalah kepada Allah untukku, dan aku tidak akan menyakitimu.’ Maka Sarah berdoa, lalu tangan raja dilepaskan. Lalu raja memanggil beberapa pengawalnya dan berkata, ‘Kalian tidak membawakan kepadaku seorang manusia, tetapi kalian membawakan kepadaku setan. Kembalikanlah ia kepada Ibrahim, dan berikanlah kepadanya Hajar.’ Maka Sarah datang kepada Ibrahim sementara Ibrahim sedang berdiri shalat. Ibrahim memberi isyarat dengan tangannya: ‘Ada apa?’ Sarah berkata, ‘Allah mengembalikan tipu daya orang kafir atau orang fasik ke dalam tenggorokannya sendiri, dan ia menghadiahkan kepadaku seorang budak wanita.'” Abu Hurairah berkata: Itulah ibu kalian wahai anak-anak curah hujan. Hadits ini diriwayatkan secara tersendiri dari jalur ini dalam keadaan mauquf. Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar meriwayatkannya dari Amr bin Ali Al-Fallas, dari Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi, dari Hisyam bin Hassan, dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Ibrahim tidak pernah berdusta sama sekali kecuali tiga kedustaan, semuanya demi Allah: perkataannya ‘Sesungguhnya aku sakit’, perkataannya ‘Bahkan yang melakukannya adalah patung besar mereka ini’, dan ketika ia sedang berjalan di tanah seorang penguasa dari para penguasa, lalu ia singgah di suatu tempat. Raja didatangi, lalu dikatakan kepadanya: Sesungguhnya telah singgah di sini seorang laki-laki bersama seorang wanita yang paling cantik di antara manusia. Maka raja mengutus utusan kepada Ibrahim dan bertanya kepadanya tentang Sarah. Ibrahim menjawab, ‘Sesungguhnya ia adalah saudara perempuanku.’ Ketika ia kembali kepada Sarah, ia berkata, ‘Sesungguhnya penguasa ini bertanya kepadaku tentang kamu, maka aku katakan bahwa kamu adalah saudara perempuanku. Sesungguhnya tidak ada muslim hari ini selain aku dan kamu, dan sesungguhnya kamu adalah saudara perempuanku, maka jangan dustai aku di hadapannya.’ Maka raja berangkat membawa Sarah. Ketika ia hendak menyentuhnya, tangannya tertahan. Ia berkata, ‘Berdoalah kepada Allah untukku, dan aku tidak akan menyakitimu.’ Maka Sarah berdoa untuknya, lalu tangannya dilepaskan. Kemudian ia hendak menyentuh Sarah lagi, lalu tangannya tertahan seperti yang pertama atau lebih keras. Ia berkata, ‘Berdoalah kepada Allah untukku, dan aku tidak akan menyakitimu.’ Maka Sarah berdoa, lalu tangannya dilepaskan sebanyak tiga kali. Lalu raja memanggil pembantu terdekatnya dan berkata, ‘Kalian tidak membawakan kepadaku seorang manusia, tetapi kalian membawakan kepadaku setan. Keluarkan ia, dan berikanlah kepadanya Hajar.’ Maka Sarah datang sementara Ibrahim sedang berdiri shalat. Ketika Ibrahim merasakan kehadirannya, ia berpaling dan berkata, ‘Ada apa?’ Sarah menjawab, ‘Allah mencukupkan tipu daya orang zalim, dan ia menghadiahkan kepadaku Hajar.'” Hadits ini dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari hadits Hisyam. Kemudian Al-Bazzar berkata: Kami tidak mengetahui yang memarfu’kannya dari Muhammad, dari Abu Hurairah kecuali Hisyam. Dan selain dia meriwayatkannya secara mauquf.

Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Ali bin Hafs, dari Warqa’ yaitu Ibnu Umar Al-Yasykkuri, dari Abu Az-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ibrahim tidak berdusta kecuali tiga kedustaan: perkataannya ketika ia diajak kepada tuhan-tuhan mereka lalu ia berkata ‘Sesungguhnya aku sakit’, perkataannya ‘Bahkan yang melakukannya adalah patung besar mereka ini’, dan perkataannya kepada Sarah ‘Sesungguhnya ia adalah saudara perempuanku.’ Ibrahim masuk ke suatu negeri yang di dalamnya ada seorang raja dari para raja atau seorang penguasa dari para penguasa. Dikatakan: ‘Ibrahim masuk malam ini bersama seorang wanita yang paling cantik di antara manusia.’ Maka raja atau penguasa itu mengutus utusan kepada Ibrahim: ‘Siapa wanita ini bersamamu?’ Ibrahim menjawab, ‘Saudara perempuanku.’ Lalu raja mengutus untuk membawa Sarah. Ibrahim berkata kepada Sarah, ‘Jangan dustai perkataanku, karena sesungguhnya aku telah mengabari raja bahwa kamu adalah saudara perempuanku. Sesungguhnya tidak ada orang beriman di muka bumi selain aku dan kamu.’ Ketika Sarah masuk kepada raja, raja bangkit mendekatinya. Sarah mulai berwudhu dan shalat sambil berkata, ‘Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa aku beriman kepada-Mu dan kepada rasul-Mu, dan aku menjaga kemaluanku kecuali untuk suamiku, maka jangan Engkau kuasakan atas diriku orang kafir ini.’ Maka raja tercekik sampai ia menendang-nendang kakinya.” Abu Az-Zinad berkata: Abu Salamah bin Abdurrahman berkata dari Abu Hurairah bahwa Sarah berkata, “Ya Allah, jika ia mati, orang-orang akan berkata: ‘Dialah yang membunuhnya.'” “Maka tangan raja dilepaskan. Kemudian raja bangkit lagi mendekati Sarah. Sarah bangkit berwudhu dan shalat sambil berkata, ‘Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa aku beriman kepada-Mu dan kepada rasul-Mu, dan aku menjaga kemaluanku kecuali untuk suamiku, maka jangan Engkau kuasakan atas diriku orang kafir ini.’ Maka raja tercekik sampai ia menendang-nendang kakinya.” Abu Az-Zinad berkata, dan Abu Salamah berkata dari Abu Hurairah bahwa Sarah berkata, “Ya Allah, jika ia mati, orang-orang akan berkata: ‘Dialah yang membunuhnya.’ Maka tangan raja dilepaskan.” “Raja berkata pada yang ketiga atau keempat kalinya: ‘Kalian tidak membawakan kepadaku kecuali setan. Kembalikanlah ia kepada Ibrahim, dan berikanlah kepadanya Hajar.’ Sarah kembali dan berkata kepada Ibrahim, ‘Tahukah kamu? Sesungguhnya Allah mengembalikan tipu daya orang kafir dan menghadiahkan seorang budak wanita.'” Hadits ini diriwayatkan secara tersendiri oleh Ahmad dari jalur ini, dan sanadnya memenuhi syarat shahih. Al-Bukhari meriwayatkannya dari Abu Al-Yaman, dari Syu’aib bin Abi Hamzah, dari Abu Az-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam secara ringkas.

Ibnu Abi Hatim berkata: telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ali bin Zaid bin Jud’an, dari Abu Nadhrah, dari Abu Sa’id, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda tentang tiga perkataan Ibrahim: “Tidak ada satu pun perkataan di antaranya kecuali ia membela dengannya agama Allah. Ia berkata ‘Sesungguhnya aku sakit’, ia berkata ‘Bahkan yang melakukannya adalah patung besar mereka ini’, dan ia berkata kepada raja ketika raja menginginkan istrinya, ‘Ia adalah saudara perempuanku.'” Maka perkataannya dalam hadits “ia adalah saudara perempuanku” artinya dalam agama Allah. Perkataannya kepada Sarah “sesungguhnya tidak ada orang beriman di muka bumi selain aku dan kamu” artinya tidak ada dua suami istri yang beriman selain aku dan kamu. Wajib memaknai hadits dengan pemahaman ini, karena Luth berada bersama mereka, dan ia adalah seorang nabi Alaihissalam. Perkataannya kepada Sarah ketika ia kembali kepadanya: “Ada apa?” artinya apa kabarnya. Sarah berkata, “Sesungguhnya Allah mengembalikan tipu daya orang kafir,” dan dalam riwayat lain “orang fasik”, yaitu raja tersebut, “dan ia menghadiahkan seorang budak wanita.” Ibrahim Alaihissalam sejak Sarah pergi menemui raja, ia berdiri shalat kepada Allah Azza wa Jalla dan memohon kepada-Nya agar Allah menolak gangguan dari keluarganya, dan membalas kejahatan orang yang bermaksud jahat kepada keluarganya. Demikian pula yang dilakukan Sarah. Setiap kali musuh Allah hendak melakukan sesuatu kepadanya, Sarah bangkit untuk berwudhu dan shalat, serta berdoa kepada Allah Azza wa Jalla dengan doa yang agung yang telah disebutkan. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. Maka Allah menjaga dan memelihara Sarah karena menjaga hamba-Nya, rasul-Nya, kekasih-Nya, dan khalil-Nya yaitu Ibrahim Alaihissalam. Sebagian ulama berpendapat bahwa tiga wanita adalah nabi: Sarah, ibu Musa, dan Maryam alaihinnassalam. Yang menjadi pendapat jumhur adalah bahwa mereka adalah para shiddiqah radhiyallahu anhunna wa ardhaahunna. Aku melihat dalam sebagian riwayat bahwa Allah Azza wa Jalla membuka hijab antara Ibrahim Alaihissalam dan Sarah, sehingga Ibrahim senantiasa melihat Sarah sejak ia keluar dari sisinya hingga kembali kepadanya. Ibrahim menyaksikan Sarah ketika ia berada di sisi raja, dan bagaimana Allah menjaganya dari raja tersebut, agar hal itu menjadi lebih menenangkan hati Ibrahim, lebih menyejukkan matanya, dan lebih menentramkan jiwanya, karena sesungguhnya Ibrahim sangat mencintai Sarah karena agamanya, kekerabatannya dengannya, dan kecantikannya yang luar biasa. Dikatakan bahwa tidak ada wanita setelah Hawa hingga zaman Sarah yang lebih cantik darinya, radhiyallahu anha, walillahil hamdu wal minnah.

Sebagian ahli sejarah menyebutkan bahwa Fir’aun Mesir ini adalah saudara Ad-Dahhak, raja yang terkenal dengan kezalimannya, dan ia adalah wakil saudaranya di Mesir. Dikatakan namanya adalah Sinan bin Alwan bin Ubaid bin Auj bin Amlaq bin Laudz bin Sam bin Nuh. Ibnu Hisyam menyebutkan dalam At-Tijan bahwa orang yang menginginkan Sarah adalah Amr bin Imru’ul Qais bin Bailabun bin Saba’, dan ia adalah penguasa Mesir. Dinukil oleh As-Suhaili, wallahu a’lam.

Kemudian Khalil Alaihissalam kembali dari tanah Mesir ke tanah Taiman, yaitu tanah suci yang ia tempati sebelumnya, bersamanya ada hewan ternak, budak, dan harta yang melimpah. Bersama mereka ada Hajar Al-Qibtiyyah Al-Mishriyyah. Kemudian Luth Alaihissalam berpindah dengan harta bendanya yang melimpah atas perintah Khalil kepadanya untuk pergi ke tanah Gaur, yang dikenal dengan Gaur Zaghr. Ia singgah di kota Sadum, yang merupakan ibu kota negeri-negeri tersebut pada masa itu. Penduduknya adalah orang-orang yang jahat, kafir, dan fasik. Allah Ta’ala mewahyukan kepada Ibrahim Al-Khalil yang memerintahkannya untuk memandang ke utara, ke selatan, ke timur, dan ke barat, serta memberinya kabar gembira bahwa semua tanah ini akan Aku jadikan untukmu dan untuk keturunanmu hingga akhir zaman, dan Aku akan memperbanyak keturunanmu hingga mereka menjadi sebanyak debu di muka bumi. Kabar gembira ini sampai kepada umat ini, bahkan tidak sempurna dan tidak lebih agung kecuali pada umat Muhammad ini. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Sesungguhnya Allah menggulung bumi untukku, maka aku melihat timur dan baratnya, dan kekuasaan umatku akan mencapai apa yang digulung-Nya untukku.” Mereka berkata: Kemudian sekelompok penguasa zalim menguasai Luth Alaihissalam, mereka menawannya, mengambil harta bendanya, dan mengangkut ternaknya. Ketika berita ini sampai kepada Ibrahim Al-Khalil Alaihissalam, ia pergi menuju mereka dengan tiga ratus delapan belas orang laki-laki. Ia menyelamatkan Luth Alaihissalam dan mengembalikan harta bendanya, membunuh banyak musuh Allah dan rasul-Nya, mengalahkan mereka, dan mengejar mereka hingga tiba di utara Damaskus. Ia berkemah di luarnya di dekat Barzah. Aku menduga bahwa Maqam Ibrahim yang dinisbatkan kepadanya di Barzah hari ini dinamakan demikian karena ia adalah tempat pasukan Khalil bermukim, wallahu a’lam. Kemudian ia kembali dengan kemenangan dan dukungan ke negerinya. Raja-raja tanah Baitul Maqdis menemuinya dengan mengagungkannya, memuliakan, dan tunduk kepadanya. Ia menetap di negerinya, shalawaatullahi wa salaamuhu alaihi.

Kisah Kelahiran Ismail alaihissalam dari Hajar

Para Ahli Kitab mengatakan: Sesungguhnya Ibrahim alaihissalam memohon kepada Allah keturunan yang baik, dan Allah memberinya kabar gembira tentang hal itu. Ketika Ibrahim telah berada di negeri Baitul Maqdis selama sepuluh tahun, Sarah berkata kepada Ibrahim alaihissalam: “Sesungguhnya Tuhan telah menghalangi aku untuk memiliki anak, maka gaulilah budakku ini, semoga Allah memberikan kita anak darinya.” Ketika ia memberikannya kepada Ibrahim, maka Ibrahim alaihissalam pun menggaulinya, dan ketika ia menggaulinya, Hajar pun hamil darinya. Mereka mengatakan: Ketika ia hamil, ia menjadi sombong dan merasa lebih tinggi dari majikannya, maka Sarah pun cemburu kepadanya dan mengadukan hal itu kepada Ibrahim. Maka Ibrahim berkata kepadanya: “Lakukanlah kepadanya apa yang kamu kehendaki.” Maka Hajar pun takut lalu melarikan diri dan turun di sebuah mata air di sana. Kemudian seorang malaikat berkata kepadanya: “Jangan takut, sesungguhnya Allah akan menjadikan dari anak laki-laki yang kamu kandung ini kebaikan.” Dan ia memerintahkannya untuk kembali, dan memberinya kabar gembira bahwa ia akan melahirkan seorang anak laki-laki yang akan ia beri nama Ismail, dan ia akan menjadi liar di antara manusia, tangannya melawan semua orang dan tangan semua orang melawannya, dan ia akan menguasai seluruh negeri saudara-saudaranya. Maka ia pun bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla atas hal itu.

Kabar gembira ini sesungguhnya terpenuhi pada keturunannya Muhammad shallallahu alaihi wasallam, karena dialah yang membuat bangsa Arab berjaya, dan menguasai seluruh negeri di barat dan timur, dan Allah memberikan kepada mereka ilmu yang bermanfaat dan amal saleh yang tidak diberikan kepada umat-umat sebelum mereka. Hal itu tidak lain karena kemuliaan rasul mereka atas seluruh rasul dan berkah risalahnya serta kesempurnaan apa yang dibawanya, dan keumuman utusan beliau untuk seluruh penduduk bumi. Ketika Hajar kembali, ia melahirkan Ismail alaihissalam. Mereka mengatakan: Ia melahirkannya ketika Ibrahim berusia delapan puluh enam tahun, tiga belas tahun sebelum kelahiran Ishaq. Ketika Ismail lahir, Allah mewahyukan kepada Ibrahim kabar gembira tentang Ishaq dari Sarah, maka ia pun sujud kepada Allah. Dan Allah berkata kepadanya: “Sungguh Aku telah mengabulkan permohonanmu tentang Ismail, dan Aku telah memberkatinya dan memperbanyaknya serta mengembangkannya dengan sangat besar, dan akan lahir darinya dua belas orang besar, dan Aku akan menjadikannya pemimpin bangsa yang besar.” Ini juga merupakan kabar gembira tentang umat yang besar ini, dan dua belas orang besar ini adalah dua belas khalifah yang diberi kabar gembira dalam hadits Abdul Malik bin Umair, dari Jabir bin Samurah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Akan ada dua belas pemimpin.” Kemudian beliau mengatakan kata-kata yang tidak aku pahami, lalu aku bertanya kepada ayahku apa yang beliau katakan? Dia berkata: “Semuanya dari Quraisy.” Keduanya (Bukhari dan Muslim) meriwayatkannya dalam Shahih mereka. Dalam riwayat lain: “Urusan ini akan tetap tegak.” Dan dalam riwayat lain: “mulia hingga ada dua belas khalifah, semuanya dari Quraisy.” Maka di antara mereka adalah Empat Imam; Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, dan di antara mereka juga Umar bin Abdul Aziz, dan di antara mereka sebagian dari Bani Abbas. Tidak dimaksudkan bahwa mereka menjadi dua belas secara berurutan, tetapi pasti akan ada keberadaan mereka, dan tidak dimaksudkan Dua Belas Imam yang diyakini oleh Rafidhah (Syiah) yang pertama mereka adalah Ali bin Abi Thalib, dan terakhir mereka adalah Al-Muntadzar di dalam terowongan Samarra, yaitu Muhammad bin Hasan Al-Askari menurut dugaan mereka. Sesungguhnya mereka itu tidak ada yang lebih bermanfaat selain Ali dan anaknya Hasan bin Ali ketika ia meninggalkan peperangan dan menyerahkan urusan kepada Muawiyah, dan memadamkan api fitnah, serta menghentikan peperangan di antara kaum muslimin. Adapun sisanya hanyalah rakyat biasa, tidak ada hukum mereka atas umat dalam urusan apapun. Adapun apa yang mereka yakini tentang terowongan Samarra, itu adalah khayalan di kepala, dan delusi di jiwa yang tidak ada kenyataannya, tidak ada wujudnya dan tidak ada bekasnya.

Maksudnya adalah bahwa Hajar alaihissalam ketika melahirkan Ismail, kecemburuan Sarah kepadanya semakin keras, dan ia meminta kepada Khalilullah (Ibrahim) untuk menjauhkan wajahnya darinya. Maka ia pun pergi dengan Hajar dan anaknya, dan berjalan dengan mereka hingga menempatkan mereka di tempat yang sekarang menjadi Mekah. Dikatakan: bahwa anaknya ketika itu masih menyusu. Ketika ia meninggalkan mereka di sana dan membalikkan punggungnya dari mereka, Hajar bangkit menghampirinya dan berpegang pada pakaiannya, dan berkata: “Wahai Ibrahim, kemana engkau pergi dan meninggalkan kami di sini, sedangkan tidak ada bersama kami apa yang mencukupi kami?” Maka ia tidak menjawabnya. Ketika ia mendesaknya dan ia tidak menjawabnya, ia berkata kepadanya: “Apakah Allah yang memerintahkanmu dengan ini?” Ia berkata: “Ya.” Ia berkata: “Kalau begitu Dia tidak akan menyia-nyiakan kami.” Syekh Abu Muhammad bin Abi Zaid rahimahullah telah menyebutkan dalam kitab An-Nawadir: bahwa Sarah marah kepada Hajar dan bersumpah akan memotong tiga anggota tubuhnya, maka Khalilullah memerintahkannya untuk menindik kedua telinganya dan menyunat (khitan) dia agar memenuhi sumpahnya. As-Suhaili berkata: Maka ia adalah wanita pertama yang disunat dari kaum wanita, dan wanita pertama yang telinganya ditindik dari mereka, dan wanita pertama yang memanjangkan ekornya (pakaiannya).

Kisah Hijrah Ibrahim alaihissalam dengan Anaknya Ismail dan Ibunya Hajar ke Pegunungan Faran yaitu Tanah Mekah dan Pembangunan Baitullah

Al-Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Ayyub As-Sikhtiyani, dan Katsir bin Katsir bin Al-Muthalib bin Abi Wada’ah, keduanya saling melengkapi, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Pertama kali wanita menggunakan ikat pinggang adalah dari Umm Ismail, ia menggunakan ikat pinggang untuk menghapus jejaknya dari Sarah, kemudian Ibrahim datang dengannya dan dengan anaknya Ismail sedangkan ia sedang menyusuinya hingga menempatkan mereka di dekat Baitullah, di dekat pohon besar di atas sumur Zamzam di bagian atas masjid, dan tidak ada seorang pun di Mekah pada saat itu, dan tidak ada air di sana. Maka ia menempatkan mereka di sana dan menempatkan bersama mereka sebuah kantong yang berisi kurma dan sebuah tempat air yang berisi air, kemudian Ibrahim berbalik pergi. Maka Umm Ismail mengikutinya dan berkata: “Wahai Ibrahim, kemana engkau pergi dan meninggalkan kami di lembah ini yang tidak ada manusia di dalamnya dan tidak ada sesuatu pun?” Ia mengatakannya berulang-ulang, dan ia tidak menoleh kepadanya. Maka ia berkata kepadanya: “Apakah Allah yang memerintahkanmu dengan ini?” Ia berkata: “Ya.” Ia berkata: “Kalau begitu Dia tidak akan menyia-nyiakan kami.” Kemudian ia kembali. Lalu Ibrahim pergi hingga ketika ia berada di tikungan di mana mereka tidak melihatnya, ia menghadapkan wajahnya ke Baitullah, kemudian berdoa dengan kalimat-kalimat ini dan mengangkat tangannya seraya berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” [QS. Ibrahim: 37]

Dan Umm Ismail terus menyusui Ismail dan minum dari air itu hingga ketika air dalam tempat air itu habis, ia kehausan dan anaknya juga kehausan, dan ia melihatnya bergeliat, atau ia berkata: menggelepar. Maka ia pergi karena tidak suka melihatnya, lalu ia mendapati Shafa sebagai gunung terdekat di bumi yang ada di dekatnya, maka ia berdiri di atasnya, kemudian menghadap lembah untuk melihat apakah ia melihat seseorang, tetapi ia tidak melihat seorang pun. Maka ia turun dari Shafa hingga ketika ia sampai di lembah, ia mengangkat ujung bajunya, kemudian berlari seperti orang yang kelelahan hingga ketika ia melewati lembah, kemudian ia datang ke Marwah, lalu berdiri di atasnya dan melihat apakah ia melihat seseorang, tetapi ia tidak melihat seorang pun. Ia melakukan itu tujuh kali. Ibnu Abbas berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Itulah sa’i manusia di antara keduanya.” Ketika ia berada di atas Marwah, ia mendengar suara, maka ia berkata: “Ssst,” untuk dirinya sendiri, kemudian ia mendengarkan lagi, lalu ia mendengar lagi, maka ia berkata: “Sungguh aku telah mendengar jika memang ada pertolongan di sisimu.” Maka tiba-tiba ia melihat malaikat di tempat sumur Zamzam, lalu ia menggali dengan tumitnya atau ia berkata dengan sayapnya hingga air muncul. Maka ia mulai menghalanginya dan berkata dengan tangannya seperti ini, dan ia mulai menimba air ke dalam tempat airnya, dan air itu memancar setelah ia menimba. Ibnu Abbas berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Semoga Allah merahmati Umm Ismail, seandainya ia membiarkan Zamzam,” atau ia berkata: “Seandainya ia tidak menimba dari air itu, maka Zamzam akan menjadi mata air yang tampak.” Ia berkata: Maka ia minum dan menyusui anaknya. Lalu malaikat berkata kepadanya: “Jangan takut akan kesengsaraan, karena di sini ada rumah Allah yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya, dan sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan penghuni-Nya.” Dan Baitullah pada saat itu meninggi dari tanah seperti bukit kecil, banjir datang kepadanya dan mengalir di kanan dan kirinya. Ia tetap seperti itu hingga rombongan dari Jurhum atau keluarga dari Jurhum lewat dari jalan Kada’, lalu mereka turun di bagian bawah Mekah. Mereka melihat burung yang terbang melingkar, maka mereka berkata: “Sesungguhnya burung ini berputar-putar di atas air, padahal kami pernah mengetahui lembah ini dan tidak ada air di dalamnya.” Maka mereka mengutus seorang atau dua orang laki-laki, dan ternyata benar ada air. Maka mereka kembali dan memberitahu mereka tentang air itu, maka mereka pun datang. Ia berkata: Dan Umm Ismail berada di dekat air, maka mereka berkata: “Apakah engkau mengizinkan kami untuk turun di sisimu?” Ia berkata: “Ya, tetapi kalian tidak berhak atas air ini.” Mereka berkata: “Ya.” Abdullah bin Abbas berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Hal itu disetujui oleh Umm Ismail dan ia senang dengan kehadiran mereka.” Maka mereka pun turun dan mengirim kabar kepada keluarga mereka, lalu mereka turun bersama mereka hingga ketika ada beberapa keluarga dari mereka di sana, dan anak itu tumbuh dewasa, dan ia belajar bahasa Arab dari mereka, dan mereka menyukainya dan kagum kepadanya ketika ia tumbuh dewasa. Ketika ia mencapai usia baligh, mereka menikahkannya dengan seorang wanita dari mereka, dan Umm Ismail meninggal.

Kemudian Ibrahim datang setelah Ismail menikah untuk melihat yang ia tinggalkan, tetapi ia tidak menemukan Ismail, lalu ia bertanya kepada istrinya tentangnya, maka ia berkata: “Ia keluar mencari nafkah untuk kami.” Kemudian ia bertanyanya tentang kehidupan mereka dan keadaan mereka, maka ia berkata: “Kami dalam kesusahan, kami dalam kesempitan dan kesulitan.” Dan ia mengeluh kepadanya. Ia berkata: “Jika suamimu datang, sampaikanlah salamku kepadanya, dan katakan kepadanya untuk mengganti ambang pintunya.” Ketika Ismail datang, seolah-olah ia merasakan sesuatu, maka ia berkata: “Apakah ada seseorang yang datang kepada kalian?” Ia berkata: “Ya, seorang lelaki tua begini dan begitu datang kepada kami, lalu ia bertanya tentangmu dan aku memberitahunya, dan ia bertanyaku bagaimana kehidupan kami, maka aku memberitahunya bahwa kami dalam kesulitan dan kesusahan.” Ia berkata: “Apakah ia berwasiat sesuatu kepadamu?” Ia berkata: “Ya, ia memerintahkanku untuk menyampaikan salam kepadamu, dan ia berkata: Gantilah ambang pintumu.” Ia berkata: “Itu adalah ayahku, dan ia memerintahkanku untuk menceraikanmu, maka kembalilah kepada keluargamu.” Maka ia pun menceraikannya dan menikah dengan wanita lain dari mereka. Dan Ibrahim tidak menemui mereka untuk waktu yang dikehendaki Allah, kemudian ia datang kepada mereka setelah itu tetapi tidak menemukan Ismail, lalu ia masuk menemui istrinya dan bertanya kepadanya tentangnya, maka ia berkata: “Ia keluar mencari nafkah untuk kami.” Ia berkata: “Bagaimana keadaan kalian?” Dan ia bertanya kepadanya tentang kehidupan mereka dan keadaan mereka, maka ia berkata: “Kami dalam kebaikan dan kelonggaran,” dan ia memuji Allah. Ia berkata: “Apa makanan kalian?” Ia berkata: “Daging.” Ia berkata: “Apa minuman kalian?” Ia berkata: “Air.” Ia berkata: “Ya Allah, berkahilah mereka dalam daging dan air.”

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Dan tidak ada biji-bijian bagi mereka pada saat itu, seandainya ada biji-bijian bagi mereka, niscaya ia akan berdoa untuk mereka di dalamnya. Maka keduanya tidak akan cocok bagi siapa saja selain penduduk Mekah kecuali tidak cocok baginya.” Ia berkata: “Jika suamimu datang, sampaikanlah salamku kepadanya, dan perintahkan dia untuk meneguhkan ambang pintunya.” Ketika Ismail datang, ia berkata: “Apakah ada seseorang yang datang kepada kalian?” Ia berkata: “Ya, seorang lelaki tua yang baik penampilannya datang kepada kami,” dan ia memujinya, “lalu ia bertanya tentangmu dan aku memberitahunya, dan ia bertanyaku bagaimana kehidupan kami, maka aku memberitahunya bahwa kami dalam kebaikan.” Ia berkata: “Apakah ia berwasiat sesuatu kepadamu?” Ia berkata: “Ya, ia menyampaikan salam kepadamu, dan memerintahkanmu untuk meneguhkan ambang pintumu.” Ia berkata: “Itu adalah ayahku, dan engkau adalah ambang pintu, dan ia memerintahkanku untuk mempertahankanmu.” Kemudian ia tidak menemui mereka untuk waktu yang dikehendaki Allah, kemudian ia datang setelah itu dan Ismail sedang membuat anak panah di bawah pohon besar dekat Zamzam. Ketika ia melihatnya, ia bangkit menghampirinya, lalu mereka melakukan seperti yang dilakukan anak kepada ayahnya dan ayah kepada anaknya. Kemudian ia berkata: “Wahai Ismail, sesungguhnya Allah telah memerintahkanku dengan suatu perintah.” Ia berkata: “Lakukanlah apa yang Tuhanmu perintahkan.” Ia berkata: “Apakah engkau akan membantuku?” Ia berkata: “Aku akan membantumu.” Ia berkata: “Sesungguhnya Allah telah memerintahkanku untuk membangun sebuah rumah di sini.” Dan ia menunjuk ke sebuah bukit yang meninggi dari sekitarnya. Ia berkata: Maka pada saat itu mereka mengangkat fondasi Baitullah. Ismail membawa batu-batu, dan Ibrahim membangun, hingga ketika bangunan itu meninggi, ia datang dengan batu ini dan meletakkannya untuknya, lalu ia berdiri di atasnya sambil membangun, dan Ismail memberikan batu-batu kepadanya, dan mereka berdua berkata: “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [QS. Al-Baqarah: 127] Ia berkata: Dan mereka terus membangun sambil berputar mengelilingi Baitullah, dan mereka berdua berkata: “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Kemudian Al-Bukhari berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abu Amir Abdul Malik bin Amr, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Nafi’, dari Katsir bin Katsir, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Ketika terjadi di antara Ibrahim dan keluarganya apa yang terjadi, ia keluar dengan Ismail dan Umm Ismail, dan bersama mereka ada tempat air yang berisi air. Dan ia menyebutkan lengkapnya dengan seperti apa yang telah disebutkan sebelumnya. Dan hadits ini adalah dari perkataan Ibnu Abbas, dan sebagiannya diriwayatkan secara marfu’ (sampai kepada Nabi), dan di dalam sebagiannya ada keanehan, dan seolah-olah ia adalah apa yang diterima Ibnu Abbas dari Israiliyyat. Dan di dalamnya disebutkan bahwa Ismail masih menyusu pada saat itu. Dan menurut Ahli Taurat bahwa Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyunat anaknya Ismail, dan setiap orang yang ada di sisinya dari budak dan lainnya, maka ia pun menyunat mereka, dan itu setelah berlalu sembilan puluh sembilan tahun dari umurnya. Maka umur Ismail pada saat itu adalah tiga belas tahun. Dan ini adalah pelaksanaan perintah Allah Azza wa Jalla kepada keluarganya yang menunjukkan bahwa ia melakukannya secara wajib; oleh karena itu pendapat yang benar dari pendapat para ulama adalah bahwa khitan wajib bagi laki-laki, sebagaimana telah ditetapkan di tempatnya.

Dan telah tetap dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari: telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id, telah menceritakan kepada kami Mughirah bin Abdurrahman Al-Qurasyiy, dari Abu Az-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah, ia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ibrahim Nabi alaihissalam berkhitan ketika berusia delapan puluh tahun dengan Al-Qadum.” Diikuti oleh Abdurrahman bin Ishaq, dari Abu Az-Zinad, dan diikuti oleh Ajlan, dari Abu Hurairah. Dan diriwayatkan oleh Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah. Dan demikian pula diriwayatkan oleh Muslim, dari Qutaibah dengannya. Dan dalam sebagian lafadz: Ibrahim berkhitan setelah ia berusia delapan puluh tahun dan ia berkhitan dengan Al-Qadum. Dan Al-Qadum adalah alat (pisau khitan).

Dan dikatakan: tempat. Lafaz ini tidak menafikan penambahan atas delapan puluh tahun, dan Allah lebih mengetahui, sebagaimana akan datang dalam hadits ketika menyebutkan wafatnya, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersaid: “Ibrahim berkhitan ketika berusia seratus dua puluh tahun, dan ia hidup setelah itu delapan puluh tahun.” Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya. Tidak ada dalam riwayat ini penyebutan kisah al-Dzabih (yang hendak disembelih) dan bahwa ia adalah Ismail, dan tidak disebutkan kedatangan Ibrahim alaihissalam kecuali tiga kali. Yang pertama adalah setelah Ismail menikah setelah wafatnya Hajar. Bagaimana mungkin ia meninggalkan mereka sejak anak masih kecil sebagaimana disebutkan hingga ia menikah tanpa melihat keadaan mereka? Telah disebutkan bahwa bumi dilipat untuknya. Dan dikatakan: sesungguhnya ia mengendarai Buraq jika bepergian kepada mereka. Bagaimana mungkin ia tidak memperhatikan keadaan mereka, padahal mereka dalam kondisi sangat terdesak dan kebutuhan yang mendesak? Sepertinya sebagian riwayat ini diambil dari Israiliyyat, dan dihiasi dengan sebagian yang marfu’ (bersumber dari Nabi), dan tidak disebutkan di dalamnya kisah al-Dzabih. Kami telah memberikan dalil bahwa al-Dzabih adalah Ismail menurut pendapat yang shahih dalam Surah Ash-Shaffat.

Kisah Al-Dzabih (Yang Disembelih) Alaihissalam

Allah Ta’ala berfirman: “Dan dia berkata: ‘Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’ Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu,’ sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Dan Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.’ Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. Dan Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucu keduanya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang menganiaya diri sendiri dengan nyata.” (Surah Ash-Shaffat: 99-113).

Allah Ta’ala menyebutkan tentang kekasih-Nya Ibrahim bahwa ketika ia hijrah dari negeri kaumnya, ia memohon kepada Tuhannya agar dianugerahi anak yang saleh. Lalu Allah Ta’ala memberinya kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar, yaitu Ismail alaihissalam, karena ia adalah anak pertama yang lahir untuknya pada usia delapan puluh enam tahun dari umur sang Khalil (kekasih Allah). Ini tidak ada perselisihan di dalamnya di antara ahli agama bahwa ia adalah anak pertamanya dan anak sulungnya.

Firman-Nya: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur) berusaha bersama-sama Ibrahim” artinya ia telah dewasa dan dapat berusaha dalam urusan-urusannya seperti ayahnya. Mujahid berkata: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur) berusaha bersama-sama Ibrahim” artinya ia telah dewasa dan bepergian, serta mampu melakukan apa yang dilakukan ayahnya dalam berusaha dan bekerja. Ketika ini terjadi, Ibrahim alaihissalam bermimpi bahwa ia diperintahkan untuk menyembelih anaknya ini.

Dalam hadits dari Ibnu Abbas secara marfu’: “Mimpi para nabi adalah wahyu.” Hal ini juga dikatakan oleh Ubaid bin Umair. Ini adalah ujian dari Allah Azza wa Jalla kepada kekasih-Nya untuk menyembelih anak yang mulia ini yang datang kepadanya di usia tua, setelah lanjut usia, setelah sebelumnya ia diperintahkan untuk menempatkannya bersama ibunya di negeri gersang, di lembah yang tidak ada bisikan dan tidak ada manusia, tidak ada tanaman dan tidak ada binatang ternak. Ia melaksanakan perintah Allah dalam hal itu, dan meninggalkan mereka di sana karena percaya kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya. Maka Allah menjadikan bagi mereka jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Kemudian setelah semua ini ia diperintahkan untuk menyembelih anaknya ini, yang telah dipisahkannya atas perintah Tuhannya, dan ia adalah anak sulungnya dan anak tunggalnya yang tidak ada anak lain baginya selainnya. Ia mematuhi Tuhannya dan melaksanakan perintah-Nya dan bersegera untuk menaati-Nya. Kemudian ia memaparkan hal itu kepada anaknya agar lebih menenangkan hatinya dan lebih mudah baginya daripada mengambilnya dengan paksa dan menyembelihnya dengan paksaan. Ia berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!”

Anak yang amat sabar itu segera berbakti kepada ayahnya, Khalil Ibrahim, ia berkata: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Jawaban ini sangat tepat dan penuh ketaatan kepada ayah dan kepada Tuhan para hamba. Allah Ta’ala berfirman: “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya).” Dikatakan: “telah berserah diri” artinya keduanya berserah diri kepada perintah Allah dan bertekad untuk melakukannya. Dan dikatakan: ini termasuk taqdim dan ta’khir (mendahulukan dan mengakhirkan), maknanya adalah membaringkannya atas pelipis artinya merebahkannya di atas wajahnya. Dikatakan: ia bermaksud menyembelihnya dari tengkuknya agar tidak menyaksikannya dalam keadaan disembelih. Hal ini dikatakan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Said bin Jubair, Qatadah, dan Adh-Dhahhak.

Dan dikatakan: bahkan ia membaringkannya sebagaimana binatang sembelihan dibaringkan, dan ujung pelipisnya tetap menempel di tanah. “Telah berserah diri” artinya Ibrahim menyebut nama Allah dan bertakbir dan bersyahadat, dan anak itu menyerahkan diri kepada kematian. As-Suddi dan lainnya berkata: pisau dijalankan pada lehernya tetapi tidak memotong apa pun. Dan dikatakan: dijadikan antara pisau dan lehernya lempengan dari tembaga. Wallahu a’lam.

Maka pada saat itu dipanggillah dari Allah Azza wa Jalla: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu.” Artinya maksud dari ujian bagimu dan ketaatanmu serta kesegeraanmu dalam melaksanakan perintah Tuhanmu dan kerelaan melepas anakmu untuk kurban telah tercapai, sebagaimana kamu rela melepas tubuhmu untuk api, dan sebagaimana hartamu tercurah untuk para tamu. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” Artinya ujian yang jelas dan terang.

Firman-Nya: “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” Artinya Kami jadikan tebusan penyembelihan anaknya dengan apa yang Allah Ta’ala mudahkan baginya sebagai pengganti darinya. Yang masyhur dari jumhur adalah bahwa itu adalah seekor kibasy putih bermata lebar bertanduk yang dilihatnya terikat pada pohon samuroh di Tsabir.

Ats-Tsauri berkata dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim, dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas ia berkata: Seekor kibasy yang telah merumput di surga selama empat puluh tahun. Said bin Jubair berkata: Ia merumput di surga hingga Tsabir terbelah karenanya, dan padanya ada bulu merah. Dari Ibnu Abbas: Turun kepadanya dari Tsabir seekor kibasy bermata lebar bertanduk memiliki suara mengembik, lalu ia menyembelihnya. Ia adalah kibasy yang dikurbankan oleh anak Adam yang diterima darinya. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.

Mujahid berkata: Ia menyembelihnya di Mina. Ubaid bin Umair berkata: Ia menyembelihnya di Maqam. Adapun apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa itu adalah kambing jantan hutan, dan dari Al-Hasan bahwa itu adalah kambing jantan dari jenis Arwa bernama Jarir, hampir tidak shahih dari mereka. Kemudian kebanyakan yang ada di sini dari atsar diambil dari Israiliyyat. Dan dalam Al-Quran sudah cukup dari apa yang terjadi dari peristiwa besar dan ujian yang terang dan bahwa ia ditebus dengan sembelihan yang besar.

Telah datang dalam hadits bahwa itu adalah kibasy. Imam Ahmad berkata: telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami Manshur, dari pamannya Musafi’, dari Shafiyyah binti Syaibah ia berkata: telah memberitahuku seorang wanita dari Bani Sulaim yang telah membantu melahirkan kebanyakan penduduk rumah kami. Ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengutus kepada Utsman bin Thalhah. Dan pada suatu kali dikatakan: sesungguhnya ia (Shafiyyah) bertanya kepada Utsman: Mengapa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memanggilmu? Ia berkata: “Sesungguhnya aku melihat dua tanduk kibasy ketika masuk ke dalam Bait, lalu aku lupa memerintahkanmu untuk menutupinya, maka tutupi keduanya karena sesungguhnya tidak pantas ada di dalam Bait sesuatu yang menyibukkan orang yang shalat.” Sufyan berkata: Kedua tanduk kibasy itu tetap ada di dalam Bait hingga Bait terbakar lalu kedua tanduk itu ikut terbakar.

Demikian pula diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa kepala kibasy tetap tergantung di talang air Ka’bah dan telah mengering. Ini saja merupakan dalil bahwa yang disembelih adalah Ismail, karena dialah yang tinggal di Makkah, sedangkan Ishaq kami tidak mengetahui bahwa ia datang ke Makkah dalam keadaan masih kecil, wallahu a’lam.

Inilah yang zahir dari Al-Quran, bahkan sepertinya nash (tegas) bahwa yang disembelih adalah Ismail, karena Allah menyebutkan kisah al-Dzabih, kemudian berfirman setelahnya: “Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.” Barangsiapa yang menjadikannya sebagai hal (keterangan keadaan) maka ia telah memaksakan, dan sandarannya bahwa ia adalah Ishaq hanyalah Israiliyyat. Kitab mereka di dalamnya ada tahrifan (perubahan), apalagi di sini pasti tanpa dapat dihindari. Karena menurut mereka sesungguhnya Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih anaknya yang tunggal, dan dalam satu naskah yang diterjemahkan: anak sulungnya Ishaq. Maka lafaz Ishaq di sini adalah sisipan, kebohongan, dan kebohongan yang dibuat-buat, karena ia bukan anak tunggal dan bukan anak sulung. Yang tunggal dan sulung adalah Ismail. Hanya saja yang mendorong mereka untuk ini adalah iri kepada bangsa Arab, karena sesungguhnya Ismail adalah bapak bangsa Arab yang tinggal di Hijaz yang dari mereka adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sedangkan Ishaq adalah ayah Yakub, yaitu Israil yang mereka berbangsa kepadanya. Maka mereka ingin menarik kehormatan ini kepada mereka, lalu mereka mengubah kalam Allah dan menambahkannya, padahal mereka adalah kaum pendusta. Mereka tidak mengakui bahwa keutamaan ada di tangan Allah yang memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki.

Telah berkata bahwa yang disembelih adalah Ishaq sekelompok besar dari kalangan salaf dan lainnya. Sesungguhnya mereka mengambilnya, wallahu a’lam, dari Ka’b Al-Ahbar atau lembaran-lembaran Ahli Kitab. Tidak ada dalam hal itu hadits shahih dari yang ma’shum (Nabi) sehingga karena hadits itu kami meninggalkan zahir Al-Kitab Al-Aziz, dan ini tidak dipahami dari Al-Quran. Bahkan yang dipahami, bahkan yang diucapkan, bahkan nash ketika direnungkan adalah bahwa ia adalah Ismail.

Betapa bagus dalil yang dikemukakan Muhammad bin Ka’b Al-Qurazhi bahwa ia adalah Ismail dan bukan Ishaq dari firman-Nya: “Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan Ishaq dan di belakang Ishaq (akan lahir) Yakub.” Ia berkata: Bagaimana bisa terjadi kabar gembira dengan Ishaq dan bahwa akan lahir untuknya Yakub, kemudian diperintahkan untuk menyembelih Ishaq ketika ia masih kecil sebelum lahir untuknya (Yakub)? Ini tidak mungkin terjadi karena bertentangan dengan kabar gembira sebelumnya, wallahu a’lam.

As-Suhaili telah membantah dalil ini dengan kesimpulan bahwa firman-Nya: “Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan Ishaq” adalah kalimat sempurna. Dan firman-Nya: “Dan di belakang Ishaq (akan lahir) Yakub” adalah kalimat lain yang tidak termasuk dalam kabar gembira. Ia berkata: Karena tidak boleh dari sisi bahasa Arab untuk dijadikan majrur kecuali huruf jar diulang bersamanya. Maka tidak boleh dikatakan “Aku melewati Zaid dan setelahnya Amr” hingga dikatakan “dan setelahnya dengan Amr”. Ia berkata: Maka firman-Nya “dan di belakang Ishaq (akan lahir) Yakub” adalah manshub (objek) dengan fi’il (kata kerja) yang tersembunyi, takdirnya adalah: dan Kami anugerahkan kepada Ishaq Yakub. Dalam apa yang ia katakan ini ada pandangan (keberatan). Ia menguatkan bahwa yang disembelih adalah Ishaq dan berdalil dengan firman-Nya: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur) berusaha bersama-sama Ibrahim.” Ia berkata: Sedangkan Ismail tidak berada di sisinya, sesungguhnya ia pada masa kecilnya bersama ibunya di arah Makkah. Bagaimana mungkin ia sampai pada umur berusaha bersamanya? Ini juga di dalamnya ada pandangan (keberatan), karena telah diriwayatkan bahwa Al-Khalil pergi pada banyak waktu mengendarai Buraq ke Makkah untuk melihat anaknya dan putranya, kemudian kembali, wallahu a’lam.

Maka barangsiapa yang diriwayatkan pendapat darinya bahwa yang disembelih adalah Ishaq: Ka’b Al-Ahbar. Dan diriwayatkan dari Umar, Al-Abbas, Ali, Ibnu Mas’ud, Masruq, Ikrimah, Said bin Jubair, Mujahid, Atha’, Asy-Sya’bi, Muqatil, Ubaid bin Umair, Abu Maisarah, Zaid bin Aslam, Abdullah bin Syaqiq, Az-Zuhri, Al-Qasim bin Abi Bazzah, Makhul, Utsman bin Hadhir, As-Suddi, Al-Hasan, Qatadah, Abu Al-Hudzail, Ibnu Sabit. Ini adalah pilihan Ibnu Jarir, dan ini mengherankan darinya. Ini adalah salah satu dari dua riwayat dari Ibnu Abbas, tetapi yang shahih darinya dan dari kebanyakan mereka ini adalah bahwa yang disembelih adalah Ismail alaihissalam.

Mujahid, Said, Asy-Sya’bi, Yusuf bin Mihran, Atha’, dan tidak hanya satu orang berkata dari Ibnu Abbas: Ia adalah Ismail alaihissalam. Ibnu Jarir berkata: telah menceritakan kepadaku Yunus, telah memberitahukan kepada kami Ibnu Wahb, telah memberitahukan kepadaku Amr bin Qais, dari Atha’ bin Abi Rabah, dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata: Yang ditebus adalah Ismail, dan orang-orang Yahudi mengklaim bahwa ia adalah Ishaq, dan orang-orang Yahudi berdusta.

Abdullah bin Imam Ahmad berkata dari ayahnya: Ia adalah Ismail. Ibnu Abi Hatim berkata: Aku bertanya kepada ayahku tentang yang disembelih, ia berkata: Yang shahih adalah bahwa ia adalah Ismail alaihissalam.

Ibnu Abi Hatim berkata: Dan diriwayatkan dari Ali, Ibnu Umar, Abu Hurairah, Abu Ath-Thufail, Said bin Al-Musayyab, Said bin Jubair, Al-Hasan, Mujahid, Asy-Sya’bi, Muhammad bin Ka’b, Abu Ja’far Muhammad bin Ali, dan Abu Shalih bahwa mereka berkata: Yang disembelih adalah Ismail alaihissalam. Al-Baghawi juga meriwayatkannya dari Ar-Rabi’ bin Anas, Al-Kalbi, dan Abu Amr bin Al-Ala’.

Saya berkata: Diriwayatkan dari Muawiyah, dan datang darinya bahwa seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Wahai putra dua orang yang disembelih, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tertawa. Kepada pendapat ini pergi Umar bin Abdul Aziz, Muhammad bin Ishaq bin Yasar. Al-Hasan Al-Bashri berbiasa berkata: Tidak ada keraguan dalam hal ini.

Muhammad bin Ishaq berkata dari Buraidah bin Sufyan bin Farwah Al-Aslami, dari Muhammad bin Ka’b bahwa ia menceritakan kepada mereka bahwa ia menyebutkan hal itu kepada Umar bin Abdul Aziz ketika ia menjadi khalifah saat ia bersamanya di Syam, yaitu dalilnya dengan firman-Nya setelah kisah: “Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan Ishaq dan di belakang Ishaq (akan lahir) Yakub.” Lalu Umar berkata kepadanya: Sesungguhnya perkara ini tidak pernah aku perhatikan, dan sesungguhnya aku melihatnya sebagaimana yang kamu katakan. Kemudian ia mengutus kepada seorang laki-laki yang ada di sisinya di Syam yang dulunya Yahudi lalu masuk Islam dan Islamnya baik, dan ia melihat bahwa orang itu termasuk ulama mereka. Muhammad bin Ka’b berkata: Lalu Umar bin Abdul Aziz bertanya kepadanya tentang hal itu – Muhammad bin Ka’b berkata: dan aku di sisi Umar bin Abdul Aziz – maka Umar bin Abdul Aziz berkata kepadanya: Anak Ibrahim yang mana yang diperintahkan untuk disembelih? Ia berkata: Ismail demi Allah wahai Amirul Mukminin, dan sesungguhnya orang-orang Yahudi mengetahui hal itu, tetapi mereka iri kepada kalian wahai bangsa Arab atas bapak kalian yang terjadi dari perintah Allah padanya dan keutamaan yang disebutkan Allah darinya atas kesabarannya atas apa yang diperintahkan kepadanya. Maka mereka mengingkari hal itu dan mengklaim bahwa ia adalah Ishaq karena Ishaq adalah bapak mereka.

Kami telah menyebutkan masalah ini secara lengkap dengan dalil-dalil dan atsar-atsarnya dalam kitab Tafsir kami, dan segala puji dan karunia bagi Allah.

Kisah Kelahiran Ishaq

Allah Taala berfirman: “Dan Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang saleh. Dan Kami limpahkan keberkahan kepadanya dan kepada Ishaq. Di antara keturunan keduanya ada yang berbuat baik dan ada pula yang zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.” (Surat Ash-Shaffat ayat 112).

Kabar gembira tentang kelahiran Ishaq itu disampaikan oleh para malaikat kepada Ibrahim dan istrinya, Sarah, ketika para malaikat tersebut singgah kepada mereka dalam perjalanan menuju negeri kaum Luth untuk membinasakan mereka karena kekafiran dan kefasikan mereka. Penjelasannya akan datang pada tempatnya, insya Allah.

Allah Taala berfirman: “Dan sungguh, para utusan Kami telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira. Mereka mengucapkan, ‘Salam.’ Ibrahim menjawab, ‘Salam.’ Tidak lama kemudian ia menyuguhkan kepada mereka seekor anak sapi yang dipanggang. Ketika dilihatnya tangan mereka tidak menyentuh hidangan itu, ia merasa curiga terhadap mereka dan timbul rasa takut dalam dirinya. Mereka berkata, ‘Janganlah engkau takut, sesungguhnya kami diutus kepada kaum Luth.’ Dan istrinya berdiri lalu tertawa. Maka Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan kelahiran Ishaq dan setelah Ishaq akan lahir Ya‘qub. Ia berkata, ‘Celaka aku, apakah aku akan melahirkan padahal aku seorang perempuan tua dan suamiku ini seorang laki-laki tua? Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan.’ Mereka berkata, ‘Apakah engkau heran terhadap ketetapan Allah? Rahmat Allah dan keberkahan-Nya tercurah atas kalian, wahai keluarga rumah ini. Sesungguhnya Dia Maha Terpuji lagi Maha Mulia.’” (Surat Hud ayat 69–73).

Allah Taala juga berfirman: “Dan ceritakanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibrahim. Ketika mereka masuk menemuinya lalu mengucapkan, ‘Salam.’ Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya kami merasa takut kepada kalian.’ Mereka berkata, ‘Janganlah engkau takut. Sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki yang berilmu.’ Ibrahim berkata, ‘Apakah kalian memberi kabar gembira kepadaku padahal aku telah sangat tua? Maka dengan apakah kalian memberi kabar gembira itu?’ Mereka menjawab, ‘Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan kebenaran, maka janganlah engkau termasuk orang-orang yang berputus asa.’ Ibrahim berkata, ‘Dan siapakah yang berputus asa dari rahmat Tuhannya selain orang-orang yang sesat?’” (Surat Al-Hijr ayat 51–56).

Dan Allah Taala berfirman: “Sudahkah sampai kepadamu kisah tamu-tamu Ibrahim yang dimuliakan? Ketika mereka masuk menemuinya lalu mengucapkan, ‘Salam.’ Ibrahim menjawab, ‘Salam,’ (seraya berkata dalam hati) ‘Kalian adalah orang-orang yang tidak dikenal.’ Maka ia pergi diam-diam kepada keluarganya lalu datang membawa seekor anak sapi yang gemuk. Ia menghidangkannya kepada mereka seraya berkata, ‘Tidakkah kalian makan?’ Maka timbul rasa takut dalam dirinya terhadap mereka. Mereka berkata, ‘Janganlah engkau takut,’ dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan kelahiran seorang anak laki-laki yang berilmu. Lalu istrinya datang sambil berteriak, lalu menepuk wajahnya dan berkata, ‘Aku seorang perempuan tua yang mandul.’ Mereka berkata, ‘Demikianlah Tuhanmu berfirman. Sesungguhnya Dialah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.’” (Surat Adz-Dzariyat ayat 24–30).

Allah Taala menyebutkan bahwa para malaikat itu berjumlah tiga, yaitu Jibril, Mikail, dan Israfil. Ketika mereka datang kepada Al-Khalil, Ibrahim mengira mereka sebagai tamu biasa. Maka ia memperlakukan mereka sebagaimana tamu, dengan memanggang seekor anak sapi yang gemuk dari pilihan ternaknya. Ketika hidangan itu disuguhkan kepada mereka dan ditawarkan, ia tidak melihat adanya keinginan mereka untuk makan sama sekali. Hal itu karena para malaikat tidak memiliki kebutuhan terhadap makanan. Maka Ibrahim merasa curiga terhadap mereka dan timbul rasa takut dalam dirinya. Mereka berkata, “Janganlah engkau takut, sesungguhnya kami diutus kepada kaum Luth,” yaitu untuk membinasakan mereka.

Mendengar hal itu, Sarah merasa gembira karena kemurkaan Allah terhadap kaum tersebut. Saat itu ia berdiri di dekat kepala para tamu, sebagaimana kebiasaan orang-orang Arab dan selain mereka. Ketika ia tertawa karena kegembiraan tersebut, Allah Taala berfirman: “Maka Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan kelahiran Ishaq dan setelah Ishaq akan lahir Ya‘qub.” Artinya, para malaikat memberi kabar gembira kepadanya dengan hal itu.

Maka istrinya datang dengan berteriak, yaitu dengan suara terkejut, lalu menepuk wajahnya sebagaimana kebiasaan perempuan ketika merasa heran, dan berkata, “Celaka aku, apakah aku akan melahirkan padahal aku seorang perempuan tua dan suamiku ini seorang laki-laki tua?” Maksudnya, bagaimana mungkin perempuan sepertiku melahirkan, sementara aku sudah tua dan mandul, dan suamiku pun telah lanjut usia. Ia merasa heran akan adanya seorang anak dalam keadaan seperti itu. Oleh karena itu ia berkata, “Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan.”

Para malaikat berkata, “Apakah engkau heran terhadap ketetapan Allah? Rahmat Allah dan keberkahan-Nya tercurah atas kalian, wahai keluarga rumah ini. Sesungguhnya Dia Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”

Demikian pula Ibrahim merasa heran, namun dengan perasaan gembira dan untuk meneguhkan kabar tersebut serta bersukacita dengannya. Ia berkata, “Apakah kalian memberi kabar gembira kepadaku padahal aku telah sangat tua? Maka dengan apakah kalian memberi kabar gembira itu?” Mereka menjawab, “Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan kebenaran, maka janganlah engkau termasuk orang-orang yang berputus asa.”

Mereka menegaskan kabar itu dengan berita gembira tersebut dan meneguhkannya. Maka mereka memberi kabar gembira kepada keduanya tentang kelahiran seorang anak laki-laki yang berilmu, yaitu Ishaq. Adapun saudaranya, Ismail, adalah seorang anak laki-laki yang penyantun, sesuai dengan kedudukannya dan kesabarannya. Demikian pula Rabbnya menggambarkannya sebagai orang yang benar janjinya dan penyabar.

Allah Taala berfirman pada ayat yang lain: “Maka Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan kelahiran Ishaq dan setelah Ishaq akan lahir Ya‘qub.” Dari ayat ini, Muhammad bin Ka‘b Al-Qurazhi dan selainnya berdalil bahwa anak yang diperintahkan untuk disembelih adalah Ismail, dan bahwa Ishaq tidak mungkin diperintahkan untuk disembelih setelah adanya kabar gembira tentang kelahirannya dan tentang kelahiran anaknya, Ya‘qub, yang namanya diambil dari kata keturunan yang datang setelahnya.

Menurut ahli kitab, Ibrahim menyuguhkan bersama anak sapi panggang tersebut sepotong roti dari gandum seberat tiga takaran, serta mentega dan susu. Menurut mereka, para tamu itu memakannya. Ini adalah kesalahan yang nyata. Ada pula yang mengatakan bahwa mereka hanya menampakkan seolah-olah makan, sementara makanan itu lenyap di udara.

Menurut mereka pula, Allah Taala berfirman kepada Ibrahim: “Adapun Sarah, istrimu, jangan lagi dinamai Sarai, tetapi namanya adalah Sarah. Aku akan memberkatinya dan akan memberimu darinya seorang anak laki-laki, dan Aku akan memberkatinya. Ia akan menjadi bapak bagi bangsa-bangsa, dan raja-raja bangsa-bangsa akan lahir darinya.”

Maka Ibrahim tersungkur dengan wajahnya ke tanah, maksudnya bersujud, lalu tertawa sambil berkata dalam hatinya, “Apakah setelah seratus tahun aku akan mendapatkan seorang anak laki-laki, ataukah Sarah akan melahirkan padahal usianya telah mencapai sembilan puluh tahun?” Dan Ibrahim berkata kepada Allah Taala, “Seandainya Ismail tetap hidup di hadapan-Mu.”

Maka Allah berfirman kepada Ibrahim: Dengan hak-Ku, sesungguhnya istrimu Sarah akan melahirkan bagimu seorang anak laki-laki, dan engkau akan menamainya Ishaq, pada waktu seperti ini di tahun yang akan datang. Aku akan mengikat perjanjian-Ku dengannya sebagai perjanjian yang kekal untuk selamanya, dan juga untuk keturunannya setelah dia. Dan sungguh Aku telah mengabulkan doamu tentang Ismail; Aku memberkahinya, membesarkannya, dan menjadikannya berkembang dengan sangat besar. Akan lahir darinya dua belas pemimpin besar, dan Aku akan menjadikannya sebagai pemimpin bagi suatu bangsa yang besar. Kami telah membahas hal ini pada penjelasan sebelumnya. Dan Allah Maha Mengetahui.

Adapun firman Allah Taala: “Maka Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan kelahiran Ishaq dan setelah Ishaq akan lahir Ya‘qub.” (Surat Hud ayat 71), ini merupakan dalil bahwa Sarah akan menikmati kebahagiaan dengan keberadaan putranya, Ishaq, kemudian setelah itu lahir pula putranya, Ya‘qub. Artinya, Ya‘qub dilahirkan ketika keduanya masih hidup, sehingga mata mereka menjadi sejuk dengan kehadirannya, sebagaimana sebelumnya mereka telah merasa sejuk dengan kelahiran ayahnya. Seandainya tidak demikian, niscaya tidak ada faedahnya penyebutan nama Ya‘qub secara khusus dan penegasannya dibandingkan dengan seluruh keturunan Ishaq yang lain. Ketika Ya‘qub disebutkan secara khusus, hal itu menunjukkan bahwa keduanya menikmati keberadaannya dan bergembira dengan kelahirannya, sebagaimana mereka bergembira dengan kelahiran ayahnya sebelumnya.

Allah Taala berfirman: “Dan Kami menganugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya‘qub; masing-masing Kami beri petunjuk.” (Surat Al-An‘am ayat 84).

Dan Allah Taala berfirman: “Maka ketika ia telah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya‘qub.” (Surat Maryam ayat 49).

Makna ini, insya Allah, tampak jelas dan kuat. Hal ini dikuatkan pula oleh hadis yang diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Sulaiman bin Mihran Al-A‘masy, dari Ibrahim bin Yazid At-Taimi, dari ayahnya, dari Abu Dzar, ia berkata: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama kali dibangun?” Beliau menjawab, “Masjidil Haram.” Aku bertanya, “Kemudian yang mana?” Beliau menjawab, “Masjid Al-Aqsha.” Aku bertanya, “Berapa jarak waktu antara keduanya?” Beliau menjawab, “Empat puluh tahun.” Aku bertanya, “Kemudian yang mana?” Beliau menjawab, “Kemudian di mana pun engkau mendapati waktu salat, maka salatlah, karena seluruh bumi adalah masjid.”

Menurut ahli kitab, Ya‘qub—semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya—adalah orang yang mendirikan Masjid Al-Aqsha, yaitu Masjid Ilya, yakni Masjid Baitul Maqdis, yang dimuliakan oleh Allah. Pendapat ini dapat diterima dan dikuatkan oleh hadis yang telah kami sebutkan.

Dengan demikian, pembangunan Masjid Al-Aqsha oleh Ya‘qub, yang juga bernama Israil—semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya—terjadi empat puluh tahun setelah pembangunan Masjidil Haram oleh Al-Khalil, Ibrahim, dan putranya Ismail—semoga shalawat dan salam tercurah kepada mereka berdua. Pembangunan Masjidil Haram tersebut terjadi setelah kelahiran Ishaq, karena Ibrahim—semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya—ketika berdoa, ia mengucapkan doa sebagaimana firman Allah Taala:

“Dan ketika Ibrahim berkata, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala. Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak manusia. Maka siapa yang mengikutiku, ia termasuk golonganku; dan siapa yang mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di sebuah lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah-Mu yang suci, ya Tuhan kami, agar mereka mendirikan salat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia condong kepada mereka dan beri mereka rezeki dari buah-buahan, agar mereka bersyukur. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami nyatakan. Dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik di bumi maupun di langit. Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di masa tua Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Mendengar doa. Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan sebagian keturunanku orang-orang yang tetap mendirikan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan seluruh orang beriman pada hari ditegakkannya perhitungan.’” (Surat Ibrahim ayat 35–41).

Adapun hadis yang menyebutkan bahwa Sulaiman bin Dawud—semoga shalawat dan salam tercurah kepada mereka berdua—ketika membangun Baitul Maqdis memohon kepada Allah tiga perkara, sebagaimana telah kami sebutkan pada penjelasan firman Allah Taala: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak pantas dimiliki oleh seorang pun setelahku.” (Surat Shad ayat 35), dan sebagaimana akan kami sebutkan dalam kisahnya, maka yang dimaksud dengan hal tersebut—dan Allah Maha Mengetahui—adalah bahwa Sulaiman memperbarui pembangunan Baitul Maqdis. Hal ini sebagaimana telah dijelaskan bahwa jarak antara dua pembangunan itu adalah empat puluh tahun. Tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa jarak antara Sulaiman dan Ibrahim adalah empat puluh tahun, kecuali Ibnu Hibban dalam pembagian dan klasifikasinya. Pendapat ini tidak diikuti oleh siapa pun dan tidak pula ada yang mendahuluinya dalam pendapat tersebut.

Penyebutan tentang pembangunan Baitul ‘Atiq (Ka’bah)

Allah berfirman:

“Dan ingatlah ketika Kami menunjukkan kepada Ibrahim tempat Baitullah, dengan perintah: janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan sesuatu apa pun, dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf, orang-orang yang berdiri, orang-orang yang rukuk, dan orang-orang yang sujud. Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan dengan mengendarai unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.”

(Surat Al-Hajj ayat 26–27)

Dan Allah berfirman:

“Sesungguhnya rumah pertama yang dibangun untuk manusia adalah rumah yang di Bakkah, yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam. Di dalamnya terdapat tanda-tanda yang jelas, yaitu Maqam Ibrahim. Barang siapa memasukinya, maka ia menjadi aman. Dan kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa kafir, maka sesungguhnya Allah Mahakaya dan tidak memerlukan seluruh alam.”

(Surat Ali ‘Imran ayat 96–97)

Dan Allah berfirman:

“Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa perintah, lalu ia melaksanakannya dengan sempurna. Allah berfirman: Sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau imam bagi manusia. Ibrahim berkata: Dan dari keturunanku? Allah berfirman: Janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang yang zalim. Dan ingatlah ketika Kami menjadikan rumah itu sebagai tempat kembali bagi manusia dan sebagai tempat yang aman. Dan jadikanlah Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat. Dan Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: Sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf, orang-orang yang beriktikaf, orang-orang yang rukuk, dan orang-orang yang sujud. Dan ingatlah ketika Ibrahim berdoa: Wahai Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan berilah rezeki kepada penduduknya dari berbagai buah-buahan, yaitu orang-orang di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Allah berfirman: Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia ke dalam azab neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. Dan ingatlah ketika Ibrahim meninggikan fondasi-fondasi rumah itu bersama Ismail seraya berdoa: Wahai Tuhan kami, terimalah dari kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Wahai Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada-Mu, dan dari keturunan kami jadikanlah umat yang berserah diri kepada-Mu, dan tunjukkanlah kepada kami tata cara ibadah kami, serta terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. Wahai Tuhan kami, utuslah kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah, serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

(Surat Al-Baqarah ayat 124–129)

Allah menyebutkan tentang hamba-Nya, rasul-Nya, pilihan-Nya, dan kekasih-Nya, imam orang-orang yang lurus, serta bapak para nabi, semoga kepadanya tercurah shalawat dan salam yang paling utama, bahwa ia telah membangun Baitul ‘Atiq, yaitu rumah ibadah pertama yang dibangun untuk seluruh manusia agar mereka beribadah kepada Allah di dalamnya. Allah menunjukkan kepadanya tempat rumah itu, yakni Allah mengarahkan dan menuntunnya ke lokasi tersebut.

Telah diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dan selain beliau, bahwa Ibrahim ditunjuki ke tempat itu melalui wahyu dari Allah Yang Mahamulia lagi Mahaagung. Telah kami jelaskan sebelumnya dalam pembahasan tentang penciptaan langit, bahwa Ka’bah berada tepat sejajar dengan Baitul Ma’mur, sehingga seandainya Baitul Ma’mur jatuh, niscaya ia akan jatuh tepat di atas Ka’bah. Demikian pula tempat-tempat ibadah di tujuh lapis langit. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama salaf: di setiap langit terdapat sebuah rumah tempat penduduk langit tersebut beribadah kepada Allah, dan rumah itu bagi penduduk langit seperti Ka’bah bagi penduduk bumi.

Maka Allah memerintahkan Ibrahim untuk membangun sebuah rumah bagi penduduk bumi, sebagaimana rumah-rumah ibadah itu bagi para malaikat penghuni langit. Allah pun menunjukkan kepadanya lokasi rumah yang telah dipersiapkan dan ditentukan sejak penciptaan langit dan bumi.

Sebagaimana telah ditetapkan dalam hadis sahih, bahwa negeri ini telah Allah jadikan sebagai tanah haram sejak hari Allah menciptakan langit dan bumi, dan ia tetap haram dengan kehormatan dari Allah hingga hari kiamat.

Tidak terdapat riwayat sahih dari seorang yang terjaga dari kesalahan bahwa rumah tersebut telah dibangun sebelum Nabi Ibrahim. Adapun orang yang berdalil dengan firman Allah “tempat rumah itu”, maka dalil tersebut tidak kuat dan tidak jelas maksudnya, karena yang dimaksud adalah tempatnya yang telah ditetapkan dalam ilmu Allah dan takdir-Nya, serta dimuliakan kedudukannya di sisi para nabi sejak zaman Adam hingga masa Ibrahim.

Kami telah menyebutkan bahwa Adam pernah mendirikan sebuah kubah di atasnya, dan bahwa para malaikat berkata kepadanya: kami telah melakukan tawaf di rumah ini sebelum engkau. Juga disebutkan bahwa bahtera Nuh pernah mengelilinginya selama empat puluh hari atau mendekati itu. Akan tetapi seluruh berita tersebut berasal dari Bani Israil, dan telah kami tegaskan bahwa berita-berita semacam itu tidak dibenarkan dan tidak pula didustakan, sehingga tidak dapat dijadikan hujah. Apabila bertentangan dengan kebenaran yang pasti, maka ia ditolak.

Allah berfirman: “Sesungguhnya rumah pertama yang dibangun untuk manusia adalah rumah yang di Bakkah, yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.” Maksudnya, rumah pertama yang dibangun untuk seluruh manusia sebagai sumber keberkahan dan petunjuk adalah rumah yang berada di Bakkah. Dikatakan bahwa Bakkah adalah Makkah, dan ada pula yang mengatakan bahwa Bakkah adalah kawasan tempat Ka’bah berada.

“Di dalamnya terdapat tanda-tanda yang jelas.” Maksudnya, ia merupakan bangunan yang didirikan oleh Ibrahim, bapak para nabi setelahnya dan imam orang-orang yang lurus dari keturunannya, yang mengikuti dan berpegang teguh pada sunnahnya.

Karena itu Allah berfirman: “Maqam Ibrahim.” Maksudnya adalah batu tempat Ibrahim berdiri ketika bangunan Ka’bah telah meninggi melebihi tinggi badannya. Maka putranya meletakkan batu yang terkenal itu agar Ibrahim dapat berdiri di atasnya ketika bangunan semakin tinggi dan halaman semakin luas, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya dalam hadis panjang dari Ibnu Abbas.

Batu tersebut dahulu menempel pada dinding Ka’bah sejak masa lampau hingga masa Umar bin Khattab. Kemudian Umar bin Khattab menjauhkannya sedikit dari bangunan Ka’bah agar orang-orang yang shalat di situ tidak mengganggu orang-orang yang sedang tawaf. Dalam hal ini, Umar bin Khattab mengikuti petunjuk yang benar, karena Allah telah menyetujui pendapatnya dalam beberapa perkara, di antaranya ketika ia berkata kepada Rasulullah Muhammad: seandainya kita menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat.

Maka Allah menurunkan firman-Nya: “Dan jadikanlah Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat.” (Surat Al-Baqarah ayat 125)

Bekas telapak kaki Nabi Ibrahim masih tampak pada batu tersebut hingga awal masa Islam. Abu Thalib berkata dalam qasidah lamiyyahnya yang terkenal:

“Demi Gunung Tsaur dan demi Dia yang menancapkan Tsabir di tempatnya,

dan demi tempat naik di Gua Hira serta tempat turun.

Dan demi Baitullah, sungguh itu adalah hak Baitullah di perut Makkah,

dan demi Allah, sesungguhnya Allah tidaklah lalai.

Dan demi Hajar Aswad ketika mereka mengusapnya,

tatkala mereka mengelilinginya pada waktu dhuha dan sore hari.

Dan tempat pijakan Ibrahim pada batu yang masih lembap,

bekas kedua kakinya tampak, tanpa alas kaki dan tanpa sandal.”

Yang dimaksud adalah bahwa kaki beliau yang mulia masuk ke dalam batu tersebut, sehingga batu itu membentuk sesuai telapak kakinya dalam keadaan tanpa alas kaki dan tanpa sandal.

Karena itulah Allah berfirman: “Dan ketika Ibrahim meninggikan fondasi-fondasi rumah itu bersama Ismail.” (Surat Al-Baqarah ayat 127)

Yaitu ketika keduanya mengucapkan doa: “Wahai Tuhan kami, terimalah dari kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Keduanya berada dalam puncak keikhlasan dan ketaatan kepada Allah Yang Mahamulia lagi Mahaagung. Dalam keadaan melaksanakan ketaatan yang sangat agung dan usaha yang terpuji itu, mereka memohon kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui agar menerima amal mereka.

“Wahai Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada-Mu, dan dari keturunan kami jadikanlah umat yang berserah diri kepada-Mu. Tunjukkanlah kepada kami tata cara ibadah kami dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (Surat Al-Baqarah ayat 128)

Maksud dari semua ini adalah bahwa Khalil (Ibrahim) membangun masjid yang paling mulia di tempat yang paling mulia, di lembah yang tidak memiliki tanaman, dan berdoa untuk penduduknya agar diberkahi, serta agar mereka diberi rezeki dari buah-buahan meskipun airnya sedikit, tidak ada pohon, tanaman dan buah-buahan, dan agar Allah menjadikannya tanah suci yang diharamkan dan tempat yang aman secara mutlak. Maka Allah—segala puji bagi-Nya—mengabulkan permintaannya, memenuhi doanya dan memberinya apa yang dimintanya. Allah berfirman: Tidakkah mereka memperhatikan, bahwa Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedangkan manusia di sekitarnya dirampok. (Surah Al-Ankabut: 67). Dan Allah berfirman: Dan apakah Kami tidak mengokohkan kedudukan mereka dalam daerah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rezeki (bagimu) dari sisi Kami? (Surah Al-Qashash: 57). Dan ia memohon kepada Allah agar mengutus kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yaitu dari bangsa mereka dan dengan bahasa mereka yang fasih, jelas dan penuh nasihat, agar sempurna bagi mereka dua nikmat duniawi dan agama, dengan kebahagiaan dunia dan akhirat. Dan Allah mengabulkan doanya, maka Dia mengutus kepada mereka seorang rasul, dan rasul yang bagaimana! Dengan rasul ini Allah menutup para nabi dan rasul-Nya, dan menyempurnakan baginya agama yang tidak diberikan kepada siapa pun sebelumnya, dan dengan dakwahnya meliputi penduduk bumi dengan berbagai bangsa, bahasa dan sifat mereka di seluruh negeri dan kota serta sepanjang masa hingga hari kiamat. Ini adalah salah satu kekhususannya di antara para nabi karena kemuliaan dirinya, kesempurnaan apa yang diutus kepadanya, kemuliaan tempatnya, kefasihan bahasanya, kesempurnaan kasih sayangnya terhadap umatnya, kelembutan dan rahmatnya, kemuliaan keturunannya, keagungan kelahirannya, dan baiknya asal-usulnya. Oleh karena itu, Ibrahim Khalil alaihissalam, karena ia adalah pembangun Ka’bah bagi penduduk bumi, berhak agar kedudukannya, tempatnya dan posisinya berada di tingkatan-tingkatan langit, dan derajat yang tinggi di sisi Baitulma’mur yang merupakan Ka’bah bagi penduduk langit ketujuh yang penuh berkah dan penuh kebajikan, yang dimasuki setiap hari oleh tujuh puluh ribu malaikat untuk beribadah di dalamnya, kemudian mereka tidak kembali lagi ke sana hingga hari kebangkitan dan penghidupan kembali. Dan kami telah sebutkan dalam tafsir Surah Al-Baqarah tentang sifat pembangunan Baitullah dan apa yang diriwayatkan tentang itu dari berita-berita dan atsar-atsar secara cukup, maka siapa yang menginginkannya silakan merujuk ke sana, dan segala puji bagi Allah.

Di antaranya adalah apa yang dikatakan oleh As-Suddi: Ketika Allah memerintahkan Ibrahim dan Ismail untuk membangun Baitullah, kemudian mereka tidak mengetahui di mana tempatnya hingga Allah mengutus angin yang disebut Al-Khajuj yang memiliki dua sayap dan kepala berbentuk ular, lalu angin itu menyapu untuk mereka apa yang ada di sekitar Ka’bah dari pondasi Baitullah yang pertama. Dan mereka mengikutinya dengan cangkul-cangkul menggali hingga mereka meletakkan pondasi, dan itu adalah di mana Allah berfirman: Dan (ingatlah) ketika Kami memberitahukan kepada Ibrahim tempat Baitullah (dengan berfirman). (Surah Al-Hajj: 26). Ketika mereka mencapai pondasi, mereka membangun Rukun. Ibrahim berkata kepada Ismail: “Wahai anakku, carikan untukku batu yang bagus agar aku letakkan di sini.” Ia berkata: “Wahai ayahku, aku malas dan lelah.” Ia berkata: “Itu tugasku.” Lalu ia pergi dan Jibril mendatanginya dengan Hajar Aswad dari India, dan itu adalah permata putih seperti bunga Tsughamah, dan Adam pernah turun dengannya dari surga lalu menghitam karena dosa-dosa manusia. Lalu Ismail mendatanginya dengan batu, tetapi ia menemukannya sudah ada di Rukun. Ia bertanya: “Wahai ayahku, siapa yang membawa ini kepadamu?” Ia menjawab: “Yang membawanya adalah yang lebih aktif darimu.” Lalu mereka membangun, dan keduanya berdoa kepada Allah: Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan Ibnu Abi Hatim menyebutkan bahwa ia membangunnya dari lima gunung, dan bahwa Dzulqarnain—yang saat itu adalah raja bumi—melewati mereka berdua saat mereka sedang membangunnya. Ia bertanya: “Siapa yang memerintahkan kalian berdua dengan ini?” Ibrahim menjawab: “Allah yang memerintahkan kami.” Ia berkata: “Dan apa yang membuatku tahu apa yang kamu katakan?” Lalu lima ekor domba bersaksi bahwa Allah yang memerintahkannya dengan itu, maka ia beriman dan membenarkan. Dan Al-Azraqi menyebutkan bahwa ia berthawaf bersama Khalil mengelilingi Baitullah.

Dan Ka’bah tetap berada pada bangunan Khalil selama masa yang lama, kemudian setelah itu suku Quraisy membangunnya lalu mereka memendekkannya dari pondasi Ibrahim dari sisi utara yang menghadap ke Syam sesuai dengan kondisinya saat ini. Dan dalam Shahihain dari hadits Malik, dari Ibnu Syihab, dari Salim bahwa Abdullah bin Muhammad bin Abi Bakr mengabarkan kepada Ibnu Umar, dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidakkah engkau lihat bahwa kaummu ketika membangun Ka’bah, mereka memendekkannya dari pondasi Ibrahim.” Maka aku berkata: “Ya Rasulullah, tidakkah engkau mengembalikannya ke pondasi Ibrahim?” Ia bersabda: “Kalau bukan karena kaummu baru (keluar dari masa jahiliyah)”—dan dalam riwayat lain: “kalau bukan karena kaummu baru saja keluar dari jahiliyah” atau ia berkata: “dari kekufuran—niscaya aku akan membelanjakan harta Ka’bah di jalan Allah, dan akan kujadikan pintunya rata dengan tanah, dan akan kumasukkan ke dalamnya Al-Hijr.” Dan Ibnu Zubair rahimahullah telah membangunnya pada masanya sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagaimana yang diceritakan kepadanya oleh bibinya Aisyah Ummul Mukminin dari beliau. Ketika Al-Hajjaj membunuhnya pada tahun tujuh puluh tiga, ia menulis kepada Abdul Malik bin Marwan yang saat itu adalah khalifah, lalu mereka berkeyakinan bahwa Ibnu Zubair melakukan itu atas kehendaknya sendiri, maka ia memerintahkan untuk mengembalikannya seperti semula. Lalu mereka merobohkan dinding sisi Syam dan mengeluarkan Al-Hijr darinya, kemudian menutup dinding dan menimbun batu-batu di dalam Ka’bah sehingga pintu timurnya terangkat dan mereka menutup yang barat secara total, sebagaimana yang terlihat hingga hari ini. Kemudian ketika sampai kepada mereka bahwa Ibnu Zubair melakukan ini karena apa yang diceritakan Aisyah Ummul Mukminin kepadanya, mereka menyesal atas apa yang mereka lakukan dan menyesali andai mereka membiarkannya dengan apa yang ia kerjakan. Kemudian ketika di zaman Al-Mahdi bin Al-Manshur, ia meminta nasihat kepada Imam Malik bin Anas tentang mengembalikannya ke bentuk yang dibangun Ibnu Zubair. Ia berkata kepadanya: “Aku khawatir ia akan dijadikan mainan oleh para raja,” maksudnya setiap kali datang raja, ia membangunnya sesuai bentuk yang ia inginkan. Maka urusan itu tetap seperti kondisinya hari ini.

Pujian Allah dan Rasul-Nya yang Mulia kepada Hamba Allah dan Khalil-Nya Ibrahim

Allah berfirman: Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.” Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim.” (Surah Al-Baqarah: 124). Ketika ia memenuhi apa yang diperintahkan Tuhannya kepadanya dari ujian-ujian berat, Allah menjadikannya imam bagi manusia yang mereka ikuti dan yang mereka teladani petunjuknya. Dan ia memohon kepada Allah agar kepemimpinan ini tetap terhubung dengannya dan kekal dalam keturunannya dan abadi dalam anak cucunya. Maka ia dikabulkan apa yang ia minta dan inginkan, dan diserahkan kepadanya kepemimpinan dengan kendalinya, dan dikecualikan dari mendapatkannya orang-orang zalim, dan dikhususkan untuk anak keturunannya yang berilmu dan beramal, sebagaimana Allah berfirman: Dan Kami anugerahkan kepadanya Ishaq dan Yaqub, dan Kami jadikan kenabian dan Al Kitab pada keturunannya, dan Kami berikan kepadanya balasannya di dunia; dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. (Surah Al-Ankabut: 27). Dan Allah berfirman: Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Yaqub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Zakariya, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh. Dan Ismail, Alyasa’, Yunus dan Luth. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya). Dan sebagian dari bapak-bapak mereka, dari keturunan mereka dan dari saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (Surah Al-An’am: 84-87). Maka kata ganti dalam firman-Nya “dan sebagian dari keturunannya” kembali kepada Ibrahim menurut pendapat yang masyhur. Dan Luth, meskipun ia adalah anak saudaranya, tetapi ia masuk dalam keturunan secara umum. Dan inilah yang membawa pendapat lain bahwa kata ganti itu kembali kepada Nuh, sebagaimana kami sebutkan dalam kisahnya, dan Allah lebih mengetahui. Dan Allah berfirman: Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan Kami jadikan untuk keturunan keduanya kenabian dan Al Kitab. (Surah Al-Hadid: 26).

Maka setiap kitab yang diturunkan dari langit kepada seorang nabi dari para nabi setelah Ibrahim Khalil adalah dari keturunannya dan pengikutnya, dan ini adalah anugerah yang tinggi yang tidak ada bandingannya, dan kedudukan yang mulia yang tidak ada tandingnya. Itu karena ia dikaruniai dari sulbinya dua anak laki-laki yang agung: Ismail dari Hajar, kemudian Ishaq dari Sarah. Dan dari yang ini lahir Yaqub, dan ia adalah Israil yang dinisbahkan kepadanya seluruh suku-suku mereka, maka di antara mereka ada kenabian, dan mereka banyak sekali sehingga tidak ada yang mengetahui jumlah mereka kecuali Dia yang mengutus mereka, dan Dia mengkhususkan mereka dengan kerasulan dan kenabian hingga ditutup dengan Isa bin Maryam dari Bani Israil.

Adapun Ismail alaihissalam, maka darinya adalah bangsa Arab dengan berbagai kabilahnya, sebagaimana akan kami jelaskan nanti insya Allah. Dan tidak ada dari keturunannya dari para nabi kecuali penutup mereka secara mutlak dan pemimpin mereka, dan kebanggaan Bani Adam di dunia dan akhirat: Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim Al-Qurasyi Al-Hasyimi Al-Makki kemudian Al-Madani, semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya. Maka tidak ada dari cabang yang mulia dan dahan yang tinggi ini kecuali mutiara yang cemerlang ini, dan permata yang bersinar, dan mutiara tengah kalung yang berharga, dan dia adalah pemimpin yang dibanggakan oleh penduduk hari berkumpul, dan dicemburui oleh orang-orang terdahulu dan orang-orang yang kemudian pada hari kiamat.

Dan telah tetap dari beliau dalam Shahih Muslim, sebagaimana akan kami sebutkan bahwa beliau bersabda: “Aku akan berdiri di tempat yang semua makhluk menginginkanku, bahkan Ibrahim.” Maka ia memuji Ibrahim ayahnya dengan pujian yang agung dalam konteks ini, dan perkataannya menunjukkan bahwa ia adalah makhluk yang paling utama setelahnya di sisi Yang Maha Pencipta dalam kehidupan dunia ini dan pada hari ketika betis disingkapkan.

Dan Al-Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Manshur, dari Al-Minhal, dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meminta perlindungan untuk Hasan dan Husain, dan beliau bersabda: “Sesungguhnya ayah kalian berdua meminta perlindungan dengan keduanya untuk Ismail dan Ishaq: Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan dan binatang berbisa dan dari setiap mata yang mencelakai.” Dan diriwayatkan oleh para penyusun kitab Sunan dari hadits Manshur dengannya. Dan Allah berfirman: Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakin kah kamu?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku mantap (tenteram).” Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Surah Al-Baqarah: 260). Para mufasir menyebutkan untuk pertanyaan ini beberapa sebab yang telah kami uraikan dalam tafsir dan kami jelaskan dengan penjelasan yang paling sempurna. Dan kesimpulannya adalah bahwa Allah azza wa jalla mengabulkan apa yang ia minta, maka Dia memerintahkannya untuk mengambil empat ekor burung, dan mereka berbeda pendapat dalam menentukan jenis burung-burung tersebut dalam beberapa pendapat, dan yang dimaksud tercapai pada setiap perkiraan. Lalu Dia memerintahkannya untuk merobek-robek daging dan bulu mereka, dan mencampurkan itu satu sama lain, kemudian membaginya menjadi beberapa bagian, dan meletakkan di setiap gunung satu bagian darinya. Maka ia melakukan apa yang diperintahkan kepadanya, kemudian ia diperintahkan untuk memanggil mereka dengan izin Tuhannya. Ketika ia memanggil mereka, setiap anggota tubuh terbang ke pasangannya, dan setiap bulu datang ke saudaranya hingga tubuh setiap burung berkumpul seperti semula, dan ia melihat kekuasaan Dia yang berkata kepada sesuatu: “Jadilah,” maka ia jadi. Lalu mereka datang kepadanya dengan berjalan agar lebih jelas baginya dan lebih nyata untuk penglihatannya daripada jika mereka datang dengan terbang. Dan dikatakan bahwa ia diperintahkan untuk memegang kepala-kepala mereka di tangannya, maka setiap burung datang dan menemuinya kepalanya lalu tubuhnya tersusun seperti semula. Maka tidak ada tuhan selain Allah. Dan sesungguhnya Ibrahim alaihissalam telah mengetahui kekuasaan Allah atas menghidupkan orang mati dengan ilmu yang yakin yang tidak menerima kebalikannya, tetapi ia ingin menyaksikan itu secara langsung, dan naik dari ilmu yakin menuju ilmu mata. Maka Allah mengabulkan permintaannya, dan memberinya batas harapannya. Dan Allah berfirman: Hai Ahli Kitab, mengapa kamu berbantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir? Beginilah kamu, kamu adalah orang-orang yang berbantah tentang hal yang kamu mempunyai pengetahuan tentangnya, maka mengapa kamu berbantah tentang hal yang tidak ada pengetahuan kamu tentangnya? Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman. (Surah Ali Imran: 65-68). Allah mengingkari Ahli Kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani dalam klaim setiap dari kedua kelompok bahwa Khalil berada di atas agama dan jalan mereka. Maka Allah membebaskannya dari mereka dan menjelaskan banyaknya kebodohan mereka dan sedikitnya akal mereka dalam firman-Nya: padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Artinya, bagaimana ia bisa berada di atas agama kalian, sedangkan kalian baru disyariatkan apa yang disyariatkan setelahnya dengan masa yang panjang? Oleh karena itu Allah berfirman: Apakah kamu tidak berpikir? hingga firman-Nya: Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. Maka Allah menjelaskan bahwa ia berada di atas agama Allah yang lurus, yaitu maksud kepada keikhlasan, dan berpaling dengan sengaja dari yang batil kepada yang hak yang berlawanan dengan Yahudi, Nasrani dan musyrik, sebagaimana Allah berfirman: Dan siapakah yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sesungguhnya Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.” Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yaqub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati melainkan dalam memeluk agama Islam.” Ataukah kamu hadir ketika Yaqub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” Itu adalah umat yang telah lalu; bagi mereka apa yang telah mereka usahakan dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata: “Jadilah kamu Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.” Katakanlah: “Tidak, melainkan (kami ikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik.” Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah. Katakanlah: “Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati. Ataukah kamu mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?” Katakanlah: “Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan kesaksian dari Allah yang ada padanya?” Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (Surah Al-Baqarah: 130-140).

Maka Allah Azza wa Jalla mensucikan kekasih-Nya ‘alaihis salam dari anggapan bahwa ia adalah seorang Yahudi atau Nasrani, dan menjelaskan bahwa sesungguhnya ia adalah seorang yang hanif (lurus), muslim, dan tidak termasuk orang-orang musyrik. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang yang paling berhak (mengikuti) Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya.” (Surah Ali Imran: 68) Yakni orang-orang yang berada di atas agamanya dari kalangan pengikutnya di zamannya, dan orang-orang yang berpegang teguh pada agamanya setelah mereka, yaitu Nabi ini—maksudnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sesungguhnya Allah mensyariatkan untuknya agama yang hanif (lurus) yang telah disyariatkan untuk Al-Khalil (kekasih Allah), dan Allah Ta’ala menyempurnakannya untuknya, serta memberikan kepadanya apa yang tidak diberikan kepada seorang nabi atau rasul pun sebelumnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya Tuhanku telah menunjukiku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang hanif, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri.'” (Surah Al-An’am: 161-163)

Dan Allah Ta’ala telah berfirman: “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan, lagi patuh kepada Allah, lagi hanif, dan bukanlah ia termasuk orang-orang yang musyrik. Lagi bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami telah memberikan kepadanya kebaikan di dunia, dan sesungguhnya ia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): ‘Ikutilah agama Ibrahim yang hanif,’ dan bukanlah ia termasuk orang-orang yang musyrik.” (Surah An-Nahl: 120-123)

Al-Bukhari berkata: Ibrahim bin Musa menceritakan kepada kami, Hisyam menceritakan kepada kami, dari Ma’mar, dari Ayyub, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika melihat gambar-gambar di dalam Ka’bah, beliau tidak masuk hingga memerintahkan agar gambar-gambar itu dihapus. Dan beliau melihat gambar Ibrahim dan Ismail dengan anak panah azlam di tangan mereka, maka beliau bersabda: “Semoga Allah membinasakan mereka, demi Allah, keduanya tidak pernah mengundi dengan azlam sama sekali.” Muslim tidak meriwayatkannya, dan dalam sebagian lafaz Al-Bukhari: “Semoga Allah membinasakan mereka, sungguh mereka telah mengetahui bahwa kakek kami tidak pernah mengundi dengan azlam sama sekali.”

Maka firman-Nya “imam” artinya teladan, pemimpin yang mendapat petunjuk, penyeru kepada kebaikan yang diikuti dalam hal itu. “Patuh kepada Allah” artinya khusyuk kepada-Nya dalam semua keadaannya, gerak dan diamnya. “Hanif” artinya ikhlas dengan penuh pemahaman, dan bukanlah ia termasuk orang-orang musyrik. “Bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya” artinya melaksanakan syukur kepada Tuhannya dengan semua anggota badannya, dari hatinya, lisannya, dan perbuatannya. “Allah telah memilihnya” artinya Allah memilihnya untuk diri-Nya dan menjadikannya istimewa untuk risalah-Nya serta menjadikannya kekasih, dan mengumpulkan untuknya antara kebaikan dunia dan akhirat. Allah Ta’ala berfirman: “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang hanif? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kekasih-Nya.” (Surah An-Nisa’: 125) Allah Ta’ala mendorong untuk mengikuti Ibrahim ‘alaihis salam karena ia berada di atas agama yang lurus dan jalan yang benar, dan ia telah melaksanakan semua yang diperintahkan Tuhannya kepadanya. Allah Ta’ala memujinya dengan hal itu, lalu berfirman: “Dan Ibrahim yang telah menyempurnakan (janjinya).” (Surah An-Najm: 37) Oleh karena itu, Allah menjadikannya kekasih. Dan khalah (persahabatan) adalah puncak kecintaan, sebagaimana dikatakan oleh sebagian mereka:

Engkau telah menyelinap masuk ke dalam jiwa dariku Dan karena itulah kekasih disebut kekasih

Demikian pula penutup para nabi dan pemimpin para rasul, yaitu Muhammad, mendapat kedudukan ini. Shallallahu wa sallamu ‘alaihi. Sebagaimana tetap dalam Shahihain dan yang lainnya dari hadits Jundub Al-Bajali, Abdullah bin Amru, dan Ibnu Mas’ud, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah menjadikan aku kekasih, sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim kekasih.” Dan beliau juga bersabda dalam khutbah terakhir yang beliau sampaikan: “Wahai manusia, seandainya aku mengambil kekasih dari penduduk bumi, niscaya aku akan mengambil Abu Bakar sebagai kekasih, tetapi sahabat kalian adalah kekasih Allah.” Keduanya (Bukhari dan Muslim) meriwayatkannya dari hadits Abu Sa’id, dan juga tetap dari hadits Abdullah bin Az-Zubair, Ibnu Abbas, dan Ibnu Mas’ud. Dan Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya: Sulaiman bin Harb menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Habib bin Abi Tsabit, dari Sa’id bin Jubair, dari Amru bin Maimun, ia berkata: Sesungguhnya Mu’adz ketika tiba di Yaman, shalat subuh bersama mereka lalu membaca: “Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kekasih.” Maka seorang laki-laki dari kaum itu berkata: “Sungguh senang hati ibu Ibrahim.”

Dan Ibnu Mardawaih berkata: Abdurrahim bin Muhammad bin Muslim menceritakan kepada kami, Ismail bin Ahmad bin Asid menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Ya’qub Al-Jauzajani di Makkah menceritakan kepada kami, Abdullah Al-Hanafi menceritakan kepada kami, Zam’ah bin Shalih menceritakan kepada kami, dari Salamah bin Wahram, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Sekelompok sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk menunggu beliau, lalu beliau keluar hingga ketika mendekati mereka, beliau mendengar mereka sedang berbincang-bincang. Beliau mendengar pembicaraan mereka, dan ternyata sebagian mereka berkata: “Sungguh menakjubkan bahwa Allah mengambil kekasih dari makhluk-Nya, maka Ibrahim adalah kekasih-Nya.” Dan yang lain berkata: “Apa yang lebih menakjubkan dari bahwa Allah berbicara kepada Musa dengan pembicaraan.” Dan yang lain berkata: “Maka Isa adalah ruh Allah dan kalimat-Nya.” Dan yang lain berkata: “Adam dipilih Allah.” Maka beliau keluar kepada mereka lalu mengucapkan salam. Dan bersabda: “Aku telah mendengar pembicaraan kalian dan keheranan kalian bahwa Ibrahim adalah kekasih Allah, dan memang demikian, dan Musa adalah lawan bicara-Nya, dan memang demikian, dan Isa adalah ruh-Nya dan kalimat-Nya, dan memang demikian, dan Adam dipilih Allah, dan memang demikian. Ketahuilah, sesungguhnya aku adalah kekasih Allah, dan tanpa kesombongan. Ketahuilah, sesungguhnya aku adalah pemberi syafaat pertama dan yang pertama diberi syafaat, dan tanpa kesombongan. Dan aku adalah orang pertama yang menggerakkan cincin pintu surga, lalu Allah membukanya dan memasukkan aku ke dalamnya bersama orang-orang mukmin yang fakir. Dan aku adalah yang paling mulia dari orang-orang terdahulu dan kemudian pada hari kiamat, dan tanpa kesombongan.” Ini adalah hadits gharib dari jalur ini, dan memiliki syawahid (penguat) dari jalur-jalur lain, wallahu a’lam.

Dan Al-Hakim meriwayatkan dalam Mustadraknya dari hadits Qatadah, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Apakah kalian mengingkari bahwa khalah (persahabatan) adalah untuk Ibrahim, pembicaraan untuk Musa, dan penglihatan untuk Muhammad? Shallallahu wa sallamu ‘alaihim ajma’in.

Dan Ibnu Abi Hatim berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Mahmud bin Khalid As-Sulami menceritakan kepada kami, Al-Walid menceritakan kepada kami, dari Ishaq bin Yasar, ia berkata: Ketika Allah menjadikan Ibrahim kekasih, Dia melemparkan ketakutan ke dalam hatinya hingga sungguh debaran jantungnya terdengar dari jauh, sebagaimana terdengar debaran burung di udara. Dan Ubaid bin Umair berkata: Ibrahim ‘alaihis salam biasa menjamu orang. Suatu hari ia keluar mencari seseorang untuk dijamunya tetapi tidak menemukan seorang pun untuk dijamunya. Lalu ia kembali ke rumahnya dan mendapati di dalamnya seorang laki-laki berdiri. Maka ia berkata: “Wahai hamba Allah, apa yang memasukkanmu ke rumahku tanpa izinku?” Ia berkata: “Aku masuk dengan izin Tuhannya.” Ia berkata: “Dan siapakah engkau?” Ia berkata: “Aku adalah malaikat maut, Tuhanku mengutusku kepada seorang hamba dari hamba-hamba-Nya untuk memberinya kabar gembira bahwa Allah telah menjadikannya kekasih.” Ia berkata: “Siapa dia? Demi Allah, jika engkau memberitahuku tentangnya, kemudian ia berada di ujung negeri sekalipun, aku pasti akan mendatanginya, kemudian tidak akan berpaling darinya sebagai tetangga hingga kematian memisahkan antara kami.” Ia berkata: “Hamba itu adalah engkau.” Ia berkata: “Aku!” Ia berkata: “Ya.” Ia berkata: “Lalu dengan apa Tuhanku menjadikan aku kekasih?” Ia berkata: “Karena engkau memberi kepada orang dan tidak meminta kepada mereka.” Ibnu Abi Hatim meriwayatkannya.

Dan Allah Ta’ala telah menyebutnya dalam Al-Qur’an berkali-kali di banyak tempat dengan pujian dan sanjungan kepadanya. Dikatakan bahwa ia disebutkan di tiga puluh lima tempat, di antaranya lima belas tempat di Surah Al-Baqarah saja. Dan ia adalah salah satu dari lima Ulul Azmi yang disebutkan nama-nama mereka secara khusus dari antara semua nabi dalam dua ayat Al-Ahzab dan Asy-Syura, yaitu firman Allah Ta’ala: “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi, dan dari engkau, dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh.” (Surah Al-Ahzab: 7) Dan firman-Nya: “Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu: tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya.” (Surah Asy-Syura: 13) Ayat itu. Kemudian ia adalah yang paling mulia dari Ulul Azmi setelah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dialah yang ditemui oleh beliau ‘alaihis salam di langit ketujuh bersandar punggungnya pada Baitil Ma’mur yang dimasuki setiap hari oleh tujuh puluh ribu malaikat kemudian tidak kembali lagi kepadanya sebagai yang terakhir dari mereka. Dan apa yang terjadi dalam hadits Syarik bin Abi Namir, dari Anas dalam hadits Isra’, bahwa Ibrahim berada di langit keenam dan Musa di langit ketujuh, maka itu termasuk yang dikritik terhadap Syarik dalam hadits ini, dan yang benar adalah yang pertama.

Kemudian, yang menunjukkan bahwa Ibrahim lebih utama dari Musa adalah hadits yang di dalamnya Nabi bersabda: “Dan aku mengakhirkan yang ketiga untuk hari ketika semua makhluk memohon kepadaku, bahkan Ibrahim.” Muslim meriwayatkannya dari hadits Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu. Dan inilah maqam mahmud (kedudukan yang terpuji) yang diberitahukan oleh beliau, shallallahu wa sallamu ‘alaihi, dengan sabdanya: “Aku adalah pemimpin anak cucu Adam pada hari kiamat, dan tanpa kesombongan.” Kemudian beliau menyebutkan bahwa manusia akan meminta syafaat kepada Adam, kemudian kepada Nuh, kemudian kepada Ibrahim, kemudian Musa, kemudian Isa, maka semuanya menghindar darinya, hingga mereka mendatangi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau berkata: “Akulah orangnya, akulah orangnya.” Hadits itu.

Al-Bukhari berkata: Ali bin Abdullah menceritakan kepada kami, Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, Abdullah menceritakan kepadaku, Sa’id menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, ia berkata: Dikatakan: “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling mulia?” Beliau bersabda: “Orang yang paling bertakwa di antara mereka.” Mereka berkata: “Bukan tentang ini kami bertanya kepadamu.” Beliau bersabda: “Maka Yusuf, nabi Allah, putra nabi Allah, putra nabi Allah, putra kekasih Allah.” Mereka berkata: “Bukan tentang ini kami bertanya kepadamu.” Beliau bersabda: “Maka tentang asal-usul orang Arab kalian bertanya kepadaku? Yang terbaik di antara mereka di masa Jahiliyah adalah yang terbaik di antara mereka dalam Islam jika mereka memahami.”

Demikianlah Al-Bukhari meriwayatkannya di tempat-tempat lain, dan Muslim, dan An-Nasa’i dari berbagai jalur, dari Yahya bin Sa’id Al-Qaththan, dari Ubaidullah, yaitu Ibnu Umar Al-Umari, dengan sanad tersebut.

Kemudian Al-Bukhari berkata: Abu Usamah dan Mu’tamir berkata, dari Ubaidullah, dari Sa’id, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku katakan: Dan sungguh beliau telah menyandarinya di tempat lain dari hadits keduanya, dan hadits Abdah bin Sulaiman, dan An-Nasa’i dari hadits Muhammad bin Bisyr, empat orang dari mereka dari Ubaidullah bin Umar, dari Sa’id, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan mereka tidak menyebutkan ayahnya.

Dan Ahmad berkata: Muhammad bin Bisyr menceritakan kepada kami, Muhammad bin Amru menceritakan kepada kami, Abu Salamah menceritakan kepadaku, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang mulia adalah putra orang mulia, putra orang mulia, putra orang mulia: Yusuf putra Ya’qub putra Ishaq putra Ibrahim, kekasih Allah.” Hanya Ahmad yang meriwayatkannya. Dan Ahmad berkata: Muhammad bin Bisyr menceritakan kepada kami, Muhammad bin Amru menceritakan kepada kami, Abu Salamah menceritakan kepadaku, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang mulia adalah putra orang mulia, putra orang mulia, putra orang mulia: Yusuf putra Ya’qub putra Ishaq putra Ibrahim, kekasih Ar-Rahman.” Hanya Ahmad yang meriwayatkannya.

Dan Al-Bukhari berkata: Abadah menceritakan kepada kami, Abdush-Shamad bin Abdurrahman menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Ibnu Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Orang yang mulia adalah putra orang mulia, putra orang mulia, putra orang mulia: Yusuf putra Ya’qub putra Ishaq putra Ibrahim.” Hanya dia yang meriwayatkannya melalui jalur Abdurrahman bin Abdullah bin Dinar, dari ayahnya, dari Ibnu Umar, dengan sanad tersebut.

Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad: Yahya menceritakan kepada kami, dari Sufyan, Mughirah bin An-Nu’man menceritakan kepadaku, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Manusia akan dibangkitkan dalam keadaan bertelanjang kaki, telanjang, dan tidak berkhitan, maka orang pertama yang diberi pakaian adalah Ibrahim ‘alaihis salam.” Kemudian beliau membaca: “Sebagaimana Kami memulai penciptaan yang pertama demikianlah Kami mengulanginya.” Maka keduanya (Bukhari dan Muslim) mengeluarkannya dalam Shahihain dari hadits Sufyan Ats-Tsauri dan Syu’bah bin Al-Hajjaj, keduanya dari Mughirah bin An-Nu’man An-Nakha’i Al-Kufi, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, dengan sanad tersebut. Dan keutamaan tertentu ini tidak menunjukkan keunggulan secara menyeluruh dibandingkan dengan apa yang ditetapkan bagi pemilik maqam mahmud yang semua orang terdahulu dan kemudian merasa iri kepadanya. Adapun hadits yang lain yang dikatakan oleh Imam Ahmad: Waki’ dan Abu Nu’aim menceritakan kepada kami, Sufyan—yaitu Ats-Tsauri—menceritakan kepada kami, dari Mukhtar bin Fulful, dari Anas bin Malik, ia berkata: Seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai sebaik-baik makhluk.” Maka beliau bersabda: “Itu adalah Ibrahim.” Maka Muslim meriwayatkannya dari hadits Ats-Tsauri, Abdullah bin Idris, Ali bin Mushir, dan Muhammad bin Fudail, empat orang dari mereka dari Al-Mukhtar bin Fulful. Dan At-Tirmidzi berkata: Hasan shahih. Dan ini termasuk dalam bab tawadhu’ dan merendahkan diri di hadapan bapaknya Al-Khalil ‘alaihis salam, sebagaimana beliau bersabda: “Jangan kalian mengutamakan aku atas para nabi.” Dan beliau bersabda: “Jangan kalian mengutamakan aku atas Musa, karena manusia akan pingsan pada hari kiamat, maka aku adalah orang pertama yang sadar, lalu aku mendapati Musa sedang memegang tiang Arasy, maka aku tidak tahu apakah ia sadar sebelumku ataukah ia mendapat ganjaran karena pingsannya di Gunung Thur.” Dan semua ini tidak menafikan apa yang tetap secara mutawatir dari beliau, shallallahu wa sallamu ‘alaihi, bahwa beliau adalah pemimpin anak cucu Adam pada hari kiamat. Demikian juga hadits Ubay bin Ka’ab dalam Shahih Muslim: “Dan aku mengakhirkan yang ketiga untuk hari ketika semua makhluk memohon kepadaku, bahkan Ibrahim.” Dan ketika Ibrahim ‘alaihis salam adalah yang paling utama dari para rasul dan Ulul Azmi setelah Muhammad, shallallahu wa sallamu ‘alaihim ajma’in, maka orang yang shalat diperintahkan untuk mengucapkan dalam tasyhudnya apa yang tetap dalam Shahihain dari hadits Ka’ab bin Ujrah dan yang lainnya, ia berkata: Kami berkata: “Wahai Rasulullah, salam kepadamu ini telah kami ketahui, lalu bagaimana shalawat kepadamu?” Beliau bersabda: “Ucapkanlah: Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau melimpahkan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan limpahkanlah berkah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau melimpahkan berkah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan Ibrahim yang telah menunaikan kewajibannya.” (An-Najm: 37). Para ulama berkata: Ia menunaikan semua yang diperintahkan kepadanya. Ia melaksanakan seluruh cabang-cabang iman dan syariat-syariatnya. Ia tidak disibukkan oleh perkara besar hingga melalaikan perkara kecil, dan tidak pula melupakan kewajiban-kewajiban kecil karena kesibukan dengan urusan-urusan besar.

Abdur Razzaq meriwayatkan, dari Ma’mar, dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas tentang ayat: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu ia menunaikannya dengan sempurna” (Al-Baqarah: 124). Ia berkata: Allah mengujinya dengan bersuci: lima pada kepala dan lima pada tubuh. Adapun yang pada kepala: memotong kumis, berkumur, bersiwak, menghirup air ke hidung, dan membelah rambut kepala. Adapun yang pada tubuh: memotong kuku, mencukur bulu kemaluan, berkhitan, mencabut bulu ketiak, dan membasuh bekas kotoran dan air kencing dengan air. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.

Ia berkata: Dan diriwayatkan dari Sa’id bin Al-Musayyab, Mujahid, Asy-Sya’bi, An-Nakha’i, Abu Shalih, dan Abu Al-Jald yang serupa dengan itu.

Penulis berkata: Dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Fitrah ada lima: khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.”

Dalam Shahih Muslim dan kitab-kitab Sunan dari hadits Waki’, dari Zakariya bin Abi Zaidah, dari Mush’ab bin Syaibah Al-Abdari Al-Makki Al-Hajabi, dari Thalq bin Habib Al-Anazi, dari Abdullah bin Az-Zubair, dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sepuluh perkara termasuk fitrah: memotong kumis, memelihara jenggot, bersiwak, menghirup air ke hidung, memotong kuku, membasuh ruas-ruas jari, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, dan beristinja’ dengan air.”

Akan dibahas dalam pembahasan tentang umur Ibrahim pembahasan mengenai khitan. Yang dimaksud adalah bahwa Ibrahim ‘alaihish shalatu wassalam tidak disibukkan oleh keikhlasan kepada Allah ‘azza wajalla dan kekhusyuan dalam ibadah yang agung hingga melalaikan pemeliharaan tubuhnya, dan memberikan pada setiap anggota tubuh apa yang layak dari perbaikan dan peningkatan kualitas, serta menghilangkan apa yang merusak penampilan dari tambahan rambut atau kuku, atau adanya kotoran atau noda. Ini termasuk bagian dari firman Allah Ta’ala tentangnya sebagai pujian yang agung: “Dan Ibrahim yang telah menunaikan kewajibannya.”

Penyebutan Istananya di Surga

Al-Hafizh Abu Bakr Al-Bazzar berkata: Ahmad bin Sinan Al-Qaththan Al-Wasithi dan Muhammad bin Musa Al-Qaththan menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Simak, dari Ikrimah, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya di surga terdapat istana—aku kira beliau bersabda—dari mutiara, tidak ada retakan maupun kerusakan di dalamnya. Allah menyediakannya untuk kekasih-Nya Ibrahim ‘alaihis salam sebagai tempat tinggal.”

Al-Bazzar berkata: Dan Ahmad bin Jamil Al-Marwazi menceritakan kepada kami, An-Nadhr bin Syumail menceritakan kepada kami, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Simak, dari Ikrimah, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan redaksi serupa.

Kemudian ia berkata: Dan hadits ini tidak kami ketahui diriwayatkan dari Hammad bin Salamah secara marfu’ kecuali oleh Yazid bin Harun dan An-Nadhr bin Syumail, sedangkan selain keduanya meriwayatkannya secara mauquf.

Penulis berkata: Kalau bukan karena cacat ini, hadits tersebut akan memenuhi syarat Shahih, namun mereka tidak memasukkannya.

Penyebutan Sifat Ibrahim ‘alaihis salam

Imam Ahmad berkata: Yunus dan Hujain menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Al-Laits menceritakan kepada kami, dari Abu Az-Zubair, dari Jabir, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Para nabi diperlihatkan kepadaku. Maka Musa seperti orang-orang dari suku Syanu’ah, dan aku melihat Isa bin Maryam, maka orang yang paling mirip dengannya yang aku lihat adalah Urwah bin Mas’ud. Dan aku melihat Ibrahim, maka orang yang paling mirip dengannya adalah sahabmu—yakni dirinya sendiri shallallahu ‘alaihi wasallam—dan aku melihat Jibril ‘alaihis salam, maka orang yang paling mirip dengannya adalah Dihyah.”

Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan jalan dan lafazh ini.

Ahmad berkata: Aswad bin Amir menceritakan kepada kami, Israil menceritakan kepada kami, dari Utsman—yakni Ibnu Al-Mughirah—dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku melihat Isa bin Maryam, Musa, dan Ibrahim. Adapun Isa, ia berkulit merah, berambut keriting, bidang dada. Adapun Musa, ia berkulit sawo matang, berbadan besar.” Mereka bertanya kepadanya: Bagaimana dengan Ibrahim? Ia menjawab: “Lihatlah sahabmu.” Yakni dirinya sendiri.

Bukhari berkata: Bayan bin Amr menceritakan kepada kami, An-Nadhr mengabarkan kepada kami, Ibnu Aun mengabarkan kepada kami, dari Mujahid bahwa ia mendengar Ibnu Abbas—dan mereka menyebutkan kepadanya tentang Dajjal yang di antara kedua matanya tertulis: kafir atau k-f-r—maka ia berkata: Aku tidak mendengarnya. Tetapi beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Adapun Ibrahim, maka lihatlah sahabmu. Adapun Musa, ia berambut keriting, berkulit sawo matang, menunggangi unta merah yang dikendalikan dengan tali dari sabut kurma. Seakan-akan aku melihatnya turun ke lembah.”

Demikian Bukhari meriwayatkannya juga dalam Kitab Haji, dalam Kitab Pakaian, dan Muslim semuanya, dari Muhammad bin Al-Mutsanna, dari Ibnu Abi ‘Adi, dari Abdullah bin Aun dengannya.

Penyebutan Wafat Ibrahim Al-Khalil ‘alaihis salam dan Apa yang Dikatakan tentang Umurnya

Ibnu Jarir menyebutkan dalam tarikh-nya bahwa kelahirannya adalah di zaman Namrudz bin Kan’an, dan ia—menurut perkataan—adalah Adh-Dhahhak, raja terkenal yang dikatakan bahwa ia berkuasa selama seribu tahun dan dalam kezhaliman dan penindasan yang sangat. Sebagian mereka menyebutkan bahwa ia dari Bani Rasib yang kepada mereka Nuh ‘alaihis salam diutus, dan bahwa ia ketika itu adalah raja dunia. Mereka menyebutkan bahwa terbit bintang yang menyembunyikan cahaya matahari dan bulan, dan hal itu mengejutkan penduduk zaman itu, serta membuat Namrudz ketakutan. Ia mengumpulkan para peramal dan ahli nujum dan menanyakan kepada mereka tentang hal itu. Mereka berkata: Akan lahir seorang anak dalam rakyatmu yang kehancuran kerajaanmu akan terjadi di tangannya. Maka ia memerintahkan pada saat itu untuk mencegah laki-laki dari perempuan dan membunuh bayi-bayi yang lahir sejak saat itu. Maka kelahiran Ibrahim Al-Khalil terjadi pada saat itu, namun Allah ‘azza wajalla melindunginya dan menjaganya dari tipu daya orang-orang jahat. Ia tumbuh dengan gemilang, dan Allah menumbuhkannya dengan baik hingga terjadilah apa yang telah disebutkan sebelumnya tentang kisahnya. Kelahirannya adalah di As-Sus. Ada yang mengatakan: di Babil. Ada yang mengatakan: di As-Sawad dari wilayah Kutsa. Telah disebutkan sebelumnya dari Ibnu Abbas bahwa ia dilahirkan di Barzah, sebelah timur Damaskus. Ketika Allah membinasakan Namrudz di tangannya, ia berhijrah ke Harran, kemudian ke tanah Syam, dan tinggal di negeri Iliya seperti yang telah kami sebutkan. Dilahirkan untuknya Ismail dan Ishaq. Sarah wafat sebelum dia di kampung Hebron yang ada di tanah Kan’an, dan umurnya seratus dua puluh tujuh tahun menurut apa yang disebutkan oleh Ahli Kitab. Maka Ibrahim ‘alaihis salam bersedih atasnya dan meratapi rahmahallah ‘alaiha. Ia membeli dari seorang laki-laki dari Bani Hits yang dipanggil Afrun bin Shakhr sebuah gua seharga empat ratus mitsqal perak, dan menguburkan Sarah di sana.

Mereka berkata: Kemudian Ibrahim melamar untuk anaknya Ishaq, lalu menikahkannya dengan Rafa binti Tsabuyil bin Nahur bin Tarikh. Ia mengutus pembantunya, maka ia membawanya dari negerinya bersama pengasuhnya dan budak-budak perempuannya dengan unta.

Mereka berkata: Kemudian Ibrahim ‘alaihis salam menikah dengan Qanthura, maka ia melahirkan untuknya: Zimran, Yaqsyan, Madan, Midyan, Syiaq, dan Syuh. Mereka menyebutkan apa yang dilahirkan oleh setiap orang dari anak-anak Qanthura ini.

Ibnu Asakir telah meriwayatkan dari beberapa Salaf dari berita-berita Ahli Kitab tentang sifat kedatangan Malaikat Maut kepada Ibrahim ‘alaihis salam berita-berita yang banyak, dan Allah lebih mengetahui kebenarannya. Ada yang mengatakan: Ia wafat secara mendadak. Demikian juga Dawud dan Sulaiman. Sedangkan yang disebutkan oleh Ahli Kitab dan lainnya berbeda dengan itu.

Mereka berkata: Kemudian Ibrahim ‘alaihis salam jatuh sakit dan wafat pada usia seratus tujuh puluh lima tahun. Ia dikuburkan di gua yang disebutkan di samping istrinya Sarah yang berada di ladang Afrun Al-Hitsi. Yang menguruskan pemakamannya adalah Ismail dan Ishaq, semoga shalawat Allah dan salam-Nya atas mereka semua.

Telah disebutkan apa yang menunjukkan bahwa ia hidup dua ratus tahun, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Al-Kalbi.

Abu Hatim bin Hibban berkata dalam Shahih-nya: Al-Mufadhdhal bin Muhammad Al-Jundi di Mekah mengabarkan kepada kami, Ali bin Ziyad Al-Lahji menceritakan kepada kami, Abu Qurrah menceritakan kepada kami, dari Ibnu Juraij, dari Yahya bin Sa’id, dari Sa’id bin Al-Musayyab, dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ibrahim berkhitan dengan beliung pada usia seratus dua puluh tahun, dan ia hidup setelah itu delapan puluh tahun.”

Al-Hafizh Ibnu Asakir telah meriwayatkannya dari jalan Ikrimah bin Ibrahim, dan Ja’far bin Aun Al-Umari, dari Yahya bin Sa’id, dari Sa’id, dari Abu Hurairah secara mauquf.

Kemudian Ibnu Hibban berkata: Penyebutan hadits yang membantah perkataan orang yang mengira bahwa marfu’ hadits ini adalah keliru. Muhammad bin Abdullah bin Al-Junaid di Bust mengabarkan kepada kami, Qutaibah bin Sa’id menceritakan kepada kami, Al-Laits menceritakan kepada kami, dari Ibnu Ajlan, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Ibrahim berkhitan ketika mencapai usia seratus dua puluh tahun, dan hidup setelah itu delapan puluh tahun, dan berkhitan dengan quddum.”

Al-Hafizh Ibnu Asakir telah meriwayatkannya dari jalan Yahya bin Sa’id, dari Ibnu Ajlan, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Dan telah berlalu atasnya delapan puluh tahun.”

Kemudian Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdur Razzaq bahwa ia berkata: Quddum adalah nama kampung.

Penulis berkata: Yang ada dalam Shahih adalah bahwa ia berkhitan dan telah berlalu atasnya delapan puluh tahun, dan dalam riwayat lain: dan ia berusia delapan puluh tahun. Tidak ada dalam keduanya penyebutan tentang berapa lama ia hidup setelah itu, wallahu a’lam.

Muhammad bin Ismail Al-Hasani Al-Wasithi, perawi tafsir Waki’ darinya dalam apa yang ia sebutkan dari tambahan-tambahan, berkata: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami, dari Yahya bin Sa’id, dari Sa’id bin Al-Musayyab, dari Abu Hurairah, ia berkata: Ibrahim adalah orang pertama yang memakai celana, orang pertama yang membelah rambut, orang pertama yang mencabut bulu kemaluan, orang pertama yang berkhitan dengan quddum pada usia seratus dua puluh tahun dan hidup setelah itu delapan puluh tahun, orang pertama yang menjamu tamu, dan orang pertama yang beruban. Demikian ia meriwayatkannya secara mauquf, dan ini lebih mirip dengan marfu’ berbeda dengan pendapat Ibnu Hibban, wallahu a’lam.

Malik berkata: dari Yahya bin Sa’id, dari Sa’id bin Al-Musayyab, ia berkata: Ibrahim adalah orang pertama yang menjamu tamu, orang pertama dari manusia yang berkhitan, orang pertama dari manusia yang memotong kumisnya, dan orang pertama dari manusia yang melihat uban. Ia berkata: Ya Rabbi, apa ini? Allah berfirman: Wibawa. Ia berkata: Ya Rabbi, tambahkan untukku wibawa.

Selain keduanya menambahkan: Dan orang pertama yang memotong kumis, orang pertama yang mencabut bulu kemaluan, orang pertama yang memakai celana.

Maka kuburnya, kubur anaknya Ishaq, dan kubur cucu cucunya Yakub berada di bangunan persegi yang dibangun oleh Sulaiman bin Dawud ‘alaihis salam di negeri Hebron, yaitu negeri yang dikenal dengan Al-Khalil (Hebron) hari ini. Ini diterima secara mutawatir dari umat ke umat, dan dari generasi ke generasi sejak zaman Bani Israil hingga zaman kita ini, bahwa kuburnya ada di bangunan persegi tersebut dengan pasti. Adapun penentuan lokasi tepatnya di dalamnya, tidak ada khabar shahih tentang itu dari yang ma’shum. Maka sepatutnya tempat itu dijaga, dihormati seperti yang seharusnya, diagungkan, dan dijunjung tinggi, jangan menginjak-injak tanahnya karena khawatir kubur Al-Khalil atau salah satu dari anak-anaknya yang nabi ‘alaihimus salam berada di bawahnya.

Ibnu Asakir meriwayatkan dengan sanadnya kepada Wahb bin Munabbih, ia berkata: Ditemukan di kubur Ibrahim Al-Khalil pada sebuah batu tulisan ciptaan:

Yang melalaikan orang bodoh adalah angan-angannya Akan mati orang yang telah tiba ajalnya Dan orang yang mendekat pada kematiannya Tidak akan berguna baginya tipu dayanya Dan bagaimana akan kekal akhirnya Orang yang telah mati pendahulunya Dan seseorang tidak akan menyertai Dalam kubur kecuali amalnya

Penyebutan Anak-anak Ibrahim Al-Khalil ‘alaihi wa ‘alaihimush shalatu wassalam

Anak pertama yang lahir untuknya adalah Ismail dari Hajar Al-Qibtiyyah Al-Mishriyyah (orang Mesir Koptik), kemudian lahir untuknya Ishaq dari Sarah binti paman Al-Khalil. Kemudian ia menikah setelahnya dengan Qanthura binti Yaqthan Al-Kan’aniyyah, maka ia melahirkan untuknya enam anak: Midyan, Zimran, Sarj, Yaqsyan, Nasyaq, dan yang keenam tidak disebutkan namanya. Kemudian ia menikah setelahnya dengan Hajun binti Amin, maka ia melahirkan untuknya lima anak: Kaisan, Surj, Umaim, Luthan, dan Nafis. Demikian yang disebutkan oleh Abu Al-Qasim As-Suhaili dalam kitabnya At-Ta’rif wal-I’lam.

Di antara peristiwa-peristiwa besar yang terjadi dalam kehidupan Ibrahim Al-Khalil adalah Kisah Kaum Luth ‘alaihis salam dan Adzab Pedih yang Menimpa Mereka

Yaitu bahwa Luth bin Haran bin Tarikh—yaitu Azar—sebagaimana telah disebutkan. Luth adalah keponakan Ibrahim Al-Khalil, karena Ibrahim, Haran, dan Nahur adalah saudara-saudara sebagaimana telah kami sebutkan. Dikatakan bahwa Haran inilah yang membangun Harran, dan ini lemah karena bertentangan dengan apa yang ada pada Ahli Kitab, wallahu a’lam.

Luth telah pindah dari tempat tinggal pamannya Al-Khalil ‘alaihimas salam atas perintah dan izinnya, maka ia tinggal di kota Sadum dari tanah Ghur Zaghar. Kota itu adalah ibu kota wilayah tersebut dengan tanah, perkebunan, dan desa-desa yang bergantung padanya. Penduduknya adalah orang-orang yang paling fasik, paling kafir, paling buruk niat, paling jahat tabiat dan perilaku. Mereka memotong jalan, melakukan kemungkaran di tempat-tempat pertemuan mereka, tidak saling melarang dari kemungkaran yang mereka lakukan. Sungguh buruk apa yang mereka lakukan. Mereka menciptakan kekejian yang tidak ada seorang pun dari anak Adam yang mendahului mereka, yaitu mendatangi laki-laki dari seluruh dunia, dan meninggalkan apa yang Allah ciptakan dari perempuan untuk hamba-hamba-Nya yang shalih.

Luth menyeru mereka untuk beribadah kepada Allah Ta’ala saja tanpa sekutu, dan melarang mereka dari melakukan hal-hal yang diharamkan, perbuatan keji yang mungkar, dan perbuatan-perbuatan yang tercela. Namun mereka terus menerus dalam kesesatan dan kezhaliman mereka, berlanjut dalam kefasikan dan kekafiran mereka. Maka Allah menimpakan kepada mereka dari adzab yang tidak dapat ditolak, yang tidak pernah terlintas dalam pikiran dan perhitungan mereka. Ia menjadikan mereka sebagai pelajaran di seluruh dunia, dan ibrah agar orang-orang berakal mengambil pelajaran. Oleh karena itu Allah Ta’ala menyebutkan kisah mereka di beberapa tempat dalam Kitab-Nya yang jelas.

Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Al-A’raf: “Dan (Kami juga telah mengutus) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, ‘Mengapa kamu melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu (di dunia ini)? Sungguh, kamu telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki bukan kepada perempuan. Kamu benar-benar kaum yang melampaui batas.’ Jawab kaumnya hanyalah mengatakan, ‘Usirlah mereka (Luth dan pengikutnya) dari negerimu ini, mereka adalah orang yang menganggap dirinya suci.’ Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikutnya, kecuali istrinya. Dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu). Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” (Al-A’raf: 80-84).

Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Hud: “Dan sungguh, utusan Kami (para malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan, ‘Salam.’ (Ibrahim) menjawab, ‘Salam.’ Maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka ketika dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, dia merasa curiga terhadap mereka, dan merasa takut kepada mereka. Mereka berkata, ‘Jangan takut, sesungguhnya kami diutus kepada kaum Luth.’ Dan istrinya berdiri (di dekat Ibrahim), lalu dia tertawa, maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) Ishaq, dan setelah Ishaq (akan lahir) Yakub. Dia (Sarah) berkata, ‘Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua dan suamiku ini sudah sangat tua pula? Ini benar-benar sesuatu yang aneh.’ Mereka (para malaikat) berkata, ‘Apakah engkau heran terhadap ketetapan Allah? Rahmat Allah dan keberkahan-Nya dilimpahkan atas kamu, wahai ahlulbait. Sesungguhnya Dia Maha Terpuji, Maha Mulia.’ Maka ketika rasa takut itu hilang dari Ibrahim dan kabar gembira telah datang kepadanya, dia pun bersoal jawab dengan Kami tentang kaum Luth. Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang lembut hatinya, suka memohon ampunan, dan lagi suka kembali (kepada Allah). (Malaikat berkata,) ‘Wahai Ibrahim! Tinggalkanlah (perdebatan) ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Tuhanmu dan sesungguhnya mereka itu akan ditimpa azab yang tidak dapat ditolak.’ Dan ketika datang utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan sempit dadanya karena (kedatangan) mereka, dan dia berkata, ‘Ini adalah hari yang berat.’ Dan datanglah kaumnya kepadanya dengan bergegas. Sebelum (kejadian) itu mereka telah melakukan perbuatan-perbuatan keji. Dia (Luth) berkata, ‘Wahai kaumku! Inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mempermalukanku dengan (melanggar kehormatan) tamuku. Tidak adakah di antaramu seorang laki-laki yang berakal?’ Mereka menjawab, ‘Engkau sungguh tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu; dan sungguh, engkau tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.’ Dia (Luth) berkata, ‘Sekiranya aku mempunyai kekuatan (untuk menolak) kamu atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).’ Mereka (para malaikat) berkata, ‘Wahai Luth! Sesungguhnya kami adalah utusan Tuhanmu, mereka tidak akan dapat mengganggu kamu; maka berangkatlah dengan membawa keluargamu pada sebagian malam dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang, kecuali istrimu. Sungguh, dia akan ditimpa azab yang akan menimpa mereka karena sesungguhnya saat (azab) yang diancamkan kepada mereka itu ialah pagi hari. Bukankah pagi itu sudah dekat?’ Maka ketika datang azab Kami, Kami jadikan (negeri itu) yang di atas ke bawah, dan Kami hujani (mereka) dengan batu dari tanah yang keras berlapis-lapis, yang diberi tanda oleh Tuhanmu. Dan (azab) itu tidak jauh dari orang-orang yang zalim.” (Hud: 69-83).

Dan Allah Taala berfirman dalam surah Al-Hijr: “Dan beritakanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibrahim. Ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: ‘Salam.’ Ibrahim menjawab: ‘Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu.’ Mereka berkata: ‘Jangan takut, sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) seorang anak laki-laki yang berilmu.’ Ibrahim berkata: ‘Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, maka dengan apakah kamu memberi kabar gembira (kepadaku)?’ Mereka menjawab: ‘Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa.’ Ibrahim berkata: ‘Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya kecuali orang-orang yang sesat.’ Ibrahim berkata: ‘Maka apakah urusanmu wahai para utusan?’ Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa. Kecuali keluarga Luth, sesungguhnya kami akan menyelamatkan mereka semuanya. Kecuali istrinya, kami telah menentukan bahwa dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).’ Maka ketika datang para utusan itu kepada keluarga Luth, dia berkata: ‘Sesungguhnya kamu adalah kaum yang tidak dikenal.’ Mereka menjawab: ‘Sebenarnya kami datang kepadamu dengan membawa azab yang mereka selalu meragukannya. Dan kami datang kepadamu dengan membawa kebenaran dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar. Maka berangkatlah dengan keluargamu pada sebagian malam dan ikutilah belakang mereka, dan janganlah ada seorang pun di antara kamu yang menoleh, dan pergilah ke tempat yang diperintahkan kepadamu.’ Dan Kami sampaikan keputusan itu kepadanya, bahwa mereka itu akan dipotong habis akar-akarnya pada waktu subuh. Dan datanglah penduduk kota itu dengan gembira. Luth berkata: ‘Sesungguhnya mereka ini adalah tamuku, maka janganlah kamu mempermalukanku. Dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu menghinaku.’ Mereka menjawab: ‘Bukankah kami telah melarangmu (menjamu) orang lain?’ Luth berkata: ‘Inilah anak-anakku (perempuan-perempuan kaumku) jika kamu hendak berbuat.’ Demi umurmu, sesungguhnya mereka dalam kemabukan mereka, mengembara dengan bingung. Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur di waktu matahari terbit. Kemudian Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang memperhatikan. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui orang). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Hijr: 51-77).

Dan Allah Taala berfirman dalam surah Asy-Syu’ara: “Kaum Luth telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka Luth berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul yang amanah (yang diutus) kepada kamu. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku tidak meminta upah kepadamu atas ajakan itu, upahku hanyalah dari Tuhan semesta alam. Mengapa kamu mendatangi laki-laki di antara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang diciptakan Tuhanmu untukmu? Bahkan kamu adalah kaum yang melampaui batas.’ Mereka berkata: ‘Hai Luth, jika kamu tidak berhenti, niscaya kamu termasuk orang-orang yang diusir.’ Luth berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang yang sangat membenci perbuatanmu. Ya Tuhanku, selamatkanlah aku beserta keluargaku dari apa yang mereka kerjakan.’ Maka Kami selamatkan dia beserta keluarganya semuanya. Kecuali seorang perempuan tua yang termasuk orang-orang yang tertinggal. Kemudian Kami binasakan yang lain. Dan Kami hujani mereka dengan hujan, maka alangkah buruknya hujan yang ditimpakan kepada orang-orang yang diberi peringatan itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda, dan kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (Asy-Syu’ara: 160-175).

Dan Allah Taala berfirman dalam surah An-Naml: “Dan (Kami utus) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: ‘Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji itu sedang kamu melihat (berbahayanya)? Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (kamu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu).’ Maka tidak ada jawaban kaumnya melainkan mengatakan: ‘Usirlah keluarga Luth dari negerimu, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura suci.’ Kemudian Kami selamatkan dia dan keluarganya, kecuali istrinya. Kami tentukan dia termasuk orang-orang yang tertinggal. Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu), maka alangkah buruknya hujan yang ditimpakan kepada orang-orang yang diberi peringatan itu.” (An-Naml: 54-58).

Dan Allah Taala berfirman dalam surah Al-Ankabut: “Dan (Kami utus) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: ‘Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun sebelum kamu dari umat-umat yang lain. Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu?’ Maka tidak adalah jawaban kaumnya melainkan mengatakan: ‘Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.’ Luth berdoa: ‘Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu.’ Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengatakan: ‘Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk negeri (Sodom) ini, sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zalim.’ Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya di negeri itu ada Luth.’ Mereka menjawab: ‘Kami lebih mengetahui siapa yang ada di negeri itu. Kami pasti akan menyelamatkannya beserta keluarganya, kecuali istrinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).’ Dan tatkala utusan-utusan Kami (para malaikat) datang kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena (kedatangan) mereka, dan mereka berkata: ‘Jangan takut dan jangan bersedih hati, sesungguhnya kami akan menyelamatkanmu dan pengikut-pengikutmu, kecuali istrimu, dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Sesungguhnya kami akan menurunkan azab dari langit atas penduduk negeri ini karena mereka selalu berbuat fasik.’ Dan sesungguhnya Kami telah tinggalkan dari (kejadian itu) suatu tanda yang nyata bagi kaum yang berakal.” (Al-Ankabut: 28-35).

Dan Allah Taala berfirman dalam surah Ash-Shaffat: “Dan sesungguhnya Luth benar-benar termasuk rasul-rasul. Ketika Kami menyelamatkannya beserta keluarganya semuanya. Kecuali seorang perempuan tua yang termasuk orang-orang yang tertinggal. Kemudian Kami binasakan yang lain. Dan sesungguhnya kamu benar-benar melalui (bekas-bekas) mereka pada waktu pagi dan malam. Maka apakah kamu tidak memikirkan?” (Ash-Shaffat: 133-138).

Dan Allah Taala berfirman dalam surah Adz-Dzariyat setelah kisah tamu Ibrahim dan kabar gembira mereka kepadanya dengan anak laki-laki yang berilmu: “Ibrahim berkata: ‘Maka apakah urusanmu wahai para utusan?’ Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa, agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah, yang ditandai di sisi Tuhanmu untuk orang-orang yang melampaui batas.’ Maka Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri (kepada Allah). Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut kepada azab yang pedih.” (Adz-Dzariyat: 31-37).

Dan Allah berfirman dalam surah Al-Qamar: “Kaum Luth telah mendustakan peringatan-peringatan. Sesungguhnya Kami menurunkan kepada mereka angin yang membawa batu-batu, kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan sebelum fajar, sebagai nikmat dari sisi Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang yang bersyukur. Dan sesungguhnya dia (Luth) telah memperingatkan mereka akan azab Kami, tetapi mereka meragukan peringatan-peringatan itu. Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya, lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan peringatan-peringatan-Ku. Dan sesungguhnya pada pagi hari telah datang kepada mereka azab yang tetap. Maka rasakanlah azab-Ku dan peringatan-peringatan-Ku. Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk peringatan, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Al-Qamar: 33-40).

Dan kami telah membahas kisah-kisah ini di tempatnya dari surah ini dalam tafsir, dan Allah telah menyebut Luth dan kaumnya di tempat-tempat lain dalam Al-Quran, yang telah disebutkan sebelumnya bersama kaum Nuh, Aad, dan Tsamud. Dan yang dimaksud sekarang adalah menyebutkan apa yang terjadi pada mereka, dan apa yang Allah turunkan kepada mereka, secara terkumpul dari ayat-ayat dan atsar, dan kepada Allah-lah tempat meminta pertolongan.

Dan bahwasanya Luth alaihi salam ketika menyeru mereka untuk menyembah Allah semata tanpa sekutu bagi-Nya, dan melarang mereka dari melakukan apa yang Allah sebutkan tentang mereka dari perbuatan-perbuatan keji, namun mereka tidak memenuhi seruannya dan tidak beriman kepadanya, bahkan tidak seorang pun laki-laki dari mereka, dan mereka tidak meninggalkan apa yang mereka dilarang darinya, bahkan mereka terus dalam keadaan mereka, dan tidak kapok dari kesesatan dan kebingungan mereka, dan mereka bermaksud untuk mengusir rasul mereka dari tengah-tengah mereka, dan yang menjadi hasil jawaban mereka terhadap khitab mereka, karena mereka tidak berakal: hanyalah mengatakan: “Usirlah keluarga Luth dari negerimu, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura suci.” Maka mereka menjadikan pujian yang sempurna sebagai celaan yang mengharuskan pengusiran, dan yang membawa mereka kepada perkataan mereka ini hanyalah kebangkangan dan keras kepala, maka Allah mensucikan dia dan keluarganya kecuali istrinya, dan mengeluarkan mereka darinya dengan pengeluaran yang terbaik, dan meninggalkan mereka di tempat tinggal mereka sebagai orang-orang yang kekal tetapi setelah menjadikannya atas mereka danau yang busuk dan berbau tidak sedap yang memiliki ombak-ombak, tetapi ia bagi mereka sesungguhnya adalah api yang berkobar dan panas yang menyala, dan airnya asin pahit, dan tidaklah ini menjadi jawaban mereka kecuali karena dia melarang mereka dari bencana yang sangat besar dan perbuatan keji yang paling besar yang tidak pernah didahului oleh seorang pun dari penduduk dunia; dan karena itu mereka menjadi teladan di dalamnya, dan pelajaran bagi siapa yang ada di atasnya, dan mereka bersama itu menyamun di jalan, dan mengkhianati teman seperjalanan, dan melakukan kemungkaran di tempat pertemuan mereka yaitu tempat berkumpul mereka dan tempat pembicaraan dan begadang mereka dengan berbagai jenis perkataan dan perbuatan yang mungkar, hingga dikatakan: bahwa mereka saling kentut di majelis-majelis mereka dan tidak malu dari majelis-majelis mereka, dan mungkin terjadi dari mereka perbuatan yang sangat besar di tempat-tempat umum dan mereka tidak malu, dan tidak kapok untuk nasihat seorang penasihat, atau nasihat dari pemberi nasihat, dan mereka dalam itu dan lainnya seperti binatang ternak bahkan lebih sesat jalannya, dan mereka tidak berhenti dari apa yang mereka lakukan di masa sekarang, dan tidak menyesal atas apa yang telah berlalu dari masa lampau, dan tidak bermaksud untuk mengubah di masa mendatang, maka Allah menghukum mereka dengan hukuman yang berat, dan mereka berkata kepadanya dalam apa yang mereka katakan: “Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” Maka mereka meminta darinya turunnya apa yang dia peringatkan mereka darinya dari azab yang pedih, dan turunnya siksaan yang dahsyat, maka ketika itu nabi mereka yang mulia berdoa atas mereka, maka dia meminta dari Tuhan semesta alam dan Tuhan para rasul agar menolongnya atas kaum yang berbuat kerusakan, maka Allah cemburu karena cemburunya, dan marah karena amarahnya, dan mengabulkan doanya, dan memenuhi permintaannya, dan mengutus rasul-rasul-Nya yang mulia, dan malaikat-malaikat-Nya yang agung, maka mereka melewati sahabat Ibrahim, dan memberinya kabar gembira dengan anak laki-laki yang berilmu, dan memberitahunya tentang apa yang mereka datangi darinya dari urusan yang besar, dan perkara yang agung. “Ibrahim berkata: ‘Maka apakah urusanmu wahai para utusan?’ Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa, agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah, yang ditandai di sisi Tuhanmu untuk orang-orang yang melampaui batas.'”

Dan Allah berfirman: “Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengatakan: ‘Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk negeri (Sodom) ini, sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zalim.’ Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya di negeri itu ada Luth.’ Mereka menjawab: ‘Kami lebih mengetahui siapa yang ada di negeri itu. Kami pasti akan menyelamatkannya beserta keluarganya, kecuali istrinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).'”

Dan Allah Taala berfirman: “Maka tatkala hilang dari Ibrahim rasa takut dan datanglah kepadanya kabar gembira, dia pun membantah Kami tentang kaum Luth.” Dan itu karena dia berharap agar mereka bertobat dan masuk Islam dan berhenti dan kembali; dan karena itu Allah Taala berfirman: “Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar penyantun lagi pengiba dan suka kembali (kepada Allah). Hai Ibrahim, tinggalkanlah ini, sesungguhnya telah datang ketetapan Tuhanmu dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak.” Yakni tinggalkanlah ini, dan bicaralah tentang yang lain, karena sesungguhnya telah pasti urusan mereka, dan wajib azab mereka dan kehancuran mereka dan kebinasaan mereka. “Sesungguhnya telah datang ketetapan Tuhanmu.” Yakni sesungguhnya telah ditetapkan oleh Zat yang tidak dapat ditolak perintah-Nya, dan tidak dapat ditolak siksaan-Nya, dan tidak ada yang membatalkan hukum-Nya. “Dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak.”

Dan disebutkan oleh Said bin Jubair, As-Suddi, Qatadah, dan Muhammad bin Ishaq bahwa Ibrahim alaihi salam terus berkata: “Apakah kalian akan membinasakan negeri yang di dalamnya ada tiga ratus mukmin?” Mereka menjawab: “Tidak.” Dia berkata: “Lalu dua ratus mukmin?” Mereka menjawab: “Tidak.” Dia berkata: “Lalu empat puluh mukmin?” Mereka menjawab: “Tidak.” Dia berkata: “Lalu empat belas mukmin?” Mereka menjawab: “Tidak.” Ibnu Ishaq berkata: Hingga dia berkata: “Bagaimana pendapat kalian jika di dalamnya ada satu mukmin?” Mereka menjawab: “Tidak.” “Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya di negeri itu ada Luth.’ Mereka menjawab: ‘Kami lebih mengetahui siapa yang ada di negeri itu.'” Ayat.

Dan menurut Ahli Kitab bahwa dia berkata: “Ya Tuhanku, apakah Engkau akan membinasakan mereka padahal di dalamnya ada lima puluh orang saleh?” Maka Allah berfirman: “Aku tidak akan membinasakan mereka jika di dalamnya ada lima puluh orang saleh.” Kemudian turun hingga sepuluh, maka Allah berfirman: “Aku tidak akan membinasakan mereka jika di dalamnya ada sepuluh orang saleh.”

Allah Taala berfirman: “Dan tatkala utusan-utusan Kami (para malaikat) datang kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena (kedatangan) mereka, dan dia berkata: ‘Ini adalah hari yang sulit.'”

Para mufassir berkata: Ketika para malaikat berangkat dari sisi Ibrahim dan mereka adalah Jibril, Mikail, dan Israfil, mereka datang hingga sampai ke tanah Sadum dalam wujud pemuda-pemuda tampan sebagai ujian dari Allah Taala bagi kaum Luth, dan penegakan hujah atas mereka, maka mereka meminta tumpangan kepada Luth alaihi salam, dan itu pada waktu terbenam matahari, maka dia khawatir jika dia tidak menampung mereka, maka orang lain dari kaum yang fasik akan menampung mereka, dan dia mengira mereka adalah manusia dari manusia, “dan dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena (kedatangan) mereka, dan dia berkata: ‘Ini adalah hari yang sulit.'”

Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, dan Muhammad bin Ishaq berkata: Berat ujiannya, dan itu karena apa yang dia ketahui dari pembelaannya malam ini terhadap mereka, sebagaimana dia lakukan dengan orang lain bersama mereka, dan mereka telah mensyaratkan kepadanya agar tidak menampung siapa pun, tetapi dia melihat orang yang tidak mungkin untuk menghindar darinya.

Dan Qatadah menyebutkan bahwa mereka datang kepadanya, dan dia berada di tanahnya sedang bekerja di dalamnya, maka mereka meminta tumpangan kepadanya, maka dia malu kepada mereka dan berjalan di depan mereka, dan dia terus memberikan isyarat kepada mereka dalam pembicaraan berharap mereka pergi dari negeri ini, dan turun di negeri lain, maka dia berkata kepada mereka dalam apa yang dia katakan: “Demi Allah wahai orang-orang ini, aku tidak mengetahui di muka bumi penduduk negeri yang paling jahat selain orang-orang ini.” Kemudian dia berjalan sedikit, kemudian mengulangi itu kepada mereka hingga dia mengulanginya empat kali. Dia berkata: Dan mereka telah diperintahkan agar tidak membinasakan mereka hingga nabi mereka bersaksi atas mereka dengan itu.

Dan As-Suddi berkata: Para malaikat keluar dari sisi Ibrahim menuju kaum Luth, maka mereka datang ke tempat itu pada tengah hari, maka ketika mereka sampai ke sungai Sadum, mereka bertemu dengan putri Luth yang sedang mengambil air untuk keluarganya, dan dia memiliki dua putri, nama yang besar Aritha, dan yang kecil Daghutha, maka mereka berkata kepadanya: “Wahai gadis, apakah ada tempat menginap?” Maka dia berkata kepada mereka: “Tetaplah di tempat kalian, jangan masuk hingga aku datang kepada kalian.” Dia khawatir atas mereka dari kaumnya, maka dia datang kepada ayahnya dan berkata: “Wahai ayahku, pemuda-pemuda datang kepadamu di pintu kota, aku tidak pernah melihat wajah-wajah suatu kaum yang lebih tampan dari mereka, jangan sampai kaummu mengambil mereka dan mempermalukan mereka.” Dan kaumnya telah melarangnya untuk menampung seorang laki-laki pun, maka dia datang bersama mereka, dan tidak ada yang mengetahui kecuali keluarga rumah, maka istrinya keluar dan memberitahu kaumnya, lalu berkata: “Sesungguhnya di rumah Luth ada laki-laki yang aku tidak pernah melihat seperti wajah-wajah mereka.” Maka kaumnya datang kepadanya dengan tergesa-gesa.

Firman Allah: “Dan sebelum itu mereka telah mengerjakan perbuatan-perbuatan buruk.”

Artinya, ini disamping dosa-dosa besar, banyak, dan dahsyat yang telah mereka lakukan sebelumnya.

Firman Allah: “Hai kaumku, inilah anak-anakku perempuan, mereka lebih suci bagimu.”

Dia mengarahkan mereka untuk mendatangi istri-istri mereka, dan istri-istri itu adalah anak-anak perempuannya menurut syariat; karena Nabi bagi umat adalah seperti kedudukan ayah, sebagaimana disebutkan dalam hadits, dan sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri, dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka.” (Surah Al-Ahzab: 6)

Dan dalam qiraat sebagian sahabat dan salaf: “Dan dia adalah ayah bagi mereka.”

Dan ini seperti firman Allah: “Mengapa kamu mendatangi jenis laki-laki dari semesta alam, dan kamu tinggalkan istri-istri yang diciptakan oleh Tuhanmu untukmu? Bahkan kamu adalah kaum yang melampaui batas.” (Surah Asy-Syu’ara: 165-166)

Inilah yang telah ditegaskan oleh Mujahid, Said bin Jubair, Ar-Rabi’ bin Anas, Qatadah, As-Suddi, dan Muhammad bin Ishaq, dan inilah yang benar. Sedangkan pendapat lainnya adalah keliru yang diambil dari Ahli Kitab. Dan telah terjadi kesalahan bagi mereka, sebagaimana mereka keliru dalam perkataan mereka: Sesungguhnya malaikat itu ada dua, dan mereka makan malam di tempatnya. Ahli Kitab telah berbuat sangat keliru dalam kisah ini dengan kesalahan yang besar.

Firman Allah: “Maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina terhadap tamuku. Apakah tidak ada di antara kamu seorang laki-laki yang berakal?”

Ini adalah larangan bagi mereka untuk tidak melakukan perbuatan keji yang tidak pantas, dan persaksian terhadap mereka bahwa tidak ada di antara mereka seorang laki-laki pun yang memiliki pegangan, tidak ada kebaikan padanya, bahkan semuanya adalah orang-orang bodoh yang bejat, kuat dalam kekufuran, dan keras kepala. Dan ini adalah sebagian dari apa yang ingin didengar para malaikat darinya sebelum mereka bertanya kepadanya. Maka kaumnya berkata—semoga laknat Allah Yang Maha Terpuji lagi Maha Mulia atas mereka—menjawab nabi mereka tentang apa yang diperintahkannya berupa perintah yang tepat: “Sesungguhnya engkau telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keperluan terhadap anak-anakmu perempuan, dan sesungguhnya engkau tentu mengetahui apa yang kami kehendaki.”

Mereka berkata—semoga laknat Allah atas mereka—: “Sesungguhnya engkau wahai Luth telah tahu bahwa kami tidak memiliki hasrat terhadap istri-istri kami, dan sesungguhnya engkau mengetahui maksud dan tujuan kami.” Mereka menghadapi rasul mereka yang mulia dengan perkataan buruk ini, dan mereka tidak takut akan kekuasaan Yang Maha Agung pemilik azab yang pedih. Karena itu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Sekiranya aku mempunyai kekuatan (untuk menolak) kamu atau dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).”

Beliau berharap seandainya memiliki kekuatan untuk melawan mereka atau memiliki perlindungan dan kabilah yang menolongnya atas mereka agar dapat menimpakan kepada mereka azab yang pantas atas ucapan ini.

Az-Zuhri telah meriwayatkan dari Said bin Al-Musayyib dan Abu Salamah, dari Abu Hurairah secara marfu’: “Kami lebih berhak ragu daripada Ibrahim, dan Allah merahmati Luth, sungguh dia berlindung kepada rukun yang kuat. Seandainya aku dipenjara seperti lamanya Yusuf dipenjara, niscaya aku akan memenuhi panggilan itu.”

Diriwayatkan oleh Abu Az-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah.

Muhammad bin Amr bin Alqamah berkata, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersaid: “Rahmat Allah atas Luth, sungguh dia berlindung kepada rukun yang kuat”—maksudnya Allah ‘Azza wa Jalla—”maka tidaklah Allah mengutus nabi setelahnya kecuali dalam kekayaan dari kaumnya.”

Allah Ta’ala berfirman: “Dan penduduk kota datang dengan gembira. Dia (Luth) berkata: ‘Sesungguhnya mereka adalah tamuku, maka janganlah kamu membuat aku terhina. Dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina.’ Mereka menjawab: ‘Bukankah kami telah melarangmu (menerima tamu) dari seluruh manusia?’ Dia (Luth) berkata: ‘Inilah anak-anakku perempuan, jika kamu hendak berbuat (demikian).'”

Maka dia memerintahkan mereka untuk mendekati istri-istri mereka, dan memperingatkan mereka untuk terus berada di jalan dan keburukan-keburukan mereka. Ini sementara mereka dalam hal itu tidak berhenti dan tidak surut, bahkan setiap kali dia melarang mereka, mereka semakin bersungguh-sungguh untuk mendapatkan tamu-tamu ini dan mereka sangat berhasrat. Dan mereka tidak mengetahui apa yang telah ditakdirkan oleh takdir tentang apa yang akan mereka alami, dan pagi hari mereka akan berpindah. Karena itu Allah Ta’ala berfirman dengan bersumpah atas kehidupan Nabi-Nya Muhammad—shalawat dan salam Allah atas beliau—: “Demi umurmu (wahai Muhammad), sesungguhnya mereka dalam kemabukan mereka tetap bingung.”

Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya dia (Luth) telah memperingatkan mereka akan azab Kami, tetapi mereka meragukan peringatan itu. Dan sesungguhnya mereka telah membujuk Luth untuk (menyerahkan) tamunya, lalu Kami butakan mata mereka. Maka rasakanlah azab-Ku dan peringatan-Ku. Dan sesungguhnya pada pagi hari mereka ditimpa azab yang pasti.”

Para mufassir dan lainnya menyebutkan bahwa Nabi Allah Luth ‘alaihissalam terus mencegah kaumnya masuk dan menghalangi mereka, sementara pintu tertutup, dan mereka ingin membukanya dan memasukinya, sementara dia memberi nasihat dan melarang mereka dari balik pintu. Ketika keadaan menjadi sulit dan situasi menjadi genting, dia berkata apa yang dia katakan: “Sekiranya aku mempunyai kekuatan (untuk menolak) kamu atau dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan),” untuk menimpakan hukuman kepada kalian.

Para malaikat berkata: “Wahai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan Tuhanmu, mereka tidak akan dapat menjangkaumu.”

Disebutkan bahwa Jibril ‘alaihissalam keluar kepada mereka lalu memukul wajah-wajah mereka dengan ujung sayapnya, sehingga mata mereka menjadi buta sampai dikatakan: mata mereka tenggelam sama sekali, tidak tersisa tempat, mata, atau bekas. Maka mereka kembali meraba-raba dinding, dan mengancam rasul Ar-Rahman, dan berkata: “Jika sudah besok, akan ada urusan antara kami dan dia.”

Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya mereka telah membujuk Luth untuk (menyerahkan) tamunya, lalu Kami butakan mata mereka. Maka rasakanlah azab-Ku dan peringatan-Ku. Dan sesungguhnya pada pagi hari mereka ditimpa azab yang pasti.”

Maka para malaikat mendatangi Luth ‘alaihissalam dan memerintahkannya agar berangkat bersama keluarganya pada akhir malam “dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang,” yaitu ketika mendengar suara azab saat menimpa kaumnya. Dan mereka memerintahkannya agar perjalanannya di belakang mereka seperti pengawal bagi mereka.

Firman Allah: “Kecuali istrimu.”

Pada qiraat nashab dapat dipahami sebagai pengecualian dari firman-Nya: “Maka berangkatlah dengan keluargamu,” seakan-akan Dia berfirman: “Kecuali istrimu, maka jangan berangkat bersamanya.” Dan dapat dipahami dari firman-Nya: “Dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang, kecuali istrimu,” yaitu sesungguhnya dia akan menoleh maka akan menimpanya apa yang menimpa mereka. Dan ini dikuatkan oleh qiraat rafa’. Tetapi yang pertama lebih jelas maknanya, wallahu a’lam.

As-Suhaili berkata: Nama istri Luth adalah Walihah, dan nama istri Nuh adalah Walighah.

Dan mereka berkata kepadanya dengan memberi kabar gembira tentang kebinasaan orang-orang durhaka yang keras kepala yang terlaknat ini, yang dijadikan Allah sebagai teladan bagi setiap pengkhianat yang ragu: “Sesungguhnya waktu yang dijanjikan kepada mereka itu ialah pagi hari; bukankah pagi itu sudah dekat?”

Ketika Luth ‘alaihissalam keluar bersama keluarganya, yaitu kedua anak perempuannya, dan tidak ada seorang laki-laki pun dari mereka yang mengikutinya. Dikatakan: Sesungguhnya istrinya keluar bersamanya, maka wallahu a’lam.

Ketika mereka selamat dari negeri mereka dan matahari terbit, maka ketika matahari bersinar, datang kepada mereka dari perintah Allah apa yang tidak dapat ditolak, dan dari azab yang keras apa yang tidak mungkin dapat dicegah.

Menurut Ahli Kitab bahwa para malaikat memerintahkannya untuk naik ke puncak gunung yang ada di sana, maka dia menganggapnya jauh, dan meminta kepada mereka untuk pergi ke sebuah desa yang dekat dengan mereka. Maka mereka berkata: “Pergilah, sesungguhnya kami akan menunggumu hingga engkau sampai ke sana dan menetap di sana, kemudian kami akan menimpakan azab kepada mereka.” Maka disebutkan bahwa dia pergi ke desa Sho’ar yang orang-orang menyebutnya Ghor Zaghar.

Ketika matahari bersinar, azab pun turun kepada mereka.

Allah Ta’ala berfirman: “Maka ketika datang azab Kami, Kami jadikan negeri itu yang di atas ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras yang berlapis-lapis, yang diberi tanda oleh Tuhanmu. Dan azab itu tidaklah jauh dari orang-orang yang zalim.”

Mereka berkata: Jibril mencabut negeri-negeri itu dengan ujung sayapnya dari tempatnya, yaitu tujuh kota dengan siapa saja yang ada di dalamnya dari berbagai umat. Dikatakan: Mereka berjumlah empat ratus ribu jiwa. Dan dikatakan: empat ribu ribu jiwa (empat juta). Dan apa yang bersama mereka dari hewan-hewan, dan apa yang mengikuti kota-kota itu dari tanah-tanah dan tempat-tempat yang berdekatan dan ladang-ladang. Maka dia mengangkat semuanya hingga mencapai langit, hingga para malaikat mendengar suara ayam jantan dan gonggongan anjing mereka, kemudian dia membalikkannya atas mereka “maka Kami jadikan yang di atasnya ke bawah.”

Mujahid berkata: Yang pertama jatuh dari negeri itu adalah puncak-puncak bangunannya. “Dan Kami hujani mereka dengan batu dari sijjil.”

Sijjil adalah kata Persia yang diarabkan, yaitu yang sangat keras, kuat, dan padat. “Yang berlapis-lapis,” yaitu mengikuti satu sama lain dalam turunnya kepada mereka dari langit. “Yang diberi tanda,” yaitu ditandai, tertulis pada setiap batu nama pemiliknya yang akan jatuh kepadanya dan menghancurkannya, sebagaimana firman Allah: “Yang diberi tanda di sisi Tuhanmu untuk orang-orang yang melampaui batas.”

Dan sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu); maka amat buruklah hujan yang ditimpakan kepada orang-orang yang diberi peringatan itu.”

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan (Dia membinasakan) yang dibalik, maka Dia menghancurkannya dengan apa yang menghancurkannya.” (Surah An-Najm: 53-54)

Maksudnya, Dia membalikkannya maka menghancurkannya dengan yang di atasnya ke bawah, dan menyelimutinya dengan hujan batu dari sijjil yang beruntun, yang diberi tanda, tertulis pada setiap batu nama pemiliknya yang jatuh kepadanya dari mereka yang hadir di negeri mereka dan yang tidak hadir darinya dari musafir, yang jauh, dan yang menyendiri darinya.

Dan dikatakan: Sesungguhnya istri Luth tetap bersama kaumnya. Dan dikatakan: Sesungguhnya dia keluar bersama suaminya dan kedua anak perempuannya, tetapi ketika dia mendengar teriakan dan jatuhnya negeri, dia menoleh ke arah kaumnya dan melanggar perintah Tuhannya dahulu dan sekarang, dan berkata: “Wahai kaumku.” Maka jatuh kepadanya batu yang menghancurkannya, dan menggabungkannya dengan kaumnya karena dia berada dalam agama mereka, dan dia adalah mata-mata bagi mereka terhadap siapa saja yang menjadi tamu di tempat Luth.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir istri Nuh dan istri Luth. Keduanya berada di bawah dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu keduanya berkhianat kepada keduanya (suaminya), maka (suami-suaminya) itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (azab) Allah. Dan dikatakan (kepada keduanya): ‘Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).'” (Surah At-Tahrim: 10)

Maksudnya, keduanya berkhianat kepada keduanya dalam agama, maka tidak mengikuti keduanya di dalamnya. Dan bukan maksudnya bahwa keduanya melakukan perbuatan keji, sama sekali tidak, karena sesungguhnya Allah tidak menakdirkan kepada seorang nabi bahwa istrinya berbuat zina, sebagaimana kata Ibnu Abbas dan lainnya dari para imam salaf dan khalaf: Tidak pernah istri seorang nabi berzina.

Dan siapa yang mengatakan selain ini, maka sungguh dia telah keliru dengan kesalahan besar.

Allah Ta’ala berfirman dalam kisah ifk ketika menurunkan pembersihan bagi Ummul Mukminin Aisyah binti Ash-Shiddiq, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika orang-orang ifk mengatakan apa yang mereka katakan, maka Allah menegur orang-orang mukmin dan mencela, memberi peringatan, memberi nasihat, dan memperingatkan. Dan Dia berfirman di antara firman-Nya: “Ketika kamu menerima (berita bohong) itu dengan lidahmu dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. Dan mengapa kamu tidak berkata, ketika mendengarnya: ‘Sekali-kali tidaklah pantas bagi kami memperkatakan ini. Maha Suci Engkau, ini adalah dusta yang besar.'” (Surah An-Nur: 15-16)

Maksudnya, Maha Suci Engkau bahwa istri nabi-Mu berada dalam kedudukan seperti ini.

Firman Allah di sini: “Dan azab itu tidaklah jauh dari orang-orang yang zalim.”

Maksudnya, dan hukuman ini tidaklah jauh dari orang yang menyerupai mereka dalam perbuatan mereka. Karena itu, sebagian ulama berpendapat bahwa pelaku liwath dirajam, baik dia muhshan atau tidak. Ini ditegaskan oleh Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, dan banyak kelompok dari para imam. Dan mereka juga beralasan dengan apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ahli Sunan dari hadits Amr bin Abi Amr, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang kamu dapati melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah yang melakukan dan yang menerima perbuatan itu.”

Dan Abu Hanifah berpendapat bahwa pelaku liwath dijatuhkan dari tempat tinggi, dan diikuti dengan lemparan batu, sebagaimana yang dilakukan kepada kaum Luth, karena firman Allah Ta’ala: “Dan azab itu tidaklah jauh dari orang-orang yang zalim.”

Dan Allah menjadikan tempat negeri-negeri itu danau yang busuk, tidak dapat dimanfaatkan airnya, dan juga tidak dapat dimanfaatkan tanah-tanah yang berdekatan dengan kehancurannya karena keburukannya dan kekejilannya. Maka jadilah dia pelajaran, teladan, nasihat, dan tanda atas kekuasaan Allah Ta’ala, keagungan-Nya, dan keperkasaan-Nya dalam pembalasan-Nya terhadap siapa yang melanggar perintah-Nya dan mendustakan rasul-rasul-Nya, mengikuti hawa nafsunya dan bermaksiat kepada Penciptanya. Dan bukti atas rahmat-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dalam menyelamatkan mereka dari kebinasaan, dan mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (Surah Asy-Syu’ara: 8-9)

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Maka mereka ditimpa teriakan pada waktu matahari terbit. Lalu Kami jadikan yang di atasnya ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya (bekas-bekasnya) benar-benar masih dilalui orang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.” (Surah Al-Hijr: 73-77)

Maksudnya, siapa yang melihat dengan mata kecerdasan dan perhatian terhadap mereka, bagaimana Allah mengubah negeri itu dan penduduknya? Dan bagaimana Dia menjadikannya setelah berpenghuni dan makmur menjadi binasa dan tenggelam?

Sebagaimana diriwayatkan At-Tirmidzi dan lainnya secara marfu’: “Takutlah terhadap firasat orang mukmin, karena sesungguhnya dia melihat dengan cahaya Allah.” Kemudian dia membaca: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda.”

Firman Allah: “Dan sesungguhnya (bekas-bekasnya) benar-benar di jalan yang masih tetap.”

Maksudnya, di jalan yang jelas yang dilalui hingga sekarang, sebagaimana firman Allah: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar melalui (bekas-bekas) mereka pada waktu pagi dan malam. Maka apakah kamu tidak memikirkan?” (Surah Ash-Shaffat: 137-138)

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah tinggalkan dari padanya suatu tanda yang nyata bagi kaum yang memahami.” (Surah Al-Ankabut: 35)

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri (kepada Allah). Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut kepada azab yang pedih.” (Surah Adz-Dzariyat: 35-37)

Maksudnya, Kami tinggalkan dia sebagai pelajaran dan nasihat bagi siapa yang takut akan azab akhirat dan takut kepada Ar-Rahman tanpa melihat-Nya, dan takut akan kedudukan Tuhannya, dan melarang jiwa dari hawa nafsu, maka menahan diri dari hal-hal yang diharamkan Allah, dan meninggalkan maksiat-Nya, dan takut menyerupai kaum Luth. Dan siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari mereka, walaupun tidak dari semua segi, tetapi dari sebagian segi. Sebagaimana kata sebagian mereka:

Jika kalian bukan kaum Luth sendiri Maka kaum Luth tidaklah jauh dari kalian

Maka orang yang berakal, cerdas, takut kepada Tuhannya, yang memahami, akan melaksanakan apa yang diperintahkan Allah ‘Azza wa Jalla kepadanya, dan menerima apa yang ditunjukkan kepadanya oleh Rasulullah berupa mendatangi apa yang diciptakan untuknya dari istri-istri yang halal, dan budak-budak wanita yang cantik. Dan hendaklah dia menjauhi mengikuti setiap setan yang durhaka, sehingga berlaku baginya ancaman, dan masuk dalam firman Allah Ta’ala: “Dan azab itu tidaklah jauh dari orang-orang yang zalim.” (Surah Hud: 83)

Kisah Madyan, Kaum Syu’aib Alaihissalam

Allah Taala berfirman dalam surah Al-A’raf setelah kisah kaum Luth: “Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syuaib. Dia berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Sungguh, telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan janganlah kamu duduk di setiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah serta menginginkannya menjadi bengkok. Dan ingatlah ketika kamu dahulu berjumlah sedikit, lalu Dia memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan. Dan jika ada segolongan dari kamu yang beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah hingga Allah memberi keputusan di antara kita, dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.’ Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri dari kaumnya berkata, ‘Wahai Syuaib, sungguh kami akan mengusirmu dan orang-orang yang beriman bersamamu dari negeri kami, atau kamu kembali kepada agama kami.’ (Syuaib) berkata, ‘Apakah (kamu akan memaksa kami) sekalipun kami tidak menghendaki? Sungguh, kami telah mengada-adakan kebohongan terhadap Allah jika kami kembali kepada agama kamu setelah Allah menyelamatkan kami darinya. Dan tidaklah patut bagi kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki. Tuhan kami meliputi segala sesuatu dengan ilmu-Nya. Hanya kepada Allah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan kebenaran (haq), dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.’ Dan pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata, ‘Sungguh, jika kamu mengikuti Syuaib, sesungguhnya kamu pasti menjadi orang-orang yang rugi.’ Maka mereka ditimpa gempa, lalu jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di rumahnya. Orang-orang yang mendustakan Syuaib (musnah) seolah-olah mereka belum pernah tinggal di situ. Orang-orang yang mendustakan Syuaib, merekalah orang-orang yang rugi. Maka Syuaib meninggalkan mereka seraya berkata, ‘Wahai kaumku, sungguh aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku telah memberi nasihat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?'” (Al-A’raf: 85-93)

Dan Allah berfirman dalam surah Hud setelah kisah kaum Luth juga: “Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syuaib. Dia berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu mengurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab pada hari yang membinasakan (hari Kiamat). Dan wahai kaumku, penuhilah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan. Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas diri kamu.’ Mereka berkata, ‘Wahai Syuaib, apakah shalatmu menyuruhmu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh nenek moyang kami atau agar kami tidak (boleh) melakukan apa yang kami kehendaki terhadap harta kami? Sungguh, engkau adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.’ Dia (Syuaib) berkata, ‘Wahai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan Dia memberi aku rezeki yang baik dari-Nya. Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak menghendaki kecuali (melakukan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku kembali. Dan wahai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu ditimpa (azab) seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidaklah (jauh) jauh dari kamu. Dan mohonlah ampunan kepada Tuhanmu kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.’ Mereka berkata, ‘Wahai Syuaib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang engkau katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat engkau seorang yang lemah di antara kami. Dan kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajammu, sedang engkaupun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami.’ Dia (Syuaib) berkata, ‘Wahai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat oleh kamu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu? Sesungguhnya Tuhanku meliputi (mengetahui) apa yang kamu kerjakan. Dan wahai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah, sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu.’ Dan tatkala datang ketetapan Kami, Kami selamatkan Syuaib dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di rumah mereka. Seolah-olah mereka belum pernah tinggal di situ. Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Madyan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa.'” (Hud: 84-95)

Dan Allah berfirman dalam surah Al-Hijr setelah kisah kaum Luth juga: “Dan sesungguhnya penduduk Aikah benar-benar orang-orang yang zalim. Maka Kami mengazab mereka. Dan sesungguhnya kedua (negeri) itu benar-benar (terletak) di jalan yang jelas (yang dilalui orang).” (Al-Hijr: 78-79)

Dan Allah Taala berfirman dalam surah Asy-Syu’ara setelah kisah mereka: “Penduduk Aikah telah mendustakan para rasul. Ketika Syuaib berkata kepada mereka, ‘Tidakkah kamu bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepada kamu. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku tidak meminta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan seluruh alam. Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan. Dan timbanglah dengan timbangan yang benar. Dan janganlah kamu merugikan manusia dengan mengurangi hak-haknya dan janganlah kamu membuat kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan. Dan bertakwalah kepada (Allah) yang telah menciptakan kamu dan makhluk-makhluk yang terdahulu.’ Mereka berkata, ‘Sungguh, engkau adalah salah seorang dari orang-orang yang kena sihir. Dan engkau tidak lain hanyalah seorang manusia (biasa) seperti kami, dan sesungguhnya kami yakin bahwa engkau benar-benar termasuk orang-orang yang berdusta. Maka jatuhkanlah kepada kami gumpalan dari langit, jika engkau termasuk orang-orang yang benar.’ Dia (Syuaib) berkata, ‘Tuhanku lebih mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Lalu mereka mendustakannya, maka mereka ditimpa azab pada hari naungan (awan hitam). Sungguh, azab itu adalah azab hari yang dahsyat. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.'” (Asy-Syu’ara: 176-191)

Penduduk Madyan adalah kaum Arab yang mendiami kota mereka, Madyan, yaitu sebuah kampung dari tanah Ma’an dari pinggiran Syam yang menghadap ke arah Hijaz, dekat dengan danau kaum Luth. Dan mereka ada setelah kaum Luth dalam waktu yang tidak lama. Madyan adalah sebuah suku yang terkenal dengan nama kota tersebut, dan mereka adalah dari keturunan Madyan bin Midyan bin Ibrahim Al-Khalil alaihissalam. Dan Syuaib nabi mereka adalah anak Mikail bin Yasyjan sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Ishaq. Dia berkata: Dan dikatakan namanya dalam bahasa Suryani adalah Batsrun. Dan dalam hal ini ada kejanggalan. Dan dikatakan: Syuaib bin Yasyjan bin Lawi bin Yaqub. Dan dikatakan: Syuaib bin Tsuwayb bin Abqa bin Madyan bin Ibrahim. Dan dikatakan: Syuaib bin Shaifur bin Abqa bin Tsabit bin Madyan bin Ibrahim. Dan dikatakan selain itu tentang nasabnya. Ibnu Asakir berkata: Dan dikatakan neneknya dan dikatakan ibunya adalah putri Luth dan dia termasuk orang yang beriman kepada Ibrahim dan hijrah bersamanya serta masuk Damaskus bersamanya. Dari Wahab bin Munabbih bahwa dia berkata: Syuaib dan Bal’am termasuk orang yang beriman kepada Ibrahim pada hari dia dibakar dengan api, dan hijrah bersamanya ke Syam lalu dia menikahkan mereka berdua dengan kedua putri Luth alaihissalam. Disebutkan oleh Ibnu Qutaibah, dan dalam semua ini juga ada kejanggalan, wallahu a’lam.

Dan disebutkan oleh Abu Umar bin Abdul Barr dalam Al-Isti’ab dalam biografi Salamah bin Sa’id Al-Anazi: Dia datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu masuk Islam, dan dinisbatkan kepada Anazah maka Rasulullah berkata: “Sebaik-baik suku adalah Anazah yang dizalimi, yang ditolong, kaum Syuaib dan kedua wanita (istri) Musa.” Jika ini benar maka menunjukkan bahwa Syuaib adalah mertua Musa, dan bahwa dia dari suku Arab Aribah yang disebut Anazah, bukan bahwa mereka dari Anazah bin Asad bin Rabi’ah bin Nizar bin Ma’d bin Adnan karena sesungguhnya mereka ada setelahnya dengan masa yang panjang, wallahu a’lam.

Dan dalam hadits Abu Dzar yang ada dalam Shahih Ibnu Hibban tentang penyebutan para nabi dan rasul, dia berkata: “Empat orang dari Arab: Hud, Shaleh, Syuaib, dan nabimu wahai Abu Dzar.” Dan sebagian ulama salaf menyebut Syuaib sebagai khatib (orator) para nabi, maksudnya karena kefasihannya, tingginya ungkapannya, dan kebalaghahannya dalam menyeru kaumnya kepada iman terhadap risalahnya. Dan telah diriwayatkan oleh Ishaq bin Bisyr, dari Juwaibar, dan Muqatil, dari Adh-Dhahhak, dari Ibnu Abbas dia berkata: Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam apabila menyebut Syuaib berkata: “Dialah khatib para nabi.”

Dan penduduk Madyan adalah orang-orang kafir yang memutus jalan, menakut-nakuti orang yang lewat, dan menyembah Aikah, yaitu pohon dari Aik yang dikelilingi oleh rimbun yang melilit padanya. Dan mereka termasuk orang yang paling buruk dalam bermuamalah, mengurangi takaran dan timbangan, dan curang dalam keduanya, mengambil dengan berlebih dan memberi dengan berkurang. Maka Allah mengutus kepada mereka seorang laki-laki dari mereka, dan dia adalah Rasulullah Syuaib alaihissalam, lalu dia menyeru mereka untuk beribadah kepada Allah semata tanpa sekutu bagi-Nya, dan melarang mereka dari melakukan perbuatan-perbuatan buruk ini yaitu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan menakut-nakuti mereka di jalan-jalan dan jalur-jalur mereka. Maka sebagian mereka beriman kepadanya dan kebanyakan mereka kafir, hingga Allah menimpakan kepada mereka siksa yang keras, dan Dia adalah Wali yang Maha Terpuji. Sebagaimana Allah Taala berfirman: “Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syuaib. Dia berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Sungguh, telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu.'” Yaitu dalil dan hujjah yang jelas, dan bukti yang pasti atas kebenaran apa yang dia bawa kepada kalian, dan bahwa Allah mengutusnya, yaitu apa yang Allah jadikan atas tangannya dari mukjizat-mukjizat yang tidak dinukilkan kepada kita secara terperinci, meskipun lafazh ini telah menunjukkannya secara global.

“Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik.” Dia memerintahkan mereka dengan keadilan dan melarang mereka dari kezaliman, dan mengancam mereka atas kebalikan dari itu lalu berkata: “Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan janganlah kamu duduk di setiap jalan.” Yaitu jalanan “dengan menakut-nakuti” yaitu mengancam orang dengan mengambil harta-harta mereka dari cukai dan selainnya, dan menakut-nakuti jalan. As-Suddi berkata dalam tafsirnya dari para Sahabat: “Dan janganlah kamu duduk di setiap jalan dengan menakut-nakuti” bahwa mereka mengambil sepersepuluh dari harta orang yang lewat. Dan Ishaq bin Bisyr berkata, dari Juwaibar, dari Adh-Dhahhak, dari Ibnu Abbas dia berkata: Mereka adalah kaum yang melampaui batas dan zalim, duduk di jalan merugikan manusia yaitu memungut sepersepuluh dari mereka, dan mereka adalah orang pertama yang mensyariatkan hal itu. “Dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah serta menginginkannya menjadi bengkok.” Maka dia melarang mereka dari memutus jalan secara hakiki duniawi dan maknawi agama. “Dan ingatlah ketika kamu dahulu berjumlah sedikit, lalu Dia memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.” Dia mengingatkan mereka dengan nikmat Allah Taala atas mereka dalam memperbanyak mereka setelah sedikit, dan memperingatkan mereka akan siksa Allah kepada mereka jika mereka menyelisihi apa yang dia tunjukkan kepada mereka dan dia tuntun mereka kepadanya. Sebagaimana dia berkata kepada mereka dalam kisah yang lain: “Dan janganlah kamu mengurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab pada hari yang membinasakan (hari Kiamat).” Yaitu janganlah kalian menjalani apa yang kalian alami dan terus-menerus melakukannya, maka Allah akan menghapus berkah apa yang ada di tangan kalian dan memiskinkan kalian, dan menghilangkan apa yang dengannya Dia mencukupi kalian. Dan ini ditambahkan kepada azab akhirat. Dan barangsiapa yang dikumpulkan untuknya ini dan ini maka sungguh dia telah mendapat kesepakatan yang merugi. Maka dia melarang mereka pertama-tama dari melakukan apa yang tidak pantas dari kecurangan, dan memperingatkan mereka akan hilangnya nikmat Allah atas mereka di dunia mereka, dan azab-Nya yang pedih di akhirat mereka, dan mencela mereka dengan celaan yang sangat keras. Kemudian dia berkata kepada mereka dengan memerintahkan setelah sebelumnya melarang kebalikannya: “Dan wahai kaumku, penuhilah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan. Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas diri kamu.” Ibnu Abbas dan Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu” yaitu rezeki Allah lebih baik bagi kalian daripada mengambil harta manusia dengan kecurangan. Dan Ibnu Jarir berkata: Apa yang tersisa bagi kalian dari keuntungan setelah sempurna takaran dan timbangan adalah lebih baik bagi kalian daripada mengambil harta manusia dengan kecurangan. Dia berkata: Dan telah diriwayatkan ini dari Ibnu Abbas. Dan apa yang dia katakan dan riwayatkan itu baik, dan itu mirip dengan firman Allah Taala: “Katakanlah, ‘Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu.'” (Al-Maidah: 100) Maksudnya bahwa yang sedikit dari halal lebih baik bagi kalian daripada yang banyak dari haram, karena yang halal diberkahi meskipun sedikit, dan yang haram dihapus meskipun banyak. Sebagaimana Allah Taala berfirman: “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.” (Al-Baqarah: 276) Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya riba meskipun banyak maka kesudahannya kepada sedikit.” Diriwayatkan oleh Ahmad, yaitu kepada sedikitnya. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Dua orang yang berjual beli boleh memilih selama belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan maka diberkahilah jual beli mereka. Dan jika keduanya menyembunyikan dan berdusta maka dihapuslah berkah jual beli mereka.”

Dan maksudnya bahwa keuntungan halal diberkahi meskipun sedikit, dan yang haram tidak bermanfaat meskipun banyak. Oleh karena itu nabi Allah Syuaib berkata: “Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman.” Dan firman-Nya: “Dan aku bukanlah seorang penjaga atas diri kamu.” Yaitu lakukanlah apa yang aku perintahkan kepada kalian dengan mengharap wajah Allah dan mengharap pahala-Nya, bukan agar aku melihat kalian atau orang lain. “Mereka berkata, ‘Wahai Syuaib, apakah shalatmu menyuruhmu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh nenek moyang kami atau agar kami tidak (boleh) melakukan apa yang kami kehendaki terhadap harta kami? Sungguh, engkau adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.'” Mereka mengatakan ini dengan cara mengejek, meremehkan, dan mengolok-olok: Apakah shalatmu ini yang kamu shalati adalah yang memerintahmu agar kamu membatasi kami sehingga kami tidak menyembah kecuali tuhanmu, dan meninggalkan apa yang disembah oleh nenek moyang kami yang terdahulu dan pendahulu kami yang pertama? Atau bahwa kami tidak bermuamalah kecuali dengan cara yang kamu ridhai, dan meninggalkan muamalat yang kamu tolak meskipun kami ridha dengannya? “Sungguh, engkau adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.” Ibnu Abbas, Maimun bin Mihran, Ibnu Juraij, Zaid bin Aslam, dan Ibnu Jarir berkata: Mereka mengatakan itu – musuh-musuh Allah – dengan cara mengejek.

“Dia (Syuaib) berkata, ‘Wahai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan Dia memberi aku rezeki yang baik dari-Nya. Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak menghendaki kecuali (melakukan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku kembali.'” Ini adalah kelembutan kepada mereka dalam ungkapan, dan seruan kepada mereka menuju kebenaran dengan isyarat yang paling jelas. Dia berkata kepada mereka: Bagaimana pendapat kalian wahai orang-orang yang mendustakan, jika aku berada di atas bukti yang jelas dari Tuhanku, yaitu atas urusan yang jelas dari Allah Taala bahwa Dia mengutus aku kepada kalian? “Dan Dia memberi aku rezeki yang baik dari-Nya” maksudnya kenabian dan risalah, yaitu pengenalan terhadapnya buta bagi kalian, maka tipu daya apa yang aku miliki terhadap kalian? Dan ini sebagaimana telah disebutkan dari Nuh alaihissalam bahwa dia berkata kepada kaumnya yang serupa.

Dan firman-Nya: “Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang.” Yaitu aku tidak memerintahkan kalian dengan perintah kecuali aku adalah orang pertama yang melakukannya. Dan jika aku melarang kalian dari sesuatu maka aku adalah orang pertama yang meninggalkannya. Dan ini adalah sifat yang terpuji dan agung, dan lawannya adalah yang tertolak dan tercela, sebagaimana dikenakan oleh ulama Bani Israil di akhir zaman mereka, dan orang-orang bodoh yang berpidato dari mereka. Allah Taala berfirman: “Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?” (Al-Baqarah: 44) Dan kami sebutkan di sana dalam Shahih dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Didatangkan seorang laki-laki lalu dilemparkan ke dalam neraka, maka tercecer usus-ususnya” yaitu keluar usus-ususnya dari perutnya “lalu dia berputar dengannya sebagaimana keledai berputar dengan kincir airnya, maka berkumpul kepadanya penduduk neraka lalu mereka berkata: ‘Wahai Fulan, bukankah engkau dahulu menyuruh kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran?’ Maka dia berkata: ‘Ya, aku menyuruh kepada kebaikan dan tidak melakukannya, dan aku melarang dari kemungkaran dan melakukannya.'” Dan ini adalah sifat orang-orang yang menyelisihi para nabi dari orang-orang yang jahat dan celaka. Adapun para pemimpin dari orang-orang cerdas dan orang-orang berakal dari para ulama yang takut kepada Tuhan mereka dengan gaib maka keadaan mereka sebagaimana dikatakan oleh nabi Allah Syuaib: “Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak menghendaki kecuali (melakukan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan.” Yaitu aku tidak menghendaki dalam semua urusanku kecuali perbaikan dalam perbuatan dan perkataan dengan usaha dan kemampuanku. “Dan tidak ada taufik bagiku” yaitu dalam semua keadaanku “melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku kembali.” Yaitu kepada-Nya aku bertawakal dalam semua urusan dan kepada-Nya tempat kembali dan tujuanku dalam setiap urusanku. Dan ini adalah maqam targhib (membuat tertarik), kemudian berpindah kepada jenis dari tarhib (membuat takut) maka dia berkata: “Dan wahai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu ditimpa (azab) seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidaklah (jauh) jauh dari kamu.” Yaitu janganlah membawa kalian penyelisihan terhadapku dan kebencian kalian terhadap apa yang aku bawa kepada kalian kepada terus-menerus di atas kesesatan kalian dan kebodohan kalian serta penyelisihan kalian, maka Allah menimpakan kepada kalian dari azab dan siksaan yang serupa dengan apa yang Dia timpakan kepada orang-orang yang serupa dengan kalian dan sejenismu dari kaum Nuh, dan kaum Hud, dan kaum Shaleh dari orang-orang yang mendustakan dan menyelisihi.

Dan firman-Nya: “Dan kaum Luth tidaklah jauh dari kalian.” Ada yang mengatakan: maknanya adalah dalam hal waktu, yaitu mereka tidak jauh dalam masa, dari apa yang telah sampai kepada kalian tentang apa yang Allah timpakan kepada mereka atas kekafiran dan keangkuhan mereka. Ada yang mengatakan: maknanya adalah mereka tidaklah jauh dari kalian dalam hal tempat dan lokasi. Ada pula yang mengatakan: dalam hal sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan yang tercela seperti merampok di jalan, mengambil harta manusia secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi dengan berbagai tipu daya dan syubhat. Menggabungkan semua pendapat ini adalah mungkin, karena mereka memang tidak jauh dari mereka baik secara waktu, tempat, maupun sifat-sifat.

Kemudian Allah mencampurkan ancaman dengan harapan, lalu berfirman: “Dan mohonlah ampun kepada Tuhan kalian kemudian bertobatlah kepada-Nya, sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.” Maksudnya, berhentilah dari apa yang kalian lakukan, dan bertobatlah kepada Tuhan kalian Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih, karena barangsiapa yang bertobat kepada-Nya maka Dia akan menerima tobatnya, karena Dia Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya, lebih sayang kepada mereka daripada seorang ibu kepada anaknya, dan Dia Maha Pengasih yang mencintai hamba-Nya setelah bertobat, meskipun dari dosa-dosa besar yang membinasakan.

“Mereka berkata: ‘Wahai Syu’aib, kami tidak banyak memahami dari apa yang kamu katakan, dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu sebagai orang yang lemah di antara kami.'” Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Sa’id bin Jubair, dan Ats-Tsauri bahwa mereka berkata: Dia buta penglihatannya. Dan telah diriwayatkan dalam hadits marfu’ bahwa ia menangis karena cinta kepada Allah hingga buta, lalu Allah mengembalikan penglihatannya. Allah berfirman: “Wahai Syu’aib, apakah kamu menangis karena takut neraka atau karena rindumu kepada surga?” Ia menjawab: “Bahkan karena cinta-Ku kepada-Mu, jika aku melihat kepada-Mu maka aku tidak peduli apa yang dilakukan kepada-Ku.” Maka Allah mewahyukan kepadanya: “Berbahagialah kamu wahai Syu’aib dengan perjumpaan-Ku, karena itulah Aku menjadikan Musa bin Imran, kekasih-Ku, sebagai pembantumu.” Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Wahidi dari Abu Al-Fath Muhammad bin Ali Al-Kufi, dari Ali bin Al-Hasan bin Bandar, dari Abu Abdullah Muhammad bin Ishaq Ar-Ramli, dari Hisyam bin Ammar, dari Ismail bin Ayyasy, dari Buhair bin Sa’d, dari Syaddad bin Aus, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan redaksi yang serupa. Ini sangat ganjil, dan telah dilemahkan oleh Al-Khatib Al-Baghdadi.

Dan perkataan mereka: “Dan kalau bukan karena keluargamu, niscaya kami telah merajammu, dan kamu tidak berharga bagi kami.” Ini termasuk kekafiran mereka yang terang-terangan dan keingkaran mereka yang buruk, ketika mereka berkata: “Kami tidak banyak memahami dari apa yang kamu katakan.” Artinya kami tidak memahami dan tidak mengerti karena kami tidak menyukainya dan tidak menginginkannya, kami tidak memiliki perhatian dan minat kepadanya. Ini sebagaimana yang dikatakan orang-orang kafir Quraisy kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Dan mereka berkata: ‘Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi kami) dari apa yang kamu seru kami kepadanya, dan di telinga kami ada sumbatan, dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah (menurut keyakinanmu), sesungguhnya kami bekerja (menurut keyakinan kami pula).'” (Fushshilat: 5)

Dan perkataan mereka: “Dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu sebagai orang yang lemah di antara kami.” Artinya tertindas dan terpinggirkan. “Dan kalau bukan karena keluargamu,” yaitu suku dan kerabatmu di antara kami, “niscaya kami telah merajammu, dan kamu tidak berharga bagi kami.” Ia berkata: “Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat bagi kalian daripada Allah?” Artinya kalian takut kepada suku dan kerabatku dan kalian menghormati aku karena mereka, namun kalian tidak takut kepada Allah, dan tidak menghormati aku karena aku adalah utusan Allah, sehingga keluargaku menjadi lebih terhormat bagi kalian daripada Allah, dan kalian jadikan Dia di belakang kalian. Artinya kalian jadikan perkara Allah di belakang punggung kalian. Sesungguhnya Tuhanku meliputi (mengetahui) apa yang kalian kerjakan. Artinya Dia Maha Mengetahui apa yang kalian lakukan dan perbuat, meliputi semua itu, dan Dia akan membalas kalian atas itu pada hari kalian kembali kepada-Nya. Dan hai kaumku, berbuatlah menurut kedudukanmu, sesungguhnya aku akan berbuat (pula). Kelak kalian akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta, dan tunggulah, sesungguhnya aku bersama kalian termasuk orang-orang yang menunggu.” Ini adalah perintah ancaman yang keras dan peringatan yang pasti agar mereka terus berada di jalan, cara, dan kebiasaan mereka, maka kalian akan mengetahui siapa yang akan memperoleh akhir yang baik di negeri ini, dan siapa yang akan ditimpa kebinasaan dan kehancuran. “Siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya,” yaitu di kehidupan dunia ini, “dan akan menimpanya azab yang kekal,” yaitu di akhirat. “Dan siapa yang berdusta,” artinya antara aku dan kalian dalam apa yang telah dikabarkan, digembirakan, dan diperingatkan. “Dan tunggulah, sesungguhnya aku bersama kalian termasuk orang-orang yang menunggu.” Ini seperti firman-Nya: “Dan jika ada segolongan di antara kalian yang beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah kalian hingga Allah memberi keputusan di antara kami, dan Dia adalah Hakim Yang Paling Baik.”

Allah berfirman: “Berkatalah pemimpin-pemimpin yang menyombongkan diri di antara kaumnya: ‘Kami pasti akan mengusir kamu hai Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersama kamu dari negeri kami, atau kamu kembali kepada agama kami.’ Syu’aib berkata: ‘Apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menghendakinya? Sesungguhnya kami mengada-adakan dusta terhadap Allah jika kami kembali kepada agama kalian, setelah Allah menyelamatkan kami darinya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendakinya. Tuhan kami meliputi segala sesuatu dengan ilmu-Nya. Kepada Allah-lah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan Yang Paling Baik.'” Mereka menuntut dengan anggapan mereka agar orang-orang yang beriman dikembalikan kepada agama mereka, maka Syu’aib bangkit membela kaumnya. Ia berkata: “Apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menghendakinya?” Artinya orang-orang ini tidak akan kembali kepada kalian dengan sukarela, mereka hanya akan kembali jika kembali dengan terpaksa. Itu karena ketika iman bercampur dengan kegembiraan di dalam hati, tidak ada seorang pun yang membencinya, tidak ada seorang pun yang menginginkan agar iman itu hilang darinya, dan tidak ada jalan bagi siapa pun untuk menghindarinya.

Oleh karena itu ia berkata: “Sesungguhnya kami mengada-adakan dusta terhadap Allah jika kami kembali kepada agama kalian, setelah Allah menyelamatkan kami darinya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendakinya. Tuhan kami meliputi segala sesuatu dengan ilmu-Nya. Kepada Allah-lah kami bertawakal.” Artinya Dia-lah yang mencukupi kami dan Dia-lah yang melindungi kami, kepada-Nya kami berlindung dalam semua urusan kami. Kemudian ia memohon keputusan terhadap kaumnya dan memohon pertolongan Tuhannya atas mereka agar segera mendapatkan balasan yang mereka layak terima. Ia berkata: “Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan Yang Paling Baik,” yaitu Hakim. Maka ia mendoakan keburukan atas mereka, dan Allah tidak menolak doa para rasul-Nya ketika mereka memohon pertolongan-Nya terhadap orang-orang yang mengingkari mereka, mengkafiri mereka, menentang rasul-Nya, dan meskipun demikian mereka tetap kukuh pada apa yang mereka anut dan pegang teguh. Dan berkatalah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir dari kaumnya: “Sesungguhnya jika kalian mengikuti Syu’aib, niscaya kalian akan menjadi orang-orang yang merugi.”

Allah Ta’ala berfirman: “Maka mereka ditimpa gempa, lalu jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di rumah mereka.” Disebutkan dalam Surah Al-A’raf bahwa mereka ditimpa gempa, yaitu bumi mereka bergoncang dan terguncang dengan sangat hebat hingga mencabut nyawa-nyawa mereka dari jasad-jasad mereka, menjadikan hewan-hewan di negeri mereka seperti benda mati, dan jasad-jasad mereka menjadi bergelimpangan tanpa roh di dalamnya, tanpa gerakan padanya, dan tanpa indera. Allah menghimpunkan atas mereka berbagai jenis hukuman, macam-macam siksaan, dan berbagai bencana, karena sifat-sifat buruk yang mereka miliki. Allah menimpakan kepada mereka gempa yang dahsyat yang menghentikan gerakan-gerakan, teriakan yang dahsyat yang memadamkan suara-suara, dan naungan yang darinya diturunkan percikan api dari segala penjuru dan arah. Namun Allah Ta’ala memberitakan tentang mereka di setiap surah dengan apa yang sesuai dengan konteksnya dan cocok dengan strukturnya.

Dalam konteks kisah Al-A’raf, mereka menggoncangkan Nabi Allah dan para sahabatnya, mengancam mereka dengan pengusiran dari negeri mereka atau agar kembali kepada agama mereka. Maka Allah Ta’ala berfirman: “Maka mereka ditimpa gempa, lalu jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di rumah mereka.” Maka Dia membalas penggoncangan dengan gempa, dan ancaman dengan ketakutan, dan ini sesuai dengan konteks ini, dan terkait dengan apa yang mendahuluinya dalam konteks tersebut.

Adapun dalam Surah Hud disebutkan bahwa mereka ditimpa teriakan, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di rumah mereka. Itu karena mereka berkata kepada Nabi Allah dengan nada mengejek, mencemooh, dan meremehkan: “Apakah shalatmu menyuruhmu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau agar kami tidak berbuat apa yang kami kehendaki terhadap harta kami? Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.” Maka sesuailah disebutkan teriakan yang seperti hardikan atas perkataan buruk ini yang mereka gunakan untuk mencela rasul mulia yang terpercaya dan fasih ini. Maka datanglah kepada mereka teriakan yang membungkam mereka bersama gempa yang menghentikan mereka.

Adapun dalam Surah Asy-Syu’ara disebutkan bahwa mereka ditimpa azab hari naungan. Itu adalah jawaban atas apa yang mereka minta dan pendekat kepada apa yang mereka inginkan, karena mereka berkata: “Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang kena sihir. Dan kamu tidak lain hanyalah seorang manusia seperti kami, dan sesungguhnya kami yakin bahwa kamu benar-benar termasuk orang-orang yang berdusta. Maka jatuhkanlah atas kami gumpalan dari langit, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” Dia (Syu’aib) berkata: “Tuhanku lebih mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Asy-Syu’ara: 185-188) Allah Ta’ala, Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui berfirman: “Maka mereka mendustakannya, lalu mereka ditimpa azab hari naungan. Sesungguhnya azab itu adalah azab hari yang besar.”

Orang-orang yang menafsirkan seperti Qatadah dan lainnya yang berpendapat bahwa penduduk Aikah adalah umat lain selain penduduk Madyan, pendapat mereka lemah. Sandaran mereka hanya dua perkara. Pertama, bahwa Allah berfirman: “Penduduk Aikah telah mendustakan rasul-rasul. Ketika Syu’aib berkata kepada mereka,” dan tidak disebutkan “saudara mereka” sebagaimana disebutkan: “Dan kepada Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib.” Kedua, bahwa disebutkan azab mereka dengan hari naungan, sedangkan pada yang pertama disebutkan gempa atau teriakan.

Jawaban untuk yang pertama adalah bahwa tidak disebutkan persaudaraan setelah firman: “Penduduk Aikah telah mendustakan rasul-rasul,” karena mereka digambarkan dengan menyembah Aikah sehingga tidak sesuai menyebut persaudaraan di sini. Ketika mereka dinisbatkan kepada suku, maka disebutlah Syu’aib sebagai saudara mereka. Perbedaan ini termasuk poin-poin yang langka, indah, mulia, dan berharga.

Adapun dalil mereka dengan hari naungan, jika hal itu sendiri menjadi bukti bahwa mereka adalah umat lain, maka hendaklah penghitungan azab dengan gempa dan teriakan menjadi bukti bahwa mereka adalah dua umat lain, dan ini tidak dikatakan oleh siapa pun yang memahami sesuatu dari urusan ini.

Adapun hadits yang disebutkan oleh Al-Hafiz Ibnu Asakir dalam biografi Nabi Syu’aib ‘alaihissalam dari jalur Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah, dari ayahnya, dari Mu’awiyah bin Hisyam, dari Hisyam bin Sa’d, dari Syaqiq bin Abi Hilal, dari Rabi’ah bin Saif, dari Abdullah bin Amr secara marfu’: “Sesungguhnya Madyan dan penduduk Aikah adalah dua umat yang diutus kepada mereka Nabi Syu’aib ‘alaihissalam,” maka itu adalah hadits ganjil, dan dalam para perawinya ada yang dikritik. Yang lebih mirip adalah bahwa itu dari perkataan Abdullah bin Amr dari apa yang ia dapatkan pada hari Yarmuk dari dua beban unta berisi berita-berita Bani Israil, wallahu a’lam.

Kemudian Allah telah menyebutkan tentang penduduk Aikah dari celaan apa yang disebutkan tentang penduduk Madyan tentang kecurangan dalam takaran dan timbangan, maka itu menunjukkan bahwa mereka adalah satu umat yang dibinasakan dengan berbagai jenis azab, dan disebutkan di setiap tempat apa yang sesuai dengan pembicaraan itu.

Dan firman-Nya: “Maka mereka ditimpa azab hari naungan. Sesungguhnya azab itu adalah azab hari yang besar.” Disebutkan bahwa mereka ditimpa panas yang sangat hebat, dan Allah menghentikan hembusan angin dari mereka selama tujuh hari sehingga tidak bermanfaat bagi mereka air, tidak pula naungan, tidak pula masuk ke dalam gua-gua. Maka mereka lari dari pemukiman mereka ke padang pasir, lalu sebuah awan menaungi mereka, maka mereka berkumpul di bawahnya untuk berlindung di bawah naungannya. Ketika mereka lengkap di dalamnya, Allah mengirimkannya kepada mereka, melemparkan mereka dengan percikan dan meteor dari api, bumi bergoncang dengan mereka, dan datang kepada mereka teriakan dari langit yang mencabut nyawa-nyawa dan menghancurkan jasad-jasad. Maka jadilah mereka di rumah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan. Orang-orang yang mendustakan Syu’aib seakan-akan mereka belum pernah berdiam di sana. Orang-orang yang mendustakan Syu’aib, mereka itulah orang-orang yang merugi. Allah menyelamatkan Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamanya, sebagaimana firman Allah Ta’ala, dan Dia adalah Yang Paling Benar perkataannya: “Dan tatkala datang ketetapan Kami, Kami selamatkan Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim ditimpa teriakan keras, lalu jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di rumah-rumah mereka. Seakan-akan mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaan bagi penduduk Madyan sebagaimana telah binasa kaum Tsamud.”

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan berkatalah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir dari kaumnya: ‘Sesungguhnya jika kalian mengikuti Syu’aib, niscaya kalian akan menjadi orang-orang yang merugi.’ Maka mereka ditimpa gempa, lalu jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di rumah mereka. Orang-orang yang mendustakan Syu’aib seakan-akan mereka belum pernah berdiam di sana. Orang-orang yang mendustakan Syu’aib, mereka itulah orang-orang yang merugi.” Ini sebagai balasan atas perkataan mereka: “Sesungguhnya jika kalian mengikuti Syu’aib, niscaya kalian akan menjadi orang-orang yang merugi.”

Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan tentang nabi mereka bahwa ia meratapi mereka kepada diri mereka sendiri sambil mencela, menegur, dan menghardik. Allah Ta’ala berfirman: “Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku telah memberi nasihat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir.” Artinya ia berpaling dari mereka meninggalkan pemukiman mereka setelah kebinasaan mereka sambil berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku telah memberi nasihat kepadamu.” Artinya aku telah menunaikan apa yang wajib atasku yaitu penyampaian yang sempurna dan nasihat yang lengkap, dan aku bersungguh-sungguh untuk membimbing kalian dengan segala kemampuanku dan usaha yang bisa kulakukan, namun itu tidak bermanfaat bagi kalian, karena Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang Dia sesatkan, dan mereka tidak memiliki penolong. Maka aku tidak menyesal setelah ini atas kalian karena kalian tidak pernah menerima nasihat dan tidak takut akan hari yang memalukan. Oleh karena itu ia berkata: “Maka bagaimana aku akan bersedih hati,” artinya berduka “terhadap orang-orang yang kafir,” artinya tidak menerima kebenaran, tidak kembali kepadanya, tidak memperhatikannya. Maka turunlah kepada mereka dari azab Allah yang tidak dapat ditolak, apa yang tidak dapat dilawan dan dicegah, tidak ada jalan bagi siapa pun yang dikehendaki untuk menghindarinya, dan tidak ada pelarian darinya.

Al-Hafiz Ibnu Asakir menyebutkan dalam tarikh-nya dari Ibnu Abbas bahwa Syu’aib ‘alaihissalam diutus setelah Yusuf ‘alaihissalam. Dari Wahb bin Munabbih bahwa Syu’aib ‘alaihissalam meninggal di Mekah bersama orang-orang mukmin yang bersamanya, dan kubur-kubur mereka di sebelah barat Ka’bah antara Dar An-Nadwah dan Dar Bani Sahm.

۞۞۞۞۞

Bab Penyebutan Keturunan Ibrahim alaihissalatu wassalam

Telah kami kemukakan kisahnya bersama kaumnya, apa yang terjadi dari urusan mereka, dan apa yang menjadi akhir urusannya alaihissalam watahiyyatu wal ikram (semoga keselamatan, penghormatan dan pemuliaan tercurah padanya), dan kami sebutkan apa yang terjadi pada zamannya dari kisah kaum Luth, dan kami ikutkan setelah itu dengan kisah Madyan kaum Syu’aib alaihissalam; karena kisah itu disebutkan berpasangan dalam Kitab Allah Azza wa Jalla di berbagai tempat. Allah Ta’ala menyebutkan setelah kisah kaum Luth kisah Madyan, dan mereka adalah Ashabul Aikah menurut pendapat yang shahih, sebagaimana telah kami kemukakan, maka kami sebutkan kisah itu sebagai pengikutnya, mengikuti jejak Al-Qur’an yang agung. Kemudian sekarang kami akan memulai pembahasan tentang perincian keturunan Ibrahim alaihissalam; karena Allah menjadikan di dalam keturunannya kenabian dan kitab suci, maka setiap nabi yang diutus setelahnya adalah dari keturunannya.

Penyebutan Ismail alaihissalam

Sungguh Khalil (Ibrahim) memiliki anak-anak sebagaimana telah kami sebutkan, tetapi yang paling terkenal di antara mereka adalah dua saudara nabi yang agung, dua rasul yang paling tua dan paling mulia di antara mereka, yaitu yang merupakan dzabih (yang disembelih) menurut pendapat yang shahih, Ismail putra sulung Ibrahim Al-Khalil dari Hajar Al-Qibtiyyah Al-Mishriyyah alaihassalam (semoga keselamatan tercurah padanya) dari Yang Maha Agung lagi Maha Mulia. Dan barangsiapa yang mengatakan bahwa dzabih itu adalah Ishaq, maka sesungguhnya dia menerima itu dari para perawi Bani Israil yang telah mengubah, menyelewengkan, dan menta’wilkan Taurat dan Injil serta menyelisihi dengan tangan mereka sendiri dalam hal ini dari tanzil (ayat yang diturunkan). Sesungguhnya Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih putra sulungnya, dan dalam riwayat lain disebutkan putra satu-satunya. Dan bagaimanapun juga, dia adalah Ismail dengan nash dalil yang jelas. Maka dalam nash kitab mereka disebutkan bahwa Ismail dilahirkan ketika Ibrahim berumur delapan puluh enam tahun, dan sesungguhnya Ishaq baru lahir setelah berlalu seratus tahun dari umur Al-Khalil. Maka Ismail adalah putra sulung tanpa keraguan, dan dia adalah putra satu-satunya secara lahir dan makna dalam setiap keadaan. Adapun secara lahir, karena dia adalah satu-satunya anaknya selama lebih dari tiga belas tahun. Dan adapun bahwa dia adalah satu-satunya dalam makna, maka sesungguhnya dialah yang dibawa berhijrah oleh ayahnya bersama ibunya Hajar, dan dia masih kecil masih menyusui menurut suatu pendapat, lalu ayahnya menempatkan mereka di lembah pegunungan Faran, yaitu pegunungan-pegunungan yang berada di sekitar Mekkah, sebaik-baik tempat beristirahat. Dan dia meninggalkan mereka di sana tidak bersama mereka dari bekal dan air kecuali sedikit, dan itu karena kepercayaan kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya. Maka Allah Ta’ala melindungi mereka berdua dengan pemeliharaan dan kecukupan-Nya, maka sebaik-baik Maha Pencukupi, Maha Pelindung, Maha Penjaga dan Maha Penjamin.

Maka inilah putra satu-satunya dalam lahir dan makna, tetapi di manakah orang yang memahami rahasia ini? Dan di manakah orang yang mencapai kedudukan ini? Dan maknanya tidak dapat dipahami dan tidak dapat diketahui ilmunya kecuali setiap orang yang cerdas lagi mulia.

Dan sungguh Allah Ta’ala telah memuji dia, dan mensifatinya dengan kelembutan, kesabaran, kejujuran janji, menjaga shalat dan memerintahkannya kepada keluarganya agar menyelamatkan mereka dari siksa, bersama dengan apa yang dia serukan berupa ibadah kepada Rabb semesta Rabb. Allah Ta’ala berfirman: Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang sangat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur) berusaha bersama-sama Ibrahim, (Ibrahim) berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Dia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (Ash-Shaffat: 101-102). Maka dia menaati ayahnya terhadap apa yang dia serukan kepadanya dan dia menjanjikan bahwa dia akan bersabar, lalu dia memenuhi itu dan bersabar.

Dan Allah Ta’ala berfirman: Dan ceritakanlah (Muhammad) di dalam Kitab (Al-Qur’an) kisah Ismail. Sesungguhnya dia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan dia menyuruh keluarganya untuk (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat, dan dia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya. (Maryam: 54-55).

Dan Allah Ta’ala berfirman: Dan ingatlah hamba-hamba Kami Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub yang mempunyai kekuatan yang besar dan ilmu pengetahuan (yang tinggi). Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik. Dan ingatlah Ismail, Alyasa’, dan Dzulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang terbaik. (Shad: 45-48).

Dan Allah Ta’ala berfirman: Dan Ismail, Idris, dan Dzulkifli. Semua termasuk orang-orang yang sabar. Dan Kami masukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang saleh. (Al-Anbiya: 85-86).

Dan Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah memberikan wahyu kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya. (An-Nisa: 163). Ayat.

Dan Allah Ta’ala berfirman: Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya.” (Al-Baqarah: 136). Ayat. Dan yang serupa dengannya dari surat yang lain.

Dan Allah Ta’ala berfirman: Ataukah kamu mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya adalah penganut Yahudi atau Nasrani? Katakanlah: “Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah?” (Al-Baqarah: 140). Ayat. Maka Allah menyebutkan tentang dia setiap sifat yang baik, dan menjadikannya nabi dan rasul-Nya, dan membebaskannya dari semua yang dinisbatkan kepadanya oleh orang-orang jahil, dan memerintahkan agar beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.

Dan para ahli nasab dan sejarah manusia menyebutkan: bahwa dia adalah orang pertama yang menunggang kuda, dan kuda sebelum itu adalah binatang liar, maka dia menjinakkannya dan menungganginya. Dan telah berkata Sa’id bin Yahya Al-Umawi dalam kitab maghazi-nya: telah menceritakan kepada kami seorang syaikh dari Quraisy, telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Abdul Aziz, dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ambillah kuda-kuda dan minumlah susunya di malam hari, karena itu adalah warisan bapak kalian Ismail.” Dan kuda-kuda arab ini adalah binatang liar, maka dia berdoa untuk mereka dengan doanya yang telah diberikan kepadanya, lalu mereka menjawab. Dan sesungguhnya dia adalah orang pertama yang berbicara dengan bahasa Arab yang fasih lagi fasih. Dan dia telah mempelajarinya dari orang-orang Arab asli yang tinggal bersama mereka di Mekkah dari Jurhum, Amaliq, dan penduduk Yaman dari bangsa-bangsa Arab terdahulu sebelum Al-Khalil.

Berkata Al-Umawi: telah menceritakan kepadaku Ali bin Al-Mughirah, telah menceritakan kepada kami Abu Ubaidah, telah menceritakan kepada kami Musma’ bin Malik, dari Muhammad bin Ali bin Al-Husain, dari bapak-bapaknya, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Orang pertama yang membuka lisannya dengan bahasa Arab yang jelas adalah Ismail, dan dia berumur empat belas tahun.” Maka berkata kepadanya Yunus: engkau benar wahai Abu Yasar. Demikian pula Abu Jari menceritakan kepadaku.

Dan telah kami kemukakan bahwa dia menikah ketika dewasa dari kaum Amaliq seorang wanita, dan bahwa ayahnya memerintahkannya untuk menceraikannya, lalu dia menceraikannya. Berkata Al-Umawi: dan dia adalah Amarah binti Sa’d bin Usamah bin Akil Al-Amlaqi. Kemudian dia menikah dengan yang lain, lalu ayahnya memerintahkannya agar melanjutkannya, maka dia melanjutkannya, dan dia adalah As-Sayyidah binti Mudhadh bin Amr Al-Jurhumi.

Dan dikatakan: ini adalah yang ketiga. Maka dia melahirkan untuknya dua belas anak laki-laki. Dan telah menyebutkan nama-nama mereka Muhammad bin Ishaq rahimahullah, dan mereka adalah: Nabit, Qaidar, Adbil, Misya, Masma’, Masy, Duma, Adar, Yathur, Banyasy, Thaima, dan Qaidzuma. Dan demikian pula ahli Kitab menyebutkan mereka dalam kitab mereka, dan menurut mereka bahwa mereka adalah dua belas orang besar yang telah dikabarkan gembira tentang mereka yang disebutkan sebelumnya. Dan mereka berdusta dalam ta’wil mereka terhadap itu. Dan Ismail alaihissalam adalah rasul kepada penduduk daerah itu dan sekitarnya dari kabilah-kabilah Jurhum, Amaliq, dan penduduk Yaman. Semoga shalawat dan salam Allah tercurah padanya. Dan ketika kematian mendatanginya, dia berwasiat kepada saudaranya Ishaq, dan menikahkan putrinya Nasmah dengan anak saudaranya Al-Ish bin Ishaq, lalu dia melahirkan untuknya bangsa Romawi, dan mereka disebut Banu Al-Ashfar karena adanya kekuningan pada Al-Ish. Dan dia melahirkan untuknya bangsa Yunani menurut salah satu pendapat. Dan dari keturunan Al-Ish adalah Al-Asyban, dan dikatakan: dari keduanya juga. Dan Ibnu Jarir rahimahullah berhenti (tidak berpendapat).

Dan Ismail nabi Allah dikuburkan di Hijr bersama ibunya Hajar. Dan umurnya ketika dia meninggal adalah seratus tiga puluh tujuh tahun. Dan diriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz bahwa dia berkata: Ismail alaihissalam mengeluh kepada Rabbnya Azza wa Jalla tentang panasnya Mekkah, maka Allah mewahyukan kepadanya: “Sesungguhnya Aku akan membukakan untukmu pintu ke surga menuju tempat di mana engkau dikuburkan, mengalir padamu kenikmatan surganya sampai hari kiamat.”

Dan orang-orang Arab Hijaz semuanya menisbatkan diri kepada dua anaknya Nabit dan Qaidar. Dan kami akan berbicara tentang kelompok-kelompok Arab, cabang-cabangnya, kabilah-kabilahnya, suku-sukunya, dan klan-klannya sejak zaman Ismail alaihissalam sampai zaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dan itu ketika kami sampai pada masa-masa mulianya dan sirah agungnya setelah selesai dari kisah-kisah para nabi Bani Israil sampai zaman Isa ibnu Maryam penutup para nabi mereka dan pembenar berita-berita para nabi mereka. Kemudian kami sebutkan apa yang terjadi di zaman Bani Israil, kemudian apa yang terjadi di masa-masa jahiliyah, kemudian pembicaraan berakhir pada sirah nabi kami Rasulullah kepada orang-orang Arab dan Ajam (non-Arab), dan seluruh macam Bani Adam dari berbagai bangsa, insya Allah Ta’ala. Kepada-Nya kepercayaan dan kepada-Nya sandaran. Dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Penyebutan Ishaq bin Ibrahim alaihimash shalatu wat taslim

Telah kami kemukakan bahwa dia dilahirkan ketika ayahnya berumur seratus tahun, setelah saudaranya Ismail dengan empat belas tahun. Dan umur ibunya Sarah ketika dia diberi kabar gembira dengannya adalah sembilan puluh tahun. Allah Ta’ala berfirman: Dan Kami beri Ibrahim kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. Dan Kami limpahkan keberkahan kepadanya dan kepada Ishaq. Dan di antara anak cucu keduanya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang jelas-jelas menzalimi dirinya sendiri. (Ash-Shaffat: 112-113).

Dan Allah Ta’ala telah menyebutkannya dengan pujian kepadanya di banyak ayat dari Kitab-Nya yang mulia. Dan telah kami kemukakan dalam hadits Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa orang yang mulia putra orang yang mulia putra orang yang mulia putra orang yang mulia adalah Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim.

Dan ahli Kitab menyebutkan bahwa Ishaq ketika menikahi Rifqa binti Tsabuail dalam kehidupan ayahnya, umurnya adalah empat puluh tahun, dan bahwa dia adalah mandul, maka dia berdoa kepada Allah untuknya, lalu dia hamil dan melahirkan dua anak laki-laki kembar. Yang pertama mereka beri nama Ishu, dan dialah yang orang Arab sebut sebagai Al-Ish. Dan dia adalah ayah bangsa Romawi. Dan yang kedua keluar sambil memegang tumit saudaranya, maka mereka beri nama dia Ya’qub, dan dialah Israil yang dinisbatkan kepadanya Bani Israil. Mereka berkata: dan Ishaq mencintai Al-Ish lebih dari Ya’qub karena dia adalah anak sulungnya, dan ibu mereka Rifqa mencintai Ya’qub lebih karena dia adalah yang terkecil.

Mereka berkata: maka ketika Ishaq bertambah tua dan penglihatannya melemah, dia menginginkan dari anaknya Al-Ish makanan, dan memerintahkannya agar pergi berburu untuknya seekor buruan dan memasakkannya untuknya agar dia memberkatinya dan mendoakannya. Dan Al-Ish adalah pemburu. Maka dia pergi mencari itu. Lalu Rifqa memerintahkan anaknya Ya’qub agar menyembelih dua ekor kambing muda dari kambing-kambingnya yang terbaik, dan membuat darinya makanan sebagaimana yang diinginkan ayahnya, dan mendatanginya dengan itu sebelum saudaranya agar dia mendoakan dia. Dan dia memakainya pakaian saudaranya, dan meletakkan pada lengan-lengannya dan lehernya dari kulit dua kambing muda itu; karena Al-Ish berbulu lebat tubuhnya sedangkan Ya’qub tidak seperti itu.

Maka ketika dia mendatanginya dengan itu dan mendekatkannya kepadanya, dia berkata: “Siapa kamu?” Dia menjawab: “Anakmu.” Maka dia memeluknya dan merabanya, dan terus berkata: “Adapun suaranya adalah suara Ya’qub, dan adapun rabaan dan pakaiannya adalah Al-Ish.” Maka ketika dia makan dan selesai, dia mendoakan dia agar menjadi yang paling besar di antara saudara-saudaranya dalam kedudukan, dan kalimahnya (kekuasaannya) atas mereka dan atas kaum-kaum setelahnya, dan agar rizki dan anaknya diperbanyak.

Maka ketika dia keluar dari hadapannya, datanglah saudaranya Al-Ish dengan apa yang diperintahkan oleh ayahnya kepadanya untuk mendekatkannya kepadanya. Maka dia berkata kepadanya: “Apa ini wahai anakku?” Dia menjawab: “Ini adalah makanan yang engkau inginkan.” Maka dia berkata: “Bukankah engkau mendatangkanku dengan itu tadi dan aku makan darinya dan mendoakan untuk engkau?” Dia berkata: “Tidak demi Allah.” Dan dia tahu bahwa saudaranya telah mendahuluinya untuk itu, maka dia merasa sangat kesal kepadanya. Dan mereka menyebutkan bahwa dia mengancamnya dengan pembunuhan jika ayah mereka meninggal. Dan dia meminta ayahnya, lalu ayahnya mendoakan dia dengan doa yang lain, dan agar dijadikan bagi keturunannya tanah yang keras, dan agar diperbanyak rizki dan buah-buahan mereka.

Maka ketika ibu mereka mendengar apa yang Al-Ish ancamkan kepada saudaranya Ya’qub, dia memerintahkan anaknya Ya’qub agar pergi ke saudaranya Laban yang berada di tanah Harran, dan agar berada di sisinya sampai kemarahan saudaranya kepadanya mereda, dan agar menikahi putri-putrinya. Dan dia berkata kepada suaminya Ishaq agar memerintahkannya dengan itu dan berwasiat kepadanya serta mendoakannya. Maka dia melakukan itu. Lalu Ya’qub alaihissalam keluar dari mereka pada akhir hari itu, maka malam menemuinya di suatu tempat, lalu dia tidur di sana. Dia mengambil sebuah batu dan meletakkannya di bawah kepalanya dan tidur. Maka dia bermimpi dalam tidurnya itu sebuah tangga yang terpasang dari langit ke bumi, dan para malaikat naik di sana dan turun. Dan Rabb Tabaraka wa Ta’ala berbicara kepadanya dan berkata kepadanya: “Sesungguhnya Aku akan memberkatimu, memperbanyak keturunanmu, dan menjadikan untukmu tanah ini dan untuk keturunanmu setelahmu.”

Maka ketika dia bangun dari tidurnya, dia gembira dengan apa yang dia lihat, dan bernazar kepada Allah jika dia kembali kepada keluarganya dengan selamat, sungguh dia akan membangun di tempat ini ma’bad (tempat ibadah) untuk Allah Azza wa Jalla, dan bahwa semua yang dirizqikan kepadanya dari sesuatu adalah untuk Allah sepersepuluhnya. Kemudian dia menuju batu itu dan meletakkan padanya minyak agar dia mengenalinya. Dan dia menamakan tempat itu Bait Il, yaitu Bait Allah (Rumah Allah). Dan itu adalah tempat Bait Al-Maqdis (Yerusalem) hari ini yang dibangun oleh Ya’qub setelah itu, sebagaimana akan datang.

Mereka berkata: maka ketika Ya’qub tiba kepada pamannya di tanah Harran, ternyata dia memiliki dua putri. Nama yang tua adalah Liya, dan nama yang muda adalah Rahil. Maka dia melamar kepadanya Rahil, dan dia lebih bagus dan lebih cantik dari keduanya. Maka dia menjawabnya dengan syarat bahwa dia menggembalakan gembala-gembalanya selama tujuh tahun. Maka ketika masa itu berlalu, pamannya Laban membuat makanan, dan mengumpulkan orang-orang padanya, dan mengantarkan kepadanya di malam hari putrinya yang tua Liya, dan dia lemah matanya dan buruk penampilannya.

Maka ketika pagi Ya’qub ternyata dia adalah Liya. Maka dia berkata kepada pamannya: “Mengapa engkau menipu aku, sedangkan engkau aku melamar kepadamu Rahil?” Maka dia berkata: “Sesungguhnya tidak dari kebiasaan kami bahwa kami menikahkan yang muda sebelum yang tua. Maka jika engkau mencintai saudarinya, maka bekerjalah tujuh tahun lagi dan aku menikahkanmu dengannya.” Maka dia bekerja tujuh tahun, dan dia memasukkannya kepadanya bersama saudarinya. Dan itu diperbolehkan dalam agama mereka. Kemudian dinasakh (dihapus) dalam syariat Taurat. Dan ini saja adalah dalil yang cukup tentang terjadinya nasakh; karena perbuatan Ya’qub alaihissalam adalah dalil atas kebolehan ini dan mubahnya; karena dia ma’shum (terpelihara dari dosa). Dan Laban menghadiahi setiap seorang dari dua putrinya seorang budak perempuan.

Maka Laban memberikan kepada Lea seorang budak perempuan bernama Zilfa, dan memberikan kepada Rahel seorang budak perempuan bernama Bilha. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengimbangi kelemahan Lea dengan menganugerahinya anak-anak. Anak pertama yang dilahirkan Lea untuk Yakub adalah Ruben, kemudian Simeon, kemudian Lewi, kemudian Yehuda. Rahel pun menjadi iri karenanya, padahal dia tidak bisa hamil. Maka dia memberikan budaknya Bilha kepada Yakub. Yakub pun menggaulinya, lalu hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Dan. Kemudian hamil lagi dan melahirkan anak laki-laki lain yang diberi nama Naftali. Maka Lea pun memberikan budaknya Zilfa kepada Yakub alaihissalam, lalu melahirkan untuknya Gad dan Asyer, dua anak laki-laki. Kemudian Lea hamil lagi dan melahirkan anak kelima darinya yang diberi nama Isakhar. Kemudian hamil lagi dan melahirkan anak keenam yang diberi nama Zebulon. Kemudian hamil lagi dan melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Dina. Maka jumlah anaknya dari Yakub adalah tujuh. Kemudian Rahel berdoa kepada Allah Ta’ala dan memohon kepada-Nya agar menganugerahinya seorang anak laki-laki dari Yakub. Allah mendengar seruannya dan mengabulkan doanya, maka dia hamil dari Nabi Allah Yakub dan melahirkan untuknya seorang anak laki-laki yang mulia, terhormat, tampan, dan cantik yang diberi nama Yusuf. Semua ini terjadi saat mereka tinggal di tanah Haran, dan Yakub menggembala kambing pamannya setelah menikahi kedua putrinya selama enam tahun lagi, sehingga masa tinggalnya menjadi dua puluh tahun. Yakub meminta izin kepada pamannya Laban untuk berangkat menemui keluarganya. Pamannya berkata: “Aku telah diberkahi karena dirimu, maka mintalah dari hartaku apa yang engkau inginkan.” Dia berkata: “Berilah aku setiap anak domba yang lahir dari dombamu tahun ini yang berbintik, setiap anak domba yang belang-belang putih dengan hitam, setiap yang kehitaman dengan putih, dan setiap yang putih polos dari kambing.” Dia berkata: “Baiklah.” Maka anak-anaknya mengeluarkan dari domba ayahnya yang sesuai dengan sifat-sifat ini dari kambing jantan agar tidak ada anak domba yang lahir dengan sifat-sifat ini, dan mereka membawanya dalam perjalanan tiga hari dari domba ayahnya. Mereka berkata: Yakub alaihissalam mengambil cabang-cabang yang basah dan putih dari pohon badam dan deleb, lalu mengupasnya bergaris putih, dan menaruhnya di tempat minum domba-domba dari air agar domba-domba memandangnya lalu terkejut, dan anak-anaknya bergerak di dalam perutnya sehingga warna anak dombanya menjadi seperti itu. Dan ini termasuk mukjizat yang melampaui kebiasaan, dan termasuk dalam rangkaian mukjizat. Maka Yakub alaihissalam memiliki domba-domba yang banyak, hewan-hewan tunggangan, dan budak-budak, dan wajah pamannya serta anak-anaknya berubah terhadapnya, seolah-olah mereka merasa dirugikan olehnya.

Allah Ta’ala mewahyukan kepada Yakub agar kembali ke negeri ayahnya dan kaumnya, dan berjanji akan menyertainya. Dia menyampaikan hal itu kepada keluarganya dan mereka menjawab dengan segera menaati perintahnya. Maka dia berangkat dengan keluarga dan hartanya, dan Rahel mencuri berhala-berhala ayahnya. Ketika mereka melewati dan meninggalkan negeri mereka, Laban dan kaumnya mengejar mereka. Ketika Laban bertemu dengan Yakub, dia menegurnya karena pergi tanpa izin dan sepengetahuannya, mengapa tidak memberitahunya agar bisa melepas mereka dengan gembira, dengan alat musik dan rebana, serta agar bisa mengucapkan selamat tinggal kepada anak-anak perempuannya dan cucu-cucunya, dan mengapa mereka membawa berhala-berhalanya. Yakub tidak tahu tentang berhala-berhalanya, maka dia menyangkal bahwa mereka mengambil berhalanya. Dia masuk ke rumah-rumah anak perempuannya dan budak-budaknya untuk menggeledah tetapi tidak menemukan apa-apa. Rahel telah meletakkan berhala-berhala itu di bawah pelana unta, dan dia duduk di atasnya sehingga tidak berdiri, dan beralasan bahwa dia sedang haid sehingga tidak bisa menemukannya. Kemudian mereka membuat perjanjian di sebuah bukit yang disebut Gilead, bahwa dia tidak akan menghina anak-anak perempuannya dan tidak akan menikahi perempuan lain selain mereka, dan tidak akan melewati bukit ini ke negeri yang lain, baik Laban maupun Yakub. Mereka membuat makanan dan orang-orang makan bersama mereka, setiap orang mengucapkan selamat tinggal kepada yang lain, dan mereka berpisah kembali ke negeri masing-masing. Ketika Yakub mendekati tanah Seir, para malaikat menemuinya memberi kabar gembira tentang kedatangannya. Yakub mengirim utusan kepada saudaranya Esau dengan penuh kerendahan hati dan lemah lembut, maka utusan itu kembali dan memberitahu Yakub bahwa Esau telah berkuda menuju kepadamu dengan empat ratus orang. Yakub khawatir akan hal itu, dan berdoa kepada Allah Azza wa Jalla, shalat kepada-Nya, dan merendahkan diri kepada-Nya. Dia mengingatkan-Nya akan janji dan perjanjian yang telah dijanjikan kepada-Nya, dan memohon agar Dia melindunginya dari kejahatan saudaranya Esau. Dia menyiapkan hadiah besar untuk saudaranya yaitu: dua ratus ekor domba betina, dua puluh ekor kambing jantan, dua ratus ekor domba betina, dua puluh ekor domba jantan, tiga puluh ekor unta yang sedang menyusui, empat puluh ekor sapi betina, sepuluh ekor sapi jantan, dua puluh ekor keledai betina, dan sepuluh ekor keledai jantan. Dia memerintahkan budak-budaknya untuk menggiring masing-masing jenis ini sendiri-sendiri, dan hendaknya ada jarak antara setiap kawanan. Jika Esau bertemu dengan yang pertama dan berkata: “Milik siapa kamu? Dan milik siapa ini yang bersamamu?” maka hendaknya dia menjawab: “Milik hambamu Yakub, dihadiahkan untuk tuanku Esau.” Dan yang setelahnya hendaknya berkata demikian, begitu juga yang setelahnya, begitu juga yang setelahnya, dan setiap orang dari mereka hendaknya berkata: “Dan dia datang setelah kami.” Yakub tertinggal dengan kedua istrinya, kedua budaknya, dan sebelas anaknya di belakang semuanya selama dua malam, dan dia berjalan pada malam hari dan bersembunyi pada siang hari. Ketika waktu fajar dari malam kedua, seorang malaikat menampakkan diri kepadanya dalam bentuk manusia, dan Yakub mengira dia adalah seorang manusia biasa, maka Yakub mendatanginya untuk bergulat dan bertanding dengannya. Yakub menang atas dia dalam pandangannya, tetapi malaikat itu menyentuh pinggangnya sehingga Yakub pincang. Ketika fajar menyingsing, malaikat itu berkata kepadanya: “Siapa namamu?” Dia berkata: “Yakub.” Dia berkata: “Tidak sepantasnya engkau dipanggil setelah hari ini kecuali Israel.” Maka Yakub berkata kepadanya: “Dan siapa engkau? Apa namamu?” Lalu dia menghilang darinya, dan dia tahu bahwa dia adalah malaikat dari para malaikat. Yakub bangun pagi dalam keadaan pincang kakinya, oleh karena itu Bani Israel tidak memakan urat panggul. Yakub mengangkat matanya dan tiba-tiba saudaranya Esau telah datang dengan empat ratus orang, maka dia maju di depan keluarganya. Ketika dia melihat saudaranya Esau, dia sujud kepadanya tujuh kali, dan ini adalah cara mereka memberi hormat pada masa itu, dan itu disyariatkan bagi mereka, sebagaimana para malaikat sujud kepada Adam untuk menghormatinya, dan sebagaimana saudara-saudara Yusuf dan kedua orang tuanya sujud kepadanya, sebagaimana akan datang. Ketika Esau melihatnya, dia maju kepadanya, memeluknya, menciumnya, dan menangis. Esau mengangkat matanya dan melihat para wanita dan anak-anak, lalu berkata: “Dari mana engkau mendapat mereka ini?” Dia berkata: “Mereka adalah yang dianugerahkan Allah kepada hambumu.” Maka kedua budak wanita dan anak-anak mereka mendekat dan sujud kepadanya. Kemudian Lea dan anak-anaknya mendekat dan sujud kepadanya. Kemudian Rahel dan anaknya Yusuf terakhir dan sujud kepadanya. Dia menawarkan kepadanya untuk menerima hadiahnya dan memaksanya, maka dia menerimanya. Esau kembali dan maju di depannya, dan Yakub menyusulnya dengan keluarganya dan hewan-hewan ternak, domba-domba, dan budak-budak yang bersamanya menuju pegunungan Seir. Ketika dia melewati Sukkot, dia membangun rumah untuknya dan tempat berteduh untuk hewan-hewannya. Kemudian dia melewati Yerusalem, desa Sikhem, dan turun sebelum desa itu, membeli ladang dari Bani Hamor, ayah Sikhem dengan seratus ekor domba. Dia memasang kemahnya di sana dan membangun sebuah altar yang disebutnya El-Elohe-Israel. Allah memerintahkannya untuk membangunnya agar Dia menampakkan diri kepadanya di sana, yaitu Baitul Maqdis hari ini yang diperbaharui setelah itu oleh Sulaiman bin Daud alaihimassalam, dan itu adalah tempat batu yang dia tandai dengan menuangkan minyak di atasnya sebelumnya, sebagaimana kami sebutkan di awal.

Ahli Kitab menyebutkan di sini kisah Dina binti Yakub dari Lea, dan apa yang terjadi tentang urusannya dengan Sikhem bin Hamor yang memperkosanya dan memasukkannya ke rumahnya, kemudian meminangnya dari ayahnya dan saudara-saudaranya. Saudara-saudaranya berkata: “Kami tidak akan melakukan itu kecuali kalian semua bersunat, maka kami akan saling menikah dengan kalian dan kalian menikah dengan kami, karena kami tidak menikah dengan kaum yang tidak bersunat.” Maka mereka menyetujui hal itu dan semua bersunat. Ketika hari ketiga dan rasa sakit mereka dari sunat semakin parah, anak-anak Yakub menyerang mereka dan membunuh mereka sampai yang terakhir, membunuh Sikhem dan ayahnya Hamor karena perbuatan buruk yang mereka lakukan kepada mereka, ditambah lagi kekafiran mereka dan apa yang mereka sembah dari berhala-berhala mereka. Oleh karena itu anak-anak Yakub membunuh mereka dan mengambil harta mereka sebagai rampasan perang, wallahu a’lam.

Kemudian Rahel hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki, yaitu Benyamin, tetapi dia sangat menderita dalam melahirkannya, dan meninggal setelahnya. Yakub menguburkannya di Efrata, yaitu Betlehem, dan Yakub membuat batu di atas kuburnya, yaitu batu-batu yang dikenal sebagai kubur Rahel sampai hari ini. Anak-anak Yakub laki-laki adalah dua belas orang: dari Lea: Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda, Isakhar, dan Zebulon. Dari Rahel: Yusuf dan Benyamin. Dari budak Rahel: Dan dan Naftali. Dari budak Lea: Gad dan Asyer, alaihimussalam. Yakub datang kepada ayahnya Ishak dan tinggal bersamanya di desa Hebron yang berada di tanah Kanaan tempat Ibrahim dahulu tinggal. Kemudian Ishak sakit dan meninggal pada usia seratus delapan puluh tahun, dan kedua anaknya Esau dan Yakub menguburkannya bersama ayahnya Ibrahim Al-Khalil di gua yang dia beli sebagaimana telah kami sebutkan. Wallahu Subhanahu a’lam tentang hal itu.

۞۞۞۞۞

Penyebutan Peristiwa-Peristiwa Menakjubkan yang Terjadi dalam Kehidupan Israel Alaihissalam

Di antaranya adalah Kisah Yusuf Putra Rahel

Allah Azza wa Jalla telah menurunkan tentang urusannya dan apa yang terjadi darinya sebuah surah dari Al-Quran Al-Azhim agar direnungkan apa yang ada di dalamnya berupa hikmah, nasihat, adab, dan perintah yang bijaksana. Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang:

“Alif Lam Ra. Itulah ayat-ayat Kitab yang nyata. Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Quran berbahasa Arab agar kamu mengerti. Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Quran ini kepadamu, dan sungguh sebelum (turunnya) Al-Quran ini engkau termasuk orang yang tidak mengetahui.” (Yusuf: 1-3)

Kami telah membahas tentang huruf-huruf terputus di awal tafsir surah Al-Baqarah, maka barangsiapa yang menginginkan penjelasannya hendaklah melihat di sana, dan kami telah membahas surah ini secara lengkap di tempatnya dalam kitab tafsir, dan kami akan menyebutkan di sini sebagian dari apa yang ada di sana dengan cara ringkas dan padat.

Kesimpulan pembahasan dalam hal ini adalah bahwa Dia Ta’ala memuji Kitab-Nya yang agung yang diturunkan-Nya kepada hamba dan Rasul-Nya yang mulia dengan bahasa Arab yang fasih, jelas, nyata, dan terang, dipahami oleh setiap orang yang berakal, cerdas, dan suci. Maka ia adalah kitab yang paling mulia yang turun dari langit, diturunkan oleh malaikat yang paling mulia kepada makhluk yang paling mulia di masa dan tempat yang paling mulia dengan bahasa yang paling fasih dan penjelasan yang paling jelas. Jika konteksnya tentang berita-berita masa lalu atau yang akan datang, ia menyebutkan yang terbaik dan yang paling jelas darinya, menampakkan kebenaran dari apa yang diperselisihkan manusia tentangnya, membantah kebatilan, memalsukan dan menolaknya. Jika tentang perintah-perintah dan larangan-larangan, maka syariat yang paling adil dan metode yang paling jelas, hukum yang paling nyata dan keputusan yang paling adil. Maka ia seperti firman Allah Ta’ala: “Dan telah sempurna kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai (kalimat) yang benar dan adil.” (Al-An’am: 115). Artinya benar dalam berita-berita dan adil dalam perintah-perintah dan larangan-larangan. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: “Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Quran ini kepadamu, dan sungguh sebelum (turunnya) Al-Quran ini engkau termasuk orang yang tidak mengetahui.” Artinya berkaitan dengan apa yang diwahyukan kepadamu di dalamnya, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (Al-Quran) dari urusan Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Quran) dan apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Quran itu cahaya yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki dari hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus, (yaitu) jalan Allah yang memiliki apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (Asy-Syura: 52-53). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Demikianlah Kami ceritakan kepadamu sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sungguh telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al-Quran). Barangsiapa berpaling darinya, maka sungguh dia akan memikul dosa yang berat pada hari Kiamat. Mereka kekal di dalamnya. Dan sangat buruk bagi mereka dosa itu sebagai beban pada hari Kiamat.” (Thaha: 99-101). Maksudnya barangsiapa berpaling dari Al-Quran ini dan mengikuti selainnya dari kitab-kitab, maka dia akan mendapat ancaman ini, sebagaimana firman-Nya dalam hadits yang diriwayatkan dalam Al-Musnad dan At-Tirmidzi dari Amirul Mukminin Ali, secara marfu’ dan mauquf: “Barangsiapa mencari petunjuk pada selain Al-Quran, Allah akan menyesatkannya.” Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Suraij bin An-Nu’man, telah menceritakan kepada kami Husyaim, telah mengabarkan kepada kami Mujalid, dari Asy-Sya’bi, dari Jabir bahwa Umar bin Al-Khaththab datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan sebuah kitab yang dia dapatkan dari sebagian Ahli Kitab, lalu dia membacakannya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Dia berkata: Maka beliau marah dan berkata: “Apakah kalian ragu-ragu tentangnya wahai Ibnu Al-Khaththab? Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh aku telah datang kepada kalian dengan (Al-Quran) yang putih bersih. Jangan kalian bertanya kepada mereka tentang sesuatu lalu mereka memberitahu kalian dengan kebenaran maka kalian mendustakannya atau dengan kebatilan maka kalian membenarkannya. Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya Musa masih hidup, tidaklah pantas baginya kecuali mengikutiku.” Sanadnya shahih. Dan Ahmad meriwayatkannya dari jalan lain, dari Amru di dalamnya, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata: “Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya Musa berada di antara kalian kemudian kalian mengikutinya dan meninggalkanku niscaya kalian akan sesat. Sesungguhnya kalian adalah bagiankuku dari umat-umat, dan aku adalah bagian kalian dari para nabi.” Dan aku telah menyebutkan jalan-jalan hadits ini dan lafadz-lafadznya di awal surah Yusuf, dan dalam sebagiannya bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkhutbah kepada manusia, lalu berkata dalam khutbahnya: “Wahai manusia, sesungguhnya aku telah diberi jawami’ul kalim (kalimat-kalimat yang ringkas namun luas maknanya) dan penutupnya, dan diringkaskan untukku ringkasan, dan sungguh aku telah datang kepada kalian dengan (Al-Quran) yang putih bersih. Maka janganlah kalian ragu-ragu, dan jangan kalian tertipu oleh orang-orang yang ragu-ragu.” Kemudian beliau memerintahkan lembaran itu dan dihapuslah huruf demi huruf.

“(Ingatlah) ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, ‘Wahai ayahku, aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.’ Dia (Yakub) berkata, ‘Wahai anakku, janganlah engkau ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, nanti mereka membuat tipu daya (untuk membinasakan)mu. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi manusia. Dan demikianlah Tuhanmu memilihmu dan mengajarkan kepadamu sebagian takwil (tafsir) mimpi dan menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Yakub, sebagaimana Dia telah menyempurnakannya kepada dua orang bapakmu sebelum (ini), (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sungguh, Tuhanmu Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (Yusuf: 4-6)

Kami telah menyebutkan bahwa Yakub memiliki dua belas anak laki-laki, dan kami telah menyebutkan nama-nama mereka, dan kepada merekalah dinisbatkan Asbath (suku-suku) Bani Israel semuanya. Yang paling mulia, paling agung, dan paling besar di antara mereka adalah Yusuf alaihissalam. Sekelompok ulama berpendapat bahwa tidak ada nabi di antara mereka selain dia, dan saudara-saudaranya yang lain tidak diwahyukan kepada mereka. Dhahir (makna lahir) dari apa yang disebutkan tentang perbuatan dan perkataan mereka dalam kisah ini menunjukkan pendapat ini. Barangsiapa yang berdalil dengan kenabian mereka dengan firman-Nya: “Katakanlah (wahai orang-orang mukmin), ‘Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan Asbath.'” (Al-Baqarah: 136) dan mengira bahwa mereka adalah Asbath, maka dalilnya tidak kuat, karena yang dimaksud dengan Asbath adalah kaum-kaum Bani Israel dan para nabi yang ada di antara mereka yang diturunkan wahyu dari langit kepada mereka, wallahu a’lam.

Dan di antara hal-hal yang memperkuat bahwa Yusuf alaihissalam adalah satu-satunya di antara saudara-saudaranya yang dikhususkan dengan risalah dan kenabian adalah bahwa Allah menegaskan kenabiannya dan wahyu kepadanya dalam lebih dari satu ayat dalam Kitab-Nya yang mulia, dan tidak menegaskan hal tersebut pada seorang pun dari saudara-saudaranya selain dia, maka ini menunjukkan apa yang telah kami sebutkan. Hal ini diperkuat dengan apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad: telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abdullah bin Dinar, dari ayahnya, dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Yang mulia anak dari yang mulia anak dari yang mulia anak dari yang mulia: Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim.” Hadits ini diriwayatkan secara tersendiri oleh Bukhari dan dia meriwayatkannya dari Abdullah bin Muhammad, dan Abdah, dari Abdush Shamad bin Abdul Warits dengannya. Kami telah menyebutkan jalan-jalan periwayatannya dalam kisah Ibrahim dengan apa yang mencukupkan dari pengulangannya di sini, dan bagi Allah segala puji dan karunia.

Para mufassir dan lainnya berkata: Yusuf alaihissalam melihat ketika dia masih kecil sebelum baligh seolah-olah sebelas bintang, dan mereka adalah isyarat kepada saudara-saudaranya yang lain, sedangkan matahari dan bulan adalah ungkapan tentang kedua orang tuanya, telah bersujud kepadanya, maka hal itu mengherankannya. Ketika dia terbangun, dia menceritakannya kepada ayahnya, lalu ayahnya mengetahui bahwa dia akan mendapatkan kedudukan yang tinggi dan kemuliaan yang agung di dunia dan akhirat, sehingga kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya tunduk kepadanya dalam hal itu. Maka ayahnya memerintahkannya untuk merahasiakannya dan agar tidak menceritakannya kepada saudara-saudaranya supaya mereka tidak iri kepadanya, mencari keburukannya dan memperdayanya dengan berbagai macam tipu muslihat dan kelicikan. Ini menunjukkan apa yang telah kami sebutkan; oleh karena itu datang dalam beberapa riwayat: “Mohonlah bantuan untuk menunaikan keperluanmu dengan merahasiakannya, karena setiap orang yang memiliki nikmat pasti diiri.” Menurut Ahli Kitab, dia menceritakannya kepada ayahnya dan saudara-saudaranya sekaligus. Itu adalah kesalahan dari mereka. “Dan demikianlah Tuhanmu akan memilihmu.” Artinya, sebagaimana Dia telah memperlihatkanmu mimpi yang agung ini, maka jika engkau merahasiakannya, Tuhanmu akan memilihmu, yakni mengkhususkanmu dengan berbagai macam kelembutan dan rahmat. “Dan mengajarkanmu sebagian dari takwil mimpi.” Artinya, memberikanmu pemahaman tentang makna-makna perkataan dan takwil mimpi yang tidak dipahami oleh orang lain. “Dan menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu.” Artinya, dengan wahyu kepadamu. “Dan kepada keluarga Ya’qub.” Artinya, karena engkau, dan akan diperoleh oleh mereka berkatmu kebaikan dunia dan akhirat. “Sebagaimana Dia telah menyempurnakannya kepada kedua orang tuamu sebelum ini, yaitu Ibrahim dan Ishaq.” Artinya, memberikan nikmat kepadamu dan berbuat baik kepadamu dengan kenabian, sebagaimana Dia telah memberikannya kepada ayahmu Ya’qub, kakekmu Ishaq, dan ayah kakekmu Ibrahim Al-Khalil. “Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan risalah-Nya.” (Al-An’am: 124)

Oleh karena itu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda ketika ditanya: Siapakah manusia yang paling mulia? Beliau menjawab: “Yusuf, nabi Allah putra nabi Allah putra nabi Allah putra khalilullah.” Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim telah meriwayatkan dalam tafsir keduanya, Abu Ya’la dan Al-Bazzar dalam musnad keduanya dari hadits Al-Hakam bin Zhuhair—yang telah dilemahkan oleh para imam—dari As-Suddi, dari Abdurrahman bin Sabit, dari Jabir, dia berkata: Datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam seorang laki-laki Yahudi yang disebut Bustanah Al-Yahudi. Dia berkata: Wahai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang bintang-bintang yang dilihat Yusuf bahwa mereka bersujud kepadanya, apa nama-nama mereka? Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam diam dan tidak menjawabnya dengan sesuatu pun. Lalu Jibril alaihissalam turun dengan nama-nama mereka. Maka Rasulullah mengutus utusan kepadanya dan berkata: “Apakah engkau akan beriman jika aku memberitahumu nama-nama mereka?” Dia berkata: Ya. Maka beliau bersabda: “Mereka adalah Jaraban, Ath-Thariq, Adz-Dzayyal, Dzul Kanfat, Qabis, Wattsab, Amudan, Al-Failaq, Al-Mushbih, Ash-Sharuh, Dzul Far’, Adh-Dhiya’, dan An-Nur.” Maka orang Yahudi itu berkata: Benar demi Allah, sesungguhnya itulah nama-nama mereka. Dan menurut riwayat Abu Ya’la: Ketika dia menceritakannya kepada ayahnya, ayahnya berkata: Ini adalah perkara yang bercerai-berai yang akan dikumpulkan oleh Allah, matahari adalah ayahnya dan bulan adalah ibunya.

“Sesungguhnya pada Yusuf dan saudara-saudaranya terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang bertanya. Ketika mereka berkata: ‘Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita ini adalah satu golongan. Sesungguhnya ayah kita dalam kekeliruan yang nyata. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik.’ Berkatalah salah seorang di antara mereka: ‘Janganlah kamu membunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh sebagian musafir, jika kamu hendak berbuat.'” (Yusuf: 7-10)

Allah Ta’ala mengingatkan tentang apa yang ada dalam kisah ini berupa ayat-ayat, hikmah-hikmah, dalil-dalil, nasihat-nasihat, dan keterangan-keterangan yang jelas. Kemudian Dia menyebutkan iri hatinya saudara-saudara Yusuf kepadanya karena cinta ayah mereka kepada dia dan kepada saudara kandungnya—maksudnya saudara seibu—Bunyamin lebih dari mereka padahal mereka adalah kelompok, yakni jamaah. Mereka berkata: Seharusnya kami lebih berhak mendapat cinta daripada kedua orang ini. “Sesungguhnya ayah kita dalam kekeliruan yang nyata.” Artinya, dengan mendahulukan cinta kepada keduanya atas kami. Kemudian mereka bermusyawarah di antara mereka tentang membunuh Yusuf atau membuangnya ke suatu negeri sehingga dia tidak akan kembali darinya agar perhatian ayah mereka kosong untuk mereka, yakni agar cintanya murni dan tertumpah kepada mereka, dan mereka berniat untuk bertaubat setelah itu. Ketika mereka sepakat tentang hal itu dan setuju padanya, berkatalah salah seorang di antara mereka. Mujahid berkata: Dia adalah Syam’un. As-Suddi berkata: Dia adalah Yahudza. Qatadah dan Muhammad bin Ishaq berkata: Dia adalah yang tertua di antara mereka, Rubil. “Janganlah kamu membunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh sebagian musafir.” Artinya, orang yang lewat dari kalangan musafir. “Jika kamu hendak berbuat.” Apa yang kalian katakan pasti terjadi, maka hendaklah yang aku katakan ini kepada kalian, karena hal itu lebih ringan daripada membunuhnya atau membuangnya dan mengasingkannya. Maka mereka menetapkan pendapat mereka pada hal ini. Pada saat itulah mereka berkata: “Wahai ayah kami, mengapa engkau tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengasihiNya? Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, supaya dia bermain-main dan bersenang-senang dan sesungguhnya kami pasti menjaganya. Berkata Ya’qub: ‘Sesungguhnya kepergianmu membawa dia itu sangat menyedihkan hatiku, dan aku khawatir dia dimakan serigala, sedang kamu lengah daripadanya.’ Mereka berkata: ‘Sesungguhnya jika dia dimakan serigala, padahal kita ini adalah golongan yang kuat, sesungguhnya kalau begitu kita ini benar-benar orang-orang yang merugi.'” (Yusuf: 11-14)

Mereka meminta kepada ayah mereka agar mengutus saudara mereka Yusuf bersama mereka, dan mereka menampakkan kepada ayah mereka bahwa mereka ingin dia menggembala bersama mereka, bermain dan bergembira, padahal mereka telah menyembunyikan sesuatu yang Allah Maha Mengetahui akan hal itu. Maka orang tua itu alaihim minal laahil afdhalush shalaati wat tasliim menjawab mereka: Wahai anak-anakku, aku merasa berat untuk berpisah dengannya satu jam pun di siang hari, dan selain itu aku khawatir kalian akan sibuk dalam permainan kalian dan apa yang kalian lakukan sehingga serigala datang dan memakannya, dan dia tidak mampu mempertahankan diri darinya karena kecilnya dan kelengahan kalian darinya. “Mereka berkata: ‘Sesungguhnya jika dia dimakan serigala, padahal kita ini adalah golongan yang kuat, sesungguhnya kalau begitu kita ini benar-benar orang-orang yang merugi.'” Artinya, jika serigala menyerangnya dan memakannya di tengah-tengah kami, atau kami lengah darinya sehingga hal ini terjadi padahal kami adalah kelompok, kalau begitu sungguh kami adalah orang-orang yang merugi, yakni orang-orang yang lemah dan binasa. Menurut Ahli Kitab, bahwa dia mengutusnya mengikuti mereka dari belakang, lalu dia tersesat dari jalan hingga seorang laki-laki menunjukkan jalan kepada mereka. Ini juga termasuk kesalahan dan kekeliruan mereka dalam penerjemahan, karena Ya’qub alaihissalam lebih berhati-hati terhadapnya daripada mengutusnNya bersama mereka, bagaimana mungkin dia mengutusnnya sendirian?

“Maka tatkala mereka membawanya dan sepakat memasukkannya ke dasar sumur, Kami wahyukan kepadanya: ‘Sesungguhnya engkau akan memberitakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tidak menyadari.’ Dan mereka datang kepada ayah mereka di waktu malam sambil menangis. Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala; dan engkau tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar.’ Mereka datang membawa baju gamisnya dengan darah palsu. Ya’qub berkata: ‘Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan yang buruk itu; maka kesabaran yang baik itulah kesabaranku. Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.'” (Yusuf: 15-18)

Mereka terus-menerus memaksa ayah mereka hingga dia mengutusnNya bersama mereka. Tidak lama setelah mereka hilang dari pandangannya, mereka mulai mencaciNya dan menghinakanNya dengan perbuatan dan perkataan, dan mereka sepakat untuk melemparkanNya ke dasar sumur, yakni ke dasarnya di atas raaufah-nya, yaitu batu yang ada di tengahnya tempat orang yang mengambil air berdiri, yaitu orang yang turun untuk mengisi ember-ember ketika air berkurang, sedangkan orang yang mengangkatnya dengan tali disebut al-maatih. Ketika mereka melemparkanNya ke dalamnya, Allah mewahyukan kepadanya bahwa pastilah engkau akan mendapat kelapangan dan jalan keluar dari kesulitan yang engkau alami ini, dan engkau pasti akan memberitahukan kepada saudara-saudaramu tentang perbuatan mereka ini dalam keadaan di mana engkau mulia dan mereka membutuhkanmu serta takut kepadamu. “Sedang mereka tidak menyadari.” Mujahid dan Qatadah berkata: “Sedang mereka tidak menyadari”, yakni tidak menyadari wahyu Allah kepadanya tentang hal itu. Dari Ibnu Abbas: “Sedang mereka tidak menyadari”, yakni engkau akan memberitahukan kepada mereka tentang perbuatan mereka ini dalam keadaan mereka tidak mengenalmu di dalamnya. Ibnu Jarir meriwayatkannya darinya. Ketika mereka menempatkanNya di dalamnya dan pergi darinya, mereka mengambil baju gamisnya lalu melumurikannya dengan sedikit darah, dan mereka kembali kepada ayah mereka di waktu malam sedang mereka menangis, yakni untuk saudara mereka. Oleh karena itu sebagian salaf berkata: Janganlah tangisan orang yang dizalimi menipumu, karena betapa banyak orang zalim sedang dia menangis. Dan disebutkan tangisan saudara-saudara Yusuf. “Dan mereka datang kepada ayah mereka di waktu malam sambil menangis.” Yakni dalam kegelapan malam agar hal itu lebih menutup pengkhianatan mereka, bukan untuk alasan mereka. “Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami.'” Yakni pakaian kami. “Lalu dia dimakan serigala.” Yakni ketika kami tidak bersamanya saat berlomba. Dan ucapan mereka: “Dan engkau tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar.” Artinya, engkau tidak akan membenarkan kami tentang apa yang kami beritahukan kepadamu tentang serigala yang memakannya, meskipun kami bukan orang yang dicurigai padamu, apalagi engkau mencurigai kami dalam hal ini? Karena engkau khawatir dia dimakan serigala, dan kami menjamin kepadamu bahwa dia tidak akan dimakan karena banyaknya kami di sekelilingnya, maka kami menjadi tidak dipercaya padamu, maka engkau dimaafkan dalam ketidakpercayaanmu kepada kami dalam keadaan ini. “Dan mereka datang membawa baju gamisnya dengan darah palsu.” Yakni darah yang dipalsukan dan direkayasa, karena mereka sengaja menyembelih seekor anak kambing lalu mengambil darahnya dan meletakkannya pada baju gamisnya untuk membuat seolah-olah serigala memakannya. Dikatakan: Mereka lupa merobek baju gamis itu. “Cacat kebohongan adalah kelupaan.” Ketika tanda-tanda kebohongan tampak pada mereka, tipu daya mereka tidak berhasil pada ayah mereka, karena dia memahami permusuhan mereka kepadanya dan kecemburuan mereka kepadanya atas cintanya kepada dia dari antara mereka lebih dari mereka, karena apa yang dia amati darinya berupa keagungan dan kewibawaan yang ada padanya sejak kecil untuk apa yang dikehendaki Allah mengkhususkannya dengan kenabian-Nya. Ketika mereka menawar-nawarnya untuk membawanya, begitu mereka membawanya, mereka hilangkan dan ghaibkan dia dari pandangannya, mereka datang sedang mereka menangis palsu dan terhadap apa yang mereka sepakati, mereka saling bersepakat. Oleh karena itu dia berkata: “Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan yang buruk itu; maka kesabaran yang baik itulah kesabaranku. Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (Yusuf: 18)

Menurut Ahli Kitab bahwa Rubil memberi saran untuk menempatkannya di sumur agar dia mengambilnya tanpa mereka sadari dan mengembalikannya kepada ayahnya, lalu mereka mengalihkannya dan menjualnya kepada kafilah itu. Ketika Rubil datang di akhir siang untuk mengeluarkan Yusuf, dia tidak menemukannya, maka dia berteriak dan merobek pakaiannya dan bersedih. Mereka sengaja mengambil seekor anak kambing lalu menyembelihnya dan melumuri darahnya pada jubah Yusuf. Ketika Ya’qub mengetahui, dia merobek pakaiannya dan memakai sarung hitam dan bersedih atas anaknya berhari-hari. Kelemahan ini datang dari kesalahan mereka dalam penerjemahan dan penggambaran.

“Dan datanglah suatu kafilah, lalu mereka menyuruh pengambil air mereka, maka dia menurunkan timbanya, dia berkata: ‘Kabar gembira ini, ini seorang anak muda!’ Dan mereka menyembunyikannya sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Dan mereka menjualnya dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik kepadanya. Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada istrinya: ‘Berikanlah kepadanya tempat tinggal yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak.’ Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di bumi Mesir dan agar Kami ajarkan kepadanya sebagian takwil mimpi. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dan tatkala dia cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.'” (Yusuf: 19-22)

Allah Ta’ala mengabarkan tentang kisah Yusuf ketika ditempatkan di sumur, bahwa dia duduk menunggu kelapangan dan kelembutan Allah bersamanya. Lalu datanglah sebuah kafilah, yakni orang-orang musafir. Ahli Kitab berkata: Barang dagangan mereka terdiri dari pistachio, kacang pinus, dan pohon pistachio, menuju negeri Mesir dari Syam. Lalu mereka mengutus sebagian dari mereka untuk mengambil air dari sumur itu. Ketika salah satu dari mereka menurunkan timbanya, Yusuf bergantung padanya. Ketika orang itu melihatnya, dia berkata: Wahai kabar gembiraku! Ini seorang anak muda. “Dan mereka menyembunyikannya sebagai barang dagangan.” Yakni mereka membuat seolah-olah mereka memiliki seorang anak muda dari bagian perdagangan mereka. “Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” Artinya, Dia Maha Mengetahui apa yang disepakati oleh saudara-saudaranya, dan apa yang disembunyikan oleh orang-orang yang menemukannya bahwa dia adalah barang dagangan mereka, dan meskipun demikian Allah Ta’ala tidak mengubahnya karena hikmah yang besar yang ada dalam hal itu, takdir yang telah ada sebelumnya, dan rahmat kepada negeri Mesir dengan apa yang dijalankan Allah melalui tangan anak muda ini yang masuknya dalam bentuk tawanan budak, kemudian setelah ini Dia memberikannya kendali urusan-urusan, dan Allah memberikan manfaat kepada mereka melaluinya dalam kehidupan dunia dan akhirat mereka dengan apa yang tidak terbatas dan tidak dapat digambarkan.

Dan ketika saudara-saudara Yusuf menyadari bahwa kafilah telah membawanya, mereka mengejar mereka dan berkata: “Ini adalah budak kami yang telah melarikan diri dari kami,” lalu mereka menjualnya kepada kafilah tersebut dengan harga yang sangat murah; yaitu sedikit dan tidak berarti. Ada yang mengatakan: harganya adalah uang palsu, beberapa dirham yang terhitung, dan mereka termasuk orang-orang yang tidak menghargainya. Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Nauf al-Bakali, as-Suddi, Qatadah, dan Athiyyah al-Aufi berkata: Mereka menjualnya dengan dua puluh dirham yang mereka bagi-bagi, masing-masing mendapat dua dirham. Mujahid berkata: dua puluh dua dirham. Ikrimah dan Muhammad bin Ishaq berkata: empat puluh dirham. Wallahu a’lam.

Dan orang yang membelinya dari Mesir berkata kepada istrinya: “Muliakanlah tempat tinggalnya” (Yusuf: 21). Artinya perlakukanlah dia dengan baik, “mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau kita mengambilnya sebagai anak” (Yusuf: 21). Ini adalah bentuk kebaikan Allah kepadanya, rahmat-Nya, dan kebaikan-Nya kepadanya dengan apa yang Dia kehendaki untuk mempersiapkannya dan memberinya kebaikan dunia dan akhirat. Mereka berkata: Orang yang membelinya dari penduduk Mesir adalah Al-Aziz (menteri keuangan) Mesir, yaitu perdana menteri yang memegang kendali perbendaharaan. Ibnu Ishaq berkata: Namanya adalah Athfir bin Ruhaib. Dia berkata: Raja Mesir pada waktu itu adalah ar-Rayyan bin al-Walid, seorang laki-laki dari kaum Amalek. Dia berkata: Nama istri Al-Aziz adalah Ra’il binti Ra’a’il. Ada yang lain mengatakan: Namanya adalah Zulaykha. Dan tampaknya itu adalah gelarnya. Ada yang mengatakan: Fuka binti Yanus. Diriwayatkan oleh ath-Tsa’labi dari Abu Hisyam ar-Rifa’i. Muhammad bin Ishaq berkata, dari Muhammad bin as-Sa’ib, dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas: Nama orang yang menjualnya di Mesir, yaitu yang membawanya ke sana, adalah Malik bin Dzughr bin Tsuwayb bin ‘Ifqa bin Madyan bin Ibrahim shallallahu ‘alaihi wasallam. Wallahu a’lam.

Ibnu Ishaq berkata, dari Abu Ubaidah, dari Ibnu Mas’ud, dia berkata: Orang yang paling cerdas dalam membaca situasi ada tiga; Al-Aziz Mesir ketika dia berkata kepada istrinya: “Muliakanlah tempat tinggalnya” (Yusuf: 21), dan wanita yang berkata kepada ayahnya tentang Musa: “Wahai ayahku, jadikanlah dia sebagai pekerja, sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja adalah orang yang kuat dan dapat dipercaya” (al-Qashash: 26), dan Abu Bakar ash-Shiddiq ketika mengangkat Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhuma sebagai khalifah. Kemudian ada yang mengatakan: Al-Aziz membelinya dengan dua puluh dinar. Ada yang mengatakan: dengan timbangan minyak kesturi, timbangan sutera, dan timbangan perak. Wallahu a’lam.

Dan firman-Nya: “Dan demikianlah Kami memberi kedudukan yang kokoh kepada Yusuf di bumi (Mesir)” (Yusuf: 21). Artinya sebagaimana Kami telah menakdirkan Al-Aziz ini dan istrinya berbuat baik kepadanya dan merawatnya dengan baik, maka Kami beri dia kedudukan di tanah Mesir, “dan agar Kami mengajarkan kepadanya sebagian takwil mimpi” (Yusuf: 21). Yaitu pemahamannya dan tafsir mimpi, termasuk di dalamnya, “dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya” (Yusuf: 21). Artinya jika Dia menghendaki sesuatu, maka Dia menakdirkan untuknya berbagai sebab dan urusan-urusan yang tidak dapat dipahami oleh hamba-hamba-Nya; oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: “tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dan ketika dia (Yusuf) mencapai usia dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik” (Yusuf: 22). Ini menunjukkan bahwa semua ini terjadi sebelum mencapai usia dewasa, yaitu batas usia empat puluh tahun dimana Allah mewahyukan kepada para nabi-Nya ‘alaihimu ash-shalatu wassalam min Rabbil ‘alamin.

Para ulama berbeda pendapat tentang batasan usia yang dimaksud dengan mencapai usia dewasa. Malik, Rabi’ah, Zaid bin Aslam, dan asy-Sya’bi berkata: itu adalah baligh. Sa’id bin Jubair berkata: delapan belas tahun. adh-Dhahhak berkata: dua puluh tahun. Ikrimah berkata: dua puluh lima tahun. as-Suddi berkata: tiga puluh tahun. Ibnu Abbas, Mujahid, dan Qatadah berkata: tiga puluh tiga tahun. al-Hasan berkata: empat puluh tahun. Dan yang mendukungnya adalah firman Allah Ta’ala: “sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun” (al-Ahqaf: 15).

“Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: ‘Marilah ke sini.’ Yusuf berkata: ‘Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.’ Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. Dan sungguh wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata: ‘Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan istrimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?’ Yusuf berkata: ‘Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya),’ dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: ‘Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar.’ Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: ‘Sesungguhnya (kejadian) itu adalah di antara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar. Hai Yusuf, berpalinglah dari ini, dan kamu (hai istriku) mohonlah ampun atas dosamu itu, karena kamu termasuk orang-orang yang berbuat salah'” (Yusuf: 23-29).

Allah Ta’ala menyebutkan apa yang terjadi dari rayuan istri Al-Aziz terhadap Yusuf ‘alaihi assalam untuk menundukkan dirinya dan meminta darinya apa yang tidak pantas dengan keadaan dan kedudukannya, padahal dia dalam puncak kecantikan, kekayaan, kedudukan, dan kemudaan, dan bagaimana dia menutup pintu-pintu untuknya dan untuk dirinya? Dan dia mempersiapkan diri untuknya dan berhias serta mengenakan pakaian terbaiknya dan busana termewahnya, dan dengan semua ini dia adalah istri perdana menteri. Ibnu Ishaq berkata: Dan putri saudara perempuan Raja ar-Rayyan bin al-Walid, penguasa Mesir. Dan semua ini dengan Yusuf ‘alaihi assalam seorang pemuda yang indah dalam kecantikan dan kecemerlangan, namun dia adalah nabi dari keturunan para nabi, maka Tuhannya menjaganya dari perbuatan keji dan melindunginya dari tipu daya wanita, karena dia adalah pemimpin para pembesar yang mulia, tujuh orang yang bertakwa yang disebutkan dalam Shahihain dari khatamul anbiya dalam sabdanya shallallahu ‘alaihi wasallam dari Rabb bumi dan langit: _”Tujuh orang yang akan dinaungi Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; seorang pemimpin yang adil, dan seorang laki-laki yang mengingat Allah dalam kesendirian sehingga kedua matanya bercucuran air mata, dan seorang laki-laki yang hatinya tergantung dengan masjid jika dia keluar darinya hingga dia kembali kepadanya, dan dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul karenanya dan berpisah karenanya, dan seorang laki-laki yang bersedekah dengan sedekah lalu menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan tangan kanannya, dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, dan seorang laki-laki yang diajak oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu dia berkata: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah.'”

Yang dimaksud adalah bahwa dia mengajaknya kepada dirinya, dan sangat bersemangat untuk itu. Maka dia berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku,” yaitu suaminya, pemilik rumah, tuanku, “telah memperlakukan aku dengan baik,” artinya telah berbuat baik kepadaku, dan memuliakan tempatku di sisinya, “Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung” (Yusuf: 23). Dan kami telah membahas firman-Nya: “Dan sungguh wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya” (Yusuf: 24) secara memadai dan memuaskan dalam Tafsir.

Dan kebanyakan perkataan para mufassir di sini diambil dari kitab-kitab Ahli Kitab, maka berpaling darinya lebih utama bagi kita, dan yang harus diyakini adalah bahwa Allah Ta’ala telah menjaganya, membebaskannya, dan mensucikannya dari perbuatan keji, melindunginya darinya dan memeliharanya darinya; oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: “Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih” (Yusuf: 24). “Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu” (Yusuf: 25), artinya dia melarikan diri darinya menuju ke pintu untuk keluar darinya sambil melarikan diri darinya, lalu dia mengikutinya dari belakang. “Dan kedua-duanya mendapati,” artinya menemukan suaminya, yaitu suaminya “di muka pintu” (Yusuf: 25), maka dia segera memulai pembicaraan dan menghasutnya terhadap Yusuf. Dia berkata: “Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan istrimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?” (Yusuf: 25). Dia menuduhnya padahal dialah yang tertuduh, dan membebaskan kehormatannya serta mensucikan dirinya, maka oleh karena itu Yusuf ‘alaihi assalam berkata: “Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)” (Yusuf: 26). Dia perlu mengatakan kebenaran saat dibutuhkan. “Dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya” (Yusuf: 26). Ada yang mengatakan: dia masih kecil dalam buaian. Demikian kata Ibnu Abbas. Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah, Hilal bin Yasaf, al-Hasan al-Bashri, Sa’id bin Jubair, dan adh-Dhahhak, dan Ibnu Jarir memilihnya. Dan dia meriwayatkan dalam hal ini hadits marfu’ dari Ibnu Abbas, dan yang lain menghentikannya (mauquf) darinya. Ada yang mengatakan: dia adalah seorang laki-laki yang dekat dengan Athfir suaminya. Ada yang mengatakan: dekat dengannya. Dan di antara yang mengatakan bahwa dia adalah seorang laki-laki adalah Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid, al-Hasan, Qatadah, as-Suddi, Muhammad bin Ishaq, dan Zaid bin Aslam. Maka dia berkata: “Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta” (Yusuf: 27), artinya karena itu menunjukkan dia yang merayunya lalu dia mempertahankan diri hingga bagian depan bajunya koyak. “Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar” (Yusuf: 27), artinya karena dia melarikan diri darinya lalu dia mengikutinya dan memegang bajunya sehingga koyak karenanya, dan demikianlah yang terjadi; oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: “Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: ‘Sesungguhnya (kejadian) itu adalah di antara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar'” (Yusuf: 28), artinya ini yang terjadi adalah dari tipu dayamu, engkau yang merayunya untuk menundukkan dirinya, kemudian menuduhnya dengan kebatilan. Kemudian suaminya berpaling dari hal ini dan melewatkannya. Maka dia berkata: “Hai Yusuf, berpalinglah dari ini” (Yusuf: 29), artinya jangan sebutkan kepada siapapun karena merahasiakan hal-hal seperti ini lebih pantas dan lebih baik, dan dia menyuruh istrinya untuk memohon ampun atas dosanya yang telah dilakukannya dan bertobat kepada Tuhannya, karena sesungguhnya seorang hamba jika bertobat kepada Allah, maka Allah akan menerima tobatnya. Dan penduduk Mesir walaupun mereka menyembah berhala, tetapi mereka mengetahui bahwa yang mengampuni dosa dan menghukum karenanya adalah Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hal itu; oleh karena itu suaminya berkata kepadanya dan memaafkannya dari beberapa sisi; karena dia melihat apa yang tidak ada kesabaran untuknya terhadap yang seperti itu, namun dia adalah orang yang menjaga diri, mulia, bersih kehormatannya, suci sisinya. Maka dia berkata: “Dan kamu (hai istriku) mohonlah ampun atas dosamu itu, karena kamu termasuk orang-orang yang berbuat salah” (Yusuf: 29).

“Dan wanita-wanita di kota itu berkata: ‘Istri Al-Aziz menggoda budaknya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada budaknya itu benar-benar meresap ke dalam hatinya. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata.’ Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnya wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): ‘Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka.’ Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: ‘Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia.’ Wanita itu berkata: ‘Itulah dia yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina.’ Yusuf berkata: ‘Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.’ Maka Tuhannya memperkenankan doanya, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Yusuf: 30-34).

Allah Ta’ala menyebutkan apa yang terjadi dari para wanita di kota, yaitu Mesir, dari istri-istri para pembesar dan putri-putri orang-orang besar dalam mencela istri Al-Aziz dan mencacinya serta mempermalukan dia dalam merayu budaknya dan cintanya yang sangat kepadanya, mereka bermaksud: dan dia tidak pantas untuk ini karena dia adalah budak dari para budak, dan tidak sepantasnya dia untuk hal ini; oleh karena itu mereka berkata: “Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata” (Yusuf: 30), artinya dalam meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. “Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka” (Yusuf: 31), artinya mempermalukan dia dan merendahkannya serta menunjuknya dengan cacat dan celaan karena cinta kepada budaknya dan hasrat terhadap budaknya, maka mereka menampakkan celaan, padahal dia sebenarnya mempunyai alasan yang benar. Oleh karena itu dia ingin memaparkan alasannya kepada mereka dan menjelaskan bahwa pemuda ini tidak seperti yang mereka sangka dan bukan dari jenis apa yang mereka miliki. Maka dia mengutus utusan kepada mereka dan mengumpulkan mereka di rumahnya, dan menyiapkan untuk mereka jamuan seperti mereka, dan menghadirkan dalam bagian dari itu sesuatu yang dipotong dengan pisau seperti jeruk dan sejenisnya. “Dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan)” (Yusuf: 31), dan dia telah mempersiapkan Yusuf ‘alaihi assalam dan memakaikannya pakaian terbaik, dan dia dalam puncak kesegaran masa muda, dan dia memerintahkannya untuk keluar kepada mereka dalam keadaan ini. Maka dia keluar dan dia lebih indah dari bulan purnama tanpa diragukan. “Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya” (Yusuf: 31), artinya mengagungkannya dan memuliakan serta takjub kepadanya, dan mereka tidak menyangka akan ada seperti ini di antara anak Adam. Dan kecantikannya membuat mereka terpesona sehingga mereka sibuk dengan diri mereka sendiri, dan mulai memotong tangan mereka dengan pisau-pisau itu, dan mereka tidak merasakan luka. “Dan berkata: ‘Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia'” (Yusuf: 31).

Dan telah datang dalam hadits Isra’: “Maka aku melewati Yusuf, dan ternyata dia telah diberi separuh dari kecantikan.” As-Suhaili dan para imam lainnya berkata: Artinya dia berada pada separuh dari kecantikan Adam ‘alaihi assalam karena sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan Adam dengan tangan-Nya dan meniupkan ruh-Nya ke dalamnya, maka dia berada dalam puncak kesempurnaan kecantikan manusia; oleh karena itu penghuni surga akan masuk surga dengan tinggi dan kecantikan Adam, dan Yusuf berada pada separuh dari kecantikan Adam dan tidak ada yang lebih cantik di antara keduanya, sebagaimana tidak ada perempuan setelah Hawa yang lebih mirip dengannya selain Sarah, istri al-Khalil ‘alaihi assalam.

Ibnu Mas’ud berkata: Dan wajah Yusuf seperti kilat, dan jika seorang wanita datang kepadanya untuk keperluan, dia menutup wajahnya. Yang lain berkata: Pada umumnya dia berkerudung agar orang-orang tidak melihatnya. Oleh karena itu ketika muncul alasan istri Al-Aziz dalam cintanya karena alasan yang disebutkan ini, dan terjadi kepada mereka dan atas mereka apa yang terjadi berupa pemotongan tangan mereka dengan luka pisau-pisau, dan apa yang menimpa mereka berupa kewibaan dan kebingungan ketika melihatnya dan menyaksikannya, dia berkata: “Itulah dia yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya” (Yusuf: 32). Kemudian dia memujinya dengan kesucian yang sempurna, maka dia berkata: “Dan sesungguhnya aku telah menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak” (Yusuf: 32). Artinya dia menolak. “Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina” (Yusuf: 32). Dan sisa para wanita menghasutnya untuk mendengar dan taat kepada nyonyanya, tetapi dia menolak dengan keras dan menjauh karena dia dari keturunan para nabi, dan dia berdoa sambil berkata dalam doanya kepada Rabb semesta alam: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh” (Yusuf: 33). Artinya: jika Engkau menyerahkan aku kepada diriku sendiri maka tidak ada bagiku dari diriku kecuali ketidakmampuan dan kelemahan, dan aku tidak menguasai untuk diriku manfaat dan tidak pula mudarat kecuali apa yang Allah kehendaki. Maka aku lemah kecuali dengan apa yang Engkau kuatkan aku, jaga aku, pelihara aku, dan lindungi aku dengan daya dan kekuatan-Mu. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: “Maka Tuhannya memperkenankan doanya, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Yusuf: 34).

“Kemudian terbersit bagi mereka suatu pendapat setelah mereka melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf), bahwa mereka harus memenjarakan Yusuf sampai waktu tertentu. Dan masuk bersama Yusuf ke dalam penjara dua orang pemuda. Salah seorang di antara keduanya berkata: ‘Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur.’ Dan yang lainnya berkata: ‘Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebagian darinya dimakan burung.’ Beritahukanlah kepada kami takwilnya; sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang berbuat baik.’ Yusuf berkata: ‘Tidak akan datang kepadamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku telah memberitahukan kepadamu berdua tentang takwilnya, sebelum makanan itu datang kepadamu berdua. Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari akhirat. Dan aku mengikuti agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub. Tiadalah patut bagi kami mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri (Nya). Hai teman-teman penjaraku, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Hai teman-teman penjaraku, adapun salah seorang di antara kamu berdua akan memberi minum tuannya dengan khamr; dan adapun yang lainnya akan disalib, lalu burung memakan sebagian kepalanya. Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakan putusannya (kepadaku).” (Yusuf: 35-41)

Allah Ta’ala menceritakan tentang Al-Aziz dan istrinya bahwa mereka terbersit suatu pendapat, yakni terlihat bagi mereka dari pertimbangan, setelah mereka mengetahui kebenaran Yusuf, untuk memenjarakan dia sampai waktu tertentu agar hal itu dapat mengurangi perbincangan orang-orang tentang peristiwa tersebut dan memadamkan perkaranya, serta agar mereka menampakkan bahwa dialah yang merayunya, sehingga dia dipenjara karena itu. Maka mereka memenjarakan dia dengan aniaya dan permusuhan. Dan ini termasuk dari ketentuan Allah baginya, dan termasuk bagian dari pemeliharaan Allah kepadanya, karena hal itu menjauhkannya dari pergaulan dan percampuran dengan mereka. Dari sinilah sebagian kaum sufi mengeluarkan kesimpulan tentang apa yang diceritakan dari mereka oleh Imam Asy-Syafi’i, bahwa termasuk dari pemeliharaan (Allah) adalah tidak mendapatkan (kesempatan berbuat maksiat).

Allah Ta’ala berfirman: “Dan masuk bersama Yusuf ke dalam penjara dua orang pemuda.” Dikatakan bahwa salah seorang dari keduanya adalah juru minum raja, namanya menurut suatu pendapat adalah Bunuw. Sedangkan yang lainnya adalah tukang rotinya, yakni yang mengurus makanannya, dan dialah yang disebut oleh orang Turki sebagai Al-Jasyanakir, namanya menurut suatu pendapat adalah Majlits. Raja telah menuduh keduanya dalam suatu perkara lalu memenjarakan mereka. Ketika keduanya melihat Yusuf di penjara, keduanya kagum dengan penampilannya, petunjuknya, akhlaknya, perkataannya, perbuatannya, serta banyaknya ibadahnya kepada Tuhannya dan kebaikannya kepada makhluk. Maka masing-masing dari keduanya bermimpi sesuai dengan pekerjaannya. Ahli tafsir berkata: Keduanya bermimpi dalam satu malam. Adapun juru minum, dia bermimpi seolah-olah tiga cabang anggur telah berdaun dan berbuah dalam tandan-tandan, lalu dia mengambilnya dan memerasnya dalam cawan raja dan memberinya minum. Sedangkan tukang roti bermimpi di atas kepalanya ada tiga keranjang roti, dan burung-burung buas memakan dari keranjang paling atas. Maka keduanya menceritakan mimpi itu kepadanya dan meminta darinya untuk mengungkapkan takwilnya bagi mereka, dan keduanya berkata: “Sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang berbuat baik.”

Maka dia memberitahukan kepada keduanya bahwa dia mengetahui takwilnya dan ahli dalam masalah mereka. Dan dia berkata: “Tidak akan datang kepadamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku telah memberitahukan kepadamu berdua tentang takwilnya, sebelum makanan itu datang kepadamu berdua.” Dikatakan: Maknanya adalah apa pun yang kalian berdua lihat dalam mimpi, maka aku akan mengungkapkan takwilnya bagi kalian berdua sebelum terjadinya, maka akan terjadi sebagaimana yang aku katakan. Dan dikatakan: Maknanya adalah sesungguhnya aku memberitahukan kepada kalian berdua tentang makanan yang akan datang kepada kalian berdua sebelum kedatangannya, apakah manis atau asam, sebagaimana yang dikatakan oleh Isa alaihissalam: “Dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu.” (Ali Imran: 49)

Dan dia berkata kepada keduanya bahwa ini adalah dari pengajaran Allah kepadanya karena dia beriman kepada-Nya, mengesakan-Nya, dan mengikuti agama bapak-bapaknya yang mulia, yaitu Ibrahim Al-Khalil, Ishaq dan Ya’qub. “Tiadalah patut bagi kami mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami,” yakni dengan menunjuki kami kepada ini, “dan kepada manusia,” yakni dengan memerintahkan kami untuk menyeru mereka kepadanya, memberi petunjuk kepada mereka dan menunjukkan mereka kepadanya, dan hal itu tertanam dalam fitrah mereka dan terpatri dalam watak mereka, “tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri (Nya).”

Kemudian dia menyeru keduanya kepada tauhid dan mencela penyembahan selain Allah Azza wa Jalla, meremehkan berhala-berhala, menghina dan melemahkan kedudukannya. Maka dia berkata: “Hai teman-teman penjaraku, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah,” yakni Dialah yang mengatur makhluk-Nya, Maha Melakukan apa yang Dia kehendaki, yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki. “Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia,” yakni hanya Dia saja tanpa sekutu bagi-Nya. “Itulah agama yang lurus,” yakni yang benar dan jalan yang sempurna, “tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,” yakni mereka tidak mendapat petunjuk kepadanya meskipun jelas dan nyata.

Seruannya kepada keduanya dalam keadaan ini sangatlah sempurna, karena jiwa keduanya mengagungkannya dan terdorong untuk menerima apa yang dikatakannya dengan penerimaan, maka tepatlah dia menyeru keduanya kepada apa yang paling bermanfaat bagi keduanya daripada apa yang keduanya tanyakan darinya dan minta kepadanya. Kemudian setelah dia melakukan apa yang wajib atasnya dan memberi petunjuk kepada apa yang diberi petunjuk kepadanya, dia berkata: “Hai teman-teman penjaraku, adapun salah seorang di antara kamu berdua akan memberi minum tuannya dengan khamr.” Mereka berkata: Dan dialah juru minum. “Dan adapun yang lainnya akan disalib, lalu burung memakan sebagian kepalanya.” Mereka berkata: Dan dialah tukang roti. “Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakan putusannya (kepadaku),” yakni hal ini pasti terjadi dan wajib kejadiannya dalam setiap keadaan. Oleh karena itu datang dalam hadits: “Mimpi itu berada di atas burung yang terbang selama belum ditakwilkan, maka jika ditakwilkan, maka terjadinya.”

Dan telah diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Mujahid, dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam bahwa keduanya berkata: Kami tidak melihat sesuatu. Maka dia berkata kepada keduanya: “Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakan putusannya (kepadaku).”

“Dan berkatalah Yusuf kepada orang yang diketahuinya akan selamat di antara keduanya: ‘Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.’ Maka setan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya.” (Yusuf: 42)

Allah Ta’ala memberitahukan bahwa Yusuf alaihissalam berkata kepada orang yang dia sangka akan selamat dari keduanya, yaitu juru minum: “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu,” yakni terangkan perkaraku dan apa yang aku alami dari pemenjaraan tanpa kesalahan kepada raja. Dalam hal ini terdapat dalil tentang bolehnya berusaha dengan sebab-sebab, dan hal itu tidak menafikan tawakal kepada Rabb segala rabb.

Dan firman-Nya: “Maka setan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuanmu,” yakni setan menjadikan orang yang selamat dari keduanya lupa untuk menyebutkan apa yang diwasiatkan Yusuf alaihissalam kepadanya. Demikian dikatakan Mujahid, Muhammad bin Ishaq dan selain mereka. Ini adalah yang benar dan merupakan nas dari Ahli Kitab. “Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya.” Kata bidh’ (beberapa) adalah dari tiga sampai sembilan. Dan dikatakan: sampai tujuh. Dan dikatakan: sampai lima. Dan dikatakan: kurang dari sepuluh. Ini dihikayatkan oleh Ats-Tsa’labi. Dan dikatakan: bidh’ untuk wanita dan bidh’ah untuk laki-laki. Al-Farra’ melarang penggunaan kata bidh’ untuk yang kurang dari sepuluh. Dia berkata: Sesungguhnya dikatakan: nayyif. Dan Allah Ta’ala berfirman: “Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya.” Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dalam beberapa tahun,” (Ar-Rum: 4). Ini adalah bantahan terhadap perkataannya.

Al-Farra’ berkata: Dan dikatakan: bidh’ah ‘asyara (belasan), bidh’ah wa ‘isyruun (dua puluhan) sampai sembilan puluhan, dan tidak dikatakan: bidh’ dan seratus, bidh’ dan seribu. Al-Jauhari menyelisihi dalam apa yang lebih dari bidh’ah ‘asyara, maka dia melarang untuk mengatakan: bidh’ah wa ‘isyruun sampai sembilan puluhan. Dalam hadits shahih: “Iman itu enam puluh sekian.” Dalam riwayat lain: “Tujuh puluh sekian cabang, yang paling tinggi adalah perkataan: Laa ilaaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.”

Barangsiapa berkata bahwa dhamir (kata ganti) dalam firman-Nya: “Maka setan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya” kembali kepada Yusuf, maka telah lemah apa yang dikatakannya, meskipun telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Ikrimah. Hadits yang diriwayatkan Ibnu Jarir dalam masalah ini lemah dari setiap sisi; hanya Ibrahim bin Yazid Al-Khuzi Al-Makki yang menyendiri dalam sanadnya, dan dia matruk (ditinggalkan). Dan mursal Al-Hasan dan Qatadah tidak diterima, apalagi di sini dengan lebih utama dan lebih pantas, wallahu a’lam.

Adapun perkataan Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya: Disebutkan sebab yang karenanya Yusuf tinggal di penjara selama itu; memberitakan kepada kami Al-Fadhl bin Al-Habbab Al-Jumahi, menceritakan kepada kami Musaddad bin Musarhad, menceritakan kepada kami Khalid bin Abdullah, menceritakan kepada kami Muhammad bin Amru, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Allah merahmati Yusuf, seandainya bukan karena kalimat yang dikatakannya: ‘Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu,’ niscaya dia tidak tinggal di penjara selama itu. Dan Allah merahmati Luth, sesungguhnya dia berlindung kepada rukun yang kuat, ketika dia berkata kepada kaumnya: ‘Sekiranya aku mempunyai kekuatan (untuk menolak) mu atau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat,’ maka tidak diutus Allah seorang nabi pun setelah dia kecuali dalam keluarga yang terpandang dari kaumnya.” Maka sesungguhnya itu hadits munkar dari jalan ini. Muhammad bin Amru bin Alqamah memiliki hal-hal yang dia sendiri meriwayatkannya dan di dalamnya ada keingkaran, dan lafazh ini termasuk yang paling munkar dan paling keras darinya. Yang ada dalam Shahihain bersaksi tentang kesalahannya, wallahu a’lam.

“Dan raja berkata: ‘Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering.’ Hai orang-orang yang terkemuka: ‘Terangkanlah kepadaku tentang takwil mimpiku itu jika kamu dapat menta’birkan mimpi.’ Mereka menjawab: ‘(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu menta’birkan mimpi.’ Dan berkatalah orang yang selamat di antara kedua (pemuda) itu dan yang teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya: ‘Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) menta’birkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya).’ (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru): ‘Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering, agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.’ Yusuf berkata: ‘Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur.'” (Yusuf: 43-49)

Semua ini termasuk dari sebab-sebab keluarnya Yusuf alaihissalam dari penjara dengan cara yang terhormat dan mulia. Dan itu karena raja Mesir, yaitu Ar-Rayyan bin Al-Walid bin Tsarwan bin Arasyah bin Faran bin Amru bin Imlaq bin Lawudz bin Sam bin Nuh melihat mimpi ini. Ahli Kitab berkata: Dia bermimpi seolah-olah dia berada di tepi sungai, dan seolah-olah telah keluar darinya tujuh ekor sapi betina yang gemuk lalu mereka merumput di taman di sana. Lalu keluar tujuh ekor yang kurus lemah dari sungai itu lalu mereka merumput bersama mereka, kemudian mereka menyerang dan memakan mereka. Maka dia terbangun ketakutan. Kemudian dia tidur lagi dan bermimpi tujuh bulir gandum yang hijau dalam satu batang, dan tujuh lainnya yang tipis-tipis kering memakan mereka. Maka dia terbangun ketakutan. Ketika dia menceritakannya kepada pembesar-pembesarnya dan kaumnya, tidak ada di antara mereka yang pandai menta’birkannya. Bahkan mereka berkata: “(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong,” yakni campuran mimpi-mimpi malam yang mungkin tidak ada takwilnya, dan dengan ini kami tidak memiliki pengalaman dalam hal itu. Oleh karena itu mereka berkata: “Dan kami sekali-kali tidak tahu menta’birkan mimpi.”

Pada saat itulah orang yang selamat dari keduanya yang telah diwasiatkan Yusuf kepadanya untuk menerangkan keadaannya kepada tuannya lalu lupa sampai waktu ini, dan itu karena takdir Allah Azza wa Jalla dan bagi-Nya hikmah dalam hal itu. Ketika dia mendengar mimpi raja dan melihat ketidakmampuan orang-orang untuk menta’birkannya, dia teringat akan perkara Yusuf dan apa yang telah diwasiatkan kepadanya tentang penyebutan. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: “Dan berkatalah orang yang selamat di antara kedua (pemuda) itu dan yang teringat” yakni teringat “sesudah beberapa waktu lamanya,” yaitu beberapa tahun. Dan sebagian orang membaca, sebagaimana dihikayatkan dari Ibnu Abbas, Ikrimah dan Adh-Dhahhak: “Dan yang teringat sesudah lupa.” Dan Mujahid membacanya: “Sesudah lupa” dengan mematikan mim, dan itu juga kelupaan. Dikatakan: amaha ar-rajulu yam-ahu amhan wa amahan jika dia lupa. Penyair berkata:

Aku lupa padahal aku dahulu tidak pernah lupa suatu pembicaraan Demikianlah masa menghabiskan akal

Maka dia berkata kepada kaumnya dan kepada raja: “Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) menta’birkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya),” yakni utuslah aku kepada Yusuf. Maka dia datang kepadanya dan berkata: “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering, agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.”

Menurut Ahli Kitab bahwa raja ketika disebutkan kepadanya oleh orang yang selamat, memanggil dia ke hadapannya dan menceritakan kepadanya apa yang dilihatnya, lalu dia menafsirkannya untuknya. Ini adalah keliru, dan yang benar adalah apa yang diceritakan Allah dalam Kitab-Nya Al-Quran, bukan apa yang diarabkan oleh orang-orang bodoh ini dari para pendeta dan rahib.

Maka Yusuf alaihissalam memberikan apa yang ada padanya dari ilmu tanpa penundaan, tanpa syarat, dan tanpa meminta keluar dengan cepat. Bahkan dia memenuhi permintaan mereka dan menta’birkan bagi mereka apa yang menjadi mimpi raja yang menunjukkan terjadinya tujuh tahun dari kesuburan, diikuti oleh tujuh tahun kekeringan. “Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup),” yakni datang kepada mereka hujan, kesuburan dan kemakmuran, “dan di masa itu mereka memeras anggur,” yakni apa yang biasa mereka peras dari tebu, anggur, zaitun, wijen dan lainnya. Maka dia menta’birkan bagi mereka dan menunjukkan kepada mereka kebaikan, membimbing mereka kepada apa yang harus mereka lakukan dalam dua keadaan mereka yaitu kesuburan dan kekeringan, dan apa yang harus mereka lakukan dari menyimpan biji-bijian tahun-tahun kesuburan dalam tujuh tahun pertama dalam bulirnya kecuali yang diperuntukkan untuk makanan, dan dari mengurangi benih dalam tahun-tahun kekeringan dalam tujuh tahun kedua karena sangkaan kuat bahwa benih tidak akan kembali dari ladang. Ini menunjukkan kesempurnaan ilmu, kesempurnaan pendapat dan pemahaman.

“Dan raja berkata: ‘Bawalah Yusuf kepadaku.’ Maka tatkala utusan raja itu datang kepada Yusuf, berkatalah Yusuf: ‘Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Mengetahui tipu daya mereka.’ Raja bertanya (kepada wanita-wanita itu): ‘Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadamu)?’ Mereka menjawab: ‘Maha Sempurna Allah, kami tiada mengetahui sesuatu keburukan dari padanya.’ Berkatalah isteri Al-Aziz: ‘Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar.’ (Yusuf berkata): ‘Yang demikian itu agar dia (Al-Aziz) mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak mengkhianatinya di belakangnya, dan bahwasanya Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat. Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'” (Yusuf: 50-53)

Ketika raja mengetahui dengan sempurna tentang kesempurnaan ilmu Yusuf alaihissalam, kesempurnaan akalnya, pendapatnya yang tepat dan pemahamannya, dia memerintahkan untuk menghadirkannya ke hadapannya agar dia menjadi bagian dari orang-orang khususnya. Ketika utusan datang kepadanya dengan itu, dia ingin untuk tidak keluar sampai jelas bagi setiap orang bahwa dia dipenjara dengan aniaya dan permusuhan, dan bahwa dia bersih dari apa yang mereka nisbatkan kepadanya dengan dusta. Dia berkata: “Kembalilah kepada tuanmu,” yakni raja, “dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Mengetahui tipu daya mereka.” Dikatakan: Maknanya adalah sesungguhnya tuanku Al-Aziz mengetahui kebersihanku dari apa yang dinisbatkan kepadaku, maka suruhlah raja untuk bertanya kepada mereka bagaimana penolakanku yang keras ketika mereka merayuku dan dorongan mereka kepadaku untuk perkara yang tidak baik dan tidak tepat.

Ketika mereka ditanya tentang itu, mereka mengakui apa yang terjadi dari kesalahan perkara dan apa yang ada darinya dari perkara yang terpuji, dan mereka berkata: “Maha Sempurna Allah, kami tiada mengetahui sesuatu keburukan dari padanya.” Pada saat itu berkatalah isteri Al-Aziz, yaitu Zulaykha: “Sekarang jelaslah kebenaran itu,” yakni telah jelas dan nyata. “Akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar,” yakni dalam apa yang dikatakannya bahwa dia bersih dan bahwa dia tidak merayuku, dan bahwa dia dipenjara dengan aniaya, permusuhan, dusta dan kebohongan.

Dan firman-Nya: “Yang demikian itu agar dia (Al-Aziz) mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak mengkhianatinya di belakangnya, dan bahwasanya Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat.” Dikatakan: Ini adalah dari perkataan Yusuf, yakni sesungguhnya aku meminta penyelidikan ini agar Al-Aziz mengetahui bahwa aku tidak mengkhianatinya di belakangnya. Dan dikatakan: Ini adalah dari kesempurnaan perkataan Zulaykha, yakni sesungguhnya aku mengakui ini agar suamiku mengetahui bahwa aku tidak mengkhianatinya dalam kenyataannya, dan hanya ada rayuan yang tidak terjadi bersamanya perbuatan keji. Pendapat ini adalah yang dikuatkan oleh banyak dari para imam mutaakhirin dan lainnya. Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim tidak menghikayatkan selain pendapat pertama.

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Dikatakan: Ini adalah dari perkataan Yusuf. Dan dikatakan: dari perkataan Zulaykha. Ini bercabang dari dua pendapat yang pertama. Dan sebagai kesempurnaan perkataan Zulaykha lebih jelas, lebih sesuai dan lebih kuat, wallahu a’lam.

Dan raja berkata: “Bawalah dia (Yusuf) kepadaku, agar aku mengambilnya sebagai orang kepercayaanku sendiri.” Maka ketika dia (raja) berbicara dengannya, dia (raja) berkata: “Sesungguhnya engkau pada hari ini menjadi orang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya di sisi kami.” Dia (Yusuf) berkata: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” Dan demikianlah Kami memberikan kedudukan kepada Yusuf di negeri (Mesir); dia berkuasa di mana saja dia kehendaki. Kami anugerahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Dan sungguh, pahala akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa. (Yusuf: 54-57)

Setelah jelas bagi raja kepolosan Yusuf dan bersihnya dirinya dari apa yang telah mereka tampakkan tentangnya, dari apa yang telah mereka tuduhkan kepadanya, raja berkata: Bawalah dia kepadaku, agar aku mengambilnya sebagai orang kepercayaanku sendiri. Artinya, aku jadikan dia termasuk orang-orang terdekatku, dari pembesar-pembesar negaraku, dan dari orang-orang terkemuka dalam istanaku. Maka ketika raja berbicara dengannya dan mendengar perkataannya dan mengetahui keadaannya, dia berkata: Sesungguhnya engkau pada hari ini menjadi orang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya di sisi kami. Artinya, memiliki kedudukan dan kepercayaan. Dia (Yusuf) berkata: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” Dia meminta agar raja memberikan kepadanya pengelolaan yang berkaitan dengan lumbung-lumbung makanan, karena dia mengharapkan akan terjadi kerusakan setelah berlalunya tujuh tahun kesuburan, agar dia dapat mengelolanya dengan cara yang diridhai Allah untuk makhluk-Nya, dengan kehati-hatian untuk mereka dan kelemahlembutan kepada mereka. Dia mengabarkan kepada raja bahwa dia pandai menjaga, artinya kuat dalam menjaga apa yang ada di sisinya, dapat dipercaya atasnya, dan berpengetahuan dalam mengatur segala sesuatu dan kepentingan lumbung-lumbung. Dalam hal ini terdapat dalil tentang bolehnya meminta jabatan bagi orang yang mengetahui dari dirinya sendiri sifat amanah dan kecakapan. Menurut Ahli Kitab, Firaun sangat mengagungkan Yusuf alaihissalam, dan memberikannya kekuasaan atas seluruh tanah Mesir, dan memberikan kepadanya cincinnya, memakainya pakaian sutera, mengalungi lehernya dengan emas, dan menaikkannya ke atas kereta kedua raja, dan diumumkan di hadapannya: Engkau adalah penguasa, artinya pemilik dan penguasa. Raja berkata kepadanya: Aku tidak lebih agung darimu kecuali dalam hal tahta. Mereka berkata: Yusuf pada saat itu berusia tiga puluh tahun, dan raja menikahkannya dengan seorang wanita yang sangat mulia.

Ats-Tsa’labi menceritakan bahwa raja memberhentikan Qithfir dari jabatannya dan memberikan jabatan itu kepada Yusuf. Ada yang berkata: Ketika Qithfir meninggal, raja menikahkan Yusuf dengan istrinya, Zulaikha, lalu dia mendapatinya masih perawan, karena suaminya tidak mendatangi para wanita. Zulaikha melahirkan untuk Yusuf alaihissalam dua orang laki-laki, yaitu Afraatsim dan Mansa. Dia berkata: Kekuasaan Mesir menjadi mantap bagi Yusuf, dan dia berbuat adil di antara mereka, sehingga para laki-laki dan wanita mencintainya. Diriwayatkan bahwa Yusuf ketika masuk menemui raja berusia tiga puluh tahun, dan raja berbicara dengannya dalam tujuh puluh bahasa, dan semuanya dijawabnya dalam setiap bahasa tersebut, sehingga hal itu mengagumkan raja dengan usianya yang masih muda. Wallahu a’lam (Allah Yang Maha Mengetahui).

Allah Ta’ala berfirman: Dan demikianlah Kami memberikan kedudukan kepada Yusuf di negeri (Mesir); dia berkuasa di mana saja dia kehendaki. Artinya, setelah penjara, kesempitan, dan kurungan, dia menjadi bebas berkeliling di negeri Mesir, berkuasa di mana saja dia kehendaki. Artinya, di mana pun dia mau, dia tinggal di sana dengan dimuliakan, diperhitungkan, dan diagungkan. Kami anugerahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Artinya, semua ini adalah dari balasan dan pahala Allah bagi orang yang beriman, di samping apa yang Dia simpan untuknya di akhiratnya berupa kebaikan yang besar dan pahala yang indah. Oleh karena itu Allah berfirman: Dan sungguh, pahala akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa. Dikatakan bahwa Ithfir, suami Zulaikha, telah meninggal. Maka raja memberikan kepadanya jabatan Ithfir dan menikahkannya dengan istrinya, Zulaikha, lalu dia menjadi wazir yang jujur.

Muhammad bin Ishaq menyebutkan bahwa penguasa Mesir, Al-Walid bin Ar-Rayyan, masuk Islam melalui Yusuf alaihissalam. Wallahu a’lam. Sebagian mereka berkata:

Di balik penyempitan rasa takut, keamanan akan meluas, Dan awal kegembiraan adalah akhir kesedihan. Maka janganlah berputus asa, karena Allah memberikan kepada Yusuf Perbendaharaan-Nya setelah pembebasan dari penjara.

Dan saudara-saudara Yusuf datang, lalu mereka masuk menemuinya, maka dia mengenali mereka sedang mereka tidak mengenalnya. Dan ketika dia menyiapkan untuk mereka perbekalan mereka, dia berkata: “Bawalah kepadaku saudara kalian yang seayah dengan kalian. Tidakkah kalian melihat bahwa aku menyempurnakan takaran dan aku adalah sebaik-baik tuan rumah? Maka jika kalian tidak membawa dia kepadaku, maka kalian tidak akan memperoleh sukatan (gandum) lagi dariku, dan janganlah kalian mendekati (ku).” Mereka berkata: “Kami akan membujuk ayahnya (untuk melepaskan) dia dan sesungguhnya kami pasti melakukannya.” Dan dia berkata kepada pelayan-pelayannya: “Masukkan kembali barang-barang mereka (yang ditukar dengan barang-barang) ke dalam karung mereka, agar mereka mengetahuinya ketika mereka kembali kepada keluarga mereka, mudah-mudahan mereka kembali (lagi).” (Yusuf: 58-62)

Allah Ta’ala mengabarkan tentang kedatangan saudara-saudara Yusuf alaihissalam ke negeri Mesir untuk membeli makanan. Hal itu terjadi setelah datangnya tahun-tahun kekeringan dan meluasnya ke seluruh negeri dan penduduk. Yusuf alaihissalam pada saat itu adalah penguasa dalam urusan negeri Mesir, baik agama maupun dunia. Ketika mereka masuk menemuinya, dia mengenali mereka, tetapi mereka tidak mengenalinya, karena tidak terbersit dalam pikiran mereka tentang kedudukan yang telah dicapai Yusuf alaihissalam, berupa kekuasaan dan keagungan. Oleh karena itu dia mengenali mereka sedang mereka tidak mengenalinya. Menurut Ahli Kitab, ketika mereka datang kepadanya, mereka bersujud kepadanya, lalu dia mengenali mereka. Dia ingin agar mereka tidak mengenalinya, maka dia bersikap kasar kepada mereka dalam perkataan. Dia berkata: Kalian adalah mata-mata, kalian datang untuk mengambil berita negeriku. Mereka berkata: Kami berlindung kepada Allah, sesungguhnya kami hanya datang untuk membeli makanan bagi kaum kami karena kesulitan dan kelaparan yang menimpa kami. Kami adalah putra-putra seorang ayah dari Kan’an. Kami dua belas orang laki-laki, salah seorang dari kami telah hilang, dan adik kami yang paling kecil ada di sisi ayah kami. Maka dia berkata: Aku harus menyelidiki urusan kalian. Menurut mereka, dia menahan mereka selama tiga hari, kemudian dia melepaskan mereka dan menahan Syam’un di sisinya agar mereka membawa saudara yang lain. Dalam sebagian ini terdapat pertimbangan.

Allah Ta’ala berfirman: Dan ketika dia menyiapkan untuk mereka perbekalan mereka. Artinya, dia memberi mereka dari persediaan makanan sebagaimana kebiasaannya dalam memberi setiap orang beban seekor unta, tidak menambahnya. Dia berkata: “Bawalah kepadaku saudara kalian yang seayah dengan kalian.” Dia telah bertanya kepada mereka tentang keadaan mereka dan berapa jumlah mereka. Mereka berkata: Kami dua belas orang laki-laki, salah seorang dari kami telah hilang, dan saudaranya yang sekandung tinggal bersama ayah kami. Maka dia berkata: Jika kalian datang tahun yang akan datang, maka bawalah dia bersama kalian. Tidakkah kalian melihat bahwa aku menyempurnakan takaran dan aku adalah sebaik-baik tuan rumah. Artinya, aku telah berbuat baik dalam menerima kalian dan menjamu kalian. Maka dia membuat mereka tertarik untuk membawa dia, kemudian dia mengancam mereka jika mereka tidak membawanya. Dia berkata: Maka jika kalian tidak membawa dia kepadaku, maka kalian tidak akan memperoleh sukatan (gandum) lagi dariku, dan janganlah kalian mendekati (ku). Artinya, aku tidak akan memberi kalian persediaan makanan dan tidak akan mendekatkan kalian sama sekali, kebalikan dari apa yang telah dia berikan kepada mereka pertama kali. Maka dia bersungguh-sungguh dalam menghadirkannya bersama mereka agar kerinduan dia terhadap Bunyamin terpenuhi dengan cara membujuk dan mengancam. Mereka berkata: “Kami akan membujuk ayahnya (untuk melepaskan) dia.” Artinya, kami akan bersungguh-sungguh dalam membawanya bersama kami dan mendatangkannya kepadamu dengan segala cara yang mungkin. Dan sesungguhnya kami pasti melakukannya. Artinya, kami mampu mewujudkannya. Kemudian dia memerintahkan pelayan-pelayannya untuk memasukkan barang-barang mereka, yaitu apa yang mereka bawa untuk ditukar dengan persediaan makanan, ke dalam barang-barang mereka tanpa mereka sadari, agar mereka mengetahuinya ketika mereka kembali kepada keluarga mereka, mudah-mudahan mereka kembali (lagi). Ada yang berkata: Dia ingin agar mereka mengembalikannya ketika mereka menemukannya di negeri mereka. Ada yang berkata: Dia khawatir mereka tidak memiliki sesuatu yang akan mereka bawa kembali untuk kedua kalinya. Ada yang berkata: Dia merasa tidak enak mengambil dari mereka imbalan atas persediaan makanan.

Para mufassir berbeda pendapat tentang barang-barang mereka dalam beberapa pendapat yang akan disebutkan nanti. Menurut Ahli Kitab, barang-barang itu adalah kantong-kantong perak. Ini yang lebih mirip. Wallahu a’lam.

Maka ketika mereka kembali kepada ayah mereka, mereka berkata: “Wahai ayah kami, takaran (gandum) dilarang untuk kami, maka utuslah saudara kami bersama kami, niscaya kami akan mendapat takaran, dan sesungguhnya kami pasti menjaganya.” Dia berkata: “Apakah aku akan mempercayakan dia kepada kalian kecuali seperti aku telah mempercayakan saudaranya kepada kalian dahulu? Maka Allah adalah penjaga yang sebaik-baiknya, dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” Dan ketika mereka membuka barang-barang mereka, mereka menemukan barang-barang (yang ditukar dengan barang-barang) mereka dikembalikan kepada mereka. Mereka berkata: “Wahai ayah kami, apa lagi yang kami kehendaki? Ini barang-barang kami dikembalikan kepada kami, dan kami akan membawa makanan untuk keluarga kami, dan kami akan menjaga saudara kami, dan kami akan mendapat tambahan beban seekor unta. Itu adalah takaran yang mudah.” Dia berkata: “Aku sekali-kali tidak akan mengirimnya bersama kalian sehingga kalian memberiku janji yang teguh atas nama Allah bahwa kalian pasti akan membawanya kembali kepadaku, kecuali jika kalian terkepung (tidak berdaya).” Maka ketika mereka memberikan janji yang teguh kepadanya, dia berkata: “Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan.” Dan dia berkata: “Wahai anak-anakku, janganlah kalian masuk dari satu pintu, dan masuklah dari pintu-pintu yang berbeda, dan aku tidak dapat menolong kalian sedikitpun dari (takdir) Allah. Keputusan itu hanyalah milik Allah. Kepada-Nya aku bertawakal, dan kepada-Nya hendaklah bertawakal orang-orang yang bertawakal.” Dan ketika mereka masuk dari tempat yang diperintahkan oleh ayah mereka kepada mereka, (yang demikian itu) tidak dapat menolong mereka sedikitpun dari (takdir) Allah, kecuali karena suatu keperluan dalam jiwa Ya’qub yang dia penuhi. Dan sesungguhnya dia memiliki ilmu karena apa yang telah Kami ajarkan kepadanya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Yusuf: 63-68)

Allah Ta’ala menyebutkan apa yang terjadi pada urusan mereka setelah kembali kepada ayah mereka dan perkataan mereka kepadanya: Takaran (gandum) dilarang untuk kami. Artinya, setelah tahun kami ini jika engkau tidak mengutus saudara kami bersama kami. Jika engkau mengirimnya bersama kami, maka tidak akan dilarang untuk kami. Dan ketika mereka membuka barang-barang mereka, mereka menemukan barang-barang (yang ditukar dengan barang-barang) mereka dikembalikan kepada mereka. Mereka berkata: “Wahai ayah kami, apa lagi yang kami kehendaki?” Artinya, apa yang kami inginkan, padahal barang-barang kami telah dikembalikan kepada kami. Dan kami akan membawa makanan untuk keluarga kami. Artinya, kami akan membeli makanan untuk mereka dan membawakan kepada mereka apa yang memperbaiki keadaan mereka di tahun mereka dan kesulitan mereka. Dan kami akan menjaga saudara kami, dan kami akan mendapat tambahan karena dia beban seekor unta. Allah Ta’ala berfirman: Itu adalah takaran yang mudah. Artinya, sebagai imbalan kepergian anak yang lain, padahal Ya’qub alaihissalam sangat sayang kepada anaknya Bunyamin, karena dia mencium padanya bau saudaranya dan terhibur olehnya darinya, dan mendapat ganti karena dia darinya. Oleh karena itu dia berkata: Aku sekali-kali tidak akan mengirimnya bersama kalian sehingga kalian memberiku janji yang teguh atas nama Allah bahwa kalian pasti akan membawanya kembali kepadaku, kecuali jika kalian terkepung (tidak berdaya). Artinya, kecuali jika kalian semua dikalahkan sehingga tidak bisa membawanya. Maka ketika mereka memberikan janji yang teguh kepadanya, dia berkata: “Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan.” Dia menguatkan perjanjian-perjanjian dan mempertegas ikatan-ikatan serta berhati-hati untuk dirinya terhadap anaknya. Namun kehati-hatian tidak akan menolak takdir. Seandainya bukan karena kebutuhannya dan kebutuhan kaumnya akan persediaan makanan, niscaya dia tidak akan mengirim anak yang tercinta itu. Tetapi takdir-takdir memiliki hukum-hukum, dan Tuhan Ta’ala menakdirkan apa yang Dia kehendaki, memilih apa yang Dia kehendaki, dan memutuskan apa yang Dia kehendaki. Dia adalah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Kemudian dia memerintahkan mereka untuk tidak memasuki kota dari satu pintu, tetapi hendaklah mereka masuk dari pintu-pintu yang berbeda. Ada yang berkata: Dia ingin agar mereka tidak terkena mata jahat (ain), karena mereka memiliki penampilan yang bagus dan wajah-wajah yang indah. Ini pendapat Ibnu Abbas, Mujahid, Muhammad bin Ka’b, Qatadah, As-Suddi, dan Ad-Dhahhak. Ada yang berkata: Dia ingin agar mereka berpencar supaya mereka dapat menemukan berita tentang Yusuf atau mendengar tentangnya dengan cara yang termudah. Ini pendapat Ibrahim An-Nakha’i. Yang pertama lebih jelas. Oleh karena itu Allah berfirman: Dan aku tidak dapat menolong kalian sedikitpun dari (takdir) Allah. Allah Ta’ala berfirman: Dan ketika mereka masuk dari tempat yang diperintahkan oleh ayah mereka kepada mereka, (yang demikian itu) tidak dapat menolong mereka sedikitpun dari (takdir) Allah, kecuali karena suatu keperluan dalam jiwa Ya’qub yang dia penuhi. Dan sesungguhnya dia memiliki ilmu karena apa yang telah Kami ajarkan kepadanya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Menurut Ahli Kitab, dia mengirim bersama mereka hadiah untuk sang pembesar berupa pistachio, almond, cemara, damar, dan madu, dan mereka membawa dirham yang pertama serta uang yang lain.

Dan ketika mereka masuk menemui Yusuf, dia merangkul saudaranya (Bunyamin) ke sisinya. Dia berkata: “Sesungguhnya aku ini adalah saudaramu, maka janganlah engkau bersedih hati terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” Maka ketika dia menyiapkan untuk mereka perbekalan mereka, dia memasukkan piala minum ke dalam karung saudaranya. Kemudian penyeru berseru: “Hai kafilah, sesungguhnya kalian benar-benar pencuri.” Mereka berkata, sambil menghadap kepada mereka: “Barang apa yang kalian hilangkan?” Mereka menjawab: “Kami kehilangan piala raja, dan barangsiapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh (bahan makanan seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya.” Mereka berkata: “Demi Allah, sungguh kalian mengetahui bahwa kami datang bukan untuk berbuat kerusakan di negeri (ini), dan kami bukanlah pencuri-pencuri.” Mereka berkata: “Kalau begitu, apa balasannya (pencuri itu) jika kalian adalah orang-orang yang berdusta?” Mereka menjawab: “Balasannya ialah orang yang piala raja itu ditemukan dalam karungnya, maka dia sendirilah balasannya. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang lalim.” Maka dia mulai (memeriksa) karung-karung mereka sebelum karung saudaranya, kemudian dia mengeluarkannya dari karung saudaranya. Demikianlah Kami memberi muslihat kepada Yusuf. Dia tidak akan dapat menahan saudaranya menurut hukum raja, kecuali jika Allah menghendaki. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki, dan di atas setiap orang yang berilmu ada Yang Maha Mengetahui. Mereka berkata: “Jika dia mencuri, maka sesungguhnya saudaranya (Yusuf) pernah mencuri sebelumnya.” Maka Yusuf menyimpan (kejengkelan) itu dalam hatinya dan tidak menampakkannya kepada mereka. Dia berkata: “Kalian lebih buruk kedudukannya, dan Allah lebih mengetahui apa yang kalian sifatkan.” Mereka berkata: “Wahai Al-Aziz, sesungguhnya dia mempunyai ayah yang sudah sangat tua, maka tahanlah salah seorang di antara kami sebagai gantinya. Sesungguhnya kami memandangmu termasuk orang-orang yang berbuat kebaikan.” Dia (Yusuf) berkata: “Kami berlindung kepada Allah untuk menahan selain orang yang kami dapati barang kami padanya. Sesungguhnya kami kalau begitu benar-benar orang-orang yang lalim.” (Yusuf: 69-79)

Allah Ta’ala menyebutkan apa yang terjadi pada urusan mereka ketika mereka masuk dengan saudara mereka, Bunyamin, menemui saudaranya yang sekandung, Yusuf, dan merangkulnya ke sisinya serta mengabarkan kepadanya secara rahasia dari mereka bahwa dia adalah saudaranya, dan memerintahkannya untuk menyembunyikan hal itu dari mereka, serta menghiburnya dari apa yang telah mereka lakukan berupa keburukan kepadanya. Kemudian dia melakukan tipu daya untuk mengambilnya dari mereka dan membiarkannya di sisinya tanpa mereka. Dia memerintahkan pelayan-pelayannya untuk memasukkan pialanya, yaitu yang dia gunakan untuk minum dan untuk menakar makanan bagi manusia karena keagungannya, ke dalam barang-barang Bunyamin. Kemudian dia memberitahukan kepada mereka bahwa mereka telah mencuri piala raja, dan menjanjikan kepada mereka hadiah atas pengembaliannya berupa beban seekor unta, dan penyeru menjamin hal itu kepada mereka. Maka mereka menghadapi orang yang menuduh mereka dengan hal itu, lalu mereka menegurnya dan memburukkannya dalam apa yang dia katakan kepada mereka. Mereka berkata: Demi Allah, sungguh kalian mengetahui bahwa kami datang bukan untuk berbuat kerusakan di negeri (ini), dan kami bukanlah pencuri-pencuri. Mereka berkata: Kalian mengetahui dari kami kebalikan dari apa yang kalian tuduhkan kepada kami, yaitu pencurian. Mereka berkata: “Kalau begitu, apa balasannya (pencuri itu) jika kalian adalah orang-orang yang berdusta?” Mereka menjawab: “Balasannya ialah orang yang piala raja itu ditemukan dalam karungnya, maka dia sendirilah balasannya. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang lalim.” Ini adalah syariat mereka bahwa pencuri diserahkan kepada orang yang dicuri darinya. Oleh karena itu mereka berkata: Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang lalim.

Allah Ta’ala berfirman: Maka dia mulai (memeriksa) karung-karung mereka sebelum karung saudaranya, kemudian dia mengeluarkannya dari karung saudaranya. Agar hal itu lebih jauh dari tuduhan dan lebih berhasil dalam tipu daya. Kemudian Allah Ta’ala berfirman: Demikianlah Kami memberi muslihat kepada Yusuf. Dia tidak akan dapat menahan saudaranya menurut hukum raja. Artinya, seandainya bukan karena pengakuan mereka bahwa balasannya adalah orang yang piala raja itu ditemukan dalam karungnya, maka dia sendirilah balasannya, niscaya Yusuf tidak akan mampu mengambilnya dari mereka menurut peraturan raja Mesir, kecuali jika Allah menghendaki. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki. Artinya dalam ilmu. Dan di atas setiap orang yang berilmu ada Yang Maha Mengetahui. Hal itu karena Yusuf lebih berilmu dari mereka, lebih sempurna pertimbangannya, dan lebih kuat tekad serta kebijaksanaannya. Dia melakukan apa yang dia lakukan atas perintah Allah kepadanya dalam hal itu, karena urusan ini akan menghasilkan kemaslahatan yang besar setelah itu, yaitu kedatangan ayahnya dan kaumnya kepadanya dan kedatangan mereka menemuinya.

Ketika mereka menyaksikan dikeluarkannya piala dari beban Bunyamin, mereka berkata: “Jika dia mencuri, maka sesungguhnya saudaranya (Yusuf) pernah mencuri sebelumnya.” Mereka maksudkan Yusuf. Ada yang berkata: Dia pernah mencuri berhala kakeknya, ayah ibunya, lalu menghancurkannya. Ada yang berkata: Bibinya telah menggantungkan di antara pakaiannya, ketika dia masih kecil, ikat pinggang yang pernah menjadi milik Ishaq, kemudian mereka mengeluarkannya dari antara pakaiannya, sedangkan dia tidak menyadari apa yang dia lakukan. Dia hanya ingin agar dia ada di sisinya dan dalam pemeliharaannya karena kecintaannya kepadanya. Ada yang berkata: Dia mengambil makanan dari rumah dan memberinya kepada orang-orang fakir. Ada yang berkata selain itu. Oleh karena itu mereka berkata: Jika dia mencuri, maka sesungguhnya saudaranya (Yusuf) pernah mencuri sebelumnya. Maka Yusuf menyimpan (kejengkelan) itu dalam hatinya, yaitu perkataannya setelahnya, yaitu: Kalian lebih buruk kedudukannya, dan Allah lebih mengetahui apa yang kalian sifatkan. Dia menjawab mereka secara rahasia, bukan terang-terangan, dengan kelembutan, kemuliaan, pemaafan, dan pengampunan.

Maka mereka masuk bersamanya dalam merayu dan memohon kasihan. Mereka berkata: “Wahai Al-Aziz, sesungguhnya dia mempunyai ayah yang sudah sangat tua, maka tahanlah salah seorang di antara kami sebagai gantinya. Sesungguhnya kami memandangmu termasuk orang-orang yang berbuat kebaikan.” Dia (Yusuf) berkata: “Kami berlindung kepada Allah untuk menahan selain orang yang kami dapati barang kami padanya. Sesungguhnya kami kalau begitu benar-benar orang-orang yang lalim.” Artinya, jika kami melepaskan orang yang dituduh dan menahan orang yang tidak bersalah, ini tidak akan kami lakukan dan tidak kami izinkan. Kami hanya menahan orang yang kami dapati barang kami padanya.

Menurut Ahli Kitab, Yusuf memperkenalkan dirinya kepada mereka saat itu. Ini adalah salah satu kesalahan mereka dan mereka tidak memahaminya dengan baik.

“Maka tatkala mereka telah berputus asa daripadanya (Yusuf), mereka berundingan dengan berbisik-bisik. Berkatalah yang tertua di antara mereka: ‘Tidakkah kamu ketahui bahwa ayahmu telah mengambil janji dari kamu dengan nama Allah, dan dahulu kamu telah berlaku curang terhadap Yusuf? Maka aku sekali-kali tidak akan meninggalkan negeri (ini) hingga ayahku mengizinkanku atau Allah menetapkan keputusan untukku dan Dia adalah sebaik-baik yang menetapkan keputusan. Kembalilah kamu kepada ayahmu dan katakanlah: Wahai ayah kami, sesungguhnya anakmu telah mencuri, dan kami tidak menyaksikan kecuali apa yang kami ketahui dan kami tidak dapat menjaga terhadap yang gaib, dan tanyakanlah (kepada penduduk) negeri yang kami berada di sana dan kafilah yang kami datang bersamanya; dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar.’ Berkata (Yakub): ‘Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan mereka semua kepadaku. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.’ Dan dia (Yakub) berpaling dari mereka seraya berkata: ‘Aduhai duka citaku terhadap Yusuf,’ dan kedua matanya memutih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarah (menahan kesedihan). Mereka berkata: ‘Demi Allah, kamu senantiasa mengingati Yusuf, sehingga kamu menjadi sangat kurus atau termasuk orang-orang yang binasa.’ Dia berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya mengadukan kesusahan dan kesedihanku kepada Allah dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui. Wahai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang yang kafir.'” (Surah Yusuf: 80-87)

Allah Taala berfirman memberitakan tentang mereka bahwa tatkala mereka telah berputus asa untuk membawanya (Bunyamin) dari Yusuf, mereka menyendiri untuk berbisik-bisik di antara mereka. Berkatalah yang tertua di antara mereka yaitu Ruubil: Tidakkah kalian ketahui bahwa ayah kalian telah mengambil janji dari kalian dengan nama Allah? Sungguh kalian telah melanggar janjinya dan berlaku curang terhadap dia, sebagaimana kalian telah berlaku curang terhadap saudaranya Yusuf sebelum ini. Maka tidak tersisa bagiku wajah untuk menghadapinya, karena itu aku tidak akan meninggalkan negeri ini. Artinya: aku akan tetap tinggal di sini hingga ayahku mengizinkanku untuk datang kepadanya, atau Allah menetapkan keputusan untukku dengan menganugerahkanku kemampuan untuk mengembalikan saudaraku kepada ayahku, dan Dia adalah sebaik-baik yang menetapkan keputusan. Kembalilah kepada ayahmu lalu katakanlah: Wahai ayah kami, sesungguhnya anakmu telah mencuri. Artinya beritahukanlah kepadanya apa yang kalian lihat dari peristiwa itu secara lahiriah. Dan kami tidak menyaksikan kecuali apa yang kami ketahui dan kami tidak dapat menjaga terhadap yang gaib, dan tanyakanlah (kepada penduduk) negeri yang kami berada di sana dan kafilah yang kami datang bersamanya. Artinya sesungguhnya apa yang kami kabarkan kepadamu tentang pengambilan saudara kami karena dia mencuri adalah perkara yang telah tersebar di Mesir, dan diketahui oleh kafilah yang kami dan mereka berada di sana, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar. Dia (Yakub) berkata: Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Artinya keadaan tidak seperti yang kalian sebutkan, dia tidak mencuri karena itu bukan tabiat dan akhlaknya, akan tetapi diri kalian sendirilah yang memandang baik suatu perbuatan, maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku).

Ibnu Ishaq dan selain beliau berkata: Ketika kelalaian mereka terhadap Bunyamin adalah akibat dari perbuatan mereka terhadap Yusuf, maka dia berkata kepada mereka apa yang dia katakan. Dan ini sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian salaf: Sesungguhnya di antara balasan kejahatan adalah kejahatan setelahnya. Kemudian dia berkata: Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan mereka semua kepadaku. Maksudnya Yusuf, Bunyamin, dan Ruubil. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui, artinya tentang keadaanku dan apa yang aku alami dari perpisahan dengan orang-orang yang dicintai, Maha Bijaksana dalam apa yang Dia takdirkan dan Dia lakukan, dan bagi-Nya hikmah yang sempurna dan hujjah yang jelas. Dan dia (Yakub) berpaling dari mereka, artinya dia berpaling dari anak-anaknya dan berkata: Aduhai duka citaku terhadap Yusuf.

Kesedihan yang baru mengingatkannya pada kesedihan yang lama dan menggerakkan apa yang tersimpan, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian mereka:

Pindahkanlah hatimu ke mana kamu mau dari cinta … Tidaklah cinta itu kecuali untuk kekasih yang pertama

Dan yang lain berkata:

Sungguh temanku telah mencelaku di sisi-sisi kubur karena menangis … Untuk air mata yang mengalir deras

Maka dia berkata: Apakah kamu menangisi setiap kubur yang kamu lihat … Untuk kubur yang terbaring antara Lawa dan Dakadik?

Maka aku berkata kepadanya: Sesungguhnya kesedihan membangkitkan kesedihan, maka biarkanlah aku … Karena ini semua adalah kubur Malik

Dan firman-Nya: Dan kedua matanya memutih karena kesedihan, artinya karena banyaknya menangis, dan dia adalah orang yang menahan amarah (menahan kesedihan), artinya memendam kesedihan karena banyaknya dukanya, dan penderitaannya, dan kerinduannya kepada Yusuf. Maka ketika anak-anaknya melihat apa yang dia alami dari kesepian dan sakit perpisahan, mereka berkata kepadanya dengan wajah kasih sayang dan belas kasihan serta kepedulian terhadapnya: Demi Allah, kamu senantiasa mengingati Yusuf, sehingga kamu menjadi sangat kurus atau termasuk orang-orang yang binasa. Mereka berkata: Kamu tidak akan berhenti mengingatnya hingga tubuhmu kurus dan kekuatanmu melemah, seandainya kamu berbelas kasih pada dirimu sendiri itu lebih baik bagimu. Dia berkata: Sesungguhnya aku hanya mengadukan kesusahan dan kesedihanku kepada Allah dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui. Dia berkata kepada anak-anaknya: Aku tidak mengadu kepada kalian dan tidak kepada siapa pun dari manusia tentang apa yang aku alami, aku hanya mengadu kepada Allah Azza wa Jalla, dan aku tahu bahwa Allah akan menjadikan bagiku dari apa yang aku alami ini jalan keluar, dan aku tahu bahwa mimpi Yusuf pasti akan terjadi, dan pasti aku dan kalian akan bersujud kepadanya sesuai dengan apa yang dia lihat; oleh karena itu dia berkata: Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui. Kemudian dia berkata kepada mereka mendorong mereka untuk mencari Yusuf dan saudaranya dan agar mereka menyelidiki perkara mereka: Wahai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang yang kafir. Artinya jangan berputus asa dari kelapangan setelah kesempitan, karena sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah dan kelapangan-Nya serta apa yang Dia takdirkan dari jalan keluar dalam kesempitan hanyalah orang-orang yang kafir.

“Maka tatkala mereka masuk menemui Yusuf, mereka berkata: ‘Wahai Al-Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang dagangan yang tidak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah.’ Yusuf berkata: ‘Tahukah kamu apa yang telah kamu perbuat terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)?’ Mereka berkata: ‘Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?’ Yusuf menjawab: ‘Aku adalah Yusuf dan ini adalah saudaraku; sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.’ Mereka berkata: ‘Demi Allah, sesungguhnya Allah benar-benar telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.’ Berkata Yusuf: ‘Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, semoga Allah mengampuni kamu, dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang. Pergilah kamu dengan membawa bajuku ini, maka letakkanlah pada wajah ayahku, nanti dia akan kembali dapat melihat; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku.'” (Surah Yusuf: 88-93)

Allah Taala mengabarkan tentang kembalinya saudara-saudara Yusuf kepadanya dan kedatangan mereka menghadapnya serta keinginan mereka terhadap makanan yang ada pada Yusuf dan sedekah kepada mereka dengan mengembalikan saudara mereka Bunyamin kepada mereka. Maka tatkala mereka masuk menemuinya, mereka berkata: Wahai Al-Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan, artinya dari kekeringan, kesempitan keadaan, dan banyaknya tanggungan, dan kami datang membawa barang dagangan yang tidak berharga, artinya lemah, tidak diterima yang seperti itu dari kami kecuali jika dimaafkan. Dikatakan: barang dagangan itu adalah dirham yang buruk. Dan dikatakan: sedikit. Dan dikatakan: biji pinus, biji pohon pistachio, dan semacamnya. Dan dari Ibnu Abbas: barang dagangan itu adalah kantong-kantong usang, tali-temali, dan semacamnya. Maka sempurnakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah. Dikatakan: dengan menerimanya, demikian yang dikatakan oleh As-Suddi. Dan dikatakan: dengan mengembalikan saudara kami kepada kami, demikian yang dikatakan oleh Ibnu Juraij. Dan Sufyan bin Uyainah berkata: Sesungguhnya sedekah diharamkan atas Nabi kami Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Dan dia mengambil dalil dengan ayat ini. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir. Maka ketika Yusuf melihat keadaan mereka dan apa yang mereka bawa yang tidak tersisa pada mereka selain itu dari harta yang lemah, dia mengenalkan dirinya kepada mereka dan berbelas kasih kepada mereka dengan berkata kepada mereka tentang perintah Tuhannya dan Tuhan mereka, dan dia telah menyingkap keningnya yang mulia dan apa yang ada padanya dari tanda yang mereka kenali: Tahukah kamu apa yang telah kamu perbuat terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)? Mereka berkata dengan sangat heran, padahal mereka telah datang kepadanya berkali-kali dan mereka tidak mengenalinya: Apakah kamu ini benar-benar Yusuf? Dia berkata: Aku adalah Yusuf dan ini adalah saudaraku. Maksudnya: Aku adalah Yusuf yang kalian perbuat terhadapnya apa yang kalian perbuat, dan telah terjadi dari perkara kalian terhadapnya apa yang kalian lakukan. Dan firman-Nya: dan ini adalah saudaraku, adalah penguatan terhadap apa yang dia katakan dan peringatan terhadap apa yang mereka niatkan terhadap mereka berdua dari kedengkian, dan apa yang mereka lakukan dalam perkara mereka berdua dari tipu daya; oleh karena itu dia berkata: sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami, artinya dengan kebaikan-Nya kepada kami, dan sedekah-Nya kepada kami, dan perlindungan-Nya terhadap kami, dan penguatan kemulian kami, dan itu karena apa yang telah kami lakukan dari ketaatan kepada-Nya, dan kesabaran kami terhadap apa yang terjadi dari kalian kepada kami, dan ketaatan kami dan berbakti kami kepada ayah kami, dan kecintaannya yang sangat kepada kami, dan kepeduliannya terhadap kami. Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Mereka berkata: Demi Allah, sesungguhnya Allah benar-benar telah melebihkan kamu atas kami, artinya Dia telah memberikan keutamaan kepadamu dan memberikan kepadamu apa yang tidak Dia berikan kepada kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah, artinya dalam apa yang kami lakukan kepadamu, dan kami sekarang di hadapanmu. Dia berkata: Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, artinya aku tidak mencela kalian atas apa yang terjadi dari kalian setelah hari ini, kemudian dia menambahkan atas itu dengan berkata: semoga Allah mengampuni kamu, dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.

Dan barangsiapa yang mengira bahwa waqafnya pada firman-Nya: tidak ada cercaan terhadap kamu, dan memulai dengan firman-Nya: pada hari ini semoga Allah mengampuni kamu, maka pendapatnya lemah, dan yang benar adalah yang pertama. Kemudian dia memerintahkan mereka untuk membawa bajunya, yaitu yang menempel pada tubuhnya, lalu mereka meletakkannya pada mata ayahnya, maka dia akan kembali melihat setelah hilang dengan izin Allah, dan ini termasuk hal-hal yang luar biasa, dalil kenabian, dan mukjizat yang paling besar. Kemudian dia memerintahkan mereka untuk membawa keluarga mereka semua ke negeri Mesir menuju kebaikan, ketenangan, dan berkumpulnya keluarga setelah bercerai berai dengan cara yang paling sempurna dan perkara yang paling mulia.

“Dan tatkala kafilah itu telah keluar (dari negeri Mesir) berkata ayah mereka (kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya): ‘Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal.’ Mereka berkata: ‘Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam kesesatanmu yang lama.’ Maka tatkala datang pembawa kabar gembira, maka diletakkannyalah baju itu pada wajahnya, lalu kembalilah dia dapat melihat (kembali); berkata Yakub: ‘Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.’ Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.’ Dia (Yakub) berkata: ‘Kelak aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'” (Surah Yusuf: 94-98)

Abdurrazaq berkata: Telah mengabarkan kepada kami Israil, dari Abu Sinan, dari Abdullah bin Abi Al-Hudzail, aku mendengar Ibnu Abbas berkata: Dan tatkala kafilah itu telah keluar, dia berkata: Ketika kafilah keluar, angin bertiup lalu membawa kepada Yakub bau baju Yusuf. Maka dia berkata: Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal. Dia berkata: Maka dia mencium baunya dari jarak perjalanan delapan hari. Dan demikian pula diriwayatkan oleh Ats-Tsauri, Syu’bah, dan selain mereka dari Abu Sinan dengannya. Dan Al-Hasan Al-Bashri serta Ibnu Juraij Al-Makki berkata: Jarak antara keduanya adalah perjalanan delapan puluh farsakh, dan telah berpisah dengannya sejak delapan puluh tahun. Dan dikatakan: delapan puluh tiga tahun. Dan keduanya adalah dua riwayat dari Al-Hasan. Dan dikatakan: tiga puluh lima tahun.

Dan firman-Nya: sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal, artinya kalian akan berkata: Aku mengatakan ini karena pikun dan usia lanjut. Ibnu Abbas, Atha’, Mujahid, Sa’id bin Jubair, dan Qatadah berkata: menuduhku lemah akal artinya menyebutku bodoh. Dan Mujahid juga serta Al-Hasan berkata: menyebutku pikun. Mereka berkata: Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam kesesatanmu yang lama. Qatadah dan As-Suddi berkata: Mereka berkata kepadanya perkataan yang kasar. Allah Taala berfirman: Maka tatkala datang pembawa kabar gembira, maka diletakkannyalah baju itu pada wajahnya, lalu kembalilah dia dapat melihat (kembali). Artinya hanya dengan datangnya pembawa kabar gembira, dia meletakkan baju itu pada wajah Yakub, maka kembali pada saat itu juga dapat melihat setelah sebelumnya buta. Dan dia berkata kepada anak-anaknya pada waktu itu: Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui, artinya aku tahu bahwa Allah akan menyatukan aku dengan Yusuf, dan mataku akan sejuk dengannya, dan Dia akan memperlihatkan kepadaku dari dan darinya apa yang menyenangkanku. Maka pada waktu itu mereka berkata: Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah. Mereka meminta kepadanya agar dia memohonkan ampun kepada Allah Azza wa Jalla atas apa yang telah mereka perbuat dan mereka timpakan kepadanya dan kepada anaknya, serta apa yang mereka niatkan. Dan karena niat mereka adalah bertobat sebelum perbuatan itu, Allah memberikan taufik kepada mereka untuk meminta ampun ketika itu terjadi dari mereka. Maka ayah mereka memenuhi apa yang mereka minta dan apa yang mereka harapkan dengan berkata: Kelak aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ibnu Mas’ud, Ibrahim At-Taimi, Amr bin Qais, Ibnu Juraij, dan selain mereka berkata: Dia menunda mereka hingga waktu sahur. Ibnu Jarir berkata: Telah menceritakan kepadaku Abu As-Sa’ib, telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris, aku mendengar Abdurrahman bin Ishaq menyebutkan dari Muharib bin Ditsar, dia berkata: Ada pamanku yang datang ke masjid lalu mendengar seseorang berkata: Ya Allah, Engkau telah menyeruku maka aku menjawab, Engkau memerintahku maka aku mentaati, dan ini adalah waktu sahur maka ampunilah aku. Dia berkata: Maka dia mendengar suara itu dan ternyata itu dari rumah Abdullah bin Mas’ud, lalu dia bertanya kepada Abdullah tentang itu. Maka dia berkata: Sesungguhnya Yakub menunda anak-anaknya hingga waktu sahur dengan ucapannya: Kelak aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Dan Allah Taala telah berfirman: “Dan orang-orang yang memohon ampun di waktu sahur.” Dan telah tetap dalam hadits shahih dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tuhan kami turun setiap malam ke langit dunia lalu berfirman: Adakah orang yang bertobat maka Aku akan menerima tobatnya? Adakah orang yang meminta maka Aku akan memberinya? Adakah orang yang memohon ampun maka Aku akan mengampuninya?” Dan telah diriwayatkan dalam hadits bahwa Yakub menunda anak-anaknya hingga malam Jumat. Ibnu Jarir berkata: Telah menceritakan kepadaku Al-Mutsanna, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Abdurrahman bin Ayyub Ad-Dimasyqi, telah menceritakan kepada kami Al-Walid, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij, dari Atha’ dan Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Kelak aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku, maksudnya: hingga datang malam Jumat, dan itu adalah perkataan saudaraku Yakub kepada anak-anaknya. Dan ini gharib dari jalur ini, dan dalam rafa’nya ada perhatian, dan yang lebih mirip adalah mauquf kepada Ibnu Abbas radhiyallahu anhu.

“Maka tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf, Yusuf merangkul ibu bapaknya dan dia berkata: ‘Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman’; dan dia menaikkan kedua ibu bapaknya ke atas singgasana dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf; dan berkatalah Yusuf: ‘Wahai ayahku inilah takwil mimpiku yang dahulu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun, setelah setan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.'” (Surah Yusuf: 99-101)

Ini adalah pemberitahuan tentang keadaan berkumpulnya orang-orang yang saling mencintai setelah perpisahan yang panjang yang dikatakan: delapan puluh tahun. Dan dikatakan: delapan puluh tiga tahun. Dan keduanya adalah dua riwayat dari Al-Hasan. Dan dikatakan: tiga puluh lima tahun.

Qatadah berkata demikian. Dan Muhammad bin Ishaq menyebutkan bahwa mereka mengatakan dia berpisah darinya (ayahnya) selama delapan belas tahun. Dia berkata: Dan Ahli Kitab mengklaim bahwa dia berpisah darinya selama empat puluh tahun. Dan tampak dari alur kisahnya menunjukkan kepada penentuan masa tersebut secara kira-kira, karena wanita itu menggodanya, dan dia adalah seorang pemuda berusia tujuh belas tahun sebagaimana dikatakan oleh lebih dari seorang, lalu dia menolak, kemudian dia berada di penjara beberapa tahun, yaitu tujuh tahun menurut Ikrimah dan lainnya. Kemudian dia dikeluarkan, lalu terjadilah tahun-tahun subur yang tujuh, kemudian ketika orang-orang kelaparan pada tujuh tahun sisanya, saudara-saudara mereka datang untuk membeli makanan pada tahun pertama sendirian, dan pada tahun kedua bersama saudara mereka Bunyamin, dan pada tahun ketiga dia mengenali mereka dan memerintahkan mereka untuk membawa seluruh keluarga mereka, maka mereka semua datang. Ketika mereka masuk menemui Yusuf, dia merangkul kedua orang tuanya. Dia berkumpul dengan mereka berdua secara khusus tanpa saudara-saudaranya. Dan dia berkata: Masuklah ke Mesir, insya Allah dalam keadaan aman. (Surat Yusuf: 99) Dikatakan: ini adalah kalimat yang didahulukan dan diakhirkan, artinya: masuklah ke Mesir, dan dia merangkul kedua orang tuanya. Ibnu Jarir melemahkan ini, dan dia maklum. Dikatakan: dia menjemput keduanya dan merangkul mereka di rumah kemah, kemudian ketika mereka mendekati pintu gerbang Mesir dia berkata: Masuklah ke Mesir, insya Allah dalam keadaan aman. As-Suddi berkata demikian. Dan seandainya dikatakan: bahwa perkara ini tidak memerlukan hal ini juga, dan bahwa kata “masuklah” mengandung makna tinggallah di Mesir atau menetaplah di dalamnya, insya Allah dalam keadaan aman, itu akan benar dan baik juga.

Dan menurut Ahli Kitab bahwa ketika Yakub sampai di tanah Jasyr, yaitu tanah Bilbis, Yusuf keluar untuk menjemputnya, dan Yakub telah mengutus putranya Yehuda di hadapannya sebagai pembawa kabar gembira tentang kedatangannya, dan menurut mereka raja memberikan kepada mereka tanah Jasyr untuk mereka tempati dan tinggal di dalamnya dengan hewan ternak dan binatang-binatang mereka. Dan sekelompok mufassir menyebutkan bahwa ketika kedatangan Nabi Allah Yakub, yaitu Israil, telah dekat, Yusuf ingin keluar untuk menjemputnya, maka dia naik kendaraan bersamanya raja dan pasukannya untuk melayani Yusuf dan mengagungkan Nabi Allah Israil, dan bahwa dia mendoakan raja, dan bahwa Allah mengangkat dari penduduk Mesir sisa tahun-tahun paceklik dengan berkah kedatangannya kepada mereka. Maka Allah yang lebih mengetahui.

Dan jumlah orang yang datang bersama Yakub dari anak-anaknya dan cucu-cucu mereka sebagaimana dikatakan oleh Abu Ishaq As-Subai’i, dari Abu Ubaidah, dari Ibnu Mas’ud adalah enam puluh tiga orang. Dan Musa bin Ubaidah berkata: dari Muhammad bin Ka’ab, dari Abdullah bin Syaddad, mereka adalah delapan puluh tiga orang. Dan Abu Ishaq berkata: dari Masruq, mereka masuk dan mereka adalah tiga ratus sembilan puluh orang. Mereka berkata: Dan mereka keluar bersama Musa dan mereka lebih dari enam ratus ribu pejuang. Dan dalam nash Ahli Kitab bahwa mereka adalah tujuh puluh jiwa, dan mereka menyebutkan nama-nama mereka.

Allah Ta’ala berfirman: Dan dia mengangkat kedua orang tuanya ke atas singgasana. (Surat Yusuf: 100) Dikatakan: ibunya telah meninggal, sebagaimana menurut ulama Taurat. Dan sebagian mufassir berkata: maka Allah Ta’ala menghidupkannya kembali. Dan yang lain berkata: bahkan dia adalah bibinya Lia, dan bibi adalah seperti ibu. Dan Ibnu Jarir dan lainnya berkata: bahkan zhahir Al-Quran mengharuskan bahwa ibunya masih hidup hingga hari itu, maka tidak boleh bersandar pada riwayat Ahli Kitab dalam hal yang menyelisihinya, dan ini kuat, wallahu a’lam. Dan dia mengangkat keduanya ke atas singgasana, artinya dia mendudukkan mereka bersamanya di atas takhtanya. Dan mereka sujud kepadanya. Artinya kedua orang tua dan sebelas saudara bersujud kepadanya untuk pengagungan dan penghormatan, dan ini adalah yang disyariatkan bagi mereka, dan hal itu terus diamalkan pada seluruh syariat sampai diharamkan dalam agama kita. Dan dia berkata: Wahai ayahku, inilah ta’bir mimpiku dahulu. Artinya inilah penafsiran apa yang telah aku ceritakan kepadamu tentang mimpiku yaitu sebelas bintang dan matahari dan bulan ketika aku melihat mereka bersujud kepadaku, dan engkau memerintahkanku untuk menyembunyikannya, dan engkau menjanjikan kepadaku apa yang engkau janjikan pada waktu itu. Sungguh, Tuhanku telah menjadikannya kenyataan. Dan sungguh, Dia telah berbuat baik kepadaku ketika mengeluarkanku dari penjara. Artinya setelah kesedihan dan kesempitan, Dia menjadikan aku penguasa yang berkuasa di negeri Mesir di mana aku kehendaki. Dan Dia membawa kamu dari dusun. Artinya padang pasir, dan mereka tinggal di tanah arabah dari negeri Khalil (Hebron). Setelah setan menimbulkan perselisihan antara aku dan saudara-saudaraku. Artinya dalam hal yang terjadi dari mereka terhadapku mengenai perkara yang telah disebutkan sebelumnya. Kemudian dia berkata: Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Artinya jika Dia menghendaki sesuatu, Dia mempersiapkan sebab-sebabnya, dan memudahkannya serta mempermudahnya dari segi-segi yang tidak dapat dijangkau oleh para hamba, bahkan Dia menakdirkannya dan memudahkannya dengan lembut perbuatan-Nya dan agung kekuasaan-Nya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui, artinya terhadap semua perkara. Yang Mahabijaksana dalam penciptaan-Nya, syariat-Nya, dan takdir-Nya.

Dan menurut Ahli Kitab bahwa Yusuf menjual kepada penduduk Mesir dan lainnya dari makanan yang berada di bawah tangannya dengan semua harta mereka dari emas dan perak dan tanah dan perabot dan semua yang mereka miliki sampai dia menjual mereka dengan diri mereka sendiri maka mereka menjadi budak, kemudian dia membebaskan bagi mereka tanah mereka dan memerdekakan diri mereka dengan syarat mereka bekerja, dan seperlima dari apa yang mereka hasilkan dari tanaman dan buah-buahan mereka adalah untuk raja, maka menjadilah itu sebagai sunnah penduduk Mesir setelahnya. Dan Ats-Tsa’labi menceritakan bahwa dia tidak kenyang pada tahun-tahun itu agar tidak lupa kepada orang-orang yang kelaparan, dan bahwa sesungguhnya dia hanya makan satu kali di pertengahan siang. Dia berkata: maka dari sinilah para raja yang saleh mengikutinya dalam hal itu. Aku katakan: Dan sesungguhnya Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu anhu tidak mengenyangkan perutnya pada tahun Ramadah sampai paceklik hilang dan kesuburan datang.

Asy-Syafi’i berkata: Seorang laki-laki dari orang Arab badui berkata kepada Umar setelah tahun Ramadah berakhir: Sungguh telah berlalu darimu, dan sesungguhnya engkau adalah anak perempuan merdeka (mulia). Kemudian ketika Yusuf alaihissalam melihat nikmatnya telah sempurna dan keseluruhannya telah terkumpul, dia mengetahui bahwa negeri ini tidak akan kekal bagi siapa yang kekal di dalamnya, dan bahwa segala sesuatu di dalamnya dan siapa yang ada di atasnya akan binasa, dan tidak ada setelah kesempurnaan kecuali kekurangan. Maka pada waktu itulah dia memuji Tuhannya dengan apa yang pantas bagi-Nya, dan mengakui kepada-Nya kebesaran ihsan dan karunia-Nya, dan dia meminta kepada-Nya dan Dia adalah sebaik-baik yang diminta agar Dia mewafatkannya, yaitu ketika Dia mewafatkannya, dalam keadaan Islam, dan agar Dia menyatukan dirinya dengan hamba-hamba-Nya yang saleh. Dan demikianlah sebagaimana dikatakan dalam doa: Ya Allah, hidupkanlah kami sebagai muslim dan wafatkanlah kami sebagai muslim, artinya ketika Engkau mewafatkan kami. Dan dimungkinkan bahwa dia meminta itu ketika menjelang wafatnya alaihissalam, sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam meminta ketika menjelang wafatnya agar ruhnya diangkat ke Mala’ A’la dan Teman-teman yang saleh dari para nabi dan rasul, sebagaimana dia bersabda: Ya Allah, kepada Ar-Rafiq Al-A’la, tiga kali. Kemudian dia wafat. Dan dimungkinkan bahwa Yusuf alaihissalam meminta kematian dalam keadaan Islam secara langsung dalam keadaan sehat dan selamat, dan bahwa hal itu adalah boleh dalam agama dan syariat mereka, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa dia berkata: Tidak ada nabi yang pernah mengharapkan kematian sebelum Yusuf. Adapun dalam syariat kami maka telah dilarang berdoa dengan kematian kecuali ketika fitnah, sebagaimana dalam hadits Mu’adz dalam doa yang diriwayatkan oleh Ahmad: Dan jika Engkau menghendaki fitnah bagi suatu kaum maka wafatkanlah kami kepada-Mu tanpa terfitnah. Dan dalam hadits yang lain: Anak Adam, kematian lebih baik bagimu daripada fitnah. Dan Maryam alaihassalam berkata: Ya, alangkah baiknya aku mati sebelum ini dan aku menjadi sesuatu yang dilupakan lagi tidak diingat. (Surat Maryam: 23) Dan Ali bin Abi Thalib mengharapkan kematian ketika perkara-perkara menjadi rumit dan fitnah-fitnah menjadi besar dan pertempuran menjadi keras dan perkataan menjadi banyak. Dan Al-Bukhari Abu Abdullah, pemilik kitab Shahih, mengharapkan itu ketika keadaan menjadi keras terhadapnya dan dia menemui berbagai cobaan dari orang-orang yang menentangnya.

Adapun dalam keadaan kemakmuran maka Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih keduanya dari hadits Anas bin Malik dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Janganlah salah seorang dari kalian mengharapkan kematian karena kesusahan yang menimpanya. Jika dia berbuat baik maka akan bertambah, dan jika berbuat buruk maka mungkin dia akan bertaubat. Tetapi hendaklah dia berkata: Ya Allah, hidupkanlah aku selama hidup itu lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku. Dan yang dimaksud dengan kesusahan di sini adalah apa yang khusus menimpa hamba pada tubuhnya dari penyakit dan semacamnya, bukan pada agamanya. Dan zhahirnya bahwa Nabi Allah Yusuf alaihissalam meminta itu baik ketika menjelang wafatnya atau jika hal itu adalah agar menjadi demikian.

Dan Ibnu Ishaq telah menyebutkan dari Ahli Kitab bahwa Yakub tinggal di negeri Mesir di sisi Yusuf selama tujuh belas tahun, kemudian dia wafat alaihissalam, dan dia telah berwasiat kepada Yusuf alaihissalam agar dia dikubur di sisi kedua orang tuanya Ibrahim dan Ishaq. As-Suddi berkata: maka dia mengawetkannya dan membawanya ke tanah Syam lalu menguburkannya di gua di sisi ayahnya Ishaq dan kakeknya Al-Khalil alaihimussalam.

Dan menurut Ahli Kitab bahwa umur Yakub pada hari masuk ke Mesir adalah seratus tiga puluh tahun. Dan menurut mereka bahwa dia tinggal di tanah Mesir tujuh belas tahun, dan dengan ini mereka berkata: maka jumlah umurnya adalah seratus empat puluh tahun. Ini adalah nash kitab mereka, dan ini adalah kesalahan baik dalam naskah atau dari mereka atau mereka telah menghilangkan pecahan, dan bukan kebiasaan mereka dalam apa yang lebih dari ini, maka bagaimana mereka menggunakan cara ini di sini. Dan Allah Ta’ala telah berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia: Ataukah kamu menjadi saksi ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika dia berkata kepada anak-anaknya: Apa yang kamu sembah sepeninggalku? Mereka berkata: Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya. (Surat Al-Baqarah: 133) Maka dia berwasiat kepada anak-anaknya dengan keikhlasan, dan itu adalah agama Islam yang dengannya Allah mengutus para nabi alaihimussalam.

Dan Ahli Kitab telah menyebutkan bahwa dia berwasiat kepada anak-anaknya satu per satu, dan memberitahu mereka tentang apa yang akan terjadi dari urusan mereka, dan memberi kabar gembira kepada Yehuda dengan keluarnya nabi agung dari keturunannya yang akan ditaati oleh kaum-kaum, dan dia adalah Isa bin Maryam, wallahu a’lam.

Dan mereka menyebutkan bahwa ketika Yakub meninggal, penduduk Mesir menangisinya selama tujuh puluh hari, dan Yusuf memerintahkan para dokter untuk mengawetkannya dengan pengawetan, dan dia tinggal di dalamnya empat puluh hari, kemudian Yusuf meminta izin kepada raja Mesir untuk keluar bersama ayahnya untuk menguburkannya di sisi keluarganya, maka dia mengizinkannya dan orang-orang besar Mesir dan para tua-tuanya keluar bersamanya. Ketika mereka sampai di Hebron, mereka menguburkannya di gua yang telah dibeli oleh Ibrahim Al-Khalil dari Efron bin Shakhar Al-Hitsi, dan mereka mengadakan ta’ziyah untuknya selama tujuh hari. Mereka berkata: Kemudian mereka kembali ke negeri mereka, dan saudara-saudara Yusuf menta’ziyahkan Yusuf atas ayahnya, dan mereka merendahkan diri kepadanya, maka dia memuliakan mereka dan memperbaiki keadaan mereka. Maka mereka tinggal di negeri Mesir, kemudian Yusuf alaihissalam menjelang wafat, maka dia berwasiat agar dibawa bersama mereka ketika mereka keluar dari Mesir lalu dikubur di sisi bapak-bapaknya. Maka mereka mengawetkannya dan meletakkannya dalam peti, lalu dia berada di Mesir sampai Musa alaihissalam membawanya bersamanya, lalu menguburkannya di sisi bapak-bapaknya, sebagaimana akan datang. Mereka berkata: Maka dia meninggal dan dia berusia seratus sepuluh tahun. Ini nash mereka dalam apa yang aku lihat dan dalam apa yang diceritakan oleh Ibnu Jarir juga. Dan Mubarak bin Fadhalah berkata dari Al-Hasan: Yusuf dilemparkan ke dalam sumur dan dia berusia tujuh belas tahun, dan berpisah dari ayahnya delapan puluh tahun, dan hidup setelah itu dua puluh tiga tahun, dan meninggal dan dia berusia seratus dua puluh tahun. Dan yang lain berkata: Dia berwasiat kepada saudaranya Yehuda. Shalawat Allah dan salam-Nya atasnya dan atas para nabi semuanya.

Kisah Nabi Allah Ayub alaihissalam

Ibnu Ishaq berkata bahwa Ayub adalah seorang laki-laki dari bangsa Rum, yaitu Ayub bin Mush bin Razah bin Al-Ish bin Ishaq bin Ibrahim Alkhalil. Ada yang mengatakan bahwa ia adalah Ayub bin Mush bin Raghuwil bin Al-Ish bin Ishaq bin Yaqub. Ada pula pendapat lain tentang nasabnya. Ibnu Asakir menuturkan bahwa ibunya adalah putri Nabi Luth alaihissalam. Ada yang mengatakan bahwa ayahnya termasuk orang yang beriman kepada Ibrahim alaihissalam pada hari beliau dilemparkan ke dalam api tetapi api itu tidak membakarnya. Pendapat yang masyhur adalah yang pertama, karena ia termasuk keturunan Ibrahim, sebagaimana telah kami jelaskan pada firman Allah Ta’ala, “Dan dari keturunannya Daud, Sulaiman, Ayub, Yusuf, Musa, dan Harun” (Al-An’am: 84). Bahwa yang benar adalah bahwa kata ganti kembali kepada Ibrahim, bukan kepada Nuh alaihimassalam. Ayub termasuk nabi-nabi yang disebutkan secara jelas tentang wahyu yang diturunkan kepada mereka dalam Surah An-Nisa dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah memberikan wahyu kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub, Al-Asbath, Isa, dan Ayub” (An-Nisa: 163). Jadi yang benar adalah bahwa ia termasuk keturunan Al-Ish bin Ishaq. Isterinya, ada yang mengatakan namanya Liya binti Yaqub. Ada pula yang mengatakan Rahmah binti Afraim bin Yusuf bin Yaqub, dan ini yang lebih masyhur, karena itu kami sebutkan di sini. Kemudian kami akan menyebutkan nabi-nabi Bani Israil setelah kisahnya insya Allah, kepada-Nyalah kami berserah diri dan bertawakal.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: ‘Bahwasanya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.’ Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah” (Al-Anbiya: 83-84). Dan Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Shad, “Dan ingatlah hamba Kami Ayub ketika ia menyeru Tuhannya: ‘Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan.’ (Allah berfirman): ‘Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.’ Dan Kami anugerahkan kepadanya (kembali) keluarganya dan Kami tambahkan kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)” (Shad: 41-44).

Ibnu Asakir meriwayatkan dari jalur Al-Kalbi bahwa ia berkata: Nabi pertama yang diutus adalah Idris, kemudian Nuh, kemudian Ibrahim, kemudian Ismail, kemudian Ishaq, kemudian Yaqub, kemudian Yusuf, kemudian Luth, kemudian Hud, kemudian Shalih, kemudian Syuaib, kemudian Musa dan Harun, kemudian Ilyas, kemudian Alyasa, kemudian Arfi bin Suwailakh bin Afraim bin Yusuf bin Yaqub, kemudian Yunus bin Matta dari Bani Yaqub, kemudian Ayub bin Razah bin Amush bin Lifariz bin Al-Ish bin Ishaq bin Ibrahim. Dalam sebagian urutan ini terdapat hal yang perlu diperhatikan, karena Hud dan Shalih yang masyhur adalah setelah Nuh dan sebelum Ibrahim, wallahu a’lam.

Para ulama tafsir, sejarah, dan lainnya berkata: Ayub adalah seorang laki-laki yang mempunyai harta yang banyak dari berbagai jenis dan macamnya, dari ternak, budak, hewan ternak, dan tanah-tanah yang luas di daerah Batsniyah dari tanah Hauran. Ibnu Asakir menuturkan bahwa semua itu adalah miliknya. Ia mempunyai anak-anak dan keluarga yang banyak. Kemudian semua itu diambil darinya, dan ia diuji pada tubuhnya dengan berbagai macam bala. Tidak ada anggota tubuhnya yang sehat kecuali hatinya dan lidahnya yang ia gunakan untuk berdzikir mengingat Allah Azza wa Jalla. Dalam semua itu ia tetap sabar, mengharap pahala, dan berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla pada malam dan siangnya, pagi dan petangnya. Penyakitnya berkepanjangan hingga orang yang duduk bersamanya merasa jijik, dan teman dekat menjauhinya. Ia dikeluarkan dari negerinya dan dibuang ke tempat sampah di luarnya. Orang-orang memutuskan hubungan dengannya, dan tidak ada seorang pun yang berbelas kasih kepadanya kecuali isterinya. Isterinya tetap memelihara haknya, mengetahui kebaikannya di masa lalu kepadanya dan kasih sayangnya terhadapnya. Ia terus datang kepadanya untuk mengurus urusannya dan membantunya memenuhi kebutuhannya serta mengurus kepentingannya. Keadaannya menjadi lemah dan hartanya berkurang hingga ia harus bekerja pada orang lain dengan upah untuk memberinya makan dan memenuhi kebutuhannya ridha Allahu anha wa ardhaha. Ia ikut bersabar bersamanya atas apa yang menimpa mereka berdua dari kehilangan harta dan anak, dan apa yang khusus menimpanya berupa musibah suami, kesempitan hidup, dan harus melayani orang lain setelah sebelumnya hidup bahagia, berkecukupan, dan dilayani serta dimuliakan. Fa innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Telah tetap dalam hadits shahih bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang serupa dengannya. Seseorang diuji sesuai dengan agamanya. Jika dalam agamanya terdapat keteguhan, maka akan ditambah ujiannya.” Semua ini tidak menambah Ayub alaihissalam kecuali kesabaran, mengharap pahala, memuji, dan bersyukur, hingga perumpamaan tentang kesabarannya alaihissalam dijadikan teladan. Perumpamaan juga dibuat tentang berbagai macam bala yang menimpanya. Telah diriwayatkan dari Wahab bin Munabbih dan lainnya dari ulama Bani Israil sebuah kisah panjang dalam bagaimana hilangnya harta dan anaknya serta balanya pada tubuhnya, wallahu a’lam akan kebenarannya. Dari Mujahid bahwa ia berkata: Ayub alaihissalam adalah orang pertama yang terkena cacar.

Para ulama berbeda pendapat tentang lamanya ujian yang menimpanya. Wahab mengira bahwa ia diuji selama tiga tahun, tidak lebih dan tidak kurang. Anas berkata ia diuji selama tujuh tahun lebih beberapa bulan, dan dibuang ke tempat sampah Bani Israil hingga binatang-binatang memakan tubuhnya sampai Allah melapangkannya, mengagungkan pahalanya, dan memberikan pujian yang baik kepadanya.

Humaid berkata: Ia tinggal dalam ujiannya selama delapan belas tahun. As-Suddi berkata: Dagingnya berjatuhan hingga tidak tersisa kecuali tulang dan urat. Isterinya datang kepadanya dengan membawa abu yang dihamparkan di bawahnya. Ketika hal itu berkepanjangan, isterinya berkata: Wahai Ayub, seandainya engkau berdoa kepada Tuhanmu, niscaya Dia akan melapangkanmu. Ia menjawab: Aku telah hidup tujuh puluh tahun dalam keadaan sehat, maka sedikit bagiku untuk bersabar bagi Allah selama tujuh puluh tahun. Isterinya merasa sedih dengan perkataan ini. Ia biasa melayani orang-orang dengan upah dan memberi makan Ayub alaihissalam. Kemudian orang-orang tidak lagi mempekerjakan dia karena mereka tahu bahwa ia isteri Ayub, mereka takut akan tertimpa balanya atau tertular dengan bergaul dengannya. Ketika ia tidak menemukan seorang pun yang mau mempekerjakannya, ia sengaja menjual salah satu dari dua kepangnya kepada salah seorang putri bangsawan dengan makanan yang enak dan banyak, lalu ia membawanya kepada Ayub. Ayub bertanya: Dari mana engkau mendapat ini? Ia merasa aneh. Isterinya menjawab: Aku melayani orang-orang dengannya. Keesokan harinya ia tidak menemukan seorang pun, maka ia menjual kepang yang lain dengan makanan dan membawanya kepadanya. Ayub juga merasa aneh dan bersumpah tidak akan memakannya sampai isterinya memberitahukan dari mana makanan ini. Maka isterinya membuka kerudungnya. Ketika Ayub melihat kepalanya gundul, ia berdoa: Bahwasanya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.

Ibnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Salamah, telah menceritakan kepada kami Jarir bin Hazim, dari Abdullah bin Ubaid bin Umair ia berkata: Ayub mempunyai dua saudara. Suatu hari mereka datang tetapi tidak dapat mendekat kepadanya karena baunya, maka mereka berdiri dari jauh. Salah seorang dari mereka berkata kepada temannya: Seandainya Allah mengetahui ada kebaikan dari Ayub, niscaya Dia tidak mengujinya dengan ini. Ayub merasa sedih dengan perkataan mereka, kesedihan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia berdoa: Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa aku tidak pernah tidur semalam pun dalam keadaan kenyang sedangkan aku tahu ada orang yang lapar, maka benarkanlah aku. Maka datanglah pembenaran dari langit dan mereka berdua mendengarnya. Kemudian ia berkata: Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa aku tidak pernah memiliki dua baju sedangkan aku tahu ada orang yang telanjang, maka benarkanlah aku. Maka datanglah pembenaran dari langit dan mereka berdua mendengarnya. Kemudian ia berkata: Ya Allah, demi kemuliaan-Mu, dan ia sujud seraya berkata: Ya Allah, demi kemuliaan-Mu, aku tidak akan mengangkat kepalaku selamanya sampai Engkau melapangkan aku. Maka ia tidak mengangkat kepalanya sampai Allah melapangkannya.

Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir bersama-sama berkata: Telah menceritakan kepada kami Yunus bin Abdul A’la, telah memberitakan kepada kami Ibnu Wahab, telah mengabarkan kepadaku Nafi bin Yazid, dari Uqail, dari Az-Zuhri, dari Anas bin Malik bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya nabi Allah Ayub tinggal dalam ujiannya selama delapan belas tahun. Kerabat dekat dan jauh menolaknya kecuali dua orang dari saudara-saudaranya yang paling dekat dengannya. Mereka biasa datang kepadanya pagi dan sore. Salah seorang dari mereka berkata kepada temannya: Tahukah engkau, demi Allah, sungguh Ayub telah berbuat dosa yang tidak pernah dilakukan oleh seorang pun dari seluruh alam. Temannya berkata kepadanya: Apa itu? Ia berkata: Sudah delapan belas tahun Tuhannya tidak merahmatinya sehingga menyingkirkan apa yang menimpanya. Ketika mereka datang sore hari kepadanya, orang itu tidak sabar sampai ia menyebutkan hal itu kepadanya. Ayub berkata: Aku tidak tahu apa yang engkau katakan, hanya saja Allah Azza wa Jalla mengetahui bahwa aku pernah melewati dua orang yang bertengkar lalu mereka menyebut nama Allah, maka aku kembali ke rumahku dan membayar kafarat untuk mereka berdua karena tidak suka mereka menyebut nama Allah kecuali dalam kebenaran. Ia berkata: Ia biasa keluar untuk keperluannya, dan ketika selesai, isterinya memegang tangannya sampai ia kembali. Suatu hari isterinya terlambat datang kepadanya, maka Allah mewahyukan kepada Ayub di tempatnya: ‘Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.’ Isterinya merasa ia terlambat, maka ia menemuinya sambil melihat-lihat. Ayub datang kepadanya dan Allah telah menghilangkan bala yang ada padanya, dan ia dalam keadaan paling baik. Ketika isterinya melihatnya, ia berkata: Semoga Allah memberkahimu, apakah engkau melihat nabi Allah yang sedang diuji ini? Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang laki-laki yang lebih mirip dengannya daripada engkau ketika ia sehat. Ayub berkata: Sesungguhnya akulah dia. Ia berkata: Ia mempunyai dua tempat pengirikan gandum; satu untuk gandum dan satu untuk jelai. Allah mengirimkan dua awan. Ketika salah satunya berada di atas tempat pengirikan gandum, ia menuangkan ke dalamnya emas sampai meluap. Dan yang lain menuangkan ke dalam tempat pengirikan jelai perak sampai meluap. Ini adalah lafazh Ibnu Jarir. Demikianlah diriwayatkan secara lengkap oleh Ibnu Hibban dalam shahihnya, dari Muhammad bin Al-Hasan bin Qutaibah, dari Harmalah, dari Ibnu Wahab dengannya. Ini sangat gharib sebagai hadits marfu. Yang lebih tepat adalah mauquf.

Ibnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Musa bin Ismail, telah menceritakan kepada kami Hammad, telah menceritakan kepada kami Ali bin Zaid, dari Yusuf bin Mihran, dari Ibnu Abbas ia berkata: Allah mengenakan kepada Ayub jubah dari surga. Ayub menyingkir dan duduk di sudut. Isterinya datang tetapi tidak mengenalinya, maka ia berkata: Wahai hamba Allah, orang yang sedang diuji yang ada di sini ini, mungkin anjing-anjing atau serigala membawanya pergi? Ia berbicara dengannya sebentar. Ayub berkata: Celakalah engkau, aku adalah Ayub. Isterinya berkata: Apakah engkau mengolok-olokku wahai hamba Allah? Ayub berkata: Celakalah engkau, aku adalah Ayub. Allah telah mengembalikan tubuhku kepadaku.

Ibnu Abbas berkata: Allah mengembalikan kepadanya harta dan anak-anaknya dengan diri mereka sendiri dan sebanyak mereka pula. Wahab bin Munabbih berkata: Allah mewahyukan kepadanya: Aku telah mengembalikan kepadamu keluarga dan hartamu, dan sebanyak mereka pula. Mandilah dengan air ini karena di dalamnya terdapat kesembuhanmu. Dekatkanlah kurban untuk sahabat-sahabatmu dan mohonkanlah ampun untuk mereka, karena mereka telah bermaksiat kepada-Ku tentangmu. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.

Ibnu Abi Hatim berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah, telah menceritakan kepada kami Amr bin Marzuq, telah menceritakan kepada kami Hammam, dari Qatadah, dari An-Nadhr bin Anas, dari Basyir bin Nuhaik, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda: Ketika Allah menyembuhkan Ayub alaihissalam, Allah menurunkan hujan belalang dari emas kepadanya. Ia mulai mengambilnya dengan tangannya dan memasukkannya ke dalam bajunya. Maka dikatakan kepadanya: Wahai Ayub, tidakkah engkau puas? Ia berkata: Wahai Tuhanku, siapakah yang puas dari rahmat-Mu. Demikianlah diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Abu Daud At-Tayalisi, dan Abdush-Shamad, dari Hammam, dari Qatadah dengannya. Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam shahihnya, dari Abdullah bin Muhammad Al-Azdi, dari Ishaq bin Rahawaih, dari Abdush-Shamad dengannya. Tidak ada seorang pun dari penulis kitab yang mengeluarkannya, dan ini sesuai dengan syarat shahih, wallahu a’lam.

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Az-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah: Dikirimkan kepada Ayub sejumlah belalang dari emas, maka ia mulai menggenggamnya dalam bajunya. Maka dikatakan: Wahai Ayub, tidakkah cukup bagimu apa yang telah Kami berikan kepadamu? Ia berkata: Wahai Tuhanku, siapakah yang tidak membutuhkan karunia-Mu. Ini mauquf, dan telah diriwayatkan dari Abu Hurairah dari jalur lain secara marfu.

Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdur-Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Hammam bin Munabbih ia berkata: Inilah yang diceritakan Abu Hurairah kepada kami. Ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Ketika Ayub mandi dalam keadaan telanjang, berjatuhanlah kepadanya belalang dari emas. Ayub mulai mengambilnya ke dalam bajunya. Maka Tuhannya Azza wa Jalla memanggilnya: Wahai Ayub, bukankah Aku telah mencukupimu dari apa yang engkau lihat? Ia berkata: Benar wahai Tuhanku, tetapi aku tidak kaya dari berkah-Mu. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari hadits Abdur-Razzaq dengannya.

Firman Allah “Hantamkanlah kakimu” artinya pukullah tanah dengan kakimu. Maka ia melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya. Allah mengeluarkan untuknya mata air yang dingin, dan memerintahkan agar ia mandi di dalamnya dan minum darinya. Allah menghilangkan darinya apa yang ia rasakan dari rasa sakit, gangguan, penyakit, dan penyakit yang ada pada tubuhnya baik lahir maupun batin. Allah menggantinya setelah semua itu dengan kesehatan lahir dan batin, kecantikan yang sempurna, dan harta yang banyak, hingga dicurahkan kepadanya dari harta yang melimpah seperti hujan besar berupa belalang dari emas. Allah mengganti kepadanya keluarganya, sebagaimana firman-Nya, “Dan Kami anugerahkan kepadanya (kembali) keluarganya dan Kami tambahkan kepada mereka sebanyak mereka pula.” Ada yang mengatakan Allah menghidupkan mereka dengan diri mereka sendiri. Ada yang mengatakan Allah memberinya pahala atas yang telah meninggal, dan mengganti mereka di dunia dengan penggantinya, serta mengumpulkan mereka semua di akhirat. Firman Allah “Sebagai rahmat dari sisi Kami” artinya Kami angkat darinya kesulitannya dan Kami lenyapkan apa yang ada padanya dari kesusahan sebagai rahmat dari Kami kepadanya, kasih sayang, dan kebaikan. “Dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah” artinya sebagai peringatan bagi siapa yang diuji pada tubuhnya atau hartanya atau anaknya, maka ia mempunyai teladan pada nabi Allah Ayub, ketika Allah mengujinya dengan apa yang lebih besar dari itu, maka ia bersabar dan mengharap pahala sampai Allah melapangkannya.

Siapa yang memahami dari ini nama isterinya dan berkata bahwa ia adalah Rahmah dari ayat ini, maka sungguh ia telah menjauh dari tempat penggembalaan dan terlalu jauh dalam menarik kesimpulan.

Dan berkata Adh-Dhahhak, dari Ibnu Abbas: Allah mengembalikan kepadanya (Sarah) masa mudanya dan menambahkannya sehingga ia melahirkan baginya dua puluh enam orang anak laki-laki.

Dan Ayyub hidup setelah itu tujuh puluh tahun di negeri Romawi menganut agama hanif (tauhid), kemudian mereka mengubah agama Ibrahim sepeninggalnya. Dan firman-Nya: Ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengannya dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (Shad: 44) Ini adalah keringanan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala bagi hamba dan rasul-Nya Ayyub alaihi salam dalam sumpahnya untuk memukul istrinya seratus kali. Ada yang berpendapat: ia bersumpah demikian karena istrinya menjual kepangannya. Ada pula yang berpendapat: karena syaitan menghadang istrinya dalam wujud seorang tabib yang menjelaskan obat untuk Ayyub, lalu istrinya datang kepadanya dan memberitahukan hal itu, maka Ayyub mengetahui bahwa itu adalah syaitan, sehingga ia bersumpah untuk memukulnya seratus kali. Ketika Allah Azza Wa Jalla menyembuhkannya, Allah memberi fatwa kepadanya untuk mengambil seikat (rumput), yaitu seperti tandan yang mengumpulkan pelepah-pelepah, lalu ia kumpulkan semuanya dan memukulnya sekali saja, maka hal ini menjadi seperti pukulan seratus kali, dan ia menunaikan sumpahnya tanpa melanggarnya. Ini adalah jalan keluar dan kemudahan bagi orang yang bertakwa kepada Allah dan menaati-Nya, terutama terhadap istrinya yang sabar, mengharap pahala, berjuang keras, jujur, berbakti, dan cerdas, semoga Allah meridhainya. Karena itu Allah mengikuti keringanan ini dan memberi alasan dengan firman-Nya: Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). Dan banyak fuqaha (ahli fikih) menggunakan keringanan ini dalam bab sumpah dan nazar, dan yang lain memperluas hal itu hingga mereka menyusun kitab tentang hilah (cara) dalam melepaskan diri dari sumpah, dan mereka memulainya dengan ayat mulia ini, dan mereka menulis di dalamnya hal-hal yang menakjubkan dan aneh, dan kami akan menyebutkan sebagian dari itu dalam kitab Al-Ahkam (hukum-hukum) ketika sampai kepadanya, insya Allah Ta’ala.

Ibnu Jarir dan ulama sejarah lainnya telah menyebutkan bahwa ketika Ayyub alaihi salam wafat, usianya adalah sembilan puluh tiga tahun. Ada pula yang mengatakan: ia hidup lebih dari itu. Laith telah meriwayatkan dari Mujahid yang maknanya: bahwa Allah akan berargumen pada hari kiamat dengan Sulaiman alaihi salam terhadap orang-orang kaya, dengan Yusuf alaihi salam terhadap para budak, dan dengan Ayyub alaihi salam terhadap orang-orang yang tertimpa bencana. Ibnu Asakir meriwayatkannya dengan makna tersebut, dan bahwa ia berwasiat kepada anaknya Haumal, dan yang menggantikannya adalah anaknya Bisyr bin Ayyub, dan dialah yang banyak orang menduga sebagai Dzulkifl, wallahu a’lam (Allah yang lebih mengetahui). Anaknya ini meninggal, dan ia adalah seorang nabi menurut dugaan mereka, dan usianya adalah tujuh puluh lima tahun. Dan marilah kita sebutkan di sini kisah Dzulkifl karena sebagian orang mengatakan: bahwa ia adalah anak Ayyub alaihima salam.

Kisah Dzulkifl yang Diduga Sebagian Orang Adalah Anak Ayyub alaihi salam

Allah Ta’ala berfirman setelah kisah Ayyub dalam surat Al-Anbiya: Dan (ingatlah) Ismail, Idris dan Dzulkifl. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar. Dan Kami masukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang saleh. (Al-Anbiya: 85-86) Dan Allah Ta’ala berfirman setelah kisah Ayyub juga dalam surat Shad: Dan ingatlah hamba-hamba Kami Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai kekuatan dan penglihatan. Sesungguhnya Kami telah mengikhlaskan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik. Dan ingatlah Ismail, Alyasa’ dan Dzulkifl. Dan semuanya termasuk orang-orang yang paling baik. (Shad: 45-48) Maka yang jelas dari penyebutannya dalam Al-Quran dengan pujian terhadapnya yang disertakan dengan para nabi terpilih ini adalah bahwa ia seorang nabi alaihi shalatu wa salam min Rabbihi (atasnya shalawat dan salam dari Tuhannya). Dan inilah yang masyhur. Namun ada yang berpendapat bahwa ia bukan nabi, melainkan hanya seorang yang saleh dan hakim yang adil. Ibnu Jarir ragu-ragu dalam hal itu, wallahu a’lam. Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid: bahwa ia bukan nabi, melainkan seorang yang saleh, dan ia telah menjamin kaumnya bahwa ia akan mencukupi urusan mereka dan memutuskan perkara di antara mereka dengan adil, lalu ia melakukannya, maka ia disebut Dzulkifl (yang menjamin).

Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Dawud bin Abi Hind, dari Mujahid bahwa ia berkata: Ketika Alyasa’ menjadi tua, ia berkata: “Seandainya aku mengangkat seseorang sebagai penggantiku atas manusia untuk memimpin mereka di masa hidupku sehingga aku melihat bagaimana ia bekerja.” Maka ia mengumpulkan orang-orang. Lalu berkata: “Siapa yang menerima dariku tiga hal, aku akan mengangkatnya sebagai pengganti; ia berpuasa di siang hari, shalat di malam hari, dan tidak marah?” Berdirilah seorang laki-laki yang dipandang remeh oleh mata. Lalu ia berkata: “Aku.” Maka ia berkata: “Apakah kamu berpuasa di siang hari, shalat di malam hari, dan tidak marah?” Ia berkata: “Ya.” Ia mengembalikan mereka pada hari itu. Dan ia mengatakan hal yang sama pada hari berikutnya, maka orang-orang diam, dan laki-laki itu berdiri lagi, lalu ia berkata: “Aku.” Maka ia mengangkatnya sebagai pengganti. Iblis berkata kepada para syaitan: “Kalian harus mendatangi si Fulan.” Namun mereka tidak berhasil, maka ia berkata: “Biarkan aku dan dia.” Lalu ia mendatanginya dalam wujud seorang syaikh tua yang miskin, dan mendatanginya ketika ia hendak tidur siang, dan ia tidak tidur siang malam kecuali tidur siang itu, lalu ia mengetuk pintu. Maka ia berkata: “Siapa ini?” Ia berkata: “Seorang syaikh tua yang terzalimi.” Maka ia bangun dan membuka pintu, lalu ia mulai menceritakan kepadanya. Ia berkata: “Sesungguhnya antara aku dan kaumku ada perselisihan, dan sesungguhnya mereka menzalimiku dan melakukan ini dan itu,” dan ia terus memperpanjang cerita sampai tiba waktu rawah (sore), dan waktu tidur siangnya hilang. Ia berkata: “Jika kamu rawah (pulang), datanglah kepadaku, aku akan mengambil hakmu.” Maka ia pergi dan pulang, lalu ia duduk di majelis dan terus memandang apakah ia melihat syaikh itu, namun ia tidak melihatnya. Maka ia bangun mencarinya. Ketika keesokan harinya, ia mulai memutuskan perkara di antara manusia dan menunggunya, namun ia tidak melihatnya. Ketika ia kembali untuk tidur siang dan berbaring, ia datang kepadanya dan mengetuk pintu. Maka ia berkata: “Siapa ini?” Ia berkata: “Syaikh tua yang terzalimi.” Maka ia membukakan pintu untuknya. Ia berkata: “Bukankah aku telah berkata kepadamu jika aku duduk datanglah kepadaku?” Ia berkata: “Sesungguhnya mereka adalah kaum yang paling buruk, jika mereka tahu bahwa kamu duduk, mereka berkata: ‘Kami akan memberikan hakmu.’ Dan jika kamu berdiri, mereka mengingkariku.” Ia berkata: “Pergilah, jika aku rawah datanglah kepadaku.” Maka waktu tidur siangnya hilang lagi, lalu ia pulang dan terus menunggu namun tidak melihatnya, dan kantuk sangat mengganggunya. Maka ia berkata kepada sebagian keluarganya: “Jangan biarkan seorang pun mendekati pintu ini sampai aku tidur, karena kantuk sangat menggangguku.” Ketika tiba waktu itu, ia datang, lalu laki-laki itu berkata kepadanya: “Mundur, mundur.” Ia berkata: “Sesungguhnya aku telah mendatanginya kemarin dan menceritakan kepadanya urusanku.” Ia berkata: “Tidak, demi Allah, sesungguhnya kami diperintahkan untuk tidak membiarkan seorang pun mendekatinya.” Ketika ia tidak berhasil, ia melihat dan melihat sebuah lubang di rumah, lalu ia memanjat darinya, dan tiba-tiba ia ada di dalam rumah, dan tiba-tiba ia mengetuk pintu dari dalam. Maka laki-laki itu terbangun. Lalu ia berkata: “Wahai Fulan, bukankah aku telah memerintahkanmu?” Ia berkata: “Adapun dari pihakku, demi Allah engkau tidak didatangi, maka lihatlah dari mana engkau didatangi?” Maka ia pergi ke pintu, dan ternyata pintu itu tertutup sebagaimana ia menutupnya, dan ternyata laki-laki itu bersamanya di dalam rumah, lalu ia mengenalinya. Ia berkata: “Musuh Allah?” Ia berkata: “Ya. Kamu melelahkanku dalam segala hal, maka aku melakukan apa yang kamu lihat untuk membuatmu marah.” Maka Allah menamakannya Dzulkifl karena ia menjamin suatu urusan lalu menepatinya.

Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang hampir sama dengan riwayat ini. Demikian pula diriwayatkan dari Abdullah bin Al-Harits, Muhammad bin Qais, Ibnu Hujairah Al-Akbar, dan ulama salaf lainnya yang serupa dengan ini. Ibnu Abi Hatim berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abu Al-Jamahir menceritakan kepada kami, Sa’id bin Basyir mengabarkan kepada kami, Qatadah menceritakan kepada kami, dari Kinanah bin Al-Akhnas ia berkata: Aku mendengar Al-Asy’ari—yaitu Abu Musa radhiyallahu anhu—di atas mimbar ini berkata: Dzulkifl bukanlah seorang nabi, tetapi ia adalah seorang yang saleh yang shalat setiap hari seratus shalat, maka Dzulkifl menjamin setelahnya untuk shalat setiap hari seratus shalat, maka ia disebut Dzulkifl. Ibnu Jarir meriwayatkannya dari jalur Abdurrazzaq, dari Ma’mar, dari Qatadah ia berkata: Abu Musa Al-Asy’ari berkata—lalu ia menyebutkannya secara terputus.

Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad: Asbath bin Muhammad menceritakan kepada kami, Al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Abdullah, dari Sa’d maula Thalhah, dari Ibnu Umar ia berkata: Aku mendengar dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebuah hadits, seandainya aku tidak mendengarnya kecuali satu atau dua kali—hingga ia menghitung tujuh kali—tetapi aku telah mendengarnya lebih dari itu. Ia berkata: “Al-Kifl dari Bani Israil tidak berhati-hati dari dosa yang ia lakukan, maka datanglah kepadanya seorang wanita, lalu ia memberinya enam puluh dinar agar ia menggaulinya. Ketika ia duduk darinya duduknya laki-laki dari wanita, wanita itu gemetar dan menangis. Maka ia berkata kepadanya: ‘Apa yang membuatmu menangis? Apakah aku memaksamu?’ Ia berkata: ‘Tidak, tetapi ini adalah pekerjaan yang tidak pernah aku lakukan, dan hanya kebutuhan yang membuatku melakukannya.’ Ia berkata: ‘Apakah kamu melakukan ini, padahal kamu tidak pernah melakukannya?’ Kemudian ia turun. Lalu ia berkata: ‘Pergilah dengan dinar-dinar itu, untukmu.’ Kemudian ia berkata: ‘Demi Allah, Al-Kifl tidak akan maksiat kepada Allah selamanya.’ Maka ia meninggal pada malamnya, lalu pada paginya tertulis di pintunya: ‘Sesungguhnya Allah telah mengampuni Al-Kifl.'” Tirmidzi meriwayatkannya dari hadits Al-A’masy dengannya. Dan ia berkata: Hasan. Dan ia menyebutkan bahwa sebagian mereka meriwayatkannya secara mauquf (dihentikan) pada Ibnu Umar. Maka ini adalah hadits yang sangat gharib (asing), dan dalam sanadnya ada yang perlu diperhatikan, karena Sa’d ini, Abu Hatim berkata: Aku tidak mengenalnya kecuali dengan satu hadits. Ibnu Hibban mentsiqahkannya. Dan tidak ada yang meriwayatkan darinya selain Abdullah bin Abdullah Ar-Razi ini. Wallahu a’lam. Dan jika ia mahfuzh (terpelihara), maka ia bukanlah Dzulkifl. Lafazh hadits hanyalah “Al-Kifl” tanpa idhafah, maka ia adalah laki-laki lain selain yang disebutkan dalam Al-Quran Al-Karim. Wallahu a’lam bish-shawab (Allah yang lebih mengetahui yang benar).

۞۞۞۞۞

Facebook Comments Box

Penulis : Imaduddin, Abu Al-Fida', Isma'il bin Umar bin Katsir Al-Quraisyi Ad-Dimasyqi (701 - 774 H)

Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.

Artikel Terjkait

Rukun Iman
Kesaksian Suci dalam Pujian Para Imam terhadap Ibnu Taimiyyah
Beberapa Pelajaran dari Kisah Yusuf Alaihissalam
Haramnya Bersumpah dengan Selain Allah
Pembunuhan Pertama dalam Sejarah
Menyempurnakan Niat Puasa Ramadhan
Ajaklah Keluargamu ke Surga
Hukum Menggunakan Jasa Pawang Hujan
Berita ini 16 kali dibaca

Artikel Terjkait

Kamis, 8 Januari 2026 - 14:22 WIB

Rukun Iman

Kamis, 8 Januari 2026 - 13:56 WIB

Kesaksian Suci dalam Pujian Para Imam terhadap Ibnu Taimiyyah

Rabu, 7 Januari 2026 - 15:05 WIB

Beberapa Pelajaran dari Kisah Yusuf Alaihissalam

Rabu, 7 Januari 2026 - 13:50 WIB

Al-Bidayah wa An-Nihayah (Permulaan dan Akhir) 01

Rabu, 7 Januari 2026 - 03:12 WIB

Haramnya Bersumpah dengan Selain Allah

Artikel Terbaru

Akidah

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:47 WIB

Fatwa Ulama

Akibat Dosa Menyebabkan Bencana Alam – Faedah 10

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:45 WIB

Dakwah

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Jan 2026 - 15:41 WIB