Agar Kita Tidak Kehilangan Ramadan
Judul Asli
حتى لا نخسر رمضان
Pembukaan
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, yakni junjungan kita Muhammad ﷺ, beserta keluarga dan sahabatnya. Amma ba’du:
Ketika seseorang datang kepada dokter dengan keluhan suatu penyakit, yang diharapkan adalah dokter akan mendengarkan keluhannya, kemudian melakukan pemeriksaan klinis, lalu menulis resep obat yang dianggap sesuai dengan kondisinya.
Dokter tidak akan lupa mengingatkan pasiennya tentang cara minum obat; mana yang sebelum makan, mana yang sesudah makan, mana yang sebelum tidur. Kemudian menasehatkan untuk teratur mengonsumsinya, dan pada akhirnya meminta pasien untuk kontrol kembali setelah beberapa hari.
Dan yang diharapkan, pertanyaan pertama yang akan ditanyakan dokter kepada pasiennya saat pertemuan kedua adalah tentang sejauh mana perkembangan kondisi kesehatannya. Jika ia mendapati adanya perbaikan yang nyata, maka ia akan meminta pasien untuk terus mengonsumsi obat – semuanya atau sebagian – dalam rentang waktu tertentu hingga sembuh dengan izin Allah. Namun jika ia tidak melihat adanya perbaikan, maka ia akan menanyakan seberapa serius pasien dalam mengonsumsi obat dengan cara yang benar.
Jika pasien tidak menunjukkan komitmen dalam hal ini, maka pemikirannya akan mengarah pada perubahan dosis obat atau penggantiannya. Bagaimana tidak, ia mengetahui bahwa tujuan pasien datang kepadanya adalah untuk mencari kesembuhan dengan izin Allah, dan ia juga tahu bahwa obat-obatan hanyalah sarana untuk mencapai tujuan tersebut.
Hubungan antara obat dan kesembuhan sesungguhnya menggambarkan hubungan antara sarana dan tujuan; sarana tidak dimaksudkan untuk dirinya sendiri melainkan untuk tercapainya tujuan.
Anehnya, pemahaman tentang hubungan ini kita lakukan secara otomatis, dan dalam banyak hal yang berkaitan dengan urusan dunia kita. Namun untuk urusan agama, perkaranya berbeda; maksudnya adalah tujuan dalam banyak keadaan menjadi terlupakan, yaitu ketika sarana justru berubah menjadi tujuan dan cita-cita itu sendiri.
Kehidupan Hati dengan Iman adalah Tujuan
Allah telah menciptakan kita dan menempatkan kita di bumi untuk melaksanakan tugas besar, yaitu menjalankan ibadah kepada-Nya semata:
﴿ وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ ﴾ ( الذّٰريٰت/51: 56)
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Az-Zariyat/51:56)
Ibadah ini memiliki hakikat yang seharusnya dijalani seseorang, dan dampaknya harus terlihat pada perilaku dan interaksi hariannya.
Ibadah kepada Allah – secara hakiki – bermakna kepatuhan total, ketundukan penuh, menaati perintah-Nya, senantiasa merasa takut (khusyuk) kepada-Nya, merasakan ketergantungan mutlak dan kemiskinan total di hadapan-Nya. Dengan demikian, seseorang akan:
- Senantiasa memohon kepada-Nya,
- Merendahkan diri di hadapan-Nya,
- Bertawakal kepada-Nya,
- Mengikhlaskan niat,
- Mencintai keridhaan-Nya,
- Mendahulukan kecintaan dan keridhaan-Nya di atas segala sesuat.
Sehingga hal ini akan berimbas pada perilaku, di mana segenap upaya ditujukan untuk:
- Melakukan sesuatu yang meridhai Tuhannya,
- Mendapatkan rahmat dan karunia-Nya,
- Memperoleh balasan yang dijanjikan-Nya kepada hamba-hamba yang bertakwa,
- Meningkatkan usaha untuk mendekat ke surga dan menjauh dari neraka.
Ibadah sejati berarti iman menguasai hati dan perasaan seseorang, sehingga:
- Cintanya kepada Allah menjadi cinta tertinggi,
- Rasa takutnya kepada Allah menjadi ketakutan terdalamnya.
Seseorang akan:
- Merasa tenang dan yakin kepada-Nya,
- Percaya pada kemahakuasaan-Nya yang tak terbatas,
- Percaya pada kedekatan dan ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu.
Bertawakal, mencintai, dan takut kepada Allah adalah bukti kekuatan iman dan ibadah kepada-Nya.
﴿ وَعَلَى اللّٰهِ فَتَوَكَّلُوْٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ﴾ ( الماۤئدة/5: 23)
“Bertawakallah hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang mukmin.” (Al-Ma’idah/5:23)
﴿ فَاللّٰهُ اَحَقُّ اَنْ تَخْشَوْهُ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ﴾ ( التوبة/9: 13)
“Allahlah yang lebih berhak kamu takuti jika kamu benar-benar orang-orang mukmin.” (At-Taubah/9:13)
﴿ وَاتَّقُوا اللّٰهَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ﴾ ( الماۤئدة/5: 57)
“Bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang mukmin.” (Al-Ma’idah/5:57)
Semakin mendalam iman di dalam hati seseorang, semakin baik pula perilaku yang mengikutinya, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik. Jika ia rusak, maka seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah, ia adalah hati.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)
Iman sebagai pendorong kelurusan jalan dan perilaku yang benar :
﴿ وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗٓ اَمْرًا اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْ﴾ ( الاحزاب/33: 36)
“Tidaklah pantas bagi mukmin dan mukminat, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketentuan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka.” (Al-Ahzab/33:36)
﴿ وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗٓ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ﴾ ( الانفال/8: 1)
“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang-orang mukmin.” (Al-Anfal/8:1)
﴿ ذٰلِكَ وَمَنْ يُّعَظِّمْ شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ فَاِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ ﴾ ( الحج/22: 32)
“Demikianlah (perintah Allah). Siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah sesungguhnya hal itu termasuk dalam ketakwaan hati. (Al-Hajj/22:32)
Ibadah Sebagai Sarana
Jika kehidupan hati dengan iman adalah sebuah tujuan dimana pengabdian kepada Allah terwujud, maka bagaimana caranya seorang Muslim mencapai tujuan ini?
Allah membimbing kita menuju sarana-sarana yang dapat mengantarkan pada tujuan tersebut. Sarana-sarana ini adalah ibadah dengan dua jenisnya: ibadah hati dan ibadah fisik.
﴿ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ﴾ ( البقرة/2: 21)
“Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah/2:21)
Ibadah adalah obat yang manjur untuk mewujudkan ketundukan total hati kepada Allah. Contoh ibadah dan pengaruhnya:
- Shalat:
- Membuat muslim merasakan kerendahan hati.
- Sarana agung untuk terhubung dengan Allah.
- Menimbulkan perasaan kedekatan, keakraban, dan kerinduan kepada-Nya.
- Meningkatkan kekhusyukan perasaan kepada Allah.
﴿ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ ۩ ࣖ ﴾ ( العلق/96: 19)
“Sujud dan mendekatlah (kepada Allah).” (Al-‘Alaq/96:19)
﴿ وَيَخِرُّوْنَ لِلْاَذْقَانِ يَبْكُوْنَ وَيَزِيْدُهُمْ خُشُوْعًا ۩ ﴾ ( الاسراۤء/17: 109)
“Mereka menyungkurkan wajah seraya menangis dan ia (Al-Qur’an) menambah kekhusyukan mereka.” (Al-Isra’/17:109)
Dengan demikian, iman seseorang bertambah melalui salat tersebut, dan pengaruhnya tampak pada motivasi dan perilaku seseorang. Maka bertambahlah semangatnya dalam berbuat kebaikan dan menguat pencegah batinnya dalam menolak perbuatan maksiat atau mendekatinya. Hal ini membenarkan firman Allah Ta’ala:
﴿اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ﴾ ( العنكبوت/29: 45-45)
‘Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.’ (Al-Ankabut: 45)”
- Sedekah:
- Mengobati penyakit cinta dunia.
- Membersihkan dan menguatkan hati.
﴿ خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا﴾ ( التوبة/9: 103)
Ambillah zakat dari harta mereka (guna) menyucikan dan membersihkan mereka. (At-Taubah/9:103)
- Puasa:
- Membantu mengendalikan diri.
- Mendidik untuk bertakwa.
﴿ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ﴾ ( البقرة/2: 183)
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Al-Baqarah/2:183)
- Dzikir (Mengingat Allah):
- Mengingat keagungan dan keindahan Allah.
- Menambah ketenangan, keyakinan, dan iman.
﴿ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ ﴾ ( الرّعد/13: 28)
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram. (Ar-Ra’d/13:28)
Dan begitu pula dengan ibadah-ibadah lainnya, baik yang bersifat hati maupun fisik, yang membentuk sebuah sistem yang terpadu dimana melalui pelaksanaannya dengan benar akan tercapai tujuan agung dari keberadaan kita di muka bumi.
Tidak ada suatu ibadah yang Allah tunjukkan kepada kita kecuali ia merupakan sarana dan ‘kendaraan’ yang membawa kita ke depan menuju kedekatan dengan-Nya, hingga kita mencapai tujuan agung dalam kehidupan dunia yaitu: ‘Beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya’ seperti dalam firman-Nya:
﴿ وَيُنَجِّى اللّٰهُ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا بِمَفَازَتِهِمْۖ لَا يَمَسُّهُمُ السُّوْۤءُ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ ﴾ (الزمر/39: 61)
Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangannya sehingga mereka tidak disentuh oleh azab dan tidak bersedih. (Az-Zumar/39:61)
Mempersiapkan Suasana untuk Mencapai Tujuan
Seseorang yang merenungkan petunjuk-petunjuk syariat akan mendapati bahwa syariat membantu kita untuk menciptakan suasana yang tepat bagi interaksi hati saat ibadah, yang pada gilirannya akan meningkatkan keimanan melaluinya.
Sebagai contoh dalam hal salat, kita mendapati bahwa syariat mendorong kita untuk mengosongkan pikiran dari hal-hal yang mengganggu dan tidak membiarkan hati terikat dengan sesuatu yang dapat menghalangi konsentrasi di dalamnya. Misalnya, jika makanan telah tersedia bersamaan dengan masuknya waktu salat, maka diutamakan untuk makan terlebih dahulu, agar seseorang dapat masuk ke dalam salat dengan pikiran yang tidak tersibukkan oleh hal lain.
Demikian pula ketika menahan buang hajat, Rasulullah ﷺ bersabda:
(لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ، وَلَا هُوَ يُدَافِعُهُ الْأَخْبَثَانِ)
‘Tidak ada salat (yang sempurna) ketika makanan telah tersedia, dan tidak pula ketika seseorang menahan buang hajat.'[[1]]
Seseorang sebaiknya tidak tergesa-gesa dalam langkahnya menuju masjid untuk mendapatkan salat, melainkan hendaknya berjalan dengan tenang dan santai. Karena tergesa-gesa dapat membuatnya datang ke salat dalam keadaan gelisah sehingga sulit untuk mengumpulkan konsentrasi hatinya.
Anjuran untuk datang lebih awal ke masjid sebelum waktu salat memiliki peran penting dalam mengalihkan kesibukan dunia dari pikiran. Begitu pula anjuran untuk mengingat kematian sebelum salat dapat membangkitkan perasaan berharap dan mengharap ampunan Allah serta rasa takut dan gentar akan hukuman-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
((اذْكُرِ الْمَوْتَ فِي صَلَاتِكَ فَإِنَّ الرَّجُلَ يَذْكُرُ الْمَوْتَ فِي صَلَاتِهِ لَحَرِيٌّ أَنْ يُحْسِنَ صَلَاتَهُ، وَصَلَّى صَلَاةَ رَجُلٍ لَا يَظُنُّ أَنْ يُصَلِّيَ صَلَاةً غَيْرَهَا)).
‘Ingatlah kematian dalam salatmu, karena sesungguhnya jika seseorang mengingat kematian dalam salatnya, ia akan berusaha memperbaiki salatnya. Dan salatlah seperti salat seseorang yang mengira bahwa ia tidak akan melakukan salat lainnya.’ [[2]]
Semua hal tersebut dan lainnya mempersiapkan seorang Muslim untuk mendapatkan manfaat dari salatnya dan apa yang ada di dalamnya berupa bacaan Al-Quran, zikir, dan doa, dalam mencapai tujuannya yaitu meningkatkan keimanan dan memperbaiki perilaku.
Hilangnya Visi
Ketika visi ini hilang dan tujuannya hanya menjadi sekedar melakukan ibadah dalam bentuk sekedarnya, maka buah dari ibadah hampir tidak terlihat wujudnya. Akibatnya, hamba tetap berada di tempatnya; tidak maju dalam arena perlombaan menuju Allah, tidak merasakan manisnya iman, dan tidak merasakan perbaikan yang nyata dalam perilakunya. Hasilnya adalah: seseorang dengan dua kepribadian yang bertentangan; Anda mungkin mendapatinya banyak melakukan salat, puasa, haji dan umrah, namun dia tidak menunaikan amanah, tidak menjaga kejujuran, buruk dalam memperlakukan orang lain, dan iri pada setiap kebaikan yang didapat orang lain. Dia panik dan ketakutan jika hartanya, kepemilikannya atau dunianya terkena musibah.
Tanda-tanda negatif ini dan lainnya menunjukkan bahwa pelakunya tidak mendapat manfaat dari ibadahnya, imannya tidak membaik karenanya; dan dengan demikian tidak menghasilkan dampak yang benar yang seharusnya memperbaiki perilaku dan interaksi.
Sebagai konfirmasi diagnosis ini, Anda -wahai pembaca- dapat merenungkan sabda Rasulullah ﷺ:
))ربَّ صَائِمِ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ((
“Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar, dan berapa banyak orang yang salat malam tidak mendapatkan dari salat malamnya kecuali begadang.” [[3]]
Begitu juga sabdanya ﷺ:
))وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهِ((
“Ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan lengah.”[[4]]
Dan sabdanya ﷺ:
))لَيُجَاءَنَّ بِأَقْوَامٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَهُمْ مِنَ الْحَسَنَاتِ مِثْلُ جِبَالِ تِهَامَةَ، حَتَّى إِذَا جِيءَ بِهِمْ جَعَلَ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ هَبَاءً، ثُمَّ قَذَفَهُمْ فِي النَّارِ((
“Sungguh akan didatangkan pada hari kiamat beberapa kaum yang memiliki kebaikan sebesar gunung Tihamah, namun ketika mereka dibawa (menghadap), Allah menjadikan amal mereka seperti debu yang beterbangan, kemudian melemparkan mereka ke neraka.”
Salim bertanya: “Wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku, jelaskan kepada kami siapa mereka itu, demi Yang mengutusmu dengan kebenaran, sungguh aku takut termasuk dari mereka.” Beliau ﷺ bersabda: “Wahai Salim, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpuasa dan salat, tetapi jika dihadapkan kepada mereka sesuatu yang haram, mereka menyergapnya dengan cepat, maka Allah Ta’ala menggugurkan amal mereka.” [[5]]
Tujuan ibadah bukan hanya melaksanakannya dari sisi bentuk/formalitas saja, tetapi yang penting dan lebih penting adalah melaksanakannya dengan cara yang dapat mencapai tujuannya. Misalnya, mengalirkan darah hewan kurban dalam haji, tidak dimaksudkan untuk tujuan darah itu sendiri, melainkan tujuannya adalah meningkatkan iman dan takwa melalui pelaksanaan syiar ini:
﴿لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْ﴾ ( الحج/22: 37-37)
‘Daging dan darahnya tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan darimu.’ (Al-Hajj: 37)
Perbaiki Amalan Terlebih Dahulu
Dari sini kita katakan bahwa kita perlu memperhatikan perbaikan amalan agar tercapai maksud tujuan ibadah, dan iman dalam hati ikut bertambah.
Dalam hal ini, Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata: Para salaf menganjurkan untuk menyempurnakan dan memperbaiki amalan daripada memperbanyaknya; karena amalan yang sedikit dengan perbaikan dan kesempurnaan, lebih baik daripada yang banyak namun dengan kelalaian dan ketidaksempurnaan.
Sebagian mereka berkata: Sesungguhnya dua orang yang berdiri dalam saf (salat), (namun) antara salat keduanya (terdapat perbedaan) seperti antara langit dan bumi.
Karena ini Ibnu Abbas dan lainnya berkata: Salat dua rakaat dengan penuh pemikiran (tafakkur) lebih baik daripada salat semalam suntuk dengan hati yang lalai. [[6]]
Sesungguhnya hati adalah tempat pandangan Allah; oleh karena itu amalan berbeda-beda nilainya di sisi-Nya sesuai dengan perbedaan apa yang ada dalam hati manusia berupa iman, cinta, dan keikhlasan serta rasa takut kepada-Nya, dengan mempertimbangkan keharusan kesesuaian amalan-amalan ini dengan aturan syariat.
Dan jika perjalanan menuju Allah dan kedekatan dengan-Nya adalah dengan hati, maka sarananya adalah ibadah dan amalan saleh yang ditunjukkan sesuai aturan Al-Quran dan Sunnah. Agar bisa mendapatkan manfaat dari sarana-sarana ini dalam mencapai tujuan, harus ada perbaikan dan perhatian terhadap interaksi hati dengannya. Adapun jika diperlakukan sebagai tujuan akhir, maka yang menjadi perhatian seseorang hanyalah melakukannya dan memperbanyaknya dalam bentuk sekedarnya, tanpa memperhatikan kehadiran hati dan manfaatnya, sehingga ini menyebabkan hilangnya pengaruh positif dari ibadah dan amalan saleh dalam kehidupan individu muslim.
Realitas yang Ada
Mungkin realitas umat Islam saat ini adalah sebagai bukti terbaik bahwa ada mata rantai yang hilang antara ibadah dan pengaruhnya; Meskipun banyaknya jumlah orang yang salat di masjid, banyaknya orang yang melakukan puasa sunnah dan sedekah, serta yang melakukan haji dan umrah sunnah, namun kita tidak melihat pengaruh yang diharapkan dari ibadah-ibadah ini. Betapa mudahnya menemukan orang yang salat namun berbohong demi mendapatkan keuntungan atau menolak kerugian! Dan betapa banyaknya menemukan pembaca Al-Quran yang bagus tajwidnya namun buruk dalam memperlakukan keluarganya dan membuat mereka menderita! Dan masih banyak lagi dan banyak lagi!
Adanya keterputusan antara ibadah dan pengaruhnya ini disebabkan -pada dasarnya- oleh interaksi yang tidak benar dengan ibadah sehingga mengosongkannya dari isi hakikinya, dan membatasinya hanya pada aspek formal saja.
Mungkin di antara sebab-sebab interaksi seperti ini adalah:
- Terlalu fokus pada hadits-hadits tentang keutamaan amal, tanpa menghubungkan dengan tujuannya dalam mewujudkan penghambaan dan peningkatan keimanan.
- Begitu juga di antara sebab interaksi seperti ini adalah: mudahnya melakukan ketaatan hanya dari sisi formal saja. Karena usaha untuk mewujudkan respons hati bersama fisik membutuhkan upaya -yang mungkin banyak orang tidak mau melakukannya- sehingga mereka memilih cara interaksi yang salah ini karena lebih mudah.
- Termasuk juga: Perasaan puas dengan diri sendiri ketika menyelesaikan (kuantitas) ibadah yang cukup banyak. Yang terlihat adalah setiap kali seseorang berhasil menyelesaikan suatu amalan, dia merasa puas dengan dirinya, dan perasaan ini mendorongnya kuat untuk terus berada di jalan ini.
Mungkin contoh paling jelas yang menegaskan hal ini adalah bacaan Al-Quran di bulan Ramadhan; Berlomba-lomba menyelesaikan sebanyak mungkin khataman tanpa pemahaman dan perenungan yang dibaca, salah satu sebabnya adalah perasaan bangga dan puas dengan diri sendiri setiap kali seorang Muslim menyelesaikan satu khataman, sehingga mendorongnya untuk memulai khataman lain dan cepat-cepat menyelesaikannya, dan begitu seterusnya.
Mendapatkan Pahala
Meskipun sebab-sebab perhatian kita pada pelaksanaan ibadah secara lahiriah tanpa esensinya banyak dan beragam; namun sebab yang paling penting adalah keinginan untuk mendapatkan pahala yang menyertainya.
Ibadah yang agung ini, sebagai contoh membaca Al-Qur’an: Yang seharusnya menghidupkan hati, meneranginya, dan menyembuhkan dari penyakitnya, telah berubah di lidah banyak Muslim menjadi sekadar lafaz yang dibaca tanpa pemahaman, tanpa pemikiran, dan tanpa pengaruh. Bahkan tujuan dari membaca Al-Qur’an telah menjadi sekadar menyelesaikan jarak antara awal mushaf hingga akhirnya dalam waktu sesingkat mungkin, dengan harapan mendapatkan pahala, berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ: “Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” [[7]]
Yang mengherankan adalah bahwa ada banyak ayat dan hadits yang berbicara tentang pentingnya tadabbur (perenungan) Al-Qur’an sebagai tujuan dari membacanya, dan mengaitkan antara bacaan dengan pencapaian tujuan ini, serta memuji orang yang melakukannya dan mencela orang yang membacanya tanpa pemahaman atau perenungan, seperti firman Allah:
﴿كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ ﴾ ( ص/38: 29-29)
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya” [Shad: 29], dan firman-Nya:
﴿اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا ﴾ ( محمّد/47: 24-24)
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” [Muhammad: 24], dan firman-Nya:
﴿وَالَّذِيْنَ اِذَا ذُكِّرُوْا بِاٰيٰتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوْا عَلَيْهَا صُمًّا وَّعُمْيَانًا ﴾ ( الفرقان/25: 73-73)
“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta” [Al-Furqan: 73].
Perhatikan sabda Rasulullah ﷺ kepada Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash ketika menjelaskan alasan larangan membaca Al-Qur’an kurang dari tiga hari: “Tidak akan memahaminya orang yang membacanya kurang dari tiga hari.” [[8]]
Suatu hari Rasulullah ﷺ melihat beberapa sahabat membaca Al-Qur’an, lalu beliau bersabda kepada mereka: “Alhamdulillah, Kitabullah itu satu, di antara kalian ada yang terbaik, dan di antara kalian ada yang berkulit merah dan hitam. Bacalah, bacalah sebelum datang suatu kaum yang membaca Al-Qur’an dengan meluruskan huruf-hurufnya seperti meluruskan anak panah, tidak melewati tenggorokan mereka, mereka ingin segera mendapatkan pahalanya dan tidak menangguhkannya.” [[9]]
Dan di antara sabdanya ﷺ: “Jika salah seorang dari kalian bangun malam, lalu Al-Qur’an terasa berat di lidahnya, dan ia tidak mengerti apa yang ia baca, maka hendaklah ia berbaring.” [[10]]
Dan ketika turun ayat-ayat surah Ali Imran:
﴿ اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِ﴾ ( اٰل عمران/3: 190)
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (Ali ‘Imran/3:190)
Rasulullah ﷺ bersabda: “Celakalah bagi orang yang membacanya tanpa memikirkan maknanya.” [[11]]
Perhatikan juga sabda Rasulullah ﷺ: “Akan ada dalam umatku perselisihan dan perpecahan, suatu kaum yang baik dalam perkataan tetapi buruk dalam perbuatan, mereka membaca Al-Qur’an namun tidak melewati tenggorokan mereka…” [[12]]
Banyak perkataan para sahabat tentang pentingnya tadabbur Al-Qur’an, di antaranya perkataan Abdullah bin Mas’ud: “Janganlah kalian membaca Al-Qur’an seperti membaca syair, dan jangan menebarkannya seperti menebar kurma buruk, berhentilah pada keajaibannya, dan gerakkan hati dengannya, dan janganlah tujuan salah seorang dari kalian hanya untuk menyelesaikan surah.” [[13]]
Dan perkataan Ali bin Abi Thalib: “Tidak ada kebaikan dalam bacaan yang tidak ada tadabbur di dalamnya.” [[14]]
Dan perkataan Hasan bin Ali: “Bacalah Al-Qur’an selama ia mencegahmu (dari kemaksiatan). Jika ia tidak mencegahmu, maka sebenarnya engkau tidak membacanya.” [[15]]
Seorang lelaki berkata kepada Ibnu Abbas: “Saya cepat dalam membaca, dan saya membaca Al-Qur’an dalam tiga hari.” Maka Ibnu Abbas menjawab: “Sungguh membaca surah Al-Baqarah dalam satu malam dengan tartil dan tadabbur lebih aku sukai daripada membaca seperti yang kamu katakan.” [[16]]
Dan Aisyah mendengar seseorang membaca Al-Qur’an dengan bacaan yang cepat, maka ia berkata: “Orang ini tidak membaca dan tidak pula diam.” [[17]]
Jadi, nash-nash yang menegaskan pentingnya tadabbur Al-Qur’an, memahaminya, dan membacanya dengan tartil sangatlah banyak. Maka mengapa fokus hanya pada hadits-hadits yang menyebutkan pahala membaca saja tanpa yang lainnya?!
Tidak diragukan bahwa di antara tujuan membaca Al-Qur’an adalah mendapatkan pahala, tetapi melalui bacaan yang tenang dan perlahan yang mempengaruhi perasaan, menambah keimanan, dan mengingatkan pembaca tentang apa yang seharusnya dilakukan atau ditinggalkan, sehingga Al-Qur’an menjadi hujjah untuknya, bukan justru melawannya.
Ibnul Qayyim berkata: “Seandainya manusia mengetahui apa yang ada dalam membaca Al-Qur’an dengan tadabbur (merenunginya), tentu mereka akan sibuk dengannya daripada sibuk dengan hal-hal lainnya. Jika seseorang membacanya dengan penuh perenungan hingga melewati satu ayat yang ia butuhkan untuk menyembuhkan hatinya, ia akan mengulanginya, meski seratus kali atau bahkan semalam suntuk. Membaca satu ayat dengan tadabbur dan pemahaman lebih baik daripada membaca satu kali khatam tanpa tadabbur dan pemahaman, lebih bermanfaat untuk hati, dan lebih mendorong pada perolehan iman serta merasakan manisnya Al-Qur’an.” [[18]]
Dimanakah hasilnya?
Kita telah melakukan pembacaan yang terburu-buru, dan kebanyakan dari kita hanya berfokus pada menyelesaikan khatam Al-Qur’an. Bahkan, sebagian kita berlomba dalam jumlah khataman, khususnya di bulan Ramadan. Maka, manfaat nyata apa yang telah kita dapatkan dari itu? Apa yang telah Al-Qur’an ubah dari diri kita? Perubahan apa yang terjadi pada akhlak dan perilaku kita sebagai hasil dari banyak membaca hanya dengan lisan saja?
Kualitas lalu Kuantitas
Bukan berarti apa yang disebutkan di sini adalah mengurangi pahala atau keutamaan yang terkait dengan ibadah, melainkan maksudnya adalah untuk memperbaiki kualitas ibadah terlebih dahulu, dengan melibatkan pikiran dan hati sepenuhnya dalam memahami ayat-ayatnya. Setelah itu, kita dapat memperbanyak bacaan sesuai kemampuan kita (kuantitas), sehingga kita bisa menggabungkan kedua aspek tersebut dan meraih kebaikan keduanya.
Bahkan, pahala yang terkait dengan amal sangat erat hubungannya dengan kehadiran hati saat melaksanakannya.
Ibnul Qayyim berkata: “Setiap ucapan yang dijanjikan syariat dengan pahala tertentu, itu adalah ucapan yang sempurna. Seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Barang siapa mengucapkan Subhanallah wa bihamdih seratus kali dalam sehari, dihapuskan dosa-dosanya walau sebanyak buih di lautan,’ atau, ‘diampuni dosa-dosanya.’ Namun, ini tidak berlaku hanya pada ucapan lisan saja. Ya, barang siapa mengucapkannya dengan lisannya, namun lalai dari maknanya, berpaling dari merenunginya, dan tidak menyelaraskan hati dengan lisannya, serta tidak mengetahui nilai dan hakikatnya, sementara ia berharap pahala darinya, maka dosa-dosanya akan dihapus sesuai dengan kadar apa yang ada di dalam hatinya. Sebab, amal itu tidak berbeda nilainya hanya dari bentuk atau jumlahnya, tetapi nilainya berbeda sesuai dengan perbedaan apa yang ada di dalam hati. Maka, dua orang yang sama-sama melakukan satu amalan, mungkin posisi mereka di hadapan Allah seperti perbedaan antara langit dan bumi. Demikian pula dua orang yang berada dalam satu saf, bisa jadi perbedaan nilai salat mereka seperti perbedaan antara langit dan bumi.”[[19]]
Pemahaman yang benar terhadap tujuan ibadah serta kesadaran bahwa ibadah merupakan sarana yang sangat diperlukan untuk menghidupkan hati dengan iman, adalah langkah awal dalam mendapatkan manfaat sejati dari ibadah tersebut. Dari pemahaman ini, insyaAllah, akan lahir upaya untuk mencari cara memperbaiki pelaksanaan ibadah.
Misalnya, dalam shalat, perhatian akan tertuju pada kehadiran hati di dalamnya. Hal ini mendorong seseorang untuk datang lebih awal ke masjid, merenungkan ayat-ayat yang dibaca, tenang dalam ruku’ dan sujud, banyak bermunajat dan berdoa, serta bersungguh-sungguh dalam mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam zikir, seorang yang berzikir akan melakukannya sambil merenungkan maknanya. Ia beristighfar dengan menyadari dosa-dosanya, merasa menyesal atas kesalahannya di hadapan Allah, dan menghadirkan kebesaran Allah yang telah ia durhakai. Ketika bertasbih, ia akan merenungkan tanda-tanda kebesaran, kekuasaan, dan keindahan ciptaan Allah. Sebagaimana dikatakan oleh Hasan Al-Bashri:
“Sesungguhnya orang-orang berakal selalu menghubungkan zikir dengan perenungan, dan perenungan dengan zikir, hingga hati mereka tersadarkan dan mengucapkan hikmah.” [[20]]
Jika kita menerapkan pemahaman ini pada Ramadan, maka cara kita menyikapinya akan berbeda dari sebelumnya, dan kita akan bersungguh-sungguh memanfaatkannya secara nyata. Bulan ini adalah kesempatan emas untuk menghidupkan hati, mengisinya dengan iman, dan memulai perjalanan menuju Allah. Ramadan menggabungkan berbagai macam ibadah seperti puasa, shalat, qiyam, membaca Al-Qur’an, sedekah, i’tikaf, zikir, umrah, dan lainnya.
Apabila kita mampu melaksanakan ibadah-ibadah ini dengan cara yang benar, maka pengaruhnya akan sangat besar dalam menghidupkan dan mencerahkan hati, sekaligus mempersiapkannya untuk memulai perjalanan terbesar: “Perjalanan menuju Allah.”
Namun, jika ibadah-ibadah tersebut hanya dilakukan secara formalitas belaka, maka tidak akan ada perubahan berarti. Akhlak tetap sama, jiwa tidak berubah, perhatian dan kepedulian tidak bergeser, dan keadaan tetap stagnan. Akibatnya, setelah Ramadan berlalu, keluhan tentang rasa malas, lemahnya semangat, dan kecenderungan terhadap duniawi akan terus berlanjut seperti sebelumnya.
Keuntungan yang Mudah Didapat
Salah satu hal terpenting yang dapat membantu seorang Muslim, dengan izin Allah, untuk memanfaatkan Ramadan adalah kesadarannya bahwa bulan ini merupakan “keuntungan yang mudah didapat” (ghanimah baridah). Melalui bulan ini, ia dapat membangkitkan dan memperbarui iman di dalam hatinya serta memperkuat bekalnya dengan takwa. Namun, keuntungan ini tidak dapat diraih hanya dengan melakukan bentuk-bentuk ibadah tanpa disertai gerakan hati yang menyertainya. Untuk itu, diperlukan pengosongan waktu—setidaknya sebisa mungkin—dari kesibukan yang dapat mengganggu pikiran dan menghalangi hati untuk hadir dan berinteraksi dengan ibadah fisik.
Selain itu, menjaga tubuh agar tidak terlalu lelah juga sangat penting. Ketika tubuh kelelahan, ibadah menjadi berat, dan pengaruhnya terhadap hati berkurang.
Sangat disayangkan, sebagian orang beranggapan bahwa melakukan ibadah sunnah seperti shalat tarawih dalam kondisi tubuh yang sangat lelah lebih baik daripada meninggalkannya untuk beristirahat sejenak. Mereka khawatir akan kehilangan pahala berjamaah. Pandangan ini, tanpa diragukan lagi, muncul akibat kurangnya pemahaman yang benar tentang hakikat ibadah.
Dalam hal ini, kita telah mendengar sabda Rasulullah ﷺ:
“Jika salah seorang di antara kalian merasa sangat lelah hingga al-Qur’an menjadi sulit diucapkan oleh lidahnya, dan ia tidak tahu apa yang ia ucapkan, maka hendaknya ia beristirahat.” [[21]]
Hal ini bukan berarti cepat menyerah pada rasa lelah dan keletihan, tetapi tubuh tetap memerlukan haknya untuk beristirahat agar kita bisa menjalankan ibadah dengan hati dan pikiran yang hadir semaksimal mungkin, dengan pertolongan Allah.
Perhatikanlah, wahai saudaraku, firman Allah Ta’ala:
﴿يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقْرَبُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْتُمْ سُكٰرٰى حَتّٰى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ﴾ ( النساۤء/4: 43-43)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendekati shalat dalam keadaan mabuk sampai kalian tahu apa yang kalian ucapkan…” (An-Nisa: 43).
Pada tahap awal pelarangan meminum khamr, petunjuk ini diberikan agar tidak ada yang melakukannya sebelum shalat, supaya tidak kehilangan kesadaran dan tidak tahu apa yang ia ucapkan. Artinya, fokus dalam shalat dan pemahaman terhadap apa yang kita ucapkan atau dengar adalah hal yang penting untuk mencapai tujuan dari shalat itu sendiri.
Bagaimana dengan seseorang yang masuk ke dalam shalat dengan pikiran yang terombang-ambing dan sangat mengantuk, lalu ia mulai shalat dengan mengangkat kedua tangannya untuk takbir, dan tiba-tiba menyelesaikan shalatnya dengan salam? Apakah dengan cara seperti ini iman dan takwanya akan meningkat? Dan bagaimana dengan orang yang membaca al-Qur’an dalam keadaan lelah, dengan tekad hanya untuk menyelesaikan bacaannya? Apakah dengan cara seperti ini ia akan meningkatkan iman terhadap al-Qur’an sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah?
Di bulan Ramadhan, aktivitas dengan fokus pada diri sendiri adalah kewajiban terpenting kita. Jika kamu bertanya: “Tapi apa yang harus saya lakukan ketika di bulan Ramadhan ternyata aktivitas pelayanan umat dan sosial meningkat, yang berdampak negatif pada kesempurnaan ibadah saya sendiri?”
Berinteraksi di tengah masyarakat memang diperlukan dalam rangka membimbing mereka, mengajak mereka kepada Allah, membantu mereka, dan berbuat baik kepada mereka. Namun agar seorang Muslim dapat mengambil manfaat dari aktivitas ini, hal tersebut harus bersumber dari keimanan yang hidup dan jiwa yang bersih. Jika hal ini tidak terjadi, maka hasilnya akan negatif sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: “Perumpamaan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia namun melupakan dirinya sendiri adalah seperti sumbu lilin yang menerangi manusia namun membakar dirinya sendiri.” [[22]]
Ar-Rafi’i berkata: “Sungguh kesalahan terbesar adalah mengatur kehidupan orang-orang di sekitarmu sementara membiarkan kekacauan terjadi dalam hatimu sendiri.” [[23]]
Bulan Ramadhan adalah kesempatan besar untuk mengisi hati dengan keimanan dan melatih jiwa serta menyucikannya. Jika seorang Muslim menyia-nyiakan kesempatan ini, bagaimana keadaan hati dan imannya kelak?!
Maka siapa yang tidak menghidupkan hatinya di bulan Ramadhan, kapan lagi dia akan menghidupkannya? Dan siapa yang tidak membekali diri dengan keimanan di bulan Ramadhan, kapan lagi dia akan membekali dirinya?
Dari sini kita katakan: Kita harus memanfaatkan bulan Ramadhan lebih banyak pada tingkat individu daripada tingkat sosial agar kita bisa menjalankan kewajiban-kewajiban sosial kita sepanjang tahun.
Ini bukan berarti harus mengasingkan diri sepenuhnya dari orang-orang sepanjang bulan, tetapi maksudnya adalah mengurangi porsinya. Hal ini menuntut kita untuk menyelesaikan kewajiban-kewajiban sosial dan pelayanan yang bisa diselesaikan sebelum datangnya Ramadhan atau setelah berlalunya, dan mengurangi – semampu mungkin – kunjungan-kunjungan keluarga dan buka puasa bersama. Bagaimana tidak, sedangkan bulan Ramadhan hanyalah hari-hari yang terhitung yang segera berlalu?!
Rasulullah ﷺ beri’tikaf setiap tahun pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, dan pada tahun wafatnya beliau beri’tikaf selama dua puluh hari, yaitu dua pertiga bulan. Maka apa yang akan kamu katakan setelah itu dan alasan apa yang akan kamu berikan untuk membenarkan dirimu yang tidak fokus dalam ibadah dalam mengumpulkan bekal melalui rangkaian sistem ibadah di bulan Ramadhan?!
Perencanaan yang baik dalam melaksanakan kegiatan sosial, bantuan amal, dan perhatian yang besar terhadap waktu dan pengaturannya membantu – dengan izin Allah – dalam mewujudkan kesejahteraan orang miskin tanpa mengganggu program pemanfaatan waktu yang sebenarnya dari Ramadhan itu sendiri, dan dengan ini kita akan mengumpulkan dua kebaikan sekaligus. Berikut contoh kejadian seorang ulama yang fokus untuk ibadah di bulan Ramadhan:
“Wahai saudara-saudara yang mulia: Saya menyapa kalian dengan salam Islam, salam yang diberkahi dan baik dari Allah, maka semoga keselamatan, rahmat dan berkah Allah tercurah kepada kalian.
Pada malam ini yang telah melewati akhir Sya’ban, kita akan mengakhiri sementara rangkaian ceramah tentang (Pandangan-Pandangan dalam Al-Qur’an). Insya Allah pada sepuluh hari pertama Syawal kita akan kembali berjumpa, dan memulai musim baru dari musim-musim ceramah, dan topik barunya insya Allah akan menjadi (Pandangan dalam Sirah Nabawiyah dan Sejarah Islam).
Dan Ramadhan adalah bulan penuh perasaan dan spiritualitas yang mengarah kepada Allah, dan saya selalu mengingat seperti yang saya hafal bahwa para salaf saleh ketika Ramadhan tiba mereka saling mengucapkan selamat satu sama lain, sampai bertemu di shalat Eid, dan perasaan mereka adalah: ini adalah bulan ibadah, bulan puasa dan qiyam, maka kami ingin menyendiri di dalamnya untuk Tuhan kami.
Sebenarnya, saya telah mencoba mencari kesempatan untuk melaksanakan ceramah Selasa di bulan Ramadhan tetapi saya tidak menemukan waktu yang tepat. Jika kita telah menghabiskan sebagian besar tahun dalam membahas pandangan-pandangan tentang Al-Qur’an, maka saya ingin kita menghabiskan Ramadhan dalam menerapkan pandangan-pandangan tersebut yang telah kita pelajari.
Wahai saudara-saudara: Kita telah lama berbicara tentang perasaan cinta dan persaudaraan yang Allah satukan di antara hati kita, yang salah satu dampak paling menonjolnya adalah terselenggaranya pertemuan ini karena Allah. Dan jika kita akan kehilangan pertemuan ini selama empat minggu kedepan atau lebih, ini tidak berarti bahwa perasaan itu akan padam atau meredup, atau kita akan melupakan apa yang meluap dari hati dan perasaan kita dalam majelis yang baik ini, dari makna-makna tertinggi kemuliaan dan persaudaraan karena Allah. Bahkan saya yakin hal itu akan tetap terwujud dan menyala dalam jiwa kita sampai kita berjumpa pada pertemuan yang mulia setelah liburan ini insya Allah. Maka jika salah satu dari kalian datang untuk shalat Isya pada malam Rabu, saya berharap dia akan mendoakan kebaikan untuk saudara-saudaranya, jangan lupakan hal ini.
Kemudian saya ingin kalian ingat bahwa jika perasaan kita haus akan pertemuan ini selama minggu-minggu ini, maka saya ingin kalian tahu bahwa ia akan dipuaskan dari sumber yang lebih baik, lebih sempurna dan lebih tinggi, yaitu hubungan karena Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi, dan itu adalah hal terbaik yang diinginkan seorang mukmin untuk dirinya di dunia dan akhirat.” [[24]]
Dan pada penutupnya, kita memohon kepada Allah – Yang Maha Perkasa dan Maha Agung – agar memberi manfaat kepada kita dengan bulan yang mulia ini, dan agar kita termasuk di antara orang-orang yang diampuni dan dibebaskan dari neraka. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada junjungan kami Muhammad dan kepada keluarga serta seluruh sahabatnya.
Selesai
[[1]] Diriwayatkan oleh Muslim: (1/393 nomor: 560).
[[2]] Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Az-Zuhd (nomor: 527), dan dihasankan oleh Ibnu Hajar sebagaimana dalam Al-Maqasid Al-Hasanah karya As-Sakhawi (hal: 226).
[[3]] Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad (14/445 nomor: 8856), dan Ibnu Majah (2/591 nomor: 1690), dan lafaznya adalah miliknya, dan Al-Hakim (1/596 nomor: 1571) dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dan dia mensahihkannya sesuai syarat Bukhari.
[[4]] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (5/517 nomor: 3479), dan Al-Bazzar (17/307 nomor: 10061), dan Al-Hakim (1/670 nomor: 1817), dan dia berkata: hadits yang isnadnya mustaqim (lurus), dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu.
[[5]] Hilyatul Auliya wa Thabaqatul Ashfiya (1/178).
[[6]] Tafsir Ibnu Rajab Al-Hanbali (1/423).
[[7]] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi: (5/175, nomor: 2910) dan beliau berkata: “Hadis ini hasan shahih.”
[[8]] Musnad Ahmad: (11/104, nomor: 6546) dan hadis tersebut terdapat asalnya dalam kedua kitab shahih (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim).
[[9]] Riwayat Ibnu al-Mubarak dalam kitab Az-Zuhd: (1/280, nomor: 813), juga diriwayatkan oleh Ahmad (37/509, nomor: 22865), Abu Dawud (1/233, nomor: 831), dan Ibnu Hibban (36, nomor: 760).
[[10]] Shahih Muslim: (1/543, nomor: 787).
[[11]] Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya: (2/386, nomor: 6320).
[[12]] Musnad Ahmad: (21/51, nomor: 13338) dengan redaksi yang serupa, Musnad Al-Bazzar: (13/453, nomor: 7225) (dengan lafaz tersebut), dan Al-Mustadrak: (2/161, nomor: 2649) dengan redaksi yang serupa.
[[13]] Mukhtashar Qiyam Al-Lail: (hal. 132).
[[14]] Mukhtashar Qiyam Al-Lail: (hal. 148).
[[15]] Diriwayatkan oleh Abu Ubaid dalam kitab فضائل القرآن (kebalikan dari yang pertama, nomor 134) dan Imam Ahmad dalam kitab الزهد (nomor 1644).
[[16]] Diriwayatkan oleh Abu Ubaid dalam kitab فضائل القرآن (nomor 157).
[[17]] Kitab Zuhd karya Abdullah ibn Al-Mubarak: 422. No: 1197.
[[18]] Miftah Dar As-Sa’adah wa Mansyur Wilaya Al-Ilm wa Al-Iradah (1/187).
[[19]] Madarij As-Salikin Baina Manazil Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in (1/339-340).
[[21]] (HR. Muslim, 543/1 no. 787)
[[22]] Majma’ Az-Zawaid karya Al-Haitsami (2/880) yang diriwayatkan oleh Thabrani dalam Al-Kabir. Editor mengatakan diriwayatkan oleh Al-Khatib dalam Iqtidha’ Al-‘Ilm Al-‘Amal. No. 71
[[23]] Wahyu Al-Qalam karya Ar-Rafi’i (2/42).
[[24]] Artikel-artikel Islamiyyin di bulan Ramadhan oleh Muhammad Musa Al-Syarif dengan sedikit penyesuaian.
04. Agar Kita Tidak Kehilangan Ramadan (1)
Penulis : Majdi Al-Hilali
Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.







