Kesaksian Suci dalam Pujian Para Imam terhadap Ibnu Taimiyyah

Kamis, 8 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kesaksian Suci dalam Pujian Para Imam terhadap Ibnu Taimiyyah

الشَّهَادَةُ الزَّكِيَّةُ فِي ثَنَاءِ الأَئِمَّةِ عَلَى ابْنِ تَيْمِيَّةَ

Pembukaan

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Berkata hamba yang fakir kepada Allah Ta’ala, Mara’i bin Yusuf Al-Hanbali Al-Maqdisi, semoga Allah Ta’ala melimpahkan kebaikan kepadanya, amin.

Segala puji bagi Allah yang mengangkat kedudukan para ulama yang mengamalkan ilmunya dan yang menghancurkan ahli kesesatan yang menyimpang.

Salawat dan salam semoga tercurah kepada sebaik-baik makhluk semuanya, yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan kepada keluarganya serta para sahabatnya yang baik lagi suci, dan kepada para tabi’in dan tabi’ut tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari pembalasan.

Amma ba’du (adapun setelah ini), maka inilah kalimat-kalimat yang terang dan ungkapan-ungkapan yang bercahaya dalam pujian para imam terkemuka terhadap Syaikhul Islam, lautan ilmu pengetahuan, penerjemah Al-Qur’an, mufti berbagai kelompok, yang paling unik di antara para mujtahid, yaitu Abul Abbas Ahmad Taqiyyuddin, putra Syaikh Imam Syaikhul Islam Majduddin Abdul Salam bin Abdullah bin Al-Khidr bin Muhammad bin Al-Khidr bin Ali bin Abdullah bin Taimiyyah.

Dan terjadi perbedaan pendapat tentang mengapa disebut Ibnu Taimiyyah.

Dikatakan bahwa kakeknya Muhammad bin Al-Khidr pernah berhaji melalui jalan Taima’, kemudian ia melihat seorang gadis kecil di sana. Ketika ia pulang, istrinya telah melahirkan seorang anak perempuan, maka ia berkata: “Ya Taimiyyah, ya Taimiyyah,” sehingga ia dijuluki dengan sebutan itu.

Dan dikatakan pula bahwa kakeknya Muhammad memiliki ibu yang bernama Taimiyyah, dan ia adalah seorang penceramah wanita, maka ia dinisbatkan kepadanya dan dikenal dengan namanya.

Beliau rahimahullah lahir pada hari Senin tanggal 10 atau 12 Rabiul Awwal tahun 661 H.

Dan beliau wafat menjelang fajar pada malam Senin tanggal 20 Dzulqa’dah tahun 728 H dalam usia 67 tahun.

Para imam terkemuka telah memuji imam ini dan memberikan gelar Syaikhul Islam kepadanya, serta mengkhususkan berbagai karangan tentang keutamaan-keutamannya, dan sejarah-sejarah serta karya-karya ilmiah telah terhiasi dengan penyebutan namanya.

Dan tidak ada yang merendahkannya kecuali orang yang tidak mengetahui kedudukannya dan kebesarannya, dan barangsiapa yang tidak mengetahui sesuatu maka ia akan mengingkarinya.

Sungguh telah berlaku adil Al-‘Allamah Al-Imam Qadi Al-Qudat (Ketua Hakim-Hakim) Islam Baha’uddin bin As-Subki ketika berkata kepada sebagian orang yang menyebutkan kepadanya tentang pembicaraan mengenai Ibnu Taimiyyah, maka ia berkata:

“Demi Allah wahai fulan, tidaklah membenci Ibnu Taimiyyah kecuali orang yang bodoh atau orang yang mengikuti hawa nafsunya. Adapun orang bodoh, ia tidak mengetahui apa yang ia katakan, dan orang yang mengikuti hawa nafsu, maka hawa nafsunya menghalanginya dari kebenaran setelah ia mengetahuinya.”

Dan sungguh telah berlaku adil pula Asy-Syaikh Al-Imam dan Al-Hibr (ulama besar) Al-Humam (yang sangat cakap) Mahmud bin Ahmad Al-‘Aini, imam Hanafiyah pada zamannya, ketika berkata dalam pertengahan kalimat yang panjang dalam memujinya:

“Ibnu Taimiyyah dan mencela orang yang mencacinya, tidaklah mereka itu kecuali seperti kumbang yang mati dengan mencium bunga mawar karena tercekik, atau seperti kelelawar yang terganggu oleh cahaya sinar yang terang karena buruknya penglihatannya dan kelemahannya. Mereka tidak memiliki sifat yang jujur dan tidak pula pemikiran yang memimpin, mereka tidak lain hanyalah orang yang keras lagi kosong, gundul dari puncaknya, bodoh yang menampakkan kebodohan, sesat anak sesat, dan kesesatan anak kesesatan.”

Dan dari yang sudah masyhur lagi tersebar luas bahwa Asy-Syaikh Al-Imam Al-‘Alim Al-‘Allamah Taqiyyuddin Ibnu Taimiyyah termasuk di antara orang-orang yang mulia dan berbudi luhur serta merupakan bukti yang banyak dari orang-orang yang terpilih. Dan Al-‘Aini memperpanjang pembicaraan dalam memujinya sebagaimana akan datang.

Dan ketahuilah, semoga Allah membantumu, bahwa banyak dari para imam yang terpilih dan para ulama yang mulia telah mengkhususkan keutamaan-keutamaan Syaikh Taqiyyuddin Ibnu Taimiyyah dalam karangan-karangan yang masyhur dan dalam biografi-biografi di dalam kitab-kitab sejarah yang terkenal.

Dan telah menyebutkan kebanyakan ulama yang memujinya pengarang kitab Ar-Raddu Al-Wafir, karya Al-Imam Al-‘Alim Al-Auhad (yang paling unik) Al-Qudwah (teladan) Al-Hafidz (penghapal hadits) Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakr bin Abdullah bin Muhammad bin Ahmad bin Nashiruddin Asy-Syafi’i. Dan aku telah senang untuk menyebutkan di sini sebagian dari itu dengan cara ringkas beserta tambahan-tambahan yang indah, dengan harapan agar aku masuk dalam barisan para imam tersebut dan termasuk orang-orang yang berada di tengah-tengah manusia sebagai rahmat.

۞۞۞۞۞

 

 

  1. Di antara mereka adalah Ibnu Sayyidin Nas

Yaitu Al-Imam Al-Hafidz Al-Faqih Al-‘Alim Al-Adib (sastrawan) Al-Bari’ (yang mahir) Fathuddin Abul Fath Muhammad bin Al-Hafidz Abi ‘Amr Muhammad bin Al-Hafidz Al-‘Allamah Al-Khatib Abi Bakr Muhammad bin Ahmad bin Abdullah bin Muhammad bin Yahya bin Abul Qasim bin Sayyidin Nas Al-Ya’muri Al-Andalusi Al-Isybili kemudian Al-Mishri Asy-Syafi’i.

Beliau lahir di Kairo pada tahun 671 H dan wafat pada bulan Sya’ban tahun 734 H di Kairo dan dimakamkan di Al-Qarafah di dekat Ibnu Abi Jamrah, dan jenazahnya dihadiri oleh banyak orang. Beliau memiliki karangan-karangan yang bermanfaat dan karya-karya yang terpuji.

Beliau rahimahullah berkata dalam biografinya tentang Ibnu Taimiyyah setelah menyebutkan biografi Al-Hafidz Al-Mizzi:

“Dan dialah yang mendorongku untuk bertemu dengan Asy-Syaikh Al-Imam Syaikhul Islam Taqiyyuddin Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdul Salam bin Taimiyyah.

Maka aku dapati beliau termasuk orang yang memperoleh bagian dari berbagai ilmu pengetahuan dan hampir menghafal seluruh sunnah dan atsar (riwayat).

Jika ia berbicara dalam tafsir maka ia adalah pembawa benderanya, atau berfatwa dalam fikih maka ia adalah pencapai tujuannya, atau berdiskusi dalam hadits maka ia adalah pemilik ilmunya dan yang meriwayatkannya, atau hadir dalam pembahasan tentang berbagai agama dan aliran maka tidak terlihat yang lebih luas daripada alirannya dalam hal itu dan tidak lebih tinggi daripada pemahamannya.

Ia unggul dalam setiap cabang ilmu atas orang-orang sejenis dengannya, dan mata tidak pernah melihat orang seperti dia dari yang melihatnya, dan matanya tidak pernah melihat yang seperti dirinya sendiri.

Ia berbicara dalam tafsir maka majelis yang dihadirinya penuh sesak dengan orang banyak, dan mereka mengambil dari lautannya yang manis lagi segar dan mereka merumput dari musim semi keutamaannya di taman dan kolamnya, hingga penyakit hasad merasuki penduduk negerinya, dan para ahli pemikiran di antara mereka terus mencari-cari yang bisa dikritik darinya dalam masalah akidah. Mereka menghafal darinya dalam hal itu perkataan yang karena hal tersebut mereka memberinya celaan yang banyak, dan mereka mengarahkan kepadanya anak panah untuk mengubahnya. Mereka mengklaim bahwa ia menyelisihi jalan mereka dan memecah kelompok mereka, maka ia berdebat dengan mereka dan mereka berdebat dengannya, dan sebagian memutuskan hubungan dengannya dan mereka memutuskan hubungan dengannya.

Kemudian ia berdebat dengan kelompok lain yang menisbatkan diri dari kemiskinan kepada suatu jalan dan mereka mengklaim bahwa mereka berada di atas hakikat batiniah yang paling halus darinya dan hakikat yang paling jelas. Maka ia menyingkap jalan-jalan tersebut dan menyebutkan baginya menurut anggapannya berbagai bencana. Lalu kelompok yang pertama kembali kepada perdebatannya dan meminta bantuan dari orang-orang yang memiliki dendam kepadanya dari pemutus hubungannya. Mereka menyampaikan urusannya kepada para penguasa, dan masing-masing dari mereka mengerjakan dalam urusannya apa yang dibencinya. Mereka menyusun berita acara dan mengumpulkan untuk menyampaikannya di antara para pembesar, dan mereka berusaha memindahkannya ke kerajaan di negeri Mesir. Maka ia dipindahkan dan dimasukkan penjara sesaat setelah kedatangannya dan ditahan.

Mereka mengadakan majelis untuk menghilangkan nyawanya dan mengumpulkan untuk itu orang-orang dari para penghuni zawiyah (tempat ibadah) dan penduduk madrasah, dari yang bersikap kompromis dalam perdebatan dengan licik dalam tipu daya, dan dari yang terang-terangan dengan pengkafiran berhadapan langsung dengan pemutusan hubungan. Mereka menginginkan baginya kehinaan kematian, ‘Dan Tuhanmu mengetahui apa yang mereka sembunyikan dalam dada mereka dan apa yang mereka nyatakan’ (Al-Qashash: 69).

Maka Allah mengembalikan tipu daya setiap orang ke tenggorokannya sendiri dan menyelamatkannya melalui tangan orang yang telah dipilih-Nya. ‘Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya’ (Yusuf: 21). Kemudian setelah itu ia tidak pernah kosong dari fitnah setelah fitnah, dan tidak pernah berpindah sepanjang umurnya dari satu cobaan kecuali kepada cobaan lainnya, hingga urusannya diserahkan kepada sebagian hakim, maka ia menanggung apa yang ditanggungnya dari penahanannya. Dan ia terus berada di penjara itu hingga saat kepergiannya menuju rahmat Allah dan perpindahannya. Dan kepada Allah dikembalikan semua urusan, dan Dia adalah Yang Maha Mengetahui pengkhianatan mata dan apa yang disembunyikan oleh dada.

Harinya adalah hari yang disaksikan, dan jalan menjadi sempit karena jenazahnya, dan kaum muslimin mendatanginya dari setiap penjuru yang jauh untuk mencari berkah dengan menyaksikannya pada hari berdirinya saksi-saksi, dan mereka berpegang pada kerandarnya hingga mereka mematahkan tongkat-tongkat itu.”

Kemudian Ibnu Sayyidin Nas meriwayatkan hadits darinya, maka ia berkata: “Aku membaca kepada Asy-Syaikh Al-Imam pembawa bendera ilmu-ilmu pengetahuan dan pencapai tujuan pemahaman-pemahaman, Taqiyyuddin Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdul Salam Ibnu Taimiyyah Al-Harrani di Kairo,” kemudian ia menyebutkan sanadnya kepada Al-Hasan bin ‘Arafah, lalu ia meriwayatkan dari juz’nya sebuah hadits.

  1. Di antara mereka adalah Ibnu Daqiq Al-‘Id

Yaitu Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Imam, salah seorang syaikh Islam, Qadi Qudat (Ketua Hakim-Hakim) kaum muslimin, sandaran para fuqaha dan ahli hadits, Taqiyyuddin Abul Fath Muhammad bin Ali bin Wahb bin Muthi’ Al-Manfaluthi Al-Maliki Asy-Syafi’i. Beliau wafat tahun 702 H.

Beliau adalah seorang imam yang hafidz, faqih yang memiliki tahqiq (penelitian yang mendalam), bermazhab Maliki dan Syafi’i, tidak ada yang serupa dengannya. Beliau berfatwa dengan kedua mazhab dan mengajar keduanya di madrasah Al-Fadhil dengan dua persyaratan. Beliau memiliki tangan yang panjang (keahlian yang mendalam) dalam mengetahui dua pokok ilmu (ushul fiqh dan ushul hadits).

Ketika Tatar datang ke pinggiran negeri Syam tahun 700 H, Ibnu Taimiyyah naik pos kilat dari Damaskus ke Mesir, lalu memasukinya pada hari kedelapan. Beliau mendorong Sultan dan tentara untuk berperang melawan Tatar dan bertemu dengan para pembesar negeri, di antaranya Ibnu Daqiq Al-‘Id. Maka ia mendengar perkataan Ibnu Taimiyyah dan berkata kepadanya setelah mendengar perkataannya: “Aku tidak menyangka bahwa Allah Ta’ala masih menciptakan orang sepertimu.”

Dan Ibnu Daqiq Al-‘Id ditanya setelah berakhirnya majelis itu tentang Ibnu Taimiyyah, maka ia berkata: “Ia adalah seorang yang hafidz.” Dikatakan kepadanya: “Mengapa engkau tidak berbicara dengannya?” Ia berkata: “Ia adalah seorang yang suka berbicara dan aku suka diam.”

Dan Ibnu Daqiq Al-‘Id juga berkata: “Ketika aku bertemu dengan Ibnu Taimiyyah, aku melihat seorang lelaki yang semua ilmu ada di antara kedua matanya, ia mengambil darinya apa yang ia kehendaki dan meninggalkan apa yang ia kehendaki.”

۞۞۞۞۞

  1. Di antara mereka adalah Ibnul Wardi

Zainuddin Umar, beliau adalah seorang allamah yang menguasai berbagai ilmu, mahir dalam prosa dan syair, memiliki syair-syair yang indah dan penggalan-penggalan yang unggul. Beliau sangat cemerlang dalam bahasa Arab, mengajar, membantu mengajar, dan berfatwa. Beliau memiliki karya-karya yang bermanfaat di antaranya Al-Bahjah berupa nazham (syair) dari Al-Hawi Ash-Shaghir. Beliau wafat di Halab tahun 749 H.

Beliau berkata dalam kitab perjalanannya ketika menyebutkan para ulama Damaskus: “Dan aku meninggalkan fanatisme dan ghirah (semangat berlebihan), dan aku menghadiri majelis-majelis Ibnu Taimiyyah, ternyata ia adalah rumah qasidah dan yang pertama dari mutiara pilihan, para ulama zamannya, maka ia adalah poros falaknya dan ia adalah hati tubuhnya. Ia lebih unggul atas mereka melebihi matahari atas bulan dan laut atas titisan air.

Aku berdiskusi di hadapannya suatu hari lalu aku mencapai makna yang benar, maka ia memanggilku dengan kuniah dan mencium di antara kedua mataku yang kanan, maka aku berkata:

Sesungguhnya Ibnu Taimiyyah dalam semua ilmu adalah yang tunggal Engkau telah menghidupkan agama Ahmad dan syariatnya wahai Ahmad

Beliau meratapi Ibnu Taimiyyah setelah wafatnya dengan qasidah yang di dalamnya ia berkata:

Hati manusia keras lagi kasar, dan tidak ada bagi mereka semangat menuju kemuliaan Apakah ada semangat setelah wafatnya seorang alim bagi kita yang dari taburan permata ilmunya kita memungut Taqiyyuddin, pemilik wara’ dan ilmu, yang dengan ilmunya masalah-masalah sulit dapat dijahit Ia telah meninggal dunia dan tidak ada yang setara dengannya, dan tidak ada yang serupa dengannya yang terbungkus kain Pemuda yang dalam ilmunya menjadi unik, dan kepadanya diserahkan penyelesaian masalah-masalah yang rumit

Dan qasidah ini panjang, dan aku telah menyebutkannya seluruhnya bersama ratapan-ratapan lain yang banyak dalam kitab Al-Manaqib, maka dapat dirujuk.

  1. Di antara mereka adalah Abu Hayyan An-Nahwi

Yaitu Asy-Syaikh Al-Imam Al-‘Allamah, panji para qari’, guru para ahli nahwu dan sastra, panji para mufassir, Atsiiruddin Abu Hayyan Muhammad bin Yusuf bin Ali bin Yusuf bin Hayyan Al-Andalusi Al-Jayyani Al-Gharnathi kemudian Al-Mishri Adh-Dhahiri.

Beliau lahir di wilayah-wilayah Gharnathah yang merupakan ibu kota negeri Andalusia pada bulan Syawwal tahun 654 H.

Dan wafat pada bulan Shafar tahun 745 H setelah beliau menjadi buta di akhir umurnya.

Al-Qadhi Al-Fadhil Ibnul Fadhlullah Al-‘Umari berkata: “Ketika Ibnu Taimiyyah bepergian dengan pos kilat tahun 700 H dan mendorong penduduk Mesir untuk berjihad di jalan Allah dan berbicara keras kepada Sultan dan para amir, kemudian diatur untuknya selama masa tinggalnya di Kairo setiap hari satu dinar dan hadiah, dan datang kepadanya sebuah bungkusan kain, namun ia tidak menerima dari itu sedikit pun.”

Beliau berkata: “Dan hadir di sisinya guru kami Abu Hayyan, dan ia adalah allamah zamannya dalam ilmu nahwu, maka ia berkata: ‘Mataku tidak pernah melihat yang seperti Ibnu Taimiyyah.'”

Kemudian Abu Hayyan memujinya secara spontan di majelis tersebut, maka ia berkata:

Ketika kami mendatangi Taqiyyuddin, maka terlihat bagi kami Seorang da’i kepada Allah yang unik, yang memiliki pembantu Pada wajahnya dari tanda-tanda orang-orang yang menemani Sebaik-baik manusia, cahaya yang di bawahnya adalah bulan Seorang alim yang zamannya berpakaian alim darinya Laut yang dari ombaknya berhamburan mutiara-mutiara Ibnu Taimiyyah berdiri dalam menolong syariat kami Seperti berdirinya penghulu Bani Taim ketika suku Mudhar bermaksiat Maka ia menampakkan kebenaran ketika dasar-dasarnya telah terhapus Dan ia memadamkan kejahatan ketika percikan apinya beterbangan Kami menceritakan tentang seorang alim yang akan datang, maka inilah Engkau adalah imam yang telah ditunggu-tunggu

Beliau berkata: “Kemudian terjadi di antara keduanya pembicaraan yang di dalamnya disebutkan Sibawaihi, maka Ibnu Taimiyyah berkata tentangnya perkataan yang menyebabkan Abu Hayyan memusuhinya dan memutuskan hubungan dengannya karenanya. Kemudian Abu Hayyan menjadi orang yang paling banyak mencacinya dan menjadikan hal itu sebagai dosa yang tidak diampuni.”

Dan Asy-Syaikh Zainuddin Ibnur Rajab berkata dalam kitabnya Ath-Thabaqat tentang bait-bait syair ini: “Dan dikatakan bahwa Abu Hayyan tidak pernah mengatakan bait-bait syair yang lebih baik dan lebih fasih darinya.” Selesai.

Kisah ini disebutkan oleh Al-Hafizh Al-‘Allamah Ibnu Katsir dalam kitab sejarahnya, yaitu bahwa Abu Hayyan pernah berdiskusi dengan Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah tentang suatu masalah dalam ilmu nahwu, lalu Ibnu Taimiyah memotong pembicaraannya dan mematahkan argumennya dengan dalil. Kemudian Abu Hayyan menyebutkan perkataan Sibawaih, maka Ibnu Taimiyah berkata, “Biarkan Sibawaih! Apakah Sibawaih itu nabi ilmu nahwu yang diutus Allah dengannya sehingga dia maksum? Sibawaih telah keliru dalam Al-Quran di delapan puluh tempat yang tidak engkau pahami dan tidak dia pahami.” Disebutkan bahwa Ibnu Taimiyah tidak takut celaan orang yang mencela dalam menegakkan kebenaran, dan tidak ada sikap kompromi pada dirinya. Baginya sama saja orang yang memujinya atau mencelanya dalam hal kebenaran.

۞۞۞۞۞

  1. Di antara mereka adalah Ibnul Qayyim

Di antara mereka adalah Ibnul Qayyim, yaitu Al-‘Allamah Syamsuddin Al-Hanbali, salah satu ulama yang teliti, ulama penulis yang langka, mufassir yang jarang ada, Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa’d bin Hariz Az-Zur’i asal usulnya kemudian Ad-Dimasyqi, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dan murid Ibnu Taimiyah. Dia memiliki karya-karya yang indah dan tulisan-tulisan yang berisi tentang ilmu-ilmu syariat dan hakikat.

Dia lahir pada tahun 691 H dan wafat di bulan Rajab tahun 751 H di Damaskus.

Dia telah menemani Ibnu Taimiyah dan mengambil ilmu yang banyak darinya, sehingga dia memiliki berbagai cabang ilmu, memiliki pemahaman terhadap makna tersurat dan tersirat, dan menguasai ilmu hadits hingga kepemimpinan dalam bidang itu berakhir padanya.

Al-Hafizh Abu Bakr Muhammad bin Al-Muhibb berkata: Aku bertanya kepada guru kami Al-Hafizh Al-Mizzi, “Ibnul Qayyim berada di tingkatan Ibnu Khuzaimah?” Dia menjawab, “Dia di zaman ini seperti Ibnu Khuzaimah di zamannya.”

Di antara karya-karyanya adalah Zaadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibaad dalam empat jilid dan kitab Safarul Hijratain wa Babas Sa’adatain.

Dia rahimahullah berkata dalam biografi Ibnu Taimiyah: Syaikhul Islam wal Muslimin, yang berdiri dengan penjelasan kebenaran dan pertolongan agama, penyeru kepada Allah dan Rasul-Nya, mujahid di jalan-Nya, yang dengannya Allah membuat agama tersenyum setelah muram, dan menghidupkan dari sunnah apa yang telah terlupakan. Cahaya yang Allah munculkan di malam keraguan sehingga tersingkaplah dengannya kegelapan-kegelapan yang pekat, dan terbuka dengannya hati-hati yang terkunci, dan dihilangkan dengannya penyakit dari jiwa-jiwa. Maka dibungkamkan dengannya penyimpangan orang-orang yang menyimpang, keraguan orang-orang yang ragu, dan klaim orang-orang yang batil. Dan terbukti benarlah dengannya kabar gembira Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Rabbil ‘Alamin yang bersabda: “Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini pada setiap kepala seratus tahun orang yang memperbaharui agama mereka,” dan dengan sabdanya: “Ilmu ini akan dibawa oleh orang-orang yang adil dari setiap generasi, mereka menghilangkan darinya penyimpangan orang-orang yang berlebihan dan klaim orang-orang yang batil.”

Dia adalah Syaikh Al-‘Allamah Az-Zahid Al-‘Abid Al-Khasyi’ An-Nasik Al-Hafizh Al-Muttabi’ Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad bin Syaikh Al-Imam Al-‘Allamah Syaikhul Islam Abul Mahasin Abdul Halim bin Syaikhul Islam wa Muftil Firaq ‘Allamatud Dunya Majduddin Abdus Salam bin Syaikh Al-Imam Al-‘Allamah Al-Kabir Syaikhul Islam Fakhruddin Abdullah bin Abul Qasim bin Muhammad bin Taimiyah Al-Harrani, qaddasallahu ruuhahu wa nawwara dhariihahu.

Ibnul Qayyim berkata: Aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya di dunia ada surga, barangsiapa tidak memasukinya tidak akan masuk surga akhirat.” Dan dia berkata, “Dengan kesabaran dan keyakinan diraih kepemimpinan dalam agama.”

Dan dia berkata, “Orang yang menempuh jalan kepada Allah Azza wa Jalla harus berada di antara menyaksikan nikmat dan melihat aib diri.” Dan dia sering mengutip syair: “Serigala melolong maka aku merasa tenteram dengan serigala ketika melolong, dan suara manusia maka hampir saja aku terbang.”

Dan dia juga sering mengutip: “Dan aku keluar dari antara rumah-rumah semoga aku, berbicara tentangmu dengan jiwa dalam kesunyian sendirian.”

۞۞۞۞۞

  1. Di antara mereka adalah Ibnuz Zamlakani

Dia adalah Syaikh Al-Imam Al-‘Allamah Qadhil Qudhat Jamalul Munazhirin Kamaluddin Abul Ma’ali Muhammad bin Abil Hasan Ali bin Abdul Wahid bin Khathib Zamlakah Al-Anshari Asy-Syafi’i.

Dia mengambil ilmu nahwu dari Ibnu Malik dan fiqih darinya Syaikh Tajuddin bin Abdurrahman dan ushul dari Qadhil Qudhat Bahauddin bin Az-Zaki. Dia memiliki banyak keutamaan, cepat memahami, cemerlang kecerdasan dan ketajamannya. Semua orang sepakat tentang keutamaannya dan kepemimpinan madzhab di zamannya berakhir padanya. Dia menjabat sebagai qadhi Aleppo dan tinggal di sana hingga dipanggil ke Mesir untuk menjabat sebagai qadhi Damaskus, lalu wafat di kota Bilbeis pada bulan Ramadhan tahun 727 H dan dibawa ke Al-Qarafah dan dimakamkan di samping kubah Imam Asy-Syafi’i. Kelahirannya adalah pada bulan Syawal tahun 666 atau 667 H.

Dia menjalankan debat dengan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah beberapa kali dan meskipun demikian dia mengakui keimamamannya dan tidak mengingkari keutamaannya.

Dia pernah berkata tentang Syaikh Taqiyuddin: “Apabila dia ditanya tentang suatu cabang ilmu, orang yang melihat dan mendengar mengira bahwa dia tidak mengetahui selain cabang ilmu itu, dan memutuskan bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui seperti dia.”

Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata dalam Thabaqatnya: “Sampai kepadaku dari jalan yang shahih dari Ibnuz Zamlakani bahwa dia ditanya tentang Syaikh—maksudnya Ibnu Taimiyah—maka dia berkata: Tidak terlihat selama lima ratus tahun atau dia berkata empat ratus tahun—keragu-raguan dari perawi dan dugaan kuatnya dia berkata lima ratus tahun—orang yang lebih hafal darinya.” Selesai.

Ibnuz Zamlakani juga berkata: “Sungguh Ibnu Taimiyah telah diberi keunggulan dalam kebaikan penulisan dan keindahan ungkapan serta penyusunan, pembagian dan penjelasan. Allah telah melembutkan ilmu-ilmu baginya sebagaimana melembutkan besi bagi Dawud. Apabila dia ditanya tentang suatu cabang ilmu, orang yang melihat dan mendengar mengira bahwa dia tidak mengetahui selain cabang ilmu itu, dan memutuskan bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui seperti dia. Para fuqaha dari berbagai kelompok apabila duduk bersamanya, mereka mendapat manfaat dalam madzhab mereka darinya sesuatu yang tidak mereka ketahui sebelumnya. Dan tidak diketahui bahwa dia berdebat dengan seseorang lalu terputus bersamanya. Dan tidak berbicara dalam suatu ilmu dari ilmu-ilmu, baik itu dari ilmu-ilmu syariat maupun yang lainnya melainkan dia mengungguli di dalamnya orang-orang yang ahli dan yang dinisbatkan kepadanya.”

Dan telah diriwayatkan, tersebar luas, disebutkan dan tersiar apa yang ditulis oleh Syaikh Kamaluddin Ibnuz Zamlakani pada kitab Bayan Ad-Dalil ‘ala Buthlani At-Tahlil karangan Ibnu Taimiyah yaitu berikut ini: Dari karya-karya sayyiduna, syaikh kami, teladan kami, Syaikh Al-Imam Al-‘Alim Al-‘Allamah Al-Auhad Al-Bari’ Al-Hafizh Az-Zahid Al-Wara’ Al-Qudwah Al-Kamil Al-‘Arif Taqiyuddin Syaikhul Islam Sayyidul ‘Ulama Qudwatul A’immah Al-Fudhala Nashirus Sunnah wa Qami’ul Bid’ah Hujjatullah ‘Alal ‘Ibad Raddu Ahliz Zaigh wal ‘Inad Auhadu ‘Ulama Al-‘Amilin Akhirul Mujtahidin Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdis Salam bin Abdillah bin Abul Qasim bin Muhammad bin Taimiyah Al-Harrani, hafizhallaahu ‘alal muslimin thuula hayaatihi wa a’ada ‘alaihim min barakaatihi innahu ‘ala kulli syai’in qadir.

Ibnuz Zamlakani juga menulis dengan tulisan tangannya pada kitab Raf’ul Malam ‘anil A’immah Al-A’lam berikut ini: Karangan Syaikh Al-Imam Al-‘Allamah Al-Auhad Al-Hafizh Al-Mujtahid Az-Zahid Al-‘Abid Al-Qudwah Imamul A’immah Qudwatul Ummah ‘Allamatul ‘Ulama Waritsul Anbiya Akhirul Mujtahidin Auhadu ‘Ulama Ad-Din Barakatil Islam Hujjatul A’lam Burhanul Mutakallimin Qami’ul Mubtadi’in Muhyis Sunnah wa man ‘azhumat binaf’ihi ‘alainanal minnah wa qamat bihi ‘ala a’da’ihil hujjah wastabbanat bibarakatihi wa hadyihil mahajjah Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdis Salam bin Taimiyah a’lallahu manaruhu wa syayyada minad dini arkanuhu kemudian dia berkata dengan syair: “Apa yang dikatakan orang-orang yang menggambarkannya, sedangkan sifat-sifatnya mulia melebihi penghitungan. Dia adalah hujjah Allah yang mengalahkan, dia di antara kita keajaiban zaman. Dia adalah ayat yang nyata dalam makhluk, cahayanya melebihi fajar.”

  1. Di antara mereka adalah Al-Hafizh Adz-Dzahabi

Dia adalah Syaikh Al-Imam Al-Hafizh Al-Humam, pemberi manfaat Syam dan sejarawan Islam, kritikus para ahli hadits dan imam orang-orang yang mentadil dan menjarh, imam ahli tadil dan jarh, yang diandalkan dalam pujian dan kritik, Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman At-Turkmani Al-Fariqi asal usulnya kemudian Ad-Dimasyqi.

Dia lahir tahun 673 H dan wafat di Damaskus tahun 748 H.

Dan guru-gurunya dengan cara mendengar dan ijazah sekitar seribu tiga ratus syaikh yang dikumpulkan dalam Mu’jamnya yang besar.

Dia adalah keajaiban dalam kritik rijal, sandaran dalam jarh dan tadil, mengetahui cabang dan pokok, imam dalam qira’at, ahli fiqih dalam teori-teori, imam dalam madzhab para imam dan tokoh-tokoh perkataan, berdiri di antara generasi berikutnya dengan menyebarkan sunnah dan madzhab salaf.

Dari ucapannya rahimahullah: “Fiqih adalah Allah berfirman, Rasul-Nya berfirman, jika shahih dan ijma’, maka bersungguh-sungguhlah di dalamnya. Dan berhati-hatilah dari menentang perbedaan pendapat dengan kebodohan antara Nabi dan pendapat ahli fiqih.”

Dia memiliki karya-karya yang bermanfaat dan tulisan-tulisan yang benar, di antaranya Tarikh Al-Islam dalam dua puluh jilid dan Siyaru An-Nubala dalam dua puluh jilid dan Mizanul I’tidal fi Naqdil Rijal dan lain-lain.

Dia adalah orang yang dikatakan oleh sebagian ulama besar ketika bertemu dengannya di Damaskus dan Syam dengan syair: “Aku selalu dengan pendengaran mencintaimu dan tidak disebutkan, berita-beritamu kecuali aku condong karena gembira. Dan bukan keanehan jika aku condong ke arahmu, karena manusia dengan tabiat telah condong kepada emas (adz-dzahab).”

Adz-Dzahabi ini telah membuat biografi Ibnu Taimiyah di beberapa tempat dan memujinya dengan pujian yang baik. Dia berkata dalam kitabnya Thabaqah Sama’ Kitab Raf’ul Malam ‘anil A’immah Al-A’lam: Kitab ini didengarkan kepada penulisnya, guru kami Al-Imam Al-‘Alim Al-‘Allamah Al-Auhad Syaikhul Islam Muftil Firaq Qudwatul Ummah U’jubatuz Zaman Bahrul ‘Ulum Hibrul Quran Taqiyuddin Sayyidul ‘Ibad Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdis Salam bin Taimiyah radhiyallahu ‘anhu, dan disebutkan sisa thabaqah.

Adz-Dzahabi juga menulis di bawah tulisan Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah: Ini adalah tulisan guru kami Al-Imam Syaikhul Islam satu-satunya zaman, lautan ilmu Taqiyuddin. Dia membaca Al-Quran dan fiqih serta berdebat dan berdalil sedangkan dia belum baligh.

Dia menguasai ilmu dan tafsir, berfatwa dan mengajar sedangkan usianya sekitar dua puluh tahun. Dia menulis karya-karya dan menjadi salah satu ulama besar di masa hidup para gurunya. Dia memiliki karya-karya besar yang dibawa oleh pengendara, dan mungkin karya-karyanya pada waktu ini mencapai empat ribu kuras atau lebih. Dia menafsirkan Kitabullah selama beberapa tahun dari dadanya pada hari-hari Jumat. Dia sangat cemerlang kecerdasannya. Bacaan-bacaannya dari hadits banyak dan guru-gurunya lebih dari dua ratus syaikh. Pengetahuannya dalam tafsir adalah yang tertinggi. Hafalannya terhadap hadits, para rawinya, keshahihan dan kelemahannya, tidak ada yang menyamainya dalam hal itu. Adapun pemindahannya terhadap fiqih dan madzhab-madzhab para sahabat dan tabi’in apalagi madzhab empat, maka tidak ada yang setara dengannya. Adapun pengetahuannya tentang aliran-aliran dan kelompok-kelompok, ushul dan kalam, maka aku tidak mengetahui ada yang setara dengannya. Dia mengetahui bagian yang baik dari bahasa dan kebahasaarabannya sangat kuat. Pengetahuannya tentang sejarah dan sirah sungguh menakjubkan. Adapun keberaniannya, jihadnya dan kegigihannya adalah perkara yang melampaui penggambaran dan melebihi deskripsi. Dia adalah salah satu orang dermawan yang sangat pemurah yang dijadikan perumpamaan. Pada dirinya ada kezuhudan dan qana’ah dengan yang sedikit dalam makanan dan minuman. Selesai.

Adz-Dzahabi juga berkata dalam biografi Ibnu Taimiyah: Dia memiliki kemampuan panjang dalam mengetahui madzhab-madzhab sahabat dan tabi’in, dan jarang sekali dia berbicara dalam suatu masalah kecuali dia menyebutkan di dalamnya madzhab yang empat. Dia telah menyelisihi yang empat dalam masalah-masalah yang dikenal dan menulis di dalamnya serta berdalil untuknya dengan Al-Kitab dan As-Sunnah. Ketika dia ditahan di Iskandariah, penguasa Sebta meminta darinya agar memberikan ijazah kepadanya untuk riwayat-riwayatnya dan menyebutkan nama-nama sejumlah darinya, maka dia menulis dalam sepuluh lembar sejumlah dari itu dengan sanad-sanadnya dari hafalannya sehingga tidak mampu dikerjakan sebagiannya oleh ahli hadits terbesar mana pun. Dia memiliki pengetahuan sempurna tentang rijal, jarh dan tadil mereka, tingkatan-tingkatan mereka, dan pengetahuan tentang cabang-cabang hadits, tinggi dan rendahnya, shahih dan lemahnya dengan hafalannya terhadap matan-matannya. Tidak ada seorang pun di zaman ini yang mencapai derajatnya dan tidak mendekatinya. Dia adalah keajaiban dalam menghadirkan dan mengeluarkan dalil-dalil darinya, dan kepadanya puncak dalam menyandarkannya kepada kitab-kitab enam dan Musnad sehingga benar atasnya dikatakan setiap hadits yang tidak diketahui Ibnu Taimiyah maka bukan hadits. Tetapi meliputi semuanya hanya milik Allah, namun dia mengambil dari lautan sedangkan yang lain dari para imam mengambil dari sungai-sungai. Dia sekarang beberapa tahun tidak berfatwa dengan madzhab tertentu tetapi dengan apa yang tegak dalilnya menurutnya. Sungguh dia telah menolong sunnah yang murni dan jalan salaf serta berdalil untuknya dengan bukti-bukti dan mukaddimah-mukaddimah serta perkara-perkara yang tidak didahului kepadanya. Dia melontarkan ungkapan-ungkapan yang enggan dilakukan oleh orang-orang terdahulu dan kemudian serta mereka takut, dan dia berani melakukannya hingga bangkit atasnya sekumpulan ulama Mesir dan Syam dengan kebangkitan yang tidak ada lebihnya. Mereka membid’ahkannya, mendebatnya dan menyurati dia. Dia tetap teguh tidak berkompromi dan tidak berpihak, tetapi mengatakan kebenaran yang pahit yang mengantarkannya kepadanya ijtihadnya dan ketajaman akalnya serta luasnya lingkupnya dalam sunnah-sunnah dan perkataan-perkataan bersama dengan apa yang terkenal darinya dari wara’, kesempurnaan pemikiran, luasnya pemahaman, takut kepada Allah Yang Maha Agung dan pengagungan terhadap kehormatan-kehormatan Allah. Maka terjadilah antara dia dan mereka pertempuran perang dan peristiwa-peristiwa di Syam dan Mesir. Berapa kali mereka memanah dia dari satu busur lalu Allah menyelamatkannya, karena dia selalu bermunajat, banyak memohon pertolongan, kuat tawakalnya, kokoh keberaniannya. Dia memiliki wirid-wirid dan dzikir-dzikir yang dilakukan terus menerus dengan cara dan kesungguhan. Dia memiliki dari sisi lain orang-orang yang mencintainya dari para ulama dan orang-orang shalih, dari pasukan dan para panglima, dari para pedagang dan orang-orang besar, dan semua orang awam mencintainya karena dia berdiri untuk memberi manfaat kepada mereka siang dan malam dengan lisannya dan penanya.

Adapun keberaniannya, maka dijadikan perumpamaan, dan dengan sebagiannya para pahlawan besar mengambil teladan. Sungguh Allah telah mengangkatnya pada masa Ghāzān, dan ia memikul beban perkara itu dengan dirinya sendiri. Ia berdiri, duduk, naik, keluar, dan bertemu dengan raja dua kali, dengan Khutlu Syah dan dengan Būlāy. Qibjaq pun kagum dengan keberaniannya dan kegigihannya menghadapi Mongol.

Ia memiliki ketajaman yang kuat yang muncul dalam perdebatan, hingga seakan-akan ia adalah singa dalam peperangan. Ia terlalu besar untuk ditegur oleh orang seperti saya mengenai sifat-sifatnya. Seandainya saya bersumpah antara Rukun dan Maqam, niscaya saya akan bersumpah bahwa saya tidak pernah melihat dengan mata saya orang seperti dia, dan ia pun tidak pernah melihat orang seperti dirinya sendiri dalam ilmu.

Adz-Dzahabi juga berkata: “Ia—maksudnya Ibnu Taimiyah—adalah mukjizat dalam kecerdasan dan kecepatan pemahaman, seorang pemimpin dalam pengetahuan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta perbedaan pendapat, lautan dalam ilmu-ilmu naqliyah. Ia di zamannya adalah orang yang unik di masanya dalam ilmu, kezuhudan, keberanian, kemurahan hati, menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, serta banyak karya tulis. Ia membaca dan mengumpulkan ilmu, serta berijtihad dalam hadits dan fikih. Ia layak untuk mengajar dan memberi fatwa ketika berusia tujuh belas tahun. Ia maju dalam ilmu tafsir, ushul, dan seluruh ilmu Islam, baik ushul maupun furu’nya, yang halus maupun yang kasar. Jika tafsir disebutkan, maka ia adalah pembawa benderanya. Jika para fuqaha dihitung, maka ia adalah mujtahid mutlak mereka. Jika para hafizh hadir, ia berbicara dan mereka terdiam, ia menyebutkan hadits dan mereka terheran-heran, ia kaya ilmu dan mereka bangkrut. Jika para mutakallimun disebutkan, maka ia adalah yang tunggal di antara mereka dan kepada dialah tempat kembali mereka. Jika Ibnu Sina muncul mendahului para filsuf, maka ia menghancurkan mereka, membongkar tabir mereka, dan mengungkap aib mereka. Ia memiliki keahlian yang panjang dalam pengetahuan bahasa Arab, sharaf, dan bahasa. Ia lebih agung daripada yang dapat digambarkan oleh kata-kataku dan ditunjukkan oleh penaku. Sesungguhnya kisah hidupnya, ilmu-ilmunya, pengetahuan-pengetahuannya, ujian-ujiannya, dan perpindahan-perpindahannya dapat disusun dalam dua jilid. Maka Allah Ta’ala mengampuninya dan menempatkannya di surga-Nya yang tertinggi. Sesungguhnya ia adalah rabbani umat dan orang yang unik di zamannya, pembawa bendera syariat, dan penyelesai masalah-masalah kaum muslimin, seorang pemimpin dalam ilmu yang sangat bersungguh-sungguh dalam kewajibannya menegakkan kebenaran, jihad, menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dengan kesungguhan yang tidak pernah saya lihat dan saksikan dari siapa pun, dan tidak pernah saya perhatikan dari seorang faqih pun.”

Adz-Dzahabi juga berkata: “Saya mengumpulkan karya-karya Syaikhul Islam Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, maka saya menemukan seribu karya, kemudian saya melihat lagi karya-karya lainnya.”

Biografi Adz-Dzahabi tentang Ibnu Taimiyah lebih terkenal daripada yang perlu disebutkan dan lebih banyak daripada yang dapat dihitung, semoga rahmat Allah Ta’ala tercurah.

Adz-Dzahabi meratapi beliau setelah wafatnya dengan kata-katanya:

Wahai kematian, ambillah siapa yang engkau kehendaki atau tinggalkan / Engkau telah menghapus jejak ilmu dan kewaraan

Engkau mengambil Syaikhul Islam dan putus / Tali ketakwaan dan sembuh orang-orang bid’ah

Engkau sembunyikan lautan yang menafsirkan, gunung / Seorang alim yang bertakwa yang menjauhi kenyang

Jika ia berbicara maka ia muslim yang terpercaya, dan jika berdebat maka pemilik kilatan

Dan jika ia menyelami nahwu, maka ia melampaui Sibawayh / Dengan setiap makna dari ilmu yang ditemukan

Dan ia menjadi hafizh yang tinggi sanadnya / Seperti Syu’bah atau Sa’id Adh-Dhab’i

Dan fikih ada padanya, maka ia menjadi mujtahid / Dan pemilik jihad yang bebas dari ketakutan

Dan kedermawanannya seperti Hatim yang terkenal / Dan kezuhudan seperti Al-Qadiri dalam ketamakan

Semoga Allah menempatkannya di surga dan / Tetap tinggi dalam pakaian terindah

Bersama Malik dan Al-Imam Ahmad dan An-Nu’man dan Asy-Syafi’i dan Al-Khula’i

Telah pergi Ibnu Taimiyah dan janjinya / Dengan lawannya pada hari tiupan kengerian

۞۞۞۞۞

  1. Di antara mereka adalah Al-Hafizh Al-Mizzi

Ia adalah Asy-Syaikh Al-Imam Hafizh Al-Islam, muhaddits para ulama, seorang alim yang mulia, guru para imam dalam ilmu jarh dan ta’dil, syaikh para muhadditsun, Jamaluddin Abu Al-Hajjaj Yusuf Al-Qadha’i kemudian Al-Kalbi, Al-Halabi, Ad-Dimasyqi kemudian Al-Mizzi, Asy-Syafi’i.

Ia lahir di luar Halab tahun enam ratus lima puluh empat, tumbuh di Al-Mizzah, mendengar banyak kitab yang panjang dan pendek, juz-juz yang besar dan tidak besar, mengadakan rihlah ke beberapa negeri, menyusun kitab At-Tahdzib dan kitab Al-Athraf, membuat takhrij yang panjang dan pendek untuk banyak orang.

Ia memiliki ilmu yang berlimpah, terpercaya, hujjah, berakhlak baik, jujur ucapannya. Ia dan Ibnu Taimiyah Syaikhul Islam bersama-sama dalam mendengar dan mempelajari ilmu-ilmu bersama beberapa ulama besar.

Ia wafat tahun tujuh ratus empat puluh dua di Damaskus dan dimakamkan di samping Ibnu Taimiyah. Jenazahnya sangat dihadiri banyak orang. Dialah yang dikatakan oleh sebagian ulama yang mulia:

Aku selalu mendengar kabar tentang kebaikanmu / Keutamaan menyandarkannya kepadamu dan mengangkatnya

Hingga kita bertemu dan aku menyaksikan apa yang telah / Aku dengar, dan lebih sedikit daripada apa yang telah aku dengar

Lebih dari satu syaikh menceritakan dari Al-Mizzi bahwa ia berkata tentang Ibnu Taimiyah: “Aku tidak pernah melihat orang seperti dia, dan ia pun tidak pernah melihat orang seperti dirinya sendiri. Aku tidak pernah melihat orang yang lebih mengetahui Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak pernah melihat orang yang lebih mengikuti keduanya daripada dia.”

Al-Mizzi juga berkata tentang Ibnu Taimiyah: “Ibnu Taimiyah tidak pernah terlihat orang seperti dia sejak empat ratus tahun.”

Al-Mizzi menulis pada kitab biografi Asy-Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah karangan Ibnu ‘Abdil Hadi apa yang bunyinya: “Kitab ringkas dalam menyebutkan keadaan Asy-Syaikh Al-Imam Syaikhul Islam Taqiyuddin Abu Al-‘Abbas Ahmad bin ‘Abdul Halim bin Taimiyah, dan menyebutkan sebagian karya-karyanya dan keutamaannya, dikumpulkan oleh Asy-Syaikh Al-Imam Al-Hafizh Syamsuddin Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad bin ‘Abdil Hadi Al-Maqdisi.”

Al-Mizzi juga menulis dengan tulisan tangannya tabaqah sima’ (catatan pendengar) pada juz kedua dari hadits Al-Hasan bin ‘Ali Al-Jauhari apa yang bunyinya: “Mendengar juz ini dari tiga syaikh: Al-Imam Al-‘Allamah Syaikhul Islam Taqiyuddin Abu Al-‘Abbas Ahmad bin Taimiyah, dan Al-Imam ‘Alamuddin Al-Birzali dengan bacaannya dari lafaznya, dan penulis catatan sima’ adalah Yusuf bin Ar-Rakki.”

Qadhi Al-Qudhah Shalih bin ‘Umar Al-Bulqini Asy-Syafi’i telah berkata: “Sungguh Qadhi Al-Qudhah Tajuddin As-Subki bangga dalam biografi ayahnya Asy-Syaikh Taqiyuddin As-Subki dengan pujian para imam kepadanya, bahwa Al-Hafizh Al-Mizzi tidak menulis dengan tulisan tangannya lafazh ‘Syaikhul Islam’ kecuali untuk ayahnya, untuk Asy-Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, dan untuk Asy-Syaikh Syamsuddin bin Abi ‘Umar Al-Hanbali.”

۞۞۞۞۞

 

 

  1. Di antara mereka adalah Al-Hafizh Al-Birzali

Ia adalah Asy-Syaikh Al-Imam Al-Hafizh yang terpercaya, hujjah, sejarawan Syam dan salah satu muhaddits Islam, yang memberi manfaat kepada para muhadditsun, ‘Alamuddin Abu Muhammad Al-Qasim bin Muhammad bin Yusuf Al-Birzali Al-Isybili asal, Ad-Dimasyqi, penulis At-Tarikh yang penting dan Al-Mu’jam Al-Kabir.

Ia adalah orang yang paham dengan nama-nama rijal, dan ahli dalam memindahkan keadaan mereka.

Ia lahir tahun enam ratus enam puluh lima di Damaskus dan wafat di Khalis dalam keadaan ihram pada tanggal tiga Dzulhijjah tahun tujuh ratus tiga puluh delapan.

Sungguh sebagian guru-guru kami menceritakan tentang dia bahwa ia jika membaca hadits dan melewati hadits Ibnu ‘Abbas tentang kisah orang yang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu untanya menabraknya dan ia dalam keadaan ihram maka ia meninggal—hadits yang di dalamnya: ‘Sesungguhnya ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan talbiyah.’ Maka jika Al-Birzali membacanya, ia menangis dan hatinya menjadi lembut. Maka ia wafat di Khalis dalam keadaan ihram.

Tentangnya Adz-Dzahabi berkata:

Jika engkau ingin memeriksa semua perbendaharaan / Dan munculnya juz-juz yang dikumpulkan dan ‘awali

Dan deskripsi guru-guru dunia dan apa yang mereka riwayatkan / Telaah atau dengarlah Mu’jam Al-Birzali

Tentangnya Asy-Syaikh Al-Imam Ibnu Al-Mushilli At-Tharabulusi berkata:

Aku selalu mendengar tentangmu setiap kebaikan / Yang untuk yang sepertinya atau kepadanya berakhir kemurahan

Dan aku dengan pendengaran mencintai kalian, bagaimana jika / Aku melihat kalian dan muncul bagiku dalam kecintaan ilmu

Al-Birzali menulis dengan tulisan tangannya sima’ tabaqah pada juz yang di dalamnya hadits-hadits terpilih dari juz Al-Hasan bin ‘Arafah, yaitu: “Membaca delapan hadits ini guru kami dan tuan kami Al-Imam Al-‘Alim Al-‘Allamah yang tunggal, teladan, zahid, ahli ibadah, wara’, hafizh Taqiyuddin Syaikhul Islam wal Muslimin, sayyid para ulama di seluruh alam, alim umat, yang diikuti para imam, hujjah madzhab-madzhab, mufti golongan-golongan, Abu Al-‘Abbas Ahmad bin ‘Abdul Halim bin ‘Abdis Salam bin Taimiyah, semoga Allah menjaga berkahnya dan mengangkat derajatnya.”

Al-Birzali menyebutkan dalam mu’jam guru-gurunya Asy-Syaikh Taqiyuddin, ia berkata: “Ahmad bin ‘Abdul Halim bin ‘Abdis Salam bin ‘Abdillah bin Abi Al-Qasim bin Muhammad bin Taimiyah Al-Harrani, Asy-Syaikh Taqiyuddin Abu Al-‘Abbas, Al-Imam yang disepakati keutamaan, kemuliaan, dan agamanya. Ia membaca Al-Qur’an dan berijtihad di dalamnya, bahasa Arab, dan ushul. Ia mahir dalam ilmu tafsir dan hadits. Ia adalah imam yang tidak dapat dicapai debunya dalam segala hal, mencapai tingkat ijtihad, dan terkumpul padanya syarat-syarat para mujtahid. Jika tafsir disebutkan, orang-orang terkagum-kagum dari banyaknya hafalannya, baiknya penyampaiannya, memberikan setiap pendapat haknya dari tarjih, tadh’if, dan pembatalan, serta mendalami setiap ilmu sehingga orang-orang yang hadir merasa kagum. Ini semua dengan keterikatan pada kezuhudan, ibadah, kesibukan dengan Allah Ta’ala, dan menjauhkan diri dari sebab-sebab dunia serta menyeru makhluk kepada Allah Ta’ala.

Ia biasa duduk setiap pagi Jumat membacakan kepada orang-orang tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Maka banyak orang mendapat manfaat dari majelisnya, berkah do’anya, kesucian nafasnya, ketulusan niatnya, kejernihan lahir dan batinnya, kesesuaian ucapannya dengan amalnya. Banyak makhluk yang kembali kepada Allah Ta’ala, dan ia berjalan pada satu cara yaitu memilih kefakiran, mengurangi dunia, dan menolak apa yang dibukakan kepadanya.”

Al-Birzali berkata dalam tarikhnya setelah menyebutkan wafat Ibnu Taimiyah dan menjelaskan pemakamannya serta kepadatan orang: “Kemudian ia berkata: Dan banyak makhluk yang mendengar darinya hadits, ia membaca sendiri banyak sekali, ia menuntut ilmu hadits, menulis thabaq dan itsbat, dan ia tekun mendengar sendiri selama bertahun-tahun. Jarang ia mendengar sesuatu kecuali ia menghafalkannya, kemudian ia sibuk dengan ilmu-ilmu. Ia cerdas dan banyak hafalan, maka ia menjadi imam dalam tafsir dan apa yang berkaitan dengannya, mengetahui fikih. Dikatakan bahwa ia lebih mengetahui fikih madzhab-madzhab daripada ahlinya sendiri yang ada di zamannya dan lainnya. Ia mengetahui perbedaan para ulama, mengetahui ushul, furu’, nahwu, bahasa, dan lainnya dari ilmu-ilmu naqliyah dan ‘aqliyah. Ia tidak pernah terkalahkan dalam majlis debat, dan tidak pernah berbicara dengannya seorang ahli pun dalam suatu ilmu kecuali ia mengira bahwa ilmu itu adalah ilmunya, dan melihatnya mengetahui dan menguasainya.

Adapun hadits, maka ia adalah pembawa benderanya, hafizh hadits, membedakan antara yang shahih dan lemahnya, mengetahui rijal-rijalnya, sangat menguasai itu.

Ia memiliki karya-karya banyak dan ta’liq yang bermanfaat dalam ushul dan furu’. Sekelompok ulama zamannya memuji dirinya, keutamaan dan ilmu-ilmunya seperti Ibnul Daqiq Al-‘Id, Ibnun Nahhas, Al-Qadhi Al-Hanafi qadhi qudhah Mesir Ibnul Hariri, Ibnuz Zamlakani, dan lainnya.”

۞۞۞۞۞

  1. Di antara mereka adalah Al-Hafizh Ibnu Rajab

Ia adalah Asy-Syaikh Al-Imam Al-‘Allamah, zahid, teladan, berkah, hafizh, ‘umdah, terpercaya, hujjah, penasihat kaum muslimin, yang memberi manfaat kepada para muhadditsun, Zainuddin Abu Al-Faraj ‘Abdur Rahman bin Asy-Syaikh Al-Imam Al-Muqri’ Al-Muhaddits Ahmad bin Rajab Al-Baghdadi Ad-Dimasyqi Al-Hanbali.

Salah satu imam zahid dan ulama abid. Ia wafat tahun tujuh ratus sembilan puluh lima di Damaskus.

Telah diceritakan dari orang yang menggali lahad Ibnu Rajab bahwa Asy-Syaikh Ibnu Rajab datang sebelum ia wafat beberapa hari, ia berkata: “Ia berkata kepadaku: Gali untukku di sini lahad, dan ia menunjuk kepada tempat yang ia dimakamkan di dalamnya.” Ia berkata: “Maka aku menggali untuknya. Ketika selesai, ia turun ke dalam kubur dan berbaring di dalamnya, ia menyukainya dan berkata: ‘Ini bagus,’ kemudian ia keluar.” Ia berkata: “Demi Allah, aku tidak merasa setelah beberapa hari kecuali ia telah dibawa dalam keadaan wafat dipikul dalam kerandanya, maka aku meletakkannya di lahad itu dan menguburkannya di dalamnya.”

Ia memiliki karya-karya yang bermanfaat dan tulisan-tulisan yang banyak, di antaranya syarah Jami’ At-Tirmidzi dan syarah dari awal Shahih Al-Bukhari sampai Kitab Janazah dengan syarah yang berharga. Ia memiliki kitab Thabaqat para pengikut madzhabnya, ia menjadikannya dzail atas siapa yang memulainya yaitu Al-Qadhi Abu Ya’la bin Al-Farra’.

Ia berkata: “Ahmad bin ‘Abdul Halim bin ‘Abdis Salam bin ‘Abdillah bin Abi Al-Qasim Al-Khadhir bin Muhammad bin Taimiyah Al-Harrani kemudian Ad-Dimasyqi, Al-Imam Al-Faqih Al-Mujtahid Al-Muhaddits Al-Hafizh Al-Mufassir Al-Ushuli Az-Zahid Taqiyuddin Abu Al-‘Abbas Syaikhul Islam wa ‘Alamul A’lam. Kemasyhurannya cukup dari panjang lebar menyebutnya dan rinci urusannya.”

Kemudian Ibnu Rajab menyebutkan biografi Ibnu Taimiyah, dan di dalamnya ia menyebutkan wafat dan pemakamannya, kemudian berkata: “Dan dishalatkan kepadanya shalat ghaib di hampir seluruh negeri Islam yang dekat dan jauh, bahkan di negeri Yaman dan China. Para musafir mengabarkan bahwa diumumkan di ujung China untuk menshalati dia pada hari Jumat: shalat ghaib atas Turjuman Al-Qur’an.”

۞۞۞۞۞

11 – Di antara mereka adalah Al-Hafizh Ibnu Abdul Hadi

Beliau adalah syekh, imam, ulama besar, hafizh pengkritik yang menguasai berbagai cabang ilmu, sandaran para ahli hadits, teliti dalam kajian, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Abdul Hadi bin Abdul Hamid bin Abdul Hadi bin Qudamah bin Miqdam bin Nashr Al-Maqdisi Ash-Shalihi Al-Hanbali.

Beliau lahir pada tahun enam ratus empat atau lima. Beliau membaca Al-Quran dengan berbagai riwayat dan mendengar riwayat yang tak terhitung jumlahnya. Beliau mencurahkan perhatian pada hadits dan berbagai jenisnya, mengenal para perawinya dan ilal-nya. Beliau mendalami fikih, berfatwa, mengajar, mengumpulkan, menyusun karya, menulis banyak hal, membuat karya tulis, dan berperan aktif dalam memberikan manfaat.

Di antara karya-karyanya adalah Tanqih at-Tahqiq fi Ahadits at-Ta’liq dua jilid, Al-Muharrar fil Ahkam, Al-Kalam ‘ala Ahadits Mukhtashar Ibnil Hajib dua karya (yang panjang dan yang ringkas), sebuah juz dalam bantahan terhadap apa yang disampaikan tentang Ibnu Malik, dan kumpulan Tafsir Musnad namun beliau wafat sebelum menyelesaikannya.

Beliau adalah imam dalam berbagai ilmu seperti tafsir, hadits, ushul, fikih, bahasa, dan bahasa Arab.

Al-Hafizh Adz-Dzahabi menyebutnya dalam kamus yang khusus membahas para ahli hadits dan dalam Thabaqat Al-Huffazh, dan memujinya dengan pujian yang baik di keduanya. Ia berkata: “Demi Allah, setiap kali saya bertemu dengannya, saya selalu mendapat manfaat darinya.”

Beliau wafat pada tahun tujuh ratus empat puluh empat di Damaskus dan pemakaman beliau dihadiri banyak orang.

Di antara karya beliau adalah kitab Manaqib Ibnu Taimiyah dalam satu jilid. Dalam kitab itu beliau berkata: “Beliau adalah syekh, imam, ulama yang beramal, rabbani, imam para imam, ulama besar umat, mufti berbagai golongan, lautan ilmu, pemimpin para hafizh, ahli makna dan lafazh, unik di masanya, satu-satunya di zamannya, Syaikhul Islam, berkah manusia, ulama masa, penterjemah Al-Quran, tanda zaman, yang tiada bandingannya di antara para hamba, penumpas ahli bidah, dan akhir para mujtahid, Taqiyyuddin Abu Al-Abbas Ahmad bin Asy-Syaikh Al-Imam Al-Allamah Syihabuddin Abul Mahasin Abdul Halim bin Asy-Syaikh Al-Imam Al-Allamah Syaikhul Islam Majduddin Abul Barakat Abdus Salam bin Taimiyah Al-Harrani yang tinggal di Damaskus dan pemilik karya-karya tulis yang belum pernah ada yang mendahului karya sepertinya dan tidak akan ada yang menyusulnya dalam bentuknya, baik dalam tauhid, tafsir, keikhlasan, fikih, hadits, bahasa, nahwu, dan semua ilmu. Kitab-kitabnya penuh dengan itu semua dan kepemimpinan dalam ilmu, amal, zuhud, warak, keberanian, kemurahan, kerendahan hati, kesabaran, pertobatan, keagungan, kewibawaan, amar makruf nahi munkar, dan berbagai jenis jihad sampai kepadanya, bersama dengan kejujuran, amanah, kesucian, penjagaan diri, niat yang baik, keikhlasan, memohon kepada Allah, banyak takut kepada-Nya, muraqabahnya kepada-Nya, berpegang teguh pada atsar, dakwah kepada Allah, akhlak yang baik, memberi manfaat kepada makhluk, berbuat baik kepada mereka, bersabar terhadap orang yang menyakitinya, memaafkannya, mendoakan kebaikan untuknya, dan berbagai jenis kebaikan lainnya.

Beliau rahimahullah adalah pedang terhunus terhadap para penyelisih, duri di tenggorokan ahli hawa nafsu dari kalangan ahli bidah, dan imam yang tegak dalam menjelaskan kebenaran dan menolong agama.

Beliau adalah lautan yang tidak keruh oleh ember-ember, ulama yang diikuti oleh para pemimpin cerdas, namanya tersebar di berbagai negeri, masa-masa sulit menemukan orang sepertinya. Beliau sibuk dengan ilmu-ilmu pengetahuan dan cerdas, banyak hafalan, imam dalam tafsir dan yang berkaitan dengannya, menguasai fikih, perbedaan pendapat ulama, ushul, nahwu, bahasa, dan ilmu-ilmu lain baik naqli maupun aqli.

Tidak ada seorang ahli pun berbicara dengannya dalam satu bidang ilmu melainkan ia mengira bahwa bidang ilmu itulah bidangnya dan melihatnya menguasai dan mendalaminya.

Adapun hadits, beliau adalah hafizh, membedakan antara yang shahih dan yang lemah, mengenal para perawinya, mendalami hal itu, dan memiliki banyak karya tulis dan catatan bermanfaat dalam cabang-cabang ilmu dan ushul.

Sungguh telah memujinya dan keutamaannya sejumlah ulama di masanya. Ibnu Abdul Hadi ini telah membuat biografi tentangnya dengan menyebutnya sebagai Syaikhul Islam dengan pembahasan yang lebih panjang, menyebutkan keutamaan-keutamaannya dalam biografinya, hal-hal penting, menghitung banyak dari karya-karyanya, menegaskan karya-karya berharga dari hasil tulisannya, dan menyebutkannya dalam kitabnya Thabaqat Al-Huffazh dengan biografi ringkas dan sifat-sifat lengkap yang diteliti dari sifat-sifat para imam rahimahullah taala.

Ia berkata: Allah taala menganugerahi kepada Asy-Syaikh kecepatan menulis dan menulis dari hafalannya tanpa menyalin. Ia berkata: Lebih dari satu orang memberitahuku bahwa beliau menulis jilid kecil dalam sehari, dan lebih dari sekali menulis empat puluh lembar dalam satu duduk. Aku menghitung apa yang beliau tulis dalam sehari dan dibuat bersih, ternyata delapan karras dalam satu masalah dari masalah-masalah yang paling rumit. Beliau menulis jawaban atas satu pertanyaan menjadi satu jilid, dan adapun jawaban yang ditulisnya berisi lima puluh atau enam puluh lembar itu sangat banyak.

۞۞۞۞۞

12 – Di antara mereka adalah Ibnu Fadhlullah Al-Umari

Beliau adalah qadhi yang utama, ahli, mulia, ulama asli, Abul Abbas Ahmad bin Al-Qadhi Al-Imam Yamin Mamlakatul Islam Yahya bin Fadhlullah Al-Adawi Al-Umari Asy-Syafii.

Beliau lahir pada tahun enam ratus sembilan puluh tujuh dan wafat pada tahun tujuh ratus empat puluh sembilan.

Adz-Dzahabi menyebutnya dalam kamusnya yang khusus tentang para ahli hadits dan berkata: “Pemilik sya’ir dan prosa dan berita-berita penting.”

Ibnu Fadhlullah ini berkata dalam kitab sejarahnya yang bernama Masalik Al-Abshar fi Mamalik Al-Amshar dalam biografi Ibnu Taimiyah yang panjang mencapai satu karras atau lebih: “Di antara mereka adalah Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam, ulama besar, hafizh, mujtahid, mufassir, Syaikhul Islam, keajaiban masa, pemimpin para zahid.

Dia adalah lautan dari sisi mana pun engkau datang kepadanya, dan bulan purnama dari mana pun engkau melihatnya. Dia menyusu pada buah dada ilmu sejak disapih, dan wajah subuh terbit untuk menandinginya lalu ditampar. Dia memotong malam dan siang sebagai dua selimut dan mengambil ilmu dan amal sebagai dua sahabat, hingga ia membuat generasi salaf terlupakan dengan petunjuknya dan menjauhkan generasi khalaf dari mencapai batas kemuliaannya, padahal dia dari keluarga yang telah lahir dari mereka para ulama di masa lampau dan lahir dari mereka orang-orang besar di atas tokoh-tokoh terkenal. Maka ia menghidupkan jejak keluarganya yang lama ketika telah hilang, dan memetik dari cabangnya yang segar apa yang ia tanam, dan menjadi ayat tersendiri dalam keutamaannya, namun ia adalah ayat penjagaan. Kesulitan menimpanya lalu ia menyingkirkannya, lautan-lautan menghadangnya lalu ia mengalahkannya. Kemudian ia menjadi satu umat sendiri dan individu hingga turun ke liang lahatnya. Ia membuat setiap orang besar di antara para sejawat menjadi tidak terkenal dan memadamkan setiap pelaku bidah baru dan lama. Ia datang di masa yang penuh dengan para ulama, dipenuhi dengan bintang-bintang langit, berombak di sisi-sisinya lautan luas, beterbangan di antara kedua sayapnya burung elang kuat, bersinar di majelisnya bulan-bulan gelap, dan berkilat di panji-panjinya dada-dada tombak. Namun matahari beliau melenyapkan bintang-bintang itu, lautannya menumpuk atas awan-awan itu, dan danau tenangnya menelan sungai-sungai kecilnya, serta gunung besar yang kokohnya mencabut batu-batu besarnya. Kemudian pasukan dikumpulkan untuknya lalu ia menghancurkan barisan mereka dan memukul hidung mereka. Angin beliau memadamkan nafas mereka dan pelita beliau membuat percikan api mereka menjadi sedih… Ia mendahului unta-unta dengan menjadi imam di antara mereka… Kalau bukan karena beliau, mereka tidak akan mengikuti di belakangnya…

Maka ia mengumpulkan berbagai mazhab yang bercerai-berai dan berbagai tujuan, memindahkan dari para imam ijma dan selain mereka mazhab-mazhab mereka yang berbeda dan menghafalnya, mewakili gambaran mereka yang telah pergi dan menghadirkannya. Seandainya Abu Hanifah merasakan zamannya dan menguasai urusannya, tentu ia akan mendekatkan masanya kepadanya dengan mendekat, atau Malik akan mengirim di belakangnya Asyhabnya dan Kaukabnya, atau Asy-Syafii akan berkata: ‘Andai ini adalah anak dari ibu, dan andai aku menjadi ayah baginya,’ atau Asy-Syaibani bin Hanbal tidak akan mencela janggutnya ketika menjadi beruban karena kagum yang berlebihan. Bahkan Dawud Azh-Zhahiri dan Sinan Al-Bathini akan mengira bahwa pendalaman beliau dari yang menganut mazhabnya, atau Ibnu Hazm dan Asy-Syahrastani akan mengumpulkan setiap dari mereka penyebutan beliau dalam mazhab-mazhabnya, atau Al-Hakim An-Naisaburi dan Al-Hafizh As-Salafi akan menambahkannya yang satu ke Mustadraknya dan yang satunya ke rombongannya.

Fatwa-fatwa dikembalikan kepadanya dan ia tidak mengembalikannya, datang kepadanya lalu ia menjawabnya dengan jawaban-jawaban seolah-olah ia sedang duduk menyiapkannya… Selalu di ujung lidahnya jawabannya… Seolah-olah itu adalah curahan seketika.

Beliau adalah salah satu orang yang paling cerdas, banyak hafalan, jarang lupa. Hampir tidak ada yang ia hafal lalu melupakannya.

Beliau adalah imam dalam tafsir dan ilmu-ilmu Al-Quran, menguasai fikih, perbedaan pendapat para fuqaha, ushuliyyin, nahwu dan yang berkaitan dengannya, bahasa, mantiq, ilmu falak, aljabar dan muqabalah, ilmu hisab, ilmu ahli kitab, ilmu ahli bidah, dan ilmu-ilmu lain baik naqli maupun aqli.

Tidak ada seorang ahli pun berbicara dengannya dalam satu bidang ilmu melainkan ia mengira bahwa bidang ilmu itulah bidangnya.

Beliau adalah hafizh hadits, membedakan antara yang shahih dan yang lemah, mengenal para perawinya, mendalami hal itu, dan memiliki banyak karya tulis, catatan bermanfaat, dan fatwa-fatwa lengkap dalam cabang-cabang ilmu, ushul, hadits, dan bantahan terhadap bidah dengan Al-Kitab dan As-Sunnah.

۞۞۞۞۞

13 – Di antara mereka adalah Bahauddin As-Subki

Beliau adalah syekh, imam, ulama besar, qadhi para qadhi, pemimpin para ahli debat, salah satu yang mendalami ilmu, Bahauddin Muhammad bin Abdul Barr bin Yahya bin Ali bin Tamam Al-Anshari Al-Khazraji As-Subki Asy-Syafii.

Beliau lahir pada tahun tujuh ratus tujuh dan wafat di Damaskus pada tahun tujuh ratus tujuh puluh tujuh.

Adz-Dzahabi menyebutnya dalam kamusnya lalu berkata: “Imam yang mendalami ilmu, pendebat, memahami ilmu, menguasai bahasa Arab dan lainnya.” Ia berkata: “Beliau menjadi wakil dalam pengadilan—yakni dari Imam Taqiyuddin As-Subki—kemudian menjabat sebagai qadhi secara mandiri pada tahun tujuh ratus lima puluh delapan, kemudian menjabat sebagai qadhi negeri-negeri Mesir pada tahun tujuh ratus enam puluh enam, kemudian diberhentikan pada tahun tujuh ratus tujuh puluh dua, kemudian menjabat sebagai qadhi Damaskus untuk kedua kalinya.”

Al-Allamah penulis kitab Ar-Radd Al-Wafir berkata: “Sebagian syekh yang saya temui menceritakan bahwa ia pernah hadir suatu ketika bersama Qadhil Qudhat Bahauddin As-Subki dalam pengajian yang beliau sampaikan di Madrasah Ar-Rawahiyah di Damaskus. Lalu datang sekelompok dari kaum Qalandariyah meminta-minta kepadanya, maka beliau memerintahkan untuk memberi mereka sesuatu. Kemudian datang kelompok lain dari kaum Haidariyah sementara beliau sedang berwudhu di kolam madrasah tersebut, lalu beliau memerintahkan untuk memberi mereka sesuatu. Kemudian beliau datang dan shalat dua rakaat, lalu berkata: ‘Semoga Allah merahmati Ibnu Taimiyah, beliau membenci kelompok-kelompok ini karena bidah mereka.’ Ia berkata: ‘Ketika beliau mengatakan itu, saya menyebutkan kepadanya pembicaraan orang-orang tentang Ibnu Taimiyah, maka beliau berkata kepadaku: Demi Allah wahai fulan, tidak ada yang membenci Ibnu Taimiyah kecuali orang jahil atau orang yang mengikuti hawa nafsunya. Orang jahil tidak tahu apa yang ia katakan, dan orang yang mengikuti hawa nafsunya, hawa nafsunya menghalanginya dari kebenaran setelah ia mengetahuinya.’ Ia berkata: ‘Hal itu mengagumkan bagiku darinya, maka aku mencium tangannya dan berkata: Jazakallahu khairan.'”

Ia berkata: “Bagaimana ini jika ia mendengar apa yang shahih riwayatnya dari Syaikhul Islam Taqiyuddin As-Subki berupa pujian beliau terhadap Ibnu Taimiyah, tentu ia akan terbang gembira karena senang dan akan membacakan syair dengan bait terkenal itu… Dan seorang cantik dipuji oleh saingan-saingannya… Dan keutamaan adalah apa yang disaksikan oleh musuh-musuh…”

Al-Hafizh Adz-Dzahabi menulis surat kepada Asy-Syaikh Taqiyuddin As-Subki sebagaimana terkenal untuk menegurnya tentang apa yang terjadi, lalu beliau menulis balasan untuk meminta maaf atas kejadian-kejadian itu. Sebagian darinya sebagaimana yang disebut oleh Asy-Syaikh Zainuddin bin Rajab dalam kitabnya Ath-Thabaqat, maka ia berkata: “Di antara apa yang ditemukan dalam surat yang ditulis oleh Al-Allamah Qadhil Qudhat Abul Hasan As-Subki kepada Al-Hafizh Adz-Dzahabi dalam urusan Asy-Syaikh Taqiyuddin—yakni Ibnu Taimiyah—: ‘Adapun perkataan tuan saya tentang Asy-Syaikh, maka hamba benar-benar menyadari besarnya kedudukan beliau, luasnya lautan ilmunya, keluasannya dalam ilmu-ilmu syariat dan akal, kecerdasannya yang luar biasa dan kesungguhannya, serta pencapaiannya dalam setiap itu tingkat yang tidak dapat dilampaui oleh deskripsi. Hamba mengatakan itu terus-menerus, dan kedudukannya dalam diriku lebih besar dan lebih agung dari itu, bersama dengan apa yang Allah kumpulkan untuknya berupa zuhud, warak, ketaatan, pertolongan kebenaran, berdiri tegak karenanya tidak untuk tujuan selain itu, dan mengikuti jalan salaf, serta mengambil dari itu jalan yang paling sempurna, dan keunikan orang sepertinya di zaman ini, bahkan dari zaman-zaman sebelumnya.'” Selesai.

۞۞۞۞۞

14 – Di antara mereka Abu al-Ma’ali Muhammad bin Thughril al-Khawarizmi

Syekh yang berilmu, utama, ahli hadits Abu al-Ma’ali Muhammad bin Thughril al-Khawarizmi mengambil ilmu dari banyak perawi atsar, meninggal tahun tujuh ratus tiga puluh tujah.

Ia menulis dengan tangannya dalam catatan majelis sima’ suatu thabaqah, ia berkata: Dan tuan kami Syekh, Imam, ulama besar, pemimpin agung, sempurna, teladan, hafizh, zahid, ahli ibadah, wara’, Syaikhul Islam, mufti berbagai golongan, hujjah madzhab-madzhab, panutan kelompok-kelompok, lisan syariat, mujtahid masa, satu-satunya zaman, imam para imam, Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad – dan ia menyebutkan sisa nasabnya – dan guru kami Imam, ulama, zahid, wara’, muhaddits, sandaran, hujjah, hafizh besar, muhaddits zaman, Jamaluddin Abul Hajjaj Yusuf bin az-Zaki al-Mizzi – dan ia menyebutkan sisa para guru, pembaca, dan sebagian pendengar.

۞۞۞۞۞

15 – Di antara mereka Syamsuddin Muhammad bin Syekh

Ulama yang utama, muhaddits yang ahli, sejarawan, permata para sejarawan Syamsuddin Muhammad bin Syekh Musnad besar Yahya bin Syekh faqih yang utama, sastrawan yang ahli, Muhammad bin Sa’id bin Muflih al-Maqdisi ad-Dimasyqi ash-Shalihi. Adz-Dzahabi menyebutnya dalam mu’jamnya. Ia menulis dengan tangannya dalam thabaqah sima’ untuk juz’ al-Hasan bin ‘Arfah: Syekh, Imam, ulama besar, yang tunggal, ahli, hujjah, hafizh, zahid, ahli ibadah, wara’, syekh para syekh Islam, sisa para imam terkemuka, imam para imam, teladan umat, ulama zaman, unik masanya dan zamannya, lautan ilmu, Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad – dan ia menyebutkan sisa nasabnya dan sisa para guru. Kemudian ia berkata: dengan bacaan Syekh, Imam, ulama besar, hafizh, kritikus, ahli, sejarawan Islam, ‘Alamuddin al-Birzali.

۞۞۞۞۞

16 – Di antara mereka Abu Muhammad al-Hasan bin Syekh Imam Hafizh Umar bin al-Hasan bin ‘Amr bin Habib ad-Dimasyqi al-Halabi

Syekh yang berilmu, utama, muhaddits, sejarawan, pengajar yang bermanfaat, sastrawan Abu Muhammad al-Hasan bin Syekh Imam Hafizh Umar bin al-Hasan bin ‘Amr bin Habib ad-Dimasyqi al-Halabi.

Ia mendengar hadits, mengumpulkan dengan lengkap, mendengar dan meriwayatkan. Ia memiliki beberapa karya di antaranya Durrat al-Aslak fi Daulat al-Atrak. Ia berkata di dalamnya dalam biografi tahun tujuh ratus dua puluh delapan: Pada tahun ini meninggal Syaikhul Islam Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Taimiyah, lautan yang penuh dalam naqli, penulis yang mahir dalam hafalan akidah-akidah akliyah, imam dalam pengetahuan Kitab dan Sunnah, pemimpin yang tidak condong kepada kelezatan dari pemberian, ia memiliki kehati-hatian yang berlebih, kezuhidan yang cabangnya di taman keridlaan telah terbentang, kedermawanan dan keberanian, kesendiririan dan kepuasan, karya-karya yang terkenal dan fatwa-fatwa yang bendera-benderanya tersebar, berseru dengan kebenaran, berbicara dalam yang besar dan kecil, menyuruh yang makruf, melarang yang munkar, tekun menegakkan hudud, baik disyukuri maupun tidak disyukuri.

۞۞۞۞۞

17 – Al-Fatawa Al-Qasimiyah

Demikian pula ulama besar pemilik al-Fatawa al-Qasimiyah dalam madzhab para pemimpin Hanafiyah, memberi gelar kepada Ibnu Taimiyah dengan Syaikhul Islam ketika menyebutnya di beberapa tempat dari fatwa-fatwanya.

Secara ringkas, penyebutan para ulama terkemuka yang memberi gelar Ibnu Taimiyah sebagai Syaikhul Islam dan memujinya sangatlah panjang, dan mereka sangat banyak. Penulis ar-Radd al-Wafir menyebutkan sekitar delapan puluh orang, membuat biografi mereka kemudian menyebutkan pujian mereka terhadap Ibnu Taimiyah.

Syekh, Imam, qadhi qudhah Mesir dan Syam, Mufti kaum muslimin Muhammad bin Syekh Shafiyuddin al-Anshari al-Hanafi Ibnu al-Hariri telah berkata: Jika Ibnu Taimiyah bukan Syaikhul Islam, lalu siapa?

Syekh, Imam, ulama besar, muhaddits Abu Hafs Umar bin Muslim al-Qurasyi, qadhi penduduk Damaskus di zamannya dan wa’izh penduduk Mesir ditanya tentang Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, maka ia berkata: Ia adalah Syaikhul Islam secara mutlak.

Para ulama Baghdad telah memuji Syekh Ibnu Taimiyah dan mengirimkan surat-surat tentang urusannya ketika ia dipenjara di benteng, tertulis di dalamnya: Sungguh syekh yang diagungkan, mulia ini, imam yang dimuliakan, mulia, satu-satunya zaman, unik masanya, hiasan kerajaan, ilmu negara kesultanan, seandainya seseorang bersumpah dengan nama Allah Yang Maha Agung, Maha Berkuasa bahwa imam besar ini tidak ada yang menyamai dan menandinginya di zamannya, sungguh sumpahnya benar tidak perlu kafarat. Tujuh iklim telah kosong dari adanya orang sepertinya kecuali iklim ini. Setiap orang yang adil yang diciptakan dengan tabiat yang selamat menyetujui hal itu. Kami tidak memujinya secara berlebihan, bahkan seandainya orang yang panjang lebar berbicara memperpanjang pujinya dan sanjungannya, ia tidak akan dapat mencakup sebagian keutamaan yang ada padanya. Ahmad bin Taimiyah adalah mutiara yang unik yang orang-orang bersaing untuk mendapatkannya, dibeli namun tidak dijual. Tidak ada di dalam perbendaharaan raja-raja mutiara yang menyamai dan menyerupainya. Harapan untuk menemukan yang sepertinya telah terputus. Sungguh telah memekakkan pendengaran dan melemahkan kekuatan orang-orang yang diikuti dan pengikut, mendengar pengangkatan Abul Abbas Ahmad bin Taimiyah ke benteng. Tidak terjadi darinya hal yang dapat dicela kecuali jika itu adalah perkara yang telah disamarkan kepadanya dan dinisbatkan kepada apa yang tidak dinisbatkan orang sepertinya kepadanya.

Memperpanjang kepada yang mulia tidak pantas. Jika ada quthub di dunia maka ialah quthub dengan sesungguhnya. Mereka mengirimkannya dalam surat-surat dan fatwa-fatwa mereka yang sesuai dengan perkataannya yang membela dirinya. Aku telah menyebutkan semua itu dalam kitab Manaqib Ibnu Taimiyah.

Sungguh Ibnu Fadhlillah al-‘Umari telah berlaku adil ketika ia berkata dalam biografi Ibnu Taimiyah: Sungguh telah berkumpul melawannya kelompok fuqaha dan para qadhi di Mesir dan Syam, mereka mengerahkan kuda dan orang-orang mereka melawannya, namun ia memotong semuanya dan mengikat mereka dengan hujjah-hujjah yang jelas dengan ikatan yang sesungguhnya. Ketika mereka bangkrut, mereka mengambilnya dengan jabatan dan penguasa. Ia telah pergi dan mereka juga pergi kepada Raja Yang Mengetahui. “Agar Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepan orang-orang yang berbuat baik dengan yang lebih baik.” (An-Najm: 31)

Pasal tentang wafatnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Syekh, Imam, ulama besar, hafizh, kepercayaan para muhaddits, sandaran para sejarawan, ilmu para mufassir, Ibnu Katsir ad-Dimasyqi asy-Syafi’i berkata dalam sejarahnya: Kemudian masuklah tahun tujuh ratus dua puluh delapan, pada bulan Dzulqa’dah darinya terjadi wafatnya Syaikhul Islam Abul Abbas Ahmad bin Taimiyah, semoga Allah mensucikan rohnya. Ia berkata: Wafatnya terjadi pada waktu sahur malam Senin, muadzin benteng menyebutkan itu dari menara di sana dan para penjaga berbicara tentangnya di atas menara-menara. Ketika pagi hari, orang-orang telah mendengar kabar besar ini. Orang-orang segera berkumpul di sekitar benteng dari semua tempat yang memungkinkan mereka datang darinya, bahkan dari Ghouthah dan Marj. Penduduk pasar tidak memasak sesuatu pun dan tidak membuka banyak toko yang biasanya dibuka di awal hari seperti kebiasaan. Wakil Sultan telah pergi berburu ke suatu tempat.

Kemudian Ibnu Katsir menyebutkan tentang cara memandikannya, membawanya, shalat atasnya, dan orang-orang dalam tangisan dan tahlil, takut masing-masing dalam dirinya sendiri, dalam pujian dan penyesalan, para wanita di atas atap-atap dari sana sampai ke pemakaman menangis dan mendoakan rahmat. Ia berkata: Secara ringkas, hari itu adalah hari yang disaksikan yang tidak pernah ada sepertinya di Damaskus dan tidak mungkin seseorang menghitung yang hadir di jenazah.

Ia berkata: Ia diratapi dengan banyak syair dan qasidah yang sangat panjang. Banyak biografi dibuat untuknya dan sejumlah orang yang utama menyusun tentang itu.

Ia berkata: Secara ringkas, ia semoga Allah merahmatinya termasuk ulama besar yang salah dan benar, tetapi kesalahannya dibanding kebenarannya seperti titik di lautan yang luas. Kesalahannya juga diampuni untuknya sebagaimana shahih dalam Bukhari: “Apabila seorang hakim berijtihad lalu benar maka ia mendapat dua pahala, dan apabila ia berijtihad lalu salah maka ia mendapat satu pahala.” Maka ia berpahala. Imam Malik bin Anas berkata: Setiap orang diambil dari perkataannya dan ditinggalkan kecuali pemilik kubur ini shallallahu ‘alaihi wasallam. Selesai perkataan Ibnu Katsir secara ringkas.

Hafizh al-Birzali berkata dalam sejarahnya: Pada malam Senin tanggal dua puluh Dzulqa’dah tahun tujuh ratus dua puluh delapan meninggal Syekh, Imam, ulama besar, faqih, hafizh, zahid, teladan, Syaikhul Islam Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad bin guru kami Imam Mufti Syihabuddin Abul Mahasin Abdul Halim bin Syekh, Imam, Syaikhul Islam Majduddin Abul Barakat Abdus Salam bin Taimiyah di benteng Damaskus di ruangan tempat ia dipenjara. Orang-orang berkumpul di benteng dan jalan menuju masjid Damaskus, masjid penuh beserta halaman, Kallasah, Babu al-Barid, dan Babu as-Sa’at. Jenazah hadir pada jam keempat dan diletakkan di masjid, para tentara menjaganya dari kepadatan yang sangat. Shalat atasnya pertama kali di benteng kemudian shalat atasnya di masjid Damaskus setelah Zhuhur, dibawa dari Babu al-Barid – dan ia menyebutkan sisa dari itu.

Dan cara pemakamannya, ia berkata: Pemakamannya pada waktu Ashar karena banyaknya orang yang datang dan shalat atasnya dari penduduk kebun, penduduk Ghouthah dan penduduk kampung-kampung. Orang-orang menutup toko-toko mereka dan tidak ada yang tidak hadir kecuali yang tidak mampu, disertai dengan rahmat dan doa untuknya. Hadir wanita yang banyak sehingga diperkirakan lima belas ribu wanita selain yang ada di atap-atap. Adapun pria diperkirakan seratus ribu sampai lebih dari itu sampai dua ratus ribu.

Kemudian ia berkata: Tidak diragukan bahwa jenazah Ahmad bin Hanbal dahsyat dan agung karena banyaknya penduduk negerinya dan berkumpulnya mereka untuk itu, mengagungkannya dan negara mencintainya. Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah meninggal di kota Damaskus dan penduduknya tidak sampai sepersepuluh penduduk Baghdad banyaknya, tetapi mereka berkumpul untuk jenazahnya dengan perkumpulan seandainya sultan yang memaksa dan dewan yang mengepung mengumpulkan mereka tidak akan mencapai banyaknya ini, padahal ia meninggal di benteng dalam tahanan dari pihak sultan.

Banyak fuqaha dan fukara menyebutkan tentangnya kepada orang-orang banyak hal yang membuat tabiat ahli agama-agama menjauh, apalagi ahli Islam. Inilah jenazahnya semoga Allah merahmatinya. Selesai secara ringkas.

Sebagian yang hadir dari orang-orang terpercaya berkata: Aku termasuk yang shalat atasnya di masjid dan aku memiliki tempat tinggi yang mengawasi tempat yang dishalati atasnya di luar Damaskus. Aku melihat ke kanan dan kiri dan tidak tahu ujung mereka, bahkan aku melihat orang-orang telah memenuhi seluruh tanah itu. Sejumlah orang yang hadir dan menyaksikan manusia dan yang shalat atasnya sepakat bahwa mereka lebih dari sekitar lima ratus ribu. Hadir di sana wanita yang banyak sehingga diperkirakan lima belas ribu.

Ahli sejarah berkata: Tidak pernah terdengar dalam jenazah seperti perkumpulan ini kecuali jenazah Imam Ahmad bin Hanbal.

Ad-Daraquthni berkata: Aku mendengar Abu Sahl bin Ziyad al-Qattan berkata: Aku mendengar Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Katakan kepada ahli bid’ah, antara kami dan kalian adalah jenazah-jenazah.

Abu Abdurrahman as-Sulami berkata: Penghitung-penghitung yang shalat di jenazah Ahmad memperkirakannya mencapai bilangan menurut perkiraan mereka satu juta tujuh ratus ribu selain yang ada di kapal-kapal.

Ibnu Fadhlillah al-‘Umari berkata dalam biografinya untuk Ibnu Taimiyah: Sebelum kematiannya telah dicegah tinta dan pena, tercetak di hatinya darinya cap kesedihan. Itu adalah awal sakitnya dan asal gejala sakitnya sampai ia turun ke tanah lapang pemakaman, meninggalkan tulang belakang mimbar-mimbar, menempati halaman Rabbnya dan tidak khawatir. Ia mengambil istirahat hatinya dari yang mencela dan yang memberi alasan. Maka ia meninggal namun tidak mati, bahkan hidup, kadarnya diketahui karena orang sepertinya tidak pernah terlihat. Ia tidak berhenti atas warisan-warisan sampai ajalnya merebahkannya dan pembawa kabar gembira surga datang kepadanya menyegerakannya. Maka ia berpindah kepada Allah dengan prasangka bahwa Dia tidak akan membuatnya malu.

Hari pemakamannya adalah hari yang disaksikan dan waktu yang terhitung. Negeri dan sekitarnya menjadi sempit karenanya, dan orang-orang teringat akan musibah-musibah awal dan akhir. Tidak ada jenazah yang lebih besar dari jenazahnya sejak ratusan tahun yang diangkat di atas pundak, dan di tengah kerumunannya orang-orang saling berpijakan. Jenazahnya berjalan terangkat di atas kepala, diikuti oleh jiwa-jiwa. Air mata mengiringinya dan tangisan mengikutinya. Ia adalah umat sendirian dan seorang diri hingga turun ke liang lahadnya.

Seseorang meratapi beliau dengan qasidah panjang, di antaranya:

Ia melampaui para pendahulu dengan ungkapan yang mendalam Tidak ada kebosanan dan kejenuhan padanya

Tidak ada yang sepertinya setelah para sahabat Dalam ilmu yang agung dan kezuhudan yang tidak ada tandingannya

Ia menempuh jalan yang sebelumnya dilalui Oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq atau Umar

Menyatukan mazhab-mazhab dalam empat pendapat Mereka datang mengikuti jejak para pendahulu dan berinisiatif

Ketika mereka membangun mazhab-mazhab mereka sebelumnya Ia juga membangun dan memakmurkan seperti yang mereka makmurkan

Seperti para imam, ia menghidupkan kembali zaman mereka Seolah-olah ia berada di antara mereka dan ditunggu-tunggu

Jika mereka semua diangkat dengan rafa’ mubtada’ Maka haknya juga rafa’ karena ia khabar (predikat)

Mereka berkata: “Kami telah menguburkannya.” Aku berkata: “Sungguh ini mengherankan.” Benarkah bintang yang bercahaya telah mereka kubur?

Tidaklah menangisinya dengan penyesalan orang yang tidak mengalir darahnya Yang mengalir deras seperti hujan yang turun dan melimpah

Celakalah aku atas kepergianmu, wahai Abu Al-Abbas, betapa banyak kemuliaan Ketika engkau meninggal, bersamamu mati pula sebagian dari umur

Semoga tanah kuburmu disiram oleh hujan yang mengalir Dan hujan lebat mengunjungi tempat peristirahatanmu

Wahai pewaris ilmu para nabi Engkau mewariskan kepada hatiku api yang dinyalakan oleh pikiran

Wahai yang tunggal, aku tidak mengecualikan seorang pun Dari manusia, dan aku tidak menyisakan dan tidak meninggalkan

Wahai yang mengetahui semua perkataan dalam fikih Apakah engkau menjaga kesalahan-kesalahan seperti yang mereka sebutkan?

Berapa banyak pemuda bodoh yang tertipu, engkau tunjukkan kepadanya Kebenaran perkataan, maka hilanglah kebodohan dan penipuan

Mereka tidak mengingkari darimu kecuali karena mereka tidak mengetahui Keagungan kedudukanmu, tetapi takdir membantu

Mereka berkata bahwa engkau telah berbuat salah satu kali Dan mungkin saja terjadi, mengapa tidak dimaafkan darimu?

Dan siapa yang sesungguhnya adalah seorang mujtahid Baginya pahala dalam kedua keadaan, bukan dosa

Bukankah engkau dengan hadits-hadits Nabi ketika Ditanya, engkau mengetahui apa yang harus dilakukan dan apa yang harus ditinggalkan

Jauh dari keraguan dan syubhat di dalamnya Keduanya darimu tidak meninggalkan bekas

Kewajibanmu dalam penelitian adalah menjelaskan hal-hal yang tersembunyi Dan bukan kewajibanmu jika sapi-sapi tidak memahami

Engkau telah menyiapkan untuk Allah apa yang engkau siapkan dari amal Dan bukan urusanmu jika mereka mencelamu atau berterima kasih

Apakah ada orang sepertimu yang tersembunyi darinya petunjuk Padahal dari langitmu tampak bintang-bintang yang bersinar?

Dan bagaimana engkau bisa berhati-hati dari sesuatu yang membuatmu terpeleset Engkau adalah orang yang bertakwa, lalu apa ketakutan dan kehati-hatian itu?

Para ulama yang mulia telah menyebutkan banyak ratapan untuk Syaikh Ibnu Taimiyah yang telah saya sebutkan sebagian di dalam kitab saya Al-Kawakib Ad-Durriyah fi Manaqib Al-Mujtahid Ibnu Taimiyah.

Al-Imam Al-Hafizh Abu Hafs Umar Al-Baghdadi Al-Bazzar berkata dalam biografi Ibnu Taimiyah: “Tidaklah berita kematiannya sampai ke suatu negeri yang kami ketahui kecuali dilaksanakan shalat ghaib untuknya di semua masjid jami’ dan tempat-tempat berkumpul, khususnya di tanah Mesir, Syam, Irak, Tabriz, Basrah dan desa-desanya serta tempat-tempat lainnya.”

Ia memperpanjang dalam menghitung keutamaan-keutamaan sang syaikh dan mengumpulkan biografi tersendiri untuknya yang ia beri nama Al-A’lam Al-‘Aliyah fi Manaqib Al-Imam Ibnu Taimiyah.

Telah disebutkan sebelumnya perkataan Al-Hafizh Ibnu Rajab bahwa shalat ghaib untuk Ibnu Taimiyah dilaksanakan di sebagian besar negeri-negeri Islam yang dekat maupun yang jauh, bahkan hingga ke Yaman dan Tiongkok. Para musafir mengabarkan bahwa di ujung negeri Tiongkok diumumkan pada hari Jumat untuk melaksanakan shalat ghaib atas Turjuman Al-Quran (Penerjemah Al-Quran), semoga Allah Ta’ala merahmatinya.

Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan ridha-Mu kepadanya, tempatkan ia di surga Firdaus-Mu yang tertinggi, dan manfaatkanlah kami dengan berkah-berkahnya yang melimpah, ilmu-ilmunya yang luas, napas-napasnya yang suci, rahasia-rahasianya yang gemilang, dan kebajikan-kebajikannya yang cemerlang. Kumpulkanlah untuk kami antara kebaikan dunia dan akhirat. Amin, amin.

Penutup yang Indah

Sejumlah imam-imam terkemuka dan ulama-ulama yang mulia telah menulis takrif (pengesahan) atas kitab Ar-Radd Al-Wafir karya Al-Imam Al-‘Alim Al-Auhad Al-Qudwah Al-Hafizh Abu Abdullah Muhammad bin Nashir Ad-Din Asy-Syafi’i, pelayan sunnah, yang ia tulis sebagai bantahan terhadap orang yang mencela Ibnu Taimiyah. Dan sungguh orang pencela yang meremehkan dosanya dan berani melawan Tuhannya ini telah berlebihan, ia menisbatkan kekufuran kepada sang syaikh, bahkan juga menisbatkan kekufuran kepada orang yang memberinya gelar Syaikhul Islam.

Lihatlah apa yang terjadi dari orang-orang bodoh, rakyat jelata yang hina, dan orang awam yang berisik, serta orang yang menganggap dirinya manusia padahal ia seperti binatang ternak. Dan itu tidak lain seperti perkataan Al-A’sya:

Seperti orang yang menanduk batu pada suatu hari untuk melemahkannya Namun tidak membahayakannya, justru tanduknya sendiri yang lemah

Aku memilih dari kitab ini biografi-biografi berikut dengan beberapa tambahan yang bermanfaat:

۞۞۞۞۞

18 – Bentuk Takrif Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani

Segala puji bagi Allah dan salam atas hamba-hamba-Nya yang terpilih.

Aku telah menelaah karya yang bermanfaat ini dan kumpulan yang merupakan penyatu bagi tujuan-tujuan yang ia dikumpulkan untuknya, sehingga aku meyakini luasnya pengetahuan sang imam yang menyusunnya dan penguasaannya terhadap ilmu-ilmu yang bermanfaat dengan apa yang diagungkan dan dimuliakan oleh para ulama. Keimaman Syaikh Taqi Ad-Din Ibnu Taimiyah lebih terkenal dari matahari, dan gelarnya sebagai Syaikhul Islam di masanya tetap ada hingga sekarang di lisan-lisan orang yang baik dan akan terus berlanjut besok seperti kemarin. Tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang tidak mengetahui kedudukannya dan menjauhi keadilan. Betapa besar kesalahan orang yang melakukan hal itu dan betapa banyak kekeliruan yang ia lakukan.

Seandainya tidak ada bukti atas keimaman orang ini kecuali apa yang ditunjukkan oleh Al-Hafizh yang terkenal ‘Alam Ad-Din Al-Birzali dalam sejarahnya bahwa tidak pernah ada dalam Islam jenazah yang dikumpulkan sebanyak yang dikumpulkan pada jenazah Syaikh Taqi Ad-Din. Ia mengisyaratkan bahwa jenazah Al-Imam Ahmad sangat besar, dihadiri ratusan ribu orang, tetapi seandainya di Damaskus ada makhluk seperti yang ada di Baghdad, bahkan berkali-kali lipat, tidak ada seorang pun dari mereka yang akan menunda untuk menghadiri jenazahnya.

Juga, semua orang yang ada di Baghdad kecuali yang sedikit meyakini keimaman Al-Imam Ahmad. Dan penguasa Baghdad serta khalifah pada waktu itu sangat mencintai dan mengagungkannya. Berbeda dengan Ibnu Taimiyah, penguasa negeri ketika ia wafat sedang tidak ada, dan kebanyakan fuqaha di negeri itu bersikap fanatik terhadapnya hingga ia meninggal dalam keadaan dipenjara di benteng. Meskipun demikian, tidak ada yang tidak hadir pada jenazahnya dan mendo’akan rahmat serta menyesalkan kepergiannya kecuali tiga orang yang tidak hadir karena takut pada diri mereka dari rakyat.

Dengan hadirnya perkumpulan besar ini, tidak ada pendorong untuk itu kecuali keyakinan akan keimamannya dan berkahnya, bukan karena dikumpulkan oleh penguasa atau lainnya. Telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Kalian adalah saksi-saksi Allah di bumi.”

Sungguh telah bangkit melawan Syaikh Taqi Ad-Din sekelompok ulama berkali-kali karena hal-hal yang mereka ingkari dari masalah ushul dan furu’, dan karena itu diadakan beberapa majelis untuknya di Kairo dan Damaskus. Tidak ada seorang pun dari mereka yang diketahui telah memfatwakan kekufurannya atau memutuskan untuk menumpahkan darahnya, meskipun keras yang bersikap fanatik terhadapnya pada waktu itu dari penguasa negara, hingga ia dipenjara di Kairo kemudian di Alexandria. Dari itu, mereka semua mengakui luasnya ilmunya, banyaknya wara’ dan zuhudnya, serta sifat-sifatnya seperti kedermawanan, keberanian, dan lain-lain dari keberdirian dalam menolong Islam dan berdakwah kepada Allah secara sembunyi maupun terang-terangan.

Adapun masalah-masalah yang diingkari darinya, ia tidak mengatakannya dengan kehendak semata. Ini semua karya-karyanya penuh dengan bantahan terhadap orang yang mengatakan tajsim (penyerupaan Allah dengan makhluk) dan berlepas diri darinya. Meskipun demikian, ia adalah manusia yang bisa salah dan benar. Yang benar darinya, dan itu adalah yang terbanyak, dapat diambil manfaatnya dan dimohonkan rahmat untuknya karena itu. Yang salah darinya tidak boleh ditaqlid, tetapi ia ma’dzur (termaafkan) karena para imam di masanya bersaksi untuknya bahwa alat-alat ijtihad telah terkumpul padanya, hingga orang yang paling fanatik terhadapnya dan paling berusaha menyakitinya, yaitu Syaikh Kamal Ad-Din Az-Zamalkani, bersaksi untuk itu. Demikian juga Syaikh Shadr Ad-Din Ibnul Wakil yang tidak ada yang bertahan dalam berdebat dengannya selain Ibnu Taimiyah.

Yang paling mengherankan adalah bahwa orang ini adalah orang yang paling besar dalam membela ahli bid’ah dari kalangan Rafidhah, Hululliyah, dan Ittihadiyah. Karya-karyanya banyak dan terkenal, dan fatwa-fatwanya dalam hal itu tidak dapat dihitung. Betapa senangnya hati mereka ketika mendengar tentang kekufurannya, dan betapa gembiranya mereka ketika melihat orang yang mengkafirkan orang yang tidak mengkafirkannya.

Maka wajib bagi orang yang menyandang ilmu dan memiliki akal untuk merenungkan perkataan orang ini dari karya-karyanya yang terkenal atau dari lisan orang yang terpercaya dari ahli nukilan, lalu menolak dari itu apa yang mungkar dan waspada darinya dengan tujuan nasihat. Seandainya Syaikh Taqi Ad-Din tidak memiliki kecuali muridnya Syaikh Syams Ad-Din Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, pemilik karya-karya bermanfaat yang tersebar yang telah memberi manfaat kepada orang yang setuju dan yang menolak, maka itu sudah cukup sebagai bukti atas keagungan kedudukannya.

Bagaimana lagi dengan para imam di masanya dari kalangan Syafi’iyah dan lainnya, belum lagi dari kalangan Hanabilah, telah bersaksi untuknya tentang keunggulan dalam ilmu-ilmu dan ketepatan dalam yang tersurat dan tersirat.

Maka orang yang menisbatkan kekufuran kepadanya dengan semua hal ini, atau kepada orang yang menyebutnya Syaikhul Islam, tidak boleh dihiraukan dan tidak boleh diandalkan dalam masalah ini. Bahkan ia harus ditolak dari itu hingga ia kembali kepada kebenaran dan tunduk kepada yang benar. Allah mengatakan kebenaran dan Dia yang memberi petunjuk jalan, dan cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik Wakil.

Yang mengatakan dan menulis ini adalah Ahmad bin Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Asy-Syafi’i pada hari Jumat tanggal 9 Rabiul Awwal tahun 835 H.

۞۞۞۞۞

19 – Syaikh Al-‘Aini rahimahullah Ta’ala

Ini adalah Bentuk Pengakuan Al-Imam Al-Humam Syaikhul Islam, Pemilik Tahrir Al-Kalam dan Imam Hanafiyah di Zamannya, Syaikh Al-‘Aini rahimahullah Ta’ala

Sesungguhnya bunga yang paling harum yang merekah darinya adalah lidah-lidah manusia, dan ucapan yang paling indah yang tercium darinya adalah harum pemahaman, adalah pujian bagi Dzat yang mengalirkan air penjelasan pada lidah untuk menghasilkan buah makna dan penjelasan, yang membuka kabut prasangka dengan matahari-matahari hakikat dan menjelaskan apa yang ada di dalam hati dengan bulan-bulan kebenaran, yang mengarahkan tombak-tombak khawatir dan pikiran dengan tangan cahaya-cahaya bashirah dan penglihatan kepada benteng ilmu dan berita, yang mencabut dari kami dengan angin kasih sayang-Nya debu prasangka dan keraguan, yang menurunkan untuk kami piagam kebenaran dalam perilaku, yang menyelamatkan kami dalam mengarungi leher-leher perkataan dari kesalahan dan celaan, yang menyelamatkan kami dari perkataan-perkataan yang tidak dikatakan di dalamnya kesalahan dan tempat-tempat yang mustahil di dalamnya alasan.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas pemilik wahyu dan risalah yang diciptakan dari tanah dan keberanian, yang Engkau berikan kebahagiaan di puncak Malakut, yang Engkau berikan kitab dan Engkau kaitkan dengan ketaatan dan kemaksiatan kepadanya pahala dan siksa, yaitu Muhammad Al-Mushthafa yang memiliki syafa’at di hari perhitungan.

Dan atas keluarganya yang mensucikan diri di taman-taman kenabian beliau, dan para sahabatnya yang bersenjatakan pedang pertolongan dalam dakwahnya, dan atas para ulama umat yang menunjukkan ketahanan terhadap goncangan zaman dan serangannya dengan mencabut lidah mereka dari melepaskan anak panah celaan kepada sasaran fanatisme, dan mencabut tombak perdebatan mereka terhadap kehormatan jiwa-jiwa yang mulia. Oleh karena itu, mereka menjadi bintang-bintang petunjuk dan bulan-bulan teladan. Maka sangat layak bagi mereka untuk disebut sebagai para masyayikh Islam dan para penolong syariat sebaik-baik manusia.

Adapun setelah itu, sesungguhnya pengarang kitab Ar-Rad Al-Wafir telah bersungguh-sungguh dalam karya gemilang yang cemerlang ini, dan telah menjelaskan dengan penjelasannya yang terang benderang, bantahan terhadap orang-orang yang mengeluarkan ucapan pengkafiran terhadap para ulama Islam, para imam yang kokoh, dan para ulama besar yang telah menempati tempat tinggal di taman-taman kenikmatan dan menghirup angin rahmat dari Tuhan Yang Maha Pemurah. Barangsiapa mencela salah seorang dari mereka atau menyampaikan sesuatu yang tidak benar tentang mereka, maka seakan-akan ia meniup pasir dan memetik duri dari pohon berduri. Bagaimana mungkin halal bagi orang yang menyandang Islam atau yang memiliki ciri keilmuan atau pemahaman dan pengajaran untuk mengkafirkan orang yang lebih dahulu darinya yang suci lagi baik, dan keyakinannya hampir tidak mengarah ke sana. Namun karena bara wataknya tidak menyala dalam puisi, ia senantiasa mendapati siksaan terasa pahit seperti orang sakit. Dan pencela karena kebodohannya terhadap sesuatu menampakkan halaman permusuhannya dan berkelana seperti kelindan orang kebingungan dalam perdebatannya. Ia tidak lain seperti kumbang yang mencium bunga mawar lalu mati, dan seperti kelelawar yang terganggu dengan munculnya cahaya karena buruknya penglihatannya dan kelemahannya. Ia tidak memiliki sifat kritis atau pertimbangan yang baik. Mereka tidak lain hanyalah orang-orang bodoh dan sesat.

Dan telah tersebar luas bahwa Syaikh Imam, ulama besar Taqiyuddin Ibnu Taimiyah termasuk dari para ulama mulia yang terkemuka dan dari sekumpulan orang-orang terbaik yang memiliki adab yang dapat memberi gizi rohani, dan dari pilihan kata-katanya terdapat minuman murni yang menggerakkan hati yang lapang. Dari buah-buah pemikiran orang-orang cerdas, tabiatnya yang tertutup dalam keahlian yang terbebas dari noda keburukan. Ia adalah pengungkap cadar makna-makna yang tersembunyi, dan pencabut kerudung dari pengantin perawan makna-makna dengan menyingkap jilbabnya. Ia adalah pembela agama dari celaan orang-orang zindik dan murtad, dan pengkritik riwayat-riwayat dari penghulu para rasul dan warisan dari para sahabat dan tabiin.

Barangsiapa mengatakan bahwa ia kafir, maka dialah yang kafir sejati. Dan barangsiapa menisbahkannya kepada kekafiran, maka dialah yang zindik. Bagaimana mungkin demikian, padahal karya-karyanya telah tersebar ke seluruh penjuru dan tidak ada di dalamnya sesuatu yang menunjukkan penyimpangan dan perpecahan. Penelitiannya dalam masalah yang dikeluarkannya mengenai masalah ziyadah dan talak tidak lain adalah ijtihad yang diperbolehkan dengan kesepakatan. Mujtahid dalam dua keadaan akan mendapat pahala dan tidak ada padanya sesuatu yang tercela. Namun yang mendorong mereka kepada itu adalah kedengkian mereka yang nyata dan tipu daya mereka yang terang. Cukuplah bagi orang yang dengki sebagai celaan akhir Surah Al-Falaq dalam kegelisahannya yang membakar.

Ketahuilah bahwa ia adalah imam yang utama, yang mulia, yang bertakwa, yang bersih, yang wara’, yang mahir dalam ilmu hadits, tafsir, fikih, dan ushul dengan pemaparan dan penulisan yang baik, dan pedang yang tajam terhadap para pembuat bid’ah, dan ulama yang menegakkan urusan agama, yang menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, yang memiliki semangat dan keberanian serta ketegasan dalam hal yang menakutkan dan mencegah, banyak berdzikir, berpuasa, shalat dan beribadah, kasar dalam kehidupan dan qana’ah tanpa menuntut tambahan.

Ia memiliki waktu-waktu yang baik dan indah dengan menahan diri dari harta dunia yang hina. Ia memiliki karya-karya yang terkenal dan diterima, serta fatwa-fatwa yang memutuskan tanpa cacat.

Qadhi Al-Qudhat Ibnu Az-Zamlakani rahimahullah telah menulis pada sebagian karyanya: Apa yang akan dikatakan para penggambar tentangnya? Sifat-sifatnya terlalu mulia untuk dihitung. Ia adalah hujjah Allah yang mengalahkan. Ia adalah keajaiban masa di antara kita.

Bukankah cukup kesaksian ulama besar ini untuk imam ini dimana mereka menyebutnya sebagai hujjah Allah dalam Islam dan pernyataan mereka bahwa sifat-sifatnya yang terpuji tidak mungkin dihitung dan penggambar tidak mampu menghitung dan menelitinya? Jika demikian halnya, bagaimana tidak boleh mengucapkan gelar Syaikhul Islam kepadanya atau menghadapkan penyebutan dirinya kepadanya? Dan bagaimana diperbolehkan pengingkaran dari orang yang membangkang, yang licik, yang dengki?

Dan andai aku tahu, apa pegangan orang yang menentang, yang bodoh, yang terang-terangan ini? Padahal telah diketahui bahwa lafazh “syaikh” memiliki dua makna: lughawi (bahasa) dan istilahi (istilah). Makna lughawinya adalah orang yang telah jelas padanya tua. Makna istilahnya adalah orang yang layak untuk dijadikan guru. Kedua makna ini ada pada imam yang disebutkan. Tidak diragukan lagi bahwa ia adalah syaikh bagi sejumlah ulama Islam dan bagi murid-muridnya dari para fuqaha manusia. Jika demikian halnya, bagaimana tidak disebut kepadanya Syaikhul Islam, karena barangsiapa yang menjadi syaikh kaum muslimin maka ia adalah syaikh bagi Islam.

Para qadhi yang terkemuka dan para ulama mulia yang menjadi tiang Islam telah menegaskan penyebutan itu kepadanya. Mereka adalah orang-orang yang disebutkan oleh pengarang kitab Ar-Rad Al-Wafir dalam risalahnya yang ia ciptakan dengan cara yang jelas. Kami telah merasa cukup dengan penyebutannya tanpa mengulanginya. Orang yang mengetahuinya hendaklah merenungkannya dan yang melihatnya hendaklah menerimanya.

Adapun perdebatan-perdebatan imam ini sangat banyak dalam majelis-majelis yang banyak. Tidak muncul dari itu para penentangnya terhadap apa yang diklaim kepadanya dengan dalil, kecuali hanya penyiksaan dalam hati yang tertanam buah-buah permusuhan. Ujung-ujungnya bahwa ia dipenjara dengan kezaliman dan permusuhan. Dan tidak ada dalam itu sesuatu yang tercela baginya.

Sungguh telah terjadi pada sejumlah tabiin besar berupa pembunuhan, pembelengguan, pemenjaraan dan pengumuman. Imam Abu Hanifah radhiyallahu anhu dipenjara dan meninggal di penjara. Apakah ada seorang ulama pun yang mengatakan bahwa ia dipenjara secara benar? Imam Ahmad dipenjara dan dibelenggu ketika ia mengatakan perkataan yang benar. Imam Malik dipukul dengan pukulan yang sangat menyakitkan dengan cambuk. Dan Imam Asy-Syafi’i dibawa dari Yaman ke Baghdad dengan belenggu dan ikatan.

Tidaklah aneh jika terjadi pada imam ini apa yang terjadi pada para imam terkemuka tersebut. Kemudian Al-‘Aini menyebutkan wafatnya Ibnu Taimiyah dan banyaknya orang yang menghadiri jenazahnya serta syair ratapan Umar Ibnu Al-Wardi untuknya. Kemudian ia berkata:

Tentangnya berkata allamah Atsir Ad-Din Abu Hayyan rahimahullah: Ibnu Taimiyah berdiri dalam membela syariat kita, seperti berdirinya pemimpin Taim ketika Mudhar memberontak. Maka ia menampakkan kebenaran ketika jejaknya terhapus, dan memadamkan kejahatan ketika percikannya berterbangan. Kami menceritakan tentang seorang ulama besar yang akan datang, maka inilah engkau imam yang ditunggu-tunggu.

Jika orang seperti Imam Abu Hayyan memberikan kesaksian baginya bahwa ia penolong syariat, penampak kebenaran, pemadamkejahatan, dan bahwa ia adalah imam yang mereka tunggu kedatangannya, maka cukuplah itu sebagai pujian dan tazkiyah.

Jika imam ini dengan sifat seperti ini dengan kesaksian allamah ini dan kesaksian para ulama besar lainnya, maka apa yang akan menimpa orang yang mengucapkan kekafiran kepadanya atau mencapnya dengan kekufuran? Ini tidak keluar kecuali dari orang bodoh yang jahil atau orang gila yang sempurna. Yang pertama harus diberi ta’zir dengan ta’zir yang paling berat dan diumumkan di majelis-majelis dengan pengumuman yang paling keras, bahkan dipenjara selamanya sampai ia bertaubat dan kembali dari itu dengan taubat yang terbaik. Dan yang kedua diobati dengan rantai, belenggu dan pukulan keras tanpa terhitung.

Semua ini adalah dari kerusakan orang-orang zaman ini dan kelemahanpara penguasa dalam menampakkan keadilan dan kebaikan, memotong akar para perusak dan menghabisi para pembuat makar, dimana seorang jahil bodoh yang mengaku sebagai ulama menodai kehormatan ulama muslimin, terutama mereka yang telah pergi kepada kebenaran dan dengannya mereka berbuat adil.

Imam ini dengan keagungan kedudukannya dalam ilmu-ilmu, dinukilkan darinya melalui lisan sejumlah besar orang banyak keramat-keramat yang muncul darinya tanpa keraguan, dan jawaban-jawaban yang memutuskan ketika ditanya tentang masalah-masalah sulit tanpa berhenti dalam keadaan apapun. Di antara yang ditanyakan kepadanya ketika ia di atas kursinya mengajar orang-orang dan majelis penuh dengan ahlinya tentang seorang laki-laki yang mengatakan: tidak ada kecuali Allah, dan mengatakan Allah ada di setiap tempat, apakah itu kekufuran atau keimanan?

Maka ia menjawab dengan segera: Barangsiapa mengatakan bahwa Allah Taala dengan Dzat-Nya ada di setiap tempat, maka ia telah menyelisihi Al-Quran, As-Sunnah, dan ijmak kaum muslimin. Bahkan ia menyelisihi tiga agama. Bahkan Sang Pencipta Subhanahu wa Taala terpisah dari makhluk-makhluk. Tidak ada pada makhluk-makhluk-Nya sesuatu dari Dzat-Nya, dan tidak ada pada Dzat-Nya sesuatu dari makhluk-makhluk-Nya. Bahkan Dia Maha Kaya dari mereka, terpisah dengan Diri-Nya dari mereka. Para imam dari kalangan sahabat, tabiin, imam empat dan seluruh imam agama telah bersepakat bahwa firman Allah Taala “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Al-Hadid: 4) bukan maknanya bahwa Dia bercampur dengan makhluk-makhluk dan hulul di dalamnya, dan bukan bahwa Dia dengan Dzat-Nya ada di setiap tempat. Bahkan Dia Subhanahu wa Taala bersama setiap sesuatu dengan ilmu-Nya, kuasa-Nya, dan semacam itu. Maka Allah Subhanahu wa Taala bersama hamba di manapun ia berada, mendengar ucapannya, melihat perbuatannya, mengetahui rahasianya dan bicaranya, mengawasi mereka, menguasai mereka. Bahkan langit, bumi dan apa yang ada di antara keduanya, semua itu adalah ciptaan Allah. Allah tidak hulul pada sesuatu darinya sama sekali. Maha Suci Allah. “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Asy-Syura: 11). Tidak pada Dzat-Nya, tidak pada sifat-sifat-Nya, dan tidak pada perbuatan-perbuatan-Nya. Bahkan Allah disifati dengan apa yang Dia sifatkan untuk Diri-Nya dan dengan apa yang Rasul-Nya sifatkan untuk-Nya tanpa bertanya bagaimana dan tanpa menyerupakan, dan tanpa tahrif (mengubah makna) dan tanpa ta’thil (meniadakan sifat), dan tidak menyerupakan sifat-sifat-Nya dengan sifat-sifat makhluk-Nya. Madzhab salaf adalah penetapan tanpa penyerupaan, dan pensucian tanpa peniadaan. Imam Malik radhiyallahu anhu pernah ditanya tentang firman Allah Taala “Ar-Rahman beristiwa di atas Arsy” (Thaha: 5). Maka ia berkata: Istiwa itu diketahui, bagaimananya tidak diketahui, beriman kepadanya wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah.

Maka imam ini, sebagaimana engkau lihat akidahnya dan engkau ketahui batinnya, barangsiapa yang berada di atas akidah ini, bagaimana dinisbahkan kepadanya hulul, ittihad, tajsim atau apa yang dianut oleh ahli ittihad?

Allah melindungi kami dan kalian dari penyimpangan, kesesatan dan kerusakan, dan membimbing kami kepada jalan-jalan kebaikan dan petunjuk. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu dan patut untuk mengabulkan.

Ditulis dengan indah oleh yang membutuhkan Tuhannya Yang Maha Kaya, Abu Muhammad Mahmud bin Ahmad Al-Aini, semoga Allah memperlakukannya dengan kebaikan-Nya yang tersembunyi dan yang nyata, pada tanggal delapan belas Rabiul Awal tahun delapan ratus tiga puluh lima di Kairo yang terpelihara.

۞۞۞۞۞

20 – Dan ini adalah bentuk pengakuan Imam dan Syaikhul Islam At-Tafhanani Al-Hanafi

Segala puji bagi Allah yang menjadikan hati para ulama sebagai perbendaharaan kelembutan hikmah, dan lidah mereka terjaga dari apa yang di dalamnya ada kekurangan atau celaan atau sakit, dan pendengaran mereka dari mendengar perkataan keji dalam ketulian, dan mengkhususkan mereka di antara manusia dengan keutamaan nikmat yang besar, dan menjadikan mereka terpelihara dari mencampuri kehormatan, menjauhi apa yang mengarah kepada munculnya tujuan-tujuan buruk.

Dan shalawat Allah atas junjungan kami Muhammad yang diutus untuk Arab dan Ajam, dan atas keluarganya dan sahabat-sahabatnya yang memiliki kemuliaan dan semangat.

Adapun setelah itu, sesungguhnya pemilik karya ini telah mendalami dan berbuat baik, menjelaskan dan menyempurnakan serta memberi manfaat dalam apa yang dimaksud dan dikehendaki dari bantahan terhadap orang yang mengkafirkan ulama Islam yaitu para imam terkemuka dengan menisbahkan Syaikh, ulama, ahli ibadah Taqiyuddin Ibnu Taimiyah kepada Syaikhul Islam.

Maka kami katakan dan kepada Allah taufik, sesungguhnya Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah adalah menurut apa yang dinukilkan kepada kami dari orang-orang yang bergaul dengannya dan apa yang kami ketahui dari ucapan muridnya Ibnul Qayyim Al-Jauziyah yang karya-karyanya tersebar ke seluruh penjuru, adalah seorang ulama yang menguasai berbagai bidang, yang sempurna, yang sedikit harta dunianya, yang berpaling darinya, yang mampu menegakkan dalil-dalil terhadap para lawan, yang hafal sunnah, yang mengetahui jalan-jalannya, yang menguasai dua ushul yaitu ushul ad-din dan ushul al-fiqh, yang mampu melakukan istinbath untuk mengeluarkan makna-makna, tidak takut celaan orang yang mencela dalam kebenaran, yang berdiri menghadapi ahli bid’ah: mujassimah, hululiyah, mu’tazilah, rafidhah dan lain-lain.

Manusia jika tidak bergaul dan tidak bertemu, dapat diketahui keadaan dan sifat-sifatnya dari bekas-bekasnya.

Seandainya tidak ada dari bekas-bekasnya kecuali apa yang disifati muridnya Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dari ilmu, cukuplah itu sebagai dalil atas apa yang kami katakan.

Dan apa yang sampai kepada kita tentang banyaknya orang yang berkumpul di pemakamannya yang tidak terhitung jumlahnya, sehingga pemakamannya disamakan dengan pemakaman Imam Ahmad Radhiyallahu Anhu, adalah pelajaran bagi siapa yang mau mengambil pelajaran.

Dan apa yang sampai kepada kita tentang kekuasaannya atas jin-jin yang durhaka juga merupakan pelajaran. Muridnya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata ketika membicarakan tentang penyakit ayan dalam Ath-Thibb An-Nabawi dan memilih pendapat bahwa ayan ada dua macam: ayan yang berkaitan dengan cairan tubuh dan ayan yang berkaitan dengan roh-roh jahat. Syaikh kami Ibnu Taimiyyah datang kepada orang yang terkena ayan dan berbicara di telinganya dengan beberapa kalimat, maka keluarlah jin darinya dan tidak kembali lagi setelah itu. Dan kisahnya dengan orang yang istrinya diculik jin sudah terkenal, begitu juga dengan orang yang terangkat ke langit-langit juga sudah terkenal.

Maka orang yang memiliki sifat-sifat seperti ini, bagaimana mungkin tidak diberi gelar Syaikhul Islam.

Dan madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak membolehkan mengkafirkan siapa pun dari ahli kiblat, baik ia Sunni, Muktazilah, Syiah, atau dari golongan Khawarij. Ini diriwayatkan dari Abu Hanifah Radhiyallahu Anhu. Ia ditanya tentang sekelompok dari Khawarij, maka ia berkata: “Mereka adalah seburuk-buruk Khawarij.” Dikatakan: “Apakah Anda mengkafirkan mereka?” Ia menjawab: “Tidak.” Demikian pula yang diriwayatkan dari Asy-Syafi’i, Al-Asy’ari, dan Abu Bakar Ar-Razi.

Dan telah memberitahuku orang yang hadir dalam majelis pengkafir ini. Ia berkata: “Ibnu Taimiyyah kafir, Majusi, Yahudi dan Nasrani lebih baik darinya. Karena Nasrani dan Yahudi memiliki kitab, sedangkan Ibnu Taimiyyah tidak memiliki kitab.” Maka kami berlindung kepada Allah dari bisikan setan yang mengerikan dan buruk ini. Padahal tidak pernah dinukil dari Ibnu Taimiyyah perkataan yang mengandung kekufuran, kefasikan, atau apa pun yang mencemarkan agamanya.

Dan telah ditulis pada zamannya beberapa risalah oleh sekelompok ulama yang adil yang kami baca, bahwa tidak pernah terjadi darinya sesuatu yang mencemarkan agamanya. Mereka menggambarkannya dalam risalah-risalah tersebut dengan sifat-sifat yang lebih besar dari apa yang kami sebutkan di atas. Dan sesungguhnya sebagian ulama hanya mempermasalahkan ia dalam masalah ziarah dan thalaq. Dan masalahnya dengan orang yang mempermasalahkannya sudah terkenal.

Adapun kedua masalah tersebut bukan termasuk pokok-pokok agama, melainkan cabang syariat yang telah disepakati para ulama bahwa orang yang salah dalam berijtihad di dalamnya akan mendapat pahala, tidak dikafirkan dan tidak difasikkan. Dan Syaikh berbicara dalam kedua masalah tersebut dengan cara ijtihad.

Dan orang yang mengingkarinya dalam kedua masalah tersebut telah berdebat dengannya dalam perdebatan yang terkenal dengan dalil-dalil yang membutuhkan takwil bagi orang yang menentangnya. Kemudian ia berkata setelah penjelasan panjang tentang orang yang keberatan: “Dan seperti itu juga terjadi terhadap seseorang yang semua orang sepakat tentang ilmu, kebaikan, agama, dan kedalaman ilmunya, yaitu Syaikh Syamsuddin Al-Basathi, Qadhi Al-Qudhah Maliki di Negeri Mesir.”

Maka kami memohon kepada Allah agar menerima taubatnya dan menjaga lisan kami dan lisannya dari kesalahan. Amin.

Yang menuliskan ini adalah Abdurrahman At-Tafanni Al-Hanafi, semoga Allah memperlakukannya dengan kelembutan yang tersembunyi, pada tanggal empat belas Rabiul Awwal tahun delapan ratus tiga puluh lima.

۞۞۞۞۞

21 – Ini adalah bentuk penghargaan yang ditulis oleh Syaikh Imam dan Syaikhul Islam Al-Bulqini.

Ia berkata setelah pembukaan: Aku membaca karya tulis ini yang komprehensif dan pilihan yang indah yang menyenangkan pendengar. Dan aku mengamalkan syarat-syarat orang yang membacanya dengan menelaah secara menyeluruh, maka kudapati ia seperti kalung yang tersusun dari mutiara yang melebihi kalung permata dan lebih indah dari kalung emas, dan aroma misk pujian atas penulisnya sepanjang masa. Dan lisan keadaan berkata tentangnya: mendengar kabar tidaklah sama dengan melihat langsung. Dan mengapa tidak, ia mencakup keutamaan-keutamaan ulama zamannya yang melampaui teman-temannya, yang membela syariat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dengan lisan dan pena, yang berjuang untuk agama yang lurus, dan betapa banyak ia menampakkan hikmah-hikmah.

Pemilik karya-karya terkenal dan tulisan-tulisan yang dinukil, yang berbicara dengan bantahan terhadap ahli bid’ah dan ateisme, orang-orang yang mengatakan hulul dan ittihad. Dan orang yang seperti ini bagaimana tidak diberi gelar Syaikhul Islam dan disebut-sebut di antara para ulama besar. Dan tidak ada arti keberatan orang yang menuduhnya dengan apa yang tidak ada padanya atau menisbahkannya hanya karena hawa nafsu kepada pendapat yang tidak benar. Tidak merugikannya ucapan orang yang dengki, melanggar batas, ingkar, dan sewenang-wenang.

Tidak merusak cahaya matahari jika yang memandangnya adalah mata-mata yang sepanjang hidupnya buta.

Mereka iri kepada pemuda itu karena mereka tidak meraih kesuksesannya, maka orang-orang itu adalah musuh-musuhnya dan lawannya.

Semoga Allah melindungi kami dari dengki yang menutup pintu keadilan dan menghalangi dari sifat-sifat yang baik.

Dan bagaimana diperbolehkan mengkafirkan orang yang memberi gelar Syaikhul Islam kepada ulama ini, sedangkan madzhab kami adalah barang siapa mengkafirkan saudaranya sesama muslim tanpa takwil maka ia telah kafir, karena ia telah menyebut Islam sebagai kekufuran.

Dan sungguh Qadhi Al-Qudhah Tajuddin As-Subki Rahimahullahu Ta’ala berbangga dalam biografi ayahnya Syaikh Taqiyuddin As-Subki dalam pujian para imam kepadanya, bahwa Al-Hafizh Al-Mizzi tidak pernah menulis dengan tangannya lafazh Syaikhul Islam kecuali untuk ayahnya, untuk Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah, dan untuk Syaikh Syamsuddin Ibnu Abi Umar. Seandainya Ibnu Taimiyyah tidak dalam tingkat yang sangat tinggi dalam ilmu dan amal, niscaya Ibnu Subki tidak akan menyandingkan ayahnya bersamanya dalam keutamaan yang ia nukil ini. Dan seandainya Ibnu Taimiyyah adalah pelaku bid’ah atau zindik, tidak mungkin ia rela ayahnya menjadi sejawat dengannya.

Memang benar telah dinisbahkan kepada Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah beberapa hal yang diingkari oleh para ulama sezamannya, dan Syaikh Taqiyuddin As-Subki berdiri untuk membantahnya dalam masalah ziarah dan thalaq, dan ia mengkhususkan masing-masing dengan karya tulis tersendiri. Dan tidak ada dalam hal itu apa yang mengharuskan mencemarkannya sama sekali. Dan setiap orang boleh diambil perkataannya dan ditinggalkan kecuali pemilik kubur ini, yaitu Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Dan orang yang beruntung adalah yang kesalahan-kesalahannya dapat dihitung dan kekeliruan-kekeliruannya terbatas.

Kemudian sesungguhnya persangkaan baik terhadap Syaikh Taqiyuddin bahwa tidak keluar darinya hal itu karena gegabah dan permusuhan, Maha Suci Allah. Tetapi mungkin karena pendapat yang ia lihat dan ia tegakkan dengan bukti. Dan kami tidak menemukan hingga sekarang setelah penelusuran dan penelitian apa pun dari perkataannya yang mengandung kekufuran atau zindiknya. Kami hanya menemukan bantahannya terhadap ahli bid’ah dan hawa nafsu, dan selain itu yang menunjukkan kebersihannya dan tingginya kedudukannya dalam ilmu dan agama.

Memuliakan para ulama, orang-orang besar, dan ahli keutamaan adalah wajib. Dan telah shahih bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kefasikan atau kekufuran, melainkan tuduhan itu kembali kepadanya jika orang yang dituduh tidak seperti itu.” Selesai secara ringkas. Wallahu A’lam.

Yang menuliskan ini adalah fakir kepada Allah, Shalih bin Umar Al-Bulqini Asy-Syafi’i pada Rabiul Awwal tahun delapan ratus tiga puluh lima.

Dan telah menulis juga kelompok lain penghargaan, kami tidak menyebutkannya karena khawatir terlalu panjang. Dan shalawat serta salam Allah atas penghulu para rasul, penutup para nabi, atas keluarganya semua dan para sahabatnya semuanya. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

۞۞۞۞۞

22 – Penulis, Mar’i Al-Hanbali, semoga Allah memaafkannya berkata:

Sungguh aku ingin menulis biografi tentang Ibnu Taimiyyah Syaikhul Islam, mengikuti para imam besar tersebut dan karena kecintaan kepada imam itu.

Maka aku katakan: Sungguh kami telah mengetahui dengan pengetahuan yang yakin dan kami telah meyakini dengan keyakinan yang jelas dari para perawi yang terpercaya dan para imam hadits yang kritis, bahwa Ibnu Taimiyyah Syaikh Taqiyuddin adalah imam, hafizh, hujjah, ulama mujtahid, teliti, cermat, mufassir, keajaiban zaman, penerjemah Al-Qur’an, pemimpin para peneliti, sandaran para ahli penelitian mendalam, Syaikhul Islam dan kaum muslimin, tangga tertinggi dalam pengetahuan dan jalan terbaik dalam hakikat-hakikat dan makrifat, menara langit pengetahuannya adalah bintang-bintang pertolongan, dan surat taman kebun kehadiran tanda-tanda kewalian, lautan yang tidak dimiliki lautan apa yang ia miliki untuk permata-permata, dan ulama besar yang tinggi di atas langit, dan mana langit yang memiliki seperti apa yang ia miliki dari kilau cahaya. Tersusun dengan kedudukannya yang agung kalung-kalung negara Islam, dan tersenyum dengan bulan purnama yang cerah, kesempurnaan benteng-benteng Muhammad. Ia bervariasi dalam pembahasan-pembahasan dan cabang-cabangnya, dan harum di taman-taman dan cabang-cabangnya, dan berbicara dengan fasih dan baligh, fasihnya Qais dan balaghnya Aus tidak ada yang menyamainya. Dan ia mengarungi ilmu-ilmu di lautan-lautan yang dalam, dan melatih jiwa hingga ia melampaui dalam menempuh jalan tasawuf. Dan ia adalah kebanggaan generasi-generasi setelahnya atas hakikatnya.

Berkendara di depan mereka sebagai imam, dan seandainya bukan karena ia, mereka tidak akan berkendara di belakangnya.

Orang yang unik di masa ini, kecuali bahwa ia adalah Syaikhul Islam. Orang yang sendirian di zaman ini, kecuali bahwa keutamaannya tidak bisa dibagi-bagi. Dan orang yang tunggal di masa ini, kecuali bahwa ia menempati posisi keseluruhan dan mencakup sifat-sifat manusia pada setiap pemandangan dan pendengaran. Dan inti ahli pembedaan dan keistimewaan, dan pembuka rahasia-rahasia balaghah dengan lafazh yang ringkas. Jika ia melelahkan tangannya dengan pena fatwa, ia menyenangkan roh-roh ahli dunia.

Ulama besar, jika ia menggerakkan pena, mengalir kedermawanan dari kedua tangannya, keutamaan-keutamaan dan keajaiban-keajaiban.

Seperti laut yang melemparkan permata-permata kepada yang dekat sebagai kedermawanan, dan mengutus awan-awan kepada yang jauh.

Perkataannya berhias dengan kalung-kalung emas, dan susunannya dengan balaghah Quss dan fasahah Sahban. Mengapa tidak, dan ia adalah orang fasih yang jika berbicara menjadi jelas dan ringkas, dan membungkam setiap pemilik lidah dengan balaghahnya dan membuat lemah. Bahkan lautan yang kapal-kapal pikiran berlayar di dalamnya, maka tidak tercapai dasarnya, dan orang-orang sezaman dan para ahli balaghah lemah, maka tidak dapat menyelami arusnya. Tidak pernah ia muncul di medan debat kecuali ia melampaui orang-orang sezaman. Tidak pernah ia menjalankan kuda-kuda ilmunya menuju suatu tujuan kecuali ia lepas kendali. Tidak pernah mengabarkan tentang keutamaannya orang yang melihatnya kecuali ia menyerupai: mendengar kabar tidak seperti melihat langsung. Perjalanan kafilah membawa karya-karya tulisnya, dan orang-orang yang memiliki kemegahan dan kedudukan beragam dalam memujinya.

Karya-karya tulis yang ia ciptakan dengan keindahan keahlian, dan keindahan ungkapan seperti mutiara yang tersusun.

Maka berjalanlah dengannya orang yang tidak berjalan dengan bersemangat, dan bernyanyi dengannya orang yang tidak bernyanyi dengan bersenandung.

Jika engkau mengenal kebenaran, engkau akan mengenal ahlinya. Atau jika engkau mengetahui apa itu keutamaan, engkau akan mencapai keutamaannya. Kecuali jika engkau adalah orang yang memiliki fanatisme dan sikap membela, maka engkau mengingkari dengan hawa nafsu keutamaan-keutamaan Ibnu Taimiyyah, dan engkau buta dari kilau cahaya-cahayanya yang cemerlang.

Jika seseorang tidak memiliki mata yang sehat, maka tidak heran jika ia ragu sedangkan fajar sudah terang.

Dan barang siapa mengikuti hawa nafsunya, ia buta pandangannya. Dan barang siapa yang buta di kegelapan, bagaimana ia bisa melihat.

Maka telitilah bukunya Al-Kawakib Ad-Durriyyah dalam bantahan terhadap Rafidhah dan Imamiyyah, engkau akan menemukan keajaiban. Atau bantahannya terhadap Yahudi, Nasrani, dan ahli bid’ah, akan masuk kepadamu kegembiraan. Dan nasihat-nasihatnya, engkau akan menemukan di dalamnya hikmah Luqman. Atau fatwa-fatwanya, engkau akan menemukan di sana Abu Hanifah An-Nu’man. Atau zuhud dan wara’nya, engkau akan menemukan Ibrahim bin Adham dan Ahmad bin Hanbal dalam zuhud dan makrifat.

Dan sungguh ia adalah lautan yang ombaknya melemparkan mutiara-mutiara, dan kalung di leher zaman yang berkilau dengan kilau cahaya. Manfaat-manfaatnya yang unik mempermalukan permata-permata kalung, dan permata-permata manfaatnya lebih indah dari kalung emas dan uang. Dan pena-pena adalah pelayan bagi pikiran-pikirannya, dan pendengaran adalah susunan bagi permata-permatanya, dan kertas-kertas adalah pantai-pantai bagi lautan-lautannya. Dan pasar-pasar keutamaan dan adab dengan keberadaannya berdiri, dan penelitian ilmu-ilmu dalam cabang-cabangnya tetap ada.

Dan penampilan cemerlangnya adalah tempat terbit matahari-matahari kebahagiaan, dan dahinya yang bercahaya adalah tanda untuk mencapai kepemimpinan. Dan pintu-pintunya adalah tempat datangnya berbagai macam karamah, dan ambang pintunya adalah sumber berbagai macam kemuliaan dan kesempurnaan.

Dan sungguh zuhud adalah pakaiannya, wara’ adalah kehormatannya, dzikir adalah temannya, fikir adalah teman duduknya. Dan tersingkap baginya rahasia-rahasia tersembunyi, dan nampak baginya hakikat-hakikat tersembunyi dari balik tirai. Dan terbuka pemberian tentang hakikat-hakikat akhirat sedangkan ia di dunia ini. Dan memancarlah mata air-mata air hikmah di lisannya, dan mengalirlah mata air hakikat-hakikat dari jiwanya. Dan ungkapan-ungkapannya menghidupkan ahli wujud, dan isyarat-isyaratnya menyegarkan roh-roh pendengar.

Ini dan sesungguhnya aku meskipun menggunakan pedang keahlian dan jangkauannya, dan mencapai dari jalan-jalan keahlian batasnya, dan melihat dari keindahan tempat-tempat indah kesayangan-kesayangan, dan menuliskan di lipatan-lipatan pena rusa-rusa makna. Dan jika aku ingin menghitung menara-menara bintang-bintang keutamaan-keutamaannya, dan menentukan batas-batas jalan kelebihan-kelebihannya yang orang-orang terbaik berlomba-lomba di dalamnya, maka hari-hari akan berakhir sedangkan ia tidak berakhir. Dan engkau akan tahu bahwa ungkapan lisanku pendek, dan aku mengakui bahwa aku di taman-taman puji-pujiannya berada di istana-istana.

Adapun apa yang dikatakan bahwa Syaikh melarang dari ziarah kubur, maka Maha Suci Allah dan kami berlindung kepada Allah. Ini buku-bukunya, fatwa-fatwanya, dan kitab-kitab manasiknya menyatakan dengan jelas dianjurkannya ziarah kubur kaum muslimin, apalagi para nabi Alaihimus Salam. Bahkan ia menyatakan dengan jelas diperbolehkannya ziarah kubur orang-orang kafir.

Memang benar ia menyebutkan perbedaan pendapat para ulama tentang orang yang bepergian hanya untuk ziarah kubur.

Sebagian dari mereka berkata diperbolehkan, dan ini adalah madzhab jumhur.

Sebagian dari mereka berkata makruh.

Sebagian dari mereka berkata haram. Dan pendapat ini dipilih oleh Ibnu Baththah dan Ibnu Aqil, dua imam Hanabilah. Dan Imam Abu Muhammad Al-Juwaini, imam Syafi’iyyah. Dan ini adalah pilihan Qadhi Iyadh dalam Ikmaluhu, dan ia adalah imam Malikiyyah. Dan cenderung kepada pendapat ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Dan dalil dalam hal itu adalah hadits shahih yaitu sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Tidak boleh bepergian (untuk ibadah) kecuali ke tiga masjid” (hadits).

Dan yang bangkit untuk membantah As-Subki adalah Ibnu Abdul Hadi dalam satu jilid besar yang ia beri nama Ash-Sharim Al-Munki fi Ar-Raddi ‘ala As-Subki (Pedang Penghancur dalam Bantahan terhadap As-Subki).

Adapun masalah talak, maka sesungguhnya Ibnu Taimiyah rahimahullah berpendapat bahwa talak tiga sekaligus tidak jatuh kecuali satu. Dan ia tidak menyendiri dengan pendapat ini, bahkan diriwayatkan dari Ali, Az-Zubair, Abdurrahman bin Auf, Ibnu Mas’ud, dan Ibnu Abbas. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Atha’, Thawus, Amr bin Dinar, Sa’id bin Jubair, Abu Asy-Sya’tsa’, Muhammad bin Ishaq, dan Al-Hajjaj bin Arthaah. Pendapat ini juga dianut oleh para ulama dari Cordova dan sekelompok orang di antaranya Muhammad bin Abdul Salam Al-Khasyani, ahli fikih pada masanya, dan Ashbagh bin Al-Habbab. Pendapat ini dipilih oleh Imam Abu Hayyan dalam tafsirnya An-Nahr dan Imam Ibnul Qayyim, yang membahasnya dalam sekitar empat puluh lembar.

Maka hendaklah orang yang mengingkari Ibnu Taimiyah juga mengingkari para ulama ini, apalagi para ulama telah menegaskan bahwa mazhab para imam semuanya adalah bahwa tidak boleh bagi mujtahid untuk bertaklid, bahkan wajib atasnya mengamalkan apa yang dilihat oleh ijtihadnya. Dan Ibnu Taimiyah adalah seorang mujtahid dengan kesaksian para ulama pada zamannya, maka tidak ada alasan untuk mengingkarinya kecuali hanya karena fanatisme dan semangat jahiliyah. Betapa baiknya ucapan Ibnu Fadhlillah Al-Umari dalam ratapannya yang telah disebutkan:

“Kewajibanmu dalam penelitian adalah menampakkan hal-hal tersembunyi, Dan bukan kewajibanmu jika sapi-sapi tidak memahami.”

Pada intinya, ia adalah ulama besar yang mengungguli orang-orang terdahulu dengan sifat-sifatnya, dan lautan yang mencakup dalam dirinya permata-permata keutamaan. Sungguh Ibnu Abdussalam telah menurunkan kendaraannya di negeri keselamatan, semoga atasnya rahmat dan keridaan, awan ampunan dan pengampunan, serta perhatian sepanjang masa. Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan iman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.

“Tidak ada urusan kecuali satu tatanan, Tidak ada di dalamnya pujian maupun celaan.”

Dan yang lain berkata:

“Dan jika tampak bagimu, ketahuilah bahwa kamu bukan dia, Sekali-kali tidak, dan kamu juga bukan selainnya.”

Dan syair-syair semacam ini.

Dan dalam prosa ada yang tidak terhitung banyaknya, mereka menipu orang-orang bodoh bahwa kezindikan ini yang mereka namakan tauhid adalah yang dianut oleh para masyaikh Islam.

Para imam petunjuk sepakat tentang pengkafiran orang-orang ini, dan bahwa Allah Ta’ala bukan makhluk-Nya, bukan bagian dari makhluk-Nya, dan bukan sifat dari makhluk-Nya. Bahkan Dia Mahasuci terpisah dengan Dzat-Nya yang suci, terpisah dengan Dzat-Nya yang agung dari makhluk-makhluk-Nya. Dengan itu datang kitab-kitab ilahi dari Taurat, Injil, dan Alquran. Atas itu Allah menciptakan hamba-hamba-Nya dalam fitrah. Dan atas itu akal-akal memberikan dalil.

Kebanyakan orang-orang ittihad (paham persatuan) ini adalah orang-orang bodoh yang tidak membedakan antara ittihad umum mutlak yang dianut oleh orang fasik Al-Afif At-Tilimsani dan pengikutnya, dengan ittihad tertentu yang dianut oleh orang-orang Nasrani.

Kemudian ia berkata bahwa ucapan orang-orang ittihad menghimpun semua kesyirikan di dunia. Mereka tidak mengesakan Allah, tetapi mereka hanya mengesakan sifat yang sama antara Dia dan makhluk. Maka mereka menyekutukan Tuhan mereka.

Oleh karena itu, orang kepercayaan menceritakan bahwa Ibnu Sab’in ingin pergi ke India dan berkata bahwa tanah Islam tidak muat untuknya karena India adalah orang-orang musyrik yang menyembah segala sesuatu termasuk tumbuhan dan hewan, dan ini adalah hakikat ucapan orang-orang ittihad.

Ia berkata: “Aku mengenal orang-orang yang sibuk dengan filsafat dan kalam, mereka menganggap diri mereka sebagai tuhan dengan jalan ittihad. Jika mereka mulai menggambarkan Tuhan dengan kalam, mereka berkata: ‘Bukan begini, bukan begitu,’ dan mereka menggambarkan-Nya dengan bahwa Dia bukan makhluk sebagaimana yang dikatakan kaum muslimin, tetapi mereka mengingkari sifat-sifat penetapan yang dibawa oleh para rasul.”

Jika salah seorang di antara mereka memiliki cita rasa dan wujud dan menganggap diri mereka sebagai tuhan, ia menempuh jalan ittihad dan berkata bahwa dia adalah semua yang ada. Jika dikatakan kepadanya: “Di mana penafian itu dari penetapan ini?” Ia berkata: “Itu keyakinanku dan ini cita rasaku.”

Maka dikatakan kepada orang sesat ini: Setiap cita rasa dan wujud yang tidak sesuai dengan keyakinan, maka salah satunya atau keduanya batil. Sesungguhnya cita rasa dan wujud adalah hasil dari pengetahuan dan keyakinan.

Seandainya orang-orang ini menempuh jalan para nabi dan rasul serta mengikuti jalan orang-orang terdahulu yang pertama, niscaya mereka akan menemukan kesejukan keyakinan dan ketenangan mata.

Ibnu Taimiyah berkata dalam jawaban atas pertanyaan yang ditanyakan kepadanya berkaitan dengan beberapa kalimat dari kitab Al-Fushush, ringkasannya: Kalimat-kalimat yang disebutkan ini, setiap kalimat di antaranya adalah kekufuran yang tidak ada perselisihan di dalamnya di antara ahli agama dari kaum muslimin, Yahudi, dan Nasrani, apalagi sebagai kekufuran dalam syariat Islam. Karena ucapan orang yang berkata bahwa Adam bagi Al-Haq Ta’ala seperti kedudukan pupil mata dari mata yang dengannya terjadi penglihatan, mengandung makna bahwa Adam adalah bagian dari Al-Haq dan bahwa ia adalah bagian-bagian-Nya yang paling utama. Hal ini ditunjukkan oleh ucapannya setelah itu: Bahwa Al-Haq yang Mahasuci adalah makhluk yang diserupakan, dan ucapannya: Semua itu dari satu mata, bahkan Dia adalah Mata yang Satu, dan Dia adalah mata-mata yang banyak. “Maka lihatlah apa yang kamu lihat.” Ia menjawab: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu.” (Ash-Shaffat: 102) Dan anak adalah mata ayahnya, maka ia tidak melihat yang disembelih kecuali dirinya sendiri. “Dan Kami tebus dia dengan sembelihan yang besar.” (Ash-Shaffat: 107) Maka tampak dalam bentuk domba dari yang tampak dalam bentuk manusia, dan tampak dalam bentuk bukan dengan hukum anak yang adalah mata anak itu sendiri. “Dan Dia menciptakan darinya istrinya.” (An-Nisa’: 1) Maka ia tidak menikahi kecuali dirinya sendiri. Kemudian ia berkata di tempat lain: “Dan Dia adalah Yang Tersembunyi dari setiap pemahaman kecuali dari pemahaman orang yang berkata bahwa alam adalah bentuk-Nya dan esensi-Nya.”

Dan ia berkata: Di antara nama-nama-Nya yang Husna adalah Al-‘Ali (Yang Mahatinggi), tinggi atas siapa? Dan tidak ada kecuali Dia. Dan dari apa? Dan tidak ada kecuali Dia. Maka ketinggian-Nya untuk diri-Nya sendiri, dan Dia dari segi keberadaan adalah mata dari yang ada. Maka yang disebut makhluk adalah yang tinggi untuk dirinya sendiri dan tidak lain adalah Dia. Hingga ia berkata: Maka Dia adalah mata yang tampak dan mata yang tersembunyi dalam keadaan ketampakannya. Dan tidak ada yang melihat-Nya selain Dia, dan tidak ada yang tersembunyi dari-Nya selain Dia. Maka Dia tampak untuk diri-Nya sendiri, tersembunyi dari-Nya, dan Dia yang dinamakan Abu Sa’id Al-Kharraz dan selain itu dari nama-nama makhluk.

Al-Atsari berkata: “Al-Haq tampak dengan sifat-sifat makhluk dan memberitakan tentang diri-Nya dengan itu, dengan sifat-sifat kekurangan dan celaan. Tidakkah kamu lihat makhluk tampak dengan sifat-sifat Al-Haq yang dari awalnya hingga akhirnya adalah sifat baginya?” Dan contoh-contoh perkataan seperti ini. Karena sesungguhnya penulis Al-Fushush dan orang-orang sepertinya seperti temannya Al-Qunawi, At-Tilimsani, Ibnu Sab’in, Asy-Syuysytari, Ibnul Faridh dan pengikut-pengikut mereka, mazhab yang mereka anut adalah bahwa wujud itu satu. Mereka disebut ahli wahdatul wujud (kesatuan wujud) dan mengaku tahqiq dan irfan. Mereka menjadikan wujud Khalik sebagai wujud makhluk. Setiap apa yang disifati dengannya makhluk dari baik dan buruk, pujian dan celaan, sesungguhnya menurut mereka yang disifati dengannya adalah mata Khalik. Dan tidak ada bagi Khalik menurut mereka wujud yang berbeda dari wujud makhluk yang terpisah darinya sama sekali. Bahkan menurut mereka tidak ada selain Khalik. Maka penyembah berhala tidak menyembah selain-Nya karena menurut mereka tidak ada bagi-Nya yang lain. Oleh karena itu mereka menjadikan firman-Nya Ta’ala: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia.” (Al-Isra’: 23) Artinya: Dia memutuskan bahwa kalian tidak menyembah kecuali Dia. Dan Allah tidak memutuskan sesuatu kecuali terjadi, karena menurut mereka tidak ada selain-Nya yang dapat dibayangkan oleh akal. Maka setiap penyembah berhala sesungguhnya menyembah Allah. Oleh karena itu penulis kitab ini menjadikan penyembah lembu itu benar, dan ia menyebutkan bahwa Musa hanya mengingkari Harun karena Harun mengingkari mereka dalam menyembah lembu. Ia berkata: “Musa lebih mengetahui perkara daripada Harun karena ia mengetahui apa yang disembah oleh para penyembah lembu, karena pengetahuannya bahwa Allah telah memutuskan bahwa mereka tidak menyembah kecuali Dia. Dan Allah tidak memutuskan sesuatu kecuali terjadi. Maka celaan Musa kepada saudaranya Harun karena pengingkarannya dan tidak luasnya pemahaman. Karena orang yang arif adalah orang yang melihat Al-Haq dalam segala sesuatu, bahkan melihat-Nya sebagai mata dari segala sesuatu.” Oleh karena itu mereka menjadikan Firaun termasuk orang-orang arif yang muhaqqiq yang besar, dan bahwa ia benar dalam klaimnya sebagai Tuhan. Maka mereka menjadikannya benar dalam apa yang Allah kafirkan karenanya.

Barangsiapa memperhatikan ucapan mereka akan mengetahui bahwa ia lebih besar daripada kekufuran Yahudi dan Nasrani.

Para salaf umat dan para imam telah sepakat bahwa Dia Ta’ala terpisah dari makhluk-makhluk-Nya. Tidak ada dalam Dzat-Nya sesuatu dari makhluk-makhluk-Nya, dan tidak ada dalam makhluk-makhluk-Nya sesuatu dari Dzat-Nya.

Para salaf dan imam mengkafirkan Jahmiyah ketika mereka berkata bahwa Dia di setiap tempat. Di antara yang mereka ingkari dari mereka adalah: Bagaimana Dia bisa berada di perut, toilet, dan tempat-tempat buang air? Mahasuci Allah dari itu. Bagaimana dengan orang yang menjadikan-Nya sebagai wujud perut, toilet, tempat buang air, najis, dan kotoran?

Para salaf umat dan para imam sepakat bahwa Dia Ta’ala tidak ada sesuatu yang serupa dengan-Nya, tidak dalam dzat-Nya, tidak dalam sifat-sifat-Nya, dan tidak dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Orang-orang ini menjadikan-Nya sebagai mata jasad-jasad dan menggambarkan-Nya dengan semua kekurangan yang digambarkan dengannya setiap orang kafir, setan, dan serangga. Mahasuci Allah dari ucapan mereka.

Abdullah bin Al-Mubarak pernah berkata: “Sesungguhnya kami menceritakan perkataan Yahudi dan Nasrani, tetapi kami tidak mampu menceritakan perkataan Jahmiyah.” Dan orang-orang ini lebih buruk daripada Jahmiyah, karena puncak perkataan Jahmiyah adalah bahwa Allah Ta’ala di setiap tempat, sedangkan orang-orang ini perkataannya adalah bahwa Dia wujud setiap tempat. Menurut mereka tidak ada dua yang ada, satu Khalik dan yang lain makhluk. Dan itu adalah kekufuran.

Demikian juga perkataan mereka bahwa orang-orang musyrik jika meninggalkan penyembahan berhala, mereka akan tidak mengetahui urusan Al-Haq seukuran apa yang mereka tinggalkan darinya. Dan ini termasuk kekufuran yang diketahui secara dharurat dari semua agama.

Orang-orang ittihad ini, pemimpin-pemimpin mereka adalah imam-imam kekufuran yang wajib dibunuh. Tidak diterima taubat dari mereka jika ditangkap sebelum taubat, karena mereka termasuk zindik yang paling besar yang menampakkan Islam dan menyembunyikan kekufuran yang paling besar. Wajib menghukum setiap orang yang menisbatkan diri kepada mereka, atau membela mereka, atau memuji mereka, atau mengagungkan kitab-kitab mereka, atau dikenal membantu dan menolong mereka, atau membenci pembicaraan tentang mereka, atau mengambil jalan meminta maaf untuk mereka dengan mengatakan bahwa perkataan ini tidak diketahui apa itu, dan alasan-alasan semacam ini yang tidak diucapkan kecuali oleh orang bodoh atau munafik. Bagaimana lagi mereka adalah orang-orang yang paling mirip dengan Qaramithah Bathiniyah. Oleh karena itu mereka menerima Yahudi dan Nasrani atas apa yang mereka anut, dan menjadikan mereka di atas kebenaran sebagaimana mereka menjadikan penyembah berhala di atas kebenaran.

Setiap satu dari ini adalah kekufuran yang paling besar. Barangsiapa yang berprasangka baik kepada mereka dan mengklaim bahwa ia tidak mengetahui keadaan mereka, maka keadaan mereka dikenalkan kepadanya. Jika ia tidak menjauhi mereka dan tidak menampakkan pengingkaran kepada mereka, maka ia dianggap seperti mereka dan dijadikan dari mereka.

Adapun orang yang berkata bahwa perkataan mereka memiliki takwil yang sesuai dengan syariat, maka ia termasuk pemimpin-pemimpin mereka dan imam-imam mereka. Karena jika ia cerdas, maka ia mengetahui kebohongan dirinya dalam apa yang ia katakan. Jika ia meyakini ini secara batin dan lahir, maka ia lebih kafir daripada Yahudi dan Nasrani. Wallahu Ta’ala a’lam. Selesai perkataan Ibnu Taimiyah secara ringkas, rahimahullah.

Peringatan:

Abu Hayyan berkata dalam tafsir Surah Al-Maidah dari tafsir An-Nahr dan tafsir Al-Bahr: “Dan dari sebagian keyakinan orang-orang Nasrani, orang yang bersembunyi dengan Islam secara lahir dan menisbatkan diri kepada kaum sufi mengambil kesimpulan tentang hulul (inkarnasi) Allah Ta’ala dalam bentuk-bentuk indah. Dan dari yang pergi dari golongan zindik mereka kepada perkataan tentang ittihad dan wahdah seperti Al-Hallaj, Ats-Tsauri, Ibnu Ahla, Ibnu Arabi, Ibnul Faridh, dan pengikut-pengikut mereka seperti Ibnu Sa’id, Asy-Syuysytari muridnya, Ibnu Muzaffar, Ash-Shaffar, Ibnu Labbaj, dan Ibnul Hasan.

Di antara yang kami lihat dilempar dengan mazhab terkutuk ini adalah Al-Afif At-Tilimsani, Ibnu Ayyasy Al-Malaqi Al-Aswad, Abdul Wahid bin Al-Muakhar, Al-Aiki Al-Ajami, dan Abu Ya’qub bin Bisyr murid Asy-Syuysytari yang berada di Harat Zuwaila di Kairo.

Sesungguhnya aku menyebutkan nama-nama orang-orang ini sebagai nasihat untuk agama Allah, Allah mengetahui itu, dan kasih sayang kepada orang-orang muslim yang lemah agar mereka berhati-hati terhadap mereka. Mereka lebih buruk daripada para filosof yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya dan berkata tentang qadimnya alam.

Sungguh orang-orang bodoh yang menisbatkan diri kepada tasawuf sangat menyukai mengagungkan orang-orang ini dan mengklaim bahwa mereka adalah pilihan Allah Ta’ala dan wali-wali-Nya. Urusan pada mereka sebagaimana yang aku sebutkan.”

Abu Hayyan juga berkata dalam tafsir Surah Al-A’raf: “Sungguh telah muncul pada zaman yang mengherankan ini orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai masyaikh. Mereka mengenakan pakaian kemasyhuran di kalangan awam dengan kesalehan. Mereka meninggalkan usaha mencari rezeki dan mengatur dzikir-dzikir yang tidak datang dalam syariat, mereka mengeraskan suara dengannya di masjid-masjid. Mereka mengumpulkan untuk mereka para pelayan yang menarik orang-orang kepada mereka untuk mengabdi kepada mereka dan mencopet harta-harta mereka. Mereka menyebarkan tentang mereka karamah-karamah. Mereka melihat cara mencapai Allah Ta’ala dengan perkara-perkara yang mereka tetapkan dalam khalwat-khalwat dan dzikir-dzikir yang tidak datang dengannya kitab yang diturunkan dan tidak nabi yang diutus. Mereka merasa besar terhadap manusia dengan menyendiri di atas sajadah, menyodorkan tangan-tangan mereka untuk dicium, sedikit bicara, menundukkan kepala-kepala, menunjuk pelayan yang berkata: ‘Syekh sedang sibuk dalam khalwat,’ ‘Syekh telah memerintahkan,’ ‘Syekh berkata,’ ‘Syekh memiliki pandangan kepadamu,’ ‘Syekh tadi malam menyebutmu,’ dan lafaz-lafaz semacam ini yang dengan itu mereka mengumpulkan orang awam dan menarik dengan itu akal orang-orang bodoh. Ini jika syekh selamat dari keyakinan yang menguasai kaum sufi zaman ini dari hulul dan perkataan tentang wahdah. Jika demikian, maka ia menjadi terlepas dari syariat Islam sepenuhnya.

Yang mengherankan bagi orang-orang seperti ini adalah bagaimana diatur untuk mereka gaji-gaji, dibangun untuk mereka ribath-ribath, diwakafkan kepada mereka wakaf-wakaf, dan manusia mengabdi kepada mereka, padahal mereka berpaling dari semua keutamaan. Tetapi manusia lebih dekat kepada orang-orang yang mirip dengan mereka.”

Ia berkata: “Sungguh kami panjang dalam ini dengan harapan seorang muslim yang berakal akan melihatnya dan mendapat manfaat darinya.” Semoga Allah membalas atasnya dengan balasan terbaik yang jelas. Dan semoga Allah membalas semua ulama kaum muslimin yang membela syariat penghulu para rasul, yang menaklukkan dengan ucapan-ucapan mereka orang-orang yang keluar dari agama dan orang-orang zindik.

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan kasihanilah kami apabila Engkau wafatkan kami, dan wafatkanlah kami dalam keadaan tidak terfitnah, tidak sesat, dan tidak menyesatkan, atas akidah yang benar lagi murni yang tidak tercampur dengan kekeruhan, yaitu akidah yang dipegang oleh Abu Bakar dan Umar semoga Allah meridhai mereka semua. Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada semua para Nabi dan Rasul, serta kepada keluarga dan sahabat mereka semua. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

Selesai ditulis oleh tangan pengarangnya.

Pengarangnya berkata, semoga Allah mengampuninya: Aku selesai mengumpulkan mutiara-mutiara ini dan menyusun faedah-faedah ini di Masjid Al-Azhar pada siang hari Jumat ketika khutbah, tanggal enam belas bulan Dzulkaidah Al-Haram tahun seribu tiga puluh.

۞۞۞۞۞

Facebook Comments Box

Penulis : Mara'i bin Yusuf bin Abi Bakr bin Ahmad Al-Karmi Al-Maqdisi Al-Hanbali

Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.

Artikel Terjkait

Rukun Iman
Beberapa Pelajaran dari Kisah Yusuf Alaihissalam
Al-Bidayah wa An-Nihayah (Permulaan dan Akhir) 01
Haramnya Bersumpah dengan Selain Allah
Pembunuhan Pertama dalam Sejarah
Menyempurnakan Niat Puasa Ramadhan
Ajaklah Keluargamu ke Surga
Hukum Menggunakan Jasa Pawang Hujan
Berita ini 3 kali dibaca

Artikel Terjkait

Kamis, 8 Januari 2026 - 14:22 WIB

Rukun Iman

Kamis, 8 Januari 2026 - 13:56 WIB

Kesaksian Suci dalam Pujian Para Imam terhadap Ibnu Taimiyyah

Rabu, 7 Januari 2026 - 15:05 WIB

Beberapa Pelajaran dari Kisah Yusuf Alaihissalam

Rabu, 7 Januari 2026 - 13:50 WIB

Al-Bidayah wa An-Nihayah (Permulaan dan Akhir) 01

Rabu, 7 Januari 2026 - 03:12 WIB

Haramnya Bersumpah dengan Selain Allah

Artikel Terbaru

Akidah

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:47 WIB

Fatwa Ulama

Akibat Dosa Menyebabkan Bencana Alam – Faedah 10

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:45 WIB

Dakwah

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Jan 2026 - 15:41 WIB