Beberapa Pelajaran dari Kisah Yusuf Alaihissalam

Rabu, 7 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Firman Allah Ta’ala tentang Ya’qub saat mengetahui apa yang dilakukan anak-anaknya terhadap Yusuf,

“Bahkan kalian menganggap baik urusan ini, maka kesabaran itulah yang terbaik. Dan Allah saja tempat meminta tolong atas apa yang kalian ceritakan.” (Yusuf: 18)

Dan ucapan Ya’qub  saat cobaan itu menguat, ketika anaknya yang lain (Bunyamin) ditahan di Mesir,

“Bahkan kalian menganggap baik urusan ini, maka kesabaran itulah yang terbaik. Moga-moga Allah mendatangkan kepadaku kedua-duanya (Yusuf dan Bunyamin). Sesungguhnya Ia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Yusuf: 83)

Di sini terdapat dalil  bahwa orang-orang suci dan terpilih saat tertimpa malapetaka dan musibah maka mereka menghadapinya di awal kejadian dengan sikap sabar dan isti’anah kepada Allah. Dan di kala bencana itu memuncak dan semakin berat mereka menyikapinya dengan kesabaran dan harapan yang sangat akan adanya jalan keluar. Maka, Allah memberi mereka taufik  untuk tetap beribadah kepada-Nya dalam dua keadaan (senang dan susah).

 

Kemudian tatkala bala bencana itu terangkat, mereka pun menyikapinya dengan kesyukuran dan pujian kepada Allah. Bertambah pula pengakuan mereka atas taufik dan perlindungan-Nya, seperti ucapan Yusuf,

“Wahai ayahandaku, inilah takwil mimpiku dahulu. Sungguh Allah telah menjadikannya kenyataan. Dan, sungguh Allah telah berbuat baik kepadaku saat Ia keluarkan aku dari penjara dan mendatangkan kalian dari kampung yang jauh setelah setan merusak hubunganku dengan saudara-saudaraku. Sungguh Rabb-ku Maha Lembut atas apa yang Ia kehendaki. Sesungguhnya Ia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Yusuf: 100)

Pelajaran lainnya adalah firman-Nya Ta’ala,

“Aku berlindung kepada Allah dari menahan seseorang kecuali yang kami temukan padanya harta kami. Sungguh jika demikian maka kami telah berlaku lalim.” (Yusuf: 79)

Merupakan dalil bahwa seseorang takkan memikul dosa orang lain. Disimpulkan juga satu persoalan yang subtil yaitu bahwa ‘al-ihsan’ itu baru menjadi kebaikan jika tidak mengandung tindakan yang haram atau ditinggalkannya kewajiban. Karena para saudara Yusuf menuntut Yusuf agar berbuat baik kepada mereka dengan membiarkan Bunyamin kembali kepada ayahnya dan menahan salah seorang dari mereka sebagai ganti Bunyamin. Maka Yusuf menampik permintaan ini dan mengatakan,

“Aku berlindung kepada Allah dari menahan seseorang kecuali yang kami temukan padanya harta kami. Sungguh jika demikian maka kami telah berlaku lalim.” (Yusuf: 79)

Maka, al-ihsan itu jika ada padanya unsur ‘hilangnya keadilan’ serta merta ia berubah menjadi kelaliman. Karena ini maka tidak boleh mengistimewakan sebagian anak dari yang lain, atau mengistimewakan sebagian istri dari sebagian yang lain – meski hal ini merupakan perbuatan ihsan kepada yang diistimewakan dan diutamakan, karena ia meninggalkan keadilan. Demikian pula pada kasus-kasus lain yang serupa. Wallahu a’lam.

Pelajaran lainnya adalah: bahwa sesungguhnya ayat-ayat Allah itu memberi manfaat bagi orang yang bertanya dan meminta bimbingan, yang berkeinginan mengetahui kebenaran dan mengikutinya.

“Sungguh dalam kisah Yusuf dan saudara-saudaranya ada ayat-ayat (jawaban) bagi orang yang bertanya.” (Surat Yusuf:7)

Adapun orang-orang yang lalai dan berpaling atau orang-orang yang menentang lagi keras kepala maka benarlah firman Allah Ta’ala tentang mereka,

“Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti ketentuan Rabbmu atas mereka tidaklah akan beriman. Meski datang kepada mereka semua ayat hingga mereka melihat sendiri azab yang pedih.” (Yunus: 96-97)

Sehingga, mencermati ayat-ayat Allah yang dibacakan dan ayat-ayat Allah yang ada di alam semesta niscaya memberi manfaat kepada orang yang niatannya mencari kebenaran. Sebagaimana firman Allah,

“Allah memberi hidayah dengan Kitab itu siapa yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan.” (Surat Al Ma`idah: 16)

Betapa banyak ayat di dalam Al-Qur`an yang memerintahkan agar mengambil manfaat dengan batasan ini: sesungguhnya dalam hal itu terdapat ayat-ayat bagi orang yang beriman, ayat-ayat bagi orang yang yakin, ayat-ayat bagi ulil albab, ayat-ayat bagi ulil albab dan ulil abshar.

Pelajaran lainnya adalah: bahwa musyawarah itu sangat berguna dalam segala hal bahkan dalam hal meringankan kejahatan. Untuk inilah saudara-saudara Yusuf bermusyawarah tentang apa yang akan mereka lakukan terhadap Yusuf: membunuhnya atau melemparkannya ke dalam bumi. Kemudian mereka bersatu pendapat pada usulan salah seorang dari mereka agar membuang Yusuf ke dalam sumur hingga ia dipungut rombongan dagang yang melintas. Di sini ada penguat bagi kaidah: menempuh kerusakan yang lebih ringan itu lebih utama dibanding melakukan yang paling parah di antara dua pilihan.

Ketika ditetapkan keputusan untuk menahan orang yang di dalam bawaannya terdapat piala raja dan ketika para saudara Yusuf mendesak Yusuf agar menahan pengganti Bunyamin karena mereka tahu derita ayah mereka – di mana Yusuf menolak permintaan itu – maka mereka pun memisahkan diri sambil berbisik-bisik melakukan perundingan (musyawarah).

Lantas mereka pun sependapat dengan usulan orang yang tertua di antara mereka. Yakni dia (si sulung) akan tetap tinggal di Mesir menunggu penyelesaian masalah Bunyamin (Yusuf: 80)  sedangkan yang lain pulang menemui keluarga mereka dan memberi kabar kepada ayahnya perihal Bunyamin dan menjelaskan duduk perkaranya.

Tidak ragu bahwa tinggalnya si sulung di Mesir lebih ringan bagi Ya’qub dan lebih membesarkan harapannya. Dan dalam pada ini ada usaha yang melegakan dari si sulung untuk menemukan kembali kedua saudaranya, Yusuf dan  Bunyamin. Karena inilah maka Ya’qub berkata,

“Moga-moga Allah mendatangkan kepadaku kedua-duanya (Yusuf dan Bunyamin). Sesungguhnya Ia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Yusuf: 83)

Diterjemahkan dari Pasal 10 Kitab Badaiul Fawaid Mustambathah Min Qissati Yusuf Alaihissalam, Syaikh Abdurrahman Nashir Sa’dy rahmatullah alaihi

Facebook Comments Box

Penulis : Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Si’dy

Artikel Terjkait

Rukun Iman
Kesaksian Suci dalam Pujian Para Imam terhadap Ibnu Taimiyyah
Al-Bidayah wa An-Nihayah (Permulaan dan Akhir) 01
Haramnya Bersumpah dengan Selain Allah
Pembunuhan Pertama dalam Sejarah
Menyempurnakan Niat Puasa Ramadhan
Ajaklah Keluargamu ke Surga
Hukum Menggunakan Jasa Pawang Hujan
Berita ini 1 kali dibaca

Artikel Terjkait

Kamis, 8 Januari 2026 - 14:22 WIB

Rukun Iman

Kamis, 8 Januari 2026 - 13:56 WIB

Kesaksian Suci dalam Pujian Para Imam terhadap Ibnu Taimiyyah

Rabu, 7 Januari 2026 - 15:05 WIB

Beberapa Pelajaran dari Kisah Yusuf Alaihissalam

Rabu, 7 Januari 2026 - 13:50 WIB

Al-Bidayah wa An-Nihayah (Permulaan dan Akhir) 01

Rabu, 7 Januari 2026 - 03:12 WIB

Haramnya Bersumpah dengan Selain Allah

Artikel Terbaru

Akidah

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:47 WIB

Fatwa Ulama

Akibat Dosa Menyebabkan Bencana Alam – Faedah 10

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:45 WIB

Dakwah

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Jan 2026 - 15:41 WIB