Di era digital seperti saat ini, kemajuan teknologi dan media sosial berkembang pesat, sehingga mengubah kebiasaan dan cara manusia berinteraksi. Salah satu nya adalah penggunaan media sosial yang semakin meningkat. Banyak orang yang menggunakan media sosial sebagai sarana berinteraksi dan sarana bertukar informasi.
Media sosial atau social media adalah pelantar digital yang memfasilitasi penggunanya untuk saling berinteraksi atau membagikan konten berupa tulisan, foto, video, dan merupakan pelantar digital yang menyediakan fasilitas untuk melakukan aktivitas sosial bagi setiap penggunanya (wikipedia.org.)
Banyak media sosial yang kini semakin populer seperti, TikTok, YouTube, Twitter, Instagram, Facebook, dan lainnya. Pasti kalian sudah tidak asing dengan beberapa aplikasi tersebut. Mengutip dari data.ai (2023), “Indonesia menempati posisi teratas dalam durasi penggunaan ponsel, yang mencapai 5,7 jam sehari dalam penggunaan aplikasi di ponsel mereka.”
Dampak Negatif Scrolling Berlebihan
Banyak dampak yang ditimbulkan dari scrolling di media sosial. Mungkin sebagian orang menganggap bahwa scrolling media sosial merupakan hal yang biasa dilakukan untuk mengisi waktu luang. Padahal, tanpa kita sadari, banyak kerugian yang ditimbulkan dari scrolling ponsel yang dapat mengganggu kesehatan mental dan fisik.
Salah satu dampak buruk yang biasa terjadi adalah doomscrolling atau doomsurfing, mengutip dari (Detik.com) Dorongan untuk terus-menerus melihat berita negatif dipengaruhi oleh meningkatnya konflik, seperti kekerasan, bencana alam yang terus terjadi, dan ketegangan politik yang mendominasi media. Dalam situasi seperti ini, banyak dari kita yang merasa terdorong untuk terus memantau berita yang ada.
Terlalu sering terpapar berita atau konten negatif dapat menyebabkan stres berlebih, rasa takut, bahkan depresi.
Selain itu, menatap ponsel terlalu lama dapat menyebabkan masalah fisik, seperti gangguan penglihatan dan gangguan postur tubuh. Kecanduan scrolling ponsel juga dapat meningkatkan hormon dopamine dan kortisol, yang membuat otak sulit rileks dan mengganggu kualitas istirahat. Tanpa disadari, produktivitas kita juga menurun akibat terlalu lama menatap ponsel. Semua hal itu diperparah oleh adanya sistem algoritma yang membuat kita merasa betah menatap ponsel secara terus-menerus.
Ditambah lagi, belakangan ini marak terjadi kasus judi online (judol). Hal ini dipengaruhi oleh banyaknya iklan judi online yang bertebaran di berbagai platform digital. Menurut (Liputan6.com) Psikolog anak, remaja, dan keluarga dari Tigagenerasi, Ayoe Sutomo, mengungkapkan bahaya kecanduan judi online yang tidak hanya menghancurkan keuangan, tapi juga mengancam kesehatan mental.
Banyak orang terutama anak muda, yang tergiur karena tampaknya mudah dan sangat menguntungkan. Padahal, judi online dapat menyebabkan kecanduan, menguras keuangan, terlilit utang, dan berdampak pada Kesehatan mental seperti depresi.
Ditambah lagi akibat kebanyakan scrolling, tidak jarang orang yang lupa akan waktu. Sedangkan Allah sudah menurunkan perintah untuk selalu beribadah kepada Nya, namun, akibat terlalu banyak scrolling banyak orang yang menjadi terbiasa lalai dalam beribadah (Sholat) Padahal, sudah dijelaskan di dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala yang berbunyi:
يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَࣖ ٣١
“Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (Q.s Al- A’raf 7: 31)
Dalam ayat tersebut Allah telah memberitahu, bahwa Allah tidak menyukai orang yang berlebih lebihan, terutama dalam melakukan hal yang sia- sia.
Manfaat Scrolling jika Dilakukan dengan Bijak
Disisi lain, banyak manfaat scrolling media sosial dikutip dari (idntimes.com) Medsos menyerupai keranjang raksasa yang berisi begitu banyak ide dan kamu tinggal memungutnya satu per satu dengan kepekaanmu.
Sejak wabah COVID-19, banyak orang yang memanfaatkan platform digital seperti TikTok dan Instagram sebagai tempat membangun personal branding atau sekedar menyalurkan kejenuhan selama pandemi. Selain itu, ada pula orang yang memanfaatkan media sosial untuk memperoleh penghasilan dengan menggunakan platform digital, seperti Shopee dan Tokopedia.
Selain itu, media sosial juga dapat memberikan akses informasi dalam hitungan detik. Dengan scrolling, otak kita mampu memproses dan menyimpan informasi dengan cepat hanya dengan melihat sekilas konten yang muncul di layar. Hal ini menjadikan media sosial sebagai sumber wawasan yang sangat luas apabila kita dapat memilah informasi secara cermat.
Media sosial juga dapat menjadi sarana memperluas jaringan pertemanan. Dengan scrolling kita dapat dengan mudah menemukan komunitas yang cocok dengan hobi, pekerjaan, atau rutinitas kita. Mengikuti sebuah komunitas juga dapat melatih keterampilan sosial, membangun relasi, dan membuka kesempatan kerja. Didalam sebuah komunitas kita dapat menemukan teman atau seseorang yang mungkin cocok dengan kita unuk saling menyalurkan atau sharing seputar hobi, kebiasaan, atau pekerjaan. Tak heran, saat ini banyak orang menemukan peluang bisnis, proyek kolaborasi, atau bahkan pekerjaan hanya dengan berinteraksi di media sosial.
Bagaimana Cara Bermedia Sosial yang Sehat?
Agar kita tidak terjebak dalam dampak negatif scrolling, penting untuk menerapkan kebiasaan yang lebih sehat saat menggunakan media sosial.
Pertama, batasi waktu penggunaan media sosial agar tidak berlebihan. Kini, banyak aplikasi yang menyediakan fitur untuk mengatur durasi penggunaan harian, yang bisa membantu mengontrol waktu scrolling.
Kedua, pilih konten yang bermanfaat. Dengan mengikuti akun yang menyediakan informasi edukatif. Dengan begitu, waktu yang dihabiskan di media sosial tetap bermanfaat.
Ketiga, hindari doomscrolling. Terlalu banyak membaca berita negatif membuat suasana hati memburuk, cobalah untuk mengurangi konsumsi konten tersebut dan beralih ke hal-hal yang lebih positif.
Keempat, gunakan media sosial untuk hal produktif. Seperti, mempelajari keterampilan baru, membangun jaringan pertemanan, atau bahkan mencari peluang bisnis. Dengan cara ini, scrolling bisa menjadi kebiasaan yang berdampak positif, bukan sekadar aktivitas yang membuang waktu.
Kesimpulan
Pada dasarnya kegiatan Scrolling media sosial bagaikan pisau bermata dua. Bila digunakan dengan bijak, ia akan menjadi alat yang sangat bermanfaat untuk belajar, hingga mendapatkan penghasilan. Namun apabila tidak digunakan dengan bijak, justru media sosial akan membawa kepada hal negatif







