Taman Nasihat untuk Hati yang Mendengar
بُسْتَانُ الْوَاعِظِينَ وَرِيَاضُ السَّامِعِينَ
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
1. Tafsir Isti’adzah
Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Surat al-A’raf: 200)
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Apabila kamu membaca al-Quran, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah.” (Surat an-Nahl: 98)
Maknanya: memohonlah perlindungan kepada Allah ketika engkau hendak membaca al-Quran. “A’udzu billah” artinya aku berlindung kepada Allah sebagai tempat berlindung dan perlindungan. Dikatakan: ini adalah perlindunganku dari apa yang aku takuti, yaitu tempat berlindungku dan yang menolak bahaya dariku. Seorang wanita disebut ‘aidzah (yang berlindung) karena dia berlindung dengan anaknya.
Memohon perlindungan dengan al-Quran adalah obat dari bencana-bencana setan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memohon perlindungan dari banyak bencana yang telah diriwayatkan secara mutawatir dalam berbagai hadits.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memohon perlindungan dari sifat kikir, pengecut, pikun, malas, azab kubur, dan fitnah Dajjal. Maka mohonlah perlindungan dari apa yang dimohonkan perlindungannya oleh Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam, dan berlindunglah kepada Maulamu Yang Maha Agung dari tipu daya setan yang terkutuk.
Aku berlindung kepada Allah, aku mencari perlindungan kepada Allah, aku meminta kecukupan kepada Allah. Wahai pembaca, wahai yang membaca, kepada siapa engkau berlindung? Kepada siapa engkau memohon pertolongan? Kepada siapa engkau minta tolong? Kepada siapa engkau meminta perlindungan? Kepada siapa engkau meminta pertolongan? Kepada siapa engkau berpegang teguh? Kepada siapa engkau mencari perlindungan? Kepada siapa engkau meminta kecukupan? Tidak lain kecuali kepada Allah.
2. Nasihat-nasihat
Ketahuilah bahwa orang yang memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk adalah orang yang berpegang teguh pada tali Allah yang kokoh. Aku berlindung kepada Allah dari dosa-dosa dan kemaksiatan. Aku berlindung kepada Allah dari kesesatan dan pengabaian. Aku berlindung kepada Allah dari kemurkaan Yang Maha Pengasih.
Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa hamba apabila berpegang teguh pada tali sultan (penguasa) yang makhluk akan selamat dari kejahatan orang-orang zalim, maka lebih patut lagi orang yang memohon perlindungan kepada Rabb semesta alam akan selamat dari setan musuh yang terkutuk.
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa memohon perlindungan kepada Allah dalam sehari sepuluh kali dari setan yang terkutuk, Allah akan mewakili baginya malaikat yang mengusir kejahatan setan darinya sebagaimana seekor unta asing diusir dari tempat minum.” Maka bagaimana mungkin tidak selamat orang yang memohon perlindungan kepada Allah dari setan, sedangkan malaikat mengusirnya dengan perintah Allah Yang Maha Pengatur?
3. Tata Cara Isti’adzah
Aku berlindung kepada Allah dari memakan yang haram. Aku berlindung kepada Allah dari menzalimi orang-orang lemah dan anak yatim. Aku berlindung kepada Allah dari melakukan dosa-dosa besar dan perbuatan maksiat. Aku berlindung kepada Allah dari kemurkaan Allah Yang Maha Mengetahui.
Aku berlindung kepada Allah dari tidak mendapat taufik untuk beramal baik. Aku berlindung kepada Allah dari bersandar pada angan-angan panjang. Aku berlindung kepada Allah dari menghabiskan umur dalam menyelisihi petunjuk orang-orang yang berbakti. Dan kami meminta pertolongan-Nya untuk menyucikan hati dari kecurigaan-kecurigaan yang muncul dan kejahatan ghibah (menggunjing), karena ia adalah penyakit yang obatnya sangat sulit, penyembuhannya sulit, dan bencanyanya meluas. Sebagaimana kami meminta pertolongan-Nya untuk menyucikan batin kami dari cinta dunia, karena cinta dunia adalah pangkal setiap kesalahan dan sumber setiap bencana. Oleh karena itu kami memohon kepada-Nya ilmu yang bermanfaat, amal yang diterima, iman yang murni, dan keyakinan yang benar.
Aku berlindung kepada Allah dari pendapat yang menjadi kesesatan. Aku berlindung kepada Allah dari amal yang menjadi penyesalan dan malapetaka. Aku berlindung kepada Allah dari niat yang menyebabkan dosa. Aku berlindung kepada Allah dari tekad yang mendatangkan kejahatan. Aku berlindung kepada Allah dari tidak mendapat taufik. Aku berlindung kepada Allah dari meninggalkan ketelitian. Aku berlindung kepada Allah dari meninggalkan kelapangan dan kembali kepada kesempitan.
4. Peringatan dari Setan
Wahai hamba-hamba Allah, pikirkanlah tentang pengusiran bapak kalian Adam dari surga, negeri keamanan, dan turunnya ke negeri kehinaan dan kerendahan. Penyebab semua itu adalah setan yang terkutuk.
Maulamu telah melarang kalian dari menaatinya dan memerintahkan kalian untuk mendurhakainyua. Karena sesungguhnya dalam menaatinya ada kemurkaan Yang Maha Pengasih, dan mendurhakainyalah yang mewajibkan tinggal di surga dan turunnya ke tempat keridhaan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir).” (Surat al-Baqarah: 268) Maka barangsiapa menaatinya, ia akan menghinakannya dan menghalanginya dari petunjuk, serta membuka di hatinya pintu-pintu kesesatan dan kebinasaan.
Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Dan adalah setan itu kepada manusia pengkhianat.” (Surat al-Furqan: 29)
Aku berlindung kepada Allah dari was-was di dada. Aku berlindung kepada Allah dari tipu daya dan pengkhianatan. Aku berlindung kepada Allah dari kekacauan urusan. Aku berlindung kepada Allah dari sedikitnya syukur. Aku berlindung kepada Allah dari azab kubur. Aku berlindung kepada Allah dari meninggalkan taubat. Aku berlindung kepada Allah dari beratnya azab. Aku berlindung kepada Allah dari rincian hisab. Aku berlindung kepada Allah dari kemurkaan Rabb segala Rabb.
5. Ta’awudz adalah Ibadah
Ketahuilah wahai hamba-hamba Allah bahwa memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk adalah termasuk ibadah yang paling utama, karena Allah Ta’ala telah memerintahkan hamba-Nya yang beriman untuk memohon perlindungan kepada-Nya dari setan yang terkutuk dalam al-Quran yang mulia.
Demi Allah, demi Allah, janganlah kalian membahagiakan musuh kalian setan, karena ia akan menjerumuskan kalian ke dalam azab neraka dan menghalangi kalian dari negeri kekal dan tempat tinggal di surga.
Aku berlindung kepada Allah dari hal-hal yang membinasakan amal. Aku berlindung kepada Allah dari kesesatan dan kemustahilan. Aku berlindung kepada Allah dari kemurkaan Yang Maha Mulia.
Ketahuilah—semoga Allah memberi taufik kepada kami dan kalian—bahwa barangsiapa memasuki benteng akan selamat dari kejahatan musuh-musuh dan berada dalam perlindungan Yang Memiliki nikmat dan karunia. Dan barangsiapa memohon perlindungan kepada Allah Yang Maha Pengasih akan selamat dari kejahatan musuh setan.
Isti’adzah adalah benteng yang paling kokoh bagi agama orang mukmin dari tipu daya setan yang terkutuk, dan perlindungan yang paling aman bagi hatinya dari bisikan musuh yang hina.
Aku berlindung kepada Allah dari kesaksian palsu. Aku berlindung kepada Allah dari melakukan kefasikan. Aku berlindung kepada Allah dari kesesatan dan keengganan. Aku berlindung kepada Allah dari setan yang dijauhkan dan dihinakan. Aku berlindung kepada Allah dari bersandar pada negeri tipuan. Aku berlindung kepada Allah dari kemurkaan Allah Yang Maha Pengampun.
6. Ta’awudz Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau biasa mengucapkan: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari teman yang lalai, teman yang buruk, dan roh yang menyakitkan.”
Aku berlindung kepada Allah dari kegembiraan musuh-musuh. Aku berlindung kepada Allah dari kecewaan harapan. Aku berlindung kepada Allah dari penyakit yang sulit disembuhkan. Aku berlindung kepada Allah dari menyelisihi petunjuk. Aku berlindung kepada Allah dari perbuatan-perbuatan yang membinasakan. Aku berlindung kepada Allah dari kemurkaan Yang Memiliki nikmat dan karunia. Aku berlindung kepada Allah dari kesalahan lisan. Aku berlindung kepada Allah dari namimah (adu domba) dan penghinaan. Aku berlindung kepada Allah dari ghibah dan tuduhan palsu. Aku berlindung kepada Allah dari hukuman Allah Yang Maha Mengatur.
7. Hadits-hadits tentang Azab Kubur
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau melewati Baqi’ lalu berhenti di sebuah kubur kemudian berkata: “Sekarang mereka mendudukkannya, dan sekarang mereka menanyainya. Demi Dzat yang mengutus aku dengan kebenaran, sungguh mereka telah memukulnya dengan pentung dari api, hingga hatinya beterbangan menjadi api.” Kemudian beliau berhenti di kubur lain dan berkata seperti ucapan beliau pada kubur pertama. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada para sahabatnya: “Seandainya aku tidak khawatir pada hati kalian, niscaya aku akan meminta Allah agar kalian mendengar azab kubur seperti yang aku dengar.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, apa yang dilakukan kedua orang ini?” Beliau ‘alaihis salam menjawab: “Adapun salah seorang dari keduanya berjalan dengan namimah (adu domba) di antara manusia, dan yang lainnya tidak bersuci dari air kencing.”
8. Sebab-sebab Azab Kubur
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Tidak ada seorang pun yang diazab di dalam kuburnya kecuali karena salah satu dari tiga hal: ghibah, namimah, dan air kencing.”
Maka demi Allah, demi Allah wahai hamba-hamba Allah, mohonlah perlindungan kepada Allah dari ghibah, namimah, tuduhan palsu, dan menyakiti tetangga, karena semua itu menjauhkan dari Yang Maha Pengasih, mendekatkan kepada setan, menghalangi dari surga, dan menjerumuskan ke dalam neraka.
Aku berlindung kepada Allah dari cacat agama. Aku berlindung kepada Allah dari lemahnya keyakinan. Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Aku berlindung kepada Allah dari kemurkaan Rabb semesta alam. Aku berlindung kepada Allah dari setan yang dihinakan. Aku berlindung kepada Allah dari azab kubur. Aku berlindung kepada Allah dari meninggalkan kenikmatan dan kegembiraan. Aku berlindung kepada Allah dari terhalang dari negeri kebahagiaan. Aku berlindung kepada Allah dari azab kecelakaan dan kehancuran. Aku berlindung kepada Allah dari hukuman Dzat yang mengetahui apa yang ada di dalam dada.
9. Al-Quran Memerintahkan Isti’adzah
Ketahuilah wahai hamba-hamba Allah bahwa barangsiapa memohon perlindungan kepada Allah Yang Maha Agung dari setan yang terkutuk, maka ia telah beramal dengan al-Quran yang bijaksana. Hal itu karena Allah Tabaraka wa Ta’ala memerintahkannya untuk memohon perlindungan dari iblis yang terkutuk dalam banyak ayat al-Quran. Maka barangsiapa memohon perlindungan kepada Allah Yang Maha Pemberi dari kejahatan setan yang pendusta, maka ia telah beramal dengan Sunnah dan hukum-hukum al-Quran.
Al-Quran adalah pemberi syafaat bagi yang mengamalkannya dan musuh bagi yang tidak mengamalkannya.
Ketahuilah wahai hamba-hamba Allah bahwa setan menghalangi kalian dari beramal dengan al-Tanzil (al-Quran), menjauhkan kalian dari Allah Yang Maha Mulia, dan menjerumuskan kalian ke dalam kemaksiatan-Nya agar kalian masuk ke dalam azab yang kekal dan panjang pada hari yang menakutkan, keras, dan berat.
10. Setiap Orang Memiliki Setan
Diriwayatkan dari Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha bahwa ia berkata: Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, tidak ada seorang pun kecuali bersamanya ada setan?” Beliau menjawab: “Ya.” Ia bertanya lagi: “Dan engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Dan aku, kecuali bahwa Allah telah menolongku atasnya sehingga ia masuk Islam.”
Aku berlindung kepada Allah dari kekhusyukan kemunafikan. Aku berlindung kepada Allah dari kejauhan dan perpisahan. Aku berlindung kepada Allah dari menyelisihi Allah Sang Pencipta. Aku berlindung kepada Allah dari azab hari pertemuan. Aku berlindung kepada Allah dari perselisihan setelah kesepakatan.
Dan mereka membaca syair:
“Celakalah engkau, berlindunglah kepada Allah Yang Maha Mulia”
“Yang memiliki keagungan, nikmat, dan karunia”
“Kemudian bacalah ayat-ayat dari al-Quran”
“Dan esakan Allah, jangan takut”
Aku berlindung kepada Allah dari hamba yang tersesat. Aku berlindung kepada Allah dari setan yang durhaka. Aku berlindung kepada Allah dari musuh yang dengki. Aku berlindung kepada Allah dari hati yang rusak. Aku berlindung kepada Allah dari badan yang malas dalam ketaatan.
Ketahuilah wahai hamba-hamba Allah bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala apabila menghendaki kebaikan pada hamba-Nya, Dia menjauhkan setannya darinya, menolongnya atas setan, mengaktifkannya untuk taat, dan menghilangkan kemalasan dari badannya. Maka hamba pada saat itu menghadap kepada Maulanya, berpaling dari selain-Nya, dan lebih mengutamakan keridhaan tuannya daripada hawa nafsunya. Pada saat itulah Allah menjadikan surga yang tinggi sebagai tempat tinggalnya.
Dan apabila Allah menghendaki kejahatan pada hamba-Nya, Dia menguasakan setannya padanya dan menguasakan setan atas dirinya. Maka setan menjauhkannya dari ketaatan kepada Yang Maha Perkasa, membuatnya malas dari amal orang-orang yang berbakti, menjadikan ia mencintai amal ahli neraka, dan membenci amal ahli negeri kekal.
11. Kegembiraan Setan dengan Orang yang Bermaksiat dan Bodoh
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Apabila seseorang mencapai usia empat puluh tahun dan kebaikannya tidak mengalahkan keburukannya, setan menciumnya di antara dua matanya dan berkata: ‘Aku tebus wajah yang tidak akan pernah beruntung selamanya.'” Maka apabila ia mendapat ampunan Allah dan Allah menerima taubatnya, dan Allah menyelamatkannya dari kesesatan serta mengeluarkannya dari kegelapan kebodohan, setan laknatullah ‘alaih berkata: “Celakalah aku, ia menghabiskan umurnya dalam kesesatan dan itu membahagiakan mataku, kemudian Allah mengeluarkannya dengan taubat dari kebodohan dan itu memperbanyak kesedihanku dengan taubat.”
Maka demi Allah, demi Allah wahai hamba-hamba Allah, janganlah kalian menerima bisikan musuh setan, dan kembalilah dengan taubat kepada Maula kalian Yang Maha Pengasih. Mudah-mudahan Dia menutupi dosa-dosa dan aib-aib kalian dengan tutupan ampunan. Sesungguhnya Dia Maha Mulia, Maha Memberi karunia, Maha Pemurah.
Aku berlindung kepada Allah dari kesengsaraan setelah kebahagiaan. Aku berlindung kepada Allah dari tipu daya setelah keinginan. Aku berlindung kepada Allah dari kekurangan setelah penambahan. Aku berlindung kepada Allah dari kekufuran setelah keimanan. Aku berlindung kepada Allah dari pemutusan dan kehilangan. Aku berlindung kepada Allah dari menaati setan. Aku berlindung kepada Allah dari hukuman dan kehinaan. Aku berlindung kepada Allah dari melanggar janji. Aku berlindung kepada Allah dari menyelisihi Allah Yang Maha Disembah. Aku berlindung kepada Allah dari azab yang kekal dan abadi. Aku berlindung kepada Allah dari kemurkaan Yang Memiliki kemuliaan dan kedermawanan.
Wahai hamba-hamba Allah, berhati-hatilah dari tipu muslihat setan, karena ia mengenal cacat-cacat, ahli dalam menjerumuskan hamba ke dalam dosa-dosa. Ia memiliki banyak jalan menuju hati, maka mohonlah perlindungan dari kejahatannya kepada Maula kalian Yang Mengetahui semua yang gaib.
Aku berlindung kepada Allah dari hati yang tidak khusyuk. Aku berlindung kepada Allah dari mata yang tidak menangis. Aku berlindung kepada Allah dari doa yang tidak didengar. Aku berlindung kepada Allah dari amal yang tidak diangkat. Aku berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat.
Aku berlindung kepada Allah dari masuk ke dalam azab Allah. Aku berlindung kepada Allah dari terhalang dari rahmat Allah. Aku berlindung kepada Allah dari berhias dengan kemaksiatan kepada-Nya.
Aku berlindung kepada Allah dari penyimpangan hati. Aku berlindung kepada Allah dari berturut-turutnya dosa. Aku berlindung kepada Allah dari bertumpuknya cacat. Aku berlindung kepada Allah dari kemurkaan Dzat Yang Mengetahui semua yang gaib.
Aku berlindung kepada Allah dari fitnah-fitnah yang menyesatkan. Aku berlindung kepada Allah dari bencana dan cobaan. Aku berlindung kepada Allah dari kemurkaan Yang Memiliki kedermawanan dan karunia.
Aku berlindung kepada Allah dari kekurangan setelah kesempurnaan. Aku berlindung kepada Allah dari mundur setelah maju. Aku berlindung kepada Allah dari kemurkaan Dzat Yang Maha Bijaksana dari segala yang bijaksana.
12 – Bala Tentara Iblis
Disebutkan dalam beberapa berita bahwa Iblis, semoga Allah melaknatnya, mengirimkan setiap hari tiga ratus enam puluh pasukan untuk menyesatkan orang-orang beriman, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memandang ke dalam hati mereka tiga ratus enam puluh pandangan. Dalam setiap pandangan dari pandangan-Nya, satu pasukan dari pasukan-pasukan Iblis binasa. Maka bagaimana mungkin masih ada pasukan setan yang tersisa di hadapan pandangan Yang Maha Pengasih.
Maka demi Allah, demi Allah wahai para hamba Allah, janganlah kalian menerima bisikan setan yang tertipu itu. Gunakanlah hati dan dada kalian dengan ayat-ayat Al-Quran dan khusyuk, dan keluarkanlah air mata yang deras atas kelalaian yang telah kalian lakukan.
Aku berlindung kepada Allah dari akibat-akibat perselisihan. Aku berlindung kepada Allah dari keberanian dan meremehkan. Aku berlindung kepada Allah dari kemaksiatan dan kurangnya pengakuan.
Aku berlindung kepada Allah dari kebatilan dan kejahatannya. Aku berlindung kepada Allah dari setan dan tipudayanya. Aku berlindung kepada Allah dari kemaksiatan dan mengingatnya.
Aku berlindung kepada Allah dari rusaknya hati. Aku berlindung kepada Allah dari berturut-turutnya dosa demi dosa. Aku berlindung kepada Allah dari murka Raja Yang Maha Pengasih.
13 – Dialog Iblis dengan Musa
Diriwayatkan bahwa setan, semoga laknat Allah tercurah padanya, berkata kepada Musa bin Imran, semoga shalawat Allah atas Nabi kita Muhammad dan atas Nabi Musa: Janganlah engkau menyendiri dengan seorang wanita yang bukan mahram, karena aku akan menjadi orang ketiga di antara kalian berdua. Janganlah engkau menunda, karena aku akan mendapatkan kesempatan darimu. Apabila engkau berniat untuk bersedekah, maka segerakanlah, karena jika engkau tidak menyegerakannya, aku akan membukakan untukmu tujuh puluh pintu kemiskinan yang dengannya aku akan menghalangimu dari sedekah.
Dan dikatakan dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan kepadamu ampunan daripadanya dan karunia” (Surah Al-Baqarah ayat 268).
Artinya setan mengembalikanmu kepada nafsumu dan membuatmu lupa dari kesibukan dengan Tuhanmu. Dan dikatakan: ia menjanjikan kemiskinan kepadamu dalam mencari rezeki di atas kecukupan, sehingga padamu ada yang mencukupimu tetapi engkau bersemangat mengumpulkan yang lebih, dan itulah kemiskinan yang melekat. Ia mengembalikanmu dari kekayaan yang mencukupi kepada mengejar kelebihan, dan itulah kemiskinan yang hadir yang membawa pemiliknya kepada azab yang kekal dan keras.
Dan dikatakan: ia menjanjikan kemiskinan kepadamu dalam memberi dan beramal untuk keridhaan Allah ‘Azza wa Jalla, padahal itu adalah kekayaan, karena Allah Ta’ala menjanjikan kepadamu ampunan dan karunia. Maka sepantasnya bagi hamba untuk mengingat nikmat-nikmat Allah Ta’ala atasnya, kebaikan-Nya kepadanya, dan karunia-Nya baginya.
14 – Asal-usul Kikir dan Murah Hati
Ketahuilah wahai para hamba Allah bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman dalam Al-Quran yang diturunkan melalui lisan Muhammad Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Dan barangsiapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Surah Al-Hasyr ayat 9). Barangsiapa yang kikir dan pelit, maka ia bukan orang yang terjaga dan bukan pula orang yang beruntung.
Ketahuilah bahwa kikir adalah pohon di dalam neraka dan cabang-cabangnya menjuntai ke dunia. Ia adalah pohon setan. Barangsiapa yang bergantung pada salah satu cabangnya, maka ia akan membawanya ke neraka.
Demikian juga kedermawanan adalah pohon di surga dan cabang-cabangnya menjuntai ke dunia. Barangsiapa yang bergantung pada salah satu cabangnya, maka ia akan menariknya ke nikmat surga. Kedermawanan adalah akhlak Raja Yang Maha Mulia. Barangsiapa yang bergantung padanya, maka ia telah membuat murka setan yang terkutuk.
Buktinya adalah bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala tidak pernah mengutus seorang nabi pun melainkan ia dermawan, dan kalian tidak pernah melihat seorang hamba yang saleh melainkan ia dermawan.
Maka kedermawanan adalah akhlak para nabi dan orang-orang yang jujur (shiddiqin), dan ia adalah akhlak Tuhan semesta alam. Maka praktikkanlah di antara kalian wahai para mukmin dan mukminat, wahai umat Muhammad penutup para nabi.
Aku berlindung kepada Allah dari mata yang tidak menangis karena-Nya. Aku berlindung kepada Allah dari hati yang tidak merindukan-Nya. Aku berlindung kepada Allah dari doa yang tidak sampai kepada-Nya. Aku berlindung kepada Allah dari kehinaan kecuali kepada-Nya.
15 – Keselamatan Orang yang Berlindung dari Azab
Ketahuilah wahai para hamba Allah bahwa orang yang berlindung kepada Allah Yang Maha Agung dari setan yang terkutuk akan selamat dari azab yang pedih. Hal itu karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan kepadamu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui” (Surah Al-Baqarah ayat 268). Sesungguhnya setan menyuruh kalian berbuat keji agar ia membakar yang lain sebagaimana ia membakar dirinya sendiri.
Allah Ta’ala berfirman: “Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka)” (Surah An-Nisa ayat 89). Aku berlindung kepada Allah dari permainan dan kelalaian. Aku berlindung kepada Allah dari azab dan penyesalan. Aku berlindung kepada Allah dari murka Tuhan langit dan bumi.
Saudara-saudaraku, taatilah Tuhan kalian Yang Maha Agung, tinggalkan tipu daya setan yang hina dan rendah, dan beramallah dengan Sunnah dan Al-Quran.
16 – Sifat-sifat Kebaikan dari Imam Ali
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, semoga Allah memuliakan wajahnya, bahwa ia berkata: Barangsiapa yang mengumpulkan enam sifat, maka ia tidak meninggalkan tuntutan untuk surga dan tidak ada jalan melarikan diri dari neraka. Yang pertama: mengenal Allah lalu menaati-Nya. Yang kedua: mengenal setan lalu mendurhakainyanya. Yang ketiga: mengenal kebenaran lalu mengikutinya. Yang keempat: mengenal kebatilan lalu menjauhinya. Yang kelima: mengenal dunia lalu berpaling darinya. Yang keenam: mengenal surga lalu mengejarnya.
Maka demi Allah, demi Allah wahai para hamba Allah, bersungguh-sungguhlah dalam ketaatan kepada Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dan jauhilah tipu daya setan yang terkutuk.
17 – Di antara Para Sahabat dan Orang Saleh yang Melihat Iblis
Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku melihat Iblis yang terkutuk dalam mimpi dalam keadaan terbalik. Aku bermaksud memukulnya dengan tongkat, maka ia berkata kepadaku: Wahai Abu Sa’id, tidakkah engkau tahu bahwa aku tidak takut dengan tongkat dan tidak pula dengan senjata? Maka aku berkata kepadanya: Wahai yang terkutuk, lantas apa yang engkau takutkan? Ia menjawab: Aku takut dari dua hal. Salah satunya adalah perlindungan orang-orang yang berlindung, dan yang lainnya adalah pancaran ma’rifat orang-orang yang jujur.
Aku berlindung kepada Allah dari orang yang tidak kasihan pada dirinya sendiri. Aku berlindung kepada Allah dari orang yang tidak menangisi kuburnya. Aku berlindung kepada Allah dari orang yang tidak mempersiapkan hari ini dari hari kemarin.
Diceritakan dari Al-Junaid rahimahullah ‘alaihi bahwa ia berkata: Aku melihat Iblis dalam mimpi dalam keadaan telanjang bermain-main dengan manusia. Maka aku berkata: Tidakkah engkau malu dengan manusia? Yang terkutuk menjawab: Demi Allah, apakah menurutmu orang-orang ini adalah manusia? Seandainya mereka adalah manusia, aku tidak akan bermain-main dengan mereka sebagaimana anak-anak bermain dengan bola. Aku berkata kepadanya: Wahai yang terkutuk, lalu siapa manusia itu? Ia menjawab: Tiga orang di masjid Syirazi—demikian nama masjid itu—telah menyakitkan hatiku dan melemahkan tubuhku. Setiap kali aku berniat jahat terhadap mereka, mereka berisyarat kepada Allah Ta’ala, maka aku hampir terbakar. Al-Junaid berkata: Aku terbangun dan masih ada sisa dari malam, maka aku keluar menuju masjid yang disebutkan yang terkutuk itu. Aku masuk ke dalamnya, ternyata ada tiga orang duduk dengan kepala mereka tertunduk di dalam jubah mereka. Salah seorang dari mereka berkata kepadaku: Wahai Abu Al-Qasim, apakah engkau setiap kali dikatakan sesuatu kepadamu, engkau menerimanya? Wahai saudaraku, ketahuilah bahwa barangsiapa yang berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, maka ia telah teguh di atas agama yang lurus. Hal itu karena Allah Subhanahu telah memberitakan tentang Iblis yang terkutuk: “Aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus” (Surah Al-A’raf ayat 16). Bahwasanya Allah Ta’ala mengutusnya sebagai perampok jalan agama, sebagaimana pencuri adalah perampok jalan dunia bagi kaum muslimin. Maka Iblis, semoga Allah melaknatnya, adalah perampok jalan akhirat untuk menghalangi kalian dari kebenaran dan petunjuk. Apabila engkau berlindung darinya, ia akan lari darimu dan tidak mampu memotong jalan agama.
18 – Perlindungan Allah dari Iblis
Allah Subhanahu berfirman: “Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah” (Surah Al-A’raf ayat 200). Dan Ia Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaan atas orang-orang yang beriman” (Surah An-Nahl ayat 99). Allah Ta’ala telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk mengucapkan dalam shalat tujuh belas kali dalam tujuh belas rakaat—yaitu jumlah rakaat shalat wajib—: “Tunjukilah kami jalan yang lurus” (Surah Al-Fatihah ayat 6). Maka bagaimana mungkin tipu daya setan yang terkutuk dapat membahayakanmu?
Ketahuilah wahai saudaraku bahwa Baitul Ma’mur (Rumah yang Makmur) berada di bumi hingga waktu banjir Nabi Nuh ‘alaihissalatu wassalam, lalu ia dipelihara dari tenggelam dan selamat dari banjir, kemudian diangkat ke langit.
Hati orang mukmin lebih utama dari Baitul Ma’mur lebih dari seribu kali seribu kali. Maka ia lebih layak untuk dipelihara, karena Baitul Ma’mur makmur dengan ibadah para malaikat, sedangkan hati orang mukmin makmur dengan pandangan Sang Pencipta kepadanya. Maka betapa jauh perbedaan antara keduanya.
Disebutkan dari Abu Sa’id bahwa ia berkata tentang firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, tidak ada kekuasaan bagimu atas mereka” (Surah Al-Hijr ayat 42). Seakan-akan Ia berfirman: Jika engkau memiliki kekuasaan atas mereka untuk menjatuhkan mereka ke dalam kemaksiatan Allah, maka engkau tidak memiliki kekuasaan atas mereka untuk menghalangi mereka dari ampunan Allah.
Pendapat lain: Jika setan memiliki kekuasaan dalam menjatuhkan hamba ke dalam kemaksiatan, maka lebih layak lagi bahwa ampunan Allah memiliki kekuasaan dalam membersihkan hamba dari kesalahan. Dan kekuatan setan tidak lebih besar kekuatannya daripada ampunan Yang Maha Pengasih di dalam hati orang-orang beriman.
Aku berlindung kepada Allah dari banyaknya kerusakan. Aku berlindung kepada Allah dari kezaliman terhadap hamba. Aku berlindung kepada Allah dari murka Tuhan Yang Maha Dermawan. Aku berlindung kepada Allah dari azab hari diteriaki (hari kiamat). Aku berlindung kepada Allah dari terputus dan terjauh.
Dan mereka membacakan syair:
Aku berlindung kepada Yang Maha Pengasih dari tempat berdiri … yang disaksikan orang mukmin dan orang kafir
Jika aku adalah seburuk-buruk hamba, wahai Tuanku … maka Engkau adalah Tuhan yang Maha Mengampuni
19 – Kelemahan Manusia dan Setan
Ketahuilah wahai para hamba Allah bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala menyebut manusia sebagai lemah, dan berfirman dalam ayat lain: “Sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah” (Surah An-Nisa ayat 76). Dua yang lemah jika bertarung dan tidak ada seorang pun dari keduanya yang memiliki penolong, maka tidak akan ada yang menang atas lawannya. Maka Allah memerintahkan manusia yang lemah untuk meminta pertolongan kepada Tuhan Yang Maha Lembut dari tipu daya setan yang lemah, agar Ia melindunginya darinya dan menolongnya atas setan.
Barangsiapa yang dalam pertolongannya ada Tuhan Yang Maha Agung, maka tidak akan membahayakan dia tipu daya setan yang terkutuk. Barangsiapa yang dalam pertolongannya ada Raja Yang Maha Pemberi, maka tidak akan membahayakan dia tipu daya setan yang pendusta. Barangsiapa yang dalam pertolongannya ada Raja Yang Maha Perkasa, maka tidak akan membahayakan dia tipu daya setan yang pelari. Barangsiapa yang dalam pertolongannya ada Raja Yang Maha Pengasih, maka tidak akan membahayakan dia tipu daya setan. Dan mereka membacakan syair:
Hamba dalam lindungan Allah dan penjagaan-Nya … dari setiap setan yang sesat dan lengah
Jika ia berlindung kepada Yang Maha Pengasih ketika pagi … demikian pula jika ia memasuki sore dengan mengingat Allah
20 – Doa yang Melindungi dari Setan
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan ketika pagi dan ketika petang: Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung, dengan wajah-Nya Yang Mulia, dan kekuasaan-Nya yang abadi, dari setan yang terkutuk, maka qarin (setan pendamping)nya berkata: Hamba ini telah dipelihara dariku pada hari ini.” Syair:
Wahai harapanku dalam musibahku … janganlah Engkau hilangkan kebaikan-Mu dariku
Engkau adalah Tuhanku, Engkau cukup bagiku … aku tidak menyembah selain Engkau
Aku berlindung kepada Allah dari tidak adanya keikhlasan. Aku berlindung kepada Allah dari dahsyatnya hari pembalasan. Aku berlindung kepada Allah dari meninggalkan istiqamah. Aku berlindung kepada Allah dari azab dan celaan. Aku berlindung kepada Allah dari dahsyatnya hari kiamat. Aku berlindung kepada Allah dari penyesalan dan kekecewaan. Aku berlindung kepada Allah dari terhalang dari kemuliaan.
21 – Mengapa Allah Menyembunyikan Iblis
Wahai saudaraku, sesungguhnya Allah Ta’ala ketika memburukkan rupa Iblis, melaknatnya, mencacatkan penciptaannya, dan mengasingkan bentuk dan tubuhnya, Ia berlemah lembut kepada hamba-hamba-Nya dengan menyembunyikannya dari mereka sehingga hati mereka tidak merasa ngeri apabila mata mereka melihatnya. Oleh karena itu, Tuhan Yang Maha Mulia menjadikan langit sebagai tempat pandangan mereka dan menghiasinya dengan tanda-tanda gambar, dan melindunginya dari setan yang terkutuk dengan peluru bintang-bintang. Seakan-akan Ia Subhanahu berfirman: Wahai hamba-hamba-Ku, tidak pantas bagi pandangan kalian apa yang buruk dan jelek, tetapi yang pantas baginya adalah yang dihiasi dan indah. Ini adalah perlakuan-Nya Subhanahu wa Ta’ala dengan semua manusia di dunia. Maka lebih layak lagi Ia berlemah lembut kepada orang-orang mukmin di akhirat, Ia menjaga pandangan mereka dari melihat api yang besar, yaitu neraka Jahim, dan memuliakan mereka dengan melihat negeri yang dihiasi, yaitu surga Na’im.
Aku berlindung kepada Allah dari menyelisihi hukum-hukum. Aku berlindung kepada Allah dari terus-menerus dalam dosa. Aku berlindung kepada Allah dari bermaksiat kepada Yang Maha Sejahtera. Aku berlindung kepada Allah dari azab kerinduan.
22 – Perhiasan Langit
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Ketika Allah Tabaraka wa Ta’ala menciptakan surga, Dia berfirman kepadanya: ‘Berhiaslah!’ Maka suarga pun berhias. Kemudian Dia berfirman: ‘Berbicaralah!’ Maka surga berkata: ‘Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman.'” Allah Ta’ala menjadikan langit di dunia sebagai tempat pandanganmu dan menjadikan surga yang berhias di akhirat sebagai tempat keinginanmu. Jika Allah Ta’ala menutupi Iblis yang terkutuk di dunia dan menyembunyikannya dari penglihatanmu agar hatimu tidak resah dengan kejelekan rupanya, maka lebih layak lagi Allah menutupi perbuatan-perbuatanmu yang buruk berupa kerusakan dan dosa-dosa dari kehinaan pada hari panggilan (kiamat) di hadapan para saksi.
Allah melimpahkan kebaikan kepada hamba-hamba-Nya dengan menutupi Iblis dari mereka, sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya dia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka” (QS. Al-A’raf: 27). Seolah-olah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada hamba-Nya yang beriman: “Aku adalah kekasih terbesarmu dan sesungguhnya Iblis adalah musuh terbesarmu. Seandainya engkau melihatnya dan dia adalah musuh terbesarmu, maka hal itu akan menyulitkanmu. Maka Aku tutupi dia darimu agar kesedihan dunia, kesusahannya, serta berturut-turutnya kegelisahan dan kesusahannya menjadi lebih ringan bagimu.”
Juga agar tidak berkumpul padamu ketiadaan kekasih terbesarmu dan melihat musuh terbesarmu. Maka Iblis disembunyikan darimu sehingga kamu tidak melihatnya sebagaimana kamu tidak melihat kekasih terbesarmu, sehingga perkara itu menjadi lebih ringan bagimu.
Aku berlindung kepada Allah dari kesesatan dan penundaan. Aku berlindung kepada Allah dari penyimpangan dan penyelewengan. Aku berlindung kepada Allah dari murka Tuhan Yang Maha Lembut.
Diceritakan tentang Sahl bin Abdullah At-Tsustari rahimahullah, dia berkata: Aku melihat Iblis yang terkutuk dalam mimpi, lalu aku bertanya kepadanya: “Apa yang paling berat atasmu?” Dia menjawab: “Perlindungan orang yang meminta perlindungan kepada Tuhan semesta alam yang Maha Penyayang dari yang penyayang.”
23 – Kesucian Orang yang Berbuat Maksiat dan Kenajisan Kemaksiatan
Ketahuilah wahai saudaraku bahwa hamba mukmin meskipun taat kepada setan dengan nafsunya, tetapi dia tidak ridha dengan hatinya. Perumpamaannya seperti orang yang jatuh dalam najis sementara di hadapannya ada kolam air yang suci. Maka hatinya bersama air meskipun nafsunya dalam najis, dan hal itu menjadi sebab kesuciannya. Demikian pula nafsu mukmin meskipun dalam najis kemaksiatan, namun hatinya bersama Allah dan bersama cinta kepada-Nya, maka hal itu menjadi sebab kesuciannya dari kemaksiatan.
Dasar dalam hal ini adalah bahwa Allah Ta’ala memperlakukan hamba-hamba berdasarkan keyakinan hati mereka, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa kalian, tetapi melihat kepada hati kalian.” Dalam hadits ini terdapat hikmah yang baik, yaitu bahwa orang munafik mengucapkan kalimat tauhid dengan lisan tetapi dia tidak meridhainya dengan hati, maka dia tidak diberi pahala pada hari kiamat atas pengakuannya dengan lisan. Demikian pula mukmin yang melakukan kemaksiatan secara terus-menerus tetapi dia tidak meridhainya, maka kita berharap dia tidak dihukum.
Syair: “Sesungguhnya aku berlindung dengan Yang Maha Agung … Yang Awal, Yang Akhir, Yang Qadim” “Pemilik karunia, keutamaan, dan keagungan … Yang Mulia, Yang Maha Esa, Yang Maha Mulia” “Dari kejahatan nafsuku dan hawanya … dan kejahatan setannya yang terkutuk”
Aku berlindung kepada Allah dari kejahatan yang tidak hilang. Aku berlindung kepada Allah dari azab yang tidak berpindah. Aku berlindung kepada Allah dari menyelisihi Rasul.
24 – Berpegang Teguh pada Sunnah dan Tidak Menyelisihinya
Wahai hamba-hamba Allah, wajib atas kalian taat kepada sayyid para rasul, berpegang teguh pada sunnah penutup para nabi, dan menyelisihi setan yang terkutuk, niscaya Tuhan kalian akan menyelamatkan kalian dari azab yang menghinakan.
Dan memasukkan kalian ke surga bersama wali-wali-Nya yang bertakwa, dan kalian akan melihat wajah Tuhan semesta alam.
Dan bacalah: “Aku berlindung kepada Allah yang tidak mengambil anak … dan yang menentukan rezeki sebelum penciptaan dengan takdir” “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Tinggi kedudukan-Nya … pemilik Arsy, kami tidak mengetahui pelindung selain-Nya” “Dari panasnya api yang tidak henti dari nyala … dari panasnya bagi orang-orang zalim adalah neraka yang menyala” “Dan juga rantai dan azab bagi siapa yang melampaui batas … mereka menyeru di dalamnya dengan penuh penyesalan dan kebinasaan”
Aku berlindung kepada Allah dari raja-raja yang sewenang-wenang. Aku berlindung kepada Allah dari hati yang keras. Aku berlindung kepada Allah dari binatang-binatang yang menyerang. Aku berlindung kepada Allah dari pencuri-pencuri yang berbahaya. Aku berlindung kepada Allah dari kezaliman para penguasa. Aku berlindung kepada Allah dari tipu daya setan-setan. Aku berlindung kepada Allah dari gangguan orang-orang miskin.
Wahai saudara-saudara kami, jauhilah menyelisihi sunnah karena sesungguhnya hal itu menjauhkan kalian dari surga.
Diriwayatkan dari Mujahid radhiyallahu anhu bahwa dia berkata: Dari keturunan Iblis yang terkutuk ada anak yang bernama Zakbutur dan dialah yang menguasai pasar-pasar, dia meletakkan benderanya di sana setiap hari.
Demi Allah wahai hamba-hamba Allah, janganlah kalian serahkan jiwa kalian kepada api neraka.
Dan jangan ridha dengan penambahan dan pengurangan dalam takaran dan timbangan, karena sesungguhnya hal itu membawa kepada azab api neraka.
25 – Bagaimana Nabi Membinasakan Seorang Ifrit
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu bahwa dia berkata: Aku bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Jibril alaihissalam bersamanya. Nabi shallallahu alaihi wasallam sedang membaca (Al-Quran), tiba-tiba datanglah seorang ifrit dari golongan jin yang durhaka dan di tangannya ada kobaran api, dan dia mendekat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Maka Jibril alaihissalam berkata: “Wahai Muhammad, maukah aku ajarkan kepadamu kata-kata yang jika engkau ucapkan, ifrit itu akan tersungkur wajahnya dan kobaran apinya akan padam?” Nabi berkata: “Ya.” Dia berkata: “Ucapkanlah: Aku berlindung dengan cahaya wajah Allah Yang Maha Mulia dan kalimat-kalimat-Nya yang sempurna yang tidak dapat dilanggar oleh orang yang berbuat baik maupun orang yang berbuat jahat, dari kejahatan apa yang Dia ciptakan di bumi dan apa yang keluar darinya, dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana, dan dari kejahatan fitnah malam dan siang, dan dari kejahatan yang datang pada siang hari kecuali yang datang dengan kebaikan, wahai Yang Maha Pengasih.”
Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam mengucapkannya, lalu ifrit itu tersungkur wajahnya dan kobaran apinya padam.
26 – Sulaiman dan Iblis
Dan disebutkan bahwa Iblis semoga Allah melaknatnya bertemu Sulaiman alaihissalam, maka Sulaiman berkata kepadanya: “Wahai yang terkutuk, apa yang akan kamu lakukan terhadap umat Muhammad shallallahu alaihi wasallam?” Yang terkutuk menjawab: “Wahai Sulaiman, aku akan menyeru mereka sehingga dunia dan dirham menjadi lebih dicintai oleh mereka daripada syahadat la ilaha illallah.”
Maka berhati-hatilah semoga Allah merahmati kalian dari semua ini, karena ia adalah jerat-jerat setan.
27 – Nasihat dari Khutbah Perpisahan
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda dalam khutbah perpisahan: “Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah penasihat yang amanah bagi kalian. Ketahuilah bahwa Iblis telah putus asa dari kalian untuk tidak menyembah berhala selamanya, tetapi demi Dzat yang mengutusku dengan kebenaran, Iblis semoga Allah melaknatnya akan membuat kalian menyembah seribu tuhan. Seseorang menyembah untanya, yang lain menyembah istrinya, yang lain menyembah kambingnya, yang lain menyembah ladangnya, yang lain menyembah perdagangannya, yang lain menyembah pekerjaannya, yang lain menyembah kendaraannya, yang lain menyembah temannya. Seseorang berkata kepada orang lain: ‘Bagaimana keadaanmu?’ Dia menjawab: ‘Kalau bukan karena perdaganganku, aku tidak punya keadaan.’ Yang lain berkata: ‘Kalau bukan karena ladangku.’ Yang lain berkata: ‘Kalau bukan karena istriku.’ Yang lain berkata: ‘Kalau bukan karena kendaraanku.’ Yang lain berkata: ‘Kalau bukan karena temanku.’ Maka hal itu membuatnya lupa mengingat Tuhannya, dan dia mengikuti dunianya dan terputus dari akhiratnya.”
Wahai anak Adam, mengapa kamu tertipu dengan Dzat yang kepadanya kamu sangat membutuhkan? Dan mengapa kamu meremehkan Dzat yang kepadanya kamu sangat butuh? Wahai anak Adam, jika kamu pada siang hari terpana dan pada malam hari tidur, kapan kamu akan menyenangkan Dzat yang mengatur urusanmu? Wahai anak Adam, bertawakallah kepada Raja Yang Maha Pencipta yang menjamin pembagian rezeki. Bertawakallah wahai saudaraku kepada-Nya dan sandarkan urusanmu kepada-Nya, karena sesungguhnya tidak ada yang memilikinya selain-Nya.
28 – Pembantu-pembantu Setan dari Bani Adam
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya setan memiliki pembantu-pembantu dari bani Adam. Yang terkutuk mengirim mereka kepada orang-orang mukmin untuk menyibukkan mereka dari shalat, dari sedekah, dan dari mengingat Allah. Dia membuat mereka mencintai memperoleh harta haram dan yang diharamkan. Demi Dzat yang mengutusku dengan kebenaran, mereka benar-benar menyembah dunia dan dirham lebih keras daripada menyembah berhala.”
Aku berlindung kepada Allah dari condong kepada hawa nafsu. Aku berlindung kepada Allah dari kesesatan dan kebinasaan. Aku berlindung kepada Allah dari bermaksiat kepada Tuhan langit.
29 – Adam dan Keluarnya dari Surga
Disebutkan bahwa Abdullah bin Sahl At-Tsustari rahimahullah berkata: Ketika Adam dikeluarkan dari surga, rumah kemuliaan dan keamanan, dan diturunkan ke rumah kehinaan, kegelisahan, dan ujian, Allah Ta’ala berfirman: “Wahai anak Adam, Aku telah menempatkanmu di sisi-Ku tetapi kamu mendurhakai-Ku, mentaati setan, dan meninggalkan-Ku. Demi keagungan dan kemuliaan-Ku, Aku akan menempatkanmu di sisinya agar kamu mentaati-Ku dan mendurhakakannya, mencintai-Ku dan membencinya. Maka jika hari kiamat tiba, Aku berfirman kepadamu: ketaatan dengan ketaatan dan kemaksiatan dengan kecintaan, kemudian Aku masukkan kamu ke surga.”
Datang dalam sebagian berita bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala ketika menciptakan Adam dan keturunannya, Dia menitipkan di hatinya empat hal yaitu ma’rifah (pengenalan), akal, iman, dan keyakinan.
Maka hati menjadi penyimpan hal-hal ini dan Allah menguasakan atas hatinya empat musuh yaitu Iblis, hawa nafsu, jiwa, dan dunia. Iblis menjamin kepada teman-temannya untuk mencapainya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya: “Kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan mereka, dari belakang mereka, dari kanan mereka, dan dari kiri mereka” (QS. Al-A’raf: 17). Maka ketika Mawla Jalla Jalaluhu mengetahui kelemahan anak Adam dan sedikitnya kemampuannya dalam melawannya, Dia mengajarkan kepadanya empat nama dari nama-nama-Nya untuk berlindung dengannya dari Iblis dan bala tentaranya, yaitu: Ya Awwal (Wahai Yang Awal), Ya Akhir (Wahai Yang Akhir), Ya Zhahir (Wahai Yang Zhahir), Ya Bathin (Wahai Yang Bathin). Seolah-olah Allah Ta’ala berfirman: “Wahai anak Adam, Aku adalah Yang Awal, jagalah pengenalan-mu kepada-Ku dari depanmu. Dan Aku adalah Yang Akhir, jagalah akalmu. Dan Aku adalah Yang Zhahir, jagalah imanmu dari kananmu. Dan Aku adalah Yang Bathin, jagalah keyakinanmu dari kirimu.”
30 – Kekhususan Iblis pada Beberapa Arah
Ditanyakan kepada sebagian ulama: Apa hikmahnya bahwa Iblis tidak diberi dua arah dari anak Adam dan diberi empat? Dia diberi dari depannya, dari belakangnya, dari kanannya, dan dari kirinya dari empat arah. Iblis tidak diberi kemampuan mendatangi dari atas dan dari bawah. Dia menjawab: Karena empat arah tersebut dapat dimasuki persekutuan dalam amalan-amalan. Sedangkan atas adalah tempat pandangan Tuhan Jalla Jalaluhu kepada hati hamba-hamba-Nya yang mukmin, dan bawah adalah tempat sujud orang-orang yang sujud di hadapan Tuhan semesta alam.
Semoga Allah melindungi kami dan kalian dari fitnahnya dengan perlindungan yang dengannya Dia memasukkan kami ke dalam rahmat-Nya. Dan semoga Dia menerima taubat kami dan seluruh orang-orang yang berdosa. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.
۞۞۞۞۞
2 – Majelis Tentang Mengingat Kiamat dan Kedahsyatannya, Semoga Allah Melindungi Kita Darinya
31 – Surah Az-Zalzalah dan Apa yang Ditunjukkannya
Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung berfirman: “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan yang dahsyat” (Surah Az-Zalzalah: 1). Surah ini adalah surah Makkiyah yang pasti dengan janji dan ancaman. Allah Tabaraka wa Ta’ala menakut-nakuti hamba-hamba-Nya dengannya dan mengingatkan mereka di dalamnya tentang goncangan bumi dan tegaknya hari kiamat agar mereka berhenti dari apa yang dilarang-Nya berupa kemaksiatan dan melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya berupa ketaatan dan keimanan. Allah Tabaraka wa Ta’ala menakut-nakuti mereka dari hari kiamat agar mereka bersiap-siap menghadapinya dan keahsyatan yang dahsyat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan yang dahsyat”. Artinya: apabila bumi bergerak bersama penghuninya lalu bergoncang dari berbagai penjurunya dan bergetar dari timur dan baratnya, maka tidak akan berhenti demikian hingga hancurlah apa yang ada di atasnya berupa gunung dan bangunan. Bumi tidak akan tenang hingga masuk ke dalam perutnya semua yang keluar darinya.
Dan goncangan itu terjadi karena dahsyatnya suara Israfil alaihissalam, yaitu ketika telah habis masa-masa dunia beserta jam-jamnya, bulan-bulannya, waktu-waktunya, tahun-tahunnya, hari-harinya, yang halal dan yang haramnya.
Yaitu ketika kebenaran telah padam dan kebatilan telah muncul, manusia meninggalkan amar makruf nahi munkar, mereka menunggangi dosa-dosa dan menghalalkan yang haram, banyak terjadi kezaliman di antara mereka, meninggalkan jihad, kerusakan merebak, riba menyebar, banyak terjadi homoseksual dan zina, mereka melakukan perbuatan keji dan kefasikan, mereka menggunakannya untuk minum khamar. Suatu kaum memerintahkan kepada kebaikan tapi meninggalkannya, melarang kemungkaran tapi melakukannya, membenci kebenaran dan mengikuti hawa nafsu mereka. Al-Quran dibaca tapi tidak diamalkan, hati-hati menghitam, perbuatan keji dan aib bertambah banyak, orang-orang fasik berhias dengan kemaksiatan dan dosa. Ketika mereka seperti itu, maka kemurkaan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung sangat keras kepada mereka. Pada saat itulah Allah berfirman: “Wahai Israfil, tiuplah sangkakala kematian.” Maka Israfil meniup sebagaimana diperintahkan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung, lalu bumi bergoncang dari timur hingga baratnya. Itu adalah akibat kemarahan yang dimurkai Allah Yang Maha Perkasa terhadap orang-orang munafik dan para pendosa.
32 – Sifat Israfil
Israfil alaihissalam adalah malaikat yang besar. Satu sayapnya di timur dan satu sayapnya di barat. Kedua kakinya berada di bawah dasar bumi ketujuh yang paling bawah sejauh perjalanan lima ratus tahun. Ketujuh langit itu sampai ke lututnya, lehernya terlilit di bawah Arsy, dan Arsy berada di pundaknya.
Dia telah mengulurkan kaki kanan dan mengakhirkan kaki kiri. Lauh Mahfuzh berada di antara kedua matanya. Dia telah memasukkan sangkakala ke mulutnya, tatapannya tertuju kepada Arsy, telinganya mendengarkan dengan seksama menunggu kapan dia diperintahkan untuk meniup sangkakala. Sangkakala itu adalah terompet dari cahaya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sangkakala adalah terompet dari cahaya. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya lubang yang paling besar di dalamnya adalah sebesar jarak antara langit dan bumi.”
Diriwayatkan dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Bagaimana aku bisa tenang padahal pemilik sangkakala telah memasukkan sangkakala ke mulutnya, telah menundukkan dahinya, tatapannya tertuju kepada Arsy, telinganya mendengarkan dengan seksama menunggu kapan dia diperintahkan untuk meniup sangkakala. Jika dia meniupnya, maka matilah penduduk langit dan bumi kecuali empat malaikat, karena mereka tidak mati kecuali setelah matinya makhluk-makhluk. Mereka adalah Jibril, Mikail, Israfil, dan Malaikat Maut. Karena dahsyatnya suara Israfil, bergetarlah bumi dari timur hingga baratnya. Tidak ada bangunan yang tersisa kecuali roboh, kecuali masjid-masjid karena fondasinya tetap tidak roboh disebabkan keutamaannya di sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala karena Allah disembah di dalamnya, ditauhidkan, dan kalam-Nya dibaca di dalamnya.” Itulah firman-Nya Ta’ala: “Segala sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya” (Surah Al-Qashash: 88). Dalam tafsir disebutkan bahwa semua hal akan binasa kecuali amal yang dikehendaki untuk wajah Allah Ta’ala. Masjid-masjid tidak binasa karena ia dibangun untuk wajah Allah Ta’ala.
33 – Ketakutan Nabi Ketika Angin Berhembus
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau apabila angin berhembus, warna wajahnya berubah. Beliau keluar dan masuk berkali-kali karena sangat takut akan datangnya hari kiamat dan goncangan bumi. Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam takut dengan ketakutan ini semua padahal beliau adalah makhluk yang paling mulia di sisi Allah, maka bagaimana dengan orang yang menghabiskan umurnya dalam kelalaian dan kealpaan, memotong hari-harinya dengan main-main dan kebatilan, menyia-nyiakan waktunya dalam kemaksiatan hingga mati? Mereka berpantun:
Siangmu wahai orang yang tertipu adalah kelalaian dan kealpaan Dan malammu adalah tidur sedangkan kebinasaan melekat padamu Kesibukanmu pada sesuatu yang kelak akan kau benci akibatnya Demikian juga di dunia, hewan-hewan hidup Perbuatanmu adalah perbuatan orang-orang bodoh terhadap Tuhan mereka Dan umurmu dalam kekurangan bahkan engkau adalah orang zalim Engkau tidak terjaga dengan kewaspadaan yang bijaksana Dan engkau tidak selamat dan terlindungi dalam tidur Engkau senang dengan apa yang akan sirna dan gembira dengan angan-angan Sebagaimana orang yang bermimpi senang dengan kelezatan dalam tidur Janganlah memuji dunia tetapi celakanlah Dan jangan banyak bermaksiat sesungguhnya engkau adalah orang zalim
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Aku sampai pada malam Isra ke langit ketujuh lalu aku melihat Israfil telah menundukkan dahinya, memajukan satu kaki dan mengakhirkan yang lain. Arsy berada di pundaknya dan sangkakala di mulutnya di antara kedua rahangnya. Dia telah bersiap untuk meniup sangkakala. Aku mengira aku tidak akan sampai ke bumi hingga tiupan itu sampai kepadaku, melihat kesiapannya untuk meniup.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang Israfil, maka beliau bersabda: “Dia memiliki satu sayap di timur dan satu sayap di barat. Kedua kakinya berada di bawah bumi ketujuh yang paling bawah. Arsy berada di pundaknya. Sesungguhnya dia merenung dalam keagungan Allah Ta’ala setiap hari selama tiga jam lalu dia menangis karena takut kepada Allah Yang Maha Perkasa hingga air matanya mengalir seperti lautan. Seandainya Allah mengizinkan satu lautan dari air matanya untuk ditumpahkan, niscaya akan menutupi antara langit dan bumi. Sesungguhnya dia merendahkan diri dan mengecil hingga menjadi seperti burung kecil. Burung kecil itu menyerupai burung bulbul dan burung bulbul adalah burung yang paling kecil. Maka bertakwalah kepada Allah wahai umat yang beriman kepada Allah dan hari akhir, bersiaplah untuk datangnya hari kiamat dan goncangannya.”
Allah Ta’ala berfirman: “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan yang dahsyat” (Surah Az-Zalzalah: 1). Bumi bergerak dan bergelora, gunung-gunung beterbangan, pohon-pohon tercabut, bangunan-bangunan roboh. Tidak ada yang tersisa di atasnya dari gunung-gunungnya, pohon-pohonnya, dan tumbuh-tumbuhannya kecuali masuk ke dalam perutnya.
‘Ikrimah berkata: “Sesungguhnya hari kiamat hanya terjadi terhadap seburuk-buruk makhluk.”
34 – Kapan Sangkakala Ditiup
Hudzaifah berkata: “Manusia bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepadanya tentang keburukan karena takut aku tertimpa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Di akhir zaman akan ada fitnah-fitnah seperti potongan-potongan malam yang gelap gulita. Apabila Allah Ta’ala murka kepada penduduk bumi, Allah Ta’ala memerintahkan Israfil untuk meniup tiupan kematian. Maka dia meniup pada saat manusia lengah. Di antara manusia ada yang berada di kampung halamannya, di antara mereka ada yang di pasarnya, di antara mereka ada yang di ladangnya, di antara mereka ada yang dalam perjalanannya, di antara mereka ada yang sedang makan, maka dia tidak mengangkat suapan ke mulutnya hingga dia padam dan mati.
Di antara mereka ada yang berbicara dengan temannya, maka dia tidak menyelesaikan kalimatnya hingga dia mati. Maka seluruh makhluk mati semuanya tanpa terkecuali.
Israfil tidak memutus teriakan hingga mata air bumi, sungai-sungainya, tumbuh-tumbuhannya, pohon-pohonnya, gunung-gunungnya, dan laut-lautnya tenggelam. Semuanya masuk sebagian ke dalam sebagian lainnya ke dalam perut bumi. Manusia padam tergeletak. Di antara mereka ada yang tergeletak di atas wajahnya, di antara mereka ada yang tergeletak di atas punggungnya, di atas lambungnya, di atas pipinya. Di antara mereka ada yang suapan berada di mulutnya lalu dia mati dan tidak sempat untuk menelannya. Rantai-rantai yang di dalamnya terdapat pelita-pelita bintang terputus, lalu sama rata dengan bumi karena dahsyatnya goncangan. Mati para malaikat tujuh langit, hijab-hijab, suradiqat-suradiqat, ash-Shadiqun, al-Musabbihun, para pembawa Arsy dan Kursi, penduduk suradiqat kemuliaan, al-Karrubiyyun. Yang tersisa hanyalah Jibril, Mikail, Israfil, dan Malaikat Maut alaihissalam.”
35 – Bagaimana Jibril Mati
Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung berfirman: “Wahai Malaikat Maut, siapa yang tersisa?” padahal Dia lebih mengetahui. Maka Malaikat Maut berkata: “Tuanku dan Maulaku, Engkau lebih mengetahui. Yang tersisa adalah Israfil, Jibril, Mikail, dan hamba-Mu yang lemah, Malaikat Maut yang khusyuk dan hina. Jiwanya telah bingung karena keahsyatan yang disaksikannya.”
Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman kepadanya: “Pergilah kepada Jibril lalu cabut nyawanya.” Maka pergilah Malaikat Maut kepada Jibril alaihissalam. Dia mendapatinya sedang sujud dan rukuk. Dia berkata kepadanya: “Betapa lengahnya engkau terhadap apa yang akan terjadi padamu wahai orang yang malang. Telah mati Bani Adam, penduduk dunia, bumi, burung-burung, binatang buas, binatang melata, penduduk langit-langit, pembawa Arsy dan Kursi, suradiqat-suradiqat, penduduk Sidratil Muntaha. Maulaku telah memerintahkanku untuk mencabut nyawamu.” Pada saat itu menangislah Jibril alaihissalam dan berkata sambil memohon kepada Allah Ta’ala: “Ya Allah, permudahlah bagiku sakaratul maut.”
Maka Malaikat Maut memeluknya erat sehingga dalam pelukan itu dia mencabut nyawanya. Maka Jibril terjatuh tergeletak. Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung berfirman: “Siapa yang tersisa wahai Malaikat Maut?” padahal Dia lebih mengetahui. Dia berkata: “Maulaku dan Tuanku, yang tersisa adalah Mikail, Israfil, dan hamba-Mu yang lemah, Malaikat Maut.”
36 – Bagaimana Mikail Mati
Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung berfirman: “Pergilah kepada Mikail lalu cabut nyawanya.” Maka pergilah Malaikat Maut kepada Mikail sebagaimana diperintahkan Allah Ta’ala. Dia mendapatinya sedang menunggu air untuk ditakarnya ke awan. Dia berkata kepadanya: “Betapa lengahnya engkau wahai orang yang malang terhadap apa yang akan terjadi padamu. Tidak ada lagi rizki untuk Bani Adam, tidak untuk hewan ternak, tidak untuk binatang buas, tidak untuk binatang melata. Telah mati penduduk langit-langit, penduduk bumi, penduduk hijab-hijab dan suradiqat-suradiqat, pembawa Arsy dan Kursi, suradiqat-suradiqat kemuliaan, al-Karrubiyyun, ash-Shadiqun, dan al-Musabbihun. Tuhanku telah memerintahkanku untuk mencabut nyawamu.” Pada saat itu menangislah Mikail dan memohon kepada Allah serta meminta agar dimudahkan baginya sakaratul maut. Maka Malaikat Maut memeluknya dan memeluknya erat sehingga dalam pelukan itu dia mencabut nyawanya. Maka terjatuhlah Mikail tergeletak mati tanpa ruh di dalamnya. Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung berfirman: “Siapa yang tersisa wahai Malaikat Maut?” padahal Dia lebih mengetahui. Dia berkata: “Maulaku dan Tuanku, Engkau lebih mengetahui. Yang tersisa adalah Israfil dan hamba-Mu yang lemah, Malaikat Maut.”
37 – Bagaimana Israfil Mati
Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Pergilah kepada Israfil lalu cabut nyawanya.” Maka dia pergi sebagaimana diperintahkan Allah Yang Maha Perkasa kepada Israfil lalu berkata kepadanya: “Betapa lengahnya engkau wahai orang yang malang terhadap apa yang akan terjadi padamu. Telah mati semua makhluk tanpa tersisa seorang pun. Tuhanku dan Maulaku telah memerintahkanku untuk mencabut nyawamu.” Maka Israfil berkata: “Maha Suci Dzat yang menundukkan hamba-hamba dengan kematian. Maha Suci Dzat yang menyendiri dengan kekal.” Kemudian dia berkata: “Maulaku, permudahlah bagiku kepahitan kematian.” Maka Malaikat Maut memeluknya erat sehingga dalam pelukan itu dia mencabut nyawanya. Maka dia terjatuh mati tergeletak. Seandainya penduduk langit-langit di langit dan penduduk bumi di bumi, niscaya mereka semua mati karena dahsyatnya guncangan jatuhnya.
38 – Bagaimana Malaikat Maut Mati
Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Siapa yang tersisa wahai Malaikat Maut?” padahal Ta’ala Dia lebih mengetahui. Dia berkata: “Maulaku dan Tuanku, Engkau lebih mengetahui siapa yang tersisa. Yang tersisa adalah hamba-Mu yang lemah, Malaikat Maut.” Allah Ta’ala berfirman: “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, sungguh Aku akan merasakan kepadamu apa yang telah Aku rasakan kepada hamba-hamba-Ku. Pergilah di antara surga dan neraka lalu matilah.” Maka dia pergi di antara surga dan neraka lalu berteriak dengan teriakan yang seandainya Allah Tabaraka wa Ta’ala tidak mematikan makhluk-makhluk, niscaya mereka semua tanpa terkecuali akan mati karena dahsyatnya teriakannya. Lalu dia mati. Maka tinggallah langit-langit kosong dari para malaikatnya, falak-falaknya diam. Tinggallah bumi kosong dari manusia dan jinnya, burung-burungnya, binatang melatanya, binatang buasnya, dan hewan ternaknya. Kerajaan tinggal untuk Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa yang menciptakan malam dan siang. Maka engkau tidak melihat seorang pun yang bersahabat dan tidak merasakan sedikit pun bisikan. Telah diam pergerakan-pergerakan, padam suara-suara, kosong dari penghuninya bumi dan langit-langit.
39 – Untuk Siapa Kerajaan Hari Ini
Kemudian Allah Tabaraka wa Ta’ala melihat kepada dunia lalu berfirman: “Wahai dunia, di mana sungai-sungaimu, di mana pohon-pohonmu, di mana penghunimu, di mana bangunan-bangunanmu? Di mana para raja dan anak-anak raja? Di mana orang-orang yang sombong dan anak-anak orang yang sombong? Di mana orang-orang yang memakan rizki-Ku, berbolak-balik dalam nikmat-Ku, dan menyembah selain Aku? Untuk siapa kerajaan hari ini?” Maka tidak ada seorang pun yang menjawab-Nya. Maka Ta’ala berfirman: “Kerajaan untuk Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.”
Maka Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung melihat kepada hamba-hamba-Nya yang mati, di antaranya ada yang tergeletak di atas pipinya dan di antaranya ada yang kencing di kuburnya. Kemudian Dia berfirman: “Wahai dunia, di mana sungai-sungaimu, di mana pohon-pohonmu, di mana penghunimu, di mana bangunan-bangunanmu? Di mana para raja? Di mana orang-orang yang sombong? Untuk siapa kerajaan hari ini?” Maka tidak ada seorang pun yang menjawab-Nya. Maka Allah Ta’ala berfirman: “Untuk Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.”
Maka tinggallah bumi dan langit-langit tidak ada di dalamnya siapa pun yang berbicara maupun yang bernafas, selama Allah kehendaki. Dikatakan mereka tinggal selama empat puluh hari, yaitu kadar waktu antara dua tiupan. Kemudian setelah itu, Allah Tabaraka wa Ta’ala menurunkan dari langit ketujuh dari sebuah laut yang disebut Laut Kehidupan. Airnya menyerupai air mani laki-laki. Tuhan kita menurunkannya selama empat puluh tahun. Maka air itu membelah bumi dengan belahan, lalu masuk ke bawah bumi hingga ke tulang-tulang yang telah usang. Maka tumbuhlah dengan air itu sebagaimana tumbuhnya tanaman dengan hujan.
40 – Bagaimana Kebangkitan Orang-Orang Mati
Allah Ta’ala berfirman: “Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya” (Surah Al-A’raf: 57) hingga firman-Nya: “Demikianlah Kami mengeluarkan orang-orang yang telah mati” (Surah Al-A’raf: 57). Sebagaimana Dia mengeluarkan tumbuh-tumbuhan dengan hujan, demikian juga Dia mengeluarkan orang-orang mati dengan air kehidupan. Maka berkumpullah tulang-tulang, urat-urat, daging, dan rambut-rambut. Setiap anggota kembali ke tempatnya yang dahulu di dunia. Maka bersatulah jasad-jasad dengan kekuasaan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung. Mereka tinggal tanpa ruh. Kemudian Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung berfirman: “Hendaklah Israfil dibangkitkan.” Maka bangkitlah Israfil alaihissalam hidup dengan kekuasaan Allah Ta’ala. Allah Yang Maha Perkasa berfirman kepadanya: “Wahai Israfil, masukkan sangkakala ke mulutmu dan panggillah hamba-hamba-Ku untuk keputusan pengadilan.” Yang pertama kali dihidupkan oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala adalah Israfil dan Dia memerintahkannya untuk memasukkan sangkakala ke mulutnya.
41 – Sifat Sangkakala
Sangkakala adalah terompet dari cahaya yang memiliki lubang-lubang sejumlah ruh para hamba. Maka seluruh ruh akan berkumpul dan dimasukkan ke dalam sangkakala.
42 – Di Mana Israfil Berdiri
Allah Yang Mahakuasa memerintahkan Israfil untuk berdiri di atas batu di Baitul Maqdis dan meniup sangkakala yang berada di mulutnya, telah dimasukkannya. Batu tersebut adalah tempat terdekat di bumi dengan langit, sebagaimana firman Allah Taala “Dan dengarkanlah pada hari penyeru menyeru dari tempat yang dekat” (Qaf: 41). Israfil berkata dalam seruannya: “Wahai tulang-tulang yang lapuk, daging-daging yang tercerai-berai, rambut-rambut yang berserakan, dan urat-urat yang tercabik-cabik, bangkitlah untuk menghadap persidangan di hadapan Sang Raja Yang Maha Pemberi Keputusan agar Dia membalas kalian dengan amal perbuatan kalian!” Maka ketika Israfil alaihissalam meniup sangkakala, keluarlah ruh-ruh dari lubang-lubang sangkakala dan bertebaran antara langit dan bumi seperti lebah. Keluar dari setiap lubang satu ruh dan tidak keluar dari lubang itu selain ruh tersebut. Ruh-ruh orang mukmin keluar dari lubangnya bercahaya dengan cahaya iman dan cahaya amal saleh mereka, sedangkan ruh-ruh orang kafir keluar dalam kegelapan karena kegelapan kekufuran. Israfil terus menerus meniup dan ruh-ruh telah bertebaran antara langit dan bumi, kemudian ruh-ruh masuk ke dalam bumi menuju jasad-jasad. Setiap ruh masuk ke jasad yang telah ditinggalkannya di dunia, maka ruh-ruh merayap dalam jasad seperti racun merayap pada orang yang tersengat, hingga kembali ke jasad-jasad mereka sebagaimana keadaan mereka di dunia. Kemudian bumi terbelah dari arah kepala mereka, maka tiba-tiba mereka berdiri di atas kaki mereka memandang kepada kengerian hari kiamat. Dan Israfil alaihissalam menyeru dengan seruan ini tanpa memutus suara dan memanjangkannya dengan panjang, sedangkan makhluk-makhluk mengikuti suaranya dan api neraka menggiring makhluk-makhluk menuju bumi kiamat.
43 – Amal yang Melekat pada Jasad
Ketika mereka keluar dari kubur mereka, keluarlah bersama setiap manusia amalnya yang telah dikerjakannya di dunia, karena amal setiap manusia menyertainya di kuburnya. Jika hamba tersebut taat kepada Tuhannya dan beramal saleh, maka amal itu menjadi temannya di dunia dan akan menjadi temannya ketika keluar dari kuburnya pada hari kebangkitannya, menemaninya dari segala kengerian dan dari kesedihan serta kepedihan kiamat. Setiap kali hamba mukmin melihat api atau salah satu kengerian kiamat dia merasa cemas, lalu amalnya berkata kepadanya: “Wahai kekasihku, tidak ada sesuatu pun dari ini yang menimpamu, yang dimaksud bukanlah orang yang taat kepada Allah, yang dimaksud hanyalah orang yang durhaka kepada Allah Taala Tuhannya, lalu mendustakan ayat-ayat-Nya dan mengikuti hawa nafsunya. Sedangkan engkau adalah hamba yang taat kepada Tuhanmu, mengikuti Nabimu, meninggalkan hawa nafsumu, maka tidak ada kesedihan dan kedukaanmu hari ini hingga engkau masuk surga.”
44 – Amal Buruk dan Bentuknya
Dan jika hamba tersebut berdosa dan bermaksiat kepada Yang Maha Agung dan mati tanpa taubat dan perpindahan, maka ketika orang yang tertipu dan malang itu keluar dari kuburnya, keluarlah bersamanya amal buruknya yang telah dikerjakannya di dunia dan telah menyertainya di kuburnya. Ketika hamba yang tertipu oleh Tuhannya itu melihatnya, dia melihatnya hitam mengerikan. Maka tidaklah dia melewati kengerian, api atau sesuatu dari kesedihan kiamat melainkan amalnya berkata kepadanya: “Wahai musuh Allah, ini semua untukmu dan engkaulah yang dimaksud dengannya.” Dan mereka membacakan syair:
Hari apakah hari kebangkitan, hari yang di dalamnya orang-orang kubur menang Hari yang di dalamnya pembalasan adalah surga Adn, bagi yang taat dan yang bermaksiat dalam neraka yang menyala Rugilah orang yang durhaka dan beruntunglah yang taat, yang mengawasi Allah dalam semua urusan Dia berdiri di malam hari untuk Allah dengan hina, tidak terlepas dari takutnya kepada Yang Mahakuasa Takut dari besarnya hari yang penuh kengerian yang dahsyat, dahsyatnya kengerian dari azab yang menyala-nyala
Maka demi Allah, wahai hamba-hamba Allah, wahai para murid, terjagalah dari tidur ini dan tinggalkanlah perbuatan keji dan dosa-dosa, kembalilah kepada ketaatan kepada Raja Yang Maha Mengetahui sebelum datang hari yang di dalamnya langit terbelah dengan awan.
45 – Bumi Mengeluarkan Apa yang Ada di Dalamnya
Allah Taala berfirman “Dan bumi mengeluarkan beban-bebannya” (Al-Zalzalah: 2), yaitu apa yang ada di dalamnya dari orang-orang mati, harta karun, dan apa yang dititipkan kepadanya dari amal-amal hamba dan dari tempat-tempat tersembunyi rahasia mereka dari amal-amal ketaatan dan amal-amal kemaksiatan.
Maka Allah Taala memerintahkan agar mengeluarkan amal-amal hamba. Demikian itu karena hamba ketika keluar dari kuburnya dia menemukan amalnya di pinggir kuburnya. Jika amalnya saleh, dia menemukannya sebagai cahaya yang menutupinya dan melindunginya, menutupi auratnya dari pandangan manusia dan melindunginya dari api-api yang menggiring manusia ke bumi kiamat. Dan jika amal itu buruk, dia menemukannya sebagai kegelapan hitam yang menjadi lebih berat baginya daripada setiap kengerian yang dia temui dari kengerian hari kiamat.
Ini semua terjadi pada tiupan kedua, dan antara tiupan pertama dan kedua adalah empat puluh tahun. Itulah firman-Nya “Dan bumi mengeluarkan beban-bebannya”. Maka bayangkanlah dirimu, wahai orang yang tertipu, kesedihan dan kepedihan telah menimpamu berturut-turut, kengerian dan kesulitan telah mengelilingimu, keburukan dan aib telah diperlihatkan kepadamu, dan dosa-dosa serta maksiat telah membebani punggungmu. Dan mereka membacakan syair:
Kemaksiatan telah menghitamkan wajahku, dan dosa-dosa telah membebani punggungku Mengingatnya mewariskan kepadaku penyakit, maka tidak ada bagiku di antara manusia dokter Wahai celakanya diriku pada hari kebangkitanku, ketika kepedihan mengelilingiku Dan suara penyeru memanggil namaku, ke mana lariku dan apa yang kujawab Ini adalah kitab dosa-dosa maka bacalah, maka saat itulah aib-aib terlihat
Disebutkan bahwa hamba ketika keluar dari kuburnya dia menemukan amal buruknya sebagai ikatan dan malaikat dari malaikat azab berdiri di atasnya. Ketika dia melihat apa yang telah dikerjakan di hari-harinya, malaikat berkata kepadanya: “Wahai musuh Allah, ambillah amalmu lalu pikulah di punggungmu sebagaimana engkau merasa nikmat dengannya di dunia dan tidak mengawasi Tuhanmu padahal engkau tahu bahwa Dia mengawasi dan melihatmu.” Maka hamba malang itu mengambil ikatan tersebut lalu dia merasakan di punggungnya lebih berat dari gunung-gunung dunia, dan api menggiring dia menuju tempat berhenti dengan seorang malaikat yang menggiring dia dengan tergesa-gesa dengan kasar, hardikan, dan memarahinya, dan yang lain menjadi saksi atasnya bersama pengetahuan Allah Taala tentangnya.
Dan mereka membacakan syair:
Bagaimana caraku jika datang perhitungan besok, sedangkan aku dibangkitkan dengan beban-beban dan dosa-dosaku Dan aku melihat lembaran-lembaranku hitam, karena celakanya dosa lama yang menjadi ikutanku Dan telah menampakkan diri-Nya untuk membuka tirai Sang Pencipta kami, pada hari kembali dan hari kehinaan serta aib Beruntung setiap orang yang taat kepada Yang Mahaperkasa besok, dengan surga Adn, pepohonan dan sungai-sungai Bagi mereka kenikmatan yang kekal tanpa kepunahan, mereka kekal di rumah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Pencipta Dan siapa yang bermaksiat, tempat tinggalnya dalam neraka, tidak beristirahat dari penyiksaan di dalam neraka Maka menangislah banyak karena menangis adalah hak bagi kalian, tidak beristirahat dari penyiksaan dengan air mata yang mengalir deras
Maka demi Allah, wahai orang-orang yang berakal, renungkanlah kengerian hari perhitungan dan jangan lupakan tuntutan untuk menjawab pertanyaan, kasihanilah diri kalian dari azab yang menyakitkan, kembalilah kepada ketaatan kepada Tuhan segala tuhan, dan menangislah atas dosa-dosa kalian yang telah lewat dengan tangisan keras.
46 – Durasi Peniupan Sangkakala
Disebutkan bahwa Israfil alaihissalam tidak memutus seruan dalam sangkakala hingga bumi mengeluarkan semua yang ada di dalamnya dari orang-orang mati dan dari apa yang dititipkan Allah Taala kepadanya dari sesuatu. Ketika semua hamba telah lengkap di tempat berhenti dan semua manusia bumi, jin, binatang buas, hewan, burung, ternak, dan serangga hingga lalat, Israfil memutus seruan dengan perintah Allah Taala. Itu setelah bumi diganti selain bumi dan langit-langit, maka dalam penggantinya ada dua pendapat.
47 – Keadaan Bumi Perhitungan
Salah satunya adalah bahwa bumi yang di atasnya hamba-hamba dihisab adalah bumi dari perak putih, tidak ada gunung di dalamnya, tidak ada bangunan, tidak ada lautan, tidak ada sungai-sungai, tidak ada pepohonan, tidak ada darah yang tertumpah di atasnya dan tidak ada kemaksiatan kepada Allah Taala di atasnya. Dia mendatangkannya dari ilmu-Nya yang tersembunyi dan berkata kepadanya: “Jadilah!” maka jadilah. Dan telah dibakar di bawahnya api-api. Dan bumi ini dalam kebesaran bumi itu seperti bulu putih pada banteng hitam.
Dan telah dikatakan bahwa penggantian bumi adalah meruntuhkan bangunan-bangunannya, menghilangkan air-airnya, memutus pepohonannya, menyalakan lautannya, menghilangkan gunung-gunungnya, penggantian langit, menggulung matahari dan bulannya, menggelapkan bintang-bintangnya, menonaktifkan falak-falaknya, dan membelahnya.
Ini adalah penggantian bumi dan langit-langit, dan Allah lebih mengetahui hakikat itu.
48 – Bagaimana Manusia Berdiri di Mahsyar
Ketika Israfil alaihissalam memutus seruan, berdirilah makhluk-makhluk, setiap orang dari mereka memandang ke langit dan tidak kembali kepadanya pandangannya. Dan tidak ada seorang pun yang tahu siapa yang berdiri di sampingnya, tidak laki-laki dan tidak perempuan. Dan tidak tahu saudara tentang saudaranya, tidak ayah tentang anaknya, tidak ibu tentang anaknya.
Setiap manusia dari mereka sibuk dengan apa yang dia alami dari besarnya kengerian, dan setiap orang dari mereka memikirkan apa yang telah dibawanya dari kemaksiatan dan kelalaiannya dari ketaatan dan lupa. Maka semua memandang kepada apa yang turun kepadanya perintah dari langit berupa kesengsaraan atau kebahagiaan.
49 – Lamanya Waktu Mahsyar
Dan dikatakan, dan Allah lebih mengetahui, bahwa berdiri adalah selama tiga ratus tahun dari tahun-tahun dunia, tidak ada kabar yang turun dan tidak ada kabar yang naik.
Telah banyak kerumunan, maka tidak terdengar kecuali bisikan kaki, bingung menyesal atas apa yang mereka abaikan dari terpelesetnya kaki. Pada hari itu tidak bermanfaat tangisan dan tidak penyesalan.
Tidak ada di dunia bagi orang yang beriman pada kebangkitan kegembiraan Sesungguhnya yang bergembira dengan dunia adalah orang bodoh atau orang kafir Maka ingatlah kengerian hari, langit di dalamnya bergoncang
50 – Tangisan Nabi dari Kengerian Kiamat
Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Jibril alaihissalam menakuti aku dari kengerian hari kiamat hingga membuatku menangis, maka aku berkata kepadanya: Kekasihku Jibril, bukankah Allah telah mengampuni dosaku yang telah lalu dan yang akan datang? Maka dia berkata: Wahai Muhammad, sungguh engkau akan menyaksikan dari kengerian hari kiamat apa yang membuatmu lupa akan pengampunan.” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menangis hingga air matanya membasahi janggutnya. Jika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menangis dari kengerian hari perhitungan padahal Yang Mahakuasa telah mengamankannya dari azab yang menyakitkan, menjanjikannya surga dan baiknya tempat kembali, maka bagaimana dengan orang-orang malang seperti kita dan bagaimana dengan orang yang meninggalkan kebenaran dan kebaikan, menyelisihi sunnah dan Al-Quran, menaati setan dan menghabiskan umurnya dalam kemaksiatan kepada Raja Yang Maha Pemberi? Dan telah dikatakan dalam firman Allah Taala “Sekali-kali tidak! Apabila bumi digoncangkan berturut-turut” (Al-Fajr: 21), yaitu menggerakkannya, dan dikatakan daka daka menghilangkannya.
51 – Makna Goncangan Bumi dan Terbelahnya
Ditanyakan kepada sebagian ulama tentang makna pengulangan dua kata ini daka daka dan shaffa shaffa, maka dia berkata: Bumi digoncangkan berturut-turut yaitu digerakkan satu kali setelah yang lain hingga tidak tersisa di atasnya bekas dari bangunan, gunung, atau pohon.
Dan firman-Nya shaffa shaffa, malaikat-malaikat datang berbaris demi berbaris, setiap malaikat telah sibuk dengan dirinya sendiri karena besarnya apa yang dilihatnya dari munculnya kengerian.
Ketika goncangan bumi banyak “Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya dengan satu benturan” (Al-Haqqah: 14) hingga gunung-gunung terputus dari akar-akarnya, bumi terbelah dan masuk ke dalamnya sungai-sungai dan mata air-mata airnya, dan masuk ke dalamnya setiap istana yang kuat dari yang lama dan yang baru. Maka wahai betapa mengerikannya hari itu, betapa panjangnya bala itu, dan betapa adilnya Allah Yang Mahakuasa.
Dia telah membinasakan hamba-hamba dengan kematian, maka tidak terlihat seorang pun dari manusia.
Ketika orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian telah sama di bumi kiamat, Allah Tabaraka wa Taala memerintahkan langit-langit untuk terbelah, maka terbelahlah setiap langit dan terputus seperti terputusnya awan. Dan dikatakan seperti kapas yang beterbangan di hadapan pemintal kapas ketika mereka mengembangkannya. Maka bayangkanlah suara terbelahnya di telingamu dan bagaimana hatimu tetap teguh dan kakimu mantap karena dahsyatnya kengerian itu. Maka persiapkanlah di hari-hari hidupmu apa yang melindungimu dari kengerian tersebut, karena makhluk-makhluk dalam kengerian hari kiamat sesuai dengan kadar amal mereka di dunia dari kebaikan dan keburukan. Maka barangsiapa beramal saleh, takut kepada Tuhannya, dan takut dari kengerian hari itu, Tuhannya akan mengamankannya dari semua kengerian dan kepedihannya. Dan barangsiapa tidak menyiapkan di dunianya amal saleh untuk akhiratnya, dia akan bertemu kesulitan-kesulitan dan kesedihan serta kepedihan akan menimpanya berturut-turut, maka dia menyesal ketika penyesalan tidak bermanfaat ketika dia berada dalam kengerian kiamat.
52 – Keamanan dan Ketakutan
Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: Jika hamba-Ku takut kepada-Ku di dunia, Aku akan mengamankannya pada hari Kiamat, dan jika ia merasa aman dari-Ku di dunia, Aku akan membuatnya takut pada hari Kiamat.” Maka ketika langit terbelah, hati-hati mencapai kerongkongan dan setiap hamba laki-laki dan perempuan yakin bahwa ia akan menghadapi apa yang telah dikerjakannya baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Ketika langit terbelah, musibah menjadi besar dan bencana menjadi banyak, dan hamba menyesal atas apa yang telah lalai di dunia dan menyia-nyiakan pahala dan kebaikan.
Maka ketika langit terbelah, bencana menjadi besar dan malapetaka menjadi banyak, azab tampak dan hukuman datang, dan Allah menampakkan rahasia yang tersembunyi, dan hamba yang tertipu menyesal atas dosa yang dilakukannya di hari-hari dan waktu-waktu, dan atas apa yang diperbuat di bulan-bulan dan jam-jam.
Maka ketika langit terbelah, kesedihan menjadi banyak dan neraka muncul dan surga didekatkan, dan pelaku maksiat menyesal atas kemaksiatan yang dilakukannya dan atas kelalaiannya dalam ketaatan kepada Yang Maha Pengasih. Maka sadarlah terhadap kengerian ini wahai para saudara, wahai ahli Islam dan iman, karena demi Allah kengerian itu sangat besar dan peristiwa itu besar lagi dahsyat.
53 – Malaikat Langit Dunia
Maka ketika langit terbelah dan terputus-putus dan malaikat turun semuanya, ketika malaikat langit dunia turun, penduduk bumi ketakutan karena mereka dan menyangka bahwa mereka telah diperintahkan sesuatu tentang mereka. Maka malaikat langit dunia berkata kepada mereka: jangan kalian takut kepada kami karena kami takut kepada apa yang kalian takuti. Dan malaikat langit dunia lebih banyak dari penduduk bumi, manusia dan jinnya, binatang ternaknya, burung-burungnya, binatang buasnya, dan semua yang diciptakan di darat dan lautnya sebanyak tujuh puluh kali lipat. Maka para hamba tetap berdesak-desakan antara satu dengan yang lain.
54 – Malaikat Langit Kedua
Kemudian turunlah malaikat langit kedua dan mereka lebih banyak jumlahnya dan lebih besar penciptaannya daripada yang berkumpul di bumi sebanyak tujuh puluh kali lipat. Maka malaikat langit dunia dan semua yang di bumi ketakutan karena mereka, lalu mereka berkata kepada mereka: jangan kalian takut, kami sibuk dengan diri kami sendiri dan kami takut kepada apa yang kalian takuti.
Maka terus-menerus malaikat setiap langit turun dan semua yang mendahului mereka ketakutan karena mereka, dan penduduk setiap langit lebih banyak dan lebih besar daripada yang mendahului mereka sebanyak tujuh puluh kali lipat.
Dan seakan-akan penduduk setiap langit berada dalam satu barisan tersendiri, masing-masing dari mereka telah sibuk dengan dirinya sendiri karena kebesaran apa yang dilihatnya dan apa yang tampak padanya.
Dan mereka melantunkan syair:
Wahai orang-orang yang lalai, sadarlah sebelum kebangkitan kalian, dan sebelum diambil dengan kaki dan tangan
Dan manusia semuanya besok akan memandang, tidak berbicara dengan bisu atau tuli
Dan makhluk telah sibuk dan Mahsyar mengumpulkan mereka, dan Allah menuntut mereka dengan halal dan haram
Dan telah tampak bagi ahli kumpulan semuanya, janji Allah tentang azab dan siksaan
Dan setiap jiwa di sisi Yang Mahaperkasa memandang, tidak berbicara tanpa ruh karena kepadatan
55 – Para Penguasa yang Sombong di Mahsyar Seperti Semut
Diriwayatkan bahwa para penguasa yang sombong akan dikumpulkan pada hari Kiamat dalam bentuk semut, makhluk terkecil, karena kesombongan mereka terhadap hamba-hamba di dunia. Kemuliaan telah menjadi milik Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji, dan kehinaan melekat pada setiap penguasa yang sombong dan keras kepala serta setan yang jahat. Kesedihan dan kengerian telah datang berturut-turut kepada mereka, hukuman dan belenggu telah tampak bagi mereka, dan setiap pendosa yang sia-sia menyesal. Maka pada saat itu tidak ada daya upaya bagi yang berdaya upaya, di hari yang tidak ada jual beli di dalamnya dan tidak ada persahabatan. Syair:
Kedudukan para pendosa besok sulit, ketika neraka didekatkan oleh Yang Mahakuasa
Dan telah didirikan shirath agar kalian melewatinya, maka tidak selamat orang besar maupun kecil
Dan telah dihancurkan gunung-gunung bumi dengan kehancuran, dan laut-laut menjadi kering maka tidak ada laut
Dan muncullah neraka Jahim bagi setiap hamba, atas ahli kembali untuknya ada dengus
Wahai hamba-hamba Allah, renungkanlah dan ambillah pelajaran, menangislah dan berusahalah menangis, dan bersiaplah untuk hari yang berat, kengerian yang besar, peristiwa yang agung, dan azab yang keras lagi panjang.
56 – Hadits tentang Kengerian Hari Kiamat
Disebutkan dalam sebagian berita dari Nabi yang terpilih lagi pilihan shallallahu ‘alaihi wasallam dan atas keluarganya yang baik-baik selama pergantian malam dan siang bahwa beliau bersabda “Hari Kiamat memiliki seratus ribu kengerian, setiap kengerian lebih besar dari kematian seratus ribu kali.” Maka sesal lah wahai orang miskin atas apa yang telah kau perbuat dan telah berlalu, dan perbaikilah dengan taubat yang tulus apa yang akan datang sebelum datang hari yang tidak dapat ditolak dari Allah, tidak ada penolong bagi orang-orang zalim dan tidak ada pelindung bagi orang-orang durhaka, dan tidak ada tempat berlindung bagi siapa pun dan tidak ada yang mengingkari.
57 – Panasnya Terik dan Naungan
Maka ketika penduduk langit dan penduduk hijab dan tirai-tirai serta pembawa Arsy dan Kursi serta semua penduduk bumi lengkap di padang Mahsyar pada hari Kiamat, dan makhluk berdesak-desakan, kaki-kaki bercampur aduk, mata-mata menatap tajam, leher-leher memanjang dan membungkuk karena dahaga yang sangat, dan berkumpulnya desakan makhluk dan napas mereka serta panasnya matahari yang keras dan kesempitan, keringat naik di permukaan bumi hingga meninggi di atas badan-badan dan merata pada para hamba sesuai dengan kedudukan dan derajat mereka yang ditempatkan oleh amalan-amalan mereka yang mereka kerjakan di dunia. Dan panasnya matahari ditambahkan sehingga berlipat ganda, dikatakan panas sepuluh tahun, dan tidak ada naungan pada hari itu kecuali naungan Arsy. Maka tidak ada hamba laki-laki maupun perempuan yang mendapat naungan darinya kecuali sesuai dengan amalannya. Betapa jauhnya antara orang yang bernaungan menikmati naungan Arsy dan orang yang berteriak kepanasan di bawah terik matahari.
58 – Hujan Rahmat
Dan telah dikatakan bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala menurunkan hujan pada hari Kiamat kepada segolongan hamba-hamba-Nya, dan neraka Jahannam melemparkan percikannya kepada golongan lain. Betapa jauhnya antara orang yang merasa nyaman dengan dinginnya air hujan dan orang yang terbakar dengan panasnya percikan api. Maka barangsiapa menghabiskan umurnya di dunia dengan ketaatan kepada Yang Maha Pengasih dan beramal dengan Sunnah dan Quran, Tuhannya menyelamatkannya dari semua kesedihan dan kesusahan.
59 – Peringatan tentang Kengerian Mahsyar
Maka bayangkanlah dirimu ketika telah melihat gunung-gunung telah tercabut dari akar-akarnya dan menjadi seperti fatamorgana, dan langit-langit terputus-putus dan beterbangan seperti potongan-potongan awan, dan setiap orang jahat dan kafir yakin dengan datangnya azab yang pedih, dan kemuliaan telah menjadi milik Yang Memiliki kekuatan yang keras, dan kehinaan melekat pada setiap penguasa yang sombong dan keras kepala. Kemudian langit kembali seperti cairan logam yaitu endapan minyak yang mengendap di dasar bejana. Dikatakan langit kembali seperti minyak yang cair, dan gunung-gunung kembali seperti bulu yang dihambur-hamburkan yaitu yang paling lemah dari wol, dan makhluk-makhluk menjadi seperti ngengat yaitu nyamuk, dan dikatakan seperti belalang yang tersebar ketika matahari terbit padanya tidak mengambil satu arah, begitu juga makhluk berdesak-desakan antara satu dengan yang lain, bagi setiap orang di antara mereka pada hari itu ada urusan yang menyibukkannya.
Kiamat telah berkumpul dengan kengerian-kengeriannya, dan wanita hamil meletakkan kandungannya, dan bumi diguncang dengan guncangan yang dahsyat, dan bumi mengeluarkan beban-bebannya, dan bersaksi atas umat-umat dengan amalan-amalan mereka, dan anak kecil beruban, janji datang dan ancaman menjadi kenyataan, kengerian yang keras menjadi besar, dan terhina setiap orang yang sombong dan penguasa yang keras kepala.
Leher-leher telah tunduk kepada Tuhan segala tuhan, dan merugilah setiap orang kafir yang pendusta, kengerian semakin keras dan azab semakin besar. Maka renungkanlah apa yang kalian dengar wahai para kekasih, dan perhatikanlah diri kalian wahai para saudara dan sahabat, dan bersiaplah untuk kengerian Kiamat wahai orang-orang yang berakal dan berpikiran.
Dan mereka melantunkan syair:
Bayangkan untuk hatimu wahai orang yang tertipu, hari Kiamat dan langit berguncang
Telah digulung matahari siang dan digandakan, panasnya di atas kepala para hamba mendidih
Dan ketika gunung-gunung bergantung pada akar-akarnya, maka kau melihatnya seperti awan bergerak
Dan ketika bintang-bintang berjatuhan dan bertebaran, dan berubah setelah cahaya menjadi gelap
Dan ketika unta-unta hamil ditinggalkan dari pemiliknya, kampung-kampung kosong maka tidak ada yang memakmurkan
Dan ketika binatang buas pada Kiamat dihadirkan, dan berkata kepada malaikat ke mana kami berjalan
Maka dikatakan berjalanlah kalian akan menyaksikan keburukan, dan keajaiban-keajaiban telah dihadirkan dan urusan-urusan
Dan ketika janin bergantung pada ibunya, takut perhitungan dan hatinya ketakutan
Ini tanpa dosa takut karena kengeriannya, bagaimana orang yang tinggal di atas dosa-dosa bertahun-tahun
60 – Neraka Jahannam di Mahsyar
Maka ketika ketakutan semakin keras dan keringat mengalir, Yang Mahaperkasa lagi Mahaagung memerintahkan agar didatangkan neraka Jahannam, Allah melindungi kami dan kalian darinya dan menjauhkan kami dan kalian darinya dengan rahmat-Nya. Maka didatangkanlah neraka itu dengan kengerian-kengeriannya, belenggu-belenggunya, rantai-rantainya, dan borgol-borgolnya, api nerakanya telah sangat keras, air panasnya telah mendidih, pohon zaqqumnya banyak, para penjaganya marah, bisa ular dan kalajengkingnya besar, gunung-gunungnya menghitam, laut-lautnya mengamuk, ghassalinnya berbau busuk, sammumnya mendidih, dan berkumpul dari apa yang diciptakan Allah di dalamnya dari azab yang besar, maka dimunculkan kepada makhluk dan mereka melihatnya dari jarak perjalanan lima ratus tahun.
61 – Gambaran Neraka Jahannam
Allah Ta’ala berfirman “Dan neraka Jahim dimunculkan bagi siapa yang melihat” (Surah An-Nazi’at: 36). Maka semua makhluk melihatnya dan neraka itu murka kepada para hamba dan marah karena murka Yang Mahaperkasa lagi Mahaagung, dan meledak dan menyala. Padanya tujuh puluh ribu tali kekang dari besi, pada setiap tali kekang bergantung tujuh puluh ribu malaikat dari malaikat api yang menahannya dari makhluk, dan neraka itu ingin melepaskan diri dari tangan mereka dan menyerang ahli padang Mahsyar. Dan malaikat yang menahannya wajah-wajah mereka seperti bara dan mata-mata mereka seperti kilat yang menyambar. Ketika salah satu dari mereka berbicara, api berhamburan dari mulutnya. Di tangan setiap satu dari mereka ada gada dari besi yang terbuat dari api yang memiliki tujuh puluh dua ribu kepala dari api seperti gunung-gunung yang kokoh lagi besar, dan kepala-kepalanya seperti kepala ular, dan itu lebih ringan di tangan malaikat daripada bulu. Mata-mata mereka biru dan wajah-wajah mereka kelam, mereka diciptakan dari api samum. Maka neraka Jahannam ingin melepaskan diri dari tangan malaikat karena murka Yang Mahaperkasa lagi Mahaagung.
Semua ini dikatakan oleh Adh-Dhahhak dari para imam dari Ibnu Abbas radiyallahu ta’ala ‘anhum.
62 – Amukan Neraka Jahannam
Maka ketika neraka Jahannam datang dengan perintah Allah Tabaraka wa Ta’ala, ia datang dengan kengerian yang paling besar dan ketakutan yang paling besar. Maka keluar dari napasnya hawa panas yang keras dan terdengar dari dalam perutnya bunyi gemuruh rantai besi.
Ketika ia mendekat kepada makhluk, mereka mendengar dengusan darinya dan melihat kobaran api darinya. Ketika ia melihat ahli kemaksiatan, ia mengamuk dan mendidih dan ingin melompat kepada mereka, maka ia murka dan berkobar-kobar kepada mereka dan ingin menyerang semua makhluk, dan ingin melepaskan diri dari tangan para penjaga. Maka makhluk melarikan diri tetapi tidak menemukan jalan keluar atau tempat untuk meminta pertolongan, dan penyeru berseru “Wahai golongan jin dan manusia, jika kalian sanggup menembus dari penjuru langit dan bumi maka tembuslah, kalian tidak dapat menembus kecuali dengan kekuatan (bukti)” (Surah Ar-Rahman: 33), yaitu dengan dalil. Kemudian neraka Jahannam kembali dengan kekuatannya atas para penjaganya karena murka Yang Mahaperkasa yang keras kepada siapa yang bermaksiat kepada Allah dan menyelisihi Rasul-Nya. Ketika ia melepaskan diri dari tangan para malaikat Zabaniyah, ia ingin mencengkeram semua yang ada di padang Mahsyar. Maka menghadangnya shallallahu ‘alaihi wasallam Muhammad sang Rasul, sementara setiap nabi pada hari itu sibuk dengan dirinya sendiri.
63 – Rasul Menolak Neraka Jahannam dari Makhluk
Maka Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil tali kekangnya dan memegang kendalinya lalu mengembalikannya ke belakang, dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: cukuplah dari umatku. Maka neraka itu padam karena cahaya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan memanggilnya: wahai Nabi yang dimuliakan dan Rasul yang dimuliakan lagi diagungkan, lepaskan jalanku dari tanganmu karena Allah tidak menjadikan bagiku dan bagi selain aku kekuasaan atasmu. Maka Raja Yang Mahaagung lagi Mahaperkasa memanggilnya: ini Muhammad kekasih-Ku, pemimpin orang-orang yang berbakti dan menteri orang-orang yang baik, maka taat kepada siapa yang memiliki wasilah dan syafaat. Maka pada saat itu neraka Jahannam meletakkan kepalanya dengan tunduk, kelam, lemah di bawah ketenangan dan pemadaman dengan izin Raja Yang Disembah untuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pemilik telaga yang didatangi, maqam yang terpuji, panji yang diikat, kemuliaan dan kedermawanan, penegakan hakikat-hakikat dan batasan-batasan.
Dan seandainya beliau meninggalkannya, penutup para nabi dan pemimpin para rasul, sungguh neraka itu akan membinasakan seluruh makhluk karena murka kepada Tuhan semesta alam.
Allah melindungi kami dan kalian dengan rahmat-Nya darinya, sesungguhnya Dia Maha Pengasih dari yang pengasih.
64 – Neraka Jahanam dan Hembusan Nafasnya
Dikatakan bahwasanya neraka Jahanam—semoga Allah melindungi kita darinya dan menjauhkan kita serta kalian darinya dengan rahmat-Nya—apabila ia melihat kepada orang-orang kafir, orang-orang munafik, orang-orang durhaka, dan para pelaku dosa serta kesalahan, ia akan menghembuskan satu hembusan nafas, lalu melemparkan percikan api di atas kepala para makhluk sebanyak bintang-bintang di langit, buih lautan, dan pasir di daratan. Maka percikan itu jatuh di atas kepala orang-orang kafir dan para pelaku maksiat kepada Tuhan yang pertama dan yang akhir.
Seandainya dunia ini kekal, niscaya akan runtuhlah gunung-gunungnya, keringlah bunga-bunganya, kering pula mata air dan sungai-sungainya karena panasnya neraka Jahanam yang sangat dahsyat. Dan seandainya ada kematian di sana, niscaya matilah seluruh makhluk.
65 – Hembusan Kedua
Kemudian neraka menghembuskan nafas yang kedua, yang lebih dahsyat dari yang pertama. Maka tidak tersisa air mata di mata manapun melainkan ia akan menetes. Putih mata akan mengalahkan hitamnya. Hati-hati akan sampai ke kerongkongan. Dan tidak ada seorangpun yang bertanya kecuali tentang dirinya sendiri, baik orang baik maupun orang durhaka.
66 – Hembusan Ketiga
Kemudian neraka menghembuskan nafas yang ketiga, yang lebih dahsyat dari yang pertama dan kedua. Maka tidak tersisa malaikat yang dekat, nabi yang diutus, wali, maupun orang yang jujur melainkan semuanya berlutut di atas kedua lututnya, bahkan Nabi Ibrahim dan semua rasul, kecuali kekasih Tuhan semesta alam Muhammad shallallahu alaihi wasallam penutup para nabi. Sesungguhnya beliau tidak ditanya tentang dahsyatnya neraka. Allah telah menyelamatkannya dari segala kengerian neraka.
67 – Hembusan Keempat
Kemudian neraka menghembuskan nafas yang keempat, yang lebih dahsyat dari yang pertama, kedua, dan ketiga. Maka para penjaga neraka (Zabaniyah) semuanya tersungkur di atas wajah mereka. Seluruh makhluk lari terbirit-birit. Jibril dan Mikail alaihimassalam bergantungan pada tiang Arasy. Setiap malaikat berseru, “Diriku, diriku, aku tidak meminta kepada-Mu hari ini selain diriku.”
Dan juga setiap satu dari mereka berkata, “Demi kehormatan Muhammad dan demi kedudukan Muhammad shallallahu alaihi wasallam, selamatkanlah aku dari azab-Mu,” karena melihat kehormatannya, keagungan kedudukannya, dan kedudukan yang mulia di sisi Tuhannya. Ketika para makhluk berlari sedangkan neraka Jahanam hendak mendatangi mereka—sebagian neraka mendidih di atas sebagian yang lain, sebagian terbalik di atas sebagian yang lain—tidak tersisa belenggu, jubah dari ter, rantai, borgol, ular, maupun kalajengking melainkan semuanya dilemparkan di atas punggung neraka.
68 – Dengan Apa Api Itu Dipadamkan
Maka pada saat itu Muhammad shallallahu alaihi wasallam menghadap ke neraka dan meletakkan tangannya pada tali kekangnya. Beliau melambai kepadanya dengan jubah hijau, lalu neraka itu padam karena cahaya wajahnya yang penuh berkah. Beliau shallallahu alaihi wasallam memohon kepada Yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia seraya berkata, “Wahai Yang Maha Sejahtera, sejahterakanlah umatku dari azab yang pedih.”
Dan mereka melantunkan syair:
Air mata di pipi orang yang bermaksiat itu bagus Cukuplah bagi pemuda air mata kesedihannya
Wahai orang yang kedua malaikat penjaganya mengeluhkan kemanisannya Ketika ia bersepian sedang para hamba tidak menyadari
Sungguh Tuhanku melihatmu Sedang engkau lalai hatimu dan terpesona
Engkau tidak membuka rahasia ketika bersepi dengan-Nya Dan tidak putus pemberian-Nya yang melimpah
Api neraka berlari menuju para pelaku maksiat esok hari Orang-orang berdosa tidak mengetahui dan tidak tertidur
Wahai kaum, sungguh mengherankan hati-hati yang diuji dengan para hamba, lalai dari kengerian Hari Pembalasan, dan terus-menerus dalam bermaksiat kepada Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Dermawan.
Wahai saudaraku, seakan-akan yang dimaksud dengan semua ini adalah selain kita.
Sungguh akan dibangkitkan oleh Allah Yang Maha Perkasa orang yang hina dan kecil. Dia akan menanyai mereka tentang benang yang halus dan biji kurma, tentang semut dan kulit ari biji kurma, tentang yang sedikit dan yang banyak di hari yang menakutkan, cemberut, dan sulit, yang membuat rambut anak kecil memutih karena dahsyatnya kengerian hari itu. Semoga Allah memberi rahmat kepada kita dan kalian di hari itu. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas apa yang Dia kehendaki.
Kemudian Allah Taala mengutus Jibril alaihissalam kepada neraka Jahanam. Allah Taala berfirman kepadanya, “Allah Taala memerintahkanmu untuk taat.” Maka neraka berkata, “Demi kemuliaan Allah dan keagungan kebesaran-Nya, sungguh aku akan membalas dendam hari ini kepada siapa saja yang tidak mengerjakan ketaatan kepada Allah dan menggunakan nikmat-Nya untuk bermaksiat kepada-Nya.”
Kemudian neraka berkata, “Wahai Jibril, apakah Allah menciptakan makhluk yang akan menyiksaku dengannya?” Maka Jibril berkata, “Tidak. Allah tidak menciptakanmu kecuali sebagai murka bagi siapa saja yang bermaksiat kepada-Nya.”
Maka neraka Jahanam pada saat itu berkata, “Segala puji bagi Allah yang menjadikanku murka bagi siapa yang bermaksiat kepada-Nya dan tidak menjadikan dari makhluk-Nya yang membalas dendam kepadaku.” Pada saat itulah, demi Allah, kesulitan akan menjadi besar, keburukan dan aib akan tampak, dan orang-orang yang bermaksiat dan berdosa akan menyesal.
Dan mereka melantunkan syair:
Tidak ada kegembiraan di dunia bagi orang Yang beriman kepada hari kebangkitan
Maka sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali, bagi orang yang menjual dirinya di pasar kerugian, meninggalkan kemuliaan dan rela dengan kehinaan, mengorbankan jiwanya untuk azab api neraka, dan terang-terangan bermaksiat kepada Raja Yang Maha Mengatur.
69 – Sebab-Sebab Ampunan Dosa
Diceritakan dari sebagian orang yang mengenal Allah rahimahullah bahwa ia berkata, “Aku hadir pada suatu tahun dari tahun-tahun wukuf di Arafah. Tiba-tiba (kudengar) jeritan orang-orang, maka aku teringat pada Hari Kiamat dan mengingat rahmat Allah. Aku ingin bersumpah bahwa Allah telah mengampuni setiap orang yang ada di perkumpulan itu, namun aku teringat bahwa aku termasuk di antara mereka, maka aku menahan diri.”
Dan mereka melantunkan syair:
Wahai banyak dosa, berhentilah sebentar Sungguh engkau telah sampai pada batas dari pemborosan
Ketika kepanikan para makhluk sangat keras, ketakutan dan kepanikan dari mereka banyak, hati-hati sampai ke kerongkongan karena takut kepada Dia yang mengetahui yang zahir dan yang tersembunyi, maka Allah Yang Maha Pengasih menyeru, “Wahai hamba-hamba-Ku, tidak ada ketakutan atas kalian hari ini dan kalian tidak bersedih hati.”
Ketika para makhluk mendengar seruan ini, masing-masing dari mereka berharap padanya.
Maka Allah Subhanahu berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang berserah diri (muslim).” (Surat Az-Zukhruf: 69)
Pada saat itu berputus asalah semua orang kafir, munafik, dan durhaka dari rahmat Allah Yang Maha Pengasih. Dan berharaplah padanya orang yang beriman kepada Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa dan mengikuti sunnah Muhammad sang pilihan.
Pada saat itu catatan amal dibentangkan, timbangan dipasang, lembaran-lembaran amal beterbangan. Maka setiap orang mengakui apa yang telah diperbuatnya. Orang zalim menyesal dan orang berdosa merugi. Aib-aib tampak di dalam lembaran-lembaran amal. Rasa malu bertambah banyak, ketakutan menjadi sangat keras, aib-aib menjadi nyata, dan para malaikat penjaga serta anggota badan bersaksi atas setiap orang.
Dan mereka melantunkan syair:
Lama, demi Allah, dengan dosa-dosa kesibukanku Dan aku terus-menerus dalam perbuatan yang buruk
Tahukah aku apabila aku datang sendirian Dan timbangan-timbangan telah dipasang di hadapanku
Dan catatan-catatan telah dibentangkan, dan kami datang Dan para nabi menyaksikan pertanyaanku
Apa uzurku dan apa yang akan kukatakan kepada Tuhanku Dalam pertanyaan-Nya dan apa pembelaanku
Dosa-dosa mewariskan kepadaku rumah kesedihan Aku tidak akan kekal untuknya dan ia tidak akan kekal untukku
Wahai Yang Maha Agung keagungan-Nya, aku tidak punya uzur Bahkan aku berhak mendapat api yang paling bawah
Namun harapan kepada-Mu kokoh Maka rahmatilah hamba, wahai Yang Maha Indah perbuatan-Nya
Dan berilah karunia kepada hamba yang buruk Yang tidak mengharap selain Engkau, wahai Yang Memiliki keagungan
70 – Ini Hari Pembalasan
Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Apabila Allah Tabaraka wa Taala mengumpulkan orang-orang yang terdahulu dan yang kemudian, seorang penyeru akan menyeru: Ini hari pembalasan. Ini hari keputusan yang dahulu kalian mendustakannya. Maka lihatlah untuk dirimu sendiri, wahai orang yang malang, wahai yang lemah iman dan keyakinannya, wahai orang yang mengatakan bahwa ia termasuk orang-orang mukmin yang membenarkan.”
Padahal ia mengerjakan perbuatan orang-orang yang mendustakan, yang melanggar, yang meninggalkan sunnah-sunnah pemimpin para rasul dan penutup para nabi.
Alangkah berani engkau menjadi di sisi Allah termasuk orang-orang yang berdusta! Seandainya engkau takut dari azab Hari Pembalasan, niscaya engkau akan mengamalkan Al-Quran yang jelas. Dan seandainya engkau termasuk orang-orang mukmin yang membenarkan, niscaya engkau akan taat kepada Tuhan yang pertama dan yang akhir.
Maka mintalah kepada Tuhanmu agar Dia melapangkan dari dirimu apa yang telah menimpa dirimu berupa penyakit dosa-dosa dan terbukanya auratmu dari keburukan dan aib.
Dan mereka melantunkan syair:
Wahai tabib dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan Adakah obat agar aku sembuh dari sakitku
Sesungguhnya penyakit dosa-dosa telah melemahkan tubuhku Dan ubanku bertanggung jawab atas kematianku
Dan kesembuhanku membuat para tabib tidak berdaya karena aku Telah memakan makanan harianku dengan yang haram
Dan aku menunggangi dosa-dosa secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan Dan aku menjauh dari tempat orang-orang mulia
Bagaimana dengan pengobatan akan mengobati sakitku Sedang ucapanku menambah luka ucapanku
Wahai manusia, sungguh kalian telah mengetahui dosa-dosaku Dan terperangkapku, kecelakaan dan kejahatanku
Dan aku mengharapkan doa, maka bersungguh-sungguhlah Dalam membebaskanku dari dosa-dosa yang besar
Dan kerinduanku kepada tawaf sangat keras Dan kepada Rukun, Shafa, dan Maqam
Dan kepada Yatsrib (Madinah) hatiku merindukan Agar aku ziarah kepada Nabi sebaik-baik manusia
Maka mintalah kepada Allah dalam sampainya karena aku Pemilik kerinduan untuk haji ke Baitullah Al-Haram
Mudah-mudahan Allah mengampuni dosaku Dan menyelamatkan dari dahsyatnya Hari Kiamat
Dan membebaskan Yang Maha Pemberi hamba yang lemah Yang mati karena takut dari azab yang kekal
71 – Nasihat Kaab Al-Ahbar
Diriwayatkan bahwa Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu anhu berkata kepada Kaab, “Wahai Kaab, buatlah kami takut.”
Maka Kaab menundukkan kepalanya, kemudian mengangkat kepalanya sedang kedua matanya meneteskan air mata. Lalu ia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, demi Dzat yang jiwa Kaab ada di tangan-Nya, sesungguhnya neraka Jahanam akan menghembuskan satu hembusan nafas hingga memutuskan rantai-rantai yang ada di tangan para penjaga neraka (Zabaniyah) yang memegangnya dengannya, sehingga melimpah ke atas para penghuni padang mahsyar. Para penjaga neraka tersungkur di atas wajah mereka. Malik penjaganya lari dari hadapannya. Seandainya setiap manusia memiliki amal seratus ribu nabi, seratus ribu orang jujur, dan seratus ribu syuhada, niscaya ia akan meremehkan amalnya dan mengira bahwa ia tidak akan selamat darinya.
Pada saat itulah Nabi shallallahu alaihi wasallam menghadapnya sedangkan Hari Kiamat telah bersinar dari cahaya wajahnya. Beliau mengambil tali kekangnya dan berkata kepadanya, ‘Cukup terhadap umatku, cukup terhadap umatku,’ tiga kali.
Maka neraka berkata kepadanya, ‘Wahai Nabi yang mulia dan Rasul yang penyantun lagi penyayang, Allah tidak menjadikan bagiku atas dirimu dan atas umatmu jalan apapun.’
Pada saat itulah hamba yang berdosa apabila melihat kengerian yang dahsyat bergantung kepada Nabi alaihishshalatu wassalam. Lalu ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, selamatkanlah aku dari azab Allah.’ Maka beliau berkata kepadanya, ‘Bukankah aku telah menyampaikan kepadamu risalah Tuhanku, lalu mengapa engkau bermaksiat?’ Maka hamba yang berdosa itu berkata kepadanya, ‘Wahai Rasulullah, kecelakaanku telah mengalahkanku.’
Maka beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Tidak ada kecelakaan atas seorangpun dari umatku dan tidak atas siapa yang mengucapkan di dunia dengan ikhlas: Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah.’
Maka beliau memberi syafaat untuknya kepada Allah Taala, dan Allah mengabulkan syafaatnya untuknya.”
Dan mereka melantunkan syair:
Alangkah mulianya Ahmad pemilik karunia-karunia Pemberi syafaat manusia di hari seruan
Apabila para makhluk dibentangkan dari kubur Telanjang mencari embun dari yang menyeru
Dan neraka Jahim didekatkan bagi siapa yang melihatnya Maka wahai Allah, dari ketakutan para hamba
Dan sungguh neraka Jahanam telah menghembuskan nafas, maka mereka tunduk Jatuh seperti kupu-kupu dan seperti belalang
Dan sungguh telah sampai ke kerongkongan mereka hati-hati Dan mereka menatap dengan pandangan yang tajam
Wahai Yang Maha Perkasa, maafkanlah dari-Mu, maka berlemah-lembutlah Dan wahai Yang Maha Pengasih, berkasih sayanglah kepada para hamba
Dan mereka diseru untuk shirath, ‘Ayo kemari Maka ini, celakalah kalian, Hari Pembalasan’
Menggiring kalian kepadanya dengan keras Dengan pentungan dari para penjaga neraka yang keras
Alangkah wahai jemaah kaum Islam, bangkitlah Dari kelalaian dalam tidur yang nyenyak
72 – Hadits dalam Ancaman
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Setiap mata menangis di Hari Kiamat kecuali mata yang menangis karena takut kepada Allah, mata yang menunduk dari hal-hal yang diharamkan Allah, dan mata yang terjaga menjaga di jalan Allah.”
Maka tolaklah wahai hamba-hamba Allah di hari-hari yang sedikit dengan apa yang akan melindungi kalian dari kengerian yang dahsyat, kesulitan yang besar, gempa dan bencana, serta azab yang kekal. Sesungguhnya umur itu pendek, ajal itu dekat, bekal itu sedikit, kengerian itu besar, azab itu panjang, dan hari itu menakutkan dan berat.
Maka sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali, bagi orang yang memotong hari-harinya dalam bermaksiat, menukar surga dengan api neraka, keuntungan dengan kerugian, meninggalkan kemuliaan dan rela dengan kehinaan, mengganti penambahan dengan pengurangan. Maka pikirkanlah apa yang engkau dengar wahai manusia, dan aku, engkau, dan kita semua adalah manusia itu.
Dan mereka melantunkan syair:
Tempat berdiri orang-orang berdosa esok hari hina Dan kedudukan orang-orang yang taat esok hari mulia
Apabila shirath dibentangkan di atas neraka Jahim Ia menyerang kepada para pelaku maksiat dan memanjang
Dan ia menyeru Malik, ‘Ambillah orang yang bermaksiat kepada-Ku Maka sesungguhnya aku hari ini tidak akan memberi ampun kepada mereka’
73 – Sujud Jahanam
Disebutkan dalam beberapa berita bahwa Jahanam—semoga Allah melindungi kita darinya dan menjauhkan kita darinya dengan rahmat-Nya—meminta izin pada hari kiamat untuk bersujud, lalu diizinkan untuknya, maka ia bersujud selama yang Allah kehendaki, kemudian dikatakan kepadanya: “Angkatlah (kepalamu)!” Maka ia mengangkat kepalanya sambil berkata: “Segala puji bagi Allah yang menciptakanku untuk membalas dendam-Nya kepada siapa yang bermaksiat kepada-Nya, dan tidak menjadikan sesuatu pun dari ciptaan-Nya yang membalas dendam dengan perantaraanku.
Ya Tuhanku, sungguh telah berat ujianku, apiku telah padam, air mendidih dan pohon zaqqum-ku telah mendidih, banyak bau busuk dan air nanah keringatku, dan sebagianku telah memakan sebagian yang lain.
Ya Tuhanku, segerakanlah penghuninya kepadaku, maka demi kemuliaan-Mu, sungguh aku akan membalas dendam untuk-Mu dari siapa yang bermaksiat kepada-Mu, mengikuti hawa nafsunya, mengingkari ayat-ayat-Mu, mendustakan rasul-rasul-Mu, dan menjadikan sesembahan selain Engkau bersama-Mu. Tiada tuhan selain Engkau.”
Lalu dipanggil seruan yang didengar oleh seluruh penghuni padang Mahsyar semuanya, kemudian ia (Jahanam) murka kepada ahli kemaksiatan, lalu melemparkan percikan api seperti bintang-bintang di langit, buih lautan, pasir daratan, dan tumbuhan bumi ke atas kepala makhluk. Maka jatuh di atas kepala para ahli maksiat. Barangsiapa yang memiliki amal saleh, maka amalnya menjadi penghalang antara dirinya dan percikan api Jahanam, dan barangsiapa yang tidak memiliki amal saleh, maka kepalanya menjadi sasaran percikan api Jahanam. Semoga Allah melindungi kita darinya dan menjauhkan kita darinya dengan rahmat-Nya, ya Tuhan semesta alam, amin.
۞۞۞۞۞
3 – Majelis dalam Menyebut Timbangan dan Shirath
74 – Firman Allah
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan Kami akan memasang timbangan yang adil pada hari kiamat, maka tidaklah dirugikan seseorang sedikit pun.” (Surat Al-Anbiya: 47)
Wahai hamba-hamba Allah, mengapa hati kalian tidak khusyuk, mengapa telinga kalian tidak mendengar, mengapa doa kalian tidak didengar, mengapa mata kalian tidak menangis, mengapa perut kalian tidak kenyang dari yang haram dan subhat, mengapa amal kalian yang terpuji tidak terangkat?
Wahai saudara-saudaraku, barangsiapa yang menyibukkan dirinya dengan beribadah kepada yang disembah dan dipuji, dari ketakutan terhadap kedatangan manusia, maka seburuk-buruk tempat datang dan yang didatangi.
75 – Kebanggaan Binatang Buas atas Bani Adam
Disebutkan dalam beberapa berita bahwa binatang-binatang buas berkumpul pada hari kiamat, lalu bersujud sambil berkata: “Apakah ini hari sujud?” Lalu dikatakan kepada mereka: “Sesungguhnya kami bersujud sebagai syukur kepada Allah yang tidak menjadikan kami dari keturunan Adam dan menjadikan kami dari yang menyaksikan keburukan-keburukan bani Adam.”
Maka demi Allah wahai saudara-saudaraku, terimalah nasihat ini sebelum hari malu dan aib.
Maka apabila hari kiamat tiba dan Jahanam datang dengan kengerian-kengeriannya, Shirath dipasang di atasnya, panjangnya lima ratus tahun, dan ada yang mengatakan panjangnya tiga puluh enam ribu tahun dari tahun-tahun dunia, lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari silet, dan dikatakan lebih tajam dari pedang dan lebih panas dari bara api. Dan dikatakan bahwa ia adalah sehelai rambut dari kelopak mata Malik, penjaga Jahanam, yang direntangkan di atas punggung Jahanam. Di atasnya terdapat duri dan kait-kait yang telah digantungkan pada setiap kait darinya sejumlah bintang-bintang di langit dari para malaikat Zabaniyah. Seandainya salah satu dari mereka diizinkan Allah untuk bernapas di dunia, niscaya akan membakar dunia dengan manusia dan jinnya serta semua yang diciptakan di dalamnya, melelehkan gunung-gunungnya dan mengeringkan lautan-lautannya.
76 – Sifat Shirath
Dan Shirath itu hitam gelap dari kegelapan Jahanam yang sangat, maka tidak dapat melewatinya pada hari itu kecuali yang memiliki cahaya. Dan tidak akan ada cahaya pada hari itu kecuali dari amal-amal saleh. Maka barangsiapa yang beramal saleh, menyelamatkannya dari Neraka dan melewati ke negeri ketenangan dan ketetapan.
Dan barangsiapa yang tidak menyiapkan di dunia amal saleh, terhalang dari melihat wajah Yang Maha Perkasa dan jatuh ke negeri penyesalan dan kebinasaan.
Di negeri yang azabnya adalah samum (angin panas), minumannya air mendidih, naungannya tidak sejuk dan tidak menyenangkan, dan makanannya adalah pohon zaqqum. Demi Allah, ia jatuh ke negeri yang azabnya pedih, tempat tinggalnya Jahim, dan penghuninya selamanya dalam siksa yang menetap. Demi Allah, ia jatuh ke dalam api yang dasarnya jauh, azabnya keras, minumannya nanah, pentungannya besi, dan tidaklah jauh bagi orang-orang zalim.
Dan mereka membaca syair:
Belumkah saatnya wahai saudara untuk tersadar … dan meninggalkan Himma dan Aqiq
Padahal uban telah tertawa di pelipismu … dan keburukanmu tampak padanya bersinar
Dan rombongan telah datang kepada mereka dan mereka telah dihadapkan … pada para pengikut kematian dengan mendadak
Piala kematian mengelilingi mereka … di pagi hari (menyertai mereka) atau di sore hari
Dan senantiasa burung gagak kematian di antara mereka … maka memperdengarkan kepada mereka untuk kematian berkokok
Dan melompat-lompat di halaman istana … hingga menjadikan yang luas menjadi sempit
Maka laranglah jiwa dari kesesatannya … mudah-mudahan kamu dapat melewati Shirath yang tipis
Tempat berdiri di mana para wanita menyusui akan lupa … dan wanita hamil akan melahirkan janji yang benar
Dan api Jahim akan ditampakkan kepada manusia … untuknya leher yang berkobar membakar
Minuman mereka adalah cairan nanah di dasarnya … yang memotong usus dan urat-urat mereka
Apabila ditutup di atas mereka tidak akan … terdengar kecuali tangisan dan jeritan
Apakah itu lebih baik ataukah para wanita yang dipingit … yang tersenyum mereka seperti kilat
Dipingit untuk cinta suami-suami mereka … maka yang merindukan menyambut yang dirindukan
Sungguh beruntung orang yang kepada Yang Terpilih … di negeri ketetapan suatu hari menjadi teman
77 – Kebaikan Amal dan Shirath
Maka gambarkanlah untuk dirimu wahai orang miskin ketika kamu datang ke Shirath dan kamu telah melihat orang-orang yang beramal telah melewatinya dan cahaya mereka berlari di hadapan mereka dan di kanan mereka, dan kamu melihat orang-orang batil dalam kegelapan-kegelapan kebatilan dan kedalaman kejahilan.
Maka demi Allah wahai jamaah orang-orang lemah, wahai yang menghabiskan umurnya dalam perselisihan dan kekasaran, ambillah untuk diri kalian dengan kehati-hatian dan berhati-hatilah terhadap kengerian-kengerian yang sulit ketika melewati Shirath.
Karena Shirath tidak dapat dilewati oleh orang berdosa dan tidak selamat darinya orang zalim.
Dan Shirath itu benar-benar tipis, tidak selamat darinya orang yang menyelisihi kebenaran dan meninggalkan Sunnah dan manhaj jalan yang benar. Shirath itu panjang dan jauh, tidak dapat dilewati kecuali orang yang mengambil dirinya dengan ketegasan yang kuat dan istiqamah dalam ketaatan kepada Wali Yang Maha Terpuji.
Shirath itu menakutkan dan mengerikan, dan tidak dapat dilewatinya kecuali orang yang menolong orang yang kesusahan dan taat kepada Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shirath itu sulit dan mengerikan, dan tidak dapat dilewatinya kecuali orang yang mengikuti Sunnah Muhammad Rasul dan taat kepada Tuhan yang tidak berubah dan tidak lenyap. Shirath itu banyak malaikat Zabaniyahnya, tidak dapat dilewatinya kecuali orang yang taat kepada Tuhannya di dunia yang fana dan mengawasi Allah secara tersembunyi dan terang-terangan.
Dan disebutkan dalam beberapa berita bahwa tidak dapat melewati Shirath hamba laki-laki dan hamba perempuan kecuali setelah dibukakan catatan-catatan dan ditimbang timbangan-timbangan.
78 – Timbangan-timbangan pada Hari Kiamat
Disebutkan bahwa untuk setiap manusia ada timbangan yang ditimbang dengannya amalnya. Maka barangsiapa beramal buruk, ringan timbangannya dan jatuh ke dalam Neraka. Dan dikatakan bahwa timbangan itu dipasang di hadapan Arasy Ar-Rahman, ditimbang dengannya amal-amal para hamba.
Dan adalah Al-Hasan semoga Allah meridhainya berkata: untuk setiap manusia ada timbangan yang ditimbang dengannya amalnya dari kebaikan dan keburukan, dan beristidlal dengan itu dari firman-Nya Ta’ala: “Dan Kami akan memasang timbangan-timbangan yang adil pada hari kiamat.” (Surat Al-Anbiya: 47)
Adapun firman-Nya Ta’ala: “Maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya” (Surat Al-Qari’ah: 6-8), maka itu adalah timbangan kebaikan dan timbangan keburukan. Dan firman-Nya “berat” dan “ringan”, maka firman-Nya “berat” dengan ucapan Laa ilaaha illallah dengan ikhlas dan “ringan” dari kebaikan dengan syirik, kemunafikan, riya, dan sum’ah (ingin didengar).
Karena hamba kadang-kadang mengucapkan Laa ilaaha illallah dalam kemaksiatan, dan mengucapkan Laa ilaaha illallah dan Allahu Akbar sambil mengambil harta seorang muslim, maka sesungguhnya itu adalah kemunafikan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan ikhlas, berat timbangannya dan selamat dari Neraka serta masuk Surga.” Lalu ditanyakan: Ya Rasulullah, apa keikhlasannya? Maka beliau bersabda: “Yaitu menjauhkan kalian dari apa yang Allah haramkan atas kalian.”
79 – Penimbangan Amal
Disebutkan dalam beberapa berita bahwa didatangkan seorang hamba pada hari kiamat untuk dihisab, lalu dikeluarkan untuknya sembilan puluh sembilan catatan yang penuh dengan kejahatan, diletakkan di sisi timbangan, maka bertambah berat kekhawatiran dan kesusahan hamba itu. Lalu Al-Jabbar Jalla Jalaluhu berkata kepada hamba-Nya: “Pada-Ku ada simpanan yang Aku simpan untuknya.” Maka Allah Tabaraka wa Ta’ala memerintahkan agar dikeluarkan untuknya selembar kertas kecil yang di dalamnya tertulis: “Meninggal si fulan, dan ia bersaksi dan berkata Laa ilaaha illallah dengan ikhlas.”
80 – Kalimat Tauhid
Lalu Allah Ta’ala berfirman: “Letakkanlah di timbangan hamba-Ku.” Maka diletakkan di timbangannya, lalu timbangan itu condong dengannya dan berat melebihi seluruh keburukannya. Maka pada saat itu hamba itu gembira, lalu Allah Tabaraka wa Ta’ala memerintahkannya ke Surga. Dan mereka membaca syair:
Aku siapkan untuk Allah ketika bertemu dengan-Nya … aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah
Aku mengucapkannya untuk Allah dengan ikhlas … semoga Allah merahmatiku pada hari kiamat
Mudah-mudahan pada hari hisab aku selamat dengannya … hari hukuman, hari yang keras ujiannya
Hari beruntung di hadapan para saksi yang mengucapkannya … dan merugi orang-orang yang mengingkari nikmat-Nya
Ia adalah penunjuk ke negeri keabadian … dan barangsiapa yang bermaksiat maka Jahim tempatnya
Barangsiapa mengucapkannya untuk Allah dengan ikhlas … dialah yang telah datang kepadanya ketakwaan-Nya
Dan dialah yang di dalam keabadian tempat tinggalnya … Allah telah mengkhususkannya di dalamnya dan meridhainya
Sungguh beruntung hamba yang menjadi pengingatnya … dengan negeri Eden berdekatan dengan Tuhannya
Ia memperoleh negeri keabadian yang mengucapkannya … tolong untuk orang yang mengucapkannya dan kebahagiaan untuknya
Barangsiapa yang ketika kematian mengucapkannya … beruntung dengan dunianya dan akhiratnya
Maka demi Allah wahai hamba-hamba Allah, berharap kepada Tuhan kalian agar Dia meneguhkan kalian di atas kalimat yang diberkahi yang ringan di lisan, berat di timbangan, menghiasi catatan. Dengannya diridhai Raja Yang Maha Pengasih, dengannya dimurkai Syaithan yang terkutuk, dengannya selamat hamba yang berdosa dari api, dan dengannya hamba sampai kepada kenikmatan keabadian dan keamanan.
81 – Keutamaan Sedekah
Disebutkan bahwa hamba apabila didatangkan ke timbangannya dan dikeluarkan catatan-catatan keburukannya yang lebih besar dari gunung-gunung dunia, lalu ditemukan untuknya sedekah yang baik yang dia sedekahkan, tidak menginginkan dengannya kecuali wajah Allah Ta’ala, dan tidak mencari dengannya balasan dari makhluk, tidak riya, tidak sum’ah, tidak pujian, dan tidak ucapan terima kasih, maka sesungguhnya sedekah itu diletakkan di timbangan dengan perintah Raja Yang Maha Pencipta, lalu berat melebihi seluruh keburukannya walaupun keburukannya seperti berat gunung-gunung. Dan mereka membaca syair:
Wahai pengumpul harta yang berharap akan kekal untuknya … segala yang kamu mampu dan siapkanlah untuk timbangan
Dan janganlah kamu seperti orang yang telah berkata ketika hadir … kematiannya sepertiga hartaku untuk orang-orang miskin
Dan ketahuilah wahai hamba-hamba Allah bahwa timbangan apabila dipasang untuk hamba, maka ia termasuk kengerian terbesar pada hari kiamat. Karena hamba apabila melihat timbangan, lepas jantungnya, banyak kesusahannya, dan besar kekhawatirannya. Maka tidak tenang keterkejutan hamba hingga dia melihat apakah berat timbangannya ataukah ringan. Maka jika berat timbangannya, sungguh dia telah bahagia dengan kebahagiaan yang tidak akan sengsara setelahnya selamanya. Dan jika ringan timbangannya, sungguh dia telah merugi dengan kerugian yang nyata dan menemui dari azab perkara yang besar.
82 – Syafaat Rasul
Disebutkan dalam berita-berita bahwa umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam apabila didatangkan ke timbangan, besar kekhawatiran mereka ketika ditampakkan kepada mereka keburukan-keburukan dan aib-aib mereka, ditimbang beban-beban dan dosa-dosa mereka, sempit daya mereka, dan berubah keadaan mereka. Maka pada saat itu datang kepada mereka Nabi pemberi syafaat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka apabila beliau melihat umatnya telah kebingungan di timbangan, beliau berdoa kepada Allah agar memberatkan timbangan mereka. Maka Allah Ta’ala memerintahkan beliau agar melihat timbangan umatnya, lalu shallallahu ‘alaihi wasallam melihatnya, maka berat timbangan mereka dari pandangannya dan cahaya wajahnya shallallahu ‘alaihi wasallam.
Disebutkan bahwa timbangan berada di tangan Jibril ‘alaihis salam, dan untuknya dua sisi, salah satunya di timur dan yang lain di barat. Dan sesungguhnya biji sawi, biji kecil, dan butir dari amal-amal para hamba dari kebaikan dan keburukan sungguh diletakkan di sisi timbangan, lalu condong dengannya dengan kekuasaan Allah Ta’ala. Maka Allah lebih mengetahui tentang hakikat itu.
Maka janganlah salah seorang dari kalian meremehkan kebaikan yang dikerjakannya walaupun kecil di matanya, karena mungkin ia memberatkan timbangan. Dan janganlah salah seorang dari kalian meremehkan keburukan yang dikerjakannya walaupun kecil, karena mungkin ia meringankan timbangan.
Karena dosa kecil di mata yang meremehkannya datang pada hari kiamat dan ia di timbangan lebih besar dari gunung-gunung yang kokoh.
83 – Apa yang Memberatkan Timbangan
Firman Allah Ta’ala: “Dan Kami akan memasang timbangan-timbangan yang adil pada hari kiamat, maka tidaklah dirugikan seseorang sedikit pun.” (Surat Al-Anbiya: 47)
Meriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan, dicintai oleh Ar-Rahman: Subhanallahi wa bihamdihi, Subhanallahil ‘Azhim.”
Dan dikatakan: Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata: Ya Rasulullah, aku datang kepadamu, ajarkanlah aku ilmu yang memasukkanku ke Surga dan menyelamatkanku dari Neraka.
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: “Maukah aku tunjukkan kepadamu dua kalimat yang berat di timbangan, ringan di lisan, yang memuaskan Ar-Rahman dan memurkai Syaithan? Kamu mengucapkan: Subhanallahi wal hamdulillah, karena sesungguhnya keduanya adalah yang mendekatkan, mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka.”
Maka setiap orang yang mengira bahwa timbangan itu bukan kebenaran, sungguh dia telah menolak Allah dalam Kitab-Nya dan menolak Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Sunnahnya.
84 – Pemimpin dalam Kebaikan dan Pemimpin dalam Keburukan
Diriwayatkan dari Hasan radhiyallahu anhu bahwa ia berkata: Pada hari kiamat didatangkan timbangan, lalu diletakkan di hadapan Allah Tabaraka wa Ta’ala, kemudian para hamba dipanggil untuk perhitungan. Jika seorang hamba laki-laki atau perempuan adalah pemimpin dalam kebaikan, menyeru dan memerintahkannya, maka dipanggillah ia dengan namanya, kemudian didekatkan ke timbangan, lalu ditimbang kebaikan dan keburukannya. Sekalipun hanya ada satu kebaikan, dan sekalipun keburukannya lebih banyak daripada kebaikannya dan lebih berat dari gunung-gunung di dunia, karena sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala apabila menerima dari seorang hamba laki-laki atau perempuan satu kebaikan saja, maka Dia mengampuni semua dosanya meskipun dosanya sangat banyak.
Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda kepada Aisyah: “Wahai Aisyah, seandainya Allah Ta’ala menerima dari seorang hamba satu sujud saja, niscaya Dia memasukkannya ke dalam surga dengan sujud itu.” Maka Aisyah berkata: “Wahai Rasulullah, lalu apa yang dilakukan terhadap amal-amal para hamba?” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Dimakan oleh riya dan sum’ah (pamer) sebagaimana api memakan kayu bakar.”
Dan apabila seorang hamba laki-laki atau perempuan adalah pemimpin dalam keburukan, memerintahkan dan menyeru kepadanya, maka dipanggillah ia dengan namanya, lalu dikemukakan ke timbangan, kemudian ditaruh kebaikan dan keburukannya, maka keburukannya lebih berat dari kebaikannya sekalipun keburukannya hanya satu, dan sekalipun kebaikannya lebih banyak dan lebih berat dari gunung-gunung di dunia, karena sesungguhnya Allah Ta’ala menghapusnya dan tidak menerima satu kebaikan pun darinya, dan mereka diperintahkan oleh para malaikat kiri menuju ke neraka.
Maka para sahabatnya radhiyallahu anhum bertanya: “Wahai Rasulullah, bukankah mereka orang-orang muslim?” Maka beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Mereka shalat sebagaimana kalian shalat, berpuasa sebagaimana kalian berpuasa, berzakat sebagaimana kalian berzakat, dan bangun di malam hari beberapa saat, tetapi mereka adalah orang-orang yang apabila dihadapkan kepada mereka dirham yang haram, maka mereka menyambarnya seperti serigala, maka Allah menghapus amal-amal mereka karena hal itu dan tidak menerima dari mereka satu kebaikan pun.” Dan apabila Allah tidak menerima dari para hamba satu kebaikan pun, maka tentu saja tidak berpengaruh pada timbangan, karena kebaikan-kebaikan itu tidak bermanfaat dan tidak memberat timbangan apabila Allah Ta’ala tidak menerimanya, karena sesungguhnya Dia Ta’ala tidak menerima kecuali apa yang ikhlas karena wajah-Nya.
Maka takutlah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah! Apabila kalian beramal, maka ikhlaskanlah untuk Allah, karena sesungguhnya Allah tidak memberi manfaat kepada kalian dan tidak menerima dari kalian kecuali apa yang ikhlas karena wajah-Nya.
Dan mereka melantunkan syair:
Barangsiapa mengetahui bahwa Allah akan membangkitkannya Pada hari perhitungan ketika catatan-catatan dibuka
Maka janganlah ia menambah dengan perbuatan-perbuatan kebajikan semuanya Kecuali perhitungan dan pemberat timbangan
Maka bersiaplah wahai hamba-hamba Allah untuk timbangan dengan melazimi ketaatan kepada Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih).
Bersiaplah untuk timbangan-timbangan dengan ketaatan kalian kepada Sultan para Sultan.
Saudaraku, dan musibah serta penyesalan yang paling besar adalah orang yang ringan timbangannya dari kebaikan dan diperintahkan dengannya menuju azab dan siksaan.
Dan celakalah kemudian celakalah bagi orang yang ringan timbangannya dari amal-amal saleh dan dimurkai oleh Dzul Juud wal Ifdhaal (Yang Memiliki Kemurahan dan Karunia) dan diperintahkan dengannya menuju azab dan siksaan serta ke rantai-rantai dan belenggu-belenggu.
85 – Penimbangan Amal Para Hamba
Wahai saudaraku, maka apabila amal-amal para hamba telah ditimbang dan ringan siapa yang ringan dan berat siapa yang berat, mereka diperintahkan untuk pergi ke shirath (jembatan). Maka setiap orang datang ke shirath lalu melompat ke shirath. Di antara manusia ada yang meletakkan kakinya di atasnya lalu tergelincir dari langkah pertamanya lalu jatuh ke dalam neraka. Di antara manusia ada yang berjalan sedikit dari shirath lalu tergelincir ke dalam neraka. Di antara mereka ada yang melintasinya seperti kilat yang menyambar. Di antara mereka ada yang melintasinya seperti angin yang bertiup. Di antara mereka ada yang melintasinya seperti burung yang cepat dalam terbangnya. Di antara mereka ada yang berlari kecil. Di antara mereka ada yang seperti orang lemah ketika berjalan. Di antara mereka ada yang seperti orang sakit perut yang berjalan dengan tangan dan kakinya. Dan di antara manusia ada yang datang ke shirath lalu api keluar dan menyambarnya lalu jatuh dengannya. Semua ini sesuai dengan kadar amal para hamba, cahaya mereka, dan kedudukan mereka berdasarkan kadar penerimaan dari Allah Tabaraka wa Ta’ala terhadap amal mereka serta berdasarkan kadar berat dan ringan timbangan.
Maka apabila seorang hamba dari umat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam datang ke shirath, barangsiapa dari golongan orang-orang yang berdosa dan tidak memiliki amal untuk melintasi shirath, ia tinggal dalam kebingungan, tidak mampu melintasinya.
Maka ketika mereka dalam ketakutan yang sangat dari dahsyatnya shirath, tiba-tiba datang Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.
86 – Cahaya Rasul di Atas Shirath
Maka apabila beliau shallallahu alaihi wa sallam memandang kepada mereka, beliau mengenakan kepada mereka cahaya wajahnya shallallahu alaihi wa sallam yang dapat melintaskan mereka melewati shirath. Maka setiap orang mengambil dari cahaya wajah Al-Mushthafa shallallahu alaihi wa sallam sesuai kadar sholatnya kepada beliau di dunia. Maka para hamba berlomba-lomba dalam melintasi sesuai kadar cahaya yang mereka ambil dari cahaya wajah Al-Mushthafa. Dan setiap kali makhluk mengambil dari cahaya wajahnya shallallahu alaihi wa sallam, Allah Tabaraka wa Ta’ala menambah cahaya pada wajah kekasih Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Maka perbanyaklah shalawat kepada Nabi kalian shallallahu alaihi wa sallam karena sesungguhnya shalawat kalian kepadanya sampai kepada beliau.
87 – Keutamaan Shalawat kepada Nabi
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Yang menyelamatkan kalian dari kehebatan hari kiamat dan tempat-tempatnya adalah orang yang paling banyak bershalawat kepadaku, dan yang paling berhak dengan syafaatku adalah orang yang paling banyak bershalawat kepadaku.” Maka perbanyaklah shalawat kepada beliau wahai golongan orang-orang yang berdosa, karena beliau adalah pemberi syafaat kalian pada hari pembalasan dan agama. Shallallahu alaihi wa sallam wa ala alihi wa shahbihi ajma’in (Semoga shalawat Allah tercurah kepada beliau dan kepada keluarga serta para sahabatnya semua) dan semoga Dia menjadikan kita dengan bershalawat kepada beliau termasuk orang-orang yang aman dari siksa-Nya dan orang-orang yang beruntung dengan rahmat-Nya dari azab-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pemberi Nikmat lagi Maha Mulia.
Dan mereka melantunkan syair:
Sungguh mulia Ahmad pemilik kemuliaan Pemberi syafaat bagi manusia pada hari pertanyaan
Apabila shirath dibentangkan di atas neraka jahim Yang menyerang para hamba dengan memanjang
Apabila Nabi menjadi pemberi syafaat bagi kita Kita akan selamat dari rantai-rantainya yang panjang
Dan sekalipun dosa-dosa kita besar Menyerupai berat gunung-gunung
Niscaya kita akan melintasi shirath tanpa sedih Menuju negeri kekal bersama Yang Maha Agung
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Manusia melintasi shirath, maka orang-orang yang tergelincir laki-laki dan perempuan sangat banyak, dan yang paling banyak tergelincir adalah para wanita.” Disebutkan bahwa di shirath terdapat malaikat zabbaniyah (penjaga neraka) yang melihat wajah-wajah para hamba. Barangsiapa yang mereka lihat di wajahnya ada cahaya, maka mereka membiarkannya berubah dan melintasi. Dan barangsiapa yang tidak mereka lihat di wajahnya ada cahaya, maka mereka melemparkannya ke dalam neraka. Dan cahaya pada hari itu tidak ada kecuali dari amal saleh.
88 – Jembatan-jembatan Neraka Jahanam
Sebagian ulama meriwayatkan dari tabi’in dan dari sebagian sahabat bahwa mereka berkata: Sesungguhnya neraka jahanam – semoga Allah melindungi kita darinya – di atasnya terdapat tujuh jembatan yaitu jembatan-jembatan. Tiga jembatan di bawah Rabb Subhanahu wa Ta’ala. Yang keempat adalah yang tengah, di atasnya Ar-Rabb Jalla Jalaluhu tanpa keserupaan dan tanpa bagaimana, dengan penyerahan, keimanan, dan pembenaran.
89 – Jembatan Pertama
Dan shirath lebih tajam dari pedang. Maka Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman ketika mereka sampai di jembatan pertama: “Tahanlah mereka, sesungguhnya mereka akan ditanya. Mengapa kalian tidak saling menolong?” (Ash-Shaffat: 24) Maka mereka ditahan dan dihisab tentang shalat. Barangsiapa shalatnya ditemukan sempurna, maka ia selamat dari jembatan itu. Dan barangsiapa tidak ditemukan baginya shalat yang sempurna, maka ia jatuh ke dalam neraka. Maka selamatlah siapa yang selamat dan binasalah siapa yang binasa.
90 – Jembatan Kedua
Kemudian mereka ditahan di jembatan kedua, lalu mereka dihisab tentang amanah, yaitu amanah Sang Pencipta dan amanah makhluk. Dan apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba-Nya, Dia menjadikan kekayaan di hatinya dan menjadikannya amanah bagi Allah serta menolongnya untuk menunaikan amanah-amanah yang diwajibkan kepada dirinya oleh Jalla Jalaluhu, berupa wudhu, mandi, shalat, puasa, zakat, memberikan hak kepada setiap yang berhak, amar makruf nahi munkar, dan menjaga batasan-batasan Allah. Maka itulah hamba yang Allah Ta’ala ilhamkan kepadanya petunjuknya, membuatnya melihat aib-aib dirinya, dan menjadikan kekayaan di hatinya.
Dan apabila Allah menghendaki keburukan pada seorang hamba-Nya, Dia menjadikan kefakiran di antara kedua matanya dan di hatinya, serta membuatnya malas untuk menunaikan amanah-amanah yang diwajibkan kepada dirinya dan kepada semua hamba-Nya, dan menyembunyikan darinya petunjuknya, serta menguasakan setan kepadanya yang menghiasi baginya keburukan amalnya dan membuat ia mencintai aib-aibnya.
Maka apabila hamba seperti itu, maka ia tidak peduli tentang apa yang ia katakan dan apa yang dikatakan tentangnya, dan tidak ada perhatian baginya kecuali pada dunianya dan memperbaikinya, serta tidak peduli dengan rusaknya agamanya. Maka itulah hamba yang telah dimurkai oleh tuannya, dijauhkan dari semua pintu kebaikan, dan didekatkan kepada semua pintu keburukan.
Allah Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (Al-Anfal: 27)
91 – Menyia-nyiakan Amanah
Disebutkan dalam sebagian berita bahwa orang yang menyia-nyiakan amanah didatangkan lalu dikatakan kepadanya: “Tunaikan apa yang telah kamu sia-siakan!” Maka ia berkata: “Wahai Tuhanku, dunia telah pergi dariku, maka dari mana aku menunaikannya?” Maka diciptakan baginya yang semisal dengannya di dasar neraka jahanam – semoga Allah melindungi kita darinya – lalu dikatakan: “Turunlah kepadanya dan keluarkan kepada pemiliknya!” Maka turunlah hamba malang itu kepadanya, lalu mengangkatnya di atas pundaknya, dan ia lebih berat dari semua gunung di dunia. Maka apabila orang celaka malang itu sampai di atas neraka jahanam, jatuh dari pundaknya ke dasar neraka jahanam. Lalu dikatakan kepadanya: “Turunlah kepadanya!” Maka ia turun lagi dan mengangkatnya. Maka apabila ia sampai ke atas neraka jahanam, jatuh darinya. Maka tidak henti-hentinya demikian azabnya sampai kehendak Allah Ta’ala tentang hal itu.
Semua ini ketika melintasi shirath dan wallahu a’lam (Allah yang lebih mengetahui).
Dan hamba ini – wallahu a’lam – adalah yang menyia-nyiakan amanah-amanah manusia.
Dan mereka melantunkan syair:
Aku keluar dari dunia dan telah mengkhianati penghuninya Dan aku pergi ke neraka dengan dosa dan perbuatan buruk
Al-Jabbar (Yang Maha Perkasa) menagihku dengan kejujuran dan menepati janji Dan nyata bagi orang-orang yang berkumpul apa yang telah ada dari kejahatanku
Dan dikatakan kepada semua makhluk: Ini adalah orang yang menyia-nyiakan Amanah Rabb Pemilik Arasy, Az-Dzikr (Al-Quran), dan Al-Hukm (ketetapan)
92 – Jembatan Ketiga
Kemudian mereka dihisab di jembatan ketiga, dan ini adalah yang paling dekat dari Ar-Rabb Jalla Jalaluhu tanpa penyerupaan dan tanpa pembatasan, maka mereka dihisab tentang silaturrahim (hubungan kekerabatan), bagaimana mereka menyambungnya.
93 – Silaturrahim
Dan mengapa mereka memutusnya? Dan silaturrahim pada hari itu berseru: “Ya Allah, barangsiapa menyambungku maka sambunglah ia, dan barangsiapa memutuskanku maka putuslah ia.”
Maka selamatlah siapa yang selamat dan binasalah siapa yang binasa.
94 – Jembatan Keempat
Kemudian mereka melewati jembatan keempat, lalu mereka dihisab tentang berbakti kepada kedua orang tua. Maka selamatlah siapa yang selamat dan binasalah siapa yang binasa. Dan ini adalah pertanyaan yang besar, karena Allah Ta’ala telah mengaitkan syukur kepada-Nya dengan syukur kepada kedua orang tua. Maka Jalla Ismuhu wa Azza Wajhuhu (Maha Agung nama-Nya dan Maha Mulia wajah-Nya) berfirman: “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku tempat kembalimu.” (Luqman: 14) Maka Allah Ta’ala berfirman dalam sebagian kitab-Nya yang diturunkan:
95 – Syukur kepada Kedua Orang Tua
“Ridhai kedua orang tuamu, karena sesungguhnya keridhaan-Ku ada dalam keridhaan kedua orang tua dan kemurkaan-Ku ada dalam kemurkaan kedua orang tua. Seandainya seorang hamba datang pada hari kiamat dengan amal seribu orang shiddiq (yang sangat jujur) dan ia durhaka kepada kedua orang tuanya, maka Allah Tabaraka wa Ta’ala tidak akan melihat sedikitpun dari amalnya dan tempat kembalinya adalah ke neraka. Dan tidak ada hamba muslim laki-laki atau perempuan muslim yang tersenyum di wajah kedua orang tuanya atau salah satunya kecuali Allah mengampuni baginya dosa-dosa dan kesalahan-kesalahannya dan tempat kembalinya adalah ke surga.”
Dan mereka melantunkan syair:
Kedua orang tua adalah jalan menuju syukur kepada Allah Dan kedua orang tua adalah jalan menuju negeri keselamatan
Sambunglah kedua orang tuamu dan jangan putuskan tali mereka Agar Yang Maha Mulia membalasmu di negeri keabadian
96 – Jembatan Kelima
Kemudian mereka ditahan di jembatan kelima, lalu mereka dihisab tentang menjaga lisan dari ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), dan kesaksian palsu. Maka selamatlah siapa yang menjaga lisannya dan binasalah siapa yang melepas lisannya dengan apa yang tidak bermanfaat baginya, karena tidak ada dari anggota tubuh hamba yang lebih banyak dosanya daripada lisan, karena satu kata yang diucapkan oleh seorang hamba laki-laki atau perempuan bisa menjadi sebab masuk neraka.
97 – Meninggalkan Ghibah dan Namimah
Dan sebagian orang yang takut (kepada Allah), apabila pagi hari ia mengambil papan tulis dan tinta lalu meletakkannya di sampingnya. Maka apabila ia berbicara satu kata, ia menulisnya di papan tulis dan berkata kepada dirinya: “Begini malaikat mencatatnya atasmu dengan perintah Sang Raja.” Maka apabila matahari terbenam dan ia shalat maghrib, ia meletakkan papan tulis di hadapannya dan mulai membaca serta menangis, dan ia berkata dalam tangisan dan rintihan serta perhitungannya untuk dirinya: “Wahai jiwaku, seakan-akan aku dan kamu telah ditanya tentang ini ketika melintasi shirath. Wahai jiwaku, kamu lihat dengan kata yang mana dari ini kamu memasukkan aku ke neraka?” Maka tidak henti-hentinya ia menangis sampai tidak menemukan tangisan lagi dan air matanya habis, lalu ia pingsan. Maka apabila ia sadar dari keadaannya, ia mengeluarkan papan tulis dan menulis apa yang ada di dalamnya dengan kertas, dan ia berkata dengan memohon: “Wahai Allah, maafkan, lembut, dan baiklah kepada hamba-Mu.”
Maka tidak henti-hentinya demikian kebiasaannya sampai ia meninggal. Lalu ia dilihat oleh sebagian orang saleh dalam mimpi dalam keadaan yang baik, maka ia bertanya kepadanya tentang apa yang ia jumpai dari Allah Ta’ala. Maka ia berkata: “Yang dijumpai dari Yang Maha Mulia tidak lain adalah kemurahan. Dia menjadikan perhitunganku terhadap diriku di dunia sebagai pengganti dari hisab di akhirat, dan Dia menjadikan air mataku yang aku tangiskan di dunia menjadi sungai-sungai yang memberiku minum pada hari dahaga yang besar. Dan Yang Maha Mulia menganugerahiku dengan masuk surga dan melintasi shirath, serta menganugerahiku keutamaan yang besar dan ziarah yang agung kepada wajah-Nya Yang Mulia.”
98 – Kata Keburukan dan Azabnya
Dan telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya seseorang mengucapkan satu kata lalu ia turun dengannya ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat. Maka apabila Allah Tabaraka wa Ta’ala menghendaki kebaikan pada seorang hamba-Nya, Dia menolongnya untuk menjaga lisannya dan menyibukkannya dengan aib-aib dirinya dari aib-aib orang lain.”
Dikatakan: Seorang laki-laki melewati seorang laki-laki lalu memberi salam kepadanya. Maka laki-laki yang diberi salam berkata kepadanya: “Wahai saudaraku, seandainya tersingkap untukmu keadaanku, niscaya kamu tidak memberi salam kepadaku.” Maka laki-laki yang memberi salam berkata kepadanya: “Wahai saudaraku, seandainya tersingkap untukku aib-aibmu, niscaya di aib-aibku ada yang menyibukkan aku dari semua aib-aibmu.”
Maka duduklah masing-masing dari mereka berdua menangis di sudut sampai masing-masing dari mereka berdua membasahi tanah dengan air matanya, kemudian mereka berpisah.
99 – Kesaksian Palsu
Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda: “Barangsiapa memberikan kesaksian palsu terhadap orang dzimmi atau muslim atau siapa pun dari manusia, maka ia akan digantung dengan lidahnya di tingkat paling bawah dari neraka Jahanam.”
Dan dalam sebagian berita bahwa kesaksian palsu termasuk dosa besar yang paling besar di sisi Allah Ta’ala, dan saksi palsu akan digantung dengan lidahnya pada setiap kata dalam kesaksian palsu dan pada setiap huruf yang ia tulis dalam kesaksiannya selama seribu tahun di atas Shirath pada jembatan yang kelima.
Seandainya saksi palsu datang pada hari kiamat dengan amal tujuh puluh nabi, Allah tidak akan memandangnya.
Demikian pula pelaku ghibah (gibah) dan namimah (adu domba) tidak akan bisa melewati dari jenis ini di Shirath kecuali jika Allah memaafkan atau rahmat syafaat menjangkaunya.
Dan mereka membaca syair:
“Ketika hamba-hamba berdesak-desakan untuk melewati, maka jatuh tersungkur setiap penguasa yang berdosa”
“Ke dasar neraka tanpa ada penolong bagi mereka, dan tidak ada bagi orang durhaka pada hari itu seorang pelindung pun”
“Dan barangsiapa yang taat kepada Tuhan maka ia akan selamat, dari siksa di dasar neraka Jahim”
“Ketika Shirath dipasang di atas neraka Jahim, maka demi Allah dari kengerian yang dahsyat”
“Wahai sekalian kaum muslimin, bertaubatlah, dari kemaksiatan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih”
Saudara-saudaraku, taatilah Allah dalam rahasia dan terang-terangan, dan beramallah dengan Sunnah dan Quran, dan tinggalkanlah dosa-dosa dan kemaksiatan, dan waspadalah dari dahsyatnya Shirath yang dipasang di atas kobaran api neraka.
100 – Jembatan Keenam
Kemudian mereka ditahan di jembatan yang keenam, lalu mereka dihisab tentang pemeliharaan tetangga. Maka selamatlah orang yang menjaga tetangganya dan memuliakan tamunya, dan binasalah orang yang mengkhianati tetangganya dan tidak memuliakan tamunya.
101 – Memuliakan Tamu
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.” Dan memuliakan tamu adalah dengan memuliakannya karena wajah Allah dan jamuan untuknya dari yang halal. Adapun orang yang membelanjakan untuk tamunya dari yang haram maka tidak ada pahala baginya.
Maka apa yang dibelanjakan untuk tamu dalam hal khamar atau apa yang tidak diridhai Allah Ta’ala, maka tamu itu datang pada hari kiamat saling mencengkeram satu sama lain dan saling melaknat satu sama lain, kemudian keduanya datang ke Shirath dan masing-masing dari keduanya menyalahkan yang lain dan berkata kepadanya: “Allah melaknatmu yang telah membantuku membelanjakan selain karena Allah.” Kemudian dikatakan kepada keduanya: “Lewatilah Shirath!” Maka pada langkah pertama yang mereka injak di Shirath, keduanya terjatuh ke dalam neraka.
102 – Keberkahan Bersama Tamu
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tamu apabila memasuki rumah orang beriman, bersamanya masuk seribu keberkahan dan seribu rahmat, dan Allah Ta’ala menulis bagi pemilik rumah dengan setiap suap yang dimakan tamu itu satu kali haji dan satu kali umrah.”
Dan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Satu dirham yang dibelanjakan seseorang untuk tamunya lebih utama dari seribu dinar yang dibelanjakan di jalan Allah. Dan barangsiapa memuliakan tamu karena wajah Allah, Allah Ta’ala akan memuliakannya pada hari kiamat dengan seribu kemuliaan dan menyelamatkannya dari neraka dan memasukkannya ke surga.
Dan telah datang dalam hadits Aisyah radhiyallahu Ta’ala ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: Wahai Aisyah, janganlah engkau membebani dirimu untuk tamu sehingga membuatnya bosan. Dan sesungguhnya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bermaksud agar ia terus-menerus memuliakan tamu.
Dan dalam hadits Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku: Wahai Ali, apabila tamu datang kepadamu maka ketahuilah bahwa Allah Ta’ala telah menganugerahkan kepadamu ketika Dia mengutusnya kepadamu agar mengampuni dosamu dengan itu.
103 – Tamu Turun Dengan Rezkinya
Dan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai manusia, janganlah kalian membenci tamu, karena sesungguhnya apabila ia turun maka ia turun dengan rezkinya, dan apabila ia pergi maka ia pergi dengan dosa-dosa penghuni rumah.” Dan dalam hadits Muadz bin Jabal radhiyallahu Ta’ala ‘anhu: Tidaklah ada rumah yang ditempati tamu di dalamnya melainkan Allah Tabaraka wa Ta’ala mengutus ke rumah itu sebelum tamu itu turun di dalamnya empat puluh hari seorang malaikat dalam bentuk burung yang berseru: Wahai penghuni rumah, fulan bin fulan adalah tamu kalian pada hari ini dan ini, dan gantinya dari Allah dari pintu ini dan ini. Maka malaikat yang diserahi penghuni rumah berkata: Dan setelah gantinya apa yang terjadi? Maka keluarlah untuk mereka malaikat itu sebuah kitab yang di dalamnya tertulis: Sungguh Allah telah mengampuni penghuni rumah walaupun mereka seribu orang.
Dan dalam hadits lain bahwasanya beliau bersabda: Tidaklah ada seorang hamba dari hamba-hamba Allah yang beriman memuliakan tamu karena wajah Allah Yang Maha Mulia melainkan Allah memandang mereka jika mereka berjemaah. Maka jika tamu itu dari penduduk surga dan pemilik rumah dari penduduk neraka, Allah Ta’ala menjadikannya dari penduduk surga karena memuliakannya tamunya.
Dan dalam hadits lain bahwa tamu dan pemilik rumah dan para pemilik rumah jika mereka berjemaah datang ke Shirath, maka masing-masing dari mereka memegang tangan temannya, lalu melewati Shirath lebih cepat dari kilat yang menyambar. Maka jika tidak ada di antara mereka yang memiliki amal untuk melewati Shirath, Allah memerintahkan malaikat yang diserahi nafkah tamu untuk memegang tangan mereka dan melewati Shirath walaupun mereka seratus ribu orang.
104 – Memberi Makan
Dan memberi makan terbagi menjadi tiga jenis: makhluuf, masluuf, dan matluuf. Adapun makhluuf adalah yang memberi makan karena wajah Allah, tidak menginginkan dengannya selain Allah Ta’ala dan tidak mencari balasan dari makhluk. Dan masluuf adalah yang kamu jamui sekali dan ia menjamumu lain kali.
Dan matluuf adalah setiap pemberian makan yang dalam kemaksiatan.
Makhluuf dan masluuf di dalamnya ada pahala, hanya saja makhluuf lebih besar pahalanya. Dan matluuf adalah penyesalan dan kerugian pada hari kiamat.
Dan mereka membaca syair:
“Wahai yang memuliakan tamu karena Rahman Pencipta kami, di Shirath engkau akan mendapati kebaikan yang melimpah”
“Muliakanlah tamu-tamumu agar engkau mengharap melewati besok, di Shirath dan engkau mengharap keabadian terpenuhi”
105 – Menjaga Tetangga
Adapun menjaga tetangga, maka sesungguhnya hamba laki-laki atau perempuan ditanya tentang penjagaannya. Maka barangsiapa menjaga tetangganya akan melewati Shirath dan selamat dari siksa yang pedih dan tiba di surga keabadian dan negeri kenikmatan.
Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda: “Tidaklah beriman kepada Allah dan hari akhir orang yang bermalam dalam keadaan kenyang sedangkan tetangganya kelaparan, atau bermalam dalam keadaan tidak haus sedangkan tetangganya kehausan.” Dan di antara kemuliaan menjaga tetangga adalah kamu membangunkannya dari kelalaian, mengilhaminya kepada ketaatan, dan memerintahkannya untuk mendirikan shalat.
106 – Tetangga Mencengkeram Tetangganya
Disebutkan dalam sebagian berita bahwa tetangga mencengkeram tetangganya pada hari kiamat lalu berkata: Wahai Tuhanku, tetanggaku ini mengkhianatiku di dunia.
Maka Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: Mengapa engkau mengkhianati tetanggamu? Maka ia berkata: Demi kemuliaan-Mu dan keagungan-Mu, aku tidak mengkhianatinya tidak dalam harta dan tidak dalam keluarga, dan Engkau lebih mengetahui tentang itu.
Maka tetangganya berkata kepadanya: Engkau tidak melakukan itu tetapi engkau melihatku dalam kemaksiatan lalu engkau tidak melarangku darinya. Maka diperintahkanlah ia dan temannya ke neraka dan Allah tidak mengampuni keduanya.
Dan tidaklah ada seorang hamba muslim laki-laki atau perempuan yang menjaga tetangganya dan memerintahkannya dengan kebaikan dan melarangnya dari kemungkaran melainkan Allah Tabaraka wa Ta’ala melewatkannya di Shirath sebelum hamba-hamba lain lima ratus tahun.
107 – Wasiat Menjaga Tetangga
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda: “Sungguh Tuhanku telah berwasiat kepadaku malam aku diisra’kan dengan menjaga tetangga hingga aku mengira bahwa Dia akan mewariskannya.” Dan sebagian ulama berpendapat tentang syafaat tetangga.
Maka setiap orang yang menjaga tetangga sungguh ia telah mentaati Rahman dan membuat setan murka dan beramal dengan Sunnah dan Quran.
Diriwayatkan bahwa laki-laki shalih dan perempuan shalihah memberi syafaat pada hari kiamat kepada tujuh puluh dari tetangga-tetangga mereka dan melewatkan mereka di Shirath.
Hamba-hamba Allah, barangsiapa menjaga tetangga akan selamat dari neraka dan melewati Shirath menuju negeri kediaman. Dan barangsiapa menjaga tetangga maka sungguh ia telah beramal dengan Sunnah dan Kitab, dan mentaati Raja Yang Maha Pemberi, dan membuat setan yang terkutuk yang pendusta murka. Dan tidaklah ada tetangga yang bertemu dengan tetangganya yang muslim lalu memberi salam kepadanya melainkan Allah mengampuni tetangganya walaupun ia memiliki seribu tetangga.
Menjaga tetangga adalah pendekatan diri dan wasilah dan derajat di sisi Allah dan keutamaan.
Dan mereka membaca syair: “Wahai yang menjaga tetangga, engkau mengharap mendapatkan dengannya, ampunan Allah dan ampunan Allah tersimpan”
“Tetangga memberi syafaat untuk para tetangga semuanya, pada hari hisab dan dosa tetangga terampuni”
108 – Jembatan Ketujuh
Kemudian mereka ditahan di jembatan yang ketujuh, lalu mereka ditanya tentang kejujuran. Maka barangsiapa menjaga lisannya dari dusta akan selamat dari Shirath dan selamat dari neraka serta tiba di surga bersama orang-orang yang berbuat baik.
109 – Kejujuran dan Kedustaan
Dan barangsiapa berdusta maka sungguh ia telah menyelisihi Kitab dan Sunnah, dan sungguh ia diharamkan dari kenikmatan surga.
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda: “Apabila orang beriman berdusta satu kedustaan tanpa uzur, maka kedua malaikat menjauh darinya sejauh perjalanan satu tahun dari bau busuk apa yang ia datangkan, dan Allah Tabaraka wa Ta’ala menulis atasnya dengan satu kedustaan delapan puluh dosa yang paling ringannya seperti orang yang berzina dengan ibunya.”
110 – Kedustaan Orang Beriman Dengan Delapan Puluh Dosa
Dan apabila orang beriman berdusta tanpa uzur, keluar dari mulutnya sesuatu yang busuk hingga mencapai Arsy, maka para pembawa Arsy melaknatnya dan delapan puluh ribu malaikat melaknatnya, dan ditulis atasnya delapan puluh dosa yang paling ringannya seperti gunung Uhud.
Kedustaan adalah kemunafikan dan kedustaan termasuk dosa besar. Dan apabila hamba menghalalkan kedustaan maka sungguh ia telah menghalalkan semua yang haram. Dan apabila hamba tidak menghalalkan kedustaan, ia tidak akan mampu melakukan sesuatu dari yang diharamkan Allah. Dan sesungguhnya orang jujur apabila datang ke Shirath, cahaya wajahnya mendahuluinya sejauh perjalanan seratus tahun, maksudnya di Shirath. Dan barangsiapa jujur maka ia beramal dengan Kitabullah dan mengikuti Sunnah Rasulullah. Dan orang jujur paling cepat melewati Shirath dan paling cepat dari manusia masuk surga.
Dan pendusta pada langkah pertama yang ia injak di Shirath terjatuh ke dalam neraka, maka tidak selamat dari jembatan yang ketujuh dan ia yang paling sulit kecuali orang yang jujur, dan binasa orang yang berdusta. Semoga Allah menjadikan kita dan kalian dengan rahmat-Nya termasuk orang yang jujur sehingga selamat.
Dan mereka membaca syair:
“Jujurlah, Tuhan Arsy akan memperlihatkanmu surga-Nya, pada hari kembali dan janganlah tergila-gila dengan kedustaan”
“Sesungguhnya orang yang sangat jujur di sisi Rahman tempat tinggalnya, negeri keabadian tanpa kematian dan siksa”
“Pada hari pembalasan di atas Shirath menuju, negeri kenikmatan tanpa kesedihan dan kesusahan”
Disebutkan dalam sebagian berita bahwa orang jujur melewati di Shirath sedangkan ia tidak menyadarinya dan tidak takut dengannya. Maka takutlah kepada Allah, hamba-hamba Allah, jadilah kalian dari orang-orang yang jujur dan janganlah kalian dari orang-orang yang berdusta, dan teladanilah penutup para nabi dan penghulu para rasul shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
111 – Keselamatan Orang-Orang Jujur
Disebutkan dalam sebagian berita bahwa orang-orang yang selamat dari Shirath dan dahsyatnya ditahan di jembatan antara surga dan neraka, mereka saling menuntut kezhaliman yang ada di antara mereka di dunia hingga apabila mereka telah bersih dan suci, diizinkanlah mereka untuk memasuki surga.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maka demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya salah seorang dari mereka lebih menunjukkan tempat tinggalnya di surga daripada tempat tinggalnya yang ada di dunia.” Wahai betapa mulianya dan wahai betapa nikmatnya dan wahai betapa anugerahnya dan wahai betapa gembiranya.
Maka majukanlah, hamba-hamba Allah, dalam waktu yang sedikit dan jam yang sedikit apa yang akan melewatkan kalian di Shirath dan melindungi kalian dari bencana.
Shirath di atas punggung Jahanam terbentang, tidak akan melewatinya kecuali orang yang takut dari kengerian pada hari yang dijanjikan dan mentaati Raja Yang Disembah Yang Maha Pengampun Lagi Maha Pengasih.
112 – Shalat Memudahkan Melewati Shirath
Disebutkan dalam beberapa berita bahwa barang siapa berpuasa tiga hari dari setiap bulan dan melakukan shalat pada salah satu malam dari malam-malam bulan itu dengan shalat sepuluh rakaat, pada setiap rakaat membaca Fatihatul Kitab dan Qul Huwallahu Ahad tiga kali, apabila selesai dari shalatnya, ia bershalawat kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam sepuluh kali, kemudian ia mengucapkan: Maha Suci Dzat yang ada dan tiada tempat. Maha Suci Dzat yang wujud pada setiap waktu dan zaman. Maha Suci Dzat yang disembah pada setiap waktu. Maha Suci Dzat yang ditasbihkan oleh setiap lisan. Maha Suci Dzat yang menyelamatkan dari kebinasaan. Maha Suci Pencipta bumi dan langit-langit. Allah Tabaraka wa Ta’ala akan memudahkannya melewati shirath lebih cepat dari kilat yang menyambar, api neraka tidak akan menyakitinya, dan ia akan berjalan menuju surga bersama rombongan pertama dari para sahabat dan tabi’in, dan Allah Ta’ala akan menjadikannya pemberi syafaat bagi tujuh puluh orang dari keluarga dan tetangganya.
Hari-hari tersebut adalah hari-hari terbaik untuk berpuasa dalam sebulan yaitu hari ketiga belas, keempat belas, dan kelima belas.
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Manusia akan melewati shirath. Orang-orang yang terpeleset sangat banyak dan kebanyakan yang terpeleset adalah kaum wanita. Jibril alaihissalam memegang ikat pinggangku ketika angin menghempaskan umatku, lalu mereka berteriak: Wahai Muhammad! Seandainya Jibril alaihissalam tidak memegang ikat pinggangku, niscaya aku akan menyelamatkan umatku. Mereka berebutan untuk menyeberang, namun orang zalim tidak dapat melewatinya. Mereka tetap bingung, kemudian Allah merahmati mereka dengan rahmat-Nya dan karena berkahnya doaku untuk mereka. Maka Allah berfirman: Lewatilah shirath dengan pengampunan-Ku, lalu mereka pun melewatinya. Ya Allah, ampunilah kami semua dengan rahmat-Mu.”
Dan disenandungkan puisi:
Seandainya makhluk tahu apa yang akan terjadi pada mereka Dan tempat manakah yang akan mereka datangi Mereka tidak akan merasa nikmat kelezatan hidup Dan tidak akan nyenyak tidur mereka Karena takut dari hisab dan shirath di atas Api yang menyala-nyala dan panasnya membakar Dan manusia dalam ketakutan yang sangat berat di tempat berdiri Mereka telah menyaksikan kengerian yang dijanjikan Wahai alangkah beruntungnya tempat berdiri yang padanya Sekelompok kaum telah berjaya menuju surga Bersama Nabi yang telah dipilih oleh Pencipta kita Semoga Maha Pengawas, Maha Kekal bershalawat kepadanya
Wahai hamba-hamba Allah! Tebuslah diri kalian dari Penguasa kalian dengan amal yang sedikit, dengan perbuatan yang ringan, dan dengan perkataan yang baik sebelum kalian terkurung di atas shirath karena beratnya kesusahan pada hari yang tidak ada jual beli dan tidak ada persahabatan di hadapan Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi.
113 – Cara Melewati Shirath
Disebutkan dalam beberapa berita bahwa manusia terbagi menjadi tujuh kelompok dalam melewati shirath. Kelompok pertama dari laki-laki dan perempuan melewatinya secepat sekejap mata. Kelompok kedua seperti kilat yang menyambar. Kelompok ketiga seperti angin topan. Kelompok keempat seperti burung yang terbang cepat. Kelompok kelima seperti kuda yang berlari. Kelompok keenam seperti orang berjalan. Kelompok ketujuh seperti orang yang berlari terburu-buru.
114 – Pembagian Orang-orang yang Selamat di Shirath
Adapun kelompok pertama adalah orang-orang yang bersedekah, orang-orang yang melakukan shalat malam, dan para ulama yang memimpin mereka.
Kelompok kedua adalah mereka yang istiqamah dalam menunaikan kewajiban-kewajiban dan tidak melalaikannya serta menunaikannya pada waktunya.
Kelompok ketiga adalah mereka yang menunaikan zakat dan selalu bergaul dengan para ulama serta mencintai mereka.
Kelompok keempat adalah mereka yang menyambung silaturahmi dan dengan menyambungnya mereka mencari keridhaan Penguasa mereka.
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau berwasiat ketika wafatnya tentang menyambung silaturahmi. Tidaklah seorang hamba menyambung silaturahminya dengan dirinya atau hartanya melainkan Allah Ta’ala menjadikannya pada hari kiamat di atas shirath seperti orang yang berjalan di taman surga, ia tidak melihat sedikitpun dari ketakutan shirath dan ia masuk surga bersama rombongan pertama yang melewati shirath dengan cahaya mereka berjalan di hadapan mereka dan di sebelah kanan mereka.
Kelompok kelima adalah mereka yang menundukkan pandangan dari hal-hal yang diharamkan Allah, menjaga kemaluan mereka dari perbuatan keji, menjaga istri-istri mereka dari apa yang tidak halal bagi mereka, menutup aurat mereka, bersikap lemah lembut kepada mereka, dan berlaku santun kepada mereka sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam.
115 – Hadits tentang Perhatian kepada Wanita
“Wanita adalah amanah orang-orang mulia. Tidaklah memuliakan mereka kecuali orang yang mulia, dan tidaklah menghinakan mereka kecuali orang yang hina. Orang yang hina di sisi Allah berada di neraka.” Demikian juga wanita, apabila ia memuliakan suaminya dan mentaatinya dalam hal yang diridhai Allah Ta’ala.
Kelompok keenam adalah mereka yang menjauhi riba dan haram, dan menjauhi kecurangan dalam takaran dan timbangan.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda: “Setiap harta yang bercampur dengan riba maka itu adalah bekal pemiliknya menuju neraka.”
116 – Pemakan Riba
Telah disebutkan bahwa pemakan riba datang ke shirath, lalu Allah Tabaraka wa Ta’ala menjadikan setiap dirham, setiap butir, setiap pakaian, setiap suap, dan setiap sesuatu yang ia makan atau yang didapatkan oleh kedua tangannya dari riba menjadi ular dari api yang menyambarnya dari atas shirath dan membawanya jatuh ke dasar jahannam bersama kaum Yahudi. Dan barang siapa bertaubat, Allah menerima taubatnya dan mengampuni dosanya.
Kelompok ketujuh adalah mereka yang berbakti kepada kedua orang tua, berbakti kepada istri, berbakti kepada tetangga, berbakti kepada saudara, selalu berada di masjid-masjid, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, menjaga batasan-batasan Allah, dan tidak mengambil celaan orang yang mencela dalam urusan Allah, serta beramal dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam.
Dan disenandungkan puisi:
Apakah engkau mengharapkan keselamatan? Bagaimana engkau akan selamat Sedang engkau tidak bersungguh-sungguh dalam keselamatanmu Seandainya dalam meraihnya engkau beramal dengan sungguh-sungguh Niscaya engkau meraih kemenangan dengan harga yang murah Tetapi aku melihatmu menginginkan kemuliaan Sedang keadaanmu adalah keadaan orang yang hina lagi kurang Dan tidaklah bagi orang yang terjatuh dalam maksiat Engkau diberi petunjuk dari kesesatan, ada jalan keluar
117 – Orang-orang yang Bersedekah Secara Sembunyi dan Terang-terangan
Wahai kekasih-kekasihku! Apabila manusia telah melewati shirath, mereka menjumpai makhluk yang banyak dari wanita dan laki-laki yang telah mendahului mereka ke surga. Mereka bertanya: “Siapakah mereka yang telah mendahului kami?” Para malaikat menjawab kepada mereka: “Mereka adalah laki-laki yang bersedekah secara sembunyi untuk mengharap wajah Allah dan bersedekah secara terang-terangan agar mereka membuat orang-orang mencintai sedekah kepada hamba-hamba Allah. Mereka adalah orang-orang yang melapangkan kesusahan orang-orang yang susah.”
Dan para wanita ini adalah mereka yang taat kepada suami mereka, menjaga kemaluan mereka, menjaga lisan mereka dari menyakiti suami dan dari menyakiti tetangga, dan bersedekah secara sembunyi dan terang-terangan. Rombongan ini mendahului semua manusia menuju shirath dan melewatinya selama lima ratus tahun.
Dan barang siapa dari saudara-saudara mereka yang termasuk ahli dosa, mereka melewatinya karena syafaat mereka. Apabila telah melewatinya rombongan pertama dari orang-orang terdahulu yang lebih dahulu masuk Islam dan rombongan orang-orang yang terlambat, maka tinggallah seorang laki-laki sendirian. Ia meletakkan satu kakinya lalu kakinya tergelincir, ia tetap bertahan dengan kaki yang satunya lagi. Ia merangkak di atas shirath dengan perutnya dan api mengenainya sesuai dengan kadar dosanya.
118 – Orang Terakhir yang Tertinggal di Atas Shirath
Maka ia terus merangkak dan beringsut, menangis dan memohon kepada Allah Ta’ala hingga ia melewatinya. Apabila ia telah melewatinya dan selamat, ia menoleh kepalanya dan melihat kepada shirath dengan ketakutan-ketakutannya, ketakutan ahli neraka, dan lolongan ahli neraka di dalam neraka. Lalu ia berkata: “Maha Suci Dzat yang menyelamatkanku darimu dan menyelamatkanku dari ketakutan neraka.”
Ketika ia sedang melihat kepada shirath dan mengucapkan perkataan ini, Allah Ta’ala mengutus kepadanya dengan kelembutannya seorang malaikat dari malaikat-Nya. Malaikat itu datang kepadanya dan mengambil tangannya sambil berkata kepadanya: “Bangunlah wahai hamba Allah!” Lalu ia pergi ke sebuah telaga air di pintu surga. Malaikat berkata kepadanya: “Mandilah dengan air ini dan minumlah darinya.” Hamba itu mandi dan minum sebagaimana diperintahkan malaikat. Ia kembali menjadi seperti bulan purnama pada malam purnama, dan baunya kembali seperti bau ahli surga, serta warnanya seperti warna ahli surga. Kemudian ia dibawa mendekati jahannam. Malaikat berkata kepadanya: “Berdirilah di sini sampai datang izin dari Tuhanmu.” Ia melihat kepada ahli neraka dan mendengar lolongan mereka seperti lolongan anjing yang meminta tolong dari beratnya azab. Apabila hamba itu mendengar ahli neraka dan apa yang mereka alami, ia menangis dan berkata: “Ya Tuhanku, palingkanlah wajahku dari ahli neraka agar aku tidak melihat mereka dan tidak mendengar suara mereka. Aku tidak meminta kepada-Mu selain ini.” Malaikat itu datang kepadanya dari sisi Tuhan semesta alam dan membalikkan wajahnya dari ahli neraka ke arah ahli surga. Ia melihat ke arah ahli surga dan melihat antara dirinya dengan pintu surga ada sebuah taman hijau yang tidak pernah dilihat seorang pun sepertinya. Kemudian ia melihat kepada pintu surga dengan keindahannya, lebarnya sejauh perjalanan empat puluh hari bagi burung yang cepat terbang. Wallahu a’lam dari tahun yang mana. Ia berkata: “Ya Tuhanku, sungguh Engkau telah berbuat baik kepadaku dengan segala kebaikan. Engkau melewatkanku di shirath, menyelamatkanku dari neraka, mendekatkanku ke pintu surga. Taman ini, aku mohon kepada-Mu agar Engkau sampaikann aku kepadanya dan aku tidak meminta selain itu.” Malaikat itu datang kepadanya dan berkata kepadanya: “Wahai anak Adam, alangkah pendusta engkau! Bukankah engkau telah berjanji bahwa engkau tidak akan meminta selain tempat ini?” Lalu ia mengambil tangannya dan membawanya ke taman itu dan memasukkannya ke dalamnya.
119 – Pintu Surga
Ia melihat kepada pintu surga, kepada kemegahan istana-istana itu dan bagian-bagiannya dari zamrud hijau, kerikilnya dari yakut merah. Ia menghirup semerbak harum wewangian kafur dan misk, mendengar merdu kicauan burung-burung dan gemericik sungai-sungai, dan apa yang tidak dapat digambarkan oleh lisan orang-orang yang menggambarkan dan tidak terlintas di hati orang-orang yang berfikir. Apabila hamba itu mendengar semua itu, ia terlalu gembira hingga berkata: “Ya Tuhanku, sungguh Engkau telah memberikan nikmat kepadaku nikmat yang paling sempurna. Engkau melewatkanku di shirath, menyelamatkanku dari neraka, dan memalingkan wajahku dari ahli neraka sehingga aku tidak melihat mereka. Tetapi aku mohon kepada-Mu wahai Tuanku dan Penguasaku agar Engkau memasukkanku ke surga. Jadikanlah pintu ini sebagai penghalang antaraku dengan ahli neraka sehingga aku tidak mendengar suara mereka dan tidak melihat azab mereka.” Malaikat itu datang kepadanya dan berkata kepadanya: “Wahai anak Adam, alangkah pendusta engkau! Bukankah engkau telah menyangka bahwa engkau tidak akan meminta selain apa yang telah engkau minta?” Ia berkata: “Demi kemuliaan-Mu ya Tuhanku, aku tidak akan meminta selainnya.”
Malaikat itu mengambil tangannya dan memasukkannya ke dalam pintu. Hamba itu melihat di sebelah kanannya dan sebelah kirinya sejauh perjalanan setahun. Ia tidak melihat kecuali pohon-pohon berbuah yang tidak pernah ia lihat sepertinya dan tidak pernah terlintas di hati manusia maupun jin. Ia melihat kepada pohon yang paling dekat, maka ia melihat di dekatnya sebuah taman yang di dalamnya ada pohon yang akarnya dari emas, dahan-dahannya dari perak, dan daunnya manis yang tidak pernah dilihat sepertinya oleh manusia maupun jin dan tidak terlintas di hati manusia. Buahnya lebih lembut dari mentega dan lebih manis dari madu. Hamba itu berkata: “Ya Tuhanku, sungguh Engkau telah memberikan nikmat kepada hamba-Mu dan telah bermurah hati. Engkau menyelamatkanku dari neraka, memasukkanku ke surga, memberiku, dan meridhaiku. Sesungguhnya antara aku dengan taman ini hanya sedikit, maka sampaikanlah aku kepadanya. Demi kemuliaan-Mu aku tidak akan meminta selainnya.”
Malaikat itu datang kepadanya dan berkata kepadanya: “Wahai anak Adam, alangkah pendusta engkau! Bukankah engkau telah menyangka bahwa engkau tidak akan meminta selain apa yang telah engkau minta? Wahai anak Adam, di manakah sumpahmu? Tidakkah engkau malu kepada Allah?”
120 – Tempat-tempat Tinggal di Surga
Lalu ia mengambil tangannya dan membawanya ke tempat tinggal yang paling dekat dari tempat-tempat tinggal surga. Tiba-tiba di hadapannya ada istana dari mutiara putih. Ia tidak dapat menahan dirinya ketika melihatnya, lalu berkata: “Ya Tuhanku, aku mohon tempat tinggal ini dan aku tidak meminta selainnya.”
Malaikat itu datang kepadanya dari sisi Allah Subhanahu dan berkata kepadanya: “Demi Allah wahai anak Adam, alangkah pendusta engkau! Bukankah engkau telah menyangka bahwa engkau tidak akan meminta selain apa yang engkau ada di dalamnya?” Ia melihat di hadapannya, tiba-tiba ada tempat tinggal seolah-olah tempat tinggal pertama dan kedua dan semua yang telah diciptakan dan dilihatnya itu hanyalah mimpi. Ia memintanya lalu diberikan kepadanya. Ia terus seperti itu hingga diberikan apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia. Seandainya ia turun di istana yang paling rendah dari istana-istana jin dan manusia, niscaya ada padanya dari kursi-kursi untuk mereka duduk dan bersandar, dan ada padanya dari meja-meja yang berlebih dari mereka, dan ada pada mereka dari makanan dan minuman untuk mereka makan. Apabila mereka makan dan minum, tidak berkurang dari makanan dan minuman kecuali sebanyak yang diambil oleh satu orang saja. “Dan apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman dan kepada Tuhan mereka bertawakal.” (Asy-Syura: 36)
Dan disenandungkan puisi:
Tempat berdiri orang-orang yang bertakwa besok sangat mulia Enak bagi mereka tidur siang bersama bidadari Dan cahaya-cahaya yang bersinar atas mereka Ketika Raja yang Agung memanggil mereka
121 – Manfaat untuk Menyeberangi Shirath
Disebutkan dalam beberapa berita bahwa hamba laki-laki atau perempuan jika mengingat shirath dan kengerian serta kesulitannya, ketipisannya, panjangnya, dan jauhnya jarak, kemudian menangis lalu berdiri dan melaksanakan salat sepuluh rakaat, setiap rakaat membaca Al-Fatihah satu kali dan Qul Huwallahu Ahad (surat Al-Ikhlas) tiga kali, dan memberi salam setiap dua rakaat. Apabila telah selesai dari sepuluh rakaat, bersalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seratus kali, kemudian mengucapkan “Subhanallah man khalaqa ma sya’a wa qadha bima sya’a walhamdulillahi ‘ala kulli syai'” tiga kali, kemudian berdoa: “Allahumma jawwizni ash-shiratha wa najjini min haulihi. Allahu la ilaha illa anta la syarika laka wa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa alihi.”
Barangsiapa melaksanakan salat ini dan mengucapkan doa ini, Allah Tabaraka wa Ta’ala akan melewatkannya menyeberangi shirath dan ia tidak merasakan maupun terkejut dengannya, bersama rombongan pertama yang melewati menuju surga.
Maka manfaatkanlah semoga Allah merahmati kalian, pahala ini dan berlindunglah dengannya dari azab yang pedih wahai orang-orang yang berakal dan berpikir, karena sesungguhnya shirath itu tajam dan tipis serta jalannya adalah jalan yang paling jauh. Betapa jalan yang tidak ada saudara maupun sahabat yang menolong untuk menyeberanginya kecuali amal saleh dan Rabb Yang Pengasih.
Ketahuilah, semoga Allah memberi taufik kepada kami dan kalian, bahwa umur akan habis, dunia akan fana dan hancur, jiwa akan mati, dan kembalinya kepada Yang Hidup yang tidak mati.
Maka bersiaplah dengan banyak cahaya, dengan salat dan berbuat kebaikan di malam dan siang hari, dengan ketaatan kepada Nabi pilihan, dengan beramal dengan Kitab Raja Yang Maha Esa lagi Mahakuasa, dan menangislah atas kengerian shirath yang terbentang di atas neraka. Semoga Allah memudahkannya bagi kami dan meringankannya atas kami, amin Ya Rabb semesta alam, sesungguhnya Dia Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan.
122 – Syafaat Manusia Sebagian kepada Sebagian Lainnya
Disebutkan bahwa hamba apabila telah menyeberangi shirath dan selamat, di tempat itu ia mengingat ayahnya, anak-anaknya, saudara-saudaranya, dan tetangga-tetangganya. Maka saat itu teman memohonkan syafaat untuk temannya, orang tua untuk anaknya, tetangga untuk tetangganya, laki-laki untuk istrinya, perempuan untuk suaminya, dan imam untuk jamaah yang dahulu salat bersamanya. Maka setiap orang dari mereka memberi syafaat sesuai kadar amalnya dan kedudukannya di sisi Rabbnya.
Diriwayatkan dari Qatadah dari Al-Hasan al-Bashri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya oleh sebagian keluarganya: “Ya Rasulullah, apakah seseorang pada hari kiamat memikirkan orang dekatnya?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada tiga tempat yang tidak ada seorang pun mengingat orang lain: di timbangan hingga melihat apakah timbangannya berat atau ringan, di shirath hingga melihat apakah ia dapat menyeberang atau tidak, dan di lembaran amal hingga melihat apakah ia mengambil lembaran dengan tangan kanannya atau tangan kirinya. Maka ini tiga tempat yang tidak ada seorang pun mengingat orang dekatnya, tidak teman, tidak kekasih, tidak kerabat, tidak anak-anaknya, dan tidak orang tuanya.” Dan itu adalah firman Allah Tabaraka wa Ta’ala: “Bagi setiap orang dari mereka pada hari itu ada urusan yang menyibukkannya” (‘Abasa: 37), ia sibuk dengan dirinya sendiri dari yang lain karena dahsyatnya kengerian yang besar. Aku memohon kepada Allah agar memudahkannya bagi kami dengan rahmat-Nya dan meringankannya atas kami dengan karunia dan kelembutan-Nya. Dan mereka membaca syair:
Aku menangis atas kengerian shirath dan mengingatinya … itulah api neraka yang menggelegar dari ingatan yang sangat besar Dan bagaimana orang yang bermaksiat dapat bersabar … kepada Pencipta seluruh makhluk dalam keadaan tersembunyi dan terang-terangan Dan barangsiapa yang memiliki rasa takut yang sangat terhadap kengeriannya … maka baginya keamanan dari kengerian di padang mahsyar Tidak ada bagi orang yang menangis karena kengerian shirathnya … balasan selain negeri kenikmatan bersama kemuliaan Betapa kengerian yang mengerikan menyeberanginya … laki-laki yang taat kepada Allah di masa lalu
Wahai hamba-hamba Allah, renungkanlah kengerian shirath yang tipis dan jauh, dan takutlah dari kengerian yang besar dan dahsyat, dan taatilah Allah Yang Mahakuasa, Pelindung, Terpuji.
123 – Tidak Diterima Salat Peminum Khamr
Disebutkan bahwa peminum khamr apabila datang ke shirath, akan disambar oleh para malaikat zabaniyah lalu melemparkannya ke ‘Ain al-Khabal, yaitu nanah penghuni neraka. Mereka diberi minum dengan setiap gelas yang mereka minum dari khamr di dunia, satu tegukan dari al-khabal. Seandainya tegukan itu dituangkan dari langit ketujuh, niscaya akan membakar langit-langit dan bumi-bumi beserta siapa yang ada di dalamnya dan di atasnya. Asal peminum khamr adalah bahwa ia akan disambar dari shirath karena tidak ada cahaya di wajahnya, sebab cahaya tidak didapat kecuali dari amal saleh, dan peminum khamr tidak memiliki amal saleh. Dasarnya adalah bahwa semua amalan tidak diterima kecuali dari orang yang salat, karena salat adalah kepala dari semua amalan, dan peminum khamr tidak diterima salatnya selama ia masih terus-menerus minum khamr. Jika tidak diterima salatnya, maka tidak diterima pula seluruh amalannya. Maka ia datang ke shirath dengan wajah hitam, dan telah diperintahkan kepada para zabaniyah yang berada di shirath untuk tidak membiarkan menyeberang kecuali orang yang memiliki cahaya, dan barangsiapa yang tidak memiliki cahaya akan dicampakkan ke dalam neraka, kecuali orang yang bertaubat dan meninggalkan khamr serta kembali kepada Allah Ta’ala.
124 – Taubat dari Khamr dan Pahalanya
Wahai saudara-saudaraku, ketahuilah bahwa peminum khamr jika bertaubat dan meninggalkan khamr karena wajah Allah Ta’ala, maka pada hari kiamat ia akan lebih utama, lebih banyak cahayanya di shirath, dan lebih cepat menyeberanginya daripada orang yang tidak pernah meminumnya. Maka demi Allah, demi Allah wahai golongan orang-orang berdosa, bertaubatlah kepada Penguasa kalian yang paling cepat menghisab, niscaya Dia akan mengampuni dosa-dosa kalian semua.
125 – Keutamaan Para Muazin
Disebutkan dalam beberapa berita bahwa para muazin apabila datang ke shirath akan menemukan kendaraan dari cahaya yang dipasangi pelana dari yaqut dan zabarjad. Mereka menungganginya lalu kendaraan itu terbang membawa mereka di atas shirath. Setiap orang dari mereka memberi syafaat ketika menyeberangi shirath untuk empat puluh ribu orang yang semuanya telah wajib masuk neraka. Dan dalam cahaya muazin dapat menyeberang seribu laki-laki dan seribu perempuan. Dalam hadits lain disebutkan bahwa muazin apabila datang ke shirath, didahului oleh cahaya azan, cahaya la ilaha illallah, cahaya Muhammadur Rasulullah, dan cahaya doa yang mengajak manusia kepada tauhid Allah Tabaraka wa Ta’ala. Maka dalam cahaya muazin dapat menyeberangi shirath empat puluh ribu orang yang tidak memiliki cahaya dan mereka adalah ahli dosa dan kesalahan.
Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Tidaklah seorang hamba muslim datang waktu salat di tanah tandus atau tempat yang tidak ada jamaah, lalu ia berdiri mengumandangkan azan kemudian iqamah lalu salat, kecuali ia mengimami dari pasukan bumi yang tidak terhitung jumlahnya kecuali oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala. Dan Allah mencatat baginya sejumlah mereka kebaikan, menghapus sejumlah mereka kejahatan, dan mengangkat baginya sejumlah mereka derajat di surga. Seandainya jin dan manusia masuk ke derajat yang paling rendah dari derajatnya, niscaya mencukupi mereka dan di dalamnya ada hamparan, tempat tidur, meja, makanan, minuman, dan pelayan yang berlebih dari mereka. Dan jika ia tidak mengumandangkan azan dan hanya iqamah saja, tidak ada yang salat di belakangnya kecuali dua malaikatnya yang mencatat.”
Dan dalam hadits lain, apabila hamba muslim mengumandangkan azan di padang tandus di bumi kemudian iqamah lalu salat, Allah Tabaraka wa Ta’ala menjadikan di belakangnya tujuh shaf malaikat muqarrabin, salah satu ujung shaf di timur dan yang lain di barat. Apabila ia selesai dari salatnya dan berdoa, mereka mengaminkan doanya. Dan Allah Tabaraka wa Ta’ala mencatat baginya sejumlah mereka kebaikan, menghapus darinya Jalla wa ‘Ala sejumlah mereka kejahatan, dan mengangkat baginya Ta’ala sejumlah mereka derajat, setiap derajat lebih besar dari dunia tujuh puluh ribu kali, di dalamnya kenikmatan yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia.
Apabila datang hari kiamat ke shirath, datang bersamanya sahabat-sahabatnya dari para malaikat yang salat di belakangnya. Setiap malaikat dari mereka membawa cahaya dari cahaya surga. Mereka memegang tangannya, tangan keluarganya, dan tangan saudara-saudaranya yang menemaninya dan mencintainya karena Allah, lalu membagikan kepada mereka cahaya-cahaya tersebut dan melewatkan mereka menyeberangi shirath dengan syafaatnya. Mereka pergi bersamanya ke surga dan tidak melihat dari kengerian shirath, tidak panasnya, dan tidak kesulitannya sedikitpun.
126 – Keutamaan Para Ulama
Disebutkan dalam beberapa berita bahwa para ulama apabila datang ke shirath, wajah-wajah mereka bagaikan matahari yang bersinar dan cahaya mereka di hadapan mereka. Di tangan setiap ulama dari mereka ada bendera dari cahaya surga yang menerangi untuknya sejauh perjalanan lima ratus tahun. Di bawah bendera ulama itu semua orang yang mengikuti ilmunya dan semua orang yang mencintainya karena Allah. Penyeru menyeru: “Inilah kekasih-kekasih Allah, inilah wali-wali Allah, inilah orang-orang yang menggantikan para nabi, inilah orang-orang yang mengajarkan hamba-hamba Allah, inilah orang-orang yang mengajak kepada Allah, inilah orang-orang yang menjaga batasan-batasan Allah, inilah pelita-pelita kegelapan, inilah pemimpin-pemimpin petunjuk.”
Apabila mereka dekat dari shirath, diletakkan di atas kepala setiap orang dari mereka mahkota dari cahaya surga. Seandainya mahkota itu diletakkan di langit ketujuh yang paling tinggi, niscaya cahayanya menembus sampai ke bumi ketujuh yang paling bawah. Dan setiap orang dari mereka dipakaikan jubah dari jubah-jubah surga. Seandainya jubah itu dibentangkan antara langit dan bumi, niscaya cahayanya menutupi cahaya matahari, dan semua makhluk akan mati karena cinta melihatnya, dan memenuhi bumi dan lautan dengan aroma misk. Dan turun di atas kepala setiap orang dari mereka awan dari cahaya yang melindunginya dari panas percikan api Jahannam dan dari panas matahari.
Dan mereka membaca syair:
Wahai pencari ilmu yang mengharapkan dengannya … ampunan Allah dan ampunan Allah itu ada Carilah dengan ilmumu wajah Allah Pencipta kita … sesungguhnya shirath terbentang di atas api Ampunan Allah bagi ahli ilmu akan mereka dapatkan … dan ampunan-Nya bagi ahli kebodohan hilang Maka bersemangatlah engkau diberi petunjuk dalam mengajar dengan sungguh-sungguh … dan engkau di sisi Tuhan ‘Arsy terpuji Maka beramallah dengan ilmu Rasulullah pemimpin kita … dan engkau di antara hamba-hamba Allah beruntung
Dan ketahuilah bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala tidak menerima amal tanpa ilmu.
Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama” (Fathir: 28). Maka para ulama telah ditetapkan bagi mereka oleh Yang Mahakuasa rasa takut dan ketakwaan.
Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa” (Al-Ma’idah: 27). Dan orang yang tidak mengetahui tidak bertakwa, dan bagaimana bertakwa orang yang tidak tahu apa yang harus ditakuti.
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Pelajarilah ilmu, karena sesungguhnya mempelajarinya untuk Allah adalah rasa takut, menuntutnya adalah ibadah, membincangkannya adalah tasbih, mencarinya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak tahu adalah sedekah. Dengannya Allah dikenal dan disembah, dengannya Allah dipuji dan ditauhidkan.” Ia adalah pemimpin amal dan amal adalah pengikutnya. Allah mengangkat dengan ilmu suatu kaum lalu menjadikan mereka pemimpin kebaikan dan imam-imam yang diikuti, dan diarahkan kepada pendapat mereka.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan bahwa ibadah tidak ada kecuali dengan ilmu berdasarkan sabdanya shallallahu ‘alaihi wasallam: “Dengannya Allah dikenal dan disembah.” Dan mencukupi dalam menyebutkan keutamaan ilmu firman Allah Tabaraka wa Ta’ala: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” Yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah menyebutkan shirath dan menyeberanginya.
127 – Keutamaan Penghafal Al-Qur’an
Disebutkan dalam beberapa berita bahwa penghafal Al-Qur’an dikumpulkan pada hari kiamat di atas gundukan misk hitam, dan cahaya wajah-wajah mereka menutupi penglihatan mata. Apabila mereka datang ke shirath, para malaikat yang ditugaskan untuk penghafal Al-Qur’an menyambut mereka, lalu memegang tangan mereka, meletakkan mahkota di atas kepala mereka, dan jubah di tubuh mereka. Didekatkan kepada mereka kuda-kuda dari cahaya surga yang di atasnya pelana dari misk al-azfar dan ambar yang sangat putih, kekangnya dari mutiara dan yaqut. Mereka menungganginya lalu kuda itu terbang membawa mereka di atas shirath. Dan dalam syafaat setiap orang menyeberang seratus ribu orang yang telah wajib masuk neraka. Penyeru menyeru: “Inilah kekasih-kekasih Allah, inilah wali-wali Allah yang membaca Kitab Allah dan beramal dengannya, maka tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak bersedih hati.”
Mereka adalah ahli Allah dan mereka adalah kekasih-kekasih Allah. Barangsiapa mencintai mereka di dunia, Allah mencintainya lalu ia menyeberangi shirath dan melewatinya tanpa kengerian, tidak susah hati, tidak sedih, dan tidak gundah.
Dan ini jika mereka beramal dengan Al-Qur’an, berdiri di perintah-perintah dan larangan-larangannya, menghalalkan yang halal, mengharamkan yang haram, beriman dengan yang muhkam, dan berhenti pada yang mutasyabih, serta bersegera kepadanya. “Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah orang-orang yang beruntung” (Al-Mujadilah: 22). “Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka” (Al-An’am: 90). Mereka itulah wali-wali Allah yang saleh, mereka itulah orang-orang yang Allah ridhai, beri taufik, beri petunjuk, dan beri mereka ketakwaan.
128 – Orang yang Tidak Beramal dengan Al-Qur’an
Adapun penghafal Al-Qur’an jika tidak beramal dengannya, maka ia datang ke shirath lalu para zabaniyah menyambutnya dengan pentungan besi dan penjaga-penjaga neraka. Wajah-wajah mereka dihitamkan sesuai kadar apa yang mereka sia-siakan dari ilmu. Barangsiapa mempelajari ilmu untuk kesombongan, pamer, riya, atau mencari nama, dan tidak meniatkannya karena wajah Allah Ta’ala, meminta dengannya suap dan hadiah, menyembunyikannya dan tidak menasihati dengannya hamba-hamba Allah, mencari dengannya kepemimpinan dan persahabatan dengan para raja, berjalan dengannya ke pintu-pintu anak dunia dan ke rumah-rumah para zalim dan ahli kejahatan, dan memutuskan dengannya bukan dengan keadilan, maka ia dikekang dengan kekang dari api Jahannam. Amalnya menjadi hujah, kesusahan, cobaan, penyesalan, dan kegelapan baginya di shirath.
Kemudian ilmu akan menjadi bagi yang beramal cahaya, kegembiraan, kebahagiaan, surga, dan kesenangan. Orang yang tertipu dan celaka itu melihat rombongan para ulama dan kelompok para wali dengan bendera-bendera mereka terbentang di atas kepala mereka, hati-hati mereka gembira dengan kabar gembira kemenangan dengan surga, cahaya mereka berjalan di hadapan mereka dan di tangan kanan mereka, dan para malaikat menyeru: “Masuklah surga, tidak ada rasa takut atas kalian dan kalian tidak bersedih hati.” Sedangkan engkau dalam kegelapanmu kebingungan, yakin akan masuk ke dalam panas api neraka, kecuali jika Raja Yang Mahatahu menjangkaumu dengan ampunan-Nya.
Malaikat telah memegang tanganmu dan ia menyeru tentangmu sedangkan kekang api di mulutmu. Seandainya kekang itu ada di dunia, niscaya membakarnya dari timur sampai baratnya. Dan menyeru tentangmu: “Ini orang yang menyia-nyiakan batasan-batasan Allah, ini orang yang melanggar perintah-perintah Allah, ini orang yang mengubah janji Allah dan melanggar Kitab Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan lebih memilih cinta dunia daripada apa yang ada pada orang-orang ini.”
Wahai orang celaka, engkau mengambil atas ilmu upah dan hadiah, membeli dengannya harga yang sedikit, dan tidak mengawasi Penguasa Yang Mulia lagi Agung, meninggalkan di belakangmu hari yang menakutkan dan berat, dan rugi wahai orang tertipu, kerajaan yang besar, kekal, dan melimpah.
129 – Orang-Orang Fasik Pembawa Al-Qur’an
Disebutkan dalam beberapa berita dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabakan: “Malaikat Zabani lebih cepat mendatangi orang-orang fasik pembawa Al-Qur’an daripada mereka mendatangi penyembah berhala dan api. Maka mereka (orang fasik) berkata: ‘Mengapa mereka memulai dengan kami sebelum penyembah berhala dan api?’ Maka malaikat berkata kepada mereka: ‘Tidaklah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui.'” Dan dalam hadits lain: “Sesungguhnya malaikat yang dijadikan Allah di atas Shirath, apabila mereka melihat pembawa Al-Qur’an yang fasik, mereka menangkap mereka, mendorong tengkuk mereka, dan melemparkan mereka ke dalam Jahannam, atau Allah Ta’ala mengampuni mereka.”
Ya Allah, ampunilah kami dan seluruh saudara-saudara kami kaum muslimin, dan jadikanlah Al-Qur’an sebagai hujah untuk kami, jangan Engkau jadikan ia hujah atas kami, wahai Yang Maha Penyayang dari segala yang penyayang.
Dan mereka membaca syair: Betapa besar musibah pembawa Al-Qur’an Jika tempat berlindungnya adalah ke api neraka Maka itulah balasan bagi orang yang bermaksiat kepada Tuhan Yang Maha Tinggi Negeri azab dan tempat berdiri orang yang merugi Betapa besar kerugiannya dan besar musibahnya Di sisi Shirath dengan kegelapan dan kehinaan Ya Tuhan, ampunilah perbuatan buruk kami Engkau adalah petunjuk menuju surga keridhaan
Maka bertakwalah kepada Allah wahai para ahli Al-Qur’an terhadap Kitab-Nya, dan takutlah dari azab-Nya yang pedih, dan beramallah dengan Al-Qur’an serta berkeinginanlah pada pahala-Nya yang banyak, karena Al-Qur’an itu untuk kalian dan ia menentang kalian jika kalian mengamalkannya, celakalah dan binasalah. “Maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kalian dan jangan (pula) penipu (setan) memperdayakan kalian tentang Allah” (Luqman: 33).
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Ditampakkan kepadaku semua dosa, maka aku tidak melihat di dalamnya dosa yang lebih besar dari dosa pembawa Al-Qur’an yang meninggalkannya.”
Makna meninggalkannya adalah meninggalkan amal dengannya. Amal dengan sedikit ilmu lebih baik daripada banyak ilmu dengan sedikit amal.
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Pembawa Al-Qur’an akan ditanya tentang apa yang ditanyakan kepada para nabi.” Dan apabila pembawa Al-Qur’an marah, Al-Qur’an berkata kepadanya: Tidakkah engkau malu, aku bersamamu dan engkau marah? Ikutilah aku niscaya engkau selamat, dan muliakanlah aku dengan ketaatan, niscaya aku selamatkan engkau dari berbagai ketakutan, aku lewatkan engkau di Shirath, dan aku masukkan engkau ke dalam surga.
Dan diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Tidaklah ada pemberi syafaat yang lebih utama kedudukannya di sisi Allah daripada Al-Qur’an, baik nabi, malaikat maupun yang lainnya.” Maka sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali, atas orang yang tidak beramal dengan Sunnah dan Al-Qur’an. Bagaimana ia memilih neraka daripada surga, bermaksiat kepada Tuhannya dan mentaati setan? Sungguh ia telah sesat dengan kesesatan yang jauh, menempati azab yang keras, dan tinggal sendirian terpencil dari kebaikan.
Betapa musibah yang sangat besar dan penyesalan yang sangat lama.
130 – Apa yang Ada di Balik Shirath
Diriwayatkan oleh Hasan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Di balik Shirath ada jembatan yang padanya terdapat amanah, jembatan yang padanya Rabb Jalla Jalaluhu, dan jembatan yang padanya terdapat rahmat. Wahai pendengar terhadap apa yang datang dari hadits-hadits sifat dan atsar yang musykil (rumit), serahkanlah urusan-urusan itu kepada Penciptanya, dan tinggalkanlah ta’wilnya jika engkau membaca dan mempelajarinya. Dan hendaklah engkau pada khususnya dirimu sendiri, dan beramallah untuk hari kuburmu.” Dan jembatan itu padanya terdapat pertanyaan. Pada waktu itu Allah Jalla Jalaluhu dan Maha Suci nama-nama-Nya berfirman: “Wahai hamba-Ku, engkau melakukan ini dan itu pada hari ini dan itu.” Maka hamba itu berkata: “Benar, ya Tuhanku.” Maka Rabb Jalla Jalaluhu tidak henti-hentinya memberitahukan kepada hamba dan hamba mengakui serta berkata: “Benar”, hingga hamba itu berkata: “Sesungguhnya dilemparkanku ke dalam neraka lebih ringan bagiku daripada teguran ini.” Maka Dia Jalla wa Ta’ala berfirman kepadanya: “Wahai hamba-Ku, dengan pengawasan-Ku, ketika engkau melakukan itu dan Aku menjadi saksi atasmu, begitu juga malaikat-malaikat-Ku dan bumi-Ku, akan tetapi Aku menutupimu dengan kesabaran dan kemurahan-Ku. Wahai hamba-Ku, Aku menutupinya di dunia untukmu dan Aku mengampuninya hari ini untukmu.”
Semoga Allah mengampuni kita semua dan mematikan kita dengan rahmat-Nya sebagai muslim yang bertaubat atas Sunnah dan Jamaah, atas keyakinan bahwa tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah shallallahu alaihi wasallam.
۞۞۞۞۞
4 – Majelis tentang Firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala dan Maha Suci Nama-Nama-Nya: “Dan di atas A’raf ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari mereka dengan tanda-tandanya”
131 – Mereka yang Disebutkan oleh Yang Memiliki Jalla Jalaluhu dengan Firman-Nya
“Dan di atas A’raf ada orang-orang” (Al-A’raf: 46), mereka adalah kaum yang sama antara kebaikan dan keburukan mereka, maka mereka ditahan di A’raf. A’raf adalah tempat-tempat yang tinggi di atas Shirath, karena Shirath ada tujuh jembatan, dan itu adalah jembatan-jembatan yang sebagiannya lebih sulit dari sebagian lainnya, sebagiannya lebih berat pertanyaannya dari sebagian lainnya, dan sebagiannya lebih tinggi dari sebagian lainnya. Di setiap jembatan, hamba ditanyai tentang ibadah yang diwajibkan Allah atasnya di dunia.
Maka kami memohon kepada Allah taufik di dunia dan kemudahan di akhirat dalam kedudukan-kedudukan itu.
132 – Pertanyaan Para Hamba pada Hari Kiamat
Maka yang pertama kali ditanyakan kepada hamba adalah shalat, kemudian zakat, kemudian puasa, kemudian haji, kemudian amanah, kemudian berbakti kepada kedua orang tua, kemudian menjaga lisan, kemudian menjaga tetangga, kemudian menyambung silaturahmi, dan demikian semua yang diperintahkan Allah Azza wa Jalla dan semua yang dilarang-Nya. Setiap orang yang datang ke jembatan dari jembatan-jembatan Shirath ditanya tentang ibadahnya. Jika ia menjawabnya, ia akan melewati dan sampai ke surga, dan cahaya iman berjalan di hadapannya, di kanannya, dan di kirinya. Jika ia tidak datang dengannya, cahayanya berkurang, yaitu cahaya iman, karena iman itu bertambah dan berkurang – bertambah dengan ketaatan kepada Allah dan berkurang dengan kemaksiatan kepada Allah. Setiap orang yang berkurang pahalanya dengan kemaksiatan, cahayanya berkurang di Shirath.
Barang siapa yang Tuhannya menghendaki untuk menyiksanya, Ia sempurnakan cahayanya di sebagian jembatan Shirath dan memadamkan cahaya darinya di sebagian lainnya. Shirath itu hitam dan gelap karena kehitaman Jahannam yang sangat. Seandainya satu tetes dari kegelapan Shirath diletakkan di dunia, niscaya gelaplah timur dan barat dunia, dan matilah makhluk dari kegelapan yang sangat. Sesungguhnya Allah Ta’ala menahan kaum ini di A’raf Shirath untuk menjelaskan kepada ahli surga, malaikat, jin, manusia, dan semua yang diciptakan Allah Tabaraka wa Ta’ala keutamaan Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan untuk menampakkan kebanggaan, kedudukan, kehormatan, dan kemuliaannya di sisi Rabb kita Jalla Jalaluhu. Adapun hal itu, Allah Tabaraka wa Ta’ala memerintahkan para hamba untuk melewati Shirath yang terbentang di atas Jahannam. Makhluk datang ke Shirath, orang-orang mukmin dan orang-orang kafir. Adapun orang-orang mukmin, mereka melewati dengan cahaya mereka yang berjalan di hadapan mereka dan di sisi kanan mereka.
133 – Kegelapan Kekafiran dan Kemaksiatan
Adapun orang-orang kafir, mereka berjalan dalam kegelapan kekafiran dan kegelapan amal-amal mereka yang mereka lakukan dalam keadaan kafir di dunia. Ketika mereka datang ke Shirath, langkah pertama yang mereka letakkan di Shirath, mereka jatuh ke dalam neraka. Malaikat menyambar mereka dengan kait-kait besi lalu melemparkan mereka ke dasar Jahannam. Ketika orang-orang mukmin melewati dengan cahaya mereka, orang-orang munafik melewati mengikuti jejak mereka, mengikuti mereka dan menyeru mereka: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu sehingga kami berjalan dalam sinarmu.” Maka dikatakan: “Kembalilah ke belakang kalian dan carilah cahaya.”
Dan itulah firman-Nya Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka” (An-Nisa: 142). Adapun hal itu karena mereka di dunia, apabila bertemu dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: “Kami beriman”, dan mereka menampakkan iman kepada mereka dengan lisan mereka dan meyakini kekafiran dengan hati mereka. Allah Ta’ala memperlakukan para hamba berdasarkan keyakinan hati mereka. Orang-orang munafik menunggu-nunggu bencana menimpa orang-orang mukmin. Ketika mereka berada di Shirath mengikuti jejak orang-orang mukmin untuk berjalan dalam cahaya mereka, mereka berkata kepada orang-orang mukmin: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu.” Dikatakan: “Kembalilah ke belakang kalian dan carilah cahaya.” Maka mereka mengira bahwa di belakang mereka ada cahaya yang mereka cari, lalu mereka kembali ke belakang. Diangkatlah bagi mereka sebuah terowongan, maka mereka mengira bahwa di terowongan itu ada cahaya yang akan melewatkan mereka di Shirath. Maka terowongan itu menjerumuskan mereka ke pintu-pintu Jahannam. Ketika orang-orang mukmin melihat orang-orang munafik berjatuhan dan terjerumus ke dalam neraka, mereka ketakutan dengan apa yang menimpa orang-orang munafik. Pada saat itu dikatakan kepada mereka: “Bergembiralah kalian hari ini dengan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan azab ini yang kalian takuti adalah untuk orang-orang munafik yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, mengingkari ayat-ayat Allah, dan menyelisihi Kitab-Nya.” Pada saat itu dipasang di antara mereka sebuah tembok yang mempunyai pintu.
134 – Tembok Pemisah antara Surga dan Neraka
Tembok itu adalah dinding yang mempunyai pintu ke surga, dan ia adalah dinding antara surga dan neraka. Bagian dalam tembok itu dalam rahmat, dan bagian luarnya dari sisi azab yaitu Jahannam. Bagian dalam di dalamnya rahmat yaitu surga. Ketika orang-orang munafik melihat orang-orang mukmin tidak menoleh kepada mereka dan tidak memperhatikan mereka, serta melihat mereka dalam keadaan selamat dan beruntung, maka orang-orang munafik berkata kepada mereka: “Bukankah kami bersama kalian di dunia atas tauhid dan kami shalat bersama kalian?” Maka orang-orang mukmin berkata kepada mereka: “Benar, tetapi kalian telah menjerumuskan diri kalian sendiri,” yaitu kalian menyiksa dan membakar diri kalian sendiri dengan neraka karena menyelisihi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, karena kalian berkata dengan lisan kalian apa yang tidak ada di hati kalian, karena kalian mendustakan perjumpaan dengan Allah Tabaraka wa Ta’ala, kalian mendustakan hari ini, kalian menunggu-nunggu bencana menimpa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan orang-orang mukmin, angan-angan memperdayakan kalian hingga datang perintah Allah, dan yang menipu memperdayakan kalian tentang Allah dalam apa yang kalian lakukan terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan orang-orang mukmin. “Maka pada hari ini tidak akan diterima tebusan dari kalian dan tidak (pula) dari orang-orang kafir,” yaitu tidak akan diterima tebusan dari orang kafir dan tidak dari orang munafik.
135 – Sifat Orang Munafik
Orang kafir adalah yang kafir secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan. Orang munafik adalah yang kafir secara sembunyi-sembunyi dan beriman secara terang-terangan, beriman dengan lisannya dan kafir dengan hatinya. Firman-Nya “tempat kembali kalian adalah neraka,” yaitu tempat kalian kembali kepadanya dan tempat tinggal kalian di dalamnya. Ini semua adalah tipuan setan kepada kalian hingga datang kepada kalian kematian dan kalian mati dalam kemunafikan. Ketika mereka kembali ke belakang untuk mencari cahaya, mereka melihat terowongan, lalu mereka masuk ke terowongan itu dan mengira bahwa cahaya ada di dalamnya. Maka terowongan itu menghempaskan mereka ke pintu-pintu Jahannam. Malaikat menyambar mereka dengan kait-kait besi lalu melemparkan mereka ke dalam Jahannam hingga mereka melewati pintu pertama dari Jahannam, kemudian mereka dilemparkan ke pintu kedua hingga mereka melewatinya. Mereka tidak henti-hentinya dari pintu ke pintu hingga mereka sampai ke tingkat paling bawah dari neraka. Mereka sampai ke sebuah sumur yang disebut sumur Al-Huzn (kesedihan). Di sumur itu ada sebuah sumur yang disebut Al-Habhab, di dalamnya ada peti-peti dari api dan di atasnya ada kunci-kunci dari api.
136 – Sumur Al-Habhab
Di atas sumur itu ada batu dari belerang. Di sumur itu ada pintu. Jika batu itu diangkat, api-api Jahannam meminta pertolongan dari api yang keluar darinya. Api yang keluar dari sumur itu memakan api-api Jahannam dan apa yang ada di dalamnya lebih cepat dari sekejap mata. Maka didatangkanlah orang-orang munafik, lalu mereka dilemparkan ke dalam sumur itu dan diletakkan di atas mereka batu itu. Mereka tidak akan keluar darinya selamanya. Setiap kali api itu memakan daging mereka, Allah menggantikannya dengan daging yang lain. Mereka tidak akan keluar dari sumur itu selamanya. Itulah firman-Nya Azza wa Jalla: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat penolong bagi mereka” (An-Nisa: 145). Dan firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka” (An-Nisa: 142), yaitu dengan firman-Nya: “Kembalilah ke belakang kalian dan carilah cahaya.”
Adapun orang-orang mukmin yang sama antara kebaikan dan keburukan mereka, mereka berjalan di Shirath dengan cahaya mereka yang berjalan di hadapan mereka dan di sisi kanan mereka, hingga ketika mereka berada di jembatan Shirath yang paling tinggi dari jembatan-jembatan Shirath, yaitu A’raf – tempat-tempat yang tinggi, satu-satunya disebut ‘urf, dan dinamakan an-nasyaz dari bumi, yaitu tempat yang tinggi disebut ‘urfan, dan darinya ‘urf (jengger) ayam.
137 – Ahli A’raf
Ketika mereka sampai di tempat-tempat itu dari Shirath, cahaya mereka berkurang dan mereka berdiri di atas ujung-ujung jari kaki mereka, dan mereka melihat bahwa itu adalah kegelapan. Adapun hal itu karena makhluk di Shirath sesuai dengan kadar amal mereka di dunia. Di antara manusia ada yang memiliki cahaya yang menerangi di Shirath perjalanan seratus tahun, di antara mereka ada yang diberi cahaya yang menerangi perjalanan setahun, perjalanan sebulan, perjalanan seminggu, perjalanan sehari, perjalanan sejam. Di antara manusia ada yang diberi cahaya yang menerangi tempat kedua kakinya saja.
Sesuai dengan kedudukan mereka di sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala dan sesuai dengan amal mereka di dunia. Mereka berlomba-lomba dalam melewati sesuai dengan cahaya mereka yang bersama mereka. Barang siapa yang memiliki cahaya banyak, ia melewati dengan lapang. Barang siapa yang memiliki cahaya sedikit, ia melewati dengan sempit, sesuai dengan apa yang diberikan Allah kepada setiap hamba. Ketika ahli A’raf berdiri di atas ujung jari kaki mereka dalam keadaan itu dan mereka tidak melihat tempat kaki mereka karena kegelapan yang sangat – kegelapan itu adalah kehitaman Jahannam yang sangat, semoga Allah melindungi kami dan kalian darinya, memudahkan bagi kita semua kesulitan-kesulitannya dan kegelapannya, dan meneguhkan kaki kami di Shirath dengan karunia dan keutamaan-Nya.
Shirath itu lebih tajam dari pedang, lebih tipis dari rambut, dan lebih panas dari bara api. Di atasnya ada duri dan kait-kait besi lebih banyak dari jumlah manusia dan jin. Di setiap kait tergantung dari malaikat Zabani sejumlah bintang-bintang di langit. Jika salah satu dari mereka berbicara, api berhamburan dari mulutnya. Seandainya salah satu dari mereka meludah di lautan yang luas, niscaya ia mengeringkannya. Jika salah satu dari mereka berbicara, temannya ketakutan darinya. Seandainya penduduk dunia mendengar suara salah satu dari mereka berbicara, niscaya mati semua yang ada di dalamnya dari manusia, jin, dan semua yang diciptakan Allah Tabaraka wa Ta’ala di dalamnya dari daratan dan lautannya karena mengerikannya ucapan dan kerasnya suaranya. Jika Malik penjaga Jahannam berteriak kepada penjaga-penjaga Jahannam, mereka pingsan karena kerasnya suaranya.
Shirath dengan ketipisannya dan kehalusannya bergetar sebagaimana bergetar kapal dengan penumpangnya ketika angin kencang. Ketika kaum itu berdiri di atas ujung jari kaki mereka dan mereka tidak mampu melewati, sementara mereka melihat kepada ahli neraka bagaimana mereka diazab di neraka, Allah Ta’ala berfirman: “Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim'” (Al-A’raf: 47). Mereka meminta pertolongan dan memohon dengan rendah hati kepada Tuhan mereka Jalla Jalaluhu, memohon kepada-Nya keselamatan dari neraka dan dari dahsyatnya apa yang mereka alami dari sulitnya Shirath. Mereka tetap demikian selama yang dikehendaki Allah Tabaraka wa Ta’ala dalam keadaan sedih, susah, dan berduka, tidak mengetahui apakah mereka selamat atau binasa. Bersama setiap orang dari mereka ada dua malaikat penjaganya yang dulu menulis amalnya di dunia. Sementara mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba Allah Tabaraka wa Ta’ala memasukkan ingatan mereka di hati saudara-saudara mereka dari ahli surga dan di lisan mereka. Maka sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: “Alangkah baiknya kalau kita tahu apa yang terjadi dengan saudara-saudara kita dari ahli A’raf.” Mereka berkata: “Kami tidak memiliki pengetahuan tentang apa yang mereka lakukan, tetapi kami bertanya kepada para penjaga dan yang bersama mereka hingga mereka memberitahu kami apa yang mereka lakukan.” Maka mereka menyeru dari istana-istana mereka: “Wahai para malaikat yang bersama ahli A’raf, apa yang terjadi dengan saudara-saudara kami dari ahli A’raf?”
138 – Syafaat Penghuni Surga untuk Para Penghuni A’raf
Maka para malaikat berkata, “Wahai sekalian penghuni surga, para penghuni A’raf belum memasukinya padahal mereka mengharap untuk memasukinya. Cahaya mereka telah berkurang dan pelita mereka telah padam. Mereka tinggal berdiri di ujung-ujung jari dan kaki mereka sambil menunggu rahmat Tuhan mereka.” Maka itulah firman Allah Ta’ala: “Dan mereka (para malaikat) berseru kepada penghuni surga” (Al-A’raf: 46), yaitu para malaikat memanggil penghuni surga, “Bahwa kesejahteraan atas kalian. Mereka belum memasukinya padahal mereka mengharapkannya” (Al-A’raf: 46).
139 – Rasa Malu Adam
Maka pada saat itu penghuni surga mengenakan perhiasan dan jubah serta meletakkan mahkota di kepala mereka. Kemudian mereka semua pergi hingga datang kepada Adam alaihissalatu wassalam yang berada di istananya. Mereka semua berseru, “Wahai ayah kami, engkau adalah orang yang Allah ciptakan dengan tangan-Nya, meniupkan ruh-Nya kepadamu, memerintahkan malaikat-malaikat-Nya yang mulia untuk bersujud kepadamu, dan menempatkanmu di surga-Nya. Sesungguhnya orang-orang dari keturunanmu tertahan di atas shirath, cahaya mereka berkurang dan pelita mereka padam. Maka berilah syafaat untuk mereka di sisi Hakim di Hari Pembalasan.”
Maka Adam alaihissalam berkata, “Aku bukan orang yang tepat untuk itu. Aku adalah orang yang bermaksiat kepada Tuhanku dan memakan buah dari pohon, lalu Dia mengampuniku. Aku malu untuk meminta sesuatu kepada-Nya setelah pengampunan itu. Tetapi kalian wahai anak-anakku, datangilah Nuh yang Allah bawa di dalam bahtera.”
140 – Rasa Malu Nuh
Maka mereka mendatangi Nuh alaihissalam dan mereka semua berseru, “Wahai Nuh!” Maka Nuh melihat ke arah mereka dari istananya dan memandang kepada kerumunan mereka. Nuh berkata kepada mereka, “Wahai penghuni surga, apa yang membuat kalian gelisah meninggalkan tempat tinggal kalian dan apa yang membawa kalian kemari?”
Mereka berkata kepadanya, “Wahai Nuh, engkau adalah orang yang Allah bawa di dalam bahtera. Sesungguhnya orang-orang tertahan di atas shirath, cahaya mereka berkurang dan pelita mereka padam. Maka berilah syafaat untuk mereka di sisi Hakim di Hari Pembalasan.”
Nuh berkata kepada mereka, “Aku bukan orang yang tepat untuk itu. Aku adalah orang yang berbicara kepada Tuhanku tentang sesuatu yang aku tidak memiliki pengetahuan tentangnya, lalu Dia mengampuniku. Aku malu untuk meminta sesuatu kepada-Nya setelah pengampunan itu. Tetapi kalian datangilah Ibrahim yang Allah jadikan kekasih-Nya dan menjadikan api itu dingin dan sejahtera baginya.”
Maka mereka mendatangi Ibrahim alaihissalam yang berada di istananya dan mereka semua berseru, “Wahai Ibrahim, engkau adalah orang yang Allah jadikan kekasih-Nya. Sesungguhnya orang-orang tertahan di atas shirath, cahaya mereka berkurang dan pelita mereka padam. Maka berilah syafaat untuk mereka di sisi Hakim di Hari Pembalasan.”
Ibrahim berkata kepada mereka, “Aku bukan orang yang tepat untuk itu. Aku adalah orang yang berbohong dua kali,” dan dalam riwayat lain disebutkan tiga kali, “lalu Dia mengampuniku. Aku malu untuk meminta sesuatu kepada-Nya setelah pengampunan itu. Tetapi kalian datangilah Musa bin Imran, kalam Allah dan pilihan-Nya.”
141 – Rasa Malu Musa
Maka mereka mendatangi Musa alaihissalam dan memanggilnya. Musa melihat ke arah mereka dan mereka berkata kepadanya, “Wahai Musa, engkau adalah orang yang Allah ajak bicara tanpa perantara, menurunkan Taurat kepadamu, membentangkan jalan yang kering di bumi untukmu, dan memperlihatkan keajaiban-keajaiban dari kekuasaan-Nya kepadamu. Sesungguhnya orang-orang dari saudara-saudara kami tertahan di atas shirath, cahaya mereka berkurang dan pelita mereka padam. Maka berilah syafaat untuk mereka di sisi Hakim di Hari Pembalasan.”
Musa berkata kepada mereka, “Aku bukan orang yang tepat untuk itu. Aku adalah orang yang menampar seorang laki-laki hingga membunuhnya, lalu Dia mengampuniku. Aku malu untuk meminta sesuatu kepada-Nya setelah pengampunan itu. Tetapi kalian datangilah Isa bin Maryam, perawan yang suci lagi murni.”
142 – Rasa Malu Isa
Maka mereka mendatangi Isa shallallahu alaihi wasallam yang berada di istananya dan mereka semua berseru, “Wahai Isa!” Maka Isa melihat ke arah mereka dari istananya dan berkata kepada mereka, “Wahai penghuni surga, apa yang membuat kalian gelisah meninggalkan tempat tinggal kalian dan apa yang membawa kalian kemari?”
Mereka berkata kepadanya, “Wahai Isa, engkau adalah orang yang Allah ciptakan tanpa ayah, dan Allah menjadikanmu sebagai tanda bagi manusia. Engkau adalah putra wanita yang suci, perawan yang murni. Sesungguhnya orang-orang tertahan di atas shirath, cahaya mereka berkurang dan pelita mereka padam. Maka berilah syafaat untuk mereka di sisi Hakim di Hari Pembalasan.”
Isa berkata, “Aku bukan orang yang tepat untuk itu. Aku adalah orang yang diklaim oleh orang-orang Nasrani bahwa aku berkata kepada mereka untuk menjadikan aku dan ibuku sebagai tuhan selain Allah. Aku malu kepada-Nya untuk meminta sesuatu. Tetapi kalian datangilah orang yang terakhir dari para rasul dan hari ini adalah yang pertama di antara mereka. Datangilah dia, karena dia adalah imam orang-orang bertakwa, pemimpin seluruh alam, dan penutup para nabi, Muhammad shallallahu alaihi wasallam.”
143 – Syafaat Muhammad
Maka mereka mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam yang berada di istananya, istana terbaik di surga. Mereka berdiri di sekitar istana, dan istana itu telah memancarkan cahaya dan keindahannya ke seluruh istana penghuni surga. Mereka semua berseru, “Wahai Muhammad, wahai Abu al-Qasim, wahai Ahmad, wahai pemimpin seluruh alam, wahai imam orang-orang bertakwa, wahai penutup para nabi!”
Maka beliau shallallahu alaihi wasallam melihat ke arah mereka dari istananya, dan cahaya dari wajahnya telah menerangi seluruh istana di surga. Beliau shalawatullahi wasalamuhu alaihi berkata kepada mereka, “Apa yang membuat kalian gelisah meninggalkan tempat tinggal kalian dan apa yang membawa kalian kemari?”
Mereka berkata kepadanya, “Engkau adalah orang yang Allah jadikan sebagai penutup para nabi, pemimpin seluruh alam, dan imam orang-orang bertakwa. Sesungguhnya orang-orang dari umatmu tertahan di atas shirath, cahaya mereka berkurang dan pelita mereka padam. Maka berilah syafaat untuk mereka di sisi Hakim di Hari Pembalasan.”
144 – Memasuki Surga Adn
Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata, “Akulah orangnya untuk itu.” Beliau shalawatullahi wasalamuhu alaihi mengenakan perhiasan dan jubah serta meletakkan mahkota di kepalanya. Penghuni surga mengikuti beliau hingga sampai di pintu surga Adn. Beliau meminta izin masuk dan ditanya, “Siapa ini?” Beliau shallallahu alaihi wasallam berkata, “Aku adalah Ahmad.” Maka pintu dibukakan untuk beliau.
Di balik tirai terdapat seorang malaikat yang bercahaya sangat terang sehingga aku merasa takut melihatnya. Malaikat itu menenangkanku dan mengusakku seraya berkata, “Wahai Ahmad, engkau adalah hamba dan aku juga hamba sepertimu.”
Kemudian aku terus berjalan hingga sampai di tirai kedua dan meminta izin masuk. Ditanya, “Siapa ini?” Aku menjawab, “Aku adalah Ahmad.” Maka dibukakan untukku. Di balik tirai terdapat malaikat yang lebih besar penciptaannya dan lebih terang cahayanya dari yang aku lihat sebelumnya. Aku merasa takut melihat kebesarannya, tetapi dia menenangkanku dan mengusakku seraya berkata, “Wahai Ahmad, engkau adalah hamba dan aku juga hamba sepertimu.”
Aku terus berjalan melewati malaikat-malaikat yang besar, sebagian lebih terang cahayanya dari yang lain, hingga aku sampai di tirai ketujuh. Aku meminta izin masuk dan ditanya, “Siapa ini?” Aku menjawab, “Aku adalah Ahmad.” Maka dibukakan untukku. Di balik tirai terdapat Jibril alaihissalatu wassalam yang berkata, “Selamat datang untuk suara ini, sungguh aku telah merindukan suara ini.”
Aku terus berjalan hingga sampai di hijab-hijab dan hijab-hijab itu terangkat. Tuhan semesta alam jalla jalaluhu wa azhmat qudratuhu menampakkan diri kepadaku. Ketika aku melihat-Nya, aku tersungkur bersujud kepada-Nya. Aku memuji-Nya dengan pujian yang belum pernah ada malaikat pembawa Arasy, pembawa Kursi, maupun nabi yang diutus yang memuji-Nya dengan pujian seperti itu di tempat itu pada saat itu, sehingga para malaikat Karubiyin dan Ruhaniyyin serta penghuni tirai-tirai berkata bahwa orang ini layak untuk diberi syafaat oleh Allah bagi siapa yang dia syafaati.
145 – Sujudnya di Hadapan Allah Ta’ala
Maka Allah Yang Maha Perkasa jalla jalaluhu wa azhmat qudratuhu berfirman, “Wahai Ahmad, angkat kepalamu, mintalah maka akan dikabulkan, dan berilah syafaat maka akan diterima.”
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Maka aku mengangkat kepalaku dari sujud. Ketika aku melihat Tuhanku jalla jalaluhu, aku tersungkur bersujud dan aku memuji-Nya serta menyanjung-Nya seperti pujianku pada kali pertama. Aku melakukan itu tiga kali dan Tuhanku jalla jalaluhu setiap kali berkata kepadaku, ‘Angkat kepalamu, mintalah maka akan dikabulkan, dan berilah syafaat maka akan diterima.'”
“Maka aku berkata, ‘Wahai Tuhanku, orang-orang dari umatku tertahan di atas shirath, cahaya mereka berkurang dan pelita mereka padam. Maka sempurnakanlah cahaya mereka dan terangkanlah pelita mereka.’ Mereka adalah orang-orang yang pada saat itu berkata,” “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu” (At-Tahrim: 8). “‘Kapankah mereka akan pergi sebagaimana saudara-saudara kami telah pergi ke surga?'”
Maka Allah Tabaraka wa Ta’ala mengutus para malaikat yang membawa cahaya dari surga Adn, kemudian mereka mencelupkan mereka dengan celupan sehingga Allah menghidupkan cahaya mereka dan menerangi pelita mereka. Kemudian para malaikat datang kepada penghuni neraka dan berkata kepada mereka, “Inikah orang-orang yang kalian bersumpah bahwa Allah tidak akan melimpahkan rahmat kepada mereka? Masuklah kalian ke surga, tidak ada ketakutan atas kalian dan kalian tidak bersedih hati” (Al-A’raf: 49).
Hal itu karena penghuni neraka ketika melihat para penghuni A’raf tertahan di atas shirath, sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Demi Allah, tidaklah mereka ditahan kecuali untuk masuk bersama kami ke neraka Jahanam.” Maka dari itulah para malaikat berkata kepada mereka, “Inikah orang-orang yang kalian bersumpah bahwa Allah tidak akan melimpahkan rahmat kepada mereka?” (Al-A’raf: 49).
Kemudian para malaikat datang kepada para penghuni A’raf.
146 – Kedudukan Al-Mushthafa yang Agung
Para malaikat berkata kepada mereka, “Masuklah kalian ke surga, tidak ada ketakutan atas kalian dan kalian tidak bersedih hati” (Al-A’raf: 49), artinya kalian tidak akan bersedih dan tidak akan mati di surga selamanya.
Maka mereka pergi dengan cahaya yang dibawa oleh para malaikat dari surga Adn yang berjalan di hadapan mereka dan di sisi kanan mereka hingga mereka melewati shirath, memasuki surga, dan bergabung dengan tempat-tempat mereka, saudara-saudara mereka, dan nabi mereka Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
Sesungguhnya Allah Yang Maha Perkasa jalla jalaluhu wa azhmat qudratuhu menahan mereka hanya untuk menampakkan kedudukan Muhammad shallallahu alaihi wasallam, keutamaan, kehormatan, derajat, kedudukan, dan tempatnya di sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala dalam hal syafaat.
Shalawat Allah atasnya, shalawat yang dengannya terhormat akibatnya dan mencapai dengannya Syafaat Kubra sesuai keridhaan-Nya. Amin, wahai Tuhan semesta alam. Shalawat yang kekal hingga akhir masa, baik dan kekal tanpa terputus dan tanpa habis. Shalawat yang dengannya Engkau selamatkan kami dari panasnya neraka Jahanam dan seburuk-buruk tempat kembali, dan Engkau masukkan kami ke surga bersama para sahabatnya yang baik-baik lagi suci. Amin, wahai Tuhan semesta alam.
5 – Majelis tentang Firman Allah Ta’ala: (Pada hari datang setiap jiwa membela dirinya sendiri)
147 – Tentang Hisab Para Malaikat, Para Rasul, dan Lauhul Mahfuzh
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Mereka berdiri untuk pengadilan besar di hadapan Tuhan semesta alam, lalu mereka tenggelam sesuai kadar amal mereka.”
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma bahwa dia berkata, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman pada Hari Kiamat, “Wahai anak cucu Adam, diamlah! Karena Aku telah diam untuk kalian,” dan dalam riwayat lain, “karena Aku telah diam untuk kalian sejak hari Aku ciptakan kalian hingga hari ini, Aku mendengar perkataan kalian dan melihat amal-amal kalian. Maka lihatlah hari ini amal-amal kalian ditampakkan kepada kalian. Barangsiapa menemukan kebaikan maka hendaklah dia memuji Allah, dan barangsiapa menemukan selain itu maka janganlah dia menyalahkan kecuali dirinya sendiri. Kumpulkanlah hamba-hamba-Ku kepada-Ku. Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, tidak akan lolos dari-Ku kezaliman orang yang zalim.”
Maka bagaimana denganmu wahai orang yang malang, wahai orang yang tertipu, wahai yang meninggalkan kebenaran dan kebenaran, wahai yang menyelisihi sunnah dan Kitab, wahai yang zalim terhadap dirinya sendiri, wahai yang lalai dari hisab, wahai yang menyerahkan dirinya untuk azab yang pedih, wahai yang terus-menerus dalam kemaksiatan kepada Tuhan segala tuhan dan melupakan surga serta kebaikan tempat kembali.
Mereka bersyair:
Sampai kapan engkau tidak tersadar dari masa muda Padahal umur ini telah memberi isyarat tentang kepergian
Manusia ridha dengan sedikit keberuntungan Dan zuhud terhadap banyaknya pahala
Sungguh dahulu dunia telah menipu orang-orang Sebagaimana yang sakit tertipu dengan minuman
Ia menjanjikan kepada mereka dengan penipuan yang batil Dan menipunya dengan angan-angan yang dusta
Seakan-akan engkau tidak melihat setiap hari Jenazah-jenazah yang bersegera menuju kehancuran
Engkau diciptakan dari tanah dan dalam waktu dekat Engkau akan kembali tanpa diragukan lagi kepada tanah
Dan engkau akan hidup setelah kematianmu agar dibalas Dengan apa yang engkau telah dahulukan pada Hari Hisab
Maka sesungguhnya jika engkau berbuat buruk dengan perbuatan yang jelek Maka cukuplah bagimu hukuman bersama azab
Dan jika engkau adalah orang yang mendahulukan kebaikan Engkau akan dibalas dengannya besok dengan kebaikan tempat kembali
148 – Teguran Allah Ta’ala kepada Para Penguasa yang Zalim
Disebutkan dalam sebagian berita bahwa Allah Yang Maha Perkasa jalla jalaluhu, ketika orang-orang terdahulu dan kemudian berkumpul di padang Mahsyar, menyeru Subhanahu wa Ta’ala, “Mana para penguasa yang zalim dan anak-anak para penguasa yang zalim? Mana para raja dan anak-anak para raja? Aku telah membinasakan para penguasa yang zalim dengan kekuasaan-Ku dan Aku telah memusnahkan para raja dengan keagungan-Ku.”
Disebutkan dalam berita bahwa para penguasa yang zalim akan dikumpulkan pada Hari Kiamat dalam bentuk semut, makhluk paling kecil penciptaannya, karena kesombongan mereka terhadap hamba-hamba. Para penguasa yang zalim adalah orang-orang yang bersikap sombong terhadap makhluk dan dalam mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Dan dikatakan para penguasa yang zalim adalah orang-orang yang memaksa orang-orang miskin dan lemah terhadap apa yang tidak mereka mampu. Nama ini telah digunakan bersama oleh Sang Pencipta dan makhluk. Sang Pencipta jalla jalaluhu adalah Yang Maha Perkasa secara hakiki.
149 – Tafsir Al-Jabbar (Yang Maha Perkasa)
Tafsir Al-Jabbar dalam hak Allah Ta’ala adalah Dia yang memaksa hamba-hamba-Nya terhadap apa yang Dia kehendaki. Dan dikatakan Dia yang memaksa dari kezaliman hamba-hamba. Sesungguhnya Allah Ta’ala jalla ismuhu tidak dinisbahkan kepada-Nya kezaliman karena batasan kezaliman adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, karena dunia dan akhirat adalah milik Allah Ta’ala.
Sedangkan penguasa yang zalim dari hamba-hamba adalah orang yang zalim yang meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, mengambil apa yang bukan haknya dan mengembalikannya kepada apa yang telah Allah Tabaraka wa Ta’ala miliki. Dan apabila Allah Ta’ala memutuskan suatu keputusan atas hamba-Nya maka itu adalah kebaikan baginya berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Tidak sempurna iman seorang mukmin hingga dia melihat bahwa apa yang Allah putuskan atasnya atau untuknya adalah lebih baik baginya daripada apa yang dia inginkan untuk dirinya sendiri.”
Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Dalam keputusan Allah Ta’ala ada kebaikan kecuali keputusan neraka.” Apabila Allah Tabaraka wa Ta’ala memutuskan atas hamba-Nya dengan neraka maka dia adalah hamba-Nya dan ciptaan-Nya. Tidak ada seorang pun yang membantu-Nya dalam penciptaan-Nya dan tidak pula dalam rezeki-Nya. Dia berbuat apa yang Dia kehendaki, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya.
Kemudian Yang Maha Agung jalla jalaluhu menyeru, “Wahai hamba-hamba-Ku, tidak ada ketakutan atas kalian hari ini dan kalian tidak bersedih hati” (Az-Zukhruf: 69). Ketika makhluk mendengar seruan ini, mereka semua mengangkat kepala mereka dan berharap terhadap seruan ini. Mereka semua berkata, “Kami adalah hamba-hamba Allah.”
Kemudian Dia menyeru kedua kalinya, “(Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan adalah mereka orang-orang muslim” (Az-Zukhruf: 68). Maka pada saat itu menundukkan kepalanya setiap orang yang tidak muslim. Penganut agama-agama lain menjadi bingung dan orang-orang muslim bergembira.
Kemudian Dia menyeru ketiga kalinya, “Orang-orang yang beriman dan mereka bertakwa” (Yunus: 63), yaitu mereka yang bertakwa dari dosa-dosa besar. Maka menundukkan kepala mereka para pelaku dosa besar dari kalangan ahli tauhid, dan mengangkat kepala mereka semua ahli tauhid lainnya yang menjauhi dosa-dosa besar dan bertobat darinya dengan tobat yang nasuha.
Maka bagaimana denganmu wahai orang yang tertipu, wahai orang yang malang, engkau telah melakukan dosa-dosa besar dan kecil, bermaksiat kepada Tuhanmu dalam hal-hal tersembunyi dan yang tampak, dan yakin bahwa engkau akan ditanya pada hari ketika rahasia-rahasia diuji, dan akan menemui dari hukuman atas itu bagian yang banyak dan melimpah.
Mereka bersyair:
Aku bermaksiat kepada Allah dengan berbagai jenis kemaksiatan Seakan-akan aku tidak yakin dengan pembalasan
Maka kenapa aku tidak meratap atas dosa-dosaku Dan menangis pada hari diambil dengan ubun-ubun
150 – Nasihat
Maka perhatikanlah dirimu wahai orang yang malang, wahai yang lemah iman dan keyakinannya, sebelum datangnya penyesalan dan hilangnya nikmat serta turunnya azab, di mana penyesalan tidak bermanfaat.
Maka bersiaplah untuk pertanyaan dan persiapkan diri untuk perdebatan. Allah Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi berfirman, “(Ingatlah) hari (ketika) datang setiap diri membela dirinya sendiri, dan disempurnakan kepada setiap diri apa yang telah dikerjakannya, dan mereka tidak dianiaya” (An-Nahl: 111).
151 – Penggiring dan Saksi
Ketika para hamba mendengar seruan itu dan setiap hamba laki-laki dan perempuan mengetahui kedudukannya di antara semua penganut agama, maka dihamparkan catatan-catatan amal, ditegakkan timbangan, didatangkan para nabi, dan didirikan mimbar-mimbar untuk para nabi dan rasul. Setiap nabi duduk di mimbarnya dan umatnya telah mengelilinginya. Didirikan kursi-kursi untuk para shiddiqin dan syuhada.
“Dan datanglah setiap jiwa bersama penggiring dan saksi” (Qaf: 21), penggiring yang menggiring dan saksi yang menyaksikannya. Maka manusia terbagi dalam hal penggiring menjadi dua bagian:
Bagian pertama digiring oleh para malaikat dengan kebaikan, penghormatan, kelembutan, dan pengagungan. Mereka menenangkan dan menenangkan ketakutan mereka. Setiap kali hamba itu melihat kepada orang yang diazab atau dihukum, penggiringnya dari kalangan malaikat berkata kepadanya, “Wahai hamba Allah, engkau tidak seperti orang ini. Orang ini bermaksiat kepada Allah dan engkau mentaati-Nya.”
Bagian kedua digiring dengan teguran, kekuasaan, dan kekerasan. Penggiringnya menggiring dia sambil menakut-nakutinya dan berkata kepadanya, “Wahai musuh Allah, ini adalah hisab, nanti engkau akan tahu.” Setiap kali orang malang itu melihat kepada orang yang diazab atau dihukum, penggiringnya berkata kepadanya, “Sebentar lagi engkau akan seperti orang ini. Orang ini bermaksiat kepada Allah dan engkau pun bermaksiat kepada-Nya. Tidakkah engkau tahu wahai musuh Allah bahwa hisab dan mahsyar ada di hadapanmu?”
Mereka bersyair:
Seakan-akan diriku telah mencapai akhir umurku Dan aku mengingkari apa yang aku kenal dari masaku
Dan menuntutku orang yang tidak sanggup aku tolak Dan aku dipindahkan dari rumahku ke kegelapan kubur
Dan mendapatkan warisanku orang-orang yang mencerai-beraikan Dengan kerusakan mereka apa yang aku kumpulkan dari urusanku
Dan mengalpakanku orang yang biasa menampakkan kecintaannya Maka aku ikhlas dalam persahabatanku dan ia tenggelam dalam kebaikanku
Maka tidak ada seorang teman pun yang murah hati kepadaku dengan doa Ketika suatu hari mengalir di hadapannya kenangan tentangku
Dan menjadi untuk rumahku penghuni yang bahagia dengannya Dan di lahad adalah rumahku, aku tidak bangkit hingga mahsyar
Maka alangkah celakaannya aku jika tidak murah hati dengan keselamatanku Tuhanku dan tidak menambal dengan rahmat-Nya kefakiranku
Sungguh telah membebani punggungku dosa-dosa seandainya ia Di atas punggung gunung Thur, ia akan membebannya dalam beban
Maka betapa besar musibah kalian dan betapa panjang penyesalan kalian jika tidak dimaafkan oleh Tuhan kalian dan Dia menjadikan neraka sebagai tempat tinggal kalian. Maka manfaatkanlah perdagangan di negeri fana dan kepergian, Tuhan kalian akan membalas kalian dengannya ketika penghitungan hisab yang teliti. Maka hisab itu besar dan berat, dan kengerian demi Allah sangat besar dan agung, dan Penghitung itu teliti lagi Maha Melihat, dan hari itu penuh kerutan dan kekerasan.
152 – Lauh Mahfuzh
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma bahwa ia berkata: Apabila Allah Tabaraka wa Ta’ala mengumpulkan orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian di satu tempat, dan catatan-catatan dibentangkan, dan timbangan-timbangan dipasang, dan para nabi dihadirkan bersama umat-umat mereka, dan hadir pula para shiddiqin dan para syuhada, dan dikumpulkan binatang-binatang bumi dan serangga-serangganya, burung-burungnya, hewan ternaknya, dan penghuni gunung-gunungnya serta laut-lautnya, maka seorang penyeru memanggil dari sisi Arasy: Di mana Lauh Mahfuzh? Maka didatangkanlah Lauh Mahfuzh lalu dihentikan di hadapan Yang Maha Perkasa, Maha Agung dalam keadaan tunduk dan hina. Maka Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman kepadanya: Apa yang telah kamu lakukan dengan wahyu yang Aku turunkan kepadamu? Dan Lauh itu terbuat dari mutiara putih, kedua sisinya dari yakut merah, lebarnya seperti antara langit dan bumi. Allah Tabaraka wa Ta’ala melihat kepadanya setiap hari tiga ratus enam puluh kali pandangan. Pada setiap pandangan Dia menciptakan, menghidupkan, mematikan, memuliakan, merendahkan, mengangkat suatu kaum dan melakukan kebaikan kepada mereka serta menghentikan mereka dengan karunia-Nya, dan merendahkan suatu kaum dan memalingkan mereka dari jalan petunjuk dengan keadilan-Nya. Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, sedang mereka akan ditanya (Surat Al-Anbiya ayat 23), pada hari kiamat karena mereka tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benar pengagungan dan tidak menyembah-Nya dengan sebenar-benar ibadah, karena Dia Maha Agung dan Maha Besar dari pada dipenuhi haknya dalam ibadah, ketaatan, dan pengenalan. Tidak ada nabi yang diutus maupun malaikat yang didekatkan yang mampu melakukan ini. Maha Suci Dia yang tidak ada jalan untuk mengenal-Nya kecuali dengan ketidakmampuan mengenal-Nya.
Dia berkata: Maka Lauh berdiri di hadapan Yang Maha Perkasa, Maha Agung dan Maha Besar keagungan-Nya, lalu Dia berfirman kepadanya: Wahai Lauh Mahfuzh, apa yang telah kamu lakukan dengan apa yang Aku turunkan kepadamu? Maka Lauh Mahfuzh berkata: Tuanku dan Pemeliharaku, aku telah menyampaikannya kepada hamba-Mu Mikail.
153 – Risalah Mikail
Maka dipanggillah: Di mana Mikail? Lalu didatangkanlah dia shallallahu alaihi wa sallam, dan dia adalah malaikat yang agung yang memiliki enam belas ribu sayap. Seandainya dia membentangkan satu sayap saja di dunia, maka dunia tidak akan muat menampungnya. Maka dia berdiri di hadapan Allah Tabaraka wa Ta’ala dalam keadaan tunduk dan hina, jiwanya telah sampai ke kerongkongannya, tidak masuk dan tidak keluar karena takut, cemas, dan gentar kepada Yang Maha Perkasa. Maka Allah berfirman kepadanya: Apa yang telah kamu lakukan dengan wahyu yang disampaikan kepadamu oleh Lauh Mahfuzh, dan apakah kamu bersaksi baginya dengan penyampaian itu? Padahal Aku lebih tahu tentang itu daripada kamu, tetapi telah terdahulu dalam ilmu-Ku bahwa Aku akan bertanya kepadamu hari ini tentang hamba-hamba-Ku dan seluruh makhluk-Ku, dan Aku minta persaksian sebagian mereka atas sebagian yang lain. Maka Mikail berkata: Ya Rabb, Lauh Mahfuzh telah menyampaikan kepadaku dan aku telah menyampaikannya kepada hamba-Mu Israfil, dan Engkau lebih mengetahui.
154 – Risalah Israfil
Maka Lauh Mahfuzh dibebaskan dengan kesaksian Mikail untuknya. Kemudian dipanggillah: Di mana Israfil? Lalu didatangkanlah dia shallallahu alaihi wa sallam, dan dia adalah malaikat yang agung yang memiliki sayap di timur dan sayap di barat, kedua kakinya berada di bawah ujung bumi ketujuh yang paling bawah, dan Arasy berada di atas kepalanya. Maka dia berdiri di hadapan Allah Tabaraka wa Ta’ala, meskipun besar penciptaannya, dalam keadaan tunduk dan hina. Jiwanya telah bingung, warnanya berubah, anggota tubuhnya gemetar, persendiannya bergetar, kedua lututnya saling beradu, dan jiwanya telah sampai ke kerongkongannya, tidak masuk dan tidak keluar karena takut, cemas, dan gentar kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Maka Yang Maha Perkasa berfirman kepadanya: Apa yang telah kamu lakukan dengan wahyu yang disampaikan kepadamu oleh Mikail, dan apakah dia menyampaikannya kepadamu, dan apakah kamu bersaksi baginya dengan penyampaian itu? Dan Aku Maha Mengetahui segala yang gaib.
Maka Israfil alaihis salam berkata: Ya, ya Tuanku dan Pemeliharaku, dia telah menyampaikan kepadaku, dan Engkau lebih mengetahui, dan aku telah menyampaikannya kepada hamba-Mu Jibril alaihis salam. Maka Mikail dibebaskan dengan kesaksian Israfil alaihimas salam.
155 – Risalah Jibril
Kemudian dipanggillah: Di mana Jibril? Lalu didatangkanlah Jibril alaihis salam dan warnanya telah berubah, akalnya bingung, anggota tubuhnya gemetar, persendiannya bergetar, kedua lututnya saling beradu, dan jiwanya telah sampai ke kerongkongannya, tidak masuk dan tidak keluar karena cemas dan takut kepada Yang Maha Perkasa. Maka Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: Wahai Jibril, apa yang telah kamu lakukan dengan wahyu yang disampaikan kepadamu oleh hamba-Ku Israfil, dan apakah kamu bersaksi baginya dengan penyampaian itu? Maka Jibril alaihis salam berkata: Ya, ya Tuanku dan Pemeliharaku, dia telah menyampaikan kepadaku dan aku telah menyampaikannya kepada nabi-Mu Nuh alaihis salam, dan Engkau lebih mengetahui.
Maka Israfil dibebaskan dengan kesaksian Jibril.
156 – Kesaksian Nuh
Maka didatangkanlah Nuh alaihis salam hingga dihentikan di hadapan Yang Maha Perkasa, dan jiwanya telah pergi, warnanya berubah, dan dia telah mati karena terkejut dan takut kepada Yang Maha Perkasa. Maka Yang Maha Perkasa berfirman: Wahai Nuh, apa yang telah kamu lakukan dengan wahyu yang disampaikan kepadamu oleh hamba-Ku Jibril alaihis salam, dan apakah kamu bersaksi baginya dengan penyampaian itu? Maka dia alaihis salam berkata: Ya, ya Tuanku dan Pemeliharaku, hamba-Mu Jibril alaihis salam telah menyampaikan kepadaku dan aku telah menyampaikannya kepada kaumku, dan Engkau lebih mengetahui dari seluruh hamba-Mu tentang hal itu.
Maka Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: Benar, Aku lebih mengetahui dari seluruh makhluk-Ku, tetapi telah terdahulu dalam ilmu-Ku bahwa Aku akan bertanya kepada seluruh makhluk-Ku dan meminta persaksian sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan Aku adalah Hakim Yang Maha Perkasa yang tidak berbuat zalim dalam hukum-Ku.
Kemudian dipanggillah kaum Nuh alaihis salam, maka Allah berfirman kepada mereka: Apa yang telah kalian lakukan dengan wahyu yang disampaikan kepada kalian oleh Nuh alaihis salam, dan apakah dia menyampaikan kepada kalian, dan apakah kalian bersaksi baginya dengan penyampaian itu? Maka kaum Nuh berkata: Wahai Rabb kami, tidak datang kepada kami pemberi peringatan, kami tidak pernah melihatnya suatu hari pun, dan kami tidak pernah mendengar tentangnya, dan dia tidak menyampaikan risalah kepada kami. Maka ketika Nuh alaihis salam mendengar perkataan kaumnya, jiwanya pergi dan dia berharap seandainya bumi menelannya, dan seandainya Allah Tabaraka wa Ta’ala memutuskan kematian, niscaya Nuh mati ketika kaumnya mengingkarinya karena malu kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Maka Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: Wahai Nuh, apakah kamu mendapati orang yang bersaksi untukmu bahwa kamu telah menyampaikan risalah kepada kaummu? Maka Nuh alaihis salam melihat-lihat di tempat itu ke kanan dan kiri, ke timur dan barat, mencari dan memperhatikan dari antara para nabi dan rasul lainnya, dan dari kursi-kursi para syuhada dan shiddiqin, maka dia tidak melihat di antara mimbar-mimbar yang lebih tinggi, lebih bercahaya, lebih baik, atau lebih cemerlang daripada mimbar Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.
157 – Keagungan Rasul yang Paling Agung
Dan dia tidak melihat di antara para nabi yang lebih baik wajahnya daripada wajah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dan Nuh tidak melihat di antara kursi-kursi yang lebih bercahaya atau lebih baik daripada kursi-kursi umat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dan tidak melihat yang lebih agung, lebih bercahaya, atau lebih baik daripada kursi Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu anhu.
Dan dia tidak melihat di antara wajah-wajah yang lebih baik daripada wajah-wajah umat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dan tidak melihat di antara para shiddiqin dan syuhada yang lebih baik, lebih agung, atau lebih bercahaya daripada wajah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu anhu.
158 – Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq
Maka Nuh berkata kepadanya: Aku telah mendapatkan orang yang bersaksi untukku wahai Pemeliharaku dan Tuanku. Maka Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman – padahal Dia lebih mengetahui – siapa yang bersaksi untukmu wahai Nuh? Maka Nuh alaihis salam berkata: Yang bersaksi untukku adalah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan umatnya bahwa aku telah menyampaikan risalah kepada kaumku. Maka seorang penyeru memanggil: Di mana Nabi yang ummi Arab Tihami? Di mana Ahmad? Di mana pemimpin seluruh alam? Di mana penutup para nabi dan rasul? Di mana imam orang-orang yang bertakwa? Maka pada saat itu Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bangkit, dan pada saat itu penduduk mahsyar mengangkat kepala mereka ketika mereka melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Maka beliau shallallahu alaihi wa sallam berjalan hingga sampai kepada Rabbnya, dan Rabbnya berfirman kepadanya: Wahai Ahmad – sementara Nuh berdiri memperhatikan apa yang kamu katakan – apakah Nuh telah menyampaikan risalah kepada kaumnya? Maka Muhammad shallallahu alaihi wa sallam berkata: Ya, ya Tuanku dan Pemeliharaku, dia telah menyampaikan dan mengajak mereka beriman selama seribu tahun kecuali lima puluh tahun.
Maka Yang Maha Perkasa berfirman: Benar wahai Ahmad.
Maka pada saat itu Nuh alaihis salam bergembira dan wajahnya berseri-seri.
Kemudian Allah Ta’ala berfirman: Wahai Muhammad, kemarilah umatmu untuk hisab dan kesaksian. Maka sementara para makhluk berada di tempat itu, tiba-tiba mereka saling berdesakan dan mereka terkejut dengan kejutan yang dahsyat. Maka setiap umat berkumpul di sekitar nabinya. Dan umat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam melihat ke kanan dan kiri tetapi tidak melihat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, sementara umat-umat telah mengelilingi nabi-nabi mereka. Dan para nabi dan umat-umat melihat kepada mimbar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang kosong.
159 – Mimbar Rasul dan Mahsyar
Maka sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: Untuk siapa mimbar ini yang tidak terlihat sepertinya di tempat ini karena kebaikannya dan keindahannya, tidak terlihat yang lebih bercahaya, lebih tinggi, atau lebih agung darinya, dan kami melihatnya kosong dan tidak melihat pemiliknya? Maka sementara mereka memperhatikan mimbar Nabi shallallahu alaihi wa sallam, tiba-tiba penyeru memanggil: Ketahuilah bahwa ini adalah mimbar Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dan bahwa Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sedang bermunajat kepada Rabbnya tentang orang-orang yang berdosa dari umatnya, memberi syafaat untuk mereka kepada Allah Ta’ala. Maka sementara umat ini berdiri dalam keadaan sedih dan berduka tentang apa yang akan datang dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam dari sisi Rabbnya, tiba-tiba beliau shallallahu alaihi wa sallam keluar kepada mereka dari sisi Rabbnya hingga sampai kepada mereka, lalu berdiri di antara mereka. Maka mereka mengangkat kepala mereka dan memandang kepadanya. Ketika beliau shallallahu alaihi wa sallam melihat mereka, beliau mencucurkan air mata dengan tangisan. Ketika mereka melihat, maka setiap jiwa akan mendapatkan apa yang telah dikerjakannya dari kebaikan yang siap ada (Surat Ali Imran ayat 30). Itu adalah hari yang mengerikan, penuh kesulitan, hari yang membuat kepala-kepala beruban, jiwa-jiwa pergi, dan setiap jiwa merasakan apa yang telah dilakukannya, dan setiap umat maju dengan apa yang telah dikerjakannya, dan setiap ibu yang menyusui akan melupakan apa yang disusuinya. Demi Allah, setiap hamba dan budak wanita akan mendapatkan apa yang telah dikerjakan dan dikemukakan dari kebaikan berupa pahala, kenikmatan, kegembiraan yang kekal, dan Rabb yang Maha Pemurah, Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya, Maha Penyayang. Dan setiap hamba dan budak wanita akan mendapatkan apa yang telah dikerjakan dari kejahatan berupa kehinaan yang besar, neraka dan jahanam, azab yang kekal, siksaan yang pedih, dan Rabb yang murka lagi Maha Agung. Pada hari setiap jiwa mendapatkan apa yang telah dikerjakannya (Surat Ali Imran ayat 30).
160 – Pahala dan Hukuman
Yang taat mendapatkan pahala, dan yang fasik mendapatkan azab. Orang mukmin mendapatkan kelezatan pertemuan dengan memandang kepada Yang Maha Besar Maha Tinggi di negeri keabadian dan keagungan. Dan orang kafir mendapatkan azab dan siksaan, rantai dan belenggu, jahanam dan kemalangan, dan dahsyatnya kengerian. Pada hari setiap jiwa mendapatkan apa yang telah dikerjakannya (Surat Ali Imran ayat 30). Orang mukmin mendapatkan kenikmatan, kemuliaan, keamanan pada hari kiamat, kesejahteraan, keselamatan, dan tinggal di negeri yang kekal. Dan orang kafir mendapatkan kehinaan dan penyesalan, azab dan celaan. Pada hari setiap jiwa mendapatkan apa yang telah dikerjakannya (Surat Ali Imran ayat 30). Orang mukmin mendapatkan derajat-derajat, dan orang kafir mendapatkan hukuman-hukuman. Orang mukmin mendapatkan kegembiraan, dan orang durhaka mendapatkan kecelakaan. Orang mukmin mendapatkan kenikmatan dan keabadian, dan orang durhaka mendapatkan azab yang tidak ditolak. Dan orang mukmin mendapatkan apa yang telah dikerjakannya dari kebaikan di tingkatan-tingkatan surga dalam kedekatan dengan Yang Maha Pengasih bersama bidadari-bidadari yang baik. Dan orang durhaka mendapatkan apa yang telah dikerjakannya dari kemaksiatan di dalam panas api neraka dalam kedekatan dengan setan bersama kehinaan dan penghinaan.
Pada hari setiap jiwa mendapatkan apa yang telah dikerjakannya di hari yang menakutkan lagi agung, hari yang banyak kesedihan di dalamnya, dan kekhawatiran menjadi besar di dalamnya, dan Rabb memisahkan antara hamba-hamba-Nya, dan Dia Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri. Pada hari setiap jiwa mendapatkan (Surat Ali Imran ayat 30), hari menyesal atas perbuatan-perbuatan buruk, dan menyesal ketika menyaksikan aib-aib, dan amal-amal akan dijumpai di dalam lembaran-lembaran yang benar.
Pada hari setiap jiwa mendapatkan (Surat Ali Imran ayat 30), hari orang zalim menyesal, orang berdosa merugi, dan Yang Maha Perkasa pada hari itu menjadi Hakim yang Maha Adil. Itulah hari penyesalan, kesedihan, kengerian, dan pelajaran.
Dan mereka melantunkan syair:
Wahai Yang Esa, Yang Kekal, tanpa sekutu, kasihanilah permohonan hamba-Mu yang miskin
Dan kasihanilah aku ketika aku berdiri ketakutan, bingung di hadapan-Mu pada hari pembalasan
Wahai kesedihanku di antara para hamba ketika mereka takut akan hisab, maka mereka takut, kecuali aku
Apa dayaku pada hari lembaran amalku dibentangkan, ketika dikatakan kepadaku: Ambillah dengan bukan tangan kananmu
Apa dayaku saat hisab dan kegeramannya, ketika kekuatanku dan keyakinanku mengecewakan
Tidak ada daya bagiku dan tidak ada sandaran bagiku, jika harapanku mengkhianatiku dan baik sangkaku
Wahai Rabb, jangan biarkan hamba-Mu binasa, dan kasihanilah dengan karunia-Mu air mataku dan keadaanku
Pada hari setiap jiwa mendapatkan apa yang telah dikerjakannya dari kebaikan yang siap ada (Surat Ali Imran ayat 30), yaitu mendapatkannya hadir dan siap, dan kamu ditanya tentang amal-amalmu dengan pertanyaan yang keras. Dan apa yang telah dikerjakannya dari kejahatan, dia mengharapkan seandainya antara dirinya dan kejahatan itu ada jarak yang jauh (Surat Ali Imran ayat 30).
Dikatakan: Jarak yang jauh yang diharapkan oleh orang yang telah melakukan kejahatan dan mendurhakai Pemeliharanya bahwa antara dirinya dan amal buruknya seperti antara timur dan barat.
Dan dikatakan: Jarak yang jauh adalah batas dalam kejauhan yang dia berharap bahwa dia telah bertobat di dunia dan mengganti kejahatan dengan kebaikan sehingga kejahatan itu terhapus darinya dengan tobat, maka dia tidak melihatnya, tidak mendengarnya, dan tidak dihukum karenanya, ketika dia melihat orang-orang yang bertobat telah diampuni dengan tobat dan kejahatan mereka diganti dengan kebaikan dan kembalinya mereka, sebagaimana firman Allah Ta’ala: Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan lain bersama Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan hak, dan tidak berzina (Surat Al-Furqan ayat 68).
161 – Faedah Tobat
Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang bertobat. Maka ketika orang miskin yang telah melakukan kejahatan itu melihat kesedihan-kesedihan telah mengelilinginya, dan kekhawatiran serta masalah-masalah beruntun kepadanya, dan wajahnya menghitam karena kegelapan dosa-dosa, dan Yang Maha Mengetahui segala yang gaib telah murka kepadanya, dan dia melihat orang-orang yang bertobat dari saudara-saudaranya, keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan tetangga-tetangganya telah beruntung dengan kerajaan yang besar, hisab yang mudah, pakaian sutera dan brokat, dan memandang wajah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, dan dia melihat dirinya sendiri telah merugi, gagal, terhalang dari pahala, dihisab dengan keras, terhalang dari Rabb segala rabb, dan menjadi kepada azab yang pedih, dia berharap seandainya dia bertobat dan bukan dari mereka yang tidak mendapat rahmat. Dia berharap seandainya kejahatan itu jauh darinya dan bukan hadir dan siap, dan azab itu tidak keras atasnya.
Dia berharap seandainya dia termasuk orang-orang yang bertobat dan bukan dari orang-orang yang terhalang. Dia berharap seandainya dia termasuk orang-orang yang aman dan bukan dari orang-orang yang menyalahi. Dia berharap seandainya dia termasuk orang-orang yang taat dan bukan dari orang-orang yang durhaka. Dia berharap seandainya dia termasuk orang-orang yang berbuat baik dan bukan dari orang-orang yang zalim. Dia berharap seandainya dia termasuk penduduk surga dan bukan dari penduduk neraka. Dia berharap seandainya dia termasuk penduduk pahala dan bukan dari penduduk hukuman. Dia berharap seandainya dia termasuk penduduk kenikmatan dan bukan dari penduduk jahanam. Dia berharap seandainya dia termasuk para wali dan bukan dari orang-orang yang celaka.
Dia berharap seandainya dia termasuk penduduk keselarasan dan bukan dari penduduk kemunafikan.
Dia berharap seandainya dia termasuk penduduk kemenangan dengan surga dan bukan dari penduduk azab dan cobaan.
Dia berharap seandainya dia bahagia dan mendapat petunjuk, dan bukan jauh dari Allah.
Semoga Allah tidak menjauhkan kita dan kalian dari rahmat-Nya dan mendekatkan kita dan kalian dengan kemenangan menuju surga-Nya.
162 – Amal Hamba Melekat Padanya
Disebutkan dalam sebagian riwayat bahwa hamba ketika meninggal, seluruh amalnya dihadirkan di sisi kepalanya ketika dimandikan, baik atau buruk. Maka ketika dishalatkan dan pergi ke kuburnya, dan orang-orang pulang darinya, amalnya tetap bersamanya di kuburnya. Dan amal itu terus bersamanya di kuburnya hingga hari dia keluar dari kuburnya. Maka ketika dia keluar, amalnya keluar bersamanya. Ketika dia didatangkan untuk hisab, seluruh amalnya berkumpul, kebaikan dan keburukannya, hingga gerak-geriknya, napasnya, keselarasannya dan penyimpangannya, semuanya dijumpai terkumpul, tidak terlupa sedikitpun dari dosa-dosa besar maupun kecil, yang zahir maupun yang tersembunyi.
163 – Dorongan untuk Bertobat
Maka demi Allah, demi Allah, wahai orang-orang yang berdosa seperti aku, jauhkan diri kalian dari amal kejahatan dengan tobat kepada Yang Maha Pengasih, dan janganlah kehidupan dunia menipu kalian, karena ia adalah tipuan setan. Dan ketahuilah bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala menghapus dosa-dosa kalian dengan meninggalkan dosa-dosa dan tekad untuk bertobat, dan merahmati kalian pada hari hisab dengan baiknya kembalinya kalian.
Wahai saudaraku, wahai saudaraku, dan apa yang dapat aku katakan kepadamu tentang kemuliaan Pemeliharamu Yang Maha Agung? Seandainya dosa-dosa yang telah kamu kerjakan di hari-hari kejahatanmu dan kemaksiatanmu sebesar gunung-gunung dunia dengan pasirnya, laut-lautnya, dan sungai-sungainya, dan kamu bertobat satu kali tobat dengan tulus, menyesal, dan penuh penyesalan, niscaya Pemeliharamu Yang Maha Pemurah akan mengampuninya untukmu dengan kemuliaan dan karunia-Nya, dan kamu tidak akan ditanya tentangnya pada hari kiamat. Dan mereka melantunkan syair:
Dokter melarangmu dengan harapan agar tidak mati dari makanan yang jika kamu dapatkan tidak akan mematikanmu
Dan Allah Yang Maha Agung nama-Nya memerintahkanmu untuk meninggalkan dosa-dosa yang diharamkan
Maka kamu berpaling dari perintah-Nya dengan lalai, dan kamu merasa aman dari apa yang kamu takuti
Maka kamu membuat jiwamu berharap mendapat keridaan-Nya, dengan kebodohanmu terhadap karunia Dia yang telah kamu durhkai
Maka apa yang akan kamu katakan ketika kamu digusur untuk keluar dengan paksa lalu kamu menyerah
Maka tidak ada penyesalan yang mengurangi beban dosamu, dan tidak ada tobat yang membersihkan apa yang telah kamu perbuat
Dan kamu sendirian dalam liang lahat, jiwa menangis di dalamnya karena apa yang telah kamu lakukan
164 – Kandungan Ayat
Wahai para pelaku dosa, renungkanlah ayat ini karena di dalamnya terdapat ungkapan yang berkesan bagi siapa yang mengambil pelajaran, teguran bagi siapa yang mengambil ibrah, peringatan menakutkan bagi siapa yang merenungkannya, dan larangan bagi siapa yang memikirkannya.
Maka berpikir adalah ibadah, kebaikan, dan tambahan karena sesungguhnya Tuhan kalian Yang Maha Mulia telah menakut-nakuti kalian, mengancam kalian, dan menegur kalian dengan sangat keras dengan berfirman: “Pada hari ketika setiap jiwa mendapati segala kebajikan yang telah dikerjakannya dan segala kejahatan yang telah dikerjakannya dihadirkan, ia ingin sekiranya antara dirinya dengan hari itu ada jarak yang sangat jauh.” (Ali Imran: 30) Kemudian Allah berfirman: “Dan Allah memperingatkan kalian terhadap diri-Nya.” (Ali Imran: 30) Yakni Allah memperingatkan kalian akan siksa dan azab-Nya jika kalian mendurhakai-Nya, dan akan memberikan pahala yang berlimpah kepada kalian jika kalian menaati-Nya. Maka janganlah salah seorang di antara kalian meremehkan dosa sekecil apa pun, karena boleh jadi di dalamnya terdapat beratnya azab dan siksa. Dan janganlah salah seorang di antara kalian meremehkan kebaikan yang dikerjakannya meskipun sedikit, karena boleh jadi di dalamnya terdapat ridha dari Raja Yang Maha Pemberi.
Ketahuilah bahwa dosa yang diremehkan oleh pelakunya akan menjadi pada hari kiamat di dalam timbangan pelakunya lebih berat daripada gunung-gunung bumi. Maka tegahlah dirimu dari kesesatannya dan persiapkanlah dalam hidupmu untuk hari kefakiranmu.
Pada dasarnya dosa kecil menjadi sebab masuknya pelakunya ke dalam neraka.
Sesungguhnya hamba yang tertipu mengerjakan dosa dan meremehkannya serta tidak memikirkan kepada siapa dia bermaksiat, yaitu Yang Maha Perkasa yang Maha Agung keagungan-Nya. Pada saat itu Tuhannya murka kepadanya dan berfirman kepadanya: “Hamba-Ku, engkau meremehkan dosamu dan menyepelekan hak-Ku. Demi kemuliaan-Ku dan keagungan-Ku, sungguh Aku akan menyiksa dia karena itu dengan neraka.” Dan barangsiapa bertobat, maka Allah akan menerima tobatnya dan mengampuninya dengan tobat itu.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda: “Jauhilah kalian dari dosa-dosa yang diremehkan, karena sesungguhnya ada penuntut dari Allah untuk dosa-dosa itu.” Allah Subhanahu berfirman: “Pada hari ketika setiap jiwa mendapati segala kebajikan yang telah dikerjakannya dan segala kejahatan yang telah dikerjakannya” (Ali Imran: 30) ayat tersebut.
Dan mereka melantunkan syair:
Kaum itu telah pergi ke pesta pernikahannya … sementara mayit disiksa dalam kuburannya
Jiwa tergadai dengan amal-amalnya … tidak merasa aman akan dibebaskan dari penjara
Untuk dirinya, perbaikilah amal-amalnya … dan selain ini adalah atas dirinya sendiri
165 – Kisah tentang Salah Seorang Orang Saleh
Diceritakan bahwa Manshur bin Ammar rahimahullah masuk menemui Abdul Malik bin Marwan. Abdul Malik berkata kepadanya: “Wahai Manshur, aku punya pertanyaan dan aku telah memberimu waktu satu tahun penuh: siapakah orang yang paling berakal dan siapakah orang yang paling bodoh?” Manshur keluar menuju sebagian lapangan dari istana untuk pergi, tiba-tiba jawaban telah hadir kepadanya. Maka dia kembali kepada Abdul Malik. Abdul Malik berkata kepadanya: “Wahai Manshur, apa yang mengembalikanmu kepada kami?” Dia menjawab: “Wahai Amirul Mukminin, orang yang paling berakal adalah orang yang berbuat baik namun takut, dan orang yang paling bodoh adalah orang yang berbuat jahat namun merasa aman.”
Maka Amirul Mukminin menangis hingga membasahi pakaiannya dengan air matanya, kemudian berkata: “Engkau benar demi Allah, wahai Manshur.” Kemudian berkata kepadanya: “Bacakanlah kepadaku sesuatu dari Kitabullah, karena ia adalah obat bagi apa yang ada di dalam dada, ia adalah obat dan cahaya.”
Maka dia membaca: Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. “Pada hari ketika setiap jiwa mendapati segala kebajikan yang telah dikerjakannya” (Ali Imran: 30) ayat tersebut.
Abdul Malik berkata: “Engkau telah membunuhku wahai Manshur.” Kemudian dia pingsan. Ketika sadar, dia bertanya: “Wahai Manshur, apa makna ‘dan Allah memperingatkan kalian terhadap diri-Nya’?” (Ali Imran: 30) Manshur menjawab: “Hukuman-Nya wahai Amirul Mukminin.” Maka Abdul Malik menangis, kemudian sadar lalu menangis lagi. Kemudian berkata: “Wahai Manshur, apa makna ‘Maha Pengasih kepada hamba-hamba-Nya’?” (Ali Imran: 30) Dia menjawab: “Maha Penyayang, Maha Pengampun bagi siapa yang bertobat dan kembali.” Dia bertanya: “Dan apa makna ‘apa yang telah dikerjakannya dari kebajikan dihadirkan’?” (Ali Imran: 30) Dia menjawab: “Setiap yang kecil dan besar akan didapati hamba pada hari kiamat, tidak ada yang diampuni Allah dari itu sedikitpun.”
Maka Abdul Malik menangis hingga pingsan. Ketika sadar, dia berkata:
166 – Kelembutan Hati Abdul Malik bin Marwan
Demi Allah, barangsiapa merenungkan ayat ini kemudian bermaksiat kepada Tuhannya setelah itu, sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang jauh. Dan mereka melantunkan syair:
Aku menangis atas besarnya dosa-dosa dan banyaknya … padahal betapa sedikitnya orang yang menangis karena besarnya pertanyaannya
Pikirkan tentang besarnya pertanyaan dan dahsyatnya … dan ratapi sepanjang masa bertambahnya kejelekan perbuatannya
Semoga Tuhan Arasy merahmati hamba-Nya … dan menganugerahkan kepadanya di hari Mahsyar panjangnya pertemuan dengan-Nya
Dan mengampuni apa yang telah ada dalam panjangnya kejahilannya … dan menempatkanya dengan pengampunan di rumah keagungan-Nya
Dan jika Tuhan Yang Maha Agung melihat keagungan-Nya … maka itulah yang besar dari limpahan pemberian-Nya
“Setiap jiwa akan mendapati apa yang telah dikerjakannya dari kebajikan dihadirkan” (Ali Imran: 30). Demi Allah, setiap jiwa akan mendapati apa yang telah dikerjakannya di hari-hari yang lalu dari ketaatan dan kejahatan.
Itulah hari musibah, hari bencana, dan hari keajaiban.
Hari disingkapnya tabir-tabir, hari dinyalakannya neraka, hari beruntungnya orang-orang yang berbakti dan menyesalnya orang-orang yang durhaka, serta dihadapkannya para hamba kepada Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.
Maka sungguh mengherankan sekali orang yang menghabiskan umurnya dalam kelalaian, menyia-nyiakan hari-harinya dalam kemustahilan, dan menghabiskan masa mudanya dalam kesesatan, serta tidak mengamalkan apa yang ada dalam kitab Dzat Yang Memiliki Kemuliaan dan Keagungan. Allah Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi berfirman: “Pada hari ketika setiap jiwa mendapati segala kebajikan yang telah dikerjakannya dihadirkan” (Ali Imran: 30). Allah taala berfirman: “Wahai anak Adam, engkau mencari nasihat sesaat namun menetap di atas dosa selama setahun.” Dan mereka melantunkan syair:
Mengapa hatimu terperdaya dengan kelezatan … dan tidak menyesal atas kehilangan kebenaran perbuatan
Padahal Yang Maha Perkasa Pencipta kita telah mengancamnya … dan dengan dosa-dosa dan kemaksiatan dia terpedaya
167 – Teguran Allah taala kepada Para Hamba
Disebutkan dalam sebagian riwayat bahwa Allah Tabaraka wa Taala berfirman dalam sebagian kitab-Nya yang diturunkan kepada para nabi-Nya: “Wahai hamba-Ku, apa yang membuatmu tidak berminat kepada-Ku dan berminat kepada selain-Ku? Hamba-Ku, Aku mendekat kepadamu namun engkau lari dari-Ku, Aku mencarimu namun engkau kabur dari-Ku. Hamba-Ku, Aku bentangkan untukmu tipu daya dunia lalu engkau sibuk dengannya sehingga melupakanku, engkau lebih mengutamakannya daripada-Ku, dan engkau tidak berminat kepada luasnya rahmat-Ku. Apakah begini yang dilakukan orang-orang yang taat kepada tuan-tuan mereka yang berbuat baik kepada mereka? Hamba-Ku, siapakah yang menutupi dan menjagamu serta melindungi dan menjagamu? Apakah engkau memiliki persekutuan dalam dirimu bersama-Ku, ataukah engkau memiliki kekuatan dengan dirimu sendiri atas-Ku? Hamba-Ku, apa yang membuatmu malas dari beribadah kepada-Ku, apa yang membuatmu tidak berminat dalam ketaatan kepada-Ku? Di manakah engkau dari perusak kelezatan-kelezatan? Di manakah engkau dari tangisan ayah dan ibu? Di manakah engkau dari yang memisahkan antara anak laki-laki dan perempuan? Di manakah engkau dari yang tidak meminta izin kepada penghuni istana dan tidak minta pendapat kepada pemilik rumah? Di manakah engkau dari yang mematahkan orang-orang yang sombong yang ditugaskan mengambil roh makhluk? Hamba-hamba-Ku, bukankah telah lenyap jejak orang-orang yang telah berlalu, terhapus tanda-tanda orang-orang terdahulu, dan yang masih ada mengikuti jejak mereka?
Siapakah yang mampu berdiri dengan keabadian masa selain Aku? Dan siapakah yang bermanfaat dengan kelanggengan selamanya selain Aku? Gunung-gunung yang kokoh, bukit-bukit yang tinggi, dan lautan yang meluap telah tidak mampu mencapai keabadian.
Akulah yang bersendiri dengan kebaqa’an dan Aku yang menghukumi para hamba-Ku dengan kefanaan. Aku adalah Allah, tiada tuhan selain Aku, tiada sekutu bagi-Ku dalam kerajaan-Ku, tiada yang setara dengan-Ku dalam hukum-Ku, dan tiada lawan bagi-Ku dalam kekuasaan-Ku.”
Dan mereka melantunkan syair:
Adapun demi Dzat yang tidak ada yang kekal kecuali wajah-Nya … dan yang tidak ada dalam kemuliaan yang perkasa bagi-Nya yang setara
Jika kehidupan ini pahit rasanya … sungguh akan dipetik dari yang buruknya buah yang manis
168 – Pertanyaan Tidak Melewatkan Zarrah
Ketahuilah bahwa Allah Tabaraka wa Taala akan menanyai kalian tentang yang besar dan kecil, yang tersembunyi dan yang ada di dalam hati, dan tentang segala sesuatu yang sedikit dan yang kecil dan yang besar. Tidak lalai dari sesuatu pun. Hamba akan mendapati apa yang telah dikerjakannya hadir dan akan diberi balasan dengannya secara sempurna, serta akan ditanya tentang apa yang dikerjakannya secara tersembunyi dan terang-terangan. “Pada hari ketika setiap jiwa mendapati segala kebajikan yang telah dikerjakannya dihadirkan” (Ali Imran: 30). Demi Allah, akan mendapati yang sedikit dan banyak, yang sangat kecil, zarrah, dan selaput biji kurma.
Dan mereka melantunkan syair:
Demi Allah, seandainya kita menangis sepanjang hari … dengan air mata yang bercucuran deras
Dan kita lari dari keluarga dan tanah air … menuju gunung-gunung dan bukit-bukit
Karena takut dari keadaan itu, niscaya itu bagi kita sedikit, karena takut dari pertanyaan Raja Yang Maha Mengetahui.
Bagaimana lagi sementara kita tidak bangun dari kelalaian, tidak terbangun dari kemabukan, tidak takut pada suatu hari di mana kita akan mendapati kebaikan dan kejahatan, dan kita akan ditanya tentang kezaliman dan tanggungan. Sebagaimana firman Dzat yang menciptakan bumi dan langit: “Pada hari ketika setiap jiwa mendapati segala kebajikan yang telah dikerjakannya dihadirkan” (Ali Imran: 30).
169 – Pertanyaan Allah taala kepada Para Hamba
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah taala akan menyendiri dengan hamba-Nya pada hari kiamat, tidak ada hijab antara Dia dan hamba itu. Dia berfirman kepadanya: ‘Hamba-Ku, engkau mengerjakan ini dan itu pada hari ini dan itu. Tidakkah engkau tahu bahwa Aku melihatmu? Wahai hamba-Ku, apakah engkau menjadikan-Ku sebagai yang paling hina di antara yang melihatmu? Tidakkah engkau malu kepada-Ku? Tidakkah engkau malu kepada malaikat-malaikat-Ku? Tidakkah engkau takut dari azab-Ku? Hamba-Ku, Aku memberimu minum dari air yang sejuk, menguatkan tubuhmu, dan melapangkan kepadamu dari luasnya pemberian-Ku, namun engkau mendurhakai-Ku.’ Hingga hamba itu meleleh karena malu kepada Allah dan keringat membasahinya sampai dia hampir mati karena ketakutan. Kemudian hamba itu berkata: ‘Ya Rabb, neraka lebih ringan bagiku daripada maluku dari-Mu dan dari para hamba.’
Maka Allah taala memerintahkan dia ke neraka, lalu hamba itu berjalan sambil menundukkan kepalanya dan berkata: ‘Ya Rabb, demi kemuliaan-Mu dan keagungan-Mu, aku tidak bermaksiat dengan semua ini karena menyepelekan hak-Mu, dan aku tidak menyangka tentang-Mu kecuali bahwa Engkau akan mengampuniku sebagaimana Engkau menutupi kesalahanku di dunia. Dan aku yakin bahwa kemaksiatanku itu tidak membahayakan-Mu dan sesungguhnya rahmat-Mu tidak mengurangi-Mu.’
Maka Allah Tabaraka wa Taala berfirman: ‘Hamba-Ku, engkau benar, engkau tidak memutuskan harapanmu dari rahmat-Ku. Maka demi kemuliaan-Ku dan keagungan-Ku, sungguh Aku akan mengampunimu hari ini. Wahai malaikat-malaikat-Ku, bawalah hamba-Ku ke surga.’
Dan di antara para hamba ada yang berkata: ‘Ya Rabb, azab bagiku lebih ringan daripada teguran-Mu kepadaku. Kirimkanlah aku ke neraka sebagaimana dilakukan kepada hamba yang melarikan diri dari tuannya.’
Maka Allah Tabaraka wa Taala berfirman: ‘Hamba-Ku, Aku tidak menegurmu kecuali agar engkau mengetahui bahwa dosa-dosamu ada di hadapan-Ku ketika engkau mendurhakai-Ku dengan dosa-dosa itu, dan Aku jadikan teguran-Ku kepadamu sebagai penghapus dosa-dosamu, dan Aku telah mengampuninya untukmu, dan Aku telah merahmamimu, dan Aku adalah Maha Penyayang di antara para penyayang. Bawalah hamba-Ku ke surga.'”
Allah menjadikan kita dan kalian semua dari penduduk surga dan mewafatkan kita dengan rahmat-Nya sebagai orang-orang muslim, dan menutup bagi kita ketika berpisah dari dunia dengan husnul khatimah dan kalimat takwa, yaitu Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan atas keluarganya, serta dimuliakan dan diagungkan, serta mengumpulkan kita bersama beliau di maqam yang paling agung bersama para sahabat dan istri-istrinya yang mulia, para ibu orang-orang beriman. Aamiin ya Rabbal alamin.
۞۞۞۞۞
6 – Majelis Kedua tentang Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala “Pada hari itu setiap jiwa akan mendapati apa yang telah dikerjakannya berupa kebaikan yang dihadirkan”
170
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Pada hari itu setiap jiwa akan mendapati apa yang telah dikerjakannya berupa kebaikan yang dihadirkan” (Surat Ali Imran: 30)
Orang mukmin akan mendapati kebaikan-kebaikan di dalam istana-istana surga dan bangunan-bangunan yang tinggi dan bidadari serta derajat-derajat tinggi dan melihat kepada Tuhan yang menguasai bumi dan langit. Orang yang taat akan mendapati kabar gembira, dan orang yang durhaka akan mendapati neraka yang besar. Orang mukmin akan mendapati keamanan bersama kegembiraan dan keridhaan, dan orang yang durhaka akan mendapati kehinaan bersama kerendahan dan kerugian. Orang mukmin akan mendapati kerajaan yang melimpah bersama pahala dan keutamaan serta sungai-sungai Salsabil dan melihat wajah Sang Raja Yang Mahamulia. Dan orang yang durhaka akan mendapati ratapan dan tangisan serta kesedihan yang terus-menerus dan panjang dan siksaan yang keras lagi berat. Orang mukmin akan mendapati keselamatan dan pemuliaan dan kekhususan, dan orang yang durhaka akan mendapati siksa dan beratnya hukuman.
Orang mukmin pada hari kiamat akan dirahmati, dan orang durhaka akan dilempari dengan laknat.
Orang mukmin ketika hisab akan ditutupi (aibnya), dan orang durhaka ketika ditanya akan dipertontonkan.
Orang mukmin ketika hisab akan diperlakukan dengan lemah lembut, dan orang durhaka ketika ditanya akan diungkap (aibnya).
Hisab orang mukmin adalah teguran, dan pertanyaan kepada orang durhaka adalah siksa.
Orang mukmin akan mendapati dari Tuannya rahmat, dan orang durhaka akan mendapati dari Allah azab.
Hisab orang mukmin itu mudah, dan hisab orang durhaka itu sulit.
Orang mukmin akan mendapati pakaiannya berupa sutera surga, dan orang durhaka pakaiannya berupa jubah dari ter.
Orang mukmin akan mendapati amalnya sebagai kegembiraan, dan orang durhaka akan mendapati amalnya sebagai celaka dan kehancuran.
Orang mukmin akan mendapati penyambungan (dengan Allah), dan orang durhaka akan mendapati perpisahan.
Orang mukmin akan mendapati keselamatan dan kebebasan, dan orang durhaka akan mendapati kehinaan dan kebinasaan.
Orang mukmin bersama Muhammad sang Nabi, dan orang durhaka bersama setan yang menyesatkan.
Orang mukmin di wajahnya ada cahaya kenikmatan, dan orang durhaka di wajahnya ada kegelapan neraka Jahim.
Orang mukmin dalam hisab dalam keadaan terpuaskan, dan orang durhaka di tempat berhenti dalam keadaan kehausan.
Mereka membacakan syair:
Engkau yang diseru, wahai manusia,
Maka dengarlah kepadaku, agar bukti itu jelas bagimu.
Aku menitipkan sesuatu yang jika aku katakan kepadamu, engkau akan berkata kepadaku,
Ini semua demi umurmu adalah omong kosong.
Maka lihatlah kepada akalmu dari perkataanmu dan ambillah pelajaran,
Kesempurnaan pembuatannya, karena di situ letak perkara.
Dan balasan kebaikan perbuatan mereka di hari pengumpulan mereka,
Di sisi Allah dan di sisi-Nya ada keridhaan.
Ini demi umurku adalah perkara yang jelas yang tidak tersembunyi,
Perkataan Rasul dan Al-Quran telah menjelaskan.
171 – Hikmah Qudsiyah
Disebutkan dalam beberapa hikmah yang diturunkan kepada para nabi alaihimus shalatu was salam: Sungguh mengherankan orang yang tidak merahmati dirinya sendiri, bagaimana ia akan merahmati (orang lain). Dan sungguh mengherankan orang yang terus-menerus dalam kemaksiatan, bagaimana ia mengharapkan kesudahan yang baik. Dan sungguh mengherankan orang yang mengerjakan amalan-amalan api neraka, sedangkan ia meminta kenikmatan surga.
Seolah-olah engkau wahai saudaraku telah mendekati hari pemaparan dan hisab, dan berdiri di hadapan Sang Raja Yang Maha Pemberi, lalu Dia memerintahkan tentang engkau menuju surga dan kesudahan yang baik atau menuju neraka dan siksa yang pedih.
Renungkanlah semua ini wahai orang yang tertipu, semoga kekerasan hati itu lenyap dari hatimu dan sumbatan itu hilang dari pendengaranmu dan penutup itu terangkat dari penglihatan hatimu, karena sesungguhnya bukan mata yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada.
Maka lihatlah wahai saudaraku dengan cahaya pikiranmu dan lepaskanlah nasihat di atas lautan air matamu, semoga mata itu menangis dan semoga hati itu lembut dan khusyu’. Maka apabila air mata mengalir dan hati-hati menjadi khusyu’, maka dosa-dosa akan terhapus dan engkau akan mencapai harapan dan keinginan, dan hisabmu akan dimudahkan oleh Sang Maha Mengetahui yang gaib.
Mereka membacakan syair:
Ingatlah tinggalku di dalam tanah,
Hingga aku dipanggil untuk hisab.
Semua bencana itu ringan di sisiku,
Dan demikian pula kehilangan masa muda.
Semoga aku tahu, berapa lama aku tinggal,
Di bawah tanah atau kapan kepulanganku.
Seandainya aku memiliki akal, tidaklah menyenangkanku,
Tidurku dan tidak enak bagiku minumanku.
Dan aku tidak akan tertawa, padahal aku tidak tahu,
Apa yang ada padaku di sisi Allah berupa hisab.
172 – Panggilan dengan Nama-nama Makhluk
Disebutkan dalam beberapa berita bahwa para makhluk apabila berdiri di tanah hari kiamat, maka setiap hamba laki-laki dan perempuan akan berdiri ketika penyeru memanggil dengan namamu wahai orang yang tertipu di hadapan orang-orang terdahulu dan kemudian: Di mana si fulan bin fulan atau di mana si fulanah binti fulan? Kemarilah untuk hisab di hadapan Tuhan semesta alam.
Maka tetaplah dalam pendengaranmu wahai orang yang malang bahwa engkau adalah yang dipanggil dari semua makhluk. Lalu engkau berdiri di atas kedua kakimu, telah berubah karena ketakutan warnamu dan tercabut karena kecemasan hatimu dan bergetarlah karena ketakutan persendianmu. Dan telah mendengar orang-orang yang ada di sekitarmu desisan hatimu yang berdebar-debar dan anggota tubuhmu telah sangat berguncang, hampir saja nyawamu terlepas karena takut kepada Sang Maha Pengasih.
Maka apabila malaikat yang ditugaskan untuk menggiring engkau melihat telah berubah warnamu dan bingung akalmu, ia tahu bahwa engkaulah yang dipanggil dengan namanya. Maka apabila engkau dari golongan orang-orang munafik dan durhaka kepada Sang Raja Pencipta, ia melihat di wajahmu kegelapan dosa-dosa, maka ia tahu bahwa engkau adalah musuh bagi Sang Maha Mengetahui yang gaib. Lalu ia menyatukan antara ubun-ubunmu dan kedua kakimu karena marah untuk kemarahan Allah atasmu.
173 – Golongan yang Mendapat Petunjuk dan Taufik
Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Orang-orang yang berdosa dikenal dari tanda-tanda mereka, lalu dipegang ubun-ubun dan kaki-kaki mereka” (Surat Ar-Rahman: 41)
Dan jika engkau dari golongan yang mendapat petunjuk dan taufik serta kebenaran, yaitu orang-orang yang menepati janji kepada Allah dan takut kepada Tuhan mereka Rabb semua hamba, malaikat akan mengambil tanganmu dan membimbingmu, melewatimu dengan kelembutan. Dan para makhluk mengangkat pandangan mereka kepadamu dan mereka berangan-angan seperti apa yang telah Allah berikan kepadamu. Dan engkau berjalan menuju Tuhanmu agar Dia membalasmu dengan usahamu dan berlaku adil atasmu dengan perbuatanmu.
Maka ketika malaikat sampai denganmu kepada sultan keagungan, jika engkau dari golongan orang yang beramal saleh di dunia, Allah Jalla Jalaluhu akan menutupimu dengan cahaya dan menampakkan bagimu kabar gembira dan kegembiraan, serta mendekatkanmu dan membuat kasih sayang kepadamu, memuliakanmu dan bersikap baik kepadamu. Maka tidak akan melihat kepada hisabmu seorang malaikat pun, tidak nabi dan tidak rasul kecuali Sang Raja Yang Maha Perkasa yang tidak berubah dan tidak lenyap.
Lalu Dia berfirman kepadamu: Hamba-Ku, engkau adalah orang yang dulu begadang sedangkan para hamba tidur, dan berpuasa sedangkan para hamba kenyang, dan menangis sedangkan para hamba tertawa, dan bersedih sedangkan para hamba bergembira, dan takut kepada-Ku sedangkan para hamba merasa aman. Engkau adalah orang yang dulu bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada-Ku sedangkan para hamba bermalas-malasan, dan bersedekah sedangkan para hamba kikir, dan berbuat kebaikan di antara hamba-hamba-Ku sedangkan manusia menghalangi.
Sang Tuhan Jalla Jalaluhu berfirman: Maka demi keagungan-Ku dan kemuliaan-Ku dan kerajaan-Ku dan kejayaan-Ku dan kebesaran-Ku dan keagungan kekuasaan-Ku dan kekuatan-Ku atas semua hamba, sungguh Aku akan menenangkan ketakutanmu dan Aku akan memberimu izin memasuki surga-Ku dan Aku akan meluaskan bagimu ampunan-Ku dan rahmat-Ku, dan Aku akan memberimu dari pahala-Ku yang melimpah dan kesudahan yang baik apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terbetik di hati manusia.
Dan Aku akan memberimu izin untuk melihat wajah-Ku, dan Aku akan mengangkat derajatmu dan kedudukanmu, dan Aku akan memberi syafa’at bagimu untuk saudara-saudaramu dan keluargamu dan orang-orang yang engkau cintai dan tetangga-tetanggamu dari golongan orang yang berdosa dan berbuat kesalahan.
174 – Syafa’at Hamba yang Mukmin
Sang Tuhan Jalla Jalaluhu berfirman: Wahai hamba-Ku, keluarlah ke tempat berkumpulnya manusia dan lihatlah kepada orang yang menemui-Ku dari golongan orang yang berdosa dengan tauhid, sesungguhnya Aku telah memberi syafa’at bagimu untuknya. Ambillah tangannya dan pergilah bersamanya menuju surga tanpa rasa takut dan tidak pula bersedih hati. Wallahu Ta’ala A’lam.
Mereka membacakan syair:
Berpalinglah daripadaku, karena kelezatan bukanlah kesibukanku,
Dan tidak pula jalan masa muda dan hiburan dari jalanku.
Ketakwaan menghalangi dari apa yang telah kau ketahui,
Maka aku tidak ada darinya dalam kesesatan dan tidak pula dalam kesalahan.
Di dalam mahsyar aku memiliki kesibukan dari setiap orang yang sibuk,
Dengan kelezatan dan dari pandangan dan mata.
Inilah kelopak mata yang terkuak dari mataku dan menghilangkan,
Dariku harapan dan melipat yang terbentang dari amalku.
Berapa banyak malam aku menghabiskannya dalam begadang dan insomnia,
Aku takut akan hukuman dan aku takut akan cepatnya ajal.
Allah Ta’ala berfirman: “Pada hari itu setiap jiwa akan mendapati apa yang telah dikerjakannya berupa kebaikan yang dihadirkan, dan apa yang telah dikerjakannya berupa keburukan, ia berharap seandainya antara dia dan hari itu ada jarak yang jauh. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap (azab) diri-Nya. Dan Allah Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya” (Surat Ali Imran: 30)
Maha Penyayang demi Allah kepada orang-orang mukmin, Pemilik azab atas orang-orang zalim. Maha Penyayang kepada ahli kebaikan dan Pemilik balas dendam dari ahli kemaksiatan. Maha Penyayang kepada ahli kebenaran dan Pemilik balas dendam dari ahli keras kepala.
Wahai orang yang tertipu, renungkanlah ayat ini karena di dalamnya bagimu ketakutan yang sangat dan dari teguran keras dan kecaman batas akhir. Maka tegarlah dirimu dari hawa nafsunya, semoga engkau mencapainya pada hari pemaparan harapannya.
175 – Hikayat tentang Dzun Nun Al-Mishri
Diceritakan dari Dzun Nun Al-Mishri bin Ibrahim Al-Akhmimi rahimahullahu ta’ala alaihi bahwa ia berkata: Aku keluar suatu ketika dari beberapa kali menuju ke arah Yordania dari tanah Syam. Maka ketika aku naik ke lembah, tiba-tiba aku melihat sesuatu yang hitam telah datang dan ia berkata: “Dan tampak bagi mereka dari Allah apa yang tidak pernah mereka duga-duga” (Surat Az-Zumar: 47)
Maka ketika yang hitam itu mendekat kepadaku, ternyata ia adalah seseorang. Aku memperhatikannya, ternyata ia adalah seorang wanita yang mengenakan jubah wol dan kerudung dari wol, dan di tangannya ada tempat air dan di tangan yang lain ada tongkat. Lalu ia berkata kepadaku tanpa takut kepadaku: Siapa engkau? Aku berkata kepadanya: Seorang laki-laki asing. Maka ia berkata: Wahai orang ini, apakah ada keterasingan bersama Allah, sedangkan Dia adalah penghibur orang-orang asing dan penolong orang-orang lemah? Maka jadikanlah Dia sebagai penghiburmu ketika engkau merasa kesepian dan pembimbingmu ketika engkau tersesat dan temanmu ketika engkau membutuhkan.
Dzun Nun berkata: Maka aku menangis karena perkataannya. Lalu ia berkata: Mengapa engkau menangis? Aku berkata kepadanya: Obatmu mengenai penyakitku dan aku berharap semoga itu menjadi sebab kesembuhanku. Ia berkata: Maka jika engkau benar dalam perkataanmu, mengapa engkau menangis? Aku berkata kepadanya: Semoga Allah merahmatimu, apakah orang yang jujur tidak menangis? Ia berkata: Tidak. Aku berkata kepadanya: Mengapa orang yang jujur tidak menangis? Aku berkata kepadanya: Karena tangisan adalah kenyamanan hati dan tempat berlindung yang dia berlindung kepadanya, dan tidak ada yang lebih panas di hati selain desahan dan isak tangis, dan itu lemah di sisi kekasih-kekasih-Nya.
Dzun Nun berkata: Maka demi Allah aku tetap terkagum-kagum dengan perkataannya. Lalu ia berkata kepadaku: Ada apa denganmu? Aku berkata: Aku demi Allah terkagum-kagum dengan perkataanmu. Ia berkata: Apakah engkau lupa luka yang kau sebutkan? Ia berkata: Aku berkata kepadanya: Semoga Allah merahmatimu, jika engkau mau memberikan kepadaku tambahan.
Lalu ia berkata: Apa yang telah diajarkan oleh Sang Maha Bijaksana kepadamu dalam keberadaanmu di hadapan-Nya dari faedah-faedah, itu sudah cukup untukmu dari mencari tambahan. Ia berkata: Aku berkata kepadanya: Semoga Allah merahmatimu, aku tidak cukup dari mencari tambahan. Ia berkata: Engkau benar wahai orang yang malang. Cintailah Tuanmu dan rindulah kepada-Nya, karena sesungguhnya Dia memiliki suatu hari di mana Dia akan memberikan kepada kekasih-kekasih-Nya cangkir yang setelahnya mereka tidak akan pernah haus selamanya.
Kemudian meninggi tangisannya, lalu ia berkata: Wahai kekasih hatiku, sampai kapan Engkau menunda aku di rumah yang aku tidak mendapati di dalamnya orang yang jujur yang bersih dari tuntutan-tuntutan yang dusta, yang membantuku menangis atas hari-hari hidupku.
Kemudian ia meninggalkanku dan turun ke lembah dan ia berkata: Ya Allah, kepada-Mu, bukan kepada neraka, hingga hilang sosoknya dari penglihatanku dan terputus suaranya dari pendengaranku.
Dzun Nun berkata: Maka demi Allah, tidaklah aku teringat perkataannya melainkan ia mengeruhkan isi perutku dan kehidupanku.
Dzun Nun berkata: Sungguh ia telah mendidikku dan keadaanku menjadi lurus sejak aku melihatnya.
Mereka membacakan syair:
Aku menginginkan dan Engkau mengetahui apa keinginanku,
Dan Engkau mengetahui apa yang bergolak di dalam dadaku.
Maka berikanlah kepadaku kehinaanku dan ampunilah dosa-dosaku,
Dan maafkanlah aku dengannya pada hari panggilan.
176 – Kembali kepada Nasihat
Wahai saudaraku, mengapa engkau tidak memikirkan perkataan Tuhanmu yang senantiasa menjadi saksi atasmu, Dia mendengarmu dan melihatmu, yaitu firman-Nya: “Pada hari itu setiap jiwa akan mendapatkan segala kebaikan yang telah dikerjakannya terbukti di hadapannya. Dan terhadap kejahatan yang telah dikerjakannya, ia berharap seandainya antara ia dengan kejahatan itu ada jarak yang jauh.” (Ali Imran: 30)
Ketuklah wahai orang malang dengan kalimat ini pintu hatimu, semoga engkau dapat menghilangkan gembok-gemboknya dan mengembalikannya dari kesesatan dan hal-hal yang mustahil, serta membangunkannya dari kelalaian dan ketidakpedulian. Allah Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi berfirman: “Maka tidakkah mereka menghayati Al-Quran, ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad: 24). “Pada hari itu setiap jiwa akan mendapatkan segala kebaikan yang telah dikerjakannya terbukti di hadapannya.” (Ali Imran: 30) Hari ketika yang tersembunyi dari perbuatanmu tampak, hari ketika engkau menangis atas keburukan tindakanmu, hari ketika orang yang berbuat jahat diberi balasan atas ucapannya, hari ketika engkau meratapi dosa-dosamu dan kesesatanmu.
177 – Jahanam dan Kekerasan Siksaannya
Disebutkan bahwa ketika seluruh makhluk berkumpul di padang Mahsyar, tempat yang luas menjadi sempit, ketakutan menjadi sangat besar, kegemparan meningkat, langkah-langkah menjadi kacau, desakan bertambah banyak, dan Jahanam datang dengan kengerian yang paling besar dan azab yang kekal dan mengikat. Ia berdiri di hadapan Yang Maha Perkasa dalam keadaan tunduk kepada Raja Yang Maha Memaksa. Kemudian Yang Maha Perkasa—Maha Agung keagungan-Nya—memerintahkan agar pintu-pintunya dibuka dan setiap tirai yang menutupinya diangkat. Jahanam memiliki tujuh pintu, pada setiap pintu terdapat tujuh ratus ribu tirai atau hijab.
Seandainya tidak ada tirai-tirai itu, niscaya langit beserta isinya dan bumi beserta isinya akan terbakar. Ketebalan setiap tirai adalah perjalanan lima ratus tahun. Ketika pintu-pintu itu dibuka, tirai-tirai diangkat darinya, dan Jahanam melontarkan minyak nafta, ter, dan batu belerang. Keluar darinya leher api berwarna hitam yang menyambar dari padang Mahsyar setiap emas, perak, permata yakut, zamrud, dan mutiara yang dipersiapkan untuk perhiasan dunia.
178 – Perhiasan Dunia yang Fana
Api mengambil semuanya dan mengumpulkannya, sementara Yang Maha Perkasa—Maha Agung keagungan-Nya—berfirman kepadanya: “Tinggalkan apa yang bukan untuk Kami.” Maka setiap perhiasan yang tidak dimaksudkan untuk wajah Allah taala diambil oleh api. Seorang penyeru berseru kepada pemiliknya: “Inilah perhiasan kalian yang telah menyibukkan kalian dari ketaatan kepada Allah azza wa jalla, yang kalian utamakan daripada apa yang ada di sisi Allah, dan kalian tidak mengikuti jalan para nabi serta jalan orang-orang saleh.”
Kemudian penyeru itu menyeru: “Ikutilah perhiasan kalian!” Maka keluarlah leher api sekali lagi dan menyambar pemiliknya kecuali orang yang dirahmati Allah.
179 – Petir Jahanam
Pada saat itu setiap hamba dan sahaya berkata: “Seandainya semua ini kujadikan untuk Allah! Seandainya ini tidak bersamaku! Seandainya ini jauh dariku!” Kemudian Allah taala memerintahkan agar petir dari Jahanam yang berwarna hitam naik, lalu menghitamkan wajah-wajah sekelompok laki-laki dan perempuan, membutakan mata sekelompok laki-laki dan perempuan, dan menutup mulut sekelompok laki-laki dan perempuan. Itulah firman Allah azza wa jalla: “Pada hari itu ada wajah-wajah yang putih berseri dan ada wajah-wajah yang hitam muram.” (Ali Imran: 106)
Wahai saudaraku, wahai orang malang, wahai yang lemah keyakinannya seperti diriku, apakah engkau akan termasuk golongan yang mana? Apakah dari orang-orang yang wajahnya diputihkan dalam rahmat Raja Yang Maha Penyayang, ataukah dari orang-orang yang wajahnya dihitamkan dalam siksa yang pedih? Apakah engkau akan termasuk orang-orang yang wajahnya diputihkan dengan rahmat ataukah orang-orang yang wajahnya dihitamkan dengan murka? Setiap orang yang wajahnya menghitam telah yakin dengan api neraka, dan setiap orang yang wajahnya memutih telah yakin bahwa ia termasuk penghuni negeri kekekalan. Betapa besarnya kegembiraan itu! Dan betapa abadinya musibah itu!
Ketika kehitaman turun di wajah orang yang dikehendaki Allah Tabaraka wa Taala, kehitaman itu menjadi hijab antara dia dan melihat wajah Tuhannya. Dan ketika keputihan turun di wajah orang yang dikehendaki Allah Tabaraka wa Taala untuk memutihkan wajahnya, cahaya itu mengangkat hijab dosa yang menghalangi hamba dari melihat wajah Alimul Ghuyub (Yang Maha Mengetahui yang gaib).
180 – Orang yang Wajahnya Diputihkan
Hal itu karena keputihan adalah cahaya pengampunan, cahaya rahmat, cahaya kedekatan, dan cahaya perjumpaan. Sedangkan kehitaman adalah kehitaman kejauhan, kehitaman perpisahan, kehitaman siksaan, kehitaman murka, dan kehitaman penghalang. Allah taala berfirman: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari Tuhan mereka.” (Al-Muthaffifin: 15)
Maka hijab itu, wahai orang malang, wahai orang yang tertipu, telah jatuh pada hatimu di dunia karena perolehan keburukan, kekekalan pada dosa, dan kesibukanmu dari Tuhan bumi dan langit. Allah Tabaraka wa Taala berfirman: “Pada hari itu setiap jiwa akan mendapatkan segala kebaikan yang telah dikerjakannya terbukti di hadapannya.” (Ali Imran: 30)
Maka wahai sekalian orang yang berdosa, jauhkanlah keburukan dan gantilah dengan kebaikan, bergairah terhadap kenikmatan surga, dan kembalilah dari dosa dan kemaksiatan karena hal itu menambahmu dari siksa api neraka.
Wahai saudaraku, jauhkan keburukan dan bencilah ia dengan sangat, dan jadilah orang yang kuat dan kokoh dalam menjauhkannya dengan taubat sebelum datang hari ketika engkau berharap keburukan itu jauh darimu dan engkau tidak mengikuti setan yang menyesatkan dan durhaka.
Dan mereka membaca syair:
Wahai Zat yang kepada-Nya semua makhluk memohon, Dan setiap yang hidup bergantung pada rahmat-Nya.
Wahai Zat yang jauh namun melihat yang gaib dan apa, Yang di bawah tanah dan hijab malam yang tertutup.
Wahai Zat yang dekat namun jauh dari jangkauan, Pikiran semuanya atau khayalan dan penyakit.
Engkau tempat berlindung ketika bencana melanda, Dan Engkau tempat berlindung bagi yang sempit jalannya.
Engkau yang dipanggil dalam setiap kejadian, Engkaulah Tuhan, Engkaulah simpanan dan harapan.
Engkau penolong bagi yang tertutup jalannya, Engkau petunjuk bagi yang tersesat jalannya.
Kami menuju kepada-Mu dengan harapan tergantung, Kepada-Mu, dan semua dalam kesedihan dan permohonan.
Jika Engkau mengampuni, karena kemurahan dan kemuliaan, Dan jika Engkau menghukum, Engkau Hakim Yang Maha Adil.
181 – Kisah Dzun Nun tentang Rahib yang Diam
Dzun Nun rahimahullah berkata: Aku diberitahu tentang seorang rahib di Syam yang tidak berbicara dengan siapa pun selama empat puluh tahun. Aku pergi kepadanya dan terus memanggilnya di bawah biara-nya serta bersumpah agar ia menampakkan diri kepadaku hingga ia muncul dari atas biara-nya. Aku memintanya untuk berbicara, namun ia menolak. Lalu aku berkata kepadanya: “Demi Zat yang engkau diam karena-Nya dan karena takut kepada-Nya, tolong jawablah apa yang aku tanyakan kepadamu.”
Ia berkata kepadaku: “Katakan, dan jangan panjang-panjang bicara kepadaku.”
Aku bertanya: “Sudah berapa lama engkau di tempat ini?”
Ia menjawab: “Sejak satu hari.”
Aku berkata: “Bagaimana bisa begitu?”
Ia menjawab: “Aku mendengar orang-orang berkata: kemarin, hari ini, dan besok. Adapun kemarin telah berlalu, adapun hari ini adalah milikku, dan adapun besok, aku tidak tahu apakah aku akan mencapainya atau tidak.”
Kemudian ia memasukkan kepalanya kembali dan tidak berbicara lagi kepadaku sambil menangis dan berkata: “Aku tidak tahan terhadap api neraka.”
Dan mereka membaca syair:
Wahai jiwa, tidak ada kesabaran terhadap api, maka ketahuilah, Dan jadilah dalam ketakutan terhadap api neraka selama hidupmu.
Dan tetaplah dalam kesedihan selama hidupmu, Semoga kesedihan hilang darimu ketika engkau mati.
Mereka berkata dalam panjang kalimat ada kefasihan, Padahal mereka tahu bahwa kefasihan ada dalam diam.
Jika hamba tidak dimainkan hawa nafsunya oleh akalnya, Ia durhaka kepada Tuhannya dan bertambah kebencian atas kebencian.
182 – Pembagian Umur atas Amalan
Wahai sekalian orang yang berdosa, jadikan umur kalian tiga hari: hari yang telah berlalu, hari yang kalian jalani, dan hari yang kalian tunggu-tunggu yang kalian tidak tahu apa yang akan datang kepada kalian dari kebaikan atau keburukan, dan barangkali kalian tidak mencapainya. Maka perbaikilah hari yang telah berlalu dengan menyesali apa yang terlewat dari ketaatan dan kebaikan, dan apa yang kalian perbuat dari dosa dan kemaksiatan. Hari yang telah berlalu hanya bisa kalian perbaiki pada hari yang kalian jalani dengan tangisan dan penyesalan serta mencela diri dengan celaan.
Dan mereka membaca syair:
Sampai kapan kita dan hari-hari menghitungnya, Padahal kita di dalamnya hanya antara dua hari.
Hari yang telah berlalu dan hari yang engkau harapkan, Barangkali ia hari yang paling membawa kematian.
Semoga Allah menghibur kegelisahanku dan kegelisahan kalian pada hari kebangkitan, dan menghibur kesunyianku dan kesunyian kalian di dalam kubur. Sesungguhnya Dia atas hal itu Maha Kuasa dan hal itu mudah bagi-Nya. Dan semoga Dia mematikan aku dan kalian dengan kalimat syahadat ini: Tiada tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah, tanpa mengubah, mengganti, atau membuat bid’ah. Amin, wahai Tuhan semesta alam.
۞۞۞۞۞
7 – Majelis tentang Firman-Nya: “Adapun orang yang diberikan kitabnya dengan tangan kanannya” dan seterusnya
183
Wahai saudaraku, wahai orang malang, wahai yang bingung karena dosa dan kemaksiatan, wahai yang menghadapi murka Raja Yang Maha Menguasai, wahai yang menyenangkan hati musuhnya yaitu setan dengan terus-menerus dalam kehinaan, kesesatan, dusta, dosa, dan kezaliman, wahai orang yang tertipu! Sesungguhnya engkau akan menerima catatan dan menghadapi perhitungan serta mendapatkan pahala atau siksa.
Maka persiapkanlah, wahai yang lalai, di negeri tipu daya apa yang akan engkau temukan dalam catatan yang terbuka berupa pahala, kebahagiaan, kegembiraan, kesukaan, cahaya, dan sinar dari rahmat Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
184 – Di Mana Catatan-catatan pada Hari Kiamat
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Semua catatan berada di bawah Arasy. Ketika hari kiamat, Allah Tabaraka wa Taala mengirimkan angin yang menerbangkannya dengan iman dan dengan tangan kanan. Huruf pertama dalam catatan adalah: ‘Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atasmu.'” (Al-Isra: 14)
Alangkah adilnya Raja Yang Maha Pemberi ketika menjadikan manusia penghitung dirinya sendiri dalam membaca catatan.
Wahai orang malang, wahai yang tertipu! Jika engkau menerima catatan dengan tangan kiri, maka cukuplah bagimu siksa, hukuman, cobaan, kengerian, rantai, belenggu, air mendidih, minuman pahit, laknat, dan perpisahan dari Zat Pemilik Kemurahan dan Keagungan.
Jika engkau menerima catatan dengan tangan kanan, maka cukuplah bagimu kedudukan yang aman di Illiyyin yang tertinggi bersama anak-anak muda dan bidadari, serta perjumpaan dengan Tuhan semesta alam dan dengan Muhammad penutup para nabi—semoga Allah melimpahkan selawat kepada beliau, keluarga, dan seluruh sahabatnya.
Jika engkau bersikeras di dunia atas kejahatanmu dan tidak bertaubat kepada Tuhanmu dari buruknya dosamu, maka engkau akan menerima catatanmu dari belakang punggungmu dan menemukan di dalamnya yang menyedihkan hatimu, membesarkan dukamu, dan memperbanyak kesusahanmu. Maka wahai sekalian orang yang berdosa, ketahuilah bahwa Allah menjadikan dunia sebagai ujian dan cobaan, dan mewajibkan kepada kalian di dalamnya hak-hak yang besar. Jika kalian menyia-nyiakannya, maka kalian telah menaruh dalam catatan kalian dosa dan beban. Dan jika kalian menunaikannya, maka kalian telah memenuhi catatan kalian dengan kegembiraan dan cahaya.
Tidak ada seorang hamba pun atau sahaya melainkan ia memiliki catatan yang ia baca pada hari penampakan dan perhitungan. Perumpamaan manusia ketika membaca catatan mereka seperti perumpamaan petani: jika ia menanam yang baik, ia menuai yang baik, dan jika ia menanam yang buruk, ia menuai yang buruk.
Wahai saudaraku, seakan-akan engkau menulisnya dengan ucapanmu, mengisinya dengan perbuatanmu, dan menghitamkannya dengan keburukan dari amal-amalmu.
Dan mereka membaca syair:
Seakan-akan diriku di hari kiamat berdiri, Dan air mataku mengalir ketika aku diberi catatanku.
Karena pengetahuanku tentang perbuatanku dan buruknya sifatku, Dan bahwa catatanku akan menampakkan keburukan.
Maka wahai ahli dosa seperti diriku, ketahuilah bahwa amalan telah dicatat atas kalian dalam catatan dari kebaikan dan kemaksiatan, penambahan dan pengurangan, kemunafikan dan iman, sementara kalian lalai dalam mabuk ketertipuan dan catatan kalian penuh dengan celaka dan kehancuran. Maka bersegeralah kepada lembaran-lembaran dan hapuslah apa yang ada di dalamnya dari keburukan, dan bersihkanlah apa yang telah dicatat atas kalian dari aib, yaitu dengan memperoleh kebaikan sebagaimana firman Tuhan bumi dan langit: “Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapus kesalahan-kesalahan.” (Hud: 114)
185 – Orang Pertama yang Dihisab
Disebutkan dalam sebagian berita bahwa umat pertama yang dihisab Allah adalah umat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Ketika orang-orang dahulu dan kemudian berkumpul di tanah kiamat, umat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam berdiri. Orang pertama yang dipanggil dari mereka untuk dihisab adalah seorang laki-laki dari Quraisy dari Bani Makhzum yang bernama Abdullah bin Abdul Asad. Ia memiliki saudara bernama Aswad bin Abdul Asad. Tentang keduanya turun dua ayat ini: “Adapun orang yang diberikan kitabnya dengan tangan kanannya” (Al-Haqqah: 15) hingga firman-Nya: “Pada hari-hari yang telah lalu.” (Al-Haqqah: 24) Ayat ini turun tentang Abdullah bin Abdul Asad. “Adapun orang yang diberikan kitabnya dengan tangan kirinya” (Al-Haqqah: 25), yaitu Aswad bin Abdul Asad.
Adapun Abdullah yang beriman, ia masuk dari balik hijab dan dihadirkan di hadapan Allah azza wa jalla. Anggota badannya gemetar, persendiannya terlepas, jiwanya kebingungan karena sangat takut kepada Allah taala. Sementara ia dalam keadaan paling menakutkan karena ketakutan di hadapan Yang Maha Perkasa—Maha Agung keagungan-Nya—tiba-tiba datang kepadanya malaikat dari sisi Allah taala membawa lembaran putih yang dimeterai dengan meterai keabadian. Malaikat itu berkata kepadanya:
186 – Catatan Kebaikan
“Inilah catatanmu.” Ia menerima catatan itu dengan tangan kanannya. Setiap orang yang termasuk ahli kesengsaraan ketika diberi catatannya, ia berusaha mengulurkan tangan kanannya untuk mengambilnya tetapi tidak mampu karena ia mendapati tangan kanannya seolah-olah diikat dengan gunung-gunung dunia sehingga tidak sanggup mengangkatnya karena beratnya. Dikatakan bahwa tangannya dibelenggu, dan dikatakan bahwa tangannya melekat pada tubuhnya. Dikatakan pula bahwa malaikat berkata kepadanya: “Wahai musuh Allah, ambillah catatanmu dengan tangan kirimu karena engkau termasuk golongan kiri.” Semoga Allah menjadikan aku dan kalian termasuk golongan kanan.
Maka Abdullah, saudara Aswad, menerima catatannya dengan tangan kanannya dan dikatakan kepadanya: “Bacalah apa yang telah engkau lakukan dari kebaikan dan keburukan, dan jangan salahkan kecuali dirimu sendiri.” Ia membuka meterai catatan dan membukanya. Ternyata di dalamnya tertulis dengan tulisan putih, di bagian dalam catatan adalah kejahatan dan di bagian luarnya adalah kebaikan. Dikatakan kepadanya: “Bacalah keburukanmu!” Huruf pertama yang ia temukan dalam catatan adalah dosa paling kecil yang ia lakukan di dunia. Ketika ia melihat dosa itu, ia menundukkan kepalanya karena malu kepada Allah taala. Keringat mengalir darinya sedemikian rupa sehingga jika dua ratus ekor unta makan garam dan kehausan yang sangat, lalu mendatangi keringatnya, semuanya akan minum hingga kenyang dan kembali dalam keadaan puas, namun keringatnya tidak berkurang sedikit pun.
187 – Cara Pertanyaan
Semua ini karena malu kepada Allah azza wa jalla. Kemudian Yang Maha Perkasa—Maha Agung keagungan-Nya—berfirman: “Hamba-Ku!” Ia menjawab: “Labbaik Rabbi wa sa’daik (Aku penuhi panggilan-Mu, Tuhanku, dan kebahagiaan bagi-Mu).”
Allah berfirman: “Angkat kepalamu! Apakah engkau mengenali dosamu ini?”
Ia menjawab: “Tuhanku dan Penguasaku, demi keagungan dan kemuliaan-Mu, sesungguhnya aku mengenalinya.”
Allah berfirman: “Hamba-Ku, apakah engkau ingat pada hari ini dan itu, di tempat ini dan itu, dan engkau melakukan dosa ini?”
Ia menjawab: “Ya, demi keagungan dan kemuliaan-Mu.”
Yang Maha Perkasa—Maha Agung keagungan-Nya—berfirman kepadanya: “Hamba-Ku, ketika engkau menyembunyikannya dari makhluk, sungguh engkau tahu bahwa Aku mengawasimu.”
Ia menjawab: “Benar, wahai Penguasa dan Tuhanku, demi keagungan dan kemuliaan-Mu, sungguh aku tahu hal itu.”
Allah berfirman kepadanya—Maha Agung keagungan-Nya: “Tidakkah engkau malu kepada-Ku? Tidakkah engkau mengawasi-Ku? Tidakkah engkau tahu bahwa tempat kembalimu adalah kepada-Ku?”
Sementara hamba dalam teguran ini telah diliputi keringat dan meleleh karena sangat tenggelam. Ia berkata: “Tuhanku dan Penguasaku, jika Engkau mengirimku ke neraka, itu lebih ringan bagiku daripada teguran ini.”
Allah Tabaraka wa Taala berfirman: “Hamba-Ku, bukankah Aku telah menutupinya untukmu di dunia?”
Hamba itu menjawab: “Tuhanku, sungguh Engkau telah melakukan hal itu kepadaku.”
Allah berfirman—Maha Agung keagungan-Nya: “Hamba-Ku, demi keagungan-Ku, kemuliaan-Ku, kemegahan-Ku, kemurahan-Ku, dan kebaikan-Ku, sungguh Aku telah menghapusnya dari hati para malaikat dan hati manusia, dan Aku memeliharanya antara Aku dan engkau agar engkau tahu nikmat-Ku atasmu dan karunia-Ku kepadamu di dunia dan akhirat.”
188 – Pengampunan Dosa
Allah—Maha Agung keagungan-Nya—terus melakukan hal itu kepadanya pada setiap dosa hingga ia membaca semua yang ada dalam catatannya dari dosa-dosa. Ketika ia tiba pada akhir catatan, ia mendapati di dalamnya: “Hamba-Ku, inilah keburukanmu, telah Aku ampuni untukmu.”
Pada saat itu wajahnya memutih, kulitnya menjadi baik, kesedihan, kekhawatiran, dan kegemparan hilang darinya.
Kemudian Allah—Maha Agung keagungan-Nya—berfirman: “Balikkan catatanmu dan bacalah kebaikanmu!” Hamba itu membalik catatannya dan membaca kebaikannya. Setiap kali ia melewati satu kebaikan, hatinya bertambah gembira dan senang, serta bertambah putih, baik, dan bercahaya. Kemudian didatangkan mahkota dari cahaya lalu diletakkan di atas kepalanya. Seandainya mahkota itu dikeluarkan ke dunia, cahayanya akan mengungguli cahaya matahari dan bulan.
189 – Pakaian Orang yang Dimuliakan
Kemudian didatangkan dua helai pakaian dari pakaian surga, sejengkal darinya lebih baik dari dunia dan seisinya seratus ribu kali lipat. Ia memakainya dan setiap persendiannya dihiasi dengan perhiasan surga. Dikatakan kepadanya: “Keluarlah kepada manusia dan beritahukan kepada mereka serta gembirakanlah mereka bahwa setiap hamba dan sahaya dari orang-orang mukmin akan mendapat seperti ini.”
Pada saat itu keluarlah Abdullah bin Abdul Asad dengan catatannya di tangan kanannya. Wajahnya bersinar dengan cahaya, hatinya penuh dengan kegembiraan. Wajahnya telah dialiri kesegaran kenikmatan surga, dan itu adalah tanda bagi ahli iman. Malaikat memegang tangan kanannya dan menyerukan kepadanya dengan seruan kabar gembira: “Ketahuilah bahwa si fulan telah berbahagia dengan kebahagiaan yang tidak akan pernah sengsara setelahnya!” Seluruh makhluk mengangkat pandangan mereka kepadanya dan berharap mendapat seperti yang Allah karuniakan kepadanya. Ia membaca: “Ambillah, bacalah kitabku!” Tidak ada di dalamnya satu kejahatan pun, Allah Tabaraka wa Taala telah mengampuni semua dosaku dan menghapusnya dariku. “Sesungguhnya aku yakin bahwa aku akan menemui hisabku.” Sesungguhnya aku yakin di dunia bahwa aku akan menjumpai hari ini dan aku takut akan kengerian, bacaan catatanku, dan perhitungan Tuhanku—Maha Agung keagungan-Nya.
Ia terus seperti itu hingga tiba di tempat sahabat-sahabatnya. Mereka berkata: “Siapa hamba ini yang Allah muliakan dan ridhai? Ya Allah, jadikanlah ia dari orang-orang yang kami cintai dan dekatkanlah ia kepada kami agar kami melihat apa yang Tuhan kami anugerahkan kepadanya.” Ketika ia mendekat kepada mereka, ia memberi salam. Mereka berkata kepadanya: “Siapa engkau, wahai hamba Allah?”
Ia berkata: “Tidakkah kalian mengenalku?”
Mereka berkata: “Wahai hamba Allah, sungguh kemuliaan Tuhan—Maha Agung keagungan-Nya—telah menghiasimu sehingga kami tidak mengenalimu. Siapakah engkau?”
Ia berkata kepada mereka: “Aku Abdullah bin Abdul Asad. Ketahuilah bahwa setiap orang dari kalian akan mendapat seperti ini.” Beginilah Allah Tabaraka wa Taala berbuat kepada setiap mukmin yang menjadi pemimpin dalam kebaikan, menyeru kepadanya dan menyuruh kepadanya. Kemudian Allah Tabaraka wa Taala memberikan syafaat kepadanya untuk siapa saja yang Dia kehendaki dari ahli dosa. Pada saat itu sahabat-sahabatnya bergembira dengan kabar gembira yang ia sampaikan kepada mereka tentang pengampunan, kemenangan surga, dan keselamatan dari neraka.
“Maka ia berada dalam kehidupan yang menyenangkan” (Al-Haqqah: 21) ia ridha, jiwanya ridha, Tuhannya ridha kepadanya, dan ia ridha dengan kehidupan itu. Kehidupan itu adalah surga. “Di dalam surga yang tinggi” (Al-Haqqah: 22) dalam kamar yang ketinggiannya perjalanan seratus tahun dari mutiara putih atau yakut merah, plamir-nya adalah minyak kesturi yang harum, ambar yang keabu-abuan, dan kapur barus yang putih. “Buah-buahnya dekat” (Al-Haqqah: 23) Artinya: buah-buahannya dekat dengan mereka; ketika mereka menginginkannya, buah-buah itu turun kepada mereka hingga masuk ke dalam tempat tinggal mereka. Maka buah itu mendekat kepada mereka, lalu mereka memakan apa pun yang mereka inginkan dari buah-buahannya, baik saat mereka sedang tidur, duduk, ataupun berdiri, dalam keadaan apa pun yang mereka kehendaki. Setelah itu, buah-buah itu kembali ke tempatnya semula. Itulah makna firman Allah dalam Surah Al-Haqqah ayat 24: “Makan dan minumlah dengan nikmat.”
Tidak ada kematian di dalamnya dan tidak ada kesedihan, sesuai firman Allah dalam Surah Al-Haqqah ayat 24: “Disebabkan apa yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.”
Yang dimaksud adalah hari-hari yang telah berlalu, yaitu hari-hari di dunia, ketika mereka menaati Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi, istiqamah, dan tidak menyimpang dari ketaatan kepada-Nya.
Dan mereka mengucapkan syair:
(Di depan pintu-Mu berdiri seorang hamba dari hamba-hamba-Mu, penuh dosa …
Banyak kesalahannya, ia datang meminta ampunan kepada-Mu)
(Maka turunkanlah ampunan kepadanya, wahai Dzat yang dengan karunia-Nya …
Telah menurunkan manna dan salwa kepada kaum Musa)
(Aku adalah hamba-Mu yang lemah; maka rahmatilah keluhanku …
Dan janganlah jadikan neraka, wahai Tuhan, sebagai tempat kembali bagiku)
(Ringankanlah bebanku dari maksiat, karena sungguh …
Aku telah mencapai batas paling berat dari dosa-dosaku)
Inilah Abdullah bin Abdul Asad, yang Allah turunkan ayat ini berkaitan dengannya. Dan sesuai perjalanan hidupnya dalam perhitungan (amal), demikian pula perjalanan orang-orang beriman dari umat Nabi Muhammad, sebanding dengan keadaan mereka dan kesungguhan mereka di dunia dalam kebaikan dan keteguhan di atas ketaatan kepada Allah.
190 – Orang yang Paling Keras Siksaannya
Adapun firman Allah Taala “Dan adapun orang yang diberi kitabnya dari sebelah kirinya” (Al-Haqqah: 25), maka dialah Al-Aswad bin Abdul Asad Al-Makhzumi, dan ia adalah saudara dari Abdullah bin Abdul Asad. Hal itu karena Allah Taala memanggil ia setelah saudaranya Abdullah, lalu Al-Aswad masuk hingga ia dihadapkan sementara antara dirinya dengan Allah Azza wa Jalla ada hijab kemurkaan. Ia berada di balik hijab karena Allah Tabaraka wa Taala tidak dilihat kecuali oleh orang-orang mukmin, adapun orang-orang kafir maka mereka tidak melihat-Nya. Allah Taala berfirman “Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu terhalang dari Tuhan mereka” (Al-Muthaffifin: 15).
Al-Aswad dihadapkan di hadapan para malaikat dalam keadaan gemetar karena takut akan azab. Para malaikat yang bersamanya adalah malaikat azab. Ketika ia dalam keadaan demikian, datanglah seorang malaikat dari malaikat kemurkaan lalu mengambil tangan kanannya kemudian mengguncangnya hingga mencabutnya dari tempatnya, lalu menggantungkannya dari punggungnya dengan kulitnya. Kemudian malaikat itu mengambil kepalanya lalu memutar lehernya hingga mengubah wajahnya ke belakang punggungnya.
191 – Kitab Kejahatan
Kemudian datang seorang malaikat dari belakang punggungnya dengan membawa lembaran hitam yang di dalamnya terdapat tulisan dengan tinta hitam. Di bagian dalam kitab itu adalah kebaikannya dan di bagian luarnya adalah kejahatannya. Kitab itu tersegel. Dikatakan kepadanya: Ini kitabmu, ambillah. Ia tidak mampu mengambilnya dengan tangan kanannya karena tangan kanannya telah tercabut dari bahunya, maka ia mengambil kitabnya dengan tangan kirinya. Dikatakan kepadanya: Bukalah segel kitab itu. Ia pun membukanya. Dikatakan kepadanya: Bentangkanlah kitabmu dan bacalah.
Ia membentangkan lembaran itu yang berwarna hitam, lalu ia memulai dari bagian dalam kitab tersebut. Maka kebaikan-kebaikannya menghadapinya. Ia membacanya dan merasa gembira, mengira bahwa ia akan selamat dari azab Allah Tabaraka wa Taala. Hingga ketika sampai di akhir lembaran, ia menemukan di dalamnya tulisan: Ini adalah kebaikan-kebaikanmu yang telah dikembalikan kepadamu karena engkau tidak mengharapkan dengan perbuatan itu wajah Allah Taala dan negeri akhirat. Itulah firman Allah Taala “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak dirugikan” (Hud: 15), artinya tidak dikurangi. Dipercepat bagi mereka di dunia balasan amal-amal mereka dan mereka tidak diberi pahala di akhirat dengan sesuatu pun dari amal mereka, dan tidak dimaafkan bagi mereka dalam sesuatu pun dari amal-amal buruk mereka hingga Allah Taala menyiksa mereka karenanya.
Amal-amal baik mereka dibatalkan oleh Allah Azza wa Jalla karena kekafiran. Adapun amal-amal saleh yang dimaksudkan dengan itu wajah Allah Tabaraka wa Taala, Allah Taala Azza wa Jalla memberi balasan kepada pelakunya dengan pahala yang kekal yaitu kenikmatan surga dan melihat wajah Allah Yang Mulia. Wajah Allah kekal dan kenikmatan surga kekal karena Allah Taala menciptakan surga sebagai pahala bagi ahli amal saleh yang dimaksudkan dengan itu wajah Allah Taala. “Segala sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya” (Al-Qashash: 88). Setiap amal yang dimaksudkan dengan itu wajah Allah tidak akan binasa, pahalanya tetap kekal bagi pemiliknya, dan pahalanya adalah surga.
Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Taala memberi pahala atas amal yang kekal dengan kenikmatan yang abadi dan kekal, dan memberi pahala atas amal yang fana – yaitu apa yang dikerjakan untuk dunia dan perhiasannya – dengan kenikmatan yang fana yaitu kesenangan dunia yang hina. Orang mukmin tidak ridha bahwa Allah Azza wa Jalla memberinya pahala atas amal salehnya dengan kesenangan dunia. Jika Allah melapangkan baginya di dunia, maka sesungguhnya Allah memberikan itu kepadanya sebagai tambahan pertolongan yang ia gunakan untuk ketaatan kepada-Nya, sedangkan pahala amalnya disimpan baginya untuk hari kefakirannya ketika ia membutuhkannya.
Kemudian dikatakan kepada Al-Aswad bin Abdul Asad: Balikkan kitabmu dan bacalah. Ia membalik bagian luarnya, maka kejahatan-kejahatannya menghadapinya seperti gunung-gunung yang kokoh, berwarna hitam dengan tinta hitam karena kejahatan itu dibatalkan oleh kekafiran dan tidak diterima. Kejahatan pertama yang ia baca membuat wajahnya menghitam dan rupanya menjadi buruk. Setiap kali ia membaca kejahatan, keburukannya dan kekejiannya bertambah. Ketika sampai di akhir lembaran, ia menemukan di dalamnya tulisan: Ini adalah kejahatan-kejahatanmu yang telah dilipat gandakan. Sesungguhnya Aku telah melipatgandakan azab bagimu karena amal-amal burukmu.
192 – Sifat Azab bagi Orang Kafir
Wajahnya kembali menjadi lebih hitam dari ter, yaitu aspal. Tubuhnya membesar untuk api neraka hingga jarak antara kedua bahunya adalah perjalanan sebulan. Tebal setiap pahanya adalah perjalanan tiga hari. Jarak antara bibir atas dan bibir bawahnya empat puluh hasta. Taring dan gigi gerahamnya telah keluar dari antara bibirnya, tampak jelas. Kedua matanya biru dan biji matanya telah jatuh di wajahnya karena beratnya azab yang menimpanya. Setiap gigi gerahamnya lebih besar dari gunung Uhud. Rambutnya seperti rumpun bambu. Ia memiliki tujuh kulit, tebal setiap kulit empat puluh hasta. Jarak antara kulit yang satu dengan yang lain adalah perjalanan tiga hari. Di dalamnya terdapat cacing-cacing yang bersuara seperti suara binatang buas di padang sahara.
Di tubuhnya terdapat bulu yang tidak terhitung jumlahnya kecuali oleh Allah Taala. Di pangkal setiap helai bulu terdapat penderitaan, kesakitan, dan azab yang jika dibagikan kepada seluruh penduduk dunia sejak hari Allah Taala menciptakan mereka hingga hari membangkitkan mereka, niscaya mereka semua akan mati lebih cepat dari sekejap mata.
Kemudian didatangkan untuknya rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta, lalu dibelenggu dengannya kedua tangannya dan lehernya. Ujung rantai itu dimasukkan ke dalam mulutnya dan dikeluarkan dari duburnya. Kemudian sisa rantai itu dililitkan di lehernya, menyala dan berkobar api. Kemudian didatangkan batu belerang yang lebih besar dari gunung yang besar. Jika batu itu diletakkan di atas gunung-gunung dunia niscaya akan meleleh karena panasnya. Batu itu digantungkan di lehernya dalam keadaan menyala api.
Kemudian didatangkan mahkota dari api lalu diletakkan di atas kepalanya. Panas batu itu naik ke wajahnya dan panas mahkota turun ke wajahnya, bertemu dengan panas batu. Ia tidak mampu mengangkat mahkota dari wajahnya dengan kedua tangannya karena keduanya terbelenggu ke lehernya. Allah Taala berfirman “Maka apakah orang yang menangkis azab yang buruk dengan mukanya pada hari kiamat (sama dengan orang yang beriman)?” (Az-Zumar: 24). Dan Allah Azza wa Jalla berfirman “Dan wajah mereka ditutupi api” (Ibrahim: 50), yaitu wajah-wajah orang-orang kafir yang ditutupi api.
Kemudian didatangkan baju dari ter, yaitu tembaga jahannam yang telah mencapai panas yang sangat. Ia dipakaikan baju itu. Sekiranya baju itu dilemparkan ke dunia niscaya dunia dari timur hingga baratnya akan menjadi satu bara api lebih cepat dari pandangan mata. Kemudian ia digandengkan dengan setan. Setan itu akan menjadi azab yang lebih keras baginya dari semua azab yang disiksakannya. Kemudian dikatakan kepadanya: Keluarlah kepada manusia dan kabarkan kepada teman-temanmu bahwa bagi setiap orang dari mereka azab seperti ini.
Al-Aswad keluar dalam keadaan yang paling buruk dengan kitabnya di tangan kirinya, tidak ada di dalamnya satu kebaikan pun. Kejahatan-kejahatannya tampak bagi makhluk. Malaikat menyeru Al-Aswad bin Abdul Asad: Wahai sekalian ahli padang Mahsyar, sungguh Al-Aswad telah celaka dengan kecelakaan yang tidak akan bahagia setelahnya selama-lamanya. Laknatlah dia karena sesungguhnya Allah Taala telah melaknatnya dan murka kepadanya.
Ia pun berseru dengan suara yang paling keras, seruan yang didengar oleh ahli padang Mahsyar: “Aduhai kiranya aku tidak diberi kitabku ini” (Al-Haqqah: 25), artinya alangkah baiknya aku tidak diberi kitabku dengan tangan kiriku dan tidak menimpa aku bencana yang aku alami ini. “Dan aku tidak mengetahui apa hisabku” (Al-Haqqah: 26), artinya alangkah baiknya aku bertaubat dan beriman serta tidak dihisab dengan penghisaban ini dan tidak turun kepadaku azab ini. “Aduhai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu” (Al-Haqqah: 27), artinya alangkah baiknya kematian kembali kepadaku hingga membebaskanku dari azab ini. “Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku” (Al-Haqqah: 28), yaitu harta yang bersamanya di dunia yang ia nafkakan bukan untuk Allah dan ia kikir dengannya dalam jalan Allah Tabaraka wa Taala. “Telah hilang kekuasaanku dariku” (Al-Haqqah: 29), artinya telah terputus dariku hujahku dan sirna.
Kemudian Allah Tabaraka wa Taala memerintahkan agar dikeluarkan untuknya mimbar dari jahannam, dari api. Mimbar itu didirikan untuknya dan ia naik ke atasnya. Tampaklah semua keburukan yang ia perbuat di dunia. Semua yang ada di padang Mahsyar melaknatinya dan mencelakannya hingga ia berharap agar diperintahkan untuk masuk ke neraka.
Kemudian Allah Tabaraka wa Taala berfirman kepada para malaikat: “Peganglah dia lalu belenggulah dia, kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala, kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta” (Al-Haqqah: 30, 31, 32). Tujuh puluh ribu malaikat yang diciptakan dari api samum menyergapnya. Bersama setiap malaikat dari mereka terdapat azab yang berbeda dengan yang lain. Mereka mengambilnya lalu melemparkannya ke dasar neraka yang menyala. Mereka memasukkan rantai ke dalam mulutnya dan mengeluarkan ujungnya dari duburnya sebagaimana manik-manik dibuat dalam benang. Kemudian ia diberi makan al-ghislin, yaitu sesuatu yang hitam dan busuk. Sekiranya setetes dari al-ghislin dikeluarkan ke dunia niscaya seluruh penduduknya akan mati karena baunya yang busuk.
193 – Makanan Ahli Neraka
Sesungguhnya ahli neraka diberi makan al-ghislin karena mereka dahulu di dunia tidak mau mandi dari janabah dan tidak berwudhu untuk salat. Al-ghislin membakar tempat-tempat wudhu dan mandi. Apa yang jatuh darinya mereka diberi makan sebagai balasan karena mereka telah menyia-nyiakan di dunia hak-hak Allah Taala.
Azab ini semua adalah untuk Al-Aswad bin Abdul Asad. Demikian pula bagi setiap orang yang menjadi pemimpin dalam kejahatan, yang memerintahkannya dan menyeru kepadanya, diperlakukan sebagaimana diperlakukan kepada Al-Aswad bin Abdul Asad. Dan setiap orang yang di dunia menjadi pemimpin dalam kebaikan, yang memerintahkannya dan menyeru kepadanya, diperlakukan sebagaimana diperlakukan kepada Abdullah bin Abdul Asad. Allah Taala membalas semua manusia menurut cara ini dalam kebaikan dan kejahatan. Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. Tidak ada tuhan selain Dia. Dia cukup bagi kami dan Dia sebaik-baik Wakil. Kami berlindung kepada Allah dari perbuatan-perbuatan ahli tangan kiri.
8 – Majelis tentang Firman Allah Tabaraka wa Taala “Dan Diletakkanlah Kitab” sampai akhir ayat
194 – Wahai Ahli Dosa Sepertiku
Wahai ahli dosa sepertiku, wahai ahli aib sepertiku, wahai orang yang bermaksiat dan tidak bertaubat, wahai orang yang hatinya penuh dengan hal-hal yang sia-sia dan orang-orang yang menyertainya, wahai orang yang menyia-nyiakan tujuan utama yang dicita-citakan dan diinginkan, wahai orang yang menghitamkan kitabnya dengan bermaksiat kepada Yang Maha Mengetahui segala yang gaib. Ketahuilah, semoga Allah menjaga kita dan kalian, bahwa para hamba besok akan memiliki lembaran-lembaran yang mereka baca di dalamnya kebaikan dan keburukan.
Barangsiapa yang ditulis oleh kedua malaikat pencatatnya kebaikan di negeri yang fana, maka itu adalah kebaikan baginya di negeri yang kekal. Barangsiapa yang takut di dunia dari azab, berhati-hati dari apa yang ditulis atasnya dalam kitab, menjauhi maksiat kepada Tuhan segala tuhan, maka Allah Maulanya memberinya taufik kepada kebenaran dan kebenaran, memudahkan baginya dengan rahmat-Nya penghisaban, menghapus dosa-dosanya dari kitab, ridha kepadanya Raja Yang Maha Pemberi, dan memerintahkannya masuk surga dan sebaik-baik tempat kembali.
Barangsiapa yang mengetahui bahwa amalnya dicatat atasnya di dalam daftar dan ia pasti akan membacanya di hadapan Yang Maha Pengasih, bagaimana ia bisa akrab dengan kemaksiatan? Bagaimana lisannya bergerak dengan dusta dan kebohongan serta menyelisihi Kitab Raja Pemilik segala hukum?
195 – Perbedaan antara Kebaikan dan Kejahatan
Disebutkan dalam sebagian hikmah bahwa seorang laki-laki mengendarai kendaraannya lalu tersandung, maka orang itu berkata: “Celakalah hewan itu”, artinya tersandung. Malaikat kanan berkata kepada malaikat kiri: Ini bukan kebaikan, maka tulislah. Allah Taala mewahyukan kepada malaikat kiri: Apa yang ditinggalkan oleh malaikat kanan, tulislah olehmu. Maka malaikat kiri menulis perkataan orang itu: “Celakalah hewan itu”.
Yang lebih besar dari ini adalah tidak ada seorang hamba laki-laki atau perempuan yang bernafas kecuali dicatat atasnya dalam kitab. Jika nafas keluar dalam ketaatan kepada Allah Taala, malaikat kanan mencatatnya. Jika nafas keluar bukan dalam ketaatan kepada Allah, malaikat kiri mencatatnya, hingga Allah Tabaraka wa Taala memutuskan pada hari penghisaban dengan keputusan-Nya.
Barangsiapa yang mengetahui ini dengan yakin, tidak perlu berlalu atasnya satu jam dari jamnya, tidak satu waktu dari waktunya, tidak satu pandangan dari pandangannya kecuali dalam dzikir kepada Allah dan dalam memikirkan keagungan Allah.
196 – Keselamatan dalam Dzikir kepada Allah
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Tidak ada sesuatu yang lebih menyelamatkan orang mukmin dari azab Allah daripada dzikir kepada Allah. Dan paling banyak yang didapati orang mukmin dalam lembaran catatannya pada hari kiamat adalah istighfar di malam dan siang hari.”
Setiap orang yang di dunia takut dan cemas dari membaca kitabnya, maka Allah Tabaraka wa Taala akan bersikap kepadanya dengan pengasihan dan kelembutan ketika ia membacanya. Barangsiapa yang di dunia termasuk orang-orang yang lalai, ia akan termasuk orang-orang yang menyesal ketika membacanya. Sekiranya kalian melihat, wahai ahli dosa, apa yang telah dicatat atas kalian dalam daftar dari kesalahan, kemaksiatan, dusta, kebohongan, penambahan, pengurangan, kelalaian, dan kelupaan, niscaya besar bagi kalian musibah dan banyak bagi kalian bencana. Kalian akan berlomba-lomba menuju pahala dan hal-hal yang diinginkan, dan kembali kepada Tuhan timur dan barat. Mereka melantunkan syair:
Mengapa matamu tidak menangis atas apa yang telah berlalu Ingatan dosa, ketakutan akan api neraka dan kebinasaan
Wahai orang yang berdosa yang dihitung kejahatan-kejahatannya Jangan lupakan dosamu dan ingatlah apa yang telah berlalu darinya
Dari dosa-dosa yang tidak usang kebaruannya Bagaimana akan usang padahal engkau telah menempatkannya dalam lembaran-lembaran
Tidakkah engkau takut, tidakkah engkau khawatir akan aib-aibnya Ketika penutup tersingkap darinya dan terbuka
Ketahuilah wahai sekalian orang yang berdosa, sekiranya Allah Taala memberitahukan sebagian dari kita tentang lembaran sebagian yang lain dan menyingkapkan untuknya apa yang ada di dalamnya dari dosa-dosa, niscaya manusia akan sibuk dari penghidupan mereka dengan mencela satu sama lain dan melaknat satu sama lain. Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali.
197 – Hikayat tentang Muhammad bin Wasii
Diceritakan tentang Muhammad bin Wasii rahimahullah bahwa tidak pernah ada orang yang melihatnya tertawa, bahkan ia menangis hingga orang-orang mengasihaninya. Hal itu disebutkan kepadanya maka ia berkata: Wahai kekasih-kekasihku, bagaimana bisa tertawa orang yang tidak mengetahui apa yang telah dicatat atasnya dalam kitabnya dan tidak mengetahui dengan apa ia akan diakhiri?
Ya Allah, akhirilah kami dengan kebaikan. Ada seorang laki-laki berbicara kepada Muhammad bin Wasii tentang suatu keperluan. Muhammad bin Wasii berkata kepadanya: Mendekatlah kepadaku. Sekiranya dosa-dosa memiliki bau, niscaya engkau tidak akan mampu mendekati aku.
Wahai sekalian orang yang berdosa sepertiku – dan diriku maksudku – dan kita semua berdosa, janganlah tertipu dengan perlindungan Allah Taala atas kalian karena bagi-Nya ada hari di mana Dia akan menyingkap tirai-tirai dan menghisab hamba-hamba-Nya atas apa yang mereka kerjakan di malam dan siang. Suatu kaum menuju surga dan suatu kaum menuju neraka. Kebaikan dan kejahatan telah terkumpul untuk kalian dalam kitab yang akan diletakkan untuk kalian pada hari penampakan dan penghisaban di hadapan Tuhan segala tuhan.
Raja Yang Maha Pemberi berfirman: “Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya” (Al-Kahfi: 49). Diletakkan kitab bagi orang-orang mukmin dan diletakkan kitab bagi orang-orang yang bersalah. Diletakkan kitab bagi ahli iman dan diletakkan kitab bagi ahli kesesatan dan kedurhakaan. Diletakkan kitab bagi ahli surga dan diletakkan kitab bagi ahli neraka. Diletakkan kitab bagi ahli pahala dan diletakkan kitab bagi ahli siksaan. Diletakkan kitab bagi orang-orang yang taat dan diletakkan kitab bagi orang-orang yang bermaksiat.
Diletakkan kitab bagi ahli keikhlasan dan kesepakatan, dan diletakkan kitab bagi ahli riya dan kemunafikan. Diletakkan kitab bagi ahli setia dan diletakkan kitab bagi ahli pengkhianatan. Diletakkan kitab bagi orang-orang yang beramal dan diletakkan kitab bagi orang-orang yang sia-sia. Diletakkan kitab bagi orang-orang yang berdiri dan diletakkan kitab bagi orang-orang yang tidur. Diletakkan kitab bagi orang-orang yang beristighfar dan diletakkan kitab bagi orang-orang yang lalai. Diletakkan kitab bagi orang-orang yang bahagia dan diletakkan kitab bagi orang-orang yang celaka.
Diletakkan kitab bagi ahli surga dan diletakkan kitab bagi ahli ujian. Diletakkan kitab bagi orang-orang yang berbakti dan diletakkan kitab bagi orang-orang yang durhaka. Diletakkan kitab bagi ahli taubat dan diletakkan kitab bagi ahli dosa besar. Diletakkan kitab bagi ahli kemuliaan dan diletakkan kitab bagi ahli penyesalan. Diletakkan kitab bagi ahli petunjuk dan diletakkan kitab bagi ahli kerusakan. Diletakkan kitab bagi ahli kebaikan dan diletakkan kitab bagi ahli kejahatan. Diletakkan kitab bagi ahli kenikmatan dan kegembiraan, dan diletakkan kitab bagi ahli kecelakaan dan kehancuran.
Ada kitab-kitab yang memberi kabar gembira dengan surga, dan ada kitab-kitab yang akhirnya laknat dan ujian. Semoga Allah menjadikan kita dan kalian termasuk orang-orang yang kitabnya memberinya kabar gembira dengan surga dengan rahmat-Nya.
198 – Kitab Mencakup Segala Sesuatu
Ketahuilah wahai golongan orang-orang yang berdosa bahwa Allah Taala tidak membiarkan sesuatu perkataan kecuali telah dijelaskan-Nya kepada hamba-hamba-Nya dan menurunkan dengan hal itu Kitab-Nya yang mulia, maka berfirmanlah Dia Tabaraka wa Taala: “Kami tidak melalaikan sesuatu pun dalam Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka, mereka dikumpulkan.” (Surah Al-An’am: 38) Dan telah memberitahukan kepada kita Ilah kita dan Maulana kita bahwa “Dan setiap manusia itu telah Kami lekatkan amal perbuatannya (di lehernya).” (Surah Al-Isra: 13) Dan bahwa setiap manusia pasti akan ditanya dan pasti akan dihisab dan pasti mendapat pahala atau siksa. Dan Maulana Azza wa Jalla telah memerintahkan kita untuk beramal saleh dan menjanjikan kepada kita atas hal itu surga, dan melarang kita dari kemaksiatan dan mengancam kita atas hal itu dengan neraka. Dan apa yang kalian dahulukan dari kebaikan dan kejahatan telah ditetapkan atas kalian dalam kitab yang tertulis dengan kebaikan dan dosa-dosa.
199 – Hikayat tentang Penulisan Kitab
Diriwayatkan dari Al-Hasan rahimahullah bahwa dia berkata: Tidaklah seorang hamba laki-laki atau perempuan dikubur kecuali masuk kepadanya seorang malaikat di dalam kuburnya membawa tinta dan kertas. Maka malaikat itu memegang kepala mayit dan mendudukkannya serta mengangkat kepadanya kertas tersebut dan memberikan kepadanya pena serta berkata kepadanya: “Tulislah seluruh apa yang telah engkau kerjakan dalam umurmu yang wajib atasmu batasan-batasannya dari kebaikan dan keburukan.” Maka mayit itu mengambil pena dan menulis, walaupun dia di dunia bukan seorang penulis. Jika hamba itu termasuk ahli kebahagiaan maka yang pertama kali mengalir pena di tangannya dengan izin Allah Tabaraka wa Taala adalah Bismillahirrahmanirrahim, karena Bismillahirrahmanirrahim tidak berada dalam kitab kecelakaan dan hanya berada dalam kitab ahli iman, sunnah, keamanan dan ampunan, karena Bismillahirrahmanirrahim adalah ayat iman dan merupakan kabar tentang rahmat Allah dan kelembutan-Nya Jalla Jalaluhu wahai ahli sunnah dari umat ini. Maka jika telah tertulis pada kitab hamba itu Bismillahirrahmanirrahim maka dia telah aman di dalam kuburnya dari siksa dan kesempitan.
200 – Basmalah dan Berkahnya
Dan jika tidak tertulis dalam kitabnya Bismillahirrahmanirrahim maka sungguh telah menimpa dirinya siksa di dalam kuburnya. Maka jika hamba itu telah menulis apa yang dia kerjakan dari kebaikan dan keburukan, celaka ataupun bahagia, malaikat melipat kitab tersebut dan menggantungkannya di lehernya. Maka jika hamba itu keluar dari kuburnya pada hari kiamat, datang kepadanya malaikat itu lalu mengambil kitab tersebut dan menyerahkannya kepadanya dan berkata: “Wahai wali Allah atau wahai musuh Allah, apakah engkau mengenal ini?” Maka dia berkata: “Ya, aku menulisnya dan aku mengerjakannya.” Maka malaikat berkata kepadanya: “Bacalah!” Maka mendapatinya dari kitab itu apa yang telah ditakdirkan baginya dari kebahagiaan atau kecelakaan.
Maka demi Allah demi Allah wahai golongan orang-orang yang berdosa seperti aku, wahai orang-orang mukmin, janganlah kalian sia-siakan hari-hari kalian dengan keburukan dan janganlah kalian abaikan umur kalian dalam dosa-dosa dan aib-aib, karena sesungguhnya seluruh amal kalian telah dihitung atas kalian dalam lembaran-lembaran dan catatan-catatan yang benar, dan kalian akan membacanya di hadapan Maulana kalian dan akan bersaksi atas kalian anggota badan dengan yang buruk dan yang baik dari amal-amal kalian.
Dan mereka bersyair:
Akan datang kepadamu saat ketakutan Ketika kamu diberi lembaran-lembaran amal
Seakan-akan aku melihat aib-aib suatu kaum Yang telah terbuka untuk mengungkapkannya Dzul Jalal
Andai aku tahu ketika aku membaca kitabku Dengan tangan kananku diberikannya ataukah dengan tangan kiriku
201 – Hikayat tentang Isa alaihissalam
Diriwayatkan dari Muhammad bin Al-Labad rahimahullah bahwa dia berkata: Isa bin Maryam alaihi ash-shalatu was-salam wa ala Nabiyyina Muhammad shallallahu alaihi wa sallam masuk ke sebuah kota yang telah hancur, lalu dia masuk ke sebuah istana dari istana-istananya, kemudian dia berseru: “Wahai kehancuran yang akhir, di mana penghunimu dan pemakmurmu?” Maka menjawabnya sesuatu dari ujung istana: “Wahai putra Maryam, mereka telah pergi dan akan kembali, maka bersungguh-sungguhlah wahai saudaraku, janganlah berlebih-lebihan, karena sesungguhnya tulang-tulang telah hancur dan tinggal amal-amal mereka di leher mereka.”
Dan mereka bersyair:
Janganlah engkau meremehkan dari dosa-dosa yang kecil Karena yang kecil esok akan menjadi besar
Semua dosa meskipun telah lama masanya Di sisi Allah tertulis dan tersurat
Wahai lelaki yang bertopeng dengan uban, yang mengenakan pakaian kemaksiatan yang meragukan, sungguh telah rugi hari-hari masa mudamu dan telah kamu serahkan jiwamu untuk siksa dengan kelalaianmu dari apa yang ada di dalam Kitab dan mengikutimu si laknat yang pendusta dan meremehkanmu terhadap hisab dan berpaling dari kebenaran dan bermaksiatmu kepada Rabb semesta alam. Apa yang menghamilimu wahai yang berduka seperti aku, telah kamu hitamkan kitabmu dengan dosa-dosa dan telah kamu maksiat kepada Maulamu Yang Maha Mengetahui segala yang gaib, dan telah kamu jual keberuntungan yang banyak dengan kebohongan yang tercampur, dan telah kamu sia-siakan surga yang tidak ada di dalamnya kesusahan dan tidak ada kelelahan.
Ketahuilah wahai golongan orang-orang yang berdosa bahwa hamba jika diberi taufik oleh Maulanya dan diberi pemikiran dalam membaca kitabnya, maka dia di sisi Maulanya terkabul doanya.
202 – Hikayat tentang Bergantung kepada Allah
Diceritakan dari Mutharrif bin Asy-Syakhir rahimahullah bahwa dia mengutus seorang utusan karena kekurangan air dan itu di masa panas, maka lambatlah utusan itu kepadanya dan ada di sisinya sekelompok orang yang telah kehausan dan ada padanya sedikit air. Maka dia bangkit dan berwudhu dengan air tersebut kemudian shalat dua rakaat, dia berdoa di dalamnya kepada Maulanya Subhanahu, maka Allah Tabaraka wa Taala mengirimkan awan sampai dia dan sahabat-sahabatnya minum. Maka ditanyakan kepadanya: “Dengan apa engkau mencapai kedudukan ini?” Maka dia berkata: “Aku menjadikan kitabku di hadapan mataku di malam dan siangku sampai seakan-akan aku membacanya di hadapan Rabbku Jalla Jalaluhu.”
203 – Hikayat tentang Malik bin Dinar
Berkata Abdul Wahid bin Zaid rahimahullah: Kami berada di sisi Muhammad bin Wasi’ dan bersamanya Malik bin Dinar, maka datanglah seorang laki-laki dan berbicara kepada Malik dan kasar kepadanya dalam perkataan tentang sebuah pembagian yang dia bagi dan berkata: “Engkau meletakkannya bukan pada haknya dan engkau mengutamakan dengannya ahli majelimu agar banyak kumpulanmu dan agar wajah-wajah manusia berpaling kepadamu.” Dia berkata: Maka menangislah Malik bin Dinar dan berkata: “Aku tidak bermaksud dengan ini apa yang engkau katakan.” Dia berkata: “Bahkan demi Allah sungguh engkau bermaksud itu.” Maka ketika orang itu memperbanyak perkataan kepada Malik, dia mengangkat dua tangannya dan berkata: “Ya Allah sesungguhnya orang ini telah menyibukkan kami dari mengingat-Mu maka beristirahatkanlah kami darinya bagaimana Engkau kehendaki.” Maka jatuh laki-laki itu mati dengan izin Allah.
204 – Doa Ibnu Wasi’
Dan adalah Muhammad bin Wasi’ jika datang kepadanya malam, dia menangis dan berkata dalam tangisannya: “Celakalah aku dari dosa-dosa yang telah dihitung dan dari lembaran yang telah dipenuhi dan Rabbku telah mengetahui itu dan tidak tersembunyi bagi-Nya dari itu sesuatu pun.” Maka Allah Taala mewariskan kepadanya karena tangisannya atas kitabnya dan atas malunya kepada Rabbnya dikabulkannya doa dan tercerahkannya hati.
Dan mereka bersyair:
Aku melihat uban di pelipis telah datang Seakan-akan kematianku yang dekat telah muncul
Uban menuliskan baris-baris di ubun-ubunku Maka mengejutkanku apa yang ditulisnya dan apa yang dicatatnya
Apakah pemuda jika telah berlalu masa mudanya Kecuali seperti tanaman yang telah layu yang akan hancur
Beruban hati sebelum beruban rambutku Dan telah membiasakan aku lemahnya kekuatan sebelum tua
Celakalah aku dari celaan dari Rabbku esok Dari perkara yang berat yang mengancam itu
Celakalah aku ketika penyeru menyeru denganku “Ambillah Bangunlah hamba yang jelek yang tergesa-gesa untuk pemeriksaan, bangunlah”
Celakalah aku ketika Dia berkata kepadaku dengan mengesahkan Dan mengkhususkan sesuatu setelah sesuatu kemudian menyeluruh
Apa yang telah aku perbuat dalam kewajiban-kewajibanku dan apa yang Telah aku tunaikan darinya, apakah bersih bagiku ataukah selamat
Maka aku datang kepada Rabbku merugi telah membebani Punggungku dosa-dosa seperti awan yang bertumpuk
Berfirman Allah Tabaraka wa Taala: “Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya.” (Surah Al-Kahf: 49) Diletakkan kitab untuk keputusan pengadilan dan diletakkan kitab untuk kesedihan dan tangisan. Diletakkan kitab untuk nampak aib-aib. Diletakkan kitab untuk tampak keburukan-keburukan. Dan diletakkan kitab untuk benar catatan-catatan yang benar.
Demi Allah demi Allah wahai golongan orang-orang yang berdosa, hisablah diri kalian sebelum hari hisab dan kasihanilah diri kalian sebelum turunnya siksa dan segeralah bertaubat sebelum tertutupnya pintu dan bersungguh-sungguhlah di sisa umur kalian sebelum diletakkannya kitab dan segeralah kepada ampunan dari Rabb kalian sebelum rasa malu di hadapan Rabb semesta alam dan sebelum kalian meminta kembali jawaban dan tertahan lidah-lidah dari berucap dan berbicara dan bersaksi anggota badan dengan apa yang dikerjakan dari kemaksiatan atau pahala.
Dan mereka bersyair:
Menangislah untuk dosamu sepanjang masa dengan bersungguh-sungguh Karena tangisan adalah penanggulang kesedihan-kesedihan
Janganlah engkau lupakan dosamu di dalam Kitab dan agungkannya Karena sesungguhnya dosa-dosa meliputi manusia
Kasihan ahli dosa-dosa, mereka mentaati setan dan bermaksiat kepada Ar-Rahman. Kasihan ahli dosa-dosa, berat penderitaan mereka dan besar bencana mereka dan besar aib-aib mereka dan dihitung atas mereka dalam Kitab dosa-dosa mereka.
Kasihan ahli dosa-dosa, bermaksiat kepada Yang Maha Perkasa di malam dan siang dan menyerahkan jiwa mereka untuk siksa api neraka dan menghitamkan lembaran-lembaran mereka dengan kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa. Kasihan ahli dosa-dosa, lalai dari ketaatan dan menyelisihi sunnah dan jamaah dan merugi diri mereka sebelum tegaknya kiamat.
Dan mereka bersyair:
Barangsiapa yang mengkhawatirkan Allah Jalla Jalaluhu Maka hendaklah dia memperbanyak air mata dalam kesendirian
Maka mudah-mudahan setelah mengingat dan menangis Diganti baginya air mata dengan kebaikan-kebaikan
Dan menjadi ringan beban-beban dari lembaran yang terbentang Pada hari hisab dan tempat berdiri penyesalan-penyesalan
205 – Keajaiban-keajaiban Kitab
Berfirman Allah Taala: “Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya.” (Surah Al-Kahf: 49) Wahai hamba-hamba Allah, ketika diletakkannya kitab ada keajaiban-keajaiban dan kesedihan-kesedihan dan musibah-musibah dan penderitaan-penderitaan dan bencana-bencana.
Maka satu orang diletakkan baginya kitab lalu dia menangis dan yang lain diletakkan baginya kitab maka dia gembira dan menangis.
Dan yang lain diletakkan baginya kitab maka mengalir di wajahnya cahaya kenikmatan dan yang lain diletakkan baginya kitab maka naik di wajahnya kegelapan neraka.
Dan yang lain diletakkan baginya kitab yang dimeteraikan dengan kemurkaan Rabb Yang Maha Dermawan.
Dan yang lain diletakkan baginya kitab yang dimeteraikan dengan taufik dan petunjuk.
Ya Allah berilah kami taufik untuk ketaatan dan matikanlah kami di atas sunnah dan jamaah dan selamatkanlah kami dari kengerian-kengerian hari kiamat dan masukkanlah kami dalam golongan ahli syafaat.
Ketahuilah wahai golongan orang-orang yang berdosa bahwa air menghapus tulisan dari papan-papan anak-anak dan air mata menghapus dari kitab-kitab kalian beban-beban dan kemaksiatan serta kekhawatiran dan kesedihan dan duka.
Maka bersungguh-sungguhlah dalam menangis wahai golongan saudara-saudara dan perbanyaklah penyesalan karena sesungguhnya itu mewajibkan ampunan.
Dan mereka bersyair:
Biarkanlah aku atas diriku meratap dan menangis Dengan air mata yang deras dan tangan yang berlinang
Biarkanlah aku atas diriku meratap karena sesungguhnya aku Aku takut atas diriku yang lemah binasa
Dan sesungguhnya aku berhak dengan ketundukan dan tangisan Ketika tertidur yang tidur dan malam gelap gulita
Dan mengembara pendorong-pendorong kesedihan dari setiap sisi Dan tenggelam bintang-bintang malam dan jatuh bintang
Cukuplah bahwa mataku pelit dengan air mata Dan sesungguhnya aku disiksa dengan bencana-bencana dosa
Maka siapakah bagiku ketika penyeru menyeru dengan orang yang bermaksiat Ke mana larikanlah aku, ke mana aku melarikan diri
Dan sungguh telah tampak aib-aib itu semuanya Dan sungguh telah dekat timbangan dan neraka menyala
Maka wahai panjangnya kesedihanku kemudian wahai panjangnya penyesalanku Sungguh jika aku berada di dasar neraka disiksa
Maka sungguh telah beruntung dengan kerajaan yang agung sekelompok orang Bermalam berdiri dalam kegelapan malam mereka takut
Ketika mengawasi Al-Jabbar dari atas Arasy-Nya Dan sungguh telah dihias bidadari-bidadari surga yang gadis-gadis
Maka memanggil mereka: “Selamat dan selamat datang dan salam sejahtera Aku perbolehkan untuk kalian rumahKu dan apa yang kalian kehendaki mintalah”
Maka segeralah rahimakumullah di hari-hari yang mulia ini kepada penghapusan kejahatan-kejahatan dari lembaran.
206 – Perumpamaan tentang Kelembutan Hati
Wahai saudaraku, sebatang kayu kering jika salah satu ujungnya dimasukkan ke dalam api, maka ujung yang lain akan berkeringat. Demikian pula hati, jika di dalamnya terdapat panas penyesalan atas dosa-dosa yang telah tercatat dalam kitab yang tertulis, maka kedua mata akan mengalirkan air mata yang bercucuran, anggota badan akan melunak dengan tunduk, dan hati akan kembali dengan ketundukan dan kekhusyukan.
Dan mereka melantunkan syair: Aku menulis dengan air mataku di pipi-pipiku … tulisan dengan kehinaan dan ketundukan Lalu mereka berkata: “Kami telah memaafkanmu ketika … kamu menghapus keburukan perbuatanmu dengan air mata”
207 – Kisah tentang Taubat
Disebutkan dari sebagian orang yang takut bahwa ia berkata: Aku melihat seorang laki-laki berdiri di samping seorang anak kecil di sekolah, dan anak itu sedang menghapus papan tulis. Papan itu telah ditulisi dengan tinta dan tulisan itu telah melekat sehingga tidak bisa hilang dengan air. Maka anak itu mulai menggosok papan dengan tali dan tanah. Laki-laki yang berdiri di sampingnya berkata: “Wahai anakku, mengapa engkau menggosok papan dengan tali?” Ia menjawab: “Agar tinta yang melekat padanya hilang.” Laki-laki itu berkata kepadanya: “Apakah tali wahai anakku bisa menghilangkan tinta?” Ia menjawab: “Ya, tidakkah engkau lihat bahwa tali jika digosokkan pada tembok sumur akan meninggalkan bekas padanya meskipun itu batu, sehingga terbentuk bekas seperti parit dari gosokan tali tersebut?” Laki-laki itu berkata: “Itu karena waktu yang panjang.” Anak itu berkata: “Tidak wahai orang baik, tetapi dengan kesungguhan dan ketekunan. Dan engkau wahai orang baik, jauh pemikiranmu.” Laki-laki itu berkata: “Bagaimana itu wahai anakku?” Ia berkata: “Karena aku telah memberikan isyarat kepadamu, jika engkau merenungkannya dengan hatimu, maka ia akan sadar dan tinta yang menempel padanya akan terhapus.” Laki-laki itu berkata: “Wahai anakku, apakah ada tinta di hatiku?” Anak itu berkata: “Wahai paman, warna apakah tinta itu?” Ia menjawab: “Hitam.”
Anak itu berkata: “Wahai paman, bukankah aku sudah katakan bahwa engkau jauh pemikiranmu. Hitam manakah yang lebih hitam dari hitamnya dosa-dosa di atas hati?” Laki-laki itu berteriak keras dan jatuh pingsan di wajahnya, kemudian ia mulai menangis.
Anak itu berkata kepadanya: “Nah sekarang, engkau telah menemukan obat untuk dosa-dosamu dan menghapusnya dari kitabmu dan hatimu.”
Laki-laki itu berkata: “Wahai anakku, apakah obatnya?” Ia berkata kepadanya: “Menangis.”
Laki-laki itu berkata: “Wahai anakku, apakah tangisan bisa menghapus dosa-dosa dari kitab dan hati?” Ia berkata kepadanya: “Ya, dan buktinya adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: Sesungguhnya air mata memadamkan lautan api pada hari kiamat bagi orang yang menangis.”
208 – Air Mata Menghapus Dosa-dosa
Jika air mata menghapus lautan api, maka tentu lebih layak lagi menghapus dari kitab keburukan-keburukan dan dosa-dosa. Dan jika telah hilang dari kitab aib-aib dan dosa-dosa, maka Sang Raja Yang Maha Pengampun akan ridha kepadamu dan memerintahkan untukmu ke negeri ketenangan dan kediaman abadi, dan engkau terselamatkan dari azab kebinasaan.
Maka menangislah wahai jemaah kaum muslimin atas dosa-dosa yang telah kalian perbuat dalam bulan-bulan dan tahun-tahun, dalam jam-jam dan hari-hari, dari kesalahan-kesalahan dan kejahatan-kejahatan, perbuatan riba dan yang haram, kezaliman terhadap orang-orang lemah, para janda dan anak-anak yatim, dan atas kelalaian kalian dalam menunaikan hak-hak Sang Raja Yang Maha Mengetahui.
Dan mereka melantunkan syair: Andai air mataku adalah lautan, maka aku akan tumpahkan … dari kedua mataku atas waktu yang telah berlalu Wahai penyesalanku atas penyesalanku, dan apakah … penyesalan menghasilkan selain bara kesedihan Demi Allah, seandainya benar pengecekan penyesalan … engkau tidak akan menemukan kecuali bersama orang-orang yang tertidur dalam kesedihan Seandainya aku memiliki mata di setiap anggota badan … yang menangisiku dengan air mata yang mencegah kantuk
209 – Keutamaan Menangis
Maka kewajiban demi Allah wahai ahlul Islam atas setiap muslim yang mengetahui dosa pada dirinya adalah memperbanyak tangisan atasnya, semoga Tuhannya menghapusnya dari kitabnya, dan Dia bermurah hati kepadanya serta mengampuni apa yang telah ia perbuat. Karena Dia-lah Yang Maha Pemberi Karunia, Yang Maha Mulia, Yang Maha Pemberi Kemurahan, Yang Maha Agung.
Ya Allah wahai Yang Paling Mulia dari yang mulia, wahai Akhir dari yang memberi ampunan, bermurah hatilah kepada kami dengan taubat dan kepada seluruh orang-orang yang berdosa, yang memindahkan kami dengannya dari kehinaan maksiat ke kemuliaan ketaatan, dan teguhkanlah kami di atasnya hingga Engkau keluarkan kami dari dunia tanpa dosa dan tanpa pengikut, di atas jalan ahlus sunnah wal jamaah yang telah Engkau wajibkan bagi mereka rahmat dan syafaat.
Ya Allah, sesungguhnya ketaatan dan kemaksiatan adalah dengan takdir-Mu, dan di tangan-Mu hati-hati dan ubun-ubun. Maka sucikanlah hati-hati kami dengan air taubat, dan cucilah dari kotoran dosa, dan karuniakan kepada kami keselamatan dalam agama dan dunia kami, dalam pendengaran dan penglihatan kami, dan seluruh anggota badan kami selama Engkau menghidupkan kami, dan jangan kembalikan kami ke belakang setelah Engkau memberi kami hidayah. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.
۞۞۞۞۞
9 – Majelis dalam Menyebut Surga dan Sifat-sifatnya
Dan Apa yang Telah Allah Persiapkan untuk Para Wali-Nya dari Kenikmatan di Dalamnya
210
Wahai orang yang mencari, sesungguhnya patut bagimu untuk menyibukkan hatimu dan menjalankan pikiranmu dengan memandang kepada apa yang telah Allah Azza wa Jalla persiapkan untuk para wali-Nya di surga-Nya, dan kerinduan kepada apa yang Allah deskripsikan kepada kita dari kenikmatan surga. Barangsiapa yang sibuk dengan menyebutnya dan rindu kepada kenikmatan surga, maka ia akan melalaikan keinginan terhadap dunia, keserakahan terhadapnya, terombang-ambing dengan angan-angannya, dan meninggalkan pencarian kemuliaan di dalamnya.
211 – Ayat-ayat tentang Surga
Dan Allah Azza wa Jalla telah berfirman: “Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menginginkan kemuliaan di bumi dan tidak (pula) berbuat kerusakan. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Surat Al-Qashash, ayat 83) Dan Azza wa Jalla berfirman: “Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa, mengalir sungai-sungai di bawahnya, buahnya tetap ada dan naungannya.” (Surat Ar-Ra’d, ayat 13) Dan Azza wa Jalla berfirman: “Surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mereka dihiasi di dalamnya dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutra.” (Surat Fathir, ayat 33) Dan Allah berfirman: “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan dari kami kesedihan. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (Surat Fathir, ayat 34) ayat hingga “keletihan”.
Allah Azza wa Jalla berfirman: “Di dalam surga-surga yang penuh kenikmatan. Di atas dipan-dipan berhadap-hadapan. Diedarkan kepada mereka gelas dari air yang mengalir.” (Surat Ash-Shaffat, ayat 45) ayat hingga “tersimpan”. Dan Allah Azza wa Jalla berfirman: “Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan piala-piala.” (ayat 71) hingga “kekal”.
212 – Hadits-hadits tentang Surga
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku tidak melihat seperti surga, orang yang mencarinya tidur, dan tidak seperti neraka, orang yang lari darinya tidur.” Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu bahwa ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang rindu kepada surga, ia akan bersegera kepada kebaikan-kebaikan, dan barangsiapa yang takut dari neraka, ia akan melalaikan syahwat-syahwat, dan barangsiapa yang menanti kematian, musibah-musibah akan ringan baginya.”
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ketika Allah menciptakan surga, Dia berfirman kepada Jibril: Pergilah dan lihatlah surga. Maka ia pergi dan melihatnya, kemudian kembali dan berkata: Wahai Tuhanku, tidak ada seorang pun yang mendengarnya kecuali pasti akan memasukinya. Kemudian Allah mengelilinginya dengan kesulitan-kesulitan. Allah berfirman: Pergilah dan lihatlah surga. Maka ia pergi dan berkata: Wahai Tuhanku, demi kemuliaan-Mu, aku khawatir tidak ada seorang pun yang akan memasukinya. Ketika Allah menciptakan neraka, Dia berfirman: Wahai Jibril, pergilah dan lihatlah. Maka ia pergi dan Jibril berkata: Wahai Tuhanku, tidak ada seorang pun yang mendengarnya lalu memasukinya. Kemudian Allah mengelilinginya dengan syahwat-syahwat. Allah berfirman: Wahai Jibril, pergilah dan lihatlah. Maka ia pergi dan melihatnya lalu berkata: Wahai Tuhanku, demi kemuliaan-Mu, aku khawatir tidak akan tersisa seorang pun kecuali akan memasukinya.” Maka wahai kelompok orang-orang yang rindu, berjihadlah melawan musuh kalian yang terkutuk dengan meninggalkan syahwat-syahwat, dan berlomba-lombalah dalam perbuatan-perbuatan kebaikan, dan tahanlah dalam ketaatan kepada Tuhan kalian hal-hal yang tidak disukai, niscaya Tuhan kalian akan menempatkan kalian di surga-surga dan menempati kalian di kamar-kamar tertinggi dan mengangkat bagi kalian derajat-derajat.
213 – Pohon Tuba
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya di surga ada pohon yang disebut Tuba, seandainya pengendara berjalan dalam naungannya selama seratus tahun, ia tidak akan melintasinya.” Kerikil-kerikilnya adalah yakut, tanahnya adalah minyak wangi putih, lumpurnya adalah ambar yang abu-abu, bukit-bukitnya adalah kapur barus kuning, buah-buah mudanya adalah zamrud hijau, cabang-cabangnya adalah sutra dan brokat, bunganya adalah taman-taman kuning, daunnya adalah kain-kain hijau, buahnya adalah pakaian-pakaian kuning, minumannya adalah jahe dan madu, aromanya adalah za’faran yang mempesona, dan alnjuj yang menyala tanpa bahan bakar. Dari pangkalnya memancar sungai-sungai Salsabil dan Rahiq, dan naungannya adalah majelis-majelis ahli surga yang mereka datangi dan tempat berbincang yang mengumpulkan mereka di bawahnya.
214 – Gambaran Surga
Ketika suatu hari mereka sedang berbincang-bincang dalam naungannya, tiba-tiba datanglah kepada mereka para malaikat dengan kendaraan-kendaraan yang diberi tali kekang dengan rantai-rantai dari emas, seakan-akan wajah-wajah mereka adalah pelita-pelita karena kesegaran dan keindahan, bulunya adalah sutra merah dan brokat putih yang bercampur merah dengan putih dan putih dengan merah. Para penonton tidak pernah melihat yang seperti itu karena keindahan dan keelokannya. Jinak tanpa kesulitan, tangkas tanpa pelatihan, pelana-pelananya dari yakut hijau yang dilapis dengan brokat dan pakaian sutra, tali kekangnya dari emas, dan pakaiannya adalah sutra dan brokat. Maka mereka memasang kendaraan-kendaraan itu untuk mereka, memberi salam kepada mereka dengan salam dari Tuhan Yang Maha Salam, dan berkata kepada mereka: “Penuhilah panggilan Tuhan kalian, Yang Maha Mulia. Sesungguhnya Dia meminta kalian untuk mengunjungi-Nya, maka kunjungilah Dia. Dia akan memberi salam kepada kalian dan kalian akan memberi salam kepada-Nya, Dia akan memandang kalian dan kalian akan memandang-Nya, Dia akan berbicara kepada kalian dan kalian akan berbicara kepada-Nya, Dia akan menyapa kalian dan kalian akan menyapa-Nya, dan Dia akan menambah kalian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia memiliki rahmat yang luas dan karunia yang agung.”
215 – Kendaraan-kendaraan Surga
Maka setiap orang dari mereka akan naik ke kendaraannya, kemudian mereka berjalan dalam satu barisan yang lurus, seorang laki-laki di samping saudaranya di sebelah kanannya. Lutut unta tidak mendahului lutut kawannya, dan telinga unta tidak melampaui telinga kawannya. Mereka melewati pohon dari pohon-pohon surga, maka pohon itu akan condong untuk memberi jalan bagi mereka karena tidak ingin memisahkan di antara mereka. Ketika mereka berhenti di hadapan Yang Maha Perkasa, Maha Berkah dan Maha Tinggi, Dia akan menampakkan kepada mereka wajah-Nya Yang Mulia dan menampakkan diri kepada mereka dalam keagungan-Nya Yang Agung. Maka mereka akan memberi salam kepada-Nya, dan Dia akan menyambut baik salam dan sapaan mereka. Salam dan sapaan mereka adalah dengan mengatakan: “Tuhan kami, Engkaulah As-Salam, dan dari-Mu salam, dan bagi-Mu hak kemuliaan dan pengagungan.” Maka Tuhan Yang Maha Mulia akan berfirman kepada mereka: “Hamba-hamba-Ku, salam dari-Ku atas kalian, dan rahmat serta kasih sayang-Ku atas kalian. Selamat datang kepada hamba-hamba-Ku yang telah menaati-Ku dengan ghaib, yang telah menjaga wasiat-Ku, memelihara perjanjian-Ku, dan selalu takut kepada-Ku dalam setiap keadaan.” Maka mereka berkata: “Demi kemuliaan-Mu, keagungan-Mu, kebesaran-Mu, dan ketinggian kedudukan-Mu, kami tidak menghargai-Mu dengan sebenar-benar penghargaan dan tidak menunaikan kepada-Mu semua hak-Mu. Maka izinkanlah kami untuk sujud kepada-Mu.” Tuhan mereka Azza wa Jalla berfirman kepada mereka: “Sesungguhnya Aku telah mengangkat dari kalian beban ibadah. Ini adalah waktu Aku mengistirahatkan badan-badan kalian, dan ini adalah waktu kalian sampai kepada kedamaian-Ku, rahmat-Ku, surga-Ku, kemuliaan-Ku, dan penyempurnaan janji yang telah Aku janjikan kepada kalian. Maka mintalah kepada-Ku apa yang kalian inginkan, dan berangan-anganlah kepada-Ku, Aku akan memberikan kalian angan-angan kalian. Karena sesungguhnya Aku tidak akan membalas kalian hari ini sesuai ukuran amal-amal kalian, tetapi Aku akan membalas kalian sesuai ukuran rahmat-Ku, kemuliaan-Ku, kasih sayang-Ku, kemuliaan-Ku, keagungan-Ku, ketinggian kedudukan-Ku, dan kebesaran urusan-Ku. Maka mintalah kepada-Ku apa yang kalian inginkan.” Maka mereka terus berangan-angan hingga orang yang kurang dalam angan-angannya berkata: “Tuhan kami, penduduk dunia telah bersaing dalam dunia mereka dan sebagian dari mereka sombong kepada sebagian yang lain. Maka jadikanlah bagianku dari surga segala sesuatu yang dimiliki penduduk dunia sejak hari Engkau ciptakan hingga hari Engkau binasakan. Karena sesungguhnya kami telah menolaknya, berzuhud terhadapnya, dan ia kecil di mata kami karena kesibukan dengan urusan-Mu, pengagungan terhadap-Mu, penghormatan dan pemuliaan.”
216 – Kemuliaan Allah Ta’ala
Maka Tuhan mereka berfirman kepada mereka: “Sungguh kalian telah merendahkan angan-angan kalian, ridha dengan kurang dari bagian kalian, dan dengan yang lebih sedikit dari hak kalian. Maka sesungguhnya Aku telah wajibkan bagi kalian apa yang kalian minta dan angan-angankan hingga diri-diri kalian mengenalinya. Dan Aku tambahkan kepada kalian apa yang kurang dari angan-angan kalian. Maka lihatlah kepada apa yang telah Aku persiapkan untuk kalian, kepada apa yang tidak dicapai oleh angan-angan kalian dan tidak terlintas di hati kalian.” Maka mereka diberi itu, lalu mereka berkata: “Tuhan kami, Engkaulah yang paling berhak dengan keamanan dan rahmat. Dan seandainya Engkau menyerahkan kami kepada diri-diri kami dan angan-angan kami, niscaya kami akan menyia-nyiakan bagian kami.” Dan tiba-tiba kubah-kubah di tempat tertinggi telah didirikan, dan kamar-kamar dari mutiara dan marjan telah ditinggikan. Pintu-pintunya dari emas, mimbar-mimbarnya dari cahaya, dipan-dipannya dari yakut, dan permadaninya dari sutra dan brokat. Mengalir dari balkon-balkon dan mulut-mulutnya air dengan cahaya yang sinar matahari di sampingnya seperti cahaya bintang yang berkelip. Tiba-tiba mereka melihat istana-istana yang tinggi menjulang di tempat tertinggi dari yakut yang memancarkan cahayanya. Seandainya istana-istana itu diambil, niscaya pandangan-pandangan akan terpesona karena jernihnya dan mulianya permata. Maka yang putih dari yakut putih dilapisi dengan sutra putih.
Dan yang merah dari yakut merah dilapisi dengan brokat merah.
Dan yang hijau dari yakut hijau dilapisi dengan sutra hijau.
Dan yang kuning dari yakut kuning dilapisi dengan pakaian sutra kuning, berpintu dengan emas merah dan perak putih. Fondasinya dari permata, sudut-sudutnya dari emas, atapnya kubah-kubah dari mutiara, dan menaranya kamar-kamar dari marjan.
217 – Kuda-Kuda Surga
Mereka seperti itu, dan tiba-tiba ada kuda-kuda yang didekatkan, terbuat dari batu permata merah yang di dalamnya ditiupkan ruh. Di sampingnya ada para pemuda abadi. Di tangan setiap pemuda ada tali kekang kuda dari kuda-kuda tersebut. Di atas setiap empat kuda ada satu tingkatan dari tingkatan-tingkatan surga seperti pelana. Bagian bawahnya adalah tempat tidur dari batu permata. Di atas setiap tempat tidur ada kubah dari emas murni. Di setiap kubah ada kasur dari kasur-kasur surga. Tidak ada warna indah di surga kecuali ada di dalamnya, dan tidak ada aroma harum kecuali menyebar di keduanya. Cahaya wajah mereka menembus tebalnya kubah sehingga orang yang melihat mereka mengira bahwa mereka berada di luar kubah. Terlihat sumsum di dalam tulang mereka sebagaimana terlihat benang putih di dalam batu permata yang jernih.
Kemudian Allah Azza wa Jalla memerintahkan seorang laki-laki dari mereka untuk beralih ke kendaraannya bersama pasangannya. Pasangannya memeluknya, menciumnya, dan menjanjikan kemuliaan Allah Azza wa Jalla. Kubah itu ada yang dari mutiara, zamrud, batu permata, atau permata. Di dalam kubah dari istana-istana itu ada mimbar-mimbar dari cahaya, di atasnya malaikat-malaikat duduk menunggu mereka untuk mengucapkan selamat dan memberi salam.
Kemudian setiap laki-laki dari mereka beralih ke kendaraannya. Kuda-kuda itu diarak dan di sampingnya para pemuda abadi mengiringi mereka. Malaikat-malaikat yang didekatkan mengawal mereka, membawa mereka melewati taman-taman surga.
Ketika mereka diangkat ke istana-istana mereka, malaikat-malaikat bangkit menyambut mereka, menurunkan mereka, berjabat tangan dengan mereka, dan menggenggam tangan mereka. Kemudian mereka mendudukkan mereka di antara mereka, lalu mereka mulai tertawa dan bersenda gurau sampai suara mereka tinggi.
218 – Berjabat Tangan dengan Malaikat
Malaikat-malaikat berkata: “Demi keagungan Tuhan kami dan keagungan-Nya, kami tidak tertawa sejak kami diciptakan kecuali bersama kalian, dan kami tidak bersenda gurau kecuali bersama kalian. Maka selamat bagimu, selamat dengan kemuliaan Tuhanmu.”
Ketika mereka berpamitan dan pergi dari mereka, mereka masuk ke istana-istana mereka. Tidak ada seorang pun dari mereka kecuali telah mendapati Allah Azza wa Jalla telah mengumpulkan untuk mereka di istananya segala angan-angan yang mereka inginkan. Dan di setiap istana ada pintu yang menuju ke lembah yang luas dari lembah-lembah surga. Lembah-lembah itu dikelilingi oleh gunung-gunung dari kapur barus putih, begitu pula gunung-gunung surga yang merupakan tambang-tambang permata, batu permata, dan perak yang lubang-lubangnya kosong menghadap ke perut lembah-lembah itu.
Di perut setiap lembah ada empat taman. Dua taman yang mempunyai banyak pohon. Di keduanya ada dua mata air yang mengalir. Di keduanya ada dari setiap buah-buahan sepasang. Dan dua taman yang sangat hijau. Di keduanya ada dua mata air yang memancar. Di keduanya ada buah-buahan, kurma, dan delima. Dan bidadari-bidadari yang terjaga dalam khemah-khemah. Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka maupun jin, seakan-akan mereka permata yakut dan marjan.
Ketika mereka telah menempati tempat tinggal dan menetap di tempat mereka, Tuhan mereka Tabaraka wa Ta’ala mengunjungi mereka bersama malaikat-malaikat-Nya. Maka Dia berfirman kepada mereka: “Apakah kalian telah menemukan apa yang dijanjikan Tuhan kalian sebagai kenyataan?” (QS. Al-A’raf: 44) Mereka menjawab: “Ya.” Dia berkata: “Bagaimana kalian mendapati pahala Tuhan kalian?” Mereka berkata: “Kami ridha, maka ridhailah kami.”
Maka Yang Maha Mulia, Maha Agung, berfirman kepada mereka: “Dengan keridhaan-Ku kepada kalian, kalian melihat wajah-Ku, mendengar firman-Ku, menempati negeri-Ku, dan berjabat tangan dengan malaikat-malaikat-Ku. Maka selamat, selamat pemberian-Ku untuk kalian. Tidak ada kesusahan dan kesulitan di dalamnya.”
Maka mereka berkata: “Yang telah menempatkan kami di negeri yang kekal dari karunia-Nya. Tidak ada kepayahan yang menimpa kami di dalamnya dan tidak pula kelesuan.” (QS. Fathir: 35)
219 – Jumlah Surga dan Nama-Namanya
Diriwayatkan dari Wahab bin Munabbih dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Ketika Allah Tabaraka wa Ta’ala menciptakan surga-surga pada hari Dia menciptakannya, Dia melebihkan sebagiannya atas sebagian yang lain. Surga itu ada tujuh: Darul Khuld (Negeri Keabadian), Darus Salam (Negeri Kesejahteraan), Jannatu Adn (Surga Adn) – dan ini adalah ibukota surga yang mengawasi semua surga, dan ini adalah negeri Ar-Rahman Tabaraka wa Ta’ala, tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dan tidak menyerupai sesuatu pun – dan pintu Jannatu Adn memiliki dua daun pintu dari zamrud dan zabarjad dari cahaya, seperti jarak antara Timur dan Barat. Jannatul Ma’wa (Surga Tempat Tinggal), Jannatul Khuld (Surga Keabadian), Jannatul Firdaus (Surga Firdaus), dan Jannatu Na’im (Surga Kenikmatan) – tujuh surga yang Allah Azza wa Jalla ciptakan dari cahaya, semuanya kota-kotanya, istana-istananya, rumah-rumahnya, balkon-balkonnya, pintu-pintunya, tangga-tangganya, bagian atas dan bawahnya, bejana-bejananya, perhiasannya, dan semua jenis apa yang ada di dalamnya dari buah-buahan yang tergantung, sungai-sungai yang dihiasi dengan berbagai warna minuman, kemah-kemah yang menjulang, pohon-pohon yang hijau dengan berbagai warna buah-buahan, bunga-bunga harum, bunga-bunga yang mekar, dan rumah-rumah yang indah dan mengagumkan.
220 – Bidadari
Di dalamnya ada pasangan-pasangan yang suci dan bidadari-bidadari yang manja dengan cahaya yang gemerlap, berselendang dengan selendang kemuliaan, berhias dengan misk, berpakaian indah. Bola mata mereka celak, pandangan mereka tunduk, dan ubun-ubun mereka dimahkotai dengan mutiara, dipasangi dengan batu permata. Mereka memanggil dengan suara manja yang lembut dan merdu, berkata: “Kami adalah yang kekal, tidak akan mati selamanya. Kami adalah yang manja, tidak akan susah selamanya. Kami adalah yang menetap, tidak akan pergi selamanya. Kami adalah yang ridha, tidak akan murka selamanya. Kami adalah bidadari-bidadari yang cantik, pasangan kaum yang mulia. Kami adalah para gadis perawan yang cantik untuk para hamba yang beriman. Beruntunglah orang yang menjadi milik kami dan kami menjadi miliknya.”
Itulah firman-Nya Azza wa Jalla: “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta” (QS. Al-Waqi’ah: 35-37) yang mencintai suami-suami mereka. “Sebaya” (QS. Al-Waqi’ah: 37), seimbang dalam usia. “Dan bidadari-bidadari yang bermata jeli” (QS. Al-Waqi’ah: 22), cantik jelita. “Seperti mutiara yang tersimpan” (QS. Al-Waqi’ah: 23), seakan-akan mereka permata yakut dan marjan. Jalannya berlari kecil dan nyanyiannya menyenangkan, indah, menawan, cinta kepada suaminya, mencintainya, terkurung untuknya, dan tertutup dari yang lain.
Itulah firman-Nya Azza wa Jalla: “Di dalamnya ada bidadari-bidadari yang menundukkan pandangan” (QS. Ar-Rahman: 56), artinya mereka menundukkan pandangan mereka dari laki-laki, maka mereka tidak melihat selain suami mereka. “Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka maupun jin” (QS. Ar-Rahman: 56). Setiap kali suaminya mendatanginya, dia mendapatinya masih perawan. Di tubuhnya ada tujuh puluh pakaian dengan berbagai hiasan dan warna. Membawanya lebih ringan dan lebih mudah baginya daripada rambutnya.
221 – Sifat Bidadari
Di lehernya tertulis: “Engkau cintaku dan aku cintamu. Aku tidak menginginkan penggantimu dan tidak ada yang lain selain engkau.”
Hatinya adalah cerminnya dan hatinya adalah cerminnya. Dia melihat sumsum kakinya dari balik dagingnya dan perhiasannya sebagaimana engkau melihat minuman merah di dalam gelas putih, dan sebagaimana terlihat benang putih di dalam permata yakut yang jernih.
222 – Darus Salam (Negeri Kesejahteraan)
Dan Allah menciptakan Darus Salam dari batu permata semuanya – pasangan-pasangannya, pelayan-pelayannya, bejana-bejananya, tempat tidurnya, kamar-kamarnya, istana-istananya, kemah-kemahnya, kota-kotanya, tangga-tangganya, kamar-kamarnya, dan pintu-pintunya.
Dan buah-buahannya dari mutiara dan batu permata.
223 – Jannatu Adn (Surga Adn)
Dan Allah menciptakan Jannatu Adn dari zabarjad semuanya dengan sifat ini. Dan Dia menciptakan Jannatul Ma’wa dari emas merah semuanya dengan semua isinya dengan sifat ini.
224 – Jannatul Khuld (Surga Keabadian)
Dan Allah menciptakan Jannatul Khuld dari perak putih semuanya dengan semua isinya dengan sifat ini.
Dan surga-surga semuanya seratus tingkat. Jarak antara dua tingkat adalah lima ratus tahun.
Dindingnya bata dari emas dan bata dari perak, dan bata dari batu permata dan bata dari zabarjad.
Plastelannya adalah misk, istana-istananya batu permata, kamar-kamarnya mutiara, pintu-pintunya emas, tanahnya perak, kerikil-kerikilnya marjan, dan tanahnya misk.
Allah Azza wa Jalla menyediakannya untuk wali-wali-Nya. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Wahai wali-wali-Ku, lewatilah shirath dengan ampunan-Ku, masuklah surga dengan rahmat-Ku, dan bagilah surga dengan amal-amal kalian. Untukmu Aku membuat buah-buahan Firdaus, untukmu Aku tegakkan pohon keabadian, untukmu Aku bangun istana-istana yang didasarkan pada kenikmatan dan ditinggikan dengan kerajaan dan keabadian.”
225 – Tingkatan-Tingkatan Penghuni Surga
Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata: “Penghuni surga yang paling rendah tingkatannya adalah orang yang memiliki dari surga perjalanan lima ratus tahun. Dia dinikahkan dengan lima ratus bidadari, empat ribu perawan, dan delapan ribu rumah. Sesungguhnya dia memeluk istrinya sepanjang umur dunia tanpa salah seorang dari mereka terpisah dari yang lain. Sesungguhnya hidangan diletakkan di hadapannya, maka kekenyangan itu tidak selesai sepanjang umur dunia. Sesungguhnya bejana diletakkan di mulutnya, maka kehausannya tidak hilang sepanjang umur dunia.
Sesungguhnya seorang malaikat datang kepadanya dengan seratus pakaian di antara dua jarinya sebagai hadiah dari Tuhannya Tabaraka wa Ta’ala. Lalu dia melemparkannya ke tubuhnya. Maka hamba itu berkata: ‘Segala puji bagi Allah, Maha Suci Tuhanku dan Maha Tinggi.’ Maka aku tidak kagum seperti kekagumanku dengan hadiah ini.
Maka malaikat berkata: ‘Apakah engkau kagum?’ Dia menjawab: ‘Ya.’ Maka malaikat segera mendatangi pohon terdekat dari Jannatul Khuld, lalu berkata: ‘Aku adalah utusan Tuhanmu kepadamu, jadilah untuk wali Allah apa yang dia sukai.’ Maka pohon itu berubah untuknya sesuai apa yang dia kehendaki.
226 – Makanan Surga
Dan sarapannya mencapai tujuh puluh ribu piring dari berbagai jenis daging burung seperti unta tidak ada bulu padanya, tidak ada bulu halus, dan tidak ada tulang. Tidak dimasak dengan api dan tidak digoreng di panci. Kelezatannya seperti kelezatan mentega, manisnya seperti manisnya madu, dan aromanya seperti aroma misk.
Dia makan dari semuanya, dia menemukan untuk yang terakhir dari rasa seperti dia menemukan untuk yang pertama.
Dan dalam makan malamnya seperti itu.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Mereka makan, minum, dan menikmati buah-buahan. Makanan dan minuman mereka menjadi keringat seperti keringat misk yang keluar dari tubuh mereka. Dan Allah Tabaraka wa Ta’ala mengutus kepada mereka malaikat-malaikat dengan hadiah dari sisi Arsy.”
227 – Kemanjaan Bidadari
Diriwayatkan dari Al-Hasan radhiyallahu anhu bahwa dia berkata: “Sementara wali Allah di surga bersama istrinya dari bidadari di atas tempat tidur dari batu permata merah dan di atasnya kubah dari cahaya, tiba-tiba dia berkata kepadanya: ‘Aku rindu melihat jalanmu.’ Maka dia turun dari tempat tidur batu permata merah ke taman marjan hijau, dan Allah Azza wa Jalla menciptakan untuknya di taman itu dua jalan dari cahaya, salah satunya ditumbuhi za’faran dan yang lain ditumbuhi kapur barus. Maka dia berjalan di tumbuhan za’faran dan kembali di tumbuhan kapur barus, dan berjalan dengan tujuh puluh ribu jenis kemanjaan.”
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu bahwa dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Cahaya memancar di surga, maka mereka mengangkat kepala mereka, ternyata itu adalah cahaya bidadari yang tersenyum di wajah suaminya.”
Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya penghuni surga makan dan minum, mereka tidak bersin, tidak buang air besar, dan tidak buang air kecil. Tetapi itu adalah keringat seperti keringat misk. Mereka telah diilhami untuk bertasbih, bertakdis, bertakbir, dan bertahmid.”
228 – Pakaian Penghuni Surga
Diriwayatkan dari sebagian ulama bahwa dia berkata: “Sampai kepadaku bahwa wali Allah di surga mengenakan pakaian yang memiliki dua sisi yang saling bersahutan dengan suara merdu. Yang menempel di tubuhnya berkata: ‘Aku lebih mulia bagi wali Allah darimu, aku menyentuh tubuhnya dan engkau tidak menyentuh tubuhnya.’ Maka yang di sisi wajahnya berkata: ‘Bahkan aku lebih mulia bagi wali Allah darimu, aku melihat wajahnya dan engkau tidak melihat wajahnya.'”
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Penghuni surga dibangkitkan dengan bentuk Adam alaihis salam pada kelahiran tiga puluh tiga tahun, tanpa pakaian, tanpa jenggot, bercelak. Kemudian mereka dibawa ke pohon di surga, lalu mereka mengenakan pakaian darinya yang tidak akan rusak pakaian mereka dan tidak akan habis masa muda mereka.”
229 – Orang Pertama yang Masuk Surga
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya rombongan pertama yang masuk surga dengan bentuk bulan di malam purnama. Dan orang-orang yang mengikuti mereka seperti bintang paling terang di langit cahayanya. Hati mereka satu hati, tidak ada perselisihan di antara mereka dan tidak ada kebencian. Mereka bertasbih kepada Allah pagi dan sore. Mereka tidak sakit di dalamnya, tidak mati, dan tidak pingsan. Bejana-bejana mereka dari emas dan perak, sisir-sisir mereka emas, bahan bakar pedupaan mereka kayu gaharu, dan keringat mereka misk.”
230 – Tempat Tinggal Surga
Al-Hasan rahimahullah berkata tentang firman-Nya Azza wa Jalla: “Dan tempat-tempat tinggal yang baik di Jannatu Adn” (QS. At-Taubah: 72). Dikatakan keponakannya bertanya kepadanya tentang hal itu, maka dia berkata: “Wahai keponakanku, engkau bertanya kepada orang yang tepat. Aku bertanya tentangnya kepada Abu Hurairah dan Imran bin Hushain, maka mereka berkata: ‘Engkau bertanya kepada orang yang tepat. Kami bertanya tentangnya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana engkau bertanya kepada kami.’ Maka beliau bersabda: ‘Itu adalah istana di surga dari mutiara putih, di dalamnya tujuh puluh rumah dari batu permata merah. Di setiap rumah tujuh puluh kamar dari zamrud hijau. Di setiap kamar tujuh puluh tempat tidur. Di atas setiap tempat tidur ada kasur, warna demi warna. Di atas setiap tempat tidur seorang wanita dari bidadari.
Di setiap kamar ada meja. Di atas setiap meja tujuh puluh piring. Di atas setiap meja tujuh puluh pelayan laki-laki dan perempuan. Allah memberikan kepada mukmin dalam satu pagi apa yang cukup untuk makan makanan itu dan berkeliling kepada istri-istri itu.'”
231 – Burung-burung Surga
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya dia melihat burung di surga, lalu burung itu jatuh di hadapannya dalam keadaan terpanggang. Dan burung-burung itu seperti unta-unta dalam ukurannya. Maka burung itu berkata: ‘Wahai wali Allah, adapun aku, sungguh aku telah merumput di lembah ini dan itu, dan aku telah memakan buah-buahan ini dan itu, dan aku telah minum dari mata air ini dan itu, dan umurku sekian, dan aromaku sekian, maka makanlah aku.’ Ketika dia menginginkan keindahan burung itu dan menginginkan sifatnya, maka terlintas dalam hatinya, burung itu jatuh sesuai yang dia inginkan sebelum dia berbicara—setengahnya dendeng dan setengahnya panggang. Setiap kali kenyang, Allah memberikan kepadanya seribu pintu keinginan untuk makan. Kemudian didatangkan minuman dengan dinginnya kapur barus—dan ini bukan kapur barus ini—dan dengan rasa jahe—dan ini bukan jahe ini—dan dengan aroma misk—dan ini bukan misk ini. Ketika dia minum, tercernalah apa yang dia makan dari makanan itu. Dan dia makan sebanyak empat puluh tahun, dan diberi kekuatan seratus pemuda dalam bersetubuh, dan dia bersetubuh selama empat puluh tahun. Baginya setiap hari seratus gadis perawan dengan kemaluan yang tidak bosan dan tidak lemas, dan farji yang tidak kering dan tidak mengeluarkan mani.”
232 – Sungai-sungai Surga
Wahab bin Munabbih radhiyallahu anhu berkata: Sesungguhnya di taman-taman surga terdapat sungai dari sungai-sungainya, dan ia adalah asal dari seluruh sungai surga. Allah Azza wa Jalla memunculkannya di mana saja Dia kehendaki. Dan sesungguhnya sungai Nil adalah sungai madu, dan Tigris adalah sungai susu di surga, dan Efrat adalah sungai khamr di surga, dan Saihan adalah sungai air di surga, dan Jaihan demikian pula—keduanya di tanah India dan keduanya adalah sungai air di surga. Allah Azza wa Jalla mensifati mereka di dunia hingga Dia mengalirkan mereka ke surga.
Dan Wahab menyebutkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tertulis di pintu surga: Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada tuhan selain Aku. Aku tidak akan menyiksa orang yang mengucapkannya. Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada tuhan selain Aku, Muhammad adalah Rasulullah. Aku tidak akan menyiksa orang yang mengucapkannya.” Dan diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Sejengkal di surga lebih baik daripada dunia dan seisinya.” Allah Azza wa Jalla berfirman: “Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.” (As-Sajdah: 17)
233 – Tempat Tidur Surga
Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata: Dan yaitu bahwa wali Allah di surga berada di atas tempat tidur, dan tempat tidur itu ketinggiannya lima ratus tahun. Dan itu adalah firman Allah Azza wa Jalla: “Dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk.” (Al-Waqi’ah: 34) Beliau berkata: Dan tempat tidur itu dari yakut merah dan memiliki dua sayap dari zamrud hijau. Dan di atas tempat tidur itu tujuh puluh kasur yang isinya cahaya dan luarnya dari sutera halus dan dalamnya dari sutera tebal. Seandainya kasur teratasnya dijatuhkan, tidak akan sampai ke bagian paling bawahnya selama empat puluh tahun.
234 – Dipan-dipan Surga
Dan di atas tempat tidur itu terdapat dipan, yaitu kelambu. Dan itu dari mutiara, di atasnya tujuh puluh tirai dari cahaya. Dan itu adalah firman Allah Azza wa Jalla: “Mereka dan pasangan-pasangan mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan.” (Yasin: 56) Yakni teduhnya pepohonan di atas dipan-dipan, yakni tempat tidur di dalam kelambu. Maka sementara dia memeluknya, dia tidak bosan darinya dan dia tidak bosan darinya—dan pelukan itu selama empat puluh tahun. Ketika dia mengangkat kepalanya, tiba-tiba dia melihat yang lain mengintip kepadanya memanggilnya: “Wahai wali Allah, apakah tidak ada giliran untuk kami darimu?” Maka dia berkata: “Kekasihku, siapa engkau?” Maka dia berkata: “Aku adalah dari para wanita yang Allah berfirman tentang mereka: ‘Dan pada sisi Kami ada tambahannya.'” (Qaf: 35) Beliau berkata: Maka terbang tempat tidurnya—atau beliau berkata: kursinya—dari emas yang memiliki dua sayap. Ketika dia melihatnya, maka dia berlipat ganda dari yang pertama seratus ribu bagian dari cahaya. Maka dia memeluknya selama empat puluh tahun, dia tidak bosan darinya dan dia tidak bosan darinya. Ketika dia mengangkat kepalanya, dia melihat cahaya yang memancar di rumahnya, maka dia heran lalu berkata: “Subhanallah, apakah malaikat mulia mengunjungi kami atau Rabb kami menyinari kami?” Maka malaikat berkata—dan dia berada di atas kursi dari cahaya, antara dia dan malaikat tujuh puluh tahun, dan malaikat itu dalam kelambu bersama para malaikat—: “Tidak ada malaikat yang mengunjungimu dan tidak ada Rabbmu Azza wa Jalla yang menyinarimu.” Maka dia berkata: “Apa cahaya ini?”
235 – Istri Dunia
Maka malaikat berkata: “Istrimu dari dunia—dan dia bersamamu di surga—sesungguhnya dia mengintip kepadamu dan melihatmu sedang memeluk wanita ini, lalu dia tersenyum, maka ini adalah cahaya yang memancar yang kamu lihat di rumahmu, yaitu cahaya giginya.” Maka dia mengangkat kepalanya kepadanya, lalu dia berkata: “Wahai wali Allah, apakah tidak ada giliran untuk kami darimu?” Maka dia berkata: “Kekasihku, siapa engkau?” Maka dia berkata kepadanya: “Wahai wali Allah, adapun aku adalah dari para wanita yang Allah Azza wa Jalla berfirman tentang mereka: ‘Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata.'” (As-Sajdah: 17)
Maka terbang tempat tidurnya kepadanya. Ketika dia bertemu dengannya, maka dia berlipat ganda dari wanita yang lain ini seratus ribu bagian dari cahaya, karena wanita ini berpuasa, shalat, dan beribadah kepada Allah Azza wa Jalla. Maka dia ketika masuk surga lebih utama daripada para wanita surga, karena mereka itu tumbuh sebagai tanaman. Maka dia memeluk wanita ini selama empat puluh tahun, dia tidak bosan darinya dan dia tidak bosan darinya. Kemudian sesungguhnya dia berdiri di hadapannya, dan gelangannya dari yakut. Ketika dia melangkah, terdengar dari gelangannya kicauan setiap burung di surga. Ketika dia menyentuh telapak tangannya, ia lebih lembut daripada sumsum, dan dia mencium dari telapak tangannya aroma setiap wewangian di surga. Dan di atasnya tujuh puluh helai pakaian dari cahaya. Seandainya selendang darinya dibentangkan, niscaya menerangi antara timur dan barat. Diciptakan dari cahaya, dan pakaian-pakaian di atasnya berupa gelang-gelang dari emas, dan gelang-gelang dari perak, dan gelang-gelang dari mutiara. Dan pakaian-pakaian itu lebih halus daripada jaring laba-laba, dan itu lebih ringan di atasnya daripada ukiran. Dan sesungguhnya dia melihat sumsum betisnya dari kejernihannya dan kehalusannya dari balik tulang, daging, kulit, dan pakaian-pakaian. Tertulis pada lengan kanannya dengan cahaya: “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami.” (Az-Zumar: 74) Dan pada lengan yang lain tertulis dengan cahaya: “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan dukacita dari kami.” (Fathir: 34)
236 – Pertukaran Cinta
Dan tertulis di hatinya dengan cahaya: “Kekasihku, aku untukmu, aku tidak menginginkan penggantimu.” Dan hatinya adalah cerminnya, dan dia dalam kejernihan yakut, keindahan marjan, dan keputihan mutiara yang tersimpan. “Penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (Al-Waqi’ah: 37) Yang penuh cinta adalah yang mencintai suami-suami mereka, dan yang sebaya adalah anak-anak gadis berumur dua puluh lima tahun, bergigi renggang. Seandainya dia tertawa, niscaya menerangi cahaya giginya, dan seandainya makhluk mendengar ucapannya, niscaya terpesona setiap yang berbuat baik dan yang berbuat jahat. Maka dia berdiri di hadapannya, dan betisnya berlipat ganda dari kakinya seratus ribu bagian dari cahaya, dan pahanya berlipat ganda dari betisnya seratus ribu bagian dari cahaya, dan pantatnya berlipat ganda dari pahanya seratus ribu bagian dari cahaya, dan perutnya berlipat ganda dari pantatnya seratus ribu bagian dari cahaya, dan dadanya berlipat ganda dari perutnya seratus ribu bagian dari cahaya, dan wajahnya berlipat ganda dari lehernya seratus ribu bagian dari cahaya. Seandainya dia meludah di lautan dunia, niscaya semua itu menjadi manis. Dan seandainya dia mengintip dari atap rumahnya ke dunia, niscaya cahayanya menyembunyikan cahaya matahari dan bulan. Di atasnya mahkota dari yakut merah yang dihiasi dengan mutiara dan marjan. Di kanannya seratus ribu sanggul dari sanggul rambutnya.
237 – Kepangan Kecantikan
Dan sanggul-sanggul itu ada sanggul dari cahaya, sanggul dari yakut, sanggul dari mutiara, sanggul dari zamrud, sanggul dari marjan, sanggul dari mutiara yang dihiasi dengan zamrud hijau dan merah, dihias dengan warna-warna permata, dihias dengan warna-warna bunga-bungaan. Tidak ada wewangian di surga kecuali ia berada di bawah rambutnya. Satu sanggul menerangi perjalanan empat puluh tahun. Dan di kirinya seperti itu. Dan di belakangnya seratus ribu kepangan dari kepangan rambutnya. Maka sanggul-sanggul dan kepangan-kepangan itu sampai ke lehernya, kemudian menjuntai ke pantatnya, kemudian menjuntai ke kakinya hingga diseret dengan misk. Dan di kanannya seratus ribu pelayan, setiap sanggul di tangan seorang pelayan. Dan di kirinya seperti itu. Dan di belakangnya seratus ribu pelayan, setiap pelayan memegang kepangan dari kepangan rambutnya.
238 – Para Pelayan
Dan di hadapannya seratus ribu pelayan bersama mereka pedupaan dari mutiara di dalamnya dupa tanpa api, dan aromanya pergi di surga sepanjang perjalanan seratus tahun di sekelilingnya. Dan anak-anak muda yang kekal, pemuda-pemuda yang tidak mati, seolah-olah mereka mutiara yang bertaburan dalam jumlah banyak. Dia berdiri di hadapan wali Allah, melihat kekaguman dan kebahagiaannya dengannya, dan dia gembira, mencintainya. Maka dia berkata kepadanya: “Wahai wali Allah, engkau akan semakin bertambah kebahagiaan dan kegembiraan.” Maka dia berjalan di hadapannya dengan seratus ribu jenis jalan, dalam setiap langkah dia menampakkan diri dengan tujuh puluh pakaian dari cahaya. Dan sesungguhnya penata rias bersamanya. Ketika dia berjalan, dia bergoyang, melenggang, melentur, berputar, dan bergembira dengan itu, dan tersenyum. Ketika dia condong, condong sanggul-sanggul dari rambut bersamanya, dan condong kepangan-kepangan bersamanya, dan condong para pelayan bersamanya. Ketika dia berputar, mereka berputar bersamanya. Ketika dia datang, mereka datang bersamanya. Ar-Rahman Tabaraka wa Ta’ala menciptakan ciptaan-Nya—ketika dia datang, maka dia menghadap, dan ketika dia pergi, maka dia menghadap wajahnya, tidak meninggalkan wajahnya dan tidak hilang darinya. Dan dia melihat segala sesuatu darinya. Ketika dia duduk setelah seratus ribu jenis jalan, pantatnya keluar dari tempat tidur dan sanggul-sanggulnya dan kepangan-kepangannya menjuntai. Maka gelisah wali Allah—seandainya bukan karena Allah Subhanahu telah menetapkan bahwa tidak ada kematian di dalamnya, niscaya dia mati karena gembira. Seandainya bukan karena Allah Tabaraka wa Ta’ala telah menakdirkannya untuknya, dia tidak mampu memandangnya karena takut penglihatannya hilang. Maka dia berkata kepadanya: “Wahai wali Allah, nikmatilah, maka tidak ada kematian di dalamnya.”
Dan mereka melagukan puisi:
“Cukuplah bagimu wahai Ammar dari rumah yang dicapai … surga yang di dalamnya kebaikan-kebaikan didekati dalam pakaian”
“Dan mereka berjalan dengan tenang di surga-surga di hadapan mereka … kemah-kemah dari mutiara yang berlubang dalam kelambu”
“Ketika seorang bidadari muncul, kegembiraan mengelilinginya … dan bersinar Firdaus dan kaum sedang sibuk”
“Mereka memeluk pasangan-pasangan untuk setiap yang disucikan … di atas hamparan sutera dan kehidupan telah sempurna”
“Dan berkeliling di sekelilingnya anak-anak muda dari setiap sisi … dan dipanggil wali Allah diberi balasan dengan apa yang dia lakukan”
Dan yang lain berkata:
“Wahai peminang bidadari dalam kelambu … dan yang mencari itu sesuai kemampuannya”
“Bangkitlah dengan tekad, jangan menjadi rendah … dan berjuanglah melawan jiwa atas kesabarannya”
“Dan menjauhlah dari manusia dan tinggalkanlah mereka … dan bertemanlah dengan kesendirian dalam mengingatnya”
“Dan berdiri ketika malam menampakkan wajahnya … dan berpuasalah siang hari karena itu dari maharnya”
“Seandainya matamu melihat kedatangannya … dan telah muncul dua delima dadanya”
“Dan dia berjalan di antara teman-temannya … dan kalungnya bersinar di lehernya”
“Niscaya ringan dalam dirimu ini yang … kamu lihat di duniamu dari bunganya”
239 – Jamuan Allah
Anas bin Malik radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala ketika penduduk surga tinggal di surga dan penduduk neraka di neraka, Rabb kita Yang Maha Agung Jalla Jalaluhu turun tanpa berupa dan tanpa menyerupai—Rabb kita Maha Tinggi dari itu—ke padang yang luas, maka Dia membentangkan antara Dia dan makhluk-Nya tirai dari mutiara dan tirai dari cahaya. Kemudian diletakkan mimbar-mimbar cahaya, dipan-dipan cahaya, dan kursi-kursi cahaya. Kemudian diizinkan kepada seorang laki-laki yang mulia di sisi Allah Azza wa Jalla—di hadapannya seperti gunung-gunung dari cahaya, terdengar gemuruh tasbih para malaikat bersamanya dan kepakan sayap mereka. Maka penduduk surga menjulurkan leher mereka, lalu dikatakan: “Siapa ini yang telah diizinkan oleh Allah Azza wa Jalla?” Maka dikatakan: “Ini adalah yang dibentuk dengan tangan-Nya, dan yang diajarkan nama-nama, dan yang diperintahkan para malaikat lalu bersujud kepadanya, dan yang diperbolehkan baginya surga—Adam alaihissalam—telah diizinkan kepadanya kepada Allah Azza wa Jalla.” Beliau berkata: Kemudian diizinkan kepada laki-laki lain kepada Allah Azza wa Jalla—di hadapannya seperti gunung-gunung dari cahaya, terdengar tasbih para malaikat bersamanya dan kepakan sayap mereka. Maka penduduk surga menjulurkan leher mereka, lalu dikatakan: “Siapa ini yang telah diizinkan oleh Allah Azza wa Jalla?” Maka dikatakan: “Ini adalah yang dijadikan Allah sebagai kekasih dan Allah menjadikan api atasnya dingin dan sejahtera—Ibrahim alaihissalam—telah diizinkan kepadanya kepada Allah Azza wa Jalla.” Beliau berkata: Kemudian diizinkan kepada laki-laki lain kepada Allah Azza wa Jalla—di hadapannya seperti gunung-gunung dari cahaya, terdengar tasbih para malaikat bersamanya dan kepakan sayap mereka. Maka penduduk surga menjulurkan leher mereka, lalu dikatakan: “Siapa ini yang telah diizinkan kepadanya kepada Allah Azza wa Jalla?” Maka dikatakan: “Ini adalah yang dipilih Allah Azza wa Jalla dengan risalah-Nya dan mendekatkannya sebagai orang yang berbisik dan berbicara kepadanya—Musa alaihissalam—telah diizinkan kepadanya kepada Allah Azza wa Jalla.” Kemudian diizinkan kepada laki-laki lain—bersamanya seperti semua kendaraan para Nabi sebelumnya—di hadapannya seperti gunung-gunung dari cahaya, dan terdengar gemuruh tasbih para malaikat dan kepakan sayap mereka. Maka dikatakan: “Siapa ini yang telah diizinkan kepadanya kepada Allah Azza wa Jalla?” Maka dikatakan: “Ini adalah pemberi syafaat pertama dan yang pertama diberi syafaat, dan pemimpin anak cucu Adam, dan yang pertama bumi terbelah untuknya, dan pemilik panji pujian—Ahmad shallallahu alaihi wasallam—telah diizinkan kepadanya kepada Allah Azza wa Jalla.” Beliau berkata: Maka para Nabi duduk di atas mimbar-mimbar cahaya, dan para shiddiqin di atas dipan-dipan cahaya, dan para syuhada di atas kursi-kursi cahaya, dan duduk orang-orang lainnya di atas gundukan dari misk putih yang wangi.
240 – Utusan Allah
Kemudian Ar-Rabb Jalla Jalaluhu memanggil mereka dari balik tirai: “Selamat datang hamba-hamba-Ku, peziarah-Ku, tetangga-Ku, dan utusan-Ku. Wahai malaikat-Ku, bangkitlah kepada hamba-hamba-Ku, maka berilah mereka makan.” Beliau berkata: Maka para malaikat mendekat kepada mereka dengan daging burung seperti unta, tidak ada bulu dengannya dan tidak ada tulang. Maka mereka makan. Kemudian Ar-Rabb Jalla Jalaluhu memanggil mereka dari balik tirai: “Selamat datang hamba-hamba-Ku, peziarah-Ku, tetangga-Ku, dan utusan-Ku. Mereka telah makan, berilah mereka minum wahai malaikat-Ku.” Beliau berkata: Maka bangkit kepada mereka para pemuda seperti mutiara yang bertaburan dengan kendi-kendi emas berisi minuman-minuman yang berbeda—kamu menemukan kelezatan akhirnya seperti kelezatan awalnya. “Mereka tidak pusing karenanya dan tidak mabuk.” (Al-Waqi’ah: 19) Beliau berkata: Kemudian Ar-Rabb Tabaraka wa Ta’ala memanggil mereka dari balik tirai: “Selamat datang hamba-hamba-Ku, peziarah-Ku, tetangga-Ku, dan utusan-Ku. Mereka telah makan dan minum, gembirakanlah mereka.” Maka didekatkanlah kepada mereka piring-piring yang dihiasi dengan yakut berisi kurma basah yang segar yang Allah namakan itu—lebih putih daripada susu dan lebih lezat daripada manisnya madu. Maka mereka makan, minum, dan bergembira. Kemudian Ar-Rabb Jalla Jalaluhu memanggil mereka dari balik tirai: “Selamat datang hamba-hamba-Ku, peziarah-Ku, tetangga-Ku, dan utusan-Ku. Mereka telah makan, minum, dan bergembira. Pakaikan mereka.”
241 – Kemuliaan Allah bagi Hamba-Hamba-Nya
Ia berkata: “Maka dibukalah untuk mereka pohon-pohon surga dengan pakaian yang bercahaya dengan cahaya Yang Maha Pengasih, lalu mereka dikenakan pakaian itu. Kemudian Tuhan memanggil mereka dari balik hijab: ‘Selamat datang wahai hamba-hamba-Ku, para peziarah-Ku, dan tamu-tamu-Ku! Makanlah, minumlah, bergembiralah, dan berpakaianlah! Wangikan mereka!’ Ia berkata: Maka berhembuslah kepada mereka angin dari bawah Arasy yang disebut Al-Mutsiirah dengan tabung-tabung minyak kesturi putih yang harum, lalu memercikkan ke wajah-wajah mereka tanpa debu dan tanpa kotoran. Kemudian Tuhan Tabaraka wa Ta’ala dari balik hijab (berkata): ‘Selamat datang wahai hamba-hamba-Ku, para peziarah-Ku, tetangga-tetangga-Ku, dan tamu-tamu-Ku! Makanlah, minumlah, bergembiralah, berpakaianlah, dan wangikan dirimu! Demi keagungan-Ku dan kemuliaan-Ku, sungguh Aku akan menampakkan diri kepada kalian sehingga kalian melihat-Ku, karena itulah puncak pemberian dan karunia tambahan.’ Maka Tuhan Tabaraka wa Ta’ala menampakkan diri, lalu berfirman: ‘Salam sejahtera atas kalian, hamba-hamba-Ku! Lihatlah kepada-Ku, sesungguhnya Aku telah ridha kepada kalian.’ Ia berkata: Maka istana-istana surga dan pohon-pohonnya bergema dan bergoyang seraya mengucapkan: ‘Maha Suci Engkau, Maha Suci Engkau’ empat kali. Dan kaum itu bersujud. Lalu Tuhan Jalla wa Azza memanggil mereka: ‘Wahai hamba-hamba-Ku, angkatlah kepala kalian! Sesungguhnya surga bukanlah tempat untuk beramal dan bukan tempat untuk bersusah payah. Ia hanyalah tempat untuk balasan dan pahala. Demi keagungan-Ku dan kemuliaan-Ku, tidaklah Aku menciptakannya kecuali untuk kalian. Tidaklah kalian mengingat-Ku dalam suatu waktu di dunia melainkan Aku mengingatmu di atas Arasy-Ku.'”
242 – Pasar Surga
Diriwayatkan dari Sa’id bin Al-Musayyab bahwa ia mendatangi Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, lalu Abu Hurairah berkata kepadanya: “Aku memohon kepada Allah agar Dia mengumpulkan antara aku dan engkau di pasar surga.” Sa’id bertanya kepadanya: “Apakah di surga ada pasar?” Ia menjawab: “Ya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan kepada kami: Sesungguhnya penghuni surga apabila memasukinya lalu mereka menempati tempat sesuai dengan keutamaan amal mereka, maka diizinkan kepada mereka dalam waktu seukuran hari Jumat di dunia untuk menziarahi Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Tabaaraka wa Ta’ala menampakkan bagi mereka Arasy-Nya di salah satu taman surga. Diletakkan untuk mereka mimbar-mimbar dari cahaya, mimbar-mimbar dari mutiara, mimbar-mimbar dari zamrud, mimbar-mimbar dari yakut, mimbar-mimbar dari emas, dan mimbar-mimbar dari perak. Yang paling rendah kedudukannya di antara mereka – dan tidak ada yang rendah di sana – berada di atas gundukan kesturi dan kapur barus. Mereka tidak melihat para pemilik mimbar lebih utama dari mereka dalam tempat duduk.”
243 – Melihat Allah Ta’ala
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku bertanya: ‘Ya Rasulullah, apakah kami akan melihat Tuhan kami ‘Azza wa Jalla?’ Beliau menjawab: ‘Ya. Apakah kalian berdesak-desakan dalam melihat bulan di malam purnama?’ Kami menjawab: ‘Tidak.’ Beliau bersabda: ‘Begitu pula kalian tidak akan berdesak-desakan dalam melihat Tuhan kalian Tabaaraka wa Ta’ala. Tidaklah ada seorang pun yang tersisa dalam majelis itu melainkan Allah ‘Azza wa Jalla berbicara dengannya secara langsung, hingga Dia ‘Azza wa Jalla berkata kepada seorang laki-laki: Wahai fulan, apakah engkau ingat hari ketika engkau melakukan ini dan itu?’ – mengingatkannya tentang kesalahan-kesalahannya di dunia. Ia berkata: ‘Wahai Tuhanku, bukankah Engkau telah mengampuniku?’ Allah menjawab: ‘Benar, dengan keluasan ampunan-Ku engkau mencapai kedudukan ini.’ Ia berkata: Ketika mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba awan menutupi mereka dari atas dan menurunkan kepada mereka minyak wangi yang belum pernah mereka temukan wewangian semacam itu sebelumnya. Lalu Tuhan kami ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Datanglah kepada-Ku untuk melihat apa yang telah Aku siapkan untuk kalian berupa kemuliaan.’ Ia berkata: Maka kami mendatangi salah satu pasar surga yang telah dikelilingi oleh malaikat. Belum pernah telinga mendengarnya, belum pernah mata melihatnya, dan tidak pernah terlintas dalam hati. Ia berkata: Lalu dibawakannya kepada kami apa saja yang kami inginkan. Tidak ada yang dijual di sana dan tidak ada yang dibeli. Di pasar itu penghuni surga saling bertemu satu sama lain. Ia berkata: Seorang laki-laki yang memiliki kedudukan tinggi bertemu dengan orang yang kedudukannya lebih rendah, maka ia terheran-heran dengan pakaian yang dikenakannya. Belum selesai ia berbincang-bincang dengannya, tiba-tiba muncul padanya yang lebih indah darinya. Yang demikian itu karena tidak sepatutnya ada seorang pun yang bersedih di sana.”
Ia berkata: “Kemudian kami kembali ke tempat tinggal kami, maka para istri kami menyambut kami seraya berkata: ‘Selamat datang wahai kekasih kami! Sungguh engkau datang dalam keadaan memiliki keindahan dan wewangian yang lebih baik dari ketika engkau meninggalkan kami.’ Kami berkata: ‘Sesungguhnya kami hari ini telah bersama dengan Tuhan kami Yang Maha Perkasa, Jalla Jalaluhu, dan sudah sepatutnya kami kembali dengan keadaan yang demikian.'”
244 – Orang-orang yang Saling Mencintai karena Allah
Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Orang-orang yang saling mencintai karena Allah di dunia berada di surga di atas tiang dari yakut merah. Di puncak tiang itu terdapat tujuh puluh ribu kamar. Mereka memandang penghuni surga. Apabila salah seorang dari mereka menampakkan diri, keindahannya memenuhi rumah-rumah penghuni surga dengan cahaya sebagaimana matahari memenuhi rumah-rumah penghuni dunia dengan cahaya.” Ia berkata: “Maka penghuni surga berkata: ‘Keluarlah bersama kami untuk melihat orang-orang yang saling mencintai karena Allah!’ Maka mereka keluar dan melihat wajah-wajah mereka seperti bulan di malam purnama. Mereka mengenakan pakaian hijau, tertulis di dahi mereka dengan cahaya: ‘Inilah orang-orang yang saling mencintai karena Allah.'”
Rasulullah ‘alaihish-shalaatu wassalaam bersabda: “Sesungguhnya penghuni surga apabila menziarahi Tuhan mereka dan hendak pulang, setiap orang dari mereka diberi sebuah delima hijau yang di dalamnya terdapat tujuh puluh helai pakaian. Setiap pakaian memiliki tujuh puluh warna, tidak ada satu pakaian pun yang menyerupai yang lainnya. Ketika mereka pulang dari sisi Tuhan mereka, mereka melewati pasar-pasar surga yang tidak ada jual beli di dalamnya. Di sana terdapat pakaian-pakaian dari sutera halus, sutera tebal, sutera, kain indah, dan permadani indah dari mutiara, yakut, dan mahkota-mahkota yang tergantung. Mereka mengambil dari pasar-pasar itu berbagai jenis ini sesuka mereka dan tidak berkurang sedikit pun dari pasar-pasar itu. Di sana terdapat patung-patung seperti wujud manusia, seindah-indah patung. Tertulis di leher setiap patung: ‘Barangsiapa berharap menjadi seperti wujudku, Allah menjadikan keindahannya seperti wujudku.’ Barangsiapa berharap agar keindahan wajahnya seperti keindahan patung itu, Allah menjadikannya seperti patung itu.” Ia berkata: “Kemudian mereka pulang ke tempat tinggal mereka.”
245 – Cincin-cincin Surga
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya penghuni surga, Allah memberikan kepada mereka cincin-cincin dari emas yang mereka pakai, dan itu adalah cincin-cincin keabadian. Kemudian Dia memberi mereka cincin-cincin dari mutiara, yakut, dan mutiara, dan itu ketika mereka melihat Tuhan mereka di Negeri-Nya, Negeri Keselamatan.”
246 – Unta-unta Surga
Diriwayatkan dari sebagian ulama bahwa ia berkata: “Ketika penghuni surga sedang berbincang-bincang di bawah naungan pohon Thuba, tiba-tiba malaikat mendatangi mereka dengan unta-unta yang dikekang dengan rantai emas, seakan-akan wajah-wajahnya adalah pelita karena keindahannya. Itu tanpa persiapan, unta-unta pilihan tanpa diternakkan. Di atasnya pelana-pelana emas dan pakaiannya sutera halus dan sutera tebal, hingga diangkat kepada mereka. Kemudian mereka memberi salam kepada mereka seraya berkata: ‘Sesungguhnya Tuhanmu mengutus kepada kalian kendaraan-kendaraan ini agar kalian menungganginya, lalu menziarahi-Nya dan memberi salam kepada-Nya.’ Ia berkata: Maka masing-masing dari mereka beralih ke kendaraannya, kemudian mereka berjalan bersamanya dalam barisan di surga, seorang laki-laki di samping temannya. Tidak ada telinga seekor unta melampaui telinga unta temannya, dan tidak ada lutut seekor unta melampaui lutut unta temannya. Sungguh mereka melewati pohon dari pohon-pohon surga lalu ia mundur dari tempatnya. Ketika mereka berdiri di hadapan Ar-Rahman Tabaaraka wa Ta’ala, Dia menyingkapkan bagi mereka Wajah-Nya Yang Mulia dan menampakkan diri kepada mereka, lalu mereka memberi salam kepada-Nya dan Dia menyambut mereka dengan gembira. Dikatakan bahwa salam mereka kepada-Nya adalah dengan mengatakan: ‘Wahai Tuhan kami, Engkaulah Yang Maha Sejahtera, dari sisi-Mu keselamatan, dan bagi-Mu hak atas keagungan dan kemuliaan.’ Maka Yang Maha Agung Jalla Jalaluhu berfirman kepada mereka: ‘Dan atas kalian keselamatan dari-Ku, atas kalian rahmat-Ku dan kemuliaan-Ku. Selamat datang wahai hamba-hamba-Ku yang telah mentaati-Ku dengan gaib dan menjaga wasiat-Ku!’ Mereka berkata: ‘Tidak, demi keagungan-Mu, kami tidak menghargai-Mu sebagaimana seharusnya Engkau dihargai, dan kami tidak menunaikan kepada-Mu seluruh hak-Mu. Izinkanlah kami untuk bersujud kepada-Mu!’ Dia berfirman: ‘Sesungguhnya Aku telah mengangkat dari kalian beban ibadah dan kalian telah sampai kepada kemuliaan-Ku.'”
247 – Keinginan-keinginan Penghuni Surga
“Dan telah terpenuhi janji yang telah Aku janjikan kepada kalian. Maka berharaplah! Sesungguhnya bagi setiap orang di antara kalian adalah apa yang ia harapkan.” Maka mereka berharap, lalu Dia memberi setiap orang dari mereka apa yang ia harapkan. Kemudian Tabaaraka wa Ta’ala menambah kepada mereka dari karunia dan kemuliaan-Nya apa yang tidak tercapai oleh harapan-harapan mereka.
Dan mereka membacakan syair:
Wahai yang menginginkan bidadari cantik Dengan kecantikan, bentuk, dan keindahan perangai
Yang hidup dalam kenikmatan dan keridaan abadi Di surga Firdaus, tempat kembali segala nikmat
Tinggalkanlah negeri yang bunganya akan layu Dan manfaatkanlah kesehatan sebelum sakit
Dan bergeraklah untuk melihat dengan penuh pengertian Dan peluklah kesaksian di saat kezaliman
Dan mohonlah ampun kepada Allah atas yang telah berlalu Dan kenakanlah rasa takut serta panjangkan penyesalan
Niscaya engkau akan beruntung dengan kelezatan yang engkau cari Dan aman dari bencana dan akibat siksaan
10 – Majelis tentang Firman Tabaaraka wa Ta’ala: “Setiap Jiwa Akan Merasakan Kematian”
248
Dikatakan ketika ayat ini turun, para malaikat berkata: “Kami telah mati, demi keagungan Allah!” Maka pada saat itulah setiap yang berakal dan berjiwa yakin bahwa ia akan binasa.
Dan mereka membacakan syair:
Apakah tertawa orang yang dalam dirinya ada bagian kematian Dan menikmati kehidupan yang nikmat, sungguh itu mengherankan
Dan ia makan sedang hari-hari memakan umurnya Dan tidak ada baginya jasad yang meleleh karenanya
Dan barangsiapa mengenal Ar-Rahman, hatinya tidak gembira Dengan kenikmatan dan tidak lepas darinya tangisan
Aku menjauh dari pertemuan yang diridhai karena kesalahan Dan terputus dariku menuju perjumpaan oleh dosa-dosa
Allah Ta’ala berfirman: “Setiap jiwa akan merasakan kematian” (Ali Imran: 185). Mati setiap yang kecil dan besar. Mati setiap pemimpin dan menteri. Mati setiap yang mulia dan hina. Mati setiap yang kaya dan miskin. Mati setiap nabi dan wali. Mati setiap yang dekat dan bertakwa. Mati setiap yang zuhud dan ahli ibadah. Mati setiap yang mengakui dan yang mengingkari. Mati setiap yang sehat dan sakit. Mati setiap yang sakit dan selamat. Setiap jiwa mati kecuali Dzat Yang Memiliki keagungan dan keperkasaan.
Dan mereka membacakan syair:
Ketahuilah setiap yang dilahirkan untuk kematian dilahirkan Dan aku tidak melihat makhluk hidup yang kekal atasnya
Bertelanjang dari dunia, sesungguhnya engkau Keluar dari dunia sedang engkau dalam keadaan telanjang
Dan engkau meskipun diberi harta dan banyak Sesungguhnya engkau di dunia dalam hal itu sendirian
Dan sebaik-baik sesuatu yang engkau peroleh darinya, sesungguhnya Kesenangan sedikit yang akan lenyap dan habis
Berapa banyak yang mulia yang kehinaan menggantikan kemuliaannya Lalu ia menjadi tercela padahal sebelumnya ia dipuji
Maka janganlah memuji dunia tetapi celakanlah ia Mengapa sesuatu yang Allah celanya itu dipuji
249 – Mengingat Kematian
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan, pemisah perkumpulan, dan jadikanlah ia sebagai bantalmu ketika kalian tidur, jadikanlah ia di depan mata kalian ketika kalian berdiri, dan penuhilah dengannya majelis-majelis kalian. Sesungguhnya ia terikat dengan ubun-ubun kalian – maksudnya dengan apa yang diuruskan darinya untuk kalian – ia merusak kenikmatan kalian, meruntuhkan bangunan kalian, dan membinasakan kalian sebagaimana ia membinasakan orang-orang sebelum kalian. Maka janganlah melupakan ia karena ia tidak melupakanmu, dan janganlah lengah darinya karena ia tidak lengah darimu.”
Dan mereka membacakan syair:
Wahai yang bertetangga dengan orang-orang tercintanya beberapa bulan Dan bertetangga dengan orang-orang matinya berabad-abad
Bukanlah kegembiraan yang kembali menjadi kesedihan Jika engkau merenungkannya adalah kegembiraan
Diriwayatkan dari ‘Isa ‘alaihissalaam bahwa ia berkata: “Tidaklah ada bayi yang dilahirkan melainkan di pusarnya terdapat dari tanah bumi tempat ia akan mati di sana.”
Dan mereka membacakan syair:
Aku melewati kuburan-kuburan setiap waktu Dan aku tidak tahu di bumi mana kuburanku
Dan aku bergembira dengan kekayaan jika hartaku bertambah Dan aku tidak menangisi berkurangnya umurku
Alangkah baiknya keadaan orang yang mengingat kematian lalu beramal untuk keselamatannya sebelum terlambat, dan menyibukkan dirinya dengan mengabdi kepada Tuhannya, dan mendahulukan dari dunianya untuk akhiratnya, serta berhasrat pada negeri yang tidak akan lenyap kenikmatan-Nya dan tidak akan dihinakan yang mulia di sana.
Dan mereka membacakan syair:
Kematian pasti akan datang, maka bersiaplah untuknya Sesungguhnya orang yang cerdas adalah yang sibuk dengan mengingat kematian
Bagaimana ia bergembira dengan kehidupan atau menikmatinya Sedangkan tanah di atas matanya akan ditimbunkan
Diriwayatkan dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: “Ya Rasulullah, siapakah orang beriman yang paling cerdas?” Beliau menjawab: “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik persiapannya untuknya.”
250 – Kisah tentang Ar-Rabi’
Dikatakan kepada Ar-Rabi’ rahimahullah: “Tidakkah engkau duduk bersama kami sambil berbincang-bincang?” Ia menjawab: “Sesungguhnya mengingat kematian jika meninggalkan hatiku sejenak, maka hatiku akan rusak.”
Dan mereka membacakan syair:
Alangkah lalainya manusia tentang ancaman Yang mendekat pada malam dan siang hari
Dan kehinaan adalah apa yang dibawa oleh kemaksiatan Dan bukanlah di dalam musibah ada kehinaan
Celakalah engkau, apa yang dilakukan oleh kematian Yang datang lalu mengosongkan rumah-rumah
Maka tidak ada hati yang memiliki mata Dan tidak ada mata yang memiliki pelajaran
Wahai hamba-hamba Allah! Berusahalah dalam membebaskan leher kalian dan bekerja keraslah untuk keselamatan kalian sebelum nyawa terenggut! Demi Allah, tidaklah antara seseorang di antara kalian dengan penyesalan dan mengetahui bahwa ia telah tergelincir melainkan hanya elang kematian mengitarinya dan melesatkan anak panahnya kepadanya. Maka penyesalan tidak bermanfaat, udzur tidak berguna, penolong tidak dapat menolak, pemberi syafaat tidak dapat memberi syafaat, dan yang telah berlalu tidak dapat dikembalikan, dan orang malang yang dipaksakan dalam keselamatan tidak berharap.
Seakan-akan aku melihatmu wahai saudaraku, telah diteriaki olehmu para wanita dan menangisi olehmu keluarga dan saudara-saudara, kehilangan olehmu anak-anak, dan berteriaklah karena perpisahanmu para tetangga, dan penyeru menyeru: “Telah meninggal fulan bin fulan!”
Kemudian engkau dipindahkan dari orang-orang tercinta dan dibawa ke tanah-tanah yang sempit, dan mereka membaringkanmu di tempat yang sempit yang pendek tingginya, mengerikan penampakannya, banyak bahayanya, diliputi kesendirian.
Engkau mengenalnya mengerikan suaranya, tertutup rapat penutupnya, tanpa kasur, tanpa keakraban, tanpa persiapan bekal, dan tanpa kesiapan.
Dan mereka membacakan syair:
Manusia tertipu oleh angan-angannya Dan masa mempercepat kecelakaannya
Wahai yang serupa janganlah engkau Termasuk orang yang hawa nafsunya menjadi sesembahannya
Dan ketahuilah bahwa manusia terikat Dengan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya
Dan manusia dalam kelalaian-kelalaian mereka Dan kematian adalah penggilingan yang berputar
Segala puji bagi Allah yang Tetap ada dan membinasakan selain-Nya
251 – Sakaratul Maut
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa ketika beliau menjelang wafat, beliau bersabda: “Tidak ada tuhan selain Allah, sesungguhnya kematian itu memiliki sakaratul maut.” Diriwayatkan pula dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa ketika menjelang wafat, di sisinya ada sebuah mangkuk berisi air, dan beliau memasukkan tangannya ke dalamnya lalu mengusap wajahnya dengan air tersebut sambil berkata berkali-kali: “Ya Allah, ringankanlah bagiku sakaratul maut.”
Diriwayatkan dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Seandainya rasa sakit dari satu helai rambut mayat ditimpakan kepada penduduk langit dan bumi, niscaya mereka semua akan mati,” karena pada setiap helai rambut terdapat rasa sakit kematian, dan tidaklah kematian itu menimpa atau masuk ke dalam sesuatu kecuali ia akan mati.
Diriwayatkan bahwa beliau bersabda: “Seandainya satu tetes darinya diletakkan di atas semua gunung di dunia, niscaya gunung-gunung itu akan lenyap.”
Mereka membacakan syair:
Berjaga-jagalah untuk sesuatu yang tidak dapat dihindari, sesungguhnya kematian adalah waktu yang ditentukan bagi para hamba
Apakah engkau senang menjadi teman suatu kaum yang memiliki bekal sementara engkau tanpa bekal
252 – Penderitaan Kematian
Diriwayatkan bahwa Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Ka’ab: “Wahai Ka’ab, ceritakanlah kepada kami tentang kematian.” Ia menjawab: “Wahai Amirul Mukminin, ia adalah dahan yang banyak durinya yang dimasukkan ke dalam rongga seorang laki-laki, sehingga ketika setiap duri telah mengait pada urat, kemudian ditarik oleh seorang laki-laki yang kuat tarikannya, maka putus apa yang putus dan tersisa apa yang tersisa.”
Mereka membacakan syair:
Ketahuilah wahai orang yang tertipu sedang kematian menuju ke arahnya, engkau diciptakan untuknya dan para kendaraan mengarah kepadamu
Apakah kelembutan Allah menipu engkau ataukah engkau tidak yakin bahwa engkau akan dibangkitkan besok dan akan dihisab
Dengan yang lebih ringan dari berat biji sawi, dan sesungguhnya engkau akan dibalas dengan apa yang engkau usahakan
Diriwayatkan dari Al-Hasan rahimahullah bahwa ia berkata: Ketika Khalilurrahman (Ibrahim) wafat, berkumpulah kepadanya roh-roh para nabi shalawaatullahi wa salaamuhu ‘alaihim ajma’in. Mereka berkata: “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menjadikan engkau sebagai kekasih dari antara seluruh nabi dan rasul. Jika kematian diringankan untuk seseorang, maka engkaulah orangnya. Maka beritahukanlah kepada kami bagaimana engkau merasakan rasa kematian.”
253 – Rasa Kematian
Maka ia berkata: “Aduh! Demi Allah, aku merasakannya sangat berat. Demi Dzat yang tiada tuhan selain-Nya, ia lebih berat daripada direbus dalam panci dan dipotong dengan gergaji. Malaikat maut mendatangiku dengan kait dari besi, lalu memasukkannya ke dalam setiap anggota tubuhku, kemudian mencabut roh dari setiap anggota hingga menjadikannya di hati, kemudian menusuk hati dengan tombaknya yang beracun dengan racun kematian. Seandainya aku direbus dalam panci tujuh puluh kali, tentu lebih ringan bagiku.”
Mereka berkata: “Wahai Ibrahim, sungguh Allah telah meringankan kematian bagimu. Jika ini keadaan para nabi, maka apa yang akan diperbuat terhadap orang-orang yang bersalah? Cukuplah kematian sebagai malapetaka.”
Dan ternyata Jibril alaihissalam berada di sisi mereka mendengarkan mereka. Ia berkata kepada mereka: “Wahai roh-roh yang baik, apa yang setelah kematian lebih berat, lebih dahsyat, dan lebih agung daripada kematian.”
Mereka membacakan syair:
Manusia tidak lain adalah yang binasa dan anak yang binasa, dan pemilik nasab dalam keluarga yang binasa
Apabila orang yang cerdas menguji dunia, tersingkaplah baginya tentang musuh dalam pakaian sahabat
254 – Daud dan Semut
Disebutkan dalam sebagian berita bahwa Daud alaihissalatu wassalam berada di mihrabnya, tiba-tiba ada seekor cacing kecil seperti semut. Daud berkata dalam hatinya: “Apa pentingnya Allah dengan cacing kecil ini?” Maka Allah Subhanahu membuatnya berbicara dan ia berkata: “Demi Allah wahai Daud, sesungguhnya aku beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan aku takut kepada-Nya, dan aku memohon kepada-Nya agar Dia meringankan kematian bagiku.”
Mereka membacakan syair:
Pemuda mencintai umur panjang padahal ia yakin bahwa umur panjang itu adalah kepunahan
Pertambahan pada tubuhnya adalah pengurangan hidupnya, dan tidaklah pada pengurangan hidup ada pertumbuhan
Apabila hari melipat, hari itu melipatkan sebagiannya, dan melipatkannya setelah pagi dengan sore
Dua yang baru yang tidak kekal keindahan padanya, dan tidak bagi keduanya setelah keindahan ada keabadian
Disebutkan dalam sebagian berita bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Ibrahim shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ia wafat: “Wahai kekasih-Ku, matilah.” Ia berkata: “Wahai Tuhanku, matilah?” Ia mengatakannya dan mengulanginya tiga kali. Allah berfirman: “Wahai kekasih-Ku, bagaimana engkau merasakan rasa kematian?” Ia berkata: “Seperti tusuk sate yang dipanaskan dimasukkan ke dalam wol basah kemudian ditarik.”
Allah berfirman: “Adapun engkau, sesungguhnya Kami telah meringankan kematian bagimu.”
Mereka membacakan syair:
Aku melihat seseorang menangisi orang yang mati sebelumnya, padahal kematian orang yang menangis itu sudah dekat
Kematian tidak lain adalah dalam kitab yang ditentukan waktunya sampai suatu saat ia dipanggil untuknya maka ia memenuhinya
255 – Musa dan Pelajarannya
Diriwayatkan bahwa Musa shalawaatullahi wa salaamuhu ‘alaihi ketika rohnya sampai kepada Allah Subhanahu, Allah berfirman: “Wahai Musa, bagaimana engkau merasakan kematian?” Ia berkata: “Aku merasakan diriku seperti burung pipit ketika digoreng di atas penggorengan, tidak mati sehingga bisa beristirahat dan tidak selamat sehingga bisa terbang.”
Dalam riwayat lain ia berkata: “Aku merasakan diriku seperti domba hidup yang dikuliti oleh tangan tukang jagal.”
Mereka membacakan syair:
Kematian tidak membiarkan ayah yang kekal dan tidak anak, ia adalah jalan sehingga tidak melihat seorang pun
Nabi telah wafat, maka tidak kekal untuk umatnya, seandainya Allah mengekalkan yang hidup, maka Dia mengekalkannya sebelumnya
Bagi kematian di antara kita ada anak panah yang tidak meleset, barangsiapa luput hari ini dari anak panah, tidak akan luput besok
Tidak merugikan orang yang mengenal dunia dan penipuannya agar tidak bersaing di dalamnya dengan penduduknya selamanya
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Seandainya burung dan binatang mengetahui tentang kematian sebagaimana kalian mengetahuinya, kalian tidak akan memakan darinya yang gemuk.”
256 – Nuh dan Ketakutannya
Diriwayatkan dari Wahab bin Munabbih bahwa ia berkata: Nuh alaihissalam berdiri lima ratus tahun tidak mendekati perempuan karena khawatir terhadap kematian dan ia yang mengetahuinya.
Diriwayatkan bahwa Isa shalawaatullahi wa salaamuhu ‘alaihi berkata kepada para hawariyyin: “Berdoalah kepada Allah agar meringankan bagiku sakaratul maut.”
Mereka membacakan syair:
Sungguh cinta telah memberimu minum minuman angan-angan, maka engkau merasa enak tinggal di bawah kedekatan
Dan engkau tuli terhadap panggilan harapan-harapan, lalai tentang peristiwa-peristiwa zaman
Dan apabila bisikan ingatan menghadangmu, tabiatmu mendahuluimu dengan kelupaan
257 – Sakaratul Maut
Dalam sebagian berita, kematian memiliki tiga ribu sakaratul maut, setiap sakaratul maut darinya lebih berat daripada seribu pukulan dengan pedang. Dalam sebagian berita, sesungguhnya dunia seluruhnya di hadapan malaikat maut seperti meja di hadapan seorang laki-laki, ia mengulurkan tangannya kepada apa yang ia kehendaki darinya lalu mengambilnya dan memakannya.
Bahkan dunia seluruhnya, timur dan baratnya, darat dan lautnya, dan setiap penjuru darinya lebih dekat kepada malaikat maut daripada seorang laki-laki di mejanya. Dan sesungguhnya bersamanya ada pembantu-pembantu yang Allah lebih mengetahui jumlah mereka, tidaklah ada malaikat di antara mereka kecuali jika Allah mengizinkannya untuk menelan tujuh langit dan tujuh bumi dalam satu telan, niscaya ia melakukannya. Dan tidaklah malaikat maut mendekat kepada pembawa Arasy kecuali mereka bertambah ketakutan darinya sehingga mereka gemetar. Dan sesungguhnya satu kesedihan dari kesedihan kematian lebih berat daripada seribu pukulan dengan pedang. Dan pada setiap apa yang Allah Azza wa Jalla ciptakan ada keberkahan kecuali pada ajal, karena ia telah ditentukan waktunya untuk memenuhi janji dan berakhirnya masa.
Mereka membacakan syair:
Bagi kematian ada penggilingan yang berputar atasmu, kita semua bodoh tentangnya dan tertipu
Semoga Allah merahmati orang yang menangisi kesalahan-kesalahan, setiap orang yang menangis maka dosanya diampuni
Wahai anak Adam, betapa lalainya engkau dan betapa jauhnya engkau dari kebenaran, seakan-akan kematian telah mengejutkanmu dan malaikat maut telah mendatangimu, maka putus asa darimu dokter dan meninggalkan engkau orang yang dicintai, dan berdukacita atas kehilanganmu setiap kerabat.
Maka engkau jatuh dalam penyesalan dan air mata menghentikanmu, dan lumpuh darimu lidah setelah kefasihan dan pernyataan, dan engkau dibungkus dengan kain kafan dan diusir dari tanah air, dan kuburan menjadi tempat tinggalmu dan sampai hari kiamat tempat kediamanmu.
Dan meninggalkan engkau keluarga dan saudara-saudara, dan menimpa mereka terhadap engkau ketenangan dan kelupaan. Jika engkau memiliki rumah, mereka menempatinya, atau engkau memiliki harta, mereka membaginya.
Mereka membacakan syair:
Alangkah heranya bumi tidak pernah kenyang, dan setiap yang hidup di atasnya berduka
Ia menelan kaum Ad lalu memusnahkan mereka, dan setelah Ad ia membinasakan Tubba’
Dan kaum Nuh ia masukkan ke dalam perutnya, maka punggungnya dari perkumpulan mereka menjadi tandus
Wahai orang yang rela dengan apa yang telah berlalu, apakah bagimu dalam apa yang telah berlalu ada harapan
258 – Ingatlah Kematian
Wahai ini, ingatlah apa yang aku sifatkan dan hafallah apa yang aku ceritakan, dan wajib atasmu puasa dan bersungguh-sungguh serta ketaatan kepada Tuhan para hamba, dan mengawasinya di malam dan siang hari, dan berserah diri kepada-Nya dalam kegelapan waktu sahur.
Wahai ini, umurmu adalah nafas-nafas yang terhitung dan atasmu ada pengawas yang menghitungnya. Jangan lupakan kematian karena ia tidak melupakanmu.
Segeralah, segeralah! Sesungguhnya ia hanyalah nafas-nafas, seandainya ditahan darimu niscaya terputus darimu amalmu sampai akhir selamanya, dan keluarnya nafasmu adalah akhir ajal, dan perpisahan dengan keluargamu adalah akhir hitungan.
Mereka membacakan syair:
Apabila kematian menyeret kepada suatu kaum, maka semuanya hinggap kepada yang lain
Maka katakanlah kepada orang-orang yang mencemooh kami: sadarlah, orang-orang yang mencemooh akan menemui sebagaimana kami menemui
Maka ingatlah keadaanmu wahai orang yang lalai, pada hari engkau dibolak-balikkan di atas tempat pemandian oleh tangan pemandikan, telah hilang kehormatanmu darimu dan dirampas hartamu darimu, dan dikeluarkan engkau dari antara kekasih-kekasihmu dan dipersiapkan untuk tanahmu, dan diserahkan kepada cacing dan menjadi tawanan di antara liang lahat. Dan orang-orang yang menangis menangisimu sebentar, kemudian melupakan engkau waktu yang panjang. Maka berubah darimu keindahan dan perhiasan, dan berkuasa pada anggota-anggotamu kebusukan, dan dipotong dalam kain kafan dan cacing-cacing bergegas kepadamu. Maka busuk darimu lidah dan mencair bola mata seakan-akan engkau tidak pernah sama sekali termasuk orang yang melihat dan tidak berbicara.
Mereka membacakan syair:
Seandainya kita jika mati ditinggalkan, niscaya kematian adalah kenyamanan setiap yang hidup
Akan tetapi kita jika mati dibangkitkan, dan ditanya setelahnya tentang segala sesuatu
Anak Adam, seakan-akan kematian telah turun di halamanmu dan menghalangi antara engkau dan apa yang engkau inginkan, dan engkau dalam sakaratul maut dan kesusahan yang sangat berat, tidak ada ayah yang membela tentang engkau dan tidak anak, dan tidak ada persiapan yang menyelamatkanmu dan tidak banyak, dan tidak ada kerabat yang melindungimu dan tidak istana yang kokoh.
Bukankah itu akan turun kepadamu dalam setiap keadaan? Ya, demi keagungan Yang Maha Besar Maha Tinggi. Maka sesungguhnya engkau sekarang adalah saat yang bermanfaat bagimu tangisan dan kerendahan hati sebelum turunnya penyesalan dan penyesalan.
Mereka membacakan syair:
Wahai orang yang mati dan ditanya tentang apa yang ia katakan dan lakukan
Sesungguhnya malaikat yang ditugaskan dengan jiwa-jiwa, apabila ia datang tidak memberi tangguh
Dan neraka adalah tempat tinggal orang yang bermaksiat, dan neraka seburuk-buruk tempat tinggal
259 – Nasihat yang Baik
Wahai anak Adam, bersegeralah kepada amal yang baik selagi engkau dalam kelapangan dan kesempatan, dan bertobatlah kepada Tuhanmu dari kesalahan-kesalahan yang buruk dan kekeliruan sebelum dikatakan: Fulan sakit atau orang yang sangat lemah, apakah ada jalan kepada obatnya atau ada petunjuk kepada dokter? Maka dipanggil bagimu para dokter dan dikumpulkan bagimu obat, tetapi itu tidak menambah bagimu kecuali penderitaan.
Dan telah berkumpul di sisimu saudara-saudara dan kekasih-kekasih serta keluarga dan kerabat-kerabat, dan banyak di sekitarmu tangisan. Kemudian dikatakan: Ia telah merintih dan nafasnya hampir keluar, dan engkau menyaksikan perkara yang agung setelah kelezatan dan kenikmatan, dan engkau memalingkan pandanganmu dari kerabat dan orang terdekat, dan turun kepadamu kematian dan keluar roh dari anggota-anggota, kemudian naik dengannya ke langit. Maka alangkah kebahagiaannya atau kesengsaraannya.
Mereka membacakan syair:
Seandainya ada sesuatu selain kematian dan kebinasaan, dan perpisahan anggota dan daging yang bercerai-berai
Niscaya engkau pantas wahai anak Adam untuk menangis atas musibah-musibah zaman bersama setiap orang yang bahagia
Maka mohonlah perlindungan dari dosa-dosamu wahai orang malang sebelum keringat dahi dan menyebarnya dua urat, dan sebelum diulurkan tangan kiri dan digenggam tangan kanan, dan melipatgandakan kekuatanmu dengan rintihan, dan banyak di sekitarmu tangisan dan kesedihan, dan mengalir air matamu karena perpisahan dengan keluarga dan anak-anak, dan tidak bermanfaat bagimu apa yang engkau kumpulkan dari harta dalam bulan-bulan dan tahun-tahun. Kemudian engkau dalam kuburmu untuk amalmu sebagai tawanan sampai hari penyajianmu kepada Yang Tercepat dalam menghisab.
Sungguh telah berubah tubuhmu dalam bebatuan dan tanah setelah kenikmatan dengan kehalusan masa muda.
Mereka membacakan syair:
Barangsiapa di antara kita tidak menginjak tanah dengan kakinya, niscaya tanah menginjak kesegaran pipi
Seandainya dibuka untuk manusia penutup-penutup kebusukan, mereka tidak akan mengenali majikan dari budak
Barangsiapa yang ada antara engkau dalam tanah dan antara dia dua jengkal, maka ia berada di tempat yang jauh
260 – Nama-nama Para Hamba
Disebutkan dalam sebagian berita bahwa bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala ada pohon, cabangnya di bawah Arasy, tertulis pada setiap daun dari daun-daunnya nama seorang hamba dari hamba-hamba-Nya. Maka apabila datang ajal hamba tersebut, jatuh daun itu yang di dalamnya namanya ke pangkuan malaikat maut, maka ia mengambil rohnya pada waktu itu.
Mereka membacakan syair:
Sesungguhnya aku bermain sedang penggiring kematian dalam mencari, dan sesungguhnya dalam kematian ada kesibukan bagiku dari bermain
Seandainya rohku bersungguh-sungguh dalam apa aku diciptakan untuknya, tidak akan keras ketamakanku pada dunia dan tidak kegilaan
Maha Suci Tuhanku, maka tidak ada sesuatu yang menyamai-Nya, sesungguhnya orang yang tamak pada dunia benar-benar dalam kelelahan
Jangan tertipu dengan negeri-negeri yang tidak ada tinggal di dalamnya, dan tujulah negerimu, sesungguhnya kematian dalam pencarian
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Tidaklah ada hari kecuali dua malaikat berseru: Wahai penduduk dunia, kalian dilahirkan untuk kematian dan kalian membangun untuk kehancuran, dan kalian akan dihisab dan diazab di sisi Tuhan kalian.”
Mereka membacakan syair:
Aku heran terhadap orang yang ketakutan dan menangis tertimpa musibah dengan keluarga atau kerabat yang dekat yang sedih
Yang merobek kerahnya dan memanggil kemalangan karena bodoh, seakan-akan kematian seperti sesuatu yang aneh
Dan Allah menyamakan di dalamnya makhluk sehingga nabi Allah di dalamnya tidak dipilih kasih
Baginya ada malaikat yang menyeru setiap hari: dilahirkan untuk kematian dan membangun untuk kehancuran
Untuk siapa kita membangun sedang kita kepada tanah kembali sebagaimana kita diciptakan dari tanah
Ketahuilah wahai kematian, aku tidak melihat darimu pengganti, engkau datang maka jangan condong dan jangan pilih kasih
Seakan-akan engkau telah menyerbu pada ubanku, sebagaimana uban menyerbu pada masa muda
Dikatakan: Seorang laki-laki melewati reruntuhan lalu mendengar seseorang membacakan syair-syair ini:
Katakanlah kepada orang-orang yang membangun rumah-rumah yang tinggi dan berlomba-lomba sedang kematian dari mereka dekat
Kalian membangunnya dengan penuh harapan sedang kalian akan kembali ke kubur-kubur dan meninggalkannya kosong
Di mana para raja dan di mana apa yang telah mereka kumpulkan, dan tentara mereka, budak-budak mereka, dan para penjaga
Di bawah tanah terputus-putus anggota tubuh mereka, dan telapak tangan mereka setelah tali kekang menjadi lapuk
Kemudian ia membaca: Katakanlah: Ia adalah berita yang agung, kalian berpaling darinya. (Surah Shad: 67-68)
261 – Nuh dan Kezuhudan(nya)
Disebutkan dalam beberapa berita bahwa Jibril turun kepada Nuh dan mendapatinya telah membuat gubuk di tepi laut. Lalu dia bertanya, “Apa ini wahai Nuh?” Dia menjawab, “Wahai Jibril, ini untuk orang yang akan banyak mati.” Jibril berkata kepadanya, “Akan datang suatu umat yang usia mereka antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun, mereka membangun dengan kerikil, batu bata, dan batu.” Nuh berkata, “Tidaklah mereka itu melainkan menelan abu hingga mereka mati.”
Dan mereka membacakan syair:
Seandainya engkau berakal wahai orang yang tertipu, niscaya tidak bercahaya
Matamu kepada manusia karena takut dan waspada
Mengapa kaum yang panah kematian merenggut mereka
Berbangga dengan mengangkat tanah dan lumpur
262 – Isa dan Tengkorak
Diriwayatkan bahwa Isa melewati sebuah tengkorak lalu menendangnya dengan kakinya dan berkata, “Berbicaralah dengan izin Allah.” Tengkorak itu berkata, “Wahai Ruhullah, aku adalah pemilik kendali sekian dan sekian. Ketika aku sedang duduk dalam kerajaanku, di kepalaku ada mahkota, di sekelilingku tentara dan pengawalku, tiba-tiba malaikat maut menampakkan diri kepadaku dan mengambil setiap anggota tubuhku secara terpisah, kemudian keluarlah nyawaku. Alangkah baiknya jika semua perkumpulan itu menjadi perpisahan dan semua keramaian itu menjadi kesunyian.”
Bagaimana menurutmu wahai orang yang bermaksiat tentang wajah malaikat maut ketika dia menampakkan diri dan engkau menyaksikannya saat tersingkapnya tabir, lalu engkau melihatnya dengan mata yang lemah dan hati yang gemetar, kemudian roh dicabut untuk keluar tetapi tidak keluar hingga engkau mendengar suara malaikat maut dengan salah satu dari dua kabar gembira: “Bergembiralah wahai musuh Allah dengan api neraka” atau “Bergembiralah wahai wali Allah dengan surga.”
Dan mereka membacakan syair:
Terbayang bagiku tangisan kaum di sekelilingku
Dan ucapan mereka, bukankah sudah dekat kepergian
Tidak berguna tangisan ketika telah berakhir
Umurku meskipun banyak ratapan
Maka bersiaplah untuk kematian, maka pasti
Keselamatan setelahnya atau kengerian yang panjang
263 – Amr bin Ash ketika Meninggal
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash semoga Allah meridhai keduanya bahwa dia berkata kepada anaknya saat kematian, “Seandainya aku menemui seorang yang berakal saat turunnya kematian yang memberitahuku tentang apa yang dia rasakan.” Anaknya berkata, “Kematian telah turun kepadamu, maka gambarkan kepadaku apa yang engkau rasakan.” Dia berkata, “Wahai anakku, seakan-akan di bawahku ada jarum dan seakan-akan dahan berduri keluar dari kakiku hingga ubun-ubunku, dan seakan-akan aku bernapas dari lubang jarum.”
Kemudian dia mengulurkan tangannya dan berkata, “Ya Allah, aku tidak kuat sehingga bisa membela diri dan tidak bersih sehingga bisa meminta maaf. Ya Allah, aku mengakui berdosa dan memohon ampun.”
Kemudian dia meninggal semoga Allah meridhainya.
Dan mereka membacakan syair:
Untuk kematian maka beramallah dengan sungguh-sungguh wahai lelaki
Dan ketahuilah bahwa engkau dari duniamu akan berangkat
Hingga kapan engkau dalam main-main dan permainan
Engkau petang dan pagi dalam kelezatan sibuk
Seakan-akan aku melihatmu wahai yang beruban dalam kesulitan
Di antara orang-orang tercinta telah merenggutmu ajal
Ketika mereka melihatmu tergeletak di antara mereka, mereka bersedih
Dan mereka mengucapkan selamat tinggal kepadamu dan berkata telah pergi lelaki itu
Maka beramallah untuk dirimu wahai orang malang dalam kelonggaran
Selama masih bermanfaat bagimu peringatan dan amal
Sesungguhnya orang bertakwa surga firdaus tempat tinggalnya
Mendapat bidadari yang di atasnya mahkota dan perhiasan
Dan orang-orang berdosa dengan api yang tidak padam
Di setiap waktu dari waktu-waktu menyala
264 – Sulaiman dan Malaikat Maut
Diriwayatkan bahwa malaikat maut adalah teman Sulaiman dan selalu mengunjunginya. Suatu hari dia masuk kepadanya sedangkan di sisinya ada seorang lelaki berbicara dengan Sulaiman. Malaikat maut terus memandang kepada lelaki yang bersama Sulaiman dengan pandangan mengingkari. Setelah malaikat maut keluar, lelaki itu berkata kepada Sulaiman, “Wahai Nabi Allah, siapakah yang masuk kepadamu tadi?” Dia menjawab, “Malaikat maut.” Dia berkata kepadanya, “Sungguh aku melihatnya memandang keras kepadaku, tetapi aku ada hajat kepadamu.” Dia bertanya, “Apa itu?” Dia menjawab, “Perintahkan angin untuk membawaku ke India.”
Maka Sulaiman memerintahkan angin lalu membawa lelaki itu ke India. Kemudian Sulaiman berkata beberapa hari kemudian kepada malaikat maut, “Aku mendapati di sisiku beberapa hari lalu seorang lelaki, lalu engkau memandangnya dengan pandangan mengingkari.” Malaikat maut berkata, “Aku heran dengannya, aku diperintahkan untuk mencabut nyawanya pada hari itu di kepulauan India sedangkan dia bersamamu di Syam.”
Maka dia mencabut nyawanya pada hari itu di India.
Dan mereka membacakan syair:
Kematian adalah laut yang ditakuti manusia tempatnya
Dan setiap hari baginya dari cawannya tegukan
Tidak kesehatan seseorang di dunia mengakhirkannya
Dan tidak mendahulukan suatu hari kematiannya penyakit
Dan setiap hari atas kita dalam musibah-musibahnya
Burung mengitari maka kita tidak tahu kepada siapa dia hinggap
265 – Said bin Musayyab dan Jin
Diriwayatkan bahwa Said bin Musayyab suatu hari masuk ke masjid Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu dia mulai menoleh ke sudut-sudut masjid, memikirkan tentang siapa yang dia dapati dari sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam. Kemudian dia menangis dan mulai berkata:
Ketiadaan para pelindung dan mereka meninggalkanku
Maka celaka atas hilangnya para pelindung
Mereka pergi ke kubur-kubur lalu menakut-nakutiku
Maka celaka atas hilangnya orang-orang terpercaya
Lalu menjawabnya suara dari sudut masjid dengan suara sedih dari hati yang berduka dan dia berkata:
Maka tinggalkanlah orang-orang terpercaya karena mereka telah pergi
Dan dirimu maka tangiskan dia saat kematian
Setiap kelompok pasti suatu hari
Memisahkan antara mereka jatuhnya perpecahan
Maka Said berkata, “Siapakah engkau, karena engkau telah menambah kesedihanku?” Dia berkata, “Aku dari jin mukmin. Kami berada di masjid ini tujuh puluh orang, lalu kematian mendatangi kelompok kami sebagaimana mendatangi kelompokmu, dan tidak tersisa dari mereka kecuali aku sebagaimana tidak tersisa dari manusia kecuali engkau, dan sesungguhnya kami akan menyusul mereka. Sesungguhnya kita milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kita akan kembali (Surat Al-Baqarah:156).”
Dan mereka membacakan syair:
Berhembus angin atas semua rumah mereka
Maka seakan-akan mereka berada atas janji
Maka aku melihat kenikmatan dan semua yang menghibur dengannya
Suatu hari akan menjadi kehancuran dan kerusakan
266 – Orang-orang Saleh dari Jin
Dan disebutkan dari sebagian ahli ibadah bahwa dia sedang shalat lalu membaca ayat ini: “Setiap jiwa akan merasakan kematian” (Surat Ali Imran:185, Surat Al-Anbiya:35, Surat Al-Ankabut:57)
Dan dia mulai merenungkannya dan mengulanginya, maka dia mendengar yang berkata, “Wahai ini, berapa kali engkau mengulang ayat ini? Demi Allah, sungguh engkau telah membunuh dengannya empat dari jin yang tidak pernah mengangkat kepala mereka ke langit karena malu kepada Allah, dan sungguh mereka mati karena pengulanganmu ayat ini.”
Dan mereka membacakan syair:
Tidak selamat yang dijemput dari malaikat maut
Ketika dia mendatanginya dan tidak yang terbang
Hanya untuk kematian dan hanyalah untuk kematian
Diciptakan anak dan orang tua yang besar
Berapa banyak kita melihat dari tuan-tuan dan raja-raja
Tidak ada di bumi dari mereka tempat tinggal
267 – Hamba dan Tuhannya
Diceritakan dari sebagian orang arif bahwa dia berkata, “Sesungguhnya Allah membisikkan kepada hamba-Nya dua bisikan yang memberitahunya itu dengan ilham yang diilhamkan kepadanya. Salah satunya ketika dia dilahirkan dan keluar dari kegelapan perut ibunya, berkata kepadanya, ‘Hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengeluarkanmu ke dunia suci, bersih, murni.’ Dan bisikan saat keluarnya rohnya berkata kepadanya, ‘Hamba-Ku, apa yang engkau perbuat dalam amanat-Ku padamu? Apakah engkau menjaganya hingga engkau menemui-Ku dengan kesetiaan, janji, dan penjagaan, maka Aku menemui-mu dengan kesetiaan dan balasan? Ataukah engkau menyia-nyiakannya, maka Aku menemui-mu dengan tuntutan dan azab?'”
Dan mereka membacakan syair:
Wahai yang dahulu kakeknya dan ayahnya
Dan temannya tinggal di tanah dan saudaranya
Dan pergi ke negeri kebinasaan teman-teman sebayanya
Dan pergi ke lubang kubur-kubur anak-anaknya
Dan dia melihat tempat-tempat jatuh saudara-saudara dan kerabat
Di antara tanah dalam barzakh mereka tinggal
Tidakkah engkau datangi kubur-kubur mereka lalu bertanya kepada mereka
Tentang mereka dan tentang apa dalam kubur-kubur mereka temui
Maka pasti memberitahumu bahwa hukum-hukum kebinasaan
Berjalan atas mereka, mereka memikirkan dan mereka tempati
Dan pasti memberitahumu bahwa mereka menemukan apa yang
Mereka kerjakan tertulis sebagaimana mereka kerjakan
Tidak menambah para penjaga dalam amal-amal mereka
Berat biji sawi dan tidak menguranginya
Wahai sekelompok saudara-saudara, sesungguhnya jalan kalian
Seperti jalan mereka dalam semua yang mereka tempuh
Dan bagi kalian bagian dalam kebinasaan seperti bagian mereka
Dan seakan-akan dia telah turun maka tunggulah dia
Dan orang yang terhalang telah menipu mereka dengan penghalangnya
Ketika kematian mendatanginya, mereka tidak menghalanginya
Tetapi mereka membentangkannya di atas tempat tidur mayatnya
Dan mereka menjaminnya dengan empat mereka membawanya
Mereka berjalan dengannya hingga ke negeri kebinasaan
Rumah untuknya di bawah tanah kuburnya
Hingga ketika tangan-tangan mereka menyembunyikannya
Di antara batu-batu dalam tanah mereka meninggalkannya
Dan mereka berpencar di pintunya dan mereka berganti
Pintu selainnya dan mereka berubah dan mereka melupakannya
268 – Umar bin Khaththab dan Nasihatnya
Diriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab semoga Allah meridhainya berkata, “Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan, karena kalian tidaklah mengingatnya dalam sedikit melainkan dia mencukupi dan memadai, dan tidak dalam banyak melainkan dia menguranginya. Maka demi Allah, wahai hamba-hamba Allah, bersungguh-sungguhlah dan bersiaplah untuk kematian dan segerakanlah sebelum ajal kalian sebelum terlewat, kalian akan beruntung dengan surga di negeri Rahman.”
Dan mereka membacakan syair:
Bagi malaikat maut di dunia ada hutang-hutang
Yang jatuh tempo maka tidak menunda-nundanya yang menunda
Dan semua penghuni alam dengannya dihutangi
Maka tidak baginya atas seorang pun kebaikan
Sama ketika dia turun atas penghutang
Atasnya yang berpangkat tinggi dan yang hina
Maka demi Allah, wahai sekelompok orang-orang yang berlebihan, janganlah kalian tertipu dengan kemuliaan dan harta, karena sesungguhnya kematian tidak takut kepada orang besar yang mulia dan tidak mengasihani orang rendah yang hina. Maka berhati-hatilah darinya dan siapkan untuknya amal-amal saleh sebelum datang hari yang tidak ada tipu daya di dalamnya bagi yang menipu.
Wahai saudara-saudaraku, hingga kapan kelalaian ini? Hingga kapan berlanjutnya ini dalam kemalasan dan tertipu dengan penundaan?
Dan mereka membacakan syair:
Wahai manusia, adalah bagiku harapan
Pendek dari mencapainya ajal
Tidaklah aku sendiri dipindahkan ke tempat yang kalian lihat
Setiap kepada yang sepertinya dia dipindahkan
Maka hendaklah bertakwa kepada Allah Tuhannya seorang lelaki
Memungkinkan baginya dalam kehidupannya amal
269 – Nabi Mendorong Para Sahabatnya untuk Mengingat Kematian
Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam berada di rumah salah satu istrinya ketika dia mendengar suara di sebuah majelis dari majelis para sahabatnya dan telah mendominasi pembicaraan mereka tawa. Lalu keluarlah dia shalawat Allah dan salam-Nya atasnya kepada mereka hingga berdiri di atas kepala mereka, maka dia berkata, “Aku melihat tawa telah menguasai majelis kalian ini, tidakkah kalian mengingat perusak kelezatan dalam pembicaraan kalian?” Mereka berkata, “Apa perusak kelezatan wahai Nabi Allah?” Dia berkata, “Mengingat kematian.” Maka para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menangis semuanya.
Jika para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pelita-pelita Islam dan pemimpin manusia, tuan-tuan yang mulia, tawa mereka kembali menjadi tangisan karena kengerian hari kematian, padahal mereka telah menghabiskan umur-umur mereka dalam ketaatan kepada Pemilik Keagungan dan Kemuliaan, dan memutuskan hari-hari mereka dalam amal dengan sunnah dan hukum-hukum, maka bagaimana dengan orang yang berlanjut dalam kemaksiatan dan kejahatan, kedurhakaan dan dosa-dosa, dan memakan riba dan haram, dan harta orang-orang lemah dan anak-anak yatim?
Dan mereka membacakan syair:
Kematian di setiap waktu membentangkan kain kafan
Dan kita dalam kelalaian tentang apa yang diinginkan kepada kita
Janganlah tenang kepada dunia dan kegemilangannya
Meskipun engkau tersabung dari pakaian-pakaiannya keindahan
Di mana orang-orang tercinta dan tetangga apa yang mereka perbuat
Di mana mereka yang adalah bagi kita tempat tinggal
Memberi minum mereka zaman cawan yang tidak bersih
Maka menjadikan mereka untuk lapisan-lapisan tanah tertahan
Maka demi Allah, wahai sekelompok orang-orang berdosa, janganlah kalian sibuk dari yang menuntut kalian dan janganlah kalian lupa dari yang tidak melupakan kalian, dan sungguh Allah telah menciptakan kalian dan menciptakan ajal-ajal kalian sebelum datang saat sakratul maut dan penyesalan atas yang telah lewat. Maka jauh sekali, jauh sekali, kemudian jauh sekali, jauh sekali.
Dan mereka membacakan syair:
Dengarlah karena sungguh telah membuatmu mendengar suara
Jika tidak engkau bersegera maka itulah terlewat
Bahkan adalah apa yang engkau kehendaki dan hiduplah selamat
Akhir ini semua adalah kematian
Wahai saudaraku, jika kematian mendatangimu, tidak berguna bagimu apa yang engkau kumpulkan dan tidak menyelamatkanmu apa yang engkau dapatkan. Maka persiapkanlah untuk dirimu sebelum perpisahan dengan orang-orang tercinta, tetangga, dan sahabat-sahabat, dan keluar dari rumah-rumah ke tempat-tempat cacing dan tanah, dan rumah-rumah kesunyian dan azab kecuali jika Maha Raja Maha Pemberi mengampuni. Maka berpikiranlah wahai pemilik akal, wahai sekelompok orang-orang yang beruban dan para pemuda.
Dan mereka membacakan syair:
Telah berlalu kemarin-mu yang lalu sebagai saksi yang adil
Dan mengikutinya hari atas-mu sebagai saksi
Maka jika engkau kemarin melakukan kesalahan
Maka segeralah dengan kebaikan dan engkau terpuji
Dan janganlah menunda perbuatan kebaikan-kebaikan hingga besok
Semoga besok datang dan engkau jenazah
Ketika kematian meleset darimu dan mengenai
Orang dekatmu maka ketahuilah bahwa dia akan kembali
270 – Mengingat Kematian dan Amal
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa dia bersabda, “Tidaklah seorang lelaki memperbanyak mengingat kematian melainkan itu menambah dalam amalnya.” Maka wahai saudara-saudaraku, perbanyaklah mengingatnya semoga Allah meringankannya atas kalian dan merahmati kalian saat turunnya kepada kalian, dan jadikanlah kematian saat tidur kalian hamparan dan saat bangun kalian begadang.
Dan bersiaplah dengan banyak kebaikan dan menjauhi dosa-dosa dan kejahatan-kejahatan.
Maka semoga Allah merahmati seseorang yang merahmati dirinya dan memandang kepadanya dan mengingat kuburnya.
Dan mereka membacakan syair:
Kematian merusak celaka kalian setiap yang enak
Dan menimpaku dengan kehilangan setiap kekasih
Berapa banyak aku telah melihat dari yang muda usianya
Mulia seperti ranting pohon yang lembut
Merasakan kematian lalu dia berbalik dengan patah
Meletakkan pipinya dengan kehinaan yang mengherankan
Berkata saudara-saudaraku salam atas kalian
Ketika telah dekat matahari masaku dengan terbenam
Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa dia bersabda, “Tidaklah seorang lelaki memperbanyak mengingat kematian melainkan meninggalkan kegembiraan, kecurangan, dan keinginan.” Wahai saudaraku, seandainya ada pada kita ilmu bahwa tidak akan mati dari kita kecuali seorang lelaki saja yang tidak diketahui siapa dia di antara kita, pasti yang wajib atas kita bahwa tidak berhenti bagi kita air mata karena takut dari kematian. Bagaimana sedangkan kita atas keyakinan bahwa tidak akan tersisa dari kita seorang pun?
Dan mereka membacakan syair:
Menemui pemuda waspada akan kematian tidak menyukainya
Darinya padahal telah mengintainya seandainya dia sadar
Dipasang jerat-jeratnya untuknya dari sekelilingnya
Maka ketika mendatanginya harinya dia tidak diperingatkan
Sesungguhnya seseorang yang petang ayahnya dan ibunya
Di bawah tanah adalah wajib dia berpikir
Diberikan lembaran-mu yang engkau imlakan
Maka engkau melihat yang di dalamnya ketika dia dibuka
Kebaikan-kebaikannya dipenuhi telah dihitung
Dan kejahatan-kejahatan maka mana dari itu yang lebih banyak
Maka menangislah wahai sekelompok orang-orang berdosa atas saat yang tidak bisa tidak darinya. Tidakkah kalian melihat kematian telah memusnahkan umat-umat yang lalu dan membunuh generasi-generasi yang terdahulu dan merobohkan istana-istana yang tinggi, menganggurkan hewan-hewan ternak mereka dan merusak rumah-rumah mereka, merobohkan tempat tinggal mereka dan memutus jejak-jejak mereka, dan memetik umur-umur mereka, dan tidak berguna bagi mereka apa yang mereka kumpulkan, dan tidak membentengi mereka apa yang mereka bangun dan buat? Mereka telah menjadi di kubur-kubur hancur dan menemui dari kematian dan kengerian-kengerian perkara yang besar. Maka ini dalil bahwa kematian tidak meninggalkan seorang pun dari makhluk hingga dia mewafatkan mereka dan memindahkan mereka ke tanah semuanya.
271 – Kisah tentang Zuhud
Diriwayatkan dari Amru bin Murrah bahwa ia berkata: Seorang laki-laki disebutkan di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu orang-orang memujinya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: Bagaimana kezhudannya terhadap dunia dan meninggalkan apa yang ia inginkan darinya? Mereka menjawab: Sesungguhnya ia mendapatkan sebagian darinya.
Beliau bertanya: Lalu bagaimana ia menyebut-nyebut kematian? Mereka menjawab: Kami tidak mendengarnya banyak menyebutkannya.
Beliau bersabda: Sahabat kalian tidak seperti itu. Barangsiapa tidak banyak menyebut kematian dan tidak meninggalkan keinginan terhadap harta benda dunia, maka tidak ada kebaikan padanya. Wallahu a’lam.
Dan mereka melantunkan syair:
(Sesungguhnya dunia hanyalah bekal… Tidak ada keabadian di dunia)
(Sesungguhnya dunia hanya seperti rumah… Yang ditenun oleh laba-laba)
(Tidak ada bagi pencarinya di dalamnya… Setiap hari selain makanan)
(Setiap orang yang berada di atasnya… Sebentar lagi akan mati)
Maka demi Allah, demi Allah, segeralah memanfaatkan umur yang pendek dan ajal yang singkat sebelum turunnya malaikat maut dengan kengerian yang sangat besar. Kematian akan mematahkan tulang punggung dan memutus tengkuk, mengembalikan setiap makhluk ke tanah, mendekatkan orang mukmin yang taat ke surga sebagai tempat kembali, dan menggiringkan orang durhaka yang bermaksiat ke azab yang pedih. Maka renungkanlah kematian wahai para penghuni fana dan kepergian.
Dan mereka melantunkan syair:
(Apakah bagi pemuda ada pelindung dari bencana zaman… Ataukah baginya ada penyembuh dari burung kematian)
(Mereka telah menyisir rambutku padahal tidak ada yang kusut di rambut… Dan memakaikan kepadaku pakaian yang bukan pakaian biasa)
(Dan mengafaniku serta berkata: Sungguh laki-laki ini… Dan menggulungku seolah aku lipatan ketapel)
(Tenangkan dirimu dan jangan terlalu bersedih… Sesungguhnya harta kita adalah untuk ahli waris yang masih hidup)
272 – Nasihat Ibnu Mas’ud
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: Bukanlah orang yang lalai dan tidak mengingat kematian orang yang menghitung hari esok sebagai bagian dari ajalnya. Berapa banyak orang yang menyambut suatu hari namun tidak menyelesaikannya, dan berapa banyak orang yang berharap hari esok namun tidak mencapainya. Seandainya kalian melihat ajal dan berlalunya, niscaya kalian akan membenci angan-angan dan tipuannya.
Sungguh mengherankan bagi cabang-cabang yang akar-akarnya telah lenyap, dan bagi bintang-bintang yang telah tiba waktu terbenamnya.
273 – Penyakit dan Obat
Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha lalu berkata: Wahai Ummul Mukminin, sesungguhnya ada penyakit padaku, apakah padamu ada obat? Ia menjawab: Apa penyakitmu? Ia berkata: Kekerasan hati. Ia berkata: Seburuk-buruk penyakit adalah penyakitmu. Jenguklah orang sakit, hadiri jenazah, dan nantikanlah kematian.
Maka demi Allah, demi Allah wahai yang terkena musibah dan wahai pintu-pintu bencana, jangan lupakan kematian yang telah Allah tetapkan atas para hamba, yang merusak negeri-negeri dan daerah-daerah. Bersiap-siaplah darinya dengan kehati-hatian dan kesiapan, wahai jasad-jasad yang sakit dan wahai yang terkena kematian.
Mereka melantunkan syair:
(Barangsiapa tahu bahwa kematian adalah jalannya… Dan kubur adalah tempat tinggalnya dan kebangkitan adalah tempat keluarnya)
(Dan bahwa ia di antara ular-ular yang akan mengigitnya… Pada hari kiamat atau api yang akan membakarnya)
(Maka segala sesuatu selain takwa padanya adalah buruk… Dan betapa buruknya orang yang menetap di atasnya)
(Engkau melihat orang yang menjadikan dunia sebagai tempat tinggalnya… Tidak tahu bahwa kematian akan mengusirnya)
274 – Nasihat Umar bin Abdul Aziz
Diriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu ‘anhu bahwa ia biasa berkata: Wahai manusia, apa gunanya gelisah terhadap apa yang tidak bisa dihindari, apa gunanya berharap pada apa yang tidak diharapkan, dan apa gunanya berdaya upaya terhadap apa yang tidak berubah. Sesungguhnya segala sesuatu berasal dari asalnya. Sungguh telah berlalu sebelum kita akar-akar yang kita adalah cabang-cabangnya. Maka apa kelangsungan cabang setelah akar? Segala yang akan datang adalah dekat.
Wahai manusia, sesungguhnya kalian di dunia ini adalah sasaran-sasaran yang ditembak oleh kematian, jarahan bagi musibah, dan tempat penyimpanan bencana. Bersama setiap makanan ada yang tersedak, dan bersama setiap minuman ada yang tercekik. Tidakkah kalian mendapatkan nikmat melainkan dengan meninggalkan yang lain, dan tidak ada yang berumur panjang di antara kalian melainkan dengan kehancuran orang lain dari ajalnya. Kalian adalah penolong-penolong kematian atas diri kalian sendiri. Maka ke mana lagi tempat melarikan diri dari apa yang akan terjadi? Maka demi Allah, demi Allah wahai saudara-saudaraku, jangan bersandar pada panjangnya harapan dan jangan lupakan mendekatinya ajal. Kematian tidak dapat dihindari.
Dan mereka melantunkan syair:
(Aduh untuk perjalanan tanpa kembali… Aduh dari penyesalan atas orang-orang tercinta)
(Aduh dari sakratul maut tanpa minuman… Aduh dari kendaraan tanpa pelana)
(Aduh dari tempat tidurku sendirian dan terasing… Di antara hamparan kerikil dan tanah)
Wahai saudara-saudaraku, apakah kalian telah melihat seseorang yang kekal di dunia sehingga kalian akan kekal? Ataukah kalian dalam keraguan tentang kepergian ke akhirat sehingga kalian menjadi kafir terhadap Alquran? Demi Allah, jika urusan seperti itu, tentu kekal penutup para Nabi. Sungguh telah menutup hati-hati kalian tirai orang-orang yang lalai dan menguasai jiwa-jiwa kalian tipu daya setan yang terkutuk, hingga kalian melupakan kematian yang memisahkan berkumpulnya orang-orang yang berkumpul.
Dan mereka melantunkan syair:
(Bukan keabadian kelangsungan bagi makhluk tetapi… Keabadian kelangsungan bagi Pencipta)
(Kematian mengalahkan tipu daya setiap penipu… Dan tidak mampu mengobati penyakitnya setiap penyembuh)
(Kerasnya zaman berbelok lalu mengarahkannya… Kepada kefakiran dan sempitnya pengap)
(Jangan tertipu oleh tipu daya dari dunia… Karena darinya ada kesulitan-kesulitan yang berdatangan)
275 – Alquran dan Kematian adalah Dua Penasihat
Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: Aku tinggalkan pada kalian dua penasihat, yang berbicara dan yang diam. Yang berbicara adalah Alquran dan yang diam adalah kematian. Sungguh malang, kalian tidak mengamalkan Alquran dan tidak merenungkan kematian. Kalian sore dan pagi sementara hati-hati kalian tergantung pada urusan-urusan dunia. Kalian tidak punya kabar dari kematian dan tidak pula berhati-hati darinya. Hati-hati kalian kosong dari takut kepada Yang Maha Pengasih, penuh dengan tipu daya setan. Seolah-olah kalian telah aman dari kematian dan peristiwa-peristiwa yang datang tiba-tiba.
Dan mereka melantunkan syair:
(Engkau mengendarai kebebasan dalam jalan-jalan masa muda… Tidak tahu bahwa bencana-bencana akan datang)
(Dan engkau menyeret ekor kebatilan dengan lengah… Seolah-olah belum tertulis atasmu dosa-dosa)
(Engkau membiarkan kitab kiri penuh lembaran-lembaran… Dengan banyaknya apa yang engkau lakukan dan engkau tidak bertobat)
(Dan kapan pun kematian tidak hadir untukmu untuk waktu tertentu… Niscaya engkau akan mencapainya dengan pasti dan engkau sedih)
(Maka katakan kepadaku jika ia datang tanpa persiapan… Dengan jawaban apa jika engkau dipanggil akan menjawab)
Maka demi Allah, demi Allah hamba-hamba Allah, nasihatilah diri kalian dengan bapak-bapak kalian, orang-orang yang kalian cintai, tetangga-tetangga kalian, dan saudara-saudara kalian. Sesungguhnya dalam itu ada kecukupan bagi yang mengingat dan pelajaran bagi yang merenungkan. Saudara-saudara kalian kemarin bersama kalian, memakan apa yang kalian makan dan mengenakan dari apa yang kalian kenakan. Lalu hari ini mereka telah menjadikan kubur sebagai rumah-rumah mereka dan mereka berada di antara lapisan-lapisan tanah dengan tersembunyi. Ahli waris telah membagi harta mereka, musuh dan teman telah menikahi keluarga mereka, dan musuh telah menghina anak-anak mereka.
Sungguh telah tersingkap dari mereka hijab-hijab, sepi dari mereka rumah-rumah, dan beredar tentang mereka berita-berita.
Dan mereka melantunkan syair:
(Aku melihat kematian tidak meninggalkan sahabat… Kepada teman meskipun mereka hidup lama)
(Maka berhati-hatilah darinya karena sesungguhnya aku… Melihat kematian tidak memberikan jaminan)
(Kelalaian kita darinya seolah-olah kita… Dengan apa yang menjadi urusan kita, yang lain yang berurusan)
(Dan berapa banyak untuk kematian dari rumah dan rumah… Yang penghuni-penghuninya pergi darinya lalu pergi)
(Berapa banyak orang yang angkuh dan mulia kaum… Kematian merendahkan kemuliaannya lalu hina)
(Seolah-olah kita telah melihat dari dekat… Kepada apa yang telah dijanjikan kepada kita dengan nyata)
276 – Beratnya Kematian
Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau menyebutkan kematian, kesedihannya dan kesusahannya, lalu berkata: Ia lebih berat dari tiga ratus kali pukulan pedang. Maka wahai kelompok orang-orang yang yakin dengan turunnya, apa kelemahan ini dan apa mabuk ini dari mengingat kematian? Sedikit kegembiraannya, dendamnya, dan keinginannya.
Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau jika melihat kelemahan atau kelalaian dari manusia, berdiri di pintu masjid lalu memegang tiang-tiang pintu, kemudian berseru dengan suara yang paling keras: Wahai manusia, kematian, kematian! Kematian datang kepada kalian dengan segera, kebahagiaan atau kesengsaraan. Kematian datang kepada kalian dengan apa yang dibawanya, dengan ruh dan istirahat serta kemuliaan yang beruntung di surga yang tinggi untuk wali-wali Allah dari penghuni negeri keabadian yang usaha mereka untuknya dan keinginan mereka padanya. Ketahuilah sesungguhnya setiap orang yang berusaha ada tujuan, dan tujuan setiap orang yang berusaha adalah kematian. Kematian datang kepada kalian dengan apa yang dibawanya, dengan kehinaan dan penyesalan serta kemuliaan yang rugi di neraka yang panas untuk wali-wali setan dari penghuni negeri tipu daya yang usaha mereka untuknya dan keinginan mereka padanya. Ketahuilah sesungguhnya setiap orang yang berusaha ada tujuan, dan tujuan setiap orang yang berusaha adalah kematian. Maka ada yang mendahului dan ada yang didahului.
Maka demi Allah, demi Allah wahai saudara-saudaraku, jadilah dari orang-orang yang mendahului dan jangan menjadi dari orang-orang yang merugi. Dan jadilah dari kematian dengan kepastian dan keyakinan.
Dan mereka melantunkan syair:
(Aku melihatmu dengan apa yang diridhai oleh jiwa dan hawa nafsu… Dan Allah murka darinya, engkau menjadikannya sebagai agama)
(Dan hatimu tidak bertambah kecuali kekerasan… Maka tangani ia dengan peringatan mudah-mudahan ia lembut)
(Jika engkau dalam keraguan tentang kematian maka ambil pelajaran… Dengan siapa yang telah pergi, bertambah darimu keyakinan)
(Seolah-olah engkau tenggelam dalam gelombang-gelombangnya… Dan datang kepadamu setelah gerakan ketenangan)
(Dan sungguh telah bergetar di dada darimu dan bercucuran… Dengan air matanya yang mengalir untukmu mata-mata)
(Maka katakan kepadaku jika engkau dibuat bantal celakalah engkau dalam kebinasaan… Dan ditimbun atasmu tanah bagaimana keadaanmu)
277 – Mengharapkan Kematian
Hamba-hamba Allah, ingatlah umur-umur kalian sebelum terlambat dan bersiaplah untuk kengerian tersedak kematian.
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: Jangan kalian mengharapkan kematian karena sesungguhnya dahsyatnya tempat jatuh adalah berat. Dan sesungguhnya termasuk kebahagiaan seseorang bahwa Allah Ta’ala memberinya rezeki untuk kembali kepada-Nya dan memanjangkan umurnya. Sesungguhnya kita milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kita akan kembali atas orang yang panjang umurnya dan buruk amalnya serta tidak bermanfaat baginya nasihat. Maka barangsiapa dari kita seperti itu, sungguh besar kerugiannya dan tidak beruntung perdagangannya.
Dan mereka melantunkan syair:
(Dipanggil dengan suara, sungguh suara… Betapa dekatnya orang hidup dengan kematian)
(Seolah-olah penghuni rumah dalam kesesatan mereka… Telah mengambil keamanan dari kematian)
(Berapa banyak orang sehat yang makmur rumahnya… Tidak sampai sore kecuali rusak rumahnya)
(Berapa dan berapa banyak orang hidup menangis mayat… Lalu menjadi orang hidup bersama mayat)
278 – Doa yang Dicoba
Ya Allah wahai Yang Paling Mulia dari yang mulia, karuniakan kepada kami dan kepada seluruh orang-orang yang berdosa dengan tobat yang memindahkan kami dari kehinaan maksiat kepada kemuliaan ketaatan, dan tetapkanlah kami di atasnya hingga Engkau keluarkan kami dari dunia tanpa kehinaan dan tidak ada akibat buruk atas jalan Ahlussunnah wal Jamaah yang telah Engkau wajibkan bagi mereka rahmat dan syafaat. Ya Allah, sesungguhnya ketaatan dengan takdir-Mu dan kemaksiatan, dan dalam genggaman-Mu hati-hati dan ubun-ubun. Maka sucikanlah hati-hati kami dengan air tobat dan cucilah ia dari kotoran dosa. Berikan kami kenikmatan dengan keselamatan dalam agama kami dan dunia kami selama Engkau kekalkan kami, dan jangan kembalikan kami kepada tumit-tumit kami setelah Engkau memberi kami petunjuk. Dan semoga Allah bershalawat atas Muhammad penutup para Nabi dan sebaik-baik Rasul. Dan kumpulkanlah kami di bawah benderanya semuanya atas jalan dan sunnahnya tanpa berubah dan tidak berganti, diberi taufik dan dilindungi, tidak dimurkai dan tidak sesat, wahai Yang Maha Pengasih dari yang pengasih. Dan akhir doa mereka adalah segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam (Yunus: 10). Dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar. Wallahu a’lam.
11 – Majelis tentang Kematian Para Nabi dan Para Wali yang Saleh
279
Dan itulah firman-Nya yang Mahatinggi “Setiap jiwa akan merasakan kematian” (Surah Ali Imran: 185). Wahai kaum orang-orang yang akan mati dan anak-anak orang yang telah mati, kalian pasti akan mati tanpa dapat dielakkan. Sesungguhnya saudara-saudara kalian telah mendahului kalian ke tempat persinggahan kubur. Apabila anak keturunan Adam telah lengkap dari orang pertama hingga orang terakhir, maka mereka semua akan bangkit untuk dihadapkan dan dibangkitkan kepada Sang Raja Yang Maha Pengampun. Maka bersiaplah kalian untuk kedudukan itu, hindarilah beban-beban dosa dan perbuatan maksiat, segeralah bertobat sebelum kematian turun menghampiri.
280 – Sifat Kematian
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda: “Kematian adalah dahan yang banyak durinya, dimasukkan ke dalam rongga seorang laki-laki, setiap duri mencengkeram urat nadi, kemudian ditarik oleh seorang laki-laki dengan tarikan yang keras, mengambil apa yang diambilnya dan meninggalkan apa yang ditinggalkannya.”
Dan mereka membacakan syair: Wahai orang yang akan pergi dengan tergesa-gesa Sebagaimana bapaknya telah pergi darinya Bayangkanlah dalam hatimu perkataan mereka Datanglah kepastian maka tuntunlah dia Dan mereka berlepas diri dari kezalimannya Sebelum perpisahan dan pamitlah pada dia
Maka bertakwalah kalian wahai hamba-hamba Allah, janganlah kalian sia-siakan umur kalian dalam kebatilan, janganlah kalian habiskan hari-hari kalian dalam kejahilan. Ingatlah kematian yang memisahkan orang-orang yang dicintai, memutus hubungan kekerabatan, menghilangkan tengkuk, menghancurkan para penguasa yang sewenang-wenang dan para pembesar, membinasakan ayah dan ibu, membunuh saudara laki-laki dan perempuan, memusnahkan tetangga dan kerabat. Kematian akan memotong harta kalian, mengubah keadaan kalian, menjandakan istri-istri kalian, menyatim anak-anak kalian, sehingga tidak tersisa dari kalian seorang teman pun, tidak kekasih, tidak orang bodoh, tidak orang yang berilmu.
Dan mereka membacakan syair: Kematian telah membinasakan orang yang telah berlalu Dan kematian akan membinasakan orang yang tersisa Dan kematian mengumpulkan di dalam tanah Antara orang yang dimanjakan dan orang yang sengsara
Wahai orang miskin! Engkau telah membelanjakan hartamu untuk membangun rumah dan mendirikan istana, dan melupakan kematian serta perpindahan ke kegelapan kubur, menetap di dalamnya hingga hari kebangkitan. Dan mereka membacakan syair: Ketahuilah, untuk kehancuran para pembangun membangun kami Dan untuk kematian apa yang dilahirkan oleh para orang tua Dan tidak lama lagi orang-orang yang datang kemudian akan melihat Keajaiban-keajaiban yang telah dilihat oleh orang-orang terdahulu Dan celaka orang-orang karena apa yang mereka kumpulkan Dan berbahagialah dengan sedikitnya para zahid Dan mereka tidak dikasihani ketika mereka menangis Dan para zalim tidak mengharap rahmat Dan suatu kaum bertanya di sana untuk kembali Maka mereka tidak dikembalikan dan tidak dimuliakan
Ketahuilah wahai orang miskin bahwa kematian lebih baik daripada kehidupan yang hina. Wahai anak Adam, tidur demi Allah di bawah tanah lebih baik bagimu daripada bermaksiat kepada Tuhan segala Tuhan.
281 – Pelajaran dari Kematian
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda: “Cukuplah kematian sebagai pengingat, cukuplah ibadah sebagai kesibukan, dan cukuplah keyakinan sebagai kekayaan.” Dan ketahuilah wahai hamba-hamba Allah bahwa tidak ada umat setelah umat kalian, dan tidak ada nabi setelah nabi kalian. Hanya saja ditunggu orang-orang pertama kalian hingga menyusul orang-orang terakhir kalian, kemudian mereka dikumpulkan di padang Kiamat untuk terjadinya penyesalan dan kerugian. Pada saat itu tidak bermanfaat bagi kalian harta dan anak-anak, dan dihalangi antara kalian dan apa yang kalian inginkan, dan menimpa kalian apa yang dahulu kalian olok-olokkan.
Dan mereka membacakan syair: Setiap yang hidup meskipun dia kekal Maka dari kematian dia akan minum Maka beramallah hari ini dan bersungguh-sungguhlah Segeralah hari ini wahai orang celaka
282 – Abu al-Atahiyah Sang Penyair
Disebutkan tentang Abu al-Atahiyah rahimahullah bahwasanya dia suatu hari masuk menemui ar-Rasyid, lalu ar-Rasyid berkata kepadanya: Bacakanlah untukku syair. Maka dia berkata: Berilah aku jaminan keamanan. Dia berkata: Engkau aman. Maka dia memulai dan membacakan: Janganlah merasa aman dari kematian dalam sekejap dan dalam sehelai napas Meskipun engkau berlindung dengan penghalang dan penjagaan Dan ketahuilah bahwa anak panah kematian menuju Kepada setiap orang yang berbaju zirah di antara kami dan yang bersenjata Mengapa agamamu engkau rela untuk menodainya Sedangkan pakaianmu selamanya tercuci dari kotoran Engkau mengharap keselamatan dan belum menempuh jalan-jalannya Sesungguhnya kapal tidak berlayar di daratan
Maka ketahuilah wahai sekalian Bani Adam bahwa kematian tidak akan meninggalkan seorang pun dari kalian, tidak merahmati orang tua dan tidak anak. Maka jadikanlah dia di hadapan mata kalian terpasang, karena dia tidak membiarkan orang yang gembira kecuali menjadi susah dan sedih. Keyakinan kita adalah keyakinan orang yang akan mati, tetapi amal perbuatan kita adalah amal orang yang tidak akan mati. Seolah-olah keyakinan kita tentang kematian tercampur dengan keraguan, dan seolah-olah iman kita tentang kebangkitan bercampur dengan kebohongan. Ini bukan keadaan orang yang yakin akan kematian yang bermaksiat kepada Tuhannya di malam dan siang hari.
Dan mereka membacakan syair: Kita dari umur dalam prasangka Dan dalam keyakinan dari kematian Kemudian kita tidak mengingat ajal Bukankah ini puncak kegilaan
283 – Perumpamaan Dunia dan Kematian
Disebutkan dari sebagian orang-orang saleh bahwasanya dia berkata: Aku melihat dalam mimpi seorang laki-laki dan dia di padang pasir, di depannya ada seekor kijang dan dia berlari mengejarnya sedang kijang itu lari darinya. Dan ada seekor singa sebesar-besar makhluk yang pernah diciptakan, hampir menyusulnya, sedangkan laki-laki itu menoleh kepalanya dan melihat singa itu tetapi tidak takut darinya, kemudian dia berlari mengejar kijang itu hingga singa menyusulnya dan membunuhnya. Maka berhentilah kijang itu memandangnya sedangkan dia terbunuh. Tiba-tiba datang laki-laki lain yang melakukan apa yang dilakukan oleh yang terbunuh, maka singa membunuhnya dan dia tidak mencapai kijang. Kemudian keluar yang lain dan melakukan demikian. Dia berkata: Aku terus menghitung satu demi satu hingga aku menghitung seratus laki-laki tergeletak dan kijang itu berdiri. Maka aku berkata: Sesungguhnya ini sungguh mengherankan. Maka singa itu berkata: Dari apa engkau heran? Atau apakah engkau tidak tahu siapa aku dan siapa kijang ini? Maka aku berkata: Tidak. Maka dia berkata: Aku adalah Malaikat Maut dan ini adalah kijang dunia, dan ini adalah penduduknya yang bersungguh-sungguh dalam mengejarnya sedangkan aku membunuh mereka satu demi satu hingga aku datang kepada yang terakhir dari mereka. Maka aku terbangun dengan ketakutan dan kengerian. Dan mereka membacakan syair: Sampai kapan dan hingga kapan kita bermalas-malasan Dan aku kira semua ini kelupaan Sedangkan kematian mengejar kita dengan cepat dan tergesa-gesa Jika dia tidak mengunjungi kita pagi hari maka sore hari Sesungguhnya kita diberi nasihat pagi dan sore Dan seolah-olah yang dimaksud dengan itu adalah selain kita Keyakinan telah mengungguli keraguan dalam kematian Hingga seolah-olah aku telah melihatnya dengan nyata Wahai orang yang akan menjadi besok ke negeri kebinasaan Dan berpisah dengan saudara-saudara dan teman-teman Sesungguhnya tempat-tempat di akhirat itu mulia Maka pilihlah untuk dirimu jika engkau berakal tempat tinggal Dan perhatikanlah dirimu jika engkau ingin kemuliaannya Sebelum kematian dan janganlah menjadi hina
Dan ketahuilah wahai hamba-hamba Allah bahwa tidak ada kelompok betapapun banyaknya kecuali kematian akan menguranginya hingga memusnahkannya sampai yang terakhir. Hanyasanya umur-umurnya adalah pinjaman, dan yang dipinjamkan tidak akan kekal. Mereka semua kembali kepada Allah yang Mahatinggi yang memutuskan di antara mereka dengan kebenaran, dan Dia adalah sebaik-baik yang memutuskan. Maka ada yang celaka dan ada yang bahagia, dan di antara mereka ada yang tersiksa.
Dan mereka membacakan syair: Dan tidaklah penduduk kehidupan bagi kita sebagai keluarga Dan tidak negeri fana bagi kita sebagai negeri Dan tidaklah harta kita kecuali pinjaman Yang akan diambil oleh yang meminjamkan dari yang dipinjami
284 – Pertemuan Roh-roh
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda: “Apabila dinaikkan roh mukmin, roh-roh mukmin menyambutnya dengan rahmat dan kabar gembira sebagaimana menyambut orang yang pergi dalam dunia. Kemudian mereka mengerumuni dia lalu bertanya kepadanya, mereka berkata: Bagaimana keadaan si fulan dan bagaimana keadaannya? Maka dia berkata: Dengan baik, aku tinggalkan dia demi Allah dalam jalan yang baik. Maka mereka berkata: Ya Tuhan kami, Engkau telah memberinya petunjuk untuk itu maka teguhkanlah dia padanya hingga Engkau mencabut nyawanya. Dan jika mereka bertanya kepadanya tentang seseorang yang telah meninggal maka dia berkata: Dia telah binasa. Maka mereka berkata: Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Dia beramal demi Allah dengan bukan amalan kami, ditempuh baginya bukan jalan kami, dia pergi demi Allah ke umat yang hina, seburuk-buruk ibu dan seburuk-buruk yang memelihara.”
285 – Amal Perbuatan Orang Hidup dan Orang Mati
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Amal perbuatan kalian ditampakkan kepada orang-orang yang telah mati. Jika mereka melihat kebaikan, mereka bergembira dengannya dan berkata: Ya Allah, ini nikmat-Mu maka sempurnakanlah pada hamba-Mu. Dan jika mereka melihat kejahatan, mereka bersedih karenanya dan berkata: Ya Allah, kembalikanlah hamba-Mu.” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Maka janganlah kalian menyedihkan orang-orang mati kalian dengan amal perbuatan kalian yang buruk karena sesungguhnya amal perbuatan kalian ditampakkan kepada mereka.”
Maka bertakwalah kalian wahai hamba-hamba Allah, bersungguh-sungguhlah dalam meraih kebaikan-kebaikan, dan hindarilah di malam dan siang hari kalian kejahatan-kejahatan. Karena sesungguhnya itu menyedihkan keluarga dan kerabat dari orang-orang yang telah meninggal.
Dan beramallah dalam kesehatan kalian sebelum sakit, dan dahulukanlah dalam masa muda kalian sebelum usia tua. Karena sesungguhnya kematian jika datang tidak kembali, dan anak panahnya jika dipasang tidak tertolak, dan cawannya jika diedarkan tidak dicabut. Telaganya didatangi, jam-jamnya terhitung, dan kengerian-kengeriannya disaksikan, dan tipu daya ketika turunnya hilang tidak ada.
Dan mereka membacakan syair: Kematian sudah pasti telaganya didatangi Dan kematian membinasakan kelompok kita dan memusnahkan Dan kematian menghukum jiwa-jiwa dengan kematiannya Dan baginya dalam melaksanakan itu bala tentara Dan kematian merusak jiwa raja yang Telah dimuliakannya pasukan dan bala tentara Dan hati kita dalam semua itu terpikat Cinta kepada negeri yang bunganya terikat Dan sampai kapan engkau mencintai yang merusak dirinya Dan sampai kapan engkau tidak berpaling dan kembali
Bertakwalah bertakwalah wahai orang-orang yang akan dijemput kematian, wahai pintu-pintu bencana, wahai tambang musibah!
Bangunlah dari kantuk ini sebelum kalian dibekali dari harta kalian dengan kain kafan dan kain penutup!
Ketika kekasih berlepas diri dari kalian dan yang dekat mengingkari pengenalan mereka terhadap kalian, dan menjadi setiap orang dari kalian seolah-olah asing dan jauh.
Dan mereka membacakan syair: Kematian adalah pintu dan semua manusia memasukinya Maka semoga aku tahu setelah pintu itu apa negerinya Negeri itu negeri nikmat jika engkau beramal dengan apa Yang diridhai Allah dan jika engkau menyelisihi maka neraka
286 – Ketekunan
Wahai saudaraku, demi Allah kepadamu, seandainya kematian mendatangimu dan bagimu kerajaan dunia, bukankah engkau akan memilih kehidupan sehari dengan semuanya? Maka segeralah selama engkau masih dalam kelonggaran umur sebelum menyempitmu urusan. Seandainya diumumkan kepadamu malam ini jawablah sang penyeru, bukankah engkau akan menyesal atas apa yang telah engkau dahulukan dan menangis atas apa yang telah engkau sia-siakan? Dan mereka membacakan syair: Kematian adalah lautan yang mengamuk ombaknya Hilang di dalamnya tipu daya sang perenang Wahai jiwa sesungguhnya aku berkata maka dengarlah Perkataan orang yang peduli dan penasihati Apa yang mengagumkan manusia dalam kuburnya Seperti takwa dan amal saleh
Maka bertakwalah bertakwalah wahai hamba-hamba Allah, bersiaplah untuk kematian seolah-olah dia telah turun kepada kalian, menjandakan para perempuan, menyatimkan anak-anak, dan memisahkan saudara-saudara. Maka demi Allah wahai manusia, dan sesungguhnya aku dan kalian adalah manusia itu. Seandainya tidak ada air dan tidak bayangan, tidak jawaban dan tidak pertanyaan, tidak nikmat dan tidak pahala, tidak neraka dan tidak siksa, niscaya dalam kematian dan mabuknya, kubur dan kegelapannya, liang lahad dan tekanannya, ada yang mencegah orang yang berakal lagi bijaksana dari meraih kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa. Bagaimana lagi di balik itu ada kengerian yang mengerikan dan penjelasan yang panjang dari Sangkakala dan tiupannya, kebangkitan dan kegetirannya, Shirat dan kesempitannya, pertanyaan Allah yang Mahatinggi kepada hamba dan teguran-Nya.
Maka apa jawabanmu wahai orang yang tertipu ketika engkau berdiri di hadapan Yang Maha Mengetahui lagi Maha Pengampun yang mengetahui penghianatan mata dan apa yang disembunyikan dada? Maka Dia menampakkan bagimu keburukan-keburukanmu, menyebarkan aib-aibmu, dan menjadikan saksi atasmu anggota tubuhmu. Jika Dia memaafkanmu maka engkau termasuk orang-orang yang beruntung, dan jika Dia menuntutmu dengan apa yang telah didahulukan tanganmu maka engkau termasuk orang-orang yang merugi.
Semoga Allah memaafkan kita semua dan mengampuni dosa-dosa kita, karena Dia adalah sebaik-baik Yang Maha Pengampun. Amin, Tuhan semesta alam.
Dan mereka membacakan syair: Barangsiapa mengharap untuk hidup maka sesungguhnya aku Pagi ini mengharap untuk mati agar aku dibebaskan Dalam kematian seribu keutamaan seandainya Ditampakkan niscaya jalannya adalah dia akan jatuh cinta
287 – Pencabutan Roh Orang-orang Saleh
Disebutkan dalam sebagian kabar dari sebagian salaf yang baik dari Nabi yang Terpilih lagi Termulia bahwasanya Allah azza wajalla apabila menghendaki pencabutan roh hamba-Nya yang mulia bagi-Nya, dan dia adalah orang yang bertakwa karena dengan takwa dia menjadi mulia bagi-Nya, memanggil Malaikat Maut lalu berfirman: Pergilah wahai Malaikat Maut kepada hamba-Ku si fulan dan datangkanlah kepada-Ku rohnya agar dia beristirahat di sisi-Ku, cukuplah bagi-Ku dari amalnya bahwasanya Aku telah mengujinya dalam kelapangan dan kesempitan lalu Aku mendapatinya di tempat yang Aku cintai. Maka pergilah Malaikat Maut lalu mengambil dari kesturi surga yang paling harum dan sutranya yang putih, kemudian turun dengannya, dan turun di belakangnya lima ratus malaikat. Tidak ada malaikat di antara mereka kecuali bersamanya ada kabar gembira dari Allah yang Mahatinggi kepada wali itu. Dan tidak ada malaikat di antara mereka yang tahu apa yang bersama temannya dari kabar gembira. Dan tidak ada malaikat di antara mereka kecuali bersamanya ada ikat dalam reyhan yaitu ikatan dari reyhan dari reyhan surga. Apabila mereka turun, mereka mengelilingi wali Allah dan Malaikat Maut duduk di kepala ranjangnya, dan meniup di wajahnya racun kematian maka merobohkannya. Dan dia berkata kepadanya: Wahai wali Allah, berangkatlah dari dunia karena bukan bagimu rumah dan bukan bagimu negeri, dan tidak boleh tidak bagimu wahai wali Allah bahwa engkau merasakan sebagaimana merasakan saudara-saudaramu sebelummu. Dia berkata: Maka Malaikat Maut paling lembut dalam mengeluarkan jiwanya daripada ibu dengan anaknya.
Apabila jiwanya memberi izin untuk keluar dan berada di dagunya, datanglah kepadanya mereka yang datang bersama Malaikat Maut dan mereka adalah lima ratus malaikat, mengabarkan kepadanya dengan kabar gembira yang Allah mengutus mereka dengannya kepadanya. Dan tidak ada malaikat di antara mereka kecuali dia meletakkan di setiap bagian dari tubuhnya dari ikatan-ikatan reyhan yang mereka datangkan dengannya. Apabila keluar jiwanya, dibungkuslah oleh Malaikat Maut dengan kain putih dan kesturi yang paling harum itu, kemudian naik dengannya ke langit. Dan tetap malaikat-malaikat yang memberinya kabar gembira di jasadnya di sisi keluarganya.
288 – Malaikat-malaikat Rahmat
Apabila mendekat ke langit, menyambutnya Jibril alaihissalam dalam tujuh puluh ribu barisan dari malaikat-malaikat. Maka mengambil roh itu darinya Jibril alaihissalam, kemudian naik dengannya hingga meletakkannya di hadapan Yang Maha Perkasa tabaraka wataala. Maka berfirman jalla jalaluhu wataala, tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, kepada Jibril alaihissalam: Pergilah maka letakkanlah wali Allah dalam sidr yang terbentang dan talh yang tersusun.
Apabila laki-laki itu diangkat ke usungannya, turunlah lima ratus malaikat yang lain selain yang datang bersama Malaikat Maut, lalu mereka duduk dua baris antara rumahnya hingga kuburnya, menyambut jenazahnya dengan istighfar. Dan apabila dia diturunkan ke kuburnya dan ditaburkan di atasnya tanah, dan orang-orang pulang, datanglah shalat maka berada di kanannya, dan datanglah puasa maka berada di kirinya, dan datanglah zikir kepada Allah yang Mahatinggi dan tilawah Alquran maka keduanya berada di kepalanya, dan datanglah jalannya ke majelis jemaah dan ke majelis-majelis ilmu, menjenguk orang sakit, mengikuti jenazah, dan sedekah, maka mereka berada di kakinya. Dan datanglah kesabaran atas apa yang dibenci dan atas apa yang dicintai, tetapi tidak menemukan tempat duduk maka duduk di sudut dari sudut kuburnya. Maka keluarlah baginya dari kuburnya leher dari siksa, lalu datang dari kanannya, maka dikatakan kepadanya oleh shalat: Enyahlah dariku, tidak ada jalan bagimu padanya. Hanyasanya wali Allah beristirahat dari berhadapan dan berpaling jam ini. Kemudian datang dari kirinya maka puasa berkata: Enyahlah dariku, tidak ada jalan bagimu padanya. Hanyasanya wali Allah beristirahat dari berhadapan dan berpaling jam ini. Kemudian datang di kakinya maka jalannya ke majelis jemaah, ke majelis-majelis ulama, menjenguk orang sakit, mengikuti jenazah, dan sedekah berkata kepadanya: Enyahlah dari kami, tidak ada jalan bagimu padanya. Hanyasanya wali Allah beristirahat dari berhadapan dan berpaling jam ini. Dia berkata: Maka ketika tidak melihat sesuatu, dia mundur dan masuk ke tempat yang dia keluar darinya. Maka kesabaran berkata kepada mereka ini: Adapun jika kalian telah mencukupiku dari siksa kubur maka aku akan mencukupkan kalian darinya di sisi timbangan ketika dinasabkan.
289 – Pertanyaan Dua Malaikat
Dia berkata: Kemudian Allah mengeluarkan kepadanya Munkar dan Nakir, keduanya adalah malaikat kubur yang hitam membiru, menggali kubur dengan taring-taring mereka dan menginjak dengan bulu mata mereka. Keduanya seperti guntur yang menggelegar dan pandangan mereka seperti kilat yang menyambar, napas mereka seperti kobaran api dan warna mereka seperti malam yang gelap gulita.
Lalu keduanya berkata kepadanya: Siapa Tuhanmu, apa agamamu, dan siapa nabimu? Maka dia menjawab: Allah adalah Tuhanku, agamaku Islam, dan nabiku Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Lalu keduanya berkata kepadanya: Sungguh kami telah mengetahui bahwa kamu adalah seorang mukmin. Kemudian keduanya membukakan baginya pintu menuju neraka, lalu dia melihat apa yang telah Allah sediakan di dalamnya bagi ahli maksiat berupa siksaan dan azab. Dia berkata: Lalu keduanya menutup pintu itu darinya, kemudian berkata kepadanya: Jangan takut wahai wali Allah dari pintu ini selamanya. Kemudian keduanya membukakan baginya pintu menuju surga, lalu dia melihat apa yang telah Allah sediakan bagi ahli ketaatan-Nya berupa kebaikan yang kekal dan tetap yang tidak akan lenyap dan tidak akan terputus. Lalu keduanya berkata kepadanya: Wahai wali Allah, ini adalah rumahmu, tempatmu, dan kediamanmu.
290 – Nikmat Kubur
Dia berkata: Maka pintu itu terbuka menuju kuburnya hingga hari kiamat. Keluar dari pintu itu menuju kuburnya angin surga, keharumannya, dan kesejukannya. Keduanya melapangkan kuburnya sejauh pandangan mata. Kemudian keduanya berkata kepadanya: Wahai wali Allah, tidurlah. Maka dia tidur seperti tidurnya pengantin dalam kamar pengantinya hingga Allah membangkitkannya pada hari kiamat menuju istri-istri dan keluarganya. Tidakkah kamu melihat wahai orang yang lalai dari ketaatan kepada Tuhannya yang bersikeras pada dosanya, kepada wali ini yang pergi ke kuburnya dan keluar kepadanya semacam azab dari Tuhannya, namun amal-amal salehnya menjadi tentara di sekelilingnya sehingga azab tidak menemukan jalan masuk kepadanya selain melalui mereka. Dan seandainya bukan karena keberadaan mereka di sekelilingnya, niscaya azab Allah akan sampai kepadanya. Seandainya dia tidak beramal dengan ketaatan kepada Allah, niscaya Allah tidak menjadikan penghalang antara dia dengan azab-Nya. Dan barangsiapa yang tidak memiliki penghalang antara dirinya dengan neraka, maka kehancuran dan kebinasaan telah didapatkannya, dan azab serta kehinaan akan sampai kepadanya. Setiap orang yang mengaku bahwa dia beriman kepada Allah Azza wa Jalla, rasul-Nya, dan kitab-Nya, namun tidak menjadikan amal saleh sebagai pelindung antara dirinya dengan azab-Nya, maka sungguh dia telah menghadapkan dirinya kepada kehancuran dan siksaan-Nya, karena dia tidak menjadikan penghalang antara dirinya dan tubuhnya. Dan setiap tempat yang diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk bertakwa dalam kitab-Nya, sesungguhnya itu adalah peringatan dari azab-Nya.
Dan mereka mendendangkan syair:
Kematian lebih menenangkan bagi yang taat dan lebih baik Dan kematian lebih enak bagi yang bertakwa dan lebih menyelamatkan Dan kematian lebih dekat jalannya menuju surga Dan hamba dimuliakan oleh Allah dan diberi
291 – Sulaiman dan Malaikat Maut
Disebutkan dalam sebagian berita bahwa Sulaiman alaihissalam berdoa kepada Allah dan memohon kepada-Nya agar Dia memperlihatkan kepadanya malaikat maut dan mengenakan kepadanya kekuatan sehingga dia bisa berbicara dengannya. Maka ketika dia sedang duduk pada suatu hari di atas singgasananya, tiba-tiba keluarlah seorang lelaki dari samping singgasana yang tidak dilihat oleh siapa pun kecuali Sulaiman. Sulaiman tidak pernah melihat makhluk yang lebih sempurna penciptaannya dari dia. Lalu dia berkata: Wahai hamba Allah, apa yang memasukkanmu ke rumahku? Dia menjawab: Yang memasukkanku adalah pemiliknya, yang lebih menguasainya daripada kamu dan aku. Maka Sulaiman mengetahui bahwa dia adalah salah satu malaikat Allah. Lalu dia bertanya: Siapa kamu dari malaikat Tuhanku? Dia menjawab: Aku adalah malaikat maut. Mereka mendengar kegaduhan dari perkataannya, lalu Sulaiman dan orang-orang yang bersamanya di rumah itu pingsan karena takutnya. Lalu malaikat maut berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya hamba-Mu Sulaiman dan nabi-Mu memohon kepada-Mu agar Engkau mengizinkan aku masuk kepadanya, dan telah mencapainya ketakutan dirinya dan orang-orang yang bersamanya sebagaimana Engkau lihat. Maka kenakanlah kepadanya kekuatan yang dapat menanggung melihat diriku. Lalu Allah mewahyukan kepada malaikat maut: Letakkan tanganmu di dada Sulaiman. Maka dia melakukannya, lalu Sulaiman dan orang-orang yang bersamanya sadar dengan izin Allah. Sulaiman berkata: Wahai malaikat maut, apakah engkau melihat makhluk Allah di langit dan bumi sepertimu? Lalu malaikat maut berkata: Wahai nabi Allah, demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, sesungguhnya kakiku saat ini berada di atas pundak seorang malaikat, dan malaikat itu adalah kematian. Kedua tanduknya telah menembus tujuh langit dan naik di atasnya sejauh perjalanan seribu tahun. Dan kedua kakinya telah melampaui tanah lima ratus tahun, membuka mulutnya, mengangkat suaranya dengan tahlil, taqdis, dan tasbih, mengangkat kedua tangannya. Seandainya Allah mengizinkannya untuk mengepalkan keduanya ke dadanya, niscaya dia akan merangkum langit-langit dan apa yang ada di dalamnya dan apa yang ada di atasnya kecuali Arsy. Dan sesungguhnya di atasnya ada malaikat yang berdiri yang telah memasukkan kakinya di bawah pundak malaikat ini, dan ini dari atasnya sejauh perjalanan seribu tahun, membuka mulutnya, dan sesungguhnya bibir atasnya melekat pada Arsy dan yang bawah di bawah tanah. Seandainya Allah mengizinkannya untuk meletakkan bibir atasnya di bibir bawahnya, niscaya dia akan menutup apa yang ada di antara keduanya dalam perutnya. Dan sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang lehernya terlipat di bawah Arsy dan kakinya telah melampaui kaki kedua malaikat ini sejauh perjalanan seribu tahun. Keluar angin dari hidungnya. Seandainya Allah mengizinkannya untuk bernapas, niscaya dia akan memasukkan semua yang diciptakan Allah di langit-langit dan bumi-bumi ke dalam hidungnya selain Arsy. Dan sesungguhnya malaikat-malaikat yang telah aku gambarkan untukmu menjadi penciptaan mereka di sisi penciptaan malaikat-malaikat lain yang di atas mereka seperti sayap lalat di sisi gajah. Dan sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang membentangkan telapak tangan kanannya sejak Allah menciptakannya, mengangkat suaranya dengan tahlil, tasbih, taqdis, dan tahmid. Seandainya Allah mengizinkannya untuk mengepalkan telapak tangannya, niscaya dia akan menggenggam semua makhluk kecuali Arsy.
Lalu Sulaiman shallallahu alaihi wasallam berkata: Wahai malaikat maut, berhentilah dariku, karena sungguh engkau telah menggambarkan perkara yang aku takut rohku akan terbang, jiwaku tidak akan tetap, dan aku tidak tahan mendengarnya. Maka malaikat maut berhenti. Pada saat itulah Sulaiman alaihissalam berkata: Ya Tuhanku, kapan aku bertemu dengan kekasih-kekasih? Ya Tuhanku, sungguh aku telah mencintai pertemuan dengan-Mu dan beristirahat dari dunia.
Ini adalah penyebab kematian Sulaiman alaihissalam.
Dan mereka mendendangkan syair:
Kematian adalah pahit dan kehidupan adalah kesedihan Maka mana di antara keduanya yang menetap Dan sungguh aku heran ketika kehidupan ini menyenangkanku Padahal di sisiku ada pengetahuan tentang kematian Aku memindahkan kakiku dari setiap rumah Karena takut kematian dan bumi adalah racun Dan roh bersedia dengan tubuhku Dia memiliki tekad untuk berpindah
Seolah-olah kamu, demi Allah, kematian telah mengejutkan kamu dan mengguncang kamu dari kenikmatan-kenikmatan kamu, mengganggumu dari syahwat-syahwat kamu, dan memindahkan kamu ke rumah-rumah kesepian dan kesempitan, di mana tidak bermanfaat bagimu orang dekat, teman, saudara kandung, atau ayah yang penyayang.
292 – Seruan Kematian
Diriwayatkan dari Salman al-Farisi radiyallahu anhu bahwa dia berkata: Tidak ada hari melainkan malaikat maut berseru: Wahai penduduk dunia, cepatlah cepatlah, karena sesungguhnya penghuni kubur terpenjara karena kalian. Tinggalkanlah apa yang kalian kumpulkan dan hancurkanlah apa yang kalian bangun. Celakalah kalian jika kematian mendatangi kalian dalam keadaan ini. Kalian telah menghiasi rumah-rumah dan melupakan kubur-kubur.
Ingatlah kubur dan kesepiannya, kematian dan sakitnya, shirath dan sempitnya.
Dan kematian adalah sakit dalam sakit, kebingungan dalam kebingungan, dan tarikan, sungguh tarikan itu.
Maka orang miskin mengalami sesak nafas ajal, kebingungan akal seperti orang bersedih.
Maka Allahu Allahu wahai hamba-hamba Allah, sadarlah dari mabuk kalian.
Dan bangunlah dari tidur kalian dan terjagalah dari kelalaian kalian sebelum turunnya kematian, datangnya musibah, dan terjadinya bencana.
Di mana tidak ada harta yang bermanfaat, tidak ada orang dekat yang menolong, tidak ada kegembiraan yang terjadi, tidak ada harapan yang berambisi, tidak ada kebaikan yang ditambah, tidak ada kehidupan yang dikembalikan. Dan orang-orang yang kamu cintai membekali kamu dengan teriakan dan memperbanyak tangisan dan ratapan atas kamu. Maka tidak ada kesalahan yang dimaafkan dan tidak ada kembali yang diperoleh.
Dan mereka mendendangkan syair:
Ketahuilah bahwa hari-hari kehidupan adalah perhentian-perhentian Jalan pemuda darinya menuju kematian adalah pantai Dia gembira dengan apa yang berlalu karena apa yang dia harapkan Dan datang kehancuran dari selain apa yang dia harapkan Dan harinya tidak lain adalah penagih utang yang mengikat Jika dia menagihnya jiwanya, dia tidak menunda-nunda Aku heran dengan orang yang menginginkan keselamatan dengan gigih Padahal berjalannya malam-malam semuanya adalah malapetaka Dan kita adalah anak-anak hari-hari, kita menzalimi diri kita Dan kita kembali, padahal mereka adalah pembunuh yang meratap Dan barangsiapa memandang dunia dengan mata yang tajam Dia melihat matanya pada dirinya sendiri dan dia sedang memandang
293 – Nasihat dari Kelalaian
Wahai manusia, dan kita semua adalah manusia itu, terjagalah dari kelalaianmu dan bangunlah dari tidurmu.
Sudah waktunya dokter dipanggil kepadamu dengan mengumpulkan obat, maka tidak diharapkan bagimu kesembuhan dari apa yang turun kepadamu.
Kemudian dikatakan: Si fulan telah berwasiat dan semua hartanya telah dihitung.
Dia telah berlepas dari dunia dan kaitannya, dan menghadap kepada akhirat dan kebenarannya.
Kemudian lemah hatimu dan berat lisanmu, dan terputus dari pembicaraanmu sehingga kamu tidak berbicara dengan saudara-saudaramu. Dan banyak musibahmu dan besar kesedihanmu ketika ditampakkan kepadamu saat terbukanya hijab dosamu. Dan bertambah kesedihan dan meninggilah teriakan wanita-wanita, dan bersedih teman yang setia, dan gembira musuh yang dengki. Kemudian dikatakan kepadamu: Ini anakmu yang kecil dan ini yang besar, ini putrimu yang besar dan ini adiknya yang kecil. Maka kamu tidak menjawab mereka dan lisanmu tidak mampu berbicara. Kemudian bertambah keras padamu tarikan nyawa ketika terbelit betis dengan betis. Dan malaikat maut mencabut rohmu yang lemah dan naik dengannya kepada Tuhanmu yang Maha Lembut untuk membalasimu atas apa yang kamu lakukan di masa lalu dan menanyakanmu tentang apa yang kamu peroleh dari halal dan haram.
Dan kamu diperintahkan entah ke surga yang tinggi yang memiliki kenikmatan dan keabadian, atau ke neraka yang panas yang memiliki azab dan bahan bakar. Dan dibekali dari hartamu kain kafan dan kafan, dan kamu turun ke kuburmu dengan amalmu tergadai.
Dan keluargamu pulang untuk membagi apa yang kamu tinggalkan dari harta dan apa yang kamu usahakan dari haram dan halal.
Dan mereka mendendangkan syair:
Kamu menyisakan hartamu sebagai warisan bagi ahli warismu Sungguh aku ingin tahu apa yang harta sisakan untukmu Kaum setelahmu dalam keadaan yang menyenangkan mereka Bagaimana keadaanmu setelah mereka Mereka bosan menangis sehingga tidak ada yang menangisimu Dan menguatlah pembicaraan tentang warisan dan perkataan Condong kepada mereka dunia yang datang kepada mereka Dan berpaling darimu, dan hari-hari adalah keadaan-keadaan
Seorang lelaki dari orang-orang saleh berkata: Aku melihat seorang lelaki telah meninggal dan ahli warisnya bertengkar tentang warisannya sebelum jenazahnya keluar. Lalu aku mengucapkan syair-syair yang telah disebutkan.
294 – Seruan Malaikat
Disebutkan dalam sebagian berita bahwa di bawah Arsy ada malaikat yang berseru setiap hari dan malam: Celakalah kemudian celakalah bagi orang yang meninggalkan keluarganya dengan kebaikan dan datang kepada Allah dengan keburukan.
Maka Allahu Allah, kasihanilah diri kalian sebelum kalian tidak dikasihani, dan muliakanlah diri kalian sebelum kalian tidak dimuliakan.
Dan ingatlah kematian dan apa yang ada setelahnya dari kehebatan-kehebatan yang besar, dan bersiaplah untuknya dengan simpanan amal-amal. Dan mereka mendendangkan syair:
Aku melihat zaman tidak murni bagi orang yang tidak mencela Dan aku mencela dunianya atas orang yang menghinanya Dan kita mengharap keabadian di bukan rumah kita Dan di mana keabadian seseorang jika teman dekatnya mati Seolah kita orang haus dan kematian adalah telaga Kita berjalan kepadanya dan malam-malam adalah kendaraan kita Cukuplah perampas bagi seseorang satu hari dan satu malam Dan barangsiapa dikenakan hari-hari, maka mereka adalah perampas Maka jangan merasa aman dari masa yang khianat karena sesungguhnya Dia hari ini adalah damai kemudian perang akibat-akibatnya
Wahai manusia, bersiaplah untuk apa kalian diciptakan, karena sesungguhnya Allah tidak menciptakan kalian dengan sia-sia. Dan sesungguhnya Dia menciptakan kalian untuk menyembah-Nya dan mengesakan-Nya, dan untuk mematikan kalian dan membangkitkan kalian setelah kematian. Dan Dia tidak memberi kalian rezeki kecuali agar kalian meminta pertolongan dengannya untuk ketaatan kepada-Nya.
Dan Dia tidak menciptakan dunia kecuali untuk lenyap, dan menjadikannya sebagai tempat cobaan dan ujian, penjara bagi wali-wali-Nya dan surga bagi musuh-musuh-Nya.
Maka ketenangan para wali adalah kematian dan azab musuh-musuh-Nya adalah kematian, karena para wali jika mereka mati akan pergi ke surga yang penuh kenikmatan dan kehidupan yang kekal, dan para musuh jika mereka mati akan pergi ke azab yang pedih.
Maka Allahu Allah wahai hamba-hamba Allah, jangan tertipu oleh penipu tentang Allah. Dan mereka mendendangkan syair:
Dan orang yang menunggu kematian di setiap saat Dia membangun dan membuat terus-menerus dan membentengi Baginya waktu ketika kamu mengujinya adalah keyakinan orang yang yakin Dan perbuatan-perbuatannya adalah perbuatan orang yang tidak yakin Nyata seperti menyangkal dan seperti kebodohan pengetahuannya Dengan mazhabnya dalam semua yang dia yakini
295 – Kisah tentang Seorang Pengkhotbah
Disebutkan bahwa seorang syekh dari Taima yang para sahabatnya duduk kepadanya. Jika tiba saat mereka berdiri darinya, dia berkata: Berdirilah dengan berdiri orang yang telah putus asa dari kembali lagi, karena waspada dari yang memetik nyawa, malaikat maut. Kemudian dia menangis dan mereka menangis di sekelilingnya.
Dan mereka mendendangkan syair:
Dan jadilah bersiap untuk panggilan kematian Karena semua yang datang adalah dekat Dan sebelum kamu dokter mengobati orang sakit Maka hidup orang sakit dan mati dokter Dia takut pada dirinya sendiri dari siapa yang bertobat Bagaimana menurutmu keadaan orang yang tidak bertobat
Sesungguhnya dari syair ada hikmah.
296 – Ketakutan Isa dari Kematian
Diriwayatkan bahwa Isa alaihissalam jika disebutkan padanya kematian atau dia menyebutkannya, menetes tubuhnya air dari ketakutan akan kehebatannya. Wahai saudaraku, wahai orang yang lalai sepertiku, wahai orang miskin, Isa shalawaatullahi alaihi takut padahal dia dalam keadaan ketaatan kepada Tuhannya, bagaimana dengan kamu wahai orang miskin dalam keadaan maksiat kepada Tuanmu. Maka Allahu Allah wahai saudara-saudaraku, jangan tertipu dengan kesehatan badan-badan dan kelangsungan hari-hari, karena sesungguhnya kematian datang dalam keadaan paling lengah kamu di dunia dan paling nikmat yang kamu ada di dalamnya. Maka tidak orang sehat dibiarkannya karena kesehatannya, tidak anak kecil dikasihaninya karena kecilnya, dan tidak orang tua ditakutinya karena ketuaannya.
Dan mereka mendendangkan syair:
Dan berapa banyak orang sehat bermalam aman dari kematian Datang kepadanya kematian mendadak setelah dia tertidur Maka dia tidak mampu ketika datang kepadanya kematian mendadak Lari dan tidak darinya dengan tipu dayanya dia terlindungi Dan didekatkan dari kubur maka menjadi tempat tidurnya Dan berpisah dari yang telah dia kumpulkan kemarin Maka tidak ditinggalkan kematian orang kaya karena hartanya Dan tidak orang miskin dalam harta yang memiliki hajat dia tinggalkan
297 – Hadits tentang Malaikat Maut
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: Sesungguhnya malaikat maut memandang wajah hamba-hamba setiap hari tujuh puluh kali. Maka jika tertawa hamba yang diperintahkan untuk mencabut rohnya, dia berkata kepadanya: Sungguh aneh kamu wahai si fulan, aku diperintahkan untuk mencabut rohmu dan kamu tertawa. Sungguh aneh semua keanehan dengan orang yang kematian mengejarnya, kematian menyegerakannya, dan dia dalam hal itu yakin, dan dia tertawa dan bermain.
Dan mereka mendendangkan syair:
Tertawa pemuda dari keheranannya kebodohan Dan kematian mengejarnya dengan cepat tergesa-gesa Dan kematian tidak membiarkan orang bodoh tertawanya Kecuali dia melemparnya dengan panahnya maka dia berduka Maka terbelah tulang-tulangnya karena turunnya Dan hancur tulang yang kuat karena kesakitan Dan menangis karena berpisah dengan hartanya dan keluarganya Dan pergi ke negeri kebinasaan dengan merendah
Maka Allahu Allah wahai hamba-hamba Allah, jangan tertipu dengan panjang angan-angan. Dan bersungguh-sungguhlah dan berusaha keraslah, dan jadilah dari kematian dalam ketakutan. Karena sesungguhnya untuk kematian ada yang datang sore dan pagi, dan yang berjalan dan yang datang pagi. Dan kamu wahai saudaraku darinya dalam keyakinan dan kepastian, maka mengapa kamu menyimpang dari jalan yang benar.
298 – Panggilan untuk Orang Mati
Disebutkan dalam beberapa berita bahwa orang mati akan dipanggil ketika diletakkan di tempat pemandian jenazah: “Di mana lidahmu yang fasih, apa yang membisukanmu? Di mana suaramu yang merdu, apa yang membungkammu? Di mana harummu yang wangi, apa yang membuatmu berbau busuk? Di mana gerak-gerikmu, apa yang mendiamkanmu? Di mana harta bendamu yang banyak, apa yang memiskinkanmu? Celakalah engkau jika engkau adalah orang yang bermaksiat, dan berbahagialah engkau jika engkau adalah orang yang taat.” Dan para malaikat memanggilnya ketika diletakkan di dalam kubur: “Wahai hamba Allah, apakah engkau yang meninggalkan dunia ataukah dunia yang meninggalkanmu? Apakah engkau yang mengumpulkan dunia ataukah dunia yang mengumpulkanmu? Apakah engkau telah bersiap untuk kematian ataukah kematian yang mendahuluimu? Engkau diciptakan dari tanah dan akan dikembalikan ke tanah.”
Dan mereka melantunkan:
Aku diciptakan dari tanah tanpa dosa Dan dikembalikan ke tanah dengan membawa dosa
Maka mengapa aku tidak berjuang untuk keselamatanku Dengan tekad untuk tidak bertobat dari kemaksiatan
Dan mengapa punggungku dibebani oleh dosa-dosa Dan darinya aku tidak berpaling dan tidak bertobat
Dan mengapa aku tidak luluh karena buruknya keadaanku Sedang dari diriku sendiri besok ada pengawas
Dan mengapa aku dijauhkan, dikucilkan, diusir Dan dalam segala keburukan aku mempunyai berbagai macamnya
Dan berapa lama penundaan dan kelalaianku dalam kebaikan Dan aku tidak tahu kapan akan datang syu’ub (kematian)
Maka wahai Dzat yang tiada bagiku Tuhan selain-Nya Yang Maha Mengetahui apa yang kudoa, Dia mengabulkan
Maafkanlah wahai Tuhanku orang yang lemah ini Dengan ampunan agar aku bertobat
Dan berikanlah kehinaanku dan dosaku yang besar Karena Engkau adalah Yang Maha Esa, Tunggal, Dekat
Wahai hamba-hamba Allah, janganlah kalian lengah dari mengingat kematian dan renungkanlah tentangnya sebelum terlambat. Demi Allah, tidaklah antara seseorang di antara kalian dan penyesalan panjang serta penyesalan atas apa yang telah berlalu kecuali bahwa kematian menimpanya di pagi atau sore hari. Maka nasihatlah dirimu sebelum datangnya bencana.
Dan dikatakan tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, lalu dia berkata: ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi'” (Surat Al-Munafiqun ayat 10). Dikatakan waktu yang dekat itu adalah saat tersingkapnya tabir. Hamba berkata ketika kematian: “Wahai malaikat maut, undur aku sehari agar aku dapat beramal saleh untuk diriku.” Maka malaikat maut berkata: “Hari-hari telah habis, maka tidak ada hari lagi.” Lalu dia berkata: “Undur aku satu jam.” Maka dia berkata: “Jam-jam telah habis, maka tidak ada jam lagi.” Lalu dia berkata: “Biarkan aku berbicara.” Maka dia berkata: “Ucapanmu telah habis, maka tidak ada ucapan lagi.”
Maka roh sampai ke tenggorokan, lalu diambillah dengan tekanan, maka terputuslah waktu-waktu dan amal-amal, dan tinggallah hitungan nafas untuk menyaksikan penyaksian ketika tersingkapnya tabir, maka tajam penglihatannya. Jika berada di nafas terakhir, tercabutlah nyawanya, maka ia mendapati apa yang telah mendahuluinya dari kecelakaan atau kebahagiaan.
299 – Permintaan Kembali ke Dunia
Dan dikatakan bahwa yang pertama kali meminta untuk dikembalikan adalah orang yang tidak menunaikan zakat hartanya, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla: “Maka aku akan bersedekah dan aku akan menjadi termasuk orang-orang yang saleh” (Surat Al-Munafiqun ayat 10). Maka demi Allah, demi Allah, bersegeralah sebelum datangnya ajal dan terputusnya harapan dari amal saleh, dan habisnya nafas, dan datangnya kubur. Dan tidaklah bermanfaat bagimu kekasih, kerabat, anak, maupun ayah yang penyayang. Sungguh telah mengelilingimu berbagai kesulitan, dan bertambah banyak atasmu kesusahan-kesusahan, dan pewaris mengambil hartamu, dan musuh atau sahabat menikahi keluargamu.
Dan mereka melantunkan:
Aku melihat istri-istri dinikahi jika aku mati Dan warisanku membagi apa yang telah kutinggalkan
Dan tidak kekal kasih sayang di hati kawan Jika terputus harapan dariku dan aku mati
Dan melupakanku sahabat maka dia tidak peduli Apakah dia melewatiku dan berpaling jika aku disebutkan
Dan bersuka cita padaku orang-orang karena kebodohan Sedang aku tidak pernah bersuka cita atas mereka
Dan aku tidak akan mendapatkan kecuali apa Yang dari amal di dunia telah kukerjakan
Maka wahai Pemilik Arsy, ampunilah dosa-dosaku Dan kekhilafanku dan apa yang telah kuperbuat
Dan berilah syafaat dalam Nabi-Mu ketika aku dipanggil Pada hari pembalasan, jika Engkau lakukan aku selamat
Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa telah ditampakkan kepadanya apa yang akan menimpa umatnya setelahnya, maka tidak terlihat beliau tertawa dan gembira hingga Allah Ta’ala mencabut nyawanya.
300 – 48.000 Suku
Disebutkan dalam beberapa berita bahwa Allah Ta’ala menciptakan di bumi dari apa yang diciptakan dan disebarkan 48.000 suku, maka Dia jadikan di laut 8.000 suku dan Dia jadikan di antara langit dan bumi 40.000 suku yang diangkut oleh angin. Tidaklah ada hewan yang kecil atau besar di bumi atau di antara langit dan bumi kecuali bersamanya dua malaikat dari Allah Ta’ala. Satu malaikat menyiapkan rizkinya dengan izin Allah dan menggiringnya kepadamu, dan malaikat yang lain membimbingnya dengan izin Tuhannya ke tempat menetap dan kembalinya, hingga semut, kutu, cacing, nyamuk, dan lalat. Maka jika sudah terpenuhi jejaknya dan rizkinya dan sampai ajalnya, malaikat maut mencabut ruhnya.
Maka Mahasuci Dzat yang memiliki kerajaan dan pengaturan.
Wahai hamba-hamba Allah, demi Allah, janganlah kalian lengah dari ketaatan kepada Tuhan kalian, karena sesungguhnya kematian mencari kalian di malam dan siang hari, petang dan pagi. Maka bersungguh-sungguhlah dalam kebaikan dan jauhilah di malam dan siang kalian kejahatan-kejahatan.
Sebelum turunnya kematian dan penyesalan, karena kematian tidak membiarkan raja, amir, pengawal, maupun menteri.
Dan mereka melantunkan:
Telah berganti penjaga pintu dan pengawal Dan kepala rumah tangga dan penulis
Dan menjadi teman di antara mereka Di tempat tidak ada tetangga dan tidak ada teman
Dan menggantikan gadis cantik setelahnya Seribu selainnya dan demikian pula gadis
Dan bersungguh-sungguh dalam menyebarkan apa yang tidak henti Mengumpulkannya sedang warisnya bermain-main
Maka jadilah dari dunia dalam kesiapan Wahai yang zuhud padanya dan wahai yang ingin
Karena sesungguhnya ia adalah ibu bagi anak-anaknya Darinya musuh pembunuh perampas
301 – Rahmat Allah kepada Orang-orang yang Berlebihan
Disebutkan dalam beberapa berita bahwa meninggal seorang laki-laki dari penduduk Madinah dan dia berlebihan terhadap dirinya sendiri, maka Muhammad bin Al-Munkadir rahimahullah dipanggil untuk jenazahnya, lalu dia menolak menghadiri jenazahnya, kemudian dia menghadirinya. Maka dia ditegur dalam hal itu, lalu dia berkata: “Sungguh aku malu kepada Allah jika aku melihat bahwa rahmat-Nya sempit atasnya dan tidak mencakupinya, maka aku menyalatkannya.”
Wahai orang yang celaka sepertiku, aku tahu bahwa jika malaikat maut turun kepada hamba yang berdosa, lalu dia kembali kepada Tuhannya dengan kehinaan dan kerendahan.
Maka kami berharap insya Allah Ta’ala bahwa Dia akan memaafkannya dan merahmatinya dan menjadikan kematian sebagai penghapus dosa-dosanya.
Dan mereka melantunkan:
Apakah setiap hari kepada kematian semakin dekat Dan semua yang kuperbuat dihitung dan ditulis
Maka celaka sekali, sungguh telah tiba waktu kepergianku Dan di sini aku di medan bermain-main dan bersendau gurau
Maka jika tidak kudapat dengan ampunan darimu tentang apa yang Telah diperbuat tanganku, sesungguhnya aku maka akan kecewa
Disebutkan bahwa dahulu di Basrah ada seorang pemuda dan dia berlebihan terhadap dirinya sendiri, tidak ada dosa kecuali dilakukannya dan tidak ada kejahatan kecuali diperolehnya. Maka ketika dia sakit, tidak ada seorang pun dari tetangganya yang menjenguknya. Lalu dia memanggil sebagian dari mereka dan berkata: “Sesungguhnya telah turun padaku apa yang kalian lihat, maka jika aku mati, kuburkan aku di sudut dari sudut-sudut rumahku, karena sungguh aku telah mengganggu tetanggaku di masa hidupku, dan aku tidak suka membahayakan orang-orang mati setelah wafatku.”
Maka dia dilihat setelah kematiannya dalam mimpi dalam keadaan yang baik, lalu dikatakan kepadanya: “Apa yang Allah lakukan kepadamu?” Maka dia berkata: “Dia menghadapkan aku di hadapan-Nya dan berkata: ‘Wahai hamba-Ku, tetanggamu meninggalkanmu karena marah kepadamu dan menyempitkan jalan rahmat di hadapanmu, maka demi keagungan-Ku dan kemuliaan-Ku, kemurahan-Ku dan kejayaan-Ku, dan ketinggian-Ku di atas keluhuran tempat-Ku, tidaklah sempit rahmat-Ku kepadamu. Wahai hamba-Ku, inilah jubah ampunan-Ku dan tempat-tempat surga-Ku dan cincin cita-cita dan surat kebaikan-Ku, dan Aku Maha Pengampun, Maha Penyayang.'”
302 – Kisah tentang Al-Hasan
Berkata Al-Hasan rahimahullah: “Sungguh Allah telah mengetahui dari kami sebelum Dia menciptakan kami bahwa kami akan berbuat dosa dan bermaksiat kepada-Nya, dan tidak menghalangi-Nya hal itu dari kami untuk menjadikan kami orang-orang Muslim.”
Maka demi Allah, demi Allah, wahai ahli dosa sepertiku, bersegeralah sebelum turunnya sakratul maut dan jatuhnya penyesalan, dan bersungguh-sungguhlah, karena sesungguhnya kematian datang, dan setiap yang datang maka ia dekat.
Sungguh telah tiba, dan segala yang telah tiba maka sungguh telah datang.
Dan mereka melantunkan:
Apakah aku berharap untuk hidup abadi sedang kematian Mendatangiku dari setiap penjuru
Dan aku tidak tahu jika aku sore hari hidup Mungkin aku tidak hidup hingga pagi
Wahai hamba-hamba Allah, hari-hari kalian adalah tahapan-tahapan yang kalian lalui, dan jam-jam kalian adalah tempat-tempat minum yang kalian datangi, dan kematian berkeliling kepada kalian di malam dan siang hari, tidak mengundur orang yang telah hilang jam-jamnya dan habis hari-harinya dan waktu-waktunya.
303 – Kisah tentang Sebagian Orang Saleh
Diceritakan dari sebagian tuan-tuan orang baik bahwa dia berkata: “Aku keluar suatu hari untuk ziarah kubur, maka tiba-tiba ada kaum membawa jenazah, lalu aku mendekatinya dan menyalatinya bersama mereka, kemudian aku menyaksikan penguburannya. Lalu aku mengantuk sejenak, maka datang kepadaku seseorang yang berkata kepadaku: ‘Sungguh Allah telah mengampuni mayit ini atas kegelapan dosa-dosanya.’ Maka aku terbangun ketakutan, lalu aku mengabarkan hal itu kepada ibu mayit. Maka dia berkata: ‘Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Demi Allah, sungguh dia berlebihan terhadap dirinya sendiri. Maka ketika kematian menimpanya, dia menangis dan berkata kepadaku: ‘Wahai ibuku, letakkan pipiku di atas tanah dan debu.’ Maka aku lakukan itu. Lalu dia berkata: ‘Letakkan kakimu di atas pipiku dan berdoalah kepada Allah dan mintalah aku darinya, mungkin Dia merahmatiku, dan cabutlah batu cincinkku dan sedekahkan harganya, mungkin Allah merahmatiku.'”
Maka aku berkata kepadanya: “Sungguh Allah telah mengampuninya dan merahmatinya.” Kemudian aku mengabarkan kepadanya tentang apa yang aku lihat. Maka demi Allah, demi Allah, wahai sekalian orang-orang yang ikhlas, mohonlah kepada Tuhan kalian sebelum hari kematian kalian, mungkin Dia merahmati kalian dan memaafkan kejahatan-kejahatan kalian.
Karena itu bagi-Nya mudah dan Dia atas segala sesuatu Mahakuasa.
Dan mereka melantunkan:
Aku melihat manusia dimakan oleh malam-malam Seperti makan bumi terhadap besi yang jatuh
Dan tidak mendapatkan kematian ketika datang Atas jiwa anak Adam dari tambahan
Maka janganlah engkau lengah semoga engkau tebus tentang kematian Yang berputar penggilingannya dengan kengerian yang dahsyat
Maka seakan-akan kalian dengan amal-amal telah berakhir dan dengan dunia telah berlalu, maka bersiaplah dengan simpanan amal-amal untuk apa yang kalian jumpai dari dahsyatnya kengerian. Dan sungguh telah dipanggil di kalangan kalian dengan perpindahan, dan sungguh telah dekat dari kalian kepergian.
304 – Pemuda Bermaksiat yang Diampuni
Diceritakan dari sebagian orang yang takut bahwa dia berkata: “Ada di sebelahku seorang pemuda dan dia sibuk dengan kebatilan dan kebodohan, aku tidak pernah melihatnya sadar dari mabuk sama sekali. Dan aku mengetahuinya tadi malam dan sungguh dia mengangkat suaranya kepada ibunya pada waktu ini.”
Maka ibunya mengabariku bahwa dia menemukan kematian di pagi hari tanpa sakit dan tanpa penyakit, dan dia memintaku untuk kafannya. Maka aku memarahinya dan berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah meringankan kami darinya.” Maka dia pergi dengan diusir. Lalu hatiku iba kepadanya dan aku berkata: “Sesungguhnya rahmat tidak sempit atas orang-orang yang berdosa dari umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka aku utus pada jam itu dalam mencarinya dan menghiburnya dan menyabarkannya, dan aku membelikan untuknya kafan dan menghadiri jenazahnya.
Maka seorang dari sahabat-sahabat kami memberitahuku bahwa dia melihatnya dalam mimpi dan bahwa dia menanyainya apa yang Allah lakukan kepadanya. Maka dia berkata: “Aku datang kepada Allah Ta’ala dan aku pernah masuk sebelum wafatku ke pemandian, lalu aku melihat seseorang yang mati terduduk, maka aku mengurusnya untuk memandikannya, membersihkannya, dan membawanya ke rumahnya. Maka dia berkata: ‘Semoga Allah mengampuni semua dosamu,’ maka doanya mendapat penerimaan, lalu Allah Ta’ala mengampuniku, dan aku di surga dengan berpegang pada Sunnah.” Semoga Allah mengampuni kami semua, mematikan kami sebagai Muslim, dan mengakhiri kami dengan penutup orang-orang saleh. Sesungguhnya Dia atas hal itu Mahakuasa.
Dan mereka melantunkan:
Janganlah engkau bersedih atas dunia dan perhiasannya Karena kematian tidak diragukan akan memusnahkan kami dan memusnahkannya
Dan beramallah untuk negeri yang pengawalnya adalah Ridwan Dan tetangga adalah Ahmad dan Yang Maha Pengasih tinggi di atasnya
Tanah untuknya emas dan minyak kasturi tanahnya Dan za’faran rumput yang tumbuh di dalamnya
Sungai-sungainya susu murni dan dari madu Dan khamar mengalir sebagai minuman lezat di saluran-salurannya
Dan burung-burung mengalir di atas dahan-dahan berdiam Bertasbih kepada Allah nyaring di tempat-tempat bernyanyinya
Ahmad pemandunya dan Tuhan penjualnya Dan Jibril berseru di penjuru-penjurunya
Siapa yang membeli negeri di Firdaus melingkupinya Dengan satu rakaat di kegelapan malam menghidupkannya
Di mana raja-raja yang tentang bagiannya lalai Hingga meminumkan mereka dengan gelas kematian pembirunya
Memusnahkan generasi-generasi dan memusnahkan setiap yang berumur Demikianlah kematian memusnahkan setiap yang di dalamnya
Dan kematian mengepung dunia dan hiasannya Dan manusia dalam kelalaian tentang meninggalkan apa yang di dalamnya
Seandainya ia berakal tentang apa yang dikehendaki darinya Tidak akan enak kehidupan baginya sehari pun dan melalaikannya
Ia bermain-main dan mengharapkan harapan-harapan yang menyenangkan dengannya Syariat kematian melipat kami dan melipatnya
Demi Allah, seandainya jiwa merasa puas dengan apa yang dirizkinya Dari kehidupan, sungguh itu akan mencukupinya
Demi Allah, demi Allah, sumpah yang diulang Tiga dari sumpah setelah yang keduanya
Seandainya di batu yang padat licin Di laut menetap licin penjuru-penjurunya
Rizki untuk hamba yang Allah melihatnya, sungguh akan terbelah Hingga menyampaikan kepadanya semua yang di dalamnya
Atau berada di bawah lapisan-lapisan tujuh jalannya Sungguh akan dimudahkan Allah dalam pendakian tangga-tangganya
Hingga mencapai apa yang di dalam Lauh dituliskan untuknya Maka jika datang kepadanya, jika tidak dia akan mendatanginya
Harta-harta kami untuk pemilik warisan kami kumpulkan Dan rumah-rumah kami untuk kehancuran masa kami bangun
Itulah tempat-tempat tinggal dalam bencana-bencana kosong Menjadi reruntuhan dan merasai kematian pembangunnya
305 – Nasihat Untuk Mempersiapkan Kematian
Wahai hamba-hamba Allah, telah tiba waktunya untuk bersiap menghadap kepada Raja Yang Mulia. Nafas kalian terhitung, dan Malaikat Maut menuju kepada kalian, ia akan menindih kalian dengan dadanya dan kalian pasti akan merasakan kematian.
Ia memutus jejak kalian dan menghancurkan rumah kalian.
Semoga Allah merahmati hamba yang memperhatikan dirinya, mempersiapkan hari esoknya sejak hari ini, sebelum ia masuk ke dalam kuburnya.
Bekerjalah dalam umur yang singkat ini untuk hari yang keras dan suram, dan mohonlah ampunan dari Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat yang berkuasa atas segala sesuatu. Dia adalah pelindung kita dan pelindung kalian, sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.
306 – Kematian Memilih Yang Terbaik
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Apabila waktu semakin dekat (hari kiamat), kematian akan memilih orang-orang terbaik dari umatku sebagaimana salah seorang di antara kalian memilih kurma terbaik dari piring.”
Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali. Orang-orang baik telah pergi dari kita dan kita tertinggal bersama orang-orang jahat. Kita tidak bekerja untuk kematian sebelum ia datang dan tidak ada seorang pun di antara kita yang berhenti dari kemaksiatannya.
Ini bukan perbuatan orang-orang beriman dan bukan pula jalan orang-orang yang yakin. Musuh kita Syaitan yang terkutuk telah menyesatkan kita, menipu kita dengan tipu dayanya, dan menyesatkan kita semua.
307 – Amal Dua Malaikat
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Apabila Allah mencabut roh hamba-Nya yang beriman, kedua malaikatnya naik ke langit seraya berkata: ‘Ya Tuhan kami, Engkau telah mempercayakan kepada kami hamba-Mu yang beriman si Fulan untuk mencatat amalnya, dan Engkau telah mencabutnya kepada-Mu, maka izinkanlah kami naik ke langit.’ Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Langit-Ku penuh dengan malaikat-malaikat-Ku yang bertasbih kepada-Ku.’ Mereka berkata: ‘Maka izinkanlah kami tinggal di bumi.’ Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Bumi-Ku penuh dengan makhluk-Ku.’ Mereka berkata: ‘Ya Tuhan kami, di mana kami harus berada?’ Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Berdiri kalian di kuburan hamba-Ku, bertasbihlah kepada-Ku, bertahmidlah, bertahlihlah, dan tulislah pahala itu untuk hamba-Ku sampai hari kiamat.'”
Segala puji bagi Allah yang menjadikan kita dari umat Muhammad yang terpilih, dan cukuplah ini sebagai keutamaan bahwa Tuhan kita menulis kebaikan untuk orang-orang yang telah meninggal di antara kita dan menjadikan kematian sebagai penghapus dosa bagi mereka atas kejahatan yang telah lalu.
Dan mereka membaca syair:
Dalam setiap keadaan kalian sama Sesungguhnya telah mati orang sepertimu dalam keadaan seperti ini
Mengapa kau bermain-main dengan hal-hal remeh Dan menipu dirimu dari akalmu
Dari kebijaksanaan dalam berbuat baik dengan durhaka Dan kau ridha dengan itu dari kebodohanmu
Sedangkan kau menentang orang yang menasihatimu Dan melipat lidahmu dari nasihatnya
Pedang kematian telah terhunus Dan kau tidur atas pembunuhannya
Kekuasaan yang mulia telah terputus Dan kau lalai dari nasihatnya
Sampai kapan keengganan ini dari taat kepada Raja yang disembah dan kelalaian dari lautan kematian yang pasti didatangi? Rahmatilah diri kalian sebelum binasa dan menangislah atas diri kalian sebelum penyesalan. Sesungguhnya perjalanan itu jauh, dahsyatnya tempat melihat sangat menakutkan, bekal sedikit, kesedihan dan kepedihan panjang, dan setelah itu hari yang keras dan berat. Wahai saudaraku, setiap yang hidup memiliki makanan, dan engkau wahai orang yang malang adalah makanan kematian. Maka beramallah untuk kematian sebelum terlambat.
Dan mereka membaca syair:
Aku melihat diriku berkurang setiap hari Dan tidak ada yang bertahan dari kekurangan
Dua masa telah melipat apa yang mereka bentangkan dariku Maka tubuhku rusak karena bentangan dan lipatan
Maka jika aku telah fana dan sebagian dariku telah mati Maka sesungguhnya keserakahan masih ada dalam diriku yang hidup
Dan burung kematian melayang-layang untuk membunuhku Menjuntai di atasku dan di dalam leherku
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa yang banyak berpikir tentang kematian, Allah akan meringankan sakitnya dan menjadikannya berhati-hati darinya. Dan barangsiapa yang lalai dari mengingat kematian, hampir saja ia datang kepadanya secara tiba-tiba tanpa persiapan dan kesiapan.”
Demi Allah, umur kalian telah habis dan kalian tidak menyadarinya. Jika kalian mengikuti kesibukan dunia sampai selesai, maka ia tidak akan pernah selesai selamanya, walaupun kalian hidup sampai dunia berakhir.
Maka luangkanlah waktu wahai orang yang malang di hari-hari yang sedikit dan aturlah urusanmu dengan Tuhanmu sebelum turunnya kematian.
308 – Bersegera Bertobat
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Wahai manusia, bersegeralah bertobat sebelum kalian mati, bersegeralah dengan amal-amal yang baik sebelum kalian disibukkan, dan perbaikilah hubungan antara kalian dengan-Nya dengan banyak mengingat-Nya.”
309 – Ahlussunnah Dan Zindiq
Disebutkan dalam sebagian hikayat bahwa seorang laki-laki dari Ahlussunnah bertemu dengan seorang laki-laki zindiq yang tubuhnya kurus, warnanya berubah, dan rasa takut telah melelehkannya, sedangkan orang Sunni itu kuat dan gemuk. Zindiq itu berkata kepadanya: “Wahai ini, jelaskan kepadaku sebagian dari apa yang kau yakini.” Ia berkata: “Aku meyakini kematian dengan tersedaknya, sakitnya, dan dahsyatnya.”
Ketika zindiq itu mendengar perkataannya, ia berteriak dengan teriakan yang keras kemudian jatuh tersungkur pingsan. Ia berada dalam keadaan itu sekehendak Allah kemudian sadar. Ia berkata kepadanya: “Tambahkan untukku.” Ia berkata: “Kemudian setelah kematian adalah kubur dengan kegelapannya, liang lahad dengan berbaringnya, Munkar dan Nakir.” Ia bertanya: “Apa itu Munkar dan Nakir?” Ia berkata: “Dua malaikat yang hitam dan biru, menginjak-injak rambut mereka dan menggali bumi dengan taring mereka. Di tangan setiap malaikat dari keduanya ada tongkat dari besi Jahannam. Seandainya ia memukulnya ke gunung-gunung dunia, niscaya ia mencabutnya dari akar-akarnya. Mereka menanyai hamba di kuburnya.” Ia bertanya: “Dan apa yang ada setelah itu?” Ia berkata: “Dahsyatnya kebangkitan, perhitungan, timbangan, dan shirath.” Ia bertanya: “Apa itu shirath?” Ia berkata: “Ia adalah jembatan yang terbentang di atas Jahannam, lebih tipis dari rambut, lebih tajam dari pedang, lebih panas dari bara api. Di atasnya ada duri dan pengait. Pada setiap pengait tergantung sejumlah bintang di langit dari para zabaniyah. Seandainya Allah mengizinkan salah satu dari mereka keluar ke dunia, niscaya ia akan membakar laut-lautnya, gunung-gunungnya, manusia dan jinnya, binatang melata dan ternak dari panasnya nafasnya.” Ia berkata kepadanya: “Apa itu zabaniyah dan apa itu Jahannam?” Ia berkata: “Zabaniyah diciptakan dari api, mereka adalah malaikat azab. Dan Jahannam adalah tempat azab yang dinyalakan apinya selama empat ribu tahun. Setahun empat ribu bulan, sebulan empat ribu hari, sehari empat ribu jam, sejam empat ribu pandangan. Satu pandangan ukurannya tujuh ratus ribu tahun dari tahun-tahun dunia.”
Ia hitam dan gelap. Barangsiapa memasukinya akan panjang bala dan kesedihannya.
Zindiq itu berkata kepadanya: “Sungguh aku heran dengan sedikitnya akalmu. Semua ini kau yakini dan kau gemuk? Demi Allah, aku tidak mempercayai sesuatu pun dari apa yang kau sebutkan ini kecuali kematian saja, dan itu telah memanjangkan kesedihanku dan melelehkan tubuhku. Sesungguhnya kau hanyalah dari golongan binatang ternak yang tidak berakal.”
Demi Allah, wahai saudara-saudaraku, bersyukurlah kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya yang besar yang telah Dia karuniakan kepada kalian, karena Dia telah mengutus kepada seluruh makhluk-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang dengan beliau Dia mengeluarkan kalian dari kesesatan dan membangunkan kalian dari mabuk kebodohan. Kemudian Dia memberikan kepada kalian rezeki-Nya yang baik dan melebihkan kalian atas banyak makhluk-Nya. Maka janganlah kalian menggunakan nikmat-nikmat-Nya untuk bermaksiat kepada-Nya. Sesungguhnya kematian tidak dapat dihindari dan Allah telah menasihati kalian.
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Cukuplah kematian sebagai pengingat.”
Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menjadikan kematian di depan matanya karena ia tidak tahu kapan kematian itu akan datang kepadanya.
Dan mereka membaca syair:
Dan kematian adalah penguasa yang berkuasa atasmu Jika telah ditakdirkan, tidak dapat dicegah dengan larangan atau perintah
Dan rumahmu adalah kesengsaraan atau kebahagiaan Dan tidak ada pintu bagimu kepadanya selain kubur
Cukuplah kematian sebagai nasihat jika tunggangan-tunggangannya Dalam perjalanan meluncur ke tempat yang tidak diketahui
310 – Lemah Lembutnya Malaikat Maut Kepada Orang Beriman
Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk di sisi orang sakit, lalu beliau melihat Malaikat Maut di kepala orang itu. Beliau berkata kepadanya: “Wahai Malaikat Maut, lembutlah kepada sahabatku.” Malaikat Maut berkata: “Wahai Muhammad, aku lemah lembut kepada setiap orang beriman.”
Demi Allah, janganlah kalian lalai dari Dia yang tidak lalai dari kalian, dan janganlah kalian lupa kematian karena ia tidak lupa kepada kalian. Semoga Allah memberi taufik kepada kita dan kalian untuk berbuat dan beramal yang baik, serta membimbing kita dan kalian untuk amal-amal yang saleh. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah, Maha Mulia, Maha Pemberi Karunia.
۞۞۞۞۞
12 – Majelis Dalam Mengingat Kubur
311
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian mengunjungi kuburan.” (Surat At-Takatsur: 1-2)
Suratnya Makkiyah. At-Takatsur artinya bermegah-megahan dalam dunia.
Zainab binti Jahsy meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Apabila seorang pembaca membaca ‘Alhaakumut-takaatsur’, ia dipanggil di kerajaan langit dan bumi sebagai orang yang menunaikan syukur kepada Allah.”
312 – Hikayat Tentang Takut Kepada Allah
Diriwayatkan dari Ikrimah dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia berkata: Ada seorang laki-laki di Yaman yang disebut Ya’la. Ia adalah orang musyrik yang tidak memiliki apa-apa dari dunia kecuali sehelai kain untuk menutupi auratnya. Ia berlindung di siang hari di bawah pohon dan di malam hari di lubang seperti lubang anjing. Ia mendengar tentang keluarnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia adalah seorang pemuda yang bumi mengangkatnya dan menurunkannya yang lain sampai ia tiba kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia masuk Islam dan duduk bersama ahli shuffah (sahabat yang tinggal di masjid). Ia makan segenggam kurma kering dan sepotong roti gandum. Ia tidak meninggalkan majelis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampai ia mempelajari empat surat dari Al-Quran. Ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada kefakiran setelah Al-Quran dan tidak ada kekayaan setelah api Neraka.” Ia berkata: “Ya Rasulullah, nikahkanlah aku.”
Beliau berkata: “Apakah kamu punya harta?” Ia berkata: “Aku punya empat surat dari Al-Quran, dan barangsiapa yang memiliki wahyu dan kalam Allah, maka ia kaya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Benar. Pergilah kepada Bani Salamah, suku dari Anshar, dan mohonlah kebaikan kepada Allah. Gadis pertama yang kau temui maka ia adalah istrimu.” Pemuda itu pergi tidak tahu harus menuju ke mana. Ia bertemu dengan seorang gadis cantik. Ia bertanya: “Wahai gadis, suku apa ini?” Ia menjawab: “Bani Salamah.” Pemuda itu berkata: “Allahu Akbar! Kamu adalah istriku, marilah.” Ia berkata: “Alangkah bodohnya kamu!” Ia berkata: “Aku bukan orang bodoh, tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkanku bahwa jika aku memasukinya…
Al-Farra berkata: Ini adalah pengulangan untuk memberikan penekanan. Dikatakan: “Kalian benar-benar akan melihat neraka Jahim” (At-Takatsur: 6), artinya kalian akan melihatnya dengan ilmu (pengetahuan). “Kemudian kalian benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin (mata kepala sendiri)” (At-Takatsur: 7), yaitu dengan penyaksian. “Kemudian kalian pasti akan ditanya pada hari itu tentang nikmat” (At-Takatsur: 8). Mereka akan ditanya tentang syukur atas nikmat-nikmat dan kehidupan yang mereka miliki. Sebagian orang menduga bahwa ayat ini tentang orang-orang kafir, dan yang lain berkata bahwa ayat ini berlaku umum untuk orang-orang beriman.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.”
Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Hal pertama yang dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah dikatakan kepadanya: ‘Bukankah Aku telah menyehatkan badanmu dan memberimu minum dari air yang dingin?'”
Dan dari Mahmud bin Labid berkata: Ketika turun ayat “Kemudian kalian pasti akan ditanya pada hari itu tentang nikmat” (At-Takatsur: 8), para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Nikmat apa? Hanya ada dua yang hitam: kurma dan air, pedang-pedang kami di pundak kami.”
Beliau berkata: “Ketahuilah, akan ada…” Ibnu Mas’ud, Qatadah, dan Sa’id berkata: Keamanan dan kesehatan.
Mujahid berkata: Roti, air, dan garam.
Ibrahim An-Nakha’i: Barangsiapa menyebut nama Allah Ta’ala saat makan dan memuji Allah ketika selesai, maka ia telah menunaikan syukurnya.
Al-Hasan berkata: Mereka menganggap nikmat di dunia adalah ketika seseorang makan siang dan makan malam.
Ali radhiyallahu ‘anhu: Nikmat adalah kurma basah dan air dingin.
Abu Umamah berkata: Nikmat adalah roti gandum dan air tawar. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketenangan jiwa termasuk nikmat.”
Abu Ad-Darda radhiyallahu ‘anhu berkata: Nikmat adalah gandum dan air tawar.
Muhammad bin Ali berkata: Nikmat adalah kesehatan.
Dan Abu ‘Asyib, maula (budak yang dimerdekakan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati kami di malam hari lalu memanggil aku, maka aku keluar kepadanya. Kemudian beliau melewati Abu Bakar lalu memanggilnya, maka ia keluar kepadanya. Kemudian beliau melewati Umar radhiyallahu ‘anhu lalu memanggilnya, maka ia keluar kepadanya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pergi bersama kami sampai memasuki kebun salah seorang Anshar. Beliau berkata kepada pemiliknya: “Berilah kami kurma basah.” Ia datang dengan tandan kurma lalu meletakkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya makan. Kemudian beliau meminta air dingin lalu minum dan mereka minum. Kemudian beliau bersabda: “Kalian pasti akan ditanya tentang ini pada hari kiamat.” Umar mengambil tandan kurma itu dan memukulkannya ke tanah sampai kurma basah berhamburan. Ia berkata kepada beliau: “Ya Rasulullah, apakah kami akan ditanya tentang ini pada hari kiamat?” Beliau bersabda: “Ya, kecuali sepotong roti yang kamu tutup laparmu dengannya, sehelai kain yang kamu tutupi auratmu dengannya, dan lubang yang kamu masuki untuk berlindung dari dingin dan panas.”
Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas berkata: Nikmat adalah kesehatan badan, pendengaran, dan penglihatan. Allah akan bertanya kepada hamba-hamba tentang apa yang mereka gunakan untuk itu, dan Dia lebih mengetahui tentang itu daripada mereka. Itu adalah firman-Nya Ta’ala: “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Al-Isra: 36)
Allah Ta’ala berfirman: “Bermegah-megahan telah melalaikan kalian” (At-Takatsur: 1). Dikatakan artinya: Bermegah-megahan di dunia dengan mengumpulkan harta benda, mendapatkan dosa, dan terus-menerus dalam kejahatan telah melalaikan kalian. Dan mereka membaca syair:
Apakah kau ridha dengan rumah yang tidak kekal Yang menyiapkan kejahatan dan memasang fitnah
Kegembiraan penghuninya tidak stabil Sampai kesusahan berubah menjadi kesedihan
Heran padanya, bahkan pada penghuninya yang tertipu Ketika ia menganggapnya sebagai tanah air
Maka segala puji bagi Allah yang Lemah Lembut kepada kami Menutupi yang buruk dan menampakkan yang baik
Nikmat-nikmat-Nya tidak habis dari kami Sampai Dia memperbaharui setelahnya nikmat-nikmat lagi
Wahai saudaraku, kau sibuk dengan kelezatan dan menghabiskan umurmu dengan hal-hal remeh, mendurhakai Tuhan bumi dan langit, dan melupakan rumah-rumah kesendirian dan kebingungan.
Alangkah gelapnya rumah itu dan alangkah sedihnya peti itu.
Tempat kesendirian, rumah kesedihan dan kesendirian.
Dan mereka membaca syair:
Dan terkadang dipukul orang yang sehat Saat ia paling sehat dan tidak sakit
Wahai yang meletakkan mayit di kuburnya Kubur telah berbicara padamu tetapi kau tidak paham
{Sehingga kamu melawat kuburan} QS. At-Takatsur: 2, rumah-rumah kesendirian dan tempat-tempat kesempitan dan kesusahan, dalam kesempitan dan kesusahan dan kesedihan dan penyesalan dan kengerian-kengerian yang memilukan hati, dari kegelapan-kegelapan kubur dan pertanyaan Munkar dan Nakir dan kekal di alam barzakh sampai hari kebangkitan. Maka lihatlah pada dirimu wahai orang yang tertipu, sesungguhnya kubur itu memiliki urusan yang diikuti oleh urusan-urusan lainnya. Dan mereka bersyair:
Jangan tertipu oleh kehidupan dan majulah … dan waspadailah kubur karena kubur itu memiliki urusan Sesungguhnya di dalamnya ada yang ditakuti oleh orang yang berakal … jika ia adalah orang yang bertakwa dan memiliki pemahaman
Oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, gadis itu berkata: “Jika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkanmu dengan hal itu, maka kami dengar dan kami taat kepada Allah Azza wa Jalla dan kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam, tetapi sampai aku mendengar darinya.” Maka berangkatlah pemuda dan gadis itu untuk mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam. Tiba-tiba mereka bertemu dengan ayah dan saudara laki-lakinya. Mereka berkata: “Kemana kamu pergi?” Ia berkata: “Sesungguhnya pemuda ini menempel padaku dan mengklaim bahwa aku adalah istrinya, maka aku mengingkarinya. Ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkannya demikian, maka aku bersamanya menuju Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sampai aku mendengar darinya.” Mereka berkata: “Kami dengar dan kami taat kepada Allah Azza wa Jalla dan kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam.” Maka mereka semua berangkat sampai masuk menghadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Lalu ayahnya berbicara, ia berkata: “Wahai Rasulullah, pemuda asing ini mengklaim bahwa engkau memerintahkannya dengan apa yang ia lakukan terhadap putriku.” Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata: “Benar, maka nikahkanlah putrimu kepadanya atas nama Allah dan berkah-Nya.” Ia berkata: “Aku telah melakukannya.” Maka orang tua itu menikahkan putrinya kepadanya dan Nabi shallallahu alaihi wasallam beserta para sahabatnya menjadi saksi. Lalu Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata: “Wahai sekalian kaum muslimin, tolonglah saudaramu.” Maka mereka mengumpulkan untuknya empat uqiyah perak. Lalu Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata: “Untukmu dua uqiyah dan untuk istrimu dua uqiyah.” Ia berkata: “Wahai Rasulullah, aku telah memberikan dua uqiyahku untuknya juga.” Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata kepada orang tua ayahnya: “Persiapkanlah gadis ini untuk pemuda itu dari hari ini.” Orang tua itu berkata: “Kami dengar dan kami taat kepada Allah Azza wa Jalla dan kepada Rasul-Nya.” Pemuda itu datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu ia memerintahkannya untuk pergi ke keluarganya. Ia datang ke rumahnya lalu masuk dan mendapati kasur yang terhampar, permadani yang terbentang, istri yang duduk, pelita yang bersinar, dan makanan yang telah disiapkan untuknya. Ketika ia melihat semua itu, ia segera pergi ke suatu tempat di majelis tempat duduknya lalu shalat dua rakaat sebagai syukur kepada Allah Azza wa Jalla atas apa yang ia lihat. Kemudian ia berdiri dan shalat dua rakaat lagi, kemudian ia mengangkat kepalanya ke langit lalu memuji Allah dan menyanjung-Nya serta bersyukur atas nikmat-Nya. Kemudian ia mulai berdiri di sela-sela itu lalu shalat dua rakaat, kemudian berdiri dalam keadaan yang sama dengan pujian dan syukur kepada Allah Azza wa Jalla atas apa yang ia lihat. Ia terus seperti itu sampai pagi. Kemudian ia pergi pagi-pagi ke masjid lalu shalat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam shalat Subuh, Zuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. Kemudian ia kembali ke rumahnya. Ketika ia menyaksikan keluarganya dan apa yang telah disiapkan untuknya, ia segera pergi ke tempat shalatnya lalu shalat seperti shalatnya pada malam pertama dan ia memuji Allah Azza wa Jalla dan bersyukur kepada-Nya di antara setiap dua rakaat sampai pagi. Lalu ia pergi pagi-pagi ke masjid dan shalat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ia melakukan hal serupa sampai genap tiga malam baginya. Maka datanglah orang tua itu pada hari keempat lalu masuk menemui putrinya dan bertanya tentang suaminya dan keadaannya dengannya. Ia berkata: “Aku tidak tahu suamiku itu apa, ia tidak mengenal selain shalat dan ia bangun sepanjang malam memuji Allah dan menyanjung-Nya serta shalat.” Orang tua itu datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu mengabarkan hal itu kepadanya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya: “Apa yang mencegahmu dari keluargamu?” Ia berkata: “Wahai Rasulullah, aku teringat keadaanku dahulu, aku adalah seorang musyrik di Yaman, tidak ada tempat berlindung bagiku kecuali lubang seperti lubang anjing, aku berlindung di dalamnya siang dan malam, aku mengikuti bayangan pohon-pohon dan tembok-tembok ketika keluar dari lubangku. Maka Allah membimbingku kepada Islam dan mengajariku empat surat dari Al-Quran, lalu Allah melapangkan dadaku dengannya dan menerangi hatiku dengannya. Ketika engkau menikahkanku dengan gadis ini, aku melihat kasurnya, kecantikan dan keindahannya, dan aku belum pernah melihat kasur sama sekali sejak aku ada. Aku melihat pelita yang bersinar dan tidak pernah memiliki pelita sama sekali. Aku melihat keadaan ini lalu merenungkan salah satu dari empat suratku, maka Allah membuat aku zuhud terhadapnya dan apa yang ada padanya.” Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata: “Dan surat apa itu?” Ia berkata: {Telah melalaikan kamu kesibukan memperbanyak, sehingga kamu melawat kuburan. Sekali-kali tidak} QS. At-Takatsur: 1-2. Kemudian ia menangis dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam serta para sahabatnya ikut menangis. Ketika mereka tenang, pemuda itu berkata: “Wahai Rasulullah, khususkan untukku doa darimu.” Ia berkata: “Ya Allah, ampunilah baginya yang banyak dan bersyukurlah kepadanya atas yang sedikit dan kayakanlah dia dengan rahmat-Mu.” Tidak sampai seminggu datang padanya sampai dikatakan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa pemuda itu telah meninggal. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata: “Laa ilaaha illallah, jika kalian selesai memandikannya, beritahu aku.” Maka mereka memberitahu beliau shallallahu alaihi wasallam. Lalu beliau shallallahu alaihi wasallam berkata: “Beruntunglah kamu mendapat surga.” Kemudian beliau bertanya kepada istrinya apakah ia mendapatkan sesuatu darinya. Ia berkata: “Tidak, demi Dzat yang mengutusmu sebagai nabi dengan kebenaran, ia tidak mendapatkan sesuatu pun dariku.”
313 – Kisah-kisah tentang Orang-orang Saleh dalam Rasa Takut kepada Allah
Maimun bin Mihran berkata: “Aku masuk menemui Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu anhu sedang ia membaca {Telah melalaikan kamu kesibukan memperbanyak, sehingga kamu melawat kuburan} QS. At-Takatsur: 1-2. Lalu ia berkata: ‘Sesungguhnya mereka hanya melawat kuburan dengan kematian dan setiap peziarah pasti akan kembali ke negerinya, baik itu surga atau neraka.'”
Zirr bin Hubaisy berkata dari Ali radhiyallahu anhu, ia berkata: “Kami biasa ragu tentang azab kubur sampai turun ayat {Telah melalaikan kamu kesibukan memperbanyak} QS. At-Takatsur: 1, yaitu kesibukan memperbanyak harta dan anak-anak telah melalaikan kalian dari mengingat Allah dan ketaatan kepada-Nya, dan kelalaian adalah apa yang menyibukkan.”
Dan paling banyak yang dikatakan dalam kebatilan adalah {Sehingga kamu melawat kuburan} QS. At-Takatsur: 2, yaitu rumah-rumah kalian.
Dan dikatakan bahwa dua suku dari Quraisy saling bermegah-megahan dan saling menghitung dengan orang-orang mati: “Ada dari kami si fulan dan ada dari kami si fulan.” {Sekali-kali tidak, kelak kamu akan mengetahui} QS. At-Takatsur: 3, yaitu kelak kalian akan mengetahui ketika kalian mati. {Kemudian sekali-kali tidak} QS. At-Takatsur: 4, yaitu kemudian sekali-kali tidak, kelak kalian akan mengetahui di kubur-kubur kalian. Dan itu adalah ancaman di atas ancaman, maka makna yang pertama berbeda dari makna yang kedua dan itu bukan pengulangan.
Al-Farra berkata: “Kalimat itu diulang oleh orang Arab untuk penegasan dan menakut-nakuti.”
Maka ini termasuk hal itu.
Kemudian Dia berfirman {Sekali-kali tidak}, yaitu sekali-kali tidak, mereka tidak beriman dengan ancaman. Kemudian Dia memulai dan berfirman {Sekiranya kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin} QS. At-Takatsur: 5, yaitu yakin yang murni dan itulah yang tidak ada keraguan padanya, Aku beritahukan kepada kalian bahwa kalian akan melihat neraka di akhirat, seperti firman-Nya {Dan diperlihatkan neraka Jahim kepada siapa yang melihat} QS. An-Naziat: 36. Maka pengulangan dalam firman-Nya {Niscaya kamu akan melihat neraka Jahim} QS. At-Takatsur: 6 pada hari kiamat ketika ia diperlihatkan. {Kemudian niscaya kamu akan melihatnya dengan mata kepala sendiri} QS. At-Takatsur: 7.
Sesungguhnya aku yakin dengan apa yang ada dalam kitabku … cepat-cepat kain kafanku akan menutupi diriku Maka ketika aku ditempatkan dalam kegelapan liang lahad … dan aku diganti dari suatu tempat ke tempat lain Dan jika Tuhanku tidak mendapatiku dengan ampunan … aku akan mengalami kehinaan dan kerendahan di dalam kubur
314 – Sifat Kubur
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Kubur adalah taman dari taman-taman surga atau lubang dari lubang-lubang neraka. Ketahuilah bahwa ia berbicara setiap hari tiga kali, lalu berkata: Aku adalah rumah kegelapan, aku adalah rumah kesendirian, aku adalah rumah cacing.” Demi Allah, demi Allah wahai saudara-saudaraku, beramallah untuk kesempitan ini dan bersungguh-sungguhlah dalam beramal dengan kesungguhan dan ketepatan.
Dan mereka bersyair:
Seakan-akan saudara-saudaraku di pinggir kubur … menuangkannya di atasku dan air mata mereka mengalir
Semoga Allah memaafkanku ketika aku ditinggalkan terbaring … aku dikunjungi namun aku tidak tahu dan ditinggalkan namun aku tidak tahu
Maka bangunlah wahai hamba-hamba Allah dari tidur kelalaian dan beramallah untuk hari perpindahan dan bersiaplah untuk kegelapan kubur selama kalian masih dalam kelapangan dan kesempatan. Dan jangan kalian habiskan hari-hari kalian dengan hal-hal yang mustahil dan jauhkanlah umur kalian dari perbuatan buruk, karena sesungguhnya kematian akan turun pada kalian dan kubur ada di hadapan kalian.
Dan mereka bersyair:
Sesungguhnya aku dari pembicaraanku … dan pembicaraan itu memiliki cabang-cabang Aku menyia-nyiakan tempat tidurku … waktu itu maka ketenangan meninggalkanku Katakan padaku, maka malam pertama … di dalam kubur bagaimana menurutmu aku akan berada
315 – Paling Berat atas Mayit
Dikatakan bahwa tidak datang pada mayit di kuburnya yang lebih berat dan lebih sulit daripada malam pertama ia bermalam di dalamnya. Barangsiapa yang memperhatikan mayitnya pada malam pertama dengan sesuatu berupa sedekah, atau jika tidak maka hendaklah ia shalat dua rakaat dan menghadiahkan pahalanya untuk mayitnya, Allah Taala akan mengangkat dari mayitnya apa yang ia rasakan dari kesedihan dan kesendirian, dan Allah akan menulis bagi orang yang shalat itu ibadah enam puluh tahun dengan berdiri dan puasanya.
Dan mereka bersyair:
Demi Allah wahai mataku, menangislah … dan menangislah untukku dan merataplah Besok aku ditempatkan di kuburku … besok aku mengunjungi makamku Besok orang-orang tercinta pergi … dan engkau dilarang untuk datang
Disebutkan bahwa mayit ketika ditempatkan di kuburnya dan orang-orang yang mengiringi berkata “Kembalilah, semoga Allah memberi pahala kepada kalian”, mayit berkata jika ia termasuk orang-orang yang celaka: “Alangkah baiknya jika aku bersama orang-orang yang kembali”, karena besarnya kengerian yang ia saksikan dari pemandangan yang mengerikan.
Wahai kekasih-kekasihku, jika salah seorang dari kalian memiliki rumah dan tidak dihamparkan di dalamnya sesuatu untuk duduk, maka ia duduk di tanah dan bumi. Demikian juga orang yang tidak menyiapkan untuk kuburnya amal saleh untuk dirinya, ia akan tetap sendirian dan menyendiri di liang lahadnya.
Dan mereka bersyair:
Aku di dalam kubur sebagai tawanan … keluarga telah berpaling dariku Mereka menyerahkanku dengan dosa-dosaku … aku merugi jika Dia tidak mengampuniku Maka kasihanilah hari ini ubanku … dan kasihanilah ya Allah umurku Dan kasihanilah ya Allah kelemahanku … janganlah mengecewakan hari ini harapanku
316 – Nasihat dari Nabi shallallahu alaihi wasallam
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma bahwa ia berkata: “Nabi shallallahu alaihi wasallam kadang-kadang menasihati kami, lalu berkata: ‘Bersiaplah untuk kubur-kubur kalian, karena sesungguhnya kubur memanggil setiap hari tujuh kali, lalu berkata: Wahai anak Adam yang lemah, kasihanilah dirimu dalam hidupmu sebelum kamu menemuiku, karena jika kamu menemuiku dan kamu telah beramal dengan ketaatan kepada Tuhanmu, aku akan mengasihanimu dan kamu akan melihat dariku kegembiraan. Dan jika kamu tidak mengasihani dirimu, aku tidak akan mengasihanimu. Aku adalah rumah cacing bersama penyesalan yang panjang. Dan aku adalah rumah kesendirian bersama kelaparan yang keras dan kesulitan. Aku adalah rumah kehausan bersama kegelapan. Aku adalah rumah kesempitan bersama kalajengking. Wahai anak Adam, janganlah kehidupan dunia menipumu, karena sesungguhnya jalanmu adalah padaku dan aku adalah tempat tinggal pertamamu menuju akhirat. Jika kamu selamat dariku, kamu selamat dari setiap kesulitan yang kamu takuti. Wahai anak Adam, aku adalah rumah kemarahan, aku tidak mengasihani pemuda karena kepemudaannya, tidak kecil karena kekecilan mereka, tidak dewasa dan tidak orang tua karena ketuaannya, dan aku tidak mengasihani kecuali orang yang mengasihani dirinya.’”
Dan mereka bersyair:
Aku heran pada orang yang kegembiraan sempurna untuknya … di negeri yang semua yang ada di dalamnya adalah tipuan Dan bagaimana nikmat bagi penghuninya kehidupan … dan ia tahu bahwa tempat tinggalnya adalah kubur
Wahai anak Adam, sungguh kamu diciptakan untuk urusan yang besar jika kamu berakal. Pasti akan tampak kepuasanmu dan tampak kekhusyukanmu dan mengalir air matamu karena takut pada kubur dan kesendirian serta dari liang lahad dan tekanannya serta dari kengerian pemandangan dan ketakutannya.
Maka persiapkanlah untuk dirimu wahai orang yang celaka selama kamu masih hidup dan selama diterima darimu segala sesuatu sebelum dilipat catatan dan ditutup pintu dan turun hijab dan kepergian menuju tanah.
Dan mereka bersyair:
Jangan merasa aman meskipun kamu berada di tanah haram … sesungguhnya kematian mengagetkan setiap manusia Dan berjalanlah di jalanmu dan teguh tanpa menyimpang … sampai kamu bertemu balasan dari sisi Yang Maha Pengasih Karena setiap teman meskipun kamu bersimpati akan meninggalkanmu … dan setiap harta meskipun kamu memperbanyaknya akan lenyap Dan kebaikan dan keburukan terikat dalam satu ikatan … dengan semua itu akan datang padamu dua hal yang baru
Maka pikirkanlah semoga Allah merahmati kalian pada kekasih-kekasih kalian dan tetangga-tetangga kalian dan sahabat-sahabat kalian dan saudara-saudara kalian dan ayah-ayah kalian dan ibu-ibu kalian dan saudara-saudara perempuan kalian dan orang-orang yang jauh dan yang dekat dan pemilik kasih sayang dan orang-orang asing.
Sungguh telah menjadi sunyi dari jiwa-jiwa kalian negeri-negeri dan terputus di antara mereka jejak-jejak, dan mereka tetap sebagai tawanan dalam peristiwa-peristiwa dengan dosa-dosa.
Sungguh kekasih telah meninggalkan mereka dan orang dekat telah lupa tentang mereka. Sungguh telah disempitkan atas mereka liang lahad dan mengalir mata mereka di atas pipi dan robek dari mereka kulit dan melata pada tubuh mereka binatang-binatang dan cacing, dan tetap jiwa-jiwa mereka di alam barzakh sampai hari yang mengerikan yang dijanjikan.
Tidak bermanfaat bagi mereka apa yang mereka kumpulkan dan tidak membentengi mereka apa yang mereka bangun dan dirikan dan tidak mencegah mereka semua yang mereka buat.
Menjadilah kubur-kubur bagi mereka tempat tinggal dan lari kekasih-kekasih dari mereka.
Maka bangunlah wahai sekalian saudara dan bersungguh-sungguhlah dalam ketaatan kepada Yang Maha Pengasih sebelum berpisah dengan kekasih-kekasih dan tanah air.
Dan mereka bersyair:
Itulah peristiwa-peristiwa mengetuk atau terulang … dan semua untuk kematian dalam tempat tidur Dan tidak akan tetap kehancuran jika ia datang … yang keras pemukulannya yang perkasa tali kekangnya Berapa banyak ia menculik ke singa yang perkasa … dan penguasa dari para tentara yang kembali Maka katakan kepada saudara keselamatan hiduplah lama … karena sesungguhnya alam adalah penyeru kerusakan Dan jadilah dalam umur Luqman bin Ad … dan ini adalah kematian Luqman bin Ad Karena sesungguhnya manusia di tangan-tangan kematian … sebagai tawanan tidak ada baginya darinya penebus
317 – Pelajaran dengan Kubur-kubur
Wahai saudaraku, jika kamu ingin mengetahui bagaimana keadaanmu setelahmu, maka keluarlah menuju kubur-kubur dan lihatlah ia telah hilang jejaknya, dan samakan kuburmu di antara kubur-kubur.
Kemudian lihatlah apa yang kamu butuhkan di kuburmu, maka perbanyaklah darinya untuk panjangnya masa tinggalmu di dalamnya, yaitu amal saleh. Adapun selain itu, maka tidak ada kebutuhanmu pada sesuatu pun dari urusan-urusan dunia, karena ia akan menjadi beban atasmu di kuburmu dan penyesalan. Dan lihatlah keadaanmu yang kamu berada padanya, jika ia layak untuk kematian dan kubur maka teruslah padanya, dan jika ia tidak layak untuk keduanya ini maka bertaubatlah kepada Allah Taala darinya dan kembalilah kepada apa yang layak.
Dan mereka bersyair:
Berapa lama kamu lupa kubur-kubur wahai orang yang tertipu … lubang-lubang yang tidak ada di dalamnya kesenangan bagi orang yang bermaksiat Dan kamu membuta-butakan tentangnya padahal kamu melihatnya … dan roda gilirannya pada manusia berputar Maka bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa-Nya dan waspadailah … setiap kengerian yang ditakuti oleh orang yang dikuburkan Dan tinggalkan kesenangan dan kebatilan dan beramallah … untuk yang padanya cepat-cepat kamu akan pergi Itulah negeri kekal, maka setiap orang yang bertakwa … di tamannya dimuliakan dan diberi kesenangan Dan bagi orang yang bermaksiat, jika tidak mendapatnya … rahmat Allah, negeri yang jauh yang celaka
318 – Doa untuk Penghuni Kubur
Adalah salah seorang yang penuh rasa takut (kepada Allah), apabila keluar ke pekuburan, air matanya tidak berhenti mengalir dan dia tidak makan dan tidak minum selama tiga hari. Dia berkata, “Kira-kira apa yang kalian dapati wahai kekasihku di rumah-rumah penyesalan? Semoga Allah menghibur kesepian kalian, semoga Allah merahmati kesendirian kalian, semoga Allah mendinginkan tempat tidur kalian, dan semoga Allah meringankan apa yang telah ditakdirkan atas kalian oleh Pelindung kalian. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”
Kemudian dia menangis dengan keras dan meratap.
Maka demi Allah, demi Allah, menangislah sebelum hari-hari penuh tangisan dan merataplah sebelum hari kesedihan.
Dan nyanyikanlah:
Dia asyik dengan dunianya sementara hari-hari meratapi kematiannya Kubur adalah tujuannya dan liang lahat adalah tempat kembalinya
Dia bermain-main, seandainya dia tahu apa yang telah disediakan untuknya Pasti akan membuatnya sedih, apa yang telah melalaikannya
Atau apa yang telah diperbuat tangannya, seandainya dia mengetahuinya Celakalah dia dari apa yang telah diperbuat kedua tangannya, celakalah dia
Ketahuilah wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya kubur-kubur bagi orang-orang yang telah mati adalah peti-peti yang terkunci, dan amal-amal mereka tersampir di leher mereka, dan roh-roh mereka pada pagi dan sore dibawa ke surga atau neraka. Dan nyanyikanlah:
Wahai engkau yang menghias kuburnya Padahal dia di dalamnya mungkin terbelenggu
Wahai engkau yang menetap di tempat Yang di dalamnya berbagai peristiwa, betapa singkat penetapan itu
Janganlah tertipu oleh kerajaan dan kenikmatan Karena kerajaan akan lenyap dan kenikmatan akan hilang
Dan apabila jenazah dibawa ke kubur-kubur Maka ketahuilah bahwa setelahnya engkau akan dibawa
Wahai saudara-saudara kami, para saudara telah pergi dan kami mengikuti jejak mereka. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali). Penglihatan kami telah buta dari hakikat-hakikat perkara, kami lalai dari kematian dan kami lupa akan kubur.
319 – Kisah tentang Al-Asma’i
Diriwayatkan dari Al-Asma’i semoga Allah meridhoinya bahwa dia berkata: Aku melewati seorang Arab Badui yang sedang berdiri di sebuah pemakaman, maka aku berkata kepadanya, “Wahai saudara dari bangsa Arab, tempat apa ini yang engkau berada di dalamnya?” Dia berkata:
Ini adalah tempat-tempat tinggal kaum yang telah kukenal Dalam kenikmatan hidup yang indah, tak ada bandingnya
Bencana-bencana zaman memanggil mereka, maka mereka berpindah Ke kubur-kubur, tak ada mata dan tak ada bekas
Wahai hamba-hamba Allah, barangsiapa tujuannya adalah kubur, maka tidak ada jalan bagi kegembiraan. Dan kubur memanggilnya setiap hari, berkata kepadanya: “Kau pasti mendatangiku, maka apa yang telah kau siapkan untukku dari amal shalih?” Dan nyanyikanlah:
Wahai tetangga zaman yang tidak memiliki perlindungan Dan berbaik sangka pada dunia adalah ketertiapan
Apabila engkau menginginkan suatu hari, maka itulah hari itu Dan berkurangnya bulan, puncaknya adalah gelap gulita
Tinggalkanlah ketamakan orang penakut terhadap kehidupan Dan berbuatlah baik karena umurmu adalah pinjaman
Dan pemilik harapan-harapan di dalamnya dalam kegelapan Dan saat kematian, kegelapan itu akan tersingkap
Seseorang berharap agar tetap selamat Padahal malam dan siang menolaknya
Apakah ajal dapat melewatkan jiwa makhluk hidup Padahal yang membimbingnya adalah sore dan pagi
320 – Kisah tentang Al-Husain
Dikatakan bahwa Al-Husain semoga Allah meridhoinya apabila melihat kubur-kubur berkata: “Betapa indah tampak luarnya, padahal malapetaka-malapetaka ada di dalamnya.”
Maka demi Allah, demi Allah wahai hamba-hamba Allah, jangan sibuk dengan dunia, karena kubur adalah rumah amal. Maka beramallah dan jangan lengah. Dan nyanyikanlah:
Wahai yang sibuk dengan dunianya Dan tertipu oleh panjangnya harapan
Kematian datang tiba-tiba Dan kubur adalah peti amal
Saudaraku, seandainya engkau melihat mayit di kuburnya setelah tiga hari, niscaya engkau akan merasa sunyi kehilangan dia setelah lama bersahabat dengannya. Seandainya engkau melihat bagaimana binatang-binatang kecil berkeliaran di dalamnya, nanah mengalir, cacing-cacing melubanginya dengan perubahan bau busuk dan lapuknya kain kafan, setelah sebelumnya penampilan yang bagus, bau harum, dan pakaian yang bersih.
Dan nyanyikanlah:
Mereka bermalam di puncak-puncak gunung dijaga oleh Orang-orang kuat, namun puncak-puncak itu tidak bermanfaat bagi mereka
Dan mereka diturunkan dari puncak kemuliaan benteng mereka Dan ditempatkan di lubang-lubang, alangkah buruknya tempat tinggal mereka
Seorang yang berseru memanggil mereka setelah dikubur Di mana keluarga-keluarga, mahkota-mahkota dan perhiasan-perhiasan
Di mana wajah-wajah yang dulunya tertutupi Di depannya dipasang tirai-tirai dan kain penutup
Maka kuburlah yang mengungkapkan tentang mereka ketika memburuk bagi mereka Wajah-wajah itu, di atasnya ulat-ulat saling memakan
Sudah lama mereka makan zaman dan menikmati Maka mereka menjadi setelah lama memakan, dimakan
Maka wahai kaum pemuda, bersiaplah untuk berangkat ke tanah, karena orang tua sudah cukup dengan musibah uban, karena dia sedang menyiapkan untuk kubur.
Dan nyanyikanlah:
Apa urusan orang-orang tua dengan hari esok Dan kepada hiburan-hiburan serta keceriaan pagi
Padahal mereka besok atau sebelumnya Atau setelahnya adalah isi kubur-kubur
321 – Panggilan Kubur kepada Penghuninya
Wahai hamba-hamba Allah, tidak ada seorang pun, baik mukmin maupun orang durhaka, kecuali kuburnya memanggilnya pagi dan sore, entah dengan kabar gembira dan kegembiraan atau dengan celaka dan kesengsaraan. Maka barangsiapa yang memikirkannya dan kesepiannya, kesempitan, dan kesedihannya, maka itu akan lebih luas baginya daripada dunia dan lebih lapang, dan Allah akan menggantinya dengan rumah yang lebih baik dari rumahnya dan keluarga yang lebih baik dari keluarganya, dan menjadikan kubur lebih baik dari rumahnya. Maka perbanyaklah mengingat kubur pada waktu-waktu dan saat-saat, dan taatilah Penguasa bumi dan langit, semoga Dia menjadikannya bagi kalian taman dari taman-taman surga dan melindungi kalian di dalamnya dari kehinaan dan penyesalan.
Dan nyanyikanlah:
Berdirilah di pemakaman dan ingatlah, dan jika engkau berdiri di sana Demi Allah, lihatlah apa yang disembunyikan lubang-lubang itu
Di dalamnya ada pelajaran bagimu wahai yang tertipu Dan di dalamnya ada peringatan bagimu wahai yang tertipu
Mereka adalah raja-raja yang disembunyikan istana-istana mereka Selama zaman, kemudian disembunyikan oleh lubang-lubang setelahnya
Cacing memakan kaum yang dimanjakan Ya, dan di bawah mereka papan-papan dan tanah
Apakah karena ridha-Nya itu dari mereka ataukah karena murka Jauh sekali, tersesat dan bingung di dalamnya pikiran
322 – Bakar bin Hammad
Diriwayatkan dari Bakar bin Hammad rahimahullah bahwa dia keluar suatu hari ke kubur-kubur dan mulai melihat barisan kubur-kubur dan memikirkan kekasih-kekasih, saudara-saudara, sahabat-sahabat, dan tetangga-tetangga.
Kemudian dia menangis hingga tangisnya berlama-lama dan air matanya membasahi janggutnya. Kemudian dia berkata:
Kami mengunjungi tempat-tempat tinggal kaum yang tidak mengunjungi kami Sesungguhnya kami dalam kelalaian dari apa yang mereka alami
Seandainya mereka berbicara, pasti mereka berkata: bersungguh-sungguhlah celaka kalian Bersungguh-sungguhlah dalam kepergian, karena yang menetap telah bertempat
Kematian mengepung dunia dan kemuliaannya Dan perbuatan kami adalah perbuatan kaum yang tidak mati
Maka menangislah banyak-banyak karena menangis adalah hak bagi kalian Karena para malaikat yang memikul Arsy Allah menangis
Maka demi Allah, demi Allah, bersungguh-sungguhlah dalam amal, karena kubur ada di hadapan kalian dan kematian mengejar kalian, memisahkan apa yang telah kalian kumpulkan dan merobohkan apa yang telah kalian bangun dengan terputusnya nafas, dan memindahkan kalian ke sempitnya liang lahat dan kuburan. Maka barangsiapa yang menghadirkan ke kubur amal shalih, dia akan mendapatinya taman dari taman-taman surga. Dan barangsiapa yang tidak memiliki amal, dia akan mendapatinya lubang dari lubang-lubang api neraka. Maka bersiaplah untuk itu wahai para sahabat dan saudara-saudara.
Diriwayatkan dari Muhammad bin As-Sammak rahimahullah bahwa dia berkata: Aku melewati pemakaman, maka tiba-tiba tertulis di sebuah kubur:
Kerabat-kerabatku melewati sisi-sisi kuburku Seolah-olah kerabat-kerabatku tidak mengenalku
Dan pemilik warisan membagi-bagi hartaku Dan mereka tidak peduli jika mereka mengingkari utang-utangku
Dan mereka telah mengambil bagian-bagian mereka dan pergi Maka demi Allah, alangkah cepatnya mereka melupakanku
Wahai hamba-hamba Allah, sadarlah dari kemabukan kalian dari rumah penipuan dan ketaatan kepada setan yang terkutuk, dan beramallah untuk sempitnya liang lahat dan kubur-kubur.
323 – Kisah tentang Ahmad bin Abi Al-Hawari
Diceritakan dari Ahmad bin Abi Al-Hawari rahimahullah bahwa dia berkata: Aku keluar suatu hari ke kubur-kubur, maka aku teringat kematian dalam diriku dan cobaan. Lalu aku melihat seorang pemuda di antara kubur-kubur yang telah dikuasai oleh rasa takut dan tangisan, dan dia berpaling di antara kubur-kubur. Maka aku berkata kepadanya, “Dari mana engkau datang wahai pemuda?” Dia berkata, “Dari tempat yang dipamerkan ini.” Aku berkata, “Dan apa yang engkau katakan kepada mereka?” Dia berkata, “Aku berkata kepada mereka: Kapan kalian berangkat? Maka mereka berkata: Ketika kalian datang.” Kemudian dia berpaling dariku sambil menangis. Maka aku mengikutinya dan berkata kepadanya, “Ke mana engkau tuju?” Dia berkata, “Mencari kehidupan.” Aku berkata kepadanya, “Bagaimana engkau mencari kehidupan di antara kubur-kubur?” Dia berkata, “Dan apa sebenarnya kehidupan menurut kalian?” Aku berkata, “Harta dan anak-anak dan sejenisnya dari kenikmatan-kenikmatan dengan istri-istri dan anak-anak.” Maka dia berpaling dariku sambil berkata, “Cih untuk kehidupan yang mengakibatkan kesedihan, penyesalan, dan duka.”
Maka aku berkata, “Dan apa sebenarnya kehidupan menurut kalian?” Dia berkata, “Sesungguhnya kehidupan menurut kami adalah pengakuan akan keesaan Allah, berdiri di halaman Allah, tunduk di hadapan Allah, dan menikmati manisnya bermunajat kepada Allah. Maka di situlah berdesak-desakan padamu tanda-tanda manfaat dari Allah Ta’ala dan indahnya karunia-karunia.” Aku berkata kepadanya, “Beritahukan kepadaku tentang orang yang jujur kepada Allah dalam cintanya, kapan dia merindukan perjumpaan dengan-Nya?” Dia berkata, “Apabila Allah mencabut cinta dunia dari hatinya dan dia muak dengan keberadaannya di antara makhluk-Nya.
Maka pada saat itulah dia merindukan perjumpaan dengan-Nya.”
Aku berkata kepadanya, “Beritahukan kepadaku tentang puncak zuhud di dunia?” Dia berkata, “Meninggalkan yang halal agar tidak terjerumus dalam yang haram.” Aku berkata, “Beritahukan kepadaku tentang puncak ridha kepada Allah Ta’ala?” Dia berkata, “Apabila engkau ridha dengan semua yang telah ditakdirkan Allah Ta’ala, dan diputuskan-Nya, dan ditetapkan-Nya, dan dilaksanakan-Nya, dan bahwa Dialah yang menganugerahi karunia kepada orang-orang yang bertakwa dengan karunia-Nya dan menghinakan siapa yang Dia kehendaki dengan keadilan-Nya.” Aku berkata kepadanya, “Beritahukan kepadaku tentang puncak ibadah?” Dia berkata, “Engkau mengumpulkan semua kekhawatiranmu lalu menjadikannya satu kekhawatiran sehingga sama bagimu yang terbangun dan yang hancur, dan engkau takut kepada Allah Ta’ala seolah-olah engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
Aku berkata kepadanya, “Bagaimana keselamatan dari menyelisihi manusia?” Dia berkata, “Sesungguhnya manusia itu ada dua macam: yang berakal dan yang bodoh. Maka orang yang berakal sibuk dengan aib-aib dirinya sendiri dari aib-aib orang lain, dan dia bangkit bersungguh-sungguh dengan ketaatan kepada Tuhannya, maka dia tidak menoleh kepadamu dan kepada selainmu. Adapun orang bodoh, maka dia tidak peduli bagaimana dia berada.
Maka hendaknya engkau di padang-padang sahara dan gurun-gurun, dan berintim dengan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” Aku berkata, “Lalu dari mana rezeki?” Dia berkata, “Engkau lari kepada Allah Ta’ala, dan Dia telah membukakan bagimu pintu tawakal kepada-Nya, dan Dia menyia-nyiakanmu sehingga engkau menuduh-Nya dalam rezkimu? Sesungguhnya Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, tidak akan menyerahkanmu.”
Kemudian kami bersalaman dan berpisah, dan dia mendoakanku. Maka aku tidak pernah melihat hati yang lebih bercahaya darinya.
Dan ditemukan tertulis di sebuah kubur:
Liang-liang kubur berbicara padamu padahal mereka diam Dan penghuninya di bawah tanah tersembunyi
Maka wahai yang mengumpulkan dunia bukan untuk mencukupi Untuk siapa engkau mengumpulkan dunia sedang engkau akan mati
Wahai hamba-hamba Allah, kasihanilah diri kalian sendiri sebelum turunnya azab, karena kubur tidak mengasihani orang yang tidak memiliki amal dan tidak menyayangi orang yang tertipu oleh panjangnya angan-angan dan tidak berbelas kasihan kepada orang yang menyia-nyiakan hari-hari kesempatan.
Dan nyanyikanlah:
Bagaimana keadaan orang yang menghuni tanah, bagaimana keadaannya Pagi harinya, telah terputus di sana tali-talinya
Pagi harinya, roh kehidupan tidak menimpanya Suatu hari, dan tidak pula kelembutan kekasih menggapainya
Siang harinya, telah terhapus keindahan wajahnya Dan bercerai-berai di kuburnya anggota-anggota tubuhnya
Dan digantikan darinya keindahan-keindahan dengan debu Dan terbagi-bagi setelahnya anggota-anggota tubuhnya
Hari-hari tak henti-hentinya bermain-main dengan pemuda Dan harta pergi kejernihan dan kehalalan
324 – Isa dan Kota yang Hancur
Diriwayatkan bahwa Isa bin Maryam alaihissalam memasuki sebuah kota yang hancur, lalu masuk ke salah satu istananya. Dia memanggil, “Wahai kehancuran yang terakhir, di mana penghunimu?” Maka menjawabnya sesuatu dari ujung istana, “Wahai putra Maryam, mereka telah lenyap.
Maka bersungguh-sungguhlah dan jangan berlebihan, karena tulang-belulang telah lapuk dan amal-amal mereka tersisa di leher mereka.”
Dan nyanyikanlah:
Berdirilah di kubur-kubur dan katakan di halaman-halamannya Siapa di antara kalian yang sedih dalam kegelapan-kegelapannya
Dan siapa yang mulia di antara kalian di padang pasirnya Telah merasakan dinginnya keamanan dari ketakutan-ketakutannya
Adapun ketenangan di hadapan mata-mata adalah satu Tidak dapat dibedakan keutamaan dalam tingkatan-tingkatannya
Seandainya mereka menjawabmu, pasti mereka mengabarkanmu dengan lisan-lisan Yang menggambarkan hakikat-hakikat setelah keadaan-keadaannya
Adapun yang taat, maka menempati taman Yang membawa kepada apa yang dia kehendaki dari kenyamanan-kenyamanannya
Dan penjahat yang durhaka di dalamnya terbolak-balik Di lubang yang tempat kembalinya adalah ke ular-ularnya
Dan kalajengking-kalajengking yang berlari kepadanya, maka pergilah dia Dalam kerasnya siksaan dari sengatannya
Wahai hamba-hamba Allah, apa yang membuat kalian tidak sadar dari kelalaian kalian, dan berhenti dari tidur-tidur kalian, dan tersadar dari kemabukan kalian, dan bosan dari syahwat-syahwat kalian, dan meninggalkan banyak dari kenikmatan-kenikmatan kalian?
Dan mengingat dahsyatnya makam dan kembali ke sempitnya lubang-lubang kubur, karena malaikat maut tidak mendatangi kalian kecuali pada saat paling nikmat kalian dari enaknya kehidupan kalian dan kenikmatan dunia kalian. Maka bersegeralah sebelum dia mendahului kalian.
Dan nyanyikanlah:
Bangunan pemuda dalam bermain-main dan lelahnya Berlenggak-lenggok, angkuh dalam kenikmatan-kenimatannya
Telah menipunya harapan yang dusta Maka perhatiannya pada semua yang mendekatkannya dari syahwat-syahwatnya
Tiba-tiba datang kepadanya malaikat jiwa-jiwa dengan sakratul maut Meninggalkannya terlempar jasadnya di antara orang-orang dekatnya
Maka terputuslah sebab-sebabnya dan terputuslah Dan berubah yang dikenal dalam keadaan-keadaannya
Tidak menjawab orang yang memanggilnya dan tidak melihat Robeknya pakaian-pakaian atasnya ketika wafatnya
325 – Ibnu Abbas dan Ibnu Al-Khattab
Disebutkan dalam beberapa berita bahwa Abdullah bin Abbas semoga Allah meridhoi keduanya masuk menemui Umar bin Al-Khattab semoga Allah meridhoinya pada hari dia terbunuh, maka dia berkata, “Bergembiralah wahai Amirul Mukminin.” Dia berkata, “Dengan apa?” Dia berkata, “Engkau beriman kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika manusia mengingkarinya, dan engkau berjihad bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika manusia mengecewakan beliau, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat sedangkan dia ridha terhadapmu, dan tidak ada dua orang yang berbeda pendapat dalam kekhilafahanmu, dan engkau terbunuh sebagai syahid.” Maka Umar semoga Allah meridhoinya berkata kepadanya, “Ulangi apa yang engkau katakan.” Maka dia mengulanginya. Lalu dia berkata, “Demi Yang tiada tuhan selain Dia, seandainya aku memiliki semua yang matahari terbit dan terbenam atasnya, niscaya aku akan menebus dengannya dari dahsyatnya pemandangan. Jika ini adalah perkataan Umar semoga Allah meridhoinya, imam Sunnah, kekasih umat, dan pelita ahli surga di surga, dia berkata ini pada saat perpisahan dan terputus, dan khawatir dari dahsyatnya pemandangan, maka bagaimana dengan ahli main-main dan permainan, kebohongan dan dusta seperti kami yang menghabiskan umur mereka dalam dosa-dosa, dan menghabiskan hari-hari mereka dalam maksiat kepada Yang Maha Mengetahui yang ghaib, dan lalai dari kubur-kubur dan tidak memikirkan dahsyatnya hari kebangkitan? Wallahu a’lam. Dan nyanyikanlah:
Aku melihat diriku setiap hari dalam pengurangan Dan jauh yang tidak akan hilang dan panjangnya perpisahan
Dan hari-hariku berlalu tanpa sesuatu Dan umur manusia dalam hari-hari berjalan
Ketahuilah, tulislah di atas kuburku sebuah tulisan Dan katakan: kubur pemilik kezaliman dan pengkhianatan
Dia datang ke dunia dan meninggalkannya dalam keadaan miskin Dan setiap pemuda pada cara ini berjalan
Dan katakan ketika aku dikubur: hamba seperti apa Yang datang kepada Tuhannya dalam kehinaan dan kemiskinan
Diceritakan dari Dawud Ath-Tha’i rahimahullah bahwa dia melewati seorang wanita yang menangis di sebuah kubur, dan dia berkata:
Aku kehilangan kehidupan dan tidak mendapatkannya Jika engkau di kubur telah mereka kuburkan
Bagaimana aku merasakan nikmatnya tidur Sedangkan engkau dengan tangan kananmu telah mereka bantalkan
Dawud berkata: Ketika aku mendengar, aku teringat akan kekasih-kekasih, sahabat-sahabat, dan teman-teman, tidak terlihat bekas-bekas mereka dan tidak ada di bumi dari mereka tempat tinggal.
Aku melewati kubur-kubur dan menaikinya Seolah-olah aku tidak memiliki kekasih di dalamnya
Dan aku benci bertanya kepada mereka, karena aku Melihat mereka ketika ditanya tidak menjawab
326 – Nasihat Berharga
Wahai hamba-hamba Allah, orang-orang yang telah berlalu dari umat-umat yang telah punah ke kubur-kubur yang sepi itu bukan agar kalian kekal setelah mereka, melainkan hanya peringatan singkat yang tersisa dari umur kalian, kemudian kalian akan terjaga menuju kubur-kubur dan keluar dari luasnya istana-istana dan rumah-rumah.
Segala puji bagi Allah, wahai sekalian orang-orang beriman dan jamaah saudara-saudaraku kaum muslimin, bersungguh-sungguhlah dan berusaha keraslah, bersiap-siaplah dengan amal saleh, dan siapkanlah untuk diri kalian apa yang akan kalian dapati di kuburan, dan menangislah untuk diri kalian sebelum turun ke dalam liang kubur.
Dan disenandungkan: “Setiap kaum memiliki kuburan di halaman mereka … maka mereka terus berkurang sedangkan kubur-kubur bertambah” “Dan di tempat berkumpulnya orang mati di depan kubur-kubur mereka … tidak ada seorang pun dari mereka yang kembali kepada kehidupan”
327
Dan disenandungkan: “Manusia sandera musibah-musibah yang tidak berakhir … hingga jasadnya dikuburkan dalam kuburnya” “Maka ada yang ditunda menemui kehancuran bersama keluarganya … dan ada yang didahulukan menemui kehancuran pada dirinya sendiri”
Ingatlah wahai orang yang tertipu, ayahmu dan saudara-saudaramu, dan ingatlah keluargamu dan tetanggamu, dan ingatlah orang-orang yang kamu cintai dan teman-temanmu. Di mana orang-orang yang dahulu menjadi kekasih-kekasihmu di dunia dan sahabat-sahabatmu di hari-hari hidupmu? Engkau menemani mereka dan mereka menemanimu, lalu mereka pergi meninggalkanmu, membuat keluarga dan kekasih merasa sunyi, berpisah dari kerabat dan sahabat. Jasad-jasad mereka telah dipeluk kubur, kulit mereka telah diubah oleh liang kubur, dan roh-roh mereka masih menunggu hari ketika rahasia-rahasia akan terungkap. Di antara mereka ada yang diberi balasan berupa kenikmatan dan keabadian, dan di antara mereka ada yang dikembalikan ke neraka, dan seburuk-buruk tempat kembali.
Di mana Luqman bin ‘Ad? Di mana kaum Tsamud dan Syaddad? Di mana Fir’aun yang memiliki pasak-pasak? Dan di mana orang yang melampaui batas di negeri-negeri dan menampakkan kerusakan di dalamnya? Demi Allah, telah pergi pasukan-pasukan itu dan mereka kembali ke kegelapan kubur tanpa kasur dan bantal.
Ingatlah wahai orang yang lalai, di mana raja-raja yang besar dan di mana para tiran yang perkasa? Dan di mana orang-orang yang mengumpulkan harta dan simpanan? Dan memimpin tentara dan pasukan, dan para khatib menyebut mereka di atas mimbar? Demi Allah, bencana telah memindahkan mereka ke liang kubur, dan mereka tetap tergadai dengan amal-amal mereka dalam kegelapan kubur. Mereka turun dengan apa yang telah mereka persiapkan dari simpanan amal-amal. Cacing-cacing telah memutuskan anggota tubuh mereka dan kerusakan telah mengubah keadaan mereka.
Mata-mata mereka telah mengalir di atas pipi, dan daging mereka menjadi makanan bagi serangga dan ulat. Setelah mereka dikuburkan dalam tanah, harta mereka dibagi-bagi, dan istri-istri mereka dinikahi oleh musuh-musuh mereka. Dan disenandungkan:
“Apakah sebelummu ada yang merasa nyaman dengan kenikmatan … seandainya dia teringat dosa yang telah berlalu, dia akan menangis” “Demi Allah, seorang hamba yang melakukan dosa lalu menyedihkannya … maka dia tetap bingung mencucurkan air mata” “Maka cucurkanlah air matamu karena dosa yang telah kau lakukan … karena terkadang air mata yang mengalir menjadi kunci kebaikan” “Dan terkadang mata yang Allah lihat menangis … karena takut pada kubur akan menemui roh dan kelapangan” “Orang yang sedih, gelisah, terjaga, cerdas … seakan di dalam hatinya ada pelita cahaya” “Wahai teman-temanku, tinggalkanlah penundaan, celakalah kalian … dan gantilah kerusakan agama dengan perbaikan” “Jangan merasa aman dari datangnya kematian, karena ia memiliki … bagi jiwa-jiwa dari seluruh makhluk, yang menyapu habis” “Jika ia tidak membuat mereka bermalam, ia memanggil mereka di waktu subuh … dan jika ia terlambat dari pagi hari mereka, ia datang di sore hari” “Kematian tidak meninggalkan rumah yang penuh dengan kegembiraan … kecuali ia menggantikan mereka dengan kehinaan dan kesedihan” “Wahai penghuni kubur, jelaskanlah tentang kubur-kubur kalian … apakah kalian bisa memberikan jawaban yang jelas kepadaku?” “Apa yang telah kalian temui dan apa yang dikatakan kepada kalian … ketika kalian kehilangan roh-roh dari jasad-jasad?” “Kasihan sekali aku terhadap tubuh-tubuh yang dimanja … yang sekarang ulat berkeliaran dan berenang di dalamnya” “Manusia dalam kelalaian tentang apa yang dikehendaki bagi mereka … barangsiapa yang memiliki penglihatan maka fajar telah terbit”
328 – Kisah tentang Ibnu Sammak
Dikisahkan tentang Ibnu Sammak rahimahullah bahwa pada suatu hari ia menghadiri jenazah. Ketika ia melihat kubur-kubur, ia menangis dan berkata kepada para sahabatnya: “Wahai sekalian saudara, tidakkah ada yang bersiap untuk kematian yang digambarkan untuknya dan ia melihatnya di hadapannya? Tidakkah ada yang bersiap untuk hari kefakirannya dan turunnya ke dalam liang kuburnya? Tidakkah ada pemuda yang tekad yang telah berhadapan dengan ajalnya? Tidakkah ada orang yang tidak diubah oleh masa mudanya yang kuat dan tidak pula oleh kekuatan fisiknya? Atau orang tua yang telah menyegerakan kepada akhir masanya, maka hendaklah ia bersegera berjalan dalam apa yang tersisa dari nafasnya? Apa yang ditunggu oleh orang yang telah mengubur ayahnya, ibunya, dan saudaranya? Tidak ada kegembiraan bagi orang yang kuburlah tempat tinggalnya dan tanah adalah kasur dan selimutnya.”
Dan disenandungkan: “Ketahuilah, sesungguhnya dunia adalah ujian dan fitnah … dan sementara pemuda di dalamnya ditakuti dan dimuliakan” “Tiba-tiba ia berbalik darinya dan kenikmatan itu hilang … lalu ia menjadi dari tanah kubur yang diratakan” “Maka takutlah kepada kematian dan kubur setelahnya … dan janganlah engkau termasuk orang yang hari ini atau besok tertipu”
Dikisahkan tentang salah seorang saleh rahimahullah bahwa ia berkata: “Aku menjenguk orang sakit yang sedang dalam kesulitan sakaratul maut, lalu aku bertanya kepadanya ‘bagaimana keadaanmu?’ Maka ia menangis kemudian berkata:
“Aku telah pergi dari dunia dan kiamatku telah tegak … ketika pagi hari para pengangkat jenazahku mengusung jenazahku” “Dan keluargaku mempercepat menggali kuburku dan menjadikan … kepergianku dan kecepatanku menuju ke sana sebagai kehormatanku” “Seakan-akan mereka tidak pernah mengenal wajahku … ketika pagi hari hariku dan saatku datang kepadaku”
Saudara-saudaraku, ini bukan hanya untuk orang yang telah berlalu, tetapi demi Allah untuk orang yang telah berlalu dan yang masih tersisa, pasti akan ada kubur dengan kesepiannya dan kematian dengan sakaratnya. Maka perhatikanlah diri kalian selama masih bermanfaat bagi kalian, dan renungkanlah tentang kesepian kubur selama renungan masih diperbolehkan bagi kalian, sebelum datangnya sakarat dan turunnya penyesalan, dan ketika kesalahan tidak dapat ditarik kembali.
Karena sesungguhnya hari-hari adalah tipu daya dan ia adalah jalan menuju kubur.
Dan disenandungkan: “Kenapa kubur-kubur tidak menjawab … ketika orang yang cerdas memanggilnya” “Lubang-lubang yang tertutup di atasnya … dengan batu-batu besar dan gundukan tanah” “Di dalamnya ada anak-anak kecil dan anak-anak … dan pemuda-pemuda dan orang-orang tua” “Berapa banyak orang yang dicintai yang tidak … jiwaku rela berpisah dengannya” “Aku tinggalkan dia di salah satunya … terbaring dan dia adalah kekasihku”
329 – Kisah tentang Salah Seorang Saleh
Dikisahkan bahwa seorang lelaki dari kalangan saleh rahimahullah menghadiri jenazah. Ketika mereka meletakkannya di kuburnya dan keluarganya pulang, ia berdiri di atas kubur temannya lalu memanggilnya: “Wahai kekasih, wahai fulan si teman!” Tetapi tidak ada yang menjawabnya. Maka ia mulai berkata:
“Wahai kekasih, mengapa engkau tidak menjawab pemanggilmu … apakah engkau lupa setelahku akan semua kekasih?”
Maka seorang penjawab menjawabnya yang suaranya terdengar tetapi sosoknya tidak terlihat, dan ia berkata:
“Kata sang kekasih: bagaimana aku bisa menjawab kalian … sedangkan aku sandera batu-batu besar dan tanah” “Tanah telah memakan keindahanku dan aku lupa akan kalian … dan aku terhalang dari keluargaku dan dari kekasih-kekasihku” “Maka salam dariku kepada kalian, telah terputus … dariku dan dari kalian ikatan kekerabatan”
Wahai orang yang malang, inilah sifat kalian dan sifat saudara-saudaramu, kekasih-kekasihmu, tetangga-tetanggamu, dan sahabat-sahabatmu. Maka ambillah pelajaran dari mereka, beri nasihat kepada diri kalian, dan menangislah sepanjang hidup kalian, hari-hari kesepian kalian, setelah tidur panjang kalian, panjangnya keterasingan kalian, dan kesendirian kalian di dalam kubur-kubur kalian. Mudah-mudahan Allah pelindung kalian akan merahmati kalian dan menghibur kalian di dalamnya dengan keakraban karunia-Nya, dan meneranginya dengan cahaya ampunan-Nya, dan menjadikannya bagi kalian sebagai tempat pertama dari tempat-tempat surga, dan menyelamatkan kalian di dalamnya dari segala azab dan cobaan. Sesungguhnya Dia Maha Pemberi, Maha Mulia, Maha Pemberi Karunia, Maha Penyayang.
330 – Nasihat Ibnu Abbas
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma bahwa ia berkata: “Paling penyayangnya Allah yang Mahaagung dan Mahamulia kepada hamba-Nya adalah ketika ia masuk ke kuburnya dan orang-orang serta keluarganya berpencar, maka barangsiapa yang banyak mengingat Allah, ia akan mendapatinya sebagai taman dari taman-taman surga.”
Dan tidak ada hari melainkan bumi menyeru dengan lima kalimat: “Wahai anak Adam, engkau berjalan di atas punggungku dan tempat kembalimu adalah ke dalam perutku. Wahai anak Adam, engkau tertawa di atas punggungku dan kelak engkau akan menangis di dalam perutku. Wahai anak Adam, engkau bergembira di atas punggungku, kelak engkau akan bersedih di dalam perutku. Wahai anak Adam, engkau berbuat dosa di atas punggungku dan kelak engkau akan disiksa di dalam perutku. Wahai anak Adam, engkau memakan yang haram di atas punggungku dan kelak ulat akan memakanmu di dalam perutku. Wahai anak Adam, berapa banyak orang yang didengki semasa hidupnya, ketika ia turun ke liang kuburnya, ia berharap seandainya semua yang ia kumpulkan dan tinggalkan adalah untuk musuh-musuh dan orang-orang yang dengki kepadanya. Berapa banyak orang yang meninggalkan untuk keluarganya apa yang memperbaiki mereka untuk akhirat mereka, sedangkan ia sendiri di dalam kuburnya atau dalam liangnya celaka.”
Dan disenandungkan: “Kematian telah merobek kemegahanku … dan kerusakan telah menghapus keindahanku” “Aku menjadi di antara kenikmatan di … tempat tinggal yang jauh dan kebencian” “Dan orang-orang yang kucintai meninggalkanku … ketika aku disembunyikan di padang pasir”
Wahai saudaraku, renungkanlah kain kafan-kafan itu dan berubahnya bau-bauan, serangannya ulat-ulat, gigitan kalajengking dan ular-ular, dan berada di bawah lapisan-lapisan tanah dan kegelapan.
Dan lihatlah kekasih-kekasihmu di dalam lembaran-lembaran tanah, bagaimana mereka kehilangan manusia dan penjaga, gerakan-gerakan terputus dari mereka dan napas-napas mereka diam. Dan disenandungkan:
“Apakah engkau buta terhadap dunia sedangkan engkau melihat … dan engkau tidak tahu apa yang ada di dalamnya sedangkan engkau tahu” “Dan engkau pagi hari membangunnya seakan-akan engkau kekal … sungguh telah ada pada apa yang engkau alami peringatan” “Kapan matamu melihat urusan dan tidak ada … yang memberitakan kepada kita bahwa kekalah itu sedikit” “Maka inilah bagimu, lakukanlah apa pun yang akan engkau lakukan … karena sesungguhnya rumah-rumah orang bertakwa adalah kubur-kubur”
331 – Kisah tentang Hasan al-Bashri
Dikisahkan tentang Hasan al-Bashri radhiyallahu anhu bahwa ia melihat jenazah yang telah diletakkan di liang lahadnya, lalu ia berkata: “Alangkah menjadi nasihat yang sangat jelas seandainya ia mendapati hati-hati yang hidup! Demi Allah, kematian telah mempermalukan dunia dan tidak meninggalkan kegembiraan bagi orang yang memiliki keturunan di dalamnya.”
Kemudian ia menunjuk ke pemanjangan kubur-kubur lalu menangis dan berkata: “Mereka ini adalah penghuni sebuah kawasan, cukuplah bagi orang yang duduk bersama mereka, kejahatan mereka, dan jika seorang hamba mendoakan rahmat kepada mereka, apa yang ia doakan akan sampai kepada mereka.”
Wahai hamba-hamba Allah, ketahuilah bahwa kubur adalah tempat antara dunia dan akhirat. Maka beramallah untuk hari seperti ini, karena sesungguhnya mereka adalah saudara-saudaramu yang telah mendahului dan kalian dalam jejak mereka. Wahai orang yang tertinggal setelah saudaranya, engkaulah orang yang mati setelahnya besok, dan orang yang tersisa setelahmu adalah orang yang mati setelahmu, yang pertama lalu yang pertama, hingga mereka semua meninggal, maka seakan-akan kalian semua telah diliputi kematian dan kalian sama dalam sakarat-sakaratnya, dan kalian semua turun ke kubur-kubur hingga hari kebangkitan.
Maka bertakwalah kepada Allah, bertakwalah kepada Allah, renungkanlah panjangnya kesengsaraan dalam kegelapan di antara lapisan-lapisan tanah.
Dan disenandungkan: “Saudaraku, mengapa hatimu tidak bersih … seakan-akan engkau tidak menganggap kematian sebagai kebenaran” “Wahai anak orang-orang yang telah punah dan berlalu … tidakkah demi Allah, mereka tidak berlalu dan engkau tetap” “Dan tidak ada seorang pun yang lebih menghitung bekalmu darimu … dan tidak ada seorang pun yang lebih susah dengan bekalmu darimu” “Dan tidak ada bagi jiwa padamu tempat menetap … ketika ia telah menyempurnakan ajal dan rezeki”
Renungkanlah raja-raja yang zalim, para penguasa yang angkuh, dan para tiran yang melampaui batas, yang telah memakmurkan dunia dan menguasainya dan penjuru-penjurunya, dan mendiami istana-istana yang megah, mereka lebih kuat daripada kalian kekuatan dan jejak-jejak, dan lebih kuat tubuh-tubuh dan lebih panjang umur-umur. Mereka meninggalkan apa yang mereka peroleh untuk keluarga dan kekasih-kekasih, dan rumah-rumah mereka dimakmurkan setelah mereka oleh para sahabat, dan malam dan siang telah berlalu dari mereka, dan mereka turun dengan apa yang mereka kerjakan dari dosa-dosa. Seandainya kalian melihat mereka sebentar lagi dalam kegelapan kubur-kubur, kulit-kulit mereka telah terputus dan pipi-pipi mereka telah terkoyak, liang lahad telah menyempitkan tubuh-tubuh mereka, dan kekasih mengambil kekasih yang lain setelah mereka, dan tubuh-tubuh mereka menjadi tempat istirahat bagi ulat.
Maka renungkanlah wahai saudaraku, dan bergesegera-segeralah menuju tobat, jangan menuruti setan karena sesungguhnya ia adalah pengkhianat manusia. Dan jadilah kauliu wali-wali Allah yang Maha Pengasih, dan janganlah kalian menjadi wali-wali setan.
Mudah-mudahan Allah menyelamatkan kalian dari azab api neraka dan memasukkan kalian dengan rahmat-Nya ke dalam surga.
Dan disenandungkan: “Beramallah untuk tempat tinggalmu di dalam liang … dan sesallah atas perbuatanmu yang buruk” “Dan jangan meremehkan sedangkan dalam dirimu ada roh … karena kelak engkau akan tinggal tanpa roh” “Dan cacatlah pipi dengan air mata … dengan kesungguhan dari hatimu yang terluka” “Dan mintalah maaf sebelum hari … engkau dipindahkan ke dalam keranda” “Wahai jiwaku, sesungguhnya aku besok terbaring … dan tanah dicampakkan ke atas yang terbaring” “Ratapilah, karena jika kubur telah memelukmu … engkau tidak akan mampu meratap di dalamnya”
Kekasih-kekasihku, marilah kita bersama-sama menuju kesedihan dan tangisan, menuju panjangnya penyesalan dan duka, mudah-mudahan Allah merahmati kita dalam kegelapan kubur. Dan mudah-mudahan, karena sesungguhnya kubur menyeru di pagi dan sore hari.
Dikatakan bahwa salah seorang saleh berdiri di kuburan dan mulai berkata:
“Apakah kekasih-kekasih kami marah atau tertidur … sampai kapan penolakan ini akan berlangsung” “Jika kalian adalah kaum yang tidur maka bangunlah … berapa lama kalian tidur dari kami sedangkan kami duduk” “Atau kalian mengasingkan kami karena dosa … yang datang dari kami, maka sesungguhnya kami tidak akan mengulanginya”
Dikisahkan tentang salah seorang dari mereka rahimahullah bahwa ia berkata: “Aku menjenguk seorang teman yang telah meninggal dan aku bersedih atasnya karena kebaikan dan kesalehan yang ada padanya dan baiknya jalan hidupnya. Lalu aku melihatnya setelah kematiannya dalam mimpi, maka aku bertanya kepadanya tentang keadaannya, lalu ia mulai berkata:
“Aku adalah peringatan bagi kalian saudara-saudaraku … dari dahsyatnya apa yang dipeluk kubur-kubur” “Aku menyaksikan apa yang tidak kalian saksikan … dan sesungguhnya yang diuji adalah yang berpengalaman” “Sesungguhnya apa yang menimpaku sangat besar … sekali, maka sungguh pemberi peringatan telah memberi uzur” “Karena sesungguhnya engkau dalam tipu daya … maka janganlah tipu daya itu menipumu” “Karena sesungguhnya di hadapanmu ada ajal-ajal … dan kubur dan kebangkitan dan pengumpulan” “Entah ke surga atau … ke neraka jahanam yang menyala-nyala”
Maka bertakwalah kepada Allah, bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian kaum Islam, bangunlah dari beratnya tidur ini, karena sesungguhnya di hadapan kalian ada kesepian kubur-kubur setelah sakarat-sakarat dahsyatnya kematian. Maka barangsiapa yang menyia-nyiakan hari-harinya dalam kebatilan dan kejahilan, dan banyak dosa dan kesalahannya dalam catatan amalnya, maka tempat penyesalan besok di kubur adalah tempatnya.
Dan disenandungkan: “Lihatlah dan bertobatlah wahai lelaki … telah dekat kepindahan” “Menuju tempat yang sempit … di dalamnya hilang segala akal” “Tidak ada bagimu di dalamnya penghibur … kecuali ketakwaan dan amal” “Pemuda mana yang berdiri di … mihrabnya bermunajat” “Ia berkata dalam sujudnya … sedangkan air matanya mengalir deras” “Wahai Yang Zhahir, wahai Yang Batin … wahai Pemilik, jangan terburu-buru” “Ampunilah semua dosaku … karena urusanmu adalah pemberian karunia” “Dan beri aku tobat … karena itulah harapan dan cita-cita”
332 – Penggali Kubur
Diriwayatkan dari Said bin Jubair radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: Ketika kami sedang duduk di majelis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, tiba-tiba seorang laki-laki berdiri di hadapannya dan berkata: “Wahai Ibnu Abbas, alangkah hinanya orang-orang yang bermaksiat di hadapan Allah Ta’ala, dan alangkah baiknya orang-orang yang bersegera dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala. Wahai Ibnu Abbas, alangkah lalainya orang-orang berdosa dari kedekatan Yang Mahamulia, dan alangkah parah kekacauan orang yang tidak diberi taufik untuk berangkat (kepada Allah).”
Kemudian ia keluar.
Maka berdirilah salah seorang yang hadir di majelis Ibnu Abbas dan berkata kepadanya: “Wahai Ibnu Abbas, sesungguhnya pemuda ini adalah penggali kubur, dan ia hanya menyembunyikan diri dengan perkataan ini. Jika malam telah tiba, ia keluar ke pekuburan lalu menggali dan menelanjangi mayat-mayat dari kain kafannya.”
Ibnu Abbas berkata: “Aku tidak akan mempercayai hal seperti ini hingga aku melihatnya dengan mataku sendiri dan menyentuhnya dengan tanganku.”
Maka orang itu berkata kepadanya: “Jika engkau mau, aku akan menunjukkan hal itu kepadamu.”
Ibnu Abbas berkata: “Aku mau.”
Ketika malam tiba, tiba-tiba pemuda itu datang dengan tangan kanannya membawa pelita dan tangan kirinya membawa cangkul, hingga ia berada di tengah-tengah pekuburan. Kemudian ia mengarahkan pandangannya ke atas dan berkata: “Salam sejahtera untuk kalian wahai penghuni liang-liang lahat yang sempit, tempat makan balasan dan ulat. Alangkah jauhnya perjalanan kalian dan alangkah sunyi jalan kalian. Andai aku tahu bagaimana keadaan kalian, apakah kalian digadaikan dengan amal-amal kalian dan terputus dari harapan-harapan kalian. Bahkan andai aku tahu, apakah penyesalan kehidupan telah menimpa kalian ataukah kegembiraan kabar gembira dengan kedatangan kepada Rabb kalian.
Kalian mendahului kami, lalu kalian memenuhi panggilan dan menjawab sebelum kami ketika kalian dipanggil. Dan kami menunggu untuk datang kepada kalian dan akan menuju telaga yang telah kalian datangi. Maka semoga Allah memberkahi kami dan kalian atas kedatangan kepada-Nya, dan merahmati kami ketika kami sampai kepada apa yang telah kalian sampai kepadanya.”
Kemudian ia turun ke dalam kubur yang telah ia gali untuk dirinya sendiri, lalu meletakkan pipinya di tepi liang lahat dan mulai memanggil: “Celakalah aku ketika aku masuk ke dalam kuburku sendirian dan bumi berbicara dari bawahku lalu berkata kepadaku: ‘Tidak selamat datang, tidak ada tempat, tidak ada kelapangan, dan tidak ada kemudahan bagi orang yang dulu aku benci ketika ia di atas punggungku, lalu bagaimana lagi sekarang ia telah berada di dalam perutku. Sungguh aku akan menyempitkan bagian-bagianku untukmu dan akan memberikanmu rasa tidak enak dari balaaku.’
Celakalah aku ketika aku keluar dari liang lahatku dengan memikul dosaku di atas punggungku, sementara ayah dan ibuku telah berlepas diri dariku.
Bahkan celakalah aku dari panjangnya kebohonganku ketika aku mendengar penyeru Rabbku: ‘Di mana fulan bin fulanah?’ Lalu aku dikeluarkan dari antara tetangga-tetanggaku, sementara rahasiaku telah tampak kepada manusia, dan aku berdiri telanjang, hina, dan mengalami kesedihan yang panjang.
Kemudian aku digiring ke tanah Kiamat untuk diperiksa dan berdiri di hadapan Dzat Yang Mahaperkasa pemilik langit dan bumi.
Celakalah aku ketika aku berdiri di hadapan Rabbku lalu Dia berkata kepadaku: ‘Hamba-Ku, engkau menyembunyikan maksiatmu dari makhluk dan berhadapan langsung dengan-Ku dengan maksiat itu, padahal Aku adalah saksi yang paling besar atasmu. Apakah Aku ini yang paling hina di antara orang-orang yang melihatmu?'”
Kemudian ia jatuh pingsan. Ketika ia sadar, ia mengangkat kepalanya ke langit dan berkata: “Wahai simpananku dan wahai cadanganku, dan Wahai Dzat yang paling mengetahui lipatan batinku dan rahasiaku. Wahai Dzat yang menjadi sandaranku dalam hidupku dan yang aku berlindung kepada-Nya setelah kematianku, janganlah Engkau mengecewakanku setelah kematian dan janganlah Engkau membiarkan aku kesepian di kuburku. Wahai Yang Mendengar setiap suara.”
Ketika Ibnu Abbas mendengar ucapannya, ia tidak dapat menahan diri hingga berlari dan berdiri di tepi kubur sambil memanggil: “Labbaik, labbaik kekasihku! Bukankah engkau menggali untuk dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan? Begitulah seharusnya dosa-dosa digali dan kesalahan-kesalahan dirobek-robek.”
Kemudian ia berpaling kepada orang yang telah melaporkan pemuda itu dan berkata kepadanya: “Wahai hamba Allah, begitulah hendaknya engkau lakukan setiap kali engkau mengetahui penggali kubur seperti ini, maka tunjukkanlah ia kepada Ibnu Abbas, karena alangkah aku mencintainya dan mengutamakannya di sisiku. Ya Allah, seandainya semua penggali kubur seperti dia.”
Dan ia mulai membacakan syair:
Berhentilah bersama kami di kubur-kubur untuk menangis lama Dan kita obati dengan air mata penyakit yang besar
Mudah-mudahan air mata itu dapat mendinginkan dari kami Sebagian penderitaan kami dan menyembuhkan dahaga hati
Dan kita panggil orang-orang tercinta: bagaimana kalian menemukan Sakitnya kematian setelah kami dan tempat istirahat
Seandainya mereka mampu menjawab, mereka akan berkata: Kami menemukan Sakit yang membuat orang mulia menjadi hina
Mereka ditukar setelah istana-istana dengan kubur-kubur Kemudian setelah pakaian-pakaian dengan tanah yang berat
Wahai hamba-hamba Allah, beramallah untuk kegelapan kubur sebelum habisnya kesempatan beramal, dan bersegeralah dengan taubat sebelum habisnya ajal. Nyalakanlah di dalam hati-hati kalian api ketakutan dan kecemasan, dan berbekallah untuk kubur selama kalian masih dalam kelapangan dan kesempatan. Sesungguhnya kematian akan datang, umur telah berlalu, jalan panjang, bekal sedikit, dan kengerian kubur sangat berat.
Dan bacakanlah syair:
Bersujudlah di kegelapan malam kepada Tuhanmu, niscaya Dia mencukupimu
Dan janganlah engkau merasa aman dari serangan kematian, sesungguhnya kematian akan mendatangimu
Seolah-olah aku melihat orang yang mencintaimu di dalam kubur menurunkanmu
Dan engkau telah diasingkan di liang lahatmu sendirian dengan kejelekan-jelekanmu
Dan menyerahkanmu orang yang di dunia bersahabat denganmu
Wahai permintaanku dan wahai simpananku, semua makhluk mengharapkanmu
Wahai Dzat yang tidak ada seorang pun dari kami yang dapat menghitung pemberian-pemberian-Mu
Maafkanlah ucapanku kemudian wujudkanlah harapanku kepada-Mu
Wahai saudaraku, berdirilah di hadapan Tuhanmu ketika malam yang gelap gulita masuk, dan mintalah kepada-Nya agar Dia menyelamatkanmu di kuburmu dari azab yang pedih.
333 – Kisah tentang Ibnu Al-Aswad
Diceritakan dari Al-Hajjaj bin Al-Aswad bahwa ia berkata: “Aku melihat dalam mimpi seolah-olah aku masuk ke pekuburan, tiba-tiba penghuninya tidur di kubur-kubur mereka dan bumi telah terbelah dari mereka. Di antara mereka ada yang tidur di atas tanah, di antara mereka ada yang tidur di atas kain-kain Mesir, di antara mereka ada yang tidur di atas sutra halus, di antara mereka ada yang tidur di atas sutra tebal, di antara mereka ada yang tidur di atas sutra, di antara mereka ada yang tidur di atas brokat, di antara mereka ada yang tidur di atas bunga melati dan tumbuhan wangi, di antara mereka ada yang tidur seperti tersenyum dalam tidurnya, di antara mereka ada yang berubah warnanya, di antara mereka ada yang cahayanya bersinar, di antara mereka ada yang kesedihannya sangat keras, dan di antara mereka ada yang berduka dalam sempitnya kubur dan kesepiannya.
Maka aku menangis dalam mimpiku karena apa yang aku lihat, kemudian aku berkata: ‘Ya Rabbi, seandainya Engkau mau, niscaya Engkau menyamakan mereka dalam kemuliaan.’ Lalu seorang penyeru memanggil dari antara mereka: ‘Wahai Hajjaj, apa yang engkau lihat ini dari perbedaan keadaan, sesungguhnya itu adalah kedudukan-kedudukan amal. Dan bagi setiap orang dari mereka adalah apa yang ia dahulukan.’
Maka aku terbangun dengan terkejut dan ketakutan.”
Dan mereka membacakan syair:
Bergeraklah jika engkau mampu dan berdirilah lama Maka kelak akan panjang tidurmu di dalam tanah
Dan wujudkanlah apa yang engkau ucapkan, karena engkau adalah hamba Yang akan ditanya kemudian dituntut dengan jawaban
Dan kaffarahkanlah apa yang engkau kerjakan dan jadilah bersungguh-sungguh Dan bertaubatlah kepada Allah, niscaya engkau akan bahagia dengan taubat
Wahai hamba-hamba Allah, tidak ada obat bagi kalian dari semua penyakit syahwat kecuali taubat dan penyesalan atas apa yang telah berlalu dan sebaik-baik kembali, mudah-mudahan Allah mengampuni untuk kalian apa yang telah kalian ikat dalam hati nurani dan apa yang kalian sembunyikan dari rahasia-rahasia tersembunyi, dan menerangi untuk kalian dalam kegelapan-kegelapan kubur, sempitnya kubur, dan kesepian liang lahat.
Dan mereka membacakan syair:
Dunia telah mengabarkan dirinya sendiri kepada kami lalu kami mendengar Dan memanggil: Bersungguh-sungguhlah berangkat dan telah pamit
Dan ia telah memasang kendaraan-kendaraan kami menuju peralihan kebinasaan Dan menggiring kami dengan dorongan cepat lalu bersegera
Salam untuk penghuni kubur, orang-orang tercintaku Sungguh telah hancur jasad-jasad mereka dan terputus-putus
Maka kematian orang-orang hidup tidaklah lain kecuali untuk dibangkitkan Dengan yakin dan dibalas setiap jiwa dengan apa yang ia usahakan
Wahai hamba-hamba Allah, mengapa kalian dipanggil untuk kembali kepada Allah namun kalian tidak menjawab, dan kematian serta kubur namun kalian tidak mengingat. Maka innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Telah pergi orang-orang yang mendengar dan para penasihat.
Dan yang tersisa adalah orang-orang bodoh dan orang-orang lalai.
Tidak ada pendengar yang memahami dan mendengar, dan tidak ada penasihat yang mengobati dan bermanfaat.
Semua telah disibukkan dengan angan-angan dan tipu daya, dan lupa berangkat menuju kubur-kubur.
Dan ditemukan tertulis di sebuah kubur:
Janganlah engkau percaya pada kehidupan setelah kuburku Setiap yang hidup nasibnya seperti nasibku
Aku dahulu dalam kenikmatan dan kehidupan yang lapang Lalu berlalu dan berakhir seperti hari yang singkat
Kemudian aku diasingkan di kubur-kubur sendirian Dan sahabat menjauhi aku di atas kubur
334 – Hadits tentang Munkar dan Nakir
Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Jibril ‘alaihissalam pada malam Isra’: “Cukuplah kematian sebagai bencana.”
Jibril ‘alaihissalam berkata: “Apa yang setelah kematian lebih dahsyat dan lebih besar darinya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Apa itu wahai Jibril?”
Ia berkata: “Dua malaikat yang biru-kehitaman, gelap-gulita, menginjak-injak dengan rambut mereka dan merobek bumi dengan taring-taring mereka. Di tangan setiap satu dari mereka ada tiang, seandainya dipukulkan pada gunung-gunung niscaya ia akan mencabutnya dari akar-akarnya. Mata mereka seperti kilat yang menyambar, dan suara-suara mereka seperti guntur yang menggelegar. Akan diuji dengan mereka setiap mukmin dan kafir. Maka keduanya akan mendatanginya di kuburnya lalu menakut-nakutinya, mendudukkannya, dan menunjukkan kepadanya amalnya, serta memperlihatkan kepadanya tempatnya dari surga atau neraka.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Adapun orang kafir, wajar bagi keduanya untuk menakut-nakutinya dan berbuat seperti itu kepadanya. Adapun orang mukmin, bagaimana?”
Jibril ‘alaihissalam berkata: “Demikianlah perintah Rabbmu wahai Muhammad. Adapun orang kafir, maka ia tidak menemukan jeda dari azab Allah sejak ia masuk kuburnya. Adapun orang mukmin, maka ketakutan itu akan menjadi kaffarah baginya atas dosa-dosanya yang berlalu di dunia. Maka ketika ia keluar dari kuburnya, ia keluar dalam keadaan diampuni, kemudian ia tidak mengetahui ketakutan setelahnya selamanya.”
335 – Tipu Daya
Disebutkan bahwa salah seorang raja membangun istana dan menegakkannya, lalu ia kagum dengan itu dan senang dengannya. Ketika pada suatu malam ia mendengar seorang yang berkata:
Seolah-olah istana ini telah musnah penghuninya Dan sepi darinya penghuninya dan tempat-tempat tinggalnya
Dan berubah istana yang kokoh setelah keindahan Dan kerajaan menjadi kubur yang di atasnya ada batu nisannya
Dan tidak tersisa kecuali sebutannya dan ceritanya Memanggil di malam hari para pelayat yang menangisi bala-petakanya
Maka ambillah bekal untuk kematian, sesungguhnya engkau akan mati Dan sesungguhnya engkau akan ditanya, lalu apa yang akan engkau katakan
Maka raja itu menjawabnya dengan berkata:
Aku katakan bahwa Allah adalah kebenaran yang aku saksikan Maka itulah ucapan yang tidak tersembunyi keutamaan-keutamaannya
Maka penyeru itu menjawabnya dengan berkata:
Demi Allah wahai Fadam, sesungguhnya engkau akan mati Dan telah dekat urusan yang akan engkau turunkan kepadanya
Maka raja itu menjawabnya dengan berkata:
Kapan itu, beritahu aku semoga engkau diberi petunjuk, sesungguhnya aku Akan melakukan apa yang telah engkau katakan dan akan menyegerakannya
Maka penyeru itu menjawabnya dengan berkata:
Engkau akan tinggal tiga malam setelah dua puluh malam Sampai akhir bulan dan engkau tidak akan menyempurnakannya
Ia berkata: Maka bulan belum selesai hingga ia mati.
Dan salah seorang penyair berkata dalam makna ini:
Jiwanya berangan-angan istana yang kokoh Untuk dia tinggal agar ia memakmurkannya yang baru
Maka ketika sempurna, ajal menyegeranya Lalu mengeluarkannya ke liang lahat sendirian
Maka katakanlah kepada pemilik harapan-harapan tinggi Dan mereka tidak menginginkan dalam takwa tambahan
Takutlah kepada kematian, sesungguhnya baginya ada medan Maka tidak kekal orang tua dan tidak pula anak kecil
Dan ia menyambar raja-raja pemilik kemuliaan Dan tidak takut kepada pasukan-pasukan dan tidak pula tentara-tentara
336 – Raja yang Zuhud
Diriwayatkan dari Abbad al-Muhalabi bahwa ia berkata: Ada seorang lelaki dari kalangan raja-raja Basrah yang meninggalkan dunia dan beribadah. Kemudian setelah itu ia condong kepada dunia dan tipuannya. Maka ia membangun sebuah rumah dan mendirikannya dengan kokoh, lalu memerintahkan agar rumah itu dihiasi. Maka rumah itu pun dihiasi dan diperindah. Ia memerintahkan agar dimasak makanan dan mengundang orang-orang kepadanya. Mereka pun mulai berdatangan, makan, minum, melihat bangunannya, dan kagum padanya. Kemudian mereka mendoakan untuknya dan berpencar meninggalkannya. Ia terus seperti itu untuk waktu yang lama hingga selesai urusan dengan orang-banyak.
Kemudian ia mendudukkan beberapa orang dari sahabat-sahabat dekatnya. Ia berkata kepada mereka: Apakah kalian melihat kegembiraanku dengan rumahku ini? Hatiku telah membisikkan bahwa aku akan membuat rumah seperti ini untuk setiap anakku. Maka tinggallah di sisi ku beberapa hari agar aku menikmati perbincangan kalian. Mereka pun tinggal di sisinya beberapa hari, makan, minum, bersenang-senang, dan bermain. Ia bermusyawarah dengan mereka tentang bagaimana ia akan membangun. Tiba-tiba pada suatu malam mereka mendengar suara yang memanggil dengan suara yang keras:
Wahai lelaki yang lupa akan kematiannya, jangan merasa aman karena sesungguhnya kematian itu tertulis.
Atas makhluk baik mereka suka maupun tidak suka, maka kematian adalah pasti bagi pemilik angan-angan yang ditakdirkan.
Jangan membangun rumah-rumah yang tidak akan kau huni, dan kembalilah kepada ibadah agar dosa diampuni.
Ia berkata: Maka keluarlah ia dan sahabat-sahabatnya juga keluar, dan mereka terkejut dengan apa yang mereka dengar. Kemudian ia berkata kepada sahabat-sahabatnya: Apakah kalian merasakan apa yang aku rasakan? Mereka berkata: Apa yang engkau rasakan? Ia berkata: Aku merasakan genggaman pada jantungku dan aku tidak melihatnya kecuali sebagai penyakit kematian. Kemudian ia memerintahkan agar minuman keras ditumpahkan, dan memerintahkan agar alat-alat musik dikeluarkan. Kemudian ia berkata: Ya Allah, sesungguhnya aku mempersaksikan Engkau dan aku mempersaksikan malaikat-malaikat-Mu dan orang-orang yang hadir dari hamba-hamba-Mu bahwa aku bertaubat kepada-Mu dari semua dosaku, menyesal atas apa yang aku sia-siakan di hari-hari tangguhku.
Kemudian keadaannya menjadi berat dan ia terus mengucapkan kematian hingga keluarlah ruhnya, dan teman-teman serta sahabat-sahabatnya berpencar meninggalkannya.
Dan mereka membaca syair:
Sungguh mengherankan bagi manusia jika mereka melihat, dan menghisab diri mereka dan mereka memikirkan.
Dan mengambil pelajaran dari dunia kepada selainnya, karena sesungguhnya dunia bagi mereka hanyalah tempat perlintasan.
Dan janji adalah kematian dan setelahnya, kebangkitan maka itulah janji yang terbesar.
Aku heran terhadap manusia dalam kesombongannya, sedangkan ia esok dalam kesepian akan dikuburkan.
Apa urusan orang yang awalnya setetes air mani, dan bangkai akhirnya ia berbangga diri.
Ia menjadi tidak memiliki kuasa untuk mempercepat apa yang ia harapkan, dan tidak menunda apa yang ia takuti.
Dan perkara itu menjadi kepada Tuhannya, dalam segala yang Ia tetapkan dan Ia takdirkan.
Tidak ada kebanggaan kecuali kebanggaan ahli takwa, esok ketika mereka dikumpulkan di padang mahsyar.
337 – Nasihat untuk Bahlul
Diriwayatkan dari sebagian para pembesar bahwa ia berkata: Bahlul melihat kepadaku ketika aku sedang membangun rumah. Ia berkata: Untuk siapa rumah ini? Aku berkata: Untuk seorang lelaki dari kalangan pembesar penduduk Kufah. Ia berkata: Tunjukkan ia kepadaku. Maka aku pun menunjukkan kepadanya. Ia memanggil: Wahai orang ini, sungguh engkau telah mempercepat kejahatan sebelum mendapat perhatian. Dengarlah deskripsi rumah yang dibuat oleh Yang Maha Perkasa: fondasinya adalah misk dan ubin lantainya adalah ambar. Dibeli oleh seorang hamba yang bergegas untuk perjalanan. Ia menulis atas dirinya sebuah tulisan dan mempersaksikan atas ikatan hati nuraninya saksi-saksi. Inilah yang dibeli oleh hamba yang kasar dari Tuhan Yang Menepati. Ia membeli darinya rumah ini dengan keluar dari kehinaan tamak menuju kehormatan wara’. Maka apa yang diperoleh pembeli dari tanggungan dalam apa yang ia beli, maka atas Maulalah melepaskan hal itu.
Yang menyaksikan akad itu adalah keamanan dan pikiran-pikiran, dan itu pada saat mundurnya dunia dan datangnya akhirat. Dan rumah ini memiliki empat batas: batas pertama berakhir pada permulaan kejernihan, batas kedua pada meninggalkan akhlak yang kasar, batas ketiga berakhir pada tingkatan-tingkatan ahli kesetiaan, dan batas keempat berakhir pada ketenangan, penyerahan dan ridha di samping Yang di atas Arasy bersemayam. Dan rumah ini memiliki jalan yang berakhir pada rumah kekekalan dan kesejahteraan, dan kemah-kemah yang telah dipenuhi dengan pelayan-pelayan muda dan khazaf. Tidak ada di dalamnya penyakit, tidak ada bahaya, dan tidak ada kesakitan. Dan penghuni tempat-tempat ini tidak merasakan sakitnya kematian.
Sungguh rumah yang tidak habis kenikmatan dan tidak lenyap kemuliaannya! Rumah yang dibangun maka dijadikan dari mutiara dan yakut kehormatan batas-batas itu, dan dijadikan ubin lantainya dari keindahan dan cahaya, dan dipenuhi kemah-kemahnya dengan bidadari-bidadari yang dengan mereka sempurna kegembiraan dari bidadari yang bermata jeli. Tidak ada bagi mereka selain agama dan takwa sebagai mahar. Maka lelaki itu meninggalkan istananya dan bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla, dan berkelana, dan Bahlul terus memanggil di belakangnya sambil berkata:
Wahai orang yang mencari surga untuk dirinya, jangan lari karena sesungguhnya dia akan memberikannya kepadamu.
Dan mereka membaca syair:
Sedap tempat tinggal dan sedap di dalamnya kenikmatan, di surga Adn dan Yang Maha Mulia melihatnya.
Maka demi Allah, demi Allah wahai hamba-hamba Allah, jangan tertipu dengan pembangunan rumah-rumah dan pendirian istana-istana, karena dalam waktu yang tidak lama akan hancur dan kalian akan keluar darinya menuju sempitnya liang kubur dan kegelapan-kegelapan kubur. Dan mereka membaca syair:
Salam kepada penghuni kubur-kubur yang telah hancur, seolah-olah mereka tidak pernah duduk di majelis-majelis.
Dan tidak minum dari air yang dingin seteguk pun, dan tidak makan dari segala yang basah dan kering.
Maka wahai golongan ahli dunia, carilah penghuni kubur dengan doa yang baik dan bacaan Al-Quran.
338 – Hadits tentang Hadiah untuk Penghuni Kubur
Karena sesungguhnya diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: Barangsiapa memasuki pekuburan dan membaca Qul Huwa Allahu Ahad (Surat Al-Ikhlas) sebanyak sebelas kali dan menghadiahkan pahalanya untuk orang-orang yang telah meninggal, maka Allah Ta’ala mengampuni orang-orang yang telah meninggal dan memasukkan cahaya dan kegembiraan ke dalam kubur-kubur mereka, dan Allah Ta’ala menulis bagi pembaca dengan setiap mayat yang meninggal dari hari Adam diturunkan ke bumi hingga hari kiamat sepuluh kebaikan.
339 – Sedekah dan Doa untuk Mayat
Dan diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: Berilah hadiah kepada orang-orang yang telah meninggal dari kalian. Dikatakan: Apa yang kami hadiahkan wahai Rasulullah kepada orang-orang yang telah meninggal? Beliau berkata: Sedekah dan doa. Dan tidaklah ada keluarga yang meninggal dari mereka seorang mayat lalu mereka bersedekah untuknya setelah kematiannya melainkan Jibril alaihissalam menghadiahkannya kepadanya di atas nampan dari cahaya, lalu berdiri di tepi kubur seraya berkata: Wahai penghuni kubur, hadiah yang dihadiahkan kepadamu oleh keluargamu, terimalah. Maka masuklah kepadanya, lalu ia bergembira dengannya dan bersukacita, dan sedih tetangga-tetangganya yang tidak dihadiahkan kepada mereka sesuatu pun. Maka demi Allah, demi Allah, jangan lalai dari orang-orang yang telah meninggal dari kalian dan jangan lupakan mereka dari sedekah dan doa, karena sesungguhnya kalian memasukkan kepada mereka dengan hal itu kegembiraan dan mereka bergembira dengannya di dalam kubur.
340 – Harapan Orang-Orang yang Telah Meninggal kepada Orang-Orang yang Hidup
Dan telah datang dalam hadits bahwa orang-orang yang telah meninggal mengharapkan orang-orang yang hidup dari kalangan kekasih hingga empat puluh tahun. Maka barangsiapa membuat mereka putus asa, Allah memutus asa harapannya dari rahmat-Nya, dan barangsiapa menggembirakan mereka, Allah Ta’ala memuliakannya dengan salam-Nya.
Semoga Allah memberi taufik kepada kami dan kalian untuk amal-amal saleh, dan menolong kami dan kalian untuk mencari keinginan-keinginan dan kebaikan-kebaikan. Amin dengan rahmat-Nya, karena sesungguhnya Dia Yang Mengabulkan doa-doa, Yang Mengabulkan hajat-hajat, Yang Mengampuni kesalahan-kesalahan. Dan semoga Allah bershalawat atas orang yang mengeluarkan kami dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya, yang disucikan dari bencana-bencana, yang dipetik dari buah-buahan yang paling baik, dan atas beliau dari kami salam dan penghormatan yang paling baik selama bumi dan langit masih ada. Amin amin, karena Dia Yang Mengabulkan doa-doa, Yang Mengabulkan hajat-hajat, dan Yang Mengampuni dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan. Semoga Allah menghibur kesepianku dan kesepian kalian di dalam kubur, dan menghibur ketakutanku dan ketakutan kalian pada hari kebangkitan, dan menempatkan kami dan kalian dengan rahmat-Nya di rumah kegembiraan.
Amin amin.
۞۞۞۞۞
13 – Majelis tentang Keutamaan Puasa
341
Allah Ta’ala berfirma: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. (Surat Al-Baqarah: 183)
Wahai orang yang lalai dari pahala yang banyak, dan orang yang lengah dari Raja Yang Maha Besar, dan orang yang lalai dari pakaian sutera dan sutera halus, yang malas dari hari yang cemberut dan muram, yang tidur dari apa yang dibawa oleh Muhammad sang pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, yang dengan beliau Allah menyelamatkan kita dari neraka jahanam dan panasnya api yang menyala.
Wahai orang yang lalai, wahai orang yang lengah, telah datang kepadamu bulan Ramadan yang mengandung rahmat dan pengampunan, sedangkan engkau bersikukuh pada dosa-dosa dan kemaksiatan, tinggal pada perbuatan dosa dan permusuhan, terus-menerus dalam kebodohan dan kezaliman, berbicara dengan ghibah dan tuduhan, menghadapi murka Yang Maha Pengasih. Telah menguasai hatimu setan, lalu ia melemparkan ke dalamnya kelalaian dan kelupaan, sehingga melupakan kenikmatan keabadian dan surga. Maka engkau terus mengerjakan amalan-amalan ahli neraka. Jika engkau wahai orang miskin seperti itu, maka bagaimana engkau mengharapkan kemenangan dengan keridhaan dan tinggal di rumah keabadian dan keamanan, dan keselamatan dari rumah hukuman dan kehinaan.
Sedangkan makananmu haram, pakaianmu haram, lisanmu tidak berhenti dari kata-kata yang buruk, pandanganmu tajam kepada apa yang diharamkan dari yang haram atasmu oleh Zat Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan, dan tanganmu terulur kepada apa yang dilarang olehmu oleh Raja Yang Maha Mengetahui, dan kakimu berjalan menuju apa yang dosa dan haram, dan engkau dalam semua urusan dan perbuatanmu menyelisihi Al-Quran dan hukum-hukum, meninggalkan sunnah Muhammad alaihishshalatu wassalam.
Maka tubuhmu dari kelaparan letih dari fajar hingga terbenam, dan menimpamu kepayahan dan keletihan, dan puasamu dari Tuhanmu dengan pengusiran terhalangi. Dan aku khawatir engkau akan berada di neraka dengan wajahmu tertelungkup karena menyelisihi Zat Yang Maha Mengetahui yang gaib.
Maka kempiskan celakalah engkau perutmu dari memakan riba dan yang haram, dan tahanlah lisanmu dari menjerumuskan jamaah Islam, dan pejamkan pandanganmu dari apa yang atasmu lebih besar dari dosa-dosa yang paling besar, yaitu melihat kepada apa yang tidak halal bagimu dari yang diharamkan pada manusia, dan patuhlah apa yang diperintahkan kepadamu oleh Hakim Yang Maha Bijaksana, dan berdiri antara tangan-Nya di malam yang gelap ketika orang-orang tertidur, dan merendahlah kepada-Nya ketika malam menghitam dengan kegelapan yang pekat.
Dan ketika itu sahlah bagimu penerimaan untuk bulan Ramadan, dan engkau akan menang dengan kenikmatan yang abadi di rumah kesejahteraan, dan selamat dari kengerian-kengerian dan siksa yang pedih.
Maka hendaklah celakalah engkau pandanganmu dari melihat kepada yang diharamkan dialihkan, dan pendengaranmu dari mendengar yang buruk dari perkataan dijauhkan, dan perutmu dari memakan yang haram dipikul bebannya, dan hatimu dengan pemikiran dalam kebaikan-kebaikan dan hari pembalasan disibukkan, dan ingatan kepada Tuhanmu dan penguasamu dalam lisanmu dijadikan, dan hartamu dalam ketaatan kepada Yang Maha Perkasa lagi Maha Perkasa dikorbankan. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya. (Surat Al-Isra’: 36) Dan telah memberitahumu Tuhanmu bahwa setan adalah pengkhianat bagi manusia. Maka mengapa engkau mengkhianati janji Tuhanmu dan amanat-Nya, dan engkau menjadi bagi dirimu sangat zalim lagi sangat bodoh.
Dan mereka membaca syair:
Katakanlah kepada ahli dosa dan perbuatan dosa, sambutlah dengan taubat bulan puasa.
Sesungguhnya ia dalam bulan-bulan adalah bulan yang mulia, wajib haknya dan keras ikatan.
Dan kurangilah perkataan di dalamnya pada siang hari, dan potonglah malamnya dengan banyak berdiri.
Dan mintalah ampun dari Tuhan yang agung, tidak tersembunyi bagi-Nya perbuatan manusia.
Betapa banyak bagi-Nya di dalamnya dari penghapusan dosa, dan kesalahan-kesalahan dari dosa-dosa yang besar.
Betapa banyak bagi-Nya di dalamnya dari perbuatan baik yang baik, pada seorang hamba yang Ia lihat di bawah kegelapan.
Betapa banyak bagi-Nya di dalamnya dari orang yang dimerdekakan saksi, aman dalam kebangkitan dari kehinaan tempat berdiri.
Jika ia berdoa kepada-Nya dengan merendahkan diri dengan tunduk, dan khusyuk dan air matanya mengalir deras.
Adakah orang yang takut akan siksa dan khawatir, bahwa ia akan memasuki neraka jahanam tempat tinggal orang-orang yang hina.
Adakah orang yang menginginkan kenikmatan dengan bidadari, dalam surga kekekalan di antara kemah-kemah.
Carilah di dalamnya malam lailatul qadar dan tinggalkan, untuk mencarinya tidur yang nikmat.
Dan bersungguh-sungguhlah dalam ibadah kepada Allah dan mintalah, karunia-Nya pada saat kelalaian orang-orang yang tidur.
Sungguh kerugian bagi orang yang merugi di dalamnya, dari mencapai harapan di rumah kesejahteraan.
Sungguh penyesalan bagi orang yang di dalamnya, menutupi kejahatannya dengan pakaian kegelapan.
Wahai Tuhan semua, Engkau dengan keadaanku, Maha Mengetahui maka bimbinglah aku jalan yang lurus.
Dan matikanlah aku atas keyakinan yang baik, dan mengikuti agama Islam.
342 – Keutamaan Ramadhan
Maka demi Allah, demi Allah wahai hamba-hamba Allah, manfaatkanlah bulan taubat ini dan apa yang dijanjikan Allah kepada kalian di dalamnya berupa pahala yang berlimpah, pengampunan dosa-dosa dan pembebasan hamba sahaya.
Ini adalah bulan yang malam-malamnya lebih bercahaya daripada siang-siang hari dan siang harinya tersucikan dari kotoran dosa-dosa. Puasanya adalah puasa yang paling utama dan qiyamnya adalah qiyam yang paling mulia.
Bulan yang dengannya Allah memberikan keutamaan kepada umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan shalawat yang paling utama. Bulan yang dijadikan Allah sebagai pelita tahun, pengatur zaman, dan pilar Islam yang paling mulia yang dimuliakan dengan cahaya shalat, puasa, dan qiyam. Bulan yang di dalamnya Allah menurunkan kitab-Nya dan membuka pintu-pintu-Nya bagi orang-orang yang bertaubat. Maka tidak ada doa di dalamnya melainkan dikabulkan, tidak ada amal melainkan diangkat, tidak ada kebaikan melainkan dikumpulkan, dan tidak ada bahaya melainkan ditolak. Bulan yang di dalamnya kejahatan-kejahatan diampuni, amal-amal kebaikan diperbanyak, taubat diterima, rahmat dari Allah diberikan kepada siapa yang memohonnya, masjid-masjid dimakmurkan dengan dzikir kepada Allah, dan hati-hati orang-orang beriman bergembira dengan taubat.
Dan mereka membaca syair:
Di manakah ahli qiyam yang selalu kepada Allah… Yang mencurahkan usaha untuk meraih ridha Yang Mahaperkasa
Kalian sekarang berada dalam malam-malam yang agung… Yang nilainya melebihi takdir-takdir lainnya
Maka perbanyaklah ibadah di dalamnya… Agar kalian aman hari ini dari azab neraka
Di manakah orang yang menumpuk dosa-dosa karena tertipu… Yang tidak takut terhadap kekuasaan Yang Mahaperkasa
Telah muncul hilal bulan Ramadhan… Bulan kedekatan, taubat, dan peringatan
Maka berdzikirlah kepada Allah di dalamnya dengan dzikir yang banyak… Dan mohonlah perlindungan-Nya dari azab neraka
Dan kembalilah dari dosa-dosa kalian dengan taubat… Yang jujur dan berhentilah dari berbuat terus-menerus
Berapa banyak orang yang berlebih-lebihan dan terus-menerus… Dalam kesalahannya yang memperbanyak dosa-dosa
Kemudian Allah bertaubat kepadanya… Maka ia menunaikan syukurnya dengan jalan kebaikan
Maka beramallah wahai para pelaku kejahatan dan berdoalah… Kepada Tuhan kalian dengan terang-terangan dan secara rahasia
Dan takutlah dari kelalaian putus asa dan obatilah… Penyakitnya dengan kembali kepada Yang Maha Pengampun
Kalian akan mendapati Allah di hari kemudian itu Maha Mulia… Yang menghapus dosa-dosa dan perbuatan terus-menerus
Saudara-saudaraku, ini adalah bulan yang tidak ada bandingannya di antara bulan-bulan lainnya, dan tidak ada umat yang diutamakan dengan bulan ini selain umat ini sepanjang masa. Dosa di dalamnya diampuni, usaha di dalamnya disyukuri, orang beriman di dalamnya bergembira, setan dijauhkan dan dikutuk, dosa dan maksiat di dalamnya dijauhi, hati orang beriman dipenuhi dengan dzikir kepada Allah. Ia telah datang kepada kalian dan sebentar lagi akan berlalu dari kalian sebagai saksi untuk kalian dan terhadap kalian, sebagai pemberi kabar tentang kesengsaraan atau kebahagiaan, kekurangan atau tambahan. Ia adalah utusan yang dimintai pertanggungjawaban dari sisi Tuhan yang tidak berubah dan tidak lenyap, yang mengabarkan tentang orang yang terhalang di antara kalian dan orang yang diterima.
Maka demi Allah, demi Allah, muliakanlah siangnya dengan menyempurnakan puasa dan putuskanlah malamnya dengan tangisan yang panjang dan qiyam. Semoga kalian beruntung mendapatkan negeri keabadian dan kesejahteraan dengan melihat wajah Dzat Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan, bersama dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan mereka membaca syair:
Adakah orang yang mengajak kepada Allah Yang Mengabulkan… Dengan hati yang cacat karena maksiat-maksiatnya
Adakah orang yang menangisi hari-hari yang berlalu… Tanpa amal dan tanpa perkataan yang benar
Adakah orang yang menangisi waktu yang panjang… Yang mengantarkan kepada ajal yang dekat
Maka sesungguhnya kematian memanggil kita dan menginginkan… Jiwa-jiwa yang tidak meratapi dosa-dosa
Ia memanggil untuk berangkat setiap hari… Dan kamu tidak mendengarkan sang pemanggil yang dekat
Seakan-akan keyakinan kita akan kematian adalah keraguan… Dan kita menggantikan kebenaran dengan kebohongan yang meragukan
Dan bulan puasa menyaksikan terhadap kita… Dengan perbuatan-perbuatan buruk dan dosa-dosa
Maka wahai Tuhanku, maafkanlah dan berlemah lembutlah… Dengan karunia-Mu kepada yang bingung dan sedih
Dan puasa ini jangan Engkau jadikan puasa… Yang membawa kita kepada api yang menyala
Salam Allah selama dihembus kepadanya… Penerimaan atau angin utara atau selatan
Wahai hamba-hamba Allah, awal puasa ini telah datang kepada kalian dengan pengampunan dan rahmat, maka janganlah kalian menolaknya dengan kemurkaan dan bencana.
Karena ini adalah bulan yang agung, suci, penuh berkah, dan mulia. Barangsiapa yang menaati Raja Yang Mahaperkasa di dalamnya dan mengikuti Sunnah dan atsar, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa dan kesalahan-kesalahannya yang telah lalu, dan menyelamatkannya dengan rahmat-Nya dari azab neraka, serta memberikan kepadanya dengan kelembutan-Nya negeri rahmat dan tempat tinggal bersama menyertai Nabi Muhammad Sang Pilihan shallallahu ‘alaihi wasallam dan keluarganya yang mulia yang baik-baik. Dan barangsiapa yang mendurhakai Raja Yang Mahaperkasa di dalamnya, menyelisihi Al-Qur’an dan atsar, beramal dengan amal-amal orang-orang jahat, dan tidak mengagungkan bulan yang diagungkan oleh Ilah Yang Maha Menutupi, maka Allah Yang Menakdirkan takdir-takdir akan murka kepadanya dan segala sesuatu yang bergerak di malam dan siang hari akan melaknatnya. Demikianlah yang diriwayatkan dari Sang Jujur yang Dibenarkan Muhammad Sang Pilihan, Allah Raja Yang Mahaperkasa berfirman:
343 – Pembagian Puasa
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (Al-Baqarah: 183)
Puasa terbagi menjadi sebelas macam: puasa fardhu, puasa zhihar, puasa nadzar, puasa karena berhubungan di bulan Ramadhan, puasa kafarat sumpah, puasa fidyah karena gangguan (dalam haji), puasa tamattu’ dan qiran, puasa karena merusak haji, puasa kafarat karena membunuh binatang buruan, puasa sunnah, puasa nadzar, dan hari-hari yang dilarang untuk berpuasa yaitu enam hari: hari Idul Fitri, hari Idul Adha, tiga hari setelah hari tasyriq, dan hari keraguan.
344 – Puasa Secara Bahasa
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa.” (Al-Baqarah: 183)
Puasa ada dua macam: puasa secara bahasa dan puasa secara syariat. Adapun puasa dalam bahasa adalah menahan diri. Setiap orang yang menahan diri dari sesuatu maka ia berpuasa.
Seorang Arab merendahkan suatu kaum maka ia berkata: “Mereka berpuasa dari kebaikan dan berbuka dengan perbuatan keji.”
Allah Ta’ala berfirman mengabarkan dari Maryam ‘alaihassalam: “Maka katakanlah: ‘Sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk Allah Yang Maha Pengasih.'” (Maryam: 26) maksudnya adalah diam.
Dikatakan “shamal nahar” (siang berpuasa) ketika matahari terbit. Dan dikatakan “shamat al-khail” (kuda-kuda berpuasa) yaitu berdirinya mereka tanpa diberi makan dan tanpa bergerak.
Penyair berkata:
Kuda-kuda yang berpuasa dan kuda-kuda yang tidak berpuasa… Di bawah debu dan kuda-kuda yang mengunyah kekang
Maksudnya kuda-kuda yang meringkik dan kuda-kuda yang tidak meringkik.
345 – Puasa Anggota Badan
Demikian juga hakikat puasa kembali kepada makna bahasa, karena tidak ada anggota badan pada manusia melainkan ia wajib berpuasa di bulan Ramadhan dan di luar Ramadhan. Puasa lisan adalah meninggalkan ucapan kecuali dalam dzikir kepada Allah Ta’ala. Puasa pendengaran adalah meninggalkan mendengarkan kebatilan dan apa yang tidak halal untuk didengar. Puasa mata adalah meninggalkan pandangan dan menundukkan pandangan dari yang diharamkan Allah Ta’ala. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang memandang seorang wanita dengan pandangan yang haram, Allah akan memasukkan ke matanya paku-paku dari api pada hari kiamat sampai Allah memutuskan antara makhluk, kemudian ia diperintahkan untuk dimasukkan ke neraka kecuali jika ia bertaubat.” Dan pada setiap pandangan ada pancaran dari pancaran-pancaran neraka Jahannam.
346 – Hukuman Pandangan Pada yang Haram
Disebutkan dari sebagian orang shalih bahwa ia melihat pada wajahnya bercak hitam, lalu ia ditanya tentangnya. Ia berkata: “Suatu hari aku memandang seorang wanita lalu kuikuti pandangan itu dengan pandangan lain. Maka aku melihat dalam mimpi seakan-akan hari kiamat telah terjadi dan makhluk-makhluk telah dikumpulkan di satu dataran. Neraka Jahannam didatangkan dan jembatan shirath dipasang di atasnya. Allah Ta’ala berkata kepadaku: ‘Lewatlah wahai hamba-Ku.’ Maka aku menerobos shirath lalu keluarlah lidah dari api neraka Jahannam yang membakar wajahku dan meninggalkan bercak ini padanya. Maka Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai hamba-Ku, pandangan dengan pandangan. Dan seandainya engkau menambah, pasti Kami akan menambah untukmu.'”
Ini dalam mimpi karena satu pandangan, bagaimana dengan orang yang terus-menerus memandang dan tidak menundukkan pandangan? Puasa kedua tangan adalah menahannya dari apa yang bukan hakmu dan bukan milikmu, dan jangan merentangkannya kecuali dalam apa yang Allah ‘Azza wa Jalla ridhai.
Puasa perut adalah mengosonginya dari memakan riba dan yang haram, dan dari memakan harta anak yatim secara zalim.
Puasa kaki adalah jangan berjalan dengannya kecuali dalam ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Barangsiapa yang berjalan dalam menyebarkan aib atau membuka aurat seorang Muslim, maka langkah pertama yang ia langkahkan akan Allah letakkan di neraka, dan Allah akan membuka auratnya pada hari kiamat di hadapan para saksi, kemudian ia diperintahkan untuk dimasukkan ke neraka.”
Puasa kemaluan adalah menjauhkan diri dari perbuatan keji. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
347 – Hukuman Zina
“Barangsiapa yang berzina dengan seorang wanita Yahudi atau Nasrani atau Majusi atau Muslimah atau siapa pun dari kalangan wanita, maka Allah akan membuka di kuburnya tiga ratus pintu dari neraka Jahannam yang darinya keluar ular-ular dan kalajengking-kalajengking dari api neraka Jahannam dan meteor-meteor dari api yang membakarnya. Ia tersiksa dengan apa yang ia terima dari ular-ular Jahannam dan kalajengking-kalajengkingnya. Ia dibangkitkan pada hari kiamat sementara orang-orang terganggu darinya karena bau kemaluannya, kemudian ia diperintahkan untuk dimasukkan ke neraka, dan ia mengganggu penduduk neraka dengan apa yang mereka alami dari siksaan yang keras.”
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang berzina dengan istri tetangganya yang Muslim, ia tidak akan mencium bau surga padahal baunya tercium dari jarak lima ratus tahun perjalanan.”
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jagalah kehormatanmu niscaya wanita-wanitamu akan terjaga kehormatannya.” Barangsiapa yang rusak dengannya. Dan tidaklah seorang laki-laki berzina dengan seorang wanita melainkan ia akan dicambuk di hadapan Allah Ta’ala pada hari kiamat delapan puluh cambukan dari api dari depannya dan dari belakangnya, kemudian ia berada dalam kehendak Allah ‘Azza wa Jalla.
348 – Bahaya Zina
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Zina membuat pelakunya mendapatkan enam sifat: tiga yang dipercepat yaitu di dunia dan tiga yang ditangguhkan yaitu di akhirat. Adapun yang di dunia, ia menghilangkan cahaya wajah, mendatangkan kemiskinan, dan memendekkan umur. Adapun yang di akhirat, ia mewajibkan kemurkaan Allah, buruknya hisab, dan masuk ke neraka.”
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pada malam Isra’ Mi’raj aku melewati sekelompok orang yang di hadapan mereka ada meja-meja indah dan di atasnya daging panggang seindah-indahnya dari panggang, dan di sekeliling mereka bangkai-bangkai yang paling busuk dari bangkai-bangkai. Mereka memakan dari bangkai-bangkai itu dan meninggalkan panggang tersebut. Maka aku bertanya: ‘Kekasihku Jibril, siapakah mereka ini?’ Ia menjawab: ‘Pezina-pezina dari umatmu wahai Muhammad. Mereka meninggalkan apa yang Allah halalkan bagi mereka dan mengambil apa yang diharamkan atas mereka. Maka hari ini mereka diberi makan dengan apa yang mereka benci dan diharamkan dari apa yang mereka inginkan. Ketahuilah, sesungguhnya tidak ada yang lebih cemburu dari Allah. Dari kecemburuan-Nya, Ia mengharamkan perbuatan keji dan menetapkan hukuman-hukuman.'”
Demikian juga barangsiapa yang melakukan perbuatan kaum Luth, Allah akan mengumpulkannya pada hari kiamat lebih busuk dari bangkai. Penduduk padang mahsyar terganggu darinya, kemudian ia diperintahkan untuk dimasukkan ke neraka. Ketika ia masuk neraka, ia diperintahkan lalu dimasukkan ke dalam peti dari api, lalu dipaku di atasnya dengan paku-paku di atas lembaran-lembaran peti itu sampai terikat pada paku-paku tersebut. Seandainya yang ada pada satu urat dari urat-uratnya dari penderitaan dan kesakitan itu diletakkan pada empat ratus ribu umat, mereka semua akan mati, dan ia adalah yang paling keras siksaannya di antara penduduk neraka.
Barangsiapa yang bertaubat dan kembali dalam hidupnya, maka sesungguhnya Allah akan mengampuninya dan tidak akan menanyakan tentang itu setelah kematiannya.
Inilah puasa anggota-anggota badan dan ia adalah kewajiban atas setiap Muslim selamanya di bulan Ramadhan dan di luar Ramadhan.
Maka demi Allah, demi Allah wahai hamba-hamba Allah, puasakanlah anggota badan kalian dari kemungkaran-kemungkaran dan gunakanlah dalam ketaatan-ketaatan, niscaya kalian akan beruntung dengan kenikmatan abadi di surga-surga dan menikmati memandang kepada Penguasa bumi dan langit.
349 – Puasa Syariat
Puasa syariat adalah menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri dengan niat sejak sebelum fajar dan diperbolehkan berpuasa Ramadan dengan niat di awal bulan.
Inilah batasan puasa dalam bahasa dan syariat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian” (Al-Baqarah: 183). Dalam ayat ini terdapat banyak pendapat dan yang paling benar adalah bahwa maknanya: diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas umat-umat terdahulu yang telah lewat sebelum kalian. Mujahid berkata: mereka adalah Ahli Kitab.
Diriwayatkan dari Said bin Jubair radhiyallahu anhu bahwa dia berkata tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala “sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian” (Al-Baqarah: 183), bahwa telah diwajibkan atas mereka jika salah seorang dari mereka tidur sebelum makan dan tidak memakan sesuatu hingga malam berikutnya, dan diharamkan bagi mereka mendekati istri mereka pada malam itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan keringanan dalam hal itu untuk umat ini.
Dikatakan bahwa isyarat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan firman-Nya “sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian” (Al-Baqarah: 183) adalah kepada umat-umat yang telah silam, dan ayat ini adalah pujian untuk umat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam karena tidak ada satu umat pun dan tidak ada nabi kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan kepadanya dan kepada umatnya puasa bulan Ramadan, maka umat ini beriman kepadanya sedangkan umat-umat lainnya mengingkarinya.
Dikatakan bahwa isyarat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan ini kepada orang-orang Nasrani, dan telah diwajibkan kepada mereka jika salah seorang dari mereka tidur setelah matahari terbenam, maka haram baginya makan dan minum, dan hubungan dengan istri haram bagi mereka, hingga Allah mengutus Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi umat ini dan diwajibkan kepada mereka bulan Ramadan. Maka tetaplah keadaan pada pengharaman makan dan minum setelah tidur, demikian juga pengharaman hubungan dengan istri, hingga empat puluh orang terjatuh dalam masalah itu, di antaranya Umar bin Khattab radhiyallahu anhu, mereka menggauli istri-istri mereka setelah tidur.
350 – Kisah Orang Anshar
Dan datanglah seorang laki-laki dari Anshar yang dikenal sebagai Abu Qais dan namanya Sharmah bin Qais dari Bani Najjar. Dia shalat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam shalat Maghrib dan Isya, kemudian datang ke rumahnya. Maka istrinya berkata: tunggulah sebentar hingga aku memanaskan makanan yang telah kubuat. Maka perempuan itu pergi kemudian kembali kepadanya dan dia telah tertidur karena kelelahannya. Maka perempuan itu berkata kepadanya: celaka, celaka, Allah mengharamkan bagimu makanan dan minuman. Maka dia bermalam dalam keadaan lapar dan di pagi hari dia berpuasa dan bekerja di tanahnya, sehingga menimpanya dari kelelahan hingga dia pingsan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melihatnya terhuyung-huyung di antara dua orang laki-laki, maka beliau berkata kepadanya: mengapa aku melihatmu wahai Abu Qais dalam keadaan lemah? Adapun “thalih” adalah orang yang lemah, dan dalam bahasa lain adalah terhuyung-huyung. Maka dia mengabarkan kepadanya tentang kejadiannya, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam merasa kasihan kepadanya hingga mata beliau berlinang air mata. Kisah orang Anshar terjadi lebih dahulu, dan kisah Umar serta empat puluh orang laki-laki radhiyallahu anhum terjadi kemudian. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan tentang kisah Umar dan dimulai dengannya karena kesalahan dalam hubungan suami istri lebih besar daripada dalam makan.
351 – Kisah Umar bin Khattab dan Lainnya
Maka Allah menurunkan tentang kisah Umar radhiyallahu anhu dan empat puluh orang laki-laki yang terjatuh dalam hubungan suami istri, ayat ini: “Dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kalian” (Al-Baqarah: 187) hingga firman-Nya “dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kalian” (Al-Baqarah: 187). Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang kisah Sharmah bin Qais: “Dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam” (Al-Baqarah: 187). Dan ini adalah rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi umat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.
Dikatakan bahwa orang Anshar diwajibkan kepada mereka puasa bulan Ramadan dalam Injil, maka mereka berpuasa satu bulan. Lalu sakit seorang raja dari raja-raja mereka, maka dia menjanjikan kepada mereka jika dia sembuh akan menambahkan sepuluh hari padanya. Maka dia sembuh, lalu mereka menambahkan sepuluh hari padanya, maka mereka berpuasa empat puluh hari. Kemudian binasalah raja itu dan datanglah raja yang lain, lalu dia makan daging maka mulutnya sakit, maka dia mengeluh. Kemudian dia menjanjikan jika dia sembuh akan menambahkan tujuh hari. Maka dia sembuh, lalu mereka menambahkan padanya. Kemudian dia binasa dan datanglah setelahnya raja yang lain, maka mereka berkata: jadikanlah pada waktu yang tidak panas dan tidak dingin. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menghalangi mereka dari keutamaan bulan yang agung bagi Tuhan Yang Maha Mulia, Maha Bijaksana, dan menjadikan mereka dari penghuni neraka Jahim, dan menjadikan pahala mereka untuk umat Nabi yang penuh kasih sayang, Maha Penyayang.
352 – Orang Arab Badui yang Bersungguh-sungguh
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa datang kepadanya seorang laki-laki dari penduduk Najd dengan rambut kusut, terdengar dengung suaranya tetapi tidak dipahami apa yang dia katakan hingga dia mendekat, ternyata dia bertanya tentang Islam. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Lima shalat dalam sehari semalam.” Maka dia berkata: apakah ada kewajiban atas diriku selain ini? Beliau bersabda: tidak, kecuali jika kamu sunnah. Rasulullah bersabda: “dan puasa bulan Ramadan.” Dia berkata: apakah ada kewajiban atas diriku selainnya? Beliau bersabda: tidak, kecuali jika kamu sunnah. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan kepadanya zakat, maka dia berkata kepadanya: apakah ada kewajiban atas diriku selainnya? Beliau bersabda: tidak, kecuali jika kamu sunnah. Maka orang itu berpaling sambil berkata: demi Allah, aku tidak akan menambah dari ini dan tidak akan menguranginya.
Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Dia beruntung jika dia benar.”
353 – Pahala Puasa
Dan diriwayatkan dari beliau shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu.” Maka bersemangatlah semoga Allah merahmati kalian dalam pahala yang agung ini dan kerajaan yang besar, dan berpuasalah serta mengharapkan pahalanya di sisi Tuhan Yang Maha Penyayang, karena sesungguhnya bulan ini diturunkan padanya Al-Quran dari sisi Raja Yang Maha Pengasih kepada Nabi Muhammad alaihi ash-shalatu was-salam.
Maka bersemangatlah dalam keutamaannya dan bersegeralah untuk melaksanakan haknya wahai orang-orang yang berakal dan berpikir, dan jangan kalian melakukan perbuatan orang yang menyelisihi sunnah dan Kitab, karena kalian tidak mengetahui apakah kalian akan melihat Ramadan lain atau tidak.
354 – Keutamaan Shalawat kepada Nabi
Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Jibril alaihis salam mengabarkan kepadaku, dia berkata: wahai Muhammad, barangsiapa engkau disebutkan di hadapannya lalu dia tidak bershalawat kepadamu kemudian dia meninggal dan Allah tidak mengampuninya lalu dia masuk neraka, maka Allah menjauhkannya.
Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Amin. Kemudian Jibril alaihis salam berkata: Barangsiapa mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya lalu tidak diampuni untuknya dalam hal itu, kemudian dia masuk neraka, maka Allah menjauhkannya. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Amin. Kemudian Jibril berkata: Wahai Muhammad, barangsiapa mendapati bulan Ramadan lalu dia meninggal dan tidak diampuni untuknya kemudian dia masuk neraka, maka Allah menjauhkannya. Aku (Nabi) berkata: Amin.
Maka takutlah kalian kepada Allah dari kematian yang tiba-tiba menimpa kalian dan telah terhalang antara kalian dengan puasa Ramadan lainnya, dan sungguh telah beruntung orang-orang yang beramal dan merugi orang-orang yang berbuat batil.
355 – Puasa Sepanjang Masa
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa berpuasa Ramadan kemudian mengikutinya dengan enam hari dari bulan Syawal, maka seolah-olah dia berpuasa sepanjang masa.” Semoga Allah memberi taufik kepada kita dan kalian untuk amal-amal kebajikan dengan rahmat-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (Al-Baqarah: 183). Allah memanggil mereka dengan nama-Nya dan memberi tanda kepada mereka dengan tanda-Nya dan memuliakan mereka ketika mengenalkan mereka, maka Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa.” Allah memudahkan untuk kalian dengan itu datangnya khitab.
Ketika Allah Jalla Jalaluhu berkehendak untuk menjamin bagi mereka puasa yang berat bagi mereka, Allah memulai dengan nama yang paling khusus bagi orang-orang beriman dan sifat yang paling agung bagi orang-orang yang mengenal dan maqam yang paling tinggi bagi orang-orang yang mencintai, maka Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa.” Kemudian Allah menambahkan penjelasan, maka berfirman: “hari-hari,” kemudian menambahkan penjelasan, maka berfirman: “yang terbatas,” kemudian menambahkan penjelasan, maka berfirman: “satu bulan,” kemudian menjelaskan bulan yang mana, maka berfirman: “bulan Ramadan.” Kemudian menjelaskan, melembutkan, dan memudahkan, maka berfirman: “Dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam yaitu fajar” (Al-Baqarah: 187). Kemudian menjelaskan kesempurnaannya, maka berfirman: “Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.” Seolah-olah Dia Subhanahu berkata: diwajibkan atas kalian puasa hari-hari dalam setahun dan Aku menjanjikan kepada kalian atasnya tempat tinggal di surga. Diwajibkan atas kalian puasa satu bulan dan Aku menjanjikan kepada kalian pahala sepanjang masa.
Allah mewajibkan puasa atas hamba-hamba-Nya dan mewajibkan rahmat atas diri-Nya. Allah mewajibkan puasa hari-hari yang terbatas dan mewajibkan bagi kalian atas diri-Nya pencapaian derajat-derajat. Diwajibkan atas kalian untuk berpuasa satu bulan dan diwajibkan bagi kalian dengan satu kebaikan sepuluh kali lipat.
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa berpuasa Ramadan dalam keadaan diam dan sunyi serta menahan pendengarannya, penglihatannya, lisannya, tangannya, dan anggota tubuhnya dari yang haram, dusta, ghibah, dan menyakiti, maka dia mendekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari Kiamat hingga lututnya menyentuh lutut Ibrahim Khalilullah dan tidak ada antara dia dengan Arsy kecuali satu farsakh atau satu mil.” Atho bin Yasar ragu dalam hadits ini.
Dan diriwayatkan dari beliau shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Seandainya Allah Azza wa Jalla mengizinkan langit dan bumi untuk berbicara, niscaya keduanya bersaksi bagi orang yang berpuasa Ramadan dengan surga.”
Isyarat dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala “hari-hari yang terbatas” (Al-Baqarah: 184) seolah-olah Dia Subhanahu berkata: kewajiban-Ku atas kalian terbatas dan pemberian-Ku untuk kalian tidak terbatas. Ibadah kalian kepada-Ku baik dan nikmat-Ku atas kalian baik. Ketaatan kalian dari waktu ke waktu dan tetap bagi kalian sepanjang masa. Puasa kalian kepada-Ku dari tahun ke tahun dan pembolehan-Ku untuk kalian dari surga adalah tempat tinggal yang paling baik.
Ketahuilah wahai hamba-hamba Allah, bahwa Penguasa kalian Jalla Jalaluhu menghidupkan kalian dengan bulan puasa dan memuliakan kalian dengan agama Islam dan menjadikan kalian dari sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia melalui Muhammad alaihi afdhalush-shalati was-salam.
Maka janganlah kalian mengotori bulan kalian dengan kebohongan dan dusta, dan taatlah kepada Penguasa kalian Yang Maha Mulia, Maha Pengampun, niscaya kalian akan beruntung di surga dengan anak-anak muda dan bidadari.
356 – Taubat di Bulan Ramadan
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Surga memiliki delapan pintu, semuanya dibuka dan ditutup kecuali pintu taubat, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menugaskan kepadanya malaikat-malaikat yang tidak menutupnya selama orang-orang yang berpuasa masih berpuasa.”
357 – Beberapa Hadits tentang Keutamaan Ramadan
Diriwayatkan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Surga memiliki sebuah pintu yang disebut Pintu Rayyan. Dari pintu ini orang-orang yang berpuasa masuk pada hari kiamat. Tidak ada seorang pun selain mereka yang masuk darinya. Dikatakan: Di mana orang-orang yang berpuasa? Lalu mereka berdiri. Apabila mereka telah masuk, pintu itu ditutup dan tidak ada seorang pun yang masuk darinya.”
Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila bulan Ramadan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Seorang penyeru berseru: Wahai pencari kebaikan, datanglah! Wahai pencari keburukan, berhentilah!”
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki seorang malaikat yang kepalanya berada di bawah Arasy Tuhan semesta alam dan kedua kakinya di ujung bumi. Dia memiliki dua sayap, yang satu di Timur dan yang lain di Barat. Salah satunya dari batu yakut merah dan yang lain dari zamrud hijau. Dia berseru setiap malam di bulan Ramadan: Adakah orang yang bertobat sehingga tobatnya diterima? Adakah orang yang memohon ampunan sehingga diampuni? Adakah orang yang meminta hajat sehingga hajatnya dipenuhi? Wahai pencari kebaikan, bergembiralah! Wahai pencari keburukan, berhentilah dan lihatlah!”
Maka di manakah kalian wahai saudara-saudara kami dari kenikmatan yang kekal ini dan pahala yang agung ini dari Allah Yang Maha Pemurah? Kemudian bersungguh-sungguhlah di bulan ini agar kalian berbahagia di sisa waktu. Bersungguh-sungguhlah di hari-hari yang sedikit ini agar kalian memperoleh nikmat yang melimpah dan ketenangan yang abadi dan panjang.
Bersungguh-sungguhlah di bulan Ramadan agar kalian memperoleh surga-surga keridhaan bersama bidadari-bidadari yang cantik.
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan kebaikan dan berkah. Allah menyelimuti kalian dengan rahmat-Nya di dalamnya, mengampuni dosa-dosa di dalamnya, mengabulkan doa di dalamnya, memperhatikan persaingan kalian dan membanggakan kalian di hadapan para malaikat. Maka tunjukkanlah kebaikan kalian di dalamnya, karena sesungguhnya orang yang celaka, sangat celaka adalah orang yang terhalang dari rahmat Allah Ta’ala di dalamnya.” Maka takutlah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah, jauhilah kehilangan dan terus-menerus bermaksiat, jangan ridha dalam agama kalian dengan kekurangan di bulan yang mulia, bulan Ramadan.
358 – Keutamaan Ramadan yang Agung
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Seandainya manusia mengetahui apa yang mereka miliki di bulan Ramadan, niscaya mereka berharap agar setahun penuh adalah Ramadan.” Mereka berkata: Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepada kami. Beliau bersabda: “Sesungguhnya surga berhias dari tahun ke tahun untuk kedatangan bulan Ramadan. Apabila tiba malam pertama Ramadan, berhembuslah angin dari bawah Arasy yang disebut al-Mutsiirah, lalu dedaunan surga dan pintu-pintu bergerak sehingga terdengar dentingan yang tidak pernah didengar pendengar yang lebih indah darinya. Lalu bidadari-bidadari bermata indah berhias, kemudian mereka berdiri di antara puncak-puncak surga dan berseru: Adakah orang yang melamar kami kepada Allah sehingga Dia menikahkan? Kemudian mereka berkata: Wahai Ridwan, malam apakah ini? Maka dia menjawab seruan mereka: Wahai wanita-wanita baik yang cantik, ini adalah malam pertama dari bulan Ramadan, dibukakan pintu-pintu surga bagi orang-orang yang berpuasa dan shalat malam dari umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman: Wahai Ridwan, bukalah pintu-pintu surga bagi orang-orang yang berpuasa dan shalat malam dari umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan jangan tutup hingga bulan mereka ini selesai. Apabila tiba hari kedua, Allah Ta’ala mewahyukan kepada Malik, penjaga neraka: Wahai Malik, tutuplah pintu-pintu api dari orang-orang yang berpuasa dan shalat malam dari umat Muhammad alaihisshalatu wassalam yang paling utama, dan jangan buka hingga bulan mereka ini selesai. Apabila tiba hari ketiga, Allah memerintahkan Jibril alaihissalam: Turunlah ke bumi, lalu belenggulah setan-setan yang jahat dan jin-jin yang durhaka, rantailah mereka dengan belenggu-belenggu, kemudian lemparkan mereka ke dasar lautan agar mereka tidak merusak puasa umat Muhammad kekasih-Ku. Apabila ditutup di bulan kalian pintu-pintu neraka, dibuka pintu-pintu surga, dan dibelenggu setan terkutuk, maka sudah sepatutnya Pelindung kalian tidak menempati kalian di rumah hukuman dan kehinaan, dan memberi kalian dengan kemurahan dan karunia-Nya rumah keabadian dan keridhaan, sebagaimana Dia menganugerahi kalian bulan pemaafan dan pengampunan. Dialah Yang Maha Pemurah, Maha Pemberi Karunia, Maha Pemberi.
359 – Puasa dan Al-Quran adalah Pemberi Syafaat
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Puasa dan Al-Quran memberi syafaat kepada hamba pada hari kiamat. Puasa berkata: Wahai Tuhanku, hambamu, aku mencegahnya dari makanan, minuman, dan syahwat di siang hari, maka berilah aku syafaat untuknya. Al-Quran berkata: Wahai Tuhanku, hambamu, aku mencegahnya dari tidur di malam hari, dia membacaku dan mengharamkan tidur karena aku, maka berilah aku syafaat untuknya. Lalu keduanya diberi syafaat.” Wahai saudaraku, jika bulan Ramadan di hari kiamat menjadi pemberi syafaat, maka jadilah bagi Pelindungmu di dalamnya hamba yang mendengar dan taat, dan hendaklah hatimu jauh dari maksiat kepada-Nya.
360 – Puasa adalah Pintu Ibadah
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Segala sesuatu memiliki pintu, dan pintu ibadah adalah puasa.” Jika puasa adalah pintu ibadah kepada Yang Maha Pengasih, maka sudah sepatutnya ia menjadi penghalang antara kalian dan neraka.
Di mana orang yang menunjukkan jalan kebahagiaan, semoga aku sampai setelah kekurangan kepada penambahan, dan aku mewajibkan diriku untuk bersungguh-sungguh dalam ibadah.
Dan mereka membaca syair:
Bukankah kebaikan bagi yang meratap Aku terbang kepadanya dengan sayap terbentang
Lalu aku memintanya dan berlemah lembut kepadanya, semoga Dia akan menyembuhkan apa yang ada di hatiku dari luka
Dan menerangi apa yang gelap dari malam kebodohanku Dengan cahaya petunjuk seperti terbitnya fajar
Aku akan mencurahkan sepenuhnya perhatianku dari apa Yang dilarang Allah dari perkara main-main
Kepada bulan kekhusyukan dengan ketundukan Kepada bulan kesucian dengan kebaikan
Orang-orang yang berpuasa diberi balasan jika mereka istiqamah Dengan negeri keabadian dan bidadari-bidadari cantik
Dan dengan pengampunan dari Tuhan yang agung Dan dengan kerajaan yang besar tanpa berpindah
Maka wahai kekasih-kekasih kami, bersungguh-sungguhlah Untuk bulan ini sebelum berlalu
Semoga Yang Maha Pengasih menghapus dosa-dosaku Dan mengampuni kesalahanku sebelum aib
361 – Keutamaan Sahur
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Bersahurlah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersahur, dan para malaikat bershalawat kepada orang-orang yang bersahur dan memohonkan ampun bagi mereka.”
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Umatku akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur.”
Disebutkan dalam sebagian berita bahwa hamba mukmin apabila bangun di bulan Ramadan untuk sahur lalu berwudhu dan shalat dua rakaat, Allah Ta’ala menjadikan di belakangnya tujuh shaf malaikat. Apabila dia selesai dan berdoa, mereka mengaminkan doanya, dan Allah Ta’ala menuliskan baginya kebaikan sebanyak jumlah mereka, mengangkat baginya derajat di surga sebanyak jumlah mereka, dan menghapus darinya kejelekan sebanyak jumlah mereka. Kemudian mereka tidak berhenti berdoa dan memohonkan ampun baginya hingga hari kiamat.
Maka takutlah kepada Allah, manfaatkanlah di bulan yang mulia ini pahala yang agung ini, dan jangan kalian memotong siangnya dengan ghibah dan perkataan buruk, lengah di malamnya dari shalat malam yang panjang, dan berbuka di dalamnya dengan harta haram.
Jangan berpuasa dengan satu anggota tubuh saja dan mengabaikan seluruh anggota tubuh kalian yang lain dalam kemaksiatan dan dosa. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Membalas.
Dan mereka membaca syair:
Apakah kau bermaksiat setelah ubanmu beruban karena kebodohan Sebagaimana kau bermaksiat saat masih muda
Aku melihatmu karena kelalaian tidak peduli Dan tidak menjaga shalat maupun puasa
Kau bergembira dengan berbuka dan tidak peduli Halalkah penghasilanmu atau haram
Wahai hamba-hamba Allah, manfaatkanlah berkah bulan yang agung ini yang dikhususkan dengan keutamaan dan kemuliaan, yang Allah sampaikan kita kepadanya dalam kesehatan tubuh dan selamat dari berbagai penyakit. Wajib bagi siapa yang mengenal nilai nikmat ini yang diberikan dan keutamaan hari-hari ini yang dicapainya, agar menjaganya dari kesalahan dan kerancuan, menahan gangguannya dari seluruh manusia, berhati-hati dari perkataan sia-sia, dan tidak membatalkan keutamaan puasa di sisi Raja Yang Maha Mengetahui.
362 – Beratnya Hukuman di Bulan Ramadan
Dalam hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa mencuri di bulan Ramadan, atau berzina, atau merampas, atau melanggar yang haram, atau minum khamar, atau melampaui batas dengan kezaliman, Allah tidak menerima darinya kebaikan maupun tebusan, dan melaknatnya Dia dan para malaikat-Nya hingga Ramadan tahun berikutnya.
Maka setiap orang yang menyakiti di bulan Ramadan dan berbuat zalim akan menerima balasan atas apa yang dia lakukan dan menyesal di saat penyesalan tidak bermanfaat.
Berapa banyak orang yang berpuasa dari makanan tetapi berbuka dengan perkataan, rajin shalat malam tetapi menyakiti manusia. Dia berdosa karena lisannya dan perbuatannya, dan tidak diberi pahala atas puasa dan shalat malamnya.
Di mana orang yang menyimpang dari petunjuk dan menunjukkan jalan kesesatan? Bahkan di mana orang yang dosa-dosa menutupi hatinya, tidak segera bertobat dari dosanya, dan tidak takut dari azab Tuhannya? Celakalah engkau wahai orang malang, manfaatkanlah bulan Ramadan yang mengandung rahmat dan pengampunan. Perhatikanlah dirimu wahai orang malang sebelum pisau sampai ke tenggorokanmu. Bangkitlah dari tidurmu wahai orang yang tertipu, karena sesungguhnya Tuhanmu Maha Pemurah lagi Maha Pengampun.
Sampai kapan kau memeluk dosamu, dan untuk hari apa kau menunda tobatmu? Hingga tahun yang berubah atau tahun yang akan datang? Tidak, demi Allah, takdir bukan milikmu dan yang menakdirkan bukan di tanganmu. Mungkin jika bulan puasa berlalu darimu, tidak tersisa dari umurmu kecuali satu hari saja. Wahai ini, jika kau berpuasa, maka hendaklah seluruh anggota tubuhmu berpuasa: perutmu dari yang haram, lidahmu dari perkataan buruk, penglihatanmu, tanganmu, dan pendengaranmu dari kejahatan dan melakukan dosa.
363 – Menahan Anggota Tubuh dari Keburukan
Wahai hamba-hamba Allah, sepatutnya bagi siapa yang berpuasa di pagi hari untuk berkata kepada lidahnya: Sesungguhnya kau hari ini berpuasa dari dusta, adu domba, perkataan dusta dan batil, dan ghibah. Kepada kedua matanya: Sesungguhnya kalian berdua hari ini berpuasa dari memandang apa yang tidak halal bagi kalian. Kepada kedua telinga: Sesungguhnya kalian berdua hari ini berpuasa dari mendengarkan apa yang dibenci Tuhan kalian. Kepada kedua tangan: Sesungguhnya kalian berdua hari ini berpuasa dari berbuat dalam apa yang diharamkan atas kalian dari kecurangan dalam jual beli, mengambil dan memberi. Kepada perut: Sesungguhnya kau hari ini berpuasa dari makanan, maka lihatlah dengan apa kau berbuka, dan jauhilah makanan buruk yang kau dipanggil kepadanya, karena sesungguhnya Allah baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Kepada kedua kaki: Sesungguhnya kalian berdua hari ini berpuasa dari berjalan ke apa yang ditulis dosa atas kalian dan akan tetap di hadapan kalian akibat dan dosanya.
Barangsiapa berdiri untuk ini dan bersabar atasnya, maka sungguh dia telah memenuhi janji nabinya shallallahu ‘alaihi wasallam.
Pembicaraan anak Adam kepada anggota tubuhnya dengan apa yang telah dijelaskan sebelumnya wajib bagi hamba untuk menggunakannya di hari-hari puasanya dan selainnya selama dia masih hidup, begitu juga setiap pagi atau petang tiba. Semoga Allah memberi taufik kepada kami dan kalian untuk menggunakan itu dan yang serupa dengannya dengan tobat yang jujur, ikhlas, dan segera dengan kemurahan-Nya.
Maka takutlah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah, taatilah di bulan yang mulia ini dan di bulan-bulan lainnya perintah-perintah Allah Ta’ala, dan tinggalkanlah larangan-larangan-Nya.
364 – Asal Kata Ramadan dalam Bahasa
Allah Ta’ala berfirman: “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185) Maka apa yang Dia jadikan petunjuk tidak akan menjadi kesesatan, dan apa yang Dia jadikan penjelasan tidak akan menjadi kebodohan, dan apa yang digandakan pahalanya di dalamnya tidak akan kalian jadikan sia-sia.
Bulan Ramadan, dikatakan dinamai bulan Ramadan karena panasnya yang sangat di dalamnya. Dikatakan pula diambil dari panasnya batu karena apa yang menimpa hati dari panasnya nasihat, pemikiran, dan pelajaran tentang perkara akhirat.
Al-Khalil berkata: Ar-Ramdha’ adalah batu-batu yang panas. Seseorang ramadh jika dia berjalan di atas ar-ramdha’. Dinamai Ramadan karena ia membakar dosa-dosa, yaitu menghanguskannya. Dikatakan pula dinamai demikian karena ia adalah bulan yang membasuh tubuh dengan basuhan dan membersihkan hati dengan bersih.
Ia diambil dari ar-ramdh yaitu hujan yang datang sebelum musim gugur.
Dikatakan pula ramdh dan rafdh memiliki arti yang sama dan merupakan dari huruf-huruf yang bergantian. Ia memisahkan suatu kaum ke tempat kedekatan dan kemuliaan, dan memisahkan yang lain ke tempat kejauhan dan kemurkaan.
Dikatakan pula dinamai syahr (bulan) karena kemasyhurannya.
Ia adalah bulan keyakinan, bulan Al-Quran, bulan ihsan, bulan keridhaan, bulan pengampunan, bulan menolong orang yang meminta tolong, bulan kemurahan kepada tamu, bulan dibukanya pintu-pintu surga, dibelenggu setiap setan di dalamnya, dan ia adalah bulan keamanan dan jaminan.
Bulan yang diringankan di dalamnya beban budak sahaya.
Bersinar di dalamnya pelita-pelita, turun di dalamnya rahmat bersama Jibril, dibaca di dalamnya Al-Quran, dan diberi keringanan di dalamnya bagi musafir dan orang sakit. Bulan Ramadan bagi hamba-hamba seperti tanah haram di Makkah ibu kota. Tanah haram dilarang darinya Dajjal yang terkutuk, dan Ramadan dibelenggu di dalamnya setan-setan yang jahat.
Bulan Ramadan di dunia seperti surga di akhirat: pohon bidara tanpa duri, pohon talh tersusun, naungan yang terbentang, dan tempat tinggal abadi yang bersambung tidak akan musnah. Di Ramadan ada usaha yang maksimal, mencari keridhaan Yang disembah, menjaga batasan-batasan, dan menampakkan kemurahan dan kedermawanan.
Telah tiba bulan puasa wahai orang malang, dan kita semua orang malang, sedangkan kau berkutat pada apa yang memurkai Yang Maha Perkasa, bersikeras pada dosa-dosa dan kejahatan, beramal dengan amalan penghuni neraka, menyerupai para ahli ibadah dan orang-orang baik, sedangkan kau dalam kelompok orang-orang fasik dan pendosa. Sungguh telah melihat rahasia dan batinmu Yang Mengetahui segala yang tersembunyi dan rahasia.
Bulan puasa adalah saksi atasmu, para malaikat melaknatimu, dan Allah tidak memandangmu. Dialah Maha Agung keagungan-Nya dengan berpaling kau dari ketaatan, berpaling darimu, murka kepadamu. Maka jangan jadikan wahai orang yang berpuasa bulanmu ini seperti bulan-bulan yang lain.
Demi Allah, Yang Maha Suci memandang dari hamba-Nya, jika Dia tidak melihat pengaruh bulan Ramadan dari penguasaannya atas anggota tubuhnya, Dia Maha Agung keagungan-Nya berfirman: Ini hamba-Ku tidak mengenal keutamaan bulan-Ku ini, dan Aku sekarang tidak mengetahui baginya keutamaan di sisi-Ku.
365 – Nasihat Yang Mendalam
Bangunlah wahai orang yang lalai dan berbuat yang mustahil, dan terjagalah wahai orang yang lupa dan lengah, dan sadarlah dari kemabukan yang panjang.
Apakah engkau rela wahai orang malang bahwa puasamu ditolak di hadapanmu tanpa diterima oleh Allah? Apakah engkau menganggap baik bahwa engkau lapar dan haus tetapi tidak memiliki kedudukan di sisi Allah? Di mana niat yang murni? Di mana taubat yang diperbarui? Di mana penyesalan yang pasti? Di mana makanan yang halal? Di mana menjauhi makanan yang haram? Di mana menahan diri dari dosa dan kesalahan? Di mana kasih sayang kepada orang-orang fakir, lemah, dan anak yatim? Di mana keikhlasan kepada Raja Yang Maha Mengetahui? Di mana komitmen terhadap syariat Islam? Di mana keteladanan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam? Lihatlah wahai orang malang, jika engkau memotong siangmu dengan haus dan lapar, dan menghidupkan malammu dengan sujud dan rukuk yang panjang, sesungguhnya menurut dugaanmu engkau berpuasa dan engkau dalam kebodohanmu yakin, dan dalam shalatmu terus-menerus, dan dalam lautan kemabukanmu tenggelam.
Di mana engkau dari sikap tawadhu dan khusyuk? Di mana engkau dari kehinaan dan ketundukan kepada Tuhanmu? Apakah engkau mengira bahwa engkau di sisi Allah termasuk orang-orang yang berpuasa dan yang aman yang menang di bulan Ramadhan? Tidak, demi Allah, sehingga engkau memurnikan niat dan memurnikannya, dan membersihkan maksud dan memperbaiknya, dan menjauhi perbuatan-perbuatan hina dan tidak mengulanginya, dan memperbanyak tangisan dan penyesalan, dan mengalirkan air mata dan kecaman, dan melazimkan pikiran dan pelajaran, dan meminta kepada Tuhanmu pengampunan atas kesalahan. Maka saat itulah puasamu menjadi penyembuh dosa-dosamu, dan penutup aib-aibmu dan pakaianmu.
Di mana orang-orang yang berpuasa? Di mana orang-orang yang shalat malam? Di mana orang-orang yang taat? Di mana orang-orang yang beramal? Di mana orang-orang yang terdahulu? Di mana orang-orang yang khusyuk? Di mana orang-orang yang berdzikir? Di mana orang-orang yang taat? Di mana orang-orang yang benar? Di mana orang-orang yang sabar? Di mana orang-orang yang bersedekah? Di mana orang-orang yang menyuruh kepada kebaikan? Di mana orang-orang yang menolong yang susah? Di mana orang-orang yang ringan dari kemungkaran? Di mana orang-orang yang merasakan pikiran? Di mana orang-orang yang mendengar pelajaran? Mereka telah pergi demi Allah bersama orang-orang saleh, dan kembali bersama orang-orang mukmin, dan turun bersama para nabi, dan tinggal bersama para shiddiqin. Dan kita tinggal demi Allah bersama orang-orang jahil, dan tinggal bersama orang-orang fasik, dan mengikuti orang-orang yang lalai, dan bersepakat untuk bermaksiat kepada Tuhan semesta alam.
Maka puasamu wahai orang malang tertolak di hadapanmu, dan engkau dari petunjukmu hilang tidak ada, dan dari kebaikan dan keberhasilanmu tidak ada, dan engkau dari pintu Tuhanmu dijauhkan dan diusir. Dan amal-amalmu terhubung dengan kefasikan, dan anggota badanmu untuk kemaksiatan dicurahkan, dan ucapan-ucapanmu dalam ghibah dibuat, dan tekadmu untuk ketaatan terlepas, dan ibadahmu di bulan ini tidak diterima, dan kewajiban-kewajiban Tuhanmu dengan kemaksiatan diabaikan.
Dan mereka membacakan syair:
Puasa adalah pelindung sekelompok orang dari api neraka, dan puasa adalah benteng bagi orang yang takut dari api neraka
Dan puasa adalah penutup bagi semua ahli kebaikan, orang-orang yang takut dari dosa dan aib
Dan bulan ini adalah bulan Allah Tuhan Arsy, dengan-Nya Tuhan Yang Maha Penyayang bagi beratnya dosa, Maha Penutup
Maka berpuasalah di dalamnya orang-orang yang mendapat keuntungan dengan itu, pahala mereka dari Yang Maha Agung, Maha Pengampun
Maka mereka berada di surga-surga Khuldi telah turun, di antara bidadari dan pepohonan dan sungai-sungai
Maka beruntunglah orang yang menaati Raja Yang Maha Pengasih di bulan rahmat bulan Ramadhan. Sungguh dia telah beruntung dengan bidadari dan anak-anak muda di negeri keselamatan dan keridhaan.
Mereka bersabar di hari-hari yang sedikit maka mengikuti mereka kenyamanan yang panjang dan nikmat yang banyak. Apa yang engkau biasakan dari kebaikan dan apa yang engkau kerjakan di bulan ini akan dibalas sampai akhir umur, karena kebaikan adalah kebiasaan dan kejahatan adalah kekerasan kepala.
Di mana engkau wahai orang yang berpuasa wahai orang yang shalat malam? Terimalah kebaikan maka engkau akan beruntung dengan kegembiraan yang kekal.
Berdaganglah dengan Tuhanmu maka engkau akan untung, dan beramal untuk-Nya maka engkau akan berhasil, dan meminta maaf kepada-Nya maka Dia akan menerima maafmu, dan meminta ampun kepada-Nya maka Dia akan mengampuni dosamu, dan berharaplah kepada-Nya maka Dia akan menghilangkan kesusahanmu, dan mintalah dari karunia-Nya maka Dia akan melapangkan rezekimu, dan bertaubatlah kepada-Nya maka Dia akan mengagungkan bagianmu. Wahai saudaraku, ini adalah bulan yang menutupi aib-aib dan cacat-cacat, dan melunak di dalamnya jiwa-jiwa dan hati-hati, dan diampuni di dalamnya dosa-dosa dan kesalahan, dan Allah menghilangkan dari orang yang sedih yang susah. Tuhan Yang Maha Agung berkata kepada malaikat-malaikat-Nya: Wahai malaikat-malaikat-Ku, lihatlah lidah-lidah yang kering bagaimana basah dengan dzikir-Ku, lihatlah mata-mata yang keras bagaimana menangis karena takut kepada-Ku, lihatlah kaki-kaki yang dimanjakan berdiri di mihrab mengharap wajah-Ku. Wahai saudaraku, kapan engkau memberi makan di bulan ini karena Allah Tuhan bumi dan langit, engkau dinaikkan ke derajat-derajat yang tinggi di tempat surga-surga, dan engkau memperoleh bersama Tuhanmu berpakaian dari kebaikan-kebaikan, telanjang dari kejahatan-kejahatan.
366 – Pembagian Puasa Dan Orang-Orang Yang Berpuasa
Dan puasa ada tiga: puasa ruh yaitu memendekkan angan-angan, dan puasa akal yaitu menyelisihi hawa nafsu, dan puasa anggota badan yaitu menahan diri dari makanan dan minuman dan hubungan suami istri.
Wahai saudaraku, barangsiapa berpuasa dari makanan dan minuman maka puasanya adalah kebiasaan. Dan barangsiapa berpuasa dari riba dan haram dan berbuka dengan yang halal dari makanan maka puasanya adalah persediaan dan ibadah. Dan barangsiapa berpuasa dari dosa dan kemaksiatan dan berbuka dengan ketaatan kepada Yang Maha Pengasih maka dia adalah orang yang berpuasa yang diridhai. Dan barangsiapa berpuasa dari keburukan dan berbuka dengan taubat kepada Yang Maha Mengetahui segala yang gaib maka dia adalah orang yang berpuasa yang bertakwa. Dan barangsiapa berpuasa dari ghibah dan tuduhan dan berbuka dengan membaca Al-Quran maka dia adalah orang yang berpuasa yang bijaksana. Dan barangsiapa berpuasa dari kemungkaran dan kecemburuan dan berbuka dengan pikiran dan pelajaran maka dia adalah orang yang berpuasa yang bahagia. Dan barangsiapa berpuasa dari riya dan meremehkan dan berbuka dengan tawadhu dan ikhlas maka dia adalah orang yang berpuasa yang selamat. Dan barangsiapa berpuasa atas menyelisihi nafsu dan hawa dan berbuka dengan syukur dan ridha maka dia adalah orang yang berpuasa yang beruntung. Dan barangsiapa berpuasa dari perbuatan-perbuatan buruknya dan berbuka dengan memendekkan angan-angannya maka dia adalah orang yang berpuasa yang menyaksikan. Dan barangsiapa berpuasa dari panjang amangannya dan berbuka dengan mendekatkan ajalnya maka dia adalah orang yang berpuasa yang zuhud.
Allah Taala berfirman: “Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan maka (berpuasalah) sejumlah hari yang lain” (Al-Baqarah: 184). Wahai saudaraku, ini adalah rahmat Tuhanmu, Dia rela mengurangi dari hak-Nya agar tidak berkurang dari dirimu, dan ini adalah puncak kelembutan dari Tuhanmu.
Dia memberi keringanan kepadamu untuk berbuka di hari-hari yang panjang dengan uzur, dan memberi keringanan kepadamu untuk berbuka secara berturut-turut dan mengqadha jika engkau mau secara terpisah agar mudah bagimu, dan engkau berpuasa di hari-hari yang pendek sebagai ganti hari-hari yang panjang, dan ini adalah kelembutan.
367 – Perumpamaan Bulan-Bulan Seperti Saudara-Saudara Yusuf
Terimalah bulan-bulan yang dua belas seperti anak-anak Yakub alaihissalam.
Dan bulan Ramadhan di antara bulan-bulan seperti Yusuf di antara saudara-saudaranya. Maka sebagaimana Yusuf adalah anak yang paling dicintai oleh Yakub, demikian juga Ramadhan adalah bulan yang paling dicintai oleh Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.
368 – Isyarat-Isyarat Dalam Hal Itu
Isyarat yang baik bagi umat Muhammad shallallahu alaihi wasallam: Jika pada Yusuf ada kesabaran dan pemaafan yang menutupi penganiayaan mereka ketika dia berkata: “Tidak ada celaan atas kalian pada hari ini” (Yusuf: 92), maka demikian juga bulan Ramadhan, di dalamnya ada kelembutan dan keberkahan dan nikmat dan kebaikan-kebaikan dan pembebasan dari neraka dan ampunan dari Raja Yang Maha Perkasa, yang mengalahkan semua bulan dan apa yang kita kerjakan di dalamnya dari dosa-dosa dan beban.
Isyarat yang baik, isyaratnya adalah bahwa saudara-saudara Yusuf datang mengandalkannya dalam menutupi kekurangan dan menghilangkan penyakit setelah mereka adalah pemilik kesalahan dan kekeliruan.
Maka dia menyambut mereka dengan baik dan memperbaiki keadaan mereka dan mencapai puncak harapan mereka, dan memberi mereka makan ketika lapar dan mengizinkan mereka untuk kembali, dan berkata kepada pelayan-pelayannya: Letakkan barang dagangan mereka di dalam pelana mereka agar mereka mengenalinya. Maka yang satu menutupi kekurangan sebelas.
Demikian juga bulan Ramadhan adalah satu dan bulan-bulan adalah sebelas, dan dalam amal-amal kita ada kekurangan dan kekurangan apa, dan kekelalaian dan kekelalaian apa, dan kelalaian dalam ketaatan kepada Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Dan kita berharap untuk memperoleh kembali di bulan Ramadhan apa yang kita lalai di dalamnya di seluruh bulan-bulan, dan memperbaiki di dalamnya urusan yang rusak, dan Dia menutupnya untuk kita dengan kegembiraan dan kesenangan, dan kita berpegang teguh di dalamnya dengan tali Raja Yang Maha Pengampun.
Insya Allah Taala dengan kemurahan dan kebaikan-Nya dan pemaafan dan ampunan-Nya, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat, dan Dia sebaik-baik penolong dan sebaik-baik pembela.
369 – Anak-Anak Yakub Dan Ramadhan
Dan isyarat lain: Yakub memiliki sebelas anak laki-laki yang hadir di hadapannya, dia melihat mereka dan melihat mereka, dan mengetahui keadaan mereka dan apa yang tampak dari perbuatan mereka. Dan penglihatannya tidak kembali dengan sesuatu dari pakaian mereka, dan kembali dengan baju Yusuf menjadi melihat, dan penglihatannya menjadi terang, dan dia menjadi kuat setelah lemah, melihat setelah buta. Demikian juga orang yang berdosa yang bermaksiat jika mencium aroma Ramadhan dan duduk di dalamnya bersama orang-orang yang berdzikir, dan membaca Al-Quran, dan menyertai mereka dengan syarat Islam dan iman, dan meninggalkan ghibah dan ucapan tuduhan, dia akan menjadi insya Allah diampuni setelah dia adalah orang yang bermaksiat, dan dekat setelah dia jauh, dia melihat dengan hatinya setelah buta, dan bahagia dengan kedekatannya setelah celaka, dan dihadapkan dengan rahmat setelah kemurkaan, dan diberi rezeki tanpa beban dan tanpa lelah, dan diberi taufik sepanjang hidupnya, dan dipermudah dengan dicabutnya nyawanya ketika wafat, dan diutamakan dengan ampunan ketika bertemu, dan beruntung di surga dengan derajat-derajat pertemuan.
Maka demi Allah demi Allah, manfaatkanlah keutamaan ini di hari-hari yang sedikit ini, akan mengikuti kalian nikmat yang banyak dan derajat yang mulia dan kenyamanan yang panjang, insya Allah.
Ini demi Allah adalah kenyamanan yang melimpah dan kedudukan yang beredar dan keadaan yang diridhai dan surga yang rahasia dan nikmat yang menyenangkan dan kehidupan yang diridhai, tidak diperoleh kecuali dengan memuliakan bulan ini yang diagungkan oleh Yang Maha Perkasa dan diutamakan dengannya Muhammad yang Terpilih. Dan barangsiapa tidak memuliakan maka nasibnya adalah ke neraka.
370 – Ramadhan Di Hari Kiamat
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda di Mina: “Jika hari kiamat, sementara aku berdiri di Mizan, maka didatangkan seorang pemuda dari umatku dan para malaikat memukul dia depan dan belakang, lalu dia berpegang kepadaku dan berkata: Wahai Muhammad, tolong tolong dengan engkau! Maka aku berkata: Wahai malaikat-malaikat Tuhanku, apa dosanya? Maka mereka berkata: Dia mendapati bulan Ramadhan lalu dia bermaksiat kepada Allah di dalamnya dan tidak bertaubat, maka Allah mengambilnya secara tiba-tiba. Maka aku berkata: Apakah engkau membaca Al-Quran? Maka dia berkata: Aku mempelajarinya dan melupakannya. Maka aku berkata: Buruk pemuda engkau. Maka tidak dia meninggalkanku dan tidak para malaikat meninggalkan dia. Kemudian aku memberi syafaat untuknya kepada Allah Taala, maka aku berkata: Tuhanku, pemuda dari umatku. Maka Allah Taala berkata: Sesungguhnya dia memiliki penuntut yang kuat wahai Ahmad. Maka aku berkata: Dan siapa penuntutnya wahai Tuhan sehingga aku merelakan dia? Maka Allah Taala berkata: Penuntutnya adalah bulan Ramadhan. Maka aku berkata: Aku berlepas diri dari orang yang penuntutnya adalah bulan Ramadhan. Dan siapa yang memberi syafaat bagi orang yang tidak mengenal kehormatan Ramadhan? Maka Allah Taala berkata: Dan Aku berlepas diri dari orang yang engkau berlepas diri darinya. Maka dia dibawa ke neraka.” Maka demi Allah demi Allah wahai hamba-hamba Allah, jangan meremehkan bulan yang Allah agungkan kehormatannya dan wajibkan haknya, dan sungguh Dia telah mengutamakan kalian dengannya atas seluruh umat-umat, dan itu adalah hadiah dari Allah Taala kepada kalian dan kemuliaan yang Dia karuniakan kepada kalian agar mengampuni untuk kalian dosa-dosa kalian dan menutupi dari neraka aib-aib kalian, dan meliputi kalian dari-Nya rahmat, dan mengangkat dari kalian di dalamnya siksaan, dan mengutamakan kalian dengan nikmat yang banyak, dan melapangkan dada kalian dengan cahaya hikmah.
371 – Kerugian Orang Yang Bermaksiat Di Ramadhan
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Aku mendengar Jibril berkata: Aku mendengar Allah Azza wa Jalla berkata: Didatangkan seorang pemuda di hari kiamat menangis sedih dan para malaikat menggiring dia dengan pemukul dari besi dan dari api, dan dia berkata: Keamanan keamanan seribu tahun dan tidak ada keamanan baginya. Kemudian dia digiring lalu dihentikan di hadapan Allah Taala, maka Allah memerintahkan malaikat-malaikat azab agar menyeret dia dengan wajahnya ke neraka. Aku berkata: Wahai Jibril, siapa dia? Dia berkata: Seorang pemuda dari umatmu. Aku berkata: Dan apa dosanya? Dia berkata: Dia mendapati bulan Ramadhan lalu dia bermaksiat kepada Allah di dalamnya dan tidak meminta ampun kepada Allah dan tidak bertaubat kepada-Nya agar Allah mengampuni, maka Allah mengambilnya secara tiba-tiba.” Maka demi Allah demi Allah wahai hamba-hamba Allah, dengarkan dengan telinga kalian dan renungkan dengan hati kalian, mudah-mudahan Allah mencapai keinginan kalian dan mengampuni yang besar dari dosa-dosa kalian. Ini adalah bulan yang mulia dan pahalanya mulia, dan orang yang memuliakan dia di sisi Allah mulia, Allah memuliakan dia dengan surga-surga kenikmatan, dan orang yang meremehkan haknya di sisi Allah hina, tempat tinggalnya di dasar neraka Jahim bersama setan yang terkutuk.
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Didatangkan di hari kiamat bulan Ramadhan dan manusia di padang mahsyar, maka mereka berkata: Siapa ini, nabi atau rasul atau malaikat? Kita tidak pernah melihat seperti ini dan tidak seperti keindahan dan kebaikannya. Maka dia berdiri di hadapan Yang Maha Perkasa, maka Dia berkata: Barangsiapa yang memiliki hak kepadaku maka hendaklah berdiri. Maka mereka berkata: Siapa engkau? Maka dia berkata: Aku adalah Ramadhan.” Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Maka umatku berdiri kepadanya dan di tangannya ada tongkat-tongkat dari cahaya yang menerangi antara timur dan barat. Maka di antara mereka ada yang diberi tongkat yang menerangi untuknya perjalanan sebulan, dan yang lain menerangi untuknya perjalanan seminggu, dan yang lain perjalanan sehari, dan yang lain perjalanan sejam, dan yang lain tempat kedua kakinya. Maka barangsiapa mau hendaklah memuliakan, dan barangsiapa tidak memuliakan maka akan merasakan azab yang menimpa dia ketika cahaya-cahaya dari penyesalan dan kedukaan.” Maka wahai kelompok ahli Ramadhan, muliakanlah bulan maka kalian akan bersenang-senang di dalamnya selamanya, dan muliakanlah bahaya yang ringan maka kalian akan melewati dengan Raja Yang Maha Besar, dan muliakanlah hari-hari yang sedikit maka kalian akan menjadi kepada kemuliaan dan keutamaan-keutamaan, dan muliakanlah yang ringan dari hari-hari maka kalian akan melihat wajah Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan.
372 – Nasihat Dari Hasan Al-Bashri
Diriwayatkan bahwa Hasan al-Bashri melewati sekelompok orang yang tertawa, maka dia berhenti pada mereka dan berkata: Sesungguhnya Allah Taala telah menjadikan bulan Ramadhan sebagai arena bagi makhluk-Nya, mereka berlomba di dalamnya dengan ketaatan kepada-Nya. Maka mendahului sekelompok orang lalu mereka menang, dan tertinggal sekelompok orang lalu mereka rugi. Maka mengherankan orang yang tertawa dan bermain-main di hari yang menang di dalamnya orang-orang yang bergegas dan rugi di dalamnya orang-orang yang batil. Padahal demi Allah, jika dibuka penghalang, sungguh orang yang berbuat baik akan sibuk dengan kebaikannya dan orang yang berbuat jahat dengan kejahatannya.
Maka demi Allah demi Allah wahai hamba-hamba Allah, bersungguh-sungguhlah agar kalian menjadi dari orang-orang yang terdahulu dan jangan menjadi dari orang-orang yang rugi di bulan yang dimuliakan oleh Tuhan semesta alam.
Maka demi Allah demi Allah, lepaskanlah tamu kalian Ramadhan dengan kemuliaan, dan bersemangatlah di dalamnya untuk mencari jalan kebenaran sampai Dia membawa kalian ke negeri kemuliaan dan keabadian dan tempat tinggal, dan keabadian kemuliaan dan kemurahan, dan menyelamatkan kalian dari dahsyatnya hari Thammah (kiamat).
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Shalat yang paling dicintai oleh Allah Azza wa Jalla adalah shalat Dawud alaihissalam, dan puasa yang paling dicintai oleh Allah Taala adalah puasa Dawud alaihissalam. Dia tidur dari malam setengahnya dan bangun sepertiganya dan tidur seperenamnya, dan dia berpuasa sehari dan berbuka sehari.”
373 – Puasa Bab Ibadah
Diriwayatkan dari Ka’ab Al-Ahbar semoga Allah meridhainya bahwa ia berkata tidak ada dalam ibadah-ibadah yang lebih utama daripada puasa karena ia adalah pintu ibadah.
Dan Allah Tabaraka wa Ta’ala telah menjadikan bulan agung ini sebagai penghapus dosa dan tidak ada dalam dosa-dosa kecuali yang besar karena sesungguhnya kita hanya mendurhakai dengan dosa-dosa itu Tuhan Yang Maha Agung.
Dan mereka telah berkata janganlah kamu melihat kepada kecilnya dosamu tetapi lihatlah siapa yang kamu durhakaii, semoga Allah menerima taubat kita sehingga kita tidak mendurhakai-Nya.
Maka demi Allah demi Allah wahai hamba-hamba Allah, tundukkan pandangan kalian pada bulan agung ini dan pada selainnya dari melihat kepada hal-hal yang dilarang dan tahanlah lidah kalian dari mengambil kehormatan kaum muslimin dan muslimat dan perbanyaklah di dalamnya sedekah kepada orang-orang miskin dari kalangan yang membutuhkan dan dirikanlah pada malam-malamnya di dalamnya dengan banyak shalat dan curahkanlah dari mata kalian air mata dan bermohonlah kepada Allah dalam mengampuni kesalahan-kesalahan.
Semoga Dia mengubah keburukan kalian dengan kebaikan.
Maka jika dikatakan apa hikmah dalam kewajiban bulan Ramadhan maka di dalamnya ada beberapa pendapat, salah satunya bahwa Allah Ta’ala memerintahkan kita agar kita berpuasa di dalamnya dan lapar karena kelaparan adalah kunci keselamatan dalam bab agama dan badan menurut para dokter dan orang-orang bijak.
Dan dikatakan tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya dan hikmah adalah raja yang tidak tinggal kecuali di rumah yang kosong.
374 – Keutamaan Lapar
Diriwayatkan dari Yahya bin Mu’adz semoga Allah meridhainya bahwa ia berkata barangsiapa kenyang dari makanan maka ia lemah dari berdiri dan barangsiapa lemah dari berdiri maka ia malu di antara para pelayan dan apabila perut penuh maka anggota badan tidur dari ketaatan dan anggota tubuh duduk dari ibadah.
Dan mereka membacakan syair:
Lapar maka sesungguhnya kelaparan akan mewariskan kepada ahlinya … akibat-akibat kebaikan yang mencakup mereka sepanjang masa selama-lamanya
Dan janganlah kamu menjadi orang yang banyak makan dan nafsu … maka kamu menjadi di dunia dan hatimu bingung
Dan diriwayatkan dari Dzun Nun Al-Mishri rahimahullah Ta’ala bahwa ia berkata lapar di siang hari dan bangunlah di waktu sahur maka kamu akan melihat keajaiban dari Raja Yang Maha Perkasa.
Dan diriwayatkan dari Yahya bin Mu’adz semoga Allah meridhainya bahwa ia berkata seandainya kelaparan dijual di pasar maka berhak bagi murid apabila ia masuk pasar untuk tidak membeli sesuatu selainnya dan Allah Ta’ala telah mengutamakan kalian dengan agama Islam dan memberi karunia kepada kalian dengan bulan puasa dan Allah Maha Mengetahui.
Dan mereka membacakan syair:
Demi Tuhanmu seandainya kamu melihat suatu hari berturut-turut … ketetapan hati mereka sehingga sungguh mereka mencapai kesungguhan
Niscaya kamu melihat mereka telah memerangi tidur dan mengenakan … pakaian begadang dan menggunakan kesusahan
Dan mereka berpuasa di siang hari terus-menerus kemudian berbuka … dengan sekedar makanan pokok dan mendekatkan yang jauh
Mereka adalah kaum yang Allah membaguskan perbuatan mereka … dan mewariskan kepada mereka dari bagusnya perbuatan mereka keabadian
Dikatakan Tuhan Jalla Jalaluhu memerintahkan mereka dengan puasa karena tidak ada bagi ahli neraka sesuatu yang lebih berat daripada kelaparan dan itu karena Allah Ta’ala melimpahkan kepada mereka sehingga mereka lupa setiap azab dari beratnya kelaparan.
Maka mereka meminta makanan kepada Malik penjaga neraka lalu ia mendatangkan mereka dengan makanan yang tersedak sebagaimana firman Allah Ta’ala Sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu dan neraka yang menyala-nyala dan makanan yang menyesak dan azab yang pedih (Al-Muzzammil: 12) maka ia застрял di kerongkongan mereka lalu mereka berkata sesungguhnya kami biasa menelan yang tersedak di dunia dengan air maka mereka meminta air yang mendidih sebagaimana firman-Nya Ta’ala Dan jika mereka meminta pertolongan mereka akan diberi pertolongan dengan air seperti cairan logam yang mendidih (Al-Kahfi: 29) ayat.
Maka Allah Ta’ala memerintahkan umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan puasa bulan ini agar menjauhkan dari mereka kelaparan itu dan demikian juga Allah Ta’ala memerintahkan dengan puasanya seluruh umat lalu beriman dengannya umat ini dan kufur dengannya seluruh umat-umat dan ini adalah dari kelembutan Allah Ta’ala kepada umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dan mereka membacakan syair:
Apabila seseorang tidak meninggalkan makanan yang ia cintai … dan tidak mendurhakai hati yang sesat ke mana ia menuju
Ia menghabiskan kebutuhan darinya yang sedikit dan menjadi … apabila disebutkan contoh-contohnya memenuhi mulut
Dan dikatakan diwajibkan kepada mereka puasa bulan Ramadhan karena zuhud ada dua macam zuhud dalam yang halal dan zuhud dalam yang haram dan paling mulianya adalah zuhud dalam yang halal maka Allah Ta’ala memerintahkan mereka dengan puasa bulan ini sehingga Dia memberi mereka pahala zuhud dari yang halal dan yang haram.
Dan dikatakan Allah Ta’ala menghendaki dengan itu terjaganya orang-orang kaya agar mereka mengetahui keadaan orang-orang fakir maka mereka berpuasa bersama mereka dan dikatakan sehingga mereka mengingat dengan beratnya puasa beratnya hari kiamat karena tidak ada bagi ahli kiamat yang lebih berat daripada kelaparan dan agar mereka mengetahui bahwa jika dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala ada kesulitan maka sesungguhnya kelaparan di neraka lebih besar kesulitannya.
Maka demi Allah demi Allah wahai hamba-hamba Allah bersungguh-sungguhlah dalam menjaga bulan agung ini pada hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam, hari ketika beruntung di dalamnya orang yang berpuasa dan dikumpulkan di dalamnya orang yang lamban, lalai, dan zalim ketika dihadapkan kepadanya dosa-dosa dan kejahatan-kejahatan serta pelanggaran hal-hal yang dilarang dan yang haram.
375 – Sebab Kewajiban Puasa
Maka jika dikatakan mengapa diwajibkan Ramadhan tiga puluh hari maka jawabannya bahwa dikatakan sesungguhnya berdiri di atas shirath adalah tiga puluh tahun maka jika kamu berpuasa tiga puluh hari maka Allah menolong kamu dalam tempat berdiri itu dengan keselamatan dan kesejahteraan dan kebahagiaan dan kemuliaan selama tiga puluh tahun.
Maka demi Allah demi Allah bersungguh-sungguhlah dan berusahalah dalam bulan ini tanpa berlebihan dan ambillah untuk diri kalian dengan kehati-hatian dan berhati-hatilah dari berdiam lama di atas shirath.
376 – Ramadhan Utusan dari Allah
Dikatakan perumpamaan bulan ini seperti perumpamaan seorang utusan yang diutus oleh seorang sultan kepada suatu kaum maka jika mereka memuliakan urusannya dan mengagungkan kedudukannya dan memuliakan tempat tinggalnya dan mengetahui keutamaannya maka utusan itu kembali kepada sultan sambil bersyukur atas perbuatan mereka memuji keadaan mereka ridha atas amal mereka maka sultan mencintai mereka atas hal itu lalu ia berbuat baik kepada mereka dengan sebaik-baik kebaikan.
Dan jika mereka meremehkan pemeliharaannya dan meringankan perhatiannya dan tidak menurunkannya pada tempatnya dari pemuliaan dan melakukan kepadanya perbuatan orang-orang hina maka utusan itu kembali kepada sultan dan sungguh ia telah marah kepada mereka dari buruknya perbuatan mereka dan jeleknya amal mereka maka sultan marah karena kemarahannya.
Demikian juga Allah Subhanahu wa Ta’ala marah kepada orang yang meremehkan kehormatan bulan Ramadhan.
Maka wahai manusia ini bulan Ramadhan bulan taubat dan ampunan dan ia adalah utusan dari sisi Raja Penguasa maka barangsiapa memuliakan dia dari kalian dengan hakikat pemuliaan dan menjaga di dalamnya lisannya dari buruknya ucapan dan perutnya dari memakan riba dan yang haram dan harta anak yatim dan anak-anak yatim maka Raja Yang Maha Mengetahui akan mengampuni dia dan memasukkan dia ke surga bersama Muhammad ‘alaihish shalatu wassalam.
377 – Hadits-Hadits dalam Keutamaan Puasa
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda tidaklah seorang mukmin memasuki pagi dalam keadaan berpuasa melainkan dibukakan untuknya surga dan meminta ampun untuknya penduduk langit dunia hingga ia tertutup dengan hijab maka jika ia shalat dua rakaat sunnat maka teranglah untuknya langit-langit dengan cahaya dan jika ia bertasbih dan bertahlil maka menemuinya tujuh puluh ribu malaikat menulis tasbihnya hingga ia tertutup dengan hijab.
Maka demi Allah demi Allah wahai hamba-hamba Allah wahai ahli dosa wahai ahli maksiat dan cacat wahai orang yang mendurhakai Tuhannya Yang Maha Mengetahui yang gaib, beramallah di sisa bulan kalian untuk hari kematian kalian dan kefakiran kalian ketika kalian berdiri di hadapan Tuhan kalian.
Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa bersabda ketika masuk bulan Ramadhan sesungguhnya Allah mewajibkan kepada kalian bulan Ramadhan dan aku mensunnahkan untuk kalian berdirinya maka barangsiapa berpuasa dan mendirikannya dengan penuh iman dan mengharap pahala maka ia keluar dari dosa-dosa seperti hari dilahirkan oleh ibunya dan beliau bersabda dalam hadits yang lain dan barangsiapa berpuasa dan mendirikannya dengan penuh iman dan mengharap pahala maka wajib baginya surga maka demi Allah demi Allah berkeinginanlah pada apa yang telah dibuat kamu berkeinginan padanya oleh Nabi kalian dan apa yang telah dikenalkan kepada kalian dari pahala Tuhan kalian dan rahmat-Nya semoga Tuhan kalian mengampuni kalian dan menerima dari kalian usaha kalian.
Dan diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa bersabda ketika masuk Ramadhan selamat datang kepada yang membersihkan, mereka berkata wahai Rasulullah dan apakah yang membersihkan itu, beliau bersabda pembersih dari dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan, ya Allah tulislah untuk kami di dalamnya pembebasan dari neraka dan jalan dari iman.
Maka demi Allah demi Allah bersihkanlah diri dari dosa-dosa kalian untuk tinggal di sisi Tuhan kalian dan jagalah janji-janji dalam puasa bulan kalian maka tunaikanlah zakat fitrah kalian.
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda barangsiapa berpuasa Ramadhan dan tidak menunaikan zakat fitrah maka puasanya tergantung antara langit dan bumi hingga ia menunaikannya maka demi Allah demi Allah wahai hamba-hamba Allah ikutilah apa yang telah diperintahkan kepada kalian oleh Nabi Rasul dan taatlah kepada Tuhan yang tidak berubah dan tidak lenyap dan tidak mengubah Dia hari-hari dan masa-masa tidak ada tuhan selain Allah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
۞۞۞۞۞
14 – Majelis tentang Pengharaman Khamr dan Apa yang Datang tentangnya
378
Berkata Abdul Malik bin Habib rahimahullah, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan khamr dalam kitab-Nya dalam tiga ayat maka Dia mencela khamr dalam dua ayat dan mengharamkannya dalam yang ketiga.
Maka dua ayat yang pertama adalah yang dinasakh (dihapus) dan yang ketiga adalah yang menasakh (menghapus) dan itu bahwa khamr biasa diminum pada awal Islam hingga turun pengharamannya di Madinah dan setelah hijrah maka yang menasakh adalah firman-Nya Ta’ala Wahai orang-orang yang beriman sesungguhnya khamr, judi, berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan maka jauhilah agar kalian beruntung (Al-Maidah: 90) maka ini adalah pengharaman dan demikian juga Allah melarang dalam kitab-Nya semuanya pengharaman dalam setiap apa yang Dia larang darinya sebagaimana setiap apa yang Dia perintahkan dengannya adalah fardhu yang diwajibkan, tidakkah kamu melihat bahwa Dia menggandengkan pengharaman khamr dengan berhala dan berhala adalah berhala-berhala yang biasa disembah selain Allah dan sungguh Allah Ta’ala telah berfirman dalam ayat yang lain Maka jauhilah kekejian dari berhala-berhala (Al-Hajj: 30) maka sungguh Dia menggandengkan dalam larangan-Nya antara khamr dan berhala-berhala yang biasa disembah selain Allah Ta’ala maka ketika turun pengharamannya maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus penyeru menyeru di Madinah ketahuilah bahwa Allah telah menurunkan pengharaman khamr sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya mengharamkan khamr.
Maka berkata sebagian mereka dan mereka sedang meminumnya diam diam ketika mendengar penyeru itu.
Maksudnya diamlah hingga kalian mendengar apa yang dikatakan penyeru ini maka ketika jelas bagi mereka dari perkataannya mereka berkata kami mendengar dan kami taat ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada-Mu tempat kembali.
Maka mereka berhenti darinya dan menumpahkan apa yang tersisa di sisi mereka darinya kemudian mereka menyesal atas apa yang mereka minum darinya dan mereka takut bahwa Allah ‘Azza wa Jalla telah murka kepada mereka maka Allah Subhanahu menurunkan Tidaklah berdosa orang-orang yang beriman dan beramal saleh karena apa yang telah mereka makan apabila mereka bertakwa dan beriman dan beramal saleh (Al-Maidah: 93).
379 – Pengharaman Khamr
Ketahuilah bahwa pertama apa yang dicela Allah Tabaraka wa Ta’ala terhadap khamr dalam surat An-Nahl dalam firman-Nya Subhanahu Dan dari buah kurma dan anggur kalian membuat darinya yang memabukkan dan rezeki yang baik (An-Nahl: 67) berkata Syaikh dan ini zahirnya penghitungan nikmat dan batinnya celaan dan kecaman dan teguran, Allah Ta’ala berfirman Aku memberi rezeki kepada kalian buah-buahan kurma dan anggur lalu kalian membuat darinya yang memabukkan dan kalian berpaling dari rezeki yang baik.
Maka yang dipahami dari perkataan ini bahwa Allah Tabaraka Ismuhu mengenalkan kepada kalian dengan pemberian dan nikmat-nikmat-Nya kepada kalian dan menegur kalian dengan pengubahan kalian terhadap nikmat-nikmat-Nya maka seolah-olah Dia Tabaraka wa Ta’ala berfirman Dan dari buah kurma dan anggur kalian membuat darinya yang memabukkan dan rezeki yang baik (An-Nahl: 67) maka maknanya kalian membuat dari rezeki yang baik yang memabukkan dan kalian mengganti yang baik dengan yang buruk dan ini adalah puncak kekufuran terhadap nikmat-nikmat Allah Ta’ala bahwa digunakan dalam maksiat Allah Ta’ala maka ketika turun ayat ini dan sungguh Allah Ta’ala telah mencela dalam khamr kemudian berhenti sebagian orang dari meminumnya dan tetap pada meminumnya kebanyakan orang hingga berhijrah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ke Madinah.
380 – Hamzah Paman Nabi dan Khamr
Maka keluar Hamzah bin Abdul Muthalib semoga Allah meridhainya dan sungguh ia telah minum khamr hingga ia mabuk darinya lalu bertemu dengannya seorang laki-laki dari Anshar dan di tangannya ada untanya dan orang Anshar itu bersyair dengan dua bait dari syair Ka’ab bin Malik dalam memuji kaumnya dan menyebutkan kebanggaan-kebanggaan mereka dan keduanya adalah:
Kami kumpulkan dengan perlindungan pertolongan dan hijrah … maka tidak ada kaum hidup seperti kami dalam pergaulan
Maka orang-orang hidup kami dari sebaik-baik orang hidup dari yang telah lalu … dan orang-orang mati kami dari sebaik-baik ahli kuburan
381 – Hamzah dan Anshori
Hamzah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Mereka adalah kaum Muhajirin,” sedangkan Anshori itu berkata, “Bahkan kami adalah kaum Anshar.” Lalu keduanya bertengkar. Hamzah mencabut pedangnya dan menyerang Anshori tersebut. Anshori tidak mampu melawannya sehingga melarikan diri dan meninggalkanunta pengangkut airnya. Hamzah menghampiri unta pengangkut air itu lalu memukulnya dengan pedang hingga memotongnya. Anshori pergi mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan memberitahukan kepadanya tentang perilaku Hamzah dan perbuatannya terhadap unta pengangkut air itu. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan unta pengangkut air kepada Anshori.
382 – Umar bin Khaththab dan Khamer
Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tidakkah engkau melihat apa yang kami alami dari masalah khamer, wahai Rasulullah? Sesungguhnya khamer itu menghilangkan akal dan menghabiskan harta.” Maka Allah Ta’ala menurunkan di Madinah: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamer dan judi. Katakanlah: Pada keduanya terdapat dosa besar” (Al-Baqarah: 219). Dibaca juga “banyak” dan kedua makna itu berdekatan. “Dan manfaat bagi manusia” (Al-Baqarah: 219). Berdasarkan hal ini, ada pertanyaan bagi orang yang bertanya: Di mana manfaatnya padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan umatku pada apa yang Dia haramkan atas mereka.” Jawabannya adalah bahwa mereka dahulu membeli khamer dari Syam dengan harga murah dan menjualnya di Hijaz dengan harga mahal. Manfaat yang ada padanya adalah dari keuntungan perdagangan.
Demikian pula Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Katakanlah: Pada keduanya terdapat dosa besar” (Al-Baqarah: 219). Maka sebagian kaum berhenti meminumnya dan sebagian kaum lainnya tetap meminumnya, hingga Muhammad bin Abdurrahman bin ‘Auf az-Zuhri mengundang orang-orang, lalu memberi mereka makan dan memberi mereka minum khamer hingga mereka mabuk. Ketika tiba waktu shalat, mereka meminta salah seorang di antara mereka untuk mengimami shalat mereka.
383 – Ibnu Abi Ja’unah dan Khamer
Orang yang paling banyak hafalan Qurannya adalah seorang laki-laki yang disebut Abu Bakar bin Abi Ja’unah. Dia adalah sekutu kaum Anshar. Dia membaca pembukaan Kitab (Al-Fatihah) dan Qul ya ayyuhal kafirun. Karena mabuk, dia mencampuradukkan bacaan dan membaca Qul ya ayyuhal kafirun: A’budu ma ta’budun, dan mencampuradukkan awal surat dengan akhirnya hingga mengakhiri surat dengan cara seperti itu. Hal itu sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sangat menyusahkannya.
Maka Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendekati shalat ketika kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan” (An-Nisa: 43). Maka mereka meminumnya setelah shalat Isya, kemudian tidur, lalu bangun pada waktu shalat Fajar dalam keadaan sadar darinya. Kemudian mereka meminumnya setelah shalat Subuh dan sadar darinya pada waktu shalat Zhuhur. Setelah itu mereka tidak meminumnya hingga mereka shalat Isya.
384 – Sa’d bin Abi Waqqash dan Khamer
Hingga Sa’d bin Abi Waqqash az-Zuhri mengundang seorang laki-laki untuk walimah yang dibuatnya dengan seekor unta, lalu mengundang beberapa orang dari kaum Muhajirin. Mereka makan dan minum khamer hingga mabuk karenanya, lalu mereka saling berbangga-bangga. Seorang laki-laki dari Anshar mengambil salah satu tulang rahang unta lalu memukulkannya ke hidung Sa’d hingga mematahkannya. Maka dia datang mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu Allah Ta’ala menurunkan: “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamer, judi, berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan” (Al-Ma’idah: 90). Para ulama ahli tafsir berbeda pendapat tentang letak pengharaman, apakah terjadi pada firman Allah Ta’ala: “Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)” (Al-Ma’idah: 91) atau di tempat lain.
Segolongan mufassirin berkata bahwa pengharaman terjadi pada firman Allah Ta’ala: “Maka jauhilah” (Al-Ma’idah: 90). Kebanyakan dari mereka berkata bahwa pengharaman terjadi pada firman Allah Ta’ala: “Maka berhentilah kamu” (Al-Ma’idah: 91). Mereka berdalil dengan firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Furqan: “Apakah kamu bersabar” (Al-Furqan: 2), maknanya adalah bersabarlah. Demikian pula dalam surat Asy-Syu’ara: “Kaum Fir’aun. Mengapa mereka tidak bertakwa” (Asy-Syu’ara: 11), maknanya adalah bertakwalah.
Demikian pula dalam surat Yusuf ‘alaihissalam dan atas Nabi kami Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam, firman-Nya: “Kamu bercocok tanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa” (Yusuf: 47), maknanya adalah bercocok tanamlah.
Dalam surat Al-Waqi’ah firman-Nya: “Maka mengapa jika kamu tidak dijadikan tunduk (kepada Allah), kamu tidak mengembalikannya” (Al-Waqi’ah: 89), yaitu roh, maknanya adalah kembalikanlah. Demikian pula firman-Nya tentang khamer: “Maka berhentilah kamu” (Al-Ma’idah: 91), maknanya adalah berhentilah. Maka mereka berkata pada saat itu: “Kami berhenti, kami berhenti wahai Rasulullah.” Ini termasuk khabar-khabar yang maknanya adalah perintah.
Sebagian ahli ilmu berkata bahwa pengharaman khamer dalam ayat yang ada di surat Al-A’raf, yaitu firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan-perbuatan keji, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi, dan dosa” (Al-A’raf: 33). Dosa adalah khamer. Penyair berkata:
Aku minum dosa hingga akalku tersesat. Begitulah dosa menghilangkan akal.
Penyair lain berkata:
Kami minum dosa dengan cangkir secara terang-terangan. Kami meninggalkan pembukaan di antara kami sebagai pinjaman.
Al-Hatk adalah jeruk sitrun.
Inilah ringkasan pengharaman khamer dan perpindahannya dalam berbagai tempatnya. Adapun pengharamannya dalam surat Al-An’am dalam firman Allah Ta’ala: “Katakanlah: Aku tidak menemukan dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali daging bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi” (Al-An’am: 145), maka sesungguhnya itu adalah najis, dan darah adalah najis, dan bangkai adalah najis, dan khamer bahkan khamer lebih najis. Bahkan bangkai dihalalkan bagi orang yang terpaksa dan khamer tidak dihalalkan bagi siapa pun. Khamer adalah apa yang menutupi akal sehingga menyelimutinya. Jika akal hilang maka kebodohan hadir, dan jika kebodohan hadir maka hamba kafir dan tidak peduli.
Adapun firman Allah Ta’ala: “Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah” (Al-Hasyr: 7).
385 – Hadits-hadits tentang Pengharaman Khamer
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Setiap yang memabukkan adalah haram, dan apa yang memabukkan banyaknya dari semua minuman maka sedikitnya pun haram.”
Dalam hadits lain beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap minuman yang memabukkan maka dia haram.” Ketahuilah bahwa paling kuatnya kedudukan setan pada hamba adalah ketika dia minum yang memabukkan. Jika setan menguasai hamba, dia memerintahkannya untuk kafir dan menghalanginya dari iman dan dari ketaatan kepada Ar-Rahman, serta menutup di hadapannya pintu-pintu kebaikan semuanya.
Mereka membacakan syair:
Khamer adalah penyeru kepada kemaksiatan. Dan khamer adalah penuntun kepada api neraka.
Dan khamer peminumnya menghalangi dari petunjuk. Dan mengganti ketaatan dengan kemaksiatan.
Dan khamer peminumnya adalah sekutu kesesatan. Dan mengganti iman dengan kekafiran.
Minum khamer adalah permusuhan terhadap Allah. Dan kecintaan kepada setan yang berontak.
Maka bersegeralah bertaubat wahai pelaku zina. Dan dekatkanlah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Dan menjauhlah dari minum pembuka kebinasaan. Dan penghalang kebaikan-kebaikan dalam iman.
Dialah yang diharamkan yang pengharamannya. Dalam ayat-ayat yang jelas dan Al-Quran.
Diriwayatkan dari Rasulullah bahwa beliau bersabda: “Khamer adalah perkumpulan dosa.” Hadits ini keluar darinya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Tidak ada antara hamba dan kekafiran kecuali meninggalkan shalat.” Peminum khamer tidak diterima darinya shalat. Jika Allah tidak menerima darinya satu kebaikan pun dan dosa-dosa berkumpul padanya maka khamer mengumpulkan dosa-dosa, menuntun kepada yang haram, memutuskan dari ketaatan kepada Raja Yang Maha Mengetahui.
386 – Khamer Adalah Keburukan Semuanya
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Khamer adalah kunci setiap keburukan dan sesungguhnya dosanya melebihi semua dosa sebagaimana pohonnya melebihi semua pohon.” Di sini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Khamer adalah kunci setiap keburukan.” Apa yang menjadi kunci bagi keburukan semuanya adalah pengunci bagi kebaikan semuanya.
Jika kalian minum minuman keras dan bermaksiat kepada Tuhan bumi dan langit, dan tertutuplah dari kalian pintu-pintu kebaikan, dan terbukalah bagi kalian pintu-pintu kemungkaran, dan turunlah pada kalian musibah-musibah besar, dan Allah murka kepada kalian Tuhan segala tuhan dan pemimpin para pemimpin, Dia akan menghukum kalian dengan hukuman yang paling keras di negeri musibah dan penyesalan serta tempat azab dan bencana.
Mereka membacakan syair:
Ahli khamer dari Ar-Rahman telah menjauh. Dan dalam azab karena kerugian mereka telah datang.
Dengan meminum mereka dari Tuhan Arasy telah menjauh. Dan di dalam dada bersama setan mereka telah duduk.
Tinggalkan khamer jangan tempuh jalannya. Karena ahlinya nikmat Tuhan telah mengingkari.
Dan telah mengancam mereka Tuhan langit atas. Minum khamer dengan api yang bara-baranya menyala.
Besok kamu akan melihat ahli minum khamer semuanya. Di negeri kecelakaan atas api-api mereka telah datang.
387 – Perkataan Ibnu Abbas tentang Orang Mabuk
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa dia berkata: Barang siapa bermalam dalam keadaan mabuk maka dia bermalam sebagai pengantin bagi setan dan sebagai kekasih bagi pengantin. Jika kamu menjadi kekasih setan maka kamu adalah musuh Ar-Rahman. Jika kamu musuh Ar-Rahman maka kamu termasuk ahli kehinaan dan dalam panas api neraka.
Hamba-hamba Allah, Tuhan kalian telah memerintahkan kalian dengan perintah-Nya dan melarang kalian dengan larangan-Nya, dan memberi karunia kepada kalian dengan kelembutan-Nya, dan melapangkan kepada kalian dari kelapangan rezeki-Nya.
Dia menjadikan kalian dari sebaik-baik umat dan melimpahkan kepada kalian nikmat yang banyak. Maka janganlah kalian meminta pertolongan dengan nikmat-Nya untuk bermaksiat kepada-Nya karena sesungguhnya Dia memiliki pembalasan dan azab, serta rahmat dan pahala. Maka taatilah Tuhan kalian dalam semua urusan dan janganlah kalian merobek hijab kalian dengan minum khamer. Janganlah kehidupan dunia menipu kalian dan janganlah yang menipu kalian tentang Allah menipumu.
Mereka membacakan syair:
Wahai peminum khamer kamu berharap mendapat dengannya. Ampunan Allah dan kamu hari ini diusir.
Dan kamu minum sepanjang masa tenggelam. Dan kamu dari ketaatan Ar-Rahman hilang.
Kalian minum khamer dan bermaksiat kepada Tuhan Yang Maha Pengampun, dan merobek hijab, dan menunggangi perbuatan keji dan kekejian, dan meremehkan urusan-urusan berat, dan tidak memikirkan hari pemaparan dan kebangkitan serta berdiri di hadapan Dia yang mengetahui apa yang disembunyikan dada.
388 – Harga Khamer Adalah Kerugian
Disebutkan dalam sebagian khabar: Tidaklah seorang hamba menafkahkan satu dirham untuk khamer melainkan Allah Tabaraka wa Ta’ala menghapus dari rezkinya tujuh puluh dirham, dan Allah menjadikan setiap dirham yang dibelanjakan untuk khamer sebagai rantai di lehernya dari api neraka, dan menjadikannya ular yang memakannya di kuburnya hingga hari kiamat. Jika dia keluar dari kuburnya maka keluarlah bersamanya ular itu dan tidak berpisah darinya hingga melemparkannya ke dalam api neraka. Lebih besar dari ini adalah bahwa peminum khamer tidak dicatat untuknya oleh malaikat pencatat kebaikan satu kebaikan pun dan Allah tidak melihat kepadanya. Hanya malaikat pencatat keburukan yang mencatat untuknya karena kepala ibadah adalah shalat, dan tidak diterima dari seseorang kebaikan hingga shalatnya diterima. Peminum khamer tidak diterima shalatnya. Jika dia bertaubat maka Allah menerima taubatnya dan Allah menghapus dari lembaran catatannya setiap dosa yang dikerjakannya dalam keadaan minum, dan Allah mencatat untuknya setiap kebaikan yang dikerjakannya dan tidak diterima darinya. Allah menetapkannya. Jika dia mati dari saatnya, dia mati dan tidak ada dosa atasnya, dan akan lebih utama daripada orang yang tidak meminumnya di dunia. Mereka membacakan syair:
Jangan minum khamer wahai orang tertipu karena padanya. Dosa besar di sisi Ar-Rahman pada hari mahsyar.
Khamer menjauhkan dari hak Allah dan dari. Syariat Rasul yang dalam ayat-ayat yang jelas.
Sesungguhnya orang yang memotong masa-masa meminumnya. Baginya azab keras yang membuka hijab.
Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meminjamkan kepada Ali dua ekor unta untuk membawa dengan keduanya rumput kering agar membantu dengan itu pernikahan Fathimah radhiyallahu ‘anha. Ali radhiyallahu ‘anhu lewat dengan keduanya lalu membiarkan keduanya duduk di pintu rumah Hamzah bin Abdul Muththalib radhiyallahu ‘anhu, dan menyewa seorang Yahudi untuk keluar bersamanya dan membawa rumput kering. Hamzah sedang minum dan penyanyi wanita menyanyikan lagu yang menyebutkan hati unta. Maka keluarlah Hamzah dan menemukan dua ekor unta di pintunya, lalu menyembelihnya dan masuk dengan hati keduanya. Ali radhiyallahu ‘anhu datang dan menemukan kedua unta telah disembelih, maka pergilah dia kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengadu kepadanya. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam datang bersamanya. Ketika Hamzah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
389 – Bagaimana Hamzah Mabuk
Hamzah radhiyallahu ‘anhu sudah terkena khamer berkata: “Bukankah kalian hambaku?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mundur dan berkata: “Aku bukan hamba bagi ayahmu.” Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ya Allah, sesungguhnya khamer merusak akal dan menghabiskan harta, maka turunkanlah kepada kami tentang khamer penjelasan.” Maka Allah Subhanahu menurunkan: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamer dan judi. Katakanlah: Pada keduanya terdapat dosa besar dan manfaat bagi manusia” (Al-Baqarah: 219). Dosa yaitu dalam meminumnya dan manfaat bagi manusia dalam meninggalkan meminumnya. Jika seorang hamba dari hamba-hamba Allah meninggalkannya maka Allah mengampuni untuknya apa yang telah berlalu.
390 – Bacaan Orang yang Mabuk
Maka sekelompok orang meminumnya karena manfaat yang ada padanya, lalu tibalah waktu salat. Seorang laki-laki yang mabuk dimajukan dan dia salat bersama teman-temannya. Dia membaca Hai orang-orang kafir, aku menyembah apa yang kalian sembah dan mengakhiri surat dengan bacaan seperti ini. Hal itu sampai kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan beliau merasa berat karenanya. Maka Umar radhiyallahu anhu berkata: Ya Allah, turunkanlah kepada kami penjelasan tentang khamar. Maka Allah Ta’ala menurunkan Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendekati salat dalam keadaan mabuk, sehingga kalian mengerti apa yang kalian ucapkan (An-Nisa: 43). Mereka pun meminumnya di luar waktu salat hingga terjadi peristiwa Sa’d bin Abi Waqqash dengan orang Anshar yang telah disebutkan sebelumnya. Lalu Umar radhiyallahu anhu berkata: Ya Allah, turunkanlah kepada kami penjelasan tentang khamar. Maka Allah Azza wa Jalla menurunkan Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar, judi, berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan (Al-Ma’idah: 90) hingga akhir kedua ayat sampai firman-Nya Maka berhentilah kalian (Al-Ma’idah: 91). Mereka semua berkata: Kami berhenti ya Rasulullah, kami berhenti. Pada saat itulah Nabi shallallahu alaihi wasallam mengutus penyeru untuk menyeru di Madinah: Ketahuilah bahwa khamar telah diharamkan.
Anas bin Malik berkata: Aku mendengar seruan itu sedang aku memberi minum Thalhah bersama sekelompok orang Anshar dengan air perasan kurma muda dan kurma matang. Demi Allah, mereka tidak menunggu hingga berkata: Wahai Anas, keluarkan itu dari kami. Maka ditumpahkanlah pada saat itu juga. Maka mereka berhenti.
Apabila para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melakukan demikian dan bersegera untuk bertobat serta menaati Pelindung mereka dan Nabi mereka shallallahu alaihi wasallam, mengapa kalian tidak meneladani perbuatan mereka, mengikuti amal-amal mereka, mengikuti jejak mereka, mendengarkan berita-berita mereka, dan meninggalkan khamar karena wajah Allah Yang Maha Mulia? Mudah-mudahan Dia menjadikan surga sebagai tempat tinggal kalian dan memuliakan akhirat sebagai tempat kembali kalian. Maka awasilah Dia karena Dia melihat kalian dan mengetahui rahasia dan pembicaraan rahasia kalian. Dan Allah Maha Mengetahui.
Mereka melantunkan puisi:
Tidak meminum khamar kecuali orang fasik yang sombong… yang telah menyelisihi Allah, Al-Qur’an, dan para rasul
Seburuk-buruk minuman dan seburuk-buruk peminum untuknya… mereka tidak menjadikannya sebagai jalan untuk dunia mereka
Ia adalah petunjuk menuju neraka Jahanam kelak… seburuk-buruk petunjuk dan tidak diharapkan bagi mereka kekuatan
Kecuali dia bertobat semoga Ar-Rahman menerimanya… maka bertobatlah dari dosa, janganlah berputus asa meskipun berat
391 – Orang yang Mati dalam Keadaan Kecanduan Khamar
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: Barangsiapa mati dalam keadaan meminum khamar, dia tidak akan meminumnya di akhirat. Dan demi Allah, ia adalah salah satu nikmat surga yang paling lezat sebagaimana firman Allah Tabaraka wa Ta’ala Dan sungai-sungai dari khamar yang lezat bagi yang meminumnya (Muhammad: 15). Wahai musuh dirimu sendiri, wahai orang yang malang, engkau telah mengharamkan dirimu dari kelezatan-kelezatan yang ada di taman-taman surga, dan engkau bermaksiat kepada Tuhan bumi dan langit dengan meminummu minuman keras yang diharamkan dalam ayat-ayat yang jelas, dan engkau tidak malu kepada Yang Mengetahui rahasia dan hal-hal tersembunyi. Mereka melantunkan puisi:
Aku memperbanyak khamar dari cacatku… dan bertambah kesedihanku dengan kesulitan
Besar musibahku dan sempitlah dadaku… dan menghitamlah hatiku karena dosa-dosa
Andai aku bertobat dengan bersungguh-sungguh… kepada Yang Mengetahui yang terang-terangan dan yang tersembunyi
Khamar adalah kunci segala kejahatan… bagi setiap orang durhaka yang meminumnya
392 – Azab Peminum Khamar
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: Allah Ta’ala mengutusku sebagai rahmat dan petunjuk bagi seluruh alam. Dan Tuhan kami bersumpah dengan kemuliaan dan keagungan-Nya: tidaklah seorang hamba dari hamba-hamba-Nya meminum seteguk khamar melainkan Aku akan memberinya minum pada tempatnya dari air panas Jahanam, dalam keadaan disiksa atau diampuni. Dan tidaklah seorang hamba meninggalkannya karena takut kepada-Ku melainkan Aku akan memberinya minum darinya dari taman Firdaus. Maka wahai umat Islam, taatilah Pelindung kalian, Sang Raja Yang Maha Mengetahui, dan janganlah kalian menyelisihi Al-Qur’an dan hukum-hukumnya. Terimalah nasihat Nabi kalian Muhammad alaihish-shalatu was-salam, agar Tuhan kalian memasukkan kalian dengan rahmat-Nya ke negeri keselamatan. Mereka melantunkan puisi:
Kepada Allah aku mengadu tentang sempitnya dadaku dari kesulitan… dan besarnya kesalahan-kesalahan seperti gunung dan hujan
Semoga Tuhanku berkenan memberi ampunan-Nya… dan menyelamatkan hamba yang tenggelam dalam pusaran kemabukan
Sangat zalim, zalim yang tidak meninggalkan yang haram… tidak sadar selamanya dari fitnah khamar
Maka betapa panjang kesedihanku kemudian betapa panjang penyesalanku… kalau tidak menemukan bagiku Yang Mengetahui rahasia dan yang terang-terangan
393 – Peminum Khamar di Hari Kiamat
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: Demi Dzat yang mengutusku dengan kebenaran, sesungguhnya peminum khamar datang pada hari kiamat lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada malaikat-malaikat-Nya: Ambillah dia. Maka tujuh puluh ribu malaikat bergegas kepadanya dan menyeretnya dengan wajahnya. Lalu malaikat-malaikat menemuinya dengan membawa rantai-rantai, mereka memukul wajahnya lalu membuka mulutnya, kemudian dimasukkan ke dalamnya makanan seperti kepala setan-setan dan hampir tidak bisa menelannya. Lalu keluarlah ulat darinya dan menjilatnya dengan lidahnya, kemudian jatuh ke perutnya dan ia mengalir di dalamnya seperti binatang buas di padang pasir.
Wahai orang-orang yang terus-menerus dalam dosa dan kemaksiatan, yang berlebihan dalam meminum minuman keras yang haram, kalian telah menghabiskan umur kalian dalam kebohongan dan kezaliman, menyia-nyiakan hari-hari kalian dalam kebodohan dan kekeliruan, memotong waktu-waktu kalian dalam kefasikan dan kekejian, dan meminta pertolongan untuk bermaksiat kepada Allah dengan meminum khamar. Tidakkah kalian mengetahui bahwa khamar merusak harta, menghilangkan cahaya dan keindahan, akibatnya menuju kecelakaan, dan peminum-peminumnya berakhir pada seburuk-buruk tempat kembali. Khamar awalnya adalah permainan dan gurauan, dan akhirnya adalah tangisan dan ratapan. Istri peminum khamar di setiap waktu terceraikan dan pakaiannya di setiap saat robek.
Peminum khamar adalah teman setan. Peminum khamar adalah musuh Ar-Rahman. Peminum khamar jauh dari keimanan. Peminum khamar dekat dengan kesesatan dan kerugian. Peminum khamar berenang dalam lautan kemurkaan. Peminum khamar mengelilingi azab neraka. Peminum khamar menyelisihi wahyu. Peminum khamar menyelisihi sunnah Rasul, musuh bagi Sang Raja Yang Maha Agung. Peminum khamar terlaknat di lisan sayyidul mursalin. Peminum khamar menyelisihi sunnah penutup para nabi.
Tidakkah engkau tahu wahai orang yang jauh dari kebaikan, mendekat dari kefasikan dan kemaksiatan, dan tinggal dalam kemurkaan Al-Muhaymin Adi-Dayyan, bahwa khamar menimbulkan permusuhan dan perpecahan, memutus kebaikan dan rezeki, menuntun kepada azab yang pedih di hari pertemuan?
Tidakkah engkau tahu bahwa ia menghalangi antara peminum dan petunjuk yang benar, melemparkannya ke dalam kesesatan dan kerusakan, menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara para hamba, dan menuntun kepada azab yang keras di hari panggilan?
Mereka melantunkan puisi:
Khamar melahirkan kejahatan seluruhnya… dan dari kelahirannya kemaksiatan dan kekufuran
Engkau bermaksiat kepada Tuhan jika engkau hidup meminumnya… dan menjauhkan kebaikan, keihsanan, dan syukur
Hamba meminumnya dan laknat mengikutinya… dan kehinaan meliputi dan kecelakaan serta kesulitan
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: Dilaknat khamar, peminum, penuang, pemeras, yang minta diperas, penjual, pembeli, pembawa, yang dibawakan kepadanya, pemakan harganya, penunjuk padanya. Wahai saudaraku, Allah telah melaknat setiap orang yang dinisbahkan kepada khamar. Dan laknat adalah kehinaan bagi hamba, dan apabila Allah menjauhkan hamba dari kedekatan-Nya, Dia akan membakarnya dengan azab dan panasnya api-Nya. Maka bersegeralah wahai peminumnya untuk bertobat karena sesungguhnya Allah telah mengharamkannya dalam Kitab dan mengancam atasnya dengan sangat keras siksa dan azab.
Mereka melantunkan puisi:
Wahai yang bermalam meminum khamar dan tidak… takut kepada Tuhan dan tidak takut dari neraka
Engkau bermaksiat kepada Tuhan dan tidak menunaikan kewajiban-Nya… aib bagimu dan tidak ada aib dalam tobat
Maka bertobatlah dari khamar kepada Ar-Rahman Pencipta kami… dan setiap dosa yang lama dan dendam
394 – Khamar adalah Kejahatan Besar
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: Barangsiapa meminum seteguk dari minuman keras, Allah tidak menerima salatnya selama empat puluh hari. Jika dia bertobat, Allah menerima tobatnya. Demi Dzat yang mengutusku dengan kebenaran, barangsiapa meminum khamar tiga tegukan, Allah Ta’ala tidak menerima salatnya selama seratus dua puluh hari, dan merupakan hak bagi Allah Ta’ala untuk memberinya minum dari al-khabal. Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu berkata: Ia adalah nanah penduduk neraka dan busuknya.
Dalam sebagian berita: Seandainya setetes dari al-khabal dijatuhkan dari langit ketujuh, niscaya mati penduduk langit dan bumi karena busuknya. Maka innalillahi wa inna ilaihi raji’un atas orang yang meminum khamar, merobek tirai, bermaksiat kepada Sang Raja Al-Ghafur, dan mengorbankan jiwanya untuk azab kecelakaan dan kehancuran, dan dikelabui tentang Allah oleh musuhnya yang menipu.
Mereka melantunkan puisi:
Engkau bermaksiat kepada Tuhan dan datang meminum khamar… dan mengharap dari Tuhan ‘Arsy pengampunan
Dan engkau mengumpulkan semua perbuatan baik… dan telah mengumpulkan dari kemaksiatan berbagai warna
Maka bertobatlah dan janganlah terus-menerus dalam kesesatan semoga… engkau bertemu Tuhan yang banyak ampunan, Maha Penyayang
Hamba-hamba Allah, tidakkah kalian malu kepada Dzat yang mengeluarkan kalian dari perut-perut ibu-ibu, melimpahkan kepada kalian nikmat dan kebaikan yang besar, membimbing kalian dengan karunia-Nya kepada puasa dan salat-salat, dan menjanjikan kepada orang yang menaati-Nya dengan kebaikan-kebaikan di surga-surga yang tinggi, dan mengancam orang yang bermaksiat kepada-Nya dengan kehinaan dan azab yang keras?
Tidakkah kalian mengetahui bahwa khamar adalah ibu dari kejahatan dan keburukan, kunci dosa-dosa besar dan kesalahan, pintu musibah dan bencana, yang mewajibkan kemurkaan Tuhan bumi dan langit, dan merusak kampung halaman dengan terjadinya perpecahan?
Maka janganlah kalian menodai amal-amal kalian dengan meminum khamar yang haram karena ia adalah ibu segala dosa besar dan maksiat. Dan barangsiapa meminumnya maka sungguh dia telah menyelisihi Al-Qur’an dan hukum-hukumnya, dan tinggal dalam kemurkaan Sang Raja Yang Maha Mengetahui. Tidakkah engkau malu wahai yang terusir dari pintu Allah, wahai yang menyelisihi batasan-batasan Allah, wahai yang bersahabat dengan musuh-musuh Allah, dari Tuhan yang memberi nikmat kepadamu dengan nikmat Islam, menjadikanmu dari sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia, dan mengutamakan engkau dengan Muhammad alaihil-afdhal ash-shalatu was-salam? Maka engkau bermaksiat wahai orang yang tertipu kepada Pelindungmu, mengikuti kesesatan dan hawa nafsumu, melupakan nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadamu, dan tidak berhenti dari apa yang Dia larang darimu?
Inikah balasan dari orang yang berbuat baik kepadamu, menutupimu, dan memberi nikmat kepadamu? Seburuk-buruknya apa yang engkau perbuat wahai yang terus-menerus dalam kemaksiatan secara sembunyi dan terang-terangan, wahai yang mengganti nikmat Allah dengan kekufuran, wahai yang merobek dengan kemaksiatannya hijab dan tirai, wahai yang diharamkan karena dosanya taufiq dan kemudahan, wahai yang diwariskan kemaksiatan padanya kejahatan dan kesulitan.
Tidakkah engkau malu wahai yang terusir, wahai yang ditolak dari pintu Pelindungnya, wahai yang menyelisihi hukum dan batasan, dari Tuhan yang mengeluarkanmu dari ketiadaan kepada wujud, anggur yang halal yang dikeluarkan dari ranting, engkau peras darinya khamar, engkau bermaksiat dengannya kepada Sang Raja Yang Disembah. Betapa bodohnya engkau dengan jalan orang-orang bertakwa. Betapa jauhnya engkau dari jalan orang terbaik dari para rasul. Wahai yang lemah agama, wahai yang lemah iman dan keyakinan, wahai teman setan yang terkutuk. Engkau akan tahu kelak ketika engkau berdiri di hadapan Yang Paling Cepat menghisab, dan diperintahkan denganmu ke azab yang hina. Maka ketika itu engkau berkata: Antara aku dan engkau sejauh dua timur, maka seburuk-buruknya teman. Ya Allah, tobatkanlah kami agar kami tidak bermaksiat kepada-Mu, dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.
۞۞۞۞۞
15 – Majelis tentang Keutamaan Hari Asyura dan Apa yang Datang padanya
395 – Dan dalam Puasanya dari Keutamaan yang Agung
Ketahuilah hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah Subhanahu – dan bagi-Nya segala pujian dan karunia – telah mengutamakan umat ini dengan keutamaan-keutamaan yang Dia khususkan pada umat Muhammad shallallahu alaihi wasallam dari seluruh umat.
Hikmah dalam hal itu adalah bahwa Allah Ta’ala ketika menjadikan umat Muhammad paling pendek umur di antara umat-umat, maka Dia menjadikan untuk mereka keutamaan-keutamaan ini dan derajat-derajat ini, dan mengangkat untuk mereka dengan itu derajat-derajat dan kedudukan-kedudukan di surga. Yaitu seperti hari-hari putih dari setiap bulan, hari Arafah, Rajab, Sya’ban, enam hari setelah Fitri, dan yang semisalnya banyak.
Maka umat ini Allah telah melembutkan kepadanya dan menjadikan baginya dari yang sedikit banyak, dan berjanji untuknya atas itu di akhirat pahala yang besar. Maka hari Asyura adalah hari yang diampuni padanya dosa-dosa dan kesalahan, dan mendekatkan diri padanya dengan sedekah-sedekah dan perbuatan-perbuatan baik kepada Yang Mengetahui hal-hal tersembunyi. Dan puasanya adalah sunnah yang dianjurkan sebagaimana diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:
396 – Pahala Puasanya
Barangsiapa berpuasa pada hari Asyura, Allah Ta’ala memberinya pahala sepuluh ribu malaikat, pahala sepuluh ribu syahid, pahala setiap orang yang haji dan umrah di tahun itu, dan pahala tasbih malaikat tujuh langit dan yang ada padanya.
Dan diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: Barangsiapa berpuasa pada hari Asyura, Allah menuliskan untuknya ibadah enam puluh tahun, puasa hari-harinya dan qiyam malam-malamnya, dan seolah-olah dia haji dan umrah tujuh puluh kali.
Maka bertakwalah bertakwalah hamba-hamba Allah, dekatkanlah diri kepada Allah di hari Asyura dengan apa yang kalian mampu dari ibadah-ibadah sunnah kebaikan dan jalan-jalan kebajikan. Karena sesungguhnya hari Asyura adalah hari yang disambung padanya silaturahmi dan dilipat gandakan pahala bagi mukmin yang dermawan yang mulia. Dan Allah Jalla Jalaluhu memberi pahala kepada pemberi zakat dengan surga-surga penuh nikmat. Dan dianugerahkan padanya kemurkaan atas orang yang sengsara dan kikir yang mencegah zakat yang diwajibkan dalam Al-Qur’an Al-Hakim.
Maka bertakwalah bertakwalah wahai kelompok mukminin dan jamaah orang-orang yang bertauhid, berkeinginanlah pada keutamaan yang besar ini, niscaya kalian beruntung dengan nikmat yang kekal dan panjang yang tidak ada lenyapnya dan tidak ada putusnya, dan tidak ada bagi pemiliknya darinya penolakan dan tidak ada pencegahan.
Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: Barangsiapa memberi berbuka seorang mukmin di sisinya pada hari Asyura, maka seolah-olah memberi berbuka di sisinya seluruh umat Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan mengenyangkan perut mereka. Dan barangsiapa mengusap kepala anak yatim pada hari Asyura, Allah mengangkat untuknya dengan setiap helai rambut di kepalanya satu derajat di surga. Dan barangsiapa memberi pakaian padanya seorang miskin, maka seolah-olah dia memberi pakaian orang-orang miskin umat Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan Allah memberinya pakaian tujuh puluh pakaian dari pakaian-pakaian surga. Maka Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu anhu berkata: Ya Rasulullah shallallahu alaik, sungguh Allah Azza wa Jalla telah mengutamakan kami dengan hari Asyura. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Ya Umar, Allah menciptakan langit dan bumi pada hari Asyura. Dan menciptakan matahari dan bulan pada hari Asyura. Dan bintang-bintang seperti itu. Dan menciptakan ‘Arsy dan Kursi pada hari Asyura. Dan menciptakan pena pada hari Asyura. Dan Lauh seperti itu. Dan menciptakan Jibril pada hari Asyura. Dan malaikat-malaikat seperti itu. Dan menciptakan Adam pada hari Asyura. Dan Hawa seperti itu. Dan menciptakan surga pada hari Asyura. Dan menempatkan Adam di surga pada hari Asyura. Dan Ibrahim alaihis-salam dilahirkan pada hari Asyura. Dan Allah menyelamatkannya dari api pada hari Asyura. Dan Allah memberinya petunjuk pada hari Asyura. Dan Allah menenggelamkan Fir’aun pada hari Asyura. Dan Isa diangkat pada hari Asyura. Dan Allah mengangkat Idris pada hari Asyura. Dan Isa bin Maryam dilahirkan pada hari Asyura. Dan Allah menerima tobat Adam pada hari Asyura. Dan mengampuni dosanya pada hari Asyura. Dan kapal Nuh bersandar di Judi pada hari Asyura. Dan Yusuf dikeluarkan dari penjara pada hari Asyura. Dan Allah menerima tobat kaum Yunus pada hari Asyura. Dan Sulaiman diberi kerajaan pada hari Asyura. Dan hari kiamat adalah hari Asyura.
Dan diriwayatkan bahwa hujan pertama turun dari langit adalah hari Asyura.
397 – Mandi Pada Hari Asyura
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mandi pada hari Asyura, ia tidak akan sakit kecuali sakit menjelang kematian. Barangsiapa bercelak dengan ithmid (celak antimoni) pada hari Asyura, matanya tidak akan sakit sepanjang tahun itu. Barangsiapa menjenguk orang sakit pada hari Asyura, seolah-olah ia menjenguk seluruh anak cucu Adam alaihissalam dan semua nabi yang mulia. Barangsiapa memberi minum seorang mukmin seteguk air pada hari Asyura, seolah-olah ia memberi minum seluruh keturunan Adam dalam keadaan kehausan. Barangsiapa salat pada hari Asyura empat rakaat, dan dalam setiap rakaat membaca Surah Al-Fatihah dan Surah Al-Ikhlas lima belas kali, Allah mengampuni dosanya lima puluh tahun yang lalu dan lima puluh tahun yang akan datang, dan Allah membangunkan untuknya seribu mimbar dari cahaya. Wahai hamba-hamba Allah, bersemangatilah dalam mencari keutamaan hari yang disukai ini, mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosa dan kesalahan yang telah kalian lakukan di masa lalu, dan menutupi aib-aib dan cacat yang telah kalian perbuat.”
Diriwayatkan bahwa Nabi Musa alaihissalam berkata: Tertulis dalam Taurat, barangsiapa berpuasa pada hari Asyura, seolah-olah ia berpuasa sepanjang masa. Barangsiapa bersedekah pada hari Asyura, seolah-olah ia tidak meninggalkan seorang peminta-minta pun kecuali telah memberinya. Barangsiapa memberi pakaian kepada orang telanjang pada hari itu, seolah-olah ia memberi pakaian kepada seluruh makhluk Allah. Barangsiapa mengusap kepala anak yatim, seolah-olah ia mengusap kepala semua anak yatim, dan Allah menanamkan untuknya dengan setiap helai rambut di kepalanya tujuh ratus pohon yang menghasilkan perhiasan dan pakaian indah sejumlah bintang di langit. Barangsiapa memberi petunjuk kepada orang yang tersesat pada hari itu, Allah menolak darinya kegelapan kubur dan memenuhi hatinya dengan cahaya. Barangsiapa menahan amarahnya, ia dicatat sebagai orang yang ridha dengan takdir Allah tabaraka wa ta’ala. Barangsiapa menyaksikan pemakaman jenazah pada hari Asyura, baginya dengan setiap sesuatu yang Allah ciptakan dan Dia yang menciptakannya, derajat-derajat di surga. Barangsiapa meninggalkan syahwatnya pada hari itu dan memberikannya kepada saudaranya sesama muslim, malaikat maut tidak akan mencabut nyawanya hingga ia diberi makan dari makanan surga dan diberi minum dari minumannya. Barangsiapa mandi pada hari Asyura, ia dianggap suci di sisi Allah. Barangsiapa membaca satu ayat dari Kitab Allah pada malam Asyura atau pada siangnya, ia diberi pahala seperti yang diberikan kepada Nabi Idris alaihissalam. Barangsiapa menghidupkan malam Asyura, seolah-olah ia beribadah kepada Allah seperti ibadahnya para malaikat yang didekatkan. Barangsiapa menangis pada hari Asyura atau malam Asyura atau matanya mengalirkan air mata karena takut kepada Allah ta’ala, Allah mencatatkan untuknya bagian dalam ibadah orang-orang yang takut. Barangsiapa mendatangi seorang ulama pada hari Asyura untuk mendengarkannya atau belajar darinya tentang suatu masalah dalam agamanya dan apa yang bermanfaat baginya untuk akhiratnya, ia diberi pahala seperti pahala kaum Muhajirin dan Anshar, Allah mewajibkan surga baginya, dan dua malaikat mencatatkan untuknya kebaikan-kebaikan hingga hari Asyura pada tahun yang akan datang. Barangsiapa berpuasa pada hari Asyura dengan mengharap pahala, mengetahui keutamaannya, Allah menundukkan untuknya pada setiap jam dari malam dan siangnya pada hari yang ia puasakan itu seratus ribu malaikat yang mendoakan untuknya hingga hari kiamat. Barangsiapa berniat berpuasa pada hari Asyura dan pada pagi harinya ia makan karena tidak mengetahui, hendaklah ia menahan diri dari makan pada sisa waktunya, dan baginya keutamaan yang sempurna insya Allah ta’ala.
398 – Nafkah Kepada Keluarga
Disunnahkan memberikan nafkah pada malam Asyura dan hari Asyura dengan mengharap keutamaan Allah dan mencari ridhaNya serta karena wajibnya keberkahan padanya. Diriwayatkan bahwa barangsiapa membelanjakan satu dirham pada hari itu, Allah menggantinya tujuh ratus kali lipat.
Setiap dirham yang ia belanjakan pada hari itu dalam ketaatan kepada Allah, maka di sisi Allah ta’ala lebih berat daripada tujuh lapis langit dan bumi.
Umar bin Khattab radhiyallahu anhu berkata: Perbanyaklah kebaikan rumah-rumah kalian pada malam Asyura dan siangnya, dan lapangkanlah pada hari itu untuk keluarga kalian dalam hal yang halal dan baik. Barangsiapa tidak mampu, hendaklah ia melapangkan akhlaknya kepada kerabatnya dan memaafkan orang yang menzaliminya.
399 – Bani Israil Dan Asyura
Hari Asyura dahulu dipuasai oleh Bani Israil dan mereka mengagungkannya. Kaum Quraisy juga berpuasa pada hari itu di masa Jahiliyah. Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tiba di Madinah, beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan untuk berpuasa padanya, hingga diwajibkan bulan Ramadhan. Allah ta’ala menjadikan semua kebaikan ini untuk umat Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
Hari Asyura adalah hari di mana Allah menerima kebaikan-kebaikan, diangkat pada hari itu derajat-derajat yang tinggi, diganti pada hari itu nafkah-nafkah, diperbanyak pada hari itu keberkahan.
Berbahagia pada hari itu orang-orang yang fakir dan membutuhkan.
Hari Asyura adalah hari di mana amal-amal ditampakkan, dilapangkan pada hari itu untuk keluarga, disucikan pada hari itu perbuatan dan perkataan, dan dirahmatkan pada hari itu hamba-hambaNya oleh Yang Maha Mulia dan Maha Agung.
Hari Asyura adalah hari di mana tali silaturahmi disambung, beruntung pada hari itu orang-orang yang mulia, dan merugi pada hari itu orang-orang yang hina karena mereka melanggar Al-Quran dan hukum-hukum serta bermaksiat kepada Raja Yang Maha Mengetahui.
Hari Asyura adalah hari di mana janda-janda dan anak-anak yatim bergembira, dirahmatkan pada hari itu oleh Yang Maha Pemurah dan Maha Pemberi Nikmat, diampuni pada hari itu kejahatan dan kejahatan, dan diwajibkan pada hari itu bagi yang menaatiNya negeri yang kekal dan keselamatan. Demi Allah wahai hamba-hamba Allah, janganlah sampai setan mengunci hati-hati kalian dengan gembok dan menghalangi kalian dari jalan Yang Maha Mulia, dan membuka di hati kalian pintu-pintu kefakiran sehingga kalian mencegah zakat dari harta kalian, dan ia membawa kalian jika kalian mentaatinya kepada tempat kembali yang buruk. Wahai saudaraku yang kikir, teman setan yang hina, yang mencegah zakat, mengurangi nafkah, dan melewatkan untuk dirinya semua kebaikan.
Kehidupannya di dunia adalah kehidupan orang-orang fakir, dan perhitungannya di akhirat adalah perhitungan orang-orang kaya. Wahai sekalian orang beriman, jadilah orang-orang yang mulia dan janganlah menjadi orang-orang yang hina, karena orang-orang yang mulia berada di surga yang kekal dan penuh kenikmatan, sedangkan orang-orang yang hina berada dalam azab neraka Jahim. Maka dekatkanlah diri kalian kepada Allah pada hari ini dengan menunaikan zakat, dan bertotonglah pada hari itu dengan ibadah-ibadah sunnah dari salat-salat.
Mudah-mudahan Allah mengampuni untuk kalian dosa-dosa dan kejahatan yang telah kalian lakukan di masa lalu.
400 – Puasa Mereka Pada Hari Itu
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah ta’ala mewajibkan kepada Bani Israil puasa satu hari dalam setahun, yaitu hari Asyura, tanggal sepuluh Muharram. Maka berpuasalah kalian pada hari itu dan lapangkanlah pada hari itu untuk keluarga dan anggota rumah kalian. Barangsiapa melapangkan untuk keluarganya dari hartanya pada hari Asyura, Allah akan melapangkan untuknya sepanjang tahun itu. Barangsiapa berpuasa pada hari ini, maka itu adalah kafarat empat puluh tahun. Tidak ada seorang pun yang menghidupkan malam Asyura atau pagi dalam keadaan berpuasa kecuali ia mati tanpa merasakan rasa kematian. Wahai saudaraku, sesungguhnya perempuan tua pun memintal pada hari Asyura agar tetap ada keberkahan pintalan itu hingga tahun berikutnya, maka beramallah kamu pada hari ini dengan ketaatan agar tetap ada keberkahannya padamu hingga hari kiamat. Tidak ada seorang hamba mukmin yang membelanjakan pada hari Asyura satu dirham atau satu mitsqal (satuan berat) kecuali Allah ta’ala menggantikannya di dunianya tujuh puluh kali lipat seperti apa yang ia belanjakan, dan menjadikan nafkahnya sebagai bekal menuju surga. Demi Allah wahai hamba-hamba Allah, berbuatlah kebaikan pada hari ini, tolonglah orang yang lemah, dan bantulah orang yang tertimpa musibah, niscaya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang akan menolong kalian.”
401 – Setiap Kebaikan Adalah Sedekah
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Setiap kebaikan adalah sedekah. Kebaikan melindungi dari tujuh puluh jenis bencana dan melindungi dari kematian yang buruk.” Kebaikan dan kemungkaran keduanya ditegakkan di hadapan manusia pada hari kiamat di padang Mahsyar. Kebaikan melekat pada pelakunya, memimpin dan menggiring mereka ke surga, sedangkan kemungkaran melekat pada pelakunya, memimpin dan menggiring mereka ke neraka.
Allah melindungi kami dan kalian dari neraka.
Demi Allah, bersungguh-sungguhlah agar kalian termasuk penghuni surga dan jangan menjadi penghuni neraka. Bersungguh-sungguhlah dalam kebaikan dan penambahan (amal), dan janganlah ridha dengan kekurangan.
402 – Pelaku Kebaikan
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala menjadikan untuk kebaikan wajah-wajah dari makhlukNya, dicintakan kepada mereka kebaikan dan dicintakan kepada mereka perbuatannya, dan mengarahkan para pencari kebaikan kepada mereka, dan dimudahkan bagi mereka memberinya sebagaimana dimudahkan hujan ke bumi yang kering untuk menghidupkannya dan menghidupkan penghuninya. Dan sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala menjadikan untuk kebaikan musuh-musuh dari makhlukNya, dibenci kepada mereka kebaikan dan dibenci kepada mereka perbuatannya, dan dihalangi dari para pencari kebaikan untuk meminta kepada mereka, dan dihalangi dari mereka memberinya sebagaimana dihalangi hujan dari bumi yang kering untuk membinasakannya dan membinasakan penghuninya. Dan apa yang Allah azza wa jalla ampuni lebih banyak. Demi Allah wahai para wali Allah, wahai pelaku kebaikan.”
Maka jadilah termasuk pelaku kebaikan, tolonglah orang fakir, dan bantulah orang yang tertimpa musibah, mudah-mudahan Allah menolong kalian pada hari kebangkitan. Sesungguhnya Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
403 – Mengeluarkan Zakat
Pada hari yang diberkahi dan mulia ini, hari Asyura, karena apa yang Allah jadikan padanya berupa penggantian dan kebaikan-kebaikan. Ketahuilah bahwa karena Allah ta’ala mengagungkan hari Asyura dan menjadikan padanya penggantian dan kebaikan-kebaikan, disunnahkan bagi orang-orang beriman pada hari itu mengeluarkan zakat. Tidak ada seorang pun dari orang-orang beriman laki-laki dan perempuan yang tidak wajib atasnya zakat hartanya, lalu ia memberi pada hari Asyura atau bersedekah dari sedikit yang ada padanya dengan mengharap keutamaan hari Asyura, kecuali ia dicatat sebagai ahli zakat dan tidak keluar dari dunia hingga ia diberi harta yang halal untuk dizakati.
Maka jagalah diri kalian wahai sekalian orang beriman laki-laki dan perempuan agar setan yang terkutuk tidak menipu kalian, karena telah datang dalam berita bahwa jika seorang hamba berniat mengeluarkan satu dirham karena Allah ta’ala, setan membuka di hatinya tujuh puluh pintu kefakiran hingga ia menghalangi antara dia dengan pengeluarannya. Jika Allah ta’ala memberi karunia kepada hamba dan menolongnya hingga ia mengalahkan musuhnya dan setannya, ia seperti orang yang mengalahkan pasukan kaum musyrikin dan membunuh mereka.
Yang menunjukkan kebenaran perkataan ini adalah bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu jika tiba waktu zakat dan ia bertekad untuk mengeluarkannya, ia memakai bajunya, mengikatkan pedangnya, mengambil tombaknya dan menunggang kudanya. Maka para sahabat radhiyallahu anhum berkata: Ada apa denganmu wahai Abu Hasan, kamu memakai perlengkapan perangmu? Maka ia berkata: Aku keluar untuk memerangi setan, aku takut ia menghalangiku mengeluarkan zakat. Maka jihad melawan setan adalah jihad yang terbesar. Setan laknatullah alaih ingin mengembalikanmu kepada kefakiran dirimu dan menghalangimu dari apa yang dijanjikan Tuhanmu jalla jalaluhu ketika berfirman azza wa jalla: “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kefakiran dan menyuruh kalian berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan kalian ampunan dariNya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (Surat Al-Baqarah: 268) Dan Allah Maha Luas dalam pemberian karena Dia jalla wa ta’ala tidak berkurang dari kerajaanNya apa yang Dia gantikan kepada hamba mukmin yang menunaikan zakat dan bersedekah dari kelebihan hartanya.
Dan firman ta’ala “Maha Mengetahui” artinya Maha Mengetahui apa yang hamba-hamba lakukan dari kebaikan dan kejahatan. Barangsiapa membelanjakan dari harta Allah dan melapangkan darinya untuk keluarganya dan hamba-hamba Allah, maka baginya penggantian dari Allah ta’ala. Allah jalla jalaluhu berfirman: “Dan apa saja yang kalian nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (Surat Saba’: 39) Demi Allah wahai hamba-hamba Allah, percayalah kepada Tuhan kalian jalla jalaluhu dalam penggantian dan janganlah mentaati setan yang menjanjikan kalian kefakiran dan kehancuran.
404 – Laknat Atas Pencegah Zakat
Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Turun dari langit pada setiap hari tujuh puluh dua laknat atas pencegah zakat dari umat ini. Dan Yang Maha Mulia jalla jalaluhu telah menamakan mereka sebagai orang-orang kafir dalam firmanNya ta’ala: “Dan celakalah bagi orang-orang yang mempersekutukan (Allah), (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka terhadap negeri akhirat adalah orang-orang yang mengingkarinya.” (Surat Fushshilat: 6) Sebagian ulama menyebutkan bahwa ketika Allah ta’ala mengeluarkan keturunan dari tulang belakang Adam alaihissalatu wassalam, Dia memisahkan dari mereka orang-orang kaya dari penduduk desa dan kota, dan memisahkan harta-harta mereka, kemudian berfirman jalla jalaluhu: Ini adalah harta-harta yang Aku berikan kepada kalian dan Aku jadikan kalian sebagai penjaga atasnya, maka janganlah kalian disibukkan olehnya dari menunaikan kewajiban-kewajiban dan hak-hakKu. Kemudian berfirman azza wa jalla kepada orang-orang fakir dari penduduk desa dan kota, dan Dia memerdekakan rezeki-rezeki mereka sesuai dengan ajal-ajal mereka dan mengakhirkannya serta menjadikannya titipan di harta-harta orang-orang kaya. Dia berfirman kepada mereka azza wa jalla: Ini adalah rezeki orang-orang fakir dari hamba-hambaKu sebagai titipan di harta-harta kalian. Janganlah kalian menyempit dan menahan dari mereka harta dan rezeki mereka, maka akan turun kepada kalian murkaKu dan kemurkaan Ku. Sesungguhnya Aku telah menjadikan kalian sebagai penjaga atasnya.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada hari melainkan dua malaikat berseru di bawah Arasy: Harta adalah harta Allah dan hamba-hamba adalah hamba-hamba Allah. Jika orang-orang fakir lapar, Allah menyiksa orang-orang kaya.”
Demi Allah wahai hamba-hamba Allah, penuhilah janji-janji kepada Dia dan bersemangatilah untuk mencapai negeri kenikmatan dan keabadian serta berdampingan dengan Raja Yang Disembah.
405 – Orang Yang Kenyang Sementara Tetangganya Lapar
Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Tidak beriman kepada Allah dan hari akhir orang yang bermalam dalam keadaan kenyang sementara tetangganya lapar.” Telah datang dalam hadits bahwa tetangga yang fakir akan bergantung pada tetangganya yang kaya pada hari kiamat dan berkata: Wahai Tuhanku, tanyakan kepada orang kaya ini mengapa ia mencegah kebaikannya dariku dan menutup pintunya di hadapanku. Dalam hadits lain ia berkata: Wahai Tuhanku, tanyakan kepada orang ini mengapa ia bermalam dalam keadaan makan sementara aku bermalam di sampingnya dalam keadaan lapar.
Yang membenarkan hal ini adalah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepada Usamah bin Zaid dalam wasiatnya: Wahai Usamah, jagalah dirimu dari setiap perut yang lapar yang menggugat kamu di hadapan Allah, karena Dia berfirman: Tidak beriman kepadaKu orang yang bermalam dalam keadaan kenyang sementara tetangganya lapar di sampingnya.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Siapa saja yang memiliki tetangga muslim yang bermalam dalam keadaan lapar dan ia mengetahui kelaparannya, sementara ia memiliki kelebihan dan tidak mengenyangkannya, maka sungguh ia telah lepas dari jaminan Allah ta’ala dan jaminan RasulNya shallallahu alaihi wasallam.” Sungguh kerugian yang tidak kita renungkan dengan akal kita! Berapa banyak di antara kita orang miskin, lemah, dan sakit yang tidak memiliki nilai sebuah roti. Demi Allah, janganlah kalian terpedaya oleh kemuliaan dan harta sehingga menyia-nyiakan orang-orang fakir dan orang-orang yang serba kekurangan, karena akhir dari segala sesuatu adalah berubah, berpindah, habis dan hilang.
Disebutkan dalam tafsir ayat ini “Dan mereka diliputi kehinaan dan kemiskinan” (Surat Al-Baqarah: 61), dikatakan: Hamba bersemangat mengumpulkan harta benda dan harta haram. Setiap orang yang menunaikan zakat hartanya, maka ia adalah orang yang mulia yang telah terbebas dari janji setan yang terkutuk, dan percaya dengan janji Yang Maha Mulia lagi Maha Penyayang, dan selamat dari azab yang pedih.
406 – Hadits tentang Celaan terhadap Kikir
Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda “Takutlah kalian terhadap kikir, karena sesungguhnya kikir telah menghancurkan orang-orang sebelum kalian, mendorong mereka menumpahkan darah dan menghalalkan hal-hal yang diharamkan bagi mereka.”
Dan mereka membacakan syair: Persahabatan dengan orang mulia lebih baik daripada persahabatan dengan siapa yang kau persahabati… dari orang yang memiliki kemuliaan dan yang menjaga kehormatan
Sesungguhnya orang mulia meskipun keadaannya menurun… perbuatannya tetap mulia
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau sedang melakukan tawaf di Baitullah, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berpegangan pada tirai Ka’bah dan dia berkata: Demi kehormatan Rumah ini, ampunilah aku.
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: Apa dosamu? Jelaskan kepadaku.
Laki-laki itu berkata: Dosaku lebih besar dari yang dapat aku jelaskan kepadamu, ya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Apakah dosamu lebih besar atau bumi?
Dia berkata: Dosaku, ya Rasulullah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Apakah dosamu lebih besar atau gunung-gunung?
Dia berkata: Dosaku, ya Rasulullah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Apakah dosamu lebih besar atau langit-langit?
Dia berkata: Dosaku, ya Rasulullah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Apakah dosamu lebih besar atau Allah?
Dia berkata: Allah lebih besar dan lebih agung.
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Celakalah kamu, jelaskan dosamu kepadaku.
Dia berkata: Ya Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki harta kekayaan yang banyak, dan sesungguhnya peminta-minta datang kepadaku meminta sesuatu, maka seakan-akan dia menghadapiku dengan kobaran api.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Menjauhlah dariku, jangan bakar aku dengan apimu. Demi Dzat yang mengutus aku dengan petunjuk dan kemuliaan, seandainya kamu berdiri di antara Rukun dan Maqam, lalu kamu shalat selama seribu tahun dan seribu tahun hingga mengalir sungai-sungai dari air matamu dan menyirami pohon-pohon dengannya, kemudian kamu mati sedangkan kamu kikir, niscaya Allah akan melemparkanmu ke dalam neraka. Celakalah kamu, tidakkah kamu tahu bahwa kikir adalah kekufuran dan kekufuran ada di dalam neraka? Dan celakalah kamu, tidakkah kamu tahu bahwa Allah Ta’ala berfirman “Dan barangsiapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Surah Al-Hashr: 9).
Dan mereka membacakan syair: Sesungguhnya orang kikir ketika dia mati, yang mengikutinya… hanya pujian dan ahli waris menguasai unta
Orang kikir melihat jalan harta hanya satu… sesungguhnya orang dermawan melihat dalam hartanya banyak jalan
407 – Nasihat dalam Anjuran Mengeluarkan Zakat
Maka demi Allah, demi Allah wahai sekalian orang-orang beriman, jadilah kalian termasuk orang-orang dermawan yang saleh dan jangan kalian menjadi termasuk orang-orang kikir yang fasik. Karena orang kikir adalah sekutu setan yang terkutuk. Allah Ta’ala berfirman “Dan ajaklah mereka ikut serta dalam harta dan anak-anak, dan beri janjilah mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka melainkan tipuan belaka” (Surah Al-Isra’: 64).
Maka setiap harta yang tidak dikeluarkan zakatnya, maka pemiliknya adalah penjaga setan. Dan setiap harta yang dikeluarkan zakatnya, maka pemiliknya adalah musuh setan, kekasih Allah Yang Maha Pengasih, beramal dengan Sunnah dan Al-Qur’an, selamat dari azab neraka, dan masuk ke dalam nikmat surga.
Maka setiap orang yang mati dan meninggalkan harta yang telah dikeluarkan zakatnya, sesungguhnya pemiliknya para malaikat akan terus mencatat kebaikan baginya hingga hari kiamat. Dan setiap orang yang mati dan meninggalkan harta yang tidak dikeluarkan zakatnya, maka dosanya terus berjalan atasnya hingga hari kiamat, meskipun hartanya sampai kepada orang yang mengeluarkan zakatnya.
Dan tidaklah seorang hamba mengeluarkan zakat hartanya dengan hati yang lapang kecuali Allah menjadikan harta itu pada hari kiamat sebagai kalung dari cahaya surga yang bersinar bagi para pengumpulan dari orang-orang beriman hingga mereka melewati shirath dan masuk dengannya ke surga.
Dan tidaklah seorang hamba tidak mengeluarkan zakat hartanya kecuali Allah mengalungkan kepadanya pada hari kiamat kalung dari api jahannam. Seandainya kalung itu diletakkan di dunia niscaya akan terbakar seluruh dunia, gunung-gunungnya hancur dan laut-lautnya kering.
Maka demi Allah, seandainya tidak ada kebanggaan bagi orang mulia yang dermawan kecuali disebutnya oleh Allah Ta’ala dalam kitab-Nya, sudah cukup dalam firman-Nya Ta’ala “Dan barangsiapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Surah Al-Hashr: 9).
Maka manfaatkanlah hari yang utama ini, karena ini adalah hari yang dikenal orang-orang mulia dan dipermalukan orang-orang kikir.
Dan ini adalah hari Asyura, hari yang banyak diriwayatkan kabar-kabarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan ini adalah hari nafkah karena Allah yang diganti, dan nafkah di dalamnya untuk selain Allah yang hilang.
Jika hari ini adalah hari dilipatgandakannya nafkah, maka lebih pantas diampuni di dalamnya kesalahan-kesalahan, dilipatgandakan di dalamnya kebaikan-kebaikan, Allah menyelamatkan di dalamnya orang-orang beriman dari azab dan hukuman pada hari ketika bumi diganti dengan bumi yang lain dan langit-langit, dan nampak di dalamnya rahasia-rahasia dan hal-hal yang tersembunyi.
Dan mereka membacakan syair: Wahai pengumpul harta yang berharap akan kekal baginya… semua yang kamu mampu dan kirimkan untuk timbangan
Dan janganlah kamu seperti orang yang telah berkata ketika datang… kematiannya, sepertiga hartaku untuk orang-orang miskin
Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya: Sedekah mana yang paling utama?
Beliau bersabda: “Bahwa kamu bersedekah sedangkan kamu sehat, tamak, kikir, mengharapkan kehidupan dan takut kefakiran. Dan jangan menunda-nunda hingga jika (nyawa) telah sampai di kerongkongan, kamu berkata: Untuk si fulan sekian dan untuk si fulan sekian.”
408 – Tentang Orang yang Meninggalkan Harta Kekayaan untuk Baitul Mal
Disebutkan bahwa seorang laki-laki dari penduduk Yaman meninggal di Madinah dan meninggalkan harta yang banyak. Maka diberitahukanlah kabarnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Beliau bertanya: Apakah ada ahli waris?
Mereka berkata: Tidak, ya Rasulullah.
Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa tidak memiliki ahli waris, maka hartanya untuk baitul mal kaum muslimin.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar harta itu dihadirkan. Maka didatangkanlah harta itu ke masjid dan diletakkan hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak terlihat dari satu sisi dan orang-orang tidak terlihat dari sisi yang lain berupa perhiasan, emas, perak, dan kain.
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Angkat harta itu ke baitul mal kaum muslimin.”
Maka diangkatlah sebagaimana perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu menoleh ke dalam masjid, lalu dia menemukan biji emas di dalamnya seberat satu qirath. Dia berkata: Ya Rasulullah, ini dari harta itu.
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengambilnya dan meletakkannya di telapak tangannya dan beliau membolak-balikkannya di tangannya, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seandainya dia bersedekah dengannya semasa hidupnya ketika dia sehat, kikir, mengharapkan kehidupan, dan takut kefakiran, niscaya itu lebih aku cintai daripada semua harta ini yang dia berikan sesudahnya di jalan Allah.”
Maka demi Allah, demi Allah wahai hamba-hamba Allah, dengarkanlah perkataan yang benar dan segeralah kepada perbuatan yang baik. Dan jangan tertipu dengan kemuliaan dan harta.
Karena sesungguhnya harta akan hilang, dunia akan hancur, dirimu akan mati, dan kembali besok kepada Yang Hidup Yang Kekal Abadi yang tidak mati. Dan ketahuilah wahai saudaraku, bahwasanya kamu tergadai dengan dosa-dosa dan kamu akan dihisab, dituntut, dimintai pertanggungjawaban di hadapan Yang Maha Mengetahui yang gaib. Maka bersiaplah untuk pertanyaan dan bersiaplah untuk perdebatan pada hari yang di dalamnya kepala-kepala beruban dan jiwa-jiwa menyempit karena dahsyatnya ketakutan. Itu adalah hari yang mengerikan lagi keras.
Hari diletakkan di dalamnya wanita-wanita hamil kandungan-kandungan mereka, dan bumi diguncang dengan guncangan-guncangan dahsyatnya, dan dikeluarkan dengan perintah Allah setelah itu beban-bebannya.
Wahai orang yang tertipu, wahai orang miskin, kamu telah menzalimi orang-orang fakir dan orang-orang miskin, meninggalkan hartamu untuk ahli waris, dan tidak takut dari hukuman Rabb semesta alam pada hari pembalasan untuk orang-orang yang terzalimi dari orang-orang yang zalim.
Dan mereka membacakan syair: Dan janganlah kamu seperti orang yang telah berkata ketika datang… kematiannya, sepertiga hartaku untuk orang-orang miskin
Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya: Sedekah mana yang paling utama?
Beliau bersabda: “Bahwa kamu bersedekah sedangkan kamu sehat, tamak, kikir, mengharapkan kehidupan dan takut kefakiran. Dan jangan menunda-nunda hingga jika (nyawa) telah sampai di kerongkongan, kamu berkata: Untuk si fulan sekian dan untuk si fulan sekian.”
Wahai pengumpul harta untuk anak-anaknya… yang takut atas mereka cemoohan musuh-musuhnya
Dan tidak peduli bagaimana cara mendapat kekayaan… tertipu dengan Allah dan janji-janji-Nya
Dengarlah perkataan yang akan kamu beruntung dengannya… jika kamu tidak mengamalkan kebalikannya
Anak-anakmu jika mereka berlindung kepada Rabb mereka… dan mengikuti jalan petunjuk-Nya
Maka Allah mencukupi mereka dan melindungi mereka… dan Allah tidak ada penyelewengan terhadap janji-Nya
Dan jika mereka menyimpang dari jalan petunjuk… dan menghadapi agama dengan kerusakannya
Maka hartamu menjadi pertolongan bagi mereka… dalam ketaatan kepada sia-sia dan tentara-tentaranya
Dikatakan: Seorang laki-laki berdiri dalam halaqah Manshur bin Ammar pada hari Asyura dan berkata: Wahai manusia, semoga Allah merahmati orang yang bersedekah dari kelebihan, menafkahkan dari kecukupan, dan mengutamakan dalam kefakiran.
Maka Manshur berkata kepada mereka: Wahai sekalian manusia, dia tidak meninggalkan seorang pun dari kalian.
Maka tidak ada seorang pun di dalam majelis kecuali dia memberi. Manshur bin Ammar berkata: Ya Allah, segerakanlah bagi mereka pengganti di dunia dan pahala yang besar di akhirat.
Manshur berkata: Sungguh aku telah kehilangan ahli majlisku semuanya satu persatu setelah itu setahun, maka tidak ada dari mereka kecuali dia berkata: Allah telah mengganti untukku tujuh puluh kali lipat dari apa yang aku berikan.
Manshur berkata: Maka mataku tertidur dan aku tidur, lalu aku melihat orang yang berkata: Bergembiralah wahai Manshur, sesungguhnya Allah telah mengampuni semua orang yang ada dalam majelis itu, maka beritahukanlah hal itu kepada mereka. Dan Aku telah mengampunimu, karena kamu yang menunjukkan mereka kepada kebaikan.
Maka demi Allah, demi Allah wahai hamba-hamba Allah, berikanlah karunia untuk diri kalian sendiri dengan harta-harta kalian, karena tidak ada seorang pun dari kalian yang lebih berhak dengannya daripada dirinya sendiri.
409 – Peringatan dari Kikir
Disebutkan dalam sebagian kabar bahwa seorang malaikat berseru setiap hari di bawah Arsy: Celakalah kemudian celakalah bagi orang yang meninggalkan keluarganya dengan kebaikan dan menghadap kepada Allah dengan keburukan.
Dan mereka membacakan syair: Jangan kamu utamakan dengan apa yang kamu kumpulkan selain dirimu… kematian tidak kamu ketahui kapan akan mendatangimu
Sesungguhnya anak-anak laki-laki bersama anak-anak perempuan aku melihat mereka… mereka melihat-lihat dan menginginkan kebinaanmu
Barangsiapa mengetahui bahwa hartamu adalah hartanya… setelah kematian, maka dia tidak mencintai kelangsungan hidupmu
Maka demi Allah, demi Allah wahai hamba-hamba Allah, bersungguh-sungguhlah dan berkeinginanlah pada pahala hari yang Yang Maha Pengasih mengutamakannya. Dan Dia berjanji bagi orang yang menunaikan zakat hartanya surga keridhaan, dan memberikan kepada orang yang menunaikan zakat keikhlasan keimanan. Dan mencela orang yang tidak membayar zakat dan menjadikannya dari ahli kekufuran dan kehinaan, dan menjelaskan hal itu dalam Al-Qur’an.
Dan mereka membacakan syair: Wahai pengumpul harta di dunia untuk ahli warisnya… apakah kamu dengan harta setelah kematian akan mendapat manfaat
Kirimkanlah untuk dirimu sebelum kematian dalam kesempatan… karena sesungguhnya bagianmu setelah kematian terputus
410 – Tentang Orang yang Memberi Pinjaman kepada Allah maka Allah Melipatgandakannya baginya
Disebutkan bahwa seorang laki-laki masuk ke salah satu pasar pada hari Asyura, lalu dia mendengar seorang peminta-minta berkata “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakannya untuknya dan baginya pahala yang mulia” (Surah Al-Hadid: 11).
Dia berkata: Maka berdirilah kepadanya seorang laki-laki dari para pedagang, lalu memberikan kepadanya sepuluh dinar.
Ketika tahun berikutnya, tiba-tiba laki-laki peminta-minta itu telah datang dan di sekelilingnya orang-orang fakir mengikutinya, dan dia membagi-bagikan sedekah kepada mereka.
Maka laki-laki yang melihatnya ketika si pedagang memberikan sepuluh dinar itu berkata: Wahai saudaraku, aku bersumpah kepadamu, bukankah kamu orang yang diberi sepuluh dinar oleh si pedagang fulan pada tahun lalu di hari Asyura?
Dia berkata: Ya.
Aku berkata: Bukankah kamu fakir pada hari itu?
Dia berkata: Benar.
Aku berkata kepadanya: Maka apa yang membuatmu kaya?
Dia berkata: Ketika Allah mengetahui kejujuran niatku dan bahwasanya aku tidak mengambil sedekah kecuali aku dalam kebutuhan, dan Allah Ta’ala mengetahui kelapangan hati orang yang bersedekah dengan memberikannya, Allah memberkahi untukku sepuluh dinar itu dan menumbuhkannya untukku hingga wajib atasku hari ini sepuluh dinar zakat dalam hartaku.
Dia berkata: Maka ketika aku mendengar dari dia hal itu, aku pergi kepada laki-laki yang bersedekah kepadanya dengan sepuluh dinar, lalu aku berkata: Jelaskan kepadaku kisahmu pada tahun lalu di hari Asyura ketika datang laki-laki yang berkata “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakannya untuknya dan baginya pahala yang mulia” (Surah Al-Hadid: 11).
Maka laki-laki yang bersedekah itu berkata: Sesungguhnya ketika dia membaca ayat ini, jatuh di hatiku bahwa Allah Subhanahu akan mengganti untukku di dunia dan akan menyempurnakan untukku di akhirat pahala yang mulia. Maka aku tidur dengan niat ini, lalu aku melihat Rabbku Jalla Jalaluhu dalam mimpiku dan Dia berfirman: Wahai hamba-Ku, sungguh telah Aku laksanakan kedua perkara itu dan telah Aku wajibkan bagimu surga.
411 – Hari Asyura dan Terbunuhnya Husain
Maka sungguh mengherankan, setiap keheranan dari sebagian orang-orang bodoh yang mencela hari Asyura dan menamakannya hari sial karena terbunuhnya Husain radhiyallahu ‘anhu di dalamnya. Dan ini adalah puncak kebodohan dalam kejahilan dan dalam menentang kabar-kabar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan berlebih-lebihan dalam menolak pemilik syariat dalam sabdanya tentang keutamaan hari Asyura.
Dan seandainya bukan karena permusuhan dan kebencian, niscaya mereka menghitung hal itu dari keutamaan Husain radhiyallahu ‘anhu ketika dia syahid pada hari yang mulia seperti ini. Sebagaimana salah seorang dari kita meninggal kerabatnya pada malam Jumat atau malam Qadar, atau syahid pada hari Jumat atau hari Arafah, maka itu menjadi dari keutamaan-keutamaannya atau dihitung dari kebaikan-kebaikannya. Maka demikian pula Husain.
Ini padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah diberitahu oleh Jibril ‘alaihissalam tentang terbunuhnya.
412 – Husein dan Kakeknya
Ummu Salamah radhiyallahu anha berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedang bersama Husein di rumahku, lalu aku masuk menemui mereka berdua dan memperhatikan mereka dari pintu. Ternyata Husein berada di atas dada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedang bermain, dan di tangan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam terdapat sepotong tanah sementara air matanya mengalir di pipinya. Ketika Husein keluar, aku masuk menemuinya dan berkata kepadanya, “Demi ayah dan ibuku untukmu, wahai Rasulullah, aku melihatmu sedang memegang tanah sementara anak itu di dadamu dan engkau menangis.” Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya, “Sesungguhnya ketika aku merasa gembira dengannya sementara dia di dadaku sedang bermain, tiba-tiba datang kepadaku Jibril alaihissalam dan memberiku tanah tempat Husein akan terbunuh, karena itulah aku menangis.”
413 – Mimpi Ibnu Abbas tentang Terbunuhnya Husein
Dikatakan bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu anhu melihat dalam mimpinya pada hari terbunuhnya Husein, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membawa botol di tangannya dan beliau mengumpulkan sesuatu dari bumi. Ibnu Abbas berkata, “Aku bertanya kepadanya, ‘Apa ini, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Anakku Husein dibunuh dan aku tidak berhenti sejak hari itu mengumpulkan darahnya dari bumi dan mengumpulkannya dalam botol dan mengangkatnya kepada Allah Taala.'”
Maka terjadilah sebagaimana yang ia lihat, radhiyallahu anhu.
Dikatakan bahwa ketika Husein pergi ke Irak, keluarganya menakut-nakutinya dan mereka sangat khawatir. Ketika ia melihat kekhawatiran mereka, ia melantunkan syair:
Aku akan pergi, karena tidak ada aib dalam kematian bagi seorang pemuda Jika ia berniat kebenaran dan memerangi penjahat Dan menolong orang-orang saleh dengan dirinya Dan menentang orang celaka serta bersama orang Islam Dan berjihad di jalan Rahman dengan sebenar-benar jihad Cukuplah sebagai kehinaan bagimu jika engkau hidup lalu terhina
Ketika ia tiba di Kufah, Farazdaq menemuinya. Husein berkata kepadanya, “Apa yang ada di belakangmu, wahai Abu Firas?” Ia menjawab, “Apakah aku jujur atau tidak?” Husein berkata, “Aku ingin kejujuran.” Ia berkata, “Adapun hati mereka bersamamu, tetapi pedang mereka bersama Bani Umayyah melawanmu.”
Husein berkata kepadanya, “Aku tidak melihatmu kecuali jujur. Sesungguhnya manusia adalah budak harta, agama adalah dagangan di lidah mereka, mereka menjaganya selama itu memberi makan mereka. Namun jika beralih kepada ujian, berkuranglah orang-orang yang beragama.”
Kemudian ia menoleh kepada sahabat-sahabatnya dan berkata, “Kita telah jatuh kepada orang yang mengetahui.”
414 – Tanda-tanda yang Muncul karena Terbunuhnya Husein
Hasan berkata, “Kami tidak pernah melihat kemerahan di langit ini kecuali ketika Husein dibunuh.” Dan ditemukan di atas dinding Konstantinopel:
Apakah suatu umat yang membunuh Husein mengharapkan Syafaat kakeknya pada hari perhitungan
Dikatakan jin meratapi terbunuhnya Husein selama tujuh hari hingga terdengar dari bawah tujuh bumi dan para malaikat semuanya menangis.
415 – Kisah Aneh
Al-Hadza’ bin Rabah al-Qadhi berkata, “Aku melihat seorang laki-laki buta yang menyaksikan pembunuhan Husein dan orang-orang datang kepadanya dan bertanya tentang hilangnya penglihatannya.” Ia berkata bahwa ia mengatakan, “Aku menyaksikan pembunuhan Husein tetapi aku tidak memukul dengan pedang dan tidak melempar dengan anak panah. Ketika Husein dibunuh, aku kembali ke rumah dan shalat Isya lalu tidur. Dalam mimpiku seseorang datang kepadaku dan berkata, ‘Penuhi panggilan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.’ Aku berkata, ‘Apa urusanku dengannya?’ Maka ia menyeretku dengan tarikan yang keras dan membawaku kepadanya. Ternyata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam duduk di mihrab dengan sedih, menyingkapkan lengannya, memegang pipinya, dan di hadapannya ada tikar dan seorang malaikat berdiri di hadapannya, dan di hadapan malaikat itu ada pedang dari api. Aku memiliki sembilan sahabat, maka malaikat itu membunuh kesembilan sahabatku. Setiap kali malaikat itu memukul seseorang, jiwanya menyala menjadi api, kemudian setiap kali mereka bangkit, malaikat itu membuat mereka hidup lagi lalu membunuh mereka berkali-kali hingga membunuh mereka tujuh kali. Lalu aku mendekat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dan merangkak kepadanya dan berkata, ‘Assalamu alaikum wahai Rasulullah, demi Allah aku tidak memukul dengan pedang, tidak menusuk dengan tombak, dan tidak melempar dengan anak panah.’ Beliau berkata kepadaku, ‘Engkau benar, tetapi engkau memperbanyak jumlah musuh. Mendekatlah kepadaku.’ Aku mendekat kepadanya, ternyata ada baskom penuh darah dari darah Husein, lalu beliau mengcelakkan mataku dengan darah itu, maka aku terbangun dalam keadaan buta tidak melihat apa pun.”
416 – Kisah tentang Pembunuh Husein
Al-Fadhl bin Zubair berkata, “Aku sedang duduk di sisi As-Suddi ketika datang seorang laki-laki dan duduk bersamanya, ternyata darinya tercium bau ter. As-Suddi berkata kepadanya, ‘Apakah engkau menjual ter?’ Ia menjawab, ‘Tidak.’ Ia berkata kepadanya, ‘Apa bau ini?’ Ia berkata, “Aku menyaksikan tentara Umar bin Sa’d dan aku menjual kepada mereka pasak besi. Ketika Husein dibunuh pada hari Asyura, aku bermalam di perkemahan. Aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam tidur, dan Husein serta Ali bersamanya, dan beliau memberi minum air kepada orang-orang yang terbunuh dari sahabat-sahabat Husein. Aku meminta minum kepadanya tetapi beliau menolak memberiku minum.” Ia berkata, beliau berkata kepadaku, “Bukankah engkau termasuk orang yang membantu melawan kami?” Aku berkata, “Bahkan aku menjual kepada mereka pasak besi.” Ia berkata, beliau berkata kepada Ali, “Beri dia minum ter.” Ia berkata, “Beliau memberiku segelas, lalu aku minum darinya. Aku tiga hari buang air kecil ter, kemudian itu hilang dariku tetapi bau ini tetap padaku.”
Ia berkata, As-Suddi berkata kepadanya, “Makanlah roti gandum, makanlah dari semua tumbuhan, dan minumlah dari air Furat, karena aku tidak melihatmu akan melihat surga atau Muhammad selamanya.”
417 – Orang yang Meremehkan Husein
Diceritakan bahwa seorang laki-laki yang menyaksikan pembunuhan Husein pada hari Asyura berkata dengan wajah meremehkan, “Betapa banyak kebohongan penduduk Irak yang mengatakan bahwa tidak ada orang yang menyaksikan pembunuhan Husein kecuali ditimpa bencana. Aku hadir pada hari pembunuhannya dan aku tidak ditimpa bencana atau apa pun.” Ia berkata, ia adalah tamu di rumah suatu kaum, lalu ia berdiri untuk memperbaiki lampu, maka terkait padanya percikan api dari lampu, lalu ia terbakar dan mati di tempat itu juga.
418 – Kebaikan Sulaiman bin Abdul Malik kepada Husein
Diceritakan dari Hasan al-Bashri bahwa ia berkata, “Sulaiman bin Abdul Malik melihat dalam mimpi bahwa ia berbuat baik kepadanya dan bersikap lembut kepadanya. Ia bertanya kepada Hasan tentang hal itu. Hasan berkata, ‘Mungkin engkau berbuat kebaikan kepada keluarganya.’ Ia berkata, ‘Ya, aku menemukan kepala Husein di gudang Yazid bin Muawiyah, lalu aku memberinya kain lima lapis dari sutera tebal, menshalatinya bersama sekelompok sahabatku, dan menguburkannya.'”
Hasan berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah ridha kepadamu karena hal itu.” Maka ia berbuat baik kepada Hasan al-Bashri dan memerintahkan hadiah untuknya.
Maka hendaklah kalian menjaga kedudukan para bangsawan meskipun mereka dalam keadaan sangat berlebihan.
419 – Tentang Pembunuhan Husein
Aku melihat dalam kitab At-Ta’azi wal Azza’ karangan Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad al-Balluri bahwa Husein radhwanullahu alaihi meminta air ketika akan dibunuh lalu dicegah darinya, dan ia dibunuh dalam keadaan kehausan. Allah mendatanginya hingga memberinya minum dari minuman surga. Ia disembelih dan keluarganya ditawan serta dibawa dengan kepala terbuka di atas pelana tanpa alas hingga masuk Damaskus, dan kepala Husein di antara mereka di atas tombak. Jika salah seorang dari mereka menangis ketika melihatnya, penjaga memukulnya dengan cambuk. Penduduk Zimmah berdiri untuk mereka di pasar Damaskus meludahi wajah mereka hingga mereka berhenti di pintu Yazid. Ia memerintahkan kepala Husein dinaikkan di pintu dan semua keluarganya di sekitarnya, dan ia menugaskan penjaga untuk mereka. Ia berkata, “Jika ada yang menangis di antara mereka, tampar dia.”
Mereka berteduh sementara kepala Husein di antara mereka tersalib selama sembilan jam dari siang hari. Ummu Kultsum mengangkat kepalanya dan melihat kepala Husein, lalu menangis dan berkata, “Wahai kakekku” – maksudnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam – “ini adalah kepala kekasihmu Husein tersalib.” Lalu ia menangis. Salah satu penjaga mengangkat tangannya dan menamparnya dengan tamparan yang membuat wajahnya berdarah, dan tangannya lumpuh di tempat itu juga. Tentang ini, al-Azdi berkata:
Sungguh sesat suatu kaum yang menjadi ragu-ragu di pagi hari Tawanan mereka dalam peperangan adalah keluarga Muhammad Sebagaimana sesat usaha orang-orang yang menyimpang dengan tergesa-gesa mereka Maka mereka mendapat laknat dengan agama Yahudi Dan Musa dan Isa memberi kabar gembira tentang Muhammad Atasnya salam Allah dari orang yang bangun malam beribadah Wahai umat Islam, wahai umat yang telah Allah beri petunjuk kepada kami dengan Nabi, setiap orang yang mendapat petunjuk Dan bangkitlah untuk anak-anak Nabi, andai kau melihat Anak-anak laknat ketika mereka dengan ancaman kepada mereka Di pasar Damaskus mereka meludahi wajah mereka Tebusan untuknya jiwaku dan apa yang tanganku miliki Maka air mataku tidak mengering wahai kekasihku Dan bara cintaku kepada Husein tidak padam
420 – Amr bin Laits
Dikatakan bahwa Amr bin Laits suatu hari menggelar pasukannya dan melihat banyaknya tentaranya. Di hadapannya dibawa dua belas ribu tiang dari emas, di bawah setiap tiang ada panglima dari pengikutnya yang di bawahnya ada seribu penunggang kuda. Ketika ia melihat itu, matanya berkaca-kaca dengan tangisan dan berkata dalam hatinya, “Andai saja aku pada saat terbunuhnya Husein bin Ali bersama orang-orang ini, maka aku akan menebus dirinya dengan diriku, hartaku, dan pengikutku.” Salah seorang orang saleh melihat dalam mimpinya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka beliau berkata kepadanya, “Katakan kepada Amr bin Laits: ‘Kami telah mengetahui apa yang terlintas di hatimu dan kami menerima darimu, dan Allah Taala memberimu atas niatmu dan perkataanmu pahala yang besar.'” Lalu ia datang kepadanya dan mengabarkannya, maka ia menangis dengan tangisan yang sangat keras.
421 – Dari Keutamaan Asyura
Di antara keutamaan hari Asyura adalah apa yang disebutkan oleh Wahb bin Munabbih. Wahb bin Munabbih berkata: Allah Subhanahu wa Taala menurunkan cincin Sulaiman alaihishshalatu wassalam pada hari Asyura. Yang demikian itu adalah bahwa Allah Taala menempatkan Adam di surga dan memberinya cincin dengan cincin kemuliaan, dan berkata, “Wahai Adam, ini adalah cincin perjanjianKu, jika engkau lupa perjanjianKu wahai Adam, lepaskan dari dirimu, kemudian pakaikan kepada para nabiku yang tidak melupakan perjanjianKu dan wariskan kepadanya khilafahmu.” Adam terkejut dan berkata, “Wahai Tuhanku, siapa ini yang Engkau wariskan khilafahku kepadanya?” Allah Taala berfirman, “Anakmu Sulaiman, Aku selamatkan dia dari kesombongan dan Aku jadikan dia sebagai teladan bagi anak keturunanmu yang jahat yang merusak di ujung-ujung bumi dan menyebut diri mereka raja-raja di penjurunya.”
Maka Adam alaihissalam mengambilnya dan memakai cincinnya. Cahayanya menerangi pohon-pohon surga, para bidadari surga tersenyum, dan para penjaga surga tertarik melihatnya dengan keheranan dari cincin itu, keindahan dan kecantikannya. Maha Suci yang memuliakan dan memilihnya shallallahu alaihi wasallam, hingga ia bermaksiat kepada Tuhannya dan lupa akan janjiNya. Cincin itu terbang dari jarinya dengan terbang yang ketakutan hingga berlindung di salah satu rukun Arasy. Allah menjadikan cincin itu berbicara, maka ia berkata, “Tuhanku dan majikanku, ini Adam telah meninggalkanku sedangkan Engkau telah mensucikanku dengannya dan menjadikanku untuk orang-orang yang suci.” Allah Jalla Jalaluhu berfirman, “Tetaplah, bagimu keamanan, dan Kami akan menjadikanmu untuk orang yang Kami selamatkan dari kesombongan dan Kami muliakan denganmu dengan syarat tidak ada yang memilikimu setelahnya selamanya.” Ketika Allah Subhanahu memilih Sulaiman alaihissalam dengan khilafah dan wilayah, dan Dia ingin menunjukkan kepada hamba-hambaNya kekuasaanNya, Dia membuat dari Sulaiman alaihishshalatu wassalam dalam cincin itu, dan Allah Subhanahu menurunkannya kepadanya pada hari Asyura pagi hari Jumat. Sulaiman sedang berdiri di mihrabnya dan di belakangnya ada dua belas suku, dalam setiap suku ada dua belas ribu ulama, hakim, dan qadhi dari ahli Taurat, Zabur, dan yang mempelajari kitab-kitab, tidak termasuk pemilik jubah dan tongkat. Burung-burung menaungi mereka dari atas mereka. Sementara Sulaiman alaihissalam sedang membaca Zabur, tiba-tiba Jibril alaihissalam memanggilnya.
422 – Cincin Sulaiman
Dan berkata kepadanya, “Assalamu alaikum wahai Sulaiman, ini adalah hadiah Allah kepadamu, ambillah cincin ini dan pakailah.” Maka Sulaiman sujud kepada Allah Rabbul Alamin sebagai syukur, dan orang-orang di belakangnya sujud dari awal siang hingga akhirnya sebagai pengagungan kepada Allah Azza wa Jalla dan memujiNya. Hingga ketika ia mengangkat kepalanya, ia naik ke singgasananya dan menghadap orang-orang dengan wajahnya serta mengangkat cincin itu kepada mereka. Cincin itu berkilau di tangannya seperti kilat yang menyambar. Ia berkata kepada mereka, “Ini adalah cincin yang Allah kumpulkan untukku di dalamnya kekuasaanku dan kemuliaanku, dan Dia lebihkan aku dengannya atas seluruh alam. Ini adalah cincin ketaatan, tidak menyentuhnya kecuali orang mulia yang bertakwa, suci.” Mereka berkata kepadanya, “Kami telah memberikan ketaatan kami kepadamu dan engkau adalah yang mulia, bertakwa, suci, terpercaya.” Pada keempat sisi cincin itu tertulis: pada sisi pertama “Aku adalah Allah, Aku tidak berhenti ada,” pada yang kedua “Aku adalah Allah Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri,” pada yang ketiga “Aku adalah Allah Yang Maha Perkasa, tidak ada yang perkasa selain Aku, dan mulia adalah orang yang Aku pakaikan kepadanya,” dan pada yang keempat Ayat Kursi mengelilinginya: “Tidak ada tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah, penutup para nabi.”
Inilah sifat cincin Sulaiman alaihissalam.
423 – Bagaimana Seorang Tawanan Diselamatkan
Diceritakan bahwa seorang tawanan berada di tangan orang-orang kafir dan mereka menyiksanya. Ketika tiba hari Asyura, ia berkata, “Ya Allah, demi kehormatan hari ini di sisi-Mu, bebaskan lah aku.” Maka Allah melimpahkan kebaikan kepadanya dan melunakkan hati orang-orang kafir sehingga mereka membebaskannya. Dikatakan juga bahwa seorang tawanan keluar pada hari Asyura dari negeri orang-orang kafir, lalu mereka mengejarnya. Ketika ia melihat para penunggang kuda di belakangnya dan yakin bahwa ia akan tertangkap, ia mengangkat kepalanya ke langit dan berkata, “Tuhanku, Penguasa dan Pelindungku, demi kehormatan hari ini aku memohon kepada-Mu agar menyelamatkanku dan melindungiku dari mereka.” Maka Allah membutakan pandangan mereka darinya sehingga ia selamat dan berpuasa pada hari itu. Ia tidak menemukan sesuatu untuk berbuka di malam hari, lalu tidur dan diberi makan serta minum dalam tidurnya karena keutamaan hari Asyura.
Ia hidup setelah itu selama dua puluh tahun tanpa memerlukan makanan dan minuman.
Ini, semoga Allah merahmati kalian, adalah keutamaan hari Asyura, maka kenalilah haknya dan berkeinginanlah pada keutamaannya. Semoga Allah tidak mengharamkan keutamaannya dari kita dan mengampuni dosa-dosa yang telah kita lakukan, serta menutupi keburukan dan aib yang telah kita perbuat.
424 – Doa-doa yang Baik
Ya Allah, sebagaimana Engkau menerima taubat Adam pada hari Asyura, maka terimalah taubat kami. Sebagaimana Engkau menyelamatkan Isa dari musuh-musuh, maka selamatkan kami. Sebagaimana Engkau mengangkat Idris ke tempat yang tinggi, maka angkatlah kami. Sebagaimana Engkau melaknat iblis pada hari itu, maka lindungi kami dari murka-Mu dan jauhkan kami dari kemaksiatan kepada-Mu dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pengasih di antara yang pengasih.
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kesyahidan dan kebahagiaan sebagaimana Engkau lakukan terhadap Habil, dan jadikanlah kami, ya Tuhan, termasuk kekasih-kekasih-Mu sebagaimana Engkau lakukan terhadap Khalilullah (Ibrahim).
Ya Allah, dinginkanlah bagi kami api akhirat sebagaimana Engkau mendinginkan api bagi kekasih-Mu Ibrahim, dan binasakan musuh-musuh kami sebagaimana Engkau membinasakan musuh-musuh Musa di lautan.
Ya Allah, selamatkan kami dari banjir syahwat dan hawa nafsu, dan turunkanlah kepada kami ketenangan dan kekhusyukan di dunia ini.
Ya Allah, hilangkanlah kesusahan dan musibah dari kami, kembalikanlah kepada kami pandangan hati setelah kebingungan dan kebutaan. Ya Allah, jika Engkau mengeluarkan kami dari penjara dunia, maka muliakanlah kami dengan kerajaan yang kekal dan kembalikanlah kepada kami apa yang telah hilang dari ketakwaan yang baik.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami yang telah lalu dan yang akan datang, yang kami lakukan secara terang-terangan dan yang kami rahasiakan, dan yang Engkau lebih mengetahuinya daripada kami, dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pengasih di antara yang pengasih.
Ya Allah, wahai Sandaran bagi yang tidak memiliki sandaran, wahai Simpanan bagi yang tidak memiliki simpanan, wahai Benteng bagi yang tidak memiliki benteng, wahai Penolong bagi yang tidak memiliki penolong, wahai Penguat hati orang-orang yang mengenal-Mu, wahai Tempat peristirahatan orang-orang yang bertawakal, wahai Saksi majelis orang-orang yang takut, wahai Yang memaafkan kesalahan orang-orang yang tersandung, wahai Dzat Yang Maha Pengasih di antara yang pengasih, kabulkanlah doa kami dan jangan halangi kami dari kebaikan yang ada di sisi-Mu karena keburukan yang ada pada kami.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang yang diliputi rahmat-Mu dan mendapat maaf-Mu, maafkanlah apa yang Engkau ketahui dari dosa-dosa kami dengan rahmat-Mu, dan terhadap kelalaian kami dalam ketaatan kepada-Mu, penuhi apa yang telah Engkau janjikan berupa kebaikan dari-Mu sendiri, wahai Dzat Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan.
Ya Allah, wahai Penguasa kami, Engkau telah memuliakan perbuatan-Mu kepada kami namun kami bermaksiat kepada-Mu, kami mendapati-Mu Maha Pemurah maka kami berdoa kepada-Mu, kami mendapati-Mu Maha Penyayang maka kami memohon kepada-Mu.
Ya Allah, sebagaimana Engkau telah menganugerahkan kepada kami perlindungan dan kesehatan dalam keadaan berbuat dosa dan maksiat, janganlah Engkau haramkan ampunan dan rahmat kepada kami dalam keadaan merendahkan diri dan tunduk. Penguasa dan Pelindung kami, rahmatilah di dunia ini keterasingan kami, rahmatilah ketika kematian datang kepada kami, hibur kami dalam kesunyian kubur, rahmatilah di hadapan-Mu kerendahan keadaan kami, dan ampunilah bagi kami apa yang tersembunyi dari manusia dari perbuatan-perbuatan kami.
Ya Allah, pandanglah kami dengan pandangan keridhaan dan lindungilah kami dari pandangan kehinaan dan kelemahan.
Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang yang Engkau palingkan wajah-Mu darinya, Engkau hapus maaf-Mu darinya, Engkau tutup pintu taubat darinya, Engkau putuskan dari tangannya sebab-sebab perlindungan, Engkau kunci hatinya, Engkau butakan karena dosanya, dan Engkau serahkan kepada dirinya sendiri. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.
Ya Allah, ya Tuhan, Penguasa, dan Pelindung kami, janganlah Engkau serahkan kami kepada diri kami sendiri sekalipun sekejap mata, jagalah kami dan jagalah apa yang telah Engkau rezekikan kepada kami, berkahilah apa yang telah Engkau berikan kepada kami, dan janganlah Engkau jadikan seorangpun dari makhluk-Mu memiliki kekuasaan atau jalan terhadap kami, wahai Dzat Yang Maha Pengasih di antara yang pengasih. Ya Allah, mudahkan kami untuk kemudahan dan jauhkan kami dari kesulitan.
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dari karunia dan pemberian-Mu rezeki yang baik dan berkah di dalamnya.
Ya Allah, bimbinglah kami kepada petunjuk, peliharalah kami dengan takwa, dan ampunilah kami dengan ampunan yang melindungi di dunia dan akhirat.
Ya Allah, janganlah Engkau tinggalkan dalam tempat kami ini dosa melainkan Engkau ampuni, hutang melainkan Engkau bayarkan, kesusahan melainkan Engkau lapangkan, orang sakit melainkan Engkau sembuhkan, orang yang pergi melainkan Engkau dekatkan, dan kebutuhan dari kebutuhan-kebutuhan dunia dan akhirat yang memperbaiki kami dan meridhai-Mu melainkan Engkau penuhi.
Ya Allah, bayarkanlah hutang orang-orang yang berhutang, lapangkanlah kesusahan orang-orang yang bersusah hati dan bersedih, tulislah keselamatan para musafir di darat dan laut semuanya, dan berikanlah balasan terbaik kepada orang-orang yang berbuat baik.
Ya Allah, sesungguhnya ubun-ubun kami di tangan-Mu dan hati kami dalam genggaman-Mu, Engkau mengetahui tempat kami pergi dan tinggal, rahasia dan bisikan kami. Kepada-Mu tempat kembali dan tujuan kami. Engkau di atas hamba-hamba dengan keagungan-Mu. Engkau Sang Pencipta dan kami yang diciptakan. Engkau Sang Pemilik dan kami yang dimiliki. Engkau Sang Tuhan dan kami para hamba. Engkau Yang Maha Kaya dan kami yang miskin. Dengarlah doa kami dan janganlah Engkau putuskan harapan kami dalam segala yang kami minta dan kami mohon kepada-Mu, karena sesungguhnya hal itu mudah bagi-Mu. Engkau sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Dan akhir doa kami adalah segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Dan semoga Allah melimpahkan shalawat kepada junjungan kami Muhammad penutup para nabi, kepada keluarganya dan istri-istrinya yang suci, para ibu kaum mukminin. Dan Dia cukup bagi kami dan sebaik-baik Wakil. Dan tidak ada taufik bagiku kecuali dengan Allah, kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya aku kembali.
۞۞۞۞۞
16 – Majelis tentang Firman Allah Ta’ala: Allah adalah cahaya langit dan bumi
425
Perumpamaan yang Dibuat oleh Allah Yang Maha Melihat lagi Maha Mendengar untuk Hati Hamba yang Beriman dan Taat, serta Apa yang Dititipkan-Nya Berupa Iman dan Ma’rifat dalam Al-Quran dari Cahaya Sang Raja Yang Maha Pengasih
Allah Yang Menciptakan panjang dan lebar, Yang disembah dengan ibadah sunah dan wajib, berfirman: Allah adalah cahaya langit dan bumi (An-Nur: 35), artinya dengan cahaya-Nya Yang Maha Agung, orang-orang yang di langit dan bumi mendapat petunjuk.
Kemudian Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: perumpamaan cahaya-Nya (An-Nur: 35), yaitu cahaya yang dijadikan dalam hati orang mukmin, dan ini adalah pendapat mayoritas para mufassir, seperti relung (An-Nur: 35), yaitu hati orang mukmin. Relung adalah ceruk yang tidak tembus. Jika ceruk itu tidak tembus dan di dalamnya ada pelita kaca – dan kaca tidak disebut pelita hingga di dalamnya ada lampu yaitu obor – maka jika lampu itu berada dalam kaca yang jernih di dalam ceruk yang tidak tembus, cahaya akan terkonsentrasi dan berkumpul tanpa menemukan jalan keluar, sehingga ceruk itu akan lebih bercahaya daripada jika ia tembus. Ini adalah penekanan dari Allah dalam menggambarkan hati orang mukmin. Kemudian Allah Ta’ala menciptakan makhluk dengan berbagai macam yang berbeda. Jika cahaya ma’rifat dan iman ada dalam hati hamba, ia akan mencari bukti dan merenungkan dengan cahaya Allah Ta’ala, dan pikiran akan membawanya kepada penciptaan langit dan bumi serta keagungan Allah Tabaraka wa Ta’ala. Jika hamba seperti itu, rasa takut akan tertanam dalam hatinya, maka pada saat itu ia akan mengikuti Al-Quran dan hukum-hukumnya serta menghindari perbuatan keji dan dosa-dosa karena banyaknya cahaya yang dijadikan oleh Sang Raja Yang Maha Mengetahui dalam hatinya.
Inilah golongan yang dipuji oleh Allah dalam Kitab-Nya yang mulia.
Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal (Ali Imran: 190). Kemudian Sang Pelindung menggambarkan mereka dengan zikir dan pikir, Allah Ta’ala berfirman: Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (Ali Imran: 191) hingga firman-Nya tentang azab neraka. Ketika Allah Tabaraka wa Ta’ala menjadikan cahaya iman dalam hati mereka, mereka yakin bahwa Allah Azza wa Jalla menciptakan langit dan bumi, malam dan siang, matahari dan bulan. Mereka mengetahui dengan cahaya petunjuk bahwa Allah menciptakan semua itu agar ditaati dan tidak dimaksiati. Mereka mengetahui bahwa surga adalah balasan bagi yang menaati-Nya dan neraka adalah balasan bagi yang bermaksiat kepada-Nya.
Maka mereka menggunakan hati mereka untuk berpikir dan pandangan mereka berkelana dalam ciptaan-ciptaan Allah untuk mengambil pelajaran. Tidak ada seorangpun dari mereka yang mampu melakukan kemungkaran atau menyia-nyiakan ketaatan.
426 – Cahaya adalah Petunjuk
Sebagian ahli ilmu berkata bahwa yang dimaksud Allah Tabaraka wa Ta’ala dengan cahaya ini adalah petunjuk, bukan cahaya sinar atau terang, karena Allah Tabaraka wa Ta’ala tidak dapat digambarkan dengan warna apapun dan tidak menyerupai malaikat atau manusia. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat (Asy-Syura: 11). Sebagian ulama berkata ini adalah perumpamaan yang dibuat Allah Tabaraka wa Ta’ala dalam menggambarkan cahaya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada orang-orang mukmin dan menyelamatkan mereka dari tempat kehancuran. Karena Allah Ta’ala telah merahmati para hamba dengan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyelamatkan mereka dengan beliau dari neraka Jahannam dan seburuk-buruk tempat.
Dan mewajibkan mereka mengikuti cahaya surga dan mengagungkan karunia-Nya kepada mereka.
Kemudian Allah Ta’ala berfirman: di dalamnya ada pelita (An-Nur: 35), artinya meskipun tidak dinyalakan, karena jernihnya kalimat selesai. Kemudian Allah Ta’ala memulai dengan berfirman: cahaya di atas cahaya (An-Nur: 35), yaitu pelita. Pelita itu dalam kaca, kaca itu bagaikan bintang yang bercahaya, dinyalakan dari pohon yang diberkahi, pohon zaitun yang tidak di timur dan tidak di barat (An-Nur: 35).
Maka Allah Ta’ala menyerupakan pelita dalam keterangannya dan kemilauannya dengan bintang yang bercahaya, pelita itu dinyalakan dengan minyak dari pohon yang tidak di timur dan tidak di barat, artinya tidak terbuka untuk matahari sepanjang hari sehingga matahari membakarnya dengan panasnya, dan tidak di barat yaitu tidak tertutup bayangan sehingga bayangan menyakitinya dengan dinginnya sepanjang hari, tetapi ia di timur dan barat, matahari menyinarinya sebagian hari. Jika pohon seperti itu, maka ia lebih segar, buahnya lebih baik, dan minyaknya lebih terang.
Kemudian Allah Ta’ala berfirman: hampir-hampir minyaknya menerangi meskipun tidak disentuh api (An-Nur: 35), yaitu cahaya pelita di atas cahaya kaca dan kejernihan minyak.
Ini adalah perumpamaan yang dibuat oleh Sang Raja Yang Maha Perkasa untuk hati orang-orang mukmin yang berbakti. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Maka apakah orang yang Allah melapangkan dadanya untuk Islam sehingga dia mendapat cahaya dari Tuhannya (Az-Zumar: 22). Jika cahaya petunjuk masuk ke dalam hati, ia akan lapang dan terbuka, dan sebab-sebab yang menghalangi kesesatan dan kemaksiatan akan hilang darinya. Pada saat itu anggota badan akan diingat dengan amal-amal yang mewajibkan negeri yang kekal dan menyelamatkan dari murka Sang Raja Yang Maha Perkasa. Semua itu berpusat pada hati, dan hati adalah penguasa badan. Jika ia baik, seluruh tubuh menjadi baik, dan jika ia rusak, seluruh tubuh menjadi rusak. Kebaikannya hanya dengan cahaya iman dan pandangan Sang Raja Yang Maha Pengasih, dan kerusakannya hanya dengan kegelapan kemaksiatan dan bisikan musuh setan. Oleh karena itu diriwayatkan dari pemimpin manusia: Sesungguhnya dalam tubuh anak Adam ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh, ketahuilah ia adalah hati.
427 – Pohon Zaitun
Allah Ta’ala berfirman: Sungguh telah datang kepada kalian dari Allah cahaya dan kitab yang nyata (Al-Maidah: 15). Allah Azza wa Jalla berfirman: Dan Kami turunkan kepada kalian cahaya yang nyata (An-Nisa: 174). Allah Subhanahu berfirman: Tetapi Kami menjadikannya cahaya, Kami beri petunjuk dengan cahaya itu siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami (Asy-Syura: 52). Firman Allah Ta’ala: zaitun yang tidak di timur dan tidak di barat (An-Nur: 35), tidak di timur yang matahari terbit padanya sepanjang hari sehingga membakarnya, dan tidak di barat yang bayangan menimpanya sepanjang hari sehingga menaunginya, dan ia adalah sebaik-baik pohon.
Ini adalah perumpamaan yang dibuat Allah Ta’ala dalam menggambarkan Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan cahaya yang diturunkan kepadanya yaitu Al-Quran.
Allah Ta’ala telah menggambarkan pohon bahwa Dia Subhanahu wa Ta’ala melindunginya dari matahari dan bayangan, demikian juga Dia melindungi untuk kita Al-Quran sehingga tidak terjadi padanya perubahan, kebohongan, penambahan, atau pengurangan. Seandainya Allah menyerahkan penjagaannya kepada kita, niscaya akan terjadi perubahan dan penggantian sebagaimana terjadi pada kitab-kitab terdahulu. Allah Ta’ala berfirman: dengan apa yang diamanatkan kepada mereka dari Kitab Allah dan mereka menjadi saksi atasnya (Al-Maidah: 44). Kemudian Dia Azza wa Jalla mengabarkan kepada kita tentang mereka bahwa mereka mengubah dan mengganti, Allah Ta’ala berfirman: Mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya dan melupakan sebagian dari apa yang mereka diberi peringatan dengannya (Al-Maidah: 13). Allah Subhanahu berfirman: Maka celakalah orang-orang yang menulis Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu mereka berkata: Ini dari sisi Allah (Al-Baqarah: 79). Maka Sang Raja Yang Maha Pengasih mengabarkan kepada kita dalam Al-Quran yang muhkam bahwa mereka menimbulkan dalam kitab-kitab mereka penambahan, pengurangan, perubahan, dan kebohongan.
Pelindung kita mengabarkan tentang Al-Quran bahwa Dia-lah yang menjaganya dengan firman-Nya: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (Al-Hijr: 9). Dan apa yang dijaga oleh Sang Raja Yang Maha Pemberi tidak akan terjadi padanya penambahan atau pengurangan, perubahan atau kebohongan.
Kitab kita telah dijaga oleh Sang Raja Yang Maha Agung sehingga selamat dari perubahan dan penggantian. Demikian juga Dia melindungi Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, menjaganya dan memberinya petunjuk. Allah Ta’ala berfirman dalam penjagaan-Nya terhadap Nabi-Nya, kekasih-Nya dan pilihan-Nya: Dan Allah akan melindungimu dari manusia (Al-Maidah: 67). Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman dalam petunjuk-Nya kepada Nabi-Nya: Dan memberimu petunjuk kepada jalan yang lurus (Al-Fath: 2). Maka Pelindung kita Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana mengabarkan tentang Muhammad, Nabi yang pengasih dan penyayang, bahwa Dia telah memberinya petunjuk kepada jalan yang lurus dan melindunginya dari setan yang terkutuk. Sang Raja Yang Maha Pengasih melindunginya dari syirik, kekufuran, penyimpangan, dan kebohongan. Allah Sang Pemberi Balasan berfirman kepadanya dalam Al-Quran yang muhkam: Katakanlah: Sesungguhnya Tuhanku telah memberiku petunjuk kepada jalan yang lurus, agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan dia tidak termasuk orang-orang musyrik (Al-An’am: 161). Maka Allah Tabaraka wa Ta’ala memberinya petunjuk kepada kebenaran yang jelas dan mengajarinya apa yang tidak dia ketahui dari rahasia-rahasia ilmu. Maka ia menyampaikan risalah Tuhannya tanpa kurang, tanpa tercela, tanpa berlebihan, dan tanpa dicerca. Sang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri mengabarkan kepada kita tentang Nabi yang jujur dan dikasihi bahwa ia telah menyampaikan Kitab Tuhannya yang jelas dan berfirman kepadanya: Maka berpalinglah kamu dari mereka, karena kamu tidak tercela (Adz-Dzariyat: 54). Dan Sang Raja Yang Maha Perkasa telah mengabarkan kepada kita bahwa Dia memerintahkan Nabi-Nya yang terpilih untuk menyampaikan risalah agar menyelamatkan orang-orang mukmin dari neraka. Allah Ta’ala berfirman: Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu (Al-Maidah: 67). Maka Dia Ta’ala memerintahkannya untuk menyampaikan dan mengabarkan tentangnya bahwa ia telah menyampaikan.
Dan apa yang dijaga oleh Sang Raja Yang Maha Mengalahkan untuk hati orang-orang mukmin yang berbakti, maka firman Allah Ta’ala: Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, tidak ada bagimu kekuasaan atas mereka (Al-Hijr: 42). Maka orang mukmin berada dalam perlindungan Allah Tabaraka wa Ta’ala dan penjagaan-Nya ketika cahaya petunjuk masuk ke dalam hatinya.
Inilah perumpamaan yang dibuat Allah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana, Maha Pemberi, Maha Menganugerahi, dan Maha Pemurah untuk Nabi-Nya yang jujur dan terpercaya serta Kitab-Nya yang merupakan cahaya yang nyata.
Kemudian Allah Ta’ala berfirman: Dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (An-Nur: 35). Maka Dia Ta’ala mengetahui apa yang telah terjadi, apa yang akan terjadi, dan apa yang tidak terjadi – seandainya terjadi, bagaimana ia akan terjadi.
Kemudian Allah Tabaraka wa Ta’ala memuji orang-orang mukmin yang menjaga pelaksanaan shalat, yang mengingat Allah di masjid-masjid di semua waktu, yang takut kepada azab Tuhan bumi dan langit. Tuhan segala tuhan dan Penguasa para penguasa berfirman dalam Kitab yang muhkam: Di rumah-rumah yang telah diperintahkan Allah untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, bertasbih kepada-Nya di dalamnya (An-Nur: 36).
Artinya disebut di dalamnya semua yang diturunkan Sang Pelindung dari nama-nama-Nya yang husna dan sifat-sifat-Nya yang tinggi. Tidak disebut di dalamnya kebohongan, kebohongan, ghibah, kemaksiatan, atau fitnah dengan lisan. Sesungguhnya Allah Ta’ala menjadikannya untuk sunnah dan Al-Quran serta ibadah kepada Sang Raja Pemberi Balasan. Tidak disebut di dalamnya kedustaan atau dosa karena ia dijadikan hanya untuk melaksanakan kewajiban kepada Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
428 – Masjid-Masjid untuk Mengingat Allah
Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Apabila kalian mendengar suara-suara yang meninggi di masjid-masjid bukan untuk mengingat Allah, maka janganlah kalian duduk bersama mereka karena Allah tidak memerlukan mereka.”
Dan diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Apabila suara-suara meninggi di masjid-masjid dalam membicarakan urusan dunia, maka para malaikat akan berdiri di hadapan mereka dan berkata kepada mereka: diamlah wahai wali-wali Allah, diamlah wahai musuh-musuh Allah, diamlah, laknat Allah atas kalian.”
Dan firman-Nya: “Dan di sana disebut nama-Nya” (Surah An-Nur: 36), disebut di sana segala sesuatu yang diturunkan oleh Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal dalam kitab-Nya yang jelas dan segala sesuatu yang diperintahkan oleh pemberi kabar gembira dan peringatan yang benar.
Allah berkata, Pelindung kami yang di tangan-Nya kesesatan dan petunjuk kami: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah” (Surah Al-Hasyr: 7). Dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kami dari perkataan yang berlebihan di setiap tempat.
Maka jika perkataan yang berlebihan menjadi bencana bagi para hamba di tempat-tempat selain masjid, maka lebih utama lagi bagi seorang hamba untuk menjaga diri dari perkataan selain mengingat Allah di masjid-masjid.
429 – Perkataan Buruk
Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kata yang karena kata itu ia terjerumus ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat.”
Maka ini adalah pujian dari Yang Paling Cepat Menghisab terhadap para pemakmur masjid yang beriman.
Dan Sang Raja Yang Maha Pengasih telah memuji mereka dalam Al-Quran yang kokoh, di mana Dia mewajibkan keimanan bagi mereka: “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta mendirikan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah” (Surah At-Taubah: 18).
Dan datang dalam kabar dari penghulu manusia shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Apabila tiba hari kiamat, Yang Maha Perkasa tabaraka wa ta’ala berfirman: Di manakah tetangga-tetangga-Ku? Maka para malaikat berkata: Wahai Pelindung kami, dan siapakah yang pantas menjadi tetangga-Mu? Maka Allah tabaraka wa ta’ala berfirman: Wahai malaikat-malaikat-Ku, di manakah para pemakmur masjid-masjid di dunia?”
Dan Yahya bin Mu’adz mendendangkan puisi di Arafah:
“Kepada-Mu kami datang dan Engkaulah yang mendatangkan kami Dan tidak ada sesuatu pun selain Engkau yang mencukupi kami”
“Pintu-Mu luas dan Engkau Yang Maha Mulia Engkau memanggil ke pintu-Mu orang-orang miskin”
Allah ta’ala berfirman: “Mereka takut akan suatu hari yang (pada hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang” (Surah An-Nur: 37), maksudnya bahwa hati-hati pada hari kiamat akan mengetahui perintah-Nya dengan yakin, lalu berbolak-balik dari keadaan kufur dan keraguan tentang hisab, kebangkitan, pahala, siksa, nikmat, dan azab yang mereka miliki. Dan penglihatan pada hari itu akan melihat apa yang tertutup dari mereka dengan firman-Nya ta’ala: “Sesungguhnya kamu berada dalam kelalaian tentang ini, maka Kami singkapkan darimu tutup (yang menutupi) matamu, sehingga penglihatanmu pada hari ini sangat tajam” (Surah Qaf: 22). Dan dikatakan penglihatan berbolak-balik dari celak menjadi biru dan dari penglihatan menjadi buta dan dari putihnya wajah menjadi hitam, dan hati berbolak-balik dari keraguan menjadi keyakinan dan dari keamanan menjadi ketakutan. Kemudian mereka tidak yakin dengan kebangkitan hingga mereka menyaksikannya dan tidak membenarkan tentang azab hingga mereka melihatnya.
Kemudian Allah tabaraka wa ta’ala membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, maka firman-Nya ta’ala: “Dan orang-orang yang kafir, amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga” (Surah An-Nur: 39), ia melihatnya dari kejauhan, “tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun” (Surah An-Nur: 39). Demikianlah orang kafir menghitung bahwa apa yang telah ia dahulukan dari amalnya di dunia akan memberinya manfaat, bahkan ia mendapatinya sebagai bencana dan penyesalan baginya karena Allah tabaraka wa ta’ala telah menghapusnya dan membatalkannya dengan kemunafikan dan kekufuran, sebab itu adalah amal yang tidak ia kerjakan untuk wajah Allah tabaraka wa ta’ala, dan tidak bermanfaat dari semua amal kecuali apa yang ikhlas untuk wajah Allah. Dan orang kafir serta munafik tidak menginginkan dengan amalnya wajah Allah ta’ala, maka kami berlindung kepada Allah dari kemunafikan dan kekufuran setelah keimanan, dan dari hilangnya nikmat setelah kebaikan, dan dari perpisahan dan keterhalangan, dan dari meninggalkan penambahan dan menetapi kekurangan, dan dari meninggalkan kemuliaan dan mengikuti kehinaan, dan dari meninggalkan Pelindung Yang Maha Mulia dan persahabatan dengan setan.
Kemudian Yang Maha Perkasa jalla jalaluhu dan suci nama-nama-Nya menggambarkan orang-orang yang bertasbih kepada-Nya di masjid-masjid, maka firman-Nya tabaraka wa ta’ala: “Bertasbih kepada-Nya di sana” (Surah An-Nur: 36), yaitu di masjid-masjid, “pada pagi dan petang, orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah” (Surah An-Nur: 36). Maka Mahasuchi Dia yang jika kami sujud kepada-Nya di atas bara api pohon ghadha dan panasnya pasir di bulan Ramadhan, kami tidak akan mencapai satu bagian pun dari musnah-nya musuh-musuh dari hak Sang Raja Yang Maha Dermawan yang telah menganugrahkan kepada kami nikmat Islam dan mengutamakan kami dengan Muhammad ‘alaihis shalatu was salam, nabi terbaik dan imam termulia, saksi atas kami dalam semua hukum, dan menjadikan umat ini sebagai saksi pada hari kiamat atas manusia pada hari terbelahnya langit dengan awan.
Maka barangsiapa yang ini adalah sebagian dari nikmat-Nya atas mereka, bagaimana perdagangan atau jual beli melalaikan mereka dari mengingat Allah, padahal perdagangan mereka dengan Allah menguntungkan dan kebaikan mereka bagi orang yang berakal tampak jelas.
Pujian mereka adalah wewangian umat manusia, maka ia tampak bagi manusia seperti bendera. Dengan mereka hujan diminta untuk turun ketika tertahan, dan dalam kelompok mereka dikumpulkan orang yang beruntung dan orang mulia. Barangsiapa membanggakan diri dengan mereka akan beruntung, barangsiapa memerangi mereka akan celaka, dan barangsiapa mendatangi mereka tanpa angin akan binasa. Dengan doa mereka hujan diminta untuk turun, maka ia adalah obat penderitaan dan penyembuh penyakit. Dengan mereka yang tertindas diselamatkan dan dengan mereka Allah melapangkan kesusahan orang yang susah. Kebajikan mereka adalah tersingkapnya kebutaan dari hati-hati. Dan dengan mereka dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan diampuni. Barangsiapa mengikuti mereka akan menghindari dosa-dosa dan kesalahan, meninggalkan keburukan-keburukan dan aib-aib, dan mencapai dari rahmat Pelindungnya cita-cita dan yang diinginkan serta yang dicintai. Dan dengan mereka dapat diraih tujuan yang diinginkan.
Dan mereka mendendangkan puisi:
“Demi Tuhanmu, jika kau melihat suatu hari berturut-turut Kesungguhan mereka hingga sungguh mereka mencapai usaha keras”
“Engkau akan melihat kaum yang menjauhi tidur dan mengenakan Pakaian begadang dan menganggap dekat yang jauh”
“Dan mereka berpuasa di siang hari yang terus-menerus kemudian berbuka Dengan makanan sekadarnya dan menggunakan kesusahan”
“Mereka adalah kaum yang Allah memperbaiki perbuatan mereka Dan mewariskan kepada mereka dari baiknya perbuatan mereka kekekalan”
Orang-orang yang hati mereka berkelana di dalam kerajaan. Orang-orang yang memikirkan keagungan dan keperkasaan. Orang-orang yang istiqamah dalam beribadah kepada Yang Hidup yang tidak mati. Orang-orang yang kesedihan terlintas di hati mereka dan mereka melelahkan jiwa-jiwa dan badan-badan. Dan mereka mengenakan ketakutan dan kesedihan. Dan mereka menghadap kepada Pelindung mereka seperti datangnya orang-orang yang kehausan.
Mereka minum dengan cawan air yang jernih bersama keyakinan, dan mereka mengikuti teladan penghulu para rasul, dan mereka mengerjakan amal-amal orang-orang saleh, dan mereka mengikuti jalan orang-orang beriman, dan mereka istiqamah di jalan petunjuk dan agama.
Orang-orang yang minum dengan cawan persahabatan dan cinta, maka disingkapkan untuk mereka hijab-hijab gaib dan diampuni untuk mereka apa yang mereka kerjakan dari dosa. Maka mereka menyalakan di hati mereka api-api ketakutan kepada Sang Raja Tuhan.
Orang-orang yang ketakutan akan ancaman membuat mereka gelisah dan pemikiran yang keras melemahkan tubuh-tubuh mereka. Orang-orang yang menghindari perbuatan keji dan dosa-dosa serta nikmatnya minuman dan makanan. Orang-orang yang malam mereka adalah berdiri salat dan siang mereka adalah puasa, mereka mencari keridhaan Dzat Yang Maha Agung dan Maha Mulia.
Dan mereka mendendangkan puisi:
“Mereka diberi minum cawan mahabbah maka tentramlah Hati-hati mereka dan keyakinan menggoncangkannya”
“Kepada Raja yang mereka merindukan dengan kerinduan Dan tidak ada bagi mereka kerinduan kepada seorang pun”
“Hembusan kedekatan memiringkan mereka Sebagaimana dahan-dahan miring bersama angin”
Orang-orang yang mencelakin mata mereka dengan begadang dan mereka menutupnya dari apa yang tidak halal dari pandangan. Dan mereka menyibukkan pikiran mereka dengan pemikiran dan menyibukkan hati mereka dengan pelajaran. Orang-orang yang mengusik diri mereka dari kampung halaman dan menetapi masjid-masjid Sang Raja Yang Maha Pengasih. Dan hati-hati mereka berkelana dalam ilmu-ilmu Al-Quran dan apa yang dijanjikan dan diancamkan kepada mereka oleh-Nya, Sang Raja Yang Maha Mulia.
Dan mereka mendendangkan puisi:
“Bertengkar pandangan dengan hatiku Dalam perselisihan dan keduanya sampai pada pertentangan”
“Maka pandanganku berkata: Sesungguhnya aku diuji Dengan panjangnya malamku dan dengan begadang”
“Dan hatiku berkata: Aku yang tertimpa Dengan kesusahan-kesusahan yang sulit dan keras”
“Maka tubuhku berkata: Kalian berdua membunuhku Akulah yang hancur dalam perjuangan”
430 – Para Zahid
Orang-orang yang tubuh-tubuh mereka telah kurus dan kebaikan serta warna mereka telah berubah karena ketakutan akan azab dan api neraka, dan karena kerinduan kepada nikmat surga.
Orang-orang yang menyertai Al-Quran dengan kebaikan amal, dan tidak tertipu dengan panjangnya angan-angan. Dan mereka memasang di depan mata mereka dekatnya ajal, dan cita-cita mereka tinggi kepada tempat yang tinggi, dan jiwa-jiwa mereka merindukan Sang Raja Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Maka jika kau melihat mereka, kau akan melihat kaum yang membaca kitab Allah dengan bibir-bibir yang kering dan air mata yang bercucuran dan desahan yang mematikan dan tubuh-tubuh yang kurus dan akal yang hilang dan pikiran-pikiran yang berkelana dalam keagungan-Nya jalla jalaluhu.
Dan mereka mendendangkan puisi:
“Demi Allah, kaum yang menjual untuk Allah diri-diri mereka Maka mereka melelahkannya dengan tegoran Allah di waktu-waktu”
“Adapun siang hari maka mereka menunaikan puasanya Dan dalam kegelapan kau melihat mereka di dalamnya sebagai rahib-rahib”
“Tubuh-tubuh mereka melelahkan diri-diri mereka dalam Allah Dan diri-diri melelahkan tubuh-tubuh dalam Allah”
“Daging mereka hancur karena takut akan azab esok hari Dan mereka memotong malam dengan tasbih dan Al-Quran”
Orang-orang yang jika mereka melihat mereka mengambil pelajaran, dan jika mereka diam mereka berpikir, dan jika mereka diuji mereka mengucapkan innalillahi, dan jika dijahili atas mereka mereka bersabar, dan jika mereka mengetahui mereka rendah hati, dan jika mereka beramal mereka lembut, dan jika mereka diminta mereka memberikan pertolongan kepada yang datang dan mengutamakan yang berkunjung. Sekutu-sekutu kebenaran dan gua-gua kedermawanan. Mereka telah beramal dengan sunnah dan Kitab, dan mereka berbicara dengan hikmah dan kebenaran, dan mereka menghisab diri-diri mereka sebelum hari penghisaban, dan mereka takut dari siksa Tuhan para Tuhan.
Orang-orang yang menetapi tangisan dan ratapan, dan mereka ridha dari dunia dengan yang sedikit. Maka mereka bertekad untuk berpindah ke akhirat, dan mereka menginginkan pahala Sang Raja Yang Maha Agung, dan mereka merindukan nikmat yang kekal dan melimpah. Dan mereka berpegang teguh dengan sunnah dan tanzil (Al-Quran), dan mereka mencegah diri-diri mereka dari penundaan dan alasan, dan mereka khawatir dari dahsyatnya hari yang cemberut, berat, menakutkan pemandangannya, panjang.
Dan mereka mendendangkan puisi:
“Demi Allah, kaum yang untuk negeri kekekalan Dia mengikhlaskan mereka Dan Dia mengkhususkan mereka dengan kerajaan yang banyak, Pelindung kami”
“Maka jika kau melihat mereka esok di negeri kerajaan mereka Mereka telah dimahkotai dari perhiasan alam mahkota-mahkota”
“Dan Dia memanggil mereka ke Firdaus, pemimpin mereka Untuk ziarah dan salam sebagai penunggang-penunggang”
“Di atas unta-unta yang berlari terbang membawa mereka Dan kuda-kuda dari permata dan pelana dari marjan”
“Hingga apabila mereka melewati negeri kesejahteraan dan sungguh Dia menampakkan kepada mereka wajah-Nya, Ar-Rahman, Mahasuci”
“Mereka tersungkur bersujud maka Dia memanggil mereka dengan keagungan-Nya Sesungguhnya Aku ridha kepada kalian sebagai karib dan tetangga”
“Sesungguhnya Aku menciptakan untuk kalian negeri nikmat maka tidak Kalian melihat kesengsaraan dan tidak kalian takut kesedihan-kesedihan”
“Ini adalah nikmat yang tidak berakhir selamanya Dan tidak mengubahnya masa-masa warna-warna”
“Dan ini adalah balasan untuk kalian dari-Ku atas amal Kalian mengikhlaskannya dan kalian adalah dalam bersaudara”
Orang-orang yang menumpang bahtera keselamatan dan berlayar dengan angin istiqamah. Maka mereka memotong lautan-lautan kecelakaan dan penyesalan, dan mereka selamat dari kengerian-kengerian pada hari kiamat. Maka mereka mendapat bagian di negeri tempat tinggal dan mereka berlabuh di keabadian kemuliaan.
431 – Sebaik-baik Umat
Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Sebaik-baik umatku adalah kelompok tinggi dalam derajat-derajat yang tinggi.” Kaum yang tertawa terang-terangan karena luasnya rahmat Allah dan menangis secara sembunyi-sembunyi karena takut akan azab Allah.
Mereka di pagi dan sore hari berada di rumah-rumah yang baik, berdoa dengan lisan mereka dengan penuh harap dan takut, dan mereka meminta kepada-Nya dengan tangan mereka rendah dan tinggi, dan mereka merindukan kepada-Nya dengan hati mereka pagi dan sore.
Beban mereka atas manusia sedikit dan atas diri mereka sendiri berat. Mereka merangkak di atas bumi dengan kaki-kaki mereka telanjang, merangkak seperti semut tanpa kesombongan, kecenderungan, atau kesusahan.
Mereka berjalan dengan ketenangan dan kewibawaan, dan mereka mendekatkan diri dengan wasilah kepada Sang Raja Yang Maha Perkasa.
Mereka memakai pakaian usang dan beribadah kepada Yang Maha Pengasih, dan mereka membaca Al-Quran, dan mereka takut akan azab api neraka, dan mereka takut akan hari yang banyak di dalamnya kecelakaan dan kesedihan. Mereka telah menghindari setiap keraguan dan fitnah, dan mereka tidak merasa aman dari tipu daya Sang Raja Yang Maha Memberi. Orang-orang yang mengharapkan cobaan ajal dan cemas dari takdir yang tersembunyi yang terlindungi. Maka terhalang antara mereka dan apa yang mereka inginkan. Mereka menunggu penutup bagaimana akan terjadi. Mereka adalah wali-wali Allah yang saleh. “Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, sesungguhnya golongan Allah itulah orang-orang yang beruntung” (Surah Al-Mujadilah: 22). Orang-orang yang masjid-masjid adalah tempat mereka dan Allah jalla jalaluhu adalah Tuhan yang mereka sembah dan Pelindung mereka. Mereka meninggalkan kemaksiatan karena takut akan hisab dan pertanyaan, dan mereka segera kepada ketaatan dan kebaikan amal-amal, dan mereka bersih dari kesesatan, kelalaian, dan hal-hal yang mustahil, dan mereka menjauh dari jalan setiap orang yang terusir dan malas, dan mereka khawatir dari siksa Dzat Pemilik Keagungan dan Kemuliaan, dan mereka beramal untuk hari yang tidak ada jual beli di dalamnya dan tidak ada persahabatan.
Dan mereka mendendangkan puisi:
“Demi Allah, kaum yang ikhlas dalam cinta kepada-Nya Dia memilih mereka dan ridha kepada mereka sebagai pelayan-pelayan”
“Kaum yang jika kegelapan menyerang mereka Mereka berdiri maka mereka adalah orang-orang yang sujud dan berdiri”
“Mereka menikmati dengan mengingat-Nya di malam mereka Dan siang mereka tidak berhenti berpuasa”
“Perut-perut yang lapar dari yang haram, yang menjaga diri Mereka tidak menghisap selain yang halal sebagai makanan”
“Maka mereka akan gembira dengan telaga Muhammad Dan mereka akan menempati dari surga kemah-kemah”
Orang-orang yang berpindah dari dunia dengan perpindahan dan menggantinya dengan penggantian, dan mereka tidak membeli dengan janji Allah harga yang sedikit. Dan mereka mengetahui bahwa di belakang mereka ada hari yang cemberut, menakutkan, berat. Dan sesungguhnya di hadapan mereka dari kematian urusan yang besar. Dan digantikan mata-mata dan hati-hati mereka dengan tangisan, ratapan, dan rintihan ketika mereka mendengar Pelindung mereka berfirman: “Adalah janji-Nya pasti terjadi” (Surah Al-Muzzammil: 18). Orang yang memotong hari-hari dan malam-malam dengan pemikiran, dan mereka takut dari dahsyatnya hari yang cemberut dan dingin. Dan hati-hati mereka berkelana karena takut kepada Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. Maka dalam waktu yang sedikit mereka akan selamat dari kengerian yang menakutkan dan berbahaya, dan mereka akan bertetangga dengan penghulu pemberi peringatan dan kabar gembira di surga yang tidak ada di dalamnya matahari dan tidak pula dingin yang sangat. Orang-orang yang hati-hati mereka tentram dengan mengingat Yang Maha Pengasih, dan mereka menetapi ketaatan dan menghindari kemaksiatan, dan mereka menjaga lisan-lisan mereka dari aib dan tuduhan, dan mereka mengikuti sunnah dan hukum-hukum Al-Quran, dan mereka tidak menerima dari tipu daya musuh setan, dan mereka meminta penambahan dan tidak ridha dengan kekurangan. Maka Yang Maha Perkasa memberi mereka pahala dengan surga keridhaan, dan memberikan kenikmatan kepada mereka dengan bidadari-bidadari cantik yang genit seperti yakut dan marjan. Maka Yang Maha Agung jalla jalaluhu mengabarkan kepada kami dalam Al-Quran yang kokoh tentang apa yang Dia datangkan kepada mereka dari kedermawanan dan pemberian nikmat. Maka firman-Nya ta’ala: “Tidak ada balasan untuk kebaikan kecuali kebaikan (pula)” (Surah Ar-Rahman: 60). Maka kebaikan dari hamba di dunia adalah mengucapkan tiada tuhan selain Allah, dan kebaikan dari Allah di akhirat adalah surga.
Maka barangsiapa yang baik keridhaan terhadap Allah jalla tsanauhu, Allah membalasnya dengan keridhaan terhadapnya. Maka Dia membalas keridhaan dengan keridhaan, dan ini adalah puncak balasan dan batas pemberian.
432 – Sifat Orang-Orang Mukmin
Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada sekelompok orang mukmin: “Siapa kalian?” Mereka menjawab: “Kami orang-orang mukmin.” Maka Nabi bertanya: “Apa tanda keimanan kalian?” Mereka menjawab: “Kami bersabar ketika ditimpa cobaan, kami bersyukur ketika mendapat harapan, dan kami ridha dengan ketetapan takdir.”
Maka Nabi bersabda: “Sungguh kalian orang-orang mukmin, demi Tuhan Ka’bah.”
Dan dikatakan: Sebaik-baik sesuatu adalah seorang hamba menjadi pengawas atas batinnya dan lahirnya karena sesungguhnya Allah Ta’ala mengawasinya, dan itulah firman-Nya: “Maka apakah (Allah yang) menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya” (Ar-Ra’d: 33). Maka hendaklah engkau wahai hamba mengawasi-Nya dalam kerahasiaanmu dan kelanganmu, lahirmu dan batinmu, gerak dan diammu, dan ketahuilah bahwa Dia mengawasimu. Dan engkau malu dari orang yang bersamamu, tetapi tidak malu dari Dia yang lebih dekat kepadamu daripada urat leher.
Dan dikatakan: Yang terpuji dari dunia adalah masjid-masjid dan mihrab-mihrab, karena sesungguhnya teman-temanmu di sana adalah malaikat-malaikat, para nabi, para shiddiqin, dan sebaik-baik teman mereka itu.
Dan yang tercela dari dunia adalah perut, kemaluan, jamban dan tempat sampah, dan teman-teman kita di sana adalah orang-orang Yahudi, Nasrani, Majusi, orang-orang musyrik, zindik dan lainnya.
Maka Tuhan Yang Maha Agung mengajakmu, dan itulah firman-Nya: “Dan Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga)” (Yunus: 25) ayat.
Dan engkau menolak-Nya, maka Allah Subhanahu berfirman: “Wahai hamba-Ku, jangan berbuat dosa di dunia,” karena kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya. Maka hamba berkata: “Aku tidak bisa tidak berbuat dosa.” Maka Tuhan Yang Maha Agung berfirman: “Hamba-Ku, bertobatlah kepada-Ku, Aku akan menerima tobatmu atas apa yang telah engkau perbuat.” Maka hamba berkata: “Aku tidak mau berbuat demikian karena sesungguhnya aku sedang diuji dengan keluarga, perut dan kemaluan.” Maka Tuhan Yang Maha Agung berfirman: “Hamba-Ku, tetaplah di tempatmu sampai Aku mendatangimu.” Maka hamba berkata: “Tuhanku, apa yang akan Engkau berikan kepadaku?” Maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Kelaparan, kemiskinan, ketelanjangan dan penyakit.” Maka hamba berkata: “Aku tidak memerlukan ini semua.”
Kemudian dia berdoa, merendahkan diri dan berteriak ketika semua itu menimpanya.
Dikatakan: Maka malaikat-malaikat berkata pada saat itu: “Ya Tuhan, tidakkah Engkau mengabulkan doa hamba-Mu ini? Tidakkah Engkau merahmatinya?” Maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Kelak hamba-Ku akan memuji-Ku ketika Aku memasukkannya ke dalam surga.”
Dikatakan: Maka ketika roh hamba itu dicabut dalam keadaan demikian, Dia memasukkannya ke dalam surga.
Maka hamba berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk kepada kami untuk (mencapai) ini, dan kami tidak akan mendapat petunjuk jika Allah tidak memberi kami petunjuk” (Al-A’raf: 43). “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan dari kami kesedihan” (Fathir: 34) ayat.
Maka Tuhan Yang Maha Agung berfirman: “Sekarang hamba-Ku memuji-Ku, padahal ketika di dunia dia mencela-Ku dan mengeluh kepada-Ku tentang penglihatan-Ku kepadanya, padahal itu lebih baik baginya daripada apa yang dia inginkan untuk dirinya sendiri.
Maka sekarang Aku telah membolehkan baginya surga dan mendekatkannya kepada-Ku dan menyambungkannya dengan surga-Ku. Maka mendekatlah kepada-Ku wahai hamba-Ku tanpa batas dan atas tambahan dengan penyaksiannya kepada-Ku dan melihat wajah-Ku.”
Semoga Allah tidak mengharamkan kita melihat wajah-Nya yang mulia dan memasukkan kita dengan rahmat-Nya ke dalam surga-surga kenikmatan.
۞۞۞۞۞
17 – Majelis tentang Firman-Nya Ta’ala: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”
433
Ketahuilah wahai hamba-hamba Allah dan kekasih-kekasih Allah, semoga Allah merahmati kalian, bahwa sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala telah melimpahkan kebaikan kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin dan memerintahkan mereka untuk bershalawat kepada sayyid para rasul agar menyelamatkan mereka dengannya dari azab yang kekal lagi menghinakan. Maka Tuhan kami dan Pelindung kami bershalawat kepadanya sebagai penghormatan dan pemuliaan, dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat kepadanya sebagai keutamaan dan pengagungan, dan Dia memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bershalawat kepadanya agar memberikan kepada mereka dari surga tempat yang mulia. Maka berfirmanlah Dia yang tidak henti-hentinya Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, Maha Tinggi lagi Maha Agung: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (Al-Ahzab: 56). Maka bersungguh-sungguhlah bersama kami wahai sekalian kaum muslimin dalam bershalawat dan memberi salam kepada Muhammad sebaik-baik manusia, mudah-mudahan dia memberi syafaat kepada kita pada hari ketika langit terbelah dengan awan.
Disebutkan dalam beberapa berita bahwa tidak ada seorang malaikat pun, nabi, wali, pilihan Allah, shiddiq, syahid, orang bertakwa, maupun orang bahagia melainkan dia berkata pada hari kiamat: “Dengan kehormatan Muhammad, selamatkanlah aku dari azab-Mu.” Dan tidak ada seorang hamba pun yang berdoa kepada shallallahu ‘alaihi wasallam dan memohon kepada Allah Pelindungnya suatu hajat yang di dalamnya terdapat keridaan Allah kepadanya melainkan Allah mengabulkan hajatnya dan menghilangkan darinya ketika dia bershalawat kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tujuh puluh jenis bala dalam badannya, dalam agamanya, dalam hartanya, dan dalam keluarganya.
Dan Allah mengangkat baginya tujuh puluh derajat.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad yang terpilih, sayyid para nabi dan orang-orang yang berbakti, perhiasan para rasul yang baik, dan yang paling mulia yang diliputi oleh malam dan diterangi oleh siang, Abul Qasim yang taat lagi terpilih.
Mereka melantunkan:
Semoga Allah bershalawat dan setiap hamba yang saleh Dan orang-orang yang baik kepada pelita yang terang
Yang terpilih sebaik-baik manusia Muhammad Yang suci, panji petunjuk, cahaya yang terang
Perhiasan manusia yang diridhai, panji petunjuk Yang jujur, berbakti, setia, pemberi nasihat
Semoga Allah bershalawat kepadanya selama angin pagi berhembus Dan burung merpati yang meratap bersahut-sahutan
Dan disebutkan dalam beberapa berita bahwa tidak ada suatu tempat pun yang di dalamnya banyak bershalawat kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melainkan tempat itu menjadi taman dari taman-taman surga dan benteng serta penghalang antara orang-orang yang bershalawat dengan penghalang neraka.
Maka bersungguh-sungguhlah dalam bershalawat kepada Muhammad wahai sekalian orang mukmin dan mukminat, dan berlindunglah dengannya dari azab yang keras.
434 – Shalawat kepada Nabi dan Syafaatnya
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Perbanyaklah shalawat kepadaku, karena sesungguhnya aku akan memberi syafaat kepada kalian sesuai dengan kadar itu.”
Dan mereka melantunkan:
Semoga Allah bershalawat sebesar kadar kekasih dan dari Tengah-tengah Madinah cahaya meninggi di atasnya
Quraisy mengangkat keranda pemimpinnya di sana Maka di sana kedukaan ketakwaan dan kebajikan terkubur
Dan di sana sebaik-baik hamba Allah semuanya Dan di sana yang paling mulia dari makhluk Allah yang dikasihi
Wahai hamba-hamba Allah, berlindunglah dari azab dan siksaan dengan memperbanyak shalawat kepada nabi kita Muhammad pada siang dan malam.
Disebutkan dalam beberapa berita bahwa di kaki Arsy tertulis: Barangsiapa yang merindukan rahmat-Ku, maka Aku rahmati dia. Dan barangsiapa yang memohon kepada-Ku, maka Aku beri dia. Dan barangsiapa yang tidak memohon kepada-Ku, maka Aku tidak melupakannya. Dan barangsiapa yang mendekat kepada-Ku seukuran kadar Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Aku ampuni dosanya meskipun sebanyak buih lautan.
Maka demi Allah wahai umat Muhammad dan wahai kekasih-kekasih Muhammad, barangsiapa yang ditimpa musibah atau jatuh dalam kesulitan, maka hendaklah dia merendahkan diri kepada Pelindungnya dan memohon kepada-Nya dengan kadar Muhammad dan dengan kehormatan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena sesungguhnya kadarnya di sisi Allah sangat agung.
Maka perbanyaklah wahai hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah, wahai sekalian orang yang beriman kepada Allah Yang Maha Agung, shalawat kepada Muhammad yang mulia dan Nabi Sayyid yang penyayang lagi penyantun, niscaya Allah menyelamatkan kalian dengannya dari azab yang pedih dan memasukkan kalian ke dalam surga-surga yang kekal dan penuh kenikmatan. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.
435 – Shalawat kepada Beliau pada Hari Jumat
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa bershalawat kepadaku pada hari Jumat seratus kali, maka Allah mengampuni kesalahannya selama delapan puluh tahun.”
Maka demi Allah wahai sekalian orang mukmin dan mukminat, perbanyaklah shalawat kepada kekasih kalian Muhammad pada semua hari, waktu-waktu, saat-saat dan jam-jam, mudah-mudahan Allah menyelamatkan kalian dari kengerian dan bencana, azab dan hukuman, dan memasukkan kalian ke dalam surga-surga yang tinggi pada hari ketika bumi dan langit diganti.
Dan mereka melantunkan:
Bershalawatlah kepada yang terpilih sebagai sarana mendekatkan kalian Sesungguhnya shalawat kepadanya adalah sebaik-baik yang didapat
Yang paling tinggi dari manusia, tinggi dalam keagungannya Dan yang paling mulia dari makhluk yang dinisbahkan jika dinasabkan
Dan yang paling cepat dari manusia mendapat ampunan pada hari padang mahsyar Ketika hukuman tampak bagi makhluk dan berdiri
Diceritakan dari asy-Syibli rahimahullah Ta’ala bahwa beliau berkata: Seorang laki-laki dari tetanggaku meninggal dunia, maka aku melihatnya dalam mimpi dan aku bertanya kepadanya tentang keadaannya.
Maka dia berkata: “Wahai Syibli, aku melewati kengerian-kengerian yang dahsyat, yaitu ketika aku ditanya, lisanku tergagap saat pertanyaan darinya. Datanglah kepadaku dua malaikat dan salah satu dari mereka bermaksud mempercepat aku dengan azab, tiba-tiba aku melihat sosok yang indah, aku tidak pernah melihat yang lebih indah darinya wajahnya, maka dia menghalangiku dari keduanya. Maka aku berkata kepadanya: ‘Siapa engkau?’ setelah dia mentalqinkan hujahku. Maka dia berkata: ‘Aku adalah malaikat yang Allah ciptakan dari pahala shalawat kepada Muhammad, dan engkau dulunya banyak bershalawat kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku akan menyelamatkanmu dengan izin Allah dari semua kesedihan dan dari azab neraka, dan aku tidak akan meninggalkanmu sampai aku memasukkanmu ke dalam surga dengan rahmat Allah.'”
Maka demi Allah wahai hamba-hamba Allah, janganlah kalian bosan dari bershalawat kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, perhiasan para hamba yang dengannya kami diselamatkan dari panasnya neraka Jahannam dan seburuk-buruk tempat tinggal.
Dan mereka melantunkan:
Barangsiapa yang banyak dengan shalawat Berharap keutamaan Nabi
Memberinya Tuhan Muhammad Pertolongan dari kelembutan yang tersembunyi
Allah Tabaraka wa Ta’ala mewahyukan kepada Musa ‘alaihissalam: “Wahai Musa, jika engkau ingin Aku lebih dekat kepadamu daripada lidahmu dengan ucapanmu, dan dari cahaya penglihatanmu dengan matamu, dan dari pendengaranmu dengan telingamu, maka perbanyaklah shalawat kepada kekasih-Ku Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.”
Dan mereka melantunkan:
Semoga Allah bershalawat kepada Nabi Muhammad Sebaik-baik manusia dan datanglah kepadanya wahyu
Dan dengan keutamaannya Kitab berbicara dan dijelaskan Dengan sifat-sifatnya Taurat dan Injil
Dialah Nabi Hasyimi yang terpilih Telah datang kepadanya pengangkatan dan keutamaan
Dia diisra’kan oleh Maulanya ke cakrawala langit Di atas Buraq dan bersamanya Jibril
436 – Keajaiban
Diriwayatkan dari Muhammad bin an-Nu’man radhiyallahu ‘anhu bahwa dia berkata: Kami berada di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka datanglah kepada beliau seorang pemuda dari kaum Anshar untuk suatu keperluan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melapangkan tempat untuknya antara beliau dan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: “Wahai Abu Bakar, mungkin engkau merasa berat bahwa aku mendudukkan pemuda ini antara aku dan engkau?” Maka Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ya, demi Allah wahai Rasulullah, sesungguhnya aku merasa berat jika ada seseorang antara aku dan engkau.”
437 – Keutamaan Orang yang Bershalawat dan Abu Bakar
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Abu Bakar, sesungguhnya pemuda ini bershalawat kepadaku dengan shalawat yang tidak bershalawat kepadaku seorang pun dari umatku dengannya.” Maka Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Bagaimana dia mengucapkannya wahai Rasulullah?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dia berkata: Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad sejumlah orang yang bershalawat kepadanya, dan limpahkanlah shalawat kepada Muhammad sejumlah orang yang tidak bershalawat kepadanya, dan limpahkanlah shalawat kepada Muhammad sebagaimana Engkau memerintahkan agar bershalawat kepadanya, dan limpahkanlah shalawat kepada Muhammad sebagaimana Engkau suka untuk dishalawatkan kepadanya, dan limpahkanlah shalawat kepada Muhammad sebagaimana sepatutnya untuk dishalawatkan kepadanya.”
Dan ketahuilah wahai saudaraku dengan ilmu yang yakin tanpa keraguan di dalamnya bahwa sesungguhnya tidak ada seorang pun yang lebih beruntung di sisi nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pula di sisi Tuhan kita Subhanahu setelah para nabi selain Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, kemudian Umar setelahnya demikian juga, kemudian Utsman, kemudian Ali radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Dan shalawat Allah serta rahmat-Nya atas mereka, dan atas sepuluh orang yang dijanjikan surga, dan semua para sahabat. Tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhususkan pemuda itu dengan mendudukkannya antara beliau dan Abu Bakar karena apa yang Allah ilhamkan kepadanya dari shalawat itu, maka Nabi memuliakan dia demikian, shalawat dan salam Allah atasnya selama orang yang rindu merintih kepadanya.
438 – Kisah Imam Syafii tentang Jin-Jin yang Beriman
Adapun yang memperkuat apa yang telah kami sebutkan tentang keutamaan empat Rukun (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali) semoga Allah meridhai mereka semua, adalah apa yang diriwayatkan dari Muhammad bin Idris (Imam Syafii). Ia berkata: Aku melihat seorang uskup di Mekah sedang berthawaf mengelilingi Kakbah. Aku bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu tertarik meninggalkan agama leluhurmu?” Ia menjawab, “Aku menukarnya dengan yang lebih baik.” Aku bertanya, “Bagaimana bisa demikian?”
Ia berkata: Aku mengarungi lautan, dan ketika kami berada di tengah laut, kapal kami hancur. Aku naik ke atas sebuah papan, lalu ombak terus mendorongku hingga melemparkanku ke sebuah pulau dari pulau-pulau di lautan. Di pulau itu terdapat banyak pohon dengan buah yang lebih manis dari madu dan lebih lembut dari mentega. Di sana juga ada sungai yang mengalir dengan air yang segar. Aku memuji Allah atas hal itu dan berkata, “Aku akan makan dari buah ini dan minum dari sungai ini hingga Allah memberiku jalan keluar.”
Ketika siang berlalu, aku takut terhadap binatang buas, maka aku naik ke salah satu pohon itu dan tidur di salah satu rantingnya. Ketika tengah malam tiba, tiba-tiba ada seekor makhluk di atas permukaan air yang bertasbih kepada Allah dan berkata: “Tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Memaksa, Muhammad adalah Rasulullah Nabi yang terpilih, Abu Bakar ash-Shiddiq adalah sahabatnya di dalam gua, Umar al-Faruq adalah pembuka negeri-negeri, Utsman yang terbunuh di dalam rumah, Ali adalah pedang Allah atas orang-orang kafir. Maka laknat Allah Yang Maha Memaksa atas mereka yang membenci mereka dan tempat tinggal mereka adalah neraka Jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”
Makhluk itu terus mengulang kata-kata ini hingga ketika fajar terbit, ia berkata: “Tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Benar janji dan ancaman-Nya, Muhammad adalah pemberi petunjuk yang benar, Abu Bakar ash-Shiddiq yang diberi taufik lagi bijaksana, Umar bin Khattab adalah benteng dari besi, Utsman yang terbunuh sebagai syahid, Ali yang memiliki kekuatan yang dahsyat. Maka laknat Tuhan Yang Maha Mulia atas mereka yang membenci mereka.”
Ketika ia sampai ke daratan, ternyata kepalanya adalah kepala burung unta, wajahnya wajah manusia, kaki-kakinya kaki unta, dan ekornya ekor ikan. Aku takut akan binasa, maka aku melarikan diri di depannya. Kemudian ia berhenti dan berkata, “Apa agamamu?” Aku menjawab, “Nasrani.” Ia berkata, “Celakalah kamu! Kembalilah kepada agama Hanif (Islam), karena kamu telah tiba di halaman kaum dari kalangan jin yang beriman yang tidak akan selamat dari mereka kecuali orang yang Muslim.”
Aku berkata, “Bagaimana cara masuk Islam?” Ia berkata, “Engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah.” Maka aku mengucapkannya. Kemudian ia berkata, “Sempurnakanlah Islammu dengan mendoakan rahmat kepada Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali semoga Allah meridhai mereka semua.”
Aku bertanya, “Siapa yang mengajarkan kalian hal itu?” Ia menjawab, “Kaum kami hadir di sisi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu mereka mendengarnya bersabda: ‘Ketika hari Kiamat tiba, Surga akan datang dan memanggil dengan lisan yang fasih: Wahai Tuhanku, sungguh Engkau telah berjanji akan menguatkan rukun-rukunku. Maka Allah Yang Maha Mulia berfirman: Aku telah menguatkan rukun-rukunmu dengan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, dan menghiasimu dengan Hasan dan Husain.’”
Kemudian makhluk itu berkata, “Apakah kamu ingin tinggal atau kembali kepada keluargamu?” Aku menjawab, “Kembali.” Ia berkata, “Bersabarlah hingga ada kapal yang lewat.” Dan tiba-tiba ada kapal yang berlayar. Aku memberi isyarat kepada mereka, lalu mereka memberiku perahu kecil. Ketika aku naik bersama mereka, ternyata di kapal itu ada dua belas orang laki-laki yang semuanya Nasrani. Aku menceritakan kisahku kepada mereka, lalu mereka semua masuk Islam sampai yang terakhir.
Maka demi Allah, wahai hamba-hamba Allah, bersyukurlah kepada Allah atas nikmat Islam dan atas petunjuk-Nya kepada kalian untuk mengikuti sunnah Muhammad shallallahu alaihi wasallam, semoga shalawat dan salam yang terbaik tercurah kepadanya, dan atas kecintaan kalian kepada para sahabatnya yang berbakti dan mulia. Sungguh Dia telah mengutamakan kalian atas seluruh manusia. Allah Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan serta pemberian nikmat yang panjang berfirman: “Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam” (Ali Imran: 19).
Dan kami kembali kepada apa yang sedang kami bicarakan tentang shalawat kepada sebaik-baik manusia Muhammad Rasul Raja Yang Maha Mengetahui.
Dan mereka melantunkan:
Hatiku dan lisanku bersungguh-sungguh menyebutmu Dan engkau telah bersemayam di hatiku di setiap tempat
Maka aku dengan menyebutmu di antara semua makhluk Adalah tanda, dan cintamu telah menguasai kendali hidupku
Kekuasaan cintamu dalam jiwa adalah mata hati itu sendiri Dan dengannya kekuasaanku dalam cinta menjadi mulia
Engkau adalah Nabi Hasyimi Muhammad Semoga Allah bershalawat kepadamu dalam Al-Quran
Engkau adalah kekasih bagi seluruh penganut agamamu Di hari Kebangkitan dan tempat berdiri yang penuh kerugian
Engkau adalah pemberi syafaat bagi siapa yang bermaksiat kepada Tuhan Yang Maha Tinggi Engkau adalah petunjuk menuju surga keridhaan
Maka sungguh akan aku sebutkan namamu selama aku masih hidup Hingga kematian dan lisanku tidak akan bosan
Maka shalawat Tuhanku Yang Maha Mulia dan Maha Melindungi Terlimpah kepadamu bergantian siang dan malam
439 – Pasak-Pasak Majelis
Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya majelis-majelis itu adalah pasak-pasak yang para duduknya adalah malaikat. Apabila mereka duduk untuk berzikir kepada Allah, malaikat mengelilingi mereka dari telapak kaki mereka hingga langit yang tinggi dengan membawa lembaran-lembaran perak dan pena-pena emas, mereka menulis shalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Mereka berkata: ‘Perbanyaklah, semoga Allah merahmati kalian.’ Apabila mereka memulai zikir, pintu-pintu surga dibukakan bagi mereka, doa mereka dikabulkan, bidadari-bidadari surga memandang kepada mereka, dan Allah Taala menghadapkan wajah-Nya yang mulia kepada mereka selama mereka tidak membicarakan hal lain dan bercerai-berai.”
Dan mereka melantunkan:
Apabila manusia mengharumkan majelis di antara mereka Dengan anggur dan keharuman, maka menyebutmu adalah keharuman kami
Seandainya dunia adalah bagian bagi penghuninya Maka cintamu dari semua angan-angan adalah bagian kami
Dan jika cinta makhluk sebagian untuk sebagian Maka engkau dari seluruh makhluk adalah kekasih kami
Saudara-saudara kami, keberuntungan bagi siapa yang dikaruniai lisan untuk berzikir kepada Allah dan bershalawat kepada Muhammad Rasulullah. Keberuntungan bagi siapa yang dikaruniai oleh Tuhan kami lisan yang sibuk dengan zikir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah dan dengan shalawat kepada yang Maha Penyayang lagi Maha Berbelas kasih.
440 – Rumusan Shalawat
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda kepada seorang laki-laki dari kalangan sahabatnya, “Apa yang kamu ucapkan tadi malam dari kata-kata kebaikan?” Laki-laki itu berkata, “Wahai Rasulullah, semoga Allah bershalawat kepadamu, aku berkata: ‘Ya Allah, limpahkanlah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad hingga tidak tersisa sedikitpun dari shalawat, dan berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad hingga tidak tersisa sedikitpun dari keberkahan, dan rahmatilah Muhammad dan keluarga Muhammad hingga tidak tersisa sedikitpun dari rahmat.’”
Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Karena itulah tadi malam aku melihat para malaikat memenuhi lorong-lorong Madinah.”
Maka perbanyaklah shalawat kepada pemimpin para nabi, sebaik-baik kekasih, semulia-mulia orang pilihan, dan seagung-agung siapa yang dilahirkan oleh para wanita. Semoga Allah bershalawat kepadanya dengan shalawat yang kekal tanpa putus di malam ketika gelap menyelimuti, di siang ketika terang benderang, di akhirat dan di dunia.
Dan mereka melantunkan:
Semoga Allah bershalawat kepada sebaik-baik manusia dan orang yang Kami harapkan keselamatan dengannya di tempat kehancuran
Maka dialah pemberi syafaat bagi siapa yang mengharapkan syafaatnya Ketika hisab dan ketika kesusahan serta kesedihan
Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling berhak denganku adalah orang yang paling banyak bershalawat kepadaku.”
Maka perbanyaklah shalawat kepadanya wahai sekalian kaum muslimin, dan berlindunglah dengannya dari azab yang dahsyat, dan carilah dengannya ridha Raja Yang Maha Mengetahui.
Dan mereka melantunkan:
Wahai sebaik-baik yang dilahirkan yang kebanggaannya sangat agung Dan datang dengan syariat dan kitab yang paling mulia
Semoga Allah bershalawat kepadamu wahai sebaik-baik manusia Selama hujan turun di segenap penjuru dari awan
Wahai sebaik-baik yang diutus kepada sebaik-baik umat dan semulia-mulia orang yang menyeru kepada jalan-jalan yang benar
441 – Tiga Golongan di Bawah Naungan Arsy
Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Tiga golongan pada hari Kiamat berada di bawah Arsy Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.” Ditanyakan, “Siapa mereka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Orang yang melepaskan kesusahan dari umatku, orang yang menghidupkan sunnahku, dan orang yang memperbanyak shalawat kepadaku.”
Maka bersungguh-sungguhlah semoga Allah merahmati kalian dalam melepaskan kesusahan orang-orang yang susah, dalam menghidupkan sunnah penutup para nabi, dan dalam bershalawat kepada pemimpin para rasul dan semulia-mulia makhluk di sisi Tuhan semesta alam.
Dan mereka melantunkan:
Bershalawatlah kepada sebaik-baik manusia sebagai kemuliaan Dan keagungan wahai sekalian kaum muslimin
Maka dialah Nabi pilihan, tanda petunjuk Dan sebaik-baik petunjuk yang menyeru kepada jalan-jalan yang lurus
Kitab suci berbicara tentang keutamaannya dan keagungannya Dan dengan keutamaannya kita selamat dari penyakit
Bershalawatlah kepada sebaik-baik seluruh makhluk Selama bulan purnama bersinar di balik kegelapan malam
Maka dialah jalan menuju rumah segala kemuliaan Dan dialah petunjuk menuju surga dan keselamatan
Dan dialah pemberi syafaat bagi siapa yang menganut agamanya Dan bagi siapa yang berlindung dengan agama Islam
442 – Shalawat Memiliki Aroma yang Harum
Diriwayatkan dari sebagian sahabat semoga Allah meridhai mereka semua, bahwa mereka berkata: Tidaklah ada majelis yang di dalamnya dibacakan shalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam melainkan tumbuh baginya aroma harum hingga mencapai langit yang tinggi. Maka para malaikat berkata, “Ini adalah aroma majelis yang di dalamnya dibacakan shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.”
Ya Allah, bershalawatlah kepadanya sebagaimana Engkau menyukai untuk dibacakan shalawat kepadanya shallallahu alaihi wasallam.
Dan mereka melantunkan:
Nafas-nafas menjadi harum ketika disebutkan Kabar-kabarnya di majelis yang harum
Maha Suci Pencipta dan Khaliknya Cahaya yang terwujud dalam bentuk yang terindah
Minyak kasturi mengalir di jubahnya Dan wajahnya darinya adalah terbitnya bulan
Wahai yang jujur dalam apa yang diberitakannya kepada kami Dengan kesaksian pendengaran dan penglihatan
Maha Suci yang menciptakanmu dari manusia Wahai pemimpin bagi makhluk dan manusia
Perkataan diikuti oleh bukti-buktinya Dan kebaikan berpasangan dengan berita
Engkau adalah Nabi tanpa sanggahan Dan yang terpilih dari sebaik-baik manusia
443 – Imam Syafii
Diriwayatkan dari Abu Ja’far ath-Thahawi bahwa ia berkata: Abdullah bin Abdul Hakam berkata: Aku melihat Imam Syafii semoga Allah meridhainya dalam mimpi, lalu aku bertanya, “Apa yang Allah lakukan kepadamu?” Ia menjawab, “Dia merahmatiku dan mengampuniku, dan aku dibawa ke surga sebagaimana pengantin wanita dibawa kepada suaminya.” Aku bertanya, “Apa yang mengantarkanmu ke kedudukan ini?” Ia menjawab kepadaku, “Karena apa yang ada di akhir Kitab ar-Risalah tentang shalawat kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam.”
Aku bertanya, “Bagaimana itu?” Ia menjawab kepadaku, “Dan semoga Allah bershalawat kepada junjungan kami Muhammad selama orang-orang yang ingat menyebutnya dan lalai dari menyebutnya orang-orang yang lupa.”
Ia berkata: Ketika aku bangun pagi, aku mencari Kitab ar-Risalah, lalu aku menemukan perkaranya sebagaimana yang disebutkan.
Dan mereka melantunkan:
Bershalawatlah kepada sebaik-baik manusia dan orang yang dengannya Hamba-hamba selamat di tempat berdiri yang mengerikan
Sesungguhnya shalawat kepada Nabi kekasih kami Adalah dari sebaik-baik perbuatan dan amal
Maka dialah Nabi pilihan, tanda petunjuk Yang baik perkataan dan perbuatannya
Sekalian kaum muslimin, berlindunglah dari azab neraka dan ringankanlah dari punggung kalian beban dosa-dosa dengan memperbanyak shalawat kepada Nabi yang terpilih.
444 – Sepelit-Pelit Manusia
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Cukuplah bagi seorang mukmin dari kebakhilan, apabila aku disebutkan di sisinya lalu ia tidak bershalawat kepadaku.”
Aku berlindung kepada Allah dari orang yang hina dan pelit yang bakhil dengan shalawat kepada Rasul Raja Yang Maha Mulia yang dikhususkan oleh Allah dengan kemuliaan dan keutamaan, dan yang dipercayai-Nya untuk menjelaskan takwil dalam seluruh tanzil.
Dan mereka melantunkan:
Bershalawatlah kepada bulan yang bersinar ketika ia muncul Dalam rombongan dari kebaikan dan keindahannya
Allah Yang Maha Pengasih tidak menciptakan makhluk sepertinya Dalam keutamaannya, kecemerlangan, dan kesempurnaannya
Ia menutup kenabian, keharuman adalah penutupnya Minyak kasturi yang berasal dari hembusan keagungannya
Bershalawatlah kepada ilmu yang karena darinya Umatnya meraih harapan dan kegembiraan mengalir di hatinya
Bershalawatlah kepada bulan sempurna karena cinta Dan kemuliaan serta keagungan bagi keagungannya
Sesungguhnya shalawat kepada Nabi adalah keselamatan Dan keutamaan serta tawassul dengan keindahannya
Dan pendekatan diri, kelembutan, dan kerinduan Dan tawassul serta penghampiran untuk pemberian rezekinya
Wahai hamba-hamba Allah, bershalawatlah kepada Rasulullah, bershalawatlah kepada junjungan dan kekasih kita karena cinta dan kemuliaan, karena dialah pemberi syafaat bagi kita pada hari Kiamat.
445 – Orang yang Paling Banyak Bershalawat akan Selamat
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda: “Orang yang paling selamat di antara kalian pada hari kiamat dari segala keahsyarannya dan dari berbagai tempat di dalamnya adalah orang yang paling banyak bershalawat kepadaku. Wahai hamba-hamba Allah, wahai Sang Raja Yang Maha Menghitung, wahai ahli Islam dan iman, bershalawatlah bersama kami kepada junjungan kami Muhammad utusan Sang Raja Yang Maha Pengasih, mudah-mudahan beliau menyelamatkan kami dari azab api neraka.”
Dan bacakanlah:
“Bershalawatlah kepada orang mulia yang agung perbuatan-perbuatannya, dan yang paling banyak di antara makhluk dalam memberi anugerah dan kebaikan.
Dia datang kepada para hamba sementara jalan mereka telah sesat, maka dia menjelaskan kebenaran dengan penjelasan dan bukti yang nyata.
Dia menerangkan agama dengan peringatan dengan sungguh-sungguh, dan menampakkan syariat berupa hukum-hukum dan Al-Quran.
Dia menyelamatkan makhluk dari api yang menyala-nyala, dan mengantarkan manusia ke surga dan keridhaan.
Janganlah engkau mencari hal yang baik jika engkau mengingatnya, dan janganlah engkau menginginkan setelahnya jiwa dan keharuman.
Di dalam dirinya ada surga dan di dalamnya ada kebaikan yang berkumpul, dan kemuliaan dan keindahan dalam berbagai bentuk dan warna.
Maka segala puji bagi Allah karena kami menjadi pengikutnya, sungguh Penguasa kami telah memberikan anugerah kebaikan kepada kami.”
446 – Buah Bershalawat
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda: “Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali shalawat dengan mengagungkan hakku, maka Allah Taala menciptakan dari ucapan itu seorang malaikat yang satu sayapnya di timur dan yang lainnya di barat, dan kedua kakinya tertanam di bumi yang paling bawah yang ketujuh, dan lehernya melengkung di bawah Arasy. Allah Taala berfirman kepadanya: Bershalawatlah kepada hamba-Ku sebagaimana dia bershalawat kepada Nabi-Ku Muhammad, maka malaikat itu terus bershalawat kepadanya hingga hari kiamat.”
Wahai kekasih-kekasihku, lindungilah diri kalian dari azab yang pedih dan berkeinginanlah pada pahala yang banyak dengan bershalawat kepada Nabi yang benar lagi bertaubat. Ketahuilah wahai hamba-hamba Allah bahwa Allah Tabaraka wa Taala ketika menjadikan Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai kekasih, Dia bersumpah dengan kehidupannya, maka Allah Taala berfirman: “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka dalam kemabukan mereka, berputar-putar dengan bingung.” (Al-Hijr: 72)
Ini adalah puncak kecintaan. Dan ketika Allah Taala ingin agar para hamba bershalawat kepada Muhammad sang Nabi yang dicintai, Dia memulai dengan bershalawat kepadanya, yaitu Sang Raja Yang Maha Dekat, kemudian menyusulkan dengan malaikat-malaikat-Nya yang jauh dan yang dekat dari mereka, kemudian memberitahukan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman bahwa Dia bershalawat kepada Muhammad, Dia dan malaikat-malaikat-Nya, kemudian memerintahkan kepada ahli iman untuk bershalawat kepadanya agar Dia menyelamatkan mereka dengannya dari azab api neraka. Maka berfirmanlah Sang Raja Yang Maha Pengasih dalam Al-Quran yang muhkam: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Al-Ahzab: 56)
Seakan-akan Allah Jalla wa Taala berfirman: Hamba-Ku, Aku telah memberitahukanmu bahwa Aku bershalawat kepada Muhammad kekasih-Ku dan malaikat-malaikat-Ku bershalawat kepadanya. Maka barangsiapa yang memperbanyak shalawat kepada Muhammad sang kekasih, Aku jadikan baginya bagian yang paling melimpah dari surga dan dia menjadi teman dan tetangga bagi Abu al-Qasim sang kekasih.
Dan bacakanlah:
“Allah bershalawat dengan keagungan dan kemuliaan-Nya, kemudian malaikat-malaikat yang mulia kepada sang Nabi.
Maka dialah kekasih bagi Tuhan kami Tuhan Yang Maha Tinggi, dan dialah petunjuk menuju surga yang tidak tersembunyi.”
447 – Malaikat Memohonkan Ampunan bagi Orang yang Bershalawat
Disebutkan dalam sebagian berita bahwa seorang hamba mukmin atau hamba perempuan mukminah jika memulai bershalawat kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam, maka terbuka baginya pintu-pintu langit yang tujuh dan tirai-tirai hingga Arasy. Maka tidak ada satu malaikat pun di langit-langit kecuali bershalawat kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan mereka memohonkan ampunan bagi hamba atau hamba perempuan itu selama hamba atau hamba perempuan itu bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Dan bacakanlah:
“Bershalawatlah bersama kami wahai golongan Islam, kepada sang Nabi yang jelas hukum-hukumnya.
Al-Kitab berbicara tentang keutamaan dan keagungannya, dan dengan keutamaannya kita selamat dari kejahatan.”
448 – Kedudukan Asy-Syibli
Diceritakan dari sebagian mereka bahwa dia berkata: Aku sedang duduk di sisi Abu Bakar bin Mujahid tiba-tiba datanglah Asy-Syibli, maka Abu Bakar berdiri mendatanginya lalu memeluknya dan mencium di antara kedua matanya. Maka aku berkata: Wahai tuanku, engkau melakukan ini kepada Asy-Syibli padahal penduduk Baghdad mengatakan tentang dia bahwa dia gila? Maka dia berkata: Aku telah melakukan kepadanya sebagaimana aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melakukannya. Itu karena aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam mimpi dan Asy-Syibli datang, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam berdiri lalu memeluknya dan menciumnya di antara kedua matanya. Maka aku berkata kepadanya: Wahai Rasulullah, engkau melakukan ini kepada Asy-Syibli? Maka beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ya, karena dia membaca di akhir setiap shalatnya: ‘Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri’ (At-Taubah: 128) – ayat tersebut, kemudian menyusulnya dengan bershalawat kepadaku.”
Dan bacakanlah:
“Shalawat Tuhan Yang Maha Mulia, Maha Agung, Maha Esa, kepada sang Nabi yang telah mendapat keutamaan.
Allah Pemilik Arasy, Pencipta kami, telah bershalawat kepadanya; Al-Kitab datang dengan itu sebagai wahyu dan tanzil.
Maka dialah petunjuk bagi semua ahli kebaikan, bagi siapa yang menghendaki perpindahan ke Firdaus.
Dan bagi siapa yang menghendaki lari dari kesesatannya, dan bagi siapa yang Allah Yang Maha Pengasih menghendaki penghubungan.
Ini adalah penjelasan bagi semua ahli keutamaan, mereka mempercepat percepatan menuju negeri keabadian.”
Wahai hamba-hamba Allah, berkeinginanlah pada kerajaan yang agung ini dan kenikmatan yang kekal dan panjang dengan memperbanyak shalawat kepada Muhammad yang asli, sang Nabi tuan yang mulia yang datang dengan wahyu dan tanzil, dan menjelaskan penjelasan takwil, dan datang kepadanya Jibril yang amanah dengan penghormatan dan keutamaan, dan Dia Yang Maha Agung mengisra’kannya di malam yang gelap gulita yang panjang, membuka baginya tentang Kerajaan yang paling tinggi dan memperlihatkan kepadanya Keperkasaan yang paling mulia, dan melihat kepada kekuasaan Yang Maha Hidup yang tidak mati. Maka sungguh dia telah melihat pada malam Isra dari tanda-tanda Tuhannya yang paling besar dan sampai ke Sidratul Muntaha.
Dan bacakanlah:
“Bershalawatlah kepada sebaik-baik umat manusia Muhammad, maka dialah petunjuk kepada jalan yang membimbing.
Allah telah bershalawat kepadanya selama kegelapan tetap ada, dan siang berlalu dalam kegelapan yang paling hitam.”
449 – Menyampaikan Shalawat kepada Allah
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Taala memberikan kepada seorang malaikat dari malaikat-malaikat nama-nama makhluk, maka dia berdiri di atas kuburanku hingga hari kiamat. Maka tidak ada seorang pun dari umatku yang bershalawat kepadaku melainkan malaikat itu berkata: Wahai Muhammad, si fulan bin fulan bershalawat kepadamu, semoga Allah bershalawat kepadamu. Dan Tuhan Azza wa Jalla telah menjamin bagiku bahwa barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali shalawat, Allah akan bershalawat kepadanya dengan sepuluh kali, dan jika dia menambah, Allah akan menambahkan baginya.”
Maka di manakah engkau wahai orang yang menghendaki keselamatan dari panas yang menyengat dan kemenangan serta keabadian di surga-surga kenikmatan? Maka perbanyaklah shalawat kepada Nabi yang mulia dan Rasul yang lemah lembut lagi penyayang.
450 – Shalawat Malaikat
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda: “Barangsiapa bershalawat kepadaku, malaikat akan bershalawat kepadanya. Dan barangsiapa malaikat bershalawat kepadanya, Tuhannya akan bershalawat kepadanya. Maka hendaklah seorang hamba itu mengucapkan atau memperbanyaknya.”
Dan ketahuilah bahwa orang yang jahat lagi celaka adalah dia yang mendengar keutamaan-keutamaan ini tentang shalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam padahal lisannya tertahan darinya, maka wajib untuk berlindung kepada Allah darinya. Kami berlindung kepada Allah dari lisan yang kaku dari bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam utusan Sang Raja Yang Maha Agung, Yang Maha Perkasa, Maha Esa, Maha Tunggal.
Dan bacakanlah:
“Bershalawatlah kepada cahaya yang berseri Muhammad, sesungguhnya shalawat kepadanya menyelamatkan dari api neraka.
Maka dialah petunjuk jika engkau mendapat petunjuk dengan cahayanya, dan dialah utusan maka itulah pelita petunjuk.”
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Taala mengampuni dosa-dosa kalian ketika beristighfar. Maka barangsiapa beristighfar kepada Allah Taala dengan niat yang benar, Allah akan mengampuninya. Dan barangsiapa mengucapkan Laa ilaaha illallah, maka berat timbangannya. Dan barangsiapa bershalawat kepadaku, aku menjadi pemberi syafaat baginya pada hari kiamat.”
Wahai hamba-hamba Allah, berkeinginanlah pada syafaat dan berpegang teguhlah dengan bershalawat kepada pemberi syafaat bagi orang-orang berdosa pada hari berdirinya kiamat, dan berkeinginanlah kepada Penguasa kalian agar Dia memberi taufik kepada kami untuk amal-amal ahli sunnah dan jamaah.
Dan bacakanlah:
“Barangsiapa mengetahui bahwa Allah adalah penciptanya, dan Muhammad telah datang dengan Al-Quran,
Maka hendaklah dia memperbanyak salam setelah shalatnya, kepada yang baik yang diutus dengan penjelasan,
Al-Hasyimi Al-Abtahi Muhammad, sebaik-baik umat manusia dan perhiasan setiap tempat.”
451 – Barangsiapa Menulis Shalawat dalam Kitab
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda: “Barangsiapa bershalawat kepadaku dalam sebuah kitab, malaikat-malaikat akan terus bershalawat kepadanya selama namaku ada dalam kitab itu.”
Maka wahai golongan kaum muslimin dan muslimat serta mukmin dan mukminat, taatilah Tuhan langit dan bumi dengan bershalawat kepada pemimpin para pemimpin.
Dan bacakanlah:
“Berikanlah dengan murah hati shalawat kepada sebaik-baik umat manusia, itulah sang Nabi yang telah datang dengan cahaya.
Maka dialah imam bagi semua ahli kebenaran, dan dialah petunjuk kepada para pemuda dan bidadari.”
452 – Shalawat Sampai Kepadanya dari Para Hamba
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda: “Bermegah-megahlah dengan bershalawat kepadaku karena sesungguhnya shalawat itu sampai kepadaku.”
Maka sampaikanlah shalawat kalian kepada pemimpin kalian dan nabi kalian dan pilihan kalian, dan berkeinginanlah kepada Penguasa kalian agar Dia mewafatkan kalian di atas sunnahnya dan menjadikan kalian dari umatnya dan menjadikannya pemberi syafaat kalian dari api neraka dan pemimpin kalian menuju negeri kenyamanan dan tempat tinggal, menuju surga-surga Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Taala telah menugaskan untukku dua malaikat, maka tidaklah aku disebutkan di sisi seorang hamba muslim lalu dia bershalawat kepadaku melainkan kedua malaikat itu berkata menjawab: Aamiin. Lalu Allah Taala berfirman menjawab kepada kedua malaikat: Aamiin. Dan tidaklah aku disebutkan di sisi seseorang lalu dia tidak bershalawat kepadaku melainkan kedua malaikat itu berkata: Semoga Allah tidak mengampunimu. Maka Allah Taala dan malaikat-malaikat-Nya berfirman menjawab ucapan kedua malaikat: Aamiin.”
Maka tidak ada ciptaan Allah Taala yang lebih lemah, lebih hina, dan lebih pelit daripada orang yang mendengar penyebutan Muhammad sang Nabi yang utama lagi suci, dan dia tidak bershalawat kepadanya. Semoga Allah bershalawat kepadanya dan malaikat-malaikat-Nya, dan sampaikanlah salam kami kepadanya.
Dan bacakanlah:
“Bershalawatlah bersama kami di malam dan siang hari, kepada sang Nabi yang benar lagi terpilih.
Dialah yang diisra’kan oleh Yang Maha Pengasih dalam kegelapan malam; telah datang dalam Al-Quran dan riwayat-riwayat,
Al-Hasyimi Al-Mushthafa sebaik-baik umat manusia, yang taat lagi bertaubat kepada Yang Maha Perkasa,
Bershalawatlah kepada yang diutus wahai ahli ilmu, yang datang dengan tanzil dan berita-berita.”
453 – Kebaikan-kebaikan di Tanah Haram
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda: “Barangsiapa dari umatku bershalawat kepadaku, ditulis baginya sepuluh kebaikan dari kebaikan-kebaikan tanah haram.” Ditanyakan: Wahai Rasulullah, apa itu kebaikan-kebaikan tanah haram? Beliau bersabda: “Satu kebaikan dengan tujuh ratus kebaikan.”
Wahai saudaraku, ini demi Allah adalah ucapan yang mudah dan pahala yang banyak.
454 – Sholawat adalah Penghubung untuk Dikenali
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Akan datang kepadaku berbagai kaum pada hari kiamat di telaga (Hawd)-ku, tidaklah aku mengenal mereka kecuali dengan banyaknya sholawat mereka kepadaku.” Wahai hamba-hamba Allah, kalian melihat Nabi kalian, kekasih kalian, dan pilihan kalian, maka perbanyaklah sholawat kepadanya, mudah-mudahan beliau mengenali kalian dengan banyaknya sholawat kalian kepadanya, karena sholawat kepadanya adalah cahaya bagi yang melakukannya pada hari kiamat. Maka sesuai kadar sholawat kepada al-Hasyimi al-Qurasyyi at-Tahami al-Ummi al-Abthahi, akan ada cahaya yang menerangi yang dengannya dikenali mukmin yang bertakwa. Dan barangsiapa tidak memperbanyak sholawat kepada Nabi ini, maka dia adalah orang yang dijauhkan, ditolak, dan celaka.
Wahai saudara-saudaraku dalam Allah, bersholawatlah kepada pohon yang ditanam oleh Raja Yang Maha Agung, dan dijadikan akarnya al-Khalil (Nabi Ibrahim), dan dijadikan di antara cabang-cabangnya keistimewaan, dan dihiasi dengan al-Tanzil (al-Quran), dan dijadikan penghalus daun-daunnya Jibril, dan tunduk kepadanya semua yang banyak dan semua yang mulia dan hina.
Akar-akarnya Arab, dan cabang-cabangnya dari Mudhar, dan daun-daunnya dari Quraisy, dan buahnya dari Tihamah. Ditanam oleh Raja Yang Maha Mengadili dan ditundukkan untuknya semua manusia dan jin. Maka bersholawatlah kepadanya wahai kaum saudara-saudara, dan lagunilah:
“Allah memuliakan sebaik-baik makhluk dengan kemuliaan … dan manusia yang paling utama dari Arab dan Ajam”
“Dialah Nabi yang keutamaannya melampaui … dan Allah mengkhususkannya dengan al-Tanzil dan al-Hukm (hikmah)”
“Mengkhususkan dia dengan Kitab yang jelas ilmunya … yang memberi petunjuk para hamba dari kegelapan yang pekat”
“Allah memuliakan dia, Allah memuliakannya … Allah mengutusnya dari kalangan umat-umat”
“Bersholawatlah kepadanya wahai hamba-hamba Allah semuanya … sesungguhnya sholawat kepadanya menyelamatkan dari berbagai bencana”
Wahai hamba-hamba Allah, wangikanlah bersama kami majelis-majelis kami dengan sholawat kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
455 – Harum Majelis yang Dibacakan Sholawat di Dalamnya kepada Beliau
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Tidaklah duduk suatu kaum dalam suatu majelis lalu mereka berpisah tanpa sholawat kepadaku, melainkan mereka berpisah dari sesuatu yang lebih busuk dari bangkai keledai.” Jika majelis yang tidak dibacakan sholawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di dalamnya berpisah penghuninya dari sesuatu yang lebih busuk dari bangkai keledai, maka tidak heran bahwa orang-orang yang bersholawat kepadanya berpisah dari majelis mereka dari sesuatu yang lebih harum dari toko penjual minyak wangi.
Dan itu karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah yang paling harum dari orang-orang yang harum dan yang paling suci dari orang-orang yang suci. Dan apabila beliau berbicara, majelis dipenuhi dengan bau misk. Demikian pula majelis yang disebutkan di dalamnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tumbuh di dalamnya bau harum yang menembus tujuh langit hingga sampai ke Arsy. Dan menemukan setiap makhluk Allah baunya di bumi selain manusia dan jin. Karena seandainya mereka menemukan bau harum itu, setiap orang dari mereka akan sibuk dengan kesenangannya dari mata pencahariannya. Dan tidak ada malaikat atau makhluk dari makhluk Allah Ta’ala yang menemukan bau harum itu melainkan dia memohonkan ampun untuk penghuni majelis, dan dituliskan untuk mereka sebanyak jumlah seluruh makhluk ini kebaikan-kebaikan, dan diangkatkan untuk mereka derajat-derajat. Sama saja apakah di dalam majelis ada satu orang atau seratus atau seribu, setiap orang mengambil pahala seperti jumlah ini. Dan apa yang ada di sisi Allah Ta’ala lebih banyak lagi.
Maka wahai kekasih-kekasih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bersholawatlah kepada kekasih yang diberi makan dengan air pertemuan, dan dikenakan pakaian keindahan dan kesempurnaan, dan dihiasi dengan kitab Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi.
456 – Kisah Penyalin yang Memperbanyak Sholawat
Disebutkan dari sebagian orang saleh bahwa dia berkata: Dahulu aku memiliki tetangga penyalin naskah, lalu dia meninggal. Maka aku melihatnya dalam mimpi dalam keadaan yang baik. Maka aku berkata kepadanya: Apa yang Allah lakukan kepadamu? Maka dia berkata: Dia mengampuniku atas apa yang dariku. Maka aku berkata kepadanya: Dengan apa itu terjadi? Maka dia berkata: Dahulu apabila aku menulis nama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, aku bersholawat kepadanya shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka aku diampuni karena itu, dan diberikan kepadaku apa yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia. Maka perbanyaklah sholawat kepadanya shallallahu ‘alaihi wasallam tasliman katsiran (salam yang banyak).
Dan lagunilah:
“Cahaya Nabi menjulang di atas cahaya-cahaya … maka dialah petunjuk menuju jalan negeri kekal”
“Bersholawatlah kepadanya mudah-mudahan kalian selamat dengannya … pada hari perhitungan dan terungkapnya rahasia-rahasia”
“Bersholawatlah kepada bulan yang bercahaya ketika terbit … maka dialah kekasih Tuhan kami Yang Maha Perkasa”
“Bersholawatlah kepada cahaya yang ada dengan petunjuk … maka dialah pemberi syafaat bagi pemilik dosa-dosa”
Wahai hamba-hamba Allah, berkeinginanlah dengan apa yang dijadikan keinginan untuk kalian oleh Raja Yang Maha Memaksa dari keutamaan sholawat kepada Nabi-Nya Muhammad al-Mukhtar (Yang Terpilih), dan jangan kalian lalai dari sholawat kepadanya di malam dan siang hari, karena Allah akan menyelamatkan kalian dengannya dari siksa neraka dan memasukkan kalian ke surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.
Sholawat kepada Nabi adalah keutamaan yang besar, dan sholawat kepada para sahabatnya adalah sunnah dan keutamaan, dan sholawat kepada para malaikat adalah pendekatan diri dan wasilah. Bersholawatlah semoga Allah merahmati kalian kepada Nabi yang tinggi, cahaya yang indah, dan kekasih yang memberi syafaat.
Yang paling mulia dari yang dilahirkan dan paling berharga dari yang hilang.
Dan lagunilah:
“Sholawat Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Pemberi … kepada Nabi yang jujur lagi banyak kembali (kepada Allah)”
“Bersholawatlah kepada al-Mukhtar cahaya-cahaya petunjuk … bersholawatlah kepadanya wahai kaum kekasih-kekasih”
“Bersholawatlah kepada cahaya yang cemerlang Muhammad … bersholawatlah kepadanya wahai jamaah para sahabat”
457 – Jumlah Sholawat kepada Beliau
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa bersholawat kepadaku satu kali, Allah bersholawat kepadanya dengannya sepuluh kali. Dan barangsiapa bersholawat kepadaku sepuluh kali, Allah bersholawat kepadanya seratus kali. Dan barangsiapa bersholawat kepadaku seratus kali, Allah bersholawat kepadanya dengannya seribu kali. Dan barangsiapa bersholawat kepadaku seribu kali, Allah mengharamkan dia atas neraka dan memasukkannya ke surga, dan meneguhkannya dengan perkataan yang teguh di dalam kubur ketika ditanya. Dan datanglah sholawatnya kepadaku sebagai cahaya yang menerangi untuknya Shirath (jembatan) sejauh perjalanan lima ratus tahun. Dan Allah membangun untuknya dengan setiap sholawat yang dia sholawatkan kepadaku istana di surga, sedikit itu atau banyak.” Dan lagunilah:
“Bersholawatlah kepada al-Mukhtar dari keluarga Hasyim … dan sebaik-baik nabi yang dikhususkan dengan kemuliaan-kemuliaan”
“Dan yang Allah Maha Pengasih jelaskan keutamaannya dalam Zikir (al-Quran) … dan menerangkan cahaya keadilan setelah kezaliman”
“Dan diutusnya Yang Maha Perkasa kepada manusia seluruhnya … menjelaskan kejelasan halal setelah haram-haram”
“Maka itulah bagi agama Allah benteng dan tempat berlindung … dan itulah atas musuh-musuh singa dengan pedang tajam”
Wahai hamba-hamba Allah, ringankanlah dari punggung-punggung kalian dosa-dosa yang berat, dan bebaskan leher-leher kalian dari rantai-rantai dan belenggu-belenggu. Dan berkeinginanlah pada kenikmatan negeri keabadian dan keagungan dengan sholawat kalian kepada Muhammad utusan Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi.
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa bersholawat kepadaku seribu kali, tidak keluar dari dunia hingga diberi kabar gembira dengan surga.” Maka berkeinginanlah wahai hamba-hamba Allah agar kalian menjadi penghuni surga dengan membiasakan sholawat kepada Muhammad utusan Raja Yang Maha Pengasih. Mudah-mudahan Allah menghapuskan dari kalian dosa-dosa dan kemaksiatan yang telah lalu.
Kami berlindung kepada Allah dari lisan yang kering dari sholawat kepada Muhammad. Dan apabila Allah menginginkan kebaikan untuk seorang hamba, bahkan lisannya dengan zikir-Nya dan dengan sholawat kepada Muhammad kekasih-Nya, nabi-Nya, wali-Nya, dan pilihan-Nya, shallallahu ‘alaihi.
Sholawat-sholawat kami kepada Muhammad yang diutus dari Tihamah, yang menyuruh dengan kebaikan dan istiqamah, pemberi syafaat bagi ahli dosa di padang-padang hari kiamat.
Ya Allah, berilah sholawat kepada Muhammad yang zuhud, utusan Raja Yang Maha Kekal lagi Maha Esa, shallallahu ‘alaihi, sholawat yang kekal hingga akhir masa-masa yang abadi, yang baik dan kekal tanpa terputus dan tanpa habis, sholawat yang Engkau selamatkan kami dengannya dari Jahannam dan seburuk-buruk tempat tinggal.
Dan lagunilah:
“Bersholawatlah kepada Nabi yang paling jelas ini … al-Hasyimi al-Abthahi yang paling fasih”
“Sesungguhnya sholawat kepada pemberi syafaat Muhammad … menampakkan keberuntungan dengan kesuksesan yang paling berhasil”
“Maka perbanyaklah dari zikir beliau wahai orang-orang yang berakal … jangan mencari pengganti dengan zikir yang lebih utama”
Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa sulit baginya suatu hajat dari urusan agamanya atau dunianya, maka hendaklah dia memperbanyak sholawat kepadaku. Maka sesungguhnya Allah malu untuk menolak hamba-Nya dalam hajat apabila doanya di antara dua sholawat kepadaku: sholawat sebelum permintaan dan sholawat setelah permintaan.” Dan ini demi Allah adalah puncak kedudukan dan kecintaan untuk Nabi kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ya Allah, berilah sholawat kepada Muhammad, sholawat yang Engkau dekatkan dengannya tempat tinggalnya, dan Engkau muliakan dengannya akibatnya, dan Engkau sampaikan dia dengannya pada hari kiamat dari syafaat keridaan-Nya dan keinginan-Nya.
458 – Sifat Rasul dan Pujian kepada Beliau
Berkata sebagian para tuan dalam firman Allah Ta’ala: “Sungguh telah datang kepada kalian seorang rasul dari diri kalian sendiri” (Surat at-Taubah: 128), seakan-akan Dia berfirman: dari yang paling baik jiwa kalian, dan paling suci hati kalian, dan paling jujur ucapan kalian, dan paling suci perbuatan kalian, dan paling teguh asal kalian, dan paling menepati janji kalian, dan paling kukuh kemuliaan kalian, dan paling baik tabiat kalian, dan paling baik perbuatan kalian, dan paling baik cabang kalian, dan paling banyak ketaatan dan pendengarannya.
Dari yang paling tinggi kedudukan kalian, dan paling indah perkataan kalian, dan paling menepati kepemimpinan kalian, dan paling suci salam kalian.
Dari yang paling agung kebesaran kalian, dan paling besar kebanggaan kalian, dan paling banyak syukur kalian, dan paling tinggi sebutan kalian, dan paling tinggi urusan kalian, dan paling indah kesabaran kalian, dan paling baik berita kalian, dan paling dekat manusiawi kalian. Dari yang paling jauh tempat kalian, dan paling besar urusan kalian, dan paling berat timbangan kalian, dan paling awal iman kalian, dan paling jelas penjelasan kalian, dan paling utama lisan kalian, dan paling nyata kekuasaan kalian, dan paling jelas bukti kalian.
Dari yang paling teguh langkah kalian, dan paling jelas ilmu kalian, dan paling bersambung silaturahmi kalian, dan paling berkah sumpah kalian, dan paling jauh kemurahan hati kalian, dan paling memelihara perjanjian kalian.
Dari yang paling terang cahaya kalian, dan paling bercahaya kegembiraan kalian, dan paling indah kesenangan kalian, dan paling utama kalian hidup dan dikuburkan.
459 – Shighat (Bentuk) untuk Sholawat
Ya Allah, berilah sholawat kepada yang Engkau pilih dari suku yang paling mulia, dan Engkau jadikan dia kepada-Mu wasilah yang paling besar, dan Engkau jadikan sholawat kepadanya keutamaan yang paling mulia, dan Engkau tinggikan dia ke martabat yang agung, dan Engkau jadikan dia antara-Mu dan hamba-hamba-Mu sebagai wasilah.
Ya Allah, berilah sholawat kepadanya, sholawat yang Engkau jadikan dia antara kami dan siksa-Mu sebagai hijab (penghalang), dan Engkau jadikan dia untuk kami kepada kemuliaan-Mu tempat kembali, dan Engkau bukakan untuk kami dengannya ke surga yang tinggi pintu.
Ya Allah, berilah sholawat kepada Muhammad sebanyak tetes hujan-hujan, dan sebanyak pasir lembah-lembah dan padang-padang, dan sebanyak daun pepohonan, dan sebanyak buih lautan-lautan, dan sebanyak air sungai-sungai, dan sebanyak timbangan gunung-gunung dan batu-batu, dan sebanyak penghuni surga dan penghuni neraka, dan sebanyak orang-orang yang baik dan orang-orang yang durhaka, dan sebanyak apa yang bergerak di malam dan siang hari. Dan jadikanlah ya Allah sholawat kami kepadanya hijab dari siksa negeri kebinasaan, dan sebab untuk diizinkan masuk negeri kekal.
Ya Allah, berilah sholawat kepada Muhammad Nabi yang terpilih, dan pemimpin orang-orang yang baik, dan perhiasan para rasul yang terpilih.
Dan yang paling mulia dari yang digelapkan padanya malam dan disinarkan padanya siang. Abul Qasim, Nabi yang jujur lagi terpilih.
Ya Allah, berilah sholawat kepadanya sebanyak yang bersholawat kepadanya, dan sebanyak yang tidak bersholawat kepadanya, sebagaimana Engkau perintahkan sholawat kepadanya. Dan berilah sholawat kepadanya sebagaimana Engkau cinta agar disholawatkan kepadanya. Dan berilah sholawat kepadanya sebagaimana sepatutnya disholawatkan kepadanya.
Ya Allah, berilah sholawat kepada Nabi yang jujur lagi banyak kembali (kepada Allah), dan kepada keturunannya, dan kepada semua kerabat dan para sahabat. Dan wafatkanlah kami ya Allah di atas sunnahnya, dan jadikanlah kami dari ahli kewaliannya. Dan manfaatkanlah kami dengan petunjuknya dan perhatiannya. Dan masukkanlah kami ke surga bersama para sahabatnya yang baik, yang thayyib, yang terpilih. Amin, amin, ya Arhamar Rahimin (Wahai Yang Maha Pengasih dari yang pengasih).
۞۞۞۞۞
Majelis Ke-18 Tentang Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya Allah Dan Para Malaikat-Nya Bershalawat Kepada Nabi. Wahai Orang-Orang Yang Beriman, Bershalawatlah Kamu Untuk Nabi Dan Ucapkanlah Salam Penghormatan Kepadanya.” (al-Ahzab: 56)
460 – Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala menjadikan Ibrahim sebagai kekasih, Musa sebagai lawan bicara, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai wali, kekasih, nabi, dan pilihan. Hal itu karena Allah Ta’ala memulai dengan bershalawat kepadanya, dan Dia adalah Raja Yang Maha Mengetahui. Para malaikat-Nya bershalawat kepadanya, dan mereka adalah para pilihan yang mulia. Maka bershalawatlah bersama kami, wahai umat manusia, kepada Muhammad ‘alaihissalam, rasul Zat Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan, niscaya Allah akan menyelamatkan kalian dari azab yang kekal lagi menyakitkan.
Ketahuilah bahwa tidaklah seorang hamba muslim memperbanyak shalawat kepada Muhammad ‘alaihish shalatu wassalam melainkan Allah menerangi hatinya, mengampuni dosanya, melapangkan dadanya, dan memudahkan urusannya. Maka perbanyaklah shalawat semoga Allah menjadikan kalian dari golongan umatnya, mempekerjakan kalian dengan sunnahnya, dan menjadikannya teman kita semua di dalam surga-Nya. Sungguh Dia Yang Maha Memberi karunia kepada kita dengan rahmat-Nya.
461 – Sepuluh Kemuliaan Dalam Shalawat
Ketahuilah, semoga Allah merahmati kalian, bahwa dalam bershalawat kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam terdapat sepuluh kemuliaan: pertama, shalawat dari Sang Raja Yang Maha Perkasa; kedua, syafa’at Nabi Yang Terpilih; ketiga, mengikuti para malaikat yang berbakti; keempat, menyelisihi orang-orang munafik dan kafir; kelima, penghapusan kesalahan dan dosa; keenam, terkabulnya hajat dan tujuan; ketujuh, penerangan lahir dan batin; kedelapan, keselamatan dari azab negeri kebinasaan; kesembilan, masuk ke negeri kenyamanan dan ketenangan; kesepuluh, salam dari Sang Raja Yang Maha Pengampun.
Bukankah Allah tidak bersumpah dengan kehidupan seseorang kecuali dengan kehidupan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dalam firman-Nya Ta’ala: “KAMU ADALAH UMAT TERBAIK YANG DILAHIRKAN UNTUK MANUSIA” (Ali Imran: 110), makna ayat tersebut adalah: kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan.
462 – Hadits-Hadits Tentang Keutamaan Shalawat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kalian telah menyempurnakan tujuh puluh umat, kalian adalah yang paling mulia dan paling utama di sisi Allah.” Maka Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia berfirman: “DAN KATAKANLAH KEPADA MANUSIA PERKATAAN YANG BAIK” (Al-Baqarah: 83), yaitu tentang Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Barangsiapa bershalawat kepada Muhammad, maka sungguh ia telah menyelisihi orang-orang munafik dan kafir serta menyetujui perintah Yang Maha Perkasa.
Adapun penghapusan kesalahan dan dosa, diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa bershalawat kepadaku pada hari Jumat seratus kali, maka diampuni baginya dosa delapan puluh tahun.”
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, Allah memerintahkan dua malaikat penjaganya agar tidak mencatat dosa atasnya selama tiga hari.”
Adapun terkabulnya hajat dan tujuan, diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Doa di antara dua shalawat tidak akan ditolak.”
Dan diriwayatkan bahwa seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah, doa manakah yang paling utama?” Beliau menjawab: “Bershalawat kepadaku.” Ia berkata: “Apakah aku menjadikan sepertiga ibadahku untuk bershalawat kepadamu?” Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika demikian, engkau akan mendapat petunjuk.” Ia berkata: “Apakah aku menjadikan dua pertiga ibadahku untuk bershalawat kepadamu?” Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika demikian, engkau akan dicukupi.” Ia berkata: “Apakah aku menjadikan seluruh ibadahku untuk bershalawat kepadamu?” Beliau bersabda: “Barangsiapa menjadikan seluruh ibadahnya untuk bershalawat kepadaku, Allah akan memenuhi semua kebutuhannya di dunia dan akhirat.” Dan semua ini sambil tetap menunaikan kewajiban-kewajiban.
463 – Shalawat Menerangi Hati
Adapun penerangan lahir dan batin, diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku, Allah menerangi hatinya.” Hal itu karena dosa-dosa menghitamkan hati, sebab jika seorang hamba melakukan dosa, maka akan menjadi titik hitam di hatinya. Jika ia terus-menerus melakukan dosa, titik tersebut akan tumbuh hingga menghitamkan seluruh hati. Dan jika Allah membasahi lidah hamba dengan shalawat kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah mengampuni dosa-dosanya meskipun seberat gunung-gunung. Jika dosa-dosanya diampuni, kehitaman akan hilang dari hatinya dan muncullah cahaya di dalamnya, karena Islam tidak sempurna kecuali dengan bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal itu karena jika seorang hamba berkata: “Aku tidak melihat shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itu wajib,” maka ia menjadi kafir, menolak perintah Allah, keluar dari agama Islam, dan hilang cahaya petunjuk dari hatinya. Allah Ta’ala berfirman: “MAKA APAKAH ORANG YANG ALLAH MELAPANGKAN DADANYA UNTUK ISLAM, LALU DIA MENDAPAT CAHAYA DARI TUHANNYA” (Az-Zumar: 22). Ini adalah penjelasan yang jelas dari Allah.
Dan mereka melantunkan syair:
Cahaya hati bertambah ketika kami bershalawat Kepada Hasyimi, maka cahayanya tidak sirna Sinar kami dari cahaya nur Muhammad Bershalawatlah kepada Nabi yang paling utama itu
464 – Kisah Tentang Memperbanyak Shalawat Kepada Nabi
Diriwayatkan dari Abdul Wahid bin Zaid bahwa ia berkata: Aku keluar berhaji ke Baitullah al-Haram, maka seorang laki-laki menemani di jalan. Ia tidak berdiri, tidak duduk, tidak datang, tidak pergi, tidak makan, tidak minum, tidak bersuci, tidak tidur, dan tidak melakukan sesuatu apapun melainkan ia memperbanyak shalawat kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku bertanya kepadanya tentang hal itu, maka ia berkata: “Aku akan menceritakan kepadamu sesuatu yang sangat menakjubkan. Suatu kali aku keluar ke Mekah bersama ayahku. Kami singgah di suatu tempat dari tempat-tempat di perjalanan. Aku tertidur, tiba-tiba ada yang memanggil dan berkata: ‘Wahai fulan, bangunlah! Sungguh Allah telah mematikan ayahmu dan telah menghitamkan wajahnya.’ Aku terbangun dengan ketakutan dari apa yang aku dengar. Ternyata ia berbaring dan wajahnya tertutup. Aku singkap kain dari wajahnya, ternyata ia telah meninggal dan wajahnya hitam. Kesedihanku sangat berat karenanya dan aku bingung dengan urusannya. Lalu aku tertidur lagi, tiba-tiba ada empat makhluk hitam di kepalanya dan empat di kakinya, di tangan mereka ada tongkat besi dari api, mereka hendak menyiksanya. Sementara aku memperhatikan apa yang akan terjadi pada ayahku bersama makhluk-makhluk hitam itu, tiba-tiba datang seorang laki-laki yang cahaya wajahnya menerangi seluruh tempat di mana kami berada. Ia mendatangi makhluk-makhluk hitam itu lalu mengusir mereka dan berkata: ‘Menyingkirlah darinya!’ Maka makhluk-makhluk hitam itu langsung menyingkir darinya dan menghilang dari pandanganku. Kemudian ia mendatangi ayahku lalu mengusap wajahnya dengan tangannya, tiba-tiba wajahnya lebih putih dari salju dan cahaya telah memancar di wajahnya. Kemudian ia menghadap kepadaku dan berkata: ‘Allah telah memutihkan wajah ayahmu dan menghilangkan kehitaman darinya.’ Aku bertanya kepadanya: ‘Siapakah engkau? Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan untuknya.’ Ia menjawab: ‘Aku adalah Muhammad Rasulullah.’ Aku berkata kepadanya: ‘Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apa sebab kedatanganmu kepadanya?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Adapun ayahmu, ia memang berlebihan terhadap dirinya sendiri, namun ia memperbanyak shalawat kepadaku. Ketika turun kepadanya apa yang turun, ia meminta pertolongan kepadaku, dan aku adalah penolong bagi siapa yang memperbanyak shalawat kepadaku.’ Aku bangun dari tidurku lalu menyingkap kain dari wajahnya, ternyata wajahnya telah putih. Aku mengurus urusannya dan memulai pemakamannya. Aku tidak meninggalkan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah itu.”
Jika shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dapat mendatangkan penerangan wajah setelah kematian, maka lebih pantas lagi ia mendatangkan penerangan hati dalam kehidupan. Hal itu karena Allah Ta’ala menjadikan sosok beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai cahaya, dan telah menyebutnya dalam kitab-Nya sebagai pelita yang menerangi. Dan Dia menggambarkan orang yang mengikuti perintah dan sunnahnya serta mencintainya dengan cahaya hati. Allah Ta’ala berfirman: “MAKA APAKAH ORANG YANG ALLAH MELAPANGKAN DADANYA UNTUK ISLAM, LALU DIA MENDAPAT CAHAYA DARI TUHANNYA” (Az-Zumar: 22). Dan Dia menggambarkan orang yang menyelisihi agamanya dan orang yang tidak beriman kepadanya dengan kegelapan hati. Ta’ala berfirman: “DAN BARANGSIAPA YANG TIDAK DIJADIKAN ALLAH BAGINYA CAHAYA, MAKA TIDAK ADA BAGINYA CAHAYA SEDIKITPUN” (An-Nur: 40). Maka mengapa kalian, wahai hamba-hamba Allah, lalai dari keutamaan ini dan nikmat yang kekal lagi besar ini?
Dan mereka melantunkan syair:
Bershalawatlah kepada cahaya yang kemuliaan bertambah Melampaui cahaya-cahaya dan akal pikiran Muhammad adalah perhiasan makhluk di timur dan barat Dan sebaik-baik pemberi syafa’at yang berbicara dengan benar Dan sebaik-baik kekasih bagi Tuhan adalah nabi kita Dan sebaik-baik rasul yang mengamalkan kitab Ia datang kepada makhluk sementara berhala disembah secara terang-terangan Dan Iblis menempatkan mereka di seburuk-buruk tempat kembali Maka ia menyelamatkan hamba-hamba-Nya dengan cahaya yang cemerlang Dan menempatkan mereka dengan agama di sebaik-baik tempat kembali Maka bershalawatlah kepada sebaik-baik seluruh makhluk Agar kalian wahai kaum mendapatkan sebaik-baik pahala
Wahai hamba-hamba Allah, jagalah shalawat kepada kekasih kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena sesungguhnya Allah Ta’ala jika menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia memudahkan lidahnya untuk bershalawat kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan jika Dia menghendaki keburukan bagi seorang hamba, Dia menahan lidahnya dari bershalawat kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka hal itu menjadi sebab kehitaman wajahnya sebagaimana shalawat adalah untuk penerangan hati.
465 – Shalawat Melepaskan Ikatan
Adapun terkabulnya hajat dan tujuan, diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang sulit urusannya, hendaklah ia memperbanyak shalawat kepadaku, karena sesungguhnya shalawat itu melepaskan ikatan, menghilangkan kesusahan dan kesedihan, dan memperbanyak rezeki.”
Dan mereka melantunkan syair:
Berapa banyak orang yang beruntung dengan bershalawat kepadanya Dan berapa banyak yang aku lihat dengannya kelapangan dalam kesulitan
466 – Shirath Dan Shalawat
Adapun keselamatan dari azab negeri kebinasaan, diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Shalawat kepadaku adalah cahaya di atas shirath.” Dan barangsiapa berada di atas shirath dari golongan orang yang memiliki cahaya iman dan banyak bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, rasul Sang Raja Yang Maha Pengasih, maka ia bukan dari golongan orang yang hina dalam terik api neraka, tetapi ia dari golongan orang yang aman dalam nikmat surga.
Adapan masuk ke negeri kenyamanan dan ketenangan, diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa meninggalkan shalawat kepadaku, maka sungguh ia telah meleset dari jalan surga.” Maka bertakwalah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah, wahai saudara-saudaraku, teguh dan bersungguh-sungguhlah dalam bershalawat kepada sebaik-baik hamba dan kebanggaan negeri serta perhiasan mahsyar dan hari kembali. Semoga Allah melindungi kita dari azab yang tidak ada putusnya dan tidak diharapkan berakhir.
Janganlah kalian lalai dari pahala yang besar dan kerajaan yang kekal lagi agung dengan bershalawat kepada Nabi yang asli yang disebutkan sifatnya dalam Taurat dan Injil. Bersyukurlah kepada Allah yang telah memuliakan kalian dengan Nabi yang penuh kasih sayang lagi penyayang yang datang dengan Al-Qur’an yang jelas lagi bijaksana, yang mengawasi, yang qadim, dari sisi Sang Raja Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia. Semoga Maula kita berkenan memberikan kepada kita surga-surga kenikmatan dan menyelamatkan kita dari azab yang pedih di tengah-tengah neraka Jahim, tempat tinggal setiap orang kafir yang berdosa dan tempat kediaman setiap setan yang terkutuk dan musuh yang fasik lagi jahat lagi hina.
467 – Neraka Jahannam Dan Shalawat Kepada Nabi
Disebutkan dalam sebagian berita bahwa pada hari Kiamat, Sang Maha Perkasa, jalla jalaluhu, akan memerintahkan agar didatangkan neraka Jahannam. Ketika ia didatangkan dan berjarak lima ratus tahun perjalanan dari Mahsyar, lalu ia melihat kepada ahli kemaksiatan, amarahnya semakin keras, ia bergolak sebagiannya atas sebagian yang lain, mendidih sebagiannya atas sebagian yang lain, dan sebagiannya menyerang sebagian yang lain. Ia menghembuskan hembusan, maka tidak tersisa belenggu, rantai, ular, dan kalajengking melainkan semuanya ia lemparkan di atas punggungnya. Para malaikat Zabaniyah tersungkur atas wajah mereka, dan Malik ‘alaihissalam lari dari hadapannya. Pada saat itu, tidak tersisa malaikat yang dekat, tidak nabi yang diutus, tidak wali, dan tidak pilihan melainkan berlutut atas lututnya. Semua manusia lari berhamburan, dan nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri mengenakan jubah yang Allah Ta’ala ciptakan sejak sebelum menciptakan makhluk seratus ribu tahun. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam melambaikan lengan bajunya kepadanya dan berkata:
“Berhentilah dari umatku, berhentilah dari umatku!” Pada saat itu, hamba yang berdosa berpegang kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Wahai Nabi Allah, selamatkanlah aku dari azab Allah!” Beliau berkata kepadanya shallallahu ‘alaihi wasallam: “Bukankah aku telah menyampaikan risalah Tuhanku kepadamu, lalu mengapa engkau bermaksiat?” Ia berkata: “Wahai Rasulullah, kecelakaanku mengalahkanku.” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada kecelakaan bagi siapa pun yang memperbanyak shalawat kepadaku.” Maka beliau memberi syafa’at untuknya di sisi Allah Ta’ala. Ketika neraka Jahannam melihat cahaya wajah al-Mushthafa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, ia padam dan tenang.
Jika neraka Jahannam dipadamkan oleh Sang Maha Perkasa dengan cahaya wajah Nabi Yang Terpilih, bagaimana mungkin shalawat kepadanya tidak memadamkan dari pemiliknya semua kesalahan dan dosa? Dan jika cahaya al-Mushthafa memadamkan kebesaran api, bagaimana mungkin shalawat kepadanya tidak mewajibkan bagi pemiliknya ampunan yang besar? Dan jika cahaya wajah Muhammad Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memadamkan terik neraka Jahim, bagaimana mungkin shalawat kepadanya tidak mengantarkan ke tempat yang mulia dan melihat wajah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui?
Dan mereka melantunkan syair:
Wahai orang yang memberontak di hari-hari dengan tenggelam Bershalawatlah kepada al-Mushthafa wahai semulia-mulia umat Bershalawatlah kepadanya semoga Allah merahmati kalian Di hari hisab dan hari kesusahan serta berdesakan Sesungguhnya shalawat kepada Yang Terpilih adalah membacakan Bagi hati pemiliknya sebagian dari hikmah Maka dialah saksi bagi seluruh ahli Mahsyar Dan dialah petunjuk ke Firdaus dan nikmat
468 – Shalawat Sebagai Kabar Gembira Dengan Surga
Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa bershalawat kepadaku seribu kali, ia tidak akan mati hingga diberi kabar gembira dengan surga.” Dan orang yang paling bakhil adalah orang yang disebutkan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di hadapannya atau ia mendengar penyebutan beliau lalu ia tidak bershalawat kepadanya.
Dan orang yang paling malas adalah orang yang mendengar muazin lalu tidak mengucapkan seperti apa yang ia ucapkan. Dan orang yang paling lemah adalah orang yang tidak berdoa untuk dirinya setelah setiap shalat.
Jika seorang hamba lemah untuk dirinya sendiri, maka ia lebih lemah lagi untuk orang lain.
Adapun salam dari Yang Maha Pengasih lagi Maha Perkasa, yaitu bahwa setiap orang yang bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia dari golongan ahli surga.
Tuhan kita, Maula kita, memberi salam kepadanya, yaitu dalam firman-Nya Ta’ala: “Salam, Sebagai Ucapan Dari Tuhan Yang Maha Penyayang” (Yasin: 58), Dan Firman-Nya Ta’ala: “Dan Penghormatan Mereka Di Dalamnya Adalah Salam” (Yunus: 10), Dan Firman-Nya: “Dan Mereka Menerima Di Dalamnya Penghormatan Dan Salam” (Al-Furqan: 75), “Penghormatan Mereka Di Hari Mereka Bertemu Dengannya Adalah Salam” (Al-Ahzab: 44).
469 – Apa yang Diperoleh Orang yang Bershalawat di Sisi Allah
Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Auf bahwa ia berkata: Allah Taala berfirman kepada Rasul-Nya Muhammad shallallahu alaihi wasallam: “Barangsiapa bershalawat kepadamu, Aku akan bershalawat kepadanya, dan barangsiapa mengucapkan salam kepadamu, Aku akan mengucapkan salam kepadanya.” Maka Rasulullah bersujud kepada Allah sebagai rasa syukur.
Maka seorang hamba akan dibalas dengan salam kepada Nabi pilihan dengan salam dari Raja Yang Maha Perkasa.
Dan mereka melantunkan syair:
Wahai pengendara yang menuju ke Madinah dengan sengaja, sampaikanlah shalatku kepada Nabi Muhammad
Dan katakanlah: Salam kepadamu wahai tanda petunjuk, karena dialah petunjuk menuju pemberi syafaat yang paling mulia
Sesungguhnya orang yang mewarisi kenabian dan petunjuk, maka dialah petunjuk bagi setiap hamba yang diberi petunjuk
Semoga Allah bershalawat kepadanya selama angin pagi bertiup, dan burung berkicau dengan suara merdu
470 – Hikmah dalam Keutamaan Bershalawat Kepadanya
Ketahuilah, semoga Allah merahmati kalian, bahwa dalam bershalawat kepada Nabi pembawa petunjuk Muhammad shallallahu alaihi wasallam terdapat isyarat-isyarat indah dan hikmah yang banyak. Hal itu karena Allah Taala menjadikan shalawat kepada Nabi yang bijaksana, pemimpin yang teguh lurus, sebanding dengan syahadat tauhid. Allah Taala berfirman: “Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia, dan para malaikat” (Surah Ali Imran: 18)
Dan demikian pula Tuhan Yang Dekat dan Yang Jauh berfirman tentang shalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam yang benar lagi bijaksana: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi” (Surah Al-Ahzab: 56). Ini adalah isyarat yang baik dan hikmah yang indah.
Allah Taala berfirman: “Maka ingatlah kepada-Ku, Aku akan mengingat kalian” (Surah Al-Baqarah: 152) dan tidak berfirman “Aku akan mengingat kalian sepuluh kali”. Dan Allah Taala berfirman: “Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah” (Surah Al-Hasyr: 7). Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” Seolah-olah Allah Subhanahu wa Taala berfirman: Hamba-Ku, jika engkau memuji-Ku satu kali, Aku akan memujimu satu kali, dan jika engkau memuji kekasih-Ku satu kali, Aku akan memujimu sepuluh kali, karena dia adalah makhluk yang paling mulia di sisi-Ku dan paling agung pada-Ku.
Yang kedua, Allah Tabaraka wa Taala berfirman: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi” (Surah Al-Ahzab: 56). Dan Allah berfirman tentang orang-orang beriman: “Dialah yang bershalawat kepada kalian dan malaikat-malaikat-Nya, agar mengeluarkan kalian dari kegelapan menuju cahaya” (Surah Al-Ahzab: 43) dengan shalawat kalian kepada Nabi yang tercinta.
Dan mereka melantunkan syair:
Maka perbanyaklah mengucapkan salam setelah shalawat kalian, kepada pemimpin pilihan yang paling mulia itu
Dan barangsiapa yang sangat kikir dalam menyebutnya, maka dia menjauh dari kebenaran yang bercahaya
471 – Penghilang Kesusahan
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa mengalami kesulitan dalam suatu hal, maka hendaklah ia memperbanyak shalawat kepadaku, karena sesungguhnya shalawat itu dapat melepaskan ikatan dan menghilangkan kesusahan” di dunia yang penuh ujian, maka tentu lebih utama lagi untuk menyelamatkan di akhirat dari api neraka di negeri yang kekal.
Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa bershalawat kepadaku seratus kali, api neraka akan menjauh darinya sejauh perjalanan lima ratus tahun.” Maka perbanyaklah shalawat kepadanya wahai umat beliau.
Semoga Allah bershalawat kepadanya dengan shalawat yang disertai kesempurnaan, kebaikan, keindahan, kebaikan dan pemberian. Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Orang yang paling banyak bershalawat kepadaku di antara kalian, akan paling banyak memiliki pasangan di surga.” Maka demi Allah, wahai kaum mukminin, perbanyaklah shalawat kepada pemimpin para rasul.
Dan penutup para nabi, dan perhatikanlah kedudukan yang aman, kenikmatan dengan bidadari surga, dan melihat wajah Tuhan kita, Tuhan semesta alam.
472 – Orang yang Memperbanyak Shalawat Kepadanya
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Orang yang paling banyak bershalawat kepadaku di antara kalian, akan paling dekat tempat duduknya denganku.” Dalam hadits ini terdapat isyarat yang baik, yaitu bahwa barangsiapa dekat di akhirat dengan Nabi, ia akan melihat wajah Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa. Dan barangsiapa melihat wajah Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa dan dekat dengan Nabi pilihan, tubuhnya akan dijauhkan dari neraka dan ditempatkan di negeri kenyamanan dan ketenangan dalam surga-surga Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka tidak merasakan rasa kematian di dalamnya, tidak menemukan penderitaan penyakit, dan tidak terkena kelemahan penyakit. Mereka telah aman dari kepunahan dan perpindahan, dan Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi ridha kepada mereka. Maha Suci Dia dan Maha Tinggi, Maha Agung keagungan itu.
Dan mereka melantunkan syair:
Semoga Allah bershalawat dan para penghuni Arasy-Nya, serta orang-orang yang baik kepada yang diberkahi, Ahmad
Karena tidak pernah ada unta yang membawa di atas tunggangannya, orang yang lebih berbakti dan lebih menepati janji daripada Muhammad
Dan tidak pernah terbit matahari siang hari atas seseorang, yang bertakwa dan bersih seperti Nabi Muhammad
Dan tidak pernah bintang Jauza bersinar di timur dan barat, yang lebih harum daripada harum Nabi Muhammad
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Perbanyaklah shalawat kepadaku karena sesungguhnya itu memadamkan murka Yang Maha Perkasa.” Maka tentu lebih utama lagi untuk memadamkan dari orang yang bershalawat kepadanya shallallahu alaihi wasallam di dunia tipu daya setan yang selalu lari.
Hamba-hamba Allah, tetaplah pada keutamaan-keutamaan ini dan rindulah kepada kedudukan-kedudukan ini, dan dekatkan diri kepada Allah dengan perantaraan-perantaraan ini, dengan bershalawat kepada Nabi pilihan dari suku-suku yang paling mulia, yang dengannya Allah menjelaskan bukti-bukti dan menjadikannya perantara yang paling besar kepada-Nya. Dan mereka melantunkan syair:
Mencintai Nabi adalah kewajiban atas semua manusia, dan jangan lupakan menyebut Al-Hasyimi yang paling mulia
Sesungguhnya shalawat kepada Nabi adalah perantara, di dalamnya terdapat keselamatan bagi setiap hamba muslim
Bershalawatlah kepada sang bulan yang bercahaya karena sesungguhnya dia, adalah cahaya yang muncul di awan yang gelap
Allah merahmati para hamba dengan perantaraannya, Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa, maka syukurlah kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Pemberi nikmat
473 – Shalawat dan Doa
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba memohon hajat tetapi tidak bershalawat kepadaku setelah permohonannya, maka hajat itu kembali seperti awan. Tetapi jika ia bershalawat kepadaku, hajatnya dikabulkan, doanya diijabah, dan pintu-pintu langit terbuka untuknya.” Jika shalawat kepadanya shallallahu alaihi wasallam dapat mengabulkan hajat-hajat di dunia, maka tentu lebih utama lagi untuk menyelamatkan pelakunya di akhirat dari siksa dan hukuman, serta memasukkannya ke surga-surga yang tinggi.
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Setiap doa tertutup dari langit, tetapi jika datang shalawat kepadaku, doa itu naik.” Wahai kekasihku, demi Allah, jika doa naik, bala akan terangkat, Allah ridha kepada bumi dan langit.
474 – Bagaimana Engkau Berdoa
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Janganlah kalian menjadikan aku seperti tempat air pengendara, karena sesungguhnya pengendara jika ia hendak berangkat menggantungkan barang-barangnya dan mengisi tempat airnya. Jika ia memiliki keperluan untuk berwudhu atau minum, ia minum, jika tidak ia menumpahkannya. Maka jadikanlah aku di tengah doa, di awalnya dan di akhirnya.” Adapun makna hadits ini adalah agar seseorang selalu tidak berhenti bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Jika ia ditimpa kesulitan dan bershalawat kepada Muhammad, suaranya dan doanya akan dikenali, maka doanya dikabulkan dan kesusahan serta kesedihan dihilangkan darinya.
Maka wajib bagi siapa saja yang merupakan umat Muhammad shallallahu alaihi wasallam untuk tidak lalai dari bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Perbanyaklah shalawat kepadaku karena sesungguhnya itu melemahkan tipu daya setan.” Maka tentu lebih utama lagi untuk menolak dari orang yang bershalawat kepadanya bencana zaman, dan menghalangi antara dia dengan siksa api neraka, serta mewajibkan baginya negeri kekal dan keamanan, surga kenikmatan dan keridhaan. Dan mereka melantunkan syair:
Pujilah Nabi pembawa petunjuk wahai orang itu, dan sebutlah keutamaannya dengan air mata yang bercucuran
Dan bershalawatlah selamanya kepada yang terpilih dengan bersungguh-sungguh, di bawah kegelapan dan kegelapan malam yang membentang
Mudah-mudahan engkau memperoleh negeri yang tidak ada habisnya, nikmatnya yang kekal dan naungan serta makanan
475 – Faedah Shalawat kepada Nabi
Bertawasullah dengan shalawat kepada Nabi yang mulia dan kekasih yang penyayang, niscaya Tuhan kalian akan mengampuni apa yang kalian perbuat dari dosa-dosa, dan memasukkan kalian dengan rahmat-Nya ke negeri kekal dan keselamatan.
Bertawasullah dengan shalawat kepada Nabi pilihan, ia akan menjadi pemberi syafaat kalian dari siksa negeri kebinasaan, dan Tuhan kalian akan menyelamatkan kalian dari api neraka yang sangat panas, dan memasukkan kalian dengan rahmat-Nya ke surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.
Bertawasullah dengan shalawat kepada Nabi yang benar lagi sering kembali kepada Allah, niscaya Tuhan kalian akan menyelamatkan kalian dari siksa yang pedih, dan memasukkan kalian ke surga dengan sebaik-baik tempat kembali. Bertawasullah dengan shalawat kepada Nabi yang bijaksana, niscaya Tuhan kalian akan menyelamatkan kalian dari siksa yang keras, dan memasukkan kalian dengan rahmat-Nya ke kenikmatan yang tidak akan binasa.
Bertawasullah dengan shalawat kepada Nabi yang berbakti, penyayang lagi pengasih, niscaya Tuhan kalian akan memasukkan kalian ke surga-surga kenikmatan dan menyelamatkan kalian dengan rahmat-Nya dari panasnya neraka Jahim.
Diriwayatkan dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu bahwa ia berkata: Shalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam lebih menghapus dosa-dosa daripada air dingin terhadap api.
Dan shalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam lebih utama daripada memerdekakan budak. Maka dengarlah dan pahamilah wahai pemilik akal dan pemikiran.
Dan mereka melantunkan syair:
Kebaikan-kebaikan mengalir dari timur dan barat, dengan menyebut Rasulullah secara sembunyi dan terang-terangan
Maka menyebut yang terpilih adalah kebanggaan dan ketinggian, dan menyebut yang terpilih adalah termasuk dzikir yang paling utama
Disebutkan dalam sebagian berita bahwa pada hari kiamat, kebaikan-kebaikan sebagian orang beriman dan kejahatan-kejahatan mereka akan ditaruh dalam timbangan, maka kejahatan mereka akan lebih berat daripada kebaikan mereka. Maka orang-orang beriman khawatir karena hal itu, lalu turunlah lembaran-lembaran putih dari sisi Allah Tabaraka wa Taala ke atas kebaikan-kebaikan mereka, maka kebaikan-kebaikan mereka lebih berat daripada kejahatan-kejahatan mereka. Maka Tuhan yang Maha Agung keagungan-Nya berfirman: Inilah shalawat kalian kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, Aku memberatkan timbangan kalian dengannya dan Aku jadikan itu sebagai simpanan dan kedekatan bagi kalian.
Maka inilah wahai saudara-saudaraku karunia Allah yang agung dengan bershalawat kepada Rasul yang penyayang lagi pengasih.
476 – Kepastian Syafaat
Termasuk rahmat Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada umatnya adalah apa yang diriwayatkan dari beliau shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau sedang duduk pada suatu hari, lalu membaca ayat ini: “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Surah Al-Maidah: 118). Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menangis, lalu Jibril alaihis salam turun kepadanya dan berkata kepadanya: Wahai Muhammad, mengapa engkau menangis? Maka beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku memikirkan umatku.” Maka Jibril berkata: Wahai Muhammad, Allah menyampaikan salam kepadamu dan berfirman kepadamu: Aku akan membuatmu ridha tentang umatmu.
Wahai kekasihku, nabi kalian di sisi Tuhan kalian memiliki kedudukan yang kuat, dan Tuhan kalian adalah Dzat Yang Maha Kuat lagi Maha Kokoh. Dan sesungguhnya engkau wahai saudaraku adalah hamba yang hina. Apakah kalian pernah melihat orang yang hina disiksa di antara yang memiliki kedudukan dan yang kokoh? Tuhan kalian Maha Agung dan nabi kalian mulia. Apakah akan sia-sia orang yang takut kepada siksa yang pedih di antara Yang Maha Agung dan yang mulia? Maka bershalawatlah kepadanya sebagaimana Tuhan kalian memerintahkan kalian dalam Al-Quran yang bijaksana.
Wahai umat Muhammad shallallahu alaihi wasallam, Tuhan kalian Maha Lembut, nabi kalian adalah pemimpin yang mulia, dan engkau wahai orang beriman adalah hamba yang lemah. Apakah kalian pernah melihat orang yang lemah sia-sia di antara Yang Maha Lembut dan yang mulia? Dan mereka melantunkan syair:
Wahai Tuhanku, semoga Engkau menjadi penolongku, dengan shalatku kepada pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan
Sesungguhnya aku takut, sedih, dan berduka, bahwa aku akan terpanggang dengan panasnya api neraka yang menyala-nyala
Wahai manusia, bersegeralah kemudian bersungguh-sungguhlah, dengan shalawat kepada pelita yang bercahaya
Dialah sebaik-baik manusia yang datang dengan kebenaran, dan kitab dari Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat
Di dalamnya terdapat perintah dan di dalamnya terdapat larangan dan di dalamnya, apa yang mengantarkan kepada kenikmatan yang besar
Jangan bosan dari bershalawat kepadanya, kalian akan selamat dari panasnya api neraka yang berkobar
Kemudian kalian akan memperoleh dengannya negeri kenikmatan, yang tidak binasa dari sisi Tuhan Yang Maha Kuasa
477 – Menjaga Kesinambungan Shalawat Kepadanya
Ketahuilah wahai hamba-hamba Allah bahwa wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk tidak meninggalkan shalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam sejenak pun dan waktu apa pun, dan tidak menyebutnya di saat-saat sulit dan meninggalkannya di saat lapang, sehingga menjadi seperti orang yang beramal untuk dunia tanpa akhirat. Sesungguhnya wajib atas kalian untuk bershalawat kepadanya dalam shalat kalian, ketika berdiri dan duduk kalian, ketika berpakaian, makan dan minum kalian, dan seluruh aktivitas kalian, sehingga keberkahannya kembali kepada kalian, kebaikan-kebaikannya datang kepada kalian, dan kalian menunaikan dengan itu hak diri kalian dan hak nabi kalian Muhammad Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dan kalian tidak akan mampu memenuhi hak nabi kalian selama-lamanya, sekalipun kalian memiliki seribu lidah yang semuanya bershalawat kepadanya, karena Allah Tabaraka wa Taala menjadikannya sebab keselamatan kalian dari neraka dan sebab pengenalan kalian kepada Tuhan kalian Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa.
478 – Mahar Hawa Ibu Manusia
Disebutkan dalam beberapa berita bahwa Adam alaihissalam mengangkat kepalanya dan melihat pada Arasy tulisan “Tiada tuhan selain Allah, Muhammad Rasulullah”. Maka Adam berkata, “Ya Tuhanku, siapakah ini yang Engkau tulis namanya bersama nama-Mu?” Allah Ta’ala berfirman, “Wahai Adam, dia adalah nabi-Ku, pilihan-Ku, dan kekasih-Ku. Seandainya bukan karena dia, niscaya Aku tidak akan menciptakanmu dan tidak akan menciptakan surga maupun neraka.” Ketika Allah Subhanahu menciptakan Hawa, Adam melihatnya dan berkata, “Ya Tuhanku, nikahkanlah aku dengannya.” Allah berfirman, “Apa maharnya wahai Adam?” Adam menjawab, “Ya Tuhanku, aku tidak tahu.” Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, “Wahai Adam, bershalawatlah kepada Muhammad sepuluh kali.” Maka Adam bershalawat sebagaimana yang diperintahkan oleh Sang Maha Perkasa, Mahasuci keagungan-Nya. Lalu Allah Subhanahu menikahkan Adam dengannya, dan maharnya adalah shalawat kepada Muhammad Al-Mukhtar sebagai mahar bagi umat milik Sang Maha Raja, Maha Perkasa. Maka bagaimana mungkin shalawat kita kepadanya tidak menjadi mahar untuk para bidadari di negeri keabadian? Dan barangsiapa memasuki negeri keabadian, dia selamat dari azab neraka, karena Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa paling banyak bershalawat kepadaku, maka dia paling banyak memiliki istri di surga.”
479 – Isyarat-isyarat dan Kabar Gembira
Kabar Gembira yang Baik
Yaitu bahwa shalawat dari Sang Maha Raja, Maha Perkasa adalah rahmat dan keselamatan dari azab neraka, karena apabila Allah Ta’ala bershalawat kepada orang-orang beriman, maka sesungguhnya Dia telah merahmati mereka.
Lainnya
Allah Ta’ala berfirman: “Perumpamaan kehidupan dunia adalah seperti air yang Kami turunkan dari langit, lalu bercampur dengan tumbuh-tumbuhan di bumi” (Yunus: 24) dan firman-Nya: “Seolah-olah mereka kemarin tidak pernah ada” (Yunus: 24). Apabila datang hari kiamat dengan azab dan kejaiban-keiabiannya, hilanglah tumbuh-tumbuhan bumi dan lenyap di hadapan azab tersebut sehingga bumi tersisa seakan-akan tidak pernah ada tumbuhan di dalamnya sama sekali. Jika demikian perbuatan azab, maka rahmat Allah lebih utama dan lebih besar. Apabila rahmat itu datang, leburlah dosa-dosa orang beriman di hadapannya seakan-akan tidak pernah ada sama sekali.
Ini dalam rahmat Allah Yang Mahamulia satu kali, maka bagaimana dengan sepuluh kali? Karena Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya dengannya sepuluh kali.” Inilah kabar gembira yang baik bagi orang-orang mukmin dan mukminat dengan banyaknya shalawat mereka kepada Sayyid para pemimpin dan sebaik-baik makhluk.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa ia berkata: Tidaklah duduk suatu kaum dalam sebuah majelis mereka menyebut Allah Ta’ala tetapi tidak menyebut Nabi shallallahu alaihi wasallam kecuali majelis itu akan menjadi keburukan dan penyesalan bagi mereka pada hari kiamat. Maka berhiaslah wahai umatnya dan hiasilah majelis-majelis kalian dengan shalawat kepada nabi kalian shallallahu alaihi wasallam.
480 – Penghapus Dosa-dosa
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa pada suatu hari beliau naik mimbar, lalu meletakkan kakinya pada anak tangga mimbar dan mengucapkan “Aamiin”, dan mengucapkan “Aamiin” pada tangga kedua, dan mengucapkan “Aamiin” pada tangga ketiga. Kemudian beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jibril alaihissalam datang kepadaku dan berkata, ‘Wahai Muhammad, barangsiapa mendapati salah satu dari kedua orang tuanya atau keduanya, lalu meninggal dan tidak diampuni sehingga masuk neraka, maka Allah menjauhkannya.’ Maka aku mengucapkan Aamiin. Kemudian dia berkata, ‘Wahai Muhammad, barangsiapa mendapati bulan Ramadhan lalu meninggal dan tidak diampuni sehingga masuk neraka, maka Allah menjauhkannya.’ Aku mengucapkan Aamiin. Kemudian dia berkata, ‘Wahai Muhammad, barangsiapa namamu disebutkan di hadapannya tetapi dia tidak bershalawat kepadamu, lalu meninggal dan tidak diampuni sehingga masuk neraka, maka Allah menjauhkannya.’ Maka aku mengucapkan Aamiin.”
Diriwayatkan dari Nabi Al-Mukhtar shallallahu alaihi wasallam: “Barangsiapa bershalawat kepadaku, dia tidak akan masuk neraka.” Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad selama mata terhubung dengan pandangan, bumi dihiasi dengan hujan, haji berhaji dan berumrah, bertalbiyah dan menyembelih kurban, bercukur dan memotong pendek rambutnya, berthawaf di Baitullah dan mencium Hajar Aswad.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepadanya dan kepada keluarganya, shalawat yang tidak ada habisnya dan tidak ada putusnya. Semoga Allah melimpahkan shalawat kepadanya sejumlah orang yang bershalawat kepadanya dan sejumlah orang yang tidak bershalawat kepadanya sampai hari kiamat, dan limpahkanlah shalawat kepadanya sejumlah orang yang mengingat dan kelengahan orang-orang yang lalai. Dan kumpulkanlah kami bersama seluruh kaum muslimin dalam golongannya pada hari pembalasan. Dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.
۞۞۞۞۞
Penulis : Jamaluddin Abu al-Faraj Abdurrahman bin Ali bin Muhammad al-Jauzi
Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.







