TAFSIR TEMATIK 2
Pelajaran 1: Amar Makruf Nahi Mungkar Melalui Akhlak Dalam Alquran
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
DEFINISI TAFSIR TEMATIK
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, amma ba’du:
Tafsir Tematik adalah:
Ilmu yang meneliti Alquran dari segi penggalian tema-tema yang terdapat dalam Alquran, mengumpulkan ayat-ayat yang berkaitan dengan setiap tema, membaginya ke dalam unsur-unsur yang peneliti sebut sebagai bab, atau menjadikan bab-bab tersebut sebagai bagian, atau membaginya menjadi paragraf-paragraf yang disajikan, sehingga berpindah dari bab ke bab, dari bagian ke bagian, dari paragraf ke paragraf, hingga tema tersebut terpenuhi haknya dalam penelitian. Dalam hal ini, peneliti memanfaatkan apa yang dibutuhkan dalam penelitian berupa hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam, perkataan para imam, apa yang terdapat dalam kitab-kitab bahasa, dan sejenisnya yang dibutuhkan oleh tema dalam menjelaskan aspek-aspeknya.
Mengumpulkan ayat-ayat dalam satu tema untuk dikaji dan diambil manfaatnya merupakan metode yang dimulai sejak masa turunnya Alquran; ketika ayat turun secara global di satu tempat, dan terperinci di tempat lain, atau bersifat umum di satu tempat dan dikhususkan di tempat lain, dan seterusnya.
Para ulama telah mengarang kitab-kitab pada awal abad kedua Hijriah dan sesudahnya tentang tema-tema yang mereka kumpulkan ayat-ayatnya, maka ini menjadi permulaan yang tepat untuk mengkaji tema-tema Alquran, seperti mereka yang mengarang tentang nasikh dan mansukh, tentang gharib Alquran, tentang kemukjizatan Alquran, tentang asbabun nuzul, tentang pembagian-pembagian Alquran, tentang hukum-hukum Alquran. Dalam karya-karya ini, kita melihat bahwa hubungan yang mengumpulkan bagian-bagian tema adalah hubungan yang umum. Oleh karena itu, tafsir tematik mengarah pada penentuan yang lebih spesifik, di antaranya adalah apa yang kita lihat dari kajian tentang tema-tema Alquran yang terbatas, seperti yang kita lihat dalam apa yang saya tulis tentang Manusia dalam Alquran, Perempuan dalam Alquran, Akhlak dalam Alquran, dalam buku saya (Serpihan dari Tafsir Tematik Alquran). Seperti juga yang kita lihat dalam karya almarhum Doktor Ahmad Asy-Syarbashi, di antaranya apa yang ia tulis tentang Kejantanan dalam Alquran, Sedikit dan Banyak dalam Alquran, Hadits Keangkuhan dalam Alquran, dan lain-lain yang kita lihat dalam tulisan saudara-saudara para dosen, dan apa yang kita lihat dalam tema-tema yang ditulis, dan yang masih terus ditulis oleh mahasiswa pascasarjana di universitas-universitas Islam, yang telah memperkaya perpustakaan Alquran dengan sejumlah penelitian Alquran yang bermanfaat.
Kita harus membedakan antara jenis tafsir ini dengan apa yang kita lihat dari tulisan-tulisan Islam dalam apa yang dikenal dengan kajian-kajian Islam. Ada perbedaan antara mengatakan: Perempuan dalam Islam, dengan Perempuan dalam Alquran, atau mengatakan: Akhlak dalam Islam, dengan Akhlak dalam Alquran, dan sejenisnya. Tema jika diteliti dari sisi Islam tidak memerlukan pengumpulan ayat-ayat tentang tema tersebut, melainkan mengkajinya secara umum, memberikan bukti dalam paragraf yang ditulisnya dengan apa yang ia lihat dari ayat-ayat dan hadits-hadits serta perkataan para imam, dan apa yang ditulis oleh para pendahulunya dalam mengkaji temanya. Adapun jika penelitian dalam tafsir tematik, maka yang pertama diandalkann adalah mengumpulkan ayat-ayat dari Alquran, membaginya menjadi paragraf atau bab atau bagian sebagaimana yang kami sebutkan, dan mengkaji ayat-ayat ini dengan kajian yang teliti, membandingkan antara ayat-ayat dan mengambil hukum, pelajaran, dan ibrah darinya, dan sejenisnya yang menjadi jelas dari menempatkan ayat-ayat berdampingan satu sama lain, dan memandangnya untuk membentuk visi yang utuh tentang tema tersebut.
Termasuk dalam tafsir tematik juga adalah apa yang dinamakan kesatuan tematik dalam surah, yaitu mufassir berusaha menentukan tujuan dan porosyang menjadi poros ayat-ayat surah, dan surah mungkin memiliki lebih dari satu tujuan, maka mufassir membagi surah menjadi unsur-unsur, dan menyajikan unsur-unsur ini melalui tujuan dan poros surah, dan menonjolkan rahasia-rahasia agung yang menunjukkan kemukjizatan Alquran ini ketika berbicara tentang rahasia pemilihan huruf-huruf tertentu yang berulang dalam surah yang ia kaji tanpa huruf lainnya, dan ketika ia berbicara tentang alasan memperpanjang suatu kisah dari kisah para nabi di suatu tempat, dan mempersingkatnya dalam beberapa kata di tempat lain.
Jurusan Tafsir di Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar telah melakukan upaya yang terpuji ketika menugaskan mahasiswa pascasarjana pada program Magister dan Doktorat untuk menulis tentang surah-surah Alquran, dengan judul: Surah ini dan Tujuan-tujuan yang Dituju, maka sebagian besar surah Alquran telah diteliti dan dikaji dengan cara ini. Pekerjaan dalam proyek ini dimulai pada awal tahun 1973, dan berlanjut untuk periode waktu yang panjang, dan ini adalah upaya yang terpuji dan amal yang berberkah, semoga Allah membalas semua dengan sebaik-baik balasan.
Akhlak Dalam Alquran
Imam Al-Ghazali mendefinisikannya dalam kitab (Al-Ihya) dengan berkata: “Akhlak adalah keadaan dalam jiwa yang tertanam, darinya keluar perbuatan-perbuatan dengan mudah dan ringan, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Jika keadaan tersebut sedemikian rupa sehingga darinya keluar perbuatan-perbuatan yang baik dan terpuji menurut akal dan syariat, maka keadaan itu disebut akhlak yang baik, dan jika yang keluar darinya adalah perbuatan-perbuatan yang buruk, maka keadaan yang menjadi sumber itu disebut akhlak yang buruk. Maka apa yang keluar dari jiwa manusia berupa perbuatan tanpa kepura-puraan, itulah yang disebut akhlak, dan apa yang berasal dari manusia dengan kepura-puraan dan dalam kondisi tertentu tidak dianggap akhlak; seperti orang yang tabiatnya dermawan dan mulia, tetapi ia kikir dalam suatu keadaan, karena sebab tertentu, maka tidak dikatakan bahwa ia kikir, dan sebaliknya juga benar, maka orang yang akhlaknya kikir, tetapi karena suatu hal, ia membantu orang yang membutuhkan atau menyumbang sejumlah uang, tidak dikatakan bahwa ia mulia.”
Bukan berarti ungkapan mereka: “Akhlak dalam Alquran” bahwa peneliti harus menginventarisir dalam kitab Allah setiap akhlak yang dianjurkan oleh Alquran, dan setiap akhlak yang dijauhkan darinya; untuk mengumpulkan ayat-ayatnya untuk dikaji secara tematik, karena ini membutuhkan waktu yang panjang sebagaimana kita lihat, dan mungkin akan jatuh dalam beberapa jilid yang membentuk ensiklopedia tentang akhlak Alquran, yang sulit untuk dicakup semuanya. Tetapi yang dimaksud dengan ungkapan ini adalah bahwa penulis dalam tafsir tematik tentang akhlak dalam Alquran harus mengakarkan, yaitu menjelaskan apa yang dimaksud dengan akhlak dalam bahasa Arab kita, dan menurut para ulama yang menaruh perhatian pada kajian akhlak, dan menjelaskan dasar-dasar yang menjadi fondasi akhlak Alquran, dan bagaimana Alquran menyeru kepada akhlak mulia, dan bagaimana menjauhkan dari akhlak yang buruk, kemudian ia boleh memilih beberapa akhlak dalam Alquran untuk membicarakannya sesuai dengan metode tafsir tematik Alquran.
Amar Makruf Nahi Mungkar
Kita mengkaji tema ini melalui unsur-unsur berikut:
Pertama: Kemunculan kata “makruf” dalam Alquran dan apa yang ditunjukkannya.
Kedua: Kemunculan kata “mungkar” dalam Alquran dan apa yang dimaksud dengannya.
Ketiga: Apa yang datang dalam Sunnah dan perkataan salaf tentang amar makruf nahi mungkar.
Keempat: Pendorong amar makruf nahi mungkar.
Kelima: Siapa yang berhak untuk menyuruh kepada yang makruf dan melarang dari yang mungkar.
Keenam: Dampak amar makruf nahi mungkar dalam memperbaiki masyarakat.
Materi kata ‘ain-ra-fa telah disebutkan beberapa kali dalam kitab Allah, sebagaimana materi kata nun-kaf-ra juga disebutkan beberapa kali. Keduanya umumnya datang berpasangan dengan makruf, dan kadang-kadang masing-masing disebutkan sendirian. Yang penting bagi kita adalah yang berkaitan dengan tema amar makruf nahi mungkar. Dengan memandang kitab Allah, kita dapati bahwa keduanya disebutkan dengan makna ini dalam surah Ali Imran, di tiga tempat, dalam konteks pembicaraan tentang kewajiban umat Islam terhadap masyarakatnya, bahkan masyarakat manusia, dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran: 104)
Ini adalah perintah dari Allah kepada umat Islam agar seluruh individunya berdiri tegak di atas kaki mereka, tidak lalai dan tidak meremehkan dan tidak bermalas-malasan dalam menyeru kepada kebaikan, dan dalam amar makruf nahi mungkar darinya, sebagaimana ditunjukkan oleh penggunaan kata kerja mudhari’ dalam firman-Nya: “menyeru” dan “menyuruh” dan “mencegah”. Allah telah memutuskan bahwa keberuntungan khusus bagi umat ini sendiri jika mereka melakukan itu, sebagaimana dipahami dari uslub qashr (pembatasan) dalam firman-Nya: “merekalah orang-orang yang beruntung”. Dan sesungguhnya umat ini telah mencapai tujuan yang tidak dapat diraih, sebagaimana ditunjukkan oleh penggunaan isim isyarah (kata tunjuk) yang jauh dalam firman-Nya: “merekalah”. Dan boleh jadi “min” dalam firman-Nya: “di antara kamu” untuk tab’idh (sebagian), dan ini berarti bahwa dalam umat harus ada orang-orang yang menjadi tiang umat dan pengawalnya serta penjaga agamanya, yang menyeru kepada kebaikan dan menyuruh kepada yang makruf dan melarang dari yang mungkar. Dan jika umat kosong dari orang-orang ini, maka runtuh ikatannya, menyebar kerusakan di berbagai penjurunya, dan menjadi sasaran kehancuran. Oleh karena itu Ad-Dhahhak berkata tentang kelompok ini: “Mereka adalah khususnya para sahabat dan khususnya para perawi” yaitu para mujahid dan ulama. Dan ini tidak bertentangan dengan bahwa umat Islam secara keseluruhan berdiri di atas syariat Allah melindungi benteng agama, dan setiap orang menjalankan perannya, sesuai dengan posisi dan kondisinya.
Yang mendukung hal itu adalah apa yang datang dalam tempat kedua dalam surah tersebut -surah Ali Imran- tentang penjelasan sebab kebaikan umat Islam, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali Imran: 110). Ibnu Katsir berkata setelah menyebutkan beberapa hadits dan perkataan: “Dan yang benar bahwa ayat ini umum untuk seluruh umat, setiap generasi menurut kadarnya, dan sebaik-baik generasi mereka adalah yang diutus padanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kemudian yang sesudah mereka, kemudian yang sesudah mereka.”
Dan tempat ketiga dalam surah Ali Imran datang dalam penyebutan sifat sekelompok dari Ahli Kitab, yang mengenal kebenaran lalu mengikutinya; seperti Abdullah bin Salam, dan lainnya dari mereka yang masuk Islam dari Ahli Kitab. Allah Ta’ala berfirman: “Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka sujud. Mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat, mereka menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera kepada (mengerjakan) berbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.” (Ali Imran: 113-114). Maka Allah menyebutkan dari sifat-sifat mereka yang membedakan mereka, dan dengan sifat-sifat itu mereka termasuk orang-orang saleh, bahwa mereka menyuruh kepada yang makruf dan melarang dari yang mungkar.
Dan dalam surat An-Nisaa dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia” (An-Nisaa: 114), engkau melihat bahwa Allah membatasi kebaikan perkataan dalam tiga hal, yaitu menyuruh bersedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Meskipun menyuruh bersedekah adalah menyuruh kepada makruf, dan menyuruh mengadakan perdamaian di antara manusia adalah menyuruh kepada makruf, namun menyuruh kepada makruf lebih umum dan lebih menyeluruh. Maka Allah menyebutkan perintah khusus kemudian umum lalu khusus lagi, agar perintah umum ini—yaitu makruf—menjadi penghubung; sebagai pemuliaan terhadap kedudukannya dan kepentingannya.
Dan dalam surat Al-Maidah dalam penjelasan tentang keadaan Bani Israil, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu” (Al-Maidah: 79). Allah menyebutkan hal itu untuk menjelaskan mengapa Bani Israil pantas mendapatkan laknat melalui lisan Daud dan Isa putra Maryam, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas” (Al-Maidah: 78), kemudian Allah berfirman: “Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat” (Al-Maidah: 79). Makna “Mereka satu sama lain selalu tidak melarang” yaitu: tidak melarang sebagian dari mereka terhadap sebagian yang lain dari kemungkaran yang tersebar di antara mereka. Ini berarti bahwa setiap manusia tidak lepas dari kekurangan, dan tidak luput dari jatuh dalam kesalahan. Setiap anak Adam adalah pembuat kesalahan, dan sebaik-baik pembuat kesalahan adalah mereka yang bertaubat. Jika masyarakat berdenyut dengan wahyu Allah, bersinar dengan cahaya apa yang diturunkan Allah, maka tidak akan menerima melihat salah satu individunya tenggelam dalam lautan kemaksiatan, ternoda oleh dosa, maka setiap orang akan bangkit mengulurkan tangan kepada saudaranya untuk menunjukkan jalan yang benar. Jika ini tidak terjadi, dan manusia menganggap remeh kemaksiatan, sementara yang lain diam tidak mengingkari kemungkaran, bahkan sebagaimana yang akan kita lihat dalam hadits “mereka makan dan minum bersama mereka”, seolah-olah para pelaku maksiat ini tidak melakukan kemungkaran yang layak diingkari, jika ini terjadi maka semua akan tenggelam dan semua akan binasa, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.
Dan dalam surat Al-A’raaf kita melihat hal itu dalam penjelasan sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan bahwa Ahlul Kitab menemukan beliau tertulis pada mereka dalam Taurat dan Injil, menyuruh mereka kepada makruf dan melarang mereka dari kemungkaran, sebagaimana Tuhan kita berfirman: “(Yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang munkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka” (Al-A’raaf: 157).
Dan dalam perintah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar menerima kemudahan, menyuruh kepada yang baik—yaitu makruf, dan berpaling dari orang-orang jahil, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh” (Al-A’raaf: 199).
Dan dalam surat At-Taubah dalam penyebutan sifat-sifat orang munafik laki-laki dan perempuan, bahwa mereka sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Mereka menyuruh berbuat yang munkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya” (At-Taubah: 67). Dan dalam penjelasan sifat-sifat orang mukmin laki-laki dan perempuan, bahwa mereka sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (At-Taubah: 71).
Ketiga: dalam menjadikannya sebagai sifat dari sifat-sifat orang mukmin, yang telah menjual diri dan harta mereka kepada Allah dan berjihad di jalan-Nya, maka mereka mendapat kabar gembira dari Allah dengan kenikmatan yang kekal di surga yang penuh kenikmatan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang berpuasa, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah dari berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu” (At-Taubah: 112).
Dan dalam surat An-Nahl, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran” (An-Nahl: 90).
Dan dalam surat Al-Hajj dalam penyebutan amal orang-orang mukmin jika Allah memberikan pertolongan kepada mereka dan memberi kekuasaan kepada mereka di bumi-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “(Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat makruf dan mencegah dari perbuatan yang munkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan” (Al-Hajj: 41).
Dalam surat An-Nur di mana Allah memperingatkan dari mengikuti langkah-langkah setan, karena sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang munkar” (An-Nur: 21).
Dan dalam surat Al-‘Ankabuut di dua tempat, dalam penyebutan apa yang dilakukan kaum Luuth ‘alaihissalam, Tuhan kita berfirman melalui lisan Luuth: “Mengapa kamu mendatangi laki-laki (untuk memenuhi nafsu syahwatmu), menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu?” (Al-‘Ankabuut: 29). Dan dalam penjelasan tentang pengaruh shalat terhadap perilaku: “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al-‘Ankabuut: 45).
Dan dalam surat Luqman dalam penyebutan wasiat-wasiat Luqman kepada anaknya: “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)” (Luqman: 17).
Dan dalam surat Al-Mujadilah dalam penjelasan bahwa orang yang berkata kepada istrinya: “Engkau bagiku seperti punggung ibuku”, ia mengucapkan perkataan munkar dan dusta, sebagaimana Tuhan kita menyebutkan hal itu dengan firman-Nya: “Orang-orang yang menzhihar istri mereka di antara kamu, (menganggap istri seperti ibunya, padahal) tiadalah istri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan munkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun” (Al-Mujadilah: 2).
Dan dalam surat Al-Mumtahanah tentang apa yang dijadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai bai’at bagi para wanita, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Al-Mumtahanah: 12).
Inilah wahai para anak, ayat-ayat yang di dalamnya terdapat kata makruf dan kata munkar dalam Kitab Allah, dan dari konteks ayat-ayat tersebut kita dapat memahami makna yang dimaksud dari masing-masingnya. Bukan makruf atau munkar itu adalah apa yang disepakati oleh masyarakat, dan diterima manusia sebagai jalan hidup mereka. Sering kali manusia memilih apa yang membahayakan mereka. Sebagian dari mereka mungkin memandang bahwa khamar adalah kenikmatan bagi yang meminumnya, maka mereka meminumnya dan menikmatinya, serta mengingkari orang yang tidak hadir dalam majelisnya dan tidak turut serta dengan yang lain dalam meminumnya, padahal khamar adalah induk segala keburukan. Sebagian umat telah memutuskan bahwa zina tidak ada keharamannya, karena ia adalah kenikmatan bersama antara laki-laki dan perempuan, dan merupakan perkara yang kembali kepada kebebasan individu dalam memilihnya. Hanya saja dicegah dan dihukum oleh masyarakat, jika perkara ini terjadi di tempat tidur pernikahan, atau terjadi melalui pemaksaan dan paksaan. Keharaman di sini—sebagaimana kita lihat—bukan karena zina itu sendiri, melainkan karena penyerangan terhadap kebebasan individu. Demikian pula jika kita melacak kebiasaan bangsa-bangsa dan umat, serta apa yang mereka tetapkan sebagai hukum yang mengatur kehidupan mereka, maka kita akan menemukan perkara-perkara yang tidak dapat dipercaya oleh akal yang waras dan pemikiran yang benar, dan tidak diridhai oleh agama. Oleh karena itu, tidak boleh tidak rujukan pertama adalah apa yang terdapat dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam menentukan apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Apa yang harus dilakukan mungkin wajib atau sunnah atau mubah, dan apa yang tidak boleh dilakukan mungkin larangan yang haram atau larangan yang makruh. Demikianlah, dan apa yang dibawa oleh agama Allah dalam pengharaman dan penghalalkan, serta apa yang disebutkan-Nya bahwa ini termasuk makruf dan ini termasuk munkar, tidak bertentangan dengan apa yang diterima oleh akal yang sehat dan fitrah yang lurus. Mungkin kalian tidak setuju dengan saya tentang apa yang disebutkan oleh Ar-Raghib dalam Mufradatnya, dan disebutkan oleh yang lainnya, bahwa makruf adalah nama bagi setiap perbuatan yang diketahui oleh akal atau syariat kebaikannya, dan munkar adalah apa yang diingkari oleh keduanya. Karena syariat adalah asalnya, dan karena akal mengikutinya, dan akal tidak menyendiri dalam menghukumi perbuatan dengan baik atau buruk, karena ia tidak mampu melakukan itu, melainkan dibimbing dan ditunjuki oleh cahaya wahyu Ilahi.
Dan dari cahaya wahyu Ilahi adalah apa yang datang dalam Sunnah yang suci, berupa anjuran dan dorongan untuk melaksanakan kewajiban amar makruf nahi munkar. Telah diriwayatkan sejumlah hadits dalam penyebutan hal itu, maka mari kita sebutkan sebagian darinya:
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jauhilah duduk-duduk di jalan. Mereka berkata: Kami tidak bisa tidak, karena itulah majlis-majlis kami untuk bercakap-cakap. Beliau bersabda: Jika kalian bersikeras tetap duduk di majlis, maka berikanlah jalan itu haknya. Mereka berkata: Apa hak jalan itu? Beliau bersabda: Menundukkan pandangan, menghilangkan gangguan, menjawab salam, menyuruh kepada makruf, dan melarang dari kemungkaran.” Dan beliau meriwayatkan dengan sanadnya dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan didatangkan seorang laki-laki pada hari kiamat lalu dilemparkan ke dalam neraka, maka ususnya akan keluar di neraka dan ia berputar seperti keledai yang berputar di kincir. Maka penghuni neraka berkumpul di sekitarnya dan berkata: Wahai fulan, apa masalahmu? Bukankah engkau menyuruh kami kepada makruf dan melarang kami dari kemungkaran? Ia berkata: Aku menyuruh kalian kepada makruf tetapi aku tidak melakukannya, dan aku melarang kalian dari kemungkaran tetapi aku melakukannya.”
Dan Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya, dari Abu Dzar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Setiap persendian dari salah seorang kalian pada pagi hari ada sedekahnya. Maka setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada makruf adalah sedekah, melarang dari kemungkaran adalah sedekah, dan mencukupi dari semua itu adalah dua rakaat yang ia shalat dari Dhuha.” Dan Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukan termasuk kami orang yang tidak menyayangi anak kecil kami, tidak menghormati orang tua kami, tidak menyuruh kepada makruf dan tidak melarang dari kemungkaran.” Dan beliau meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Dzar, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Senyummu di wajah saudaramu adalah sedekah bagimu, dan perintahmu kepada makruf dan laranganmu dari kemungkaran adalah sedekah, dan menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat di bumi adalah sedekah bagimu, dan melihatkan (membantu) orang yang penglihatannya lemah adalah sedekah bagimu, dan menyingkirkan batu, duri dan tulang dari jalan adalah sedekah bagimu, dan menuangkan dari embermu ke ember saudaramu adalah sedekah bagimu.”
Dan beliau meriwayatkan dengan sanadnya dari Hudzaifah bin Al-Yaman, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh kalian harus menyuruh kepada makruf, dan sungguh kalian harus melarang dari kemungkaran, atau Allah hampir mengirimkan siksa dari-Nya kepada kalian, kemudian kalian mendo’a-Nya tetapi tidak dikabulkan bagi kalian.” Dan beliau meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kalian akan ditolong dan akan mendapat (kemenangan) dan akan dibukakan (pintu kemenangan) bagi kalian. Maka barangsiapa di antara kalian yang menemui masa itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah, dan hendaklah ia menyuruh kepada makruf dan hendaklah ia melarang dari kemungkaran. Dan barangsiapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka hendaklah ia menempati tempatnya dari neraka.”
Diriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Umayah Asy-Sya’bani, ia berkata: Aku mendatangi Abu Tsa’labah Al-Khusyani, lalu aku bertanya kepadanya: Bagaimana engkau memahami ayat ini? Ia berkata: Ayat yang mana? Aku berkata: Firman Allah Ta’ala: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian sendiri. Orang yang sesat tidak akan membahayakan kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk.” (Surat Al-Ma’idah: 105). Ia berkata: Demi Allah, sungguh engkau telah bertanya kepada orang yang mengetahuinya. Aku telah bertanya tentang hal ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau bersabda: “Bahkan perintahkanlah yang ma’ruf dan cegahlah yang mungkar, hingga apabila engkau melihat kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dunia yang lebih diutamakan, dan setiap orang yang memiliki pendapat kagum dengan pendapatnya sendiri, maka jagalah dirimu sendiri, dan tinggalkanlah orang awam. Karena sesungguhnya setelah kalian akan datang hari-hari di mana bersabar pada masa itu seperti menggenggam bara api. Bagi orang yang beramal pada masa itu akan mendapat pahala seperti pahala lima puluh orang yang beramal seperti amal kalian.” Abdullah bin Al-Mubarak berkata: Dan orang lain selain Utbah menambahkan kepadaku: “Dikatakan: Wahai Rasulullah, pahala lima puluh orang dari kami ataukah dari mereka? Beliau menjawab: ‘Bahkan pahala lima puluh orang dari kalian.'”
Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dengan sanadnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang penguasa kecuali memiliki dua kelompok penasihat; kelompok yang memerintahkannya kepada kebaikan dan melarangnya dari kemungkaran, dan kelompok yang tidak berhenti menjerumuskannya ke dalam kerusakan. Barangsiapa dilindungi dari kejahatan kelompok kedua, maka ia telah dilindungi, dan ia termasuk kelompok mana yang lebih menguasainya dari keduanya.”
Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanadnya dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya awal kerusakan yang masuk pada Bani Israil adalah ketika seorang laki-laki bertemu dengan laki-laki lain lalu berkata: Wahai fulan, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah apa yang engkau lakukan, karena itu tidak halal bagimu. Kemudian ia bertemu dengannya keesokan harinya, namun hal itu tidak menghalanginya untuk tetap menjadi teman makan, teman minum, dan teman duduknya. Ketika mereka melakukan hal itu, Allah memukul hati sebagian mereka dengan sebagian yang lain.” Kemudian ia membaca: “Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam.” (Surat Al-Ma’idah: 78) hingga firman-Nya: “orang-orang yang fasik”. Kemudian ia berkata: “Sekali-kali tidak, demi Allah! Hendaklah kalian memerintahkan kepada kebaikan, dan hendaklah kalian melarang dari kemungkaran, dan hendaklah kalian menahan tangan orang yang zalim, dan hendaklah kalian memaksanya kepada kebenaran dengan paksa, dan hendaklah kalian membatasinya pada kebenaran dengan batasan yang ketat.” Dalam riwayat lain ditambahkan: “Atau Allah pasti akan memukul hati sebagian kalian dengan sebagian yang lain, kemudian Dia akan melaknat kalian sebagaimana Dia melaknat mereka.”
Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanadnya dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perintahkanlah kepada kebaikan dan cegahlah dari kemungkaran, sebelum kalian berdoa lalu tidak dikabulkan bagi kalian.”
Diriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Sa’id Al-Khudri, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada hamba pada hari kiamat hingga Dia berfirman: Apa yang menghalangimu ketika engkau melihat kemungkaran untuk mengingkarinya? Apabila Allah telah mengajarkan hujjah kepada seorang hamba, ia berkata: Wahai Tubbku, aku mengharap (rahmat)-Mu dan aku takut kepada manusia.”
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan sanadnya dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.”
Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dengan sanadnya dari Thariq bin Syihab, ia berkata: Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa melihat kemungkaran lalu mengubahnya dengan tangannya maka ia telah terbebas, dan barangsiapa tidak mampu mengubahnya dengan tangannya lalu mengubahnya dengan lisannya maka ia telah terbebas, dan barangsiapa tidak mampu mengubahnya dengan lisannya lalu mengubahnya dengan hatinya maka ia telah terbebas, dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.”
Dari ayat-ayat dan hadits-hadits ini kita dapat mengetahui dorongan-dorongan yang mendorong setiap manusia untuk memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran, sebagaimana kita dapat mengetahui siapa yang berhak untuk memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran, dan apa dampak dari pelaksanaan kewajiban ini dalam perbaikan masyarakat. Yang mendorong setiap manusia untuk menjadi termasuk orang-orang yang dimuliakan dan dipilih oleh Allah, dan yang digambarkan dalam firman-Nya: “Orang-orang yang memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran serta memelihara batasan-batasan Allah” (Surat At-Taubah: 112), adalah iman kepada Allah. Sesuai kadar iman seorang mukmin, demikianlah usahanya dalam memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Oleh karena itu, kita melihat dalam hadits tahap terakhir yaitu mengubah dengan hati, dan mengenai hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.”
Keadaan sosial juga memiliki pengaruhnya dalam hal itu. Masyarakat yang saling mendukung dalam mengatur langkah anak-anaknya di jalan keteguhan, dan dalam memerangi semua bentuk kerusakan, membantu para anggotanya untuk melaksanakan kewajiban mereka dalam memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Ketika salah seorang dari manusia tampil memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran, maka di sampingnya harus ada masyarakat yang mendukungnya, dan pemerintahan yang melindunginya dengan undang-undang dan kekuasaannya, sehingga ia tidak takut terhadap kezaliman orang-orang zalim dan kebodohan orang-orang bodoh. Mungkin yang menggambarkan hal ini adalah bahwa ayat-ayat yang datang menyerukan kepada hal itu, datang berbicara tentang umat dan tentang kelompok, maka kata kerjanya bersandar kepada kata ganti jamak: mereka memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran, kalian memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran, mereka memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran, atau dalam bentuk jamak seperti dalam firman-Nya: “Orang-orang yang memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran”. Kata kerja tidak datang bersandar kepada kata ganti tunggal kecuali dalam apa yang berupa khitab kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Ambillah pemaafan dan perintahkanlah kepada kebaikan” (Surat Al-A’raf: 199), atau datang sebagai pemberitaan tentang beliau, seperti dalam firman-Nya: “Ia memerintahkan mereka kepada kebaikan dan melarang mereka dari kemungkaran” (Surat Al-A’raf: 157), atau nasihat yang disampaikan Luqman kepada anaknya: “Wahai anakku, dirikanlah shalat dan perintahkanlah kepada kebaikan dan cegahlah dari kemungkaran” (Surat Luqman: 17).
Untuk itulah datang arahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada umatnya, sementara beliau memberikan perumpamaan bagi mereka tentang hubungan antara orang-orang yang menegakkan batasan-batasan Allah dan orang-orang yang melanggarnya, maka beliau bersabda: “Perumpamaan orang yang menegakkan batasan-batasan Allah dan yang melanggarnya, seperti perumpamaan suatu kaum yang berundi pada sebuah kapal, maka sebagian dari mereka mendapat bagian di atasnya dan sebagian mereka mendapat bagian di bawahnya. Orang-orang yang berada di bagian bawah apabila mengambil air harus melewati orang-orang yang di atas mereka, maka mereka berkata: Seandainya kita melubangi bagian kita dengan lubang dan tidak menyakiti orang-orang yang di atas kita. Jika mereka membiarkan mereka dengan apa yang mereka inginkan, maka binasalah mereka semua, dan jika mereka menahan tangan mereka, maka selamatlah mereka dan selamatlah semua.”
Juga urusan ini membutuhkan pendidikan iman dan psikologis, yang membuat setiap individu dalam umat yakin pada dirinya sendiri, menyadari bahwa ia mampu mengembalikan kafilah yang tersesat dan menambal keretakan dalam masyarakatnya, dan bahwa jika ia berkata, manusia akan mendengarkan perkataannya, karena apa yang mereka lihat padanya berupa kejujuran ucapan, kesopanan, kekuatan penjelasan, dan kemampuan untuk meyakinkan. Ini adalah faktor-faktor bersama yang pada akhirnya mengarah pada pelaksanaan urusan ini dengan sebaik-baiknya. Hal ini membuat kita bertanya tentang siapa yang berhak untuk memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Ada perbedaan antara yang berhak melakukannya dengan yang wajib melaksanakannya. Ini adalah urusan mengenai apa yang datang dari beban-beban syariat, yang engkau lihat sebagai kewajiban bagi orang-orang yang telah terpenuhi padanya syarat-syarat kewajiban, dan pintu tetap terbuka bagi yang lainnya. Sebagaimana engkau lihat dalam kewajiban shalat bagi muslim yang baligh dan berakal, maka jika anak kecil di bawah umur baligh mengerjakannya, sahlahlah darinya. Demikian pula dalam puasa, haji, dan selain itu.
Memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran adalah wajib bagi setiap muslim mukallaf yang mampu melakukannya, masing-masing sesuai kemampuannya, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya: “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya” sampai akhir hadits. Segolongan orang mensyaratkan keadilan (sifat adil), karena orang yang tidak memiliki sesuatu tidak dapat memberikannya, dan orang yang terjerumus dalam kemaksiatan bagaimana nasihatnya dapat diterima oleh orang lain dalam meninggalkan kemaksiatan. Allah mencela orang-orang mukmin yang mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan, maka Dia berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.” (Surat Ash-Shaff: 2-3).
Dan Allah berfirman menegur Ahli Kitab dari Bani Israil: “Apakah kalian menyuruh manusia untuk berbuat kebajikan, sedang kalian melupakan diri kalian sendiri, padahal kalian membaca Kitab? Apakah kalian tidak berakal?” (Surat Al-Baqarah: 44). Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pada malam aku diisra’kan, aku melewati suatu kaum yang bibir mereka digunting dengan gunting dari api. Aku berkata: Siapakah mereka ini? Dikatakan: Mereka adalah para khatib umatmu dari kalangan ahli dunia, mereka memerintahkan manusia kepada kebajikan namun melupakan diri mereka sendiri, padahal mereka membaca Kitab, apakah mereka tidak berakal?” Kenyataannya adalah bahwa ini adalah syarat kesempurnaan. Dari kesopanan adalah bahwa orang yang memerintahkan orang lain kepada kebaikan, atau melarangnya dari kemungkaran, adalah orang pertama yang taat pada apa yang ia perintahkan dan menjauhi apa yang ia larang. Allah tidak mencela mereka karena mereka memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran, tetapi Dia mencela mereka karena kontradiksi ini antara perkataan dan perbuatan mereka. Seandainya setiap orang yang ingin memerintahkan orang lain kepada kebaikan, atau melarangnya dari kemungkaran, tidak melakukannya kecuali jika ia telah mengatur perilakunya dan istiqamah di jalan yang benar, maka tidak akan ditemukan seorangpun yang melaksanakan kewajiban ini. Oleh karena itu Sa’id bin Jubair berkata: “Jika tidak memerintahkan kepada kebaikan dan tidak melarang dari kemungkaran kecuali orang yang tidak memiliki kesalahan apa pun, maka tidak ada seorangpun yang akan memerintahkan sesuatu.”
Seandainya orang-orang yang memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran melaksanakan kewajiban mereka sesuai dengan ketentuan-ketentuan syariat, dengan menjadikan bagi setiap keadaan apa yang sesuai dengannya dari nasihat atau teguran atau ancaman atau perubahan dengan tangan, dan begitu seterusnya. Seandainya mereka melakukan hal itu, masing-masing di posisi sosial atau ilmiah atau politiknya, dan semua saling bekerja sama dalam hal itu, maka tidak akan ditemukan orang yang lalai atau menyimpang atau meremehkan dalam menunaikan kewajiban-kewajiban Allah, atau orang yang membuat kerusakan di bumi Allah. Ketika itu umat dalam keseluruhannya akan layak mendapat dua kehormatan kebaikan, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena) kalian memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran serta beriman kepada Allah.” (Surat Ali Imran: 110).
Mungkin kalian memperhatikan bersama saya bahwa huruf “wawu” (dan) tidak memberikan makna urutan dan tidak pula makna langsung mengikuti, tetapi penyebutan suatu urusan sebelum urusan yang lain memiliki rahasianya dalam ungkapan-ungkapan Al-Qur’an Al-Karim. Di sini Allah menjadikan memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran mendahului iman kepada Allah, maka ini menunjukkan kedudukan dan kedudukannya yang tinggi. Oleh karena itu Imam Al-Ghazali berkata dalam (Ihya’ ‘Ulumuddin) dalam pendahuluan kitab memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran: “Amma ba’du, sesungguhnya memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran adalah tiang agung dalam agama, dan ia adalah urusan penting yang untuk itu Allah mengutus para Nabi semuanya. Seandainya perjalanannya dilipat dan diamalkannya, niscaya kenabian akan terhenti dan agama akan lenyap, masa kekosongan akan merata dan kesesatan akan menyebar, kebodohan akan tersebar luas, dan kerusakan akan meluas, keretakan akan melebar, negeri akan rusak, dan hamba-hamba akan binasa, dan mereka tidak akan merasakan kebinasaan kecuali pada hari saling menyeru.”
Kemudian Imam Al-Ghazali mulai mengeluhkan tentang kerusakan zamannya, dan apa yang menjadi keadaan manusia dalam kelalaian mereka dalam menunaikan kewajiban ini, dan betapa besarnya pahala orang yang melaksanakannya pada waktu itu. Dari apa yang beliau katakan: “Maka menguasai hati adalah sikap memilih damai dengan makhluk dan terhapuslah darinya sikap mengawasi Sang Pencipta, dan manusia terjerumus dalam mengikuti hawa nafsu dan syahwat seperti terjerembabnya binatang, dan langkah di permukaan bumi adalah mukmin yang jujur, yang tidak mengambil celaan orang yang mencela dalam (perkara) Allah.” Kemudian beliau berkata: “Barangsiapa berusaha untuk memperbaiki masa kekosongan ini, dan menambal celah ini, baik memikul sendiri pelaksanaannya, atau memikul tanggung jawab pelaksanaannya, memperbaharui sunnah yang berlaku ini, bangkit memikul bebannya, dan bersemangat dalam menghidupkannya, maka ia akan terpilih dari antara makhluk dengan menghidupkan sunnah yang zaman telah berujung pada mematikannya, dan menyendiri dengan ketaatan yang ketaatan-ketaatan lain mengecil di hadapan puncaknya.”
Aku tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh Imam Abu Hamid Al-Ghazali, yang wafat pada tahun lima ratus lima hijriah, dan setelah lebih dari sembilan abad, ketika ia melihat apa yang menjadi keadaan dunia dari kerusakan dan penyimpangan dari agama Allah. Sesuai dengan meluasnya kerusakan dan kekuatannya, demikianlah pahala orang yang melawannya dengan kemampuannya dari berbagai bentuk perlawanan, hingga manusia istiqamah di jalan kebenaran, maka kembali keamanan, kedamaian, dan kebahagiaan kepada anak-anak manusia.
Dan Allah-lah tempat meminta pertolongan, dan salam sejahtera Allah kepada kalian serta rahmat dan berkah-Nya.
“Ash-Shafh” dan “Al-‘Afw” dalam Kamus-kamus Bahasa
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, amma ba’du:
Kita akan membahas tentang perintah untuk bersikap pemaaf sebagaimana yang tercantum dalam Kitabullah:
Pertama: Ash-Shafh dan Al-‘Afw dalam Kamus Bahasa
Ibnu Manzhur dalam (Lisanul Arab) menyebutkan beberapa makna untuk kata ash-shafh: di antaranya adalah sisi, permukaan wajah, permukaan pedang, dan permukaan dada seseorang. Al-mushafahah (berjabat tangan): menggenggam tangan, dan shafaha ‘anhu yashfahu shafhan artinya berpaling dari kesalahannya, dan ash-shafuh adalah orang yang mulia; karena dia memaafkan orang yang bersalah kepadanya, dan istashfaha dzanbahu artinya meminta ampun kepadanya atas dosanya, dan meminta agar dia memaafkannya. Adapun ash-shafuh sebagai sifat Allah maka maknanya adalah: al-‘afw (Maha Pemaaf), dikatakan: safakhtu ‘an dzanbi fulan, artinya aku berpaling darinya dan tidak menghukumnya karenanya, dan dharabtu ‘an fulan shafhan artinya jika aku berpaling darinya dan meninggalkannya, maka ash-shafuh dalam sifat Allah adalah Maha Pemaaf terhadap dosa-dosa para hamba, berpaling dari menghukum mereka dengan siksa sebagai bentuk kemuliaan.
Adapun al-‘afw, Ibnu Manzhur menyebutkan penjelasan yang panjang yang intinya: bahwa al-‘afw adalah menghapus sesuatu secara fisik maupun makna, dikatakan: ‘afatir riyahu al-atsar artinya jika angin menghapus jejak-jejak dan menghilangkannya, dan ‘afa ‘an dzanbihi artinya jika dia melampaui kesalahannya dan tidak menghukumnya karenanya, dan al-‘afw dalam nama-nama Allah adalah bentuk fa’ul dari al-‘afw, yaitu melampaui dosa dan meninggalkan hukuman atasnya, dan asalnya adalah menghapus dan melenyapkan, dan ini termasuk bentuk kata yang menunjukkan intensitas, dan setiap orang yang berhak mendapat hukuman lalu kamu meninggalkannya; maka sungguh kamu telah memaafkannya.
Jika kita beralih kepada penulis (Al-Qamus Al-Muhith) untuk melihat apa yang dikatakannya, dia mengatakan: ash-shafh adalah sisi, dan shafaha artinya berpaling dan meninggalkan, dan shafaha ‘anhu artinya memaafkan, dan ash-shafuh adalah orang yang mulia dan al-‘afw (pemaaf), dan dia mengatakan dalam menjelaskan makna al-‘afw: al-‘afw adalah ampunan Allah Azza wa Jalla kepada makhluk-Nya, dan ash-shafh, dan meninggalkan hukuman terhadap yang berhak, ‘afa ‘anhu dzanbahu, dan ‘afa lahu dzanbahu dan ‘an dzanbihi, dan menghapus dan melenyapkan, dan menghalalkan harta dan menjadikannya baik, dan pilihan sesuatu dan yang terbaiknya, dan kelebihan dan kebaikan. Dan sebelum Ibnu Manzhur dan penulis (Al-Qamus), Ibnu Faris dalam kamus (Maqayis Al-Lughah) mengumpulkan makna-makna kata-kata ini, dia mengatakan tentang ash-shafh yang intinya: Shad dan Fa’ dan Ha’ adalah akar kata yang benar dan konsisten yang menunjukkan pada permukaan dan lebar, dan dia menyebutkan dalam hal itu sebagian dari apa yang ada dalam bahasa kemudian berkata: dan dari bab ini adalah al-mushafahah dengan tangan, seakan-akan dia menempelkan tangannya pada permukaan tangan orang itu, dan dia berkata: adapun ucapan mereka shafaha ‘anhu, yaitu berpalingnya dari kesalahannya, maka itu dari bab ini; karena jika dia berpaling darinya maka seakan-akan dia telah membelakanginya, dan dia berkata dalam menjelaskan makna al-‘afw: ‘Ain dan Fa’ dan huruf mu’tal adalah dua akar yang salah satunya menunjukkan pada meninggalkan sesuatu, dan yang lain pada mencarinya, kemudian kembali kepadanya cabang-cabang yang banyak yang tidak berbeda jauh dalam makna.
Yang pertama: al-‘afw yaitu ampunan Allah Ta’ala kepada makhluk-Nya, dan itu adalah meninggalkan mereka sehingga Dia tidak menghukum mereka, sebagai karunia dari-Nya, Al-Khalil berkata: dan setiap orang yang berhak mendapat hukuman lalu kamu meninggalkannya maka sungguh kamu telah memaafkannya, dan akar yang lain yang maknanya adalah mencari adalah ucapan Al-Khalil: bahwa al-‘afah adalah pencari kebaikan.
Dan akhirnya datanglah penjelasan penulis (Mu’jam Al-Mufradat) dalam menjelaskan makna kata-kata ini, dia berkata: shafh sesuatu adalah permukaannya dan sisinya seperti permukaan wajah dan permukaan pedang, dan permukaan batu dan ash-shafh adalah meninggalkan celaan dan ini lebih tegas daripada al-‘afw, dan karena itu Allah berfirma: “maka maafkanlah dan berlapang dadalah hingga Allah mendatangkan perintah-Nya” (Al-Baqarah: 109), dan boleh jadi seseorang memaafkan tetapi tidak berlapang dada, Allah berfirma: “Maka berpalinglah kamu dari mereka dan katakanlah: “Salam (selamat tinggal)” (Az-Zukhruf: 89), “Maka maafkanlah dengan cara yang baik” (Al-Hijr: 85), “Maka apakah Kami akan berpaling dari memberi peringatan kepadamu” (Az-Zukhruf: 5), dan shafakhtu ‘anhu: aku memberikan kepadanya dariku sikap yang baik dengan berpaling dari kesalahannya, atau aku menemuinya dengan sikap menghindar darinya, atau aku melampaui halaman yang aku catat di dalamnya kesalahannya dari kitab ke halaman lainnya dari ucapanmu: aku membolak-balik kitab sampai akhir apa yang dia katakan.
Dan dari apa yang dia katakan tentang makna al-‘afw: al-‘afw adalah bermaksud untuk mengambil sesuatu, dan ‘afawtu ‘anhu artinya aku bermaksud menghilangkan dosanya dengan berpaling darinya, dan sabdanya dalam doa “Aku memohon kepada-Mu al-‘afw dan al-‘afiyah” artinya: aku memohon untuk ditinggalkan dari hukuman dan keselamatan, inilah wahai anak-anakku sebagian dari apa yang tercantum dalam kitab-kitab bahasa.
Kata Ash-Shafh dalam Al-Quran Al-Karim
Kata ash-shafh telah disebutkan dalam Al-Quran Al-Karim di enam tempat:
Tempat pertama: dalam firman Allah Ta’ala dalam surah Al-Baqarah: “Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan berlapang dadalah hingga Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Al-Baqarah: 109) Dalam ayat yang mulia ini Allah Azza wa Jalla menjelaskan bahwa harapan kebanyakan Ahli Kitab adalah agar mereka dapat mengeluarkan kaum muslimin dari agama mereka, dan mengembalikan mereka dari keimanan mereka menjadi orang-orang kafir, dan semua ini karena dengki yang menguasai hati mereka sehingga membuat mereka tidak menerima agama ini, dan tidak masuk ke dalam agama ini, padahal kebenaran telah jelas bagi mereka dan mereka adalah orang yang paling tahu bahwa Islam adalah agama yang benar, dan Allah telah berfirman kepada kaum muslimin: “Maka maafkanlah dan berlapang dadalah hingga Allah mendatangkan perintah-Nya” maka Dia menyebutkan bahwa maaf dan berlapang dada adalah respons praktis terhadap tipu daya para penghasut, pembenci dan pendengki ini, dan maaf serta berlapang dada ini dibatasi dengan waktu tertentu yaitu “hingga Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”, dan ini adalah salah satu tahap dari tahap-tahap jihad Islam, yaitu tahap maaf dan berlapang dada hingga datang perintah untuk memerangi orang-orang ini dan memerangi Ahli Kitab maka Allah Ta’ala berfirman: “Dan perangilah orang-orang musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya” (At-Taubah: 36) sampai akhir ayat yang mulia.
Tempat kedua: datang dalam surah Al-Ma’idah dalam firman Allah Ta’ala: “Maka disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (Al-Ma’idah: 13) Maka perintah untuk maaf dan berlapang dada terhadap kelompok Ahli Kitab ini khususnya dari kalangan Yahudi, yang mengubah kalimat-kalimat dari tempat-tempatnya dan melupakan bagian besar dari apa yang mereka diperingatkan dengannya, dan orang-orang ini masih terus mengkhianati umat Islam dan merencanakan konspirasi terhadap mereka kecuali siapa yang dipelihara Allah lalu masuk Islam seperti Abdullah bin Salam dan orang-orang sepertinya semoga Allah meridhai mereka. Dan bahwa umat Islam harus menghadapi tipu daya ini dengan maaf dan berlapang dada; karena tidak ada peperangan atau apa pun melainkan hanya intrik dan konspirasi, dan menghadapi konspirasi ini adalah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum mukminin memaafkan mereka, dan berlapang dada terhadap tipu daya para penipu pembenci yang berdendam ini, dan mereka harus berpegang pada sisi ihsan dalam agama mereka, karena sisi ihsan adalah perbaikan dan peningkatan, dan peninggian dengan apa yang dibawa oleh agama ini dalam perilaku yang terkendali dengan syariat Allah dan petunjuk Allah, dan dengan ini umat Islam dapat membalas tipu daya para penipu pembenci pendengki yang berdendam.
Tempat ketiga: datang dalam surah Al-Hijr dalam firman Allah Ta’ala: “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan hak. Dan sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang, maka maafkanlah dengan cara yang baik” (Al-Hijr: 85), dan betapa banyak dalam ayat yang mulia ini ancaman dan peringatan bagi mereka; karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Kuat lagi Maha Kuasa lagi Maha Perkasa ketika Dia berfirman: “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan hak” dan Dia Subhanahu menyebutkan bahwa waktu yang dijanjikan adalah hari kiamat, dan bahwa hari kiamat itu pasti datang tidak ada keraguan padanya, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan kaum mukminin bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam harus memaafkan dengan cara yang baik.
Dan maaf yang baik adalah yang tidak ada celaan di dalamnya, maka ini adalah respons praktis terhadap tipu daya para penipu, dan dendam para pembenci dan dengki para pendengki yaitu dia tidak mencela mereka, dan tidak berbicara kepada mereka, dan tidak berdiskusi dengan mereka, dan tidak menanyakan kepada mereka tentang alasan-alasan yang mendorong mereka untuk semua tipu daya yang mengerikan dan mengherankan ini yang dalam hal itu Ahli Kitab bersekongkol dengan semua musuh Islam, mereka ingin memadamkan cahaya Allah, dan Allah tidak menghendaki kecuali menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir membencinya.
Tempat keempat: dalam firman Allah Ta’ala dalam surah An-Nur: “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (An-Nur: 22), dan ayat yang mulia ini datang dalam konteks pembicaraan tentang apa yang terjadi pada wanita mulia yang agung, wanita yang terhormat, Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ta’ala ‘anha ketika ahli ifki menuduhnya dengan apa yang mereka ucapkan, dan sebagian kaum muslimin terfitnah dengan masalah ini, dan di antara mereka ada satu orang dari mereka yang Abu Bakar biasa merawatnya dengan perhatian dan nafkah kepadanya, dialah Misthah bin Utsatsah dan dia adalah anak dari bibi Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ta’ala ‘an Abi Bakr; ketika dia masuk dalam barisan mereka yang membicarakan apa yang mereka bicarakan tentang tuduhan kepada Sayyidah Aisyah dengan kejahatan yang keji yaitu kejahatan zina, maka Abu Bakar bersumpah untuk memutus nafkahnya kepada Misthah ini sebagai balasan atas apa yang dia lakukan, maka turunlah firman Allah Ta’ala: “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada”, kemudian Allah berfirma sambil menganjurkan untuk maaf dan berlapang dada: “Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”, maka ketika ayat ini turun Abu Bakar berkata: “Demi Allah, sungguh aku ingin agar Allah mengampuniku; maka dia mengembalikan nafkahnya kepada Misthah ini”, maka semoga Allah meridhai Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Adapun tempat kelima: dalam surah Az-Zukhruf dalam firman-Nya Ta’ala: “Maka apakah Kami akan berpaling dari memberi peringatan kepadamu, lantaran kamu kaum yang melampaui batas?” (Az-Zukhruf: 5), dan ini sebenarnya bukan dari bab maaf dan pemaafan, tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman sambil mencela dan mengancam orang-orang musyrik yang berlebih-lebihan dalam permusuhan mereka terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Dia berfirman kepada mereka: “Maka apakah Kami akan berpaling dari memberi peringatan kepadamu, lantaran kamu kaum yang melampaui batas?” dalam permusuhan kalian dan kemusyrikan kalian dan kejahatan kalian. Sesungguhnya Kami tidak akan berpaling dari memberi peringatan kepada kalian melainkan Kami akan terus menurunkan Al-Quran ini hingga kalian kembali kepada agama Allah dan kepada syariat Allah dan kepada petunjuk Allah, maka Al-Quran ini turun untuk menjadi kitab terakhir yang Allah turunkan untuk dunia ini.
Tempat keenam: yaitu dalam surah At-Taghabun dalam firman Allah Ta’ala: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (At-Taghabun: 14) Maka apa yang kita lihat dalam ayat-ayat yang mulia ini, kita melihat bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memanggil orang-orang beriman, memperingatkan mereka dari fitnah istri-istri dan anak-anak; karena manusia secara fitrahnya tertarik kepada istrinya dan anak-anaknya, dan ini mungkin mendorongnya untuk melakukan apa yang Allah haramkan, dan memperoleh untuk mereka dari harta yang haram, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan hal ini, dan menjelaskan bahwa manusia harus waspada terhadap perkara ini, bahkan ayat ini turun tentang mereka yang dicegah oleh anak-anak dan istri-istri mereka dari hijrah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ketika mereka berhijrah dan menemukan apa yang dicapai oleh orang-orang yang berhijrah sebelum mereka dari kebaikan dan ilmu dan penguasaan terhadap Al-Quran Al-Karim, dan kehadiran dalam berbagai peristiwa bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam peperangan-peperangannya, mereka bersedih atas itu, dan mereka kembali kepada anak-anak dan istri-istri mereka menyalahkan mereka maka Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka”.
Tetapi apa yang terjadi ini tidak ada di dalamnya yang mendorong untuk menghukum mereka, melainkan para suami ini dan para ayah ini harus memaafkan dan berlapang dada terhadap apa yang terjadi dari mereka, dan mengampuni kesalahan mereka; karena mereka menjadi sebab tidak cepatnya mereka menyusul Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah Ta’ala berfirman: “Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” kepada kalian dan kepada mereka, inilah maaf dan berlapang dada sebagaimana yang datang dalam Kitabullah Azza wa Jalla.
Juga kata al-‘afw disebutkan dalam Kitabullah sebagai sifat Allah Ta’ala, “Maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa”, “Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun”, “Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun maka Dia menerima taubat kalian dan memaafkan kalian”, “Dan sungguh Allah telah memaafkan mereka”, maafnya Allah kepadamu, sebagaimana juga datang sebagai sifat orang-orang beriman: “Barangsiapa yang memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah”, “Dan memaafkan itu lebih dekat kepada takwa”, “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?”, “Maka maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu”, “Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain”, maka kita melihat melalui ayat-ayat ini bahwa kata al-‘afw bermakna sesuatu yang lebih dari sekadar ash-shafh, yang mana sebagaimana kita lihat dalam makna-makna bahasanya berarti: bahwa seseorang memalingkan mukanya jauh dari orang yang menyakiti dia, atau berbuat salah, atau melakukan dosa.
Adapun al-‘afw maka ia adalah penghapusan total terhadap dosa dan akibat-akibatnya, dan dari sinilah datang ayat-ayat ini sebagaimana kita lihat sebagai sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa”, “Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun”, dan bahwa Allah Subhanahu sebagaimana Dia berfirman: “Maka Dia menerima taubat kalian dan memaafkan kalian”, “Allah memaafkanmu” dengan makna: bahwa Dia menghilangkan dosa ini maka tidak ada celaan, dan tidak ada penghukuman, dan tidak ada teguran; maka orang-orang beriman ketika mereka disifati dengan ini “Barangsiapa yang memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah” sampai akhir ayat-ayat, “Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain” maka ini maknanya: bahwa orang beriman menahan amarahnya, dan ini tidak cukup melainkan dia perlu untuk memaafkan orang yang menyakitinya, “Dan memaafkan (kesalahan) orang lain”, maka maaf ini berarti: tidak ada tersisa sedikitpun bekas dosa dalam jiwa orang ini. Dan inilah Islam yang datang dengan seruan untuk berlapang dada dan memaafkan.
Pengampunan dalam Sunnah yang Mulia
Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya dari Anas bin Malik radliyallahu anhu, ia berkata: “Aku sedang berjalan bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan beliau mengenakan kain Najran yang tebal pinggirnya. Tiba-tiba seorang Arab Badui mendatangi beliau lalu menariknya dengan tarikan yang keras hingga aku melihat leher Nabi shallallahu alaihi wasallam tergores oleh pinggiran selendang akibat tarikannya yang keras. Kemudian orang itu berkata: ‘Perintahkan untuk memberiku dari harta Allah yang ada padamu!’ Maka beliau menoleh kepadanya lalu tertawa, kemudian beliau memerintahkan agar ia diberi pemberian.” Betapa mulianya Rasul ini! Orang Arab Badui ini berbuat seperti itu kepada siapa? Kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, saat beliau bersama para sahabatnya, dan Anas bin Malik, pembantunya, bersama beliau menyaksikan peristiwa ini dan melihat bahwa tarikan itu meninggalkan bekas di leher Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Orang Arab Badui itu sebenarnya bisa meminta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tanpa berbuat seperti itu, tetapi Rasul alaihish shalaatu wassalam dengan semua itu menoleh kepadanya lalu tertawa, yang menunjukkan kelapangan dadanya, kesabarannya, kebaikan akhlaknya, dan kebesaran maafnya atas kesalahan yang dilakukan kepadanya. Dan beliau tidak cukup dengan itu, bahkan beliau memerintahkan agar ia diberi pemberian, lalu beliau memberinya hingga ia ridla.
Imam Bukhari juga meriwayatkan dengan sanadnya dari Usamah bin Zaid radliyallahu anhu: “Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedang mengendarai keledai dengan pelana dari Fadak, dan beliau memboncengkan Usamah bin Zaid di belakangnya untuk menjenguk Sa’d bin Ubadah di kampung Bani Harits bin Khazraj sebelum perang Badar. Kami melewati sebuah majelis yang di dalamnya ada Abdullah bin Ubay bin Salul, dan itu sebelum Abdullah bin Ubay masuk Islam. Di majelis itu ada campuran orang-orang Muslim, orang-orang musyrik penyembah berhala, orang-orang Yahudi, dan orang-orang Muslim, dan di majelis itu ada Abdullah bin Rawahah. Ketika debu kendaraan menutupi majelis—yaitu debu yang ditimbulkan dari jejak kendaraan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam—Abdullah bin Ubay menutupi hidungnya dengan selendangnya, kemudian berkata: ‘Jangan membuat kami berdebu!’ Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberi salam kepada mereka, kemudian berhenti dan turun, lalu mengajak mereka kepada Allah, dan membacakan Al-Quran kepada mereka. Maka Abdullah bin Ubay bin Salul berkata: ‘Wahai orang ini, tidak ada yang lebih baik dari yang engkau katakan jika itu benar, tetapi jangan ganggu kami dengannya di majelis kami. Kembalilah ke tempatmu, siapa yang datang kepadamu, ceritakanlah kepadanya.’ Maka Abdullah bin Rawahah berkata: ‘Tidak, wahai Rasulullah, datanglah kepada kami di majelis-majelis kami, karena kami menyukai itu.’ Maka bertengkarlah orang-orang Muslim, orang-orang musyrik, dan orang-orang Yahudi hingga hampir saling memukul—yaitu saling mencengkeram leher—maka Nabi shallallahu alaihi wasallam terus menenangkan mereka hingga mereka diam. Kemudian Nabi shallallahu alaihi wasallam mengendarai kendaraannya dan berjalan hingga masuk menemui Sa’d bin Ubadah. Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya: ‘Wahai Sa’d, tidakkah engkau mendengar apa yang dikatakan Abu Hubaab?’—maksudnya Abdullah bin Ubay, beliau menyebutkan ucapannya. Sa’d bin Ubadah berkata: ‘Wahai Rasulullah, maafkan dan berlapang dadalah terhadapnya. Demi Dzat yang menurunkan Kitab kepadamu, sungguh Allah telah membawa kebenaran yang diturunkan kepadamu, dan penduduk perkampungan ini telah bersepakat untuk memahkotainya dengan mahkota—yaitu untuk menjadikannya raja atas mereka atau pemimpin mereka. Ketika Allah menolak itu dengan kebenaran yang Allah berikan kepadamu, ia merasa iri karenanya, maka itulah yang membuatnya berbuat seperti yang engkau lihat.’ Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memaafkannya.” Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya memaafkan orang-orang musyrik dan Ahli Kitab sebagaimana Allah perintahkan kepada mereka, dan mereka bersabar atas gangguan. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan sungguh kamu akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik, gangguan yang banyak.” (Surah Ali Imran: 186), dan Allah berfirman: “Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu setelah keimananmu menjadi kafir, karena dengki dari diri mereka sendiri” (Surah Al-Baqarah: 109) hingga akhir ayat.
Nabi shallallahu alaihi wasallam mengamalkan pengampunan sebagaimana Allah perintahkan kepadanya hingga Allah memberi izin tentang mereka. Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berperang di Badar dan Allah membunuh melalui beliau pemimpin-pemimpin kafir Quraisy, Ibnu Ubay bin Salul dan orang-orang musyrik serta penyembah berhala yang bersamanya berkata: “Ini adalah perkara yang telah jelas arahnya.” Maka mereka membaiat Rasul shallallahu alaihi wasallam untuk masuk Islam. Tetapi keislaman mereka adalah keislaman di lahir, adapun batin masih gelap dengan kegelapan kekafiran. Mereka menampakkan Islam dan menyembunyikan kekafiran, dan mereka terus memusuhi Islam dengan segala bentuk permusuhan, tetapi Allah Subhanahu wa Taala memerintahkan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam untuk memaafkan orang-orang munafik itu dan memberi maaf atas kemunafikan yang mereka lakukan.
Imam Bukhari juga meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radliyallahu anhuma bahwa ayat ini yang ada dalam Al-Quran: “Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan” (Surah Al-Ahzab: 45), ia berkata dalam Taurat: “Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa berita gembira, dan pelindung bagi orang-orang yang beriman. Engkau adalah hamba-Ku dan rasul-Ku, Aku beri nama engkau Al-Mutawakkil (yang bertawakal). Ia tidak kasar, tidak keras, tidak berteriak-teriak di pasar, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi ia memaafkan dan memberi maaf. Dan Allah tidak akan mencabutnya hingga ia menegakkan melaluinya agama yang bengkok dengan mengatakan: Tidak ada tuhan selain Allah, dan ia membuka dengannya mata-mata yang buta, telinga-telinga yang tuli, dan hati-hati yang tertutup.” Maka pengampunan dan pemaafan—sebagaimana kita lihat—dalam hadits ini adalah sifat atau dua sifat yang melekat pada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang Allah kabarkan dalam Taurat.
Dan juga jika kita beralih kepada apa yang diriwayatkan Imam Tirmidzi, kita akan menemukan sejumlah hadits, di antaranya apa yang diriwayatkan Imam Tirmidzi dengan sanadnya dari Abu Ishaq, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah Al-Jadali berkata: Aku bertanya kepada Aisyah tentang akhlak Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka ia berkata: “Beliau tidak keji, tidak berkata keji, tidak berteriak di pasar, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi beliau memaafkan dan memberi maaf.” Abu Isa At-Tirmidzi berkata: Ini adalah hadits hasan shahih, dan Abu Abdullah Al-Jadali namanya adalah Abdullah bin Abd, dan dikatakan: Abdurrahman bin Abd.
Bahwa Sayyidah Aisyah radliyallahu taala anha telah menyebutkan dari sifat-sifat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi memaafkan dan memberi maaf, dan ini juga disebutkan oleh Abdullah bin Amr bin Al-Ash radliyallahu anhuma dalam hadits sebelumnya ketika ia menyebutkan bahwa ia membaca dalam Taurat “bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi memaafkan dan memberi maaf.” Maka terwujudlah apa yang Allah kabarkan dalam Kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al-Quran tentang apa yang akan terjadi dari urusan Rasul shallallahu alaihi wasallam. Terwujudlah apa yang Rabb kita kabarkan dalam Kitab-kitab-Nya yang diturunkan, dan Sayyidah Aisyah mengabarkan tentang akhlak Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Juga dalam konteks ini, Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Keutamaan yang paling utama adalah: engkau menyambung yang memutuskanmu, memberi yang menghalangimu, dan memaafkan yang mencacimu.” Juga diriwayatkan dari Aisyah bahwa ia berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak keji, tidak berkata keji, tidak berteriak di pasar, tidak membalas kejahatan dengan sejenisnya, tetapi beliau memaafkan dan memberi maaf,” sebagaimana telah disebutkan sebelumnya oleh Imam Tirmidzi. Ini tentang pemaafan.
Adapun tentang pengampunan, ada sejumlah hadits, di antaranya apa yang diriwayatkan Imam Bukhari dengan sanadnya dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma, ia berkata: “Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah datang, lalu singgah di rumah keponakannya Al-Hurr bin Qais. Ia adalah salah satu dari orang-orang yang didekatkan oleh Umar. Para pembaca Al-Quran adalah yang mendapatkan majelis Umar dan musyawarahnya, baik mereka yang sudah tua maupun yang muda. Uyainah berkata kepada keponakannya: ‘Wahai keponakanku, apakah engkau punya wajah di hadapan amir ini? Maka mintakan izin untukku menemuinya.’ Ia berkata: ‘Aku akan minta izin untukku.’ Ibnu Abbas berkata: ‘Maka Al-Hurr meminta izin untuk Uyainah, dan Umar mengizinkannya. Ketika ia masuk menemuinya, ia berkata: ‘Hai Ibnu Khattab! Demi Allah, engkau tidak memberi kami dengan berlimpah, dan tidak memutuskan perkara di antara kami dengan adil.’ Maka Umar marah hingga hampir menghukumnya—yaitu akan menghukumnya. Maka Al-Hurr berkata kepadanya: ‘Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam: “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh” (Surah Al-Araf: 199), dan sesungguhnya orang ini termasuk orang-orang bodoh.’ Demi Allah, Umar tidak melampauinya ketika ayat itu dibacakan kepadanya, dan ia adalah orang yang sangat memegang teguh Kitabullah.”
Dalam hadits ini ada penjelasan tentang keadaan para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, termasuk Umar bin Khattab radliyallahu taala anhu, dalam berkomitmen pada apa yang ada dalam Kitabullah Azza wa Jalla.
Imam Bukhari juga meriwayatkan dari Abdullah bin Zubair radliyallahu taala anhuma tentang firman Allah Taala: “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf,” ia berkata: “Allah tidak menurunkannya kecuali tentang akhlak manusia.” Abdullah bin Barad berkata: Abu Usamah menceritakan kepada kami, Hisyam menceritakan kepada kami dari ayahnya dari Abdullah bin Zubair, ia berkata: “Allah memerintahkan Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam untuk mengambil yang mudah dari akhlak manusia,” atau sebagaimana ia katakan. Makna mengambil yang mudah dari akhlak manusia yaitu: memaafkan akhlak buruk yang datang dari mereka, bahkan menerima uzur mereka, dan memaafkan mereka. Ibnu Abbas berkata tentang firman Allah Taala: “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik” (Surah Al-Mu’minun: 96): “Sabar ketika marah, dan maaf ketika disakiti. Jika kalian melakukan itu, Allah akan melindungi kalian dan musuh kalian akan tunduk kepada kalian.”
Pada Imam Muslim kita membaca sebagai berikut: Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sedekah tidak mengurangi harta, dan Allah tidak menambahkan kepada seorang hamba dengan maaf kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendah diri karena Allah kecuali Allah mengangkatnya.”
Pada Tirmidzi, ia meriwayatkan dengan sanadnya dari seorang syaikh dari Bani Murrah, ia berkata: “Aku datang ke Kufah dan diberi tahu tentang Bilal bin Abi Burdah, maka aku berkata: ‘Sesungguhnya padanya ada pelajaran.’ Maka aku mendatanginya dan ia sedang dikurung di rumahnya yang telah ia bangun. Dan segala sesuatu telah berubah karena siksaan dan pukulan, dan ia dalam keadaan sangat lemah. Maka aku berkata: ‘Alhamdulillah wahai Bilal, sungguh aku melihatmu dulu melewati kami sambil menutupi hidungmu padahal tidak ada debu, dan engkau dalam keadaanmu hari ini.’ Ia berkata: ‘Dari mana engkau?’ Aku berkata: ‘Dari Bani Murrah bin Abbad.’ Ia berkata: ‘Tidakkah aku ceritakan kepadamu sebuah hadits, mudah-mudahan Allah memberimu manfaat dengannya?’ Aku berkata: ‘Silakan.’ Ia berkata: Ayahku Abu Burdah menceritakan kepadaku dari ayahnya Abu Musa—yaitu Al-Asyari—bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang hamba tertimpa musibah atau yang lebih besar atau lebih kecil darinya kecuali karena dosa, dan apa yang Allah maafkan lebih banyak.” Ia berkata: Dan ia membaca: “Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Dia memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)” (Surah Asy-Syura: 30).
Ini adalah maaf Allah kepada hamba-hamba-Nya meskipun mereka melakukan dosa-dosa. Dan diriwayatkan dari Aisyah radliyallahu taala anha bahwa ia berkata: “Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku mengetahui malam mana yang merupakan malam Lailatul Qadar, apa yang harus aku katakan padanya?’ Beliau bersabda: ‘Katakanlah: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia, Engkau mencintai maaf, maka maafkanlah aku.'”
Imam Abu Dawud meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Umar bahwa ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan doa-doa ini ketika petang dan ketika pagi: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu maaf dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutuplah auratku”—dan Utsman berkata: “aurat-auratku, dan tenangkanlah ketakutanku”—“Ya Allah, jagalah aku dari depanku, dari belakangku, dari kananku, dari kiriku, dan dari atasku, dan aku berlindung dengan keagungan-Mu agar aku tidak dibinasakan dari bawahku.” Inilah doa yang dibaca Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan beliau memohon kepada Allah keselamatan, dan beliau memohon kepada Allah maaf… Dan maaf adalah penghapusan dosa dengan segala keburukan yang ada dalam dosa itu, tetapi harapan kepada Allah sangat besar bahwa Allah Yang Maha Mulia memberi maaf dan memberi ampun.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Al-Hasan radliyallahu taala anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bermusyawarah dengan orang-orang tentang para tawanan pada hari Badar. Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah memberikan mereka ke dalam kekuasaan kalian.’ Umar bin Khattab berdiri lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah, penggal leher mereka.’ Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam berpaling darinya. Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kembali dan bersabda: ‘Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah memberikan mereka ke dalam kekuasaan kalian, dan mereka adalah saudara-saudara kalian kemarin.’ Maka Umar berdiri dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, penggal leher mereka.’ Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam berpaling darinya. Kemudian Nabi shallallahu alaihi wasallam kembali dan berkata kepada orang-orang seperti itu. Maka Abu Bakar berdiri dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, jika engkau memandang untuk memaafkan mereka dan menerima tebusan dari mereka.’ Maka hilanglah dari wajah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kesedihan yang ada padanya. Maka beliau memaafkan mereka dan menerima tebusan dari mereka. Dan Allah Azza wa Jalla menurunkan: ‘Sekiranya tidak ada ketetapan yang telah ada dari Allah, niscaya kalian ditimpa azab yang besar karena apa yang kalian ambil’ (Surah Al-Anfal: 68)” hingga akhir ayat-ayat yang turun.
Dalam hadits ini ada penjelasan tentang keagungan akhlak Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan bahwa meskipun musuh-musuhnya sangat memusuhi, dan meskipun mereka memeranginya dan membunuh sebagian sahabatnya, tetapi beliau alaihish shalaatu wassalam memaafkan mereka dan menerima tebusan dari mereka. Shalawat dan salam Allah atas Rasul ini yang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi memaafkan dan memberi maaf.
Imam Abu Al-Hasan Al-Mawardi dalam kitabnya (Adabud Dunya wad Din), menyebutkan banyak pembahasan dalam fasal keempat dari kitabnya tentang kesabaran dan kemarahan, dan beliau menyebutkan kepada kita sebab-sebab kesabaran yang mengarah kepada pemaafan dan pengampunan. Di antara yang beliau sebutkan dalam hal itu, beliau berkata: Sufyan bin Uyainah meriwayatkan: bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika turun ayat ini: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh” (Al-A’raf: 199), beliau bersabda: “Wahai Jibril, apa ini? Jibril menjawab: Aku tidak tahu sampai aku bertanya kepada Yang Maha Mengetahui. Kemudian Jibril kembali dan berkata: Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu memerintahkanmu agar engkau menyambung hubungan dengan orang yang memutuskanmu, memberi kepada orang yang tidak memberimu, dan memaafkan orang yang menzalimimu”. Kemudian beliau menyebutkan apa yang diriwayatkan oleh Hisyam dari Al-Hasan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apakah salah seorang di antara kalian tidak mampu menjadi seperti Abu Dhamdham, yang apabila keluar dari rumahnya berkata: Ya Allah, sesungguhnya aku sedekahkan kehormatanku kepada hamba-hamba-Mu”. Dan beliau juga meriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang penyabar dan pemalu, dan membenci orang yang keji lagi kasar”. Dan beliau alaihi shollatu wassalam bersabda: “Barangsiapa bersabar, ia akan menjadi pemimpin, dan barangsiapa memahami, ia akan bertambah (ilmunya)”. Dan beliau menyebutkan dari sebagian sastrawan perkataan: Barangsiapa menanam pohon kesabaran akan memetik pohon kedamaian. Dan sebagian ahli retorika berkata: Tidak ada yang dapat menjaga kehormatan seperti pemaafan dan berpaling dari kesalahan. Dan beliau menyebutkan dari sebagian penyair perkataannya:
Aku mencintai akhlak mulia dengan sungguh-sungguh … Dan aku benci mencela dan dicela Aku memaafkan cacian manusia dengan kesabaran … Dan seburuk-buruk manusia adalah yang gemar mencela Dan barangsiapa takut kepada orang-orang, maka mereka akan takut kepadanya … Dan barangsiapa meremehkan orang-orang, maka ia tidak akan ditakuti
Kemudian beliau berkata: Maka kesabaran termasuk akhlak yang paling mulia dan paling pantas bagi orang-orang yang berakal karena di dalamnya terdapat keselamatan kehormatan, ketenangan badan, dan memperoleh pujian. Dan Ali radliyallahu ta’ala anhu telah berkata: “Ganjaran pertama orang yang sabar atas kesabarannya adalah bahwa manusia menjadi penolongnya, dan batasan kesabaran adalah mengendalikan diri ketika kemarahan memuncak”. Dan inilah yang kami sebutkan tentang pemaafan dan kesabaran.
Dan Imam Al-Mawardi telah menyebutkan sepuluh sebab yang mengantarkan kepada pengendalian diri; di antaranya: kasih sayang kepada orang-orang bodoh, kemampuan untuk membalas dendam, meninggikan diri dari saling mencela … sampai akhir apa yang beliau sebutkan dari sebab-sebab ini, yang perlu dibaca dalam kitab ini.
Dan semoga Allah melimpahkan rahmat, kesejahteraan, dan keberkahan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan kepada keluarganya serta para sahabatnya.
Pelajaran: 3 Berbuat Baik kepada Kedua Orang Tua
Bismillahirrahmanirrahim
Makna Kata Ihsan (Berbuat Baik) dan Birr (Kebajikan)
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, amma ba’du:
Berbuat baik kepada kedua orang tua:
Berbuat baik kepada kedua orang tua, dan berbakti kepada kedua orang tua termasuk topik-topik penting yang jika manusia berbuat baik kepada ayah dan ibu mereka maka akan menghasilkan kebaikan yang banyak bagi manusia di dunia dan di akhirat.
Kata ihsan (berbuat baik) dan kata birr (kebajikan) dalam bahasa Arab kita:
Ibnu Faris dalam kamus (Maqayis al-Lughah) berkata: Ha, sin, dan nun adalah satu akar kata. Al-husn (kebaikan) lawan dari al-qubh (keburukan), dikatakan: seorang laki-laki hasan (baik) dan seorang perempuan hasanah (baik). Dan beliau berkata tentang birr: Ba dan ra dalam bentuk mudhoa’af memiliki empat akar: kejujuran, peniruan suara, lawan dari laut, dan tumbuhan. Adapun kejujuran maka perkataan mereka: si fulan benar dan berbuat baik, dan sumpahnya benar: jujur. Dan ia menunaikan sumpahnya: melaksanakannya dengan jujur. Dan dari bab ini adalah perkataan mereka: ia berbakti kepada kerabatnya, dan asalnya adalah kejujuran dalam kecintaan. Dikatakan untuk seorang laki-laki: barr dan barr. Dan aku berbakti kepada orang tuaku dan aku benar dalam sumpahku.
Dan di antara yang dikatakan Ibnu Manzhur dalam (Lisanul Arab): Al-husn lawan dari al-qubh, dan ihsan lawan dari keburukan. Dan perbedaan antara ihsan dan in’am adalah bahwa ihsan dapat ditujukan untuk diri sendiri dan untuk orang lain, engkau berkata: aku berbuat baik untuk diriku sendiri, sedangkan in’am tidak bisa kecuali untuk orang lain. Dan beliau berkata tentang makna birr: Birr adalah kejujuran dan ketaatan, dan barra (berbuat baik) jika ia saleh, dan barra dalam sumpahnya jika ia membenarkannya dan tidak melanggarnya, dan barra rahimahu (ia menyambung silaturahim) jika ia menyambungnya. Dan dalam nama-nama Allah ta’ala adalah Al-Barr bukan Al-Baar, yaitu Yang Maha Pengasih kepada hamba-hamba-Nya dengan kebaikan dan kelembutan-Nya. Dan birr adalah lawan dari uquq (durhaka).
Dalam (Al-Qamus Al-Muhith) Al-Fairuzabadi berkata: Al-husn dengan dhammah adalah keindahan, dan ihsan lawan dari keburukan, dan hasanah lawan dari sayyiah (kejahatan). Dan beliau berkata tentang birr: Birr adalah penyambungan, surga, kebaikan, keluasan dalam berbuat baik, haji, kejujuran, ketaatan, dan lawan dari uquq. Dan dengan fathah -yaitu al-barr- termasuk nama-nama yang baik.
Adapun Ar-Raghib dalam (Mu’jam Mufradat Alfazh Al-Qur’an) berkata: Al-husn adalah ungkapan dari setiap yang menggembirakan dan diinginkan; dan itu ada tiga macam: yang baik dari sisi akal, yang baik dari sisi hawa nafsu, dan yang baik dari sisi indera. Kemudian beliau berkata: Dan ihsan dikatakan dalam dua bentuk:
Pertama: memberi nikmat kepada orang lain, dikatakan: ia berbuat baik kepada si fulan.
Kedua: berbuat baik dalam perbuatannya. Dan ihsan lebih umum daripada in’am. Allah ta’ala berfirman: “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri” (Al-Isra’: 7). Dan firman Allah ta’ala: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan” (An-Nahl: 90). Maka ihsan berada di atas keadilan, karena keadilan adalah memberikan apa yang menjadi kewajibannya dan mengambil apa yang menjadi haknya, sedangkan ihsan adalah memberikan lebih dari kewajibannya dan mengambil lebih sedikit dari haknya. Dan karena itu pahala orang-orang yang berbuat baik menjadi besar. Allah ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat baik”. Dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (Al-Baqarah: 195). Dan beliau berkata tentang birr: Al-barr lawan dari laut, dan dibayangkan darinya keluasan, maka diturunkan darinya birr yaitu keluasan dalam berbuat kebaikan. Dan itu dinisbahkan kepada Allah kadang-kadang seperti “Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” (Ath-Thur: 28), dan kepada hamba kadang-kadang maka dikatakan: hamba berbakti kepada Tuhannya, yaitu ia meluas dalam ketaatan kepada-Nya. Maka dari Allah ta’ala adalah pahala dan dari hamba adalah ketaatan. Dan itu ada dua macam: satu macam dalam keyakinan dan satu macam dalam perbuatan. Dan telah mencakup itu firman Allah ta’ala: “Bukanlah kebajikan itu menghadapkan wajahmu…” (Al-Baqarah: 177) ayat tersebut. Dan berdasarkan ini apa yang diriwayatkan bahwa Nabi alaihi shollatu wassalam ditanya tentang birr maka beliau membacakan ayat ini, karena ayat tersebut mencakup keyakinan, pelaksanaan kewajiban, dan amalan sunnah. Dan birr al-walidain (berbakti kepada kedua orang tua) adalah keluasan dalam berbuat baik kepada keduanya dan lawannya adalah uquq (durhaka). Allah ta’ala berfirman: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu, supaya kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap mereka” (Al-Mumtahanah: 8). Dan birr digunakan untuk kejujuran karena ia adalah kebaikan yang meluas. Dikatakan: ia benar dalam ucapannya dan benar dalam sumpahnya. Dan perkataan penyair: Aku menjadi apa yang ada birr darinya. Dikatakan: yang dimaksudkan dengannya adalah hati, tetapi tidak demikian, bahkan yang dimaksud adalah apa yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu ia mencintaiku dengan cinta birr. Dan dikatakan: ia berbakti kepada ayahnya maka ia adalah barr dan birr, seperti sha’if dan shaif, dan tha’if dan thaif. Dan berdasarkan ini firman Allah ta’ala: “Dan berbakti kepada kedua orang tuaku” (Maryam: 14), dan berbakti kepada ibuku, dan benar dalam sumpahnya maka ia adalah barr. Dan aku membenarkannya dan benar sumpahku, dan haji yang mabrur yaitu yang diterima. Dan jamak dari barr adalah abrar dan bararah. Allah ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang baik benar-benar berada dalam kenikmatan” (Al-Infithar: 13). Dan Allah berfirman: “Sekali-kali tidak (demikian), sesungguhnya catatan orang-orang yang baik benar-benar tersimpan dalam ‘Illiyyin” (Al-Muthaffifin: 18). Dan Allah berfirman dalam sifat para malaikat: “Yang mulia lagi berbakti” (Abasa: 16). Maka bararah dikhususkan untuk malaikat dalam Al-Qur’an karena ia lebih besar dari abrar, karena ia jamak dari birr dan abrar jamak dari barr, dan birr lebih besar dari barr, sebagaimana adl lebih besar dari ‘adil. Dan al-birr dikenal, dan dinamai demikian karena ia adalah yang paling luas yang dibutuhkan untuk makanan… sampai akhir yang beliau katakan semoga Allah merahmatinya.
Dari paparan ini terhadap dua kata ihsan dan birr dalam bahasa Arab kita, menjadi jelas bagi kita bahwa ihsan artinya seseorang memberikan semaksimal mungkin yang ada dalam kemampuannya hingga mencapai tingkat kesempurnaan dalam apa yang ia lakukan baik dari ucapan maupun perbuatan. Dan bahwa birr artinya ketaatan dan keluasan dalam kebaikan, dan keluasan ini harus dicapai oleh anak-anak hingga tingkat yang membuat dada ayah mereka lapang, agar mereka mencapai dengan birr ini tingkat ihsan.
Berbuat Baik kepada Kedua Orang Tua dalam Al-Qur’an Al-Karim
Dan wasiat ini telah disebutkan dalam Al-Qur’an di enam tempat:
Pertama: dalam surah “Al-Baqarah” dalam firman Allah ta’ala: “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling” (Al-Baqarah: 83). Maka ini adalah wasiat Allah kepada Bani Israil, maka ia adalah wasiat lama yang Allah ambil sebagai perjanjian dari Bani Israil. Wasiat tentang kedua orang tua datang dalam apa yang Allah wasiatkan dan dalam apa yang Allah ambil dari janji dan perjanjian setelah perintah beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan setelah itu inilah yang kita lihat dalam firman-Nya: “Kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat”. Tetapi Bani Israil tidak berpegang pada petunjuk Allah dan syariat Allah, melainkan sebagaimana Tuhan kita katakan dalam ayat mulia: “Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling”.
Dan dalam surah “An-Nisa'” Allah ta’ala berfirman: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (An-Nisa’: 36).
Dan dalam wasiat-wasiat surah “Al-An’am” Allah ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar’. Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya)” (Al-An’am: 151).
Dan dalam surah “Al-Isra'” Tuhan kita berfirman: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil'” (Al-Isra’: 23-24).
Maka engkau lihat dalam ayat-ayat ini bahwa subhanahu wa ta’ala memerintahkan untuk beribadah kepada-Nya terlebih dahulu, kemudian kedua dengan wasiat berbuat baik kepada kedua orang tua, agar engkau mengetahui nilai wasiat ini dan nilai perintah ini dan nilai apa yang Allah perintahkan dalam firman-Nya: “Dan berbuat baiklah kepada ibu bapak”. Imam Fakhruddin Ar-Razi berkata: Dan Al-Qur’an mengulangi taklif ini karena sesungguhnya yang paling agung dari jenis-jenis nikmat bagi manusia adalah nikmat Allah ta’ala, dan mengikutinya adalah nikmat kedua orang tua. Karena yang menjadi sebab hakiki dalam wujud manusia adalah Allah subhanahu, dan secara lahiriah adalah kedua orang tua. Kemudian nikmat keduanya kepada manusia sangat besar, yaitu nikmat pendidikan, kasih sayang, dan penjagaan dari kehilangan dan kebinasaan di waktu kecil.
Dan kadang-kadang wasiat datang langsung dari Allah tentang kedua orang tua dan berbuat baik kepada keduanya sebagaimana kita lihat itu dalam surah “Al-Ankabut” di mana Tuhan kita berfirman: “Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” (Al-Ankabut: 8).
Dan sebagaimana datang dalam “Al-Ahqaf” dalam firman Allah ta’ala: “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: ‘Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri’. Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka” (Al-Ahqaf: 15-16).
Inilah enam ayat yang disebutkan di dalamnya kata ihsan atau husna kepada kedua orang tua. Tetapi disebutkan juga wasiat dari Allah azza wa jalla tentang kedua orang tua tanpa menyebutkan kata ihsan, yaitu dalam surah “Luqman” dalam firman Allah ta’ala: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” (Luqman: 14-15).
Adapun kata al-birr (berbakti) – yang kita bicarakan tentang berbakti kepada orang tua – tidak disebutkan dalam Kitabullah kecuali dalam surah Maryam dalam perkataan Yahya dan Isa. Yahya sebagaimana Tuhan kita berfirman: “dan berbakti kepada kedua orang tuanya, dan dia bukanlah orang yang sombong lagi durhaka.” (Maryam: 14), dan Isa alaihissalam berkata: “dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku sombong lagi celaka.” (Maryam: 32) Tujuan dari berbakti ini – sebagaimana telah saya singgung – adalah agar anak berupaya semaksimal mungkin dalam memperbanyak kebaikan dan pemberian, dan menunaikan kewajibannya terhadap kedua orang tuanya, hingga ia mencapai tingkat ihsan (berbuat baik).
Ihsan kepada Orang Tua dalam Sunnah yang Mulia
Ketika kita merenungkan, kita akan melihat kata ihsan telah disebutkan dalam Sunnah yang mulia dalam sabda Rasulullah yang paling mulia shallallahu ‘alaihi wasallam yang menjelaskan tingkat tertinggi dalam menyempurnakan Islam dan iman. Ketika Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam ditanya dan menyebutkan Islam dan iman, lalu ditanya tentang ihsan, beliau bersabda: “Bahwa engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya; jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” Kita akan mengetahui banyak makna ini ketika kita mengkaji apa yang terdapat dalam Sunnah yang mulia, dan di dalamnya terdapat banyak makna. Mari kita mengambil pelajaran dari cahaya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang menerangi jalan bagi dunia:
Diriwayatkan oleh Bukhari dengan sanadnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak dengan pergaulanku yang baik? Beliau bersabda: Ibumu, ia berkata: Lalu siapa? Beliau bersabda: Lalu ibumu, ia berkata: Lalu siapa? Beliau bersabda: Lalu ibumu, ia berkata: Lalu siapa? Beliau bersabda: Lalu ayahmu.” Maka kamu lihat bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berwasiat kepada sahabat ini dengan ibunya berulang-ulang, kemudian ayah datang pada urutan terakhir. Itu tidak lain karena apa yang telah ibu berikan berupa kesusahan dan kesulitan sebagaimana kita lihat dalam ayat-ayat: “Ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah, dan masa mengandung sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan” atau sebagaimana Tuhan kita berfirman: “dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah” kemudian ia juga lemah sehingga membutuhkan lebih banyak perhatian.
Kita juga akan menemukan dalam apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari hadits Sa’d bin Abi Waqqash bahwa turun tentang dirinya ayat-ayat dari Al-Quran. Ia berkata: Ibu Sa’d bersumpah tidak akan berbicara dengannya selamanya sampai ia kafir dari agamanya dan tidak makan dan tidak minum. Ia berkata: Kamu mengira bahwa Allah mewasiatkan kepadamu tentang orang tuamu dan aku ibumu dan aku memerintahkanmu dengan ini. Ia berkata: Ia bertahan tiga hari hingga ia pingsan karena kesulitan yaitu dari kesusahan dan kelelahan. Maka bangunah seorang anak laki-lakinya yang bernama Umarah lalu memberinya minum. Maka ia mulai mendoakan keburukan kepada Sa’d, lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan dalam Al-Quran ayat ini: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya dengan cara yang baik. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku” dan di dalamnya: “Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik” (Luqman: 15).
Jadi ketaatan, berbakti dan ihsan hanyalah dalam ketaatan kepada Allah bukan dalam kemaksiatan kepada Allah. Dan paling besar kemaksiatan dan paling besar dan paling keras kejahatannya adalah kekufuran kepada Allah dan mempersekutukan Allah, maka tidak ada ketaatan dalam hal ini kepada siapapun.
Dan dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash ia berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: Aku berbaiat kepadamu untuk berhijrah dan berjihad; aku mencari pahala dari Allah. Beliau bersabda: Apakah ada orang tuamu yang masih hidup? Ia berkata: Ya, bahkan keduanya, Beliau bersabda: Apakah engkau mencari pahala dari Allah? Ia berkata: Ya, Beliau bersabda: Maka kembalilah kepada kedua orang tuamu dan pergaulilah keduanya dengan baik.” Dan dalam hal ini adalah penjelasan tentang keagungan bergaul dengan kedua orang tua dengan ihsan keduanya.
Dan ada juga hadits dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Tidak ada yang berbicara di dalam buaian kecuali tiga orang: Isa putra Maryam, dan teman Juraij. Dan Juraij adalah seorang ahli ibadah yang membuat biara, maka ia berada di dalamnya. Lalu ibunya datang kepadanya sementara ia sedang shalat, maka ia berkata: Wahai Juraij, maka ia berkata: Ya Tuhanku, ibuku dan shalatku – maksudnya: bagaimana aku memilih antara keduanya – maka ia melanjutkan shalatnya dan ibunya pergi. Ketika esok harinya ibunya datang kepadanya sementara ia sedang shalat, maka ia berkata: Wahai Juraij, maka ia berkata: Ya Tuhanku, ibuku dan shalatku, maka ia melanjutkan shalatnya dan ibunya pergi. Ketika esok harinya ibunya datang kepadanya sementara ia sedang shalat, maka ia berkata: Wahai Juraij, maka ia berkata: Ya Tuhanku, ibuku dan shalatku, maka ia melanjutkan shalatnya lalu ibunya berkata: Ya Allah jangan Engkau matikan dia hingga ia melihat wajah-wajah para pelacur – yaitu: para wanita yang sibuk dengan perkara zina. Maka Bani Israil membicarakan Juraij dan ibadahnya. Dan ada seorang wanita pelacur yang terkenal dengan kecantikannya, maka ia berkata: Jika kalian mau aku akan menfitnah dia untuk kalian. Ia berkata: Maka ia mendatanginya tetapi ia tidak menoleh kepadanya. Maka ia mendatangi seorang penggembala yang biasa singgah di biaranya, lalu ia memberikan dirinya kepadanya, maka ia menyetubuhinya dan ia hamil. Ketika ia melahirkan ia berkata: Ini adalah anak Juraij. Maka mereka mendatanginya dan menurunkannya serta meruntuhkan biaranya dan mulai memukulnya. Maka ia berkata: Apa yang terjadi dengan kalian? Mereka berkata: Engkau berzina dengan pelacur ini dan ia melahirkan darimu. Maka ia berkata: Mana bayinya? Maka mereka membawanya, lalu ia berkata: Biarkan aku shalat, maka ia shalat. Ketika ia selesai ia mendatangi bayi itu dan menusuk perutnya dan berkata: Wahai anak kecil, siapa ayahmu? Ia berkata: Si fulan penggembala. Ia berkata: Maka mereka mendatangi Juraij menciumnya dan menyentuh badannya, dan berkata: Kami akan membangun biaramu dari emas. Ia berkata: Tidak, kembalikanlah dari tanah liat sebagaimana semula, maka mereka melakukannya.”
Dalam hadits ini kita melihat apa yang terjadi pada ahli ibadah ini dan bahwa ia lebih memilih shalatnya daripada memenuhi panggilan ibunya untuk menghibur hatinya. Ketika ibunya marah kepadanya, ia mendoakan dia dengan doa ini; agar ia melihat wajah-wajah para pelacur, maka ini terwujud dan terjadi. Dan datanglah pelacur ini dan melakukan apa yang ia lakukan; tetapi karena ia menjaga Allah Subhanahu wa Ta’ala; maka ia tidak mendekatinya dan tidak melakukan kemaksiatan, melainkan ia berlindung dengan agama dan imannya. Tetapi wanita yang jahat ini mendatangi seorang penggembala yang datang ke biara ini dan melakukan dengannya apa yang ia lakukan, dan hamil dengan anak ini. Maka ia melakukan beberapa kejahatan: ia melakukan kejahatan zina dan kejahatan dusta dan kejahatan fitnah dan mengklaim secara palsu dan zalim bahwa anak ini adalah anak Juraij. Tetapi Allah Azza wa Jalla memberikan jalan keluar dan Dia adalah Pelindung orang-orang saleh; Dia tidak meninggalkan hamba-Nya ini untuk kejahatan para penjahat ini, melainkan Dia membicarakan bayi ini maka ia menyebutkan bahwa si fulan penggembala adalah ayahnya. Maka orang-orang mendatangi Juraij – sebagaimana dalam hadits – menciumnya dan menyentuh badannya, dan berkata: Kami akan membangun biaramu dari emas. Ia berkata: Tidak, kembalikanlah dari tanah liat sebagaimana semula, maka mereka melakukannya. Pelajaran dalam hadits – sebagaimana kita lihat – adalah apa yang ada dalam ketaatan kepada ibu berupa keutamaan dan kebaikan dan keberkahan.
Dan pada Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka aku berkata: Ya Rasulullah, amalan apa yang paling utama? Beliau bersabda: Shalat pada waktunya. Aku berkata: Lalu apa Ya Rasulullah? Beliau bersabda: Berbakti kepada kedua orang tua. Aku berkata: Lalu apa Ya Rasulullah? Beliau bersabda: Jihad di jalan Allah. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diam dariku, dan jika aku meminta tambahan pasti beliau menambahiku.”
Dalam hadits ini kamu lihat bahwa berbakti kepada orang tua datang sebelum jihad di jalan Allah. Dan telah kita lihat sebelumnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menasihati orang yang meminta kepadanya untuk berhijrah dan berjihad agar kembali kepada kedua orang tuanya dan bergaul dengan baik kepada keduanya.
Dan juga diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abdurrahman bin Abi Bakrah dari ayahnya ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maukah aku beritahukan kepadamu tentang dosa-dosa besar yang paling besar? Mereka berkata: Tentu Ya Rasulullah. Beliau bersabda: Mempersekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua. Ia berkata: Dan beliau duduk padahal sebelumnya bersandar, maka beliau bersabda: Dan kesaksian palsu – atau perkataan dusta – maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terus mengatakannya hingga kami berkata: Seandainya beliau diam.”
Dalam hadits ini adalah penjelasan tentang kejahatan durhaka kepada orang tua, dan bahwa durhaka kepada orang tua termasuk dosa-dosa besar yang paling besar, dan datang setelah mempersekutukan Allah. Dan sebagaimana kita lihat dalam wasiat kepada kedua orang tua dan berbuat baik kepada keduanya bahwa itu datang setelah perintah beribadah kepada Allah dan mengikhlaskan ibadah kepada Allah. Di sini juga perkara durhaka kepada orang tua ini datang setelah mempersekutukan Allah.
Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwasiat untuk menjaga kehormatan kedua orang tua; yaitu dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Abdullah bin Amr ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Termasuk dosa-dosa besar adalah seseorang mencaci kedua orang tuanya. Mereka berkata: Ya Rasulullah, apakah seseorang mencaci kedua orang tuanya? Beliau bersabda: Ya, ia mencaci ayah seseorang maka orang itu mencaci ayahnya, dan ia mencaci ibunya maka orang itu mencaci ibunya.” Maka seseorang harus menjaga kehormatan kedua orang tuanya dengan menjaga dirinya agar tidak mencaci siapapun dan tidak mencaci siapapun; karena jika ia melakukan itu, orang yang dicaci tidak akan diam, melainkan ia akan mencaci orang tua orang itu dan mencaci ibunya, dan begitu seterusnya.
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda mengagungkan kedudukan kedua orang tua dan bahwa anak bagaimanapun ia berusaha tidak akan mampu memenuhi hak keduanya, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada anak yang dapat membalas budi kepada orang tua kecuali jika ia mendapatinya sebagai budak lalu ia membelinya dan memerdekakannya.”
Bahkan kejahatan memutuskan silaturahmi – dan yang paling utama dari itu adalah apa yang dilakukan sebagian anak kepada ayah ketika mereka memutuskan hubungan dengan ayah mereka dan melupakan kasih sayang mereka dan sibuk dengan anak-anak dan istri mereka – dan dalam hal ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dengan sanadnya dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im dari ayahnya ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak masuk surga orang yang memutuskan.” Ibnu Abi Umar berkata: Sufyan berkata: Maksudnya memutuskan silaturahmi. Maka kita memohon keselamatan dan kesehatan kepada Allah.
Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menginginkan dari anak-anak agar mereka melanjutkan berbakti kepada ayah mereka bahkan setelah wafatnya. Dan dalam hal ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan sanadnya dari Abdullah bin Umar; bahwa seorang laki-laki dari Badui menemuinya di jalan Mekah, maka Abdullah memberinya salam dan mengangkatnya ke atas keledai yang ia kendarai, dan memberinya sorban yang ada di kepalanya. Maka Ibnu Dinar berkata, dan ia bersama Ibnu Umar: Maka kami berkata kepadanya: Semoga Allah memperbaikimu, sesungguhnya mereka orang-orang Badui dan mereka ridha dengan yang sedikit. Maka Abdullah berkata: Sesungguhnya ayah orang ini adalah sahabat Umar bin Khaththab, dan sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya berbakti yang paling berbakti adalah anak menyambung hubungan dengan orang-orang yang disayangi ayahnya.”
Dan kita masih melanjutkan pembicaraan melalui hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antaranya apa yang disebutkan oleh penulis (At-Targhib wat-Tarhib) dalam kitab Al-Birr wash-Shilah tentang keutamaan berbakti kepada kedua orang tua dan menyambung hubungan dengan keduanya dan menekankan ketaatan kepada keduanya dan berbuat baik kepada keduanya serta berbakti kepada sahabat-sahabat keduanya setelah keduanya. Di antara yang disebutkan Imam Al-Mundziri dalam bab ini dan dalam kitab ini, ia menyebutkan hadits Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu: “Bahwa seorang laki-laki dari penduduk Yaman berhijrah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda: Apakah engkau punya siapapun di Yaman? Ia berkata: Kedua orang tuaku. Beliau bersabda: Apakah mereka mengizinkanmu? Ia berkata: Tidak. Beliau bersabda: Maka kembalilah kepada keduanya dan mintalah izin kepada keduanya, maka jika mereka mengizinkanmu maka berjihadlah, jika tidak maka berbuatlah baiklah kepada keduanya.”
Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meminta izin untuk berjihad, maka beliau bersabda: Apakah kedua orang tuamu masih hidup? Ia berkata: Ya. Beliau bersabda: Maka pada keduanyalah engkau berjihad.”
Dan yang mirip dengan itu apa yang diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu ia berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: Sesungguhnya aku ingin berjihad dan aku tidak mampu – mungkin karena kondisi kesehatannya atau karena ketidakmampuan finansialnya – maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: Apakah ada orang tuamu yang masih hidup? Ia berkata: Ibuku. Beliau bersabda: Bertakwalah kepada Allah dalam berbakti kepadanya, maka jika engkau melakukan itu maka engkau adalah haji dan umrah dan mujahid.” Imam Al-Hafizh Al-Mundziri berkata: Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan Thabrani dalam (Ash-Shaghir) dan (Al-Ausath), dan sanad keduanya baik; Maimun bin Nujaih dipercaya oleh Ibnu Hibban, dan sisa perawinya adalah orang-orang terpercaya yang terkenal.
Dan juga dalam bab ini dan dalam konteks ini diriwayatkan dari Thalhah bin Mu’awiyah As-Sulami radhiyallahu ‘anhu ia berkata: “Aku datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka aku berkata: Ya Rasulullah, sesungguhnya aku ingin berjihad di jalan Allah. Beliau bersabda: Apakah ibumu masih hidup? Aku berkata: Ya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Tetaplah di kakinya karena di sana surga.” Yaitu di sana surga berada di kakinya.
Dan diriwayatkan dari Muawiyah bin Jahamah: Bahwa Jahamah datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu berkata: Ya Rasulullah, aku ingin berperang dan aku datang untuk meminta nasihatmu. Beliau bertanya: Apakah kamu masih memiliki ibu? Dia menjawab: Ya. Beliau bersabda: Tetaplah bersamanya karena surga berada di bawah telapak kakinya.
Dan hadits-hadits semacam ini menunjukkan bahwa komitmen kepada ibu dan kedua orang tua serta menunaikan hak mereka tidaklah kurang pentingnya dari jihad di jalan Allah Subhanahu wa Taala, bahkan mungkin hal ini lebih utama daripada jihad.
Yang dimaksud dengan jihad yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah jihad yang tidak diwajibkan. Karena jihad itu ada yang fardhu ain dan ada yang fardhu kifayah. Fardhu ain adalah jihad yang wajib atas setiap individu dan setiap muslim, dan memiliki sebab-sebabnya yang disebutkan dalam kitab-kitab fikih. Adapun jihad yang tidak diwajibkan adalah jihad kifayah yang jika dilakukan oleh sebagian orang maka gugurlah kewajiban dari yang lainnya. Yang dimaksud dengan jihad yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan yang ingin diikuti oleh para sahabat ini adalah jihad kifayah.
Juga, dalam ketaatan kepada kedua orang tua, ketaatan kepada ayah dan ketaatan kepada ibu, diriwayatkan dari Abu Darda radhiyallahu anhu: “Bahwa seorang laki-laki datang kepadanya dan berkata: Sesungguhnya aku memiliki istri dan ibuku memerintahkanku untuk menceraikannya. Maka dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah, maka jika kamu mau, sia-siakanlah pintu ini atau jagalah.” Tirmidzi berkata: Hadits shahih. Dan diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam shahihnya dengan lafazh: “Bahwa seorang laki-laki datang kepada Abu Darda dan berkata: Sesungguhnya ayahku terus mendesakku hingga aku menikah, dan sekarang dia memerintahkanku untuk menceraikannya. Dia berkata: Aku bukan orang yang memerintahkanmu untuk durhaka kepada orang tuamu, dan bukan pula orang yang memerintahkanmu untuk menceraikan istrimu! Tetapi jika kamu mau, aku akan menceritakan kepadamu apa yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Aku mendengar beliau bersabda: Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Maka jagalah pintu itu jika kamu mau atau tinggalkanlah. Dia berkata: Maka aku mengira Atha’ berkata: Lalu dia menceraikannya.”
Dan dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata: “Ada seorang wanita yang menjadi istriku dan aku mencintainya, sedangkan Umar tidak menyukainya. Maka dia berkata kepadaku: Ceraikan dia, namun aku menolak. Lalu Umar mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan menceritakan hal itu. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepadaku: Ceraikan dia.”
Yang dimaksud dari hal itu adalah bahwa perpisahan dengan wanita ini dari sudut pandang ayah dan sudut pandang ibu mungkin karena alasan-alasan yang masuk akal, yang mengharuskan anak ini untuk memenuhi perintah mereka dan mengabulkan keinginan mereka, dan berbakti kepada mereka. Dan bahwa anak ini hanya menginginkan istri ini karena mengikuti hawa nafsu, bukan dari segi akal. Tetapi ayah dan ibu yang pada umumnya menginginkan kebahagiaan untuk anak-anak mereka, tidak mungkin dibayangkan bahwa ayah atau ibu memerintahkan agar anak menceraikan istrinya begitu saja tanpa alasan yang berdasarkan pertimbangan yang tepat. Maka anak harus berbakti kepada mereka dan memenuhi apa yang mereka nasihatkan dalam hal ini.
Di antara keutamaan berbakti kepada orang tua: Apa yang kita baca dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang senang dipanjangkan umurnya dan ditambah rezkinya, maka hendaklah dia berbakti kepada kedua orang tuanya dan menyambung silaturahim.
Dan dari Muadz bin Anas radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang berbakti kepada kedua orang tuanya, beruntunglah dia –yaitu surga untuknya– Allah akan menambah umurnya.
Dan sebaliknya, kita membaca dari Tsauban radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya seseorang dapat terhalang dari rezki karena dosa yang diperbuatnya, dan tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa, dan tidak ada yang menambah umur kecuali kebajikan. Dan diketahui bahwa di antara kebajikan yang utama dalam bab ini adalah berbakti kepada orang tua.
Dan dari Salman radhiyallahu anhuma bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa, dan tidak ada yang menambah umur kecuali kebajikan.
Sebagai dorongan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam agar anak-anak berpegang teguh pada kebajikan, beliau bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: Celakalah hidungnya, kemudian celakalah hidungnya, kemudian celakalah hidungnya. Ditanyakan: Siapa ya Rasulullah? Beliau menjawab: Orang yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya di masa tua, kemudian dia tidak masuk surga. Diriwayatkan oleh Muslim.
Makna celakalah hidungnya yaitu: menempel dengan debu, dan ini termasuk bentuk doa dan bentuk keheranan terhadap keadaan anak ini yang telah hidup sekian lama bersama orang tuanya, kemudian kedua orang tua meninggal atau salah satunya meninggal, atau dia mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya di masa tua, namun dia tidak berbakti dan berbuat baik kepada mereka, agar hal itu menjadi sebab masuk surga.
Juga dalam konteks ini dari Jabir –yaitu Ibnu Samurah radhiyallahu anhu berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam naik (mimbar) lalu berkata: Amin, amin, amin. Beliau berkata: Jibril alaihissalam datang kepadaku dan berkata: Wahai Muhammad, barangsiapa yang mendapati salah satu dari kedua orang tuanya lalu meninggal dan masuk neraka, maka Allah menjauhkannya, maka ucapkanlah: Amin. Maka aku mengucapkan: Amin. Dia berkata: Wahai Muhammad, barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan lalu meninggal dan tidak diampuni lalu masuk neraka, maka Allah menjauhkannya, maka ucapkanlah: Amin. Maka aku mengucapkan: Amin. Dia berkata: Dan barangsiapa yang engkau disebut di hadapannya namun dia tidak bershalawat kepadamu lalu meninggal dan masuk neraka, maka Allah menjauhkannya, maka ucapkanlah: Amin. Maka aku mengucapkan: Amin. Maka semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Dan dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Berangkatlah tiga orang dari umat sebelum kalian hingga mereka bermalam di sebuah gua, lalu mereka masuk dan sebuah batu besar turun dari gunung dan menutup gua itu atas mereka. Maka mereka berkata: Tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian dari batu ini kecuali berdoa kepada Allah dengan amal saleh kalian. Salah seorang dari mereka berkata: Ya Allah, dahulu aku memiliki dua orang tua yang sudah tua renta dan aku tidak pernah memberi minum sebelum mereka, baik keluarga maupun budak –makna tidak memberi minum sebelum mereka, keluarga maupun budak, yaitu: aku tidak pernah mendahului mereka dalam minum bagian mereka dari susu yang mereka minum, dan al-ghabuq adalah minum di akhir siang– suatu hari aku pergi mencari pohon yang jauh, sehingga aku tidak kembali kepada mereka hingga mereka tertidur. Aku memerah susu untuk minuman mereka, namun aku mendapati mereka sedang tidur. Aku tidak suka memberi minum sebelum mereka, baik keluarga maupun budak. Maka aku tetap berdiri dengan cangkir di tanganku menunggu mereka bangun hingga fajar menyingsing. Lalu mereka bangun dan minum. Ya Allah, jika aku melakukan hal itu karena mengharap wajah-Mu, maka lepaskanlah kami dari batu ini. Maka batu itu terbuka sedikit namun mereka belum bisa keluar. Dan rekan-rekannya melanjutkan berdoa, masing-masing menyebutkan hal yang di dalamnya terdapat ketaatan kepada Allah, maka hal ini menjadi sebab terbukanya batu tersebut, dan ketiga orang itu keluar berjalan dengan karunia Allah Subhanahu wa Taala.
Bahkan Islam menjadikan berbuat baik kepada orang tua sebagai hak yang wajib atas anak-anak meskipun para orang tua itu dalam keadaan kafir dan musyrik. Maka Asma binti Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhuma berkata: Ibuku datang menemuiku dan dia masih musyrik di masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka aku meminta fatwa kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, aku berkata: Ibuku datang menemuiku dan dia ingin –yaitu datang ingin menemuiku– apakah aku harus menyambung hubungan dengan ibuku? Beliau menjawab: Ya, sambunglah hubungan dengan ibumu.
Dan dari Abdullah bin Amr radhiyallahu anhuma berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Keridhaan Allah ada pada keridhaan orang tua, dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan orang tua.
Dan dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata: Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu berkata: Sesungguhnya aku telah berbuat dosa besar, apakah ada taubat untukku? Beliau bertanya: Apakah kamu memiliki ibu? Dia menjawab: Tidak. Beliau bertanya: Apakah kamu memiliki bibi (saudara ibu)? Dia menjawab: Ya. Beliau bersabda: Maka berbuatlah baik kepadanya. Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan lafazh ini darinya.
Dan dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As-Sa’idi radhiyallahu anhu berkata: Ketika kami sedang duduk di sisi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, datanglah seorang laki-laki dari Bani Salamah lalu berkata: Ya Rasulullah, apakah masih ada kebajikan kepada kedua orang tuaku yang bisa aku lakukan kepada mereka setelah kematian mereka? Beliau menjawab: Ya… Berdoa untuk mereka, memohonkan ampunan untuk mereka, melaksanakan janji mereka setelah mereka, menyambung silaturahim yang tidak tersambung kecuali karena mereka, dan memuliakan teman mereka.
Dan dari Abu Burdah berkata: Aku tiba di Madinah lalu Abdullah bin Umar datang menemuiku dan berkata: Tahukah kamu mengapa aku mendatangimu? Aku berkata: Tidak. Dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang ingin menyambung ayahnya di dalam kuburnya, maka hendaklah dia menyambung saudara-saudara ayahnya setelahnya. Dan sesungguhnya antara ayahku Umar dan ayahmu terdapat persaudaraan dan persahabatan, maka aku ingin menyambung hal itu.
Inilah rangkaian petunjuk kenabian yang membimbing kita tentang bagaimana anak-anak harus berada pada tingkat yang tinggi dalam berbuat baik kepada orang tua mereka, dan dalam menunaikan kebajikan serta ketaatan kepada mereka; baik itu semasa hidup mereka maupun setelah kematian mereka. Dan telah kami sebutkan sebelumnya beberapa hadits tentang ancaman durhaka kepada orang tua, dan kami tambahkan dengan apa yang diriwayatkan dari Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian durhaka kepada ibu, mengubur anak perempuan hidup-hidup, menahan dan meminta-minta, dan Allah membenci pergunjingan, banyak bertanya.
Dan dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Tiga golongan yang Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat: Orang yang durhaka kepada orang tuanya, peminum khamr yang kecanduan, dan orang yang mengungkit pemberiannya. Dan tiga golongan yang tidak akan masuk surga: Orang yang durhaka kepada orang tuanya, ad-dayyuts (laki-laki yang tidak cemburu/membiarkan kemungkaran pada keluarganya), dan ar-rajulah yaitu wanita yang menyerupai laki-laki. Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan Al-Bazzar dengan lafazh darinya, dengan dua sanad yang baik, dan Al-Hakim dan dia berkata: Shahih sanadnya.
Tahukah kalian bagaimana berbuat baik kepada orang tua datang dalam Kitabullah dan dalam sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, agar hal itu menjadi pelajaran bagi umat manusia dan khususnya umat Islam, dalam bagaimana kebahagiaan tersebar di seluruh penjuru umat ini, ketika anak-anak berbuat baik kepada orang tua, dan orang tua juga berbuat baik kepada anak-anak, agar generasi dapat terus terhubung berdiri di atas manhaj kebajikan dan kebaikan, agar kebahagiaan berkibar di masyarakat-masyarakat kaum muslimin.
Dan semoga shalawat, salam, dan berkah Allah tercurah kepada Nabi kami Muhammad dan kepada keluarganya serta para sahabatnya.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Makna Kata Tamu
Segala puji bagi Allah, dan aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, semoga rahmat dan keselamatan Allah tercurah kepadanya, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya, menempuh jalannya, dan mengikuti jejaknya hingga hari pembalasan. Amma ba’du:
Maka topik ini berjudul Memuliakan Tamu:
Tamu -sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab bahasa- dan perbedaan antara tamu dengan musafir (ibnu sabil):
Penulis kamus (Maqayis al-Lughah) mengatakan: Dhaif (tamu), huruf dhad, ya, dan fa merupakan satu asal kata yang shahih, yang menunjukkan condongnya sesuatu kepada sesuatu yang lain. Dikatakan: Adhaftu asy-syai’a ila asy-syai’ artinya aku memiringkannya, dan dhafat asy-syamsu tadhifu artinya matahari condong, demikian juga tadhayyfat artinya condong ke arah terbenam. Tamu (dhaif) juga berasal dari kata ini. Dikatakan: Dhaiftu ar-rajul artinya aku berharap agar ia memuliakan tamu kepadaku, dan adhaftuhu artinya aku menginzalkannya sebagai tamu kepadaku.
Adapun sabil (jalan): maka huruf sin, ba, dan lam adalah satu asal kata yang menunjukkan pengiriman sesuatu dari tempat tinggi ke tempat rendah dan pada perpanjangan sesuatu. Kemudian dia mengatakan: dan yang memanjang adalah sabil yaitu jalan, dinamakan demikian karena perpanjangannya. Maka ibnu sabil (anak jalan) adalah anak jalanan.
Adapun penulis (Lisan al-Arab) mengatakan: Dhaif, dhiftu ar-rajul dhaifan wa dhiyafatan wa tadhayyaftuhu artinya aku singgah padanya sebagai tamu dan condong kepadanya. Dan dikatakan: aku singgah padanya dan menjadi tamu baginya. Dan dhiftuhu wa tadhayyaftuhu artinya aku meminta kepadanya untuk menjamuku. Dalam hadits Aisyah radhiyallahu anha: “Seorang tamu datang kepadanya, lalu ia memerintahkan untuknya kain berwarna kuning”. Ini berasal dari dhiftu ar-rajul artinya bila engkau singgah padanya dalam perjamuan. Adhaftuhu wa dhayyaftuhu artinya aku menginzalkannya kepadamu sebagai tamu, memondongkannya kepadamu dan mendekatkannya. Dia mengatakan tentang sabil: Sabil adalah jalan dan yang jelas darinya, bisa mudzakkar (untuk laki-laki) dan mu’annats (untuk perempuan). Ibnu sabil adalah anak jalanan, dan penafsirannya adalah: orang yang terputus jalannya, yaitu musafir yang terputus perjalanannya dan ia ingin kembali ke negerinya, tetapi tidak menemukan sesuatu untuk bekal perjalanannya, maka baginya ada bagian dalam sedekah. Asy-Syafi’i berkata: Ibnu sabil menurutku termasuk orang yang berhak menerima sedekah, dan ibnu sabil adalah orang yang menuju negeri selain negerinya untuk suatu urusan yang wajib baginya, dan ia diberi sekadar apa yang dapat mengantarkannya ke tempat tujuannya dalam nafkah dan kendaraannya.
Adapun penulis (Al-Mufradat), Ar-Raghib Al-Ashfahani, mengatakan: Dhaif, asal kata dhaif adalah condong. Dikatakan: dhiftu ila kadza dan adhaftu kadza ila kadza, dan dhafat asy-syamsu ila al-ghurub wa tadhayyafat, dan dhaafa as-sahmu ‘an al-hadaf wa tadhayyafa. Dhaif adalah orang yang condong kepadamu dan singgah padamu. Dan dhiyafah (perjamuan) telah dikenal dengan istilah menjamu. Asal kata dhaif adalah mashdar, oleh karena itu kata tunggal dan jamaknya sama dalam kebanyakan ucapan mereka. Dan bisa dijamakkan dengan mengatakan: adh-yaf, dhuyuf, dan dhifan. Disebutkan tentang tamu Ibrahim: “Dan janganlah kamu hinakan aku terhadap tamuku” (Hud: 78), “Sesungguhnya mereka ini adalah tamuku” (Al-Hijr: 68). Dikatakan: istadhaiftu fulan fa adhafani, dan telah dhiftuhu maka aku adalah dha’if dan dhaif. Adapun sabil, adalah jalan yang mudah, dan jamaknya subul. Ibnu sabil adalah musafir yang jauh dari tempat tinggalnya, dinisbatkan kepada sabil karena ia menempuhnya.
Kalian pasti memperhatikan bahwa dhiyafah (perjamuan) berarti condongnya seseorang kepada orang lain. Engkau tidak akan singgah sebagai tamu kecuali kepada orang yang engkau cintai, yang engkau percayai, dan yang engkau ketahui bahwa ia akan menyambutmu. Tamu ini mungkin sedang melintas di suatu jalan atau musafir yang berpindah dari negeri ke negeri, singgah di rumah saudara-saudaranya, keluarganya, orang-orang yang seagama dengannya, kekasih-kekasihnya, teman-temannya, atau bukan temannya; agar ia mendapatkan kemuliaan, kemurahan hati, dan pertolongan dari mereka, mereka membekalinya dengan apa yang ia butuhkan berupa harta, barang, dan kendaraan; hingga ia sampai ke tujuannya.
Maka kata-kata ini dari para ahli bahasa menunjukkan bahwa dalam masyarakat Islam -bahkan masyarakat manusia pada umumnya- terdapat yang dikenal dengan dhiyafah (perjamuan), yaitu seseorang datang untuk singgah pada orang lain agar orang tersebut memuliakannya dan menempatkannya pada kedudukan yang layak baginya.
Hak dan Memuliakan Tamu dalam Al-Quran
Jika ini adalah ucapan para ahli bahasa, maka apa yang disebutkan dalam Kitabullah subhanahu wa ta’ala tentang tamu?:
Sesungguhnya ketika kita membuka ayat-ayat Al-Quran, kita akan menemukan kata tamu disebutkan di lima tempat dalam Al-Quran. Mari kita ulas tempat-tempat ini kemudian kita lihat maknanya:
Kemudian Allah ta’ala berfirman: “Dan kaumnya datang bergegas-gegas mendatanginya, dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan jahat. (Luth) berkata, ‘Wahai kaumku! Inilah putra-putriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu hinakan aku terhadap tamuku. Tidak adakah di antaramu seorang laki-laki yang berakal?'” (Hud: 78).
Dan Allah ta’ala berfirman dalam surah Al-Hijr: “Dia (Luth) berkata, ‘Sesungguhnya mereka ini adalah tamuku, maka janganlah kamu mempermalukan aku. Dan bertakwalah kepada Allah serta janganlah kamu membuat aku terhina.'” (Al-Hijr: 69).
Dan dalam surah yang sama: “Dan kabarkanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibrahim. Ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, ‘Salam.’ Dia (Ibrahim) menjawab, ‘Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu.’ Mereka berkata, ‘Janganlah kamu takut, sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) seorang anak laki-laki yang pandai.'” (Al-Hijr: 51-53).
Dan dalam surah Adz-Dzariyat: “Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) kisah tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, ‘Salam.’ Dia (Ibrahim) menjawab, ‘Salamun (kamu adalah) kaum yang tidak dikenal.’ Lalu dia pergi menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk, lalu dihidangkannya kepada mereka. Dia berkata, ‘Silakan makan.’ Maka dia merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata, ‘Janganlah kamu takut,’ dan mereka memberinya kabar gembira dengan (kelahiran) seorang anak laki-laki yang pandai (Ishaq).” (Adz-Dzariyat: 24-28).
Dan terakhir di tempat kelima dalam surah Al-Qamar: “Dan sungguh, mereka telah memaksanya (agar menyerahkan) tamunya, lalu Kami butakan mata mereka (dengan nur yang sangat terang), maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sungguh, pada pagi hari mereka ditimpa azab yang kekal. Maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.” (Al-Qamar: 37-39).
Kita lihat dalam konteks kelima ayat ini bahwa tamu atau tamu-tamu dan para tamu di sini adalah malaikat-malaikat Allah Yang Maha Pengasih. Malaikat-malaikat Allah Yang Maha Pengasih datang kepada Ibrahim alaihissalam dan memberinya kabar gembira dengan seorang anak laki-laki yang pandai, yaitu Ishaq alaihissalam. Ayat-ayat tersebut menyebutkan apa yang terjadi dari urusan tamu-tamu ini dan urusan Ibrahim bersama mereka ketika ia menghidangkan kepada mereka anak sapi gemuk ini dan memuliakannya, dan ingin mendekatkan makanan kepada mereka. Lalu ia mendekatkannya kepada mereka dan berkata: Silakan makan. Ketika mereka tidak makan, ia merasa takut kepada mereka. Maka mereka menunjukkan kepadanya hakikat urusan mereka dan memberitahunya bahwa mereka datang untuk urusan lain yaitu kaum Luth yang telah melakukan perbuatan keji. Dan tamu-tamu yang singgah pada Ibrahim Al-Khalil alaihissalam ini adalah yang disebutkan Allah dalam ayat-ayat lain tentang urusan Luth alaihissalam; di mana mereka datang kepadanya dalam rupa laki-laki dengan wajah yang tampan. Ketika kaumnya mengetahui tentang tamu-tamu ini, mereka datang meminta darinya agar mereka melakukan perbuatan keji dengan tamu-tamu tersebut. Maka Luth berkata kepada mereka apa yang disebutkan Allah subhanahu wa ta’ala dalam kitab-Nya. Tamu-tamu ini sebagaimana kita lihat dalam ayat-ayat ketika Luth alaihissalam berkata kepada kaumnya: “Wahai kaumku! Inilah putra-putriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu hinakan aku terhadap tamuku. Tidak adakah di antaramu seorang laki-laki yang berakal?” (Hud: 78), dan ia berkata kepada mereka: “Dia (Luth) berkata, ‘Sesungguhnya mereka ini adalah tamuku, maka janganlah kamu mempermalukan aku. Dan bertakwalah kepada Allah serta janganlah kamu membuat aku terhina.'” (Al-Hijr: 69).
Dan Allah ta’ala berfirman: “Dan sungguh, mereka telah memaksanya (agar menyerahkan) tamunya, lalu Kami butakan mata mereka (dengan nur yang sangat terang), maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sungguh, pada pagi hari mereka ditimpa azab yang kekal. Maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.” (Al-Qamar: 37-39).
Jadi yang disebutkan dalam Al-Quran tentang urusan tamu-tamu ini adalah malaikat-malaikat Allah Yang Maha Pengasih yang datang kepada Ibrahim alaihissalam kemudian berpindah dari Ibrahim ke Luth alaihissalam.
Dan pembahasan tentang tamu-tamu ini bukanlah topik yang ingin kita bicarakan; karena topik yang kita bicarakan dalam akhlak Al-Quran adalah apa yang dibawa oleh agama ini, apa yang dibawa oleh Islam ini, dan apa yang disebutkan dalam Al-Quran, berupa seruan untuk memuliakan tamu-tamu yang merupakan saudara-saudara, yang merupakan kawan-kawan, yang merupakan orang-orang terkasih.
Hak dan Memuliakan Tamu dalam Sunnah yang Mulia
Dan mungkin yang menjelaskan hakikat ini adalah apa yang disebutkan dalam Sunnah yang Mulia, dan di dalamnya terdapat penjelasan yang terang dan jelas tentang apa yang wajib bagi tamu berupa kemuliaan dan pemuliaan. Mari kita ikuti hadits-hadits ini dan insya Allah kita akan menemukan banyak hal di dalamnya.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu: _”Bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lalu beliau mengutus (pesan) kepada istri-istrinya, mereka berkata: Kami tidak memiliki apa-apa kecuali air. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Siapa yang akan menampung atau menjamu orang ini, yaitu menjadikannya tamu di rumahnya? Maka seorang laki-laki Anshar berkata: Saya -dan kita akan mengetahui siapa laki-laki ini-. Lalu ia pergi bersamanya kepada istrinya dan berkata: Muliakanlah tamu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Maka istrinya berkata: Kami tidak memiliki apa-apa kecuali makanan anak-anakku. Ia berkata: Siapkan makananmu, nyalakan pelitamu, dan tidurkanlah anak-anakmu jika mereka ingin makan malam. Maka istrinya menyiapkan makanannya, menyalakan pelitanya -yaitu memadamkannya-, dan menidurkan anak-anaknya. Kemudian ia berdiri seolah-olah memperbaiki pelitanya lalu memadamkannya. Maka mereka berdua menunjukkan kepadanya bahwa mereka sedang makan, namun sebenarnya mereka bermalam dalam keadaan lapar. Ketika pagi hari, ia -yaitu laki-laki ini- pergi kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Allah tertawa tadi malam atau Allah ta’jub (kagum) dengan perbuatan kalian berdua. Lalu Allah menurunkan ayat: ‘Dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, meskipun mereka juga memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan barangsiapa dijaga dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.'”** (Al-Hasyr: 9).
Dalam hadits yang mulia ini kita melihat betapa taatnya istri muslimah kepada suaminya, dan betapa kerjasamanya dengannya dalam melaksanakan apa yang diinginkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan dalam melaksanakan apa yang mereka ketahui dari agama ini berupa balasan bagi orang yang memuliakan tamu. Ia bekerjasama dengan suaminya dan mampu menyiapkan makanan, memadamkan pelita, menidurkan anak-anak, dan duduk bersama suaminya dengan tamu tersebut, untuk menunjukkan kepadanya bahwa mereka sedang makan, hingga mereka berdua bermalam dalam keadaan lapar. Ketika pagi hari laki-laki itu pergi kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Rasul yang mulia shallallahu alaihi wa sallam berkata kepadanya dengan wahyu dari Allah bahwa Allah kagum dengan perbuatan kalian berdua atau Allah subhanahu wa ta’ala tertawa dengan apa yang terjadi dari kalian berdua, dan menurunkan kepada Rasul-Nya alaihishshalatu wassalam: “Dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, meskipun mereka juga memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan barangsiapa dijaga dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Juga Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah: “Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dijamu oleh seorang tamu -yaitu seorang tamu singgah padanya- dan ia -yaitu tamu ini- adalah seorang kafir. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan untuknya seekor kambing lalu diperah, maka ia minum susunya, kemudian yang lain lalu diminumnya, kemudian yang lain lalu diminumnya hingga ia minum perahan tujuh ekor kambing. Kemudian pagi harinya ia masuk Islam, lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan untuknya seekor kambing lalu ia minum susunya, kemudian diperintahkan yang lain namun ia tidak menghabiskannya. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Orang mukmin minum dengan satu usus, dan orang kafir minum dengan tujuh usus.”
Maka rahmat dan keselamatan Allah atas Rasul yang mulia ini yang memperhatikan kebutuhan tamunya akan apa yang mencukupinya, maka ia memberinya minum perahan tujuh ekor kambing. Kemudian pada hari berikutnya ketika tamu ini masuk Islam, ia juga memberinya apa yang mencukupinya, lalu ia minum sekali dan tidak mampu menghabiskan yang kedua.
Juga di antara yang disebutkan dalam Sunnah yang Mulia adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, ia berkata: Abu Daqanah menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku sedang duduk di sisi Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma, lalu ia berkata: “Seorang tamu datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu beliau berkata kepada Bilal: Bawalah kepada kami makanan. Maka Bilal pergi dan menukar dua sha’ kurma dengan satu sha’ kurma yang bagus, karena kurma mereka kurang bagus. Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam kagum dengan kurma tersebut. Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Dari mana kurma ini? Maka ia memberitahunya bahwa ia menukar satu sha’ dengan dua sha’. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Kembalikanlah kurma kami kepada kami.”
Dan dalam hadits ini terdapat penjelasan tentang apa yang termasuk riba, dan bahwa riba terjadi dengan cara ini, yaitu memberikan sesuatu dan mengambil lebih banyak darinya. Tetapi yang benar adalah menjual kurma yang dimilikinya untuk membeli dengan harganya kurma yang bagus ini. Inilah cara yang dikehendaki oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Namun yang menjadi pelajaran dalam hadits kita adalah bahwa Rasul shallallahu alaihi wa sallam ketika tamu ini datang kepada mereka, beliau berkata kepada Bilal: “Bawalah kepada kami makanan,” dan bahwa Bilal pergi dan melakukan apa yang ia lakukan. Tetapi inilah Rasul yang mulia -alaihishshalatu wa azka assalam-.
Imam Ahmad juga meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa saja tamu yang singgah pada suatu kaum lalu di pagi hari tamu itu tidak mendapat haknya, yaitu: kaum itu tidak menunaikan hak keramahtamahannya; maka boleh baginya mengambil sesuai haknya sebagai tamu dan tidak ada dosa atasnya.”
Dan beliau juga meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Umamah, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mempersiapkan suatu peperangan lalu aku datang kepadanya dan berkata: Ya Rasulullah, mohonkanlah kepada Allah untuk aku agar mendapat syahid. Beliau berdoa: Ya Allah, selamatkanlah mereka dan berilah mereka ghanimah (harta rampasan perang). Abu Umamah berkata: Maka kami selamat dan mendapat ghanimah. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mempersiapkan peperangan kedua lalu aku datang kepadanya dan berkata: Ya Rasulullah, mohonkanlah kepada Allah untuk aku agar mendapat syahid. Beliau berdoa: Ya Allah, selamatkanlah mereka dan berilah mereka ghanimah. Abu Umamah berkata: Kemudian beliau mempersiapkan peperangan ketiga, lalu aku datang kepadanya dan berkata: Ya Rasulullah, sesungguhnya aku telah datang kepadamu dua kali sebelum kedatanganku kali ini lalu aku meminta engkau agar memohonkan kepada Allah untuk aku agar mendapat syahid, namun engkau memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar menyelamatkan kami dan memberi kami ghanimah, maka kami selamat dan mendapat ghanimah. Ya Rasulullah, mohonkanlah kepada Allah untuk aku agar mendapat syahid. Beliau berdoa: Ya Allah, selamatkanlah mereka dan berilah mereka ghanimah. Abu Umamah berkata: Maka kami selamat dan mendapat ghanimah. Kemudian aku datang kepadanya lagi dan berkata: Ya Rasulullah, perintahkanlah aku untuk melakukan suatu amal. Beliau bersabda: Hendaklah engkau berpuasa, karena sesungguhnya tidak ada yang menyamainya. Abu Umamah berkata: Maka tidaklah terlihat Abu Umamah, istrinya, dan pembantunya kecuali dalam keadaan berpuasa. Abu Umamah berkata: Apabila terlihat asap di rumahnya pada siang hari, orang-orang berkata: Ada tamu yang datang kepada mereka, ada pendatang yang singgah pada mereka. Abu Umamah berkata: Hal itu berlangsung selama yang Allah kehendaki, kemudian aku datang kepada beliau dan berkata: Ya Rasulullah, engkau telah memerintahkan kami untuk berpuasa, maka aku berharap semoga Allah memberkahi kami dalam hal itu. Ya Rasulullah, perintahkanlah aku untuk melakukan amal lain. Beliau bersabda: Ketahuilah bahwa tidaklah engkau bersujud kepada Allah satu sujud melainkan Allah mengangkat satu derajat untukmu dan menghapus satu kesalahan darimu.”
Dalam hadits yang mulia ini tampak perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabatnya, karena jihad bukanlah tujuan bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengutus para sahabatnya agar mati dalam pertempuran dan di medan jihad, melainkan beliau berdoa kepada Allah agar menyelamatkan mereka dan memberi mereka ghanimah. Namun di sisi lain kita juga melihat semangat para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, termasuk Abu Umamah, untuk mendapatkan kesyahidan. Akan tetapi Rasul ‘alaihish-shalatu was-salam selalu berdoa agar para sahabatnya selamat, mendapat ghanimah, dan kembali dengan selamat dan membawa harta rampasan. Ketika Abu Umamah melihat hal itu, ia meminta wasiat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau berwasiat kepadanya untuk berpuasa, dan menjelaskan kepadanya bahwa puasa tidak ada bandingannya dan tidak ada yang menyamainya. Oleh karena itu Abu Umamah, istrinya, dan pembantunya selalu berpuasa terus-menerus. Apabila terlihat asap di rumah mereka pada siang hari, orang-orang berkata: Ada tamu yang datang kepada mereka. Hal ini menunjukkan bahwa mereka telah belajar di antara hal-hal yang mereka pelajari adalah memuliakan tamu, dan bahwa apabila ada tamu yang datang kepada mereka, mereka berbuka untuk makan bersama tamu tersebut, berbagi dengannya, dan agar tidak membuatnya merasa tidak enak. Maka sebaik-baik akhlak yang mulia inilah yang telah dipelajari oleh mereka dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Imam Bukhari juga meriwayatkan dari Abu Syuraih al-Adawi, ia berkata: Telingaku mendengar dan mataku melihat ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara, beliau bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tetangganya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tamunya dengan jamuan khusus. Para sahabat bertanya: Apa itu jamuan khusus ya Rasulullah? Beliau bersabda: Satu hari dan satu malam. Dan keramahtamahan adalah tiga hari, maka apa yang melebihi itu adalah sedekah baginya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata baik atau diam.” Dalam riwayat lain dari Abu Syuraih al-Ka’bi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tamunya. Jamuan khususnya adalah satu hari dan satu malam. Dan keramahtamahan adalah tiga hari, maka apa yang setelah itu adalah sedekah, dan tidak halal baginya tinggal di rumah tuan rumah hingga membuatnya merasa terbebani.” Dan dalam hal ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu Syuraih al-Ka’bi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tamunya. Jamuan khususnya adalah satu hari dan satu malamnya. Keramahtamahan adalah tiga hari, dan apa yang setelah itu adalah sedekah, dan tidak halal baginya tinggal di rumah tuan rumah hingga membuatnya merasa terbebani.” Dalam hadits-hadits ini kita melihat bahwa memuliakan tamu adalah bagian dari keimanan, dan bahwa jamuan khusus tamu adalah satu hari dan satu malam, dan keramahtamahan adalah tiga hari, dan apa yang melebihi tiga hari ini adalah sedekah. Dalam arahan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terdapat petunjuk bagi orang-orang beriman bahwa tidak sepantasnya, tidak halal, dan tidak boleh bagi tamu untuk tinggal di rumah tuan rumah hingga membuatnya merasa terbebani.
Namun apabila tuan rumah melihat tamu tersebut sangat ingin tinggal bersamanya dan ingin tinggal bersamanya untuk waktu yang lebih lama lagi, dan dia mendapati bahwa tamunya benar-benar jujur dalam hal itu dan benar-benar menginginkannya bukan karena malu; maka tidak mengapa baginya.
Imam Bukhari juga meriwayatkan kepada kita hadits yang agung dari Abu Hurairah radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, ia berkata: Abu Hurairah biasa berkata: “Aku bersumpah demi Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, sungguh aku pernah menempelkan hatiku (perutku) ke tanah karena lapar, dan sungguh aku pernah mengikat batu di perutku karena lapar. Dan sungguh suatu hari aku duduk di jalan yang biasa mereka lalui – yaitu di jalan keluar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, dan Umar – lalu Abu Bakar lewat, maka aku bertanya kepadanya tentang ayat-ayat dari Kitabullah, aku tidak bertanya kepadanya kecuali agar dia mengenyangkanku, namun dia lewat dan tidak melakukannya. Kemudian Umar lewat, maka aku bertanya kepadanya tentang ayat-ayat dari Kitabullah, aku tidak bertanya kepadanya kecuali agar dia mengenyangkanku, namun dia lewat dan tidak melakukannya. Kemudian Abul-Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam lewat, maka beliau tersenyum ketika melihatku dan mengetahui apa yang ada dalam diriku dan apa yang tampak di wajahku. Kemudian beliau bersabda: Wahai Abu Hurr. Aku menjawab: Labbaik ya Rasulullah. Beliau bersabda: Ikutlah – yaitu ikutlah aku – dan beliau pergi lalu aku mengikutinya. Beliau masuk lalu meminta izin dan aku diizinkan masuk. Beliau masuk dan menemukan susu dalam gelas, lalu bersabda: Dari mana susu ini? Mereka menjawab: Dihadiahkan untukmu oleh si fulan atau si fulanah. Beliau bersabda: Wahai Abu Hurr. Aku menjawab: Labbaik ya Rasulullah. Beliau bersabda: Pergilah kepada ahli shuffah dan panggilkan mereka untukku. Abu Hurairah berkata: Ahli shuffah adalah para tamu Islam yang tidak memiliki keluarga, harta, dan tidak bergantung kepada siapa pun. Apabila beliau menerima sedekah, beliau mengirimkannya kepada mereka dan tidak mengambil sedikitpun darinya. Dan apabila beliau menerima hadiah, beliau mengirimkannya kepada mereka, mengambil bagian darinya, dan membagikannya kepada mereka. Hal itu membuatku sedih. Aku berkata dalam hati: Apa artinya susu ini untuk ahli shuffah! Aku lebih berhak mendapatkan seteguk dari susu ini untuk menguatkan diriku. Apabila mereka datang dan beliau memerintahku, maka akulah yang akan memberikannya kepada mereka, dan apa yang mungkin sampai kepadaku dari susu ini? Namun tidak ada cara lain selain taat kepada Allah dan taat kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka aku mendatangi mereka dan memanggilkan mereka. Mereka datang lalu meminta izin, diizinkan masuk, dan mereka mengambil tempat duduk mereka di rumah. Beliau bersabda: Wahai Abu Hurr. Aku menjawab: Labbaik ya Rasulullah. Beliau bersabda: Ambilah lalu berikan kepada mereka. Abu Hurairah berkata: Maka aku mengambil gelas itu lalu memberikannya kepada seseorang, dia minum hingga kenyang, kemudian mengembalikan gelas kepadaku. Lalu aku memberikannya kepada orang lain, dia minum hingga kenyang, kemudian mengembalikan gelas kepadaku. Dia minum hingga kenyang, kemudian mengembalikan gelas kepadaku hingga aku sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan semua orang telah kenyang. Beliau mengambil gelas itu lalu meletakkannya di tangannya, memandangku, tersenyum, dan bersabda: Wahai Abu Hurr. Aku menjawab: Labbaik ya Rasulullah. Beliau bersabda: Tinggal aku dan engkau. Aku berkata: Benar ya Rasulullah. Beliau bersabda: Duduklah dan minumlah. Maka aku duduk dan minum. Beliau bersabda: Minumlah. Maka aku minum. Beliau terus berkata: Minumlah, hingga aku berkata: Tidak, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak menemukan jalan lagi untuk susu ini (tidak bisa minum lagi karena sudah kenyang). Beliau bersabda: Kalau begitu dekatkan. Maka aku memberikan gelas kepadanya, beliau memuji Allah, menyebut nama-Nya, dan meminum sisanya.”
Ini adalah mukjizat agung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bagaimana gelas ini dengan jumlah susu yang ada di dalamnya cukup untuk jamaah yang banyak dari ahli shuffah ini, padahal jumlah mereka sangat banyak! Dan bagaimana Abu Hurairah minum hingga kenyang dari susu ini dan bersumpah dengan berkata: Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak menemukan jalan lagi untuknya!
Dalam hadits ini kita melihat bagaimana memuliakan tamu melalui hadits ini, dan bahwa tawakal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Rabbnya dan kepercayaan Rasulullah terhadap pemberian Allah kepadanya membuatnya memanggil ahli shuffah sedangkan beliau yakin bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberkahi untuknya dalam susu yang sedikit ini sehingga cukup untuk jumlah orang yang banyak ini. Maka shalawat Allah dan salam-Nya atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Imam Muslim meriwayatkan dari Abdurrahman bin Abi Bakar, ia berkata: “Tamu-tamu kami datang kepada kami. Ayahku berbincang-bincang dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di malam hari. Lalu beliau pergi dan berkata: Wahai Abdurrahman, uruslaah tamumu. Ketika sore hari kami datang membawa jamuan untuk mereka – yaitu makanan yang kami siapkan untuk mereka. Abdurrahman berkata: Namun mereka menolak dan berkata: Sampai datang tuan rumah kami – mereka maksudkan Abu Bakar – lalu dia makan bersama kami. Aku berkata kepada mereka: Sesungguhnya dia adalah orang yang keras, dan jika kalian tidak mau makan, aku khawatir akan mendapat gangguan darinya. Mereka tetap menolak. Ketika dia datang, hal pertama yang ditanyakannya adalah tentang mereka. Dia berkata: Apakah kamu sudah mengurus tamumu? Mereka menjawab: Tidak demi Allah, kami belum makan. Abu Bakar berkata: Bukankah aku sudah memerintahkan Abdurrahman? Aku menjauh darinya. Dia berkata: Wahai Abdurrahman. Aku menjauh. Dia berkata: Wahai ghuntsar (orang bodoh)! Aku bersumpah atasmu jika engkau mendengar suaraku maka datanglah. Aku datang lalu berkata: Demi Allah bukan salahku, ini para tamumu, tanyakan kepada mereka. Aku telah mendatangi mereka dengan jamuan mereka – yaitu makanan mereka – namun mereka menolak makan hingga engkau datang. Abu Bakar berkata: Mengapa kalian tidak menerima jamuan dari kami? Abu Bakar berkata: Demi Allah aku tidak akan makan malam ini. Mereka berkata: Demi Allah kami tidak akan makan hingga engkau makan. Abu Bakar berkata: Aku tidak pernah melihat malam seburuk malam ini. Celakalah kalian, mengapa kalian tidak menerima jamuan dari kami? Kemudian dia berkata: Adapun yang tadi itu dari syetan. Marilah dengan jamuan kalian. Makanan dibawa, dia menyebut nama Allah lalu makan dan mereka pun makan. Ketika pagi hari dia pergi ke Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: Ya Rasulullah, mereka menunaikan sumpahnya sedang aku melanggar sumpahku. Lalu dia menceritakan kejadiannya kepada beliau. Beliau bersabda: Bahkan engkau adalah orang yang paling menunaikan sumpah di antara mereka dan paling baik. Dan tidak sampai kepadaku (tidak perlu) kaffarah.”
Dalam hadits yang mulia ini kita melihat perhatian Abu Bakar ash-Shiddiq untuk memuliakan para tamu ini, dan bagaimana dia berwasiat kepada putranya Abdurrahman dan berwasiat kepada keluarganya agar memuliakan para tamu ini. Namun para tamu ini menolak dan tidak mau makan kecuali jika Abu Bakar hadir. Ketika Abu Bakar hadir dan mendapati mereka belum makan hingga waktu larut malam, dia marah kepada putranya Abdurrahman dan berkata kepadanya apa yang dia katakan. Abdurrahman memberitahukan kepadanya apa yang terjadi hingga Abu Bakar marah dan bersumpah tidak akan makan makanan itu. Para tamu juga bersumpah bahwa mereka tidak akan makan. Ketika Abu Bakar melihat hal ini, dia kembali dari sumpahnya, dan menganggap bahwa apa yang terjadi itu dari syetan, lalu berkata: Marilah dengan jamuan kalian – yaitu makanan kalian. Dia menyebut nama Allah lalu makan dan para tamu pun makan. Dia pergi di pagi hari kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan apa yang terjadi.
Inilah akhlak para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam memuliakan tamu-tamu mereka. Masih ada satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Aun bin Abi Juhaifah dari ayahnya, ia berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda. Salman mengunjungi Abu Darda lalu dia melihat Ummu Darda dalam keadaan tidak rapi – yaitu tidak memperhatikan penampilannya. Salman bertanya kepadanya: Apa yang terjadi? Dia menjawab: Saudaramu Abu Darda tidak memiliki keperluan terhadap dunia. Abu Darda datang lalu membuatkan makanan untuk Salman dan berkata: Makanlah. Salman berkata: Aku sedang berpuasa. Abu Darda berkata: Aku tidak akan makan hingga engkau makan. Salman berkata: Maka dia pun makan; karena puasanya adalah puasa sunnah. Ketika malam tiba, Abu Darda hendak shalat malam. Salman berkata: Tidurlah. Dia tidur, kemudian hendak bangun shalat malam. Salman berkata: Tidurlah. Ketika akhir malam, Salman berkata: Bangunlah sekarang. Maka mereka shalat. Salman berkata kepadanya: Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak atasmu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu, maka berikanlah kepada setiap yang berhak haknya. Abu Darda datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan hal itu kepada beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Salman benar.”
Inilah hak-hak dan cara memuliakan tamu sebagaimana yang datang dalam sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Memuliakan Tamu menurut Imam al-Ghazali
Tinggal bagi kita untuk menjelajahi apa yang datang dari para imam kita dalam apa yang mereka tulis dalam bab ini. Di hadapan kita dalam (Ihya Ulumiddin) pada Bab Keempat disebutkan tentang adab keramahtamahan. Imam al-Ghazali menyebutkan dalam adab keramahtamahan bahwa tempat-tempat adab dalam hal itu ada enam: pertama undangan, kemudian menjawab undangan, kemudian kehadiran, kemudian menghidangkan makanan, kemudian makan, kemudian pulang. Beliau berbicara kepada kita tentang keutamaan keramahtamahan dan menyebutkan di dalamnya sejumlah hadits yang telah saya pilih darinya hadits-hadits yang shahih; karena beliau menyebutkan banyak hadits dalam setiap bagian dari bagian-bagian topik, dan sebagian dari hadits-hadits ini lemah dan tidak layak untuk dijadikan dalil dalam konteks ini.
Di antara hadits-hadits shahih yang datang dalam hal itu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya: Apakah iman itu? Beliau bersabda: “Memberi makan dan menyebarkan salam.” Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dalam kaffarah dan derajat-derajat adalah memberi makan dan shalat malam ketika orang-orang tidur.” Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang haji mabrur, beliau bersabda: “Memberi makan dan bertutur kata yang baik.”
Kemudian beliau berbicara kepada kita tentang undangan dan menyebutkan bahwa orang yang mengundang hendaknya mengundang dengan undangannya orang-orang yang bertakwa bukan orang-orang fasik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Makanan kalian dimakan oleh orang-orang yang berbakti” dalam doanya untuk sebagian orang yang dia doakan. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah engkau makan kecuali makanan orang yang bertakwa, dan janganlah makan makananmu kecuali orang yang bertakwa.”
Hendaknya mengutamakan orang-orang fakir daripada orang-orang kaya secara khusus. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seburuk-buruk makanan adalah makanan walimah yang diundang kepadanya orang-orang kaya tanpa orang-orang fakir.”
Kemudian beliau berkata: Hendaknya tidak mengabaikan kerabat-kerabatnya dalam keramahtamahannya, karena mengabaikan mereka adalah menyakiti hati dan memutus silaturahmi. Demikian juga hendaknya memperhatikan urutan dalam teman-teman dan kenalan-kenalannya, karena mengkhususkan sebagian dari mereka akan menyakiti hati yang lainnya. Hendaknya tidak bermaksud dengan undangannya untuk bermegah-megahan dan berbangga-bangga, melainkan untuk menarik hati saudara-saudara dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam memberi makan dan memasukkan kegembiraan ke dalam hati orang-orang mukmin. Hendaknya tidak mengundang orang yang dia tahu bahwa menjawab undangan itu berat baginya, dan apabila dia hadir dia merasa terganggu dengan kehadiran orang lain karena suatu sebab. Hendaknya tidak mengundang kecuali orang yang dia suka atas kehadirannya… hingga akhir apa yang disebutkan dalam hal itu – semoga rahmat Allah atasnya.
Kemudian beliau menyebutkan kepada kita lima adab yang harus diperhatikan oleh seorang Muslim dalam masalah memenuhi undangan:
Pertama: Jangan membedakan orang kaya dengan orang miskin dalam hal memenuhi undangan, karena itu adalah kesombongan yang dilarang.
Kedua: Tidak sepatutnya menolak undangan karena jauhnya jarak, sebagaimana tidak sepatutnya menolak karena kemiskinan pengundang atau ketiadaan kedudukannya, bahkan setiap jarak yang dapat ditempuh menurut kebiasaan tidak sepatutnya menolak karena alasan tersebut.
Ketiga: Jangan menolak karena sedang berpuasa, bahkan hendaklah datang. Jika berbuka puasa membuat saudaranya senang, maka berbukalah, dan hendaklah meniatkan dalam berbukanya untuk menyenangkan hatinya dengan niat yang lebih utama dan lebih baik daripada berpuasa. Itu dalam puasa sunnah, adapun dalam puasa wajib maka tidak ada ruang untuk hal ini. Jika tidak yakin akan kesenangan hatinya, maka percayalah pada yang tampak dan berbukalah. Jika yakin bahwa dia terbebani, maka berilah alasan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda kepada seseorang yang menolak dengan alasan berpuasa: “Saudaramu telah bersusah payah untukmu, dan kamu berkata: aku sedang berpuasa?!” hingga akhir yang disebutkan dalam hal ini.
Keempat: Hendaknya menolak undangan jika makanannya adalah makanan yang syubhat, atau tempatnya, atau permadani yang digelar dari yang tidak halal, atau di tempat tersebut ditegakkan kemungkaran, hingga akhir yang disebutkan dalam hal ini.
Kelima: Jangan berniat dalam memenuhi undangan hanya untuk memuaskan nafsu perut, sehingga menjadi pelaku urusan dunia, tetapi perbaikilah niat agar dengan memenuhi undangan tersebut menjadi pelaku untuk akhirat. Yaitu dengan meniatkan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sabdanya: “Seandainya aku diundang untuk makan kaki kambing, pasti aku penuhi”, dan meniatkan memuliakan saudara mukmin sebagaimana meniatkan membuat hatinya senang, dan meniatkan juga agar kunjungan tersebut menjadikannya termasuk orang-orang yang saling mencintai karena Allah; karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mensyaratkan di dalamnya saling mengunjungi dan saling memberi karena Allah. Pemberian telah terjadi dari salah satu pihak, maka terjadilah kunjungan dari pihaknya juga. Dan meniatkan menjaga diri agar tidak disangka buruk dalam penolakannya, dan melepaskan lisan darinya dengan menganggapnya sebagai kesombongan atau akhlak buruk atau meremehkan saudara Muslim atau yang sejalan dengan itu. Ini adalah niat-niat yang menjadikan ketaatan ini untuk Allah dan di jalan-Nya.
Kemudian beliau berbicara tentang adab kehadiran, beliau berkata: Adapun adab kehadiran adalah masuk ke rumah dan tidak mengambil posisi depan dengan mengambil tempat terbaik, tetapi bersikap rendah hati dan tidak membuat mereka menunggu lama, dan tidak tergesa-gesa sehingga datang tiba-tiba sebelum persiapan selesai, dan tidak menyempitkan tempat pada yang hadir dengan berdesak-desakan, bahkan jika pemilik tempat menunjuk ke suatu tempat jangan menentangnya sama sekali, karena dia – yaitu pemilik rumah – mungkin telah menentukan dalam dirinya tempat masing-masing orang, dan menentangnya akan mengacaukannya. Jika sebagian tamu menunjukkan untuk naik sebagai penghormatan, maka bersikaplah rendah hati. Dan tidak sepatutnya duduk berhadapan dengan pintu kamar wanita, dan tidak banyak memandang ke tempat yang keluar darinya makanan, karena itu menunjukkan kerakusan. Khususkan salam dan pertanyaan kepada yang dekat dengannya ketika duduk. Jika tamu datang untuk bermalam, maka hendaklah pemilik rumah memberitahukan kepadanya saat masuk tentang arah kiblat, kamar mandi, dan tempat wudhu. Demikianlah yang dilakukan Malik kepada Asy-Syafii radhiyallahu anhuma. Malik mencuci tangannya sebelum makan sebelum orang-orang dan berkata: Mencuci sebelum makan bagi pemilik rumah lebih utama, karena dia mengundang orang-orang kepada keramahannya maka hukumnya mendahului dalam mencuci. Di akhir makan dia mengakhirkan mencuci untuk menunggu jika ada yang datang makan maka dia makan bersamanya.
Ini beberapa adab kehadiran yang disebutkan Imam Al-Ghazali.
Beliau juga menyebutkan kepada kita dalam menghadirkan makanan, beliau berkata: Ada lima adabnya:
Pertama: Menyegerakan makanan, karena itu termasuk memuliakan tamu. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya”. Ketika kebanyakan orang telah hadir dan satu atau dua orang tidak hadir dan terlambat dari waktu yang dijanjikan, maka hak yang hadir untuk disegerakan lebih utama daripada hak mereka untuk ditunda, kecuali jika yang terlambat itu orang miskin atau hatinya akan patah karena itu, maka tidak masalah menunda.
Kedua: Menata makanan dengan mendahulukan buah-buahan terlebih dahulu jika ada, karena itu lebih tepat dalam ilmu kedokteran, karena buah lebih cepat berubah, sehingga sepatutnya jatuh di bagian bawah lambung. Dalam Al-Quran ada petunjuk tentang mendahulukan buah-buahan dalam firman Allah Ta’ala: “Dan buah-buahan yang mereka pilih” (Surah Al-Waqi’ah: 21), kemudian Allah berfirman: “Dan daging burung yang mereka inginkan” (Surah Al-Waqi’ah: 21). Ini sesungguhnya pengamatan yang baik. Kemudian yang paling baik disajikan setelah buah-buahan adalah daging dan tsarid… hingga akhir yang disebutkan dalam hal ini.
Ketiga: Menyajikan dari berbagai jenis makanan yang paling lezat sehingga yang menginginkannya dapat mengambil secukupnya, dan tidak banyak makan setelahnya.
Keempat: Jangan buru-buru mengangkat berbagai jenis makanan sebelum mereka selesai mengambil secukupnya hingga mereka mengangkat tangan dari makanan tersebut, karena mungkin di antara mereka ada yang menganggap sisa jenis makanan itu lebih nikmat baginya daripada yang dihadirkan atau masih ada kebutuhan untuk makan, maka dia akan terganggu dengan terburu-buru itu.
Kelima: Menyajikan makanan secukupnya, karena menyajikan sedikit adalah kekurangan dalam muru’ah (kehormatan), dan berlebihan adalah kepalsuan dan riya, apalagi jika dirinya tidak rela jika semuanya dimakan, kecuali jika menyajikan banyak dan dia senang hati seandainya semuanya diambil atau untuk mendapat berkah dengan sisa makanan mereka.
Tersisa bagi kita perkara terakhir yaitu perpisahan, dan telah disebutkan tiga adabnya:
Pertama: Keluar bersama tamu ke pintu rumah, dan itu adalah sunnah dan termasuk memuliakan tamu. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah memerintahkan untuk memuliakan tamu, beliau bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya”. Dan beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya termasuk sunnah tamu adalah mengantar sampai ke pintu rumah”. Abu Qatadah berkata: “Utusan Najasyi datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka beliau berdiri melayani mereka sendiri. Para sahabatnya berkata: Kami yang akan melayani mereka ya Rasulullah. Maka beliau bersabda: Tidak, sesungguhnya mereka telah memuliakan para sahabatku, dan aku ingin membalas kebaikan mereka”.
Dan kesempurnaan penghormatan adalah wajah yang cerah dan pembicaraan yang baik saat masuk, keluar, dan di atas meja makan.
Kedua: Tamu hendaknya pulang dengan hati yang lapang meskipun dia melihat ada kekurangan terhadapnya.
Ketiga: Jangan keluar kecuali dengan ridha dan izin pemilik rumah, dan perhatikan hatinya dalam lama tinggal. Jika menginap sebagai tamu, maka jangan lebih dari tiga hari, karena mungkin dia akan bosan dengannya dan perlu mengeluarkannya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Menjamu tamu itu tiga hari, apa yang lebih dari itu adalah sedekah”. Ya, jika pemilik rumah mendesak kepadanya – sebagaimana telah kita katakan – dengan ketulusan hati, maka boleh tinggal saat itu. Dan disunahkan memiliki tempat tidur untuk tamu yang menginap di rumahnya.
Ini sejumlah adab yang disebutkan Imam Al-Ghazali, dan kami telah menyebutkan hadits-hadits sebagaimana yang telah kami sebutkan. Seandainya kita menunaikan hak menjamu tamu, niscaya akan tersebar di masyarakat kita rasa aman, damai, dan stabil, dan persaudaraan akan menjadi manhaj dan jalan bagi umat Islam.
Semoga Allah melimpahkan shalawat, salam, dan berkah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya.
Pelajaran: 5 Bersikap Toleran terhadap Tetangga dan Menghiburnya
Bismillahirrahmanirrahim
Maksud dari: Toleransi – Tetangga – Penghiburan
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan siapa saja yang mendapat petunjuk dengan petunjuk mereka, berjalan di atas jalan mereka, dan mengikuti cara mereka hingga hari kiamat. Amma ba’du:
Maksud dari masing-masing: toleransi (at-taghadhii), tetangga (al-jaar), penghiburan (al-muwaasaah) – sebagaimana yang datang dalam kitab-kitab bahasa-:
Mu’jam (Maqaayiis al-Lughah) karya Ibnu Faris, menyebutkan bahwa kata ghadhdha terdiri dari ghain dan dhad, beliau berkata: Keduanya adalah dua asal yang benar, yang satu menunjukkan menahan dan mengurangi, dan yang lain menunjukkan kesegaran. Yang pertama adalah menahan dan mengurangi, “menundukkan pandangan”, dan setiap sesuatu yang kamu tahan maka kamu telah menundukkannya. Asal yang lain: al-ghadh: yang segar dari segala sesuatu, dan dikatakan untuk pohon kurma ketika tumbuh ghadhiidh. Yang kita maksudkan adalah makna yang pertama. Ibnu Faris tidak menyebutkan maksud al-jaar, tetapi dia berkata: jawr, “jim, waw, dan ra” adalah satu asal yaitu menyimpang dari jalan, dikatakan: jaara jauran.
Dalam (al-Muwaasaah) beliau berkata: Hamzah, sin, dan waw adalah satu asal yang menunjukkan pengobatan dan perbaikan. Dikatakan: asawtu al-jurh jika engkau mengobatinya, dan dikatakan: asawtu baina al-qaum jika engkau memperbaiki di antara mereka.
Adapun penulis (Lisaan al-‘Arab), Allamah Ibnu Manzhur, beliau berkata: Al-ghadhdh dan al-ghadhiidh: yang segar, dan beliau menyebutkan dalam penjelasan makna ini beberapa hadits dan bukti dari ucapan orang Arab. Beliau berkata: Al-ghadhaadhah: kelemahlembutan pada pandangan yaitu mata. Dikatakan: ghadhdha dan aghdha jika dia mendekatkan antara kelopak matanya dan tidak menutup. Ghadhdha min shautih: merendahkan suaranya. Dan setiap sesuatu yang kamu tahan maka kamu telah menundukkannya. Ghadhdh ath-tharf yaitu: menahan pandangan. Sebagaimana beliau berkata dalam penjelasan makna al-jaar: Al-jiwaar adalah bertetangga, dan al-jaar adalah yang bertetangga dengannya. Jaawara ar-rajul mujaawaran wa jiwaaran wa jiwaaran, dan kasrah lebih fasih. Beliau mengutip dari Ibnu Al-A’rabi yang berkata: Al-jaar adalah yang bertetangga denganmu rumah dengan rumah, dan al-jaar an-nafiih: adalah orang asing, maksudnya an-nafiih adalah yang masuk dalam apa yang bukan urusannya. Adapun an-nafiij dengan jim adalah orang asing yang masuk di antara kaum, tidak memperbaiki dan tidak merusak. Kemudian beliau berkata: Dan al-jaar: mitra dalam properti, dan al-jaar: orang yang membagi, dan al-jaar: sekutu, dan al-jaar: penolong, dan al-jaar: mitra dalam perdagangan, dan al-jaarah: istri seseorang dan dia adalah tetangganya.
Adapun (al-Muwaasaah) beliau menyebutkan di dalamnya penjelasan panjang, yang kita maksudkan dalam hal ini adalah ucapan beliau: bahwa al-muwaasaah adalah berbagi dalam penghidupan dan rezeki.
Kemudian kita beralih ke (Mu’jam Mufradaat Alfaazh al-Qur’an) karya Imam Ar-Raghib, yang berkata: Al-ghadhdh adalah pengurangan dari pandangan, suara, dan apa yang ada dalam wadah. Al-ghadhdh: yang segar yang belum lama berada. Adapar al-jaar adalah yang tempat tinggalnya dekat denganmu, dan termasuk nama-nama yang saling berhubungan, karena tetangga tidak menjadi tetangga bagi yang lain kecuali orang lain itu juga tetangga baginya, seperti saudara dan teman. Karena hak tetangga sangat diagungkan secara akal dan syariat, maka setiap orang yang haknya diagungkan atau mengagungkan hak orang lain disebut dengan tetangga. Allah Ta’ala berfirman: “Dan tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh” (Surah An-Nisaa: 36).
Dan dikatakan: ajartahu fa’ajaaraniy, dan berdasarkan ini firman Allah Ta’ala: “Dan sesungguhnya aku adalah pelindung bagi kalian” (Surah Al-Anfaal: 48). Dan Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan Dia memberi perlindungan, tetapi tidak ada yang dapat memberi perlindungan terhadap (siksa)-Nya” (Surah Al-Mu’minuun: 88). Dari al-jaar tergambar makna kedekatan, maka dikatakan kepada yang dekat dengan yang lain: jawarahu wa jaawirahu wa tajawarahu. Allah Ta’ala berfirman: “Mereka tidak akan (dapat) tinggal berdampingan dengan kamu di dalamnya kecuali sebentar saja” (Surah Al-Ahzab: 60). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan di bumi terdapat bagian-bagian yang berdampingan” (Surah Ar-Ra’d: 4).
Dan dengan pertimbangan kedekatan dikatakan: jaara ‘an ath-thariiq, kemudian itu dijadikan asal dalam menyimpang dari setiap kebenaran, maka dibangun darinya al-jawr (kezaliman). Allah Ta’ala berfirman: “Dan di antaranya ada yang menyimpang” (Surah An-Nahl: 9), yaitu menyimpang dari jalan yang benar. Sebagian mereka berkata: Al-Jaa’ir dari manusia adalah yang mencegah dari komitmen terhadap apa yang diperintahkan syariat. Dalam (al-Muwaasaah): penulis (al-Mufradaat) menyebutkan bahwa al-Aasiy adalah dokter luka. Dan dikatakan: asaytu baina al-qaum artinya memperbaiki. Maka aku menghiburnya, penyair berkata:
Menghibur saudaranya dengan dirinya sendiri
Apa yang Datang dalam Kitab Allah tentang Tetangga:
Ketika kita melihat ayat-ayat yang datang dalam Kitab Allah, melalui (al-Mu’jam al-Mufahras li Alfaazh al-Qur’an al-Kariim), kita akan menemukan bahwa kata ini – kata al-jaar – dengan berbagai bentuknya telah disebutkan di beberapa tempat; di antaranya: yang datang dalam Surah Al-Ahzab dalam firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya jika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan berita bohong di Madinah tidak berhenti (dari perbuatan-perbuatan itu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak akan tinggal di Madinah bersama kamu melainkan sebentar saja” (Surah Al-Ahzab: 60). Ayat ini bukan dalam topik kita yaitu “Bersikap Toleran terhadap Tetangga dan Menghiburnya”, karena ayat ini berbicara tentang orang-orang munafik yang bertetangga dan yang hidup bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan tinggal bersamanya di Madinah, tetapi mereka menyebarkan berita bohong di dalamnya dan menyebarkan kebohongan. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam mereka dengan firman-Nya: “Niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka”, yaitu: niscaya Kami perintahkan kamu wahai Rasulullah untuk memerangi mereka agar kamu membalas dendam dari mereka, “Kemudian mereka tidak akan tinggal di Madinah bersama kamu melainkan sebentar saja”, yaitu sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membuat Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam mengeluarkan orang-orang yang menyebarkan berita bohong di Madinah dan menyebarkan di penjurunya ucapan-ucapan bohong dan pembicaraan sesat yang mengancam stabilitas masyarakat.
Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Ahqaf: “Hai kaum kami, penuhilah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosa kamu dan melindungi kamu dari azab yang pedih” (Surah Al-Ahqaf: 31). Ayat ini – sebagaimana kita ketahui – datang dalam rangkaian ucapan jin yang diutus Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam untuk mendengarkan Al-Quran. Ketika mereka mendengarkannya “Mereka berkata: ‘Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)’. Tatkala bacaan Al Quran itu telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: ‘Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, penuhilah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosa kamu dan melindungi kamu dari azab yang pedih'” (Surah Al-Ahqaf: 29-31). Perlindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala artinya: Dia melindungi mereka dan menjaga mereka dari azab-Nya Subhanahu wa Ta’ala.
Dekat dengan ini adalah yang datang dalam Surah Al-Mu’minuun dalam firman Allah Ta’ala sebagai penetapan keesaan-Nya: “Katakanlah: ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah'” (Surah Al-Mu’minuun: 88-89). Maksud firman-Nya: “Dan Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya” adalah bahwa Dia Subhanahu wa Ta’ala adalah Yang melindungi siapa yang Dia lindungi dari para wali-Nya; Dia melindungi dan menjaga mereka. Dan tidak ada seorang pun yang dapat memberi perlindungan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mengatakan: Orang ini dalam perlindunganku, maka tidak akan sampai kepada orang ini azab yang Allah kehendaki baginya, karena dia telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya serta memerangi Allah dan Rasul-Nya. Karena orang-orang seperti mereka tidak memiliki selain Allah seorang pelindung pun dan tidak (pula) seorang penolong.
Dan juga kita menemukan ini dalam Surah Al-Mulk: “Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku jika Allah membinasakan aku dan orang-orang yang bersama dengan aku atau memberi rahmat kepada kami, (maka) siapakah yang dapat melindungi orang-orang yang kafir dari azab yang pedih?'” (Surah Al-Mulk: 28). Ini juga tentang perlindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan tidak mungkin makhluk mana pun dapat menyelamatkan orang-orang kafir dari azab Allah Jalla wa ‘Alaa.
Dan juga dalam konteks ini kita membaca dalam Surah Al-Jinn firman Allah Ta’ala: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku tidak akan dapat menyelamatkan diriku dari (azab) Allah dan aku sekali-kali tidak akan memperoleh tempat berlindung selain (menyembah) kepada-Nya. (Aku hanya) menyampaikan (perintah Allah) dan risalah-risalah-Nya'” (Surah Al-Jinn: 22-23). Ini adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengabarkan dari Tuhannya dengan mengatakan: bahwa tidak ada seorang pun yang dapat melindunginya dari Allah dan bahwa dia tidak akan menemukan selain Allah tempat berlindung, karena dia adalah penyampai dari Allah risalah-Nya. Seandainya dia berbohong, tidak ada seorang pun yang dapat melindunginya dari Allah dan tidak ada yang dapat menghalangi azab Allah darinya. Maka semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepada Rasul yang amanah dan mulia ini, shallallahu alaihi wasallam.
Dan di surat At-Taubah kita membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan jika seseorang dari orang-orang musyrik meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia sampai dia mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah dia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak mengetahui.” (At-Taubah: 6).
Makna dari istijaarah (meminta perlindungan) adalah: orang musyrik berkata: “Aku dalam perlindunganmu.” Jika orang musyrik berkata kepada orang mukmin: “Aku dalam perlindunganmu,” dan meminta perlindungan, maka orang mukmin wajib menerima permintaannya tersebut sampai orang kafir dan musyrik ini mendengar firman Allah. Dan istijaarah ini bukanlah jiwar (bertetangga) yang kita bicarakan mengenai tetangga seseorang yang tinggal di sampingnya dan menunaikan hak-haknya. Namun di surat An-Nisa kita mungkin menemukan sesuatu tentang hal ini dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (An-Nisa: 36).
Dalam ayat mulia ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, berbuat baik kepada karib kerabat, anak yatim, dan orang miskin, berbuat baik kepada tetangga yang dekat –tetangga yang masih kerabat– dan tetangga yang jauh –yang berada di samping seseorang dan melekat padanya– dan teman sejawat –yang menemani seseorang dalam perjalanan dan sejenisnya– dan ibnu sabil –yaitu yang berpindah dari satu negeri ke negeri lain– dan hamba sahaya yang kalian miliki.
Tersisa bagi kita tempat terakhir dalam ayat-ayat ini di surat Al-Anfal, di mana Rabb kita berfirman: “Dan (ingatlah), ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: “Tidak ada seorangpun dari manusia yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya aku adalah pelindung bagimu.” Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, sesungguhnya aku dapat melihat apa yang kamu tidak dapat melihat; sesungguhnya aku takut kepada Allah.” Dan Allah sangat keras siksa-Nya.” (Al-Anfal: 48).
Perkataan setan kepada orang-orang musyrik di awal perang Badar: “Dan sesungguhnya aku adalah pelindung bagimu” bukanlah bermakna bahwa dia adalah tetangga mereka yang tinggal bersama mereka, mengurus urusan mereka, dan menunaikan hak-hak mereka. Namun dia berdusta dalam perkataannya bahwa dia melekat pada mereka, akan bersama mereka, dan akan menolong mereka. “Maka tatkala kedua pasukan itu” –pasukan muslim yang beriman dan para kafir itu– telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, sesungguhnya aku dapat melihat apa yang kamu tidak dapat melihat”. Dia melihat malaikat-malaikat Allah Yang Maha Pengasih yang turun ke medan pertempuran berjuang bersama kaum muslimin. “Sesungguhnya aku takut kepada Allah. Dan Allah sangat keras siksa-Nya.”
Kita simpulkan dari paparan ayat-ayat ini bahwa ayat-ayat tersebut datang membicarakan tentang jiwar (bertetangga), ijaarah (perlindungan), dan hal-hal yang bukan dalam topik kita, kecuali apa yang datang dalam surat An-Nisa dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat.” (An-Nisa: 36).
Bagaimanapun juga, ayat mulia ini dengan apa yang ada di dalamnya berupa perintah untuk berbuat baik kepada mereka yang disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kedua orang tua, karib kerabat, anak yatim, orang miskin, dan tetangga… hingga akhir, ayat mulia ini yang bermakna tetangga yang kita bicarakan dan di dalamnya terdapat perintah untuk berbuat baik kepada mereka yang disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Makna dari berbuat baik ini adalah kita membalas keburukan dengan kebaikan, dan kita memaafkan kesalahan-kesalahan yang terjadi dari para tetangga. Tidak cukup dengan berbuat baik ini saja, namun makna berbuat baik ini adalah kita menghibur mereka, dan memberikan kepada mereka apa yang kita mampu dari berbagai bentuk kebajikan dan kebaikan.
Saling Menghibur Antara Tetangga Melalui Sunnah yang Mulia dan Perkataan Para Ulama
Barangkali ketika kita mengkaji sebagian dari apa yang datang dalam Sunnah yang mulia –dan itu banyak dengan pujian kepada Allah– akan jelas bagi kita maksud dari berbuat baik yang disebutkan dalam ayat An-Nisa. Dari hadits-hadits mulia ini kita dapat mengetahui bagaimana seharusnya memaafkan tetangga dan bagaimana seharusnya saling menghibur antara tetangga.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah seorang tetangga melarang tetangganya menancapkan kayu di dindingnya.” Kemudian Abu Hurairah berkata: “Mengapa aku melihat kalian berpaling darinya?! Demi Allah, sungguh aku akan melontarkannya di antara pundak-pundak kalian.” Hadits ini bermakna: bahwa tetangga tidak boleh melarang tetangganya menancapkan kayu di dindingnya; barangkali kayu ini untuk mendirikan sesuatu, menggantung sesuatu, atau membuat penyangga sesuatu di atasnya. Itu tidak berpengaruh pada dinding tetangganya dan tidak ada bahaya di dalamnya. Hak bertetangga menuntut agar dia mengizinkannya dalam hal itu dan tidak melarangnya dari apa yang dia lakukan.
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada kecemburuan kecuali dalam dua hal: seorang laki-laki yang Allah ajarkan Al-Quran kepadanya, lalu dia membacanya pada waktu-waktu siang dan malam, kemudian tetangganya mendengarnya lalu berkata: ‘Seandainya aku diberi seperti apa yang diberikan kepada si fulan, lalu aku mengamalkan seperti apa yang dia amalkan.’ Dan seorang laki-laki yang Allah berikan harta kepadanya, lalu dia membelanjakannya di jalan yang benar, kemudian seseorang berkata: ‘Seandainya aku diberi seperti apa yang diberikan kepada si fulan, lalu aku mengamalkan seperti apa yang dia amalkan.'” Demikianlah seharusnya keadaan antara para tetangga, yaitu tetangga berusaha meneladani tetangganya dalam kebaikan. Laki-laki yang Allah ajarkan Al-Quran kepadanya lalu dia membaca Al-Quran ini pada waktu malam dan siang, tetangganya berharap menjadi seperti itu. Dan juga tetangga ini melihat tetangganya menginfakkan di jalan Allah, di jalan kebenaran, dan untuk menolong kebenaran dengan harta yang banyak; maka dia berharap menjadi seperti itu. Demikianlah seharusnya hubungan antara para tetangga.
Imam An-Nasa’i meriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berlindunglah kepada Allah dari tetangga yang buruk di tempat tinggal yang menetap, karena tetangga di padang pasir dapat berpindah darimu.” Tetangga di padang pasir ini adalah yang berada di padang pasir, tinggal di tenda, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, maka urusannya mudah. Tetapi tetangga yang berada di sampingmu telah mendirikan rumah untuknya dan engkau di sampingnya di rumahmu, ini adalah tetangga yang berkelanjutan dan menetap yang mungkin berlanjut sampai generasi-generasi antara anak-anak dan cucu-cucu. Jika bertetangga itu bertetangga yang buruk, maka di dalamnya akan ada masalah, kesedihan, dan peristiwa-peristiwa yang membuat hidup tidak nyaman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan dan menasihati kaum muslimin agar berlindung kepada Allah dari tetangga yang buruk.
Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak, demi Allah tidak beriman, tidak, demi Allah tidak beriman, tidak, demi Allah tidak beriman.” Para sahabat bertanya: “Siapa itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Tetangga yang tidak aman tetangganya dari gangguannya.” Ditanyakan: “Apa gangguannya?” Beliau bersabda: “Kejahatannya.” Maka perhatikan bagaimana beliau meniadakan keimanan berkali-kali dari manusia ini, yang membuat tetangganya dalam keadaan takut dari kejahatannya. Makna meniadakan keimanan adalah: bahwa imannya kurang, bukan bermakna: bahwa dia keluar dari Islam dan keimanan. Siapakah yang rela sampai pada keadaan di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang dirinya: “Demi Allah tidak beriman, tidak, demi Allah tidak beriman, tidak, demi Allah tidak beriman.”
Dari Abu Sa’id Al-Khudri berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak halal sedekah untuk orang kaya kecuali untuk tiga golongan: di jalan Allah, ibnu sabil, dan seorang laki-laki yang memiliki tetangga lalu dia bersedekah kepadanya kemudian dia menghadiahkannya kepadanya.” Makna ini adalah: bahwa tetangga harus memperhatikan keadaan tetangganya untuk bersedekah kepadanya, dan memberikan kepadanya apa yang dia mampu dari berbagai bentuk hadiah yang menyatukan hati.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Salamah bin Salamah bin Waqsy –dan dia termasuk sahabat Badar– berkata: Kami memiliki tetangga dari Yahudi di Bani Abdul Asyhal. Dia berkata: “Dia keluar kepada kami suatu hari dari rumahnya sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan waktu yang tidak lama, lalu dia berdiri di majelis Abdul Asyhal.” Salamah berkata: “Dan aku pada hari itu adalah yang termuda usianya di antara mereka, mengenakan selendang terbaring di halaman keluargaku. Lalu dia menyebut tentang kebangkitan, hari Kiamat, hisab, timbangan, surga, dan neraka. Dia berkata: Itu untuk suatu kaum yang menyembah berhala, tidak meyakini bahwa ada kebangkitan setelah kematian. Mereka berkata kepadanya: Celakalah engkau wahai fulan! Apakah engkau melihat ini akan terjadi, bahwa manusia akan dibangkitkan setelah kematian mereka ke negeri yang di dalamnya ada surga dan neraka, mereka dibalas di dalamnya dengan amal-amal mereka? Dia berkata: Ya, demi Dzat yang dia bersumpah dengan-Nya, dia berharap bahwa bagiannya dari neraka itu adalah tanur terbesar di dunia, dipanaskan kemudian dia dimasukkan ke dalamnya lalu ditutup rapat atasnya dan dia selamat dari neraka itu besok. Mereka berkata kepadanya: Celakalah engkau! Apa tandanya? Dia berkata: Seorang nabi akan diutus dari arah negeri ini. Dia mengisyaratkan dengan tangannya ke arah Mekah dan Yaman. Mereka berkata: Kapan menurutmu dia akan muncul? Dia berkata: Lalu dia melihat kepadaku dan aku adalah yang termuda usia di antara mereka, lalu dia berkata: Jika anak ini menghabiskan umurnya, dia akan menemuinya. Salamah berkata: Demi Allah, tidak berlalu siang dan malam hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan dia –yaitu Yahudi ini– hidup di antara kami. Kami beriman kepadanya dan dia mengingkarinya karena kedengkian dan hasad. Kami berkata: Celakalah engkau wahai fulan! Bukankah engkau yang berkata kepada kami tentangnya apa yang engkau katakan? Dia berkata: Benar, tetapi bukan dia.”
Dalam hadits mulia ini kita melihat bahwa tetangga ini –dari Yahudi di Bani Abdul Asyhal– mengetahui bahwa Muhammad sudah dekat zamannya. Demikian dia baca dalam Taurat sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Mereka mendapatinya tertulis di sisi mereka dalam Taurat dan Injil, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (Al-A’raf: 157) hingga akhir ayat mulia. Tetangga ini datang kepada para tetangganya menasihati mereka, tetapi kedengkiannya mengalahkannya, sehingga dia tidak beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Mutharrif bin Abdullah berkata: “Sampai kepadaku dari Abu Dzar haditsnya, maka aku ingin bertemu dengannya lalu aku bertemu dengannya. Aku berkata kepadanya: Wahai Abu Dzar, sampai kepadaku darimu sebuah hadits dan aku ingin bertemu denganmu untuk menanyakannya kepadamu. Dia berkata: Engkau sudah bertemu, maka tanyalah. Aku berkata: Sampai kepadaku bahwa engkau berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Tiga orang yang Allah ‘Azza wa Jalla cintai, dan tiga orang yang Allah ‘Azza wa Jalla benci.’ Dia berkata: Benar. Dia berkata: Tidak mungkin aku berdusta atas sahabatku Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tiga kali dia mengatakannya. Dia berkata: Aku berkata: Siapakah tiga orang yang Allah ‘Azza wa Jalla cintai? Dia berkata: Seorang laki-laki yang berperang di jalan Allah, lalu bertemu musuh berjihad mengharap pahala, lalu dia berperang hingga terbunuh. Kalian mendapatkan dalam Kitab Allah ‘Azza wa Jalla: ‘Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan.’ (Ash-Shaff: 4). Dan seorang laki-laki yang memiliki tetangga yang mengganggunya, lalu dia bersabar atas gangguannya dan mengharap pahala darinya hingga Allah mencukupinya dari tetangga itu dengan kematian atau kehidupan. Dan seorang laki-laki yang bersama suatu kaum lalu mereka berjalan hingga mengantuk atau lelah menimpa mereka. Mereka turun di akhir malam lalu dia bangun untuk berwudhu dan shalatnya. Dia berkata: Aku berkata: Siapakah tiga orang yang Allah benci? Dia berkata: Orang yang sombong dan membanggakan diri. Kalian mendapatkan dalam Kitab Allah ‘Azza wa Jalla: ‘Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.’ (Luqman: 18). Dan orang kikir yang suka menyebut-nyebut pemberiannya. Dan pedagang dan penjual yang banyak bersumpah.”
Hadits ini di dalamnya terdapat apa yang kalian lihat dari tiga orang ini, dan laki-laki ini yang memiliki tetangga yang mengganggunya lalu dia bersabar atas gangguannya dan mengharap pahala darinya hingga Allah mencukupinya dari tetangga itu dengan kematian atau kehidupan.
Betapa agungnya akhlak ini yang dinasihati kepada kita oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Juga, kita dapat mengambil dari khazanah Sunnah yang mulia sebagian dari apa yang disebutkan oleh penulis (At-Targhib wat-Tarhib) dalam perkataannya: Peringatan keras dari menyakiti tetangga dan apa yang datang dalam penegasan haknya. Dia menyebutkan kepada kita beberapa hadits:
Di antaranya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka janganlah dia menyakiti tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia memuliakan tamunya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam.” Dan dalam riwayat Muslim: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia berbuat baik kepada tetangganya.”
Dalam hadits ini: Memuliakan tamu dan berbuat baik kepada tetangga termasuk tanda-tanda keimanan mukmin. Dan dari tanda-tanda keimanan mukmin adalah mencegah gangguan dari para tetangganya.
Dan juga dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman.” Ditanyakan: Siapa wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “Yang tidak aman tetangganya dari gangguannya.” Dan gangguannya adalah kejahatannya. Dalam riwayat Muslim: “Tidak masuk surga orang yang tidak aman tetangganya dari gangguannya.”
Dari Abu Syuraih Al-Ka’bi radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah, dia tidak beriman, demi Allah, dia tidak beriman, demi Allah, dia tidak beriman.” Ditanyakan: “Wahai Rasulullah, sungguh celaka dan merugi, siapakah dia?” Mereka bertanya: “Siapa yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” Beliau bersabda: “Apa yang dimaksud gangguannya?” Beliau menjawab: “Kejahatannya.”
Dari beliau radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah beriman seorang hamba hingga dia mencintai untuk tetangganya -atau beliau bersabda: untuk saudaranya- apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” Diriwayatkan oleh Muslim.
Diriwayatkan dari Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah, aku tinggal di kampung Bani Fulan, dan yang paling keras menyakitiku adalah tetangga yang paling dekat denganku.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Abu Bakar, Umar, dan Ali radhiyallahu ‘anhum pergi ke masjid, berdiri di pintunya lalu berteriak: ‘Ketahuilah bahwa empat puluh rumah adalah tetangga, dan tidak akan masuk surga orang yang tetangganya takut dari gangguannya.'”
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak lurus iman seorang hamba hingga lurus hatinya, tidak lurus hatinya hingga lurus lisannya, dan dia tidak akan masuk surga hingga tetangganya aman dari gangguannya.”
Dari beliau radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mukmin adalah orang yang manusia merasa aman darinya, Muslim adalah orang yang kaum Muslim selamat dari lisan dan tangannya, Muhajir adalah orang yang hijrah dari keburukan, dan demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak akan masuk surga seorang hamba yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.”
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla membagi akhlak kalian di antara kalian, sebagaimana Dia membagi rezeki kalian di antara kalian. Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla memberikan dunia kepada orang yang dicintai-Nya dan yang tidak dicintai-Nya, tetapi Dia tidak memberikan agama kecuali kepada orang yang dicintai-Nya. Maka barangsiapa yang Dia berikan agama kepadanya, sungguh Dia telah mencintainya. Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah selamat seorang hamba hingga selamat hatinya dan lisannya, dan dia tidak beriman hingga tetangganya aman dari gangguannya.” Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud gangguannya?” Beliau menjawab: “Kesewenang-wenangannya dan kezalimannya. Dan tidaklah dia mengumpulkan harta dari yang haram lalu menafkahkannya, tidak akan diberkahi padanya, tidak akan diterima sedekahnya, dan tidak akan ditinggalkannya di belakang punggungnya kecuali akan menjadi bekal baginya ke neraka. Sesungguhnya Allah tidak menghapus keburukan dengan keburukan, tetapi Dia menghapus keburukan dengan kebaikan. Sesungguhnya yang buruk tidak menghapus yang buruk.”
Dari Abu Juhaifah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengadukan tetangganya. Beliau bersabda: ‘Lemparkan barang-barangmu ke jalan.’ Maka dia melemparkannya, lalu orang-orang berlalu di atasnya dan melaknatnya. Kemudian dia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah, aku mendapat perlakuan dari orang-orang.’ Beliau bertanya: ‘Apa yang engkau dapatkan dari mereka?’ Dia menjawab: ‘Mereka melaknatku.’ Beliau bersabda: ‘Sungguh Allah telah melaknatmu sebelum manusia.’ Lalu dia berkata: ‘Aku tidak akan mengulanginya.’ Kemudian orang yang mengadukannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang, lalu beliau bersabda: ‘Angkat barang-barangmu, sungguh engkau telah dicukupi.'”
Juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengadukan tetangganya, lalu beliau bersabda kepadanya: ‘Pergi dan bersabarlah.’ Dia datang kepadanya dua atau tiga kali, lalu beliau bersabda: ‘Pergi dan lemparkan barang-barangmu ke jalan.’ Maka dia melakukannya, lalu orang-orang berlalu dan bertanya kepadanya, dia memberitahukan kepada mereka cerita tentang tetangganya, maka mereka melaknatnya, melakukan ini dan itu kepadanya, dan sebagian mereka mendoakan keburukan atasnya. Kemudian tetangganya datang kepadanya dan berkata: ‘Kembalilah, karena engkau tidak akan melihat dariku sesuatu yang engkau benci.'” Dan ini semakna dengan hadits sebelumnya.
Diriwayatkan dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menutup pintunya dari tetangganya karena takut atas keluarga dan hartanya, maka dia bukan mukmin. Dan bukan mukmin orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya. Tahukah engkau apa hak tetangga? Jika dia meminta bantuanmu, bantulah dia. Jika dia meminjam darimu, pinjamkan kepadanya. Jika dia miskin, kunjungilah dia. Jika dia sakit, jenguklah dia. Jika dia mendapat kebaikan, ucapkan selamat kepadanya. Jika dia tertimpa musibah, hiburlah dia. Jika dia meninggal, ikutilah jenazahnya. Jangan engkau membangun tinggi atasnya sehingga menghalangi angin darinya kecuali dengan izinnya. Jangan engkau menyakitinya dengan bau masakan periukmu kecuali engkau sendokkan untuknya. Jika engkau membeli buah-buahan, berilah hadiah kepadanya. Jika tidak melakukannya, maka masukkanlah secara diam-diam, dan jangan anakmu keluar membawanya untuk menyakiti anaknya.”
Imam Al-Hafizh Al-Mundziri berkata: Diriwayatkan oleh Al-Khara’ithi dari (Makarim Al-Akhlaq). Al-Hafizh berkata: Mungkin ucapannya “Tahukah engkau apa hak tetangga?” hingga akhir adalah dari perkataan perawi yang tidak marfu’. Namun sungguh At-Thabrani telah meriwayatkan dari Mu’awiyah bin Haidah berkata: “Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, apa hak tetangga atasku?’ Beliau bersabda: ‘Jika dia sakit, jenguklah dia. Jika dia meninggal, antarkanlah dia. Jika dia meminjam darimu, pinjamkan kepadanya. Jika dia minta perlindungan, lindungilah dia.'” Lalu menyebutkan hadits tersebut.
Abu Al-Qasim Al-Ashbahani meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah dia memuliakan tetangganya.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, apa hak tetangga atas tetangga?” Beliau bersabda: “Jika dia meminta, berilah dia.” Lalu menyebutkan hadits dengan cara yang sama.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukanlah mukmin orang yang kenyang sementara tetangganya lapar.”
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: “Wahai Rasulullah, berilah aku pakaian.” Beliau berpaling darinya, lalu dia berkata: “Wahai Rasulullah, berilah aku pakaian.” Beliau bersabda: “Bukankah engkau memiliki tetangga yang memiliki kelebihan dua pakaian?” Dia menjawab: “Ya, lebih dari satu.” Beliau bersabda: “Maka Allah tidak akan mengumpulkan antara engkau dan dia di surga.” Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam (Al-Awsath).
Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Betapa banyak tetangga yang bergelantungan dengan tetangganya, dia berkata: ‘Wahai Tuhanku, tanyakan kepada ini mengapa dia menutup pintunya dariku dan mencegah kelebihannya dariku?'” Dan ini -sebagaimana kita lihat- akan terjadi pada hari kiamat.
Dari Abdullah bin Amru bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah dia memuliakan tetangganya.”
Hadits ini telah disebutkan sebelumnya di awal hadits-hadits yang disebutkan oleh Imam Al-Hafizh Al-Mundziri.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang mau menerima dariku kalimat-kalimat ini lalu mengamalkannya atau mengajarkannya kepada orang yang mengamalkannya?” Abu Hurairah berkata: “Aku berkata: ‘Aku wahai Rasulullah.’ Lalu beliau memegang tanganku dan menghitung lima hal, beliau bersabda: ‘Takutlah kepada yang haram, niscaya engkau akan menjadi manusia yang paling beribadah. Ridhailah apa yang Allah tetapkan untukmu, niscaya engkau akan menjadi manusia yang paling kaya. Berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya engkau akan menjadi mukmin. Cintailah untuk manusia apa yang engkau cintai untuk dirimu sendiri, niscaya engkau akan menjadi muslim. Jangan banyak tertawa, karena banyak tertawa mematikan hati.'”
Dari Ibnu Umar dan Aisyah radhiyallahu ‘anhuma keduanya berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jibril senantiasa berpesan kepadaku tentang tetangga hingga aku mengira bahwa dia akan mewariskannya.” Dan itu karena agungnya hak tetangga ini.
Ini adalah sejumlah hadits yang saya kutipkan untuk kalian agar kalian melihat bagaimana seharusnya pergaulan, penghormatan, dan berbuat baik kepada tetangga serta menunaikan hak tetangga ini; bahwa tetangga harus menolong tetangganya, menunaikan haknya, dan tidak mencegah kebaikannya darinya. Jika ini terwujud di antara tetangga, maka para tetangga mewakili satu kesatuan dari kesatuan-kesatuan umat ini. Jika kesatuan-kesatuan ini baik, maka akan baik pula seluruh masyarakat Islam, dan akan merebak kasih sayang, cinta, keamanan, dan kedamaian di antara manusia. Seandainya setiap tetangga mencegah kejahatannya dari tetangganya! Bahkan melampaui ini hingga berbuat baik kepada tetangganya. Karena yang dituntut bukan hanya mencegah gangguannya atau mencegah kejahatannya. Orang yang ada kejahatannya bagi tetangganya, sungguh imannya telah kurang pada tingkat yang berbahaya. Kita berbicara tentang tetangga yang melampaui batas ini hingga memuliakan tetangga-tetangganya, menunaikan hak mereka, dan mencari apa yang mereka butuhkan untuk berdiri bersama mereka. Gambaran yang terhormat, terang, dan bersinar dengan ajaran Allah dan ajaran Rasul-Nya ini menjadikan umat Islam sebagai umat yang layak mendapatkan kebaikan yang Allah kehendaki bagi mereka untuk menjadi seperti itu ketika Dia berfirman: “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” (Ali Imran: 110)
Syaikh Abu Muhammad bin Abi Jamrah berkata: Menjaga tetangga adalah dari kesempurnaan iman. Orang-orang jahiliah pun menjaganya, dan terwujudnya memenuhi wasiat tentang tetangga bukan hanya dengan menyampaikan berbagai bentuk kebaikan kepadanya sesuai kemampuan seperti hadiah, salam, berwajah cerah saat bertemu dengannya, memperhatikan keadaannya, dan menolongnya dalam apa yang dia butuhkan… dan lain sebagainya, serta mencegah sebab-sebab menyakiti darinya dengan berbagai jenisnya, baik yang bersifat indrawi maupun maknawi. Dan sungguh shallallahu ‘alaihi wasallam telah meniadakan iman dari orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya, dan ini adalah penekanan yang menunjukkan betapa agungnya hak tetangga, dan bahwa menyakitinya termasuk dosa-dosa besar. Beliau berkata: Keadaan berbeda-beda berdasarkan tetangga yang saleh dan yang tidak saleh. Yang mencakup semuanya adalah menginginkan kebaikan baginya, menasihatinya dengan cara yang baik, mendoakannya agar mendapat petunjuk, dan tidak menyakitinya kecuali di tempat yang wajib menyakitinya dengan perkataan dan perbuatan. Yang khusus untuk tetangga yang saleh adalah semua yang telah disebutkan sebelumnya. Sedangkan yang tidak saleh adalah mencegahnya dari apa yang dilakukannya dengan cara yang baik sesuai tingkatan amar makruf nahi mungkar, menasihati orang kafir dengan menawarkan Islam kepadanya, menjelaskan kebaikan-kebaikannya, dan mendorongnya dengan lembut. Menasihati orang fasik dengan cara yang sesuai dengannya dengan lembut juga, menutupi kesalahannya dari orang lain, melarangnya dengan lembut. Jika bermanfaat, baik; jika tidak, maka menjauhinya dengan membatasi pendidikannya pada hal itu, sambil memberitahukan alasannya, hingga akhir perkataannya.
Imam Bukhari telah menyebutkan dalam bab hak bertetangga dalam kedekatan pintu, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, aku memiliki dua tetangga, kepada siapa di antara keduanya aku harus memberi hadiah?’ Beliau bersabda: ‘Kepada yang paling dekat pintunya darimu.'” Disebutkan dalam (Fathul Bari): Maksudnya yang paling dekat kedekatannya. Dikatakan: Hikmahnya adalah bahwa yang paling dekat akan melihat apa yang masuk ke rumah tetangganya dari hadiah dan lainnya, sehingga dia akan merindukan hal itu, berbeda dengan yang lebih jauh. Dan yang paling dekat lebih cepat merespons ketika tetangganya tertimpa kesulitan, terutama di waktu-waktu lalai.
Ibnu Abi Jamrah berkata: Memberi hadiah kepada yang paling dekat adalah sunnah, karena hadiah pada dasarnya tidak wajib, maka pengurutannya tidak wajib.
Dari hadits ini dapat diambil bahwa mengambil tindakan dengan apa yang lebih tinggi adalah lebih utama. Di dalamnya terdapat mendahulukan ilmu daripada amal.
Ada perbedaan pendapat tentang hak bertetangga. Datang dari Ali radhiyallahu ‘anhu: “Siapa yang mendengar adzan, maka dia adalah tetangga.” Ada yang berpendapat: Siapa yang shalat bersamamu shalat subuh di masjid, maka dia adalah tetangga.
Dari Aisyah: “Batas bertetangga adalah empat puluh tetangga dari setiap arah.”
Imam Al-Ghazali -rahimahullah- menyebutkan tentang hak-hak bertetangga: Bahwa bertetangga mengharuskan hak di samping apa yang diharuskan oleh persaudaraan Islam. Maka tetangga Muslim berhak mendapatkan apa yang berhak didapatkan setiap Muslim, ditambah lagi. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Berbuat baiklah dalam bertetangga dengan orang yang bertetangga denganmu, niscaya engkau akan menjadi muslim.” Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jibril senantiasa berpesan kepadaku tentang tetangga hingga aku mengira dia akan mewariskannya.” Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah dia memuliakan tetangganya.” Dan beliau ‘alaihish shalatu wassalam bersabda: “Tidaklah beriman seorang hamba hingga tetangganya aman dari gangguannya.” Kemudian beliau berkata: Ketahuilah bahwa hak bertetangga bukan hanya menahan menyakiti saja, tetapi menahan diri dari menyakiti; karena tetangga juga telah menahan menyakitinya, maka dalam hal itu tidak ada penunaian hak. Menahan diri dari menyakiti tidak cukup, tetapi harus ada kelembutan dan memberikan kebaikan serta kebaikan. Karena dikatakan: “Sesungguhnya tetangga yang miskin akan bergelantungan dengan tetangganya yang kaya pada hari kiamat lalu berkata: ‘Wahai Tuhanku, tanyakan kepada ini mengapa dia mencegah kebaikannya dariku dan menutup pintunya dariku?'”
Secara keseluruhan, hak tetangga adalah: Memulai salam kepadanya, tidak memperpanjang pembicaraan dengannya, tidak banyak bertanya tentang keadaannya, menjenguknya saat sakit, menghiburnya dalam musibah, berdiri bersamanya dalam ta’ziyah, mengucapkan selamat kepadanya dalam kegembiraan, menunjukkan kebersamaan dalam kegembiraan bersamanya, memaafkan kesalahannya, tidak mengintip dari atap ke aurat-auratnya, tidak menyulitkannya dalam meletakkan balok di dindingnya, tidak dalam aliran air di talang airnya, tidak dalam membuang debu di halamannya, tidak mempersempit jalannya ke rumah, tidak menatap apa yang dibawanya ke rumahnya, menutupi apa yang terungkap darinya dari aurat-auratnya, menolongnya dari kesulitannya jika dia tertimpa musibah, tidak lalai memperhatikan rumahnya saat ketidakhadirannya, tidak mendengarkan pembicaraan atasnya, menundukkan pandangan dari kehormatan/istrinya, berlaku lembut kepada anaknya dalam perkataannya, membimbingnya kepada apa yang tidak dia ketahui dari urusan agama dan dunianya.
Ini di samping keseluruhan hak-hak yang dimiliki oleh kaum Muslim pada umumnya. Maka perhatikanlah apa yang disebutkan Imam Al-Ghazali tentang hak-hak bertetangga ini, untuk melihat bagaimana hak-hak ini jika ditunaikan dengan benar akan membawa berbagai warna kebahagiaan dan kebaikan yang melimpah bagi semua kaum Muslim.
Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Wahai sekalian kaum muslimah, janganlah seorang tetangga meremehkan tetangganya meskipun hanya berupa kuku kambing.” Makna hadits ini adalah: bahwa seorang tetangga hendaknya menerima pemberian dari tetangganya meskipun sedikit, bahkan jika yang sedikit itu -sebagaimana disebutkan dalam hadits- adalah kuku kambing yaitu telapak kaki kambing. Bukan maksudnya bahwa tetangga akan memberikan telapak kaki kambing kepada tetangganya, tetapi ini adalah kiasan tentang sedikitnya apa yang diberikan, dan seorang muslim dan muslimah harus menerima hadiah tersebut.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya termasuk kebahagiaan seorang muslim adalah: tempat tinggal yang luas, tetangga yang saleh, dan kendaraan yang nyaman.”
Abdullah berkata: Seorang laki-laki bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana aku dapat mengetahui apakah aku berbuat baik atau berbuat buruk? Beliau bersabda: Jika kamu mendengar tetanggamu berkata: engkau telah berbuat baik, maka sungguh engkau telah berbuat baik, dan jika kamu mendengar mereka berkata: engkau telah berbuat buruk, maka sungguh engkau telah berbuat buruk.”
Inilah akhlak Islam, dan inilah bertetangga orang-orang muslim, yaitu bertetangga yang menyebarkan keamanan, kedamaian, cinta, kebahagiaan, dan kebaikan. Seandainya kaum muslimin berkomitmen dengannya, niscaya umat mereka akan berbahagia.
Semoga Allah memberi shalawat, salam, dan keberkahan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarganya serta para sahabatnya dan memberi salam.
Pelajaran: 6 Akhlak dalam Al-Quran Al-Karim (1)
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Pengorbanan (Al-Itsar) dalam Buku-buku Bahasa
Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, memohon ampunan-Nya, dan memohon petunjuk-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan dari keburukan amal kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan-Nya maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Amma ba’du:
Akhlak dalam Al-Quran Al-Karim:
Pengorbanan dalam Kitab Bahasa:
Penulis kamus (Maqayis al-Lughah) Ibnu Faris menyebutkan bahwa huruf hamzah, ta, dan ra memiliki tiga makna pokok: mendahulukan sesuatu, menyebutkan sesuatu, dan jejak sesuatu. Al-Khalil berkata: Yang dimaksud dengan al-atsir adalah yang memiliki jejak pada telapak unta, dan al-atsir dari hewan adalah yang besar jejaknya di tanah dengan telapak atau kukunya, dan al-atsir adalah orang yang mulia bagimu yang kamu utamakan dengan keutamaan dan pemberianmu. Makna ini menurut Ibnu Faris adalah: bahwa orang yang mulia yang kamu utamakan dengan keutamaan dan pemberianmu, adalah orang yang mulia bagimu yang kamu berbuat baik kepadanya sehingga memiliki jejak, jejak ini tetap dalam kehidupannya sebagai tanda yang menonjol sebagaimana kamu lihat pada jejak telapak unta yang berjalan di tanah sehingga meninggalkan jejak di dalamnya, sebagaimana ia katakan dengan telapak atau kukunya.
Adapun penulis (Lisan al-Arab) Imam Ibnu Manzhur berkata: Atharahu artinya memuliakannya, dan rajulun atsir artinya orang yang kokoh dan dimuliakan, dan atharahu alaihi artinya mengutamakannya. Dalam Al-Quran disebutkan: “Sungguh Allah telah mengutamakan kamu atas kami” (Surat Yusuf: 91). Dan athartu fulanan ala nafsi min al-itsar artinya aku mengutamakan si fulan atas diriku dari kata pengorbanan. Al-Asma’i berkata: Athartuka itsaran artinya: aku mengutamakanmu. Jadi penulis (Lisan al-Arab) menjelaskan bahwa pengorbanan maknanya adalah: bahwa kamu mengutamakan seseorang atas dirimu sendiri.
Adapun penulis (Mufradat al-Quran al-Karim) berkata: Athara asy-syai’ artinya munculnya apa yang menunjukkan keberadaannya, dan al-ma’atsir adalah apa yang diriwayatkan dari kemuliaan seseorang. Kata al-atsar digunakan secara kiasan untuk keutamaan dan al-itsar untuk mengutamakan, darinya athartahu dan al-isti’tsar artinya menyendiri dengan sesuatu tanpa orang lain.
Dalam (Al-Mu’jam al-Wasith): Atharahu itsaran artinya memilihnya dan mengutamakannya. Dikatakan: atharahu ala nafsihi artinya mengutamakannya atas dirinya sendiri, dan asy-syai’ bi asy-syai’ artinya mengkhususkannya dengannya, dan membuatnya mengikuti jejaknya. Dan al-itsar adalah mengutamakan seseorang oleh seseorang atas dirinya sendiri. Dan al-itsariyyah menurut para ahli akhlak adalah mazhab yang menentang egoisme, dan bertujuan untuk mengutamakan kebaikan orang lain atas kebaikan pribadi. Dan menurut para ahli jiwa adalah arah perhatian manusia dan kecenderungan cinta di dalamnya menuju orang lain, sebelum dirinya sendiri; baik ini dari fitrah atau dari pembelajaran. Bagaimanapun juga, apa yang datang dalam buku-buku bahasa berarti: bahwa pengorbanan adalah bahwa kamu mengutamakan orang lain atas dirimu dengan cara kamu membutuhkan sesuatu, lalu kamu mengutamakan orang lain dengan sesuatu ini, maka inilah pengorbanan sebagaimana datang dalam buku-buku bahasa.
Jika kita beralih kepada pengorbanan dalam Al-Quran, maka kita akan menemukan materi ini disebutkan dalam lima ayat berikut: “Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya)” (Surat An-Nazi’at: 37-39). Ayat ini bukan dalam topik kita, yaitu mengutamakan seseorang atas seseorang dari aspek akhlak dalam Al-Quran, melainkan ini adalah penjelasan yang menjelaskan dan berbicara tentang jenis manusia yang mengutamakan dan lebih memilih kehidupan dunia atas akhirat. Allah berfirman dalam Surat Al-A’la: “Padahal kamu lebih mengutamakan kehidupan dunia, sedangkan kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal” (Surat Al-A’la: 16-17).
Tempat ketiga dalam Surat Yusuf, Allah berfirman: “Mereka berkata: ‘Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?’ Yusuf menjawab: ‘Akulah Yusuf, dan ini saudaraku; sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.’ Mereka berkata: ‘Demi Allah, sesungguhnya Allah telah mengutamakan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.’ Yusuf berkata: ‘Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, semoga Allah mengampuni kamu, dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang'” (Surat Yusuf: 90-92).
Dalam Surat Thaha, Allah berfirman dalam kisah para pengikut Musa dan Firaun dan apa yang terjadi dari urusannya: “Mereka berkata: ‘Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu atas bukti yang nyata yang telah datang kepada kami dan atas (Allah) Yang telah menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya dapat memutuskan (menghukum) di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang kamu paksakan kepada kami mengerjakannya; dan Allah lebih baik (bagi kami) dan lebih kekal (pahala-Nya)'” (Surat Thaha: 72-73). Artinya: kami tidak akan mengutamakan apa yang ada padamu berupa dunia, kenikmatan, dan kedudukan ketika kami berada dalam kekufuran sepertimu, dan dalam bermaksiat kepada Allah dan memerangi syariat Allah dan agama Allah serta Musa alaihissalam, maka pengorbanan ini bukanlah pengorbanan yang kita bicarakan.
Tidak tersisa bagi kita kecuali satu tempat dalam Surat Al-Hasyr yaitu firman Allah: “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Surat Al-Hasyr: 9). Ayat ini -sebagaimana akan kita lihat dalam hadits-hadits- turun tentang Abu Thalhah Al-Anshari radhiyallahu ta’ala anhu dan apa yang terjadi dari urusannya, bahwa dia mengutamakan tamunya atas dirinya sendiri, padahal dia dan keluarganya sangat membutuhkan makanan, tetapi mereka lebih memilih memberi makan tamu daripada diri mereka sendiri, maka Allah menyebutkan hal itu dalam kitab-Nya: “Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Inilah pengorbanan yang ingin kita bicarakan dalam topik kita tentang pengorbanan dalam Al-Quran Al-Karim.
Dan datanglah Sunnah yang mulia sebagai pintu yang luas, untuk menjelaskan pengorbanan ini dan bagaimana terjadinya, serta sebab-sebab yang mengajaknya:
Kami sebutkan dari Bukhari apa yang diriwayatkannya dengan sanadnya dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu: “Bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu beliau mengutus (utusan) kepada istri-istrinya, mereka berkata: Kami tidak memiliki apa-apa kecuali air. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Siapa yang akan menjamu atau menerima tamu ini? Seorang laki-laki dari kalangan Anshar berkata: Saya. Lalu ia membawa (tamu) itu ke rumahnya dan berkata kepada istrinya: Muliakanlah tamu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Istrinya berkata: Kami tidak memiliki apa-apa kecuali makanan anak-anakku. Ia berkata: Siapkanlah makananmu, nyalakan pelitamu, dan tidurkanlah anak-anakmu jika mereka ingin makan malam. Maka istrinya menyiapkan makanannya, menyalakan pelitanya, dan menidurkan anak-anaknya, kemudian ia berdiri seolah-olah memperbaiki pelitanya lalu memadamkannya. Maka mereka berdua pura-pura makan. Mereka berdua bermalam dalam keadaan lapar. Ketika pagi hari, ia pergi menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu beliau bersabda: Allah tertawa atau kagum malam ini atas perbuatan kalian berdua. Maka Allah menurunkan ayat: ‘Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.'”
Inilah Abu Thalhah Al-Anshari radhiyallahu ta’ala anhu dan apa yang terjadi dari urusannya dan urusan keluarganya, semoga Allah meridhai mereka semua.
Imam Bukhari meriwayatkan dalam bab: tidak ada sedekah kecuali dari kelebihan harta, dan barangsiapa bersedekah padahal dia membutuhkan atau keluarganya membutuhkan atau dia memiliki hutang, maka hutang lebih berhak untuk dilunasi daripada sedekah, memerdekakan budak, dan pemberian, dan itu dikembalikan kepadanya, tidak boleh baginya menghancurkan harta orang. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengambil harta dengan maksud menghancurkannya, maka Allah akan menghancurkannya, kecuali jika ia dikenal dengan kesabaran, maka ia mengutamakan (orang lain) atas dirinya sendiri meskipun ia memerlukan”, seperti perbuatan Abu Bakar radhiyallahu anhu ketika ia bersedekah dengan hartanya. Demikian juga kaum Anshar mengutamakan kaum Muhajirin. Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang dari menyia-nyiakan harta, maka tidak boleh baginya menyia-nyiakan harta orang dengan alasan sedekah.
Ka’ab bin Malik radhiyallahu anhu berkata: “Aku berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya termasuk taubatku adalah aku melepaskan hartaku sebagai sedekah kepada Allah dan kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam. Beliau bersabda: Tahanlah sebagian hartamu, karena itu lebih baik bagimu. Aku berkata: Maka sesungguhnya aku menahan bagianku yang di Khaibar.” Dalam apa yang disebutkan oleh Imam Bukhari ini terdapat penjelasan tentang apa yang terjadi dari urusan Abu Bakar radhiyallahu ta’ala anhu, bahwa ia mengutamakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Islam, serta dakwah Islam dengan hartanya, maka ia bersedekah dengan semuanya sebagai sedekah kepada Allah, semoga Allah meridhainya dan meridhainya. Demikian juga kaum Anshar mengutamakan kaum Muhajirin sebagaimana akan kita lihat dalam hadits-hadits selanjutnya insya Allah.
Demikian juga dalam konteks ini, Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Sa’id Al-Khudri, ia berkata: “Berkumpullah beberapa orang dari kalangan Anshar, lalu mereka berkata: Rasulullah mengutamakan orang lain atas kami -maksudnya: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengutamakan orang lain atas kami. Hal itu sampai kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu beliau mengumpulkan mereka kemudian berkhutbah kepada mereka. Beliau bersabda: Wahai sekalian Anshar, bukankah kalian dahulu hina lalu Allah memuliakan kalian? Mereka berkata: Benar Allah dan Rasul-Nya. Beliau bersabda: Bukankah kalian dahulu sesat lalu Allah memberi kalian petunjuk? Mereka berkata: Benar Allah dan Rasul-Nya. Beliau bersabda: Bukankah kalian dahulu miskin lalu Allah mengkayakan kalian? Mereka berkata: Benar Allah dan Rasul-Nya. Kemudian beliau bersabda: Tidakkah kalian menjawab, tidakkah kalian berkata: Engkau datang kepada kami dalam keadaan diusir lalu kami memberimu perlindungan, dan engkau datang kepada kami dalam keadaan takut lalu kami memberimu keamanan. Tidakkah kalian melihat bahwa mereka (orang lain) pulang dengan kambing dan sapi, sedangkan kalian pulang dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu kalian memasukkannya ke rumah-rumah kalian. Seandainya manusia menempuh suatu lembah atau jurang dan kalian menempuh lembah atau jurang lain, niscaya aku akan menempuh lembah atau jurang kalian. Seandainya bukan karena hijrah, niscaya aku adalah seorang dari kalangan Anshar. Sesungguhnya kalian akan menemui setelahku pengutamaan (orang lain atas kalian), maka bersabarlah hingga kalian menemuiku di telaga (Al-Kautsar).”
Imam Ad-Darimi meriwayatkan kepada kita dengan sanadnya dari Sa’id bin Amir dari Hisyam, sahabat Ad-Dustuwa’i, ia berkata: Aku membaca dalam sebuah kitab yang sampai kepadaku bahwa itu adalah ucapan Isa, Isa alaihissalam berkata kepada para sahabatnya atau kepada Bani Israil: “Kalian bekerja untuk dunia padahal kalian diberi rezeki di dalamnya tanpa bekerja, dan kalian tidak bekerja untuk akhirat, padahal kalian tidak diberi rezeki di dalamnya kecuali dengan bekerja. Sesungguhnya kalian adalah orang-orang berilmu yang buruk, upah kalian ambil tetapi amal kalian sia-siakan. Hampir saja pemilik amal meminta amalnya, dan hampir kalian keluar dari dunia yang luas ini menuju kegelapan kubur dan kesempitannya. Allah melarang kalian dari dosa-dosa sebagaimana Dia memerintahkan kalian dengan shalat dan puasa. Bagaimana mungkin termasuk ahli ilmu orang yang tidak ridha dengan rezkinya, meremehkan kedudukannya, padahal ia telah mengetahui bahwa itu dari ilmu Allah dan kekuasaan-Nya. Bagaimana mungkin termasuk ahli ilmu orang yang menuduh Allah dalam apa yang ditetapkan-Nya untuknya, maka ia tidak ridha dengan sesuatu yang menimpanya. Bagaimana mungkin termasuk ahli ilmu orang yang dunianya lebih diutamakan di sisinya daripada akhiratnya, padahal ia lebih banyak menginginkan dunia. Bagaimana mungkin termasuk ahli ilmu orang yang tujuannya ke akhirat, padahal ia menghadap kepada dunia, dan apa yang membahayakannya lebih disukainya atau ia berkata: lebih dicintainya daripada apa yang bermanfaat baginya. Bagaimana mungkin termasuk ahli ilmu orang yang mencari perkataan untuk mengabarkannya, dan tidak mencarinya untuk mengamalkannya. Maka kami memohon keselamatan dan kesehatan kepada Allah.” Yang menjadi dalil dalam hadits ini adalah ucapan Isa alaihissalam: “Bagaimana mungkin termasuk ahli ilmu orang yang dunianya lebih diutamakan di sisinya daripada akhiratnya.” Dan kami telah menyebutkan dalam ayat-ayat Al-Quran firman Allah: “Padahal kamu lebih mengutamakan kehidupan dunia, sedangkan kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal” (Surat Al-A’la: 16-17), dan kami menyebutkan: “Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya)” (Surat An-Nazi’at: 37-39).
Pengutamaan dalam Sunnah dan Perkataan Para Ulama
Apa yang disebutkan oleh para imam yang mulia dari ulama kita dalam bab pengutamaan dan kepedulian, dan mari kita mulai dengan Imam Nawawi dalam kitabnya yang terkenal (Riyadhus Shalihin) dimana ia menyebutkan di bawah judul ini bab tentang pengutamaan dan kepedulian. Dalam bab tersebut ia menyebutkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Surah Al-Hasyr: 9), dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan” (Surah Al-Insan: 8), dan menyebutkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu tentang peristiwa yang terjadi pada Abu Thalhah dan keluarganya dengan tamu mereka, dan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala kagum terhadap perbuatan mereka kepada tamu mereka, dan menurunkan kepada Rasul-Nya kesaksian ini yang terus dibaca sepanjang hari dan zaman, yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan”. Kemudian Imam Nawawi melanjutkan dengan menyebutkan sejumlah hadits, dia menyebutkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: “Makanan untuk dua orang cukup untuk tiga orang, dan makanan untuk tiga orang cukup untuk empat orang”. Dan dalam riwayat Muslim dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam beliau bersabda: “Makanan satu orang cukup untuk dua orang, dan makanan dua orang cukup untuk empat orang, dan makanan empat orang cukup untuk delapan orang”. Dan ini berarti bahwa seorang Muslim harus memiliki pemahaman tentang memuliakan orang lain, dan tidak kikir dengan makanan yang ada padanya; karena makanan satu orang cukup untuk dua orang… hingga akhir arahan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
Dan ia menyebutkan dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu perkataannya: “Ketika kami sedang dalam perjalanan bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, datanglah seorang laki-laki dengan kendaraannya, lalu ia memandang ke kanan dan kiri, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: ‘Barangsiapa yang memiliki kelebihan kendaraan, hendaknya ia berikan kepada orang yang tidak memiliki kendaraan'”, yaitu: barangsiapa yang memiliki tunggangan lebih dari kebutuhannya hendaknya ia berikan kepada orang yang tidak memiliki tunggangan, “dan barangsiapa yang memiliki kelebihan bekal, hendaknya ia berikan kepada orang yang tidak memiliki bekal”. Abu Sa’id berkata: Beliau menyebutkan berbagai jenis harta yang disebutkannya sehingga kami berpendapat bahwa tidak ada hak bagi seorang pun dari kami dalam kelebihan. Dan bayangkanlah jika kaum Muslim melakukan ini, setiap Muslim mengeluarkan apa yang melebihi kebutuhannya, mungkin Anda setuju dengan saya bahwa tidak akan tersisa di antara kita orang miskin atau orang yang membutuhkan.
Dan ia menyebutkan dari Sahl bin Sa’d Radhiyallahu ‘anhu: “Bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam membawa kain tenun dan berkata: ‘Aku menenunnya dengan tanganku untuk kukenakannya kepadamu.’ Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengambilnya karena membutuhkannya, lalu beliau keluar kepada kami dan itu adalah kain sarungnya. Lalu seseorang berkata: ‘Kenakanlah itu kepadaku, alangkah bagusnya!’ Beliau berkata: ‘Ya.’ Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam duduk di majelis kemudian kembali dan melipatnya, kemudian mengirimkannya kepadanya. Maka orang-orang berkata kepadanya: ‘Alangkah bagusnya! Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memakainya padahal beliau membutuhkannya, kemudian kamu memintanya padahal kamu tahu bahwa beliau tidak menolak orang yang meminta.’ Maka ia berkata: ‘Demi Allah, aku tidak memintanya untuk memakainya, aku memintanya hanya agar menjadi kain kafanku.’ Sahl berkata: ‘Maka kain itu menjadi kafannya'” (Diriwayatkan oleh Bukhari). Dan dalam hadits ini kita mengetahui dan menjadi jelas bagi kita sejauh mana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengutamakan para sahabatnya atas dirinya sendiri, dan bahwa beliau meskipun membutuhkan sesuatu, namun jika diminta darinya, beliau memberikannya kepada yang memintanya. Dan juga hadits ini menunjukkan kecintaan para sahabat dan keterikatan para sahabat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
Dan Imam Nawawi menutup bab ini dengan hadits Abu Musa Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang Asy’ari jika kehabisan bekal dalam peperangan, atau makanan keluarga mereka di Madinah berkurang, mereka mengumpulkan apa yang ada pada mereka dalam satu kain, kemudian membaginya di antara mereka dalam satu wadah dengan rata, maka mereka dariku dan aku dari mereka”. Yaitu: habis makanan mereka atau hampir habis, ketika itu mereka mengumpulkan apa yang ada pada mereka dalam satu kain, atau di satu tempat, kemudian membagi ini di antara mereka dengan rata. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Maka mereka dariku dan aku dari mereka”. Dan dalam ini terdapat pengutamaan sebagaimana kita lihat.
Juga disebutkan kepada kita oleh Imam Al-Ghazali ‘alaihi rahmatullah dalam Bab Kedua tentang hak-hak persaudaraan dan persahabatan dengan kata-kata yang indah, beliau berkata: Ketahuilah bahwa ikatan persaudaraan adalah ikatan antara dua orang seperti ikatan pernikahan antara suami istri, dan sebagaimana pernikahan menuntut hak-hak yang harus dipenuhi untuk melaksanakan hak pernikahan, demikian pula ikatan persaudaraan. Maka saudaramu memiliki hak atasmu dalam harta dan jiwa, dalam lisan dan hati dengan memaafkan dan mendoakan, dengan keikhlasan dan kesetiaan, dengan meringankan dan meninggalkan beban serta pembebanan. Dan itu mencakup delapan hak. Imam Al-Ghazali menyebutkan hak-hak ini, aku memilih untuk kalian Hak Pertama dan Kedua yaitu hak dalam harta dan hak dalam jiwa, dan aku memilih untuk kalian dari yang disebutkan sejumlah hadits shahih.
Beliau berkata ‘alaihi rahmatullah: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Perumpamaan dua saudara seperti dua tangan, satu mencuci yang lainnya”. Dan beliau berkata: Beliau menyerupakan keduanya dengan dua tangan, bukan dengan tangan dan kaki; karena keduanya saling membantu untuk satu tujuan, demikian pula dua saudara, persaudaraan mereka baru sempurna jika mereka bersama dalam satu tujuan, maka dari satu sisi seperti satu orang, dan ini menuntut saling berbagi dalam senang dan susah, berpartisipasi dalam nasib dan keadaan, menghilangkan kepemilikan khusus dan mementingkan diri sendiri.
Kemudian beliau berkata: Dan kepedulian dengan harta bersama saudara-saudara memiliki tiga tingkatan:
- Yang terendah: Engkau menempatkannya pada posisi budak atau pembantumu, maka kamu memenuhi kebutuhannya dari kelebihan hartamu. Jika ada kebutuhan untukmu dan ada kelebihan dari kebutuhanmu, kamu memberinya tanpa diminta, dan kamu tidak membuatnya harus meminta. Jika kamu membuatnya harus meminta, maka itu adalah puncak kelalaian dalam hak persaudaraan.
- Yang kedua: Engkau menempatkannya pada posisi dirimu sendiri dan rela dengan dia berbagi hartamu denganmu, dan menempatkannya pada posisimu sehingga kamu rela membagi harta dengannya. Al-Hasan berkata: Salah seorang dari mereka membelah kainnya antara dirinya dan saudaranya.
- Yang tertinggi: Engkau mengutamakannya atas dirimu sendiri dan mendahulukan kebutuhannya atas kebutuhanmu, dan ini adalah tingkatan para shiddiqin, dan puncak derajat orang-orang yang saling mencintai. Dan dari buah tingkatan ini adalah mengutamakan dengan jiwa juga. Dan tingkatan ini adalah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala gambarkan kepada orang-orang beriman pada-Nya dalam firman-Nya: “Dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka” (Surah Asy-Syura: 38).
Dan diriwayatkan bahwa Masruq berhutang yang berat dan saudaranya Khaitsomah juga punya hutang. Ia berkata: Maka Masruq pergi dan melunasi hutang Khaitsomah tanpa sepengetahuannya, dan Khaitsomah pergi melunasi hutang Masruq tanpa sepengetahuannya. Dan inilah akhlak para salaf ‘alaihim ridhwanullah. Dan kita juga ingat ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mempersaudarakan antara Abdurrahman bin Auf dan Sa’d bin Rabi’, ia mengutamakan dengan harta dan jiwa. Maka Abdurrahman berkata: “Semoga Allah memberkahimu dengan keduanya.” Maka ia mengutamakan dengan apa yang diutamakannya, dan seolah-olah ia menerimanya kemudian mengutamakannya, dan itu adalah kesetaraan, dan permulaan adalah pengutamaan, dan pengutamaan lebih utama dari kesetaraan.
Dan Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: Seandainya seluruh dunia ini untukku lalu aku menjadikannya di mulut saudara dari saudara-saudaraku, aku akan menganggapnya sedikit untuknya. Dan teladan semua orang dalam hakikat pengutamaan adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
Ini sebagian dari apa yang disebutkan Imam Al-Ghazali dalam Hak Pertama, yaitu hak persaudaraan dalam harta, dan kami telah menyebutkan sebagian dari apa yang beliau katakan.
Adapun Hak Kedua dalam membantu dengan jiwa dalam menunaikan kebutuhan dan melaksanakannya sebelum diminta, dan mendahulukannya atas kebutuhan-kebutuhan pribadi, dan ini juga memiliki tingkatan sebagaimana kesetaraan dalam harta. Yang terendah adalah melaksanakan kebutuhan ketika diminta dan dengan kemampuan, tetapi dengan wajah cerah dan gembira serta menampakkan kegembiraan dan menerima budi baik.
Sebagian mereka berkata: Jika engkau meminta saudaramu menunaikan kebutuhan lalu ia tidak menunaikannya, maka ingatkan dia kedua kalinya karena mungkin ia lupa. Jika ia tidak menunaikannya, maka bertakbirlah untuknya dan bacakan kepadanya ayat ini: “Dan orang-orang yang mati, Allah akan membangkitkan mereka” (Surah Al-An’am: 36).
Ja’far bin Muhammad berkata: Sesungguhnya aku bersegera dalam menunaikan kebutuhan musuh-musuhku karena takut aku menolak mereka lalu mereka menjadi tidak membutuhkanku lagi. Ini untuk musuh, bagaimana dengan sahabat?
Kemudian Al-Ghazali berkata: Dan di antara para salaf ada yang memperhatikan anak istri saudaranya setelah kematiannya selama empat puluh tahun, memenuhi kebutuhan mereka, datang kepada mereka setiap hari, dan memberikan nafkah dari hartanya. Mereka tidak kehilangan dari ayah mereka kecuali penglihatannya saja, bahkan mereka melihat darinya apa yang tidak mereka lihat dari ayah mereka di masa hidupnya. Dan salah seorang dari mereka datang ke pintu rumah saudaranya bertanya dan berkata: Apakah kalian punya minyak? Apakah kalian punya garam? Apakah ada yang kalian butuhkan? Dan ia melaksanakannya tanpa sepengetahuan saudaranya. Dan dengan ini tampak kasih sayang dan persaudaraan. Jika kasih sayang tidak membuahkan hasil sehingga ia menyayangi saudaranya sebagaimana ia menyayangi dirinya sendiri; maka tidak ada kebaikan padanya.
Maimun bin Mihran berkata: Barangsiapa tidak memberikan manfaat dengan persahabatannya, maka permusuhannya tidak akan membahayakanmu. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Ketahuilah bahwa Allah memiliki wadah-wadah di bumi-Nya, yaitu hati-hati. Maka wadah yang paling dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah yang paling jernih, paling keras dan paling lembut”. Yang paling jernih dari dosa, paling keras dalam agama, dan paling lembut kepada saudara-saudara.
Dan secara keseluruhan, kebutuhan saudaramu seharusnya seperti kebutuhanmu, atau lebih penting dari kebutuhanmu, dan engkau harus memperhatikan waktu-waktu kebutuhan tidak lalai dari keadaannya sebagaimana engkau tidak lalai dari keadaan dirimu sendiri, dan membuatnya tidak perlu meminta dan menampakkan kebutuhan untuk minta bantuan. Bahkan engkau melaksanakan kebutuhannya seolah-olah engkau tidak tahu bahwa engkau telah melaksanakannya, dan tidak melihat bagi dirimu hak karena pelaksanaanmu itu. Bahkan engkau menerima budi baik dengan penerimaannya atas usahamu dalam haknya, dan pelaksanaanmu atas urusannya. Dan tidak sepatutnya engkau hanya terbatas pada menunaikan kebutuhan saja, bahkan engkau bersungguh-sungguh dalam memulai memuliakan dalam penambahan dan pengutamaan.
Atha’ berkata: “Perhatikanlah saudara-saudara kalian setelah tiga hari, jika mereka sakit maka jenguklah mereka, atau sibuk maka bantulah mereka, atau mereka lupa maka ingatkanlah mereka.”
Dan Sa’id bin Al-Ash berkata: “Bagi orang yang duduk bersamaku ada tiga hal: Jika ia mendekat aku menyambutnya dengan lapang, jika ia bercerita aku menghadapkan perhatian kepadanya, dan jika ia duduk aku melapangkan tempat untuknya.”
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman: “Penyayang sesama mereka” (Surah Al-Fath: 29) sebagai isyarat kepada kasih sayang dan kemuliaan. Dan dari kesempurnaan kasih sayang adalah tidak menyendiri dengan makanan lezat, atau hadir dalam kegembiraan tanpanya. Bahkan ia merasa tidak tenang karena perpisahan dan merasa kesepian dengan berpisah dari saudaranya.
Lihatlah gambaran yang indah dan menawan dalam pengutamaan ini yang menjadi keadaan para salaf umat ini, maka keadaan mereka adalah apa yang kita lihat dari kemuliaan dan kehormatan – semoga Allah meridhai mereka semua.
Juga dari apa yang disebutkan Imam Al-Ghazali, kita sebutkan sebagian dari apa yang beliau katakan tentang kemurahan hati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan kebaikannya. Ini juga adalah tanda pengutamaan. Beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah orang yang paling dermawan dan paling murah hati, dan beliau di bulan Ramadhan seperti angin yang dikirim, tidak menahan apa pun.
Dan beliau berkata: Ali Radhiyallahu ‘anhu jika menggambarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata: “Beliau adalah orang yang paling dermawan tangannya, paling lapang dadanya, paling benar lisannya, paling menepati janjinya, paling lembut perangainya, dan paling mulia pergaulannya. Barangsiapa melihatnya secara spontan akan segan kepadanya, dan barangsiapa bergaul dengannya dengan kenal akan mencintainya.”
Orang yang menggambarkannya berkata: “Aku tidak pernah melihat sebelum dan sesudahnya seperti beliau. Dan beliau tidak pernah diminta sesuatu dalam Islam kecuali beliau memberikannya. Dan seorang laki-laki mendatanginya lalu meminta, maka beliau memberinya kambing yang menutupi antara dua gunung. Maka ia kembali kepada kaumnya dan berkata: ‘Masuklah Islam karena Muhammad memberi dengan pemberian orang yang tidak takut kemiskinan.’ Dan beliau tidak pernah diminta sesuatu lalu berkata: ‘Tidak.’ Dan dibawa kepadanya sembilan puluh ribu dirham lalu diletakkan di atas tikar kemudian beliau berdiri mendatanginya lalu membaginya, tidak menolak seorang peminta pun hingga selesai. Dan datang seorang laki-laki lalu meminta, maka beliau berkata: ‘Tidak ada sesuatu padaku, tetapi belilah atas namaku, jika datang sesuatu kepada kami, kami akan membayarnya.’ Maka Umar berkata: ‘Wahai Rasulullah, Allah tidak membebanimu dengan apa yang tidak kamu kuasai.’ Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak menyukai itu. Maka laki-laki itu berkata: ‘Berinfaklah dan jangan takut kekurangan dari Dzat Pemilik ‘Arsy.’ Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tersenyum.”
Lihatlah akhlak ini, pengutamaan ini, kebaikan ini dan kemurahan hati ini yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ajarkan kepada umatnya. Dan benarlah firman Allah Azza wa Jalla: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Surah Al-Qalam: 4).
Masih tersisa bagi kita untuk hidup bersama dalam apa yang aku tulis tentang hak-hak persaudaraan, yang aku bagi menjadi empat bagian: persaudaraan manusia dengan saudaranya manusia, yaitu yang dikenal dengan persaudaraan kemanusiaan. Dan ada persaudaraan nasab dari orang yang kita nasabkan kepadanya dan dinasabkan kepada kita dari ayah, ibu, kerabat, keluarga dan seterusnya. Dan persaudaraan iman dari orang-orang yang kita terikat dengan mereka dengan ikatan agama. Dan ada persaudaraan karena Allah.
Dan Islam telah meninggikan warna-warna ini dan menjelaskan apa yang ada padanya dari hak-hak, dan apa yang ada padanya dari ciri-ciri pengutamaan. Tetapi kita berhenti pada jenis persaudaraan ini, yaitu persaudaraan dalam iman dan persaudaraan karena Allah untuk memetik sebagian dari apa yang ada dalam hak-hak ini dan itu dari ciri-ciri pengutamaan dalam agama Allah, dan dalam Kitab Allah Azza wa Jalla.
Sungguh Islam dalam persaudaraan ini telah mencapai gambaran yang melampaui impian para filsuf dan pemilik kota-kota utama. Dan para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memberikan teladan paling indah dalam ketulusan persaudaraan ini, sehingga kita menemukan dalam masyarakat Madinah suatu warna persaudaraan ini yang lebih besar dari persaudaraan nasab dan kekerabatan. Dengannya Anshar dan Muhajirin saling mewarisi, saling menjamin, dan saling membantu. Dan Anshar berhak mendapat kesaksian kebanggaan yang masih terus bergema hingga hari ini di telinga zaman, yang kita sebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin)” (Surah Al-Hasyr: 9) hingga akhir ayat.
Maka mereka inilah Anshar yang mencintai orang yang berhijrah kepada mereka dengan cinta yang membuat mereka memberikan segala yang berharga dan mahal untuk saudara-saudara mereka Muhajirin, sehingga Muhajirin berkata dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad dari Anas Radhiyallahu ‘anhu: “Wahai Rasulullah, kami tidak melihat seperti kaum yang kami datangi, lebih baik kepeduliannya dalam yang sedikit dan lebih baik pemberiannya dalam yang banyak. Sungguh mereka telah mencukupi beban kami, dan mempersekutukan kami dalam yang menyenangkan, sehingga kami khawatir mereka akan pergi dengan semua pahala. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda untuk menenangkan hati mereka: ‘Tidak, selama kalian memuji mereka dan mendoakan Allah untuk mereka.'”
Dan Anshar ini – sebagaimana kita ketahui – tidak merasakan sesak di dada jika mereka menemukan saudara-saudara mereka Muhajirin telah mendahului mereka dengan keutamaan dan pujian dari Allah. Dan Muhajirin memang layak untuk itu, karena mereka sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “(Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong (agama) Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar” (Surah Al-Hasyr: 8).
Sesungguhnya kaum Anshar telah mengutamakan saudara-saudara mereka kaum Muhajirin dengan apa yang mereka miliki meskipun mereka sendiri membutuhkan nafkah, dan demi Allah itulah sedekah yang paling utama dan pemberian yang paling agung, yaitu ketika engkau memberikan sesuatu padahal engkau sangat membutuhkannya. Mereka sebagaimana kita lihat mengutamakan orang lain di atas diri mereka sendiri meskipun mereka sendiri dalam keadaan sangat membutuhkan, maksudnya: mereka dalam keadaan sangat membutuhkan apa yang mereka utamakan untuk orang lain. Telah kami sebutkan apa yang terjadi pada Abu Thalhah Al-Anshari semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhainya.
Inilah hati-hati yang dikuasai oleh iman dan dikumpulkan oleh Rabb semesta alam di meja-Nya, dan ditegakkan di atas hati yang paling bertakwa seperti hati satu orang. Sesungguhnya ini adalah karunia ilahi dan pengaturan rabbaniyah yang tidak dapat diperoleh oleh kekuatan-kekuatan dunia bagaimanapun besar usaha dan harta yang mereka keluarkan. Bahkan seandainya mereka mengeluarkan semua yang ada di bumi, mereka tidak akan mampu mendapatkan apa yang dimudahkan oleh Allah untuk Rasul-Nya dan dijadikan-Nya sebagai sebab kemenangan beliau dan kemenangan agama-Nya. Bahkan orang-orang yang dicintai ini menjadi teladan hidup untuk hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Perumpamaan orang-orang beriman dalam kasih sayang, belas kasih, dan simpati mereka adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota mengeluh sakit, maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan begadang dan demam”. Dan dalam riwayat Muslim: “Orang-orang Muslim seperti satu orang. Jika matanya sakit, maka seluruh tubuhnya sakit. Dan jika kepalanya sakit, maka seluruh tubuhnya sakit”. Ini adalah gambaran hidup yang berdenyut dengan iman yang membimbing kita kepada banyak hak-hak persaudaraan iman. Oleh karena itu Allah ta’ala berfirman: “Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin. Dan yang mempersatukan hati mereka. Seandainya engkau menginfakkan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya engkau tidak dapat mempersatukan hati mereka. Tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana” (Surat Al-Anfal: 62, 63).
Di antara yang mencakup hak-hak ini adalah sifat Allah untuk para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di mana Rabb kita berfirman: “Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka” (Surat Al-Fath: 29). Mereka adalah kekuatan yang menakutkan musuh-musuh Allah. Engkau melihat mereka di medan perang sebagai pasukan yang menyerang dan berkeliling, yang keberaniannya ditakuti oleh ahli kekafiran dan kesesatan. Tetapi engkau melihat mereka di antara sesama mereka penuh dengan kelembutan, sopan santun, akhlak, kerendahan hati, kasih sayang, dan belas kasih. Yang mengherankan bahwa di antara sifat orang beriman adalah bahwa ia mudah bergaul dan disenangi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Yang paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya di antara kalian, yang lembut budi pekertinya, yang disenangi dan menyenangi orang lain”. Maka perasaan orang beriman terhadap saudara-saudaranya, perasaannya terhadap kebutuhan mereka, dan keperhatiannya pada apa yang bermanfaat bagi mereka adalah dasar-dasar dalam hubungan di antara saudara-saudara seiman.
Jika kita berbicara tentang pengutamaan (itsar) dalam kitab Allah dan dalam sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka gambaran pengutamaan di antara saudara-saudara yang saling mencintai karena Allah tidak akan engkau lihat kecuali pada sahabat-sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan setelah mereka dari kalangan salaf shalih umat ini. Hingga hari ini engkau melihat sebagian dari gambaran-gambaran yang bersinar dengan cahaya Allah bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dengan iman yang benar, dan hubungan iman serta cinta karena iman mengikat hati-hati mereka. Maka pertemuan mereka adalah untuk Allah dan karena Allah. Alangkah indahnya kehidupan yang persaudaraan ini menjadi dasarnya, dan alangkah mulianya kehidupan yang dinaungi oleh cinta kasih ini dengan naungannya yang penuh rahmat.
Kita telah mengetahui bahwa hak-hak saudara itu banyak: ada hak-hak materi dan hak-hak moril, yang pada akhirnya membentuk pagar kokoh yang melindungi persaudaraan ini dari segala sisi, melindunginya dari segala bahaya dan menolak segala keburukan darinya. Mengapa tidak, bukankah ini adalah persaudaraan yang tumbuh dalam suasana suci dan disiram dari mata air iman, dipelihara oleh pemeliharaan ilahi dan dijaga oleh kekuatan rabbaniyah. Ini adalah persaudaraan karena Allah, dalam Allah, dan demi Allah. Para pemiliknya tidak berkumpul karena tujuan dari tujuan-tujuan kehidupan dunia, atau karena kepentingan dari kepentingan-kepentingannya yang fana sehingga akan hilang dengan hilangnya tujuan ini, dan berubah dengan berubahnya kepentingan ini. Namun ini adalah persaudaraan yang kekal dan berkelanjutan karena terikat dengan Yang Kekal yang tidak akan lenyap. Oleh karena itu ia tetap ada dan berlanjut hingga hari kiamat dan setelah hari kiamat sebagaimana Rabb kita berfirman: “Pada hari itu, teman-teman akrab menjadi musuh satu sama lain kecuali orang-orang yang bertakwa. (Dikatakan kepada mereka), ‘Wahai hamba-hamba-Ku! Tidak ada rasa takut pada dirimu pada hari ini dan kamu tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang Muslim. Masuklah ke dalam surga, kamu dan pasangan-pasanganmu dalam keadaan bergembira. Mereka dikelilingi dengan piring-piring dari emas dan gelas-gelas. Di dalamnya terdapat segala yang diinginkan jiwa dan sedap (dipandang) mata. Dan kamu kekal di dalamnya. Itulah surga yang diwariskan kepadamu disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan. Di dalamnya ada buah-buahan yang banyak, yang sebagiannya kamu makan'” (Surat Az-Zukhruf: 67-73). Maka pengutamaan ini harus bersumber dari mata air ini, jika tidak, apa yang mendorong seseorang untuk mengutamakan orang lain di atas dirinya sendiri, kecuali jika ini berasal dari landasan iman. Jika tidak ada dasar ini, maka tidak ada faedahnya sama sekali, dan tidak mungkin bagi manusia yang mencari dunia untuk menjadi termasuk orang-orang yang mengutamakan orang lain di atas diri mereka sendiri meskipun mereka dalam keadaan sangat membutuhkan.
Perhatikanlah pengutamaan ini pada apa yang terjadi antara kaum Anshar dengan kaum Muhajirin, dan engkau membaca apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Anas semoga Allah meridhainya ketika ia berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil kaum Anshar untuk memberikan kepada mereka (tanah) Bahrain. Mereka berkata: ‘Tidak, kecuali jika engkau memberikan kepada saudara-saudara kami dari kaum Muhajirin seperti itu juga.’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Jika tidak demikian, maka bersabarlah hingga kalian bertemu denganku’ -yaitu: di telaga- ‘karena sesungguhnya akan menimpa kalian setelahku ketidakadilan.'” Karena pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada yang mencukupi kaum Muhajirin dan kaum Anshar, maka beliau menyeru mereka untuk bersabar dan menjelaskan kepada mereka bahwa mereka tidak akan mendapatkan dari dunia kecuali sedikit, dan orang lain akan lebih diuntungkan oleh dunia ini, dan mereka harus bersabar hingga bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di telaga. Di sana di akhirat nanti mereka akan mendapat bagian yang lebih banyak dan nasib yang paling besar.
Maka inilah ciri-ciri pengutamaan dalam kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta dorongan-dorongan yang mendorong seseorang untuk menjadi termasuk orang-orang yang mengutamakan orang lain di atas diri mereka sendiri meskipun mereka dalam keadaan sangat membutuhkan. Masalah ini membutuhkan pendidikan iman bagi umat kita agar dapat istiqamah di jalan pengutamaan ini, karena dengan pengutamaan inilah kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Kita memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar menolong kita dan kalian untuk mengingat-Nya, bersyukur kepada-Nya, taat kepada-Nya, dan beribadah dengan baik kepada-Nya.
Semoga shalawat, salam, dan berkah Allah tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya.
Pelajaran: 7 Akhlak dalam Al-Quran Al-Karim (2)
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Kejujuran dalam Bahasa
Segala puji bagi Allah, dan aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Amma ba’du:
Kejujuran:
Pertama: Kejujuran dalam bahasa:
Apa yang tercantum dalam kitab-kitab bahasa dalam menjelaskan makna kejujuran: Saya akan memilih dari kitab-kitab ini apa yang berkaitan dengan topik kita. Penulis kamus (Maqayis Al-Lughah) Imam Ibnu Faris berkata: Shad, Dal, dan Qaf adalah akar kata yang menunjukkan kekuatan dalam sesuatu, baik perkataan maupun lainnya. Di antaranya adalah kejujuran lawan dari kebohongan, dinamai demikian karena kekuatannya dalam dirinya sendiri, dan karena kebohongan tidak memiliki kekuatan, ia adalah kebatilan. Asal kata ini dari ungkapan mereka “sesuatu yang shidq” artinya: keras, dan tombak shidq. Dikatakan: mereka bersungguh-sungguh dalam berperang, dan sebaliknya mereka berbohong. As-Shiddiq adalah orang yang senantiasa jujur. Mahar disebut demikian karena kekuatannya dan karena ia adalah hak yang wajib. Persahabatan berasal dari kejujuran dalam kasih sayang. Dalam (Lisan Al-‘Arab) Ibnu Manzhur berkata: Kejujuran adalah lawan kebohongan. Membenarkan seseorang dalam perkataannya artinya memberitahunya dengan kejujuran. Al-Musaddiq adalah orang yang membenarkanmu dalam perkataanmu. As-Shiddiq adalah orang yang senantiasa membenarkan, dan orang yang membenarkan perkataannya dengan perbuatan dan sangat bersungguh-sungguh dalam kejujuran. Ash-Shadq adalah orang yang teguh dalam pertemuan. Ibnu Durustawaih berkata: Kejujuran tidak ada hubungannya dengan kekerasan sama sekali. Sesungguhnya kejujuran adalah yang mencakup sifat-sifat terpuji.
Al-Khalil berkata: Kejujuran adalah kesempurnaan dari segala sesuatu. Penulis kamus (Mufradat Alfazh Al-Quran) berkata: Kejujuran dan kebohongan asalnya dalam perkataan, baik lampau maupun yang akan datang, baik janji atau lainnya. Keduanya hanya berlaku dengan maksud pertama dalam perkataan, dan keduanya dalam perkataan hanya berlaku pada berita tanpa jenis-jenis kalimat lainnya. Ia berkata: Keduanya -yaitu kejujuran dan kebohongan- bisa secara tidak langsung berlaku pada jenis-jenis kalimat lainnya seperti pertanyaan, perintah, dan doa, dan ia menyebutkan contoh-contoh dalam hal itu. Kejujuran adalah kesesuaian perkataan dengan hati nurani dan yang diberitakan bersamanya. Kapan saja salah satu syarat itu hilang, maka tidak menjadi kejujuran yang sempurna, bahkan tidak dapat disifatkan dengan kejujuran, atau terkadang disifatkan dengan kejujuran dan terkadang dengan kebohongan berdasarkan dua sudut pandang yang berbeda. Seperti perkataan orang kafir jika ia berkata tanpa keyakinan: Muhammad adalah Rasulullah, maka ini bisa dikatakan: dia benar karena yang diberitakan demikian, dan bisa dikatakan dia berbohong karena perkataannya bertentangan dengan hati nuraninya. Dengan cara kedua ini Allah mendustakan orang-orang munafik ketika mereka berkata: “Kami bersaksi bahwa engkau sungguh utusan Allah” (Surat Al-Munafiqun: 1), ayat. As-Shiddiq adalah orang yang banyak melakukan kejujuran. Dikatakan: untuk orang yang tidak pernah berbohong sama sekali. Dikatakan: untuk orang yang tidak mungkin berbohong darinya karena kebiasaannya jujur. Dikatakan: untuk orang yang membenarkan dengan perkataannya, keyakinannya, dan merealisasikan kejujurannya dengan perbuatannya… hingga akhir apa yang dikatakan Ar-Raghib Al-Ashfahani.
Inilah makna-makna kejujuran yang disebutkan oleh para imam, dan semuanya berdasarkan bahwa kejujuran adalah kekuatan, keteguhan, kelengkapan, dan kumpulan sifat-sifat terpuji, serta kumpulan kesempurnaan dalam segala hal.
Kejujuran dalam Al-Quran Al-Karim dan Sunnah yang Suci
Jika kita melihat dalam kitab Allah untuk mengetahui bagaimana Al-Quran menyampaikan kata ini dan materi ini, materi kejujuran, agar kita mengetahui dan mengambil pelajaran dan hikmah darinya. Ketika kita mengkaji materi ini dalam Al-Quran Al-Karim, kita mendapatinya disebutkan seratus lima puluh lima kali. Menyebutkan ayat-ayat di mana materi ini disebutkan tidak cukup waktu dalam ceramah ini, tetapi dalam bidang tafsir maudhu’i (tematik) Al-Quran Al-Karim, cukup bagi kita untuk berhenti pada ayat-ayat ini untuk membaginya menjadi kelompok-kelompok. Setiap kelompok mewakili unsur dari unsur-unsur topik, dan dengan berkumpulnya unsur-unsur ini, topik akan tampak bersinar sempurna menunjukkan keagungan Al-Quran dalam apa yang telah diletakkannya dari kaidah-kaidah dan didirikannya dari bangunan.
Kejujuran adalah bangunan yang berdiri di atas dasar dari akhlak Al-Quran, yang dibangun di atas tauhid kepada Allah dan iman kepada Rasul-Nya. Jika engkau merenungkan ayat-ayat, engkau akan mendapati bahwa ayat-ayat itu berbicara tentang kejujuran sebagai sifat Allah dan sifat Rasul-Nya, bahkan sifat para rasul Allah dan sifat ahli iman. Ayat-ayat berbicara tentang kejujuran sebagai sifat untuk tempat atau sesuatu yang memiliki kepentingannya, seperti yang engkau lihat dalam firman-Nya: “kedudukan yang kokoh” (Surat Yunus: 2), dan “tempat tinggal yang baik” (Surat Yunus: 93), dan “tempat masuk yang baik” (Surat Al-Isra’: 80), dan “tempat keluar yang baik” (Surat Al-Isra’: 80), dan “gelar kehormatan yang baik” (Surat Maryam: 50), dan “tempat duduk yang terhormat” (Surat Al-Qamar: 55). Dalam lima puluh tempat Allah menyebutkan kata “orang-orang yang jujur”, maka engkau melihat banyak macam perkara dan orang yang dituntut kejujuran dalam apa yang mereka katakan atau lakukan.
Sebagaimana Allah mensifati laki-laki dengan kejujuran, Dia juga mensifati perempuan, maka Dia berfirman: “Dan laki-laki yang jujur dan perempuan yang jujur”. Dalam bentuk superlatif, kata ini “ashdaqu” (paling jujur) tidak disebutkan kecuali sebagai sifat Allah ‘azza wa jalla, dan itu dalam dua tempat, yaitu dalam surat “An-Nisa'” dalam firman-Nya “Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah” (Surat An-Nisa’: 87), dan dalam firman-Nya “Dan siapakah yang lebih benar perkataan(nya) daripada Allah” (Surat An-Nisa’: 122).
Dari materi kejujuran muncul kata sedekah dalam bentuk tunggal di lima tempat, dan dalam bentuk jamak di delapan tempat. Sedekah dikeluarkan oleh pemiliknya dengan sukarela, karena mengharapkan pahala Allah, maka menunjukkan kejujuran imannya. Juga datang kata “shaduqat” -dengan mendammah dal- dengan makna memberikan mahar kepada istri, dan ini bukan harga untuknya, tetapi adalah tanda kejujuran laki-laki dalam pernikahannya dengan gadis atau wanita ini. Sahabat dekat dinamai demikian karena kejujurannya dalam kasih sayang dan cintanya kepada saudaranya. Kata ini disebutkan dalam dua tempat dalam surat “An-Nur” dalam kalimat yang membolehkan orang beriman untuk makan dari rumahnya tanpa merasa bersalah, sebagaimana Allah ta’ala berfirman: “atau apa yang kamu miliki kuncinya atau (rumah) sahabatmu” (Surat An-Nur: 61). Dan dalam surat “Asy-Syu’ara'” dalam harapan orang-orang kafir agar mereka memiliki sahabat yang setia yang memberi syafaat untuk mereka di sisi Allah. Allah ta’ala berfirman: “Maka tidak ada bagi kami pemberi syafaat. Dan tidak (pula) seorang teman yang setia” (Surat Asy-Syu’ara’: 100, 101).
Kita telah melihat apa arti kata sahabat dekat, dan Allah telah mensifatinya kepada para nabi Ibrahim, Idris, dan Yusuf ‘alaihimussalam, dan mereka termasuk orang-orang yang Allah beri nikmat kepadanya. Sifat ini juga diberikan kepada Sayyidah Maryam. Al-Mushaddiq adalah orang yang mengakui apa yang ia dengar dan mengakuinya. Itu dalam dua puluh ayat yang menjelaskan bahwa Al-Quran membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya, dan setiap kitab datang membenarkan kitab-kitab yang mendahuluinya. Yahya ‘alaihissalam membenarkan kalimat dari Allah. Sebagaimana datang dalam satu tempat dalam surat “Ash-Shaffat” dalam firman-Nya ta’ala: “Sesungguhnya aku dahulu mempunyai seorang teman (di dunia). Yang mengatakan, ‘Apakah kamu benar-benar termasuk orang yang membenarkan (hari berbangkit)? Apabila kami mati dan kami telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah kami benar-benar akan diberi balasan?'” (Surat Ash-Shaffat: 51-53). Dalam “orang-orang yang bersedekah laki-laki dan perempuan” kita membaca firman Allah dalam saudara-saudara Yusuf kepada Yusuf: “Maka sempurnakanlah untuk kami takaran dan bersedekahlah kepada kami. Sungguh, Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah” (Surat Yusuf: 88). Dan dalam pujian Allah kepada orang-orang yang bersedekah laki-laki dan perempuan, dan apa yang ada untuk masing-masing mereka dari pahala, kita membaca dalam surat Al-Hadid “Sungguh, orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, akan dilipat gandakan (pahalanya) bagi mereka dan mereka mendapat pahala yang mulia” (Surat Al-Hadid: 18). Dan dalam surat Al-Ahzab “Dan laki-laki yang bersedekah dan perempuan yang bersedekah, laki-laki yang berpuasa dan perempuan yang berpuasa” hingga firman-Nya: “Allah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (Surat Al-Ahzab: 35).
Jika kita berbicara tentang kejujuran dalam Al-Quran, maka yang berkaitan dengan topik kita adalah ayat-ayat yang berbicara tentang kejujuran dalam perilaku manusia yang meninggikan nilai kejujuran, dan menyeru agar menjadi akhlak bagi manusia dan manhaj yang menjadi dasar kehidupan mereka. Kitab Allah telah datang dalam aspek ini dari aspek-aspek yang mengakarkan kehidupan yang aman dan tenang.
Dalam petunjuk kenabian ada yang menambahkan dimensi lain untuk apa yang dibawa oleh kitab Allah ‘azza wa jalla. Maka apa yang datang dalam sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Kita membaca dari (Shahih Bukhari) apa yang diriwayatkan dengan sanadnya dari Thalhah bin ‘Ubaidillah: “Bahwa seorang Arab badui datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kepala berantakan. Ia berkata: ‘Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku apa yang diwajibkan Allah kepadaku dari shalat?’ Beliau bersabda: ‘Shalat lima waktu kecuali jika engkau menambah dengan sunnah.’ Ia berkata: ‘Beritahukan kepadaku apa yang diwajibkan kepadaku dari puasa.’ Beliau bersabda: ‘Bulan Ramadhan kecuali jika engkau menambah dengan sunnah.’ Ia berkata: ‘Beritahukan kepadaku apa yang diwajibkan Allah kepadaku dari zakat.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan kepadanya syariat-syariat Islam. Ia berkata: ‘Demi Dzat yang memuliakanmu, aku tidak akan menambah sunnah apa pun dan tidak akan mengurangi apa yang diwajibkan Allah kepadaku sedikitpun.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Dia beruntung jika benar, atau dia masuk surga jika benar.'”
Ini adalah kejujuran terhadap Allah dalam menunaikan kewajiban-kewajiban-Nya, dan tidak diragukan lagi bahwa kejujuran dalam menunaikan kewajiban akan mengarahkan pada pelaksanaan ibadah-ibadah sunah. Ini adalah metode Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam mengajar umat Islam, yaitu memulai dengan kewajiban, kemudian ibadah sunah setelah itu.
Imam Bukhari juga meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya ada tiga orang dari umat sebelum kalian yang sedang berjalan, tiba-tiba mereka kehujanan, lalu mereka berteduh ke dalam sebuah gua, kemudian gua itu tertutup rapat atas mereka. Sebagian mereka berkata kepada yang lain: Demi Allah wahai kalian, tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian kecuali kejujuran, maka hendaklah setiap orang di antara kalian berdoa dengan sesuatu yang ia tahu bahwa ia telah jujur di dalamnya. Maka setiap orang dari mereka menyebutkan suatu perkara yang disebutkannya.” Hadits tersebut (panjang), lalu Allah melapangkan (gua) bagi mereka dan mereka keluar. Hadits panjang ini yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu anhuma dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjelaskan akibat kejujuran terhadap Allah dalam kewajiban-kewajiban yang ditetapkan-Nya dan syariat-syariat-Nya, dan juga menjelaskan akibat kejujuran dalam apa yang dilakukan manusia terhadap sesama manusia dari perkara-perkara yang menjadi hak mereka dengan ikhlas kepada Allah Subhanahu wa Taala dalam hal itu, dan berkomitmen dalam bermuamalah dengan orang lain dengan syariat Allah dan petunjuk Allah; sebagai ketaatan kepada Allah dan mengharap pahala dari Allah.
Imam Bukhari meriwayatkan kepada kita dengan sanadnya dari Abdurrahman bin Abdullah bin Kaab bin Malik, dari Abdullah bin Kaab bin Malik, dan ia adalah pemandu Kaab bin Malik, berkata: “Aku mendengar Kaab bin Malik menceritakan ketika ia tidak ikut serta dalam peristiwa Tabuk: Demi Allah, aku tidak mengetahui seorang pun yang diuji oleh Allah dalam kejujuran perkataan lebih baik daripada ujian-Nya kepadaku. Aku tidak pernah sengaja berdusta sejak aku menyebutkan hal itu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hingga hari ini, dan Allah Azza wa Jalla menurunkan kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam: Sungguh Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang Muhajirin dan Anshar (Surah At-Taubah: 117) hingga firman-Nya: dan bersamalah kalian dengan orang-orang yang benar (Surah At-Taubah: 119).” Maka sahabat yang mulia ini jujur kepada Allah dan jujur kepada Rasul-Nya sehingga menjadi sebab diterimanya tobatnya, dan ceritanya menjadi Al-Quran yang dibaca sepanjang zaman.
Imam Muslim juga meriwayatkan kepada kita dengan sanadnya dari Anas bin Malik berkata: “Kami dilarang untuk bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang sesuatu, maka kami senang jika datang seorang laki-laki dari penduduk desa yang cerdas lalu bertanya kepada beliau dan kami mendengarkan. Maka datanglah seorang laki-laki dari penduduk desa dan berkata: Wahai Muhammad, utusan kami datang kepada kami dan ia mengklaim kepada kami bahwa engkau mengklaim bahwa Allah mengutusmu. Beliau menjawab: Benar. Ia berkata: Siapa yang menciptakan langit? Beliau menjawab: Allah. Ia berkata: Siapa yang menciptakan bumi? Beliau menjawab: Allah. Ia berkata: Siapa yang mendirikan gunung-gunung ini dan menjadikan di dalamnya apa yang dijadikan? Beliau menjawab: Allah. Ia berkata: Demi Dzat yang menciptakan langit, menciptakan bumi, dan mendirikan gunung-gunung ini, apakah Allah yang mengutusmu? Beliau menjawab: Ya. Ia berkata: Utusan kami mengklaim bahwa kami wajib shalat lima waktu dalam sehari semalam kami. Beliau menjawab: Benar. Ia berkata: Demi Dzat yang mengutusmu, apakah Allah memerintahkanmu dengan ini? Beliau menjawab: Ya. Ia berkata: Utusan kami mengklaim bahwa kami wajib mengeluarkan zakat dari harta kami. Beliau menjawab: Benar. Ia berkata: Demi Dzat yang mengutusmu, apakah Allah memerintahkanmu dengan ini? Beliau menjawab: Ya. Ia berkata: Utusan kami mengklaim bahwa kami wajib berpuasa bulan Ramadhan dalam setahun kami. Beliau menjawab: Benar. Ia berkata: Demi Dzat yang mengutusmu, apakah Allah memerintahkanmu dengan ini? Beliau menjawab: Ya. Ia berkata: Utusan kami mengklaim bahwa kami wajib berhaji ke Baitullah bagi yang mampu melaksanakannya. Beliau menjawab: Benar. Ia berkata: Kemudian ia berpaling, ia berkata: Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan menambahnya dan tidak akan menguranginya. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Jika ia jujur, sungguh ia akan masuk surga.” Hadits ini mirip dan seolah-olah ia adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang telah kami sebutkan sebelumnya.
Dari Abu Darda berkata: “Kami bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu beliau menengadahkan pandangannya ke langit, kemudian bersabda: Ini adalah masanya ilmu direnggut dari manusia hingga mereka tidak mampu mendapatkan sedikitpun darinya. Maka Ziyad bin Labid Al-Anshari berkata: Bagaimana ilmu direnggut dari kami, padahal kami telah membaca Al-Quran, demi Allah kami akan membacanya dan kami akan mengajarkannya kepada istri-istri dan anak-anak kami. Maka beliau bersabda: Celakalah engkau wahai Ziyad, sungguh aku menghitungmu termasuk orang yang paham di antara penduduk Madinah. Ini adalah Taurat dan Injil yang ada pada orang-orang Yahudi dan Nasrani, lalu apa yang berguna bagi mereka? Jubair berkata: Maka aku bertemu Ubadah bin Shamit, aku berkata: Tidakkah engkau mendengar apa yang dikatakan saudaramu Abu Darda? Maka aku mengabarkan kepadanya apa yang dikatakan Abu Darda. Ia berkata: Abu Darda benar, jika engkau mau aku akan menceritakan kepadamu tentang ilmu pertama yang diangkat dari manusia yaitu kekhusyukan, hampir-hampir engkau memasuki masjid jamaah tetapi tidak melihat di dalamnya seorang laki-laki pun yang khusyu.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia berkata: Ini adalah hadits hasan gharib.
Dan ia meriwayatkan dengan sanadnya dari Al-Harits berkata: “Aku melewati masjid dan tiba-tiba orang-orang membicarakan hadits-hadits, maka aku masuk menemui Ali dan berkata: Wahai Amirul Mukminin, tidakkah engkau melihat bahwa orang-orang telah membicarakan hadits-hadits? Ia berkata: Apakah mereka telah melakukannya? Aku berkata: Ya. Ia berkata: Adapun aku, sungguh aku telah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Ketahuilah, sesungguhnya akan terjadi fitnah. Maka aku berkata: Apa jalan keluar darinya wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Kitab Allah, di dalamnya berita apa yang terjadi sebelum kalian, dan kabar apa yang terjadi setelah kalian, dan hukum apa yang terjadi di antara kalian, dan ia adalah pemisah bukan main-main. Barangsiapa meninggalkannya dari orang yang sombong, Allah akan menghancurkannya, dan barangsiapa mencari petunjuk selain darinya, Allah akan menyesatkannya. Ia adalah tali Allah yang kokoh, ia adalah peringatan yang penuh hikmah, ia adalah jalan yang lurus. Ia adalah yang tidak menyimpang karenanya hawa nafsu, tidak membuat bingung karenanya lidah-lidah, para ulama tidak pernah merasa puas darinya, tidak usang karena banyaknya pengulangan, tidak habis keajaiban-keajaibannya. Ia adalah yang tidak berhenti para jin ketika mendengarnya hingga mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengar Al-Quran yang menakjubkan yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar maka kami beriman kepadanya. Barangsiapa berkata dengannya, ia jujur, barangsiapa mengamalkannya, ia mendapat pahala, barangsiapa menetapkan hukum dengannya, ia berlaku adil, dan barangsiapa menyeru kepadanya, ia diberi petunjuk ke jalan yang lurus.”
Imam Tirmidzi berkata: Ini adalah hadits gharib, kami tidak mengenalnya kecuali dari jalan ini, dan sanadnya majhul (tidak dikenal), dan dalam (perawi) Al-Harits—yaitu perawi hadits ini—ada kritikan.
Bagaimanapun, yang penting bagi kita dari hadits panjang ini adalah sabdanya shallallahu alaihi wasallam: “Barangsiapa berkata dengannya, ia jujur.” Maka orang yang menginginkan kejujuran dan ingin berhias dengan kejujuran, hendaklah ia berkomitmen dengan Al-Quran yang mulia ini dalam adab, akhlak, dan muamalahnya, serta apa yang dibawanya, karena inilah jalan kejujuran.
Ia juga meriwayatkan kepada kita dengan sanadnya dari Abu Musa Al-Asyari radhiyallahu taala anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku bermimpi bahwa aku berhijrah dari Makkah ke negeri yang di dalamnya ada pohon kurma, maka perkiraanku itu adalah Yamamah atau Hajar, ternyata ia adalah Madinah Yatsrib. Aku melihat dalam mimpiku ini bahwa aku mengayunkan pedang lalu patah bagian tengahnya, ternyata itu adalah apa yang menimpa orang-orang mukmin pada hari Uhud, kemudian aku mengayunkannya lagi maka ia kembali sebaik-baik keadaannya, ternyata itu adalah apa yang Allah datangkan berupa kemenangan dan terkumpulnya orang-orang mukmin. Aku melihat di dalamnya sapi dan Allah itu baik, ternyata mereka adalah orang-orang mukmin pada hari Uhud, dan ternyata kebaikan itu adalah apa yang Allah datangkan berupa kebaikan, dan pahala kejujuran yang Allah berikan kepada kami setelah hari Badar.”
Yang menjadi saksi dalam hadits ini adalah sabdanya shallallahu alaihi wasallam: “Apa yang Allah datangkan berupa kebaikan dan pahala kejujuran.” Maka pahala kejujuran adalah pahala yang agung, berupa pertolongan di dunia ini, dan pemantapan bagi ahli Islam. Mungkin kita akan kembali membicarakan balasan bagi orang-orang yang jujur, sebagaimana yang datang dalam Kitab Allah Azza wa Jalla.
Dan dalam hadits juga dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kejujuran membimbing kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan membimbing kepada surga. Sesungguhnya seseorang senantiasa jujur hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai shiddiq (orang yang sangat jujur). Dan sesungguhnya kebohongan membimbing kepada kejahatan, dan sesungguhnya kejahatan membimbing kepada neraka. Dan sesungguhnya seseorang senantiasa berdusta hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” Maka kejujuran ini adalah jalan kebahagiaan dan jalan menuju surga, dan ia menunjukkan manusia kepada semua bentuk kebaikan.
Dan kebaikan—sebagaimana kita ketahui—adalah kata yang mencakup banyak dari syariat-syariat Islam. Barangkali firman Allah Subhanahu wa Taala dalam surah Al-Baqarah: Bukanlah kebaikan itu bahwa kamu memalingkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebaikan itu ialah (kebaikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, Kitab dan para Nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, musafir, orang-orang yang meminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (Surah Al-Baqarah: 177). Maka perhatikanlah penutup ayat dalam firman-Nya: Mereka itulah orang-orang yang benar. Maka mereka adalah orang-orang yang jujur dalam apa yang mereka imani dan dalam apa yang mereka komitmenkan dari syariat-syariat Allah. Kejujuran ini senantiasa membimbing mereka kepada kebaikan, dan tidak diragukan lagi bahwa kebaikan yang mereka komitmenkan ini akan mengantarkan mereka untuk masuk surga. Dan sesungguhnya seseorang senantiasa jujur hingga ia menjadi shiddiq di sisi Allah, mendapat balasan para shiddiqin. Dan kebohongan membimbing kepada kejahatan dan sesungguhnya kejahatan membimbing kepada neraka… hingga akhir apa yang datang dalam hadits ini.
Imam Tirmidzi juga meriwayatkan kepada kita dengan sanadnya dari Abu Al-Jauza As-Saadi berkata: Aku berkata kepada Hasan bin Ali: Apa yang engkau hafal dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? Ia berkata: Aku hafal dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Tinggalkanlah apa yang meragukan dirimu kepada apa yang tidak meragukan dirimu, karena sesungguhnya kejujuran itu adalah ketenangan, dan sesungguhnya kebohongan itu adalah keraguan.” Dan dalam sabdanya: “Karena sesungguhnya kejujuran itu adalah ketenangan” terdapat penjelasan tentang balasan bagi orang-orang yang jujur di dunia, yaitu balasan mereka berupa ketenangan dalam hati. Ketenangan ini tidak didapatkan oleh ahli kebohongan, karena mereka senantiasa dalam keadaan penuh keraguan dan dalam keadaan ketakutan. Maka inilah yang Allah sediakan bagi orang-orang yang jujur di dunia ini.
Imam Ahmad juga meriwayatkan kepada kita dari Abdullah bin Umar: “Bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu berkata: Wahai Rasulullah, apa amalan untuk masuk surga? Beliau bersabda: Kejujuran, dan jika seorang hamba jujur maka ia berbuat baik, dan jika ia berbuat baik maka ia beriman, dan jika ia beriman maka ia masuk surga. Ia berkata: Wahai Rasulullah, apa amalan untuk masuk neraka? Beliau bersabda: Kebohongan, jika seorang hamba berdusta maka ia berbuat jahat, dan jika ia berbuat jahat maka ia kafir, dan jika ia kafir maka ia masuk” yaitu neraka.
Maka kejujuran adalah jalan menuju surga, ia adalah pintu kebaikan, dan ia adalah sarana keimanan. Dan kebohongan adalah sebaliknya. Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak berkumpul keimanan dan kekufuran dalam hati seseorang, tidak berkumpul kejujuran dan kebohongan bersama-sama, dan tidak berkumpul pengkhianatan dan amanah bersama-sama.” Maka kejujuran dan kebohongan ini sama sekali tidak berkumpul dalam hati orang mukmin; oleh karena itu kejujuran adalah sarana menuju kehidupan yang aman, stabil, dan tenang.
Ahli Kejujuran dalam Al-Quran
Kita kembali kepada Kitab Allah Subhanahu wa Taala untuk melihat ayat-ayat yang ditutup dengan penjelasan bahwa mereka yang memiliki sifat-sifat tertentu ini adalah orang-orang yang jujur. Kita telah melihat surah Al-Baqarah dan ayat tentang kebaikan yang telah kita sebutkan sekarang, dan di akhirnya kita membaca firman Allah Taala: Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa (Surah Al-Baqarah: 177). Maka inilah definisi orang-orang yang jujur sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Baqarah, dan ayat yang kita sebutkan mengumpulkan lima belas sifat yang merupakan sifat-sifat ahli kejujuran.
Kita juga membaca dalam surah Al-Hujurat firman Allah Taala: Sesungguhnya orang-orang mukmin itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (Surah Al-Hujurat: 15).
Dan dalam surah Al-Hasyr Allah berfirman dalam sifat kaum Muhajirin: Mereka yang diusir dari kampung halaman dan harta benda mereka, mereka mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. (Surah Al-Hasyr: 8).
Dan dalam surah Al-Hadid Allah berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, akan dilipat gandakan (pembayarannya) kepada mereka dan bagi mereka pahala yang mulia. Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya, mereka itulah orang-orang yang sangat jujur dan para saksi di sisi Tuhan mereka, bagi mereka pahala dan cahaya mereka. (Surah Al-Hadid: 18-19).
Dan jika kita telah mengetahui makna-makna yang terkandung dalam ayat surah Al-Baqarah secara ringkas, maka marilah kita berhenti pada apa yang datang dalam surah Al-Hujurat dari firman Allah Taala: Sesungguhnya orang-orang mukmin itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu (Surah Al-Hujurat: 15). Maka di sini kita menemukan dua sifat: keimanan dan jihad. Keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya dengan keimanan yang pasti, tidak ada keraguan di dalamnya, tidak ada keraguan di dalamnya dan tidak ada syubhat. Dan jihad dengan harta dan jiwa, jihad yang bersih dari segala kehinaan, jihad yang ikhlas kepada Allah dan di jalan-Nya, dan untuk meninggikan kalimat-Nya.
Ayat yang mulia ini turun dalam rangka menjawab orang-orang Arab Badui dari Bani Asad yang mengklaim keimanan tanpa merealisasikannya dengan amal perbuatan. Karena sesungguhnya keimanan itu adalah perkataan dan perbuatan. Maka Allah menjelaskan kepada mereka kebenaran dan menerangkan kepada mereka jalan yang benar. Allah berfirman: Orang-orang Arab Badui berkata: “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: ‘Kami telah masuk Islam,’ karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun dari (pahala) amal-amalmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surah Al-Hujurat: 14), kemudian berfirman: Sesungguhnya orang-orang mukmin itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu (Surah Al-Hujurat: 15).
Ibnu Zaid berkata tentang firman-Nya: Orang-orang Arab Badui berkata: “Kami telah beriman.” Katakanlah: “Kamu belum beriman” ia berkata: Mereka tidak membenarkan keimanan mereka dengan amal perbuatan mereka, maka Allah membantah mereka: Katakanlah: “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: ‘Kami telah masuk Islam,'” dan mengabarkan kepada mereka bahwa orang-orang mukmin itu: orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. Mereka membenarkan keimanan mereka dengan amal perbuatan mereka. Maka barangsiapa di antara mereka berkata: “Aku mukmin,” sungguh ia benar. Ia berkata: Adapun orang yang mengklaim keimanan dengan perkataan dan tidak beramal, maka sungguh ia berdusta dan bukan orang yang jujur. Maka ini adalah batasan yang baik dan penjelasan yang jelas tentang siapa orang-orang yang jujur.
Demikian pula kita temukan dalam surah Al-Hasyr beberapa ciri orang-orang yang jujur ini; di mana Rabb kita menyebutkan dalam sifat orang-orang Muhajirin dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “(Yaitu) orang-orang yang diusir dari kampung halaman dan harta benda mereka, mereka mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong (agama) Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Al-Hasyr: 8). Maka di sini juga terdapat dua sifat yang dekat dengan sifat-sifat pertama yang disebutkan dalam surah Al-Baqarah dan Al-Hujurat. Para Muhajirin ini -semoga Allah meridhai mereka- beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan iman yang tidak tergoyahkan oleh badai, dan tidak terpengaruh oleh tekanan orang-orang zalim dari para tiran kafir. Sesungguhnya dengan iman mereka hidup, dengan iman mereka teguh berdiri, kepada iman mereka bersandar, dan kepadanya mereka bergantung; maka mereka menanggung di jalan Allah segala bentuk penyiksaan. Sungguh mereka diusir dari kampung halaman dan harta benda mereka, para penguasa lalim mengusir mereka dari negeri tercinta mereka, Makkah Al-Mukarramah. Mereka meninggalkan rumah dan harta benda mereka, keluar tanpa membawa sesuatu pun dari harta benda dunia, mereka tidak menginginkan dengan semua ini kecuali wajah Allah dan negeri akhirat. Mereka setelah keluar maupun sebelum keluar hanya mengorbankan hidup mereka untuk menolong agama Allah dan Rasul-Nya, oleh karena itu Allah berfirman: “dan mereka menolong (agama) Allah dan Rasul-Nya” demikian dengan menggunakan kata kerja bentuk present yang menunjukkan pembaruan dan kesinambungan. Mereka inilah yang berdiri bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menolongnya dengan segala bentuk pertolongan sebelum hijrah maupun setelah hijrah. Mereka benar-benar jujur dalam apa yang mereka lakukan dan dalam keteguhan mereka pada iman, oleh karena itu Allah mengkhususkan mereka dengan sifat ini ketika berfirman: “Mereka itulah orang-orang yang benar.” Demikian dengan menggunakan definisi di kedua sisi, dan firman-Nya: “Mereka itulah” yang menunjukkan pembatasan kejujuran pada mereka, seakan-akan hanya merekalah satu-satunya orang-orang yang jujur.
Sebagaimana kita temukan dalam surah Al-Hadid beberapa ciri sifat orang-orang yang jujur, yaitu ketika kita membaca: “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, akan dilipat gandakan (pahalanya) kepada mereka dan bagi mereka pahala yang mulia. Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, mereka itu orang-orang shiddiqin (yang sangat membenarkan) dan para syuhada (yang menjadi saksi) di sisi Tuhan mereka. Bagi mereka pahala dan cahaya mereka.” (Al-Hadid: 18-19). Dalam hal ini terdapat penjelasan Al-Quran yang memperjelas kepada kita siapakah orang-orang yang jujur. Mereka adalah orang-orang yang beriman dengan iman yang kokoh dan teguh kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Iman -sebagaimana kita ketahui- apabila menetap di dalam hati akan menghasilkan buahnya dan memberi hasil: “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (Ibrahim: 24-25).
Inilah sifat-sifat orang-orang yang jujur, dan mereka itulah orang-orang yang jujur. Lalu apa balasan bagi orang-orang jujur ini di dunia dan di akhirat? Kita telah mengisyaratkan sebelumnya kepada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu, karena sesungguhnya kejujuran itu ketenangan, dan sesungguhnya kebohongan itu keraguan.” Inilah balasan pertama bagi orang-orang yang jujur di dunia, yaitu ketenangan hati, kebaikan pikiran, dan perasaan rida serta ketenangan. Dan ada hal lain yang Allah jadikan bagi orang-orang yang jujur, yaitu keberkahan dalam rezeki, keberkahan dalam umur, keberkahan dalam anak-anak, dan keberkahan dalam kehidupan. Inilah yang ditunjukkan oleh sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang disepakati (Muttafaq ‘Alaih) dari Abu Khalid Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu di mana ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Penjual dan pembeli memiliki hak khiyar selama mereka belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan, maka akan diberkahi bagi mereka dalam jual beli mereka. Dan jika mereka menyembunyikan dan berdusta, maka akan dihapus keberkahan jual beli mereka.” Maka perhatikanlah muamalah antar manusia untuk mengetahui bahwa kejujuran adalah dasar dalam berinteraksi antar sesama manusia, baik yang muslim maupun non-muslim, dan bahwa penjual dan pembeli apabila jujur dan menjelaskan maka akan diberkahi bagi mereka dalam jual beli mereka. Keberkahan bukanlah kata yang samar tidak memiliki hakikat, tetapi ia adalah kenyataan yang dapat dirasakan dan disaksikan, individu melihatnya dalam kehidupannya dan umat-umat mengetahui itu dalam kehidupan mereka. Ketika kejujuran dan keikhlasan menyebar, engkau melihat pertumbuhan dalam segala yang ada di hadapanmu dan cahaya dalam segala yang di sekelilingmu. Dan ketika kebohongan menyebar dan sumber keikhlasan mengering, manusia merasakan beratnya kehidupan, sia-sianya umur, dan hilangnya kebaikan dari jiwa mereka dan dari apa yang ada di sekitar mereka. Allah berfirman: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf: 96).
Dan jika ini adalah balasan orang-orang yang jujur di dunia berupa ketenangan di hati dan keberkahan dalam rezeki, maka balasan mereka di sisi Allah di akhirat lebih besar lagi. Sesungguhnya kejujuran -sebagaimana telah kita sebutkan- menuntun manusia kepada jalan-jalan kebaikan, dan jalan ini yang merupakan jalan kebaikan mengantarkannya ke surga, sebagaimana disebutkan dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Hendaklah kalian dengan kejujuran, karena sesungguhnya kejujuran menuntun kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan menuntun ke surga.” Dan dalam kitabullah ‘azza wa jalla terdapat kabar gembira yang besar bagi orang-orang yang jujur dengan apa yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia. Mari kita ambil dari permata dan mutiara Al-Quran apa yang menjelaskan hal tersebut. Kita membaca dalam surah Al-Ahzab firman Allah: “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh, agar Dia menanyai orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka, dan Dia menyediakan bagi orang-orang kafir siksa yang pedih.” (Al-Ahzab: 7-8).
Maka Allah menanyai orang-orang yang jujur tentang kejujuran mereka di hadapan para saksi untuk memberikan kepada orang-orang jujur ini balasan atas kejujuran mereka. Bukti dari itu adalah apa yang datang dalam firman-Nya dan apa yang kita baca di akhir ayat: “dan Dia menyediakan bagi orang-orang kafir siksa yang pedih.” Dan konsekuensi dari ini adalah bahwa Dia telah menyediakan bagi orang-orang yang jujur balasan yang besar.
Juga kita membaca dalam surah Al-Ahzab firman Allah: “Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.’ Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya), supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang-orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab: 22-24).
Mereka ini adalah para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menepati apa yang telah mereka janjikan. “Maka di antara mereka ada yang gugur,” artinya: telah menunaikan kewajibannya lalu mati syahid. Dan di antara mereka ada yang merindukan dan menunggu untuk mati syahid. Itulah cita-cita agung yang menjadi tujuan hidup orang-orang laki-laki ini. Oleh karena itu mereka berhak mendapatkan pertolongan Allah, dukungan Allah, dan bantuan Allah. Dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya). Rabb kita berfirman: “supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya.” Tidak disebutkan kepada kita balasan orang-orang yang jujur di sini, tetapi akan disebutkan dalam ayat-ayat lain. Namun Dia membiarkannya begitu saja agar jiwa berkelana memikirkannya dari berbagai sisi ketika membayangkan apa yang mungkin diberikan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah kepada orang-orang yang jujur dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan mereka ini yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah.
Sekali lagi surah Al-Ahzab kembali menyebutkan kepada kita balasan orang-orang yang jujur, tetapi kali ini ia meletakkan sifat ini di antara sifat-sifat yang semuanya merupakan sifat-sifat agung; di mana Rabb kita berfirman: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahzab: 35). Ini adalah sepuluh sifat dalam satu ayat: Islam, iman, kepatuhan yaitu penghambaan dan ketaatan kepada Allah semata, kejujuran, kesabaran, kekhusyukan yaitu kerendahan hati dan takut kepada Allah, bersedekah, puasa baik yang wajib maupun sunnah, menjaga kemaluan dari yang haram, dan memperbanyak zikir kepada Allah. Barangsiapa mengumpulkan sepuluh sifat ini maka hendaklah ia menantikan balasannya yang sempurna, dan hendaklah ia menantikan kedudukannya yang agung: “Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”
Dan akhirnya kita membaca di akhir surah Al-Ahzab firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Al-Ahzab: 70-71). Dan perkataan yang benar adalah perkataan yang tepat yang tidak bengkok seperti anak panah yang mengenai sasaran dengan jelas. Oleh karena itu mereka mengatakan bahwa perkataan yang benar adalah yang selaras lahir dan batinnya, dan inilah kejujuran itu sendiri. Seperti ayat ini adalah firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (At-Taubah: 119). Dan balasannya sebagaimana kita lihat di sini adalah perbaikan amal dengan pemberian taufik dan kesuksesan, pengampunan dosa-dosa, dan kemenangan yang besar di dunia dan akhirat.
Juga kita membaca dalam kitabullah tentang balasan orang-orang yang jujur apa yang layak kita renungkan untuk melihat kebesaran pahala di dalamnya, yaitu apa yang kita baca di akhir surah Al-Ma’idah dari firman Allah: “Inilah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap Allah. Itulah keberuntungan yang paling besar.” (Al-Ma’idah: 119). “Bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” Engkau melihat bahwa Allah memberikan kepada mereka surga-surga, bukan hanya satu surga. Dalam hadits Imam Bukhari dari Anas ia berkata: “Haritsah terbunuh pada hari perang Badar sedangkan ia masih anak-anak. Maka ibunya datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: Wahai Rasulullah, sungguh engkau telah mengetahui kedudukan Haritsah bagiku. Jika ia berada di surga maka aku akan bersabar dan mengharap pahala, dan jika yang lain maka engkau lihat apa yang akan aku lakukan. Maka beliau bersabda: Celaka engkau, apakah hanya satu surga? Sesungguhnya ia adalah surga-surga yang banyak, dan sesungguhnya ia berada di surga Firdaus.” Dan dari jalur Qatadah: “Dan sesungguhnya anakmu telah mendapatkan Firdaus yang paling tinggi.” Sesungguhnya ia adalah surga-surga yang banyak, dan di setiap surga terdapat apa yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia.
Dan ia adalah surga-surga yang Allah Subhanahu wa Ta’ala gambarkan bahwa di dalamnya mengalir sungai-sungai. Di dalamnya terdapat sungai-sungai yang mengalir. Dan firman-Nya “di bawahnya” mengisyaratkan kepada tempat tinggal penduduk surga yang tinggi, dan bahwa mereka berada di istana-istana. Allah berfirman: “Mereka memperoleh kamar-kamar yang di atasnya dibangun kamar-kamar yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. (Itulah) janji Allah. Allah tidak menyalahi janji.” (Az-Zumar: 20).
Dalam hadits yang disepakati (Muttafaq ‘Alaih) dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya penduduk surga akan melihat penghuni kamar-kamar dari atas kalian, sebagaimana kalian melihat bintang yang bercahaya terang yang jauh di ufuk -yaitu bintang yang bersinar yang menjauh di langit dari timur atau barat karena keutamaan di antara mereka-. Mereka berkata: Wahai Rasulullah, itukah tempat-tempat para nabi yang tidak dicapai selain mereka? Beliau bersabda: Tentu, demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, ada laki-laki yang beriman kepada Allah dan membenarkan para rasul.” Dan jika sungai-sungai mengalir di bawah istana-istana tersebut, maka tidak diragukan lagi ia juga mengalir di antara pepohonan. Dan ia adalah sungai-sungai, bukan hanya satu sungai. Allah berfirman: “Perumpamaan (taman) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa (ialah) di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka.” (Muhammad: 15).
Dan juga dari bagian nikmat ini adalah keabadian yang tidak akan sirna dan tidak akan lenyap, dan tidak akan binasa penghuninya, sebagaimana Rabb kita berfirman dan sebagaimana kita dengarkan dalam ayat: “mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” Mereka berada dalam nikmat yang kekal. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila penghuni surga masuk surga, seorang penyeru akan memanggil: Sesungguhnya bagi kalian untuk hidup dan kalian tidak akan mati selamanya, dan sesungguhnya bagi kalian untuk sehat dan kalian tidak akan sakit selamanya, dan sesungguhnya bagi kalian untuk menjadi muda -artinya menjadi pemuda- dan kalian tidak akan menjadi tua selamanya, dan sesungguhnya bagi kalian untuk menikmati dan kalian tidak akan menderita selamanya.” Dalam riwayat lain: “dan kalian tidak akan berduka cita.” Maka itulah firman-Nya ‘azza wa jalla: “Dan diserulah kepada mereka: ‘Itulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.'” (Al-A’raf: 43).
Inilah tempat-tempat orang-orang yang jujur dan mereka itulah orang-orang yang jujur. Apakah kita bisa menjadi dari orang-orang jujur ini yang berdoa: “Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali ‘Imran: 16). Sesungguhnya mereka sebagaimana Rabb kita berfirman: “(Yaitu) orang-orang yang sabar, orang-orang yang benar, orang-orang yang taat, orang-orang yang menafkahkan hartanya, dan orang-orang yang memohon ampun di waktu sahur.” (Ali ‘Imran: 17)… Aku memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang jujur ini.
Dan segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.
Pelajaran 8: Adab Sosial dalam Al-Quran
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Pengertian Keluarga
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, kepada keluarga dan para sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti petunjuk mereka hingga hari kiamat. Amma ba’du:
Kita akan membahas sistem keluarga dalam Islam:
Apakah kata “keluarga” (al-usrah) tercantum dalam ayat manapun dari Kitabullah? Atau apakah tercantum dalam hadits manapun dari hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Mungkin kalian tidak menemukan penyebutan kata ini dalam Al-Quran. Adapun dalam Sunnah, kata ini tidak disebutkan kecuali dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Imam Ahmad dari hadits Abu Hurairah dalam kisah upaya orang-orang Yahudi untuk mendapatkan keputusan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang membolehkan mereka untuk tidak merajam pezina muhshan, padahal yang tertulis dalam Taurat adalah ini. Dalam konteks hadits ini, perawi menyebutkan: “Bahwa seorang raja dari Bani Israil berzina namun mereka tidak menjalankan hukuman had atasnya, kemudian seorang laki-laki dari sebuah keluarga (usrah) berzina, maka raja itu ingin merajamnya, tetapi kaumnya menghalanginya dan berkata: Orang kami tidak akan dirajam sampai orang kalian dirajam, baru kami akan merajamnya.”
Keluarga (usrah) dalam hadits ini bukanlah keluarga yang ingin kita bicarakan dalam Al-Quran, melainkan keluarga dalam hadits tersebut adalah kelompok, kerabat dan klan seseorang. Oleh karena itu, kita akan mencari makna keluarga dari segi makna dalam bahasa Arab dan kaitannya yang menonjol dalam banyak ayat Al-Quran, perhatian istimewa dalam Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam penjelasan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam semoga Allah meridhai mereka, dan dari para ulama serta fuqaha Islam setelah mereka hingga hari ini.
Para ahli bahasa mengatakan: keluarga (usrah) seseorang adalah kerabatnya, karena ia menjadi kuat dengan mereka. Dalam Al-Mu’jam al-Wasith yang merupakan salah satu kamus modern: keluarga adalah perisai yang kokoh, kerabat dan klan seseorang, serta kelompok yang diikat oleh urusan bersama. Tidak ada penjelasan lebih dari itu dalam kitab-kitab bahasa. Namun dari titik tolak ini, kita katakan bahwa yang utama dari kerabat seseorang adalah istri dan anak-anaknya. Ayat-ayat Al-Quran menjadi bukti atas hal itu, Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Al-Ahzab: 33)
Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi Nuh alaihissalam: “Kami berfirman: Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.” (Hud: 40)
Dan Allah Tuhan kita berfirman: “Dan Nuh berseru kepada Tuhannya seraya berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau adalah benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya. Allah berfirman: Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), karena sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak saleh, sebab itu jangan kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (Hud: 45-46)
Dan Allah Yang Maha Mulia berfirman tentang Nabi Luth alaihissalam: “Para utusan itu berkata: Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluargamu di akhir malam dan janganlah ada seorangpun di antara kamu yang tertinggal (melihat ke belakang), kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya waktu jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?” (Hud: 81)
Dan Allah Subhanahu berfirman kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam: “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (Thaha: 132)
Jika kita ingin membicarakan sistem keluarga dalam Al-Quran dan apa yang Allah syariatkan untuk keluarga dalam Kitab-Nya yang menjamin kebahagiaan dan kelangsungannya, maka kita dapat melakukannya melalui ayat-ayat yang menyebutkan kata suami dan istri (zawj dan zawjah), ayah dan ibu, kedua orang tua, dan kerabat dengan berbagai tingkatannya dari anak-anak, saudara laki-laki dan perempuan, paman dan bibi dari pihak ayah, paman dan bibi dari pihak ibu. Namun ini membutuhkan karya-karya yang menjelaskan petunjuk Al-Quran dalam semua hubungan ini, dan perpustakaan Al-Quran penuh dengan limpahan ini, alhamdulillah.
Dasar-dasar yang Menjadi Fondasi Islam dalam Membangun Hubungan Keluarga
Apa saja dasar-dasar yang menjadi fondasi Islam dan fondasi Al-Quran dalam membangun hubungan ini?
Dasar Pertama: Terwujud dalam sosok manusia yang terdidik dalam pangkuan agama Allah sehingga ia menjadi manusia yang sesungguhnya. Perasaan, hati, dan jiwanya berdenyut dengan keimanan kepada Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai Nabi dan Rasul. Ia bergerak atau diam sesuai dengan metode penyerahan kepada Allah dan ridha kepada-Nya: “Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (Al-An’am: 162-163)
Setiap akhlak yang indah, setiap perkataan dan perbuatan memancarkan cahaya dari sosok seorang Muslim. Dan manusia inilah yang membentuk keluarga Muslim, dan dialah yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwasiat untuk menikahkannya, beliau bersabda: “Jika datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Jika kalian tidak melakukannya, akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar, atau kerusakan yang luas.”
Dasar Kedua: Hubungan yang akan terjalin antara laki-laki dan perempuan bukanlah seperti hubungan yang terjadi antara jantan dan betina dalam dunia hewan, burung, dan sejenisnya. Dan bukan hanya sekedar untuk memuaskan kesenangan, kemudian masing-masing pergi menjalani urusannya sendiri. Jika ada kehamilan dan anak, negara mengambil alih tanggung jawab mereka, dengan anggapan bahwa cara ini dapat menghasilkan orang-orang yang sehat. Mereka tidak menyadari bahwa anak-anak dalam dunia manusia membutuhkan kehangatan keibuan dan pengasuhan ayah, serta pembinaan melalui keluarga yang meluas dengan saudara laki-laki, saudara perempuan, kerabat, dan keluarga.
Abu al-A’la berkata dalam bukunya yang berjudul “Sistem Kehidupan dalam Islam”: Sesungguhnya rumah adalah lembaga yang melatih setiap generasi penerusnya untuk mempersiapkan mereka menanggung beban besar peradaban kemanusiaan dengan penuh kasih sayang, penghiburan, keramahan, dan nasihat.
Lembaga ini tidak hanya menyiapkan individu-individu untuk kelangsungan dan perkembangan peradaban manusia, tetapi juga merupakan lembaga yang para anggotanya dari lubuk hati dan kedalaman jiwanya mengharapkan agar penggantinya lebih baik, lebih saleh, dan lebih lurus jalannya. Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri adalah bahwa rumah adalah akar dan pondasi peradaban manusia, dan kesehatannya serta kekuatan peradaban manusia itu sendiri bergantung pada kesehatan dan kekuatan akar tersebut. Oleh karena itu, kita melihat bahwa hal pertama yang menjadi perhatian dan kepedulian Islam dari sarana-sarana kemasyarakatan adalah mendirikan lembaga rumah tangga dan menegakkannya di atas dasar-dasar yang paling benar dan paling lurus.
Al-Aqqad berkata dalam “Al-Falsafah al-Qur’aniyyah”: Hubungan antara laki-laki dan perempuan bukanlah transaksi dagang antara dua mitra dalam kehidupan, bukan pula kebutuhan untuk membungkam teriakan tubuh dan beristirahat dari godaan setan, bukan pula pembenaran nafsu syahwat dengan pembenaran syariat, dan bukan pula hubungan yang ketiadaannya lebih baik daripada keberadaannya jika laki-laki atau perempuan dapat hidup tanpanya.
Saya katakan: Tetapi hubungan ini sebelum dan sesudah itu adalah hubungan kemanusiaan yang patut dihormati dan disucikan. Ia adalah hubungan antara suami dan istri, antara suami-istri dengan anak-anak, dan antara semua ini dengan kedua orang tua. Meskipun hubungan-hubungan yang beragam ini membentuk batu fondasi dalam bangunan sosial dan mencakup suami-istri, anak-anak, dan orang tua, pada hakikatnya dimulai dengan berkumpulnya seorang laki-laki dan perempuan dalam satu kehidupan dengan tujuan bersama, yaitu meneruskan kehidupan dengan lebih banyak cinta dan keturunan yang saleh.
Inilah dasar yang diletakkan Islam untuk sistem keluarga dalam Al-Quran, yang terangkum dalam bahwa pernikahan adalah hubungan jenis khusus, hubungan yang kekal dan persahabatan yang terus-menerus memanjang sepanjang hari-hari kehidupan dan setelah kematian di negeri keabadian. Oleh karena itu, Allah menyebut istri sebagai “shahibah” (pendamping), Dia berfirman: “Mereka saling memperlihatkan. Orang yang berdosa ingin jika dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya, dan isterinya dan saudaranya, dan kaum keluarganya yang melindunginya, dan orang-orang yang ada di bumi seluruhnya, kemudian (tebusan itu) dapat menyelamatkannya.” (Al-Ma’arij: 11-14)
Dan Allah berfirman: “Apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (‘Abasa: 33-37)
Dan Tuhan kita berfirman dalam menegaskan keesaan-Nya, dan bahwa Dia tidak mempunyai anak karena tidak mempunyai istri, dan mustahil bagi-Nya mempunyai istri, dan Dia Jalla wa ‘Ala menyebutnya sebagai pendamping (shahibah): “Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.” (Al-An’am: 101)
Anda lihat, Dia tidak menyebut ayah, saudara, anak, atau siapapun dengan sebutan “shahib” (pendamping), melainkan hanya menyebut istri sebagai “shahibah” (pendamping).
Dasar Ketiga: Adalah merasakan kedalaman dan keaslian hubungan ini, bahwa ini adalah hubungan di mana setiap pasangan merasa bahwa ia adalah bagian dari yang lain, merindukan dan tertarik kepadanya. Laki-laki, sebanyak apapun harta dan kedudukan yang dimilikinya, sebanyak apapun kenikmatan materi yang ia sediakan untuk dirinya, tidak dapat hidup tanpa istri salehah yang membantunya dalam urusan agama dan dunianya, menemaninya dalam kesendiriannya, dan menghilangkan kesunyiannya.
Demikian pula gadis membutuhkan suami untuk hidup bersamanya sepanjang hidup, meskipun ia mengalami kesulitan hidup bersamanya, padahal kedua orang tuanya mungkin dalam kondisi berkecukupan dan melimpahkannya dengan harta dan kenikmatan. Ia tidak membutuhkan harta atau kenikmatan, tetapi pada hakikatnya ia membutuhkan pasangan hidup untuk berbagi hari-hari hidupnya dan hari-hari hidup pasangannya.
Ayat-ayat Al-Quran menyebutkan bahwa Allah menciptakan manusia dari satu jiwa, dan bahwa Dia menciptakan atau menjadikan darinya pasangannya agar ia merasa tenteram kepadanya.
Kita telah menyebutkan ayat pertama dalam Surah An-Nisa di mana Tuhan kita menyeru umat manusia untuk kembali ke oasis takwa dengan mengesakan Allah dalam ketuhanan, uluhiyyah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan berkomitmen pada akhlak, adab, ibadah, muamalat yang dibangun dari tauhid ini, dan sebagainya dari syariat Allah. Ayat ini menjelaskan alasan mengapa Allah berhak untuk disembah sendiri, dengan menyebutkan bahwa Dia-lah Pencipta manusia, dan dalam cara penciptaan manusia terdapat bukti atas kekuasaan, ilmu, dan hikmah-Nya, dan sifat-sifat keagungan dan kesempurnaan yang Dia miliki. Dia menciptakan manusia dari satu jiwa yaitu Adam alaihissalam, dan telah disebutkan di beberapa tempat dalam Al-Quran bagaimana Allah menciptakan Adam, dan dari Adam diciptakan Hawa. Dia menciptakannya dari tulang rusuk kiri Adam, maka Adam mendapatinya di sampingnya, ia merasa tenteram dan tenang kepadanya.
Allah Ta’ala berfirman: “Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya.” (Al-A’raf: 189)
Dan Allah berfirman: “Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya isterinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?” (Az-Zumar: 6)
Dan Allah Yang Maha Mulia berfirman: “Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?” (An-Nahl: 72)
Dan ayat-ayat lainnya yang menonjolkan kebenaran ini, menjadi penanda yang membimbing orang-orang yang berjalan menuju Penciptanya, dan membimbing mereka bahwa semua urusan mereka ada di tangan-Nya, karena Dia-lah yang menciptakan mereka dengan cara yang menakjubkan ini, maka mereka harus menyembah-Nya saja.
Kebenaran ini juga menjadi mercusuar bagi suami-istri. Istri mengetahui bahwa ia adalah bagian dari suaminya, dan apakah bagian dapat lepas dari asalnya? Dan suami mengetahui bahwa istrinya adalah bagian yang terpisah darinya, sehingga ia selalu merasa membutuhkan bagian ini untuk kembali kepadanya. Inilah fitrah yang Allah ciptakan pada manusia. Barangsiapa dari pasangan suami-istri yang mengingkari pasangannya dan tidak merasakan kebutuhannya kepada pasangannya, maka ia telah mengingkari fitrah ini. Inilah yang ditetapkan Al-Quran sebagai dasar penting dalam membangun keluarga menurut Al-Quran.
Dasar Keempat: Adalah bahwa hubungan yang mengikat suami-istri bukanlah seperti yang dikatakan Al-Aqqad: transaksi dagang di mana masing-masing menawar yang lain untuk mendapatkan keuntungan materi sebanyak mungkin. Melainkan hubungan ketenangan (sakinah), kasih sayang (mawaddah), dan rahmat (rahmah).
Al-Quran ketika menyebutkan itu, menyebutkannya dalam konteks menjelaskan tanda-tanda-Nya dalam ciptaan-Nya, yang membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, dan bahwa Dia berkuasa membangkitkan makhluk-Nya setelah kematian mereka. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Ar-Rum: 21)
As-sakinah adalah istirahat dan ketentraman, al-mawaddah adalah cinta yang menyatukan hati, dan ar-rahmah adalah kasih sayang, kelembutan, dan pengasuhan. Masing-masing pasangan memberikan ini kepada pasangannya tanpa adanya perkenalan sebelumnya dari kekerabatan atau hubungan keluarga sebelum pernikahan. Ketika ikatan pernikahan ini terjadi, timbullah keserasian, pertemuan, cinta, dan kasih sayang yang Anda lihat. Bukankah ini tanda dari tanda-tanda Allah yang mengajak untuk merenungkan kekuasaan Allah yang mengatur hati sesuai kehendak-Nya?
Dikatakan bahwa mawaddah (kasih sayang) terjadi di masa muda, dan rahmah (belas kasihan) di masa tua. Seandainya hubungan ini hanya didasarkan pada kenikmatan masing-masing dengan yang lain, dan kebutuhan masing-masing untuk memenuhi hasratnya, tidak akan ada rumah tangga yang bertahan. Lalu bagaimana kondisi pasangan suami-istri yang salah satunya sudah tua, atau salah satunya menderita sesuatu yang membuatnya tidak mampu memberikan kepada yang lain apa yang dimintanya dari kenikmatan ranjang?
Sering terjadi kelesuan dalam hal ini karena kesibukan mendidik anak-anak dan banyaknya masalah kehidupan. Maka tetaplah mawaddah (kasih sayang) yang menyatukan pasangan di masa muda sebagai cahaya yang menerangi aspek-aspek rahmah (belas kasihan), dan menyeru kepadanya sebagai kesetiaan terhadap hari-hari dan tahun-tahun hidup yang telah berlalu. Betapa indahnya metode Rabbani ini, dan betapa agungnya.
Dan bandingkanlah antara apa yang kalian lihat dari kepedulian masing-masing pasangan suami istri terhadap pasangannya di tahun-tahun kelemahan, usia lanjut, dan sakit, dengan apa yang ada di negara-negara yang mengaku beradab dan modern berupa penelantaran terhadap para lanjut usia dan orang sakit, hingga negara-negara tersebut mendirikan untuk mereka tempat-tempat yang dikenal dengan panti jompo untuk merawat mereka. Apakah perawatan di panti-panti ini dapat menggantikan perawatan seorang suami untuk istrinya, atau istri untuk suaminya, dengan segala kasih sayang dan rahmat yang ada dalam perawatan tersebut, penghormatan terhadap kemanusiaan manusia, dan penjagaan martabatnya, sementara ia berada di antara pasangan, anak-anaknya, cucu-cucunya, saudara laki-laki dan perempuannya, keluarga dan kaumnya, dan setiap dari mereka bersemangat untuk memberikan pertolongan, menghibur dengan pandangan dan kata-kata, serta dengan semua yang mampu ia lakukan untuk meringankan penderitaan dan mendatangkan kebahagiaan serta kegembiraan di hati.
Inilah beberapa dasar yang menjadi landasan keluarga dalam Al-Quran. Awal pembentukan keluarga ini dimulai dengan memikirkan pernikahan, dan siapa perempuan yang layak menjadi pendamping hidup. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia telah meletakkan indikator-indikator yang membimbing orang yang ingin menikah kepada pemilihan yang baik. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang perempuan dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kecantikannya, karena keturunannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah yang memiliki agama, niscaya engkau akan beruntung.” Beliau menjadikan agama ini sebagai dasar juga dalam persetujuan dari pihak wali gadis terhadap orang yang melamar putrinya, yaitu dalam hadits yang telah kami sebutkan sebelumnya, diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya melamar kepada kalian, maka nikahkanlah dia. Jika kalian tidak melakukannya, akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang meluas.”
Indikator-indikator yang ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam masalah pemilihan perempuan yang akan dinikahi oleh seorang pemuda atau laki-laki—sebagaimana kita lihat—yaitu karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan untuk fokus pada yang beragama dengan sabdanya: “Maka pilihlah yang memiliki agama, niscaya engkau akan beruntung.” Namun ini tidak menghalangi seseorang yang ingin menikah untuk memilih perempuan yang memiliki sifat-sifat ini atau sebagiannya. Harta mungkin menjadi kebutuhan bagi sebagian orang agar istri ini membantunya dalam beban hidup, tetapi harus diketahui bahwa nafkah itu adalah kewajiban suami, dan itu adalah tanda kepemimpinan laki-laki atas perempuan, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (Surat An-Nisa: 34)
Dan diketahui bahwa suami tidak berhak atas harta istrinya berapapun harta tersebut, kecuali dengan kerelaan, maka itu diperbolehkan sebagaimana firman Rabb kita: “Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kalian sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (Surat An-Nisa: 4) Kecantikan juga merupakan kebutuhan, dan merupakan hak orang yang ingin menikah dengan seorang gadis atau perempuan untuk memilih yang cantik agar hal ini membantunya menjaga kesucian. Namun hal ini juga harus dalam batas yang diperlukan yang mengarah pada menundukkan pandangan, dan tidak menjadikannya sebagai tujuan utama dalam masalah ini, karena ini mungkin mengandung bahaya baginya. Kecantikan ini harus dilindungi dengan agama, jika tidak, akan menjadi hal yang berbahaya sebagaimana diketahui.
Adapun kehormatan dan keturunan, sudah menjadi sifat manusia untuk mencari keluarga yang asli dan mulia yang terkenal dengan adab, akhlak, kehormatan, dan keturunannya. Namun harus diingat bahwa kebutuhan ini tidak boleh menjadi kebutuhan utama. Seseorang mungkin memilih gadis atau perempuan dari keluarga yang tidak dikenal dan miskin, tidak memiliki kedudukan, dan dalam pilihan ini, pada gadis dan perempuan ini terdapat kebaikan dan berkah. Namun dasar yang harus menjadi tujuan utama yang melindungi hal-hal ini adalah agama. Dengan agama, kehidupan menjadi baik, dan dalam naungan agama anak-anak dibesarkan dan kehidupan menjadi indah bersama istri yang mengenal hak Tuhannya, sehingga ia mengenal hak suaminya, agar tercipta kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Jika pemuda atau laki-laki sudah yakin dan menemukan perempuan yang salehah, maka ia segera maju melamar kepada walinya agar lamaran terlaksana dan pernikahan terlaksana dengan izin Allah Ta’ala. Orang yang melamar kepada wali gadis, sebagaimana telah kami sebutkan juga, wajib bagi wali gadis untuk memilih dengan baik orang yang melamar putrinya untuk menikah dengannya. Karena laki-laki yang menikah mudah baginya untuk berubah dan menceraikan, tetapi gadis jika sudah terikat dengan laki-laki, sulit baginya untuk berpisah dengannya. Karena itu, generasi salaf menawarkan putri-putri mereka kepada orang-orang yang saleh, karena mereka mencari orang yang saleh, dan tidak ada salahnya dalam hal itu. Dasarnya adalah yang telah kami sebutkan. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada para sahabatnya hal ini. Bacalah dalam Shahih Bukhari yang diriwayatkan: “Seorang laki-laki lewat di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada para sahabatnya: ‘Apa pendapat kalian tentang orang ini?’ Mereka menjawab: ‘Layak jika melamar akan dinikahkan, jika memberi syafaat akan diberi syafaat, dan jika berbicara akan didengarkan.’ Kemudian beliau diam. Lalu lewat seorang laki-laki dari kaum muslim yang miskin, maka beliau bertanya: ‘Apa pendapat kalian tentang orang ini?’ Mereka menjawab: ‘Layak jika melamar tidak akan dinikahkan, jika memberi syafaat tidak akan diberi syafaat, dan jika berbicara tidak akan didengarkan.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Orang ini lebih baik dari sepenuh bumi seperti orang itu.'”
Apa yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini adalah penetapan bagi kaum muslim bahwa kewajiban mereka adalah tidak menilai orang dari apa yang tampak dari mereka, melainkan mereka harus mencari kesalehan. Jika mereka menemukan laki-laki yang saleh, maka laki-laki ini layak jika melamar akan dinikahkan, jika memberi syafaat akan diberi syafaat, dan jika berbicara akan didengarkan perkataannya.
Untuk pinangan—sebagaimana dijelaskan Islam—ada adabnya, di antaranya tidak boleh melamar di atas lamaran saudaranya, sebagaimana diriwayatkan dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Janganlah orang yang menetap menjual untuk orang badui, janganlah kalian saling menawar untuk menaikkan harga, janganlah seseorang menjual di atas penjualan saudaranya, janganlah melamar di atas lamaran saudaranya, dan janganlah seorang perempuan meminta perceraian saudarinya untuk membalikkan isi wadahnya.”
Bukhari menyebutkan: telah menceritakan kepada kami Makki bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, ia berkata: Aku mendengar Nafi’ menceritakan bahwa Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang sebagian kalian menjual di atas penjualan sebagian yang lain, dan janganlah seseorang melamar di atas lamaran saudaranya hingga pelamar sebelumnya meninggalkannya atau memberinya izin.” Larangan dan petunjuk Nabi ini diriwayatkan dalam beberapa hadits, di antaranya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Janganlah seseorang melamar di atas lamaran saudaranya, janganlah menawar di atas tawaran saudaranya, janganlah seorang perempuan dinikahkan bersama bibinya (dari pihak ayah), dan jangan pula bersama bibinya (dari pihak ibu), dan janganlah seorang perempuan meminta perceraian saudarinya untuk membalikkan wadahnya dan menikah, karena sesungguhnya baginya hanya apa yang telah Allah takdirkan untuknya.”
Hadits seperti ini juga diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah seseorang melamar di atas lamaran atau menawar di atas tawaran saudaranya, janganlah seorang perempuan dinikahkan bersama bibinya (dari pihak ayah) dan jangan pula bersama bibinya (dari pihak ibu), dan janganlah seorang perempuan meminta perceraian saudarinya untuk membalikkan wadahnya dan menikah, karena sesungguhnya baginya hanya apa yang telah Allah takdirkan untuknya.”
Imam Tirmidzi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah, ia berkata: Qutaibah berkata: sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Ahmad berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah seseorang menjual di atas penjualan saudaranya, dan janganlah melamar di atas lamaran saudaranya.” Tirmidzi berkata: Dan dalam bab ini ada riwayat dari Samurah dan Ibnu Umar. Abu Isa—yaitu Tirmidzi—berkata: Hadits Abu Hurairah adalah hadits hasan shahih. Malik bin Anas berkata: Makna dari tidak disukai seseorang melamar di atas lamaran saudaranya adalah jika seseorang melamar perempuan dan perempuan itu menyukainya, maka tidak boleh orang lain melamar di atas lamarannya. Asy-Syafi’i berkata: Makna hadits ini “Janganlah seseorang melamar di atas lamaran saudaranya” menurut kami adalah jika seseorang melamar seorang perempuan dan perempuan itu menyukainya dan condong kepadanya, maka tidak boleh orang lain melamar di atas lamarannya.
Adapun sebelum diketahui keridhaannya atau kecondongannya kepadanya, maka tidak mengapa melamarnya. Dalilnya adalah hadits Fathimah binti Qais: “Ketika ia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyebutkan kepadanya bahwa Abu Jahal bin Hudzaifah dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan telah melamarnya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Adapun Abu Jahal, ia adalah laki-laki yang tidak mengangkat tongkatnya dari perempuan’—yaitu banyak memukul perempuan—’dan adapun Mu’awiyah, ia adalah orang melarat’—yaitu laki-laki miskin yang tidak punya harta—’tetapi nikahilah Usamah'” —yaitu menikahlah dengan Usamah. Makna hadits ini menurut kami—wallahu a’lam—adalah bahwa Fathimah tidak memberitahu beliau tentang keridhaannya terhadap salah satu dari mereka berdua. Seandainya ia memberitahu beliau, beliau tidak akan menyarankan kepadanya selain yang ia sebutkan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang bersabda bahwa tidak boleh seseorang melamar di atas lamaran saudaranya. Ini adalah petunjuk-petunjuk dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam bab ini.
Juga disyaratkan bahwa perempuan yang ingin dilamar tidak sedang dalam masa iddah raj’iyyah (cerai hidup), karena suaminya mungkin akan merujuknya kembali, dan tidak dalam iddah wafat. Ini untuk menjaga hak persaudaraan, kecuali dengan sindiran bukan terang-terangan dalam iddah wafat, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan tidak ada dosa bagi kalian meminang perempuan-perempuan itu dengan sindiran atau kalian menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kalian akan menyebut-nyebut mereka, tetapi janganlah kalian mengadakan perjanjian (untuk menikah) dengan mereka secara rahasia, kecuali sekadar mengucapkan kata-kata yang baik. Dan janganlah kalian menetapkan akad nikah sebelum habis masa iddahnya. Ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun.” (Surat Al-Baqarah: 235)
Jika sudah jelas tidak ada halangan untuk melamar, maka pelamar, perempuan yang dilamar, dan walinya mulai mencari sejauh mana kecocokan masing-masing untuk yang lain agar menjadi suami baginya. Jika syarat-syarat terpenuhi dan masing-masing yakin dengan yang lain, maka lamaran terlaksana, yaitu permintaan dari pelamar kepada wali gadis yang meminta agar ia menikahkan putrinya dengannya. Lamaran ini disyariatkan bagi yang ingin menikah, dan sebenarnya termasuk hal yang disukai. Alasan disukainya adalah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya dalam pernikahannya dengan Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, di mana beliau melamarnya dari Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga melamar Ummul Mukminin Hafshah radhiyallahu ‘anha. Inilah alasan disukainya masalah ini. Ini sebenarnya adalah masa yang penting, karena ini adalah jalan agar masing-masing dari kedua pelamar mengenal yang lain, karena memberikan kesempatan untuk mengetahui akhlak, sifat, dan kecenderungan kedua belah pihak. Namun ini harus dalam batas-batas yang ditetapkan oleh syariat Islam.
Melanggar batas-batas Allah pada tahap ini dan keluar dari apa yang dibawa oleh agama Allah akan mengakibatkan hal yang tidak baik. Apa saja dasar-dasar, prinsip-prinsip, dan akhlak yang ditetapkan oleh Rabb kita Subhanahu wa Ta’ala dan dijadikan oleh Rasul kita shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pedoman bagi kedua belah pihak agar masa pertunangan berlangsung dengan baik dan menghasilkan hasil yang diharapkan berupa pernikahan yang berdiri di atas petunjuk Allah dan atas agama Allah Subhanahu wa Ta’ala?
Ada sebagian orang yang tidak tahu tentang agamanya mungkin membolehkan putri-putri mereka untuk berduaan dan berbincang main-main agar gadis tersebut dapat memilih dengan pengetahuan tentang orang yang ingin ia ikat dengan ikatan pernikahan. Mungkin pertunangan tidak terlaksana hingga akhirnya, dan sebagian tidak ragu tentang hal itu jika pertunangan telah terlaksana. Maka kita melihat pelamar berduaan dengan tunangannya dan keluar bersamanya, bepergian ke sana kemari, dan mungkin pernikahan tidak terlaksana karena suatu hal, maka terjadilah penyesalan, kesengsaraan, dan kerugian, dan tidak ada waktu untuk menyesal. Telah terjadi hal yang tidak baik akibatnya. Sebagian wali gadis bersegera dengan akad nikah untuk keluar dari kesulitan ini, dan ini adalah hal yang baik jika persetubuhan terjadi setelah akad dalam waktu singkat. Namun persetubuhan mungkin tertunda untuk waktu yang lama karena kondisi ekonomi yang melanda masyarakat Islam. Mungkin timbul masalah-masalah yang menyebabkan perpisahan. Apa yang harus dilakukan gadis itu dan apa yang harus dilakukan keluarganya? Sedangkan laki-laki yang mereka ridhai untuk putri mereka menyangkal bahwa ia telah bersetubuh dengannya agar tidak menanggung hak-hak yang melekat pada pernikahan. Mungkin ia hamil darinya dan ia menyangkal hal ini. Adat telah berlaku bahwa laki-laki tidak bersetubuh dengan perempuan yang telah ia nikahi kecuali dalam suasana kegembiraan, kebahagiaan, dan sukacita, serta mengadakan walimah yang dikenal dengan walimah pernikahan yang dihadiri oleh keluarga dan orang-orang terkasih. Jika terjadi pertemuan antara suami istri sebelum pengumuman ini, maka ini adalah hal yang terburu-buru karena bahayanya yang besar. Bagaimana keadaannya jika perempuan pindah ke rumah suaminya dalam keadaan hamil lalu melahirkan bayinya dalam beberapa bulan? Yang lebih parah lagi adalah jika terjadi perselisihan lalu terjadi perceraian, dan suami menyangkal bahwa ia telah bersetubuh dengannya. Oleh karena itu, saya sering menasihati para wali agar menunda akad nikah hingga menjelang pernikahan agar akad ini tidak menjadi pintu terjadinya banyak masalah. Dengan akad ini ia telah menjadi halal baginya, dan mungkin ia tidak sabar hingga persetubuhan mereka diumumkan, maka terjadilah hal yang tidak kita sukai dan tidak kita ridhai.
Di antara dampak dari pertunangan ini adalah diperbolehkan bagi pelamar untuk melihat tunangannya, karena penglihatan ini dapat membuatnya lebih mencintai dan menginginkan pernikahan dengannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu: “Lihatlah dia, karena itu lebih mungkin untuk menumbuhkan kasih sayang antara kalian berdua.” Namun harus diketahui oleh pelamar ini, dan harus diketahui oleh tunangan perempuan, dan harus diketahui oleh semua orang bahwa gadis ini masih asing bagi pelamar ini. Ia diperlakukan seperti perempuan asing diperlakukan. Artinya: tidak boleh baginya berduaan dengannya, tidak boleh bepergian bersamanya, dan keluar bersamanya kecuali jika ada mahram. Jika ia berbicara dengannya, berbicaralah dalam batas-batas syariat yang di dalamnya firman Allah Ta’ala: “Maka janganlah kalian tunduk dalam berbicara sehingga bangkitlah nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya.” (Surat Al-Ahzab: 32)
Dan bahwa percakapan ini, keluar ini, dan berduaan ini di hadapan mahram hanya boleh terlaksana jika pelamar sungguh-sungguh dalam lamarannya, tidak main-main dan tidak bermain-main. Ini adalah masalah yang tersebar di zaman ini pada sebagian pemuda yang menginginkan kesenangan dan mewujudkan keinginan, tetapi tidak sungguh-sungguh untuk menikah.
Masih ada dalam masalah pernikahan suatu hal yang sangat penting, yaitu mengenal calon istri melalui cara-cara modern, misalnya melihat foto calon istri. Dibolehkan bagi peminang untuk melihat foto calon istri dengan syarat foto tersebut tidak menampakkan selain wajah dan kedua telapak tangan, karena hal ini termasuk dalam petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Jika salah seorang dari kalian meminang seorang wanita, maka jika ia mampu melihat apa yang mendorongnya untuk menikahinya, hendaklah ia lakukan.”
Namun perlu kita peringatkan bahwa foto ini dapat tersebar kepada banyak orang. Masalahnya tidak hanya terbatas pada peminang saja, tetapi foto ini akan dilihat oleh ibunya, saudara perempuannya, bibinya (dari pihak ibu), bibinya (dari pihak ayah), dan laki-laki lainnya. Dalam hal ini—sebagaimana Anda lihat—terdapat bahaya besar bagi calon istri dan keluarganya. Ada hal lain yaitu percakapan antara calon istri dengan calon suaminya. Ini adalah masalah yang harus kita ketahui bahayanya, dan kita harus menjauhi bahaya ini. Percakapan harus serius dan mencapai tujuannya, serta dilakukan sepengetahuan wali si gadis, bahkan dengan kehadiran salah seorang dari mereka selama percakapan. Jelas bahwa percakapan yang jauh dari pengetahuan dan sepengetahuan keluarga akan menimbulkan kecurigaan dan prasangka. Syaitan juga bisa bermain dan mempermainkan akal pikiran peminang dan calon istrinya, yang dapat mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, kita harus benar-benar waspada dalam urusan kita.
Inilah beberapa hal yang berkaitan dengan peminangan beserta adab-adabnya, dan apa yang datang di dalamnya dari petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika peminangan ini selesai dan kedua belah pihak telah yakin dengan pasangannya, maka dimulailah prosedur akad nikah.
Semoga Allah memberikan rahmat, berkah, dan kesejahteraan kepada Nabi kita Muhammad dan keluarganya serta para sahabatnya.
Pelajaran: 9 Pergaulan Suami dengan Keluarganya
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Makna Pergaulan
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, amma ba’du:
Apa itu pergaulan (al-‘isyrah) dalam bahasa Arab kita sehingga kita dapat mengetahui yang dimaksud dengan pergaulan suami dengan keluarganya?
Ibnu Faris dalam kamus (Maqayis al-Lughah) berkata: “‘Ain, syin, dan ra’ adalah dua asal yang shahih; salah satunya tentang bilangan tertentu, kemudian yang lain didasarkan padanya, dan yang lainnya menunjukkan percampuran dan pergaulan.” Yang kita maksud, wahai anak-anakku, adalah yang kedua, dan tentang ini ia berkata: “Adapun asal yang kedua yang menunjukkan pergaulan dan percampuran, maka al-‘isyrah dan al-mu’asyarah, dan ‘asyiruka adalah orang yang bergaul denganmu. Keluarga seseorang dinamakan ‘asyirah karena mereka saling bergaul satu sama lain, bahkan suami adalah ‘asyir (pasangan) istrinya.
Dalam hadits tentang wanita disebutkan: “Sesungguhnya kalian banyak melaknat dan mengingkari pasangan (al-‘asyir).” Dikatakan: ‘asyarahu mu’asyaratan jamilah (bergaul dengannya dengan pergaulan yang baik). Zuhair berkata:
Demi umurmu, kejadian-kejadian itu mengubah segalanya … dan dalam lamanya pergaulan terdapat kebencian
Ibnu Manzhur dalam (Lisan al-‘Arab) berkata: “Al-‘isyrah: percampuran, dan ‘asyirah seseorang adalah anak-anak ayahnya yang terdekat, dan al-‘asyir: orang yang bergaul, dan al-‘asyir: kerabat dan sahabat, dan ‘asyir wanita: suaminya, karena ia bergaul dengannya dan ia bergaul dengannya seperti sahabat dan teman karib.
Firman Allah Ta’ala: “Maka ia adalah pelindung yang seburuk-buruknya dan teman yang seburuk-buruknya” (Surat Al-Hajj: 13), maksudnya: seburuk-buruk pergaulan.
Adapun ar-Raghib dalam kamus Mufradatnya berkata: “Al-‘asyirah: keluarga seseorang yang dengannya ia bertambah banyak, yaitu mereka menjadi baginya seperti bilangan yang sempurna, karena sepuluh adalah bilangan yang sempurna. Allah Ta’ala berfirman: “Dan istri-istrimu dan kaum kerabatmu”. Maka ‘asyirah menjadi nama bagi setiap kelompok dari kerabat seseorang yang dengannya ia bertambah banyak, dan ‘asyartuhu berarti aku menjadi baginya seperti keluarga dalam pernikahan. “Dan bergaullah dengan mereka secara ma’ruf (baik)” (Surat An-Nisa: 19), dan al-‘asyir: orang yang bergaul, baik kerabat maupun kenalan.”
Jika kita melihat pernyataan-pernyataan yang disebutkan oleh para imam bahasa ini, kita melihat bahwa al-‘isyrah adalah: pergaulan antara orang-orang, pergaulan ini berarti banyaknya interaksi, dan dalam banyaknya interaksi terdapat kekuatan. Pergaulan ini mengarah pada saling tarik-menarik, kejernihan hubungan, kasih sayang, dan cinta. Inilah keadaan sahabat-sahabat dan pasangan suami istri. Dengan pergaulan, perasaan-perasaan menjadi dekat dan emosi-emosi bercampur, yang membuat setiap pihak merindukan yang lain jika ia tidak ada, dan merindukannya jika ia jauh. Dengan pergaulan ini, manusia hidup dalam keluarga mereka, dengan keluarga mereka, di rumah mereka, dan dengan pasangan mereka dalam kasih sayang dan cinta. Bagi pasangan suami istri khususnya, terwujudlah apa yang Allah syariatkan nikah untuk mencapainya, yaitu ketenangan, kasih sayang, dan rahmat.
Namun pergaulan ini dengan segala perasaan keakraban, ketenangan, dan kekuatan yang terkandung di dalamnya—yang merupakan konsekuensi dari berkelompok—dapat menyebabkan pertentangan kepentingan dan ketidakcocokan karakter, yang mengakibatkan permusuhan dan pengingkaran. Kita telah melihat ucapan Zuhair:
… dan dalam lamanya pergaulan terdapat kebencian
Oleh karena itu, ayat-ayat dan hadits-hadits serta perkataan para salaf datang menganjurkan agar pergaulan dilakukan dengan ma’ruf (baik), karena jika tidak dengan ma’ruf, maka akan menjadi bencana besar yang mendatangkan penyakit dan kesedihan, serta menyebabkan anak-anak terlantar dan hancurnya semua sebab kebahagiaan, sebagaimana yang Anda lihat di rumah-rumah yang di dalamnya merayap perselisihan, pertengkaran, dan ketidakcocokan karakter.
Ayat-ayat yang terdapat dalam Kitabullah tidak ada yang membahas tentang pergaulan suami dengan istrinya kecuali firman Allah Ta’ala: “Dan bergaullah dengan mereka secara ma’ruf. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak” (Surat An-Nisa: 19). Selain itu adalah pembicaraan tentang ‘asyirah seseorang yang merupakan keluarganya, dan ini yang Anda lihat dalam firman Allah Ta’ala: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” (Surat Asy-Syu’ara: 214).
Dan dalam firman-Nya: “Katakanlah: Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum kerabatmu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik” (Surat At-Taubah: 24) hingga akhir ayat. Kata tersebut juga disebutkan dengan makna teman yang selalu bersama temannya, dan ini adalah firman Allah Ta’ala tentang orang-orang musyrik dan penyembahan mereka terhadap berhala-berhala mereka: “Maka ia adalah pelindung yang seburuk-buruknya dan teman yang seburuk-buruknya” (Surat Al-Hajj: 13).
Namun Anda mungkin menemukan pembahasan tentang pergaulan yang baik ketika membaca ayat-ayat yang membahas tentang perceraian, yang mengatakan: “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik” (Surat Al-Baqarah: 229). Dan firman-Nya: “Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan istri-istri kamu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. Dan hendaklah kamu berikan suatu mut’ah (pemberian) kepada mereka. Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian menurut yang patut. Yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan. Jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu, kecuali jika istri-istrimu itu mema’afkan atau dima’afkan oleh orang yang memegang ikatan nikah, dan pema’afan kamu itu lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala apa yang kamu kerjakan” (Surat Al-Baqarah: 236, 237). Dan firman-Nya: “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Surat Al-Baqarah: 228).
Demikianlah kita menemukan petunjuk Al-Qur’an ini dalam ayat-ayat yang membahas tentang hak asuh ibu terhadap anaknya dan hak-haknya dalam hal itu, serta tentang para wanita yang diceraikan dan mut’ah yang menjadi hak mereka secara ma’ruf. Ini adalah petunjuk-petunjuk yang datang dalam kondisi perceraian, dan kewajiban bahwa hal ini dilakukan tanpa membahayakan salah satu pihak, agar kasih sayang tetap ada di antara orang-orang meskipun telah berakhir dengan perceraian ini. Kita, sebagaimana kalian ketahui, membahas topik pergaulan yang berarti sebuah keluarga yang terdiri dari suami dan istri, yang hidup dalam suasana kebahagiaan dan keamanan.
Hal ini tidak akan terwujud kecuali jika kehidupan di antara keduanya dibangun atas dasar ma’ruf (kebaikan), yaitu setiap pasangan memberikan kepada yang lain apa yang dapat menyenangkan hatinya. Ini tidak akan terjadi kecuali jika masing-masing mengetahui hak-hak yang wajib dipenuhinya untuk yang lain, dan hak-hak bersama di antara mereka. Hak-hak ini kemudian ditunaikan dalam kerangka cinta, dan usaha setiap pasangan untuk menunaikannya kepada yang lain secara sempurna.
Permulaan Pergaulan Suami Istri
Sebelum kita mengetahui hak-hak ini, kita harus berhenti sebentar untuk melihat permulaan pergaulan suami istri dan bagaimana prosesnya. Ini terjadi melalui akad nikah, dan setelah masing-masing pihak yakin dengan pasangannya, datanglah langkah berikutnya yaitu akad nikah. Akad nikah harus didasarkan pada kerelaan kedua belah pihak.
Ada ungkapan-ungkapan yang menyatakan kerelaan ini yang oleh para fuqaha disebut ijab dan qabul, yaitu wali si gadis mengatakan di hadapan dua saksi yang adil: “Aku nikahkan anakku kepadamu,” dan peminang berkata: “Aku terima nikahnya darimu.” Dengan ini akad menjadi sah. Tidak boleh akad untuk jangka waktu terbatas, sebagaimana yang Anda lihat dalam nikah mut’ah dan nikah muhallil, karena tujuan nikah bukan sekadar bersenang-senang.
Tujuan nikah adalah stabilitas keluarga, melahirkan anak-anak, dan menjaga keturunan. Barangsiapa menikah untuk jangka waktu tertentu maka nikahnya batal, dan barangsiapa menikahi wanita yang telah berpisah dari suaminya untuk menghalalkannya bagi suaminya maka nikahnya batal. Jika nikah telah sah dan masing-masing pasangan telah berada di rumah suami istri, maka setiap pihak harus menunaikan hak-hak yang wajib bagi yang lain. Inti dari hak-hak ini adalah firman Allah Ta’ala: “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf” (Surat Al-Baqarah: 228).
Yang ma’ruf adalah bahwa hak pertama yang wajib atas suami adalah membayar mahar. Allah menyebut mahar dengan shadaq (maskawin), dan barangkali ini karena mahar bukan harga bagi wanita, melainkan bukti keinginan yang tulus untuk menikah dan bukti penghormatan kepadanya. Oleh karena itu, Islam menganjurkan untuk tidak berlebihan dalam mahar agar tidak menjadi hambatan bagi orang-orang untuk hidup dalam kehidupan yang suci dan bersih melalui pernikahan yang bahagia tanpa kesulitan di dalamnya.
Yang ma’ruf adalah bahwa banyak dari masalah-masalah sosial di dunia Islam kita disebabkan oleh sikap berlebihan banyak orang dalam mahar. Meskipun mahar adalah hak yang wajib atas suami, namun Allah menyebutnya nihlah—yaitu pemberian, hadiah, dan hibah—maka Dia berfirman: “Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan” (Surat An-Nisa: 4). Allah memberikan hak kepada wanita untuk melepaskan sebagian darinya kepada suaminya, maka Dia berfirman: “Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya” (Surat An-Nisa: 4).
Selama mahar adalah haknya, maka ia adalah utang yang dapat ia tuntut. Dari haknya ia tidak berpindah ke rumah suami sampai suami menunaikan apa yang telah disepakati dalam mahar yang didahulukan. Adapun yang ditunda tetap menjadi tanggungan suami yang harus ia penuhi pada salah satu dari dua waktu yang lebih cepat: perceraian atau kematian suami. Jika ia menceraikan istrinya sebelum berhubungan dan khalwat shahihah, maka wajib baginya setengah mahar jika telah disebutkan mahar. Jika tidak, maka wajib baginya mut’ah sesuai dengan kemampuan dan kecukupan suami atau ketidakcukupannya.
Bacalah dalam hal ini firman Allah Ta’ala: “Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan istri-istri kamu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. Dan hendaklah kamu berikan suatu mut’ah (pemberian) kepada mereka. Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian menurut yang patut. Yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan. Jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu, kecuali jika istri-istrimu itu mema’afkan atau dima’afkan oleh orang yang memegang ikatan nikah, dan pema’afan kamu itu lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala apa yang kamu kerjakan” (Surat Al-Baqarah: 236, 237).
Jika ia telah memberikan maharnya dan menikah dengannya serta menggaulinya, maka wajib baginya memberi nafkah kepadanya berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan lain sebagainya yang memudahkan bagi orang-orang kehidupan yang mulia sesuai kemampuan suami. Allah Ta’ala berfirman: “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan” (Surat Ath-Thalaq: 7).
Sebagaimana ia juga wajib berlaku adil dalam nafkah dan bermalam jika ia memiliki istri atau istri-istri lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (Surat An-Nisa ayat 3). Dan ia tidak dibebani dengan apa yang tidak mampu dilakukannya dari keadilan dalam kecenderungan hati kepada salah satu dari mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surat An-Nisa ayat 129).
Dan dengan ini kami menjawab orang-orang yang memahami bahwa Islam tidak membolehkan poligami; karena Islam mensyaratkan keadilan untuk itu, tetapi Allah berfirman: “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian.” Maka kami katakan kepada mereka: ini adalah dalam hal kecenderungan hati, sedangkan yang dituntut dari seorang laki-laki adalah keadilan dalam bermalam dan nafkah, dan hal-hal lain yang semacam itu yang berada dalam kemampuan setiap orang. Apabila ia telah menunaikan apa yang diwajibkan Allah kepadanya, maka wajib bagi istri untuk mentaatinya dalam hal yang bukan kemaksiatan kepada Allah, sehingga ia tidak keluar dari rumahnya kecuali dengan izinnya, tidak bepergian tanpa keridhaannya, tidak bertindak terhadap hartanya kecuali dengan persetujuannya, dan tidak memasukkan ke dalam rumahnya orang yang tidak ia kehendaki.
Dan ini tidak berarti kesewenang-wenangan, penindasan, penghinaan terhadap wanita, serta pengurangan dari kemuliaan, kedudukan, dan kehormatannya, melainkan ini bersumber dari filosofi Islam tentang kepemimpinan: “Apabila tiga orang keluar untuk bepergian, maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpin.” Dan mungkin saja ketiga orang ini dalam perjalanan hanya beberapa hari saja, tetapi urusan mereka tidak akan teratur kecuali dengan adanya seorang pemimpin yang mereka patuhi perintahnya, maka bagaimana dengan kita dan ini adalah perjalanan kehidupan dengan segala isinya, dan betapa sangat membutuhkan orang yang mengurus perkaranya, maka kepada siapakah kepemimpinan dalam kerajaan rumah tangga? Mungkin pandangan yang benar mengatakan: laki-laki adalah yang paling layak dan paling berhak untuk itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” Maka ungkapan Al-Quran: “oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain” tidak menunjukkan bahwa laki-laki lebih utama dari wanita, melainkan menunjukkan bahwa laki-laki lebih utama dari wanita dalam beberapa sisi, dan wanita lebih utama dari laki-laki dalam sisi-sisi yang lain. Maka tidak dalam kemampuan wanita kecuali dengan kesulitan yang sangat berat untuk melakukan apa yang dilakukan laki-laki dari pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan tenaga, perjuangan, dan kelelahan, dan tidak dalam kemampuan laki-laki untuk melakukan apa yang dilakukan wanita dari kehamilan, menyusui, begadang, dan upaya dalam mengasuh anak-anak, dan hal-hal lain yang semacam itu yang tidak mampu ditanggung oleh laki-laki.
Maka kepemimpinan ini adalah tanggung jawab yang dilaksanakan oleh laki-laki dengan syarat-syaratnya, yaitu keadilan, kebijaksanaan, musyawarah, dan kasih sayang. Dan pada wanita, dengan berkat Allah, banyak sekali yang memiliki pandangan baik dan nasihat yang benar, sehingga membuat suami-suami mereka mengambil pendapat mereka dalam setiap urusan. Dan kaum muslimin tidak melupakan nasihat Ummu Salamah Ummul Mukminin radhiyallahu anha di Hudaibiyah, ketika beliau memberikan nasihat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan apa yang beliau nasihatkan, maka dalam pendapat beliau terdapat kebaikan bagi kaum muslimin.
Hak-hak Bersama antara Suami Istri
Dan jika itu adalah hak-hak masing-masing dari kedua suami istri terhadap yang lain, maka kita tidak melupakan bahwa ada hak-hak yang menjadi hak bersama kedua suami istri, dan setiap orang dari keduanya menunaikannya untuk yang lain. Di antara hak-hak ini adalah: hak persetubuhan, penetapan nasab, haramnya mushaharah (ikatan kekerabatan karena pernikahan), pergaulan yang baik, dan saling mewarisi. Setiap dari kedua suami istri boleh bersenang-senang dengan yang lain, dan ini juga termasuk dari pergaulan yang baik. Dan tidak dikatakan bahwa ini hanya hak bagi istri, dan suaminya harus menunaikan hak ini untuknya, bahkan itu juga adalah hak bagi suaminya atas istri.
Dan di sini kita menemukan pembahasan dari para imam dan peneliti dalam menentukan waktu di mana istri berhak menuntut hak ini, apakah lebih dari empat bulan atau pada setiap masa suci atau pada satu malam dari empat malam? Pendapat yang paling tepat adalah bahwa itu tidak memiliki batasan kecuali menjauhkan diri dari maksud membahayakan dan sengaja mengharamkan. Dan atas suami untuk bersungguh-sungguh dalam menjaga kesucian istrinya sesuai kemampuannya. Sebagaimana mereka menyebutkan banyak hadits yang mewajibkan istri untuk memenuhi panggilan suaminya jika suaminya mengajaknya ke tempat tidurnya dalam keadaan apapun, dan bahwa jika ia menolak maka malaikat akan melaknatnya hingga pagi, selama tidak ada halangan syar’i seperti haid atau nifas atau puasa wajib, atau hal-hal lain yang semacam itu, baik ia sedang sibuk dengan pekerjaan atau tidak, di malam hari atau siang hari.
Tetapi kepercayaan petunjuk-petunjuk Nabi dan ayat-ayat Al-Quran dalam urusan ini, bahwa pernikahan adalah ketenangan, kasih sayang, dan rahmat, serta hubungan yang abadi di dunia dan akhirat, mengarahkan kita kepada apa yang harus dilakukan suami jika ia menginginkan itu, yaitu dengan kelembutan dan bermain-main; agar pertemuan laki-laki dengan istrinya tidak seperti keadaan pemerkosaan dan pemaksaan.
Dan tentang hal itu telah dikatakan oleh musuh-musuh Islam dalam konferensi-konferensi mereka, dan mereka menuntut untuk bebas dari ikatan pernikahan agar hubungan antara laki-laki dan perempuan jauh dari tempat tidur pernikahan. Dan dari sinilah penelitian dalam konferensi-konferensi ini tentang hukum aborsi jika wanita hamil dari hubungan yang rusak ini, yang tidak mengakibatkan hak apapun bagi salah satu pihak terhadap pihak lain, dan mengarah kepada kehancuran dunia, kerusakan generasi-generasinya, dan runtuhnya rumah tangganya.
Adapun dalam Islam, maka setiap dari kedua suami istri dapat mencapai apa yang ia inginkan dari pasangannya dengan cara-cara yang telah digambarkan oleh agama kita yang agung; agar pertemuan kedua suami istri menjadi kenikmatan, kebahagiaan, keakraban, kasih sayang, dan cinta, yang menguatkan hati-hati dan menumbuhkan perasaan-perasaan, dan menyelesaikan masalah-masalah dengan cara itu, dan anak-anak tumbuh dalam naungannya, dan kerinduan masing-masing dari keduanya kepada yang lain tetap berkobar, tidak menunaikan masing-masing dari keduanya kepada pasangannya apa yang ia tunaikan sebagai hak syar’i yang ia ingin terbebas darinya, sehingga menyerahkan tubuhnya kepada yang lain untuk memenuhi hasratnya.
Melainkan di sana ada pelukan jiwa dan pertemuan hati, dan saat-saat keridhan yang di dalamnya larut kekhawatiran-kekhawatiran, dan disembuhkan luka-luka, dan kehidupan menjadi lurus, dan agama Islam bersinar di bumi Allah sebagai cahaya yang memancar di setiap tempat dan setiap zaman, untuk mengatakan kepada dunia bahwa inilah manhaj yang merupakan oasis kemanusiaan, atau jika tidak maka terik padang pasir tandus akan membuat kemanusiaan menuju kebinasaan.
Dan jika ini adalah hak pertama yang menjadi hak bersama antara kedua suami istri yaitu hak persetubuhan, maka ada hak kedua yaitu penetapan nasab. Jika istri hamil dan melahirkan kehamilannya, maka bayi ini dinasabkan kepada ayahnya, sehingga dikatakan: ini adalah anak si fulan, sebagaimana dikatakan bahwa ini adalah ibunya. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda: “Anak adalah bagi yang empunya ranjang, dan bagi pezina adalah hukuman rajam.” Artinya: bagi orang yang berzina untuknya adalah batu yaitu hukuman rajam.
Dan maknanya bahwa nasab hanya ditetapkan dengan akad nikah bukan hanya dengan hubungan laki-laki dengan wanita. Maka anak hasil zina tidak ada nasab baginya, dan pezina laki-laki dan pezina perempuan jika keduanya muhshan baginya adalah batu, yaitu: rajam dengan batu. Dan kaum muslimin menjaga bayi hasil zina, dan mereka melakukan pendidikan terhadapnya, dan ia tidak dihukum secara psikis maupun sosial, dan tidak di dunia maupun di akhirat atas apa yang telah terjadi dalam keharaman, yang menyebabkan keberadaannya di dunia ini. Dan siapa yang mencelanya dengan hal itu maka ia adalah penuduh yang ditegakkan atasnya hukuman penuduh.
Juga ditetapkan dengan akad nikah hak ketiga yaitu haramnya mushaharah, dan keharaman ini diakibatkan oleh akad pernikahan atau oleh persetubuhan dengan akad pernikahan. Dan contoh pertama: haramnya ibu istri hanya dengan akad terhadap istri. Dan contoh kedua: haramnya anak perempuan istri dengan bersetubuh dengan istri. Maka kaidahnya adalah bahwa akad terhadap anak-anak perempuan mengharamkan ibu-ibu, dan persetubuhan dengan ibu-ibu mengharamkan anak-anak perempuan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mengharamkan wanita-wanita yang diharamkan menikah dengan mereka: “Dan ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya.” (Surat An-Nisa ayat 23). Di antaranya adalah haramnya menikah dengan istri anak, dan haramnya mengumpulkan antara seorang wanita dengan saudara perempuannya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan (diharamkan kamu mengawini) isteri-isteri anak kandungmu (menantu), dan (diharamkan) mengumpulkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surat An-Nisa ayat 23). Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah mengharamkan mengumpulkan antara seorang wanita dengan bibinya dari pihak ayah dan antara seorang wanita dengan bibinya dari pihak ibu.
Adapun hak keempat adalah hak saling mewarisi. Maka setiap dari kedua suami istri mewarisi pasangannya sesuai dengan kaidah Islam dalam warisan, yang berdiri atas prinsip bahwa beban sesuai dengan manfaat. Dan selama Islam telah membebankan kepada laki-laki tanggung jawab nafkah, maka dengan keadilannya Allah memberikan kepada mereka dalam warisan umumnya dua kali lipat dari apa yang diberikan kepada wanita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu.” (Surat An-Nisa ayat 24).
Tersisa bagi kita hak kelima yaitu pergaulan yang baik. Pergaulan yang baik berarti akhlak yang baik dengan ikatan yang kuat dan menerima gangguan dari mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” Dan diketahui bahwa akad yang telah terjadi antara suami dengan istrinya adalah perjanjian yang kuat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Padahal mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.” (Surat An-Nisa ayat 21).
Dan Allah berfirman tentang wanita ketika mewasiatkan untuk berbuat baik kepada orang-orang yang diwasiatkan dalam firman-Nya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil.” (Surat An-Nisa ayat 36) mereka berkata: bahwa yang dimaksud teman sejawat adalah istri.
Dan barangkali kita ingat bahwa wasiat terakhir yang diwasiatkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sakit terakhir beliau, beliau bersabda: “Shalat, shalat, dan budak-budak yang kalian miliki, janganlah kalian bebani mereka dengan apa yang tidak mereka mampu. Takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah terhadap para wanita, karena sesungguhnya mereka adalah tawanan di tangan kalian -tawanan berarti tawanan- kalian mengambil mereka dengan amanah Allah, dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah.” Dan hadits-hadits tentang ini sangat banyak.
Dan bukan akhlak yang baik dengan istri hanya menahan gangguan terhadapnya saja, bahkan kamu harus menerima gangguan darinya dengan meneladani Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, karena istri-istri beliau membalas perkataan beliau, dan salah seorang dari mereka meninggalkan beliau sehari sampai malam. Dan istri Umar radhiyallahu anhuma membalas perkataan Umar dalam berbicara, maka Umar berkata: “Apakah kamu membalas perkataanku! Maka ia berkata: Sesungguhnya istri-istri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membalas perkataan beliau dan beliau lebih baik darimu. Maka Umar berkata: Merugilah Hafshah dan celaka jika ia membalas perkataan beliau, kemudian ia berkata kepada Hafshah: Janganlah kamu tertipu dengan putri anak Abu Quhafah -maksudnya Abu Bakar radhiyallahu anhu karena sesungguhnya ia adalah kekasih Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan ia menakuti-nakutinya dari membalas perkataan.”
Dan ini juga adalah akhlak Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam memperlakukan istri-istri beliau; agar menjadi pelita yang dengan itu umat Islam mendapat petunjuk. Sesungguhnya beliau shallallahu alaihi wasallam dalam memperlakukan keluarga beliau adalah dalam keadaan yang paling baik, dan beliau adalah yang bersabda: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya terhadap istri-istri mereka.” Dan Sayyidah Aisyah radhiyallahu ta’ala anha ditanya tentang apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di rumah beliau, maka ia berkata: “Beliau membantu keluarganya, maka jika tiba waktu shalat beliau keluar untuk shalat.”
Dan dari Urwah ia berkata: “Aku berkata kepada Aisyah: Apa yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lakukan di rumah beliau? Ia berkata: Beliau menjahit pakaian beliau, menambal sandal beliau, dan melakukan apa yang dilakukan laki-laki di rumah-rumah mereka.” Dan ini adalah Anas bin Malik radhiyallahu ta’ala anhu berkata: “Aku melayani Rasulullah shallallahu alaihi wasallam selama sepuluh tahun, demi Allah beliau tidak pernah berkata kepadaku ‘cis’ sama sekali, dan tidak berkata kepadaku untuk sesuatu: mengapa kamu lakukan demikian? Dan mengapa tidak kamu lakukan demikian? Dan budak perempuan dari budak-budak perempuan penduduk Madinah biasa mengambil tangan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu membawanya ke mana saja ia kehendaki.” Ini menunjukkan kerendahan hati beliau dan beliau bersabda: “Tidaklah seseorang merendahkan diri untuk Allah kecuali Allah akan meninggikannya.”
Jika demikian adalah perlakuan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam terhadap pembantunya dan terhadap budak-budak perempuan, maka bagaimana dengan perlakuan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam terhadap istri-istri beliau dan keluarga beliau?!
Sesungguhnya jika kita melihat dalam kitab-kitab sirah dan hadits yang membahas tentang istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kita mendapati bahwa para Ummahatul Mukminin berada pada tingkat kedekatan yang tinggi kepada Allah ‘azza wa jalla. Setiap dari mereka adalah orang yang banyak berpuasa dan shalat malam. Dari sinilah mereka layak menjadi ibu-ibu kaum mukminin dan istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ini adalah gambaran-gambaran indah tentang kelembutan, kemanjaan, dan kebaikan pergaulan yang kita pelajari dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lihatlah bagaimana beliau memanggil Sayyidah Aisyah dengan nama yang paling dicintainya, beliau mengecilkan namanya atau memanjakannya sebagai bentuk bercanda, maka beliau berkata: “Wahai Aisyah, ini Jibril menyampaikan salam kepadamu.” Dan beliau berkata kepadanya: “Wahai Humaira”, dan Humaira adalah pengecilan dari kata hamra yang bermaksud putih. Adz-Dzahabi berkata: “Hamra dalam bahasa penduduk Hijaz adalah putih bercampur merah, dan ini jarang terjadi pada mereka.” Kita membaca dalam Shahih Muslim dari hadits Aisyah tentang puasa, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencium salah satu istrinya sedangkan beliau berpuasa, kemudian ia tertawa radiyallahu ta’ala ‘anha.”
Di antara gambaran indah dan agung yang mendekatkan suami istri adalah apa yang kita baca dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau bersabda: “Sesungguhnya apapun yang kamu nafkahkan adalah sedekah, bahkan suapan yang kamu angkat ke mulut istrimu.” Suapan yang kamu angkat dengan tanganmu ke mulut istrimu adalah sedekah bagimu. Lihatlah betapa suapan ini berperan dalam menaklukkan hati, dan ini bukan hanya sekadar menaklukkan hati saja, tetapi ini adalah sedekah yang akan diberi pahala bagi si suami. Ini adalah perkara mudah dan gampang bagi orang yang ingin menjalani kehidupan Islam yang agung dan indah.
Juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghargai perasaan istri dan menampakkan kepada mereka cinta yang beliau miliki. Sayyidah Aisyah radiyallahu ‘anha bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Bagaimana cintamu kepadaku? Maka beliau ‘alaihis salam menjawab: Seperti ikatan tali. Kemudian ia bertanya: Bagaimana ikatannya? Beliau menjawab: Tetap pada keadaannya” yakni tidak berubah. Nabi ‘alaihish shalatu wassalam menggambarkan kepada Aisyah radiyallahu ‘anha cintanya kepadanya seperti ikatan tali, maksudnya cinta itu masih terikat di hatinya. Lihatlah betapa bahagianya Sayyidah Aisyah, senang dan lapang dadanya dengan perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini. Beliau telah berkata kepadanya bahwa ia dilebihkan atas wanita-wanita lain sebagaimana keutamaan tsarid (makanan) atas makanan lainnya. Maka menampakkan perasaan kasih sayang dan cinta kepada istri adalah termasuk kebaikan pergaulan yang wajib dipahami dan diketahui oleh para suami.
Di antara hal-hal yang termasuk kebaikan pergaulan adalah seorang lelaki berhias, berpenampilan menarik, dan memakai wangi-wangian untuk istrinya. Sayyidah Aisyah ditanya: Dengan apa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memulai ketika masuk rumahnya? Ia menjawab: “Dengan siwak (bersiwak).” Beliau melakukan itu agar menyambut istri-istrinya dengan ciuman dan sebagainya. Dalam riwayat Bukhari, Aisyah berkata: “Aku mewangikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan wangi-wangian terbaik yang kudapat, hingga aku melihat kilau wangi-wangian di kepala dan jenggot beliau.”
Lihatlah apa yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Aisyah radiyallahu ‘anha, ia berkata: “Aku menyisir kepala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedangkan aku sedang haid.” Lihatlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan usia dan kemuliaan serta kedudukan beliau yang agung, beliau membiarkan Sayyidah Aisyah menyisir rambut kepalanya, padahal ia sedang haid.
Ia menunjukkan dengan itu keagungan Islam, karena orang-orang Yahudi yang bertetangga dengan kaum muslimin di Madinah, jika seorang wanita haid, lelaki tidak makan bersamanya dan tidak tidur bersamanya di tempat tidurnya. Maka Islam datang dengan kebalikan dari itu, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan apa yang kita lihat. Apakah di antara kita ada yang membiarkan istrinya menyisir rambutnya? Betapa besar pengaruh perbuatan ini dalam mendekatkan hati dan jiwa, dan sebagainya. Oleh karena itu Ibnu Abbas radiyallahu ta’ala ‘anhuma berkata: “Sesungguhnya aku berhias untuk istriku sebagaimana ia berhias untukku, dan aku tidak suka mengambil semua hakku yang ada padanya, sehingga ia berhak atas haknya yang ada padaku.” Ibnu Abbas berkata: “Sesungguhnya aku berhias untuk istriku sebagaimana ia berhias untukku, karena Allah ta’ala berfirman: Dan mereka (para istri) mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut. (Surah Al-Baqarah: 228)”
Sejarah menceritakan kepada kita tentang Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu ketika ia menjadi khalifah kaum muslimin: “Bahwa seorang lelaki masuk menemuinya dalam keadaan kusut dan berdebu, bersama lelaki itu istrinya yang berkata: ‘Tidak aku dan tidak dia,’ karena ia tidak menginginkannya, ia menjauh dari suaminya dengan cara seperti itu… Lihatlah apa yang dilakukan Umar radiyallahu ta’ala ‘anhu, ia menyuruh si suami mandi, memotong rambutnya dan memotong kukunya. Ketika ia datang, Umar memerintahkannya untuk mendekat kepada istrinya, namun istrinya menjauh darinya karena tidak mengenalinya, kemudian ia mengenalinya lalu menerimanya dan mencabut gugatannya. Maka Umar berkata: Begitulah lakukanlah untuk mereka. Demi Allah, sesungguhnya mereka menyukai kalian berhias untuk mereka, sebagaimana kalian menyukai mereka berhias untuk kalian.”
Yahya bin Abdurrahman Al-Hanzhali berkata: “Aku datang menemui Muhammad bin Al-Hanafiyyah, lalu ia keluar menemuiku dengan mengenakan kain merah, dan jenggotnya meneteskan minyak ghaliyah –ghaliyah adalah campuran wangi-wangian, dan campuran adalah wangi-wangian terbaik–. Yahya berkata: Maka aku berkata kepadanya: Apa ini? Muhammad berkata: Sesungguhnya kain ini dikenakan kepadaku oleh istriku, dan ia mewangikan aku dengan wangi-wangian. Sesungguhnya mereka menginginkan dari kita apa yang kita inginkan dari mereka.” Maka wanita menginginkan dari lelaki untuk berhias dan berpenampilan menarik. Ini termasuk pergaulan yang diperintahkan Allah ketika berfirman: Dan pergaulilah mereka dengan cara yang baik. (Surah An-Nisa: 19)
Mungkin kalian ingat dari akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau selalu ceria, baik pergaulannya, bersenda gurau dengan keluarganya, bersikap lembut kepada mereka, dan bercanda dengan istri-istrinya. Kalian ingat beliau berlomba lari dengan Sayyidah Aisyah radiyallahu ta’ala ‘anha di padang pasir dalam beberapa perjalanannya sebagai bentuk kedekatan kepada beliau. Ia berkata: “Rasulullah berlomba lari denganku maka aku mengalahkannya, dan itu sebelum aku bertambah berat, kemudian beliau berlomba denganku setelah aku bertambah berat, maka beliau mengalahkanku, lalu beliau berkata: Ini balasan untuk yang itu.” Betapa banyak candaan yang lembut dalam hal itu.
Kalian ingat bahwa beliau ‘alaihish shalatu wassalam mengumpulkan istri-istrinya setiap malam di rumah istri yang akan beliau bermalam padanya. Beliau makan malam bersama mereka di beberapa waktu, kemudian masing-masing pulang ke rumahnya. Beliau tidur bersama salah satu istrinya dalam satu selimut. Jika beliau selesai shalat Isya, beliau masuk rumahnya dan berbincang-bincang sebentar dengan keluarganya sebelum tidur, beliau menghibur mereka dengan itu, shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan ukuran kebaikan lelaki pada kebaikan pergaulan dengan istri, maka beliau bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik kepada keluarganya, dan aku adalah yang terbaik kepada keluargaku.” Amru bin Al-Ash radiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah, siapa manusia yang paling engkau cintai? Beliau menjawab: Aisyah. Ia bertanya: Dari kalangan lelaki? Beliau menjawab: Ayahnya.” (Riwayat Tirmidzi)
Mungkin kalian ingat peristiwa Aisyah radiyallahu ‘anha bahwa ia berkata: “Aku bermain boneka di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan aku mempunyai teman-teman yang bermain bersamaku. Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk, mereka bersembunyi darinya, maka beliau mengirim mereka kepadaku sehingga mereka bermain bersamaku.”
Kisahnya ketika melihat orang-orang Habasyah yang bermain di masjid adalah bukti kebaikan akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kebaikan pergaulannya. Ia berkata radiyallahu ‘anha: “Sungguh aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di pintu kamarku, sedangkan orang-orang Habasyah bermain dengan tombak mereka di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau menutupi aku dengan kain beliau agar aku dapat melihat permainan mereka, kemudian beliau tetap berdiri karena aku hingga akulah yang pergi. Maka perkirakanlah keadaan gadis muda yang sangat suka bermain.”
Di antara kebaikan pergaulan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah apa yang kamu baca dalam sunnahnya ‘alaihish shalatu wassalam, dari perkataan Aisyah: “Aku minum sedangkan aku haid kemudian aku memberikan –yakni memberikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam– gelas, maka beliau meletakkan mulutnya pada tempat mulutku lalu minum. Aku menggigit daging dan aku sedang haid, kemudian aku memberikannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau meletakkan mulutnya pada tempat mulutku.” Betapa besar hiburan, kasih sayang, dan kelembutan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hal ini.
Mungkin kalian membaca perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Aisyah: “Sesungguhnya aku mengetahui jika kamu ridha kepadaku dan jika kamu marah kepadaku. Ia berkata: Aku bertanya: Dari mana engkau mengetahui itu? Beliau menjawab: Jika kamu ridha kepadaku, maka kamu berkata: Tidak, demi Tuhan Muhammad. Dan jika kamu marah, kamu berkata: Tidak, demi Tuhan Ibrahim. Ia berkata: Aku berkata: Benar, demi Allah wahai Rasulullah, aku tidak meninggalkan kecuali namamu.” Shalawat dan salam Allah atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Pemimpin orang-orang yang setia adalah Muhammad ‘alaihish shalatu wassalam. Lihatlah kesetiaan beliau kepada Khadijah radiyallahu ta’ala ‘anha. Sayyidah Aisyah berkata: “Aku tidak pernah cemburu kepada seorang wanita istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seperti kecemburuanku kepada Khadijah, karena seringnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut dan memujinya.” Di antara gambaran kesetiaannya dengan istri-istrinya adalah bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ketika turun ayat pilihan kepadanya: Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kamu mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah aku beri mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. (Surah Al-Ahzab: 28), beliau memulai dengan Aisyah dan berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku akan menyebutkan suatu perkara kepadamu, maka tidak apa jika kamu tidak terburu-buru hingga kamu meminta pertimbangan kedua orang tuamu.” Beliau khawatir shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa ia akan memilih perhiasan kehidupan dunia karena usianya yang masih muda, sehingga kehilangan kebaikan yang banyak di dunia dan akhirat. Namun ia radiyallahu ta’ala ‘anha lebih bersemangat terhadap kebaikan dirinya daripada kedua orang tuanya, maka ia berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apakah dalam hal ini aku harus meminta pertimbangan kedua orang tuaku?! Sesungguhnya aku menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat.”
Kemudian beliau ‘alaihish shalatu wassalam mendatangi kamar-kamar, yakni kamar para Ummahatul Mukminin, memberitahu istri-istrinya dan berkata kepada mereka: “Sesungguhnya Aisyah radiyallahu ‘anha berkata begini dan begini, maka mereka berkata: Kami pun berkata seperti apa yang dikatakan Aisyah.” Radiyallahu ‘anhunna semuanya.
Bagi kita pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ada teladan yang baik, sebagaimana firman Allah ta’ala: Sungguh, pada diri Rasulullah itu ada teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah. (Surah Al-Ahzab: 21) Maka perbuatan, perkataan, ketetapan, dan sifat-sifatnya adalah syariat bagi umatnya dan petunjuk yang mulia. Wajib bagi umat Islam untuk berpegang teguh dengan itu dalam kehidupan mereka agar kehidupan dan pergaulan mereka dengan istri-istri mereka menjadi baik, dan agar rumah tangga mereka hidup dalam suasana aman dan stabil.
Semoga Allah bershalawat, memberi salam, dan memberkahi Nabi kita Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya.
Pelajaran 10: Hukum-Hukum Ketika Pergaulan Buruk Atau Perpisahan
Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang
Sebab-Sebab Yang Menyebabkan Pergaulan Buruk
Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam kepada Rasulullah, adapun setelahnya:
Hukum-hukum ketika pergaulan buruk atau perpisahan:
Topik ini terbagi, sebagaimana terlihat dari judulnya, menjadi dua tahap:
Tahap Pertama: Hukum-hukum ketika pergaulan buruk.
Tahap Kedua: Hukum-hukum ketika perpisahan dalam bentuk apa pun dari bentuk-bentuk perpisahan, baik perceraian maupun khulu’ (cerai gugat).
Tahap kedua merupakan akibat dari tahap pertama. Ketika kita membahas hukum-hukum ini, kita berharap dapat membawa rumah tangga Muslim ke pantai keselamatan. Ini mengharuskan kita untuk mencari sebab-sebab yang menyebabkan pergaulan buruk. Tidak ada orang yang menikah untuk hidup dalam suasana ketidakbahagiaan dan penderitaan, menghancurkan diri dan anak-anaknya, dan berakhir dengan perceraian dan perpisahan, meresahkan anak-anak serta menimbulkan penyakit-penyakit psikologis dan sosial.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan baik laki-laki maupun perempuan untuk sembuh dari penyakitnya, terbangun dari tidurnya, dan kembali mencari istri untuknya? Istri kedua ini yang datang ke rumah yang mungkin sudah ada anak-anak dari istri sebelumnya, apakah dia mampu menerima anak-anak ini? Dan betapa besarnya cobaan dalam hal itu yang pada gilirannya dapat menyebabkan perceraian? Wanita yang diceraikan dengan anak-anaknya yang kehilangan ayah mereka, bagaimana dia akan mengurus pendidikan mereka? Apakah dia akan tetap seperti ini tanpa menikah, padahal mungkin dia masih muda? Jika dia ingin menikah, siapa yang akan menerima menikah dengannya dalam kondisi seperti ini?! Banyak masalah yang muncul akibat pergaulan yang buruk.
Apa yang membuat pasangan suami istri atau salah satu dari mereka memperlakukan yang lain dengan buruk, menanam benih kebencian dan kedengkian yang menumbuhkan kepahitan, kehancuran, dan kerugian bagi pasangan dan anak-anak mereka? Ini menghasilkan penolakan dan kebencian antara dua keluarga dengan semua anggotanya—ayah, ibu, saudara laki-laki, saudara perempuan, dan seterusnya. Padahal, anggota setiap keluarga jika bertemu akan saling berpelukan sebagai besan yang saling mencintai, dalam persaudaraan yang nyata dan kebahagiaan yang melimpah. Bagaimana kondisi mereka setelah bencana ini yang menimpa anak laki-laki dan anak perempuan mereka?!
Kita telah mempelajari sistem keluarga dalam Al-Qur’an, dan bagaimana pergaulan suami dengan keluarganya, dan bagaimana pergaulan istri dengan suaminya. Kita telah melihat rencana yang matang yang langkah-langkahnya ditetapkan oleh Kitab Allah, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjelaskan tahap-tahap pelaksanaannya. Rencana ini dimulai dengan mempersiapkan individu Muslim di rumahnya sejak saat-saat pertama pemilihan orang tua satu sama lain. Jarang sekali di rumah yang rusak tumbuh anak-anak yang saleh. Jika asal seseorang baik, maka cabang-cabangnya pun baik. Sungguh mengherankan jika tangan duri menghasilkan mawar.
Inilah sebab pertama: pemilihan tidak tepat. Solusinya adalah memilih dengan baik lingkungan tempat masing-masing pasangan dibesarkan. Yang mirip dengan sebab ini adalah saat-saat pemilihan ketika hendak menikah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah membimbing dalam memilih gadis dengan agamanya, dan menyebutkan hal-hal yang membuat orang tertarik untuk menikahi wanita yang memiliki harta, kecantikan, dan keturunan. Beliau menjelaskan bahwa tidak ada salahnya mencari hal-hal ini, tetapi dengan syarat agama harus diutamakan, menjaga dan melindungi harta, kecantikan, dan keturunan. Jika tidak, harta akan membuatnya sombong dan merendahkan suaminya, kecantikan akan menjadi penyimpangan dan kecemburuan yang membunuh dan kesedihan yang besar, dan keturunan akan menjadi kesombongan, keangkuhan, dan kebanggaan. Oleh karena itu, beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Maka pilihlah yang beragama, niscaya tanganmu akan berdebu (kamu akan merugi jika tidak memilih yang beragama)”—yaitu: tanganmu akan melekat dengan tanah jika kamu tidak mendapatkan yang beragama, dan ini adalah kiasan tentang kerugian dan kehilangan.
Hendaklah bertanya tentang orang yang istrinya memperlakukannya dengan buruk, memperlakukannya dengan kasar, sombong, dan angkuh, serta merasa berjasa padanya dengan harta dan keturunannya: atas dasar apa dia memilihnya? Apakah dia mencari yang beragama dan berakhlak? Sungguh, jika dia melakukan itu, dia akan mendapatkan istri yang saleh, yang jika dia melihatnya dia gembira, jika dia memerintahnya dia menaati, dan jika dia meninggalkannya dia menjaga dirinya, hartanya, dan anak-anaknya. Dia akan menjadi penolong baginya dalam menghadapi kesulitan hidup—dan betapa banyak kesulitan dalam hidup. Wali gadis dalam memilih siapa yang akan menjadi suami anak perempuannya dan menantu baginya dan keluarganya, atas dasar apa dia memilih suami ini?
Kita telah membahas apa yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wasiatkan kepada wali gadis, bahkan gadis itu sendiri, dan siapa pun yang memiliki hubungan dengan pendapat dan nasihat dari ibu, paman, dan paman dari pihak ibu, bahwa dasar pemilihan mereka untuk suami anak perempuan mereka harus didasarkan pada akhlak dan agama, sebagaimana sabda beliau shallallahu alaihi wasallam: “Jika datang kepada kalian orang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Jika kalian tidak melakukannya, akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar (atau kerusakan yang luas)”.
Kedua hal ini harus diperhatikan bersama-sama: akhlak dan agama. Kamu melihat pemuda yang sopan, berakhlak mulia, meluap kelembutan dan kesopanan, tetapi dia tidak menunaikan kewajiban Allah atau menunaikannya sekali dan meninggalkannya berkali-kali. Orang seperti ini tidak layak menjadi menantu atau suami bagi gadis. Mungkin kita bertanya: bagaimana akhlak yang baik dapat berkumpul dengan tidak berkomitmen pada agama Allah?! Kenyataan adalah saksi terbaik. Bahkan, kamu melihat banyak non-Muslim yang memiliki kelembutan dan kejujuran tertinggi, kinerja kerja yang baik, kejujuran dalam perkataan, dan menunaikan hak kepada pemiliknya. Itu hanya karena mereka tahu bahwa kehidupan tidak akan baik kecuali dengan akhlak ini, dan bahwa akhlak ini adalah salah satu sarana terbesar kesuksesan dalam hidup, maka mereka berkomitmen padanya. Tujuan mereka bukanlah Allah dan akhirat, tetapi tujuan mereka adalah dunia ini yang mereka raih, dan mereka berhasil dalam hal itu dengan sangat besar.
Mungkin datang kepada anak perempuanmu orang yang menjaga shalat berjamaah, bersemangat dalam puasa dan shalat malam serta menunaikan sunnah, tetapi dia kasar dan keras. Jika kamu berbicara dengannya, kamu tidak merasa nyaman, jika kamu berurusan dengannya kamu menemukan tipu daya dan akhlak yang buruk. Agamanya tidak membuahkan hasil dan tidak menghasilkan buahnya berupa berakhlak dengan akhlak mulia. Jika dia menikah, dia akan menjadi bencana bagi istrinya, dan saat-saat hidup bersamanya seperti berabad-abad, penuh dengan pergaulan buruk dengan segala artinya dalam perkataan atau perbuatan yang mempercepat kesengsaraan dan kehancuan.
Ini adalah sebab kedua: tidak teliti dalam syarat terpenting dalam memilih siapa yang akan kamu nikahi, dan syarat terpenting dalam siapa yang akan kamu nikahkan, yaitu agama dan akhlak. Syarat ini harus terpenuhi terlebih dahulu, kemudian boleh ada hal-hal setelahnya bagi yang menginginkan dari harta, kecantikan, pekerjaan, atau keluarga yang memiliki kedudukan dalam masyarakat, tanpa menjadikan sebab-sebab ini sebagai sebab asli dalam pemilihan, karena semua itu adalah hal-hal yang akan hilang, mungkin bertahan, mungkin hilang, dan mungkin berubah.
Jika kedua belah pihak yakin dengan pasangannya, pemuda datang bersama beberapa keluarga dan kerabatnya untuk melamar gadis. Khitbah (lamaran) bukanlah pernikahan yang didasarkan pada ijab dan qabul, saksi, dan kehadiran wali, yang membolehkan bagi peminang apa yang dibolehkan oleh akad nikah berupa bolehnya berduaan dan bersenang-senang, dan mewajibkan mahar dan nafkah. Khitbah adalah janji untuk menikah, dan peminang—sebagaimana telah kami sebutkan—masih merupakan laki-laki asing seperti laki-laki lainnya. Tidak boleh baginya keluar dengan tunangannya atau berduaan dengannya kecuali dengan kehadiran mahram. Khitbah adalah periode di mana kedua belah pihak menemukan apa yang ada pada pasangannya dari akhlak dan agama, karena penglihatan peminang terhadap gadis dan penglihatan gadis terhadap pemuda memberikan gambaran awal dan umum tentang penampilan luar, dan apakah itu dapat diterima.
Begitu juga pengetahuan tentang peminang atau yang dilamar melalui bertanya mungkin tidak memberikan gambaran yang sebenarnya atau gambaran yang lengkap. Maka datanglah hari-hari khitbah dengan kunjungan-kunjungan, diskusi-diskusi, dan kadang-kadang transaksi yang mengungkapkan realitas masing-masing dari mereka.
“Apa pun sifat yang dimiliki seseorang, meskipun dia menyangka itu tersembunyi dari orang-orang, pasti akan terungkap”
Dalam periode ini ada pemilahan untuk apa yang dapat ditoleransi dan apa yang tidak dapat diterima atau disetujui.
Saya mungkin telah menyebutkan bahwa saya lebih suka menunda pelaksanaan akad nikah sampai setiap orang yakin dengan yang lain, dan sampai semua hal disepakati, dan tidak tersisa kecuali waktu singkat sebelum waktu pernikahan, karena takut hari-hari khitbah menjadi panjang karena kondisi ekonomi orang-orang. Calon pengantin mungkin tidak sabar sehingga terjadi pertemuan dan mungkin menghasilkan kehamilan. Bagaimana kondisi gadis, orang tuanya, dan anak perempuan mereka? Anak perempuan mereka akan melahirkan di rumah mereka sebelum pernikahannya. Beberapa orang yang tidak berakhlak mungkin melakukan tawar-menawar jika dia tidak ingin pernikahan ini terjadi.
Jika tidak terjadi, gadis kita dalam kondisi terburuknya. Mengapa tidak, dia telah menjadi janda dalam dokumen resmi dan memiliki anak, dan dia di rumah ayahnya. Bagaimana patah tulang ini akan diperbaiki, dan bagaimana dia akan menikah untuk kedua kalinya?! Sungguh, seperti yang kalian lihat, posisi yang sulit dan ujian yang berat, dan kesedihan yang menyelimuti keluarga ini. Tidakkah kalian melihat bahwa tidak berkomitmen pada petunjuk agama kita adalah yang menyebabkan nasib buruk ini, dengan segala kehilangan dan penyesalannya.
Inilah sebab ketiga yang menyebabkan pergaulan buruk, yaitu tidak berkomitmen pada batasan-batasan Allah dan petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada hari-hari khitbah.
Jika hari-hari khitbah berlalu dengan selamat, dimulailah prosedur akad dan pernikahan. Hendaklah ini sesuai dengan syariat Allah dan petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam tidak berlebihan dalam mahar, dan agar setiap pihak tidak meminta dari pihak lain apa yang membebaninya dalam menyiapkan makanan, membeli perabotan, dan perangkat rumah tangga yang mengikutinya. Begitu juga yang diminta oleh banyak keluarga pengantin wanita tentang spesifikasi rumah pernikahan dan persiapannya, dan hal-hal lain yang dilihat oleh banyak orang sebagai kebutuhan pernikahan. Ini bukanlah kebutuhan sama sekali, tetapi mendesak akan hal ini dapat menyebabkan tidak terjadinya pernikahan, atau menaungi pasangan setelah menikah, ketika suami terbangun di pagi hari setelah malam pertama untuk melihat hutang kepada orang lain yang tidak mampu dia bayar, dan dia mungkin terus untuk waktu yang lama membayar cicilannya, yang membuatnya memandang istrinya dan keluarganya dengan pandangan benci kepada mereka dan kepadanya. Dengan cara seperti ini, kehidupan keluarga tidak akan teratur dan rumah kebahagiaan dan cinta tidak akan berdiri.
Inilah sebab keempat dari sebab-sebab pergaulan buruk, yang menyebabkannya adalah mengikuti secara membabi buta adat dan tradisi usang, tanpa memperhatikan kondisi orang yang ingin menikah, bahkan tanpa memperhatikan hutang yang ditanggung banyak ayah untuk mempersiapkan anak perempuan mereka. Seandainya orang-orang bertakwa kepada Allah dalam diri mereka dan anak perempuan mereka, dan seandainya mereka meneladani dalam hal itu pemimpin para rasul shallallahu alaihi wasallam dan sahabatnya yang mulia, dalam tidak berlebihan dalam mahar, dan tidak menanggung biaya pernikahan yang mahal. Tidak ada di rumah mereka tempat tidur yang mewah, kursi yang banyak, barang antik yang mahal, dan hal-hal lain yang kamu lihat di rumah kita. Perabotan mereka sederhana dan barang-barang mereka sedikit.
Bahkan kemudahan dalam mahar dan persiapan rumah ini adalah ciri masyarakat kita sampai waktu yang dekat. Saya sendiri telah melihat itu, di mana mahar gadis tidak melebihi lima puluh pound, dan dengan jumlah ini pengantin wanita dipersiapkan dengan peralatan yang tidak melebihi perabotan satu kamar, dan beberapa keperluan pengantin wanita dan rumah pernikahan.
Pendahuluan-pendahuluan ini—yang merupakan dasar dari pergaulan baik atau buruk—jika dapat diatur dengan timbangan syariat, kita akan melewati banyak hambatan yang menghancurkan kehidupan keluarga, meninggalkan kesedihan dan dendam di hati, dan memisahkan pasangan.
Jika pernikahan telah terjadi, dimulailah kehidupan pernikahan yang didasarkan pada cinta dan kerelaan, dan mengabaikan kesalahan-kesalahan. Dasarnya adalah: “Dan bergaullah dengan mereka secara ma’ruf. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak” (Surah An-Nisa: 19). Dan panduannya adalah: “Janganlah seorang mukmin membenci mukminah (istri), jika dia tidak suka satu akhlaknya, dia akan ridha dengan akhlak yang lain”.
Dan dengan semua arahan ini, mulai dari pendidikan iman di rumah-rumah dan dalam rumah-rumah, hingga sampai pada sarang rumah tangga, dengan segala yang seharusnya ada di dalamnya berupa kehangatan, kelembutan, kasih sayang, rahmat, dan ketenangan, namun tabiat manusia yang berbeda-beda dapat menyebabkan benturan dan ketidaksepakatan. Setiap hari, bahkan mungkin setiap jam, jarak antara suami istri semakin bertambah, dan setan menyalakan api kesombongan di dalam hati.
Maka tidak ada satu pun dari kedua suami istri yang mau mengalah dari pendapat yang diyakininya, bahkan ia menganggap kerelaan, maaf, dan toleransinya sebagai hal yang menyinggung harga dirinya. Keadaan antara keduanya telah sampai pada kondisi kebencian dan permusuhan, membuat masing-masing begadang di malam hari memikirkan cara membalas dendam kepada pasangannya, karena sudah tidak tahan lagi melihatnya. Sang istri tidak lagi menjalankan perintah suaminya, tidak menunaikan kewajibannya, dan tidak peduli dengan rumah dan anak-anaknya. Ia terus-menerus berteriak, tidak pernah tenang dan tidak pernah merasa nyaman. Sedangkan suaminya menjauh darinya, menjauhinya, benci melihatnya. Jika masuk rumah, ia hanya sebentar, kemudian keluar mencari kenyamanan dan kesenangan di jalanan, atau mungkin di warung kopi, dan mungkin ada wanita lain yang menjeratnya lalu ia menikahinya, sehingga menambah masalahnya dengan masalah-masalah baru.
Solusi-solusi Qurani untuk Masalah-masalah Pernikahan
Lalu apa yang ada dalam manhaj Qurani kita sebagai solusi untuk masalah-masalah ini?
Pertama: Di awal solusi-solusi ini adalah membangun fondasi budaya Islam dalam topik hubungan suami istri, dan mengingatkan akan apa yang dituntut oleh budaya ini di saat krisis. Kadang kemarahan menguasai akal suami, sehingga membuatnya lupa akan petunjuk Tuhannya dan petunjuk Rasul-Nya, sampai-sampai ia terjatuh pada hal yang terlarang. Inti dari apa yang harus disadari oleh suami adalah bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam telah bersabda: “Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, ia tidak akan lurus bagimu dengan cara apapun. Jika kamu menikmatinya, kamu menikmatinya dalam keadaan bengkok. Dan jika kamu berusaha meluruskannya, kamu akan mematahkannya, dan mematahkannya adalah mentalaknya.” Dan sesungguhnya seorang muslim merespons dalam perlakuannya terhadap istrinya sesuai dengan apa yang diwasiatkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepadanya, dengan keyakinan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak mewasiatkan kecuali apa yang di dalamnya terdapat kebahagiaannya. Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Berwasiatlah kalian untuk berbuat baik kepada para wanita.” Dan beliau menjelaskan rahasia wasiat ini dengan bersabda: “Sesungguhnya mereka adalah tawanan di sisi kalian,” atau seperti tawanan. Dan beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian mengambil mereka dengan amanah Allah, dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah.”
Maka wanita ini yang berpindah kepadamu dari rumah ayahnya, dan menjadi di rumahmu seperti tawanan, tidak keluar dari rumahmu kecuali dengan izinmu, dan tidak bertindak dalam suatu hal kecuali dengan arahan darimu dan keridhaanmu. Sesungguhnya ia adalah amanah yang Allah amanatkan kepadamu. Dan ada hal lain yang lebih besar dan lebih agung, yaitu bahwa Allah menghalalkan bagimu untuk melihat darinya apa yang tidak boleh dilihat oleh ayah atau ibu, atau siapapun. Siapa yang memberikan hak ini kepadamu? Ia adalah Allah, ketika kamu mengambil gadis ini dengan kalimat-Nya, kamu berkata kepada walinya: Nikahkan aku. Maka ia berkata kepadamu: Aku nikahkan kamu.
Siapa yang merenungkan hal itu akan melihatnya sebagai sesuatu yang mengajak laki-laki untuk memejamkan mata dari banyak kesalahan, dan melihat sisi-sisi yang cerah dan bercahaya pada istrinya. Dan ia dapat memahami petunjuk Nabi yang kita sebutkan dari hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Janganlah seorang mukmin membenci mukminah, jika ia tidak suka satu akhlaknya, ia akan rela dengan akhlak lainnya.”
Selain arahan-arahan lain untuk para suami, dan ada pula pengingat untuk para istri agar bergaul baik dengan suami mereka, menunaikan hak mereka, dan bahwa ketika ia berpindah dari rumah ayahnya ke rumah suaminya, ia berpindah ke kehidupan bersama yang abadi dan berkesinambungan, tidak terbatas pada dunia saja, tetapi berlanjut hingga akhirat di surga yang penuh kenikmatan. Dan untuk kehidupan ini yang melampaui tahun-tahun yang ia habiskan dalam lindungan kedua orang tuanya dan keluarganya, ada hak-hak yang dalam menunaikannya terdapat ridha Allah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Jika seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, berpuasa di bulannya, menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, dikatakan kepadanya: Masuklah dari pintu surga mana saja yang kamu kehendaki.” Selain hadits-hadits lain yang menyatukan hati suami istri dalam ketaatan kepada Allah dan kecintaan kepada-Nya. Dan dengan arahan-arahan yang penuh cahaya ini, setan mungkin mengalahkan kedua suami istri, menanamkan kebencian dan permusuhan di hati mereka. Kebencian ini dimulai dengan kata-kata dan perbuatan yang sebenarnya bisa diabaikan, namun setan menuangkan bisikan-bisikannya yang menyalakan api di dalamnya, hingga hampir membakar rumah ini dan apa yang ada di dalamnya serta siapa yang ada di dalamnya.
Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Jabir radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian ia mengirim pasukan-pasukannya. Yang paling dekat kedudukannya dengan dia adalah yang paling besar fitnahnya. Salah seorang dari mereka datang dan berkata: Aku telah berbuat begini dan begitu. Iblis berkata: Kamu tidak berbuat apa-apa. Kemudian salah seorang datang dan berkata: Aku tidak meninggalkannya hingga aku memisahkan antara dia dan istrinya. Maka Iblis mendekatkannya dan berkata: Ya, kamu! Lalu ia memeluknya.”
Inilah setan terkutuk yang berusaha menghancurkan rumah-rumah yang penuh kasih sayang. Di sinilah letak kebijaksanaan masing-masing dari suami dan istri dalam keadaan seperti ini. Alquran telah meletakkan rencana yang rapi, jika dilaksanakan dengan baik oleh laki-laki dan wanita, maka akan terlaksana penghapusan benih-benih perselisihan dan perbedaan. Keadaan ini dikenal dengan nusyuz (pembangkangan), nusyuz istri dan nusyuz suami. Masing-masing menolak memberikan hak pasangannya dan bersikap sombong terhadapnya.
Mari kita mulai dengan rencana Alquran dalam mengobati nusyuz wanita. Dalam hal ini Tuhan kita berfirman: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Surah An-Nisa ayat 34-35)
Dan kami mengisyaratkan nusyuz suami hingga kita kembali kepadanya, yaitu apa yang disebutkan dalam firman Allah Taala: “Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surah An-Nisa ayat 128)
Mari kita mulai pembahasan kita tentang nusyuz ini dengan menjelaskan makna kepemimpinan laki-laki atas wanita, karena kepemimpinan ini mungkin menjadi salah satu sebab yang menyebabkan nusyuz laki-laki. Kita harus tahu bahwa kepemimpinan ini yang disyariatkan Allah Azza wa Jalla bukanlah karena kelemahan atau pengurangan dalam jenis wanita, melainkan adalah kesetaraan yang adil. Penyamaan antara hak dan kewajiban adalah keadilan yang ditetapkan oleh falsafah Qurani tentang wanita, yaitu menempatkan wanita pada posisi yang benar dari alam, dari masyarakat, dan dari kehidupan individu. Demikianlah kata Al-Aqqad dalam (Falsafah Quraniyyah).
Kepemimpinan yang Allah jadikan untuk laki-laki—sebagaimana kalian lihat—disyaratkan dengan dua syarat: Keutamaan dalam bakat dan kesiapan, dan memberi nafkah kepada istri. Maka kepemimpinan yang ditetapkan Islam bagi laki-laki atas wanita adalah kepemimpinan yang harus memiliki apa yang harus ada pada setiap kepemimpinan yang bijaksana. Pemimpin harus menjadi yang terbaik dari kelompok yang dipimpinnya, dan harus layak untuk bertanggung jawab memimpinnya. Berdasarkan itu, harus tersedia dalam kepemimpinan laki-laki atas wanita syarat-syarat berikut:
- Harus mencapai kedewasaan laki-laki dalam usia dan pemahaman.
- Harus memiliki sifat keutamaan atau keunggulan. Laki-laki yang fasik atau penjahat yang diburu atau kehilangan kebebasan tidak memiliki kepemimpinan atas wanita yang salehah.
Ketiga: Harus menjalankan kewajibannya dalam memberi nafkah kepada wanita yang menjadi tanggungannya. Meskipun Allah telah memberikan kepada laki-laki hak memimpin keluarga, Dia tidak menjadikannya kepemimpinan yang sewenang-wenang, melainkan membangunnya atas dasar musyawarah dan saling ridha.
Dan ketika terjadi perselisihan, harus ada keputusan dari pemimpin untuk menyelesaikan situasi agar bangunan tidak runtuh. Keluarga muslim tidak mengenal kesewenang-wenangan dalam berpendapat, tidak ada kezaliman dalam perlakuan, dan tidak ada ketaatan buta. Melainkan ada hak dan kewajiban, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta. Ketaatan hanya kepada syariat. Ketaatan istri kepada suaminya bukan kepada pribadinya, tetapi kepada perintah-perintah, aturan-aturan, dan sistem-sistem yang berdasarkannya akad nikah dilakukan. Dan ketaatan suami bukan dari segi pemberian atau kasihan, tetapi dari segi menunaikan kewajiban.
Jika wanita muslimah dan suami muslim memahami batasan-batasan kepemimpinan ini, masing-masing akan menunaikan kewajibannya terhadap pasangannya. Ayat-ayat yang mulia menyebutkan bahwa istri yang salehah adalah yang taat, menjaga ketidakhadiran suaminya dalam dirinya dan hartanya. Adapun yang menampakkan tanda-tanda pemberontakan dan pembangkangan, maka suami—sebagaimana dijelaskan ayat—mengarahkan nasihat kepadanya, mengingatkannya tentang hak Allah atasnya, dan menjelaskan kepadanya bahaya dalam pembangkangannya yang mengancam kehidupan mereka dan kehidupan anak-anak mereka, serta konsekuensi buruk yang timbul karenanya.
Jika nasihat tidak bermanfaat, maka pisah ranjang. Ini adalah hukuman psikologis yang mendidik wanita, bukan hukuman fisik yang menghalanginya dari kenikmatan tubuh selama beberapa hari atau beberapa minggu. Jika tidak, itu juga akan menjadi hukuman bagi laki-laki. Ini adalah pelajaran keras yang mengenai wanita di inti hatinya. Jika nasihat dan pisah ranjang tidak berhasil, maka tidak ada lagi kecuali pukulan, karena itulah yang akan memperbaikinya dan membuatnya menunaikan haknya.
Pukulan dalam ayat ini adalah pukulan pendidikan yang tidak menyakitkan, yaitu yang tidak mematahkan tulang dan tidak melukai anggota tubuh. Karena tujuannya adalah perbaikan, maka tidak boleh jika menyebabkan kerusakan, dan wajib ada ganti rugi. Imam Asy-Syaukani berkata: “Jika cukup dengan ancaman dan semacamnya, itu lebih utama. Selama tujuan dapat dicapai dengan intimidasi, jangan beralih ke tindakan, karena dalam kejadian itu ada kebencian yang bertentangan dengan pergaulan baik yang dituntut pada istri, kecuali jika dalam hal yang berkaitan dengan maksiat kepada Allah. Cukup dengan ancaman lebih utama, karena itu adalah akhlak orang-orang mulia. Dalam hal itu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda untuk menjauhkan dari memukul: ‘Salah seorang dari kalian memukul istrinya seperti memukul budak, lalu mungkin ia menggaulinya di penghujung harinya.’”
Lihatlah petunjuk Nabi yang mulia ini. Meskipun demikian, pukulan yang dibolehkan Alquran tidak bertentangan dengan kasih sayang dan rahmat, karena sebagaimana dikatakan penulis (Haqaiq Al-Islam): “Tidak meniadakan keduanya dalam hal yang paling dekat dengan kasih sayang dan rahmat, yaitu pendidikan anak-anak dan pendidikan para pelajar. Memberikan hak kepada kepala keluarga untuk mendisiplinkan adalah pengganti dari banyak keadaan yang semuanya tidak baik, dan semuanya tidak masuk akal dalam urusan kepemimpinan rumah tangga.”
Maka kepala keluarga harus memiliki hak ini dalam sebagian besar urusan rumah tangga, atau pendisiplinan dalam keluarga tidak diperlukan, atau pendisiplinan di dalamnya diserahkan kepada kantor polisi dan pengadilan dalam setiap hal besar dan kecil yang dihadapi suami istri, baik dalam keadaan ridha maupun marah, terang-terangan maupun diam-diam. Ini atau pendisiplinan yang diperbolehkan adalah putusnya tali pernikahan dan runtuhnya bangunan rumah atas siapa yang ada di dalamnya dari ayah, ibu, dan anak-anak.
Jika perselisihan memburuk dan jurang perbedaan melebar, nasihat, pisah ranjang, dan pukulan tidak bermanfaat, semua cara gagal, keluarga mendekati jurang berbahaya, dan tali kasih sayang melemah, maka menjadi kewajiban masyarakat untuk campur tangan untuk mencegah jatuhnya batu ini dari bangunan sosialnya. Kewajiban ini dipikul oleh penguasa yang dipilih umat, dan ia harus menugaskan untuk itu seorang hakam dari keluarga suami dan seorang hakam dari keluarganya, dalam upaya memperbaiki apa yang rusak, sebagaimana firman Allah Taala: “Maka kirimlah seorang hakam dari keluarganya dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada keduanya.” (Surah An-Nisa ayat 35)
Al-Baidhawi berkata: “Maka kirimlah wahai para penguasa, ketika keadaan keduanya samar bagi kalian untuk menjelaskan perkara atau memperbaiki hubungan, seorang laki-laki penengah yang layak untuk arbitrase dan perbaikan dari keluarganya dan yang lain dari keluarganya. Karena kerabat lebih mengetahui keadaan batin dan lebih mencari perbaikan. Alquran tidak meninggalkan cara apapun kecuali ditempuhnya untuk menjaga ikatan ini. Maka ia melihat bahwa nusyuz sebagaimana bisa dari pihak istri, juga bisa—sebagaimana kami katakan—dari pihak suami, yaitu dengan mengurangi percakapan dan kebersamaan dengannya karena beberapa sebab, seperti usia yang sudah tua, atau ketidakcantikan, atau sesuatu dalam penciptaan atau akhlak, atau kebosanan, dan pandangan mata ke wanita lain, dan lain sebagainya. Jika ini dibiarkan, mungkin akan menyebabkan kehancuran keluarga dan runtuhnya rumah tangga.”
Karena itu Alquran mengajak istri untuk merelakan sebagian haknya dalam bermalam atau nafkah. Maka Allah berfirman sebagaimana yang telah kita baca sebelumnya: “Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik.” Ya, perdamaian lebih baik daripada perpisahan, karena terus-menerus dalam perselisihan, permusuhan, dan kebencian adalah dasar kejahatan. Nabi Alaihi Shallatu Wassalam bersabda tentang kebencian bahwa ia adalah al-haliqah, yaitu pencukur agama, bukan pencukur rambut.
Dan mungkin kita merasakan ajakan Alquran untuk berbuat baik dan bertakwa dalam hal seperti ini. Orang yang paling berhak mendapat kebaikan adalah istri yang rela merelakan haknya. Orang yang paling berhak dijaga perasaannya adalah wanita yang lemah yang tidak menemukan pilihan selain meninggalkan apa yang menjadi haknya atas suaminya. Maka takwa kepada Allah dan rasa takut kepada-Nya mendorong untuk memperhatikan semua itu. “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Surah An-Nisa ayat 35) Dan ini adalah penutup ayat yang mengandung ancaman keras bagi para suami yang nusyuz.
Karena itu, mazhab Maliki berpendapat bahwa jika perkara diajukan kepada hakim, ia memberi nasihat kepada suami terlebih dahulu. Jika tidak bermanfaat, ia memerintahkannya untuk menjauhinya. Dan jika tidak bermanfaat, ia memukulnya. Mereka berkata tentang suami bahwa ia dipenjarakan.
Inilah cara-cara yang telah ditetapkan oleh Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung untuk memperbaiki nusyuz (pembangkangan) suami, dan untuk memperbaiki nusyuz istri. Namun bagaimana pendapatnya jika nusyuz ini terus berlanjut, dan kehidupan kedua suami istri ini tidak teratur? Apakah mungkin mereka terus hidup dalam kehidupan rumah tangga? Tidakkah kalian melihat bahwa hal ini dapat mengarah pada penyimpangan-penyimpangan berbahaya yang mengancam masyarakat pada dasarnya?
Oleh karena itu, tidak ada dalam syariat Allah kecuali hubungan ini berhenti selama beberapa waktu; di mana masing-masing dari mereka merenung kembali, dan setelahnya memulai kehidupan baru yang dipenuhi kejernihan dan keharmonisan. Penghentian ini adalah yang dikenal dengan talak, dan ini—sebagaimana kalian lihat—adalah pengobatan yang mujarab, yang disyariatkan untuk menolak bahaya dari kedua suami istri jika kehidupan bersama di antara mereka menjadi mustahil atau sulit, sehingga perpisahan menjadi wajib dan merupakan kebutuhan yang tidak dapat dihindari. Pengobatan ini tidak akan memberikan hasil yang diharapkan, kecuali jika masyarakat menjalankannya dengan cara yang telah ditunjukkan oleh Tuhan Yang Maha Perkasa.
Cara ini adalah apa yang telah disyariatkan dengan membatasinya dengan jumlah tertentu, setelah sebelumnya di kalangan orang Arab dan lainnya tidak ada batasnya, sehingga tidak boleh melebihi dua kali talak yang terpisah. Adapun yang ketiga, maka setelahnya istri tidak halal kecuali jika menikah dengan suami yang lain. Allah berfirman: “Talak (yang dapat dirujuki) itu dua kali. (Setelah itu suami dapat) menahan dengan baik, atau melepaskan dengan baik.” (Surat Al-Baqarah: 229). Dan Allah berfirman: “Kemudian jika dia menceraikannya (setelah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya sebelum dia menikah dengan suami yang lain.” (Surat Al-Baqarah: 230). Dan talak juga dibatasi dengan waktu, maka tidak boleh talak dalam masa haid, dan dengan sifat maka tidak boleh menceraikannya dalam masa suci yang ia telah menggaulinya. Allah berfirman: “Wahai Nabi! Apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu idah itu, serta bertakwalah kepada Allah, Tuhanmu.” (Surat At-Thalaq: 1).
Ini tidak berarti bahwa talak tidak jatuh dalam masa haid, dan bahwa talak tidak jatuh dalam masa suci yang ia telah menggaulinya. Namun itu terjadi bertentangan dengan sunnah, maka ini adalah talak bidah yang terjadi dalam masa haid dan yang terjadi dalam masa suci yang ia telah menggaulinya, terhitung satu talak, tetapi itu adalah pelanggaran terhadap petunjuk Allah dan petunjuk Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam. Dan dengan kenyataan ini yang menjadikan laki-laki berdiri untuk melepaskan ikatan perkawinan, sementara ia sadar akan semua akibat yang ditimbulkan dari itu, Al-Quran menghargai pengaruh faktor waktu dalam menenangkan jiwa, dan pengaruh dari melihat masing-masing suami istri terhadap pasangannya dari dorongan untuk rujuk dan meminta maaf. Oleh karena itu, Allah menjadikan masa menjalani idah—yang biasanya tiga bulan—di rumah perkawinan bukan di luarnya. Allah berfirman: “Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) keluar kecuali jika mereka mengerjakan perbuatan keji yang nyata. Itulah hukum-hukum Allah dan barangsiapa melanggar hukum-hukum Allah, maka sungguh dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkala Allah mengadakan sesudah itu suatu hal yang baru.” (Surat At-Thalaq: 1).
Maka jika idah telah selesai dan bulan-bulan ini telah berlalu, dan suami tidak merujuk istrinya, ini menunjukkan bahwa permusuhan telah mengakar di antara mereka, dan tidak ada cara untuk kembali, jika tidak maka menahan adalah untuk membahayakan dan melakukan permusuhan. Oleh karena itu, Al-Quran mengingatkan tentang kezaliman suami terhadap dirinya dan istrinya dalam menahan ini, dan tentang pelanggaran terhadap batas-batas Allah dan syariat-Nya. Allah berfirman: “Apabila kamu menceraikan istri-istrimu, lalu sampai (akhir) idahnya, maka tahanlah mereka dengan cara yang baik, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang baik (pula). Janganlah kamu tahan mereka dengan maksud jahat untuk menzalimi mereka. Barangsiapa berbuat demikian, maka sungguh dia telah menzalimi dirinya sendiri. Dan janganlah kamu jadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan. Ingatlah nikmat Allah kepadamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Kitab dan Hikmah untuk memberi pengajaran kepadamu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Surat Al-Baqarah: 231).
Maka jika talak telah terjadi atas keyakinan penuh akan wajibnya mengakhiri kehidupan rumah tangga, tetaplah kasih sayang, kebaikan, dan ihsan sebagai ikatan yang mengelilingi masyarakat Muslim. Suami wajib membayar apa yang menjadi tanggung jawabnya dari mahar yang ditunda, sebagaimana ia membayar kompensasi finansial yang dinamai Al-Quran dengan mut’ah. Allah berfirman: “Dan berilah mereka mut’ah, bagi yang mampu menurut kemampuannya dan bagi yang tidak mampu menurut kemampuannya (pula), sebagai pemberian menurut yang patut, yang demikian itu adalah kewajiban bagi orang-orang yang berbuat ihsan.” (Surat Al-Baqarah: 236).
Suami wajib memberi nafkah kepada istri selama masa kehamilan, dan ia harus membayar upah menyusui anak-anaknya jika ia memiliki anak-anak dalam usia menyusui, sebagaimana firman Allah: “Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya sampai mereka melahirkan. Kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu, maka berikanlah imbalannya kepada mereka; dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; tetapi jika kamu menemui kesulitan, maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.” (Surat At-Thalaq: 6). Dan inilah melepaskan dengan baik yang diperintahkan oleh Kitab Allah ketika berfirman: “Apabila mereka telah mendekati akhir idahnya, maka tahanlah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah pengajaran itu diberikan bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.” (Surat At-Thalaq: 2).
Yaitu perpisahan di mana istri mengambil haknya secara penuh, dikelilingi dengan perhatian dan pemeliharaan tanpa celaan atau penghinaan; agar talak tidak menjadi alat penghancur yang menyebarkan permusuhan di antara keluarga-keluarga, dan memecah ikatan masyarakat. Dan hak istri untuk menjadikan pegangan perkawinan di tangannya, dan mensyaratkan ini dalam masa akad, dan ia juga boleh meminta pembatalan akad jika suaminya menolak menceraikannya dengan tujuan membahayakan dan menyempitkan, dan ini yang dikenal dengan khulu’, maka ia menebus dirinya dengan harta yang telah diambilnya darinya, sebagaimana firman Allah: “Tidak halal bagi kamu mengambil sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali keduanya (suami istri) khawatir tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu (wali) khawatir bahwa keduanya tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah, maka keduanya tidak berdosa atas bayaran yang (harus) diberikan (oleh istri) untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Surat Al-Baqarah: 229).
Dan inilah jalan yang dijadikan oleh Kitab Allah sebagai manhaj yang ditegakkan oleh masyarakat Islam, ketika menjadikan talak sebagai cara bagi yang tidak punya cara, dan menganggapnya sebagai yang paling dibenci di antara yang halal di sisi Allah, dan Allah melaknat setiap orang yang suka mencicipi dan banyak menceraikan dan setiap orang yang suka menikah dan banyak menceraikan, dan menjadikannya setelah menghabiskan semua cara pengobatan dan perbaikan di antara suami istri sebagaimana kita lihat, dan bahkan setelah terjadi tidak menjadikannya akhir dari kehidupan rumah tangga, namun menganggapnya sementara dan dibatasi dengan waktu, dan menetapkan syarat-syarat untuknya, dan mensyariatkan cara-cara untuk mendorong kembali darinya, dan menghilangkan sebab-sebabnya, yang menjadikannya dalam batas yang paling sempit.
Dan tidak menjadikannya hanya untuk suami yang menguasai istrinya, namun menjadikan bagi istri hal ini jika ia mensyaratkannya dan mengakui baginya sistem khulu’ agar hati tidak menyimpan kebencian dan permusuhan.
Dan talak dengan sifat ini adalah pengobatan untuk penyakit-penyakit masyarakat, dan keistimewaan bagi syariat Islam. Bentham berkata dalam Ushul Asy-Syarai’ dengan mengejek larangan talak: “Sesungguhnya undang-undang ikut campur di antara dua pihak yang berakad dalam perkawinan saat akad, dan berkata kepada mereka: Kalian berdua bersatu untuk menjadi bahagia, maka ketahuilah bahwa kalian memasuki penjara yang akan ditutup pintunya atas kalian, dan telinga akan tuli dari kalian, meskipun teriakan kalian meninggi dan penderitaan kalian keras, dan aku tidak akan mengizinkan kalian keluar meskipun kalian bertengkar dengan senjata permusuhan dan kebencian. Jika dibuat undang-undang untuk melarang pembubaran persekutuan, dan pencabutan wasiat, dan pemecatan wakil, dan perpisahan dari teman, maka semua orang akan berteriak.
Sungguh ini adalah puncak kezaliman, dan suami adalah teman dan wali dan wakil dan mitra, dan di atas semua ini. Namun demikian, hukum sebagian besar negara beradab memutuskan bahwa perkawinan itu abadi. Sungguh hal yang paling buruk adalah tidak terurainya kesepakatan itu; karena perintah untuk tidak keluar dari suatu keadaan adalah perintah untuk tidak masuk ke dalamnya.”
Maka betapa agungnya agama ini, dan betapa agungnya apa yang telah disyariatkan dari syariat yang muhkam dan agung ini, yang di dalamnya terdapat kebahagiaan umat manusia.
Dan semoga Allah memberi shalawat, salam, dan berkah atas Nabi kita Muhammad, dan atas keluarganya dan para sahabatnya dan memberi salam.
Pelajaran 11: Pentingnya Kisah dalam Al-Quran Al-Karim
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Maksud Kisah dan Contoh-contohnya dalam Al-Quran Al-Karim
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, dan shalawat serta salam atas semulia para rasul, junjungan kita Muhammad yang benar janjinya lagi terpercaya, dan atas keluarganya dan para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti petunjuk mereka, hingga hari kiamat. Amma ba’du:
Dari awal saya ingin menempatkan tangan kalian pada perbedaan antara menulis penelitian tentang kisah-kisah Al-Quran, dan membahas topik ini melalui tafsir maudhu’i (tematik).
Orang yang menulis penelitian tentang kisah-kisah Al-Quran membaginya menjadi paragraf-paragraf berurutan, setiap paragraf berkaitan dengan satu sisi dari sisi-sisi topik, tanpa memperhatikan apa yang disebutkan dalam Al-Quran tentang kisah, dan berapa kali materinya disebutkan, dan apa makna kemunculannya di setiap tempat disebutkan. Dan inilah tafsir maudhu’i. Meskipun benang antara dua metode ini adalah benang yang tipis, namun saya akan berusaha untuk berpegang pada metodologi penelitian dalam tafsir maudhu’i. Oleh karena itu, saya memandang perlu membagi topik melalui ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang kisah—dan menyebutkan beberapa kisah Al-Quran—menjadi:
Pertama: Maksud kisah dan makna bahwa ia ada dalam Al-Quran Al-Karim.
Dan pembicaraan tentang maksud kisah berarti: penelitian dalam kitab-kitab bahasa untuk menjelaskan hal itu. Maka apa yang dikatakan kitab-kitab bahasa? Sesungguhnya kita biasanya membahas apa yang ada di dalamnya menurut urutan kronologisnya, maka kita mulai dengan mu’jam Maqayis Al-Lughah kemudian Lisan Al-Arab kemudian mu’jam Mufradat Alfazh Al-Quran karya Ar-Raghib, dan mungkin saya sebutkan sebagian dari apa yang ada dalam Al-Mu’jam Al-Wasith. Dan kita ambil dari kitab-kitab ini sebagian dari isinya dengan ringkasan yang menjelaskan makna yang dimaksud.
Ibnu Faris berkata dalam mu’jam Maqayis Al-Lughah: “Qashsha: Qaf dan Shad adalah akar yang shahih yang menunjukkan pada mengikuti sesuatu. Dari itu perkataan mereka: iqtashashtu al-atsar jika engkau mengikutinya. Dan dari itu diambil qishash dalam luka, dan itu karena dilakukan kepadanya seperti perbuatannya yang pertama seolah-olah mengikuti jejaknya. Dan dari bab ini al-qishshah dan al-qashash semua itu diikuti lalu disebutkan. Adapun dada maka ia adalah al-qashsh dan itu menurut kami qiyas al-bab karena ia seimbang tulang-tulangnya, seolah-olah setiap tulang darinya mengikuti yang lain. Dan dari bab juga qashashtu asy-sya’r (memotong rambut), dan itu karena jika engkau memotongnya maka sungguh engkau telah menyamakan antara setiap rambut dan saudaranya, maka yang satu menjadi seolah-olah mengikuti yang lain menyamainya dalam jalannya.”
Dan Ibnu Manzhur berkata dalam Lisan Al-Arab: “Al-qishshah: perkara dan berita, dan iqtashashtu al-hadits: aku meriwayatkannya atas wajahnya.” Dan dalam hadits tentang mimpi: “Jangan ceritakan kecuali kepada yang penyayang”, artinya: yang pengasih. Dikatakan: qashashtu ar-ru’ya ala fulan jika aku mengabarkan kepadanya tentangnya. Dan al-qashsh adalah yang datang dengan kisah atas wajahnya seolah-olah ia mengikuti makna-maknanya dan lafazh-lafazhnya.
Adapun Ar-Raghib dalam mufradatnya maka berkata: “Qashsha: al-qashsh adalah mengikuti jejak, dikatakan: qashashtu atsarahu. Dan al-qashash: jejak. Allah berfirman: ‘Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka’ (Surat Al-Kahf: 64) ‘Dan dia berkata kepada saudara perempuan Musa: Ikutilah dia’ (Surat Al-Qashash: 11). Dan al-qashash: berita-berita yang diikuti. Allah berfirman: ‘Sungguh ini adalah kisah yang benar’ (Surat Ali Imran: 62) ‘Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran’ (Surat Yusuf: 111) ‘Dan dia menceritakan kepadanya kisah itu’ (Surat Al-Qashash: 25) ‘Kami kisahkan kepadamu kisah yang paling baik’ (Surat Yusuf: 3) ‘Maka akan Kami kabarkan kepada mereka dengan pengetahuan’ (Surat Al-A’raf: 7) ‘Sesungguhnya Al-Quran ini menceritakan kepada Bani Israil’ (Surat An-Naml: 76) ‘Maka ceritakanlah kisah-kisah itu’ (Surat Al-A’raf: 176).”
Dan apa yang ada dalam kitab-kitab bahasa sebagaimana kalian lihat adalah makna yang berdekatan, dan ringkasannya bahwa kisah adalah peristiwa-peristiwa yang diikuti oleh orang yang menyebutkannya peristiwa demi peristiwa, seperti orang yang mengikuti jejak kaki sampai ia sampai kepada pemiliknya, dan ini memerlukan keahlian khusus dalam ilmu jejak.
Sebagaimana kisah meriwayatkan peristiwa-peristiwanya orang yang meriwayatkannya, dan sesuai dengan kemampuan perawi dalam mengikuti peristiwa dan menampilkannya maka terdapat di dalamnya ketegangan dan ketertarikan, dan terdapat baginya pengaruh dalam mewujudkan tujuan-tujuan yang disebutkan untuk kisah itu. Dan kisah-kisah Al-Quran bukan sekadar peristiwa-peristiwa yang diriwayatkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan menyusun mukadimah-mukadimahnya dan hasilnya, namun ia adalah wahyu dari Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal yang meliputi segala sesuatu dengan ilmu-Nya, kepada Rasul-Nya yang terpilih shallallahu alaihi wasallam maka ia adalah kebenaran itu sendiri tidak ada tempat di dalamnya untuk khayalan, sebagaimana yang dilakukan penulis kisah dan perawinya.
Ketika kami membicarakan tentang kisah dalam Al-Quran, judul ini tidak berarti menelusuri kisah-kisah yang terdapat dalam Al-Quran, dan menyajikan setiap kisah dengan peristiwa-peristiwanya, serta berhenti di hadapan pelajaran yang dapat diambil darinya, karena hal itu sudah banyak disusun dalam buku-buku. Di antara para penulis ada yang menulis tentang kisah para nabi, ada yang menulis tentang kisah selain para nabi, seperti kisah ashabul kahfi dan kisah pemilik dua kebun, ada yang menggabungkan semua itu dalam satu buku, dan ada pula yang mengkhususkan setiap kisah dalam sebuah buku kecil, dan seterusnya.
Namun dalam ranah tafsir tematik, kami menyajikan landasan dasar tentang kisah dalam Al-Quran, dan menjelaskan bahwa apa yang disebutkan dalam Al-Quran adalah benar-benar kebenaran yang hakiki. Kami juga memperjelas alasan pengulangan kisah dalam Al-Quran antara yang panjang dan yang ringkas, dan mengambil beberapa pelajaran dan ibrah dari kemunculan kisah dalam Al-Quran. Kemudian kami berhenti di hadapan ayat-ayat yang mengandung akar kata qaf-shad-shad, untuk melihat bagaimana Al-Quran menggunakannya, lalu kami menyajikan beberapa kisah Al-Quran dengan kajian, sehingga kami kumpulkan ayat-ayat yang berkaitan dengan kisah tersebut, dan mengkajinya secara tematik, sehingga tampak bagi kami bersinar dengan pelajaran-pelajaran yang bermanfaat dan nasihat-nasihat yang mendalam. Lalu, apa yang terdapat dalam Kitab Tuhan kita?
Akar kata ini disebutkan dua puluh sembilan kali, di antaranya yang terdapat dalam surat Al-Qashash dari perkataan ibu Musa kepada putrinya: “Dan dia (ibu Musa) berkata kepada saudara perempuan Musa, ‘Ikutilah dia.’ Maka dia melihatnya dari jauh, sedang mereka tidak menyadarinya.” (Al-Qashash: 11) Artinya: ikutilah berita-beritanya, dan lihatlah ke mana peti yang di dalamnya Musa diletakkan pergi, yang dilemparkan ke Sungai Nil. Mengikuti jejak Musa dan mencari berita tentangnya bukanlah topik pembahasan kami.
Yang dekat dengan makna ini adalah apa yang terdapat dalam kisah Nabi Musa alaihissalam dan pembantunya ketika keduanya mencari Khidir. Allah telah memberikan kepada Musa sebuah tanda untuk mengetahui tempat Khidir, dan tanda ini berupa seekor ikan yang dibawa olehnya bersama pembantunya dalam sebuah keranjang. Di tempat mereka kehilangan ikan tersebut, di sanalah Khidir berada.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.’ Maka ketika mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lupa ikan mereka, lalu ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan berenang. Maka ketika mereka berjalan lebih jauh, dia (Musa) berkata kepada pembantunya, ‘Bawalah kemari makanan kita; sungguh kita telah merasa letih dalam perjalanan kita ini.’ Dia (pembantu itu) berkata, ‘Tahukah kamu ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan, dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.’ Dia (Musa) berkata, ‘Itulah (tempat) yang kita cari.’ Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.” (Al-Kahfi: 60-64).
Artinya: keduanya mengikuti jejak perjalanan mereka, sampai mereka tiba di tempat di mana mereka tidur. Ketika mereka sampai di tempat ini, mereka menemukan Khidir, dan terjadilah peristiwa antara Musa dengannya sebagaimana yang disebutkan Allah dalam kitab-Nya. Maka firman-Nya: “Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula” – kata “qashasha” di sini bukanlah yang dimaksud dengan kisah yang menjadi topik pembicaraan kita.
Sebagaimana kata “qishash” (pembalasan) disebutkan di empat tempat dalam Al-Quran, tiga di antaranya dalam surat Al-Baqarah: “Diwajibkan atas kamu (melaksanakan) qishash berkenaan dengan orang yang dibunuh” (Al-Baqarah: 178), “Dan dalam qishash itu ada (jaminan) kehidupan bagimu” (Al-Baqarah: 179), “Dan kehormatan-kehormatan itu ada qishashnya” (Al-Baqarah: 194), dan satu tempat dalam Al-Ma’idah dalam firman-Nya: “Dan luka-luka pun ada qishashnya” (Al-Ma’idah: 45).
Qishash (pembalasan) sebagaimana jelas bukanlah kisah, meskipun keduanya sama dalam asal penggunaan kata, yaitu mengikuti jejak untuk mencapai tujuan. Maka tersisa bagi kita dua puluh empat ayat, yang merupakan objek kajian kita tentang kisah dalam Al-Quran. Lalu, apa makna yang terkandung dalam ayat-ayat ini dan pelajaran apa yang ada di dalamnya?
Ini adalah pelajaran dari kisah Nabi Yusuf alaihissalam. Allah berfirman kepada Rasul-Nya Muhammad shallallahu alaihi wasallam di awal surat: “Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya engkau sebelum (Kami mewahyukan)nya benar-benar termasuk orang yang tidak mengetahui.” (Yusuf: 3). Maka Allah menceritakan kepada Rasul-Nya dan orang-orang beriman bersamanya sebuah kisah dari kisah-kisah yang paling agung dan paling baik. Peristiwa-peristiwanya berurutan dari awal surat, ayat-ayat memindahkan Anda dari satu peristiwa ke peristiwa lain dan dari satu tahap ke tahap lain, dalam gaya yang menakjubkan di mana Anda tidak merasakan kejanggalan, dan kisah itu tidak perlu dibagi menjadi bab-bab dan adegan-adegan. Peristiwa-peristiwanya mengalir seperti air yang jernih di sungainya, mengalir dengan tenang dan jernih, hingga sampai menjelang akhir surat dalam doa yang khusyuk ini dari hamba Allah dan nabi-Nya Yusuf alaihissalam, yaitu ketika ia berkata: “Ya Tuhanku, sungguh Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Ya Allah) Pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (Yusuf: 101).
Sebagai komentar atas kisah ini yang dikhususkan oleh surat ini untuk menyajikannya, dan tidak membicarakan kisah lain, datanglah pelajaran-pelajaran yang dapat diambil yang diringkas Al-Quran dalam sepuluh ayat, setelah menyebutkan kisah dalam sekitar seratus ayat. Di awal pelajaran-pelajaran ini adalah penetapan bahwa Al-Quran ini dari Allah, dan bahwa Muhammad shallallahu alaihi wasallam benar-benar utusan Allah. Allah Ta’ala berfirman: “Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); padahal engkau tidak hadir bersama mereka, ketika mereka bersepakat mengatur tipu daya mereka, sedang mereka melakukan makar.” (Yusuf: 102).
Inilah yang dikenal dalam aspek-aspek kemukjizatan Al-Quran sebagai kemukjizatan gaib, yaitu: Al-Quran mengabarkan hal-hal gaib yang tidak ada jalan untuk mengetahuinya kecuali melalui pemberitahuan Allah kepada Rasul-Nya tentangnya, di antaranya adalah peristiwa-peristiwa kisah Yusuf dan apa yang terjadi antara dia dengan ayahnya dan saudara-saudaranya hingga Allah menyelamatkannya dan memilihnya.
Pelajaran kedua dari pelajaran-pelajaran ini adalah kecintaan yang dibawa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam terhadap anak manusia, dan keinginan kuatnya atas petunjuk mereka, dan kesedihan serta kepedihan yang dirasakannya karena ketidakimanan mereka, padahal dia datang dengan kebenaran yang tidak akan ditolak kecuali oleh orang yang keras kepala dan membangkang.
Kisah Yusuf yang dibawa oleh wahyu adalah mukjizat, sebagaimana ayat-ayat Al-Quran dalam lafal-lafalnya, penyajiannya, dan peristiwa-peristiwanya, serta apa yang dibawanya dari detail-detail berita, dan apa yang disebutkan tentang getaran hati yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Yang Maha Mengetahui segala yang gaib. Inilah yang dinyatakan dalam firman-Nya Yang Maha Mulia: “Dan kebanyakan manusia tidak akan beriman, walaupun engkau (Muhammad) sangat menginginkannya.” (Yusuf: 103).
Meskipun beliau shallallahu alaihi wasallam sangat ingin akan petunjuk manusia, namun Allah sering mengingatkan bahwa kembalinya petunjuk itu hanya kepada-Nya, maka Allah berfirman: “Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Al-Qashash: 56). Dan beliau tidak boleh bersedih karena ketidakimanan orang yang tidak beriman, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Sungguh, Kami mengetahui bahwa apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (akan tetapi) mereka sebenarnya bukan mendustakan engkau, tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (Al-An’am: 33). Sebagaimana Allah berfirman: “Boleh jadi engkau (Muhammad) akan membunuh dirimu (karena berkecil hati), karena mereka tidak beriman. Jika Kami menghendaki, niscaya Kami turunkan kepada mereka mukjizat dari langit, lalu tunduk leher mereka kepadanya dengan merendahkan diri.” (Asy-Syu’ara’: 3-4).
Makna “bakhi’un nafsaka” adalah: menghancurkannya. Dan ayat-ayat lain yang menjelaskan rahmat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada makhluk, dan betapa beliau sangat ingin akan petunjuk mereka, namun cukuplah bagi beliau bahwa beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, dan memberikan nasihat yang tulus kepada manusia.
Pelajaran ketiga dalam komentar atas kisah Yusuf dapat Anda lihat dalam firman Allah Ta’ala: “Dan engkau (Muhammad) tidak meminta kepada mereka upah atas (seruanmu) itu. Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh alam.” (Yusuf: 104). Ini berarti bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bukanlah pencari dunia, tetapi dia menginginkan dengan dakwahnya untuk menunjukkan manusia kepada jalan Tuhan mereka, tidak meminta upah atas itu dari siapa pun, tetapi upahnya di sisi Allah. Demikianlah semua rasul. Bacalah dalam surat Asy-Syu’ara’ apa yang dikatakan oleh masing-masing dari Nuh, Hud, Salih, Luth, dan Syu’aib alaihimussalam, karena setiap dari mereka berkata kepada kaumnya ungkapan ini: “Dan aku tidak meminta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku hanyalah dari Tuhan seluruh alam.” (Asy-Syu’ara’: 109).
Dan Muhammad shallallahu alaihi wasallam mengatakannya, demikianlah Tuhannya memerintahkannya, Allah berfirman kepadanya: “Katakanlah (Muhammad), ‘Upah apa pun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Menyaksikan segala sesuatu.'” (Saba’: 47). Dalam hal ini, sebagaimana Anda lihat, terdapat celaan dan teguran bagi orang-orang musyrik yang mengingkari; bagaimana bisa datang kepada mereka seorang rasul yang menyeru mereka kepada Tuhan mereka, tidak meminta atas usaha yang besar ini dan urusan yang mulia ini upah sekecil apa pun, dan dalam bentuk apa pun upah itu, namun demikian dakwahnya ditolak.
Hal lain dalam pelajaran ayat ini adalah kabar gembira yang besar bagi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan bagi orang-orang beriman, yaitu penetapan bahwa dakwah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak khusus untuk penduduk Mekah atau orang Arab atau Jazirah Arab, tetapi adalah dakwah untuk seluruh alam, sebagaimana firman-Nya Yang Maha Suci dalam komentar atas kisah: “Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh alam.” (Yusuf: 104). Allah mengatakan ini kepada Rasul-Nya di sini dalam surat Yusuf, dan mengatakannya kepadanya dalam surat Shad, dalam At-Takwir, dan dalam surat Al-Qalam, Allah berfirman kepadanya: “Padahal Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh alam.” (Al-Qalam: 52). Dan dalam Al-An’am: “Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh alam.” (Al-An’am: 90). Dan dalam Al-Anbiya’: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (Al-Anbiya’: 107). Dan di awal Al-Furqan: “Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (Al-Furqan: 1).
Mungkin Anda telah memperhatikan bersama saya bahwa semua surat ini yang disebutkan di dalamnya kata “al-‘alamin” (seluruh alam), bahwa “al-‘alamin” adalah lapangan dakwah Islam, semua ini adalah surat-surat Makkiyah pada waktu kaum muslimin dikejar-kejar, karena mereka tidak memiliki negara dan tidak pula kekuasaan. Namun demikian Allah memberitahu Rasul-Nya bahwa beliau adalah pemilik risalah universal, karena setiap nabi diutus khusus kepada kaumnya, sedangkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diutus kepada manusia secara umum.
Dengan ini Anda dapat menjawab para orientalis dan antek-anteknya, yang secara dusta dan bohong mendakwa bahwa Muhammad jika dikatakan bahwa dia adalah rasul, maka Allah telah mengutusnya khusus kepada penduduk Mekah, kemudian terlintas di benaknya untuk memperluas bidang dakwahnya, lalu dia menawarkan dirinya kepada suku-suku Arab, ketika dia menemukan penerimaan dari kaum Aus dan Khazraj, dia hijrah kepada mereka, dan mulai memerangi suku-suku Arab di sekitarnya, lalu dia mengklaim bahwa dia diutus kepada semua orang Arab. Kemudian ketika Jazirah Arab tunduk kepadanya, dan suku-sukunya datang kepadanya pada tahun delegasi untuk menyatakan masuk ke dalam agama baru, terlintas di benaknya untuk mengirim surat kepada raja-raja dan penguasa-penguasa di luar Jazirah, dan mengklaim bahwa dia adalah rasul kepada semua manusia.
Dan sekiranya orang-orang ini bersikap adil dan membaca sebagian ayat yang telah kami sebutkan, niscaya bisu lidah mereka, dan mereka tidak akan berucap dengan tuduhan dusta ini. Bagaimana mungkin mereka berkata demikian, padahal Allah telah berfirman kepada Rasul-Nya dalam Surah Al-A’raf, yang merupakan bagian dari Al-Quran yang diturunkan di Mekah: “Katakanlah: Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua, Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, tidak ada Tuhan selain Dia, Dia yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat-Nya, dan ikutilah dia agar kalian mendapat petunjuk” (Surah Al-A’raf: 158). Dan Allah berfirman dalam Surah Saba’, yang juga diturunkan di Mekah: “Dan Kami tidak mengutusmu melainkan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Surah Saba’: 28).
Ayat-ayat tersebut menguraikan keadaan kaum Quraisy dan kelalaian mereka terhadap ayat-ayat Allah, mengancam mereka dengan azab Allah, dan memerintahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk mengumumkan kepada mereka tentang jalan dakwahnya kepada Allah, menakut-nakuti mereka dengan apa yang telah menimpa umat-umat sebelum mereka, dan menjelaskan kepadanya bahwa akibat baik akan menjadi miliknya dengan pertolongan dan dukungan Allah. Maka Allah berfirman: “Sehingga apabila para rasul telah putus asa dan mereka mengira bahwa mereka telah didustakan, datanglah pertolongan Kami kepada mereka, lalu diselamatkan orang yang Kami kehendaki. Dan azab Kami tidak dapat ditolak dari kaum yang berdosa” (Surah Yusuf: 110). Dan surah tersebut ditutup dengan firman Allah Ta’ala: “Sungguh, pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman” (Surah Yusuf: 111).
Dalam penutup ini terdapat ketenangan bagi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan penjelasan tentang tujuan-tujuan luhur dari kisah-kisah Al-Quran, dan pembicaraannya tentang umat-umat terdahulu serta apa yang menjadi akhir dari urusan mereka ketika mendustakan para rasul, dan bahwa dalam hal itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang yang mau mengambil pelajaran. Yang mengambil pelajaran adalah orang yang memiliki akal yang matang dan pemikiran yang benar. Adapun orang yang tidak mengambil pelajaran, maka dia sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Azza wa Jalla: “Dan sungguh, Kami telah menciptakan untuk neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami, dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (Surah Al-A’raf: 179).
Allah membuktikan kebenaran apa yang dikisahkan-Nya tentang keadaan umat-umat dan individu-individu, maka Dia menjelaskan bahwa apa yang disebutkan-Nya tentang hal itu tidak mungkin merupakan cerita yang dikarang dan direkayasa, yang berasal dari hasil imajinasi seorang pencerita yang bercerita tentang suatu kisah yang mungkin tidak memiliki bagian dari kenyataan. Akan tetapi, apa yang disebutkan oleh Tuhan kita ini datang membenarkan apa yang ada di hadapannya dari kitab-kitab samawi terdahulu, dan datang sebagai penjelasan segala sesuatu serta petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.
Kisah Musa, dan Pelajaran yang Diambil dari Kisah-kisah Al-Quran
Dan jika ini adalah setetes dari lautan apa yang datang dalam komentar tentang kisah Yusuf, maka marilah kita berpindah untuk mengambil dari permata-permata Al-Quran dalam topik lain dan dalam sisi lain dari kisah-kisah Al-Quran yang mulia. Mungkin kalian mengingat sebuah surah yang bernama Surah Al-Qashash (Kisah-Kisah), diambil dari firman Allah Ta’ala dalam surah ini: “Maka ketika dia (Musa) mendatanginya (Syu’aib) dan menceritakan kisah-kisah itu kepadanya, dia (Syu’aib) berkata: Janganlah kamu takut, kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim” (Surah Al-Qashash: 25). Pada perkataan ini dalam surah yang mulia, marilah kita berhenti sebentar untuk melihat posisi ayat ini dalam surah tersebut, dan untuk mempelajarinya melalui ayat-ayat yang disebutkan dalam konteksnya.
Surah Al-Qashash adalah delapan puluh delapan ayat. Kisah Musa dimulai setelah ayat kedua: “Tha Sin Mim. Itulah ayat-ayat Kitab yang nyata” (Surah Al-Qashash: 1, 2). Kemudian dimulailah penyajian kisah Musa alaihissalam dan ayat-ayat berlanjut hingga ayat keempat puluh tiga pada firman-Nya: “Dan sebagai petunjuk dan rahmat agar mereka mengambil pelajaran” (Surah Al-Qashash: 43). Kemudian datanglah komentar-komentar Al-Quran tentang kisah ini untuk menjelaskan pelajaran-pelajaran bermanfaat yang terkandung di dalamnya, hingga surah tersebut ditutup, dan mendekati akhirnya dengan kisah Qarun dan apa yang menjadi akhir urusannya, dan dia juga dari kaum Musa. Ayat-ayat yang membahas Musa dan kisahnya dalam surah ini menguraikan tentang kezaliman Firaun terhadap Bani Israil, dan bahwa Allah berkehendak untuk memberi karunia kepada mereka dan menjadikan mereka pemimpin-pemimpin dan menjadikan mereka pewaris. Ayat-ayat dimulai dengan kata-katanya bahkan dengan huruf-hurufnya melukiskan adegan-adegan dari sebuah kisah dari kisah-kisah Al-Quran, dan seolah-olah Anda melihat gambaran yang terwujud dan bergerak dari tokoh-tokoh dan pahlawan-pahlawan kisah ini.
Inilah ibu Musa dalam ketakutannya terhadap bayinya, dia takut dari Firaun dan bala tentaranya agar tidak menyerangnya dan mengambil anaknya serta membunuhnya karena ilusi yang salah dan mimpi yang keliru. Namun Allah memasukkan ke dalam hatinya bahwa jika dia takut terhadap anaknya ini, maka dia harus menghanyutkannya ke sungai dan jangan takut dan jangan bersedih. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan kepadanya bahwa Dia akan mengembalikan anaknya kepadanya agar anak ini menjadi salah satu dari para rasul.
Peristiwa-peristiwa kisah berjalan dan takdir Allah mengalir sesuai dengan apa yang ada dalam ilmu-Nya. Inilah Firaun dan bala tentaranya memungut peti yang berisi bayi ini, agar bayi ini menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka: “Sesungguhnya Firaun dan Haman serta bala tentara keduanya adalah orang-orang yang bersalah” (Surah Al-Qashash: 8). Allah memasukkan kecintaan terhadap Musa ke dalam hati istri Firaun, maka dia berkata: Ini adalah penyejuk mata bagiku dan bagimu, dan dia memerintahkan mereka agar tidak membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau kita mengambilnya sebagai anak angkat, dan mereka tidak menyadari. Ketika ibu Musa mengetahui apa yang terjadi, hatinya menjadi kosong, sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala, sehingga dia hampir menampakkan karena sangat panik dan takutnya terhadap anaknya bahwa bocah ini adalah anaknya. Namun Allah menguatkan hatinya agar dia termasuk dari orang-orang yang beriman.
Dia memerintahkan putrinya untuk mencari dan menyelidiki berita tentang bayi ini dan berita tentang Musa: “Maka dia (saudara perempuan Musa) melihatnya dari jauh, sedangkan mereka tidak menyadarinya” (Surah Al-Qashash: 11). Takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala berjalan bahwa bayi ini, padahal mereka telah mendatangkan ibu-ibu susuan dari segala tempat untuknya, namun dia tidak mau menyusu pada puting seorang pun dari mereka. Maka berkatalah si gadis: Bolehkah aku menunjukkan kepada kalian keluarga yang akan mengasuhnya untuk kalian dan mereka adalah penasihat yang baik baginya? Maka Allah mengembalikan Musa kepada ibunya agar senang hatinya dan agar dia tidak bersedih hati, dan agar dia mengetahui bahwa janji Allah adalah benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.
Kisah, sebagaimana kita lihat, berpindah dari masa kanak-kanak, yang di dalamnya Musa dibesarkan di rumahnya dan bersama ibunya, tetapi ketika dia mencapai kedewasaan dan kematangannya, dia berada di rumah Firaun. Allah telah memberi Musa hikmah dan ilmu, dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dia tahu bahwa dia dari Bani Israil. Al-Quran menyebutkan bahwa Musa alaihissalam memasuki kota pada waktu orang-orang sedang lengah, lalu dia mendapati di sana dua orang laki-laki yang berkelahi, yang satu dari golongannya dan yang lain dari musuhnya. Orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya untuk menghadapi orang yang dari musuhnya, maka Musa memukul musuh itu dan kebetulan ajalnya telah tiba sehingga dia mati. Maka Musa menyesal atas apa yang telah terjadi dan berkata: Ini adalah perbuatan setan, sesungguhnya dia adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata. Dia menghadap kepada Allah dengan berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku, lalu Allah mengampuninya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Maka dia bersumpah dengan apa yang Allah telah anugerahkan kepadanya untuk tidak menjadi pembantu bagi orang-orang yang berdosa setelah itu.
Berita tersebar di kota dan sampai kepada Firaun. Kaum bermusyawarah untuk membunuh Musa. Namun seorang laki-laki yang bersahabat dan mencintai Musa datang kepadanya dengan tergesa-gesa dan berkata kepadanya: Wahai Musa, sesungguhnya para pembesar sedang bermusyawarah tentang dirimu untuk membunuhmu, maka keluarlah, sesungguhnya aku termasuk orang yang memberi nasihat kepadamu. Maka dia keluar dari sana dengan sembunyi-sembunyi dalam keadaan takut dan berhati-hati, memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menyelamatkannya dari kaum yang zalim. Dia menuju ke arah Madyan, memohon kepada Allah agar membimbingnya ke jalan yang lurus: “Dan ketika dia sampai di air negeri Madyan, dia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang memberi minum, dan dia mendapati di belakang mereka dua orang perempuan yang menghambat. Dia berkata: Apa maksud kalian berdua? Keduanya menjawab: Kami tidak dapat memberi minum sebelum para penggembala itu memulangkan, sedangkan ayah kami adalah orang tua yang telah lanjut usia. Maka dia memberi minum untuk keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh, lalu berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan kebaikan apa saja yang Engkau turunkan kepadaku. Kemudian datanglah kepada dia salah seorang dari kedua perempuan itu berjalan dengan malu-malu, dia berkata: Sesungguhnya ayahku memanggilmu agar dia memberikan balasan terhadap kebaikan (dari) yang telah kamu beri minum untuk kami. Maka ketika dia (Musa) mendatanginya (Syu’aib) dan menceritakan kisah-kisah itu kepadanya, dia (Syu’aib) berkata: Janganlah kamu takut, kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim” (Surah Al-Qashash: 23-25).
Kita sampai pada: “Maka ketika dia (Musa) mendatanginya dan menceritakan kisah-kisah itu kepadanya” (Surah Al-Qashash: 25). Dan seolah-olah kalian melihat bersama saya dan memandang dengan mata hati kalian kepada Musa alaihissalam yang telah datang kepada Nabi Allah Syu’aib dan duduk bersamanya dengan tenang, menceritakan kepadanya tentang apa yang terjadi dengan urusan Firaun terhadap Bani Israil sejak awal masa mereka bersamanya, hingga apa yang terjadi dengan pembunuhan anak-anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup perempuan-perempuan mereka, dan apa yang terjadi dengan kedatangannya ke istana Firaun dan bahwa dia dibesarkan di istana ini. Kemudian terjadilah peristiwa bahwa dia membunuh salah seorang dari mereka yang merupakan musuh Bani Israil, dan majelis Firaun bersepakat untuk membunuh Musa. Maka dia keluar dalam keadaan takut dan berhati-hati hingga tiba di tempat ini. Syu’aib melihat kejujuran pemuda ini, dan berkatalah salah seorang dari kedua gadis itu kepada ayahnya: “Wahai ayahku, jadikanlah dia sebagai pekerja, sesungguhnya sebaik-baik orang yang kamu ambil sebagai pekerja adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya” (Surah Al-Qashash: 26). Di sinilah, setelah berakhirnya hari-hari cobaan dan dimulainya hari-hari karunia. Maka Musa hidup dengan aman dan tenang dalam perlindungan syekh yang agung ini dan menunaikan apa yang telah diperjanjikannya.
Ketika Musa telah menyelesaikan masa (perjanjian) dan kembali dengan keluarganya ke Mesir untuk menemui keluarganya di sana, terjadilah pemilihan ilahi yang agung ini untuk risalah dan kenabian. Musa dipanggil dari tepi lembah yang sebelah kanan pada tempat yang diberkahi dari pohon, Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam. Ayat-ayat menyebutkan apa yang terjadi dengan urusan Allah terhadap Musa, dan bahwa Allah mengutusnya kepada Firaun. Apa yang terjadi dengan urusan Firaun ketika Musa datang kepadanya dengan ayat-ayat yang jelas, dan bahwa Firaun sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala: “Dan dia (Firaun) dan bala tentaranya menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar dan mereka mengira bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami. Maka Kami timpakan dia dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut” (Surah Al-Qashash: 39, 40). Maka lihatlah, wahai yang menyaksikan dan wahai yang memiliki pandangan, bagaimana akibat orang-orang yang zalim. Dan Kami jadikan mereka, yaitu Kami jadikan Firaun dan bala tentaranya pemimpin-pemimpin yang menyeru ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. “Dan Kami ikuti mereka dengan laknat di dunia ini dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dihinakan. Dan sungguh, Kami telah memberikan kepada Musa Kitab setelah Kami binasakan umat-umat yang terdahulu, sebagai cahaya bagi manusia dan petunjuk serta rahmat agar mereka mengambil pelajaran” (Surah Al-Qashash: 42, 43).
Saya bermaksud untuk berpegang pada kata-kata Al-Quran dalam sebagian besar apa yang kami sebutkan dari kisah ini, agar kita melihat keagungan Al-Quran yang mulia dalam penuturannya terhadap peristiwa-peristiwa kisahnya, dan bahwa dalam gaya mu’jizatnya tidak ada seorang pun yang dapat mencapai tingkatannya, dan tidak ada seorang pun yang mampu menyamai-Nya. Ini adalah wahyu dari Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal dari Tuhan semesta alam. Allah menyampaikan ini sebagai penjelasan kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam dan kepada orang-orang beriman bersamanya agar dalam kisah-kisah ini terdapat pelajaran dan nasihat. Maka apa yang dapat kita petik dari pelajaran-pelajaran bermanfaat dan pelajaran-pelajaran serta nasihat yang mengena, dalam apa yang Allah sebutkan dari peristiwa-peristiwa kisah ini dalam Surah Al-Qashash?
Hal pertama yang kita petik adalah apa yang telah kami sebutkan dalam Surah Yusuf, bahwa dalam pemberitaan ini terdapat dalil bahwa Muhammad adalah Rasulullah dengan sebenarnya, di mana Allah berfirman kepadanya: “Dan kamu (Muhammad) tidak berada di sisi barat ketika Kami sampaikan perintah kepada Musa, dan kamu tidak termasuk saksi-saksi. Tetapi Kami telah membangkitkan beberapa generasi, lalu panjang masa kehidupan mereka. Dan kamu tidak tinggal bersama penduduk Madyan untuk membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka, tetapi Kamilah yang mengutus rasul-rasul. Dan kamu tidak berada di lereng gunung Thur ketika Kami menyeru, tetapi (kamu diutus) sebagai rahmat dari Tuhanmu untuk memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka seorang pemberi peringatan pun sebelum kamu, agar mereka mengambil pelajaran” (Surah Al-Qashash: 44-46).
Ini adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang tidak berada di sana dan tidak menyaksikan apa yang terjadi. Maka siapa yang memberitahunya? Yang memberitahunya adalah Dia yang mewahyukan kepadanya Al-Quran ini. Maka ini adalah dalil atas kebenaran Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam apa yang dia sampaikan dari Tuhannya dan bahwa dia adalah Rasulullah dengan sebenarnya. Sesuai dengan cara Al-Quran, setelah menyampaikan dalil yang meyakinkan ini, yang seharusnya mengantar mereka kepada keimanan dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, karena itu Dia mengancam dan memperingatkan mereka, dan bahwa jika mereka tidak memenuhi seruan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka dan mereka adalah orang-orang zalim: “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (Surah Al-Qashash: 50).
Allah menghibur Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam bahwa hidayah ada di tangan-Nya Subhanahu wa Ta’ala, maka Dia berfirman: “Sesungguhnya kamu (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk” (Surah Al-Qashash: 56), sebagaimana disebutkan juga dalam kisah Yusuf alaihissalam. Ayat-ayat berjalan mengancam dan memperingatkan, menyebutkan sejumlah dalil bahwa Allah adalah Yang Maha Esa lagi Maha Tunggal. Bagi-Nya segala pujian pada yang awal dan yang akhir, bagi-Nya segala keputusan dan kepada-Nya kalian akan dikembalikan, hingga akhir dari apa yang Allah sebutkan dalam surah yang mulia ini, dan apa yang terkandung di dalamnya dari pelajaran-pelajaran dan nasihat.
Allah Azza wa Jalla menyebutkan di akhir-akhir Surah Hud: “Itulah sebagian dari berita-berita negeri yang Kami ceritakan kepadamu. Di antaranya ada yang masih tegak berdiri dan ada yang sudah hancur. Dan Kami tidak menzalimi mereka, tetapi mereka menzalimi diri mereka sendiri. Maka berhala-berhala yang mereka seru selain Allah tidak berguna sedikit pun bagi mereka ketika datang azab Tuhanmu, dan berhala-berhala itu hanya menambah kebinasaan saja bagi mereka” (Surah Hud: 100, 101).
Ini adalah berita-berita tentang negeri-negeri yang dikisahkan oleh Allah kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Sungguh telah disebutkan kepadanya dalam surah Hud sekumpulan kisah-kisah Alquran yang agung, disebutkan kepadanya kisah Nabi Nuh, kisah Nabi Hud, kisah Nabi Saleh, kisah Nabi Ibrahim, kisah Nabi Luth, kisah Nabi Syu’aib, dan kisah Nabi Musa dengan Fir’aun. Disebutkan kepadanya semua itu, dan dijelaskan apa yang terkandung di dalamnya berupa pelajaran dan peringatan. Kemudian Allah menutup semua ini dengan firman-Nya: “Itulah sebagian kisah negeri-negeri yang Kami ceritakan kepadamu, di antaranya ada yang masih tegak dan ada yang telah hancur.” (Surah Hud: 100)
Inilah yang dikisahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah menjelaskan bahwa Dia Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi, apabila menghukum negeri-negeri, maka siksaan-Nya sebagaimana Dia katakan Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi adalah sangat pedih dan keras: “Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang takut kepada azab akhirat. Itulah hari ketika manusia dikumpulkan dan itulah hari yang disaksikan.” (Surah Hud: 103)
Ayat-ayat terus berlanjut mengingatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kewajiban beliau untuk bersabar dan teguh dalam menghadapi sikap pengingkaran dan pendustaan, sebagaimana firman Tuhan kita: “Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (Surah Hud: 115)
Ayat-ayat itu mengingatkan beliau sekali lagi bahwa hidayah ada di tangan Allah: “Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu telah tetap: Sesungguhnya Aku akan memenuhi Jahannam dengan jin dan manusia bersama-sama.” (Surah Hud: 118-119)
Kemudian Allah berfirman kepadanya bahwa apa yang dikisahkan kepada beliau dari berita para rasul hanyalah untuk meneguhkan hatinya, agar beliau mengetahui bahwa beliau pasti akan menang, dan bahwa apa yang beliau bawa adalah kebenaran itu sendiri, dan bahwa apa yang beliau bawa hanyalah sebagai peringatan bagi orang yang memiliki kesiapan untuk beriman: “Dan semua kisah para rasul Kami ceritakan kepadamu, agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu. Dan dalam surah ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Surah Hud: 120)
Ayat itu mengancam orang-orang yang mendustakan dan membangkang seraya berfirman: “Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman: Bekerjalah sesuai dengan kemampuanmu, sesungguhnya kami pun bekerja. Dan tunggulah, sesungguhnya kami pun menunggu. Dan kepunyaan Allah-lah semua yang ghaib di langit dan di bumi, dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (Surah Hud: 121-123)
Alangkah agungnya kisah-kisah yang dibawakan oleh Kitabullah ini! Bacalah sekali lagi dalam materi kisah-kisah Alquran, apa yang datang dalam surah Ali Imran dari firman Allah Ta’ala: “Sungguh ini adalah kisah yang benar, dan tidak ada tuhan selain Allah. Dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Jika mereka berpaling, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Surah Ali Imran: 62-63)
Ayat ini sebagaimana kita lihat datang sebagai komentar atas apa yang terjadi antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Ahli Kitab berupa perdebatan tentang Nabi Isa ‘alaihissalam, dan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewahyukan kepada Rasul-Nya untuk mengatakan kepada mereka apa yang disebutkan oleh Tuhan kita Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi dalam banyak ayat Alquran, dan ditegaskan di sini dalam surah Ali Imran, di mana Tuhan kita berfirman: “Demikianlah Kami bacakan kepadamu sebagian ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah. Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah adalah seperti Adam. Allah menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berfirman kepadanya: Jadilah! Maka jadilah dia. Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah engkau termasuk orang-orang yang ragu.” (Surah Ali Imran: 58-60)
Kemudian Allah mengajak mereka untuk saling berdo’a laknat (mubahalah): “Siapa yang membantahmu tentang hal ini setelah datang ilmu kepadamu” (Surah Ali Imran: 61), yakni: siapa yang membantahmu tentang Nabi Isa ‘alaihissalam dan bahwa Isa adalah hamba Allah dan rasul-Nya, “Siapa yang membantahmu tentang hal itu setelah datang ilmu kepadamu, maka katakanlah: Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kalian, istri-istri kami dan istri-istri kalian, diri kami dan diri kalian, kemudian kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (Surah Ali Imran: 61)
Allah mengajak mereka untuk bermubahalah, tetapi mereka mundur ke belakang. Mereka mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam benar dalam apa yang beliau kabarkan dari Tuhannya. Oleh karena itu, Tuhan kita berfirman sebagai komentar atas mubahalah ini, dan apa yang datang dari pembicaraan Alquran tentang keluarga Imran, tentang apa yang terjadi dengan Maryam, tentang apa yang terjadi dengan kehamilannya dengan Nabi Isa ‘alaihissalam dan apa yang Allah berikan kepadanya berupa tanda-tanda yang jelas, dan bahwa dia datang membenarkan apa yang ada sebelumnya dari Taurat. Allah Ta’ala berfirman sebagai komentar atas kisah agung ini: “Sungguh ini adalah kisah yang benar.” (Surah Ali Imran: 62)
Ya, kisah-kisah Alquran inilah kisah yang benar. Tidak ada tempat di dalamnya untuk khayalan, tidak ada tempat untuk kebohongan, dan tidak ada tempat untuk kebohongan. Ia hanyalah wahyu Allah yang diwahyukan kepada Nabi-Nya untuk mewujudkan tujuan-tujuan agung dan sasaran-sasaran mulia, di dalamnya terdapat pembinaan manusia, penguatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan menenangkan hatinya.
Semoga Allah melimpahkan shalawat, salam, dan berkah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya.
Pelajaran Ke-12: Kisah Para Penghuni Gua
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Perbedaan antara Membahas Kisah dalam Tafsir Maudhu’i dan Membahasnya dalam Seni Bercerita
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam atas Rasulullah, amma ba’du:
Perbedaan antara membahas kisah menurut metode tafsir maudhu’i (tematik) dan membahasnya menurut seni bercerita dalam menampilkan tokoh-tokoh, alat-alat, dan alur cerita, serta membahas ayat-ayat yang disebutkan dalam kisah dengan cara tafsir analitis terhadap ayat-ayat:
Dalam tafsir maudhu’i, kita mengumpulkan ayat-ayat yang disebutkan dalam kisah dan mempelajarinya secara tematik. Kita mengambil kesimpulan peristiwa-peristiwa dan mengambil pelajaran serta hikmah. Ayat-ayat ini mungkin tersebar dalam Alquran antara yang panjang dan yang ringkas, sebagaimana yang engkau lihat dalam kisah-kisah para nabi, seperti Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Hud, Nabi Saleh, Nabi Syu’aib, dan yang lainnya. Ayat-ayat mungkin tidak tersebar, melainkan disebutkan dalam satu tempat saja, dari suatu surah dalam Alquran, seperti kisah-kisah yang akan kita bahas dengan izin Allah: kisah para penghuni gua, kisah pemilik dua kebun, kisah Nabi Musa dan Khidir, dan sebagainya.
Ini sebagaimana engkau lihat berbeda dengan menyajikan kisah menurut seni bercerita dalam membaginya ke dalam bab-bab dan adegan-adegan, tokoh-tokoh dan unsur-unsur ketegangan, sebagaimana yang engkau lihat dalam kisah-kisah yang ditulis oleh pengarangnya, yang diambil dari kisah-kisah Alquran, atau dari hasil khayalan, atau kenyataan, dengan menambahkan sentuhan-sentuhan seni dan apa yang dibayangkan penulis berupa ucapan dan dialog yang berlangsung di lidah tokoh-tokoh cerita. Adapun tafsir analitis, ia adalah tafsir yang membahas ayat-ayat dalam Alquran.
Di antaranya adalah ayat-ayat yang membawa kisah, dibahas ayat demi ayat, disebutkan sebab-sebab turunnya jika ada, makna kata-kata, dan makna global, kemudian menyelami setiap kata dalam ayat, mengambil apa yang terkandung di dalamnya berupa hukum-hukum jika ayat berbicara tentang suatu hukum, sebagaimana juga menampilkan ungkapan-ungkapan ayat dan apa yang ada di dalamnya berupa keindahan bahasa dan penjelasan warna-warna petunjuk dan bimbingan. Semua bentuk ini berdekatan satu sama lain, tetapi tafsir maudhu’i datang di puncaknya, karena penafsir Alquran secara tematik mungkin memerlukan penampilan ayat dengan keindahan ungkapannya dan apa yang dibawanya berupa pelajaran dan hikmah.
Mungkin juga ia menampilkan kisah sebagaimana yang ditampilkan oleh penulis cerita, tetapi kisah-kisah Alquran tidak ada tempat di dalamnya untuk khayalan, tidak ada dialog untuk tokoh-tokoh, dan tidak ada penciptaan percakapan. Setiap tokoh yang ditampilkan adalah tokoh yang nyata, yang dikenal oleh masa dan tempat. Setiap kata yang diucapkan adalah kebenaran itu sendiri, tidak ada tempat di dalamnya untuk penambahan atau pengurangan. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: “Sungguh ini adalah kisah yang benar” (Surah Ali Imran: 62), dan berfirman: “Kami menceritakan kepadamu kisah mereka dengan benar” (Surah Al-Kahfi: 13), dan berfirman: “Sungguh pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Ini bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan yang sebelumnya dan penjelasan segala sesuatu, dan petunjuk serta rahmat bagi kaum yang beriman.” (Surah Yusuf: 111)
Kisah Para Penghuni Gua dan Pelajaran serta Hikmah yang Terkandung di Dalamnya
Berdasarkan hal ini, saya akan memulai dengan taufik Allah dalam menjelaskan kisah para penghuni gua yang dimulai dalam surah Al-Kahfi pada ayat kesembilan, di mana Allah Ta’ala berfirman: “Atau kamu mengira bahwa para penghuni gua dan prasasti itu termasuk tanda-tanda (kekuasaan) Kami yang mengherankan?” (Surah Al-Kahfi: 9)
Kata “gua” (Al-Kahfi) tidak disebutkan dalam Alquran kecuali di sini dalam surah Al-Kahfi, dengan menggunakan “al” (kata sandang) di empat tempat, dan di-idhafah-kan (disandarkan) kepada dhamir (kata ganti) orang-orang yang berada di gua di dua tempat. Adapun kata “Ar-Raqim”, ia juga tidak disebutkan kecuali di sini, walaupun disebutkan dengan bentuk isim maf’ul “marqum” (tertulis) dua kali dalam surah Al-Muthaffifin dalam firman Allah Ta’ala: “Dan tahukah kamu apakah sijjin itu? Yaitu kitab yang tertulis.” (Surah Al-Muthaffifin: 8-9), “Dan tahukah kamu apakah ‘illiyyun itu? Yaitu kitab yang tertulis.” (Surah Al-Muthaffifin: 19-20)
Al-Kahfi (gua) adalah gua di gunung seperti gua Hira dan gua Tsur, kecuali bahwa gua itu lebih besar sedikit dari gua biasa. Ar-Raqim adalah kitab (tulisan), dan kitab marqum artinya dituliskan di dalamnya nama-nama mereka.
Sa’id bin Jubair berkata: “Ar-Raqim adalah lempengan dari batu yang dituliskan di dalamnya kisah para penghuni gua, kemudian diletakkan di pintu gua. Yang menulis itu adalah orang-orang yang menyaksikan apa yang terjadi pada pemuda-pemuda itu, atau orang-orang yang datang setelah itu. Maka tinggallah jejak ini sebagai saksi yang benar atas kekuasaan Allah untuk membangkitkan makhluk-Nya, dan atas apa yang terjadi dari keikhlasan pemuda-pemuda ini yang lari dengan agama mereka ke gua ini.”
Alquran memiliki caranya sendiri dalam menyajikan kisah-kisahnya. Kadang-kadang diringkas dan disimpulkan agar dengan keringkasan ini menjadi pertama, sebelum memulai pembicaraan tentang rinciannya sebagai pelajaran global yang menjalankan perannya dalam menetapkan tujuan-tujuan tinggi yang disebutkan untuk kisah itu, sebagaimana kita saksikan dalam kisah para penghuni gua. Kadang-kadang disebutkan terlebih dahulu akibat kisah dan maksudnya, kemudian kisah dimulai setelah itu dari awal dan berjalan dengan rincian langkah-langkahnya, seperti kisah Nabi Musa dalam surah Al-Qashash. Kadang-kadang kisah disebutkan langsung tanpa pendahuluan dan tanpa ringkasan, sebagaimana engkau lihat dalam kisah Maryam saat kelahiran Nabi Isa ‘alaihissalam, begitu juga kisah Nabi Sulaiman dengan semut, burung Hud-hud, dan Balqis. Lihatlah bagaimana kisah itu dimulai.
Ini adalah ringkasan singkat yang engkau baca dalam firman Allah Ta’ala: “Atau kamu mengira bahwa para penghuni gua dan prasasti itu termasuk tanda-tanda (kekuasaan) Kami yang mengherankan? Ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdo’a: Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami. Maka Kami tutup telinga mereka dalam gua itu beberapa tahun. Kemudian Kami bangunkan mereka untuk mengetahui manakah di antara dua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka tinggal.” (Surah Al-Kahfi: 9-12)
Dalam empat ayat ini, Allah berfirman kepada Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan kepada setiap orang yang pantas menerima khitab (pembicaraan) ini, sejak turunnya ayat-ayat ini hingga akhir zaman. Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi berfirman sambil bertanya: Apakah kamu mengira bahwa para penghuni gua yang tinggal di dalamnya selama yang mereka tinggali, sehingga karena lamanya mereka berada di sana, Allah menyebut mereka sebagai para sahabat gua? Dan mereka juga adalah para penghuni Ar-Raqim, lempengan yang tertulis di dalamnya nama-nama mereka sebagai tanda tempat keberadaan mereka dan apa yang terjadi pada mereka. Apakah kamu menyangka, mengira, dan mengkira bahwa kisah mereka dan apa yang terjadi dari tinggalnya mereka di gua mereka ratusan tahun, kemudian apa yang terjadi dari pembangkitan mereka, dan kematian mereka setelah itu, sehingga mereka menjadi tanda agung dari tanda-tanda Allah yang menunjukkan kekuasaan-Nya untuk menghidupkan makhluk setelah kematiannya.
Tetapi apakah tanda yang menakjubkan ini, apakah kamu mengira ia adalah tanda paling menakjubkan dan paling agung? Tidak, ada banyak tanda yang lebih menakjubkan dari itu. Lihatlah pada apa yang ada di sekitarmu dari langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya dan siapa yang ada di dalamnya. Katakan kepadaku, demi Tuhanmu, siapa yang menciptakan keduanya dan menciptakan apa yang ada di dalamnya, dan menundukkan matahari, bulan, bintang-bintang, dan planet-planet? Dan sebagainya dari apa yang engkau lihat di halaman alam semesta ini. Bukankah ini tanda-tanda agung yang lebih menakjubkan dari apa yang terjadi pada para penghuni gua?
Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas: “Atau kamu mengira bahwa para penghuni gua dan prasasti itu termasuk tanda-tanda (kekuasaan) Kami yang mengherankan?” (Surah Al-Kahfi: 9), ia berkata: “Apa yang Aku berikan kepadamu berupa ilmu, sunnah, dan kitab lebih utama dari urusan para penghuni gua dan Ar-Raqim.”
Muhammad bin Ishaq berkata: “Apa yang Aku tunjukkan dari hujah-Ku kepada para hamba lebih menakjubkan dari urusan para penghuni gua dan Ar-Raqim.”
Tetapi permulaan dengan pertanyaan penetapan ini menunjukkan bahwa urusan para penghuni gua dan Ar-Raqim adalah tanda dari tanda-tanda Allah yang mengajak kepada kekaguman dan keheranan, dan membangkitkan dalam jiwa berbagai pertanyaan seputar setiap sikap dari sikap-sikap kisah ini. Pertanyaan-pertanyaan bukan dari segi pengingkaran, melainkan dari segi pengagungan, pembesaran, dan pengagungan terhadap pemuda-pemuda ini, apa yang mereka lakukan, dan apa yang terjadi pada mereka.
Kemudian datang pembicaraan tentang mereka dalam firman-Nya: “Ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdo’a: Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.” (Surah Al-Kahfi: 10)
Seolah-olah ketika disebutkan bahwa mereka adalah tanda yang menakjubkan dari tanda-tanda Allah, timbul pertanyaan: Dan apa yang terjadi pada mereka? Maka datanglah jawabannya: “Ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua” (Surah Al-Kahfi: 10)
Yakni: ingatlah apa yang terjadi ini karena di dalamnya terdapat pelajaran dan hikmah. Allah menyebut dan menggambarkan mereka sebagai pemuda-pemuda (fityah), maka hal itu menunjukkan bahwa mereka berada dalam masa pemuda. Ungkapan dengan kata “awa” (berlindung) menunjukkan kepada engkau bahwa gua, meskipun gelap, sempit, dan jauh dari peradaban, serta kosong dari segala bentuk kemewahan dan kenikmatan, bagi mereka adalah tempat perlindungan yang melindungi mereka sehingga mereka merasakan ketenangan dan kedamaian di dalamnya.
Begitu mereka menetap di dalamnya, mereka menghadap kepada Tuhan mereka dengan do’a yang penuh permohonan ini: Wahai Tuhan kami, berikanlah kepada kami dari sisi-Mu rahmat yang Engkau rahmati kami dengannya, yang Engkau jaga kami dengannya dari tipu daya musuh-musuh kami, yang Engkau ilhami kami dengannya petunjuk kami, yang Engkau atasi dengannya kesulitan kami, yang Engkau tolak dengannya fitnah dari kami. Dan sempurnakanlah bagi kami urusan kami dengan petunjuk yang lurus, yakni: jadikanlah akibat kami sebaik-baik akibat yang di dalamnya terdapat semua kebaikan.
Adalah dari do’a Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana kalian ketahui: “Ya Allah, perbaikilah akibat kami dalam semua urusan, dan lindungilah kami dari kehinaan dunia dan azab akhirat, dan wafatkanlah kami dalam keadaan Islam dan iman sedang Engkau ridha kepada kami.”
Lihatlah keimanan ini yang menguasai hati pemuda-pemuda ini sehingga membuat mereka meninggalkan kenikmatan dan kesenangan, dan berlindung ke gua di gunung. Mereka memohon kepada Allah agar Dia menganugerahkan kepada mereka rahmat dari sisi-Nya, agar Dia memudahkan urusan mereka, dan agar Dia menjadikan akibat mereka terpuji dan mulia.
Kemudian Allah Ta’ala berfirman: “Maka Kami tutup telinga mereka dalam gua itu beberapa tahun.” (Surah Al-Kahfi: 11)
Huruf fa’ (maka) dalam firman-Nya “fa dharabna” (maka Kami tutup) menunjukkan bahwa begitu mereka masuk, mereka tidur karena usaha yang mereka lakukan untuk mencapai tempat ini, tempat yang sunyi dan jauh dari peradaban. Dalam tidur mereka ini terdapat petunjuk kepada engkau tentang apa yang mereka temukan berupa ketenangan dan ketentraman jiwa, karena apa yang terjadi dari mereka berupa kemenangan atas diri mereka dan kelemahannya dalam situasi-situasi seperti ini, dan karena apa yang Allah ilhamkan kepada mereka berupa petunjuk dan taufik.
Ketika mereka tertidur, Allah menutup telinga mereka, artinya: Allah menimpakan tidur kepada mereka sehingga mereka tertidur, namun tidur mereka berlangsung sangat lama, tidak hanya sehari atau sebagian hari, melainkan mereka tidur bertahun-tahun, yang akan disebutkan kepada kita setelah ini. Setelah berlalunya tahun-tahun tersebut dalam tidur mereka, Allah membangkitkan mereka untuk menampakkan apa yang ada dalam ilmu Allah berupa tanda-tanda-Nya, yang menjadi jelas bagi orang-orang yang berbeda pendapat tentang urusan mereka, sehingga mereka mengetahui siapa yang menghitung lama mereka tinggal di dalam gua, dan dengan demikian siapa yang menimpakan tidur kepada mereka selama bertahun-tahun ini, kemudian siapa yang menghidupkan mereka, lalu siapa yang mematikan mereka, dan siapa yang melakukan itu berkuasa untuk membangkitkan mereka sekali lagi, bahkan berkuasa untuk membangkitkan hamba-hamba-Nya setelah kematian mereka.
Setelah ringkasan kisah ini, peristiwa-peristiwanya dimulai dengan firman-Nya: “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita mereka dengan sebenarnya” (Surah Al-Kahfi: 13). Jika engkau merenungkan ayat yang memulai kisah ini, yang telah aku ringkas dan ayat-ayat meringkasnya, kemudian apa yang datang dari ayat-ayat setelah itu, niscaya engkau akan mendapati bahwa ayat-ayat itu terkait dengan poros yang menjadi dasar ayat-ayat surah ini, dan berputar dalam orbit tema yang diturunkan ayat-ayat untuk menjelaskan dan menerangkannya, dan engkau akan mengetahui bahwa ayat-ayat itu datang untuk mewujudkan tujuan yang dimaksud oleh ayat-ayat tersebut. Bukan semata-mata masalah kisah yang diceritakan peristiwa-peristiwanya untuk menjadi kesenangan jiwa dan ajang hiburan, melainkan kisah yang disampaikan untuk mewujudkan tujuan-tujuan dan maksud-maksud agung, yang seluruh ayat surah ini datang untuk menegaskan dan mewujudkannya.
Di garis depan tujuan-tujuan ini adalah tauhid kepada Allah Azza wa Jalla dan bahwa iman adalah nilai tinggi yang tidak dapat disamakan dengan sedikitpun dari remeh-temeh dunia, dan bahwa manusia tidak boleh tersesat dalam kebingungan kebatilan, melainkan wajib baginya untuk menegakkan pemikiran dan kehidupannya atas ilmu dan keyakinan, bukan atas kebodohan dan kebutaan. Oleh karena itu, setelah Allah menyebutkan dalam delapan ayat pertama yang mendahului kisah Ashabul Kahfi, apa yang disebutkan dari pujian-Nya kepada Rasul-Nya bahwa dia adalah hamba-Nya yang telah diturunkan kepadanya Kitab, dan bahwa Rasul ini datang sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan bahwa peringatannya kepada orang-orang yang mengatakan bahwa Allah mengambil anak, agar anak ini menjadi tuhan yang disembah bersama-Nya atau selain-Nya, dan ucapan ini tidak ada dalil untuk itu pada mereka dan tidak pada nenek moyang mereka sebelumnya. Allah Taala berfirman: “Sungguh besar (kebencian Allah pada) perkataan yang keluar dari mulut mereka. Mereka tidak mengatakan (yang sebenarnya) melainkan dusta belaka” (Surah Al-Kahfi: 5).
Di sini Tuhan kita menghibur Rasul-Nya sambil mencela kesedihannya karena ketidakimanan mereka, hingga hampir membunuh dirinya karena sedih kepada mereka, maka Dia menyebutkan kepadanya bahwa Dia – Maha Agung dan Maha Tinggi – menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, sebagai ujian bagi siapa yang ada di muka bumi, untuk menampakkan siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur, kemudian akhirnya adalah dengan berakhirnya kehidupan dan kebangkitan manusia serta perhitungan, dan di sini akan ada perhitungan Allah untuk orang-orang yang ingkar dan mengingkari ini. Setelah ayat-ayat ini datanglah kisah Ashabul Kahfi yang menetapkan makna-makna ini dan menegaskannya, maka disebutkan bahwa para pemuda beriman kepada Allah Yang Maha Esa lagi Maha Tunggal, maka mereka berkata: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak akan menyembah tuhan selain Dia; sungguh, kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang melampaui batas” (Surah Al-Kahfi: 14).
Di akhir kisah engkau membaca firman Allah Taala: “Katakanlah: ‘Allah lebih mengetahui berapa lama mereka tinggal (di gua itu); milik-Nya semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tidak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain Dia; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan'” (Surah Al-Kahfi: 26). Ini adalah penetapan keesaan sebagaimana engkau lihat peninggian kedudukan iman di ayat pertama dalam kisah: “(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: ‘Ya Tuhan kami, berilah kami rahmat dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)'” (Surah Al-Kahfi: 10). Mereka meninggalkan kenikmatan dan perhiasan kehidupan dunia dan merasa nyaman di gua, dan menghadap kepada Tuhan mereka berdoa kepada-Nya dengan doa ini, yang mengandung banyak kebaikan dalam menghadap kepada Allah.
Ini juga yang engkau baca dalam firman Allah Taala: “Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu” (Surah Al-Kahfi: 16). Dan dalam menanggapi firman-Nya: “Mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuan pun tentang itu” (Surah An-Najm: 28) dan bahwa orang berakal tidak berkata dan tidak meyakini kecuali pada apa yang ada dalilnya, datanglah firman-Nya dalam kisah: “Kaum kami ini telah menjadikan (berhala-berhala) sebagai tuhan-tuhan selain Nya. Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah?” (Surah Al-Kahfi: 15). Dan datanglah firman-Nya tentang orang-orang yang membicarakan jumlah mereka: “Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang, yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: ‘(Jumlah mereka) lima orang, yang keenam adalah anjingnya,’ sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: ‘(Jumlah mereka) tujuh orang dan yang kedelapan adalah anjingnya.’ Katakanlah: ‘Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit.’ Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada siapapun dari mereka” (Surah Al-Kahfi: 22).
Dalam menyerahkan apa yang tidak ada ilmu bagi manusia tentangnya kepada Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal, dan ini adalah apa yang dikatakan para pemuda ketika mereka bangun dari tidur mereka dan saling bertanya berapa lama kalian tinggal? “Mereka menjawab: ‘Kami tinggal (di sini) sehari atau setengah hari.’ Berkata (pemuda yang lain lagi): ‘Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini)'” (Surah Al-Kahfi: 19). Maka mereka menyerahkan pengetahuan tentang itu kepada Allah. Dan apa yang juga dikatakan oleh orang-orang yang membicarakan urusan para pemuda, dan berbeda pendapat tentang nama-nama mereka dan keadaan mereka, dan berapa lama mereka tinggal di gua mereka, maka mereka berkata: Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka. Dan ini bisa menjadi jawaban dari Allah kepada orang-orang yang berselisih tentang urusan mereka, dan bahwa penelitian tentang itu tidak ada faedahnya, maka hendaklah mereka menyerahkan pengetahuan ini kepada Allah semata.
Dalam ayat-ayat kisah ada larangan untuk berdebat dan berargumen dalam hal yang tidak ada manfaatnya: “Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada siapapun dari mereka” (Surah Al-Kahfi: 22). Sebagaimana engkau membaca penegasan tentang nilai pentingnya menegakkan pemahaman manusia dan berdiri di atas landasan kebenaran, sebelum dia mengucapkan ucapan atau meyakini keyakinan, engkau membaca firman-Nya: “Katakanlah: ‘Allah lebih mengetahui berapa lama mereka tinggal (di gua itu); milik-Nya semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya'” (Surah Al-Kahfi: 26).
Tahukah kalian bagaimana ayat-ayat kisah Ashabul Kahfi datang, menegaskan sejumlah kebenaran yang terdapat dalam ayat-ayat pertama dalam surah, sehingga menjadi pintu masuk untuk kisah yang menunjukkan keindahan pembukaan dalam Al-Quran Al-Karim, dan menjelaskan mengapa Al-Quran ini telah melemahkan orang-orang fasih dan ahli bahasa sejak hari turunnya, hingga waktu manusia ini, dan akan tetap demikian hingga akhir zaman. Dan sekarang menuju kisah Ashabul Kahfi, maka apa yang ada di dalamnya dari kebaikan penyajian dan pemenuhan tujuan, dan apa yang ada di dalamnya dari pelajaran yang bermanfaat dan nasihat yang mendalam?
Kisah ini disajikan dalam bab-bab yang berurutan, bukan dengan cara yang engkau lihat dalam struktur kisah di luar Al-Quran, tetapi bab-bab dan tahapan dan paragraf yang mengalir dalam hati nurani, tanpa engkau melihat bekas kenabian atau penghentian atau perpindahan dari bab ke bab, atau dari tahapan ke tahapan. Melainkan ayat-ayat yang berturut-turut dengan makna yang manis, kata-kata yang indah, dalam kata-katanya terdapat keindahan lafaz dan kemegahannya, engkau berpindah bersama ayat-ayat ini dalam tahapan-tahapannya, hingga menghentikanmu di akhir pada akhir kisah, maka terbukakanlah kepadamu tabir tentang akhir yang telah engkau nantikan, dan engkau tanyakan tentangnya, maka engkau melihatnya bersinar dalam hati dan akal, dengan semua yang ada dalam kisah dari pelajaran dan nasihat, yang Allah inginkan agar kita pelajari dan kita terpengaruh dengannya agar menjadi pelajaran yang bermanfaat dan nasihat yang mendalam bagi kita.
Babak pertama dalam kisah telah dimulai dengan menarik perhatian, sebagaimana kami sebutkan dalam pertanyaan ini yang menghubungkan awal kisah dan apa yang ada di dalamnya dari peristiwa, dengan apa yang mendahului dalam surah dari ayat-ayat, yaitu ketika Tuhan kita berfirman: “Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) prasasti itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?” (Surah Al-Kahfi: 9). Maka ada yang lebih mengherankan dari itu dalam apa yang engkau lihat sebagaimana kami katakan dari ayat-ayat yang nyata, yang Kami wahyukan kepadamu dalam cara penurunannya dan datangnya malaikat dengannya, dan apa yang ada di dalamnya dari jenis-jenis kemukjizatan balaghah, ghaib, ilmiah, dan sejarah, dan semacamnya yang menunjukkan bahwa ia dari sisi Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal, dan bahwa engkau adalah Rasulullah yang diutus-Nya kepada manusia sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.
Dan ada yang lebih agung dalam keheranannya dari urusan Ashabul Kahfi dan Raqim, dalam apa yang engkau saksikan dari tanda-tanda Allah yang tersebar di dalam jiwa-jiwa dan cakrawala. Dengan menarik perhatian ini, kisah dimulai, maka Al-Quran meringkasnya dalam tiga ayat, menjelaskan di dalamnya bahwa para pemuda melarikan diri kepada Allah dengan agama mereka, ke gua di gunung, dan bahwa mereka mengambil doa kepada Allah agar memberikan kepada mereka dari sisi-Nya rahmat, dan agar menyiapkan bagi mereka dari urusan mereka petunjuk, dan bahwa mereka begitu masuk ke gua langsung tertidur, maka Allah menimpakan tidur kepada mereka, dan membiarkan mereka dalam tidur mereka bertahun-tahun, yang akan diungkapkan kepada kita di akhir kisah tentang jumlah tahun-tahun ini. Setelah abad-abad yang mereka lalui dalam keadaan tidur, Allah membangkitkan mereka dari tidur mereka dan memberitakan tentang kebenaran mereka, dan menjelaskan lama tinggal mereka di gua mereka, sebagaimana Allah Taala berfirman: “Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara dua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu)” (Surah Al-Kahfi: 12).
Ibnu Athiyah berkata: “Yang jelas dari ayat bahwa golongan yang satu adalah para pemuda, yaitu: mereka mengira tinggal mereka sebentar, dan golongan yang kedua adalah penduduk kota yang para pemuda dibangkitkan pada zaman mereka ketika mereka memiliki catatan sejarah tentang urusan para pemuda, dan ini adalah pendapat mayoritas ahli tafsir.”
Kisah Ashabul Kahfi yang dimulai dengan permulaan ini datang sebagai mukjizat yang nyata bagi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sejumlah apa yang beliau beritakan, yang tidak ada jalan untuk mengetahuinya kecuali melalui wahyu. Sebagaimana kesempatan yang disebutkan karena itu menunjukkan sejauh mana orang-orang Yahudi berada dalam tipu daya dan kecerdikan dan menghalangi dari agama ini, padahal mereka mengetahui bahwa ia adalah kebenaran, dan mereka membaca dalam Taurat dan Injil bahwa orang yang diutus ini adalah benar-benar Rasulullah, sebagaimana Allah Taala berfirman tentang orang-orang bertakwa bahwa mereka: “(yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka” (Surah Al-A’raf: 157).
Sebab turunnya disebutkan bahwa orang-orang Quraisy mengutus An-Nadhr bin Al-Harith dan Uqbah bin Abi Mu’aith kepada pendeta-pendeta Yahudi di Madinah untuk menanyakan kepada mereka tentang Muhammad dan sifat-sifatnya, karena orang-orang Yahudi dalam pandangan Quraisy adalah ahli Kitab yang pertama, dan pada mereka ada ilmu yang tidak ada pada Quraisy. Maka apa yang terjadi dari urusan pendeta-pendeta Yahudi ketika mereka ditanya tentang itu? Mereka berkata: “Tanyakanlah kepadanya tentang tiga hal: tentang pemuda-pemuda yang pergi pada zaman dahulu apa yang terjadi pada urusan mereka, karena kisah mereka mengherankan, dan tentang seorang laki-laki yang banyak berkeliling yang telah mencapai timur bumi dan baratnya, apa yang menjadi beritanya, dan tanyakan kepadanya tentang ruh apa itu? Maka jika dia memberitakan kalian tentang itu maka dia adalah nabi, dan jika tidak maka dia adalah pendusta.” Artinya: berkata-kata bohong.
Ketika mereka berdua datang dan memberitakan kepada Quraisy dengan apa yang dikatakan kepada mereka oleh pendeta-pendeta Yahudi, mereka bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang itu, maka beliau bersabda: “Aku akan memberitakan kalian tentang itu besok” dan tidak mengatakan: insya Allah. Maka wahyu tertunda lima belas hari tidak turun kepadanya tentang itu, yang menimbulkan pembicaraan-pembicaraan bagaimana dia berkata: aku akan memberitakan kalian besok, dan dia tidak mendapat kabar tentang itu sepanjang hari-hari ini. Al-Quran turun setelah ketidakhadiran ini berkata kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi,’ kecuali (dengan menyebut): ‘Insya Allah.’ Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: ‘Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kepada kebenaran daripada ini'” (Surah Al-Kahfi: 23-24).
Dan datanglah kepadanya kabar tentang apa yang mereka tanyakan, maka Allah menyebutkan dalam surah “Al-Kahfi” kisah Ashabul Kahfi, sebagaimana disebutkan laki-laki yang berkeliling ke timur dan barat yaitu Dzulkarnain, dan disebutkan dalam Al-Isra’ jawaban pertanyaan mereka tentang ruh, maka Dia berfirman: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit'” (Surah Al-Isra’: 85).
Maka penundaan turunnya wahyu ini menunjukkan bahwa Muhammad shallallahu alaihi wasallam tidak mengucapkan Al-Quran ini dari dirinya sendiri, melainkan ia adalah wahyu Allah kepadanya. Sebagaimana turunnya ayat-ayat ini dengan menjawab orang-orang musyrik, menunjukkan perhatian Allah kepada Rasul-Nya, di mana Dia membalikkan tipu daya orang-orang Yahudi ke dada mereka, dan menggagalkan rencana Quraisy dalam upaya mereka mempermalukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Yang wajib bagi orang-orang yang bertanya tentang itu, dan menyaksikan kejujuran Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah kembali kepada kebenaran, dan mengumumkan pengakuan mereka dengannya, dan menjadi dari pembela-pembelanya dan orang-orang yang membenarkannya, tetapi mereka tidak bertanya untuk beriman, melainkan bertanya karena kesombongan dan keras kepala, maka dada mereka tidak terbuka untuk kebenaran dan mereka tetap dalam kesesatan dan kekufuran mereka berjalan.
Dan kisah ini dimulai setelah pendahuluan tersebut, dengan kata-kata yang mengungkapkan kebenaran secara terang benderang, laksana matahari di siang hari yang terik. Allah Yang Maha Mulia berfirman: Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan benar (Al-Kahfi: 13). Maka firman-Nya: Kami, dan firman-Nya: menceritakan, dengan nun yang mengagungkan diri-Nya, menunjukkan bahwa yang menyebutkan itu adalah Allah Yang Maha Agung, yang memiliki segala sifat keagungan dan kesempurnaan. Maka apa yang Dia kabarkan bersumber dari Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal, yang meliputi segala sesuatu dengan ilmu-Nya. Dan dalam mengarahkan khitab dari Allah kepada Rasul-Nya dalam firman-Nya: Kami menceritakan kepadamu (Yusuf: 3), terdapat penghiburan baginya, perhatian kepadanya, dan ketenangan bagi hatinya.
Terlebih lagi bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika di Mekkah tidak memiliki negara dan tidak pula kekuasaan. Beliau dan para sahabatnya mendapat kesulitan dan gangguan dari orang-orang kafir Quraisy. Dan beliau shallallahu alaihi wasallam beserta para sahabatnya dilarang membalas gangguan ini walau hanya dengan sepatah kata. Maka mereka dan pemimpin mereka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sangat membutuhkan ketenangan dan penghiburan ini.
Adapun firman-Nya: kisah mereka (naba-ahum), ini adalah bukti bahwa ini bukan sekadar berita yang disampaikan, melainkan kabar besar dan kisah yang di dalamnya terdapat banyak pelajaran yang bermanfaat. Dan yang menambah pada apa yang akan disebutkan Rabb kita tentang kisah mereka adalah firman-Nya: dengan benar (bil-haqq), maka kebenaran adalah benang pakan dan benang lungsinnya, awal dan akhirnya. Setiap kata yang Dia ucapkan keluar dari sisi Yang Maha Benar, tidak ada ruang di dalamnya untuk pemalsuan atau kebohongan, atau berita dan ucapan dari angan-angan belaka, sebagaimana firman Rabb kita: Dan dengan sebenarnya Kami turunkan (Al-Quran itu) dan dengan sebenarnya pula ia turun (Al-Isra’: 105), dan sebagaimana firman-Nya: Keputusan itu hanyalah milik Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang terbaik (Al-An’am: 57).
Betapa agungnya permulaan ini, yang membuat Anda menyimak apa yang akan dikisahkan oleh Yang Maha Benar—Jalla wa Ala—tentang kabar para pemuda ini. Dan kisah dimulai, kita masih dalam babak pertama dan awalnya, maka ia menggambarkan mereka sebagai pemuda (fityah). Dan telah dijelaskan di awal kisah dalam firman-Nya: Ketika pemuda-pemuda itu mencari perlindungan ke dalam gua (Al-Kahfi: 10). Dan telah jelas bagi kita dari gambaran ini bahwa mereka adalah para pemuda di usia muda dan kuat. Dan ini membimbing kita bahwa para pemuda lebih dekat kepada perubahan dan transformasi, berbeda dengan orang-orang yang sudah lanjut usia yang sudah terbiasa dengan keadaan mereka, dan sulit mengubah mereka ke arah yang lebih baik atau ke jalan kebenaran. Ini mengingatkan para da’i untuk mengarahkan perhatian mereka kepada para pemuda, karena merekalah yang menyambut dakwah dengan respons dan keimanan kepadanya, dan di atas pundak merekalah bangsa-bangsa dibangun dan masyarakat bangkit.
Dan Allah menggambarkan para pemuda ini bahwa mereka beriman kepada Rabb mereka, dan bahwa Allah dengan karunia-Nya menambah petunjuk kepada mereka. Dan betapa kalian merasakan bersama saya apa yang terkandung dalam pemilihan lafaz ketuhanan (rububiyyah), dan penambahan kata ganti mereka dalam firman-Nya: beriman kepada Rabb mereka, dari perasaan para pemuda ini akan ketuhanan Allah atas mereka. Dan ketuhanan berarti sebagaimana kalian ketahui: pemberian dengan segala jenisnya, dan di garis depan pemberian Allah adalah petunjuk dan taufik-Nya. Dan mereka mendapat bagian yang paling banyak dari itu. Dan inilah yang diisyaratkan oleh penisbahan penambahan petunjuk kepada Allah dengan uslub nun pengagungan, dan penyebutan kata petunjuk (hudan) yang bersifat nakirah yang berfaidah pengagungan dan perbanyakan, dan bahwa itu adalah petunjuk yang tidak dapat diukur kadarnya, karena telah mencapai puncak keagungan dan puncak kebaikan.
Dan dalam keluasan lafaz petunjuk terdapat petunjuk kepada meliputnya petunjuk Allah kepada mereka dalam segala urusan dan kehidupan mereka. Dan perkara lain dalam kisah mereka ini adalah bahwa Allah berfirman: Dan Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri, lalu mereka berkata: “Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi” (Al-Kahfi: 14). Dan peneguhan hati adalah penggambaran akan kuatnya ikatan iman di hati mereka, seolah-olah iman kepada Allah ketika Allah menitipkannya di hati mereka, Dia mengikatnya dengan ikatan yang kuat, maka tidak ada jalan untuk melepaskannya dan mengeluarkan iman dari hati-hati ini. Dan peneguhan hati mereka ini terjadi dalam posisi di mana mereka sangat membutuhkannya. Ketika kabar tentang mereka tersebar di kota, raja Diqyanus memanggil mereka. Dan dia adalah raja yang kejam yang mengajak manusia untuk menyembah berhala. Maka dia bertanya kepada mereka: Siapa Rabb kalian? Mereka menjawab: Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi. Kami tidak akan menyembah tuhan selain Dia. Sungguh, jika demikian kami telah mengucapkan perkataan yang melampaui batas. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan. Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang jelas tentang tuhan-tuhan itu? Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah? (Al-Kahfi: 15). Maka raja memberi mereka tempo agar mereka meninjau kembali sikap mereka. Maka mereka berhasil melarikan diri, dan berjalan di pegunungan jauh dari kota ini dengan segala kekufuran dan kesesatannya, hingga mereka menemukan gua ini lalu masuk ke dalamnya. Dan terjadilah apa yang terjadi pada mereka. Tidakkah kalian melihat sikap berani para pemuda ini? Mereka tidak menyembunyikan iman mereka dan tidak membasa-basi raja dalam hal penyembahan selain Allah yang dia lakukan. Melainkan mereka menyuarakannya sebagai teriakan yang menggelegar di hadapan raja, di sekelilingnya para pengikut, tentara dan pengikutnya. Siapa yang sanggup melakukan itu kecuali orang-orang istimewa dari kalangan laki-laki, yang iman kepada Allah Yang Maha Esa telah menguasai hati, jiwa dan roh mereka, sehingga mereka tidak peduli raja, kerajaan, kekuasaan, maupun kekuatan-kekuatan bumi, betapapun kejam dan lalimnya.
Dan dalam ucapan mereka: Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi (Al-Kahfi: 14), terdapat perasaan agung akan ketuhanan Allah atas mereka dan agungnya pemberian-Nya kepada mereka, dan kekuasaan serta pengaturan-Nya semata atas urusan-urusan mereka. Dan bahwa Rabb mereka yang mereka kenal lalu mereka sembah adalah Rabb langit dan bumi. Maka semua yang ada di dalamanya dan siapa yang ada di dalamnya, bahkan langit itu sendiri dan bumi itu sendiri adalah milik-Nya semata, kepemilikan, pengaturan dan pengelolaan. Dan selama ini adalah ketuhanan-Nya atas kami dan atas langit dan bumi, maka kami tidak akan menyembah tuhan selain Dia. Maka mereka sampai dengan ini dari tauhid rububiyyah kepada tauhid uluhiyyah, yang merupakan tempat perselisihan antara para rasul dan umat-umat mereka sepanjang sejarah. Banyak umat yang mengakui Allah sebagai Rabb, Pencipta, Pemberi Rezeki, tetapi mereka tidak menyerahkan diri kepada-Nya dengan penghambaan, ketaatan dan kecintaan. Maka mereka mempersekutukan dengan-Nya atau menyembah selain-Nya tuhan-tuhan lain yang tidak memberi mudarat dan tidak memberi manfaat.
Dan ini yang dilakukan oleh umat-umat bumi dalam memisahkan antara rububiyyah dan uluhiyyah, bertentangan dengan akal dan kenyataan. Dan siapa yang melakukannya maka sungguh dia telah melampaui batas dalam menghukumi, dan membangun perkara di atas dasar yang tidak benar. Dan karena itulah para pemuda ini berkata: Sungguh, jika demikian kami telah mengucapkan perkataan yang melampaui batas (Al-Kahfi: 14). Kemudian mereka berkata kepada raja: Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (Al-Kahfi: 15). Maka mereka menjelaskan kepada raja dan para pengikutnya bahwa kaum mereka telah mempersekutukan Allah dengan tuhan-tuhan yang tidak berhak disembah, dan bahwa apa yang mereka lakukan ini tidak dapat mereka datangkan satu bukti pun atas kebenarannya. Dan dengan demikian mereka telah menzalimi diri mereka sendiri, dan menzalimi Pencipta mereka ketika mereka menyembah bersama-Nya tuhan-tuhan lain yang tidak ada bukti atasnya. Dan karena itulah mereka berkata: Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah? (Al-An’am: 144). Dan betapa banyak dalam ungkapan Al-Quran dalam kisah ini rahasia-rahasia yang waktu tidak cukup untuk menjelaskannya.
Dan mereka keluar dari lingkungan raja dan para pembantunya untuk tempo yang diberikan raja agar mereka meninjau kembali sikap mereka. Maka sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain: Dan apabila kalian meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah perlindungan ke dalam gua itu, niscaya Rabb kalian akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepada kalian dan menyediakan sesuatu yang berguna bagi kalian dalam urusan kalian (Al-Kahfi: 16). Maka mereka saling berwasiat di antara mereka untuk keluar dari kota mereka, dengan segala keceriaan dan kegembiraan di dalamnya, ke tempat di mana tidak ada yang mengenal mereka, dengan berlindung ke gua. Dan seolah-olah gua ini telah dikenal oleh mereka sebelumnya, mereka tahu lokasinya dan bahwa ia berada di tempat yang tidak dapat dijangkau siapa pun, maka tidak akan ada yang mengetahui tempatnya. Dan mereka telah merasakan sebelum sampai ke sana dinginnya keputusan ini, dan semilir kebahagiaan mengalir di hati mereka. Mereka berkata: Maka carilah perlindungan ke dalam gua itu, niscaya Rabb kalian akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepada kalian dan menyediakan sesuatu yang berguna bagi kalian dalam urusan kalian (Al-Kahfi: 16).
Maka gua dengan kesunyian dan kesempitannya, dan kosongnya dari segala sebab kenyamanan, tersebar di sudut-sudutnya rahmat-rahmat Allah, sehingga mereka merasakannya. Dan betapa banyak orang yang tinggal di istana-istana dan gedung-gedung tinggi, namun itu tidak menghilangkan kesedihan yang ada padanya, maka ia terus terjaga sepanjang malam tidak terpejam matanya, dalam kesulitan tidur dan kegelisahan serta kelelahan, seolah-olah istana ini dengan kamar-kamarnya yang luas dan ruang-ruangnya yang besar adalah penjara yang tidak sanggup ia tinggal di dalamnya. Dan betapa banyak orang yang hidup di gubuk-gubuk dan rumah-rumah miskin, yang kosong dari segala perkakas, kau lihat mereka tidur di malam hari dengan nyenyak, dan mereka ridha dengan apa yang Allah tetapkan untuk mereka.
Dan dalam ungkapan dengan fi’il mudhari’ dalam melimpahkan (yansyur) dan menyediakan (yuhayyiu), adalah bukti akan pembaruan dan kejadian, dan bahwa Allah akan melimpahkan kepada mereka rahmat-Nya di masa sekarang dan masa depan, dan bahwa Dia akan menyediakan bagi mereka dari urusan mereka sesuatu yang berguna, yaitu: perkara yang di dalamnya ada kelembutan kepada mereka, dan perhatian terhadap urusan mereka di masa sekarang dan masa depan. Maka itu adalah harapan dari mereka dan kepercayaan kepada karunia Allah untuk mereka dan atas mereka, karena keikhlasan mereka kepada-Nya dan penghambaan kepada-Nya serta meninggalkan kaum mereka.
Dan sampai di sini kisah berpindah ke pemandangan lain, setelah meninggalkan ruang bagi akal untuk merenungkan dan bertanya-tanya: Apa yang terjadi pada mereka? Maka terbayang bahwa ketika mereka mengatakan itu dan bertekad melakukannya, dan tidak ada kesempatan bagi mereka untuk tinggal di kota, sementara mereka tetap pada agama mereka, agama tauhid kepada Allah Rabb semesta alam, dan bahwa raja telah memberi mereka tempo untuk melihat apa yang akan mereka lakukan, maka pasti mereka harus melaksanakan keputusan mereka dengan segera agar tidak tertimpa keburukan. Maka mereka keluar dan sampai ke gua. Dan tampaknya jarak antara kota dan gua sangat jauh, maka mereka sampai ke sana dalam keadaan lelah. Dan begitu lambung mereka menyentuh tanah di dalam gua, Allah menimpakan tidur kepada mereka. Maka pada saat itulah kisah meninggalkan ruang untuk semua pemandangan ini menggambarkan mereka di gua mereka dalam keadaan tertidur, tenggelam dalam tidur mereka. Maka dikatakan: Dan engkau akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam, menjauhi mereka ke sebelah kiri, sedang mereka berada dalam ruang yang luas di dalam gua itu (Al-Kahfi: 17), ayat ini dan yang setelahnya.
Dan alat-alat perekaman dan seniman penyutradaraan tidak mampu merekam pemandangan ini, dan mengeluarkannya dengan cara istimewa yang Al-Quran gambarkan dan keluarkan. Maka kedua ayat ini berbicara kepada setiap orang yang kepadanya dapat diarahkan khitab, seolah-olah ia menempatkan manusia, siapa pun manusianya di setiap zaman dan tempat, di hadapan pemandangan ini. Maka ia mengarahkan khitab kepadanya dan berkata: Dan engkau akan melihat matahari (Al-Kahfi: 17), yaitu: jika engkau hadir di tempat ini, maka engkau akan melihat matahari ketika terbit condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan ketika terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri, sedang mereka berada dalam ruang yang luas di dalamnya. Maka pintu gua menghadap ke arah utara. Ketika matahari terbit ia berada di sebelah kanan gua, dan ketika terbenam ia berada di sebelah kirinya. Maka cahaya matahari tidak sampai ke dalam gua, tetapi yang sampai adalah udara yang sejuk, yang merupakan bukti kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka itu adalah tanda dari tanda-tanda Allah, karena Dia menjaga tubuh mereka, pakaian mereka dan penampilan mereka dari kerusakan dan pembusukan sepanjang berabad-abad ini. Maha Suci Dia yang tidak ada sesuatu pun yang melemahkan-Nya di bumi maupun di langit.
Dan dikatakan bahwa matahari ketika terbit Allah mencegah cahayanya jatuh kepada mereka, demikian juga waktu terbenam. Maka ini adalah tanda dari tanda-tanda Allah. Dan sebagai komentar atas bagian dari pemandangan ini, Allah menetapkan bahwa itu adalah tanda dari tanda-tanda-Nya, sebagaimana Dia menetapkan bahwa petunjuk ada di tangan-Nya. Sebagaimana Dia memberi petunjuk kepada para pemuda ini ke jalan-Nya, Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya. Dan siapa yang Dia sesatkan maka engkau tidak akan menemukan baginya pelindung yang memberi petunjuk.
Kemudian pemandangan berpindah untuk menggambarkan mereka di gua mereka, bahwa jika engkau melihat mereka dan menatap mereka, terbayang bagimu bahwa mereka terjaga. Maka dikatakan bahwa mata mereka terbuka dan tidak tertutup, agar tidak cepat rusak. Karena jika tetap tampak terkena udara maka itu lebih menjaga. Tetapi Tuhan Yang Maha Kuasa menjaga tubuh mereka, pakaian mereka dan penampilan mereka, mampu menjaga mata mereka meskipun tidak terbuka.
Dan sebagai tambahan dalam menjaga mereka Dia berfirman: Dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri (Al-Kahfi: 18), agar bumi tidak mempengaruhi tubuh mereka. Dan Dia menambahkan pada pemandangan itu gambar seekor anjing yang telah mengikuti mereka, lalu tidur di halaman gua seolah-olah di pintunya sebagaimana anjing-anjing tidur: Memanjangkan kedua lengannya di pintu gua. Dan jika engkau melihat mereka, niscaya engkau akan berpaling lari dari mereka dan niscaya engkau akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka (Al-Kahfi: 18). Maka Allah menjadikan pemandangan ini sebagai tontonan orang-orang yang tidur dengan mata terbuka, dan anjing mereka terbaring dan memanjangkan kedua lengannya di pintu masuk gua, agar pemandangan ini menjadi sebab menolak dan menghalangi setiap orang yang mencoba menyerbu tempat ini, untuk mengetahui apa yang ada di dalamnya, hingga Allah menyempurnakan urusan-Nya.
Dan pemandangan berpindah ke pemandangan lain. Dan Al-Quran meninggalkan ruang bagi para penonton untuk bertanya-tanya: Apa yang terjadi dengan mereka, yang Allah timpakan tidur kepada mereka lalu mereka tidur dengan keadaan yang menakutkan dan mengkhawatirkan ini? Apakah mereka masih seperti itu sampai sekarang? Di sinilah Allah mengabarkan kepada kita apa yang terjadi pada mereka. Allah mengembalikan roh mereka kepada mereka seperti orang yang tidur ketika terbangun. Dan Allah berfirman: Allah memegang jiwa (orang) ketika kematiannya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati ketika tidurnya; maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir (Az-Zumar: 42).
Dan kata-kata kedua ayat dalam pemandangan ini menggambarkan keadaan mereka setelah bangun dari tidur mereka, dan bahwa mereka mulai bertanya-tanya di antara mereka: Berkatalah salah seorang di antara mereka, “Berapa lamakah kalian tinggal (di sini)?” Mereka menjawab, “Kita tinggal (di sini) sehari atau setengah hari” (Al-Kahfi: 19). Dan di sini tampak pengaruh iman dalam perhatian para pengikutnya kepada yang bermanfaat, dan meninggalkan apa yang tidak ada bukti atasnya kepada Allah semata. Dan karena itulah mereka berkata: Rabb kalian lebih mengetahui berapa lamanya kalian tinggal (di sini) (Al-Kahfi: 19). Dan ketika mereka terbangun, mereka mendapati diri mereka membutuhkan makanan. Dan bersama mereka ada sebagian uang yang mereka bawa ke gua. Maka mereka meminta agar salah seorang dari mereka pergi dengan uang yang ada padanya: Maka hendaklah dia melihat manakah makanan yang paling baik, lalu hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan jangan sekali-kali menceritakan halmu kepada siapa pun. Sesungguhnya jika mereka mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempari kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya (Al-Kahfi: 19, 20).
Dan pergilah orang yang mereka utus ini untuk membeli makanan bagi mereka. Tetapi urusannya terungkap dan dia dibawa kepada raja. Maka dia menceritakan kepadanya apa yang terjadi pada mereka. Dan utusan ini mengetahui bahwa raja telah berubah keadaannya, dan dia bukan lagi raja yang kafir, melainkan raja yang muslim. Maka raja pergi bersama para pengikutnya ke tempat gua. Dan mereka melihat para pemuda ini. Dan ketika para pemuda ini melihat mereka dan orang-orang yang bersamanya melihat mereka, Allah Subhanahu wa Ta’ala sekali lagi menimpakan tidur kepada para pemuda ini. Tetapi tidur ini kali ini tidak seperti sebelumnya, melainkan kematian mereka dan pencabutan roh mereka, sebagaimana semua manusia mati. Dan karena itulah Rabb kita berfirman: Dan demikianlah Kami mempertemukan mereka (dengan penduduk kota) agar mereka mengetahui bahwa janji Allah itu benar dan bahwa hari Kiamat tidak ada keraguan padanya. (Ingatlah) ketika mereka memperdebatkan urusan mereka di antara mereka sendiri (Al-Kahfi: 21). Maka mereka berselisih dalam urusan para pemuda ini. Dan keputusan mereka sampai pada membangun masjid atas mereka yang akan menjadi tanda akan keberadaan mereka.
Dan di sinilah kisah berakhir. Tetapi Allah mengikutinya dengan beberapa pelajaran dan ibrah. Maka Dia menyebutkan perkataan manusia tentang jumlah para pemuda ini. Dia berfirman: Akan ada (orang) yang mengatakan (jumlah) mereka tiga orang, yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan (jumlah) mereka lima orang, yang keenam adalah anjingnya, hanya dengan menerka perkara gaib. Dan (yang lain lagi) mengatakan (jumlah) mereka tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya. Katakanlah, “Rabbku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit” (Al-Kahfi: 22). Maka Subhanahu wa Ta’ala mengungulkan bahwa jumlah mereka adalah tujuh orang. Dan Dia mewasiatkan Rasul-Nya alaihi ash-shalatu was-salam dan berfirman kepadanya: Maka janganlah engkau memperdebatkannya kecuali perdebatan yang jelas dan jangan sekali-kali engkau meminta fatwa dari mereka tentang hal itu, karena mengetahui jumlah ini tidak ada faedahnya. Sebagaimana Dia mengarahkan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam agar menjadikan segala sesuatu bergantung pada kehendak Allah. Maka Dia berfirman: Dan janganlah sekali-kali engkau mengatakan tentang sesuatu, “Aku pasti melakukan itu besok pagi,” tanpa (mengatakan), “Insya Allah.” Dan ingatlah Rabbmu apabila engkau lupa dan katakanlah, “Mudah-mudahan Rabbku akan memberiku petunjuk yang lebih dekat kepada kebenaran daripada ini” (Al-Kahfi: 23, 24).
Kemudian Dia menjelaskan kepada kita lamanya mereka tinggal di gua mereka. Maka Dia berfirman: Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi) (Al-Kahfi: 25). Maka Dia menggabungkan antara perhitungan dengan tahun Qamariyah dan tahun Syamsiyah. Dan meskipun demikian Dia berfirman: Katakanlah, “Allah lebih mengetahui berapa lama mereka tinggal (di gua); milik-Nya-lah semua yang gaib di langit dan di bumi. Sangat terang penglihatan-Nya dan sangat tajam pendengaran-Nya; tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia, dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu dalam menetapkan keputusan” (Al-Kahfi: 26).
Inilah kisah Ashabul Kahfi secara ringkas dan padat.
Dan segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.
Pelajaran: 13 Kisah Pemilik Dua Kebun
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Kedudukan Kisah ini dalam Kaitannya dengan Ayat-ayat Sebelum dan Sesudahnya
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, adapun setelah itu:
Siapakah pemilik dua kebun itu? Apa yang terjadi padanya? Bagaimana awal dan akhir kisahnya?
Sebelum kita menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, mari kita ketahui kedudukan kisah ini dalam kaitannya dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, karena di dalamnya terdapat hal yang mengungkap rahasia mengapa Allah menyebutkannya di bagian surah ini. Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menetapkan nilai luhur dari nilai-nilai iman, baik dalam perkataan, perbuatan, maupun perilaku; agar nilai ini menjadi mercusuar yang menjadi petunjuk bagi umat Islam, bahkan menjadi manhaj yang tidak akan ditemukan kemanusiaan yang lebih baik darinya.
Nilai ini adalah iman yang terwujud dalam diri seorang mukmin, dengan segala kesempurnaan yang dituntut oleh iman, dan apa makna iman ini bagi seorang mukmin, berkaitan dengan apa yang dimiliki orang lain berupa harta dan kekayaan, serta segala kemewahan dan kenyamanan yang menyertainya, kata-kata yang didengarkan dan kedudukan yang terhormat. Sesungguhnya iman dan manusia beriman adalah yang dengannya kehidupan menjadi baik. Apakah kehidupan bisa baik tanpa kesetaraan, keadilan, kerendahan hati, rasa malu, dan akhlak mulia, yang semuanya adalah sumber-sumber iman dan penampakan cemerlangnya pada wajah orang-orang beriman? Apakah mungkin kehidupan manusia teratur dengan rasisme, fanatisme kelompok, kesombongan, dan membanggakan keturunan, nasab, harta, dan anak-anak, serta meremehkan hak orang lain dalam kehidupan yang layak di mana mereka merasakan kemanusiaan mereka?
Ayat-ayat yang datang setelah kisah Ashabul Kahfi membawa makna-makna ini dengan jelas. Setelah Allah mengakhiri kisah Ashabul Kahfi dengan menetapkan bahwa Dia memiliki pengetahuan tentang yang gaib di langit dan bumi, dan bahwa Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat “Alangkah tajamnya penglihatan-Nya dan alangkah tajamnya pendengaran-Nya” (Surah Al-Kahf: 26).
Dan bahwa orang-orang yang mempersekutukan-Nya tidak memiliki penolong dan pembantu dari Allah, dan bahwa keputusan dalam kehidupan ini dan selainnya adalah milik-Nya semata, dan Dia tidak menyekutukan dalam keputusan-Nya seorang pun, Dia memerintahkan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk terus membacakan apa yang diwahyukan kepadanya dari Kitab Tuhannya, karena tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya, dan kamu tidak akan menemukan pelindung dan penolong selain-Nya jika kamu mengubah kalimat-kalimat-Nya. Dalam hal ini terdapat isyarat tentang kesungguhan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menyampaikan wahyu Allah tanpa mengubah atau mengganti.
Dan sungguh beliau telah menyampaikan risalah dan menunaikan amanat, shalawat dan salam Allah semoga tercurah kepadanya, maka sampailah kepada kita Al-Quran ini terpelihara dengan pemeliharaan Allah. Di antara sebab-sebab yang menyebabkan terpeliharanya Al-Quran adalah pemilihan Allah terhadap orang-orang yang Dia cintakan kepada Al-Quran, dan Dia pilih untuk menjadi sahabat Nabi-Nya, maka mereka adalah cahaya kehidupan dan keindahannya, pembawa dan pembaca Kitab Allah. Mereka inilah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, di antara mereka ada yang kaya seperti Abu Bakar, Utsman, Ibnu ‘Auf dan lainnya, dan di antara mereka ada yang miskin seperti Ibnu Mas’ud, Bilal, dan banyak sahabat dari kalangan budak dan maula, serta orang-orang yang tidak memiliki harta. Kedua kelompok, baik yang kaya maupun yang miskin, sama kedudukannya dalam majelis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dipersatukan oleh persaudaraan iman, dan dikumpulkan oleh satu tujuan yaitu menolong agama ini, dan berupaya menjaga Kitab Allah serta menyebarkan prinsip-prinsipnya.
Namun orang-orang musyrik memiliki ukuran yang berbeda. Ukuran mereka berdiri atas dasar harta dan kedudukan. Pemilik harta dan kedudukan adalah orang-orang yang memiliki keistimewaan, kedekatan, keutamaan, dan kedudukan. Perkataan mereka didengar dan kata-kata mereka ditaati. Adapun selain mereka dari kalangan fakir dan orang yang tidak memiliki harta dan kedudukan adalah pelayan mereka dan budak bagi kebaikan mereka. Tempat mereka di belakang barisan, dan mereka tidak berhak duduk di majelis orang-orang kaya dan pemilik harta. Dengan ukuran-ukuran yang keliru inilah mereka menilai kedudukan dan martabat manusia. Maka rasisme yang buruk ini menjadi sebab perpecahan dan pintu kebencian dan permusuhan. Sebagaimana telah kami katakan, kehidupan manusia tidak akan lurus dengan hal ini, dan bangsa-bangsa serta rakyat tidak akan bangkit dengan cara ini.
Berangkat dari pemahaman ini tentang kedudukan dan martabat manusia, orang-orang musyrik meminta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengkhususkan bagi mereka majelis di mana mereka duduk bersamanya, tidak duduk di dalamnya seorang pun dari para sahabat yang fakir ini; karena tidak pantas bagi pemuka kaum untuk duduk bersama orang-orang lemah dan fakir ini dari kalangan sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka turunlah wahyu yang menetapkan hakikat kehidupan di antara manusia, dan menjelaskan bahwa nilai sejati manusia adalah pada iman mereka, bukan pada harta mereka, dan bukan pada apa yang mereka miliki. Dan bahwa Islam tidak membutuhkan orang-orang yang sombong dan angkuh, yang mengira bahwa nilai manusia pada apa yang dimilikinya dari harta dunia, bukan pada apa yang tertanam dalam hatinya berupa pengenalan terhadap Allah, dan amal dengan Kitab-Nya serta Sunnah Nabi-Nya.
Dan datanglah tuntunan ilahi kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang berfirman: “Dan bersabarlah dirimu bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka pada pagi dan petang hari mengharapkan wajah-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas. Dan katakanlah: ‘Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah dia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah dia kafir.’ Sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan baik. Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga ‘Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang-gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah.” (Surah Al-Kahf: 28-31).
Kebenaran yang dibawa oleh wahyu ini sangat jelas, di dalamnya terdapat petunjuk, keberuntungan, dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Allah telah memberikan kepada manusia kebebasan memilih dalam hal-hal yang dapat dipilih, termasuk pilihannya terhadap kufur dan iman, kebenaran dan kebatilan, petunjuk dan kesesatan. Mana yang akan dia pilih? Namun hendaklah dia mengetahui bahwa dia akan dimintai pertanggungjawaban atas pilihannya. Karena maqam ini adalah maqam peringatan dan ancaman dari kekufuran dan akibatnya, maka disebutkan akibat orang yang kafir terlebih dahulu. Allah menyebut orang yang kafir sebagai orang zalim, dan menjelaskan siksaan buruk yang menanti orang zalim ini. Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” Kemudian Allah menyebutkan balasan bagi orang yang memilih petunjuk dan agama yang benar. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan baik. Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga ‘Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya” hingga firman-Nya: “dan tempat istirahat yang indah.”
Sebagai penegasan kebenaran-kebenaran ini dan penjelasannya dalam gambaran yang nyata, Allah memerintahkan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memberikan perumpamaan kepada orang-orang musyrik dan lainnya, sebuah perumpamaan dari realitas kehidupan, yang menjelaskan akibat orang yang tertipu dengan hartanya dan dibutakan oleh kekuasaannya, serta tidak merespons nasihat para penasihat. Perumpamaan itu menyebutkan kebanggaan orang mukmin dengan agamanya, dan keunggulannya atas kelezatan dan keindahan kehidupan dengan imannya.
Kisah ini -kisah pemilik dua kebun- adalah perumpamaan yang diberikan Allah kepada mereka. Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung berfirman: “Dan berilah perumpamaan kepada mereka, dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya dua buah kebun anggur, dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma dan Kami letakkan tanaman-tanaman di antara kedua kebun itu. Kedua kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu, dan dia mempunyai kekayaan besar, maka dia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia: ‘Hartaku lebih banyak dari hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat.’ Dan dia memasuki kebunnya, sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; dia berkata: ‘Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, niscaya aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu.’ Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya – sedang dia bercakap-cakap dengannya: ‘Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Tuhanku. Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu: “Maasyaa Allah, laa quwwata illaa billaah” (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu; dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu, hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin, atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi.’ Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu dia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang dia telah belanjakan untuk kebun itu, sedang pohon anggur dan kebun itu roboh bersama para-paranya, dan dia berkata: ‘Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Tuhanku.’ Dan dia tidak mempunyai segolongan orang pun yang menolongnya selain dari Allah; dan dia tidak dapat membela dirinya. Di sanalah (terbukti) bahwa perlindungan itu hanyalah dari Allah Yang Maha Benar. Dia adalah sebaik-baik pemberi pahala dan sebaik-baik pemberi balasan.” (Surah Al-Kahf: 32-44).
Jika kalian merenungkan apa yang telah kalian dengarkan dari ayat-ayat ini, kalian akan mendapati bahwa kisah ini berjalan dalam fase-fasenya tanpa membuat kalian merasakan perpindahan dari satu fase ke fase lain, atau dari satu bagian ke bagian lain. Peristiwa-peristiwanya mengalir hingga berakhir dengan hasilnya: “Di sanalah (terbukti) bahwa perlindungan itu hanyalah dari Allah Yang Maha Benar. Dia adalah sebaik-baik pemberi pahala dan sebaik-baik pemberi balasan.” Kemudian datang pelajaran-pelajaran yang mengikuti dan mengalir darinya dalam dua ayat pada firman-Nya: “Dan berilah perumpamaan kepada mereka kehidupan dunia” (Surah Al-Kahf: 45) dan ayat setelahnya.
Fase pertama dimulai dari: “Dan berilah perumpamaan kepada mereka, dua orang laki-laki” (Surah Al-Kahf: 32) hingga firman-Nya: “dan pengikut-pengikutku lebih kuat” (Surah Al-Kahf: 34), menggambarkan kepada kita kedua kebun itu dengan penggambaran yang menakjubkan. Fase kedua dari firman-Nya: “Dan dia memasuki kebunnya” (Surah Al-Kahf: 35) hingga firman-Nya: “tempat kembali” (Surah Al-Kahf: 36), untuk menggambarkan kepada kita sosok lelaki yang sombong dan terpesona dengan harta dan kedua kebunnya. Adapun fase ketiga dimulai dari firman-Nya: “Kawannya berkata kepadanya” (Surah Al-Kahf: 37) hingga firman-Nya: “maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi” (Surah Al-Kahf: 41), di dalamnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dialog yang terjadi antara lelaki yang sombong ini dengan kawannya yang miskin, dan nasihat yang diberikan oleh orang miskin ini kepada orang kaya yang ingkar itu. Pada fase keempat yang dimulai dari: “Dan harta kekayaannya dibinasakan” (Surah Al-Kahf: 42) hingga akhir kisah, terdapat penjelasan tentang akhir dari orang ini dan kedua kebunnya, serta pelajaran bermanfaat dan pengajaran yang mendalam yang terkandung di dalamnya.
Betapa engkau berdiri terpukau, ayat-ayat Al-Quran dalam kisah ini menguasai perasaan dan hatimu, sementara engkau merenungkan peristiwa-peristiwanya dan bagaimana Al-Quran menyajikannya. Al-Quran mengungkap peristiwa-peristiwa ini, dan memindahkanmu dari satu peristiwa ke peristiwa lain sebagaimana kami katakan dengan lancar dan mudah. Al-Quran dalam ayat-ayatnya tetap mewakili mukjizat, setiap tiga ayat darinya merupakan mukjizat yang dengannya Allah menantang jin dan manusia: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.'” (Surah Al-Isra: 88).
Berapa banyak mukjizat di sana! Sesuai dengan kebiasaan Al-Quran dalam kisah-kisahnya, tidak disebutkan nama-nama, dan tidak diperhatikan tempat kejadian kisah dan di mana peristiwanya terjadi. Tidak disebutkan dari ini dan itu kecuali apa yang diperlukan, dan dalam penyebutannya terdapat manfaat; karena yang dimaksud adalah peristiwa itu sendiri dan pelajaran yang terkandung di dalamnya. Pelajaran-pelajaran ini tidak akan berubah dengan berubahnya nama dan tempat, meskipun tokoh-tokoh dalam kisah itu mungkin dikenal dengan nama-nama mereka, dan di mana peristiwa kisah mereka terjadi, sebagaimana kenyataan dalam kisah yang kita ikuti peristiwanya ini.
Kisah Pemilik Dua Kebun
Mari kita bertanya: Siapakah pemilik dua kebun itu, siapakah kawannya, di mana hal itu terjadi, dan apa yang terjadi?
Pemilik dua kebun adalah seorang lelaki dari Bani Israil bernama Barathos, dia adalah orang kafir dan memiliki saudara mukmin bernama Yehuda. Ada yang mengatakan bahwa kedua saudara ini adalah yang disebutkan dalam Surah Ash-Shaffat pada firman-Nya: “Berkatalah salah seorang di antara mereka: ‘Sesungguhnya aku dahulu mempunyai seorang teman akrab” (Surah Ash-Shaffat: 51) dan ayat-ayat selanjutnya. Dikatakan bahwa kedua saudara itu mewarisi dari ayah mereka delapan ribu dinar, masing-masing mengambil setengahnya. Orang kafir membeli tanah, membangun rumah, dan menikah. Dia memiliki pelayan, pohon kurma, dan anggur. Adapun orang mukmin menyedekahkan hartanya dan mengalami kesulitan. Dia datang kepada saudaranya meminta bantuan, namun saudaranya mengusirnya dan menegurnya. Terjadilah dialog di antara mereka sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat.
Ada yang mengatakan: ayat ini turun tentang dua bersaudara dari Bani Makhzum; Al-Aswad bin Abdul Asad bin Abdul Yalil yang kafir, dan Abu Salamah Abdullah bin Al-Aswad yang mukmin.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa mereka adalah dua putra raja dari Bani Israil. Salah satunya membelanjakan hartanya di jalan Allah, sedangkan yang lain kafir dan sibuk dengan perhiasan dunia dan mengembangkan hartanya.
Adapun tempat kejadian, Ibrahim bin Al-Qasim Al-Katib menyebutkan dalam kitabnya (tentang Keajaiban Negeri-negeri) bahwa Danau Tunis adalah tempat kedua kebun ini. Kebun itu milik dua bersaudara. Salah satunya menjual bagiannya kepada yang lain, dan membelanjakannya dalam ketaatan kepada Allah hingga yang lain mencela dia, dan terjadilah dialog ini di antara mereka. Dia berkata: “Allah menenggelamkannya pada suatu malam, beserta keduanya yang dimaksud Allah dengan ayat-ayat ini.”
Ini tidak berarti bahwa Al-Quran mendorong seorang Muslim untuk menyedekahkan seluruh hartanya dan tetap miskin mengulurkan tangannya meminta-minta kepada orang lain, bahkan meninggalkan ahli warisnya dalam kemiskinan meminta-minta sedekah dari orang lain. Dan tidak dipahami dari hal itu bahwa Islam menjauhkan dari memperoleh harta dan mengembangkannya, serta menginginkan pengikutnya keluar dari dunia tanpa harta, istri, dan anak. Karena ini berarti kehancuran dunia dan penghancuran peradabannya, serta penghapusan keindahan dan kemegahannya. Apa yang dibawa oleh Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebaliknya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Sa’d bin Abi Waqqash ketika dia ingin -saat dalam sakitnya- menyedekahkan hartanya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menolak hal itu dan terus membujuknya hingga dia menyetujui sepertiga. Meskipun begitu, beliau berkata kepadanya: “Sepertiga, dan sepertiga itu banyak. Sesungguhnya jika kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam keadaan miskin yang meminta-minta kepada orang lain.”
Seandainya seorang mukmin tidak memiliki harta, bagaimana ia bisa dituntut untuk membayar zakat dan sedekah, bagaimana ia bisa mempersiapkan pasukan Allah, siapa yang akan membangun dan memakmurkan, siapa yang akan memiliki tanah untuk menghasilkan apa yang menghidupi dan memberi manfaat bagi manusia, siapa yang akan mendirikan pabrik-pabrik, toko-toko, rumah-rumah dan memakmurkan bumi?! Sesungguhnya Tuhan kita menghendaki agar yang memakmurkan bumi adalah orang yang melakukannya atas nama-Nya dan karena-Nya, menunaikan hak Allah di dalamnya, tidak menyombongkan diri dengan harta yang dimilikinya terhadap hamba-hamba Allah, dan hartanya tidak mendorongnya untuk berakhlak tercela seperti sombong, angkuh, kikir, pelit, dan akhlak-akhlak buruk lainnya. Jika ia memiliki dunia lalu menunaikan hak Tuhannya di dalamnya, maka ia layak memilikinya, dan sebaik-baik harta yang shalih adalah bagi orang yang shalih.
Kisah yang ada di hadapan kita mengungkapkan kebenaran ini, dan menjelaskan apa yang ditimbulkan oleh harta dalam kehidupan seseorang, berupa kekufuran kepada Allah dan kesombongan terhadap makhluk Allah, serta mengukur segala sesuatu dengan ukuran yang tidak benar. Ini adalah perumpamaan yang Allah berikan untuk orang-orang kafir Quraisy, yang enggan duduk bersama kaum muslimin yang miskin dan lemah, dan mensyaratkan untuk masuk Islam bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam harus mengusir orang-orang lemah tersebut dari majelis beliau agar mereka bisa duduk bersama beliau dan mendengarkan ucapan beliau, dan seolah-olah Rasul yang mulia shallallahu alaihi wasallam cenderung kepada hal itu.
Dan mungkin beliau berpikir untuk memberitahu orang-orang fakir tersebut bahwa kemaslahatan dakwah ada pada hal itu, dan beliau meminta mereka untuk menjauh dari majelis agar tempat itu kosong untuk para pembesar Quraisy. Jika mereka masuk Islam, mereka akan menjadi kekuatan dan sandaran bagi dakwah beliau, dan ketika itu mereka akan mengenal dan beriman kepada prinsip-prinsip Islam, di antaranya bahwa Islam adalah agama persamaan, maka orang-orang lemah ini akan kembali duduk bersama para pembesar yang kaya dalam satu majelis, yang menyatukan mereka dalam persaudaraan iman dan Islam. Namun Allah meneguhkan rasul-Nya dan berfirman kepada beliau: “Dan bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka pada pagi dan petang hari dengan mengharapkan wajah-Nya” (Surah Al-Kahfi: 28), dan berfirman kepada beliau: “Dan janganlah engkau mengusir orang-orang yang menyeru Tuhan mereka pada pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki wajah Allah” (Surah Al-An’am: 52).
Maka keadaan orang-orang kafir dari kalangan musyrikin Quraisy tersebut serupa dengan keadaan pemilik dua kebun, dan keadaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan orang-orang mukmin serupa dengan keadaan laki-laki mukmin yang bersungguh-sungguh dalam menasihati laki-laki kafir ini. Laki-laki mukmin ini bangga dengan agamanya, dan melihat bahwa iman yang dimilikinya tidak dapat disamakan dengan sesuatu pun dari kenikmatan kehidupan dunia.
Dan inilah kata-kata yang menggambarkan kenikmatan yang diperoleh laki-laki kafir tersebut, setelah Allah berfirman kepada Rasul-Nya: “Dan berikanlah kepada mereka perumpamaan dua orang laki-laki” (Surah Al-Kahfi: 32). Maka jiwa tertarik untuk mengetahui apa yang terjadi pada kedua laki-laki tersebut. Allah memulai dengan yang pertama dan menjelaskan kebaikan yang Allah berikan kepadanya, Dia berfirman: “Kami jadikan bagi salah seorang di antara keduanya dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma dan Kami buatkan di antara keduanya tanaman-tanaman. Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tidak mengurangi hasil buahnya sedikit pun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu. Dan dia mempunyai kekayaan besar, maka dia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia: ‘Hartaku lebih banyak dari hartamu dan pengikutku lebih kuat'” (Surah Al-Kahfi: 32-34).
Maka perhatikanlah bersama saya gambaran kata-kata Alquran tentang dua kebun tersebut:
Pertama: Bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Kami jadikan bagi salah seorang di antara keduanya dua buah kebun” (Surah Al-Kahfi: 32). Allah menyandarkan penciptaan kepada kekuasaan-Nya yang Mahakuasa, dan dengan itu menjelaskan bahwa ini adalah rezeki dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar sejak awal ini menjadi alasan bahwa ia layak untuk bersyukur bukan untuk kufur. Dan Allah menyebutkan bahwa Dia tidak memberinya—tidak memberi laki-laki ini—satu kebun saja, tetapi memberinya dua kebun, yaitu dua taman dari pohon anggur.
Dan Dia menyebut taman itu sebagai kebun (jannah) untuk menunjukkan kepada kita bahwa taman ini, atau setiap taman dari dua taman tersebut, di dalamnya terdapat pohon-pohon dan kurma yang menutupi orang yang berada di dalamnya, yang menunjukkan bahwa itu adalah kebun yang luas. Dan Dia juga menjelaskan ini dalam firman-Nya: “dari pohon anggur”, jadi itu adalah kebun yang di dalamnya terdapat buah yang agung ini yaitu anggur. Dan Dia menyebutkan bahwa kedua kebun itu di pinggirnya ada pohon-pohon kurma: “Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma dan Kami buatkan di antara keduanya tanaman-tanaman” (Surah Al-Kahfi: 32), Dia menjadikan di antara kedua kebun itu tanaman, maka dengan itu menjelaskan bahwa itu adalah tanah yang bersambungan, tidak ada celah kosong yang tidak ditanami. Dan dalam firman-Nya: “dan Kami buatkan di antara keduanya tanaman-tanaman” (Surah Al-Kahfi: 32), dalam kata tanaman yang tidak terbatas (nakkirah) menunjukkan keberagaman tanaman ini, dan bahwa itu adalah tanaman yang banyak, berbeda dengan anggur dan kurma yang ada di sana.
Kemudian Allah Yang Mahaagung berfirman: “Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tidak mengurangi hasil buahnya sedikit pun” (Surah Al-Kahfi: 33). Dengan itu menjelaskan bahwa setiap kebun dari dua kebun tersebut telah memberikan hasil maksimal yang mungkin ada dari buah-buahan di kebun-kebun yang subur seperti ini. Dan dalam firman-Nya: “dan kebun itu tidak mengurangi hasil buahnya sedikit pun” (Surah Al-Kahfi: 33) maknanya bahwa kebun itu memberikan buah-buahnya secara sempurna tanpa berkurang. Dan mungkin kita menyaksikan bahwa banyak kebun yang mengalami kondisi iklim atau hal-hal lainnya, sehingga tidak memberikan buah yang sempurna. Namun dua kebun ini, setiap kebun di antaranya memberikan buahnya dan tidak menguranginya sedikit pun.
Dan yang menambah keindahan dan kehijauan kebun itu adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu” (Surah Al-Kahfi: 33). Allah Subhanahu wa Ta’ala mengalirkan di antara dua kebun—yaitu di antara dua kebun tersebut—sungai yang jernih. Maka sungai ini menjadi kenikmatan bagi yang melihatnya, dan menjadi sebab sampainya air yang terus-menerus dan berkelanjutan ke dua kebun ini. Maka ini juga termasuk sebab-sebab yang menjadikan dua kebun ini memberikan buahnya secara sempurna. Dan laki-laki ini juga memiliki selain itu kekayaan. Allah berfirman: “Dan dia mempunyai kekayaan besar”. Para mufassir mengatakan bahwa kekayaan (tsamar) adalah harta dan kenikmatan, yaitu dia memiliki kekayaan yang banyak dan harta yang melimpah, yang ditambahkan kepada apa yang ada di dua kebun tersebut.
Sampai di sini kita melihat keagungan dua kebun tersebut dan apa yang ada di dalamnya dari rezeki Allah yang melimpah. Dan mungkin sekali lagi kita menunjuk kepada nun yang mengagungkan diri-Nya dalam firman-Nya: “Kami jadikan bagi salah seorang di antara keduanya” (Surah Al-Kahfi: 32), “Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma” (Surah Al-Kahfi: 32), “dan Kami buatkan di antara keduanya tanaman-tanaman” (Surah Al-Kahfi: 32), “dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu” (Surah Al-Kahfi: 33), yang menunjukkan bahwa ini dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan ini adalah penampakan kekuasaan dan keagungan-Nya.
Adapun pemandangan kedua, Anda melihatnya dalam dialog yang diisyaratkan oleh Alquran pada awal percakapan antara kedua laki-laki tersebut: “maka dia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia: ‘Hartaku lebih banyak dari hartamu dan pengikutku lebih kuat'” (Surah Al-Kahfi: 34). Kemudian apa yang terjadi dari ucapannya: “Dan dia memasuki kebunnya, sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; dia berkata: ‘Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang'” (Surah Al-Kahfi: 35-36) sampai akhir ucapannya.
Mungkin Anda melihat bersama saya dari firman-Nya: “maka dia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia: ‘Hartaku lebih banyak dari hartamu dan pengikutku lebih kuat'” (Surah Al-Kahfi: 34) bahwa kawannya bersamanya sejak awal sebelum dia masuk ke kebunnya, dan bahwa ketika dia meminta bantuan, dia berkata: “Hartaku lebih banyak dari hartamu dan pengikutku lebih kuat,” maka dia membanggakan dan berbangga dengan harta yang Allah berikan kepadanya, dan dengan anak-anak yang Allah berikan, dan dengan kekuatan serta pengikut yang diberikan kepadanya.
Dan tampak dari kisah ini dan dari rangkaian ayat-ayat bahwa kawannya tidak membiarkannya mengucapkan perkataan ini, tetapi tetap bersamanya hingga dia sampai ke salah satu dari dua kebunnya, dan bahwa laki-laki yang sombong ini memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri. Ya, ini adalah manusia yang zalim terhadap dirinya sendiri ketika mengingkari karunia Allah kepadanya, mengingkari saudaranya dan memutus hubungan kekerabatan, dan berkata kepadanya dengan congkak dan sombong: “Hartaku lebih banyak dari hartamu dan pengikutku lebih kuat.” Namun laki-laki ini ketika memasuki kebunnya atau salah satu dari dua kebunnya, melihat ke kanan dan kiri sambil berkata: “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya” (Surah Al-Kahfi: 35). Dia menyangka karena kebodohannya bahwa kebun yang indah dan menakjubkan ini yang terbentang sampai batas pandangan, dan di dalamnya sungai mengalir dan air jernih dan pohon-pohon yang tinggi menjulang dan buah-buahan yang matang, dia berkata: “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya.” Dan dia tidak tahu bahwa hari-hari itu berganti, dan bahwa urusan pertama dan terakhir ada di tangan Allah Azza wa Jalla. Kemudian dia terang-terangan dengan kekufurannya dan berkata: “dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang” (Surah Al-Kahfi: 36), maka dia mengingkari terjadinya hari kiamat. Kemudian dia berkata lagi: “Dan sungguh jika aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan memperoleh tempat kembali yang lebih baik daripada ini” (Surah Al-Kahfi: 36). Dan seolah-olah dia menyangka bahwa orang yang Allah beri harta di dunia dan kenikmatan, anak-anak, pembantu, pengikut, dan kedudukan tinggi, akan seperti itu juga di akhirat. Dan ini adalah sangkaan yang salah dan pemahaman yang buruk. Bukan begitu manusia yang sadar dan manusia yang beriman seharusnya. Sesungguhnya manusia hanya memperoleh kebaikan semua kebaikan dengan imannya kepada Allah Tuhan semesta alam, dan dengan apa yang dituntut oleh iman ini berupa amal shalih. Adapun apa yang dimiliki manusia di dunia ini, sesungguhnya bagi orang yang berakal itu adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menunaikan hak Allah di dalamnya.
Kawannya mendengarkan pengingkaran terhadap hari kiamat ini, dan pemahaman yang buruk tentang berbagai urusan, maka dia berkata kepadanya ketika bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakanmu dari tanah kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikanmu seorang laki-laki yang sempurna? Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Tuhanku” (Surah Al-Kahfi: 37-38) sampai akhir apa yang disebutkan oleh laki-laki shalih ini. Dan kita harus berhenti pada dialog ini:
Pertama: Perhatikanlah bersama saya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menamai laki-laki ini sebagai kawan (shaahib), dan makna dari itu adalah bahwa dia mendampinginya, ingin memperbaikinya dan membimbingnya. Dan ini adalah perilaku para pendakwah yang menasihati, yaitu mereka tidak meninggalkan orang-orang yang durhaka, berdosa, dan menyimpang. Mereka harus bersama mereka dan di samping mereka, membimbing mereka ke jalan yang benar. Kemudian dalam firman-Nya: “ketika bercakap-cakap dengannya” (Surah Al-Kahfi: 34).
Dan percakapan ini diisyaratkan oleh Alquran dalam ayat sebelumnya dalam firman-Nya: “Dan dia mempunyai kekayaan besar, maka dia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia” (Surah Al-Kahfi: 34). Maka tampak bahwa percakapan yang terjadi antara kedua laki-laki ini adalah percakapan yang tujuannya adalah untuk mencapai kebenaran, meskipun laki-laki kafir itu masih bangga dengan hartanya, pengikutnya, pembantu dan pelayan-pelayannya. Namun laki-laki mukmin ketika bercakap-cakap dengan orang kafir ini berkata kepadanya sambil bertanya: “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakanmu dari tanah kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikanmu seorang laki-laki yang sempurna?” (Surah Al-Kahfi: 37).
Dengan ucapannya: “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakanmu dari tanah”, dia menunjuk kepada apa yang terjadi pada perkara Nabi Adam alaihissalam. Dan kita telah menyebutkan bahwa kedua laki-laki tersebut adalah dari Bani Israil, dan mereka tahu bahwa Allah menciptakan Adam dari tanah. Adam tidak ada sebelumnya, maka yang mewujudkannya adalah Allah, dan mewujudkannya untuk tujuan yang mulia dan agung, yaitu agar menjadi khalifah di bumi ini, dan agar anak-anaknya setelahnya menjadi khalifah-khalifah, yang memerintah dengan syariat Allah dan petunjuk Allah, dan menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firman Allah yang Mahamulia: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dialah Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh” (Surah Adz-Dzariyat: 56-58).
Maka dia mengembalikan laki-laki ini kepada hakikat asalnya, bahwa dia diciptakan dari tanah. Kemudian dia mengingatkannya tentang hakikatnya dalam penciptaannya di perut ibunya, karena dia tidak ada sebelum keluar ke kehidupan ini. Allah Azza wa Jalla menciptakannya dari setetes air mani, lalu dia bertahap dalam tahapan-tahapan penciptaan hingga menjadi laki-laki. Maksudnya bahwa air mani berubah menjadi segumpal darah, kemudian menjadi segumpal daging, kemudian tahapan-tahapan setelah itu, hingga terjadi kelahiran. Dan bayi ini berkembang hingga mencapai tahap kedewasaan. Maka laki-laki ini menyingkat semua tahapan ini dan mengingatkannya tentang awal mula, yaitu air mani. Dan air mani adalah bukti permulaan manusia dari sesuatu yang remeh, hina, dan sederhana, yang mungkin membuat manusia jijik, namun demikian Allah menumbuhkannya dan membuatnya mencapai tahap ini.
Maka lahirlah manusia ini dan bertahap dalam tahapan-tahapan penciptaan hingga mencapai tahap ini, yaitu dia menjadi laki-laki yang mengingkari bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakannya, atau mengingkari kebangkitan setelah kematian, dan meyakini bahwa jika dia kembali kepada Tuhannya—seandainya perkataan bahwa hari kiamat itu benar—maka di sana dia pasti akan menemukan kebaikan yang banyak, karena dia hidup dalam kebaikan yang banyak di dunia. Dan dia memahami bahwa dia akan hidup dalam kebaikan ini di sana di akhirat. Dan betapa agungnya nasihat yang sangat membekas dalam situasi ini!
Kemudian dia menyatakan keyakinannya kepada temannya dengan mengatakan: “Tetapi aku (percaya bahwa) Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Tuhanku” (Surah Al-Kahf: 38). Maka dia menyatakan bahwa dia adalah hamba yang bertauhid kepada Allah, Tuhan semesta alam, mengesakan Tuhannya dalam hal ketuhanan dan keesaan-Nya, dan bahwa dia tidak mempersekutukan seorang pun dengan Tuhannya. Kemudian dia memberi nasihat kepada temannya, dan terus berusaha mengembalikannya ke jalan yang benar, dengan mengatakan: “Dan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu, tidak mengucapkan (maa syaa Allah laa quwwata illaa billaah) apa yang dikehendaki Allah (terjadi), tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah” (Surah Al-Kahf: 39). Sebab jika dia melakukan itu, niscaya Allah akan menjaga hartanya untuknya, dan memelihara harta itu baginya, serta menambahkan keberkahan dari keberkahan-Nya, tetapi dia tidak melakukannya. Kemudian dia menjelaskan kepadanya hakikat ukuran-ukuran yang seharusnya dipahami oleh orang ini, dengan mengatakan: “Jika engkau anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan anak, maka mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu” (Surah Al-Kahf: 39-40).
Ya, jika di dunia ini dia tidak memperoleh harta dan anak sebanyak yang dimiliki oleh manusia kaya yang sombong ini, maka hendaklah dipahami bahwa Allah adalah Pemberi Rezeki, dan bahwa Dia Yang Mahamulia dan Mahatinggi mungkin akan menganugerahkan kepadanya sesuatu yang lebih baik dari kebun ini, memberikannya di dunia ini, atau memberikannya di akhirat. Adapun kebunnya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala dapat mengirimkan azab dari langit kepadanya, sehingga menjadi tanah yang licin. Dan perhatikanlah ungkapan Al-Quran: “azab dari langit” (Surah Al-Kahf: 40).
Azab dari langit, yaitu: hujan lebat yang menghancurkan dari langit, yang mengakibatkan kebun ini, dan taman yang berbuah lebat penuh dengan pohon-pohon tinggi yang menutupi pandangan, menjadi dalam sekejap tanah kosong yang tidak ada tanaman, buah, maupun pohon di dalamnya, melainkan hanya licin, tidak dapat berjalan di dalamnya karena banyaknya air di tanahnya.
Atau ada perkara lain yaitu airnya kedua kebun itu menjadi surut ke dalam tanah, maka dia tidak akan mampu mencarinya. Sungai yang menyirami tanaman dan buah-buahan ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala-lah yang mengalirkannya, dan Dia pula yang berkuasa menjadikan air sungai ini surut dan berkurang bahkan mengering, dan ketika itu orang ini tidak akan mampu—betapapun usahanya—mengeluarkan air itu kembali, dan dengan demikian nasib kedua kebun itu akan layu, kemudian berakhir. Dan tidak lama berlalu hingga terwujud apa yang disebutkan oleh orang saleh ini, dan tiba-tiba buah-buahan manusia kafir ini dan kedua kebunnya ditimpa hujan lebat, yang menghancurkan kedua kebun itu.
Orang ini memandang dengan pandangan yang menyesal dan sedih: “Maka jadilah dia bolak-balik membalikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang telah dibelanjakannya untuk itu, sedang kebun itu roboh bersama para-paranya (tiang-tiangnya)” (Surah Al-Kahf: 42). Sungguh telah berakhir kisah kedua kebun itu, dan setiap kebun runtuh bersama para-paranya, dan orang itu berdiri menyesali apa yang telah terjadi darinya, dan berkata: “Aduhai kiranya aku dahulu tidak mempersekutukan seorang pun dengan Tuhanku” (Surah Al-Kahf: 42). Dan barangkali engkau melihat bahwa dia tidak memiliki golongan, kelompok, atau siapa pun yang menolongnya selain Allah, dan orang ini tidak mampu menolong dirinya sendiri, karena Allah-lah Yang Mahakuat lagi Mahakuasa.
Dan kisah ini ditutup dengan firman-Nya: “Di situlah (ternyata) kekuasaan itu adalah kepunyaan Allah Yang Hak. Dia (Allah) adalah pemberi pahala yang terbaik dan pemberi akibat yang terbaik” (Surah Al-Kahf: 44). Maka pahala yang sejati adalah dari sisi Allah, dan akibat yang terpuji adalah dari sisi Allah. Kemudian datang firman-Nya: “Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah tanaman-tanaman di bumi dengan subur karena air itu, kemudian tanaman itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan” (Surah Al-Kahf: 45-46).
Penutup ini datang untuk menjelaskan salah satu hakikat agama ini, yaitu bahwa dunia akan lenyap, dan bahwa dunia adalah milik Allah, dan bahwa harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi manusia yang sadar harus mengetahui bahwa amal kebajikan yang kekal adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk menjadi harapan, karena amal kebajikan yang kekal adalah sebab keselamatan di akhirat, dan keselamatan di akhirat adalah tujuan bagi orang-orang beriman.
Dan semoga Allah memberikan shalawat, salam, dan berkah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta kepada keluarga dan sahabatnya.
Pelajaran: 14 Kisah Musa dan Khidir
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Pengantar Kisah Musa dan Khidir
Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam atas Rasulullah. Amma ba’du:
Ini adalah kisah Musa dan Khidir:
Dan kisah ini—seperti dua kisah sebelumnya—tidak terdapat dalam Al-Quran kecuali dalam Surah Al-Kahf, maka kajian kita tentangnya akan melalui ayat-ayat yang membahasnya dalam surah yang mulia ini.
Dan sebelum kita memulai memaparkan peristiwa-peristiwa kisah ini, saya ingin menunjukkan penyebutan kata “Khidir”. Ibnu Manzhur berkata: “Ahli bahasa Arab mengatakan: Al-Khadhir, dengan fathah pada kha dan kasrah pada dhad, dan diperbolehkan dalam bahasa Arab: Al-Khidhr, sebagaimana dikatakan: Kabid dan Kibid. Al-Jauhari berkata: Dan ini lebih fasih”. Maka siapa yang menyebut Al-Khadhir, itu benar, dan siapa yang menyebut Al-Khidhr, itu benar, bahkan ini yang lebih fasih—sebagaimana dikatakan oleh penulis Lisanul Arab.
Kisah ini tidak menyebutkan nama Khidir, dan tidak memberitahukan kepada kita tentang tempat terjadinya pertemuan, selain bahwa itu di pertemuan dua lautan, sebagaimana kita tidak mengetahui kapan itu terjadi dalam kehidupan Musa, apakah ini terjadi ketika dia di Mesir, atau setelah dia menyeberangkan Bani Israil ke Sinai, sebagaimana tidak disebutkan alasan mengapa Musa mencari hamba saleh ini. Dan setelah disebutkan kepada Musa sebab-sebab yang membuatnya melakukan apa yang dia lakukan, ayat-ayat tidak memberitahukan kepada kita ke mana dia pergi dan apa yang terjadi padanya. Kisah ini sebagaimana kalian lihat semuanya penuh kejutan, membawa kalian dalam dunia yang tidak diketahui dan rahasia-rahasia yang tidak terjelaskan bagi Musa sendiri, dan dia tidak mengetahui tentangnya apa pun kecuali setelah hamba saleh itu memberitahukan perpisahannya, karena Musa tidak akan mampu bersabar bersamanya.
Dan jika engkau merenungkan keseluruhan kisah dan rahasia-rahasia yang terkandung di dalamnya, engkau dapat memahami rahasia kaitannya dengan ayat-ayat sebelumnya dalam surah ini. Surah ini dimulai setelah mukadimahnya dengan kisah ashabul kahfi (penghuni gua), dan urusan mereka sangat menakjubkan. Kisah itu tidak menjelaskan nama-nama mereka, tempat mereka, atau raja mereka, dan mengembalikan ilmu tentang itu dan lainnya kepada Allah. Pemuda-pemuda itu setelah terbangun berkata: “Tuhanmu lebih mengetahui berapa lama kamu tinggal (di gua)” (Surah Al-Kahf: 19). Dan orang-orang yang berselisih tentang urusan mereka berkata: “Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka” (Surah Al-Kahf: 21). Atau ini adalah perkataan Allah sebagai jawaban atas orang-orang yang berselisih itu.
Dan ketika disebutkan perbedaan pendapat manusia tentang jumlah mereka, Allah berfirman: “Katakanlah: Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit” (Surah Al-Kahf: 22). Dan tentang masa tinggal mereka di gua, Allah berfirman: “Katakanlah: Allah lebih mengetahui berapa lama mereka tinggal (di gua)” (Surah Al-Kahf: 26), meskipun Dia berfirman: “Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun” (Surah Al-Kahf: 25). Tetapi ini tidak boleh menyibukkan pikiran seorang Muslim, karena tidak ada manfaat yang diperoleh dari lama atau singkatnya waktu. Ini adalah alam gaib yang semuanya terjelaskan dalam kisah ini.
Dan setelah sejumlah petunjuk, datanglah kisah pemilik dua kebun. Kita tidak tahu siapa dia dan siapa temannya, di tempat mana dan di zaman kapan itu terjadi. Dan di dalamnya terdapat apa yang seharusnya ada pada seorang mukmin berupa kepercayaan kepada Allah, dan menyerahkan urusan kepada-Nya setelah bersyukur atas apa yang Dia berikan: “Dan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu, tidak mengucapkan (maa syaa Allah laa quwwata illaa billaah) apa yang dikehendaki Allah (terjadi), tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah” (Surah Al-Kahf: 39).
Dan setelah kisah ini datang pembicaraan tentang hari kiamat dan perhitungan makhluk, dan apa yang terjadi di alam tinggi tentang kisah penciptaan yang pertama, dan sikap Iblis terhadap sujud kepada Adam ‘alaihissalam. Semua itu adalah gaib. Bahkan penciptaan langit dan bumi serta penciptaan makhluk-makhluk adalah rahasia yang tidak diketahui kecuali oleh Allah. Dan Tuhan Yang Mahaperkasa dan Mahamulia tidak meminta bantuan dari para penyesat itu untuk menciptakan apa yang Dia ciptakan.
Dan datang pembicaraan tentang sikap orang-orang musyrik pada hari kiamat terhadap sekutu-sekutu mereka, dan azab neraka yang menanti mereka, dan bahwa Allah Yang Mahamulia dan Mahatinggi tidak meninggalkan hujjah bagi orang yang berdalih. Dia menjelaskan dalam Al-Quran ini berbagai perumpamaan, dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah. Dan manusia karena kebodohan mereka tidak merespons para rasul, melainkan membantah dengan kebatilan “untuk melenyapkan kebenaran dengannya, dan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan apa yang mereka diberi peringatan dengannya sebagai olok-olokan” (Surah Al-Kahf: 56)—sebagaimana dikatakan Tuhan kita. Dan Allah menjelaskan sunnatullah (hukum Allah) terhadap para pendusta, dan membuka bagi mereka pintu-pintu rahmat-Nya jika mereka merespons perintah Allah. Dan dari rahmat-Nya bahwa Dia tidak menyegerakan azab kepada mereka, melainkan mengakhirkan mereka hingga waktu yang ditentukan yang tidak akan mereka dapati tempat berlindung darinya. Dan pembinasaan-Nya terhadap siapa yang Dia binasakan tidak terjadi karena mereka minta disegerakan azab dengan mengejek dan mencemooh, melainkan setiap umat memiliki ajal: “Dan negeri-negeri itu Kami binasakan ketika mereka berbuat kezaliman, dan Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka” (Surah Al-Kahf: 59).
Ketika Allah menyebutkan semua itu, dan menjelaskan bahwa urusan-urusan berjalan di alam ini dengan ilmu, kekuasaan, dan kehendak-Nya, dan bahwa kembalinya makhluk adalah kepada-Nya untuk mempertanggungjawabkan mereka atas apa yang mereka lakukan di dunia ini, ketika Dia menyebutkan itu, Dia hendak memberikan kepada kita perumpamaan dengan apa yang terjadi antara Musa dan seorang hamba yang saleh, yang Allah berikan rahmat dari sisi-Nya dan mengajarkan kepadanya dari ilmu-Nya, agar kita belajar bagaimana seharusnya merendah diri, dan bagaimana kita mengembalikan ilmu tentang segala sesuatu kepada Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. Dan apa yang wajib bagi pelajar terhadap gurunya berupa kesabaran dalam menuntut ilmu, dan lain-lain yang ditunjukkan oleh kisah ini, dari kisah-kisah Al-Quran yang agung.
Maka bagaimana peristiwa-peristiwa kisah ini berlangsung?
Jika kalian merenungkan, kalian akan menemukan bahwa: Babak pertama darinya dimulai dengan Perjalanan Mencari Hamba Saleh.
Dan yang kedua: Perjalanan Rahasia bersama Hamba Saleh.
Dan yang ketiga: Ilmu Allah yang Tersimpan dan Pengungkapan Rahasia kepada Musa. Dan di akhir datang pelajaran-pelajaran yang dapat diambil.
Perjalanan Mencari Hamba Saleh
Maka mari kita mulai dengan babak pertama dalam perjalanan mencari hamba saleh. Dan dalam hal itu Tuhan kita berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun. Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut. Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: Bawalah kemari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini. Muridnya menjawab: Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu (besar) tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali. Musa berkata: Itulah (tempat) yang kita cari. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula” (Surah Al-Kahf: 60-64). Dan telah datang riwayat-riwayat yang menjelaskan sebab perjalanan ini. Imam Bukhari dan yang lainnya meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, dia berkata: “Aku berkata kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: Sesungguhnya Nauf Al-Bikali mengklaim bahwa Musa yang bersama Khidir ‘alaihissalam bukan Musa yang bersama Bani Israil. Maka dia berkata: Dusta musuh Allah. Aku mendengar Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Musa ‘alaihissalam berdiri berkhutbah di tengah Bani Israil, lalu ditanya: Siapakah manusia yang paling berilmu? Dia menjawab: Aku yang paling berilmu. Maka Allah mencela dia karena tidak mengembalikan ilmu kepada-Nya, lalu Allah mewahyukan kepadanya: Sesungguhnya seorang hamba dari hamba-hamba-Ku di pertemuan dua laut lebih berilmu darimu. Musa berkata: Wahai Tuhanku, bagaimana aku bisa menemuinya? Dikatakan kepadanya: Bawalah seekor ikan di dalam bakul, di mana engkau kehilangan ikan itu maka di sanalah dia berada. Maka berangkatlah dia bersama muridnya yaitu Yusya’ bin Nun, lalu Musa membawa seekor ikan di dalam bakul, kemudian dia dan muridnya berjalan hingga sampai ke batu… ” hadits.
Dan Ibnu Abbas tidak bermaksud dengan perkataannya: “Dusta musuh Allah” mencela Nauf Al-Bikali, karena Nauf ini adalah tabi’in yang jujur, dan dia adalah putra istri Ka’ab Al-Ahbar. Melainkan Ibnu Abbas mendustakan apa yang diriwayatkan Nauf dari ahli kitab. Maka perkataan Ibnu Abbas ini datang sebagai bentuk penguatan dan peringatan keras.
Dan murid Musa bukanlah seorang budak baginya, sebagaimana dipandang oleh sebagian mufassir, melainkan sebagaimana dikatakan Imam Nawawi, dia adalah sahabatnya. Karena Yusya’ adalah Yusya’ bin Nun bin Ifrayim bin Yusuf ‘alaihissalam. Dan pertemuan dua laut yang merupakan tempat pertemuan, adalah tempat ini yang Allah kabarkan kepada Musa bahwa dia akan menemukan hamba saleh di sana. Tetapi di tempat mana dua laut itu bertemu? Dari Qatadah dia berkata: “Laut Persia dan laut Romawi”. Dan dikatakan: Laut Yordania dan Qulzum, yaitu: Laut Putih dan Laut Merah, dan pertemuannya adalah tempat pertemuan keduanya di daerah Danau-danau Pahit dan Danau Buaya, atau pertemuan teluk Aqabah dan Suez di Laut Merah, sebagaimana disebutkan oleh penulis (Zhilal) dan Ibnu Hajar dalam (Fath Al-Bari).
Dan berkata Muhammad bin Ka’ab al-Quradhi: “Pertemuan dua laut itu di Tanjah (Tangier)”. Dan dari Ubay bin Ka’ab berkata: “Di Afrika”. Dan ini adalah pendapat-pendapat yang lemah dan tidak menggambarkan kenyataan; sebab bagaimana mungkin Musa dan pembantunya pergi ke ujung negeri Maghrib atau ke Afrika, sedangkan perjalanan ke Maghrib atau ke Afrika memerlukan waktu yang sangat lama. Maka yang paling tepat adalah apa yang disebutkan pertama kali, bahwa pertemuan dua laut itu berada di daerah danau-danau, atau di teluk Aqabah, yang menunjukkan bahwa perjalanan itu berada di dalam wilayah Mesir.
Dan Musa mengajak temannya dan sahabatnya Yusya’ bin Nun, dan berkata kepadanya: “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut” (Surat Al-Kahfi ayat 60) yaitu tempat perjanjian yang disebutkan Allah kepada Musa, atau aku akan terus berjalan untuk masa yang panjang, maksudnya: waktu yang lama tidak peduli seberapa lama waktu tersebut. Dan dalam perjalanan, kebersamaan itu menjadi baik, terutama jika kebersamaan itu dengan orang-orang seperti Yusya’ bin Nun dalam keikhlasan dan kecintaannya kepada Musa, dan kesediaannya untuk menanggung kesulitan perjalanan bersamanya. Dan dalam perkataan Musa kepada Yusya’ bahwa ia tidak akan menyibukkan dirinya dengan hal lain selain urusan ini, dan ia akan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk hal itu, hingga tercapai apa yang ia inginkan, itu adalah tekad untuk mencapai tujuan. Dan beginilah seharusnya orang yang ingin mencapai tujuan-tujuan, dan semakin tinggi tujuan-tujuan ini maka semakin tinggi maksudnya, dan semakin besar maksudnya maka semakin besar pula caranya.
Dan kisah ini meninggalkan ruang untuk perenungan guna melengkapi gambaran, ketika dikatakan: “Maka ketika keduanya sampai di pertemuan dua laut itu, mereka lupa ikan mereka” (Surat Al-Kahfi ayat 61). Dan kamu dapat mengatakan bahwa Musa setelah menceritakan kepada pembantunya tentang apa yang kamu ketahui, mereka memulai perjalanan dan berjalan dengan sungguh-sungguh dan giat hingga sampai ke pertemuan dua laut, dan di sana mereka lupa ikan mereka. Dan ikan itu tidak pernah disebutkan sebelumnya sebagaimana kamu lihat, namun Sunnah menjelaskan hal itu, dan menerangkan bahwa Allah memerintahkan Musa untuk membawa ikan yang diletakkan dalam keranjang, dan dalam riwayat: ikan yang asin, artinya: digarami. Dan makna ini adalah bahwa ikan itu telah dipanggang; karena jika ikan itu masih hidup lalu keluar dari keranjang ke laut, maka tidak akan ada yang mengherankan. Namun yang mengherankan adalah ikan yang telah dipanggang lalu hidup kembali, dan melompat ke laut dengan kuat.
Dan ini tidak bertentangan dengan apa yang diriwayatkan bahwa ikan itu telah mati; karena ia dipanggang saat sudah mati, bahkan ikan itu ketika melompat ke air, melakukan sesuatu yang tidak biasa dalam pergerakan ikan di air. Ia membelah laut membentuk jalan, yaitu: jalan seperti terowongan di gunung, karena Allah menahan darinya sebagaimana disebutkan dalam hadits jalannya air di laut, hingga seolah-olah bekas jejaknya di batu. Dan ikan itu melompat ke laut saat Musa sedang tidur, sedangkan Yusya’ sedang terjaga.
Dan ketika Musa bangun, ia melanjutkan perjalanannya, ia sedang tergesa-gesa, sehingga membuat Yusya’ lupa untuk memberitahunya bahwa ikan telah keluar dari keranjang ke laut. Dan ketika mereka melewati tempat itu, mereka merasa lapar, lalu Musa berkata kepada pembantunya: “Bawalah kepada kami makan siang kami; sungguh kami telah merasa letih dalam perjalanan kami ini” (Surat Al-Kahfi ayat 62). Dan mereka tidak merasakan kelelahan dan lelahnya perjalanan ini kecuali setelah melewati tempat itu, maka ini juga merupakan tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah.
Yusya’ berkata kepada Musa apa yang disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Tahukah kamu ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan, dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh” (Surat Al-Kahfi ayat 63). Yusya’ menceritakan kepada Musa apa yang terjadi dengan ikan itu, dan apa yang Allah tampakkan padanya dari tanda-tanda kebesaran-Nya yang luar biasa, yaitu menghidupkannya padahal ia telah mati dan dipanggang, dan melompat ke dalam air, dan tiba-tiba air itu membeku hingga seolah-olah seperti batu, dan ikan telah membelah jalannya di dalamnya yang kering, maka hal itu menjadi sumber keheranan. Dan tidak heran dari kekuasaan Allah. Maka Musa senang dengan hal itu, dan mengetahui bahwa ia telah mendekati tujuannya, lalu berkata kepada pembantunya: “Itulah (tempat) yang kita cari. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula” (Surat Al-Kahfi ayat 64), artinya: mereka kembali mengikuti jejak mereka hingga sampai ke tempat di mana mereka kehilangan ikan mereka “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami” (Surat Al-Kahfi ayat 65).
Perjalanan Rahasia dengan Hamba Saleh
Dan di sinilah dimulai babak kedua atau bagian kedua dari kisah ini, dan kami telah memberi judul untuk ini: Perjalanan Rahasia dengan Hamba Saleh. Maka perhatikanlah apa yang digambarkan Allah tentang hamba ini. Sesungguhnya Al-Qur’an menggambarkan orang ini sebagai hamba dari hamba-hamba Allah, dan penghambaan kepada Allah adalah sifat paling mulia yang dimiliki seorang manusia. Ini bukan penghambaan yang dipaksa, karena semua makhluk tunduk kepada-Nya dan semua adalah hamba bagi Allah, tetapi ini adalah penghambaan ketaatan, kedekatan dan keikhlasan kepada Yang Maha Esa. Dan yang pertama beribadah adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Allah telah menggambarkan para Nabi-Nya, wali-wali-Nya dan kekasih-kekasih-Nya dengan sifat mulia ini, dan menggambarkan Rasul-Nya Muhammad dengan itu dalam kedudukan yang paling agung dan tinggi, menggambarkannya dengan itu dalam peristiwa Isra’-nya, dan dalam penurunan wahyu kepadanya, dan dalam penyampaian risalah Tuhannya, dan ayat-ayat tentang hal itu jelas dan nyata.
Sebagaimana Allah menjelaskan bahwa Dia telah memberikan kepada hamba ini rahmat dari sisi-Nya, yaitu: rahmat yang besar yang dengannya ia memiliki kedudukan ini, dan ini adalah karunia dari Allah. Dan rahmat ini sebagaimana kalian ketahui, Allah memberikannya kepada orang-orang pilihan-Nya dari kalangan para Nabi dan Rasul dan lainnya. Dan di antara yang kalian ingat tentang hal itu adalah apa yang difirmankan tentang Zakariya: “(Ini adalah) kisah rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakariya” (Surat Maryam ayat 2), dan apa yang difirmankan tentang Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub: “Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi” (Surat Maryam ayat 50), dan tentang Musa berfirman: “Dan Kami anugerahkan kepadanya dari rahmat Kami saudaranya Harun, sebagai seorang Nabi” (Surat Maryam ayat 53), dan ayat-ayat lainnya.
Dan hal lain yang Allah berikan kepada hamba saleh ini adalah ilmu ketuhanan yang langsung dari sisi-Nya, sebagaimana difirmankan: “Dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami” (Surat Al-Kahfi ayat 65). Oleh karena itu diriwayatkan dalam hadits yang disebutkan oleh para imam hadits: “Bahwa Musa ‘alaihissalam ketika ia dan pembantunya Yusya’ datang ke batu itu, melihat seorang laki-laki yang tertutup kain di atasnya, lalu Musa memberi salam kepadanya, maka Khidir berkata kepadanya: Dari mana salam itu di tanahmu. Ia berkata: Aku adalah Musa. Ia berkata: Musa Bani Israil? Ia berkata: Ya. Ia berkata: Sesungguhnya engkau memiliki ilmu dari ilmu Allah yang diajarkan Allah kepadamu yang tidak aku ketahui, dan aku memiliki ilmu dari ilmu Allah yang diajarkan-Nya kepadaku yang tidak engkau ketahui. Musa berkata kepadanya: Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu…” hingga akhir kisah.
Jadi, marilah kita membaca bagian ini untuk melihat rahasia apa yang ada di dalamnya, sebagaimana diungkapkan oleh kata-kata dan ayat-ayat kisah ini. Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang: “(Musa) berkata: Itulah (tempat) yang kita cari. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula * Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami * Musa berkata kepada Khidir: Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu? * Dia menjawab: Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku * Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu? * Musa berkata: Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun * Dia berkata: Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu * Maka berjalanlah keduanya, hingga ketika keduanya menaiki perahu lalu Khidir melobanginya. Musa berkata: Mengapa kamu melobangi perahu itu sehingga kamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar * Dia (Khidir) berkata: Bukankah aku telah berkata: Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersamaku * Musa berkata: Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku * Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidir membunuhnya. Musa berkata: Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar * Khidir berkata: Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku? * Musa berkata: Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur kepadaku * Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidir menegakkan dinding itu. Musa berkata: Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu * Khidir berkata: Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya” (Surat Al-Kahfi ayat 65-78).
Mungkin kita telah melihat perjalanan rahasia dalam apa yang terjadi antara Musa dan hamba saleh ini, dan Sunnah telah datang menjelaskan dan menyebutkan ini, maka dikatakan ketika Musa berkata kepadanya: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu? * Dia menjawab: Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku * Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu? * Musa berkata: Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun” (Surat Al-Kahfi ayat 66-69), Khidir berkata kepadanya: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu” (Surat Al-Kahfi ayat 70). Ia berkata: Baik.
Maka Musa dan Khidir berjalan di tepi pantai laut, lalu lewatlah sebuah perahu, mereka meminta kepada penumpang perahu agar membawa mereka, maka mereka mengenali Khidir lalu membawa keduanya tanpa nawl, artinya: tanpa upah. Lalu Khidir mengambil papan dari papan-papan perahu dan mencabutnya. Maka Musa berkata kepadanya: Kaum yang membawa kita tanpa upah, engkau sengaja melubangi perahu mereka untuk menenggelamkan penumpangnya, sungguh engkau telah melakukan kesalahan yang besar. “Dia (Khidir) berkata: Bukankah aku telah berkata: Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersamaku * Musa berkata: Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku” (Surat Al-Kahfi ayat 72-73).
Kemudian keduanya turun dari perahu, dan ketika keduanya berjalan di pantai, tiba-tiba ada seorang anak yang bermain dengan anak-anak lain, lalu Khidir memegang kepalanya dan mencabutnya dengan tangannya lalu membunuhnya. Maka Musa berkata: “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar * Khidir berkata: Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?” (Surat Al-Kahfi ayat 74-75). Dan ini lebih berat dari yang pertama. “Musa berkata: Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur kepadaku * Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh” (Surat Al-Kahfi ayat 76-77).
Artinya: miring. Khidir memberi isyarat dengan tangannya begini, “maka Khidir menegakkan dinding itu”. Musa berkata kepadanya: Kaum yang kami datangi tidak menjamu kami dan tidak memberi kami makan, “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu * Khidir berkata: Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya” (Surat Al-Kahfi ayat 77-78).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semoga Allah merahmati Musa, aku berharap ia bersabar sehingga ia menceritakan kepada kami dari berita-berita mereka”. Dan bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Yang pertama dari Musa adalah karena lupa”. Dan datanglah seekor burung pipit hingga hinggap di tepi perahu, kemudian mematuk air laut, maka Khidir berkata kepadanya: “Ilmuku dan ilmumu tidak mengurangi ilmu Allah kecuali seperti apa yang dikurangi burung pipit ini dari laut”. Ditambahkan dalam riwayat: “Dan ilmu makhluk-makhluk”.
Sa’id bin Jubair berkata: “Dan Ibnu Abbas membaca: Dan di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas setiap perahu dengan paksa, dan ia membaca: Adapun anak muda itu adalah seorang yang kafir”. Dan dalam riwayat: “Ketika Musa ‘alaihissalam berada di tengah kaumnya mengingatkan mereka tentang hari-hari Allah, dan hari-hari Allah adalah: nikmat-Nya dan cobaan-Nya, tiba-tiba ia berkata: Aku tidak mengetahui di muka bumi ini ada orang yang lebih baik atau lebih berilmu dariku”. Dan disebutkan hadits itu.
Dan dalam hadits juga bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Rahmat Allah atas kami dan atas Musa, seandainya ia tidak tergesa-gesa niscaya ia akan melihat keajaiban, tetapi ia diambil oleh rasa kewajiban dari temannya -yaitu: kemarahan- karena apa yang ia lihat. Ia berkata: Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur kepadaku. Dan seandainya ia sabar niscaya ia akan melihat keajaiban. Dan adalah apabila ia menyebut salah seorang dari para Nabi, ia memulai dengan dirinya sendiri”. Dan ini dari kerendahan hatinya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kemudian disebutkan: Maka berjalanlah keduanya hingga ketika keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri yang buruk, lalu keduanya berkeliling di majelis dan meminta makanan kepada penduduknya, tetapi mereka enggan menjamu keduanya, hingga firman-Nya: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu” (Surat Al-Kahfi ayat 78). Dan ia memegang kainnya kemudian membaca hingga firman-Nya: “Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut” (Surat Al-Kahfi ayat 79) hingga akhir ayat-ayat. Maka ketika datang orang yang memaksanya dan mendapatinya berlubang, ia melewatinya lalu mereka memperbaikinya dengan kayu, hingga akhir penjelasan rahasia-rahasia yang dijelaskan oleh Khidir, atau Khidir kepada Musa ‘alaihissalam dan ‘ala nabiyyina assalam (kesejahteraan atas keduanya dan atas Nabi kami).
Jadi inilah rahasia-rahasia yang ada dalam penyertaan dan persahabatan ini dengan Khidir, dan bahwa ia melakukan hal-hal yang secara lahiriah tidak mungkin diterima, tetapi orang itu sejak awal membuat syarat kepada Musa, bahwa ia harus sabar, dan tidak boleh bertanya tentang sesuatu hingga ia menjelaskan rahasianya kepadanya. Namun Musa menemukan hal-hal yang ia tidak sanggup bersabar terhadapnya, maka ia lupa pada kesempatan pertama ketika naik perahu lalu Khidir melobanginya, ya ia memasang sepotong kayu untuk menutup tempat itu, tetapi kita akan mengetahui rahasia hal itu dari apa yang akan diungkapkan oleh hamba saleh ini kepada Nabi Allah Musa ‘alaihissalam.
Ilmu Allah yang Tersembunyi dan Penyingkapan Rahasia
Dan dari sinilah datang bagian ketiga dalam kisah agung ini dari kisah-kisah Al-Quran, yaitu penyingkapan rahasia, dan di dalamnya terdapat firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Adapun perahu itu adalah milik orang-orang miskin yang bekerja di laut, maka aku bermaksud merusaknya karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas setiap perahu dengan paksa. Dan adapun anak muda itu, kedua orang tuanya adalah orang-orang beriman, maka kami khawatir dia akan membebani mereka dengan kesesatan dan kekufuran. Maka kami menghendaki agar Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak yang lebih baik darinya dalam kesucian dan lebih dekat dalam kasih sayang. Dan adapun dinding itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, dan di bawahnya terdapat harta terpendam milik mereka berdua, sedangkan ayah mereka adalah orang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar mereka sampai pada kedewasaannya dan mengeluarkan harta terpendam mereka sebagai rahmat dari Tuhanmu. Dan aku tidak melakukannya atas kemauanku sendiri. Itulah penjelasan tentang apa yang tidak kamu sanggup bersabar terhadapnya.” (Surat Al-Kahf: 79-82).
Maka inilah rahasia dari apa yang diperbuat Khidir, sebagaimana dijelaskan oleh ayat-ayat mulia ini; di mana disebutkan bahwa perahu itu adalah milik orang-orang miskin yang bekerja di laut. Para imam mengambil pelajaran dari firman-Nya: “Adapun perahu itu adalah milik orang-orang miskin” (Surat Al-Kahf: 79) bahwa orang miskin adalah orang yang memiliki harta, namun tidak mencukupi untuk nafkahnya dengan cara halal. Maka mereka memiliki perahu, namun tetap disebut miskin.
Tetapi persoalan yang kita bahas ini menunjukkan kepada kita tentang apa yang ditugaskan kepada hamba saleh ini, berupa amal baik dan amal yang diberkahi. Bahwa perahu ini terancam akan dirampas oleh raja yang zalim, yang mengambil setiap perahu yang baik, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dan mungkin ini bukan qiraah (bacaan), tetapi ini termasuk tafsir.
Raja ini mengambil setiap perahu yang melewatinya dengan paksa tanpa ridha pemiliknya. Ketika dia menemukan cacat pada perahu, maka dia tidak akan mengambilnya. Maka Khidir mencabut sebuah papan darinya, padahal dia melihat bahwa papan ini tidak akan menyebabkan perahu tenggelam, dan tidak akan menenggelamkan penumpangnya. Namun demikian, kita melihat Musa keberatan dengan hal ini. Mereka adalah orang-orang yang telah membawa mereka berdua tanpa mengambil upah, lalu bagaimana Khidir melakukan ini terhadap perahu mereka. Tetapi rahasianya adalah bahwa dia ingin menyelamatkan perahu ini dari raja zalim yang mengambil setiap perahu yang baik yang melewatinya dengan paksa.
Adapun perkara kedua adalah perkara anak muda itu, dan perkara anak muda itu juga perkara yang mengherankan; karena perahu dan apa yang terjadi padanya, serta apa yang mungkin terjadi akibat pencabutan papan darinya, semua itu adalah perkara yang diduga. Tetapi Musa melihat Khidir sengaja menuju kepada seorang anak muda dari antara anak-anak muda, lalu mengambilnya dan mencabut kepalanya sehingga membunuhnya. Ketika Musa melihat itu, sebagaimana kita lihat, dia berkata: bahwa kamu telah melakukan perbuatan yang mungkar, dan perbuatan yang tidak bisa dibiarkan. Di sini dijelaskan kepadanya rahasianya bahwa anak muda ini kedua orang tuanya beriman, adapun anak muda ini kelak akan menjadi kafir, dengan ini dan berdasarkan ini Allah yang Maha Mengetahui yang gaib memberitahunya: “Maka kami khawatir dia akan membebani mereka dengan kesesatan dan kekufuran” ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya: “Maka kami khawatir dia akan membebani mereka dengan kesesatan dan kekufuran. Maka kami menghendaki agar Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak yang lebih baik darinya dalam kesucian dan lebih dekat dalam kasih sayang” (Surat Al-Kahf: 80-81), maka ini adalah amal yang diberkahi dan amal yang baik.
Dan barangkali di sini kita bertanya tentang rahasia hikmah dalam hal itu, maka kita katakan: hal itu kembali kepada ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat. Dia telah menciptakan manusia dan Dia tahu bahwa mereka kafir, dan mereka dari penghuni neraka, sebagaimana Dia menciptakan manusia dan Dia tahu bahwa mereka beriman, dan mereka dari penghuni surga. Mereka ini dan yang itu sesuai dengan hikmah dan sunnatullah dalam ciptaan-Nya. Maha Suci Allah, Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan dari sinilah terjelaskan hikmah pembunuhan Khidir terhadap anak muda ini.
Adapun dinding itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, dan di bawahnya terdapat harta terpendam milik mereka berdua, sedangkan ayah mereka adalah orang yang saleh. Jika dinding ini roboh, maka harta ini akan tampak, dan penduduk kota yang kikir ini akan menguasai harta-harta ini, dan kedua anak yatim itu tidak mampu membela harta mereka dari orang-orang jahat ini. Maka Tuhanmu menghendaki agar mereka sampai pada kedewasaannya, dan mengeluarkan harta terpendam mereka sebagai rahmat dari Tuhanmu. Ini adalah rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahwa dinding ini didirikan dan tetap berdiri hingga kedua anak yatim ini mencapai usia dewasa, agar mereka mengeluarkan harta terpendam ini dan memanfaatkannya. Khidir berkata: “Dan aku tidak melakukannya atas kemauanku sendiri”, tetapi ini adalah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian dia berkata: “Itulah penjelasan tentang apa yang tidak kamu sanggup bersabar terhadapnya” (Surat Al-Kahf: 82).
Pelajaran yang Dipetik dari Kisah Musa dan Khidir
Ini adalah ringkasan dan ikhtisar dari kisah Musa dan Khidir alaihimas salam, dan di dalamnya terdapat pelajaran yang bermanfaat dan nasihat yang mendalam, yang patut kita renungkan panjang lebar; di antaranya adalah bahwa menuntut ilmu memerlukan usaha dan jerih payah, dan setiap usaha dalam menuntut ilmu adalah usaha yang ringan; karena ilmu adalah kehidupan hati. Dalam kisah ini, sebagaimana kita lihat, terdapat pengaruh persahabatan, dan kebutuhan manusia untuk memiliki teman yang setia. Inilah Musa alaihis salam yang mengajak bersamanya Yusya bin Nun, yang menjadi temannya dan sebaik-baik teman. Dalam kisah ini juga terdapat kewajiban bagi pelajar untuk bersabar kepada yang mengajarinya, dan tidak tergesa-gesa menuntut hasil sebelum gurunya menyampaikan kepadanya apa yang dianggap pantas. Khususnya jika guru mensyaratkan kepada muridnya agar tidak bertanya sebelum dijelaskan kepadanya alasan-alasannya. Kita telah melihat apa yang terjadi dengan Musa alaihis salam bahwa ketika melihat perkara yang aneh, dia tidak sanggup bersabar terhadap apa yang dilihatnya, lalu mulai bertanya tentang rahasianya, bahkan berkata kepada Khidir: “Sungguh kamu telah melakukan sesuatu yang besar” (Surat Al-Kahf: 71) “Sungguh kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar” (Surat Al-Kahf: 74) “Jika kamu mau, niscaya kamu meminta upah untuk itu” (Surat Al-Kahf: 77), dan dari sinilah wajib bagi penuntut ilmu untuk bersabar.
Perkara penting dalam kisah ini; yaitu bahwa manusia wajib menyerahkan apa yang tidak mungkin dicapai akalnya untuk ditafsirkan kepada Allah Yang Maha Mengetahui yang gaib. Ini adalah takdir makhluk yang berjalan di alam semesta ini, dan di dalamnya kita lihat perbedaan dalam rezeki mereka, dalam keadaan mereka, dalam kesehatan mereka, dalam kemiskinan mereka, dalam anak-anak mereka, dalam kehidupan mereka, dan semua itu dengan takdir Allah Azza wa Jalla dan perintah-Nya. Inilah Khidir yang melakukan apa yang dilakukannya, dan Allah telah menjalankan melalui tangannya apa yang kita lihat dalam keadaan-keadaan ini.
Dan yang wajib bagi Musa adalah bersabar hingga terjelaskan baginya rahasia-rahasianya. Tetapi kita dalam posisi mengambil manfaat dari kisah ini, mungkin tidak mendapat kesempatan untuk mendapatkan orang yang menjelaskan kepada kita rahasia Allah dalam ciptaan-Nya. Maka hendaknya yang menjadi pemandu dan pembimbing kita dalam posisi seperti ini adalah firman Allah Azza wa Jalla: “Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, sedangkan mereka akan ditanya” (Surat Al-Anbiya: 23). Dan perkara lain dalam kisah ini adalah apa yang terjadi dengan kedua anak muda itu, dan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan mereka berdua, dan mengutus kepada mereka hamba saleh ini untuk mendirikan bagi mereka dinding itu, hingga mereka mencapai kedewasaan, dan hingga mereka mengeluarkan harta terpendam mereka. Dan itu tidak lain sebagaimana firman Allah: “Dan ayah mereka adalah orang yang saleh” (Surat Al-Kahf: 82).
Bahkan dikatakan bahwa ayah ini bukan ayah langsung, tetapi kakek yang ketujuh. Maka anak-anak mendapat manfaat dari kesalehan keturunan, dan inilah yang membuat manusia yang sadar dan berakal menjaga agamanya dan akidahnya, dan mengerahkan segenap kemampuannya dalam amal saleh agar ini menjadi simpanan baginya pada keturunannya.
Juga dalam firman Allah: “Dan aku tidak melakukannya atas kemauanku sendiri” (Surat Al-Kahf: 82) terdapat bukti bahwa ini adalah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan ini adalah bukti kuat bahwa Khidir adalah nabi, dengan apa yang telah disebutkan sebelumnya dari firman Allah: “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami” (Surat Al-Kahf: 65).
Bahkan yang lain mengatakan bahwa dia adalah rasul. Inilah yang harus dipahami dalam hal ini; karena Musa alaihis salam, yang adalah nabi utusan yang diajak bicara oleh Allah, tidak akan mengambil ilmunya dari yang lebih rendah darinya. Ini adalah pelajaran yang harus kita pahami dan mengerti dalam posisi ini, agar kita tidak memberi kesempatan kepada orang-orang yang mengklaim bahwa mereka diajak bicara, dan bahwa mereka diberi ilham, dan bahwa mereka melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan syariat, dan bahwa ulama syariat harus tunduk kepada ulama hakikat. Padahal Islam tidak mengenal pemisahan antara hakikat dan syariat. Hakikat dan syariat semuanya dalam pandangan Islam adalah sama, harus diatur oleh Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Oleh karena itu para ulama salaf berkata: Jika kamu melihat seseorang terbang di udara, atau berjalan di atas air, maka jangan kalian berkeyakinan padanya kecuali jika kalian mengukur keadaannya dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
Dan barangkali kita lihat dalam kisah Khidir alaihis salam bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentangnya: “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami” (Surat Al-Kahf: 65). Maka Allah menyifati Khidir sebagai hamba dari hamba-hamba Allah, dan bahwa Allah telah memberinya rahmat dari sisi-Nya, dan mengajarinya ilmu yang agung ini dari sisi-Nya. Ini menunjukkan kepadamu bahwa dia tidak melampaui syariat, dan tidak keluar dari batas-batasnya, tetapi dia adalah hamba dari hamba-hamba Allah.
Sebagaimana para nabi semuanya adalah hamba-hamba dari hamba-hamba Allah. Barangkali kalian sering membaca dalam Al-Quran firman Allah tentang Daud: “Dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat kepada Tuhan” (Surat Shad: 17). Dan firman Allah tentang Sulaiman alaihis salam: “Dan Kami anugerahkan kepada Daud, Sulaiman; dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat kepada Tuhan” (Surat Shad: 30). Dan tentang Ayyub alaihis salam: “Dan ingatlah hamba Kami Ayyub” (Surat Shad: 41). Sebagaimana Tuhan kita berfirman: “Dan ingatlah hamba-hamba Kami Ibrahim, Ishaq dan Yakub yang mempunyai kekuatan dan pandangan” (Surat Shad: 45). Dan ini adalah Rasulullah sebagaimana kita katakan, Allah berfirman tentangnya: “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha” (Surat Al-Isra: 1). Dan berfirman: “Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab” (Surat Al-Kahf: 1). Dan berfirman: “Dan sesungguhnya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyeru kepada-Nya, mereka hampir saja berdesakan mengerumuninya” (Surat Al-Jinn: 19). Dan Tuhan kita berfirman: “Katakanlah: ‘Jika Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah orang yang pertama-tama menyembah-Nya'” (Surat Az-Zukhruf: 81).
Maka Khidir adalah hamba dari hamba-hamba Allah seperti para nabi ini, dan ini tidak bertentangan dengan pendapat bahwa dia adalah nabi atau rasul.
Dan semoga Allah memberikan shalawat, salam dan berkah kepada Nabi kita Muhammad, dan kepada keluarga serta sahabatnya semuanya.
Pelajaran 15: Kisah Yusuf dengan Istri Al-Aziz
Bismillahir Rahmaanir Rahiim
Pelajaran Kelima Belas
(Kisah Yusuf dengan Istri Al-Aziz)
Di Hadapan Kisah Yusuf alaihis salam
Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Amma ba’du:
Ini adalah kisah Yusuf dengan istri Al-Aziz, dari kisah-kisah Al-Quran yang agung, datang seperti kisah-kisah sebelumnya dari kisah Ashabul Kahfi, dan kisah pemilik dua kebun, dan kisah Musa dan Khidir, tidak disebutkan dalam Al-Quran kecuali di satu tempat.
Dan dalam kisah Yusuf dengan istri Al-Aziz kita dapati bahwa ayat-ayat yang membicarakannya tidak disebutkan selain di Surat Yusuf, dan disebutkan dalam konteks pembicaraan tentang Yusuf alaihis salam ketika ayat-ayat surat tersebut membahas kisah Yusuf dengan ayahnya dan saudara-saudaranya, kemudian dengan istri Al-Aziz, sebagaimana disebutkan kehidupannya di penjara, dan apa yang terjadi pada urusannya, dan disebutkan keluarnya dari penjara, dan pengangkatannya sebagai menteri keuangan, ekonomi dan perbekalan, dan bahwa Allah memberinya kedudukan di bumi. Sampai akhir urusannya; di mana Allah mempertemukan dia dengan ayahnya dan saudara-saudaranya di tanah Mesir “Dan dia berkata: ‘Wahai ayahku, inilah takwil mimpiku dahulu, sungguh Tuhanku telah menjadikannya kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia mengeluarkan aku dari penjara dan membawa kamu dari dusun, setelah syaitan merusak (hubungan) antara aku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Ya Tuhanku) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.'” (Surat Yusuf: 100-101).
Al-Quran ketika menceritakan kepada kita peristiwa kisah ini, tidak menceritakannya hanya sebagai peristiwa untuk hiburan dan sejarah, tetapi menghubungkannya dengan tujuan-tujuan kisah dalam Al-Quran, di antaranya: bukti kebenaran Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam apa yang disampaikannya dari Tuhannya, dan bahwa Al-Quran ini dari Allah. Jika ini terbukti, maka wajib bagi yang menerimanya untuk beriman kepada Al-Quran ini sebagai manhaj dan dalil, dan kepada yang menurunkannya sebagai Tuhan yang disembah, dan kepada yang diturunkan kepadanya untuk diikuti dan ditaati. Oleh karena itu kamu lihat di awal kisah ada penentuan tujuan-tujuan ini; agar peristiwa-peristiwa kisah dibangun di atasnya. Maka Allah Subhanahu berfirman di awal surat: “Alif Laam Raa. Ini adalah ayat-ayat Kitab yang nyata. Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Quran berbahasa Arab, agar kamu mengerti. Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya sebelum (Kami mewahyukan) nya, kamu benar-benar termasuk orang yang tidak mengetahui.” (Surat Yusuf: 1-3).
Kemudian kisah dimulai dengan firman-Nya: “Ketika Yusuf berkata kepada ayahnya” (Surat Yusuf: 4) sampai akhir apa yang Allah Azza wa Jalla katakan. Dan di akhir kisah, setelah doa Yusuf alaihis salam kepada Tuhannya, Pencipta langit dan bumi, agar mewafatkannya dalam keadaan Islam, dan menggabungkannya dengan orang-orang yang saleh, Allah berfirman sebagai penegasan dan realisasi tujuan-tujuan kisah: “Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); padahal kamu tidak hadir bersama mereka, ketika mereka bersepakat membuat rencana dan mereka merencanakan tipu daya.” (Surat Yusuf: 102). Kemudian ayat-ayat mengomentari hal itu dengan menjelaskan sikap Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terhadap orang-orang musyrik, dan dengan mengambil pelajaran dan nasihat dari kisah, hingga ditutup dengan firman-Nya: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (Al-Quran) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Surat Yusuf: 111). Maka bagaimana peristiwa-peristiwa kisah Yusuf dengan istri Al-Aziz menjadi bagian dari kisah Yusuf dengan pihak-pihak lain yang menyertai perjalanan Yusuf sejak kecilnya hingga dia menjadi Al-Aziz Mesir, dan hingga Allah mempertemukannya dengan keluarganya.
Sesungguhnya kisah ini, jika kamu merenungkannya, maka akan kamu dapati bahwa ia terdiri dari beberapa episode atau bagian atau adegan, dimulai dari awal surat hingga berakhir dengan pengumuman tidak bersalahnya Yusuf; ketika raja mengumpulkan para wanita dan di antara mereka istri Al-Aziz, dan raja bertanya kepada mereka: “Katakanlah: ‘Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf?’ Mereka menjawab: ‘Maha sempurna Allah'” (Surat Yusuf: 51) hingga firman-Nya: “Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Surat Yusuf: 53). Untuk kemudian dimulai setelah cobaan-cobaan ini hari-hari karunia dan pemberian; di mana Yusuf menjadi dari orang-orang khusus raja dan orang-orang yang dekat dengannya, dan memegang perbendaharaan bumi, dan menempati kedudukan tinggi; maka dia menempati di bumi tempat yang dikehendakinya.
Dan kisah Yusuf berjalan menuju akhirnya untuk menjadi pelita yang menerangi jalan bagi orang-orang yang teraniaya dan tertindas dari kalangan sahabat-sahabat Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan bahwa kemenangan dan kemakmuran adalah bagi mereka, dan itulah sunnatullah terhadap hamba-hamba-Nya: Dan sungguh negeri akhirat lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu mengerti? Sehingga apabila para rasul telah berputus asa dan mereka yakin bahwa mereka telah didustakan, datanglah pertolongan Kami kepada mereka, lalu diselamatkanlah orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak azab Kami dari kaum yang berdosa (Yusuf: 109, 110).
Dan ketika kami mengatakan bahwa kisah Yusuf dengan istri Al-Aziz tersusun dari episode-episode atau babak-babak atau adegan-adegan, kami tidak bermaksud pembangunan ini dalam penyusunan kisah berupa pembagiannya menjadi babak-babak, di mana satu babak berakhir lalu dikatakan: babak kedua dan seterusnya, melainkan ayat-ayat mengalir jernih, manis, dan menyenangkan, keajaibannya menawan hati dalam keindahan kata-katanya, dan perpindahan bersamanya dari ayat ke ayat, tidak ada seorang pun yang ikut campur dalam awal ayat atau akhirnya, melainkan ini adalah wahyu Allah yang Dia wahyukan kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam, dan setiap tiga ayat adalah mukjizat yang Allah menantang dengannya manusia dan jin untuk mendatangkan yang semisal dengannya, namun mereka tidak sanggup melakukannya dan tidak akan pernah sanggup, maka di manakah gaya, bangunan, dan susunan kisah yang disusun oleh para sastrawan dan penulis dibandingkan dengan gaya dan bangunan kisah Alquran? Dan di manakah tanah dibandingkan bintang Pleiades?!
Namun engkau tidak dapat berbicara tentang apa yang terjadi dengan Yusuf bersama istri Al-Aziz sebelum engkau berhenti sejenak melihat sebab-sebab yang membawa Yusuf ke rumah pembesar Mesir, untuk mengetahui siapa Yusuf, dan apa yang terjadi dengannya hingga dia menjadi budak yang dijual di pasar-pasar padahal dia adalah orang mulia putra orang mulia putra orang mulia, Yusuf putra Yakub putra Ishak putra Ibrahim Al-Khalil alaihimus salam semuanya.
Surat ini dimulai sebagaimana kami sebutkan dengan huruf-huruf terputus {Alif Lam Ra}; untuk mengatakan: sesungguhnya ayat-ayat Alquran yang nyata tersusun dari huruf-huruf ini, maka ia bukan dari bahasa selain bahasa Arab, dan ayat-ayat yang tersusun dari huruf-huruf kemudian kata-kata ini, engkau mengucapkannya maka tiba-tiba ia adalah kata-kata seperti kata-kata yang diucapkan orang Arab, namun ketika ia berkumpul dengan sesamanya tidak ada seorang pun yang mampu mendatangkan yang semisal dengannya, maka di dalamnya terdapat rahasia Allah dan mukjizat-Nya bagi manusia, dan perumpamaan itu tidak lain seperti gambar-gambar ini yang engkau lihat di sana sini, dari apa yang dibuat manusia berupa gambar manusia dan hewan dan burung, meskipun menggambar itu tidak diperbolehkan, namun engkau melihatnya sebagaimana engkau melihat gambar-gambar pohon dan tumbuh-tumbuhan, maka apakah dalam kemampuan orang yang menggambar itu untuk menjadikan gambar-gambar ini berakal, mengerti, bertumbuh, sesungguhnya gambar-gambar itu kosong dari rahasia kehidupan, dan rahasia kehidupan adalah ruh yang merupakan urusan Tuhan Pencipta Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (Al-Isra: 85).
Dan ruh inilah yang membedakan antara perkataan makhluk dan perkataan Sang Pencipta, dan oleh karena itu Allah menamai Alquran-Nya dengan ruh maka Dia berfirman: Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Alquran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Alquran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Alquran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali segala urusan (Asy-Syura: 52, 53) dan oleh karena itu Dia berfirman, Maha Mulia yang telah berfirman: Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Alquran berbahasa Arab, agar kamu mengerti (Yusuf: 2)
Maka pengagungan dalam firman-Nya: Sesungguhnya Kami menurunkannya menunjukkan bahwa Alquran ini telah keluar dari Tuhan yang Maha Agung yang memiliki sifat-sifat keagungan dan kesempurnaan, turun dari Lauhul Mahfuzh pada malam yang diberkahi yaitu Lailatul Qadar, salah satu malam di bulan Ramadan, lalu ditempatkan di langit dunia di Baitul Izzah, kemudian Jibril menurunkannya berangsur-angsur kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dalam masa dua puluh tiga tahun, dengan bahasa Arab yang jelas dan terang, Dia menantang dengannya orang-orang yang fasih dan ahli pidato; agar dengan turunnya dalam bahasa Arab menjadi hujjah atas orang Arab Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka (Ibrahim: 4).
Maka ketika Alquran dalam bahasa mereka, itu adalah kehormatan bagi mereka Dan sesungguhnya Alquran itu benar-benar suatu kemuliaan bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab (Az-Zukhruf: 44) dan agar dengan turunnya yang berbahasa Arab, penjelasannya yang jelas, menjadi sesuatu yang mengajak untuk memahaminya dan merenungkannya, dan ketika para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam agar beliau menceritakan kepada mereka dari kisah-kisah Alquran yang dapat menghibur mereka, turunlah ayat-ayat yang menyebutkan kepada mereka kisah Yusuf, dan dimulai dengan firman Allah Tabaraka wa Taala: Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Alquran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui (Yusuf: 3) artinya: tidak ada pengetahuan bagimu tentangnya sebelumnya, adapun ketika engkau mengetahuinya, maka ini adalah bukti bahwa ia dari sisi Allah, dan bahwa engkau adalah Rasulullah.
Segi-segi bahwa kisah Yusuf termasuk kisah terbaik dalam Alquran, karena mencakup sebagaimana dikatakan Allamah Al-Alusi: “Seorang yang dengki dan yang didengki, pemilik dan yang dimiliki, saksi dan yang disaksikan, yang mencintai dan yang dicintai, penjara dan pembebasan, subur dan kering, dosa dan pengampunan, perpisahan dan pertemuan, sakit dan sehat, tinggal dan bepergian, hina dan mulia, dan telah memberikan faedah bahwa tidak ada yang dapat menolak takdir Allah Taala, dan tidak ada yang dapat menghalangi qadar-Nya, dan bahwa Dia Subhanahu apabila menakdirkan untuk seseorang kebaikan atau keburukan, maka seandainya penduduk dunia berkumpul untuk menolak itu mereka tidak akan mampu, dan bahwa dengki adalah sebab kehinaan dan kekurangan, dan bahwa sabar adalah kunci kelapangan, dan bahwa perencanaan berasal dari akal, dan dengannya urusannya kehidupan menjadi baik, hingga selain itu yang tidak mampu dituliskan oleh pena.”
Dan setelah pembukaan kisah ini, kisah dimulai dengan firman Allah Taala: Ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku” (Yusuf: 4), maka ia menarik perhatian kepada pentingnya kisah, dan bahwa ia pantas untuk tetap selalu dalam ingatan, penganut keimanan mengambil darinya pelajaran dan nasihat yang banyak, hal itu karena firman-Nya: Ketika Yusuf berkata kata “ketika” dinashobkan dengan membuang kata “ingatlah”, yakni: ingatlah waktu ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, dan yang dimaksud dari menyebutkan waktu -sebagaimana kalian ketahui- menyebutkan apa yang terjadi padanya, dan yang terjadi padanya adalah perkara besar, dimulai dalam mimpi itu yang Yusuf ceritakan kepada ayahnya Yakub, dan yang disebutkan oleh ayat tersebut.
Dan ayat-ayat tidak menyebutkan bahwa Yakub menafsirkan mimpi ini untuk anaknya, melainkan menasihatinya untuk merahasiakannya dari saudara-saudaranya agar mereka tidak membuat tipu daya yang merugikannya, karena dia -yakni: Yakub- melihat dari anak-anaknya kedengkian mereka terhadap cinta ayah mereka kepada Yusuf dan saudaranya, dan mimpi ini tetap ditafsirkan oleh peristiwa-peristiwa melalui perjalanan Yusuf, hingga datanglah penutup peristiwa-peristiwa dengan berkumpulnya Yusuf dengan kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya di tanah Mesir Dan dia berkata: “Wahai ayahku, inilah takwil mimpiku dahulu, sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya kenyataan” (Yusuf: 100) maka itu adalah dari keindahan alur kisah dalam Alquran, dan surat ini telah menyebutkan mimpi untuk masing-masing dari dua teman Yusuf di penjara, dan dia menafsirkannya untuk masing-masing dari mereka berdua, sebagaimana menyebutkan mimpi Raja yang para penafsir dari orang-orang dekat Raja tidak mampu menafsirkannya untuknya, maka Yusuf menafsirkannya, dan itu adalah sebab keluarnya dia dari penjara, dan kecintaan Raja kepadanya, dan pengangkatannya mengurus urusan-urusan ekonomi negeri.
Namun bangunan kisah hanya berdiri di atas mimpi Yusuf yang dia ceritakan kepada ayahnya, dan darinya adalah awal benang yang terikat dengannya, apa yang terjadi dengan Yusuf di semua tahapan hidupnya, dan setiap tahapan mewujudkan satu sisi dari mimpi ini, dan sebelum Alquran berpindah ke tahap pembicaraan tentang saudara-saudara Yusuf, ia membuat kita rindu kepada itu dengan apa yang disebutkannya dari nasihat Yakub kepada anaknya, agar tidak menceritakan mimpinya kepada saudara-saudaranya, dan bahwa setan mungkin membisikkan kepada mereka suatu perkara Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia (Yusuf: 5) dan dengan apa yang disampaikan Yakub kepada Yusuf bahwa dia mengharapkan untuknya masa depan yang besar; karena dia melihat bahwa Allah akan memilihnya sebagai nabi dan mengajarinya takwil mimpi, dan menyempurnakan nikmat-Nya atasnya dan atas keluarga Yakub sebagaimana Dia menyempurnakannya atas kedua orang tuanya dahulu Ibrahim dan Ishak, sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.
Maka itu adalah kabar gembira bagi Yusuf dengan kenabian, ilmu, hikmah dan penyempurnaan nikmat, namun dia khawatir atasnya dari saudara-saudaranya, dan ketika Yakub menyebutkan itu jiwa rindu untuk mengetahui apa yang terjadi dengan saudara-saudara ini, dan dimulailah pembicaraan tentang mereka dengan firman Allah Taala: Sesungguhnya pada kisah Yusuf dan saudara-saudaranya terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang bertanya (Yusuf: 7) dan dalam permulaan ini -sebagaimana kalian lihat- ada kerinduan untuk mengetahui apa yang terjadi, dan bahwa apa yang terjadi di setiap tahapan adalah ayat dan tanda yang jelas atas kekuasaan Allah, dan bahwa Dia Maha Menguasai urusan-Nya, bagi orang-orang yang bertanya tentang kisah ini, dan yang ingin mengambil pelajaran dari apa yang ada di dalamnya.
Peristiwa-Peristiwa Kisah
Dan kisah dimulai dengan pembicaraan yang terjadi antara saudara-saudara Yusuf, mereka mulai mencari solusi untuk masalah psikologis yang menguasai mereka: Ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata” (Yusuf: 8) dan meskipun ayah mereka tidak mengurangi kewajiban terhadap mereka, dan tidak mengharamkan mereka dari cintanya, namun mereka menemukan dia mengkhususkan Yusuf dan saudaranya Bunyamin dengan warna kasih sayang dan cinta lebih dari mereka; karena apa yang dia lihat dalam diri Yusuf dari sifat-sifat kesalehan, kecerdasan, dan akhlak yang baik, dan karenanya dia mencintai Bunyamin, karena ibu mereka satu, dan mereka melihat bahwa mereka lebih berhak dengan cinta ini karena mereka yang mengurus kepentingan-kepentingannya, maka mereka adalah golongan -yakni: kelompok- yang kuat, dengan orang-orang seperti mereka para ayah membanggakan, dan perhatikanlah ucapan mereka: Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata (Yusuf: 8) ini adalah dari buruknya adab; bagaimana anak-anak berkata kepada ayah mereka seperti ini, apalagi orang yang mereka sebutkan dalam hal itu adalah nabi dari para nabi Allah, dan ayat-ayat menggambarkan anak-anak ini dalam gambaran yang buruk ini di semua sikap mereka terhadap ayah mereka.
Lihatlah kepada apa yang mereka katakan kepadanya setelah mereka kembali kepadanya dari Mesir tanpa Bunyamin, maka kesedihannya sangat berat Dan dia berpaling dari mereka seraya berkata: “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf,” dan kedua matanya memutih karena kesedihan dan dia adalah orang yang menahan (amarahnya). Mereka berkata: “Demi Allah, kamu senantiasa mengingati Yusuf, sehingga kamu menjadi sangat tua atau (sampai) kamu menjadi orang yang binasa.” Yakub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui” (Yusuf: 84 – 86).
Dan perhatikanlah keadaan mereka ketika pembawa kabar gembira datang dengan baju Yusuf, maka ketika diletakkan di atas wajah Yakub penglihatannya kembali kepadanya, dan ketika dia berkata kepada mereka: Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal. Mereka menjawab: “Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam kesesatanmu yang dahulu”, dan saudara-saudara ini mulai memutarkan pendapat dalam apa yang mereka perbuat untuk menjauhkan Yusuf dari ayahnya, hingga menjadi bagi mereka kemuliaan sendiri, sebagian dari mereka berkata: bunuh Yusuf, dan yang lain berkata: buang dia ke suatu negeri, yakni bawa dia dan tinggalkan dia di negeri yang jauh dia tidak mampu kembali darinya kepada ayahnya, jika mereka melakukan itu kosong bagi mereka wajah ayah mereka, kemudian di sana mereka meminta ampun kepada Allah dari dosa mereka, dan ini adalah dari kebodohan dan buruknya adab terhadap Allah; karena ini membuka pintu bagi setiap orang yang ingin bermaksiat untuk berkata: aku membunuh, mencuri, berzina, kemudian bertobat, melainkan yang terjerumus dari yang terjerumus ke dalam maksiat di saat-saat kelemahan manusia, dan seakan-akan dia lalai dan bodoh, maka apabila dia tersungkur di wajahnya dan setan melemparkannya ke lautan dosa dia bangkit dari kejatuhannya dengan merendahkan diri menangisi dosa-dosanya sebagaimana firman-Nya Taala: Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal (Ali Imran: 135, 136)
Dan salah seorang saudara mengajukan kepada mereka usulan ketiga, dia adalah yang paling tua dari mereka, yaitu untuk menurunkannya ke dasar sumur yang dalam di jalan kafilah-kafilah, maka mungkin kafilah melewati sumur ini, dan mengambil air darinya, maka melihat Yusuf lalu mengambilnya, maka tercapai apa yang kita tuju yaitu menjauhkan Yusuf dari ayahnya, dan kita tidak melakukan kejahatan pembunuhan, maka mereka sepakat untuk itu.
Dan kisah berpindah ke adegan kedua, dan meninggalkan kekosongan yang diisi oleh pikiran, dan dia bertanya-tanya bagaimana mereka mampu melaksanakan rencana mereka dengan segala yang ada di dalamnya dari kekejaman dan kekerasan, engkau dapat mengatakan bahwa mereka setelah pertemuan setan ini pergi kepada ayah mereka untuk menipu dia dalam mendapatkan Yusuf, maka mereka menawarkan kepadanya bahwa mereka menginginkan dia menghabiskan bersama mereka waktu yang mereka senang dengannya, maka dia curiga dengan urusan mereka, maka apa yang mereka perbuat? Mereka berkata: “Wahai ayah kami, mengapa kamu tidak mempercayakan Yusuf kepada kami, padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengharapkan kebaikan baginya? Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia bersenang-senang dan bermain-main. Dan sesungguhnya kami pasti menjaganya” (Yusuf: 11, 12) maka dia berkata kepada mereka: Sesungguhnya kepergian kamu dengan dia sangat menyedihkanku dan aku khawatir dia dimakan serigala, sedang kamu lengah daripadanya (Yusuf: 13) maka seakan-akan dia ketika berkata kepada mereka itu menunjukkan kepada mereka alasan yang mereka mohon maaf dengannya kepadanya ketika mereka kembali dan telah melaksanakan apa yang mereka sepakati, dan mereka telah menegaskan kepada ayah mereka bahwa mereka akan menjaga dia, dan menenangkannya dengan baiknya pemeliharaan mereka untuk saudara mereka Mereka menjawab: “Sesungguhnya jika dia dimakan serigala, sedang kami golongan yang kuat, sesungguhnya kami kalau begitu adalah orang-orang yang merugi” (Yusuf: 14).
Dan mereka membawa Yusuf dari ayahnya, dan pergi dengannya ke sumur, dan di sana mereka mengikatnya dengan tali dan menurunkannya ke dalamnya, maka apabila dia meminta perlindungan kepada salah seorang dari mereka dia menamparnya dan mencacinya, dan apabila dia berpegang pada pinggiran sumur mereka memukul tangannya, kemudian mereka memotong talinya dari separuh jarak, maka dia jatuh ke dalam air lalu air menutupinya, maka dia naik ke batu yang ada di tengah sumur lalu berdiri di atasnya, maka manusia macam apa ini! Dan kejahatan apa itu yang dilakukan oleh saudara-saudara ini! Dan hati apa ini dalam kekerasannya dan kekejamannya! Namun Dia yang mengurus orang-orang saleh melemparkan ke dalam hati Yusuf dinginnya keamanan, dan memberitahunya bahwa dia akan selamat dari cobaan ini, dan akan ada urusan baginya, dan mereka akan datang kepadanya maka dia mengabarkan kepada mereka tentang apa yang mereka perbuat terhadapnya, namun saudara-saudara yang keras hati ini tidak terlintas di pikiran mereka itu, Allah Taala berfirman: Dan Kami wahyukan (ilhamkan) kepadanya: “Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tidak menyadari” (Yusuf: 15).
Dan janji Allah kepadanya telah terwujud ketika mereka datang kepadanya meminta kemuliaan darinya, setelah mereka datang kepadanya berkali-kali meminta bantuan pangan, maka ia berkata kepada mereka: “Apakah kamu mengetahui apa yang telah kamu perbuat terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu masih bodoh? Mereka berkata: ‘Apakah benar engkau ini Yusuf?’ Dia menjawab: ‘Akulah Yusuf, dan ini adalah saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia kepada kami. Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.’ Mereka berkata: ‘Demi Allah, sungguh Allah telah melebihkan engkau atas kami, dan sesungguhnya kami benar-benar telah berdosa.'” (Yusuf: 89-91)
Mereka telah meninggalkan Yusuf sendirian di dalam sumur dan pergi, dan sumur itu berbeda dengan sumur biasa; karena sumur tersebut sempit di bagian atasnya dan melebar di bagian bawahnya, sedangkan sumur biasa ukurannya sama, lebar dari atas sebagaimana lebarnya di bawah. Namun mereka memilih sumur ini dengan segala kegelapan dan kengerian yang ada di dalamnya, dan kembali kepada ayah mereka. Lalu apa yang mereka katakan kepada ayah mereka? Dan apa yang ayah mereka katakan kepada mereka?
Di sini Al-Quran berpindah untuk menampilkan adegan yang menggugah dari kisah ini, seolah-olah kamu dapat membayangkan mereka semua datang kepada ayah mereka di waktu malam, atau tepatnya dalam kegelapan malam, tanpa membawa Yusuf bersama mereka, dan adegan itu menggambarkan mereka sedang menangis. Mereka memilih waktu malam agar jejak sandiwara mereka di hadapan ayah mereka tidak terlihat pada wajah-wajah mereka. Mereka memberitahunya bahwa mereka pergi berlomba-lomba dan meninggalkan Yusuf dekat dengan mereka di tempat pakaian dan barang-barang mereka, lalu serigala menyerangnya dan memakannya. Karena merasa bahwa mereka berdusta, mereka berkata: “Dan kamu tidak akan percaya kepada kami” yakni: tidak akan membenarkan kami “sekalipun kami orang-orang yang benar.”
Untuk lebih menyembunyikan jejak kejahatan mereka, mereka datang kepada ayah mereka dengan membawa baju Yusuf yang ternoda darah, dan darah ini adalah darah anak domba yang mereka sembelih, dan mereka menodai baju itu dengan darahnya.
Sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Mujahid, dan Ibnu Abi Hatim serta Abu Asy-Syaikh meriwayatkan dari Qatadah, bahwa mereka mengambil seekor kijang lalu menyembelihnya dan menodai baju dengan darahnya. Ketika mereka membawanya, ayah mereka membalik-balikkan baju itu sambil berkata: “Aku tidak melihat bekas taring atau cakar pada baju ini, sungguh serigala ini penyayang.” Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ia mengambil baju itu dan meletakkannya di wajahnya dan menangis hingga wajahnya basah dengan darah baju itu, dan berkata: “Demi Allah, aku belum pernah melihat serigala yang lebih bijaksana dari ini, memakan anakku tapi tidak merobek bajunya.”
Di sinilah ayat-ayat berhenti untuk melukiskan adegan lain dari kisah ini, dan adegan ini dimulai dengan Yusuf di dalam sumur, tanpa makanan bersamanya, dan mungkin berhari-hari berlalu sehingga ia mati kelaparan. Sementara ia dalam keadaan seperti ini, tiba-tiba sebuah kafilah melewati tempat ini. Kafilah ini menuju ke Mesir, maka mereka mengutus salah seorang dari mereka untuk mengambil air dari sumur ini. Lalu terjadilah kejutan; karena ia menemukan seseorang yang bergelantungan pada ember. Ia melihat dan berteriak: “Kabar gembira! Ini seorang anak muda!” Lalu ia mengeluarkannya, dan ingin menyimpannya untuk dirinya sendiri, maka ia mengaku bahwa ia telah membelinya dari pemilik air. Menurut Ibnu Abbas, orang-orang yang menyembunyikannya sebagai barang dagangan adalah saudara-saudara Yusuf. Mereka menyembunyikan urusannya dan merahasiakan bahwa ia adalah saudara mereka, dan Yusuf merahasiakan urusannya karena takut saudara-saudaranya membunuhnya, dan memilih untuk dijual. Maka saudara-saudaranya menyebutkannya kepada pembawa air dari rombongan itu, lalu ia memanggil teman-temannya: “Kabar gembira! Ini seorang anak muda yang dijual.” Maka saudara-saudaranya menjualnya dengan harga murah, beberapa dirham yang sedikit, dan mereka tidak mempedulikannya. Seandainya pemilik kafilah menginginkannya tanpa harga, mereka akan memberikannya.
Rombongan itu pergi ke Mesir, dan menjualnya di pasar budak, dan orang yang membelinya adalah Al-Aziz Mesir, yaitu menterinya. Tampaknya ia tidak dikaruniai anak, oleh karena itu ia berkata kepada istrinya: “Berikanlah tempat yang baik kepadanya, mudah-mudahan ia bermanfaat bagi kita atau kita adopsi sebagai anak.” Dengan demikian tampak pengaturan Allah untuk Yusuf; karena dengan beradanya di rumah Al-Aziz Mesir ia akan mendapat perlindungan, keamanan, dan pengetahuan tentang keadaan negeri. Allah telah mengabarkan dua hal: bahwa Allah dengan kuasa-Nya telah memberi kedudukan kepada Yusuf di bumi, yaitu tanah Mesir, dan kedua: bahwa Allah mengajarinya tentang takwil mimpi. Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebutkan bahwa Dia berkuasa atas urusan-Nya, dan jika Dia menghendaki sesuatu, Dia menyiapkan sebab-sebabnya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Allah telah mewujudkan janji-Nya, maka ketika Yusuf mencapai kedewasaan, Allah memberinya hikmah dan ilmu, dan memilihnya sebagai nabi, dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
Yusuf dengan Istri Al-Aziz
Peristiwa kisah Yusuf dengan istri Al-Aziz terjadi setelah adegan-adegan dan pembukaan ini, maka disebutkan apa yang disebutkan jauh dari kerendahan penulis cerita, dan apa yang mereka sebut dengan sastra terbuka. Kisah ini mencapai tujuannya tanpa mengungkapkan satu kata pun yang membangkitkan atau menggerakkan syahwat, melainkan menyerunya kepada kesucian dan kesucian diri dalam pengendalian Yusuf terhadap perasaan dan nafsunya dengan ukuran takwa kepada Allah, dan dalam mengendalikan istri Al-Aziz dengan istighfar, taubat, dan kembali dari apa yang ia niatkan, inginkan, dan coba lakukan. Maka kata-kata Al-Quran terlihat sebagai cahaya yang menerangi jalan. Inilah Yusuf di rumah menteri Mesir bersama istrinya dalam satu rumah, dan Yusuf telah diberi separuh dari ketampanan. Jika ditambahkan kepada ketampanan penampilan, kecantikan wajah, dan kesegaran rupa, kebaikan akhlak, kesopanan lisan, dan kebaikan adab; maka hal itu mendorong istri Al-Aziz untuk mencintai Yusuf dan terikat padanya. Seandainya cinta ini hanya berupa kekaguman, penghormatan, dan penghargaan dari nyonya istana kepada pelayannya, itu adalah hal yang tidak masalah, tetapi ia berubah menjadi nafsu yang membara dan keinginan yang mendominasi untuk mendapatkan kenikmatan jasad. Maka ia mulai merayunya untuk dirinya dan berusaha agar ia melakukan dengannya apa yang ia inginkan dari perbuatan keji, sementara ia berpaling darinya dan tidak memperhatikan hal itu, dan tidak ada jalan lain selain terus terang karena sindiran tidak berhasil.
Ia mempersiapkan segala sesuatu untuk itu, menutup rapat pintu-pintu tempat itu pada dirinya dan Yusuf, dan ia telah bersiap untuk itu dengan segala macam perhiasan wanita, dan menyerunya kepada dirinya “dan berkata: ‘Marilah ke sini!'” yakni: kemarilah, ayo, aku telah siap untukmu. Lalu bagaimana sikap Yusuf pada saat-saat sulit ini yang jarang ada lelaki yang dapat bertahan menghadapinya, kecuali orang yang terpelihara dan dilindungi oleh perlindungan Allah, dan di antara mereka adalah Yusuf; karena ia berkata kepadanya: “Aku berlindung kepada Allah” yakni: sesungguhnya aku berlindung kepada Allah dan berlindung pada perlindungan-Nya dari melakukan apa yang memurkai-Nya. Dan ia mengingatkannya tentang kebaikan suaminya kepadanya, dan mengkhianatinya di rumah dan keluarganya adalah kezaliman, dan orang-orang yang zalim akan menuju kerugian. “Sesungguhnya dia (suamimu) adalah tuanku, dia telah memperlakukanku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan beruntung.” (Yusuf: 23)
Ketika cara-cara rayuan tidak berhasil, dan ketika ajakan terang-terangan tidak bermanfaat, ia beralih menggunakan kekuatan lalu menariknya ke arahnya sementara ia melarikan diri darinya. Dari rahmat Allah kepadanya bahwa ketika ia berniat padanya, ia tidak merobek bajunya, melainkan hal itu terjadi ketika ia berlari mengejarnya, hingga ia memegang bajunya dan merobeknya dari bagian belakang. Ayat-ayat menggambarkan adegan ini dengan cara yang tidak melukai kesopanan atau membangkitkan nafsu, melainkan kata-kata itu menggambarkan kesucian Yusuf dan perlindungan Allah kepadanya dengan mengatakan: “Dan wanita yang Yusuf tinggal di rumahnya merayu Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu dengan rapat serta berkata: ‘Marilah ke sini.’ Yusuf berkata: ‘Aku berlindung kepada Allah, sesungguhnya dia (suamimu) adalah tuanku, dia telah memperlakukanku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan beruntung.’ Dan sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (Yusuf: 23, 24)
Para mufassir banyak mengutip dari Ahli Kitab apa yang bertentangan dengan kemaksuman para nabi, padahal Allah telah bersaksi dalam ayat-ayat ini untuk nabi-Nya dengan apa yang meninggikan kedudukannya dan menyucikan pakaiannya, dan mengangkatnya dari kehinaan. Ayat-ayat menyebutkan bahwa ia melihat bukti dari Tuhannya, dan bukti ini adalah dalil yang pasti yang mencapai tingkat keyakinan, yang seolah-olah ia melihatnya dengan mata kepala. Bukti ini adalah hujjah Allah yang menunjukkan keharaman zina, kejinya, dan keburukannya. Ini seperti firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka ditimpa godaan setan, mereka ingat (kepada Allah), maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).” (Al-A’raf: 201)
Maksud Yusuf terhadapnya adalah kecenderungan fitrah terhadap hal seperti ini, tetapi hal ini tidak lebih dari khayalan yang lewat yang Allah palingkan darinya, dan menjaganya dari jatuh ke dalamnya, dengan apa yang Dia tanamkan di hatinya dari ilmu yang yakin tentang keharaman perbuatan ini. Dan orang yang jatuh dalam perbuatan seperti ini tidak bodoh bahwa ini haram, sebagaimana orang yang jatuh dalam kemaksiatan seperti pembunuhan, pencurian, dan meminum khamar tidak tersembunyi darinya bahwa ini haram. Tetapi yang penting adalah agar perasaan tentang keharaman hal-hal haram ini tetap menjadi nyala api di hati dan perasaan mukmin, setiap kali ia bermaksud jatuh ke salah satunya, nyala api ini menerangi jalannya, sehingga ia melihat bukti Tuhannya dan tanda-tanda-Nya yang menunjukkan keburukan dosa; seolah-olah tertulis di antara kedua matanya.
Demikian pula yang menolak apa yang dikatakan sebagian mufassir yang mencela kemaksuman Yusuf adalah firman Allah Ta’ala: “Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (Yusuf: 24) Yakni: ini adalah kebiasaan Allah dengan pemuda yang diberkahi dan nabi yang mulia ini, yaitu: sebagaimana ia melihat bukti Tuhannya lalu berpaling darinya, Allah selalu memalingkannya dari kemungkaran dan kekejian. Dan dengan apa yang ada dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih” sebagai dalil tentang sebab perlindungan Allah kepadanya dari jatuh ke dalam dosa, namun itu juga kesaksian dari Allah bahwa Yusuf adalah hamba yang dipilih, nabi yang terpilih, dan rasul yang tulus yang dipilih dari antara manusia; untuk menjadi tempat wahyu Allah dan perantara antara Allah dan manusia. Dan orang yang demikian, apakah masuk akal dikatakan tentang maksudnya terhadap istri Al-Aziz apa yang dikatakan.
Kisah ini melanjutkan penampilan adegan-adegannya, melukiskan gambaran Yusuf yang berusaha melarikan diri dan melepaskan diri dari istri Al-Aziz yang sedang bergejolak dan bergolak, yang lupa pada saat-saat ini akan kedudukan dan kehormatannya, dan ia berlari mengejarnya hingga memegang bajunya dan merobeknya. Ia telah sampai di pintu, dan ia berusaha mendahuluinya untuk membukanya agar dapat melarikan diri darinya, sementara ia berusaha sampai sebelumnya agar dapat mencegahnya keluar. Dan tiba-tiba tuannya -yaitu: suaminya- berada di pintu. Ketika melihatnya, ia mengendalikan dirinya, dan melemparkan tuduhan kepada Yusuf serta berkata kepada suaminya: “Berkata (wanita itu): ‘Apakah balasan bagi orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu,'” dan sebelum ia menjawab, ia memberinya petunjuk apa yang harus dilakukan sambil berkata: “‘selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?'” Ia tidak meminta kepada suaminya seperti yang kalian lihat untuk membunuhnya sebagai balasan perbuatannya, karena hatinya masih terikat padanya, dan ia takut ia dibunuh. Segera Yusuf berkata: “Yusuf berkata: ‘Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya).'” Dan ini adalah perkataan seorang pelayan di rumah tuan, dan kejadian itu dengan istri tuan ini. Dari mana ia mendapat bukti untuk menolak tuduhan ini terhadap dirinya, dan membuktikan bahwa dialah yang berusaha sekuat tenaga untuk mencapai tujuan buruknya.
Di sinilah kisah menampilkan perhatian Allah kepada hamba-hamba-Nya yang tulus, maka Allah menjadikan seorang laki-laki yang bersama Al-Aziz dari keluarganya berbicara dan berkata: “Jika baju gamisnya koyak di muka,” karena ini berarti ia mendorongnya dari dirinya sehingga bajunya robek dari depan, “maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta.” “Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar.” Ini adalah bukti bahwa ia berusaha melarikan diri dan lari darinya, dan ia berlari mengejarnya, dan memegangnya hingga merobek bajunya dari belakang. “Maka tatkala (suami itu) melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah,” yakni: Al-Aziz “‘Sesungguhnya (kejadian) itu adalah di antara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar. Hai Yusuf, berpalinglah dari ini,'” yakni jangan membicarakannya, dan jangan menyebutkannya kepada siapa pun. Dan ia menghadap istrinya mencela sambil berkata: “‘dan (kamu wahai isteriku), mohonlah ampun bagi dosamu itu, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang bersalah.'” (Yusuf: 29)
Tirai ditutup pada adegan ini untuk memulai adegan lain. Para wanita di rumah-rumah pembesar negara duduk berbicara dan berkata: “Isteri Al-Aziz menggoda budaknya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya budaknya itu telah menanamkan cinta berahi (kepadanya) yang sangat mendalam ke dalam hatinya. Sesungguhnya kami memandangnya berada dalam kesesatan yang nyata.” (Yusuf: 30) Dan pembicaraan tersebar di kota. “Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): ‘Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka.’ Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: ‘Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia.’ Wanita itu berkata: ‘Itulah dia yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan, dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina.’ Yusuf berkata: ‘Ya Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi kehendak mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.’ Maka Tuhannya memperkenankan doanya, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Yusuf: 31-34)
Meskipun kepolosannya dan kesuciannya telah terbukti, tampak bagi mereka karena kepentingan yang lebih kuat menurut mereka, yaitu menyembunyikan jejak kejahatan ini dan memotong lidah-lidah yang membicarakannya, bahwa mereka menempatkan Yusuf di penjara untuk periode waktu tertentu. Tetapi hari-hari berlalu dan tahun-tahun berlalu, dan raja melihat mimpi yang tidak dapat ditafsirkan oleh para penafsir mimpi, hingga salah seorang yang berada di penjara bersama Yusuf dan keluar, teringat bahwa di penjara ada Yusuf, dan bahwa ia biasa menafsirkan apa yang mereka lihat dalam tidur mereka. Maka ia datang kepadanya dan menyebutkan mimpi ini, lalu ia menafsirkannya. Raja memanggilnya, dan ini adalah kesempatan untuk menampakkan kepolosannya. Yusuf alaihissalam menolak keluar dari penjara hingga raja mendatangkan para wanita yang melukai tangan mereka dan menanyakan kepada mereka tentang urusan mereka. Maka raja mendatangkan mereka dan bersama mereka istri Al-Aziz serta bertanya kepada mereka: “Bagaimana halnya ketika kamu menggoda Yusuf?’ Mereka menjawab: ‘Maha Sempurna Allah, kami tidak mengetahui sesuatu keburukan dari padanya.'” (Yusuf: 51)
Pada saat itu, istri Al-Aziz berbicara dengan mengatakan: “Sekarang terungkaplah kebenaran” artinya menjadi jelas dan terang, “Akulah yang menggodanya untuk menuruti kemauanku” (Yusuf: 51), dan sesungguhnya dia (Yusuf) termasuk orang yang jujur dalam perkataannya. Kemudian dia melanjutkan dengan mengatakan: “Yang demikian itu agar dia mengetahui” (Yusuf: 52), yakni suaminya, “bahwa aku tidak mengkhianatinya di belakangnya” (Yusuf: 52), dan aku tidak melakukan perbuatan keji, “dan sesungguhnya Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat” (Yusuf: 52). Sesungguhnya yang terjadi hanyalah upaya rayuan, tidak sampai pada tingkat terjadinya kejahatan besar. Hal itu merupakan bisikan nafsu dan setan. “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Yusuf: 53).
Setelah Raja mendengar pembelaan yang jelas ini, dia berkata: “Bawalah dia kepadaku” (Yusuf: 54), yakni Yusuf, untuk mengangkatnya sebagai orang kepercayaannya. Ketika Raja berbicara dengannya, dia menemukan akal, ilmu, adab, dan hikmah. “Dia (Raja) berkata: ‘Sesungguhnya kamu pada hari ini mempunyai kedudukan yang tinggi lagi dipercaya di sisi kami'” (Yusuf: 54). “Yusuf berkata: ‘Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan'” (Yusuf: 55). “Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri itu (Mesir); dia berkuasa di mana saja dia kehendaki”.
Wahai anak-anakku, peristiwa kisah Yusuf berlanjut setelah dia menjadi wazir (menteri) Mesir, dan Allah memberikan kedudukan kepadanya di negeri itu. Peristiwa-peristiwa berlanjut sampai Allah mempertemukan dia dengan kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya. Maka dia memuji dan mengagungkan Allah dengan mengatakan: “Wahai Tuhanku, sungguh Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Ya Tuhanku) Pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat; wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh” (Yusuf: 101).
Semoga shalawat, salam, dan berkah Allah tercurah kepada Nabi kami Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya.
Pelajaran 16: Kisah Pemilik Kebun
Bismillahirrahmanirrahim
Pelajaran Keenam Belas (Kisah Pemilik Kebun)
Hubungan Kisah Pemilik Kebun dengan Awal Surah
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Amma ba’du:
Dalam kisah-kisah Al-Quran terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Di hadapan kita ada kisah lain dari jenis ini yang terdapat dalam Surah “Nun Wal-Qalam” (Nun dan Qalam), yaitu kisah pemilik kebun, yang akan kita pelajari dengan menggunakan metode tafsir maudhu’i (tematik) untuk Al-Quran Al-Karim. Selama ayat-ayat kisah ini berada dalam satu tempat—yakni dalam satu surah—maka seperti yang kalian ketahui, tidak perlu mengumpulkan ayat-ayat tentang topik ini dari berbagai surah agar gambarannya lengkap bagi kita. Kita akan memandangnya dengan pandangan yang teliti dan mendalam untuk menampilkan topik tersebut secara padu dan menyeluruh.
Adapun untuk topik-topik yang disebutkan dalam satu surah saja—seperti yang kalian lihat dalam kisah yang akan kita pelajari ini—maka hal itu dilakukan melalui mengaitkan kisah tersebut dengan tujuan surah, menjelaskan hubungannya dengan ayat-ayat sebelumnya, dan bagaimana kisah itu menghubungkan dengan ayat-ayat sesudahnya, sambil menampilkan peristiwa-peristiwa dan adegan-adegan kisah, serta bagaimana kisah itu mencapai tujuan-tujuannya.
Tujuan atau pokok bahasan yang menjadi dasar Surah “Al-Qalam” adalah menghibur Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, menenangkan hatinya, dan meneguhkan hatinya dengan menjelaskan kedudukannya, membantah musuh-musuhnya, dan bahwa akibat baik adalah untuknya, sedangkan kerugian, kehancuran, dan kebinasaan bagi orang-orang yang mendustakan risalahnya. Betapa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan orang-orang beriman bersamanya sangat membutuhkan hiburan, ketenangan, dan keteguhan ini setelah kekufuran menampakkan taringnya, dan orang-orang musyrik bangkit melakukan tipu daya terhadap Islam dan pengikutnya dengan tipu daya yang mengguncang gunung. Mereka melihat dalam agama ini bahaya terhadap apa yang mereka anut dari keyakinan yang rusak, keadaan yang buruk, kebiasaan yang usang, dan kondisi sosial yang memalukan, yang memungkinkan para pemimpin mereka untuk memaksakan kekuasaan mereka atas leher orang-orang yang lemah, menyedot darah mereka, dan memimpin mereka ke mana mereka kehendaki. Oleh karena itu, dahsyatlah pertempuran tersebut.
Meskipun Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memiliki kehormatan dan kedudukan tinggi di kalangan Quraisy—beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf, pilihan dari pilihan dari pilihan, beliau termasuk yang paling tinggi nasab dan hasabnya di kalangan Quraisy—namun beliau bukanlah termasuk pemilik harta dan pedagang, padahal itu adalah ukuran keagungan di setiap lingkungan yang kosong dari agama yang benar. Oleh karena itu mereka berkata: “Mengapa Al-Quran ini tidak diturunkan kepada orang besar (kaya dan berpengaruh) dari salah satu dari dua negeri ini (Mekah dan Thaif)?” (Az-Zukhruf: 31).
Orang-orang musyrik menggunakan segala tipu daya, kecerdikan, dan taktik yang mereka miliki untuk menghancurkan dakwah kebenaran. Mereka menuduh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan sihir dan kegilaan, mengejar beliau, dakwahnya, dan orang-orang beriman bersamanya di setiap tempat, melempari mereka dengan segala aib, menurunkan segala jenis siksaan kepada orang-orang lemah di antara mereka. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat besarnya pun tidak luput dari kekerasan mereka. Dari kehendak dan hikmah Allah, Dia melarang kaum muslimin membalas penganiayaan tersebut walau dengan satu kata pun. Allah hanya memerintahkan mereka untuk bersabar atas apa yang menimpa mereka sampai datang pertolongan Allah. Berlakulah hari-hari bahkan tahun-tahun, sementara orang-orang musyrik semakin keras, sampai Allah mengizinkan Rasul-Nya dan orang-orang beriman untuk hijrah ke Madinah Al-Munawwarah.
Barangsiapa ingin mengetahui apa yang dialami Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di Mekah berupa kesulitan, kepayahan, dan kesusahan, hendaklah dia membaca sirah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan sirah para sahabatnya pada periode yang sulit ini. Ayat-ayat Al-Quran turun menghidupkan hati yang mati, membangkitkan keridaan, dan meneguhkan langkah di jalan kebenaran. Di antara ayat-ayat tersebut adalah apa yang kita baca dalam surah yang penuh berkah ini, Surah “Nun Wal-Qalam”. Mari kita renungkan pembukaannya dan ayat-ayat yang terdapat di awalnya agar kita melihat hubungan kisah pemilik kebun dengan pembukaan dan ayat-ayat tersebut.
Surah dimulai dengan firman-Nya: “Nun”, yaitu huruf dari huruf-huruf terputus yang terdapat dalam pembukaan sebagian surah Al-Quran, seperti firman-Nya: “Shaad”, “Qaaf”, seperti: “Ha Mim” atau “Ha Mim ‘Ain Sin Qaaf” atau “Alif Lam Mim” atau “Alif Lam Mim Ra”, dan seterusnya. Telah disebutkan banyak pendapat tentang penjelasannya yang dinisbahkan kepada sebagian sahabat dan banyak mufassir. Yang paling mendekati dari apa yang dikatakan tentangnya—sebagaimana telah saya sebutkan sebelumnya—adalah bahwa huruf-huruf itu Allah turunkan sebagai tantangan, seakan-akan Dia berfirman kepada orang-orang yang Al-Quran diturunkan dengan bahasa mereka: Ini adalah huruf-huruf yang kalian susun darinya ucapan kalian, maka buatlah darinya kata-kata dan gabungkan untuk sebagiannya, dan tandinggilah dengannya Al-Quran ini, dan lihatlah pada ucapan kalian dan apa yang dibawa oleh wahyu Allah, agar kalian mengetahui bahwa ini adalah tingkatan tinggi yang tidak ada jalan untuk mencapainya. “Maka jika kalian tidak mampu membuatnya, dan (pasti) kalian tidak akan mampu membuatnya, maka peliharalah diri kalian dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir” (Al-Baqarah: 24). Maka terbukti ketidakmampuan mereka dan mereka kembali dengan hina. Betapa besar kemenangan ini bagi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, yaitu kemenangan yang terus diperbarui setiap kali turun ayat-ayat dari kitab Allah. Betapa besar ketenangan dan keteguhan dalam hal itu.
Kemudian Allah bersumpah dengan qalam (pena) dan apa yang mereka tulis, bahwa tuduhan orang-orang musyrik kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan kegilaan adalah tuduhan yang batil, dan bahwa Allah telah menyediakan untuknya pahala yang besar atas pelaksanaan kewajiban Allah kepadanya, dan bahwa beliau shallallahu alaihi wa sallam berada di puncak akhlak yang agung. Dalam sumpah ini dengan qalam dan apa yang mereka tulis dengan qalam, dan di awal surah dengan huruf dari huruf hijaiyah “Nun”, terdapat petunjuk tentang pengagungan Islam terhadap membaca dan menulis, karena keduanya adalah kunci kemajuan, pintu peradaban, dan dasar tamadun. Dan ini adalah ayat pertama yang turun kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang memerintahkan beliau untuk membaca dengan nama Tuhannya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya” (Al-‘Alaq: 1-5).
Bersamaan dengan sinar wahyu pertama, kamu melihat seruan kepada ilmu agar menjadi pelita yang dengannya manusia mendapat petunjuk dalam dunia dan akhiratnya, dan agar menjadi senjata paling tajam dalam pertempuran melawan kekufuran dan orang-orang kafir. Umat tanpa ilmu adalah umat yang tulangnya digerogoti kebodohan, dan nasibnya adalah kehancuran. Ilmu yang ditulis oleh pena-pena tidak terbatas hanya pada ilmu-ilmu agama saja, tetapi mencakup ilmu-ilmu agama dan dunia. Pena-pena yang menulis sesungguhnya menulis apa yang dicapai oleh pemikiran dan akal dari penelitian dan percobaan. Sejarah telah membuktikan bahwa tidak ada tempat bagi umat yang bodoh di antara umat-umat. Bersama alat-alat ilmu ada akhlak, yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah mencapai puncaknya, dan umatnya ditugaskan untuk meneladani beliau. Jika terkumpul baginya ilmu dan akhlak yang dibangun di atas keimanan kepada kebenaran, maka ia akan memimpin dan berbahagia. Inilah yang terwujud—sebagaimana kalian ketahui—pada generasi pertama yang membawa panji kebenaran, keadilan, kebaikan, cinta, dan perdamaian, lalu mengibarkannya di setiap tempat di bumi Allah.
Oleh karena itu datanglah ancaman kepada orang-orang yang mendustakan dan membangkang: “Maka kelak kamu akan melihat dan mereka pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila” (Al-Qalam: 5-6), yakni dengan tampaknya akibat perkara dengan kemenangan Islam dan berbaliknya mereka menjadi hina dan tunduk. Tidak mungkin Islam menang atas kekufuran sementara kaum muslimin bodoh tidak memiliki ilmu tentang agama atau dunia, dan tidak mungkin mereka memimpin dan kata-kata mereka tinggi, serta manusia berkumpul di sekitar mereka sementara mereka pemilik akhlak, lingkungan, dan sifat-sifat tercela. Oleh karena itu datanglah firman-Nya: “Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (Al-Qalam: 7), sebagai kesaksian bagi orang-orang beriman yang mendapat petunjuk, dan ancaman bagi orang-orang yang membangkang dan sesat. Dari landasan kekuatan dalam akidah, akhlak, baiknya hubungan dengan Allah, dan penguasaan kebenaran, datanglah petunjuk Al-Quran kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dan orang-orang beriman mengikuti beliau: “Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang yang mendustakan. Mereka menginginkan agar kamu bersikap lunak (toleran) maka mereka pun akan bersikap lunak (kepadamu)” (Al-Qalam: 8-9), artinya: janganlah kamu mengikuti mereka dalam apa yang mereka serukan kepadamu untuk meninggalkan dakwahmu, dan dalam mendamaikan mereka serta membiarkan mereka dalam ibadah mereka yang batil, padahal mereka siap untuk itu. “Mereka menginginkan agar kamu bersikap lunak maka mereka pun akan bersikap lunak” (Al-Qalam: 9).
Ayat ini adalah batas pemisah antara kekufuran dan keimanan, dan bahwa tidak ada pertemuan di antara keduanya. Tidak sepatutnya bagi para pembawa dakwah menutup mata mereka dari kebatilan dan pengikutnya demi keselamatan, dan menjauhi kesulitan jalan. Sesungguhnya ada kebenaran yang jelas yang tidak menerima kompromi. Sebagai penegasan makna ini dalam hal tidak tunduk dan menyerah kepada orang-orang yang mendustakan, datanglah larangan untuk tunduk kepada pemimpin kesesatan dari mereka yang memiliki akhlak buruk. Tuhan kita berfirman: “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah dan hina, yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah, yang sangat mencegah kebaikan, yang melampaui batas, yang banyak dosa, yang kasar, dan selain itu, yang tidak jelas asal-usulnya” (Al-Qalam: 10-13). Betapa buruknya sifat-sifat yang dimiliki oleh ahli kekufuran dan kesesatan. Kemudian Allah berfirman sambil mengancam dan memperingatkan serta menunjukkan keheranan terhadap keadaan salah seorang dari mereka yang Allah telah anugerahkan kepada mereka harta dan anak-anak, lalu dia mengingkari nikmat Allah, menolak wahyu Allah, dan berkata tentang Al-Quran dengan perkataan yang menunjukkan kebodohan dan kebobrokannya: “Karena dia mempunyai harta dan anak-anak, apabila ayat-ayat Kami dibacakan kepadanya, dia berkata: ‘(Ini adalah) dongeng-dongeng orang-orang dahulu'” (Al-Qalam: 14-15). “Kelak Kami akan memberi tanda (cap) pada belalainya (hidungnya)” (Al-Qalam: 16), artinya: Kami akan menjadikan baginya tanda di wajahnya yang dengannya dia dikenali di dunia dan akhirat.
Di dunia, dia akan dipukul dengan pedang sehingga pedang meninggalkan bekas di hidungnya yang dengannya dia dikenali. Di akhirat: “Kamu akan melihat orang-orang yang berdusta terhadap Allah, wajah mereka menghitam” (Az-Zumar: 60). Jika kita mengetahui bahwa ayat-ayat ini termasuk yang paling awal turun di Mekah, kita menyadari apa yang dibawanya berupa kabar gembira kemenangan bagi orang-orang beriman, dan bahwa mereka akan bertemu dengan orang-orang musyrik, termasuk di antaranya pemilik harta dan anak-anak, dalam suatu pertempuran dari pertempuran-pertempuran kebenaran, agar bagi orang-orang beriman ada pertolongan Allah. Dan hal ini terjadi di Badar. Ini seperti firman Allah: “Kelak akan dikalahkan golongan (yang berserikat itu) dan mereka akan mundur ke belakang” (Al-Qamar: 45). Ketika ayat ini turun, Umar radhiallahu anhu merasa heran lalu berkata: “Golongan mana yang akan dikalahkan?! Golongan mana yang akan ditaklukkan?!” Umar berkata: “Ketika tiba hari Badar, aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melompat-lompat dalam baju besi sambil berkata: ‘Kelak akan dikalahkan golongan (yang berserikat itu) dan mereka akan mundur ke belakang’. Maka aku mengetahui takwilnya pada hari itu.”
Sebagai penjelasan keadaan orang-orang musyrik pemilik harta dan anak-anak yang tidak bersyukur kepada Allah atas apa yang telah dianugerahkan kepada mereka, maka bagi mereka ada hukuman dan azab Allah di dunia dan akhirat, Allah mengemukakan kisah pemilik kebun dengan berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (penduduk Mekah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak mengucapkan Insya Allah (kalau Allah menghendaki)” (Al-Qalam: 17-18) sampai firman-Nya: “Demikianlah azab (di dunia) dan sungguh azab akhirat lebih besar, kalau mereka mengetahui” (Al-Qalam: 33). Lalu bagaimana Al-Quran menampilkan kisah ini?
Ini adalah kisah yang bukan sekadar cerita rekaan imajinasi yang dihadirkan oleh Al-Quran dengan menciptakan tokoh-tokohnya, menyusun peristiwa-peristiwanya, dan mengalirkan dialog antara para pelakunya untuk menampilkan suatu makna dari berbagai makna, dan memberikan perumpamaan dari berbagai perumpamaan, tanpa ada kenyataan dalam kehidupan. Namun Al-Quran mengungkapkan kenyataan hidup yang nyata dan konkret, serta menyebutkan sejarah orang-orang yang benar-benar mengalami peristiwa tersebut. Mungkin kalian menyadari bersama saya bahwa Al-Quran tidak menyebutkan siapa orang-orang yang mengalami peristiwa ini, sesuai dengan metodenya dalam menampilkan pelajaran dari kisah atau peristiwa yang dikemukakan. Al-Quran tidak peduli untuk menyebutkan nama-nama, karena penyebutan nama tidak mengubah hakikat sedikitpun, meskipun riwayat-riwayat telah menyebutkan identitas mereka. Sebagian ulama salaf menyebutkan bahwa orang-orang ini berasal dari Yaman. Said bin Jubair berkata: “Mereka berasal dari sebuah desa bernama Darwan, enam mil dari Sana’a.” Ada juga yang mengatakan: mereka berasal dari Habasyah. Ayah mereka telah mewariskan kebun ini kepada mereka, dan mereka termasuk ahli kitab. Ayah mereka mengelola kebun itu dengan cara yang baik. Hasil kebun yang dipanen digunakan untuk memenuhi kebutuhan kebun itu sendiri, menyimpan persediaan makanan keluarganya untuk setahun, dan sisanya disedekahkan. Ketika ayah mereka meninggal dan anak-anaknya mewarisinya, mereka berkata: Sungguh ayah kami ini bodoh karena menyedekahkan sebagian hasil kebun ini kepada orang-orang miskin. Seandainya kami mencegah mereka, maka semua hasil kebun itu akan menjadi milik kami. Ketika mereka bertekad melakukan hal itu, mereka dihukum dengan kebalikan dari niat mereka. Allah menghilangkan semua yang ada di tangan mereka sama sekali—modal pokok, keuntungan, dan sedekah—sehingga tidak tersisa apa-apa bagi mereka.
Al-Quran ketika menyajikan kisah ini—seperti yang kalian ketahui—menyajikannya dengan gaya yang menakjubkan, dengan struktur penceritaan yang lengkap dalam hal ketegangan dan alur cerita yang menawan, meskipun ini adalah kisah yang disampaikan melalui ayat-ayat yang jelas. Ayat-ayat ini berurutan dengan keindahan, kelembutan, dan kemegahannya. Betapa agungnya ayat-ayat ini.
Kisah ini dimulai dengan keterkaitan pada apa yang disebutkan di awal surat tentang penjelasan keadaan kaum musyrikin dalam kesombongan dan penolakan mereka terhadap dakwah kebenaran, meskipun dakwah itu jelas dan kuat pada dirinya sendiri, dan dari siapa yang membawanya kepada mereka, yaitu Nabi yang mulia, pemilik akhlak yang agung, yang dijuluki di antara mereka sebagai yang jujur dan terpercaya. Keadaan mereka dalam menolak dakwah Islam dan kekafiran mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya sama seperti keadaan para pemilik kebun, yang tidak menunaikan hak Allah dalam apa yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Al-Quran mengungkapkan tentang yang ini dan yang itu sebagai ujian. Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun” (Surat Al-Qalam: 17). Ujian bukan sekadar pemeriksaan dan pengujian, tetapi adalah pemeriksaan dengan cobaan yang menimpa manusia. Ini bisa terjadi dalam kebaikan atau keburukan, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan” (Surat Al-Anbiya: 35).
Raghib al-Asfahani berkata: “Menunaikan hak-hak kesabaran lebih mudah daripada menunaikan hak-hak syukur, sehingga pemberian nikmat menjadi ujian yang paling berat. Dengan pandangan ini Umar berkata: ‘Kami diuji dengan kesusahan maka kami bersabar, dan kami diuji dengan kemudahan maka kami tidak bersabar.'” Oleh karena itu Amirul Mukminin—yang dimaksud adalah Ali semoga Allah memuliakan wajahnya—berkata: “Barangsiapa dilapangkan dunianya dan dia tidak mengetahui bahwa dia sedang ditipu, maka sesungguhnya dia tertipu akalnya.”
Jika ujian dengan nikmat ini dari Allah, dan pengungkapan tentang Zat-Nya Yang Maha Mulia dengan firman-Nya: “Kami”, “Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun” (Surat Al-Qalam: 17), maka kita tahu bahwa ini adalah ujian yang berat, karena Allah dengan keagungan-Nya dan sifat-sifat kesempurnaan dan kemuliaan yang dimiliki-Nya adalah yang melakukan hal itu kepada hamba-hamba-Nya. Berapa banyak nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada kaum musyrikin, yang seharusnya mereka bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya yang banyak dengan beriman kepada-Nya, membenarkan Rasul-Nya, dan tunduk pada perintah-Nya. Namun mereka kufur kepada Allah, memerangi Rasul-Nya, dan menghalangi agama-Nya, sehingga mereka tidak lulus ujian ini. Perumpamaan mereka seperti perumpamaan para pemilik kebun yang diuji Allah dengan menganugerahkan kepada mereka kebun yang berisi berbagai macam buah-buahan. Pengungkapan dengan kata kepemilikan dalam firman-Nya: “pemilik-pemilik kebun” (Surat Al-Qalam: 17) adalah bukti kepemilikan mereka terhadap kebun mereka, seringnya mereka mendatanginya, dan bahwa kebun itu adalah tempat kegembiraan dan kebahagiaan mereka. Mereka pergi ke sana pagi dan sore. Ayah mereka berhasil sementara mereka gagal. Kisah ini merupakan ajakan untuk berbuat baik dan peringatan. Dengan permulaan ini, kisah membuat kita ingin tahu dan menantikan untuk mengetahui apa yang terjadi dengan orang-orang ini. Penjelasannya datang dalam firman-Nya: “Ketika mereka bersumpah sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak mengucapkan ‘insya Allah'” (Surat Al-Qalam: 17-18). Allah tidak menyebutkan apa yang dilakukan ayah mereka dalam memuliakan orang-orang miskin dan berbuat baik kepada orang-orang miskin, dan apa yang terjadi karenanya berupa keberkahan dalam rezeki dan melimpahnya hasil kebunnya, karena perumpamaan diberikan untuk orang yang kufur terhadap nikmat Allah, dan inilah tempat pelajaran. Al-Quran melewati peristiwa-peristiwa yang mendahului sumpah mereka ini untuk membiarkan kita menggunakan pikiran kita. Kita membayangkan anak-anak ini di masa hidup ayah mereka melihatnya yang murah hati dengan sebagian dari buah kebunnya kepada orang-orang miskin, dan mereka melihat apa yang dihasilkan kebun mereka berupa berlimpahnya buah-buahan ini. Mereka telah dewasa dan memiliki anak-anak, dan mereka melihat perbuatan ayah mereka lalu menganggap bahwa apa yang dilakukannya adalah pemborosan yang tidak pantas. Mereka berpikir seandainya dia menghalangi orang-orang miskin dan mencegah mereka mengambil sesuatu dari buahnya, maka itu akan lebih baik, karena mereka akan mendapatkan semua hasil kebun itu.
Oleh karena itu, begitu kebun itu menjadi milik mereka setelah wafatnya ayah mereka, mereka langsung mengadakan pertemuan dan bermusyawarah di antara mereka. Mereka sepakat tentang rencana yang akan mereka lakukan untuk mencegah orang-orang miskin dan fakir mendapatkan sesuatu dari buah kebun ini. Al-Quran melewati semua gambaran ini untuk menampilkan gambaran anak-anak lelaki saleh itu yang dikuasai oleh kemarahan, diselimuti amarah yang dahsyat dan kebencian terhadap apa yang telah disia-siakan ayah mereka selama beberapa tahun. Mereka berkata seperti yang telah kalian dengar: sungguh ayah kami ini bodoh, dan jika kami melakukan apa yang dia lakukan, maka urusan kami akan menjadi sempit padahal kami memiliki banyak tanggungan keluarga.
Sebagai penguatan dan penegasan atas apa yang mereka sepakati, mereka bersumpah akan memotong buah-buahannya di pagi hari yang sangat awal, sebelum orang-orang miskin dan fakir mengetahui kepergian mereka dan pemotongan buah kebun mereka. Pengungkapan kisah tentang pencegahan mereka terhadap orang-orang miskin memiliki makna dan petunjuknya. Hal itu dimulai dengan sumpah, sebagai penegasan atas apa yang mereka tekadkan, dan tidak disebutkan apa yang mereka gunakan untuk bersumpah agar kita membayangkan setiap yang agung bagi mereka yang mungkin mereka gunakan untuk bersumpah. Meskipun ayat-ayat menunjukkan bahwa mereka beriman kepada Allah, yang menguatkan bahwa mereka termasuk ahli kitab, karena disebutkan di akhir kisah perkataan mereka: “Mudah-mudahan Tuhan kami akan mengganti kami dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu. Sesungguhnya kami kepada Tuhan kami sangat berharap” (Surat Al-Qalam: 32). Dari itu dipahami bahwa mereka bersumpah dengan nama Allah. Perhatikanlah apa yang mereka sumpahi, yang menggabungkan dua hal: perbuatan dan waktu. Adapun perbuatan, yaitu dalam firman-Nya: “akan memetik (hasil)nya” (Surat Al-Qalam: 17). Sedangkan waktu adalah dalam firman-Nya: “di pagi hari” (Surat Al-Qalam: 21). Memotong sesuatu artinya memisahkannya. Ini bukan sekadar memotong sesuatu dari sesuatu, tetapi pemotongan yang tidak menyisakan apa-apa.
Raghib berkata: “Pedang yang tajam adalah yang menembus, unta yang dipotong putingnya seolah-olah putingnya dipotong sehingga susunya tidak keluar sampai kuat, tahun telah berlalu dan sesuatu terputus berarti terpisah, dan keadaannya menjadi buruk.” Adapun waktu adalah dalam firman-Nya: “di pagi hari” yaitu memasuki waktu pagi yang sangat awal. Ditambahkan pada apa yang mereka tekadkan dan mereka sumpahi firman-Nya: “dan mereka tidak mengucapkan ‘insya Allah'” (Surat Al-Qalam: 18). Ini artinya: mereka tidak mengatakan “insya Allah” (jika Allah menghendaki), atau mereka tidak mengecualikan seorangpun dari orang-orang miskin yang mereka anggap sebagai miskin yang berhak menerima sedekah. Mereka bersikeras mencegah setiap orang miskin dan fakir. Kedua makna ini diperbolehkan.
Berapa banyak orang yang merencanakan urusannya dan merancang rencananya untuk melakukan sesuatu, dan mereka yakin bahwa mereka pasti akan mencapai tujuan mereka. Mereka tidak tahu bahwa yang mengatur urusan adalah Allah. Kepada-Nyalah dikembalikan semua urusan. Bersama dengan mengambil sebab-sebab, hamba menyerahkan urusan kepada Allah dengan mengatakan “insya Allah”. Allah telah berfirman kepada Rasul-Nya—sebagaimana kita lihat dalam kisah Ashabul Kahfi—: “Dan janganlah sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu, ‘Sesungguhnya aku akan melakukan itu besok,’ kecuali (dengan menyebut) ‘insya Allah’. Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila kamu lupa dan katakanlah, ‘Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kepada kebenaran daripada ini'” (Surat Al-Kahfi: 23-24). Ini sebagian dari apa yang dipahami dari firman Allah Ta’ala di akhir Surat Hud: “Dan kepunyaan Allah-lah yang gaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan” (Surat Hud: 123).
Para Pemilik Kebun dan Akibat Perbuatan Mereka
Kisah beralih untuk menggambarkan adegan lain dalam menghadapi rencana para pemilik kebun dan apa yang mereka tekadkan. Ini adalah ketentuan Allah. Firman-Nya: “Maka datanglah kebun itu dengan azab dari Tuhanmu, di waktu mereka sedang tidur, sehingga jadilah kebun itu seperti tanaman yang buahnya telah dipetik” (Surat Al-Qalam: 19-20). Perhatikanlah keindahan penyajian dalam ketelitian perbandingan antara perbuatan manusia dan perbuatan Tuhan manusia, Tuhan langit dan bumi. Kedua ayat ini menampilkan adegan dari pendahuluan dan akibat dalam gambar seni yang cepat, yang membangkitkan perasaan dan emosi. Huruf fa dalam firman-Nya: “Maka datanglah” (Surat Al-Qalam: 19) menunjukkan bahwa perintah Allah turun ke kebun mereka setelah mereka bertekad melakukan perbuatan itu dengan sangat cepat. Azab yang menimpa kebun itu berarti melingkupinya dari setiap sisi. Ini berarti tidak meninggalkan satu tempatpun.
Pengungkapan dengan kata ketuhanan yang ditambahkan kepada yang diajak bicara, yaitu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, atau kepada setiap yang layak diberi khitab, mengandung penampakan dominasi Allah dan kekuasaan-Nya untuk melakukan apa yang Dia kehendaki. Di dalamnya terdapat perhatian kepada bahwa orang-orang ini tidak memahami dan tidak menyadari bahwa apa yang menjadi milik mereka berupa kepemilikan kebun ini sesungguhnya adalah pemberian Allah semata dan karunia-Nya, dan bahwa apa yang dihasilkan kebun itu berupa buah-buahan adalah nikmat dari Allah yang layak disyukuri. Firman-Nya: “di waktu mereka sedang tidur” (Surat Al-Qalam: 19) melengkapi gambaran agar kita membayangkan orang-orang ini dalam kelalaian mereka, tenggelam dalam tidur mereka, tidak mengetahui apa yang Allah tetapkan terhadap kebun mereka. Gambaran ini juga menunjukkan tumpulnya perasaan mereka, bahwa tidak tergerak dalam diri mereka sedikit pun rasa kasihan dan belas kasih kepada orang-orang miskin, dan mereka tidak merasa sedih karena mencegah orang-orang miskin ini. Mereka pergi ke rumah mereka lalu tidur dengan nyenyak seolah-olah mereka tidak melakukan apa-apa.
Allah mengancam orang yang tidak menganjurkan memberi makan orang miskin dengan azab yang buruk. Allah berfirman: “Tangkaplah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya, kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala, kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Agung, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin” (Surat Al-Haqqah: 30-34). Bagaimana dengan orang yang mencegah orang-orang miskin dari kebaikan dan kemurahannya? Adapun akibatnya: “sehingga jadilah kebun itu seperti tanaman yang buahnya telah dipetik” (Surat Al-Qalam: 20). Kata “sharim” yang kita lihat dalam perkataan para pemilik kebun: “Ketika mereka bersumpah sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari” (Surat Al-Qalam: 17), dan akan kita baca dalam “Berangkatlah ke kebun kamu di pagi hari, jika kamu benar-benar akan memetik (hasil)nya” (Surat Al-Qalam: 22).
Kata ini tidak disebutkan dalam Al-Quran kecuali dalam surat ini. Artinya, sebagaimana disebutkan Raghib dan lainnya, adalah terpisahnya sesuatu dari sesuatu. Di sini artinya: azab yang menimpa kebun itu menggugurkan semua buah-buahnya sehingga tidak menyisakan apa-apa. Ibnu Abbas berkata tentang “sehingga jadilah kebun itu seperti tanaman yang buahnya telah dipetik” (Surat Al-Qalam: 20): “seperti abu yang hitam.”
Alusi berkata: “Ini menurut bahasa suku Khuzaimah.” Dari Ibnu Abbas juga: “Sharim adalah gundukan pasir di Yaman yang dikenal tidak menumbuhkan apa-apa.” Mundzir, Farra, dan sekelompok ulama berkata: “Sharim adalah malam,” yang dimaksud adalah menjadi terbakar menyerupai malam dalam kegelapannya. Ini adalah makna-makna yang berdekatan.
Kisah meninggalkan urusan kebun dan apa yang terjadi padanya berupa terbakarnya pohon-pohonnya dan musnahnya buah-buahnya secara total, untuk kembali kepada para pemiliknya yang bangun di pagi hari yang sangat awal, sementara mereka masih bersikeras mewujudkan apa yang mereka sepakati. Renungkanlah bersama saya penggambaran Al-Quran terhadap mereka seolah-olah kita melihat mereka sebagai gambaran yang nyata: “Maka mereka saling memanggil di pagi hari (katanya): ‘Berangkatlah ke kebun kamu di pagi hari, jika kamu benar-benar akan memetik (hasil)nya.’ Maka mereka berangkat, sedang mereka berbisik-bisik: ‘Janganlah sekali-kali kamu izinkan seorang miskin pun memasukinya hari ini.’ Dan mereka pergi dengan pagi-pagi, dengan niat menahan (orang-orang miskin), sedang mereka mempunyai kuasa (untuk itu)” (Surat Al-Qalam: 21-25).
Inilah mereka yang telah bangun di pagi hari sebelum terbit matahari, masing-masing dari mereka memanggil saudaranya untuk membangunkannya. Ini menunjukkan semangat dan kegigihan mereka dalam melaksanakan rencana mereka. Masing-masing dari mereka berkata kepada saudara-saudaranya: mari kita pergi bersama ke kebun kita, jika kalian ingin memotong buah-buahnya sebelum datangnya orang-orang miskin, sebagaimana kebiasaan mereka. Dengan cepat mereka berkumpul dan berangkat sambil berbisik-bisik, yaitu berbicara dengan suara rendah, saling berwasiat di antara mereka, dan menegaskannya dengan berkata: “Janganlah sekali-kali kamu izinkan seorang miskin pun memasukinya hari ini.” Mereka berjalan dengan cepat menuju kebun mereka dipenuhi kemarahan, dan mereka yakin bahwa mereka mampu mencegah orang-orang miskin. Ayah mereka yang dalam pandangan mereka menyakiti mereka telah meninggal, karena memberi kepada orang-orang miskin apa yang dia berikan. Bahkan lelaki itu memberi tahu orang-orang miskin tentang jadwal panen buah kebunnya agar mereka hadir untuk mendapatkan kebaikan dan kemurahannya. Tapi sekarang kebun ini adalah milik khusus mereka, sehingga mereka dapat melaksanakan di dalamnya apa yang mereka inginkan. Kata “hard” dalam firman-Nya: “Dan mereka pergi dengan pagi-pagi, dengan niat menahan (orang-orang miskin)” (Surat Al-Qalam: 25) tidak disebutkan dalam Kitab Allah kecuali dalam ayat ini, seolah-olah pemilihan kata-kata yang unik dalam Al-Quran ini sesuai dengan bahwa kisah ini juga unik yang tidak disebutkan dalam Al-Quran kecuali dalam surat ini, Surat Al-Qalam.
Maka apa yang terjadi pada mereka ketika mereka tiba di pagi hari ke kebun mereka, di sini datang pemandangan lain yang digambarkan oleh kata-kata ayat-ayat yang mengatakan: “Maka ketika mereka melihat kebun itu, mereka berkata: ‘Sesungguhnya kita benar-benar telah tersesat.’ Bahkan kita tidak mendapat apa-apa (dari kebun itu). Yang paling bijaksana di antara mereka berkata: ‘Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu).’ Mereka berkata: ‘Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.’ Maka sebagian dari mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling menyalahkan. Mereka berkata: ‘Sungguh celaka kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang melampaui batas. Mudah-mudahan Tuhan kami akan mengganti untuk kami dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu, sesungguhnya kami mengharap (rahmat) Tuhan kami.'” (Surah Al-Qalam: 26-32).
Dan antara pemandangan ini dengan yang sebelumnya terlihat jarak yang diisi oleh pemikiran untuk mengatakan: bahwa anak-anak ini setelah masing-masing dari mereka bangun pagi-pagi memanggil saudara-saudaranya untuk keluar bersama-sama di pagi hari, kemudian mereka berangkat dengan kelompok mereka berbicara dengan suara yang rendah agar tidak menarik perhatian orang-orang kepada mereka, dan mereka menegaskan apa yang mereka rencanakan di malam hari yaitu untuk menghilangkan hak orang-orang miskin, dan mereka mulai mengira—karena kebodohan mereka—bahwa mereka mampu menguasai buah-buahan kebun mereka, dan menikmatinya sendiri, tanpa memberikan sesuatu pun kepada orang-orang fakir, maka mereka berjalan hingga sampai ke kebun mereka; maka apa yang terjadi?
Al-Quran mengungkapkan hal itu dengan kata-kata ini, yang mengandung kesedihan dan dukacita, dan menggambarkan keheranan yang melanda anak-anak ini, ia menyebutkan bahwa mereka begitu tiba dan melihatnya, mereka mengingkari diri mereka sendiri, dan karena sangat terkejut mereka berkata: “Sesungguhnya kita benar-benar telah tersesat” (Surah Al-Qalam: 26) artinya: kita telah menempuh jalan lain yang membawa kita ke kebun lain yang terbakar yang tidak ada buahnya, sedangkan kebun kita dulu rindang teduh penuh dengan buah-buahan, kemudian mereka sadar dari keheranan mereka, dan yakin bahwa ini adalah kebun mereka maka mereka berkata: “Bahkan kita tidak mendapat apa-apa (dari kebun itu)” (Surah Al-Qalam: 27) artinya: sesungguhnya Allah telah mengharamkan kepada kita buah-buahan kebun kita, bahkan mengharamkan kepada kita kelangsungan pohon-pohonnya karena kita berniat untuk menghilangkan hak orang-orang miskin.
Dan betapa dalam kata kehilangan itu terdapat ungkapan kesedihan, dukacita dan kepedihan, dan seakan-akan menggambarkan mereka dengan kesuraman yang telah menyelimuti wajah mereka, dan kepedihan yang memeras hati mereka, dan dalam pemandangan ini terlihat salah seorang dari mereka berdiri mencela mereka karena tidak menanggapi nasihatnya, dan dia adalah saudara mereka sebagaimana Tuhan kita katakan: yang paling bijaksana di antara mereka, artinya yang paling matang akalnya dan paling benar pendapatnya, atau yang paling tengah usianya, dia berkata kepada mereka: “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu).” (Surah Al-Qalam: 28) Maka dia mengingatkan mereka akan nasihatnya kepada mereka ketika mereka sedang berkumpul untuk bermusyawarah tentang bagaimana memperoleh apa yang ada di kebun mereka secara lengkap, tanpa memberikan sesuatu pun kepada orang-orang fakir, dan mereka tidak mengatakan insya Allah, dengan asumsi dari mereka bahwa dengan rencana mereka akan mencapai tujuan mereka, dan bahwa tidak ada tempat bagi kehendak Allah dalam hal itu, atau saudara ini mengingatkan mereka akan apa yang dia minta dari mereka yaitu bertobat dan kembali dari rencana buruk ini, namun mereka tidak menanggapi nasihatnya, maka mereka mengakui dosa mereka dengan mengatakan: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.” (Surah Al-Qalam: 29).
Dan Al-Quran menyebutkan bahwa bencana telah menimpa mereka semua; karena saudara ini dengan nasihatnya kepada mereka tidak meninggalkan mereka pergi dan tidak meninggalkan mereka dan tidak tertinggal, namun dia berjalan bersama mereka ke mana mereka pergi, maka bencana menimpa mereka semua, yang mengajak kita untuk mengarahkan nasihat kepada orang-orang yang menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, agar mereka berhati-hati dari menyetujui orang-orang yang bermaksiat dan orang-orang zalim dan orang-orang yang melampaui batas.
Dan Al-Quran menggambarkan keadaan mereka, keadaan penyesalan setelah terlambat, dan bagaimana mereka saling berhadapan saling menyalahkan, masing-masing dari mereka menyalahkan yang lain, dan mengklaim bahwa dialah penyebab apa yang terjadi pada mereka dan apa yang menimpa mereka, kemudian mereka mengakui kedurhakaan mereka sebagaimana mereka mengakui kezaliman mereka: “Mereka berkata: ‘Sungguh celaka kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang melampaui batas.'” (Surah Al-Qalam: 31) Dan betapa dalam ucapan mereka: “Sungguh celaka kami” terdapat penyesalan dan sesal, dan mereka berdoa kepada Allah agar mengganti mereka dengan kebun yang lebih baik dari kebun mereka; karena mereka bertobat kepada-Nya dan menginginkan pahala dan karunia-Nya, dan Allah telah menerima tobat mereka, dan mengganti mereka dengan yang lebih baik darinya, dan diriwayatkan bahwa mereka berjanji dan berkata: jika Allah mengganti kami dengan yang lebih baik darinya, sungguh kami akan melakukan sebagaimana yang dilakukan ayah kami, maka mereka berdoa kepada Allah Azza wa Jalla dan memohon kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Ta’ala mengganti mereka dari malam itu dengan apa yang lebih baik darinya. Dan sebagai penutup kisah ini Tuhan kita berfirman: “Demikianlah azab (di dunia) dan sesungguhnya azab akhirat lebih besar, kalau mereka mengetahui.” (Surah Al-Qalam: 33) Dan dalam itu terdapat pelajaran dan peringatan, demikianlah azab Allah bagi siapa yang mendurhakai-Nya, dan bagi siapa yang menghalangi hak orang-orang fakir dan miskin, dan baginya di akhirat tetap ada azab yang lebih besar kalau mereka mengetahui.
Imam Fakhruddin Ar-Razi berkata: “Dan ketahuilah bahwa maksud dari kisah ini ada dua hal:
Pertama: bahwa Dia Ta’ala berfirman: “Karena dia mempunyai harta dan anak-anak, apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata: ‘(Ini adalah) dongeng-dongeng orang-orang dahulu.'” (Surah Al-Qalam: 14-15) dan maknanya adalah karena Kami memberinya harta dan anak-anak dia mengingkari Allah, sekali-kali tidak, bahkan sesungguhnya Allah memberinya itu untuk ujian, maka jika dia menggunakannya untuk kekafiran, Allah akan menghancurkannya, dengan bukti pemilik kebun; ketika mereka melakukan kemaksiatan yang sedikit ini Allah menghancurkan kebun mereka, maka bagaimana keadaan orang yang menentang Rasul, dan bersikeras dalam kekafiran dan kemaksiatan.
Dan kedua: bahwa pemilik kebun keluar untuk memanfaatkan kebun dan menghalangi orang-orang fakir darinya, maka Allah membalikkan perkara atas mereka, maka begitu juga penduduk Mekah; ketika mereka keluar ke Badar mereka bersumpah akan membunuh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, dan jika mereka kembali ke Mekah mereka akan thawaf di Ka’bah dan minum khamr, maka Allah menggagalkan sangkaan mereka, lalu mereka terbunuh dan tertawan seperti pemilik kebun.”
Jika kita membaca dalam Kitab Allah kisah ini; kisah pemilik kebun, maka harus kita katakan kepada orang lain: ambillah pelajaran wahai manusia dengan apa yang menjadi keadaan pemilik kebun, dan jangan menghalangi orang-orang fakir dan miskin, karena bagi mereka dalam harta kalian ada hak yang telah ditentukan, sebagaimana harus kita mengingatkan akan nilai ilmu dan para ulama dalam membangun umat, dan bahwa agama ini telah memulai perjalanannya untuk membangun umat yang terdidik, yang penuh dengan ilmu dan para ulama sejak saat pertama Al-Quran turun, sebagaimana kita lihat di awal surah Al-‘Alaq dalam firman-Nya Ta’ala: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.” (Surah Al-‘Alaq: 1-2) Dan sebagaimana kita lihat dalam surah yang penuh berkah ini; di mana Allah bersumpah di awalnya dengan pena dan apa yang mereka tulis.
Mari kita kembali membangun umat kita atas ilmu yang bermanfaat yang terkait dengan iman yang benar, dan dengan akhlak yang mulia, yang puncaknya diraih oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan berbahagia dengan kesaksian Al-Haq dalam firman-Nya—Maha Mulia Yang Berfirman—: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Surah Al-Qalam: 4). Dan kita juga harus melihat ayat-ayat setelah kisah ini, karena ia terkait erat dengan kisah ini, dan menegaskan makna-makna yang terdapat di dalamnya, yaitu bahwa ia meninggikan kedudukan orang-orang yang bertakwa, dan menjelaskan bahwa orang-orang yang bertakwa bagi mereka di sisi Tuhan mereka surga-surga kenikmatan, dan membandingkan antara orang-orang muslim dan orang-orang kafir, yang ayat-ayat menyebut mereka dengan orang-orang yang berdosa, maka berfirman: “Apakah patut Kami menganggap orang-orang yang berserah diri itu sama dengan orang-orang yang berdosa?” (Surah Al-Qalam: 35), dan membahas mereka tentang kebatilan yang mereka berada di dalamnya, dan mencela mereka karena mereka tidak menggunakan akal mereka, dan tidak memperhatikan ayat-ayat Allah; maka berfirman: “Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan? Apakah kamu mempunyai suatu kitab yang kamu pelajari darinya. Bahwa sesungguhnya bagi kamu di dalamnya apa yang kamu pilih. Ataukah kamu mempunyai (perjanjian) sumpah yang kokoh dari Kami, yang berlaku sampai hari kiamat. Bahwa sesungguhnya bagi kamu apa yang kamu putuskan. Tanyakanlah kepada mereka, siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap itu. Ataukah mereka mempunyai sekutu-sekutu (bagi Allah)? Maka hendaklah mereka mendatangkan sekutu-sekutu mereka itu, jika mereka orang-orang yang benar.” (Surah Al-Qalam: 36-41) Dan mengancam mereka dengan akibat yang buruk, dan bahwa mereka ketika Allah memberi mereka nikmat dengan apa yang Dia beri, lalu mereka mendustakan Allah dan rasul-Nya, dan mendustakan Al-Quran ini, dan bahwa ini pasti diketahui oleh mereka bahwa itu adalah penarikan berangsur-angsur dari Allah kepada mereka, Allah Ta’ala berfirman: “Maka biarkanlah Aku (saja) dengan orang yang mendustakan perkataan ini (Al-Quran). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat tangguh.” (Surah Al-Qalam: 44-45)
Sebagaimana mengarahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar bersabar atas gangguan orang-orang ini, maka sesungguhnya akibat yang agung adalah untuknya, sebagaimana Tuhan kita berfirman: “Maka bersabarlah terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah engkau seperti orang yang berada di dalam (perut) ikan” (Surah Al-Qalam: 48) Yunus ‘alaihissalam “ketika dia berdoa sedang dia dalam keadaan marah.” (Surah Al-Qalam: 48) Maka Allah mengabulkan (doa)nya, dan menolongnya dengan rahmat-Nya, dan dilemparkan ke tanah lapang sedang dia tercela, “kemudian Tuhannya memilihnya, lalu Dia menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh.” (Surah Al-Qalam: 50).
Kemudian surah ini menjelaskan di akhirnya bahwa apa yang dilihatnya dari ucapan-ucapan orang-orang pendusta yang membangkang ini, sesungguhnya ini dari segi kedengkian, maka berfirman: “Dan sesungguhnya orang-orang yang kafir itu hampir-hampir menggelincirkanmu dengan pandangan mereka, ketika mereka mendengar Al-Quran dan mereka berkata: ‘Sesungguhnya dia (Muhammad) benar-benar orang gila.'” (Surah Al-Qalam: 51) “Padahal (Al-Quran) itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh alam.” (Surah Al-Qalam: 52), ini adalah risalah universal untuk umat manusia, dan sesuai dengan keluasan risalah ini dan keagungannya adalah kesabaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas kesulitan-kesulitannya.
Dan semoga Allah melimpahkan shalawat, salam dan berkah kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga dan para sahabatnya dan memberi salam.
Pelajaran: 17 Perumpamaan-Perumpamaan dalam Al-Quran Al-Karim, dan Pengaruhnya terhadap Para Pendengar.
Bismillahirrahmanirrahim
Pelajaran Ketujuh Belas (Perumpamaan-Perumpamaan dalam Al-Quran Al-Karim, dan Pengaruhnya terhadap Para Pendengar)
Perumpamaan; Pengertiannya, Kepentingannya, dan Manfaatnya
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, dan shalawat serta salam atas yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, dan atas keluarga dan para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti petunjuk mereka sampai hari pembalasan, amma ba’du:
Maka topik pembicaraan kita tentang perumpamaan-perumpamaan dalam Al-Quran Al-Karim dan pengaruhnya terhadap para pendengar:
Maka apa itu perumpamaan dalam bahasa Arab kita? Dan apa kepentingannya? Dan apa manfaat-manfaatnya?:
Ibnu Faris berkata: “Mitsal (perumpamaan), mim, tsa’, dan lam, adalah asal yang benar yang menunjukkan kesesuaian sesuatu dengan sesuatu, dan ini adalah mitsal (serupa) ini artinya sebandingannya, dan dikatakan: dan perumpamaan yang disebutkan diambil dari ini; karena ia disebutkan sebagai kiasan dari sebandingannya dalam makna.”
Dan Ibnu Manzhur berkata: “Mitsal (perumpamaan), adalah kata penyamaan, dikatakan: ini sepertinya dan serupanya, sebagaimana dikatakan: mirip dengannya dan menyerupainya, dengan makna yang sama.” Ibnu Barri berkata: “Perbedaan antara kemiripan dan kesamaan, bahwa kesamaan terjadi antara yang berbeda dalam jenis dan yang sama; karena kesamaan adalah kesetaraan dalam ukuran, tidak bertambah dan tidak berkurang, adapun kemiripan maka tidak terjadi kecuali pada yang sama, dikatakan: nahwnya seperti nahwnya, dan fiqhnya seperti fiqhnya, dan warnanya seperti warnanya, dan rasanya seperti rasanya, maka jika dikatakan: ia sepertinya secara mutlak, maka maknanya: bahwa ia menggantikan tempatnya, dan jika dikatakan: ia sepertinya dalam hal ini, maka ia setara dengannya dalam satu segi bukan segi lain” kemudian dia berkata: “dan perumpamaan adalah sesuatu yang dijadikan perumpamaan untuk sesuatu, lalu dijadikan serupanya.”
Dan dalam (Ash-Shihah) apa yang dijadikan perumpamaan darinya, dan mitsal sesuatu juga adalah sifatnya, dan mungkin perumpamaan dengan makna pelajaran, dan darinya firman Allah Azza wa Jalla: “Maka Kami jadikan mereka pelajaran bagi orang-orang yang kemudian dan menjadi peringatan bagi orang-orang yang datang kemudian.” (Surah Az-Zukhruf: 56), dan dengan makna tanda sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam sifat Isa—’ala nabiyyina wa ‘alaihish shalatu wassalam—: “Dan Kami jadikan dia tanda (kekuasaan Kami) bagi Bani Israil” artinya: tanda yang menunjukkan kenabian-Nya.
Dan Ar-Raghib menyebutkan dalam (Mufradat Alfazh Al-Quran) hampir sama dengan apa yang disebutkan Ibnu Faris dan Ibnu Manzhur, meskipun dia telah memperluas dalam memberikan dalil dengan ayat-ayat, dan dari apa yang dia katakan: “Perumpamaan adalah ungkapan tentang perkataan pada sesuatu yang menyerupai perkataan pada sesuatu yang lain, antara keduanya ada kemiripan; agar salah satunya menjelaskan yang lain dan menggambarkannya.” Dan Abu Hayyan berkata dalam (Al-Bahr Al-Muhith): “Perumpamaan adalah perkataan yang tersebar yang di dalamnya ada keanehan dari beberapa segi, dan dikatakan perumpamaan adalah penyebutan sifat yang jelas yang dapat diindera dan tidak dapat diindera, yang digunakan sebagai dalil atas sifat yang menyerupainya dari beberapa segi, di dalamnya ada semacam kekaburan; agar menjadi dalam pikiran setara dengan yang pertama dalam kejelasan dari satu segi bukan segi lain”, kemudian Abu Hayyan melanjutkan pembicaraannya lalu menjelaskan kepentingan perumpamaan dan manfaatnya maka dia berkata: “Dan maksud dari penyebutan perumpamaan adalah bahwa ia mempengaruhi hati apa yang tidak mempengaruhinya penggambaran sesuatu itu sendiri; karena tujuan dari pemberian perumpamaan adalah menyerupakan yang tersembunyi dengan yang jelas, dan yang gaib dengan yang nyata, maka akan diperkuat pemahaman tentang hakikatnya, dan menjadi indera sesuai dengan akal.”
Dan Abdulqahir Al-Jurjani berkata dalam (Asrar Al-Balaghah): “Ketahuilah bahwa apa yang disepakati oleh para orang berakal adalah bahwa tamtsil (perumpamaan) jika datang setelah makna-makna, atau muncul dengan ringkas dalam bentuknya, dan dipindahkan dari bentuk aslinya ke bentuknya, maka memberikan kepada makna-makna itu keagungan, dan mengangkat kedudukannya, dan melipatgandakan kekuatannya dalam menggerakkan jiwa untuk menerimanya”, dan Abdulqahir menjelaskan itu maka dia berkata: “Maka jika itu adalah pujian maka akan lebih indah dan lebih megah dan lebih mulia di dalam jiwa, dan lebih cepat untuk diterima, dan lebih menguasai yang dipuji, dan lebih wajib memberi syafa’at bagi yang memuji, dan jika itu adalah celaan maka sentuhannya akan lebih menyakitkan, dan cap-nya lebih pedas, dan dampakannya lebih keras, dan ujungnya lebih tajam, dan jika itu adalah argumentasi, maka buktiannya akan lebih terang, dan kekuasaannya lebih memaksa, dan penjelasannya lebih cemerlang, dan jika itu adalah kebanggaan, maka jangkauannya lebih jauh, dan kehormatannya lebih serius, dan lisannya lebih fasih, dan jika itu adalah permintaan maaf, maka akan lebih dekat untuk diterima, dan lebih menarik bagi hati, dan lebih menghilangkan kemarahan, dan jika itu adalah nasihat, maka akan lebih menyembuhkan dada, dan lebih mengajak untuk berpikir, dan lebih baik dalam peringatan dan pencegahan.”
Dan jika kita melihat pada apa yang terdapat dalam Al-Quran dari perumpamaan-perumpamaan, dan pada hikmah dari penyebutannya, kita akan melihat bahwa Allah menyebutkannya sebagai peringatan dan pelajaran dan nasihat bagi siapa yang memiliki akal yang berpikir, dan hati yang berdetak yang merasakan dan terpengaruh, dan bacalah jika kalian mau firman Allah Ta’ala: “Dan sungguh, Kami telah membuat bermacam-macam perumpamaan bagi manusia dalam Al-Quran ini agar mereka mendapat pelajaran.” (Surah Az-Zumar: 27) dan Dia berfirman: “Dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia agar mereka mendapat pelajaran.” (Surah Ibrahim: 25) Maka Dia menjelaskan dalam ayat ini dan yang setelahnya, bahwa Dia Subhanahu membuat bagi manusia dalam Al-Quran ini dari segala perumpamaan; agar dalam itu ada peringatan bagi orang-orang yang mengambil pelajaran, dan mengungkapkan dengan kata kerja bentuk sekarang “yatadzakkaruun” untuk menunjukkan pembaruan pengambilan pelajaran ini; agar menjadi menyertai perjalanan manusia di dunia ini, maka tetap dalam hubungan yang terus-menerus dengan Tuhannya.
Dan Tuhan kita berfirman: “Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia, dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu” (Surah Al-Ankabut: 43). Maka Allah menjelaskan bahwa Dia membuat perumpamaan-perumpamaan yang didengar oleh seluruh manusia, namun tidak ada yang mengambil manfaat darinya, tidak ada yang memahaminya, dan menyadari tujuan-tujuannya, kecuali orang yang diberi oleh Allah ilmu yang bermanfaat dan pandangan yang terbimbing dengan cahaya kebenaran. Dan Allah berfirman: “Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir” (Surah Al-Hasyr: 21). Allah mengatakan ini setelah firman-Nya di awal ayat: “Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah” (Surah Al-Hasyr: 21). Maka dengan itu Dia membuat perumpamaan tentang pengaruh yang dimiliki Al-Quran terhadap benda-benda mati, dan lebih layak terpengaruh adalah manusia yang berakal, namun hal itu membutuhkan pemikiran yang mendalam, dan pandangan yang tajam untuk menemukan jalan petunjuk. Dan seandainya manusia berpikir dan merenungkan, niscaya dia akan tahu bahwa jalan itu adalah Al-Quran yang agung, dan ia adalah penjaga bagi siapa yang berpegang teguh padanya, dan keselamatan bagi siapa yang mengikuti petunjuknya.
Dan mungkin kita memperhatikan ungkapan dengan “la’alla” (supaya) dalam firman-Nya: “supaya mereka mengambil pelajaran” (Surah Al-Baqarah: 221), “supaya mereka berpikir” (Surah Al-A’raf: 176). Dan ungkapan dengan itu menunjukkan bahwa ini adalah perkara yang mudah diperoleh; karena “la’alla” sebagaimana kalian ketahui dalam bahasa Arab kita adalah huruf pengharapan, berbeda dengan “laita” yang untuk angan-angan. Dan pengharapan hanya untuk perkara yang dekat diperoleh, mudah terjadi. Sedangkan angan-angan untuk perkara yang sulit terwujud, seperti dalam perkataan penyair:
Andai bintang-bintang mendekat padaku sehingga aku merangkainya… sebagai kalung pujian karena aku tidak ridha untuk kalian kata-kataku
Maka jalan untuk mengambil manfaat dari perumpamaan yang dibuat Allah, tidak membutuhkan kecuali ilmu, pemikiran, dan mengingat. Dan seandainya niat hamba benar-benar tulus dalam mencari kebahagiaannya di dunia dan akhirat, niscaya dia akan bersungguh-sungguh lalu berpegang teguh dengan apa yang ada dalam Kitab Tuhannya, dan mengikuti petunjuk Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dan perumpamaan-perumpamaan Al-Quran sangat banyak yang dibuat oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala untuk mewujudkan tujuan-tujuannya dalam meneguhkan iman dan menyeru kepadanya, mendorong untuk (beramal bagi) akhirat dan amal saleh, menakut-nakuti dari cinta dunia dan apa yang akan menjadi keadaan orang yang condong kepadanya dan ridha dengannya, dan selain itu yang engkau lihat dalam Al-Quran yang mulia.
Contoh-contoh yang dibuat Allah dalam Al-Quran untuk orang-orang kafir, orang-orang musyrik, dan orang-orang munafik
Dan ini adalah contoh-contoh dari apa yang kami katakan dari Al-Quran yang mulia: Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang orang-orang munafik: “Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Surah Al-Baqarah: 17-20).
Maka Allah telah membuat dua perumpamaan untuk dua golongan orang munafik:
Golongan pertama: kaum yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman kemudian kafir, kemudian bertambah kekafiran. Dan golongan kedua: kaum yang ragu-ragu, kebenaran tampak bagi mereka sesekali lalu mereka tenang karenanya, dan keraguan menyerang mereka sehingga mereka berbalik menjadi orang yang merugi. Dan seandainya Allah menyampaikan pembicaraan tentang orang-orang munafik seperti ini, lalu menjelaskan bahwa mereka ada dua golongan; golongan yang beriman kemudian kafir, dan golongan yang ragu bingung tidak menetap pada satu pendapat dan tidak teguh pada satu pemikiran, dan hatinya tidak tenang dengan kebenaran, maka tidak akan ada pengaruh yang kita lihat ketika Dia membuat perumpamaan untuk masing-masing dari mereka. Maka perumpamaan pertama sebagaimana engkau lihat adalah untuk golongan pertama: yang beriman kemudian kafir; karena Dia menyerupakan keadaan mereka dengan keadaan orang yang menyalakan api -yakni: menyalakannya- setelah mencari dan menginginkannya, maka ketika api itu menerangi sekelilingnya, Allah hilangkan cahaya mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan tidak dapat melihat.
Itu adalah cahaya iman yang menghilangkan kegelapan keraguan dan prasangka, dan dengannya orang beriman tahu mengapa dia diciptakan dan mengapa dia hidup serta ke mana dia akan kembali? Dan apa yang dia ambil dan apa yang dia tinggalkan? Maka hatinya tenang, batinnya damai dan jiwanya tenteram. Dan sementara dia dalam kebahagiaan iman, badai keraguan menghempasnya, dan setan-setan menguasainya, maka padam di hatinya cahaya ini, lalu Allah hilangkan cahaya mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan tidak dapat melihat.
Dan betapa banyaknya dalam kata “membiarkan mereka” penggambaran tentang apa yang menimpa mereka dari murka Allah dan siksa-Nya. Dan betapa banyaknya dalam firman-Nya “dalam kegelapan” (jamak) petunjuk tentang apa yang mereka alami berupa kebutaan; karena bukan hanya satu kegelapan yang mengelilingi mereka, melainkan kegelapan-kegelapan. Dan untuk itulah datang firman-Nya: “tidak dapat melihat” (Surah Al-Baqarah: 17) melengkapi gambaran yang mengerikan ini untuk orang-orang munafik tersebut, dan menjelaskan bahwa semua jalan telah buta bagi mereka, sehingga mereka tidak lagi melihat sesuatu, maka karena itu mereka tersesat. Dan yang menambah kegelapan gambaran ini adalah apa yang disebutkan Allah tentang keadaan mereka; di mana Dia berfirman: “Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)” (Surah Al-Baqarah: 18). Tuli tidak mendengar kebenaran, dan bisu tidak mengatakan apa yang menyelamatkan mereka dari siksa Allah, dan buta tidak melihat jalan Allah, padahal jalan itu jelas tidak ada keraguan padanya. Maka karena itu mereka tidak bertobat, dan tidak mengingat, hingga mereka mati. Maka buruk sekali apa yang mereka alami dan apa yang mereka tuju.
Dan perumpamaan ini telah dijelaskan oleh Ibnu Mas’ud dan yang lain dari para sahabat dan tabi’in. Ibnu Mas’ud dan beberapa sahabat berkata: “Dikatakan bahwa ada orang-orang yang masuk Islam ketika kedatangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ke Madinah, kemudian mereka munafik. Dan perumpamaan mereka seperti perumpamaan seorang laki-laki yang berada dalam kegelapan, lalu dia menyalakan api, maka ketika api itu menerangi sekelilingnya dari bahaya, dia melihatnya, hingga dia tahu apa yang harus dia hindari. Lalu sementara dia seperti itu, tiba-tiba apinya padam, maka dia berjalan tidak tahu apa yang harus dia hindari dari bahaya. Maka seperti itulah orang munafik, dia berada dalam kegelapan kesyirikan lalu dia masuk Islam, sehingga dia mengenal halal dari haram, dan kebaikan dari keburukan. Lalu sementara dia seperti itu, tiba-tiba dia kafir, maka dia tidak lagi mengenal halal dari haram, dan tidak kebaikan dari keburukan”.
Dan Ibnu Jarir dan yang lain berpendapat bahwa kegelapan yang menimpa mereka setelah mereka berada dalam cahaya, hanyalah perumpamaan bagi mereka dengan apa yang akan menjadi keadaan mereka di hari kiamat. Maka dia berkata: “Ini adalah perumpamaan yang dibuat Allah untuk orang-orang munafik, bahwa mereka memperoleh kemuliaan dengan Islam sehingga kaum muslimin menikahi mereka, saling mewarisi dengan mereka, dan membagi ghanimah dengan mereka. Maka ketika mereka mati, Allah mencabut kemuliaan itu dari mereka, sebagaimana Dia mencabut cahaya dari pemilik api”.
Dan Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ma’mar dari Qatadah: “Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya” (Surah Al-Baqarah: 17), maka itu adalah “Laa ilaaha illallah”, menerangi bagi mereka sehingga mereka makan dengannya, minum dengannya, dan aman di dunia dengannya, dan mereka dinikahkan dengan wanita, dan darah mereka terjaga, hingga ketika mereka mati, Allah hilangkan cahaya mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan tidak dapat melihat.
Adapun perumpamaan kedua: maka itu adalah perumpamaan yang dibuat Allah untuk orang-orang dari golongan munafik, yang hati mereka terpecah-pecah karena keraguan dan keragu-raguan, sehingga mereka tidak menetap, dan jiwa mereka tidak tenang. Maka lihatlah keindahan perumpamaan ini yang dibuat untuk orang-orang celaka sengsara ini, dan bagaimana Dia menggambar gambaran seolah-olah engkau melihatnya dengan mata kepala bagi mereka. Maka engkau melihat orang-orang yang berjalan di jalan ingin mencapai tujuan mereka, dan sementara mereka seperti itu, tiba-tiba awan langit telah berkumpul, dan hujannya telah turun, dan guntur menggelegar dengan suaranya, dan kilat bersinar dengan cahayanya. Dan mereka berhenti gemetar ketakutan, takut disambar petir dari petir-petir ini, maka engkau melihat mereka telah memasukkan jari-jari mereka ke telinga mereka karena petir takut akan mati. Dan kilat karena kerasnya hampir menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat bersinar dengan sinarnya mereka berjalan beberapa langkah, dan bila gelap menimpa mereka mereka berhenti. Dan mereka tidak tahu bahwa Allah meliputi mereka, dan bahwa seandainya Dia menghendaki niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Ini adalah perumpamaan yang dibuat Allah untuk orang-orang munafik ini dalam keraguan dan keragu-raguan mereka. Dan kesesuaian perumpamaan dengan apa yang mereka alami dan mereka hadapi sangat jelas. Maka orang-orang ini datang seperti yang lain ke dunia ini, lalu mereka tumbuh dalam lingkungan jahiliyah yang menyembah berhala dan patung. Dan sementara mereka seperti itu, tiba-tiba datang kepada mereka seorang rasul yang mulia dan nabi yang agung, yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menyeru mereka kepada Allah Yang Maha Esa Yang Maha Tunggal, dan meminta dari mereka agar beriman kepada beliau dan risalahnya serta apa yang dibawanya. Dan bersama beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ada kekuatan hujah dan kejernihan dalil yang meyakinkan akal dan hati. Maka dalil-dalil Al-Quran menguasai akal mereka, dan ini adalah kilat yang hampir menyambar penglihatan mereka. Namun mereka mundur dan kembali dan berhenti dan kembali kepada kekafiran, dan ini adalah firman-Nya: “mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati” (Surah Al-Baqarah: 19).
Adapun firman-Nya: “Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti” (Surah Al-Baqarah: 20), artinya: mereka berhenti di tempat mereka dengan bingung. Maka ini adalah Al-Quran yang diwahyukan Allah kepada Nabi-Nya, Dia menyerupakannya dengan hujan dan hujan deras yang dengannya Dia menghidupkan hati-hati yang mati, sebagaimana hujan menghidupkan bumi yang mati dengan izin Tuhannya. Di dalamnya ada janji dan ancaman, dorongan dan peringatan, dan ini adalah kegelapan-kegelapannya, gunturnya, dan kilatnya. Orang-orang munafik mendengar ayat-ayatnya bersinar sebagai peringatan dan ancaman, dan bercahaya sebagai penjelasan dan hujah-hujah, lalu mereka berpaling dari itu. Dan perumpamaan mereka seperti orang yang “menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati”.
Dan dalam perumpamaan ini bercampur yang diumpamakannya dengan yang dijadikan perumpamaan, bersama ancaman dan peringatan yang engkau lihat di akhir dua ayat, “Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Surah Al-Baqarah: 19-20). Dan dalam konteks menetapkan tauhid Allah dan apa yang menjadi keadaan orang yang menyekutukan dengan-Nya, Allah membuat perumpamaan-perumpamaan dalam Kitab-Nya, maka Dia berfirman: “Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: ‘Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?'” (Surah Al-Baqarah: 26) hingga akhir ayat-ayat. Maka sesungguhnya Allah ketika menyebutkan dalam Kitab-Nya lalat dan laba-laba, lalu berfirman: “Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah” (Surah Al-Hajj: 73). Dan berfirman: “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui” (Surah Al-Ankabut: 41).
Orang-orang musyrik berkata: Mengapa laba-laba dan lalat disebutkan? Maka Allah menurunkan sebagai jawaban kepada mereka: “Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu” (Surah Al-Baqarah: 26). Maka Dia -Jalla wa ‘Ala- adalah Pencipta makhluk-makhluk ini, dan betapa banyaknya di dalamnya dari bukti-bukti kekuasaan-Nya. Namun mereka memiliki sifat-sifat yang menjadikan mereka perumpamaan yang dibuat tentang kelemahan dan kekurangan. Maka Allah menyebutkan keadaan berhala-berhala dalam ketidakberdayaan dan kelemahannya, dan bahwa berhala-berhala ini tidak mampu menciptakan lalat walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak dapat merebutnya kembali darinya, meskipun lalat sangat lemah. Dan meskipun demikian, tuhan-tuhan yang diklaim ini tidak mampu mengambil kembali apa yang diambil lalat dari mereka. Dan itu tidak lain karena mereka adalah batu-batu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak berakal. Maka bagaimana mungkin mereka menjadi tuhan-tuhan yang disembah bersama Allah atau selain-Nya.
Tuhan kita berfirman dalam menjelaskan ketidakberdayaan dan kelemahan berhala-berhala ini: “Apakah mereka mempunyai kaki yang dengan itu mereka dapat berjalan, atau mempunyai tangan yang dengan itu mereka dapat memegang dengan keras, atau mempunyai mata yang dengan itu mereka dapat melihat, ataukah mereka mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Katakanlah: ‘Panggillah sekutu-sekutumu (yang kamu anggap tuhan itu) kemudian lakukanlah tipu daya (untuk membinasakanku), dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku'” (Surah Al-A’raf: 195). Dan yang mirip dengan ini adalah apa yang ada dalam firman-Nya: “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah” (Surah Al-Ankabut: 41). Maka ini adalah perumpamaan untuk sedikitnya manfaat penyembahan berhala, dan untuk ketiadaan manfaatnya, dan untuk sangat lemahnya. Dan seandainya dikatakan bahwa pengambilan berhala-berhala ini untuk disembah selain Allah tidak bermanfaat bagi yang menyembahnya sedikitpun, maka tidak akan ada pengaruhnya dalam jiwa para pendengar seperti apa yang engkau lihat dalam penyerupaan dan perumpamaan ini. Maka Dia telah menyerupakan apa yang didirikan orang-orang musyrik di sekeliling berhala-berhala mereka berupa keyakinan-keyakinan yang membuat mereka mendekatkan diri kepada berhala-berhala itu dengan berbagai bentuk pendekatan, dan meminta syafaat dengannya kepada Allah, dan mempersembahkan kurban kepadanya, dengan apa yang dibuat laba-laba untuk dirinya berupa pembangunan rumah yang tidak bertahan di hadapan sentuhan yang menyentuh, atau hembusan angin. Dan untuk itulah Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui” (Surah Al-Ankabut: 41). Maka Dia menambah kebodohan orang-orang musyrik di atas kebodohan. Dan perumpamaan ini datang dengan penjelasan yang menyembuhkan dan mencukupi ini.
Dalam menjelaskan dampak kemusyrikan terhadap orang-orang musyrik, Allah memberikan perumpamaan ini dengan berfirman: “Dan barangsiapa mempersekutukan Allah, maka seakan-akan dia jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (Surat Al-Hajj: 31) Maka renungkanlah bersamaku keindahan perumpamaan ini, dan lukisan menakjubkan yang digambarkan oleh kata-katanya, ketika kamu membayangkan seorang laki-laki yang telah naik ke angkasa, lalu kekuatannya mengkhianatinya, maka ia jatuh dari ketinggian yang sangat tinggi itu, lalu burung-burung langit yang buas menyambarnya, lalu mereka mengoyak-ngoyaknya, atau ia menghadapi angin topan saat jatuh ke bumi, maka angin itu membawanya jatuh dan melemparkannya ke tempat yang sangat jauh, dan jika kamu kembali kepada perumpamaan ini untuk melihat gambaran yang diambil dari yang diumpamakan dan yang dijadikan perumpamaan untuk membentuk lukisan ini, maka kamu akan menemukan bahwa langit yang ia naiki adalah langit keimanan, dalam ketinggian dan kemuliaan keimanan, dan sesungguhnya kemusyrikan kepada Allah adalah kelemahan dan penyakit yang melemahkan kekuatan orang ini, sehingga kekuatannya lemah, maka tidak lama ia pun jatuh dari langitnya, dan ungkapan dengan firman-Nya: “jatuh” menunjukkan kepadamu kecepatan dan kekuatan jatuhnya orang musyrik ini, dan burung yang menyambarnya adalah setan-setan yang mengoyaknya dan merobeknya, sehingga ia tidak tenang, dan hatinya tidak merasa tenteram, dan tidak ada ketenangan baginya, dan angin yang melemparkannya ke tempat yang jauh adalah hawa nafsunya yang menguasainya lalu meniupnya dengan keras, sehingga menjauhkannya dari kebenaran dan cahayanya menuju kekufuran dan kegelapannya.
Dan ini adalah contoh lain tentang kesesatan dan kerugian yang ada dalam kemusyrikan, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Allah membuat perumpamaan: seorang laki-laki (hamba sahaya) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang hamba sahaya yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki. Adakah kedua hamba sahaya itu sama halnya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Surat Az-Zumar: 29) Dan ayat ini datang setelah firman-Nya: “Dan sungguh Kami telah membuat bermacam-macam perumpamaan bagi manusia dalam Al-Quran ini agar mereka mendapat pelajaran. (Yaitu) Al-Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) agar mereka bertakwa.” (Surat Az-Zumar: 27, 28).
Maka lihatlah dengan mata hatimu gambaran yang dijelaskan oleh perumpamaan ini tentang orang musyrik dan orang beriman, dan perumpamaan ini diambil dari lingkungan di mana Al-Quran diturunkan; di mana perbudakan menyebar di seluruh dunia, hingga Islam bersinar di kehidupan manusia, lalu Islam mengambil berbagai cara yang mengantarkan kepada penutupan pintu ini, dan penghapusan perbudakan, agar semua manusia tetap merdeka, dan dahulu ada orang yang memiliki budak khusus untuk melayaninya, mengurus urusan tuannya, dan tuannya mengurusi urusannya, dan ada yang membeli budak bersama orang lain untuk melayani mereka semua, dan budak ini berusaha sebaik mungkin dalam melayani para tuannya, tetapi ia tidak mampu memuaskan mereka semua, dan jika ia ingin makan atau minum atau sesuatu, ia tidak tahu siapa yang bertanggung jawab atasnya di antara para tuan itu.
Dan Allah menjadikan yang pertama sebagai perumpamaan bagi orang yang beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Tunggal, sehingga tujuannya satu, ia meminta kepada-Nya apa yang ia minta dari kebaikan dunia dan akhirat, karena itu ia tenteram dan bahagia “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Surat Ar-Ra’d: 28) Sebagaimana Dia menjadikan yang kedua sebagai perumpamaan bagi orang musyrik, yang menyembah beberapa tuhan, maka ia bersungguh-sungguh dalam menyembah mereka, tetapi ia tidak memuaskan seorang pun dari tuhan-tuhan itu, sebagaimana ia tidak tahu kepada siapa ia harus meminta kebutuhannya, bahkan sesembahan-sesembahan ini tidak mengetahui apa pun tentang penyembahnya, mereka adalah batu-batu tuli, yang dibuat oleh orang-orang bodoh ini dengan tangan mereka sendiri, kemudian mereka mendirikannya dan menyembahnya.
Dan ini adalah perumpamaan lain tentang kebutaan dan kebodohan yang ada pada orang-orang kafir, disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala setelah Dia menyebutkan keadaan orang-orang musyrik dalam penolakan mereka terhadap seruan kebenaran, tidak untuk hal lain kecuali mengikuti apa yang dilakukan oleh nenek moyang mereka, Tuhan kita berfirman: “Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab, ‘Tidak, tetapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya.’ Apakah (mereka akan mengikuti nenek moyang mereka) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengerti apa pun dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” (Surat Al-Baqarah: 170) Dan sebagaimana Dia berkata tentang nenek moyang mereka bahwa mereka tidak mengerti apa pun, yaitu hal yang bermanfaat, dan tidak mendapat petunjuk ke jalan yang benar dan lurus, Dia berkata tentang mereka: “Dan perumpamaan orang-orang yang kafir (terhadap seruan orang beriman) seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. (Mereka) tuli, bisu, dan buta, maka (karena itu) mereka tidak mengerti.” (Surat Al-Baqarah: 171).
Dan perumpamaan ini membawamu kepada gambaran nyata dalam masyarakat yang kehidupannya berdiri atas penggembalaan, maka kamu melihat bahwa kawanan ternak unta atau sapi atau kambing, digiring oleh penggembala dengan tongkatnya, dan yang ada dalam kawanan dari hewan ternak ini tidak memahami bahasa, mereka hanya mendengar suara yang memanggilnya untuk berjalan atau berhenti atau datang ke tempat air atau rumput, tetapi hewan ternak ini tidak memahami dan tidak mengerti, dan Al-Quran mengambil gambaran ini yang disaksikan oleh orang Arab di lingkungannya, dan dilihat oleh manusia di setiap zaman dan tempat, untuk menyerupakan dengannya orang-orang musyrik ini dalam kepatuhan mereka kepada para pemimpin kekufuran dan kesesatan, dan bahwa orang-orang musyrik ini bergerak dengan arahan para pemimpin ini tanpa akal atau pemikiran, seperti bergeraknya hewan ternak yang merumput dalam gerak-geriknya tanpa pemahaman atau kesadaran.
Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa firman-Nya: “Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah'” (Surat Al-Baqarah: 170) ayat ini. “Turun berkenaan dengan sekelompok orang Yahudi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru mereka kepada Islam lalu mereka berkata: ‘Tidak, tetapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya’ (Surat Al-Baqarah: 170) kemudian Allah memberikan perumpamaan bagi mereka tentang kesesatan, kebingungan, dan kebodohan yang mereka alami, dengan binatang ternak yang berkeliaran yang tidak memahami apa yang dikatakan kepadanya, bahkan ketika penggembalanya memanggil mereka -yaitu menyeru mereka kepada apa yang membimbing mereka- mereka tidak memahami apa yang ia katakan dan tidak memahaminya, bahkan mereka hanya mendengar suaranya saja.”
Dan dalam ketidakpahaman dan ketidaksadaran orang Yahudi kita temukan beberapa contoh, di antaranya yang menunjukkan kerasnya hati mereka dan ketidaktundukan mereka pada kebenaran, dan dalam hal itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (Surat Al-Baqarah: 74).
Dan ayat ini datang setelah apa yang Allah sebutkan tentang keras kepalanya Bani Israil dan perdebatan mereka tentang sapi betina yang Nabi Musa ‘alaihis salam minta kepada mereka untuk menyembelihnya, dan bahwa mereka mengambil dari sapi itu sebuah bagian untuk memukul seorang laki-laki yang terbunuh, dan tidak diketahui siapa yang membunuhnya, dan Allah menyebutkan bahwa ketika ia dipukul dengan bagian itu dia akan kembali hidup, dan memberitahu siapa yang membunuhnya, maka mereka terus bertanya kepada Nabi Musa tentang sapi ini dan ciri-cirinya, dan setelah usaha dan kesulitan mereka membawa seekor sapi, dan melakukan apa yang diperintahkan oleh nabi mereka, “Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakannya”, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan (ingatlah) ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan. Lalu Kami berfirman, ‘Pukullah mayat itu dengan sebagian anggota sapi betina itu!’ Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.” (Surat Al-Baqarah: 72, 73) kemudian berfirman: “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” (Surat Al-Baqarah: 74).
Dan seharusnya orang yang melihat tanda besar ini tentang kekuasaan Allah atas kebangkitan, bertambah imannya, dan mempersiapkan diri untuk bertemu Tuhannya, tetapi orang Yahudi berpaling dari Tuhan mereka, dan mengubah ciri-ciri agama mereka, dan mengingkari ayat-ayat Allah, dan membunuh para nabi tanpa hak, dan karena itu kehinaan dan kerendahan ditimpakan kepada mereka, dan mereka mendapat kemurkaan dari Allah, dan Allah telah memberikan perumpamaan kerasnya hati mereka dengan batu, bahkan menyebutkan bahwa hati mereka lebih keras dari batu; karena batu adalah bagian dari alam semesta yang bertasbih kepada Allah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.” (Surat Al-Isra’: 44) Dan sudah diketahui bahwa kerikil terdengar tasbihnya di tangan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bahwa batang pohon merindukan beliau ‘alaihish shalatu was salam.
Dan beliau ‘alaihish shalatu was salam bersabda tentang gunung Uhud: “Uhud adalah gunung yang mencintai kita dan kita mencintainya”, dan karena itu disebutkan dalam ayat tentang kepatuhan batu kepada perintah Allah maka Dia berfirman: “Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah” (Surat Al-Baqarah: 74) kemudian berfirman dengan mengancam dan memperingatkan: “Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (Surat Al-Baqarah: 85).
Dan ini adalah contoh lain tentang ketidakpahaman orang Yahudi, Tuhan kita berfirman di dalamnya: “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amat buruklah perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (Surat Al-Jumu’ah: 5) Maka Dia menyerupakan mereka dengan keledai yang membawa kitab-kitab dari satu tempat ke tempat lain, apakah keledai itu menyadari sesuatu dari apa yang ada dalam kitab-kitab yang di punggungnya, dan inilah keadaan orang Yahudi, Allah menugaskan mereka untuk mengamalkan apa yang ada dalam Taurat, dan betapa banyak petunjuk dan cahaya dalam Taurat, maka mereka membacanya dan mengetahui apa yang ada di dalamnya, dan ketika mereka melihat bahwa itu menghalangi syahwat mereka dan mencegah mereka dari memakan yang haram, mereka mengubahnya dan mengganti dan memutarbalikkannya dan menyembunyikan darinya apa yang bertentangan dengan kepentingan mereka, maka mereka tidak mendapat manfaat apa pun darinya, seperti keledai yang membawa di punggungnya kitab-kitab, dan betapa buruknya perumpamaan itu, dan karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Amat buruklah perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (Surat Al-Jumu’ah: 5).
Dan ini adalah seorang laki-laki dari Yahudi, yang menjual agamanya dengan dunianya, maka Allah memberikan perumpamaan yang buruk baginya; yaitu menyerupakannya dengan anjing, jika engkau mengejarnya ia terjulur lidahnya, dan jika engkau membiarkannya ia terjulur lidahnya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripadanya, lalu dia diikuti oleh setan (godaan), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa disesatkan-Nya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Surat Al-A’raf: 174 – 178).
Dan orang ini sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud: adalah Bal’am atau Bal’am bin Ba’ura, dari Bani Israil, dan Malik bin Dinar berkata: “Dia adalah salah seorang ulama Bani Israil, dan doanya dikabulkan, mereka mendahulukannya dalam kesulitan, Nabi Allah Musa ‘alaihis salam menugaskannya kepada raja Madyan untuk menyerunya kepada Allah, lalu raja itu memberikan sebidang tanah kepadanya, dan memberinya -yaitu: harta- maka ia mengikuti agamanya dan meninggalkan agama Nabi Musa ‘alaihis salam.”
Maka perhatikanlah ungkapan Al-Quran tentang meninggalkan agama oleh Bal’am ketika kamu membaca: “kemudian dia melepaskan diri daripadanya” yaitu: keluar dari ayat-ayat Allah dan agama-Nya sama sekali, maka setan menguasainya, maka ia termasuk orang-orang yang sesat, Tuhan kita berfirman: “Dan sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu” (Surat Al-A’raf: 176) yaitu dengan ayat-ayat ini, maka ia tidak tunduk kepada tipu daya setan, dan setan tidak mampu mencapainya; karena Allah berfirman sejak awal penciptaan: “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, tidak ada kekuasaan bagimu atas mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat” (Surat Al-Hijr: 42), tetapi Bal’am cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya, maka ia condong kepada dunia dan kenikmatan, dan tidak melihat ke atas, bahkan ia tunduk pada syahwat dan ketamakannya, maka ia berpegang teguh pada dunia, tidak menoleh kepada yang lain, dan Allah menyerupakannya dengan anjing yang terjulur lidahnya, yang lidahnya keluar karena kehausan ketika berlari keras atau panas terik.
Imam Fakhruddin Ar-Razi berkata: “Dan ketahuilah bahwa perumpamaan ini tidak terjadi pada semua anjing, tetapi terjadi pada anjing yang terjulur lidahnya, dan hewan yang paling hina adalah anjing, dan anjing yang paling hina adalah anjing yang terjulur lidahnya, maka barangsiapa yang Allah berikan kepadanya ilmu dan agama lalu ia condong kepada dunia dan cenderung kepada dunia, maka ia menyerupai hewan yang paling hina, yaitu anjing yang terjulur lidahnya.”
Kemudian Fakhruddin ar-Razi menyebutkan dalam menegaskan perumpamaan ini: “Bahwa setiap sesuatu yang terengah-engah, maka ia terengah-engah karena kelelahan atau kehausan, kecuali anjing yang terengah-engah, karena ia terengah-engah dalam keadaan lelah, dalam keadaan istirahat, dalam keadaan haus dan dalam keadaan kenyang. Maka itu merupakan kebiasaan dan tabiatnya, dan ia terus-menerus melakukan hal itu sebagai kebiasaan aslinya dan tabiatnya yang hina, bukan karena kebutuhan dan keperluan. Demikian pula orang yang Allah berikan kepadanya ilmu dan agama, yang telah mencukupinya dari mengharapkan kotoran-kotoran (harta) manusia, namun ia condong untuk mencari dunia dan menjerumuskan dirinya ke dalamnya, maka keadaannya seperti keadaan anjing yang terengah-engah itu; ia terus-menerus melakukan pekerjaan hina dan perbuatan buruk, hanya karena jiwanya yang buruk dan tabiatnya yang hina, bukan karena kebutuhan dan keperluan.
Dan perumpamaan-perumpamaan yang Allah berikan untuk orang-orang kafir, musyrik dan munafik dalam Al-Quran sangatlah banyak, dan berhadapan dengannya adalah perumpamaan-perumpamaan yang Allah sebutkan untuk orang-orang beriman, ahli ibadah dan orang-orang yang taat. Dan perumpamaan-perumpamaan ini -sebagaimana telah kami sebutkan- telah disusun kitab-kitab tentangnya, dan membutuhkan ceramah demi ceramah.
Contoh-contoh Perumpamaan yang Allah Berikan dalam Al-Quran untuk Dunia
Oleh karena itu saya cukupkan dengan apa yang telah saya sebutkan untuk berpindah kepada jenis lain dari perumpamaan-perumpamaan Al-Quran, dan marilah kita pilih dari perumpamaan-perumpamaan itu apa yang datang berupa penggambaran dan perumpamaan tentang dunia, kesenangan, perhiasannya, kegemilangannya, cepatnya berlalu dan lenyapnya, dan apa yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang berakal dari manusia dalam hal tidak condong kepadanya dan tidak tertipu dengan kemegahannya, dari apa yang akan kita lihat dalam gambaran-gambaran yang dilukiskan Al-Quran untuknya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu bercampur dengan tumbuh-tumbuhan di bumi yang darinya manusia dan binatang ternak memakan, hingga apabila bumi itu telah mengambil perhiasannya dan berhias, dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti berkuasa atasnya, datanglah keputusan Kami kepadanya pada malam hari atau siang hari, lalu Kami jadikan (tanaman-tanamannya) seperti tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang berpikir.” (Yunus: 24). Maka dalam perumpamaan ini Allah menyerupakan dunia dan perhiasannya dengan bumi yang turun kepadanya hujan dari langit, lalu menumbuhkan tanaman, pepohonan, bunga, tanaman hias dan rumputnya, sehingga bumi itu berpakaian dengan kehijauan, keindahan dan kesegaran, dan pemiliknya mengira bahwa mereka mampu memanen tanamannya, dan mengambil buahnya, dan mereka tidak tahu bahwa Tuhan Yang Maha Kuat lagi Maha Kuasa, yang menjadikannya tanaman yang menggembirakan, pepohonan yang rimbun, dan tumbuhan yang subur, berkuasa untuk mengirimkan kepada bumi itu azab dari langit, dan Dia -Mahasuci dan Mahatinggi- telah melakukan itu, maka datanglah keputusan Allah kepadanya pada malam hari atau siang hari, lalu Dia jadikan tanaman-tanamannya seperti tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin, dan sesungguhnya Dia melakukan itu karena dosa-dosa pemiliknya, dan dalam hal itu terdapat ayat-ayat yang jelas dan nyata bagi kaum yang berpikir.
Maka barangsiapa mengira bahwa dia telah memiliki dunia dengan kesenangan dan perhiasannya, dan bahwa dia telah menjadi mampu mengarahkan kemudinya, dengan sumber-sumber kekuatan yang disediakan untuknya, maka sangkaannya keliru; karena kunci-kunci langit dan bumi ada di tangan Tuhan yang menciptakan langit dan bumi. Dan ini adalah ayat-ayat Allah yang dilihat manusia di setiap tempat, berupa gempa bumi atau gunung berapi atau badai, yang membinasakan yang hijau dan yang kering, membunuh dan mengungsikan ribuan orang, dan menghilangkan kota-kota dan negeri-negeri dari muka bumi, maka apakah orang-orang yang lalai itu memahami hal tersebut?
Dan dekat dengan perumpamaan itu adalah apa yang engkau lihat dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan buatlah perumpamaan bagi mereka (kehidupan) dunia, seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Al-Kahfi: 45) dan apa yang engkau baca dalam surah Al-Hadid dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al-Hadid: 20).
Maka Allah memerintahkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memberikan perumpamaan kepada manusia tentang kehidupan dunia, dan tidak ada perumpamaannya dalam cepatnya lenyap dan berubahnya terhadap penghuninya, kecuali seperti perumpamaan bumi yang turun kepadanya hujan dari langit, lalu bercampur dengan air ini tumbuhan bumi, maka tumbuhan itu tumbuh, berdaun, berbunga dan berbuah, kemudian berlalulah masanya, dan tibalah waktu pemanennya, lalu menjadilah ia kering yang diterbangkan oleh angin, dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
Dan dalam perumpamaan surah Al-Hadid, Allah menarik perhatian makhluk-Nya dan berfirman kepada mereka: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan” (Al-Hadid: 20) maka perkara ini membutuhkan pengetahuan hati, yang berarti terjaganya dan perhatiannya, untuk memandang dunia dengan pandangan yang meneliti agar mengetahui hakikatnya, dan seandainya manusia memahami dan memperhatikan hal itu; niscaya mereka akan mengetahui bahwa dunia hanyalah sesaat dan berlalu, dan saat-saat lalu berlalu, maka hendaknya mereka memperhatikan hal itu, dan hendaknya mereka berlomba-lomba di antara mereka menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya, itulah karunia Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memiliki karunia yang agung.
Dan semoga Allah memberkahi, merahmati dan melimpahkan berkah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya.
Pelajaran: 18 Metode Para Nabi dalam Berdakwah kepada Allah
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Pelajaran Kedelapan Belas (Metode Para Nabi dalam Berdakwah kepada Allah)
Hikmah dari Penciptaan Manusia
Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, amma ba’du:
Maka kita membahas contoh-contoh dari dakwah para rasul ‘alaihimussalam:
Seandainya kita merenungkan Kitabullah niscaya kita tahu bahwa Allah menciptakan manusia untuk suatu tujuan, yaitu agar menjadi khalifah di bumi yang memakmurkannya sesuai dengan metode Allah, maka Dia menciptakan untuk itu Adam ‘alaihissalam dan mengajarkan kepadanya nama-nama seluruhnya, dan menyuruh malaikat-malaikat sujud kepadanya, dan menempatkannya di surga-Nya, dan menciptakan untuknya dari tulang rusuknya yang kiri pendamping hidupnya yaitu Hawa, dan setelah ujian yang terjadi pada Adam dan Hawa di surga, keduanya turun ke bumi, dan di sana ada Iblis, yang bermaksiat kepada Tuhannya sehingga tidak sujud kepada Adam, dan dia berkata dalam menjelaskan alasan tidak sujudnya: “Aku lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (Al-A’raf: 12) Tuhan kita berfirman: “Turunlah dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina. Iblis menjawab: “Beri tangguhlah aku sampai waktu mereka dibangkitkan.” Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh.” Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” Allah berfirman: “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semua.” (Al-A’raf: 13-18).
Dan dimulailah kisah kehidupan di muka bumi dengan Adam, Hawa dan Iblis, dalam kisah pertarungan antara kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan kebatilan, dan hukumnya “Jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah dia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan.” Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.” (Thaha: 123-127).
Dan bacalah kisah penciptaan pertama di surah Al-Baqarah, Al-A’raf, Thaha dan Shad, dan bacalah isyarat-isyarat peringatan dari setan dan tipudayanya di surah An-Nisa’, Al-Isra’ dan Al-Kahfi, dan Adam adalah nabi pertama di bumi ini, dia datang dan bersamanya ada metode Tuhannya, lalu dia mendidik dengan metode ini anak-anaknya dan cucu-cucunya, jika tidak maka siapakah yang mengajari dua putra Adam untuk mempersembahkan kurban kepada Allah, dan kapan kurban itu diterima dan kapan tidak diterima, dan siapakah yang mengajari keduanya bahwa membunuh itu haram, dan bahwa ada neraka yang akan dimasuki oleh orang yang membunuh tanpa hak, dan sebagainya dari apa yang engkau lihat, dan engkau membaca ayat-ayat dalam surah Al-Ma’idah dalam firman Yang Mahamulia lagi Mahatinggi: “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa.” (Al-Ma’idah: 27) hingga firman-Nya: “Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkatalah Qabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu jadilah dia seorang yang menyesal.” (Al-Ma’idah: 31).
Dan dengan berlalunya waktu, redup cahaya risalah yang Allah kirimkan dengan utusan-Nya, dan kafilah menyimpang dari jalan, dan manusia melupakan Tuhan mereka, dan menyembah selain Pencipta dan Pemberi rezeki mereka, maka Allah mengutus kepada mereka rasul yang lain yang mengembalikan mereka kepada Allah dan mengingatkan mereka kepada-Nya, dan rasul ini membawa bersama dia kitab yang di dalamnya terdapat metode kehidupan, yang sesuai dengan kondisi dan keadaan mereka, dan demikianlah berlanjut risalah-risalah, setiap kali seorang rasul pergi, Allah mengutus rasul yang lain, dan oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surah Al-Mu’minun, setelah menyebutkan Nuh dan Hud: “Kemudian Kami utus rasul-rasul Kami berturut-turut. Setiap datang kepada suatu umat rasulnya, mereka mendustakannya, maka Kami susulkan sebagian mereka (yang satu) kepada sebagian (yang lain) dan Kami jadikan mereka buah tutur. Maka kebinasaanlah bagi kaum yang tidak beriman.” (Al-Mu’minun: 44) kemudian Dia menyebutkan Musa dan Isa ‘alaihimassalam.
Dan Allah telah menyebutkan dalam Al-Quran dari para rasul ini dua puluh lima rasul, padahal para rasul yang diutus lebih banyak dari itu, dan oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang sesudahnya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yakub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (An-Nisa’: 163-165), dan Allah berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antaranya ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu.” (Ghafir: 78).
Dan setiap rasul sebelum Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diutus khusus kepada kaumnya, dan oleh karena itu Allah mengutus lebih dari satu rasul pada waktu yang sama, sebagaimana engkau lihat itu dalam pengutusan Ibrahim dan Luth ‘alaihimassalam, dan dalam pengutusan Yakub dan Yusuf yang merupakan putra Yakub, dan keduanya adalah nabi yang diutus, dan Zakariya, Yahya dan Isa ‘alaihimussalam, sebagaimana setiap rasul yang diutus itu diutus untuk periode dari masa, maka risalahnya tetap ada setelahnya hingga mengalami pengubahan dan penyelewengan; pada saat itulah Allah mengutus rasul yang lain; karena Allah dengan rahmat-Nya tidak membiarkan manusia bingung berkelana dalam kesesatan kebatilan, maka ketika umat manusia mencapai tahap yang membutuhkan risalah yang menyeluruh dan kekal, Allah memilih dari makhluk-Nya seorang laki-laki yang Dia didik dan Dia bentuk dengan pembentukan Ilahi, laki-laki itu adalah Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dan mungkin tidak tersembunyi bagi kalian bagaimana Allah mendidik Muhammad dan memilihnya mengumpulkan sifat-sifat kesempurnaan manusiawi yang Dia anugerahkan kepadanya, lalu mengutusnya untuk seluruh manusia dan menjadikannya penutup para rasul Allah, dan menjadikan mukjizatnya yang membuktikan kenabian-nya berupa Al-Quran yang dibaca, dan Dia sendiri menjaga pemeliharaan Al-Quran ini, maka tidak ada kekuatan di bumi sepanjang abad yang mampu mengubah satu huruf pun di dalamnya, dan Dia ukir huruf-hurufnya di lembaran hati-hati, maka tidak ada seorang pun dari orang-orang yang penuh kebencian, dengki dan penipu yang mampu mencapainya untuk menghapus satu huruf dari huruf-hurufnya atau satu kata dari kata-katanya.
Dan Al-Quran tetap menjadi cahaya yang menerangi jalan bagi manusia, dan akan tetap demikian selama kehidupan ada, dan ayat-ayat Al-Quran yang menjelaskan hal itu banyak dalam Kitabullah, dan yang menarik perhatian dalam ayat-ayat ini adalah bahwa ayat-ayat itu adalah ayat-ayat Makkiyah, yang berarti bahwa sifat universal risalah bukanlah seperti yang diklaim oleh para orientalis hasil dari perkembangan historis dakwah, dan bahwa Muhammad berpindah dengan dakwah dari yang rahasia ke yang terang-terangan, ke dakwah penduduk Makkah, ke orang-orang yang datang ke Makkah, hingga dia hijrah dan berperang dan menang, lalu mulai berkirim surat dengan para penguasa dan raja-raja, kemudian dia mengira bahwa dia diutus untuk seluruh manusia, dan dia mengklaim bahwa dia adalah rasul terakhir yang diutus kepada manusia, tetapi Allah berfirman kepadanya sejak fajar risalah: “Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Al-Anbiya’: 107) dan Allah berfirman: “Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.” (Al-A’raf: 158) dan Allah berfirman: “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan.” (Saba’: 28) dan ini semua adalah ayat-ayat Makkiyah.
Dan Allah berfirman kepadanya dalam surah Al-Ahzab: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (Al-Ahzab: 40). Dan surah Al-Ahzab adalah surah Madaniyah, datang ayat ini di dalamnya menetapkan kebenaran ini, kebenaran bahwa Muhammad adalah penutup para nabi, maka risalahnya mengumpulkan apa yang dibawa oleh para rasul yang mendahuluinya, dan menambahkan padanya penetapan kaidah-kaidah yang memperbaiki setiap zaman dan tempat.
Dan semua nabi datang berdakwah kepada tauhid Allah dalam uluhiyah, rububiyah, asma’ dan sifat-Nya, sebagaimana mereka sepakat dalam dakwah kepada akhlak mulia, berupa kejujuran, menepati janji, mencintai kebaikan dan amal saleh, dan sebagainya dari akhlak mulia, dan dalam sisi perundang-undangan datang setiap nabi dengan apa yang sesuai dengan keadaan kaumnya, dan dalam sisi ibadah mereka sepakat dalam pokoknya berupa shalat, puasa dan zakat, meskipun cara pelaksanaannya berbeda, yang mengarah kepada pelaksanaannya dengan mudah sesuai kemampuan setiap umat, dan dengan iman yang benar kepada Allah, dan apa yang berdiri di atas iman ini berupa bangunan akhlak dan ibadah yang menghubungkan hamba dengan Tuhannya, dan dari muamalah yang berdiri di atas petunjuk Allah, manusia hidup di jalan yang tergambar dan terang dengan cahaya wahyu, orang beriman mengetahui hubungannya dengan Tuhannya, dan hubungannya dengan dirinya, dan hubungannya dengan masyarakatnya, sesuai dengan metode yang tidak sesat dan tidak bercampur dengan hawa nafsu; karena ia adalah metode Tuhan yang menciptakan makhluk, dan Dia lebih mengetahui siapa yang Dia ciptakan, dan Dia Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.
Jalan Para Nabi dalam Menyampaikan Risalah Tuhan Mereka
Bagaimana para nabi menempuh jalan sehingga mereka dapat menyampaikan risalah Tuhan mereka, dan sampai kepada hati serta akal orang-orang yang tersesat dalam kesesatan kebatilan, lalu mereka menunjukkan kepada mereka jalan kebahagiaan di dunia dan akhirat? Penjelasan tentang jalan ini dan pembahasan mengenai metode ini memerlukan kita untuk melihat semua yang dibawa oleh para nabi dalam dakwah mereka kepada manusia; agar kita melihat bagaimana mereka berhasil meyakinkan umat-umat mereka untuk berpindah dari kekufuran kepada keimanan, dari akhlak yang buruk kepada akhlak yang baik, dan bagaimana mereka membuat mereka tertarik untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan shalat, puasa, zakat, dan berbagai macam dzikir, serta bagaimana mereka membuat mereka mengambil syariat Allah dalam kehidupan mereka. Ini berarti perlu merujuk kepada apa yang tercantum dalam Kitab Allah tentang semua itu, dan ini adalah perkara yang sulit untuk dicapai karena memerlukan waktu. Dan kami ingin berdiri pada bagaimana para rasul berhasil dalam menyampaikan risalah Tuhan mereka, maka cukuplah bagi kita untuk menunjukkan dalil-dalil atau sebagiannya, dan kami tidak akan merinci kecuali sesuai dengan yang dikehendaki oleh konteks.
Permulaan jalan adalah bahwa akidah dan amal yang bergantung padanya tidak datang dengan paksaan, karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Tidak ada paksaan dalam agama. Sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat” (Surat Al-Baqarah: 256). Dan sesungguhnya keyakinan timbul dari kekuatan hujjah dan kejernihan dalil, yang dibawa kepada manusia oleh seorang laki-laki yang memiliki kualifikasi yang menjadikannya diterima. Para rasul alaihimus salam berada pada tingkat paling sempurna dari sisi penciptaan fisik dan akhlak manusia. Mereka adalah orang-orang terhormat dari kaum mereka, tidak ada satupun dari mereka yang memiliki aib yang menjijikkan atau akhlak yang buruk. Mereka adalah manusia yang paling sempurna dalam hal adab, amanah, kejujuran, dan keikhlasan. Oleh karena itu, setiap rasul datang mengatakan kepada kaumnya: “Sesungguhnya aku adalah utusan (Allah) kepada kamu yang dapat dipercaya” (Surat Asy-Syu’ara: 107). Allah menyebutkan sebagian yang mengatakan itu dalam Surat Asy-Syu’ara, dalam Surat Al-A’raf, dan dalam Surat Ad-Dukhan. Oleh karena itu, penduduk Mekah memberi gelar kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebelum diutus sebagai “As-Shadiq Al-Amin” (yang jujur lagi terpercaya).
Mari kita renungkan bagaimana pohon tauhid ditanam dalam kesadaran dan hati orang-orang yang tidak beragama, yaitu para ateis, dan orang-orang yang menyembah berhala, patung, bintang-bintang, dan makhluk-makhluk lainnya. Dalam sejarah dunia telah tumbuh tumbuhan yang busuk yaitu ateisme, yang maknanya: pengingkaran terhadap adanya tuhan pencipta alam semesta ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan mereka berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa,’ dan mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanyalah menduga-duga belaka” (Surat Al-Jatsiyah: 24). Sebagaimana ada kelompok lain yang mengakui Allah sebagai pencipta dan pemberi rezeki yang menghidupkan dan mematikan, namun kelompok ini memalingkan ibadah dan ketaatannya kepada berhala atau patung atau batu atau yang semacam itu, dan mengklaim bahwa sesembahan-sesembahan ini adalah perantara yang mendekatkan mereka kepada Allah. Maka meskipun mereka mengesakan Allah dalam rububiyah-Nya, namun mereka mempersekutukan-Nya dalam uluhiyah-Nya dan dalam nama-nama serta sifat-sifat-Nya.
Bagaimana Para Nabi Mencabut Benih Ateisme dan Syirik Ini?
Ketika Allah menyebutkan orang-orang yang berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa,” Allah berfirman: “Dan mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanyalah menduga-duga belaka” (Surat Al-Jatsiyah: 24). Maka Allah menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang bodoh yang tidak memahami hakikat segala sesuatu, dan tidak memahami apa yang dikehendaki oleh pemikiran yang benar, yaitu bahwa makhluk pasti memerlukan pencipta, sebab memerlukan yang menyebabkan, dan keberadaan memerlukan yang mengadakan. Dan bahwa alam semesta ini dengan segala keteraturan dan kesempurnaannya, bahkan setiap partikel di dalamnya membawa keajaiban penciptaan yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata, dan semua itu menunjukkan kepada tuhan yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan.
Konteks tidak cukup luas untuk menyebutkan apa yang dikatakan para ulama dalam membantah orang-orang yang mengatakan bahwa alam semesta ini ada karena kebetulan. Maka kita cukupkan dengan sebagian dari apa yang disebutkan oleh Ulama “Newton”, ilmuwan alam terbesar, dia berkata: “Jangan ragu terhadap Sang Pencipta; karena tidak masuk akal bahwa kebutuhan sendiri adalah pengendali keberadaan; karena kebutuhan buta yang seragam di setiap tempat dan waktu tidak mungkin dapat mengeluarkan keragaman dalam makhluk-makhluk ini, dan tidak pula seluruh keberadaan ini dengan segala keteraturan bagian-bagiannya dan keserasiannya dengan perubahan waktu dan tempat. Bahkan semua ini tidak masuk akal kecuali berasal dari makhluk azali yang memiliki hikmah dan kehendak.”
Dia berkata: “Sesungguhnya yang pasti adalah bahwa gerakan-gerakan planet saat ini tidak mungkin muncul dari aksi gravitasi umum; karena kekuatan-kekuatan ini mendorong planet-planet menuju matahari, maka untuk membuat planet-planet ini berputar mengelilingi matahari, harus ada tangan ilahi yang mendorongnya pada garis singgung orbit mereka.”
Dia berkata: “Harus ada sebab yang mengetahui materi-materi ini, membandingkan antara jumlah materi yang ada di benda-benda langit yang berbeda, memahami apa yang harus dikeluarkan dari kekuatan luar biasa, dan menghitung jarak-jarak yang berbeda antara planet-planet dan matahari, dan antara satelit-satelitnya, serta menghitung kecepatan yang dengannya planet-planet dan satelit-satelitnya dapat berputar mengelilingi benda-benda yang layak menjadi pusat bagi mereka.”
Dia berkata: “Bagaimana tubuh-tubuh hewan terbentuk dengan keahlian yang indah ini, dan untuk tujuan apa bagian-bagiannya yang berbeda ditempatkan? Apakah masuk akal mata yang dapat melihat dibuat tanpa ilmu tentang prinsip-prinsip penglihatan dan hukum-hukumnya, dan telinga tanpa pemahaman tentang hukum-hukum suara? Bagaimana terjadi bahwa gerakan-gerakan hewan diperbaharui dengan kehendak mereka, dan dari mana datang ilham fithrah dalam jiwa hewan-hewan ini? Maka semua makhluk ini dalam keberadaannya dengan bentuk yang paling indah dan paling sempurna, bukankah menunjukkan kepada adanya tuhan yang suci dari kejasmanian, yang hidup lagi bijaksana, ada di setiap tempat, yang melihat hakikat segala sesuatu pada diri-Nya, dan memahami dengan pemahaman yang paling sempurna.”
Ini sebagian dari apa yang dikatakan para ulama ini, dan ayat-ayat Al-Quran ketika menampilkan keajaiban ciptaan Allah dalam makhluk-Nya, sesungguhnya membimbing orang-orang bingung yang hidup dalam khayalan ini, bahwa yang menciptakan itu pasti merupakan tuhan yang ada. Bagaimana mungkin akal mengingkari-Nya? Di antara ayat-ayat yang banyak ini adalah apa yang Anda baca dalam Surat Al-An’am, dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Sesungguhnya Allah yang menumbuhkan butir (padi-padian) dan biji (kurma). Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Itulah (kekuasaan) Allah, maka mengapa kamu masih berpaling? Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketetapan Allah Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui. Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Kami telah menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui” (Surat Al-An’am: 95-97), hingga firman-Nya: “Itulah Allah, Tuhan kamu, tidak ada tuhan selain Dia, Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia, dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu. Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dialah Yang Maha Halus, Maha Mengetahui” (Surat Al-An’am: 102-103).
Dan jika ateisme hanya terbatas pada beberapa individu dalam lingkungan Arab tempat turunnya Al-Quran, maka syirik dengan Allah adalah akidah yang tersebar luas di kalangan Arab dan non-Arab, dengan berbagai macam sesembahan yang disembah di berbagai penjuru bumi. Para rasul menempuh segala cara untuk mencabut kuman ini dari fithrah manusia, dan untuk mengembalikan manusia kepada jalan yang benar. Ringkasan metode yang mereka tempuh adalah: perpindahan dari tauhid rububiyah kepada tauhid uluhiyah dan mengesakan tuhan dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta dalam menjelaskan kelemahan dan ketidakmampuan sesembahan mereka, yang tidak mungkin diingkari. Setiap rasul datang memerintahkan kaumnya untuk beribadah kepada Allah semata. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku” (Surat Al-Anbiya: 25).
Dan Anda membaca dalam Surat Al-A’raf sebuah kalimat yang disebutkan oleh Nuh, Hud, Shalih, dan Syu’aib, yaitu ucapan setiap dari mereka: “Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia” (Surat Al-Mu’minun: 23). Dan ini adalah kalimat yang diucapkan oleh setiap nabi kepada kaumnya, dan dibawa oleh Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Allah menyebutkan kepadanya dalam wahyu yang diturunkan kepadanya dalil-dalil pembuktiannya, setelah mengingatkan bahwa Muhammad dalam hal ini melengkapi perjalanan para rasul sebelumnya, dalam menyeru umat manusia kepada ibadah kepada Allah Yang Maha Esa lagi Maha Tunggal.
Dalam hal itu Anda membaca ayat-ayat yang mengambil pengakuan dari orang-orang musyrik tentang Allah sebagai pencipta dan pemberi rezeki, yang disucikan oleh tujuh langit dan bumi serta siapa yang ada di dalamnya, dan di tangan-Nya kerajaan segala sesuatu dan Dia melindungi sedangkan tidak ada yang dapat melindungi dari-Nya, untuk mencela orang-orang musyrik ini yang berpaling dari beribadah kepada tuhan ini kepada selain-Nya dari tuhan-tuhan yang tidak dapat membahayakan dan tidak dapat memberi manfaat. Bacalah dalam hal itu apa yang disebutkan Allah dalam Surat Yunus, dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Allah.’ Maka katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?’ Dialah Allah, Tuhan kamu yang sebenarnya, maka tidak ada sesuatu pun sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Bagaimana kamu dapat dipalingkan (dari kebenaran)?” (Surat Yunus: 31-32) dan ayat-ayat setelahnya.
Dan bacalah dalam Surat Al-Mu’minun setelah Tuhan kita menjelaskan dan mengingatkan tentang apa yang tidak ada perselisihan tentangnya bahwa Dialah yang menciptakan untuk mereka pendengaran, penglihatan, dan hati, dan bahwa Dialah yang mengadakan mereka di bumi ini, dan bahwa Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan bagi-Nya pergantian malam dan siang, dan dalam setiap perkara dari perkara-perkara ini Dia mengomentari dengan apa yang menyeru mereka untuk bersyukur kepada-Nya dan takut kepada-Nya, dan merenungkan ayat-ayat-Nya, Dia berfirman kepada mereka: “Katakanlah: ‘Kepunyaan siapakah bumi dan siapa yang ada di dalamnya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘Maka mengapa kamu tidak ingat?’ Katakanlah: ‘Siapakah Tuhan yang memiliki langit yang tujuh dan Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘Maka mengapa kamu tidak bertakwa?’ Katakanlah: ‘Siapakah yang di tangan-Nya kerajaan segala sesuatu, dan Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘(Kalau demikian), maka dari mana kamu diperdayakan?’ Sebenarnya Kami telah mendatangkan kebenaran kepada mereka, sedangkan mereka benar-benar orang-orang yang dusta” (Surat Al-Mu’minun: 84-90).
Kemudian Dia menetapkan keesaan-Nya dengan dalil yang paling jelas, maka berfirman: “Allah tidak mempunyai anak, dan tidak ada tuhan (yang lain) bersama-Nya, kalau ada tuhan bersama-Nya, tentulah masing-masing tuhan itu membawa makhluk yang diciptakannya, dan tentulah sebagian dari tuhan-tuhan itu mengalahkan sebagian yang lain. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu. Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Maka Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan” (Surat Al-Mu’minun: 91-92).
Dan bacalah dalam Surat An-Naml firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Katakanlah: ‘Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya.’ Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya)? Atau siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu taman-taman yang berpemandangan indah, yang kamu tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran). Atau siapakah yang menjadikan bumi sebagai tempat yang tetap dan menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan)nya dan menjadikan antara dua laut ada pembatas? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan kebanyakan mereka tidak mengetahui. Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (itulah) kamu mengingat(nya). Atau siapakah yang memimpin kamu dalam kegelapan di darat dan di laut dan yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Mahatinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya). Atau siapakah yang menciptakan (makhluk) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Katakanlah: ‘Tunjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu orang-orang yang benar'” (Surat An-Naml: 59-64).
Bacalah ayat-ayat ini agar kalian melihat bagaimana kebenaran berpindah dengan mereka dalam gaya yang tidak dapat diperdebatkan, dari penyerahan mereka terhadap apa yang disebutkan dalam setiap ayat untuk bertanya kepada mereka dengan pertanyaan penetapan dan pengingkaran: Apakah ada tuhan bersama Allah, apakah ada tuhan bersama Allah? Dan seandainya mereka ingin mencari kebenaran, tentulah mereka tidak akan berhenti dan akan berkata: Tidak ada tuhan selain Allah, sebagaimana mereka berkata: Tidak ada Tuhan selain Allah. Dan selain itu masih ada ayat-ayat yang mengambil tangan mereka dari tauhid rububiyah kepada tauhid uluhiyah, dan yang mengharuskan pengesaan tuhan ini dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
Dan tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Tunggal yang memiliki sifat-sifat keagungan dan kesempurnaan ini, tidak menciptakan manusia dengan sia-sia, tetapi menciptakan mereka untuk beribadah kepada-Nya, dan bergantung pada itu adalah kembalinya mereka kepada-Nya untuk mempertanggungjawabkan mereka: “Barangsiapa berbuat kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa berbuat kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya” (Surat Az-Zalzalah: 7-8). Dan orang-orang kafir dari kalangan ateis dan musyrik menganggap itu mustahil, dan orang-orang ateis berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.” Bahkan orang-orang musyrik juga berkata demikian, dan berkata: Ini adalah sesuatu yang aneh. “Dan orang-orang kafir berkata: ‘Apakah apabila kami telah menjadi tanah dan nenek moyang kami (pula), apakah kami benar-benar akan dikeluarkan (dari kubur)? Sungguh, kami dan nenek moyang kami telah dijanjikan ini sejak dahulu, ini tidak lain hanyalah dongeng orang-orang terdahulu'” (Surat An-Naml: 67-68). Maka mereka berhenti dengan keyakinan ini pada ambang kehidupan dunia, dan mengira bahwa kehidupan berakhir dengan kematian, dan bahwa jika mereka mati maka tidak ada apa-apa setelah itu. Bagaimana para rasul Allah mampu mencabut keyakinan yang rusak ini dari hati dan akal orang-orang yang sesat ini?
Dalam Al-Quran Anda melihat bahwa Allah menjelaskan bahwa Dia tidak menciptakan makhluk-Nya dengan sia-sia. “Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu secara sia-sia dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Surat Al-Mu’minun: 115). Dan tidak termasuk hikmah bahwa Allah menciptakan makhluk, dan begitu kehidupan mereka di dunia ini berakhir dan mereka mati, maka berakhirlah segala sesuatu, tidak ada perhitungan dan tidak ada balasan; karena bagaimana mungkin kematian menjadi akhir dari kisah manusia di bumi ini, padahal ada orang yang zalim dan yang terzalimi, orang kafir dan orang mukmin, orang yang taat dan yang bermaksiat, dan ada perbedaan dalam keberuntungan dunia ini dan dalam pemberian-pemberian Allah kepada makhluk-Nya? Ada yang terlahir dengan sendok emas di mulutnya, nikmat-nikmat Allah dan karunia-Nya menyambutnya sehingga dia hidup dalam kenikmatan, dan yang lain terlahir di atas ranjang kelaparan dan kemiskinan, bahkan mungkin terlahir tidak mengenal ayah dan ibu. Dan ada yang diberi Allah kesehatan, keselamatan, dan anak-anak yang sehat, dan yang lain terhalang dari itu, dan semua akan mati. Apakah dalam keadilan Allah bahwa Dia membiarkan mereka semua tanpa mempertanggungjawabkan mereka setelah mereka meninggalkan kehidupan dunia ini?
Sesungguhnya pengobatan keyakinan yang salah ini dimulai dengan pertanyaan kepada orang-orang kafir tentang siapa yang menciptakan mereka, dan siapa yang menciptakan langit dan bumi, sedangkan mereka tidak mengingkari bahwa Allah adalah Pencipta dan Pemberi rezeki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan sungguh, jika engkau tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?’ Tentu mereka akan menjawab: ‘Allah'” (Surat Al-‘Ankabut: 61). Dan berfirman: “Dan sungguh, jika engkau tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengannya bumi setelah matinya?’ Tentu mereka akan menjawab: ‘Allah'” (Surat Al-‘Ankabut: 63). Dan berfirman dalam Surat Luqman dan Az-Zumar: “Dan sungguh, jika engkau tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Tentu mereka akan menjawab: ‘Allah'” (Surat Luqman: 25). Dan berfirman dalam Surat Az-Zukhruf: “Tentu mereka akan menjawab: ‘Yang menciptakannya ialah (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui'” (Surat Az-Zukhruf: 9). Dan di dalamnya: “Dan sungguh, jika engkau tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan mereka?’ Tentu mereka akan menjawab: ‘Allah'” (Surat Az-Zukhruf: 87). Dan Dia mengomentari ayat-ayat ini dengan firman-Nya: “Maka bagaimana mereka dapat dipalingkan (dari kebenaran)?” (Surat Az-Zukhruf: 87), atau “Katakanlah: ‘Segala puji bagi Allah,’ tetapi kebanyakan mereka tidak mengerti” (Surat Al-‘Ankabut: 63), atau “Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui” (Surat Luqman: 25).
Dan selama mereka telah mengakui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat yang menciptakan mereka, dan Dia yang menciptakan langit dan bumi, maka tidak dapat tidak mereka harus mengakui bahwa Dia menciptakan mereka untuk suatu tujuan, yaitu agar mereka menunaikan hak penugasan mereka di bumi-Nya sesuai dengan apa yang Dia wahyukan kepada para nabi-Nya, dan setelah berakhir masa keberadaan mereka di dunia, mereka berpindah ke akhirat untuk perhitungan dan pembalasan. Inilah yang disebut dalam Al-Qur’an dengan kembali kepada Allah dan pertemuan dengan Allah. Jika akal mengakui kebenaran ini dan mengatakan bahwa pasti ada kebangkitan dan perhitungan, maka Al-Qur’an telah menjelaskan hal itu secara panjang lebar sehingga tidak tersisa hujah bagi siapa pun dan tidak ada alasan bagi orang yang berdalih. Berikut adalah sebagian dalil-dalilnya yang disampaikan dengan mudah, bercampur dengan akal dan perasaan, dan memancarkan cahaya yang membimbing kepada kebenaran dan jalan yang lurus.
Bacalah sebagian dari apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam Surah Ar-Rum dari firman-Nya: “Allah memulai penciptaan, kemudian mengulanginya, kemudian kepada-Nya kamu dikembalikan” (Ar-Rum: 11), dan ayat-ayat setelahnya yang menjelaskan keadaan orang-orang yang bersalah, orang-orang kafir, dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan-Nya, serta keadaan orang-orang beriman yang mengerjakan amal saleh. Renungkanlah dalam pembuktian hal itu firman-Nya dalam surah tersebut: “Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan Dia menghidupkan bumi setelah matinya. Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu menjadi manusia yang berkembang biak. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir” (Ar-Rum: 19-21) sampai Dia berfirman: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan kehendak-Nya, kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu kamu keluar (dari kubur)” (Ar-Rum: 25) sampai Dia berfirman: “Dan Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya, dan itu lebih mudah bagi-Nya” (Ar-Rum: 27). Dan tidak ada sebagaimana kalian ketahui dalam kaitannya dengan kekuasaan Allah yang mudah dan lebih mudah, karena urusan-Nya ada di antara Kaf dan Nun. “Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ Maka jadilah sesuatu itu” (Yasin: 82). Oleh karena itu, Dia berfirman: “Dan bagi-Nya-lah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana” (Ar-Rum: 27).
Dan dalil-dalil Al-Qur’an terus berlanjut dalam Surah Ar-Rum, maka engkau melihat di antaranya firman-Nya: “Allah, Dialah yang menciptakan kamu, kemudian memberi rezeki kepadamu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu (kembali). Adakah di antara yang kamu persekutukan itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Mahasuci Dia dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan” (Ar-Rum: 40). Dan jika orang-orang musyrik tidak meragukan tiga hal yang pertama: penciptaan, rezeki, dan kematian, maka tidak dapat tidak mereka harus mengakui perkara keempat yaitu menghidupkan mereka setelah kematian untuk perhitungan dan pembalasan, sebagaimana engkau lihat dalam firman-Nya dalam surah tersebut: “Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Dia menghidupkan bumi setelah matinya. Sungguh, (Tuhan) yang demikian itu pasti dapat menghidupkan orang yang mati. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu” (Ar-Rum: 50). Sesungguhnya Dia mengambil dari gambaran yang mereka lihat di hadapan mereka ini, di tanah yang kosong dari tumbuhan, Dia menamakannya dengan tanah yang mati, lalu benih ditanam di dalamnya dan turunlah hujan dari langit, atau disiram dengan air sungai atau mata air, dan asalnya adalah air dari langit, maka tiba-tiba tanah itu menghijau penuh keindahan dan kesegaran, kemudian tiba waktunya untuk dipanen lalu dipanen. Siapakah yang menghidupkannya setelah matinya? “Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya?” (Al-Waqi’ah: 64). Yang melakukan itu adalah Tuhan Yang Mahakuasa untuk menghidupkan orang-orang yang mati. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Mahaperkasa lagi Mahaagung mengancam orang-orang yang mengingkari kebenaran ini dengan berfirman: “Dan pada hari terjadinya Kiamat, orang-orang yang berdosa bersumpah bahwa mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan hanya sesaat saja. Demikianlah mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran). Dan berkatalah orang-orang yang diberi ilmu dan iman, ‘Sungguh, kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah sampai hari berbangkit; maka inilah hari berbangkit itu akan tetapi kamu dahulu tidak mengetahuinya.’ Maka pada hari itu tidaklah berguna bagi orang-orang yang zalim permintaan uzur mereka dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertobat” (Ar-Rum: 55-57).
Dan yang serupa dengan itu adalah apa yang kalian baca dalam Surah Qaf, setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan penolakan orang-orang musyrik terhadap kebangkitan, dengan dalih bahwa jasad-jasad mereka telah tercerai-berai dalam butiran-butiran tanah, lalu bagaimana dapat dikumpulkan dan kehidupan kembali kepada mereka, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Mahakuat lagi Mahakuasa menjawab mereka dengan firman-Nya: “Sungguh, Kami mengetahui apa yang dihilangkan oleh bumi dari (tubuh) mereka, dan pada sisi Kami ada kitab yang memelihara (mencatat)” (Qaf: 4). Kemudian Dia mulai menanyai mereka dan heran terhadap kelalaian mereka dengan berfirman: “Maka tidakkah mereka melihat ke langit di atas mereka, bagaimana Kami membangunnya dan menghiasinya dan tidak ada celah padanya sedikitpun? Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami pancangkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala jenis (tanaman) yang indah, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi setiap hamba yang kembali (kepada Allah). Dan Kami turunkan dari langit air yang membawa berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pepohonan dan biji-bijian yang dapat dipanen, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang memiliki mayang yang bersusun-susun, sebagai rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati (tandus). Seperti itulah terjadinya kebangkitan” (Qaf: 6-11). Dan dalam ayat-ayat yang berbicara tentang pemandangan hari kiamat, dan apa yang terjadi di dalamnya berupa kemenangan orang-orang beriman dan kerugian orang-orang kafir, dan apa yang ada di dalamnya berupa celaan terhadap orang-orang kafir karena kebodohan dan kelupaan mereka terhadap Tuhan mereka dan keangkuhan mereka, dan apa yang terjadi di sana berupa saling menyalahkan antara orang-orang yang sombong dan orang-orang yang lemah—dalam semua itu adalah pembuktian hari kebangkitan, pengumpulan, perhitungan, pembalasan, dan hari akhir. Dan ini adalah metode Ilahi yang disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kitab-Nya dan dibacakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke telinga manusia, dan beliau terus membacanya pada malam dan siang hari, dan mengajarkannya kepada kaum muslimin sehingga menjadi metode mereka dalam berdakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana metode rasul mereka. Dan dalam pengulangan ayat-ayat dengan keindahan penjelasan yang telah melemahkan orang-orang fasih dan ahli pidato, terdapat hal yang membuka jalan bagi hati untuk merespons panggilan ini.
Dan jika para rasul berhasil meyakinkan manusia bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Tunggal, Tempat Bergantung Segala Sesuatu, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya, dan jika mereka mampu membuka jalan untuk beriman dengan apa yang mengikuti hal itu berupa iman bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki malaikat-malaikat yang tidak mendurhakai Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan, dan bahwa Dia mengutus rasul-rasul dan menurunkan kepada mereka kitab-kitab yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, dan bahwa setelah kehidupan ini ada kehidupan lain yang di dalamnya orang yang berbuat baik dibalas dengan kebaikannya, dan orang yang berbuat jahat dengan kejahatannya—jika para rasul berhasil dalam hal itu, mereka memindahkan orang-orang beriman ke cakrawala yang luas, dalam rencana yang mencakup beberapa sisi: sisi pembinaan akhlak, sisi beribadah kepada Tuhan yang mereka imani, sisi berinteraksi dengan orang lain, hingga sisi-sisi lain dalam hubungan ekonomi, politik, kemanusiaan, dan internasional. Dan semua itu sesuai dengan metode yang jelas ciri-cirinya, bentuknya, dan dimensinya, tidak tersesat dan tidak bercampur dengan yang lain, dalam penjelasan yang terang. Barangsiapa mengikutinya akan bahagia dan mendapat pahala, dan barangsiapa meninggalkannya dengan kesombongan dan keangkuhan, mengira bahwa dia mampu merancang hidupnya sendiri dan merencanakan keberadaannya di bumi ini jauh dari wahyu langit—barangsiapa melakukan itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghancurkannya sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan shalawat, salam, dan berkah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para sahabatnya.
Pelajaran: 19 Sifat-sifat Dai dalam Al-Qur’an dan Caranya dalam Berdakwah
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Kuliah Kesembilan Belas (Sifat-sifat Dai dalam Al-Qur’an dan Caranya dalam Berdakwah)
Sifat-sifat Terpenting Dai
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan shalawat serta salam atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amma ba’du:
Dakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah tugas para nabi dan pengikut-pengikut mereka, serta para pembaharu di setiap zaman dan tempat. Topik kita yang akan kita bicarakan adalah: Sifat-sifat Dai dalam Al-Qur’an dan caranya dalam berdakwah. Bagaimana cara memahami unsur-unsur topik ini sesuai dengan metode tafsir maudhu’i (tematik)?
Sifat pertama adalah kepribadian dai, yaitu memiliki tubuh yang sehat, anggota tubuh yang sempurna, dan badan yang kuat. Kita melihat hal ini dalam kisah Thalut, yang dibangkitkan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai raja bagi Bani Israil. Dia berfirman kepada mereka: “Dan nabi mereka berkata kepada mereka, ‘Sesungguhnya Allah telah membangkitkan Thalut menjadi rajamu.’ Mereka menjawab, ‘Bagaimana Thalut memperoleh kerajaan atas kami, padahal kami lebih berhak atas kerajaan itu daripadanya, sedang dia tidak diberi kekayaan yang banyak?’ (Nabi) berkata, ‘Sesungguhnya Allah telah memilihnya (menjadi raja) atas kamu dan memberikan kelebihan ilmu dan (kekuatan) tubuh.’ Dan Allah memberikan kerajaan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui” (Al-Baqarah: 247). Maka Thalut memiliki kepemimpinan yang sukses dan kemenangan yang gemilang.
Dan ini adalah Nabi Musa alaihissalam, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan apa yang terjadi darinya berupa kekuatan yang membuatnya memukul salah satu musuhnya dengan pukulan yang membunuhnya. Tuhan kita berfirman: “Dan tatkala dia (Musa) cukup dewasa dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, dan dia menjumpai di sana dua orang yang berkelahi, yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan yang seorang lagi dari musuhnya (golongan Qibti). Orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya, lalu Musa meninjunya dan matilah musuh itu. Musa berkata, ‘Ini adalah perbuatan setan, sesungguhnya dia (setan) adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata. Dia (Musa) berdoa, ‘Ya Tuhanku, sungguh aku telah menzalimi diriku sendiri karena itu ampunilah aku.’ Maka Allah mengampuninya, sungguh Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Al-Qashash: 14-16).
Dan dengan kekuatan ini dia mampu mendapatkan air yang digunakannya untuk memberi minum ternak kedua putri Nabi Syu’aib alaihissalam, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: “Dan ketika dia tiba di sumber air negeri Madyan, dia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang memberi minum (ternaknya), dan dia menjumpai di belakang orang banyak itu dua orang perempuan yang sedang menghambat (ternaknya). Dia (Musa) berkata, ‘Apa maksudmu (dengan berbuat begitu)?’ Kedua (perempuan) itu menjawab, ‘Kami tidak dapat memberi minum (ternak kami) sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternak mereka), sedang ayah kami adalah orang tua yang telah lanjut usianya.’ Maka Musa memberi minum (ternak) itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, ‘Ya Tuhanku, sungguh aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.’ Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua (perempuan) itu berjalan dengan malu-malu, dia berkata, ‘Sesungguhnya ayahku mengundangmu agar dia dapat memberimu balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.’ Ketika dia (Musa) mendatangi ayahnya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), dia (Syu’aib) berkata, ‘Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu.’ Salah seorang dari kedua (perempuan) itu berkata, ‘Wahai ayahku! Jadikanlah dia sebagai pekerja (pada kita), sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya'” (Al-Qashash: 23-26).
Dan ini adalah Nabi Daud alaihissalam yang bekerja sebagai pandai besi, dan Nabi Nuh alaihissalam sebelumnya adalah tukang kayu yang ahli, membuat bahtera yang ditumpanginya bersama orang-orang yang beriman bersamanya, dan dia membawa sepasang-sepasang dari setiap jenis. Dan ketika air bah datang, bahtera itu berlayar membawa mereka di atas gelombang seperti gunung. Dan di antara para nabi, seperti Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada yang bekerja menggembala kambing. Dan itu semua adalah pekerjaan—sebagaimana kalian lihat—yang membutuhkan fisik yang kuat dan tubuh yang sehat. Dan apa yang terjadi pada Nabi Ayyub alaihissalam berupa ujian, hanyalah untuk sementara waktu kemudian kesehatannya, hartanya, dan anak-anaknya kembali kepadanya, sebagaimana firman-Nya: “Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, ‘Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.’ Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah” (Al-Anbiya’: 83-84).
Dan ini adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memiliki wajah yang indah dan tampak yang menawan. Imam Al-Ghazali berkata: “Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling tampan wajahnya dan paling bercahaya. Tidak ada yang mendeskripsikannya kecuali menyerupakannya dengan bulan purnama. Dan keridhaan dan kemarahannya terlihat di wajahnya karena kejernihan kulitnya.” Dan mereka mengatakan bahwa beliau adalah sebagaimana yang dideskripsikan oleh sahabatnya Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, di mana dia berkata:
“Terpercaya, terpilih untuk kebaikan, mengajak. Seperti cahaya bulan purnama yang telah terpisah darinya kegelapan.”
Dan sifat kedua pada diri dai adalah: kelancaran lisan, kecerdasan akal, dan keluasan wawasan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka” (Ibrahim: 4). Dan ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih Nabi Musa alaihissalam sebagai rasul dan berfirman kepadanya: “Pergilah kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. (Musa) menjawab, ‘Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah pembantuku dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku'” (Thaha: 24-32). Dan firman-Nya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa, ‘Datangilah kaum yang zalim itu, (yaitu) kaum Fir’aun. Tidakkah mereka bertakwa?’ Dia (Musa) menjawab, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku khawatir bahwa mereka akan mendustakan aku, dan dadaku terasa sempit dan lidahku tidak lancar, maka utuslah (Harun) bersama aku. Dan mereka mempunyai tuduhan dosa terhadapku, maka aku khawatir mereka akan membunuhku.’ (Allah) berfirman, ‘Sekali-kali tidak (demikian), maka pergilah kamu berdua dengan membawa ayat-ayat Kami, sesungguhnya Kami bersamamu mendengarkan'” (Asy-Syu’ara’: 10-15).
Dan Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang Arab yang paling fasih, dan beliau diberi jawami’ul kalim (ungkapan yang singkat namun padat makna), meskipun beliau tidak pernah duduk belajar kepada seorang guru pun, melainkan Tuhannya yang mengajarinya, sebagaimana firman-Nya: “Dan (Allah) telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu sangat besar” (An-Nisa’: 113). Dan barangsiapa membaca dalam Kitabullah perdebatan para nabi dengan orang-orang yang membangkang dan mendustakan risalah mereka, akan melihat bagaimana para nabi ini adalah manusia yang paling tinggi kedudukannya dalam hal kekuatan argumentasi, kebaikan ucapan, dan keluasan pemahaman mereka. Dan tidak cukup tempat untuk memaparkan berbagai jenis perdebatan ini, dan pelajaran bermanfaat yang ada di dalamnya untuk para dai. Setiap nabi memiliki pertempuran dan pergulatan dengan kaumnya, hingga mereka membungkam para penentang, dan tidak tersisa bagi mereka kecuali keras kepala dan membangkang.
Engkau membaca misalnya apa yang terjadi berupa dialog dan perdebatan antara Nabi Ibrahim alaihissalam dan Namrudz, dan apa yang terjadi dengan orang yang membangkang dan keras kepala ini, dan dia tidak mampu memberikan jawaban, sebagaimana firman-Nya: “Maka terperangahlah orang yang kafir itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (Al-Baqarah: 258). Sebagaimana kita membaca apa yang disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa dalil-dalil yang dikemukakan Ibrahim kepada para penyembah bintang, hingga ayat-ayat ditutup dengan firman-Nya: “Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki. Sungguh, Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui” (Al-An’am: 83). Dan hal-hal semacam itu yang mungkin akan kita sebutkan ketika kita berbicara tentang Nabi Ibrahim alaihissalam.
Dan sungguh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah mencapai puncak tertinggi dalam hal ini, beliau mendengarkan para penentangnya dengan penuh adab, dan menjawab mereka dengan apa yang meyakinkan mereka, dan menyampaikan dakwahnya kepada manusia sebagai cahaya yang menerangi jalan bagi mereka, dengan ungkapan-ungkapan yang mudah, dalil-dalil yang gemilang, dan hujah-hujah yang jelas, dan hal itu dimulai sejak awal dakwahnya hingga akhirnya, dalam khutbah-khutbah umumnya, majelis-majelis khususnya, dan pembicaraannya kepada para sahabatnya dan kepada orang lain, maka beliau meyakinkan akal dan memuaskan jiwa-jiwa serta hati-hati, dan ini adalah contoh dari kebijaksanaan beliau dan keluasan cakrawalanya dalam dakwahnya, yang kami sebutkan dari kisah Utbah bin Rabi’ah.
Ibnu Ishaq berkata: Dan telah menceritakan kepadaku Yazid bin Ziyad dari Muhammad bin Ka’ab Al-Quradzi, ia berkata: “Aku diceritakan bahwa Utbah bin Rabi’ah -dan ia adalah seorang pemimpin- berkata suatu hari ketika ia sedang duduk di perkumpulan Quraisy, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk di masjid sendirian: Wahai sekalian Quraisy, bagaimana jika aku mendatangi Muhammad lalu berbicara kepadanya dan menawarkan beberapa hal kepadanya, barangkali ia akan menerima sebagiannya, maka kita berikan kepadanya apa yang ia kehendaki, dan ia berhenti dari (dakwahnya terhadap) kita, dan itu terjadi ketika Hamzah masuk Islam, dan mereka melihat para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam semakin bertambah dan semakin banyak, maka mereka berkata: Baiklah wahai Abu Al-Walid, datangilah dia dan bicaralah dengannya. Maka Utbah bangkit mendatanginya hingga duduk di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: Wahai anak saudaraku, sesungguhnya engkau dari kami sebagaimana yang telah engkau ketahui dari segi kedudukan di kabilah -yaitu dari segi kehormatan dan kedudukan- dan posisi dalam nasab, dan sesungguhnya engkau telah mendatangi kaummu dengan perkara besar, engkau memecah belah persatuan mereka dengannya dan menganggap bodoh akal mereka dengannya, dan mencela tuhan-tuhan mereka dan agama mereka dengannya, dan mengkafirkan leluhur-leluhur mereka yang telah meninggal dengannya, maka dengarkanlah dariku, aku akan menawarkan kepadamu beberapa hal yang engkau pikirkan, barangkali engkau akan menerima sebagiannya.
Beliau berkata: Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Katakanlah -wahai Abu Al-Walid- aku akan mendengarkan.” Ia berkata: Wahai anak saudaraku, jika yang engkau inginkan dengan apa yang engkau bawa ini adalah harta, maka kami akan mengumpulkan untukmu dari harta-harta kami hingga engkau menjadi orang yang paling banyak hartanya di antara kami, dan jika engkau menginginkan kehormatan dengannya, maka kami akan menjadikanmu pemimpin atas kami -yaitu: kami jadikan engkau sebagai pemimpin atas kami- hingga kami tidak akan memutuskan suatu perkara tanpa sepengetahuanmu, dan jika engkau menginginkan kerajaan dengannya, maka kami akan mengangkatmu sebagai raja atas kami, dan jika yang datang kepadamu ini adalah penampakan -yaitu dari jin- yang engkau lihat dan tidak mampu engkau tolak dari dirimu, maka kami akan mencari pengobatan untukmu dan mengeluarkan harta-harta kami untuk itu hingga kami menyembuhkanmu darinya, karena sesungguhnya terkadang jin dapat menguasai seseorang hingga ia harus diobati darinya, atau sebagaimana yang ia katakan, hingga ketika Utbah selesai dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengarkan darinya, beliau bersabda: “Sudah selesaikah engkau wahai Abu Al-Walid?!” Ia berkata: Ya, beliau bersabda: “Maka dengarkanlah dariku.” Ia berkata: Aku akan melakukannya. Maka beliau bersabda: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Ha Mim. Diturunkan dari Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, Al-Quran dalam bahasa Arab untuk kaum yang mengetahui. Sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling, maka mereka tidak mendengarkan. Dan mereka berkata: Hati kami berada dalam tutupan dari apa yang engkau serukan kepada kami.“ (Fusshilat: 1-5).
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkannya dan membacakannya kepadanya, maka ketika Utbah mendengarnya dari beliau, ia mendengarkan dengan seksama, dan meletakkan kedua tangannya di belakang punggungnya bersandar padanya sambil mendengarkan darinya, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sampai pada ayat sajdah darinya lalu bersujud, kemudian bersabda: “Sungguh engkau telah mendengar wahai Abu Al-Walid apa yang engkau dengar, maka terserah padamu.”
Utbah bangkit -sebagaimana yang dikatakan Ibnu Ishaq- menuju teman-temannya, maka sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: Kami bersumpah demi Allah sungguh Abu Al-Walid telah datang kepada kalian dengan raut wajah yang berbeda dari ketika ia pergi. Maka ketika ia duduk di hadapan mereka, mereka berkata: Apa yang engkau bawa wahai Abu Al-Walid? Ia berkata: Yang aku bawa adalah bahwa sesungguhnya aku telah mendengar perkataan dan demi Allah aku belum pernah mendengar yang sepertinya sama sekali, dan demi Allah itu bukan syair dan bukan sihir dan bukan perdukunan, wahai sekalian Quraisy, turutilah aku dan jadikanlah itu sebagai urusanku, dan biarkanlah antara orang ini dengan apa yang ia lakukan maka menjauh darinya, karena demi Allah sungguh akan ada berita besar untuk perkataannya yang aku dengar darinya, maka jika orang-orang Arab menyerangnya maka sungguh kalian telah diselamatkan darinya dengan orang lain, dan jika ia menang atas orang-orang Arab maka kerajaannya adalah kerajaan kalian dan kekuatannya adalah kekuatan kalian, dan kalian akan menjadi orang yang paling beruntung dengannya. Mereka berkata: Dia telah menyihirmu demi Allah wahai Abu Al-Walid dengan lisannya. Ia berkata: Ini adalah pendapatku maka lakukanlah apa yang terlihat bagi kalian.
Dan seandainya kita mengikuti perjalanan dakwahnya shallallahu ‘alaihi wasallam, niscaya kita akan melihat seorang pendakwa kepada kebenaran dari jenis yang unik; karena apa yang telah diberikan kepadanya berupa kebaikan-kebaikan akhlak dan kekuatan pernyataan dan kejujuran dalam perkataan dan kelapangan dada, dan oleh karena itu tidak ada yang menolak dakwahnya kecuali orang yang keras kepala dan orang yang membenci serta dengki. Imam Al-Ghazali berkata -setelah menyebutkan sejumlah akhlak beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata: “Maka alangkah besarnya kebodohan orang-orang yang melihat keadaan-keadaannya, kemudian pada perkataan-perkataannya, kemudian pada perbuatan-perbuatannya, kemudian pada akhlak-akhlaknya, kemudian pada mukjizat-mukjizatnya, kemudian pada keberlangsungan syariatnya hingga sekarang, kemudian pada penyebarannya di berbagai penjuru dunia, kemudian pada ketundukan para raja bumi kepadanya di masanya dan setelah masanya, dengan kelemahan dan keyatimannya, kemudian masih ragu-ragu setelah itu terhadap kejujurannya, dan alangkah besarnya taufik orang yang beriman kepadanya dan membenarkannya, serta mengikutinya dalam segala yang datang dan pergi, maka kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk meneladani beliau dalam akhlak dan perbuatan dan keadaan dan perkataan dengan kemurahanNya dan keluasan kedermawananNya.”
Dan di antara sifat-sifat pendakwah adalah: Iman terhadap apa yang ia dakwahkan, dan semakin kuat ikatan iman di hatinya dan perasaannya, maka semakin mampu ia menyampaikan dakwahnya, dan oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Rasul beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, dan orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, dan rasul-rasulNya. Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun dari rasul-rasulNya. Dan mereka berkata: Kami mendengar dan kami taat. Ampunan-Mu ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat kembali.” (Al-Baqarah: 285) Dan berfirman: “Dan orang yang membawa kebenaran dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Az-Zumar: 33).
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah muslim yang pertama dan ahli ibadah yang pertama, dan orang-orang yang beriman mengikuti jalan rasul mereka, iman yang sempurna dan aktif adalah semboyan mereka dan pakaian mereka, dan metode serta perilaku “Semuanya beriman kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, dan rasul-rasulNya” (Al-Baqarah: 285) mereka mengumumkan dengan jelas bahwa iman mereka kepada rasul-rasul Allah adalah iman yang menyeluruh “Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun dari rasul-rasulNya”, dan Allah mengabarkan tentang mereka sebagai kesaksian bagi mereka, dan peninggian kedudukan mereka maka berfirman: “Dan mereka berkata: Kami mendengar dan kami taat. Ampunan-Mu ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat kembali.” (Al-Baqarah: 285), dan demikianlah semua rasul, dan demikianlah pengikut-pengikut rasul sepanjang tahapan-tahapan sejarah, dan tidaklah para rasul berhasil dalam dakwah mereka, dan tidaklah para pengikut mereka mengorbankan apa yang mereka korbankan, kecuali karena mereka beriman dengan iman ini kepada kebenaran yang bersama mereka, maka mereka adalah pemilik perkara yang mereka dakwahkan dan mereka membela dengannya. Dan bencana banyak orang yang terlibat dalam dakwah adalah bahwa mereka tidak merasakan bahwa mereka adalah pemilik perkara dan bahwa mereka ditugaskan untuk membelanya, melainkan ini hanya profesi dan pekerjaan yang mereka terima gaji darinya, maka ketika khatib berdiri berbicara kepada manusia, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan kepada mereka, maka ia memilih topik yang tidak menangani masalah dan tidak membangkitkan minat, dan ketika ia menyampaikannya ia tidak baik dalam penampilannya, tidak dalam pengucapannya, maka banyaklah kesalahan-kesalahannya, dan tidak dalam pengambilannya dalil dari Kitabullah dan Sunnah RasulNya, dan mungkin ia tidak mengetahui posisi ayat dari apa yang ia katakan, bahkan mungkin ia tidak mengucapkannya dan tidak membacakannya dengan bacaan yang benar, dan jika ia menyebutkan hadits dari hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ia tidak menyempurnakan pengucapannya, dan tidak mengetahui tingkat keshahihannya, maka mungkin ia datang dengan hadits lemah atau palsu atau kisah dari khayalan, ia menisbatkannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan ia tidak tahu, dan hal itu tidak lain karena ia berada di luar gelanggang, ia kehilangan unsur iman terhadap apa yang ia katakan.
Dan iman ini -sebagaimana kalian ketahui- tidak datang dalam sehari semalam, melainkan membutuhkan pendidikan khusus bagi para pendakwah, pendidikan ilmiah dan pendidikan praktis dalam ketaatan kepada Allah dan keterikatan kepadaNya, dan cinta kepada Al-Quran dan pengetahuan dengannya, dan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan berjalan di atas metodenya.
Dan di antara sifat-sifat pendakwah adalah: Penguasaan yang luas terhadap ilmu-ilmu Kitab dan Sunnah, dan apa yang membantunya memahami masyarakatnya dan masyarakat-masyarakat lain, dan ini artinya: bahwa ia harus mendalam dalam ilmu-ilmu bahasa Arab berupa nahwu, sharaf, dan balaghah, dan yang terburuk yang engkau lihat pada sebagian pendakwah adalah kesalahan-kesalahan mereka yang tidak tersembunyi dari pelajar pemula, maka engkau melihat salah seorang dari mereka menjadikan fa’il sebagai maf’ul, dan maf’ul sebagai fa’il, maka ia tidak mengetahui kaidah i’rab yang paling sederhana, dan penguasaannya terhadap bahasa menjadikannya pelajar sastra Arab berupa syair dan prosa, dan apa yang mengikuti itu dari ragam-ragam hikmah dan nasihat dan peribahasa dan kisah-kisah.
Kemudian ia harus mendalami tafsir dan ilmu-ilmunya, dan hadits serta mustalahnya dan para perawinya, dan ilmu dakwah serta seninya dan gaya penyampaiannya, dan tauhid serta persoalan-persoalannya, dan sirah Nabawiyah dan sejarah para khalifah dan setelah mereka, sebagaimana yang membantunya untuk itu juga adalah ia mempelajari ilmu sosiologi dan geografi dan dasar-dasar ilmu kedokteran dan fisika, dan lain-lain dari ilmu-ilmu. Dan memang studi Azhar sebelum pengembangan berdiri di atas metode ini, dan merupakan studi yang berlangsung selama empat tahun di tahap persiapan, dan lima tahun di tahap menengah, dan seorang pelajar tidak masuk ke tahap persiapan kecuali jika ia telah hafal Al-Quran dengan hafalan yang baik, dan perhatian selama tahun-tahun ini diarahkan untuk memberikan para pelajar keterampilan khusus dalam bahasa Arab dan ilmu-ilmu Islam, di samping penguasaan matematika dan kimia dan fisika, maka berkembanglah dari para pelajar ini, dan mereka masih dalam tahap-tahap pendidikan persiapan dan menengah, orang-orang yang kita tidak mengabaikan nama-nama mereka dari para syaikh kita dan rekan-rekan kita.
Dan bagi Al-Quran ada perhatian khusus terhadap aspek ini; di mana kita menemukan banyak dari ayat-ayatnya meninggikan kedudukan ilmu dan para ulama, dan ini adalah ayat pertama yang turun yang mengatakan: “Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar dengan pena. Dia mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-‘Alaq: 1-5) dan Al-Quran bersumpah dengan pena dan apa yang ditulisnya, dan surah dinamakan dengan surah “Al-Qalam” maka Tuhan kita berfirman: “Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.” (Al-Qalam: 1) dan sungguh telah disebutkan kata atau katakanlah: materi ilmu dalam Al-Quran ratusan kali, yang membutuhkan pengkhususannya dengan penelitian dalam tafsir maudhu’i dan biarlah judulnya: Ilmu dalam Al-Quran Al-Karim.
Tetapi di sini kita meneliti tentang sifat-sifat pendakwah dalam Al-Quran Al-Karim, dan ilmu adalah fondasi yang dibangun di atasnya bangunan dakwah, dan ia adalah senjata yang dengan itu para pendakwah menjalani pertempuran pemikiran dan keyakinan dan agama-agama dan aliran-aliran dan mazhab-mazhab, untuk membuktikan keagungan apa yang mereka dakwahkan, maka sampailah kata-kata mereka ke hati-hati, maka menerangi jalan bagi manusia, dan jika Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman: “Tidak ada paksaan dalam agama, sungguh telah jelas petunjuk dari kesesatan” (Al-Baqarah: 256) dan berfirman: “Dan katakanlah: Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka barangsiapa menghendaki hendaklah ia beriman dan barangsiapa menghendaki hendaklah ia kafir” (Al-Kahf: 29), maka sesungguhnya Allah mengetahui bahwa agama tidak datang dengan paksaan, dan orang yang dipaksa untuk meyakini sesuatu mungkin berpura-pura beriman dengannya, tetapi dari dalam dirinya tidak yakin dengannya, maka jika ia menemukan kesempatan untuk menyerang orang yang memaksanya ia tidak akan menyia-nyiakannya, dan oleh karena itu sejarah tidak mencatat bahwa Islam ketika menaklukkan negara di bumi Allah memaksa penduduknya untuk masuk ke dalamnya, melainkan mengarahkan dakwahnya dan para muslim bergerak dengan adab dan ilmu dan wibawa dan cinta dan kasih sayang dan keadilan, mereka menyeru manusia kepada agama mereka, maka bangsa-bangsa bumi masuk ke dalam agama yang benar dengan sukarela dan pilihan, bahkan mengusung setelah keislamannya benderanya, dan berjihad untuk meninggikan kalimatnya dan bercahaya dengan cahayanya.
Sebagaimana seorang da’i (pendakwah) wajib memiliki kepercayaan yang kuat kepada Tuhannya, dan sifat ini memiliki hubungan erat dengan keimanan, dan semakin tumbuh iman di dalam hati maka semakin bertambah kepercayaan da’i kepada Tuhannya, sehingga ia tidak mengharapkan dunia dari siapa pun yang dapat diperolehnya, dan tidak takut kekurangan rezeki atau berkurangnya ajal, dan jika memang dari sifat orang mukmin bahwa ia beriman bahwa rezeki dan ajal keduanya dikembalikan kepada Allah, maka sesungguhnya da’i lebih membutuhkan untuk mengaktifkan hal itu dalam dirinya dan hatinya, karena ia adalah orang yang paling tahu dan beriman dengan firman Allah Ta’ala: “Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati ketika tidurnya; maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (Az-Zumar: 42), dan dengan firman-Nya: “Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila telah datang ajalnya. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Al-Munafiqun: 11) dan dengan firman-Nya: “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (An-Nisa: 78).
Dan ia yakin dengan penuh keyakinan terhadap sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang di dalamnya: “Sesungguhnya janin apabila telah sempurna empat bulan, Allah mengutus malaikat kepadanya, dan memerintahkannya untuk meniupkan ruh kepadanya, dan untuk menulis empat kalimat: rezekinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagia,” dan manusia melalui takdir Allah bekerja, dan setiap orang dimudahkan untuk apa yang ia diciptakan untuknya, dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah akan mati suatu jiwa hingga ia menyempurnakan rezekinya dan ajalnya, maka bertakwalah kepada Allah dan baguslah dalam mencari (rezeki),” dan perasaan da’i tentang hal itu memberikannya kepercayaan yang besar kepada Tuhannya, sehingga ia memperoleh dengan hal itu sifat lain yaitu kemuliaan, dan Allah berfirman dalam menjawab orang-orang munafik: “Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat azab yang pedih. (Yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kemuliaan di sisi orang-orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kemuliaan itu kepunyaan Allah.” (An-Nisa: 138, 139) dan Tuhan kita berfirman: “Dan hanya bagi Allah kemuliaan, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui.” (Al-Munafiqun: 8), dan Dia berfirman dalam surat “Fathir”: “Barangsiapa menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah kemuliaan itu semuanya.” (Fathir: 10).
Dan orang-orang mukmin menginginkan kemuliaan ini, maka mereka memintanya dari Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana lalu Dia memberinya kepada mereka, maka kemuliaan mereka diperoleh dari kemuliaan Allah dan kemuliaan Rasul-Nya, dan para da’i berada di puncak dari orang yang menginginkan hal itu, maka mereka tidak terhina di hadapan harta atau kedudukan, dan tidak menjual agama mereka dengan harta dunia, dan tidak munafik kepada pemilik kekuasaan, dan tidak malas dalam menyampaikan risalah Tuhan mereka, dan tidak ada penguasa yang bengis atau yang sombong yang dapat menghalangi antara mereka dengan manusia dengan membujuk mereka atau dengan menakut-nakuti mereka, dan kemuliaan mereka bukanlah kesombongan dan sikap tinggi hati terhadap orang lain, namun kemuliaan mereka adalah kehormatan dan menjaga diri dari hal-hal yang hina, dan perasaan tentang apa yang Allah karuniakan kepada mereka dari nikmat iman dan Al-Qur’an, dan bahwa mereka adalah pewaris para nabi dan pendakwah kebenaran, dan kemuliaan mereka adalah keberanian dalam keteguhan dalam sikap, dan betapa banyak para da’i dan ulama memiliki sikap yang ditulis dengan tinta dari cahaya di hadapan para penguasa dan pemimpin dan raja-raja dan presiden.
Dan kemuliaan dan keberanian ini dihiasi dengan sifat lain yaitu sifat tawadhu (rendah hati) dan sifat kasih sayang, dan dengan sifat-sifat ini da’i mendekat ke hati manusia, sehingga ia mendapat kecintaan mereka, maka ia mengarahkan mereka kepada apa yang ia dakwahkan dari kebaikan, dan teladannya dalam hal itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena Allah telah berfirman kepadanya: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang terdekat. Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Maka jika mereka mendurhakai engkau, katakanlah, ‘Sungguh, aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan.'” (Asy-Syu’ara: 214 – 216).
Dan adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di antara para sahabatnya, maka hampir tidak diketahui di antara mereka, dan seorang laki-laki masuk kepadanya lalu ia gemetar karena wibawanya maka beliau berkata kepadanya: “Tenangkanlah dirimu, aku bukan raja, sesungguhnya aku hanyalah anak seorang wanita dari Quraisy yang memakan daging kering,” dan tidaklah mengajaknya salah seorang dari para sahabatnya dan yang lain kecuali ia berkata: siap, dan beliau duduk bersama manusia, jika mereka berbicara tentang makna akhirat ia berbicara bersama mereka, dan jika mereka berbincang tentang makanan atau minuman ia berbincang bersama mereka, dan jika mereka berbicara tentang dunia ia berbicara bersama mereka dengan lemah lembut kepada mereka dan rendah hati kepada mereka.
Dan dari petunjuk Al-Qur’an adalah apa yang engkau baca di akhir kisah Qarun: “Itulah negeri akhirat Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Qashash: 83) dan orang-orang yang sombong dipalingkan dari mentadabburi ayat-ayat Allah dan memahaminya, Allah Ta’ala berfirman: “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda (kekuasaan)-Ku. Mereka jika melihat setiap ayat (Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak (mau) menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menerusnya. Yang demikian itu karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan selalu lalai terhadapnya.” (Al-A’raf: 146).
Dan dakwah kepada Allah membutuhkan akhlak ini; agar da’i mendapat kecintaan dan keridhaan, maka ia menempati hati manusia, sehingga ia mendapat dan dakwahnya mendapat penerimaan, dan kasih sayang adalah tanda tawadhu, ia adalah perasaan mukmin tentang kebutuhan saudara-saudaranya, maka ia memperlakukan mereka dengan lemah lembut, ia mengunjungi orang sakit mereka, dan menyayangi anak kecil mereka, dan menghormati orang tua mereka, dan mengulurkan tangan kepada yang lemah di antara mereka, dan menunjukkan kasih sayang kepada mereka dan membantu yang membutuhkan di antara mereka, dan memasukkan kegembiraan kepada mereka, dan mengelilingi mereka dengan perhatiannya dan kasih sayangnya dan kebaikannya, dan sungguh Allah Ta’ala telah berfirman: “Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (Al-Fath: 29) dan Dia berfirman tentang sifat-sifat orang yang Dia pilih untuk menolong agama-Nya: “Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, bersikap lemah lembut terhadap orang yang beriman, dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” (Al-Maidah: 54).
Dan betapa dakwah mendapat kesuksesan apabila para da’i memiliki sifat ini, bahkan sesungguhnya sifat ini adalah pintu yang lebar yang melaluinya Islam masuk ke dalam hati, yang disunnahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka beliau adalah manusia yang paling besar kasih sayangnya kepada manusia, maka hati-hati terikat kepadanya, dan para sahabatnya berjalan di atasnya dan salafus shalih umat ini, maka lapanglah dada-dada karena melihat mereka, dan tersebarlah agama mereka di setiap tempat. Dan dari sifat-sifat da’i yang menyertai tawadhu dan kasih sayangnya adalah hilm (penyabar/tidak mudah marah) dan akhlak yang baik, dan hilm adalah sifat dari sifat-sifat Allah, karena Allah telah menggambarkan diri-Nya bahwa Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyantun, dan Maha Kaya lagi Maha Penyantun, dan Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun, dan Maha Pembalas Budi lagi Maha Penyantun, dan Allah menggambarkan dengan sifat itu Ibrahim maka Dia berfirman: “Sungguh, Ibrahim itu benar-benar seorang yang lemah lembut lagi penyantun.” (At-Taubah: 114) dan Dia berfirman: “Sungguh, Ibrahim itu benar-benar penyantun, lemah lembut, dan suka kembali kepada Allah.” (Hud: 75) dan Dia menggambarkan dengan sifat itu Ismail maka Dia berfirman: “Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang sangat sabar.” (Ash-Shaffat: 101) dan kaum Syu’aib berkata kepadanya: “Sungguh, engkau benar-benar orang yang penyantun lagi cerdas.” (Hud: 87) dan demikianlah nabi-nabi Allah semuanya.
Dan inilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling besar kesabarannya, dalam banyak situasi yang membuat orang yang sabar marah, engkau melihatnya tidak bergejolak dan tidak marah, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan, namun ia memaafkan dan memberi maaf, dan andai waktu mengizinkan untuk menyebutkan sebagian dari situasi-situasi itu, maka di dalamnya ada pelajaran dan peringatan, dan perkara Hathib bin Abi Balta’ah, dan ia termasuk orang yang menyaksikan perang Badar, tidaklah jauh dari kalian; ketika ia mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mempersiapkan persiapan secara rahasia untuk mengejutkan penduduk Mekah untuk menaklukkannya tanpa menumpahkan darah, Hathib mengirim kepada mereka memberitahukan mereka tentang hal itu, maka Allah mewahyukan kepada Rasul-Nya tentang hal ini, maka beliau mengutus tiga dari para sahabatnya untuk mengejar wanita yang membawa surat, dan mereka datang dengan surat itu, maka ketika beliau bertanya kepadanya dengan berkata: “Wahai Hathib, apa ini?” ia berkata: wahai Rasulullah, jangan terburu-buru atasku, sesungguhnya aku adalah seorang yang terikat kepada kaumku, dan orang-orang Muhajirin yang bersamamu memiliki kekerabatan di Mekah yang melindungi keluarga mereka, maka aku ingin jika aku tidak memiliki hubungan nasab itu dengan mereka aku mengambil kebaikan di antara mereka yang dapat melindungi kekerabatanku, dan aku tidak melakukan itu karena kekafiran atau kerelaan dengan kekafiran setelah Islam, dan tidak murtad dari agamaku, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya ia benar kepada kalian” maka Umar radhiallahu ‘anhu berkata: izinkan aku memenggal leher munafik ini, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya ia menyaksikan Badar, dan apa yang membuatmu tahu barangkali Allah ‘Azza wa Jalla telah melihat ahli Badar maka berkata: lakukanlah apa yang kalian kehendaki maka sesungguhnya Aku telah mengampuni kalian,” dan setelah Allah menyempurnakan kepada Rasul-Nya kemenangan Mekah ia berdiri sebagai khatib dan bertanya kepada penduduknya: “Apa yang kalian duga aku akan lakukan kepada kalian” mereka berkata: kebaikan, saudara yang mulia dan anak saudara yang mulia, beliau bersabda: “Pergilah maka kalian adalah orang-orang yang bebas.” Dan ini adalah maafnya kepada Labid bin Al-A’sham Yahudi yang menyihirnya, dan ini adalah maafnya kepada badui yang ingin membunuhnya, dan maafnya kepada badui yang berkata kepadanya: wahai Muhammad, demi Allah jika Tuhanmu memerintahkanmu untuk berlaku adil maka aku tidak melihatmu berlaku adil, hingga lain-lain yang menunjukkan tentang besarnya maaf dan baiknya akhlaknya.
Dan para da’i adalah orang-orang yang paling pantas memiliki akhlak yang tinggi ini, dan dengan itu mereka mencabut kedengkian hati, dan mengumpulkan manusia di sekitar mereka, mereka tidak bergejolak dan tidak marah kecuali jika dilanggar kehormatan Allah, dan sungguh Allah Ta’ala telah berfirman tentang sifat-sifat hamba-hamba Yang Maha Pengasih: “Dan hamba-hamba Yang Maha Pengasih itu (ialah) orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, ‘Salam.'” (Al-Furqan: 63).
Dan akhlak mulia ini bagi para da’i membuat mereka membutuhkan untuk berakhlak dengan akhlak yang penting, yaitu kesabaran, kesabaran dalam makna yang luas; sabar atas ketaatan, dan sabar dari kemaksiatan, dan sabar dalam bidang amar ma’ruf nahi munkar, dan sabar dalam posisi dakwah kepada Allah, dan sabar atas apa yang menimpa mereka dari ujian, dan sabar atas kesulitan-kesulitan jihad di jalan Allah, maka kesabaran bagi para da’i adalah bekal dan perbekalan dan simpanan, yang menolong mereka atas kesulitan jalan dan keterangannya, dan oleh karena itu Allah banyak memerintahkan dengannya kepada rasul-rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan ayat-ayat tentang hal itu banyak, engkau membaca di antaranya firman Allah Ta’ala: “Maka bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran rasul-rasul yang mempunyai keteguhan hati.” (Al-Ahqaf: 35), “Dan bersabarlah, sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (Hud: 115), “Maka bersabarlah engkau terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum matahari terbit dan sebelum terbenamnya.” (Thaha: 130), “Maka bersabarlah, sungguh, janji Allah itu benar dan janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkanmu.” (Ar-Rum: 60), “Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” (Al-Muzzammil: 10), “Maka sembahlah Dia dan bersabarlah dalam beribadah kepada-Nya.” (Maryam: 65), “Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya.” (Thaha: 132), dan dalam pengarahan orang-orang mukmin kepada kesabaran kita membaca: “Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah (bersiap siaga di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (Ali Imran: 200), “Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Dan (salat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (Al-Baqarah: 45). Dan ini adalah perintah kepada Bani Israil yang menyuruh manusia berbuat kebajikan sedang mereka melupakan diri mereka sendiri, dan ia adalah perintah yang sama kepada ahli Islam: “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 153), dan balasan orang-orang yang sabar sangat besar “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (Az-Zumar: 10), “Dan para malaikat masuk ke tempat mereka dari semua pintu. (Sambil mengucapkan), ‘Salamun ‘alaikum bima shabartum’ (kesejahteraan atasmu berkat kesabaranmu). Maka itulah sebaik-baik tempat kesudahan.” (Ar-Ra’d: 23, 24), “Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’ (Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 156, 157), “Dan pasti akan Kami beri balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 96), “Sungguh, pada hari ini Aku memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang.” (Al-Mu’minun: 111), “Sesungguhnya barangsiapa bertakwa dan bersabar, maka sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (Yusuf: 90) hingga ayat-ayat yang lainnya.
Bukan merupakan topik pembahasan kita untuk berbicara tentang kesabaran dalam Al-Qur’an dan Sunnah, melainkan kita membicarakannya sebagai landasan mendasar bagi para da’i, dan sifat agung dari sifat-sifat mereka. Barangsiapa yang tidak menghiasi dirinya dengan sifat ini, ia akan terjatuh di awal jalan, karena betapa banyak rintangan dan ujian di sepanjang jalan yang memerlukan keteguhan hati, kekuatan keyakinan, dan kesanggupan menanggung gangguan, serta kesabaran karena Allah dan demi-Nya. Barangsiapa yang bersabar, ia akan memperoleh kemenangan dan keberuntungan di dunia dan akhirat.
Di antara sifat paling menonjol dari seorang da’i adalah: kejujuran dan amanah, karena ia adalah penyampai dari Allah dan Rasul-Nya. Seandainya ia berdusta atau berkhianat, lalu hal itu diketahui darinya, maka tidak ada seorang pun yang akan mempercayai perkataannya, dan ia tidak akan mampu menunaikan risalahnya, bahkan mungkin ia menjadi bencana bagi apa yang ia serukan. Barangkala tidak luput dari kalian bahwa kejujuran dalam diri seorang da’i adalah fondasi yang di atasnya bangunan didirikan, dan merupakan pintu masuk untuk meyakinkan orang lain terhadap apa yang ia katakan. Oleh karena itu, kalian melihat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika diperintahkan untuk menyampaikan dakwah, beliau berdiri di atas Bukit Shafa dan memanggil suku-suku Makkah. Ketika mereka berkumpul kepadanya, beliau tidak langsung mengatakan kepada mereka sejak awal bahwa Allah telah memilihnya sebagai rasul untuk seluruh alam, dan bahwa risalah ini berlandaskan wahyu Allah yang berisi ini dan itu. Melainkan beliau bertanya kepada mereka dengan berkata: “Bagaimana pendapat kalian jika aku mengabarkan kepada kalian bahwa ada pasukan berkuda di lembah ini yang hendak menyerang kalian, apakah kalian akan membenarkanku?” Mereka menjawab: Ya, kami tidak pernah mengetahui engkau berdusta sama sekali. Pada saat itulah beliau berkata: “Maka sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan bagi kalian sebelum datangnya azab yang pedih.”
Maka beliau terlebih dahulu membuktikan dan menegaskan bahwa beliau adalah orang yang jujur, lalu bagaimana mungkin beliau berdusta sekarang? Inilah yang dijadikan bukti oleh Heraklius, kaisar Romawi, bahwa Muhammad adalah utusan Allah, ketika datang kepadanya surat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengajaknya memeluk Islam. Ia meminta agar didatangkan beberapa orang Arab yang ada di Syam. Kebetulan Abu Sufyan sebelum masuk Islam sedang berada di sana bersama beberapa orang Arab dalam perjalanan dagang. Maka mereka didatangkan dan berdiri di hadapannya, dengan Abu Sufyan berdiri paling depan. Heraklius mulai menanyai Abu Sufyan, di antara yang ditanyakan adalah: Apakah kalian menuduhnya berdusta sebelum ia mengatakan apa yang ia katakan? Abu Sufyan menjawab: Tidak. Setelah selesai mengajukan pertanyaan-pertanyaannya, Heraklius berkata di antara ucapannya: Aku tahu bahwa ia tidak akan meninggalkan dusta kepada manusia lalu berdusta kepada Allah. Inilah yang membuat seorang rasul ketika menyeru umatnya menyebutkan kepada mereka bahwa ia adalah utusan yang terpercaya. Bacalah apa yang disebutkan Allah dalam Surah Asy-Syu’ara pada lisan Nuh, Hud, Shalih, Luth, dan Syu’aib, di mana setiap dari mereka berkata kepada kaumnya: “Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku tidak meminta kepadamu suatu upah pun atas ajakan itu; upahku hanyalah dari Tuhan seluruh alam. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.” (Asy-Syu’ara: 106-110).
Dan Musa sebelum dipilih Allah sebagai rasul, ketika ia memberi minum kedua putri Syu’aib, mereka melihat amanah dan kejantanannya. Oleh karena itu salah satu dari kedua putri itu berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, jadikanlah dia sebagai pekerja (pada kita), sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya.” (Al-Qashash: 26). Setelah kerasulan, Allah menyebutkan apa yang ia katakan kepada Fir’aun dan kaumnya, Allah berfirman: “Dan sungguh, Kami telah menguji sebelum mereka (kaum Quraisy) kaum Fir’aun, dan telah datang kepada mereka seorang rasul yang mulia, (yang berkata), ‘Serahkanlah kepadaku hamba-hamba Allah (Bani Israil). Sungguh, aku adalah utusan (Allah) yang terpercaya bagi kamu, dan janganlah kamu menyombongkan diri terhadap Allah. Sungguh, aku datang kepadamu membawa bukti yang nyata.'” (Ad-Dukhan: 17-19). Demikianlah semua rasul, dan demikian pulalah seharusnya para pengikut mereka dan orang-orang yang berada di jalan mereka. Oleh karena itu Al-Qur’an dan Sunnah sangat memperhatikan seruan kepada kejujuran dan amanah, serta menakut-nakuti dari dusta dan khianat dalam ayat-ayat dan hadits-hadits yang banyak yang tidak tersembunyi bagi kalian.
Di antara sifat yang harus dimiliki para da’i adalah: keikhlasan. Keikhlasan berarti bersih hanya untuk Allah, dan ia terbagi menjadi dua bagian: keyakinan dan amal. Keikhlasan keyakinan maknanya: membersihkan hati dari selain Allah, sehingga hamba tidak mengabdi kepada selain Tuhan Yang Haq, tidak beribadah kecuali kepada-Nya, dan tidak tunduk dengan ketaatan, loyalitas, dan cinta kecuali kepada Rabb semesta alam. Keikhlasan amal adalah: hamba tidak bermaksud dengan amal, perkataan, dan perbuatannya kecuali karena Allah. Lawan dari yang pertama adalah syirik, dan lawan dari yang kedua adalah riya. Ayat-ayat dan hadits-hadits tentang hal itu sangat banyak. Sudah jelas bahwa orang yang beribadah kepada selain Allah tidak ada urusannya dengan dakwah kepada Allah, bahkan ia termasuk orang yang menjadi sasaran dakwah untuk menyelamatkannya dari cengkeraman syirik dan kesesatannya. Dan orang yang bermaksud dengan amalnya untuk riya dan mencari nama, ia tidak layak dalam posisi dakwah. Keikhlasan adalah fondasi yang di atasnya ditegakkan pilar-pilar dakwah kepada Allah.
Inilah sifat-sifat terpenting yang harus dimiliki para da’i, dan setiap sifat dari sifat-sifat ini memerlukan kita untuk berdiri lama di hadapannya, menyebutkan bagaimana Al-Qur’an menyeru kepadanya, memotivasinya, dan menakut-nakuti dari lawannya. Namun cukuplah bagi kita kadar ini, karena isyarat terkadang sudah cukup menggantikan pernyataan.
Bagaimana Da’i Berhasil dalam Dakwahnya
Namun da’i yang telah berkumpul padanya sifat-sifat ini, bagaimana ia berhasil dalam dakwahnya? Dan bagaimana ia menunaikan risalahnya? Ia harus menempuh jalan yang menjamin kesuksesannya. Jalan ini memiliki cara-cara dan sarana yang banyak dan beragam, yang berkembang seiring perkembangan zaman, sesuai dengan yang baru dari sarana komunikasi dan kritik terhadap individu dan kelompok, serta apa yang mengikutinya dari perubahan adat dan tradisi. Allah menciptakan makhluk untuk hikmah dan tujuan, dan semua makhluk selain manusia dan jin tunduk kepada Allah dan beribadah kepada-Nya. Adapun manusia dan jin, mereka memiliki kebebasan memilih antara iman dan kufur, ketaatan dan maksiat, meskipun keduanya juga tidak diciptakan kecuali untuk beribadah kepada Allah, sebagaimana firman-Nya: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56). Beribadah kepada-Nya hanyalah sesuai dengan apa yang Dia syariatkan. Bahkan ibadah dalam pengertian yang luas mencakup gerak dan diamnya manusia. “Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (Muslim).'” (Al-An’am: 162-163).
Oleh karena itu Allah tidak membiarkan manusia terlantar, melainkan mengutus kepada mereka para rasul dan menurunkan kepada mereka kitab-kitab. Hal itu dimulai dari Adam alaihissalam hingga diakhiri rangkaian kenabian dengan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Setiap rasul berdiri menyampaikan risalah Tuhannya, dan di atas manhaj rasul inilah para pengikutnya dan generasi sesudahnya berjalan, menyeru manusia kepada agama Allah. Maka beragamlah sarana dakwah mereka. Di antaranya adalah komunikasi langsung dengan individu-individu satu per satu, atau dengan beberapa individu. Ini adalah cara yang berhasil, dengannya masuk Islam generasi pertama seperti Abu Bakar, Utsman, Zubair, Abdurrahman bin Auf, Sa’d bin Abi Waqqash, Thalhah, Abu Ubaidah, dan lainnya dari orang-orang yang terdahulu dalam Islam. Sarana dakwah ini mungkin memerlukan pengenalan sebelumnya dengan orang yang didakwahi, karena mereka adalah sahabat-sahabat yang telah terjalin erat di antara mereka dan da’i ikatan persahabatan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memulai dakwahnya di rumahnya. Maka istrinya Khadijah beriman kepadanya, begitu juga pembantu rumah tangganya Zaid bin Haritsah, dan anak pamannya Ali bin Abi Thalib. Beliau memulai dakwah secara rahasia bersama para sahabat dan teman-temannya. Kemudian Allah memerintahkan beliau agar menampakkan dakwahnya, Allah berfirman: “Maka sampaikanlah secara terang-terangan apa yang diperintahkan (kepadamu) dan janganlah pedulikan orang-orang musyrik.” (Al-Hijr: 94). Dan Allah berfirman: “Dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang terdekat.” (Asy-Syu’ara: 214). Beliau mulai menampakkan dakwahnya. Beliau tidak berdiri sebagai khatib menyampaikan kalimat-kalimat, melainkan berdiri seperti yang kami katakan, beliau membuktikan bahwa beliau adalah orang yang jujur. Ketika mereka mengakuinya, beliau berkata: Maka sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan bagi kalian sebelum datangnya azab yang pedih. Ketika Allah mengarahkan Rasul-Nya agar dakwah dilakukan dengan hikmah dan nasihat yang baik, Allah berfirman: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik.” (An-Nahl: 125). Sesungguhnya arahan Al-Qur’an ini mencakup semua metode dakwah. Terkadang hikmah menuntut komunikasi dengan individu-individu, masing-masing secara terpisah, atau dengan sekelompok dari mereka, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menawarkan dirinya kepada suku-suku Arab. Atau beliau berdiri sebagai khatib mengarahkan manusia, sebagaimana sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di atas mimbar atau pada musim haji dalam Haji Wada’. Hal ini bisa melalui nasihat yang disampaikan, atau pelajaran yang menjelaskan beberapa perkara agama. Setiap satu dari ini memiliki pendorong dan motivasinya, dan tidak ada yang bisa menggantikan yang lain.
Di antara sarana dakwah adalah: mendekatkan diri kepada orang yang didakwahi dengan menanyakan kabar mereka, mengunjungi mereka, menjenguk mereka jika sakit, dan membantu mereka jika memerlukan. Demikianlah yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan petunjuk Nabi inilah para da’i mendirikan lembaga-lembaga sosial, termasuk di dalamnya pengayoman fakir miskin dan anak yatim, serta di dalamnya pendirian masjid-masjid dan sekolah-sekolah serta bantuan kepada para penuntut ilmu. Di antara sarana modern adalah kata yang dibaca, didengar, dan dilihat dalam surat kabar, majalah, buku, brosur, dan publikasi, yang menuntut bergabungnya usaha-usaha agar para da’i memiliki sarana yang membantu mereka untuk itu, berupa percetakan berkualitas tinggi, dan tenaga ahli yang terampil dalam persiapan dan produksi. Media yang didengar melalui radio dan situs-situs Islam di jaringan informasi—Internet—memiliki pengaruh besar dalam menyampaikan risalah Islam.
Adapun media yang terlihat di televisi, dan di era langit terbuka dalam apa yang dikenal dengan saluran satelit, maka para da’i harus menempati posisi terhormat di dalamnya, dengan menyiarkan khutbah, pelajaran, dan seminar secara langsung. Mereka harus mempelajari cara persiapan yang baik untuk apa yang disampaikan kepada manusia melalui sarana-sarana ini. Masalahnya bukan sekadar informasi yang disampaikan, melainkan ada pemilihan yang baik yang sesuai dengan apa yang ada pada manusia berupa kekurangan dalam pemahaman, atau penyimpangan dalam pemikiran, atau masalah yang memerlukan solusi. Ada pula suara dan cara penyampaian serta penampilan da’i dalam media visual. Melalui semua itu, da’i bervariasi dalam menyampaikan risalahnya, melalui apa yang disampaikannya berupa targib dan tarhib, dan apa yang disebutkannya berupa kisah-kisah yang disampaikan dengan gaya yang indah, serta ragam cara Al-Qur’an dalam berdialog dengan orang-orang yang menyelisihinya, dan melalui pemaparan metode dan cara Al-Qur’an dalam meyakinkan orang lain.
Da’i mungkin memerlukan penyampaian risalahnya kepada orang yang tidak berbahasa Arab, maka hendaklah ada kelompok-kelompok yang mengkhususkan diri, setiap kelompok dalam menguasai satu bahasa dari bahasa-bahasa penduduk bumi, untuk membawa risalah Islam kepada seluruh alam, dan agar mereka mewujudkan hikmah Allah dalam memilih Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Apakah kita akan melakukannya?! Inilah risalah kita yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah: “Dan sungguh, (Al-Qur’an) itu benar-benar menjadi peringatan bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungjawaban.” (Az-Zukhruf: 44).
Semoga shalawat, salam, dan keberkahan Allah tercurah kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarganya serta para sahabatnya.
Pelajaran: 20 Dakwah Nuh Alaihissalam
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Pelajaran Kedua Puluh
(Dakwah Nuh Alaihissalam)
Perkenalan dengan Nuh Alaihissalam dan Dakwahnya
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, amma ba’du:
Kita akan membahas dengan izin Allah Ta’ala tentang contoh-contoh dakwah para rasul: kita mulai dengan Nuh alaihissalam:
Siapakah Nuh? Dan di masa manakah Allah mengutusnya kepada kaumnya?:
Barangkali kalian memperhatikan bersama saya dalam alur Al-Quran tentang kisah para nabi dan rasul-Nya, bahwa Al-Quran tidak menyebutkan nasab (silsilah keturunan) salah seorang dari mereka atau sejarah risalahnya, melainkan hanya menyebut nama-nama para nabi dengan nama mereka, dan tidak disebutkan kecuali Yahya dan disebutkan ayahnya Zakariya, karena hal itu merupakan tanda kebesaran Allah; ketika Allah menganugerahkan Yahya di usia tua setelah tulangnya melemah dan kepalanya memutih, dan istrinya telah sampai pada usia putus harapan (menopause), dan karena itu ketika Allah memberinya kabar gembira tentang Yahya, ia berkata: “Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang istriku adalah seorang yang mandul, dan aku telah mencapai umur yang sangat tua” (Maryam: 8), dan Al-Quran menyebutkan Isa dan bahwa ia adalah putra Maryam, dan dengan itu ia menjadi tanda kebesaran Allah, dan karena itu ketika Allah memberinya kabar gembira tentang anaknya, ia berkata: “Bagaimana aku bisa mempunyai anak sedang tidak ada seorang manusia pun yang menyentuhku dan aku bukan pula seorang pezina. Ia (Jibril) berkata: Demikianlah. Tuhanmu berfirman: Hal itu mudah bagi-Ku; dan agar Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan” (Maryam: 20, 21).
Dan Ibrahim, Al-Quran menyebutkan bahwa ayahnya adalah Azar, dan juga disebutkan Ismail dan bahwa ayahnya adalah Ibrahim alaihimassalam, maka menyebutkan nasab para nabi bukanlah termasuk tujuan-tujuan Al-Quran, tetapi yang dimaksud adalah tempat pelajaran dalam dakwahnya, dan apa yang ada di dalamnya berupa petunjuk-petunjuk hidayah, dan apa yang terjadi pada rasul ini dan pada kaumnya.
Para sejarawan dan mereka yang menulis tentang kisah para nabi telah menyebutkan nasab para nabi ini dan di mana dakwah mereka berada, maka Ibnu Katsir menyebutkan dalam Kisah Para Nabi bahwa Nuh adalah Nuh bin Lamak bin Metusyalah bin Khanukh -yaitu Idris- bin Yarid bin Mahlayyil bin Qinin bin Anusya bin Syits bin Adam bapak manusia alaihissalam, dan Allah mengutusnya kepada kaumnya setelah petunjuk-petunjuk kebenaran berubah, dan manusia tersesat dari jalan ibadah, dan ini adalah sunnatullah terhadap makhluk-Nya, Dia tidak membiarkan mereka tersesat dalam kegelapan kebatilan, melainkan mengutus kepada mereka para rasul, dan menurunkan kepada mereka kitab-kitab, dan setiap kali seorang rasul pergi dan manusia menyimpang setelahnya dalam masa yang panjang atau pendek, Allah mengutus rasul yang lain, baik berdasarkan kitab yang telah Allah turunkan kepada rasul sebelumnya, maka ia menampakkan kebenarannya dan menjelaskan petunjuk-petunjuknya dan mengajak umatnya untuk kembali dan berkomitmen pada kitab ini, atau Allah menurunkan kepada rasul ini kitab yang lain, sampai risalah-risalah dan kenabian diakhiri dengan Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan kitab-kitab yang diturunkan diakhiri dengan Al-Quran Al-Karim.
Maka berapa lama masa yang telah berlalu dari Adam sampai Allah mengutus Nuh, dan di dalamnya petunjuk-petunjuk telah hilang dan berhala-berhala disembah, Ibnu Jarir Ath-Thabari menyebutkan bahwa kelahiran Nuh adalah setelah wafatnya Adam seratus dua puluh enam tahun, dan bahwa ia diutus ketika berusia tiga ratus lima puluh tahun, dan ada yang mengatakan selain itu, dan bahwa ia hidup setelah banjir tiga ratus lima puluh tahun, dan dikatakan: bahwa masa umurnya seribu tahun kecuali lima puluh tahun sebelum diutus dan sesudahnya dan setelah tenggelam, Ibnu Katsir berkata: maka Allah Yang Maha Mengetahui.
Dan masa ini yang disebutkan oleh Ibnu Jarir mungkin yang lebih benar darinya adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan dishahihkannya, dari hadits Abu Umamah: Bahwa seorang laki-laki berkata: Apakah Adam seorang nabi? Beliau bersabda: Ya, dan dalam riwayat: Ya, nabi yang diajak berbicara yaitu: bahwa Allah berbicara kepadanya, ia berkata: Maka berapa (masa) antara dia dan Nuh? Beliau bersabda: Sepuluh generasi.
Dan yang paling dekat dari apa yang dikatakan tentang masa dan umur Nuh adalah apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Nuh diutus ketika berusia empat puluh tahun, dan tinggal di tengah kaumnya seribu tahun kecuali lima puluh tahun, dan hidup setelah banjir enam puluh tahun hingga mereka bertambah banyak dan tersebar, dan masa yang pasti yang tidak diragukan di dalamnya, adalah masa diutusnya yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala: “Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian mereka ditimpa banjir besar, sedang mereka adalah orang-orang yang zalim. Lalu Kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu dan Kami jadikan peristiwa itu pelajaran bagi seluruh umat manusia” (Al-Ankabut: 14, 15). Adapun sebelum itu dan sesudahnya maka di dalamnya terdapat perbedaan pendapat yang engkau lihat ini, dan tempat pelajaran adalah yang dimaksud oleh Al-Quran, dan itu terwujud dengan menyebutkan masa diutusnya, dan bahwa masa itu adalah abad-abad yang panjang ini, dan dengan apa yang dilakukan Nuh dalam dakwahnya berupa usaha-usaha, namun jumlah orang-orang yang beriman kepadanya tidak melebihi hitungan jari, Allah Ta’ala berfirman: “Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit” (Hud: 40) dan betapa banyaknya di dalam itu berupa penghiburan dan ketenangan bagi hati Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, yang beriman kepadanya dalam sedikit tahun yang ia habiskan di Mekah, hingga turun kepadanya surah “Al-Ankabut” yang di dalamnya terdapat ayat ini, bahkan di antara mereka yang beriman kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam beberapa tahun mencapai kelipatan dari yang beriman kepada Nuh alaihissalam.
Dan pelajaran kita bukan tentang Nuh dan namanya dan umurnya dan berapa lama ia tinggal di tengah kaumnya, tetapi pelajaran kita dalam memaparkan contoh-contoh dakwahnya alaihissalam dan dakwahnya telah dipaparkan Al-Quran dalam banyak ayat-ayatnya, melalui pemaparan kisahnya secara panjang dan terperinci, atau secara ringkas, atau melalui isyarat kepada namanya saja, dengan beberapa sifatnya, atau dalam kelompok orang-orang yang Allah wahyukan kepada mereka, dan bagi Al-Quran dalam cara memaparkan kisah-kisahnya antara panjang dan pendek dan pemaparan detail dan ringkas terdapat rahasia-rahasia yang sesuai dengan tujuan-tujuan tinggi yang untuk itu ayat-ayat surah diceritakan, dan di dalam itu terdapat rahasia dari rahasia-rahasia kemukjizatan Al-Quran.
Dan nama Nuh telah disebutkan dalam Al-Quran empat puluh tiga kali, dan dengan mengumpulkan ayat-ayat yang di dalamnya terdapat nama itu kita dapat memaparkan banyak contoh dakwahnya, maka kita melihat apa yang ia dakwahkan dan bagaimana ia mengajak kaumnya untuk itu, maka mari kita ikuti ayat-ayat, atau sebagian ayat-ayat ini, sebagaimana yang datang dalam Al-Quran Al-Karim, mulai dari penyebutan pertama Nuh hingga terakhir kali ia disebutkan, dalam surah yang dinamai dengan namanya yaitu surah “Nuh”, dan penyebutan pertama Nuh dalam Al-Quran datang sebagai pujian kepadanya dalam kelompok orang-orang yang Tuhan kita puji; di mana Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing). (Sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (turunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Ali Imran: 33, 34). Dan pemilihan ini adalah pilihan dari Allah terhadap mereka yang Dia sebutkan -Jalla wa Ala- untuk hikmah-hikmah yang Dia ketahui Subhanahu, dan orang-orang yang Dia pilih dan Dia khususkan dari makhluk-Nya, Dia kelilingi mereka dengan pemeliharaan dan perhatian-Nya, hingga Dia jadikan mereka layak untuk membawa risalah-Nya, maka termasuk yang pertama dari mereka setelah Adam adalah Nuh alaihissalam, bahkan ia adalah rasul pertama yang Allah utus kepada penduduk bumi, dan karena itu datang dalam hadits syafaat bahwa manusia di padang mahsyar datang kepada Adam dan mereka berkata: Wahai Adam, engkau adalah bapak manusia; Allah menciptakanmu dengan tangan-Nya, dan meniupkan ruh-Nya kepadamu, dan memerintahkan para malaikat maka mereka sujud kepadamu, dan menempatkanmu di surga, tidakkah engkau memberi syafaat kepada kami kepada Tuhanmu, tidakkah engkau melihat apa yang kami alami dan apa yang kami hadapi? Maka ia berkata: Tuhanku sungguh telah murka dengan murka yang sangat, Dia tidak murka sebelumnya seperti itu dan tidak akan murka setelahnya seperti itu, dan Dia melarangku dari sebuah pohon maka aku durhaka, diriku diriku, pergilah kalian kepada selainku, pergilah kalian kepada Nuh, maka mereka datang kepada Nuh dan mereka berkata: Wahai Nuh, engkau adalah rasul pertama kepada penduduk bumi, dan Allah menamakanmu hamba yang banyak bersyukur, tidakkah engkau melihat apa yang kami alami, tidakkah engkau melihat apa yang kami hadapi, tidakkah engkau memberi syafaat kepada kami kepada Tuhan Azza wa Jalla kami? Maka ia berkata: Tuhanku sungguh telah murka hari ini dengan murka yang tidak pernah murka sebelumnya seperti itu, dan tidak akan murka setelahnya seperti itu, diriku diriku…, hingga akhir hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
Dan dalam surah “An-Nisa” Allah menyebutkan Nuh dalam kelompok orang-orang yang Dia wahyukan kepada mereka dengan wahyu-Nya maka Dia berfirman: “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah memberikan wahyu kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yakub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Dan Kami telah memberikan Zabur kepada Daud” (An-Nisa: 163).
Dan yang dimaksud dari ayat ini: pembuktian kejujuran Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam apa yang ia sampaikan dari Tuhannya, dan bahwa ia bukan orang yang mengada-ada dari para rasul, maka sejarah kemanusiaan sebagaimana yang diketahui setiap manusia menyaksikan bahwa Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab, sebagaimana yang Dia firmankan di tempat ini sebagai komentar atas apa yang disebutkan dari para rasul ini: “Rasul-rasul itu adalah pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia terhadap Allah setelah rasul-rasul itu diutus” (An-Nisa: 165), maka Nuh adalah rasul pertama yang disebutkan dalam rangkaian barisan para nabi. Dan datang isyarat kepadanya dalam kisah Ibrahim dalam surah “Al-An’am”, dalam firman Allah Ta’ala: “Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan derajat siapa yang Kami kehendaki. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan Kami telah menganugerahkan kepada Ibrahim, Ishaq dan Yakub. Kepada masing-masing mereka telah Kami beri petunjuk. Dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk” (Al-An’am: 83, 84) maka Dia mengisyaratkan kepada Nuh, dan bahwa Allah memberinya petunjuk kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus, dan di atas jalannya adalah Ibrahim dan anak-anaknya dan keturunannya, maka betapa agungnya persaksian ini bagi mereka, dan pembicaraan pertama tentang dakwah Nuh kita baca dalam surah “Al-A’raf”, dan dalam enam ayat Allah merangkum apa yang terjadi pada Nuh, dan apa yang terjadi pada keadaan kaumnya.
Dan kisahnya datang dalam surah ini sebagai kisah pertama kemudian setelahnya berturut-turut kisah Hud, Saleh, Luth, Syu’aib, dan Musa alaihimussalam karena ia adalah rasul pertama, dan sebelum mereka semua, tetapi engkau memperhatikan bahwa pembicaraan tentang kisah itu datang terpisah dari ayat-ayat sebelumnya secara terpisah secara bayan (retoris), maka Tuhan kita berfirman: “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh” (Al-A’raf: 59), adapun setelah itu maka engkau melihat waw athaf (huruf penghubung) “Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Ad saudara mereka, Hud” (Al-A’raf: 65), “Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Saleh” (Al-A’raf: 73), “Dan (Kami telah mengutus) Luth, ketika ia berkata kepada kaumnya” (Al-A’raf: 80) “Dan (Kami telah mengutus) kepada (penduduk) Madyan saudara mereka, Syu’aib” (Al-A’raf: 85), “Kemudian setelah mereka, Kami utus Musa” (Al-A’raf: 103), dan seolah-olah setelah Dia menyebutkan kisah Adam di awal surah, dan memanggil anak-anak Adam empat kali, dan menjelaskan keadaan penduduk surga dan penduduk neraka, dan menyebutkan kekuasaan-Nya dalam mengutus angin sebagai kabar gembira di hadapan rahmat-Nya, dan bahwa bumi ketika menerima air hujan mungkin adalah tanah yang baik keluar tanamannya baik subur dengan izin Tuhannya, dan mungkin adalah tanah yang tandus tidak keluar tanamannya kecuali lemah kurus, dan demikianlah manusia, sebagaimana yang dikatakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Perumpamaan apa yang Allah utus aku dengannya berupa petunjuk dan ilmu seperti perumpamaan hujan yang mengenai tanah, maka ada dari tanah itu bagian yang baik menerima air maka ia menumbuhkan rumput dan tumbuhan yang banyak, dan ada dari tanah itu yang tandus menahan air maka Allah memberi manfaat dengannya kepada manusia, maka mereka minum darinya dan memberi minum dan bercocok tanam, dan mengenai bagian lain darinya, tidak lain adalah tanah datar, tidak menahan air dan tidak menumbuhkan rumput, maka itu adalah perumpamaan orang yang memahami agama Allah dan bermanfaat baginya apa yang Allah utus aku dengannya, maka ia belajar dan mengajar, dan perumpamaan orang yang tidak mengangkat kepalanya untuk itu, dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya (Muttafaq Alaih).
Setelah menyebutkan ini seolah-olah ada yang bertanya maka ia berkata: Apakah ada contoh-contoh dari umat-umat yang Allah mengutus kepada mereka para nabi, maka merespons kepada mereka siapa yang merespons dan kafir kepada mereka siapa yang kafir, maka Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya” (Hud: 25) maka Dia menyebutkan kisahnya dan setelahnya dari kisah-kisah agung ini, dan dalam ayat-ayat yang menyebutkan apa yang terjadi pada Nuh dengan ringkasnya, engkau melihat petunjuk-petunjuk dakwahnya dan kepada apa ia dakwahkan dan bagaimana ia dakwah, maka engkau melihat dalam ungkapan Qurani “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh” (Al-Mu’minun: 23) bahwa ungkapan ini disebutkan di beberapa tempat di sini dalam “Al-A’raf”, dan dalam “Hud”, dan dalam “Al-Mu’minun”, dan dalam “Al-Ankabut”, dan dalam “Al-Hadid”, dan terakhir dalam pembukaan surah “Nuh”, dan dalam ungkapan ini engkau melihat lam yang mempersiapkan sumpah, dan qad, dan itu untuk mewujudkan terjadinya hal itu, dan di dalamnya juga penisbatan pengutusn kepada dhamir yang mengagungkan diri-Nya sendiri: arsalna (Kami mengutus), yang menunjukkan keagungan Pengutus yaitu Allah, Yang bersifat dengan sifat-sifat keagungan dan kesempurnaan.
Dan ini adalah petunjuk pertama dalam petunjuk-petunjuk dakwah, yaitu bersandar kepada kekuatan Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa, Yang memilih rasul-rasul-Nya dan mengutus mereka kepada umat-umat mereka, dan petunjuk ini harus menjadi cahaya yang memberi petunjuk bagi para da’i dan yang diutus, ketika mereka tinggi dengan kebenaran yang bersama mereka, dan sandaran yang mereka andalkan, maka tidak lemah salah seorang dari mereka, dan tidak hina, dan tidak merasa terpecah dan rendah diri, melainkan merasa dengan kemuliaan yang diambil dari kemuliaan Allah, sebagaimana firman Ta’ala: “Barangsiapa menginginkan kemuliaan, maka bagi Allah kemuliaan itu semuanya” (Fathir: 10) dan sebagaimana firman-Nya: “Dan bagi Allah kemuliaan, dan bagi Rasul-Nya, dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahui” (Al-Munafiqun: 8) dan sungguh saya telah menyebutkan ini sebagaimana kalian ketahui dalam sifat-sifat da’i dan jalan dakwahnya.
Dan ayat-ayat di sini dan di banyak tempat lainnya, menyebutkan bahwa Nuh diutus oleh Allah kepada kaumnya lalu berkata: “Wahai kaumku, sembahlah Allah. Tidak ada tuhan bagimu selain Dia” (Surah Al-A’raf: 59). Kaum adalah orang-orang yang kamu minta pertolongan dari keluarga dan kerabat, dan mereka yang menjadi penolongmu dalam menghadapi zaman dan peristiwa-peristiwanya. Dalam hal ini terdapat beberapa pelajaran, di antaranya: cara Nuh, bahkan cara para nabi dalam berdakwah kepada Allah, dengan bersikap ramah kepada mereka, membangkitkan perasaan mereka, dan mengingatkan mereka akan hak kekerabatan dan apa yang diwajibkannya berupa saling tolong-menolong. Dalam pengkhianatan orang-orang yang diajak kepada kebaikan dan dibimbing kepada apa yang membawa kebahagiaan mereka, terdapat kepedihan dan rasa sakit, sebagaimana kata penyair:
Dan kezaliman kerabat dekat lebih menyakitkan hati daripada tebasan pedang yang tajam
Oleh karena itu, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa kepada Tuhannya, mengadu kepada-Nya tentang kaumnya yang meninggalkan Al-Qur’an, beliau berkata sebagaimana yang disebutkan Allah Ta’ala: “Dan berkatalah Rasul: ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sebagai sesuatu yang ditinggalkan'” (Surah Al-Furqan: 30).
Di antara pelajaran ini adalah: bahwa setiap nabi diutus kepada kaumnya khususnya, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus kepada manusia secara umum. Oleh karena itu, kamu melihat bahwa Al-Qur’an ketika membicarakan para nabi selain Muhammad, mengatakan bahwa Dia mengutus fulan sang rasul kepada kaumnya. Adapun tentang Muhammad, Allah berfirman: “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri”. Beliau diutus di tengah-tengah mereka untuk semua manusia, sebagaimana Allah menyebutkan hal itu di beberapa tempat; di antaranya firman-Nya: “Katakanlah: ‘Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua'” (Surah Al-A’raf: 158) dan firman-Nya: “Dan Kami tidak mengutusmu melainkan kepada seluruh manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan” (Surah Saba’: 28). Ini adalah hal pertama yang dia sampaikan kepada kaumnya, beliau berkata: “Wahai kaumku, sembahlah Allah. Tidak ada tuhan bagimu selain Dia” (Surah Al-A’raf: 59). Maka kamu melihat bahwa beliau segera menyampaikan risalah Tuhannya sebagaimana ditunjukkan oleh huruf fa dalam firman-Nya: “lalu berkata”. Beliau memanggil mereka dengan mengingatkan mereka akan ikatan kekerabatan dan hubungan kasih sayang antara dirinya dan mereka, yang membuatnya bersemangat untuk menyelamatkan mereka dari azab Allah dan membimbing mereka ke jalan Allah. Beliau memerintahkan mereka untuk beribadah kepada Allah, dan menyebutkan kepada mereka secara eksklusif bahwa mereka tidak memiliki tuhan selain Allah. Ibadah kepada Allah yang beliau perintahkan kepada mereka adalah mengkhususkan-Nya dengan ketaatan, kecintaan, kesetiaan, keterikatan, dan ketundukan, yang mengharuskan kerendahan hati di mihrab-Nya, menghadap kepada ketaatan-Nya, komitmen terhadap syariat-Nya, dan meneladani para nabi dan rasul-Nya.
Nuh, seperti nabi-nabi lainnya, menyampaikan dakwah ini disertai dengan dalilnya. Dalilnya terdapat dalam ucapannya kepada mereka: “Tidak ada tuhan bagimu selain Dia”; karena selain-Nya tidak layak menjadi tuhan. Kata “ilah” (tuhan) diambil dari kata “waliha” yang berarti bingung, dan “al-walah” adalah penguasaan cinta terhadap hati, akal, dan hati nurani kekasih. Atau “al-ilah” dari kata “aliha” kepada fulan, artinya: tenang dan tenteram kepadanya. Atau dari “aliha” kepadanya ketika berlindung dari suatu perkara yang menimpanya, dan “alahaahu” berarti memberi mereka perlindungan. Apakah berhala-berhala mereka yang mereka sembah selain Allah dapat melakukan itu? Padahal berhala-berhala itu adalah batu-batu yang mereka pahat dengan tangan mereka sendiri dan mereka dirikan serta mereka yakini bahwa itu adalah perantara yang mendekatkan mereka kepada Allah. Seandainya mereka merenungkan sedikit saja, niscaya mereka akan mengetahui bahwa Pencipta Yang Memberi Rezeki, Yang Menghidupkan dan Mematikan, yang di tangan-Nya kerajaan langit dan bumi, Dialah Tuhan yang berhak disembah tanpa yang lain. Dialah Tuhan yang pantas hati-hati terikat kepada-Nya, merasa tenang dan tenteram kepada-Nya, dan Dia yang mengabulkan orang yang dalam kesulitan ketika berdoa kepada-Nya.
Yang mengherankan adalah mereka mengetahui hal itu dan tidak mengingkari ketuhanan-Nya. Dia adalah Tuhan mereka, tetapi mereka menolak uluhiyah-Nya (hak untuk disembah) sehingga mereka tidak bertuhan kepada-Nya. Mereka malah mengarahkan ibadah dan kehidupan mereka kepada selain Tuhan Yang Haq. Inilah yang dimulai Nuh dalam dakwahnya, yaitu fondasi yang di atasnya bangunan didirikan, dan ini adalah permulaan yang mengarah kepada kehidupan yang mulia di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, setiap nabi dan rasul datang mengembalikan umatnya ke jalan ini dan menyeru mereka untuk beribadah kepada Allah saja, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelummu melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku” (Surah Al-Anbiya’: 25). Ini adalah keyakinan yang diikuti dengan amal, keyakinan kepada Allah sebagai Tuhan dan Ilah, dan amal yang terwujud dalam penghambaan kepada Allah. Ibnu Qayyim berkata: “Ketahuilah bahwa rahasia ibadah, tujuannya, dan hikmahnya hanya dapat diketahui oleh orang yang mengenal sifat-sifat Tuhan Yang Maha Mulia dan tidak mengabaikannya, dan mengenal makna uluhiyah dan hakikatnya, serta makna Dia sebagai ilah, bahkan Dia adalah Ilah Yang Haq. Setiap ilah selain-Nya adalah batil, bahkan paling batil dari yang batil. Hakikat uluhiyah tidak pantas kecuali bagi-Nya. Ibadah adalah konsekuensi uluhiyah-Nya, pengaruhnya, dan tuntutannya. Keterkaitan ibadah dengan uluhiyah seperti keterkaitan objek sifat dengan sifat, seperti keterkaitan yang diketahui dengan ilmu, yang dikuasai dengan kekuasaan, suara-suara dengan pendengaran, ihsan dengan rahmat, dan pemberian dengan kedermawanan.”
Maka perhatikanlah cara para nabi dalam berdakwah kepada Allah, dan bagaimana mereka memulai dengan yang terpenting, bahkan dengan apa yang tidak ada manfaatnya bagi perkataan atau perbuatan kecuali dengannya. Dan bahwa cara mereka dalam berdakwah didasarkan pada dalil yang mengepung akal sehingga tidak menemukan jalan keluar kecuali menerimanya dan berserah diri. Tidak ada yang menolak hal itu kecuali orang yang tidak berakal. Oleh karena itu, kamu melihat Al-Qur’an ketika menyajikan dalil-dalilnya dan menyebutkan keengganan orang-orang musyrik dari dalil-dalil itu, Allah berfirman: “Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak berakal” (Surah Al-Hasyr: 14), atau berfirman: “(Mereka) tuli, bisu, buta, maka mereka tidak berakal” (Surah Al-Baqarah: 171), atau berfirman: “Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (Surah Al-A’raf: 179), dan berfirman: “Sesungguhnya seburuk-buruk makhluk bergerak di sisi Allah ialah orang-orang yang tuli dan bisu yang tidak mengerti apa-apapun” (Surah Al-Anfal: 22), dan berfirman: “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)” (Surah Al-Furqan: 43, 44).
Perkara kedua yang didakwahkan Nuh alaihissalam adalah iman kepada Hari Akhir. Beliau memiliki cara yang unik dalam berdakwah kepada hal itu, yaitu cara para nabi dan rasul Allah dalam membangkitkan akal, hati, dan perasaan agar beriman kepada kebangkitan setelah kematian, dan apa yang mendahului kebangkitan berupa saat-saat perpindahan dari dunia, perpindahan ke kubur dan apa yang terjadi di dalamnya, kemudian apa yang terjadi dalam kebangkitan berupa pengumpulan makhluk, timbangan, pertanyaan, shirat, surga dan neraka. Kalian melihat cara Nuh dalam hal itu dalam ucapannya kepada kaumnya: “Sesungguhnya aku khawatir kalian akan ditimpa azab pada hari yang besar” (Surah Asy-Syu’ara’: 135). Beliau menyeru mereka kepada penghambaan kepada Allah dan agar tidak mengambil tuhan-tuhan selain-Nya, serta menakut-nakuti mereka dari azab Allah pada hari kiamat dengan apa yang Allah sediakan bagi orang-orang musyrik. Dengan demikian beliau menetapkan iman kepada hari kebangkitan dan perhitungan, dan menyampaikan hal itu dengan gaya orang yang peduli kepada mereka, yang khawatir terhadap kaumnya dari buruknya perhitungan.
Jika manusia sedih dan kesakitan ketika kezaliman menimpa orang-orang terkasihnya dari keluarga dan kerabat, dan berusaha sekuat tenaga untuk menolak bahaya ini, padahal itu adalah bahaya dalam urusan dunia seperti kesehatan, harta, atau anak, dan ini dapat dilalui dengan sabar dan tidak mengakibatkan bahaya yang besar, bahkan jika bahayanya besar, itu akan berakhir. Adapun jika manusia melewati jembatan kehidupan dan menghadap Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi dalam keadaan musyrik kepada-Nya, tidak beriman kepada pertemuan ini, maka kerugiannya tidak ada gantinya. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: ‘Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!’ sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul itu” (Surah Al-An’am: 31), dan berfirman: “Dan (ingatlah) hari (ketika) Dia mengumpulkan mereka, (mereka merasa) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari, (padahal di dunia) mereka saling mengenal. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk” (Surah Yunus: 45).
Dan Allah Ta’ala berfirman dalam Surah As-Sajdah: “Dan mereka berkata: ‘Apakah bila kami telah lenyap (hancur) dalam tanah, apakah kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru?’ Sebenarnya mereka ingkar akan menemui Tuhannya. Katakanlah: ‘Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.’ Dan (alangkah ngerinya) sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (sambil berkata): ‘Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.’ Dan jikalau Kami menghendaki, niscaya Kami berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (untuk)nya, tetapi telah tetaplah perkataan dari-Ku: ‘Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka Jahannam itu dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.’ Maka rasakanlah (azab ini) disebabkan kamu melupakan pertemuan dengan harimu ini. Sesungguhnya Kami telah melupakan kamu, dan rasakanlah azab yang kekal, disebabkan apa yang selalu kamu kerjakan” (Surah As-Sajdah: 10-14).
Ayat-ayat tentang hal itu sangat banyak. Dalam konteks menakut-nakuti mereka, Nuh menyebutkan bahwa azab hari ini sangat besar. Kata “hari” dalam konteks ini berarti waktu yang panjang, di mana manusia dihidupkan dari kubur mereka dan apa yang terjadi setelah itu hingga penghuni surga menetap di surga dan penghuni neraka di neraka. Namun dengan kepanjangannya, itu adalah hari, dan hari yang bagaimana! Nuh menakut-nakuti mereka dengan kebesaran hari ini. Jika kamu merenungkan, kamu akan melihat bahwa kebesaran ini adalah untuk azabnya, bukan untuk hari yang di dalamnya terdapat azab. Ini termasuk bentuk mubalaghah (pengungkapan berlebihan), seolah-olah azab telah memindahkan keparahan dan besarnya kengerian yang ada di dalamnya kepada hari itu sendiri. Jika kamu menambahkan pada ini makna yang terkandung dalam huruf ‘ain, dha, dan mim, yaitu mencapai puncak suatu perkara, dan menambahkan pada itu penempatan huruf-huruf ini dalam bentuk mubalaghah “azhim” (sangat besar); kamu akan dapat membayangkan seberapa kuat dan mengerikan azab ini.
Tempat ini tidak cukup luas untuk saya memaparkan kepada kalian, dan agar kita saling mengingatkan tentang apa yang ada dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai macam-macam azab jiwa dan badan yang Allah sediakan untuk orang-orang kafir, sejak saat pertama mereka berpisah dari dunia dan malaikat-malaikat azab mencabut roh mereka sambil memukul wajah dan punggung mereka serta berkata kepada mereka: “Keluarkanlah nyawamu; di hari ini kamu dibalasi dengan azab yang sangat menghinakan, karena kamu telah mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya” (Surah Al-An’am: 93), hingga mereka dilemparkan ke dalam api yang menyala-nyala; saat itulah mereka mendengarnya mendesis dan meraung. “Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka mengharapkan kebinasaan di tempat itu” (Surah Al-Furqan: 13). Lalu datanglah kepada mereka jawaban yang mengandung ejekan dan celaan, agar penyesalan mereka bertambah, dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu mengharapkan kebinasaan (hanya) satu hari ini, tetapi harapkanlah kebinasaan yang banyak” (Surah Al-Furqan: 14). Maka ucapan Nuh kepada kaumnya: “Sesungguhnya aku khawatir kalian akan ditimpa azab pada hari yang besar” (Surah Asy-Syu’ara’: 135) adalah cara berdakwah yang agung, di dalamnya terdapat pandangan orang yang melihat dengan cahaya Allah, yang membawa risalah kebaikan untuk kaumnya, dan yang mengetahui bahwa kerugian di akhirat adalah kerugian yang sesungguhnya, dan bahwa azab di dalamnya tidak dapat disamakan dengan azab apapun.
Tanggapan Kaum Nuh terhadap Beliau dan Bagaimana Mereka Menerima Dakwahnya
Lalu apa tanggapan kaumnya terhadap beliau? Dan bagaimana mereka menerima dakwah yang mulia ini?
Al-Qur’an melanjutkan paparan tentang hal itu dengan berfirman: “Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: ‘Sesungguhnya kami memandangmu berada dalam kesesatan yang nyata'” (Surah Al-A’raf: 60). Al-mala’ (pemuka kaum) sebagaimana dikatakan Ar-Raghib dalam (Al-Mufradat): sekelompok orang yang berkumpul pada satu pendapat, sehingga mereka memenuhi mata dengan pemandangan dan penampilan, dan jiwa dengan kemegahan dan keagungan. Maka al-mala’ adalah orang-orang besar dan pemimpin kaum. Mereka ini adalah penghalang perbaikan di setiap zaman dan tempat. Mereka gemetar ketika mendengarkan para pendakwah kebenaran, dan mereka mengira bahwa para pendakwah akan merampas kedudukan dan posisi mereka serta apa yang mereka bebankan kepada manusia berupa penghambaan dan perbudakan. Oleh karena itu, pertentangan sangat keras terjadi sepanjang sejarah antara para penguasa yang sombong dan zalim ini dengan mereka yang diutus Allah kepada makhluk-Nya untuk menyeru mereka kepada ibadah kepada Allah dan iman kepada Hari Akhir.
Dalam apa yang Allah sebutkan dari kisah-kisah para nabi-Nya, kamu membaca ungkapan-ungkapan ini: “Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata” (Surah Al-Mu’minun: 33), “Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata” (Surah Al-A’raf: 66), “Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri dari kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah” (Surah Al-A’raf: 75), “Pemuka-pemuka dari kaum Fir’aun berkata” (Surah Al-A’raf: 109), dan seterusnya. Mereka adalah pemilik kekuasaan, kemuliaan, harta, dan jabatan. Mereka tidak siap untuk sekedar mendengarkan para rasul ini, apalagi masuk bersama mereka dalam agama mereka untuk menjadi pengikut para rasul ini. Mereka adalah para pemimpin dan tuan, bagaimana mereka bisa menjadi hamba-hamba Tuhan semesta alam yang meneladani para nabi dan rasul Allah?! Oleh karena itu, mereka berkata kepada beliau dengan menegaskan ucapan mereka: “Sesungguhnya kami memandangmu berada dalam kesesatan yang nyata” (Surah Al-A’raf: 60). Kesesatan adalah kehilangan dan berpaling dari jalan yang benar. Kesesatan yang mereka sebutkan ini dijelaskan sebagai “mubin”, yaitu: jelas dan nyata yang tidak memerlukan dalil. Huruf jar (kata depan) dalam ucapan mereka: “dalam kesesatan” menunjukkan bahwa kesesatan mengelilinginya menurut pandangan mereka dari setiap sisi, bahkan dia terbenam di dalamnya hingga ke dagunya. Jika mereka yang merupakan pemimpin kaum dan ahli pendapat di antara mereka memandang nabi mereka dalam kesesatan yang nyata sebagaimana mereka katakan: “Sesungguhnya kami memandangmu”, ini berarti penolakan yang kuat terhadap dakwahnya, dan bahwa tidak ada ruang untuk berdiskusi dengan mereka tentang hal ini. Maka perhatikanlah cara Nuh dalam dakwahnya, dan kemampuannya untuk meyakinkan seandainya mereka berakal. Beliau menjawab mereka dengan ucapannya: “Berkata Nuh: ‘Hai kaumku, tidak ada padaku kesesatan sedikitpun, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasihat kepadamu dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui'” (Surah Al-A’raf: 61, 62) hingga akhir apa yang beliau katakan.
Beliau memanggil mereka untuk kedua kalinya dengan mengingatkan mereka bahwa mereka adalah kaumnya. Apakah ada orang berakal yang menyia-nyiakan hak kaumnya? Dan apakah dia akan lalai dalam membimbing mereka ke jalan yang lurus dan benar, bagaimana lagi dia adalah bagian dari mereka! Apa yang membahagiakan mereka membahagiakan dia, dan apa yang menyusahkan mereka menyusahkan dia. Beliau memanggil mereka dengan sifat ini untuk membuka jalan ke hati dan akal mereka. Beliau menjelaskan kepada mereka bahwa tidak ada padanya kesesatan sedikitpun, dan semua yang ada hanyalah bahwa beliau adalah utusan dari Tuhan semesta alam kepada mereka. Beliau mengingatkan mereka dengan ungkapan ini kepada Dia yang mendidik mereka di atas meja kedermawanan-Nya, dalam rangkaian pendidikan-Nya terhadap semesta alam. Apakah ada orang berakal yang mengingkari bahwa Allah adalah Pencipta Yang Memberi Rezeki, yang memiliki pendengaran dan penglihatan, mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan bahwa Dia yang mengatur urusan makhluk-Nya? Mereka tidak mengingkari hal itu, dan tidak seorang pun dari mereka dapat mengklaim bahwa batu yang dia pahat dengan tangannya sendiri dan dia dirikan sebagai sesembahan untuknya dapat melakukan sesuatu dari hal itu. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: “Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat memberikan rezeki kepada mereka sedikitpun dari langit dan bumi dan tidak akan sanggup (berbuat apa-apa). Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (Surah An-Nahl: 73, 74).
Dan perhatikanlah hikmah Nuh dalam dakwahnya; ketika mereka berkata kepadanya: “Sungguh kami memandangmu dalam kesesatan yang nyata” (Surat Al-A’raf: 60), maka ia menafikan kesesatan ini dengan cara yang paling fasih dan paling agung sehingga ia berkata: “Tidak ada padaku kesesatan sedikit pun” (Surat Al-A’raf: 61), artinya: kesesatan yang paling sedikit dalam aspek apa pun, karena “dalalah” (kesesatan) adalah bentuk isim marra (kata yang menunjukkan sekali terjadi) sebagaimana kalian ketahui, ia ingin menetapkan risalahnya maka ia berkata: “Akan tetapi aku adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam” (Surat Al-A’raf: 61); sebab mungkin mereka memahami bahwa ketika ia menafikan dari dirinya tuduhan kesesatan yang mereka lontarkan kepadanya dan ia menjawab mereka dengan menafikannya pada dirinya, bahwa ia tidak akan berbicara tentang risalahnya, maka ia memanfaatkan kesempatan ini, dan menambahkan untuk mereka ajakan dengan gaya yang menarik dan menakjubkan, ia menyebutkan di dalamnya dalil dari dalil-dalil yang paling agung bahwa ia diutus kepada mereka, maka ia mengingatkan mereka tentang Tuhan yang telah mendidik mereka sebagaimana Dia mendidik seluruh makhluk, dan dari keagungan pendidikan-Nya bahwa ketika Dia menciptakan mereka Dia tidak membiarkan mereka terombang-ambing di dunia ini hingga binasa, tetapi Dia mengutus kepada mereka para rasul dan menurunkan kepada mereka kitab-kitab, maka apabila ia berkata kepada mereka bahwa ia adalah utusan yang diutus dari Tuhan Yang Maha Mulia ini, Yang Maha Penyantun, Yang Maha Agung, lalu mereka menolak risalahnya, maka sungguh mereka telah menolak kemuliaan Allah kepada mereka dan pemeliharaan-Nya, dan mereka tidak membenarkan-Nya, Maha Suci Dia, dalam apa yang Dia utuskan kepada mereka melalui utusan-Nya, dan Nuh menambahkan apa yang menunjukkan keperhatiannya kepada mereka yang mengharuskan mereka membenarkan dan beriman kepada risalahnya, maka ia berkata: “Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasihat kepadamu dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kalian ketahui” (Surat Al-A’raf: 62) maka ia menjelaskan kepada mereka tiga perkara, setiap perkara dari ketiganya cukup untuk membenarkannya, apalagi ketika semuanya berkumpul.
Yang pertama: “Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku” (Surat Al-A’raf: 68) maka ia tidak mengarang perkataan yang ia hiasi untuk mereka dan ingin memaksa mereka menerimanya, tetapi ia menyampaikan amanat-amanat Tuhannya, dan penyampaian adalah penjelasan dalam kejelasan, yang di dalamnya penyampai mengerahkan seluruh usahanya dalam menyampaikan risalahnya, dan di sini bukan hanya satu risalah, tetapi risalah-risalah, maka setiap perintah yang ia sampaikan dan setiap larangan yang ia sebutkan dan setiap nasihat yang ia berikan adalah risalah dari Tuhannya, sebagaimana ia juga membawa apa yang dibawa oleh ayahnya Adam, dan para nabi setelahnya; seperti Nabi Idris ‘alaihissalam yang Allah turunkan kepadanya tiga puluh lembaran, dan Nabi Syits ‘alaihissalam yang Allah turunkan kepadanya lima puluh lembaran, dan meskipun ia berkata: “Akan tetapi aku adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam” (Surat Al-A’raf: 61) dan konteks kalimat menghendaki agar ia berkata: “Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat-Nya”, namun ia menampakkan kata ganti dalam tempat penyembunyian dan menambahkan sifat ketuhanan kepada-Nya; untuk mengatakan kepada mereka bahwa perasaannya tentang ketuhanan Allah baginya mewajibkan atas dirinya untuk bersungguh-sungguh dalam ketaatan kepada-Nya, dan untuk melaksanakan penyampaian amanat-amanat-Nya kepada mereka.
Dan perkara kedua datang dalam ucapannya: “Dan aku memberi nasihat kepadamu” (Surat Al-A’raf: 62) artinya aku mencari segala sesuatu yang di dalamnya terdapat kemaslahatan dan kebahagiaan kalian, lalu aku menjelaskannya kepada kalian dan membimbing kalian kepadanya, Al-Alusi berkata: “Asal kata nasihat dalam bahasa adalah kemurnian, dikatakan: aku memurnikan madu jika aku memisahkannya dari lilin”, dan dikatakan: ia diambil dari seseorang yang menjahit pakaiannya jika ia menjahitnya, mereka menyerupakan perbuatan pemberi nasihat dalam apa yang ia upayakan dari kebaikan orang yang dinasihati, dengan perbuatan penjahit dalam apa yang ia tutup dari kerobekan pakaian, dan terkadang digunakan untuk kemurnian cinta kepada orang yang dinasihati, dan upaya dalam apa yang dituntut oleh haknya, dan ia berkata: “Dan aku memberi nasihat kepadamu”, bukan “aku menasihati kalian”; untuk mengatakan kepada mereka bahwa manfaat nasihat ini kembali kepada mereka bukan kepada orang lain, dan nasihatnya kepada mereka, merekalah yang mendapat manfaat darinya bukan dia, maka mereka harus menerimanya, maka apakah ada seorang yang menolak nasihat dari orang yang ikhlas kepadanya dalam nasihatnya, dan ikhlas kepadanya dalam cintanya, dan mulai menambal kekurangan dan cacatnya, sehingga ia mengenakan pakaian kehidupan yang baru dan bahagia, apakah ada orang berakal yang menolak itu?
Adapun perkara ketiga: yaitu apa yang datang dalam ucapannya: “Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kalian ketahui” (Surat Yusuf: 86) maka apa yang diketahui Nuh sedangkan mereka tidak mengetahuinya, sesungguhnya ia mengetahui melalui jalan wahyu tentang urusan Allah dan sunah-Nya dalam makhluk-Nya, dan apa yang mengikuti dunia ini dari keadaan-keadaan akhirat yang mereka tidak ketahui, dan ia mengetahui bahwa Allah Dzat Kekuatan Yang Kokoh, dan bahwa Dia mengadzab orang-orang yang mendustakan dan membangkang, dan kaum Nuh tidak mengetahui itu karena mereka adalah umat pertama yang diadzab Allah karena kekufuran mereka, maka Dia melenyapkan mereka dari muka bumi, dan tidak tersisa kecuali orang yang beriman bersama Nuh, dan tidak beriman bersamanya kecuali sedikit.
Dan dalam tiga nasihat ini ia mengungkapkan dengan kata kerja mudhari’ (bentuk sekarang): “Aku sampaikan kepadamu”, “Aku memberi nasihat kepadamu”, “Aku mengetahui dari Allah”; untuk menunjukkan pembaruan perbuatan-perbuatan ini dan kelanggengannya, maka ia ‘alaihissalam tidak malas dan tidak berhenti dari menyampaikan kepada mereka dan menasihati mereka dan menjelaskan apa yang Allah berikan kepadanya dari ilmu tentang-Nya yang mereka tidak ketahui.
Dan Nuh ‘alaihissalam melanjutkan penyampaian risalah Tuhannya, maka ia bertanya kepada mereka dengan pertanyaan pengingkaran dan keheranan untuk mengembalikan mereka ke pangkuan agama Allah, ia berkata: “Apakah kalian heran bahwa datang kepada kalian peringatan dari Tuhan kalian melalui seorang laki-laki dari kalian untuk memberi peringatan kepada kalian dan agar kalian bertakwa dan agar kalian mendapat rahmat” (Surat Al-A’raf: 63), maka ini adalah ajakan darinya kepada kembali kepada Allah, ia menyajikannya dalam gaya yang menakjubkan ini dan dengan metode yang lurus ini; sebab setelah ia menjelaskan kepada mereka bahwa ia adalah utusan dari Tuhan semesta alam, ia menyampaikan kepada mereka amanat-amanat Tuhannya, dan memberi nasihat kepada mereka, dan mengetahui dari Allah apa yang mereka tidak ketahui, maka ia khawatir kepada mereka karena apa yang ia ketahui dari keras cekal Allah kepada orang-orang yang zalim, dan dari rahmat-Nya kepada orang-orang yang beriman, setelah itu ia mulai menegur mereka dengan heran dari keadaan mereka, dan mengingkari kepada mereka penolakan kebaikan ini, yang datang kepada mereka mudah dan terjangkau dari limpahan pemberian Allah dan karunia-Nya, dan inilah yang ditunjukkan oleh ucapannya: “Datang kepada kalian”, dan yang datang kepada mereka adalah peringatan dari Tuhan mereka, maka itu adalah ketuhanan yang di dalamnya terdapat kelembutan kepada hamba-hamba, dan tidak membiarkan mereka terlantar tidak mengenal Tuhan dan sembahan bagi mereka, sehingga setan-setan merebut mereka, lalu menyesatkan mereka dari jalan.
Dan ia menyifati apa yang diwahyukan kepada-Nya bahwa itu adalah peringatan; untuk mengatakan bahwa apa yang Allah wahyukan kepadanya datang sebagai pengingat dan nasihat yang fasih yang membimbing mereka ke jalan yang paling lurus dan kehidupan yang paling mulia, dan apakah para rasul datang kecuali untuk mengingatkan manusia kepada Tuhan mereka, karena sesungguhnya fitrah manusia mengenal Penciptanya, sebagaimana datang dalam hadits: “Tidak ada seorang bayi pun yang dilahirkan kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani atau Majusi” hadits, dan dalam hadits qudsi: “Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus maka datanglah kepada mereka setan-setan lalu mereka memalingkan mereka” artinya: mereka mengalihkan mereka dengan kekuatan ke jalan kekufuran kepada Allah.
Dan hadiah yang mahal ini -yaitu wahyu Allah- bersumber dari Tuhan mereka melalui seorang laki-laki dari kalangan mereka, mereka mengenalnya dan mengenal nasab dan kehormatannya di antara mereka, dan apa yang ia miliki dari akhlak yang mulia dan sifat-sifat yang tinggi, dan laki-laki ini datang kepada mereka dengan izin dari Allah memberi peringatan kepada mereka, dan peringatan adalah perkataan yang disertai dengan menakut-nakuti dan ancaman dan janji hukuman, dan Nuh mencukupkan dengan itu, ia tidak menyebutkan bahwa ia datang untuk memberi peringatan kepada mereka dan memberi kabar gembira kepada mereka; karena maqam adalah maqam peneguran dan menakut-nakuti.
Dan perkara lain yang terkait dengan kedatangan Nuh kepada mereka, adalah bahwa ia menempatkan mereka di jalan takwa, dan takwa adalah melakukan perintah-perintah dan meninggalkan larangan-larangan, dengan kehati-hatian dari kelalaian dalam itu, dan ketakutan yang besar dari tidak diterimanya amal, atau ia adalah sebagaimana disebutkan dalam ucapan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu: “Takwa adalah takut kepada Yang Maha Mulia, dan beramal dengan yang diturunkan, dan rela dengan yang sedikit, dan bersiap untuk hari kepergian”, dan barangsiapa mengenal pintu takwa lalu memasukinya maka ia beruntung dengan kenikmatan yang kekal di surga-surga kenikmatan.
Adapun perkara ketiga: yaitu rahmat Allah yang meliputi mereka, maka Allah memberkahi bagi mereka apa yang Dia berikan kepada mereka, dan rezeki mereka mengalir kepada mereka dengan berlimpah dan banyak, dan mereka hidup dalam kebahagiaan dan keamanan dan ketentraman, dan mereka memperoleh rahmat Allah yang luas di akhirat sebagaimana mereka memperolehnya di dunia, maka siapa yang menolak pemberian ini semua, dan dengan semua yang ia katakan dan ia nasihati kepada mereka, mereka mendustakannya, dan pendustaan mereka tanpa pertimbangan dan pemikiran, sebagaimana dipahami dari huruf fa’ dalam ucapannya: “Maka mereka mendustakannya”, dan keselamatan adalah bagi Nuh dan orang-orang yang bersamanya setelah diwahyukan kepada Nuh bahwa tidak akan beriman dari kaummu kecuali orang yang telah beriman, dan Allah mewahyukan kepadanya untuk membuat kapal maka ia membuatnya, dan ketika datang perintah Allah Dia membuka dengan kekuasaan-Nya langit dengan air yang tercurah, dan memancurkan bumi mata air-mata air maka bertemulah air itu atas urusan yang telah ditetapkan, dan Allah memuat Nuh dan orang-orang yang bersamanya dalam kapal, yang memiliki papan-papan dan paku-paku, dan Allah menyelamatkan nabi ini dan orang-orang yang beriman bersamanya, dan Yang Maha Kuat lagi Maha Kuasa menenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan pantas mendapat ini karena mereka adalah sebagaimana Tuhan kita berfirman: “Kaum yang buta hatinya” (Surat Al-A’raf: 64) Allah membutakan hati mereka dari mengenal-Nya dan mentauhidkan-Nya dan beriman kepada nabi-Nya, maka jadilah mereka orang-orang yang binasa.
Dan setelah ini adalah sekilas pandang satu, dan model yang di dalamnya terdapat beberapa model untuk dakwah Nuh dan pendekatan-nya dalam dakwahnya, dan apa yang disebutkan dalam surat-surat lain dekat dengan apa yang Allah sebutkan dalam Surat Al-A’raf, maka segala puji bagi Allah yang menyelamatkan Nuh dan orang-orang yang bersamanya, dan mewujudkan harapan nabi ini ketika ia berdoa lalu berkata: “Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat” (Surat Al-Mu’minun: 29).
Dan semoga Allah memberi shalawat dan salam dan berkah kepada nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan kepada keluarganya dan sahabat-sahabatnya.
Pelajaran: 21 Dakwah Nabi Ibrahim dan Nabi Musa ‘alaihimassalam
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Pelajaran Kedua Puluh Satu (Dakwah Nabi Ibrahim dan Nabi Musa ‘alaihimassalam)
Dakwah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam
Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam atas Rasulullah, amma ba’du (adapun setelah itu):
Maka pembicaraan kita tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Musa -‘alaihimassalam-:
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:
Penyusun kitab (Mu’jam Al-Mufahras li Alfazh Al-Qur’an Al-Karim/Indeks Kosakata Al-Qur’an Al-Karim) menyebutkan bahwa nama Ibrahim disebutkan enam puluh sembilan kali, di antaranya lima belas kali dalam “Surat Al-Baqarah”, dan sebelas kali dalam “Surat Ali ‘Imran”, dan empat kali dalam masing-masing “Surat Al-An’am” dan “Surat Hud” dan “Surat Al-Anbiya'”, dan tiga kali dalam “Surat At-Taubah” dan “Surat Maryam” dan “Surat Al-Hajj” dan “Surat Ash-Shaffat”, dan dua kali dalam “Surat Yusuf” dan “Surat An-Naml” dan “Surat Al-‘Ankabut” dan “Surat Al-Mumtahanah”, dan satu kali dalam masing-masing “Surat Ibrahim” dan “Surat Al-Hijr” dan “Surat Asy-Syu’ara'” dan “Surat Al-Ahzab” dan “Surat Shad” dan “Surat Asy-Syura”, dan “Surat Az-Zukhruf” dan “Surat Adz-Dzariyat” dan “Surat An-Najm” dan “Surat Al-Hadid” dan “Surat Al-A’la”.
Dan dengan penghitungan ini kita dapat mengetahui kapan Ibrahim disebutkan dalam kisah yang menampakkan metodenya dalam dakwahnya, dan kapan disebutkan sebagai isyarat dan dijadikan sebagai saksi dalam suatu sikap, atau topik, yang dengannya Allah menetapkan orang-orang yang beriman dan menampakkan kesalahan orang-orang musyrik dan ahli kitab, dan orang-orang yang mengklaim bahwa Ibrahim berada di atas agama mereka, atau bahwa mereka berhubungan nasab dengannya, dan mereka membangun di atas hubungan nasab ini perkara-perkara, dan mereka menginginkan hak-hak yang bukan untuk mereka, dan selain itu dari apa yang disebutkan di dalamnya nama Ibrahim ‘alaihissalam.
Dan penyebutan pertama Ibrahim dalam Al-Qur’an engkau lihat dalam Surat “Al-Baqarah”, dan telah disebutkan namanya dalam seperempat kedelapan dari juz pertama sebelas kali, dan disebutkan namanya dalam seperempat pertama dari juz kedua empat kali, dan di setiap tempat terdapat contoh bahkan beberapa contoh dari dakwahnya ‘alaihissalam, maka di tempat pertama adalah penjelasan tentang apa yang harus dimiliki oleh pembawa risalah, dari kesabaran dan ketaatan kepada Allah dan penyerahan diri kepada-Nya, dan keprihatinan atas kelanjutan risalah mereka, dan Allah ketika menyebutkan itu, hanya menyebutkannya agar menjadi pelita bagi ahli iman dari umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan inilah ayat-ayat seperempat ini, Allah berfirman di dalamnya: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu ia menunaikannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi manusia”. Dia (Ibrahim) berkata: “Dan dari keturunanku?” Dia (Allah) berfirman: “Janji-Ku tidak mengenai orang-orang yang zalim”” (Surat Al-Baqarah: 124).
Maka ia tidak memperoleh kedudukan ini sebagai imam manusia, dan menjadi bapak para nabi, kecuali karena ia layak mendapat ini ketika ia berhasil dalam apa yang Allah uji kepadanya, lalu ia melaksanakannya dengan cara yang sempurna dan lengkap, dan kalimat-kalimat ini disebutkan di dalamnya pendapat yang banyak, dan pendapat-pendapat itu tidak saling bertentangan, dan oleh karena itu Ibnu Jarir berkata intisarinya bahwa boleh jadi yang dimaksud dengan kalimat-kalimat adalah semua yang disebutkan, dan boleh jadi sebagian dari itu, dan tidak boleh memastikan dengan salah satunya bahwa itu yang dimaksud secara pasti, kecuali dengan hadits atau ijma’. Dia berkata: “Dan tidak sahih dalam itu khabar dengan periwayatan orang perorangan, dan tidak dengan periwayatan jamaah yang wajib tunduk kepadanya”.
Dan Ibnu Katsir telah menyebutkan sejumlah dari pendapat-pendapat ini, di antaranya adalah apa yang diriwayatkan Dawud bin Hind dari Ikrimah dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia berkata: “Tidak ada seorang pun yang diuji dengan agama ini lalu ia melaksanakannya semuanya kecuali Ibrahim, Allah Ta’ala berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu ia menunaikannya dengan sempurna”, aku berkata kepadanya: dan apakah kalimat-kalimat yang Allah uji Ibrahim dengan-nya lalu ia menunaikannya dengan sempurna? Dia berkata: Islam adalah tiga puluh bagian, di antaranya sepuluh ayat dalam “Surat Bara’ah (At-Taubah)”: “Mereka yang bertaubat, yang beribadah” (Surat At-Taubah: 112) sampai akhir ayat, dan sepuluh ayat di awal Surat “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman” (Surat Al-Mu’minun: 1) dan “Seorang yang bertanya tentang azab yang pasti terjadi” (Surat Al-Ma’arij: 1) dan sepuluh ayat dalam “Surat Al-Ahzab”: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim” (Surat Al-Ahzab: 35) sampai akhir ayat, maka ia menunaikan semuanya lalu ditulis baginya pembebasan, Allah berfirman: “Dan Ibrahim yang telah menyempurnakan” (Surat An-Najm: 37)”.
Di antara ujian-ujian tersebut adalah apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Kalimat-kalimat yang diujikan Allah kepada Ibrahim dan ia sempurnakan semuanya adalah: perpisahannya dengan kaumnya karena Allah ketika ia diperintahkan untuk berpisah dengan mereka, perdebatannya dengan Namrudz karena Allah ketika ia menghadapkannya pada bahaya besar yang di dalamnya terdapat kebinasaannya, kesabarannya ketika mereka melemparkannya ke dalam api untuk membakarnya karena Allah atas dahsyatnya peristiwa tersebut, hijrahnya setelah itu dari tanah air dan negerinya karena Allah ketika ia diperintahkan untuk keluar dari mereka, apa yang diperintahkan kepadanya tentang menjamu tamu dan bersabar atasnya dengan dirinya dan hartanya, dan ujian yang menimpanya berupa perintah menyembelih anaknya ketika ia diperintahkan untuk menyembelihnya. Maka ketika ia telah melaksanakan semua itu dari Allah dan memurnikannya untuk ujian, Allah berfirman kepadanya: Berserahlah, ia berkata: Aku berserah diri kepada Tuhan semesta alam, meskipun bertentangan dengan manusia dan berpisah dari mereka.” Dan setiap perkara dari perkara-perkara ini sebagaimana kalian lihat, di dalamnya terdapat kesulitan besar untuk bersabar atasnya, dan terutama di tengah kaum yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir.
Ibnu Katsir menyebutkan dari Ibnu Abbas pernyataan-pernyataan lain, di dalamnya disebutkan bahwa ia diperintahkan dengan perintah-perintah yang menyelisihi apa yang dianut kaumnya, dan melakukan apa yang menyelisihi kebiasaan manusia bukanlah perkara yang mudah. Ketika Ibrahim menyerahkan dirinya kepada Allah Tuhan semesta alam, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: Berserahlah, ia menjawab: Aku berserah diri kepada Tuhan semesta alam” (Surah Al-Baqarah: 131), maka ia layak dipilih Allah sebagai imam dan kekasih. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi manusia” (Surah Al-Baqarah: 124). Dan karena besarnya kecintaan Ibrahim terhadap kebaikan, ia menginginkan agar pemilihan ini berlanjut pada keturunannya, oleh karena itu ia berkata: “Dan (juga) dari keturunanku” (Surah Al-Baqarah: 124). Allah berfirman kepadanya: “Janji-Ku tidak akan mengenai orang-orang yang zalim” (Surah Al-Baqarah: 124).
Keturunan Ibrahim adalah: Ismail dan Ishaq, dan siapa yang berketurunan dari keduanya hingga hari kiamat. Dan jika Allah telah memuliakan Ibrahim dan menjadikan setiap dari kedua anaknya sebagai nabi, maka sesudah keduanya dari keturunan Ibrahim, ada yang saleh dan ada yang buruk. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman setelah menyebutkan kisah mimpi Ibrahim, dan bahwa ia menyembelih anaknya Ismail, hingga Allah menganugerahkan kepadanya dengan tebusan bagi Ismail, dan memberinya kabar gembira dengan Ishaq sebagai nabi dari orang-orang yang saleh, Allah berfirman: “Dan Kami limpahkan berkah atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara keturunan keduanya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang jelas-jelas menzalimi dirinya sendiri” (Surah Ash-Shaffat: 113).
Dan ini yang diminta Ibrahim merupakan metode dalam dakwah kepada Allah, yaitu agar pendakwah dalam dirinya dan dalam anaknya menjadi teladan untuk ketaatan kepada Allah, dan memohon kepada Allah agar menganugerahkan kepada anak-anak dan keturunannya hidayah dan taufik. Oleh karena itu, ketika Ibrahim memenuhi perintah Tuhannya dan berhijrah dengan Hajar dan bayinya Ismail ke Makkah, dan meninggalkan keduanya atas perintah Allah sendirian di tempat yang tandus ini, yang tidak ada teman di dalamnya, tidak ada kawan, tidak ada makanan dan tidak ada air, ia berdiri di belakang bukit sambil berdoa kepada Allah dengan berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami nyatakan; dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tuaku Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Mendengar doa. Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)” (Surah Ibrahim: 37-41).
Tujuan dari perjalanannya dan meninggalkan istri serta anaknya di Makkah adalah meninggikan kalimat Allah dan menegakkan agama Allah. Seperti doa ini adalah apa yang kita lihat dalam doa Ibrahim dan Ismail setelah mereka menyelesaikan pembangunan Baitullah, bahkan saat mereka sedang bekerja membangunnya, keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada-Mu dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, dan mengajarkan kepada mereka Alkitab (Alquran) dan hikmah (sunah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Surah Al-Baqarah: 127-129).
Dan semangat untuk berdakwah kepada Allah inilah yang membuat Ibrahim dan cucu laki-lakinya Yakub memberikan nasihat kepada anak-anak mereka untuk menjaga agama hingga detik terakhir kehidupan mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam” (Surah Al-Baqarah: 132).
Allah telah mengabulkan doa Ibrahim, dan menganugerahkan kepadanya Ismail dan Ishaq, dan menjadikan dari keturunan Ismail adalah Muhammad sebagai penutup para nabi dan rasul, dan menjadikan dari keturunan Ishaq adalah Yakub yaitu Israil, artinya hamba Allah dan orang pilihan-Nya. Dan dari Yakub adalah Asbath (suku-suku), karena Yakub melahirkan dua belas anak laki-laki di antaranya Yusuf Alaihissalam. Dan semua nabi dan rasul yang datang setelah Ibrahim adalah dari keturunannya. Oleh karena itu, setelah Allah menyebutkan perihal Ibrahim dengan kaumnya yang menyembah berhala, dan pelemparan mereka terhadapnya ke dalam api serta penyelamatan Allah terhadapnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan Kami anugerahkan kepadanya Ishaq dan Yakub, dan Kami jadikan kenabian dan Alkitab pada keturunannya, dan Kami berikan kepadanya balasannya di dunia; dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh” (Surah Al-Ankabut: 27).
Dan setelah Allah menyebutkan perdebatan Ibrahim terhadap penyembah bintang-bintang, Allah berfirman: “Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Yakub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebagian dari keturunannya (Ibrahim) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Zakariya, Yahya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh. Dan Ismail, Alyasa’, Yunus, dan Luth. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya). Dan (Kami lebihkan derajat) sebagian dari bapak-bapak mereka, keturunan, dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus” (Surah Al-An’am: 83-87).
Di antara metode Ibrahim dalam dakwah kepada Allah adalah: membangun Baitulharam atas perintah Allah. Demi pembangunan rumah ini, Ibrahim menanggung kesedihan berpisah dengan Ismail, yang dianugerahkan kepadanya ketika ia telah melampaui usia delapan puluh tahun. Alangkah baiknya seandainya ketika ia berpisah dengannya, ia meninggalkannya di tempat yang aman yang memiliki unsur-unsur kehidupan, atau meninggalkannya sebagai pemuda yang bekerja sehingga dapat mencari nafkah untuk dirinya dan ibunya. Tetapi ia meninggalkannya sebagai bayi yang menyusu di tempat yang tidak memiliki tanda-tanda kehidupan sama sekali. Siapa yang mampu melakukan itu selain Ibrahim Khalilullah? Dan ketika anak ini tumbuh besar dan menjadi remaja, Ibrahim melihat dalam mimpinya bahwa ia menyembelih Ismail, dan mimpi para nabi adalah benar. Maka ia datang dari tanah Palestina ke Makkah untuk menceritakan mimpinya kepada anaknya, lalu sang anak berkata: “Hai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (Surah Ash-Shaffat: 102). Dan tebusan menjadi balasan atas kesabaran dan penyerahan diri ini terhadap perintah Allah.
Kemudian Ibrahim diperintahkan untuk mengangkat pondasi Baitullah, maka Ismail membantunya dalam hal itu dan mereka berdua menyelesaikan pembangunannya, dan mengajak manusia untuk berhaji ke rumah ini. Maka tetaplah kenangan Ibrahim dan kenangan perjuangannya sebagai cahaya yang menunjukkan kepada jalan kebenaran dan petunjuk. Dakwah kepada Allah melalui pembangunan rumah-rumah Allah, mendirikannya, memeliharanya, dan menegakkan syiar-syiar Allah di dalamnya, menjadi sarana penting untuk menyampaikan kalimat Allah. Betapa besarnya peran masjid yang efektif dalam menyatukan umat Islam, mengajarkan mereka dan meneguhkan langkah mereka. Ini memerlukan persiapan seorang pendakwah yang memiliki sarana pengaruh dan persuasi, yang dengannya ia dapat memanfaatkan keberadaan kaum muslimin di masjid-masjid mereka, untuk menjadikan mereka kekuatan yang melindungi kebenaran dan membela agama Allah.
Di sekolah Ibrahim dalam dakwah kepada Allah, terdapat apa yang kita lihat dalam dakwahnya kepada penyembah berhala dan penyembah bintang-bintang. Penyembah berhala berada di Irak di Babil, dan besarnya musibah adalah bahwa Azar—ayah Ibrahim—adalah orang yang membuat berhala untuk kaumnya. Masalahnya bukan hanya ayahnya yang menyembah berhala, tetapi ayahnya yang membuat berhala. Bagaimana Ibrahim melakukannya, sedangkan ia adalah satu-satunya di bumi ini yang beriman kepada Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa, dan tidak ada yang beriman bersamanya kecuali istrinya Sarah dan putra saudaranya Luth.
Ia memulai dakwah kepada kaumnya dengan ayahnya, maka ia menyampaikan dakwah kepadanya dengan sopan dan lemah lembut, dan penjelasan Alquran tentang ini tiada tandingannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ibrahim di dalam Alquran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang nabi. Ketika ia berkata kepada ayahnya: Wahai ayahku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai ayahku, janganlah kamu menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai ayahku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi setan. Berkata ayahnya: Apakah kamu benci kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama. Ibrahim berkata: Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku. Maka tatkala Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishaq dan Yakub. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi nabi. Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi” (Surah Maryam: 41-50). Dan dari pelajaran ini, para pendakwah belajar tentang adab dakwah kepada Allah, dan bahwa dakwah dilakukan dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan bahwa dakwah dimulai dengan keluarga dan kerabat. Dakwah Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam pertama kali dimulai untuk keluarga terdekatnya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman” (Surah Asy-Syu’ara: 214, 215).
Ibrahim berdakwah kepada penyembah berhala. Ia telah menegakkan hujjah terhadap mereka dengan cara praktis yang tidak dapat dibantah. Setelah ia mengajak mereka untuk mengesakan Allah dalam rububiyah dan uluhiyah-Nya, namun mereka tidak meresponsnya, ia bersumpah akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala mereka, yang menunjukkan bahwa berhala-berhala itu tidak layak disembah. Ketika kaum itu keluar untuk perayaan mereka di luar kota, dan ini adalah kebiasaan mereka setiap tahun, Ibrahim masuk ke kuil mereka lalu menghancurkan berhala-berhala mereka dan menjadikannya serpihan-serpihan kecuali berhala yang terbesar. Ia menggantungkan kapak di tangan berhala yang terbesar itu. Ketika mereka datang dan melihat apa yang menimpa berhala-berhala mereka, mereka marah dan geram, lalu mereka membawa Ibrahim di depan mata orang banyak agar mereka menyaksikan. Ini adalah tujuan Ibrahim untuk menegakkan hujjah terhadap mereka di hadapan khalayak.
Ketika mereka bertanya kepadanya: “Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim? Ia menjawab: Sebenarnya yang melakukan itu adalah patung yang terbesar ini, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara” (Surah Al-Anbiya: 62-63). Maka ini adalah hujjah yang jelas yang membungkam mereka. “Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan berkata: Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)” (Surah Al-Anbiya: 64). Tetapi hawa nafsu telah membutakan mereka, maka mereka berkata: “Sesungguhnya kamu (Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala ini tidak dapat berbicara” (Surah Al-Anbiya: 65). Dan ini adalah pengakuan dari mereka tentang kebenaran. Oleh karena itu Ibrahim berkata kepada mereka: “Maka mengapa kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudarat kepadamu? Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?” (Surah Al-Anbiya: 66-67).
Maka amarah mereka membara dan padam lampu akal mereka, dan tidak tersisa kecuali kesombongan dan bersikeras pada kebatilan. Mereka tidak menemukan jalan lain kecuali menyingkirkan Ibrahim. Mereka berpikir dan tidak lama mereka berpikir, tentang cara untuk menghabisi orang ini yang telah mencela impian mereka dan membatalkan hujjah mereka. Mereka memutuskan untuk mengumpulkan kayu bakar yang banyak lalu menyalakan api padanya, kemudian melemparkan Ibrahim ke dalam api tersebut. Ketika mereka menempatkannya dalam keadaan terikat di ujung ketapel, ia Alaihissalam berkata: “Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.” Mereka melemparkannya ke dalam api tanpa belas kasihan, dan semua orang menyaksikan pemandangan menakjubkan ini dan kejahatan yang melampaui batas ini. Tetapi Allah Yang Maha Kuat, Maha Kuasa, Maha Mengalahkan memerintahkan api untuk menjadi dingin dan sejuk bagi Ibrahim, maka api menjadi demikian. Api tidak membakar kecuali ikatannya. Orang-orang melihatnya dan mereka melihatnya berada di taman yang hijau, tetapi api di sekeliling tamannya sehingga tidak ada yang mampu mencapainya.
Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ikrimah: “Bahwa ibu Ibrahim melihat anaknya Alaihissalam lalu memanggilnya: Wahai anakku, sesungguhnya aku ingin datang kepadamu, maka berdoalah kepada Allah agar Dia menyelamatkanku dari panasnya api di sekelilingmu. Ia berkata: Baik. Maka ibunya mendatanginya dan tidak tersentuh sama sekali oleh panasnya api. Ketika ia sampai kepadanya, ia memeluk dan menciumnya kemudian kembali.” “Dan mereka hendak berbuat tipu daya terhadapnya, maka Kami menjadikan mereka orang-orang yang paling merugi” (Surah Al-Anbiya: 70). Dan Allah berfirman dalam surah Ash-Shaffat: “Lalu Kami jadikan mereka orang-orang yang rendah” (Surah Ash-Shaffat: 98). Perhatikanlah cara Ibrahim dalam dakwahnya dan bagaimana ia mengarahkan pertanyaan-pertanyaannya kepada kaumnya dengan cara yang meyakinkan dan sopan, hingga ia berkata: “Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi, yang telah menciptakannya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu” (Surah Al-Anbiya: 56).
Dan renungkanlah keberanian Ibrahim dalam kebenaran, saat ia bersumpah akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala mereka setelah mereka pergi. Ia melaksanakan apa yang ia sumpahkan dengan cara yang ia maksudkan untuk mengumpulkan orang-orang agar menegakkan hujjah terhadap mereka. Ia berhasil mencapai apa yang ia inginkan dan menyampaikan apa yang ia inginkan dengan caranya dalam meyakinkan, yang mengepung setiap dalil dan membatalkan semua yang mereka yakini tentang berhala-berhala mereka. Mereka menanggapi ini dengan kekuatan, kekerasan, dan agresi terhadap orang yang menginginkan kebahagiaan bagi mereka. Mereka menyalakan api yang dahsyat dan melemparkannya ke dalamnya. Dalam penyerahan diri Ibrahim terhadap perintah Allah dan dalam kepercayaannya terhadap karunia Allah terdapat pelajaran besar bagi para pendakwah, agar mereka mengetahui bahwa jika mereka ikhlas kepada Allah dalam berdakwah kepada-Nya, maka Allah akan menjaga dan menolong mereka. Dan pelajaran-pelajaran dalam kisah Ibrahim sangat banyak.
Ketika Allah menyelamatkannya dari api, dan dia mendapati bahwa tanah Babil tidak lagi layak untuk menanamkan keimanan, dia keluar berhijrah menuju tanah Syam, bersama istrinya Sarah dan anak saudaranya Luth. Hijrahnya bukan untuk mencari dunia atau menikahi wanita, melainkan semata-mata karena Allah dan demi Dia. Oleh karena itu, Allah berfirman atas lisannya: “Dan dia berkata: ‘Sesungguhnya aku akan berpindah menuju (tempat yang diridhai) Tuhanku, sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.'” (Surah Al-Ankabut: 26) Dan berfirman: “Sesungguhnya aku akan pergi kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (Surah Ash-Shaffat: 99) Dia berharap mendapat anak untuk membawa risalah bersamanya dan setelahnya, maka dia berkata: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.” (Surah Ash-Shaffat: 100-101) Itulah Ismail alaihissalam, dan terjadilah peristiwa dengan Ismail sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat Surah Ash-Shaffat, hingga Allah menebus Ismail dengan sembelihan yang besar, dan karena kesabarannya dan ujiannya yang baik, Allah memberinya kabar gembira dengan Ishaq sebagai nabi dari orang-orang yang saleh.
Lalu bagaimana dengan urusan Ibrahim di negeri Syam? Dia menemukan di kota Harran, yang merupakan salah satu kota di negeri Syam, kaum yang menyembah bintang-bintang. Bagaimana dia menegakkan hujah kepada mereka dan menunjukkan bahwa bintang-bintang ini adalah makhluk yang tunduk kepada Allah Tuhan semesta alam? Dia tidak menuduh mereka bodoh dan kafir, dan tidak mengatakan kepada mereka dari awal: “Sesungguhnya bintang-bintang ini tidak dapat memberi mudarat dan tidak memberi manfaat, dan bahwa mereka adalah makhluk dari Yang menciptakannya.” Sebaliknya, dia masuk bersama mereka ke tempat ibadah mereka. Ketika bintang Venus muncul di tengah langit, Ibrahim berkata: “Inilah Tuhanku.” (Surah Al-An’am: 76) Namun hanya beberapa jam kemudian bintang itu tenggelam, maka dia hanya berkata: “Aku tidak suka kepada yang tenggelam.” (Surah Al-An’am: 76)
Kemudian bulan muncul bersinar di hamparan langit, dia berkata seperti yang mereka katakan: “Inilah Tuhanku.” (Surah Al-An’am: 77) Namun hanya beberapa jam kemudian bulan itu menghilang, maka dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pasti aku termasuk orang-orang yang sesat.” (Surah Al-An’am: 77) Dia menyindir kesesatan mereka tanpa mengungkapkannya secara terang-terangan. Pagi tiba dan matahari mulai memancarkan sinarnya, maka dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” (Surah Al-An’am: 78) Berlalulah waktu siang dan matahari tenggelam. Ketika matahari itu tenggelam, sudah tercapai apa yang dia inginkan, karena sesungguhnya Tuhan tidak menghilang. Berarti ada Tuhan yang mengatur bintang-bintang ini, yang menciptakannya dan memberinya cahaya. Oleh karena itu, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (Surah Al-An’am: 78) Dan dia mengumumkan kepada mereka tujuannya dan siapa yang dia sembah, maka berkata: “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.” (Surah Al-An’am: 79)
Kaumnya tidak menerima bukti yang jelas dan dalil yang pasti ini, maka mereka mulai berdebat dan beradu argumen dengannya. Dia berkata: “Apakah kamu akan membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Dia telah memberi petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali jika Tuhanku menghendaki sesuatu (yang membahayakanku). Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran? Dan bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah tidak menurunkan bukti kepadamu untuk menyembahnya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui? Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Surah Al-An’am: 80-82) Dan Allah mengomentari hal itu dengan berfirman: “Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (Surah Al-An’am: 83)
Dalam cara Ibrahim menegakkan hujah terhadap orang-orang musyrik, terdapat banyak pelajaran bermanfaat yang waktu tidak cukup untuk menyebutkannya.
Dakwah Musa alaihissalam
Musa disebutkan dalam Al-Quran seratus tiga puluh enam kali, sebagai berikut: Dua puluh satu kali dalam “Al-A’raf”, delapan belas kali dalam “Al-Qashash”, tujuh belas kali dalam “Thaha”, tiga belas kali dalam “Al-Baqarah”, delapan kali di “Yunus” dan “Asy-Syu’ara”, lima kali dalam “Ghafir”, tiga kali di “An-Nisa”, “Al-Ma’idah”, “Al-An’am”, “Hud”, “Ibrahim”, “Al-Isra'”, dan “An-Naml”, dua kali di “Al-Kahf”, “Al-Mu’minun”, “Al-Ahzab”, “Ash-Shaffat”, dan “Al-Ahqaf”, dan satu kali di “Ali Imran”, “Maryam”, “Al-Anbiya'”, “Al-Hajj”, “Al-Furqan”, “Al-Ankabut”, “As-Sajdah”, “Fushshilat”, “Asy-Syura”, “Az-Zukhruf”, “Adz-Dzariyat”, “An-Najm”, “Ash-Shaff”, “An-Nazi’at”, dan “Al-A’la”.
Dengan penghitungan nama Musa dalam Al-Quran ini, jelas bahwa dia disebutkan dalam tiga puluh empat surah dari surah-surah Al-Quran yang berjumlah seratus empat belas surah, dan bahwa dia disebutkan dalam surah Makkiyah lebih banyak daripada surah Madaniyah. Hal itu tidak lain karena kisahnya mengandung berbagai bentuk penenangan hati Nabi shallallahu alaihi wasallam dan penghiburan baginya, atas apa yang dia alami dari kaumnya, dan karena dalam pengulangan kisah tentang Musa terdapat penjelasan tentang keburukan perangai kaum Musa, tertutupnya fitrah mereka, penyimpangan mereka dari jalan Allah, dan sikap mereka yang penuh kebencian dan dengki terhadap dakwah Islam, ketika mereka melihat kemudi risalah berpindah dari mereka kepada bangsa Arab dari keturunan Ismail, dan ditangani oleh seorang tokoh luar biasa yang tidak memiliki tandingan di antara para nabi.
Setiap nabi sebelumnya diutus khusus untuk kaumnya, sedangkan rasul ini diutus untuk seluruh manusia. Setiap rasul sebelumnya diutus untuk periode waktu yang terbatas, risalahnya bertahan selama beberapa tahun, kemudian ciri-ciri berubah dan kebenaran terhapus, dan hawa nafsu menyerang wahyu yang Allah turunkan kepada rasul tersebut, sehingga tidak tersisa dari wahyu Allah kecuali secercah cahaya yang hampir tidak dapat menerangi jalan. Maka Allah mengutus rasul yang lain, demikian seterusnya hingga risalah dan kenabian ditutup dengan Nabi penutup Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan diturunkan kepadanya wahyu yang tidak dapat dihapus oleh zaman. Yang Maha Kuat lagi Maha Kuasa menjamin penjagaannya, maka Dia berfirman: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Surah Al-Hijr: 9)
Tidak ada kekuatan di bumi yang mampu mengubah satu huruf pun darinya, meskipun umat Islam mengalami kelemahan dan ketidakberdayaan, penjajahan terhadap negeri mereka dan hilangnya kehormatan mereka, dan meskipun musuh mereka sangat ganas, dan musuh-musuh Allah berusaha menghapus ciri-ciri Al-Quran ini. Bagaimana mungkin mereka bisa melakukannya?! Mata Allah menjaga kitab-Nya dan melindungi agama-Nya. Lalu bagaimana urusan Musa dan dakwahnya, dan apa saja ciri-ciri petunjuk Ilahi di dalamnya? Sesungguhnya Allah jika menghendaki sesuatu, Dia menyiapkan sebab-sebabnya.
Allah telah menyebutkan dalam Surah “Yusuf” tentang peristiwa Yusuf alaihissalam dan takdir Allah yang membawanya ke Mesir, hingga dia mencapai puncak kejayaan di sana, dan Allah memberinya kenabian dan kerajaan. Dia berkata: “Pergilah kamu dengan membawa baju gombakku ini, lalu letakkanlah pada wajah ayahku, nanti dia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku.” (Surah Yusuf: 93)
Maka datanglah ayahnya Yakub alaihissalam, yaitu Israil, dan anak-anaknya. Mereka berjumlah sepuluh orang, dan di Mesir ada Bunyamin dan Yusuf. Mereka datang bersama istri-istri, anak-anak dan cucu-cucu mereka, lalu menetap di tanah Mesir dan berkembang biak. Seorang Firaun menjadi raja Mesir, dan dia khawatir akan kerajaannya dari mereka, maka dia menyiksa mereka dengan siksaan yang buruk, dan memperbudak mereka dalam pekerjaan-pekerjaan berat. Para dukun memberitahunya bahwa Bani Israil akan melahirkan seorang anak yang akan menghancurkan kerajaannya. Maka Firaun melepaskan tentaranya untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir. Musa lahir dalam cobaan ini, maka Allah mewahyukan kepada ibunya agar menempatkannya dalam peti—yaitu dalam kotak kayu—dan melemparkannya ke sungai Nil. Allah mengilhamkan dalam hatinya bahwa Allah akan mengembalikannya kepadanya dan menjadikannya salah satu rasul. Air mendorongnya ke istana Firaun, “Lalu dipungutlah dia oleh keluarga Firaun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Firaun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.” (Surah Al-Qashash: 8)
Allah menanamkan kecintaan kepadanya di hati siapa pun yang melihatnya, hingga istri Firaun berkata: “(Dia) adalah penyejuk mata hatiku dan untukmu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia sebagai anak dan mereka tidak menyadari.” (Surah Al-Qashash: 9) Saudara perempuan Musa mengikutinya sejak saat dia dilemparkan ke sungai hingga dia dipungut. Ketika mereka mendatangkan ibu-ibu susu untuk menyusuinya, dia tidak mau menyusu dari payudara satu pun dari mereka. Maka saudara perempuannya maju dan menawarkan kepada mereka keluarga yang dapat menyusuinya dan menjaganya. Maka Allah mengembalikan Musa kepada ibunya “agar senang hatinya dan tidak bersedih hati dan supaya dia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Surah Al-Qashash: 13) Musa tumbuh besar di istana Firaun, dan dia mengetahui banyak keadaan dan berbagai bentuk kezaliman dan kesombongan. Ketika dia sedang berjalan di kota, “dia mendapati di sana dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya dan yang seorang lagi dari golongan musuhnya; maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk (mengalahkan) orang yang dari golongan musuhnya, lalu Musa memukulnya dengan tinjunya dan matilah musuhnya itu.” (Surah Al-Qashash: 15) Inilah yang menyebabkan keluarnya dia karena takut pada dirinya dari pembunuhan. Dia pergi ke Madyan, dan di sana dia bertemu dengan Syuaib setelah memberi minum ternak kedua putrinya. Dia menikah dengan salah satu dari kedua putri itu, dengan syarat dia menggembala ternak untuk Syuaib selama delapan tahun, dan jika dia menyempurnakannya sepuluh tahun, maka itu adalah kebaikan darinya.
Musa menyempurnakan sepuluh tahun dan membawa istrinya untuk mengunjungi keluarga dan kaumnya di Mesir. Ketika dia berada di Sinai dalam cuaca yang sangat dingin dan telah tersesat, “dia melihat api di lereng gunung. Dia berkata kepada keluarganya: ‘Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan.’ Maka tatkala dia sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari tepi lembah yang sebelah kanan (gunung) di tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu: ‘Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam, dan lemparkanlah tongkatmu!’ Maka tatkala (Musa) melihat tongkat itu bergerak-gerak seolah-olah dia seekor ular yang gesit, larilah dia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Allah berfirman): ‘Hai Musa, datanglah dan jangan takut, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman. Masukkan tanganmu ke leher bajumu, niscaya tanganmu keluar putih bercahaya tanpa cacat; dan kepitlah tanganmu ke dadamu untuk menghilangkan rasa takut. Maka itulah dua mukjizat dari Tuhanmu untuk (disampaikan kepada) Firaun dan pemuka-pemuka kaumnya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.'” (Surah Al-Qashash: 29-32) Dari sini kita sampai pada awal risalah Musa dan dakwahnya, untuk memilih beberapa contoh yang menjelaskan cara dakwahnya.
Tahap pertama yang mendahului penugasannya dengan risalah mengandung pelajaran dan ibrah, dan menunjukkan bahwa Allah berkuasa atas urusan-Nya, dan bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi-Nya di bumi maupun di langit. Namun dalam pertemuan ini kita mengambil dari oasis Al-Quran beberapa manhaj petunjuk dan kebenaran dalam dakwah Ibrahim dan Musa.
Allah mengutus Musa kepada Bani Israil, tetapi Bani Israil tertindas di bawah kekuasaan Firaun di Mesir. Agar Musa dapat menyampaikan risalahnya kepada Bani Israil, dia harus membebaskan mereka dari cengkeraman Firaun. Maka dakwah harus ditujukan terlebih dahulu kepada Firaun, dan Musa harus meminta kepadanya untuk melepaskan Bani Israil, agar dia dapat menyampaikan risalah Tuhannya kepada mereka. Oleh karena itu, kita membaca dalam “Al-A’raf”: “Dan Musa berkata: ‘Hai Firaun, sesungguhnya aku seorang utusan dari Tuhan semesta alam. Wajib atasku tidak mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama aku.'” (Surah Al-A’raf: 104-105)
Dan kita membaca “Dan tatkala mereka ditimpa azab” (Surah Al-A’raf: 134) yaitu: azab yang disebutkan dalam ayat sebelumnya berupa banjir, belalang, kutu, katak, dan darah “mereka berkata: ‘Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu dengan (perantaraan) apa yang telah dijanjikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya jika kamu dapat menyingkirkan azab itu dari kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan pasti kami akan melepaskan Bani Israil (pergi) bersamamu.'” (Surah Al-A’raf: 134) Dan dalam Surah “Thaha” Allah Ta’ala berfirman kepada Musa dan Harun: “Maka datanglah kamu berdua kepadanya dan katakanlah: ‘Sesungguhnya kami adalah dua orang utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan kesejahteraan itu atas orang yang mengikuti petunjuk.'” (Surah Thaha: 47)
Dalam Surah “Asy-Syu’ara” kita membaca makna ini, Allah Ta’ala berfirman: “Maka datanglah kamu berdua kepada Firaun dan katakanlah: ‘Sesungguhnya kami adalah utusan Tuhan semesta alam, (yaitu) lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama kami.'” (Surah Asy-Syu’ara: 16-17) Aku menyebutkan hal itu untuk menunjukkan kebenaran apa yang dikatakan Rasul kita yang mulia shallallahu alaihi wasallam bahwa setiap nabi diutus khusus kepada kaumnya, sedangkan aku diutus kepada manusia secara umum.
Oleh karena itu, Musa memulai dengan membuktikan risalahnya kepada Firaun, agar dapat menyampaikan risalahnya kepada kaumnya. Maka dari itu Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan mukjizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Israil ketika Musa datang kepada mereka, lalu Firaun berkata kepadanya: ‘Sesungguhnya aku mengira kamu, hai Musa, seorang yang kena sihir.’ Musa menjawab: ‘Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Firaun, seorang yang akan binasa.’ Maka Firaun berkehendak mengusir Musa dan Bani Israil dari muka bumi, tetapi Kami tenggelamkan dia beserta orang-orang yang bersama dia semuanya. Dan Kami katakan kepada Bani Israil sesudah kebinasaan Firaun: ‘Tinggallah kamu di bumi ini; maka apabila datang janji hari akhirat, Kami datangkan kamu semuanya bercampur baur.'” (Surah Al-Isra’: 11-14)
Maka Musa sesungguhnya datang untuk Bani Israil. Seperti itu pula apa yang Allah Ta’ala firmankan: “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: ‘Hai kaumku, mengapa kamu menyakitiku, sedangkan kamu mengetahui bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu.'” (Surah Ash-Shaff: 5)
Maka perhatikanlah bagaimana Musa menyeru Firaun untuk membebaskan Bani Israil; untuk kembali bersama mereka ke tanah yang diberkati, dan dalam penetapan bahwa ia adalah utusan Allah terdapat bukti dan hujjah yang tegak atas Firaun dan kaumnya, dan mereka harus beriman dengan apa yang diseru oleh utusan ini, yaitu menyembah Allah semata, dan bergabung di bawah panji keimanan, jika mereka tidak beriman maka Allah akan mengazab mereka; karena Allah telah berfirman: “Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul” (Surah Al-Isra: 15) dan oleh karena itu Allah berfirman: “Maka ketika datang kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang, mereka berkata: ‘Ini adalah sihir yang nyata.’ Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan, padahal hati mereka meyakini (kebenarannya). Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan” (Surah An-Naml: 13, 14).
Dan beriman kepadanya sebagian dari keluarga Firaun yang menyembunyikan keimanannya, sebagaimana beriman kepadanya Asiyah istri Firaun, yang dijadikan Allah sebagai teladan bagi orang-orang yang beriman, maka Allah berfirman: “Dan Allah membuat istri Firaun sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: ‘Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim'” (Surah At-Tahrim: 11).
Dan rasul meskipun diutus khusus kepada kaumnya, namun keimanan wajib bagi siapa yang ditawari dakwah tersebut, dan siapa yang berada di jalan rasul ini dalam pertemuan atau yang semacam itu, maka ini termasuk rahmat Allah kepada para rasul-Nya, karena Dia tidak membebani mereka dengan beban dakwah umum untuk semua manusia, tetapi rahmat bagi seluruh alam adalah untuk Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang Tuhannya persiapkan untuk tugas ini, dan berfirman kepadanya: “Dan jika Kami menghendaki, niscaya Kami utus kepada tiap-tiap negeri seorang pemberi peringatan. Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Quran dengan jihad yang besar” (Surah Al-Furqan: 51, 52).
Dan inilah Musa bersama saudaranya Harun, sampai kepada Firaun untuk menyampaikan risalah Tuhan mereka, maka perhatikanlah metode yang mereka tempuh dalam berdakwah kepada Firaun, untuk membebaskan Bani Israil, agar mereka pergi bersama Musa dan Harun, dan untuk menetapkan ketuhanan Allah dan kelayakan-Nya untuk disembah sendiri, dan ayat-ayat mengungkapkan ketakutan Musa dan Harun dari kekerasan Firaun, dan bagaimana Allah menghilangkan ketakutan itu dari mereka berdua, maka firman-Nya: “Pergilah kamu bersama saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku. Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut. Keduanya berkata: ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia akan menyiksa kami atau akan melampaui batas.’ Allah berfirman: ‘Janganlah kamu berdua takut, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat'” (Surah Thaha: 42 – 46) dan Allah telah menyebutkan hal serupa dalam surah “Asy-Syu’ara” dan surah “Al-Qashash”, maka Firaun dan tidak seorang pun dari tentaranya mampu menyerang keduanya.
Dan ayat-ayat melukiskan pemandangan yang indah, dan huruf-huruf serta kata-katanya menggambarkan keteguhan Musa dan kemampuannya dalam dialog, dan melukiskan gambaran Firaun yang bingung tidak menemukan jawaban, dan Musa memindahkannya dari satu bukti ke bukti lainnya, hingga ia mendatangkan mukjizat besar yang membuat Firaun terheran-heran dan memenuhinya, ketika Musa melemparkan tongkatnya, yang merupakan tongkat seperti semua tongkat di tangan Musa berupa batang kayu, ia bersandar padanya dan menggiring kambingnya dengannya, dan selain itu hal-hal lain yang digunakan tongkat, maka ia melemparkannya dan tiba-tiba ia menjadi ular besar yang menakutkan, berlari di tanah ke sana kemari dengan mulut menganga, yang membangkitkan kepanikan Firaun dan yang bersamanya, dan Musa mengulurkan tangannya lalu memegangnya maka ia kembali menjadi tongkat seperti sebelumnya.
Dan Musa menyusul mukjizat ini dengan mukjizat lainnya, yaitu ia mengeluarkan tangannya yang merupakan tangan seperti semua tangan, pemiliknya menggerakkannya ke mana ia kehendaki, maka tak lama setelah ia mencabutnya dari sakunya hingga ia menerangi seluruh tempat itu. Mujahid berkata: “Dahulu Musa jika memasukkan tangannya ke dalam sakunya kemudian mengeluarkannya, maka ia keluar berkilauan seolah-olah sepenggal bulan.” Dan Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Demi Allah, ia mengeluarkannya seolah-olah lampu.” Dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Wahb bin Munabbih: “Allah berfirman kepada Musa: ‘Pergilah dengan risalah-Ku karena sesungguhnya engkau dengan pendengaran-Ku dan penglihatan-Ku, dan sesungguhnya bersamamu dukungan-Ku dan pertolongan-Ku, dan sesungguhnya Aku telah memakaikan kepadamu perisai dari kekuasaan-Ku agar engkau mendapatkan kekuatan penuh dalam urusan-Ku, maka engkau adalah pasukan besar dari pasukan-Ku, Aku utus engkau kepada makhluk lemah dari makhluk-Ku, yang terlena dengan nikmat-Ku dan merasa aman dari tipu daya-Ku dan ditipu oleh dunia dari-Ku, hingga ia mengingkari hak-Ku dan mengingkari ketuhanan-Ku, dan mengklaim bahwa ia tidak mengenal-Ku.'” Hingga akhir apa yang diriwayatkan tentang itu.
Tetapi Firaun menyombongkan diri dari kebenaran dan mengklaim bahwa apa yang ia lihat adalah sihir, dan ia meminta nasihat dari para pemuka kaumnya, maka mereka tidak menasihatinya, bahkan membantu kezaliman dan kedurhakaan, dan menyarankan kepadanya agar mengumpulkan para tukang sihir untuk membatalkan apa yang mereka lihat dari Musa, dan mereka mengira itu adalah sihir, atau demikianlah mereka katakan, meskipun Allah memberitahukan bahwa mereka meyakini bahwa ini bukan sihir, sebagaimana Allah berfirman: “Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan, padahal hati mereka meyakini (kebenarannya)” (Surah An-Naml: 14) dan mereka meminta janji dari Musa maka ia berkata: “Janji kamu adalah pada hari perayaan dan hendaklah manusia dikumpulkan pada pagi hari” (Surah Thaha: 59).
Dan Musa menginginkan itu agar kehinaan Firaun terjadi di hadapan banyak orang, dan agar manusia mengetahui bahwa apa yang dibawa Musa bukanlah sihir, tetapi adalah ayat dari ayat-ayat Allah, maka ketika waktu yang dijanjikan tiba dan orang-orang berkumpul, dan para tukang sihir datang dan Firaun menjanjikan kepada mereka hadiah dan jabatan dan dunia, dan mereka bertanya kepada Musa siapa yang akan melempar terlebih dahulu? Maka ia berkata kepada mereka: “Lemparkanlah apa yang akan kamu lemparkan. Maka mereka melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka dan berkata: ‘Demi kemuliaan Firaun, sesungguhnya kami benar-benar orang-orang yang menang'” (Surah Asy-Syu’ara: 43, 44) maka Musa menjawab mereka dengan mengatakan: “Apa yang kamu lakukan itu adalah sihir. Sesungguhnya Allah akan menampakkan kepalsuan sihir itu. Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan. Dan Allah akan membuktikan yang benar itu benar dengan kalimat-kalimat-Nya, meskipun orang-orang yang berdosa tidak menyukainya” (Surah Yunus: 81, 82) “Maka Musa melemparkan tongkatnya, lalu tiba-tiba tongkat itu menelan apa yang mereka ada-adakan. Maka tersungkurlah tukang-tukang sihir itu dengan bersujud. Mereka berkata: ‘Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, Tuhan Musa dan Harun'” (Surah Asy-Syu’ara: 45 – 48).
Dan Firaun mengancam mereka dengan azab yang keras, maka Allah mewahyukan kepada Musa agar ia keluar membawa Bani Israil, maka Firaun dan tentaranya mengejar mereka dengan melampaui batas dan permusuhan, lalu Allah menenggelamkannya dan menyelamatkan Musa dan semua yang bersamanya. Allah berfirman tentang apa yang menimpa Firaun dan tentaranya: “Maka Kami menghukum mereka dengan menenggelamkan mereka di laut disebabkan karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikannya” (Surah Al-A’raf: 136) kemudian Dia berfirman tentang apa yang Allah karuniakan kepada Bani Israil: “Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkat padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Firaun dan kaumnya dan apa yang telah mereka bangun” (Surah Al-A’raf: 137).
Dan Allah yang menentukan tujuan.
Pelajaran: 22 Dakwah Isa dan Muhammad alaihimassalam.
Bismillahirrahmanirrahim
Pelajaran Kedua Puluh Dua
(Dakwah Isa dan Muhammad alaihimassalam)
Dakwah Isa alaihissalam
Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam atas Rasulullah, amma ba’du:
Dengan berbicara tentang Isa dan Muhammad, saya telah melengkapi pembahasan tentang para rasul ulul azmi:
Dan mari kita mulai menurut urutan waktu dengan Isa alaihissalam, berapa kali ia disebutkan dalam Al-Quran dan dalam surah-surah mana dalam Al-Quran ia disebutkan? Menghitung kata Isa dalam Al-Quran membuat kita menghitung kata Maryam, karena ia adalah ibu Isa, dan menghitung kata Al-Masih karena itu adalah sifatnya, dan nama Isa telah disebutkan dalam Al-Quran dua puluh lima kali, tiga kali dalam masing-masing “Al-Baqarah” dan “An-Nisa”, dan lima kali dalam “Ali Imran”, dan enam kali dalam “Al-Ma’idah”, dan dua kali dalam “Ash-Shaff”, dan satu kali dalam masing-masing “Al-An’am” dan “Maryam” dan “Al-Ahzab” dan “Asy-Syura” dan “Az-Zukhruf” dan “Al-Hajj”.
Adapun nama Maryam telah disebutkan dalam Al-Quran tiga puluh empat kali, sebagaimana Al-Masih disebutkan sebelas kali, dan Isa disebutkan sebagai putra Maryam enam belas kali, sebagaimana disebutkan bahwa ia Al-Masih Isa bin Maryam empat kali, dan bahwa ia Al-Masih bin Maryam empat kali, dan bahwa ia Al-Masih dua kali, dan Allah menyebutkan perkataan orang-orang Nasrani tentang Isa bahwa ia Al-Masih putra Allah satu kali.
Dengan penghitungan kata Isa dan Maryam dan Al-Masih ini, kita dapat mencapai hakikat Isa, dan bagaimana Allah menciptakannya, dan apa yang terjadi dari kesesatan dalam keyakinan bahwa ia adalah Allah atau putra Allah atau ketiga dari tiga, dan Al-Quran telah membuktikan kebatilan itu, dan menjelaskan bahwa Isa adalah hamba dan utusan-Nya, dan bahwa Allah ketika menciptakannya tanpa ayah, maka itu hanyalah untuk menjelaskan bahwa Dia adalah pencipta sebab-sebab, dan bahwa tidak ada yang mustahil bagi-Nya di bumi maupun di langit, dan bahwa jika Dia menghendaki sesuatu maka Dia hanya berkata kepadanya jadilah maka jadilah ia, dan bahwa perumpamaan Isa di sisi Allah adalah seperti Adam, Dia menciptakannya dari tanah kemudian berkata kepadanya jadilah maka jadilah ia.
Dan bukan bagian dari topik kita untuk membahas orang-orang Nasrani dalam keyakinan mereka, karena ini adalah topik yang telah dibahas secara mendalam oleh para ulama, dan mereka menulis buku-buku dan risalah-risalah tentangnya, tetapi topik kita adalah menyajikan beberapa contoh dari dakwah Isa, untuk melihat bagaimana nabi ini berdakwah kepada agama Allah, agar para da’i belajar seni dakwah kepada Allah, dan Allah telah menyebutkan Isa dalam “Al-Baqarah” sebagaimana saya katakan tiga kali, dan di dalamnya bahwa Allah memberinya bukti-bukti yang nyata dan memperkuatnya dengan ruhul qudus, sebagaimana disebutkan bahwa ia termasuk dalam barisan para nabi yang harus diimani, dan dengan apa yang Allah wahyukan kepada mereka, dan bahwa orang-orang beriman dari sahabat Muhammad harus mengatakan itu kepada ahli kitab.
Dan dalam “Ali Imran” datang pembicaraan tentang Maryam dan pemilihan Allah atasnya, dan apa yang terjadi dari kabar gembira Allah kepadanya dengan Isa, dan apa yang dibawa kabar gembira ini dari sifat-sifat tinggi bagi anaknya, dan bahwa ia akan menjadi terhormat di dunia dan akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan, dan berbicara kepada manusia di dalam buaian dan ketika dewasa dan termasuk orang-orang yang saleh, dan bahwa Allah akan mengajarinya kitab dan hikmah dan Taurat dan Injil, dan akan menjadi rasul kepada Bani Israil, maka betapa agungnya kabar gembira itu!.
Dan ketika Allah menyebutkan bahwa Isa akan menjadi rasul kepada Bani Israil, Dia memberikan kepada kita contoh dari dakwahnya, dan pembicaraan berpindah dari penjelasan sifat-sifat Isa kepada apa yang akan dikatakan Isa kepada Bani Israil, maka ia memulai dakwahnya dengan mengumumkan bahwa ia adalah utusan Allah kepada mereka, sebagaimana Allah menyebutkan itu dalam surah “Ash-Shaff” dan berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata: ‘Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad'” (Surah Ash-Shaff: 6).
Dan mungkin rasul memerlukan mukjizat untuk membuktikan kepada kaumnya bahwa ia utusan dari Allah kepada mereka, dan saya katakan: mungkin rasul memerlukan itu; karena banyak dari para rasul yang disebutkan Allah, tidak disebutkan bahwa mereka datang dengan mukjizat, maka Allah telah menyebutkan Adam dan Nuh dan Hud dan Syu’aib dan Ismail dan Ishak dan Yakub dan Daud dan Sulaiman dan Ayyub dan Yusuf, dan Zakariya dan Yahya dan Ilyas dan Alyasa’ dan Yunus dan Luth, dan tidak disebutkan bahwa seorang pun dari mereka memiliki mukjizat.
Dan banjir yang Allah binasakan dengannya siapa yang dibinasakan tidak dikatakan sebagai mukjizat, sebagaimana apa yang terjadi dari pemberian Allah kepada Daud dan putranya Sulaiman tidak termasuk dalam mukjizat, tetapi apa yang terjadi dari urusan Bani Israil ketika Allah mengutus Isa kepada mereka, memerlukan bahwa Isa dipersenjatai dengan mukjizat-mukjizat, untuk membuktikan kejujurannya dalam apa yang ia sampaikan dari Tuhannya, karena apa yang ada pada Bani Israil dari kekerasan dan kekakuan dan cinta dunia yang membutakan mereka dari setiap keutamaan, dan membuat mereka mengingkari para nabi mereka bahkan membunuh mereka, sebagaimana Allah berfirman: “Yang demikian itu adalah karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak. Yang demikian itu adalah karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas” (Surah Al-Baqarah: 61).
Dan sebagaimana Dia berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulkan sesudahnya beberapa rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti yang nyata (mukjizat) kepada Isa putra Maryam dan Kami memperkuatnya dengan ruhul qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombongkan diri, maka sebagian (dari mereka) kamu dustakan dan sebagian (yang lain) kamu bunuh?” (Surah Al-Baqarah: 87).
Dan sebagaimana Dia berfirman: “Maka disebabkan mereka melanggar perjanjian mereka, dan karena kekafiran mereka terhadap ayat-ayat Allah dan mereka membunuh para nabi tanpa hak dan karena perkataan mereka ‘Hati kami tertutup.’ Bahkan Allah telah mengunci hati mereka karena kekafiran mereka, maka mereka tidak beriman kecuali sedikit. Dan karena kekafiran mereka dan karena perkataan mereka terhadap Maryam dengan tuduhan besar. Dan karena perkataan mereka: ‘Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih Isa putra Maryam, Rasul Allah’, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkatnya kepada-Nya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Surah An-Nisa: 155 – 158).
Dan oleh karena itu Allah mengalirkan di tangan Isa banyak mukjizat, dan di antaranya apa yang Allah sebutkan dalam “Ali Imran” dan “Al-Ma’idah”, Allah berfirman dalam “Ali Imran”: “Dan (sebagai) rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): ‘Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah (berbentuk) seperti burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman. Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatilah aku'” (Surah Ali Imran: 49, 50).
Dan Dia berfirman dalam “Al-Ma’idah”: “(Ingatlah), ketika Allah berfirman: ‘Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu ketika Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) ketika Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) ketika kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniupnya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah) ketika kamu menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) ketika kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) ketika Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: ‘Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata'” (Surah Al-Ma’idah: 110).
Dan dengan ayat-ayat yang jelas ini mereka membangkangnya dan mendustakannya dan mengejarnya, dan merencanakan untuk membunuhnya dan melaksanakan apa yang mereka rencanakan, tetapi Allah menjaga rasul-Nya dan menyelamatkannya dari mereka, dan melemparkan keserupaannya kepada orang yang menunjukkan kaum itu kepadanya maka mereka membunuhnya, dan mereka meyakini bahwa mereka telah membunuh Isa alaihissalam dan mereka tidak tahu bahwa Allah telah mengangkatnya kepada-Nya dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Dakwah Isa alaihissalam:
Hal pertama yang diseru oleh setiap rasul adalah penghambaan kepada Allah, dan penghambaan kepada Allah berdiri atas keyakinan bahwa Dia adalah tuhan yang satu tidak ada sekutu bagi-Nya, bersifat dengan sifat-sifat kesempurnaan dan keindahan. Allah berfirman: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku'” (Surah Al-Anbiya: 25).
Demikianlah Isa berkata kepada kaumnya, dan memulai dakwahnya dengan menetapkan kepada mereka bahwa dia adalah utusan dari Tuhannya, dan menghadirkan di hadapan dakwahnya berbagai mukjizat sebagaimana telah kami sebutkan, dan menyampaikan kepada mereka bahwa dia datang membenarkan Taurat yang ada sebelumnya, namun dia datang dengan memberikan kemudahan kepada mereka, maka dia berkata: “Dan (sebagai utusan) yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat, dan untuk menghalalkan bagi kamu sebagian yang telah diharamkan untukmu.” (Ali Imran: 50).
Sesungguhnya dia membangkitkan kecintaan mereka terhadap kemudahan setelah Allah membebani mereka dengan kewajiban-kewajiban yang membutuhkan tekad yang kuat; karena watak mereka yang cenderung untuk lepas dan tidak mematuhi hukum-hukum Allah. Ketika datang kepada mereka seorang rasul yang membawa semua bukti dan dalil ini, bahwa dia benar dalam apa yang dikhabarkannya kepada mereka tentang Tuhannya, dan menyebutkan kepada mereka bahwa dia datang untuk meringankan sebagian dari yang telah Allah haramkan kepada mereka, dan bahwa dia datang dengan dalil yang jelas dan bukti yang pasti atas kebenaran perkataannya, seharusnya mereka merespons apa yang dinasihatinya dan yang diserunya kepada mereka: “Dan aku datang kepadamu dengan membawa mukjizat dari Tuhanmu.” (Ali Imran: 50).
Renungkanlah ketepatan dakwah nabi yang mulia ini, saat dia mengingatkan kaumnya dengan apa yang dibawanya berupa bukti-bukti yang nyata, dan memberitahukan kepada mereka bahwa mukjizat yang dibawanya adalah sebuah tanda, dan tanda yang bagaimana! Dan kata tidak tentu (nakirah) dalam ucapannya “ayat” menunjukkan pengagungan dan dia mengatakannya dua kali, di sini dan di ayat sebelumnya, namun di sini dia menambahkan dalil lain yang tidak bisa mereka sangkal, yaitu bahwa mukjizat yang agung ini sumber dan asalnya adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan apakah ada di antara mereka yang meragukan ketuhanan (rububiyah) Allah?
Apakah ada di antara mereka yang mengingkari bahwa Allah adalah Sang Pencipta, Pemberi Rezeki, Yang Menghidupkan, Yang Mematikan? Dan mereka tidak bisa menisbatkan sesuatu dari itu kepada manusia atau batu; karena mereka melihat bahwa manusia atau batu terlalu lemah untuk melakukan itu. Oleh karena itu dia berpindah kepada apa yang merupakan konsekuensi dari apa yang mereka akui tentang ketuhanan Allah, yaitu kewajiban untuk beribadah hanya kepada-Nya semata, dan bahwa mereka harus menaati rasul dalam apa yang diserukannya kepada mereka, maka dia berkata: “Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.” (Ali Imran: 50).
Kemudian dia mengambil tangan mereka dengan lembut dan membawa mereka ke jalan keselamatan, sambil mengenalkan kepada mereka bahwa Allah yang menyeru mereka untuk mentauhidkan-Nya dalam uluhiyah-Nya, adalah Tuhannya dan Tuhan mereka, dan mereka harus beribadah hanya kepada-Nya, dan mentauhidkan Allah dalam rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, adalah jalan yang lurus, mudah, seimbang, yang mengarah kepada keselamatan dan kebahagiaan dari jalan yang terdekat, dan oleh karena itu dia berkata kepada mereka: “Inilah jalan yang lurus.” (Ali Imran: 51).
Dia menunjuk dengan kata isyarat “ini”, dan itu adalah kata isyarat yang digunakan untuk menunjuk kepada yang dekat, dan kedekatan di sini adalah kedekatan kedudukan dan posisi, dan ini berarti bahwa jalan yang lurus itu dekat dari akal dan perasaan; karena selaras dengan fitrah, dan Allah Ta’ala telah berfirman: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Ar-Rum: 30). Oleh karena itu Allah menegur para penjahat pada hari kiamat dan berfirman kepada mereka: “Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai bani Adam supaya kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu. Dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. Sesungguhnya setan itu telah menyesatkan sebahagian besar daripadamu, maka apakah kamu tidak memikirkan?” (Yasin: 60-62).
Dan Isa Alaihissalam menunjuk kepada jalan, maka dia menyebutnya sebagai nakirah (tidak tentu), dan kata tidak tentu menunjukkan pengagungan, dan menggambarkan jalan itu dengan kelurusan, maka menunjukkan bahwa itu menghantarkan kepada tujuan dari jalan yang terdekat. Dengan jelasnya dakwah ini, dia merasakan kekufuran dari mereka, maka berkata: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” (Ash-Shaff: 14), dan ini adalah cara dalam berdakwah yang tidak bisa ditinggalkan, yang digambarkan oleh para nabi untuk menolong agama Allah. Para sahabatnya yang tulus dan orang-orang yang mencintainya meski jumlah mereka sedikit berkata, dan Isa menyebut mereka dan Al-Quran menyebut mereka sebagai hawariyyun (pengikut setia). Mereka berkata: “Kami adalah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri. Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan kami telah mengikuti rasul, karena itu masukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi.” (Ali Imran: 52-53).
Jika ini adalah contoh dari dakwah Isa, maka ada banyak contoh dalam Al-Quran Al-Karim, dan mari kita cukupkan dengan contoh lain, yaitu apa yang kita lihat dalam surah “Ash-Shaff” dalam firman Allah Ta’ala: “Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata: ‘Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad.’ Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: ‘Ini adalah sihir yang nyata.'” (Ash-Shaff: 6).
Dia memulai dakwahnya dengan mengingatkan mereka, dan dia memanggil mereka dengan sebutan Bani Israil (anak-anak Israel), dan Israil adalah nabi Allah Yakub -hamba Allah dan yang dipilih-Nya- putra Ishaq putra Ibrahim khalilullah (kekasih Allah), dan dengan panggilan ini dia membangkitkan dalam diri mereka unsur kemuliaan dan kehormatan; agar mereka menjaga warisan kenabian, yang Allah jadikan pada mereka sejak zaman Ibrahim Alaihissalam. Dia memanggil mereka untuk memberitahukan bahwa dia adalah rasul Allah, maka dia ketika menyampaikan, sesungguhnya dia menyampaikan dari Allah, dan ketaatan kepadanya berarti ketaatan kepada Allah, dan kemaksiatan kepadanya adalah kemaksiatan kepada Allah. Perkara lain adalah bahwa Allah ketika mengutusnya; mengutusnya untuk kebaikan mereka, dan oleh karena itu dia berkata: “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu.” (Ash-Shaff: 6).
Dan apakah ada kebaikan yang lebih besar dari mengenal Allah sebagai Tuhan yang disembah dan sesembahan yang dituju, dan apa yang dibawa oleh rasul berupa syariat yang mulia, yang dengannya kegelapan tersingkap dan manusia hidup dalam naungannya dengan aman dan tenteram. Sebagai motivasi bagi mereka untuk mengikutinya, dia menyebutkan kepada mereka bahwa dia tidak datang untuk mendustakan Taurat, meruntuhkan apa yang dibawanya, tetapi dia datang membenarkannya dalam hal tauhid yang diserukannya dan hukum-hukum tetap yang dibawanya, meskipun dia menambahkan atau memodifikasi sebagian hukumnya dengan wahyu dari Allah, beberapa hal yang sesuai dengan zamannya. Oleh karena itu ketika Allah menyebutkan dalam “Al-Maidah” bahwa Dia menurunkan Taurat yang di dalamnya ada petunjuk dan cahaya, Dia berfirman tentang Isa dan Injil: “Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israil) dengan Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya, dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat; dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.” (Al-Maidah: 46).
Kemudian Dia berfirman tentang Al-Quran: “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu.” (Al-Maidah: 48). Kemudian dia memberi mereka kabar gembira tentang nabi akhir zaman yang dengannya Allah akan mengakhiri risalah-risalah, maka berkata: “Dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad.” (Ash-Shaff: 6).
Maka dia menyampaikan kepada mereka kabar gembira yang agung, dan memberitahukan kepada mereka bahwa rasul yang dikabarkan ini adalah rasul yang agung, dan bahwa namanya adalah Ahmad. Dan Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam memiliki beberapa nama, di antaranya adalah Ahmad, yaitu: yang paling banyak memuji, dan itu agar generasi-generasi setelah Isa meneruskan kabar gembira ini, sehingga ketika Allah mengizinkan pengutusan beliau, mereka harus beriman kepadanya, dan dalam beriman kepadanya ada kemuliaan dan keselamatan.
Dan Allah telah menyebutkan dalam kitab-Nya bahwa setiap rasul yang diutus Allah berwasiat kepada umatnya untuk beriman kepada nabi penutup dan menolongnya; untuk menegakkan kebenaran dan mendukung agama Allah, Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: ‘Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.’ Allah berfirman: ‘Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?’ Mereka menjawab: ‘Kami mengakui.’ Allah berfirman: ‘Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu. Maka barangsiapa yang berpaling sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.'” (Ali Imran: 81-82).
Oleh karena itu orang Yahudi dan Nasrani menemukan dalam Taurat dan Injil apa yang Allah wahyukan kepada Musa dan Isa, berupa penjelasan tentang sifat-sifat nabi ini, dan seruan kepada mereka untuk beriman dan menolongnya. Allah Ta’ala berfirman: “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.” (Al-A’raf: 158). Namun dengan bukti-bukti yang jelas dan dakwah yang bertujuan ini, mereka menolak dakwahnya, dan mengira bahwa mukjizat yang dibawanya hanyalah dari jenis sihir. Allah Ta’ala berfirman: “Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: ‘Ini adalah sihir yang nyata.'” (Ash-Shaff: 6).
Dakwah Nabi Penutup Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam
Dan jika ini adalah contoh dan sebelumnya dari dakwah Isa Alaihissalam, dan betapa banyak contoh dalam dakwah Isa, dan setiap contoh darinya mengandung banyak pelajaran yang bermanfaat dan nasihat yang mendalam, maka dengan waktu yang tersisa, kita ingin beralih kepada nabi penutup Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam untuk mengambil beberapa permata berharga dari dakwahnya, dan contoh-contoh yang bercahaya. Dakwah beliau Shallallahu Alaihi Wasallam penuh dengan contoh-contoh ini; karena kekhususan yang dimilikinya, yaitu dakwah yang universal, karena setiap rasul diutus kepada kaumnya secara khusus, sedangkan Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam diutus kepada seluruh manusia, dan ia adalah firman Allah yang terakhir untuk seluruh alam, maka tidak ada nabi setelah Muhammad dan tidak ada kitab setelah Al-Quran yang agung.
Dan jika kita merenungkan kitab Allah untuk mengambil beberapa contoh yang menjelaskan cara Rasulullah dalam dakwahnya; kita akan menemukan Al-Quran itu sendiri dalam cara penurunannya, dan kekhususan yang dimilikinya, adalah contoh terbaik untuk itu. Mukjizat-mukjizat yang Allah jalankan melalui tangan para nabi terdahulu adalah untuk membuktikan risalah mereka, dan risalah setiap nabi berbeda dari mukjizatnya. Adapun mukjizat Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam adalah esensi dari risalahnya.
Al-Quran Al-Karim adalah mukjizat yang dengannya Allah menantang orang Arab yang fasih berbahasa; ketika Dia meminta mereka untuk membuat yang sepertinya dengan menantang, namun mereka tidak mampu. Lalu Dia menuntut mereka untuk membuat sepuluh surah sepertinya, tetapi mereka tidak mampu. Kemudian Dia menuntut mereka untuk membuat seperti surah terpendek di dalamnya, namun mereka tidak melakukannya, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surah (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (Al-Baqarah: 23-24). Maka lihatlah metode dakwah ini saat kamu merenungkan tantangan ini dengan tahapan-tahapannya, hingga membungkam mereka dan mereka tidak menemukan jalan selain keras kepala dan membangkang.
Begitu juga cara penurunan Al-Quran ini, juga merupakan metode yang agung dalam dakwah, karena Al-Quran ini tidak diturunkan seperti kitab-kitab sebelumnya secara sekaligus, tetapi diturunkan secara berangsur-angsur dalam dua puluh tiga tahun, menjaga Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan orang-orang yang beriman kepadanya dengan berbagai bentuk pendidikan, bimbingan, penguatan, dan ketenangan. Para ulama telah menyebutkan banyak hikmah dalam turunnya Al-Quran secara berangsur-angsur, dan di antaranya adalah apa yang disebutkan oleh penulis kitab (Manahilul Irfan fi Ulumil Quran) yang telah berbuat baik dan bermanfaat. Dari sinilah para da’i belajar bagaimana membawa manusia dengan lembut untuk berkomitmen pada agama ini, dan ini tidak berarti bahwa da’i mengikuti cara turunnya Al-Quran secara berangsur-angsur, sehingga dia mulai dengan mengatakan bahwa khamar halal kemudian mengharamkannya saat shalat, kemudian mengharamkannya secara umum dan menyeluruh sebagaimana dilakukan Al-Quran.
Tetapi dia menyampaikan berbagai bentuk ancaman dan peringatan dari meminumnya, memperdagangkannya, membawanya dan membuatnya, dan menyebutkan berbagai jenis minuman yang Allah sediakan bagi orang-orang yang bertakwa di surga-Nya, dan mendorong untuk beramal saleh, dan menyeru untuk berpegang teguh pada tali Allah, karena di dalamnya terdapat keselamatan.
Dan demikianlah jika kita merenungkan Al-Quran itu sendiri, untuk melihat apa yang ada di dalamnya dari metode-metode dakwah, maka kita akan melihat bahwa ia menempuh jalan yang penuh cahaya, rabbaniyyah (dari Tuhan), dan ilahiyyah (ketuhanan) dalam setiap aspek yang didakwahkannya. Al-Quran seluruhnya menerjemahkan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan orang yang beriman kepadanya tidak beriman karena ia tidak mampu menentangnya dalam posisi tantangan, melainkan beriman karena apa yang ada di dalamnya berupa dakwah yang meyakinkan akal dan perasaan, serta menuntun manusia kepada ketenangan hati dan kebahagiaan jiwa, serta baiknya hubungan dengan Allah dan saling berkasih sayang antar manusia.
Maka ia melihat bahwa apa yang dibawa oleh Al-Quran untuk didakwahkan adalah oasis yang rindang naungannya, di mana kemanusiaan dapat menemukan ketenangan setelah terpanggang oleh terik kehidupan, sehingga mereka menemukan dalam naungannya keamanan, kestabilan, kebahagiaan, dan kebaikan mereka. Perincian tentang hal itu tidak dapat dicakup oleh ungkapan-ungkapan dan waktu pun tidak memadai untuk itu, namun cukuplah bagi kita untuk memaparkan sebagian dari hal tersebut, dan melihat bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendorongnya ke dalam hati-hati sehingga lapang karenanya dan menyambutnya dengan rindu dan kerinduan. Dan tidak ada yang berpaling darinya kecuali orang-orang yang hati mereka telah dibutakan oleh Allah dari kebenaran, sehingga mereka sebagaimana yang Allah firmankan: “(Mereka) tuli, bisu, dan buta, maka mereka tidak dapat memahami” (Surat Al-Baqarah: 171).
Dan marilah kita ambil contoh dari dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada tauhid uluhiyyah (ketunggalan dalam beribadah). Al-Quran—dan khususnya pada periode Makkah—dimulai dengan menetapkan tiga perkara, untuk membangun di atasnya bangunan yang diinginkan. Ketiga perkara ini adalah: tauhid, risalah (kerasulan), dan ba’ats (kebangkitan setelah mati). Dan untuk membuktikan hal itu, Al-Quran menyampaikan banyak dalil yang mengepung akal, dan tidak menyisakan hujjah yang dapat dijadikan alasan oleh orang yang keras kepala dan pembangkang.
Dalam maqam (posisi) menetapkan keesaan Allah, kita melihat Al-Quran melontarkan sejumlah pertanyaan yang diakui oleh kaum musyrikin, untuk mengambil darinya dalil bahkan dalil-dalil yang kuat bahwa Dialah yang pantas untuk dikhususkan dengan uluhiyyah (ketuhanan), dan bahwa kemanusiaan harus tunduk kepada-Nya dengan ketaatan dan penghambaan, tidak menyembah sesembahan bersama-Nya atau selain-Nya.
Dan kaum musyrikin tidak mengingkari bahwa Allah adalah Rabb (Tuhan Pemelihara) yang memelihara makhluk-makhluk di atas meja-meja kemurahan-Nya. Dialah Pencipta, Pemberi Rezeki, Yang Menghidupkan, Yang Mematikan, Yang menciptakan mereka dan menciptakan langit dan bumi, menundukkan matahari dan bulan, dan kepunyaan-Nya siapa yang ada di langit dan di bumi, dan Dialah Rabb pemilik ‘Arsy (singgasana) yang agung. Di tangan-Nya kerajaan segala sesuatu, dan Dia melindungi tetapi tidak ada yang dapat melindungi dari-Nya. Dan ayat-ayat yang menunjukkan hal itu tidak tersembunyi dari kalian.
Dalam metode dakwah, kita melihat Al-Quran memanfaatkan pengakuan ini untuk mengatakan kepada mereka: Bukankah Rabb ini pantas untuk disembah sendiri?! Dan mengarahkan perhatian mereka kepada kemustahilan adanya tuhan lain bersama Tuhan yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan ini. Dan Al-Quran heran dengan keadaan mereka, sementara ia menyebutkan kepada mereka apa yang tidak dapat mereka ingkari, ketika ia menyebutkan kepada mereka tentang kelemahan dan ketidakmampuan sesembahan-sesembahan mereka, dan bahwa sesembahan-sesembahan itu tidak menguasai bahaya, tidak pula manfaat, tidak pula kematian, tidak pula kehidupan, dan tidak pula kebangkitan.
Allah Yang Maha Agung berfirman: “Katakanlah: ‘Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih. Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya)? Atau siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan mereka adalah kaum yang menyimpang (dari kebenaran). Atau siapakah yang menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan)nya, dan menjadikan pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan kebanyakan mereka tidak mengetahui. Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan, dan yang menjadikan kamu khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali kamu mengingat(nya). Atau siapakah yang memimpin kamu dalam kegelapan di darat dan di laut, dan siapa (pula)kah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan. Atau siapakah yang menciptakan (makhluk) pada permulaannya, kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Katakanlah: ‘Tunjukkanlah buktimu jika kamu orang-orang yang benar.'” (Surat An-Naml: 59-64).
Gaya yang istimewa ini dalam menetapkan uluhiyyah (ketuhanan) bagi Allah, mengemukakan fenomena-fenomena alam, dan apa yang menimpa mereka dari keadaan-keadaan terpaksa dan jatuh dalam masalah-masalah hari dan zaman, dan apa yang terjadi berupa doa mereka kepada Rabb mereka dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Dan setiap kali mengemukakan sesuatu dari hal itu, Al-Quran bertanya: “Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)?”, “Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)?” Dan mengomentari hal itu dengan firman-Nya sebagaimana kalian lihat dalam ayat-ayat: “Bahkan mereka adalah kaum yang menyimpang (dari kebenaran)”, “Bahkan kebanyakan mereka tidak mengetahui”, “Sedikit sekali kamu mengingat(nya)”, “Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutakan.” Dan akhirnya menantang mereka untuk membawa satu bukti saja tentang kebenaran apa yang mereka yakini, dengan berfirman: “Katakanlah: ‘Tunjukkanlah buktimu jika kamu orang-orang yang benar.'” Maka betapa agungnya penjelasan ini!
Dan ini contoh lain untuk menetapkan keesaan Allah, dan bahwa sebagaimana Dia tunggal dalam rububiyyah (pemeliharaan)-Nya, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, Dia juga tunggal dalam uluhiyyah-Nya, yang mengharuskan bahwa Dialah satu-satunya Tuhan yang disembah dan Rabb yang dituju. Contoh ini kita baca dalam ayat-ayat dari Surat Yunus.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi, atau siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Allah.’ Maka katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?’ Maka Itulah Allah Rabb kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)? Demikianlah telah pasti berlaku kalimat Rabb-mu terhadap orang-orang yang fasik, bahwa mereka tidak beriman. Katakanlah: ‘Adakah di antara sekutu-sekutumu yang dapat memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali?’ Katakanlah: ‘Allah-lah yang memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya kembali), maka mengapakah kamu dipalingkan?’ Katakanlah: ‘Adakah di antara sekutu-sekutumu yang menunjuki kepada kebenaran?’ Katakanlah: ‘Allah-lah yang menunjuki kepada kebenaran.’ Maka apakah orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (ia) diberi petunjuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan? Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.'” (Surat Yunus: 31-36).
Dan ayat-ayat ini memerlukan banyak perenungan, karena ia adalah metode yang sempurna dalam cara berdakwah kepada Allah. Dalam enam ayat, kita melihat firman Allah kepada Rasul-Nya enam kali: “Katakanlah”. Dan perintah ini berarti bahwa ia diperintahkan dari Tuhannya, dan bahwa Al-Quran ini bukan dari dirinya sendiri, melainkan perkataan dari Yang mengutusnya, dan ia tidak lain adalah penyampai dari Rabbnya. Sebagaimana perintah ini juga berarti kekuatan dakwah yang didakwahkan oleh Rasul ini, dan keyakinan mutlaknya terhadap keadilan perkaranya, dan bersandar pada dasar-dasar yang tidak dapat goyah, karena ia adalah dakwah rabbaniyyah (dari Tuhan), sumbernya adalah Qayyum (Yang Maha Berdiri Sendiri) langit dan bumi, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata.
Dan setelah perintah pertama, berturut-turut datang pertanyaan-pertanyaan yang meminta pengakuan mereka, menanyakan kepada mereka tentang siapa yang memberi mereka rezeki dari langit dengan hujan, dan dari bumi dengan berbagai macam buah-buahan, dan menanyakan kepada mereka tentang siapa yang menguasai pendengaran dan penglihatan, dan siapa yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapa yang mengatur urusan? Maka jawabannya adalah pengakuan bahwa Dialah yang demikian. Lalu Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk menegur mereka atas kekeliruan dalam pemikiran dan perilaku mereka, dengan berfirman kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” Kemudian Dia membimbing mereka ke jalan keselamatan dengan berfirman: “Maka Itulah Allah Rabb kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?”
Dan betapa banyaknya dalam kalimat-kalimat ini berupa ajakan untuk kembali kepada kebenaran. Mungkin engkau merasakan bersamaku tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil tangan-tangan mereka dengan lembut untuk meletakkannya pada kebenaran yang tidak ada jalan untuk mengingkarinya, untuk mengatakan kepada mereka: Maka itulah Rabb yang kalian akui bahwa Dialah Pemberi Rezeki Yang Maha Berkuasa, Yang Maha Kuat, Yang Maha Kuasa, Yang mengatur urusan makhluk, Dialah Allah yang memelihara kalian di atas meja-meja kemurahan-Nya, dan Dialah Rabb kalian yang sebenarnya.
Kemudian Dia bertanya kepada mereka sambil menakut-nakuti dari akibat pengingkaran mereka, dan bahwa tidak ada setelah kebenaran kecuali kesesatan, dan berfirman kepada mereka: “Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?” Sesungguhnya semua jalan tertutup kecuali jalan ini, jalan kebenaran. Maka ke mana orang-orang ini akan pergi! Dan Dia mengakhiri babak ini dengan mengancam mereka dari kehilangan kehormatan iman, jika mereka terus dalam kekerasan kepala mereka, dengan berfirman: “Demikianlah telah pasti berlaku kalimat Rabb-mu terhadap orang-orang yang fasik, bahwa mereka tidak beriman.”
Kemudian Dia kembali untuk berjalan bersama mereka dan dengan mereka dalam babak lain, ketika Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk bertanya kepada mereka dengan pertanyaan penetapan dan teguran dengan berfirman: “Katakanlah: ‘Adakah di antara sekutu-sekutumu yang dapat memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali?’ Katakanlah: ‘Allah-lah yang memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya kembali), maka mengapakah kamu dipalingkan?'” Dan mereka mengakui bahwa sekutu-sekutu mereka lemah dan tidak mampu melakukan hal itu. Dan Al-Quran melanjutkan pertanyaan-pertanyaannya sambil menegur mereka dengan berfirman: “Katakanlah: ‘Adakah di antara sekutu-sekutumu yang menunjuki kepada kebenaran?’ Katakanlah: ‘Allah-lah yang menunjuki kepada kebenaran.’ Maka apakah orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (ia) diberi petunjuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan?'”
Maka perhatikanlah firman-Nya: “Mengapa kamu (berbuat demikian)?” dan pertanyaan ini: “Bagaimanakah kamu mengambil keputusan?” Dan apa yang terkandung dalam hal itu berupa menyalahkan mereka, dan penjelasan bahwa keputusan mereka bertentangan dengan pemikiran yang sehat dan pendapat yang bijaksana. Dan demikianlah Allah memutuskan terhadap keyakinan-keyakinan mereka bahwa ia tidak berdiri di atas dalil, dan tidak lain hanyalah prasangka dan wahm (dugaan). Dan prasangka serta dugaan tidak layak dalam maqam perbandingan dengan kebenaran. Dan mereka harus menyadari bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan, dan akan menghisab mereka atas hal itu dengan hisab yang berat. Maka apakah orang-orang kafir akan menyadari hal itu?
Dan ayat-ayat Al-Quran yang seperti itu sangat banyak. Dan metode Al-Quran yang kita lihat dalam menetapkan akidah, adalah apa yang kita lihat pula dalam menetapkan kebangkitan (ba’ats) dan menetapkan kerasulan (risalah), bahkan inilah metodologinya dalam dakwahnya kepada kemuliaan akhlak dan komitmen terhadap apa yang disyariatkan Allah. Dan setiap aspek dari aspek-aspek ini memerlukan pertemuan-pertemuan, tulisan-tulisan, dan ceramah-ceramah.
Dan ini ayat-ayat dalam menetapkan kebangkitan, yang engkau baca dari Surat Qaf, di mana Rabb kita berfirman: “Qaf. Demi Al-Quran yang mulia. Bahkan mereka heran karena datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka orang-orang kafir itu berkata: ‘Ini adalah sesuatu yang mengherankan. Apakah apabila kami telah mati dan kami telah menjadi tanah (kami akan dibangkitkan)? Itu adalah pengembalian yang mustahil.’ Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang dikurangi oleh bumi dari (tubuh-tubuh) mereka, dan pada sisi Kami ada Kitab yang memelihara. Bahkan mereka telah mendustakan kebenaran tatkala (kebenaran) itu datang kepada mereka, maka mereka berada dalam keadaan kacau balau. Maka apakah mereka tidak memperhatikan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya, dan tidak ada retak-retak padanya?” (Surat Qaf: 1-6) hingga Rabb kita Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati. Seperti itulah terjadinya kebangkitan.” (Surat Qaf: 10-11).
Maka engkau melihat bahwa Dia Subhanahu wa Ta’ala mengemukakan perkataan kaum musyrikin dan keheranan mereka dalam sikap pengingkaran, ketika mereka berkata: “Ini adalah sesuatu yang mengherankan. Apakah apabila kami telah mati dan kami telah menjadi tanah (kami akan dibangkitkan)? Itu adalah pengembalian yang mustahil.” Maka mereka mengira bahwa ini adalah perkara yang tidak dapat dipercaya oleh akal. Tetapi Allah Yang Maha Kuat, Maha Kuasa, Maha Menundukkan berfirman: “Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang dikurangi oleh bumi dari (tubuh-tubuh) mereka”. Maka setiap partikel dari partikel-partikel jasad ini yang pergi dalam partikel-partikel tanah, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahuinya, dan akan mengumpulkannya untuk membangun kembali manusia dari awal agar dikumpulkan dan dihisab.
Dan Dia mengarahkan perhatian mereka kepada kekuasaan Allah dalam wujud ini, mereka yang tidak merenungkan apa yang ada di atas mereka dari langit, dan bagaimana Allah membangunnya dan bagaimana menghiasinya dengan kekuasaan-Nya, dan tidak ada retak-retak padanya. Dan tidak merenungkan bumi yang mereka berjalan di atasnya, dan apa yang ada di dalamnya dari gunung-gunung yang kokoh, dan apa yang ada di dalamnya dari tumbuh-tumbuhan, sebagai pelajaran dan peringatan bagi setiap hamba yang kembali (kepada Allah). Dan hujan-hujan ini turun dari langit sebagai air yang diberkahi, maka apa yang terjadi dari pengaruhnya? Tidakkah kalian melihat bahwa Allah sebagaimana yang Dia firmankan: “Maka Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun dan biji-bijian yang dapat dipanen, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati” (Surat Qaf: 9-11).
Dan Yang berkuasa atas hal itu berkuasa untuk membangkitkan makhluk-Nya. Maka apakah orang-orang kafir yang mengingkari ini berakal?! Sesungguhnya ini adalah metode-metode dalam dakwah, yang dipelajari oleh para dai untuk sampai kepada keyakinan akal dan hati.
Dan semoga Allah memberikan shalawat, salam, dan berkah kepada Nabi kita Muhammad, dan kepada keluarganya serta para sahabatnya, dan semoga Allah memberikan salam.
Penulis : Kurikulum Universitas Al-Madinah Internasional
Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.







