TAFSIR AL-MUHARROR
التَّفْسِيْرُ المُحَرَّرُ
“Al-Fatihah & Juz ‘Amma”
JILID 02
Surat Al-Insyiqaq s/d Surat Al-Lail
Sebuah karya yang disusun dengan baik dalam tafsir Al-Qur’an Al-Karim, yang menggabungkan antara kebenaran informasi, kemudahan ungkapan, dengan keindahan penyusunan, serta kebaikan pengaturan dan pengorganisasian bab; disandarkan pada pilihan-pilihan penjelasan para ahli dari kalangan mufasir dan ulama lainnya; sehingga hadir mencakup bersamaan dengan:
Tafsir ayat-ayat, penjelasan kata-kata yang asing, permasalahan i’rab (tata bahasa), penjelasan makna keseluruhan ayat-ayat, penjelasan hubungan antar ayat, penyebutan qira’at (bacaan) yang memiliki pengaruh dalam tafsir, dan pemaparan manfaat-manfaat pendidikan, kehalusan ilmiah, dan keindahan retorika yang terdapat dalam ayat-ayat Al-Qur’an Al-Karim.
◙ ◙ ◙ ◙ ◙
Karya monumental ini, dalam edisi lengkap aslinya berbahasa Arab membentang hingga 44 jilid buku, dan hadir dalam format e-book terjemahan ini dengan hanya mencakup penafsiran terhadap Surah Al-Fatihah serta tafsir komprehensif dari seluruh surah yang terdapat dalam Juz ‘Amma saja.
Meskipun tidak mencakup keseluruhan surat Al-Qur’an, edisi terjemahan ini tetap mempertahankan esensi keilmuan dan kedalaman spiritual dari karya aslinya, menawarkan akses praktis kepada pembaca untuk memahami makna mendalam dari bagian-bagian Al-Qur’an yang paling sering dibaca dan direnungkan dalam kehidupan sehari-hari.
SURAH AL-INSYIQAQ
Perhatian: Setiap kalimat berikut memiliki rujukan ilmiah yang belum diterjemahkan. Bagi yang memerlukan, silakan merujuk langsung ke situs web aslinya dalam bahasa Arab di: https://dorar.net/tafseer/84
Nama-Nama Surah:
Surah ini dinamakan: Surah Al-Insyiqaq.
Juga dinamakan Surah “Idza As-Sama’un Syaqqat”.
Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa ingin melihat hari kiamat seakan-akan ia melihatnya dengan mata kepala sendiri, maka bacalah: ‘Idza Asy-Syamsu Kuwwirat’, ‘Idza As-Sama’un Fatarat’, dan ‘Idza As-Sama’un Syaqqat’.” Dan dari Abu Rafi’, ia berkata: “Aku shalat Isya bersama Abu Hurairah, lalu ia membaca ‘Idza As-Sama’un Syaqqat’ kemudian sujud. Maka aku bertanya kepadanya. Ia berkata: Aku pernah sujud di belakang Abul Qasim (Nabi) shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku akan terus sujud padanya hingga aku bertemu dengannya.” Dan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata: “Kami sujud bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika membaca ‘Idza As-Sama’un Syaqqat’ dan ‘Iqra’ Bismi Rabbika’.”
Keutamaan dan Keistimewaan Surah:
- Barangsiapa membacanya seakan-akan ia melihat hari kiamat dengan mata kepalanya sendiri: sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma yang telah disebutkan.
- Di dalamnya terdapat tempat sujud tilawah: sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah yang telah disebutkan, yaitu pada firman Allah Ta’ala: “Maka mengapa mereka tidak beriman? Dan apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud.”
Penjelasan tentang Makkiyah dan Madaniyah:
Surah Al-Insyiqaq adalah Makkiyah (diturunkan di Mekah). Banyak mufassir telah menyebutkan ijma’ (konsensus) mengenai hal ini.
Tujuan Surah:
Di antara tujuan terpenting surah ini adalah: menggambarkan hari kiamat dan kondisi manusia pada hari itu.
Tema-Tema Surah:
Di antara tema-tema penting yang terkandung dalam surah ini adalah:
- Penyebutan kedahsyatan hari kiamat.
- Pembahasan tentang keadaan orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang sengsara pada hari kiamat.
- Peringatan kepada orang-orang kafir tentang akibat buruk dari kekufuran dan kefasikan mereka.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Ayat: 1-6
﴿اِذَا السَّمَاۤءُ انْشَقَّتْۙ ١ وَاَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْۙ ٢ وَاِذَا الْاَرْضُ مُدَّتْۙ ٣ وَاَلْقَتْ مَا فِيْهَا وَتَخَلَّتْۙ ٤ وَاَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْۗ ٥ يٰٓاَيُّهَا الْاِنْسَانُ اِنَّكَ كَادِحٌ اِلٰى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلٰقِيْهِۚ ٦ ﴾
Gharib Al-Kalimat (Penjelasan Kata-Kata yang Sulit):
- وَأَذِنَتْ (wa-adzinat): Artinya mendengar dan menaati; berasal dari kata “al-adzan” yang berarti mendengarkan sesuatu dan memperhatikannya.
- وَحُقَّتْ (wa-huqqat): Artinya memang pantas baginya untuk menaati Tuhannya; dari ungkapan “dia berhak atas hal ini”, dan asal kata “haqaqa” menunjukkan kesempurnaan dan kebenaran sesuatu.
- مُدَّتْ (muddat): Artinya dibentangkan dengan diratakan gunung-gunungnya; asal kata “madada” menunjukkan hubungan antara satu hal dengan hal lainnya.
- وَتَخَلَّتْ (wa-takhallat): Artinya mengosongkan apa yang ada di dalamnya dengan sepenuhnya, tidak menyimpan apa pun, hingga tidak tersisa apapun di dalamnya; asal kata “khuluww” menunjukkan kekosongan sesuatu dari sesuatu yang lain.
- كَادِحٌ (kadihun): Artinya berusaha dengan amalmu; “al-kadih” adalah orang yang bekerja dengan keras, cepat dan sungguh-sungguh. “Al-kadh” adalah usaha manusia dan jerih payahnya dalam suatu urusan baik atau buruk sampai memberikan bekas padanya; asal kata “kadaha” menunjukkan pengaruh pada sesuatu.
Makna Keseluruhan:
Allah Ta’ala memulai surah yang mulia ini dengan pemberitaan tentang kedahsyatan hari kiamat. Allah berfirman: Ketika langit terbelah pada hari kiamat dan retak, dan mendengarkan perintah Tuhannya serta menaatinya dalam pembelahannya, dan memang pantas baginya untuk mendengarkan perintah-Nya dan menaati-Nya.
Dan ketika bumi dibentangkan sehingga menjadi luas dan rata tanpa ada cekungan maupun gundukan, dan mengeluarkan apa yang ada dalam perutnya berupa orang-orang yang telah mati ke permukaannya, serta mendengarkan perintah Tuhannya dan menaati-Nya, dan memang pantas baginya untuk itu – ketika semua itu terjadi, kalian akan melihat amal perbuatan kalian baik yang baik maupun yang buruk.
Kemudian Allah Ta’ala mengarahkan seruan-Nya kepada manusia: Wahai manusia, sesungguhnya engkau bekerja dan bersungguh-sungguh dalam pekerjaanmu, dan berusaha menuju Tuhanmu dengan amalmu, tidak ada jalan lain dan tidak ada tempat lari, maka engkau akan menemui-Nya dengan amalmu dan Dia akan membalasmu atas amal tersebut.
Tafsir Ayat-Ayat:
إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ (1).
Artinya: Ketika langit terbelah pada hari kiamat dan retak. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan terbelahlah langit, maka pada hari itu langit menjadi lemah.” [Al-Haqqah: 16].
وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ (2).
Artinya: Dan langit mendengarkan perintah Tuhannya dan menaatinya dalam pembelahannya, dan memang pantas baginya untuk mendengarkan perintah-Nya dan menaati-Nya, karena Dia adalah Tuhannya yang menciptakannya, memilikinya dan mengatur urusannya.
وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ (3).
Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah memulai dengan alam yang tinggi (langit), karena kedudukannya yang lebih mulia dan posisinya yang lebih tinggi, kemudian dilanjutkan dengan alam yang rendah (bumi).
وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ (3).
Artinya: Dan ketika bumi dibentangkan pada hari kiamat dan diluaskan setelah gunung-gunungnya dihancurkan, sehingga menjadi bumi yang luas dan rata tanpa cekungan, ketinggian, atau lekukan, dan dapat memuat semua manusia meskipun jumlah mereka sangat banyak. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit.” [Ibrahim: 48]. Dan Allah berfirman: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah: ‘Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat) sehancur-hancurnya, maka Dia akan menjadikan (bekas gunung-gunung) itu datar sama sekali, tidak ada sedikitpun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi.'” [Thaha: 105-107]. Dan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah akan mengumpulkan pada hari kiamat orang-orang terdahulu dan yang kemudian di satu dataran, mereka dapat mendengar panggilan dan terlihat semuanya.”
وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ (4).
Artinya: Dan bumi mengeluarkan apa yang ada dalam perutnya berupa orang-orang yang telah mati ke permukaannya, sehingga kosong dari apa yang ada di dalamnya, dan tidak tersisa seorangpun dari mereka di dalamnya.
وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ (5).
Artinya: Dan bumi mendengarkan perintah Tuhannya, dan menaatinya dalam mengeluarkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan memang pantas baginya untuk mendengarkan perintah-Nya dan menaati-Nya; karena Dia adalah Tuhannya yang menciptakannya, memilikinya dan mengatur urusannya.
يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ (6).
Artinya: Wahai manusia, sesungguhnya engkau mengerjakan amalan-amalan yang engkau bersungguh-sungguh di dalamnya, baik itu kebaikan maupun keburukan, kemudian engkau kembali kepada Tuhanmu lalu menemui-Nya dengan amalmu dan Dia akan membalasmu atas amal tersebut. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.” [Al-Ghasyiyah: 25-26]. Dan Allah berfirman: “Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya.” [Ali Imran: 30].
Manfaat Pendidikan/Pembelajaran:
- Hal yang patut diperhatikan adalah bahwa ketika langit dengan keagungan bentuknya, dan bumi dengan luasnya permukaan (mendengarkan perintah Tuhannya dan menaati-Nya) padahal keduanya tidak memikul amanah dan tidak akan ditanya tentang kewajiban; maka bagaimana dengan manusia dalam kelemahannya yang telah memikul amanah taklif (beban kewajiban)? Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit?” [An-Nazi’at: 27], dan firman-Nya: “dan mereka khawatir akan (memikul) amanah itu, dan dipikullah amanah itu oleh manusia” [Al-Ahzab: 72]; maka manusia lebih berhak untuk mendengar dan menaati dalam usahanya hingga ia bertemu Tuhannya untuk mendapatkan ridha-Nya.
- Dalam firman Allah Ta’ala: “Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya” terdapat penetapan tentang pertemuan dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Dari sini dapat diambil pelajaran: bahwa manusia wajib mempersiapkan diri untuk bertemu Allah, dan mengetahui bagaimana ia akan bertemu Allah: apakah ia akan bertemu-Nya dalam keadaan yang diridhai oleh Allah ‘Azza wa Jalla, atau sebaliknya? Maka periksalah dirimu, dan ketahuilah apa yang ada pada dirimu.
- Dalam firman Allah Ta’ala: “Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya” terdapat dorongan untuk bersungguh-sungguh dalam melakukan yang terbaik dalam beramal; karena siapa yang yakin bahwa ia pasti akan dihadapkan kepada Raja (Allah), maka ia akan mencurahkan usahanya dalam beramal dengan apa yang akan dipuji oleh-Nya ketika pertemuan nanti.
- Dalam firman Allah Ta’ala: “Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya” menunjukkan bahwa manusia pasti akan selalu berada dalam keadaan beramal, berpindah dari satu amal ke amal lainnya, tidak ada waktu kosong dalam hidupnya sama sekali; manusia terus-menerus bekerja keras hingga ia bertemu Allah ‘Azza wa Jalla. Huruf “fa” (maka) setelah firman-Nya “sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh” mengisyaratkan bahwa kerja keras ini akan terus berlanjut hingga pertemuan dengan Allah ‘Azza wa Jalla, yaitu dengan datangnya ajal.
Manfaat Ilmiah dan Kelembutan Makna:
- Firman Allah Ta’ala: “Dan apabila bumi diratakan” dapat dijadikan dalil bahwa bumi itu berbentuk bulat; karena hal ini akan terjadi pada hari kiamat, yang menunjukkan bahwa sebelum itu bumi tidaklah dihamparkan, melainkan berbentuk bulat. Ini tidak bertentangan dengan firman Allah Ta’ala: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, dan langit bagaimana ia ditinggikan, dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan, dan bumi bagaimana ia dihamparkan” [Al-Ghasyiyah: 17-20]; karena permukaan bumi yang terhampar adalah berdasarkan apa yang terlihat, jika engkau sekarang berdiri di atas bumi, engkau akan melihatnya rata sepanjang jangkauan pandangan.
- Dalam firman Allah Ta’ala tentang langit dan bumi: “Dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya patuh” menunjukkan bahwa seluruh alam semesta taat dan tunduk kepada perintah Allah; maka renungkanlah wahai manusia yang lemah, bagaimana makhluk-makhluk yang agung ini mendengar dan taat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan ketaatan yang agung pada awal penciptaan dan pada akhir penciptaan! Pada awal penciptaan Allah berfirman: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa. Keduanya menjawab: Kami datang dengan suka hati” [Fussilat: 11], dan pada akhir penciptaan: “Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya patuh” – sudah sepatutnya ia mendengar dan menaati.
- Dalam firman Allah Ta’ala: “Dan dikeluarkannya apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong” menunjukkan bahwa setelah bumi menjadi tempat penampungan bagi mereka yang hidup dan yang mati, dan setelah menjadi hamparan bagi mereka, bumi akan memuntahkan mereka dan melepaskan diri dari mereka. Ini menambah kengerian situasi dan kesulitannya serta kesempitan bagi hamba-hamba; dan bahwa tidak ada tempat berlindung dan keselamatan bagi mereka kecuali kepada Allah, sebagaimana firman-Nya: “Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali” [Al-Qiyamah: 11-12].
- Dalam firman Allah Ta’ala: “Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya” menunjukkan bahwa seluruh makhluk, tempat kembali dan tujuan mereka adalah kepada Allah, melalui jalan apapun yang mereka tempuh.
Keindahan Bahasa Ayat-Ayat:
1- Firman Allah Ta’ala: “Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya patuh, dan apabila bumi diratakan, dan dikeluarkannya apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong, dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya patuh”
- Kata “idza” (apabila) adalah kata keterangan untuk waktu yang akan datang, dan kata kerja dalam kalimat yang disandarkan kepada “idza” ditafsirkan untuk masa depan, namun diungkapkan dalam bentuk lampau (past tense) untuk menunjukkan kepastian kejadiannya; karena makna dasar “idza” adalah kepastian terjadinya syarat.
- Subjek (langit dan bumi) didahulukan atas predikat berupa kata kerja (terbelah dan diratakan) daripada mengatakan: “Apabila terbelah langit” dan “Apabila diratakan bumi”; untuk menguatkan hukum, yaitu ketergantungan syarat, artinya: bahwa syarat ini pasti terjadi, memperkuat apa yang ditunjukkan oleh “idza” dalam kalimat bersyarat berupa kepastian terjadinya syarat, berbeda dengan kata “in” (jika).
- Ucapan-Nya: “dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya patuh” – penggunaan sebutan “Rabb” (Tuhan) disertai dengan kata ganti kepemilikan; untuk mengisyaratkan alasan hukum; ungkapan “Rabbihaa” (Tuhannya) daripada nama-nama Allah yang lain dan cara-cara mendefinisikan-Nya; karena sifat “Rabb” mengandung makna kepemilikan dan pengaturan.
- Firman-Nya: وَحُقَّتْ (wa huqqat), artinya: dijadikan layak untuk mendengar dan tunduk, namun bukan setelah sebelumnya tidak demikian, tetapi dalam dirinya sendiri dan hakikatnya, dari ungkapan: “dia berhak atas hal ini”, dan maknanya: ia tunduk kepada Tuhannya, dan memang pantas demikian, tetapi bukan dalam arti bahwa yang dimaksud adalah kekhususan dzatnya di antara semua yang ditentukan, melainkan kekhususan kuasa Tuhan yang mengatasi yang dapat melakukan segala sesuatu, dan tidak ada satupun perkara yang terlepas darinya. Maka kalimat ini seharusnya menjadi sisipan yang menegaskan kalimat sebelumnya, bukan sebagai sambungan darinya.
- Objek kata حُقَّتْ (huqqat) dihilangkan karena telah ditunjukkan oleh kata kerja وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا (wa adzinat li rabbihaa), yaitu: dan memang pantas dengan ketundukan dan kepatuhan itu. Dikatakan: “si fulan berhak atas ini”, artinya: ia wajib menerimanya.
- Firman-Nya: وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ disebutkan dua kali; karena yang pertama berhubungan dengan langit, dan yang kedua dengan bumi, dan jika berhubungan dengan sesuatu yang berbeda dari yang lain, maka tidak dianggap pengulangan.
- Firman-Nya: وَتَخَلَّتْ (wa takhallat), artinya: mengeluarkan apa yang ada di dalamnya, sehingga tidak tersisa sesuatu pun; karena kata kerja “takhalla” menunjukkan kuatnya pengosongan dari sesuatu; karena dalam bentuk “tafa”ul” menunjukkan kesungguh-sungguhan dalam perbuatan, seperti dikatakan: “takarrama fulan” (si fulan sangat mulia), jika ia berlebihan dalam memuliakan, dan maknanya: bahwa tidak tersisa sesuatupun dari apa yang ada di dalam bumi.
- Pengulangan kata “idza” (apabila) dalam dua ayat إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ (Apabila langit terbelah) dan وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ (dan apabila bumi diratakan) adalah karena masing-masing kalimat berdiri sendiri dengan jenis kekuasaan tertentu.
- Jawaban dari “idza” (apabila): Ada yang mengatakan bahwa jawaban itu adalah firman-Nya:
فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ * فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا * وَيَنْقَلِبُ إِلَى أَهْلِهِ مَسْرُورًا
Sedangkan firman Allah Ta’ala: يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ adalah sisipan.
Ada pula yang mengatakan: jawaban dari “idza” dihilangkan untuk menunjukkan kehebatan dan isyarat bahwa ungkapan tidak mampu menjelaskannya, atau karena bergantung pada apa yang telah disebutkan dalam surat At-Takwir dan Al-Infithar.
Ada juga yang mengatakan: jawaban itu adalah yang ditunjukkan oleh firman-Nya: يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ, perkiraan maknanya: manusia menemui hasil usahanya, ini menurut satu pendapat.
Dan ada yang mengatakan: jawabannya adalah firman-Nya: فَمُلَاقِيهِ (maka pasti kamu akan menemui-Nya), sedangkan kalimat sebelumnya adalah sisipan.
Ada pula yang mengatakan: jawabannya adalah يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ dst. dengan perkiraan kata “dikatakan”, yakni: dikatakan “hai manusia…” atau firman-Nya: يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ menjadi jawaban dari “idza” dengan mempertimbangkan apa yang dicabangkan darinya berupa firman-Nya: فَمُلَاقِيهِ; maka maknanya: apabila langit terbelah, dan apabila bumi diratakan; engkau -wahai manusia- akan menemui Tuhanmu setelah kerja kerasmu untuk bertemu dengan-Nya; jadi ucapan-Nya: إِنَّكَ كَادِحٌ (sesungguhnya kamu telah bekerja) adalah sebagai sisipan sebelum maksud utama.
Dan diperbolehkan pula bahwa jawaban dari “idza” dihilangkan dan ditunjukkan oleh firman-Nya: فَمُلَاقِيهِ, dan perkiraannya adalah: apabila langit terbelah… sampai akhir, engkau -wahai manusia- akan menemui Tuhanmu.
2- Firman Allah Ta’ala: “Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya” – Seruan ini ditujukan kepada seluruh manusia; huruf lam pada kata “al-insān” (manusia) berfungsi untuk menunjukkan jenis, yang mencakup keseluruhan, sebagaimana ditunjukkan oleh perincian dalam firman-Nya: “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya” [Al-Insyiqaq: 7] hingga firman-Nya: “Sesungguhnya dia dahulu adalah orang yang memandang (amalnya) dengan baik di kalangan keluarganya” [Al-Insyiqaq: 15]. Tujuan utama dari ayat ini adalah peringatan kepada kaum musyrikin, karena mereka yang mendustakan kebangkitan, maka seruan ini bagi mereka merupakan tambahan peringatan, sedangkan bagi orang-orang beriman merupakan pengingat dan kabar gembira.
- Penggunaan kata “kadhan” (bekerja keras) yang dihubungkan dengan huruf “ilā” (kepada) dalam ayat ini mengisyaratkan bahwa yang dimaksud adalah: amalan yang berakhir dengan pertemuan dengan Allah. Maka boleh jadi kata “kādihun” (bekerja keras) mengandung makna: berusaha; karena kerja keras manusia dalam kehidupan adalah dengan berusaha melalui pekerjaan hari ini untuk pekerjaan esok, dan begitu seterusnya.
- Kata “kadhan” dinashabkan sebagai maf’ul mutlaq (objek mutlak) untuk menegaskan kata “kādihun” yang mengandung makna: berusaha menuju Tuhanmu, artinya: pasti berusaha menuju-Nya, tidak ada jalan keluar.
- Dhamir (kata ganti) nashab pada kata “mulāqīhi” kembali kepada “Rabb” (Tuhan), artinya: maka kamu akan menemui Tuhanmu, yaitu: tidak ada jalan keluar bagimu dari pertemuan dengan Allah; oleh karena itu khabar (predikat) dikuatkan dengan “inna” (sesungguhnya).
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Ayat: 7-15
﴿فَاَمَّا مَنْ اُوْتِيَ كِتٰبَهٗ بِيَمِيْنِهٖۙ ٧ فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَّسِيْرًاۙ ٨ وَّيَنْقَلِبُ اِلٰٓى اَهْلِهٖ مَسْرُوْرًاۗ ٩ وَاَمَّا مَنْ اُوْتِيَ كِتٰبَهٗ وَرَاۤءَ ظَهْرِهٖۙ ١٠ فَسَوْفَ يَدْعُوْا ثُبُوْرًاۙ ١١ وَّيَصْلٰى سَعِيْرًاۗ ١٢ اِنَّهٗ كَانَ فِيْٓ اَهْلِهٖ مَسْرُوْرًاۗ ١٣ اِنَّهٗ ظَنَّ اَنْ لَّنْ يَّحُوْرَ ۛ ١٤ بَلٰىۛ اِنَّ رَبَّهٗ كَانَ بِهٖ بَصِيْرًاۗ ١٥ ﴾
Arti Kata-kata Asing:
- Tsubūran: Yaitu kebinasaan. At-Tsubūr artinya kebinasaan dan kerusakan. Asal kata “tsabara” menunjukkan kebinasaan.
- Wa Yaşlā Sa’īran: Yaitu memasuki neraka dan merasakan panasnya. Asal kata “aş-şalā” adalah menyalakan api, dan asal kata “şalā” di sini adalah api, sedangkan asal kata “sa’ara” menunjukkan sesuatu yang menyala, berkobar, dan membumbung tinggi.
- Yahūra: Yaitu kembali dan dibangkitkan. Asal kata “hūr” di sini menunjukkan makna kembali.
Makna Keseluruhan:
Allah Ta’ala berfirman menjelaskan akibat dari kerja keras tersebut, dimulai dengan kondisi orang-orang yang bahagia: “Adapun orang mukmin yang diberikan kitab amalnya di tangan kanannya, maka ia akan dihisab pada hari kiamat dengan perhitungan yang mudah dan ringan tanpa perdebatan, dan ia akan kembali kepada keluarganya di surga dengan gembira.”
Kemudian Allah Subhanahu menjelaskan keadaan orang-orang yang celaka, firman-Nya: “Dan adapun orang kafir yang diberikan kitab amalnya di tangan kirinya dari belakang punggungnya, maka ia akan berseru kepada dirinya sendiri dengan kebinasaan dan kerugian, dan ia akan memasuki neraka lalu terbakar di dalamnya.”
Kemudian Allah Subhanahu menjelaskan sebab-sebab yang membawanya kepada akibat ini, firman-Nya: “Sesungguhnya dia dahulu bergembira di dunia di tengah keluarganya dengan mengikuti hawa nafsunya dan melakukan kemaksiatan, bersukaria dengan dunianya dan syahwatnya. Sesungguhnya dia mengira di dunia bahwa dia tidak akan kembali kepada Tuhannya setelah kematiannya untuk dihisab atas amal-amalnya.”
Namun perkaranya tidak seperti yang dipikirkan oleh orang yang mendustakan kebangkitan ini, karena sesungguhnya dia akan dibangkitkan hidup setelah kematiannya. Sesungguhnya Allah Maha Melihat kepadanya dan Maha Mengetahui amal-amalnya, dan akan membalasnya atas amal-amal tersebut.
Tafsir Ayat-ayat:
“Adapun orang yang diberikan kitabnya di tangan kanannya” (7).
Hubungan ayat dengan ayat sebelumnya: Ketika sudah diketahui bahwa hamba-hamba raja jika dihadapkan kepadanya, di antara mereka ada yang diterima dan ada yang ditolak; karena kerja keras mereka terkadang baik dan terkadang buruk; Allah menjelaskan bahwa perkara pada saat bertemu dengan-Nya juga demikian sebagaimana yang kita ketahui; orang yang diterima akan diberikan kitabnya di tangan kanannya, dan orang yang ditolak akan diberikan kitabnya di tangan kirinya. Maka Allah mengungkapkan maksud ini dengan firman-Nya: “Adapun orang yang diberikan kitabnya di tangan kanannya” (7).
Artinya: Adapun orang mukmin yang diberikan kitab amalnya, lalu ia menerimanya dengan tangan kanannya.
“Maka dia akan dihisab dengan perhitungan yang mudah” (8).
Artinya: Maka ia akan dihisab pada hari kiamat dengan perhitungan yang mudah, keburukan-keburukannya yang tertulis diperlihatkan kepadanya tanpa perdebatan, pemeriksaan yang teliti, dan proses yang panjang, dan ia tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas keburukan tersebut.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Ingatlah pada hari Kami memanggil setiap umat dengan pemimpinnya, maka barangsiapa diberikan kitabnya di tangan kanannya, mereka itulah yang akan membaca kitabnya dan mereka tidak akan dizalimi sedikitpun” [Al-Isra: 71].
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang dihisab akan disiksa.” Aku (Aisyah) berkata: “Bukankah Allah Ta’ala berfirman: ‘Maka dia akan dihisab dengan perhitungan yang mudah’?” Beliau menjawab: “Itu hanyalah pemaparan, tetapi barangsiapa yang diperinci perhitungannya akan binasa.”
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mendekatkan orang mukmin lalu menutupinya dengan perlindungan-Nya dan menutupinya, kemudian Allah berfirman: ‘Apakah engkau mengetahui dosa ini? Apakah engkau mengetahui dosa itu?’ Ia menjawab: ‘Ya, wahai Tuhanku!’ Hingga ketika Allah mengakuinya dengan dosa-dosanya, dan ia melihat dalam dirinya bahwa ia telah binasa, Allah berfirman: ‘Aku telah menutupinya atasmu di dunia, dan Aku mengampuninya untukmu hari ini,’ maka ia diberikan kitab kebaikannya.”
“Dan dia akan kembali kepada keluarganya dengan gembira” (9).
Artinya: Dan ia akan kembali kepada keluarganya di surga dengan gembira karena keselamatannya dari neraka Jahim, dan karena nikmat yang besar yang Allah berikan kepadanya.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Adapun orang yang diberikan kitabnya di tangan kanannya, maka dia berkata, ‘Ambillah, bacalah kitabku (ini). Sesungguhnya aku yakin, bahwa (suatu saat) aku akan menerima perhitungan terhadap diriku. Maka dia berada dalam kehidupan yang diridhai, dalam surga yang tinggi, buah-buahannya dekat. (Dikatakan kepada mereka), ‘Makan dan minumlah dengan nikmat karena amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.'” [Al-Haqqah: 19-24].
“Dan adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang punggungnya” (10).
Artinya: Dan adapun orang kafir yang diberikan kitab amalnya, lalu ia menerimanya dengan tangan kirinya dari belakang punggungnya.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan adapun orang yang diberikan kitabnya di tangan kirinya, maka dia berkata, ‘Alangkah baiknya jika kitabku tidak diberikan kepadaku, sehingga aku tidak mengetahui bagaimana perhitunganku. Wahai, kiranya (kematian) itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sama sekali tidak berguna bagiku. Kekuasaanku telah hilang dariku.'” [Al-Haqqah: 25-29].
“Maka dia akan berteriak, ‘Celakalah aku!'” (11).
Artinya: Maka ia akan menyerukan kebinasaan dan kerugian kepada dirinya sendiri; sebagai bentuk penyesalan dan kesedihannya dari apa yang ia lihat dalam kitabnya berupa keburukan-keburukan.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan diletakkanlah kitab, lalu engkau akan melihat orang-orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang tertulis di dalamnya, dan mereka berkata, ‘Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya.'” [Al-Kahf: 49].
“Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala” (12).
Artinya: Dan ia akan terbenam dalam api yang menyala-nyala sangat dahsyat, lalu ia terbakar di dalamnya.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan cukuplah neraka Jahannam sebagai api yang menyala-nyala. Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti dengan kulit yang lain, agar mereka merasakan azab.” [An-Nisa: 55-56].
“Sesungguhnya dia dahulu bergembira di tengah keluarganya” (13).
Hubungan ayat dengan ayat sebelumnya: Setelah menyebutkan siksa yang tidak tertahankan, Allah menyebutkan penyebabnya; sebagai peringatan darinya, dan dorongan untuk bertaubat.
“Sesungguhnya dia dahulu bergembira di tengah keluarganya” (13).
Artinya: Sesungguhnya dia dahulu di dunia bergembira di tengah keluarganya dengan mengikuti hawa nafsunya, menuruti syahwatnya, dan melakukan kemaksiatan, bersukaria dengan dunianya, tanpa memikirkan akibat perbuatannya, dan tidak takut akan siksa akhirat.
“Sesungguhnya dia mengira bahwa dia tidak akan kembali (kepada Tuhannya)” (14).
Artinya: Sesungguhnya orang kafir ini telah mengira ketika di dunia bahwa dia tidak akan kembali kepada Tuhannya setelah kematiannya untuk dihisab dan dibalas atas amal-amalnya, maka dia tidak takut akan siksa atau berharap pahala.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan mereka berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.’ Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanyalah menduga-duga saja” [Al-Jatsiyah: 24].
“Tidak demikian, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya” (15).
Artinya: Perkara ini tidaklah seperti yang diperkirakan oleh orang yang mendustakan kebangkitan ini; karena sesungguhnya dia akan dibangkitkan hidup setelah kematiannya, dan Allah Maha Melihat kepadanya dan Maha Mengetahui amal-amalnya, maka tidak tersembunyi bagi-Nya kekufuran atau kemaksiatannya, dan Dia akan membalasnya atas hal itu.
Manfaat Ilmiah dan Kehalusan Makna:
- Firman Allah Ta’ala: “Adapun orang yang diberikan kitabnya di tangan kanannya” – Kitab adalah lembaran amal, dan pemberian kitab di tangan kanannya dijadikan sebagai simbol kebahagiaan; karena sudah umum diketahui bahwa tangan kanan digunakan untuk mengambil hal-hal yang baik.
- Firman Allah Ta’ala: “Dan dia akan kembali kepada keluarganya dengan gembira” – Menunjukkan bahwa Allah Subhanahu telah menyiapkan baginya dan bagi keluarganya di surga pahala yang layak baginya.
- Hubungkan antara firman Allah Ta’ala tentang orang yang diberikan kitabnya di tangan kanannya: “Dan dia akan kembali kepada keluarganya dengan gembira”, dengan firman-Nya tentang orang yang diberikan kitabnya di tangan kirinya: “Sesungguhnya dia dahulu bergembira di tengah keluarganya”, maka kamu akan menemukan perbedaan antara kedua kegembiraan itu; kegembiraan yang pertama adalah kegembiraan yang abadi – kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita termasuk golongan mereka, sedangkan kegembiraan yang kedua adalah kegembiraan yang akan lenyap.
- Dalam firman Allah Ta’ala: “Dan adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang punggungnya”, terdapat pertanyaan tentang bagaimana menggabungkannya dengan firman Allah Ta’ala: “Dan adapun orang yang diberikan kitabnya di tangan kirinya” [Al-Haqqah: 25]?
Jawabnya: Ia diberikan kitabnya di tangan kirinya, sehingga pengambilannya dengan tangan kiri, tetapi tangan kirinya diputar ke belakang sehingga berada di belakang punggungnya. Balasan itu sesuai dengan jenis amalnya; sebagaimana orang ini telah meletakkan kitab Allah di belakang punggungnya (mengabaikannya), maka ia diberikan kitabnya pada hari kiamat dari belakang punggungnya; sebagai balasan yang setimpal.
Ada juga yang mengatakan: Sebagian dari mereka diberikan kitabnya di tangan kiri, dan sebagian lainnya dari belakang punggungnya.
- Dalam firman Allah Ta’ala: “Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala, sesungguhnya dia dahulu bergembira di tengah keluarganya” terdapat penjelasan tentang hasil kegembiraan mereka di dunia, yaitu mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala. Allah tidak menjelaskan sebab kegembiraan orang-orang lain (yang beriman), tetapi menjelaskannya di tempat lain: yaitu ketakutan mereka kepada Allah dalam firman-Nya: “Mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)’. Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka. Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dialah Yang Melimpahkan kebaikan, lagi Maha Penyayang” [At-Tur: 26-28].
Di sini dapat dikatakan: Sesungguhnya Allah Subhanahu tidak mengumpulkan dua ketakutan pada hamba-Nya, dan tidak pula memberikan dua keamanan sekaligus; barangsiapa yang takut kepada-Nya di dunia, Allah akan memberinya keamanan di akhirat: “Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga” [Ar-Rahman: 46], “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggal(nya)” [An-Nazi’at: 40-41].
Sedangkan orang yang merasa aman dari azab Allah, dan memenuhi segala syahwatnya, dan tidak peduli (dengan akhirat); maka ia akan diberikan kitabnya di tangan kirinya, dan masuk ke dalam api yang menyala-nyala, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala: “Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Mereka dalam siksaan angin yang sangat panas dan air yang mendidih, dan naungan asap yang hitam, tidak sejuk dan tidak menyenangkan. Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewah-mewah, dan mereka terus-menerus mengerjakan dosa yang besar. Dan mereka selalu mengatakan, ‘Apakah apabila kami mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali?'” [Al-Waqi’ah: 41-47], sebagai bentuk pendustaan terhadap kebangkitan. Perkataan mereka ini sama seperti yang disebutkan dalam ayat-ayat ini: “Sesungguhnya dia mengira bahwa dia tidak akan kembali (kepada Tuhannya)”.
- Kata “kegembiraan” dalam Al-Qur’an memiliki beberapa makna, di antaranya: kegembiraan penduduk dunia dengan dunia mereka, seperti dalam firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya dia dahulu bergembira di tengah keluarganya”, dan kegembiraan orang-orang yang taat dengan nikmat akhirat, seperti dalam firman-Nya: “Dan dia akan kembali kepada keluarganya dengan gembira”. Ini menunjukkan bahwa kegembiraan akhirat bertentangan dengan kegembiraan dunia.
- Dalam firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya dia dahulu bergembira di tengah keluarganya. Sesungguhnya dia mengira bahwa dia tidak akan kembali (kepada Tuhannya)” menunjukkan bahwa kegembiraan di dunia dan tidak adanya rasa takut kepada Allah adalah sebab siksa pada hari kiamat. Telah ditetapkan dalam kajian isyarat bahwa “inna” (sesungguhnya) yang dikasrahkan dan ditasydidkan adalah salah satu huruf yang menunjukkan alasan. Jadi firman-Nya: “Sesungguhnya dia dahulu bergembira di tengah keluarganya” merupakan alasan dari firman-Nya: “Maka dia akan berteriak, ‘Celakalah aku!’ Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala.”
- Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya dia mengira bahwa dia tidak akan kembali (kepada Tuhannya)” menunjukkan bahwa tidak beriman kepada kebangkitan atau meragukan kebangkitan adalah pendorong untuk setiap keburukan, dan menghilangkan setiap kebaikan. Sedangkan iman kepada hari akhir adalah titik tolak untuk setiap kebaikan, dan pencegah untuk setiap keburukan. Iman kepada kebangkitan adalah titik tolak semua amal saleh sebagaimana pada permulaan Al-Qur’an: “Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat” [Al-Baqarah: 2-4].
- Dalam firman Allah Ta’ala: “Tidak demikian, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya” terdapat isyarat kepada hikmah kebangkitan untuk pembalasan; karena Tuhan manusia Maha Mengetahui keadaan mereka; di antara mereka ada yang berbuat kebaikan, dan ada yang berbuat kerusakan, dan mereka semua berbeda-beda dalam hal itu. Maka tidaklah bijaksana jika orang yang berbuat kerusakan pergi dengan kerusakannya dan kemudaratan yang ditimbulkannya pada makhluk, dan diabaikan kebaikan orang yang berbuat baik; maka Allah menjadikan kehidupan yang abadi, dan menjadikannya sebagai tempat pembalasan atas apa yang telah dilakukan seseorang dalam kehidupan pertamanya.
Keindahan Ayat-ayat:
1- Firman Allah ﷻ: “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan dihisab dengan hisab yang mudah, dan dia akan kembali kepada keluarganya dengan gembira.” Ini merupakan perincian dari pernyataan umum yang terdapat dalam firman-Nya: “Sesungguhnya kamu, wahai manusia, bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya” [Al-Insyiqaq: 6]. Artinya, kembalinya semua manusia kepada Allah; maka siapa yang diberikan kitabnya dari sebelah kanan adalah kelompok dari manusia yaitu orang-orang beriman, dan siapa yang diberikan kitabnya dari belakang punggungnya adalah kelompok lain yaitu orang-orang musyrik. Di antara keduanya terdapat tingkatan-tingkatan, dan ayat ini datang berdasarkan pembagian manusia pada hari itu antara orang-orang bertakwa dan orang-orang musyrik.
- Dalam firman Allah: “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya” hingga firman-Nya: “Dan adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang punggungnya” terdapat ihtibak (elipsis berpasangan): penyebutan “kanan” di awal menunjukkan pada “kiri” di akhir, dan penyebutan “belakang” di akhir menunjukkan pada “depan” di awal. Rahasia dari hal ini adalah bahwa Allah menyebutkan tanda kasih sayang dan keramahan dengan berjabat tangan dan sejenisnya bagi orang yang bahagia, dan tanda pengkhianatan dan penipuan bagi orang yang celaka.
- Firman-Nya: “Maka dia akan dihisab dengan hisab yang mudah” – huruf “saufa” (akan) asalnya untuk menunjukkan terjadinya perbuatan di masa depan, dan kebanyakan digunakan untuk masa depan yang jauh. Dalam penggunaan yang balig (fasih), dimaksudkan untuk memastikan terjadinya perbuatan tersebut dan kelangsungannya. Di sini, kata tersebut berguna untuk memastikan dan menegaskan kelangsungan perbuatan yang disebutkan selanjutnya yaitu “dan dia akan kembali kepada keluarganya dengan gembira”, yang merupakan tujuan utama dari janji ini.
- “Hisab yang mudah” adalah pemaparan amal-amalnya tanpa perdebatan, sehingga tidak memakan waktu lama, dan dia segera diantar ke surga. Hal ini terjadi jika amal-amalnya saleh. Jadi, “hisab yang mudah” merupakan kiasan untuk tidak adanya hukuman.
- Dalam firman-Nya: “Maka dia akan dihisab dengan hisab yang mudah, dan dia akan kembali kepada keluarganya dengan gembira” terdapat ihtibak: penyebutan “hisab yang mudah” – yang merupakan hasil dan akibat – di awal menunjukkan pada penghapusan lawannya di akhir, dan penyebutan “kegembiraan dalam keluarga” – yang merupakan sebab di bagian kedua – menunjukkan pada penghapusan lawannya, yaitu sebab kebahagiaan, yaitu kesedihan, dan perhitungan diri di bagian pertama. Jadi, ini adalah ihtibak dalam ihtibak.
2- Firman Allah ﷻ: “Dan adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang punggungnya, maka dia akan memanggil kebinasaan, dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala”
- Firman-Nya: “Maka dia akan memanggil kebinasaan” yang dimaksud dengan “memanggil” di sini adalah seruan, yaitu: dia memanggil kebinasaan dengan mengatakan: “Wahai kebinasaanku” atau “Wahai kebinasaan”, sebagaimana dikatakan: “Wahai celakaku” dan “Wahai celaka kami”. “Tsubur” artinya kehancuran dan keburukan keadaan, dan ini adalah kata yang diucapkan oleh orang yang jatuh dalam kesengsaraan dan kesusahan. Seruan dalam kata-kata seperti ini digunakan untuk mengungkapkan penyesalan dan kesedihan atas makna kata yang jatuh setelah huruf seruan.
3- Firman Allah ﷻ: “Sesungguhnya dia dahulu bergembira di kalangan keluarganya. Sesungguhnya dia mengira bahwa dia tidak akan kembali (kepada Tuhannya). Tidak demikian, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya.”
- Kalimat “Sesungguhnya dia dahulu bergembira di kalangan keluarganya” merupakan permulaan baru untuk menjelaskan sebab dari apa yang dihadapinya. Ada yang mengatakan: kalimat ini adalah sisipan. Pernyataan ini digunakan untuk menunjukkan keajaiban dari keadaan mereka; bagaimana keadaan mereka berubah dari kegembiraan yang mereka rasakan di dunia, yang diketahui dari keadaan mereka sebagaimana diceritakan dalam banyak ayat, sehingga mereka berakhir dengan penderitaan neraka di akhirat sampai mereka memanggil kebinasaan?! Penegasan berita adalah ciri dari berita-berita yang digunakan untuk menunjukkan keajaiban.
- Firman-Nya: “Sesungguhnya dia mengira bahwa dia tidak akan kembali (kepada Tuhannya)” adalah alasan kegembirannya di dunia, yaitu: dia mengira bahwa dia tidak akan kembali kepada Allah Ta’ala karena mendustakan hari kebangkitan; jadi ini adalah alasan untuk kandungan kalimat “Dan adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang punggungnya…” [Al-Insyiqaq: 10] sampai akhir. Huruf “inna” (sesungguhnya) di sini menggantikan “fa” (maka) yang menunjukkan alasan, sehingga maknanya: dia masuk ke dalam api yang menyala-nyala karena dia mengira bahwa dia tidak akan kembali, yaitu: tidak akan kembali hidup setelah mati, maksudnya: karena dia mendustakan hari kebangkitan.
- Digunakan huruf “lan” (tidak akan) yang menunjukkan penegasan penafian dan kekekalannya; untuk menggambarkan keyakinan mereka dan ketegasan mereka dalam pengingkaran.
- Firman-Nya: “Tidak demikian, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya.” “Bala” (tidak demikian) adalah penetapan terhadap apa yang datang setelah “lan”, dan firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya” adalah penegasan dan alasan untuknya, yaitu: Tidak demikian, dia pasti akan kembali; sesungguhnya Tuhannya yang menciptakannya selalu melihatnya dan melihat amal-amalnya yang mewajibkan pembalasan, sedemikian rupa sehingga tidak ada yang tersembunyi, maka keharusan kembalinya dan perhitungannya dan pembalasannya atas amal-amal tersebut adalah pasti; maka dijawab dengan kata “Bala” untuk membatalkan penafian yang ada, dan posisinya sebagai permulaan baru, dan kalimat “Sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya” menjelaskan pembatalan yang ditunjukkan oleh huruf “bala” secara umum, artinya: sesungguhnya dugaannya salah; karena Tuhannya telah memberitahukannya bahwa dia akan dibangkitkan, dan maknanya: sesungguhnya Tuhannya Maha Mengetahui keadaannya. Penegasan hal tersebut dengan huruf “inna” (sesungguhnya); untuk menolak pengingkarannya terhadap kebangkitan yang telah Allah kabarkan melalui lisan Rasul-Nya sallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga makna yang dihasilkan dari huruf pembatalan dan huruf penegasan menjadi: sesungguhnya Tuhannya Maha Melihatnya, sedangkan dia tidak melihat keadaannya sendiri, seperti firman-Nya: “Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui” [Al-Baqarah: 216].
- Mendahulukan kata yang dirangkai dengan kata ganti “bihi” (dengannya/kepadanya) sebelum kata yang terkait dengannya “bashiran” (Maha Melihat); untuk memberikan perhatian pada kata tersebut, yaitu: pasti melihatnya, sambil memperhatikan akhiran-akhiran ayat.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Ayat: 16-25
﴿فَلَآ اُقْسِمُ بِالشَّفَقِۙ ١٦ وَالَّيْلِ وَمَا وَسَقَۙ ١٧ وَالْقَمَرِ اِذَا اتَّسَقَۙ ١٨ لَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَنْ طَبَقٍۗ ١٩ فَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَۙ ٢٠ وَاِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْاٰنُ لَا يَسْجُدُوْنَ ۗ ۩ ٢١ بَلِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا يُكَذِّبُوْنَۖ ٢٢ وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا يُوْعُوْنَۖ ٢٣ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ اَلِيْمٍۙ ٢٤ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَهُمْ اَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍ ࣖ ٢٥ ﴾
Kosakata Asing:
Bi al-syafaq: Yaitu warna merah yang muncul ketika matahari terbenam, dan dinamakan demikian karena kelembutannya. Asal kata “syafaq” menunjukkan kelembutan pada sesuatu.
Wasaqa: Artinya mengumpulkan dan menggabungkan. “Al-wasq” adalah pengumpulan yang terpisah dan menggabungkan sesuatu sebagiannya kepada sebagian yang lain.
Ittasaqa: Artinya berkumpul, tersusun rapi, dan cahayanya sempurna. Kata ini berasal dari “al-wasq” yang berarti pengumpulan.
Latarkabunna tabaqan ‘an tabaq: Yang dimaksud dengan “rukub” (menaiki) adalah pertemuan, dan “al-tabaq” adalah sesuatu yang cocok dengan lainnya. Dikatakan: “ini adalah tabaq untuk ini” jika cocok dengannya. Artinya: kalian pasti akan mengalami keadaan demi keadaan, masing-masing cocok dengan yang lainnya. Atau “al-tabaq” bisa jadi bentuk jamak dari “tabaqah”, yaitu tingkatan, sehingga artinya: kalian pasti akan mengalami keadaan demi keadaan yang merupakan tingkatan-tingkatan sebagiannya di atas sebagian yang lain. Asal kata “rakiba” menunjukkan ketinggian sesuatu di atas sesuatu yang lain, dan asal kata “tabaqa” menunjukkan peletakan sesuatu yang dibentangkan di atas sesuatu yang serupa hingga menutupinya.
Yu’un: Artinya mereka menyembunyikan dan mengumpulkan dalam dada mereka berupa kekufuran dan pendustaan. Asal kata “wa’y” menunjukkan penggabungan sesuatu.
Mamnun: Artinya terputus atau berkurang. Asal kata “manana” di sini menunjukkan pemotongan.
Penafsiran Gramatikal:
Firman Allah Ta’ala: “Latarkabunna tabaqan ‘an tabaq” (Sungguh, kalian akan menaiki tingkat demi tingkat)
Firman Allah Ta’ala “Latarkabunna”: Ini adalah jawaban sumpah dalam firman Allah Ta’ala: “Fala uqsimu bi al-syafaq” (Maka Aku bersumpah dengan cahaya senja) [Al-Insyiqaq: 16], sehingga tidak memiliki kedudukan dalam i’rab.
“Tabaqan” adalah objek (maf’ul bih), dengan makna: kalian pasti akan menaiki dan mengalami keadaan demi keadaan yang merupakan tingkatan-tingkatan dalam kesulitan. Dan dikatakan: dinashabkan sebagai hal (keterangan keadaan), dengan makna: kalian pasti akan menaiki keadaan-keadaan ini umat demi umat, seakan-akan dikatakan: berurutan umat demi umat.
“‘An tabaq”: “‘An” tetap dalam makna aslinya yaitu melewati, atau bermakna “ba’da” (setelah), dan posisi huruf jar dan majrur memiliki dua kemungkinan; pertama: berada dalam posisi nashab sebagai hal dari subjek “tarkabunna”, artinya: kalian pasti akan menaiki tingkatan dalam keadaan melewati tingkatan lain. Kedua: sebagai sifat untuk “tabaqan”, artinya: tingkatan yang melewati tingkatan lain.
Makna Keseluruhan:
Allah Ta’ala berfirman dengan bersumpah dengan beberapa ciptaan-Nya: “Maka Aku bersumpah dengan warna merah yang tampak di ufuk setelah terbenamnya matahari, dan dengan malam dan apa yang dikumpulkannya dari makhluk-makhluk, dan dengan bulan ketika sempurna dan penuh menjadi purnama yang bercahaya; sungguh kalian -wahai manusia- akan mengalami keadaan demi keadaan!”
Kemudian Allah Subhanahu berfirman dengan mengingkari dan mencela: “Maka mengapa orang-orang kafir tidak beriman kepada akhirat, dan tidak mengakui kebangkitan setelah kematian, dan ketika dibacakan kepada mereka Al-Qur’an, mereka tidak bersujud kepada Allah?! Tidak ada yang mencegah mereka dari beriman dan bersujud, bahkan mereka mendustakan Al-Qur’an dan kebangkitan karena keras kepala dan kesombongan. Dan Allah lebih mengetahui apa yang dikumpulkan orang-orang kafir dalam dada mereka berupa kekufuran dan pendustaan; maka berikanlah kabar gembira -wahai Muhammad- kepada mereka dengan azab yang pedih, kecuali orang-orang yang bertaubat di antara mereka lalu beriman dan menaati Allah Ta’ala; maka mereka itulah yang akan mendapatkan di akhirat pahala yang sempurna tanpa dikurangi dan tidak terputus.”
Tafsir Ayat-ayat:
Fala uqsimu bi al-syafaq (16). Artinya: Maka Aku bersumpah dengan warna merah yang tampak di ufuk setelah terbenamnya matahari.
Wa al-layli wa ma wasaqa (17). Artinya: Dan Aku bersumpah dengan malam dan apa yang dikumpulkan dan digabungkannya berupa makhluk-makhluk.
Wa al-qamari idza ittasaqa (18). Artinya: Dan Aku bersumpah dengan bulan ketika sempurna dan penuh menjadi purnama yang bercahaya.
Latarkabunna tabaqan ‘an tabaqin (19).
Qiraat-qiraat yang berpengaruh pada tafsir:
1- Qiraat: Latarkabanna dengan fathah pada huruf ba’, ditujukan untuk pembicaraan tunggal; dikatakan: yang dimaksud adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan maknanya: sungguh engkau -wahai Muhammad- akan menaiki tingkatan-tingkatan langit satu demi satu, dan engkau akan naik dari satu keadaan ke keadaan lainnya. Dan dikatakan: menyebutkan keadaan-keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari hari diwahyukan kepadanya hingga hari Allah mewafatkannya. Atau bahwa itu adalah pembicaraan untuk manusia yang telah disebutkan sebelumnya dalam firman-Nya: “Wahai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu” [Al-Insyiqaq: 6].
2- Qiraat Latarkabunna dengan dhammah pada huruf ba’, ditujukan untuk pembicaraan jamak (banyak orang).
Latarkabunna tabaqan ‘an tabaqin (19). Artinya: Sungguh kalian -wahai manusia- akan mengalami keadaan demi keadaan.
Fama lahum la yu’minuna (20).
Hubungan ayat dengan ayat sebelumnya: Ketika maksud telah jelas dan tidak tersisa kecuali kesombongan; maka diakibatkan dari itu pengingkaran terhadap orang-orang kafir, celaan, teguran, dan ancaman; maka Allah berfirman dengan berpaling dari pembicaraan langsung kepada mereka menjadi pembicaraan tentang mereka (ghaib); untuk menunjukkan bahwa mereka berhak mendapatkan hukuman jika mereka tidak kembali:
Fama lahum la yu’minuna (20). Artinya: Maka apa yang mencegah orang-orang kafir dari beriman kepada akhirat, dan mengakui kebangkitan setelah kematian, padahal Allah-lah yang mengatur alam semesta sekehendak-Nya, dan telah jelas bagi mereka bukti-bukti kebenaran, dan telah tegak atas mereka hujjah-hujjah-Nya yang nyata?!
Wa idza quri’a ‘alayhim al-Qur’anu la yasjuduna (21). Artinya: Dan mengapa mereka ketika dibacakan kepada mereka Al-Qur’an tidak bersujud kepada Allah dengan mengagungkan dan merendahkan diri kepada-Nya?!
Bali alladzina kafaru yukadzdzibuna (22). Artinya: Tidak ada yang mencegah mereka dari beriman dan bersujud; karena bukti-bukti kebenaran jelas dan tersedia, tetapi memang dari tabiat orang-orang kafir dan kebiasaan mereka yang berkelanjutan: mendustakan Al-Qur’an, kebangkitan, surga dan neraka; karena keras kepala atau kesombongan mereka tanpa hujjah dan alasan!
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Tetapi orang-orang yang zalim mengikuti hawa nafsu mereka tanpa ilmu” [Ar-Rum: 29]. Dan Allah Subhanahu berfirman: “Tetapi orang-orang yang kafir (berada) dalam pendustaan” [Al-Buruj: 19].
Wallahu a’lamu bima yu’una (23). Artinya: Dan Allah lebih mengetahui apa yang dikumpulkan orang-orang kafir dalam dada mereka berupa pendustaan dan dosa-dosa.
Fabashshirhum bi’adzabin alim (24). Artinya: Maka berilah kabar gembira -wahai Muhammad- kepada orang-orang kafir itu dengan azab yang sangat pedih.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Maka celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebatilan, pada hari ketika mereka didorong ke neraka jahannam dengan keras. (Dikatakan kepada mereka), ‘Inilah neraka yang dahulu kamu dustakan.'” [Ath-Thur: 11-14].
Illa alladzina amanu wa ‘amilu al-shalihati lahum ajrun ghayru mamnun (25). Artinya: Kecuali orang-orang yang bertaubat di antara mereka lalu beriman dengan semua yang wajib mereka imani, dan menaati Allah Ta’ala, sehingga mereka melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya; maka mereka itulah yang akan mendapatkan di akhirat pahala yang sempurna tanpa dikurangi, dan abadi tanpa terputus.
Faedah-faedah Ilmiah dan Kelembutan Makna:
1- Dalam firman Allah Ta’ala: “Fala uqsimu bi al-syafaq” ada pertanyaan: Mengapa Allah Ta’ala bersumpah atas kabar-Nya padahal Dia Maha Benar tanpa perlu sumpah?! Begitu juga, mengapa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersumpah atas kabar beliau, padahal beliau benar tanpa perlu sumpah?! Jawabannya: Bahwa sumpah menegaskan perkataan; dan Al-Qur’an yang mulia turun dengan bahasa Arab, dan jika kebiasaan mereka adalah menegaskan perkataan dengan sumpah, maka gaya bahasa ini sesuai dengan bahasa Arab yang dengannya Al-Qur’an diturunkan.
2- Dalam firman Allah Ta’ala: “Fala uqsimu bi al-syafaq” ada pertanyaan: Bahwa telah datang larangan untuk bersumpah dengan selain Allah Ta’ala, atau dengan sifat dari sifat-sifat-Nya! Jawabannya: Bahwa larangan tersebut berlaku bagi manusia, sedangkan Allah Ta’ala bersumpah dengan apa yang Dia kehendaki dari ciptaan-Nya.
3- Allah Ta’ala berfirman: “Fala uqsimu bi al-syafaq, wa al-layli wa ma wasaqa, wa al-qamari idza ittasaqa, latarkabunna tabaqan ‘an tabaq” – Kesesuaian antara hal-hal yang dijadikan sumpah di sini dengan apa yang disumpahi; karena cahaya senja, malam, dan bulan mengalami keadaan antara kegelapan dan munculnya cahaya bersamanya, atau di tengahnya, dan itu sesuai dengan apa yang terdapat dalam firman-Nya: “Latarkabunna tabaqan ‘an tabaq” berupa perbedaan keadaan yang dialami manusia pada hari kiamat, atau dalam kehidupan dunia mereka. Dan mungkin penyebutan cahaya senja adalah isyarat bahwa ia menyerupai keadaan berakhirnya dunia; karena terbenamnya matahari seperti keadaan kematian, dan penyebutan malam adalah isyarat kepada dahsyatnya kengerian pada hari perhitungan, dan penyebutan bulan adalah isyarat kepada datangnya rahmat bagi orang-orang beriman.
4- Dalam firman Allah Ta’ala: “Wa al-qamari idza ittasaqa” – Sumpah dengan bulan menunjukkan keagungan tanda-tanda-Nya, dan ketelitian petunjuknya.
5- Telah diambil dalil dari firman Allah: “Dan apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud” tentang disyariatkannya sujud tilawah di sini.
6- Dalam firman Allah: “Maka berikanlah kabar gembira kepada mereka dengan azab yang pedih” bahwa kata “bisyarah” (kabar gembira) terkadang digunakan untuk memberitakan sesuatu yang buruk. Ayat ini menjadi dalil bahwa kabar gembira bisa digunakan dalam hal kebaikan maupun keburukan.
7- Firman Allah: “Maka berikanlah kabar gembira kepada mereka dengan azab yang pedih”, berdasarkan pendapat bahwa khitab (pembicaraan) dalam “fababsyirhum” (berikanlah kabar gembira kepada mereka) bersifat umum untuk Rasulullah ﷺ dan untuk setiap orang yang kepadanya khitab itu berlaku. Maka kita memberikan kabar kepada setiap orang kafir tentang azab yang pedih yang menantinya, sebagaimana Allah berfirman: “Dan tunggulah, sesungguhnya mereka (juga) menunggu” [As-Sajdah: 30].
8- Firman Allah: “Bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya” mengandung keabadian kenikmatan bagi orang-orang mukmin yang beramal saleh; firman-Nya: “ghairu mamnun” maksudnya: tidak terputus, sebagaimana Allah berfirman: “Dan bagi mereka rezeki di dalamnya pagi dan petang” [Maryam: 62].
Balaghah (Keindahan Bahasa) Ayat-Ayat:
1- Firman Allah: “Maka Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja, dan dengan malam dan apa yang diselubunginya, dan dengan bulan apabila jadi purnama, sungguh, kamu akan melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan)”
- Kata “Fa-la uqsimu bisy-syafaq” (Maka Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja), huruf fa’ adalah untuk memperinci sumpah dan jawabannya atas rincian yang terdapat dalam firman-Nya: “Adapun orang yang diberi kitabnya dari sebelah kanannya” [Al-Insyiqaq: 7] sampai di sini; karena itu menunjukkan bahwa ada perhitungan dan balasan dengan kebaikan dan keburukan. Karena itu, perincian ini merupakan kesimpulan dan ringkasan dari kondisi-kondisi yang telah dirinci, dan juga merupakan rangkuman umum tentang kesulitan-kesulitan yang terjadi di dalamnya. Huruf fa’ ini adalah fa’ fashihah (yang menjelaskan); karena ia merupakan jawaban dari syarat yang diperkirakan, yakni: jika engkau mengetahui ini, atau jika engkau meyakini kembali dengan kebangkitan, maka Aku bersumpah.
- Dalam firman-Nya: “Dan dengan malam dan apa yang diselubunginya, dan dengan bulan apabila jadi purnama” terdapat apa yang dikenal dalam ilmu balaghah sebagai “iltizam” (keharusan), atau “luzum ma la yalzam” (menetapkan yang tidak perlu), beberapa menyebutnya “i’nat”; ayat ini telah menetapkan huruf sin sebelum qaf.
- Firman-Nya: “Dan dengan bulan apabila jadi purnama, sungguh, kamu akan melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan)”. “Ittisaq” (purnama) bulan: terkumpulnya cahayanya, ini adalah bentuk “ifti’al” dari kata “wasq” yang berarti mengumpulkan, dan itu terjadi pada malam purnama. Pengkhususan sumpah dengannya dalam keadaan itu; karena itu merupakan manifestasi nikmat Allah kepada manusia dengan cahayanya.
- Kalimat “latarkabunna tabaqan ‘an tabaq” (sungguh, kamu akan melalui tingkat demi tingkat) disusun dengan struktur yang umum; untuk memperkaya makna yang dapat dipahami oleh pendengar, sehingga datang dengan susunan paling indah sebagaimana perkataan yang disampaikan sebagai perumpamaan dari ucapan yang komprehensif, indah susunannya, dan kaya maknanya. Itulah yang menjadikan pemilihan kedua kata ini dalam ayat memiliki kekhususan dari cabang-cabang kemukjizatan Al-Qur’an.
- Firman-Nya: “latarkabunna tabaqan ‘an tabaq” (sungguh, kamu akan melalui tingkat demi tingkat), artinya: sungguh kamu akan mengalami keadaan demi keadaan, ini adalah ancaman tentang kedahsyatan hari kiamat; tanwin pada kata “tabaq” di kedua tempatnya menunjukkan keagungan dan kedahsyatan, dan “an” bermakna: “setelah”, dan perurutan ini bersifat i’tibari (konseptual), yaitu urutan peningkatan. Ada yang mengatakan: maknanya adalah kamu pasti akan menghadapi kedahsyatan yang lebih besar dari kedahsyatan lainnya. Penggunaan kata “tabaq” untuk keadaan; karena keadaan sesuai dengan amal pemiliknya. Ada juga yang mengatakan: kamu pasti akan menempati kedudukan demi kedudukan, dengan anggapan bahwa “tabaqan” adalah nama untuk kedudukan, artinya: kamu pasti akan berpindah dari tingkatan dunia ke tingkatan akhirat, atau sesungguhnya ada kaum yang rendah di dunia namun terangkat di akhirat; maka tanwin pada keduanya -“tabaqan ‘an tabaq”- menunjukkan keberagaman. Ada yang mengatakan: siapa yang berbuat kebaikan akan diajak kepada kebaikan lainnya, dan siapa yang berbuat kerusakan akan diajak kepada kerusakan yang lebih besar; karena setiap sesuatu menarik kepada yang sejenisnya, sehingga kalimat itu menjadi sisipan dengan nasihat, dan “an” untuk perpindahan, dan tanwin untuk pengagungan.
- Ada kemungkinan bahwa kata “rukub” (naik) digunakan untuk menggambarkan perjalanan, artinya: kamu pasti akan hadir untuk perhitungan kelompok demi kelompok, dan ini adalah ancaman bagi orang yang mengingkarinya. Juga memungkinkan kata “rukub” digunakan untuk arti mengikuti, artinya: kamu pasti akan mengikuti, dan objek dari “tarkabunna” dihilangkan dengan perkiraan: sebagian dari kamu pasti akan mengikuti sebagian lainnya, yaitu dalam tekad kalian mengingkari kebangkitan, dan petunjuk yang dihilangkan adalah firman-Nya: “tabaqan ‘an tabaq”, dan “tabaqan” menjadi objek.
2- Firman Allah: “Maka mengapa mereka tidak beriman? Dan apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud”
- Firman-Nya: “Fama lahum la yu’minun” (Maka mengapa mereka tidak beriman) huruf fa’ untuk mengurutkan pengingkaran dan keheranan setelahnya terhadap keadaan-keadaan kiamat dan kedahsyatannya sebelumnya yang mewajibkan beriman dan sujud. Artinya: jika keadaan mereka pada hari kiamat seperti yang disebutkan – menurut suatu pendapat – maka apa yang membuat mereka tidak beriman?! Artinya: apa yang mencegah mereka dari beriman padahal semua penyebabnya sudah jelas?!
Boleh juga bahwa percabangan “fama lahum la yu’minun” ini atas apa yang disebutkan tentang keadaan orang yang diberi kitabnya dari belakang punggungnya, dan kembali kepadanya dengan kata ganti jamak; karena yang dimaksud dengan “man” yang mausul: setiap orang yang padanya cocok dengan shilah (penjelasan), maka kata ganti berjalan sesuai dengan yang ditunjukkan oleh “man”, yaitu jamak. Maknanya: mengapa mereka tidak takut akan kedahsyatan hari pertemuan dengan Allah sehingga mereka beriman?!
Boleh juga bahwa ini didasarkan pada firman-Nya: “Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya” [Al-Insyiqaq: 6], artinya: jika kamu meyakini itu, bagaimana mungkin orang-orang yang mengingkari kebangkitan tidak beriman?! Dan digunakan kata ganti orang ketiga; karena tujuan dari pengingkaran dan keheranan khusus untuk kaum musyrikin dari mereka yang tercakup dalam kata manusia dalam firman-Nya: “Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras”; karena perhatian untuk menasihati mereka lebih penting, maka kata ganti itu adalah iltifat (peralihan bentuk).
Boleh juga bahwa ini didasarkan pada firman-Nya: “latarkabunna tabaqan ‘an tabaq” [Al-Insyiqaq: 19], sehingga khusus untuk kaum musyrikin dengan pertimbangan bahwa mereka lebih penting dalam nasihat-nasihat ini, dan kata ganti juga merupakan iltifat. Juga boleh didasarkan pada kandungan sumpah dari keadaan-keadaan yang disumpahi dengan pertimbangan bahwa sumpah dengannya mengandung bahwa itu adalah dalil-dalil atas keagungan kekuasaan Allah Ta’ala dan keesaan-Nya dalam ketuhanan. Maka dalam penyebutannya ada peringatan akan petunjuknya atas keesaan, dan iltifat tetaplah iltifat.
- Juga pertanyaan “fama lahum la yu’minun” digunakan untuk menunjukkan keheranan dari ketiadaan iman mereka, dan dalam pengingkaran ketiadaan iman mereka; karena kebiasaan terhadap sesuatu yang mengherankan dan diingkari adalah bahwa ditanyakan tentangnya. Kalimat “la yu’minun” pada posisi hal (keterangan keadaan); dan hal adalah titik keheranan.
- Objek dari “yu’minun” dihilangkan, ditunjukkan oleh konteks, yaitu: dengan kebangkitan dan pembalasan. Boleh juga menurunkan kata kerja “yu’minun” pada posisi lazim (tak butuh objek), artinya: mereka tidak memiliki sifat iman, yaitu: apa sebab mereka tidak menjadi orang-orang beriman; karena jelasnya dalil-dalil tentang keesaan Allah Ta’ala dalam ketuhanan, bagaimana mereka terus menyekutukan-Nya?! Maknanya: keheranan dan pengingkaran dari ketiadaan iman mereka padahal telah jelasnya dalil-dalil kebenaran apa yang mereka diajak kepadanya, dan apa yang mereka diperingatkan.
- Perkataan: “Dan ketika dibacakan kepada mereka” adalah keterangan tempat yang didahulukan dari faktor yang mempengaruhinya “mereka tidak bersujud” untuk memberikan perhatian padanya, dan memuliakan kepentingan Al-Quran.
- Berdasarkan pendapat bahwa sujud digunakan dalam arti tunduk dan khusyuk, dikatakan: maknanya adalah: ketika Al-Quran dibacakan kepada mereka, mereka tidak tunduk kepada Allah dan makna-makna Al-Quran serta argumennya, dan mereka tidak beriman pada kebenarannya. Bukti makna ini adalah perbandingannya dengan firman-Nya: “Bahkan orang-orang yang kafir itu mendustakan” [Al-Insyiqaq: 22].
3- Firman Allah: “Bahkan orang-orang yang kafir itu mendustakan * Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka simpan.”
- Perkataan: “Bahkan orang-orang yang kafir itu mendustakan” bisa menjadi perpindahan dari keheranan atas ketidakberimanan mereka dan pengingkaran terhadap mereka, menuju pemberitahuan bahwa mereka terus-menerus dalam kekafiran dan menghina Al-Quran. Ungkapan ini merupakan peningkatan dalam keheranan dan pengingkaran; pemberitahuan bahwa mereka mendustakan digunakan untuk menunjukkan keheranan dan pengingkaran; oleh karena itu diungkapkan dengan kata kerja mudhari’ (present tense) yang menunjukkan kehadiran keadaan.
- Dan bisa juga bahwa (بل/bal) adalah penolakan, yaitu: tidak ada alasan mengapa mereka tidak beriman dan tidak membenarkan Al-Quran, tetapi kenyataannya justru sebaliknya; karena motivasi keimanan dari bukti-bukti telah tersedia, dan dorongan untuk mengakui kebenaran Al-Quran dan tunduk pada seruannya telah jelas, tetapi mereka mendustakan, yaitu: mereka terus-menerus dalam pendustaan karena keras kepala dan kesombongan, dan ini diisyaratkan oleh firman-Nya: “Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka simpan.” Penggunaan kata kerja mudhari’ menunjukkan terjadinya pendustaan dari mereka dan pembaruannya, yaitu: mereka terus-menerus dalam pendustaan karena keras kepala, dan itu bukan keyakinan, sebagaimana ditiadakan dari mereka pembaruan iman dan ketundukan ketika Al-Quran dibacakan, ditetapkan bagi mereka pembaruan pendustaan.
- Dan firman-Nya: “Orang-orang yang kafir” adalah pengungkapan yang eksplisit pada posisi yang seharusnya implisit; karena menurut kaidah bahasa seharusnya dikatakan: (tetapi mereka mendustakan); namun diubah menjadi mawshul (kata sambung) dan shilah (klausa penghubung); karena shilah menunjukkan celaan terhadap mereka karena kekafiran; untuk menunjukkan alasan berita tersebut, yaitu: mereka terus-menerus dalam pendustaan karena kekafiran telah mengakar dalam diri mereka, dan mereka dicirikan dengannya. Dan juga penggunaan kata yang eksplisit pada posisi yang seharusnya implisit; untuk generalisasi.
- Dan di sini ada keserasian yang baik, di mana Allah berfirman di sini: “Bahkan orang-orang yang kafir itu mendustakan”, dan berfirman dalam surah Al-Buruj: “Bahkan orang-orang yang kafir (tetap) dalam pendustaan” [Al-Buruj: 19]; maka yang pertama dikhususkan dengan kata “mendustakan” dalam bentuk mudhari’ (present tense), dan yang kedua dengan kata “dalam pendustaan” dalam bentuk mashdar (kata benda), meskipun makna yang dimaksud sama; dan itu karena dua alasan; Pertama: bahwa ayat Al-Insyiqaq didahului oleh ancaman akhirat yang semuanya belum terjadi, dan mereka mendustakan semuanya, maka di sini digunakan kata yang digunakan untuk masa depan – meskipun cocok untuk masa sekarang – untuk mencocokkan pemberitahuan tersebut; karena berkaitan dengan apa yang akan datang dan belum terjadi; maka digunakan apa yang sesuai dengan masa depannya. Adapun ayat Al-Buruj, maka telah didahului oleh firman Allah: “Sudahkah sampai kepadamu berita tentang tentara-tentara, * (yaitu) Fir’aun dan Tsamud?” [Al-Buruj: 17-18], dan kisah tentang mereka dan penghukuman mereka karena pendustaan mereka telah berlalu waktunya, dan mereka ini terus-menerus dalam pendustaan mereka, maka dikatakan: “dalam pendustaan”, dan digunakan bentuk mashdar (kata benda); untuk menunjukkan keterusan mereka, dan bahwa itu adalah keadaan mereka selamanya dalam apa yang Allah beritahukan kepada mereka, dan dalam apa yang Allah serukan kepada mereka dan larang mereka darinya, dan kata benda memberikan apa yang dimaksudkan dari ini lebih dari kata kerja mudhari’; sehingga pada masing-masing ayat digunakan apa yang sesuai. Kedua: bahwa itu adalah perhatian terhadap akhiran-akhiran ayat, dengan tetap mempertahankan kata yang benar, dan keindahan makna.
- Firman-Nya: “Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka simpan” adalah sisipan antara kalimat “Bahkan orang-orang yang kafir itu mendustakan” [Al-Insyiqaq: 22], dan kalimat “Maka berilah mereka kabar gembira dengan azab yang pedih” [Al-Insyiqaq: 24], dan ini adalah kiasan untuk peringatan dan ancaman bahwa Allah akan membalas mereka atas niat buruk mereka.
- “Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka simpan” – arti dari “al-i’a” adalah menjadikan sesuatu sebagai wadah, dan wadah adalah tempat; karena di dalamnya dikumpulkan sesuatu, kemudian penggunaannya meluas untuk pengumpulan hal-hal agar tidak hilang; sehingga menjadi menunjukkan kekikiran, dan dalam ayat ini digunakan untuk penyembunyian; karena i’a mensyaratkan penyembunyian. Dan pengetahuan Allah Ta’ala tentang itu dan segala sesuatu adalah perkara yang tetap, dan ini adalah kiasan tentang pembalasan Allah atas hal tersebut. Dikatakan: yang dimaksud adalah menunjukkan bahwa mereka memiliki keburukan-keburukan yang besar dan banyak di balik pendustaan mereka yang tidak dapat dijelaskan dengan ungkapan. Dikatakan juga: mungkin maknanya adalah: dan Allah Ta’ala lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan dalam diri mereka tentang bukti-bukti bahwa Al-Quran adalah benar; sehingga yang dimaksud adalah penegasan keras kepala dan pendustaan mereka yang bertentangan dengan pengetahuan mereka.
4- Firman Allah: “Maka berilah mereka kabar gembira dengan azab yang pedih * Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”
- Perkataan: “Maka berilah mereka kabar gembira dengan azab yang pedih” adalah cabang dari kalimat “Bahkan orang-orang yang kafir itu mendustakan” [Al-Insyiqaq: 22], dan berdasarkan pendapat bahwa kabar gembira adalah pemberitahuan tentang sesuatu yang menyenangkan dan bermanfaat, maka kata “berilah kabar gembira kepada mereka” digunakan untuk menyatakan peringatan dan ancaman dengan cara sindiran (ironi). Ketika dihubungkan dengan kata “azab yang pedih” – dalam firman-Nya: “dengan azab yang pedih” – maka indikasi sindiran tersebut menjadi sangat jelas.
- Firman-Nya: “Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya” bisa menjadi pengecualian yang bersambung (istitsna’ muttasil); baik sebagai pengecualian dari kata ganti dalam firman-Nya: “Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat” [Al-Insyiqaq: 19] berdasarkan penafsirannya sebagai melewati tingkatan-tingkatan kesulitan dan ketakutan pada hari kiamat dan yang semakna dengan itu berupa ancaman, atau sebagai pengecualian dari kata ganti jamak dalam “Maka berilah mereka kabar gembira” [Al-Insyiqaq: 24], dan maknanya: kecuali orang-orang yang beriman di antara mereka yang sekarang masih musyrik, dan kata kerja “beriman” dalam konteks ini dimaksudkan untuk masa depan, dan diungkapkan dengan bentuk lampau; untuk menunjukkan makna: orang-orang yang keimanannya telah terbukti, dan apa yang ada di antara keduanya dari firman-Nya: “Maka mengapa mereka tidak beriman?” [Al-Insyiqaq: 20] hingga di sini adalah cabang yang menyela antara yang dikecualikan dan yang dikecualikan darinya, khusus bagi yang lebih penting di antara mereka yang tercakup dalam keumuman “Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat” [Al-Insyiqaq: 19]. Dan bisa juga pengecualian itu menjadi pengecualian yang terputus (istitsna’ munqati’) dari kata ganti dalam “Maka berilah mereka kabar gembira” [Al-Insyiqaq: 24], sehingga ini termasuk dalam “kabar gembira” yang digunakan sebagai sindiran – berdasarkan satu pendapat; untuk menambah kesedihan pada mereka; sehingga huruf “kecuali” berkedudukan sebagai “tetapi”, dan pemulihan di dalamnya hanya untuk pertentangan, bukan untuk menolak dugaan maksud yang sebaliknya, dan contoh seperti ini banyak dalam pemulihan.
- Dan firman-Nya: “bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya” adalah permulaan kalimat baru (isti’naf) yang menegaskan apa yang ditunjukkan oleh pengecualian berupa peniadaan azab dari mereka, dan menjelaskan keadaannya dan kebersamaannya dengan pahala yang besar, dan ini adalah permulaan kalimat penjelasan (isti’naf bayani); seolah-olah ada yang bertanya: bagaimana keadaan mereka pada hari ketika orang-orang itu berada dalam azab yang pedih?
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
SURAH AL-BURUJ
Perhatian: Setiap kalimat berikut memiliki rujukan ilmiah yang belum diterjemahkan. Bagi yang memerlukan, silakan merujuk langsung ke situs web aslinya dalam bahasa Arab di: https://dorar.net/tafseer/85
Nama-nama Surah:
Surah ini dinamakan dengan nama “Al-Buruj” (Gugusan Bintang). Surah ini juga disebut “As-Sama’ Dzatil Buruj” (Langit yang Memiliki Gugusan Bintang); sebagaimana diriwayatkan dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca dalam shalat Zhuhur dan Ashar ‘As-Sama’ wat-Thariq’ (Surah Ath-Thariq), dan ‘As-Sama’ Dzatil Buruj’ (Surah Al-Buruj) dan surat-surat yang serupa dengan keduanya.”
Keutamaan dan Keistimewaan Surah:
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya dalam shalat Zhuhur dan Ashar: Sebagaimana dalam hadits Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu yang telah disebutkan di atas.
Penjelasan Makkiyah dan Madaniyah:
Surah Al-Buruj adalah Makkiyah (diturunkan di Mekah). Banyak mufasir telah menyatakan ijma’ (konsensus) tentang hal ini.
Tujuan-tujuan Surah:
Di antara tujuan-tujuan terpenting surah ini: Menghibur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya atas apa yang mereka alami dari musuh-musuh mereka, dan meneguhkan orang-orang beriman pada kebenaran.
Tema-tema Surah:
Di antara tema-tema terpenting yang terkandung dalam surah ini:
- Pembukaan surah dengan sumpah Allah Ta’ala dengan sebagian makhluk-Nya.
- Penyebutan kisah Ashab Al-Ukhdud (Para Penggali Parit).
- Ancaman bagi para penindas yang menfitnah orang-orang beriman dengan azab neraka Jahannam.
- Kabar gembira tentang kenikmatan surga yang menanti orang-orang beriman.
- Isyarat tentang hukuman Allah yang keras, dan penyebutan beberapa sifat-Nya.
- Pemberian contoh dengan kaum Fir’aun dan Tsamud, dan bagaimana akibat dari urusan mereka.
- Pemuliaan terhadap Al-Qur’an yang Agung.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Ayat: 1-9
﴿وَالسَّمَاۤءِ ذَاتِ الْبُرُوْجِۙ ١ وَالْيَوْمِ الْمَوْعُوْدِۙ ٢ وَشَاهِدٍ وَّمَشْهُوْدٍۗ ٣ قُتِلَ اَصْحٰبُ الْاُخْدُوْدِۙ ٤ النَّارِ ذَاتِ الْوَقُوْدِۙ ٥ اِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُوْدٌۙ ٦ وَّهُمْ عَلٰى مَا يَفْعَلُوْنَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ شُهُوْدٌ ۗ ٧ وَمَا نَقَمُوْا مِنْهُمْ اِلَّآ اَنْ يُّؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِۙ ٨ الَّذِيْ لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۗوَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ ۗ ٩ ﴾
Kosakata yang Tidak Biasa:
Al-Buruj: yaitu: bintang-bintang; karena mereka “tabarruj” (tampak), atau tempat-tempat persinggahan matahari dan bulan, dan jumlahnya dua belas buruj (gugusan bintang), dan dinamakan buruj; karena kedudukannya bagi bintang-bintang ini seperti tempat tinggal bagi penghuninya, dan asal kata (baraja): muncul dan tampak, dan juga tempat berlindung.
Al-Ukhdud: yaitu: parit besar di bumi yang digali memanjang, dan asal kata (khadada): menunjukkan perluasan ke arah bawah.
Al-Waqud: yaitu: kayu bakar yang digunakan untuk pembakaran, dan asal kata (waqada): menunjukkan nyala api.
Naqamu: yaitu: membenci, mengingkari dan mencela, dan asal kata (naqama): menunjukkan pengingkaran terhadap sesuatu dan mencela.
Al-Aziz: yaitu: Yang memiliki kemuliaan sempurna: kemuliaan kedudukan – Dia memiliki kedudukan agung, tidak ada yang mencapai kedudukan-Nya, tidak ada yang serupa dengan-Nya, dan tidak ada yang sebanding – dan kemuliaan kekuasaan – Dia adalah Yang Mahamenang, tidak ada yang dapat mengalahkan-Nya – dan kemuliaan ketidakmungkinan, Dia mustahil memiliki kekurangan dalam bentuk apapun, dan asal kata (azaza): menunjukkan kekuatan dan daya serta yang serupa dengannya berupa kemenangan dan kekuasaan.
Al-Hamid: yaitu: Yang Terpuji dalam segala keadaan, dan dalam semua perbuatan dan perkataan-Nya, syariat dan ketetapan-Nya, dan Yang Terpuji atas kesempurnaan yang dimiliki-Nya, dan atas nikmat-nikmat yang Dia berikan kepada makhluk-Nya, Yang berhak atas semua pujian, dan pujian adalah pemberitahuan tentang kebaikan yang dipuji disertai kecintaan, penghormatan dan pengagungan kepadanya, dan dikatakan: kata ini juga bermakna Yang Memuji, yang memuji setiap yang layak mendapatkan pujian dari-Nya, dan asal kata (hamada): menunjukkan kebalikan dari celaan.
Syahid: yaitu: Yang Menyaksikan, Hadir, Mengawasi, tidak ada sesuatu pun yang luput dari-Nya, Dia mendengar semua suara baik yang tersembunyi maupun yang jelas, dan melihat semua yang ada baik yang kecil maupun yang besar, yang kecil dan yang besar, ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, dan Dia bersaksi untuk dan atas hamba-hamba-Nya tentang apa yang mereka kerjakan, dan asal kata (syahida): menunjukkan kehadiran, pengetahuan dan pemberitahuan.
Analisis Gramatikal yang Sulit:
Firman Allah Ta’ala: “Demi langit yang mempunyai gugusan bintang * Dan demi hari yang dijanjikan * Dan demi yang menyaksikan dan yang disaksikan * Binasalah orang-orang yang membuat parit * Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar”
Firman Allah Ta’ala: “Binasalah”: dikatakan: ini adalah jawaban sumpah dengan penghilangan huruf lam karena panjangnya kalimat, aslinya adalah “laqutila”. Dan dikatakan: dengan penghilangan huruf lam dan (qad), aslinya adalah “laqad qutila”, dan berdasarkan ini maka perkataan “qutila” adalah khabar (berita) bukan doa atas mereka. Dan dikatakan: bahkan itu adalah doa atas mereka, sehingga bukan sebagai jawaban. Berdasarkan ini maka kalimat “qutila” adalah kalimat doa yang menunjukkan adanya jawaban yang dihilangkan, seolah-olah dikatakan: Aku bersumpah dengan hal-hal ini bahwa orang-orang kafir Quraisy terlaknat dan pantas dikatakan tentang mereka: “mereka dibinasakan”, sebagaimana keadaan Ashab Al-Ukhdud. Dan dikatakan: jawabannya disebutkan, yaitu firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang menfitnah” [Al-Buruj: 10], atau firman-Nya: “Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras” [Al-Buruj: 12].
Firman Allah Ta’ala: “Yang berapi”: dalam bentuk jar (genitif), sebagai badal isytimal (pengganti yang menjelaskan cakupan) dari “Al-Ukhdud”; karena parit mencakup api tersebut, dan kata penghubungnya diperkirakan, perkiraannya: “api di dalamnya”, atau huruf “al” pada kata “an-naar” menggantikan posisi kata ganti, perkiraannya: “apinya”, kemudian kata ganti dihilangkan, dan “al” menjadi penggantinya. Dan dikatakan: badal kul min kul (pengganti keseluruhan dari keseluruhan), dengan anggapan adanya mudhaf (kata yang disandarkan) yang dihilangkan, perkiraannya: “parit api”.
Kosakata yang Tidak Biasa:
Al-Buruj: yaitu: bintang-bintang; karena mereka “tabarruj” (tampak), atau tempat-tempat persinggahan matahari dan bulan, dan jumlahnya dua belas buruj (gugusan bintang), dan dinamakan buruj; karena kedudukannya bagi bintang-bintang ini seperti tempat tinggal bagi penghuninya, dan asal kata (baraja): muncul dan tampak, dan juga tempat berlindung.
Al-Ukhdud: yaitu: parit besar di bumi yang digali memanjang, dan asal kata (khadada): menunjukkan perluasan ke arah bawah.
Al-Waqud: yaitu: kayu bakar yang digunakan untuk pembakaran, dan asal kata (waqada): menunjukkan nyala api.
Naqamu: yaitu: membenci, mengingkari dan mencela, dan asal kata (naqama): menunjukkan pengingkaran terhadap sesuatu dan mencela.
Al-Aziz: yaitu: Yang memiliki kemuliaan sempurna: kemuliaan kedudukan – Dia memiliki kedudukan agung, tidak ada yang mencapai kedudukan-Nya, tidak ada yang serupa dengan-Nya, dan tidak ada yang sebanding – dan kemuliaan kekuasaan – Dia adalah Yang Mahamenang, tidak ada yang dapat mengalahkan-Nya – dan kemuliaan ketidakmungkinan, Dia mustahil memiliki kekurangan dalam bentuk apapun, dan asal kata (azaza): menunjukkan kekuatan dan daya serta yang serupa dengannya berupa kemenangan dan kekuasaan.
Al-Hamid: yaitu: Yang Terpuji dalam segala keadaan, dan dalam semua perbuatan dan perkataan-Nya, syariat dan ketetapan-Nya, dan Yang Terpuji atas kesempurnaan yang dimiliki-Nya, dan atas nikmat-nikmat yang Dia berikan kepada makhluk-Nya, Yang berhak atas semua pujian, dan pujian adalah pemberitahuan tentang kebaikan yang dipuji disertai kecintaan, penghormatan dan pengagungan kepadanya, dan dikatakan: kata ini juga bermakna Yang Memuji, yang memuji setiap yang layak mendapatkan pujian dari-Nya, dan asal kata (hamada): menunjukkan kebalikan dari celaan.
Syahid: yaitu: Yang Menyaksikan, Hadir, Mengawasi, tidak ada sesuatu pun yang luput dari-Nya, Dia mendengar semua suara baik yang tersembunyi maupun yang jelas, dan melihat semua yang ada baik yang kecil maupun yang besar, yang kecil dan yang besar, ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, dan Dia bersaksi untuk dan atas hamba-hamba-Nya tentang apa yang mereka kerjakan, dan asal kata (syahida): menunjukkan kehadiran, pengetahuan dan pemberitahuan.
Analisis Gramatikal yang Sulit:
Firman Allah Ta’ala: “Demi langit yang mempunyai gugusan bintang * Dan demi hari yang dijanjikan * Dan demi yang menyaksikan dan yang disaksikan * Binasalah orang-orang yang membuat parit * Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar”
Firman Allah Ta’ala: “Binasalah”: dikatakan: ini adalah jawaban sumpah dengan penghilangan huruf lam karena panjangnya kalimat, aslinya adalah “laqutila”. Dan dikatakan: dengan penghilangan huruf lam dan (qad), aslinya adalah “laqad qutila”, dan berdasarkan ini maka perkataan “qutila” adalah khabar (berita) bukan doa atas mereka. Dan dikatakan: bahkan itu adalah doa atas mereka, sehingga bukan sebagai jawaban. Berdasarkan ini maka kalimat “qutila” adalah kalimat doa yang menunjukkan adanya jawaban yang dihilangkan, seolah-olah dikatakan: Aku bersumpah dengan hal-hal ini bahwa orang-orang kafir Quraisy terlaknat dan pantas dikatakan tentang mereka: “mereka dibinasakan”, sebagaimana keadaan Ashab Al-Ukhdud. Dan dikatakan: jawabannya disebutkan, yaitu firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang menfitnah” [Al-Buruj: 10], atau firman-Nya: “Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras” [Al-Buruj: 12].
Firman Allah Ta’ala: “Yang berapi”: dalam bentuk jar (genitif), sebagai badal isytimal (pengganti yang menjelaskan cakupan) dari “Al-Ukhdud”; karena parit mencakup api tersebut, dan kata penghubungnya diperkirakan, perkiraannya: “api di dalamnya”, atau huruf “al” pada kata “an-naar” menggantikan posisi kata ganti, perkiraannya: “apinya”, kemudian kata ganti dihilangkan, dan “al” menjadi penggantinya. Dan dikatakan: badal kul min kul (pengganti keseluruhan dari keseluruhan), dengan anggapan adanya mudhaf (kata yang disandarkan) yang dihilangkan, perkiraannya: “parit api”.
Makna Keseluruhan:
Allah Ta’ala membuka surah mulia ini dengan sumpah dengan langit yang memiliki bintang-bintang agung yang berkedudukan seperti tempat-tempat persinggahan bagi matahari dan bulan dalam perjalanannya, dan dengan hari kiamat yang dijanjikan, dan dengan setiap yang menyaksikan dan setiap yang disaksikan; kemudian Allah Subhanahu berfirman: “Binasalah dan terkutuklah orang-orang kafir yang menggali di bumi parit besar yang menyala-nyala dengan api yang hebat nyalanya, mereka terkutuk ketika mereka duduk di tepi-tepi parit sambil menyaksikan orang-orang beriman terbakar di dalamnya!” Kemudian Allah Subhanahu menjelaskan apa yang mendorong mereka melakukan perbuatan tersebut, Allah berfirman: “Dan orang-orang kafir tidak mengingkari dan membenci dari orang-orang beriman kecuali keimanan mereka kepada Allah Yang Maha Menang yang tidak dapat dikalahkan, Yang Terpuji atas semua sifat dan perbuatan-Nya, Yang memiliki sendiri langit dan bumi serta semua makhluk yang ada di dalamnya, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Tafsir Ayat-ayat:
Demi langit yang mempunyai gugusan bintang (1).
Yaitu: Aku bersumpah dengan langit yang memiliki bintang-bintang agung yang berkedudukan seperti tempat-tempat persinggahan bagi matahari dan bulan dalam perjalanannya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang” [Al-Furqan: 61]. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah menjadikan gugusan bintang-bintang di langit” [Al-Hijr: 16].
Dan demi hari yang dijanjikan (2).
Yaitu: Dan Aku bersumpah dengan hari kiamat yang Allah Ta’ala janjikan kepada hamba-hamba-Nya akan kedatangannya dan penghakiman di antara mereka padanya, maka Dia akan membangkitkan mereka, menghisab mereka, dan membalas mereka atas perbuatan-perbuatan mereka. Sebagaimana Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Pandangan mereka tunduk, kehinaan menimpa mereka, dan sungguh mereka telah diseru” [Al-Ma’arij: 44].
Dan demi yang menyaksikan dan yang disaksikan (3).
Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Ketika perkumpulan adalah untuk pemeriksaan, dan pemeriksaan mengharuskan adanya saksi dan yang disaksikan serta perdebatan atas perjanjian-perjanjian; Allah berfirman: “Dan demi yang menyaksikan dan yang disaksikan (3).” Yaitu: Dan Aku bersumpah dengan setiap yang menyaksikan dan setiap yang disaksikan.
“Para pembuat parit telah dibinasakan (4).
Artinya: Dibinasakan dan dilaknat orang-orang kafir yang telah menggali parit besar di bumi.
Dari Suhaib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada seorang raja di antara orang-orang sebelum kalian, dan ia memiliki seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir itu sudah tua, ia berkata kepada raja, ‘Saya sudah tua, kirimkanlah kepadaku seorang pemuda untuk kuajarkan sihir padanya.’ Maka raja pun mengirimkan seorang pemuda kepadanya.
Di jalan yang dilalui pemuda itu terdapat seorang rahib. Pemuda itu duduk dan mendengarkan perkataan rahib tersebut. Ia sangat tertarik dengan apa yang didengarnya. Setiap kali ia pergi ke tukang sihir, ia selalu melewati rahib itu dan duduk bersamanya. Namun ketika ia sampai ke tukang sihir, tukang sihir itu memukulnya. Maka ia mengadukan hal itu kepada sang rahib, dan rahib berkata, ‘Jika kamu takut kepada tukang sihir, katakanlah keluargaku menahanku. Dan jika kamu takut kepada keluargamu, katakanlah tukang sihir menahanku.’
Suatu hari, pemuda itu menemukan seekor binatang besar yang menghalangi jalan orang-orang. Ia berkata, ‘Hari ini aku akan tahu siapa yang lebih utama, tukang sihir atau rahib.’ Kemudian ia mengambil sebuah batu dan berkata, ‘Ya Allah, jika urusan rahib lebih Engkau cintai daripada urusan tukang sihir, maka bunuhlah binatang ini sehingga orang-orang dapat lewat.’ Lalu ia melempar batu itu dan membunuh binatang tersebut, sehingga orang-orang dapat melanjutkan perjalanan mereka.
Ia pun mengabarkan hal ini kepada rahib, maka rahib berkata, ‘Wahai anakku, hari ini kamu lebih utama dariku. Sungguh telah sampai urusanmu pada tahap yang kulihat. Kamu akan diuji, dan jika kamu diuji, janganlah engkau menunjukkan kepadaku.’
Pemuda itu kemudian dapat menyembuhkan orang buta sejak lahir, penderita kusta, dan mengobati berbagai penyakit lainnya. Seorang pendamping raja yang telah menjadi buta mendengar hal ini, lalu ia mendatangi pemuda tersebut dengan banyak hadiah dan berkata, ‘Semua ini untukmu jika kamu menyembuhkanku.’ Pemuda itu menjawab, ‘Aku tidak menyembuhkan siapapun, hanya Allah yang menyembuhkan. Jika kamu beriman kepada Allah, aku akan berdoa kepada Allah agar menyembuhkanmu.’ Maka orang itu beriman kepada Allah, dan Allah menyembuhkannya.
Kemudian ia mendatangi raja dan duduk di sampingnya seperti biasa. Raja bertanya, ‘Siapa yang mengembalikan penglihatanmu?’ Ia menjawab, ‘Tuhanku.’ Raja bertanya, ‘Apakah kamu punya tuhan selain aku?’ Ia menjawab, ‘Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah!’ Maka raja menangkapnya dan terus menyiksanya hingga ia menunjukkan pemuda itu.
Pemuda itu dibawa ke hadapan raja. Raja berkata, ‘Wahai anakku, sihirmu telah mencapai tingkat di mana kamu dapat menyembuhkan orang buta sejak lahir, penderita kusta, dan kamu melakukan ini dan itu!’ Pemuda itu menjawab, ‘Aku tidak menyembuhkan siapapun, hanya Allah yang menyembuhkan.’ Maka raja menangkapnya dan terus menyiksanya hingga ia menunjukkan rahib itu.
Rahib dibawa dan diperintahkan, ‘Tinggalkan agamamu,’ namun ia menolak. Raja kemudian meminta gergaji dan meletakkannya di tengah kepala rahib, lalu membelahnya hingga kedua bagian kepalanya terpisah. Kemudian pendamping raja dibawa dan diperintahkan, ‘Tinggalkan agamamu,’ namun ia juga menolak. Maka gergaji diletakkan di tengah kepalanya dan membelahnya hingga kedua bagian kepalanya terpisah.
Kemudian pemuda itu dibawa dan diperintahkan, ‘Tinggalkan agamamu,’ namun ia menolak. Raja menyerahkannya kepada sekelompok pengikutnya dan berkata, ‘Bawalah ia ke gunung ini dan itu, naiklah ke puncaknya. Jika ia meninggalkan agamanya, biarkan ia. Jika tidak, lemparkanlah ia.’ Mereka membawanya ke gunung, namun pemuda itu berdoa, ‘Ya Allah, selamatkanlah aku dari mereka dengan cara yang Engkau kehendaki.’ Maka gunung bergoncang dan mereka semua jatuh, sedangkan pemuda itu kembali berjalan ke arah raja.
Raja bertanya, ‘Apa yang terjadi dengan para pengikutku?’ Pemuda itu menjawab, ‘Allah telah menyelamatkanku dari mereka.’ Raja menyerahkannya kepada sekelompok pengikutnya yang lain dan berkata, ‘Bawalah ia dengan perahu ke tengah laut. Jika ia meninggalkan agamanya, biarkan ia. Jika tidak, lemparkanlah ia.’ Mereka membawanya, namun pemuda itu berdoa, ‘Ya Allah, selamatkanlah aku dari mereka dengan cara yang Engkau kehendaki.’ Maka perahu terbalik dan mereka tenggelam, sedangkan pemuda itu kembali berjalan ke arah raja.
Raja bertanya, ‘Apa yang terjadi dengan para pengikutku?’ Pemuda itu menjawab, ‘Allah telah menyelamatkanku dari mereka.’ Kemudian ia berkata kepada raja, ‘Engkau tidak akan dapat membunuhku sampai engkau melakukan apa yang kuperintahkan.’ Raja bertanya, ‘Apa itu?’ Pemuda itu menjawab, ‘Kumpulkan semua orang di satu tempat yang lapang, salibkan aku pada sebatang pohon, kemudian ambil anak panah dari tempat panahku, letakkan anak panah itu di tengah busur, lalu ucapkan: ‘Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini,’ kemudian panahlah aku. Jika engkau melakukan itu, engkau akan membunuhku.’
Raja mengumpulkan semua orang di tempat yang lapang, menyalib pemuda itu pada sebatang pohon, mengambil anak panah dari tempat panahnya, meletakkan anak panah itu di tengah busur, lalu mengucapkan: ‘Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini,’ kemudian memanah pemuda itu. Anak panah mengenai pelipisnya. Pemuda itu meletakkan tangannya di tempat anak panah menancap, lalu meninggal.
Orang-orang pun berkata, ‘Kami beriman kepada Tuhan pemuda ini, kami beriman kepada Tuhan pemuda ini, kami beriman kepada Tuhan pemuda ini.’ Raja diberitahu, ‘Tahukah engkau apa yang engkau takutkan? Demi Allah, hal itu telah menimpamu. Orang-orang telah beriman!’
Maka raja memerintahkan untuk membuat parit-parit di jalan-jalan. Parit-parit itu digali dan dinyalakan api di dalamnya. Raja berkata, ‘Barangsiapa tidak meninggalkan agamanya, lemparkanlah ia ke dalam api, atau perintahkan ia untuk menceburkan diri.’ Mereka pun melakukannya, hingga datanglah seorang wanita bersama bayinya. Ia ragu untuk masuk ke dalam api, maka bayinya berkata, ‘Wahai ibu, bersabarlah, karena sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran.'”
“Api yang memiliki bahan bakar (5).
Keterkaitan ayat ini dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela mereka, Dia menjelaskan alasan celaan mereka dengan penjelasan rinci tentang parit mereka, firman-Nya: Api yang memiliki bahan bakar (5). Artinya: Parit itu menyala dengan api yang dinyalakan dengan kayu bakar atau lainnya hingga nyalanya sangat kuat dan kobaran apinya besar, menyala dengan sangat hebat.
Ketika mereka duduk di sekitarnya (6).
Artinya: Terlaknat orang-orang kafir itu ketika mereka duduk di sisi-sisi parit dan tepinya!
Dan mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang mukmin (7).
Artinya: Mereka menyaksikan orang-orang mukmin yang terbakar di dalamnya.
Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji (8).
Artinya: Orang-orang kafir tidak mengingkari dan membenci apapun dari orang-orang mukmin kecuali keimanan mereka kepada Allah yang terhindar dari segala aib dan kekurangan, Yang Maha Perkasa yang tidak terkalahkan, Yang Maha Terpuji atas semua sifat dan perbuatan-Nya, syariat dan ketetapan-Nya.
Sebagaimana Allah berfirman: Katakanlah: ‘Hai Ahli Kitab, apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik?’ [Al-Maidah: 59].
Dari Khabbab bin Al-Aratt radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Ada seseorang sebelum kalian yang digalikan lubang di tanah untuknya, lalu ia dimasukkan ke dalamnya. Kemudian didatangkan gergaji dan diletakkan di atas kepalanya, lalu tubuhnya dibelah menjadi dua, namun itu tidak menghalanginya dari agamanya. Dan ada pula yang disisir dengan sisir besi yang menyobek daging hingga ke tulang atau sarafnya, namun itu tidak menghalanginya dari agamanya!’
Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu (9).
Keterkaitan ayat ini dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah Ta’ala menyebutkan sifat-sifat yang menjadikan-Nya berhak untuk diimani dan disembah -yaitu bahwa Dia Maha Perkasa, Maha Menang, Maha Kuasa yang siksaan-Nya ditakuti, Maha Terpuji dan Maha Pemberi nikmat yang wajib disyukuri nikmat-nikmat-Nya, dan pahala-Nya diharapkan-; Allah menegaskan hal itu dengan firman-Nya:
Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi. Artinya: Yang memiliki sendiri seluruh tujuh langit dan bumi, serta segala makhluk yang ada di dalamnya.
Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Artinya: Allah mengetahui segala sesuatu, tidak ada yang tersembunyi dari-Nya baik di bumi maupun di langit, termasuk pembakaran orang-orang kafir terhadap orang-orang mukmin di dalam parit, dan Dia akan membalas mereka atas perbuatan itu.”
Pelajaran Pendidikan:
1- Firman Allah Ta’ala: “Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”. Dalam ayat ini terdapat pelajaran: bahwa orang-orang kafir tersebut tidak mengambil kesalahan apa pun pada kaum muslimin kecuali satu hal, yaitu: bahwa mereka beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji! Dan ini bukanlah kesalahan, justru inilah kebenaran. Barangsiapa yang mengingkarinya, maka dialah yang patut diingkari. Demikian juga orang musyrik; ia hanya mencela orang yang bertauhid karena kemurnian tauhidnya, dan karena ia tidak mencampurinya dengan kesyirikan. Demikian pula ahli bid’ah; ia hanya mencela ahli sunnah karena kemurnian mereka dalam mengikuti Rasul, dan karena mereka tidak mencampurinya dengan pendapat-pendapat manusia atau hal-hal yang bertentangan dengannya. Maka kesabaran seorang yang bertauhid yang mengikuti Rasul atas celaan dari para ahli syirik dan bid’ah adalah kebaikan dan manfaat baginya, dan lebih mudah baginya daripada bersabar atas celaan Allah dan Rasul-Nya kepadanya karena menyetujui para ahli syirik dan bid’ah.
2- Dalam firman Allah Ta’ala: “Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu” bahwa Allah Subhanahu Maha Mengetahui amalan-amalan makhluk-Nya, tidak ada yang tersembunyi dari-Nya. Ini merupakan janji yang besar bagi orang-orang yang taat, dan ancaman bagi para pendosa.
Pelajaran Ilmiah dan Keistimewaan:
1- Allah Ta’ala berfirman: “Demi langit yang mempunyai gugusan bintang. Dan demi hari yang dijanjikan. Dan demi yang menyaksikan dan yang disaksikan”. Jika ditanyakan: Apa hubungan antara ketiga hal yang Allah bersumpah dengannya ini? Jawabnya: Ini, dengan puji bagi Allah, memiliki hubungan yang sangat kuat, dan sumpah dengan ketiganya mencakup semua yang ada di dunia dan akhirat. Masing-masing dari ketiganya merupakan tanda tersendiri yang menunjukkan rububiyah dan uluhiyah-Nya; Dia bersumpah dengan alam atas, yaitu langit dan gugusan bintang yang ada di dalamnya, yang merupakan tempat-tempat yang paling agung dan luas. Kemudian Dia bersumpah dengan hari yang paling agung dan paling mulia, yaitu hari yang merupakan tempat penampakan kerajaan-Nya, perintah dan larangan-Nya, pahala dan hukuman-Nya, tempat berkumpulnya para wali dan musuh-Nya, serta pengadilan di antara mereka dengan ilmu dan keadilan-Nya. Kemudian Dia bersumpah dengan apa yang lebih umum dari semua itu, yaitu yang menyaksikan dan yang disaksikan. Sumpah ini sesuai dengan penyebutan para pembuat parit yang menyiksa para wali Allah padahal mereka menyaksikan apa yang mereka lakukan kepada para wali tersebut.
2- Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu”. Allah Ta’ala menyebutkan sifat-sifat yang menjadikan Tuhan layak untuk diimani dan disembah:
Pertama: Al-‘Aziz (Yang Maha Perkasa), yaitu Yang Maha Kuasa yang tidak terkalahkan, dan Yang Maha Mengalahkan yang tidak dapat ditolak. Secara keseluruhan, ini menunjukkan kekuasaan yang sempurna.
Kedua: Al-Hamid (Yang Maha Terpuji), yaitu Yang berhak mendapatkan pujian dan sanjungan dari lisan hamba-hamba-Nya yang beriman. Meskipun sebagian makhluk tidak memuji-Nya dengan lisannya, namun dirinya sendiri bersaksi bahwa sesungguhnya yang terpuji sebenarnya adalah Dia, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya” [Al-Isra: 44]. Ini menunjukkan ilmu; karena siapa yang tidak mengetahui akibat segala sesuatu tidak mungkin dapat melakukan perbuatan-perbuatan terpuji. Maka Al-Hamid menunjukkan ilmu yang sempurna dari segi ini.
Ketiga: “Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi”, yaitu pemilik keduanya dan yang mengatur keduanya. Jika Dia berkehendak, Dia dapat memusnahkan keduanya. Ini menunjukkan kekuasaan yang sempurna. Allah mengakhirkan sifat ini setelah dua sifat pertama karena kekuasaan sempurna tidak dapat diperoleh kecuali setelah kesempurnaan dalam kekuatan dan ilmu. Maka terbukti bahwa siapa yang memiliki sifat-sifat ini, dialah yang berhak diimani, dan selain-Nya sama sekali tidak berhak. Lalu bagaimana orang-orang kafir yang bodoh itu menganggap keimanan seperti ini sebagai dosa?!
3- Allah Ta’ala berfirman: “Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”. Kebiasaan musuh-musuh Allah selalu mencela para wali Allah atas hal-hal yang seharusnya mereka dicintai dan dimuliakan karenanya, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Katakanlah: ‘Hai Ahli Kitab, apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik?'” [Al-Maidah: 59].
Demikian pula kaum Luth mencela hamba-hamba Allah karena kesucian mereka dari perbuatan seperti perbuatan mereka, mereka berkata: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri” [Al-A’raf: 82]. Demikian pula para pelaku syirik mencela orang-orang yang bertauhid karena kemurnian tauhid mereka dan keikhlasan dalam berdoa dan beribadah hanya kepada Allah. Demikian pula para pelaku bid’ah mencela para pengikut sunnah karena kemurnian mereka dalam mengikuti sunnah dan meninggalkan apa yang bertentangan dengannya. Demikian pula para penolak sifat Allah mencela orang-orang yang menetapkan sifat-sifat Allah karena mereka menetapkan sifat-sifat kesempurnaan Allah, sifat-sifat keagungan-Nya, dan ketinggian-Nya di atas makhluk-Nya. Mereka memusuhi orang-orang tersebut karena hal itu, dan menuduh mereka dengan tuduhan-tuduhan besar karenanya.
Demikian pula kaum Rafidhah (Syi’ah ekstrem) mencela Ahlus Sunnah karena kecintaan mereka kepada seluruh sahabat, sikap ridha terhadap mereka, loyalitas mereka, mendahulukan orang-orang yang didahulukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di antara mereka, dan menempatkan mereka pada kedudukan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Demikian pula para pengikut pendapat yang baru mencela para ahli hadits dan kelompok Rasul karena mereka berpegang pada hadits-haditsnya dan meninggalkan apa yang bertentangan dengannya. Semua kelompok ini memiliki bagian dari ayat ini, dan pada mereka terdapat kemiripan dengan para pembuat parit, serta antara mereka dan para pembuat parit terdapat hubungan yang dekat atau jauh.
4- Allah Ta’ala berfirman: “kecuali mereka beriman” karena penyiksaan itu terjadi atas keimanan di masa depan. Seandainya mereka kafir di masa depan, tentu mereka tidak akan disiksa atas apa yang telah lalu. Maka seolah-olah Allah berfirman: kecuali mereka tetap beriman.
5- Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”. Dalam firman Allah Ta’ala: “Yang Maha Perkasa” terdapat isyarat bahwa jika Allah berkehendak, Dia dapat mencegah para penguasa zalim tersebut dari menyiksa orang-orang mukmin itu, dan Dia dapat memadamkan api mereka, serta mematikan mereka. Dan dengan firman-Nya: “Yang Maha Terpuji” menunjukkan bahwa yang menjadi pertimbangan bagi Allah Subhanahu dalam segala perbuatan adalah akibatnya; meskipun Allah memberi penangguhan namun Dia tidak mengabaikan; karena Allah Ta’ala akan menyampaikan pahala kepada orang-orang mukmin tersebut, dan hukuman kepada orang-orang kafir tersebut.
Ada yang berpendapat: Penyebutan sifat-Nya sebagai Yang Maha Terpuji untuk menunjukkan dua hal; Pertama: bahwa orang-orang mukmin beriman karena harapan dan takut; harapan kepada Yang Maha Terpuji, dan takut kepada Yang Maha Perkasa. Ini adalah kesempurnaan iman – harapan dan takut – dan keadaan terbaik seorang mukmin. Kedua: agar orang-orang kafir itu tidak berputus asa dari karunia dan rahmat-Nya, sebagaimana Allah berfirman: “kemudian mereka tidak bertaubat” [Al-Buruj: 10]; karena pemberian penangguhan kepada mereka merupakan pengaruh dari sifat-Nya Yang Maha Terpuji, Subhanahu.
6- Allah Ta’ala berfirman: “Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu”. Jika Allah Yang Maha Perkasa, Subhanahu wa Ta’ala, Maha Menyaksikan segala sesuatu, Maha Mengetahui segala sesuatu, dan mempercayakan para malaikat penjaga untuk mencatat amalan-amalan hamba, namun meskipun demikian Dia tidak mengadili di antara makhluk berdasarkan apa yang Dia ketahui tentang mereka, atau berdasarkan apa yang dicatat para malaikat-Nya, melainkan Dia membuat anggota tubuh mereka berbicara, dan menjadikan para rasul sebagai saksi atas umat-umat, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai saksi atas para rasul, yaitu: bahwa mereka telah menyampaikan risalah Allah kepada umat mereka; maka lebih utama lagi seorang hakim untuk tidak mengadili berdasarkan pengetahuannya sendiri.
Keindahan Ayat:
1- Firman Allah Ta’ala: “Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, demi hari yang dijanjikan, dan demi yang menyaksikan dan yang disaksikan” – Tujuan-tujuan dari surah mulia ini dimulai dengan memberikan perumpamaan bagi orang-orang yang menyiksa kaum muslimin di Mekkah, bahwa mereka seperti kaum yang menyiksa sekelompok orang yang beriman kepada Allah. Mereka membuat parit api untuk menyiksa mereka. Perumpamaan ini bertujuan untuk menguatkan kaum muslimin, menyabarkan mereka atas gangguan kaum musyrikin, dan mengingatkan mereka tentang apa yang dialami pendahulu mereka dalam keimanan berupa siksaan berat yang belum pernah mereka alami, namun hal itu tidak menghalangi mereka dari agama mereka. Juga memberitahu kaum muslimin bahwa kekuatan Allah itu Maha Besar, sehingga kaum musyrikin akan mendapatkan balasan atas perbuatan mereka, dan kaum muslimin akan mendapatkan kenikmatan abadi dan pertolongan. Serta memberi isyarat kepada kaum muslimin tentang kemuliaan mereka di sisi Allah Ta’ala. Dan pemberian contoh dengan kaum Fir’aun dan kaum Tsamud, serta bagaimana akibat urusan mereka ketika mereka mendustakan para rasul, sehingga terdapat pelajaran bagi kaum musyrikin dalam penindasan mereka terhadap kaum muslimin, dan dalam pendustaan mereka terhadap Rasulullah ﷺ, serta pemuliaan terhadap Al-Qur’an.
- Dalam pembukaan surah dengan sumpah ini “Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, demi hari yang dijanjikan, dan demi yang menyaksikan dan yang disaksikan”, terdapat unsur yang membuat penasaran terhadap apa yang akan datang setelahnya, dan pemberitahuan akan pentingnya hal yang dijadikan objek sumpah. Selain itu, sumpah ini menarik perhatian para pendengar kepada hal-hal yang dijadikan objek sumpah; karena sebagiannya merupakan tanda-tanda kebesaran kekuasaan Ilahi yang menunjukkan keesaan Allah Ta’ala dalam ketuhanan, dan membatalkan adanya sekutu, serta sebagiannya mengingatkan tentang hari kebangkitan yang dijanjikan, dan merupakan simbol untuk menegaskan kejadiannya; karena sumpah hanya bisa dilakukan dengan sesuatu yang pasti terjadi, dan sebagiannya dengan kesamaran yang ada di dalamnya mengarahkan jiwa para pendengar untuk mencari penjelasannya.
- Juga kesesuaian sumpah dengan hal yang disumpahi adalah bahwa hal yang disumpahi mengandung pelajaran dari kisah para penghuni parit (Ashabul Ukhdud). Dan ketika parit-parit itu merupakan garis-garis yang dibuat di bumi yang menyala dengan api, maka disumpahkan atas apa yang dikandungnya dengan langit, dengan sifat dari sifat-sifatnya yang tampak bagi para pemandang pada bintang-bintangnya yang disebut oleh orang Arab sebagai “buruj” (gugusan bintang), yang menyerupai lingkaran-lingkaran yang berkilauan dengan cahaya bintang-bintang yang bersinar mirip dengan nyala api. Dan sumpah dengan (langit) dengan sifat (yang mempunyai gugusan bintang) mencakup sumpah dengan kedua hal tersebut sekaligus; agar pikiran orang-orang yang merenungkan tertuju pada apa yang ada dalam makhluk-makhluk ini dan keadaan-keadaan ini berupa petunjuk atas kebesaran kekuasaan dan luasnya ilmu Ilahi; karena Dia menciptakannya dengan ukuran-ukuran yang tepat; agar manusia mendapatkan manfaat darinya dalam penentuan waktu-waktu bulan dan musim.
Adapun kesesuaian sumpah dengan hari yang dijanjikan adalah karena itu adalah hari kiamat; karena Allah telah menjanjikan kejadiannya; Allah Ta’ala berfirman: “Itulah hari yang dijanjikan kepada mereka” [Al-Ma’arij: 44], dengan apa yang ada dalam sumpah dengannya berupa isyarat terhadap ancaman bagi para tokoh kisah yang disumpahi atas kandungannya, dan ancaman bagi orang-orang yang seperti mereka yang disindir. Dan kesesuaian sumpah dengan (yang menyaksikan dan yang disaksikan) dekat dengan kesesuaian sumpah dengan hari yang dijanjikan, dan bersesuaian dalam hal yang disumpahi dengan firman-Nya: “Dan mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman”.
- Dan penggunaan bentuk nakirah (indefinite) pada “yang menyaksikan dan yang disaksikan” bisa untuk menyatakan banyaknya, seolah-olah dikatakan: “Dan betapa banyaknya yang menyaksikan dan yang disaksikan”, atau untuk kesamaran dalam sifat, seolah-olah dikatakan: “Dan yang menyaksikan dan yang disaksikan yang tidak dapat diketahui sifat keduanya secara mendalam”.
Ada yang mengatakan: “yang menyaksikan dan yang disaksikan” keduanya dalam bentuk nakirah (indefinite), dan sebaiknya diartikan secara umum; seperti firman-Nya: “Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya” [At-Takwir: 14], meskipun lafaz tidak mengharuskannya, tetapi maknanya mengharuskannya; karena tidak bisa bersumpah dengan sesuatu yang nakirah yang tidak diketahui siapa dia, namun jika dipahami dalam makna umum maka akan mencakup yang ma’rifah (definite); sehingga sumpah itu baik.
Ada juga yang mengatakan: “yang menyaksikan” adalah hari Jum’at, dan “yang disaksikan” adalah hari Arafah. Keduanya dalam bentuk nakirah berbeda dengan sisa apa yang dijadikan sumpah; karena keduanya memiliki keutamaan di antara hari-hari yang tidak dimiliki oleh lainnya, maka tidak digabungkan antara keduanya dengan yang lainnya dengan lam jenis, dan tidak digunakan bentuk ma’rifah dengan lam ‘ahd; karena bentuk nakirah lebih menunjukkan pengagungan dan penghormatan.
Ada juga yang mengatakan: “yang menyaksikan dan yang disaksikan” yang dimaksud adalah jenisnya, maka “yang menyaksikan” adalah orang yang melihat, atau yang memberitakan dengan benar untuk mewajibkan orang yang mengingkarinya, dan “yang disaksikan” adalah yang dilihat atau yang disaksikan atasnya dengan benar, dan dibuang yang berkaitan dengan kedua sifat tersebut; karena sudah ditunjukkan oleh pembicaraan. Dan di antara berbagai pendapat, hubungan yang jelas terlihat antara “yang menyaksikan dan yang disaksikan”, dengan apa yang ada dalam hal yang disumpahi yaitu firman-Nya: “sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman”.
2- Firman Allah Ta’ala: “Binasalah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan) dengan bahan bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman.”
- Firman-Nya: “Binasalah orang-orang yang membuat parit” adalah kalimat doa – menurut satu pendapat – yang menunjukkan jawaban sumpah, seolah-olah dikatakan: “Aku bersumpah dengan hal-hal sebelumnya, bahwa mereka – yaitu: orang-orang kafir Makkah – terlaknat, sebagaimana terlaknatnya orang-orang yang membuat parit”; karena surah ini turun untuk menguatkan orang-orang beriman atas apa yang mereka yakini, menyabarkan mereka atas gangguan orang-orang kafir, dan mengingatkan mereka akan apa yang telah menimpa orang-orang sebelum mereka berupa siksaan karena keimanan dan kesabaran mereka atas hal itu; sehingga mereka mengikuti jejak mereka, dan bersabar atas apa yang mereka alami dari kaum mereka, dan mengetahui bahwa orang-orang ini di sisi Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Mulia pada kedudukan seperti para penyiksa tersebut; terlaknat seperti mereka, pantas untuk dikatakan kepada mereka apa yang telah dikatakan kepada para penyiksa. Maka jawaban sumpah ini menunjukkan laknat Allah atas orang yang melakukan hal itu, pengusirannya dari rahmat Allah, dan peringatan bagi orang-orang kafir Quraisy yang menyakiti orang-orang beriman untuk memalingkan mereka dari agama mereka, bahwa mereka terlaknat, karena kesamaan dalam hal menyiksa orang-orang beriman.
Ada yang berpendapat: perkiraan jawaban sumpah adalah: “Sesungguhnya perkara itu benar dalam pembalasan atas perbuatan,” atau: “Sungguh kalian akan dibangkitkan.”
Ada juga yang mengatakan: Jawaban sumpah adalah: “Binasalah orang-orang yang membuat parit”; sehingga kata “binasalah” menjadi khabar (berita) bukan doa atau cacian, dan tidak perlu menyebutkan kata “qad” dalam jawaban meskipun jawaban dalam bentuk lampau; karena “qad” bisa dihilangkan berdasarkan bahwa penghapusannya tidak disyaratkan oleh keadaan darurat. Dan dalam hal ini harus dipahami bahwa khabar digunakan dalam kelaziman maknanya yaitu peringatan bagi orang-orang yang menyiksa orang-orang beriman bahwa akan menimpa mereka apa yang telah menimpa para penyiksa penghuni parit, jika tidak demikian maka berita tentang penghuni parit tidak memerlukan penguatan dengan sumpah; karena tidak ada yang mengingkarinya, sebab itu adalah kisah yang diketahui oleh orang Arab, dan perkiraan kalimatnya: “Sungguh telah binasa orang-orang yang membuat parit”, sehingga yang dimaksud dengan “orang-orang yang membuat parit” adalah mereka yang dilemparkan ke dalamnya, dan disiksa dengannya, dan kata “أَصْحَابُ” (ashabu/penghuni) digunakan dalam arti hubungan dan kebersamaan semata.
Ada juga yang mengatakan: Jawaban sumpahnya adalah “Sesungguhnya azab Tuhanmu sangat keras” [Al-Buruj: 12], atau kalimat “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar” [Al-Buruj: 11], dan kalimat yang ada di antara keduanya adalah sisipan yang dimaksudkan untuk menjadi pendahuluan bagi hal yang disumpahi, dan penguat penegasan yang diberikan oleh sumpah dengan menyebutkan contoh serupa.
- Ada juga yang mengatakan: bentuk kalimat “Binasalah orang-orang yang membuat parit” menunjukkan bahwa itu adalah cacian bagi mereka; cacian kehinaan dan kemarahan, dan orang-orang ini tidak terbunuh, sehingga kata “قُتِلَ” (qutila/binasalah) bukanlah berita, tetapi cacian, seperti perkataan mereka: “qātalahullāhu!” (Semoga Allah memeranginya). Dan keluarnya ungkapan ini dari Allah memberi makna laknat, dan menunjukkan ancaman; karena kemarahan dan laknat mengharuskan adanya hukuman atas perbuatan yang dilaknat karenanya. Ada juga yang mengatakan: itu adalah doa buruk atas penghuni parit dengan pembunuhan, dan pembunuhan diungkapkan untuk menggambarkan azab yang paling keras, seperti dikatakan: “Semoga Allah membinasakannya”, yaitu: menempatkannya dalam kesulitan terberat. Apa pun itu, kalimat “Binasalah orang-orang yang membuat parit” dengan demikian adalah sisipan antara sumpah dan apa yang setelahnya.
- Firman-Nya: “yang berapi (dinyalakan) dengan bahan bakar” kata “النَّارِ” (an-nāri/api) adalah badal isytimāl (pengganti yang mencakup) dari “الأُخدودِ” (al-ukhdūdi/parit), dan “ذَاتِ الْوَقُودِ” (dzātil waqūdi/yang memiliki bahan bakar) adalah sifat untuk api tersebut bahwa itu adalah api besar yang memiliki sesuatu yang meninggikan nyalanya berupa kayu bakar yang banyak dan tubuh-tubuh manusia, dan ini adalah sifat api yang menunjukkan kebesarannya.
- Firman-Nya: “ketika mereka duduk di sekitarnya” kata ganti “هُمْ” (hum/mereka) kembali kepada penghuni parit; karena raja menghadiri pelaksanaan perintahnya bersama para pembesarnya, atau yang dimaksud adalah orang-orang yang diperintah oleh raja. “القُعُودُ” (al-qu’ūd/duduk) adalah posisi duduk, yang digunakan sebagai kinayah (kiasan) untuk menyatakan kelaziman berada di parit; agar orang-orang yang menyalakan api tidak lalai dalam menyalakannya. Kata “عَلى” (alā/di atas) menunjukkan ketinggian; karena mereka tidak duduk di atas api, tetapi di sekitarnya, tetapi kedekatan dan pengawasan diungkapkan dengan ketinggian.
- Kata ganti pada “يَفْعَلُونَ” (yaf’alūna/mereka lakukan) boleh kembali kepada “penghuni parit”; sehingga makna mereka menjadi saksi atas apa yang mereka lakukan adalah: bahwa sebagian mereka bersaksi untuk sebagian lainnya di hadapan raja bahwa tidak ada seorang pun yang lalai dalam apa yang dipercayakan kepadanya berupa pembakaran orang-orang beriman, sehingga kata ganti jamak dan bentuknya dibagi-bagi. Dan boleh juga kata ganti pada “يَفْعَلُونَ” (yaf’alūna/mereka lakukan) kembali kepada apa yang ditunjukkan oleh dalālatul iqtidhā’ (petunjuk keharusan) berupa pembagian penghuni parit menjadi para pemimpin dan orang-orang yang diperintah, sebagaimana kondisi pekerjaan-pekerjaan besar. Maka ketika diberitakan tentang penghuni parit bahwa mereka duduk di sekitar api, diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang ditugaskan mengawasi para pekerja, sehingga diketahui bahwa mereka memiliki pengikut dari para penyala api dan penjaga ketertiban. Maka kata “هُمْ” (hum/mereka) adalah tempat kembalinya kata ganti pada “يَفْعَلُونَ” (yaf’alūna/mereka lakukan), dan dengan pemahaman ini boleh jadi “شُهُودٌ” (syuhūd/saksi-saksi) adalah bentuk jamak dari “شاهِد” (syāhid/saksi) dalam arti: orang yang memberitakan kebenaran, dan bisa juga bermakna orang yang hadir dan mengawasi; karena jelas bahwa seseorang tidak bersaksi atas perbuatan dirinya sendiri.
- Dan kalimat “sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman” berada pada posisi hāl (keterangan keadaan) dari kata ganti pada “ketika mereka duduk di sekitarnya”, seolah-olah dikatakan: “mereka duduk dalam keadaan menyaksikan apa yang mereka lakukan terhadap orang-orang beriman”. Faedah dari keterangan keadaan ini adalah untuk menggambarkan kengerian duduk tersebut dan besarnya kejahatan itu; karena mereka menyaksikan penyiksaan orang-orang beriman, tidak merasa kasihan dan tidak merasa jijik. Dengan demikian, kandungan kalimat ini berbeda dengan kandungan kalimat “ketika mereka duduk di sekitarnya”, dengan mempertimbangkan kaitannya dengan kata “terhadap orang-orang yang beriman” dan “menyaksikan”.
- Dalam penggunaan kata sambung dalam firman-Nya: “apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman” terdapat kesamaran yang menunjukkan bahwa para penyala api dari para penjaga ketertiban dan pekerja, serta mereka yang secara langsung melemparkan orang-orang beriman ke dalamnya, memiliki kekerasan dan kekejaman dalam menyiksa orang-orang beriman, menghinakan mereka dan mencincang mereka, dan itu lebih dari sekedar pembakaran.
3- Firman Allah Ta’ala: “Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.”
- Dalam firman-Nya: “Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” terdapat apa yang dikenal dalam ilmu balaghah sebagai “penegasan pujian dengan apa yang menyerupai celaan”; ini adalah kalimat baru yang menjelaskan tentang pembebasan mereka dari segala yang tercela dan diingkari secara total.
- Ada juga yang mengatakan: Kalimat “Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah” berada pada posisi hal (keterangan keadaan), dan huruf wau adalah wau hal, atau wau yang menghubungkan dengan hal sebelumnya. Tujuannya adalah untuk menunjukkan keheranan terhadap kezaliman penghuni parit karena mereka melakukan kekejian seperti ini, bukan karena kejahatan yang seharusnya mengundang kemarahan dari pelakunya. Jika orang-orang yang membuat parit adalah orang Yahudi – sebagaimana mayoritas penduduk Yaman pada waktu itu – maka kalimat ini termasuk penegasan sesuatu dengan apa yang menyerupai lawannya, yaitu: mereka tidak menemukan dari orang-orang beriman sesuatu yang patut dimarahi, tetapi karena mereka beriman kepada Allah semata sebagaimana orang-orang yang menyiksa mereka juga beriman kepada-Nya. Dan jika orang-orang yang membuat parit adalah orang-orang musyrik, maka pengecualian ini bukanlah termasuk penegasan sesuatu dengan apa yang menyerupai lawannya; karena sifat dari penegasan sesuatu dengan apa yang menyerupai lawannya adalah bahwa apa yang menyerupai lawan dari maksud itu sebenarnya adalah dari jenis maksud tersebut, karena itulah maksud tersebut ditegaskan dengannya, dan yang ada di sini tidak demikian; karena raja dan tentaranya benar-benar marah karena keimanan kepada Allah jika raja tersebut adalah orang musyrik.
- Dan penyebutan tiga sifat untuk nama Allah – yaitu: “Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi” – adalah untuk lebih menegaskan bahwa apa yang mereka marahi bukanlah sesuatu yang sepatutnya dimarahi, bahkan layak bagi orang-orang beriman untuk dipuji karenanya; karena mereka beriman kepada Tuhan yang layak untuk diimani karena sifat-sifat-Nya yang mengharuskan penyembahan kepada-Nya, dan meninggalkan selain-Nya; karena Dia menolong orang-orang yang setia kepada-Nya dan memberi mereka pahala, dan karena Dia memiliki kekuasaan atas mereka, sedangkan selain-Nya lemah kekuatannya, tidak bisa memberi mudarat dan manfaat, dan tidak memiliki apa pun dari mereka. Maka keheranan terhadap mereka semakin kuat dengan hal ini.
- Firman-Nya: “dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu” adalah kalimat penutup yang berisi ancaman bagi orang-orang yang membuat parit dan menyiksa orang-orang beriman, dan janji bagi orang-orang yang disiksa karena Allah, serta ancaman bagi orang-orang yang serupa dengan mereka dari orang-orang kafir Quraisy dan lainnya dari setiap orang yang berusaha menyakiti orang-orang beriman, dan janji bagi kaum muslimin yang disiksa oleh orang-orang musyrik, seperti Bilal, Ammar, Suhaib, dan Sumayyah; karena ilmu Allah Ta’ala tentang segala sesuatu – yang di antaranya adalah amal perbuatan kedua kelompok tersebut – mengharuskan pemberian balasan secara penuh bagi masing-masing mereka dengan pasti.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Ayat: 10-11
﴿اِنَّ الَّذِيْنَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوْبُوْا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيْقِۗ ١٠ اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَهُمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ ەۗ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيْرُۗ ١١ ﴾
Kata-kata Asing:
فَتَنُوا: Artinya “membakar”. Dikatakan: “Aku membakar sesuatu” ketika anda membakarnya. Akar kata “fatana” menunjukkan makna ujian dan cobaan. الْحَرِيقِ: Artinya “api”. Akar kata “haraqa” menunjukkan panas dan nyala api.
Makna Keseluruhan:
Allah Ta’ala mengancam: “Sesungguhnya orang-orang yang menguji orang-orang beriman laki-laki dan perempuan dengan membakar mereka dalam api untuk menghalangi mereka dari kebenaran, kemudian mereka tidak bertobat dari apa yang telah mereka lakukan: maka bagi mereka adalah siksa neraka Jahannam dan bagi mereka siksa api yang membakar. Kemudian Allah Subhanahu menjelaskan apa yang Dia sediakan bagi orang-orang beriman, dengan berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala: bagi mereka di akhirat adalah surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan itulah keberuntungan yang besar.”
Tafsir Kedua Ayat:
إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ (10)
Hubungan ayat dengan sebelumnya: Ketika Allah Subhanahu menyebutkan kisah Ashabul Ukhdud (penggali parit), Dia mengiringinya dengan konsekuensi hukum berupa ganjaran dan hukuman. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang menguji orang-orang beriman laki-laki dan perempuan dengan membakar mereka dalam api untuk menghalangi mereka dari kebenaran, kemudian mereka tidak bertobat dari apa yang telah mereka lakukan: maka bagi mereka adalah siksa neraka Jahannam dan bagi mereka siksa api yang membakar.” Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan sekiranya kamu melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir sambil memukul wajah dan punggung mereka (dan berkata): ‘Rasakanlah siksa neraka yang membakar.'” [Al-Anfal: 50]
إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ (11)
Hubungan ayat dengan sebelumnya: Setelah menyebutkan hukuman bagi orang-orang zalim, Allah menyebutkan ganjaran bagi orang-orang beriman. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan segala yang wajib mereka imani, dan beramal dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala; mereka mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya: bagi mereka di akhirat adalah surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawah pepohonan dan istana-istananya. “Itulah keberuntungan yang besar.” Artinya: Apa yang diperoleh di akhirat bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh berupa keselamatan dari neraka dan masuk surga: itulah keberuntungan besar yang tidak ada keberuntungan lain yang menyamainya.
Manfaat Pendidikan:
1- Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang menyiksa orang-orang beriman laki-laki dan perempuan.” Di antara pelajaran dari ayat-ayat ini: bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala terkadang memberi kekuasaan kepada musuh-musuh-Nya terhadap para wali-Nya. Maka janganlah heran jika Allah Azza wa Jalla membiarkan orang-orang kafir menguasai orang-orang beriman, lalu mereka membunuh dan membakar mereka, serta menodai kehormatan mereka! Janganlah heran; karena Allah Ta’ala memiliki hikmah dalam hal ini. Orang-orang beriman yang tertimpa musibah, pahala mereka besar di sisi Allah. Dan orang-orang kafir yang melampaui batas ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan tenggang waktu kepada mereka, dan membiarkan mereka terjerumus secara bertahap tanpa mereka sadari. Sedangkan kaum Muslim yang tersisa dapat mengambil pelajaran dan nasihat dari apa yang menimpa saudara-saudara mereka.
2- Dalam firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang menyiksa orang-orang beriman laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab yang membakar.” Bahwa rahmat Allah Ta’ala mendahului murka-Nya; oleh karena itu, tentang orang-orang yang menyiksa para wali-Nya dan membakar mereka dengan api, Allah Azza wa Jalla berfirman demikian, dan Allah telah menawarkan taubat kepada mereka. Ini semua menjadi bukti bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih mencintai pengampunan daripada hukuman, dan menjadi bukti luasnya kesabaran Allah Ta’ala, dan bahwa salah satu sunnah-Nya Subhanahu wa Ta’ala adalah menawarkan taubat kepada para pendosa. Al-Hasan Al-Basri rahimahullah berkata: “Lihatlah kemuliaan ini; mereka menyiksa para wali-Nya dan menindas mereka, kemudian Dia mengajak mereka untuk bertaubat!”
3- Kisah Ashabul Ukhdud (penggali parit) – khususnya ayat ini: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh…” – menunjukkan bahwa orang yang dipaksa untuk kafir dengan ancaman kebinasaan besar, lebih baik baginya untuk bersabar atas apa yang dia takuti, dan bahwa menampakkan kata-kata kufur dianggap sebagai keringanan dalam hal itu. Dan mungkin saja tidak ada keringanan dalam syariat mereka.
Faedah Ilmiah dan Hal-hal Menarik:
1- Allah Azza wa Jalla berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang menyiksa orang-orang beriman laki-laki dan perempuan.” Dalam firman-Nya Ta’ala: “dan perempuan-perempuan beriman,” penyebutan khusus perempuan beriman adalah untuk menunjukkan kemuliaan mereka; agar tidak disangka bahwa keistimewaan ini khusus untuk laki-laki, dan untuk lebih menegaskan keburukan perbuatan para penindas bahwa mereka menyerang wanita; padahal seharusnya mereka tidak diperlakukan dengan kasar!
2- Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang menyiksa orang-orang beriman laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertaubat.” Karena taubat diterima sebelum sakratul maut meskipun waktunya lama, Allah menggunakan kata yang menunjukkan kelambatan, dengan berfirman: “kemudian mereka tidak bertaubat.”
3- Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang menyiksa orang-orang beriman laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab yang membakar.” Karena Allah Subhanahu tidak mengazab seseorang kecuali dengan sebab, Dia mengaitkan dosa mereka dan ketiadaan taubat mereka dengan firman-Nya Ta’ala: “maka bagi mereka azab Jahannam.”
4- Dalam firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang menyiksa orang-orang beriman laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab yang membakar.” Bahwa hukuman atas dosa-dosa di akhirat dalam neraka Jahannam dapat dihindari dengan taubat; karena orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak berdosa, dan taubat diterima dari semua dosa: kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan.
5- Allah Azza wa Jalla berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang menyiksa orang-orang beriman laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertaubat.” Dalam firman-Nya Ta’ala: “kemudian mereka tidak bertaubat” terdapat petunjuk bahwa jika mereka bertaubat, mereka akan terbebas dari ancaman ini. Hal ini menunjukkan kepastian bahwa Allah Ta’ala menerima taubat, dan menunjukkan bahwa taubat dari pembunuh yang disengaja diterima. Kaum Muslim telah sepakat bahwa taubat dari orang kafir diterima sebagai bagian dari taubatnya dari kekufuran; karena Islam menghapus semua yang terjadi sebelumnya.
6- Dalam firman-Nya Ta’ala: “kemudian mereka tidak bertaubat” terdapat isyarat bahwa taubat menghancurkan (menghapus) apa yang terjadi sebelumnya.
7- Dalam firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bagi mereka surga-surga.” Bahwa ketika Allah Subhanahu dari rahmat-Nya telah meliputi para wali-Nya dengan pemeliharaan-Nya, dan tidak menyerahkan mereka kepada amal-amal mereka; Dia tidak menjadikan amal-amal itu sebagai sebab kebahagiaan mereka; maka Dia tidak menghubungkan dengan huruf fa’ (maka) pada firman-Nya: “bagi mereka”.
8- Firman Allah Ta’ala: “Itulah keberuntungan yang besar.” Dikatakan: Allah Ta’ala mengatakan: “Itulah” (dzalika – bentuk maskulin) dan tidak mengatakan: “Itulah” (tilka – bentuk feminin) karena alasan halus, yaitu bahwa firman-Nya: “Itulah” (dzalika) merujuk pada berita Allah Ta’ala tentang terwujudnya surga-surga ini, sedangkan firman-Nya: “Itulah” (tilka) merujuk pada surga-surga. Dan berita Allah Ta’ala tentang hal itu menunjukkan bahwa Dia ridha, dan keberuntungan besar adalah keridhaan Allah, bukan sekedar memperoleh surga.
Keindahan Balaghah Kedua Ayat:
1- Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang menyiksa orang-orang beriman laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab yang membakar” adalah kalimat baru yang dimaksudkan untuk menyebutkan ancaman bagi para penjahat terlebih dahulu, kemudian diikuti dengan menyebutkan apa yang Allah siapkan bagi orang-orang beriman.
- Dikatakan: Bisa jadi yang dimaksud dengan “orang-orang yang menyiksa” adalah khusus Ashabul Ukhdud, dan yang dimaksud dengan “orang-orang yang beriman” adalah mereka yang dilemparkan (ke dalam parit api); sehingga ini menjadi pelengkap makna “binasalah orang-orang yang membuat parit”, dari jenis kata jelas yang diletakkan pada posisi kata ganti. Dan dikatakan: Bisa jadi yang dimaksud adalah “orang-orang yang menyiksa orang-orang beriman” – yaitu: menguji mereka dengan gangguan – secara umum, sehingga “orang-orang yang menyiksa” bersifat umum mencakup semua orang yang menguji orang-orang beriman laki-laki dan perempuan dengan penyiksaan atau gangguan; maka makna ayat adalah sebagai penutup untuk kalimat sebelumnya, dan penguat untuk makna firman-Nya: “binasalah orang-orang yang membuat parit”. Dan dikatakan: Orang-orang yang menyiksa orang-orang beriman laki-laki dan perempuan adalah kaum musyrik Quraisy, dan bukan yang dimaksud adalah Ashabul Ukhdud; karena tidak sesuai dengan firman-Nya: “kemudian mereka tidak bertaubat”; maka firman-Nya: “kemudian mereka tidak bertaubat” mengandung sindiran kepada kaum musyrik untuk mendorong mereka bertaubat, dan bahwa jika mereka bertaubat dan beriman, mereka akan selamat dari azab Jahannam.
- Dan jika firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang menyiksa orang-orang beriman laki-laki dan perempuan…” adalah jawaban dari sumpah, maka apa yang ada di antara sumpah dan kalimat ini merupakan kalimat sisipan yang dimaksudkan sebagai pengantar untuk ancaman mereka dengan siksaan dan kebinasaan dengan menyebutkan apa yang diancamkan kepada yang serupa dengan mereka. Dan jika jawabannya ada dalam firman-Nya: “Binasalah orang-orang yang membuat parit” [Al-Buruj: 4], maka firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang menyiksa orang-orang beriman” adalah seperti kesimpulan dari apa yang disumpahi; karena tujuan dari sumpah dan apa yang disumpahi adalah untuk mengancam orang-orang yang menyiksa orang-orang beriman laki-laki dan perempuan dari kalangan musyrikin Quraisy. Dan penguatan berita dengan “sesungguhnya” (inna) adalah untuk membantah kaum musyrikin yang mengingkari bahwa mereka memiliki tanggungan dari penyiksaan terhadap orang-orang beriman.
- Dan kalimat “kemudian mereka tidak bertaubat” adalah kalimat sisipan, dan kata “kemudian” (tsumma) di dalamnya menunjukkan urutan tingkatan; karena bertahan dalam kekufuran lebih besar (dosanya) daripada menyiksa orang-orang beriman.
- Dan masuknya huruf fa’ (maka) pada khabar “inna” dalam firman-Nya: “maka bagi mereka azab Jahannam”; karena isim “inna” jatuh sebagai isim maushul (kata hubung), dan isim maushul sering mengandung makna syarat dalam penggunaannya. Maka perkiraannya: “Sesungguhnya orang-orang yang menyiksa orang-orang beriman kemudian jika mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam”; karena akhiran dari firman-Nya: “kemudian mereka tidak bertaubat” dimaksudkan sebagai pengikatan (syarat), sehingga seperti syarat.
- Dan kalimat “dan bagi mereka azab yang membakar” adalah ‘athaf (sambungan) dalam makna penguatan lafaz untuk kalimat “bagi mereka azab Jahannam”, dan penggabungannya dengan waw ‘athaf adalah untuk menguatkan penekanan, dengan memberikan kesan bahwa siapa yang ingin menambah ancaman terhadap mereka dengan ancaman lain, maka tidak ditemukan yang lebih besar dari ancaman pertama, dengan adanya perbedaan antara azab Jahannam dan azab yang membakar dalam artinya, meskipun hasil akhir dari kedua makna itu sama. Ini adalah bentuk perbedaan yang memperbaiki ‘athaf (sambungan) penguatan, ditambah lagi bahwa melemparkan mereka ke dalam azab Jahannam sebelum mereka merasakan pembakarannya; karena di dalamnya terdapat kehinaan dan mendorong mereka di jalan mereka; Allah Ta’ala berfirman: “Pada hari mereka didorong ke neraka Jahannam dengan sekuat-kuatnya” [Ath-Thur: 13]. Dengan demikian, terjadilah perbedaan antara kedua kalimat; maka keduanya adalah dua siksaan yang berbeda atas kekufuran dan penyiksaan. Atau keduanya adalah satu dan itu adalah dari ‘athaf tafsir dan penjelasan. Atau dari ‘athaf yang khusus kepada yang umum untuk menguatkannya; karena azab Jahannam bisa dengan dingin yang sangat, pembakaran, dan lainnya.
2- Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, itulah keberuntungan yang besar” boleh jadi merupakan kalimat baru yang muncul dari firman-Nya: “kemudian mereka tidak bertaubat” yang mengandung arti bahwa jika mereka bertaubat, mereka tidak akan mendapat azab Jahannam. Maka pendengar akan tertarik untuk mengetahui keadaan mereka; apakah terbatas pada keselamatan dari azab Jahannam, ataukah lebih dari itu? Lalu dikabarkan bahwa bagi mereka ada surga-surga; karena taubat adalah iman, oleh karena itu digunakan kata hubung “beriman” bukan “bertaubat”; untuk menunjukkan bahwa iman dan amal saleh adalah taubat dari kesyirikan yang mendorong penyiksaan terhadap orang-orang beriman, dan kalimat baru ini jatuh sebagai sisipan.
Dan boleh jadi merupakan sisipan antara kalimat “Sesungguhnya orang-orang yang menyiksa orang-orang beriman laki-laki dan perempuan” [Al-Buruj: 10] dan kalimat “Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras” [Al-Buruj: 12], sebagai sisipan kabar gembira di tengah-tengah peringatan; untuk memberi motivasi kepada orang-orang yang diperingatkan agar beriman, dan untuk meneguhkan orang-orang beriman atas apa yang mereka hadapi dari gangguan kaum musyrikin, sesuai dengan kebiasaan Al-Qur’an dalam mengikuti intimidasi dengan motivasi.
- Dan penguatan dengan “sesungguhnya” (inna) adalah untuk memberikan perhatian pada berita tersebut.
- Firman-Nya: “Itulah keberuntungan yang besar” merupakan isyarat baik kepada surga-surga yang dijelaskan, dan penggunaan kata maskulin (dzalika) untuk menakwilkannya dengan “apa yang disebutkan”; untuk menunjukkan bahwa pusat hukum adalah nama yang menjadi persaingan para pesaing; karena isim isyarat (kata tunjuk) menyinggung zat yang ditunjuk dari segi sifat-sifatnya yang disebutkan, bukan hanya zatnya saja, sebagaimana kata ganti. Jadi ketika ditunjuk kepada surga-surga dari segi penyebutannya, maka telah dipertimbangkan darinya nama yang disebutkan secara pasti. Atau menunjuk kepada apa yang ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala: “bagi mereka surga-surga dst.”, tentang kepemilikan mereka terhadapnya; karena terwujudnya surga untuk mereka mengharuskan kepemilikan mereka terhadapnya secara pasti.
Apapun kasusnya, makna jauh yang terkandung di dalamnya untuk menunjukkan ketinggian derajatnya, dan jauhnya kedudukannya dalam keutamaan dan kemuliaan. Posisinya adalah rafa’ (nominatif) sebagai mubtada’ (subjek), khabar-nya (predikat) adalah apa yang ada setelahnya, yaitu: itu yang disebutkan yang agung kedudukannya adalah keberuntungan besar yang membuat dunia dan apa yang ada di dalamnya dari berbagai macam keinginan menjadi kecil di hadapannya. Maka menurut pendapat pertama, itu adalah masdar (kata benda) yang digunakan untuk objek sebagai penekanan, dan menurut pendapat kedua, masdar pada keadaannya.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Ayat: 12-16
﴿اِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيْدٌ ۗ ١٢ اِنَّهٗ هُوَ يُبْدِئُ وَيُعِيْدُۚ ١٣ وَهُوَ الْغَفُوْرُ الْوَدُوْدُۙ ١٤ ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيْدُۙ ١٥ فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيْدُۗ ١٦ ﴾
Penjelasan Istilah-istilah yang Asing:
بَطْشَ (Batsha): Pembalasan. Akar kata “batsha” menunjukkan mengambil sesuatu dengan paksa dan kekuatan.
الْوَدُودُ (Al-Wadud): Artinya Yang Maha Mencintai para wali-Nya. “Wudd” adalah cinta yang paling murni dan lembut. Akar kata “wadada” menunjukkan kasih sayang.
ذُو الْعَرْشِ (Dzul ‘Arsy): Pemilik ‘Arsy. ‘Arsy sudah diketahui berada di atas langit, yaitu tempat Allah bersemayam, memiliki tiang-tiang yang dipikul oleh para malaikat. ‘Arsy seperti kubah di atas alam, merupakan atap dan makhluk tertinggi serta terbesar. Dalam bahasa, ‘arsy berarti singgasana raja. Ia adalah singgasana jika dilihat dari atas, dan seperti atap jika dilihat dari bawah. Dikatakan juga bahwa ‘arsy pada dasarnya adalah sesuatu yang beratap. Akar kata “‘arasya” menunjukkan ketinggian pada sesuatu yang dibangun, dan ‘arsy disebut demikian karena ketinggiannya.
الْمَجِيدُ (Al-Majid): Artinya Yang Sempurna Kemuliaan, Ketinggian, Keagungan, dan Sifat-sifat Terpuji. “Majd” adalah ketinggian dan keagungan. Akar kata “majada” menunjukkan pencapaian puncak, dan hanya digunakan untuk hal-hal yang terpuji.
Makna Umum:
Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya hukuman Tuhanmu -wahai Muhammad- dan pembalasan-Nya terhadap orang-orang kafir dan zalim sungguh kuat dan dahsyat. Sesungguhnya Dialah yang memulai dan menciptakan apa yang Dia kehendaki dari makhluk-Nya, kemudian mengembalikannya setelah kefanaannya. Dia Maha Pengampun dosa-dosa hamba-Nya, Maha Mencintai hamba-hamba-Nya yang bertaubat dan saleh, Pemilik ‘Arsy, Yang Sempurna Kemuliaan, Ketinggian, Keagungan, dan Sifat-sifat Terpuji. Dia Maha Kuasa berbuat apa saja yang Dia kehendaki dalam kerajaan dan ciptaan-Nya.
Tafsir Ayat-ayat:
“Sesungguhnya azab Tuhanmu amatlah keras.” (Ayat 12)
Kesesuaian Ayat dengan Ayat Sebelumnya: Ketika Allah Ta’ala menyebutkan ancaman bagi orang-orang yang menyiksa kaum mukminin dan mukminat terlebih dahulu, dan kemudian menyebutkan janji bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Allah mengikuti janji dan ancaman itu dengan penegasan. Untuk menegaskan ancaman, Allah berfirman: “Sesungguhnya azab Tuhanmu amatlah keras,” kemudian untuk menegaskan janji, Allah berfirman: “Dan Dia Maha Pengampun lagi Maha Pengasih.”
“Sesungguhnya azab Tuhanmu amatlah keras.” (Ayat 12)
Artinya: Sesungguhnya hukuman Tuhanmu -wahai Muhammad- dan pembalasan-Nya terhadap orang-orang kafir dan zalim sungguh kuat dan dahsyat! Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan begitulah azab Tuhanmu apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh, azab-Nya sangat pedih, sangat berat.” [Hud: 102]. Dan Allah Subhanahu berfirman: “Keadaan mereka sama seperti keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelum mereka. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sungguh, Allah Mahakuat lagi sangat keras siksa-Nya.” [Al-Anfal: 52].
Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Pada hari ketika Kami menghantam dengan hantaman yang paling dahsyat, sesungguhnya Kami pasti akan memberikan pembalasan.” [Ad-Dukhan: 16].
“Sesungguhnya Dia-lah Yang memulai dan mengulang.” (Ayat 13)
Artinya: Sesungguhnya Allah saja-lah yang memulai penciptaan apa yang Dia kehendaki dari makhluk-Nya, kemudian mengembalikannya setelah kefanaannya.
Sebagaimana Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (makhluk) sejak dari permulaan, kemudian mengulanginya (kembali).” [Al-Ankabut: 19].
Dan Allah Subhanahu berfirman: “Allah yang memulai penciptaan (makhluk), kemudian mengulanginya kembali; kemudian kepada-Nya kamu dikembalikan.” [Ar-Rum: 11].
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya.” [Ar-Rum: 27].
“Dan Dia Maha Pengampun lagi Maha Pengasih.” (Ayat 14)
Artinya: Dia Maha Pengampun dosa-dosa hamba-Nya, Dia menghapusnya, menghilangkan jejaknya, dan menutupinya. Dia Maha Mencintai hamba-hamba-Nya yang bertaubat dan orang-orang saleh.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, mengisahkan perkataan Syu’aib ‘alaihis salam kepada kaumnya: “Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.” [Hud: 90].
Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah berfirman: ‘Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk memegang, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan.'”
Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala apabila mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril: ‘Sesungguhnya Allah telah mencintai fulan, maka cintailah dia.’ Maka Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril menyeru di langit: ‘Sesungguhnya Allah telah mencintai fulan, maka cintailah dia.’ Maka penduduk langit pun mencintainya, dan ditetapkan penerimaan untuknya di antara penduduk bumi.”
“Yang mempunyai ‘Arsy, lagi Mahamulia.” (Ayat 15)
Kesesuaian Ayat dengan Ayat Sebelumnya: Ketika Allah Ta’ala menyebutkan sifat-sifat-Nya yang berhubungan dengan makhluk-Nya sesuai dengan apa yang mereka patut terima sebagai balasan, Allah melanjutkannya dengan menyebutkan sifat-sifat Dzat-Nya sebagai perluasan dan penyempurnaan.
“Yang mempunyai ‘Arsy, lagi Mahamulia.” (Ayat 15)
Qira’at yang Berpengaruh dalam Tafsir:
- Qira’at “al-Majidi” dengan kasrah pada huruf dal, yang merupakan sifat untuk ‘Arsy, artinya: ‘Arsy yang memiliki sifat kemuliaan.
- Qira’at “al-Majidu” dengan dhammah pada huruf dal, yang merupakan sifat untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, artinya: Allah yang memiliki sifat kemuliaan.
“Yang mempunyai ‘Arsy, lagi Mahamulia.” (Ayat 15) Artinya: Dia-lah yang memiliki ‘Arsy yang agung, dan Dia-lah yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan yang banyak dan luas.
“Maha Kuasa berbuat apa yang Dia kehendaki.” (Ayat 16) Artinya: Apapun yang Dia kehendaki, Dia melakukannya, dan tidak ada yang dapat mencegah-Nya dari melakukan apa yang Dia kehendaki dalam kerajaan dan ciptaan-Nya. Termasuk di antaranya mengampuni dosa-dosa hamba-Nya yang beriman, dan menghukum dengan keras orang-orang kafir dan zalim.
Manfaat-manfaat Pendidikan:
1- Penggabungan dua nama الْغَفُورُ الْوَدُودُ (Al-Ghafur Al-Wadud) dalam firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya Dia-lah Yang memulai dan mengulang * Dan Dia Maha Pengampun lagi Maha Pengasih” mengandung sesuatu yang menggerakkan hati yang sehat, menarik perasaannya, dan membuatnya tekun mengabdi kepada Tuhannya -yang tiada Tuhan selain Dia, dan tiada Tuhan baginya selain-Nya- seperti kesetiaan seorang pecinta yang tulus kepada kekasihnya yang tidak dapat ia lepaskan, yang sangat ia perlukan, dan kebutuhannya tidak akan pernah terpenuhi oleh selain-Nya.
Dan (Al-Wadud) berasal dari kata “mawaddah” yang berarti “waddin” (yang mencintai). Hal ini dibuktikan bahwa kata “fa’ul” dalam sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala bermakna “fa’il”; seperti “Ghafur” bermakna “Ghafir” (Maha Pengampun), “Syakur” bermakna “Syakir” (Maha Bersyukur), dan “Shabur” bermakna “Shabir” (Maha Sabar). Juga karena penggabungannya dengan “Al-Ghafur” dalam firman-Nya: “Dan Dia Maha Pengampun lagi Maha Pengasih”, dan dengan “Ar-Rahim” dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih” [Hud: 90]. Dan di dalamnya terdapat rahasia yang lembut, yaitu bahwa Allah mencintai orang-orang yang bertaubat, dan Dia mencintai hamba-Nya setelah pengampunan, maka Dia mengampuninya dan mencintainya, sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri” [Al-Baqarah: 222]. Maka orang yang bertaubat adalah kekasih Allah.
2- Firman Allah Ta’ala: “Yang mempunyai ‘Arsy, lagi Mahamulia” mengandung peringatan bagi hamba-hamba tentang kewajiban menyembah-Nya karena Dia berhak disembah karena keagungan-Nya, sebagaimana mereka menyembah-Nya untuk menghindari siksa-Nya dan mengharapkan karunia-Nya.
Manfaat-manfaat Ilmiah dan Kelembutan:
1- Dalam firman Allah Ta’ala: “Dan Dia Maha Pengampun lagi Maha Pengasih”, dan firman-Nya: “Dan mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih” [Hud: 90] terdapat kelembutan dalam penggabungan nama “Al-Wadud” dengan “Ar-Rahim” dan “Al-Ghafur”. Karena seseorang mungkin mengampuni orang yang berbuat buruk kepadanya, tetapi tidak mencintainya, dan begitu juga ia mungkin menyayangi orang yang tidak ia cintai. Sedangkan Tuhan Ta’ala mengampuni hamba-Nya jika ia bertaubat kepada-Nya, menyayanginya, dan mencintainya bersama dengan itu; karena Dia mencintai orang-orang yang bertaubat, dan jika hamba-Nya bertaubat kepada-Nya, Dia mencintainya, meskipun ia telah melakukan apa yang telah ia lakukan.
Maka tidak bisa dikatakan: “Dosa-dosa mereka diampuni, tetapi kasih sayang tidak kembali kepada mereka,” seperti yang dikatakan oleh beberapa orang yang keliru. Penggabungan kedua nama ini mengandung penolakan dan penyangkalan terhadap orang yang mengatakan: “Kasih sayang dan cinta dari Allah Subhanahu kepada hamba-Nya tidak akan pernah kembali lagi!”
2- Dalam firman Allah Ta’ala: “Dan Dia Maha Pengampun lagi Maha Pengasih * Yang mempunyai ‘Arsy, lagi Mahamulia * Maha Kuasa berbuat apa yang Dia kehendaki” menunjukkan bahwa penetapan sifat-sifat Allah tidak mengharuskan banyaknya zat yang qadim; karena Allah Ta’ala menyifati diri-Nya dengan banyak sifat, padahal Dia adalah Yang Maha Esa dan Maha Tunggal.
3- Dalam firman Allah Ta’ala: “Dan Dia Maha Pengampun lagi Maha Pengasih” terdapat penetapan sifat cinta bagi Allah Ta’ala, dan ini termasuk sifat-sifat fi’liyah (perbuatan)-Nya; karena “wudd” adalah kasih sayang yang murni. Dan tidak boleh menafsirkan “mahabbah” (cinta) sebagai “tsawab” (pahala), karena hal itu bertentangan dengan zhahir lafazh, ijma’ (kesepakatan) para salaf, dan tidak ada dalil untuk itu.
4- Dalam firman Allah Ta’ala: “Maha Kuasa berbuat apa yang Dia kehendaki” terdapat penetapan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan memang demikianlah; karena Allah Ta’ala memiliki kehendak yang sempurna dan lengkap dalam penciptaan-Nya, bahkan dalam hal yang berkaitan dengan perbuatan makhluk. Tidak ada perbuatan manusia kecuali dengan kehendak Allah, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus * Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam” [At-Takwir: 28-29]; maka Allah menggantungkan kehendak mereka dengan kehendak-Nya Subhanahu wa Ta’ala.
5- Kata “iradah” (kehendak) dalam Kitab Allah Ta’ala terbagi menjadi dua jenis:
- Kehendak kauniyyah (penciptaan) yang mencakup seluruh makhluk, seperti firman-Nya: “Maha Kuasa berbuat apa yang Dia kehendaki”, dan firman-Nya: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri” [Al-Isra’: 16], dan firman-Nya: “Jika Allah hendak menyesatkan kamu” [Hud: 34], dan ayat-ayat yang serupa.
- Kehendak diniyyah (syariat) atau perintah yang tidak mengharuskan terjadinya apa yang dikehendaki, seperti firman-Nya: “Allah menghendaki kemudahan bagimu” [Al-Baqarah: 185], dan firman-Nya Tabaraka wa Ta’ala: “Dan Allah hendak menerima taubatmu” [An-Nisa’: 27].
6- Dalam firman Allah Ta’ala: “Maha Kuasa berbuat apa yang Dia kehendaki” terdapat bantahan terhadap golongan Mu’tazilah yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menghendaki kejahatan.” Ayat ini menunjukkan bahwa semua perbuatan hamba adalah ciptaan Allah Ta’ala.
7- Firman Allah Ta’ala: “Maha Kuasa berbuat apa yang Dia kehendaki” merupakan dalil atas beberapa hal:
Pertama: Bahwa Allah Subhanahu berbuat dengan kehendak dan keinginan-Nya.
Kedua: Bahwa Allah selamanya seperti itu; karena Dia menyebutkan hal itu dalam konteks pujian dan sanjungan untuk diri-Nya, dan itu termasuk kesempurnaan-Nya Subhanahu. Maka tidak boleh Dia tidak memiliki kesempurnaan ini pada suatu waktu. Allah Ta’ala telah berfirman: “Maka apakah (Allah) yang menciptakan sama dengan yang tidak dapat menciptakan (sesuatu)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” [An-Nahl: 17]. Dan apa yang termasuk sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan-Nya tidak mungkin baru terjadi setelah sebelumnya tidak ada.
Ketiga: Bahwa jika Allah menghendaki sesuatu, Dia melakukannya; karena kata “ma” adalah kata penghubung yang umum, artinya: Dia melakukan semua yang Dia ingin lakukan. Ini berkaitan dengan kehendak-Nya terhadap perbuatan-Nya sendiri. Adapun kehendak-Nya yang berkaitan dengan perbuatan hamba, itu memiliki urusan lain; jika Dia menghendaki perbuatan hamba tetapi tidak menghendaki dari diri-Nya untuk menolongnya dan menjadikannya sebagai pelaku, maka perbuatan itu tidak akan terjadi meskipun Dia menghendakinya, sampai Dia menghendaki dari diri-Nya untuk menjadikan hamba itu sebagai pelaku.
Keempat: Bahwa perbuatan dan kehendak Allah Subhanahu saling terkait; apa yang Dia ingin lakukan, Dia lakukan, dan apa yang Dia lakukan, Dia pasti menghendakinya. Berbeda dengan makhluk; karena makhluk menginginkan apa yang tidak ia lakukan, dan terkadang melakukan apa yang tidak ia inginkan. Maka tidak ada yang Maha Kuasa berbuat apa yang Dia kehendaki kecuali Allah semata.
Kelima: Penetapan beberapa kehendak yang berbeda sesuai dengan perbuatan, dan bahwa setiap perbuatan memiliki kehendak khusus. Inilah yang masuk akal dalam fitrah, dan inilah yang dipahami manusia tentang kehendak. Jadi, urusan Allah Ta’ala adalah selalu berkehendak dan melakukan apa yang Dia kehendaki.
Keenam: Bahwa segala sesuatu yang sah untuk terkait dengan kehendak-Nya, maka boleh Dia lakukan; jika Dia berkehendak untuk turun setiap malam ke langit dunia, dan untuk datang pada hari kiamat untuk memutuskan perkara, dan untuk memperlihatkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya, dan untuk menampakkan diri kepada mereka sesuai dengan yang Dia kehendaki, dan untuk berbicara dengan mereka, dan tersenyum kepada mereka, dan hal-hal lain yang Dia kehendaki Subhanahu – maka tidak ada yang menghalangi-Nya untuk melakukannya; karena Dia Maha Kuasa berbuat apa yang Dia kehendaki. Kebenaran hal ini bergantung pada pemberitahuan dari Yang Maha Benar tentangnya. Jika Dia memberitahukannya, maka wajib membenarkannya, dan penolakan terhadapnya adalah penolakan terhadap kesempurnaan yang Dia beritahukan tentang diri-Nya, dan ini adalah kebatilan. Begitu juga, jika dimungkinkan kehendak-Nya Subhanahu untuk menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki; maka dimungkinkan perbuatan-Nya, dan kehendak serta perbuatan itu merupakan konsekuensi dari kesempurnaan-Nya yang suci.
8- Surah yang mulia ini – meskipun singkat – mencakup aspek tauhid berikut: menggambarkan Allah dengan kemuliaan yang mengandung kekuasaan, kekuatan, dan ketiadaan tandingan-Nya; pujian yang mencakup sifat-sifat kesempurnaan dan kesucian dari segala yang bertentangan; kecintaan-Nya, ketuhanan-Nya, dan kekuasaan-Nya atas langit dan bumi yang menunjukkan kesempurnaan kekayaan dan luasnya kerajaan-Nya; kesaksian-Nya atas segala sesuatu yang menunjukkan pengetahuan-Nya yang menyeluruh tentang hal-hal yang tampak dan tersembunyi; jangkauan penglihatan-Nya terhadap semua yang terlihat, pendengaran-Nya terhadap semua yang terdengar, dan pengetahuan-Nya tentang segala hal; penggambaran-Nya dengan siksaan yang dahsyat yang menunjukkan kesempurnaan kekuatan, kemuliaan, dan kekuasaan-Nya; kesendirian-Nya dalam menciptakan dan mengembalikan yang menunjukkan keesaan rububiyah-Nya; pengaturan-Nya terhadap makhluk dengan penciptaan dan pengembalian, dan ketundukan mereka terhadap kekuasaan-Nya, sehingga tidak ada yang dapat menentang-Nya; penggambaran-Nya dengan pengampunan yang menunjukkan kesempurnaan kemurahan, kebaikan, kekayaan dan rahmat-Nya; penggambaran-Nya sebagai Yang Maha Pengasih yang menunjukkan bahwa Dia dicintai oleh hamba-hamba-Nya dan Dia mencintai mereka; penggambaran-Nya sebagai Pemilik ‘Arsy yang tidak dapat diukur keagungannya kecuali oleh-Nya, dan bahwa ‘Arsy-Nya yang khusus tidak layak bagi selain-Nya untuk bersemayam di atasnya; penggambaran-Nya dengan kemuliaan yang menunjukkan luasnya ilmu, kekuasaan, kerajaan, kekayaan, kemurahan, kebaikan, dan kemurahan hati-Nya; dan bahwa Dia Maha Melakukan apa yang Dia kehendaki, yang menunjukkan kehidupan-Nya, pengetahuan-Nya, kekuasaan-Nya, kehendak-Nya, kebijaksanaan-Nya, dan sifat-sifat kesempurnaan-Nya yang lain. Maka surah ini adalah kitab tersendiri dalam dasar-dasar agama yang cukup bagi orang yang memahaminya; segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kitab kepada hamba-Nya, dan Maha Suci Dia yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya.
Balaghah ayat-ayat:
1- Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya azab Tuhanmu sangat keras” adalah permulaan yang ditujukan kepada Nabi Muhammad ﷺ; sebagai isyarat bahwa orang-orang kafir dari kaumnya akan mendapat bagian besar dari kandungannya, sebagaimana ditunjukkan oleh penggunaan sifat rububiyah dengan penambahan kata ganti yang merujuk kepada beliau ﷺ; maka ini adalah kalimat yang dimulai untuk menghibur Nabi ﷺ atas apa yang dia alami dari orang-orang kafir kaumnya. Atau ini adalah alasan untuk kandungan firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab neraka yang membakar” [Al-Buruj: 10], yaitu: karena azab Allah sangat keras terhadap orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang beriman kepada-Nya; maka posisi (sesungguhnya) dalam penjelasan ini menggantikan fa’ sebab. Kalimat ini dikuatkan dengan (sesungguhnya) dan lam. Dan siksaan: pengambilan dengan keras, dan digambarkan dengan kekerasan; untuk menunjukkan intensitas dan beratnya. Dan ucapan ditujukan kepada Nabi ﷺ; karena siksaan Allah terhadap orang-orang yang menfitnah orang-orang beriman adalah kemenangan bagi Nabi ﷺ, dan penguatan baginya.
2- Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya Dia yang memulai dan mengembalikan” kalimat ini cocok untuk menjadi permulaan awal, yang berpindah dari ancaman mereka dengan siksa akhirat ke ancaman siksa di dunia yang merupakan bagian dari siksaan Allah, yang menyusul ancaman siksa akhirat; karena hal itu lebih berkesan di hati orang-orang musyrik; karena mereka mengira bahwa mereka aman dari hukuman, karena mereka tidak percaya pada kebangkitan, maka mereka mengira mereka telah berhasil menikmati kehidupan dunia. Artinya: bahwa Allah menghukum mereka pada awal dan kembalinya, yaitu: di dunia dan akhirat. Dan ini cocok untuk menjadi alasan untuk kalimat “Sesungguhnya azab Tuhanmu sangat keras” [Al-Buruj: 12]; karena Yang memulai dan mengembalikan mampu menimpakan siksaan yang keras di dunia, yaitu: permulaan, dan di akhirat, yaitu: pengembalian siksaan. Dan ini cocok untuk menjadi gabungan bukti tentang kemungkinan kebangkitan, yaitu: Sesungguhnya Allah memulai penciptaan kemudian mengembalikannya. Dan objek dari kedua kata kerja “memulai” dan “mengembalikan” dihilangkan; untuk menunjukkan bahwa Dia memulai semua makhluk dan mengembalikan mereka semua, dan untuk tujuan umum keterkaitan kedua kata kerja dengan segala yang terjadi pada awalnya, dan dikembalikan setelah itu; sehingga mencakup permulaan penciptaan dan pengembaliannya, yaitu: kebangkitan, dan mencakup siksaan pertama di dunia, dan siksaan di akhirat, dan mencakup penciptaan generasi-generasi dan penggantian mereka setelah kehancuran para pendahulu mereka. Dalam pertimbangan-pertimbangan ini dari ancaman kepada orang-orang musyrik ada banyak makna; maka Dia menunjukkan dengan kekuasaan-Nya untuk memulai dan mengembalikan atas kerasnya siksaan-Nya, dan mengancam orang-orang kafir bahwa Dia akan mengembalikan mereka sebagaimana Dia memulai mereka untuk menghukum mereka; karena mereka tidak bersyukur atas nikmat permulaan, dan mendustakan pengembalian. Dan kata ganti “Dia” untuk penguatan, yaitu: untuk memastikan berita, dan tidak ada tempat untuk pembatasan di sini; karena tidak ada dalam konteks ini bantahan terhadap orang yang mengklaim bahwa selain Allah yang memulai dan mengembalikan.
3- Firman Allah Ta’ala: “Dan Dia-lah Yang Maha Pengampun, Maha Pengasih * Yang mempunyai Arsy, lagi Maha Mulia * Maha Melaksanakan apa yang Dia kehendaki.”
- Firman-Nya: “Dan Dia-lah Yang Maha Pengampun, Maha Pengasih” dihubungkan dengan kalimat “Sesungguhnya azab Tuhanmu sangat keras” [Al-Buruj: 12], dan kandungannya adalah pembagian dari kandungan “Sesungguhnya azab Tuhanmu sangat keras”; karena ketika dijelaskan alasan kandungan kalimat “Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan” [Al-Buruj: 10] sampai akhirnya, maka sesuai untuk diimbangi dengan alasan kandungan kalimat “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga” [Al-Buruj: 11] sampai akhirnya, maka dijelaskan dengan firman-Nya: “Dan Dia-lah Yang Maha Pengampun, Maha Pengasih”, yaitu Dia mengampuni orang-orang yang bertaubat, beriman, dan beramal saleh atas kesalahan mereka yang telah lalu, dan Dia mencintai orang-orang yang bertaubat dan mengasihi mereka.
- “Al-Wadud” (Maha Pengasih) adalah bentuk intensif dari “Al-Wadd” (yang mengasihi).
- Dan Allah mengkhususkan ‘Arsy dalam firman-Nya: “Yang mempunyai Arsy, lagi Maha Mulia” dengan menisbatkan diri-Nya untuk memuliakan ‘Arsy, dan sebagai peringatan bahwa itu adalah makhluk terbesar, dan karena itu adalah makhluk yang paling khusus dalam kedekatannya dengan-Nya Ta’ala.
- Dan hal itu diakhiri dengan sifat yang mencakup keagungan Zat-Nya dan keagungan nikmat-nikmat-Nya dengan firman-Nya: “Maha Melaksanakan apa yang Dia kehendaki”, yaitu: jika kehendak-Nya terkait dengan suatu perbuatan, maka Dia melakukannya dengan cara yang paling sempurna sesuai kehendak-Nya, tidak ada yang kurang darinya, dan tidak ada yang memperlambat apa yang Dia ingin percepat; maka bentuk intensif dalam firman-Nya: “Fa”aalun” (Maha Melaksanakan) untuk menunjukkan banyaknya dalam kuantitas dan kualitas.
- Dan firman-Nya: “Fa”aalun” adalah khabar dari mubtada’ yang dihilangkan, dan Dia memisahkannya – yaitu: tidak menghubungkannya dengan yang sebelumnya – karena ini seperti kesimpulan dari sifat-sifat sebelumnya dan penutup untuknya. Dan penggunaan bentuk nakirah (tidak tentu) untuk menunjukkan keagungan, yang membuat semua dugaan dan akal menjadi tidak berarti di hadapannya.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
﴿هَلْ اَتٰىكَ حَدِيْثُ الْجُنُوْدِۙ ١٧ فِرْعَوْنَ وَثَمُوْدَۗ ١٨ بَلِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِيْ تَكْذِيْبٍۙ ١٩ وَّاللّٰهُ مِنْ وَّرَاۤىِٕهِمْ مُّحِيْطٌۚ ٢٠ بَلْ هُوَ قُرْاٰنٌ مَّجِيْدٌۙ ٢١ فِيْ لَوْحٍ مَّحْفُوْظٍ ࣖ ٢٢ ﴾
Gharib al-Kalimat (Kosa Kata yang Asing):
Muhith: Artinya: Yang Maha Mengetahui tentang mereka, dan Maha Kuasa atas mereka, mereka tidak dapat melemahkan-Nya dan tidak dapat lolos dari-Nya. Asal kata (hawth) menunjukkan sesuatu yang mengelilingi sesuatu.
Makna Umum:
Allah Ta’ala berfirman untuk menjelaskan apa yang menunjukkan kerasnya siksaan-Nya: “Apakah telah sampai kepadamu -wahai Muhammad- berita tentang bala tentara yang Allah telah hukum dan binasakan; Fir’aun dan Tsamud?! Orang-orang kafir Quraisy tidak mengambil pelajaran dari apa yang menimpa Fir’aun dan Tsamud, bahkan mereka terus mendustakan Al-Qur’an, kebangkitan, dan perhitungan, padahal Allah Maha Mengetahui perbuatan mereka, dan akan membalas mereka karenanya. Kemudian Allah membantah para pendustakan Al-Qur’an, dengan berfirman: “Bahkan ini adalah Al-Qur’an yang agung, dengan makna, ilmu, dan petunjuk yang luas, sempurna sifat-sifatnya, banyak kebaikan dan keberkahan, yang berada di Lauh Mahfuzh yang terlindungi dari perubahan dan penggantian, dan dari jangkauan setan kepadanya.”
Tafsir Ayat:
“Sudahkah sampai kepadamu berita tentang bala tentara?” (17)
Hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah Ta’ala menyebutkan kisah-kisah para penghuni parit dan menjelaskan keadaan mereka, serta menggambarkan bagaimana mereka menyakiti orang-orang beriman – Dia melanjutkan dengan penjelasan bahwa keadaan orang-orang kafir di setiap zaman juga seperti itu.
“Sudahkah sampai kepadamu berita tentang bala tentara?” (17)
Artinya: Apakah telah sampai kepadamu -wahai Muhammad- berita tentang bala tentara yang Allah telah hukum dan binasakan karena kekufuran mereka kepada Allah dan rasul-rasul-Nya?
“(Yaitu) Fir’aun dan Tsamud” (18)
Artinya: Fir’aun yang mendustakan, dia dan kaumnya, terhadap Musa alaihissalam, dan kaum Tsamud yang mendustakan nabi mereka, Shalih alaihissalam. Sebagaimana Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah, dan Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak)” [Al-Fajr: 9-10].
“Bahkan orang-orang kafir (terus menerus) dalam keadaan mendustakan” (19)
Artinya: Orang-orang kafir Quraisy tidak mengambil pelajaran dari apa yang menimpa Fir’aun dan Tsamud; sifat permanen dan kebiasaan berkelanjutan mereka adalah pendustaan keras terhadap Al-Qur’an, kebangkitan, surga dan neraka. Mereka tenggelam dalam hal itu; karena kekerasan kepala mereka dan mengikuti hawa nafsu mereka. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Tetapi orang-orang yang zalim mengikuti hawa nafsu mereka tanpa ilmu” [Ar-Rum: 29]. Dan Allah Subhanahu berfirman: “Tetapi orang-orang yang kafir (berada) dalam kesombongan dan permusuhan” [Shad: 2]. Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Bahkan orang-orang yang kafir selalu mendustakan” [Al-Insyiqaq: 22].
“Dan Allah mengepung mereka dari belakang.” (20)
Hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya: Setelah Allah Subhanahu menenangkan hati Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menceritakan keadaan umat-umat terdahulu dalam hal ini, Dia menghiburnya kemudian dari sisi lain, dengan berfirman:
“Dan Allah mengepung mereka dari belakang.” (20)
Artinya: Dan Allah Maha Mengetahui perbuatan mereka, dan akan membalas mereka karenanya; mereka berada dalam genggaman-Nya, dan Dia Maha Kuasa untuk mengazab mereka, mereka tidak dapat melemahkan-Nya.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan Allah meliputi orang-orang kafir” [Al-Baqarah: 19]. Dan Allah Subhanahu berfirman: “Dan Allah meliputi apa yang mereka kerjakan” [Al-Anfal: 47]. Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Sungguh, Tuhanmu benar-benar mengawasi” [Al-Fajr: 14].
“Bahkan ia (yang mereka dustakan itu) ialah Al-Qur’an yang mulia.” (21)
Hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya: Keterkaitan ayat ini dengan ayat sebelumnya adalah bahwa Al-Qur’an ini mulia dan terjaga dari perubahan dan pergantian, maka ketika di dalamnya ditetapkan kebahagiaan suatu kaum dan kesengsaraan kaum lain, dan penderitaan suatu kaum dari kaum lain; maka tidak mungkin terjadi perubahan dan pergantian; oleh karena itu wajib untuk menerimanya, dan tidak diragukan lagi bahwa ini adalah salah satu bentuk penghiburan terbesar.
Dan juga, ketika Allah menyebutkan bahwa mereka berada dalam pendustaan, dan bahwa pendustaan telah meliputi mereka hingga menjadi seperti wadah bagi mereka, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah didustakan oleh mereka dan mereka juga mendustakan apa yang dibawanya -yaitu Al-Qur’an-; maka Allah Ta’ala memberitakan tentang apa yang dibawa oleh Nabi yang mereka dustakan, dengan berfirman:
“Bahkan ia (yang mereka dustakan itu) ialah Al-Qur’an yang mulia.” (21)
Artinya: Tidaklah masalah ini seperti yang diklaim oleh orang-orang kafir tentang Al-Qur’an, tetapi ini adalah Al-Qur’an yang agung, dengan makna, ilmu, dan petunjuk yang luas, sempurna sifat-sifatnya, banyak kebaikan dan keberkahan.
“Yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.” (22)
Hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya: Setelah Allah menggambarkan Al-Qur’an dengan sifat yang menolak adanya keraguan terhadapnya; Dia menggambarkan tempatnya di alam tertinggi untuk memberitahukan bahwa tidak ada yang dapat mengubahnya; maka Allah Ta’ala berfirman:
“Yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.” (22)
Qiraat (Bacaan) yang Berpengaruh pada Tafsir:
- Qiraat: “Mahfuzhun” dengan dhammah pada huruf zha’, sebagai sifat bagi Al-Qur’an, artinya: Al-Qur’an yang terjaga.
- Qiraat: “Mahfuzhin” dengan kasrah pada huruf zha’, sebagai sifat bagi Lauh, artinya: Al-Qur’an berada dalam Lauh Mahfuzh (Papan yang Terjaga).
“Yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.” (22)
Artinya: Al-Qur’an ditulis dalam lembaran yang terjaga dan terlindungi dari perubahan dan penggantian, penambahan dan pengurangan, dan terjaga serta selamat dari jangkauan setan kepadanya.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia * dalam Kitab yang terjaga (Lauh Mahfuzh) * tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan” [Al-Waqi’ah: 77-79].
Pelajaran Pendidikan:
1- Allah Ta’ala berfirman: “Sudahkah sampai kepadamu berita tentang bala tentara? (Yaitu) Fir’aun dan Tsamud.”
Dari berita tentang Fir’aun dan Tsamud terdapat dua manfaat:
- Pertama: Menghibur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menguatkan beliau, bahwa Allah yang telah menolong rasul-rasul-Nya sebelumnya akan mendukung, menolong, dan memperkuat beliau. Ini tidak diragukan lagi dapat menguatkan tekad dan mempertajam semangat dalam berdakwah kepada Allah dan menyampaikan risalah-Nya.
- Kedua: Ancaman dan peringatan keras bagi Quraisy yang mendustakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengintai beliau, bahwa mereka tidaklah lebih kuat dari Fir’aun dan Tsamud, namun demikian kehancuran dan kebinasaan menimpa mereka, dan kata azab telah jatuh atas mereka.
2- Allah Ta’ala mengakhiri surah yang mulia ini dengan menyebutkan tindakan dan hukuman-Nya terhadap orang-orang yang menyekutukan-Nya dan mendustakan rasul-rasul-Nya; sebagai peringatan bagi hamba-hamba-Nya agar tidak mengikuti jalan mereka, dan bahwa siapa yang melakukan perbuatan seperti mereka akan diperlakukan sebagaimana mereka diperlakukan.
3- Allah Ta’ala memberitakan tentang musuh-musuh-Nya bahwa mereka mendustakan keesaan-Nya dan risalah-risalah-Nya meskipun mereka berada dalam genggaman-Nya, dan Dia meliputi mereka! Tidak ada yang lebih buruk keadaannya daripada orang yang memusuhi Yang dalam genggaman-Nya dia berada, dan Yang berkuasa atasnya dari segala segi dan pertimbangan! Allah berfirman: “Bahkan orang-orang kafir (terus menerus) dalam keadaan mendustakan. Dan Allah mengepung mereka dari belakang.” Adakah yang lebih mengherankan daripada orang yang mengingkari Yang meliputi dirinya, Yang memegang ubun-ubunnya, Yang berkuasa atasnya?!
4- Allah Ta’ala berfirman: “Bahkan ia (yang mereka dustakan itu) ialah Al-Qur’an yang mulia.”
Penggambaran Al-Qur’an sebagai “majid” (mulia) tidak hanya berarti bahwa kemuliaan adalah sifat Al-Qur’an saja, tetapi juga sifat bagi siapa yang membawa Al-Qur’an ini dan mengembannya, serta melaksanakan kewajibannya dengan membacanya dengan sebenar-benarnya; maka bagi mereka akan ada kemuliaan, keagungan, dan ketinggian derajat.
Siapa yang berpegang teguh pada Al-Qur’an yang agung ini, maka baginya kemuliaan, keagungan, kehormatan, dan ketinggian derajat. Oleh karena itu, umat Islam – individu dan pemimpinnya – seharusnya berpegang teguh pada Al-Qur’an yang agung, dan tidak tertipu oleh kemewahan palsu yang datang dari bangsa-bangsa kafir, sehingga mereka membuang Kitab Allah Ta’ala dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam ke belakang punggung mereka! Demi Allah, ini adalah sebab kemunduran, karena umat Islam kita tidak mengalami kemunduran seperti ini kecuali karena meninggalkan apa yang menjadi sumber kemuliaan dan kehormatan mereka, yaitu berpegang teguh pada Al-Qur’an yang agung ini!
Manfaat Ilmiah dan Hikmah:
1- Dalam firman Allah Ta’ala: “Sudahkah sampai kepadamu berita tentang bala tentara? (Yaitu) Fir’aun dan Tsamud” terdapat pertanyaan tentang penggabungan kata “bala tentara” dengan kata “Fir’aun”; karena Fir’aun bukanlah tentara, tetapi seorang individu!
Jawabannya: Yang dimaksud dengan “Fir’aun” adalah dia dan kaumnya, cukup dengan menyebut namanya saja; karena mereka adalah pengikutnya dan berada di bawah ketaatannya.
2- Dalam firman Allah Ta’ala: “Sudahkah sampai kepadamu berita tentang bala tentara? (Yaitu) Fir’aun dan Tsamud” terdapat kemiripan dan kesamaan dalam pemilihan Fir’aun di sini setelah kisah para penghuni parit; karena Fir’aun melampaui batas dan mengaku sebagai tuhan seperti raja penghuni parit yang berkata kepada rekannya: “Apakah kamu memiliki tuhan selain aku?!” Dan karena penyiksaannya terhadap Bani Israel dengan membunuh anak-anak laki-laki dan membiarkan hidup anak-anak perempuan: “Dan dalam yang demikian itu terdapat cobaan yang besar dari Tuhanmu” [Al-Baqarah: 49].
Juga karena Musa alaihissalam menunjukkan kepada Fir’aun tanda-tanda besar dari Tuhannya; namun Fir’aun mendustakan dan membangkang. Demikian pula, pemuda (dalam kisah Ashabul Ukhdud) menunjukkan kepada raja tanda-tanda besar: menyembuhkan orang buta dan penderita kusta dengan izin Allah, dan ketidakmampuan Fir’aun menangkap Musa, serta ketidakmampuan raja membunuh pemuda itu; karena Allah menyelamatkannya dari tenggelam dan jatuh dari puncak gunung.
Seharusnya hal ini membuat raja tersadar dan menyadari kebenaran, tetapi kekuasaannya membutakannya seperti halnya Fir’aun. Demikian pula, para pesihir beriman ketika melihat mukjizat Musa, dan bersujud kepada Allah, begitu juga dalam kisah ini orang-orang beriman kepada Tuhan sang pemuda; maka raja jatuh dalam keadaan yang sama seperti Fir’aun.
Fir’aun mengumpulkan para pesihir agar orang-orang menyaksikan kelemahan Musa dan kekuatannya sendiri, tetapi situasi berbalik melawannya, dan justru orang-orang pertama yang beriman adalah para pendukung Fir’aun melawan Musa. Demikian pula dalam kisah ini, orang-orang yang paling cepat beriman adalah mereka yang dikumpulkan raja untuk menyaksikan pembunuhan pemuda tersebut!
Maka jelaslah kesesuaian penyebutan Fir’aun dibandingkan umat-umat zalim lainnya yang terdahulu, meskipun dalam semua kisah terdapat pelajaran dan hikmah, tetapi ini merupakan puncak kemukjizatan dalam kisah-kisah Al-Qur’an dan gayanya.
3- Dalam firman Allah Ta’ala: “Bahkan orang-orang kafir (berada) dalam keadaan mendustakan”, menjelaskan bahwa kondisi orang-orang beriman dengan orang-orang kafir di sepanjang masa terus berlangsung mengikuti pola ini.
4- Dalam firman Allah Ta’ala: “Dan Allah mengepung mereka dari belakang”, merupakan ancaman keras bagi orang-orang kafir tentang azab dari Dia yang memiliki kekuasaan atas mereka dan di bawah pengaturan-Nya.
5- Dalam firman Allah Ta’ala: “Bahkan, ia adalah Al-Qur’an yang mulia, dalam Lauh Mahfuzh” artinya: terpelihara dari perubahan, penambahan dan pengurangan, serta terjaga dari setan-setan. Ini adalah Lauh Mahfuzh yang Allah telah menetapkan segala sesuatu di dalamnya, dan ini menunjukkan keagungan Al-Qur’an, kekuatannya, dan ketinggian kedudukannya di sisi Allah Ta’ala.
6- Dalam firman Allah Ta’ala: “Bahkan, ia adalah Al-Qur’an yang mulia, dalam Lauh Mahfuzh” terdapat isyarat bahwa setan-setan tidak mungkin dapat menurunkannya, karena tempatnya terjaga sehingga mereka tidak dapat mencapainya, dan Al-Qur’an itu sendiri terjaga sehingga setan tidak mampu menambah atau menguranginya. Allah Subhanahu menyifatinya sebagai terpelihara dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” [Al-Hijr: 9], dan menyifati tempatnya dengan pemeliharaan dalam surah ini. Allah Subhanahu memelihara tempatnya, menjaganya dari penambahan, pengurangan dan perubahan, serta memelihara makna-maknanya dari penyimpangan sebagaimana memelihara lafaz-lafaznya dari perubahan, dan menegakkan baginya siapa yang menjaga huruf-hurufnya dari penambahan dan pengurangan, serta makna-maknanya dari penyimpangan dan perubahan.
7- Allah Ta’ala menyifati firman-Nya sebagai mulia – dan Dia paling berhak atas kemuliaan dari segala perkataan – sebagaimana pembicara dengannya memiliki segala kemuliaan, maka Dia Yang Maha Mulia, firman-Nya mulia, dan Arsy-Nya mulia.
Keindahan Ayat-ayat (Balaghah):
1- Firman Allah Ta’ala: “Sudahkah datang kepadamu berita tentang pasukan-pasukan, (yaitu) Fir’aun dan Tsamud” – Firman-Nya: “Sudahkah datang kepadamu berita tentang pasukan-pasukan” merupakan penjelasan yang menegaskan dahsyatnya siksaan Allah Ta’ala terhadap orang-orang zalim yang durhaka, orang-orang kafir dan pembangkang, dan bahwa Dia Maha Melakukan apa yang Dia kehendaki. Ini juga mengandung hiburan bagi Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam) dengan memberi isyarat bahwa kaumnya akan mengalami apa yang telah dialami oleh pasukan-pasukan tersebut. Artinya: “Apakah telah sampai kepadamu wahai Muhammad berita tentang pasukan-pasukan kafir yang mendustakan para nabi mereka?” Maka khitab (pembicaraan) ini ditujukan kepada Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam) sebagai bukti bahwa siksaan Allah Ta’ala itu sangat keras, ditunjukkan dengan dua siksaan yang ditimpakan-Nya kepada Fir’aun dan Tsamud, setelah menjelaskan alasannya dengan firman-Nya: “Sesungguhnya Dia yang memulai penciptaan dan yang mengembalikannya” [Al-Buruj: 13]; maka itu adalah alasan, dan ini adalah perumpamaan dan bukti.
- Dan juga firman-Nya: “Sudahkah datang kepadamu berita tentang pasukan-pasukan” merupakan konfirmasi keadaan orang-orang kafir, artinya: “Sungguh telah datang kepadamu berita tentang mereka, dan apa yang terjadi pada mereka bersama para nabi mereka, dan siksaan yang menimpa mereka karena pendustaan mereka, demikian pula akan menimpa kaum Quraisy azab seperti yang telah menimpa mereka.”
Kata “Hal” (apakah) dalam firman-Nya: “Sudahkah datang kepadamu berita tentang pasukan-pasukan” dikatakan bermakna “Qad” (sungguh), dan mengandung makna takjub; sebagaimana ditunjukkan oleh “Tetapi orang-orang kafir (tetap) dalam keadaan mendustakan”; untuk menunjukkan peningkatan dari ketakjuban ke ketakjuban pada sanggahan pertama, dan peningkatan dari pendustaan ke pendustaan pada sanggahan kedua; maka perkara mereka lebih mengherankan daripada perkara Fir’aun dan Tsamud; karena mereka telah mendengar kisah-kisah mereka dan apa yang telah menimpa mereka, dan melihat bekas-bekas kehancuran mereka; namun mereka tidak mengambil pelajaran, dan mereka mendustakan lebih keras dari pendustaan mereka (Fir’aun dan Tsamud).
Pertanyaan di sini digunakan untuk menunjukkan kehebatan berita tentang pasukan-pasukan itu sehingga ditanyakan tentang pengetahuannya, dan di dalamnya terdapat sindiran kepada orang-orang musyrik bahwa mereka mungkin akan ditimpa seperti yang menimpa orang-orang terdahulu. Pembicaraan ini ditujukan kepada orang yang tidak tertentu dari kalangan orang-orang musyrik yang hendak dinasihati – menurut suatu pendapat – sebagai kiasan untuk mengingatkan berita tentang mereka; karena keadaan orang-orang yang melakukan seperti perbuatan mereka, yang keras kepala dalam pembangkangan, seperti keadaan orang yang tidak mengetahui berita mereka, sehingga ditanyakan: “Apakah telah sampai kepadanya berita mereka atau tidak?” Atau ditujukan kepada orang yang tidak tertentu, sebagai ungkapan ketakjuban terhadap keadaan orang-orang musyrik yang berpaling dari mengambil pelajaran dari hal itu; maka pertanyaan itu digunakan untuk menunjukkan ketakjuban.
- Dan dalam firman-Nya: “Sudahkah datang kepadamu berita tentang pasukan-pasukan, (yaitu) Fir’aun dan Tsamud”, kata “Fir’aun dan Tsamud” menjadi badal (pengganti) dari “pasukan-pasukan” sebagai badal yang sesuai; karena yang dimaksud dengan “Fir’aun” adalah dia dan kaumnya, dan karena yang dimaksudkan adalah pelajaran dari mereka. Kalimat ini mengandung penghapusan mudhof (yang disandarkan); karena Fir’aun bukan pasukan, tetapi dia adalah mudhof ilaih (yang disandarkan kepadanya) dari pasukan yang mendustakan Musa (alaihissalam) dan menyakitinya; maka mudhof dihapus untuk alasan keserasian antara dua nama yang mufrad (tunggal) dalam badal dari “pasukan-pasukan”.
- Dan Allah meringkas apa yang terjadi pada Fir’aun dan Tsamud; karena mereka telah disebutkan dalam banyak surah dalam Al-Qur’an Al-Karim. Allah menyebutkan Tsamud karena kisah mereka terkenal di negeri Arab, dan itu lebih dahulu, dan menyebutkan Fir’aun karena kisahnya terkenal di kalangan Ahli Kitab, dan juga di kalangan orang Arab Jahiliah.
Dan juga pengkhususan Tsamud dengan penyebutan dari sisa umat-umat yang mendustakan para rasul dari kalangan Arab seperti: ‘Ad dan kaum Tubba’, dan dari selain mereka seperti: kaum Nuh dan kaum Syu’aib; dikatakan: karena tuntutan fasilah (akhiran ayat) yang berakhir dengan huruf dal dari firman-Nya: “Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras” [Al-Buruj: 12]; karena ketika fasilah menjadi sesuai dengannya dan tidak ada pemaksaan dalam penyebutannya, maka itu termasuk keindahan susunan kalam yang lebih diutamakan. Dan ada pendapat lain selain itu.
2- Firman Allah Ta’ala: “Bahkan orang-orang kafir (tetap) dalam keadaan mendustakan. Dan Allah mengepung mereka dari belakang.” – Firman-Nya: “Bahkan orang-orang kafir (tetap) dalam keadaan mendustakan” merupakan penolakan terhadap persamaan antara orang-orang kafir Quraisy dengan kaum Fir’aun dan Tsamud, dan penjelasan bahwa mereka lebih keras dalam kekufuran dan kedurhakaan, seolah-olah dikatakan: Mereka tidak seperti mereka dalam hal itu, tetapi mereka lebih keras dalam hal kelayakan mendapatkan azab dan balasan hukuman; karena mereka tetap dalam pendustaan yang keras terhadap Al-Qur’an Al-Karim, atau dikatakan: Kesalahan mereka bukan sekadar tidak mengingat dan tidak mengambil pelajaran dari apa yang mereka dengar tentang kisah mereka (Fir’aun dan Tsamud), tetapi mereka juga mendustakan dengan keras Al-Qur’an yang menyatakan hal itu, namun bukan berarti mereka mendustakan terjadinya peristiwa tersebut, melainkan mendustakan bahwa apa yang dinyatakan itu adalah Al-Qur’an dari sisi Allah Ta’ala, padahal perkaranya sudah jelas, dan keadaannya sudah nyata dengan bukti-bukti yang terang!
Maka ini adalah penolakan yang beralih pada pemalingan mereka dari mengambil pelajaran dari keadaan umat-umat yang telah mendustakan para rasul; yaitu bahwa mereka terus-menerus dalam pendustaan, tenggelam di dalamnya seperti tenggelamnya sesuatu yang dimasukkan ke dalam wadah, sehingga kuatnya pendustaan dalam jiwa mereka seperti kuatnya wadah dengan isinya. Dan ini mengisyaratkan bahwa pendustaan yang meliputi mereka seperti wadah yang meliputi isinya, tidak memberikan kesempatan bagi akal mereka untuk mengingat apa yang telah menimpa umat-umat yang serupa dengan mereka; oleh karena itu, Allah tidak berfirman di sini: “Bahkan orang-orang kafir (tetap) dalam keadaan mendustakan”, sebagaimana firman-Nya dalam surah Al-Insyiqaq.
- Dan objek pendustaan di sini dihilangkan; karena sudah jelas dari konteksnya; dimana perkiraannya adalah: mereka dalam keadaan mendustakan Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam), dan wahyu yang diturunkan kepadanya, dan kebangkitan.
- Dan kalimat “Dan Allah mengepung mereka dari belakang” merupakan ‘athof (sambungan) pada kalimat “orang-orang kafir (tetap) dalam keadaan mendustakan”, artinya: mereka kukuh dalam pendustaan, dan Allah akan menimpakan kepada mereka azab yang tidak bisa mereka hindari. Dan balasan atas pendustaan yang meliputi orang-orang kafir dibalas dengan azab yang meliputi mereka sebagai balasan yang setimpal; maka firman-Nya: “Dan Allah mengepung mereka dari belakang” adalah khabar (informasi) yang digunakan untuk ancaman dan peringatan keras.
3- Firman Allah Ta’ala: “Bahkan, Al-Qur’an itu adalah (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.” – Firman-Nya: “Bahkan, Al-Qur’an itu adalah (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh” merupakan penolakan untuk membatalkan; sebagai penolakan atas kekufuran mereka, pembatalan terhadap pendustaan mereka, dan penegasan kebenaran; karena Al-Qur’an telah datang kepada mereka dengan dalil-dalil yang jelas, maka ketetapan mereka dalam pendustaan muncul dari buruknya keyakinan mereka terhadap Al-Qur’an; ketika mereka menyifatinya dengan sifat-sifat kekurangan seperti perkataan mereka: “dongengan orang-orang terdahulu”, “kebohongan yang diada-adakan”, “perkataan dukun”, “perkataan penyair”…; maka pujian terhadapnya mencakup pembatalan semua kebohongan mereka dengan cara yang ringkas.
- Dan pemberitaan tentang wahyu yang diturunkan kepada Muhammad (shalallahu ‘alaihi wa sallam) dengan nama “Qur’an”, merupakan isyarat yang dipahami bahwa itu adalah wahyu, sebagai sindiran untuk membatalkan apa yang diada-adakan oleh para pendusta bahwa itu adalah dongengan orang-orang terdahulu, atau perkataan dukun, atau yang semisalnya.
- Dan menurut bacaan mayoritas (qira’at jumhur) kata “Mahfuzh” dibaca jar (kasrah), sebagai sifat dari “Lauh”, dan penjagaan Lauh yang di dalamnya terdapat Al-Qur’an adalah kiasan dari penjagaan Al-Qur’an. Nafi’ sendiri membacanya dengan rafa’ (dhommah) “Mahfuzh”, sebagai sifat kedua untuk “Qur’an”, dan firman-Nya: “dalam Lauh” berhubungan dengan “Mahfuzh”, dan penjagaan Al-Qur’an mengharuskan bahwa Lauh yang menyimpannya juga terjaga; maka tidak diragukan lagi bahwa dari dua bacaan tersebut ditetapkan penjagaan bagi Al-Qur’an dan bagi Lauh; adapun penjagaan Al-Qur’an adalah penjagaannya dari perubahan dan dari pencurian setan-setan, Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” [Al-Hijr: 9]. Adapun penjagaan Lauh adalah penjagaannya dari jangkauan selain malaikat, atau penjagaannya sebagai kiasan dari kesuciannya, seperti firman Allah Ta’ala: “Dalam Kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak ada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan” [Al-Waqi’ah: 78-79].
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
SURAH ATH-THARIQ
Perhatian: Setiap kalimat berikut memiliki rujukan ilmiah yang belum diterjemahkan. Bagi yang memerlukan, silakan merujuk langsung ke situs web aslinya dalam bahasa Arab di: https://dorar.net/tafseer/86
Nama-nama Surah:
Surah ini dinamakan “Surah Ath-Thariq”.
Surah ini juga dinamakan “As-Sama’ wa Ath-Thariq” (Langit dan yang datang pada malam hari); sebagaimana diriwayatkan dari Jabir bin Samurah Radhiyallahu ‘anhu yang berkata: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca dalam shalat Zhuhur dan Ashar surah ‘As-Sama’ wa Ath-Thariq’, dan ‘As-Sama’ dzatil Buruj’, serta surah-surah lain yang serupa.”
Keutamaan dan Keistimewaan Surah:
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya dalam shalat Zhuhur dan Ashar: sebagaimana dalam hadits Jabir bin Samurah Radhiyallahu ‘anhu yang telah disebutkan sebelumnya.
Penjelasan tentang Makkiyah dan Madaniyah:
Surah Ath-Thariq adalah Makkiyah (diturunkan di Mekkah), sebagaimana dinukil berdasarkan kesepakatan para mufassir (ahli tafsir).
Tujuan Surah:
Di antara tujuan penting surah ini adalah: Menegakkan bukti-bukti tentang kekuasaan Allah Ta’ala, menetapkan bahwa Al-Qur’an ini berasal dari sisi-Nya Subhanahu, dan bahwa kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.
Topik-topik Surah:
Di antara topik-topik penting yang terkandung dalam surah ini adalah:
- Sumpah bahwa setiap jiwa memiliki penjaga dari kalangan malaikat.
- Menegakkan bukti-bukti bahwa Allah Ta’ala mampu membangkitkan kembali.
- Mengangkat kedudukan Al-Qur’an Al-Karim, dan kebenaran apa yang disebutkan di dalamnya mengenai kebangkitan, serta menetapkan bahwa Al-Qur’an berasal dari sisi Allah Ta’ala.
- Peringatan keras kepada orang-orang musyrik, penguatan bagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan janji bahwa kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang beriman.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Ayat: 1-10
﴿وَالسَّمَاۤءِ وَالطَّارِقِۙ ١ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا الطَّارِقُۙ ٢ النَّجْمُ الثَّاقِبُۙ ٣ اِنْ كُلُّ نَفْسٍ لَّمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌۗ ٤ فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ ٥ خُلِقَ مِنْ مَّاۤءٍ دَافِقٍۙ ٦ يَّخْرُجُ مِنْۢ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَاۤىِٕبِۗ ٧ اِنَّهٗ عَلٰى رَجْعِهٖ لَقَادِرٌۗ ٨ يَوْمَ تُبْلَى السَّرَاۤىِٕرُۙ ٩ فَمَا لَهٗ مِنْ قُوَّةٍ وَّلَا نَاصِرٍۗ ١٠ ﴾
Makna Kosakata Sulit (Gharib Al-Kalimat):
- والطَّارِقِ: Yaitu: bintang atau planet yang muncul di malam hari dan tersembunyi di siang hari. Dikatakan: “Tharaqa-yathruqu-thuruqan”, artinya: datang di malam hari. Asal kata “tharq” menunjukkan kedatangan di waktu malam.
- الثَّاقِبُ: Yaitu: yang bercahaya dan bersinar terang. Dikatakan: “Tsaqaba an-najm” artinya bila bintang itu bersinar, dan asal kata “tsaqb” menunjukkan pada menembus sesuatu.
- مَاءٍ دَافِقٍ: Yaitu: yang memiliki pancaran, atau yang terpancar. “Ad-Dafq” adalah curahan yang disertai dorongan dan mengalir dengan cepat, yaitu air mani. Asal kata “dafq” menunjukkan pada mendorong sesuatu ke depan.
- الصُّلْبِ: Yaitu: punggung. Dikatakan: segala sesuatu dari punggung yang memiliki tulang belakang disebut “shulb”. Asal kata “shalb” di sini menunjukkan pada keras dan kuat. Punggung disebut “shulb” karena kekuatan, kekerasan, dan kekuatannya.
- وَالتَّرَائِبِ: Yaitu: tulang rusuk dada, dan tempat kalung di dada. Bentuk tunggalnya adalah “taribah”. Asal kata “tarb” di sini menunjukkan pada kesetaraan dua benda.
- تُبْلَى: Yaitu: diuji dan ditampakkan. Asal kata “balw” menunjukkan pada pengujian.
- السَّرَائِرُ: Yaitu: rahasia-rahasia hati berupa keyakinan, niat, dan amal-amal. Jamak dari “sarirah”. Asal kata “sarr” menunjukkan pada menyembunyikan sesuatu.
Analisis Gramatikal yang Sulit (Musykil Al-I’rab):
Firman Allah Ta’ala: إِنْ كُلُّ نَفْسٍ لَمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌ (Tidak ada satu jiwapun melainkan ada penjaga atasnya)
- إِنْ: Kata negasi
- كُلُّ: Mubtada’ (subjek)
- لَمَّا: Kata yang menunjukkan pembatasan, bermakna “kecuali”
- عَلَيْهَا: Jar majrur berhubungan dengan kata yang dihapus sebagai khabar (predikat) yang didahulukan
- حَافِظٌ: Mubtada’ (subjek) yang diakhirkan dan marfu’ (dibaca dhammah)
Kalimat عَلَيْهَا حَافِظٌ pada posisi rafa’ sebagai khabar (predikat) dari كُلُّ. Seluruh kalimat merupakan jawaban dari sumpah yang tidak memiliki posisi dalam i’rab.
Ayat ini juga dibaca إِنْ كُلُّ نَفْسٍ لَمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌ dengan meringankan “ma” pada لَمَّا. Maka إِنْ adalah yang diringankan dari yang berat, dan لَمَا: “lam” adalah pembeda dan “ma” adalah tambahan untuk penekanan. Maknanya: Sesungguhnya setiap jiwa pasti ada penjaga atasnya.
Makna Umum (Al-Ma’na Al-Ijmali):
Allah Ta’ala membuka surah yang mulia ini dengan bersumpah dengan langit dan bintang yang muncul pada malam hari, kemudian Allah Ta’ala berfirman: “Dan tahukah kamu -wahai Muhammad- apakah yang datang di malam hari itu?! Yaitu bintang yang bercahaya terang dan menembus; Aku bersumpah tidak ada seorang manusiapun kecuali atasnya ada malaikat-malaikat penjaga.”
Kemudian Allah Ta’ala memerintahkan manusia untuk memikirkan asal penciptaan dirinya, Allah berfirman: “Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa ia diciptakan?” Kemudian Allah menjawab pertanyaan ini dengan firman-Nya: “Dia diciptakan dari air mani yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada.”
Selanjutnya Allah Ta’ala menjelaskan kekuasaan-Nya untuk membangkitkan manusia setelah kematiannya, Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikan manusia hidup setelah kematiannya pada hari ketika rahasia-rahasia manusia diperlihatkan, dan apa yang mereka sembunyikan dari kebaikan dan keburukan, dan mereka akan dibalas atasnya. Maka manusia pada hari kiamat tidak memiliki kekuatan untuk menolak azab Allah, dan tidak ada penolong yang dapat menolongnya dan menyelamatkannya!”
Penjelasan Ayat-ayat:
- Demi langit dan yang datang pada malam hari. Artinya: Aku bersumpah demi langit, dan Aku bersumpah demi yang datang pada malam hari (at-Tariq) yang muncul di malam hari.
- Dan tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu? Artinya: Dan apa yang memberitahumu -wahai Muhammad- tentang at-Tariq yang Aku agungkan dengan bersumpah dengannya?
- Yaitu bintang yang cahayanya menembus. Artinya: Ia adalah bintang yang bersinar terang dan menembus.
- Tidak ada suatu jiwa pun melainkan ada penjaganya. Keterkaitan ayat dengan sebelumnya: Setelah menyebutkan objek sumpah, Allah melanjutkan dengan menyebutkan apa yang disumpahi. Tidak ada suatu jiwa pun melainkan ada penjaganya. Artinya: Tidak ada seorang manusia pun kecuali ada malaikat yang menjaganya. Sebagaimana Allah berfirman: “Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi, yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat, mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al-Infitar: 10-12]
- Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan. Keterkaitan ayat dengan sebelumnya: Setelah menyebutkan bahwa setiap jiwa memiliki penjaga, Allah melanjutkan dengan mewasiatkan manusia untuk memperhatikan asal usul penciptaannya, agar ia mengetahui bahwa Yang menciptakan dirinya mampu untuk menghidupkannya kembali dan memberikan balasan, sehingga ia beramal untuk itu, dan tidak mendiktekan kepada pencatatnya kecuali apa yang akan menyenangkannya pada akhirnya. Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan. Artinya: Hendaklah manusia memikirkan dari bahan apa Tuhannya menciptakannya. Sebagaimana Allah berfirman: “Binasalah manusia; alangkah ingkarnya dia! Dari apakah Allah menciptakannya?” [Abasa: 17-18]
- Dia diciptakan dari air yang terpancar. Artinya: Dia diciptakan dari air mani yang mengalir keluar dengan pancaran. Sebagaimana Allah berfirman: “Dia menciptakan manusia dari setetes mani.” [An-Nahl: 4]. Dan Allah berfirman: “Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan, dari air mani apabila dipancarkan.” [An-Najm: 45-46]
- Yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada. Artinya: Air ini – yang darinya Allah menciptakan manusia – keluar dari antara tulang punggung dan tulang dada.
- Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya. Keterkaitan ayat dengan sebelumnya: Ketika Sang Pencipta mampu mengumpulkan bagian-bagian yang terpisah hingga menciptakan manusia yang sempurna darinya, maka wajib dikatakan: Sesungguhnya setelah kematiannya dan terpisahnya bagian-bagiannya, Sang Pencipta pasti mampu mengumpulkan bagian-bagian tersebut dan menjadikannya makhluk yang sempurna seperti semula. Karena rahasia inilah, ketika Allah menjelaskan bukti-Nya tentang penciptaan awal, Dia juga menjelaskan bukti-Nya tentang kebenaran kebangkitan, maka Allah berfirman: Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya. Artinya: Sesungguhnya Allah Yang Maha Pencipta mampu mengembalikan manusia dalam keadaan hidup setelah kematiannya.
- Pada hari ditampakkan segala rahasia. Keterkaitan ayat dengan sebelumnya: Setelah Allah menegakkan bukti tentang kebenaran kebangkitan dan hari kiamat, Dia menggambarkan keadaan manusia pada hari tersebut, maka Allah berfirman: Pada hari ditampakkan segala rahasia. Artinya: Pada hari terungkapnya rahasia-rahasia manusia, sehingga tampak apa yang mereka sembunyikan dari kebaikan dan keburukan, dan mereka akan diberi balasan atas apa yang mereka layak terima berupa pahala dan hukuman. Sebagaimana Allah berfirman: “Di sanalah tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya dahulu.” [Yunus: 30]. Dan Allah berfirman: “Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada?” [Al-Adiyat: 9-10]
- Maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatan pun dan tidak (pula) seorang penolong. Keterkaitan ayat dengan sebelumnya: Karena penolakan di dunia bisa terjadi dengan kekuatan pada diri manusia sendiri atau dengan adanya penolong dari luar dirinya, maka Allah menafikan hal-hal yang dapat menolak (siksaan-Nya). Maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatan pun dan tidak (pula) seorang penolong. Artinya: Maka manusia pada hari kiamat tidak memiliki kekuatan untuk menolak azab Allah, dan tidak ada baginya penolong yang akan menolongnya dan menyelamatkannya. Sebagaimana Allah berfirman: “Tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya, ‘Kenapa kamu tidak tolong-menolong?’ Bahkan mereka pada hari itu menyerah diri.” [As-Saffat: 24-26]. Dan Allah berfirman: “Pada hari ketika seseorang tidak berdaya sedikit pun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.” [Al-Infitar: 19]
Pelajaran Pendidikan:
- Dalam firman Allah: “Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan” menunjukkan bahwa manusia wajib memperhatikan bahan dari mana ia diciptakan; sebagaimana firman Allah: “Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan.” Makna lahiriah Al-Qur’an menunjukkan bahwa memperhatikan hal tersebut adalah wajib, dan tidak ada dalil yang mengalihkan dari itu. Maka wajib atas setiap manusia untuk memperhatikan tahapan-tahapan penciptaannya dan sejarah tahapan tersebut, agar ia memahami akhirat, karena Allah telah memerintahkannya untuk itu.
- Perintah kepada manusia untuk memperhatikan dari apa ia diciptakan dalam firman Allah: “Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan” adalah peringatan baginya tentang kehinaan bahan dari mana ia diciptakan, agar ia mengetahui nilai dirinya, meninggalkan kesombongan dan keangkuhan. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah: “Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina?” [Al-Mursalat: 20]. Ayat ini mengandung nasihat bagi manusia, dan peringatan baginya untuk mengetahui penciptaannya, kelemahan susunannya, dan tentang apa yang menghilangkan faktor-faktor kesombongan dan keangkuhan dari dirinya, sehingga ia tidak menentang Penciptanya yang tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kebesaran dan keagungan, dan tidak meninggikan diri atas makhluk lain. Karena barangsiapa yang awal penciptaannya seperti ini, kemudian akhirnya menjadi hancur dan tulang belulang sampai Allah memperbarui penciptaannya dengan kebangkitan pada hari ketika Dia menghidupkan tulang-tulang yang rapuh dan jasad-jasad yang hancur, maka layak baginya untuk tidak berpisah dari kerendahan dan ketenangan dalam segala keadaan.
- Bahwa yang penting adalah memperhatikan kebaikan hati, karena hati adalah pusat perhitungan pada hari kiamat. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya. Pada hari ditampakkan segala rahasia,” artinya: diuji segala rahasia.
- Dalam firman Allah: “Pada hari ditampakkan segala rahasia” terdapat keindahan dalam mengungkapkan amal perbuatan sebagai rahasia, yaitu bahwa amal perbuatan adalah hasil dari rahasia-rahasia batin. Maka barangsiapa yang rahasianya baik, amal perbuatannya akan baik, sehingga rahasianya tampak pada wajahnya berupa cahaya, kecerahan, dan rasa malu. Dan barangsiapa yang rahasianya rusak, amal perbuatannya akan mengikuti rahasianya, tanpa memandang bentuk luarnya, sehingga rahasianya tampak pada wajahnya berupa hitamnya, kegelapan, dan aib. Jika yang tampak padanya di dunia hanyalah amalnya bukan rahasianya, maka pada hari kiamat rahasianya akan tampak, dan hukum serta penampakan adalah untuk rahasia tersebut!
- Dalam firman Allah: “Pada hari ditampakkan segala rahasia. Maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatan pun dan tidak (pula) seorang penolong” terdapat petunjuk bahwa tidak ada kekuatan bagi hamba pada hari itu, karena kekuatan manusia bisa jadi berasal dari dirinya sendiri atau diperoleh dari yang lain. Yang pertama dinafikan dengan firman Allah: “Maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatan pun,” dan yang kedua dinafikan dengan firman-Nya: “dan tidak (pula) seorang penolong.” Dan tidak diragukan bahwa ini adalah peringatan dan ancaman.
Pelajaran Ilmiah dan Keindahan
- Jarang sekali ada surat dalam Al-Qur’an kecuali di dalamnya terdapat penyebutan langit; baik sebagai pemberitahuan tentang keagungan dan keluasannya, atau sebagai sumpah dengannya, atau sebagai seruan untuk memperhatikannya, atau sebagai petunjuk bagi hamba-hamba agar mereka mengambil bukti darinya atas keagungan Pembuatnya dan Pengangkatnya, atau sebagai bukti dari Allah dengan penciptaannya atas apa yang Dia beritakan tentang hari kebangkitan dan kiamat, atau sebagai bukti dari-Nya dengan kekuasaan-Nya atas langit tentang keesaan-Nya, dan bahwa Dia adalah Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, atau sebagai bukti dari-Nya dengan keindahan langit, keseimbangannya, keterpaduan bagian-bagiannya dan tidak adanya keretakan padanya atas kesempurnaan hikmah dan kekuasaan-Nya, demikian juga dengan apa yang ada di dalamnya berupa bintang-bintang, matahari, bulan, dan keajaiban-keajaiban yang akal manusia tidak mampu memahami sedikit pun darinya. Betapa banyak sumpah dalam Al-Qur’an dengan langit; seperti firman Allah: “Demi langit yang mempunyai gugusan bintang” [Al-Buruj: 1], “Demi langit dan yang datang pada malam hari”, “Demi langit dan yang membangunnya” [Asy-Syams: 5], “Demi langit yang mengandung hujan” [At-Tariq: 11], “Demi matahari dan cahayanya di pagi hari” [Asy-Syams: 1], “Demi bintang ketika terbenam” [An-Najm: 1], “Aku bersumpah demi bintang-bintang” [At-Takwir: 15]! Allah tidak bersumpah dalam kitab-Nya dengan sesuatu dari makhluk-Nya lebih banyak daripada dengan langit, bintang-bintang, matahari dan bulan. Dan Dia bersumpah dengan apa yang Dia sumpahi dari makhluk-Nya karena mengandung tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban yang menunjukkan kepada-Nya, dan semakin agung tanda dan semakin kuat penunjukannya, semakin banyak sumpah dengannya dibandingkan dengan yang lainnya.
- Dalam firman Allah: “Demi langit dan yang datang pada malam hari” terdapat pertanyaan: Bagaimana Allah bersumpah dengan makhluk-makhluk, padahal bersumpah dengan makhluk adalah syirik; karena sabda Nabi ﷺ: “Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah, maka ia telah kafir atau syirik,” dan beliau bersabda: “Barangsiapa hendak bersumpah, hendaklah ia bersumpah dengan nama Allah atau diam”? Maka tidak boleh bersumpah dengan selain Allah; tidak dengan para nabi, tidak dengan para malaikat, tidak dengan Ka’bah, tidak dengan tanah air, tidak dengan apapun dari makhluk! Jawabannya: Bahwa Allah berhak bersumpah dengan apa saja yang Dia kehendaki dari ciptaan-Nya, dan sumpah-Nya dengan apa yang Dia sumpahi dari ciptaan-Nya menunjukkan keagungan Allah, karena keagungan makhluk menunjukkan keagungan Sang Pencipta.
- Dalam firman Allah: “Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan. Dia diciptakan dari air yang terpancar,” terdapat pertanyaan tentang cara mengharmonikan ayat ini dengan firman Allah: “Dari bumi (tanah) itulah Kami menciptakan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan darinya Kami akan mengeluarkan kamu pada waktu yang lain” [Taha: 55] yang menyatakan bahwa asal muasal manusia adalah dari tanah liat, dan tanah liat berasal dari bumi. Jawabannya: Bahwa penciptaan itu dari tanah liat ditinjau dari asal usulnya, dan bahwa air yang terpancar itu ditinjau dari cabang yang lahir dari asal tersebut.
- Dalam firman Allah: “Yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada” menunjukkan bahwa janin diciptakan dari air (mani) laki-laki dan air (mani) perempuan, berbeda dengan pendapat ahli naturalis yang mengklaim bahwa janin hanya diciptakan dari air laki-laki saja! Dalam ayat ini terdapat ilmu anatomi bahwa anak diciptakan dari air kedua orang tuanya secara bersamaan.
Keindahan Bahasa dalam Ayat-ayat:
- Firman Allah: “Demi langit dan yang datang pada malam hari. Dan tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu? Yaitu bintang yang cahayanya menembus. Tidak ada suatu jiwa pun melainkan ada penjaganya.”
- Pembukaan surat dengan sumpah adalah untuk menegaskan apa yang disumpahi dan membangkitkan ketertarikan terhadapnya. Sumpah tersebut diucapkan dengan dua makhluk yang agung, yang menunjukkan keagungan kekuasaan Penciptanya, yaitu: langit dan bintang-bintang, atau salah satu bintang yang agung dan terkenal, atau bintang jatuh yang terlihat meluncur.
- “At-Tariq” (yang datang pada malam hari): sifat yang diambil dari kata “at-turuq”, yaitu kedatangan di malam hari. Yang disifati dengan “at-tariq” tidak disebutkan pada awalnya, kemudian ditambah kesamarannya yang disertai dengan pengagungan urusannya melalui firman-Nya: “Dan tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?”, lalu dijelaskan bahwa ia adalah “bintang yang cahayanya menembus”. Hal ini untuk memberikan penjelasan lebih tentang apa yang dimaksud dengan objek sumpah, yaitu bahwa ia termasuk jenis bintang. Allah menyerupakan terbitnya bintang di malam hari dengan kedatangan musafir yang mengetuk pintu rumah pada malam hari, dengan kesamaan bahwa keduanya muncul di waktu malam.
- Firman-Nya: “Dan tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?” adalah pertanyaan yang digunakan untuk mengagungkan urusan at-tariq.
- Juga, firman-Nya: “Dan tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?” adalah pujian terhadap keberadaan at-tariq setelah mengagungkannya dengan bersumpah dengannya, dan peringatan bahwa kemuliaan kedudukannya sedemikian tinggi sehingga tidak dapat dijangkau oleh pemahaman makhluk, maka harus diterima dari Sang Pencipta Yang Maha Mengetahui.
- Firman-Nya: “An-Najm” (bintang) adalah khabar dari kata ganti (dhamir) yang dihilangkan yang diperkirakan: “huwa” (dia), yaitu: at-tariq adalah bintang yang cahayanya menembus. “Ats-tsaqb” adalah melubangi sesuatu yang rapat, dan di sini digunakan untuk mengungkapkan munculnya cahaya di tengah kegelapan malam. Allah menyerupakan bintang dengan paku atau sejenisnya, dan munculnya cahayanya dengan munculnya apa yang terlihat dari paku yang menembus benda seperti papan atau kain. Mungkin ungkapan “ats-tsaqb” (menembus) untuk menggambarkan munculnya sinar bintang di kegelapan malam adalah salah satu ungkapan inovatif Al-Qur’an, dan tidak pernah disebutkan dalam bahasa Arab sebelum Al-Qur’an.
- Kata “an-najm” dengan definite article (alif lam) bisa jadi adalah untuk menunjukkan jenis, sehingga mencakup semua bintang secara hakiki, dan semuanya menembus, seolah-olah dikatakan: “dan bintang-bintang”. Bisa juga definite article tersebut menunjukkan bintang tertentu yang dikenal, yang kepadanya sering disebut nama “an-najm”, yaitu: dan bintang yang datang di malam hari. Ada yang mengatakan: yang dimaksud dengan at-tariq adalah jenis bintang jatuh. Maka definite article pada kata “an-najm” adalah untuk menunjukkan keumuman, dan keumumannya dikhususkan karena menjadi khabar dari kata ganti “at-tariq”, yaitu: bahwa bintang jatuh ketika meluncur terlihat bergerak dengan cepat, kemudian menghilang dari pandangan, seolah-olah ia berhenti, menyerupai kecepatan orang yang berjalan di malam hari untuk sampai ke pemukiman, dan ketika sampai ke sana, perjalanannya berhenti.
- Allah Yang Maha Agung dari segala perkataan berkehendak untuk bersumpah dengan bintang yang cahayanya menembus untuk mengagungkannya, karena apa yang diketahui padanya berupa keajaiban kekuasaan dan kehalusan hikmah, dan untuk memperingatkan akan hal itu. Maka Dia datangkan apa yang menjadi sifat yang sama antara bintang dengan yang lainnya, yaitu “at-tariq”, kemudian berfirman: “Dan tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?”, lalu menafsirkannya dengan firman-Nya: “Yaitu bintang yang cahayanya menembus” untuk menghilangkan kesamaran yang terjadi karena pertanyaan. Semua ini menunjukkan keagungan kedudukannya dan kemuliaan tempatnya.
- Firman-Nya: “Sungguh, tidak ada satu jiwa pun melainkan ada penjaga atasnya” adalah jawaban untuk sumpah, dan apa yang ada di antara keduanya adalah sisipan yang dimaksudkan untuk menegaskan keagungan hal yang dijadikan sumpah, yang kemudian menegaskan isi kalimat yang dijadikan sumpah.
- Jawaban sumpah ini dijadikan kiasan untuk maksud yang dituju, yaitu: pembuktian kebangkitan; maka ini seperti dalil yang membuktikannya; karena penempatan penjaga mengharuskan adanya sesuatu yang dijaga, yaitu amal-amal baik dan buruk – menurut suatu pendapat, dan itu mengharuskan adanya keinginan untuk menghisabnya, dan memberikan balasan yang sesuai dengan amal tersebut, balasan yang ditunda setelah kehidupan dunia; agar amal-amal para pelakunya tidak sia-sia. Hal itu mengharuskan bahwa pembalasan ditunda sampai setelah kehidupan ini; karena yang disaksikan adalah tidak adanya pembalasan dalam kehidupan ini dalam banyak kasus. Jika pembalasan diabaikan, maka pengabaian itu bertentangan dengan kebijaksanaan Tuhan Yang Maha Bijaksana, Pencipta alam semesta ini. Pembalasan yang tertunda ini mengharuskan adanya pengembalian kehidupan untuk entitas-entitas yang menjadi sumber amal tersebut. Penalaran ini juga memberikan informasi bahwa jiwa-jiwa memiliki penjaga; ini adalah penyisipan informasi.
- Selain itu, jawaban ini – sebagai tambahan atas fungsinya dalam menegaskan kepastian pembalasan – juga mengandung peringatan kepada kaum musyrikin bahwa Allah mengetahui keyakinan dan perbuatan mereka, dan bahwa Dia akan membalas mereka atas hal itu.
- Firman Allah Ta’ala: “Maka hendaklah manusia memerhatikan dari apa dia diciptakan. Dia diciptakan dari air (mani) yang terpancar, yang keluar dari antara tulang punggung dan tulang dada.”
- Firman-Nya: “Maka hendaklah manusia memerhatikan dari apa dia diciptakan” – Huruf fa’ (maka) berfungsi untuk menghubungkan perintah untuk merenungkan penciptaan pertama dengan apa yang dimaksud dari firman-Nya: “Sungguh, tidak ada satu jiwa pun melainkan ada penjaga atasnya” dari konsekuensi maknanya, yaitu pembuktian kebangkitan yang mereka ingkari melalui cara kiasan yang halus dan simbolis. Maka perkiraan maknanya: “Jika kalian menganggap kebangkitan itu mustahil, maka hendaklah manusia memerhatikan dari apa dia diciptakan; agar dia mengetahui bahwa penciptaan kedua tidaklah lebih sulit daripada penciptaan pertama.” Maka huruf fa’ ini memberikan makna seperti fa’ fashihah (yang mengungkapkan apa yang tersirat).
- “Memerhatikan” yang dimaksud adalah perhatian akal, yaitu berpikir yang menuntun kepada pengetahuan tentang sesuatu melalui penalaran. Maka yang diperintahkan adalah agar orang yang mengingkari kebangkitan memerhatikan bukti-bukti yang membuktikannya, sebagaimana yang ditunjukkan oleh hubungannya dengan ayat “Sungguh, tidak ada satu jiwa pun melainkan ada penjaga atasnya”.
- Pertanyaan “dari apa dia diciptakan” digunakan untuk membangkitkan kesadaran dan mengarahkan perhatian pada apa yang wajib diketahui.
- Firman-Nya: “Dia diciptakan dari air (mani) yang terpancar” adalah kalimat permulaan yang menjadi jawaban atas pertanyaan yang tersirat, seolah-olah dikatakan: “Dari apa dia diciptakan?” Maka dijawab: “Dia diciptakan dari air yang memiliki pancaran.”
- Dalam firman-Nya: “Dia diciptakan dari air (mani) yang terpancar, yang keluar dari antara tulang punggung dan tulang dada” dijelaskan secara rinci sifat air yang terpancar ini untuk menyisipkan pengajaran dan pelajaran tentang ketelitian penciptaan; agar orang yang jahil dan kafir menjadi sadar, dan orang yang beriman bertambah ilmu dan keyakinannya.
- Air ini disifati bahwa “keluar dari antara tulang punggung dan tulang dada” karena manusia tidak menyadari hal itu. Kata “keluar” digunakan untuk menunjukkan awal perpindahan dari satu tempat ke tempat lain meskipun tanpa kemunculan yang nyata; karena kemunculan air ini tidak terjadi dari antara tulang punggung dan tulang dada. Ini adalah cara berkomunikasi dengan manusia menggunakan apa yang mereka ketahui pada waktu itu dengan bahasa yang ringkas.
- Ada yang mengatakan: Allah menyebutkan yang pertama (tulang punggung) dalam bentuk tunggal, dan yang kedua (tulang dada) dalam bentuk jamak. Yang dimaksud Allah ﷻ adalah: “yang keluar dari antara tulang-tulang punggung dan tulang-tulang dada”, namun Dia mencukupkan dengan bentuk tunggal untuk mewakili bentuk jamak, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu kemudian Kami pisahkan keduanya” [Al-Anbiya: 30], dan Dia tidak mengatakan: “dan bumi-bumi”. Dan menurut pendapat yang mengatakan bahwa “tara’ib” (tulang dada) adalah milik wanita, maka dada wanita adalah “taribah”-nya, sehingga dikatakan: “wanita memiliki tara’ib”, yang dimaksud adalah “taribah” dan area sekitarnya. Demikian pula orang Arab berkata: “Aku melihat gelang-gelang kaki wanita dan payudara-payudaranya”, padahal wanita hanya memiliki dua payudara dan dua gelang kaki.
- Firman Allah Ta’ala: “Sungguh, Dia (Allah) benar-benar Mahakuasa untuk mengembalikannya (hidup setelah mati). Pada hari ditampakkan segala rahasia, maka manusia tidak lagi mempunyai kekuatan dan tidak (pula) ada penolong.”
- Firman-Nya: “Sungguh, Dia benar-benar Mahakuasa untuk mengembalikannya” adalah kalimat permulaan penjelasan yang muncul dari firman-Nya: “Maka hendaklah manusia memerhatikan dari apa dia diciptakan” [At-Tariq: 5]; karena pendengar bertanya-tanya tentang maksud dari perintah untuk merenungkan asal penciptaan ini. Karena perenungan tersebut adalah perenungan untuk penalaran, maka kalimat permulaan penjelasan ini menempati posisi sebagai kesimpulan dari dalil; sehingga maknanya menjadi: Sesungguhnya Zat yang menciptakan manusia dari air yang memancar pasti mampu untuk mengembalikan ciptaan-Nya dengan sebab-sebab lain. Dengan demikian, kemungkinan pengembalian penciptaan menjadi terbukti, dan hilanglah anggapan kaum musyrikin tentang kemustahilan pengembalian tersebut.
- Kata ganti “Dia” dalam “Sesungguhnya Dia” merujuk kepada Sang Pencipta; sebagaimana ditunjukkan oleh kata “diciptakan”. Maknanya: Sesungguhnya Zat yang menciptakan manusia pada awalnya dari setetes air mani benar-benar mampu untuk mengembalikannya (menghidupkannya kembali). Hal ini jelas menunjukkan kekuasaan-Nya, tidak sulit dan tidak berat bagi-Nya, dan Dia tidak lemah untuk melakukannya. Penggunaan bentuk pasif pada kata kerja di awal dan penyebutan kata ganti sebelum disebutkan secara jelas pada bagian kedua; menunjukkan bahwa pembicaraan ini termasuk jenis “melepaskan kendali”, yaitu: Aku tidak mengatakan: “Sesungguhnya Aku-lah yang memulai dan mengembalikan”, tetapi Aku mengatakan: “Sesungguhnya Zat yang telah kalian kenal, terkenal di antara kalian, dan kalian akui sebagai Pencipta; Dia-lah yang mampu untuk mengembalikan.” Maka digunakanlah kata “inna” (sesungguhnya), huruf lam penguat, dan bentuk tak tentu (nakirah) pada khabar; untuk menunjukkan penolakan yang kuat dan pengingkaran yang berlebihan dari mereka bahwa tidak ada kebangkitan dan tidak ada penghidupan kembali, melainkan peniadaan atau hal lain sebagaimana banyaknya perbedaan pendapat di kalangan orang-orang yang batil.
- Kata ganti dalam “Sesungguhnya Dia” kembali kepada Allah Ta’ala, meskipun tidak ada penyebutan sebelumnya tentang tempat kembali, tetapi penggunaan bentuk pasif dalam firman-Nya: “Dia diciptakan dari air (mani) yang terpancar” [At-Tariq: 6] menunjukkan bahwa Sang Pencipta sudah dikenal dan tidak perlu disebutkan nama-Nya. Dan “pengembalian” (raj’) dinisbatkan kepada kata ganti-Nya tanpa menggunakan bentuk pasif, seperti dalam firman-Nya: “diciptakan”; karena konteksnya adalah konteks penjelasan dan pernyataan eksplisit bahwa Allah-lah yang melakukan hal itu.
- Firman-Nya: “Pada hari ditampakkan segala rahasia” – As-Sara’ir (segala rahasia): adalah apa yang dirahasiakan dan disembunyikan manusia dari niat-niat dan keyakinan-keyakinannya. “Balwu as-sara’ir” (pengujian rahasia-rahasia): adalah pengujian rahasia-rahasia itu dan pemisahan yang baik dari yang buruk, dan ini adalah kiasan tentang perhitungan atasnya dan pembalasan. Adapun pengujian terhadap perbuatan-perbuatan lahiriah dan perkataan-perkataan dipahami melalui pengujian rahasia-rahasia dengan cara yang lebih utama.
- Ketika “pengujian rahasia-rahasia” menunjukkan bahwa Allah Ta’ala Maha Mengetahui apa yang disembunyikan manusia dari kejahatan-kejahatan, dan firman-Nya: “Pada hari ditampakkan segala rahasia” mengisyaratkan adanya pertanggungjawaban atas keyakinan-keyakinan yang batil dan perbuatan-perbuatan yang buruk; maka hal itu menjadi dasar bagi firman-Nya: “maka manusia tidak lagi mempunyai kekuatan dan tidak (pula) ada penolong.” Kata ganti di sini kembali kepada manusia, dan yang dimaksud adalah orang-orang musyrik dari kalangan manusia; karena merekalah yang menjadi sasaran ancaman ini. Artinya: Maka manusia yang musyrik itu tidak memiliki kekuatan yang dapat digunakan untuk menolak (azab) dari dirinya, dan tidak ada baginya penolong yang dapat membela dirinya.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Ayat: 11-17
﴿وَالسَّمَاۤءِ ذَاتِ الرَّجْعِۙ ١١ وَالْاَرْضِ ذَاتِ الصَّدْعِۙ ١٢ اِنَّهٗ لَقَوْلٌ فَصْلٌۙ ١٣ وَّمَا هُوَ بِالْهَزْلِۗ ١٤ اِنَّهُمْ يَكِيْدُوْنَ كَيْدًاۙ ١٥ وَّاَكِيْدُ كَيْدًاۖ ١٦ فَمَهِّلِ الْكٰفِرِيْنَ اَمْهِلْهُمْ رُوَيْدًا ࣖ ١٧ ﴾
Kata-kata Asing:
Ar-Raj’i: Artinya: hujan; karena ia kembali setiap tahun dan berulang, dan akar kata (raja’a) menunjukkan pengembalian dan pengulangan.
Ash-Shad’i: Artinya: tanaman; karena bumi terbelah—yaitu retak—untuk munculnya tanaman, dan shad’ dalam bahasa berarti retakan, dan akar kata (shada’a) menunjukkan terbelahnya sesuatu.
Ruwaydan: Artinya: sedikit, dan ar-raud adalah berulang-ulang dalam mencari sesuatu dengan lembut.
Penjelasan I’rab (Tata Bahasa):
Firman Allah Ta’ala: “Maka berilah penangguhan kepada orang-orang kafir itu, berilah mereka tangguh sebentar” (famah-hilil kāfirīna amhilhum ruwaydā). Kalimat “amhilhum ruwaydā” tidak memiliki posisi i’rab karena merupakan kalimat permulaan yang menegaskan kalimat sebelumnya, dan dikatakan juga sebagai badal (pengganti) darinya.
“Ruwaydā” dalam bentuk nashab memiliki beberapa kemungkinan:
- Ia adalah maf’ul mutlaq (objek mutlak) yang menggantikan mashdar (kata benda verbal); sehingga menjadi sinonim dari kata kerjanya “amhilhum”.
- “Ruwaydā” adalah bentuk kecil dari “irwād” (yaitu pemberian tangguh, dalam bobot dan makna) dengan pengurangan tambahan, dan asalnya dari “ar-raud” yang berarti pemberian tangguh dan tidak tergesa-gesa.
- “Ruwaydā” bisa juga menggantikan mashdar sebagai sifat dari mashdar yang dihilangkan, yaitu “amhilhum imhālan ruwaydā” (berilah mereka tangguh dengan penangguhan yang sedikit atau dekat).
- Ia bisa juga menggantikan zharaf (keterangan) waktu sebagai sifat dari waktu yang dihilangkan, yaitu “waqtan qalīlan” (waktu yang sedikit).
- Ia bisa juga dalam posisi nashab sebagai hal (keterangan keadaan), yaitu “amhilhum musta’niyan bihim ghayra musta’jil” (berilah mereka tangguh dengan penuh kesabaran tanpa tergesa-gesa).
Makna Keseluruhan:
Allah Ta’ala berfirman dengan bersumpah juga tentang kebenaran Al-Qur’an: “Aku bersumpah dengan langit yang mengembalikan hujan, dan dengan bumi yang terbelah dan retak; sesungguhnya Al-Qur’an adalah perkataan yang memisahkan antara yang hak dan yang batil, dan ia bukanlah permainan dan kebatilan, tetapi semuanya adalah kebenaran dan kesungguhan.”
Kemudian Allah Subhanahu menutup surah yang mulia ini dengan penjelasan tentang apa yang direncanakan oleh orang-orang kafir terhadap orang-orang beriman; menghibur Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan memberi kabar gembira kepadanya dengan akhir yang baik, seraya berfirman: “Sesungguhnya orang-orang kafir itu membuat tipu daya; untuk menolak kebenaran dengan tipu daya mereka, dan Aku membuat tipu daya terhadap mereka dengan tipu daya yang besar, dengan memberi tangguh kepada mereka dan membiarkan mereka secara berangsur-angsur; sehingga Aku membinasakan mereka sementara mereka tetap dalam kebatilan mereka. Maka berilah tangguh—wahai Muhammad—kepada orang-orang kafir ini untuk waktu yang sedikit, dan janganlah engkau tergesa-gesa meminta hukuman bagi mereka!”
Tafsir Ayat-Ayat:
“Demi langit yang mengandung hujan” (11).
Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Setelah dijelaskan bukti tentang kemungkinan kebangkitan, dilanjutkan dengan penegasan bahwa Al-Qur’an adalah kebenaran, dan bahwa apa yang ada di dalamnya adalah perkataan yang tegas; untuk membatalkan tuduhan yang dilontarkan kepada mereka bahwa berita-beritanya tidak benar; karena telah memberitahu mereka tentang dihidupkannya tulang-tulang yang telah lapuk.
Juga, ketika kalimat-kalimat sebelumnya—meskipun ringkas—mencakup tingkat tertinggi dalam kefasihan untuk menetapkan kebangkitan, pembalasan, dan ke-Esa-an Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta lautan ilmu lainnya, maka terbukti bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan terbukti bahwa semua yang ada di dalamnya adalah kebenaran, meskipun mereka menentang semua itu—keadaan menuntut untuk bersumpah atas kebenarannya; Allah berfirman: “Demi langit yang mengandung hujan” (11). Artinya: Aku bersumpah dengan langit yang memiliki hujan.
“Dan bumi yang mempunyai tumbuh-tumbuhan” (12).
Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah menyebutkan perkara yang tinggi (langit) dimulai dengannya karena kemuliaan langit; kemudian diikuti dengan yang rendah (bumi).
“Dan bumi yang mempunyai tumbuh-tumbuhan” (12). Artinya: dan Aku bersumpah dengan bumi yang memiliki tumbuhan.
“Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang hak dan yang batil” (13).
Artinya: Sesungguhnya Al-Qur’an adalah perkataan yang memisahkan, yang memisahkan antara yang hak dan yang batil.
“Dan sekali-kali bukanlah dia senda gurau” (14).
Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Allah menggabungkan “Dan sekali-kali bukanlah dia senda gurau” setelah memuji Al-Qur’an bahwa ia adalah “perkataan yang memisahkan” sebagai bantahan terhadap orang-orang musyrik; karena mereka mengklaim bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dengan main-main; ketika memberitahu bahwa orang-orang mati akan dihidupkan kembali, mereka ingin menyesatkan orang awam ketika mendengar ayat-ayat Al-Qur’an yang menggetarkan, petunjuknya, dan kemuliaan maknanya, mereka membuat-buat alasan tersebut; untuk mengalihkan mereka dari merenungkan Al-Qur’an.
“Dan sekali-kali bukanlah dia senda gurau” (14). Artinya: dan Al-Qur’an bukanlah permainan dan kebatilan, tetapi semuanya adalah kebenaran dan kesungguhan.
“Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat” (15).
Artinya: Sesungguhnya orang-orang kafir yang mendustakan Al-Qur’an itu membuat tipu daya; untuk menolak kebenaran dengan tipu daya mereka, dan mendukung kebatilan.
“Dan Akupun membuat rencana (pula) yang jitu” (16).
Artinya: dan Aku membuat tipu daya terhadap mereka dengan tipu daya yang besar —sebagai balasan tipu daya mereka—, dengan memberi tangguh kepada mereka dan membiarkan mereka secara berangsur-angsur; hingga Aku membinasakan mereka sementara mereka tetap dalam kebatilan mereka, dan Aku menampakkan kebenaran atasnya meskipun setelah beberapa waktu.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Maka orang-orang yang kafir itu merekalah yang terkena tipu daya” [At-Tur: 42].
Dan Allah Subhanahu berfirman: “Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al-Qur’an). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh” [Al-Qalam: 44-45].
“Karena itu beri tangguhlah orang-orang kafir itu yaitu beri tangguhlah mereka itu barang sebentar” (17).
Artinya: Maka berilah tangguh —wahai Muhammad— kepada orang-orang kafir ini untuk waktu yang sedikit, dan janganlah engkau tergesa-gesa meminta hukuman bagi mereka; karena itu pasti akan menimpa mereka —tidak diragukan lagi— pada waktu yang telah Allah tetapkan sebagai janji untuk kebinasaan mereka!
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Maka janganlah kamu tergesa-gesa memintakan siksa terhadap mereka, karena sesungguhnya Kami hanya menghitung datangnya (hari siksaan) untuk mereka dengan perhitungan yang teliti” [Maryam: 84].
Dan Allah Subhanahu berfirman: “Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras” [Luqman: 24].
Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka” [Al-Ahqaf: 35].
Manfaat Pendidikan:
- Dalam firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman yang memisahkan” menunjukkan bahwa Al-Qur’an memisahkan antara yang hak dan yang batil, dan Al-Qur’an adalah pemutus bagi setiap orang yang memusuhi dan menentangnya. Oleh karena itu, kita dapati bahwa kaum muslimin ketika mereka berjihad melawan orang-orang kafir dengan Al-Qur’an, mereka mengalahkan orang-orang kafir, memutuskan akar-akar mereka, dan diputuskan di antara mereka. Namun ketika mereka berpaling dari Al-Qur’an, mereka dikalahkan dan dihinakan sesuai dengan jauhnya mereka dari Al-Qur’an. Semakin jauh seseorang dari Kitab Allah, semakin jauh pula kemuliaan dan kemenangan darinya, sampai dia kembali kepada Kitab Allah ‘Azza wa Jalla.
- Dalam firman Allah Ta’ala: “Karena itu beri tangguhlah orang-orang kafir itu yaitu beri tangguhlah mereka itu barang sebentar” terdapat peringatan dan ancaman bagi kaum (kafir), dan sebagaimana itu merupakan peringatan bagi mereka, juga merupakan dorongan untuk menempuh jalan yang berbeda dengan jalan mereka dalam ketaatan.
Manfaat Ilmiah dan Kehalusan Makna:
- Firman Allah Ta’ala: “Demi langit yang menurunkan hujan. Dan bumi yang mempunyai tumbuh-tumbuhan” dalam kedua kondisi ini terdapat isyarat kepada dalil lain dari dalil-dalil menghidupkan manusia untuk kebangkitan.
- Firman Allah Ta’ala: “Demi langit yang menurunkan hujan. Dan bumi yang mempunyai tumbuh-tumbuhan. Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman yang memisahkan” ini adalah sumpah kedua dengan langit, dan sumpah pertama ada di awal surah; di sana Allah berfirman: “Demi langit dan yang datang pada malam hari. Dan tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu? (Yaitu) bintang yang cahayanya menembus”.
Di antara keduanya terdapat kesesuaian—Allah yang lebih mengetahui—bahwa yang pertama mengandung isyarat kepada yang datang pada malam hari yaitu bintang, dan bintang digunakan untuk melempar setan-setan yang mencuri-curi pendengaran. Dalam pelemparan setan-setan itu terdapat penjagaan terhadap Kitab Allah ‘Azza wa Jalla.
Sedangkan di sini Allah bersumpah dengan langit yang menurunkan hujan bahwa Al-Qur’an ini adalah perkataan yang memisahkan. Jadi, Allah bersumpah bahwa Al-Qur’an adalah perkataan yang memisahkan. Maka, sumpah pertama memiliki kesesuaian bahwa di dalamnya terdapat isyarat kepada apa yang menjaga Al-Qur’an ini saat diturunkan, dan dalam sumpah kedua terdapat isyarat bahwa Al-Qur’an adalah kehidupan.
Maksudnya, dikatakan: “Demi langit yang menurunkan hujan”—hujan disebut “raj'” (kembali) karena ia kembali dan berulang, dan diketahui bahwa hujan adalah kehidupan bagi bumi, “Dan bumi yang mempunyai tumbuh-tumbuhan”—tumbuh-tumbuhan adalah pembelahan, yaitu: retak dengan keluarnya tumbuhan darinya. Maka Allah bersumpah dengan hujan yang merupakan sebab keluarnya tumbuhan, dan dengan retakan yang mengeluarkan tumbuhan, dan semua itu adalah isyarat kepada kehidupan bumi setelah matinya, dan Al-Qur’an adalah kehidupan bagi hati setelah matinya, sebagaimana Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah Kami” [Asy-Syura: 52], Allah menyebut Al-Qur’an sebagai ruh karena dengannya hati menjadi hidup.
- Dalam firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat. Dan Akupun membuat rencana (pula) yang jitu” perhatikan firman-Nya: “yakiduuna” (mereka merencanakan) di mana Allah menggunakan bentuk jamak, dan “akiidu” (Aku membuat rencana) di mana Allah menggunakan bentuk tunggal; karena tipu daya Allah Ta’ala lebih besar dari semua tipu daya mereka sebanyak apapun.
- Dalam firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat. Dan Akupun membuat rencana (pula) yang jitu” terdapat bantahan terhadap golongan Jahmiyyah yang menafikan sifat-sifat Allah secara keseluruhan. Allah Subhanahu telah mengabarkan tentang diri-Nya bahwa Dia membuat tipu daya, dengan lafaz “kaid” (tipu daya) yang Allah kabarkan tentang orang-orang yang membuat tipu daya, dan mereka mengingkarinya, mereka menolak nas Al-Qur’an!
Maka tipu daya, makar, dan penipuan adalah: menyampaikan keburukan kepada orang lain dengan cara yang tersembunyi, tetapi itu ada dua jenis: yang buruk, yaitu menyampaikan itu kepada orang yang tidak berhak menerimanya, dan yang baik, yaitu menyampaikannya kepada orang yang berhak menerimanya sebagai hukuman baginya. Yang pertama adalah tercela, dan yang kedua adalah terpuji. Dan Tuhan Ta’ala melakukan dari itu apa yang Dia dipuji atasnya sebagai keadilan dan hikmah dari-Nya. Dia Ta’ala mengambil orang yang zalim dan jahat dari arah yang tidak disangka-sangka, tidak seperti yang dilakukan oleh orang-orang zalim terhadap hamba-hamba-Nya.
Allah Subhanahu menisbatkan kepada diri-Nya makna-makna yang terbaik, dan apa yang darinya merupakan hikmah, kebenaran, kebenaran, dan balasan bagi orang yang berbuat buruk, dan itu adalah puncak keadilan dan kebenaran; seperti firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat. Dan Akupun membuat rencana (pula) yang jitu” [At-Tariq: 15-16], dan firman-Nya: “Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka” [Ali Imran: 54], dan firman-Nya: “Allah akan memperolok-olokkan mereka” [Al-Baqarah: 15], dan firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka” [An-Nisa’: 142], dan firman-Nya: “Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh” [Al-A’raf: 183].
Ini dari Allah Subhanahu berada pada tingkat kebaikan tertinggi, meskipun dari hamba hal itu buruk dan jelek; karena hamba zalim di dalamnya, dan menjatuhkannya kepada orang yang tidak berhak menerimanya, sedangkan Tuhan Ta’ala adil di dalamnya, menjatuhkannya kepada ahlinya dan orang yang berhak menerimanya.
- Tipu daya (kaid) terbagi menjadi dua jenis: terpuji dan tercela; Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat. Dan Akupun membuat rencana (pula) yang jitu”, dan berfirman: “Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh” [Al-A’raf: 183], dan berfirman: “Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendaki-Nya” [Yusuf: 76].
Jika hal itu diketahui, maka tidak ada masalah bahwa diperbolehkan bagi seseorang untuk menampakkan perkataan atau perbuatan yang maksudnya adalah maksud yang baik, meskipun tampaknya berbeda dengan apa yang dimaksudkannya, jika di dalamnya terdapat maslahat agama, seperti menolak kezaliman dari dirinya atau orang lain, atau membatalkan tipu daya yang diharamkan.
Yang diharamkan adalah: seseorang bermaksud dengan akad-akad syar’i selain apa yang Allah Ta’ala dan Rasul-Nya syariatkan untuknya, sehingga dia menjadi penipu terhadap Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, pembuat tipu daya terhadap agama-Nya, dan pembuat makar terhadap syariat-Nya. Karena maksudnya adalah mendapatkan sesuatu yang Allah Ta’ala dan Rasul-Nya haramkan dengan tipu daya itu, dan menggugurkan apa yang Allah wajibkan dengan tipu daya itu.
Ini kebalikan dari yang sebelumnya; karena maksud yang sebelumnya adalah untuk sampai pada pengungkapan agama Allah Ta’ala, menolak kemaksiatan terhadap-Nya, membatalkan kezaliman, dan menghilangkan kemungkaran. Maka ini adalah satu warna, dan itu adalah warna lain.
- Dalam firman Allah Ta’ala: “Karena itu beri tangguhlah orang-orang kafir itu yaitu beri tangguhlah mereka itu barang sebentar” bahwa ketika di antara orang-orang yang mendustakan—dalam ilmu Allah—ada yang akan beriman, maka dia tidak berhak untuk menerima ancaman seperti ini; Allah mengungkapkan dengan sifat yang menunjukkan keteguhan, Allah berfirman: “orang-orang kafir”, artinya: janganlah engkau mendoakan (keburukan) atas mereka, dan janganlah engkau meminta disegerakan kebinasaan bagi mereka; karena Kami tidak tergesa-gesa; karena tidak akan tergesa-gesa dalam hukuman kecuali orang yang takut kehilangan kesempatan.
Keindahan Bahasa Ayat-Ayat:
- Firman Allah Ta’ala: “Demi langit yang menurunkan hujan. Dan bumi yang mempunyai tumbuh-tumbuhan. Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman yang memisahkan. Dan sekali-kali bukanlah dia senda gurau” – kalimat ini adalah permulaan baru (istinaf ibtida’i).
- Pembicaraan dimulai dengan sumpah untuk memastikan kebenaran Al-Qur’an dalam memberitakan tentang kebangkitan dan hal-hal lain yang terkandung di dalamnya dari petunjuk; oleh karena itu sumpah dengan langit diulangi sebagaimana Allah bersumpah dengannya di awal surah, dan disebutkan dari keadaan langit yang memiliki kesesuaian dengan yang disumpahi, yaitu hujan yang dengan hujan itu terdapat kebaikan bagi manusia. Sesungguhnya perbaikan Al-Qur’an bagi manusia seperti perbaikan hujan, dan dalam hadits: “Perumpamaan apa yang Allah utus denganku berupa petunjuk dan ilmu adalah seperti hujan yang deras yang mengenai suatu tanah” (hadits).
- “Ar-Raj'” artinya: hujan, dan “ash-Shad'” adalah apa yang membelah bumi berupa tumbuhan, atau ia adalah mashdar (kata benda verbal) dari kata kerja pasif, yaitu pecahnya bumi dengan tumbuhan bukan dengan mata air seperti yang dikatakan. Karena penggambaran langit dan bumi ketika bersumpah dengannya atas kebenaran Al-Qur’an yang menyatakan kebangkitan dengan apa yang disebutkan dari dua sifat tersebut adalah isyarat bahwa keduanya pada dirinya sendiri termasuk bukti-buktinya. Inilah rahasia penggunaan istilah “shad'” (pembelahan) untuknya dan istilah “raj'” (kembali) untuk hujan.
Hal ini terlihat dalam pembelahan bumi dengan tumbuhan yang menyerupai kebangkitan sebagaimana disebutkan di beberapa tempat dalam Al-Qur’an, bukan dalam pembelahannya dengan mata air.
- Juga dalam nama “ar-Raj'” terdapat kesesuaian untuk makna kebangkitan dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati)” [At-Tariq: 8], dan dalam makna “ar-Raj'” – yaitu hujan yang datang setelah hujan lain – terdapat kesesuaian untuk makna kembali yaitu kebangkitan; karena kebangkitan adalah kehidupan yang datang setelah kehidupan sebelumnya.
- Dan bumi dihubungkan dalam sumpah ini; karena dengan menyebutkan bumi terdapat penyempurnaan kesesuaian antara yang bersumpah dan yang disumpahi.
- Firman-Nya: “Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman yang memisahkan” di dalamnya terdapat pemberitaan dengan mashdar untuk penekanan, artinya: sesungguhnya Al-Qur’an adalah perkataan yang memisahkan antara yang hak dan yang batil, yang sangat kuat dalam hal itu seakan-akan ia adalah pemisahan itu sendiri.
- Setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji Al-Qur’an dengan firman-Nya: “Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman yang memisahkan”, Allah menghubungkannya dengan firman-Nya: “Dan sekali-kali bukanlah dia senda gurau”. Alasannya adalah bahwa orang-orang musyrik mengklaim bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dengan main-main; ketika memberitahu bahwa orang-orang mati akan hidup kembali, maka Allah Subhanahu membantah mereka.
Maka “senda gurau” dalam hal ini adalah lawan dari “kesungguhan”, yaitu: canda dan main-main. Dan sifat seperti ini jika datang dalam perkataan yang fasih tidak ada maksud darinya kecuali untuk sindiran, jika tidak maka itu menjadi pengurangan dalam pujian, terutama jika didahului oleh pujian dari pujian-pujian yang agung.
2- Firman Allah Yang Maha Tinggi: “Sesungguhnya mereka merencanakan tipu daya dengan sungguh-sungguh, dan Aku pun membuat rencana (tipu daya) dengan sungguh-sungguh. Karena itu berilah penangguhan kepada orang-orang kafir itu, berilah mereka penangguhan sebentar.”
Firman-Nya: “Sesungguhnya mereka merencanakan tipu daya dengan sungguh-sungguh, dan Aku pun membuat rencana (tipu daya) dengan sungguh-sungguh” adalah kalimat permulaan yang menjelaskan seolah-olah ada pertanyaan dari seseorang yang heran mengapa mereka berpaling dari Al-Quran padahal itu adalah perkataan yang jelas, dan heran dengan alasan-alasan palsu mereka, seperti perkataan mereka: “Ini adalah main-main atau igauan atau sihir.” Maka dijelaskan kepada pendengar bahwa perbuatan mereka itu adalah tipu daya yang disengaja; mereka berpura-pura bahwa yang menghalangi mereka dari membenarkan Al-Quran hanyalah keyakinan mereka bahwa Al-Quran tidak benar, padahal yang sebenarnya menghalangi mereka dari beriman adalah keinginan untuk menjaga kedudukan mereka, sehingga mereka menyesatkan masyarakat umum dengan alasan-alasan palsu yang mereka buat-buat.
Penekanan dengan kata “sesungguhnya” bertujuan untuk menegaskan berita ini karena keanehannya. Oleh karena itu, firman-Nya: “dan Aku pun membuat rencana (tipu daya) dengan sungguh-sungguh” adalah pelengkap, sisipan, dan peringatan bagi mereka ketika mendengarnya. Atau ini adalah kalimat baru yang disampaikan untuk menjawab pertanyaan yang muncul dari kandungan pembicaraan; seolah-olah dikatakan: “Apa yang disebut kesombongan dan kekerasan kepala mereka?” Maka dikatakan: “Sesungguhnya mereka merencanakan tipu daya dengan sungguh-sungguh.”
Boleh juga firman-Nya: “Sesungguhnya mereka merencanakan tipu daya dengan sungguh-sungguh” ditujukan kepada Rasulullah ﷺ sebagai penghibur baginya atas perkataan-perkataan mereka tentang Al-Quran yang kembali kepada pendustaan terhadap orang yang membawa Al-Quran. Artinya: mereka mengklaim bahwa Al-Quran adalah main-main dengan maksud tipu daya, bukan karena mereka menganggapmu pendusta. Dan kalimat “dan Aku pun membuat rencana (tipu daya) dengan sungguh-sungguh” adalah penguatan bagi Rasulullah ﷺ, dan janji pertolongan.
Kata “kaidan” (tipu daya) pada kedua tempat adalah objek mutlak yang menegaskan pelakunya, dan dimaksudkan bersamaan dengan penekanan adalah tanwin (nunasi) yang menunjukkan kebesaran.
Firman-Nya: “Karena itu berilah penangguhan kepada orang-orang kafir itu, berilah mereka penangguhan sebentar” – huruf ‘fa’ (karena itu) untuk memperinci perintah memberi penangguhan berdasarkan keseluruhan pembicaraan sebelumnya dari firman-Nya: “Sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang hak dan yang batil” (At-Tariq: 13) dengan semua yang terkandung di dalamnya baik pernyataan langsung, kiasan, penjelasan, dan janji pertolongan. Artinya: janganlah kamu tergesa-gesa meminta turunnya azab untuk mereka; karena azab itu pasti akan menimpa mereka.
“At-Tamhiil” adalah masdar dari kata “mahhala” yang berarti “amhala” yaitu memberi waktu hingga batas waktu tertentu atau tidak tertentu. Penggabungan antara “mahhil” dan “amhilhum” adalah untuk penekanan; dengan maksud menambah ketenangan dan kesabaran, dan dibedakan antara kedua kata kerja dalam transitifnya satu kali dengan penekanan dan kali lain dengan hamzah untuk memperindah pengulangan dan mencari keringanan. Ketika diulang perintah sebagai penekanan, dibedakan antara dua lafaz (mahhil dan amhilhum) karena yang pertama adalah mutlak, sedangkan yang kedua dibatasi dengan kata “ruwaidan” (sebentar).
Yang dimaksud dengan “orang-orang kafir” dalam firman-Nya: “Maka berilah tenggang waktu kepada orang-orang kafir, berilah mereka tenggang waktu sebentar” adalah apa yang ditunjukkan oleh kata ganti dalam ayat “sesungguhnya mereka menyusun tipu daya” [At-Tariq: 15]; ini adalah penampakan (izhar) dalam posisi penyembunyian (idmar), untuk menyeru mereka dengan celaan kekufuran. Yang dimaksud bukanlah semua orang kafir, tetapi orang-orang kafir yang telah dikenal.
Kata “ruwaydan” adalah masdar (kata benda verbal) yang menegaskan kata kerja “amhilhum” (berilah mereka tenggang waktu). Dia telah menegaskan perkataan-Nya “famahhilil kafirin” (maka berilah tenggang waktu kepada orang-orang kafir) dua kali. Maknanya: tunggulah apa yang akan menimpa mereka, dan janganlah tergesa-gesa untuk mereka; penantian dengan kesabaran dan ketenangan. Maka “ruwaydan” menjadi kiasan tentang kepastian azab yang akan menimpa mereka; karena orang yang yakin akan terjadinya sesuatu tidak akan tergesa-gesa. Bentuk pengecilan (tasghir) pada kata “ruwaydan” menunjukkan pengurangan, yaitu: tenggang waktu yang tidak lama.
Boleh juga kata “ruwaydan” di sini sebagai isim fi’il (kata benda yang berfungsi sebagai kata kerja) untuk perintah, seperti dalam ungkapan mereka: “ruwaydaka”; karena adanya huruf kaf penyapa padanya ketika dimaksudkan sebagai isim fi’il bukanlah syarat. Berhenti membaca pada kata “al-kafirin”, dan “ruwaydan” sebagai perkataan tersendiri; keberadaan kata kerja dengan makna yang sama sebelumnya bukanlah bukti bahwa yang dimaksud adalah masdar. Artinya: bersabarlah dan jangan tergesa-gesa untuk turunnya azab kepada mereka, sehingga menjadi kiasan janji bahwa azab itu pasti akan terjadi.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
SURAH AL-A’LA
Perhatian: Setiap kalimat berikut memiliki rujukan ilmiah yang belum diterjemahkan. Bagi yang memerlukan, silakan merujuk langsung ke situs web aslinya dalam bahasa Arab di: https://dorar.net/tafseer/87
Nama-nama Surat:
Surat ini dinamakan:
- Surat Al-A’la
- Surat Sabbihisma Rabbikal A’la: Berdasarkan riwayat dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Mu’adz biasa shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia datang dan mengimami kaumnya. Pada suatu malam dia shalat Isya bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia mendatangi kaumnya dan mengimami mereka, lalu dia memulai dengan Surah Al-Baqarah…” Dalam hadits tersebut disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Mu’adz radhiyallahu ‘anhu: “Bacalah ‘Wasy-syamsi wa dhuhaaha’ (Surah Asy-Syams), ‘Wadh-dhuhaa’ (Surah Adh-Dhuha), ‘Wallaili idzaa yaghsyaa’ (Surah Al-Lail), dan ‘Sabbihisma Rabbikal A’la’ (Surah Al-A’la).” Dan dari Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, dan saya tidak pernah melihat penduduk Madinah bergembira dengan sesuatu seperti kegembiraan mereka dengan kedatangan beliau, sampai saya melihat para budak wanita dan anak-anak berkata: ‘Ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah datang.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam belum datang hingga saya telah membaca: ‘Sabbihisma Rabbikal A’la’ dan surat-surat yang serupa dengannya.”
Keutamaan dan Karakteristik Surat:
- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membacanya pada rakaat pertama shalat Jum’at dan shalat Hari Raya. Dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca pada dua hari raya dan pada hari Jum’at ‘Sabbihisma Rabbikal A’la’ (Surah Al-A’la) dan ‘Hal ataaka hadiitsul ghaasyiyah’ (Surah Al-Ghasyiyah).” Beliau berkata: “Dan jika hari raya dan hari Jum’at bertepatan pada hari yang sama, beliau juga membaca keduanya pada kedua shalat tersebut.” Dan dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam shalat Jum’at ‘Sabbihisma Rabbikal A’la’ dan ‘Hal ataaka hadiitsul ghaasyiyah’.” Dan juga diriwayatkan darinya: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca pada dua hari raya ‘Sabbihisma Rabbikal A’la’ dan ‘Hal ataaka hadiitsul ghaasyiyah’.”
- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membacanya pada rakaat pertama dari dua rakaat sebelum witir. Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan witir dengan tiga rakaat, membaca pada rakaat pertama ‘Sabbihisma Rabbikal A’la’ (Surah Al-A’la), pada rakaat kedua ‘Qul yaa ayyuhal kaafiruun’ (Surah Al-Kafirun), dan pada rakaat ketiga ‘Qul huwallahu ahad’ (Surah Al-Ikhlas).”
Penjelasan tentang Makkiyah dan Madaniyah:
Surat Al-A’la adalah surat Makkiyah (diturunkan di Mekah). Tidak sedikit dari para ahli tafsir yang telah menyampaikan bahwa ada konsensus (ijma’) mengenai hal ini.
Tujuan Surat:
Di antara tujuan penting surat ini adalah: Menampilkan aspek yang agung dari nikmat-nikmat Allah Ta’ala yang tidak terhitung.
Topik-topik Surat:
Di antara topik-topik penting yang terkandung dalam surat ini adalah:
- Pembukaan surat dengan mensucikan Allah Ta’ala.
- Menegakkan bukti-bukti atas keesaan Allah Subhanahu.
- Anugerah Allah Ta’ala kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta dukungan dan penguatan-Nya.
- Menyebutkan orang-orang yang mengambil manfaat dari peringatan dan orang yang berpaling darinya beserta akibatnya.
- Menyebutkan sebagian isi dari lembaran-lembaran kitab Ibrahim dan Musa ‘alaihima as-salam.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Ayat: 1-8
﴿سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْاَعْلَىۙ ١ الَّذِيْ خَلَقَ فَسَوّٰىۖ ٢ وَالَّذِيْ قَدَّرَ فَهَدٰىۖ ٣ وَالَّذِيْٓ اَخْرَجَ الْمَرْعٰىۖ ٤ فَجَعَلَهٗ غُثَاۤءً اَحْوٰىۖ ٥ سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنْسٰىٓ ۖ ٦ اِلَّا مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۗاِنَّهٗ يَعْلَمُ الْجَهْرَ وَمَا يَخْفٰىۗ ٧ وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرٰىۖ ٨ ﴾
Keterangan Kata-Kata Asing:
غُثَاءً (Ghutsa’): Artinya tanaman kering, rapuh dan kaku. Al-Ghutsa’ adalah tumbuhan kering yang hancur yang dibawa oleh banjir dan dilemparkan ke sisi lembah. Akar kata (غثي) menunjukkan terangkatnya sesuatu yang rendah.
أَحْوَى (Ahwa): Artinya hitam setelah sebelumnya hijau; ini terjadi karena tumbuhan yang basah ketika mengering akan menjadi kering dan hitam. Akar kata (حوي) menunjukkan pengumpulan.
Makna Umum:
Allah Ta’ala membuka surat mulia ini dengan menyeru Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, berfirman kepadanya: Sucikanlah Tuhanmu Yang Maha Tinggi -wahai Muhammad- dengan hatimu dan lisanmu dari segala keburukan dan kekurangan, dan sebutlah Dia dengan ucapanmu: “Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi.”
Kemudian Allah Ta’ala berfirman menggambarkan Dzat-Nya: Dialah Yang menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan, lalu menyempurnakannya dan menjadikannya dalam bentuk yang terbaik. Dan Yang menentukan kadar segala makhluk, lalu memberi petunjuk kepada setiap makhluk untuk meraih kemaslahatannya. Dan Yang mengeluarkan tumbuhan hijau dari bumi, lalu menjadikannya kering hitam setelah sebelumnya hijau.
Kemudian Allah Subhanahu menjelaskan sebagian dari manifestasi karunia-Nya kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Dia berfirman: Kami akan mengajarkanmu -wahai Muhammad- bacaan Al-Qur’an, sehingga engkau menghafalnya dalam dadamu dan tidak melupakannya, kecuali apa yang Allah kehendaki untuk engkau lupakan dari Al-Qur’an. Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi dan yang tampak. Dan Kami akan menetapkan untukmu -wahai Muhammad- syariat yang mudah, toleran, lurus dan adil. Dan Kami akan memudahkan bagimu perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan kebaikan, dan memberimu taufik untuk menempuh jalan yang mudah dalam setiap urusan agama dan dunia.
Tafsir Ayat-Ayat:
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى (1) –
Artinya: Sucikanlah Tuhanmu -wahai Muhammad- dengan hatimu dan lisanmu dari segala keburukan dan kekurangan. Dia adalah Pencipta, Pemilik, dan Pengatur segala sesuatu, Yang memiliki sifat ketinggian yang mutlak; dan sebutlah Dia dengan ucapanmu: “Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi.”
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “Bahwa dia ketika membaca: ‘Sabbihisma Rabbikal A’la’, dia berkata: ‘Subhana Rabbiyal A’la’ (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi).”
الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى (2) –
Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah Subhanahu memerintahkan untuk bertasbih, maka seolah-olah ada yang bertanya: “Kesibukan bertasbih hanya bisa dilakukan setelah adanya pengetahuan; apa bukti keberadaan Tuhan?” Maka Allah berfirman: “Yang menciptakan lalu menyempurnakan.” Artinya: Yang menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan, lalu menyempurnakannya dan menjadikannya dalam bentuk terbaik yang sesuai untuknya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.” [Al-Infithar: 7]
وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى (3) –
Artinya: Dan Yang menentukan kadar segala makhluk dalam zat, sifat, dan keadaan mereka, lalu memberi petunjuk kepada setiap makhluk untuk meraih kemaslahatannya, dan mengilhamkan kepadanya penggunaan kekuatan, anggota tubuh, dan pemikirannya untuk itu. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun.” [An-Nahl: 78]. Dan Allah Subhanahu berfirman: “Yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.” [Thaha: 50]. Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” [Al-Furqan: 2].
وَالَّذِي أَخْرَجَ الْمَرْعَى (4)
Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Karena bukti-bukti tauhid terkadang melalui diri (manusia) dan terkadang melalui alam semesta, dan setelah mengingatkan dengan tanda-tanda yang ada pada diri, maka tinggal tanda-tanda pada alam semesta. Dan tumbuhan adalah di antara tanda-tanda alam semesta yang paling menunjukkan bukti kebangkitan, maka Allah berfirman: “Dan Yang mengeluarkan tumbuhan.” Artinya: Dan Yang mengeluarkan tumbuhan hijau dari bumi.
فَجَعَلَهُ غُثَاءً أَحْوَى (5)
Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Karena proses pengeringan dan penghitaman tumbuhan setelah sebelumnya hijau dan tumbuh merupakan bukti yang sangat jelas tentang kesempurnaan kekuasaan dan kehendak Allah, dengan saling bergantinya hal-hal yang berlawanan pada satu zat, maka Allah Ta’ala berfirman: “Lalu menjadikannya” yaitu: setelah beberapa fase sejak waktu dikeluarkannya “kering kehitam-hitaman.”
Artinya: Maka Allah menjadikan rerumputan itu kering, dan menjadikan warnanya mendekati hitam setelah sebelumnya hijau dan basah.
سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنْسَى (6)
Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah Ta’ala memerintahkannya untuk bertasbih, dan tasbih tidak bisa sempurna kecuali dengan membaca apa yang diturunkan kepadanya dari Al-Qur’an, sedangkan dia mengulang-ulang dalam dirinya karena takut lupa, maka Allah menghilangkan kekhawatiran itu darinya dan memberikan kabar gembira bahwa Allah Ta’ala akan membacakan Al-Qur’an kepadanya, dan dia tidak akan lupa, dengan pengecualian apa yang Allah kehendaki untuk dilupakannya karena ada maslahat seperti nasakh (penghapusan) dan lainnya.
Artinya: Kami akan mengajarkanmu -wahai Muhammad- bacaan Al-Qur’an meskipun engkau seorang yang ummi (tidak bisa membaca dan menulis), dan engkau akan menghafalnya dalam dadamu, sehingga engkau tidak melupakannya.
إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ إِنَّهُ يَعْلَمُ الْجَهْرَ وَمَا يَخْفَى (7)
إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ – Artinya: Kecuali apa yang Allah kehendaki untuk engkau lupakan dari Al-Qur’an -wahai Muhammad- sesuai dengan apa yang dituntut oleh hikmah-Nya yang sempurna.
إِنَّهُ يَعْلَمُ الْجَهْرَ وَمَا يَخْفَى
Artinya: Sesungguhnya Allah mengetahui yang tampak dan yang tersembunyi. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan jika engkau mengeraskan suaramu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.” [Thaha: 7]
وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَى (8)
Artinya: Dan Kami akan menetapkan untukmu -wahai Muhammad- syariat yang mudah, toleran, lurus dan adil, dan Kami akan memudahkan bagimu perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan kebaikan, dan memberimu taufik untuk menempuh jalan yang mudah dalam setiap urusan agama dan dunia.
Faedah Ilmiah dan Kelembutan Ayat:
- Dalam firman Allah Ta’ala: “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi” terdapat peringatan bahwa Allah Ta’ala berhak disucikan dari segala kekurangan.
- Dalam firman Allah Ta’ala: “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi” terdapat bukti ketinggian Allah Ta’ala; kata “Yang Maha Tinggi” dalam bahasa dipahami bahwa Dia lebih tinggi dari segala sesuatu dan di atas segala sesuatu. Allah telah menyifati Diri-Nya di banyak tempat dalam kitab-Nya dan wahyu-Nya, dan memberitahu kita bahwa Dia adalah “Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar” [Al-Baqarah: 255] [Asy-Syura: 4]. Bukankah Yang Maha Tinggi -wahai yang berakal- adalah yang berada di atas, tidak seperti yang diklaim oleh kelompok Jahmiyyah yang menolak sifat-sifat Allah bahwa Dia berada di atas, di bawah, di tengah, bersama segala sesuatu, dan di setiap tempat di bumi dan langit, dan di dalam rongga semua hewan! Jika mereka merenungkan ayat dari Kitabullah dan Allah memberi mereka taufik untuk memahaminya, niscaya mereka akan menyadari bahwa mereka adalah orang-orang bodoh yang tidak memahami apa yang mereka katakan, dan akan jelas bagi mereka kebodohan diri mereka sendiri dan kesalahan perkataan mereka.
3- Dalam firman Allah Ta’ala: “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi”, ada pertanyaan: Apa faedah masuknya huruf “ba” dalam firman-Nya: “Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Agung” [Al-Waqi’ah: 74], dan tidak masuk dalam firman-Nya di sini: “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi”?
Jawaban: Tasbih dimaksudkan sebagai penyucian dan zikir murni tanpa makna lain, dan juga dimaksudkan demikian bersama dengan shalat, yang merupakan zikir dan penyucian disertai amal. Karena itu shalat disebut tasbih. Jika yang dimaksud adalah tasbih murni, maka tidak ada makna untuk huruf “ba”, karena kata ini tidak memerlukan huruf jar. Maka tidak dikatakan: “Sabbahtu billah” (aku bertasbih dengan Allah). Dan jika yang kamu maksud adalah yang disertai dengan perbuatan – yaitu shalat – engkau memasukkan huruf “ba” sebagai petunjuk atas maksud tersebut; seolah-olah engkau mengatakan: “Bertasbihlah dengan memulai dengan nama Tuhanmu” atau “dengan mengucapkan nama Tuhanmu”, sebagaimana engkau mengatakan: “Shalatlah dengan memulai atau mengucapkan nama-Nya”.
Untuk rahasia ini – Allah Maha Mengetahui – huruf “lam” masuk dalam firman Allah Ta’ala: “Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan di bumi” [Al-Hadid: 1], dan yang dimaksud adalah tasbih yang merupakan sujud, ketundukan dan ketaatan. Dan Dia tidak mengatakan di suatu tempat: “Bertasbih (kepada) Allah apa yang ada di langit dan di bumi” sebagaimana Dia berfirman: “Dan kepada Allah bersujud apa yang ada di langit dan di bumi” [Ar-Ra’d: 15]. Dan perhatikanlah firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah enggan menyembah-Nya dan mereka bertasbih kepada-Nya dan hanya kepada-Nya mereka bersujud” [Al-A’raf: 206], bagaimana Dia berfirman: “wa yusabbihunahu” (dan mereka bertasbih kepada-Nya) ketika Dia menyebutkan sujud dengan nama-Nya yang khusus; sehingga tasbih menjadi zikir mereka kepada-Nya, dan penyucian mereka terhadap-Nya.
4- Allah Ta’ala berfirman: “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi”. Penyambungan kata kerja perintah bertasbih di sini kepada kata “nama” menunjukkan bahwa yang diperintahkan adalah ucapan yang menunjukkan penyucian Allah dengan cara menyampaikan berita-berita yang baik, atau penyifatan dengan sifat-sifat yang suci untuk menetapkannya kepada apa yang menunjukkan Zat-Nya Yang Maha Tinggi dari nama-nama dan makna-makna.
Dan ketika itu berupa ucapan, maka itu berkaitan dengan nama Allah dengan mempertimbangkan penunjukannya terhadap Zat. Maka yang diperintahkan adalah menyampaikan berita-berita yang mulia dan sifat-sifat yang tinggi atas nama-nama yang menunjukkan Allah Ta’ala dari pengenal, sifat-sifat, dan sebagainya. Hal itu kembali kepada penyucian Yang dinamai dengan nama-nama tersebut.
Maka tasbih nama Allah adalah pengucapan penyucian-Nya dengan zikir yang sesuai dengan keagungan-Nya dari keyakinan-keyakinan dan amal-amal; seperti sujud dan pujian. Itu mencakup penghadiran si pengucap lafaz-lafaz tasbih akan makna-makna lafaz tersebut; karena tujuan dari perkataan adalah maknanya. Dan dengan adanya pengucapan bersama penghadiran makna, maka makna itu berulang dalam pikiran si pembicara, dan memperbarui apa yang ada dalam dirinya berupa pengagungan kepada Allah Ta’ala.
Adapun perenungan hamba tentang keagungan Allah Ta’ala dan pengulangan penyucian-Nya dalam pikirannya, itu adalah tasbih terhadap Zat Allah dan Yang dinamai dengan nama-Nya, dan tidak disebut tasbih nama Allah; karena hal itu tidak berjalan pada lafaz dari nama-nama Allah Ta’ala. Ini adalah tasbih Zat Allah, bukan tasbih untuk nama-Nya.
Inilah dasar pembedaan antara keterkaitan lafaz tasbih dengan lafaz nama Allah seperti: “Sucikanlah nama Tuhanmu”, dan antara keterkaitannya tanpa kata “nama” seperti: “Dan pada sebagian malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya” [Al-Insan: 26], atau kita mengatakan: “Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera” [Al-Hasyr: 23] sampai akhir surat, maka itu adalah tasbih untuk nama-Nya Yang Maha Tinggi.
Dan jika kita menafikan ketuhanan dari berhala-berhala karena ia tidak menciptakan, maka itu adalah tasbih untuk Zat Allah bukan untuk nama-Nya; karena nama-Nya tidak berjalan padanya dalam perkataan ini, baik berita maupun penyifatan.
Inilah dasar perbedaan antara penggunaan “sabbihisma rabbika” (sucikanlah nama Tuhanmu) dan penggunaan “wa sabbihhu” (dan bertasbihlah kepada-Nya), dan kembalinya kedua ungkapan tersebut dalam makna adalah satu; karena kedua ungkapan tersebut dimaksudkan sebagai petunjuk kepada pengetahuan bahwa Allah disucikan dari kekurangan-kekurangan.
5- Dari firman Allah Ta’ala: “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi * Yang menciptakan lalu menyempurnakan * Dan Yang menentukan lalu memberi petunjuk * Dan Yang menumbuhkan rerumputan” dapat diambil kesimpulan tentang kesesatan orang-orang yang menghilangkan makna dari nama-nama Allah Ta’ala dari kalangan ahli ta’thil (peniadaan sifat), yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Mendengar tanpa pendengaran, Maha Melihat tanpa penglihatan, Maha Perkasa tanpa keperkasaan” dan seterusnya! Mereka berdalih bahwa penetapan sifat-sifat mengharuskan adanya berbilangnya yang qadim (ada tanpa permulaan); padahal dalam ayat-ayat mulia ini terdapat banyak sifat untuk satu yang disifati; dan penetapan sifat-sifat ini tidak mengharuskan adanya berbilangnya yang qadim!
6- Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi”, dalam firman-Nya “Al-A’la” (Yang Maha Tinggi) menunjukkan bahwa pengetahuan tentang-Nya Subhanahu dan ilmu-Nya adalah ilmu terbesar dan tertinggi; Alasannya: bahwa ilmu itu sesuai dengan yang diketahui, dan ilmu tertinggi adalah ilmu tentang Yang Maha Tinggi; Dia adalah Tuhan dari segala sesuatu selain-Nya, Dia adalah asal, demikian pula ilmu tentang-Nya adalah pemimpin semua ilmu, dan merupakan asal baginya.
7- Allah Ta’ala berfirman: “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi * Yang menciptakan lalu menyempurnakan * Dan Yang menentukan lalu memberi petunjuk”. Ketahuilah bahwa penggunaan dalil penciptaan dan petunjuk adalah metode yang diandalkan oleh para nabi besar ‘alaihimus salam, dan buktinya adalah apa yang Allah Ta’ala ceritakan tentang Ibrahim ‘alaihis salam; bahwa dia berkata: “Yang telah menciptakan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku” [Asy-Syu’ara: 78], dan Dia menceritakan tentang Fir’aun bahwa ketika dia bertanya kepada Musa dan Harun ‘alaihimas salam: “Maka siapakah Tuhanmu, wahai Musa?” [Thaha: 49], Musa ‘alaihis salam menjawab: “Tuhan kami ialah yang telah memberikan bentuk kejadian kepada segala sesuatu, kemudian memberinya petunjuk” [Thaha: 50].
Adapun Muhammad ‘alaihis shalatu was salam, sesungguhnya yang pertama kali Allah turunkan kepadanya adalah firman-Nya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan * Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah” [Al-‘Alaq: 1-2], ini menunjukkan kepada penciptaan, kemudian Dia berfirman: “Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah * Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam” [Al-‘Alaq: 3-4], dan ini menunjukkan kepada petunjuk. Kemudian Allah Ta’ala mengulangi penyebutan hujjah tersebut dalam surat ini, maka Dia berfirman: “Yang menciptakan lalu menyempurnakan * Dan Yang menentukan lalu memberi petunjuk”. Penggunaan dalil dengan cara ini sering terjadi karena keajaiban dan keunikan dalam cara ini lebih banyak, dan pengamatan manusia terhadapnya serta pengetahuannya tentangnya lebih sempurna; maka tidak heran ini menjadi cara yang lebih kuat dalam menunjukkan dalil.
8- Allah Ta’ala berfirman: “Yang menciptakan lalu menyempurnakan * Dan Yang menentukan lalu memberi petunjuk”. Maka Allah Subhanahu menyebutkan empat hal umum: penciptaan, penyempurnaan, penentuan, dan petunjuk, dan Dia menjadikan penyempurnaan sebagai kesempurnaan penciptaan, dan petunjuk sebagai kesempurnaan penentuan.
TERJEMAHAN INDONESIA
Penyempurnaan mencakup seluruh makhluk-Nya, dan apa yang ditemukan berupa ketidakseimbangan dan ketidaksempurnaan, itu kembali kepada tidak diberikannya kesempurnaan kepada makhluk; karena penyempurnaan adalah perkara yang bersifat wujudi (ada) yang berkaitan dengan pemberian pengaruh dan penciptaan. Apa yang tidak ada darinya, maka itu karena tidak adanya kehendak Sang Pencipta untuk menyempurnakan, dan itu adalah perkara yang bersifat ‘adami (ketiadaan) yang cukup dengan tidak adanya penciptaan dan pemberian pengaruh.
Renungkanlah hal itu karena akan menghilangkan kebingunganmu tentang firman-Nya: “Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah” [Al-Mulk: 3]. Ketidakseimbangan terjadi karena tidak adanya kehendak untuk menyempurnakan, sebagaimana kebodohan, ketulian, kebutaan, bisu, dan gagu cukup dengan tidak adanya kehendak untuk menciptakan dan mengadakannya. Maksudnya adalah bahwa setiap makhluk telah disempurnakan oleh Penciptanya Subhanahu pada tingkatan penciptaannya, dan jika dia kehilangan kesempurnaan dari segi lain, maka itu karena memang tidak diciptakan untuknya.
9- Dalam firman Allah Ta’ala: “Yang menciptakan lalu menyempurnakan * Dan Yang menentukan lalu memberi petunjuk”, dipilihlah sifat penyempurnaan dan petunjuk di antara sifat-sifat perbuatan yang merupakan nikmat bagi manusia dan menunjukkan bahwa Allah Ta’ala berhak disucikan; karena dalam kedua sifat ini terdapat kesesuaian dengan apa yang terkandung dalam surat ini. Sesungguhnya Dia Yang menyempurnakan penciptaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan penyempurnaan yang sesuai dengan tujuan penciptaannya untuk menanggung beban risalah: Dia tidak luput untuk mempersiapkannya untuk menjaga apa yang diwahyukan kepadanya, memudahkannya baginya, dan memberikannya syariat yang sesuai dengan kemudahan tersebut; Allah Ta’ala berfirman: “Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa”, dan Dia berfirman: “Dan Kami akan memberi kamu taufik kepada jalan yang mudah”.
10- Dalam firman Allah Ta’ala: “Yang menciptakan lalu menyempurnakan * Dan Yang menentukan lalu memberi petunjuk” terdapat penjelasan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu untuk hikmah dan tujuan yang akan dicapainya; Dia Subhanahu menyebutkan penciptaan-Nya, dan menyebutkan petunjuk-Nya dan pengajaran-Nya setelah penciptaan; karena semua makhluk diciptakan untuk tujuan yang dimaksudkan dengannya; maka harus ada petunjuk kepada tujuan yang diciptakan untuknya, sehingga tidak sempurna kemaslahatannya dan apa yang dikehendaki untuknya kecuali dengan petunjuk kepada tujuan-tujuannya.
11- Dalam firman Allah Ta’ala: “Yang menciptakan lalu menyempurnakan * Dan Yang menentukan lalu memberi petunjuk” menunjukkan bahwa kata sambung (athf) terkadang digunakan untuk perbedaan sifat dengan persatuan zat.
12- Dalam firman Allah Ta’ala: “Yang menciptakan lalu menyempurnakan * Dan Yang menentukan lalu memberi petunjuk” menunjukkan bahwa semua amal manusia mengikuti petunjuk Allah kepada mereka.
13- Dalam firman Allah Ta’ala: “Yang menciptakan lalu menyempurnakan * Dan Yang menentukan lalu memberi petunjuk” menunjukkan bahwa Dia Subhanahu menciptakan hewan dengan kemampuan untuk mencari apa yang bermanfaat baginya dan menolak apa yang membahayakannya.
14- Dalam firman Allah Ta’ala: “Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa” terdapat kabar gembira yang besar dari Allah untuk hamba dan Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam: bahwa Allah akan mengajarkannya ilmu yang tidak akan dia lupakan.
15- Dalam firman Allah Ta’ala: “Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa * Kecuali apa yang dikehendaki Allah” menunjukkan bahwa dibolehkan bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melupakan apa yang tidak berkaitan dengan penyampaian.
16- Dalam firman Allah Ta’ala: “Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu, maka kamu tidak akan lupa” terdapat mukjizat dari dua sisi: Pertama, bahwa beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang ummi (tidak bisa baca tulis); maka hafalan beliau terhadap kitab yang panjang ini tanpa belajar, pengulangan, atau tulisan adalah sesuatu yang luar biasa; sehingga menjadi mukjizat. Kedua, bahwa surah ini termasuk di antara surah-surah yang pertama kali turun di Mekah; maka ini adalah berita tentang perkara yang menakjubkan, aneh, dan bertentangan dengan kebiasaan yang akan terjadi di masa depan, dan sungguh telah terjadi. Maka ini adalah pemberitaan tentang hal gaib; sehingga menjadi mukjizat.
17- Dalam firman Allah Ta’ala: “Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu, maka kamu tidak akan lupa, kecuali apa yang dikehendaki Allah” terdapat pertanyaan: Bahwa dalam ayat-ayat ini ada petunjuk bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam dapat melupakan sebagian Al-Qur’an yang Allah kehendaki untuk dilupakannya, padahal telah datang banyak ayat yang menunjukkan pemeliharaan Al-Qur’an dari hilang, seperti firman Allah Ta’ala: “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya” [Al-Qiyamah: 16-17], dan firman-Nya: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” [Al-Hijr: 9]! Jawabannya: Bahwa Al-Qur’an meskipun terpelihara dari hilang, namun sebagiannya menasakh (menghapus) sebagian yang lain, dan Allah membuat Nabi-Nya melupakan sebagian Al-Qur’an termasuk dalam hukum nasakh. Jika Allah membuatnya lupa akan suatu ayat, maka seakan-akan Dia telah menasakhnya, dan pasti akan mendatangkan yang lebih baik darinya atau yang serupa dengannya, sebagaimana yang ditegaskan Allah Ta’ala dalam firman-Nya: “Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya” [Al-Baqarah: 106], dan firman-Nya: “Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya, dan Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya” [An-Nahl: 101], dan di sini Allah mengisyaratkan pada pengetahuan-Nya tentang hikmah nasakh dengan firman-Nya: “Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.”
18- Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.” Hubungan antara yang terang dan yang tersembunyi adalah bahwa apa yang dibaca Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dari Al-Qur’an termasuk kategori yang terang, maka Allah mengetahuinya, dan apa yang dilupakannya sehingga terhapus dari Al-Qur’an termasuk kategori yang tersembunyi, maka Allah mengetahui bahwa itu telah hilang dari ingatannya ketika membaca, sehingga tidak keluar dalam ucapannya.
19- Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi,” dan di antaranya adalah bahwa Dia mengetahui apa yang baik bagi hamba-hamba-Nya, yaitu: karena itulah Dia menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan menghukumi dengan apa yang Dia inginkan.
20- Dalam firman Allah Ta’ala: “Dan Kami akan memberi kamu taufik kepada jalan yang mudah” terdapat kabar gembira yang besar; bahwa Allah memudahkan Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada kemudahan dalam semua urusannya, dan menjadikan syariat dan agama-Nya mudah.
بلاغة الآيات (Keindahan Ayat-ayat):
1- Firman Allah Ta’ala: “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi, Yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan Yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk, dan Yang menumbuhkan rerumputan, lalu dijadikan-Nya rerumputan itu kering kehitam-hitaman.”
- Pada firman-Nya: “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi” – Pembukaan dengan perintah kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyucikan nama Tuhannya dengan ucapan, mengisyaratkan bahwa setelahnya akan disampaikan kabar gembira dan kebaikan baginya, yaitu firman-Nya: “Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu, maka kamu tidak akan lupa…” [Al-A’la: 6] dan ayat-ayat selanjutnya; ini menunjukkan keindahan pembukaan.
- Kata “isma” (nama) didefinisikan dengan cara penambahan kepada “rabbika” (Tuhanmu) bukan dengan penambahan kepada kata Allah seperti: “sabbih isma Allah” (sucikanlah nama Allah); karena kata “rabb” (Tuhan) mengesankan bahwa Dia adalah Pencipta dan Pengatur.
- Penambahan kata “rabb” (Tuhan) kepada kata ganti Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah untuk memuliakannya dengan penambahan ini, dan agar dia mendapat keistimewaan tambahan di atas perintah bertasbih.
- Pada kata “rabbika” (Tuhanmu) disertakan sifat “Al-A’la” (Yang Maha Tinggi) dan sifat-sifat setelahnya yang menunjukkan tindakan kekuasaan-Nya; sehingga Dia berhak mendapatkan penyucian atas sifat-sifat zat-Nya dan sifat-sifat pemberian nikmat-Nya kepada manusia dengan menciptakan mereka dalam bentuk yang sebaik-baiknya, memberi petunjuk kepada mereka, memberi rezeki kepada mereka, dan memberi rezeki kepada hewan ternak mereka; sebagai isyarat kepada alasan perintah menyucikan nama-Nya bahwa Dia layak mendapatkan penyucian karena zat-Nya sendiri, dan karena sifat-Nya sebagai Pencipta makhluk dengan penciptaan yang menunjukkan ilmu, hikmah, dan kesempurnaan pembuatan, serta karena Dia telah memberikan nikmat berupa petunjuk dan rezeki yang dengannya kondisi manusia menjadi baik secara jiwa dan raga. Tiga sifat pertama diutamakan karena kesesuaiannya dengan tujuan surah.
- Kata “Al-A’la” (Yang Maha Tinggi) adalah isim tafdil (kata yang menunjukkan lebih), yang dibuang hal yang dibandingkan dengannya untuk menunjukkan keumuman, artinya: Yang Maha Tinggi di atas segala sesuatu.
- Pemilihan sifat “Al-A’la” dalam surah ini karena surah ini mencakup pemuliaan Al-Qur’an, pemantapan dalam menerimanya, dan pengingatan yang dikandungnya; dan itu karena ketinggian kedudukannya; maka ini termasuk hal-hal yang terkait dengan sifat ketinggian Ilahi; karena itu adalah firman-Nya.
- Objek dari “khalaqa” (menciptakan) tidak disebutkan; maka bisa diperkirakan bersifat umum, yaitu: menciptakan segala sesuatu, dan bisa juga diperkirakan bersifat khusus, yaitu: menciptakan manusia, atau menciptakan Adam, dengan bukti adanya kata “khalaqa” (menciptakan) bersama kata “sawwa” (menyempurnakan); Allah Ta’ala berfirman: “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku…” [Al-Hijr: 29] ayat.
- Penggabungan kalimat “fasawwa” (maka Dia menyempurnakan) dengan huruf “fa” dan bukan dengan “wa”; sebagai isyarat bahwa isi kalimat tersebut adalah yang dimaksud dari hubungan, dan bahwa apa yang sebelumnya adalah pengantar untuk itu; sehingga huruf “fa” pada firman-Nya: “fasawwa” menunjukkan pembagian dalam penyebutan dengan pertimbangan bahwa penciptaan didahulukan dalam pertimbangan orang yang memperhatikan dibandingkan penyempurnaan, meskipun terjadinya penyempurnaan bersamaan dengan terjadinya penciptaan; dan karena penyempurnaan bersamaan dengan penciptaan, maka kata “fasawwa” digabungkan dengan kata “khalaqa” menggunakan huruf “fa” yang menunjukkan sebab-akibat, yaitu: urutan penyempurnaan setelah penciptaan.
- Pengulangan kata “alladzi” (Yang) dalam firman-Nya: “wa alladzi qaddara” (dan Yang menentukan kadar) dan firman-Nya: “wa alladzi akhraja al-mar’a” (dan Yang menumbuhkan rerumputan), padahal huruf “wa” (dan) sudah cukup tanpa perlu mengulangnya; ini menunjukkan pentingnya setiap sifat dari sifat-sifat ini dan untuk menetapkannya bagi yang ditunjuk oleh kata sambung, dan ini termasuk faktor-faktor yang menunjukkan pengembangan kalimat.
- Dan juga penggabungan firman-Nya: “fahada” (lalu memberi petunjuk) dengan huruf “fa” seperti penggabungan “fasawwa” (lalu menyempurnakan), sehingga digabungkan dengan huruf “fa” bukan dengan “wa”; untuk menunjukkan bahwa isinya adalah yang dimaksud dari hubungan, dan bahwa apa yang sebelumnya adalah pengantar untuk itu, dan penggabungan “fahada” dengan “qaddara” adalah penggabungan akibat dengan sebab, yaitu: lalu Dia memberi petunjuk kepada segala sesuatu yang ditentukan kadarnya menuju apa yang telah ditentukan untuknya.
- Objek kata “hada” (memberi petunjuk) tidak disebutkan; untuk menunjukkan keumuman, dan ini bersifat umum yang dikhususkan pada hal-hal yang memiliki kemampuan untuk menerima petunjuk, sehingga khusus bagi makhluk yang memiliki kesadaran dan kehendak, yaitu jenis-jenis hewan; karena jenis-jenis yang Allah ciptakan dan tentukan sistemnya tetapi tidak ditentukan untuk memiliki kesadaran seperti penentuan berbuah bagi pohon, maka itu tidak termasuk dalam maksud firman-Nya: “fahada”; karena mereka diciptakan dan ditentukan, tetapi tidak diberi petunjuk karena ketidakmampuan mereka untuk menerima petunjuk. Dan jika objek “khalaqa” (menciptakan) dibuat khusus – yaitu manusia – maka objek “qaddara” (menentukan) sesuai dengannya, yaitu: penentuan kesempurnaan kekuatan manusia, dan petunjuk menjadi petunjuk khusus, yaitu petunjuk kesadaran dan akal.
- Ada yang mengatakan: dalam firman-Nya: “fahada” terdapat pencukupan, dan perkiraannya: lalu Dia memberi petunjuk dan menyesatkan. Itu berdasarkan salah satu pendapat dalam tafsir.
- Firman-Nya: “wa alladzi akhraja al-mar’a” (dan Yang menumbuhkan rerumputan) adalah pengingat tentang penciptaan jenis tumbuhan dari pohon dan lainnya, dan dibatasi pada sebagian jenisnya -yaitu rumput- karena itu adalah makanan hewan ternak yang bermanfaat bagi manusia. Ini berdasarkan salah satu pendapat.
- Pemilihan kata “al-mar’a” (rerumputan) daripada kata “al-nabat” (tumbuhan); karena kata “ra’y” (menggembalakan) memberikan kesan manfaat bagi hewan ternak, dan manfaat hewan ternak bagi orang-orang yang memeliharanya, di samping memperhatikan keserasian akhir ayat. Ini berdasarkan salah satu pendapat.
- Firman-Nya: “faja’alahu ghutsa’an ahwa” (lalu dijadikan-Nya rerumputan itu kering kehitam-hitaman) – “al-ghutsa'” adalah tumbuhan yang kering, dan “ahwa” artinya yang bersifat “huwwah”, yaitu salah satu warna: kecoklatan yang mendekati hitam, dan ini adalah sifat bagi “ghutsa'”; karena “ghutsa'” itu kering, sehingga warna hijaunya berubah menjadi kehitaman. Sifat “ahwa” ini untuk menghadirkan perubahan warnanya setelah sebelumnya berwarna hijau segar, dan itu adalah bukti pengendalian Allah Ta’ala dalam penciptaan dan pengakhiran.
- Ada yang mengatakan: “ahwa” adalah “hal” (keterangan keadaan) dari “al-mar’a”, artinya: Dia menumbuhkan rerumputan dalam keadaan kehitaman, yaitu cenderung hitam karena sangat hijau dan segarnya akibat banyaknya air, dan pengakhiran kata “ahwa” bertujuan untuk menjaga keserasian akhir-akhir ayat.
- Dalam penjelasan tentang Allah Ta’ala menumbuhkan rerumputan dan menjadikannya kering kehitam-hitaman, bersama dengan sifat-sifat sebelumnya dalam konteks hubungan antara sifat-sifat tersebut dengan tujuan pembicaraan: terdapat isyarat untuk menggambarkan keadaan Al-Qur’an dan petunjuknya, serta syariat yang terkandung di dalamnya yang bermanfaat bagi manusia, dengan keadaan hujan yang menumbuhkan rerumputan, sehingga bermanfaat bagi hewan dan ternak, dan isyarat bahwa syariat ini akan sempurna dan mencapai apa yang Allah kehendaki di dalamnya sebagaimana rerumputan menjadi sempurna dan mencapai kematangannya ketika menjadi kering kehitam-hitaman, dan penjelasan isyarat ini dan perinciannya telah disebutkan dalam sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah utus kepadaku dengannya, seperti hujan lebat yang mengenai suatu tanah. Sebagian tanah itu ada yang baik, menyerap air lalu menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput yang banyak. Dan ada tanah yang keras menahan air, lalu Allah memberikan manfaat kepada manusia dengannya, mereka minum darinya, memberi minum (hewan) dan bercocok tanam…” hingga akhir hadits.
Dan bisa juga kalimat “faja’alahu ghutsa’an ahwa” dimaksudkan untuk menyisipkan pelajaran tentang berbagai perubahan yang Allah tanamkan dalam makhluk-makhluk dari berbagai fase dari sesuatu ke lawannya; untuk mengingatkan tentang kefanaan setelah kehidupan; untuk menunjukkan bahwa masa kesegaran kehidupan bagi segala sesuatu menyerupai masa yang singkat, sehingga digunakan huruf yang menunjukkan penggabungan di mana hukum yang digabungkan terjadi setelah waktu yang dekat dari waktu terjadinya yang digabungi, yaitu huruf “fa” (lalu).
2- Firman Allah Ta’ala: “Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu, maka kamu tidak akan lupa, kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi. Dan Kami akan memberi kamu taufik kepada jalan yang mudah.”
- Firman-Nya: “Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu, maka kamu tidak akan lupa” – Perintah bertasbih dalam firman-Nya: “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi” [Al-A’la: 1] adalah kabar gembira secara umum bagi Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan yang akan diperolehnya; maka ini adalah tempat penjelasan yang jelas tentang janji kepadanya bahwa Allah akan melindunginya dari lupa terhadap apa yang Allah bacakan kepadanya, sehingga dia akan menyampaikannya sebagaimana diwahyukan kepadanya, dan menjaganya dari terlepas darinya. Oleh karena itu, kalimat ini merupakan permulaan keterangan; karena kabar gembira menimbulkan dalam jiwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam harapan akan janji kebaikan yang akan datang kepadanya, maka Allah memberinya kabar gembira bahwa Dia akan menambah wahyu kepadanya, bersama dengan apa yang dihubungkan dengan firman-Nya: “Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu” yaitu firman-Nya: “maka kamu tidak akan lupa”. Dan dimulai dengan firman-Nya: “Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu” sebagai pendahuluan untuk maksud utama yaitu “maka kamu tidak akan lupa”, dan untuk menyisipkan pemberitahuan bahwa Al-Qur’an akan terus bertambah, sehingga jika dia takut lupa sebagian dari apa yang diwahyukan kepadanya ketika masih sedikit, maka (wahyu) itu akan terus datang dan bertambah banyak, dan dia tidak perlu takut lupa; karena Allah telah menjamin bahwa dia tidak akan lupa meskipun (wahyu) bertambah.
- Huruf “sin” dalam firman-Nya: “sanuqri’uka” (Kami akan membacakan kepadamu) bisa untuk penekanan, atau karena yang dimaksud adalah pembacaan apa yang Allah wahyukan kepadanya saat itu dan apa yang akan diwahyukan kepadanya setelah itu; sehingga ini adalah janji kelanjutan wahyu dalam rangkaian janji pembacaan; maka huruf “sin” adalah tanda masa depan dari apa yang dimasukinya, dan ini menunjukkan kepastian terjadinya perbuatan, terutama jika berhubungan dengan perbuatan yang terjadi pada saat berbicara; maka ini mengharuskan bahwa perbuatan itu akan berlanjut dan terbarui, dan itu adalah penegasan terjadinya, dan karena firman-Nya: “Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu, maka kamu tidak akan lupa” adalah pembacaan, maka huruf “sin” menunjukkan bahwa pembacaan itu akan berlanjut dan terbarui.
- Pengalihan dengan kata ganti orang pertama jamak yang mengagungkan dirinya “Kami akan membacakan kepadamu”; karena berbicara lebih sesuai dengan menghadap kepada orang yang diberi kabar gembira.
- Firman-Nya: “kecuali apa yang dikehendaki Allah” terdapat pengalihan ke nama yang agung (Allah); untuk menumbuhkan kewibawaan, dan menunjukkan bahwa kehendak berputar pada tanda ketuhanan yang diikuti oleh semua sifat.
- Kalimat “Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi” adalah kalimat sisipan, dan ini adalah alasan untuk kalimat “maka kamu tidak akan lupa, kecuali apa yang dikehendaki Allah”; karena isi kalimat tersebut adalah jaminan Allah kepada Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjaga Al-Qur’an dari kekurangan yang tidak disengaja.
- Firman-Nya: “Dan Kami akan memberi kamu taufik kepada jalan yang mudah” digabungkan dengan “Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu, maka kamu tidak akan lupa” [Al-A’la: 6], dan penggabungan ini adalah penggabungan yang lebih umum kepada yang lebih khusus dalam akibatnya, meskipun pengertian kalimat sebelumnya berbeda dari pengertian “memberi taufik”; karena pengertian kalimat sebelumnya adalah penjagaan dan perlindungan, sedangkan pengertian kalimat yang digabungkan adalah memudahkan kebaikan baginya.
- Pemberian taufik kepadanya Shalallahu ‘alaihi wa sallam, padahal yang umum adalah pemberian taufik kepada urusan-urusan yang ditundukkan kepada pelaku – seperti dalam firman Allah Ta’ala: “dan mudahkanlah untukku urusanku” [Thaha: 26] -; ini untuk menunjukkan kuatnya kemampuannya Shalallahu ‘alaihi wa sallam terhadap jalan yang mudah dan tindakan di dalamnya, sehingga itu menjadi sifat yang tertanam baginya, seakan-akan dia Shalallahu ‘alaihi wa sallam diciptakan di atasnya, seperti dalam sabdanya Shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Beramallah, karena setiap orang dimudahkan untuk apa yang dia diciptakan untuknya”. Dan makna huruf “li” (untuk) dalam firman-Nya: “lilyusra” (kepada jalan yang mudah) adalah sebab, yaitu: untuk tujuan kemudahan, yaitu: untuk menerimanya.
- Dan bisa juga firman-Nya: “Dan Kami akan memberi kamu taufik kepada jalan yang mudah” dianggap sebagai ungkapan yang berbeda dari apa yang secara lahiriah tampak dengan menggunakan gaya bahasa pembalikan, dan aslinya adalah: “Kami akan memudahkan jalan yang mudah untukmu”, yaitu: Kami akan menjadikannya mudah bagimu sehingga tidak berat bagimu – ini dengan anggapan bahwa yang disifati dihilangkan, dan perkiraannya adalah: bagi syariat. Dan dalam penyifatan syariat – dengan perkiraan ini – dengan (yang mudah) terdapat isyarat pada tertanamnya kemudahannya baginya karena syariat dijadikan mudah, sehingga tidak tersisa kecuali menjaganya dari hal-hal yang menghalangi yang membuatnya sulit untuk menerima kemudahan, sehingga pembicaraan mencakup dua kemudahan: pemudahan apa yang dibebankan kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu: menjadikannya mudah sambil memenuhi tujuan darinya, dan memudahkan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk melaksanakan apa yang dibebankan kepadanya, dan pengalihan dari apa yang secara lahiriah tampak dalam susunan kalimat kepada apa yang ada dalam susunan kalimat diarahkan bahwa di dalamnya terdapat penempatan sesuatu yang dimudahkan pada posisi sesuatu yang dimudahkan untuknya, dan sebaliknya; untuk menguatkan tetapnya perbuatan bagi objek dengan cara pembalikan yang diterima, seperti perkataan orang Arab: “Aku menunjukkan unta kepada kolam” (padahal seharusnya: “Aku menunjukkan kolam kepada unta”).
- “Al-Yusra” (yang mudah): bentuk feminin dari “al-aysar”, dan bentuk “fu’la” menunjukkan kuatnya sifat; karena itu adalah bentuk feminin dari “af’al”.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Ayat: 9-15
﴿فَذَكِّرْ اِنْ نَّفَعَتِ الذِّكْرٰىۗ ٩ سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَّخْشٰىۙ ١٠ وَيَتَجَنَّبُهَا الْاَشْقَىۙ ١١ الَّذِيْ يَصْلَى النَّارَ الْكُبْرٰىۚ ١٢ ثُمَّ لَا يَمُوْتُ فِيْهَا وَلَا يَحْيٰىۗ ١٣ قَدْ اَفْلَحَ مَنْ تَزَكّٰىۙ ١٤ وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهٖ فَصَلّٰىۗ ١٥ ﴾
Kata-kata yang Asing:
- يَصْلَى (Yasla): Artinya: masuk dan memasuki. Dikatakan: seseorang memasuki api dan merasakan panas api dengan perasaan terbakar. Asal kata “as-sola” berarti menyalakan api.
- أَفْلَحَ (Aflaha): Artinya: berhasil mendapatkan apa yang diinginkan dan selamat dari apa yang ditakuti. Asal kata “falah” berarti keberlangsungan, keberhasilan, kemenangan, dan pencapaian keinginan. Kemudian digunakan untuk setiap orang yang berakal, bijaksana dan memiliki sifat-sifat baik yang sempurna. Orang Arab mengatakan kepada setiap orang yang mendapat kebaikan: “muflih” (orang yang beruntung). Asal kata “falaha” di sini menunjukkan kemenangan dan keberlangsungan.
- تَزَكَّى (Tazakka): Artinya: membersihkan diri dari kekufuran dan kemaksiatan kepada Allah, dan menjalankan apa yang diperintahkan Allah kepadanya. Asal kata “zaki” menunjukkan kesucian, pertumbuhan dan peningkatan.
Makna Keseluruhan:
Allah Ta’ala berfirman memerintahkan Nabi-Nya ﷺ untuk memberi peringatan: “Berilah peringatan -wahai Muhammad- dengan Al-Qur’an jika engkau berharap ada manfaat dalam peringatan itu. Akan mengambil pelajaran dari Al-Qur’an dan mengambil nasihat dari peringatannya orang yang takut kepada Allah Ta’ala. Sedangkan orang kafir akan menjauh dari peringatan dan tidak mengambil manfaat darinya; yaitu orang yang akan masuk ke dalam api neraka yang besar di akhirat dan merasakan panasnya yang hebat, kemudian dia tidak mati di dalam neraka dan tidak pula hidup.”
Kemudian Allah Subhanahu menjelaskan kebaikan akibat bagi orang-orang beriman dan sebab-sebabnya, dengan berfirman: “Sungguh beruntung dan berbahagia orang yang membersihkan dirinya dari kekufuran dan kemaksiatan, dan mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala; lalu menghadap kepada shalat untuk Allah Ta’ala.”
Tafsir Ayat-ayat:
فَذَكِّرْ إِنْ نَفَعَتِ الذِّكْرَى (9) – Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah bertanggung jawab untuk memudahkan semua kepentingan dunia dan akhirat, Dia memerintahkan untuk mengajak makhluk kepada kebenaran. Dan juga ketika Dia memberitahukan bahwa Dia akan membacakan dan memudahkannya, Dia memerintahkannya untuk memberi peringatan; karena buah dari pembacaan adalah manfaat baginya sendiri dan manfaat bagi mereka yang kepadanya dia diutus.
فَذَكِّرْ إِنْ نَفَعَتِ الذِّكْرَى (9) – Artinya: Berilah peringatan -wahai Muhammad- dengan Al-Qur’an jika engkau berharap ada manfaat dalam peringatan itu. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Maka berilah peringatan dengan Al-Qur’an kepada orang yang takut akan ancaman-Ku” [Qaf: 45]. Dan Allah Subhanahu berfirman: “Dan berilah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman” [Adz-Dzariyat: 55].
سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَى (10) – Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah memerintahkannya untuk memberi peringatan kepada semua orang, Dia membagi manusia menjadi dua kelompok: kelompok yang menerima pengobatan, dan kelompok yang tidak menerimanya; sebagai pemberitahuan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui masing-masing dari dua kelompok itu secara keseluruhan dan individu secara spesifik, dan Dia selalu mengetahui hal itu, tetapi Dia tidak menentukan; sebagai ujian dari-Nya untuk hamba-hamba-Nya; agar hujjah-Nya tegak atas mereka dengan apa yang mereka ketahui di antara mereka, dan milik-Nya hujjah yang sempurna.
سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَى (10). Artinya: Akan mengambil pelajaran dari Al-Qur’an dan mengambil nasihat dari peringatannya orang yang takut kepada Allah dan takut akan siksa-Nya.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang takut kepada azab akhirat.” [Hud: 103]
Dan Allah Subhanahu berfirman: “Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang kembali (kepada Allah).” [Ghafir: 13]
Dan Allah -Azza wa Jalla- berfirman tentang Fir’aun: “Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan di dunia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Allah).” [An-Nazi’at: 25-26]
وَيَتَجَنَّبُهَا الْأَشْقَى (11). Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Setelah Allah Ta’ala menjelaskan siapa yang mengambil manfaat dari peringatan, Dia menjelaskan siapa yang tidak mengambil manfaat darinya.
وَيَتَجَنَّبُهَا الْأَشْقَى (11). Artinya: Dan orang kafir akan menjauh dari peringatan, dan tidak mengambil manfaat darinya.
الَّذِي يَصْلَى النَّارَ الْكُبْرَى (12). Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Setelah Allah menyebutkan sifatnya yang menyebabkan dia melakukan perbuatan buruk, Dia menyebutkan balasannya.
الَّذِي يَصْلَى النَّارَ الْكُبْرَى (12). Artinya: Yang akan masuk ke dalam api neraka yang besar di akhirat, sehingga dia merasakan hebatnya panas dan pedihnya.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Maka Aku memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka.” [Al-Lail: 14-15]
Dan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Api kalian ini yang dinyalakan oleh anak Adam adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian panasnya Jahannam!” Mereka berkata: “Demi Allah, sesungguhnya itu saja sudah cukup (panasnya) wahai Rasulullah!” Beliau bersabda: “Sesungguhnya (api neraka) itu melebih api dunia dengan enam puluh sembilan bagian, semuanya sama panasnya.”
ثُمَّ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَا (13). Artinya: Kemudian orang kafir itu tidak mati di dalam neraka yang besar itu; sehingga dia bisa beristirahat dari siksanya, dan tidak pula hidup dengan kehidupan yang bermanfaat dan bebas dari rasa sakit!
Sebagaimana Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam. Dia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.” [Thaha: 74]
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan datanglah kematian kepadanya dari segala penjuru, tetapi dia tidak mati.” [Ibrahim: 17]
Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan orang-orang yang kafir, bagi mereka neraka Jahannam. Mereka tidak dimatikan sehingga mereka mati, dan tidak diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir.” [Fathir: 36]
Dan dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Adapun penghuni neraka yang merupakan penduduknya, maka mereka tidak mati di dalamnya dan tidak pula hidup.”
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى (14). Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Setelah Allah Ta’ala menyebutkan ancaman bagi orang yang berpaling dari melihat tanda-tanda Allah Ta’ala, Dia melanjutkan dengan janji bagi orang yang sebaliknya.
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى (14). Artinya: Sungguh beruntung dan berbahagia orang yang membersihkan dirinya dari kekufuran, kemaksiatan, dan akhlak yang buruk, lalu dia beriman dan melakukan amal saleh yang di antaranya adalah mengingat Allah, shalat, dan sedekah.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya dan menyucikan (jiwa) mereka.” [Ali ‘Imran: 164]
Dan Allah Subhanahu berfirman: “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, dan orang yang menunaikan zakat.” [Al-Mu’minun: 1-4]
Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya.” [Asy-Syams: 7-9]
Dan dari Zaid bin Arqam Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengucapkan: “Ya Allah, berikanlah kepada jiwaku ketakwaan, dan sucikanlah ia, Engkau adalah sebaik-baik yang menyucikannya, Engkau adalah Pelindungnya dan Penolongnya.”
وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى (15). Artinya: Dan dia mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hati dan lisannya; maka hal itu membuatnya menghadap kepada shalat untuk Allah Ta’ala.
Manfaat Pendidikan:
1- Dalam firman Allah Ta’ala: سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَى (Akan mengambil pelajaran orang yang takut) bahwa takut kepada Allah Ta’ala mengharuskan ketaatan kepada-Nya; orang yang takut kepada Allah menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya; Allah Subhanahu memberitahukan bahwa orang yang takut kepada-Nya akan mengambil pelajaran, dan mengambil pelajaran di sini mengharuskan adanya ibadah kepada-Nya.
2- Dalam firman Allah Ta’ala: سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَى (Akan mengambil pelajaran orang yang takut), dan firman-Nya:
اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ [Asy-Syura: 13]
(Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama-Nya dan memberi petunjuk orang yang kembali kepada-Nya), dan firman-Nya:
إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُمْ بِإِيمَانِهِمْ [Yunus: 9]
(Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Tuhan memberi petunjuk kepada mereka karena keimanan mereka) bahwa seorang hamba semakin bertakwa semakin bertambah petunjuknya, dan semakin mendapat petunjuk semakin bertambah ketakwaannya.
3- Dalam firman Allah Ta’ala: سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَى (Akan mengambil pelajaran orang yang takut) bahwa orang yang beriman kepada akhirat dan takut kepadanya, dialah yang mengambil manfaat dari ayat-ayat dan nasihat-nasihat.
4- Dalam firman Allah Ta’ala: سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَى (Akan mengambil pelajaran orang yang takut) bahwa mengingat janji dan ancaman mewajibkan takut kepada Allah dan waspada terhadap-Nya, dan nasihat tidak bermanfaat kecuali bagi orang yang beriman kepada-Nya, takut dan berharap kepada-Nya.
5- Firman Allah Ta’ala: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى (Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri) artinya: membersihkan diri, dan ini mencakup lahir dan batinnya. Seseorang menyucikan diri pertama-tama: dari kesyirikan dalam hubungannya dengan Allah, sehingga dia beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya, tidak riya, tidak mencari popularitas, tidak mencari kedudukan atau kepemimpinan dalam ibadah yang dia lakukan untuk Allah ‘Azza wa Jalla, melainkan dia hanya menginginkan wajah Allah Ta’ala dan kampung akhirat.
Kedua: Menyucikan diri dalam mengikuti Rasul ‘alaihi shalatu wassalam, dengan tidak melakukan bid’ah dalam syariat-Nya baik sedikit maupun banyak, baik dalam keyakinan, perkataan, maupun perbuatan. Penyucian diri ini terkait dengan Rasul ‘alaihi shalatu wassalam -yaitu mengikutinya tanpa melakukan bid’ah- tidak sepenuhnya terwujud kecuali dalam metode Salafush Shalih; metode Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang beriman kepada semua yang Allah sifatkan tentang diri-Nya dalam kitab-Nya, atau melalui lisan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam; mengikuti metode Salafush Shalih, yang tidak melakukan bid’ah dalam ibadah-ibadah yang berupa perkataan maupun perbuatan dalam agama Allah. Kamu akan mendapati mereka mengikuti apa yang datang dalam syariat, berbeda dengan apa yang dilakukan oleh sebagian pelaku bid’ah dalam dzikir-dzikir bid’ah; baik dalam jenisnya, caranya, sifatnya, maupun pelaksanaannya, seperti yang dilakukan oleh sebagian pengikut tarekat dari kalangan sufi dan lainnya.
Ketiga: Menyucikan diri dalam hubungannya dengan makhluk, dengan membersihkan hatinya dari kebencian dan dendam terhadap saudara-saudaranya sesama muslim, sehingga kamu akan mendapatinya selalu bersih hatinya, mencintai untuk saudara-saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri, tidak rela jika seseorang tertimpa keburukan, bahkan dia menginginkan agar semua manusia selamat dari segala kejahatan dan diberi taufik untuk segala kebaikan.
Manfaat Ilmiah dan Kelembutan:
1- Firman Allah Ta’ala: فَذَكِّرْ إِنْ نَفَعَتِ الذِّكْرَى (Maka berilah peringatan jika peringatan itu bermanfaat) digunakan sebagai dalil dari makna zhahir ayat bahwa dalam kewajiban amar ma’ruf disyaratkan adanya dugaan akan memberikan manfaat. Jika seseorang yakin tidak ada manfaat dalam hal itu, maka tidak wajib baginya.
2- Allah Ta’ala berfirman: فَذَكِّرْ إِنْ نَفَعَتِ الذِّكْرَى (Maka berilah peringatan jika peringatan itu bermanfaat) makna yang dipahami dari ayat ini adalah bahwa jika peringatan tidak bermanfaat; yaitu jika peringatan justru menambah keburukan atau mengurangi kebaikan, maka peringatan bukanlah sesuatu yang diperintahkan, tetapi justru dilarang. Maka manusia terbagi menjadi dua kelompok dalam merespons peringatan: kelompok yang mengambil manfaat dan kelompok yang tidak mengambil manfaat.
Adapun kelompok yang mengambil manfaat, Allah menyebutkan mereka dengan firman-Nya: سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَى (Akan mengambil pelajaran orang yang takut) kepada Allah Ta’ala; karena takut kepada Allah Ta’ala dan mengetahui bahwa Dia akan membalas perbuatannya mewajibkan seorang hamba untuk menahan diri dari kemaksiatan dan berusaha dalam kebaikan.
Adapun kelompok yang tidak mengambil manfaat, Allah menyebutkan mereka dengan firman-Nya: وَيَتَجَنَّبُهَا الْأَشْقَى * الَّذِي يَصْلَى النَّارَ الْكُبْرَى (Dan akan menjauhinya orang yang celaka, yang akan masuk api yang besar), yaitu api yang dinyalakan, yang menjangkau sampai ke hati.
3- Dalam firman Allah Ta’ala: فَذَكِّرْ إِنْ نَفَعَتِ الذِّكْرَى (Maka berilah peringatan jika peringatan itu bermanfaat) ada pertanyaan: bahwa Nabi ‘alaihi shalatu wassalam diutus kepada semua orang, sehingga wajib baginya untuk memberi peringatan kepada mereka baik peringatan itu bermanfaat bagi mereka atau tidak; jadi apa maksud dari pengaitan dengan syarat dalam firman-Nya: إِنْ نَفَعَتِ الذِّكْرَى?
Jawaban: Bahwa sesuatu yang digantungkan pada sesuatu lain tidak harus menjadi tidak ada ketika sesuatu itu tidak ada, seperti firman-Nya: “Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri menginginkan kesucian” [An-Nur: 33], dan firman-Nya: “Dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya” [Al-Baqarah: 172]. Jika kamu memahami hal ini, maka para ulama menyebutkan beberapa faidah dari penyebutan syarat ini:
Pertama: Bahwa orang yang melakukan suatu perbuatan untuk tujuan tertentu, tidak diragukan lagi bahwa dalam situasi di mana diketahui bahwa sarana itu akan mencapai tujuan tersebut, maka perbuatan itu lebih wajib daripada dalam situasi di mana diketahui bahwa sarana itu tidak akan mencapai tujuan tersebut; oleh karena itu Allah berfirman: “Jika peringatan itu bermanfaat.”
Kedua: Bahwa Allah Ta’ala menyebutkan kondisi yang lebih mulia, dan mengisyaratkan pada kondisi lainnya, seperti firman-Nya: “Pakaian yang melindungimu dari panas” [An-Nahl: 81], dan maksudnya adalah: “Maka berilah peringatan, baik peringatan itu bermanfaat atau tidak bermanfaat.”
Ketiga: Bahwa maksud dari ayat tersebut adalah: Dorongan untuk mengambil manfaat dari peringatan, sebagaimana seseorang berkata kepada orang lain ketika menjelaskan kebenaran kepadanya: “Aku telah menjelaskan kepadamu jika kamu memahami,” yang maksudnya adalah mendorong untuk menerima dan mengambil manfaat darinya.
Keempat: Bahwa ini sama dengan memberitahu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa peringatan itu tidak akan bermanfaat bagi mereka, sebagaimana dikatakan kepada seseorang: “Panggillah fulan jika dia menjawabmu,” yang maksudnya: “Aku tidak melihat dia akan menjawabmu.”
Kelima: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah banyak mengajak mereka kepada Allah, dan setiap kali dakwahnya bertambah banyak, semakin besar pula keangkuhan mereka, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa sangat sedih atas hal itu, maka dikatakan kepadanya: “Dan kamu bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka beri peringatanlah dengan Al-Qur’an orang yang takut kepada ancaman-Ku” [Qaf: 45]; karena peringatan umum wajib pada awal perkara, adapun pengulangan mungkin hanya wajib ketika ada harapan tercapainya tujuan; karena itulah makna ini dibatasi dengan syarat ini.
4- Dalam firman Allah Ta’ala: “Orang yang takut (kepada Allah) akan mengambil pelajaran,” ada pertanyaan: Bahwa pengetahuan hanya disebut “mengingat” jika pengetahuan itu telah diperoleh sebelumnya kemudian dilupakan, dan kondisi ini tidak terjadi pada orang-orang kafir, lalu bagaimana Allah Ta’ala menyebut hal itu sebagai “mengingat”?!
Jawabannya: Bahwa karena kuatnya dan jelasnya dalil-dalil, seolah-olah pengetahuan itu telah ada, kemudian hilang karena taklid dan pembangkangan; karena itulah Allah Ta’ala menyebutnya sebagai “mengingat”. Atau karena apa yang telah tertanam dalam fitrah.
5- Dalam firman Allah Ta’ala: “Kemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup,” ada pertanyaan: Bagaimana Allah mengatakan demikian, padahal makhluk hidup tidak lepas dari salah satu dari dua sifat ini (hidup atau mati)?!
Jawabannya: Bahwa maknanya adalah: Dia tidak mati dengan kematian yang membuatnya beristirahat, dan tidak hidup dengan kehidupan yang bermanfaat baginya, seperti firman Allah Ta’ala: “Tidak diputuskan (hukuman) atas mereka sehingga mereka mati dan tidak diringankan dari mereka azabnya” [Fathir: 36].
Dan dikatakan: Maknanya adalah: Jiwanya naik ke tenggorokan, kemudian tidak meninggalkannya sehingga dia mati, dan tidak kembali ke tempatnya dalam tubuh sehingga dia hidup.
6- Dalam firman Allah Ta’ala: “Kemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup,” bahwa balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan; karena ketika orang yang paling celaka di dunia tidak hidup dengan kehidupan yang bermanfaat, dan tidak mati tanpa perasaan; maka di akhirat dia juga demikian.
7- Dalam surat An-Nur terdapat firman-Nya: “Tetapi Allah membersihkan siapa yang Dia kehendaki” [An-Nur: 21], artinya: Allah membersihkannya dari kotoran kekufuran dan kemaksiatan dengan taufik-Nya dan petunjuk-Nya kepada iman dan taubat yang tulus dan amal-amal saleh, dan ini yang ditunjukkan oleh ayat tersebut tidak bertentangan dengan firman Allah Ta’ala: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan (jiwa)nya” [Asy-Syams: 9], dan tidak pula dengan firman-Nya: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri,” menurut pendapat yang mengatakan bahwa makna “menyucikan diri” adalah: membersihkan diri dari kotoran kekufuran dan kemaksiatan, dan penjelasannya dalam firman-Nya: “orang yang menyucikan (jiwa)nya” adalah bahwa dia tidak menyucikannya kecuali dengan taufik Allah dan petunjuk-Nya kepadanya untuk beramal saleh, dan diterimanya amal tersebut, dan demikian pula halnya dengan firman-Nya: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri.”
8- Semua jenis kebaikan telah terkumpul dalam firman Allah Ta’ala: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri”; karena keberuntungan adalah kesuksesan seseorang dalam apa yang dia inginkan, maka itu mencakup makna kemenangan dan manfaat, dan itulah pencapaian kebaikan yang diinginkan.
9- Firman Allah Ta’ala: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri, dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia shalat” digunakan sebagai dalil untuk disyariatkannya shalat Id, zakat fitrah dan mendahulukannya atas shalat, serta bertakbir pada hari raya. Dan itu menurut salah satu pendapat dalam tafsir.
Keindahan Bahasa Ayat-ayat:
1- Firman Allah Ta’ala: “Maka berilah peringatan jika peringatan itu bermanfaat. Orang yang takut (kepada Allah) akan mengambil pelajaran”
- Firman-Nya: “Maka berilah peringatan jika peringatan itu bermanfaat” setelah Allah meneguhkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan menjamin baginya apa yang menghilangkan ketakutannya dari beban-beban risalah, dan apa yang menenangkan jiwanya dari menolak apa yang dia takutkan berupa kelemahan dalam menyampaikan risalah sebagaimana mestinya, dan Allah menjamin baginya dari lupa terhadap apa yang diwahyukan kepadanya, kecuali apa yang Allah Ta’ala ingin dia lupakan, dan Allah menjanjikan bahwa Dia telah memberinya taufik dan mempersiapkannya untuk itu, dan memudahkannya baginya; setelah itu Allah memerintahkannya untuk memberi peringatan, yaitu: menyampaikan, maksudnya: untuk terus melakukannya; untuk menguatkan tekadnya, dan meningkatkan semangatnya; agar dia menghadapi tugas memberi peringatan dengan penuh semangat dan kecintaan; karena melaksanakan perintah jika didukung dengan kecenderungan jiwa untuk melakukan apa yang diperintahkan, akan ada kebahagiaan bagi yang diperintah, sehingga dia menggabungkan antara melaksanakan kewajiban dan memuaskan hati; huruf “fa” (maka) untuk menunjukkan hubungan dengan apa yang telah disebutkan sebelumnya sebagai hubungan hasil dengan premis-premisnya. Dan dikatakan: huruf “fa” dalam firman-Nya: “Maka berilah peringatan jika peringatan itu bermanfaat” adalah “fa fashihah” (yang menunjukkan kefasihan); yang menjelaskan syarat yang diperkirakan, yaitu: jika kamu tahu bahwa kamu termasuk orang yang memiliki kesempurnaan dengan petunjuk dan taufik Kami; maka berilah peringatan.
- Objek dari “berilah peringatan” dihilangkan; untuk tujuan generalisasi, yaitu: maka berilah peringatan kepada manusia, dan ini ditunjukkan oleh firman-Nya: “Orang yang takut (kepada Allah) akan mengambil pelajaran” dalam dua ayat tersebut.
- Kalimat “jika peringatan itu bermanfaat” adalah kalimat sisipan di antara dua kalimat yang diterangkan dan keterangannya, dan sisipan ini ditujukan kepada generalisasi yang disyaratkan oleh penghilangan objek “berilah peringatan”, yaitu: maka teruslah memberi peringatan kepada semua manusia jika peringatan itu bermanfaat bagi mereka semua, yaitu: padahal peringatan itu tidak bermanfaat kecuali bagi sebagian orang, dan ini diambil dari firman-Nya: “Orang yang takut (kepada Allah) akan mengambil pelajaran” dalam ayat tersebut.
Atau syarat dalam firman-Nya: “jika peringatan itu bermanfaat” adalah kalimat sisipan, dan tidak berkaitan dengan kalimat, dan bukan pembatasan atas kandungannya; karena bukan berarti: maka berilah peringatan jika peringatan itu bermanfaat, sehingga dipahami dengan cara mafhum mukhalafah (pemahaman terbalik) bahwa jangan memberi peringatan jika peringatan itu tidak bermanfaat; karena tidak ada alasan untuk membatasi pemberian peringatan hanya ketika peringatan itu bermanfaat; karena tidak ada cara untuk mengetahui di mana peringatan itu bermanfaat; oleh karena itu firman Allah Ta’ala: “Maka berilah peringatan dengan Al-Qur’an kepada orang yang takut kepada ancaman-Ku” [Qaf: 45] ditafsirkan bahwa maknanya: maka berilah peringatan dengan Al-Qur’an, lalu orang yang takut kepada ancaman-Ku akan mengambil pelajaran, tetapi yang dimaksud adalah: maka berilah peringatan kepada semua manusia jika peringatan itu bermanfaat bagi mereka semua, maka syarat tersebut digunakan untuk menunjukkan keraguan; karena asal syarat dengan (in/jika) adalah sesuatu yang tidak pasti kejadiannya, maka dakwah itu bersifat umum, dan apa yang Allah ketahui tentang keadaan manusia dalam menerima petunjuk atau tidak adalah perkara yang hanya Allah yang mengetahuinya, maka Abu Jahal diajak untuk beriman, dan Allah mengetahui bahwa dia tidak akan beriman, tetapi Allah tidak mengkhususkan dakwah hanya kepada orang-orang yang diharapkan beriman dan tidak kepada yang lainnya, dan kenyataan mengungkapkan apa yang ditakdirkan, dan ini adalah sindiran bahwa di antara kaum tersebut ada yang tidak akan mendapat manfaat dari peringatan, dan itu dipahami dari penggunaan huruf (in/jika) yang menunjukkan ketidakmungkinan terjadinya syarat atau jarang terjadinya; oleh karena itu setelahnya muncul firman-Nya: “Orang yang takut (kepada Allah) akan mengambil pelajaran”; ini adalah kalimat baru yang menjelaskan yang muncul dari firman-Nya: “Maka berilah peringatan” dan sisipan yang menyertainya berupa: “jika peringatan itu bermanfaat” yang mengisyaratkan bahwa peringatan itu tidak bermanfaat bagi semua orang yang diperingatkan.
- Firman-Nya: “orang yang takut” adalah jenis bukan individu tertentu, yaitu: orang-orang yang takut akan mengambil pelajaran, dan kata ganti tersembunyi dalam “yakhsya” (takut) memperhatikan lafaz (man/orang yang); karena itu adalah lafaz tunggal, dan kata kerja “yakhsya” ditempatkan pada posisi kata kerja yang tidak memerlukan objek sehingga tidak diperkirakan ada objek untuknya, yaitu: orang yang rasa takut adalah pemikirannya dan tabiatnya akan mengambil pelajaran, yaitu: orang yang mengharapkan terjadinya bahaya dan manfaat lalu dia melihat pada tempat-tempat keduanya dan merenungkan dalil-dalil; karena dia takut bahwa apa yang diperingatkan kepadanya akan terjadi padanya.
2- Firman Allah Ta’ala: “Dan orang yang paling celaka akan menjauhinya. Yaitu orang yang akan masuk ke dalam api yang besar. Kemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup”
- Firman-Nya: “Dan orang yang paling celaka akan menjauhinya”: Menjauhi (at-tajannub) artinya menjauh, dan asalnya adalah bentuk (tafa”ala) yang berarti berusaha berada di sisi sesuatu, dan sisi (al-janib) adalah tempat yang merupakan ujung dari sesuatu lain, dan usaha untuk berada di sisinya adalah kiasan dari mencari kejauhan, yaitu: berada di tempat yang jauh darinya, maksudnya: orang yang paling celaka menjauh dari peringatan.
- Kata “al-asyqa” (orang yang paling celaka) merupakan bentuk ta’rif (definite) yang menunjukkan jenis; sehingga mencakup semua orang musyrik, yaitu: orang-orang yang celaka, atau lam-nya untuk menunjukkan sesuatu yang telah diketahui, dan yang dimaksud adalah orang tertentu, atau orang yang paling celaka dari orang-orang kafir; karena terlalu dalam dalam kekufuran dan permusuhan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
- “Al-asyqa” (orang yang paling celaka) digambarkan sebagai orang “yang akan masuk ke dalam api yang besar”; karena penggunaan kata “al-asyqa” dalam ayat ini pada masa awal diutusnya Nabi Muhammad, sehingga masih mengandung kesamaran yang perlu penjelasan, maka diikuti dengan sifat yang menjelaskannya secara garis besar dari apa yang telah diturunkan dari Al-Qur’an sebelum ayat ini.
- Pertentangan antara “orang yang takut” dengan “orang yang paling celaka” mengisyaratkan bahwa sifat orang yang paling celaka adalah tidak takut, dia terus menerus dalam kesombongannya, tenggelam dalam kesenangannya, sehingga dia tidak berusaha untuk melepaskan diri dari kecelakaannya.
- Dalam firman Allah Ta’ala: “Orang yang takut (kepada Allah) akan mengambil pelajaran. Dan orang yang paling celaka akan menjauhinya” terdapat gaya bahasa ihtibak (elipsis); Allah menyebutkan hasil dalam yang pertama -yaitu takut- sebagai petunjuk atas penghapusan lawannya dari yang kedua -yaitu kekerasan hati yang timbul dari hukum kecelakaan-, dan Allah menyebutkan asal dan sebab dalam yang kedua -yaitu kecelakaan- sebagai petunjuk atas penghapusan lawannya dalam yang pertama -yaitu kebahagiaan-; maka kebahagiaan adalah sebab, dan takut adalah hasil, dan kecelakaan adalah sebab, dan kekerasan hati adalah hasil dan akibat, dan rahasia dari itu adalah bahwa Allah menyebutkan awal kebahagiaan terlebih dahulu; sebagai dorongan untuk mencapainya, dan akibat kecelakaan kedua sebagai peringatan darinya.
- Firman-Nya: “Yaitu orang yang akan masuk ke dalam api yang besar”: Penyifatan api dengan “yang besar”; untuk menunjukkan kehebatan dan peringatan.
- Firman-Nya: “Kemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup”: Kata “tsumma” (kemudian) menunjukkan urutan tingkatan, menunjukkan bahwa apa yang dihubungkan olehnya memiliki tingkatan lebih tinggi dalam tujuan yang disampaikan oleh kalimat, yaitu beratnya azab; karena kondisinya yang berada di antara hidup dan mati sementara dia dalam azab pembakaran, adalah azab yang lebih berat daripada sekedar mengatakan bahwa dia dalam azab pembakaran; karena pembakaran itu terjadi dan ditambahkan satu tingkat: bahwa tidak ada istirahat darinya dengan kematian dan tidak ada jalan keluar darinya dengan kehidupan, maka makna “tidak mati”: tidak hilang darinya perasaan; karena kematian adalah hilangnya perasaan, dengan apa yang ada dalam kondisi ini berupa keajaiban, dan ini adalah salah satu yang menegaskan adanya perbedaan tingkatan dalam siksaan ini.
- Pengikutan firman-Nya: “tidak mati di dalamnya” dengan firman-Nya: “dan tidak (pula) hidup” adalah bentuk kehati-hatian; untuk menolak dugaan bahwa yang dimaksud dengan penafian kematian dari mereka adalah bahwa mereka beristirahat dari azab, karena yang umum diketahui bahwa pembakaran akan membinasakan yang dibakar, maka ketika dikatakan: “tidak mati” orang-orang yang diperingatkan mungkin menduga bahwa pembakaran itu tidak sampai pada tingkat kebinasaan, sehingga yang dibakar tetap hidup, lalu diduga bahwa itu adalah pembakaran yang ringan, sehingga menjadi penghiburan bagi orang-orang yang diancam, maka untuk menolak itu dihubungkan dengan “dan tidak (pula) hidup”, yaitu: kehidupan yang bebas dari rasa sakit, dan indikasi atas sifat yang disebutkan adalah pertentangan “dan tidak (pula) hidup” dengan firman-Nya: “akan masuk ke dalam api yang besar. Kemudian dia tidak mati di dalamnya”, dan ini bukan termasuk jenis penafian dua sifat untuk menetapkan keadaan tengah di antara dua keadaan tersebut seperti: “tidak di timur dan tidak di barat” [An-Nur: 35]; karena itu tidak ada manfaat di dalamnya.
3- Firman Allah Ta’ala: “Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan diri, dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia melaksanakan salat.”
- Firman-Nya: “Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan diri” merupakan permulaan penjelasan; karena penyebutan “orang yang takut” [Al-A’la: 10] dan penyebutan “orang yang celaka” [Al-A’la: 11], membangkitkan keingintahuan pendengar untuk mengetahui dampaknya. Maka dimulailah dengan menggambarkan akibat kecelakaan, sehingga “orang yang celaka” digambarkan bahwa dia akan masuk “api yang besar” [Al-A’la: 12], dan disebutkan belakangan pahala bagi orang yang bertakwa; untuk mendahulukan hal yang lebih penting dalam tujuan -yaitu penjelasan balasan bagi orang celaka yang menghindari peringatan- dan pendengar tetap menunggu untuk mengetahui balasan bagi orang yang takut dan mengingat. Ketika hak nasihat dan peringatan telah dipenuhi, maka dimulailah kembali pembicaraan untuk menjelaskan pahala dan motivasi.
- Yang dimaksud dengan “orang yang menyucikan diri” di sini sama dengan yang dimaksud dengan orang yang takut dan mengingat. Dia digambarkan di sini sebagai orang yang mengingat nama Tuhannya. Tentu saja, mengingat nama Tuhannya adalah mengingat peringatan, maka mengingat adalah tujuan dari peringatan yang diperintahkan kepada Rasul ﷺ dalam firman Allah: “Maka berilah peringatan” [Al-A’la: 9].
- Kata “qad” (sungguh) digunakan karena ketika memberitakan buruknya keadaan orang yang menghindari peringatan di akhirat, pendengar tentu mengharapkan dan menunggu berita tentang baiknya keadaan orang yang mengingat di akhirat.
- Penggunaan kata kerja lampau dalam firman-Nya: “aflaha” (beruntung); untuk mengingatkan pada kepastian terjadinya di akhirat, dan penggabungannya dengan huruf “qad” untuk menegaskan dan menetapkannya, seperti dalam firman Allah: “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman” [Al-Mu’minun: 1], dan firman-Nya: “Sungguh beruntung orang yang menyucikannya” [Asy-Syams: 9]; karena pembicaraan ditujukan kepada orang-orang celaka yang menghindari peringatan; untuk membangkitkan semangat mereka agar bergabung dengan orang-orang yang takut sehingga beruntung.
- Makna “tazakka” (menyucikan diri) adalah berusaha menjadi suci, yaitu: mengerahkan kemampuannya dalam membersihkan dan menyucikan jiwanya. Bentuk “tafa”ul” menunjukkan usaha dan pengerahan tenaga.
- Dalam firman-Nya: “Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan diri, dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia melaksanakan salat”, penyucian diri didahulukan daripada mengingat Allah dan salat; karena ia adalah dasar dari semua perbuatan tersebut; sebab jika jiwa telah suci, maka cahaya hidayah akan bersinar di dalamnya sehingga ia mengetahui manfaat-manfaatnya, dan memperbanyak perhatian kepadanya. Penyucian diri adalah: melatih diri untuk menerima kebaikan, dan yang dimaksud: menyucikan diri dengan iman.
- Dalam firman-Nya: “Yang akan masuk api yang besar, kemudian di dalamnya dia tidak mati dan tidak (pula) hidup. Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan diri” terdapat ihtibak (elipsis timbal balik); pertama disebutkan masuk neraka sebagai petunjuk atas penghapusan lawannya di bagian kedua, dan kedua: penyucian diri sebagai petunjuk atas penghapusan lawannya di bagian pertama.
- Dan penggunaan kata “fasalla” (lalu dia melaksanakan salat) sebagai akibat dari “mengingat nama Tuhannya”; karena mengingat dengan kedua maknanya -lisan dan hati- mendorong orang yang mengingat untuk mengagungkan Allah Ta’ala, dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan salat yang merupakan kerendahan hati dan pujian.
- Di dalamnya terdapat urutan yang baik, di mana ketiga sifat dalam ayat ini disusun sesuai urutan kemunculannya; dasarnya adalah: menghilangkan keburukan jiwa dari keyakinan yang salah dan bisikan jiwa tentang pikiran-pikiran rusak, yang ditunjukkan dengan kata “tazakka” (menyucikan diri), kemudian menghadirkan pengetahuan tentang Allah dengan sifat-sifat kesempurnaan dan hikmah-Nya agar takut dan berharap kepada-Nya, yang ditunjukkan dengan kata “wa dzakara isma rabbihi” (dan mengingat nama Tuhannya), kemudian menghadap kepada ketaatan dan ibadah kepada-Nya, yang ditunjukkan dengan kata “fasalla” (lalu dia melaksanakan salat). Salat menunjukkan ibadah, dan ibadah itu sendiri adalah ketaatan dan pelaksanaan perintah yang diikuti dengan amalan-amalan yang disyariatkan; Allah berfirman: “Sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan mengingat Allah itu lebih besar” [Al-Ankabut: 45].
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
﴿بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَاۖ ١٦ وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰىۗ ١٧ اِنَّ هٰذَا لَفِى الصُّحُفِ الْاُوْلٰىۙ ١٨ صُحُفِ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى ࣖ ١٩ ﴾
Kata-kata yang Tidak Biasa:
تُؤْثِرُونَ (Tu’tsiruuna): Artinya: Kalian mengutamakan dan memilih. Asal kata (أثر) di sini menunjukkan pengutamaan sesuatu.
Makna Keseluruhan:
Allah Ta’ala berfirman: Kalian tidak melaksanakan zikir dan menunaikan shalat karena kalian mengutamakan kesenangan hidup dunia daripada pahala akhirat, padahal pahala Allah di akhirat lebih baik dan lebih kekal bagi kalian daripada kesenangan dunia dan kenikmatan fananya. Kemudian Allah Ta’ala mengakhiri surah yang mulia ini dengan berfirman: Sesungguhnya apa yang telah Allah Ta’ala kabarkan dalam firman-Nya: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan diri, dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia shalat. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi, sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal” telah disebutkan dalam lembaran-lembaran terdahulu, yaitu lembaran-lembaran Ibrahim dan Musa ‘alaihimassalaam.
Tafsir Ayat-ayat:
“Tetapi kamu memilih kehidupan duniawi” (16).
Artinya: Kalian tidak melaksanakan zikir dan menunaikan shalat karena kalian mengutamakan kesenangan hidup dunia daripada pahala akhirat, sehingga kalian sibuk dengan urusan dunia kalian daripada urusan agama kalian. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” [Ali Imran: 14]. Dan Allah Subhanahu berfirman: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.” [At-Takatsur: 1].
“Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal” (17).
Artinya: Pahala Allah di akhirat lebih baik dan lebih kekal bagi kalian daripada kesenangan dunia dan kenikmatan sedikit yang fana; karena kenikmatan surga sempurna tanpa kekurangan, dan abadi tanpa akhir. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan apa saja (kenikmatan) yang diberikan kepada kamu maka itu adalah kesenangan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Tidakkah kamu mengerti?” [Al-Qashas: 60]. Dan Allah Yang Maha Agung berfirman: “Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara), dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” [Ghafir: 39]. Dan dari Al-Mustaurid bin Syaddad radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi Allah, dunia dibandingkan dengan akhirat hanyalah seperti salah seorang dari kalian yang mencelupkan jarinya ini -beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk- ke dalam laut, maka lihatlah apa yang kembali padanya?!”
“Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu” (18).
Artinya: Sesungguhnya apa yang telah Allah Ta’ala kabarkan dalam firman-Nya: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan diri, dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia shalat. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi, sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal” telah disebutkan dalam lembaran-lembaran terdahulu.
Terjemahan ke Bahasa Indonesia
Lembaran-lembaran Ibrahim dan Musa (19).
Kesesuaian ayat ini dengan ayat sebelumnya: Ketika hal tersebut bersifat umum, Allah mengkhususkan di antaranya —sebagai pengagungan terhadap nilai nasihat ini— para nabi terdahulu yang paling agung.
Lembaran-lembaran Ibrahim dan Musa (19).
Artinya: Dan lembaran-lembaran tersebut adalah yang diturunkan kepada Ibrahim dan Musa ‘alaihimassalaam.
Pelajaran Pendidikan:
- Allah Ta’ala berfirman: “Tetapi kamu memilih kehidupan duniawi”. Ketahuilah bahwa kaum mukmin mendapat bagian dari nasihat ini sepanjang masa, dan itu adalah bagian yang sesuai dengan kadar apa yang dilalaikan oleh seseorang dari apa yang menyelamatkannya di akhirat karena mengutamakan manfaat dunia yang ia peroleh yang bisa membawa konsekuensi di akhirat sesuai dengan apa yang telah ditetapkan syariat. Adapun memperbanyak manfaat dunia tanpa mengabaikan sebab-sebab keselamatan di akhirat, maka itu adalah ladang untuk cita-cita, dan bukan tempat yang tercela; Allah Ta’ala berfirman: “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.” [Al-Qashas: 77].
- Dalam firman Allah Ta’ala: “Tetapi kamu memilih kehidupan duniawi, sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal” terdapat isyarat untuk memuji zuhud (kesederhanaan) di dunia, dan mencela keinginan terhadapnya.
- Bahwa amal akhirat tidak benar jika dijadikan sarana untuk amal dunia; karena amal akhirat lebih mulia dan lebih tinggi daripada menjadi sarana untuk amal dunia yang lebih rendah; Allah Ta’ala berfirman: “Tetapi kamu memilih kehidupan duniawi, sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal!”
- Dalam firman Allah Ta’ala: “Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal” terdapat isyarat untuk mendorong (keinginan) terhadap akhirat dan pahala Allah Ta’ala, karena akhirat lebih baik daripada dunia dalam segala sifat yang diinginkan, dan lebih kekal; karena akhirat adalah tempat kekekalan, keabadian, dan kejernihan, sedangkan dunia adalah tempat kebinasaan. Maka seorang mukmin yang berakal tidak akan memilih yang buruk daripada yang baik, dan tidak akan menjual kenikmatan sesaat dengan kesedihan abadi; sebab mencintai dunia dan mengutamakannya di atas akhirat adalah pangkal segala kesalahan.
Manfaat Ilmiah dan Keindahan:
- Allah Ta’ala berfirman: “Tetapi kamu memilih kehidupan duniawi”. Mengutamakan dunia di atas akhirat bisa jadi karena kerusakan iman, atau karena kerusakan akal, dan betapa banyak keduanya terjadi; oleh karena itu Rasulullah melemparkannya ke belakang punggungnya, dia dan para sahabatnya, mereka memalingkan hati mereka darinya, membuangnya dan tidak menyukainya, meninggalkannya dan tidak cenderung kepadanya, dan menganggapnya sebagai penjara bukan surga. Mereka benar-benar zuhud terhadapnya, dan seandainya mereka menginginkannya, mereka pasti akan mendapatkan segala yang dicintai darinya, dan akan sampai kepada segala yang diinginkan; karena kunci-kunci kekayaannya telah ditawarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau menolaknya, dan dunia melimpah kepada para sahabatnya lalu mereka mengutamakan (akhirat). Mereka tidak menjual bagian akhirat mereka dengannya, dan mereka mengetahui bahwa dunia adalah tempat penyeberangan dan jalan, bukan tempat tinggal dan menetap, dan bahwa ia adalah rumah persinggahan bukan rumah kesenangan, dan bahwa ia seperti awan musim panas yang akan segera hilang, dan seperti bayangan yang belum sempat melengkapi kunjungan sampai mengumumkan kepergian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apa urusanku dengan dunia? Apa aku dan dunia? Perumpamaanku dan dunia hanyalah seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya.”
- Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Tetapi kamu memilih kehidupan duniawi”. Dalam firman Allah Ta’ala: “الدُّنْيَا” (dunia) terkandung makna kerendahan tingkatannya dan kehinaannya; maka meskipun ia kehidupan tetapi ia adalah dunia (rendah), dan itu mengharuskan pujian untuk akhirat; karena menggambarkan satu dari dua hal yang berlawanan dengan kekurangan menunjukkan bahwa yang satunya lagi memiliki kesempurnaan.
- Dalam firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu” merupakan nash (keterangan tegas) bahwa dalam Al-Qur’an terdapat sebagian dari apa yang ada dalam kitab-kitab terdahulu, dan telah datang yang menunjukkan bahwa makna-makna lain juga demikian terdapat dalam lembaran-lembaran Ibrahim dan Musa, seperti dalam surah “An-Najm” dalam firman Allah Ta’ala: “Ataukah belum diberitakan (kepadanya) apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa, dan (lembaran-lembaran) Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? (Yaitu) bahwa seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).” [An-Najm: 36-40].
Keindahan Sastra dalam Ayat-ayat:
- Firman Allah Ta’ala: “Tetapi kamu memilih kehidupan duniawi, sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal”:
- Ungkapan: “Tetapi kamu memilih kehidupan duniawi” (بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا) – Kata (بَلْ) di sini adalah kata penghubung untuk kalimat secara bentuk saja. Bisa jadi kata ini hanya untuk beralih dari penyebutan orang-orang yang mendapat manfaat dari peringatan dan yang menghindarinya, ke penyebutan sebab penolakan orang-orang yang menghindarinya—mereka adalah orang-orang yang celaka—bahwa sebabnya adalah mereka mengutamakan kehidupan dunia. Ini jelas dalam qira’at “yu’thiruuna” (يُؤثِرون). Adapun dalam qira’at “tu’thiruuna” (تُؤْثِرُونَ), maka itu adalah peralihan dari menceritakan keadaan kedua kelompok ke mencela salah satu kelompok, yaitu kelompok yang paling celaka. Kalimat ini ditujukan kepada mereka dengan cara iltifat (pengalihan bentuk kalimat) untuk menyegarkan perhatian pendengar agar surah ini tidak semuanya dalam bentuk berita tentang mereka dengan cara ghaib (orang ketiga).
- Bisa juga peralihan ini untuk membatalkan apa yang terkandung dalam firman-Nya: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan diri” [Al-A’la: 14] yang merupakan sindiran bagi orang-orang yang celaka dengan mendorong mereka untuk mencari keberuntungan bagi diri mereka, agar mereka bergabung dengan orang-orang yang takut dan menyucikan diri; untuk membatalkan anggapan bahwa mereka termasuk orang yang akan mendapatkan keberuntungan. Maknanya: mereka jauh dari dugaan bahwa mereka bersaing dalam mencari keberuntungan; karena mereka lebih mengutamakan kehidupan dunia. Jadi artinya: tetapi kalian lebih mengutamakan manfaat dunia daripada bagian akhirat, ini seperti perkataan seorang pemberi nasihat kepada seseorang yang diduga tidak akan menerima nasihat: “Sungguh aku telah menasihatimu, dan aku kira kamu tidak akan melakukannya.”
- Ada yang mengatakan: Firman-Nya: “Tetapi kamu memilih kehidupan duniawi” di dalamnya terdapat iltifat dalam perkataan: “tu’thiruuna” (تُؤْثِرُونَ) —jika pembicaraan ditujukan kepada orang-orang kafir— untuk memperkuat celaan, dan jika ditujukan kepada mereka dan kaum muslimin; maka untuk orang-orang kafir adalah untuk memperkuat celaan, dan untuk kaum muslimin adalah untuk memperkuat teguran.
- “Al-Itsaar” (الإيثار/mengutamakan): memilih sesuatu di antara beberapa pilihan. Maknanya: kalian mengutamakan kehidupan dunia dengan perhatian dan kepedulian kalian. Dan tidak disebutkan apa yang diutamakan atasnya karena “kehidupan dunia” telah menunjukkannya, yaitu: kalian tidak memperhatikan apa pun selain kehidupan ini, dan tidak memperhatikan kehidupan kedua; karena orang-orang musyrik tidak beriman pada akhirat, dan jika mereka diingatkan tentang kehidupan akhirat dan diberitahu tentangnya, mereka tidak mendengarkannya, dan menganggapnya sebagai perkataan yang batil, dan inilah sumber celaan.
- Firman-Nya: “Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal” adalah keterangan keadaan dari subjek “tu’thiruuna” yang memperkuat celaan dan teguran, artinya: kalian mengutamakannya daripada akhirat, padahal akhirat lebih baik pada dirinya sendiri; karena kenikmatannya, selain berada pada puncak kenikmatan, juga murni tanpa cacat, kekal tanpa akhir. Tidak disinggungnya kenikmatan dunia yang tercemar oleh gangguan dan terputus dalam waktu singkat adalah karena sangat jelasnya hal itu.
- Dalam firman-Nya: “Tetapi kamu memilih kehidupan duniawi, sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal” terdapat gaya ihtibak (elipsis timbal balik); penyebutan “mengutamakan” dan “kerendahan” pertama kali menunjukkan “meninggalkan” dan “ketinggian” kedua kali, dan penyebutan “kebaikan” dan “kekekalan” kedua kali menunjukkan kebalikannya pertama kali.
- Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, kitab-kitab Ibrahim dan Musa”:
- Ini adalah penutup untuk pembicaraan, dan pemuliaan baginya bahwa ia termasuk perkataan yang bermanfaat yang tetap ada dalam kitab-kitab Ibrahim dan Musa ‘alaihimassalam. Tujuannya adalah untuk menyampaikan kepada orang-orang musyrik yang mengenal risalah Ibrahim dan risalah Musa; oleh karena itu berita ini dikuatkan dengan huruf (إنَّ) dan lam ibtida’; karena ditujukan kepada para pengingkar.
- Alasan bentuk jamak “shuhuf” (صُحف/lembaran-lembaran) adalah karena Ibrahim ‘alaihissalam memiliki beberapa lembaran, dan Musa ‘alaihissalam memiliki banyak lembaran, yaitu kumpulan lembaran kitab-kitab Taurat.
- Susunan kalimat dalam firman-Nya: “Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, kitab-kitab Ibrahim dan Musa” menggunakan gaya ijmal dan tafsil (pernyataan umum lalu dirinci); agar berita ini lebih tertanam dalam pikiran manusia. Maka firman-Nya: “kitab-kitab Ibrahim dan Musa” adalah pengganti (badal) dari “kitab-kitab yang dahulu”.
- Dalam kesamaran ungkapannya dan pendeskripsiannya dengan kuno, kemudian penjelasan dan perinciannya untuk mengagungkan kedudukannya; ada keindahan yang tidak tersembunyi.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
SURAH AL-GHASYIYAH
Perhatian: Setiap kalimat berikut memiliki rujukan ilmiah yang belum diterjemahkan. Bagi yang memerlukan, silakan merujuk langsung ke situs web aslinya dalam bahasa Arab di: https://dorar.net/tafseer/88
Nama-nama Surah:
Surah ini dinamakan Surah Al-Ghasyiyah.
Surah ini juga dinamakan Surah “Hal Ataaka Haditsul Ghasyiyah”; sebagaimana diriwayatkan dari Samurah bin Jundab: “Bahwa Rasulullah ﷺ membaca dalam shalat Jumat dengan ‘Sabbihisma Rabbikal A’la’ dan ‘Hal Ataaka Haditsul Ghasyiyah’.” Dan darinya juga diriwayatkan: “Bahwa Rasulullah ﷺ membaca pada dua hari raya dengan ‘Sabbihisma Rabbikal A’la’ dan ‘Hal Ataaka Haditsul Ghasyiyah’.”
Keutamaan dan Keistimewaan Surah:
Nabi ﷺ membacanya pada rakaat kedua dari shalat Jumat dan shalat Ied. Dari Nu’man bin Basyir, beliau berkata: “Rasulullah ﷺ membaca pada dua hari raya dan pada hari Jumat ‘Sabbihisma Rabbikal A’la’ dan ‘Hal Ataaka Haditsul Ghasyiyah’. Beliau berkata: ‘Dan jika hari raya dan hari Jumat bertepatan pada hari yang sama, beliau juga membaca keduanya dalam dua shalat tersebut’.” Dan telah disebutkan di atas hadits Samurah bin Jundab.
Penjelasan Makkiyah dan Madaniyah:
Surah Al-Ghasyiyah adalah Makkiyah (diturunkan di Mekah). Beberapa mufassir (ahli tafsir) telah menyampaikan kesepakatan (ijma’) tentang hal tersebut.
Tujuan Surah:
Di antara tujuan terpenting surah ini adalah: menjelaskan keadaan orang-orang kafir dan orang-orang beriman pada hari kiamat.
Pokok Pembahasan Surah:
Di antara pokok pembahasan terpenting yang terkandung dalam surah ini:
- Menyebutkan balasan bagi orang-orang kafir dan orang-orang beriman pada hari kiamat.
- Menyebutkan tanda-tanda kekuasaan Allah dalam ciptaan-Nya.
- Perintah kepada Nabi ﷺ untuk memberi peringatan, dan ancaman bagi orang-orang musyrik yang berpaling dengan azab.
- Menetapkan terjadinya kebangkitan dan perhitungan amal.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Ayat: 1-7
﴿هَلْ اَتٰىكَ حَدِيْثُ الْغَاشِيَةِۗ ١ وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ خَاشِعَةٌ ۙ ٢ عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ ۙ ٣ تَصْلٰى نَارًا حَامِيَةً ۙ ٤ تُسْقٰى مِنْ عَيْنٍ اٰنِيَةٍ ۗ ٥ لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ اِلَّا مِنْ ضَرِيْعٍۙ ٦ لَّا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِيْ مِنْ جُوْعٍۗ ٧ ﴾
Kamus Kata-kata Sulit:
الْغَاشِيَةِ (Al-Ghasyiyah): Yaitu hari kiamat yang menyelimuti manusia dengan ketakutan-ketakutan. Asal kata “ghasyia” menunjukkan sesuatu yang menutupi sesuatu yang lain.
نَاصِبَةٌ (Nashibah): Bekerja dengan lelah. Makna “nashab” adalah ketekunan dalam bekerja dengan kelelahan. Asal kata “nashaba” menunjukkan pendirian sesuatu dengan tegak dan lurus.
تَصْلَى (Tashla): Yaitu memasuki neraka dan merasakan panasnya. Asal kata “shala” adalah penyalaan dengan api.
آَنِيَةٍ (Aniyah): Yaitu air yang sangat panas yang sudah mencapai puncak pendidihannya. Asal kata “ani” menunjukkan tercapainya sesuatu.
ضَرِيعٍ (Dhari’): Yaitu tumbuhan berduri yang merupakan makanan paling buruk dan paling menjijikkan.
Makna Umum:
Allah Ta’ala membuka surah mulia ini dengan menyapa Nabi-Nya ﷺ, berfirman kepadanya: “Apakah telah sampai kepadamu -wahai Muhammad- berita tentang hari kiamat yang menyelimuti manusia dengan ketakutan dan kesulitannya?” Kemudian Allah Ta’ala merinci keadaan manusia pada hari itu, berfirman: “Pada hari itu akan ada wajah-wajah yang hina, pemiliknya melakukan pekerjaan yang sulit dan melelahkan, mereka memasuki api yang sangat panas, dan diberi minum dari mata air yang sangat panas, tidak ada makanan bagi mereka kecuali pohon kering berduri, dhari’ ini tidak menggemukkan orang yang memakannya, dan tidak menolak sedikit pun rasa sakit dari kelaparan!”
Tafsir Ayat-ayat:
هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ (1) [Sudahkah datang kepadamu berita tentang hari pembalasan?] Yaitu: Apakah telah sampai kepadamu -wahai Muhammad- berita tentang hari kiamat yang menyelimuti manusia dengan ketakutan dan kesulitannya?
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ (2) [Banyak wajah pada hari itu tunduk terhina.] Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Setelah menyebutkan kedahsyatannya dengan keumuman dan ketidakjelasannya, Allah menambah kedahsyatan dengan menyebutkan keadaannya dalam perincian manusia menjadi celaka dan bahagia, dan memulai dengan yang celaka; karena konteksnya adalah untuk memperingatkan orang-orang yang lebih mengutamakan kehidupan dunia.
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ (2) [Banyak wajah pada hari itu tunduk terhina.] Yaitu: Pada hari kiamat akan ada wajah-wajah yang hina.
عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ (3) [Bekerja keras lagi kepayahan.] Yaitu: Pemiliknya melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berat, melelahkan, dan menyusahkan.
تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً (4) [Memasuki api yang sangat panas.] Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Setelah Allah Ta’ala menggambarkan mereka dengan tiga sifat ini; selanjutnya dijelaskan bagaimana tempat, minuman, dan makanan mereka.
تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً (4) [Memasuki api yang sangat panas.] Yaitu: Mereka memasuki api yang menyala-nyala dan sangat panas.
تُسْقَى مِنْ عَيْنٍ آَنِيَةٍ (5) [Diberi minum dari sumber mata air yang sangat panas.]
Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Setelah Allah menjelaskan tempat mereka, Allah menyebutkan minuman mereka. Juga, karena orang yang berada dalam panas sangat membutuhkan sesuatu yang mendinginkan bagian dalamnya, Allah berfirman:
تُسْقَى مِنْ عَيْنٍ آَنِيَةٍ (5) [Diberi minum dari sumber mata air yang sangat panas.] Yaitu: Mereka diberi minum dari sumber mata air yang sangat panas. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Inilah neraka Jahannam yang didustakan oleh orang-orang yang berdosa. Mereka berkeliling di antaranya dan di antara air yang mendidih.” [Ar-Rahman: 43-44]
لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلَّا مِنْ ضَرِيعٍ (6) [Tidak ada makanan bagi mereka kecuali dari pohon yang berduri.]
Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Setelah menyebutkan minuman mereka, Allah menyebutkan makanan mereka.
لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلَّا مِنْ ضَرِيعٍ (6) [Tidak ada makanan bagi mereka kecuali dari pohon yang berduri.] Yaitu: Tidak ada makanan bagi mereka kecuali pohon kering yang berduri.
لَا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِي مِنْ جُوعٍ (7) [Yang tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar.]
Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Setelah membatasi makanan mereka hanya pada ini, dan karena dhari’ (pohon berduri) yang dikenal oleh orang Arab kadang terbayangkan bahwa jika seseorang terpaksa memakannya, itu akan menggemukkannya atau menghilangkan rasa laparnya; maka Allah menafikan manfaat makanan tersebut.
لَا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِي مِنْ جُوعٍ (7) [Yang tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar.] Yaitu: Dhari’ ini tidak membuat pemakan-pemakannya menjadi gemuk yang memperbaiki tubuh mereka, dan tidak menolak sedikit pun rasa sakit dari kelaparan; maka tidak ada yang tersisa darinya kecuali bahaya yang murni!
Pelajaran Ilmiah dan Keindahan:
- Dalam firman Allah Ta’ala: هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ sampai firman-Nya: لَا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِي مِنْ جُوعٍ terdapat bukti tentang peringkasan kalimat dan isyarat kepada makna; karena al-ghasyiyah -Allah Yang Maha Mengetahui- adalah hari kiamat, maka Allah tidak menyebutkan harinya dan hanya membatasi pada perbuatannya, kemudian berfirman: وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ * عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ [Wajah-wajah pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan], maka Allah menyebutkan wajah-wajah saja, padahal wajah tidak akan terpisah dari tubuh dengan sifat-sifat ini kecuali dengan keikutsertaannya, kemudian berfirman: تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً [Memasuki api yang sangat panas], dan wajah tidak memasuki api sendirian, kemudian berfirman: تُسْقَى مِنْ عَيْنٍ آَنِيَةٍ [Diberi minum dari sumber mata air yang sangat panas] padahal yang diberi minum adalah perut, maka Allah mengabarkan semua itu tentang wajah-wajah; karena wajah adalah bagian terhormat dari tubuh, dan bagian tertinggi dari badan. Allah Maha Mengetahui. Demikian juga wajah-wajah lain yang Allah jelaskan dengan kata “na’imah” (berbahagia), dan wajah itu mendapat kenikmatan bersama tubuhnya dan tidak terpisah dengan kenikmatannya, dan berada bersama tubuh di surga yang tinggi, dan tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia ke telinganya, maka Allah menisbatkan semua itu kepadanya sebagai peringkasan, kefasihan, dan isyarat kepada makna-makna yang dipahami oleh orang-orang Arab yang Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa mereka.
- Dalam firman Allah Ta’ala: وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ * عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ [Wajah-wajah pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan] bahwa penisbatan sifat-sifat dzat kepada sebagian bagian-bagiannya adalah salah satu gaya bahasa Arab, seperti penisbatan dusta dan kesalahan kepada ubun-ubun dalam firman Allah Ta’ala: نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ [Ubun-ubun yang berdusta dan berbuat salah] [Al-‘Alaq: 16].
- Dalam firman Allah Ta’ala: تُسْقَى مِنْ عَيْنٍ آَنِيَةٍ [Diberi minum dari sumber mata air yang sangat panas] terdapat pertanyaan: bagaimana mata air ini berada di neraka Jahannam, sementara biasanya air memadamkan api?!
Jawaban:
Pertama: Urusan akhirat tidak bisa disamakan dengan urusan dunia. Jika kita bandingkan dengan urusan dunia, kita tidak akan mampu membayangkan bagaimana keadaannya. Bukankah matahari pada hari kiamat mendekat ke kepala manusia sejauh satu mil? (satu mil bisa berarti mil alat celak mata yang setara dengan setengah jari, atau mil jarak yang sekitar 1,3 kilometer), dan meskipun demikian, jika akhirat sama seperti dunia, matahari pasti akan memanggang manusia. Namun akhirat tidak dapat disamakan dengan dunia. Begitu pula, manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat di satu tempat; di antara mereka ada yang dalam kegelapan yang pekat, dan ada pula yang dalam cahaya “cahaya mereka berjalan di hadapan dan di sebelah kanan mereka” [At-Tahrim: 8]. Mereka dikumpulkan di satu tempat dan berkeringat; ada yang keringatnya mencapai mata kaki, ada yang mencapai lutut, dan ada yang mencapai pinggang, namun mereka tetap berada di satu tempat. Jadi, keadaan akhirat tidak boleh disamakan dengan keadaan dunia.
Kedua: Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kita sekarang melihat bahwa pohon hijau bisa menyalakan api, sebagaimana firman Allah: “Yang menjadikan api untukmu dari kayu yang hijau, maka seketika kamu nyalakan (api) dari kayu itu” [Yasin: 80]. Pohon hijau itu basah, namun ketika digesekkan satu sama lain atau dipukul dengan batu api, akan keluar api yang panas dan kering, padahal pohon itu basah dan dingin. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, maka mereka diberi minum dari mata air yang sangat panas di neraka, dan hal itu tidak bertentangan dengan kekuasaan Allah Azza wa Jalla.
- Dalam firman Allah Ta’ala: لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلَّا مِنْ ضَرِيعٍ [Tidak ada makanan bagi mereka kecuali dari pohon berduri] terdapat pertanyaan: bagaimana tumbuhan bisa ada di neraka?
Jawaban: Mengapa tidak boleh dikatakan bahwa tumbuhan ada di neraka?! Karena ketika tidak diragukan bahwa tubuh manusia –yang terdiri dari daging dan darah– dapat bertahan di neraka selamanya, maka demikian juga dalam hal ini, begitu pula dengan rantai, belenggu, kalajengking, dan ular-ular neraka.
- Dalam firman Allah Ta’ala: لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلَّا مِنْ ضَرِيعٍ [Tidak ada makanan bagi mereka kecuali dari pohon berduri] terdapat pertanyaan: bahwa ini bertentangan dengan firman Allah dalam ayat lain: وَلَا طَعَامٌ إِلَّا مِنْ غِسْلِينٍ [Dan tidak ada makanan kecuali dari ghislin (nanah)] [Al-Haqqah: 36].
Jawaban dari beberapa segi:
- Pertama: Perbedaan itu berdasarkan siapa yang makan dari penghuni neraka; orang yang memiliki sifat pertama, makanannya dari ghislin, dan orang yang memiliki sifat kedua, makanannya dari dhari’. Azab itu bermacam-macam dan orang-orang yang disiksa bertingkat-tingkat; di antara mereka ada yang tidak punya makanan kecuali dari ghislin, ada yang tidak punya makanan kecuali dari dhari’, dan ada yang tidak punya makanan kecuali zaqqum. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah: “Jahannam itu mempunyai tujuh pintu, tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan tertentu dari mereka” [Al-Hijr: 44].
- Kedua: Mungkin salah satunya dalam satu keadaan, dan yang lain dalam keadaan lain.
- Ketiga: Maksudnya mereka sama sekali tidak memiliki makanan, karena dhari’ tidak bisa disebut makanan, bahkan binatang pun tidak memakannya, apalagi manusia! Begitu juga ghislin bukanlah makanan, maka orang yang makanannya dhari’ sebenarnya tidak punya makanan, dan orang yang makanannya ghislin juga demikian. Seperti perkataan mereka: “Fulan tidak punya naungan kecuali matahari, dan tidak punya hewan kecuali kutu di pakaiannya,” maksudnya: dia sama sekali tidak punya naungan dan tidak punya hewan. Dengan demikian tidak ada masalah. Dan Allah Ta’ala yang lebih mengetahui. Jawaban ini berbeda dengan makna zahir Al-Qur’an.
- Dalam firman Allah Ta’ala: لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلَّا مِنْ ضَرِيعٍ * لَا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِي مِنْ جُوعٍ [Tidak ada makanan bagi mereka kecuali dari pohon berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar] terdapat kesesuaian: bahwa ilmu-ilmu ahli kebatilan dan amalan-amalan mereka yang dilakukan bukan karena Allah Ta’ala, Allah jadikan sebagai air yang sangat panas yang Dia berikan kepada mereka, sebagaimana makanan mereka dari dhari’ yang tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan rasa lapar. Ini adalah ilmu-ilmu dan amalan-amalan batil yang di dunia juga demikian, tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan rasa lapar. Mereka inilah yang Allah Ta’ala firmankan tentang mereka: “Katakanlah, ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya” [Al-Kahf: 103-104], dan mereka adalah yang dimaksud dalam firman-Nya: “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan” [Al-Furqan: 23], dan mereka adalah yang dimaksud dalam firman-Nya: “Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatan mereka menjadi penyesalan bagi mereka; dan mereka tidak akan keluar dari api neraka” [Al-Baqarah: 167].
- Sifat dhari’ sebagai makanan yang لَا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِي مِنْ جُوعٍ [tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar] untuk menggambarkan keburukannya, dan bahwa itu murni membahayakan, tidak membuat gemuk orang-orang yang memakannya untuk memperbaiki sebagian tubuh mereka yang terbakar, dan tidak menghilangkan rasa sakit dari kelaparan mereka. Mungkin kelaparan adalah salah satu bentuk siksaan mereka; mereka meminta makanan lalu diberi makan dhari’, tetapi itu tidak menghilangkan rasa sakit dari kelaparan mereka.
Balaghah (Retorika) dari Ayat-Ayat:
1- Firman Allah Ta’ala: “Hal ataaka haditsul ghaasyiah” (Sudahkah sampai kepadamu berita tentang hari pembalasan?) – Pertanyaan ini bersifat penekanan, yang bertujuan untuk membangkitkan jiwa pendengar agar menyimak berita tersebut. Dikatakan: Maknanya adalah: “Apakah ini termasuk pengetahuanmu seandainya Kami tidak mengajarkannya kepadamu?” Dalam hal ini terdapat penyebutan nikmat. Dan dikatakan pula: “Hal” bermakna “qad” (sungguh); sehingga ini adalah pertanyaan yang dimaksudkan untuk menimbulkan kekaguman terhadap apa yang akan disampaikan, dan membangkitkan keinginan untuk mendengarkannya, serta memberitahukan bahwa ini termasuk berita-berita menakjubkan yang sepantasnya diriwayatkan oleh para perawi, dan berusaha untuk mendengarkannya oleh para penampung ilmu dari setiap yang hadir dan yang jauh.
- Juga, memulai dengan pertanyaan tentang sampainya berita tentang hari Kiamat digunakan untuk membangkitkan keinginan untuk mengetahui berita ini; karena ada nasihat yang terkandung di dalamnya. Dan penggunaan kata tanya “Hal” yang bermakna “qad” (sungguh) memberikan tambahan keinginan; jadi ini adalah pertanyaan yang secara tidak langsung menunjukkan pentingnya berita tersebut, sehingga layak sampai kepada pendengar. Pertanyaan ini untuk membangkitkan keinginan, seperti firman Allah Tabaraka wa Ta’ala: “Yaa ayyuhal-ladziina aamanuu hal adullukum ‘alaa tijaaratin tunjiikum min ‘adzaabin aliim” (Wahai orang-orang yang beriman, maukah kutunjukkan kepadamu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?) [As-Saff: 10]. Bisa juga bermakna pengagungan, karena besarnya berita tentang hari Kiamat ini.
- Juga, dalam penggunaan bentuk pertanyaan dalam konteks seperti ini terdapat rahasia yang halus dan makna yang indah. Karena ketika pembicara ingin memberitahu lawan bicaranya tentang sesuatu yang menakjubkan yang perlu diperhatikan dan dipikirkan, dia memulai pembicaraan dengan kata yang menarik pendengaran dan pikirannya terhadap berita tersebut. Terkadang dimulai dengan “alaa” (ketahuilah), terkadang dengan “hal” (apakah), dengan berkata: “Tahukah kamu apa yang terjadi begini dan begitu?” Baik untuk mengingatkannya, atau menasihati dan memperingatkannya, atau memberitahukan keagungan apa yang diberitakan, atau menegaskannya.
Maka firman Allah Tabaraka wa Ta’ala: “Hal ataaka hadiitsu Musa” (Sudahkah sampai kepadamu kisah Musa?) [An-Nazi’at: 15], “Wa hal ataaka naba-ul khasm” (Dan sudahkah sampai kepadamu berita orang-orang yang berselisih itu?) [Shaad: 21], “Hal ataaka haditsul ghaasyiah” (Sudahkah sampai kepadamu berita tentang hari pembalasan?), dan “Hal ataaka hadiitsu dhayfi Ibrahiimal mukramiin” (Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim yang dimuliakan?) [Adz-Dzariyat: 24] menunjukkan pengagungan kisah-kisah ini, dan peringatan untuk merenungkannya dan memahami apa yang terkandung di dalamnya.
Dan di dalamnya ada perkara lain, yaitu pemberitahuan bahwa sampainya berita ini kepadamu adalah tanda kenabian; karena ini termasuk perkara gaib yang tidak kamu ketahui dan tidak pula kaummu. Maka “apakah telah sampai kepadamu tanpa Kami beritahukan, Kami utus, dan Kami perkenalkan? Atau tidak sampai kepadamu kecuali dari sisi Kami?” Perhatikanlah bagaimana ungkapan ini muncul dalam bentuk pertanyaan, dan renungkanlah betapa agung posisinya dalam semua konteksnya; kamu akan menyaksikan bahwa ini adalah kefasihan pada tingkat tertinggi.
- Dan pengenalan apa yang disandarkan pada kata “hadits” (berita) dengan sifat “al-ghaasyiah” (hari pembalasan) yang mengharuskan adanya yang disifati namun tidak disebutkan; ini adalah bentuk kesamaran untuk menambah rasa ingin tahu terhadap penjelasan yang akan datang; agar berita itu tertanam dalam pikiran dengan sempurna.
2- Firman Allah Ta’ala: “Wujuuhun yawma-idzin khaasyi’ah. ‘Aamilatun naashibah” (Pada hari itu banyak wajah yang tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan) – Firman-Nya: “Wujuuhun yawma-idzin khaasyi’ah” sampai firman-Nya: “mabtsuu-tsah” (terhampar) adalah permulaan kalimat baru yang merupakan jawaban atas pertanyaan yang muncul dari pertanyaan yang membangkitkan keinginan; seolah-olah dikatakan dari pihak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Belum sampai kepadaku beritanya; apa itu?” Maka dikatakan: “Wujuuhun yawma-idzin khaasyi’ah…”
- Dan “wujuuh” (wajah-wajah) adalah mubtada’ (subjek), dan “khaasyi’ah” (tunduk terhina) adalah khabar (predikat), dan kalimat ini adalah penjelasan tentang “haditsul ghaasyiah” (berita tentang hari pembalasan), sebagaimana ditunjukkan oleh kata keterangan waktu dari firman-Nya: “yawma-idzin” (pada hari itu); karena yang dimaksud adalah hari Kiamat, dan pengunaan kata “wujuuh” (wajah-wajah) dalam bentuk nakirah (tak tentu) – padahal itu adalah mubtada’ – dimaksudkan untuk menunjukkan jenis.
- Dan “yawma-idzin” (pada hari itu) berkaitan dengan kata “khaasyi’ah” (tunduk terhina); yang didahulukan atas kata yang terkait dengannya karena pentingnya hari tersebut.
- Dan “khaasyi’ah” (tunduk terhina), “‘aamilatun” (bekerja keras), “naashibah” (kepayahan) adalah tiga predikat untuk “wujuuh” (wajah-wajah), dan maknanya: orang-orang yang tunduk terhina… dst. Kata “wujuuh” (wajah-wajah) adalah kiasan untuk para pemiliknya; karena wajah digunakan sebagai kiasan untuk menyebut keseluruhan diri, dan buktinya di sini adalah firman-Nya setelah itu: “Laysa lahum tha’aamun illaa min dharii'” (Mereka tidak memiliki makanan kecuali dari pohon berduri); di mana kata ganti untuk “wujuuh” (wajah-wajah) digunakan untuk kelompok makhluk berakal. Jadi yang dimaksud dengan “wujuuh” dalam firman-Nya: “Wujuuhun yawma-idzin khaasyi’ah” (Pada hari itu banyak wajah yang tunduk terhina) dan firman-Nya: “Wujuuhun yawma-idzin naa’imah” (Pada hari itu ada wajah-wajah yang penuh kenikmatan) adalah seluruh tubuh; karena sifat-sifat yang disebutkan tidak khusus untuk wajah saja. Dan dipilihnya “wujuuh” (wajah-wajah) sebagai kiasan untuk para pemiliknya di sini dan dalam konteks seperti ini; karena keadaan wajah menunjukkan keadaan pemiliknya; karena wajah adalah tanda apa yang dialami pemiliknya berupa kenikmatan atau kesengsaraan, sebagaimana dikatakan: “Dia keluar dengan wajah yang berbeda dari wajah ketika dia masuk.”
- Dan karena “idz” (ketika) termasuk kata yang selalu membutuhkan penambahan kalimat, maka kalimat yang ditambahkan pada “idz” dalam firman-Nya: “Wujuuhun yawma-idzin khaasyi’ah” (Pada hari itu banyak wajah yang tunduk terhina) tidak disebutkan, dan diganti dengan tanwin, dan ditunjukkan oleh kata “al-ghaasyiah” (hari pembalasan) yang pada dasarnya adalah sifat; karena artinya: “yang menutupi manusia”, sehingga perkiraan kalimat yang dihilangkan adalah: “yauma idz taghsyal ghaasyiah” (pada hari ketika hari pembalasan menutupi), atau ditunjukkan oleh konteks pembicaraan, sehingga kalimat itu diperkirakan: “yauma idz tahdutsu” atau “yauma idz taqa’u” (pada hari ketika terjadi).
- Dan dipilihnya sifat “khaasyi’ah” (tunduk terhina), “‘aamilah” (bekerja keras), dan “naashibah” (kepayahan) sebagai sindiran kepada penghuni neraka; untuk mengingatkan mereka bahwa mereka telah meninggalkan kekhusyukan kepada Allah, beramal dengan apa yang diperintahkan-Nya, dan bersusah payah dalam melaksanakan ketaatan kepada-Nya, maka balasan mereka adalah kekhusyukan dalam kehinaan, kerja keras yang melelahkan, dan kesusahan yang menyulitkan.
3- Firman Allah Ta’ala: “Tashlaa naaran haamiyah. Tusqaa min ‘aynin aaniyah. Laysa lahum tha’aamun illaa min dharii’. Laa yusminu wa laa yughnii min juu'” (Memasuki api yang sangat panas, diberi minum dari sumber mata air yang sangat panas. Mereka tidak memiliki makanan kecuali dari pohon berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar)
- Kalimat “Tashlaa naaran haamiyah” (Memasuki api yang sangat panas) adalah khabar (predikat) keempat untuk “wujuuh” (wajah-wajah). Dan bisa juga menjadi hal (keterangan keadaan). Dikatakan: “shaliya yashlaa” (terbakar); yaitu terkena panas api; dan oleh karena itu, penyebutan “naaran” (api) setelah “tashlaa” (memasuki) adalah untuk menambah ketakutan dan kengerian, dan agar “naaran” (api) disifati dengan “haamiyah” (sangat panas).
- Dan penyifatan api dengan sifat “haamiyah” (sangat panas) untuk menerangkan bahwa panasnya melampaui ukuran yang dikenal; karena panas adalah sifat yang melekat pada hakikat api, maka ketika disifati dengan “haamiyah” (sangat panas), itu menunjukkan pada tingkat kepanasan yang luar biasa.
- Dan Dia memberitakan tentang “wujuuh” (wajah-wajah) dengan khabar (predikat) kelima yaitu kalimat “Tusqaa min ‘aynin aaniyah” (Diberi minum dari sumber mata air yang sangat panas), atau ini adalah hal (keterangan keadaan) dari kata ganti pada “tashlaa” (memasuki); karena penyebutan terbakar oleh api membangkitkan dalam pikiran keinginan untuk meredakan panasnya dengan minuman, maka minuman mereka dijadikan dari mata air yang sangat panas.
- Firman-Nya: “Laysa lahum tha’aamun illaa min dharii'” (Mereka tidak memiliki makanan kecuali dari pohon berduri) adalah kalimat baru yang diutarakan untuk menjawab pertanyaan yang muncul dari apa yang telah dijelaskan sebelumnya, seolah-olah dikatakan: “Apa makanan mereka setelah disebutkan minuman mereka?” Karena penyebutan minuman membangkitkan dalam pikiran keinginan untuk mengetahui apa yang mereka makan; maka kalimat ini menjadi khabar (predikat) keenam, atau hal (keterangan keadaan) dari kata ganti pada “tusqaa” (diberi minum), yaitu: mereka diberi makanan yang menyakitkan dan menyiksa, tidak ada manfaat di dalamnya bagi mereka, dan tidak menghilangkan rasa sakit dari mereka.
- Dan kata ganti pada “lahum” (bagi mereka) kembali kepada “wujuuh” (wajah-wajah) dengan mempertimbangkan bahwa yang dimaksud adalah para pemilik wajah; dan oleh karena itu, digunakan kata ganti jamak maskulin, dan penggunaan kata ganti maskulin adalah mengutamakan laki-laki atas perempuan.
- Firman-Nya: “Laa yusminu wa laa yughnii min juu'” (Tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar) – Kata “juu'” (lapar) dalam bentuk nakirah (tak tentu) untuk menunjukkan penghinaan, yaitu: tidak menghilangkan sedikit pun rasa lapar. Dan penempatan penafian “menghilangkan lapar” di bagian akhir adalah untuk memperhatikan keserasian akhir ayat, dan bertujuan untuk menegaskan penafian kedua hal tersebut; karena jika “laa yughnii min juu'” (tidak menghilangkan lapar) didahulukan, maka tidak perlu menyebutkan penafian “laa yusminu” (tidak menggemukkan); karena penafian menghilangkan lapar secara otomatis mencakup penafian menggemukkan, berbeda dengan kebalikannya; oleh karena itu, kata “laa” (tidak) diulangi untuk menegaskan penafian.
- Dan dalam firman-Nya: “Laa yusminu wa laa yughnii min juu'” (Tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar) terdapat apa yang dikenal dalam ilmu balaghah sebagai “at-tatmiim” (penyempurnaan); karena kalimat “wa laa yughnii min juu'” (dan tidak menghilangkan lapar) adalah kalimat yang tidak mungkin dihilangkan dari ucapan; karena ketika Dia berfirman: “laa yusminu” (tidak menggemukkan), mungkin ada yang beranggapan bahwa makanan ini yang bukan jenis makanan manusia telah hilang sifat menggemukkannya, tetapi masih tersisa sifat menghilangkan lapar, maka datanglah kalimat “wa laa yughnii min juu'” (dan tidak menghilangkan lapar) untuk menyempurnakan makna yang dimaksud; yaitu bahwa makanan ini telah hilang sifat memberikan kegemukan dan kekuatan sebagaimana telah hilang sifat menghilangkan dan melenyapkan rasa lapar. Dan dikatakan: ini termasuk bab penafian sesuatu dengan penetapannya, seperti ucapan Imru al-Qais: “‘alaa laahibin laa yuhtadaa bi manaarihi” (Di atas jalan yang tidak bisa ditunjukkan oleh petunjuk jalannya).
Artinya: “Sesungguhnya jalan itu sama sekali tidak memiliki petunjuk,” seperti ketika Anda berkata: “Fulan tidak memiliki naungan kecuali matahari,” Anda bermaksud menegaskan tidak adanya naungan sama sekali, dan ini tidak jauh (dari makna yang dimaksud), namun pendapat pertama lebih kuat dan lebih jauh dari pemaksaan.
- Firman-Nya: “Laa yusminu wa laa yughnii min juu'” (Tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar) mengandung gaya “ihtibak” (elipsis timbal balik): penafian “menggemukkan” di awal menunjukkan penetapan “kekurusan” di bagian kedua, dan penafian “menghilangkan lapar” di bagian kedua menunjukkan penafian “kenyang” di bagian pertama.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Ayat: 8-16
﴿وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ نَّاعِمَةٌ ۙ ٨ لِّسَعْيِهَا رَاضِيَةٌ ۙ ٩ فِيْ جَنَّةٍ عَالِيَةٍۙ ١٠ لَّا تَسْمَعُ فِيْهَا لَاغِيَةً ۗ ١١ فِيْهَا عَيْنٌ جَارِيَةٌ ۘ ١٢ فِيْهَا سُرُرٌ مَّرْفُوْعَةٌ ۙ ١٣ وَّاَكْوَابٌ مَّوْضُوْعَةٌ ۙ ١٤ وَّنَمَارِقُ مَصْفُوْفَةٌ ۙ ١٥ وَّزَرَابِيُّ مَبْثُوْثَةٌ ۗ ١٦ ﴾
Penjelasan kata-kata asing:
- لِسَعْيِهَا (Li sa’yiha): Untuk amal perbuatannya yang dilakukan di dunia dalam menaati Tuhannya. “Sa’yi” berarti berjalan cepat, di bawah tingkat berlari, dan digunakan untuk kesungguhan dalam suatu urusan, baik atau buruk, namun lebih sering digunakan untuk perbuatan terpuji.
- لَاغِيَةً (Laghiyah): Artinya perkataan yang sia-sia atau batil. “Laghwu” dalam perkataan adalah yang tidak diperhitungkan, dan asal kata “laghw” menunjukkan sesuatu yang tidak diperhitungkan.
- وَأَكْوَابٌ (Wa akwab): Jamak dari “kub”, yaitu gelas tanpa pegangan. Ada yang mengatakan wadah dengan kepala bulat tanpa pegangan, dan ada yang mengatakan wadah tanpa corong. Jika memiliki corong, maka disebut “ibrik”.
- وَنَمَارِقُ (Wa namariq): Bantal dan sandaran, bentuk tunggalnya “numruqah” atau “nimriqah”.
- وَزَرَابِيُّ (Wa zarabiyyu): Permadani mewah, bentuk tunggalnya “zarbiyyah”.
- مَبْثُوثَةٌ (Mabthuthah): Terbentang, tersebar di majelis-majelis. Asal kata “baththa” berarti menyebarkan dan menampakkan sesuatu.
Makna keseluruhan:
Allah Ta’ala menjelaskan keadaan penghuni surga dari kalangan orang-orang beriman dan kenikmatan yang mereka alami: Wajah-wajah orang beriman pada hari kiamat akan menampakkan bekas nikmat berupa kebahagiaan, kesenangan, dan keceriaan. Mereka ridha dengan amal saleh yang telah mereka kerjakan di dunia, ketika mendapati pahala yang besar di akhirat. Mereka berada di surga yang tinggi, tidak mendengar perkataan yang tidak bermanfaat. Kemudian Allah Ta’ala menjelaskan beberapa sifat surga, Allah berfirman: Di surga yang tinggi itu terdapat mata air yang mengalir tanpa parit, terdapat dipan-dipan yang tinggi, gelas-gelas yang tersedia di hadapan mereka, bantal-bantal yang tersusun rapi satu di samping yang lain, dan permadani-permadani mewah yang tersebar!
Tafsir ayat-ayat:
“Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri.” (8) Hubungan ayat dengan sebelumnya: Setelah Allah menyebutkan ancaman bagi orang-orang kafir, Dia melanjutkan dengan penjelasan tentang keadaan orang-orang beriman. Artinya: tampak pada wajah orang-orang beriman pada hari kiamat bekas kenikmatan berupa kebahagiaan, kesenangan, keceriaan, ketenangan, dan kemewahan. Sebagaimana Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan berada dalam kenikmatan. Mereka (duduk) di atas dipan-dipan melepas pandangan. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup yang penuh kenikmatan.” [Al-Muthaffifin: 22-24]
“Terhadap usahanya ia merasa puas.” (9) Artinya: Pemilik wajah-wajah tersebut ridha dengan amal saleh yang mereka kerjakan di dunia, ketika mendapati pahalanya yang besar di akhirat.
“Dalam surga yang tinggi.” (10) Hubungan ayat dengan sebelumnya: Setelah menyebutkan usaha, Allah menyebutkan balasannya. Juga, setelah menjelaskan sifat-sifat orang yang menerima pahala, Allah menjelaskan tempat pahala tersebut. Artinya: dalam surga yang tinggi dan di tempat yang tinggi.
“Tidak terdengar di dalamnya perkataan yang sia-sia.” (11) Hubungan ayat dengan sebelumnya: Ketika apa yang ada di dunia tidak pernah jernih dan terdapat perkataan yang tidak disukai, Allah menyucikan surga dari segala keburukan. Artinya: mereka tidak mendengar di dalamnya kata-kata yang tidak bermanfaat. Sebagaimana Allah berfirman: “Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia, melainkan ucapan salam.” [Maryam: 62]. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia maupun dosa, melainkan ucapan salam, salam.” [Al-Waqi’ah: 25-26]. Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan (tidak pula) perkataan dusta.” [An-Naba’: 35].
“Di dalamnya ada mata air yang mengalir.” (12) Artinya: Di surga yang tinggi itu terdapat mata air yang mengalir dengan air atau minuman lainnya, tanpa memerlukan parit. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam surga dan mata air.” [Al-Hijr: 45]. Dan Allah Subhanahu berfirman: “Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa, di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar (anggur) yang lezat bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang murni.” [Muhammad: 15]. Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan air yang tercurah.” [Al-Waqi’ah: 31].
“Di dalamnya ada dipan-dipan yang ditinggikan.” (13) Hubungan ayat dengan sebelumnya: Ketika setelah makan dan minum tidak ada yang tersisa kecuali bersandar, Allah menjelaskan bahwa mereka adalah raja-raja: “Di dalamnya ada dipan-dipan yang ditinggikan.” (13) Artinya: Di dalamnya terdapat dipan-dipan yang tinggi dan terangkat, yang mereka duduki atau berbaring di atasnya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami cabut segala kedengkian yang ada dalam dada mereka, mereka menjadi saudara-saudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” [Al-Hijr: 47].
“Dan gelas-gelas yang tersedia.” (14) Hubungan ayat dengan sebelumnya: Ketika orang yang beristirahat memerlukan minuman berulang kali dan wadah untuk minum, Allah berfirman: “Dan gelas-gelas yang tersedia.” (14) Artinya: Di dalamnya terdapat gelas-gelas yang tersedia di hadapan mereka, setiap kali mereka menginginkannya, mereka mendapatinya hadir di sisi mereka, telah disiapkan dengan berbagai minumannya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Masuklah ke dalam surga, kamu dan pasanganmu dengan gembira. Diedarkan kepada mereka piring-piring dan gelas-gelas dari emas, dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diinginkan oleh hati dan indah dipandang mata, dan kamu kekal di dalamnya.” [Az-Zukhruf: 70-71]. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Mereka dilayani oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas-gelas, cerek-cerek, dan cangkir berisi minuman dari air yang mengalir.” [Al-Waqi’ah: 17-18].
“Dan bantal-bantal sandaran yang tersusun.” (15) Artinya: Di dalamnya terdapat bantal-bantal yang tersusun dan berjajar satu di samping yang lain, yang mereka jadikan sandaran.
“Dan permadani-permadani yang terhampar.” (16) Hubungan ayat dengan sebelumnya: Ketika seseorang dengan kedudukan seperti ini memerlukan sandaran dan tempat tidur tambahan, Allah Ta’ala berfirman: “Dan permadani-permadani yang terhampar.” (16) Artinya: Di dalamnya terdapat permadani-permadani mewah yang indah, banyak dan tersebar.
Manfaat Ilmiah dan Keindahan:
- Dalam firman Allah Ta’ala: “Tidak terdengar di dalamnya perkataan yang sia-sia” terdapat peringatan bahwa surga adalah tempat kesungguhan dan kebenaran, tidak ada perkataan di dalamnya kecuali yang bermanfaat; karena jiwa-jiwa di dalamnya telah terbebas dari segala kekurangan, sehingga tidak ada yang mereka nikmati kecuali kebenaran-kebenaran dan ketinggian akal dan akhlak, dan mereka tidak berbicara kecuali yang menambah kesucian jiwa.
- Allah Ta’ala berfirman: “Dalam surga yang tinggi, tidak terdengar di dalamnya perkataan yang sia-sia, di dalamnya ada mata air yang mengalir, di dalamnya ada dipan-dipan yang ditinggikan, dan gelas-gelas yang tersedia, dan bantal-bantal sandaran yang tersusun, dan permadani-permadani yang terhampar.” Ini adalah janji bagi orang-orang beriman bahwa mereka akan mendapatkan di surga kenikmatan yang telah mereka kenal di dunia, dan mereka tahu bahwa kemewahan surga tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Semua itu terangkum secara umum dalam firman Allah Ta’ala: “dan di dalamnya terdapat segala apa yang diinginkan oleh hati dan indah dipandang mata” [Az-Zukhruf: 71]. Namun, jiwa-jiwa merasa nyaman dengan hal-hal yang telah mereka kenal, maka mereka diberikan hal tersebut. Kenikmatan bagi jiwa-jiwa manusia di setiap zaman dan dari setiap negeri berada pada tingkat tertinggi dari apa yang mereka kenal, terutama yang menjadi kebiasaan bagi semua penghuni peradaban dan kemewahan, yang mereka dambakan di dunia. Kemudian mereka diberi tambahan kenikmatan yang “tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia.”
- Dalam firman Allah Ta’ala: “Di dalamnya ada dipan-dipan yang ditinggikan, dan gelas-gelas yang tersedia” perhatikan perlawanannya: “Di dalamnya ada dipan-dipan yang ditinggikan” yang tinggi, yang mereka duduki sambil bercengkerama “mereka dan pasangan-pasangan mereka berada dalam tempat yang teduh, bersandar di atas dipan-dipan” [Yasin: 56], “dan gelas-gelas yang tersedia” artinya: tidak diangkat jauh dari mereka, tetapi tersedia untuk mereka, kapan pun mereka ingin minum darinya dari keempat sungai surga.
Keindahan Retoris Ayat-ayat:
- Firman Allah Ta’ala: “Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri, terhadap usahanya ia merasa puas” adalah dimulainya penceritaan tentang keadaan penghuni surga. Mendahulukan cerita tentang keadaan penghuni neraka dalam ayat-ayat sebelumnya karena hal itu lebih menakutkan dalam menggambarkan hari kiamat dan membesarkan peristiwanya, dan karena menceritakan kebaikan keadaan penghuni surga setelah menceritakan buruknya keadaan penghuni neraka akan menambah keindahan dan kegembiraan pada yang diceritakan. Kalimat ini tidak dihubungkan (dengan kata penghubung) dengan kalimat sebelumnya untuk menunjukkan perbedaan yang sempurna antara keduanya.
- Begitu juga, pada pandangan awal, seharusnya kalimat “Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri” ini dihubungkan dengan kalimat “Wajah-wajah pada hari itu tunduk terhina” [Al-Ghasyiyah: 2] dengan kata penghubung “dan”, karena keduanya sama-sama menjelaskan tentang peristiwa hari kiamat, sebagaimana dihubungkan dalam surah ‘Abasa kalimat “Dan wajah-wajah pada hari itu tertutup debu” [‘Abasa: 40] dengan kalimat “Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri” [‘Abasa: 38]. Maka perlu ditanyakan tentang alasan pemisahan kalimat ini dari kalimat sebelumnya. Alasan pemisahan ini adalah untuk mengingatkan bahwa tujuan dari pertanyaan dalam “Sudahkah sampai kepadamu berita tentang hari kiamat?” [Al-Ghasyiyah: 1] adalah memberitahukan keadaan orang-orang yang diancam, yaitu pemilik wajah-wajah yang terhina. Ketika pemberitahuan itu sudah tercapai dengan kalimat “Wajah-wajah pada hari itu tunduk terhina” [Al-Ghasyiyah: 2] sampai akhir, maka tercapailah tujuannya, dan kalimat sesudahnya datang terpisah karena dijadikan sebagai permulaan baru yang menjelaskan jawaban atas pertanyaan yang diperkirakan muncul dari kalimat sebelumnya, di mana pendengar bertanya: “Apakah ada cerita tentang hari kiamat yang berbeda dari kengerian ini? Yaitu, yang berupa ketenangan dan kenikmatan bagi kaum lain?” Karena susunan ini, kalimat ini menjadi seperti tambahan dan penyempurnaan untuk menunjukkan perbedaan antara keadaan dua kelompok, dan untuk mengikuti peringatan dengan kabar gembira. Maka posisi kalimat yang dimulai baru ini adalah posisi sisipan, dan tidak ada pertentangan antara permulaan baru dengan sisipan, dan itu mewajibkan pemisahannya dari yang sebelumnya. Hal ini sesuai dengan kebiasaan Al-Qur’an yang selalu mengiringi peringatan dengan kabar gembira. Adapun dua kalimat dalam surah ‘Abasa, tidak didahului oleh pernyataan yang samar, karena keduanya berhubungan bersama-sama dengan kata keterangan waktu, yaitu “Maka apabila datang suara yang memekakkan” [‘Abasa: 33].
- Firman-Nya: “Terhadap usahanya ia merasa puas” yang dimaksud dengan “sa’yi” (usaha) adalah amal yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan manfaat darinya, dan diungkapkan di sini sebagai lawan dari firman-Nya tentang lawannya: “bekerja keras” [Al-Ghasyiyah: 3].
2- Firman Allah Ta’ala: “Di dalam surga yang tinggi, yang di dalamnya tidak terdengar perkataan yang sia-sia (laghiyah)”
- Firman-Nya: “Di dalam surga yang tinggi” adalah khabar ketiga dari kata “wujuh” (wajah-wajah). Yang dimaksud dengan “jannah” (surga) adalah keseluruhan tempat pahala yang mencakup banyak surga, atau yang dimaksud adalah jenisnya. Penyifatan surga dengan kata “tinggi” adalah untuk menambah keindahan, karena surga yang paling indah adalah yang berada di tempat-tempat tinggi. Allah Ta’ala berfirman: “Seperti sebuah kebun di dataran tinggi” (Al-Baqarah: 265). Hal itu menambah keindahan bagian dalamnya dengan keindahan pemandangan yang disaksikan oleh orang yang berada di dalamnya. Ini adalah sifat yang mencakup keindahan lokasi surga.
- Firman-Nya: “Yang di dalamnya tidak terdengar perkataan yang sia-sia (laghiyah)”. Kata “laghiyah” adalah bentuk masdar yang bermakna “laghu” (sia-sia), seperti kata “kadzibah” untuk “kidzb” (kebohongan), “kha’inah” dan “‘afiyah”. Artinya: tidak terdengar di dalamnya perkataan sia-sia. Atau kata itu adalah sifat untuk yang disifati yang diperkirakan dalam bentuk mu’annats (feminin), atau ia bermakna penisbatan, yaitu: perkataan yang mengandung sia-sia, atau jiwa yang berkata sia-sia.
- Penafian mendengar “laghiyah” adalah kiasan tentang tidak adanya perkataan sia-sia di surga, seperti dalam ungkapan: “Dan engkau tidak melihat kadal bersembunyi di dalamnya”, maksudnya: tidak ada kadal di dalamnya, karena kadal tidak lepas dari bersembunyi.
- Penyebutan sifat-sifat surga dimulai dengan sifat zatnya, yaitu posisinya yang tinggi, kemudian disusul dengan sifat kesuciannya dari segala yang dianggap sebagai kekurangan dalam perkumpulan manusia dan tempat tinggal orang banyak, yaitu kegaduhan dan perkataan sia-sia. Kalimat “Yang di dalamnya tidak terdengar perkataan yang sia-sia” tidak di-‘athaf-kan (dihubungkan) kepada kata “‘aliyah” (tinggi) untuk memperhatikan ketidaksesuaian antara kata tunggal dan kalimat. Hal itu pantas untuk tidak di-‘athaf-kan karena lebih kuat dari keterputusan sempurna dalam ‘athaf kalimat. Ini adalah penyifatan surga dengan kebaikan para penghuninya.
3- Firman Allah Ta’ala: “Di dalamnya ada mata air yang mengalir, di dalamnya ada dipan-dipan yang ditinggikan, dan gelas-gelas yang tersedia, dan bantal-bantal yang tersusun, dan permadani-permadani yang terhampar”
- Firman-Nya: “Di dalamnya ada mata air yang mengalir” adalah sifat ketiga untuk “jannah” (surga). Yang dimaksud adalah jenis mata air, yaitu bahwa di dalamnya terdapat mata air yang sangat banyak. Ini adalah penyifatan surga dengan kesempurnaan keindahan taman-taman. Atau yang dimaksud adalah mata air tertentu yang disebutkan untuk memuliakannya.
- Firman-Nya: “Di dalamnya ada mata air yang mengalir”, artinya: airnya mengalir dan tidak terputus. Bentuk nakirah (indefinit) menunjukkan keagungan.
- Kalimat ini tidak di-‘athaf-kan kepada kalimat sebelumnya karena perbedaan keduanya; yang pertama adalah kalimat verbal, sedangkan yang kedua adalah kalimat nominal. Perbedaan itu termasuk yang memperbaiki pemisahan. Juga karena kalimat “Yang di dalamnya tidak terdengar perkataan yang sia-sia” dimaksudkan untuk menunjukkan kesucian dari kekurangan, sedangkan kalimat “Di dalamnya ada mata air yang mengalir” dimaksudkan untuk menetapkan sebagian keindahannya.
- Firman-Nya: “Di dalamnya ada dipan-dipan yang ditinggikan” adalah sifat keempat untuk “jannah”. Kata “di dalamnya” diulang tanpa meng-‘athaf-kan “dipan-dipan” kepada “mata air” sebagai ‘athaf kata tunggal, karena ‘athaf dipan-dipan kepada mata air tampak tidak sesuai dengan perasaan, karena tidak adanya kesamaan dalam pikiran antara mata air dan dipan-dipan, jika bukan karena keduanya sama-sama berada di surga. Oleh karena itu, kata “di dalamnya” diulang untuk menegaskan bahwa kesamaan tempat itulah yang menyatukannya. Juga karena ada perbedaan antara keberadaan mata air yang mengalir di surga dengan keberadaan dipan-dipan dan yang lain yang merupakan perabotan istana dan furnitur. Oleh karena itu, kata “gelas-gelas”, “bantal-bantal”, dan “permadani-permadani” di-‘athaf-kan, karena semuanya serupa sebagai perabotan tempat tinggal yang unggul. Ini adalah penyifatan keindahan surga dengan keindahan perabotan istana-istananya. Jadi, kata ganti “di dalamnya” kembali kepada surga dengan anggapan bahwa apa yang ada di dalam istana-istananya adalah yang terkandung di dalamnya dengan perantara.
- Firman-Nya: “Di dalamnya ada dipan-dipan yang ditinggikan”. “Surur” adalah bentuk jamak dari “sarir”, yaitu yang diduduki dan dibaringkan, yang muat untuk orang yang berbaring. Dibuat dari kayu atau besi dan memiliki kaki-kaki agar tinggi dari tanah. Karena ketinggian dari tanah sudah termasuk dalam pengertian dipan-dipan, maka penyifatannya dengan “ditinggikan” adalah untuk menggambarkan keindahannya.
- Firman-Nya: “Dan gelas-gelas yang tersedia” adalah kiasan tentang tidak terputusnya kenikmatan minuman dalam rasa dan kesegaran, yaitu: tersedia dengan minuman-minuman yang ada di dalamnya.
- Firman-Nya: “Dan permadani-permadani yang terhampar”. “Terhampar” artinya: tersebar di atas tanah dengan banyak, dan itu menunjukkan kiasan tentang jumlahnya yang banyak.
- Sifat-sifat wajah penghuni neraka dibandingkan dengan sifat-sifat wajah penghuni surga. Sifat-sifat “tunduk, bekerja keras, dan payah” dibandingkan dengan sifat-sifat “bahagia dan puas dengan usahanya”. Firman-Nya: “Memasuki api yang sangat panas” dibandingkan dengan firman-Nya: “Di dalam surga yang tinggi”. Firman-Nya: “Diberi minum dari mata air yang sangat panas” dibandingkan dengan firman-Nya: “Di dalamnya ada mata air yang mengalir”. Dan kesengsaraan kehidupan penghuni neraka yang ditunjukkan oleh firman-Nya: “Tidak ada makanan bagi mereka kecuali dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar” dibandingkan dengan tempat duduk penghuni surga yang menunjukkan kehidupan yang mewah dengan minuman dan perabotan.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Ayat: 17-20
﴿اَفَلَا يَنْظُرُوْنَ اِلَى الْاِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْۗ ١٧ وَاِلَى السَّمَاۤءِ كَيْفَ رُفِعَتْۗ ١٨ وَاِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْۗ ١٩ وَاِلَى الْاَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْۗ ٢٠ ﴾
Kata-kata Asing:
Nushibat: artinya dijadikan terpancang, berdiri kokoh. Asal kata “nasaba” menunjukkan pendirian dan penetapan sesuatu dengan lurus. Sutihat: artinya dihamparkan dan dibentangkan. Asal kata “satha” menunjukkan penghamparansdan pembentangan sesuatu.
Makna Umum:
Allah Ta’ala berfirman, memerintahkan hamba-Nya untuk melihat ciptaan-Nya yang menunjukkan kekuasaan dan keagungan-Nya: “Tidakkah manusia memperhatikan unta dan merenungkan bagaimana ia diciptakan dengan cara yang menakjubkan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan dengan ketinggian yang agung? Dan gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan dengan bentuk yang mengagumkan? Dan bumi, bagaimana Allah membentangkannya agar makhluk-makhluk dapat menetap di atasnya?”
Tafsir Ayat-ayat:
“Maka tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan?” (17)
Hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah Ta’ala menyebutkan perkara kiamat dan pembagian penghuninya menjadi orang-orang celaka dan orang-orang bahagia, dan diketahui bahwa tidak ada jalan untuk membuktikan hal itu kecuali melalui Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana, Allah mengiringinya dengan menyebutkan bukti-bukti ini dan menyebutkan apa yang selalu disaksikan dan dihadapi oleh orang-orang Arab.
Ketika Allah Ta’ala menggambarkan surga dengan gambaran-Nya, orang-orang kafir merasa heran akan hal itu, maka Allah mengingatkan mereka akan keajaiban ciptaan-Nya.
“Maka tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan?” (17) Artinya: Tidakkah manusia memperhatikan unta dengan merenungkan bagaimana ia diciptakan dengan cara yang menakjubkan dan indah? Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untukmu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai manfaat, dan sebagiannya kamu makan. Dan kamu memperoleh keindahan padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya (ke tempat penggembalaan). Dan ia mengangkut beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup mencapainya, kecuali dengan susah payah.” [An-Nahl: 5-7]
Dan Allah berfirman: “Dan tidakkah mereka melihat bahwa Kami telah menciptakan untuk mereka binatang ternak dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami, lalu mereka menguasainya? Dan Kami menundukkannya (binatang-binatang itu) untuk mereka; lalu sebagiannya untuk menjadi tunggangan mereka dan sebagian untuk mereka makan. Dan mereka mendapat berbagai manfaat dan minuman darinya. Maka mengapa mereka tidak bersyukur?” [Yasin: 71-73]
“Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?” (18) Artinya: Tidakkah mereka memperhatikan langit pula, bagaimana ia ditinggikan dengan ketinggian yang agung? Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Allah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat.” [Ar-Ra’d: 2]
Dan Allah berfirman: “Maka tidakkah mereka memperhatikan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami membangunnya dan menghiasinya, dan tidak terdapat retak-retak sedikit pun?” [Qaf: 6]
“Dan gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan?” (19) Artinya: Tidakkah mereka memperhatikan gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan dengan bentuk yang mengagumkan; karena ia berdiri tegak, kokoh, dan tetap, tidak meninggalkan tempatnya dan tidak jatuh?
“Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan?” (20) Artinya: Tidakkah mereka memperhatikan bumi, bagaimana Allah membentangkannya, menjadikan permukaannya tempat menetap bagi makhluk-makhluk? Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan bumi telah Kami hamparkan; maka (Kami) sebaik-baik yang menghamparkan.” [Adz-Dzariyat: 48]
Manfaat Pendidikan:
1- Dalam firman Allah Ta’ala: “Apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan?” hingga firman-Nya: “Dan bumi bagaimana ia dihamparkan” terdapat pengarahan perhatian kepada empat hal tersebut; karena di dalamnya terdapat bukti-bukti agung tentang kekuasaan dan kebangkitan, kemudian pengakuan kepada Allah Ta’ala tentang keesaan dan ketuhanan-Nya; sebagai hasil dari penetapan rububiyah-Nya Ta’ala atas seluruh ciptaan-Nya.
2- Dalam firman Allah Ta’ala: “Apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan?” hingga firman-Nya: “Dan bumi bagaimana ia dihamparkan” terdapat dorongan dari Allah Azza wa Jalla untuk memperhatikannya dengan mata penglihatan dan mata hati; dengan mata penglihatan yang merupakan persepsi inderawi, dan dengan mata hati yang merupakan persepsi akal; agar kita dapat mengambil petunjuk darinya tentang tanda-tanda Allah berupa kekuasaan, ilmu, rahmat, hikmah dan lainnya. Pandangan yang teliti dan pemikiran yang mendalam dapat mengantar seseorang kepada penunjukan atas keberadaan Allah Ta’ala dan kekuasaan-Nya, sebagaimana yang diucapkan Quss bin Sa’idah pada masa jahiliyah dalam khutbahnya yang terkenal: “Malam yang gelap, siang yang terang, langit dengan gugusan bintangnya, bintang-bintang yang bersinar, lautan yang bergelombang, gunung-gunung yang kokoh, bumi yang terbentang, dan sungai-sungai yang mengalir”; ia telah menyebutkan langit, gunung-gunung, dan bumi.
Manfaat Ilmiah dan Keindahan:
1- Dalam firman Allah Ta’ala: “Apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan?” hingga firman-Nya: “Dan bumi bagaimana ia dihamparkan” terdapat pertanyaan tentang kesesuaian antara hal-hal tersebut. Jawabannya dari beberapa segi: Pertama: Bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada orang Arab, dan mereka sering bepergian, mereka berjalan dengan unta di padang pasir dan gurun dalam keadaan sendirian terpisah dari orang lain. Ketika seseorang menyendiri, ia akan merenungkan berbagai hal karena tidak ada yang berbicara dengannya, dan tidak ada yang menyibukkan pendengaran dan penglihatannya, sehingga ia harus menjadikan pemikirannya sibuk. Ketika ia berpikir dalam kondisi tersebut, hal pertama yang dilihatnya adalah unta yang ditungganginya; maka ia melihat pemandangan yang menakjubkan. Jika ia melihat ke atas, ia tidak melihat selain langit, jika melihat ke kanan dan kiri, ia tidak melihat selain gunung-gunung, dan jika melihat ke bawah, ia tidak melihat selain bumi. Seolah-olah Allah Ta’ala memerintahkannya untuk melihat pada waktu kesendirian dan keterpisahan; agar kesombongan dan kedengkian tidak membawanya untuk meninggalkan perenungan.
Kedua: Bahwa semua makhluk menunjukkan adanya Sang Pencipta Subhanahu, namun mereka terbagi menjadi dua bagian: di antaranya ada yang memiliki bagian nafsu, seperti wajah yang cantik, emas dan perak. Hal-hal ini, meskipun menunjukkan adanya Sang Pencipta, tetapi kekaguman terhadapnya dapat mencegah kesempurnaan perenungan terhadapnya. Dan di antaranya ada yang tidak memiliki bagian nafsu, seperti hal-hal ini; maka Allah memerintahkan untuk merenungkannya karena tidak ada penghalang untuk menyempurnakan perenungan.
Ketiga: Bahwa unta adalah harta mereka yang paling berharga dan paling banyak, dan Allah menggabungkannya dengan hal-hal setelahnya karena keduanya sesuai dengan kebiasaan orang Arab dalam memanfaatkan unta lebih banyak, dan itu tidak bisa terjadi kecuali dengan merumput dan minum, dan itu dengan turunnya hujan dari langit; maka Allah menghubungkannya dalam penyebutan dengan unta. Kemudian mereka membutuhkan benteng untuk berlindung, dan tidak ada yang seperti gunung-gunung untuk itu; maka Allah menghubungkannya dengan yang sebelumnya. Ketika orang Badui memeriksa dirinya, ia menemukan hal-hal ini hadir padanya sesuai urutan yang disebutkan, berbeda dengan orang kota.
Keempat: Mungkin hikmah dalam penyebutan hal-hal ini adalah peringatan bahwa cara pendlilan ini tidak terbatas pada satu jenis saja, tetapi bersifat umum pada semuanya sebagaimana firman-Nya: “Dan tak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya” [Al-Isra: 44]. Jika disebutkan yang lain, tidak akan seperti itu. Oleh karena itu, Allah Ta’ala menyebutkan hal-hal ini sebagai peringatan bahwa semua benda langit dan bumi, kecil dan besarnya, indah dan buruknya; semuanya sama dalam menunjukkan Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana.
2- Dalam firman Allah Ta’ala: “Dan bumi bagaimana ia dihamparkan” ketahuilah bahwa penghamparan bumi tidak bertentangan dengan fakta bahwa ia berbentuk bulat yang dikelilingi oleh benda-benda langit dari segala sisi, sebagaimana ditunjukkan oleh penukilan, akal, indera, dan pengamatan, sebagaimana dikenal oleh kebanyakan orang, terutama pada zaman ini di mana orang-orang telah mengetahui sebagian besar wilayahnya dengan apa yang Allah berikan berupa sarana-sarana yang mendekatkan yang jauh. Penghamparan hanya bertentangan dengan kebulatan benda yang sangat kecil, yang jika dihamparkan tidak akan tersisa kebulatan yang berarti. Adapun bumi yang sangat besar dan luas, maka ia dapat berbentuk bulat yang dihamparkan, dan kedua hal ini tidak bertentangan, sebagaimana diketahui oleh para ahli. Namun dengan ini, mereka menyebutkan bahwa bumi tidak bulat dengan sisi yang sama, tetapi ia menggembung ke arah utara dan selatan. Mereka mengatakan bahwa bumi berbentuk oval, yaitu seperti bentuk telur dalam penggembungannya ke utara dan selatan.
3- Allah Ta’ala berfirman: “Apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan?” hingga firman-Nya: “Dan bumi bagaimana ia dihamparkan” Allah mengikutinya dengan perkara kebangkitan, dan menyusunnya dengan perintah untuk mengingatkan, maka Allah berfirman: “Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau hanyalah pemberi peringatan” ayat-ayat ini; karena maknanya: Tidakkah mereka memperhatikan berbagai jenis makhluk dari yang sederhana hingga yang kompleks agar mereka menyadari kesempurnaan kekuasaan Sang Pencipta Subhanahu wa Ta’ala, sehingga mereka tidak mengingkari kemampuan-Nya untuk membangkitkan.
Balaghah (Keindahan Sastra) Ayat-ayat:
- Firman Allah Ta’ala: “Apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan?” Ketika sebelumnya telah disebutkan peringatan tentang hari kiamat, dan keadaan penghuni neraka telah digambarkan, dan telah ditetapkan dalam Al-Qur’an bahwa penghuni neraka adalah orang-orang yang menyekutukan Allah; maka diberikan cabang berupa pengingkaran atas sikap mereka yang berpaling dari melihat tanda-tanda keesaan Allah. Huruf ‘fa’ dalam kalimat “Apakah mereka tidak memperhatikan” merupakan cabang alasan atas yang diberi alasan; karena dahsyatnya ancaman tersebut menjadikan kondisi tersebut sebagai kondisi pendalilan bahwa mereka berhak melihat tanda-tanda keesaan Allah yang merupakan dasar petunjuk untuk membenarkan apa yang dikabarkan Al-Qur’an tentang kebangkitan dan pembalasan, dan petunjuk bahwa Pencipta kehidupan pertama dari ketiadaan beserta hal-hal agung seperti gunung dan langit; tidak mustahil bagi kekuasaan-Nya untuk menciptakan kembali manusia setelah kematiannya dari ketiadaan, padahal manusia lebih kecil dari makhluk-makhluk agung tersebut. Keberpalingan mereka dari memperhatikan menjadi penyebab kesengsaraan yang mereka tanggung, dan kalimat antara cabang ini dengan yang dicabangkan darinya yaitu kalimat “Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri” [Al-Ghasyiyah: 8]; berada pada posisi kalimat sisipan.
- Firman-Nya: “Apakah mereka tidak memperhatikan…” susunan ayat-ayat tersebut sesuai dengan pembukaan surah yang mulia. Khitab (pembicaraan) dalam firman-Nya: “Sudahkah sampai kepadamu berita tentang (hari) Pembalasan?” ditujukan kepada orang-orang Arab, Allah memperingatkan mereka terlebih dahulu dengan firman-Nya: “Sudahkah sampai kepadamu”, dan Allah mengagungkan hal yang ditanyakan; maksudnya: Sadarlah kalian akan perkara yang berbahaya ini, dan peristiwa yang besar ini, dan bangkitlah dari tidur kelalaian. Allah menakut-nakuti mereka dengan api neraka, dan dengan diberi makan dari pohon yang berduri. Ketika pohon berduri (dhari’) itu terkait dengan unta -yaitu jenis duri yang dimakan unta selama masih basah- dan Allah ingin menegaskan hal itu, maka datanglah peringatan lain melalui jalur perenungan; untuk menggabungkan kesaksian akal dengan kesaksian teks, dan Allah menyusun dalil-dalil dan bukti-bukti berdasarkan apa yang mereka kenal di padang pasir dan lembah mereka, dan Allah mengalihkan pembicaraan dari khitab (langsung) ke ghaibah (tidak langsung); sebagai teguran bagi mereka, dan peringatan terhadap tempat-tempat perenungan, maka Allah berfirman: “Apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan?” hingga akhir ayat.
- Huruf hamzah dalam “Apakah mereka tidak memperhatikan…” merupakan pertanyaan yang bermakna teguran dan pengingkaran, pengingkaran atas kelalaian mereka dalam melihat kehalusan ciptaan Allah pada sebagian makhluk-Nya.
- Kata “memperhatikan” di sini adalah pandangan mata yang memberikan pelajaran terhadap detail-detail yang diperhatikan, dan penggunaannya dengan huruf “ila” (ke) merupakan peringatan untuk memperhatikan dengan seksama; agar yang memperhatikan menyadari detail-detail yang diperhatikan; karena ungkapan “melihat ke sesuatu” lebih kuat dalam mengarahkan pandangan daripada “melihat sesuatu”; karena pada kata “ila” (ke) terdapat makna tujuan akhir, seolah-olah pandangan berakhir pada objek yang dimasuki “ila” dengan berakhir penuh dan menetap.
- Untuk lebih menekankan pengingkaran atas kelalaian dalam memperhatikan detail-detail ciptaan Allah pada sebagian makhluk-Nya; kata kerja “yandzurun” (mereka memperhatikan) dibatasi dengan keadaan-keadaan yang disebutkan dalam firman-Nya: “bagaimana ia diciptakan”, “bagaimana ia ditinggikan”, “bagaimana ia ditegakkan”, “bagaimana ia dihamparkan”, yaitu: mereka tidak memperhatikan detail-detail bentuk penciptaannya.
- Alasan penyebutan unta secara khusus: bahwa unta memiliki manfaat yang lebih lengkap dari hewan lainnya; karena jenisnya ada empat: penghasil susu, tunggangan, makanan, dan pengangkut beban, dan unta mengumpulkan keempat sifat ini; sehingga nikmat dengannya lebih umum, dan tampaknya kekuasaan dengannya lebih sempurna. Maka unta dikhususkan dengan penyebutan; karena pada unta terkumpul manfaat-manfaat yang terpisah pada yang lainnya; dari memakan dagingnya, meminum susunya, mengangkut beban di atasnya, dan bepergian di atasnya ke negeri-negeri yang jauh, dan kehidupannya dengan tumbuhan apapun yang dimakannya, dan kesabarannya terhadap kehausan, bahkan di antaranya ada yang mendatangi air setiap sepuluh hari, dan kepatuhannya kepada yang menuntunnya, dan bangunnya saat berbaring dengan beban-beban berat, dan banyaknya rintihannya, dan pengaruhnya dengan suara yang baik meskipun hatinya keras; maka unta adalah tunggangan yang paling mulia dan paling banyak digunakan, dan karena unta adalah hal yang paling menakjubkan bagi orang Arab dari jenis ini.
- Adapun alasan mengapa Allah tidak menyebutkan gajah dan lainnya yang lebih besar dari unta; karena orang Arab tidak pernah melihat apa pun dari itu dan tidak mengenalnya.
- Dan keempat kata kerja “khuliqat” (diciptakan), “rufi’at” (ditinggikan), “nushibat” (ditegakkan), “sutihat” (dihamparkan) dibangun dalam bentuk pasif (mabni lil majhul/tidak disebutkan pelakunya); karena sudah diketahui siapa pelaku tindakan tersebut.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
﴿فَذَكِّرْۗ اِنَّمَآ اَنْتَ مُذَكِّرٌۙ ٢١ لَّسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍۙ ٢٢ اِلَّا مَنْ تَوَلّٰى وَكَفَرَۙ ٢٣ فَيُعَذِّبُهُ اللّٰهُ الْعَذَابَ الْاَكْبَرَۗ ٢٤ اِنَّ اِلَيْنَآ اِيَابَهُمْ ٢٥ ثُمَّ اِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ ࣖ ٢٦ ﴾
Kosakata yang Aneh:
- بِمُسَيْطِرٍ: Artinya: yang menguasai, memaksa. Ada juga yang mengatakan: artinya penjaga, pemelihara. Musaithir adalah orang yang mengawasi sesuatu dan berkuasa atasnya. Dikatakan: shaithara dan saithara dengan huruf shad dan sin.
- تَوَلَّى: Artinya: berpaling. Kata “tawalla” ketika disambungkan dengan kata “an” baik secara tersurat maupun tersirat – seperti dalam kasus ini – menunjukkan makna berpaling dan meninggalkan kedekatan.
- إِيَابَهُمْ: Artinya: kembalinya mereka setelah kematian. Asal kata (awb): menunjukkan makna kembali.
Makna Umum:
Allah ﷻ memerintahkan Nabi-Nya ﷺ untuk terus mengingatkan, dengan berfirman: “Maka berilah peringatan kepada manusia – wahai Muhammad – dengan ayat-ayat Allah ﷻ, dan nasihatilah mereka dengannya; karena Aku mengutusmu kepada mereka hanya untuk mengingatkan mereka, dan engkau bukanlah orang yang berkuasa atas manusia atau memaksa mereka; sehingga engkau memaksa mereka untuk beriman kepada Allah dan menaati-Nya. Namun, siapa yang berpaling dari kebenaran dan kafir setelah diingatkan dengan ayat-ayat Allah ﷻ, maka Allah akan mengazabnya di akhirat dengan azab neraka yang terbesar.” Kemudian Allah ﷻ menutup surat yang mulia dengan berfirman: “Sesungguhnya kepada Kami-lah tempat kembali mereka setelah kematian mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka pada hari kiamat atas amal-amal mereka, dan Kami akan membalas mereka dengannya.”
Tafsir Ayat:
فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ (21) [Maka berilah peringatan, sesungguhnya kamu hanyalah pemberi peringatan]
Hubungan ayat dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah telah menjelaskan dalil-dalil tentang kebenaran tauhid dan hari kebangkitan, Dia berfirman kepada Rasul-Nya ﷺ: “Maka berilah peringatan, sesungguhnya kamu hanyalah pemberi peringatan.” Peringatan Rasul adalah dengan menyebutkan dalil-dalil ini dan yang sejenisnya, mendorong untuk merenungkannya, dan memperingatkan dari meninggalkannya. Ini adalah perintah dari Allah ﷻ kepada Rasul untuk memberikan peringatan dan bersabar atas segala rintangan yang menyertainya; dan penjelasan bahwa ia diutus hanya untuk itu, bukan yang lain. Oleh karena itu, Allah berfirman: “Maka berilah peringatan, sesungguhnya kamu hanyalah pemberi peringatan (21).” Artinya: berilah peringatan kepada manusia – wahai Muhammad – dengan ayat-ayat Allah ﷻ, dan nasihatilah mereka dengannya; karena Aku tidak mengutusmu kepada mereka kecuali untuk mengingatkan mereka. Sebagaimana Allah berfirman: “Maka berilah peringatan dengan Al-Qur’an kepada siapa yang takut kepada ancaman-Ku.” [Qaaf: 45]. Dan Allah Yang Maha Agung berfirman: “Dan berilah peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” [Adz-Dzariyat: 55].
لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُسَيْطِرٍ (22) [Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka]
Tentang Nasikh dan Mansukh:
Ayat ini muhkam (tetap berlaku) dan tidak dinasakh (dihapus). Ada juga yang mengatakan: ayat ini telah dinasakh oleh ayat pedang, yaitu firman Allah ﷻ: “Apabila bulan-bulan haram telah berlalu, maka bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana saja kamu jumpai mereka…” [At-Taubah: 5].
لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُسَيْطِرٍ (22): Artinya: Engkau -wahai Muhammad- tidak diutus sebagai penguasa atas manusia dan pemaksa mereka; sehingga engkau memaksa mereka untuk beriman kepada Allah dan menaati-Nya. Sebagaimana Allah ﷻ berfirman: “Bukanlah kewajibanmu (Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” [Al-Baqarah: 272]. Dan Allah ﷻ berfirman: “Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan membawa kebenaran untuk manusia. Siapa yang mendapat petunjuk maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka sesungguhnya dia sesat untuk (kerugian) dirinya sendiri, dan engkau bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka.” [Az-Zumar: 41]. Dan Allah Yang Maha Agung berfirman: “Jika mereka berpaling, maka Kami tidak mengutusmu sebagai pengawas mereka. Kewajibanmu hanyalah menyampaikan (risalah).” [Asy-Syura: 48]. Dan Allah Yang Maha Suci berfirman: “Dan engkau bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka.” [Qaaf: 45].
إِلَّا مَنْ تَوَلَّى وَكَفَرَ (23):
Hubungan ayat dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah menafikan kekuasaan duniawi atas mereka, dan perkiraan maknanya adalah: “Siapa yang menerima dan beriman, maka Allah akan memberikannya kenikmatan yang besar”; Allah menyatakan pengecualian untuk kelompok lainnya dalam bentuk pengecualian:
إِلَّا مَنْ تَوَلَّى وَكَفَرَ (23): Artinya: Kecuali orang yang berpaling dari kebenaran dan kafir setelah diberi peringatan dengan ayat-ayat Allah ﷻ.
فَيُعَذِّبُهُ اللَّهُ الْعَذَابَ الْأَكْبَرَ (24): Artinya: Maka Allah akan mengazabnya di akhirat atas kekufuran dan keberpalingannya dengan azab neraka yang tidak ada azab yang lebih besar darinya. Sebagaimana Allah berfirman: “Dan sungguh, azab akhirat lebih berat dan lebih kekal.” [Thaha: 127]. Dan Allah ﷻ berfirman: “Dan Kami pasti akan merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” [As-Sajdah: 21].
إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ (25): Artinya: Sesungguhnya kepada Kami-lah tempat kembali mereka dan tempat tujuan mereka setelah kematian mereka. Sebagaimana Allah ﷻ berfirman: “Hanya kepada Allah kamu semua akan kembali, kemudian Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” [Al-Maidah: 105].
ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ (26): Artinya: Kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka pada hari kiamat atas amal-amal mereka, dan Kami akan membalas mereka dengannya. Allah berfirman: “Maka sesungguhnya kewajibanmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang akan menghisab (amal mereka).” [Ar-Ra’d: 40].
Manfaat Pendidikan:
1- Dalam firman Allah Ta’ala: “Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka” bahwa di antara orang-orang bodoh ada yang menempatkan firman Allah ini bukan pada tempatnya, dan menyimpang dari jalurnya, mereka ingin menjadikannya sebagai dalil atas kebebasan beragama di antara kelompok-kelompok Muslim! Sungguh jauh perbedaan antara keadaan orang-orang musyrik dengan keadaan komunitas Muslim; karena siapa yang menyimpang dalam Islam setelah masuk ke dalamnya maka diminta bertobat tiga kali, jika tidak bertobat maka dibunuh, dan jika tidak mampu melakukannya maka wajib bagi kaum Muslim untuk mengusirnya dari komunitas mereka, dan memperlakukannya sebagai musuh. Demikian pula siapa yang datang dengan perkataan atau perbuatan yang menuntut pengingkaran Islam, atau pengingkaran terhadap apa yang merupakan prinsip-prinsip agama yang penting, setelah dijelaskan kepadanya akibat dari perkataan atau perbuatannya, namun dia tetap berpegang pada pendiriannya dan tidak mau menafsirkannya dengan tafsiran yang dapat diterima, serta menolak untuk berhenti.
2- Dalam firman Allah Ta’ala: “Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka” bahwa pendakwah kepada Allah seharusnya tidak bersedih jika dakwahnya tidak diterima. Jika dia telah menunaikan kewajibannya, maka dia telah terbebas dari tanggungjawab, dan perhitungan ada pada Allah Ta’ala. Firman-Nya: “Kecuali orang yang berpaling dan kafir” artinya: tetapi orang yang berpaling dan kafir -menurut suatu pendapat- “maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang terbesar. Sesungguhnya kepada Kamilah mereka kembali, kemudian sesungguhnya kewajiban Kamilah menghisab mereka.” Maka janganlah bersedih wahai pendakwah kepada Allah jika perkataanmu ditolak, atau jika tidak diterima pada kesempatan pertama; karena engkau telah menunaikan kewajibanmu.
3- Dalam firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya kepada Kamilah mereka kembali” bahwa kembali itu adalah kepada Allah Ta’ala. Maka seberapa jauh pun manusia melarikan diri, dan seberapa panjang pun kehidupannya, sesungguhnya dia akan kembali kepada Allah. Untuk ini Allah berfirman: “Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya” [Al-Insyiqaq: 6]. Maka bersiaplah wahai saudaraku untuk pertemuan ini. Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali Tuhannya akan berbicara kepadanya tanpa penerjemah di antara mereka. Lalu dia melihat ke kanan dirinya dan tidak melihat kecuali apa yang telah dikerjakannya, dan melihat ke kiri dirinya dan tidak melihat kecuali apa yang telah dikerjakannya, dan melihat ke depannya dan tidak melihat kecuali api neraka di hadapan wajahnya. Maka bertakwalah kepada api neraka walau dengan secuil kurma.” Dan Allah Azza wa Jalla pada hari kiamat akan menetapkan hamba dengan dosa-dosanya, berkata: “Engkau melakukan ini pada hari ini,” hingga dia mengakui dan mengaku. Ketika dia mengakui dan mengaku, Allah Ta’ala berkata: “Aku telah menutupinya di dunia, dan Aku mengampunimu hari ini.” Dan berapa banyak dosa yang ditutupi Allah Azza wa Jalla! Berapa banyak dosa yang kita lakukan tidak diketahui oleh siapapun, tetapi Allah Ta’ala mengetahuinya! Maka sikap kita terhadap dosa-dosa ini adalah memohon ampunan kepada Allah Azza wa Jalla, dan memperbanyak amal saleh yang menghapus keburukan; agar kita bertemu Allah Azza wa Jalla dalam keadaan yang diridhai-Nya, Maha Suci dan Maha Tinggi.
Manfaat Ilmiah dan Kehalusan:
1- Allah Azza wa Jalla berfirman: “Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau hanyalah pemberi peringatan.” Dalam firman-Nya: “Maka berilah peringatan,” Allah tidak mengkhususkan siapapun dengan peringatan, artinya: Dia tidak mengatakan: “Peringatkanlah si fulan dan si fulan.” Jadi peringatan itu bersifat umum; karena Rasul ﷺ diutus kepada seluruh manusia, artinya: Peringatkanlah setiap orang dalam setiap keadaan dan di setiap tempat. Maka Nabi ﷺ memberi peringatan, dan para khalifah setelahnya juga memberi peringatan; mereka yang menggantikannya dalam umatnya dalam hal ilmu, amal dan dakwah.
2- Dalam firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya engkau hanyalah pemberi peringatan,” bahwa Muhammad ﷺ hanyalah pemberi peringatan dan penyampai, adapun hidayah ada di tangan Allah Ta’ala: “Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki” [Al-Baqarah: 272].
Keindahan Bahasa Al-Quran:
1- Firman Allah Ta’ala: “Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau hanyalah pemberi peringatan * Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka”
- Huruf ‘fa’ (maka) dalam “fadzakkir” (maka berilah peringatan) adalah hasil dari keseluruhan yang telah disebutkan dari awal surah yang merupakan peringatan tentang hari kiamat (al-ghasyiyah) dan apa yang berkaitan dengannya tentang penolakan mereka dan peringatan kepada mereka. Berdasarkan hal itu, Allah memerintahkan Rasul-Nya ﷺ untuk terus mengingatkan mereka, dan bahwa dia tidak boleh putus asa karena kekeraskepalaan mereka dalam berpaling dan tidak mengingat nasihat-nasihat yang disampaikan kepada mereka. Allah meneguhkannya bahwa dia tidak bertanggung jawab atas ketidakmauan mereka mendengarkan, karena dia tidak diutus untuk memaksa mereka beriman. Perintah ini digunakan untuk meminta kesinambungan dan kelanjutan.
- Objek dari kata “dzakkir” (berilah peringatan) tidak disebutkan. Objek tersebut adalah kata ganti yang ditunjukkan oleh firman-Nya setelahnya: “Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka”.
- Kalimat “innamā anta” (sesungguhnya engkau hanyalah) menjelaskan alasan perintah untuk terus memberikan peringatan meskipun mereka tidak mendengarkan.
- Pembatasan yang dipahami dari kata “innamā” adalah pembatasan relatif, yaitu: engkau hanyalah pemberi peringatan, bukanlah yang bertanggung jawab atas tercapainya pengingatan mereka, maka janganlah engkau merasa tidak enak karena mereka tidak mengingat, karena engkau tidak lalai dalam memperingatkan mereka. Ini adalah penentraman bagi jiwanya yang suci ﷺ.
- Firman-Nya: “Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka” adalah penetapan dan penegasan makna peringatan, yaitu: engkau bukanlah penguasa atas mereka yang dapat memaksa mereka atas apa yang engkau inginkan. Maka kalimat “lasta ‘alaihim bimusaytirin” (engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka) adalah badal (pengganti) dari kalimat pembatasan “innamā anta mudzakkir” (sesungguhnya engkau hanyalah pemberi peringatan) dengan mempertimbangkan aspek penafian yang diberikan oleh pembatasan tersebut. Penafian bahwa dia berkuasa atas mereka adalah khabar (predikat) yang digunakan bukan untuk memberitahu, karena Nabi ﷺ tahu bahwa dia tidak ditugaskan untuk memaksa mereka beriman. Maka khabar dengan penafian ini digunakan sebagai kiasan untuk menenangkan dengan menghilangkan tanggung jawab darinya akibat keberlanjutan kekafiran kebanyakan mereka.
- Pengedepanan “‘alaihim” (atas mereka) atas yang berkaitan dengannya – yaitu (musaytirin) – untuk menjaga sajak akhir ayat.
2- Firman Allah Ta’ala: “Kecuali orang yang berpaling dan kafir * maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang terbesar” adalah kalimat sisipan antara kalimat “engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka” dan kalimat “sesungguhnya kepada Kamilah mereka kembali” [Al-Ghasyiyah: 25]. Tujuan dari sisipan ini adalah untuk mencegah mereka dari mengira bahwa mereka menjadi aman dari pertanggungjawaban atas ketidakmengingatan mereka. Maka huruf “illā” (kecuali) untuk pengecualian yang terputus – menurut suatu pendapat – yang bermakna “tetapi”, artinya: tetapi orang yang berpaling dari peringatan dan tetap dalam kekafirannya, Allah akan mengazabnya dengan azab yang keras.
- Menurut pendapat yang mengatakan bahwa pengecualian dalam firman-Nya: “Kecuali orang yang berpaling dan kafir” adalah pengecualian yang bersambung, maka memerangi orang-orang kafir dan membunuh mereka adalah penguasaan, seolah-olah dikatakan: engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka – yaitu tidak memiliki kekuasaan – untuk membunuh dan memerangi kecuali orang yang berpaling dan kafir, seolah-olah Allah mengancam mereka dengan perang di dunia dan azab neraka di akhirat. Dan dikatakan: ini adalah pengecualian dari firman-Nya: “Maka berilah peringatan”, artinya: berilah peringatan kecuali kepada orang yang engkau telah putus harapan dari keimanannya dan dia berpaling, sehingga dia berhak mendapatkan azab terbesar, dan di antara keduanya “Sesungguhnya engkau hanyalah pemberi peringatan * Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka” adalah sisipan.
- Dalam firman-Nya: “Azab yang terbesar”, Allah tidak menyebutkan apa yang dibandingkan dengannya, artinya: Dia tidak mengatakan: terbesar dari ini dan itu; maka azab tersebut telah mencapai puncak dalam besarnya, beratnya, dan hinanya.
3- Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya kepada Kamilah mereka kembali * Kemudian sesungguhnya kewajiban Kamilah menghisab mereka”
- Firman-Nya: “Sesungguhnya kepada Kamilah mereka kembali” adalah alasan untuk “azab yang terbesar”; artinya: sesungguhnya kepada Kamilah kembalinya mereka melalui kematian dan kebangkitan, bukan kepada siapapun selain Kami; tidak secara mandiri maupun secara bersama. Dan dikatakan: ini adalah alasan untuk kalimat “Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka” [Al-Ghasyiyah: 22], artinya: engkau tidak diwajibkan untuk memaksa mereka mengingat dan beriman; karena Kami akan menghisab mereka ketika mereka kembali kepada Kami di negeri keabadian.
- Rahasia didahulukannya jar dan majrur (preposisi dan kata yang dipengaruhinya) dalam firman-Nya: “Sesungguhnya kepada Kamilah mereka kembali * Kemudian sesungguhnya kewajiban Kamilah menghisab mereka”; adalah untuk penekanan dan penguatan dalam ancaman, dan bahwa kembalinya mereka tidak lain hanyalah kepada Yang Maha Perkasa yang Mampu membalas, dan bahwa perhitungan mereka tidak lain hanyalah menjadi kewajiban-Nya, dan Dialah yang menghisab hingga hal yang sekecil apapun. Penjelasannya bahwa Allah Ta’ala memberikan alasan untuk firman-Nya: “Maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang terbesar” dengan firman-Nya: “Sesungguhnya kepada Kamilah mereka kembali”, dan berpindah di dalamnya dari bentuk orang ketiga ke bentuk penceritaan, dan dari nama yang mencakup ke bentuk keagungan dan keperkasaan, dan mendahulukan kedua keterangan atas faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Dan dikatakan: tampaknya pengedepanan khabar (predikat) dari “inna” atas ismnya (subjeknya) hanyalah untuk kepentingan penegasan kembalinya ini; karena mereka mengingkarinya, dan sebagai peringatan akan kemungkinannya dengan penjelasan bahwa itu adalah kembali kepada Yang telah menciptakan mereka pertama kali.
- Khabar (predikat) datang dengan penekanan menggunakan “inna” (sesungguhnya), seolah-olah mereka yang ragu membutuhkan penegasan hal ini yang mereka telah berpaling darinya dan tidak merenungkannya.
- Pembicaraan dialihkan dari gaya orang ketiga dalam firman-Nya: “Maka Allah akan mengazabnya” [Al-Ghasyiyah: 24] ke gaya orang pertama dengan firman-Nya: “Kepada Kami” dengan cara iltifat (perpindahan).
- Penghubungan dengan huruf “tsumma” (kemudian) dalam firman-Nya: “Kemudian sesungguhnya kewajiban Kamilah menghisab mereka” untuk menunjukkan jarak dalam tingkatan bukan dalam waktu; karena perhitungan mereka adalah tujuan dari kembalinya mereka, dan ini lebih berdampak dalam mengancam mereka atas berpaling. Perhitungan mungkin terjadi langsung setelah kembali, tetapi perbedaan antara kedua situasi ini adalah sesuatu yang tidak dapat diselami kedahsyatannya, tidak ada yang tahu luasnya, dan akal tidak dapat membayangkannya sama sekali.
- Makna “ala” (kewajiban) dari firman-Nya: “Kewajiban Kamilah menghisab mereka” adalah bahwa perhitungan mereka – karena kepastiannya dalam hikmah Allah – menyerupai hak yang Allah wajibkan atas diri-Nya sendiri.
- Juga kalimat ini: “Kemudian sesungguhnya kewajiban Kamilah menghisab mereka” adalah tujuan dari alasan tersebut, dan kalimat sebelumnya berfungsi sebagai pengantar dan penyisipan untuk menetapkan kebangkitan. Dalam hal ini ada isyarat bahwa penundaan hukuman mereka adalah penangguhan, jadi janganlah mereka menganggapnya sebagai pelolosan dari hukuman.
- Dalam memulai kedua kalimat dengan “inna” (sesungguhnya) dan mendahulukan khabarnya (predikatnya), serta menghubungkan kalimat kedua dengan kalimat pertama dengan kata “tsumma” (kemudian) yang menunjukkan jauhnya tingkat perhitungan dalam kerasnya; terdapat pemberitahuan tentang puncak kemarahan yang mewajibkan pengerasan azab yang tidak tersembunyi.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
SURAH AL-FAJR
Perhatian: Setiap kalimat berikut memiliki rujukan ilmiah yang belum diterjemahkan. Bagi yang memerlukan, silakan merujuk langsung ke situs web aslinya dalam bahasa Arab di: https://dorar.net/tafseer/89
Nama Surah:
Surah ini dinamakan “Surah Al-Fajr” (Fajar).
Keterangan tentang Makkiyah dan Madaniyah:
Surah Al-Fajr adalah surah Makkiyah. Banyak ahli tafsir telah menyebutkan konsensus tentang hal ini.
Maksud Surah:
Di antara maksud-maksud utama surah ini adalah:
- Meneguhkan Nabi Muhammad ﷺ.
- Menetapkan hari akhir dan perhitungan dengan pahala dan hukuman.
Tema-tema Surah:
Di antara tema-tema penting yang terkandung dalam surah ini:
- Pembukaan surah dengan sumpah atas lima hal yang mulia.
- Mengingatkan kaum musyrikin tentang apa yang menimpa para pendusta sebelum mereka, seperti kaum ‘Ad, Tsamud, dan Fir’aun.
- Penjelasan tentang kondisi manusia dalam keadaan kaya dan dalam keadaan miskin, dan bahwa banyaknya nikmat bukan bukti penghormatan Allah kepada hamba-Nya, dan kesempitan bukan bukti penghinaan-Nya.
- Penggambaran hari kiamat dan kengerian-kengeriannya, serta penyesalan manusia pada hari itu atas kelalaiannya.
- Kabar gembira bagi pemilik jiwa-jiwa yang beriman dan tenteram.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Ayat: 1-14
﴿وَالْفَجْرِۙ ١ وَلَيَالٍ عَشْرٍۙ ٢ وَّالشَّفْعِ وَالْوَتْرِۙ ٣ وَالَّيْلِ اِذَا يَسْرِۚ ٤ هَلْ فِيْ ذٰلِكَ قَسَمٌ لِّذِيْ حِجْرٍۗ ٥ اَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍۖ ٦ اِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِۖ ٧ الَّتِيْ لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِى الْبِلَادِۖ ٨ وَثَمُوْدَ الَّذِيْنَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِۖ ٩ وَفِرْعَوْنَ ذِى الْاَوْتَادِۖ ١٠ الَّذِيْنَ طَغَوْا فِى الْبِلَادِۖ ١١ فَاَكْثَرُوْا فِيْهَا الْفَسَادَۖ ١٢ فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍۖ ١٣ اِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِۗ ١٤ ﴾
Kosa Kata yang Asing:
وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ (wa asy-syaf’i wa al-watr): Asy-Syaf’u adalah yang berpasangan. Al-Watr atau Al-Witr adalah yang tunggal/ganjil. Dikatakan: “Sesuatu itu tunggal lalu aku menjadikannya berpasangan.” Asy-Syaf’u dalam bahasa berarti dua, sedangkan al-watr berarti satu. Asy-Syaf’u artinya menggabungkan sesuatu dengan yang serupa dengannya. Akar kata “syafa’a” menunjukkan perbandingan dua hal.
حِجْرٍ (hijr): Yaitu akal. Akar kata “hajara” menunjukkan pencegahan. Akal disebut “hijr” karena mencegah manusia dari melakukan perbuatan dan perkataan yang tidak pantas, sebagaimana juga disebut “aql” (akal) karena mengikat seseorang dari keburukan.
الْعِمَادِ (al-‘imad): Yaitu tiang-tiang rumah mereka dari bulu/rambut, atau bangunan mereka, atau postur tubuh mereka yang tinggi (menyerupai tiang-tiang). Akar kata “‘amada” menunjukkan ketegakan pada sesuatu.
جَابُوا الصَّخْرَ (jabu ash-shakhr): Yaitu mereka memotong batu gunung dan membuat rumah di dalamnya dengan memahat batu. Al-Jawb artinya memotong. Dikatakan: “Jubtu al-bilad ajubuha” (Aku menjelajahi negeri) ketika melewatinya. Dari sinilah kata “jawab” berasal, karena memotong/menjawab pertanyaan. Akar kata “jawaba” menunjukkan melubangi sesuatu.
ذِي الْأَوْتَادِ (dzi al-awtad): Yaitu pemilik bangunan kokoh dan kerajaan yang mantap. Orang Arab mengatakan: “Mereka dalam kemuliaan yang kokoh pasak-pasaknya” dan “kerajaan yang kokoh pasak-pasaknya”, maksudnya kekal dan kuat. Atau dikatakan: pemilik kekuatan, kekuasaan, tentara, dan kumpulan besar yang menguatkan urusannya dan mengukuhkan kerajaannya, sebagaimana pasak mengukuhkan sesuatu. Al-Watad adalah kayu yang agak tebal, bagian bawahnya lebih tipis dari bagian atasnya, ditancapkan ke tanah untuk mengikat tali kemah. Akar kata “watada” menunjukkan ketetapan dan keteguhan.
سَوْطَ عَذَابٍ (sawtha ‘adzab): Yaitu bagian azab atau kerasnya azab, karena cambuk adalah puncak siksaan bagi mereka. Kata “sawth” digunakan orang Arab untuk setiap jenis siksaan. Asal katanya adalah bahwa cambuk adalah siksaan yang mereka gunakan untuk menyiksa, sehingga berlaku untuk setiap siksaan karena dianggap sebagai puncak siksaan. Akar kata “sawatha” menunjukkan pencampuran sesuatu dengan sesuatu yang lain.
لَبِالْمِرْصَادِ (labil-mirshad): Yaitu di jalan para hamba, tidak ada seorang pun yang lolos dari-Nya. Dia mengawasi perbuatan setiap manusia untuk membalasnya. Al-Marshad dan al-Mirshad adalah jalan, atau al-Mirshad adalah tempat orang-orang diawasi. Akar kata “rashada” menunjukkan kesiapan untuk mengawasi sesuatu.
Penjelasan Tata Bahasa:
Firman Allah Ta’ala:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ * إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ * الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ * وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِ * وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ * الَّذِينَ طَغَوْا فِي الْبِلَادِ
إِرَمَ: Pengganti (badal) dari “‘Ad” dalam keadaan majrur (genitive), tanda jar-nya adalah fathah sebagai pengganti kasrah karena tidak dapat menerima tanwin (ghairu munsharif) untuk keterangan nama dan feminin.
ذَاتِ: Sifat untuk “Iram” dalam keadaan majrur, tanda jar-nya adalah kasrah.
الَّذِينَ طَغَوْا فِي الْبِلَادِ الَّذِينَ: Kata ganti yang dihubungkan (isim maushul) yang dibentuk dalam posisi jar sebagai sifat untuk kumpulan sebelumnya dari ‘Ad, Tsamud, dan Fir’aun. Boleh juga menjadi sifat untuk Fir’aun saja karena yang dimaksud adalah dia dan kaumnya, dan cukup menyebutkannya tanpa menyebut mereka. Juga boleh memutusnya dari penyifatan untuk celaan, sehingga posisinya mansub dengan perkiraan “aku mencela”, atau marfu’ dengan perkiraan “mereka”.
Makna Keseluruhan:
Allah Ta’ala membuka surat mulia ini dengan bersumpah dengan fajar yang dikenal, dengan sepuluh malam (yaitu sepuluh hari bulan Dzulhijjah), dengan yang genap dan yang ganjil, dan dengan malam ketika berjalan dan bergerak. Apakah dalam sumpah Allah dengan hal-hal tersebut terdapat kecukupan bagi orang yang berakal dan bijaksana untuk mencegah dan menahan diri?
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan tentang azab yang Dia turunkan kepada para pendusta, dengan berfirman: Tidakkah engkau (wahai Muhammad) mengetahui bagaimana Tuhanmu membalas kabilah ‘Ad; Iram yang memiliki bangunan-bangunan tinggi, yang belum pernah diciptakan sepertinya di berbagai negeri? Dan bagaimana Allah membalas kabilah Tsamud yang membelah gunung-gunung di lembah mereka dan membuat rumah-rumah di dalamnya? Dan bagaimana Allah membalas Fir’aun pemilik pasak-pasak (kerajaan yang kuat)?
Mereka yang telah disebutkan dari ‘Ad, Tsamud, dan Fir’aun telah melampaui batas dalam kezaliman dan kesombongan, mereka memperbanyak perbuatan kufur dan maksiat di berbagai negeri. Maka Tuhanmu (wahai Muhammad) menurunkan kepada mereka azab-Nya yang keras, lalu mereka semua binasa. Sesungguhnya Tuhanmu mengawasi perbuatan orang-orang yang melampaui batas dan berbuat kerusakan di dunia, dan Dia akan membinasakan mereka.
Tafsir Ayat-ayat:
وَالْفَجْرِ (1)
Artinya: Aku bersumpah demi fajar, yaitu waktu mulai munculnya cahaya di ufuk timur sebelum terbitnya matahari.
وَلَيَالٍ عَشْرٍ (2)
Artinya: Dan Aku bersumpah demi sepuluh malam, yaitu sepuluh hari bulan Dzulhijjah.
وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ (3)
Artinya: Dan Aku bersumpah demi yang genap, dan Aku bersumpah demi yang ganjil.
وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ (4)
Artinya: Dan Aku bersumpah demi malam ketika berjalan dan bergerak.
هَلْ فِي ذَلِكَ قَسَمٌ لِذِي حِجْرٍ (5)
Artinya: Apakah dalam sumpah Allah dengan hal-hal tersebut terdapat kepuasan dan kecukupan bagi orang yang berakal dan bijaksana, sehingga ia mencegah dan menahan diri? Sesungguhnya orang yang demikian mengetahui bahwa apa yang Allah bersumpah dengannya adalah hal-hal agung yang mengandung keajaiban dan bukti-bukti kebenaran, sehingga ia memikirkannya dan mengambil pelajaran darinya.
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ (6)
Artinya: Tidakkah engkau (wahai Muhammad) mengetahui bagaimana Tuhanmu membalas kabilah ‘Ad?! Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Adapun kaum ‘Ad, mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi kencang. Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus; maka kamu melihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seperti batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka adakah kamu melihat seorang pun yang masih tersisa di antara mereka?” (Al-Haqqah: 6-8).
إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ (7)
Artinya: Iram yang memiliki bangunan-bangunan tinggi. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Apakah kamu mendirikan pada setiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)?” (Asy-Syu’ara: 128-129).
الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ (8)
Artinya: Yang belum pernah diciptakan sepertinya di berbagai negeri.
وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِ (9)
Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Setelah Allah memulai dengan menyebutkan kaum ‘Ad—karena urusan mereka lebih mengherankan dan kisah mereka lebih luar biasa—Allah melanjutkan dengan menyebutkan umat yang lebih dekat masa hidupnya dengan mereka dan lebih menyerupai mereka dalam keadaan, maka Allah berfirman:
وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِ (9)
Artinya: Tidakkah engkau (wahai Muhammad) melihat bagaimana Allah juga membalas kabilah Tsamud yang membelah gunung-gunung di lembah mereka dan membuat rumah-rumah di dalamnya? Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan ingatlah ketika Dia menjadikan kamu khalifah-khalifah setelah kaum ‘Ad dan menempatkan kamu di bumi. Kamu membuat istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu memahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah. Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi” (Al-A’raf: 74). Dan Allah Subhanahu berfirman: “Dan kamu memahat sebagian gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin” (Asy-Syu’ara: 149).
وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ (10)
Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Setelah menyebutkan dua kabilah dari bangsa Arab, Allah menyebutkan sebagian penguasa lalim dari bangsa non-Arab yang berdekatan dengan mereka, karena dalam kisah mereka terdapat kesombongan dan kekuasaan, beserta keanehan dan keajaiban; maka Allah berfirman:
وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ (10)
Artinya: Tidakkah engkau (wahai Muhammad) melihat bagaimana Allah juga membalas Fir’aun pemilik pasak-pasak? Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Sebelum mereka telah mendustakan (pula) kaum Nuh, ‘Ad, Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak)” (Shad: 12).
الَّذِينَ طَغَوْا فِي الْبِلَادِ (11)
Artinya: Mereka yang telah disebutkan sebelumnya—’Ad, Tsamud, dan Fir’aun—telah melampaui batas dalam kezaliman dan kesombongan.
فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَ (12)
Artinya: Mereka memperbanyak perbuatan kufur dan maksiat, kezaliman dan permusuhan di berbagai negeri.
“Maka Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab (13). Hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya: Ketika hal itu mewajibkan azab, Allah ﷻ berfirman: “Maka Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab (13).” Artinya: Maka Tuhanmu menurunkan kepada mereka -wahai Muhammad- azab yang keras, sehingga mereka semua binasa. Sebagaimana Allah ﷻ berfirman: “Maka masing-masing Kami siksa karena dosanya, di antara mereka ada yang Kami timpakan hujan batu, ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan ada pula yang Kami tenggelamkan. Allah tidak hendak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri” [Al-Ankabut: 40].
Dan Allah ﷻ berfirman: “Maka apakah mereka tidak berjalan di bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka? Allah telah membinasakan mereka, dan bagi orang-orang kafir akan menerima (nasib) yang serupa” [Muhammad: 10].
Dan Allah ﷻ berfirman: “Adapun kaum Tsamud, mereka telah dibinasakan dengan suara yang sangat keras. Dan adapun kaum ‘Ad, mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi sangat kencang. Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus; maka kamu melihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka adakah kamu melihat seorang pun yang masih tersisa di antara mereka? Dan telah datang Fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya dan (penduduk) negeri-negeri yang dijungkirbalikkan karena kesalahan yang besar. Mereka mendurhakai rasul Tuhan mereka, maka Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat keras” [Al-Haqqah: 5-10].
Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi (14). Artinya: Sesungguhnya Tuhanmu -wahai Muhammad- mengawasi perbuatan-perbuatan orang-orang yang melampaui batas dan berbuat kerusakan di dunia, mengetahui perbuatan-perbuatan mereka, dan mendengar perkataan-perkataan mereka; hingga Dia menangkap dan membinasakan mereka. Sebagaimana Allah ﷻ berfirman: “Dan berapa banyak negeri yang Aku tangguhkan (azab-Ku) kepadanya, yang penduduknya berbuat zalim, kemudian Aku azab mereka, dan hanya kepada-Ku tempat kembali (segala sesuatu)” [Al-Hajj: 48].
Pelajaran-pelajaran pendidikan:
1- Firman Allah ﷻ: “Tidakkah engkau (Muhammad) perhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad? (yaitu) penduduk Iram (ibukota kaum ‘Ad) yang memiliki bangunan-bangunan yang tinggi” dipahami oleh sebagian ulama sebagai peringatan dari bermegah-megahan dalam bangunan, dan membanggakan serta mengagungkan diri dengan membangun batu-batu (bangunan).
2- Dalam firman Allah ﷻ: “Maka Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab” terdapat peringatan dan teguran bagi orang-orang setelah mereka agar tidak melakukan seperti perbuatan mereka, sehingga akan turun kepada mereka apa yang telah ditimpakan kepada orang-orang tersebut meskipun dengan kekuatan dan kekerasan mereka, jumlah mereka, dan harta benda yang mereka belanjakan pada bangunan-bangunan tinggi – menurut suatu pendapat, dan apa yang dilakukan oleh kaum Tsamud dengan memahat batu di lembah, dan Fir’aun yang memiliki pasak-pasak; pelaku perbuatan-perbuatan mengerikan dan mungkar: bagaimana Allah membinasakan mereka, menghancurkan mereka, menghapus jejak-jejak mereka, dan menjadikan mereka pelajaran bagi orang-orang yang mengambil pelajaran, dan nasihat bagi orang-orang yang mau menerima nasihat?!
3- Dalam firman Allah ﷻ: “Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi” bahwa tidak ada tempat berlindung dan tidak ada tempat melarikan diri dari Allah kecuali kepada-Nya.”
Manfaat-manfaat Ilmiah dan Keunikan-keunikan:
1- Surah ini mengandung celaan terhadap orang-orang yang terperdaya oleh kekuatan, kekuasaan, dan hartanya, yaitu ketiga umat ini: Kaum ‘Ad terperdaya oleh kekuatan mereka, Tsamud terperdaya oleh kebun-kebun dan mata air mereka, tanaman-tanaman dan pekarangan-pekarangan mereka, dan kaum Fir’aun terperdaya oleh harta dan kepemimpinan; sehingga akibat mereka menjadi seperti yang Allah kisahkan kepada kita, dan ini adalah keadaan-Nya selalu dengan setiap orang yang terperdaya oleh sesuatu dari itu; pasti Allah akan merusaknya atas mereka, dan mencabutnya dari mereka.
2- Dalam firman Allah ﷻ: “Dan malam yang sepuluh,” dijadikan dalil bahwa malam-malam mendahului siang-siang (dalam perhitungan).
3- Firman Allah ﷻ: “Iram yang memiliki bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain” – penjelasan yang fasih ini dengan lafaz dan maknanya secara jelas menunjukkan bahwa ini adalah deskripsi peradaban konstruksi yang tidak ada bandingannya; karena tiang-tiang hanya ada pada istana-istana dan bangunan-bangunan yang megah, serta kota-kota yang direncanakan berdasarkan sistem yang kokoh. Ini menurut salah satu pendapat dalam tafsir “yang memiliki bangunan-bangunan yang tinggi.”
4- Dalam firman Allah ﷻ: “yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain” – meskipun yang membuatnya adalah manusia – terdapat bukti bahwa manusia terkadang dapat disifati dengan penciptaan, sehingga dikatakan: dia menciptakan ini dan itu, seperti dalam sabda Nabi ﷺ tentang para pembuat gambar: “Dikatakan kepada mereka: ‘Hidupkanlah apa yang kalian ciptakan'”. Namun, penciptaan yang dinisbatkan kepada makhluk bukanlah penciptaan yang dinisbatkan kepada Allah ﷻ; penciptaan yang dinisbatkan kepada Allah adalah mewujudkan setelah ketiadaan, pengubahan dan perubahan, sedangkan penciptaan yang dinisbatkan kepada selain Allah hanyalah sekadar pengubahan dan perubahan. Ini menurut salah satu pendapat dalam tafsir “Iram yang memiliki bangunan-bangunan yang tinggi.”
5- Firman-Nya: “Yang melampaui batas di negeri-negeri,” kedurhakaan adalah kerasnya pembangkangan dan kezaliman, dan makna kedurhakaan mereka di negeri-negeri adalah bahwa setiap umat dari mereka telah melampaui batas di negeri mereka, dan ketika negeri mereka merupakan bagian dari negeri-negeri – yakni: wilayah berbagai kaum – maka kedurhakaan mereka di negeri mereka telah menyebabkan kedurhakaan di negeri-negeri; karena kerusakan sebagian mengarah pada kerusakan keseluruhan dengan menetapkan tradisi-tradisi buruk, dan oleh karena itu disebabkan daripadanya dari firman-Nya: “Yang melampaui batas di negeri-negeri” firman-Nya: “Lalu mereka banyak berbuat kerusakan di sana,” karena kedurhakaan mendorong pelakunya untuk mengabaikan hak-hak manusia, sehingga dari satu sisi ia menjadi teladan buruk bagi orang-orang sepertinya dan pembesarnya, sehingga setiap orang dari mereka melampaui batas terhadap orang yang di bawahnya, dan itu adalah kerusakan besar; karena dengannya terjadi kekacauan syariat-syariat ilahi dan undang-undang aturan yang baik, dan dari sisi lain ia membangkitkan kemarahan dan kebencian pada orang yang dizalimi dari rakyat, sehingga mereka menyembunyikan kejahatan terhadap para penindas, dan jiwa-jiwa mereka terlipat pada kebencian terhadap para pemimpin urusan dan menunggu malapetaka bagi mereka, sehingga mereka menjadi musuh-musuh yang tidak tulus hati, dan para pejabat negara menjadi curiga terhadap mereka dan takut, sehingga mereka berprasangka buruk kepada mereka dalam setiap keadaan dan mewaspadai mereka, sehingga kekuatan umat terbagi pada individu-individunya alih-alih bersatu terhadap musuh-musuhnya, sehingga umat memiliki musuh-musuh di luar dan musuh-musuh di dalam, dan itu mengarah pada kerusakan besar; tak heran kedurhakaan menjadi penyebab banyaknya kerusakan.
6- Allah berfirman: “Maka Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab” dan penyebutan cemeti menunjukkan bahwa apa yang Dia turunkan kepada mereka di dunia berupa azab yang besar dibandingkan dengan apa yang Dia siapkan bagi mereka di akhirat seperti cemeti jika dibandingkan dengan segala sesuatu yang digunakan untuk menyiksa; karena ia menuntut pengulangan dan pergantian yang tidak dituntut oleh pedang atau yang lainnya.
Keindahan Balaghah dalam Ayat-ayat:
1- Firman Allah Ta’ala: “Demi fajar, demi malam yang sepuluh, demi yang genap dan yang ganjil, demi malam apabila berlalu” – Sumpah dengan waktu-waktu ini karena sebagiannya merupakan petunjuk keindahan ciptaan Allah dan luasnya kekuasaan-Nya dalam sistem yang Dia ciptakan yang saling mendukung satu sama lain; di antaranya waktu fajar yang menggabungkan antara berakhirnya kegelapan malam dan dimulainya cahaya siang, dan waktu malam yang murni kegelapannya, dan semua itu adalah waktu-waktu untuk perbuatan kebajikan dan ibadah kepada Allah semata, seperti malam-malam yang sepuluh, malam-malam yang genap, dan malam-malam yang ganjil. Tujuan dari sumpah ini adalah untuk menegaskan hal yang disumpahi; karena sumpah dalam perkataan adalah salah satu cara untuk menegaskan berita; sebab sumpah adalah kesaksian orang yang bersumpah kepada Tuhannya atas apa yang terkandung dalam perkataannya, dan sumpah Allah Ta’ala murni untuk tujuan penegasan, dan perkataan ditujukan kepada Nabi ﷺ, sebagaimana ditunjukkan oleh firman-Nya: “Tidakkah engkau (Muhammad) perhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad?” [Al-Fajr: 6], dan firman-Nya: “Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi” [Al-Fajr: 14]; oleh karena itu sumpah merupakan sindiran terhadap kepastian terjadinya hal yang disumpahi bagi para pengingkar. Juga, tujuan dari memperpanjang sumpah dengan berbagai hal adalah: membuat rasa ingin tahu terhadap hal yang disumpahi.
- Kata definit (al) pada (الْفَجْرِ/al-fajr) adalah untuk menunjukkan jenis, dan ini yang lebih jelas; karena kesesuaiannya dengan penghubungan “Dan malam apabila berlalu.” Dan mungkin juga yang dimaksud adalah fajar tertentu; dikatakan: yang dimaksud adalah waktu shalat Subuh setiap hari, dan dikatakan juga: fajar hari Nahr (penyembelihan kurban), yaitu fajar di mana para jama’ah haji berada di Muzdalifah, sehingga kata definit pada (الْفَجْرِ/al-fajr) menunjukkan sesuatu yang dikenal.
- Firman-Nya: “Dan malam yang sepuluh,” kata (ليال/layalin) datang dalam bentuk indefinit di antara hal-hal yang disumpahi; karena malam-malam ini khusus di antara jenis malam-malam, yang sepuluh adalah sebagian darinya, sehingga indefinit untuk pengurangan. Atau khusus dengan keutamaan yang tidak dimiliki oleh yang lain, sehingga indefinit untuk pengagungan dan penekanan. Dan tidak didefinisikan dengan lam definit, meskipun malam-malam tersebut diketahui dan dikenal; karena jika malam-malam didefinisikan, maka – untuk menunjukkan kekhususannya dengan keutamaan – akan membutuhkan tambahan penyertaan petunjuk eksternal, berbeda dengan indefinit; karena penunjukannya pada keutamaan dengan sendirinya; karena ia ditetapkan untuknya secara independen, dan karena jika didefinisikan tidak akan berbeda dari hal-hal yang disebutkan dalam tujuan yang dimaksudkan darinya, dan akan terangkai dalam rangkaian sama, dan jika dikhususkan darinya dengan sesuatu tanpa perubahan akan masuk dalam batasan teka-teki.
- Dan dikatakan: definisikan fajar dengan lam; karena setiap orang mengetahuinya, dan jadikan malam-malam sepuluh indefinit; karena itu hanya diketahui dengan ilmu, dan dalam definisi fajar ada yang menunjukkan kemasyhurannya, dan bahwa itu adalah fajar yang diketahui setiap orang dan tidak ada yang tidak mengetahuinya.
- Firman-Nya: “Dan malam yang sepuluh” adalah malam-malam yang diketahui oleh para pendengar, dijelaskan bahwa jumlahnya sepuluh, dan tidak perlu mendefinisikannya dengan cara menjelaskannya dengan angka sepuluh, dan ketika dijelaskan dengan angka ini maka ditentukan bahwa itu adalah sepuluh berurutan.
- Kesesuaian penghubungan “malam yang sepuluh” kepada “fajar”: bahwa fajar adalah waktu berakhirnya malam, maka antara keduanya ada hubungan pertentangan, dan malam adalah salah satu manifestasi kekuasaan Ilahi, maka ketika ingin menghubungkannya kepada fajar dengan firman-Nya: “Dan malam apabila berlalu,” dikhususkan sebelum penyebutannya dengan menyebutkan malam-malam yang diberkahi; karena itu adalah bagian dari jenis malam.
- Firman-Nya: “Demi yang genap dan yang ganjil” Syaf’ (genap) adalah apa yang menjadi kedua dari yang lain, dan Witr (ganjil) adalah sesuatu yang tunggal, dikatakan: witr adalah hari Arafah dan syaf’ adalah hari Nahr, dan keduanya adalah sifat dari yang dihapus – yaitu: hari; itu karena hari Nahr adalah hari kesepuluh Dzulhijjah. Dan kesesuaian memulai dengan syaf’ bahwa itu adalah hari kesepuluh, maka sesuai dengan firman-Nya: “Dan malam yang sepuluh,” dan berdasarkan tafsir ini maka penyebutan syaf’ dan witr adalah pengkhususan kedua hari ini dengan penyebutan untuk memberikan perhatian, setelah cakupan malam-malam sepuluh untuk keduanya.
- Firman-Nya: “Dan malam apabila berlalu” adalah penghubungan kepada “Dan malam yang sepuluh” sebagai penghubungan yang lebih umum kepada yang lebih khusus, atau penghubungan kepada “fajar” dengan kesamaan pertentangan. Dan disumpahi dengannya; karena itu adalah salah satu manifestasi kekuasaan Allah dan keindahan hikmah-Nya.
Ayat 1
- Firman-Nya: “Demi malam ketika berlalu,” artinya: ketika malam bergerak, seperti firman-Nya: “Dan malam ketika telah berlalu” [Al-Muddatsir: 33]. Pembatasan dengan hal itu adalah karena dalam pergantian terdapat kejelasan petunjuk dan kuatnya tanda kesempurnaan kekuasaan dan melimpahnya nikmat Allah. Pembatasan ini melengkapi makna kekuasaan atau nikmat. Makna “yasri” adalah berjalan di dalam kegelapan, yaitu ketika sudah berlalu sebagian besar dari malam. Berjalannya malam dalam kegelapannya diumpamakan seperti perjalanan orang yang berjalan dalam kegelapan, dan itulah yang disebut “sura”, sebagaimana diumpamakan dalam firman-Nya: “ketika telah berlalu” [Al-Muddatsir: 33], dan firman-Nya: “Dan demi malam ketika telah sunyi” [Ad-Dhuha: 2], artinya: ketika kegelapannya telah mapan dan menguat. Pengkhususan malam dengan keterangan “ketika berlalu” karena saat itulah kegelapan malam sedang mapan, dan ketika itu manusia telah mengambil bagian mereka dari tidur sehingga mereka mampu melakukan tahajud.
Ayat 2
- Firman Allah Ta’ala: “Adakah pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal?” Ini adalah kalimat sisipan antara sumpah dan jawaban sumpah yang mengikutinya, atau sebagai petunjuk akan jawaban sumpah tersebut.
- Pertanyaan “Adakah pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal?” merupakan penegasan dan penetapan keagungan hal-hal yang dijadikan objek sumpah, bahwa semua itu adalah hal-hal besar yang layak untuk diagungkan dan dimuliakan bagi orang-orang yang berakal. Juga sebagai peringatan bahwa bersumpah dengan hal-hal tersebut adalah perkara yang patut diperhitungkan dan layak digunakan untuk memperkuat suatu berita.
- Penggunaan bentuk nakirah (indefinite) pada kata “qasam” (sumpah) menunjukkan pengagungan, artinya: sumpah yang cukup dan meyakinkan bagi yang disumpahi jika ia berakal agar ia merenungkannya dengan akalnya. Maknanya: adakah pada yang demikian itu penegasan bagi apa yang dijadikan objek sumpah bagi pendengar yang disifati sebagai pemilik akal?
- Huruf lam pada firman-Nya “lidzi hijr” adalah lam ta’lil (menunjukkan alasan), artinya: sumpah untuk orang yang memiliki akal yang mencegahnya dari kesombongan, sehingga ia mengetahui bahwa yang bersumpah dengan sumpah ini benar dalam apa yang ia sumpahi.
- Makna kejauhan yang terkandung dalam kata penunjuk “dzalika” (itu) menunjukkan tingginya kedudukan yang ditunjuk dan jauhnya martabatnya dalam kemuliaan dan keutamaan. Artinya: adakah pada apa yang telah disebutkan dari hal-hal tersebut sebuah sumpah – yakni objek sumpah – bagi orang berakal yang melihatnya layak untuk dijadikan objek sumpah sebagai bentuk penghormatan dan pengagungan? Yang dimaksud adalah menegaskan bahwa semuanya memang demikian, dan cara ini dipilih untuk merendahkan makhluk dan menunjukkan kejelasan perkara.
Ayat 3
- Firman Allah Ta’ala: “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad? (yaitu) penduduk Iram yang memiliki bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain.” Ini menunjukkan kepada yang diajak bicara tentang tempat-tempat kehancuran umat-umat kafir terdahulu, dengan maksud mengancam kaum Quraisy dan memberikan contoh bagi mereka.
- Firman-Nya: “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad?” bisa menjadi petunjuk jawaban sumpah, karena menunjukkan bahwa apa yang dijadikan objek sumpah adalah sejenis dengan apa yang dilakukan terhadap ketiga umat tersebut, yaitu pemusnahan yang ditunjukkan oleh firman-Nya: “Maka Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab.” Taksiran jawaban sumpahnya: “Sungguh Tuhanmu akan menimpakan cemeti azab kepada orang-orang yang mendustakanmu sebagaimana Dia telah menimpakan kepada kaum ‘Ad, Tsamud, dan Fir’aun.” Atau bisa juga sebagai pendahuluan untuk jawaban sumpah, jika jawaban sumpahnya dianggap firman-Nya: “Sungguh, Tuhanmu benar-benar mengawasi.” Dan ayat-ayat sebelumnya adalah sisipan yang dijadikan sebagai pendahuluan untuk jawaban sumpah. Artinya: sungguh Tuhanmu benar-benar mengawasi orang-orang yang mendustakan, urusan mereka tidak tersembunyi bagi-Nya. Ini menjadi penguatan bagi Nabi ﷺ. Pertanyaan “Apakah kamu tidak memperhatikan…” adalah pertanyaan retoris, dan yang diajak bicara adalah Nabi ﷺ untuk menguatkan beliau, menjanjikan kemenangan, dan secara tidak langsung memberikan peringatan kepada para penentang. Apa yang dilakukan terhadap ketiga umat ini merupakan peringatan dan ancaman bagi kaum yang melakukan seperti perbuatan mereka dalam mendustakan rasul-rasul Allah. Tujuannya adalah mendekatkan terjadinya hal itu dan mengharapkan kedatangannya, karena peringatan dengan kejadian-kejadian serupa dan menghadirkan contoh-contoh mendekatkan ke pikiran perkara yang aneh kejadiannya. Pelajaran-pelajaran ini adalah bagian-bagian dari isi jawaban sumpah. Jika jawaban sumpahnya dihilangkan, maka penyebutan ini adalah petunjuknya. Dan jika jawaban sumpahnya adalah firman “Sungguh, Tuhanmu benar-benar mengawasi”, maka pendahuluan sebelum jawaban menambah kerinduan untuk menerimanya dan memberikan petunjuk tentang jenis jawaban sebelum disebutkan, agar setelah disebutkan, terjadi penambahan kemantapannya dalam pikiran.
- Kata “melihat” dalam “Apakah kamu tidak memperhatikan” (أَلَمْ تَرَ) bisa diartikan sebagai penglihatan ilmiah (pengetahuan), menyerupakan pengetahuan yang yakin dengan penglihatan dalam hal kejelasan dan keterbukaannya, karena kisah-kisah umat-umat ini tersebar luas dan dijadikan perumpamaan, seolah-olah disaksikan langsung. Maka kata “bagaimana” (كيف) adalah kata tanya yang menggantungkan kerja kata “melihat” dari bekerja pada dua objek. Dan bisa juga kata “melihat” diartikan sebagai penglihatan mata, artinya: “Tidakkah kamu melihat bekas-bekas apa yang telah diperbuat Tuhanmu kepada kaum ‘Ad?” Dan kata “bagaimana” (كيف) adalah kata biasa tanpa makna pertanyaan yang berkedudukan mansub (berharakat fathah) sebagai objek dari kata kerja “melihat” yang bersifat penglihatan mata.
- Kata Allah diganti dengan kata “Tuhan” yang disandarkan pada kata ganti orang kedua dalam firman-Nya: “yang telah diperbuat Tuhanmu” (فَعَلَ رَبُّكَ), karena dalam sifat “Tuhan” terdapat isyarat perlindungan dan dukungan, dan karena penyandaran kata itu kepada kata ganti orang kedua menunjukkan kemuliaan dan kehormatan orang yang diajak bicara.
- Nasihat dimulai dengan menyebutkan kaum ‘Ad dan Tsamud karena keduanya terkenal di kalangan orang-orang yang diajak bicara. Kemudian disebutkan kaum Fir’aun karena terkenalnya kisah Nabi Musa AS yang diutus kepada Fir’aun di kalangan Ahli Kitab di negeri Arab, dan mereka menceritakannya kepada orang-orang Arab.
- Firman-Nya: “Iram” (إِرَمَ) adalah ‘athf bayan (keterangan penjelas) untuk kata “‘Ad” (عَادٍ) dengan perkiraan ada kata yang dihilangkan, yaitu “keturunan Iram” atau “penduduk Iram”. Ini untuk menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan “‘Ad” adalah kabilah yang kakek terdekat mereka adalah ‘Ad bin ‘Aus bin Iram – menurut salah satu pendapat. Mereka adalah kaum ‘Ad yang disifati sebagai “yang pertama” dalam firman Allah Ta’ala: “Dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum ‘Ad yang pertama” [An-Najm: 50], agar tidak dikira bahwa yang dibicarakan adalah kabilah lain yang juga bernama ‘Ad yang tinggal di Mekah bersama kaum ‘Amaliqah. Dikatakan bahwa mereka adalah sisa dari kaum ‘Ad yang pertama. Jadi ‘Ad dan Iram adalah dua nama untuk kabilah ‘Ad yang pertama.
- “Al-‘Imad” (العِمادُ) adalah kayu tebal dan tinggi yang ditegakkan sebagai tiang rumah, ditancapkan ke tanah untuk mendirikan kain-kain kemah atau kubah, dan disebut juga “di’amah” (penopang). Di sini kata itu digunakan untuk menggambarkan kekuatan, menyerupakan kabilah yang kuat dengan rumah yang memiliki tiang-tiang. Maka kaum ‘Ad disifati dengan “yang mempunyai tiang-tiang” (ذَاتِ الْعِمَادِ) karena kekuatan dan kehebatan mereka, artinya: Allah telah membinasakan kaum yang lebih kuat dari kaum yang mendustakanmu. Ini menurut salah satu pendapat dalam tafsir.
- Kata “al” pada “al-bilad” (الْبِلَادِ) dikatakan bermakna keseluruhan yang umum, artinya: di negeri-negeri Arab dan kabilah-kabilah mereka.
Ayat 4
- Firman Allah Ta’ala: “dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah”
- Kata “Tsamud” tidak dapat menerima tanwin (ghairu munsharif) karena yang dimaksud adalah umat yang dikenal, dan disifati dengan kata ganti yang menunjukkan jamak laki-laki dalam firman-Nya: “yang memotong batu-batu besar” (الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ) bukan dengan kata “yang (perempuan tunggal) memotong batu-batu besar” (الَّتي جابَتِ الصَّخرَ), dengan takwil “kaum”. Ketika menyifatinya, Allah beralih dari bentuk muannats (feminim) sebagai variasi dalam gaya bahasa.
Ayat 5
- Firman Allah Ta’ala: “Maka Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab. Sungguh, Tuhanmu benar-benar mengawasi.”
- Ungkapan “menimpakan” (صَبَّ) untuk turunnya azab menunjukkan banyaknya, kesinambungannya, dan berturut-turutnya azab tersebut, karena ungkapan itu berarti menuangkan sesuatu yang cair atau yang mengalir seperti cairan, seperti pasir dan biji-bijian, dan mencurahkannya dengan keras, banyak, dan terus-menerus.
- Penyandaran kata “sauth” (سَوْطَ) ke kata “adzab” (عَذَابٍ) dikatakan termasuk jenis penyandaran sifat kepada yang disifati, artinya: Dia menimpakan kepada mereka azab yang seperti cambuk, yaitu seperti cambuk dalam cepatnya menimpa. Ini adalah tasybih baligh (penyerupaan yang kuat).
- Allah Ta’ala menyebutkan di sini kisah tiga kelompok dari orang-orang kafir terdahulu – yaitu: kaum ‘Ad, Tsamud, dan kaum Fir’aun – secara global, di mana Dia berfirman: “Maka Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab” dan tidak menjelaskan bagaimana azab itu. Dan Allah menyebutkan dalam surat Al-Haqqah penjelasan apa yang masih samar dalam surat ini, dengan firman-Nya: “Adapun kaum Tsamud, mereka telah dibinasakan dengan suara yang sangat keras, dan adapun kaum ‘Ad, mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin” sampai firman-Nya: “Dan telah datang Fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya dan (penduduk) negeri-negeri yang dijungkirbalikkan karena kesalahan yang besar” [Al-Haqqah: 1-9]. Setiap penjelasan sesuai pada tempatnya.
- Firman-Nya: “Sungguh, Tuhanmu benar-benar mengawasi” (إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ) adalah kesimpulan dan alasan mengapa mereka ditimpa cemeti azab, jika jawaban sumpah dianggap dihilangkan. Dan bisa juga kalimat ini dianggap sebagai jawaban sumpah itu sendiri. Jika kalimat ini dianggap sebagai kesimpulan, maka ia menjadi alasan bagi kalimat “Maka Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab”, sebagai penguatan bagi Nabi ﷺ bahwa Allah menolong rasul-rasul-Nya, dan sebagai pernyataan tegas kepada para penentang tentang apa yang telah diisyaratkan kepada mereka mengenai kemungkinan perlakuan Allah terhadap mereka seperti perlakuan-Nya terhadap para pendusta terdahulu. Hal ini ditunjukkan dengan penggunaan istilah “rububiyyah” (ketuhanan) yang disandarkan kepada kata ganti beliau ﷺ, artinya: sesungguhnya Allah mengawasi setiap orang yang melampaui batas dan berbuat kerusakan. Dan jika kalimat ini dianggap sebagai jawaban sumpah, maka ia menjadi kiasan tentang ditimpakannya azab kepada orang-orang musyrik, karena tidak ada yang dimaksud dengan pengawasan kecuali untuk menolak serangan musuh dan sejenisnya. Inilah yang menjadi objek sumpah, dan apa yang sebelumnya adalah sisipan sebagai variasi dalam susunan kalimat. Karena didahulukan sebelum tujuan sumpah apa yang menjadi bukti dan perumpamaan dengan apa yang telah terjadi berupa hukuman terhadap umat-umat serupa sebelumnya, yaitu dari firman-Nya: “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad?” dan seterusnya. Ini adalah salah satu gaya retorika; ketika penjelasan dan perumpamaan dijadikan sebagai pendahuluan, dan tujuan yang dimaksud dijadikan sebagai kesimpulan dan alasan jika pembicaraan memungkinkan untuk kedua pertimbangan tersebut, dengan maksud memberi perhatian pada apa yang didahulukan dan mempercepat penyampaiannya.
- Peralihan dari kata ganti orang pertama atau dari nama Allah ke “Tuhanmu” dalam firman-Nya: “Maka Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab” dan firman-Nya: “Sungguh, Tuhanmu benar-benar mengawasi”: merupakan isyarat bahwa yang melakukan hal itu adalah Tuhannya yang karakteristiknya adalah membela beliau. Maka beliau berharap bahwa Allah akan mengazab orang-orang yang mendustakannya sebagai pembelaan untuknya sebagaimana seorang tuan membela orang yang berada di bawah perlindungannya.
- Penggunaan “al” pada kata “al-mirsad” (المِرْصاد) adalah untuk menunjukkan jenis, yang berarti keumuman keterkaitannya, artinya: mengawasi setiap pelaku.
- Firman-Nya: “Sungguh, Tuhanmu benar-benar mengawasi” adalah kiasan tentang pemberian balasan kepada setiap orang atas apa yang telah dan akan diperbuatnya, karena pengawasan tidak dimaksudkan kecuali untuk membalas permusuhan. Dan dalam apa yang ditunjukkannya berupa alasan, terdapat isyarat bahwa Allah tidak menzalimi mereka dalam apa yang menimpa mereka.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Ayat: 15-20
﴿فَاَمَّا الْاِنْسَانُ اِذَا مَا ابْتَلٰىهُ رَبُّهٗ فَاَكْرَمَهٗ وَنَعَّمَهٗۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْٓ اَكْرَمَنِۗ ١٥ وَاَمَّآ اِذَا مَا ابْتَلٰىهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهٗ ەۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْٓ اَهَانَنِۚ ١٦ كَلَّا بَلْ لَّا تُكْرِمُوْنَ الْيَتِيْمَۙ ١٧ وَلَا تَحٰۤضُّوْنَ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۙ ١٨ وَتَأْكُلُوْنَ التُّرَاثَ اَكْلًا لَّمًّاۙ ١٩ وَّتُحِبُّوْنَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّاۗ ٢٠ ﴾
Penjelasan Kata-kata Asing:
- فَقَدَرَ (faqadara): artinya mempersempit/membatasi, tidak memperbanyak hartanya dan tidak melapangkannya. Dikatakan: “Aku membatasi sesuatu untuknya” artinya mempersempitnya, seolah menjadikannya sesuai ukuran. Rezeki dibatasi untuknya artinya diberi dengan ukuran yang sedikit. Asal kata “qadar” menunjukkan jumlah sesuatu, hakikatnya dan batasnya.
- وَلَا تَحَاضُّونَ (walā taḥāḍḍūna): artinya sebagian kalian tidak mendorong sebagian yang lain. Asalnya adalah “tatahāḍḍūna”, salah satu huruf ta dihilangkan. Asal kata “ḥaḍaḍa” di sini bermakna mendorong terhadap sesuatu.
- التُّرَاثَ (at-turātha): artinya warisan, yaitu sesuatu milik suatu kaum kemudian berpindah kepada yang lain karena hubungan keluarga atau sebab lainnya.
- لَمًّا (lamman): artinya dengan rakus dan berlebihan, yaitu memakan bagiannya dan bagian orang lain. “Al-lamm” adalah mengumpulkan dengan kuat. Dari ucapan: “Aku memakan makanan dengan rakus” artinya memakannya seluruhnya. “Al-ākil al-lamm” adalah orang yang memakan semua yang ditemuinya tanpa bertanya apakah halal atau haram, dan memakan miliknya serta milik orang lain. Asal kata “lamm” menunjukkan berkumpul, mendekat, dan bergabung.
- جَمًّا (jamman): artinya banyak. Asal kata “jamm” menunjukkan banyaknya sesuatu dan berkumpulnya.
Makna Keseluruhan:
Allah Ta’ala menjelaskan keadaan manusia saat dalam kemudahan dan kesulitan, kaya dan miskin. Ketika Allah menguji manusia dengan kekayaan, memuliakan dengan rezeki yang lapang, dan menjadikannya hidup dalam kenikmatan dan kemewahan, maka manusia berkata dalam kebodohannya karena tidak menyadari ujian Allah: “Tuhanku telah memuliakanku dengan ini!”
Sedangkan ketika Allah menguji manusia dengan kemiskinan, mempersempit rezekinya, maka dia berkata dengan gelisah dan tidak menyadari ujian Allah: “Tuhanku telah menghinakanku dengan ini!”
Kemudian Allah Subhanahu menjawab perkataan manusia dalam dua keadaan ini, dan menjelaskan apa yang lebih buruk lagi: Tidaklah seperti yang manusia sangka bahwa diberi kekayaan adalah kemuliaan dari Allah, dan diberi kemiskinan adalah penghinaan dari Allah. Sebaliknya, kalian (wahai manusia) tidak memuliakan anak yatim dengan berbuat baik kepadanya, dan kalian tidak saling mendorong untuk memberi makan orang miskin.
Kalian memakan harta warisan dengan rakus, mengambil bagian orang lain seperti wanita dan anak-anak, dan kalian mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan!
Tafsir Ayat-ayat:
“Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.'” (15)
Hubungan ayat dengan sebelumnya: Setelah Allah menyebutkan bahwa kebiasaan kelompok-kelompok ini adalah melampaui batas, dan menyebutkan bahwa kebiasaan Allah terhadap orang yang berpaling dan mengingkari adalah mengazabnya – sebagaimana ancaman di akhir surah sebelumnya, dan menunjukkannya melalui apa yang disaksikan pada umat-umat terdahulu, dan memberikan alasan bahwa Allah tidak lalai; Allah menyebutkan kebiasaan manusia secara umum tanpa mengkhususkan kelompok-kelompok tersebut ketika diuji dalam keadaan senang dan susah.
Allah berfirman menunjukkan jawaban atas apa yang dikatakan orang-orang kafir bahwa mereka lebih diutamakan di sisi Allah daripada kaum muslimin sehingga Allah tidak membantu mereka di dunia, dan juga sedikitnya perhatian para sahabat terhadap dunia:
“Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.'” (15)
Artinya: Adapun manusia, ketika Tuhannya mengujinya dengan kekayaan, memuliakannya dengan rezeki yang lapang, dan menjadikannya hidup dalam kenikmatan dan kemewahan, maka dia berkata dalam kebodohannya karena tidak menyadari ujian Allah: “Tuhanku telah memuliakanku dengan ini”; dia menyangka bahwa kemuliaan dan nikmat Allah di dunia adalah bukti kemuliaannya di sisi Allah!
“Dan adapun apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku.'” (16)
Artinya: Adapun ketika Allah menguji manusia dengan kemiskinan, mempersempit rezekinya, maka dia berkata dengan gelisah dan tidak menyadari ujian Allah: “Tuhanku telah menghinakanku dengan ini!”
“Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim,” (17)
Hubungan ayat dengan sebelumnya: Setelah Allah menceritakan perkataan mereka yang merupakan kekeliruan, seolah-olah Allah berkata: Bahkan mereka memiliki perbuatan yang lebih buruk dari perkataan ini, yaitu bahwa Allah memuliakan mereka dengan banyaknya harta, namun mereka tidak menunaikan kewajiban mereka untuk memuliakan anak yatim!
“Sekali-kali tidak! (kallā)” Artinya: Tidaklah seperti yang disangka manusia bahwa diberi kekayaan adalah kemuliaan dari Allah, dan diberi kemiskinan adalah penghinaan; Allah mengayakan siapa yang Dia kehendaki meskipun orang kafir, dan memiskinkan siapa yang Dia kehendaki meskipun orang beriman; sebagai ujian dari-Nya untuk hamba-hamba-Nya dengan kekayaan dan kemiskinan sesuai dengan hikmah-Nya terhadap mereka. Sesungguhnya Allah memuliakan seseorang dengan ketaatan kepada-Nya, dan menghinakan dengan kemaksiatan.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan.” [Al-Anbiya: 35]
Dan Allah Subhanahu berfirman: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” [Al-Hujurat: 13]
“Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim.” Artinya: Kalian -wahai manusia- yang meremehkan perintah Allah dan bermaksiat kepada-Nya, tidak memuliakan anak yatim yang kehilangan ayahnya sebelum usia baligh; kalian tidak memenuhi kebutuhannya, tidak berbuat baik kepadanya, dan menzaliminya.
Sebagaimana Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin.” [An-Nisa: 36]
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai dia dewasa.” [Al-Isra: 34]
Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Maka terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.” [Ad-Duha: 9]
Dan Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Itulah orang yang menghardik anak yatim.” [Al-Ma’un: 2]
“Dan kamu tidak saling mengajak untuk memberi makan orang miskin.” (18) Artinya: Dan sebagian kalian tidak mendorong sebagian yang lain untuk memberi makan orang miskin.
Sebagaimana Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan.” [Al-Isra: 26]
Dan Allah Subhanahu berfirman: “Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” [Al-Ma’un: 3]
“Dan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampur-baurkan (yang halal dan batil).” (19)
Hubungan ayat dengan sebelumnya: Setelah Allah menunjukkan kecintaan terhadap dunia dengan hal eksternal; Allah menunjukkannya dengan hal yang ada pada diri manusia; Allah Ta’ala berfirman:
“Dan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampur-baurkan (yang halal dan batil).” (19) Artinya: Dan kalian memakan warisan dengan rakus tanpa meninggalkan sedikitpun, mengambil bagian orang lain seperti wanita dan anak-anak kecil!
“Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.” (20) Artinya: Dan kalian mencintai harta dengan kecintaan yang sangat berlebihan, sehingga kalian sangat bersemangat mengumpulkan dan menyimpannya, dan tidak menginfakkannya untuk kebaikan.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” [Ali Imran: 14]
Dan Allah Subhanahu berfirman: “Sekali-kali tidak! Bahkan kamu mencintai kehidupan dunia, dan meninggalkan (kehidupan) akhirat.” [Al-Qiyamah: 20-21]
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” [Al-A’la: 16-17]
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia (manusia) mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya.” [Al-Humazah: 2-3]
Dan Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” [Al-‘Adiyat: 8]
Manfaat-manfaat Pendidikan (Terjemahan Indonesia)
- Dalam firman Allah Ta’ala: “Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Dan adapun apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku.'” Bahwa seseorang yang diberi kenikmatan tidak sepatutnya lalai akan akibatnya; karena segala perkara dinilai dari akhirnya. Dan orang fakir dan yang membutuhkan tidak sepatutnya lalai dari nikmat-nikmat Allah yang tidak terbatas; seperti kesehatan badan, akal, dan agama, serta penolakan bencana dan kesengsaraan yang tidak terhitung; maka tidak sepatutnya ia menghukumi dirinya telah dihinakan secara mutlak!
- Firman Allah Ta’ala: “maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku'” merupakan celaan bagi orang yang mengatakan: “Tuhanku telah memuliakanku”; karena ia mengatakannya dengan membanggakan diri atas orang lain, menggunakannya sebagai bukti tingginya kedudukan dirinya di akhirat, dan meyakini bahwa ia berhak mendapatkan itu dari Tuhannya. Adapun jika ia mengatakannya sebagai bentuk syukur dan menyebutkan nikmat Allah Ta’ala, maka itu tidak tercela, bahkan terpuji.
- Dalam firman Allah Ta’ala: “Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Dan adapun apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku.'” Ada isyarat bahwa manusia wajib merenung dan bertanya, misalnya: mengapa Allah memberiku harta? Apa yang Dia inginkan dariku? Dia ingin agar aku bersyukur. Mengapa Allah mengujinya dengan kemiskinan, penyakit, dan sejenisnya? Dia ingin agar aku bersabar. Maka hendaklah ia mengintropeksi dirinya; agar tidak seperti keadaan manusia yang didasarkan pada kebodohan dan kezaliman; oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: “Sekali-kali tidak!” Artinya: Allah tidak memberimu apa yang Dia berikan sebagai penghormatan karena kamu berhak, tetapi itu adalah karunia dari-Nya, dan Dia tidak menghinamu ketika membatasi rezekimu, melainkan itu adalah konsekuensi dari hikmah dan keadilan-Nya.
- Dalam firman Allah Ta’ala: “Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Dan adapun apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku.'” Bahwa dalam perlakuan Allah terhadap manusia di dunia ini terdapat rahasia-rahasia dan alasan-alasan yang tidak dapat diketahui sepenuhnya, dan bahwa orang-orang yang bodoh tidak mampu memahami rahasianya dengan perkiraan yang keliru dan bersandar pada kebiasaan yang lazim. Lebih baik bagi mereka mencari kebenaran dari bukti-bukti akal, mengetahui kehendak Allah dari wahyu-Nya kepada para rasul-Nya, berhati-hati agar tidak menyimpangkan dalil dari makna sebenarnya, dan tidak menyimpulkan cabang dari selain pokoknya. Adapun orang-orang berilmu, mereka menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, mengamati dengan pandangan yang berlandaskan petunjuk, dan tidak mencampuradukkan atau sembarangan.
- Dalam firman Allah Ta’ala: “Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Dan adapun apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku.'” Ada pelajaran agar kita tidak hanya melihat penampakan luar tanpa memperhatikan bagian dalamnya, dan tidak hanya melihat hal-hal jasmani yang terindra tanpa melihat makna-makna akal di baliknya. Sebaliknya, kita harus menembus dari penampakan luar ke dalam, melihat dari yang terindra ke yang dipikirkan, menjadikan indra kita sebagai pelayan bagi akal kita, dan menjadikan akal kita sebagai pengatur dan pemutus dengan pengamatan dan pemikiran.
Sebagaimana dalam firman Allah Tabaraka wa Ta’ala: “Katakanlah (Muhammad), ‘Tidaklah sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu.'” [Al-Ma’idah: 100]. Jangan melihat pada kilauan kuantitas, tetapi pada hakikat dan kondisi sesuatu yang banyak itu, dan menilainya berdasarkan keduanya.
Tidak boleh kita tertipu oleh harta, kekuatan, kedudukan, dan berbagai kenikmatan yang datang kepada kita, lalu menganggapnya sebagai kemuliaan dari Tuhan yang kita diajak untuk beramal demi meraihnya. Kita hanya menganggapnya demikian jika disertai dengan taufik untuk mensyukurinya dengan menunaikan hak-haknya dan menggunakannya pada tempat-tempatnya.
Jangan pula kita tertipu dengan keadaan sempit, sulit, dan lemah, lalu menganggapnya sebagai penghinaan dari Allah kepada pemiliknya. Kita harus melihat apakah hal itu disertai dengan kesabaran, harapan, dan kebaikan, ataukah dengan keluh kesah, putus asa, dan keburukan. Dengan demikian kita tahu bahwa kondisi pertama adalah untuk pemurnian dan penguatan, sedangkan kondisi kedua adalah untuk pencegahan dan hukuman dengan adil dan bijaksana dari Yang Mahabijaksana di antara para hakim.
- Dalam firman Allah Ta’ala: “Dan adapun apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku.'” Allah tidak mengatakan “faahānahu” (maka Dia menghinakannya) sebagai pengganti “qadara ‘alayhi” (membatasi untuknya); ini mengajarkan adab dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan menjaga para wali Allah dari ungkapan ini; karena kebanyakan dari mereka hidup dalam kesempitan dunia, dan karena tidak memberikan kemuliaan tidak berarti menghinakan!
- Keinginan hamba yang hanya berhenti pada apa yang diinginkan dirinya saja: termasuk kelemahan cita-cita; oleh karena itu Allah mencela mereka karena tidak peduli dengan keadaan makhluk yang membutuhkan, Allah Ta’ala berfirman: “Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak untuk memberi makan orang miskin.”
8- Dalam firman Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi: “Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin” terdapat isyarat bahwa kita seharusnya memuliakan anak-anak yatim, dan hendaknya sebagian dari kita mengajak sebagian lainnya untuk memberi makan orang-orang miskin; karena mereka membutuhkannya, dan Allah Ta’ala akan menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya.
9- Dalam firman Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi: “Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin” (menunjukkan) bahwa kemiskinan dan kekayaan adalah ujian dari Allah bagi hamba-Nya; maka tidaklah setiap orang yang diberi kekayaan dan kelapangan berarti telah dimuliakan, dan tidak pula setiap orang yang diberikan kesempitan dan keterbatasan rezeki berarti telah dihinakan. Kemuliaan itu adalah ketika seorang hamba dimuliakan dengan ketaatan kepada Allah, kecintaan-Nya, dan pengetahuan tentang-Nya, sedangkan kehinaan adalah ketika hal itu dirampas darinya. Keutamaan tidak terletak pada kekayaan dan kemiskinan, tetapi pada ketakwaan.
10- Allah Ta’ala berfirman: “Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta warisan dengan cara menggabungkan (yang halal dan yang batil), dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.” Allah menjelaskan hakikat fitnah (ujian) harta, baik dalam hal perolehan maupun pengeluaran, pengumpulan maupun pemberian. Allah memulai dengan bentuk penahanan (harta) yang paling buruk: tidak memuliakan anak yatim yang patah sayapnya dan patah hatinya, serta keengganan untuk memberi makan orang miskin yang kosong tangannya, lapar perutnya, dan terbatas geraknya. Kedua aspek ini adalah hal-hal terpenting dalam mengeluarkan harta, namun mereka menahannya! Allah Ta’ala telah menjelaskan bahwa aspek ini adalah melewati jalan yang sulit ketika menghadapi kesulitan, dalam firman-Nya pada Surah Al-Balad: “Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar. Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu? (Yaitu) memerdekakan budak, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir.” (Al-Balad: 11-16).
Dan dari sisi lain: “Dan kamu memakan harta warisan dengan cara menggabungkan (yang halal dan yang batil)” yakni warisan, mereka tidak memberikan hak kepada para wanita, yang notabene lemah kepribadiannya dan sangat membutuhkan harta peninggalan pewarisnya. “Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan” hingga kamu diperbudak olehnya dan kamu dilalaikan oleh penumpukan harta.
Di sini terdapat peringatan bagi kedua kelompok; bagi mereka yang diberi (harta), tidak sepatutnya melalaikan cara-cara penting dalam memberi, dan bagi mereka yang tidak diberi, tidak sepatutnya berharap apa yang tidak seharusnya diharapkan.
11- Dalam firman Allah Ta’ala: “Dan kamu memakan harta warisan dengan cara menggabungkan (yang halal dan yang batil)” terdapat celaan terhadap pengumpulan harta dari cara yang tidak halal.
12- Firman Allah Ta’ala: “Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan” ini adalah celaan terhadap ketamakan pada harta dan keinginan yang berlebihan terhadapnya.
Pelajaran Ilmiah dan Kelembutan Makna:
1- Dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku'” hingga firman-Nya: “Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim” terdapat pertanyaan: Bagaimana Allah mencela orang yang berkata: “Tuhanku telah memuliakanku” padahal dia benar dalam perkataannya; berdasarkan firman Allah: “lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan”, dan padahal dia sedang menceritakan nikmat, sementara dia diperintahkan untuk menceritakannya; sebagaimana firman Allah: “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan” [Ad-Dhuha: 11]?!
Jawaban mencakup beberapa segi:
Pertama: Yang tercela adalah jika seseorang mengatakannya dengan sombong, dan meyakini bahwa dia berhak mendapatkannya, seperti dalam firman Allah: “Dia (Qarun) berkata: ‘Sesungguhnya aku diberi (harta) ini, hanyalah karena ilmu yang ada padaku'” [Al-Qashas: 78]. Adapun yang terpuji adalah mengatakannya sebagai bentuk syukur dan penyebutan nikmat Allah Ta’ala. Maka tidak ada pertentangan antara penetapan pemuliaan Allah Ta’ala kepada manusia dalam firman-Nya: “lalu memuliakannya” dengan pembatalan hal tersebut dalam firman-Nya: “Sekali-kali tidak!”; karena pembatalan tersebut ditujukan pada maksud manusia dengan perkataannya: “Tuhanku telah memuliakanku” bahwa nikmat yang diperolehnya adalah tanda keridhaan Allah terhadapnya.
Kedua: Pengingkaran dan celaan tertuju pada perkataannya: “Tuhanku telah menghinakanku”, artinya: ketika dia diberi keutamaan berupa kebaikan dan dimuliakan dengannya, dia mengakui keutamaan dan pemuliaan Allah, tetapi ketika dia tidak diberi keutamaan, dia menyebut ketiadaan keutamaan itu sebagai kehinaan, padahal itu bukan kehinaan.
Ketiga: Bahwa lafaz yang Allah kabarkan, meskipun serupa dengan lafaz yang Allah ingkari dari perkataan orang yang diuji, namun maknanya berbeda. Orang yang diuji meyakini bahwa ini adalah kemuliaan secara mutlak, yaitu nikmat yang dimaksudkannya bahwa kenikmatan adalah bentuk pemuliaan baginya, dan pemberian nikmat tidak menjadi sebab azab yang lebih besar darinya. Padahal kenyataannya tidak demikian. Allah Ta’ala mengujinya dengan nikmat untuk melihat apakah dia akan taat kepada-Nya atau bermaksiat, meskipun Allah mengetahui apa yang akan terjadi dari kedua hal tersebut. Namun pengetahuan tentang apa yang akan terjadi adalah satu hal, dan terjadinya sesuatu beserta pengetahuan tentangnya adalah hal lain. Adapun firman Allah: “lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan”, itu merupakan pemuliaan dengan kenikmatan yang ada di dalamnya; oleh karena itu Allah menggandengkannya dengan firman-Nya: “dan memberinya kesenangan”. Inilah sebabnya mengapa kejadian luar biasa yang oleh masyarakat umum disebut karamah (kemuliaan), menurut ahli tahqiq bukanlah kemuliaan secara mutlak. Sesungguhnya kemuliaan yang sebenarnya adalah konsistensi dalam keistiqamahan, yaitu ketaatan kepada Allah. Adapun kejadian-kejadian luar biasa tersebut termasuk hal yang Allah gunakan untuk menguji hamba-Nya; jika dia menaati Allah dengannya, Allah akan meninggikannya, dan jika dia bermaksiat dengannya, Allah akan merendahkannya, meskipun kejadian itu merupakan efek dari ketaatan lain, sebagaimana firman Allah: “Dan sekiranya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan mencurahkan kepada mereka air yang cukup. Untuk Kami uji mereka dengan (nikmat) itu. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan Tuhannya, Dia akan memasukkannya ke dalam azab yang sangat berat” [Al-Jin: 16-17]. Dan ketika dalam nikmat dan kemuliaan terdapat dua segi ini, maka dari sisi perintah dan syariat, nikmat tersebut wajib disyukuri, namun dari sisi hakikat qadariyah, bagi orang yang berbuat maksiat nikmat itu hanyalah fitnah dan ujian yang membuatnya berhak mendapatkan azab karena bermaksiat kepada Allah.
2- Dalam firman Allah Ta’ala: “Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku’. Dan adapun apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata: ‘Tuhanku telah menghinakanku'” terdapat pertanyaan: Bagaimana Allah Ta’ala menyebut perluasan rezeki dan pembatasannya sebagai ujian?!
Jawaban: Karena masing-masing dari keduanya merupakan ujian bagi hamba; ketika Allah melapangkan rezeki baginya, Dia menguji keadaannya: apakah dia bersyukur atau kufur? Dan ketika Allah membatasi rezekinya, Dia menguji keadaannya: apakah dia bersabar atau berkeluh kesah? Hikmah dalam keduanya adalah sama, seperti firman Allah Ta’ala: “Dan Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan” [Al-Anbiya: 35].
3- Dalam firman Allah Ta’ala: “Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku’. Dan adapun apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata: ‘Tuhanku telah menghinakanku'”, Allah berfirman: “Sekali-kali tidak!”, dan ini mengandung larangan dan peringatan; larangan dari perkataan seperti ini, dan peringatan terhadap apa yang diberitahukan dan diperintahkan setelahnya. Yaitu bahwa tidak semua orang yang memperoleh kenikmatan duniawi yang dianggap sebagai kemuliaan, berarti Allah ‘Azza wa Jalla memuliakannya dengan nikmat tersebut, dan tidak semua orang yang dibatasi rezekinya berarti Allah menghinakannya dengan hal itu. Tetapi Allah Subhanahu menguji hamba-Nya dengan kesenangan dan kesusahan; terkadang Allah memberikan kenikmatan duniawi kepada orang yang tidak Dia cintai dan bukan orang yang mulia di sisi-Nya, untuk menjerumuskannya secara bertahap, dan terkadang Allah melindungi dari kenikmatan itu orang yang Dia cintai dan dekat dengan-Nya, agar derajatnya di sisi Allah tidak berkurang karenanya, atau agar dia tidak jatuh karena nikmat itu ke dalam hal-hal yang Allah benci darinya.
4- Allah Ta’ala berfirman: “Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku’. Dan adapun apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata: ‘Tuhanku telah menghinakanku’.” Ketahuilah bahwa di antara kesesatan orang-orang musyrik dan fitnah setan terhadap sebagian orang-orang mukmin yang bodoh adalah bahwa setan membuat mereka membayangkan apa yang terjadi pada seseorang melalui ketetapan Allah berupa hubungan sebab-akibat dan ‘illat-ma’lul (sebab-hasil). Mereka menempatkan kejadian yang kebetulan memberi manfaat kepada salah seorang dari mereka sebagai bentuk kemuliaan dari Allah bagi orang yang mendapatkan manfaat tersebut. Ini karena mengikuti hawa nafsu, mencintai diri sendiri, melempar dugaan terhadap yang gaib, dan mendahului Allah. Dan ketika salah seorang dari mereka mengalami kejadian yang membawa kemudaratan, dia membayangkannya dengan khayalannya sebagai pembalasan dari Allah yang ditujukan kepadanya, karena pesimisme mereka. Mereka yang mengklaim bahwa nikmat Allah yang mereka peroleh adalah pemuliaan dari Allah untuk mereka: sebenarnya tidaklah layak mendapatkan kemuliaan dari Allah. Dan mereka yang menduga bahwa berkurangnya rezeki yang mereka alami adalah penghinaan dari Allah terhadap mereka: tidaklah lebih rendah di sisi Allah daripada mereka yang mengklaim bahwa Allah telah memuliakan mereka dengan nikmat yang mereka peroleh. Keyakinan tersebut menyebabkan orang-orang musyrik semakin dalam tenggelam dalam kesyirikan mereka, mengalihkan pandangan mereka dari merenungkan hal-hal yang bertentangan dengan itu, dan terkadang bisikan-bisikan setan menimbulkan fitnah dari hal tersebut bagi sebagian orang yang lemah imannya, picik pandangannya, dan bodoh tentang akidah yang benar.
5- (Ammā) adalah kata yang berfungsi untuk merinci, dan kata ini hanya datang dalam bentuk yang beragam. Di antara syarat objeknya adalah adanya keseimbangan antara dua kalimat dan pertentangan di antara keduanya; jika setelah yang pertama adalah kata benda, maka wajib setelah yang kedua juga kata benda, seperti ucapanmu: “Ammā al-kāfiru fa kufūr, wa ammā al-mu’minu fa syakūr” (Adapun orang kafir sangat ingkar, dan adapun orang mukmin sangat bersyukur). Dan jika yang pertama adalah syarat, maka yang kedua juga syarat, seperti ucapanmu: “Ammā idzā ahsanta ilā Zaidin fa huwa muhsinun ilaika, wa ammā idzā asa’ta ilaihi fa huwa musī’un ilaika” (Adapun jika kamu berbuat baik kepada Zaid, maka dia akan berbuat baik kepadamu, dan adapun jika kamu berbuat buruk kepadanya, maka dia akan berbuat buruk kepadamu). Dan dalam ayat ini, kata benda datang setelah yang pertama “Fa ammā al-insānu” (Adapun manusia), dan syarat setelah yang kedua “Wa ammā idzā mā ibtalāhu” (Dan adapun apabila Dia mengujinya), sehingga tidak ada keseimbangan di antara keduanya.
Jawaban untuk masalah ini: Bahwa keseimbangan tetap ada; karena (ammā) yang berfungsi untuk perincian menuntut agar objeknya menjadi mubtada’ (subjek), dan khabar-nya (predikat) diiringi dengan fa’, dan (idzā) di sini bukanlah syarat, tetapi merupakan zharaf (keterangan waktu), dan “fa yaqūlu” adalah khabar dari mubtada’. Masuknya fa’ disebabkan oleh kandungan makna syarat pada (ammā), sehingga dalam firman-Nya: “Wa ammā idzā mā ibtalāhu” diperkirakan adanya mubtada’, dan perkiraan kalimatnya adalah: “wa ammā huwa idzā mā ibtalāhu rabbuhu” (Dan adapun dia, apabila Tuhannya mengujinya).
6- Dalam firman Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi: “Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin” (menunjukkan) bahwa bagian orang miskin adalah pemberian makanan dan pemenuhan kebutuhannya, sedangkan bagi anak yatim adalah pemuliaan. Jika anak yatim kaya, maka dia dimuliakan karena keyatimannya, dan tidak diberi makan karena kekayaannya. Dan jika anak yatim miskin, maka dia dimuliakan karena keyatimannya dan diberi makan karena kemiskinannya.
7- Dalam firman Allah Ta’ala: “makanan orang miskin”, penisbatan makanan kepada orang miskin menunjukkan bahwa orang miskin adalah sekutu bagi orang kaya dalam hartanya sebesar kadar zakat.
Ketinggian Ayat:
1- Firman Allah Ta’ala: “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia akan berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Dan adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku.'”
- Huruf “fa” pada kata “fa-ammal insaanu” (adapun manusia) merupakan penghubung antara dua kalimat, dan menunjukkan perbedaan antara dua hal yang bertentangan. Hal ini karena Allah Ta’ala menuntut ketaatan dan ibadah dari hamba-Nya, dan Dia selalu mengawasi seperti pengintai yang tidak luput dari perbuatan hamba-Nya sedikit pun. Dia menghisab mereka atas segala hal kecil maupun besar dan memberi balasan atasnya. Sementara manusia lalai, terlena dalam kesenangan, dan tenggelam dalam urusan duniawi; jika mendapat keberuntungan dunia, dia merasa tenang dengan itu, dan jika terlewatkan dari keberuntungan, dia merasa kesal dan putus asa.
- Huruf “fa” dalam firman-Nya “fa-ammal insaanu” menunjukkan bahwa kalimat setelahnya terhubung dengan kalimat sebelumnya dan merupakan cabang darinya. Ini karena perkataan sebelumnya memuat gambaran kenikmatan yang diberikan Allah kepada umat-umat yang diumpamakan, sedangkan mereka lalai dari seruan para rasul Allah, berpaling dari mencari keridhaan Tuhan mereka, melakukan kemungkaran yang dilarang, congkak dengan kenikmatan, dan takabur dengan kebesaran mereka. Maka disebutkan keadaan mereka dan azab yang Allah berikan kepada mereka di dunia sebagai pengambilan pelajaran.
- Huruf “fa” terkait dengan kalimat “inna rabbaka labil-mirshaad” (Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi), yang memuat keumuman sebagai kesimpulan. Artinya: Inilah kebiasaan Tuhanmu yang berjalan sesuai dengan ilmu dan hikmah-Nya. Adapun manusia yang kafir, dia menyangka sebaliknya; dia menganggap nikmat dan kelapangan di dunia sebagai kemuliaan dari Allah untuknya, dan kesempitan hidup sebagai penghinaan dari Allah kepadanya. Sangkaan ini mengharuskan anggapan bahwa perbuatan-perbuatan Allah berjalan tanpa hikmah. Maka Allah memberitahukan kepada Rasul-Nya dan orang-orang beriman tentang hakikat yang benar, dan mengingatkan mereka untuk menghindari pencampuran dalil-dalil yang halus dan tinggi, serta menghindari penghakiman berdasarkan prasangka dan nafsu.
- Yang dimaksud dengan “manusia” di sini adalah jenis manusia, definisinya adalah definisi jenis, sehingga mencakup semua individu dari jenis tersebut. Namun cakupan ini bersifat umum yang dimaksudkan untuk orang-orang musyrik, karena mereka yang dominan dalam pembicaraan. Ketika ini umumnya terjadi pada orang-orang kafir, teguran dalam ayat ini menggunakan nama jenis, karena beberapa orang beriman juga bisa terjatuh dalam kondisi ini! Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah manusia tertentu.
- Firman-Nya: “fa-ammal insaanu” hingga “rabbi akramani” (Tuhanku telah memuliakanku) adalah khabar dari mubtada’ yaitu “al-insaan” (manusia). Huruf “fa” digunakan karena kata “amma” mengandung makna syarat. Keterangan waktu “idza mabtalaahu” (apabila Tuhannya mengujinya) berada di posisi akhir, seolah-olah dikatakan: “Adapun manusia, dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku’ ketika diuji dengan kenikmatan.” Penempatan di awal untuk menunjukkan bahwa kemuliaan dan kenikmatan adalah sebagai ujian.
- Huruf “amma” pada umumnya menunjukkan perincian, yaitu menunjukkan pertentangan antara dua hal dari zat-zat dan keadaan-keadaan. Oleh karena itu, berulang dalam kalimat “fa-ammal insaanu” dan “wa amma idza mabtalaahu”. Perincian yang dipahami dari huruf ini bukan penjelasan dari yang global sebelumnya, tetapi merupakan perincian, pertentangan, dan keseimbangan. Ini adalah salah satu bentuk perincian yang menggunakan “amma”. Hubungan perincian dengan kalimat sebelumnya dipahami dari huruf “fa” yang masuk pada “amma”.
- Yang dirinci di sini adalah keadaan manusia yang jahil; dirinci menjadi keadaannya dalam kemudahan dan kenyamanan, dan keadaannya dalam kesempitan dan kesulitan. Keseimbangan antara dua keadaan yang dinyatakan dengan dua keterangan dalam firman-Nya: “fa-ammal insaanu idza mabtalaahu” dan “wa amma idza mabtalaahu”. Perincian ini bukan dari jenis penjelasan yang global, tetapi merupakan pembedaan dan pemisahan antara dua hal atau beberapa hal yang serupa atau bercampur.
- Arti dari “فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ” adalah Allah memberikannya rezeki dengan ukuran terbatas, termasuk pembatasan (at-taqtir), dan semua itu merupakan kiasan tentang sedikitnya (rezeki).
- Kata “فَقَدَرَ” dibaca dengan dua cara: dengan ringan (takhfif) dan dengan penekanan (tasydid), keduanya memiliki makna yang sama yaitu “mempersempit”. Dalam bacaan dengan tasydid terdapat penekanan makna.
- Ayat ini membatasi penyempitan rezeki sebagai lawan dari kenikmatan, bukan hal-hal lain seperti penyakit atau bencana. Hal ini karena kebanyakan kaum musyrikin yang dibicarakan memiliki kondisi fisik yang sehat dan kuat, sehingga mereka hanya binasa karena pembunuhan atau usia tua. Keyakinan yang sesat ini dikenal dari perkataan masyarakat jahiliyah, yang menjadikan keangkuhan ini sebagai ukuran tingkatan manusia. Mereka menganggap orang-orang yang sempurna adalah pemilik kemewahan, dan mencela orang-orang miskin dan lemah. Allah mengingatkan kesalahan keyakinan mereka dengan menyebutkan contoh umat-umat sebelum mereka yang mendapatkan azab, dan memberitahu bahwa keadaan dunia tidak bisa dijadikan dasar untuk mempertimbangkan balasan atas perbuatan, dan bahwa balasan yang konsisten adalah balasan pada hari kiamat.
- Dua kalimat “فَيَقُولُ” di kedua tempat merupakan jawaban untuk “أمَّا” pertama dan kedua. Artinya, manusia selalu mengatakan perkataan ini setiap kali mendapatkan nikmat, dan setiap kali rezekinya disempitkan. Oleh karena itu, dipilihlah kata kerja bentuk mudhari’ (present tense) dalam kedua jawaban untuk menunjukkan pengulangan dan pembaruan perkataan tersebut setiap kali terjadi apa yang disebutkan dalam kedua syarat.
- Didahulukannya kata “رَبِّي” (Tuhanku) sebelum kata kerja “أَكْرَمَنِ” (memuliakan aku) dan “أَهَانَنِ” (menghinakan aku), bukan mengatakan “akramanī rabbī” atau “ahānanī rabbī”, untuk tujuan penguatan hukum. Maksudnya, dia mengatakannya dengan yakin tanpa keraguan.
2- Firman Allah: “Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang batil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.”
- Kata “كَلَّا” (sekali-kali tidak) adalah bentuk larangan bagi manusia dari perkataannya: “Tuhanku telah memuliakan aku” ketika mendapatkan nikmat, dan perkataannya: “Tuhanku telah menghinakan aku” ketika rezekinya disempitkan. Ini adalah penolakan terhadap keyakinan tersebut, dan yang menjadi sasaran penolakan adalah kedua perkataan ini. Ini adalah penolakan yang umum yang tidak dijelaskan Al-Qur’an secara rinci, cukup dengan penutup tentang keadaan tiga umat dalam kenikmatan mereka dengan firman-Nya: “Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi” (Al-Fajr: 14) setelah firman-Nya: “Maka Tuhanmu mencurahkan kepada mereka cambuk azab” (Al-Fajr: 13).
- Kata “بَلْ” (bahkan) adalah bentuk peralihan, dan hubungan antara dua tujuan yang dialihkan adalah hubungan perbandingan dengan isi dari “فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ” (lalu Dia memuliakannya dan meluaskan kehidupannya) dari sisi anggapan mereka bahwa nikmat harta dan keluasan hidup mereka adalah kemuliaan dari Allah untuk mereka. Maka Allah mengingatkan bahwa jika Allah memuliakan mereka, mereka tidak memuliakan hamba-Nya karena kikir dengan nikmat, karena mereka tidak memberi orang-orang yang membutuhkan dari kelebihan harta mereka, dan karena mereka menginginkan tambahan harta yang tidak mereka perlukan. Ini adalah bantahan terhadap kebanggaan mereka dengan kemurahan hati. Kalimat “لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ” (kamu tidak memuliakan anak yatim) adalah kalimat pembuka baru sebagaimana disyaratkan oleh peralihan, sehingga ini adalah permulaan pembicaraan baru atau interupsi antara “كَلَّا” dan yang serupa dengannya.
- Dalam firman “كَلَّا بَل لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ” terdapat peralihan kepada bentuk khitab (pembicaraan langsung) untuk menunjukkan kebutuhan memperhatikan kesalahan sebelumnya dengan menegurnya langsung, sebagai penguatan celaan dan penegasan keburukan. Penggunaan bentuk jamak adalah dengan mempertimbangkan makna “الإنسان” (manusia), karena yang dimaksud adalah seluruh jenis manusia.
- Definisi “anak yatim” di sini menunjukkan jenis, artinya: kalian tidak memuliakan anak-anak yatim, demikian juga definisi “orang miskin”.
- Penafian terhadap anjuran memberi makan orang miskin adalah penafian untuk memberi makan mereka dengan cara yang lebih utama, dan ini merupakan petunjuk pesan tersirat. Artinya, karena sedikitnya perhatian terhadap orang-orang miskin, mereka tidak memberi manfaat kepada mereka bahkan dalam bentuk perantara, apalagi memberi manfaat dengan menyumbangkan dari harta mereka.
- Dalam ayat ini terdapat gaya bahasa ihtibak (elipsis timbal balik), karena ketika ditiadakan pemuliaan mereka terhadap anak yatim, dan dihadapkan dengan penafian bahwa mereka menganjurkan untuk memberi makan orang miskin, diketahui bahwa mereka tidak menganjurkan untuk memuliakan anak-anak yatim mereka, yaitu: mereka tidak menganjurkan para wali anak yatim untuk melakukan itu, dan diketahui bahwa mereka tidak memberi makan orang-orang miskin dari harta mereka. Dimungkinkan juga bahwa anjuran untuk memberi makan adalah kiasan tentang tindakan memberi makan, karena orang yang menganjurkan untuk melakukan sesuatu berarti berkeinginan untuk terlibat di dalamnya, maka jika dia mampu melakukannya, dia akan melakukannya.
- Kata-kata “lā tukrimūn” (tidak memuliakan), “lā taḥāḍḍūn” (tidak saling menganjurkan), “ta’kulūn” (memakan), dan “tuḥibbūn” (mencintai) menggunakan bentuk khitab (pembicaraan langsung) dengan cara iltifat (peralihan) dari bentuk ghaibah (orang ketiga) dalam firman-Nya: “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya” dan ayat-ayat selanjutnya, dengan tujuan untuk menghadapkan mereka dengan teguran, dan teguran dengan cara menghadapkan langsung lebih mengena daripada dengan cara tidak langsung.
- Kata “taḥāḍḍūn” asalnya adalah “tataḥāḍḍūn”, lalu salah satu huruf ta dibuang untuk meringkas dan memudahkan pengucapan.
- Kata “memakan” digunakan untuk mengungkapkan pemanfaatan sesuatu dengan cara yang tidak menyisakan apa pun darinya, dan mungkin ungkapan ini adalah salah satu kreasi Al-Qur’an.
- Firman-Nya “wa ta’kulūn” (dan kalian memakan) mengisyaratkan bahwa yang dimaksud adalah warisan yang bukan hak mereka, dan dari sini terlihat alasan pemilihan kata “at-turāth” (warisan) daripada mengatakan “wa ta’kulūn al-māl” (dan kalian memakan harta), karena warisan adalah harta yang pemiliknya telah meninggal, dan memakannya mengharuskan adanya pemilik harta yang tidak mampu mempertahankan hartanya karena kecil atau perempuan.
- Definisikan kata “at-turāth” sebagai pengganti mudhaf ilaih (kata yang dilekati), yaitu: warisan anak-anak yatim.
- Kata “aklan lammā” (dengan cara mencampur-adukkan), “al-lamm” berarti mengumpulkan, dan mendeskripsikan “makan” dengannya adalah deskripsi dengan masdar (kata benda verbal) untuk menunjukkan intensitas.
- Kata “wa tuḥibbūn al-māl ḥubban jammā” (dan kalian mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan), “al-jamm” berarti banyak, yaitu: kecintaan yang banyak. Mendeskripsikan cinta dengan banyak dimaksudkan untuk menunjukkan intensitas, karena cinta adalah makna dari makna-makna psikologis yang tidak dideskripsikan dengan banyak, yang merupakan kelimpahan jumlah individu dari suatu jenis. Maka “al-jamm” digunakan untuk mengungkapkan makna kuat dan intens, yaitu: kecintaan yang berlebihan, dan itu adalah tempat celaan terhadap kecintaan harta, karena berlebihan dalam mencintainya menyebabkan keserakahan untuk mendapatkannya dengan cara-cara yang tidak benar, seperti perampasan, penggelapan, pencurian, dan memakan amanat.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Ayat: 21-30
﴿كَلَّآ اِذَا دُكَّتِ الْاَرْضُ دَكًّا دَكًّاۙ ٢١ وَّجَاۤءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّاۚ ٢٢ وَجِايْۤءَ يَوْمَىِٕذٍۢ بِجَهَنَّمَۙ يَوْمَىِٕذٍ يَّتَذَكَّرُ الْاِنْسَانُ وَاَنّٰى لَهُ الذِّكْرٰىۗ ٢٣ يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِيْ قَدَّمْتُ لِحَيَاتِيْۚ ٢٤ فَيَوْمَىِٕذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهٗٓ اَحَدٌ ۙ ٢٥ وَّلَا يُوْثِقُ وَثَاقَهٗٓ اَحَدٌ ۗ ٢٦ يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ٢٧ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ ٢٨ فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ ٢٩ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ ࣖࣖ ٣٠ ﴾
Kata-kata yang Asing:
دُكَّتِ الْأَرْضُ دَكًّا دَكًّا: Artinya: bumi digoncangkan, digerakkan berulang-ulang. “Ad-dakk” berarti menghancurkan, meremukkan, dan meratakan bagian bumi yang tinggi. Akar kata “dakaka” menunjukkan makna merendah dan merata.
وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُ: “Al-wathāq” dengan fathah pada huruf waw adalah kata benda dari kata kerja “awtsaqa”, yang berarti mengikat. Dikatakan: “awtsaqtuhu” artinya saya mengikatnya dengan kuat. “Al-wathāq” dan “al-witsāq” adalah dua nama untuk sesuatu yang digunakan untuk mengikat sesuatu, dan akar kata “watsiqa” menunjukkan makna ikatan dan pengukuhan.
الْمُطْمَئِنَّةُ: Artinya: jiwa yang tenang, yakin dengan iman dan tauhid kepada Allah, sehingga tidak tercampur keraguan dan tidak dihinggapi kebimbangan, yang telah tenang dengan janji Allah dan membenarkan apa yang Dia katakan. “At-thuma’nīnah” dan “al-ithmi’nān” berarti ketenangan setelah keguncangan, dan asal makna “at-thuma’nīnah” adalah ketenangan.
Penjelasan I’rab (Tata Bahasa):
1- Firman Allah: كَلَّا إِذَا دُكَّتِ الْأَرْضُ دَكًّا دَكًّا * وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا
دَكًّا دَكًّا: Gabungan dua masdar ini ditakwilkan sebagai satu kata yang dinashabkan sebagai hāl (keterangan keadaan), dengan makna: “berulang-ulang digoncangkan”, seperti dalam kalimat “saya mengajarinya perhitungan bab demi bab”, artinya: saya mengajarinya perhitungan secara terperinci menurut bab-babnya. Bisa juga دَكًّا yang pertama adalah masdar yang menguatkan kata kerjanya, dan دَكًّا yang kedua adalah penguat secara lafal untuk yang pertama.
صَفًّا صَفًّا: Gabungan keduanya ditakwilkan sebagai satu kata yang dinashabkan sebagai hāl yang menunjukkan keteraturan, artinya: berdiri berbaris-baris, barisan demi barisan.
2- Firman Allah: فَيَوْمَئِذٍ لَا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ * وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ
عَذَابَهُ: Adalah maf’ūl mutlaq (objek mutlak) dengan makna penyerupaan, menggantikan masdar, demikian juga وَثَاقَهُ. “Al-‘adzāb” adalah nama masdar dari “‘adzdzaba”, dan “al-wathāq” adalah nama masdar dari “awtsaqa”. Dhamir (kata ganti) pada keduanya kembali kepada Allah ﷻ, dan masdar disandarkan kepada subjek (fā’il). Maknanya: tidak ada seorang pun yang menyiksa dengan siksaan seperti siksaan Allah terhadap orang kafir ini, dan tidak ada seorang pun yang mengikat dengan ikatan seperti ikatan Allah terhadap orang kafir ini; dalam hal kerasnya dan intensitasnya. Kata أَحَدٌ pada keduanya adalah subjek (fā’il) untuk kata kerja sebelumnya.
Dan dibaca juga يُعَذَّبُ … يُوثَقُ dengan bentuk pasif pada keduanya, sehingga أَحَدٌ pada keduanya menjadi nā’ib fā’il (pengganti subjek), dan dhamir pada عَذَابَهُ … وَثَاقَهُ kembali kepada manusia yang kafir, dan masdar disandarkan kepada objek. Maknanya: tidak ada seorang pun yang disiksa seperti siksaan orang kafir ini pada hari itu, dan tidak ada seorang pun yang diikat seperti ikatannya. Bisa juga dhamir kembali kepada Allah ﷻ, dan masdar disandarkan kepada subjek, seperti pada bacaan sebelumnya.
Makna Keseluruhan:
Allah ﷻ berfirman mengingatkan tentang kengerian hari kiamat: Sekali-kali tidak! Kembalilah dari keasyikanmu pada dunia yang fana; karena ketika bumi diguncangkan pada hari kiamat, dan digempa berulang kali, segala yang ada di atasnya akan hancur, dan bumi menjadi rata, dan Tuhanmu datang -wahai Muhammad- ke tempat pengumpulan untuk memberikan keputusan di antara hamba-hamba-Nya, dan para malaikat datang berbaris-baris, dan pada hari kiamat neraka Jahannam dibawa; pada hari itu manusia akan mengingat amal perbuatannya, namun ingatannya tidak bermanfaat baginya, iman dan tobatnya tidak berguna lagi! Dia berkata: “Seandainya aku dulu melakukan amal kebaikan di dunia untuk kehidupanku di akhirat,” maka pada hari kiamat tidak ada siksaan di dunia yang seperti siksaan Allah di akhirat, dan tidak ada belenggu di dunia yang seperti belenggu Allah di akhirat untuk penghuni neraka. Kemudian Allah menutup surat ini dengan kabar gembira bagi orang-orang beriman, dengan berfirman: “Wahai jiwa yang tenang dengan iman, yang yakin kepada Allah dan janji-Nya, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku yang saleh, dan masuklah ke dalam surga-Ku bersama mereka.”
Tafsir Ayat-ayat:
“Sekali-kali tidak, apabila bumi diguncangkan berturut-turut” (21).
Hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya: Ini adalah perpindahan dari ancaman siksa duniawi yang terdapat dalam firman-Nya: “Tidakkah engkau (Muhammad) perhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad?” [Al-Fajr: 6] dan ayat-ayat berikutnya, kepada ancaman siksa akhirat. Jika mereka meremehkan apa yang menimpa umat-umat sebelum mereka atau diberi tangguh, dan siksaan dunia ditunda dari mereka; maka sesungguhnya ada siksa yang tidak bisa mereka hindari yang menunggu mereka pada hari kiamat ketika mereka terpaksa mengingat, tetapi ingatan itu tidak berguna bagi mereka, dan mereka menyesal padahal waktu penyesalan telah berlalu.
“Sekali-kali tidak, apabila bumi diguncangkan berturut-turut” (21).
Artinya: Tidak seharusnya begitu; kembalilah dari keasyikanmu pada dunia yang fana yang tidak akan tersisa darinya atau dari kesenangannya sedikitpun; karena ketika terjadi penghancuran bumi pada hari kiamat dan guncangan serta gempa berulang kali, segala yang ada di atasnya akan hancur, dan bumi menjadi rata. Sebagaimana Allah berfirman: “Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali benturan. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat,” [Al-Haqqah: 14-15].
“Dan datanglah Tuhanmu dan para malaikat berbaris-baris” (22).
Artinya: Dan Tuhanmu datang -wahai Muhammad- ke tempat pengumpulan untuk menghisab hamba-hamba-Nya dan memberikan keputusan di antara mereka dengan kedatangan yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, dan para malaikat datang berbaris-baris, bersaf-saf, tunduk kepada Allah. Sebagaimana Allah berfirman: “Tidak ada yang mereka tunggu-tunggu kecuali datangnya (azab) Allah dalam naungan awan dan malaikat, dan perkara mereka telah diputuskan. Dan kepada Allah segala perkara dikembalikan,” [Al-Baqarah: 210]. Dan Allah berfirman: “Dan bumi (padang Mahsyar) menjadi terang-benderang dengan cahaya Tuhannya; dan buku-buku (catatan amal) diletakkan, lalu didatangkan para nabi dan saksi-saksi, dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, dan mereka tidak dizalimi,” [Az-Zumar: 69]. Dan Allah berfirman: “Pada hari (ketika) ruh dan para malaikat berdiri berbaris-baris, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pengasih dan dia hanya mengatakan yang benar,” [An-Naba’: 38].
“Pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi kesadaran itu baginya” (23).
Artinya: Dan pada hari kiamat akan diperlihatkan neraka Jahannam. Sebagaimana Allah berfirman: “Dan Kami sediakan neraka yang menyala-nyala bagi orang yang mendustakan hari Kiamat. Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar suara gemuruh dan suara napasnya,” [Al-Furqan: 11-12]. Dan dari Abdullah bin Mas’ud RA, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Pada hari itu neraka Jahannam didatangkan dengan tujuh puluh ribu tali kekang, dan pada setiap tali kekang ada tujuh puluh ribu malaikat yang menariknya.”
“Pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi kesadaran itu baginya.”
Artinya: Pada hari itu manusia akan mengingat kemaksiatannya dan kesesatannya, serta amal kebaikan yang telah ia lewatkan; namun ingatannya tidak bermanfaat baginya, dan iman serta tobatnya tidak berguna lagi bagi Tuhannya. Sebagaimana Allah berfirman: “Agar jangan ada orang yang mengatakan, ‘Alangkah besarnya penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah,'” [Az-Zumar: 56]. Dan Allah berfirman: “Pada hari (ketika) setiap orang melihat apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya,” [An-Naba’: 40].
Dia berkata, “Aduhai, sekiranya aku dahulu mengerjakan (amal) untuk hidupku (ini).” (24).
Artinya: Dia berkata: “Aduhai, sekiranya aku dahulu di dunia melakukan amal kebaikan, kebajikan, dan ketaatan untuk kehidupan abadiku di akhirat, sehingga aku menemukan pahalanya!” Sebagaimana Allah berfirman: “Hingga apabila Kiamat datang kepada mereka secara tiba-tiba, mereka berkata, ‘Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang Kiamat itu,'” [Al-An’am: 31]. Dan Allah berfirman: “Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit kedua tangannya, seraya berkata, ‘Aduhai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul,'” [Al-Furqan: 27].
“Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya” (25). “Dan tidak ada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya” (26).
Bacaan-bacaan yang berpengaruh pada tafsir:
1- Bacaan: لَا يُعَذَّبُ وَلَا يُوثَقُ dengan fathah pada huruf dzal dan tsa’, artinya: tidak ada seorang pun yang disiksa seperti siksaan terhadap golongan manusia ini, dan juga tidak ada seorang pun yang diikat seperti ikatannya.
2- Bacaan: لَا يُعَذِّبُ وَلَا يُوثِقُ dengan kasrah pada huruf dzal dan tsa’. Ada yang mengatakan: Artinya: tidak ada siksaan seorang pun di dunia yang seperti siksaan Allah di akhirat, dan tidak ada ikatan siapa pun yang seperti ikatan Allah terhadap penghuni neraka. Ada pula yang mengatakan: Artinya: tidak ada seorang pun pada hari kiamat yang melaksanakan siksaan Allah selain Dia; karena kekuasaan hanya milik-Nya semata, dan para malaikat siksaan mematuhi perintah-Nya dalam menyiksa orang-orang kafir dan mengikat mereka dengan belenggu.
“Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya” (25).
Artinya: Pada hari kiamat tidak ada seorang pun di dunia yang menyiksa seperti siksaan Allah di akhirat; tidak ada yang lebih keras siksaannya daripada-Nya. Sebagaimana Allah berfirman: “Dan sungguh, azab akhirat lebih berat dan lebih kekal,” [Taha: 127]. Dan Allah berfirman: “Maka Allah mengazabnya dengan azab yang terbesar,” [Al-Ghasyiyah: 24].
“Dan tidak ada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya” (26).
Artinya: Dan tidak ada seorang pun di dunia yang mengikat seperti ikatan Allah di akhirat terhadap penghuni neraka; tidak ada yang lebih kuat ikatannya daripada-Nya. Sebagaimana Allah berfirman: “Ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret, ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar dalam api,” [Ghafir: 71-72]. Dan Allah berfirman: “Sungguh, Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu, dan neraka yang menyala-nyala,” [Al-Insan: 4].
“Wahai jiwa yang tenang!” (27).
Hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya: Setelah menyebutkan keadaan orang yang perhatiannya tertuju pada dunia sehingga menuduh Allah dalam hal kekayaan dan kemiskinannya; Allah menyebutkan keadaan orang yang jiwanya tenang kepada Allah Ta’ala, yang berserah diri kepada perintah-Nya, dan bertawakal kepada-Nya.
Dan juga setelah mencakup apa yang diperlukan dalam konteks ancaman, peringatan, dan teguran; Allah menutup pembicaraan dengan kabar gembira bagi orang-orang beriman yang mengingat Al-Qur’an dan mengikuti petunjuknya, sesuai kebiasaan Al-Qur’an dalam mengikuti peringatan dengan kabar gembira dan sebaliknya; karena hal itu akan menambah keinginan manusia untuk melakukan kebaikan, dan ketakutan mereka dari perbuatan jahat.
“Wahai jiwa yang tenang!” (27).
Artinya: Dikatakan: “Wahai jiwa yang tenang dengan iman, yang yakin kepada Allah dan janji-Nya, yang teguh di atas kebenaran.”
“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai” (28).
Artinya: Kembalilah kepada Allah yang telah memeliharamu dengan nikmat dan karunia-Nya, dalam keadaan rida kepada Allah dan pahala-Nya, serta diridai di sisi Allah Ta’ala. Sebagaimana Allah berfirman: “Balasan mereka di sisi Tuhan mereka adalah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya.” [Al-Bayyinah: 8].
Dan dari Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba mukmin ketika berada dalam keadaan terputus dari dunia dan menghadapi akhirat, turunlah kepadanya malaikat-malaikat dari langit yang berwajah putih, seakan-akan wajah mereka seperti matahari, bersama mereka ada kain kafan dari kain-kain surga, dan wewangian dari wewangian surga, sampai mereka duduk sejauh pandangan mata darinya. Kemudian datanglah malaikat maut ‘alaihissalam hingga duduk di dekat kepalanya dan berkata: ‘Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaan-Nya.’ Maka keluarlah jiwa itu mengalir sebagaimana mengalirnya tetesan air dari mulut tempat air, lalu malaikat maut mengambilnya. Ketika dia telah mengambilnya, tidak dibiarkannya di tangannya sekejap mata pun sampai mereka (para malaikat) mengambilnya dan meletakkannya dalam kain kafan dan wewangian tersebut. Kemudian keluar darinya aroma wangi misk yang paling harum yang pernah ditemukan di muka bumi. Lalu mereka naik dengannya, tidaklah mereka melewati suatu kelompok malaikat kecuali para malaikat itu berkata: ‘Apakah ruh yang baik ini?’ Maka mereka menjawab: ‘Ini adalah fulan bin fulan,’ dengan nama-namanya yang paling baik yang biasa mereka sebut di dunia, hingga mereka sampai ke langit dunia. Lalu mereka meminta dibukakan pintu untuk ruh tersebut, maka dibukakanlah pintu bagi mereka. Malaikat-malaikat muqarrabin dari setiap langit mengantarnya sampai ke langit berikutnya, hingga sampai ke langit ketujuh. Lalu Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Tulislah kitab catatan hamba-Ku di ‘Illiyyin, dan kembalikanlah dia ke bumi; karena sesungguhnya dari tanah Aku menciptakan mereka, ke dalamnya Aku mengembalikan mereka, dan darinya Aku akan mengeluarkan mereka sekali lagi.'”
“Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku” (29), “dan masuklah ke dalam surga-Ku” (30).
Artinya: Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku yang saleh dan taat serta ke dalam kelompok mereka, dan masuklah ke dalam surga-Ku bersama mereka. Sebagaimana Allah berfirman: “Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” [An-Nisa’: 69]. Dan Allah berfirman: “Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka pasti akan Kami masukkan ke dalam (golongan) orang-orang yang saleh.” [Al-‘Ankabut: 9].
Manfaat Pendidikan:
1- Dalam firman Allah Ta’ala: “Ia berkata: ‘Wahai, sekiranya aku dahulu mengerjakan (amal baik) untuk hidupku (ini)’,” terdapat bukti bahwa kehidupan yang seharusnya diusahakan untuk kebaikan dan kesempurnaannya, dan untuk melengkapi kenikmatannya adalah kehidupan di negeri yang kekal. Karena itu adalah tempat keabadian dan kekekalan. Kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan akhirat, oleh karena itu orang kafir pada hari kiamat berkata: “Wahai, sekiranya aku dahulu mengerjakan (amal baik) untuk hidupku (ini).” Kehidupan dunia bukanlah kehidupan yang sebenarnya, karena beberapa alasan: Pertama, karena kehidupan dunia penuh dengan kekurangan; semua kejernihannya bercampur kotoran. Kedua, karena kehidupan dunia tidak kekal. Ketiga, karena manusia terancam di dalamnya, tidak tahu kapan ajalnya datang, pagi atau sore, dan berapa banyak manusia yang keluar dari keluarganya tetapi hanya jasadnya yang kembali! Dan berapa banyak manusia yang duduk di kursinya lalu tiba-tiba kematian menjemputnya, sehingga ia tidak sempat menyelesaikan tulisan yang sedang ia tulis dengan tangan kanannya! Oleh karena itu, seorang penyair berkata: “Tidak ada kebaikan dalam kehidupan selama kenikmatannya ternoda oleh ingatan akan kematian dan usia tua.” Maka seberapapun panjang umurmu, kamu akan menjadi tua dan meninggalkan kehidupan yang baik ini, atau kamu akan mati dan tidak lagi merasakan kehidupan ini sama sekali!
2- Dalam firman Allah Ta’ala: “Maka pada hari itu tidak ada seorangpun yang menyiksa seperti siksaan-Nya,” bahwa umat Islam harus mewaspadai hukuman Allah, dan tidak boleh melakukan hal-hal yang mengundang murka Allah yang mewajibkan hukuman-Nya; karena tidak ada yang menyiksa seperti siksaan Allah, dan tidak ada yang mengikat seperti ikatan-Nya.
3- Dalam firman Allah Ta’ala: “Dan masuklah ke dalam surga-Ku,” Allah Subhanahu menisbatkan surga kepada diri-Nya sendiri; untuk menunjukkan kemuliaan surga dan perhatian Allah terhadapnya. Ini mewajibkan manusia untuk sangat menginginkannya, sebagaimana dia menginginkan rumah-rumah Allah—yaitu masjid—karena Allah menisbatkannya kepada diri-Nya sendiri.
Manfaat Ilmiah dan Poin-poin Halus:
1- Dalam firman Allah Ta’ala: “Dan datanglah Tuhanmu dan malaikat berbaris-baris,” ada pertanyaan: Apakah ini mengesankan bahwa itu adalah satu malaikat, sedangkan firman-Nya “berbaris-baris” mengisyaratkan bahwa itu bukan satu malaikat, melainkan barisan dari kelompok-kelompok malaikat? Jawaban: Firman Allah Ta’ala “dan malaikat” artinya: dan para malaikat, serupa dengan firman-Nya: “Dan malaikat berada di penjuru-penjurunya” [Al-Haaqqah: 17].
2- Dalam firman Allah Ta’ala: “Dan datanglah Tuhanmu dan malaikat berbaris-baris,” terdapat hujjah terhadap kaum Mu’tazilah, dan ini serupa dengan firman-Nya dalam surah Al-Baqarah: “Tidak ada yang mereka tunggu kecuali Allah datang (kepada mereka) dalam naungan awan” [Al-Baqarah: 210], dan ini adalah hujjah yang mencekik mereka, sangat keras terhadap mereka. Dan kaidah dalam nama-nama dan sifat-sifat Allah: Bahwa semua yang Allah nisbatkan kepada diri-Nya adalah milik-Nya sendiri, bukan milik selain-Nya. Maka kita memaknai firman Allah Ta’ala dan Rasul-Nya sesuai dengan makna lahirnya, dan tidak mengubahnya. Maka yang datang adalah Allah Azza wa Jalla, bukan seperti yang diselewengkan oleh ahli ta’thil (peniadaan sifat Allah); di mana mereka mengatakan: Bahwa yang datang adalah perintah Allah! Karena ini adalah pengeluaran perkataan dari makna lahirnya tanpa dalil. Allah Ta’ala datang pada hari kiamat, Dia sendiri, tetapi bagaimana kedatangan ini? Inilah yang tidak kita ketahui, kita tidak tahu bagaimana Dia datang, dan pertanyaan tentang hal seperti ini adalah bid’ah, sebagaimana dikatakan oleh Imam Malik rahimahullah.
3- Dalam firman Allah Ta’ala: “Dan datanglah Tuhanmu dan malaikat berbaris-baris,” terdapat bukti adanya perbuatan-perbuatan ikhtiariah (pilihan) yang disandarkan kepada Allah Ta’ala.
4- Dalam firman Allah Ta’ala: “Dan datanglah Tuhanmu dan malaikat berbaris-baris,” menunjukkan bolehnya keterangan keadaan (haal) yang berasal dari kata yang di-‘athaf-kan (dirangkaikan) saja tanpa yang di-ma’thuf ‘alaih (kata yang dirangkaikan padanya).
5- Dalam firman Allah Ta’ala: “Wahai jiwa yang tenang,” bahwa kata “nafs” (jiwa) dalam Al-Qur’an terkadang digunakan untuk menunjukkan ruh saja.
6- Dalam firman Allah Ta’ala: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai, maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku” menunjukkan bahwa jiwa tidak kembali kepada Allah Subhanahu kecuali jika jiwa itu tenang. Dalam keadaan itulah jiwa kembali kepada-Nya, masuk ke dalam golongan hamba-hamba-Nya, dan masuk ke dalam surga-Nya.
Aspek Balaghah (Retorika) dalam Ayat-ayat:
1- Firman Allah Ta’ala: “Sekali-kali tidak! Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Tuhanmu dan malaikat berbaris-baris, dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam, pada hari itu ingatlah manusia, tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia berkata: ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (amal baik) untuk hidupku (ini)'”
- Kata “Sekali-kali tidak” (كَلَّا) adalah bentuk larangan terhadap mereka dari perbuatan-perbuatan yang disebutkan sebelumnya, dan pengingkaran terhadap perbuatan mereka.
- Firman-Nya: “Apabila bumi digoncangkan berturut-turut…” adalah kalimat lanjutan yang datang sebagai ancaman untuk menjelaskan alasan larangan tersebut.
- Firman-Nya: “berturut-turut” (دَكًّا دَكًّا) – kata pertama boleh dianggap sebagai objek mutlak yang menegaskan kata kerjanya. Penegasan di sini mungkin karena ayat ini adalah ayat pertama yang menyebutkan penghancuran gunung-gunung, dan karena ini adalah hal yang luar biasa, konteks menuntut penegasan akan terjadinya, sehingga diulang dua kali di sini, tidak seperti ayat serupa dalam Surah Al-Haaqqah [14]: “dan dihancurluluhkan dengan sekali hancur.” Jadi kata “dakkaa” (دَكًّا) yang pertama dimaksudkan untuk menegaskan terjadinya, dan “dakkaa” yang kedua adalah penekanan literal terhadap yang pertama, untuk lebih menegaskan makna penghancuran; karena penghancuran bumi yang besar adalah hal yang menakjubkan, sehingga karena keanehannya memerlukan penegasan tambahan untuk maknanya.
- Boleh juga gabungan kedua kata “dakkaa dakkaa” (دَكًّا دَكًّا) dianggap sebagai objek tunggal yang menjelaskan jenis, dengan makna: penghancuran yang terjadi satu demi satu, seperti kamu mengatakan: “Aku membaca buku itu bab demi bab.” Orang Arab mengulang kata untuk mencakup detail jenisnya berdasarkan makna yang ditunjukkan oleh kata yang diulang. Jika kamu mengatakan: “Aku menjelaskan buku itu bab demi bab,” artinya: aku menjelaskannya secara terperinci berdasarkan bab-babnya. Jadi pengulangan untuk menunjukkan cakupan menyeluruh, bukan untuk penekanan, dan ini adalah aspek yang lebih memenuhi retorika, karena memberikan makna tambahan selain penekanan, sementara penekanan sudah didapat dari kata pertama. Atau “dakk” (penghancuran) adalah kiasan untuk perataan, karena perataan adalah konsekuensi dari penghancuran, artinya: gunung-gunung menjadi rata dengan bumi, tidak ada tonjolan yang tersisa.
- Firman-Nya: “Dan datanglah Tuhanmu dan malaikat berbaris-baris” – kata “al-malak” (الْمَلَكُ) adalah kata jenis, dan bentuk definitifnya menunjukkan jenis, yang menunjukkan keseluruhan, artinya: dan para malaikat.
- Firman-Nya: “berbaris-baris” (صَفًّا صَفًّا) bukan untuk penekanan; karena yang dimaksud adalah baris demi baris, yaitu satu baris disusul baris lainnya.
- Dalam firman-Nya: “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam,” hanya neraka Jahannam yang disebutkan karena tujuan surah ini adalah ancaman bagi mereka yang tidak mengambil pelajaran. Jika tidak, surga juga akan dihadirkan pada hari itu; Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Dan surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa, dan neraka diperlihatkan dengan jelas kepada orang-orang yang sesat” [Asy-Syu’araa: 90-91].
- Firman-Nya: “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam, pada hari itu ingatlah manusia” – “pada hari itu” yang pertama terkait dengan kata kerja “diperlihatkan,” dan maknanya: dan diperlihatkan pada hari bumi digoncangkan berturut-turut… dan seterusnya. “Pada hari itu” yang kedua adalah pengganti dari “apabila bumi digoncangkan,” dan maknanya: pada hari bumi digoncangkan berturut-turut… dan seterusnya, manusia mengingat, dan yang mempengaruhi pengganti dan yang digantikan adalah kata kerja “mengingat,” dan ini didahulukan karena pentingnya, dengan penjelasan detail yang membangkitkan rasa ingin tahu; agar terjadi penjelasan global lalu terperinci, dengan pengulangan yang baik yang semakna dengan “apabila”; untuk menambah keterhubungan karena panjangnya pemisahan dengan kalimat-kalimat yang disandingkan dengan “apabila.”
- Firman-Nya: “Pada hari itu ingatlah manusia” – “manusia” di sini: dikatakan bahwa ia adalah manusia kafir, yang telah disebutkan sebelumnya dalam firman Allah Tabaraka wa Ta’ala: “Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya…” [Al-Fajr: 15]. Ini adalah penyebutan eksplisit di tempat yang biasanya menggunakan kata ganti, karena jauhnya rujukan kata ganti.
- Kalimat “tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya” adalah kalimat sisipan antara kalimat “ingatlah manusia” dan kalimat “dia berkata…” dst.; yang dimaksudkan untuk menegaskan bahwa ia tidak benar-benar mengingat; karena ketiadaan manfaat karena tidak terjadi pada waktunya.
- Kata “tetapi tidak berguna” (وَأَنَّى) adalah kata tanya yang artinya: dari mana baginya peringatan? Ini adalah pertanyaan yang digunakan untuk pengingkaran dan penolakan.
- Firman-Nya: “tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya” mengandung penghapusan kata, yaitu: dan dari mana baginya manfaat peringatan?!
- Firman-Nya: “Dia berkata: ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (amal baik) untuk hidupku (ini)'” – kalimat ini adalah badal isytimal (pengganti yang menunjukkan hubungan karakteristik) dari kalimat “ingatlah manusia.” Atau ini adalah kalimat lanjutan yang menjadi jawaban dari pertanyaan yang muncul, seolah-olah dikatakan: apa yang ia katakan saat mengingat? Karena kalimat “dia berkata: ‘Alangkah baiknya…'” bisa jadi adalah perkataan lisan sebagai bentuk penyesalan, sehingga kalimat ini menjadi keterangan keadaan dari “manusia,” atau badal isytimal dari kalimat “ingatlah”; karena ingatannya mencakup kesedihan dan penyesalan. Dan boleh juga perkataannya itu dalam hatinya, sehingga kalimat ini menjadi penjelasan untuk kalimat “ingatlah.”
- Objek dari kata “aku mengerjakan” (قَدَّمْتُ) dihapus untuk efisiensi bahasa.
- Kemungkinan bahwa huruf “Lam” dalam ucapannya: “Li Hayati” bermakna alasan, yaitu: Aku telah mendahulukan amal-amal saleh agar aku dapat hidup di dunia ini, dan yang dimaksud adalah: kehidupan yang sempurna dan selamat dari azab; karena kehidupan mereka dalam azab adalah kehidupan yang tertutup dan tersembunyi; Allah Ta’ala berfirman: “Kemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.” [Al-A’la: 13]. – Dan huruf panggilan dalam ucapannya: “Ya Laitani” adalah untuk peringatan; sebagai perhatian terhadap harapan ini pada hari terjadinya.
2- Firman Allah Ta’ala: “Maka pada hari itu tiada seorangpun yang menyiksa seperti siksa-Nya. Dan tiada seorangpun yang mengikat seperti ikatan-Nya.” – Maksud dari perkataan ini adalah firman-Nya: “Maka pada hari itu tiada seorangpun yang menyiksa seperti siksa-Nya” dan firman-Nya: “Hai jiwa yang tenang.” [Al-Fajr: 27], adapun yang telah lalu dari firman-Nya: “Apabila bumi digoncangkan” hingga firman-Nya: “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam”; maka itu adalah pendahuluan dan dorongan untuk mendengarkan apa yang datang setelahnya, dan untuk mengagungkan keadaan hari itu, yaitu waktu yang dikenal dengan penambahan kalimat “bumi digoncangkan” dan kalimat-kalimat setelahnya, dan telah dikenal dengan tanda-tanda kedatangannya dan dengan apa yang terjadi di dalamnya berupa dahsyatnya siksa. – Dan tanwin dalam kata “yaumai’izin” adalah pengganti dari kalimat yang memberikan makna dahsyatnya situasi yang telah disebutkan sebelumnya. – Firman-Nya: “Ahad” (seorangpun) dalam dua tempat adalah pelaku dari kata “yu’azzib” (menyiksa) dan “yutsiq” (mengikat), dan “adzabahu” termasuk penyandaran masdar kepada objeknya, dan kata ganti dikatakan: merujuk kembali kepada manusia dalam firman-Nya: “Manusia teringat”, dan itu adalah objek mutlak yang menjelaskan jenis dalam arti perumpamaan yang mengesankan, yaitu: siksaan seperti siksaan-Nya, dan ketiadaan persamaan dalam kerasnya, yaitu: menyiksa dengan siksaan yang paling keras untuk orang-orang yang berbuat maksiat, yaitu: siksaan yang tidak ada bandingannya dalam jenis-jenis siksaan bagi orang-orang yang diazab. Dan kata “ahad” digunakan dalam bentuk negasi untuk mencakup seluruh jenis manusia, maka “ahad” dalam konteks negasi mencakup semua orang; maka pemberi siksa (dengan kasrah pada huruf dzal) terbatas pada satu individu, yaitu Allah Ta’ala. Dan penggunaan kata “watsaqahu” seperti penggunaan “adzabahu” sebagai objek mutlak dalam arti perumpamaan.
3- Firman Allah Ta’ala: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku.” – Hubungan ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya dalam bacaan dan penulisan mushaf, pada dasarnya adalah bahwa ayat ini diturunkan bersama ayat-ayat sebelumnya dalam satu urutan, dan itu menunjukkan bahwa perkataan ini diucapkan di akhirat; maka boleh dikatakan pada hari pembalasan, itu adalah perkataan dari perkataan yang dihilangkan yang merupakan jawaban dari “idza” dalam “Apabila bumi digoncangkan” [Al-Fajr: 21] ayat, dan yang di antara keduanya adalah sisipan dan penghubung, ini adalah perkataan yang muncul pada hari kiamat dari sisi kesucian dari firman Allah Ta’ala, atau dari perkataan para malaikat; jika itu dari firman Allah Ta’ala, maka firman-Nya: “Kepada Tuhanmu” adalah penampakan dalam posisi penyembunyian, dengan indikasi pengurutan “Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku” kepadanya, dan keindahan dari penampakan ini adalah apa yang ada dalam sifat “Tuhan” dari kewalian dan kekhususan, dan apa yang ada dalam penyandarannya kepada kata ganti jiwa yang diajak bicara sebagai penghormatan kepadanya, dan jika itu dari perkataan malaikat maka lafaz “Tuhanmu” berjalan sesuai dengan kondisi yang nyata, dan pengurutan “Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku” adalah penguatan yang muncul dari firman Allah Ta’ala; sebagai pembenaran untuk perkataan para malaikat: “Kembalilah kepada Tuhanmu”. Dan boleh juga ayat ini merupakan permulaan baru yang terjadi karena kesesuaian dengan penyebutan siksaan bagi manusia yang musyrik, sehingga menjadi seruan dari Allah Ta’ala untuk jiwa-jiwa orang beriman yang tenang. – Dan “muthma’innah” (yang tenang): boleh jadi dari ketenangan jiwa dengan membenarkan apa yang dibawa oleh Al-Qur’an tanpa keraguan dan kegundahan pikiran, sehingga itu menjadi pujian kepada jiwa ini. – Dan penyifatan jiwa dengan “muthma’innah” bukanlah sifat untuk pengenalan atau pengkhususan, yaitu: untuk membedakan orang-orang yang diajak bicara dengan sifat yang membedakan mereka dari selain mereka, sehingga mereka tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang diajak bicara yang diizinkan untuk masuk surga; karena mereka tidak tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang tenang kecuali setelah diizinkan masuk surga, maka sifat ini dimaksudkan sebagai pujian, dan isyarat kepada dasar pembangunan kabar, dan kabar gembira bagi orang-orang yang ditujukan kepada mereka seruan bahwa mereka adalah orang-orang yang tenang dan aman. Dan boleh juga sebagai pengenalan, atau pengkhususan dengan Allah menjadikan ilham dalam hati mereka yang dengannya mereka tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang tenang. – Dan perintah dalam “Kembalilah kepada Tuhanmu” dimaksudkan pembatasannya dengan dua keadaan setelahnya; yaitu “dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya”, dan itu adalah penggunaan perintah dalam janji. Dan penyembunyian dalam firman-Nya: “ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku” dan firman-Nya: “surga-Ku” adalah peralihan dari bentuk orang ketiga ke bentuk orang pertama.
- Dan “radhiyah” (yang puas): adalah jiwa yang ridha dengan apa yang diberikan kepadanya berupa kemuliaan, dan itu adalah kiasan tentang pemberian kepadanya segala yang diinginkannya.
- Dan “mardhiyyah” (yang diridhai): adalah isim maf’ul (kata benda yang menunjukkan objek), dan asalnya: “mardhiyyan ‘anha” (diridhai darinya), maka terjadi penghapusan dan penyambungan; sehingga menjadi pengganti pelaku tanpa huruf jar, dan maksud dari sifat ini adalah penambahan pujian dengan kiasan tentang peningkatan limpahan nikmat; karena orang yang diridhai akan diberi oleh yang meridhai berupa pemberian dan hadiah lebih dari apa yang telah diridhai olehnya.
- Dan dari kabar gembira secara umum ini dirincikan dengan firman-Nya: “Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku”, ini adalah perincian setelah keterangan umum; untuk mengulang pemberian kegembiraan kepada ahlinya, dan maknanya: masuklah dalam kelompok hamba-hamba-Ku, dan yang dimaksud adalah hamba-hamba yang saleh; dengan indikasi posisi penyandaran, bersama penggabungannya dengan firman-Nya: “surga-Ku”.
- Dan penyandaran kata “jannah” (surga) kepada kata ganti Keagungan adalah penyandaran kehormatan, dan penyandaran ini adalah salah satu yang menambah keindahan peralihan ke kata ganti orang pertama setelah gaya bahasa orang ketiga dalam firman-Nya: “Kembalilah kepada Tuhanmu”.
- Dan di dalamnya ada pengulangan kata kerja “wadkhuli” (dan masuklah), di mana Dia tidak mengatakan: (fadkhuli jannati fi ‘ibadi) [maka masuklah ke dalam surga-Ku bersama hamba-hamba-Ku]; untuk memberi perhatian pada masuk secara khusus; sebagai pemastian kebahagiaan bagi mereka.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
SURAH AL-BALAD
Perhatian: Setiap kalimat berikut memiliki rujukan ilmiah yang belum diterjemahkan. Bagi yang memerlukan, silakan merujuk langsung ke situs web aslinya dalam bahasa Arab di: https://dorar.net/tafseer/90
Nama Surat:
Surat ini dinamai dengan Surat Al-Balad (Negeri).
Keterangan Makkiyah dan Madaniyah:
Surat Al-Balad adalah surat Makkiyah (diturunkan di Mekah). Banyak ahli tafsir telah menyampaikan kesepakatan (ijma’) mengenai hal ini.
Tujuan Surat:
Di antara tujuan terpenting surat ini adalah: Menyebutkan sifat dunia dan apa yang dialami manusia di dalamnya berupa kesulitan-kesulitan, serta apa yang dapat mengantarkannya kepada kebahagiaan.
Tema-tema Surat:
Di antara tema-tema terpenting yang terkandung dalam surat ini adalah:
- Penegasan tentang keistimewaan kota Mekah.
- Ujian yang dialami manusia di dunia berupa kesusahan dan kelelahan.
- Celaan terhadap sikap tertipu oleh kekuatan dan berbangga diri.
- Penyebutan nikmat-nikmat Allah Ta’ala kepada manusia.
- Dorongan untuk senantiasa melakukan kebaikan dan memperbaiki diri.
- Penjelasan tentang bagusnya akibat bagi orang-orang beriman, dan buruknya akibat bagi orang-orang kafir.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Ayat: 1-10
﴿لَآ اُقْسِمُ بِهٰذَا الْبَلَدِۙ ١ وَاَنْتَ حِلٌّۢ بِهٰذَا الْبَلَدِۙ ٢ وَوَالِدٍ وَّمَا وَلَدَۙ ٣ لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْ كَبَدٍۗ ٤ اَيَحْسَبُ اَنْ لَّنْ يَّقْدِرَ عَلَيْهِ اَحَدٌ ۘ ٥ يَقُوْلُ اَهْلَكْتُ مَالًا لُّبَدًاۗ ٦ اَيَحْسَبُ اَنْ لَّمْ يَرَهٗٓ اَحَدٌۗ ٧ اَلَمْ نَجْعَلْ لَّهٗ عَيْنَيْنِۙ ٨ وَلِسَانًا وَّشَفَتَيْنِۙ ٩ وَهَدَيْنٰهُ النَّجْدَيْنِۙ ١٠ ﴾
Kosa Kata:
- Hill: Artinya halal bagi Anda untuk melakukan apa yang Anda inginkan seperti membunuh dan menawan. Ada yang mengatakan: menetap dan tinggal di sana. Akar kata “halala” menunjukkan pembukaan sesuatu.
- Kabad: Artinya kesulitan, kelelahan, dan perjuangan dalam urusan dunia dan akhirat. Akar kata “kabada” menunjukkan kesulitan dan kekuatan dalam sesuatu.
- Lubada: Artinya banyak dan bertumpuk satu sama lain, dari: sesuatu menumpuk di atas sesuatu, yaitu berkumpul. Akar kata “labada” menunjukkan penumpukan sesuatu di atas yang lain.
- An-Najdain: Artinya dua jalan; jalan kebaikan dan jalan keburukan. “Najd” adalah jalan yang tinggi. Setiap tempat tinggi di bumi disebut “najd”. Akar kata “najada” menunjukkan ketinggian dan keutamaan.
Makna Umum:
Allah Ta’ala membuka surat mulia ini dengan berfirman: Aku bersumpah dengan negeri suci yang agung, yaitu Makkah Al-Mukarramah, sedangkan engkau -wahai Muhammad- dihalalkan di dalamnya apa yang diharamkan bagi selainmu seperti berperang di sana. Dan Aku bersumpah dengan orang tua dan anak keturunannya; sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam kesusahan dan kesulitan sejak awal hidupnya hingga kematiannya. Kemudian Allah Ta’ala berfirman: Apakah manusia mengira bahwa tidak ada yang dapat mengalahkannya? Dia berkata setelah memboroskan hartanya dalam kebatilan dan syahwatnya: Aku telah menghabiskan banyak harta! Apakah dia mengira bahwa Allah tidak melihatnya ketika menghabiskan hartanya dalam kebatilan? Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan sebagian dari tanda-tanda nikmat-Nya, dengan berfirman: Bukankah Kami telah menjadikan baginya dua mata untuk melihat, lidah dan dua bibir? Dan Kami telah menjelaskan kepadanya jalan kebaikan dan keburukan!
Tafsir Ayat-ayat:
- Laa uqsimu bi haadzal balad (Aku bersumpah dengan negeri ini). Artinya: Aku bersumpah dengan negeri suci yang agung ini, yaitu Makkah Al-Mukarramah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan dengan negeri yang aman ini” [At-Tin: 3].
- Wa anta hillun bi haadzal balad (Dan engkau bebas di negeri ini). Artinya: Aku bersumpah dengan Makkah sedangkan engkau -wahai Muhammad- dihalalkan di dalamnya pada masa mendatang; dihalalkan bagimu apa yang diharamkan bagi selainmu seperti berperang di sana.
Dari Abu Hurairah, beliau berkata: “Sesungguhnya kaum Khuza’ah membunuh seorang dari Bani Laits pada tahun penaklukan Makkah sebagai balasan atas pembunuhan seorang dari mereka. Hal itu disampaikan kepada Rasulullah ﷺ, maka beliau naik ke atas kendaraannya dan berkhutbah: ‘Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla telah menahan pasukan gajah dari Makkah, dan menguasakan Rasul-Nya dan orang-orang beriman atasnya. Ketahuilah, ia tidak pernah dihalalkan bagi siapapun sebelumku, dan tidak akan dihalalkan bagi siapapun setelahku. Ketahuilah, ia dihalalkan bagiku pada saat tertentu di siang hari. Ketahuilah, pada saatku ini ia kembali haram.'”
Dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan Makkah sehingga tidak dihalalkan bagi siapapun sebelumku, dan tidak dihalalkan bagi siapapun setelahku, dan ia hanya dihalalkan bagiku pada saat tertentu di siang hari.”
- Wa waalidin wa maa walad (Dan demi bapak dan anaknya). Artinya: Dan Aku bersumpah dengan orang tua, dan Aku bersumpah dengan anaknya.
- Laqad khalaqnal insaana fii kabad (Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam kesusahan). Artinya: Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam kesusahan dan kesulitan sejak awal hidupnya hingga kematiannya, ia berjuang dalam urusan kehidupan dan penghidupannya, serta kekhawatiran dunia dan akhiratnya.
- Ayahsabu al lan yaqdira ‘alaihi ahad (Apakah dia mengira bahwa tidak ada seorangpun yang berkuasa atasnya?). Artinya: Apakah manusia mengira bahwa tidak ada yang dapat mengalahkan dan menguasainya? Allah akan mengalahkan dan menguasainya, dan Dia berkuasa atasnya untuk membangkitkan dan menghukumnya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan tulang-tulangnya? Ya, Kami kuasa menyusun kembali jari-jemarinya dengan sempurna” [Al-Qiyamah: 3-4].
“Dia berkata, ‘Aku telah menghabiskan banyak harta’ (6).
Maksudnya: Manusia yang memboroskan hartanya dalam hal yang sia-sia, untuk nafsu dan kesenangannya, berkata: ‘Aku telah membelanjakan harta yang banyak.’ Sebagaimana Allah berfirman: ‘Dan (juga) orang-orang yang menginfakkan harta mereka karena riya kepada manusia, dan tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan barangsiapa menjadikan setan sebagai temannya, maka setan itu teman yang paling buruk.’ [An-Nisa: 38]. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah.’ [Al-Anfal: 36]. Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara setan.’ [Al-Isra: 27].
‘Apakah dia mengira bahwa tidak ada seorang pun yang melihatnya?’ (7).
Maksudnya: Apakah dia menyangka bahwa Allah tidak melihatnya ketika dia menghabiskan hartanya dalam kebatilan, dan bahwa Allah tidak akan menghisab dan membalasnya atas perbuatan itu?!
‘Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata?’ (8).
Kesesuaian ayat ini dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah menceritakan tentang orang kafir yang berkata: ‘Apakah dia mengira bahwa tidak ada seorang pun yang berkuasa atasnya?’, Allah menegakkan dalil atas kesempurnaan kekuasaan-Nya; maka Allah berfirman: ‘Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata?’ (8).
Maksudnya: Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata untuk melihat?
‘Dan lidah dan sepasang bibir?’ (9).
Maksudnya: Bukankah Kami telah menjadikan untuknya lidah dan sepasang bibir yang membantunya untuk berbicara atau manfaat-manfaat lainnya?
‘Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan?’ (10).
Maksudnya: Dan Kami telah menjelaskan kepadanya jalan kebaikan dan jalan keburukan.
Manfaat Pendidikan:
1- Dalam firman Allah: ‘Dia berkata, Aku telah menghabiskan banyak harta’, Allah menyebut pembelanjaan dalam hal-hal nafsu dan maksiat sebagai ‘kehancuran’, alasannya: karena orang yang membelanjakan tidak mendapat manfaat dari apa yang dia belanjakan, dan yang kembali kepadanya dari pembelanjaannya hanyalah penyesalan, kerugian, kelelahan, dan kekurangan. Tidak seperti orang yang membelanjakan hartanya demi keridhaan Allah di jalan kebaikan; maka sesungguhnya orang ini telah berdagang dengan Allah, dan mendapatkan keuntungan berlipat ganda dari apa yang telah dia belanjakan.
2- Dalam firman Allah: ‘Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata? Dan lidah dan sepasang bibir? Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan?’, Allah mengikuti apa yang dengannya ilmu diperoleh, dan apa yang dengannya pengetahuan diungkapkan dengan apa yang mengarahkan pemikiran kepada observasi dan penelitian, yaitu firman-Nya: ‘Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan’, sehingga ucapan itu melengkapi dasar-dasar pembelajaran dan pengajaran; karena manusia diciptakan mencintai pengetahuan dan mencintai pengajaran. Dengan indera persepsi dia memperoleh pengamatan—yang merupakan dasar-dasar pengetahuan yang pasti—dan dengan ucapan dia memberikan apa yang dia ketahui kepada orang lain, dan dengan petunjuk kepada kebaikan dan keburukan dia membedakan antara pengetahuannya dan mengujinya.
Manfaat Ilmiah dan Keindahan: 1- Dalam firman Allah: ‘Aku bersumpah dengan negeri ini’ terdapat pertanyaan: bahwa dari ayat mulia ini tampak bahwa Allah memberi tahu bahwa Dia tidak bersumpah dengan negeri ini, yaitu Makkah al-Mukarramah, padahal Allah bersumpah dengannya dalam firman-Nya: ‘Dan demi negeri yang aman ini.’ [At-Tin: 3].
Jawaban dari beberapa segi:
Pertama—dan ini pendapat mayoritas—bahwa ‘laa’ (tidak) di sini adalah tambahan menurut kebiasaan orang Arab; karena terkadang mereka mengucapkan ‘laa’ tanpa maksud makna aslinya, tetapi hanya untuk memperkuat dan menekankan ucapan, seperti dalam firman-Nya: ‘Apa yang menghalangimu ketika kamu melihat mereka telah sesat, untuk tidak mengikutiku?’ [Taha: 92-93], maksudnya: untuk mengikutiku.”
Aspek kedua: Bahwa “لا” (la) adalah penolakan terhadap perkataan kaum musyrikin yang mendustakan Nabi Muhammad ﷺ, dan firman-Nya: “أُقْسِمُ” (aku bersumpah) adalah pernyataan yang baru dimulai. Pendapat ini, meski disampaikan oleh banyak ulama, tidaklah tepat; karena firman Allah dalam surah Al-Qiyamah: “وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ” [Al-Qiyamah: 2]; karena firman-Nya: “وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ” menunjukkan bahwa Dia tidak bermaksud memberikan pernyataan baru setelah penolakan dengan firman-Nya: “أُقْسِمُ”.
Aspek ketiga: Bahwa itu juga merupakan huruf penolakan, dengan maksud bahwa pembentukan sumpah mencakup pemberitahuan tentang pengagungan terhadap yang disumpahi, maka ini adalah penolakan terhadap berita tersirat tersebut dengan cara kiasan, dan maksudnya adalah bahwa itu tidak diagungkan dengan sumpah, tetapi itu sendiri agung, disumpahi atau tidak.
Aspek keempat: Bahwa huruf “lam” adalah lam permulaan yang fathahnya dipanjangkan, dan asal kalimatnya adalah: “لَأُقْسِمُ”, dan orang Arab terkadang memanjangkan fathah dengan alif, kasrah dengan ya, dan dhammah dengan waw.
2- Dalam firman Allah: “لَا أُقْسِمُ بِهَذَا الْبَلَدِ” ada pertanyaan tentang sumpah Allah dengan makhluk-makhluk ini, padahal kita dilarang bersumpah dengan selain-Nya.
Jawabannya ada dua aspek:
Pertama: Ini adalah tindakan Allah, dan Allah tidak ditanya tentang apa yang Dia lakukan, dan Dia boleh bersumpah dengan apa pun yang Dia kehendaki dari ciptaan-Nya, Dia adalah yang bertanya bukan yang ditanya, dan yang menghakimi bukan yang dihakimi.
Kedua: Sumpah Allah dengan tanda-tanda ini adalah bukti keagungan-Nya dan kesempurnaan kekuasaan serta kebijaksanaan-Nya, sehingga sumpah dengannya yang menunjukkan pengagungan dan peninggian kedudukannya mengandung pujian kepada Allah yang menunjukkan keagungan-Nya, adapun kita, kita tidak bersumpah dengan selain Allah atau sifat-Nya; karena kita dilarang melakukan itu.
3- Dalam firman Allah: “لَا أُقْسِمُ بِهَذَا الْبَلَدِ * وَأَنْتَ حِلٌّ بِهَذَا الْبَلَدِ * وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ” sumpah tersebut mencakup asal tempat dan asal penduduk; referensi kota kembali ke Mekah, dan referensi hamba kembali ke Adam. Ini menurut satu pendapat.
4- Dalam firman Allah: “وَأَنْتَ حِلٌّ بِهَذَا الْبَلَدِ” ini dijadikan dalil oleh orang yang melarang berperang melawan pemberontak di sana. Ini berdasarkan satu pendapat dalam tafsir.
5- Dalam firman Allah: “لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ” ada isyarat bahwa tidak ada di dunia kecuali kesusahan dan cobaan.
6- Allah berfirman: “أَلَمْ نَجْعَلْ لَهُ عَيْنَيْنِ * وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ * وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ” Bukti akal yang pasti ini memuat peringatan bahwa Yang menjadikanmu melihat, berbicara, dan mengetahui: lebih layak untuk menjadi Maha Melihat, Maha Berbicara, dan Maha Mengetahui. Bukti akal pasti mana yang lebih kuat dari ini, lebih jelas, dan lebih dekat kepada akal?!
7- Dalam firman Allah: “وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ” penyebutan dua bibir bersama lidah; karena kejelasan diperoleh dengan keduanya bersama-sama, maka lidah tidak bisa berbicara tanpa dua bibir, dan dua bibir tidak bisa berbicara tanpa lidah. Dan di antara kehalusan Al-Qur’an yang mulia adalah bahwa ia tidak hanya membatasi pada lidah atau hanya pada dua bibir, berbeda dengan kebiasaan percakapan Arab yang membatasi padanya; mereka berkata: “Dia berbicara dengan lidah yang fasih”, dan mereka berkata: “Dia tidak mengucapkan satu kata pun” atau “Dia tidak mengeluarkan satu kata pun”; karena konteksnya adalah konteks pembuktian, sehingga dibawakan padanya apa yang memiliki penggambaran lebih dalam menciptakan alat untuk berbicara.
Balaghah (Keindahan Sastra) Ayat-ayat:
1- Firman Allah: “لَا أُقْسِمُ بِهَذَا الْبَلَدِ * وَأَنْتَ حِلٌّ بِهَذَا الْبَلَدِ * وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ”
- Surah mulia ini dimulai dengan sumpah; untuk membangkitkan rasa ingin tahu terhadap apa yang akan datang setelahnya, dan kalimat sumpah diperpanjang; untuk menambah rasa keingintahuan.
- Penggunaan kata penunjuk “هذا” (ini) dengan penjelasan “الْبَلَدِ” (negeri) merupakan penunjukan kepada sesuatu yang hadir dalam pikiran para pendengar, seolah-olah mereka melihatnya; karena mereka sering melihatnya, yaitu kota Mekah. Manfaat penggunaan kata penunjuk ini adalah untuk membedakan objek yang disumpahi dengan pembedaan yang sempurna; dengan tujuan untuk memuliakan.
- Sumpah dengan kota – meskipun tidak menunjukkan sifat dari sifat-sifat Zat Ilahi, atau dari sifat-sifat perbuatan-Nya – adalah kiasan tentang pengagungan Allah ﷻ terhadapnya dan keutamaannya.
- Ada keserasian yang baik, dimana Allah berfirman dalam surah At-Tin: “وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ” [At-Tin: 3], dan tidak menyifatinya – di sini – dengan keamanan; karena tidak sesuai dengan konteks kesulitan, berbeda dengan yang ada dalam (At-Tin); karena yang dimaksud di sana adalah kesempurnaan.
- Kalimat “وَأَنْتَ حِلٌّ بِهَذَا الْبَلَدِ” adalah kalimat sisipan untuk menghibur Nabi dengan janji akan penaklukan, dengan makna: dan engkau akan halal di dalamnya di masa depan, dan kata “أنت” dalam hal ini termasuk dalam bab pendahuluan untuk pengkhususan, dan ada pendapat lain. Maksud dari sisipan ini berbeda-beda tergantung pada penafsiran makna “وَأَنْتَ حِلٌّ”.
- Pengulangan kata “بِهَذَا الْبَلَدِ” adalah penyebutan explisit di tempat yang seharusnya implisit; dengan tujuan memperbaharui keheranan, dan dengan tujuan menekankan penaklukan kota yang mulia baginya, dan yang berat bagi kaum musyrikin bahwa ia keluar dari kekuasaan mereka. Ada yang berpendapat: bahwa ia tidak mengulangnya; karena perkiraan maknanya: Aku tidak bersumpah dengan kota yang diharamkan ini yang telah menjadi kebiasaan orang Arab untuk mengagungkan dan mengharamkannya, “وَأَنْتَ حِلٌّ بِهَذَا الْبَلَدِ”, yakni: telah dihalalkan bagimu di dalamnya dari keharamannya apa yang tidak dihalalkan bagi siapapun sebelummu dan sesudahmu; seperti membunuh Ibnu Khatal, dan berperang melawan kaum musyrikin sesaat di siang hari, maka yang dimaksud dengan kota yang pertama adalah yang tetap pada keharamannya, dan yang kedua adalah yang dihalalkan bagi Nabi ﷺ sebagai penghormatan baginya, dan pengagungan atas kedudukannya.
- Firman-Nya: “وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ” kata “والد” (orang tua) dan “ولد” (anak) disebutkan tanpa ditentukan untuk memberikan kesamaran yang mandiri dalam pujian dan kekaguman, dan digunakan kata sambung “ما” dalam firman-Nya: “وَمَا وَلَدَ” bukan “من”, padahal “من” lebih sering digunakan untuk makhluk berakal, dan itu dimaksudkan di sini; maka beralih dari “من”; karena “ما” lebih samar, maka dimaksudkan untuk mengagungkan pemilik hubungan ini, sehingga digunakan kata sambung yang sangat samar; untuk mengagungkan, dan yang serupa dengannya adalah firman Allah: “وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ” [Ali Imran: 36], yang berarti: kelahiran yang menakjubkan, dan karena kekuatan kesamaran dalam “ما” lebih sesuai untuk maksud jamak daripada satu individu tertentu.
2- Firman Allah: “لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ”
- Kalimat ini adalah jawaban sumpah, dan ini adalah tujuan dari surah.
- Firman-Nya: “فِي كَبَدٍ”, yakni: kesulitan dan kesukaran, dan ini adalah penghiburan bagi Rasulullah ﷺ dari apa yang ia alami dari Quraisy.
3- Firman Allah: “أَيَحْسَبُ أَنْ لَنْ يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ * يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًا لُبَدًا * أَيَحْسَبُ أَنْ لَمْ يَرَهُ أَحَدٌ”
- Firman-Nya: “أَيَحْسَبُ أَنْ لَنْ يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ” huruf hamzah untuk pengingkaran, teguran dan menunjukkan kesalahan.
- Dalam firman-Nya: “يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًا لُبَدًا” diikuti keburukan dirinya dengan celaan perkataan-perkataannya, yaitu kesombongan yang palsu, dan membangga-banggakan pemborosan harta dalam hal yang tidak baik.
- Firman-Nya: “أَيَحْسَبُ أَنْ لَنْ يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ” pertanyaan ini untuk pengingkaran dan teguran.
- Dan juga firman-Nya: “أَيَحْسَبُ أَنْ لَمْ يَرَهُ أَحَدٌ” adalah kiasan tentang pengetahuan Allah terhadap isi hatinya, dan bahwa kebanggaannya dengan kedermawanan adalah batil.
4- Firman Allah: “أَلَمْ نَجْعَلْ لَهُ عَيْنَيْنِ * وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ * وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ”
- Firman-Nya: “أَلَمْ نَجْعَلْ لَهُ عَيْنَيْنِ” adalah alasan untuk pengingkaran dan teguran dalam firman-Nya: “أَيَحْسَبُ أَنْ لَنْ يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ” [Al-Balad: 5], atau firman-Nya: “أَيَحْسَبُ أَنْ لَمْ يَرَهُ أَحَدٌ” [Al-Balad: 7], yakni: dia lalai akan kekuasaan Allah, dan akan ilmu-Nya yang meliputi seluruh makhluk yang menunjukkan keduanya bahwa Dia menciptakan indra pengetahuan, yang di antaranya adalah dua mata, dan menciptakan alat kejelasan, yaitu lidah dan dua bibir, maka bagaimana mungkin Pemberi ilmu kepada manusia tidak mampu dan tidak mengetahui keadaan mereka?!
- Firman-Nya: “أَلَمْ نَجْعَلْ” hamzah untuk pertanyaan, dan boleh bahwa pertanyaan ini bersifat konfirmasi, dan bahwa itu bersifat pengingkaran.
- Pembatasan pada dua mata; karena keduanya adalah indra yang paling bermanfaat, dan karena yang dijadikan alasan adalah pengingkaran dugaannya bahwa tidak ada yang melihatnya.
- Firman-Nya: “وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ” (dan Kami telah menunjukinya dua jalan): “النَّجْد” adalah tanah yang ditinggikan dengan ketinggian kurang dari gunung, dan diekspresikan dengan “النَّجْدَينِ” (dua jalan tinggi) untuk kebaikan dan kejahatan, dan keduanya dijadikan dua jalan tinggi; karena sulitnya mengikuti salah satunya, yaitu kebaikan, maka itu dimenangkan atas kedua jalan. Atau karena masing-masing sulit dalam aspek tertentu; jalan kebaikan kesulitannya ada dalam menempuhnya, dan jalan kejahatan kesulitannya ada dalam akibat-akibatnya; oleh karena itu diekspresikan setelah ini dengan “الْعَقَبَةَ” [Al-Balad: 11] (tanjakan yang sulit).
- Dan dalam penalaran ini dimasukkan pula anugerah kepada manusia dengan apa yang telah dikaruniakan kepadanya berupa sarana-sarana hidup yang lurus.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
﴿فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ ۖ ١١ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا الْعَقَبَةُ ۗ ١٢ فَكُّ رَقَبَةٍۙ ١٣ اَوْ اِطْعَامٌ فِيْ يَوْمٍ ذِيْ مَسْغَبَةٍۙ ١٤ يَّتِيْمًا ذَا مَقْرَبَةٍۙ ١٥ اَوْ مِسْكِيْنًا ذَا مَتْرَبَةٍۗ ١٦ ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِۗ ١٧ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ الْمَيْمَنَةِۗ ١٨ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰيٰتِنَا هُمْ اَصْحٰبُ الْمَشْـَٔمَةِۗ ١٩ عَلَيْهِمْ نَارٌ مُّؤْصَدَةٌ ࣖ ٢٠ ﴾
Kosakata yang Sulit:
فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ: Artinya: dia tidak menaklukkan rintangan dan tidak melampauinya. “Iqtiham” berarti memasuki perkara yang sulit dan melampauinya dengan kesulitan. “Al-Aqabah” adalah jalan yang sulit di gunung. Al-Aqabah adalah perumpamaan yang Allah berikan untuk perjuangan melawan hawa nafsu, diri sendiri, dan setan dalam amal kebajikan, yang diumpamakan seperti orang yang bersusah payah mendaki rintangan. Allah berfirman: dia tidak membebankan dirinya dengan kesulitan membebaskan budak atau memberi makan. Ada yang mengatakan bahwa itu adalah rintangan Jahannam, atau rintangan antara surga dan neraka. Akar kata “qahama” menunjukkan datangnya sesuatu tanpa persiapan, dan akar kata “aqaba” menunjukkan ketinggian, kesulitan, dan kesukaran.
فَكُّ رَقَبَةٍ: Artinya membebaskan budak dan melepaskannya dari belenggu perbudakan. Segala sesuatu yang kamu lepaskan berarti kamu telah membebaskannya. Akar kata “fakaka” menunjukkan pembukaan dan pelepasan, dan akar kata “raqaba” menunjukkan tegaknya sesuatu untuk memperhatikan sesuatu, dari situlah kata “raqabah” (leher) diambil karena ia tegak, dan karena orang yang melihat pasti berdiri tegak ketika melihat.
مَسْغَبَةٍ: Artinya kelaparan. Akar kata “saghaba” menunjukkan kelaparan.
مَتْرَبَةٍ: Artinya kemiskinan. Dikatakan: seseorang menjadi miskin seolah-olah dia menempel dengan tanah, sehingga dia tidak memiliki apa-apa selain tanah. Akar kata “taraba” di sini adalah tanah dan apa yang berasal darinya.
بِالْمَرْحَمَةِ: Artinya kasih sayang, simpati, dan saling mengasihi di antara mereka. Akar kata “rahima” menunjukkan kelembutan, kasih sayang, dan belas kasihan.
الْمَيْمَنَةِ: Artinya kanan, atau berasal dari kata “yumn” yang merupakan lawan dari kesialan. “Yumn” adalah keberkahan.
الْمَشْأَمَةِ: Artinya kiri. Akar kata “sya’ama” menunjukkan sisi kiri.
مُؤْصَدَةٌ: Artinya tertutup rapat, terkunci. Akar kata “wasada” menunjukkan menggabungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain.
Penjelasan i’rab (tata bahasa):
Firman Allah:
فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ * وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ * فَكُّ رَقَبَةٍ * أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ * يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ
Pada firman Allah: فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ terdapat kejanggalan karena tidak adanya pengulangan “لا” di sini, padahal kata tersebut masuk ke kata kerja masa lampau (fi’il madhi) tanpa bermakna doa. Para ahli bahasa mengatakan bahwa seharusnya kata tersebut diulang, seperti dalam firman Allah: فَلَا صَدَّقَ وَلَا صَلَّى [Al-Qiyamah: 31].
Jawaban atas kejanggalan ini: Yang wajib adalah pengulangan kata tersebut baik secara lafazh maupun makna, dan di sini kata tersebut diulang secara makna. Hal ini karena penafsiran “al-aqabah” dengan berbagai perkara yang dijelaskan mengharuskan penafsiran “iqtiham” juga. Jadi, فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ bermakna: dia tidak membebaskan budak dan tidak memberi makan anak yatim. Bisa juga dikatakan bahwa tidak adanya pengulangan “لا” di sini karena sudah tercukupi dengan firman-Nya: ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آَمَنُوا [Al-Balad: 17], seakan-akan dikatakan: maka dia tidak menaklukkan rintangan dan tidak beriman.
Disebutkan juga pendapat bahwa pengulangan kata tersebut tidak wajib, dan kata tersebut seperti “لَمْ”. Jika “لَا” bermakna “لَمْ”, maka tidak wajib diulang, sebagaimana tidak wajibnya pengulangan “لَمْ”. Jika kata tersebut diulang di suatu tempat, seperti: فَلَا صَدَّقَ وَلَا صَلَّى [Al-Qiyamah: 31], maka itu seperti pengulangan “لَمْ”, misalnya: لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا [Al-Furqan: 67]. Yang diyakini adalah banyaknya pengulangan, adapun kewajibannya maka tidak diyakini.
فَكُّ adalah khabar dari mubtada’ yang dibuang, yaitu: menaklukkan rintangan adalah membebaskan budak atau memberi makan.
يَتِيمًا adalah objek (maf’ul bih) dari kata benda إِطْعَامٌ.
Makna Keseluruhan:
Allah Ta’ala berfirman, mendorong untuk berbuat kebaikan dan memperbaiki diri: Orang kaya belum melewati rintangan yang berat dan belum melaluinya dengan berjuang melawan hawa nafsu dan setan, dengan menafkahkan hartanya dalam berbagai bentuk kebajikan dan kebaikan. Dan tahukah kamu apakah rintangan itu? Kemudian Allah Ta’ala menjelaskannya, Dia berfirman: Melewati rintangan itu adalah membebaskan seseorang dari perbudakan, atau memberi makan pada masa kelaparan yang hebat kepada anak yatim yang memiliki hubungan kekerabatan, atau orang miskin yang tidak memiliki apa-apa. Kemudian orang yang berinfak itu termasuk di antara orang-orang yang beriman, dan mereka saling berwasiat untuk bersabar dan saling mengasihi kepada orang-orang miskin dan anak-anak yatim; mereka yang memiliki sifat-sifat tersebut adalah golongan kanan. Kemudian Allah Ta’ala menjelaskan buruknya akibat bagi orang-orang kafir, Dia berfirman: Dan orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah adalah golongan kiri, mereka berada dalam api yang tertutup rapat dan terkunci; mereka tidak akan keluar darinya selamanya.
Tafsir Ayat-ayat:
فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ (11) –
“Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar”
Hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya: Setelah Allah Ta’ala menjelaskan nikmat-nikmat agung yang telah Dia berikan kepada manusia, Allah melanjutkannya dengan mendorong mereka untuk terus berbuat kebaikan dan memperbaiki diri. Allah Ta’ala berfirman: فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ (11). Artinya: Orang kaya belum melewati rintangan yang berat, belum berusaha mendakinya dan melaluinya dengan berjuang melawan hawa nafsu dan setan, dengan menafkahkan hartanya dalam berbagai bentuk kebajikan dan kebaikan.
وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ (12) –
“Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu?”
Hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah menjelaskan bahwa tidak ada keselamatan dari kesusahan kecuali dengan melewati rintangan ini, Allah mulai menjelaskan apa itu al-‘aqabah (rintangan) dengan terlebih dahulu menggambarkan beratnya persoalan ini karena besarnya nilainya. وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ (12). Artinya: Dan tahukah kamu apakah rintangan agung yang Allah dorong untuk dilalui itu?
فَكُّ رَقَبَةٍ (13) –
“(Yaitu) memerdekakan budak”
Artinya: Membebaskan seseorang dari perbudakan. Seperti firman Allah Ta’ala: “Dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang dalam perjalanan, peminta-minta dan untuk memerdekakan hamba sahaya” [Al-Baqarah: 177].
Dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ. bersabda: “Barangsiapa memerdekakan seorang budak muslim, Allah akan membebaskan setiap anggota tubuhnya dari api neraka, sampai kemaluannya dibebaskan oleh kemaluan budak tersebut.”
Dari Al-Bara’ bin ‘Azib, ia berkata: “Seorang Arab Badui datang kepada Nabi ﷺ. dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, ajarkan kepadaku amalan yang dapat memasukkanku ke dalam surga.’ Beliau bersabda: ‘Jika kamu mempersingkat pertanyaan, kamu telah mengajukan pertanyaan yang luas. Merdekakanlah jiwa dan bebaskanlah budak.’ Orang itu bertanya: ‘Wahai Rasulullah, bukankah keduanya sama?’ Beliau menjawab: ‘Tidak; memerdekakan jiwa berarti kamu sendiri yang memerdekakan, sedangkan membebaskan budak berarti kamu membantu dalam pembebasan.'”
أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ (14) –
“Atau memberi makan pada hari kelaparan”
Artinya: Atau memberikan makanan pada masa kelaparan yang hebat. Seperti firman Allah Ta’ala: “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan” [Al-Insan: 8].
يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ (15) –
“(Kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat”
Artinya: Kepada anak yatim dari kalangan kerabatnya.
أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ (16) –
“Atau orang miskin yang sangat fakir”
Artinya: Atau kepada orang miskin yang tidak memiliki apa-apa.
ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ (17) –
“Dan termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang”
ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آَمَنُوا –
“Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman”
Artinya: Kemudian sesungguhnya orang yang menafkahkan hartanya untuk membebaskan budak, atau memberi makan anak yatim yang masih kerabat, atau memberi makan orang miskin yang membutuhkan: seharusnya bersama dengan itu dia termasuk di antara orang-orang yang beriman dengan apa yang wajib diimani; karena perbuatan-perbuatan baik itu hanya bermanfaat jika disertai dengan keimanan.
Seperti firman Allah Ta’ala: “Dan barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia beriman, maka mereka itulah yang usahanya dibalas dengan baik” [Al-Isra’: 19]. Dan Allah berfirman: “Dan barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedang dia beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga dan mereka diberi rezeki di dalamnya dengan tanpa hisab” [Ghafir: 40].
Dari Aisyah, ia berkata: “Saya bertanya: ‘Wahai Rasulullah, Ibnu Jud’an pada masa jahiliyah menyambung silaturahmi dan memberi makan orang miskin, apakah itu bermanfaat baginya?’ Beliau menjawab: ‘Itu tidak bermanfaat baginya; karena dia tidak pernah sehari pun berkata: Ya Tuhanku, ampunilah dosa-dosaku pada hari pembalasan.'”
وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ – “Dan mereka saling berpesan untuk bersabar”
Artinya: Dan dia termasuk orang yang saling berwasiat untuk bersabar.
وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ – “Dan saling berpesan untuk berkasih sayang”
Artinya: Dan dia termasuk orang yang saling berwasiat untuk menyayangi orang-orang miskin, anak-anak yatim, orang-orang lemah, dan seluruh makhluk.
Dari Nu’man bin Basyir, ia berkata: Rasulullah ﷺ. bersabda: “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, saling menyayangi, dan saling mengasihi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan dengan tidak tidur dan demam.”
Dari Jarir bin Abdullah, ia berkata: Rasulullah ﷺ. bersabda: “Allah tidak akan menyayangi orang yang tidak menyayangi manusia.”
أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ (18) – “Mereka itulah golongan kanan”
Hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya: Setelah Allah memuji orang-orang yang beriman, Dia melanjutkan pujian itu dengan kabar gembira bagi mereka.
أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ (18) – “Mereka itulah golongan kanan”
Artinya: Orang-orang yang memiliki sifat-sifat yang telah disebutkan sebelumnya adalah golongan kanan.
Kemudian Allah Subhanahu menjelaskan buruknya akibat bagi orang-orang kafir, Dia berfirman:
وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآَيَاتِنَا هُمْ أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ (19) – “Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itulah golongan kiri”
Artinya: Dan orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah adalah golongan kiri.
عَلَيْهِمْ نَارٌ مُؤْصَدَةٌ (20) – “Mereka berada dalam api yang tertutup rapat”
Artinya: Mereka berada dalam api yang tertutup rapat; mereka tidak akan keluar darinya selamanya.
Pelajaran Pendidikan:
1- Allah Ta’ala berfirman: فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ (Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar). Penyangkalan terhadap upaya melewati rintangan menunjukkan bahwa dia lebih memilih kenikmatan duniawi yang cepat daripada yang akan datang di akhirat. Jika dia memiliki tekad dan sabar, dia akan bisa melewati rintangan itu.
2- Allah Ta’ala berfirman: وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ * فَكُّ رَقَبَةٍ (Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu? [Yaitu] memerdekakan budak) hingga akhir ayat. Dalam penjelasan “al-‘aqabah” dengan hal-hal yang disebutkan; memerdekakan budak, memberi makan anak yatim dan orang miskin: ada petunjuk tentang pentingnya berinfak dengan benar, bukan seperti klaim palsu manusia ketika berkata: “Aku telah menghabiskan banyak harta” [Al-Balad: 6]!
3- Memberi makan mewajibkan masuk surga, menjauhkan dari neraka, dan menyelamatkan darinya, seperti firman Allah Ta’ala:
فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ * وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ * فَكُّ رَقَبَةٍ * أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ * يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ * أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ
(Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar. Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu? [Yaitu] memerdekakan budak, atau memberi makan pada hari kelaparan, [kepada] anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir). Dan dalam hadits shahih, Nabi ﷺ. bersabda: “Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun dengan setengah kurma.”
4- Dalam firman Allah Ta’ala: أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ (Atau memberi makan pada hari kelaparan) terdapat keutamaan memberi makan, khususnya ketika dibutuhkan pada masa kelaparan.
Saya akan menerjemahkan teks Arab tersebut ke bahasa Indonesia.
5- Allah berfirman: “Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan…” Allah menjadikan amal saleh sebagai jalan mendaki yang sukar, dan melakukannya berarti menaklukkan jalan tersebut; karena di dalamnya terdapat kesulitan dan perjuangan melawan hawa nafsu.
6- Allah berfirman: “Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan.” Allah mengkhususkan golongan kanan sebagai orang-orang yang memiliki kesabaran dan kasih sayang, yang memiliki kedua sifat ini, dan mereka juga mewasiatkannya kepada orang lain. Ini adalah batasan bahwa golongan kanan adalah mereka yang memiliki kedua sifat tersebut. Manusia terbagi menjadi empat kelompok terkait kedua sifat ini: kelompok yang disebutkan adalah yang terbaik. Yang terburuk adalah mereka yang tidak memiliki kesabaran dan kasih sayang, lalu orang yang memiliki kesabaran tetapi tidak memiliki kasih sayang, kemudian kelompok keempat yaitu orang yang memiliki kasih sayang dan kelembutan hati tetapi tidak memiliki kesabaran.
7- Dalam firman Allah: “Dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang” terdapat bukti bahwa saling berwasiat dalam kebaikan termasuk akhlak terpuji, perbuatan yang diridhai, dan jalan untuk meraih surga serta selamat dari neraka.
8- Dalam firman Allah: “Dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang” terdapat kewajiban bagi seseorang untuk menunjukkan orang lain kepada jalan kebenaran, dan mencegahnya dari menempuh jalan kejahatan dan kebatilan semampunya.
9- Dalam firman Allah: “Dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang” terdapat dorongan untuk saling berwasiat dalam kasih sayang beserta kesabaran; karena kesabaran adalah fondasi seluruh amal saleh; karena amal saleh tidak lepas dari menahan syahwat nafsu, dan itu termasuk kesabaran. Sedangkan kasih sayang adalah fondasi kebaikan masyarakat Islam, Allah berfirman: “Mereka berkasih sayang sesama mereka” [Al-Fath: 29], dan saling berwasiat dalam kasih sayang adalah keutamaan yang agung.
10- Allah berfirman: “Dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.” Seseorang harus bersabar dan berkasih sayang, inilah keberanian dan kemurahan hati; oleh karena itu Allah menggabungkan salat dan zakat terkadang – yang merupakan berbuat baik kepada makhluk, dan terkadang menggabungkan keduanya dengan kesabaran. Ketiga hal ini sangat diperlukan: salat, zakat, dan kesabaran. Kemaslahatan orang-orang beriman tidak akan terwujud kecuali dengan hal tersebut; dalam perbaikan diri mereka dan memperbaiki orang lain, terutama ketika fitnah dan ujian semakin kuat; maka kebutuhan akan toleransi dan kesabaran menjadi lebih penting. Kebutuhan akan toleransi dan kesabaran berlaku umum bagi seluruh anak Adam, kemaslahatan agama dan dunia mereka tidak akan tegak kecuali dengannya; oleh karena itu mereka semua saling memuji keberanian dan kemurahan hati, bahkan itu umumnya yang dipuji oleh para penyair dalam puisi mereka, dan mereka juga saling mencela sifat kikir dan pengecut.
Pelajaran Ilmiah dan Keindahan:
1- Allah berfirman: “Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan…” Setiap tempat dalam Al-Qur’an yang menyebutkan “wa maa adraaka” (dan tahukah kamu) selalu diikuti dengan penjelasannya, dan setiap tempat yang disebutkan dengan lafaz “wa maa yudriika” tidak diikuti dengan penjelasannya, seperti firman Allah: “Dan tahukah kamu, boleh jadi hari kiamat itu sudah dekat” [Asy-Syura: 17].
2- Dalam firman Allah: “Melepaskan budak dari perbudakan” terdapat kecenderungan syariat terhadap pembebasan budak, dan ini menunjukkan hakikat sikap Islam terhadap perbudakan, serta sejauh mana perhatian dan keinginannya untuk membebaskan budak. Di sini Allah menjadikan pembebasan budak sebagai tangga untuk mengatasi jalan yang sukar, dan menjadikannya sebagai pembebasan bagi yang membebaskan dari neraka, anggota tubuh demi anggota tubuh. Diketahui bahwa setiap Muslim berusaha untuk itu, dan Allah menjadikannya sebagai kafarat untuk setiap sumpah, untuk zihar antara suami istri, dan kafarat untuk pembunuhan tidak sengaja. Semua itu adalah jalan-jalan untuk membebaskan budak, sementara tidak dibuka untuk perbudakan kecuali satu pintu, yaitu tawanan dalam peperangan dengan kaum musyrikin saja. Dalam hal ini terdapat bantahan terhadap para orientalis dan orang-orang yang terpengaruh oleh mereka dalam tuduhan mereka bahwa Islam haus akan perbudakan terhadap orang-orang merdeka!
3- Allah berfirman: “Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar. Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu? (Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan.” Ini mencakup pembebasan budak dan membebaskan tawanan dari musuh; karena ini termasuk membebaskan budak. Dalam ayat ini terdapat dalil tentang keutamaan pembebasan budak.
4- Dalam firman Allah: “Melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan” menunjukkan bahwa pembebasan budak adalah jenis sedekah yang paling utama; alasannya: didahulukannya pembebasan budak atas sedekah.
5- Dalam firman Allah: “Anak yatim yang ada hubungan kerabat” terdapat petunjuk bahwa sedekah kepada kerabat lebih utama daripada kepada orang asing.
6- Dalam firman Allah: “Anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir” terdapat keutamaan memberi makan kepada anak yatim – khususnya yang masih kerabat, dan memberi makan kepada orang miskin.
7- Allah berfirman: “Atau orang miskin yang sangat fakir.” Ayat ini dijadikan dalil bahwa orang miskin terkadang memiliki sesuatu; karena jika kata “miskin” menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak memiliki apa-apa, maka mengikatnya dengan ungkapan “yang sangat fakir” akan menjadi pengulangan, dan itu tidak boleh. Jadi yang dimaksud dengan miskin di sini adalah fakir; karena Allah tidak menyebutkannya secara mutlak, tetapi mengikatnya dengan sifat-sifat orang fakir, berbeda dengan “miskin” yang sifatnya telah disebutkan secara mutlak.
8- Mengenai firman Allah: “Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman”
Pertanyaan: Ketika iman merupakan syarat untuk mendapatkan manfaat dari ketaatan ini, maka seharusnya iman didahulukan sebelumnya. Apa alasan Allah Ta’ala menempatkannya setelah amal-amal tersebut dengan firman-Nya: “Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman”?
Jawaban dari beberapa segi:
Pertama: Bahwa penyusunan dengan kata “kemudian” hanyalah untuk urutan penyebutan saja. Jadi, keadaannya sebagai orang yang beriman tidak berurutan dengan apa yang sebelumnya kecuali sekadar urutan penyebutan, seperti yang dikatakan: “Sesungguhnya orang yang menjadi pemimpin kemudian ayahnya menjadi pemimpin, kemudian sebelum itu kakeknya juga telah menjadi pemimpin.” Dengan ucapan “kemudian ayahnya menjadi pemimpin” tidak dimaksudkan bahwa kepemimpinan ayah terjadi setelahnya, tetapi maksudnya: kemudian sebutlah bahwa ayahnya juga menjadi pemimpin, begitu juga dalam ayat ini.
Kedua: Mungkin juga dipahami secara literal, dengan makna: kemudian pada akhir urusannya dia termasuk orang-orang yang beriman, yaitu dia meninggal dalam keadaan beriman. Karena sesungguhnya orang yang meninggal dalam keadaan beriman, amal-amal kebaikannya akan bermanfaat, dan jika tidak, maka tidak bermanfaat. Maka penempatan “kemudian” menunjukkan urutan tingkatan, karena iman berada di atas semua yang disebutkan sebelumnya; sebab iman secara independen menjadi sebab keselamatan, dan iman adalah syarat untuk diterimanya amal-amal.
Ketiga: Bahwa orang yang melakukan amal-amal kebaikan ini untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala sebelum beriman kepada Muhammad ﷺ, kemudian beriman setelah itu kepada Muhammad ﷺ, maka dia akan mendapatkan pahala atas kebaikan yang telah dilakukannya sebelumnya.
9- Mengenai firman Allah: “Dan saling menasihati untuk kesabaran”
Ini mengisyaratkan pengagungan terhadap perintah Allah, dan dalam firman-Nya: “Dan saling menasihati untuk saling berkasih sayang” mengisyaratkan kasih sayang terhadap makhluk Allah. Dan dasar dari semua ketaatan hanyalah pada dua prinsip ini.
Aspek Keindahan Ayat-ayat:
1- Firman Allah: “Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar. Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu? (Yaitu) melepaskan perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang masih kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir.”
- Firman-Nya: “Maka dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar” mungkin merupakan penjelasan tambahan yang sesuai dengan firman-Nya: “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” [Al-Balad: 10], yaitu: Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, namun dia tidak menempuh jalan yang mengarah kepada kebaikan. Dan mungkin juga merupakan penjelasan dari kalimat “Dia berkata, ‘Aku telah menghabiskan harta yang banyak'” [Al-Balad: 6], dan apa yang ada di antara keduanya adalah sisipan. Dan kalimat “Dia tidak menempuh jalan yang mendaki” adalah pertanyaan yang dihilangkan kata tanyanya, yaitu pertanyaan pengingkaran. Maknanya: Dia mengaku telah menghabiskan banyak harta untuk hal-hal yang tidak baik seperti judi, minuman keras, dan sejenisnya, mengapa dia tidak menghabiskannya untuk kebaikan dan keutamaan, dengan membebaskan budak dan memberi makan orang miskin di masa kelaparan?! Karena pengeluaran untuk hal tersebut tidak tersembunyi dari orang-orang, berbeda dengan apa yang dia klaim telah dibelanjakan.
- Firman-Nya: “Maka dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar” kata “iqtiham” adalah bentuk ifti’al; untuk menunjukkan kesulitan seperti kata “iktasaba” (berusaha). Menjalani amal saleh diumpamakan seperti mendaki bukit gunung dalam hal beratnya bagi jiwa dan kesulitannya.
- Pembicaraan ini disampaikan dalam konteks celaan terhadap orang-orang yang tidak mendapatkan petunjuk untuk melakukan amal saleh, padahal telah ada sebab-sebab untuk mendapatkan petunjuk berupa kemampuan memahami dan berbicara.
- Firman-Nya: “Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu?” adalah sisipan yang menegaskan makna kesamaran dan penjelasan; karena “Maka dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar” dijelaskan dengan firman-Nya: “Yaitu melepaskan perbudakan, atau memberi makan”. Yang dijelaskan bernada negatif, maka yang menjelaskan juga demikian; karena keduanya memiliki hubungan yang sama, seolah-olah dikatakan: Dia tidak membebaskan budak, dan tidak memberi makan orang miskin. Ini untuk lebih menegaskan dan menunjukkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah Ta’ala. Maknanya: Engkau tidak mengetahui hakikat kesulitannya bagi jiwa, dan hakikat pahalanya di sisi Allah Ta’ala.
- Firman-Nya: “Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu?” dikatakan bahwa ini adalah keterangan keadaan dari “al-‘aqabah” dalam firman-Nya: “Maka dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar”; untuk mengagungkannya, dan bahwa karena pentingnya, orang yang diajak bicara ditanya apakah ada yang memberitahukan kepadanya apa itu? Artinya: Dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar padahal jalan itu layak untuk ditempuh. Pengagungan ini bertujuan untuk menimbulkan rasa ingin tahu tentang apa yang dimaksud dengan “al-‘aqabah” (jalan yang mendaki dan sukar).
- Kata “ma” yang pertama dan kedua dalam firman-Nya: “Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu?” adalah pertanyaan. Maknanya: Hal apa yang memberitahumu apa itu jalan yang mendaki dan sukar? Artinya: Yang memberitahumu jawaban dari pertanyaan ini, sebagai kiasan bahwa ini adalah perkara yang sangat penting yang memerlukan seseorang untuk memberitahukannya kepadamu. Dan pembicaraan dalam firman-Nya: “Dan tahukah kamu” ditujukan kepada yang tidak ditentukan; karena ini seperti ungkapan perumpamaan. Demikian menurut satu pendapat.
- Firman-Nya: “fakku raqabatin” (membebaskan budak) dibaca dengan meng-rafa’-kan kata “fakku” dan meng-idafah-kannya kepada “raqabatin”, serta meng-rafa’-kan “it’amun” sebagai ataf (sambungan) kepada “fakku”. Kalimat “fakku raqabatin” adalah penjelasan untuk “al-‘aqabah”, dan perkiraannya: “hiya fakku raqabatin” (yaitu membebaskan budak), di mana mubtada’ (subjek) dihilangkan mengikuti kebiasaan penggunaan bahasa.
- Juga dibaca “fakka” dengan memfathahkan kaf sebagai bentuk kata kerja lampau, dan menashabkan “raqabatan” sebagai objek dari “fakka”, atau “at’ama” tanpa alif setelah ‘ain dari kata “it’am” sebagai kata kerja lampau yang diatafkan kepada “fakka”. Maka kalimat “fakka raqabatan” menjadi penjelasan untuk kalimat “fala iqtahamal ‘aqabah”, dan yang di antara keduanya adalah sisipan, atau bisa juga menjadi badal (pengganti) dari kalimat “fala iqtahamal ‘aqabah”, artinya: dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar, dan tidak membebaskan budak atau memberi makan.
- Siapa yang membaca “fakku” dengan rafa’, maka itu adalah penafsiran dari “iqtiham al-‘aqabah” (menempuh jalan yang mendaki), dengan perkiraan: “Dan tahukah kamu apa itu menempuh jalan yang mendaki?” Sedangkan siapa yang membaca sebagai kata kerja lampau “fakka”, maka tidak perlu ada perkiraan mudaf, tetapi pengagungan ditujukan pada “al-‘aqabah” (jalan mendaki) itu sendiri, dan “fakka” menjadi badal dari “iqtahama”.
- Pemilihan kata “raqabah” (leher) di sini; padahal yang dimaksud adalah diri tawanan atau budak; karena hal pertama yang terlintas dalam pikiran seseorang ketika melihat salah satu dari mereka adalah lehernya; karena pada umumnya mereka diikat dari leher. Dan kata “fakk” (melepaskan) digunakan untuk membebaskan orang yang ditawan atau dimiliki; karena kemiripan pembebasan perkara yang sulit dengan penarikan dari tangan pemegang yang menolak melepaskannya.
- Firman-Nya: “au it’amun fi yaumin dzi masghabatin” (atau memberi makan pada hari kelaparan) – penambahan kata “dzi” kepada “masghabatin” menunjukkan kekhususan hari itu dengan kelaparan, yaitu hari kelaparan, dan itu adalah musim dingin dan musim kekeringan. Alasan pengkhususan “hari kelaparan” untuk memberi makan adalah karena pada masa kelaparan, orang-orang menjadi sangat kikir dengan harta mereka karena takut masa kelaparan akan berkepanjangan dan kebutuhan akan makanan. Maka memberi makan pada waktu tersebut lebih utama, dan itulah “al-‘aqabah” (jalan yang mendaki dan sukar), dan di bawah “al-‘aqabah” ada tingkatan-tingkatan yang berbeda-beda.
- “Al-yatim” (anak yatim) adalah orang yang tidak memiliki ayah dan masih belum baligh. Alasan pengkhususannya untuk diberi makan adalah karena dia adalah orang yang kemungkinan besar kurang kenyang; karena usianya yang masih kecil, lemahnya kemampuan bekerja, kehilangan orang yang menafkahinya, dan malunya untuk meminta apa yang dibutuhkannya; oleh karena itu dianjurkan untuk memberinya makan meskipun belum mencapai tingkat kemiskinan dan kefakiran. Dan digambarkan sebagai “dza maqrabatin” (yang masih kerabat), yaitu kerabat dari orang yang memberi makan; karena sifat ini menegaskan untuk memberinya makan; karena dalam keadaannya sebagai yatim ada pertolongan kepadanya dengan memberi makan, dan dalam keadaannya sebagai kerabat ada silaturahmi.
- Jika yang dimaksud dengan “manusia” adalah jenis tertentu—yaitu orang-orang musyrik—maka penafian membebaskan budak dan memberi makan adalah kiasan tentang ketiadaan penghiasan diri mereka dengan syariat Islam; karena membebaskan budak dan memberi makan orang-orang yang kelaparan termasuk bentuk ibadah yang dibawa oleh Islam seperti memberi makan orang-orang yang kelaparan dan yang membutuhkan. Dan di dalamnya terdapat sindiran dengan mencela orang-orang musyrik bahwa mereka hanya menyukai kesombongan dan riya serta memuaskan diri mereka dengan itu, atau untuk menghibur teman-teman, dan itulah kebanyakan keadaan mereka. Artinya: mereka tidak memberi makan anak yatim dan orang miskin pada hari kelaparan, yaitu makanan yang diridhai Allah; karena di dalamnya terdapat manfaat bagi hamba-hamba-Nya yang membutuhkan, dan tidak seperti pemberian makan kalian dalam jamuan-jamuan dan pesta-pesta serta pertemuan yang tidak memberikan manfaat kepada orang-orang yang diberi makan; karena untuk jamuan-jamuan itu mereka mengundang orang-orang seperti mereka dari kalangan orang-orang kaya tanpa adanya kebutuhan terhadap makanan, mereka hanya menginginkan kesenangan atau kesombongan.
- Dan jika yang dimaksud dengan “manusia” adalah satu orang tertentu, maka boleh jadi maknanya seperti yang telah disebutkan sebelumnya, dan boleh jadi itu adalah celaan kepadanya karena kekikiran dan kesombongan palsu, serta pengungkapan bahwa dia tidak pernah melakukan perbuatan yang bermanfaat bagi kaumnya sebelum Islam, dia tidak memberikan tebusan untuk membebaskan tawanan atau orang yang ditahan karena permasalahan darah, atau memberikan kemerdekaan kepada seorang budak.
- Dalam firman-Nya: “Anak yatim yang mempunyai hubungan kekerabatan * Atau orang miskin yang sangat fakir” terdapat ihtibak (elipsis balaghah); penyebutan kedekatan (kerabat) di awal menunjukkan lawannya di bagian kedua, dan penyebutan kemiskinan (debu) di bagian kedua menunjukkan lawannya di bagian pertama. Rahasia di balik ini adalah bahwa Allah menyebutkan hubungan kekerabatan pada anak yatim yang membangkitkan kasih sayang, dan pada orang miskin menyebutkan sifat yang membangkitkan belas kasih dan kelembutan. Tujuan memberi makan mereka hanyalah untuk memenuhi kebutuhan mereka, termasuk anak yatim yang jauh (bukan kerabat) dan orang fakir, yang lebih utama lagi, meskipun mereka orang asing.
- Firman Allah Ta’ala: “Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling menasihati untuk bersabar dan saling menasihati untuk berkasih sayang”
- Dalam firman-Nya: “Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman” dikatakan: kata “kemudian” menunjukkan keimanan yang lebih tinggi derajatnya, menunjukkan bahwa makna kalimat yang dihubungkan dengannya lebih tinggi kedudukannya dalam tujuan pembicaraan dibandingkan kalimat sebelumnya. Makna ayatnya menjadi: “Maka dia tidak melewati jalan yang mendaki dengan membebaskan budak atau memberi makan, setelah dia menjadi orang beriman”, karena iman adalah yang terdahulu dan didahulukan atas yang lainnya, dan tidak ada amal saleh yang tegak kecuali dengan iman, atau penundaan dalam penyebutan, seolah-olah dikatakan: “Kemudian ingatlah bahwa dia termasuk orang-orang yang beriman.”
- Dalam kata kerja “kaana” (adalah) terdapat isyarat bahwa imannya mendahului upaya melewati jalan mendaki yang diminta darinya dengan cara teguran atas ketiadaannya. Maka menghubungkan “Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman” dengan kalimat-kalimat teguran dan celaan, menunjukkan bahwa golongan manusia ini – atau orang tertentu ini – bukanlah termasuk orang-orang beriman, dan bahwa dia tercela atas kelalaiannya karena ketiadaan imannya, dan seandainya dia melakukan beberapa amal baik namun tidak termasuk orang-orang yang beriman, maka amalnya tidak akan memberinya manfaat sama sekali, karena dia telah kehilangan bagian terbesar dari kebaikan, sebagaimana ditunjukkan oleh kata “kemudian” yang menunjukkan tingkatan yang jauh, ini menandakan bahwa iman adalah syarat diakuinya amal-amal.
- Allah berfirman di sini: “min alladziina aamanuu” (termasuk orang-orang yang beriman) bukan mengatakan: “thumma kaana mu’minan” (kemudian dia seorang mukmin); karena keadaannya sebagai bagian dari orang-orang yang beriman lebih menunjukkan keteguhan iman daripada penyifatan sebagai mukmin; karena sifat kelompok lebih kuat, karena banyaknya yang disifati dengannya; karena banyaknya kebaikan adalah kebaikan. Kemudian dalam ayat ini ada penguatan lain untuk sifat tersebut, yaitu menjadikannya dengan kata penghubung (mausul) yang menunjukkan bahwa mereka dikenal dengan keimanan di antara kelompok-kelompok.
- Objek kata “aamanuu” (beriman) dihilangkan karena sudah diketahui, yaitu: beriman kepada Allah semata, dan kepada Rasul-Nya Muhammad, dan agama Islam; sehingga kata kerja tersebut seolah tidak memerlukan objek, dan juga agar dari penyebutan “orang-orang yang beriman” dapat beralih ke pujian kepada mereka dengan firman-Nya: “dan saling menasihati untuk bersabar dan saling menasihati untuk berkasih sayang”, dan memberi kabar gembira bahwa mereka adalah golongan kanan.
- Yang dikhususkan dalam penyebutan dari sifat-sifat orang beriman adalah saling menasihati untuk bersabar dan saling menasihati untuk berkasih sayang; karena itu adalah sifat mereka yang paling mulia setelah iman, dan itu juga merupakan kiasan tentang sifat kasih sayang mereka; karena orang yang mewasiatkan kasih sayang adalah orang yang mengetahui nilainya dan keutamaannya, maka dia melakukannya sebelum mewasiatkannya. Dan di dalamnya terdapat sindiran bahwa kaum musyrikin bukanlah termasuk golongan yang sabar dan bukan termasuk golongan yang memiliki kasih sayang.
- Firman Allah Ta’ala: “Mereka itulah golongan kanan * Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Kami, mereka adalah golongan kiri * Di atas mereka ada api yang tertutup rapat”
- Dimulai dengan kata tunjuk (isim isyarat); untuk membedakan mereka dengan pembedaan yang sempurna; dengan menghadirkan mereka beserta sifat-sifat mereka dalam pikiran pendengar, dengan apa yang ada dalam kata tunjuk berupa maksud memuliakan dan mengagungkan.
- Dalam firman-Nya: “Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling menasihati untuk bersabar dan saling menasihati untuk berkasih sayang * Mereka itulah golongan kanan * Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Kami, mereka adalah golongan kiri” terdapat perbedaan dalam pengungkapan; Allah menunjuk kepada orang-orang beriman sebagai penghormatan bagi mereka, dan bahwa mereka hadir di sisi-Nya Yang Maha Tinggi dalam kedudukan kemuliaan-Nya, dan berada pada posisi orang-orang yang duduk di hadapan-Nya, tidak lebih dari sekadar menunjuk kepada mereka dengan jari. Kemudian digunakan kata tunjuk yang menunjukkan jarak jauh, tidak mengatakan “ha’ula'” (mereka ini); sebagai tanda ketinggian kedudukan mereka di sisi-Nya, dan pencapaian mereka akan kemuliaan derajat dan kedekatan kepada-Nya. Adapun orang-orang kafir, Allah menyebut mereka dengan kata ganti orang ketiga (damir gha’ib) sebagai isyarat bahwa mereka jauh dari kedudukan manifestasi-Nya dan cahaya limpahan-Nya, dan bahwa mereka tidak layak terhubung kepada-Nya meski dengan sebab yang paling lemah, dan ini adalah hal yang sangat mengherankan, maka renungkanlah!
- Kalimat “Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Kami, mereka adalah golongan kiri” merupakan penyempurnaan bagi celaan terhadap manusia yang disebutkan sebelumnya; karena celaan tersebut tidak diikuti dengan ancaman untuknya karena perhatian difokuskan pada yang lebih penting, yaitu menyebutkan keadaan lawan-lawannya dan janji untuk mereka. Maka ketika hak itu telah dipenuhi, pembicaraan kembali mengarah kepada manusia tersebut. Dari susunan yang indah ini muncul keindahan rima yang mengembalikan akhir kepada permulaan, dan keindahan tibaq (pertentangan) antara “maimanah” (kanan) dan “masy’amah” (kiri).
- Kata ganti pemisah (dhamir fashl) dalam firman-Nya: “hum ashhabul masy’amah” (mereka adalah golongan kiri) berfungsi untuk menguatkan hukum, bukan untuk pembatasan; karena pembatasan sudah diperoleh dari penyebutan kalimat yang berlawanan sebelumnya, yaitu “Ulaa’ika ashhabul maimanah” (Mereka itulah golongan kanan).
- Kalimat “Alaihim naarun mu’sadah” (Di atas mereka ada api yang tertutup rapat) adalah badal isytimal (pengganti yang menjelaskan cakupan) dari kalimat “hum ashhabul masy’amah” (mereka adalah golongan kiri), atau isti’naf bayani (kalimat permulaan yang bersifat penjelasan) yang muncul dari pemberitaan bahwa mereka adalah golongan kiri.
- Kata “alaihim” (di atas mereka) terkait dengan kata “mu’sadah” (tertutup rapat), dan didahulukan dari kata yang menjadi pengamalnya; untuk memberikan perhatian pada tertutupnya api atas mereka sebagai percepatan untuk menimbulkan ketakutan. Dan dengan pendahuluan ini terjagalah kesesuaian pemisah-pemisah ayat dengan huruf “ha” dimulai dari firman-Nya: “Falaqtahamal ‘aqabah” [al-Balad: 11].
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
SURAH ASY-SYAMS
Perhatian: Setiap kalimat berikut memiliki rujukan ilmiah yang belum diterjemahkan. Bagi yang memerlukan, silakan merujuk langsung ke situs web aslinya dalam bahasa Arab di: https://dorar.net/tafseer/91
Nama-nama Surah:
Surah ini dinamakan “Surah Asy-Syams” (Matahari), dan juga “Wasy-Syams”. Surah ini juga dikenal dengan nama “Surah Wasy-Syamsi Wa Dhuhaha” (Demi matahari dan cahayanya di pagi hari). Diriwayatkan dari Jabir, ia berkata: “Mu’adz biasa shalat bersama Nabi ﷺ, kemudian ia mendatangi kaumnya dan menjadi imam mereka. Pada suatu malam ia shalat Isya bersama Nabi ﷺ, kemudian mendatangi kaumnya dan menjadi imam mereka, lalu ia memulai dengan Surah Al-Baqarah…” Disebutkan bahwa Nabi ﷺ berkata kepada Mu’adz: “Wahai Mu’adz, apakah kamu ingin menjadi penguji (membuat orang kesulitan)? Bacalah ‘Wasy-Syamsi wa Dhuhaha’, ‘Wadh-Dhuha’, ‘Wal-Laili idza Yaghsya’, dan ‘Sabbihisma Rabbikal A’la’.”
Keterangan Makkiyah dan Madaniyah:
Surah Asy-Syams adalah surah Makkiyah (diturunkan di Mekah). Banyak ahli tafsir telah menyatakan kesepakatan tentang hal ini.
Tujuan Surah:
Di antara tujuan terpenting surah ini adalah:
- Memberikan dorongan untuk melakukan ketaatan dan peringatan dari kemaksiatan.
- Mengancam orang-orang musyrik bahwa mereka akan segera ditimpa azab karena kekufuran mereka, sebagaimana yang telah menimpa orang-orang sebelum mereka.
Tema-tema Surah:
Di antara tema-tema penting yang tercakup dalam surah ini adalah:
- Dimulai dengan sumpah menggunakan makhluk-makhluk yang agung, yang menjadi bukti keindahan ciptaan Allah Ta’ala.
- Menyebutkan keadaan jiwa-jiwa dan tingkatannya dalam jalan petunjuk dan kesesatan.
- Penjelasan tentang baiknya akibat bagi orang yang menyucikan jiwanya, dan buruknya akibat bagi orang yang mengikuti hawa nafsunya.
- Berita tentang kehancuran kaum Tsamud, dan ancaman kepada orang-orang musyrik bahwa mereka akan ditimpa azab sebagaimana yang menimpa kaum Tsamud jika mereka terus berada dalam kekufuran.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Ayat: 1-10
﴿وَالشَّمْسِ وَضُحٰىهَاۖ ١ وَالْقَمَرِ اِذَا تَلٰىهَاۖ ٢ وَالنَّهَارِ اِذَا جَلّٰىهَاۖ ٣ وَالَّيْلِ اِذَا يَغْشٰىهَاۖ ٤ وَالسَّمَاۤءِ وَمَا بَنٰىهَاۖ ٥ وَالْاَرْضِ وَمَا طَحٰىهَاۖ ٦ وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰىهَاۖ ٧ فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَاۖ ٨ قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ ٩ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ ١٠ ﴾
KOSAKATA YANG ASING:
Wa dhuhaaha: Dhuha adalah naiknya cahaya dan kesempurnaannya. Ada pendapat yang mengatakan bahwa dhuha di sini adalah seluruh siang hari. Asal katanya menunjukkan munculnya sesuatu.
Talaaha: Artinya: mengikutinya. Dikatakan: “Talawtu Zaidan” artinya aku mengikuti Zaid. Asal kata “talaa” adalah mengikuti.
Jallaaha: Artinya: menjelaskannya dan menyingkapkannya. At-Tajliyah adalah menampakkan dan menyingkap. Dikatakan: “Jallal amra yujalliihi” artinya ia menampakkan, memunculkan dan menjelaskan perkara itu. Asal kata “jalaa” adalah terbukanya sesuatu dan munculnya.
Yaghsyaaha: Artinya: menutupinya. Asal kata “ghasyiya” menunjukkan tertutupnya sesuatu oleh sesuatu.
Thahaaha: Artinya: membentangkannya dan meluaskannya. Asal kata “thahaa” menunjukkan pengembangan dan perentangan.
Sawwaaha: Artinya: menyempurnakan penciptaannya dan menyeimbangkan anggota-anggotanya. At-Taswiyah adalah menjadikan sesuatu sama (seimbang), yaitu teratur dan lurus. Asal kata “sawiy” menunjukkan kelurusan dan keseimbangan antara dua hal.
Fujuurahaa: Fujuur adalah merusak tabir agama. Dikatakan: “Fajara fujuuran”. Sedangkan Fajr adalah membelah sesuatu dengan pembelahan yang luas. Asal kata “fajara” adalah terbukanya sesuatu, termasuk fujuur yaitu tercurahnya dan terbukanya dalam kemaksiatan.
Aflaha: Artinya: berhasil mendapatkan yang diinginkan dan selamat dari yang ditakuti. Falaah adalah kemenangan dan meraih keinginan, serta keberlangsungan. Asal kata “falaha” di sini menunjukkan kemenangan dan keberlangsungan.
Zakkaaha: Artinya: menyucikannya dari kekufuran dan kemaksiatan, dan memperbaikinya dengan amal-amal saleh. Asal kata “zakiy” menunjukkan kesucian, pertumbuhan, dan penambahan.
Khaaba: Artinya: rugi dan terlewatkan dari kemenangan. Al-Khaibah adalah kehilangan dan kerugian. Asal kata “khaaba” menunjukkan ketiadaan manfaat dan kehilangan.
Dassaaha: Artinya: menguranginya dan menyembunyikannya dengan kefasikan dan kemaksiatan, dari kata “tadsiis” yaitu menyembunyikan sesuatu dalam sesuatu. Asal kata “dassa” menunjukkan masuknya sesuatu ke dalam sesuatu yang tersembunyi dan rahasia.
MAKNA KESELURUHAN:
Allah Ta’ala membuka surah mulia ini dengan bersumpah dengan matahari dan cahayanya, dengan bulan ketika mengikuti matahari, dengan siang ketika menampakkan matahari dan cahayanya, dengan malam ketika menutupi matahari sehingga cahayanya hilang, dengan langit dan Dzat yang membangunnya, dengan bumi dan Dzat yang membentangkannya dari segala sisi.
Kemudian Allah Ta’ala bersumpah dengan setiap jiwa dan Dzat yang menciptakannya, dan menyempurnakan penciptaannya, lalu Allah menjelaskan kepada jiwa jalan kebaikan dan keburukan, ketaatan dan kemaksiatan.
Kemudian Allah Ta’ala berfirman dengan menegaskan pentingnya penyucian jiwa: Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya dan membersihkannya dari kesyirikan, kekufuran, dan kemaksiatan, serta mengembangkannya dengan keimanan dan amal saleh. Dan sungguh rugi dan celaka orang yang menyembunyikan jiwanya dan menjerumuskannya ke dalam kehinaan, aib, dan dosa-dosa.
Tafsir ayat-ayat:
Asy-Syams (Matahari) ayat 1-10:
- Demi matahari dan cahayanya. Artinya: Aku bersumpah dengan matahari dan cahayanya. Sebagaimana Allah berfirman: “Demi waktu dhuha” [Adh-Dhuha: 1].
- Dan demi bulan apabila mengiringinya. Kesesuaian ayat ini dengan sebelumnya: Ketika Allah membuka dengan menyebutkan tanda siang hari, Allah melanjutkan dengan menyebutkan tanda malam hari, dengan berfirman: “Dan demi bulan apabila mengiringinya.” Artinya: Dan Aku bersumpah dengan bulan ketika mengikuti matahari, muncul bersinar setelahnya.
- Dan demi siang apabila menampakkannya. Kesesuaian ayat ini dengan sebelumnya: Setelah menyebut dua tanda (matahari dan bulan), Allah menyebut apa yang menjadi tempat keduanya, dan dimulai dengan keduanya karena manusia tidak dapat hidup baik tanpa keduanya, sebagaimana tubuh tidak dapat hidup baik tanpa jiwa dan akal. Artinya: Dan Aku bersumpah dengan siang ketika menampakkan matahari dan cahayanya.
- Dan demi malam apabila menutupinya. Kesesuaian ayat ini dengan sebelumnya: Setelah menyebut sumber cahaya, Allah menyebut tempat kegelapan, dengan berfirman: “Dan demi malam apabila menutupinya.” Artinya: Dan Aku bersumpah dengan malam ketika menutupi matahari dan menghilangkan cahayanya.
- Dan demi langit serta pembinaannya. Kesesuaian ayat ini dengan sebelumnya: Setelah menyebut dua tanda dan tempat pengaruhnya, Allah menyebut tempat keseluruhannya, dengan berfirman: “Dan demi langit serta pembinaannya.” Artinya: Dan Aku bersumpah dengan langit dan dengan Yang membangunnya. Sebagaimana Allah berfirman: “Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap” [Al-Baqarah: 22]. Dan Allah berfirman: “Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya? Dia telah meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya” [An-Nazi’at: 27-28].
- Dan demi bumi serta penghamparannya. Kesesuaian ayat ini dengan sebelumnya: Setelah menyebut bangunan (langit), Allah menyebut hamparannya. Artinya: Dan Aku bersumpah dengan bumi dan dengan Yang menghamparkannya dari segala sisi. Sebagaimana Allah berfirman: “Dan bumi telah Kami hamparkan” [Al-Hijr: 19].
- Dan demi jiwa serta penyempurnaannya. Artinya: Dan Aku bersumpah dengan setiap jiwa dan dengan Yang menciptakannya, dan menyempurnakan penciptaannya.
- Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya. Artinya: Maka Allah menjelaskan dan memberitahukan kepada jiwa jalan kebaikan dan keburukan, ketaatan dan kemaksiatan, dan menjadikannya siap dan mampu untuk menempuh kedua jalan tersebut.
- Sungguh beruntung orang yang menyucikannya. Artinya: Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya dan membersihkannya dari kesyirikan, kekufuran, kemaksiatan, dan sifat-sifat tercela, serta mengembangkannya dengan keimanan, ilmu yang bermanfaat, amal saleh, dan akhlak yang baik dan terpuji. Allah berfirman: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri” [Al-A’la: 14].
- Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. Artinya: Dan sungguh merugi dan celaka orang yang menyembunyikan jiwanya, merendahkannya, menghinakannya, dan menjerumuskannya dengan kekufuran, keburukan, dan aib, serta mengotorinya dengan keburukan dan dosa.
Manfaat Pendidikan:
- Dalam firman Allah: “Dan demi jiwa serta penyempurnaannya,” bahwa Allah Ta’ala menciptakan jiwa tersebut terlebih dahulu, kemudian menyempurnakannya dalam keadaan mampu menerima ilham dengan dua bagiannya: kejahatan dan ketakwaan, lalu menempuh salah satu dari dua jalan. Sumpah dengan jiwa yang datang setelah semua hal yang disebutkan sebelumnya menunjukkan keagungan zatnya dan kuatnya penunjukan atas kekuasaan penciptanya. “Dan penyempurnaannya” maksudnya adalah mempersiapkannya untuk menerima ilham dari Allah. Disebutkannya jiwa setelah tanda-tanda alam seperti matahari, bulan, malam, siang, langit dan bumi merupakan isyarat akan kewajiban merenungkan makhluk-makhluk tersebut, yang menunjukkan kekuasaan penciptanya, serta sebagai bukti perubahan zaman, pergerakan orbit, dan penciptaan langit dengan pembangunannya, juga bahwa alam ini pasti memiliki pencipta, dan segala yang baru dan berubah pasti akan fana dan tiada. Sebagaimana Ibrahim as. menunjukkan kepada Namrud contoh-contoh bukti ketuhanan dan keilahian; pertama menunjuk ke matahari, kemudian ke bulan, lalu beralih kepada Allah Subhanahu.
- Penyucian manusia terhadap dirinya ada dua macam; pertama: dengan perbuatan, dan ini terpuji, sebagaimana dimaksud dalam firman-Nya: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri.” Kedua: dengan ucapan, seperti orang adil yang memuji orang lain, dan ini tercela jika dilakukan oleh seseorang terhadap dirinya sendiri. Allah Ta’ala telah melarang hal itu dengan firman-Nya: “Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci” [An-Najm: 32]. Larangan-Nya tentang hal itu merupakan pendidikan tentang buruknya seseorang memuji dirinya sendiri, baik secara akal maupun syariat. Oleh karena itu, ada yang bertanya kepada seorang bijak: “Apa yang tidak baik meskipun itu benar?” Dia menjawab: “Seseorang memuji dirinya sendiri.” Jadi tidak ada pertentangan antara kedua ayat tersebut. Penyucian yang dipuji adalah seseorang melakukan amal saleh yang menyucikan jiwanya, sedangkan penyucian yang tercela adalah membanggakan amalnya kepada Tuhannya dan memujinya, seolah-olah dia memberi anugerah kepada Allah, dengan berkata: “Aku telah salat, bersedekah, puasa, haji, berjihad, berbakti kepada orang tuaku, dan semacamnya!” Maka tidak boleh bagi seseorang menyucikan dirinya sendiri.
- Yang dibebani dan diajak bicara dari manusia adalah jiwanya, sedangkan tubuh hanyalah alat baginya dan penampakan untuk tindakan-tindakannya. Kebaikan dan kerusakan manusia hanya diukur dengan kebaikan dan kerusakan jiwanya. Kemajuan dan kemundurannya hanya ditentukan oleh kemajuan dan kemunduran jiwanya. Keberuntungannya hanya dengan kesucian jiwanya, dan kerugiannya hanya dengan kejelekan jiwanya; Allah berfirman: “Sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
- Dalam firman Allah: “Sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya” bahwa jiwa adalah amanah padamu, yang harus kamu jaga dengan sebenar-benarnya. Jika kamu bermaksiat kepada Tuhanmu, maka kamu telah menzalimi dirimu sendiri.
- Kemaksiatan mengecilkan jiwa dan merendahkannya, mengotorinya sehingga merendahkannya, menjadikannya seperti sesuatu yang ditanam dalam tanah, dan menghinakannya hingga menjadi hal terkecil dan terhina. Sebagaimana ketaatan menumbuhkannya, menyucikannya, membesarkannya, dan membersihkannya sehingga terangkat. Allah berfirman: “Sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
Manfaat Ilmiah dan Kelembutan Makna:
- Dalam firman Allah: “Demi matahari dan cahayanya…” terdapat pertanyaan tentang sumpah Allah Ta’ala dengan makhluk-makhluk ini, padahal kita dilarang bersumpah selain dengan-Nya. Jawabannya dari dua sisi:
Pertama: Ini adalah perbuatan Allah Ta’ala, dan Allah tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat. Dia berhak bersumpah dengan apa saja yang Dia kehendaki dari makhluk-Nya. Dia yang bertanya bukan yang ditanya, dan Dia yang menghukum bukan yang dihukum.
Kedua: Sumpah Allah dengan tanda-tanda ini merupakan bukti keagungan-Nya dan kesempurnaan kekuasaan serta kebijaksanaan-Nya. Sumpah dengan tanda-tanda tersebut yang menunjukkan pengagungan dan peninggian derajatnya mengandung pujian kepada Allah Azza wa Jalla melalui penunjukan keagungan-Nya. Adapun kita tidak bersumpah selain dengan Allah Ta’ala atau sifat-sifat-Nya karena kita dilarang melakukan hal itu.
- Dalam firman Allah: “Demi matahari dan cahayanya” Allah tidak berfirman: “dan siangnya” atau “dan sinarnya”, karena kata “dhuha” menunjukkan cahaya dan panas sekaligus, dan dengan cahaya dan panas itulah kepentingan para hamba terpenuhi.
- Allah berfirman: “Dan demi bulan apabila mengiringinya” – dalam ayat ini terdapat isyarat bahwa cahaya bulan berasal dari cahaya matahari (yaitu dari arah sinar matahari ke bagian bulan yang menghadap bumi), dan bulan bukan benda yang bercahaya dengan sendirinya. Ini merupakan mukjizat ilmiah dari mukjizat Al-Qur’an yang mulia.
- Dalam firman Allah: “Dan demi langit serta pembinaannya” terdapat pertanyaan: Mengapa Allah berfirman “dan apa yang membangunnya” (وَمَا بَنَاهَا) dan bukan “dan siapa yang membangunnya” (ومَن بناها)? Jawabannya dari dua sisi:
Pertama: Yang dimaksud adalah isyarat kepada sifat, seolah-olah dikatakan: “Demi langit dan Yang Maha Kuasa lagi Maha Agung yang membangunnya”, dan pembangunannya menunjukkan keberadaan-Nya dan kesempurnaan kekuasaan-Nya. “Dan demi jiwa, dan Yang Maha Bijaksana dengan kebijaksanaan luar biasa yang menyempurnakannya”, maka dari itu penyebutannya dipisahkan. Dalam perkataan mereka: “Maha Suci apa (ما) yang menundukkan kalian untuk kami.”
Kedua: Kata “ما” (apa) digunakan di tempat “مَن” (siapa), seperti firman-Nya: “Dan janganlah kamu menikahi perempuan-perempuan yang telah dinikahi oleh ayahmu.” [An-Nisa: 22]. Yang diandalkan adalah pendapat pertama.
- Dalam firman Allah: “Dan demi langit serta pembinaannya, dan demi bumi serta penghamparannya, dan demi jiwa serta penyempurnaannya” terdapat pertanyaan: Mengapa Allah menyebutkan ketiga hal ini (langit, bumi, dan jiwa) dalam pengenalan zat Allah Ta’ala?
Jawaban: Karena penunjukan terhadap yang gaib hanya mungkin melalui yang dapat disaksikan, dan yang dapat disaksikan hanyalah alam jasmani. Alam jasmani terbagi dua: sederhana dan kompleks. Yang sederhana terbagi dua: bagian atas, diisyaratkan dengan firman-Nya “Dan demi langit”, dan bagian bawah, diisyaratkan dengan firman-Nya “Dan demi bumi”. Adapun yang kompleks terbagi beberapa bagian, dan yang paling mulia adalah makhluk yang memiliki jiwa, diisyaratkan dengan firman-Nya “Dan demi jiwa serta penyempurnaannya.”
- Dalam firman Allah: “Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya” bahwa Allah Ta’ala menciptakan ketakwaan dalam diri orang mukmin, dan kefasikan dalam diri orang kafir. Ini merupakan bantahan terhadap golongan Qadariyah.
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala yang menempatkan kefasikan dan ketakwaan dalam hati. Ada juga ayat-ayat yang menunjukkan bahwa kefasikan dan ketakwaan hamba adalah dengan pilihan dan kehendaknya, seperti firman Allah: “Tetapi mereka lebih menyukai kebutaan daripada petunjuk” [Fussilat: 17], dan firman-Nya: “Mereka membeli kesesatan dengan petunjuk” [Al-Baqarah: 16], dan sebagainya.
Dalam masalah ini, kelompok Qadariyah dan Jabariyah telah tersesat. Qadariyah tersesat karena kurang tepat (tafrit), mereka menganggap bahwa hamba menciptakan perbuatannya sendiri secara mandiri tanpa pengaruh kekuasaan Allah! Sedangkan Jabariyah tersesat karena berlebihan (ifrat), mereka menganggap bahwa hamba sama sekali tidak memiliki perbuatan sehingga tidak bisa dimintai pertanggungjawaban!
Adapun Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak kurang dan tidak berlebihan. Mereka menetapkan bahwa hamba memiliki perbuatan atas pilihannya sendiri – semua orang berakal secara pasti mengetahui bahwa gerak refleks berbeda dengan gerak yang dipilih – dan mereka juga menetapkan bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu. Dia pencipta hamba dan pencipta kemampuan serta kehendaknya. Pengaruh kemampuan hamba hanya terjadi dengan kehendak Allah Ta’ala. Hamba dan seluruh perbuatannya terjadi dengan kehendak Allah Ta’ala, meskipun hamba melakukan perbuatan dengan pilihan menggunakan kemampuan dan kehendak yang Allah ciptakan padanya—suatu perbuatan pilihan yang dia diberi pahala atau hukuman karenanya.
7- Jika kesesatan dalam takdir terjadi kadang-kadang dengan pengingkaran takdir dan penciptaan, kadang-kadang dengan pengingkaran syariat dan ancaman, dan kadang-kadang dengan menuduh Tuhan berbuat zalim; maka dalam surah ini terdapat bantahan terhadap semua golongan tersebut. Firman Allah Ta’ala: “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya” adalah penetapan takdir dengan firman-Nya: “Maka Allah mengilhamkan”, dan penetapan perbuatan hamba dengan menyandarkan kefasikan dan ketakwaan kepada dirinya sendiri; agar diketahui bahwa jiwa itulah yang berbuat fasik dan bertakwa; dan penetapan pembedaan antara yang baik dan yang buruk, serta perintah dan larangan dengan firman-Nya: “kefasikannya dan ketakwaannya”. Firman-Nya setelah itu: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” adalah penetapan perbuatan hamba dan janji serta ancaman dengan keberuntungan bagi orang yang menyucikan jiwanya, dan kerugian bagi orang yang mengotorinya. Ini jelas dalam bantahan terhadap golongan Qadariyah Majusi dan golongan Jabariyah. Adapun orang-orang yang menuduh Pencipta berbuat zalim, maka telah ditunjukkan keadilan-Nya dengan firman-Nya: “dan jiwa serta penyempurnaannya”. Penyempurnaan adalah penyeimbangan; maka dijelaskan bahwa Dia Maha Adil dalam menyempurnakan jiwa yang diilhamkan kepadanya kefasikan dan ketakwaan.
8- Dalam firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” bahwa amal-amal saleh disebut zakat, maka setiap apa yang menyucikan jiwa berupa harta atau amal adalah zakat secara syar’i, tetapi zakat juga digunakan untuk makna khusus, yaitu: dimaksudkan dengannya sebagian maknanya seperti dalam perkataan kita: zakat harta.
Keindahan Bahasa Ayat-ayat:
1- Firman Allah Ta’ala: “Demi matahari dan cahaya paginya, demi bulan apabila mengiringinya, demi siang apabila menampakkannya, demi malam apabila menutupinya, demi langit serta pembinaannya, demi bumi serta penghamparannya, demi jiwa serta penyempurnaannya.”
- Tujuan dari surah ini adalah untuk mengancam kaum musyrikin bahwa mereka akan segera ditimpa azab karena kemusyrikan mereka dan pendustaan mereka terhadap risalah Muhammad ﷺ, sebagaimana kaum Tsamud ditimpa azab karena kemusyrikan dan kesombongan mereka terhadap Rasulullah ﷺ yang mengajak mereka kepada tauhid. Hal ini didahului dengan penguatan berita melalui sumpah dengan hal-hal yang diagungkan, dan disebutkan dari keadaan-keadaannya yang menjadi bukti keindahan ciptaan Allah Ta’ala yang tidak ada sekutu bagi-Nya; ini menjadi bukti bahwa Dia-lah yang sendiri dalam ketuhanan, dan tidak ada yang berhak disembah selain-Nya, khususnya keadaan jiwa-jiwa dan tingkatannya dalam jalan petunjuk dan kesesatan, kebahagiaan dan kesengsaraan.
- Sumpah adalah untuk menegaskan berita, dan yang dimaksud dengan penegasan adalah apa yang ada dalam penyampaian berita berupa sindiran ancaman dan janji siksaan yang mematikan. Masing-masing dari matahari, bulan, langit, bumi, serta jiwa manusia; merupakan ciptaan Allah yang paling agung – baik zat maupun maknanya – yang menunjukkan keindahan hikmah-Nya dan kuatnya kekuasaan-Nya. Demikian pula waktu dhuha, beriring-iringannya bulan dengan matahari, siang, dan malam; merupakan bagian dari sistem yang paling teliti yang Allah Ta’ala tetapkan. Hal ini dipersiapkan dengan peringatan bahwa penyucian jiwa adalah sebab keberuntungan, dan kelalaian dalam memperbaikinya adalah sebab kefasikan dan kerugian.
- Dimulai dengan matahari untuk kesesuaian situasi yang mengisyaratkan kemuliaan Islam; karena petunjuknya seperti cahaya matahari yang tidak membiarkan jalan bagi kesesatan. Di dalamnya terdapat isyarat kepada janji penyebarannya di dunia seperti penyebaran cahaya matahari di ufuk. Dan diikuti dengan bulan; karena ia menerangi dalam kegelapan sebagaimana Islam menerangi pada permulaan kemunculannya dalam kegelapan syirik. Kemudian disebutkan siang dan malam bersamanya; karena keduanya adalah perumpamaan untuk kejelasan Islam setelah kesesatan syirik, dan itu kebalikan dari yang ada dalam Surah Al-Lail.
- Firman-Nya: “demi bulan apabila mengiringinya”, at-tuluww artinya mengikuti, yang dimaksud adalah bergantinya cahayanya di malam hari setelah cahaya matahari, yaitu: ketika ia muncul setelah tenggelamnya matahari, seolah-olah ia mengikutinya di tempatnya. Dan bulan mengikuti matahari dalam banyak keadaan, dan juga menerangi di sebagian besar malam-malam bulan, Allah menjadikannya pengganti matahari dalam beberapa malam dalam hal penerangan; oleh karena itu sumpah dibatasi dengan waktu pengiringannya; karena pengiringannya terhadap matahari saat itu tampak manifestasi pengiringan bagi yang melihat, maka waktu ini seperti waktu dhuha dalam sumpah dengannya, sehingga setara dengan sumpah dengan waktu pengiringan bulan terhadap matahari. Dengan demikian terjadilah sumpah dengan zat bulan dan pengiringannya terhadap matahari. Dan juga sumpah dimulai dengan matahari dan tiga cahayanya yang asli dan yang terpantul; karena matahari adalah penerang yang paling besar yang cahaya kuatnya sampai ke bumi, dan karena dalam keadaannya dan keadaan cahayanya terdapat isyarat bahwa ia adalah perumpamaan untuk munculnya iman setelah kekufuran, dan menyebarnya ketakwaan setelah kefasikan; karena kekufuran dan kemaksiatan diumpamakan dengan kegelapan, dan iman dan ketaatan diumpamakan dengan cahaya; Allah Ta’ala berfirman: “dan mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya dengan izin-Nya.” [Al-Maidah: 16]. Dan sumpah dengan siang diikuti dengan sumpah dengan malam; karena malam adalah kebalikan dari waktu siang, yaitu waktu kegelapan.
- Firman-Nya: “demi siang apabila menampakkannya”, kata ganti feminin dalam kata “jallāhā” (menampakkannya) kembali kepada matahari, maka makna “penampakan siang terhadap matahari” adalah waktu munculnya matahari, dan sumpah hanyalah dengan siang; karena ia adalah keadaan yang menunjukkan ketelitian sistem dunia bumi. Dan dikatakan: kata ganti kembali kepada bumi, artinya: menerangi bumi sehingga tampak bagi yang melihat; karena jelasnya maksud, sebagaimana dikatakan ketika turunnya hujan: “arsalat” (ia menurunkan), yang dimaksud: langit menurunkan airnya, dan sumpah dengan siang dibatasi dengan batasan waktu penampakan; sebagai sisipan nikmat dalam sumpah.
- Firman-Nya: “demi bulan apabila mengiringinya, demi siang apabila menampakkannya, demi malam apabila menutupinya”, pembatasan sumpah dengan tiga keterangan waktu “apabila mengiringinya”, “apabila menampakkannya”, “apabila menutupinya”, artinya: bersumpah dengan masing-masing dari tiga hal ini dalam keadaan yang menunjukkan keadaannya yang paling agung dan paling kuat menunjukkan kehebatan ciptaan Allah Ta’ala, dan pembatasan sumpah dengan malam pada waktu menutupinya adalah pengingat akan pelajaran dari terjadinya keadaan gelap setelah keadaan terang.
- Dikatakan: Ketika urutan akhir ayat berdasarkan alif dan ha’ muannats (feminim), maka Allah menggunakan bentuk kata kerja mudhari’ (present tense) pada “wal-laili idzā yaghsyāhā” (demi malam apabila menutupinya); karena itulah yang sesuai dengan urutan tersebut. Jika digunakan bentuk kata kerja madhi (past tense) – seperti yang sebelum dan sesudahnya – maka susunannya akan menjadi: “idzā ghasyīhā”, sehingga akan hilang keserasian akhir ayat, yang memang menjadi tujuan.
- Hubungan penempatan langit setelah penyebutan matahari dan bulan, serta penempatan bumi setelah penyebutan siang dan malam; sangat jelas. Kemudian disebutkan jiwa manusia; karena jiwa adalah tempat manifestasi petunjuk dan kesesatan, dan itulah yang menjadi tujuan.
- Firman-Nya: “demi langit serta pembinaannya, demi bumi serta penghamparannya, demi jiwa serta penyempurnaannya”, kata “mā” adalah kata sambung, dan diutamakan atas “man”; untuk menunjukkan makna sifat sebagai pengagungan!
- Firman-Nya: “demi jiwa serta penyempurnaannya”, kata “jiwa” disebutkan dalam bentuk nakirah (tanpa definit) karena beberapa alasan; pertama: untuk menunjukkan jiwa tertentu di antara jiwa-jiwa, yaitu jiwa Adam, seolah-olah Allah berfirman: dan satu dari jiwa-jiwa, kedua: untuk menunjukkan setiap jiwa, dan bentuk nakirah menunjukkan banyak, ketiga: bentuk nakirah untuk pengagungan dan pemuliaan. Kata “nafs” (jiwa) disebutkan tanpa definit tidak seperti hal-hal lain yang dijadikan sumpah; karena tidak mungkin menggunakan lam untuk menunjukkan jenis yang masuk untuk jiwa selain manusia, padahal jiwa selain manusia tidak dimaksud; karena firman Allah Ta’ala: “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”, dan tidak mungkin juga menggunakan lam untuk menunjukkan yang sudah dikenal; karena yang dimaksud bukan satu jiwa tertentu yang sudah dikenal, dan dengan perkiraan bahwa yang dimaksud adalah Adam, maka bentuk nakirah lebih menunjukkan pemuliaan dan pengagungan.
2- Firman Allah Tabaraka wa Ta’ala: “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”
- Kalimat “fa-alhamahā fujūrahā wa taqwāhā” (Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya) dihubungkan dengan “sawwāhā” (penyempurnaannya), sehingga termasuk yang dijadikan sumpah. Kata kerja “alhamahā” ditakwilkan sebagai mashdar (kata benda); karena dihubungkan dengan kata sambung “mā” yang berfungsi sebagai mashdar – menurut satu pendapat. Dan dihubungkan dengan huruf fa’ (maka); karena ilham muncul dari penyempurnaan.
- Pengarahan ilham kepada kefasikan dan ketakwaan dalam ayat ini, padahal Allah telah memberitahu manusia tentang apa yang merupakan kefasikan dan apa yang merupakan ketakwaan melalui para rasul; dengan pertimbangan bahwa jika bukan karena apa yang Allah tanamkan dalam jiwa-jiwa berupa kemampuan memahami berbagai pengetahuan pada berbagai tingkatan, mereka tidak akan memahami apa yang diajak oleh syariat-syariat ilahi. Maka tanpa akal, tidak akan mudah memberikan pemahaman kepada manusia tentang kefasikan dan ketakwaan, hukuman dan pahala.
- Mendahulukan kefasikan atas ketakwaan memperhatikan keadaan orang-orang yang diajak bicara dalam surah ini, yaitu kaum musyrikin, dan kebanyakan perbuatan mereka adalah kefasikan dan mereka tidak memiliki ketakwaan, sedangkan ketakwaan adalah sifat perbuatan kaum muslimin, dan mereka sedikit pada waktu itu.
- Firman-Nya: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”, kalimat ini adalah jawaban sumpah, dan huruf lam dihapus – sehingga tidak dikatakan: “laqad” -; karena panjangnya kalimat. Seolah-olah ketika Allah ingin mendorong penyempurnaan jiwa dan penekanan padanya, Allah bersumpah dengan apa yang menunjukkan kepada mereka tentang pengetahuan akan keberadaan Pencipta, kewajiban zat-Nya, dan kesempurnaan sifat-sifat-Nya yang merupakan tingkat tertinggi dari kekuatan teoretis, dan mengingatkan mereka akan keagungan nikmat-nikmat-Nya; untuk mendorong mereka agar tenggelam dalam syukur atas nikmat-nikmat-Nya yang merupakan puncak kesempurnaan kekuatan praktis. Dengan demikian, firman-Nya: “Kaum Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas” [Asy-Syams: 11], adalah kalimat lanjutan sebagai perluasan dari firman-Nya: “dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”; karena kedurhakaan adalah jenis pengotoran yang paling besar. Dan dikatakan: ini adalah perluasan dengan menyebutkan sebagian keadaan jiwa, dan bukan bagian dari jawaban sumpah sama sekali, dan jawaban sumpah dihapus yang ditakdirkan: Sungguh Allah akan menghancurkan orang-orang kafir Mekah karena pendustaan mereka terhadap rasul-Nya ﷺ, sebagaimana Allah telah menghancurkan kaum Tsamud karena pendustaan mereka terhadap Shalih AS. Dan dengan takwil ini, firman-Nya: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” adalah perluasan untuk jawaban sumpah dengan cara perumpamaan.
- Dan boleh juga menjadi kalimat sisipan antara sumpah dan jawabannya karena kesesuaian penyebutan ilham kefasikan dan ketakwaan, yaitu: beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya dan mengikuti apa yang Allah ilhamkan kepadanya berupa ketakwaan, dan merugilah orang yang memilih kefasikan setelah diilhami pembedaan antara kedua hal tersebut melalui pemahaman dan petunjuk ilahi. Dan kalimat ini adalah persiapan untuk kalimat “Kaum Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas” [Asy-Syams: 11]; karena apa yang menimpa kaum Tsamud adalah bagian dari kerugian mereka; karena mereka mengotori jiwa mereka dengan kedurhakaan. Dan keberuntungan didahulukan atas kerugian untuk kesesuaian dengan ketakwaan, dan diikuti dengan kerugian orang yang mengotori jiwanya; untuk mempersiapkan peralihan ke nasihat dengan apa yang menimpa kaum Tsamud berupa hukuman atas apa yang merupakan akibat dari pengotoran.
- Pengulangan kata “qad” dalam firman Allah Ta’ala: “wa qad khāba man dassāhā” (dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya); untuk menunjukkan kesempurnaan perhatian dalam merealisasikan kandungannya, dan untuk memberitahukan bahwa sumpah juga terkait dengannya secara asli.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Ayat: 11-15
﴿كَذَّبَتْ ثَمُوْدُ بِطَغْوٰىهَآ ۖ ١١ اِذِ انْۢبَعَثَ اَشْقٰىهَاۖ ١٢ فَقَالَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللّٰهِ نَاقَةَ اللّٰهِ وَسُقْيٰهَاۗ ١٣ فَكَذَّبُوْهُ فَعَقَرُوْهَاۖ فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُمْ بِذَنْۢبِهِمْ فَسَوّٰىهَاۖ ١٤ وَلَا يَخَافُ عُقْبٰهَا ࣖ ١٥ ﴾
Kata-kata Asing:
- بِطَغْوَاهَا: Dengan kedurhakaan mereka. Kata “Thagwa” adalah kata benda dari “Thughyan” (kedurhakaan), yang artinya melampaui batas dalam pembangkangan.
- انْبَعَثَ: Bangkit, keluar dengan cepat dan bersemangat. “Inbi’ats” berarti bergegas dalam ketaatan kepada yang memerintah, dan asal kata “ba’ats” berarti membangkitkan.
- فَعَقَرُوهَا: Mereka menyembelihnya dan membunuhnya. Asal kata “aqara” menunjukkan melukai sesuatu.
- فَدَمْدَمَ: Dia menghancurkan dan membinasakan mereka. “Damdamah” berarti pembinasaan total. “Damdama” adalah pengulangan dari “dammama” untuk penekanan, dan asal kata “damm” menunjukkan menutupi sesuatu, yang terkait dengan “damdamah” dalam arti kehancuran, karena menyelimuti mereka dengan azab dan kebinasaan.
- عُقْبَاهَا: Akibatnya dan konsekuensinya. Asal kata “aqaba” di sini menunjukkan penundaan sesuatu dan datangnya setelah yang lain.
Penjelasan Tata Bahasa:
Mengenai firman Allah: “فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ نَاقَةَ اللَّهِ وَسُقْيَاهَا” – Kata “نَاقَةَ اللَّهِ” (unta Allah) dinashabkan sebagai peringatan dengan kata kerja yang dihilangkan, yaitu: “Berhati-hatilah terhadap unta Allah”. Kalimat “Berhati-hatilah terhadap unta Allah” berada dalam posisi nashab sebagai perkataan yang diucapkan.
Makna Keseluruhan:
Allah Ta’ala berfirman menjelaskan apa yang terjadi pada orang-orang yang mendustakan sebelumnya: Kaum Tsamud mendustakan kebenaran yang dibawa oleh rasul mereka, Shalih ‘alaihissalam, karena kedurhakaan mereka, ketika bangkit orang yang paling celaka dari kaum Tsamud untuk menyembelih unta. Maka rasul mereka, Shalih, berkata kepada mereka: “Berhati-hatilah terhadap unta Allah, jangan menyakitinya, dan berhati-hatilah jangan menghalanginya untuk minum pada hari yang telah Allah tetapkan sebagai bagiannya.” Namun mereka mendustakan nabi mereka, Shalih, dan menyembelih unta itu karena kekufuran dan pembangkangan. Maka Allah menimpakan hukuman kepada kaum Tsamud karena penyembelihan unta tersebut, menyamaratakan kehancuran bagi mereka semua, dan meliputi mereka dengan azab. Dan Allah Subhanahu tidak takut akan akibat dari pembinasaan-Nya terhadap kaum Tsamud.
Tafsir Ayat-ayat:
كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِطَغْوَاهَا (11) – Hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah Ta’ala menyebutkan kekecewaan orang yang mengotori jiwanya, Dia menyebutkan kelompok yang melakukan hal itu agar dapat dijadikan pelajaran. Artinya: Kaum Tsamud mendustakan kebenaran yang dibawa oleh rasul mereka, Shalih ‘alaihissalam, karena kedurhakaan mereka. Sebagaimana Allah berfirman: “Dan adapun kaum Tsamud, maka Kami telah memberi petunjuk kepada mereka, tetapi mereka lebih menyukai kebutaan daripada petunjuk, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.” [Fussilat: 17]
إِذِ انْبَعَثَ أَشْقَاهَا (12) – Artinya: Ketika bangkit orang yang paling celaka dari kaum Tsamud untuk menyembelih unta yang telah Allah jadikan sebagai tanda yang agung bagi mereka. Sebagaimana Allah berfirman: “Dan Kami berikan kepada kaum Tsamud unta betina itu (sebagai mukjizat) yang dapat dilihat, tetapi mereka menganiaya (unta betina itu).” [Al-Isra’: 59]
Dan Allah Subhanahu berfirman: “Sesungguhnya Kami akan mengirimkan unta betina sebagai ujian bagi mereka, maka tunggulah mereka dan bersabarlah. Dan beritahukanlah kepada mereka bahwa air itu dibagi antara mereka, setiap giliran minum dihadiri (oleh yang berhak). Maka mereka memanggil temannya, lalu dia menangkap (unta itu) dan memotongnya.” [Al-Qamar: 27-29]
Dari Abdullah bin Zam’ah radhiyallahu ‘anhu, berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah, lalu menyebutkan tentang unta betina dan orang yang menyembelihnya. Beliau bersabda: Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, bangkitlah seorang laki-laki yang kuat, jahat, dan terlindungi oleh kaumnya, seperti Abu Zam’ah.”
“Kemudian Rasul Allah berkata kepada mereka tentang unta Allah dan minumannya.” (13)
Artinya: Maka Rasul Allah, Shalih ‘alaihish-shalatu was-salam, berkata kepada mereka: “Berhati-hatilah terhadap unta Allah, jangan sampai kalian menyakitinya, dan berhati-hatilah jangan menghalangi unta itu dari minum air pada hari yang telah Allah jadikan sebagai bagiannya.”
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Shalih. Dia berkata: ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Sungguh, telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu. Biarkanlah ia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu menyentuhnya dengan niat jahat, yang karenanya kamu akan ditimpa azab yang pedih.'” [Al-A’raf: 73]
Dan Allah Subhanahu berfirman: “Dia (Shalih) berkata: ‘(Ini seekor) unta betina, yang berhak mendapat giliran minum, dan kamu berhak mendapat giliran minum pada hari yang ditentukan. Janganlah kamu menyentuhnya dengan keburukan, karena kamu akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat.'” [Asy-Syu’ara: 155-156]
Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan beritahukanlah kepada mereka bahwa air itu dibagi antara mereka, setiap giliran minum dihadiri (oleh yang berhak).” [Al-Qamar: 28]
“Maka mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, karena itu Tuhan mereka membinasakan mereka karena dosanya, lalu Dia meratakan (dengan tanah) mereka (semua).” (14)
“Maka mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu.” Artinya: Orang-orang kafir dari kaum Tsamud mendustakan nabi mereka, Shalih, lalu mereka menyembelih unta itu karena kekufuran dan pembangkangan.
Sebagaimana Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Kemudian mereka menyembelih unta betina itu, dan berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan mereka. Mereka berkata: ‘Wahai Shalih, datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika engkau termasuk orang-orang yang diutus.’ Maka datanglah gempa menimpa mereka, sehingga mereka mati bergelimpangan di dalam rumahnya.” [Al-A’raf: 77-78]
“Karena itu Tuhan mereka membinasakan mereka karena dosanya, lalu Dia meratakan (dengan tanah) mereka (semua).” Artinya: Maka Allah menimpakan hukuman kepada kaum Tsamud karena mereka menyembelih unta tersebut, dan Allah menyamaratakan kebinasaan bagi mereka semua, dan meliputi mereka dengan azab, sehingga tidak ada seorang pun dari mereka yang selamat.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang zalim itu ditimpa suara keras, sehingga mereka mati bergelimpangan di rumahnya, seolah-olah mereka belum pernah tinggal di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tsamud.” [Hud: 67-68]
Dan Allah Subhanahu berfirman: “Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur pada waktu pagi.” [Al-Hijr: 83]
“Dan Dia tidak takut terhadap akibatnya.” (15)
Artinya: Dan Allah tidak takut terhadap akibat dan konsekuensi dari pembinasaan-Nya terhadap kaum Tsamud.
Manfaat Edukatif:
Dalam firman Allah Ta’ala: “Maka Tuhan mereka membinasakan mereka karena dosa mereka” terdapat peringatan akan akibat dosa-dosa, dan peringatan besar tentang akibat dari dosa. Karena itu, setiap orang yang berdosa harus mengambil pelajaran dan berhati-hati.
Faedah Ilmiah dan Keindahan:
- Allah Ta’ala berfirman: “Unta Allah” – Hal yang disandarkan kepada Allah Subhanahu terbagi menjadi dua jenis:
- Sifat-sifat yang tidak berdiri sendiri, seperti ilmu, kekuasaan, firman, pendengaran, dan penglihatan. Ini adalah penyandaran sifat kepada yang disifati. Ilmu-Nya, firman-Nya, kehendak-Nya, kekuasaan-Nya, dan kehidupan-Nya adalah sifat-sifat-Nya yang tidak diciptakan, begitu juga dengan wajah-Nya dan tangan-Nya, Subhanahu.
- Penyandaran benda-benda yang terpisah dari-Nya, seperti unta, rumah, hamba, rasul, dan ruh. Ini adalah penyandaran makhluk kepada Penciptanya, dan sesuatu yang dibuat kepada Pembuatnya. Namun, ini adalah penyandaran yang menunjukkan kekhususan dan kemuliaan yang membedakan yang disandarkan dari yang lainnya, seperti “Baitullah” (rumah Allah), meskipun semua rumah adalah milik-Nya. Begitu juga “Naqatullah” (unta Allah), padahal semua unta adalah milik dan ciptaan-Nya. Tapi ini adalah penyandaran kepada ketuhanan-Nya yang menunjukkan kecintaan, pemuliaan, dan penghormatan-Nya, berbeda dengan penyandaran umum kepada rububiyah-Nya yang menunjukkan penciptaan dan pengadaan-Nya.
- Dalam firman Allah Ta’ala: “Maka mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, karena itu Tuhan mereka membinasakan mereka…” menunjukkan bahwa ketika kaum itu rela, dan mereka memanggil orang yang menyembelih unta tersebut lalu ia menyembelihnya sendiri, maka ini dilakukan atas nama seluruh kaum. Karena itu, hukuman diberikan atas nama seluruh kaum. Dari sini dapat diambil hukum membunuh sekelompok orang karena perbuatan satu orang, dan hukuman bagi pengawas bersama dengan pelaku kejahatan.
- Manusia tertimpa musibah dari dirinya sendiri; karena itu Allah Ta’ala berfirman: “Maka Tuhan mereka membinasakan mereka karena dosa mereka,” yaitu: karena sebab dosa mereka.
Keindahan Bahasa Ayat-ayat:
- Firman Allah Ta’ala: “Kaum Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas, ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka.” – Jika kalimat “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya…” [Asy-Syams: 9] dianggap sebagai kalimat sisipan, maka kalimat “Kaum Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas” adalah jawaban dari sumpah dengan mempertimbangkan apa yang muncul darinya dalam firman-Nya: “Maka Tuhan mereka membinasakan mereka karena dosa mereka,” artinya: sungguh itu terjadi karena itu. Lam jawaban (huruf lam yang menunjukkan jawaban sumpah) dihilangkan untuk meringankan karena panjangnya sumpah. Tujuannya adalah untuk memberikan ancaman tidak langsung kepada orang-orang musyrik yang mendustakan Rasul karena kedurhakaan yang mereka ketahui dari diri mereka sendiri, sebagaimana kaum Tsamud mendustakan rasul mereka karena kedurhakaan. Itulah yang memerlukan penekanan dengan sumpah, karena orang-orang musyrik tidak memahami bahwa kebinasaan total yang menimpa kaum Tsamud terjadi karena mereka mendustakan Rasul Allah yang diutus kepada mereka. Maka Allah memperingatkan mereka dengan ini agar mereka merenungkan, atau untuk menempatkan pengetahuan orang yang mengetahui hal itu dari mereka setara dengan pengingkaran, karena mereka tidak bertindak sesuai dengan apa yang mereka ketahui, seolah-olah dikatakan: “Aku bersumpah, kalian akan ditimpa azab sebagaimana yang menimpa kaum Tsamud.”
Dan jika kalimat “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya” adalah jawaban dari sumpah, maka kalimat “Kaum Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas” berada pada posisi bukti untuk isi kalimat “Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya,” artinya: rugi seperti kerugian kaum Tsamud.
-
- Ada yang mengatakan: Firman-Nya “Kaum Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas” adalah kalimat baru yang disampaikan untuk menegaskan apa yang telah disebutkan tentang keberuntungan orang yang menyucikan jiwanya, atau yang Allah sucikan, dan kerugian orang yang mengotori jiwanya atau Allah kotorilah jiwanya.
- Dalam firman-Nya: “Kaum Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas” terdapat perumpamaan tidak langsung yang menyamakan kaum musyrik Quraisy dalam pendustaan mereka dengan kaum Tsamud, bahwa sebab pendustaan mereka adalah kedurhakaan dan kesombongan untuk mengikuti orang yang mereka anggap tidak memiliki kelebihan atas mereka.
- Objek dari kata “kadzdzabat” (mendustakan) tidak disebutkan karena sudah ditunjukkan oleh kalimat setelahnya: “Maka Rasul Allah berkata kepada mereka”. Perkiraannya adalah: “Mereka mendustakan Rasul Allah”.
- Baik “thagwa” dan “thughyan” merupakan bentuk masdar (kata benda). “Thughyan” berarti kesombongan yang berlebihan, namun dipilih ungkapan “thagwa” karena lebih sesuai dengan akhiran ayat-ayat lainnya.
- Firman-Nya: “Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka” (idz inba’atsa asyqaha) adalah mudhaf pada kalimat “inba’atsa asyqaha”. Disebutkan kata keterangan waktu ini sebelum posisinya yang seharusnya setelah perkataan “Maka Rasul Allah berkata kepada mereka: ‘Unta Allah'”; karena bangkitnya orang yang paling celaka untuk menyembelih unta adalah bagian dari kedurhakaan mereka. Ini lebih terkait dengan pendustaan yang disebabkan oleh kedurhakaan. Dengan mendahulukannya, terpenuhi keterkaitan ini, dan menunjukkan bahwa bangkitnya orang yang paling celaka untuk menyembelih unta terjadi karena hasutan mereka kepadanya. Tidak luput juga bahwa ini terjadi setelah Rasul Allah berkata kepada mereka: “Unta Allah”, dan ini juga dipahami dari firman-Nya: “Lalu mereka menyembelihnya”.
- Kata superlatif dalam kecelakaan “asyqaha” (yang paling celaka); karena orang yang melakukan dan terlibat langsung dalam penyembelihan, kecelakaannya lebih nyata dan lebih besar.
2- Firman Allah: “Maka Rasul Allah berkata kepada mereka: ‘Unta Allah dan minumannya’.”
- Huruf “fa” pada “faqala” (maka berkata) adalah penghubung ataf pada “kadzdzabat” (mendustakan), yang menunjukkan urutan dan pengikutan. Makna kalimatnya: Mereka mendustakan Rasul Allah ﷺ, maka dia menantang mereka dengan tanda mukjizat unta, dan memperingatkan mereka agar tidak mengganggunya dengan kejahatan, dan agar tidak menghalangi unta itu minum pada gilirannya. Kemudian dihubungkan dengan “fakadzdzabuhu” (lalu mereka mendustakannya), yaitu: dalam hal yang dia peringatkan kepada mereka, lalu mereka menyembelih unta itu dengan pendustaan yang disebutkan pertama kali, bukan pendustaan yang disebutkan kedua kali. Ini menunjukkan bahwa tanda mukjizat unta dikirimkan kepada mereka setelah mereka mendustakan, sebagaimana kebiasaan dalam tanda-tanda para rasul, dan ini jelas dalam surah Hud. Boleh juga “fa” di sini untuk urutan penyebutan semata, yang menunjukkan penghubungan rincian pada yang global. Maknanya: Kaum Tsamud mendustakan karena kedurhakaan mereka ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, kemudian dijelaskan dengan firman-Nya: “Maka Rasul Allah berkata kepada mereka” sampai firman-Nya: “Lalu mereka menyembelihnya”. Penyembelihan terjadi ketika bangkitnya orang yang paling celaka. Dengan demikian, tidak perlu menganggap keterangan waktu – “ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka” – sebagai yang didahulukan dari yang seharusnya diakhirkan.
- Kata ganti jamak digunakan untuk mereka dengan mempertimbangkan bahwa mereka adalah kelompok, meskipun kata ganti sebelumnya memperhatikan bahwa Tsamud adalah nama suku.
- Saleh AS disebut dengan gelar kerasulan “Rasul Allah” untuk menunjukkan kewajiban menaatinya, dan menjelaskan puncak pembangkangan dan kelanjutan kedurhakaan mereka. Ini juga rahasia penyandaran unta kepada Allah Ta’ala dalam firman-Nya: “Unta Allah”.
- Juga penyandaran “unta” kepada nama Allah; karena itu adalah tanda yang Allah jadikan untuk membuktikan kebenaran risalah Saleh AS, dan karena keluarnya unta bagi mereka merupakan hal yang luar biasa.
- “Suqya” (minuman) adalah bentuk masdar dari “saqa” (memberi minum), dan ini dihubungkan dengan peringatan, artinya: Waspadalah terhadap minumannya, yaitu hati-hati jangan sampai merampas bagian minumannya; jadi ucapan ini dengan menghilangkan mudhaf. Atau “suqya” digunakan untuk air yang diminumnya, menggunakan masdar untuk objek, sehingga kembali pada penyandaran hukum kepada zat, dan yang dimaksud adalah keadaan yang diketahui dari konteks; karena kata “suqya” menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah peringatan agar mereka tidak memberi minum unta-unta mereka dari air yang menjadi jatah unta tersebut pada hari gilirannya.
3- Firman Allah: “Lalu mereka mendustakannya, maka mereka menyembelihnya, maka Tuhan mereka membinasakan mereka karena dosa mereka, lalu Dia meratakan (kehancuran mereka) * Dan Dia tidak takut akan akibatnya.”
- Kata-Nya: “Lalu mereka mendustakannya, maka mereka menyembelihnya” – Pendustaan yang mengikuti peringatannya kepada mereka dengan perkataan: “Unta Allah” adalah pendustaan kedua, yaitu pendustaan mereka terhadap ancaman dan peringatan akan azab jika mereka tidak menghindari pelanggaran terhadap unta tersebut. Ini dinyatakan dalam ayat surah Al-A’raf: “Dan janganlah kamu menyentuhnya dengan keburukan, yang menyebabkan kamu ditimpa azab yang pedih” [Al-A’raf: 73]. Dengan pertimbangan ini, tepatlah ungkapan tentang pendustaan sebagai tanggapan terhadap peringatan, meskipun peringatan adalah bentuk kalimat insya’ (permintaan). Maka pendustaan itu ditujukan pada peringatan akan azab yang terkandung dalam peringatan tersebut.
- “Al-‘aqr” (menyembelih): melukai unta di kedua kakinya agar jatuh berlutut ke tanah karena sakit, lalu disembelih di lehernya. Jadi “al-‘aqr” adalah kiasan yang terkenal untuk penyembelihan karena keduanya saling berkaitan.
- Penyembelihan disandarkan kepada kelompok (jamak) karena mereka rida dengan perbuatan itu dan bersekongkol. Ketika mereka setuju dengan hal tersebut, mereka seperti pelakunya, maka pendustaan dan penyembelihan dinisbatkan kepada mereka semua.
- “Damdama” adalah pengulangan dari “damma” untuk menunjukkan intensitas, seperti “kabkaba”, artinya: Dia menimpakan azab berulang kali kepada mereka.
- Huruf “ba” pada “bidzanbihim” (karena dosa mereka) menunjukkan sebab, yaitu: karena dosa mereka. Penyebutan ini secara eksplisit – meskipun huruf “fa” sudah menunjukkannya – untuk memperingatkan tentang akibat dosa, agar setiap pendosa dapat mengambil pelajaran.
- “Al-‘uqba” (akibat): konsekuensi yang terjadi setelah suatu perbuatan, baik berupa tanggung jawab bagi pelakunya atau balasan. Karena yang disebutkan adalah hukuman dan kemenangan, dan kebiasaan orang yang kalah adalah merencanakan dalam hatinya untuk membalas dendam kepada yang mengalahkannya, sehingga dia tidak tenang sampai membalas dendam – maka Allah memberitahu bahwa Dia adalah Pemenang yang tidak mungkin dikalahkan bisa membalas dendam kepada-Nya. Ini adalah kiasan tentang kemampuan Allah untuk menghukum kaum musyrikin, dan bahwa penundaan azab bagi mereka adalah penangguhan, bukan karena ketidakmampuan. Jadi kalimat “Dan Dia tidak takut akan akibatnya” adalah penutup untuk perkataan, dan penanda akhir. Bisa juga firman-Nya: “Dan Dia tidak takut akan akibatnya” adalah perumpamaan keadaan mereka dalam kebinasaan total seperti keadaan orang yang tidak meninggalkan siapapun yang bisa membalas dendam untuknya. Maka perumpamaan ini adalah kiasan tentang kebinasaan mereka secara menyeluruh hingga tidak tersisa seorangpun.
- Pada qira’at (bacaan) “fala yakhafu ‘uqbaha” – dengan huruf “fa” sebagai penghubung ataf yang merupakan cabang dari “fadamdama ‘alaihim rabbuhum” – maka makna percabangan dengan “fa” dalam qira’at ini adalah percabangan pengetahuan tentang tidak adanya ketakutan Allah dari mereka meskipun mereka kuat; agar dengan pengetahuan ini orang-orang musyrik yang serupa dengan mereka dapat mengambil pelajaran.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
SURAH AL-LAIL
Perhatian: Setiap kalimat berikut memiliki rujukan ilmiah yang belum diterjemahkan. Bagi yang memerlukan, silakan merujuk langsung ke situs web aslinya dalam bahasa Arab di: https://dorar.net/tafseer/92
Nama-nama Surah:
Surah ini dinamakan surah “Al-Lail” (Malam), dan juga disebut “Wal-Lail”. Surah ini juga dinamakan surah “Wal-Laili Idza Yaghsyaha” (Demi malam apabila menutupi). Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Mu’adz biasa shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia datang dan mengimami kaumnya. Pada suatu malam ia shalat Isya bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia datang kepada kaumnya dan mengimami mereka, lalu ia memulai dengan surah Al-Baqarah…” Dan dalam hadits tersebut disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Mu’adz: “Wahai Mu’adz, apakah engkau ingin membuat fitnah? Bacalah ‘Wasy-syamsi wa dhuhaha’, ‘Wadh-dhuha’, ‘Wal-laili idza yaghsyaha’, dan ‘Sabbihisma Rabbikal A’la’.”
Penjelasan Makki dan Madani:
Surah Al-Lail adalah surah Makkiyyah (diturunkan di Mekah), dan telah disepakati dengan ijma’.
Tujuan Surah:
Di antara tujuan utama surah ini: Menjelaskan perbedaan antara keadaan orang-orang beriman dan orang-orang kafir di dunia dan akhirat.
Topik-topik Surah:
Di antara topik penting yang terkandung dalam surah ini:
- Sumpah tentang perbedaan keadaan manusia dalam hal keburukan dan kebaikan.
- Penjelasan tentang kemuliaan orang-orang beriman dan keutamaan amal-amal mereka, serta celaan terhadap orang-orang musyrik dan keburukan amal-amal mereka, dan balasan bagi masing-masing.
- Bahwa Allah Ta’ala mengutus Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengingatkan tentang kebenaran, dan bahwa akibat bagi para pendusta adalah neraka, sedangkan orang-orang yang bertakwa akan selamat darinya.
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Ayat: 1-11
﴿وَالَّيْلِ اِذَا يَغْشٰىۙ ١ وَالنَّهَارِ اِذَا تَجَلّٰىۙ ٢ وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالْاُنْثٰىٓ ۙ ٣ اِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتّٰىۗ ٤ فَاَمَّا مَنْ اَعْطٰى وَاتَّقٰىۙ ٥ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنٰىۙ ٦ فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْيُسْرٰىۗ ٧ وَاَمَّا مَنْۢ بَخِلَ وَاسْتَغْنٰىۙ ٨ وَكَذَّبَ بِالْحُسْنٰىۙ ٩ فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْعُسْرٰىۗ ١٠ وَمَا يُغْنِيْ عَنْهُ مَالُهٗٓ اِذَا تَرَدّٰىٓۙ ١١ ﴾
Kosakata yang Tidak Biasa:
Yaghsya: Menutupi dan menyembunyikan. Akar kata “ghasyiya” menunjukkan menutupi sesuatu dengan sesuatu lainnya.
Tajalla: Yaitu: muncul dan bersinar. Akar kata “jalaa” menunjukkan tersingkapnya dan munculnya sesuatu.
Lasyatta: Yaitu: berbeda-beda, bentuk jamak dari “syatiit”, dari kata “syatt” yang berarti perpecahan yang hebat. Dikatakan: “syatta jam’uhum” artinya mereka berpencar. Akar kata “syatata” menunjukkan pada perpecahan.
Bil-husna: Yaitu: dengan surga dan pahala, ada juga pendapat lain. “Al-husna” adalah bentuk feminin dari “al-ahsan”. “Al-husn” adalah lawan dari “al-qubh” (keburukan), dan itu adalah ungkapan untuk segala sesuatu yang menyenangkan dan diinginkan.
Lil-yusra: “Al-yusra” adalah bentuk “fu’la” dari “al-yusr”, yang merupakan lawan dari kesulitan. Akar kata “yasara” di sini menunjukkan terbukanya sesuatu dan kemudahannya.
Lil-‘usra: Dari “al-‘usr”, yang merupakan kebalikan dari “al-yusr”. Akar kata “‘asara” menunjukkan kesulitan dan kesukaran.
Taradda: Yaitu: mati, atau binasa dan jatuh ke dalam neraka Jahannam. Ini adalah kata kerja “tafa”ala” dari “al-rada”, yaitu kebinasaan. Akar kata “radiya” menunjukkan pelemparan dan yang serupa dengannya.
Makna Secara Umum:
Allah Ta’ala membuka surah mulia ini dengan bersumpah dengan malam ketika menutupi segala sesuatu dengan kegelapannya, dan dengan siang ketika bersinar dan muncul, dan dengan Allah yang menciptakan jantan dan betina dengan kekuatan-Nya – bahwa amal-amal kalian -wahai manusia- sungguh berbeda-beda dan beragam; di antara kalian ada yang beriman dan ada yang kafir, ada yang taat dan ada yang durhaka. Kemudian Allah Subhanahu merinci apa yang telah dijelaskan secara umum, maka Dia berfirman: Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah, bertakwa kepada Allah, dan membenarkan keberadaan surga; maka Kami akan memudahkan baginya jalan kebaikan yang mengarah ke surga. Adapun orang yang kikir dengan hartanya, merasa tidak membutuhkan Tuhannya Yang Maha Suci, dan mendustakan keberadaan surga; maka Kami akan memudahkan baginya jalan keburukan yang mengarah ke neraka, dan hartanya tidak akan memberinya manfaat ketika ia jatuh ke dalam neraka Jahannam.
Tafsir Ayat-ayat:
“Demi malam apabila menutupi” (1)
Yaitu: Aku bersumpah dengan malam ketika ia menutupi semua makhluk dengan kegelapannya.
“Dan demi siang apabila terang benderang” (2)
Kesesuaian ayat ini dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah bersumpah dengan malam apabila menutupi, Dia juga bersumpah dengan siang apabila terang benderang; karena siang ketika datang menyingkap dengan cahayanya kegelapan yang ada di dunia, dan datanglah waktu di mana manusia bergerak untuk mencari penghidupan mereka.
“Dan demi siang apabila terang benderang” (2)
Yaitu: Dan Aku bersumpah dengan siang ketika ia bersinar dan muncul dengan cahayanya.
“Dan demi penciptaan laki-laki dan perempuan” (3)
Yaitu: Dan Aku bersumpah dengan Allah yang menciptakan laki-laki dan perempuan dengan kekuatan-Nya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan” [An-Najm: 45].
Saya akan menerjemahkan teks bahasa Arab tersebut ke dalam bahasa Indonesia:
“Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda (4).
Hubungan ayat ini dengan sebelumnya: Hubungan antara objek sumpah dan apa yang disumpahi: bahwa usaha manusia ada yang baik dan ada yang buruk, dan keduanya menyerupai cahaya dan kegelapan, dan bahwa usaha manusia memunculkan hasil-hasil; di antaranya yang bermanfaat dan di antaranya yang berbahaya, sebagaimana laki-laki dan perempuan menghasilkan keturunan yang saleh dan tidak saleh.
Juga, ketika Allah menyebutkan apa yang dapat dirasakan perbedaannya dari makna-makna dan benda-benda, Allah melanjutkannya dengan apa yang dapat dipahami perbedaannya dari sifat-sifat, maka Allah berfirman: Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda (4).
Artinya: Sesungguhnya amal-amal kalian yang kalian bersungguh-sungguh di dalamnya -wahai manusia- sungguh beragam dan berbeda-beda; di antara kalian ada yang beriman dan ada yang kafir, di antara kalian ada yang taat dan ada yang bermaksiat, di antara kalian ada yang mendapat petunjuk dan ada yang sesat, di antara kalian ada yang ikhlas dan ada yang riya, di antara kalian ada yang mengikuti dan ada yang berbuat bid’ah.
Sebagaimana Allah berfirman: “Di antara kamu ada yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada yang menghendaki akhirat” [Ali Imran: 152].
Dari Abu Malik Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap manusia berusaha; ada yang menjual dirinya lalu membebaskannya, atau menjerumuskannya.”
Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa (5).
Hubungan ayat ini dengan sebelumnya: Bahwa Allah Subhanahu menjelaskan makna perbedaan amal dari akibat yang terpuji dan tercela, dan pahala dan hukuman.
Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa (5).
Artinya: Adapun orang yang memberikan hartanya lalu menginfakkannya di jalan Allah, dan membuat penghalang antara dirinya dan kemurkaan Allah serta siksanya yang menjaganya dari hal itu.
Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga) (6).
Artinya: Dan membenarkan surga yang Allah janjikan bagi orang-orang yang berbuat baik dan bertakwa.
Sebagaimana Allah berfirman: “Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal kepunyaan Allah-lah segala warisan yang ada di langit dan di bumi? Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak” [Al-Hadid: 10-11].
Dan Allah berfirman mengisahkan tentang Dzulkarnain: “Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami” [Al-Kahfi: 88].
Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah (7).
Artinya: Maka Kami akan memudahkan baginya amalan kebaikan yang menyampaikannya ke surga.
Dari Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di pemakaman jenazah, lalu bersabda: ‘Tidak ada seorangpun dari kalian kecuali telah ditetapkan tempatnya di neraka, dan tempatnya di surga.’ Mereka berkata: ‘Wahai Rasulullah, apakah kita tidak bertawakal saja pada takdir kita, dan meninggalkan amal?’ Beliau menjawab: ‘Beramallah; karena setiap orang dimudahkan kepada apa yang ia diciptakan untuknya; adapun orang yang termasuk ahli kebahagiaan maka akan dimudahkan baginya amalan ahli kebahagiaan, dan adapun orang yang termasuk ahli kesengsaraan maka akan dimudahkan baginya amalan ahli kesengsaraan.’ Kemudian beliau membaca: ‘Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar’ [Al-Lail: 5-10].”
Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup (8).
Hubungan ayat ini dengan sebelumnya: Ketika Allah menyebutkan orang yang menyucikan diri dan buahnya, Allah melanjutkan dengan orang yang mengotori diri dan kesengsaraannya:
Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup (8).
Artinya: Dan adapun orang yang bakhil dengan hartanya sehingga tidak menginfakkannya di jalan Allah, dan merasa tidak membutuhkan Tuhannya Yang Maha Suci sehingga tidak berharap dalam ketaatan kepada-Nya dan tidak pula dalam pahala-Nya.
Serta mendustakan pahala terbaik (9).
Artinya: Dan mendustakan surga.
Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar (10).
Artinya: Maka Kami akan memudahkan baginya amalan keburukan yang menyampaikannya ke neraka.
Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa (11).
Hubungan ayat ini dengan sebelumnya: Ketika orang-orang dunia jika mereka jatuh dalam kesulitan, mereka keluar darinya dengan harta mereka, Allah berfirman:
Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa (11).
Artinya: Dan tidak bermanfaat baginya hartanya yang ia kikir dengannya, dan berpaling darinya dari Allah, ketika ia jatuh ke dalam neraka Jahanam.”
Manfaat Pendidikan:
1- Allah berfirman: “Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang benderang.” Allah bersumpah dengan malam dan siang. Ini merupakan peringatan untuk mengambil pelajaran dari keduanya sebagai bukti kebijaksanaan sistem Allah di alam semesta ini dan keindahan kekuasaan-Nya.
2- Menyebutkan akibat-akibat baik untuk mendorong ketaatan tidak bertentangan dengan keikhlasan. Ini termasuk pahala yang disegerakan dan kabar gembira yang disegerakan bagi orang mukmin; karena Allah Ta’ala berfirman: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.”
3- Jika kamu melihat Allah telah memudahkan bagimu amalan ahli kebahagiaan, maka berbahagialah bahwa kamu termasuk ahli kebahagiaan. Jika kamu melihat pada dirimu ketundukan terhadap shalat, zakat, dan perbuatan baik, serta kamu memiliki ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla; maka ketahuilah bahwa kamu termasuk ahli kebahagiaan dan bergembiralah; karena Allah berfirman: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” Dan jika kamu melihat sebaliknya; kamu melihat dirimu lapang dada dengan melakukan keburukan -kita berlindung kepada Allah-, dan merasa sempit dengan melakukan ketaatan; maka berhati-hatilah, selamatkan dirimu, dan bertobatlah kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar Allah memudahkanmu.
4- Sesungguhnya seorang hamba ketika diberi taufik untuk tunduk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka agamanya menjadi mudah baginya, dan menjadi lebih mudah baginya daripada segala sesuatu, sebagaimana Allah berfirman: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.”
5- Sesungguhnya Allah Ta’ala ketika mengetahui dari seorang hamba niat yang baik dan keinginan untuk kebaikan; Allah memudahkan hal itu baginya dan membantunya untuk melakukannya; Allah berfirman: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.”
Manfaat Ilmiah dan Poin-poin Menarik:
1- Allah Ta’ala berfirman: “Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.” Allah Subhanahu bersumpah dengan waktu berusaha -yaitu malam dan siang- dan dengan yang berusaha -yaitu laki-laki dan perempuan- atas perbedaan usaha, sebagaimana berbedanya malam dan siang serta laki-laki dan perempuan, dan usahanya serta waktunya berbeda, dan itu menunjukkan perbedaan balasannya dan pahalanya, dan bahwa Allah Subhanahu tidak menyamakan antara orang yang berbeda usahanya dalam balasan, sebagaimana Dia tidak menyamakan antara malam dan siang serta laki-laki dan perempuan.
2- Dalam firman Allah Ta’ala: “Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang benderang,” terdapat isyarat bahwa kegelapan malam lebih dominan daripada cahaya siang, dan bahwa siang datang setelahnya, dan kegelapan adalah kondisi asal penduduk bumi dan semua alam yang terkait dengan sistem tata surya, dan hanya menjadi terang setelah Allah menciptakan matahari; oleh karena itu penanggalan pada mulanya dihitung dengan malam, kemudian datanglah penanggalan dengan hari.
3- Dalam firman Allah Ta’ala: “Demi malam apabila menutupi (cahaya siang),” terdapat pertanyaan tentang sumpah Allah Ta’ala dengan makhluk-makhluk ini, padahal kita dilarang bersumpah dengan selain-Nya. Jawabannya dari dua sisi: Pertama: Bahwa ini merupakan perbuatan Allah Ta’ala, dan Allah tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, dan Dia Subhanahu boleh bersumpah dengan apa saja yang Dia kehendaki dari ciptaan-Nya, dan Dia bertanya tidak ditanya, dan menetapkan hukum tidak dihukumi. Kedua: Bahwa sumpah Allah dengan tanda-tanda ini merupakan bukti keagungan-Nya dan kesempurnaan kekuasaan-Nya dan hikmah-Nya, maka sumpah dengannya yang menunjukkan pengagungannya dan mengangkat kedudukannya mengandung pujian kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan apa yang ditunjukkan oleh tanda-tanda tersebut berupa keagungan-Nya, adapun kita maka tidak bersumpah dengan selain Allah atau sifat-sifat-Nya; karena kita dilarang dari hal itu.
4- Dalam firman Allah Ta’ala: “Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan,” Allah Subhanahu membandingkan antara laki-laki dan perempuan sebagaimana membandingkan antara malam dan siang, dan semua itu termasuk tanda-tanda ketuhanan-Nya; maka sesungguhnya mengeluarkan malam dan siang melalui benda-benda langit seperti mengeluarkan laki-laki dan perempuan melalui benda-benda bumi, maka Dia mengeluarkan dari bumi hewan-hewan jantan dan betina dengan berbagai jenisnya, sebagaimana Dia mengeluarkan dari langit malam dan siang melalui matahari di dalamnya.
5- Dalam firman Allah Ta’ala: “dan penciptaan laki-laki dan perempuan” bahwa khunsa (orang yang memiliki dua alat kelamin) adalah salah satu dari keduanya, bukan jenis ketiga.
6- Dalam firman Allah Ta’ala: “sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda” bahwa merupakan tabiat manusia memiliki kecenderungan yang berbeda-beda; di antaranya kecenderungan kepada kebaikan dan kebenaran, dan di antaranya kecenderungan kepada kebatilan dan keburukan.
7- Dalam firman Allah Ta’ala: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah,” bahwa ketika agama berputar pada tiga kaidah: melakukan yang diperintahkan, meninggalkan yang dilarang, dan membenarkan berita, dan jika kamu mau, katakanlah: Agama adalah tuntutan dan berita, dan tuntutan ada dua jenis: tuntutan melakukan, dan tuntutan meninggalkan – maka kata-kata yang tiga ini telah mencakup semua tingkatan agama; memberikan: melakukan yang diperintahkan, takwa: meninggalkan yang dilarang, dan membenarkan pahala terbaik: membenarkan berita, maka hal itu mencakup seluruh agama, dan manusia yang paling sempurna adalah yang memiliki ketiga kekuatan ini secara sempurna.
8- Firman Allah Ta’ala: “maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah” sampai akhirnya: di dalamnya terdapat bantahan terhadap Qadariyah; Imam Bukhari, Muslim, dan lainnya meriwayatkan dari Ali radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada seorangpun dari kalian kecuali telah ditetapkan tempatnya di surga, dan tempatnya di neraka. Maka kami berkata: Wahai Rasulullah, apakah kita tidak bertawakal saja? Beliau menjawab: Tidak, beramallah; karena setiap orang dimudahkan, kemudian beliau membaca: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)” sampai firman-Nya: “yang sukar”.”
9- Dalam firman Allah Ta’ala: “Maka Kami akan memudahkannya menuju jalan kesukaran” (فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى). Huruf sin (س) di sini menunjukkan kepastian, yaitu: Sesungguhnya orang yang berderma dan bertakwa, serta membenarkan kebaikan; maka Allah ‘Azza wa Jalla akan memudahkannya menuju kebaikan dalam semua urusannya, baik urusan agama maupun dunianya—berdasarkan salah satu pendapat dalam tafsir—dan semakin bertakwa seseorang kepada Allah, maka semakin mudah urusannya; Allah Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya” [Ath-Thalaq: 4].
10- Dalam firman Allah Ta’ala: “Maka Kami akan memudahkannya menuju jalan kemudahan” (فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى), dan firman-Nya: “Maka Kami akan memudahkannya menuju jalan kesukaran” (فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى) adalah petunjuk bahwa taufik dan kehinaan datangnya dari Allah Ta’ala.
11- Dalam firman Allah Ta’ala: “Adapun orang yang berderma dan bertakwa” (فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى) dengan firman-Nya: “Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup” (وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى) ada pertanyaan: Bagaimana Allah mempertentangkan “bertakwa” (اتَّقى) dengan “merasa cukup” (استَغْنى)? Dan apakah mungkin seorang hamba tidak membutuhkan Tuhannya walau sekejap mata?!
Jawaban: Ini termasuk pertentangan yang paling baik; karena orang yang bertakwa ketika menyadari kefakiran, kebutuhannya, dan keperluannya yang sangat terhadap Tuhannya, dia bertakwa kepada-Nya, dan tidak melanggar kehendak-Nya dan tidak membuat-Nya murka dengan melakukan apa yang dilarang-Nya; karena orang yang sangat membutuhkan seseorang akan menghindari kemarahan dan kemurkaannya dengan penghindaran maksimal, dan menjauhi apa yang dibencinya dengan penjauhan maksimal, serta berpegang teguh pada perbuatan yang dicintai dan diridhai-Nya; maka Allah mempertentangkan “ketakwaan” dengan “merasa cukup”; untuk menampakkan keburukan kondisi orang yang meninggalkan ketakwaan, dan berlebihan dalam mencela sifatnya yang seolah-olah tidak membutuhkan Tuhannya, bukan seperti perbuatan orang fakir yang sangat membutuhkan-Nya yang tidak memiliki tempat berlindung kecuali kepada-Nya, dan tidak dapat lepas dari karunia, kemuliaan, dan kebaikan-Nya walau sekejap mata!
12- Dalam firman Allah Ta’ala: “Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup, dan mendustakan pahala terbaik, maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran” (وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى * وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى * فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى), dan juga firman-Nya: “Maka ketika mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka” [Ash-Shaff: 5], dan juga firman-Nya: “Barangsiapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah, Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barangsiapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman” [Al-An’am: 125], (menunjukkan) bahwa umumnya apa yang Allah sebutkan tentang penciptaan kekufuran dan maksiat, Dia menjadikannya sebagai balasan bagi perbuatan tersebut. Mereka dan orang-orang seperti mereka melakukan perbuatan yang Allah hukum mereka dengannya, karena melakukan hal yang dilarang dan meninggalkan perintah. Hal-hal tersebut terjadi dari mereka dan diciptakan pada diri mereka; karena mereka tidak melakukan apa yang mereka diciptakan untuknya, padahal mereka pasti memiliki gerakan dan keinginan. Ketika mereka tidak bergerak dengan kebaikan, mereka digerakkan dengan keburukan sebagai keadilan dari Allah Ta’ala; di mana Dia menempatkan hal tersebut pada tempatnya yang menerimanya, yaitu hati yang selalu bekerja. Jika hati tidak melakukan kebaikan, maka ia akan digunakan untuk melakukan keburukan, sebagaimana dikatakan: “Jika engkau tidak menyibukkan jiwamu, ia akan menyibukkanmu.” Aspek ini jika diteliti akan memutus akar pembicaraan golongan Qadariyah yang mendustakan dan golongan Jabariyah; yang mengatakan bahwa perbuatan hamba bukanlah ciptaan Allah, dan menganggap penciptaannya dan hukuman atasnya sebagai kezaliman, dan orang-orang yang mengatakan: Sesungguhnya Allah menciptakan kekufuran orang-orang kafir dan kemaksiatan mereka, dan menghukum mereka atas hal itu tanpa sebab dan tanpa hikmah!
13- Dalam firman Allah Ta’ala: “Maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran” (فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى) —berdasarkan pendapat bahwa yang dimaksud adalah kesukaran dalam semua urusan— ada pertanyaan: Kita mendapati bahwa urusan orang-orang kafir dimudahkan!
Jawaban: Ya. Urusan mereka mungkin dimudahkan, tetapi hati mereka menyala dengan api, kesempitan, dan kesusahan, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit” [Al-An’am: 125]. Kemudian, kenikmatan yang mereka rasakan hanyalah kenikmatan jasad saja, bukan kenikmatan ruh, dan itu pun menjadi bencana bagi mereka; karena Allah Ta’ala berfirman tentang mereka: “Akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dari arah yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tenggang waktu kepada mereka. Sungguh, rencana-Ku sangat teguh” [Al-A’raf: 182-183]. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memberi tenggang waktu kepada orang zalim, hingga ketika Dia menghukumnya, maka orang itu tidak akan bisa melarikan diri,” kemudian beliau membaca: “Dan begitulah siksa Tuhanmu apabila Dia menyiksa (penduduk) negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh, siksa-Nya sangat pedih, sangat berat” [Hud: 102]. Dan orang-orang ini disegerakan kebaikan-kebaikan mereka dalam kehidupan dunia, namun dunia ini tetaplah surga bagi mereka dibandingkan dengan akhirat.
Balaghah (Retorika) dalam Ayat-ayat:
1- Firman Allah Ta’ala: “Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan demi siang apabila terang benderang, dan demi penciptaan laki-laki dan perempuan” (وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى * وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى * وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَى)
- Secara khusus disebutkan petunjuk dari malam ketika menutupi bagian bumi yang diselubunginya, dan menutupi segala yang ada di dalamnya, sehingga kegelapannya melingkupi segalanya dan tidak terlihat oleh orang yang memandang; karena itu adalah keadaannya yang paling kuat. Dan secara khusus disebutkan dari keadaan siang adalah ketika terang benderang atas segala sesuatu dan tampaklah di atas bumi.
- Dipilihnya sumpah dengan malam dan siang adalah karena kesesuaiannya dengan konteks; karena tujuan surat ini adalah menjelaskan perbedaan antara keadaan orang-orang beriman dan orang-orang kafir di dunia dan akhirat.
- Di dalamnya terdapat hubungan yang baik, di mana surat ini dimulai dengan menyebutkan malam, kemudian menyebutkan siang, kebalikan dari yang ada dalam surat Asy-Syams; karena surat ini turun sebelum surat Asy-Syams dalam waktu tertentu, dan surat ini adalah surat keenam, dan pada saat itu kekufuran masih menyelimuti manusia kecuali sedikit orang, dan Islam mulai tampak, maka sesuai dengan keadaan itu dengan isyarat perumpamaannya seperti keadaan malam ketika diikuti oleh munculnya siang, dan ini dijelaskan dalam jawaban sumpah dengan firman-Nya: “Sesungguhnya usahamu memang berbeda-beda” sampai firman-Nya: “Ketika ia terjerumus (ke dalam neraka)” [Al-Lail: 4-11].
- Firman-Nya: “Demi malam apabila menutupi, dan demi siang apabila terang benderang” (وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى * وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى) – Objek kata “menutupi” (يَغْشَى) dihilangkan untuk menempatkan kata kerja tersebut seperti kata kerja yang tidak butuh objek; karena pelajaran ada pada penutupannya terhadap segala yang ditutupi oleh kegelapannya.
- Dan “terang benderang” (التَّجلِّي) disandarkan kepada siang; sebagai pujian terhadapnya dengan cahaya yang dilihat oleh setiap orang.
- Pengkaitan malam dengan keterangan waktu “apabila menutupi” (إِذَا يَغْشَى) dan pengkaitan siang dengan keterangan serupa “apabila terang benderang” (إِذَا تَجَلَّى); karena yang dimaksud adalah sumpah dengan masing-masing dari keduanya dalam keadaan yang menunjukkan keagungan dan keadaannya yang paling kuat serta paling menunjukkan keagungan perbuatan Allah Ta’ala. Pengkaitan sumpah dengan malam pada waktu ia menutupi adalah pengingat akan pelajaran tentang terjadinya keadaan gelap setelah keadaan terang.
- Allah Subhanahu menggunakan bentuk kata kerja mudhari’ (present tense) dalam kata “menutupi” (يَغْشَى); karena ia menutupi sesuatu demi sesuatu, sedangkan siang ketika matahari terbit, ia muncul dan tampak sekaligus; oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Asy-Syams: “Dan demi siang apabila menampakkannya, dan demi malam apabila menutupinya” [Asy-Syams: 3-4].
2- Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya usahamu memang berbeda-beda” (إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّى)
- Dalam firman-Nya: “Sesungguhnya usahamu memang berbeda-beda” (إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّى) terdapat bentuk global yang menimbulkan keinginan untuk mengetahui rinciannya, yang dijelaskan dengan firman-Nya: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa” dan seterusnya; agar rinciannya tertanam dalam pikiran.
- Kata “berbeda-beda” (شتَّى) berasal dari kata “شَتِّ” (syatt) yang berarti perpecahan yang hebat, dan yang dimaksud di sini adalah keberagaman dan perbedaan dalam keadaan, dan ini adalah kiasan untuk perbuatan-perbuatan yang berbeda; karena perpecahan mengharuskan adanya perbedaan.
3- Firman Allah Ta’ala: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah” (فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى * وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى * فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى)
- Firman-Nya: “Adapun” (فَأَمَّا) merupakan perincian dari keumuman dalam firman-Nya: “Sesungguhnya usahamu memang berbeda-beda” [Al-Lail: 4], dan yang membutuhkan perincian di sini adalah “usaha” yang disebutkan, tetapi perincian dibuat dengan menjelaskan orang-orang yang berusaha dengan firman-Nya: “Adapun orang yang memberikan”; karena yang penting adalah perbedaan keadaan orang-orang yang berusaha, dan usaha menyertai mereka; maka menempatkan mereka dalam perincian sesuai dengan usaha mereka setara dengan menempatkan usaha dalam perincian, dan ini adalah variasi dari berbagai macam ungkapan fasih yang menghasilkan dua makna. Dan perincian kata “berbeda-beda” (شتَّى) terbatas pada dua kelompok: kelompok yang dimudahkan menuju kemudahan, dan kelompok yang dimudahkan menuju kesulitan; karena kedua keadaan itulah yang penting dalam konteks mendorong pada kebaikan, dan memperingatkan dari keburukan, dan berbagai macam perbuatan termasuk di dalamnya, seperti firman Allah Ta’ala: “Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok, untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatannya. Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya” [Az-Zalzalah: 6-8]. Dan boleh juga menjadikan perincian kata “berbeda-beda” (شتَّى) adalah mereka yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik, dan mereka yang kikir dan merasa dirinya cukup, dan mendustakan pahala yang terbaik, dan itu adalah jumlah yang bisa menjadi penjelasan untuk kata “berbeda-beda” (شتَّى).
- Dan dihilangkan dua objek dari kata “memberi”; karena maksudnya adalah memuji pemberi tanpa menyinggung penerima dan pemberiannya. Atau dihilangkan objek dari kata “memberi”; karena tindakan memberi jika dimaksudkan untuk memberikan harta tanpa imbalan, ditempatkan pada posisi kata kerja intransitif; karena terkenalnya penggunaan kata ini dalam pemberian harta, oleh karena itu harta yang dihibahkan disebut pemberian, dan demikian pula dihilangkan objek dari kata “bertakwa”; karena sudah diketahui bahwa yang dimaksud adalah: bertakwa kepada Allah. Demikian juga kata kerja “kikir” tidak disebutkan objeknya; karena yang dimaksud adalah kikir dengan harta. Atau dihilangkan objek dari kata “memberi”; agar mencakup semua pemberian dari hartanya, kedudukannya, dan usahanya, bahkan hingga perkataan yang baik, bahkan hingga wajah yang berseri-seri.
- Dan “al-husna” (kebaikan): adalah bentuk feminine dari “ahsan” (terbaik), itu pada dasarnya adalah sifat untuk kata yang diperkirakan, dan bentuk femininenya menunjukkan bahwa kata yang diperkirakan dianggap sebagai bentuk feminine secara lafaz, dan bisa mencakup banyak hal; maka membenarkannya berarti mengakui kejadiannya, dan ini menjadi kiasan akan keinginan untuk mendapatkannya.
- Dan huruf “sin” dalam firman-Nya: “Maka akan Kami mudahkan baginya jalan kemudahan” dan firman-Nya: “Maka akan Kami mudahkan baginya jalan kesukaran” dikatakan: ini adalah huruf yang menunjukkan waktu akan datang yang dimaksudkan untuk menunjukkan kesinambungan dari sekarang hingga akhir kehidupan.
- Dan dalam firman-Nya “Maka akan Kami mudahkan baginya jalan kesukaran” kalimat diubah ke bentuk keagungan; sebagai isyarat akan sulitnya ketaatan bagi diri, meskipun pada dasarnya sangat mudah; karena ini sangat berat bagi diri.
4- Firman Allah Ta’ala: “Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup, dan mendustakan pahala terbaik, maka akan Kami mudahkan baginya jalan kesukaran. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.”
- Firman-Nya: “Dan merasa dirinya cukup” dijadikan sebagai lawan dari firman-Nya: “Dan bertakwa”; maka yang dimaksud adalah merasa tidak butuh untuk mematuhi perintah Allah dan dakwah-Nya; karena orang yang terus menerus dalam kekufuran dan berpaling dari dakwah menganggap dirinya tidak membutuhkan Allah dan merasa cukup dengan perlindungan berhala dan kaumnya; maka huruf “sin” dan “ta” untuk menunjukkan intensitas dalam tindakan, dan terkadang dimaksudkan dengannya adalah peningkatan pencarian kekayaan dengan kikir terhadap harta, sehingga huruf “sin” dan “ta” menunjukkan pencarian, dan sifat-sifat ini adalah kiasan akan keadaannya sebagai bagian dari kaum musyrikin.
- Firman-Nya: “Maka akan Kami mudahkan baginya jalan kemudahan” dan “Maka akan Kami mudahkan baginya jalan kesukaran” susunan redaksi dalam ayat ini datang berlawanan dengan yang umumnya dipahami; ketika kata ganti orang ketiga dalam “akan Kami mudahkan baginya jalan kemudahan” yang merujuk kepada “orang yang memberi dan bertakwa” dijadikan sebagai yang dimudahkan, dan kata ganti orang ketiga dalam “akan Kami mudahkan baginya jalan kesukaran” yang merujuk kepada “orang yang kikir dan merasa dirinya cukup” dijadikan sebagai yang dimudahkan, yakni: orang yang perbuatannya yang sulit dicapai menjadi berhasil baginya, dan karena yang dijarkan dengan “lam” adalah (al-yusra) dan (al-‘usra), maka boleh jadi kalimat ini berjalan berlawanan dengan kebiasaan yang tampak dengan cara pembalikan; dengan asumsi bahwa asal kalimatnya adalah: maka Kami akan memudahkan kemudahan baginya, dan Kami akan memudahkan kesukaran baginya, dan konsekuensi pembalikan ini adalah menunjukkan intensitas dalam kemudahan ini sehingga yang dimudahkan menjadi yang dimudahkan baginya dan yang dimudahkan baginya menjadi yang dimudahkan, serupa dengan cara mereka mengarahkan perkataan Arab: “aku menawarkan unta kepada kolam”.
Dan boleh jadi makna ayat ini sesuai dengan tampaknya tentang memudahkan manusia kepada kemudahan atau kesukaran, dan dijadikan “al-yusra” sebagai sifat, yakni: kondisi yang mudah, dan “al-‘usra”, yakni: kondisi yang tidak mudah, dan tidak ada pembalikan dalam susunan ini, dan “taysir” (memudahkan) berarti ketekunan dalam beramal, dan ketika janji untuk memudahkan kemudahan bagi pemilik sifat-sifat tersebut yang menunjukkan pada perbuatan memberi, bertakwa, dan membenarkan kebaikan, maka penggunaan jalur kata sambung adalah untuk menunjukkan dasar pembangunan khabar, yaitu kemudahan, maka sudah pasti bahwa kemudahan itu disebabkan oleh sifat-sifat tersebut, yakni: balasan atas perbuatannya, maka yang dimudahkan adalah: memudahkan ketekunan dalam melakukannya, dan “al-yusra” menjadi sifat bagi perbuatan-perbuatan tersebut, dan itu termasuk menampakkan dalam posisi penyembunyian, dan aslinya adalah: dimudahkan baginya perbuatan-perbuatannya, dan diubah dari penyembunyian kepada sifat kemudahan; untuk memuji perbuatan-perbuatan tersebut bahwa itu dimudahkan dari Allah.
- Mungkin dimulainya kedua bagian dengan “memberi” dan “kikir”, meskipun masing-masing lebih rendah tingkatannya daripada yang ada setelahnya dalam hal mengakibatkan kemudahan untuk kemudahan dan kemudahan untuk kesukaran; untuk menunjukkan bahwa masing-masing merupakan dasar dari yang disebutkan, dan bukan sebagai pelengkap untuk apa yang ada setelahnya berupa pembenaran, ketakwaan, pendustaan, dan merasa cukup diri.
Atau, secara khusus disebutkan “memberi” dalam firman-Nya: “Maka adapun orang yang memberi dan bertakwa” meskipun “bertakwa” mencakup artinya, dan secara khusus disebutkan “kikir” dalam firman-Nya: “Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup” meskipun “merasa cukup diri” mencakupnya; untuk mendorong kaum muslimin agar memberi, maka memberi dan bertakwa adalah ciri khas kaum muslimin bersama dengan membenarkan kebaikan, dan lawan dari ketiganya adalah ciri khas kaum musyrikin.
- Firman-Nya: “Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa”, huruf “waw” menghubungkan dengan kalimat “Maka akan Kami mudahkan baginya jalan kesukaran”, yakni: Kami akan menyegerakannya ke neraka Jahanam, maka perkiraan maknanya: ketika ia terjatuh ke dalamnya. Dan kata “ma” adalah kata kerja negasi, dan perkiraan maknanya: dan kelak hartanya tidak akan bermanfaat baginya ketika ia jatuh ke dalam neraka Jahanam, ini menurut satu pendapat. Dan boleh jadi kata “ma” sebagai kata tanya untuk pengingkaran dan teguran, dan dimungkinkan dalam bentuk ini bahwa huruf “waw” menunjukkan kalimat baru, dan maknanya: dan apakah hartanya akan bermanfaat baginya?!
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Ayat: 12-21
﴿اِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدٰىۖ ١٢ وَاِنَّ لَنَا لَلْاٰخِرَةَ وَالْاُوْلٰىۗ ١٣ فَاَنْذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظّٰىۚ ١٤ لَا يَصْلٰىهَآ اِلَّا الْاَشْقَىۙ ١٥ الَّذِيْ كَذَّبَ وَتَوَلّٰىۗ ١٦ وَسَيُجَنَّبُهَا الْاَتْقَىۙ ١٧ الَّذِيْ يُؤْتِيْ مَالَهٗ يَتَزَكّٰىۚ ١٨ وَمَا لِاَحَدٍ عِنْدَهٗ مِنْ نِّعْمَةٍ تُجْزٰىٓۙ ١٩ اِلَّا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْاَعْلٰىۚ ٢٠ وَلَسَوْفَ يَرْضٰى ࣖ ٢١ ﴾
Kosakata yang Tidak Umum:
Taladzza (تَلَظَّى): Artinya: menyala dan berkobar. “Al-Ladza” adalah nyala api murni. Dikatakan: “taladzat an-naar tataladzza taladdziyan” yang berarti: menyala, berpijar dan berkobar.
Yashlaha (يَصْلَاهَا): Artinya: memasukinya dan merasakan panasnya. Asal kata “as-shala” adalah menyalakan api.
Wa tawalla (وَتَوَلَّى): Artinya: berpaling. “At-tawalli” jika disambungkan dengan “an” baik secara lafaz maupun perkiraan -seperti di sini- mengandung makna berpaling dan meninggalkan kedekatan.
Yatazakka (يَتَزَكَّى): Artinya: menyucikan diri dan berkembang. “At-tazakki” adalah usaha untuk berkembang dalam kebaikan. Asal kata “zaki” menunjukkan kesucian, pertumbuhan, dan pertambahan.
Penjelasan Tata Bahasa:
Firman Allah Ta’ala: “Dan tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat padanya yang dibalas, kecuali karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi.”
Firman Allah Ta’ala: “Illa ibtigha’a” (kecuali karena mencari): Kata ini dinashabkan sebagai pengecualian yang terputus (istitsna’ munqathi’); karena tidak termasuk dalam jenis nikmat, sehingga maknanya: tetapi dia melakukan itu untuk mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Suci, dan mencari ridha-Nya Yang Maha Mulia, bukan untuk membalas nikmat. Dan boleh jadi ini adalah objek untuk alasan (maf’ul li ajlih) berdasarkan makna; karena maknanya: dia tidak memberikan hartanya karena sesuatu dari segala hal kecuali karena mencari ridha Tuhannya Yang Maha Mulia, bukan untuk membalas nikmat; maka ini adalah pengecualian yang menyeluruh dari segala alasan dan sebab.
Makna Umum:
Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya kewajiban Kami adalah menjelaskan jalan petunjuk kepada manusia, dan sesungguhnya hanya Kami yang memiliki akhirat dan dunia, serta pengaturan keduanya; maka Aku memperingatkan kalian -wahai manusia- akan api neraka Jahannam yang menyala dan berkobar, tidak ada yang memasukinya dan merasakan panasnya kecuali orang kafir yang celaka yang mendustakan kebenaran dan berpaling dari mengikutinya. Dan akan dijauhkan dari neraka orang mukmin yang bertakwa kepada murka Allah dan azab-Nya, dan yang bersedekah dengan hartanya di jalan Allah; untuk menyucikan dirinya, dan pengeluarannya bukan untuk membalas orang yang telah berbuat baik kepadanya sebelumnya, tetapi dia mengharapkan dengan infaknya wajah Tuhannya Yang Maha Tinggi, dan dia akan senang dengan apa yang Allah Ta’ala berikan kepadanya sebagai pahala di akhirat.
Tafsir Ayat-ayat:
“Sesungguhnya kewajiban Kami-lah memberi petunjuk.” (12)
Kesesuaian ayat ini dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah ﷻ memberitahu mereka bahwa usaha mereka berbeda-beda, dan menjelaskan apa yang didapat oleh orang-orang yang berbuat baik berupa kemudahan, dan apa yang didapat oleh orang-orang yang berbuat buruk berupa kesulitan – Dia memberitahu mereka bahwa kewajiban-Nya adalah menjelaskan petunjuk dari kesesatan.
“Sesungguhnya kewajiban Kami-lah memberi petunjuk.” (12) Artinya: Sesungguhnya kewajiban Kami untuk menjelaskan jalan petunjuk yang mengantarkan orang yang menempuhnya kepada Allah Ta’ala dan surga-Nya.
“Dan sesungguhnya kepunyaan Kami-lah akhirat dan dunia.” (13) Artinya: Dan sesungguhnya hanya Kami-lah yang memiliki kerajaan akhirat dan dunia, serta pengaturan keduanya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa menghendaki pahala dunia, maka di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat.” [An-Nisa: 134]
“Maka Aku memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala.” (14) Artinya: Maka Aku memperingatkan kalian -wahai manusia- akan api neraka Jahannam yang menyala dan berkobar.
“Yang tidak dimasuki kecuali oleh orang yang paling celaka.” (15) Artinya: Tidak ada yang memasukinya dan merasakan panasnya kecuali orang kafir yang celaka. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Orang-orang yang takut akan mengambil pelajaran darinya (Al-Quran), dan orang yang celaka akan menjauhinya (Al-Quran), (yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka), kemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.” [Al-A’la: 10-13]
“Yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).” (16) Artinya: Yang mendustakan kebenaran, tidak beriman kepadanya, dan berpaling dari mengikutinya dan mengamalkannya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan dia tidak mau membenarkan (Rasul) dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi dia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran).” [Al-Qiyamah: 31-32]
“Dan akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu.” (17) Artinya: Dan akan dijauhkan dari neraka orang mukmin yang bertakwa kepada murka Allah dan azab-Nya.
“Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya.” (18)
Kesesuaian ayat ini dengan ayat sebelumnya: Setelah menyebutkan hal yang berkaitan dengan kekuatan ilmiah (pengetahuan), Allah melanjutkan dengan apa yang berkaitan dengan kekuatan amaliah (perbuatan); maka Dia berfirman:
“Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya.” (18) Artinya: Yang bersedekah dengan hartanya di jalan Allah; untuk menyucikan dirinya dan mengembangkannya.
“Padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat padanya yang harus dibalas.” (19)
Kesesuaian ayat ini dengan ayat sebelumnya: Karena manusia terkadang memberi untuk menyucikan dirinya dengan menolak beban hutang budi, dan membalas nikmat-nikmatnya; maka Allah berfirman:
“Padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat padanya yang harus dibalas.” (19) Artinya: Dan pengeluarannya bukan untuk membalas orang yang telah berbuat baik kepadanya sebelumnya.
“Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi.” (20) Artinya: Tetapi dia mengharapkan dengan menginfakkan hartanya wajah Tuhannya Yang Maha Tinggi, dia berharap dapat melihat-Nya di akhirat. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” [Ar-Rum: 38]. Dan Allah ﷻ berfirman: “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak mengharapkan balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” [Al-Insan: 9].
“Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” (21) Artinya: Dan aku bersumpah bahwa orang yang berinfak ini akan puas dengan apa yang Allah Ta’ala berikan kepadanya sebagai pahala di akhirat.
Manfaat Pendidikan:
- Dalam firman Allah Ta’ala: “Dan akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat padanya yang harus dibalas” terdapat petunjuk bahwa orang yang bertakwa seharusnya tidak menanggung hutang budi dan nikmat dari makhluk, dan jika dia menerima sesuatu dari mereka, dia segera membalasnya; agar tidak ada seorang pun dari makhluk yang memiliki nikmat padanya yang harus dibalas, sehingga setelah itu semua amalnya hanya untuk Allah semata, bukan sebagai balasan kepada makhluk atas nikmatnya.
- Dalam firman Allah Ta’ala: “Padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat padanya yang harus dibalas, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi” terdapat peringatan bahwa orang yang tidak memiliki kewajiban membalas nikmat kepada makhluk tidak melakukan apa yang dilakukannya kecuali untuk mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi, berbeda dengan orang yang terikat dengan nikmat-nikmat makhluk dan hutang budi mereka; karena dia terpaksa melakukan sesuatu untuk mereka, dan meninggalkan sesuatu karena mereka; oleh karena itu, termasuk kesempurnaan keikhlasan adalah seorang hamba tidak membiarkan dirinya memiliki hutang budi kepada siapa pun; agar semua interaksinya hanya untuk Allah, mencari wajah-Nya dan mencari keridhaan-Nya.
- Dalam firman Allah Ta’ala: “Padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat padanya yang harus dibalas, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi” terdapat pelajaran bahwa seorang mukmin, ketika Allah Azza wa Jalla memberinya kekayaan, hendaknya bersyukur kepada Allah, melaksanakan apa yang Allah wajibkan atasnya dalam mengeluarkan harta pada haknya, dengan cara yang diridhai Allah Azza wa Jalla.
- Dalam firman Allah Ta’ala: “Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi” terdapat pelajaran bahwa kita harus menghadirkan niat mendekatkan diri dalam ibadah, dan umumnya kita melakukan ibadah karena merasa terikat dengannya, sehingga kita berniat untuk memperbaiki amal, dan ini adalah kekurangan.
Manfaat Ilmiah dan Kelembutan:
1- Pada firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya kewajiban Kami-lah memberi petunjuk”, ada sebuah pertanyaan: Ini menunjukkan bahwa Allah mewajibkan petunjuk atas diri-Nya untuk makhluk-Nya, padahal banyak ayat yang menunjukkan tidak adanya petunjuk bagi sebagian manusia, seperti firman-Nya: “Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik” [Al-Ma’idah: 108], dan firman-Nya: “Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim” [Al-Baqarah: 258], dan firman-Nya: “Bagaimana Allah akan memberi petunjuk kepada suatu kaum yang kafir” [Ali Imran: 86], dan ayat-ayat lainnya? Jawabannya: Bahwa hidayah (petunjuk) dalam Al-Qur’an digunakan secara khusus dan umum; yang ditetapkan adalah yang umum, dan yang dinafikan adalah yang khusus, dan penafian yang lebih khusus tidak mengharuskan penafian yang lebih umum. Adapun menurut pendapat yang mengatakan: “Sesungguhnya makna ayat tersebut: Sesungguhnya jalan yang menunjukkan kepada Kami dan ketaatan kepada Kami adalah petunjuk, bukan kesesatan”, dan pendapat yang mengatakan: “Sesungguhnya makna ayat: Barangsiapa yang menempuh jalan petunjuk akan sampai kepada Allah”; maka tidak ada masalah sama sekali dalam ayat tersebut.
2- Pada firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya kewajiban Kami-lah memberi petunjuk”, begitu juga firman-Nya: “Dan hak Allah-lah (menerangkan) jalan yang lurus” [An-Nahl: 9], dan firman-Nya: “Dia (Iblis) berkata: Ini adalah jalan yang lurus, yang Aku jaga” [Al-Hijr: 41], penghubungan dilakukan dengan huruf yang menunjukkan ketinggian (على) bukan huruf yang menunjukkan tujuan (إلى); alasannya adalah bahwa orang yang menempuh jalan Allah bertawakal kepada-Nya, maka ia harus beribadah kepada-Nya dan bertawakal kepada-Nya. Jika dikatakan: “Atasnya jalan yang lurus” ini mengandung bahwa penempuhnya bertawakal kepada-Nya, dan jalan itu menunjukkannya kepada-Nya, dan jalan itu membawanya kepada ibadah dan ketaatan kepada-Nya. Ini menurut salah satu pendapat dalam tafsir ayat tersebut.
3- Pada firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya kewajiban Kami-lah memberi petunjuk” adalah kewajiban dari Allah ‘Azza wa Jalla untuk menjelaskan kepada makhluk apa yang menunjukkan mereka kepada-Nya. Yang dimaksud dengan petunjuk di sini adalah petunjuk penjelasan dan bimbingan; karena Allah Ta’ala telah mewajibkan atas diri-Nya untuk menjelaskan hal itu agar manusia tidak memiliki hujjah (alasan) terhadap Allah. Ini seperti dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya” [An-Nisa’: 163] hingga firman-Nya: “Rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus” [An-Nisa’: 165]. Akal manusia tidak dapat secara mandiri mengetahui petunjuk; oleh karena itu Allah ‘Azza wa Jalla berkewajiban untuk menjelaskan petunjuk kepada manusia.
4- Pada firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya kewajiban Kami-lah memberi petunjuk. Dan sesungguhnya Kami-lah yang memiliki akhirat dan dunia” terdapat isyarat agung bahwa urusan pembalasan di akhirat berjalan sesuai yang Allah tetapkan dan Dia beritahukan kepada hamba-hamba-Nya, dan bahwa sistem urusan dunia dan sebab akibatnya adalah hal yang telah Allah Ta’ala tetapkan, dan Dia memerintahkan untuk menjaganya, dan Dia membimbing dan memberi petunjuk; maka barangsiapa yang lalai dalam hal tersebut, ia telah berhak mendapatkan akibat dari kelalaiannya.
5- Pada firman Allah Ta’ala: “Tidak akan masuk ke dalamnya (neraka) kecuali orang yang paling celaka” ada pertanyaan tentang ayat ini yang karenanya penganut paham irja’ (murji’ah) berpendapat bahwa tidak ada yang masuk neraka kecuali orang kafir; karena firman-Nya: “Tidak akan masuk ke dalamnya (neraka) kecuali orang yang paling celaka, yaitu orang yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman)”. Jawabannya: Bahwa persoalannya tidak seperti yang mereka sangka; ini adalah neraka tertentu yang digambarkan, tidak masuk ke neraka ini kecuali orang yang paling celaka yang mendustakan dan berpaling. Penghuni neraka memiliki tingkatan; di antaranya seperti firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka” [An-Nisa’: 145]. Allah ‘Azza wa Jalla, setiap yang Dia ancamkan dengan jenis azab tertentu, maka boleh bagi-Nya untuk mengazab dengannya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki” [An-Nisa’: 48]. Jika setiap orang yang tidak menyekutukan Allah tidak diazab, maka tidak ada faedah dalam firman-Nya: “Dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki”.
6- Allah Ta’ala berfirman: “Dan akan dijauhkan darinya (neraka) orang yang paling bertakwa, yang menginfakkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan (dirinya)” yaitu dengan tujuan untuk menyucikan jiwanya dan membersihkannya dari dosa dan aib, dengan niat mencari wajah Allah Ta’ala. Ini menunjukkan bahwa jika infak yang disunahkan mengandung pengabaian kewajiban – seperti hutang, nafkah, dan sejenisnya – maka itu tidak disyariatkan, bahkan pemberiannya ditolak menurut banyak ulama; karena seseorang tidak menyucikan dirinya dengan melakukan amalan sunah yang menggugurkan kewajiban.
7- Firman Allah Ta’ala: “Dan akan dijauhkan darinya (neraka) orang yang paling bertakwa, yang menginfakkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan (dirinya), dan tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari wajah Tuhannya Yang Mahatinggi” digunakan sebagai dalil bahwa tidak sah memberikan zakat kepada orang tua, baik mereka sehat atau sakit, atau kepada siapa pun yang telah berbuat baik kepada pemberi; karena itu menjadi balas budi dan imbalan, sedangkan zakat adalah untuk orang yang tidak membalas budi dan tidak mengimbangi, dan tidak untuk menolak celaan, tetapi zakat harus murni karena Allah ‘Azza wa Jalla semata. Balasan hanya dalam mengeluarkan harta untuk ibadah sunah, bukan dalam kewajiban.
8- Allah Ta’ala berfirman: “Dan tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya”, Dia menunjukkan dengan kata “dibalasnya” bahwa nikmat Islam yang Rasulullah berikan kepada orang yang paling bertakwa ini tidak dapat dibalas; karena setiap pemberi nikmat dapat dibalas nikmatnya kecuali nikmat Islam; karena orang yang diberi nikmat tersebut tidak mungkin membalasnya. Ini menunjukkan bahwa Abu Bakar As-Siddiq radhiyallahu ‘anhu adalah orang pertama dan paling layak yang disebutkan dalam ayat ini, dan dia adalah orang yang paling berhak dari umat ini dengan ayat tersebut; karena Ali radhiyallahu ‘anhu dibesarkan di rumah Nabi, maka Rasulullah memiliki nikmat kepadanya selain nikmat Islam yang dapat dibalas.
9- Firman Allah Ta’ala: “Dan kelak dia benar-benar akan mendapat kesenangan (yang sempurna)”, ayat ini termasuk jawami’ al-kalim (ungkapan singkat namun padat makna); karena mencakup segala yang diinginkan oleh para pencari.
Keindahan Sastra dalam Ayat-ayat:
1- Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya kewajiban Kami-lah memberi petunjuk. Dan sesungguhnya Kami-lah yang memiliki akhirat dan dunia”
- Firman-Nya: “Sesungguhnya kewajiban Kami-lah memberi petunjuk” adalah kalimat yang dimulai kembali untuk memberitahu mereka bahwa Allah, sesuai dengan hikmah-Nya, berkewajiban menjelaskan perbedaan antara petunjuk dan kesesatan. Ini merupakan permulaan kalimat yang menegaskan isi pembicaraan sebelumnya dari firman-Nya: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah)” hingga firman-Nya: “kepada jalan kesukaran” [Al-Lail: 5-10]; ini untuk menempatkan tanggung jawab pada orang yang memilih jalan kesukaran, bahwa Allah telah memberi peringatan kepadanya -dengan mengajaknya kepada kebaikan melalui seruan Islam- namun ia berpaling dari petunjuk dan memilih untuk melakukan keburukan; karena kemudahan menuju jalan kemudahan terjadi ketika seorang hamba condong kepada perbuatan baik, dan kemudahan menuju jalan kesukaran terjadi ketika ia condong kepada perbuatan buruk.
- Penegasan berita dengan huruf (إنَّ) dan lam ibtida’: mengisyaratkan bahwa ini seperti jawaban atas apa yang bergejolak dalam jiwa orang-orang yang sesat ketika mendengar peringatan sebelumnya, bahwa mereka mendustakan dengan alasan jika Allah menghendaki apa yang Dia serukan kepada mereka, tentu Dia akan memaksa mereka kepada keimanan; seperti yang diceritakan tentang mereka dalam ayat lain: “Dan mereka berkata: ‘Sekiranya (Allah) Yang Maha Pengasih menghendaki, tentulah kami tidak menyembah mereka (malaikat)'” [Az-Zukhruf: 20].
- Penghubungan “Dan sesungguhnya Kami-lah yang memiliki akhirat dan dunia” dengan kalimat “Sesungguhnya kewajiban Kami-lah memberi petunjuk” adalah penyempurnaan dan peringatan bahwa jaminan Allah kepada hamba-hamba-Nya dengan petunjuk adalah karunia dari-Nya, karena negeri akhirat adalah milik-Nya, dan negeri dunia adalah milik-Nya beserta segala isinya.
- Firman-Nya: “Dan sesungguhnya Kami-lah yang memiliki akhirat dan dunia” di dalamnya terdapat pendahuluan akhirat atas dunia, meskipun dunia mendahului akhirat dalam waktu, tetapi Allah mengemudiankan penyebutan dunia karena dua faedah: Faedah pertama: makna, dan faedah kedua: lafaz. Adapun faedah makna, karena akhirat lebih penting dari dunia, dan karena di akhirat kekuasaan Allah Ta’ala tampak dengan sempurna; di dunia ada para pemimpin, ada raja-raja, ada para penguasa, mereka memiliki kekuasaan yang Allah ‘Azza wa Jalla berikan kepada mereka, namun di akhirat tidak ada kekuasaan bagi siapa pun “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini? Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan” [Ghafir: 16]; oleh karena itu Allah mendahulukan penyebutan akhirat karena faedah makna ini. Adapun faedah lafaz adalah untuk menjaga keserasian akhir ayat; semua akhir ayat berakhir dengan huruf alif.
2- Firman Allah Ta’ala: “Maka Aku memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman)”
- Firman-Nya: “Maka Aku memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala”, huruf fa’ (maka) bisa sebagai penghubung urutan kalimat jika kata kerja “memperingatkan kamu” digunakan dalam bentuk lampau, dan yang dimaksud adalah peringatan yang tercakup dalam firman-Nya: “Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu bantuan orang lain), serta mendustakan (pahala) yang terbaik, maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan). Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa” [Al-Lail: 8-11]. Huruf fa’ ini maknanya mirip dengan fa’ fashihah (yang menunjukkan ada pernyataan tersembunyi sebelumnya); karena menunjukkan hubungan dengan isi pembicaraan sebelumnya, yaitu cabang peringatan yang terperinci dari peringatan yang global. Bisa juga huruf fa’ untuk cabang makna, sehingga kata kerja “memperingatkan kamu” dimaksudkan untuk waktu sekarang, tetapi dinyatakan dalam bentuk lampau untuk mendekatkan waktu lampau dengan waktu sekarang, dan ini adalah cabang dari kalimat “Sesungguhnya kewajiban Kami-lah memberi petunjuk” [Al-Lail: 12], dan maknanya: Sesungguhnya kewajiban Kami adalah memberi petunjuk kepada kalian, maka Aku memperingatkan kalian sebagai penyampaian dalam petunjuk.
- Penggunaan bentuk nakirah (tidak definitif) pada kata “naran” (neraka) untuk menunjukkan kehebatannya.
- Asal kata “talazzha” adalah “tatalazzha” dengan dua huruf ta’; salah satunya dihapus untuk meringkas.
- “Al-asyqa” (orang yang paling celaka) diikuti dengan sifat “yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman)” untuk lebih menegaskan bahwa yang dimaksud adalah orang-orang musyrik; karena mereka tahu bahwa mereka telah mendustakan Rasulullah ﷺ dan berpaling, yaitu: berpaling dari Al-Qur’an, dan sifat itu terbatas pada mereka saat itu; karena manusia pada masa munculnya Islam adalah salah satu dari dua kelompok: kafir atau mukmin yang bertakwa, dan orang-orang yang masuk Islam tidak melakukan dosa-dosa besar; karena mereka menghadap Islam dengan seluruh jiwa mereka. Oleh karena itu disambungkan “Dan akan dijauhkan darinya (neraka) orang yang paling bertakwa…” dan seterusnya sebagai penegasan makna pembatasan dan penyempurnaan perbandingan.
- “Al-asyqa” (orang yang paling celaka) disifati dengan “yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman)” untuk menunjukkan bahwa sifat tersebut menjadi sebab hukum.
- “Al-asyqa” dan “al-atqa” dimaksudkan sebagai orang yang sangat celaka dan orang yang sangat bertakwa.
Dalam firman-Nya: “Yang mendustakan dan berpaling” sampai firman-Nya: “Yang menafkahkan hartanya untuk membersihkan dirinya” terdapat gaya bahasa ihtibak (elipsis berpasangan); pertama menyebutkan pendustaan sebagai bukti penghapusan lawannya di bagian kedua, dan menyebutkan pemberian harta di bagian kedua sebagai bukti penghapusan lawannya di bagian pertama.
3- Firman Allah Ta’ala: “Dan akan dijauhkan darinya (neraka) orang yang paling bertakwa, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan dirinya, dan tidak ada seorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar akan mendapat kepuasan.”
- Firman-Nya: “Dan akan dijauhkan darinya” – huruf “waw” berfungsi sebagai kata sambung, dan huruf “sin” adalah huruf yang menunjukkan masa depan yang digunakan untuk penekanan.
- Kata “paling bertakwa” dijelaskan dengan kalimat “yang menafkahkan hartanya untuk membersihkan dirinya” untuk menunjukkan bahwa kalimat tersebut memiliki peran sebab dalam hukum.
- Kalimat “untuk membersihkan dirinya” adalah keterangan keadaan (haal) dari kata ganti pada “menafkahkan”, dan manfaat keterangan keadaan ini adalah untuk mengingatkan bahwa dia memberikan hartanya dengan tujuan mendapatkan manfaat dan menambah pahala, sebagai sindiran terhadap kaum musyrikin yang memberikan harta mereka untuk kesombongan, riya, kerusakan, dan kefasikan.
- “Tazkiyah” (membersihkan diri): berusaha untuk memperoleh kesucian, yaitu pertumbuhan dalam kebaikan.
- Firman-Nya: “dan tidak ada seorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya” adalah kalimat permulaan yang menegaskan bahwa pemberiannya untuk membersihkan diri adalah murni untuk Allah Ta’ala. Artinya: tidak ada seorang pun yang memiliki nikmat padanya yang perlu dibalas, sehingga dia tidak bermaksud dengan pemberiannya untuk membalas nikmat tersebut.
- Firman-Nya: “Dan kelak dia benar-benar akan mendapat kepuasan” adalah jawaban dari sumpah yang tersembunyi, yaitu: “Demi Allah, kelak dia benar-benar akan mendapat kepuasan”, dan ini adalah janji dengan pahala besar yang akan memuaskan pemiliknya. Ini melengkapi firman-Nya: “Dan akan dijauhkan darinya orang yang paling bertakwa”; karena ungkapan tersebut hanya menunjukkan bahwa dia selamat dari siksa neraka, sesuai dengan konteks yang mengharuskan pembatasan pada hal itu, dengan maksud perbandingan dengan firman-Nya: “Tidak akan masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka”. Maka di sini dilengkapi dengan menyebutkan apa yang telah disediakan untuknya berupa kebaikan.
- Huruf “saufa” (kelak) digunakan untuk memastikan janji di masa depan, artinya: kepuasannya akan terus berlanjut di masa depan yang panjang, dan huruf “lam” adalah lam ibtida’ untuk menegaskan khabar (predikat).
۞ ۞ ۞ ۞ ۞
Alhamdulillah selesai terjemah jilid 02. In Syaa Alloh lanjut jilid berikutnya ke-03, dari surat Ad-Dhuha s/d An-Naas.
33. TAFSIR AL-MUHARRAR ALFATIHAH JUZ AMMA JILID 02
Penulis : Yayasan Ad-Durar As-Saniyyah
Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.







