TAFSIR AL-MUHARRAR ALFATIHAH JUZ AMMA JILID 01

Rabu, 7 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TAFSIR AL-MUHARROR

التَّفْسِيْرُ المُحَرَّرُ

“Al-Fatihah & Juz ‘Amma”

JILID 01

 

Sebuah karya yang disusun dengan baik dalam tafsir Al-Qur’an Al-Karim, yang menggabungkan antara kebenaran informasi, kemudahan ungkapan, dengan keindahan penyusunan, serta kebaikan pengaturan dan pengorganisasian bab; disandarkan pada pilihan-pilihan penjelasan para ahli dari kalangan mufasir dan ulama lainnya; sehingga hadir mencakup bersamaan dengan:

Tafsir ayat-ayat, penjelasan kata-kata yang asing, permasalahan i’rab (tata bahasa), penjelasan makna keseluruhan ayat-ayat, penjelasan hubungan antar ayat, penyebutan qira’at (bacaan) yang memiliki pengaruh dalam tafsir, dan pemaparan manfaat-manfaat pendidikan, kehalusan ilmiah, dan keindahan retorika yang terdapat dalam ayat-ayat Al-Qur’an Al-Karim.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙

Karya monumental ini, dalam edisi lengkap aslinya berbahasa Arab membentang hingga 44 jilid buku, dan hadir dalam format e-book terjemahan ini dengan hanya mencakup penafsiran terhadap Surah Al-Fatihah serta tafsir komprehensif dari seluruh surah yang terdapat dalam Juz ‘Amma saja.

Meskipun tidak mencakup keseluruhan surat Al-Qur’an, edisi terjemahan ini tetap mempertahankan esensi keilmuan dan kedalaman spiritual dari karya aslinya, menawarkan akses praktis kepada pembaca untuk memahami makna mendalam dari bagian-bagian Al-Qur’an yang paling sering dibaca dan direnungkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

DAFTAR ISI

 

SURAT AL-FATIHAH.. 6

Nama-nama Surat: 6

Bukti-bukti: 6

Keutamaan dan Keistimewaan Surat: 7

Penjelasan tentang Makkiyah dan Madaniyah: 9

Tujuan-tujuan Surat: 10

Topik-topik Surat: 10

Kesesuaian Pembukaan Al-Quran dengan Surat Al-Fatihah: 10

Makna Global: 11

Penjelasan Kata-kata Asing: 11

Penjelasan I’rab (Tata Bahasa): 11

Tafsir Ayat-ayat: 12

Bacaan-bacaan yang Berpengaruh pada Tafsir: 15

Manfaat Pendidikan: 18

Manfaat Ilmiah dan Hikmah-hikmah: 19

Keindahan Bahasa dalam Ayat-ayat: 20

SURAH AN-NABA.. 25

Ayat: 1-5. 26

Ayat: 6-16. 34

Ayat: 17-20. 57

Ayat: 21-30. 66

Ayat: 31-36. 88

Ayat: 37-40. 98

SURAH AN-NAZI’AT.. 113

Ayat: 1-14. 114

Ayat: 16-26. 135

Ayat: 27-33. 156

Ayat: 34-41. 170

Ayat: 42-46. 184

SURAT ‘ABASA.. 199

Ayat: 1-16. 200

Ayat: 17-32. 221

Ayat: 33-42. 242

SURAH AT-TAKWIR.. 255

Ayat: 1-14. 256

Ayat: 15-29. 276

SURAH AL-INFITHAR.. 310

Ayat: 1-5. 311

Ayat: 6-12. 318

Ayat: 13-19. 339

SURAH AL-MUTHAFFIFIN.. 355

Ayat: 1-6. 356

Ayat: 7-17. 370

Ayat: 18-28. 390

Ayat: 29-36. 410

 

 

 

 

 

SURAT AL-FATIHAH

Perhatian: Setiap kalimat berikut memiliki rujukan ilmiah yang belum diterjemahkan. Bagi yang memerlukan, silakan merujuk langsung ke situs web aslinya dalam bahasa Arab di: https://dorar.net/tafseer/1

Nama-nama Surat:

Surat Al-Fatihah memiliki beberapa nama, yaitu:

  1. Fatihatul Kitab (Pembuka Kitab)
  2. Ummul Quran (Induk Al-Quran)
  3. Ummul Kitab (Induk Kitab)
  4. As-Sab’ul Matsani (Tujuh ayat yang diulang-ulang)
  5. Al-Quranul Azhim (Al-Quran yang Agung)
  6. Surat Al-Hamd (Surat Pujian)

Bukti-bukti:

  1. Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab.”
  2. Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata: “Nabi shallallahu alaihi wasallam mempersingkat dua rakaat sebelum shalat Subuh, sampai-sampai aku berkata: ‘Apakah beliau membaca Ummul Kitab?!'”
  3. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ummul Quran adalah As-Sab’ul Matsani dan Al-Quranul Azhim.”
  4. Dari Abu Said bin Al-Mu’alla radhiyallahu anhu, berkata: “Nabi shallallahu alaihi wasallam melewatiku ketika aku sedang shalat, lalu beliau memanggilku, namun aku tidak mendatanginya sampai aku selesai shalat. Kemudian aku mendatanginya dan beliau bertanya: ‘Apa yang menghalangimu untuk datang?’ Aku menjawab: ‘Aku sedang shalat.’ Beliau bersabda: ‘Bukankah Allah telah berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu?’ Kemudian beliau bersabda: ‘Maukah aku ajarkan kepadamu surat yang paling agung dalam Al-Quran sebelum aku keluar dari masjid?’ Lalu Nabi shallallahu alaihi wasallam hendak keluar dari masjid, maka aku mengingatkannya. Beliau bersabda: ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin’ adalah tujuh ayat yang diulang-ulang dan Al-Quran yang agung yang diberikan kepadaku.'”

Keutamaan dan Keistimewaan Surat:

Surat Al-Fatihah memiliki banyak keutamaan dan keistimewaan agung yang disebutkan dalam Sunnah Nabi, di antaranya:

  1. Bahwa surat ini adalah cahaya, dan tidak diberikan kepada nabi sebelum Muhammad shallallahu alaihi wasallam

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata: “Ketika Jibril sedang duduk bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam, ia mendengar suara dari atasnya. Lalu ia mengangkat kepalanya dan berkata: ‘Ini adalah pintu langit yang dibuka hari ini, belum pernah dibuka sebelumnya kecuali hari ini.’ Lalu turunlah malaikat darinya. Jibril berkata: ‘Ini adalah malaikat yang turun ke bumi, belum pernah turun sebelumnya kecuali hari ini.’ Malaikat itu memberi salam dan berkata: ‘Bergembiralah dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu, tidak pernah diberikan kepada nabi sebelummu: Fatihatul Kitab dan ayat-ayat terakhir surat Al-Baqarah. Tidaklah engkau membaca satu huruf dari keduanya melainkan engkau akan diberikan (pahalanya).'”

  1. Bahwa dengan membacanya terjadilah dialog dalam shalat antara hamba dan Tuhannya

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa melaksanakan shalat tanpa membaca Ummul Quran, maka shalatnya kurang -diulang tiga kali- tidak sempurna.” Dikatakan kepada Abu Hurairah: “Sesungguhnya kami berada di belakang imam.” Ia berkata: “Bacalah dalam hatimu, karena aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Allah Ta’ala berfirman: ‘Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Apabila hamba berkata: ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin’, Allah Ta’ala berkata: ‘Hamba-Ku memuji-Ku.’ Apabila ia berkata: ‘Ar-Rahmanir Rahim’, Allah Ta’ala berkata: ‘Hamba-Ku menyanjung-Ku.’ Apabila ia berkata: ‘Maliki Yaumiddin’, Allah berkata: ‘Hamba-Ku mengagungkan-Ku’ (dan dalam riwayat lain: ‘Hamba-Ku menyerahkan urusannya kepada-Ku’). Apabila ia berkata: ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’, Allah berkata: ‘Ini antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.’ Apabila ia berkata: ‘Ihdinash shirathal mustaqim, shirathal ladzina an’amta ‘alaihim ghairil maghdubi ‘alaihim wa ladhdhallin’, Allah berkata: ‘Ini untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.'”

  1. Bahwa tidak sah shalat bagi orang yang tidak membacanya

Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab.”

  1. Bahwa surat ini adalah ruqyah penyembuh dengan izin Allah Ta’ala

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu anhu, berkata: “Sekelompok sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam berangkat dalam suatu perjalanan hingga mereka singgah di salah satu perkampungan Arab. Mereka meminta dijamu oleh penduduk kampung tersebut, namun penduduk kampung menolak untuk menjamu mereka. Kemudian pemimpin kampung tersebut terkena sengatan (binatang berbisa), lalu penduduk berusaha mengobatinya dengan berbagai cara, namun tidak ada yang bermanfaat.

Sebagian dari mereka berkata: ‘Seandainya kalian mendatangi rombongan yang singgah itu, mungkin di antara mereka ada yang memiliki sesuatu (obat).’ Maka mereka mendatangi para sahabat dan berkata: ‘Wahai rombongan, sesungguhnya pemimpin kami terkena sengatan, dan kami telah berusaha dengan segala cara, namun tidak ada yang bermanfaat. Apakah salah seorang dari kalian memiliki sesuatu (yang dapat menyembuhkan)?’

Salah seorang sahabat menjawab: ‘Ya, demi Allah, aku bisa meruqyah. Tetapi, demi Allah, kami telah meminta dijamu oleh kalian namun kalian tidak mau menjamu kami! Aku tidak akan meruqyah untuk kalian sampai kalian menetapkan upah untuk kami.’ Maka mereka bersepakat dengan imbalan sekawanan kambing.

Sahabat tersebut lalu pergi dan meniupkan (bacaan) sambil membaca: ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin’. Seolah-olah pemimpin itu terlepas dari ikatan, ia bangkit dan berjalan tanpa ada penyakit. Abu Sa’id berkata: ‘Mereka pun memenuhi imbalan yang telah disepakati.’ Sebagian sahabat berkata: ‘Bagilah (kambing-kambing itu).’

Tetapi orang yang meruqyah berkata: ‘Jangan lakukan sampai kita mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam dan menceritakan kejadian tersebut, lalu kita lihat apa yang beliau perintahkan.’ Mereka kemudian menghadap Rasulullah dan menceritakan kejadian itu.

Beliau bersabda: ‘Bagaimana engkau tahu bahwa itu adalah ruqyah?’ Kemudian beliau berkata: ‘Kalian telah benar, bagilah (kambing-kambing itu), dan berilah aku bagian bersama kalian.’ Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tertawa.”

Penjelasan tentang Makkiyah dan Madaniyah:

Surat Al-Fatihah adalah surat Makkiyah yang diturunkan sebelum Hijrah. Buktinya adalah firman Allah Ta’ala: “Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Quran yang agung” [Al-Hijr: 87].

Dan diriwayatkan dari Abu Sa’id bin Al-Mu’alla radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “…Itulah tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Quran yang agung yang diberikan kepadaku.” Ayat yang menyebutkan As-Sab’ Al-Matsani (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang) ini disepakati sebagai ayat Makkiyah, dan Nabi shallallahu alaihi wasallam menegaskan bahwa As-Sab’ Al-Matsani adalah surat Al-Fatihah. Maka dari itu, surat Al-Fatihah adalah surat Makkiyah.

Di antara bukti lain bahwa surat ini Makkiyah adalah bahwa shalat tidak sah tanpa membacanya, dan shalat telah disyariatkan di Makkah, yaitu sebelum Hijrah.

Tujuan-tujuan Surat:

Di antara tujuan-tujuan penting surat Al-Fatihah adalah:

  1. Mengenalkan tentang Zat yang disembah, yaitu Allah Tabaraka wa Ta’ala.
  2. Menjelaskan jalan penghambaan kepada-Nya.
  3. Menjelaskan keadaan manusia dalam kaitannya dengan jalan tersebut.

Topik-topik Surat:

Surat ini memuat beberapa topik utama, yaitu:

  1. Sifat-sifat Allah Azza wa Jalla.
  2. Hari Akhir.
  3. Mengesakan Allah Ta’ala dalam ibadah, termasuk di dalamnya: meminta pertolongan dan berdoa.
  4. Pengenalan tentang jalan yang lurus (shirath al-mustaqim); jalan orang-orang yang mendapat petunjuk.
  5. Menghindari jalan orang-orang yang sesat dari kalangan yang dimurkai dan yang tersesat.

Kesesuaian Pembukaan Al-Quran dengan Surat Al-Fatihah:

Allah Subhanahu memulai kitab-Nya dengan surat ini karena surat ini mengumpulkan semua tujuan Al-Quran, dan karena di dalamnya terdapat ringkasan dari apa yang diuraikan secara terperinci dalam Al-Quran. Seluruh Al-Quran adalah penjelasan rinci dari apa yang diringkas dalam Al-Fatihah.

Hal ini merupakan keindahan pembukaan, karena surat ini menempati posisi sebagai pembuka atau pendahuluan bagi surat-surat Al-Quran lainnya, seperti halnya mukadimah dalam sebuah pidato atau kitab.

۞ ۞ ۞ ۞ ۞

﴿بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ١ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ ٢ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ ٣ مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ ٤ اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ ٥ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ ٦ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ࣖ ٧ ﴾

Makna Global:

Allah Ta’ala memberitahu hamba-hamba-Nya bahwa pujian yang sempurna hanya layak untuk-Nya semata. Dia membimbing mereka melalui apa yang Dia beritahukan untuk memuji-Nya, mengagungkan-Nya, dan memuji-Nya dengan segala pujian yang tidak layak kecuali untuk-Nya, Yang memiliki rahmat dan kerajaan.

Allah Subhanahu juga membimbing mereka untuk mengesakan-Nya dalam ibadah dan meminta pertolongan, serta memohon petunjuk hanya kepada-Nya ke jalan yang jelas yang tidak ada kebengkokan di dalamnya; yaitu jalan orang-orang yang telah Allah beri nikmat, bukan jalan orang-orang Yahudi yang dimurkai, dan bukan pula jalan orang-orang Nasrani yang sesat.

Penjelasan Kata-kata Asing:

  • Rabb: Tuhan, penguasa, pemilik, yang memperbaiki, yang menyertai, pendidik, pencipta, dan yang disembah. Asal katanya: memperbaiki sesuatu dan mengurusinya.
  • Shirat: Jalan.

Penjelasan I’rab (Tata Bahasa):

  1. Pada firman-Nya: إِيَّاكَ نَعْبُدُ  (Hanya kepada-Mu kami menyembah):
    • (إيَّا) adalah kata ganti objektif (dhamir nashb munfashil), yang dibangun atas sukun dalam posisi nashb, sebagai objek yang didahulukan untuk (نعبد). Jika kata ganti ini ditempatkan setelah kata kerjanya, maka akan terhubung dengannya, sehingga dikatakan: (نعبدك). Sedangkan huruf kaf adalah huruf khitab (percakapan) yang tidak memiliki posisi i’rab. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kaf adalah kata ganti, sedangkan (إيَّا) ditambahkan sebagai sandaran untuk kata ganti kaf.
  2. Pada firman-Nya: غَيرِ  (bukan):
    • Kata ini di-jar-kan sebagai badal (pengganti) dari (الذين), atau sebagai sifat bagi mereka, dengan menganggap (الذين) sebagai nakirah (tidak definitif); karena (غير) pada asalnya adalah nakirah meskipun disandarkan pada kata definitif (ma’rifah), karena kata ini tidak menunjukkan sesuatu yang tertentu. Bagi yang membaca (غيرَ) dengan nashb, maka kata tersebut merupakan haal (keterangan keadaan), atau dinashab-kan karena memperkirakan kata (أعْني) yang tidak disebutkan.

Tafsir Ayat-ayat:

الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِينَ (1)

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam (1).

Ini adalah pemberitahuan dari Allah Azza wa Jalla yang di dalamnya Dia memuji Diri-Nya Yang Mulia, dan secara tersirat terdapat petunjuk bagi hamba-hamba-Nya untuk memuji-Nya Subhanahu wa Ta’ala.

الْحَمْدُ لله  (Segala puji bagi Allah): Artinya, seluruh pujian hanya untuk Yang Disembah, Tabaraka wa Ta’ala, tidak ada yang berhak mendapatkannya kecuali Dia saja, Subhanahu. Ini adalah pujian yang kekal dan terus-menerus.

الحَمْدُ  (Pujian): Yaitu menyifati Yang Terpuji (Allah) dengan kesempurnaan, disertai rasa cinta dan pengagungan terhadap-Nya, Jalla wa ‘Ala.

الله: Nama yang tetap bagi-Nya, Subhanahu, yang mencakup sifat ketuhanan bagi-Nya, Azza wa Jalla. Maknanya adalah Yang Disembah (Ma’luh), yaitu Yang Berhak Disembah.

رَبِّ العالمين  (Tuhan semesta alam): Artinya, Dia adalah Tuan, Pemilik, dan Pengatur seluruh alam, yaitu semua yang selain Allah Ta’ala, dari segala macam makhluk di setiap tempat dan waktu.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Fir’aun bertanya: ‘Siapakah Tuhan semesta alam itu?’ Musa menjawab: ‘Tuhan pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya, jika kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya.’ Fir’aun berkata kepada orang-orang di sekelilingnya: ‘Apakah kamu tidak mendengarkan?’ Musa berkata (pula): ‘Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu.’ Fir’aun berkata: ‘Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila.’ Musa berkata: ‘Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu berakal.'” [Asy-Syu’ara: 23-28]

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (2)

Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (2).

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya:

Ketika Allah Subhanahu menyifati Diri-Nya dengan Rububiyyah (ketuhanan), yang berarti bahwa Dia adalah Tuan, Pemilik, dan Yang Disembah yang memiliki wewenang mutlak untuk mengatur hamba-hamba-Nya, dan dari sifat ini mungkin dipahami makna keperkasaan dan penundukan, maka setelahnya Dia menyifati Diri-Nya dengan sifat rahmat; agar harapan seorang hamba dalam pengampunan menguat jika ia terpeleset, dan harapannya bertambah kuat jika ia berbuat salah.

Juga, ketika Allah Ta’ala menyifati Diri-Nya dengan Rububiyyah, Dia menjelaskan bahwa pengaturan-Nya terhadap alam semesta bukanlah karena Dia membutuhkan mereka, seperti untuk mendapatkan manfaat atau menolak bahaya, tetapi karena keumuman rahmat-Nya dan kesempurnaan kebaikan-Nya.

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ  (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang): Keduanya adalah nama yang berasal dari kata “rahmat” dalam bentuk yang menunjukkan penekanan (mubalaghah), dan “Rahman” lebih kuat penekanannya daripada “Rahim”. Hal ini karena “Rahman” mengikuti pola “fa’lan”, dan bentuk ini menunjukkan banyak dan luasnya.

Maka الرَّحْمَن  (Yang Maha Pengasih) berarti Yang memiliki rahmat yang luas bagi seluruh makhluk-Nya, sedangkan الرَّحِيم  (Yang Maha Penyayang) berarti Yang memiliki rahmat khusus yang dikhususkan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.

Allah Ta’ala berfirman: “Dia menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi rahmat kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan” [Al-‘Ankabut: 21], dan Dia berfirman: “Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman” [Al-Ahzab: 43].

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (3)

Yang menguasai hari pembalasan (3).

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya:

Ketika Allah Ta’ala menyifati Diri-Nya dengan rahmat, dan ini mungkin menyebabkan seorang hamba lebih dominan pada harapan, maka Dia mengingatkan dengan sifat kepemilikan pada hari pembalasan; agar hamba selalu waspada terhadap amalnya, dan agar ia mengetahui bahwa ada hari bagi amalnya di mana akan tampak hasilnya, baik itu kebaikan maupun keburukan.

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (3)

Bacaan-bacaan yang Berpengaruh pada Tafsir:

Dalam firman Allah Ta’ala: مَالِكِ  terdapat dua bacaan:

  1. مالِك  dengan alif yang dipanjangkan, artinya: Yang mengatur dengan perbuatan terhadap segala sesuatu yang dimiliki-Nya.
  2. مَلِك  tanpa alif (pendek), artinya: Yang mengatur dengan ucapan berupa perintah dan larangan terhadap siapa yang berada di bawah kekuasaan-Nya.
  3. مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (3)

Artinya: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla adalah Yang mengatur seluruh makhluk-Nya dengan perkataan dan perbuatan.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Kemudian, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.” [Al-Infitar: 17-19]

Dan sebagaimana firman-Nya Subhanahu: “Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang-orang yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kami mereka dikembalikan.” [Maryam: 40]

Dan Dia juga berfirman: “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini? Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” [Ghafir: 16]

يَوْمِ الدِّينِ  (Hari Pembalasan): Yakni hari pembalasan dan perhitungan.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (4)

Artinya: Katakanlah: “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”

Maknanya: Kami tidak menyembah kecuali kepada-Mu, dengan merendahkan diri hanya kepada-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, dan kami tidak meminta pertolongan kecuali kepada-Mu saja, tidak ada sekutu bagi-Mu.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (5)

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya:

Setelah disebutkan ibadah dan memohon pertolongan hanya kepada Allah Ta’ala, datanglah permintaan petunjuk ke jalan yang jelas; karena dengan petunjuk kepadanya ibadah menjadi benar. Barangsiapa tidak mendapat petunjuk ke jalan yang menghantarkan kepada tujuannya, maka tidak akan benar baginya untuk mencapai tujuannya.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (5)

Artinya: Katakanlah: “Tunjukilah kami jalan yang lurus.”

Maknanya: Tunjukkanlah kepada kami jalan yang jelas yang tidak ada kebengkokan di dalamnya, berikanlah taufik kepada kami untuk menempuhnya, dan tetapkanlah kami di atasnya.

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ (6)

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya:

Ketika ayat sebelumnya berisi permintaan petunjuk ke jalan yang paling mulia, maka sesuai dengan itu adalah meminta sahabat yang paling baik. Maka Allah Ta’ala berfirman:

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

Artinya: Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka.

Yaitu jalan orang-orang yang telah Allah Ta’ala berikan nikmat berupa petunjuk ke jalan yang lurus. Mereka adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran dan mengamalkannya; dengan melaksanakan apa yang diperintahkan Allah Azza wa Jalla dan menjauhi apa yang dilarang-Nya Subhanahu, dengan ikhlas kepada Allah Ta’ala dan mengikuti Rasul shallallahu alaihi wasallam. Mereka adalah orang-orang yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala: “Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” [An-Nisa: 69]

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7).

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ.

Yaitu: Sesungguhnya di antara sifat-sifat orang yang Allah Ta’ala beri nikmat, mereka tidak seperti orang Yahudi dan orang yang mengikuti jalan mereka dalam meninggalkan pengamalan kebenaran setelah mengetahuinya. Sifat khusus orang Yahudi adalah dimurkai, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman tentang mereka: “Orang yang dilaknat Allah dan dimurkai-Nya” [Al-Maidah: 60], dan Allah Subhanahu juga berfirman: “Maka mereka mendapat kemurkaan demi kemurkaan” [Al-Baqarah: 90].

Dan dari Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Yang dimurkai adalah orang Yahudi.”

وَلَا الضَّالِّينَ.

Yaitu: Sesungguhnya di antara sifat orang yang Allah Ta’ala beri nikmat, mereka tidak seperti orang Nasrani dan orang yang mengikuti jalan mereka yang tidak mengetahui kebenaran, sehingga mereka menyembah Allah Ta’ala tanpa ilmu. Sifat khusus orang Nasrani adalah kesesatan, sebagaimana Allah Subhanahu berfirman: “Mereka telah sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan banyak (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus” [Al-Maidah: 77].

Dan dari Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dan orang yang sesat adalah orang Nasrani.”

Manfaat Pendidikan:

  1. Bahwa ketika awal surah mencakup pujian kepada Allah, pengagungan-Nya, dan sanjungan kepada-Nya, dan akhirnya mencakup celaan terhadap orang yang berpaling dari iman kepada-Nya dan pengakuan akan ketaatan kepada-Nya – ini menunjukkan bahwa sumber kebaikan dan tanda kebahagiaan adalah menghadap kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan sumber bencana dan kepala pelanggaran adalah berpaling dari-Nya Subhanahu dan menjauhi ketaatan kepada-Nya.
  2. Bahwa Allah Ta’ala berhak atas pujian yang sempurna, dan khusus bagi-Nya dari segala segi; oleh karena itu hamba hendaknya menyadari bahwa setiap ketetapan Allah Ta’ala adalah terpuji atas-Nya Yang Maha Tinggi.
  3. Bahwa rububiyah (ketuhanan) Allah ‘Azza wa Jalla dibangun di atas rahmat yang luas untuk semua makhluk yang sampai kepada mereka; karena Allah Ta’ala ketika berfirman: “Tuhan semesta alam,” seakan-akan ada yang bertanya: (Apa jenis ketuhanan ini? Apakah itu ketuhanan pengambilan dan pembalasan; atau ketuhanan rahmat dan pemberian nikmat?) Maka Allah Ta’ala berfirman: “Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
  4. Bahwa dalam firman-Nya: “Pemilik Hari Pembalasan” terdapat dorongan bagi manusia untuk beramal untuk hari tersebut di mana para pelaku amal akan dihisab.
  5. Firman Allah Ta’ala: “Hanya kepada-Mu kami menyembah” merupakan bentuk pembebasan diri dari syirik, dan firman-Nya: “dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan” merupakan pembebasan diri dari daya dan kekuatan, serta penyerahan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Makna ini terdapat dalam beberapa ayat Al-Qur’an, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Maka sembahlah Dia dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan Tuhanmu tidak lalai terhadap apa yang kamu kerjakan” [Hud: 123]. “Katakanlah: Dialah Yang Maha Pengasih, kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya kami bertawakal” [Al-Mulk: 29]. “Tuhan timur dan barat, tidak ada Tuhan selain Dia, maka jadikanlah Dia sebagai wakil” [Al-Muzzammil: 9]; oleh karena itu, sebagian ulama salaf mengatakan: Al-Fatihah adalah rahasia Al-Qur’an, dan rahasianya ada pada kalimat ini: “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan”.
  6. Mendidik muslim untuk selalu kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla, termasuk memohon pertolongan-Nya dalam beribadah, dan senantiasa berdoa agar Dia membimbing kepada jalan yang lurus.

Manfaat Ilmiah dan Hikmah-hikmah:

1- Dalam firman Allah Ta’ala: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam” [Al-Fatihah: 2], mendahulukan sifat ketuhanan Allah (uluhiyyah) daripada sifat ketuhan (rububiyyah); hal ini bisa jadi karena (Allah) adalah nama khusus bagi-Nya, yang diikuti oleh semua nama-nama-Nya; atau karena orang-orang yang didatangi oleh para rasul hanya mengingkari ketuhanan (uluhiyyah) saja; dan karena nama Allah Ta’ala menunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan yang disembah, yang dicintai oleh makhluk-Nya dengan penuh cinta, pengagungan, ketundukan, dan berlindung kepada-Nya dalam segala kebutuhan dan musibah, dan itu mengharuskan kesempurnaan ketuhanan dan rahmat-Nya.

2- Dalam firman Allah Ta’ala: “Hari Pembalasan”, terdapat penetapan adanya kebangkitan dan pembalasan.

3- Pemilihan untuk menyebutkan ketuhanan-Nya, ketuhanan-Nya (rububiyyah), rahmat-Nya, dan kekuasaan-Nya di awal surat Al-Fatihah daripada menyebutkan sifat-sifat lainnya; karena keempat sifat ini mencakup seluruh sifat kesempurnaan-Nya ‘Azza wa Jalla.

4- Dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka” terdapat penjelasan rinci setelah pernyataan global; firman Allah Ta’ala: “Tunjukilah kami jalan yang lurus” bersifat global, dan firman-Nya: “yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka” bersifat rinci. Manfaatnya: bahwa jiwa ketika mendengar pernyataan global kita akan menanti-nantikan dan mengharapkan perincian dan penjelasan, dan ketika datang perincian, jiwa telah siap untuk menerimanya dan menantikannya.

5- Penisbatan nikmat hanya kepada Allah Ta’ala dalam hidayah orang-orang yang diberi nikmat; karena itu adalah murni karunia dari Allah.

6- Allah mendahulukan “yang dimurkai” daripada “yang sesat”; karena mereka lebih keras menentang kebenaran daripada orang-orang yang sesat; sebab orang yang menentang dengan pengetahuan sulit untuk kembali, berbeda dengan yang menentang karena kebodohan, dan karena karakteristik utama yang dimaksud dengan “yang dimurkai” adalah orang Yahudi dan karakteristik utama “yang sesat” adalah orang Nasrani, dan orang Yahudi lebih dahulu ada daripada orang Nasrani dalam sejarah.

Keindahan Bahasa dalam Ayat-ayat:

1- Keindahan pembukaan dan keunggulan permulaan Kitab Allah ‘Azza wa Jalla dengan surat yang agung ini, yang mencakup seluruh tujuan kitab ini, sebagaimana surat itu sendiri dibuka dengan rangkuman pujian, syukur, dan sanjungan; jika awalnya adalah “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” – menurut pendapat yang menganggapnya sebagai bagian dari surat – maka itu sudah cukup indah; karena permulaannya dibuka dengan nama Allah, dan jika awalnya adalah “Segala puji bagi Allah”; maka memuji Allah dan menyanjung-Nya dengan apa yang layak bagi-Nya, serta menyifati-Nya dengan sifat-sifat yang tinggi adalah sebaik-baik pembukaan.

2- Firman-Nya: “Segala puji bagi Allah” adalah kalimat nominal (jumlah ismiyyah), yang menunjukkan keabadian, kesinambungan, dan ketetapan pujian. Alif dan lam pada kata “Al-Hamdu” bermakna menyeluruh, sehingga mencakup seluruh jenis pujian. Ada yang mengatakan: untuk menentukan jenisnya, artinya: menunjukkan bahwa setiap orang tahu bahwa itulah yang dimaksud dengan pujian.

3- Dalam firman-Nya: “Mâliki yaumid-dîn” (Penguasa Hari Pembalasan), pengkhususan hari dengan penisbatan ini; baik untuk mengagungkan dan menunjukkan kehebatannya, atau untuk menunjukkan kesendirian Allah Ta’ala dalam pelaksanaan perintah pada hari itu, dan terputusnya hubungan antara para pemilik dan yang dimiliki pada saat itu secara total.

4- Dalam firman-Nya: “Iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’în” (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan) terdapat banyak aspek balaghah (retorika):

Di dalamnya terdapat taqdîm dan ta’khîr (mendahulukan dan mengakhirkan); di mana objek didahulukan dalam firman-Nya (Iyyâka), yang menunjukkan pembatasan dan pengkhususan, artinya: kami tidak menyembah selain Engkau, dan tidak meminta pertolongan kepada selain Engkau, dan ini juga untuk pengagungan dan perhatian; karena orang Arab mendahulukan hal yang lebih penting.

Ibadah didahulukan atas permintaan pertolongan; karena ibadah adalah salah satu sebab diperolehnya pertolongan dan dikabulkannya kebutuhan, dan juga karena ibadah adalah tujuan dan maksud dari penciptaan, sedangkan permintaan pertolongan adalah sarana untuk mencapainya, serta agar sesuai dengan ujung-ujung ayat.

Di dalamnya terdapat iltifât (peralihan) dari kata ganti orang ketiga ke kata ganti orang kedua. Jika kalimat mengikuti aslinya, tentu akan dikatakan: “iyyâhu na’budu” (kepada-Nya kami menyembah), dan variasi dalam perkataan serta peralihan dari satu gaya ke gaya lain ini adalah kebiasaan orang Arab; karena di dalamnya terdapat perbaikan ucapan, memberikan semangat kepada pendengar, dan membangunkannya; sehingga ia lebih mendengarkan perkataan dengan seksama. Terkadang peralihan ini memiliki faedah-faedah lain selain ini, dan di antaranya di sini: bahwa dalam bentuk kata ganti orang kedua terdapat perasaan akan kedekatan dengan Allah Ta’ala, seakan-akan ketika dia memuji Allah ‘Azza wa Jalla, dia mendekat dan hadir di hadapan-Nya.

Di dalamnya terdapat pengulangan kata “Iyyâka”, dan pengulangan ini karena kedua kata kerja tersebut berbeda, sehingga masing-masing memerlukan penguatan dan perhatian. Pengulangannya adalah untuk menekankan kekhususan Allah Ta’ala dalam setiap ibadah dan permintaan pertolongan, dan untuk menampakkan kenikmatan dalam bermunajat dan berbicara kepada-Nya.

Penggunaan kata ganti jamak (kami) dalam “na’budu” dan “nasta’în”; dikatakan karena konteksnya sangat agung sehingga tidak pantas bagi seseorang untuk melakukannya sendirian; karena menganggap dirinya kurang dan kecil, sehingga penggunaan kata ganti jamak ini dimaksudkan untuk kerendahan hati bukan untuk mengagungkan diri. Ada juga yang mengatakan: boleh jadi untuk pengagungan, seakan-akan dikatakan kepada hamba: ketika kamu dalam ibadah, kamu mulia dan kedudukanmu terhormat, maka katakanlah: “Iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’în” (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan). Namun ketika kamu di luar ibadah, janganlah mengatakan: kami, atau kami melakukan, dan sebagainya. Ada juga yang mengatakan: karena konteksnya adalah konteks penghambaan dan kebutuhan kepada Tuhan Yang Maha Tinggi, dan pengakuan akan kebutuhan terhadap penghambaan, pertolongan, dan petunjuk-Nya. Artinya: kami semua hamba-Mu mengakui kehambaan kami kepada-Mu, seperti ketika seorang hamba berkata kepada raja yang agung: kami adalah hamba-hamba dan budak-budak-Mu, berada di bawah ketaatan-Mu, dan tidak menentang perintah-Mu; sehingga hal ini lebih baik dan lebih berkesan di sisi raja daripada ia mengatakan: saya adalah hamba dan budak-Mu; oleh karena itu jika ia mengatakan: saya sendiri adalah budak-Mu, ini akan mengundang kebencian. Namun jika ia mengatakan: saya dan semua orang di negeri ini adalah budak-budak-Mu dan hamba-hamba-Mu serta tentara-Mu, hal ini lebih agung dan lebih megah; karena itu menunjukkan bahwa hamba-hamba-Mu sangat banyak, dan saya adalah salah satu dari mereka, dan kami semua berserikat dalam penghambaan kepada-Mu dan meminta pertolongan kepada-Mu, serta memohon petunjuk dari-Mu.

5- Dalam firman-Nya: “Ihdinâ ash-shirâthal mustaqîm” (Tunjukilah kami jalan yang lurus):

“Ihdinâ” adalah kata kerja perintah, tetapi maksudnya adalah permohonan dan doa, bukan perintah yang sebenarnya; karena itu adalah permintaan dari yang rendah – yaitu makhluk – kepada yang tinggi – yaitu Sang Pencipta, Maha Suci Dia.

Kata kerja “ihdinâ” langsung berhubungan dengan objeknya tanpa perantara huruf jar (preposisi) dalam firman-Nya: “ihdinâ ash-shirâthal mustaqîm”; agar permintaan hidayah mencakup: hidayah ilmu (pengetahuan) dan hidayah taufik (pertolongan untuk melaksanakan).

6- Dalam firman-Nya: “Shirâthal-ladzîna an’amta ‘alaihim” (Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka):

Terdapat penjelasan setelah kesamaran, dan perincian setelah penyebutaan secara global. Manfaatnya adalah untuk membuat jiwa tertarik dan mempersiapkannya untuk menerima penafsiran dan perincian, sehingga lebih membantu dalam pemahaman. Gaya bahasa ini memiliki manfaat seperti penekanan makna (taukid ma’nawi), dan juga di dalamnya terdapat penetapan hakikat jalan ini, dan penegasan konsepnya dalam jiwa mereka, sehingga konsepnya dihasilkan dua kali, yang memberikan manfaat seperti yang diperoleh dari penekanan lafaz (taukid lafzhi).

Di dalamnya juga terdapat penekanan; karena “shirâthal-ladzîna…” adalah badal (pengganti) dari “ash-shirâthal mustaqîm”; dan badal dianggap sebagai pengulangan kata kerja yang mempengaruhinya, seolah-olah dia berkata: tunjukilah kami jalan yang lurus, tunjukilah kami jalan orang-orang yang…, sehingga di dalamnya terdapat pengulangan dan penegasan, dan isyarat bahwa jalan yang lurus penjelasan dan tafsirannya adalah: jalan kaum muslimin; agar itu menjadi kesaksian bahwa jalan kaum muslimin adalah jalan yang paling lurus dengan cara yang paling sempurna dan kuat. Bisa juga “shirâthal-ladzîna” sebagai ‘athaf bayan (keterangan penjelas), dan manfaatnya saat itu adalah penjelasan!

7- Dalam firman-Nya: “Ghairil maghdlûbi ‘alaihim” (Bukan jalan mereka yang dimurkai) setelah firman-Nya: “Shirâthal-ladzîna an’amta ‘alaihim” (Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka) juga terdapat iltifat (peralihan), di mana Allah menggunakan kata ganti orang kedua (engkau) ketika menyebutkan nikmat, kemudian berfirman: “ghairil maghdlûbi ‘alaihim”, sehingga Dia menjauhkan kata kemarahan dari diri-Nya; sebagai bentuk adab dan kelembutan, dan ini adalah puncak tertinggi yang bisa dicapai oleh penjelasan.

8- Dalam firman-Nya: “Rabbil ‘âlamîn”, “yaumid-dîn”, “wa iyyâka nasta’în”, “wa ladl-dlâllîn”, dan firman-Nya: “ash-shirâthal mustaqîm”, “ar-rahmânir-rahîm” terdapat keserasian dalam pengakhiran ayat-ayat, dan kesesuaian ujung-ujung ayat, dan ini termasuk keindahan perkataan, dan sesuatu yang menyenangkan pendengaran, dan hal ini menjadi baik karena perbedaan makna pada setiap penggalan, dengan kesamaan pada huruf-huruf akhirnya.

 

Selesai tafsir Al-Fatihah.

۞ ۞ ۞ ۞ ۞

 

 

SURAH AN-NABA

Perhatian: Setiap kalimat berikut memiliki rujukan ilmiah yang belum diterjemahkan. Bagi yang memerlukan, silakan merujuk langsung ke situs web aslinya dalam bahasa Arab di: https://dorar.net/tafseer/78

Nama Surah:

Surah ini dinamakan dengan Surah (An-Naba’), yang berarti “Berita Besar” atau “Kabar Besar”.

Keterangan Makkiyyah dan Madaniyyah:

Surah An-Naba’ adalah Makkiyyah. Lebih dari satu mufassir (ahli tafsir) telah menukil ijma’ (konsensus) tentang hal ini.

Tujuan Surah:

Di antara tujuan terpenting surah ini adalah:

Menetapkan adanya kebangkitan, menggambarkan kehebatannya, dan memberikan peringatan kepada orang-orang yang mengingkarinya.

Topik-topik Surah:

Di antara topik-topik penting yang tercakup dalam surah ini adalah:

  1. Pertanyaan kaum musyrikin tentang Al-Quran yang dibawa oleh Muhammad ﷺ dan apa yang dikandungnya berupa tauhid, kebangkitan, dan lain sebagainya, serta ancaman kepada mereka dengan akibat yang buruk jika mereka tetap dalam kedurhakaan dan pengingkaran terhadap apa yang dibawa oleh Nabi ﷺ.
  2. Penegakan bukti-bukti tentang keesaan Allah Ta’ala, dan tentang keagungan kekuasaan-Nya, serta kemungkinan terjadinya kebangkitan.
  3. Penyebutan peristiwa-peristiwa hari kiamat, dan penggambaran kehebatannya.
  4. Penjelasan tentang apa yang telah disiapkan oleh Allah Subhanahu bagi orang-orang kafir berupa azab di neraka Jahannam.
  5. Penjelasan tentang apa yang telah disiapkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla bagi orang-orang yang bertakwa berupa kenikmatan di surga.
  6. Penetapan bahwa hari kiamat adalah benar tanpa keraguan di dalamnya, dan bahwa seharusnya mendahulukan amal saleh sebelum datangnya hari itu.
  7. Peringatan tentang azab yang dekat, dan pemaparan amal-amal kepada hamba-hamba; yang baik dan yang buruk, serta keinginan orang kafir pada hari itu bahwa seandainya dia menjadi tanah.

۞ ۞ ۞ ۞ ۞

Ayat: 1-5

﴿عَمَّ يَتَسَاۤءَلُوْنَۚ ١ عَنِ النَّبَاِ الْعَظِيْمِۙ ٢ الَّذِيْ هُمْ فِيْهِ مُخْتَلِفُوْنَۗ ٣ كَلَّا سَيَعْلَمُوْنَۙ ٤ ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُوْنَ ٥ ﴾ ( النبأ/78: 1-5)

Kosakata Asing:

An-Naba’: Yaitu berita yang agung kedudukannya. Yang dimaksud di sini adalah Al-Quran atau kebangkitan. Asal kata “naba'” adalah kedatangan dari suatu tempat ke tempat lain, dan kabar datang dari satu tempat ke tempat lain.

Makna Umum:

Allah Ta’ala memulai surah mulia ini dengan gaya pertanyaan; untuk membuat pendengar tertarik kepada hal yang ditanyakan, dan untuk menunjukkan kehebatan perkaranya, serta mengagungkan kedudukannya. Allah Subhanahu berfirman: Tentang apakah kaum musyrik Quraisy saling bertanya-tanya? Tentang berita yang agung, yaitu Al-Quran dan apa yang dikandungnya berupa tauhid, kebangkitan dan lain sebagainya, yang mereka perselisihkan. Kemudian Allah Ta’ala berfirman dengan ancaman dan peringatan: Sekali-kali tidak! Mereka akan mengetahui dengan pengetahuan yang yakin apa yang mereka dustakan, dan akibat dari pendustaan mereka. Kemudian sekali-kali tidak! Mereka akan mengetahui kebenaran Al-Quran dan terjadinya kebangkitan yang mereka dustakan.

Tafsir Ayat-ayat:

‘Amma yatasâ’alûn (1). Yaitu: Tentang apakah yang agung kaum musyrik Quraisy saling bertanya-tanya?

‘Anin-naba’il ‘azhîm (2). Kesesuaian ayat ini dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah mengagungkan apa yang mereka pertanyakan, dengan menunjukkan keheranan terhadap mereka dalam hal itu; Allah menjelaskannya dengan firman-Nya untuk memberitahukan bahwa kesamaran itu tidak lain kecuali untuk pengagungan: “‘Anin-naba'”.

‘Anin-naba’il ‘azhîm (2). Yaitu: Mereka saling bertanya-tanya tentang berita yang agung, yaitu apa yang terkandung dalam Al-Quran berupa tauhid, kebangkitan dan lain sebagainya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Itu (Al-Quran) adalah berita yang besar, yang kamu berpaling daripadanya'” [Shaad: 67-68].

Alladzî hum fîhi mukhtalifûn (3). Yaitu: Yang diperselisihkan oleh penduduk Mekah.

Kallâ saya’lamûn (4). Yaitu: Tidaklah perkara itu sebagaimana yang diklaim oleh para pendustaan Al-Quran dan para pengingkar kebangkitan dan lainnya dari apa yang dibawa olehnya. Mereka akan mengetahui dengan pengetahuan yang yakin apa yang mereka dustakan, ketika kematian mereka dan pada hari kiamat, dan mereka benar-benar akan mengetahui akibat pendustaan mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Orang-orang yang mendustakan Kitab (Al-Quran) dan wahyu yang dibawa oleh rasul-rasul Kami yang telah Kami utus. Kelak mereka akan mengetahui, ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar dalam api” [Ghafir: 70-72].

Tsumma kallâ saya’lamûn (5). Yaitu: Kemudian tidaklah perkara itu sebagaimana yang mereka klaim. Mereka pasti akan mengetahui kebenaran Al-Quran dan apa yang dikandungnya, seperti terjadinya kebangkitan yang mereka dustakan, dan mereka akan mengetahui akibat dari hal itu.

Faedah-faedah Ilmiah dan Kelembutan-kelembutan:

1- Firman Allah Ta’ala: “Amma yatasâ’alûn” adalah pertanyaan, dan firman-Nya: “Anin-naba’il ‘azhîm” adalah jawaban dari penanya, dan yang menjawab adalah Allah Ta’ala. Hal ini menunjukkan pengetahuan-Nya tentang hal gaib, bahkan seluruh hal yang diketahui.

2- Firman Allah Ta’ala: “Amma yatasâ’alûn * ‘Anin-naba’il ‘azhîm” mengandung pertanyaan: Apa faedah disebutkannya jawaban bersamanya? Jawabannya: Karena menyampaikan perkataan dalam bentuk tanya jawab lebih dekat kepada pemahaman dan penjelasan. Contoh serupa: “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini? Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan” [Ghafir: 16].

3- Dalam firman Allah Ta’ala: “Anin-naba’il ‘azhîm” terdapat keagungan wahyu yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ, dan bahwa ia adalah berita yang agung.

Balaghah (Keindahan Bahasa) Ayat-ayat:

1- Firman Allah Ta’ala: “Amma yatasâ’alûn * ‘Anin-naba’il ‘azhîm * Alladzî hum fîhi mukhtalifûn”

  • Firman-Nya: “Amma yatasâ’alûn * ‘Anin-naba’il ‘azhîm” – membuka pembicaraan dengan pertanyaan tentang saling bertanya-tanyanya sekelompok orang tentang berita besar, adalah pembukaan yang membuat penasaran kemudian menggambarkan kehebatan dan pengagungan kedudukan apa yang akan disebutkan setelahnya. Seakan-akan karena keagungannya dan keluarnya dari batasan jenis-jenis yang biasa dikenal, jenis berita tersebut menjadi tersembunyi sehingga ditanyakan. Ini termasuk pembukaan yang indah; karena mengandung gaya bahasa yang mulia dan tidak biasa, serta membuat penasaran dengan cara penyampaian secara global kemudian terperinci, yang menghasilkan tertanamnya berita yang akan datang setelahnya dalam jiwa pendengar sebaik-baik tertanam.
  • Ketika pembukaan ini menunjukkan kepada perkara yang agung, ia menunjukkan kepada perkataan yang tegas di dalamnya. Dan ketika di dalamnya terdapat isyarat tentang hal terpenting yang mereka bicarakan pada waktu itu, maka pembukaan perkataan dengannya termasuk keindahan permulaan.
  • Kata ganti pada “yatasâ’alûn” dapat menjadi kata ganti orang ketiga jamak yang dimaksudkan adalah kaum musyrikin dari penduduk Mekah. Meskipun mereka tidak disebutkan sebelumnya dalam pembicaraan ini, namun penyebutan mereka berulang dalam Al-Quran, sehingga mereka menjadi dikenal maksudnya dari sebagian kata ganti dan isyarat-isyarat samarnya.
  • Dikatakan: Ini adalah pertanyaan ejekan atau keheranan, sedangkan sebenarnya mereka yakin dalam pendustaan.
  • Ketika pertanyaan digunakan bukan untuk meminta pemahaman, maka baik diikuti dengan jawaban atas pertanyaan tersebut dengan firman-Nya: “Anin-naba’il ‘azhîm”. Ini adalah penjelasan tentang kedudukan hal yang ditanyakan setelah pengagungannya dengan menyamarkan perkaranya, dan mengarahkan perhatian para pendengar kepadanya, serta menempatkan mereka pada posisi orang-orang yang bertanya. Penyampaiannya dengan cara pertanyaan dari Yang Maha Mengetahui segala yang gaib adalah untuk memberikan perhatian bahwa karena terputusnya hubungannya dan tidak adanya yang serupa dengannya, hal itu keluar dari lingkup pengetahuan makhluk, layak untuk diperhatikan pengetahuannya dan ditanyakan tentangnya. Seakan-akan dikatakan: Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? Maukah aku beritahukan kepada kalian tentangnya? Kemudian dikatakan dengan cara jawaban: “Anin-naba’il ‘azhîm”, mengikuti cara firman Allah Ta’ala: “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini? Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan” [Ghafir: 16].
  • Kata “an” (tentang) berhubungan dengan apa yang ditunjukkan oleh yang disebutkan dari kata yang tersirat yang seharusnya ditakdirkan setelahnya; untuk mempercepat penjelasan, dan menjaga urutan pertanyaan. Inilah yang pantas dengan keindahan Al-Quran.
  • Berita (naba’) disifati dengan “yang agung” di sini sebagai tambahan dalam memuliakan berita tersebut; karena adanya berita tersebut dari alam gaib menambah keagungan sifat-sifatnya dan keadaan-keadaannya. Penyifatan berita dengan “yang agung” adalah dengan mempertimbangkan apa yang dijelaskan di dalamnya tentang keadaan-keadaan kebangkitan dalam ayat-ayat Al-Quran yang turun sebelum ini.

Dikatakan: Ketika dalam konteks pengagungan, Allah menyifatinya sebagai penegasan dengan firman-Nya: “al-‘azhîm” (yang agung), meskipun kata “an-naba'” (berita) itu sendiri hanya dikatakan untuk berita yang agung kedudukannya. Maka dalam hal ini terdapat peringatan bahwa berita tersebut seharusnya diterima oleh setiap pendengar, dan diperhatikan perkaranya, bukan untuk diragukan dan dijadikan tempat perselisihan.

  • Kata “an-naba'” yang berbentuk ma’rifah (diawali dengan “al”) dikatakan sebagai bentuk ma’rifah jenis; sehingga mencakup setiap berita agung yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ kepada mereka.
  • Berita tersebut disifati dengan firman Allah Ta’ala: “Alladzî hum fîhi mukhtalifûn” (yang mereka perselisihkan) setelah disifati dengan “yang agung”; sebagai penegasan pentingnya setelah penegasan lain, dan sebagai isyarat tentang inti pertanyaan tentangnya.
  • Kata ganti dalam “Alladzî hum fîhi mukhtalifûn” adalah penekanan, dan di dalamnya terdapat makna pengkhususan. Kabilah Quraisy tidak memiliki kekhususan dalam perselisihan, tetapi ketika pembahasan mereka tentangnya lebih banyak, dan penentangan mereka terhadapnya lebih jelas; mereka dianggap seolah-olah mereka dikhususkan dengan hal itu.
  • Dalam firman-Nya: “Alladzî hum fîhi mukhtalifûn” digunakan kalimat nominal dalam keterangan yang menghubungkan, bukan dengan mengatakan: “Alladzî yakhtalifoûna fîhi” (yang mereka perselisihkan) atau semacamnya; agar kalimat nominal tersebut menunjukkan bahwa perselisihan dalam perkara berita ini tertanam dalam diri mereka, dan berlangsung terus dalam diri mereka; karena kalimat nominal menunjukkan keberlangsungan dan ketetapan.
  • Mendahulukan “fîhi” (tentangnya) atas “mukhtalifûn” (perselisihkan); untuk memberikan perhatian pada kata yang dijarkan (diberi huruf jar), dan untuk memberikan isyarat bahwa seharusnya perselisihan tidak berkaitan dengannya, di samping dalam pendahuluan tersebut terdapat pemeliharaan terhadap kesesuaian akhir ayat.

2- Firman Allah Ta’ala: “Kallâ saya’lamûn * Tsumma kallâ saya’lamûn”

  • “Kallâ” adalah huruf penolakan dan pembatalan terhadap sesuatu yang biasanya mendahuluinya dalam perkataan. Ia menuntut penolakan terhadap yang dinisbatkan kepadanya, dan pembatalan apa yang dinisbatkan kepadanya. Di sini adalah penolakan terhadap orang-orang “yang bertanya-tanya tentang berita yang agung yang mereka perselisihkan” [An-Naba’: 1-3], dan pembatalan terhadap apa yang terkandung dalam kalimat “yatasâ’alûn” berupa pertanyaan yang diketahui oleh para pendengar. Posisi kalimat ini adalah posisi jawaban atas pertanyaan; oleh karena itu ia dipisahkan dan tidak di’athaf-kan (dihubungkan dengan kata sambung); karena itu adalah cara tanya jawab. Meskipun perkataan tersebut adalah pemberitaan tentang mereka, namun merekalah yang dimaksud dengannya, sehingga penolakan ditujukan kepada mereka dengan pertimbangan ini.

Maknanya: Pembatalan perselisihan dalam berita itu, dan pengingkaran pertanyaan tentangnya, pertanyaan yang mereka maksudkan untuk mengejek dan mengingkari terjadinya. Hal ini menetapkan terjadinya apa yang dibawa oleh berita tersebut dan bahwa ia adalah benar; karena pembatalan pengingkaran terhadap terjadinya mengarah kepada penetapan terjadinya.

  • Umumnya dalam penggunaan (كَلَّا/Kalla), kalimat tersebut diikuti oleh pernyataan yang menjelaskan penolakan dan pembatalan yang telah diungkapkan secara ringkas. Oleh karena itu, di sini diikuti dengan perkataan: “Mereka akan mengetahui”, yang merupakan penambahan dalam pembatalan perkataan mereka dengan memastikan bahwa mereka akan meyakini terjadinya hari kebangkitan dan akan dihukum atas pengingkaran mereka. Maka ada dua pengetahuan yang akan mereka peroleh: pengetahuan tentang kebenaran terjadinya kebangkitan, dan pengetahuan tentang hukuman atasnya. Oleh karena itu, objek dari “سَيَعْلَمُونَ” (mereka akan mengetahui) dihilangkan untuk mencakup kedua objek pengetahuan tersebut; karena sesungguhnya mereka saat kematian akan melihat apa yang akan mereka alami setelah kematian.
  • Atau dihilangkan apa yang berkaitan dengan pengetahuan sebagai cara untuk menimbulkan kengerian, yakni: mereka akan mengetahui apa yang akan menimpa mereka.
  • Pembatalan ini dan yang setelahnya mengandung pemberitahuan bahwa hari kebangkitan itu pasti terjadi, dan mengandung ancaman.
  • Di antara keindahan gaya bahasa dalam ancaman ini adalah adanya kesan bahwa mereka akan mengetahui jawaban atas pertanyaan mereka yang dimaksudkan untuk mengingkari dan mengejek, yang mereka gambarkan dalam bentuk permintaan jawaban. Maka jawaban ini termasuk dalam ungkapan orang-orang: “Jawabannya adalah apa yang engkau lihat, bukan apa yang engkau dengar.”
  • Firman-Nya: “سَيَعْلَمُونَ” (mereka akan mengetahui) adalah ancaman melalui kalimat baru (isti’naf) bahwa mereka akan mengetahui bahwa apa yang mereka tanyakan dan tertawakan adalah benar, dan ini merupakan alasan untuk penolakan. Pengungkapan tentang berbagai bencana dan hukuman yang akan mereka hadapi dengan kata “pengetahuan” karena terjadinya dalam konteks pertanyaan dan perbedaan pendapat.
  • Huruf sin pada firman-Nya: “سَيَعْلَمُونَ” (mereka akan mengetahui) menunjukkan waktu yang dekat dan penekanan; kalimat tersebut ditekankan dengan huruf yang menunjukkan masa depan yang fungsinya untuk mendekatkan waktu yang akan datang.
  • Firman-Nya: “ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُونَ” (kemudian tidak, mereka akan mengetahui) merupakan peningkatan dalam ancaman dan peringatan; karena “ثُمَّ” (kemudian) ketika menghubungkan kalimat, menunjukkan urutan tingkatan; yaitu bahwa makna kalimat setelahnya lebih tinggi tingkatannya dalam tujuannya daripada isi kalimat sebelumnya. Dan ketika kalimat setelah “ثُمَّ” sama dengan kalimat sebelum “ثُمَّ”, maka ditentukan bahwa isi kalimat setelah “ثُمَّ” lebih tinggi derajatnya daripada isi yang serupa dengannya. Makna peningkatan tingkatan adalah bahwa isi setelah “ثُمَّ” lebih kuat daripada isi kalimat sebelum “ثُمَّ”, dan isi ini adalah ancaman. Maka ketika diperoleh kepastian terjadinya apa yang diancamkan dengan apa yang ditunjukkan oleh penekanan verbal—karena kalimat setelah “ثُمَّ” menegaskan kalimat sebelumnya—ditentukan bahwa makna peningkatan tingkatan makna kalimat kedua adalah bahwa ancaman kedua lebih besar daripada yang mereka perkirakan.
  • Ada yang berpendapat: diulangnya firman-Nya: “ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُونَ” karena yang pertama adalah ancaman bagi orang-orang kafir tentang apa yang mereka lihat saat sakaratul maut, dan yang kedua adalah ancaman bagi mereka tentang apa yang akan mereka alami dari siksa akhirat. Atau yang pertama adalah ancaman tentang kedahsyatan hari kiamat, dan yang kedua adalah ancaman tentang apa yang terjadi setelahnya berupa neraka dan panasnya. Atau yang pertama adalah penolakan terhadap perselisihan, dan yang kedua adalah penolakan terhadap kekufuran.

۞ ۞ ۞ ۞ ۞

Ayat: 6-16

﴿اَلَمْ نَجْعَلِ الْاَرْضَ مِهٰدًاۙ ٦ وَّالْجِبَالَ اَوْتَادًاۖ ٧ وَّخَلَقْنٰكُمْ اَزْوَاجًاۙ ٨ وَّجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًاۙ ٩ وَّجَعَلْنَا الَّيْلَ لِبَاسًاۙ ١٠ وَّجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًاۚ ١١ وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًاۙ ١٢ وَّجَعَلْنَا سِرَاجًا وَّهَّاجًاۖ ١٣ وَّاَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرٰتِ مَاۤءً ثَجَّاجًاۙ ١٤ لِّنُخْرِجَ بِهٖ حَبًّا وَّنَبَاتًاۙ ١٥ وَّجَنّٰتٍ اَلْفَافًاۗ ١٦ ﴾ ( النبأ/78: 6-16)

Penjelasan Kosakata Asing:

مِهَادًا: Artinya: tempat tidur dan permadani, tempat yang diratakan dan dipersiapkan. Akar kata (مهد) menunjukkan persiapan dan kemudahan untuk sesuatu.

أَوْتَادًا: Jamak dari وَتِد, dan وَتِد adalah: kayu tebal yang bagian bawahnya lebih tipis dari bagian atasnya, dipancangkan ke tanah untuk mengikat tali-tali kemah. Akar kata (وتد) menunjukkan ketetapan dan kekukuhan.

سُبَاتًا: Artinya: istirahat bagi tubuh kalian; karena terputusnya kalian dari pekerjaan saat itu. Akar kata (سبت) menunjukkan istirahat dan ketenangan.

سِرَاجًا وَهَّاجًا: Artinya: matahari yang menyala terang. وَهَج mencakup cahaya dan panas. Akar kata (سرج) menunjukkan keindahan, hiasan, dan kecantikan. Di antaranya adalah سِراج (lampu), dinamakan demikian karena cahaya dan keindahannya. Akar kata (وهج) menunjukkan panas dan nyala api.

الْمُعْصِرَاتِ: Artinya: awan-awan yang membawa hujan, diambil dari kata عَصْر (memeras); karena awan diperas sehingga air keluar darinya. Akar kata (عصر) menunjukkan menekan sesuatu hingga meneteskan airnya.

ثَجَّاجًا: Artinya: mengalir tercurah dengan deras. الثَّجَّاج adalah yang banyak tercurah. Akar kata (ثجج) menunjukkan mencurahkan sesuatu.

وَجَنَّاتٍ أَلْفَافًا: Artinya: kebun-kebun yang rimbun dengan tanaman dan pepohonan. الأَلْفاف adalah pohon yang saling berjalin satu sama lain. Akar kata (جنن) adalah menutupi dan melindungi, dari situ kebun disebut جَنَّة; karena menutupi bagian dalamnya dengan pepohonan dan melindunginya. Akar kata (لفف) menunjukkan sesuatu yang melilit pada sesuatu yang lain.

Makna Global:

Allah Ta’ala berfirman menjelaskan tanda-tanda kekuasaan-Nya: Bukankah Kami telah menjadikan bumi tunduk bagi manusia, diratakan agar mereka dapat menetap di atasnya dan mengambil manfaat darinya? Dan Kami menjadikan gunung-gunung sebagai pengukuh bumi agar tidak berguncang dengan penduduknya. Dan Kami menciptakan kalian laki-laki dan perempuan agar terjadi perkawinan di antara kalian. Dan Kami menjadikan tidur kalian sebagai istirahat dari kelelahan berusaha dan bekerja di siang hari. Dan Kami menjadikan malam sebagai selimut yang menutupi kalian dengan kegelapannya. Dan Kami menjadikan siang sebagai waktu bagi manusia untuk berusaha dalam urusan dan rezeki mereka. Dan Kami membangun di atas kalian tujuh langit yang sangat kuat dan kokoh. Dan Kami menjadikan matahari yang bercahaya sangat terang. Dan Kami menurunkan dari awan air hujan yang deras untuk mengeluarkan dengan hujan ini berbagai jenis biji-bijian dan tanaman, serta kebun-kebun yang pohonnya banyak dan saling berjalin satu sama lain.

Tafsir Ayat:

أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا (6).

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah Ta’ala menceritakan tentang pengingkaran mereka terhadap kebangkitan dan pengumpulan (di hari kiamat), dan Allah hendak menegakkan bukti atas kebenaran pengumpulan tersebut, Allah memulainya dengan pendahuluan yang menjelaskan bahwa Dia Maha Kuasa atas segala kemungkinan dan Maha Mengetahui segala sesuatu yang dapat diketahui. Hal itu karena jika kedua dasar ini terbukti, maka terbukti pula kebenaran kebangkitan. Allah membuktikan kedua dasar ini dengan menyebutkan berbagai jenis ciptaan-Nya yang dibuat dengan sangat kokoh dan sempurna. Sesungguhnya hal-hal tersebut dari segi kejadiannya menunjukkan kekuasaan, dan dari segi kekokuhan dan kesempurnaannya menunjukkan pengetahuan. Ketika kedua dasar ini terbukti, dan terbukti bahwa semua benda sama dalam menerima sifat dan karakteristik, maka terbukti pula bahwa Allah Ta’ala mampu menghancurkan dunia dengan langit, bintang, dan buminya, serta mampu mewujudkan alam akhirat. Inilah petunjuk tentang bagaimana susunan (penjelasan) ini.

أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا (6).

Artinya: Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan bagi manusia, yang ditundukkan untuk mereka, tempat mereka menetap dan mengambil manfaat darinya? Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu” [Al-Baqarah: 22]. Dan Allah Subhanahu berfirman: “Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai buaian” [Taha: 53]. Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan bumi telah Kami hamparkan; maka (Kami) sebaik-baik yang menghamparkan” [Adz-Dzariyat: 48].

وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا (7).

Artinya: Dan Kami jadikan gunung-gunung sebagai pasak yang mengukuhkan bumi, sehingga bumi tidak berguncang dengan penduduknya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi agar bumi itu tidak goncang bersama kamu” [An-Nahl: 15].

وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجًا (8).

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Setelah Allah mengingatkan tentang apa yang ada pada tempat (yaitu hamparan mereka) yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaan-Nya, Allah melanjutkan dengan mengingatkan tentang apa yang ada pada yang menempati, yaitu diri mereka sendiri; agar terhimpun ayat-ayat tentang diri (manusia) dan alam semesta, sehingga jelas bagi mereka bahwa itu adalah kebenaran. Allah berfirman:

وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجًا (8).

Artinya: Dan Kami menciptakan kalian berpasangan laki-laki dan perempuan, agar terjadi perkawinan di antara kalian, dan lahir keturunan dari kalian.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” [Ar-Rum: 21]. Dan Allah Subhanahu berfirman: “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah” [Adz-Dzariyat: 49].

وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا (9).

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Setelah Allah menyebutkan apa yang menjadi sebab kelangsungan jenis (manusia), Allah menyebutkan apa yang menjadi sebab penjagaannya dari kerusakan yang cepat.

Dan juga, Allah beralih dari pengambilan dalil melalui penciptaan manusia kepada pengambilan dalil melalui keadaan mereka, dan Allah mengkhususkan keadaan yang paling mirip dengan kematian yang diikuti dengan kebangkitan, yaitu keadaan yang berulang yang tidak terlepas dari kesadaran akan pelajaran di dalamnya. Karena pengaturan sistem tidur dan apa yang terjadi padanya berupa terjaga adalah keadaan yang paling mirip dengan kematian dan kebangkitan yang mengikutinya.

وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا (9).

Artinya: Dan Kami menjadikan tidur kalian sebagai pemutus gerak kalian, sehingga kalian mendapatkan istirahat dari kelelahan berusaha dan bekerja.

Sebagaimana Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Dan Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat” [Al-Furqan: 47].

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا (10).

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Setelah menyebutkan tidur, Allah melanjutkan dengan waktu yang paling cocok untuknya, dengan mengingatkan nikmat tempat yang bersifat waktu setelah mengingatkan tempat yang bersifat lokasi. Allah berfirman:

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا (10).

Artinya: Dan Kami menjadikan malam sebagai penutup yang kegelapannya menyelimuti kalian dan menutupi kalian, sebagaimana pakaian menutupi tubuh.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian” [Al-Furqan: 47]. Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)” [Al-Lail: 1].

وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا (11).

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Setelah menyebutkan penciptaan sistem malam, Allah melawankannya dengan menyebutkan penciptaan sistem siang.

وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا (11).

Artinya: Dan Kami menjadikan siang sebagai waktu bagi manusia untuk mencari rezeki mereka dan berusaha dalam urusan-urusan mereka.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha” [Al-Furqan: 47].

وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًا (12).

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Setelah menyebutkan malam dan siang – yang merupakan fenomena cakrawala yang disebut langit – maka sesuai untuk melanjutkan hal itu dan apa yang telah disebutkan sebelumnya tentang penciptaan alam bawah dengan menyebutkan penciptaan alam-alam atas.

وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًا (12).

Artinya: Dan Kami membangun di atas kalian tujuh langit yang sangat kuat, kokoh, dan sempurna.

Sebagaimana Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Apakah kalian lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunnya. Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya” [An-Nazi’at: 27-28].

وَجَعَلْنَا سِرَاجًا وَهَّاجًا (13).

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Setelah menyebutkan langit (atap), Allah menyebutkan sebagian manfaat utama yang ada di dalamnya.

Dan juga, penyebutan langit sesuai dengan penyebutan benda terbesar yang disaksikan manusia di ruangnya, yaitu matahari. Dalam hal itu, selain pelajaran dari penciptaannya, juga terdapat pelajaran bahwa matahari memiliki sifat tersebut, dan anugerah bagi manusia yang memperoleh banyak manfaat dari cahayanya.

وَجَعَلْنَا سِرَاجًا وَهَّاجًا (13).

Artinya: Dan Kami menjadikan matahari yang bercahaya sangat terang dan bersinar.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan menjadikan matahari sebagai pelita” [Nuh: 16].

وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجًا (14).

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Kesesuaian peralihan dari penyebutan langit ke penyebutan awan dan hujan sangatlah kuat. Di antaranya adalah bahwa hal itu merupakan pengambilan dalil dengan keadaan lain dari keadaan-keadaan yang Allah Ta’ala letakkan dalam sistem makhluk, dan Allah menjadikannya sebagai asal yang mirip dengan kehidupan setelah keadaan yang mirip dengan kematian atau mendekatinya, dan sebagai asal terciptanya makhluk-makhluk dari partikel-partikel kecil. Itulah keadaan turunnya air hujan dari awan ke bumi, lalu bumi menumbuhkan tangkai-tangkai biji-bijian, pepohonan, dan rumput. Semua itu memiliki kehidupan yang mirip dengan kehidupan manusia dan hewan, yaitu kehidupan pertumbuhan. Maka hal itu menjadi dalil bagi manusia untuk membayangkan keadaan kebangkitan setelah kematian dengan bukti pendekatan yang menunjukkan kemungkinannya, sehingga lenyaplah dari jiwa orang-orang yang sombong keraguan tentang ketidakmungkinan kebangkitan.

وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجًا (14).

Artinya: Dan Kami turunkan dari awan yang sarat dengan air hujan yang tercurah ke bumi dengan berturut-turut dan banyak.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya” [Ar-Rum: 48].

Dan Allah Subhanahu berfirman: “Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit)” [‘Abasa: 25].

﴿لِّنُخْرِجَ بِهٖ حَبًّا وَّنَبَاتًاۙ ١٥ ﴾

“Untuk Kami keluarkan dengan air hujan itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan (15).

Yaitu: Kami keluarkan dengan hujan ini berbagai jenis biji-bijian – seperti gandum, jelai, jagung, dan beras – dan berbagai jenis tumbuhan. Sebagaimana Allah berfirman: ‘Dan Kami turunkan dari langit air yang diberkahi, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun dan biji-bijian yang dapat dipanen’ [Surah Qaf: 9]. Dan Allah berfirman: ‘Lalu Kami tumbuhkan di bumi biji-bijian, dan anggur dan sayur-sayuran, dan zaitun dan pohon kurma, dan kebun-kebun yang lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu’ [Surah ‘Abasa: 27-32].

﴿وَّجَنّٰتٍ اَلْفَافًاۗ ﴾

Dan kebun-kebun yang lebat (16).

Yaitu: Kami keluarkan dengan hujan kebun-kebun dan taman-taman yang pohonnya banyak dan rimbun, sebagian bertautan dengan sebagian lainnya; karena banyaknya, dekatnya, dan bertautnya cabang-cabangnya.

Pelajaran Pendidikan:

Firman Allah Ta’ala: ‘Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan…’ Allah menegaskan kepada mereka untuk memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Nya yang jelas, dan keajaiban makhluk-Nya yang diciptakan-Nya dari ketiadaan, dan bahwa memperhatikan hal itu akan menuntun kepada keimanan terhadap apa yang dibawa oleh para Rasul tentang kebangkitan dan pembalasan.

Manfaat Ilmiah Dan Keindahan:

  1. Firman Allah: ‘Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan’ adalah dalil yang mengandung anugerah, dan dalam anugerah itu terdapat isyarat akan hikmah Allah; karena Dia menjadikan bumi sesuai dengan makhluk-makhluk yang ada di atasnya; sesungguhnya Yang membuat ciptaan ini tidak sulit bagi-Nya untuk menciptakan jasad-jasad sekali lagi setelah hancurnya, dan tujuan dari anugerah di sini adalah untuk mengingatkan mereka akan karunia Allah; agar mereka sadar dari kesombongan, dan mengamati apa yang diserukan kepada mereka oleh Rasulullah sebagai penyampai dari Allah.
  2. Allah berfirman: ‘Dan Kami menciptakan kamu berpasangan.’ Azwaj (berpasangan) adalah bentuk jamak dari zawj, yaitu nama untuk bilangan yang mengulangi satu sebanyak satu kali, dan telah disifati dengannya sebagaimana disifati dengan nama-nama bilangan; maka firman-Nya: ‘berpasangan’ menunjukkan bahwa laki-laki adalah pasangan bagi perempuan dan sebaliknya, maka laki-laki adalah pasangan bagi perempuannya, dan perempuan adalah pasangan bagi laki-lakinya.
  3. Firman Allah: ‘Dan Kami menciptakan kamu berpasangan’, dalil penciptaan bumi dan gunungnya diikuti dengan dalil penciptaan manusia; untuk menggabungkan antara pembuktian keesaan dalam penciptaan dan petunjuk akan kemungkinan mengembalikan mereka, dan dalil dalam penciptaan manusia atas kreasi yang agung – yang penciptaan kedua itu sejenis dengannya – lebih melekat dalam jiwa orang yang dimintai dalil, Allah berfirman: ‘Dan pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan?’ [Adz-Dzariyat: 21].
  4. Firman Allah: ‘Dan Kami menciptakan kamu berpasangan’ yaitu: laki-laki dan perempuan dari jenis yang sama; agar masing-masing merasa tenang kepada yang lain, sehingga tercipta kasih sayang dan rahmat, dan timbul dari keduanya keturunan.
  5. Dalam firman-Nya: ‘Dan Kami menciptakan kamu berpasangan’ terdapat isyarat pada hikmah dari penciptaan itu berupa adanya kekuatan berkembang biak dari pertemuan laki-laki dengan perempuan, dan itu adalah tempat bergantungnya isyarat kepada dalil tentang kemungkinan mengembalikan jasad-jasad; karena Yang Kuasa menciptakan pembentukan yang menakjubkan ini pada mulanya dengan kekuatan berkembang biak, Kuasa untuk menciptakan yang serupa dengan ketelitian yang sama atau lebih teliti.
  6. Dalam firman Allah: ‘Dan Kami menjadikan tidurmu untuk istirahat, dan Kami menjadikan malam sebagai pakaian, dan Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan’ disebutkan tentang penetapan takdir, dan lawannya adalah penetapan syariat, seperti firman Allah: ‘Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia’ [Al-Maidah: 97], dan firman-Nya: ‘Allah tidak pernah mensyariatkan adanya bahirah, saibah, wasilah, dan ham’ [Al-Maidah: 103].”
  7. Firman Allah: “Dan Kami jadikan tidur kalian sebagai pemutus (aktivitas)” mengandung anugerah kepada manusia dengan diciptakannya sistem tidur bagi mereka; agar mereka mendapatkan istirahat dari kelelahan bekerja yang mereka lakukan di siang hari. Allah menjadikan tidur terjadi pada manusia tanpa pilihan mereka sendiri. Tidur memaksa manusia untuk menghentikan aktivitas; agar sistem saraf yang berpusat di otak bisa beristirahat. Dengan istirahat tersebut, sistem saraf memulihkan kekuatannya yang telah dilemahkan oleh kerja indera dan gerakan serta aktivitas anggota tubuh. Bahkan jika seseorang ingin begadang, dia pasti akan dikalahkan oleh rasa kantuk. Ini adalah bentuk kelembutan terhadap manusia; sehingga manusia mendapatkan manfaat bagi kemampuan persepsinya secara paksa agar tidak mengabaikannya. Oleh karena itu dikatakan: Orang yang paling sedikit tidurnya adalah yang paling pendek umurnya, begitu pula dengan hewan.
  8. Firman Allah: “Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian” merupakan kelengkapan bukti sebelumnya dan anugerah di dalamnya; karena keadaan malam sebagai pakaian merupakan kondisi yang mempersiapkan terjadinya tidur, dan membantu kenyamanan serta manfaatnya. Malam adalah kegelapan yang terjadi di atmosfer karena menghilangnya cahaya matahari dari sebagian bola bumi. Dengan kegelapan itu, benda-benda tersembunyi dari penglihatan, sehingga sulit untuk berjalan, bekerja, dan beraktivitas. Semangat pun menurun, saraf-saraf bersiap untuk ketenangan, kemudian tidur menyelimutinya, sehingga terjadilah istirahat melalui rangkaian menakjubkan ini. Tidak heran bahwa sistem malam merupakan tanda keesaan Allah dalam penciptaan dan keindahan takdir-Nya, serta menjadi bukti bahwa menghidupkan kembali jasad setelah kematian bukanlah hal yang sulit bagi-Nya. Seandainya orang-orang yang mengingkari merenungkannya, tentulah mereka mengetahui bahwa Allah Mahakuasa untuk membangkitkan, sehingga mereka tidak akan mendustakan berita dari Rasulullah ﷺ Dalam hal ini terdapat anugerah kepada mereka berupa sistem yang mengandung kelembutan dan kenyamanan hidup. Jika mereka mensyukurinya dengan semestinya, tentulah mereka bersyukur dan tidak menyekutukan Allah. Mengingat keadaan malam cepat terlintas dalam pikiran ketika mengingat keadaan tidur, maka penyebutan tidur menjadi penghubung yang tepat untuk beralih kepada bukti dari keadaan malam sesuai dengan pemahaman para pendengar.
  9. Firman Allah: “Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.” Siang adalah waktu ketika cahaya matahari menyebar di sebagian besar permukaan bumi. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang ketelitian dan kesempurnaan ciptaan; karena telah dibuat dua sistem berbeda yang bersumber dari terbitnya cahaya matahari dan tertutupnya di atas bumi. Keduanya merupakan nikmat bagi manusia yang berbeda dalam sebab dan akibatnya; nikmat malam berkaitan dengan istirahat dan ketenangan, sedangkan nikmat siang berkaitan dengan bekerja dan berusaha. Karena siang menggantikan malam, maka manusia telah memperbarui istirahatnya dan memulihkan semangatnya, sehingga mampu melakukan berbagai pekerjaan; karena dapat melihat objek dan jalan-jalan.
  10. Dalam firman Allah: “Dan Kami jadikan pelita yang terang-benderang”, bahwa Allah menyebut matahari sebagai pelita dan cahaya; karena matahari selain menerangi dan bersinar juga menghangatkan dan membakar, sehingga ia lebih mirip dengan api, berbeda dengan bulan; karena bulan hanya menerangi tanpa menghangatkan. Oleh karena itu Allah berfirman: “Dia menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya” [Yunus: 5].
  11. Dalam firman Allah: “Dan Kami jadikan pelita yang terang-benderang * Dan Kami turunkan dari awan air yang tercurah deras * Untuk Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tanam-tanaman * Dan kebun-kebun yang lebat”, bahwa ketika Allah menyebutkan pelita yang terang-benderang -yang memiliki panas dan kering- Dia menyebutkan apa yang berlawanan dengannya, dengan berfirman: “Dan Kami turunkan dari awan air yang tercurah deras.” Air mengandung kelembaban dan kesejukan. Air ini juga menumbuhkan dan menghidupkan bumi. Ketika air dari langit bergabung dengan panas matahari, terjadilah pematangan buah-buahan dan pertumbuhan sempurna baginya.
  12. Dalam firman Allah: “Dan Kami turunkan dari awan air yang tercurah deras * Untuk Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tanam-tanaman * Dan kebun-kebun yang lebat”, bahwa Allah menciptakan sebab-sebab dan hikmah-hikmah.
  13. Firman Allah: “Dan Kami turunkan dari awan air yang tercurah deras * Untuk Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tanam-tanaman * Dan kebun-kebun yang lebat” dalam ayat ini terdapat dua bukti: bukti tentang turunnya air dari awan, dan bukti tentang tumbuhnya tanaman. Dalam hal ini juga terdapat anugerah bagi mereka yang berpaling dari merenungkan tanda-tanda ciptaan Allah, yang seharusnya mendorong untuk bersyukur kepada Pemberi nikmat; karena di dalamnya terdapat manfaat bagi manusia berupa rezeki untuk mereka dan hewan ternak mereka, serta kenikmatan dan keindahan pemandangan mereka. Seandainya mereka bersyukur kepada Pemberi nikmat, niscaya ketika sampai kepada mereka bahwa Allah mengajak mereka untuk merenungkan bukti-bukti, mereka akan siap merenungkannya, dengan harapan bahwa seruan yang sampai kepada mereka benar-benar berasal dari Allah, sehingga bukti-bukti tersebut tidak akan tersembunyi dari mereka.
  14. Firman Allah: “Untuk Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tanam-tanaman * Dan kebun-kebun yang lebat” dijelaskan hikmah turunnya hujan dari awan bahwa Allah menjadikannya untuk menumbuhkan tanaman dari bumi; menggabungkan antara anugerah dan isyarat kepada bukti kemungkinan kebangkitan; agar mereka mengakui adanya kebangkitan, dan bersyukur kepada Sang Pencipta.

 

Keindahan Bahasa dalam Ayat-ayat:

  1. Firman Allah: “Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan? * Dan gunung-gunung sebagai pasak? * Dan Kami menciptakan kamu berpasangan * Dan Kami menjadikan tidurmu untuk istirahat * Dan Kami menjadikan malam sebagai pakaian * Dan Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan * Dan Kami bangun di atas kamu tujuh (langit) yang kokoh * Dan Kami jadikan pelita yang terang-benderang” – Ketika berita terbesar yang dibawa Al-Qur’an kepada mereka adalah membatalkan ketuhanan berhala-berhala mereka dan menetapkan penciptaan kembali jasad mereka (yaitu dua prinsip dasar yang membuat mereka mendustakan bahwa Al-Qur’an berasal dari Allah, bersatu melawan Rasulullah ﷺ, dan menyebarkan pendustaan terhadapnya); kalimat ini datang sebagai penjelasan terperinci dari firman-Nya: “Tentang berita yang besar * Yang mereka perselisihkan” [An-Naba: 2-3].
  • Firman-Nya: “Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan,” Allah memulai dengan apa yang selalu mereka alami secara langsung.
  • Allah mengumpulkan bagi mereka dalam ayat-ayat ini bukti tentang keesaan-Nya melalui kesendirian-Nya dalam penciptaan, dan bukti tentang kemungkinan menghidupkan kembali jasad untuk dibangkitkan setelah hancur, bahwa hal itu tidak lebih sulit daripada menciptakan makhluk-makhluk besar. Karena kalimat ini berkedudukan sebagai dalil, maka tidak dirangkaikan dengan kata sambung kepada kalimat sebelumnya.
  • Pertanyaan dalam “Bukankah Kami telah menjadikan” adalah pertanyaan konfirmatif, yaitu konfirmasi terhadap negasi, sebagaimana umumnya bentuk pertanyaan konfirmatif; bahwa sesudahnya ada negasi, dan yang paling sering menggunakan kata “lam”. Negasi tersebut seperti memberi alasan bagi orang yang dikonfirmasi jika dia ingin mengingkari. Yang dimaksud adalah konfirmasi terhadap terjadinya “menjadikan bumi sebagai hamparan”, bukan terhadap penyangkalannya. Jadi huruf negasi hanya untuk menegaskan makna konfirmasi, sehingga artinya: “Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan.”
  • Dalam firman: “Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan” terdapat peralihan ke bentuk penyapaan; untuk menekankan kepastian dan membuat mereka tidak berdaya. Pembicaraan ditujukan kepada para pengingkar kebangkitan, dan merekalah yang ditujukan pertanyaan tersebut.
  • “Menjadikan bumi”: menciptakannya dalam keadaan demikian; karena kondisinya sebagai hamparan adalah hal yang ada padanya sejak awal penciptaannya. Waktu terjadinya hal itu sebelum penciptaan manusia hanya Allah yang mengetahuinya. Maknanya: Allah menciptakannya dalam keadaan seperti hamparan; ini adalah ungkapan perumpamaan yang mendalam. Dalam firman: “Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan” terdapat perumpamaan bumi dengan hamparan; karena permukaannya dibuat mudah untuk diduduki, berbaring, dan lebih-lebih untuk berjalan. Ini adalah bukti keindahan penciptaan dan kemudahan bagi manusia.
  • Ungkapan “Kami jadikan” digunakan daripada “Kami ciptakan”; karena keadaannya sebagai hamparan adalah salah satu kondisinya saat penciptaan atau setelahnya, berbeda dengan kata “menciptakan” yang umumnya berkaitan dengan benda itu sendiri atau sifat yang membentuk esensi benda tersebut.
  • Kesesuaian dimulainya pembuktian tentang kemungkinan kebangkitan dengan penciptaan bumi adalah: bahwa kebangkitan itu menghadirkan orang-orang dari bumi; maka bumi adalah hal pertama yang terlintas dalam pikiran pendengar ketika membahas masalah kebangkitan, yaitu: kebangkitan penghuni kubur. Menjadikan bumi sebagai hamparan mengandung pembuktian tentang dasar penciptaan bumi dengan cara ringkas; oleh karena itu tidak perlu dibahas lagi ketika membicarakan penciptaan langit.
  • Firman-Nya: “Dan gunung-gunung sebagai pasak” adalah pemberitaan tentang gunung-gunung bahwa mereka adalah pasak-pasak dengan gaya perumpamaan yang mendalam; artinya: seperti pasak-pasak. Kesesuaian penyebutan gunung-gunung didorong oleh penyebutan bumi dan perumpamaannya dengan hamparan yang berada di dalam rumah. Ketika rumah biasanya terlintas dalam pikiran pendengar dari penyebutan hamparan, maka bumi diumpamakan dengan rumah, sehingga gunung-gunung bumi diumpamakan dengan pasak-pasak rumah. Juga, banyaknya gunung yang menonjol di permukaan bumi mungkin terlintas dalam pikiran bahwa hal itu tidak sesuai dengan menjadikan bumi sebagai hamparan; maka perumpamaan gunung-gunung dengan pasak-pasak menjadi ungkapan yang bagus seperti pembenaran yang baik. Gunung-gunung mungkin diumpamakan dengan pasak-pasak hanya dalam bentuk fisiknya, dan mungkin juga gunung-gunung diumpamakan dengan pasak-pasak kemah yang mengikat kemah agar tidak tercabut oleh angin atau terguncang.
  • Sebagian besar penghuni bumi -terutama orang Arab- mendapatkan banyak manfaat dari gunung-gunung; di antaranya adalah aliran lembah, genangan air di lerengnya, padang rumput untuk ternak, tempat berlindung saat takut, dan tempat pengawasan jalan yang menuju ke perkampungan mereka jika musuh datang. Oleh karena itu, gunung-gunung sering disebutkan bersama dengan bumi; sehingga kalimat “Dan gunung-gunung sebagai pasak” menjadi sisipan yang diselipkan antara kalimat “Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan” [An-Naba: 6] dan “Dan Kami menciptakan kamu berpasangan” [An-Naba: 8].
  • Firman-Nya: “Dan Kami menciptakan kamu berpasangan” dirangkaikan dengan konfirmasi dalam firman-Nya: “Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan” [An-Naba: 6], dengan perkiraan: “Dan bukankah Kami menciptakan kamu berpasangan?” Sehingga konfirmasi di sini sesuai dengan asalnya; di mana yang dikonfirmasi adalah terjadinya penciptaan; oleh karena itu Dia tidak mengatakan: “Bukankah Kami telah menciptakan kamu berpasangan?” Yang dirangkaikan dengannya adalah “Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan” meskipun itu adalah kata kerja bentuk sekarang, namun masuknya “lam” padanya mengubahnya menjadi makna lampau; sebagaimana ditegaskan bahwa “lam” mengubah makna kata kerja bentuk sekarang menjadi bentuk lampau; oleh karena itu baik rangkaian “Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan * Dan gunung-gunung sebagai pasak” [An-Naba: 6-7], dan keseluruhannya adalah konfirmasi terhadap sesuatu yang telah berlalu.
  • Penggunaan kata kerja bentuk lampau dalam “Dan Kami menciptakan kamu berpasangan” dipilih daripada kata kerja bentuk sekarang seperti yang dirangkaikan dengannya; karena bentuk kata kerja sekarang digunakan untuk menghadirkan gambaran tindakan; sehingga penggunaan bentuk sekarang dalam “Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan” [An-Naba: 6] berfungsi mengajak penggunaan pemikiran dalam penciptaan bumi dan gunung-gunung; karena semua itu terlihat oleh mereka, dan biasanya para pengamat mengabaikan perenungan detailnya; karena mereka terbiasa melihatnya sejak sebelum usia berpikir; karena bumi di bawah kaki mereka hampir tidak mereka perhatikan, apalagi memikirkan penciptaannya, dan gunung-gunung membuat mereka sibuk dari memikirkan penciptaannya dengan kesulitan mendakinya, berjalan di kerasnya, menjaga ternak mereka dari tersesat di lembah-lembahnya, dan mengalihkan pandangan ke jalur musuh ketika naik ke tempat pengintaian.

Maka dipilihlah kata kerja bentuk sekarang ketika menyebutkan ciptaan-ciptaan yang layak untuk direnungkan dengan teliti dan diambil kesimpulan; agar pengakuan mereka terhadap apa yang dikonfirmasikan kepada mereka berdasarkan pengetahuan, sehingga mereka tidak menemukan jalan untuk mengingkari. Dan digunakan bentuk lampau di sini dan setelahnya; karena objek dari kata kerja “Kami ciptakan” dan yang dirangkaikan dengannya tidak terlihat oleh mereka, dan disebutkan kepada mereka ciptaan-ciptaan yang sangat terkait dengan manusia dari hal-hal yang keadaannya terus-menerus muncul dalam persepsi mereka, sehingga pengakuan mereka terhadapnya lebih mudah; karena buktinya mendekati hal yang jelas dengan sendirinya.

  • Di sini digunakan kata kerja “menciptakan” bukan “menjadikan”; karena ini menyangkut pembentukan esensi mereka, sehingga lebih tepat daripada kata “menjadikan”.
  • Kata ganti orang kedua dalam firman-Nya: “Dan Kami menciptakan kamu berpasangan” ditujukan kepada kaum musyrikin yang menjadi sasaran konfirmasi dengan firman-Nya: “Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan” [An-Naba: 6], dan ini merupakan peralihan dari gaya bicara orang ketiga ke gaya bicara orang kedua.
  • Kata “berpasangan” berkedudukan sebagai keterangan keadaan dari kata ganti orang kedua dalam “Kami menciptakan kamu”; karena tujuannya adalah pembuktian dengan penciptaan manusia dan keadaan manusia yang berpasangan. Ketika yang sesuai untuk kata kerja “Kami menciptakan” adalah mengarah pada esensi; maka objeknya dibuat kata ganti esensi manusia, dan ketika yang sesuai untuk keadaan mereka sebagai pasangan adalah disampaikan sebagai penciptaan keadaan, maka diungkapkan sebagai keterangan keadaan dari kata ganti orang kedua dalam “Kami menciptakan kamu”. Jika diungkapkan dengan kata kerja tersendiri, maka akan dikatakan: “Kami menciptakan kamu dan Kami menjadikan kamu berpasangan”, serupa dengan yang sebelumnya dalam firman: “Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan” [An-Naba: 6], dan yang akan datang dalam firman-Nya: “Dan Kami menjadikan tidurmu untuk istirahat” [An-Naba: 9].
  • Dalam firman-Nya: “Dan Kami menciptakan kamu berpasangan” terdapat bukti keagungan kekuasaan Allah dan hikmah-Nya, serta anugerah kepada manusia bahwa Dia menciptakan mereka, dan bahwa Dia menciptakan mereka dalam keadaan yang menjadikan masing-masing dari dua jenis memiliki pasangan yang cocok; agar terjadi kerja sama dan kebersamaan dalam keramahan dan kenikmatan. Oleh karena itu konfirmasi ini diungkapkan dengan menghubungkan kata kerja “Kami menciptakan” dengan kata ganti manusia, dan menjadikan “berpasangan” sebagai keterangan keadaan darinya; agar didapatkan pelajaran dari kedua hal tersebut, bukan dengan mengatakan: “Dan Kami menciptakan untuk kamu pasangan-pasangan”. Dalam hal ini terdapat dorongan bagi mereka untuk bersyukur dengan merenungkan apa yang disampaikan kepada mereka dari Allah yang telah memberi mereka nikmat-nikmat ini melalui Rasulullah ﷺ, dan sindiran bahwa penolakan mereka terhadap ajakan Islam dan kesombongan mereka terhadap apa yang sampai kepada mereka adalah pengingkaran terhadap nikmat dari Pemberi nikmat.
  • Dipilih kata kerja “Kami jadikan” di sini; karena tidur adalah keadaan yang sesuai dengan kata kerja “menjadikan” bukan kata kerja “menciptakan” yang lebih cocok untuk esensi. Penambahan kata “tidur” kepada kata ganti orang kedua bukanlah untuk membatasi dan mengecualikan tidurnya selain manusia; karena tidur semua hewan juga istirahat, tetapi penambahan ini untuk lebih menekankan bukti, yaitu: sesungguhnya bukti kebangkitan ada dan jelas dalam tidur yang merupakan salah satu kondisi kalian. Juga karena dalam penggambarannya sebagai istirahat terdapat anugerah, dan anugerah itu khusus untuk mereka; Allah berfirman: “Dialah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya” [Yunus: 67].
  • Kata “istirahat” dipilih; karena mengandung makna berhenti dari bekerja; untuk berhadapan dengan firman-Nya setelahnya: “Dan Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan” [An-Naba: 11].
  • “Firman-Nya: ‘Dan Kami jadikan siang untuk penghidupan’, artinya: Allah menutupi kalian dengan kegelapannya sebagaimana pakaian menutupi kalian. Mungkin yang dimaksud dengan ‘pakaian’ di sini adalah sesuatu yang digunakan untuk menutupi diri ketika tidur seperti selimut dan semacamnya; karena perumpamaan malam dengan selimut lebih sempurna, dan penggunaannya dalam mencapai tujuan lebih tepat. Allah menjadikan malam sebagai waktu untuk tidur yang dianggap sebagai kematian, sebagaimana Dia menjadikan siang sebagai waktu untuk terjaga yang diungkapkan sebagai kehidupan dalam firman-Nya: ‘Dan Kami jadikan siang untuk penghidupan’.

Dikatakan: Makna dari menjadikan malam sebagai pakaian berkaitan dengan gambaran kondisi khusus di malam hari yang diekspresikan dengan istilah ‘pakaian’. Mungkin kata ‘pakaian’ digunakan dalam arti yang umum, yaitu apa yang dikenakan manusia berupa baju. Dengan demikian, penggambaran malam dengannya mengandung unsur perumpamaan yang mendalam, artinya: Kami jadikan malam bagi manusia seperti pakaian baginya. Aspek persamaannya bisa jadi adalah penutupan, yang mencakup tiga makna:

Pertama: Bahwa malam menutupi manusia sebagaimana pakaian menutupinya. Manusia di malam hari menyendiri dengan urusannya yang tidak dilakukannya di siang hari karena ia tidak ingin terlihat oleh pandangan orang lain. Ini mengandung bantahan terhadap salah satu prinsip kaum materialis yang menyatakan bahwa malam adalah tuhan kegelapan, yang merupakan keyakinan kaum Majusi. Mereka percaya bahwa semua makhluk diciptakan dari dua asal (dua tuhan): tuhan cahaya yang menciptakan kebaikan, dan tuhan kegelapan yang menciptakan kejahatan.

Kedua: Aspek persamaan dengan pakaian adalah dalam hal kelembutan dan kesesuaian untuk memberikan kenyamanan. Ketika malam menjadi waktu istirahat bagi manusia dan melingkupi seluruh indera dan sarafnya, ia diumpamakan dengan pakaian dalam hal tersebut.

Ketiga: Aspek persamaannya dengan pakaian adalah perlindungan; malam melindungi manusia dari bahaya dan serangan. Orang Arab tidak saling menyerang di malam hari; serangan biasanya terjadi di pagi hari. Oleh karena itu, ketika diserang, seseorang akan berteriak kepada kaumnya: ‘Ya Sabahah!’ (Wahai pagi!) dan dikatakan: ‘Musuh menyerang mereka di pagi hari’. Ketika mereka menempatkan penjaga di tempat tinggi – untuk mengawasi musuh yang mungkin mendatangi mereka – mereka melakukannya di siang hari, dan ketika malam tiba, para penjaga turun.

  • Karena sebagian besar pekerjaan dilakukan di siang hari untuk mencari penghidupan, maka siang diungkapkan sebagai ‘penghidupan’. Penyebutan siang setelah penyebutan tidur dan malam mengisyaratkan bahwa siang adalah permulaan waktu terjaga yang merupakan lawan dari tidur. Sehingga perbandingan keduanya dengan siang hari setara dengan pernyataan: ‘Dan Kami jadikan siang dan keadaan terjaga di dalamnya sebagai penghidupan’. Dalam ungkapan ini terdapat pemendekan yang ditunjukkan oleh perbandingan. Dengan demikian, di antara tiga kalimat tersebut terdapat dua persesuaian dari keindahan sastra baik secara lafal maupun makna.”

 

  1. Firman Allah Ta’ala: ‘Dan Kami bangun di atas kamu tujuh (langit) yang kokoh, dan Kami jadikan pelita yang amat terang’

 

  • Pengungkapan penciptaan langit dengan kata ‘pembangunan’ didasarkan pada penggambaran langit seperti kubah-kubah yang terbentang di atas makhluk. Maka digunakan kata kerja ‘banayna’ (Kami membangun) dalam ayat ini dengan makna: ‘Kami menciptakan sesuatu yang tinggi di atas manusia’, karena pembentukannya yang tinggi menyerupai bangunan. Oleh karena itu, perkataan ‘di atas kamu’ memberi isyarat tentang aspek keserupaan dalam penggunaan kata ‘Kami membangun’, sekaligus mengarahkan jiwa untuk mengambil pelajaran dan merenungkan ‘tujuh yang kokoh’ tersebut.

 

  • Dikatakan pula: Bangunan biasanya lebih tahan terhadap kerusakan dan kehancuran dibandingkan atap, maka disebutkan ‘Dan Kami bangun’ sebagai isyarat bahwa meskipun langit merupakan atap, namun dalam hal ketahanannya terhadap kehancuran, ia seperti bangunan. Jadi, tujuan pemilihan kata ini adalah untuk menyampaikan makna yang mendalam ini.
  • Dalam firman-Nya: ‘Dan Kami bangun di atas kamu tujuh yang kokoh’, pendahuluan kata keterangan tempat sebelum objek bukan hanya untuk menjaga keserasian akhir kalimat, tetapi juga untuk menimbulkan rasa ingin tahu terhadapnya. Karena sesuatu yang seharusnya didahulukan ketika diakhirkan, jiwa tetap menantikannya, dan ketika akhirnya muncul, ia tertanam lebih kuat dalam jiwa.

Yang dimaksud dengan ‘tujuh yang kokoh’ adalah langit-langit, ini termasuk penyebutan sifat dengan menghilangkan yang disifati karena sudah diketahui, seperti firman Allah: ‘Kami angkut kamu dalam bahtera’ [Al-Haqqah: 11]. Oleh karena itu, sifatnya menggunakan bilangan feminin, karena perkiraan lengkapnya adalah ‘tujuh langit’.

‘Siraj’ (pelita) adalah lampu yang digunakan untuk penerangan. Ungkapan ini menggunakan gaya bahasa perumpamaan yang mendalam (tasybih baligh). Tujuan dari perumpamaan ini adalah untuk mendekatkan sifat yang diumpamakan ke dalam pemahaman, dan pendekatan ini ditambah dengan menyifati pelita sebagai ‘wahhaj’ (yang amat terang), yaitu yang memiliki cahaya yang kuat. Kata kerja ‘ja’alna’ (Kami jadikan) dipilih daripada ‘khalaqna’ (Kami ciptakan) karena keberadaannya sebagai pelita yang terang adalah salah satu dari kondisi-kondisinya, dan kata ‘menciptakan’ biasanya dikaitkan dengan zat-zat (benda-benda itu sendiri).”

  1. Firman Allah Ta’ala: ‘Dan Kami turunkan dari awan air yang tercurah deras, agar Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun yang lebat.’

 

  • ‘Tsajjaj’ artinya yang tercurah dengan deras dan kuat. Pendeskripsian air dengan kata ‘tsajjaj’ di sini menunjukkan anugerah Allah.

 

  • Di sini digunakan kata kerja ‘linukhrija’ (agar Kami keluarkan) bukan seperti ‘linunbita’ (agar Kami tumbuhkan), karena tujuannya adalah untuk mengisyaratkan gambaran tentang bagaimana manusia dibangkitkan dari bumi, yang merupakan tujuan utama dari ayat ini. Ketika tujuan utama ayat dalam Surah Qaf adalah menunjukkan anugerah Allah, digunakanlah kata kerja ‘anbatna’ (Kami tumbuhkan) dalam firman-Nya: ‘Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun’ [Qaf: 9]. Kemudian dilanjutkan dengan penggunaan hal tersebut sebagai bukti kebangkitan dengan firman-Nya: ‘Demikianlah terjadinya kebangkitan’ [Qaf: 11]. Kebangkitan adalah keluar dari bumi; Allah berfirman: ‘Dan darinya (bumi) Kami keluarkan kamu sekali lagi’ dalam Surah Thaha [ayat: 55].

 

  • Firman-Nya: ‘biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan’, Dia memulai dengan menyebutkan biji-bijian karena itulah yang menjadi makanan pokok, seperti gandum dan jelai. Ada yang mengatakan: Pendahuluan biji-bijian meskipun dalam urutan pertumbuhan datang setelah tumbuhan, adalah karena keaslian dan kemuliaan biji-bijian, sebab sebagian besarnya menjadi makanan manusia.

 

  • Firman-Nya: ‘dan kebun-kebun yang lebat’, Dia mengakhirkan penyebutan kebun-kebun karena kebutuhan akan buah-buahan tidak sepenting kebutuhan akan makanan pokok.

Alasan dipilihnya kata ‘jannat’ (kebun-kebun) adalah karena di dalamnya terdapat isyarat penyempurnaan nikmat; sebab mereka menyukai kebun-kebun dan taman-taman karena di dalamnya terdapat kenikmatan berupa naungan, buah-buahan, air, dan keindahan pemandangan. Oleh karena itu, kata tersebut diikuti dengan sifat ‘alfafa’ (lebat) karena hal itu menambah keindahannya. Konteks ayat di sini adalah menunjukkan nikmat yang mengandung kesenangan bagi manusia.

  • ‘Alfaf’ adalah bentuk jamak yang tidak memiliki bentuk tunggal dari lafaznya, serupa dengan kata ‘awza” dan ‘akhyaf’, maksudnya setiap kebun itu rimbun, yakni pepohonannya saling bertautan satu sama lain. Karena pepohonan biasanya tidak saling bertautan kecuali jika terkumpul dalam sebuah kebun, maka kata ‘alfaf’ disandarkan kepada ‘jannat’ (kebun-kebun) dalam bentuk sifat, dan mungkin ini termasuk ungkapan baru yang diperkenalkan oleh Al-Qur’an.

 

  • Dengan dalil dan anugerah ini, diakhirilah bukti-bukti yang ditegakkan bagi kaum musyrikin tentang keesaan Allah Ta’ala dalam ketuhanan, yang juga mencakup isyarat tentang kemungkinan kebangkitan dan berbagai nikmat yang terkandung di dalamnya. Semoga mereka mengingat nikmat tersebut sehingga merasakan kewajiban bersyukur kepada Pemberi nikmat, tidak menganggap berat penolakan terhadap sekutu-sekutu dalam ketuhanan, dan memperhatikan apa yang sampai kepada mereka tentang kabar kebangkitan dan pembalasan, sehingga mereka mengarahkan akal mereka untuk melihat bukti-bukti kebenaran hal tersebut.

 

  • Bukti-bukti ini dimulai dengan penciptaan bumi dan kondisinya, lalu mengingatkan mereka tentang hal terpenting yang ada di bumi berupa benda-benda mati dan makhluk hidup, kemudian fenomena di ufuk berupa malam dan siang, lalu meningkat kepada penciptaan langit, terutama matahari, kemudian turun kepada bukti-bukti tentang awan dan hujan, lalu mereka turun bersamanya kepada apa yang keluar dari bumi berupa keajaiban ciptaan dan puncak manfaat. Dengan demikian, mereka melihat dari tempat mereka berasal, dan ini termasuk kembalinya akhir kepada awal (radd al-‘ajz ‘ala al-sadr).”

۞ ۞ ۞ ۞ ۞

Ayat: 17-20

﴿اِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيْقَاتًاۙ ١٧ يَّوْمَ يُنْفَخُ فِى الصُّوْرِ فَتَأْتُوْنَ اَفْوَاجًاۙ ١٨ وَّفُتِحَتِ السَّمَاۤءُ فَكَانَتْ اَبْوَابًاۙ ١٩ وَّسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًاۗ ٢٠ ﴾

Kata-kata Asing:

  • مِيقَاتًا (Miqatan): Waktu dan janji; miqat adalah waktu yang ditentukan untuk sesuatu, dan janji yang telah ditentukan waktunya. Akar kata “waqt” menunjukkan batasan sesuatu dalam waktu dan lainnya.
  • الصُّورِ (As-Shur): Terompet yang ditiup oleh Malaikat Israfil yang ditugaskan untuk itu.
  • أَفْوَاجًا (Afwajan): Kelompok-kelompok; “fawj” adalah kelompok manusia, dan akar kata “fawj” menunjukkan perkumpulan.
  • سَرَابًا (Saraban): Debu dan partikel yang tersebar seperti fatamorgana di mata pengamat; “sarab” adalah apa yang terlihat dari matahari seperti air di tengah hari, dan akar kata “sarab” menunjukkan keluasan dan pergerakan di bumi.

Makna Keseluruhan:

Allah Ta’ala berfirman menjelaskan beberapa kejadian dahsyat pada hari kiamat: Sesungguhnya hari kiamat, hari di mana Allah menghakimi antara hamba-hamba-Nya, adalah hari yang telah ditentukan waktunya untuk mengumpulkan manusia. Pada hari itu Malaikat meniup terompet untuk membangkitkan manusia, maka kalian akan datang dari kubur menuju tempat pengadilan dalam kelompok-kelompok. Langit akan terbelah sehingga menjadi pintu-pintu yang terbuka, dan gunung-gunung akan tercabut dari tempatnya sehingga menjadi debu.

Tafsir Ayat-ayat:

“Sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan” (17)

Hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya: Ini adalah penjelasan dari apa yang diringkas dalam firman Allah Ta’ala: “Tentang berita yang besar, yang mereka perselisihkan” [An-Naba: 2-3], yang merupakan tujuan dari konteks pembukaan yang memulai surah ini, dan kesesuaian penyebutan “mengeluarkan” dari firman-Nya: “Untuk Kami keluarkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan” [An-Naba: 15] dan seterusnya; karena hal itu diumpamakan dengan keluarnya jasad manusia untuk kebangkitan, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun dan biji-biji tanaman yang diketam” sampai firman-Nya: “Demikianlah terjadinya kebangkitan” dalam surah Qaf [9-11].

“Sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan” (17)

Artinya: Sesungguhnya hari kiamat, ketika Allah menghakimi di antara hamba-hamba-Nya, adalah hari yang telah ditentukan waktunya untuk mengumpulkan manusia untuk perhitungan dan pembalasan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya hari keputusan (hari kiamat) itu adalah waktu yang dijanjikan bagi mereka semuanya” [Ad-Dukhan: 40].

“(Yaitu) hari (yang) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok” (18)

Artinya: Dan hal itu terjadi pada hari ketika Malaikat meniup terompet untuk membangkitkan manusia menjadi hidup pada hari kiamat, maka kalian -wahai manusia- datang dari kubur kalian menuju tempat pengadilan untuk perhitungan dan pembalasan dalam kelompok-kelompok dan kumpulan-kumpulan.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan ditiuplah sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka semuanya” [Al-Kahfi: 99]. Dan dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Seorang Arab Badui datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya: ‘Apa itu As-Shur (sangkakala)?’ Beliau menjawab: ‘Sebuah tanduk yang ditiup.'”

“Dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu” (19)

Artinya: Dan langit akan terbelah dan terbuka, sehingga menjadi pintu-pintu yang terbuka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut putih dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang” [Al-Furqan: 25]. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah. Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit” [Al-Haqqah: 16-17].

“Dan dijalankanlah gunung-gunung, maka menjadi fatamorganalah ia” (20)

Hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah menyebutkan langit (atap), Dia menyebutkan bagian bumi yang paling dekat dengan langit dan paling kuat, maka Dia berfirman: “Dan dijalankanlah gunung-gunung, maka menjadi fatamorganalah ia” (20). Artinya: Dan gunung-gunung akan dicabut dari tempatnya dan hancur menjadi debu, dan menjadi debu yang beterbangan. Terlihat oleh pengamat seolah-olah ada sesuatu, padahal tidak ada apa-apa. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan gunung-gunung berjalan (berpindah-pindah)” [At-Tur: 10].

Faedah Ilmiah dan Keunikan:

  1. Dalam firman Allah Ta’ala: “Dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu” terdapat bukti kesempurnaan kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla; bahwa tujuh langit yang kokoh ini Allah jadikan pada hari kiamat seolah-olah tidak pernah ada, sehingga menjadi pintu-pintu.
  2. Dalam firman Allah Ta’ala: “Dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu” terdapat pertanyaan: yaitu bahwa ayat ini menunjukkan langit secara keseluruhan akan menjadi pintu-pintu, bagaimana hal itu bisa dimengerti?

Jawabannya dari beberapa segi:

Segi pertama: Bahwa pintu-pintu tersebut ketika menjadi sangat banyak, seolah-olah langit hanyalah pintu-pintu yang terbuka, seperti firman-Nya: “Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air” [Al-Qamar: 12], artinya: seolah-olah seluruhnya menjadi mata air yang memancar.

Segi kedua: Ini termasuk perkiraan adanya mudhaf (kata yang disandarkan) yang dihilangkan, yang diperkirakan: “maka terdapatlah (langit) yang memiliki pintu-pintu.”

Segi ketiga: Bahwa kata ganti pada firman-Nya: “maka terdapatlah beberapa pintu” kembali kepada sesuatu yang tersirat, yang diperkirakan: maka tempat-tempat yang terbuka itu menjadi pintu-pintu bagi turunnya para malaikat, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan datanglah Tuhanmu dan malaikat berbaris-baris” [Al-Fajr: 22].

  1. Firman Allah Ta’ala: “Dan dijalankanlah gunung-gunung, maka menjadi fatamorganalah ia”. Allah Ta’ala telah menyebutkan dalam beberapa tempat di kitab-Nya keadaan gunung-gunung ini dalam berbagai bentuk yang berbeda, dan bisa dilakukan penggabungan di antaranya:

Bahwa keadaan pertamanya: Dihancurkan, yaitu firman-Nya: “Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur” [Al-Haqqah: 14].

Keadaan kedua: Menjadi seperti bulu yang dihambur-hamburkan [Al-Qari’ah: 5], dan Allah Ta’ala menyebutkan itu dalam firman-Nya: “Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan” [Al-Qari’ah: 4-5] dan firman-Nya: “Pada hari ketika langit menjadi seperti luluhan perak, dan gunung-gunung menjadi seperti bulu (yang beterbangan)” [Al-Ma’arij: 8-9].

Keadaan ketiga: Menjadi seperti debu yang beterbangan, yaitu terpecah-pecah dan tercerai-berai setelah menjadi seperti bulu, dan itu adalah firman Allah Ta’ala: “Apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancur luluhkan sehancur-hancurnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan” [Al-Waqi’ah: 4-6].

Keadaan keempat: Dihancurkan; karena gunung-gunung dengan kondisi sebelumnya masih tetap di tempatnya, dan bumi di bawahnya belum tampak, maka gunung-gunung dihancurkan dengan hembusan angin atasnya, dan itulah yang dimaksud dari firman-Nya: “Maka katakanlah: ‘Tuhanku akan menghancurkannya (sehancur-hancurnya)'” [Thaha: 105].

Keadaan kelima: Bahwa angin mengangkat gunung-gunung dari permukaan bumi, lalu menerbangkannya di udara seperti debu, maka siapa yang melihatnya dari kejauhan akan mengiranya sebagai benda-benda padat karena ketebalannya, padahal sebenarnya bergerak, hanya saja pergerakannya disebabkan oleh angin yang menerpanya sehingga menjadi hancur dan remuk, dan itulah firman-Nya: “Bergerak (seperti) awan” [An-Naml: 88]. Kemudian Allah menjelaskan bahwa gerakan itu terjadi karena kekuasaan dan kendali-Nya, maka Dia berfirman: “Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami perjalankan gunung-gunung dan engkau akan melihat bumi itu rata” [Al-Kahfi: 47].

Keadaan keenam: Menjadi fatamorgana, artinya: tiada sesuatu, maka siapa yang melihat ke tempatnya tidak akan menemukan sesuatu di sana, sebagaimana orang yang melihat fatamorgana dari kejauhan ketika mendatangi tempat yang dia lihat itu tidak akan menemukan apa-apa.

  1. Dalam firman Allah Ta’ala: “Dan dijalankanlah gunung-gunung, maka menjadi fatamorganalah ia” ada pertanyaan: bagaimana menyesuaikannya dengan firman Allah Subhanahu: “Dan engkau melihat gunung-gunung, engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan (seperti) awan berjalan” [An-Naml: 88]?

Jawabannya: Telah datang nash-nash tentang hari akhir yang berbeda-beda dalam hal ini dan dalam hal lainnya, bahkan tentang manusia pun disebutkan bahwa mereka akan dikumpulkan dalam keadaan mata biru (yaitu: orang-orang yang berdosa di antara mereka), dan disebutkan juga: “Pada hari (ketika) ada wajah-wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah-wajah yang hitam muram” [Ali Imran: 106]. Dan tidak ada pertentangan di antaranya; karena hari kiamat lamanya adalah lima puluh ribu tahun; maka keadaan-keadaan berubah, berpindah, dan berbeda-beda. Dan jika kita melihat bahwa cuaca berubah di dunia antara sore dan pagi, antara hari dan hari lainnya, antara minggu dan minggu, antara bulan dan bulan, antara awal tahun dan akhirnya; maka gunung-gunung dan keadaan-keadaan pada hari kiamat berubah dari satu hal ke hal lainnya; oleh karena itu kita katakan: semua nash tentang hari kiamat, yang nampaknya bertentangan, tidak ada pertentangan di dalamnya, tetapi dipahami sebagai perubahan keadaan.

Keindahan Sastra Ayat-ayat:

1- Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan * (Yaitu) hari (yang) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok”

  • Perkataan-Nya: “Sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan…” adalah permulaan kalimat penjelasan yang mengikuti firman-Nya: “Untuk Kami keluarkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan” ayat [An-Naba: 15] dalam hal yang dimaksudkan sebagai isyarat kepada bukti kebangkitan. Ini adalah jawaban atas permintaan mereka untuk mempercepat kedatangannya dan alasan penundaannya, yang merupakan pertanyaan yang mereka maksudkan untuk mengejek berita tersebut. Maknanya: bahwa tertundanya kejadian itu tidak menunjukkan bahwa itu tidak akan terjadi, dan dalam hal ini terdapat peringatan bagi mereka bahwa tidak diketahui, barangkali itu akan terjadi dalam waktu dekat.
  • Kalimat ini dikuatkan dengan huruf penegas (inna/sesungguhnya); karena di dalamnya terdapat pembatalan pengingkaran kaum musyrikin dan pendustaan mereka terhadap hari keputusan.
  • Dipilih ungkapan “hari keputusan” untuk menetapkan dua hal; pertama: menjelaskan tetapnya apa yang mereka ingkari yaitu kebangkitan dan pembalasan, dan itu adalah keputusan antara kebenaran dan kebohongan mereka, dan kedua: keputusan di antara manusia dalam hal-hal yang mereka perselisihkan, dan dalam pelanggaran yang dilakukan sebagian terhadap sebagian lainnya.
  • Kata kerja “kaana” (adalah) menunjukkan bahwa penentuannya telah tertanam dalam ilmu Allah; sesuai dengan hikmah Allah Ta’ala yang Dia lebih mengetahuinya, dan bahwa keinginan mereka untuk mempercepat kedatangannya tidak akan memajukannya dari waktu yang telah ditetapkan.
  • Firman-Nya: “Sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan” – konteks kalimat menunjukkan apa yang terkait dengan kata “miqaatan” (waktu yang ditetapkan), yaitu: waktu yang ditetapkan untuk kebangkitan dan pembalasan. Dan menjadikan hari keputusan sebagai waktu yang ditetapkan merupakan kiasan simbolis tentang kepastian terjadinya; karena penentuan waktu hanya bisa dilakukan untuk sesuatu yang pasti terjadi walaupun tertunda dan lambat.
  • Firman-Nya: “hari (yang) ditiup sangkakala” adalah pengganti dari “hari keputusan”, dan manfaat penggantian ini adalah adanya perincian untuk sebagian keadaan pada hari keputusan dan sebagian kejadian dahsyat pada hari itu, atau sebagai penjelasan tambahan untuknya, yang menambah keagungan dan kedahsyatannya.
  • Kata kerja “yunfakhu” (ditiup) dibentuk dalam bentuk pasif (tanpa menyebutkan pelakunya); karena tidak ada tujuan untuk mengetahui siapa yang meniup; yang menjadi tujuan adalah mengetahui peristiwa besar ini dan gambaran terjadinya.
  • Firman-Nya: “lalu kamu datang berkelompok-kelompok” – huruf “fa” (lalu) di sini adalah “fa fashihah” yang mengungkapkan kalimat yang telah dihilangkan; karena percaya bahwa konteks sudah menunjukkannya, dan menandakan cepatnya kedatangan, artinya: maka kamu dibangkitkan dari kuburmu, lalu kamu datang ke tempat perhitungan sesudah itu tanpa tertunda sama sekali.
  • Kata “ta’tuuna” (kamu datang) dihubungkan dengan huruf “fa” (lalu); untuk menunjukkan bahwa kedatangan mereka ke tempat perhitungan mengikuti tiupan sangkakala.
  • Dan dihilangkan apa yang terjadi antara tiupan sangkakala dan kehadiran mereka; untuk lebih menunjukkan cepatnya kedatangan itu sehingga seolah-olah terjadi ketika sangkakala ditiup, walaupun maknanya adalah: ditiup sangkakala lalu kamu hidup kembali lalu kamu berjalan lalu kamu datang.

2- Firman Allah Ta’ala: “Dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu”

Kalimat ini boleh jadi dihubungkan dengan kalimat “ditiup sangkakala”, dan penggunaan kata kerja bentuk lampau (futihaat/dibukalah) untuk memastikan terjadinya pembukaan ini sehingga seolah-olah kejadiannya telah berlalu.

  • Firman-Nya: “Dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu” – menurut bacaan “futtihati” dengan penekanan pada huruf ta, merupakan bentuk mubalaghah (intensitas) dalam tindakan pembukaan dengan banyaknya atau kuatnya pembukaan; menunjukkan bahwa itu adalah pembukaan yang besar; karena membelah langit tidak ada yang mampu melakukannya kecuali Allah. Dan menurut bacaan “futihati” tanpa penekanan pada huruf ta sesuai aslinya; maka hanya dengan menghubungkan pembukaan dengan langit sudah menunjukkan bahwa itu adalah pembukaan yang dahsyat, sehingga “at-tafattuh” dan “al-fath” (pembukaan dengan penekanan dan tanpa penekanan) sama dalam makna yang dimaksud, yaitu menggambarkan kedahsyatan hari keputusan.
  • Dan dari terbukanya langit dilanjutkan dengan “fa” (maka) yang menunjukkan urutan langsung “maka terdapatlah beberapa pintu”, artinya: yang memiliki pintu-pintu (menurut satu pendapat). Dan pemberitaan tentang langit bahwa ia adalah pintu-pintu berjalan dengan cara mubalaghah (intensitas) dalam sifat memiliki pintu-pintu; untuk menunjukkan banyaknya pembukaan di dalamnya sehingga seolah-olah langit itu sendiri adalah pintu-pintu.

3- Firman Allah Ta’ala: “Dan dijalankanlah gunung-gunung, maka menjadi fatamorganalah ia”

Ini adalah tasybih baligh (penyerupaan tingkat tinggi) yang dihilangkan darinya kata pembandingnya dan juga dihilangkan segi persamaannya; yaitu bahwa apa yang terlihat berbeda dengan kenyataan, sebagaimana fatamorgana terlihat dari jauh bagi orang yang kehausan seolah-olah air, maka dia bergembira karenanya dan bergegas menuju ke sana, hingga ketika dia mencapainya setelah kelelahan panjang dia tidak menemukan apa-apa. Begitu juga gunung-gunung terlihat seolah-olah gunung padahal tidak demikian pada kenyataannya; karena terlihat dalam bentuk gunung namun tidak lagi dalam wujud aslinya; karena bagian-bagiannya telah hancur dan tercerai-berai.

  • Dan dalam perumpamaan ini juga termasuk penyerupaan keadaan gunung-gunung dengan keadaan awan dalam hal kerenggangan bagian-bagiannya dan kelonggaran seperti yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala: “Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan” [Al-Qari’ah: 5]. Allah Ta’ala mengganti bumi dan mengubah bentuknya, dan menjalankan gunung-gunung dalam keadaan mengerikan itu, kemudian menyebarkannya di udara, dan itulah firman Allah Ta’ala: “maka menjadi fatamorganalah ia”.
  • Penggunaan kata kerja bentuk lampau “wa suyyirat” (dan dijalankanlah); untuk memastikan terjadinya perjalanan ini sehingga seolah-olah kejadiannya telah berlalu.

۞ ۞ ۞ ۞ ۞

Ayat: 21-30

﴿اِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًاۙ ٢١ لِّلطّٰغِيْنَ مَاٰبًاۙ ٢٢ لّٰبِثِيْنَ فِيْهَآ اَحْقَابًاۚ ٢٣ لَا يَذُوْقُوْنَ فِيْهَا بَرْدًا وَّلَا شَرَابًاۙ ٢٤ اِلَّا حَمِيْمًا وَّغَسَّاقًاۙ ٢٥ جَزَاۤءً وِّفَاقًاۗ ٢٦ اِنَّهُمْ كَانُوْا لَا يَرْجُوْنَ حِسَابًاۙ ٢٧ وَّكَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا كِذَّابًاۗ ٢٨ وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ كِتٰبًاۙ ٢٩ فَذُوْقُوْا فَلَنْ نَّزِيْدَكُمْ اِلَّا عَذَابًا ࣖ ٣٠ ﴾

Kata-kata Asing:

  • جَهَنَّمَ (Jahannam): Nama untuk neraka yang digunakan Allah untuk mengazab di akhirat. Ada yang mengatakan kata ini non-Arab, ada juga yang mengatakan ini adalah nama Arab. Api akhirat dinamai demikian karena dalamnya yang jauh, seperti yang diceritakan: “Sumur jihinaam”, artinya: yang dasarnya dalam. Ada juga yang mengatakan berasal dari kata “juhumah”, yaitu kekerasan, dan dinamai demikian karena kerasnya penderitaan dalam siksaan.
  • مِرْصَادًا (Mirshaadan): Yaitu tempat mengawasi dan mengintai musuh-musuh Allah. Kata ini adalah bentuk “mif’aal” dari kata “rashd”, yaitu pengawasan, dan akar kata “rashada”: menunjukkan kesiapan untuk mengawasi sesuatu.
  • لِلطَّاغِينَ (Litthaaghiina): Yaitu untuk orang-orang sesat yang melampaui batas-batas Allah. Asal kata “thughyaan” adalah melampaui batas dalam pembangkangan.
  • مَآَبًا (Ma’aaban): Yaitu tempat kembali, tujuan, dan tempat tinggal. Akar kata “awaba”: menunjukkan kembali.
  • أحْقَابًا (Ahqaaban): Yaitu masa-masa yang berturut-turut, bentuk jamak dari “hiqb”, yaitu masa/zaman. Akar kata “haqaba”: menunjukkan tertahan/terkurung.
  • بَرْدًا (Bardan): Yaitu kesejukan yang meringankan panasnya api neraka. Akar kata “barada” – berdasarkan itu: kebalikan dari panas. Ada yang mengatakan: “bard” di tempat ini berarti tidur. Dikatakan: “mana’a al-bardu al-barda”, artinya: dingin mencegah tidur. Dikatakan tidur dinamai “bard” karena ia melonggarkan persendian dan menenangkan gerakan. Akar kata “barada” – berdasarkan itu: ketenangan dan ketetapan.
  • حَمِيمًا (Hamiiman): Yaitu air panas yang sangat tinggi panasnya. Akar kata “hamama” di sini: menunjukkan panas.
  • وَغَسَّاقًا (Wa Ghassaaqan): Yaitu apa yang mengalir dari kulit penghuni neraka, yaitu nanah, dari ucapan mereka: “ghasaqat ‘ainuhu”: bila mengalir. “Al-ghasaqaan” adalah mengalir. Ada yang mengatakan: ia adalah dingin yang luar biasa yang membakar mereka dengan dinginnya sebagaimana api membakar mereka dengan panasnya.
  • وِفَاقًا (Wifaaqan): Yaitu yang sesuai dengan perbuatan mereka. “Al-wafqu” adalah kesesuaian antara dua hal. Akar kata “wafiqa”: menunjukkan kecocokan dua hal.
  • كِذَّابًا (Kidzdzaaban): Yaitu pendustaan yang berlebihan. Akar kata “kadzaba”: menunjukkan kebalikan dari kejujuran.

 

 

Masalah I’rab (Analisis Gramatikal):

  1. Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya neraka Jahannam adalah tempat pengintaian * bagi orang-orang yang melampaui batas sebagai tempat kembali”.

“Bagi orang-orang yang melampaui batas” (لِلطَّاغِينَ) boleh terkait dengan kata yang dihilangkan sebagai sifat untuk “tempat pengintaian” (مِرْصَادًا), yaitu: yang ada bagi orang-orang yang melampaui batas. Atau terkait dengan kata yang dihilangkan sebagai hal (keterangan keadaan) dari “tempat kembali” (مَآَبًا) yang semula merupakan sifatnya, namun ketika didahulukan menjadi keterangan keadaan darinya, yaitu: menjadi tempat kembali dan tempat tinggal bagi mereka. Dan boleh juga terkait dengan kata “tempat pengintaian” (مِرْصَادًا) itu sendiri atau dengan “tempat kembali” (مَآبًا) itu sendiri, karena artinya adalah tempat kembali. “Tempat kembali” (مَآَبًا) adalah khabar kedua untuk “كان”, atau sebagai badal (pengganti) dari “tempat pengintaian” (مِرْصَادًا) sebagai badal kull dari kull (pengganti keseluruhan dari keseluruhan).

  1. Firman Allah Ta’ala: “Sebagai balasan yang setimpal” (جَزَاءً وِفَاقًا). “Balasan” (جَزَاءً) adalah maf’ul mutlaq (objek mutlak) untuk kata kerja yang dihilangkan, yaitu: mereka dibalas dengan itu sebagai balasan. “Setimpal” (وِفَاقًا) adalah na’at (sifat) untuk kata tersebut yang dinasabkan.

 

  1. Firman Allah Ta’ala: “Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab” (وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَابًا). “Segala” (كُلَّ) dinasabkan dengan isytighal (penarikan perhatian) sebagai maf’ul bih (objek) untuk kata kerja yang dihilangkan yang diperkirakan: “Kami catat”, yang dijelaskan oleh kata kerja yang disebutkan setelahnya. Dan kalimat “Kami telah mencatatnya” (أَحْصَيْنَاهُ) adalah kalimat penafsiriah yang tidak memiliki kedudukan dalam i’rab. “Kitab” (كِتَابًا) memiliki dua kemungkinan; pertama: bahwa ia adalah maf’ul mutlaq (objek mutlak) yang menggantikan masdar dari makna “Kami catat” (أَحْصَيْنَا), karena pencatatan dan penulisan memiliki kesamaan dalam makna mengatur, sehingga “Kami catat” (أَحْصَيْنَاهُ) ditafsirkan sebagai “Kami tulis” atau “kitab” (كِتَابًا) ditafsirkan sebagai “pencatatan”. Kedua: bahwa ia adalah masdar yang ditakwilkan dengan kata sifat yang dinasabkan sebagai hal (keterangan keadaan), dengan makna: yang tertulis di Lauh Mahfuzh.

Makna Keseluruhan:

Allah Ta’ala berfirman menjelaskan balasan bagi orang-orang kafir pada hari kiamat: Sesungguhnya neraka Jahanam mengawasi penghuninya dan menunggu mereka pada hari kiamat, dan menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas di dunia dan tempat kembali di akhirat. Mereka akan tinggal di dalamnya dalam waktu yang sangat panjang tanpa akhir, tidak merasakan kesejukan atau minuman, tetapi mereka akan merasakan air yang sangat panas, dan nanah yang mengalir dari penghuni neraka; sebagai balasan yang sesuai dengan amal buruk mereka di dunia.

Kemudian Allah Subhanahu menjelaskan sebab-sebab yang membawa mereka kepada azab ini, dengan berfirman: Sesungguhnya mereka di dunia tidak beriman kepada kebangkitan dan perhitungan di akhirat, dan mereka mendustakan ayat-ayat Allah Ta’ala dengan benar-benar mendustakan. Dan segala sesuatu dari amal perbuatan hamba atau selainnya telah ditulis dan dihitung, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari Allah Ta’ala. Dan dikatakan kepada orang-orang kafir di neraka Jahanam: Rasakanlah azab ini, maka Kami tidak akan menambah untuk kalian kecuali azab di atas apa yang kalian alami!

Tafsir Ayat-ayat:

“Sesungguhnya Jahanam adalah tempat pengintaian” (21)

Kesesuaian ayat dengan sebelumnya: Ayat ini merupakan permulaan penjelasan rinci tentang hukum-hukum pemisahan yang hari tersebut disandarkan kepadanya, setelah penjelasan tentang kedahsyatannya.

“Sesungguhnya Jahanam adalah tempat pengintaian” (21)

Artinya: Sesungguhnya neraka Jahanam mengawasi penghuninya dan menunggu mereka pada hari kiamat, sehingga tidak akan melewatinya siapa pun yang wajib memasukinya dan berhak mendapatkan azab di dalamnya.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan tidak ada seorang pun dari kalian melainkan akan mendatanginya (neraka), hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.” [Maryam: 71-72]

Dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Shirath (jembatan) akan dibentangkan di atas neraka Jahanam, lalu aku dan umatku adalah orang-orang pertama yang melewatinya. Pada hari itu tidak ada yang berbicara kecuali para rasul, dan doa para rasul pada hari itu adalah: Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah. Di dalam neraka Jahanam terdapat pengait-pengait seperti duri tanaman Sa’dan, tetapi tidak ada yang mengetahui besarnya kecuali Allah. Ia akan menyambar manusia sesuai dengan amal perbuatan mereka; ada yang binasa karena amalnya, dan ada yang terluka kemudian selamat.”

“Bagi orang-orang yang melampaui batas menjadi tempat kembali” (22)

Artinya: Neraka Jahanam menjadi tempat kembali dan tempat tinggal di akhirat bagi orang-orang yang melampaui batas di dunia yang telah melanggar batasan-batasan Allah Ta’ala.

“Mereka tinggal di dalamnya beberapa masa” (23)

Kesesuaian ayat dengan sebelumnya: Ketika Allah Ta’ala menjelaskan bahwa neraka Jahanam adalah tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas, Dia menjelaskan lamanya mereka tinggal di sana, dengan firman-Nya:

“Mereka tinggal di dalamnya beberapa masa” (23)

Artinya: Mereka tinggal di neraka Jahanam dalam waktu yang sangat panjang tanpa akhir.

“Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman” (24)

Artinya: Orang-orang yang melampaui batas di neraka Jahanam tidak merasakan kesejukan yang menyegarkan tubuh mereka dan meredakan panasnya, dan tidak pula minuman yang mendinginkan bagian dalam tubuh mereka atau menghilangkan dahaga mereka.

“Kecuali air yang sangat panas dan nanah” (25)

Artinya: Tetapi mereka merasakan di neraka Jahanam air yang sangat panas, dan nanah yang mengalir dari penghuni neraka dan lainnya, yang selain berbau busuk juga sangat dingin.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “…Maka orang-orang yang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit.” [Al-Hajj: 19-20]

Dan Allah Subhanahu berfirman: “Dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong usus mereka.” [Muhammad: 15]

Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dalam siksaan angin yang sangat panas dan air yang mendidih, dan dalam naungan asap yang hitam. Tidak sejuk dan tidak menyenangkan.” [Al-Waqi’ah: 41-44]

“Sebagai balasan yang setimpal” (26)

Artinya: Siksaan bagi orang-orang yang melampaui batas itu sesuai dengan amal buruk mereka di dunia. Allah Ta’ala tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang telah menzalimi diri mereka sendiri.

“Sesungguhnya mereka dahulu tidak mengharapkan perhitungan” (27)

Kesesuaian ayat dengan sebelumnya: Ketika Allah Ta’ala menjelaskan secara global bahwa balasan tersebut sesuai dengan kejahatan mereka, Allah menjelaskan jenis-jenis kejahatan mereka.

“Sesungguhnya mereka dahulu tidak mengharapkan perhitungan” (27) Artinya: Sesungguhnya mereka di dunia tidak beriman kepada kebangkitan, dan tidak percaya bahwa mereka akan dihisab dan diberi balasan atas perbuatan mereka di akhirat.

“Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sangat dusta” (28)

Kesesuaian ayat dengan sebelumnya: Ini adalah jenis kedua dari perbuatan-perbuatan buruk orang-orang kafir.

“Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sangat dusta” (28) Artinya: Mereka mendustakan ayat-ayat Allah Ta’ala dengan pendustaan yang sangat keras, meskipun ayat-ayat tersebut sangat jelas dan menunjukkan kebenaran.

“Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab” (29)

Kesesuaian ayat dengan sebelumnya: Ketika Allah Ta’ala menjelaskan bahwa kerusakan keadaan orang-orang kafir, baik dalam kekuatan amaliah (praktis) maupun dalam kekuatan teoretis, telah mencapai puncak dan batas terbesarnya, Allah menjelaskan bahwa rincian keadaan tersebut dalam kuantitas dan kualitasnya diketahui oleh-Nya, dan ukuran hukuman yang pantas mereka terima juga diketahui oleh-Nya.

“Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab” (29) Artinya: Segala sesuatu dari perbuatan hamba atau selainnya telah tertulis, terhitung dan tercatat, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari Allah Ta’ala.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang berdosa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: ‘Celakalah kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya’; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang jua pun.” [Al-Kahfi: 49]

Dan Allah Subhanahu berfirman: “Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan. Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” [Al-Qamar: 52-53]

“Maka rasakanlah, Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab” (30)

Kesesuaian ayat dengan sebelumnya: Ketika Allah Ta’ala menjelaskan keadaan hukuman pada awalnya, kemudian menyebutkan bahwa itu adalah “balasan yang setimpal” [An-Naba’: 26], lalu menjelaskan rincian perbuatan buruk mereka, dan telah jelas kebenaran yang disebutkan-Nya pada awalnya bahwa siksaan itu adalah balasan yang setimpal – tidak heran Allah mengulangi penyebutan tentang siksaan.

“Maka rasakanlah, Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab” (30) Artinya: Dikatakan kepada orang-orang kafir di neraka Jahanam sebagai celaan dan teguran bagi mereka: “Rasakanlah azab ini, dan Kami akan menambah azab bagi kalian melebihi apa yang kalian alami sekarang!”

Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab.” [An-Nisa’: 56]

Dan Allah Subhanahu berfirman: “Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan.” [An-Nahl: 88]

Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Tempat kediaman mereka adalah neraka Jahanam. Setiap kali nyala api Jahanam itu akan padam, Kami tambah lagi nyalanya bagi mereka.” [Al-Isra’: 97]

Manfaat Ilmiah dan Beberapa Pelajaran:

1- Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya Jahanam adalah tempat pengintaian” menunjukkan bahwa neraka Jahanam telah diciptakan, berdasarkan firman-Nya: “tempat pengintaian” yang berarti: telah dipersiapkan – menurut salah satu pendapat dalam tafsir. Jika demikian, maka surga juga telah diciptakan; karena tidak ada yang membedakan antara keduanya.

2- Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Jahanam adalah tempat pengintaian * Bagi orang-orang yang melampaui batas menjadi tempat kembali”. Sesungguhnya syirik adalah bentuk pelampauan batas paling ekstrem; karena orang-orang musyrik berpaling dari beribadah kepada Allah, dan bersikap sombong terhadap Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam; mereka enggan menerima dakwahnya. Merekalah yang dimaksud dalam sebagian besar ayat-ayat surah ini, sebagaimana yang ditegaskan dalam firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya mereka dahulu tidak mengharapkan perhitungan * Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sangat dusta” [An-Naba’: 27-28].

Di samping itu, orang-orang muslim yang meremehkan hak-hak Allah, atau melakukan permusuhan terhadap manusia tanpa hak, dan dengan merendahkan mereka – bukan sekadar karena terkalahkan oleh syahwat – mereka juga mendapat bagian dari ancaman ini sesuai dengan kedekatan mereka pada keadaan orang-orang kafir.

3- Firman Allah Ta’ala: “Mereka tinggal di dalamnya beberapa masa”. Cara menyelaraskan antara “beberapa masa” yang disebutkan di sini dengan “kekekalan abadi” yang disebutkan dalam ayat-ayat lain yang menunjukkan hal tersebut memiliki beberapa pendekatan:

Pendekatan pertama: Bahwa firman-Nya: “Mereka tinggal di dalamnya beberapa masa” terkait dengan apa yang disebutkan setelahnya, yaitu: mereka tinggal di dalamnya beberapa masa dalam keadaan “Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman * Kecuali air yang sangat panas dan nanah”. Maka ketika masa-masa tersebut berakhir, mereka disiksa dengan jenis-jenis azab lainnya selain air panas dan nanah.

Hal ini ditunjukkan oleh pernyataan Allah Ta’ala bahwa mereka akan disiksa dengan jenis-jenis azab lain selain air panas dan nanah, dalam firman-Nya: “Inilah (azab neraka), biarlah mereka merasakannya, (yaitu) air yang sangat panas dan air yang sangat dingin * Dan berbagai macam azab yang lain yang serupa itu” [Shad: 57-58].

Pendekatan kedua: Bahwa “beberapa masa” ini tidak pernah berakhir selama-lamanya.

Pendekatan ketiga: Jika kita menerima bahwa kata “beberapa masa” menunjukkan batas akhir dan berakhirnya azab, maka pemahaman itu hanya berasal dari konsep waktu yang terbatas, sedangkan keabadian telah disebutkan secara eksplisit. Dan apa yang disebutkan secara eksplisit lebih diutamakan daripada apa yang dipahami secara implisit, sebagaimana ditetapkan dalam kaidah-kaidah ushul fiqh.

4- Dalam firman Allah Ta’ala: “Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman”, ketika Allah menafikan merasakan kesejukan dan minuman, mungkin ada yang beranggapan bahwa mereka tidak merasakan selain keduanya, maka Allah berfirman: “Kecuali air yang sangat panas dan nanah”.

5- Dalam firman Allah Ta’ala: “Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman”, kata “merasakan” (dzauq) tidak terbatas hanya pada mulut, tetapi dalam bahasa Arab berarti: menemukan rasa sesuatu. Penggunaan kata ini menunjukkan hal tersebut; Allah Ta’ala berfirman: “Dan sungguh, Kami akan menimpakan kepada mereka sebagian siksa yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat)” [As-Sajdah: 21], dan Allah Ta’ala berfirman: “Rasakanlah, sesungguhnya kamu adalah orang yang perkasa lagi mulia” [Ad-Dukhan: 49], dan Allah Ta’ala berfirman: “Maka dia merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya” [At-Talaq: 9]; maka kata “merasakan” digunakan untuk segala sesuatu yang dirasakan dan dialami, baik rasa sakitnya maupun kenikmatannya.

6- Dalam firman Allah Ta’ala: “Sebagai balasan yang setimpal”, menunjukkan bahwa perbedaan tingkat azab penduduk neraka sesuai dengan perbedaan amal perbuatan yang menyebabkan mereka masuk ke neraka.

7- Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya mereka dahulu tidak mengharapkan perhitungan” menimbulkan pertanyaan: Orang-orang kafir telah melakukan berbagai macam kejelekan dan dosa-dosa besar, mengapa Allah Ta’ala mengkhususkan jenis kekufuran ini untuk disebutkan pertama kali?

Jawabannya: Karena keinginan manusia untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan hal-hal terlarang adalah karena manfaat yang akan diperolehnya di akhirat. Barangsiapa yang mengingkari akhirat, dia tidak akan terdorong untuk melakukan kebaikan apapun, dan tidak akan menjauhkan diri dari kejahatan apapun. Maka firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya mereka dahulu tidak mengharapkan perhitungan” adalah petunjuk bahwa mereka melakukan segala kejahatan dan meninggalkan segala kebaikan.

8- Firman Allah Ta’ala: “Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab” menunjukkan bahwa Allah mengetahui hal-hal yang bersifat partikular (juz’iyyat).

9- Dalam firman Allah Ta’ala: “Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab” terdapat penyebutan Kitab Allah yang bersifat universal (kauniy), yang diimbangi dengan Kitab yang bersifat syar’i (hukum), seperti firman Allah Ta’ala: “Diwajibkan atas kamu berpuasa” [Al-Baqarah: 183].

10- Dalam firman Allah Ta’ala: “Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab” terdapat bantahan terhadap kelompok Mu’tazilah dan Qadariyyah yang mengingkari pencatatan yang telah ditentukan sebelumnya; karena pencatatan itu mencakup segala sesuatu, termasuk kebaikan dan kejahatan, iman dan kufur. Pencatatan tersebut telah ada sebelum perbuatan terjadi, sehingga perbuatan itu mengikuti apa yang telah dicatat, dan tidak mungkin untuk menghindarinya.

11- Firman Allah Ta’ala: “Maka rasakanlah, Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab” menimbulkan pertanyaan: Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman tentang sifat orang-orang kafir: “Allah tidak akan berbicara kepada mereka dan tidak akan melihat kepada mereka” [Ali Imran: 77], tapi di sini ketika Allah berfirman kepada mereka: “Maka rasakanlah”, bukankah Allah telah berbicara kepada mereka?

Jawabannya ada dua pendekatan:

Pendekatan pertama: Perkiraan ayat ini adalah: “Maka dikatakan kepada mereka: Rasakanlah.”

Pendekatan kedua: Dapat dikatakan bahwa firman-Nya: “Allah tidak akan berbicara kepada mereka”, maksudnya adalah: Allah tidak berbicara kepada mereka dengan pembicaraan yang baik dan bermanfaat. Mengkhususkan keumuman seperti ini tidaklah jauh dari kebenaran, terutama ketika ada indikasi yang mendukungnya. Firman-Nya: “Allah tidak akan berbicara kepada mereka” disebutkan untuk menjelaskan bahwa Allah tidak akan memberi manfaat kepada mereka dan tidak akan memberi mereka nilai, dan hal itu hanya terjadi pada pembicaraan yang baik.

Selain itu, hari kiamat adalah hari yang panjang, sehingga Allah Ta’ala berbicara kepada mereka pada suatu waktu, dan tidak berbicara kepada mereka pada waktu lainnya.

12- Firman Allah Ta’ala: “Maka rasakanlah, Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab” adalah ayat yang paling keras mengenai dahsyatnya azab penduduk neraka. Semoga Allah Ta’ala melindungi kita darinya.

Sastra Balaghah Ayat-Ayat:

1- Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya neraka Jahanam itu adalah tempat pengintaian, bagi orang-orang yang melampaui batas menjadi tempat kembali, mereka tinggal di dalamnya dalam waktu yang lama,” merupakan kalimat baru yang disampaikan untuk memulai penjelasan tentang kengerian-kengerian neraka Jahanam setelah selesai penjelasan tentang kengerian-kengerian umum pada hari Kiamat.

  • Dan boleh juga bahwa kalimat “Sesungguhnya neraka Jahanam adalah tempat pengintaian” berada pada posisi khabar kedua untuk (inna) dari perkataan-Nya: “Sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan” [An-Naba: 17], dengan perkiraan: “Sesungguhnya hari keputusan, sesungguhnya neraka Jahanam adalah tempat pengintaian di dalamnya bagi orang-orang yang melampaui batas,” dan kata ganti yang kembali padanya dihilangkan yang ditunjukkan oleh perkataan-Nya: “tempat pengintaian,” yaitu: tempat pengintaian di dalamnya, yakni pada hari itu; karena makna “tempat pengintaian” mendekati makna “waktu yang ditetapkan”; karena keduanya ditentukan untuk pembalasan orang-orang yang melampaui batas.
  • Masuknya huruf (inna) pada khabar (inna) memberikan penguatan atas penguatan yang telah diberikan oleh huruf penguat yang masuk pada perkataan-Nya: “hari keputusan,” dan kalimat tersebut menjadi bagian dari kesempurnaan apa yang disampaikan kepada mereka dengan perkataan-Nya: “Pada hari ditiupnya sangkakala, maka kamu datang berkelompok-kelompok” [An-Naba: 18].
  • Pengungkapan dengan kata “orang-orang yang melampaui batas” adalah menampakkan sesuatu dalam posisi yang seharusnya disembunyikan; untuk mencatat sifat melampaui batas pada mereka, dan mengisyaratkan sebab dijadikannya neraka Jahanam untuk mereka; karena secara zahir seharusnya dikatakan: “(untuk kalian tempat kembali)”.

Dan boleh juga bahwa kalimat “Sesungguhnya neraka Jahanam adalah tempat pengintaian” merupakan kalimat baru yang menjelaskan kalimat “Sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan” [An-Naba: 17] dan yang mengikutinya; karena hal itu membangkitkan dalam jiwa para pendengar keinginan untuk mengetahui apa yang akan terjadi setelah kengerian-kengerian itu, maka dijawab dengan kandungan “Sesungguhnya neraka Jahanam adalah tempat pengintaian” ayat tersebut; dan berdasarkan hal ini maka dalam perkataan-Nya: “bagi orang-orang yang melampaui batas” tidak ada penjelasan yang bertentangan dengan arti yang zahir.

  • Dan dimulai dengan menyebutkan neraka Jahanam; karena konteksnya adalah konteks ancaman.
  • Dan Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya neraka Jahanam adalah tempat pengintaian” bukan dengan mengatakan: “Sesungguhnya neraka Jahanam [adalah] tempat pengintaian”; untuk menunjukkan bahwa menjadikannya sebagai tempat pengintaian adalah sesuatu yang telah ditentukan untuknya.
  • Dan boleh juga “tempat pengintaian” (mirshaadan) sebagai masdar dengan wazan mif’aal, yaitu: pengintaian. Dan pengabaran tentang Jahanam bahwa ia adalah tempat pengintaian untuk mubalaghah (penekanan), seakan-akan ia adalah asal dari pengintaian, yaitu: tidak akan meloloskan seorangpun dari mereka yang berhak memasukinya. Dan boleh juga “tempat pengintaian” sebagai bentuk mubalaghah untuk pengintai yang sangat mengintai, seperti sifat (mighyaar dan mi’thaar), Jahanam disifati dengannya, dan tidak diikuti (ha) ta’nits/feminin; karena Jahanam diserupakan dengan satu dari penjaga – dengan harakat fathah pada shad – yaitu satu dari pengawal yang berdiri di tempat pengintaian; karena penjaga biasanya adalah laki-laki.
  • Firman-Nya: “Sesungguhnya neraka Jahanam adalah tempat pengintaian, bagi orang-orang yang melampaui batas,” firman-Nya: “bagi orang-orang yang melampaui batas” terkait dengan “tempat pengintaian”, dan keterkaitan “tempat kembali” (ma’aaban) diperkirakan yang ditunjukkan oleh “bagi orang-orang yang melampaui batas”, sehingga menjadi seperti tadhmiin (pengisian) dalam syair; karena merupakan kelanjutan dari apa yang ada pada bagian pertama di bagian berikutnya, sehingga bagiannya menjadi panjang. Atau keterkaitan “tempat pengintaian” dihapus yang ditunjukkan oleh firman-Nya: “bagi orang-orang yang melampaui batas menjadi tempat kembali”, dan perkiraannya: tempat pengintaian bagi orang-orang yang melampaui batas, dan firman-Nya: “bagi orang-orang yang melampaui batas” terkait dengan firman-Nya: “tempat kembali”; didahulukan untuk menimbulkan ketakutan pada orang-orang musyrik yang dengan kesyirikan mereka telah melampaui batas terhadap Allah. Dan ini lebih baik; karena bagian-bagian surah ini pendek, maka baik berhenti pada “tempat pengintaian”; agar menjadi satu bagian.
  • Dan definisi pada “orang-orang yang melampaui batas” adalah untuk menyebut sesuatu yang telah dikenal; yang dimaksud dengannya adalah orang-orang musyrik yang diajak bicara dengan firman-Nya: “maka kamu datang berkelompok-kelompok” [An-Naba: 18].
  • Dan kata “masa yang lama” (ahqaaban) adalah bentuk jamak yang dimaksudkan adalah panjang yang sangat dan banyak; karena kebanyakan penggunaan kata huqub dan ahqaab adalah pada situasi di mana yang dimaksudkan adalah keberlangsungan masa secara terus-menerus, dan ini dijelaskan oleh ayat-ayat lain yang menunjukkan keabadian orang-orang musyrik, maka ayat ini datang sesuai dengan yang dikenal dan umum dalam perkataan; sebagai kiasan untuk keabadian tanpa akhir.

2- Firman Allah Ta’ala: “Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapatkan) minuman, selain air yang mendidih dan nanah, sebagai balasan yang setimpal.”

  • Pengecualian “air yang mendidih dan nanah” dari “kesejukan” atau “minuman” mengikuti pola laff wa nasyr murattab (penyebutan secara teratur), dan ini adalah pengecualian munqati’ (terputus); karena air yang mendidih tidak termasuk jenis kesejukan sama sekali; karena ia sangat panas, dan karena nanah tidak termasuk jenis minuman, dan maknanya: mereka merasakan air mendidih ketika dituangkan pada tubuh mereka, dan nanah ketika mengalir pada tempat-tempat luka sehingga menambah rasa sakit mereka, dan bentuk pengecualian di sini adalah dari penguatan sesuatu dengan apa yang menyerupai lawannya dalam bentuk.
  • Dan firman-Nya: “sebagai balasan” dinashabkan sebagai haal (keterangan keadaan) dari dhamir dalam “mereka merasakan”, yaitu: dalam keadaan hal tersebut sebagai balasan, dibalas dengannya, maka haal di sini adalah mashdar yang ditakwilkan dengan makna sifat, dan ini lebih kuat daripada sifat.
  • Firman-Nya: “yang setimpal” (wifaaqan), wifaaq adalah mashdar dari waafaqa, dan ia ditakwilkan dengan sifat, yaitu: yang sesuai dengan perbuatan yang mereka dibalas karenanya, yaitu pendustaan terhadap kebangkitan dan pendustaan terhadap Al-Qur’an, sebagaimana ditunjukkan oleh alasan setelahnya dengan firman-Nya: “Sesungguhnya mereka tidak mengharapkan perhitungan, dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya” [An-Naba: 27-28]; karena itu adalah asal dari kekukuhan mereka pada kekufuran, dan itu adalah dua asal: salah satunya bersifat negatif (ketiadaan), yaitu pengingkaran terhadap kebangkitan, dan yang lain bersifat positif (ada), yaitu penisbatan mereka terhadap Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam dan Al-Qur’an kepada kebohongan, maka mereka dihukum atas asal yang negatif dengan hukuman yang negatif, yaitu kehilangan kesejukan dan minuman, dan atas asal yang positif dengan balasan yang positif, yaitu air mendidih dituangkan pada tubuh mereka, dan nanah melewati luka-luka mereka, atau firman-Nya: “yang setimpal” dengan penghapusan mudhaf, yaitu: yang memiliki kesesuaian dengan perbuatan-perbuatan mereka, atau esensi kesesuaian itu sendiri sebagai bentuk mubalaghah.
  • Dan di dalamnya terdapat kesesuaian yang baik, di mana Dia berfirman dalam menggambarkan azab penghuni neraka: “selain air yang mendidih dan nanah, sebagai balasan yang setimpal,” dan berfirman dalam menggambarkan kenikmatan penghuni surga: “dan gelas (berisi minuman) yang penuh (berkelimpahan), di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) perkataan dusta, sebagai balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak” [An-Naba: 34-36], maka Dia menggambarkan balasan yang pertama dengan kesesuaian (wifaq), dan menggambarkan yang kedua bahwa ia adalah perhitungan (hisab); dan alasannya: bahwa Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya” [Al-An’am: 160], dan berfirman: “Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada amalnya itu” [An-Naml: 89], dan berfirman: “Dan barangsiapa membawa kejahatan, maka dia tidak diberi balasan melainkan (setimpal) dengan kejahatannya” [Al-An’am: 160], maka ketika kebaikan dibalas dengan kelipatan, dan kejahatan dengan yang setimpal, maka digunakanlah untuk balasan kejahatan bahwa ia sesuai (wifaq) dengannya, tidak lebih dan tidak kurang, dan ketika kebaikan dibalas dengan kelipatan, digunakanlah untuk balasannya bahwa ia adalah pemberian yang mencukupi penerimanya, dan mencapai puncak keinginannya, maka Dia berfirman: pemberian yang sesuai dengannya, yaitu: mencukupinya dari apa yang ia inginkan dan hasratkan, dan membuatnya tidak perlu meminta tambahan, dan jika demikian maka tidak pantas untuk setiap tempat kecuali apa yang digunakan di dalamnya.

Atau bahwa alasannya: yang pertama adalah untuk orang-orang kafir, maka sesuai menyebutkan “setimpal” (wifaqan), yaitu: balasan yang sesuai dengan perbuatan-perbuatan mereka, dan yang kedua untuk orang-orang beriman, maka sesuai menyebutkan “yang cukup banyak” (hisaban), yaitu: cukup dan memadai untuk perbuatan-perbuatan mereka, dari ucapanmu: “cukup bagiku”, yaitu: mencukupiku.

3- Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya mereka tidak mengharapkan perhitungan, dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya” adalah penjelasan tentang apa yang sesuai dengan balasan tersebut; ketika mereka mengingkari kebangkitan, menolak ayat-ayat, dan mendustakan para rasul, mereka diazab dengan azab yang paling keras, dan kesulitan tidak diringankan dari mereka; karena kekufuran mereka adalah kekufuran yang paling besar.

  • Dan posisi kalimat ini adalah posisi alasan untuk kalimat “Sesungguhnya neraka Jahanam adalah tempat pengintaian” hingga firman-Nya Yang Maha Mulia: “sebagai balasan yang setimpal” [An-Naba: 21-26], sehingga ini adalah alasan bagi kelayakan mereka mendapatkan balasan yang disebutkan, dan karena itulah kalimat ini dipisahkan, dan ia adalah sisipan di antara apa yang sebelumnya dan kalimat “Maka rasakanlah” [An-Naba: 30].
  • Dan huruf (inna/sesungguhnya) untuk memberikan perhatian pada berita, dan bukan untuk menolak pengingkaran; karena tidak ada yang mengingkari bahwa mereka tidak mengharapkan perhitungan, dan bahwa mereka mendustakan Al-Qur’an, dan kebiasaan (inna) jika dimaksudkan hanya untuk memberikan perhatian adalah untuk menempati posisi fa (maka) yang memberi cabang, yang memberikan makna alasan.
  • Dan kata kerja “mereka adalah” (kaanuu) menunjukkan bahwa ketiadaan harapan mereka akan perhitungan adalah sifat yang tertanam dalam jiwa mereka, dan mereka berada dalam keadaan itu, dan yang dimaksud dengan kata kerja “mereka adalah” bukanlah bahwa mereka dulu seperti itu kemudian berakhir; karena kalimat ini adalah pemberitaan tentang mereka pada saat turunnya ayat dan mereka di dunia, dan bukan termasuk apa yang dikatakan kepada mereka atau tentang mereka pada hari kiamat.
  • Firman-Nya: “mereka tidak mengharapkan perhitungan”, kata “harapan” (rajaa’) terkenal dalam menantikan hal yang disukai, dan perhitungan bukanlah kebaikan bagi mereka sehingga peniadaan penantiannya termasuk dalam kategori peniadaan harapan, maka secara lahiriah seharusnya penantiannya diungkapkan dengan materi ekspektasi yang merupakan penantian hal yang tidak disukai, maka tampak bahwa alasan pengalihan dari pengungkapan dengan materi ekspektasi ke pengungkapan dengan materi harapan: bahwa Allah Ta’ala ketika memberitakan tentang balasan dan azab orang-orang yang melampaui batas, kaum Muslim menerimanya dengan kegembiraan, dan mereka mengetahui bahwa mereka selamat dari apa yang akan dialami oleh orang-orang yang melampaui batas, sehingga mereka menantikan hari perhitungan dengan penantian harapan, maka peniadaan harapan hari perhitungan dari orang-orang musyrik secara eksplisit mencakup makna ketiadaan iman mereka akan terjadinya, dan secara implisit harapan orang-orang beriman akan terjadinya, melalui metode sindiran tidak langsung yang ditujukan kepada kaum Muslim, dan ini juga bersifat kiasan; karena adanya kesamaran dalam kelaziman makna perkataan.
  • Dan dikatakan: “harapan” (rajaa’) di sini bermakna “ekspektasi” (tawaqqu’); karena orang yang mengharapkan sesuatu berarti mengekspektasikannya, hanya saja bagian ekspektasi yang paling mulia adalah harapan; maka jenis tersebut dinamai dengan nama jenis yang paling mulia. Dan dikatakan: makna firman-Nya “mereka tidak mengharapkan”: mereka tidak takut. Dan dikatakan: sesungguhnya orang mukmin pasti mengharapkan rahmat Allah; karena dia yakin bahwa pahala imannya lebih besar daripada hukuman semua kemaksiatan selain kekufuran, maka firman-Nya: “Sesungguhnya mereka tidak mengharapkan perhitungan” adalah isyarat bahwa mereka bukanlah orang-orang beriman.

 

  • Dan dikatakan: pendustaan mereka diungkapkan dengan peniadaan harapan; karena ini lebih kuat; dan itu karena manusia akan berharap mendapatkan kebaikan dengan kemungkinan paling kecil sekalipun.
  • Dan digunakan kata kerja “mereka mengharapkan” (yarjuuna) dalam bentuk mudhari’ (present tense); untuk menunjukkan keberlangsungan peniadaan apa yang diungkapkan dengan harapan; dan itu karena setiap kali disebutkan kepada mereka tentang hari perhitungan, mereka memperbaharui pengingkaran mereka terhadapnya, dan mengulangi keraguan-keraguan mereka untuk menafikan kemungkinannya; karena mereka berkata: “Kami hanya menduga-duga dan kami tidak yakin.” [Al-Jatsiyah: 32].
  • Firman-Nya: “dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya” adalah ‘athaf (sambungan) kepada “mereka tidak mengharapkan…”; dan digunakan untuk sisi pendustaan dengan kata kerja bentuk lampau; karena pendustaan mereka terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dan apa yang terkandung di dalamnya berupa penetapan keesaan Allah, dan kerasulan Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam telah mantap dalam jiwa mereka dan mereka tidak ragu di dalamnya, di mana mereka berkata: “Dan mereka berkata: ‘Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang engkau seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan engkau ada dinding'” [Fushshilat: 5].
  • Dan makna “kidzdzaaban”, yakni: pendustaan yang sudah mencapai puncak mubalaghah (intensitas); dan digunakan “kidzdzaaban” pada posisi “takdzib” (pendustaan); untuk menunjukkan bahwa mereka berdusta dalam pendustaan mereka, atau saling mendustakan; karena mereka di mata kaum Muslim adalah pendusta, dan kaum Muslim di mata mereka adalah pendusta, sehingga di antara mereka terjadi saling mendustakan, atau mereka sangat berlebihan dalam kedustaan seperti orang-orang yang saling bersaing di dalamnya, dan berdasarkan kedua makna ini boleh menjadi haal (keadaan) dengan makna “kaadzibiin” (orang-orang yang berdusta) atau “mukaadzibiin” (orang-orang yang saling mendustakan), dan boleh juga untuk mubalaghah (penekanan), sehingga menjadi sifat untuk mashdar (kata benda), yakni: pendustaan yang sangat berlebihan kedustaannya. Atau menjadi maf’ul muthlaq (objek absolut) yang menguatkan ‘aamilnya (kata kerja); untuk menunjukkan intensitas pendustaan mereka terhadap ayat-ayat.
  • Dan juga dipilih mashdar “kidzdzaaban” di sini daripada (takdzib); untuk memelihara kesamaan dalam fasila-fasila (akhiran) surah ini; karena ia mengikuti pola alif ta’sis dalam qawafi (pengakhiran sajak), dan fasila-fasila seperti sajak-sajak, dan apa yang baik dalam sajak juga baik dalam qawafi.

4- Firman Allah Ta’ala: “Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab” adalah sisipan antara kalimat-kalimat yang disampaikan sebagai alasan dan kalimat “Maka rasakanlah, kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain azab” [An-Naba: 30], dan manfaat sisipan ini adalah untuk bersegera memberitahu mereka bahwa Allah tidak luput dari-Nya sesuatu pun dari perbuatan-perbuatan mereka, sehingga Dia tidak meninggalkan sesuatu pun dari keburukan-keburukan mereka kecuali Dia akan menghisab mereka atasnya; baik yang disebutkan di sini maupun yang tidak disebutkan, seakan-akan dikatakan: “Sesungguhnya mereka tidak mengharapkan perhitungan dan mendustakan ayat-ayat Kami, dan mereka melakukan selain itu juga, dan semua itu terhitung di sisi Kami.”

Dan dikatakan: manfaat sisipan dengan firman-Nya: “Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab” adalah memberikan kesan bahwa pendustaan mereka terhadap kebangkitan, para rasul, dan kitab-kitab, hanyalah muncul dari keyakinan mereka bahwa Dia Yang Maha Tinggi tidak mengetahui detail-detail perbuatan mereka dan perbuatan para rasul, sehingga tidak ada perhitungan, tidak ada pengutusan, dan tidak ada kitab!

Dan statistik: perhitungan hal-hal untuk menentukan jumlahnya, sehingga statistik adalah kiasan untuk kontrol dan perolehan.

Pada kenyataannya, “kitāban” (كِتَابًا) dinasabkan sebagai objek mutlak untuk “aḥṣaynāhu” (أَحْصَيْنَاهُ), dengan perkiraan: “iḥṣā’a kitābatin”, yaitu masdar dengan makna penulisan, yang merupakan kiasan untuk ketepatan pencatatan hal-hal; karena hal-hal yang tertulis terlindungi dari kelupaan dan kelalaian, sehingga dengan anggapan sebagai kiasan untuk pencatatan, datang sebagai objek mutlak untuk “aḥṣaynā”.

5- Firman Allah Ta’ala: “Maka rasakanlah, Kami tidak akan menambah untuk kalian kecuali siksaan” – ini disebabkan oleh pengingkaran mereka terhadap perhitungan dan pendustaan mereka terhadap ayat-ayat, dan ini adalah ayat yang sangat keras. Cukuplah dengan firman-Nya: “Kami tidak akan menambah untuk kalian”, dan penunjukannya bahwa meninggalkan penambahan seperti hal yang mustahil yang tidak masuk dalam kebenaran, dan datangnya dengan cara iltifāt (pengalihan) sebagai saksi bahwa kemarahan telah memuncak.

Karena Allah Ta’ala ketika menceritakan tempat kembali orang-orang yang melampaui batas dan keberlangsungan mereka tinggal di neraka Jahannam, dan bahwa tidak ada yang mereka rasakan di dalamnya selain air yang sangat panas dan ghassāq (nanah), dan menjelaskan alasannya sebagai bentuk pengaduan kepada yang lain dengan firman-Nya: “Sesungguhnya mereka tidak mengharapkan perhitungan”, artinya: mereka tidak takut akan dihisab, sebagai kiasan bahwa mereka mengingkari kebangkitan dengan pengingkaran yang mendalam. Kemudian Dia membesarkan perihal pendustaan mereka terhadap rasul-rasul Allah dan wahyu-Nya dengan bentuk pengagungan dan menegaskannya dengan firman-Nya: “kidzdzābā” (pendustaan) – Dia berpaling kepada mereka seraya berfirman: “Maka rasakanlah wahai orang-orang yang mengingkari lagi mendustakan, ghassāq dan air panas itu, dan tidak ada bagi kalian di sisi-Ku kecuali tambahan berbagai macam siksaan.” Ini seperti engkau mengadu kepada orang-orang tentang suatu hal, kemudian engkau menghadap mereka ketika engkau marah dalam pengaduan dengan menghadapkan celaan, cercaan, dan penetapan hujjah.

Dikatakan: huruf fa’ pada firman-Nya: “fa dzūqū” (maka rasakanlah) untuk cabang dan sebab dari kalimat “Sesungguhnya Jahannam adalah tempat pengintaian” [An-Naba: 21] dan yang terhubung dengannya. Dan ketika gaya pemberitaan diubah menjadi bentuk khitab (pembicaraan langsung) setelah sebelumnya berjalan dengan cara ghaibah (orang ketiga), dan kandungan berita itu bukan sesuatu yang berlangsung di dunia sehingga diduga bahwa itu adalah khitab ancaman bagi orang-orang musyrik; maka ditentukan bahwa yang dicabangkan adalah perkataan yang dihilangkan yang ditunjukkan oleh “dzūqū” (rasakanlah) yang tidak diucapkan kecuali pada hari pembalasan. Maka perkiraannya: “maka dikatakan kepada mereka: Rasakanlah…” sampai akhirnya; oleh karena itu tidak ada iltifāt dalam dhamir khitab, sehingga yang dicabangkan dengan fa’ adalah kata kerja perkataan yang dihilangkan.

  • Dan perintah dalam “fa dzūqū” digunakan untuk celaan, cercaan, penghinaan, dan pengecilan.
  • Dikatakan: firman-Nya “fa lan nazīdakum illā ‘adzābā” (Kami tidak akan menambah untuk kalian kecuali siksaan) dicabangkan dari “fa dzūqū” (maka rasakanlah) yang menambah kesedihan dan penyesalan mereka dengan memberi tahu mereka bahwa Allah akan menambah siksaan bagi mereka melebihi apa yang mereka alami.
  • Dan penambahan yang dinafikan dalam firman-Nya: “fa lan nazīdakum illā ‘adzābā” (Kami tidak akan menambah untuk kalian kecuali siksaan) boleh jadi merupakan penambahan dari jenis siksaan yang mereka alami dengan mengulanginya di masa depan. Maka ungkapan tentang makna ini dibuat dengan susunan yang cermat; karena dimulai dengan penafian penambahan dengan huruf pengabadian penafian (lan), dan diikuti dengan pengecualian yang menuntut tetapnya kebalikan hukum yang dikecualikan darinya untuk yang dikecualikan. Maka penunjukan pengecualian menjadi bermakna: “Kami akan menambah siksaan bagi kalian secara abadi.” Dan ini termasuk penegasan sesuatu dengan apa yang menyerupai lawannya, dan ini adalah gaya yang menarik dari penegasan; karena tidak ada pengulangan kata di dalamnya; sebab penambahan siksaan adalah penegasan siksaan yang sudah ada.

Dan ketika maksudnya adalah ancaman dengan penambahan siksaan di masa depan; didatangkan dalam gaya penafiannya dengan huruf penafian masa depan, yaitu “lan” yang memberikan penegasan hubungan yang dinafikan, yaitu apa yang ditunjukkan oleh kumpulan penafian dan pengecualian; karena batasan pengabadian penafian penambahan yang diberikan oleh huruf “lan” di sisi yang dikecualikan darinya, mengalir ke penetapan penambahan siksaan di sisi yang dikecualikan. Maka makna kalimat pengecualian menjadi: “Kami akan menambah siksaan bagi kalian selamanya”, dan itu adalah makna keabadian dalam siksaan. Dalam gaya ini ada permulaan yang memberi harapan dengan akhir yang mengecewakan, dan itu adalah kesedihan dan duka yang paling berat dengan apa yang membuat mereka berangan-angan bahwa apa yang mereka masuki adalah puncak siksaan, hingga ketika itu memasuki pendengaran mereka dan mereka bersedih karenanya, diikuti dengan (berita) bahwa mereka menantikan siksaan lain yang lebih keras. Maka itu adalah kesedihan di atas kesedihan. Ini adalah cara susunan ini, dan ini memberitahukan tentang besarnya kemarahan.

۞ ۞ ۞ ۞ ۞

Ayat: 31-36

﴿اِنَّ لِلْمُتَّقِيْنَ مَفَازًاۙ ٣١ حَدَاۤىِٕقَ وَاَعْنَابًاۙ ٣٢ وَّكَوَاعِبَ اَتْرَابًاۙ ٣٣ وَّكَأْسًا دِهَاقًاۗ ٣٤ لَا يَسْمَعُوْنَ فِيْهَا لَغْوًا وَّلَا كِذّٰبًا ٣٥ جَزَاۤءً مِّنْ رَّبِّكَ عَطَاۤءً حِسَابًاۙ ٣٦ ﴾

Kata-kata asing:

  • مَفَازًا (Mafāzan): Masdar seperti al-fauz, artinya: kemenangan dan keselamatan dari neraka, atau tempat kemenangan, keselamatan dan pembebasan, atau pencapaian apa yang mereka inginkan. Dikatakan: fāza bil-amr (berhasil dengan sesuatu), ketika dia mencapainya. Al-fauz: pencapaian, dan asal kata (fauz): menunjukkan keselamatan.
  • حَدَائِقَ (Hadā’iq): Yaitu kebun-kebun, bentuk jamak dari hadīqah, yaitu setiap kebun yang memiliki dinding yang mengelilinginya. Jika tidak memiliki dinding, tidak disebut hadīqah. Dan dikatakan untuk sebidang kebun kurma: hadīqah. Dan dikatakan: hadīqah adalah sebidang tanah yang memiliki air, dinamakan demikian karena menyerupai bola mata dalam bentuk dan adanya air di dalamnya. Dikatakan: hadaqū bihi dan aḥdaqū: mereka mengelilinginya, menyerupai lingkaran pupil mata. Asal kata (ḥadaq): adalah sesuatu yang mengelilingi sesuatu.
  • وَكَوَاعِبَ (Kawā’ib): Yaitu gadis-gadis muda yang payudaranya telah membesar. Al-kā’ib: gadis ketika payudaranya membesar, yaitu menonjol dari dada. Asal kata (ka’b): menunjukkan tonjolan dan ketinggian pada sesuatu.
  • أَتْرَابًا (Atrāban): Yaitu setara dalam usia. At-tirb: adalah orang yang menyentuh tanah bersama temannya dalam waktu yang sama. Asal kata (tarab): menunjukkan kesetaraan dua hal.
  • دِهَاقًا (Dihāqan): Yaitu penuh melimpah, dan dikatakan: berturut-turut. Asal kata (dahaq): menunjukkan kepenuhan.
  • لَغْوًا (Laghwan): Yaitu perkataan yang batil, dan asalnya menunjukkan sesuatu yang tidak diperhitungkan.
  • حِسَابًا (Ḥisāban): Yaitu mencukupi. Dikatakan: sesuatu yang ḥisāb, artinya: mencukupi. Dan aḥsabtu fulānan (aku mencukupi si fulan), ketika kamu memberinya apa yang membuatnya senang, dan aku memberinya kecukupan hingga dia berkata: cukup bagiku. Asal kata (ḥasaba) di sini: kecukupan.

Penjelasan i’rab (tata bahasa):

1- Firman Allah Ta’ala: “Inna lil-muttaqīna mafāzā * hadā’iqa wa a’nābā” (Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa kemenangan * kebun-kebun dan anggur-anggur). Hadā’iq: badal (pengganti) yang dinasabkan dari mafāzā sebagai badal isytimāl (pengganti yang mencakup), atau badal ba’ḍ min kull (pengganti sebagian dari keseluruhan) dengan anggapan bahwa itu adalah bagian dari tempat kemenangan, atau badal kull min kull (pengganti keseluruhan dari keseluruhan) sebagai bentuk mubalaghah (penekanan), dengan menjadikan hal-hal tersebut sendiri sebagai kemenangan.

2- Firman Allah Ta’ala: “jazā’an min rabbika ‘aṭā’an ḥisābā” (sebagai balasan dari Tuhanmu, pemberian yang mencukupi). Jazā’an: objek mutlak untuk kata kerja yang dihilangkan, dengan perkiraan: Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa dengan kemenangan sebagai balasan. ‘Aṭā’an: badal dari jazā’an yang dinasabkan sepertinya. Ḥisābā: sifat untuk ‘aṭā’an, artinya: mencukupi, yaitu masdar yang ditakwilkan sebagai musytaq (kata turunan), dari perkataan mereka: aḥsabanī asy-syay’, artinya: mencukupiku.

Terjemahan Makna Keseluruhan:

Allah Ta’ala berfirman menjelaskan balasan bagi orang-orang yang bertakwa pada hari kiamat, dan kenikmatan yang telah dipersiapkan untuk mereka: Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa ada kemenangan berupa surga di mana mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, dan keselamatan dari neraka; berupa kebun-kebun dan anggur-anggur, para wanita muda yang buah dadanya telah membulat, yang sebaya usianya, dan gelas-gelas yang penuh dengan khamar surga, yang silih berganti bagi para peminumnya. Mereka tidak mendengar di dalam surga perkataan yang sia-sia yang tidak ada manfaatnya, dan tidak ada kebohongan; sebagai balasan dari Tuhanmu – wahai Muhammad – pemberian yang banyak lagi mencukupi.

Tafsir Ayat-ayat:

إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا (31)

(Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa kemenangan)

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah Ta’ala menyebutkan sebagian dari keadaan penghuni neraka, kemudian Dia menyebutkan apa yang akan diperoleh penghuni surga.

إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا (31)

Artinya: Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa kepada murka Allah dan siksa-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya: kemenangan berupa surga di mana mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, dan keselamatan dari neraka.

Sebagaimana Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung” [Ali Imran: 185].

حَدَائِقَ وَأَعْنَابًا (32)

(Kebun-kebun dan anggur-anggur)

Artinya: kebun-kebun yang dikelilingi oleh tembok atau lainnya, yang mengumpulkan berbagai jenis pohon berbuah, di antaranya adalah anggur-anggur.

وَكَوَاعِبَ أَتْرَابًا (33)

(Dan gadis-gadis yang sebaya)

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah menyebutkan tempat-tempat tinggal yang indah, menyenangkan dan mengagumkan; Dia menyebutkan apa yang bisa dinikmati.

وَكَوَاعِبَ أَتْرَابًا (33)

Artinya: dan wanita-wanita muda yang buah dadanya telah membulat dan menonjol tanpa menjuntai ke bawah, dan mereka setara dalam usia.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dengan penciptaan (yang baru), lalu Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya, untuk golongan kanan” [Al-Waqi’ah: 35-38].

وَكَأْسًا دِهَاقًا (34)

(Dan gelas yang penuh)

Artinya: dan gelas-gelas yang penuh dengan khamar surga, jernih, yang silih berganti bagi para peminumnya.

لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا كِذَّابًا (35)

(Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan dusta)

Artinya: Orang-orang yang bertakwa tidak mendengar di surga keributan atau perkataan yang sia-sia yang tidak ada manfaatnya, dan mereka tidak berbohong dan tidak saling mendustakan satu sama lain dalam percakapan mereka.

جَزَاءً مِنْ رَبِّكَ عَطَاءً حِسَابًا (36)

(Sebagai balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup)

Artinya: dan balasan yang disebutkan bagi orang-orang yang bertakwa ini adalah pemberian yang mencukupi, berlimpah dan banyak dari Tuhanmu – wahai Muhammad.

Sebagaimana Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang lebih baik dan yang lebih besar pahalanya” [Al-Muzzammil: 20].

 

 

Manfaat Pendidikan:

Dalam firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa ada kemenangan” hingga firman-Nya: “Sebagai balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup”, Allah Azza wa Jalla menyebutkan kenikmatan yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa setelah firman-Nya: “Sesungguhnya Jahannam adalah tempat pengintaian, bagi orang-orang yang melampaui batas tempat kembali”; karena Al-Qur’an bersifat matsani (berpasangan); jika di dalamnya disebutkan hukuman maka disebutkan pula pahala, jika disebutkan pahala maka disebutkan pula hukuman, jika disebutkan ahli kebaikan maka disebutkan pula ahli keburukan, dan jika disebutkan kebenaran maka disebutkan pula kebatilan. Berpasangan; agar perjalanan manusia menuju Tuhannya berada di antara rasa takut dan harapan; karena jika harapan mendominasi dirinya, dia akan jatuh dalam rasa aman dari tipu daya Allah Ta’ala, dan jika rasa takut mendominasinya, dia akan jatuh dalam keputusasaan dari rahmat Allah Ta’ala, dan keduanya termasuk dosa-dosa besar, keduanya adalah keburukan.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: “Hendaknya manusia dalam ibadahnya kepada Tuhannya berada di antara rasa takut dan harapan, maka jika salah satunya mendominasi, binasalah orangnya”. Oleh karena itu, Anda menemukan Al-Qur’an Al-Karim datang dengan ini dan itu, dan agar jiwa-jiwa tidak bosan dengan penyebutan satu keadaan saja dan kepanjangan di dalamnya tanpa menyebutkan lawannya. Dengan demikian, agar manusia ketika membaca Al-Qur’an menjadi berharap dan takut, dan ini termasuk keindahan bahasa Al-Qur’an Al-Karim.

Manfaat Ilmiah dan Keindahan:

1- Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa ada kemenangan”, di dalamnya terdapat pertanyaan: Keselamatan dari kebinasaan lebih penting daripada mendapatkan kenikmatan, lalu mengapa yang lebih penting diabaikan, dan yang kurang penting disebutkan? Jawabannya: karena keselamatan dari kebinasaan tidak mengharuskan kemenangan berupa kenikmatan dan kebaikan, adapun kemenangan berupa kenikmatan dan kebaikan mengharuskan keselamatan dari kebinasaan. Oleh karena itu, penyebutan hal ini lebih utama.

2- Firman Allah Ta’ala: “Kebun-kebun dan anggur-anggur”. Allah mengungkapkan pohon-pohon anggur dengan buahnya; sebagai pemberitahuan bahwa pohon tersebut tidak ditemukan kecuali dalam keadaan penuh dengan buah, dan bahwa buahnya adalah manfaat utamanya.

Keindahan Bahasa Ayat-ayat:

1- Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa ada kemenangan” adalah permulaan penjelasan tentang kebaikan-kebaikan keadaan orang-orang beriman, setelah penjelasan tentang buruknya keadaan orang-orang kafir. Perpindahan ini berjalan sesuai kebiasaan Al-Qur’an Al-Karim dalam mengikuti peringatan bagi orang-orang yang diperingatkan dengan kabar gembira bagi mereka yang berhak menerimanya. Al-Qur’an berpindah dari menakut-nakuti orang-orang kafir dengan apa yang akan mereka hadapi kepada memberi kegembiraan kepada orang-orang bertakwa dengan apa yang telah dipersiapkan bagi mereka di akhirat berupa kemuliaan dan keselamatan dari apa yang dialami oleh ahli syirik. Kalimat ini berhubungan dengan kalimat “Sesungguhnya Jahannam adalah tempat pengintaian, bagi orang-orang yang melampaui batas tempat kembali” [An-Naba: 21-22], dan ini adalah permulaan baru yang sesuai dengan tuntutan perpindahan.

  • Pembukaan kalimat dengan huruf (إِنَّ/inna); untuk menunjukkan pentingnya kabar tersebut; agar tidak ada yang meragukannya.
  • Mendahulukan khabar (إِنَّ/inna) “لِلْمُتَّقِينَ” (bagi orang-orang yang bertakwa) atas ismnya “مَفَازًا” (kemenangan); untuk memberi perhatian dan penghormatan kepada orang-orang yang bertakwa.
  • Tanwin pada kata “مَفَازًا” untuk pengagungan.
  • Yang dimaksud dengan “مَفَازًا” (kemenangan): surga dan kenikmatannya. Kata “مَفَازًا” dipilih daripada kata “الجنَّة” (surga); karena dalam derivasinya terdapat pembangkitan penyesalan dalam jiwa orang-orang yang diajak bicara dengan firman-Nya: “Lalu kamu datang berkelompok-kelompok” [An-Naba: 18], dan dengan firman-Nya: “Maka rasakanlah, Kami tidak akan menambah untuk kalian kecuali siksaan” [An-Naba: 30].

2- Firman Allah Ta’ala: “Kebun-kebun dan anggur-anggur, dan gadis-gadis remaja yang sebaya, dan gelas-gelas yang penuh (minuman)”

  • Kata: “Kebun-kebun dan anggur-anggur” – Penggunaan bentuk nakirah (tanpa definisi) dalam firman-Nya: “dan anggur-anggur” menunjukkan besarnya keagungan anggur-anggur tersebut.
  • Kata: “dan anggur-anggur” – Allah mengkhususkan pohon anggur karena kebaikan, keindahan, dan kemuliaan buahnya, serta kelezatan rasanya. Ada pendapat lain: bahwa Allah mengkhususkannya karena banyaknya pohon anggur di kebun-kebun tersebut.
  • Kata: “dan gelas-gelas yang penuh” – Yang dimaksud dengan kata “ka’s” (gelas) adalah jenisnya, karena maknanya adalah “banyak gelas”. Kata tunggal digunakan daripada bentuk jamak karena “ka’san” (sebuah gelas) dalam bentuk tunggal lebih ringan daripada “ak’usin” atau “ku’usin” (gelas-gelas), dan karena ungkapan ini berlaku seperti peribahasa.

3- Firman Allah Ta’ala: “Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) perkataan dusta”

  • Kata: “Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) perkataan dusta” – Dimungkinkan bahwa kata ganti “nya” kembali kepada “gelas”, sehingga kata “di” menunjukkan tempat yang menggambarkan para peminum yang mengambil minuman dari gelas seolah-olah mereka berada di dalam gelas, atau kata “di” untuk menunjukkan sebab, seperti dalam hadits: “Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing”, yang artinya: karena sebab seekor kucing. Maknanya: mereka tidak mendengar perkataan sia-sia dan dusta darinya atau di sekitarnya, sehingga kalimat ini menjadi sifat kedua untuk “gelas”.
  • Dimungkinkan juga bahwa kata ganti “nya” dalam “di dalamnya” kembali ke kata “tempat keberuntungan” dengan mempertimbangkan penafsirannya sebagai “surga”, karena letaknya berlawanan dengan “Jahannam” dari firman-Nya: “Sesungguhnya Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai” [An-Naba: 21], atau karena Allah mengganti “kebun-kebun” dari “tempat keberuntungan”. Makna ini muncul dari gaya penyusunan perkataan, di mana “kebun-kebun dan anggur-anggur” didahulukan, dan “gelas-gelas yang penuh” diakhirkan, sehingga ketika kata ganti “nya” datang setelah itu, boleh merujuk ke “gelas” atau ke “tempat keberuntungan”. Ini termasuk keindahan peringkasan dengan kekayaan makna.
  • Artinya: mereka tidak mendengar di surga perkataan rendah atau dusta. Sebagaimana penghuni neraka dikelilingi oleh rasa sakit yang amat sangat pada semua indera mereka karena pembakaran api dan diminumkannya air yang sangat panas dan nanah, agar siksa itu menembus bagian dalam mereka sebagaimana menembus bagian luar tubuh mereka, begitu pula Allah menafikan dari penghuni surga bentuk gangguan sekecil apa pun, yaitu gangguan mendengar apa yang dibenci manusia, karena itu adalah gangguan yang paling kecil.
  • Tidak adanya perkataan sia-sia dan dusta dari para peminum khamar surga dikiaskan dengan ungkapan bahwa mereka tidak mendengar perkataan sia-sia dan dusta di dalamnya, karena jika ada perkataan sia-sia dan dusta, tentu mereka akan mendengarnya. Ini mengisyaratkan bahwa pendengaran penghuni surga disucikan dari perkataan rendah dan hina.

4- Firman Allah Ta’ala: “Sebagai balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak”

  • Kata: “Sebagai balasan” adalah maf’ul mutlaq (objek absolut) untuk kata kerja yang dihilangkan, artinya: Allah membalas mereka dengan demikian sebagai balasan, atau Kami membalas orang-orang yang bertakwa. Dan firman-Nya: “dari Tuhanmu” adalah sifat untuk “balasan”, dan “pemberian” adalah badal (pengganti) dari “balasan”. Dalam badal ini terdapat rahasia halus yaitu isyarat bahwa itu adalah karunia dan pemberian serta balasan yang didasarkan pada hak.
  • Dan “dari” dalam firman-Nya: “dari Tuhanmu” menunjukkan asal, artinya: bersumber dari sisi Allah, dan itu merupakan penghormatan terhadap kemuliaan balasan ini dan keagungan kedudukannya.
  • Penjelasan tentang kata “Tuhan” yang menunjukkan pembinaan menuju kesempurnaan secara bertahap, serta penyandarannya kepada kata ganti beliau (Nabi Muhammad) shalawat dan salam atasnya, merupakan tambahan kemuliaan bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Begitu juga, penyandaraan kata “Rabb” (Tuhan) kepada kata ganti orang yang diajak bicara yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk mengisyaratkan bahwa balasan bagi orang-orang yang bertakwa juga mencakup penghormatan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena pemberian nikmat-nikmat ini kepada orang-orang yang bertakwa adalah karena keimanan mereka kepada beliau dan pengamalan mereka terhadap apa yang beliau tunjukkan kepada mereka.
  • Kata “balasan” disifati dengan kata “pemberian”, yaitu nama untuk sesuatu yang diberikan atau dikaruniakan tanpa imbalan, untuk menunjukkan bahwa apa yang dibalas kepada mereka jauh lebih banyak daripada yang mereka kerjakan. Apa yang disebutkan bagi orang-orang yang bertakwa berupa tempat keberuntungan dan apa yang ada di dalamnya adalah balasan sebagai bentuk syukur kepada mereka, dan pemberian sebagai bentuk kemurahan dari Allah Ta’ala dan kemuliaan bagi umat ini, karena Allah menjadikan pahalanya berlipat ganda.
  • Firman-Nya: “hisaba” (yang cukup banyak) adalah sifat untuk kata “pemberian”, dan maknanya: yang mencukupi. Ini adalah bentuk masdar (kata benda verbal) yang digunakan sebagai sifat, atau tetap sebagai masdar untuk menunjukkan intensitas.
  • Tanwin (nunasi) pada kata “hisaba” menunjukkan banyaknya.

۞ ۞ ۞ ۞ ۞

Ayat: 37-40

﴿رَّبِّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الرَّحْمٰنِ لَا يَمْلِكُوْنَ مِنْهُ خِطَابًاۚ ٣٧ يَوْمَ يَقُوْمُ الرُّوْحُ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ صَفًّاۙ لَّا يَتَكَلَّمُوْنَ اِلَّا مَنْ اَذِنَ لَهُ الرَّحْمٰنُ وَقَالَ صَوَابًا ٣٨ ذٰلِكَ الْيَوْمُ الْحَقُّۚ فَمَنْ شَاۤءَ اتَّخَذَ اِلٰى رَبِّهٖ مَاٰبًا ٣٩ اِنَّآ اَنْذَرْنٰكُمْ عَذَابًا قَرِيْبًا ەۙ يَّوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُوْلُ الْكٰفِرُ يٰلَيْتَنِيْ كُنْتُ تُرٰبًا ࣖ ٤٠ ﴾

Kata-kata Asing:

Ma’aba: artinya tempat kembali yang seseorang kembali kepadanya dengan ketaatan dan amal saleh. Asal kata “awb” menunjukkan kembali.

Analisis Nahwu (Tata Bahasa):

“رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الرَّحْمَنِ لَا يَمْلِكُونَ مِنْهُ خِطَابًا”

(Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, Yang Maha Pengasih, mereka tidak dapat berbicara dengan-Nya)

“Rabb” adalah badal (pengganti) atau na’at (sifat) dari “Rabbika” dalam firman-Nya: “Jazā’an min Rabbika” [An-Naba: 36], yang dijarkan (dikasrahkan) sepertinya. “Ar-Rahman” adalah na’at atau badal dari “Rabb” yang kedua.

  • Ada qira’at (bacaan) dengan rafa’ (dhammah) pada “Rabbu as-samāwāti” dan “Ar-Rahmānu” dengan beberapa kemungkinan:
    1. “Rabbu” sebagai khabar dari mubtada’ yang dihilangkan, yaitu: “Huwa Rabbu” (Dia adalah Tuhan). Dan “Ar-Rahmānu” juga demikian, atau ia sebagai mubtada’ yang khabarnya adalah “lā yamlikūna”.
    2. “Rabbu” sebagai mubtada’, dan “Ar-Rahmānu” sebagai khabarnya, dan “lā yamlikūna” sebagai khabar kedua atau kalimat baru.
    3. “Rabbu” sebagai mubtada’, dan “Ar-Rahmānu” sebagai na’at (sifat) untuknya, dan “lā yamlikūna” sebagai khabar dari “Rabbu”.
  • Ada juga qira’at dengan jar (kasrah) pada yang pertama “Rabbi as-samāwāti” sebagai badal atau na’at untuk “Rabbika” seperti yang telah dijelaskan, dan rafa’ (dhammah) pada yang kedua “Ar-Rahmānu” sebagai mubtada’, dan khabarnya adalah “lā yamlikūna”, atau sebagai khabar dari mubtada’ yang dihilangkan, dan “lā yamlikūna” sebagai kalimat baru atau khabar kedua.

Makna Keseluruhan:

Allah Ta’ala berfirman menjelaskan keagungan dan kemuliaan-Nya: “Sebagai balasan dari Tuhanmu, Tuhan langit yang tujuh dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dari makhluk; Yang Maha Pengasih, tidak ada seorang pun dari makhluk yang mampu berbicara kepada-Nya—Maha Suci dan Maha Tinggi Allah—pada hari kiamat tanpa izin, pada hari Jibril dan para malaikat berdiri berbaris dengan penuh kepatuhan kepada Allah Ta’ala, mereka tidak berbicara kecuali orang yang diberi izin oleh Allah, dan dia mengucapkan perkataan yang benar yang diridhai oleh Allah Ta’ala. Hari itu pasti akan terjadi, maka barangsiapa yang ingin, hendaklah ia mengerjakan amal saleh yang dengan itu ia kembali kepada Allah Ta’ala.” Kemudian Allah Subhanahu menutup surah yang mulia ini dengan peringatan yang mendalam, firman-Nya: “Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kalian—wahai manusia—akan azab yang dekat pada hari setiap orang melihat apa yang telah dikerjakannya dalam kehidupannya, dan orang kafir berkata: ‘Alangkah baiknya seandainya aku dahulu adalah tanah’, agar aku tidak disiksa!”

Tafsir Ayat-ayat:

رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الرَّحْمَنِ لَا يَمْلِكُونَ مِنْهُ خِطَابًا (37)

Hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah Subhanahu menyebutkan keluasan karunia-Nya, Dia mendeskripsikan Diri-Nya Yang Maha Suci dengan apa yang menunjukkan keagungan-Nya; untuk menambah kemuliaan bagi yang diajak bicara (Nabi Muhammad) shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena keagungan seorang hamba sesuai dengan keagungan tuannya, maka Allah berfirman: “Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, Yang Maha Pengasih.”

Artinya: Pencipta, Pemilik, dan Pengatur langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dari makhluk-makhluk, Yang Maha Pengasih yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu.

“Mereka tidak dapat berbicara dengan-Nya.” Artinya: Tidak ada seorang pun dari makhluk yang mampu berbicara kepada Allah—Maha Suci dan Maha Tinggi Allah—pada hari kiamat tanpa izin. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Pada hari datangnya, tidak seorang pun yang berbicara, kecuali dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang sengsara dan ada yang berbahagia” [Hud: 105].

يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلَائِكَةُ صَفًّا لَا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَقَالَ صَوَابًا (38)

Hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah Ta’ala menyebutkan bahwa tidak ada seorang pun dari makhluk yang dapat berbicara kepada Allah tentang sesuatu atau menuntut-Nya tentang sesuatu, Dia menegaskan dan menguatkan makna ini dengan berfirman: “Pada hari ketika Ruh dan para malaikat berdiri berbaris.”

Artinya: Dan itu terjadi pada hari ketika Jibril dan semua malaikat berdiri berbaris dengan penuh kepatuhan kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya (Al-Qur’an) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam, dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril)” [Asy-Syu’ara: 192-193]. Dan Allah Subhanahu berfirman: “Dan datanglah Tuhanmu dan para malaikat berbaris-baris” [Al-Fajr: 22].

“Mereka tidak berbicara kecuali orang yang diberi izin oleh Yang Maha Pengasih, dan dia mengucapkan perkataan yang benar.” Artinya: Mereka tidak berbicara pada hari kiamat kecuali orang yang diberi izin oleh Allah untuk berbicara, dan dia mengucapkan perkataan yang benar, tepat, sesuai dengan keridhaan Allah Ta’ala.

ذَلِكَ الْيَوْمُ الْحَقُّ فَمَنْ شَاءَ اتَّخَذَ إِلَى رَبِّهِ مَآَبًا (39)

Hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah Ta’ala menetapkan keadaan orang-orang mukallaf (yang dibebani kewajiban) dalam tingkatan pahala dan hukuman, dan menetapkan keagungan hari kiamat, Dia berfirman setelahnya: “Itulah hari yang pasti terjadi.”

Artinya: Hari yang agung itu pasti akan terjadi, tidak bisa dihindari, dan tidak ada keraguan dalam kejadiannya.

فَمَنْ شَاءَ اتَّخَذَ إِلَى رَبِّهِ مَآَبًا

“Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.”

Artinya: Maka barangsiapa yang ingin, hendaklah ia mengerjakan amal saleh yang dengan itu ia kembali kepada Allah Ta’ala.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” [Al-Insan: 29-30].

إِنَّا أَنْذَرْنَاكُمْ عَذَابًا قَرِيبًا يَوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا (40)

إِنَّا أَنْذَرْنَاكُمْ عَذَابًا قَرِيبًا

“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kamu tentang azab yang dekat.”

Artinya: Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kalian—wahai manusia—akan azab yang telah dekat dan sudah mendekat kepada kalian.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya mereka memandang azab itu jauh (mustahil). Sedangkan Kami memandangnya dekat (pasti terjadi)” [Al-Ma’arij: 6-7].

Dan Allah Subhanahu berfirman: “Pada hari ketika mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari” [An-Nazi’at: 46].

يَوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ

“Pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya.”

Artinya: Dan itu terjadi pada hari ketika setiap orang melihat apa yang telah ia kerjakan sebelumnya dalam kehidupannya.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati semua kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh” [Ali Imran: 30].

Dan Allah Subhanahu berfirman: “Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatannya. Maka barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” [Az-Zalzalah: 6-8].

وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا

“Dan orang kafir berkata: ‘Alangkah baiknya sekiranya dulu aku adalah tanah’.”

Artinya: Dan orang kafir berkata pada hari itu dengan penuh penyesalan: “Alangkah baiknya seandainya aku dahulu adalah tanah!”

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai Rasul, ingin supaya mereka disamaratakan dengan tanah, dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadian pun” [An-Nisa: 42].

Pelajaran Pendidikan:

Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang kafir berkata: ‘Alangkah baiknya sekiranya dulu aku adalah tanah’.” Penyebutan sifat “kafir” dalam ayat ini memberikan pemahaman bahwa orang beriman tidak seperti itu. Karena orang beriman, meskipun melakukan beberapa keburukan dan mengkhawatirkan hukuman atas keburukannya, tetapi dia berharap bahwa akhir perjalanannya akan berujung pada kenikmatan.

Manfaat Ilmiah dan Keindahan:

1- Firman Allah Ta’ala: “Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya” – Kata “mā” (apa) adalah kata sambung yang merupakan bentuk umum, sehingga dapat dipahami bahwa ini menunjukkan keumuman ketuhanan Allah Subhanahu atas seluruh ciptaan.

2- Firman Allah Ta’ala: “Mereka tidak dapat berbicara dengan-Nya” – Tujuan dari penyebutan ini adalah untuk membatalkan alasan kaum musyrikin ketika mereka merasakan keburukan ibadah mereka kepada berhala yang telah Al-Qur’an ungkap, lalu mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah” [Yunus: 18], dan mereka berkata: “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya” [Az-Zumar: 3].

3- Firman Allah Ta’ala: “Pada hari ketika Ruh dan para malaikat berdiri berbaris, mereka tidak berbicara kecuali orang yang diberi izin oleh Yang Maha Pengasih, dan dia mengucapkan perkataan yang benar” – Bagi yang berpendapat bahwa malaikat lebih utama daripada manusia, dapat berpegang pada ayat ini. Hal ini karena maksud dari ayat tersebut adalah bahwa ketika para malaikat tetap dalam keadaan takut, tunduk, cemas, dan bingung di hadapan keagungan Allah dan penampakan kemuliaan serta kebesaran-Nya, maka bagaimana keadaan selain mereka? Dan diketahui bahwa argumen ini tidak sempurna kecuali jika malaikat adalah makhluk yang paling mulia.

4- Allah Ta’ala berfirman: “Mereka tidak berbicara kecuali orang yang diberi izin oleh Yang Maha Pengasih, dan dia mengucapkan perkataan yang benar” – Penggunaan sifat “Ar-Rahman” (Yang Maha Pengasih) pada tempat yang menunjukkan keagungan ini mengisyaratkan bahwa izin Allah kepada yang berbicara merupakan salah satu pengaruh dari rahmat-Nya, karena Dia mengizinkan dalam hal yang menghasilkan manfaat bagi penghuni mahsyar, seperti syafaat atau permohonan ampunan.

5- Firman Allah Ta’ala: “Pada hari ketika Ruh dan para malaikat berdiri berbaris, mereka tidak berbicara kecuali orang yang diberi izin oleh Yang Maha Pengasih, dan dia mengucapkan perkataan yang benar” – Terdapat pertanyaan di sini: Ketika Yang Maha Pengasih telah mengizinkan perkataan tersebut, sudah diketahui bahwa perkataan itu pasti benar, maka apa faedah dari firman-Nya: “dan dia mengucapkan perkataan yang benar”?

Jawaban dari dua sisi:

Sisi pertama: Bahwa Yang Maha Pengasih mengizinkan mereka untuk berbicara secara umum, kemudian ketika mereka mendapatkan izin tersebut, mereka tidak berbicara kecuali dengan perkataan yang benar. Seolah-olah dikatakan: Mereka tidak berbicara kecuali setelah adanya izin untuk berbicara, kemudian setelah adanya izin tersebut, mereka bersungguh-sungguh dan tidak berbicara kecuali dengan perkataan yang mereka ketahui bahwa itu jujur dan benar. Ini merupakan bentuk penekanan dalam menggambarkan mereka dengan ketaatan dan penghambaan.

Sisi kedua: Bahwa penafsirannya: Mereka tidak berbicara kecuali mengenai orang yang telah diberi izin oleh Yang Maha Pengasih, dan dia telah berkata dengan benar. Maknanya: Mereka tidak memberi syafaat kecuali untuk seseorang yang telah Allah izinkan untuk diberi syafaat, dan orang tersebut termasuk yang telah berkata dengan benar.

Atau bahwa tidak ada seorang pun yang berbicara kecuali dengan dua syarat ini: bahwa Allah mengizinkannya untuk berbicara, dan bahwa apa yang dia bicarakan adalah benar.

6- Bahwa iman kepada takdir tidak bertentangan dengan adanya kehendak bagi hamba dalam perbuatan-perbuatan yang dia pilih dan kemampuannya atas perbuatan tersebut; Allah Ta’ala berfirman: “Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.”

7- Allah Ta’ala berfirman: “Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya” – Firman-Nya: “kepada Tuhannya” menunjukkan bahwa itu adalah tempat kembali yang baik, karena Allah tidak ridha kecuali dengan kebaikan.

8- Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kamu tentang azab yang dekat” – Allah menyebutnya sebagai peringatan, karena dengan sifat ini Allah telah menakut-nakuti dengan ketakutan yang amat sangat, dan itulah makna peringatan.

Keindahan Ayat-ayat:

1- Firman Allah Ta’ala: “Tuhan (yang memelihara) langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, Yang Maha Pemurah. Mereka tidak dapat berbicara dengan-Nya.”

  • Kata “Rabb as-samawati wal ardhi wama baynahuma ar-Rahman” dibaca dengan rafa’ (diangkat) pada kata “Rabb” dan “ar-Rahman”. Kata “Rabbu” adalah khabar (predikat) dari mubtada’ (subjek) yang dihilangkan yaitu dhamir (kata ganti) yang kembali kepada firman-Nya: “min Rabbika” [An-Naba’: 36], mengikuti metode penghilangan musnad ilaihi (subjek) untuk mengikuti penggunaan yang biasa dipakai tanpa menyebutkannya, yaitu: dalam konteks di mana para ahli bahasa menggunakan penghilangan musnad ilaihi.
  • Sifat “Rabb as-samawati” diikuti dengan penyebutan salah satu nama-Nya yang indah, yaitu nama “ar-Rahman”, dan dikhususkan penyebutannya dibanding nama-nama indah lainnya; karena dalam maknanya terdapat isyarat bahwa kebaikan yang dilimpahkan kepada orang-orang bertakwa di surga adalah pemberian dari Yang Maha Pengasih kepada mereka.
  • Dalam penyebutan sifat yang agung ini terdapat sindiran terhadap orang-orang musyrik; karena mereka mengingkari nama “ar-Rahman” yang disebutkan dalam Al-Qur’an, sebagaimana Allah mengisahkan tentang mereka dengan firman-Nya: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Sujudlah kalian kepada ar-Rahman,’ mereka menjawab: ‘Siapakah ar-Rahman itu?'” [Al-Furqan: 60].
  • Firman-Nya: “la yamlikuna minhu khitaban” (mereka tidak dapat berbicara dengan-Nya) adalah kalimat permulaan yang menegaskan apa yang ditunjukkan oleh sifat keTuhanan yang umum dari keagungan dan kebesaran-Nya yang sempurna, dan kekuasaan-Nya sendiri terhadap apa yang disebutkan dari balasan dan pemberian tanpa ada seorang pun yang memiliki kemampuan atasnya. Maksudnya adalah penafian kemampuan mereka untuk berbicara kepada-Nya tentang pengurangan siksa atau penambahan pahala tanpa izin-Nya dengan cara yang paling tegas dan kuat.
  • Dibolehkan juga kalimat “la yamlikuna minhu khitaban” ini menjadi hal (keterangan keadaan) dari “ma baynahuma”; karena apa yang ada di antara langit dan bumi mencakup makhluk-makhluk berakal di dalamnya, atau yang dianggap berakal seperti berhala-berhala, sehingga diperkirakan bahwa di antara makhluk-makhluk tersebut ada yang mampu berbicara kepada Allah dan berdialog dengan-Nya. Dan boleh juga kalimat ini sebagai permulaan untuk membatalkan klaim orang-orang musyrik, atau sebagai pencegahan untuk menolak dugaan bahwa apa yang ditunjukkan oleh hubungan “Rabb” dengan kelembutan terhadap makhluk dalam mengatur urusan mereka membolehkan mereka untuk berbicara kepada Tuhan.
  • Kata kerja “yamlikuna” bersifat umum; karena berada dalam konteks penafian sebagaimana kata benda nakirah dalam penafian juga bersifat umum, dan kata “khitaban” juga umum. Keduanya termasuk yang umum yang dikhususkan dengan pengkhusus yang terpisah; seperti firman-Nya setelah ayat ini: “mereka tidak dapat berbicara, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar” [An-Naba’: 38], dan firman-Nya: “Di hari itu seseorang tidak dapat berbicara kecuali dengan izin-Nya” [Hud: 105], dan firman-Nya: “Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa izin-Nya?” [Al-Baqarah: 255], dan firman-Nya: “Dan mereka tidak memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah” [Al-Anbiya’: 28].
  • Bentuk nakirah pada kata “khitaban” menunjukkan pengurangan, huruf “min” adalah penjelasan, dan zharf (keterangan tempat) adalah hal (keterangan keadaan) dari “khitaban”. Artinya: mereka tidak memiliki pembicaraan sama sekali dari sisi Allah dalam urusan syafa’at, yaitu: mereka tidak memiliki pegangan dan nash yang mereka gunakan dalam urusan syafa’at.

2- Firman Allah Ta’ala: “Pada hari ketika ruh dan para malaikat berdiri berbaris. Mereka tidak berbicara, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar.”

Kalimat ini adalah kalimat permulaan yang menegaskan kandungan firman Allah Ta’ala: “Mereka tidak berbicara” dan seterusnya, dan mengukuhkannya, dengan makna: bahwa penghuni langit dan bumi pada hari itu tidak mampu berbicara dengan segala jenis pembicaraan kecuali orang yang telah Allah Ta’ala izinkan di antara mereka untuk berbicara, dan orang yang diizinkan tersebut mengucapkan perkataan yang benar; maka bagaimana mungkin mereka mampu berbicara kepada Tuhan Yang Maha Agung padahal itu lebih khusus daripada berbicara secara umum, dan lebih sulit untuk dicapai?!

  • Kata “ar-Ruh” adalah Jibril, dan pengkhususan penyebutannya sebelum penyebutan para malaikat yang diikutsertakan dengannya; untuk memuliakan kedudukannya dalam menyampaikan syariat.

Ada yang berpendapat bahwa huruf lam pada “ar-Ruh” untuk menunjukkan jenis; sehingga bentuk tunggal dan jamak dengannya adalah sama, dan artinya: pada hari ketika ruh-ruh hadir berbaris untuk dimasukkan ke dalam jasad-jasadnya, dan para malaikat berdiri berbaris. Sesungguhnya manusia berbaris dalam situasi yang terdapat perkara agung, maka barisan malaikat adalah pengagungan terhadap Allah dan ketundukan kepada-Nya.

  • Kalimat “la yatakallamuna” (mereka tidak berbicara) menegaskan kalimat “la yamlikuna minhu khitaba” [An-Naba’: 37] (mereka tidak dapat berbicara dengan-Nya), diulang dengan maknanya untuk menegaskan makna tersebut; karena konteksnya memang menuntut demikian. Penegasan ini dimaksudkan untuk menunjukkan kebatilan klaim orang-orang musyrik tentang syafaat berhala-berhala mereka di sisi Allah, dan ini adalah indikasi yang jelas; karena jika pembicaraan mereka tanpa izin ditolak, maka syafaat mereka juga ditolak; karena syafaat adalah pembicaraan dari orang yang memiliki kedudukan dan diterima oleh pendengarnya.
  • Objek dari “adzina” dihilangkan, ditunjukkan oleh “la yatakallamuna”, yaitu: orang yang diizinkan untuk berbicara.
  • Menampakkan kata “ar-Rahman” pada tempat yang seharusnya menggunakan kata ganti; untuk menunjukkan bahwa dasar pemberian izin adalah rahmat yang luas, bukan karena seseorang berhak mendapatkannya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  • Kata kerja “wa qala sawaba” digunakan dalam arti kata kerja present (sekarang), yaitu: dan dia mengucapkan perkataan yang benar, diekspresikan dengan kata kerja lampau; untuk menunjukkan kepastian terjadinya hal tersebut.

3- Firman Allah Ta’ala: “Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.”

Ini adalah kalimat permulaan yang baru seperti kesimpulan dari apa yang telah disebutkan sebelumnya berupa ancaman dan janji, peringatan dan kabar gembira, disampaikan untuk mengagungkan hari keputusan yang telah dimulai pembicaraan tentangnya dari firman Allah: “Sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan” [An-Naba’: 17], dan tujuannya adalah untuk mengagungkan besarnya peristiwa yang terjadi pada hari itu berupa balasan dengan pahala dan siksa, dan itu adalah hasil dari perbuatan manusia sejak keberadaan manusia di bumi.

  • Isyarat dengan firman-Nya: “dzalika al-yaum al-haqq” (itulah hari yang pasti terjadi) menunjuk kepada hari yang telah disebutkan sebelumnya dalam firman-Nya: “Sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan”, dan makna kata isyarat “dzalika” dalam konteks seperti ini adalah untuk memperingatkan bahwa yang ditunjuk layak untuk disifati dengan apa yang akan disebutkan berikutnya karena apa yang telah dijelaskan sebelumnya tentang keadaannya; maka karena semua yang telah disifatkan tentang hari keputusan, ia layak untuk disifati sebagai hari yang pasti terjadi, dan bercabang dari hal itu firman-Nya: “faman sya’a ittakhadza ila rabbihi ma’aba.”
  • Definisi “al-yaum” dengan huruf lam; untuk menunjukkan makna kesempurnaan, yaitu: ia adalah hari yang paling agung di antara apa yang dianggap manusia sebagai hari-hari kemenangan bagi para pemenang; karena itu adalah hari di mana semua manusia dikumpulkan, dan setiap orang dari mereka diberikan apa yang layak baginya berupa kebaikan atau keburukan, seakan-akan hari-hari terkenal lainnya dalam sejarah manusia tidak pasti terjadi.
  • Firman-Nya: “faman sya’a” ini adalah ancaman dan peringatan.
  • Firman-Nya: “faman sya’a ittakhadza ila rabbihi ma’aba” dihubungkan dengan fa’ fasihah pada firman-Nya: “dzalika al-yaum al-haqq”; karena fa’ ini menjelaskan syarat yang tersirat yang muncul dari perkataan sebelumnya. Perkiraan maknanya: jika kalian telah mengetahui semua itu, maka barangsiapa yang menghendaki untuk mengambil tempat kembali di sisi Tuhannya hendaklah ia mengambilnya, karena telah jelas bagi kalian apa yang ada pada hari itu berupa kebaikan dan keburukan, maka hendaklah orang yang memiliki kehendak memilih apa yang cocok baginya untuk kembali pada hari itu. Perkiraannya: tempat kembali padanya, yaitu: pada hari itu. Penghubungan ini termasuk nasihat yang paling indah dengan dorongan dan peringatan ketika kesempatan terbuka bagi pemberi nasihat karena kesiapan jiwa untuk menerima nasihat.
  • “Al-ittikhad” (mengambil): penekanan dalam pengambilan, yaitu: mengambil dengan cara yang menyerupai kepatuhan dalam keteguhan.

4- Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kamu (hai orang kafir) akan siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: ‘Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.'”

  • Firman-Nya: “Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kamu akan siksa yang dekat” adalah kalimat sisipan antara “ma’aba” [An-Naba’: 39] dan “yauma yanzhuru al-mar’u ma qaddamat yadahu” [An-Naba’: 40]. Tujuan dari kalimat ini adalah memberikan alasan yang jelas kepada orang-orang yang menjadi sasaran peringatan keras dalam surah ini; sehingga tidak ada lagi keraguan atau kesamaran antara mereka dan pengetahuan tentang sebab-sebab keselamatan dan kebalikannya. Khabar (predikat) -yaitu “inna andzarnakum ‘adzaban”- digunakan untuk memotong alasan, dan tidak digunakan untuk memberikan hukum; karena kenyataan bahwa apa yang telah lalu adalah peringatan merupakan hal yang diketahui oleh orang-orang yang diajak bicara.
  • Khabar ini dimulai dengan huruf penegasan (inna); untuk menekankan kejelasan alasan dengan menempatkan mereka pada posisi orang yang ragu tentang hal itu.
  • Dalam firman-Nya: “inna andzarnakum ‘adzaban qariban”, musnad (predikat) “andzarnakum” dijadikan kata kerja yang disandarkan pada kata ganti terpisah; untuk menguatkan hukum, serta menggambarkan pembicara seperti orang yang terbebas dari konsekuensi bahaya yang mungkin menimpa orang-orang yang diajak bicara jika mereka tidak waspada terhadap apa yang telah diperingatkan kepada mereka.
  • “Al-Indzar”: adalah pemberitahuan tentang terjadinya sesuatu yang buruk di masa depan yang dekat, dan diekspresikan dengan kata kerja lampau; karena peringatan terbesar telah terjadi dengan firman-Nya sebelumnya: “Sesungguhnya Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai, lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas” [An-Naba’: 21-22] sampai firman-Nya: “Karena itu rasakanlah azab ini dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain dari azab” [An-Naba’: 30].
  • Firman-Nya: “‘adzaban qariban” (siksa yang dekat) adalah siksa akhirat; dan disifati dengan “dekat” untuk memastikan kedatangannya secara pasti, dan karena awalnya adalah kematian, dan karena siksa itu dekat menurut Allah Ta’ala meskipun mereka melihatnya jauh, dan mereka akan melihatnya dekat.
  • “Al-Mar’u”: adalah nama untuk laki-laki; karena bentuk femininnya adalah “imra’atun”. Pembatasan pada “al-mar’u” mengikuti kebanyakan penggunaan orang Arab dalam pembicaraan mereka; sehingga pembicaraan ini keluar menurut yang umum dalam percakapan.
  • Firman-Nya: “ma qaddamat yadahu”, yaitu: apa yang telah ia usahakan di dunia berupa kebaikan dan keburukan. Allah menyebutkan keduanya -yaitu kedua tangan-; karena keduanya adalah tempat kekuatan, sehingga keduanya menjadi kiasan tentangnya, mengingat sebagian besar perbuatan dilakukan dengan keduanya secara mandiri atau sebagai bagian dari perbuatan tersebut; baik itu kebaikan maupun keburukan.
  • Firman-Nya: “wa yaqul al-kafiru ya laytani kuntu turaban” (dan orang kafir berkata: ‘Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah’). Yang disebutkan secara khusus dari keumuman “al-mar’u” adalah manusia kafir yang berkata: “Ya laytani kuntu turaban”; dan itu adalah penyesalan dan kegelisahan atas apa yang telah dilakukan oleh kedua tangannya berupa kekafiran. Mereka dahulu berkata: “Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benar kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?” [Al-Isra’: 49], maka Allah menjadikan hukuman mereka dengan penyesalan dan keinginan untuk menjadi seperti tanah.

Dan Allah mengkhususkan perkataan orang-orang kafir bukan orang-orang beriman; karena perkataan orang-orang kafir menunjukkan puncak kekecewaan dan puncak penyesalan, dan penghilangan perkataan orang-orang beriman menunjukkan puncak kebahagiaan dan puncak kegembiraan yang tidak dapat digambarkan.

Menurut pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan firman-Nya: “al-mar’u” adalah orang kafir; karena firman-Nya: “inna andzarnakum”, maka “al-kafir” adalah kata yang jelas yang ditempatkan pada posisi kata ganti; untuk menambah celaan.

  • Ayat ini mengumpulkan apa yang telah disebutkan dalam surah ini tentang keadaan dua kelompok, dan di akhirnya merupakan pengulangan dari awal dengan menyebutkan keadaan orang-orang kafir yang dikenal sebagai orang-orang yang melampaui batas, dan dengan itu penutupan surah ini menjadi penutup yang indah.

 

۞ ۞ ۞ ۞ ۞

 

 

SURAH AN-NAZI’AT

Perhatian: Setiap kalimat berikut memiliki rujukan ilmiah yang belum diterjemahkan. Bagi yang memerlukan, silakan merujuk langsung ke situs web aslinya dalam bahasa Arab di: https://dorar.net/tafseer/79

Nama-nama Surah:

Surah ini dinamakan “Surah An-Nazi’at” (Para Malaikat yang Mencabut).

Keterangan Makkiyah dan Madaniyah:

Surah An-Nazi’at adalah surah Makkiyah (diturunkan di Mekah). Banyak ahli tafsir telah menyebutkan kesepakatan (ijma’) tentang hal ini.

Tujuan-tujuan Surah:

Di antara tujuan terpenting surah ini adalah: menetapkan bahwa kebangkitan adalah benar, menyebutkan sebagian dari kedahsyatan hari kiamat, membantah para pengingkar kebangkitan, serta mengancam dan menakut-nakuti mereka.

Tema-tema Surah:

Di antara tema terpenting yang tercakup dalam surah ini adalah:

  1. Penetapan kebangkitan dan pembalasan.
  2. Bantahan terhadap orang-orang musyrik yang mengingkari terjadinya kebangkitan.
  3. Menyebutkan sebagian dari kisah Nabi Musa AS, dan pengutusan beliau kepada Fir’aun.
  4. Menegakkan bukti-bukti untuk menetapkan kebangkitan dan bahwa itu adalah benar, serta menyebutkan tanda-tanda kekuasaan Allah.
  5. Menyebutkan beberapa peristiwa akhirat dan kedahsyatan hari kiamat.
  6. Penjelasan tentang baiknya kesudahan orang-orang yang bertakwa, dan buruknya kesudahan orang-orang kafir.
  7. Menjawab pertanyaan-pertanyaan orang-orang musyrik tentang terjadinya hari kiamat, menjelaskan bahwa waktu kedatangan hari ini hanya diketahui oleh Allah semata, dan bahwa tugas Rasul adalah mengingatkan mereka tentangnya, dan bahwa ketika hari itu tiba dan mereka melihatnya, seakan-akan mereka dengan lamanya waktu hanya tinggal sebentar saja yaitu sebagian dari siang hari.

۞ ۞ ۞ ۞ ۞

Ayat: 1-14

﴿وَالنّٰزِعٰتِ غَرْقًاۙ ١ وَّالنّٰشِطٰتِ نَشْطًاۙ ٢ وَّالسّٰبِحٰتِ سَبْحًاۙ ٣ فَالسّٰبِقٰتِ سَبْقًاۙ ٤ فَالْمُدَبِّرٰتِ اَمْرًاۘ ٥ يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُۙ ٦ تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ ۗ ٧ قُلُوْبٌ يَّوْمَىِٕذٍ وَّاجِفَةٌۙ ٨ اَبْصَارُهَا خَاشِعَةٌ ۘ ٩ يَقُوْلُوْنَ ءَاِنَّا لَمَرْدُوْدُوْنَ فِى الْحَافِرَةِۗ ١٠ ءَاِذَا كُنَّا عِظَامًا نَّخِرَةً ۗ ١١ قَالُوْا تِلْكَ اِذًا كَرَّةٌ خَاسِرَةٌ ۘ ١٢ فَاِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَّاحِدَةٌۙ ١٣ فَاِذَا هُمْ بِالسَّاهِرَةِۗ ١٤ ﴾

Penjelasan Kata-kata yang Sulit:

Wan-nazi’ati gharqan: Yaitu para malaikat yang mencabut ruh orang-orang kafir dari tubuh mereka dengan pencabutan yang keras. “Gharqan” adalah bentuk masdar dari kata “aghraqa”, asalnya adalah “ighraqan”. “Al-ighraq” dalam sesuatu berarti: berlebih-lebihan di dalamnya dan mencapai batasnya yang paling jauh. Dikatakan: “Fulan aghraqa fi hadza al-amr” artinya: ia memasuki dengan dalam dan mencapai tujuan terjauhnya. Asal kata “naza’a” menunjukkan makna mencabut sesuatu, dan asal kata “gharaqa” menunjukkan makna akhir dari sesuatu yang mencapai puncaknya.

Wan-nasyithati nasytha: Yaitu para malaikat yang menggenggam ruh orang-orang beriman dengan mudah, lembut, dan cepat; dari kata “an-nasyth” yang berarti: kecepatan dalam bekerja, dan kelincahan dalam mengambil sesuatu. Asal kata “nasyatha” menunjukkan makna getaran dan gerakan.

Was-sabihati sabhan: Yaitu para malaikat yang turun dari langit dengan cepat seperti kuda yang bagus yang disebut “sabih” ketika ia berlari cepat. Ada yang mengatakan: mereka adalah para malaikat yang menggenggam ruh orang-orang beriman dengan mencabutnya secara lembut, kemudian membiarkannya beristirahat, seperti orang yang berenang dengan sesuatu di dalam air dengan lembut. Asalnya dari kata “as-sabh” yang berarti: perjalanan yang cepat.

Fas-sabiqati sabqan: Yaitu para malaikat yang mendahului anak Adam dalam kebaikan dan amal saleh. Ada yang mengatakan: mereka adalah para malaikat yang mendahului dengan ruh orang-orang beriman menuju surga. Asal kata “as-sabq” berarti: mendahului dalam perjalanan.

Fal-mudabbirati amran: Para malaikat yang turun dengan pengaturan dari sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Asal kata “dabara” menunjukkan makna akhir dari sesuatu, maka pengaturan manusia terhadap urusannya berarti dia melihat kepada akibat dan akhir dari urusan tersebut.

Ar-rajifah: Yaitu teriakan, yaitu tiupan pertama. Asal kata “rajafa” menunjukkan makna goncangan keras.

Ar-radifah: Yaitu teriakan yang mengikutinya, yaitu tiupan kedua. Asal kata “radafa” menunjukkan makna mengikuti sesuatu.

Wajifah: Yaitu takut dan sangat bergoncang. Dikatakan: “Wajafa qalbuhu yajifu wajifan” artinya: jantungnya bergoncang.

Al-hafirah: Yaitu awal penciptaan kita, dan permulaan urusan kita, sehingga kita menjadi hidup setelah mati. Dikatakan: “Raja’a fulan fi hafiratihi” artinya: ia kembali dari mana ia datang. “Al-hafirah” menurut orang Arab: nama untuk awal sesuatu, dan permulaan urusan. Asal kata “hafara” di sini: awal urusan.

Nakhirah: Yaitu lapuk dan hancur. Asal kata “nakhara” menunjukkan makna suara; karena tulang-tulang yang lapuk ini telah kosong isinya, sehingga udara berhembus di dalamnya, yaitu mengeluarkan suara.

Karrah: Yaitu kembali dan pengulangan. “Al-karr” berarti: kembali kepada sesuatu.

Zajrah: Yaitu teriakan dengan keras dan bentakan, yaitu tiupan sangkakala untuk kebangkitan. Asal kata “zajara” menunjukkan makna mengusir dengan suara.

Bis-sahirah: Yaitu permukaan bumi dan permukaannya, yaitu tanah yang rata berwarna putih tanpa tumbuhan, yang Allah Ta’ala jadikan untuk mengumpulkan manusia untuk mahsyar. Disebut demikian karena apa yang terjadi di dalamnya, yaitu begadang (tidak tidur). Asal kata “sahara” menunjukkan makna hilangnya tidur.

Masalah Tata Bahasa (I’rab):

Firman Allah Ta’ala: “Demi (malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, dan (malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut, dan (malaikat) yang berenang dengan cepat, dan (malaikat) yang mendahului dengan kencang, dan (malaikat) yang mengatur urusan. Pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam.”

Firman Allah Ta’ala: “gharqan”: adalah bentuk masdar (infinitif) yang memperkuat dengan menghilangkan tambahan, artinya: “pengambilan yang mendalam” dari bagian terjauh tubuh, dan yang menjadikannya mansub (dibaca dengan tanda fathah) adalah kata sebelumnya, karena kesesuaiannya dalam makna, atau dibaca nashab sebagai hal (keterangan keadaan), yaitu: “dalam keadaan penuh penenggelaman”.

Dibacanya “nasytan”, “sabhan”, dan “sabqan” dengan nashab adalah sebagai objek mutlak (maf’ul mutlaq), sedangkan dibacanya “amran” dengan nashab adalah sebagai objek (maf’ul bih) dari ism fa’il “al-mudabbirat” (pengatur).

Firman Allah Ta’ala: “yauma tarjufu”: adalah zharaf zaman (keterangan waktu) yang dibaca nashab oleh kata kerja yang tersirat, yaitu jawaban dari sumpah, yang diperkirakan: “sungguh kamu akan dibangkitkan”; karena petunjuk dari apa yang ada setelahnya, yaitu: “Demi yang mencabut… dan seterusnya: sungguh kamu akan dibangkitkan pada hari…”.

Makna Keseluruhan:

Allah Ta’ala membuka surah mulia ini dengan bersumpah atas terjadinya kebangkitan tanpa keraguan. Allah bersumpah dengan para malaikat yang mencabut ruh orang-orang kafir dari tubuh mereka dengan pencabutan yang keras, dan dengan para malaikat yang mengambil ruh orang-orang beriman dengan mudah, lembut, dan cepat, dan dengan para malaikat yang berenang di angkasa langit dan cakrawala bumi dengan perintah Allah Ta’ala, dan dengan para malaikat yang bergegas melaksanakan perintah Allah Ta’ala, dan dengan para malaikat yang mengatur apa yang Allah tugaskan kepada mereka untuk diatur; “sungguh kamu akan dibangkitkan wahai manusia”.

Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan dahsyatnya hari kiamat, seraya berfirman: Pada hari ketika bumi bergoncang dan bergetar, lalu goncangan itu diikuti oleh goncangan lain yang datang setelahnya, maka hati orang-orang kafir yang mendustakan akan gelisah pada hari itu karena dahsyatnya peristiwa, dan pandangan mereka akan hina dan tertunduk.

Kemudian Allah menceritakan apa yang dikatakan oleh para pendustakan di dunia ketika mengingkari kebangkitan, Allah berfirman: Orang-orang yang mendustakan kebangkitan berkata: “Apakah kami akan kembali hidup setelah kematian kami, dan dibangkitkan dari kubur kami? Bagaimana kami akan dibangkitkan hidup ketika kami sudah menjadi tulang-belulang yang lapuk dan hancur?” Mereka berkata: “Jika kembali setelah kematian itu terjadi, maka kami benar-benar orang-orang yang rugi.”

Kemudian Allah Ta’ala menjawab mereka: “Maka sesungguhnya itu hanyalah satu teriakan (tiupan sangkakala) tanpa pengulangan, dan tiba-tiba manusia bangkit dari kubur mereka dalam keadaan hidup di permukaan bumi tempat berkumpul.”

Tafsir Ayat-ayat:

وَالنَّازِعَاتِ غَرْقًا (1)

Artinya: Aku bersumpah dengan para malaikat yang mencabut ruh orang-orang kafir dari tubuh mereka dengan keras. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan sekiranya kamu melihat ketika orang-orang zalim berada dalam tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangan mereka, (sambil berkata): ‘Keluarkanlah nyawamu.’ Pada hari ini kamu akan dibalas dengan azab yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.” [Al-An’am: 93].

Dan Allah Subhanahu berfirman: “Dan sekiranya kamu melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir sambil memukul wajah dan punggung mereka (dan berkata): ‘Rasakanlah siksa neraka yang membakar.'” [Al-Anfal: 50].

Dari Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “…Dan sesungguhnya seorang hamba yang kafir ketika menghadapi kepergian dari dunia dan kedatangan akhirat, akan turun kepadanya malaikat-malaikat dari langit dengan wajah hitam, membawa kain kasar, lalu mereka duduk sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut hingga duduk di dekat kepalanya, lalu berkata: ‘Wahai jiwa yang buruk, keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan Allah.’ Maka ruhnya tercerai-berai dalam tubuhnya, lalu dicabut seperti dicabutnya besi panas dari bulu basah! Lalu malaikat mengambilnya, dan ketika telah diambil, mereka tidak membiarkannya di tangannya sekejap mata pun hingga memasukkannya dalam kain kasar tersebut, dan keluarlah darinya bau busuk seperti bau bangkai paling busuk yang pernah ditemukan di muka bumi! Kemudian mereka naik membawanya…”

وَالنَّاشِطَاتِ نَشْطًا (2)

Kesesuaian ayat ini dengan ayat sebelumnya: Setelah Allah Ta’ala menyebutkan kekerasan yang dimulai dengannya karena lebih mengerikan, Allah melanjutkan dengan kelembutan, lalu berfirman: وَالنَّاشِطَاتِ نَشْطًا (2).

Artinya: Dan Aku bersumpah dengan para malaikat yang mencabut ruh orang-orang beriman dengan mudah, lembut, cepat, dan ringan. Dari Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba yang beriman ketika menghadapi kepergian dari dunia dan kedatangan akhirat, akan turun kepadanya malaikat-malaikat dari langit dengan wajah putih, seolah wajah mereka seperti matahari, membawa kafan dari kafan surga dan wewangian dari wewangian surga, hingga mereka duduk sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut ‘alaihissalam hingga duduk di dekat kepalanya, lalu berkata: ‘Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan dan keridhaan Allah.’ Maka ruhnya keluar mengalir seperti mengalirnya tetesan air dari mulut kantong air, lalu malaikat mengambilnya…”

وَالسَّابِحَاتِ سَبْحًا (3)

Kesesuaian ayat ini dengan ayat sebelumnya: Setelah menyebutkan dua jenis pencabutan – dengan keras dan dengan lembut – Allah menyebutkan juga tindakan malaikat di angkasa setelah bersiap untuk terbang, dalam kedatangan dan kepergian mereka, lalu berfirman: وَالسَّابِحَاتِ سَبْحًا (3).

Artinya: Dan Aku bersumpah dengan para malaikat yang berenang di angkasa langit dan cakrawala bumi dengan perintah Allah Ta’ala.

فَالسَّابِقَاتِ سَبْقًا (4)

Artinya: Maka (Aku bersumpah) dengan para malaikat yang bergegas melaksanakan perintah Allah Ta’ala tanpa penundaan dan kelambatan.

فَالْمُدَبِّرَاتِ أَمْرًا (5)

Artinya: Maka (Aku bersumpah) dengan para malaikat yang mengatur apa yang Allah tugaskan kepada mereka untuk diatur.

يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُ (6)

Artinya: Pada hari ketika bumi bergoncang dan bergetar.

تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ (7)

Artinya: Goncangan itu diikuti oleh goncangan lain yang datang setelahnya.

Dari Ubay bin Ka’b radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika lewat dua pertiga malam, beliau berdiri dan bersabda: ‘Wahai manusia! Ingatlah Allah, ingatlah Allah! Telah datang ar-Rajifah (tiupan pertama), mengikutinya ar-Radifah (tiupan kedua), telah datang kematian dengan segala (kengerian) yang dibawanya, telah datang kematian dengan segala (kengerian) yang dibawanya.'”

قُلُوبٌ يَوْمَئِذٍ وَاجِفَةٌ (8)

Artinya: Hati orang-orang kafir yang mendustakan pada hari itu sangat ketakutan, gelisah dan cemas karena dahsyatnya peristiwa.

أَبْصَارُهَا خَاشِعَةٌ (9)

Artinya: Pandangan orang-orang kafir itu hina dan tertunduk, hampir tidak dapat menatap dan melihat.

Sebagaimana Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Pandangan mereka tertunduk, diliputi kehinaan. Itulah hari yang diancamkan kepada mereka.” [Al-Ma’arij: 44].

يَقُولُونَ أَئِنَّا لَمَرْدُودُونَ فِي الْحَافِرَةِ (10)

Artinya: Orang-orang yang mendustakan kebangkitan berkata: “Apakah kami akan dikembalikan hidup setelah kematian kami, dan dibangkitkan dari kubur kami?”

أَئِذَا كُنَّا عِظَامًا نَخِرَةً (11)

Artinya: Bagaimana kami akan dibangkitkan hidup setelah kematian kami ketika kami sudah menjadi tulang-belulang yang lapuk dan hancur?!

Sebagaimana Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Dan mereka berkata: ‘Apakah bila kami telah menjadi tulang-belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?'” [Al-Isra’: 49].

قَالُوا تِلْكَ إِذًا كَرَّةٌ خَاسِرَةٌ (12)

Artinya: Orang-orang yang mendustakan itu berkata: “Jika terjadi kembali (yang mereka anggap sebagai) dongeng ke kehidupan setelah kematian, maka kami benar-benar orang-orang yang rugi.”

فَإِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ (13)

Artinya: Maka sesungguhnya itu hanyalah satu teriakan (tiupan sangkakala) dan satu tiupan yang ditiup dalam terompet tanpa pengulangan.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Maka sesungguhnya kebangkitan itu hanya dengan satu teriakan saja, maka tiba-tiba mereka melihat.” [Ash-Shaffat: 19].

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “…Manusia akan pingsan, kemudian Allah mengutus – atau beliau mengatakan: Allah menurunkan – hujan seperti embun atau bayangan, maka dari hujan itu tumbuhlah jasad-jasad manusia. Kemudian ditiup (sangkakala) sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri melihat. Kemudian dikatakan: ‘Wahai manusia, datanglah kepada Tuhan kalian.'”

فَإِذَا هُمْ بِالسَّاهِرَةِ (14)

Artinya: Maka tiba-tiba manusia bangkit dari kubur mereka dalam keadaan hidup di permukaan bumi tempat berkumpul (mahsyar).

 

 

Faidah-faidah Pendidikan:

Firman Allah Ta’ala: فَإِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ

(Maka sesungguhnya itu hanyalah satu teriakan saja) – Allah mengungkapkannya dengan kata “zajr” (teriakan/hardikan) yang lebih keras daripada larangan, karena digunakan untuk menunjukkan bahwa itu adalah teriakan yang tidak seorang pun dapat mengabaikannya untuk bangkit. Seolah-olah bahasa keadaan berkata tentang teriakan itu: “Wahai jasad-jasad yang telah lapuk, berhentilah dari tidurmu dan bangunlah untuk menghadapi hari yang dijanjikan, dengan apa yang telah Kami tetapkan tentang hari kebangkitan. Sungguh waktu panen telah berakhir dan telah tiba saatnya untuk memetik apa yang telah disiapkan sebagai bekal. Maka celakalah orang yang tidak memiliki bekal.”

  1. Firman Allah Ta’ala: وَالنَّازِعَاتِ غَرْقًا – Yang dimaksud dengan “An-Nazi’at” dan yang dirangkaikan dengannya adalah para malaikat. Mereka disebutkan dengan bentuk feminin meskipun mereka bukan wanita, karena Allah Ta’ala bersumpah dengan kelompok-kelompok mereka, dan kata kelompok (tha’ifah) dalam bahasa Arab adalah feminin.
  2. Sesungguhnya setiap gerakan di langit dan bumi, dari gerakan falak (orbit), bintang-bintang, matahari, bulan, angin, awan, tumbuhan, dan hewan: semuanya berasal dari para malaikat yang ditugaskan di langit dan bumi, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

فَالْمُدَبِّرَاتِ أَمْرًا

(Malaikat-malaikat yang mengatur urusan), dan berfirman:

فَالْمُقَسِّمَاتِ أَمْرًا

(Dan (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi urusan) [Adz-Dzariyat: 4].

  1. Allah ‘Azza wa Jalla telah menugaskan para malaikat untuk mengurus alam tinggi (langit) dan alam bawah (bumi); mereka mengatur urusan alam dengan izin-Nya, kehendak-Nya, dan perintah-Nya. Oleh karena itu, terkadang Allah menyandarkan pengaturan kepada para malaikat, karena merekalah yang langsung melaksanakan pengaturan, seperti dalam firman-Nya: فَالْمُدَبِّرَاتِ أَمْرًا (Malaikat-malaikat yang mengatur urusan), dan terkadang Allah menyandarkan pengaturan kepada diri-Nya sendiri, seperti dalam firman-Nya:

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ

(Sesungguhnya Tuhan kamu adalah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan) [Yunus: 3], dan firman-Nya:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ

(Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”) [Yunus: 31]. Jadi, Allah Subhanahu adalah Pengatur dengan perintah, izin, dan kehendak-Nya, sedangkan para malaikat adalah pengatur dengan pelaksanaan langsung dan ketaatan.

  1. Firman Allah Ta’ala: يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُ * تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ (Pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam, dan diikuti oleh tiupan kedua) – Ayat ini dijadikan dalil oleh mereka yang berpendapat bahwa jumlah tiupan sangkakala ada dua. Ini berdasarkan salah satu pendapat dalam tafsir.
  2. Allah Ta’ala berfirman: قُلُوبٌ يَوْمَئِذٍ وَاجِفَةٌ (Hati-hati pada waktu itu sangat takut) – Hati orang-orang kafir pada hari itu “wajifah” yaitu sangat ketakutan. Adapun kelompok kedua, hati-hati mereka berlawanan dengan hati-hati kelompok pertama. Pembagian ini ditunjukkan oleh penggunaan kata قُلُوبٌ (qulub/hati-hati) dalam bentuk nakirah (tanpa kata sandang), sehingga maknanya menjadi: “Dan ada hati-hati yang [kondisinya] berlawanan dengan itu.”
  3. Dalam firman Allah Ta’ala: فَإِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ * فَإِذَا هُمْ بِالسَّاهِرَةِ (Sesungguhnya hanya dengan satu teriakan saja, maka tiba-tiba mereka di permukaan [bumi]) – Ini menunjukkan bahwa Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung dengan kekuatan dan kuasa-Nya: membangkitkan manusia seperti [membangkitkan] satu jiwa. Allah Yang Maha Tinggi dan Agung memiliki kekuatan yang sempurna.

Keindahan Balaghah dalam Ayat-ayat:

  1. Firman Allah Ta’ala:

وَالنَّازِعَاتِ غَرْقًا * وَالنَّاشِطَاتِ نَشْطًا * وَالسَّابِحَاتِ سَبْحًا * فَالسَّابِقَاتِ سَبْقًا * فَالْمُدَبِّرَاتِ أَمْرًا

(Demi [malaikat-malaikat] yang mencabut dengan keras, dan [malaikat-malaikat] yang mencabut dengan lembut, dan [malaikat-malaikat] yang berenang dengan cepat, dan [malaikat-malaikat] yang mendahului dengan kencang, dan [malaikat-malaikat] yang mengatur urusan) –

Surat ini dimulai dengan sumpah dengan makhluk-makhluk yang memiliki sifat-sifat agung, sumpah yang dimaksudkan untuk menegaskan berita yang datang setelahnya. Dalam sumpah ini terdapat penekanan akan keagungan hal yang dijadikan objek sumpah.

  • Dalam sifat-sifat ini terdapat keumuman yang disengaja, agar pemahaman para pendengar dapat pergi ke segala kemungkinan makna, sehingga makna-makna tersebut banyak muncul dalam pikiran, dan nasihat serta pelajaran terulang berdasarkan pengaruh setiap makna dalam diri seseorang yang memiliki pengaruh paling kuat padanya. Ini merupakan contoh keberlimpahan makna dengan keringkasan kata.
  • Kata وَالنَّازِعَاتِ (wan-nazi’at) adalah sifat yang berasal dari kata النَّزْعِ (an-naz’/mencabut), dan makna pencabutan itu banyak, yang semuanya kembali kepada pengertian mengeluarkan dan menarik. Allah bersumpah dengan para malaikat karena mereka termasuk makhluk yang paling mulia, dan Allah mengkhususkan mereka dengan sifat ini yang merupakan salah satu tugas mereka sebagai pengingat bagi orang-orang musyrik; karena mereka dalam kelalaian tentang akhirat dan apa yang terjadi setelah kematian, dan karena mereka sangat terikat pada kehidupan dunia. Maka dalam sumpah dengan malaikat pencabut nyawa terdapat nasihat dan pelajaran bagi mereka. Sumpah dengan cara ini sesuai dengan tujuan utama surat, yaitu membuktikan kebangkitan; karena kematian adalah tahap pertama dari akhirat, dan ini termasuk keindahan pembukaan.
  • Tentang “wan-naasyithaati nasytha” (demi (malaikat-malaikat) yang mencabut dengan keras): Penggunaan kata ini merupakan bentuk ‘athaf (sambungan) kepada “an-naazi’aat” – yaitu menghubungkan satu jenis dengan jenis lain, atau satu golongan dengan golongan lain.
  • Kata “sabhan” adalah masdar (kata dasar) yang berfungsi sebagai penguat untuk menyatakan kepastian, dengan penggunaan tanwin (bunyi n di akhir) untuk menunjukkan keagungan.
  • “As-saabiqaat” dikuatkan dengan masdar yang memiliki makna serupa (yaitu “sabqan”) untuk penekanan. Penggunaan bentuk nakirah (tidak tentu) menunjukkan betapa agungnya keutamaan itu.
  • Tentang “fal-mudabbiraati amra” (dan demi (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan): At-Tadbir adalah pemikiran mendalam tentang akibat-akibat suatu perkara dan menjalankan urusan sesuai dengan tujuannya. Jika yang dimaksud dengan “as-saabihaat” adalah kelompok-kelompok malaikat, maka arti “mengatur urusan” adalah melaksanakan tugas yang dibebankan kepada mereka dengan sebaik-baiknya sesuai izin yang diberikan. Hal ini diungkapkan sebagai “mengatur urusan” karena menyerupai tindakan seorang pengatur yang teliti.
  • Huruf “fa'” dalam “fas-saabiqaati sabqan * fal-mudabbiraati amra” menunjukkan urutan tanpa jeda.
  • Tentang kata “amra” (urusan): Amr berarti urusan atau tujuan penting. Penggunaan tanwin dan bentuk nakirah menunjukkan kebesaran, kehebatan dan keagungan. Penggunaan bentuk tunggal “amr” dimaksudkan untuk mencakup seluruh jenis, yaitu berbagai urusan.
  • Adanya penggabungan meskipun semuanya sama, dianggap seperti perbedaan yang hakiki, menunjukkan bahwa setiap sifat yang disebutkan termasuk perkara-perkara agung yang layak menjadi alasan mengapa yang disifati itu berhak diagungkan dengan bersumpah dengannya, tanpa perlu menggabungkan dengan sifat-sifat lainnya.
  1. Tentang ayat:

يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُ * تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ * قُلُوبٌ يَوْمَئِذٍ وَاجِفَةٌ * أَبْصَارُهَا خَاشِعَةٌ

(Pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam * (Tiupan pertama) itu diiringi oleh tiupan kedua * Hati-hati pada waktu itu sangat takut * Pandangannya tunduk):

Ada pendapat bahwa ini adalah jawaban dari sumpah sebelumnya. Yang dimaksud dengan “hari ketika tiupan pertama menggoncangkan” adalah hari kiamat, karena hari tersebut telah dikenal dengan kondisi-kondisi seperti ini dalam banyak ayat yang telah diturunkan sebelumnya, seperti firman-Nya: “Apabila bumi digoncangkan” (Al-Waqi’ah: 4). Jawaban ini mengandung kehebatan hari kebangkitan dan menegaskan kepastian terjadinya, sehingga menghasilkan keringkasan ungkapan yang menggabungkan antara peringatan akan terjadinya dan ancaman tentang apa yang akan terjadi di dalamnya.

Ada juga pendapat bahwa jawaban sumpah tidak disebutkan (dihilangkan), dengan mengandalkan petunjuk dari apa yang disebutkan sebelumnya dalam sumpah itu sendiri, dan dari kondisi-kondisi kiamat yang disebutkan sesudahnya. Jawaban yang dimaksud adalah “(sungguh kamu akan dibangkitkan)”. Bersumpah dengan pihak yang menangani pencabutan ruh dan mengatur urusannya mengisyaratkan bahwa apa yang disumpahi pasti termasuk dalam urusan-urusan tersebut. Ini mengandung kekuatan ungkapan yang jelas.

  • Kata “yauma tarjufu” dijadikan keterangan waktu untuk jawaban sumpah yang tersembunyi yaitu “sungguh kamu akan dibangkitkan”, meskipun mereka tidak dibangkitkan saat tiupan pertama. Maksudnya adalah: sungguh kamu akan dibangkitkan pada waktu yang luas di mana terjadi dua tiupan, dan mereka akan dibangkitkan pada sebagian waktu yang luas itu, yaitu saat tiupan yang kedua. Hal ini ditunjukkan dengan ungkapan “tatba’uha ar-raadifah” yang dijadikan keterangan keadaan dari “ar-raajifah”.

Boleh juga kata “yauma tarjufu” dinashabkan (dibaca dengan akhiran fathah) oleh apa yang ditunjukkan oleh “quluubun yaumaizin waajifah”, artinya “pada hari ketika terjadi goncangan, hati-hati menjadi sangat takut”.

Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa “yauma tarjufu” (pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan) dinashabkan (diberi baris fathah) oleh kata kerja yang diperkirakan “uzkur” (ingatlah), sehingga kalimat ini menjadi kalimat permulaan baru yang menegaskan makna jawaban sumpah yang tersembunyi. Seakan-akan dikatakan kepada Rasulullah: “Ingatkanlah kepada mereka tentang hari dua tiupan (sangkakala), karena itulah waktu kebangkitan mereka.”

Ada juga pendapat bahwa kata “yauma tarjufu ar-raajifah” adalah keterangan waktu yang berkaitan dengan kata “waajifah” (sangat takut). Ini berarti bahwa apa yang ingin ditegaskan oleh sumpah adalah terjadinya kebangkitan dengan gaya bahasa yang lebih mengena di hati para pendengar yang mengingkarinya, dibandingkan dengan gaya penegasan langsung. Hal ini karena jawaban sumpah ditunjukkan melalui sebagian kondisi yang mengerikan, sehingga pada jawaban sumpah terdapat peringatan. Keterangan waktu didahulukan dari kata yang terkait dengannya “waajifah” karena keterangan waktu tersebut lebih penting dalam jawaban sumpah, sebab tujuannya adalah menegaskan terjadinya hari itu. Pendahuluan keterangan waktu ini menunjukkan perhatian dan kepentingannya. Ketika kalimat dikuatkan dengan sumpah, penguatan tersebut mencakup semua unsur berita termasuk keterangan waktu itu. Kemudian keterangan waktu tersebut diperkuat lagi dengan kata “yaumaizin” (pada hari itu) yang merujuk pada “yauma tarjufu ar-raajifah”, sehingga menghasilkan perhatian yang sangat besar terhadap berita ini.

“Ar-rajf” artinya goncangan dan getaran. Yang dimaksud dengan “ar-raajifah” adalah teriakan dan gempa yang menyebabkan bumi bergoncang, yang dijadikan sebagai subjek goncangan itu sendiri untuk penekanan. Ini sesuai dengan firman-Nya: “tatba’uha ar-raadifah” (tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua), artinya: yang menyebabkan goncangan itu diikuti oleh tiupan berikutnya, yaitu yang terjadi setelahnya. Boleh juga kata “ar-rajf” digunakan untuk mengungkapkan kuatnya suara, sehingga suara yang dahsyat diumpamakan dengan goncangan dan gempa.

Ungkapan “tatba’uha ar-raadifah” berarti: kejadian yang mengikuti yang pertama, yaitu tiupan sangkakala kedua, yang mengikutinya dan bukan sebelumnya. Penggambaran rentang waktunya, meskipun kebangkitan hanya terjadi pada tiupan kedua, adalah untuk menunjukkan kehebatan hari itu dengan menjelaskan bahwa hari tersebut menjadi tempat dua bencana besar: pada tiupan pertama tidak ada yang hidup kecuali mati, dan pada tiupan kedua tidak ada yang tidak dibangkitkan. Alasan penyebutan tiupan kedua sebagai pengikut tiupan pertama sudah jelas.

Penggunaan bentuk nakirah (tidak tentu) pada kata “quluub” (hati-hati) berfungsi sebagai pengganti sifat khusus, baik dalam arti penjenisan (meskipun jenis yang berlawanan tidak disebutkan) karena maknanya mencakup jenis itu, maupun dalam arti penggandaan, karena penekanan bisa terjadi dalam kualitas maupun kuantitas. Seakan-akan dikatakan: banyak hati pada saat terjadinya dua tiupan sangat takut.

Penisbatan “pandangan” kepada “hati”, meskipun biasanya pandangan tidak dinisbatkan kepada hati, terjadi karena ada mudhaf (kata yang disandarkan) yang dihilangkan, yaitu “pandangan pemiliknya”, karena pandangan dimiliki oleh pemilik hati, dan keduanya merupakan organ tubuh.

  1. Tentang ayat:

يَقُولُونَ أَئِنَّا لَمَرْدُودُونَ فِي الْحَافِرَةِ * أَئِذَا كُنَّا عِظَامًا نَخِرَةً * قَالُوا تِلْكَ إِذًا كَرَّةٌ خَاسِرَةٌ

“Mereka berkata: ‘Apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dikembalikan kepada kehidupan semula?’ * ‘Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kami telah menjadi tulang belulang yang hancur?’ * Mereka berkata: ‘Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan.'”

Firman Allah: “Yaquuluuna a’innaa lamarduuduuna fil haafirah * a’izaa kunnaa ‘izhaaman nakhirah” (Mereka berkata: ‘Apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dikembalikan kepada kehidupan semula?’ * ‘Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kami telah menjadi tulang belulang yang hancur?’) merupakan kalimat baru yang dimulai setelah kalimat sumpah dan jawabannya.

Ini bisa merupakan permulaan baru (isti’naf ibtida’i) untuk menerangkan bahwa mereka inilah yang akan menjadi pemilik hati-hati yang takut dan pandangan-pandangan yang tunduk pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan.

Atau bisa juga merupakan kalimat penjelas (isti’naf bayani), karena sumpah dan ancaman yang disebutkan sebelumnya menimbulkan pertanyaan dalam diri pendengar tentang alasan sumpah tersebut. Maka dijawablah dengan kalimat “Yaquuluuna a’innaa lamarduuduuna fil haafirah” – yaitu mereka mengingkari kebangkitan. Oleh karena itu, dalam mengisahkan perkataan ini digunakan gaya bahasa orang ketiga, seperti berbicara tentang orang yang tidak hadir.

Firman-Nya: “Yaquuluuna a’innaa lamarduuduuna fil haafirah” adalah pengisahan ucapan orang-orang yang mengingkari kebangkitan dan mendustakan ayat-ayat yang berbicara tentangnya, setelah dijelaskan terjadinya kebangkitan dengan cara sumpah yang menegaskan, dan setelah menyebutkan kejadian-kejadian dahsyat yang mendahuluinya, serta apa yang terjadi pada hati dan pandangan ketika peristiwa-peristiwa itu terjadi. Artinya: mereka berkata ketika dikatakan kepada mereka, “Sesungguhnya kalian akan dibangkitkan,” dengan nada mengingkari dan heran: “Apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dikembalikan setelah kematian kami kepada kehidupan semula?!” Maksudnya: kepada keadaan pertama, yaitu kehidupan.

Kata ganti pada “yaquuluuna” (mereka berkata) kembali kepada orang-orang yang dipahami dari konteks, yaitu mereka yang terkenal dengan perkataan ini, dan tidak tersembunyi bagi orang yang mengetahui keadaan dan pembicaraan mereka, yakni orang-orang musyrik yang mendustakan kebangkitan. Pembicaraan ini ditujukan kepada siapa saja yang dapat mendengarnya, baik dari kalangan muslim maupun lainnya. Boleh juga pembicaraan ini ditujukan kepada para pengingkar kebangkitan dengan cara iltifat (peralihan bentuk pembicaraan).

Perkataan mereka dikisahkan dengan bentuk kata kerja mudhari’ (masa kini/akan datang) “yaquuluuna” untuk menunjukkan bahwa mereka terus-menerus mengucapkannya dan perkataan itu selalu diperbaharui di antara mereka tanpa henti, serta untuk memberikan kesan adanya penggambaran keadaan mereka yang berulang-ulang mengucapkan perkataan ini. Hal ini menjadi kiasan tentang keanehan perkataan mereka, dan pendengar telah mengetahui bahwa mereka tidak akan mengulang-ulang perkataan ini kecuali mereka telah mengucapkannya di masa lalu.

Huruf hamzah dalam “a’innaa lamarduuduuna fil haafirah” adalah untuk pertanyaan yang bersifat pengingkaran, karena mereka mengingkari dan menolak pengembalian (kebangkitan).

Kebiasaan mereka adalah mengucapkan perkataan yang mengingkari kebangkitan dengan gaya bahasa pertanyaan, untuk menampakkan diri mereka dalam sosok orang yang ragu-ragu dan bertanya, dengan maksud mengejek dan heran terhadap hal yang ditanyakan. Tujuan sebenarnya adalah pendustaan, karena mereka meyakini bahwa dalil tentang kemustahilan kebangkitan sudah kuat. Pertanyaan yang menunjukkan keheranan ini dimasukkan pada kalimat ismiyyah (kalimat nominal) yang diperkuat dengan “inna” dan lam ibtida’, tiga penguat yang menguatkan berita. Ini menunjukkan bahwa mereka mengemukakan ungkapan yang menunjukkan keheranan terhadap berita tersebut dan terhadap kuatnya keyakinan kaum muslimin akan hal itu. Mereka heran terhadap pembenaran berita ini, apalagi pembuktian dan keyakinan terhadapnya.

Orang Arab mengatakan: “Raja’a ila al-hafirah” (kembali ke tempat awal), sebagai perumpamaan bagi orang yang berada dalam suatu keadaan, lalu ia meninggalkannya kemudian kembali kepadanya. Maka ungkapan “raja’a fi al-hafirah” (kembali ke keadaan semula) dan “rudda ila al-hafirah” (dikembalikan ke keadaan semula) menjadi seperti peribahasa.

Perkataan mereka: “A’izaa kunnaa ‘izhaaman nakhirah” (Apakah [akan dibangkitkan juga] apabila kami telah menjadi tulang belulang yang hancur?) adalah pertanyaan yang bersifat pengingkaran yang memperkuat pertanyaan pertama. Ini menunjukkan bahwa keadaan ini layak untuk lebih meningkatkan pengingkaran terhadap pengembalian kepada kehidupan setelah kematian. Jadi, ada dua pengingkaran untuk menunjukkan kuatnya klaim kemustahilan.

Kata keterangan “izaa” (apabila) adalah fokus keheranan dan klaim kemustahilan, artinya: apabila kami telah menjadi tulang belulang yang lapuk, bagaimana mungkin kami kembali hidup?!

Firman Allah: “Qaaluu tilka izan karratun khaasirah” (Mereka berkata: “Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan”) merupakan badal isytimal (pengganti yang menerangkan cakupan) dari kalimat “Yaquuluuna a’innaa lamarduuduuna fil haafirah”. Kata kerja “qaaluu” diulangi untuk beberapa tujuan, di antaranya: menunjukkan bahwa perkataan mereka ini memiliki maksud lain yang berbeda dari perkataan pertama. Maksud perkataan pertama adalah pengingkaran dan pembatalan, sedangkan maksud perkataan kedua adalah ejekan, karena mereka tidak percaya pada kebangkitan itu. Penggambaran mereka tentang kebangkitan sebagai “kerugian” adalah bentuk pengandaian, artinya: jika terjadi kebangkitan, itu akan menjadi kerugian, dan kami akan menjadi orang-orang yang rugi karena mendustakannya. Tujuan lainnya adalah untuk menghindari anggapan bahwa kalimat “tilka izan karratun khaasirah” adalah kalimat baru dari Allah Ta’ala.

Ada juga pendapat bahwa ungkapan “Qaaluu tilka izan karratun khaasirah” adalah kalimat baru yang bertujuan mengisahkan kekufuran lain yang bercabang dari kekufuran mereka sebelumnya.

Perkataan mereka ini diungkapkan dengan bentuk kata kerja lampau (qaaluu) bukan dengan bentuk masa kini/akan datang (yaquuluuna), berbeda dengan “Yaquuluuna a’innaa lamarduuduuna fil haafirah”, karena perkataan ini mereka ucapkan sebagai ejekan, sehingga bukan sesuatu yang mereka ulangi. Berbeda dengan perkataan mereka: “A’innaa lamarduuduuna fil haafirah”, yang menurut anggapan mereka adalah bukti yang kuat, sehingga ini adalah sesuatu yang sering mereka ulangi dalam setiap kesempatan. Dengan demikian, maksudnya bukan untuk menunjukkan keheranan terhadap perkataan mereka ini, karena keheranan menuntut pengingkaran, sedangkan kenyataan bahwa kebangkitan mereka – yaitu kembalinya mereka kepada kehidupan – adalah kembali yang merugi adalah perkara yang pasti dan tidak diingkari, karena mereka pasti akan kembali kepada kehidupan dalam keadaan rugi. Maka mungkin penggunaan kata “qaaluu” di antara kedua perkataan tersebut adalah untuk menunjukkan bahwa keluarnya kekufuran ini dari mereka bukan dengan cara yang teratur dan terus-menerus seperti kekufuran mereka sebelumnya yang terus keluar dari mereka di semua waktu, sebagaimana ditunjukkan oleh pengisahan dengan bentuk kata kerja masa kini/akan datang.

Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa digunakan bentuk kata kerja lampau (qaaluu) karena mereka hanya pernah mengucapkan perkataan ini sekali dalam masa hidup mereka. Sedangkan kebanyakan ucapan mereka adalah klaim bahwa jika terjadi kebangkitan, mereka akan lebih bahagia daripada orang-orang beriman, berdasarkan perbandingan dengan keadaan mereka di dunia, dan berbagai kebohongan serupa terhadap Allah.

Kata “tilka” (itu) adalah isyarat kepada pengembalian yang dipahami dari kata “marduuduuna” (dikembalikan). Penggunaan kata tunjuk untuk feminin ini karena akan dikabarkan dengan kata “karratun” (pengembalian) yang berjenis feminin. Kata “izan” (kalau demikian) adalah huruf jawab dan balasan untuk ucapan sebelumnya, tidak memiliki pengaruh gramatikal, digunakan untuk menegaskan pengembalian yang merugi. Perkiraan susunannya adalah: “izan tilka karratun khaasirah” (kalau demikian, itu adalah pengembalian yang merugi), namun kata “tilka” didahulukan dari huruf jawab untuk memberikan perhatian pada isyarat.

Penyifatan “karrah” (pengembalian) dengan “khaasirah” (merugi) mengandung penekanan berlebih, karena yang sebenarnya rugi adalah para pelakunya. Maknanya: kami kalau begitu akan menjadi orang-orang yang rugi karena pendustaan kami, dan telah terbukti benarnya apa yang telah diperingatkan kepada kami tentang pengembalian itu.

  1. Tentang ayat:

فَإِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ * فَإِذَا هُمْ بِالسَّاهِرَةِ

“Sesungguhnya pengembalian kehidupan itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja * Maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi”

Huruf “fa” (maka) dalam firman-Nya: “Fa’innamaa hiya zajratun waahidah” (Sesungguhnya pengembalian kehidupan itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja) adalah fa fasihah (huruf fa yang mengungkapkan kalimat yang dihilangkan) sebagai cabang dari apa yang ditunjukkan oleh perkataan mereka: “A’inna lamarduuduna fil hafirah * A’iza kunna ‘izhaman nakhirah” (Apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dikembalikan kepada kehidupan semula? * Apakah [akan dibangkitkan juga] apabila kami telah menjadi tulang belulang yang hancur?) yang berisi anggapan mustahil mereka tentang kehidupan setelah kehancuran dan ketiadaan.

Perkiraan kalimatnya adalah: “Tidak perlu heran akan hal itu; karena pengembalian kehidupan itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja, maka tiba-tiba kalian hadir di tempat pengumpulan.” Ini merupakan penjelasan alasan untuk perkiraan yang dituntut oleh pengingkaran mereka terhadap menghidupkan tulang belulang yang lapuk, yang mereka sebut sebagai kembali yang merugi. Karena dasar pengingkaran mereka adalah anggapan sulit, maka dibantahlah anggapan itu dengan mengatakan: Janganlah kalian menganggapnya sulit, karena itu hanyalah satu teriakan saja.

Ungkapan “zajratun waahidah” (satu kali tiupan) adalah tiupan sangkakala kedua, yang diungkapkan demikian untuk menunjukkan sempurnanya hubungan antara keduanya, seolah-olah adalah satu hal yang sama.

Dalam firman-Nya: “Fa’innamaa hiya zajratun waahidah” terdapat pembatasan yang hakiki (qashr haqiqi) yang bertujuan untuk menegaskan berita dengan menempatkan pendengar dalam posisi orang yang meyakini bahwa satu kali tiupan tidak cukup untuk menghidupkan mereka.

Kata “zajrah” (tiupan) disifati dengan “waahidah” (satu) sebagai penekanan terhadap makna tunggal yang sudah terkandung dalam bentuk kata yang menunjukkan sekali kejadian, agar tidak diduga bahwa bentuk tunggalnya dimaksudkan untuk menunjukkan jenis. Yang dimaksud dengan keberadaannya sebagai “satu” adalah bahwa tiupan itu tidak diikuti oleh tiupan kedua, dan telah disifati dengan “satu” dalam Surah Al-Haqqah dengan pertimbangan ini.

Firman-Nya: “Fa’izaa hum bis-saahirah” (Maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi) menjelaskan terjadinya pengembalian setelah tiupan dengan tiba-tiba. Artinya: maka tiba-tiba mereka hidup di permukaan bumi setelah sebelumnya mati di dalamnya. Atau penjelasan kehadiran mereka di tempat berkumpul segera setelah pengembalian kehidupan yang diungkapkan dengan tiupan.

Huruf “fa” pada “Fa’izaa hum bis-saahirah” adalah fa fasihah sebagai cabang dari kalimat “Fa’innamaa hiya zajratun waahidah”, dan “iza” menunjukkan kejadian tiba-tiba. Penggunaan kata ini menunjukkan cepatnya kehadiran mereka di tempat ini segera setelah kebangkitan, yaitu terjadi tanpa penundaan. Ini menegaskan makna cabang yang ditunjukkan oleh huruf “fa”, yang menandakan tidak adanya jeda antara tiupan dan keberadaan di permukaan bumi. Kombinasi antara kejadian tiba-tiba dan percabangan adalah ungkapan terkuat untuk menggambarkan kecepatan dengan keringkasan lafaz.

۞ ۞ ۞ ۞ ۞

Ayat: 16-26

﴿هَلْ اَتٰىكَ حَدِيْثُ مُوْسٰىۘ ١٥ اِذْ نَادٰىهُ رَبُّهٗ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًىۚ ١٦ اِذْهَبْ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰىۖ ١٧ فَقُلْ هَلْ لَّكَ اِلٰٓى اَنْ تَزَكّٰىۙ ١٨ وَاَهْدِيَكَ اِلٰى رَبِّكَ فَتَخْشٰىۚ ١٩ فَاَرٰىهُ الْاٰيَةَ الْكُبْرٰىۖ ٢٠ فَكَذَّبَ وَعَصٰىۖ ٢١ ثُمَّ اَدْبَرَ يَسْعٰىۖ ٢٢ فَحَشَرَ فَنَادٰىۖ ٢٣ فَقَالَ اَنَا۠ رَبُّكُمُ الْاَعْلٰىۖ ٢٤ فَاَخَذَهُ اللّٰهُ نَكَالَ الْاٰخِرَةِ وَالْاُوْلٰىۗ ٢٥ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّمَنْ يَّخْشٰى ۗ ࣖ ٢٦ ﴾

Kata-kata Asing:

  • الْمُقَدَّسِ: Yang disucikan/diberkati, akar kata (قدس) menunjukkan kesucian.
  • طَغَى: Melampaui batas, melewati batasnya dalam permusuhan dan kesombongan terhadap Tuhannya. Asal dari kata “melampaui batas” adalah melewati batas dalam pembangkangan.
  • تَزَكَّى: Menyucikan diri dari kemusyrikan. Akar kata (زكى) menunjukkan pertumbuhan dan kesucian.
  • أَدْبَرَ: Berpaling menjauhi. Akar kata (دبر) merujuk pada bagian belakang atau akhir dari sesuatu.
  • فَحَشَرَ: Mengumpulkan kaumnya dan pasukannya. Akar kata (حشر) menunjukkan pengumpulan disertai dengan penggiringan.
  • نَكَالَ: Hukuman dan pelajaran. Dikatakan: “Saya menghukum seseorang” jika Anda menghukumnya atas sesuatu yang dia lakukan dengan hukuman yang mencegah orang lain melakukan hal serupa. Akar kata (نكل) menunjukkan pencegahan.
  • لَعِبْرَةً: Pelajaran, peringatan, dan pemikiran. “Ibrah” adalah petunjuk dari sesuatu terhadap sesuatu yang serupa. Hakikatnya adalah keadaan yang menghubungkan dari pengetahuan yang terlihat ke yang tidak terlihat. Akar kata (عبر) menunjukkan penetrasi dan penerusan dalam sesuatu.

Penjelasan Tata Bahasa:

  1. Firman Allah: “فَقُلْ هَلْ لَكَ إِلَى أَنْ تَزَكَّى” (Maka katakanlah: “Maukah engkau menyucikan diri?”)
    • لَكَ: Semi-kalimat yang terkait dengan kata yang dihilangkan yang merupakan predikat dari subjek yang dihilangkan.
    • إِلَى أَنْ تَزَكَّى: Terkait dengan subjek yang dihilangkan tersebut.
    • Perkiraan lengkapnya: “Apakah kamu memiliki jalan atau keinginan untuk menyucikan diri?”
  2. Firman Allah: “فَأَخَذَهُ اللَّهُ نَكَالَ الْآَخِرَةِ وَالْأُولَى” (Lalu Allah menghukumnya dengan azab di akhirat dan di dunia)
    • نَكَالَ: Pengganti untuk masdar (kata benda verbal), dibaca nashab sebagai objek mutlak karena memenuhi “أَخَذَ” dalam makna; karena “menghukumnya” dan “memberi pelajaran padanya” di sini memiliki makna yang sama.
    • Artinya: “Allah menghukum dengan hukuman dunia dan akhirat” atau “Allah menghukumnya dengan hukuman yang memberi pelajaran”.
    • Bisa juga berfungsi sebagai objek tujuan, yaitu: karena tujuan hukumannya.

Makna Keseluruhan:

Allah Ta’ala menceritakan sebagian dari kisah Nabi Musa (alaihissalam) dengan Fir’aun, sebagai penghibur bagi Nabi-Nya (shallallahu alaihi wa sallam). Allah berfirman: “Apakah telah sampai kepadamu -wahai Muhammad- berita tentang Musa (alaihissalam) ketika Tuhannya memanggilnya di lembah yang diberkati bernama Thuwa?”

Allah berfirman kepadanya: “Pergilah kepada Fir’aun; karena dia telah melampaui batas dalam kesombongan dan pembangkangannya. Katakanlah kepadanya: ‘Maukah engkau menyucikan dirimu dari kotoran kekufuran dan kemaksiatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu kepada Pencipta dan Pemberi rezekimu; sehingga engkau takut akan murka dan azab-Nya?'”

Maka Musa memperlihatkan kepada Fir’aun mukjizat besar yang menunjukkan kejujurannya, tetapi Fir’aun mendustakan kebenaran dan membangkang. Kemudian dia berpaling dan berusaha untuk menghalangi orang-orang dari mengikuti Musa (alaihissalam). Fir’aun mengumpulkan kaumnya dan para pengikutnya dan berkata kepada mereka: “Akulah Tuhanmu yang paling tinggi!”

Maka Allah Ta’ala menghukumnya dengan hukuman akhirat berupa neraka, dan hukuman dunia berupa penenggelaman. Sesungguhnya dalam hukuman tersebut bagi Fir’aun terdapat pelajaran bagi orang yang takut kepada Allah Ta’ala dan azab-Nya.

Tafsir Ayat-ayat:

هَلْ أتَاكَ حَدِيثُ مُوسَى (15)

Keterkaitan Ayat dengan Ayat Sebelumnya:

Keterkaitan antara kisah ini dengan ayat sebelumnya memiliki dua aspek:

Aspek Pertama: Allah Ta’ala menceritakan tentang kaum kafir yang bersikeras mengingkari kebangkitan, sampai-sampai mereka mengejek dengan perkataan mereka: “Kalau demikian, itu adalah kepulangan yang merugikan” [An-Nazi’at: 12]. Hal ini memberatkan Nabi Muhammad ﷺ, maka Allah menceritakan kisah Musa alaihissalam dan menjelaskan bahwa beliau telah menanggung kesulitan yang besar dalam mendakwahi Fir’aun; agar menjadi penghibur bagi Rasulullah ﷺ.

Aspek Kedua: Bahwa Fir’aun lebih kuat daripada kaum kafir Quraisy, lebih banyak pasukannya, dan lebih besar kekuasaannya. Ketika dia memberontak terhadap Musa alaihissalam, Allah menghukumnya dengan azab dunia dan akhirat. Demikian pula orang-orang musyrik yang memberontak terhadapmu (Muhammad), jika mereka terus bersikeras, Allah akan menghukum mereka dan menjadikan mereka pelajaran.

هَلْ أتَاكَ حَدِيثُ مُوسَى (15)

Artinya: “Apakah telah sampai kepadamu -wahai Muhammad- berita tentang Musa (alaihissalam) dan apa yang terjadi dengan urusannya?”

إِذْ نَادَاهُ رَبُّهُ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى (16)

Artinya: “Ketika Tuhannya memanggilnya di lembah yang diberkati dan disucikan bernama Thuwa.”

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami memanggilnya dari sisi kanan gunung Thur dan Kami dekatkan dia untuk bermunajat” [Maryam: 52].

Dan Allah Subhanahu berfirman: “Maka ketika dia sampai di sana, dia dipanggil, ‘Wahai Musa! Sungguh, Aku adalah Tuhanmu, maka lepaskanlah kedua terompahmu. Sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci, Thuwa'” [Thaha: 11-12].

Dan Allah Azza wa Jalla berfirman: “Maka ketika dia sampai di sana, dia dipanggil dari sebelah kanan lembah, pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon, ‘Wahai Musa! Sungguh, Aku adalah Allah, Tuhan seluruh alam'” [Al-Qashash: 30].

اذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (17)

Artinya: “Allah berfirman kepada Musa: Pergilah kepada Fir’aun raja Mesir; karena dia telah melampaui batas dalam kesombongan, permusuhan dan pembangkangan.”

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Pergilah engkau beserta saudaramu dengan membawa tanda-tanda (kekuasaan)-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai mengingat-Ku; Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut” [Thaha: 42-44].

Dan Allah Subhanahu berfirman: “Sungguh, Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil), menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sungguh, dia (Fir’aun) termasuk orang yang berbuat kerusakan” [Al-Qashash: 4].

فَقُلْ هَلْ لَكَ إِلَى أَنْ تَزَكَّى (18)

Artinya: “Maka katakanlah kepadanya: ‘Maukah engkau menyucikan dirimu dari kotoran kekufuran dan kemaksiatan?'”

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, dan telah mengerjakan kebajikan, maka mereka itulah orang yang memperoleh derajat yang tinggi (mulia), (yaitu) surga-surga ‘Adn, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah balasan bagi orang yang menyucikan diri” [Thaha: 75-76].

Dan Allah Subhanahu berfirman: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman), dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia shalat” [Al-A’la: 14-15].

وَأَهْدِيَكَ إِلَى رَبِّكَ فَتَخْشَى (19)

Artinya: “Katakanlah kepadanya: ‘Dan maukah engkau agar aku membimbing dan menunjukkanmu kepada Pencipta dan Pemberi rezekimu; sehingga engkau takut akan murka dan azab-Nya, dengan mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya?'”

فَأَرَاهُ الْآَيَةَ الْكُبْرَى (20)

Artinya: “Maka Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar yang menunjukkan kejujurannya.”

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dia (Fir’aun) berkata, ‘Jika engkau benar-benar mendatangkan suatu bukti, maka tunjukkanlah, jika engkau termasuk orang yang benar.’ Lalu (Musa) melemparkan tongkatnya, tiba-tiba tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya. Dan dia mengeluarkan tangannya, tiba-tiba tangan itu menjadi putih (bersinar) bagi orang-orang yang melihatnya'” [Al-A’raf: 106-108].

فَكَذَّبَ وَعَصَى (21)

Artinya: “Tetapi Fir’aun mendustakan kebenaran yang dibawa oleh Musa, dan membangkang terhadap apa yang diperintahkan kepadanya untuk taat kepada Tuhannya.”

ثُمَّ أَدْبَرَ يَسْعَى (22)

Artinya: “Kemudian Fir’aun berpaling dan bersungguh-sungguh dalam memerangi Musa, dan menghalangi orang-orang untuk mengikutinya.”

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Maka Fir’aun meninggalkan (Musa), lalu mengatur tipu dayanya, kemudian dia datang kembali” [Thaha: 60].

Dan Allah Subhanahu berfirman: “Dia (Fir’aun) berkata kepada para pemuka di sekelilingnya, ‘Sesungguhnya dia (Musa) ini pasti seorang pesihir yang pandai, yang hendak mengusirmu dari negerimu dengan sihirnya; maka apa saran kamu?’ Mereka menjawab, ‘Tahanlah dia dan saudaranya, dan utuslah ke kota-kota beberapa orang yang akan mengumpulkan (para pesihir), yang akan membawa kepadamu semua pesihir yang pandai'” [Asy-Syu’ara: 34-37].

فَحَشَرَ فَنَادَى (23)

Artinya: “Kemudian Fir’aun mengumpulkan kaumnya dan para pengikutnya, dan berbicara kepada mereka dengan suara yang keras.”

فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى (24)

Artinya: “Fir’aun berkata: ‘Akulah tuhanmu yang paling tinggi, tidak ada seorangpun di atasku, dan setiap tuhan berada di bawahku!'”

فَأَخَذَهُ اللَّهُ نَكَالَ الْآَخِرَةِ وَالْأُولَى (25)

Keterkaitan Ayat dengan Ayat Sebelumnya: Bahwa Allah Ta’ala setelah menceritakan perbuatan dan perkataan Fir’aun, Dia melanjutkan dengan bagaimana Allah memperlakukannya.

Artinya: “Maka Allah Ta’ala menghukumnya dengan hukuman akhirat berupa neraka, dan hukuman dunia berupa penenggelaman.”

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Maka Kami membinasakan mereka, lalu Kami tenggelamkan mereka di laut” [Al-A’raf: 136].

Dan Allah Subhanahu berfirman: “Dan dia (Fir’aun) dan bala tentaranya berlaku sombong di bumi tanpa alasan yang benar dan mengira bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami. Maka Kami siksa dia (Fir’aun) dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang zalim” [Al-Qashash: 39-40].

Dan Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:

“Dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang buruk, (yaitu) neraka, mereka dihadapkan padanya (neraka itu) pagi dan petang. Dan pada hari terjadinya Kiamat, (akan dikatakan), ‘Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras!'” [Ghafir: 45-46].

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لِمَنْ يَخْشَى (26)

Artinya: “Sesungguhnya dalam hukuman terhadap Fir’aun itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut kepada Allah Ta’ala dan azab-Nya.”

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan begitulah siksa Tuhanmu apabila Dia menyiksa (penduduk) negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh, siksa-Nya sangat pedih, sangat berat. Sesungguhnya pada yang demikian itu pasti terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat” [Hud: 102-103].

Faedah-Faedah Pendidikan:

  1. Berbicara kepada para pemimpin dengan perkataan yang lembut adalah suatu hal yang dituntut secara syariat, akal, dan kebiasaan; oleh karena itu Anda mendapati manusia seolah-olah diciptakan untuk itu. Begitu pula Nabi ﷺ berbicara kepada para pemimpin kabilah dan suku. Renungkanlah kepatuhan Musa alaihissalam terhadap perintah yang diberikan kepadanya, di mana Allah Subhanahu memerintahkannya untuk berbicara kepada Fir’aun dengan ucapan yang paling lembut. Allah berfirman kepada Musa: “Maka katakanlah: ‘Maukah engkau menyucikan diri? Dan aku akan menunjukkanmu kepada Tuhanmu agar engkau takut.'”

Dalam ucapan ini terdapat kelembutan dan kehalusan dari beberapa segi:

    • Pertama: Menyampaikan perkataan dalam bentuk penawaran, bukan dalam bentuk perintah dan paksaan, yang mana ini lebih lembut. Serupa dengan perkataan Ibrahim alaihissalam kepada para tamunya yang mulia: “Mengapa kamu tidak makan?” [Adz-Dzariyat: 27], dan tidak mengatakan: “Makanlah.”
    • Kedua: Firman-Nya: “Maukah engkau menyucikan diri?” At-Tazakki berarti: pertumbuhan, kesucian, keberkahan, dan pertambahan. Maka dia menawarkan sesuatu yang akan diterima oleh setiap orang berakal, dan tidak akan ditolak kecuali oleh orang yang bodoh dan dungu.
    • Ketiga: Firman-Nya: “Engkau menyucikan diri”, bukan “Aku akan menyucikanmu”. Dia menyandarkan penyucian itu kepada diri Fir’aun sendiri, dan dengan cara seperti inilah para raja diajak bicara.
    • Keempat: Firman-Nya: “Dan aku akan menunjukkanmu”, artinya: aku akan menjadi penunjuk jalan bagimu dan pembimbing di hadapanmu. Dia menyandarkan petunjuk kepada dirinya sendiri, dan penyucian kepada lawan bicara. Artinya: Aku akan menjadi penunjuk dan pembimbing bagimu, dan engkau yang akan menyucikan diri. Seperti engkau berkata kepada seseorang: “Maukah aku tunjukkan kepadamu harta terpendam yang dapat kau ambil sebanyak yang kau inginkan?” Ini lebih baik daripada mengatakan: “Aku akan memberimu.”
    • Kelima: Firman-Nya: “Kepada Tuhanmu”, karena dalam perkataan ini terdapat hal yang mewajibkan penerimaan atas apa yang ditunjukkannya, yaitu bahwa dia mengajaknya dan menghubungkannya kepada Tuhannya, Penciptanya, yang telah mengadakannya dan memeliharanya dengan nikmat-nikmat-Nya ketika masih dalam kandungan, kecil, dan dewasa, dan yang telah memberinya kerajaan. Ini adalah sejenis pembicaraan untuk membangkitkan belas kasihan dan kewajiban, seperti engkau mengatakan kepada orang yang keluar dari ketaatan kepada tuannya: “Tidakkah engkau menaati tuanmu, pelindungmu, dan pemilikmu?!” Dan engkau berkata kepada seorang anak: “Tidakkah engkau menaati ayahmu yang telah membesarkanmu?!”
  1. Firman Allah Ta’ala: “Dan aku akan menunjukkanmu kepada Tuhanmu agar engkau takut” menunjukkan bahwa pengetahuan tentang Allah Ta’ala mendahului ketaatan kepada-Nya; karena Allah menyebutkan petunjuk terlebih dahulu, dan menjadikan rasa takut setelahnya dan sebagai cabang darinya.
  2. Firman Allah Ta’ala: “Dan aku akan menunjukkanmu kepada Tuhanmu agar engkau takut” menunjukkan bahwa rasa takut tidak akan ada kecuali dengan pengetahuan. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama” [Fathir: 28], yaitu orang-orang yang mengetahui-Nya. Ayat ini menunjukkan bahwa rasa takut adalah kunci kebaikan, karena siapa yang takut kepada Allah akan mendatangkan semua kebaikan, dan siapa yang merasa aman (dari azab Allah) akan berani melakukan semua kejahatan. Termasuk dalam hal ini sabda Nabi alaihissalam: “Barangsiapa takut, dia akan berangkat pada malam hari, dan barangsiapa berangkat pada malam hari, dia akan sampai ke tempat tujuan.”
  3. Allah Ta’ala berfirman: “Pergilah kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka katakanlah: ‘Maukah engkau menyucikan diri? Dan aku akan menunjukkanmu kepada Tuhanmu agar engkau takut.'”

Allah menggabungkan antara penyucian diri, petunjuk, dan rasa takut, sebagaimana Dia menggabungkan antara ilmu dan rasa takut dalam firman-Nya: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama” [Fathir: 28], dan dalam firman-Nya: “Dan dalam lembaran-lembaran itu terdapat petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang takut kepada Tuhannya” [Al-A’raf: 154], dan dalam firman-Nya: “Dan kalau mereka melaksanakan nasihat yang diberikan kepada mereka, tentulah hal itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka), dan jika demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan pasti Kami tunjukkan kepada mereka jalan yang lurus” [An-Nisa: 66-68].

Hal itu karena masing-masing dari pengetahuan tentang kebenaran (yang tercakup dalam peringatan dan dzikir yang ditimbulkan oleh Al-Quran), dan rasa takut yang mencegah dari mengikuti hawa nafsu: merupakan sebab bagi perbaikan keadaan manusia. Jika ilmu lemah, hawa nafsu akan menguasai manusia. Dan jika terdapat ilmu dan hawa nafsu (keduanya adalah pendorong dan penolak), maka hukumnya bagi yang menang.

Jika demikian, maka kebaikan bagi anak Adam adalah iman dan amal saleh, dan tidak ada yang mengeluarkan mereka dari itu kecuali dua hal: Pertama: Kebodohan yang bertentangan dengan ilmu, sehingga mereka menjadi orang-orang yang sesat. Kedua: Mengikuti hawa nafsu dan syahwat yang ada dalam jiwa, sehingga mereka menjadi orang-orang yang tersesat dan dimurkai.

  1. Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut.”

Ini menunjukkan bahwa orang yang takut kepada Allah adalah orang yang mengambil manfaat dari tanda-tanda dan pelajaran.

Faedah-Faedah Ilmiah dan Kelembutan:

  1. Sesungguhnya Allah Ta’ala berbicara dengan Al-Quran dengan huruf dan maknanya. Semuanya adalah firman Allah, dan Dia Subhanahu memanggil Musa alaihissalam dengan suara yang didengar oleh Musa. Allah telah memberitahu bahwa Dia memanggil Musa di beberapa tempat dalam Al-Quran Al-Karim, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Sudahkah sampai kepadamu kisah Musa? Ketika Tuhannya memanggilnya di lembah suci Thuwa.” Dan panggilan (nida’) tidak akan terjadi kecuali dengan suara menurut kesepakatan ahli bahasa.

Dalam firman Allah Ta’ala: “Ketika Tuhannya memanggilnya” terdapat dalil bahwa Al-Quran adalah firman Allah yang tidak diciptakan, Dia berbicara dengannya sebagai bentuk pembicaraan; karena panggilan adalah ucapan yang pasti didengar, dan ucapan adalah milik orang yang berbicara, dan panggilan berasal darinya, dan merupakan sifat dari sifat-sifatnya. Dan Dia dengan semua sifat-Nya tidak diciptakan. Kemudian Allah memberitakan tentang Fir’aun dengan firman-Nya: “Kemudian Fir’aun mengumpulkan (kaumnya) lalu berseru.” Maka panggilan Fir’aun adalah makhluk (diciptakan); karena yang memanggil adalah makhluk, dan setiap sifat mengikuti yang disifati; jika yang disifati adalah makhluk, maka ucapannya adalah makhluk, dan jika yang disifati adalah Pencipta, maka ucapannya tidak diciptakan.

  1. Dalam firman Allah Ta’ala kepada Musa alaihissalam: “Pergilah kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas” terdapat pertanyaan: Bahwa dalam surah Thaha Allah Subhanahu berfirman: “Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas” [Thaha: 43]!

Jawaban: Tidak ada pertentangan antara kedua ayat tersebut; karena Allah Ta’ala mengutus Musa terlebih dahulu, kemudian Musa alaihissalam meminta kepada Tuhannya untuk menguatkannya dengan saudaranya Harun. Maka Allah mengutus Harun alaihissalam bersama Musa, sehingga Musa dan Harun keduanya menjadi utusan kepada Fir’aun.

  1. Dalam firman Allah Ta’ala: “Pergilah kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka katakanlah (kepadanya): ‘Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri? Dan aku akan menunjukkan kepadamu jalan menuju Tuhanmu agar engkau takut’.” Ini memberitakan tentang buruknya perbuatan orang-orang kafir sebelum Rasul datang kepada mereka.
  2. Dalam firman-Nya: “Adakah keinginanmu…” terdapat faidah yang lembut, yaitu maknanya: “Adakah engkau memiliki kebutuhan atau keinginan dalam hal itu?” Dan sudah diketahui bahwa setiap orang berakal akan segera menerima hal tersebut; karena yang mengajak hanyalah mengajak kepada kebutuhannya dan kemaslahatannya, bukan kepada kebutuhan pengajak. Seolah-olah dia berkata: “Kebutuhan itu untuk kamu, dan kamulah yang membersihkan diri, sedangkan aku hanyalah petunjuk bagimu dan pembimbing menuju kemaslahatan terbesarmu.”
  3. Firman Allah Ta’ala: “Maka Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar.” Di dalamnya terdapat pertanyaan: Bagaimana Allah berfirman demikian padahal Dia telah memperlihatkan semua tanda (mukjizat) kepadanya; sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan sungguh, Kami telah memperlihatkan kepadanya tanda-tanda (kekuasaan) Kami semuanya” [Thaha: 56], dan semua tanda-Nya adalah besar? Jawabannya: Pemberitaan di sini tentang apa yang diperlihatkan kepadanya pada pertemuan pertamanya, yaitu tongkat dan tangan, dan keduanya disebut sebagai “tanda yang besar” karena kesatuan makna keduanya, atau yang dimaksud dengan “yang besar” adalah tongkat saja, karena tongkat itu didahulukan daripada yang lainnya.
  4. Firman Allah Ta’ala: “Lalu dia (Fir’aun) mendustakan dan mendurhakai.” Di dalamnya ada pertanyaan: Setiap orang tahu bahwa siapa saja yang mendustakan Allah berarti telah mendurhakai-Nya, maka apa faidah dalam firman-Nya: “Lalu dia mendustakan dan mendurhakai”? Jawabannya: Bahwa maknanya: Dia mendustakan dengan hati dan lisan, dan mendurhakai dengan menampakkan pembangkangan dan kesombongan.

Keindahan Bahasa dalam Ayat-ayat:

1- Firman Allah Ta’ala: “Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) kisah Musa? Ketika Tuhannya memanggilnya di lembah suci, Tuwa. Pergilah kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Dan katakanlah (kepadanya): ‘Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri? Dan aku akan menunjukkan kepadamu jalan menuju Tuhanmu agar engkau takut.'”

  • Firman-Nya: “Sudahkah sampai kepadamu kisah Musa?” merupakan sisipan (interupsi) di antara kalimat “Sesungguhnya itu hanyalah satu teriakan” [An-Nazi’at: 13] dan kalimat “Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya?” [An-Nazi’at: 27], yang merupakan bukti tentang adanya kebangkitan, kemudian peringatan setelahnya. Sisipan ini muncul karena adanya kesesuaian tema ancaman bagi para pengingkar apa yang telah diberitakan oleh Rasulullah ﷺ tentang kebangkitan; karena kesamaan keadaan kaum musyrikin dalam kezaliman mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya ﷺ dengan keadaan Fir’aun dan kaumnya, dan kesamaan keadaan Rasulullah ﷺ dengan kaumnya seperti keadaan Musa dengan Fir’aun. Tujuannya agar dari penyebutan kisah Musa ini, Rasulullah ﷺ mendapat penghiburan atas pendustaan kaumnya, dan sebagai pelajaran bagi kaum musyrikin dan pemimpin-pemimpin mereka seperti Abu Jahal, Umayyah bin Khalaf dan yang serupa dengan mereka; sebagaimana firman-Nya di akhir ayat: “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Allah)” [An-Nazi’at: 26].
  • Makna “Sudahkah sampai kepadamu” jika dianggap ini adalah pertama kalinya beliau ﷺ menerima kisah Musa AS: merupakan dorongan bagi beliau ﷺ untuk mendengarkan kisahnya, seakan-akan dikatakan: “Sudahkah sampai kepadamu kisahnya? Aku akan memberitahumu tentangnya”. Dan jika dianggap kisah itu telah sampai sebelumnya – dan inilah yang lebih dipahami dari keringkasan penceritaan – maka membawa beliau ﷺ untuk mengakui suatu perkara yang telah diketahui sebelumnya, seakan-akan dikatakan: “Bukankah kisahnya telah sampai kepadamu?” Maka pertanyaan itu bersifat konfirmasi.
  • Ada yang mengatakan: Pertanyaan dalam firman-Nya: “Sudahkah sampai kepadamu kisah Musa” hanyalah bentuk formal yang bertujuan untuk membuat pendengar tertarik pada berita tersebut tanpa bermaksud menanyakan pengetahuan sebelumnya dari lawan bicara tentang berita itu, sehingga sama saja apakah dia telah mengetahuinya sebelumnya atau belum; oleh karena itu, pembicara dengan pertanyaan ini tidak menunggu jawaban dari yang ditanya, melainkan melanjutkan pertanyaan dengan merinci apa yang seolah-olah ditanyakan dengan pertanyaan ini; sebagai kiasan tentang pentingnya berita tersebut sedemikian rupa sehingga orang-orang saling bertanya tentang pengetahuannya. Dan pembicaraan ini ditujukan kepada yang tidak tertentu, maka ini adalah nasihat, dan diikuti dengan penghiburan bagi Rasulullah ﷺ.
  • Kalimat “Pergilah kepada Fir’aun” dikatakan: Kalimat ini adalah perkataan dari perkataan yang dihilangkan, perkiraan lengkapnya: “Maka Dia berfirman: Pergilah”. Atau “seraya berkata kepadanya: Pergilah”. Dan boleh juga kalimat ini merupakan penjelas dari panggilan tersebut, yakni: Dia memanggilnya ‘Pergilah’. Dan dikatakan pula: kalimat ini merupakan penghilangan kata “an” (أن) yang berfungsi sebagai penjelas; karena dalam panggilan terdapat makna perkataan. Dan dimungkinkan juga dengan perkiraan (an) sebagai pembentuk masdar dengan huruf jar di depannya yang diperkirakan, yaitu: dengan bahwa Dia memanggilnya.
  • Kalimat “Sesungguhnya dia telah melampaui batas” merupakan alasan untuk perintah dalam firman-Nya: “Pergilah”, atau alasan kewajiban untuk mematuhinya; oleh karena itu dimulai dengan huruf (inna/إنَّ) yang berfungsi untuk menunjukkan perhatian, dan memberikan manfaat sebagai alasan.
  • Firman-Nya: “Maka katakanlah (kepadanya): ‘Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri? Dan aku akan menunjukkan kepadamu jalan menuju Tuhanmu agar engkau takut.” Dia memulai pembicaraan dengan pertanyaan yang maknanya adalah penawaran dan dorongan, seperti seseorang berkata kepada tamunya: “Apakah kamu mau singgah di tempat kami?” Dan Dia melanjutkannya dengan kata-kata lembut; untuk mengajaknya dengan kelembutan dalam perkataan, dan menariknya dengan kelembutan dari kesombongannya. Ini adalah bentuk perincian dari firman Allah Ta’ala: “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut” [Thaha: 44].
  • Firman-Nya: “Adakah keinginanmu” adalah susunan yang berjalan seperti perumpamaan, maka tidak diubah dari susunan ini; karena dimaksudkan untuk keringkasan, dan ini adalah perkataan yang bertujuan sebagai penawaran.
  • Kata “laka” (لك) adalah khabar dari mubtada yang dihilangkan, perkiraannya: “Apakah engkau memiliki keinginan dalam hal ini?” Maka kata “keinginan” dihilangkan dan cukup dengan penunjukan huruf “fi” (في) atasnya, dan mereka berkata: “hal laka ila kadza” (هل لك إلى كذا).
  • Musa menyebutkan kepada Fir’aun tentang Tuhan yang Benar dengan sifat “Tuhanmu” tanpa menyebutkan nama Allah secara langsung atau cara pengenalan lainnya; sebagai kelembutan dalam dakwah kepada tauhid, dan menghindari hal yang bisa membuat jiwanya lari menjauh; karena tidak dikenal dalam bahasa Fir’aun nama untuk Allah Ta’ala, dan jika Musa memperkenalkan-Nya dengan nama-Nya dalam bahasa Israel, tentu Fir’aun akan lari; karena Fir’aun menyembah tuhan-tuhan yang batil. Jadi dalam ucapannya: “kepada Tuhanmu” sedangkan Fir’aun tahu bahwa dia memiliki tuhan: ada harapan baginya bahwa Musa akan menunjukkannya kepada sesuatu yang tidak bertentangan dengan keyakinannya, sehingga dia akan mendengarkan, sampai ketika dia mendengar perkataan dan argumennya, iman yang benar akan masuk secara bertahap; maka dalam gaya bahasa ini ada upaya untuk menarik perhatiannya.
  • Firman-Nya: “agar engkau takut.” Khasyah: berarti takut, dan ketika digunakan dalam istilah syariat, yang dimaksud adalah takut kepada Allah Ta’ala. Oleh karena itu, kata kerjanya di sini ditempatkan sebagai kata kerja yang tidak memerlukan objek, sehingga objeknya tidak disebutkan; karena yang ditakuti sudah diketahui, seperti kata kerja iman dalam istilah syariat; dikatakan: “Fulan telah beriman”, dan “Fulan adalah orang yang beriman”, artinya: beriman kepada Allah dan keesaan-Nya.
  • Perkembangan kata “fatakhsya” (agar engkau takut) dari kata “ahdiyaka” (aku tunjukkan kepadamu) merupakan isyarat bahwa takut kepada Allah tidak akan terjadi kecuali dengan pengetahuan. Dan dalam pembatasan hanya menyebutkan takut terdapat keringkasan yang baligh (mengesankan); karena takut adalah inti dari segala kebaikan.
  • Susunan kalimat-kalimat tersebut datang dengan susunan yang sangat baik, di mana urutan penyebutannya memperhatikan urutan terjadinya; oleh karena itu tidak diperlukan penggunaan “fa” (maka) pada “wa ahdiyaka ila rabbika” (dan aku tunjukkan kepadamu jalan menuju Tuhanmu); karena sering kali cukup dengan menggunakan huruf “waw” dengan maksud menunjukkan urutan daripada menggunakan huruf yang secara khusus menunjukkan urutan; karena “waw” dapat menunjukkan urutan dengan adanya indikasi, dan cukup dengan menggunakan huruf penghubung tanpa menyebutkan huruf penjelas dalam penghubung penjelas yang mana “waw” di dalamnya bermakna “ay” (yakni) sebagai penjelas; maka “an tazakka wa ahdiyaka” (untuk membersihkan diri dan aku tunjukkan kepadamu) dalam kekuatan satu kata, dan perkiraannya: “Apakah engkau berkeinginan dalam membersihkan diri dan petunjukku kepadamu sehingga engkau takut kepada Allah Ta’ala?”

2- Firman Allah Ta’ala: “Maka Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi (Fir’aun) mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha (menantang).”

  • Firman-Nya: “Maka Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar” – huruf “fa” di sini adalah “fashihah” yang menjelaskan tentang beberapa kalimat yang telah dilipat (diringkas); dengan bersandar pada perinciannya dalam surah-surah lain, dan merupakan cabang dari yang dihilangkan yang diperlukan oleh firman-Nya: “Pergilah kepada Fir’aun” [An-Nazi’at: 17], dan perkiraannya: Maka dia pergi lalu mengajaknya lalu (Fir’aun) mendustakannya maka dia memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar.
  • Kata kerja “fa araahu” (maka dia memperlihatkan kepadanya) diikuti dengan kata kerja “fakadzdzaba” (maka dia mendustakan); untuk menunjukkan besarnya sikap keras kepala dan kesombongannya, sampai-sampai dia melihat mukjizat tetapi tidak ragu-ragu dan tidak menunggu untuk melihat bukti, tetapi langsung bersegera untuk mendustakan dan mendurhakai.
  • Huruf “tsumma” (kemudian) adalah huruf penghubung yang menunjukkan urutan dengan jarak waktu, dan digunakan di sini; karena pembatalan iman dan penolakannya membutuhkan waktu yang panjang.
  • Ada yang mengatakan: Firman-Nya: “tsumma adbara yas’a” (kemudian dia berpaling seraya berusaha) dihubungkan dengan huruf “tsumma” (kemudian); untuk menunjukkan jarak peringkat sebagaimana fungsinya dalam menghubungkan kalimat-kalimat, maka “tsumma” menunjukkan bahwa isi kalimat yang dihubungkan dengannya lebih tinggi peringkatnya dalam tujuan yang terkandung dalam kalimat sebelumnya, yakni: dia naik dari pendustaan dan kedurhakaan kepada yang lebih keras, yaitu berpaling, berusaha, dan mengklaim ketuhanan untuk dirinya sendiri, artinya: setelah dia berpikir panjang, dia tidak puas hanya dengan mendustakan dan mendurhakai, dia khawatir jika dia diam mungkin dakwah Musa akan menyebar di antara orang-orang, maka dia ingin berhati-hati untuk menolaknya dan memperingatkan orang-orang darinya.
  • Firman-Nya: “Kemudian dia berpaling seraya berusaha” – Kata “berpaling” merupakan kiasan tentang penolakan terhadap iman. Dan menurut pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah: “kemudian dia menghadap”, yakni: dia mulai berusaha; maka digunakan kata “berpaling” sebagai pengganti; untuk menghindari penggambaran tentang dia dengan kata “menghadap”.
  • “As-sa’y” (berusaha): berarti berjalan dengan cepat, dan di sini ini merupakan ungkapan tentang semangat dan kesungguhan dalam memerintahkan orang-orang untuk tidak mendengarkan perkataan Musa, jadi dia bersungguh-sungguh dalam memusuhi Musa AS, dan mengumpulkan para penyihir untuk melawan mukjizatnya; karena dia mengira bahwa itu adalah sihir.

3- Firman Allah Ta’ala: “Kemudian dia mengumpulkan (rakyatnya) lalu berseru. Maka dia berkata: ‘Akulah tuhanmu yang paling tinggi’.”

  • Objek kata kerja “hashar” (mengumpulkan) dan “nada” (berseru) tidak disebutkan karena sudah jelas; karena yang dikumpulkan dan dipanggil adalah penduduk kotanya dari segala golongan.
  • Kata “fanada” (lalu berseru) dihubungkan dengan “fa” (lalu); untuk menunjukkan bahwa dia mengumumkan perkataan ini kepada mereka segera setelah kehadiran mereka; karena sangat bersemangatnya dia untuk menyampaikan hal itu kepada mereka.
  • Penisbatan pengumpulan dan seruan kepada Fir’aun meskipun dia tidak melakukannya sendiri mengumpulkan orang-orang dan tidak juga memanggil mereka, tetapi dia memerintahkan pengikut dan tentaranya, maka hal itu dinisbatkan kepadanya; karena dialah yang memerintahkannya.
  • Penggunaan ungkapan pembatasan dalam “ana rabbukum” (akulah tuhanmu) untuk menolak dakwah Musa AS.
  • Firman-Nya: “Maka dia berkata: ‘Akulah tuhanmu yang paling tinggi'” bisa menjadi badal (pengganti) dari kalimat “fanada” (lalu berseru) sebagai badal yang sesuai dengan pengulangan huruf penghubung, yaitu “fa” (lalu); karena badal terkadang disertai dengan penghubung yang sama dengan yang bekerja pada yang digantikan untuk tujuan penekanan.

4- Firman Allah Ta’ala: “Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan di dunia. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Allah).”

  • Kalimat “fa’akhadzahu Allahu nakala al-akhirati wal-ula” (Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan di dunia) adalah cabang dari kalimat-kalimat sebelumnya, yakni: apa yang disebutkan dari pendustaannya, kedurhakaannya, dan taktiknya menjadi sebab Allah mengazabnya, dan inilah tujuan dari penyampaian kisah ini, yaitu sebagai pelajaran bagi kaum musyrikin dan peringatan bagi mereka, serta penghiburan bagi Nabi ﷺ dan untuk meneguhkannya.
  • Penggunaan kata kerja “akhadzahu” (mengazabnya) dalam bentuk lampau padahal azab akhirat adalah masa depan untuk hari pembalasan, dimaksudkan bahwa ketika dia mati, dia mulai merasakan azab ketika dia melihat tempat yang akan dia tempati pada hari pembalasan.
  • Mendahulukan “akhirat” dari “dunia” dalam penyebutan; karena urusan akhirat lebih besar.
  • Di akhir kisah ini diberikan kesimpulan dan ringkasan dari apa yang telah dijelaskan sebelumnya dengan firman-Nya: “Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Allah)”; maka ini dalam makna penjelasan untuk isi kalimat “Sudahkah sampai kepadamu kisah Musa” [An-Nazi’at: 15] dan ayat-ayat berikutnya.
  • Tanwin (penggunaan harakat tanwin) pada kata “ibrah” (pelajaran) untuk pengagungan; karena dalam kisah ini terdapat banyak pelajaran dari berbagai segi, yaitu contoh-contoh perbuatan dan akibatnya, pengawasan Allah dan takut kepada-Nya, dan apa yang terjadi akibat hal itu dan kebalikannya berupa kebaikan dan keburukan di dunia dan akhirat. Dan hal itu dijadikan pelajaran bagi orang yang takut, yakni: orang yang jiwanya bercampur dengan takut kepada Allah; karena orang-orang yang takut kepada Allah adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan yang memahami petunjuk sesuatu terhadap keharusannya dan hal-hal tersembunyinya.
  • Dalam hal ini terdapat sindiran terhadap kaum musyrikin bahwa mereka bukanlah orang yang pantas mendapat manfaat dari kisah semacam ini sebagaimana Fir’aun dan kaumnya tidak mendapat manfaat dari yang serupa. Dan dalam seluruh kisah ini terdapat sindiran terhadap para pemimpin Quraisy dari golongan orang-orang kafir seperti Abu Jahal dengan membandingkan mereka dengan Fir’aun, dan membandingkan orang awam dengan kaum yang dikumpulkan Fir’aun dan berseru di antara mereka dengan kekufuran. Dan kaum muslimin telah mengetahui perumpamaan ini; maka Abu Jahal disebut di kalangan kaum muslimin sebagai “Fir’aun umat ini”.
  • Penguatan berita dengan “inna” dan “lam ibtida'”; untuk menempatkan para pendengar yang kisah itu disampaikan kepada mereka pada posisi orang yang mengingkari apa yang ada di dalamnya berupa pelajaran-pelajaran; karena mereka tidak mengambil pelajaran dan peringatan dari pelajaran-pelajaran yang ada di dalamnya.

۞ ۞ ۞ ۞ ۞

Ayat: 27-33

﴿ءَاَنْتُمْ اَشَدُّ خَلْقًا اَمِ السَّمَاۤءُ ۚ بَنٰىهَاۗ ٢٧ رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوّٰىهَاۙ ٢٨ وَاَغْطَشَ لَيْلَهَا وَاَخْرَجَ ضُحٰىهَاۖ ٢٩ وَالْاَرْضَ بَعْدَ ذٰلِكَ دَحٰىهَاۗ ٣٠ اَخْرَجَ مِنْهَا مَاۤءَهَا وَمَرْعٰىهَاۖ ٣١ وَالْجِبَالَ اَرْسٰىهَاۙ ٣٢ مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْۗ ٣٣ ﴾

Istilah-istilah yang Asing

Samkaha: artinya bangunan dan atapnya, dan asal kata (samk): menunjukkan ketinggian.

Fasawwaha: artinya menjadikannya seimbang penciptaannya dan teratur bentuknya, dan “taswiyah”: menjadikan sesuatu sama, yaitu: seimbang dan tegak lurus. Asal kata (sawi): menunjukkan kelurusan dan keseimbangan antara dua hal.

Wa aghthasha: artinya menggelapkan, dan asal kata (ghatsh): menunjukkan kegelapan.

Dahaha: artinya membentangkannya dan meluaskannya secara rata, dan asal kata (dahw): menunjukkan pembentangan dan perataan.

Arsaha: artinya menetapkannya, dikatakan: “rasa asy-syai’u yarsu”: sesuatu menjadi tetap, dan “arsahu ghairuhu”: orang lain menetapkannya. Asal kata (rasw): menunjukkan ketetapan.

Makna Umum:

Allah Ta’ala berfirman menjelaskan kesempurnaan kekuasaan-Nya: “Apakah kamu – wahai para pendustaan kebangkitan – lebih kuat penciptaannya ataukah langit? Allah Ta’ala telah membangunnya, meninggikan bangunannya, menjadikan malamnya gelap, dan menerangi siangnya dengan terbitnya matahari. Dan Allah Ta’ala membentangkan bumi setelah penciptaan langit, dan mengeluarkan dari bumi lautan dan sungai-sungai, serta tumbuhan, dan menetapkan gunung-gunung agar bumi tidak bergoncang; untuk kemanfaatan kalian – wahai manusia – dan untuk binatang ternak kalian.”

Tafsir Ayat-ayat:

أَأَنْتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءُ بَنَاهَا

Apakah kalian lebih sulit penciptaannya ataukah langit yang telah dibangun-Nya? (27).

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya:

Ini adalah peralihan dari pelajaran tentang contoh-contoh kaum kafir dari umat-umat terdahulu yang merupakan peringatan dan ancaman atas pendustaan mereka terhadap Rasulullah ﷺ, kepada pembatalan keraguan mereka terhadap kebangkitan – yaitu perkataan mereka: “Apakah sesungguhnya kami akan dikembalikan kepada kehidupan?” [An-Nazi’at: 10] – dan apa yang mereka lanjutkan berupa ejekan yang dibangun atas anggapan mustahilnya kebangkitan.

Dan juga ketika Allah Ta’ala mengakhiri kisah tersebut; Dia kembali menyapa para pengingkar kebangkitan, lalu berfirman:

أَأَنْتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءُ

Apakah kalian lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Artinya: Apakah kalian -wahai para pendusta kebangkitan- lebih kuat penciptaannya ataukah langit lebih kuat dari kalian? Maka Yang Mampu menciptakan langit yang lebih besar dari kalian: mampu menghidupkan kalian setelah kematian kalian. Sebagaimana Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: Dan tidakkah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, dan Dialah Pencipta Yang Maha Mengetahui. Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” Maka jadilah ia [Yasin: 81-82].

Dan Allah berfirman: Maka tanyakanlah kepada mereka (musyrik Mekah): “Apakah mereka yang lebih kukuh kejadiannya ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?” Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat [Ash-Shaffat: 11].

Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia [Ghafir: 57].

بَنَاهَا

Dia telah membangunnya. Artinya: Allah membangun langit, dan menjadikannya sebagai atap bagi bumi.

رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا (28)

Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya (28).

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah Ta’ala menjelaskan tentang langit bahwa Dia membangunnya; kemudian Dia menjelaskan bagaimana Dia membangunnya, dan menguraikan cara tersebut dari berbagai segi. Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya (28). Artinya: Allah menjadikan bangunan langit tinggi di atas bumi, lalu menyempurnakan bangunannya, sehingga langit itu rata tanpa ada ketinggian atau penurunan di sudut-sudutnya, dan tidak ada retakan atau celah padanya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat [Ar-Ra’d: 2]. Dan Allah berfirman: Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara [Al-Anbiya: 32]. Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? [Al-Mulk: 3].

وَأَغْطَشَ لَيْلَهَا وَأَخْرَجَ ضُحَاهَا (29)

Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan mengeluarkan cahaya terangnya (29).

وَأَغْطَشَ لَيْلَهَا

Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita. Artinya: Allah menjadikan malam di langit gelap.

Allah Ta’ala berfirman: Dan demi malam apabila menutupinya [Asy-Syams: 4].

وَأَخْرَجَ ضُحَاهَا

Dan mengeluarkan cahaya terangnya.

Artinya: Allah menerangi siang langit dengan terbitnya matahari. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: Dan siang apabila menampakkannya [Asy-Syams: 3].

وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا (30)

Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya (30).

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah Ta’ala menggambarkan cara penciptaan langit; Dia melanjutkan dengan cara penciptaan bumi, lalu berfirman: Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya (30). Artinya: Allah Ta’ala membentangkan bumi setelah penciptaan langit, dan menghamparkannya untuk dihuni.

أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا (31)

Dia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya (31).

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Setelah menyebutkan penghamparannya, Allah melanjutkan dengan menyebutkan manfaat-manfaat yang dihasilkannya; karena bergantungnya penghunian yang dimaksudkan dengan penghamparannya.

أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا (31)

Dia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya (31).

Artinya: Allah mengeluarkan dari bumi lautan, sungai-sungai dan mata air, serta menumbuhkan tanamannya.

وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا (32)

Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh (32).

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Setelah menyebutkan bumi dan manfaat-manfaatnya; Allah menyebutkan sauh-sauh yang menyempurnakan manfaatnya.

Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh (32).

Artinya: Allah menetapkan gunung-gunung dengan kokoh, sehingga bumi tidak bergoncang dan bergoyang.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu [An-Nahl: 15].

Dan Allah berfirman: Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka [Al-Anbiya: 31].

مَتَاعًا لَكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ (33)

(Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu (33).

Artinya: Allah Ta’ala menciptakan semua itu untuk kemanfaatan kalian -wahai manusia- dan untuk ternak kalian dari unta, sapi dan domba, maka kalian menikmati semua itu hingga waktu tertentu.

Allah Ta’ala berfirman: Dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan [Al-Baqarah: 36].

Manfaat Ilmiah dan Keistimewaan:

1- Dalam firman Allah Ta’ala: “Apakah kalian lebih sulit penciptaannya ataukah langit yang telah dibangun-Nya” menunjukkan bahwa langit itu dibangun.

2- Allah Ta’ala berfirman: “Dan mengeluarkan cahaya terangnya”, dan pengeluaran waktu dhuha: adalah penampakan cahaya dhuha, dan memunculkan cahaya disebut sebagai “mengeluarkan” karena cahaya muncul setelah kegelapan; sebab kegelapan adalah ketiadaan, dan itulah yang lebih dahulu ada, sedangkan cahaya membutuhkan sebab yang meneranginya.

3- Allah Ta’ala berfirman: “Apakah kalian lebih sulit penciptaannya ataukah langit yang telah dibangun-Nya”, kemudian berfirman: “Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya”, dan ini menunjukkan bahwa penghamparannya bumi setelah penciptaan langit, padahal firman Allah Ta’ala: “Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit” [Al-Baqarah: 29] Ayat ini menunjukkan bahwa penciptaan bumi sebelum penciptaan langit, berdasarkan kata (kemudian) yang menunjukkan urutan dan pemisahan, demikian pula ayat (Fussilat) juga menunjukkan penciptaan bumi sebelum penciptaan langit; karena Allah berfirman di dalamnya: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa'” [Fussilat: 9], hingga firman-Nya: “Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap,” ayat [Fussilat: 11].

Jawabannya: Bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma ditanya tentang penggabungan antara ayat (Fussilat) dan ayat (An-Nazi’at), maka beliau menjawab bahwa Allah Ta’ala menciptakan bumi pertama kali sebelum langit tanpa dihamparkan, kemudian Dia menuju ke langit lalu menyempurnakannya menjadi tujuh langit dalam dua hari, kemudian setelah itu Dia menghamparkan bumi, dan menjadikan padanya gunung-gunung, sungai-sungai dan lainnya. Jadi, penciptaan asal bumi sebelum penciptaan langit, sedangkan penghamparannya dengan gunung-gunungnya, pepohonannya dan sebagainya setelah penciptaan langit. Ini ditunjukkan oleh firman-Nya: “Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya”, dan tidak mengatakan: “(menciptakannya)”, kemudian Dia menjelaskan penghamparannya dengan firman-Nya: “Dia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya” ayat.

Cara penggabungan yang dilakukan oleh Ibnu Abbas antara kedua ayat tersebut jelas tanpa kerumitan, dipahami dari makna zahir Al-Qur’an yang agung, hanya saja ada satu permasalahan dari ayat (Al-Baqarah) ini. Penjelasannya adalah bahwa Ibnu Abbas menyatukan bahwa penciptaan bumi sebelum penciptaan langit, dan penghamparannya dengan segala isinya setelah penciptaan langit.

Dalam ayat ini terdapat penjelasan tegas bahwa semua yang ada di bumi diciptakan sebelum penciptaan langit; karena Allah berfirman di dalamnya: “Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit” ayat [Al-Baqarah: 29].

Permasalahan ini dapat diselesaikan dari dua segi, masing-masing ditunjukkan oleh ayat dari Al-Qur’an:

Pertama: Bahwa yang dimaksud dengan penciptaan semua yang ada di bumi sebelum penciptaan langit adalah: penciptaan dalam arti bahasa yaitu penentuan/perencanaan, bukan penciptaan secara faktual yaitu pemunculan dari ketiadaan menjadi ada. Orang Arab menyebut penentuan/perencanaan sebagai penciptaan, seperti dalam syair Zuhair:

“Engkau melaksanakan apa yang telah kau rencanakan sementara sebagian orang hanya merencanakan tanpa melaksanakan”

Bukti bahwa yang dimaksud dengan penciptaan ini adalah penentuan/perencanaan: Allah Ta’ala menegaskan hal itu dalam surat (Fussilat), di mana Dia berfirman: “Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya” [Fussilat: 10], kemudian berfirman: “Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap” ayat [Fussilat: 11].

Segi kedua: Ketika Allah menciptakan bumi tanpa dihamparkan, dan bumi itu adalah asal dari semua yang ada di dalamnya, maka semua yang ada di dalamnya seakan-akan telah diciptakan secara faktual; karena dasarnya sudah ada secara nyata. Bukti dari Al-Qur’an bahwa keberadaan asal memungkinkan untuk menyebutkan penciptaan pada cabang meskipun belum ada secara faktual: firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat” [Al-A’raf: 11]. Firman-Nya: “Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu” dengan penciptaan dan pembentukan Kami terhadap bapak kalian Adam yang merupakan asal kalian.

Sebagian ulama menggabungkan dengan mengatakan bahwa makna firman-Nya: “Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya”, artinya: “bersama dengan itu”, jadi kata (ba’da/sesudah) bermakna “bersama”, seperti dalam firman Allah Ta’ala: “Yang kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya” [Al-Qalam: 13]. Dengan demikian tidak ada permasalahan dalam ayat tersebut.

4- Allah Ta’ala berfirman: “Dia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya”. Dengan menyebutkan air dan tumbuhan, Allah menunjukkan semua yang dikeluarkan bumi sebagai makanan bagi manusia dan hewan, termasuk apa yang digunakan untuk mengolah makanan seperti kayu bakar untuk memasak; karena itu termasuk yang ditumbuhkan bumi, dan termasuk juga garam; karena itu berasal dari air yang ada di bumi.

5- Dalam firman Allah Ta’ala: “Dia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya * Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh * (Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu” terdapat bukti bahwa air, rumput, batu-batu gunung dan kayunya: manusia berserikat di dalamnya, selama tidak terjadi kepemilikan dengan hak milik yang nyata yang diperoleh dengan berbagai cara pemanfaatan. Jika terjadi kepemilikan, maka setiap orang yang memiliki tanah memiliki semua yang dikeluarkan tanah tersebut berupa mata air dan rumput, kecuali air minum selama tidak dimasukkan ke dalam wadah, dan rumput bagi orang yang lewat.

6- Firman Allah Ta’ala: “Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh”. Makna “dipancangkan-Nya” yaitu: Dia menetapkannya dan dengan gunung-gunung itu menetapkan bumi agar tidak bergoncang dengan penghuninya. Ini adalah penetapan kebenaran, dan peringatan bahwa ketetapan yang dinisbatkan kepada gunung-gunung di banyak tempat dalam Al-Qur’an dengan menyebutnya sebagai “yang kokoh” bukanlah dari sifat zat gunung-gunung itu sendiri, tetapi karena Allah ‘Azza wa Jalla menempatkannya dengan kokoh. Tanpa hal itu, gunung-gunung tidak akan tetap pada dirinya sendiri, apalagi menetapkan bumi.

Keindahan Bahasa Ayat-ayat:

1- Firman Allah Ta’ala: “Apakah kalian lebih sulit penciptaannya ataukah langit yang telah dibangun-Nya * Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya * Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan mengeluarkan cahaya terangnya” merupakan pembatalan atas keraguan kaum musyrikin tentang penolakan kebangkitan. Pembatalan keraguan mereka datang dengan menganalogikan penciptaan tubuh mereka dengan penciptaan langit dan bumi. Maka dikatakan kepada mereka: “Apakah kalian lebih sulit penciptaannya ataukah langit yang telah dibangun-Nya”; karena itu dikatakan kepada mereka di sini: “Apakah kalian” dengan kata ganti mereka, dan tidak dikatakan: “Apakah manusia lebih sulit penciptaannya”, padahal mereka termasuk manusia. Maka pembicaraan ditujukan kepada kaum musyrikin yang sebelumnya dinyatakan dengan kata ganti orang ketiga dalam firman-Nya: “mereka berkata” hingga firman-Nya: “maka tiba-tiba mereka hidup kembali di permukaan bumi” [An-Nazi’at: 10-14]. Ini merupakan peralihan (iltifat) dari kata ganti orang ketiga ke kata ganti orang kedua. Kalimat ini merupakan kalimat permulaan (isti’naf) dengan maksud menjawab keraguan mereka; karena pengutipan keraguan mereka dengan “mereka berkata: ‘Apakah sesungguhnya kami…'”, menuntut adanya jawaban atas perkataan tersebut.

  • Dan juga firman-Nya: “Apakah kalian lebih sulit penciptaannya ataukah langit yang telah dibangun-Nya” adalah pembicaraan untuk penduduk Mekah, atau umum untuk para pengingkar kebangkitan berdasarkan kesulitannya menurut anggapan mereka dengan cara mencela dan membungkam mereka setelah dijelaskan betapa mudahnya hal itu bagi kekuasaan Allah Ta’ala dalam firman-Nya: “Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan sekali tiupan saja.”
  • Pertanyaan dalam “Apakah kalian lebih sulit penciptaannya” adalah pertanyaan untuk menetapkan, dan tujuan dari penetapan ini adalah memaksa mereka untuk mengakui bahwa penciptaan langit lebih besar daripada penciptaan mereka, yaitu: dari penciptaan jenis mereka, yaitu jenis manusia. Mereka mengetahui bahwa Allah adalah pencipta langit, maka tidak diragukan bahwa Dzat yang mampu menciptakan langit mampu menciptakan manusia untuk kedua kalinya. Hal ini menghasilkan kesimpulan bahwa mengembalikan penciptaan tubuh setelah hancurnya adalah dalam kemampuan Allah Ta’ala; karena Dia mampu melakukan apa yang lebih besar dari itu. Hal ini karena pandangan logis mereka telah dikaburkan oleh kebiasaan, sehingga mereka menganggap apa yang tidak mereka kenal sebagai hal yang mustahil, dan mereka tidak memperhatikan kemungkinan hal yang lebih besar daripada apa yang mereka anggap mustahil.
  • Dikatakan: Hamzah (أ) untuk pertanyaan yang bersifat mencela dan mengecam.
  • Kata “langit” dalam firman-Nya: “ataukah langit” bisa dimaksudkan sebagai jenis, dan definisinya adalah definisi jenis, yaitu: langit-langit, yang tersembunyi dari pandangan manusia; jadi pertanyaan penetapan itu didasarkan pada apa yang terkenal di antara manusia tentang keagungan langit; dengan menempatkan yang dipahami pada posisi yang terlihat. Dan bisa juga dimaksudkan langit tertentu, yaitu yang disebut dengan langit dunia yang tampak padanya cahaya bintang-bintang, sehingga definisinya adalah definisi yang sudah dikenal, yaitu lingkaran angkasa yang mengelilingi bumi dan padanya tampak cahaya siang dan kegelapan malam. Jadi pertanyaan penetapan itu didasarkan pada apa yang mereka lihat, dan ini lebih sesuai dengan firman-Nya: “Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan mengeluarkan cahaya terangnya”; karena tidak memerlukan takwil.
  • Dalam tidak disebutkannya pelaku dalam firman-Nya: “yang telah dibangun-Nya” dan dalam kata kerja yang dihubungkan dengannya: terdapat penekanan pada penentuan dan pengagungan Allah ‘Azza wa Jalla; yang tidak tersembunyi.
  • Kalimat “Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya” menjelaskan kalimat “yang telah dibangun-Nya”, atau sebagai badal isytimal (pengganti yang mencakup) darinya, dan ditempuh cara global kemudian perincian; untuk menambah penggambaran.
  • “Meninggikan”: membuat suatu benda berada di atas, dan ini semakna dengan “bangunan”, maka penggunaan kata kerja “meninggikan” untuk “bangunan” adalah untuk menunjukkan intensitas ketinggian, artinya: meninggikan ketinggiannya, yaitu: menjadikannya tinggi.
  • Huruf fa’ dalam “lalu menyempurnakannya” untuk menunjukkan urutan langsung, dan penyempurnaan langit terjadi bersamaan dengan terjadinya ketinggiannya; jadi urutan langsung itu untuk menunjukkan kecepatan dalam penyempurnaan.
  • Firman-Nya: “Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita” dimulai dengan malam; karena malam itu ada lebih dahulu, dan ketiadaan mendahului keberadaan.
  • Firman-Nya: “Dan Dia mengeluarkan cahaya (matahari)nya,” artinya: Dia memunculkan siangnya, dan diungkapkan dengan kata “dhuha” (waktu matahari sepenggalah naik); karena itu adalah waktu paling mulia dan paling baik, dan bagian siang paling sempurna dalam hal cahaya dan sinar. Maka itu lebih layak untuk disebutkan dalam konteks pemberian nikmat. Itulah rahasia mengapa penyebutannya diakhirkan setelah penyebutan malam, dan mengapa penciptaannya diungkapkan dengan kata “mengeluarkan”; karena pemberian cahaya setelah kegelapan lebih sempurna dalam pemberian nikmat dan lebih utama dalam kebaikan.
  • Allah menisbatkan malam kepada langit dalam firman-Nya: “Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita,” karena malam adalah terbenamnya matahari, dan terbenam serta terbitnya matahari terjadi di langit. Maka dinisbatkan kepadanya karena terjadi di sana, seperti dikatakan “bintang-bintang malam”; karena terbit dan terbenamnya terjadi pada malam hari. Dan karena itulah yang pertama kali muncul saat terbenam dari ufuk langit. Ada juga pendapat lain.
  • Allah menisbatkan waktu dhuha kepada langit sebagaimana menisbatkan malam dalam firman-Nya: “Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan mengeluarkan cahaya (matahari)nya,” karena di langitlah terdapat sebab kegelapan dan cahaya, yaitu terbenamnya matahari dan terbitnya.

2- Firman Allah Ta’ala: “Dan setelah itu bumi Dia hamparkan. Darinya Dia pancarkan mata air, dan (ditumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung Dia pancangkan dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu.”

Pembicaraan beralih dari pendalilan dengan penciptaan langit kepada pendalilan dengan penciptaan bumi; karena bumi lebih dekat untuk mereka saksikan, dan apa yang terdapat di bumi lebih dekat dengan pengetahuan mereka secara terperinci, atau secara global yang mendekati terperinci.

  • Firman-Nya: “Dan setelah itu bumi Dia hamparkan.” Karena pentingnya dalil penciptaan bumi dan apa yang dikandungnya, kata “bumi” didahulukan dari kata kerja dan pelakunya, sehingga kata tersebut di-nashab-kan dengan cara isytighal (penyibukan). Isytighal mengandung penekanan dengan mempertimbangkan kata kerja yang diperkirakan yang mempengaruhi kata yang disibukkan, yang ditunjukkan oleh kata kerja yang tampak yang disibukkan dengan kata ganti dari kata yang didahulukan.

Ada yang berpendapat: Kata “bumi” di-nashab-kan dengan kata kerja yang disembunyikan di awal yang dihapus dengan syarat tafsir, bukan dengan apa yang disebutkan setelahnya; untuk memberikan arti pembatasan, dan menetapkan kedudukan “setelah itu” dalam konteks keberadaan. Manfaat mengakhirkannya dalam penyebutan adalah untuk menunjukkan bahwa dalil tersebut kurang dalam menunjukkan kekuasaan yang dahsyat dibandingkan dengan keadaan langit, atau untuk memberitahukan bahwa itu lebih masuk dalam kewajiban; karena manfaat yang berkaitan dengan apa yang ada di bumi lebih banyak, dan hubungan kemaslahatan manusia dengan itu lebih jelas, dan pengetahuan mereka tentang rincian keadaannya lebih sempurna.

  • Kalimat “Dia pancarkan darinya air dan tumbuhan” tidak diawali dengan huruf ‘athf (kata penghubung) pada kata “pancarkan” karena dua alasan:

Pertama: Bahwa makna “dahahaa” (menghamparkannya) adalah: meratakan dan menyiapkannya untuk dihuni, kemudian persiapan itu dijelaskan dengan apa yang diperlukan untuk memungkinkan penghuninya, yaitu dengan menyediakan makanan dan minuman, dan memungkinkan ketetapan di atasnya, serta ketenangan dengan memancarkan air dan tumbuhan, juga dengan memancangkan gunung-gunung dan menetapkannya sebagai pasak-pasak sehingga bumi menjadi stabil dan dapat ditempati.

Kedua: Bahwa kata “akhraja” (mengeluarkan) adalah kata keterangan keadaan (haal) dengan menyembunyikan kata “qad”, seperti dalam firman-Nya: “Atau mereka datang kepadamu dengan hati mereka yang sempit” [An-Nisa: 90]. Yang dimaksud dengan “mar’aahaa” (tumbuh-tumbuhannya) adalah apa yang dimakan oleh manusia dan hewan ternak.

  • Air didahulukan penyebutannya daripada tumbuhan karena air adalah sebab keberadaan tumbuhan.
  • Kata “ra’y” (merumput) adalah: hewan ternak memakan tanaman, rumput dan tumbuhan hijau. Membatasi penyebutan pada “mar’aa” (padang rumput) cukup mewakili penyebutan apa yang dikeluarkan bumi berupa buah-buahan dan biji-bijian; karena penyebutan padang rumput menunjukkan kelembutan Allah terhadap hewan-hewan, sehingga diketahui bahwa kelembutan terhadap manusia lebih utama; dengan petunjuk kandungan pembicaraan (fahwal khitab). Bukti kecukupan ini adalah firman-Nya setelah itu: “untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu” [An-Nazi’at: 33].
  • Firman-Nya: “Dan gunung-gunung, Dia pancangkan dengan teguh.” Mungkin didahulukannya penyebutan pemancaraan air dan tumbuhan, meskipun pemancangan gunung lebih dahulu keberadaannya dan sangat terkait dengan penghamparannya, adalah untuk menunjukkan kesempurnaan perhatian terhadap masalah makanan dan minuman, sekaligus untuk menghindari dugaan kembalinya dua kata ganti pada “air” dan “tumbuhan” kepada gunung-gunung.

3- Firman Allah Ta’ala: “(Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu.”

  • Kata “mata'” (kesenangan) digunakan untuk sesuatu yang dapat dimanfaatkan dalam jangka waktu tertentu; sehingga di dalamnya terkandung makna pembatasan waktu. Kata “mata’an” bisa jadi sebagai maf’ul lah (objek tujuan), artinya: Allah melakukan semua itu untuk memberikan kesenangan kepada kalian dan hewan ternak kalian; karena manfaat dari apa yang telah disebutkan berupa penghamparaan, penyiapan, pemancaraan air dan tumbuhan sampai kepada mereka dan hewan ternak mereka; dengan pengertian bahwa yang dimaksud dengan “mar’aa” (padang rumput) adalah semua yang mencakup apa yang dimakan manusia dan lainnya.

Ada yang berpendapat: Kata “mata’an” adalah masdar (kata benda verbal) yang memperkuat kata kerjanya yang tersembunyi, artinya: “Allah memberi kalian kesenangan dengan itu sebagai kesenangan”, atau sebagai masdar dari kata yang berbeda bentuk; karena firman Allah Ta’ala: “Dia pancarkan darinya air dan tumbuhan” bermakna: “Dia memberikan kesenangan dengan itu.”

  • Firman-Nya: “Untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu.” Huruf lam pada “lakum” dan “li-an’aamikum” adalah lam taqwiyah (penguatan), dan ini kembali kepada penciptaan bumi dan gunung-gunung. Hal itu tampak jelas pada bumi, adapun gunung-gunung; karena gunung-gunung adalah tempat berlindung mereka dari musuh, dan di sana terdapat padang rumput untuk hewan ternak mereka yang aman dari serangan mendadak. Ini adalah penyisipan pemberian nikmat dalam pengambilan dalil, untuk membangkitkan rasa syukur mereka sesuai dengan hak nikmat dengan cara menyembah Pemberi nikmat saja, dan tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain dalam ibadah.
  • Dalam firman-Nya: “Dan setelah itu bumi Dia hamparkan” hingga “untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu” terdapat keindahan gaya bahasa al-jam’ tsumma at-taqsim (pengumpulan kemudian pembagian).

۞ ۞ ۞ ۞ ۞

Ayat: 34-41

﴿فَاِذَا جَاۤءَتِ الطَّاۤمَّةُ الْكُبْرٰىۖ ٣٤ يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْاِنْسَانُ مَا سَعٰىۙ ٣٥ وَبُرِّزَتِ الْجَحِيْمُ لِمَنْ يَّرٰى ٣٦ فَاَمَّا مَنْ طَغٰىۖ ٣٧ وَاٰثَرَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَاۙ ٣٨ فَاِنَّ الْجَحِيْمَ هِيَ الْمَأْوٰىۗ ٣٩ وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰىۙ ٤٠ فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوٰىۗ ٤١ ﴾

Kosakata yang Tidak Umum:

At-Thammah: yaitu kiamat dan bencana yang tidak tertahankan, serta kejadian yang mengatasi (thumma) segala lainnya, yakni mengungguli dan mengalahkan. Diambil dari kata “thammal maa'” (air melimpah): ketika air menutupi segala sesuatu. Akar kata “thamam” menunjukkan sesuatu yang menutupi sesuatu lainnya.

Burrizat: yaitu ditampakkan. Akar kata “baraza” berarti munculnya sesuatu dan kemunculannya.

Aatsara: yaitu memilih dan mendahulukan. Akar kata “atsara” di sini menunjukkan mendahulukan sesuatu.

Al-Ma’wa: yaitu tempat tinggal, kediaman, dan tempat menetap. Al-Ma’wa adalah tempat segala sesuatu dan tempat kembalinya, di mana ia kembali baik malam atau siang hari. Dikatakan: “awa ilaa kadza” artinya bergabung kepadanya. Akar kata “awa” di sini menunjukkan berkumpul.

Al-Hawa: yaitu kecenderungan kepada nafsu. Dikatakan: dinamakan demikian karena ia menjatuhkan (yahwi) pemiliknya di dunia ke dalam setiap bencana, dan di akhirat ke dalam jurang neraka (al-hawiyah). Ada yang berpendapat: asal kata “hawa” adalah kecenderungan secara mutlak. Akar kata “hawiya” berarti kekosongan dan kejatuhan; oleh karena itu pendapat-pendapat yang salah disebut “ahwa'” (hawa nafsu).

Makna Umum:

Allah Ta’ala berfirman menjelaskan keadaan manusia pada hari kiamat: Ketika datang bencana terbesar yang kesulitannya melebihi segala kesulitan, pada hari itu manusia akan mengingat apa yang telah dikerjakannya di dunia berupa kebaikan atau keburukan, dan neraka ditampakkan kepada manusia, sehingga mereka melihatnya dengan jelas.

Adapun orang yang melampaui batasnya dengan sombong dan takabur, serta lebih mengutamakan kesenangan kehidupan dunia dan mendahulukannya daripada akhirat; maka neraka adalah tempat tinggalnya.

Dan adapun orang yang takut akan kedudukannya di hadapan Allah Ta’ala untuk perhitungan pada hari kiamat, serta mencegah dirinya dan menahannya dari apa yang membuat Allah Ta’ala murka; maka surga akan menjadi tempat tinggal dan kediamannya di akhirat.

Tafsir Ayat-ayat:

“Maka apabila malapetaka yang sangat besar (kiamat) telah datang.” (34)

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Allah Ta’ala menyebutkan bagaimana Dia menciptakan langit dan bumi untuk menunjukkan bahwa Dia mampu melakukan kebangkitan dan pengumpulan. Setelah menegaskan hal itu dan menjelaskan kemungkinan kebangkitan secara logis, Dia kemudian memberitakan tentang terjadinya kebangkitan tersebut.

Juga, ketika Dzat yang menciptakan langit-langit yang agung beserta cahaya dan benda-benda langit di dalamnya, serta bumi yang padat dan berdebu beserta segala kebutuhan dan manfaat bagi makhluk di dalamnya, pasti akan membangkitkan makhluk-makhluk yang dibebani kewajiban (mukallaf) untuk membalas amal perbuatan mereka. Barangsiapa berbuat baik, maka baginya kebaikan, dan barangsiapa berbuat buruk, maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri. Setelah ini, Allah menyebutkan terjadinya hari kiamat, kemudian pembalasan.

“Maka apabila malapetaka yang sangat besar (kiamat) telah datang.” (34)

Artinya: Ketika datang musibah terbesar dan bencana paling dahsyat yang kerasnya dan dahsyatnya melebihi segala bencana dan musibah. Allah Ta’ala berfirman: “Bahkan hari Kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan Kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit.” [Al-Qamar: 46]

“Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya.” (35)

Artinya: Pada hari manusia mengingat apa yang telah dikerjakannya di dunia berupa kebaikan atau keburukan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Pada hari itu manusia baru menyadari (kesalahannya), tetapi tidak berguna lagi kesadaran itu baginya.” [Al-Fajr: 23]

“Dan neraka diperlihatkan dengan jelas kepada setiap orang yang melihat.” (36)

Artinya: Neraka yang sangat menyala-nyala ditampakkan dan diperlihatkan kepada manusia, sehingga mereka melihatnya dengan jelas. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahanam; ketika itu manusia baru menyadari (kesalahannya), tetapi tidak berguna lagi kesadaran itu baginya.” [Al-Fajr: 23]

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim, kemudian kamu benar-benar akan melihatnya dengan mata kepala.” [At-Takatsur: 6-7]

Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan diperlihatkan dengan jelas neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat.” [Asy-Syu’ara: 91]

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jahannam akan didatangkan pada hari itu dengan tujuh puluh ribu tali kekang, pada setiap tali kekang ada tujuh puluh ribu malaikat yang menariknya.”

“Maka adapun orang yang melampaui batas,” (37)

Artinya: Adapun orang yang melampaui batasnya lalu durhaka dan sombong dari ketaatan kepada Allah Ta’ala dan ibadah kepada-Nya.

“Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia,” (38)

Artinya: Dan lebih mementingkan kesenangan kehidupan dunia, serta mendahulukannya daripada akhirat untuk memuaskan hawa nafsunya, sehingga ia beramal untuk dunianya dan tidak beramal untuk akhiratnya.

Sebagaimana Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” [Al-A’la: 16-17]

“Maka sungguh, nerakalah tempat tinggalnya.” (39)

Artinya: Maka sesungguhnya tempat tinggal dan kediamannya di akhirat adalah neraka yang sangat menyala-nyala.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami (di akhirat), dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan (kehidupan) itu, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya di neraka, karena apa yang telah mereka lakukan.” [Yunus: 7-8]

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya,” (40)

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah Ta’ala menyebutkan orang yang melampaui batas, Dia mengikutinya dengan menyebutkan orang yang bertakwa, maka Dia berfirman:

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya.”

Artinya: Dan adapun orang yang takut akan kedudukannya di hadapan Allah Ta’ala untuk perhitungan pada hari kiamat, maka ia bertakwa kepada-Nya dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya,” dan beliau menyebutkan di antaranya: “seorang laki-laki yang diajak oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu ia berkata: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’, dan seorang laki-laki yang mengingat Allah ketika sendirian lalu berlinang air matanya.”

“Dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya,”

Artinya: Dan mencegah dirinya serta menahannya dari segala yang tidak diridhai oleh Allah Ta’ala.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya sudah melewati batas.” [Al-Kahfi: 28]

“Maka sungguh, surgalah tempat tinggalnya.” (41)

Artinya: Maka sesungguhnya surga menjadi tempat tinggal dan kediamannya di akhirat.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan bagi siapa yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.” [Ar-Rahman: 46]

Dan Allah Subhanahu berfirman: “Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” [Al-Bayyinah: 8]

Pelajaran-pelajaran Edukatif:

1- Salah satu metode Al-Qur’an al-Karim adalah: Menyebutkan secara jelas pahala bagi orang-orang yang baik, bertakwa, ikhlas, dan berbuat baik, serta mereka yang kebaikannya lebih berat; dan juga menyebutkan hukuman bagi orang-orang kafir, jahat, dan zalim terhadap diri mereka sendiri, serta mereka yang ringan timbangan amalnya. Sementara Al-Qur’an diam tentang kelompok yang memiliki dua campuran (kebaikan dan keburukan) dan dua unsur. Ini adalah metode Al-Qur’an, seperti firman Allah Ta’ala: “Maka adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sungguh, nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggalnya.”

Dan firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (surga), dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” [Al-Infithar: 13-14], dan ini banyak terdapat dalam Al-Qur’an.

Mereka (para ulama) berkata: Dalam diamnya Al-Qur’an tentang keadaan orang yang memiliki dua campuran terdapat peringatan yang besar dan menakutkan baginya; karena urusannya ditangguhkan kepada Allah Ta’ala, dan tidak ada jaminan baginya, dan tidak ada janji untuknya di sisi Allah. Maka hendaklah ia sangat berhati-hati, dan bersegera untuk bertaubat dengan taubat yang tulus yang akan menggabungkannya dengan orang-orang yang dijamin keselamatan dan kesuksesan.

2- Sikap melampaui batas dan mengutamakan kehidupan dunia serta syahwatnya adalah di antara sebab-sebab yang mewajibkan neraka, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Maka adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sungguh, nerakalah tempat tinggalnya.”

3- Manusia terbagi menjadi dua kelompok: Kelompok yang dikuasai oleh nafsunya sehingga memilikinya dan membinasakannya, dan ia menjadi tunduk pada nafsu tersebut di bawah perintah-perintahnya; dan kelompok yang menguasai nafsu mereka sehingga mereka mengalahkannya, dan nafsu itu menjadi tunduk pada mereka, taat kepada perintah-perintah mereka.

Sebagian orang arif berkata: Perjalanan para pencari berakhir pada kemenangan atas diri mereka sendiri. Barangsiapa yang menguasai nafsunya, ia beruntung dan sukses. Dan barangsiapa yang dikuasai oleh nafsunya, ia rugi dan binasa. Allah Ta’ala berfirman: “Maka adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sungguh, nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggalnya.”

Maka nafsu mengajak kepada sikap melampaui batas dan mengutamakan kehidupan dunia, sedangkan Tuhan mengajak hamba-Nya untuk takut kepada-Nya dan mencegah nafsu dari hawa nafsu.

4- Dalam firman Allah Ta’ala: “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya,” terdapat pelajaran bahwa rasa takut mencegah dari mengikuti hawa nafsu.

Manfaat Ilmiah dan Poin-poin Menarik:

1- Firman Allah Ta’ala: “Dan diperlihatkan neraka Jahim bagi yang melihat”. Ada pertanyaan: Bahwa Allah Ta’ala berfirman dalam Surah (Asy-Syu’ara): “Dan didekatkan surga kepada orang-orang yang bertakwa * Dan diperlihatkan neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat” [Asy-Syu’ara: 90-91], sehingga dikhususkan penampakan neraka bagi orang-orang yang sesat? Jawaban: Bahwa neraka diperlihatkan bagi orang-orang yang sesat, dan orang-orang beriman juga melihatnya saat melewati jalan (menuju surga), dan tidak ada pertentangan antara kedua hal tersebut.

2- Dalam firman Allah Ta’ala: “Maka adapun orang yang melampaui batas * Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia * Maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya * Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya * Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya”. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menjadikan jalan menuju surga selain dengan menentang hawa nafsu, dan tidak menjadikan jalan menuju neraka selain dengan mengikuti hawa nafsu!

3- Firman Allah Ta’ala: “Maka adapun orang yang melampaui batas * Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia * Maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya”. Ketika manusia disifati dengan dua hal ini, maka dia telah mencapai puncak kerusakan, dan dia adalah orang kafir yang hukumannya kekal.

4- Allah Ta’ala berfirman: “Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia”. Al-Itsar (mengutamakan): Mendahulukan sesuatu di atas sesuatu yang lain dalam keadaan tidak mungkin menggabungkan keduanya. Dapat dipahami dari tindakan mendahulukan ini bahwa bersamanya ada pembuangan kenikmatan akhirat.

Keindahan Balaghah dalam Ayat-ayat:

1- Firman Allah Ta’ala: “Maka apabila datang malapetaka yang sangat besar (hari kiamat)”

Boleh jadi penjelasan ini berdasarkan dalil yang terkandung dalam firman-Nya: “Apakah penciptaan kamu yang lebih sulit ataukah langit yang telah dibangun-Nya?” [An-Nazi’at: 27] dan ayat-ayat selanjutnya. Karena penetapan kebangkitan menuntut adanya pembalasan, sebab itulah hikmahnya. Dan berdasarkan dalil penetapan kebangkitan ini, disebutkan peringatan tentang dua jenis pembalasan, dan petunjuk menuju dua jalan.

Ketika sebelum argumentasi telah disampaikan peringatan secara global dengan firman-Nya: “Pada hari (ketika) tiupan pertama menggoncangkan alam” [An-Nazi’at: 6], maka setelah argumentasi datanglah perincian peringatan tersebut disertai dengan kabar gembira bagi mereka yang berhias dengan sifat kebalikannya. Oleh karena itu, kebangkitan pada awalnya diungkapkan dengan “ar-raajifah” (goncangan) karena itulah permulaannya, kemudian dengan “az-zajrah” (teriakan), dan akhirnya dengan “ath-thammah al-kubra” (malapetaka besar); karena dalam kedua sifat ini terkandung makna yang meliputi “ar-raajifah” dan kengerian-kengerian sesudahnya hingga setiap kelompok menetap di tempatnya masing-masing.

Dan di antara kesempurnaan kesesuaian untuk mengingatkan tentang hari pembalasan adalah terjadinya setelah peringatan tentang penciptaan bumi, dan nikmat yang Allah siapkan di bumi sebagai kesenangan bagi manusia; untuk menunjukkan bahwa semua itu akan berakhir ketika tiba hari kebangkitan dan pembalasan.

Boleh juga menjadikan firman-Nya: “Maka apabila datang malapetaka yang sangat besar” sebagai kelanjutan dari firman-Nya: “Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi” [An-Nazi’at: 13-14]; karena “ath-thammah” adalah “az-zajrah” (tiupan), dan titik penghubungnya adalah perincian yang menyusulnya dengan firman-Nya: “Adapun orang yang melampaui batas” dan seterusnya; karena tidak tepat menghubungkan sesuatu dengan dirinya sendiri.

  • Kata (إذا/idza) adalah kata keterangan waktu untuk masa depan; karena itu ketika ada kata kerja lampau setelahnya, maka dipalingkan ke masa depan. Penggunaan kata kerja lampau setelah (إذا/idza) adalah untuk menambah keyakinan terhadap apa yang ditunjukkan oleh (إذا/idza) tentang kepastian kejadiannya.
  • “Ath-Thammah”: adalah kejadian atau peristiwa yang “mengatasi/menutupi”, yakni: mengungguli dan mengalahkan, dalam arti melebihi yang serupa dengannya sehingga jarang ada yang sepertinya. Sifat ini menunjukkan kehebatan dan kengerian; karena ungkapan seperti ini tidak diucapkan kecuali untuk hal-hal yang mengerikan. Kemudian ditekankan lagi dalam menggambarkan kengeriannya dengan menyifatinya sebagai “al-kubra” (yang terbesar), maka ini adalah kata-kata yang paling jelas untuk menggambarkan kengerian-kengerian yang menyertai peristiwa ini.
  • Jawaban dari (إذا/idza) adalah firman-Nya: “Adapun orang yang melampaui batas” [An-Nazi’at: 37] dan seterusnya. Ada yang mengatakan: jawabnya dibuang, perkirannya adalah: “Maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya”. Ada juga yang mengatakan: jawaban (إذا/idza) dibuang yang ditunjukkan oleh perincian yang disebutkan, dan perkiraannya adalah: “Akan terjadi perkara-perkara besar yang tidak terlintas dalam pikiran, tidak dilihat oleh mata, dan tidak didengar oleh telinga.”
  • Di dalamnya terdapat keserasian yang indah, di mana Allah berfirman di sini: “Maka apabila datang malapetaka yang sangat besar (kiamat) * Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya”, dan berfirman dalam Surah ‘Abasa: “Maka apabila datang suara yang memekakkan (hari kiamat)” [‘Abasa: 33]; maka menyebutnya sebagai “ath-thammah al-kubra” (malapetaka besar) pada yang pertama, dan menyebutnya “ash-shaakhkhah” (suara yang memekakkan) pada yang kedua.

Alasannya: meskipun “ath-thammah” dan “ash-shaakhkhah” dimaksudkan untuk hal yang sama di kedua surah, namun nama “ath-thammah” lebih menakutkan dan lebih menunjukkan kengerian-kengerian kiamat; karena berasal dari ungkapan mereka: “thamma as-sail” (banjir meluap); ketika air naik dan mengatasi segalanya. Sedangkan “ash-shaakhkhah” adalah teriakan keras, dari ungkapan: “shakhkha bi udzunaihi”, seperti “ashakha” (mendengarkan dengan seksama), maka diungkapkan dengan kata ini untuk kiamat; karena manusia akan mendengarkan dengan seksama terhadapnya.

Ketika “ath-thammah” lebih kuat dalam menunjukkan kengerian-kengeriannya, maka kata ini dikhususkan untuk surah yang lebih kuat di antara kedua surah dalam menimbulkan rasa takut dan peringatan, dan atas dasar itu dibangunlah Surah An-Nazi’at. Tidakkah engkau perhatikan firman-Nya: “Pada hari (ketika) tiupan pertama menggoncangkan alam * Tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua” [An-Nazi’at: 6-7], dan penyifatan “ath-thammah” sebagai “al-kubra” (yang terbesar), dan apa yang mengikutinya setelah itu, serta awal dan akhir surah, semuanya berisi ancaman dan peringatan, maka sesuai baginya ungkapan yang lebih keras dampaknya dan lebih menakutkan.

Adapun Surah ‘Abasa tidak dibangun untuk tujuan tersebut, tetapi dibangun berdasarkan kisah Abdullah bin Ummi Maktum yang buta, dan itu terkenal. Kemudian datanglah firman-Nya: “Maka apabila datang suara yang memekakkan” setelah pengingatan dengan firman-Nya: “Sekali-kali jangan (begitu)! Sesungguhnya (ayat-ayat) itu adalah peringatan” [‘Abasa: 11], dan dorongan untuk mengambil pelajaran dengan firman-Nya: “Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya” [‘Abasa: 24] sampai firman-Nya: “Untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu” [‘Abasa: 32], kemudian setelah menyebutkan “ash-shaakhkhah” dilanjutkan dengan firman-Nya: “Pada hari itu ada wajah-wajah yang berseri-seri * Tertawa dan gembira ria” [‘Abasa: 38-39].

Jadi Surah An-Nazi’at – secara keseluruhan – lebih keras dalam menimbulkan rasa takut dan peringatan, maka sesuai baginya ungkapan yang lebih kuat di antara kedua nama kiamat dalam menimbulkan rasa takut dan peringatan akan keadaannya. Surah ‘Abasa tidak seperti Surah An-Nazi’at dalam menimbulkan rasa takut dan peringatan, maka sesuai baginya penyebutan nama kiamat dengan “ash-shaakhkhah”; karena tidak sekuat “ath-thammah” dalam menimbulkan rasa takut, sehingga masing-masing datang sesuai dengan konteksnya. Ada juga pendapat lain selain ini.

2- Firman Allah Ta’ala: “Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya”. Mengingat (tadzakkur) mengisyaratkan adanya lupa sebelumnya, yaitu terhapusnya pengetahuan dari ingatan. Maknanya: pada hari ketika manusia diingatkan lalu dia teringat, yakni: diperlihatkan kepadanya amalannya lalu dia mengakuinya; karena tujuan dari mengingat hanyalah akibatnya, yaitu pembalasan, maka “mengingat” di sini adalah kiasan untuk pembalasan.

3- Firman Allah Ta’ala: “Dan diperlihatkan neraka Jahim bagi yang melihat”. Ini dirangkaikan dengan kata “yatadzakkaru” (teringat), dan penggunaan bentuk lampau “burrizat” (telah diperlihatkan); untuk menunjukkan kepastian. Kalimat ini dibangun dalam bentuk pasif; karena tidak ada tujuan untuk menjelaskan siapa yang memperlihatkannya; sebab nasihat terletak pada pemberitahuan akan terjadinya penampakan neraka pada hari itu; karena yang mengerikan adalah penampakan neraka itu sendiri, bukan karena ditampakkan oleh pihak tertentu, di samping untuk menunjukkan keringan dan kemudahan; karena ungkapan ini mengikuti cara bicara orang-orang yang berkuasa.

  • “Tabriz al-jahim” (penampakan neraka Jahim): memperlihatkannya kepada penghuninya, dan digunakan kata kerja yang bertasydid “burrizat”; untuk menunjukkan arti penampakan neraka; karena itu adalah penampakan yang bertujuan menimbulkan rasa takut.
  • Firman-Nya: “liman yara” (bagi yang melihat), yakni: bagi setiap orang yang melihat. Maka kata kerja “yara” (melihat) ditempatkan pada posisi kata kerja lazim (intransitif); karena maksudnya adalah: bagi siapa yang memiliki penglihatan.

4- Firman Allah Ta’ala: “Maka adapun orang yang melampaui batas * Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia * Maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya”

Ini adalah perincian jawaban yang dihilangkan, yang diperkirakan: “Maka terbagilah orang-orang yang melihat menjadi dua kelompok: Adapun orang yang…” dan seterusnya. Yakni: perincian dua keadaan manusia yang mengingat apa yang telah dikerjakannya, dan pembagiannya berdasarkan amal perbuatannya menjadi dua kelompok yang disebutkan.

Yang dituntut oleh keagungan Al-Qur’an, dan yang diperlukan dalam situasi menimbulkan rasa gentar ini, adalah bahwa jawaban yang dihilangkan adalah: “Akan terjadi perkara-perkara besar yang belum pernah dilihat oleh mata”.

Atau jawabnya adalah: “Adapun orang yang…” dan seterusnya, sebagaimana engkau berkata: “Jika Bani Tamim datang kepadamu, maka adapun yang durhaka, hinakanlah dia, dan adapun yang taat, maka muliakanlah dia”.

Ada yang mengatakan: Huruf fa’ (maka) dalam firman-Nya: “Maka adapun orang yang melampaui batas * Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia” adalah permulaan kalimat baru, dan kalimat ini adalah kalimat baru yang ditujukan untuk menjelaskan keadaan manusia di dunia.

  • Disebutkannya “melampaui batas” (thughyan) mendahului “mengutamakan kehidupan dunia”; karena melampaui batas adalah salah satu sebab terbesar mengutamakan kehidupan dunia. Ketika kehidupan dunia merupakan akibat dari melampaui batas, maka disebutkan setelahnya; untuk memperhatikan urutan yang alami.
  • Yang dimaksud dengan “kehidupan dunia”: adalah kesenangan-kesenangan dan manfaat-manfaatnya yang khusus ada padanya, yakni: yang tidak dimiliki bersama dengan kesenangan-kesenangan akhirat. Jadi kalimat ini mengandung penghilangan kata yang diperkirakannya: “kenikmatan kehidupan”.
  • Firman-Nya: “Maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya”. Perkiraan ayat ini: “Maka sesungguhnya neraka adalah tempat tinggalnya”, sebagaimana engkau berkata kepada seseorang: “Tundukkan pandangan”, yang engkau maksud adalah: “pandanganmu”. Dan alif lam (al) di sini bukanlah pengganti dari kata ganti kepemilikan, tetapi karena telah diketahui bahwa orang yang melampaui batas adalah pemilik tempat tinggal itu, dan bahwa seseorang tidak menundukkan pandangan orang lain: maka kata ganti kepemilikan ditinggalkan, dan masuknya huruf ta’rif (alif lam) pada kata “al-ma’wa” dan “ath-tharf” adalah untuk penentuan, karena keduanya sudah dikenal. Atau perkiraannya: “tempat tinggal baginya”, kemudian kata penghubung dihilangkan karena jelasnya makna. Atau perkiraannya: “Maka sesungguhnya neraka adalah tempat tinggal yang layak bagi orang yang memiliki sifat-sifat dan akhlak ini”.

5- Firman Allah Ta’ala: “Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya * Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya”

  • Firman-Nya: “Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya”. Dalam penyandaran kata “maqam” (kebesaran/kedudukan) kepada “Rabb” (Tuhan) Yang Maha Suci terdapat pengagungan terhadap kedudukan tersebut, dan menimbulkan rasa takut yang besar, yang sangat berpengaruh pada jiwa.
  • “Larangan” orang yang takut terhadap dirinya sendiri diungkapkan sebagai bentuk pengendalian diri dari melakukan apa yang disukai oleh jiwa berupa kemaksiatan dan hawa nafsu. Maka jiwa manusia ditempatkan pada posisi seperti orang lain yang mengajaknya kepada keburukan sementara dia melarangnya dari ajakan ini. Ini mirip dengan apa yang disebut “at-tajrid” (penggambaran), mereka berkata: “Jiwanya berkata kepadanya demikian lalu dia mendurhakai jiwanya”, dan dikatakan: “Dia melarang hatinya”.
  • Penentuan kata “al-hawa” (hawa nafsu) adalah penentuan jenis, sedangkan penentuan dalam kata “al-ma’wa” (tempat tinggal) adalah penentuan yang sudah dikenal, yakni: tempat tinggal bagi orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya. Ini adalah penentuan yang menggantikan penyebutan kata yang disandarkan kepadanya (ma’wa/tempat tinggal), dan bentuk seperti ini umum dalam pembicaraan, seperti dalam ungkapan: “ghuddha ath-tharfa” (tundukkan pandangan), yakni: pandangan yang sudah dikenal dari perintah itu, maksudnya: tundukkan pandanganmu, dan ungkapan: “wamla’ as-sam’a” (penuhilah pendengaran), yakni: pendengaranmu, atau perkiraan kalimatnya adalah: tempat tinggal baginya.
  • “Maqama rabbihi” (kebesaran Tuhannya): asal kata “maqam” adalah tempat berdiri; sehingga asalnya adalah tempat untuk apa yang disandarkan kepadanya, kemudian penggunaannya meluas untuk menunjukkan apa yang disandarkan kepadanya melalui cara kiasan dengan mengagungkan tempat untuk mengagungkan pemiliknya, seperti kata-kata: janab (sisi), kanaf (perlindungan), dzara (puncak), dan itu termasuk jenis kiasan yang dimaksudkan untuk menghubungkan dengan yang dikinayahkan; karena takut kepada “maqam” (kebesaran) Allah dimaksudkan sebagai takut kepada Allah, dan yang dimaksud dengan hubungan ini mencakup keterkaitannya dengan objek.
  • Penentuan kata “an-nafs” (jiwa) adalah untuk yang sudah dikenal, seperti penentuan dalam kata “al-ma’wa” (tempat tinggal).
  • Dalam penentuan penghuni neraka dan penghuni surga melalui isim maushul (kata penghubung): “Maka adapun orang yang melampaui batas…” dan “Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya…”: terdapat isyarat bahwa kedua shilah (kalimat penjelas) itu adalah alasan dalam kelayakan mendapatkan tempat tinggal tersebut.
  • Dalam firman-Nya: “Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya” sampai firman-Nya: “Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya” terdapat keindahan al-jam’ ma’a at-taqsim (pengumpulan disertai pembagian).

۞ ۞ ۞ ۞ ۞

Ayat: 42-46

﴿يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ السَّاعَةِ اَيَّانَ مُرْسٰىهَاۗ ٤٢ فِيْمَ اَنْتَ مِنْ ذِكْرٰىهَاۗ ٤٣ اِلٰى رَبِّكَ مُنْتَهٰىهَاۗ ٤٤ اِنَّمَآ اَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَّخْشٰىهَاۗ ٤٥ كَاَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوْٓا اِلَّا عَشِيَّةً اَوْ ضُحٰىهَا ࣖ ٤٦ ﴾

Kata-kata yang Sulit:

أَيَّانَ مُرْسَاهَا: Kapan kejadiannya? Artinya: pada waktu apa terjadinya, tegaknya, tetapnya dan mantapnya? Kata “أَيَّانَ” digunakan untuk bertanya tentang waktu di masa depan, dan asal kata “رسو” menunjukkan ketetapan.

عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا: “العَشِيُّ” berarti dari tergelincirnya matahari hingga pagi, atau akhir siang hari. Asal kata “عشو” menunjukkan kegelapan dan minimnya kejelasan sesuatu. “الضُّحَى” berarti awal hari atau tersebarnya sinar matahari dan perpanjangan siang hari, waktu diberi nama demikian, dan asalnya menunjukkan munculnya sesuatu.

Makna Keseluruhan:

Allah Ta’ala berfirman: Orang-orang yang mendustakan kebangkitan bertanya kepadamu -wahai Muhammad- tentang waktu kiamat, mereka berkata: “Kapan waktu terjadinya?” Kemudian Allah Ta’ala menjawab: “Bukan urusanmu untuk mengetahui waktu terjadinya kiamat, dan itu bukan kepadamu, hanya kepada Tuhanmu saja akhir pengetahuan tentangnya. Kamu hanya diperintahkan untuk memperingatkan orang yang takut akan terjadinya kiamat.” Kemudian Allah Ta’ala mengakhiri surah yang mulia ini dengan penjelasan tentang keadaan mereka ketika kiamat terjadi, Allah berfirman: “Seakan-akan mereka pada hari mereka melihat kiamat, tidak tinggal di dunia kecuali waktu yang singkat seperti ukuran akhir siang atau awalnya.”

Tafsir Ayat-ayat:

“يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا (42)”

[Mereka bertanya kepadamu tentang hari kiamat, kapan terjadinya?]

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Bahwa Allah Ta’ala setelah menjelaskan dengan bukti logis tentang kemungkinan terjadinya kiamat, kemudian mengabarkan tentang kejadiannya, lalu menyebutkan keadaan umum di dalamnya, kemudian menyebutkan keadaan orang-orang yang celaka dan bahagia di dalamnya, Allah Ta’ala berfirman: “Mereka bertanya kepadamu tentang hari kiamat, kapan terjadinya?” Artinya: Orang-orang yang mendustakan kebangkitan bertanya kepadamu -wahai Muhammad- tentang waktu kiamat, mereka berkata: “Kapan waktu terjadinya?” Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Manusia bertanya kepadamu tentang hari kiamat. Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu hanya di sisi Allah'” [Al-Ahzab: 63]. Dan Allah berfirman: “Mereka bertanya: ‘Kapankah hari pembalasan itu?'” [Adz-Dzariyat: 12]. Dan Allah berfirman: “Bahkan manusia itu hendak berbuat maksiat terus menerus. Dia bertanya: ‘Kapankah hari kiamat itu?'” [Al-Qiyamah: 5-6].

“فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا (43)”

[Untuk apa engkau perlu menyebutkannya (waktunya)?]

Artinya: Bukan urusanmu untuk mengetahui waktu terjadinya kiamat, dan itu bukan kepadamu.

“إِلَى رَبِّكَ مُنْتَهَاهَا (44)”

[Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya)]

Artinya: Hanya kepada Tuhanmu -wahai Muhammad- pengetahuan tentang waktu kiamat, tidak ada yang mengetahui waktu kedatangannya selain Dia. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu hanya di sisi Tuhanku. Tidak ada yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia'” [Al-A’raf: 187].

Allah berfirman: “Sesungguhnya hanya di sisi Allah pengetahuan tentang hari kiamat” [Luqman: 34]. Dan Allah berfirman: “Hanya kepada-Nya dikembalikan pengetahuan tentang hari kiamat” [Fussilat: 47].

“إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَخْشَاهَا (45)”

[Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi orang yang takut kepadanya (hari kiamat)]

Artinya: Sesungguhnya engkau -wahai Muhammad- hanya diperintahkan untuk memperingatkan orang yang takut akan terjadinya kiamat; dialah yang dapat mengambil manfaat dari itu, sehingga dia beramal untuk menghadapinya dan bersiap-siap karenanya. Engkau tidak dibebani untuk mengetahui waktunya atau memberitahukan kepada manusia tentang kedatangannya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan tidak berguna tanda-tanda (kebesaran Allah) dan peringatan-peringatan bagi orang yang tidak beriman” [Yunus: 101]. Dan Allah berfirman: “Sesungguhnya engkau hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, walaupun mereka tidak melihat-Nya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia” [Yasin: 11].

“كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا (46)”

[Pada hari ketika mereka melihat hari kiamat itu (karena suasananya hebat), mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan hanya di waktu sore atau pagi hari saja]

Artinya: Seakan-akan mereka pada hari mereka melihat kiamat, tidak hidup di dunia kecuali waktu yang singkat yang tidak melebihi ukuran akhir siang atau awalnya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan pada hari ketika Dia mengumpulkan mereka, (mereka merasa) seakan-akan tidak pernah tinggal (di dunia) kecuali sesaat saja pada siang hari” [Yunus: 45]. Dan Allah berfirman: “Pada hari ketika mereka melihat azab yang dijanjikan kepada mereka, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia), kecuali sesaat saja pada siang hari” [Al-Ahqaf: 35]. Dan Allah berfirman: “Dia (Allah) berfirman: ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menjawab: ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada mereka yang menghitung.’ Dia (Allah) berfirman: ‘Kamu tinggal (di bumi) hanya sebentar saja, jika kamu benar-benar mengetahui'” [Al-Mu’minun: 112-114].

Pelajaran Edukatif:

1- Allah Ta’ala memberitahukan bahwa ayat-ayat-Nya yang bersifat keimanan dalam Al-Qur’an hanya bermanfaat bagi orang-orang yang bertakwa, takut dan kembali kepada-Nya, dan bagi orang yang tujuannya mengikuti keridhaan-Nya, dan ayat-ayat tersebut menjadi peringatan bagi orang yang takut kepada-Nya. Sebagaimana Allah berfirman: “Tha Ha. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah; melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah)” [Thaha: 1-3], dan Allah berfirman di sini: “Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi orang yang takut kepadanya.” Adapun orang yang tidak beriman kepadanya, tidak mengharapkannya dan tidak takut kepadanya, maka ayat-ayat yang dapat disaksikan dan ayat-ayat Al-Qur’an tidak akan bermanfaat baginya.

2- Firman Allah: “Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi orang yang takut kepadanya” artinya: dia memiliki kemampuan untuk takut kepadanya dengan ketakutan yang besar, sehingga dia beramal untuk menghadapinya; karena dia mengetahui bahwa kiamat pasti datang, dan dia mengetahui bahwa kematiannya pasti terjadi, dan dia mengetahui bahwa segala sesuatu yang pasti terjadi adalah dekat. Hal ini tidak sesuai dengan penentuan waktunya; karena orang yang memiliki kemampuan untuk takut, ketidakjelasan waktu kiamat hanya akan menambah ketakutannya, sedangkan selain dia, hal itu hanya akan menambah keberanian dan kejahatan.

Manfaat Ilmiah dan Kelembutan:

1- Firman Allah Ta’ala: “Mereka bertanya kepadamu tentang hari kiamat, kapan terjadinya? Untuk apa engkau perlu menyebutkannya (waktunya)?” Ketika pengetahuan manusia tentang hari kiamat tidak membawa maslahat bagi mereka baik dalam agama maupun dunia, bahkan maslahatnya terletak pada ketidaktahuan mereka; Allah merahasiakan pengetahuan tersebut dari seluruh makhluk, dan hanya Dia yang mengetahuinya.

2- Allah Ta’ala berfirman: “Mereka bertanya kepadamu tentang hari kiamat, kapan terjadinya?” Seseorang mungkin bertanya: “Biasanya penambatan (إرساء) berlaku untuk kapal dan gunung-gunung, dan yang serupa dengannya, jadi bagaimana kiamat bisa disifati dengan penambatan?” Jawabannya: Kiamat seperti kapal yang berlayar kemudian berlabuh, dan berlabuhnya adalah tegaknya kiamat. Tegaknya kiamat bukanlah seperti berdirinya seseorang di atas kakinya dan sebagainya, melainkan seperti ucapan: “Keadilan telah tegak” atau “Kebenaran telah tegak,” artinya: telah muncul dan tetap.

3- Dalam firman Allah Ta’ala: “Mereka bertanya kepadamu tentang hari kiamat, kapan terjadinya? Untuk apa engkau perlu menyebutkannya (waktunya)? Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya),” khabar didahulukan pada firman-Nya: “Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya” untuk menunjukkan kekhususan hal tersebut pada Allah. Ini secara jelas menyatakan bahwa pengetahuan tentang kiamat adalah khusus milik Allah Ta’ala, tidak diketahui oleh malaikat yang dekat dengan-Nya, maupun nabi yang diutus.

4- Firman Allah Ta’ala: “Pada hari ketika mereka melihat hari kiamat itu (karena suasananya hebat), mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan hanya di waktu sore atau pagi hari saja.” Di sini ada pertanyaan: Firman-Nya “أَوْ ضُحَاهَا” (atau pagi harinya), artinya: pagi hari dari sore tersebut, dan ini tidak masuk akal; karena sore tidak memiliki waktu pagi hari?

Jawaban dari beberapa segi:

Segi pertama: Huruf “ha” dan “alif” adalah tambahan untuk kalimat – yaitu: tambahan – maksudnya: mereka tidak tinggal kecuali di waktu sore atau pagi hari.

Segi kedua: Yang dimaksud dengan penisbatan waktu pagi (الضُّحى) kepada sore (العَشِيَّةِ) adalah penisbatannya kepada hari sore tersebut, seakan-akan dikatakan: kecuali sore hari atau pagi hari dari hari tersebut. Orang Arab mengatakan: “Aku akan datang kepadamu di sore hari atau pagi harinya.”

Segi ketiga: Para ahli nahwu mengatakan: Cukup dengan sebab yang terkecil untuk membenarkan penisbatan. Waktu pagi yang mendahului sore hari benar untuk dikatakan bahwa itu adalah waktu pagi dari sore tersebut. Waktu kesusahan terkadang diungkapkan dengan “sore hari”, dan waktu kesenangan terkadang diungkapkan dengan “waktu pagi”. Maka orang-orang yang hadir di tempat berkumpulnya kiamat mengungkapkan waktu kesusahan mereka dengan “sore hari”, dan waktu kesenangan mereka dengan “waktu pagi dari sore tersebut”, sehingga mereka berkata: “Seakan-akan umur kami di dunia hanyalah kedua waktu tersebut.”

5- Allah Ta’ala berfirman: “Pada hari ketika mereka melihat hari kiamat itu (karena suasananya hebat), mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan hanya di waktu sore atau pagi hari saja.” Yang dimaksud adalah: satu jam dari siang hari; awal atau akhirnya, mereka tidak menghabiskan satu hari penuh, dan tidak mengumpulkan kedua ujungnya. Ini menunjukkan bahwa orang-orang kafir juga merasakan singkatnya masa tinggal mereka, seakan-akan mereka berbagai kelompok; sebagian mereka berkata: “Kamu tinggal (di dunia) hanya sepuluh hari” [Thaha: 103], sebagian lagi berkata: “Kamu tinggal (di dunia) hanya satu hari” [Thaha: 104], dan sebagian lainnya bingung lalu berkata: “Tanyakan kepada mereka yang menghitung.”

Atau ucapan-ucapan tersebut adalah perkataan mereka, sedangkan kebenaran dari hal tersebut adalah apa yang Allah kabarkan tanpa dikaitkan dengan ucapan mereka, yaitu bahwa waktu yang telah berlalu bagi mereka dibandingkan dengan apa yang akan datang, seakan-akan hanya satu jam dari siang hari dibandingkan dengan siang hari yang lengkap! Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Yunus: “Dan pada hari ketika Dia mengumpulkan mereka, (mereka merasa) seakan-akan tidak pernah tinggal (di dunia) kecuali sesaat saja pada siang hari, (saat) mereka saling berkenalan” [Yunus: 45]. Ini menunjukkan bahwa di antara mereka ada yang mengatakan hal itu juga, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Mu’minun: “Dia (Allah) berfirman: ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menjawab: ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada mereka yang menghitung'” [Al-Mu’minun: 112-113].

Balaghah (Retorika) Ayat-ayat:

1- Firman Allah Ta’ala: “Mereka bertanya kepadamu tentang hari kiamat, kapan terjadinya?” adalah isti’naf bayani (pernyataan baru yang menjelaskan), yang berasal dari kenyataan bahwa orang-orang musyrik bertanya tentang waktu terjadinya kiamat yang diancamkan kepada mereka oleh Nabi Muhammad ﷺ, sebagaimana Allah ceritakan tentang mereka berulang kali dalam Al-Qur’an; seperti firman-Nya: “Dan mereka bertanya: ‘Kapankah janji ini (kiamat) jika kamu orang-orang yang benar?'” [Yunus: 48].

Pertanyaan mereka adalah bentuk ejekan dan penghinaan; karena mereka telah meyakinkan hati mereka bahwa terjadinya kiamat adalah mustahil, dan kadang-kadang mereka meminta agar kiamat dipercepat, dan mereka membuat diri mereka sendiri dan pengikut mereka percaya bahwa tertundanya kiamat adalah bukti dari keputusasaan terhadapnya; karena mereka mengira bahwa jika mereka melakukan hal itu kepada Rasulullah ﷺ, jika beliau benar-benar jujur, maka kemarahan Allah yang mengutus beliau akan memuncak, lalu Allah akan segera memperlihatkan azab kepada mereka. Mereka mengira bahwa urusan Sang Pencipta seperti urusan manusia, ketika seseorang marah, dia segera membalas dendam karena terburu-buru dan amarah!

Maka tidak mengherankan ketika hak untuk berargumentasi tentang kemungkinan kebangkitan telah ditunaikan dengan menetapkan bukti dan memberikan contoh, dan disinggung tentang hukuman bagi mereka yang meremehkannya dalam firman-Nya: “Maka apabila malapetaka besar (kiamat) telah datang” [An-Nazi’at: 34]; hal itu menjadi pemicu pertanyaan mereka dengan berkata: “Apakah kedatangan malapetaka besar ini memiliki waktu yang diketahui?” Maka keadaan menuntut adanya isti’naf bayani ini; untuk memenuhi hak konteks dan menjawab pertanyaan sebelumnya.

  • Tindakan bertanya diceritakan dengan bentuk mudhari’ (present tense) “يَسْأَلُونَكَ” (mereka bertanya kepadamu); untuk menunjukkan pembaruan dan pengulangan pertanyaan ini.
  • “As-Sa’ah” (Hari Kiamat) adalah “Ath-Thammah” (Malapetaka Besar), sehingga penyebutan “As-Sa’ah” merupakan bentuk penampakan dalam posisi penanaman; dengan tujuan untuk memberikan kemandirian kalimat dengan maknanya, serta variasi dalam pengungkapan dengan dua nama ini: “Ath-Thammah” dan “As-Sa’ah”.
  • Kalimat “أَيَّانَ مُرْسَاهَا” (kapan terjadinya?) adalah kalimat yang menjelaskan pertanyaan. “أَيَّانَ” adalah kata yang digunakan untuk bertanya tentang penentuan waktu, dan pertanyaan ini digunakan untuk menunjukkan anggapan jauh, dan juga merupakan kiasan untuk menunjukkan kemustahilan.

2- Firman Allah Ta’ala: “فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا * إِلَى رَبِّكَ مُنْتَهَاهَا” (Untuk apa engkau perlu menyebutkannya (waktunya)? Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya))

  • Firman-Nya: “فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا” berada pada posisi jawaban atas pertanyaan mereka tentang kiamat berdasarkan apa yang tampak dari kondisi pertanyaan mereka tentang kiamat yaitu keinginan untuk menentukan waktunya, dan mengabaikan maksud mereka untuk mengejek. Jawaban ini adalah bentuk mengeluarkan perkataan yang berbeda dari yang tampak jelas, dan ini adalah bentuk menerima pertanyaan dengan sesuatu yang tidak diminta; sebagai peringatan bahwa yang lebih utama baginya adalah memperhatikan hal lain, yaitu kandungan firman-Nya: “إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرُ” [Kamu hanyalah pemberi peringatan] [An-Nazi’at: 45], dan ini disebut dengan gaya bahasa bijaksana. Meskipun pembicaraan ditujukan kepada Nabi Muhammad ﷺ, maksudnya adalah agar sampai ke telinga orang-orang musyrik; oleh karena itu dianggap sebagai jawaban atas perkataan mereka, dan itu mengharuskan pemisahan kalimat dari kalimat sebelumnya seperti halnya jawaban dan pertanyaan.
  • “ما” dalam firman-Nya: “فِيمَ” adalah kata tanya yang berarti: hal apa? digunakan untuk menunjukkan keheranan terhadap pertanyaan para penanya tentangnya, kemudian mencela mereka; sehingga firman-Nya: “فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا” adalah keheranan terhadap banyaknya penyebutan tentangnya, seakan-akan dikatakan: dalam kesibukan dan perhatian apa engkau dari menyebutkannya dan bertanya tentangnya? Maksudnya: mereka bertanya kepadamu tentangnya, maka karena kesemangatanmu untuk menjawab mereka, engkau terus menyebutkannya dan bertanya tentangnya.

Ada yang mengatakan: “فِيمَ” adalah pengingkaran terhadap pertanyaan mereka, dan apa yang sesudahnya dari permulaan adalah alasan untuk pengingkaran, dan penjelasan tentang ketidakbenaran pertanyaan tersebut, yaitu: untuk apa pertanyaan ini? Kemudian dimulai dengan mengatakan: “أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا” artinya: pengutusan engkau sebagai penutup para nabi yang diutus pada masa dekat dengan kiamat adalah tanda dari tanda-tandanya: bukti yang menunjukkan kepada mereka tentang pengetahuan akan terjadinya dalam waktu dekat, maka cukuplah bagi mereka tingkatan pengetahuan ini. Jadi “فِيمَ” bukanlah khabar yang didahulukan untuk apa yang sesudahnya, tetapi khabar dari mubtada’ yang dihapus, yaitu: untuk apa pertanyaan ini yang datang dari orang-orang kafir? Maka selesailah perkataan di situ, kemudian dilanjutkan dengan kalimat “أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا” sebagai penjelasan alasan pengingkaran terhadap pertanyaan mereka, seakan-akan dikatakan: Sesungguhnya kiamat itu dekat tidak jauh; karena engkau adalah tanda dari tanda-tandanya, maka pengutusan engkau cukup bagi mereka sebagai bukti akan kedekatannya, dan perhatian untuk mempersiapkan diri untuknya, sehingga tidak ada makna bagi pertanyaan mereka tentangnya. Jadi makna “أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا” adalah: engkau adalah termasuk dari tanda-tandanya dan pengingat-pengingatnya.

  • Huruf “في” menunjukkan keterangan tempat dengan menjadikan orang-orang musyrik dalam desakan mereka untuk bertanya tentang waktu kiamat seakan-akan mereka menjadikan Nabi Muhammad ﷺ dikelilingi oleh penyebutan waktu kiamat, yaitu: berkaitan dengannya seperti keterkaitan seorang yang mengetahui dengan apa yang diketahuinya.
  • Mendahulukan “فِيمَ” atas mubtada’ “أَنْتَ” karena pentingnya; untuk menunjukkan bahwa kandungan khabar adalah pokok pengingkaran, berbeda jika dikatakan: apakah engkau dalam sesuatu dari penyebutannya?

3- Firman Allah Ta’ala: “إِلَى رَبِّكَ مُنْتَهَاهَا” (Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya) adalah kalimat yang berada pada posisi alasan untuk pengingkaran yang ditunjukkan oleh firman-Nya: “فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا”; oleh karena itu dipisahkan – yaitu: tidak disambungkan dengan ‘athaf kepada kalimat sebelumnya.

  • Dalam perkataan terdapat keringkasan dengan penghapusan, perkiraannya: kepada Tuhanmu pengetahuan tentang kesudahannya.
  • Mendahulukan kata yang di-jar (dalam frasa “إِلَى رَبِّكَ” – “kepada Tuhanmu”) atas subjek kalimat (dalam frasa “مُنْتَهَاهَا” – “pengetahuan tentangnya”) adalah untuk menegaskan pembatasan; artinya: bukan kepadamu, dan ini adalah pembatasan sifat pada yang disifati.

4- Firman Allah: “إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَخْشَاهَا” (Sesungguhnya engkau hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya [kiamat]) adalah penjelasan yang timbul dari kalimat “فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا * إِلَى رَبِّكَ مُنْتَهَاهَا” [An-Nazi’at: 43-44] (Untuk apa engkau menyebutkan [waktu terjadinya]? Kepada Tuhanmulah pengetahuan tentangnya [kiamat] dikembalikan); yaitu bahwa pendengar mungkin bertanya tentang alasan Nabi ﷺ banyak menyebutkan kiamat dan bahwa kiamat itu dekat, maka dijawab bahwa bagian Nabi ﷺ adalah memberi peringatan tentang datangnya kiamat secara tiba-tiba, bukan memberitahukan penentuan waktunya.

Dan dikatakan: Firman Allah: “إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَخْشَاهَا” adalah penegasan terhadap firman sebelumnya “فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا” [An-Nazi’at: 43], dan pembuktian maksud yang dimaksudkan darinya, serta penjelasan tugas Nabi ﷺ dalam hal tersebut. Karena pengingkaran bahwa Nabi ﷺ memiliki pengetahuan tentang waktu kiamat secara lahiriah mungkin mengesankan bahwa dia tidak boleh menyebutkannya sama sekali, maka hal itu diperjelas dengan penjelasan bahwa yang dinafikan darinya adalah penyebutan waktu pastinya sebagaimana yang mereka tanyakan, jadi maknanya: sesungguhnya engkau hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya, tugasmu adalah mematuhi apa yang diperintahkan kepadamu tentang memberitahukan kedekatannya dan merinci berbagai kengerian yang ada di dalamnya sebagaimana yang engkau ketahui, bukan menentukan waktunya yang tidak diserahkan kepadamu. Jadi, mengapa mereka bertanya kepadamu tentang sesuatu yang bukan tugasmu untuk menjelaskannya?

Atau itu adalah penegasan firman Allah: “أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا” dengan menjelaskan bahwa pengutusan Nabi ﷺ – yang merupakan penutup para nabi – adalah untuk memperingatkan akan datangnya Hari Kiamat.

  • Kata “إِنَّمَا” (sesungguhnya hanyalah) mengandung makna pembatasan subjek pada sifat peringatan, yakni pengkhususannya pada keadaan memberi peringatan, dan ini adalah pembatasan yang disifati pada sifat, yaitu pembatasan relatif, yakni: berkaitan dengan apa yang mereka yakini tentangnya sebagaimana yang ditunjukkan oleh desakan mereka dalam bertanya, bahwa dia mengetahui hal-hal gaib.
  • Dalam penyandaran kata “مُنْذِرُ” (pemberi peringatan) kepada “مَنْ يَخْشَاهَا” (siapa yang takut kepadanya) atau penggunaan kata tersebut sebagai objek – menurut bacaan Abu Ja’far: “مُنذِرٌ” dengan tanwin – terdapat peringkasan dengan penghilangan yang diperkirakan: “pemberi peringatan tentangnya, lalu orang yang takut kepadanya akan terperingatkan”. Konteks ini bersifat kontekstual, karena pengetahuan umum dari Al-Qur’an bahwa Nabi ﷺ memperingatkan semua manusia, tidak mengkhususkan satu kaum tanpa yang lain; karena ayat-ayat dakwah dari Al-Qur’an dan situasi dakwah Nabi ﷺ selalu bersifat umum, dan tidak diketahui siapa yang takut kepada Hari Kiamat kecuali setelah seorang mukmin beriman. Seandainya diketahui bahwa seseorang tidak akan pernah beriman, tentu dakwah tidak akan diarahkan kepadanya; maka dapat dipastikan bahwa yang dimaksud adalah: tidak ada yang mendapat manfaat dari peringatan kecuali orang yang takut pada Hari Kiamat, sedangkan selain mereka, dakwah hanya melewati pendengarannya dan tidak dipedulikan; maka penyebutan “مَنْ يَخْشَاهَا” (siapa yang takut kepadanya) adalah untuk memuliakan kedudukan orang-orang beriman, mengumumkan keistimewaan mereka, dan merendahkan orang-orang yang tetap dalam kekufuran.
  • Pengkhususan peringatan bagi orang yang takut meskipun dakwah bersifat umum; karena dialah yang mendapat manfaat darinya.

5- Firman Allah: “كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا” (Seakan-akan mereka pada hari melihatnya [kiamat] tidak tinggal [di dunia] melainkan sore hari atau pagi harinya) bisa jadi sebagai penegasan dan penguatan terhadap apa yang diberitakan oleh peringatan tentang cepatnya kedatangan perkara yang diperingatkan, yakni: seakan-akan mereka pada hari mereka melihatnya tidak tinggal setelah peringatan tentangnya kecuali sore suatu hari atau pagi harinya.

Dan bisa juga sebagai bantahan terhadap apa yang mereka masukkan dalam pertanyaan mereka; karena mereka bertanya tentangnya dengan cara menganggap lambat dan ingin mempercepat kedatangannya, meskipun dengan cara mengejek, “Dan mereka berkata: ‘Kapankah janji itu (akan datang), jika kamu adalah orang-orang yang benar?'” [Yunus: 48]. Maka maknanya: seakan-akan mereka pada hari mereka melihatnya tidak tinggal setelah ancaman itu; sebagai pembuktian peringatan dan bantahan terhadap anggapan mereka bahwa kiamat lambat datang. Jadi, ini merupakan jawaban terhadap apa yang terkandung dalam firman-Nya: “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari Kiamat, ‘Kapankah terjadinya?'” [An-Nazi’at: 42] dengan mempertimbangkan kondisi lahiriah pertanyaan tersebut, yaitu keinginan untuk mengetahui waktu terjadinya kiamat dan menganggapnya lambat terjadi yang dimaksudkan untuk mendustakan kejadiannya. Maka mereka dijawab dengan metode “uslub hakim” (gaya bijaksana), yakni: jika kedatangannya tertunda lama, sesungguhnya kiamat pasti terjadi, dan pada hari kejadiannya, seakan-akan mereka tidak tinggal dalam penantian kecuali sebagian dari satu hari.

  • “العَشيَّةُ” (sore hari) digunakan untuk mengungkapkan waktu yang singkat dari masa yang panjang dengan cara perumpamaan, dan ini dipahami dari kata “كَأَنَّهُمْ” (seakan-akan mereka), yaitu penyerupaan keadaan mereka dengan keadaan orang yang tidak tinggal kecuali sore hari, dan perumpamaan ini dimaksudkan untuk mendekatkan pemahaman tentang yang diserupakan dengan apa yang biasa dikenal.
  • Firman-Nya: “أَوْ ضُحَاهَا” (atau pagi harinya) merupakan pilihan dalam perumpamaan, dan dalam kata sambung ini terdapat tambahan dalam pengurangan waktu; karena bagian waktu dhuha (pagi) lebih pendek daripada bagian waktu sore.
  • Penyandaran kata “الضُّحى” (waktu dhuha/pagi) kepada “العَشيَّةِ” (waktu sore) adalah benar karena hubungan di antara keduanya; karena keduanya terjadi dalam satu hari. Allah tidak berfirman: “kecuali sore atau dhuha”, tetapi menyandingkan dhuha kepada sore hari untuk menunjukkan bahwa masa tinggal mereka seakan-akan tidak mencapai sehari penuh, tetapi hanya beberapa saat darinya, sore atau pagi harinya. Ketika kata “hari” tidak disebutkan, maka Allah menyandarkannya kepada sore harinya, seperti firman-Nya: “Mereka tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat dari siang hari” [Al-Ahqaf: 35]. Jadi, asal kalimatnya adalah: mereka tidak tinggal kecuali sesaat dari siang hari, sore atau pagi harinya, maka ungkapan yang ringkas ini menggantikannya.

Dan dikatakan: yang tampak adalah bahwa penyandaran “ضُحى” (dhuha) kepada “عَشِية” (sore) adalah untuk penjelasan, tetapi maksudnya adalah untuk penekanan dan penegasan keduanya, seperti ungkapan: “Aku mengambil dengan tanganku” dan “Aku melihat dengan mataku”; karena ada kemungkinan bahwa yang dimaksud dengan dhuha dan satu saat adalah seluruh siang hari.

Dan dikatakan: yang membenarkan penyandaran tersebut adalah bahwa waktu dhuha lebih awal dari waktu sore; karena tidak ada waktu sore kecuali setelah berlalunya waktu dhuha, sehingga dhuha hari itu dikenali dengan penyandaran kepada sore hari karena waktu sore lebih dekat dengan pengetahuan manusia, sebab mereka berada di waktu sore setelah sebelumnya berada di waktu dhuha. Jadi, waktu sore lebih dekat dan waktu dhuha lebih awal. Dalam penyandaran ini juga terdapat pemeliharaan terhadap bunyi akhir kata (fasila) yang menggunakan huruf ha yang difathah seperti pada “أَيَّانَ مُرْسَاهَا”.

۞ ۞ ۞ ۞ ۞

SURAT ‘ABASA

Perhatian: Setiap kalimat berikut memiliki rujukan ilmiah yang belum diterjemahkan. Bagi yang memerlukan, silakan merujuk langsung ke situs web aslinya dalam bahasa Arab di: https://dorar.net/tafseer/80

Nama Surat:

Surat ini dinamakan Surat (‘Abasa) [Dia Bermuka Masam].

Penjelasan Makki dan Madani:

Surat (‘Abasa) adalah Makkiyyah (diturunkan di Mekah), dan tidak sedikit dari para mufasir yang menyatakan ijma’ (konsensus) tentang hal itu.

Maksud-maksud Surat:

Di antara maksud-maksud terpenting surat ini adalah: hakikat seruan Al-Qur’an, kemuliaan orang yang mengambil manfaat darinya, dan kehinaan orang yang berpaling darinya.

Tema-tema Surat:

Di antara tema-tema terpenting yang terkandung dalam surat ini adalah:

  1. Teguran Allah Ta’ala kepada Rasul-Nya Muhammad dengan teguran yang lembut, atas apa yang terjadi antara beliau dengan Ibnu Ummi Maktum yang buta.
  2. Pujian terhadap Al-Qur’an, dan bahwa ia adalah peringatan dan nasihat bagi orang yang berakal dan merenungkan.
  3. Penegakan bukti-bukti tentang keesaan Allah Ta’ala, dengan menyebutkan asal mula penciptaan manusia, nikmat-nikmat Allah kepadanya, dan kemudahan sarana kehidupannya.
  4. Peringatan tentang kedahsyatan hari kiamat, dan keadaan manusia pada hari itu.

۞ ۞ ۞ ۞ ۞

Ayat: 1-16

﴿عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ ١ اَنْ جَاۤءَهُ الْاَعْمٰىۗ ٢ وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ ٣ اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ ٤ اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰىۙ ٥ فَاَنْتَ لَهٗ تَصَدّٰىۗ ٦ وَمَا عَلَيْكَ اَلَّا يَزَّكّٰىۗ ٧ وَاَمَّا مَنْ جَاۤءَكَ يَسْعٰىۙ ٨ وَهُوَ يَخْشٰىۙ ٩ فَاَنْتَ عَنْهُ تَلَهّٰىۚ ١٠ كَلَّآ اِنَّهَا تَذْكِرَةٌ ۚ ١١ فَمَنْ شَاۤءَ ذَكَرَهٗ ۘ ١٢ فِيْ صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍۙ ١٣ مَّرْفُوْعَةٍ مُّطَهَّرَةٍ ۢ ۙ ١٤ بِاَيْدِيْ سَفَرَةٍۙ ١٥ كِرَامٍۢ بَرَرَةٍۗ ١٦ ﴾

Kosa kata yang tidak umum:

عَبَسَ (Abasa): Yaitu mengerutkan wajahnya dan mengernyitkan alisnya. Al-‘Ubus adalah mengerutkan wajah ketika tidak menyukai sesuatu. Akar kata ‘abasa menunjukkan ketidaksukaan.

وَتَوَلَّى (Wa Tawalla): Yaitu berpaling. At-Tawalli jika disambungkan dengan kata “an” (dari) secara tersurat atau tersirat – seperti di sini – bermakna berpaling dan meninggalkan kedekatan.

يَزَّكَّى (Yazzakka): Yaitu menyucikan diri dari dosa-dosa. Akar kata “zakw” menunjukkan pertumbuhan, peningkatan, dan kesucian.

الذِّكْرَى (Adz-Dzikra): Yaitu peringatan dan nasihat. Akar kata “dzakara” menunjukkan lawan dari lupa.

تَصَدَّى (Tasadda): Yaitu memperlihatkan diri dan menghadap kepadanya.

تَلَهَّى (Talahha): Yaitu berpaling dan sibuk dengan selain dia. Dikatakan: “lahaytu ‘an asy-syai’ wa talahhaytu ‘anhu” artinya aku sibuk darinya dan meninggalkannya. Akar kata “lahw” di sini menunjukkan kesibukan dari sesuatu dengan sesuatu yang lain.

سَفَرَةٍ (Safarah): Al-Safarah adalah para malaikat yang mulia yang mencatat, bentuk tunggalnya adalah safir. Dikatakan: “safartu” yaitu aku menulis. Dari kata ini, kitab disebut “sifr” karena ia menjelaskan dan menerangkan sesuatu. Ada pula yang mengatakan: mereka adalah para utusan dari kalangan malaikat yang menyampaikan wahyu antara Allah dan para rasul-Nya. Dari kata ini berasal kata “safir al-qaum” yaitu orang yang berusaha di antara mereka untuk perdamaian. Akar kata “safara” menunjukkan pengungkapan dan kejelasan.

Makna Umum:

Allah Ta’ala memulai surat mulia ini dengan menegur Nabi-Nya ﷺ dengan teguran yang lembut, Allah berfirman: Muhammad ﷺ mengerutkan wajahnya dan berpaling, karena kedatangan seorang laki-laki buta kepadanya, sementara beliau sedang sibuk berdakwah kepada seorang dari pemuka Quraisy. Dan tidak tahukah engkau -wahai Muhammad- barangkali orang buta ini akan menyucikan dirinya dari dosa-dosanya dengan apa yang dia pelajari dari Al-Qur’an darimu, atau dia mengambil pelajaran, sehingga dia mendapat nasihat dan mengambil hikmah dari apa yang dia dengar dari Al-Qur’an?!

Kemudian Allah Ta’ala merinci apa yang terjadi dari Nabi-Nya ﷺ, Allah berfirman: Adapun orang yang merasa cukup dengan harta dan kedudukannya sehingga tidak memerlukan iman, dan berpaling dari petunjukmu, engkau justru menghadapkan dirimu kepadanya dan berusaha keras menasihatinya, dengan harapan dia akan mendapat petunjuk pada kebenaran. Dan apakah kerugian bagimu jika dia tidak masuk Islam dan tidak menyucikan diri dari kekufuran dan dosa-dosanya?! Sedangkan laki-laki buta ini yang datang kepadamu dengan bersungguh-sungguh untuk sampai kepadamu, mencari ilmu dan mendengar kebenaran, dan dia takut kepada Allah Ta’ala, engkau justru berpaling darinya!

Kemudian Allah Ta’ala berfirman: Sekali-kali jangan, janganlah engkau lakukan apa yang telah engkau lakukan -wahai Muhammad-. Sesungguhnya ayat-ayat Al-Qur’an adalah peringatan bagi seluruh manusia. Maka barangsiapa dari manusia yang menghendaki, dia akan mengingat Al-Qur’an ini, mengambil pelajaran darinya dan mengamalkan apa yang ada di dalamnya. Al-Qur’an yang mulia ini tertulis dalam lembaran-lembaran yang dimuliakan di sisi Allah Ta’ala, tinggi dan agung kedudukannya, disucikan dari segala kotoran dan cacat, berada di tangan sekelompok malaikat yang memiliki bentuk yang baik dan akhlak yang indah, banyak kebaikan, ketaatan, dan kebaikan.

Tafsir Ayat-ayat:

عَبَسَ وَتَوَلَّى (1)

[Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling]

Sebab turunnya ayat: Dari Ma’mar, dari Qatadah, dari Anas -radhiyallahu ‘anhu- mengenai firman Allah: “Dia bermuka masam dan berpaling,” dia berkata: “Ibnu Ummi Maktum datang kepada Nabi ﷺ, sementara beliau sedang berbicara dengan Ubay bin Khalaf, lalu beliau berpaling darinya. Maka Allah menurunkan ‘Abasa wa Tawalla (Dia bermuka masam dan berpaling). Setelah itu Nabi ﷺ selalu memuliakan Ibnu Ummi Maktum.”

Qatadah berkata: “Anas bin Malik memberitahuku, dia berkata: ‘Aku melihatnya (Ibnu Ummi Maktum) pada hari perang Qadisiyah dengan mengenakan baju besi dan membawa bendera hitam.'”

عَبَسَ وَتَوَلَّى (1)

[Dia bermuka masam dan berpaling] Artinya: Muhammad ﷺ mengerutkan wajahnya dan berpaling dengan marah.

أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى (2)

[Karena telah datang kepadanya seorang buta]

Artinya: Karena sebab kedatangan seorang laki-laki buta kepadanya, sementara beliau sedang sibuk mengajak seorang dari pemuka Quraisy.

وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى (3)

[Dan tahukah kamu barangkali dia ingin menyucikan dirinya]

Artinya: Dan tidak tahukah engkau -wahai Muhammad- barangkali orang buta ini -yang engkau bermuka masam dan berpaling darinya- akan menyucikan dirinya dengan apa yang dia pelajari dari Al-Qur’an darimu, sehingga dia bersih dari dosa-dosanya.

أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى (4)

[Atau dia ingin mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya]

Artinya: Atau barangkali dia akan mengingat apa yang telah dia lupakan, sehingga dia mendapat nasihat dan mengambil pelajaran dari apa yang dia dengar dari Al-Qur’an.

أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى (5)

[Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup]

Artinya: Adapun orang yang merasa tidak memerlukan iman dan Al-Qur’an karena harta dan kedudukan yang dimilikinya.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan adapun orang-orang yang kikir dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan kebaikan, maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan). Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila dia telah binasa.” [Al-Lail: 8-11]

فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّى (6)

[Maka kamu melayaninya]

Artinya: Maka engkau -wahai Muhammad- menghadapkan dirimu kepadanya, dan menghadapinya, serta bersungguh-sungguh menasihatinya, dengan harapan dia akan mendapat petunjuk kepada kebenaran!

وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى (7)

[Padahal tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri]

Artinya: Dan apakah kerugian bagimu -wahai Muhammad- jika orang yang merasa cukup ini tidak masuk Islam dan tidak menyucikan diri dari kekufuran dan dosa-dosanya? Janganlah engkau peduli dengannya dan jangan pedulikan urusannya, karena dosanya tidak akan membahayakanmu, dan kewajibanmu hanyalah menyampaikan.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan janganlah engkau bersedih hati terhadap orang yang cepat-cepat dalam kekafiran. Sesungguhnya mereka tidak akan dapat memberi mudarat kepada Allah sedikitpun.” [Ali Imran: 176]

Dan Allah berfirman: “Jika mereka berpaling, maka sesungguhnya kewajibannya hanyalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu hanyalah apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan jelas.” [An-Nur: 54]

Dan Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan barang siapa kafir, maka kekafirannya janganlah menyedihkanmu.” [Luqman: 23]

وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَى (8)

[Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera]

Artinya: Dan adapun orang buta ini yang datang kepadamu -wahai Muhammad- dengan berjalan cepat dan bersungguh-sungguh untuk sampai kepadamu; karena mencari ilmu dan mendengar kebenaran.

وَهُوَ يَخْشَى (9)

[Sedangkan dia takut (kepada Allah)]

Artinya: Dan keadaannya adalah dia takut kepada Allah Ta’ala; karena pengetahuannya tentang keagungan-Nya dan kerasnya azab-Nya.

فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّى (10)

[Kamu malah mengabaikannya]

Artinya: Maka engkau -wahai Muhammad- berpaling dari orang ini yang sangat ingin mendapatkan kebenaran, dan sibuk dengan mengajak orang kafir itu!

كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ (11)

[Sekali-kali jangan (begitu)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Allah itu adalah suatu peringatan]

Kesesuaian ayat ini dengan ayat sebelumnya: Seakan-akan dikatakan: Al-Qur’an ini telah mencapai puncak keagungan yang sangat tinggi, maka apa perlunya ia diterima oleh orang-orang kafir ini. Sama saja mereka menerimanya atau tidak, maka janganlah engkau menoleh kepada mereka, jangan sibukkan hatimu dengan mereka, dan jangan sekali-kali engkau berpaling dari orang yang beriman kepadanya untuk menyenangkan hati para penguasa dunia.

كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ (11)

[Sekali-kali jangan (begitu)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Allah itu adalah suatu peringatan] Artinya: Janganlah engkau lakukan apa yang telah engkau lakukan -wahai Muhammad-, karena kebaikan bukanlah pada berpaling dari orang beriman yang sangat ingin mendapatkan kebenaran, dan sibuk dengan mengajak orang lain dari kalangan kafir yang sombong; sesungguhnya ayat-ayat Al-Qur’an adalah peringatan bagi seluruh manusia.

فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُ (12)

[Maka barangsiapa menghendaki, tentulah dia memperhatikannya]

Artinya: Maka barangsiapa dari manusia yang menghendaki, dia akan mengingat Al-Qur’an ini, mengambil pelajaran, mengambil hikmah, dan mengamalkan apa yang ada di dalamnya.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan katakanlah: ‘Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.'” [Al-Kahfi: 29]

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Dan sesungguhnya Kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kamu ada orang yang mendustakan(nya).” [Al-Haqqah: 48-49]

Dan Allah Azza wa Jalla berfirman: “Sesungguhnya ini adalah suatu peringatan. Maka barangsiapa menghendaki niscaya ia menempuh jalan (yang menyampaikannya) kepada Tuhannya.” [Al-Muzzammil: 19]

فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍ (13)

[Yang (tersimpan) dalam Kitab-kitab yang dimuliakan]

Artinya: Dan Al-Qur’an yang mulia ini tertulis dalam lembaran-lembaran yang dimuliakan di sisi Allah Ta’ala.

“Terhormat dan suci (14).

Artinya: dan ini adalah lembaran-lembaran yang tinggi, mulia kedudukan dan nilainya, disucikan dari segala kotoran dan cacat. Allah berfirman: ‘Bahkan ia adalah Al-Qur’an yang mulia * di Lauh Mahfudz’ [Al-Buruj: 21-22].

Di tangan para Safarah (malaikat pencatat) (15).

Artinya: dan lembaran-lembaran ini yang di dalamnya tertulis Al-Qur’an berada di tangan sekelompok malaikat. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya ia adalah Al-Qur’an yang mulia * dalam kitab yang terpelihara * tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan’ [Al-Waqi’ah: 77-79].

Mulia lagi berbakti (16).

Artinya: dan para malaikat tersebut memiliki bentuk yang baik dan mulia, serta akhlak yang baik dan indah, banyak dalam kebaikan, ketaatan, dan kebajikan.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Perumpamaan orang yang membaca Al-Qur’an dan dia menghafalnya adalah bersama para malaikat yang mulia lagi berbakti, dan perumpamaan orang yang membaca Al-Qur’an dan dia terus mempelajarinya, sedangkan itu sulit baginya, maka baginya dua pahala.'”

Faedah Pendidikan:

1- Firman Allah Ta’ala: “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, ketika seorang buta datang kepadanya.” Di dalamnya terdapat dorongan untuk menyambut orang yang mencari petunjuk, menghadap mereka di majlis ilmu, memenuhi kebutuhan mereka, dan tidak mengutamakan orang-orang kaya atas mereka.

2- Dalam firman Allah Ta’ala: “Dia bermuka masam dan berpaling” hingga akhir konteks, terdapat pendidikan dari Allah Azza wa Jalla untuk makhluk; bahwa perhatian mereka jangan hanya menjadi perhatian pribadi, tetapi hendaknya perhatian mereka menjadi perhatian substansial. Dan jangan mengutamakan dalam dakwah kepada Allah orang mulia karena kemuliaannya, atau orang besar karena kebesarannya, atau kerabat karena kedekatannya. Tetapi hendaknya semua manusia sama dalam dakwah kepada Allah; yang fakir dan yang kaya, yang besar dan yang kecil, yang dekat dan yang jauh.

3- Firman Allah Ta’ala: “Dia bermuka masam dan berpaling, ketika seorang buta datang kepadanya. Dan tahukah engkau (Muhammad) barangkali dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa), atau dia ingin mendapatkan pengajaran, yang memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka engkau melayaninya. Padahal tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman).” Ini adalah manfaat besar yang merupakan tujuan dari pengutusan para Rasul, nasihat para penasihat, dan peringatan para pemberi peringatan. Perhatianmu kepada orang yang datang sendiri dengan kebutuhan akan hal itu darimu adalah yang paling layak dan wajib. Sedangkan usahamu dan pendekatanmu kepada orang kaya yang merasa cukup, yang tidak bertanya dan tidak meminta fatwa – karena tidak adanya keinginannya terhadap kebaikan – sambil mengabaikan orang yang lebih penting darinya, maka itu tidak selayaknya bagimu. Karena tidak menjadi kewajibanmu jika dia tidak menyucikan diri. Jika dia tidak menyucikan diri, maka kamu tidak akan dihisab atas kejahatan yang dilakukannya. Ini menunjukkan kaidah terkenal bahwa: “Perkara yang sudah diketahui tidak ditinggalkan untuk perkara yang masih diragukan, dan kemaslahatan yang pasti tidak ditinggalkan untuk kemaslahatan yang masih diragukan.” Dan bahwa seharusnya lebih memperhatikan pencari ilmu yang membutuhkannya dan sangat menginginkannya, lebih dari yang lainnya.

  • Firman Allah Ta’ala: “Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup” di dalamnya terdapat penekanan untuk menjauhi mereka bagi Nabi salallahu alaihi wasallam.

4- Firman Allah Ta’ala: “Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), dan dia takut (kepada Allah), engkau (Muhammad) malah mengabaikannya.” Di dalamnya terdapat isyarat bahwa wajib bersungguh-sungguh dalam menyucikan pengikut yang diketahui darinya penerimaan.

Faedah Ilmiah dan Hal-hal yang Lembut:

1- Dalam firman Allah Ta’ala: “Dia bermuka masam dan berpaling, ketika seorang buta datang kepadanya” terdapat kelembutan Allah Azza wa Jalla dalam berbicara kepada Nabi salallahu alaihi wa alihi wasallam. Allah Subhanahu berfirman dengan tiga kalimat di mana Dia tidak menyapa Nabi salallahu alaihi wa alihi wasallam secara langsung, karena ini adalah teguran. Jika ditujukan kepada Rasul dengan sapaan langsung, itu akan terasa berat baginya. Namun kalimat itu datang dengan bentuk orang ketiga: “Dia bermuka masam” padahal konteksnya menuntut untuk berkata: “Engkau bermuka masam dan berpaling; ketika seorang buta datang kepadamu.” Tetapi Dia berfirman: “Dia bermuka masam dan berpaling”, sehingga menjadikan hukum untuk orang ketiga; karena tidak ingin menyapa Nabi salallahu alaihi wa alihi wasallam dengan kata-kata yang kasar dan keras ini, dan agar tidak terjadi hal serupa pada siapa pun dari umat ini. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mendeskripsikan Kitab-Nya yang mulia bahwa ia dengan bahasa Arab yang jelas, dan ini termasuk dari kejelasannya.

2- Firman Allah Ta’ala: “Dia bermuka masam dan berpaling, ketika seorang buta datang kepadanya.” Allah mengungkapkan tentang sahabat yang mulia ini – yaitu Abdullah bin Ummi Maktum – dengan gelar yang tidak disukai orang, padahal Dia berfirman: “Dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk” [Al-Hujurat: 11]?

Jawaban dari dua sisi:

Pertama: Rahasia dalam mengungkapkan tentangnya dengan kata: (al-a’ma/orang buta) adalah untuk menunjukkan alasannya dalam memotong pembicaraan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam; karena jika dia bisa melihat apa yang sedang dikerjakan Rasulullah bersama para pemuka kaum kafir, tentu dia tidak akan memotong pembicaraannya.

Kedua: Kata (al-a’ma/orang buta) digunakan untuk menunjukkan kesesuaian sikap lemah lembut terhadapnya dan mendengarkan apa yang ia maksudkan; serta untuk melunakkan hati Nabi shallallahu alaihi wasallam; agar teguran itu memperhatikan bahwa ketika seseorang memiliki keterbatasan, maka dia lebih layak untuk diperhatikan; karena orang seperti dia cepat merasa hatinya terluka.

3- Dalam firman Allah Ta’ala: “Ketika seorang buta datang kepadanya” terdapat dalil tentang bolehnya seseorang diberi gelar sesuai dengan sifatnya; seperti: orang buta, orang pincang, dan orang yang matanya berair, dan para ulama melakukan hal ini, mereka berkata: “Diriwayatkan oleh al-A’raj dari Abu Hurairah, diriwayatkan oleh al-A’masy…” dan seterusnya. Para ulama berkata: Gelar yang menunjukkan kekurangan jika tujuannya untuk menentukan identitas seseorang – di mana dia tidak dikenal kecuali dengan gelar itu – maka tidak apa-apa. Adapun jika tujuannya untuk mencela seseorang, maka itu haram; karena yang pertama: jika tujuannya untuk menjelaskan identitas seseorang, maka itu dibutuhkan, dan yang kedua: jika tujuannya untuk mencela, maka itu tidak dimaksudkan untuk penjelasan, tetapi hanya untuk mengejek!

4- Firman Allah Ta’ala: “Padahal tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman)” adalah merendahkan urusan orang kafir, dorongan untuk berpaling darinya, dan meninggalkan perhatian terhadapnya. Artinya: ketidaksuciannya bukanlah tanggung jawabmu, yaitu: kamu tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas ketidak-mendapat petunjuknya sehingga kamu harus meningkatkan kesungguhan untuk membujuknya kepada iman yang tidak diwajibkan Allah kepadamu, dan ini adalah kelembutan dari Allah kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam.

5- Firman Allah Ta’ala: “Dia bermuka masam dan berpaling, ketika seorang buta datang kepadanya. Dan tahukah engkau (Muhammad) barangkali dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa), atau dia ingin mendapatkan pengajaran, yang memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka engkau melayaninya. Padahal tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman).” Di dalamnya terdapat dalil untuk apa yang telah ditetapkan dalam ushul fiqih tentang kebolehan ijtihad bagi Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan terjadinya hal itu, dan bahwa itu berjalan sesuai kaidah: mengamalkan kemaslahatan yang lebih unggul menurut yang tampak.

6- Firman Allah Ta’ala: “Dia bermuka masam dan berpaling, ketika seorang buta datang kepadanya. Dan tahukah engkau (Muhammad) barangkali dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa), atau dia ingin mendapatkan pengajaran, yang memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka engkau melayaninya. Padahal tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman).” Tujuannya adalah pengajaran Allah kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam tentang membandingkan tingkatan-tingkatan kemaslahatan, dan kewajiban mengkaji hal-hal yang tersembunyi darinya; agar perhatian terhadap hal yang penting pada pandangan awal tidak menghilangkan hal penting lainnya yang setara dalam kepentingan atau lebih unggul. Karena itu para ulama ushul fiqih berkata: Bahwa seorang mujtahid harus mencari pertentangan dalil yang tampak baginya.

7- Dalam firman Allah Ta’ala: “Maka barangsiapa menghendaki, tentulah dia memperhatikannya” bahwa hamba adalah pelaku yang sebenarnya, memiliki kehendak yang tetap, memiliki kemauan yang kuat, dan kekuatan yang baik.

8- Firman Allah Ta’ala: “Maka barangsiapa menghendaki, tentulah dia memperhatikannya” di dalamnya terdapat isyarat bahwa nasihat Al-Qur’an bermanfaat bagi setiap orang yang bebas dari keras kepala dan kesombongan. Maka siapa yang tidak mengambil pelajaran darinya, itu karena dia tidak mau mengambil pelajaran. Dan di dalamnya terdapat dorongan untuk mengingat, dan anjuran untuk menghafalnya.

9- Allah Ta’ala berfirman: “Di tangan para safarah (malaikat pencatat)”. Dalam pendeskripsian mereka sebagai “safarah” terdapat pujian terhadap mereka; karena mereka menyampaikan Al-Qur’an kepada manusia dan mereka adalah para penghafal dan penjaganya. Ini adalah makna “safarah”, dan di dalamnya terdapat kabar gembira bahwa mereka akan menyebarkan Islam di antara umat-umat. Ini berdasarkan pemahaman bahwa yang dimaksud adalah para penulis wahyu dari kalangan sahabat.

10- Umumnya dalam istilah Al-Qur’an, “bararah” (yang berbakti) adalah para malaikat, sedangkan “abrar” (orang-orang baik) adalah anak-anak Adam; karena kata “bararah” lebih kuat maknanya daripada “abrar”; sebab “bararah” adalah bentuk jamak dari “barr”, dan “abrar” adalah bentuk jamak dari “barr” – menurut satu pendapat -, dan “barr” lebih kuat maknanya daripada “barr”, sebagaimana “adl” (sangat adil) lebih kuat maknanya daripada “adil”.

Balaghah (Retorika) Ayat-ayat:

1- Firman Allah Ta’ala: “Dia bermuka masam dan berpaling, ketika seorang buta datang kepadanya”

  • Ucapan-Nya: “Dia bermuka masam dan berpaling” – pembukaan surah ini dengan dua kata kerja yang mengandung kata ganti yang tidak memiliki rujukan dalam kalimat merupakan bentuk untuk menggugah rasa ingin tahu terhadap apa yang akan disampaikan setelahnya. Kedua kata kerja tersebut menunjukkan bahwa peristiwa yang diceritakan adalah peristiwa besar. Adapun kata ganti-kata ganti itu, maka ketidakjelasannya dijelaskan oleh firman-Nya: “Maka engkau melayaninya” [Abasa: 6], sedangkan peristiwanya menjadi jelas dari penyebutan orang buta dan orang yang merasa dirinya serba cukup.
  • Objek kata kerja “tawalla” (berpaling) dihilangkan karena sudah jelas bahwa itu adalah berpaling dari orang yang kedatangannya menjadi sebab berpaling.
  • Bentuk kalimat berita dalam firman-Nya: “Dia bermuka masam dan berpaling, ketika seorang buta datang kepadanya” digunakan untuk menegur atas kelalaian terhadap maksud yang terkandung dalam berita tersebut, yaitu Nabi shallallahu alaihi wasallam yang hanya memperhatikan kesungguhan dalam menyampaikan dakwah kepada orang yang diharapkan menerimanya dengan melupakan perenungan tentang apa yang menyertainya berupa pengajaran kepada orang yang menginginkan ilmu agama dari kalangan orang-orang yang beriman. Dan ketika hal itu berasal dari Allah untuk Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam, Allah tidak ingin memulai dengan sesuatu yang terkesan bahwa dialah yang dimaksud dengan pembicaraan, maka Allah mengarahkannya kepadanya dengan gaya bahasa orang ketiga; agar hal pertama yang mengetuk pendengarannya membuat dia menunggu siapa yang dimaksud dengan kata ganti orang ketiga itu sehingga teguran tidak mengejutkannya. Ini adalah kelembutan dari Allah terhadap Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam; agar teguran itu masuk ke dalam dirinya secara bertahap, dan hal itu lebih ringan dampaknya.

Ada yang mengatakan: Penggunaan sifat kebutaannya adalah untuk menambah pengingkaran; seolah-olah dikatakan: Dia berpaling karena dia buta. Sebagaimana pengalihan dalam firman Allah Ta’ala: “Dan tahukah engkau” adalah untuk itu; karena berbicara langsung lebih kuat dalam mempertegas teguran.

Demikian pula dalam penggunaan kata “bermuka masam dan berpaling” yang ditujukan kepada kata ganti Rasul dalam bentuk orang ketiga, terdapat isyarat bahwa hal tersebut tidak layak bagi kedudukan orang yang mengemban risalah, terlebih lagi bahwa dia tidak diutus kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam, dan bahwa dia benar-benar memiliki akhlak yang agung. Seolah-olah orang yang bermuka masam dan berpaling adalah orang lain, kemudian beralih menyapanya dengan berkata: “Dan tahukah engkau barangkali dia ingin menyucikan dirinya” sebagai teguran. Artinya: Orang sepertimu dengan kedudukan itu tidak selayaknya berbuat demikian. Begitu pula dalam sifat kebutaan: dari segi pertimbangan sifat alamiah jiwa, itu adalah kekurangan yang menyebabkan penolakan dan berpaling dari orang yang memiliki sifat tersebut. Namun dari segi kedudukanmu dalam akhlak yang agung, maka yang seharusnya adalah mengekang diri dan bertindak sesuai tuntutan akhlak yang agung, bukan menurut keinginan nafsu. Atau dalam sifat tersebut terdapat isyarat untuk menggunakan sikap kasih sayang, lemah lembut, pendekatan dan sambutan hangat, terutama dari orang sepertimu yang telah Allah sifati dengan akhlak yang agung. Atau dalam sifat tersebut terdapat unsur pemaafan, bahwa dia adalah orang buta yang tidak mengetahui bahwa tidak seharusnya dia mendekat di hadapanmu dan memotong pembicaraanmu dari pembicaraan kaum: ini adalah alasan yang dapat diterima oleh orang-orang mulia, khususnya orang sepertimu, yang menjadi pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan bagi seluruh alam, dan mengajak kepada Allah dengan izin-Nya dan sebagai cahaya yang menerangi.

2- Firman Allah Ta’ala: “Dan tahukah engkau (Muhammad) barangkali dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa), atau dia ingin mendapatkan pengajaran, yang memberi manfaat kepadanya?”

  • Ucapan-Nya: “Dan tahukah engkau barangkali dia ingin menyucikan dirinya”. Pertanyaan dalam susunan “dan tahukah engkau” dimaksudkan untuk mengingatkan pada sesuatu yang terlupakan. Artinya: Apa yang membuatmu mengetahui keadaannya? Dan gaya bahasa seperti ini digunakan untuk tujuan penyampaian secara global kemudian rinci.
  • Dalam firman-Nya: “Dan tahukah engkau barangkali dia ingin menyucikan dirinya” terdapat isyarat kepada alasan Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam menunda memberikan bimbingan kepada Ibnu Ummi Maktum; karena ungkapan “dan tahukah engkau” digunakan untuk mengingatkan pada hal yang terlupakan – seperti yang telah disebutkan – dan artinya: mungkin dia akan menyucikan diri dengan penyucian yang besar yang jiwanya telah siap untuk itu saat itu; ketika dia datang meminta petunjuk dengan penuh semangat. Ini adalah kondisi yang tersembunyi. Begitu juga alasannya dalam bersemangat memberikan bimbingan kepada orang musyrik dengan firman-Nya: “Padahal tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman)” [Abasa: 7]; karena Nabi shallallahu alaihi wasallam khawatir akan konsekuensi hilangnya keimanan orang musyrik disebabkan memutus percakapan dengannya dan beralih untuk menanggapi permintaan petunjuk dari orang mukmin.
  • Dan juga dalam makna harapan yang ditunjukkan oleh kata “barangkali” terdapat alasan untuk memaafkannya – semoga shalawat Allah tercurah kepadanya; sebagai pelipur lara atas ucapan yang mengandung celaan tersebut. Artinya: Kami memaafkanmu karena kamu bersemangat atas keislaman kaum tersebut, sehingga ijtihadmu membawamu untuk menghadap mereka dan berpaling dari orang buta. Jika kamu mengetahui hal itu, tentu hal itu tidak akan terjadi darimu, yaitu: meskipun hal itu tersembunyi bagimu, wahai Rasulullah.
  • Dan ucapan-Nya: “Barangkali dia ingin menyucikan dirinya”. Dikatakan: ini adalah kalimat baru yang muncul untuk menjelaskan apa yang diisyaratkan oleh kalimat sebelumnya. Karena meskipun mengisyaratkan bahwa dia memiliki kedudukan yang bertentangan dengan sikap berpaling darinya, di luar pengetahuan orang lain dan pemahamannya, namun itu menandakan bahwa Allah Ta’ala memberitahukan hal itu kepadanya. Artinya: mungkin dia akan menyucikan diri dengan apa yang dia ambil darimu dari kotoran-kotoran dosa secara keseluruhan. Dan kata “la’alla” (barangkali/mungkin) meskipun penyucian diri itu pasti terjadi, namun digunakan sesuai dengan kebiasaan keagungan, atau berdasarkan pertimbangan makna harapan dalam kaitannya dengan Nabi – semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya; untuk mengingatkan bahwa berpaling darinya ketika ada harapan untuk menyucikan diri adalah hal yang tidak diperbolehkan, apalagi jika penyucian diri itu sudah pasti terjadi seperti dalam ucapanmu: “Mungkin kamu akan menyesal atas apa yang telah kamu lakukan?” Dan di dalamnya terdapat isyarat bahwa orang-orang kafir yang hendak kamu bimbing untuk menyucikan diri, sama sekali tidak diharapkan penyucian diri dan pengambilan pelajaran dari mereka.
  • Dan dalam ucapan-Nya: “Yang memberi manfaat kepadanya pengajaran itu”, terdapat kecukupan dari mengatakan: “(sehingga penyucian diri itu bermanfaat baginya dan pengajaran itu bermanfaat baginya)”; karena sudah jelas bahwa keduanya bermanfaat baginya.

3- Firman Allah Ta’ala: “Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup * Maka engkau melayaninya * Padahal tidak ada (dampak buruk) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri.”

  • Firman-Nya: “Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup * Maka engkau melayaninya”, artinya: siapa pun yang merasa dirinya serba cukup, maka engkau melayaninya, atau apapun yang terjadi, engkau melayani orang yang merasa dirinya serba cukup. Maksudnya: engkau bersemangat melayaninya, sehingga isi jawaban -yaitu melayaninya- dikaitkan dengan keberadaan orang yang merasa dirinya serba cukup, dan menjadi kelaziman sebagaimana kelaziman syarat yang menunjukkan penekanan.
  • Firman-Nya: “Maka engkau melayaninya” – penggunaan kata ganti orang kedua secara eksplisit sebelum kata kerja daripada tersembunyi dalam kata kerja, bisa jadi untuk penguatan, seolah-olah dikatakan: “engkau sungguh-sungguh melayaninya”, sehingga inti teguran adalah layanan yang berlebihan. Bisa juga bermakna pengkhususan, yaitu: engkau, bukan orang lain, yang melayaninya. Artinya: layanan seperti itu tidak pantas bagimu. Maksudnya: seandainya orang lain yang melayaninya, maka itu hal biasa, tetapi engkau, seseorang sepertimu tidak sepatutnya melayani orang seperti dia. Jadi inti teguran adalah bahwa hal itu terjadi dari Nabi ﷺ dalam keagungan kedudukannya.
  • Firman-Nya: “Padahal tidak ada (dampak buruk) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri” adalah kalimat sisipan antara kalimat “Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup” [Abasa: 5] dan kalimat “Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera” [Abasa: 8], dan “waw” (و) adalah untuk sisipan.
  • Firman-Nya: “Padahal tidak ada (dampak buruk) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri”, ada yang mengatakan: “ma” (ما) adalah untuk penafian, artinya: dan tidak ada masalah bagimu jika dia tidak membersihkan diri dengan Islam sehingga engkau memperhatikan urusannya dan berpaling dari orang yang telah masuk Islam. Ada juga yang mengatakan: “ma” (ما) adalah untuk pertanyaan pengingkaran, artinya: apa yang akan terjadi padamu jika dia tidak membersihkan diri?! Dan hasilnya juga penafian.

4- Firman Allah Ta’ala: “Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera * Sedang dia takut (kepada Allah) * Maka engkau mengabaikannya.”

Ini adalah sambungan dari kalimat “Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup” [Abasa: 5], yang disebutkan untuk membandingkan dengan apa yang disambungkan padanya sebagai perbandingan dua hal yang bertolak belakang, untuk melengkapi pembagian.

  • Yang dimaksud dengan “orang yang datang dengan bersegera” adalah Ibnu Ummi Maktum, sehingga isi kalimat ini menegaskan kandungan “Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling * Karena telah datang seorang buta kepadanya” [Abasa: 1-2].
  • “Bersegera” artinya berjalan cepat, yang menunjukkan semangat untuk bertemu, ini berlawanan dengan keadaan orang yang merasa dirinya serba cukup, karena kecukupannya adalah kecukupan orang yang keberatan dengan pelayanan kepadanya.
  • Objek “takut” tidak disebutkan karena sudah jelas, karena takut dalam istilah syariat mengacu pada takut kepada Allah Ta’ala.
  • Dipilih kata kerja “takut” dalam bentuk present tense untuk menunjukkan pembaruan.
  • Firman-Nya: “Maka engkau mengabaikannya” – penggunaan kata ganti orang kedua secara eksplisit sebelum kata kerja daripada tersembunyi dalam kata kerja, bisa jadi untuk penguatan, seolah-olah dikatakan: “engkau sungguh-sungguh mengabaikannya”, sehingga inti teguran adalah pengabaian yang berlebihan. Bisa juga bermakna pengkhususan, yaitu: engkau, bukan orang lain, yang mengabaikannya. Artinya: pengabaian seperti itu tidak pantas bagimu. Maksudnya: seandainya orang lain yang mengabaikannya, maka itu hal biasa, tetapi engkau, seseorang sepertimu tidak sepatutnya mengabaikan orang seperti dia. Jadi inti teguran adalah bahwa hal itu terjadi dari Nabi ﷺ dalam keagungan kedudukannya.
  • Mendahulukan kata “lahu” (kepadanya) dalam ungkapan “fa-anta lahu tasadda” (engkau memberi perhatian kepadanya), dan kata “anhu” (darinya) dalam ungkapan “fa-anta anhu talahha” (engkau mengabaikannya); sebagai sindiran terhadap perhatian Nabi (semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya) terhadap isi keduanya.
  • Penyebutan keadaan orang mukmin dan kafir di sela-sela teguran ini merupakan penyisipan; karena dalam peristiwa tersebut terdapat kesempatan untuk menyanjung kemuliaan kedudukan orang mukmin; karena hatinya mengandung cahaya yang membuatnya mampu menerangi dirinya dan memancarkannya kepada orang lain, menggabungkan antara teguran dan pengajaran, mengikuti cara petunjuk Al-Qur’an yang mulia dalam berbagai kesempatan.

5- Firman Allah Ta’ala: “Sekali-kali tidak, sesungguhnya (ayat-ayat) itu adalah peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, tentulah ia memperhatikannya.”

  • Kata “kalla” (sekali-kali tidak) adalah penolakan terhadap apa yang ditegur, atau penolakan terhadap pengulangan hal serupa; yaitu memberikan perhatian kepada orang yang tidak membutuhkan apa yang diserukan kepadanya berupa iman dan ketaatan serta Al-Qur’an yang mewajibkan keduanya, dengan sangat memperhatikan urusannya, sangat mendambakan keislamannya, dan karena itu mengabaikan petunjuk bagi orang yang meminta petunjuk. Kata ini membatalkan apa yang ada dalam pembicaraan sebelumnya meskipun secara tersirat, seperti dalam firman-Nya: “Dan tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa)” [Abasa: 3], meskipun juga secara sindiran, seperti dalam firman-Nya: “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling” [Abasa: 1]. Pembatalan ini mungkin juga hanya merujuk khusus kepada “bermuka masam dan berpaling”. Dan mungkin juga sebagai penguatan untuk firman-Nya: “Padahal tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman)” [Abasa: 7], yakni: janganlah engkau mengira bahwa engkau bertanggung jawab atas kesombongan dan keras kepalanya; engkau telah menyampaikan apa yang diperintahkan kepadamu untuk disampaikan.
  • Mungkin juga firman-Nya “Sekali-kali tidak, sesungguhnya (ayat-ayat) itu adalah peringatan” merupakan permulaan baru yang ditujukan kepada orang yang sebelumnya diajak oleh Nabi (semoga Allah memberkati dan memberi salam kepadanya) sebelum turunnya surah ini dan orang-orang bersamanya, dan mereka tidak merespon ajakan beliau dan tidak membenarkan kebangkitan. Dengan demikian, kata “kalla” (sekali-kali tidak) adalah pembatalan terhadap apa yang mereka katakan tentang Al-Qur’an bahwa itu adalah dongeng-dongeng orang-orang terdahulu atau semacamnya. Maka dhamir (kata ganti) pada “innaha tadzkirah” (sesungguhnya itu adalah peringatan) kembali kepada ayat-ayat yang dibacakan oleh Nabi (semoga Allah memberkati dan memberi salam kepadanya) kepada mereka dalam majelis tersebut, kemudian dhamir itu diulang dengan bentuk muannats (feminin) untuk mengingatkan bahwa yang dimaksud adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang mulia. Hal ini diperkuat oleh firman Allah Ta’ala setelahnya: “Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya?” [Abasa: 17] dan ayat-ayat selanjutnya, dimana Allah menyampaikan kepada mereka bukti-bukti tentang kebangkitan. Maka penggunaan dhamir muannats merupakan kekhususan untuk memuat makna-makna ini dalam perkataan.
  • Firman-Nya: “Innaha tadzkirah” (Sesungguhnya itu adalah peringatan) merupakan penjelasan alasan penolakan terhadap apa yang telah disebutkan dengan menjelaskan ketinggian derajat Al-Qur’an yang agung yang tidak dipedulikan oleh orang yang mendapat perhatian dari Nabi (semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya), dan penegasan bahwa Al-Qur’an itu merupakan nasihat yang layak untuk diambil pelajaran darinya. Maka siapa yang menginginkannya akan mengambil pelajaran darinya, dan siapa yang menolaknya—seperti yang dilakukan oleh orang yang merasa tidak membutuhkan—maka tidak perlu memperhatikan urusannya.
  • Firman-Nya: “Innaha tadzkirah” adalah kalimat permulaan setelah kata penolakan (kalla), dan ini merupakan penjelasan tambahan; karena teguran yang telah terdahulu kemudian diikuti dengan pembatalan menimbulkan kebingungan dalam pikiran Rasulullah (semoga Allah memberkati dan memberi salam kepadanya) tentang bagaimana seharusnya bertindak dalam mendakwahi para pemuka Quraisy jika beliau tidak meluangkan waktu untuk mereka; agar mereka tidak menjauh dari perenungan Al-Qur’an, atau menimbulkan dalam dirinya ketakutan bahwa beliau telah lalai dalam beberapa kewajiban penyampaian.
  • Firman-Nya: “Faman sya’a dzakarahu” (Maka barangsiapa menghendaki, tentulah ia memperhatikannya): dhamir (kata ganti) yang tampak dalam ungkapan “dzakarahu” dapat merujuk kepada “tadzkirah” [Abasa: 11]; karena yang dimaksud adalah Al-Qur’an yang disampaikan Nabi (semoga Allah memberkati dan memberi salam kepadanya) kepada para pemuka Quraisy sebelum turunnya surah ini. Artinya: barangsiapa yang menghendaki, ia akan mengingat Al-Qur’an dan mengamalkannya. Bisa juga dhamir tersebut merujuk kepada Allah Ta’ala, dan “dzikr” (mengingat) dalam kedua kemungkinan tersebut adalah mengingat dengan hati, yaitu berusaha berhenti pada perintah dan larangan. Yang mengharuskan penggunaan dhamir (kata ganti) dalam bentuk mudzakkar (maskulin) adalah pertimbangan keserasian akhir ayat, yaitu: “tadzkirah, mukarramah, muthahharah, safarah, bararah”.
  • Kalimat “Faman sya’a dzakarahu” merupakan sisipan antara firman-Nya: “tadzkirah” [Abasa: 11] dan firman-Nya: “fi shuhufin mukarramah” [Abasa: 13], yang mengandung janji dan ancaman. Huruf “fa” (maka) merupakan cabang dari isi kalimat “Innaha tadzkirah” [Abasa: 11], dan huruf “fa” ini bagian dari kalimat sisipan.
  • Juga, firman-Nya: “Faman sya’a dzakarahu” merupakan perluasan pembahasan, dengan penjelasan: ketika Allah menyampaikan kepada Nabi (semoga Allah memberkati dan memberi salam kepadanya) seruan yang luar biasa itu, dikatakan: “Kalla innahu tadzkirah” (Sekali-kali tidak, sesungguhnya itu adalah peringatan), artinya: teguran tersebut—menurut suatu pendapat—adalah nasihat bagi para pendengar; karena jika Nabi (semoga Allah memberkati dan memberi salam kepadanya) dengan keagungannya ditegur dengan seruan yang keras itu karena perhatian dan pengabaian tersebut, maka bagaimana dengan orang lain?! Dan jika demikian, maka ingatlah wahai pendengar. Seharusnya firman-Nya: “Faman sya’a dzakarahu” diletakkan setelah penjelasan tentang peringatan, namun didahulukan karena sangat pentingnya dan besarnya kejadian tersebut. Allah mengagungkan kitab-kitab dan mendeskripsikannya dengan sifat-sifat yang agung tersebut, kemudian firman-Nya: “Qutilal insanu ma akfarah” [Abasa: 17] (Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya?), sehingga mengumpulkan banyak makna dalam sedikit kata, kemudian merinci dengan firman-Nya: “Min ayyi syay’in khalaqah” [Abasa: 18] (Dari apakah Allah menciptakannya?) hingga akhir.

6- Firman Allah Ta’ala: “Fi shuhufin mukarramah * Marfu’atin mutahharah” (Dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan)

  • Firman-Nya: “Fi shuhufin” (Dalam kitab-kitab) berhubungan dengan kata yang tersirat yang merupakan sifat dari “tadzkirah”, artinya: yang berada dalam lembaran-lembaran yang disalin dari Lauh Mahfuzh, atau sebagai khabar (predikat) kedua untuk kata “inna”.

7- Firman Allah Ta’ala: “Bi’aydi safarah * Kiramin bararah” (Di tangan para utusan (malaikat), yang mulia lagi berbakti)

  • Kata “safarah” memiliki kesan yang agung dan menakjubkan dalam konteks ini; boleh jadi kata tersebut adalah bentuk jamak dari “safir”, seperti “katib” menjadi “katabah”. Dan boleh jadi juga merupakan kata bentuk jamak dari “safir”, yaitu utusan dalam urusan penting, maka itu adalah “fa’il” dalam arti “fa’il”.
  • Firman-Nya: “Kiramin bararah” (Yang mulia lagi berbakti): “bararah” adalah bentuk jamak dari “barr”, yaitu yang disifati dengan banyaknya kebaikan; ini termasuk dalam bab penyifatan dengan masdar (kata benda). Kata “bararah” dikhususkan sebagai bentuk jamak dari “barr”, dan tidak bisa menjadi bentuk jamak dari “barr”.
  • Dalam ayat-ayat sebelumnya terdapat pujian terhadap Al-Qur’an; karena pujian terhadap ayat-ayat yang terdapat di awal surah ini dari segi bahwa ayat-ayat tersebut adalah bagian dari Al-Qur’an. Maka Al-Qur’an dipuji karena keutamaan pengaruhnya dalam memberi peringatan dan petunjuk, ketinggian kedudukannya, kesucian sumbernya, kemuliaan dan kesucian tempatnya, serta keutamaan para pembawa dan penyampainya; karena pujian-pujian tersebut kembali kepada Al-Qur’an melalui kiasan.

۞ ۞ ۞ ۞ ۞

Ayat: 17-32

﴿قُتِلَ الْاِنْسَانُ مَآ اَكْفَرَهٗۗ ١٧ مِنْ اَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهٗۗ ١٨ مِنْ نُّطْفَةٍۗ خَلَقَهٗ فَقَدَّرَهٗۗ ١٩ ثُمَّ السَّبِيْلَ يَسَّرَهٗۙ ٢٠ ثُمَّ اَمَاتَهٗ فَاَقْبَرَهٗۙ ٢١ ثُمَّ اِذَا شَاۤءَ اَنْشَرَهٗۗ ٢٢ كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَآ اَمَرَهٗۗ ٢٣ فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ اِلٰى طَعَامِهٖٓ ۙ ٢٤ اَنَّا صَبَبْنَا الْمَاۤءَ صَبًّاۙ ٢٥ ثُمَّ شَقَقْنَا الْاَرْضَ شَقًّاۙ ٢٦ فَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا حَبًّاۙ ٢٧ وَّعِنَبًا وَّقَضْبًاۙ ٢٨ وَّزَيْتُوْنًا وَّنَخْلًاۙ ٢٩ وَّحَدَاۤىِٕقَ غُلْبًا ٣٠ وَفَاكِهَةً وَّاَبًّا ٣١ مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْۗ ٣٢ ﴾

 

 

Kosakata yang Tidak Umum:

Nuthfah: Air yang jernih, digunakan untuk menyebut air (mani) laki-laki dan perempuan. Akar kata “nathafa” menunjukkan kelembaban dan basah.

Ansyarahu: Artinya menghidupkan dan membangkitkannya. Akar kata “nasyara” menunjukkan pembukaan sesuatu dan percabangannya.

Qadban: Al-Qadhb adalah rumput segar yang dimakan oleh hewan, dinamakan qadhb karena dipotong (yuqdhab) setelah tumbuh berulang kali. Ada yang mengatakan: itu adalah semua tumbuhan yang dimakan dalam keadaan segar, seperti mentimun dan sejenisnya. Akar kata “qadhaba” menunjukkan pemotongan sesuatu.

Hada’iqa ghulban: Artinya kebun-kebun besar dengan pohon-pohon yang besar, lebat dengan pepohonan yang saling berjalin. “Ghulb” adalah bentuk jamak dari “ghalba”. Dikatakan: kebun yang “ghalba” jika kebun itu memiliki pohon-pohon yang besar dan lebat. Berasal dari kata “ghalab” yang berarti tebal. Dikatakan: “ghaliba fulan” artinya lehernya tebal. Dan dikatakan: “ighlaulabat al-ardh” jika rumputnya lebat dan padat.

Abban: Al-Abb adalah nama untuk rumput dan tumbuhan yang digembalakan oleh ternak. Diambil dari “abba fulan asy-syai” yang berarti ia menujunya dan mengarah kepadanya. Rumput dan tumbuhan dituju oleh manusia dengan hewan ternaknya untuk penggembalaan. Ada yang mengatakan: al-abb adalah padang rumput yang siap untuk penggembalaan, dari perkataan mereka: “abba likadza” artinya ia bersiap untuk itu.

Penjelasan Tata Bahasa:

Firman Allah Ta’ala: “Falyanzhuril insanu ila tha’amihi * Anna sababnal ma’a shabba” (Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya * Sesungguhnya Kami telah mencurahkan air [dari langit])

Masdar mu’awwal (infinitif yang ditakwilkan) dari “anna sababna” berada dalam posisi majrur (genetif) sebagai badal isytimal (pengganti yang mencakup) dari “tha’amihi”; karena penurunan air menjadi salah satu sebab terbentuknya makanan seperti yang tercakup di dalamnya, dan kata ganti yang kembali dibuang, yaitu: “sababna lahu” (Kami mencurahkan untuknya).

Makna Keseluruhan:

Allah Ta’ala menjelaskan sebagian dari nikmat-Nya kepada makhluk-Nya dan sikap mereka terhadapnya, dengan berfirman: Binasalah manusia, alangkah sangat kufurnya dia kepada Allah yang telah menciptakannya! Dari apakah Allah menciptakan manusia? Allah menciptakannya dari sedikit air—yaitu sperma—kemudian Allah menentukannya dalam perut ibunya melalui berbagai keadaan dan tahapan penciptaan, dan menyiapkannya dengan organ-organ yang sesuai, baik yang terlihat maupun tersembunyi, beserta bentuknya. Kemudian Allah memudahkan jalan keluar dari perut ibunya, dan jalan kebaikan dan keburukan. Kemudian Allah mencabut ruhnya ketika ajalnya tiba, dan menjadikan kuburan baginya untuk menyembunyikan jasadnya sebagai bentuk penghormatan kepadanya. Kemudian ketika Allah menghendaki, Dia membangkitkan manusia setelah kematiannya dan menghidupkannya pada hari kiamat untuk memberikan balasan atas perbuatannya.

Kemudian Allah Subhanahu mencela manusia karena kelalaiannya dengan berfirman: Tidak! Manusia belum melaksanakan semua yang diwajibkan Allah kepadanya! Kemudian Allah Subhanahu menyebutkan sebagian dari nikmat-Nya dan bagaimana Dia menyiapkan makanan bagi manusia, dengan berfirman: Hendaklah manusia memperhatikan makanannya dengan merenungkan sebab-sebab perolehannya; bahwa Kami menurunkan air hujan dari awan, kemudian Kami membelah bumi dengan keluarnya tumbuhan, maka Kami menumbuhkan di dalamnya berbagai jenis biji-bijian, anggur, dan Kami menumbuhkan rumput segar untuk pakan hewan, dan Kami menumbuhkan zaitun, pohon kurma, dan kebun-kebun dengan pohon-pohon yang besar dan lebat, serta berbagai jenis buah-buahan, dan rumput yang dimakan oleh hewan ternak; sebagai manfaat bagi kalian—wahai manusia—dan bagi hewan ternak kalian, yang kalian nikmati dalam kehidupan dunia.

Tafsir Ayat-ayat:

“Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya?” (17)

Kesesuaian ayat ini dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah Ta’ala mengingatkan tentang ketinggian Al-Qur’an yang tertulis, keagungan kedudukannya, kebesaran pengaruhnya, dan kejelasan semua itu bagi orang yang merenungkan dan memikirkannya dengan sungguh-sungguh; Dia melanjutkan dengan firman-Nya yang mencela orang yang tidak menerimanya dengan sepenuh hati, mendoakan dengan azab dunia yang paling berat—yaitu pembunuhan—dalam bentuk kalimat berita karena lebih kuat pengaruhnya: “Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya?” (17).

Artinya: Celakalah manusia, betapa besar kekafirannya kepada Allah yang telah menciptakannya! Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan dapat menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)” [Ibrahim: 34]. Dan Allah Subhanahu berfirman: “Dan Dialah yang menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu kembali. Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat mengingkari nikmat” [Al-Hajj: 66].

“Dari apakah Allah menciptakannya?” (18)

Artinya: Apakah benda yang darinya Allah menciptakan manusia? Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan. Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada. Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya” [At-Tariq: 5-8].

“Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya” (19)

Artinya: Allah menciptakan manusia dari sedikit air—yaitu sperma—lalu menentukannya dalam perut ibunya melalui keadaan dan tahapan penciptaan; menjadi nutfah (setetes mani), kemudian ‘alaqah (segumpal darah), kemudian mudghah (segumpal daging), hingga sempurna penciptaannya, dan menyiapkannya dengan apa yang sesuai dan layak baginya berupa anggota tubuh yang tampak dan tersembunyi serta bentuknya.

Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik” [Al-Mu’minun: 12-14].

Dan Allah Subhanahu berfirman: “Dan Dia menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat” [Al-Furqan: 2].

Dan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menceritakan kepada kami, dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan, beliau bersabda: “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian Allah mengutus malaikat yang diperintahkan dengan empat kalimat, dan dikatakan kepadanya: ‘Tulislah amalnya, rezekinya, ajalnya, dan apakah ia celaka atau bahagia’, kemudian ditiupkan ruh kepadanya.”

“Kemudian Dia memudahkan jalannya” (20)

Artinya: Kemudian Allah memudahkan bagi manusia jalan keluar dari perut ibunya, dan jalan kebaikan dan keburukan.

“Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur” (21)

Artinya: Kemudian Allah mencabut ruh manusia ketika ajalnya tiba, dan menjadikan kuburan baginya untuk menyembunyikan jasadnya sebagai bentuk penghormatan kepadanya.

“Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali” (22)

Artinya: Kemudian ketika Allah menghendaki, Dia membangkitkan manusia setelah kematiannya dan menghidupkannya pada hari kiamat untuk memberikan balasan atas perbuatannya.

“Tidak! Dia belum melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya” (23)

Artinya: Perkara ini tidak seperti yang dipikirkan manusia bahwa ia telah melaksanakan semua yang Allah wajibkan kepadanya; manusia belum melaksanakan semua yang Allah wajibkan kepadanya, berupa ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.

“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya” (24)

Kesesuaian ayat ini dengan ayat sebelumnya: Bahwa kebiasaan Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an adalah setiap kali Dia menyebutkan bukti-bukti yang ada pada diri manusia, Dia akan menyebutkan setelahnya bukti-bukti yang ada di alam semesta. Maka di sini Dia mengikuti kebiasaan tersebut, dan menyebutkan bukti-bukti di alam semesta, dimulai dengan apa yang dibutuhkan manusia.

Juga, ketika Allah Ta’ala menghitung nikmat-Nya pada diri manusia, Dia menyebutkan nikmat-nikmat yang menjadi penopang kehidupannya, dan memerintahkannya untuk memperhatikan makanannya, serta berbagai keadaan yang terjadi pada makanannya, hingga makanan itu siap untuk dimakan.

“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya” (24)

Artinya: Hendaklah manusia memperhatikan makanannya dengan merenungkan bagaimana penciptaannya dan kemudahan sebab-sebab perolehannya.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya, ataukah Kami yang menumbuhkannya? Sekiranya Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan ia kering dan hancur; maka jadilah kamu heran tercengang. (Sambil berkata), “Sesungguhnya kami benar-benar menderita kerugian,” bahkan kami menjadi orang yang tidak mendapat hasil apa-apa” [Al-Waqi’ah: 63-67].

“Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit)” (25)

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Ketika tujuannya adalah untuk memperhatikan ciptaan Allah Ta’ala dalam makanan, dan tindakan serta perkataan manusia dalam pendustaannya terhadap kebangkitan merupakan tindakan orang yang mengingkari ciptaan tersebut; Allah Subhanahu berfirman dengan merinci apa yang diketahui oleh semua orang, baik khusus maupun umum, tentang ciptaan-Nya dalam makanan, dengan penekanan; sebagai peringatan bahwa pendustaan terhadap kebangkitan berarti pendustaan terhadap penciptaan dan pengulangan tumbuhan, dan itu dalam gaya bahasa yang menjelaskan bahwa manusia membutuhkan segala sesuatu yang ada, dan jika sesuatu berkurang darinya, maka urusannya akan terganggu. Dia memulai pertama dengan yang di langit; karena itu lebih terhormat, dan dengan air yang merupakan kehidupan segala sesuatu; sebagai peringatan kepadanya tentang awal penciptaannya:

“Sesungguhnya Kami telah mencurahkan air (dari langit) dengan curahan yang banyak (25).” Artinya: Sesungguhnya Kami telah menurunkan air hujan dari awan dengan curahan yang banyak. Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami turunkan dari awan air yang tercurah deras” [An-Naba’: 14].

“Kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya (26).” Artinya: Kemudian Kami membelah bumi dengan keluarnya tumbuhan.

“Lalu Kami tumbuhkan padanya biji-bijian (27).” Artinya: Lalu Kami tumbuhkan di bumi berbagai jenis biji-bijian; seperti gandum, jelai, jagung, beras, dan lain-lain.

“Dan anggur dan sayur-sayuran (28).” Artinya: Dan Kami tumbuhkan di dalamnya anggur, dan Kami tumbuhkan di dalamnya sayuran segar yang menjadi makanan ternak.

“Dan zaitun dan pohon kurma (29).” Artinya: Dan Kami tumbuhkan di bumi pohon zaitun dan pohon-pohon kurma.

“Dan kebun-kebun yang lebat (30).” Artinya: Dan Kami tumbuhkan di bumi kebun-kebun yang memiliki pohon-pohon yang lebat dan besar.

“Dan buah-buahan dan rumput-rumputan (31).” Artinya: Dan Kami tumbuhkan di bumi berbagai jenis buah-buahan yang dimakan manusia; dari buah-buahan pohon, dan Kami tumbuhkan di dalamnya rumput dan tumbuhan yang dimakan hewan ternak.

“Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu (32).” Artinya: Allah menumbuhkan semua itu; sebagai manfaat bagi kalian -wahai manusia- dan bagi hewan ternak kalian dari unta, sapi, dan domba, yang kalian nikmati di kehidupan dunia. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan” [Al-Baqarah: 36].

Faedah-faedah Pendidikan:

1- Dalam firman Allah Ta’ala: “Binasalah manusia! Alangkah ingkarnya dia!” hingga firman-Nya: “Kemudian bila Dia menghendaki, Dia akan membangkitkannya kembali”, bahwa jika manusia memikirkan tentang dirinya sendiri, maka keajaiban penciptaannya akan mencegahnya dari kekufuran.

2- Firman Allah Ta’ala: “Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu” yang Allah ciptakan dan tundukkan untukmu. Barangsiapa yang merenungkan nikmat-nikmat ini, niscaya hal itu mewajibkannya untuk mensyukuri Tuhannya, dan berupaya sungguh-sungguh untuk kembali kepada-Nya, menghadap pada ketaatan-Nya, dan membenarkan berita-berita-Nya.

Faedah-faedah Ilmiah dan Hikmah-hikmah:

1- Firman Allah Ta’ala: “Kemudian Dia mematikannya lalu menguburkannya”, dan tidak dikatakan “faqabarahu” (lalu Dia menguburnya); karena “al-qābir” adalah orang yang menguburkan dengan tangannya, sedangkan “al-muqbir” adalah Allah Ta’ala. Dikatakan: “qabara al-mayyit” (menguburkan mayat): jika dia menguburkannya, dan “aqbara al-mayyit” (menyebabkan mayat terkubur): jika dia memerintahkan orang lain untuk menempatkannya di dalam kubur. Orang Arab mengatakan: “batartu dzanaba al-ba’īr” (aku memotong ekor unta), dan “Allah abtarahu” (Allah menyebabkannya terpotong), dan “adabtu qarna al-tsaur” (aku mematahkan tanduk banteng), dan “Allah a’dabahu” (Allah menyebabkannya patah), dan “tharadtu fulānan ‘annī” (aku mengusir si fulan dariku), dan “Allah athradahu” (Allah mengusirnya), yaitu menjadikannya terusir. Penguburan disandarkan kepada Allah karena Dia mengilhamkan manusia untuk melakukannya, dan menegaskan hal itu dengan apa yang Dia perintahkan dalam syariat-Nya tentang kewajiban menguburkan mayat.

2- Allah Ta’ala berfirman: “Kemudian Dia mematikannya lalu menguburkannya”. Dalam ayat ini terdapat dalil kewajiban menguburkan mayat manusia dengan penguburan, bukan dengan pembakaran api seperti yang dilakukan oleh orang-orang Majusi India, dan bukan dengan melemparkannya kepada binatang buas dan burung di tanah lapang di pegunungan yang dikelilingi tembok tanpa atap, seperti yang dilakukan oleh orang-orang Majusi Persia, dan seperti yang dilakukan oleh orang-orang Jahiliyah terhadap mayat-mayat perang dan korban serangan di padang pasir; karena mereka tidak menguburkannya dengan tanah, dan mereka membanggakan hal itu dan menginginkannya.

3- Allah Ta’ala berfirman: “Kemudian Dia mematikannya lalu menguburkannya”. Di antara nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dia mensyariatkan penguburan ini bagi hamba-hamba-Nya; karena makna “fa’aqbarahu” adalah: Dia menempatkannya di dalam kubur, yaitu dikuburkan; sebagai penutup atasnya, dan penghormatan; karena seandainya manusia ketika mati seperti kematian lainnya: jasad-jasad yang dibuang, maka dalam hal itu terdapat penghinaan besar bagi mayat dan keluarga mayat. Dan juga, penghormatan mereka ketika mati dengan penguburan; supaya manusia tidak seperti sesuatu yang dibuang—yaitu dibuang karena hinanya—keluarganya menjauhi untuk mendekat kepadanya, dan dihina oleh menjadi mangsa binatang buas dan sobekan kuku burung dan anjing. Maka letak karunia dalam firman-Nya: “Kemudian Dia mematikannya” adalah pada apa yang dicabangkan darinya dengan huruf fa’ dalam firman-Nya: “lalu menguburkannya”, dan kematian saja bukanlah karunia.

4- Allah Ta’ala berfirman: “Kemudian bila Dia menghendaki, Dia akan membangkitkannya kembali”. Dalam pengaitan pembangkitan dengan kehendak Allah Ta’ala terdapat isyarat bahwa waktunya tidak ditentukan, tetapi mengikuti kehendak-Nya.

5- Dalam firman Allah Ta’ala: “Kemudian bila Dia menghendaki, Dia akan membangkitkannya kembali” terdapat bantahan terhadap syubhat orang-orang kafir; karena mereka meminta percepatan kebangkitan sebagai tantangan dan ejekan; agar mereka menjadikan tidak terkabulnya permintaan itu sebagai bukti bahwa kebangkitan tidak akan terjadi. Maka Allah memberitahu mereka bahwa itu akan terjadi ketika Allah menghendaki terjadinya, bukan pada waktu yang mereka minta; karena itu diserahkan kepada hikmah Allah Ta’ala, dan bantahan terhadap perkataan mereka didapatkan melalui kiasan.

6- Allah Ta’ala berfirman: “Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya”. Penggunaan kata kerja “melihat” di sini dengan huruf “ilā” menunjukkan bahwa itu adalah melihat dengan mata; sebagai isyarat bahwa pelajaran itu didapatkan dengan hanya melihat pada tahap-tahapnya, dan maksudnya adalah perenungan terhadap apa yang dilihat manusia dari keadaan makanannya dengan menunjukkan adanya penciptaan makhluk-makhluk dari bumi.

7- Dalam firman Allah Ta’ala: “Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami telah mencurahkan air (dari langit) dengan curahan yang banyak. Kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya. Lalu Kami tumbuhkan padanya biji-bijian. Dan anggur dan sayur-sayuran. Dan zaitun dan pohon kurma. Dan kebun-kebun yang lebat. Dan buah-buahan dan rumput-rumputan.” Allah Subhanahu menjadikan penglihatan manusia pada keluarnya makanannya dari bumi sebagai bukti atas keluarnya dia sendiri dari bumi setelah kematiannya; sebagai pembuktian dengan membandingkan satu hal dengan hal yang serupa.

8- Dalam firman Allah Ta’ala: “Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya” hingga firman-Nya: “Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu” terdapat penetapan hikmah-hikmah dan tujuan-tujuan yang Allah Subhanahu jadikan dalam penciptaan-Nya dan perintah-Nya.

9- Firman-Nya Ta’ala: “Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya…” di dalamnya terdapat pemberian nikmat, dan di dalamnya terdapat pembuktian dengan menghidupkan tumbuhan dari tanah yang kering untuk menghidupkan jasad-jasad setelah menjadi tulang-tulang yang lapuk dan tanah yang hancur.

10- Allah Ta’ala berfirman: “Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya…” Setelah Allah menjelaskan dari apa manusia diciptakan, di sini Allah menjelaskan bagaimana Dia memberinya makan, dan pada keduanya terdapat tanda kekuasaan. Kedua ayat tersebut memiliki tiga langkah yang sesuai di antaranya; pencurahan air dari langit ke bumi sesuai dengan pancaran air ke dalam rahim, pembelahan bumi untuk tumbuhan sesuai dengan keluarnya bayi ke dunia, dan penumbuhan berbagai jenis tumbuhan sesuai dengan takdir-takdir penciptaan yang berbeda-beda. Dan dalam penyebutan jenis-jenis tumbuhan berupa: biji-bijian, sayur-sayuran, anggur, delima, zaitun, kurma, berbagai buah-buahan, dan kebun-kebun yang lebat; untuk menampakkan makna perbedaan di antaranya, padahal semuanya berasal dari dua asal yang sama: air dari langit, dan tanah di bumi, yang disiram dengan air yang sama.

Keindahan Bahasa dalam Ayat-ayat:

1- Firman Allah Ta’ala: “Binasalah manusia! Alangkah ingkarnya dia!” merupakan permulaan kalimat baru yang muncul setelah menyebutkan orang yang merasa dirinya kaya (tidak membutuhkan); karena yang dimaksud adalah satu orang tertentu atau lebih, dan ini dijelaskan oleh pembicaraan yang terjadi antara Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pemuka musyrikin dalam pertemuan yang dihadiri oleh Ibnu Ummi Maktum.

  • Juga, firman-Nya: “Binasalah manusia! Alangkah ingkarnya dia!” – engkau tidak akan melihat gaya bahasa yang lebih keras darinya, tidak lebih kasar sentuhan, tidak lebih menunjukkan kemarahan, dan tidak lebih jauh jangkauannya dalam celaan, meskipun kata-katanya berdekatan, dan tidak lebih lengkap dalam mencela dengan singkatnya kalimat. Kalimat ini mencapai puncak keringkasan, dan ketinggian keagungan, dengan gaya bahasa yang keras menunjukkan kemarahan, mencapai batas celaan, mengumpulkan kecaman, dan tidak pernah terdengar yang sepertinya sebelumnya, sehingga ia termasuk ungkapan-ungkapan ringkas Al-Qur’an.
  • Kata kerja “qutila fulān” (dibunuhlah si fulan) pada asalnya adalah doa buruk agar orang tersebut dibunuh, dan ini adalah salah satu doa buruk mereka yang paling mengerikan; karena pembunuhan adalah puncak dari kesulitan dan kengerian dunia. Doa buruk dari Allah Ta’ala digunakan untuk penghinaan dan ancaman; karena jelas bahwa hakikat doa tidak sesuai dengan ketuhanan; karena Allah-lah yang kepadanya manusia mengarahkan doa.
  • Pembentukan kata “qutila” dalam bentuk pasif (majhul) berasal dari penggunaannya dalam doa; karena tidak ada tujuan dalam menentukan siapa pembunuhnya.
  • Kata definit “al-insān” (manusia) bisa jadi merupakan definisi yang disebut definisi jenis, sehingga menunjukkan semua individu dari jenis tersebut, dan ini adalah keumuman yang hakiki. Terkadang yang dimaksud adalah keumuman sebagian besar individu berdasarkan konteks, sehingga terbentuk dengan bentuk keumuman suatu klaim untuk tidak menghitung sebagian kecil individu, dan ini disebut keumuman menurut kebiasaan (‘urfi) dalam istilah para ulama ma’ani, dan disebut umum yang dimaksudkan khusus dalam istilah para ulama ushul. Konteksnya di sini adalah apa yang dijelaskan tentang kekafiran manusia dalam firman-Nya: “Dari apakah Dia menciptakannya?” [Abasa: 18] hingga firman-Nya: “Kemudian bila Dia menghendaki, Dia akan membangkitkannya kembali” [Abasa: 22], sehingga yang dimaksud dengan firman-Nya: “al-insān” adalah orang-orang musyrik yang mengingkari kebangkitan. Bisa juga definisi “al-insān” adalah definisi spesifik untuk seseorang tertentu yang ditentukan oleh berita tentang sebab turunnya ayat.
  • Firman-Nya: “qutila al-insān” (binasalah manusia) adalah peringatan bahwa mereka berhak mendapatkan hukuman terberat menurut kebiasaan, dan firman-Nya: “mā akfarahu” (alangkah ingkarnya dia) adalah peringatan bahwa mereka memiliki sifat jenis keburukan dan kemungkaran yang paling besar menurut syariat.
  • Kalimat “mā akfarahu” adalah alasan untuk doa penghinaan dan ancaman kepadanya, dan ini adalah ekspresi ketakjuban dari dahsyatnya kekafiran manusia ini.
  • Objek kata “akfarahu” dihilangkan karena sudah jelas dari kata “akfarahu”, dan perkiraannya adalah: “mā akfarahu billāh” (alangkah ingkarnya dia kepada Allah).

2- Firman Allah Ta’ala: “Dari apakah Dia menciptakannya? Dari setetes mani, Dia menciptakannya lalu menentukannya.”

  • Kalimat “ayyi shay’in khalaqahu” adalah kalimat yang memulai penjelasan nikmat-nikmat yang diberikan kepadanya setelah menggambarkan secara hiperbola sifatnya yang mengingkari nikmat-nikmat penciptanya. Ini juga merupakan penjelasan untuk kalimat “qutila al-insānu mā akfarahu” [Abasa: 17]; karena makna kalimat ini adalah bukti untuk membatalkan penolakan mereka terhadap kebangkitan, dan pengingkaran tersebut merupakan salah satu dasar terbesar kekafiran mereka.
  • Pertanyaan ini bermakna penetapan tentang rendahnya bahan yang dia diciptakan darinya; oleh karena itu, Allah menjawabnya dengan firman-Nya: “Dari setetes mani, Dia menciptakannya lalu menentukannya”. Pertanyaan ini adalah formal, dan yang ditanyakan adalah penentuan hal yang dengannya manusia diciptakan; karena konteks di sini bukan untuk membuktikan bahwa Allah menciptakan manusia, tetapi konteksnya adalah untuk membuktikan kemungkinan pengulangan penciptaan dengan menganalogikannya dengan penciptaan pertama, yaitu: sebagaimana penciptaan manusia pertama kali dari setetes mani, maka penciptaannya kedua kali dari sesuatu yang ada.
  • Bukti ini disampaikan dalam bentuk tanya jawab; untuk membangkitkan ketertarikan pada isinya; oleh karena itu, pertanyaan disertai dengan jawabannya.
  • Firman-Nya: “Dari setetes mani, Dia menciptakannya lalu menentukannya”. Kata depan dan objeknya “min nuthfatin” (dari setetes mani) didahulukan; mengikuti pendahuluan kata yang dijelaskan dalam pertanyaan yang mengharuskan pendahuluannya karena merupakan pertanyaan yang berhak mendapat posisi awal kalimat, dengan mementingkan pendahuluan apa yang menjadi asal penciptaan; karena dalam pendahuluannya terdapat peringatan untuk menunjukkan agungnya hikmah Allah Ta’ala; karena Dia membentuk makhluk terindah yang dikenal dari sesuatu yang paling hina, yaitu setetes mani.
  • Tidak cukup dengan menghilangkan pengulangan kata kerja “khalaqahu” (Dia menciptakannya) dalam kalimat jawaban meskipun sudah diketahui dari penyebutan hasilnya dalam pertanyaan; untuk menambah perhatian pada ketelitian penciptaan yang indah itu. Penyebutan kata kerja “khalaqahu” yang kedua adalah dari gaya bahasa kesetaraan; bukan ringkasan dan bukan pula pengembangan.
  • Firman-Nya: “Dari setetes mani, Dia menciptakannya lalu menentukannya”. Penggunaan kata “nuthfah” (setetes mani) umumnya digunakan untuk air yang menjadi asal reproduksi. Nuthfah disebutkan karena harus disebutkan; karena ia adalah bahan penciptaan hewan; untuk menunjukkan bahwa buatan Allah itu indah, sehingga kemungkinan kebangkitan itu pasti.
  • Kata kerja “faqaddarahu” (lalu menentukannya) dicabangkan dari kata kerja “khalaqahu” dengan huruf fa’ yang menunjukkan pencabangan; karena penentuan di sini adalah penciptaan sesuatu dengan ukuran yang tepat dan teratur. Artinya: Allah menjadikan penentuan sebagai salah satu efek dari penciptaan; karena Dia menciptakannya dalam keadaan siap untuk tumbuh dan apa yang menyertainya berupa akal dan tindakan dan memungkinkannya untuk berpikir dengan akalnya, dan pekerjaan-pekerjaan yang ingin dia lakukan, dan itu terjadi dengan penciptaannya secara bertahap dan bercabang. Pencabangan ini dan apa yang dirangkaikan padanya adalah penyelipan pemberian nikmat di sela-sela pembuktian.

3- Firman Allah Ta’ala: “Kemudian Dia memudahkan jalannya. Kemudian Dia mematikannya lalu menguburkannya. Kemudian bila Dia menghendaki, Dia akan membangkitkannya kembali.”

  • Huruf “tsumma” (kemudian) dalam firman-Nya: “tsumma al-sabīla yassarahu” menunjukkan urutan tingkatan; karena memudahkan jalan kerja manusia lebih menakjubkan dalam menunjukkan indahnya ciptaan Allah; karena itu adalah efek dari akal, dan itu adalah yang terbesar dalam penciptaan manusia, dan itu adalah yang terkuat dalam pemberian nikmat. Ini berdasarkan salah satu pendapat dalam tafsir.
  • Kata “al-sabīla” (jalan) dinashabkan oleh kata kerja yang dijelaskan oleh kata yang nampak; untuk menekankan kemudahan.
  • Penggunaan kata “as-sabil” (jalan) dengan huruf “lam” bukan dengan idafah (penyandaran); untuk menunjukkan keumumannya dan bahwa ia adalah jalan umum.
  • Mendahulukan kata “as-sabil” sebelum kata kerjanya; untuk menunjukkan pentingnya pelajaran dalam kemudahan jalan, dan di dalamnya ada perhatian terhadap fasil (bagian-bagian).
  • Firman-Nya: “Kemudian Dia mematikannya lalu menguburkannya” menghubungkan “kemudian Dia mematikannya” dengan “Dia memudahkannya” dengan huruf yang menunjukkan urutan waktu untuk menunjukkan urutan tingkatan; karena hilangnya kekuatan-kekuatan akal dan indera dengan kematian -setelah tertanam dalam waktu tertentu- adalah hilangnya yang menakjubkan tanpa bertahap dan tanpa menunggu waktu yang sama dengan masa keberadaannya, dan ini adalah penggabungan untuk menunjukkan keagungan kekuasaan.
  • Firman-Nya: “Kemudian Dia mematikannya lalu menguburkannya” menghitung kematian dan penguburan sebagai nikmat; karena kematian pada umumnya adalah jalan menuju kehidupan abadi dan kenikmatan murni, dan perintah untuk menguburkan adalah penghormatan dan perlindungan dari binatang buas.
  • Bentuk kata kerja masa lampau dalam firman-Nya: “Dia mematikannya” digunakan untuk masa lampau -yaitu kematian orang yang telah mati-, dan masa depan, yaitu kematian orang yang akan mati; karena kematian mereka di masa depan adalah suatu kepastian; karena sudah diketahui dengan pasti bahwa banyak sekali dari jenis manusia yang tak terhitung telah sampai pada kematian, dan siapa yang masih hidup pasti akan menuju kematian.
  • Penyebutan kalimat “kemudian Dia mematikannya” adalah pendahuluan dan pengantar untuk kalimat “lalu menguburkannya”, dan ini adalah penggabungan nikmat di sela-sela penjelasan.
  • Firman-Nya: “Kemudian apabila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya” adalah kembali kepada penetapan kebangkitan, dan ini seperti kesimpulan setelah penjelasan. Firman-Nya: “apabila Dia menghendaki” muncul sebagai sisipan di antara kalimat “Dia mematikannya” dan kalimat “Dia membangkitkannya”; untuk menolak dugaan orang-orang musyrik bahwa tidak disegerakannya kebangkitan adalah bukti bahwa kebangkitan tidak akan terjadi di masa depan, dan (apabila) adalah kata keterangan untuk masa depan, maka kata kerja masa lampau setelahnya ditafsirkan sebagai masa depan, dan maknanya: kemudian ketika Dia menghendaki Dia membangkitkannya, yaitu: Dia membangkitkannya ketika kehendak-Nya berkaitan dengan pembangkitannya.

4- Firman Allah Ta’ala: “Sekali-kali tidak, dia belum melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya”

  • (Sekali-kali tidak) menunjukkan penolakan dan larangan, dan ini ditujukan kepada apa yang sebelumnya yang diisyaratkan oleh firman Allah Ta’ala: “Kemudian apabila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya” [Abasa: 22], yaitu: jika Allah menghendaki; karena mengisyaratkan bahwa orang kafir mengingkari bahwa Allah akan membangkitkannya, dan ia beralasan bahwa Allah tidak pernah membangkitkan siapa pun sejak dulu hingga sekarang, dan posisi (sekali-kali tidak) adalah posisi jawaban dengan pembatalan, dan posisi kalimat “dia belum melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya” adalah posisi alasan untuk pembatalan, yaitu: seandainya dia melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya, tentu dia akan mengetahui kebatilan anggapannya bahwa dia tidak akan dibangkitkan. Atau ini adalah penolakan terhadap manusia dari apa yang dia alami, yaitu: dari apa yang disebutkan sebelumnya tentang kerasnya kekufurannya dan keberlangsungannya tanpa henti, maka ini adalah larangan terhadap makna: “Alangkah kafirnya dia” [Abasa: 17]. Dan ada juga pendapat lain.
  • Dan “lamma” adalah kata penafian yang menunjukkan penafian perbuatan di masa lalu seperti “lam”, dan menambahkan penunjukan pada kelangsungan penafian hingga waktu berbicara, dan di sini dijazamkan dengan “lamma”; untuk menunjukkan bahwa keheranan dan kesombongan masih tetap menyertai manusia hingga saat di mana dia berada, dan maksudnya adalah bahwa dia terus-menerus tidak melaksanakan apa yang Allah perintahkan kepadanya dari apa yang Allah serukan kepadanya.

5- Firman Allah Ta’ala: “Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya * Sesungguhnya Kami telah mencurahkan air (dari langit) * Kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya * Lalu Kami tumbuhkan padanya biji-bijian * Dan anggur dan sayur-sayuran * Dan zaitun dan kurma * Dan kebun-kebun yang lebat * Dan buah-buahan dan rumput-rumputan * (Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu”

  • Firman-Nya: “Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya” adalah perkataan yang baru yang dimaksudkan untuk memulai penghitungan nikmat-nikmat yang berkaitan dengan keberlangsungan hidupnya setelah rincian nikmat-nikmat yang berkaitan dengan kemunculannya. Atau ini bercabang dari firman-Nya: “dia belum melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya” [Abasa: 23], sehingga ini termasuk dari apa yang Allah perintahkan kepadanya berupa perhatian, atau bercabang dari firman-Nya: “Alangkah kafirnya dia” [Abasa: 17], sehingga perhatian ini termasuk dari apa yang membatalkan dan menghapuskan kerasnya kekufuran manusia, dan huruf “fa” (maka) meskipun untuk percabangan juga mengandung makna “fashihah” – yang menjelaskan tentang kalimat yang telah dihilangkan-; karena perkiraannya: jika dia ingin melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya maka hendaklah dia memperhatikan makanannya, atau jika dia ingin membatalkan kekufurannya maka hendaklah dia memperhatikan makanannya.
  • Dan firman-Nya: “Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya” hingga firman-Nya: “(Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu” adalah dalil tentang pendekatan cara kebangkitan, yang disinggung dalam konteks pengarahan manusia untuk memperbaiki apa yang telah diabaikannya, dan perpindahan tersebut adalah dari pendalilan dengan apa yang ada pada penciptaan manusia berupa keindahan ciptaan dari bukti-bukti yang ada pada dirinya dalam ayat “Dari apakah Dia menciptakannya?” [Abasa: 18] kepada pendalilan dengan keadaan-keadaan yang ada pada sebagian makhluk yang sangat terkait dengan kehidupan manusia – sebagai pengukuhan dalil, variasi di dalamnya, dan isyarat tentang nikmat kepada manusia dalam bukti-bukti ini, dari nikmat tumbuhan yang dengannya keberlangsungan hidup manusia, dan kehidupan apa yang bermanfaat baginya dari hewan ternak.
  • Dan yang diperhatikan dijadikan zat makanan padahal yang dimaksud adalah memperhatikan sebab-sebab terbentuknya dan keadaan-keadaan perkembangannya hingga keadaan manusia dapat memanfaatkannya, dan pemanfaatan hewan ternak manusia dengannya, dan itu termasuk gaya menggantungkan hukum-hukum dengan nama-nama zat padahal yang dimaksud adalah keadaan-keadaannya; seperti firman Allah Ta’ala: “Diharamkan bagimu bangkai” [Al-Maidah: 3], yakni: memakannya. Allah memerintahkan manusia untuk memikirkan tahapan-tahapan terbentuknya biji-bijian dan buah-buahan yang menjadi makanannya, dan telah dijelaskan kepadanya perkembangan itu agar dia merenungkan apa yang dititipkan kepadanya dalam hal itu berupa keindahan penciptaan, baik dia melihatnya dengan matanya atau tidak melihatnya, dan tidak ada seorang pun yang kosong dari pengetahuan global tentang hal itu, maka penjelasan ini menambah pengetahuan detailnya. Dan dalam semua tahapan itu ada perumpamaan untuk menghidupkan jasad-jasad yang berada di bumi, maka perumpamaan ini mungkin pada sekedar bentuk yang dihasilkan dengan menghidupkan jasad-jasad, dan mungkin merupakan perumpamaan dalam semua tahapan itu dengan dikeluarkannya jasad-jasad dari bumi seperti keluarnya tumbuhan dengan adanya benihnya di bumi, dan Allah mengirimkan kekuatan-kekuatan yang tidak kita ketahui yang menyerupai kekuatan air yang dengannya benih-benih tumbuhan hidup; Allah Ta’ala berfirman: “Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah, tumbuh (berangsur-angsur) * Kemudian Dia akan mengembalikan kamu ke dalamnya (tanah) dan mengeluarkan kamu (pada hari Kiamat) dengan pasti” [Nuh: 17-18].
  • Dan manusia yang disebutkan dalam firman-Nya: “Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya” adalah manusia yang disebutkan dalam firman-Nya: “Binasalah manusia! Alangkah kafirnya dia” [Abasa: 17], dan disebutkan dengan nama yang jelas di sini bukan dengan kata ganti seperti dalam firman-Nya: “Dari apakah Dia menciptakannya” [Abasa: 18]; karena itu dekat dengan tempat kembalinya, sedangkan yang di sini adalah permulaan perkataan; maka diungkapkan dengan nama yang jelas untuk penjelasan.
  • Dan dalam perintah kepada manusia untuk memperhatikan makanan terdapat nikmat kepadanya berupa pemberian makanan yang dengannya menggantikan apa yang hilang dari kekuatannya akibat usaha akal dan pemikiran alami yang tidak disadari terjadinya di dalam tubuh, dan akibat kerja keras fisik dan sekresi, dan itu adalah sebab-sebab penguapan kekuatan fisik, sehingga kondisi tubuh perlu menggantinya dan menggantikannya, dan itu dengan makanan dan minuman.
  • Dan perhatian dikaitkan dengan makanan meskipun pendalilan adalah dengan keadaan-keadaan pembentukan makanan; untuk menjalankan perkataan secara ringkas, dan ini dijelaskan oleh apa yang ada dalam kalimat-kalimat setelahnya dari firman-Nya: “Sesungguhnya Kami telah mencurahkan air (dari langit)” hingga akhirnya, maka perkiraannya adalah: maka hendaklah manusia memperhatikan penciptaan makanannya, dan penyediaan air untuk menumbuhkannya, dan pembelahan bumi dan penumbuhannya, dan kepada pemanfaatannya dan pemanfaatan ternaknya dalam kelangsungan hidup mereka.
  • Firman-Nya: “Sesungguhnya Kami telah mencurahkan air (dari langit)” dibaca dengan fathah pada hamzah sebagai badal isytimal (pengganti yang mencakup) dari “makanannya”; karena air adalah sebab terjadinya makanan, sehingga mencakupnya. Dan dibaca: “inna” (sesungguhnya kami) sebagai perkataan baru; dengan anggapan bahwa kalimat tersebut adalah penjelasan untuk kalimat “Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya”; untuk merinci apa yang diglobalkan di sana secara ringkas.
  • Dan kata “shabban” dan “syaqqan” dinashabkan sebagai maf’ul mutlaq (objek mutlak) untuk kedua kata kerja “shababna” dan “syaqaqna” yang menguatkan pelakunya; agar bisa ditanwinkan; karena dalam ketidak-definitan ada penunjukan kepada pengagungan, dan pengagungan setiap sesuatu adalah dengan apa yang sesuai dengannya.
  • Dan penyandaran pencurahan, pembelahan, dan penumbuhan kepada kata ganti untuk Allah dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Kami telah mencurahkan air (dari langit) * Kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya * Lalu Kami tumbuhkan padanya biji-bijian”; karena Allah adalah yang menentukan sistem sebab-sebab yang berpengaruh dalam hal itu, yang menguasai hukum-hukumnya, dan yang mengilhami manusia untuk menggunakannya.
  • Dan rangkaian susunan yang mulia datang untuk menjelaskan nikmat-nikmat yang melimpah dari sisi Allah Ta’ala dengan cara yang indah dan luar biasa dari kebiasaan yang dikenal, sebagaimana diisyaratkan oleh penguatan dua kata kerja dengan dua mashdar “shabban” (dengan sebenar-benarnya pencurahan) dan “syaqqan” (dengan sebenar-benarnya pembelahan).
  • Dan huruf “fa” (lalu) dalam firman-Nya: “Lalu Kami tumbuhkan” untuk menunjukkan percabangan dan urutan cepat, dan ini dalam setiap hal sesuai dengan keadaannya.
  • Dan Allah mendahulukan anggur; karena itu adalah buah yang paling bermanfaat, dimakan basah dan kering, dan diperas sehingga dijadikan berbagai macam, dan ia lebih umum keberadaannya daripada kurma, ada di kebanyakan negeri, sedangkan kurma hanya ada di negara-negara yang panas.
  • Dan “al-qadhb” artinya: sayuran basah, dinamakan dengan mashdar (kata dasar) dari “qadhabahu”, yaitu: memotongnya; sebagai bentuk mubalaghah (intensitas), seolah-olah karena berulang-ulangnya pemotongan dan banyaknya itu sendiri adalah pemotongan.
  • Firman-Nya: “Dan zaitun dan kurma” disebutkan pohon kurma bukan buahnya, yaitu kurma, berbeda dengan buah-buahan dan sayuran yang digabungkan dengannya; karena manfaat pohon kurma banyak tidak terbatas pada buahnya saja, mereka menjadikan buahnya sebagai makanan berupa kurma kering, kurma basah, dan kurma setengah matang, dan mereka memakan tunas muda kurma, dan minum air batang kurma ketika dibelah, dan mereka menjadikan biji kurma sebagai pakan untuk unta mereka, dan semua itu termasuk makanan, selain penggunaan kayu kurma untuk membuat rumah dan peralatan, dan daun kurma untuk membuat tikar, dan serat kurma untuk membuat tali, maka penyebutan nama pohon yang mencakup semua manfaat ini lebih lengkap dalam pendalilan dengan berbagai keadaan, dan ini adalah penggabungan nikmat dengan banyaknya pemberian.
  • Firman-Nya: “Dan kebun-kebun yang lebat” – Hadaiq adalah bentuk jamak dari hadiqah, yaitu kebun yang terdiri dari kurma, anggur, dan pohon buah-buahan, dan penggunaannya dalam hubungan dengan kurma adalah dari hubungan yang lebih umum dengan yang lebih khusus, dan karena dalam penyebutan kebun ada penggabungan nikmat dengannya. Dan dikhususkan dengan penyebutan; karena itu adalah tempat rekreasi dan memetik buah, dan karena itu mengumpulkan berbagai jenis pohon.
  • Firman-Nya: “(Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu” bisa sebagai maf’ul lahu (objek untuk menjelaskan tujuan), yaitu: Dia melakukan itu untuk memberikan kesenangan bagi kalian dan hewan ternak kalian; karena sebagian nikmat yang disebutkan adalah makanan bagi mereka, dan sebagiannya adalah pakan untuk hewan mereka, dan ini menggunakan gaya iltifat (pengalihan pembicaraan) untuk menyempurnakan pemberian nikmat. Atau bisa sebagai mashdar yang menegaskan kata kerjanya yang tersirat dengan menghilangkan tambahan, yaitu: Dia memberi kalian kesenangan dengan itu sebagai kesenangan, atau untuk kata kerja yang didasarkan padanya, yaitu: Dia memberi kalian kesenangan dengan itu sehingga kalian menikmatinya sebagai kesenangan, yaitu: kenikmatan, atau mashdar dari kata yang bukan dari kata yang sama; karena apa yang disebutkan dari tiga kata kerja adalah dalam makna pemberian kesenangan.

Dan ada yang mengatakan: firman-Nya: “(Semua itu) untuk kesenanganmu” adalah hal (keterangan keadaan) dari yang disebutkan, dan firman-Nya: “dan untuk hewan-hewan ternakmu” dihubungkan dengan firman-Nya: “untuk kesenanganmu”, dan mata’ (kesenangan) adalah apa yang dimanfaatkan untuk suatu waktu kemudian terputus, dan di dalamnya ada laff dan nasyr musyawwasy (pengelompokan dan penguraian yang tidak berurutan), dan pendengar mengembalikan setiap hal dari yang disebutkan kepada apa yang cocok untuknya; karena kejelasannya, dan keterangan keadaan ini jatuh pada posisi penggabungan; nasihat dan nikmat digabungkan dalam rangkaian pendalilan.

۞ ۞ ۞ ۞ ۞

Ayat: 33-42

﴿فَاِذَا جَاۤءَتِ الصَّاۤخَّةُ ۖ ٣٣ يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِۙ ٣٤ وَاُمِّهٖ وَاَبِيْهِۙ ٣٥ وَصَاحِبَتِهٖ وَبَنِيْهِۗ ٣٦ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِۗ ٣٧ وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ مُّسْفِرَةٌۙ ٣٨ ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ ۚ ٣٩ وَوُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌۙ ٤٠ تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ ۗ ٤١ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ ࣖ ٤٢ ﴾

Kata-Kata Yang Asing:

As-Shaakhkhah: Teriakan yang keras yang memekakkan telinga, yaitu: membuatnya tuli karena kerasnya. Asal kata “shakhkh” adalah: tikaman dan pukulan, maka “as-shaakhkhah” adalah yang memukul telinga karena kerasnya suara, dan yang dimaksud di sini adalah: tiupan yang kedua, dan itu adalah salah satu nama hari kiamat, dan asal kata (shakhkhakh) menunjukkan suara.

Musfirah: Yaitu: bersinar, bercahaya, berseri-seri; dari “asfara as-subh”: ketika terang dan bersinar, dan asal kata (safara) menunjukkan keterbukaan dan kejelasan.

Mustabsyirah: Yaitu: gembira dengan apa yang diperoleh dari kemuliaan Allah, dan “istabsyara”: ketika menemukan apa yang membuatnya gembira, dan asal kata (basyara) menunjukkan penampakan sesuatu dengan kebaikan dan keindahan.

Ghabarah: Yaitu: debu dan kekeruhan, dan asal kata (ghabara) di sini menunjukkan salah satu warna.

Tarhaquha qatarah: Yaitu: menutupinya dan menyelimutinya kegelapan dan kehitaman, dan asal kata (rahaqa) menunjukkan perbuatan melingkupi sesuatu oleh sesuatu yang lain, dan asal kata (qatara) menunjukkan pengumpulan dan penyempitan.

Al-Fajarah: Bentuk jamak dari “fajir”, yaitu orang yang terjebak dalam kemaksiatan dan hal-hal yang diharamkan. Dikatakan: “fajara yafjuru fujuran”, maka dia adalah “fajir”, dan “fujur” adalah keterlibatan dan keterbukaan dalam kemaksiatan, dan asal kata (fajara) adalah keterbukaan dalam sesuatu. Ada yang mengatakan: “fajr” adalah membelah sesuatu dengan belahan yang lebar, dan “fujur” adalah merobek tutup keagamaan.

Makna Global:

Allah Ta’ala mengakhiri surah yang mulia ini dengan pembicaraan tentang keadaan manusia pada hari kiamat, maka Dia berfirman: Ketika kiamat datang dengan teriakannya yang dahsyat yang memekakkan telinga; karena kerasnya suaranya, dan itu terjadi pada hari ketika setiap orang lari dari saudaranya, ibu dan ayahnya, istri dan anak-anaknya; bagi setiap satu dari kerabat itu pada hari kiamat ada urusan besar yang membuatnya sibuk dan menyibukkannya dari yang lain! Wajah orang-orang beriman pada hari itu bercahaya dan bersinar, tertawa dan gembira, sedangkan wajah orang-orang kafir pada hari kiamat diliputi debu dan diselimuti kegelapan dan kehitaman, mereka itulah orang-orang kafir yang penuh kemaksiatan.

Tafsir Ayat-ayat:

Ketika datang suara yang memekakkan (33).

Hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya: Bahwa Allah Ta’ala ketika menyebutkan tiga hal yang dimaksudkan; pertama: Bukti-bukti yang menunjukkan keesaan-Nya. Kedua: Bukti-bukti yang menunjukkan kekuasaan-Nya atas hari kebangkitan. Ketiga: Bahwa Tuhan ini yang telah berbuat baik kepada hamba-hamba-Nya dengan berbagai macam kebaikan yang agung, tidak pantas bagi orang berakal untuk membangkang dari ketaatan-Nya dan bersikap sombong terhadap hamba-hamba-Nya – Allah melanjutkan dengan hal-hal yang memperkuat tujuan-tujuan ini, yaitu penjelasan tentang kedahsyatan hari kiamat. Karena sesungguhnya manusia ketika mendengarnya akan takut, dan ketakutan itu mendorongnya untuk merenungkan bukti-bukti, beriman kepadanya, berpaling dari kekufuran, dan juga mendorongnya untuk meninggalkan kesombongan terhadap manusia, serta menampakkan kerendahan hati kepada setiap orang. Oleh karena itu, Allah menyebutkan tentang hari kiamat.

Ketika datang suara yang memekakkan (33).

Yakni: ketika datang hari kiamat dengan teriakan dahsyatnya yang memekakkan telinga karena kerasnya suara tersebut.

Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya (34).

Yakni: pada hari ketika setiap manusia berlari dari saudaranya karena dahsyatnya kengerian! Sebagaimana Allah berfirman: “Maka apabila sangkakala ditiup, tidak ada lagi hubungan keluarga di antara mereka pada hari itu, dan tidak (pula) mereka saling bertanya.” (Al-Mu’minun: 101). Dan Allah Subhanahu berfirman: “Dan tidak ada seorang teman akrab pun menanyakan temannya. Sedang mereka saling melihat. Orang yang berdosa ingin sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya, dan istrinya dan saudaranya, dan keluarganya yang melindunginya (di dunia), dan orang-orang di bumi seluruhnya, kemudian mengharapkan (tebusan) itu dapat menyelamatkannya.” (Al-Ma’arij: 10-14).

Dan ibunya dan ayahnya (35).

Yakni: setiap manusia juga berlari dari ibu dan ayahnya, dan tidak dapat memberi manfaat kepada mereka sedikitpun!

Dan istrinya dan anak-anaknya (36).

Yakni: dan dari istrinya yang selalu menemaninya di dunia, dan dari anak-anaknya yang merupakan orang-orang yang paling dicintainya!

Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya (37).

Hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya: Bahwa Allah Ta’ala ketika menyebutkan tentang manusia yang berlari, kemudian dilanjutkan dengan menyebutkan sebabnya.

Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya (37).

Yakni: setiap orang dari kerabat-kerabat tersebut pada hari kiamat memiliki urusan besar yang menggundahkannya dan mencukupkannya, sehingga menyibukkannya dari memperhatikan urusan orang lain.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalian akan dikumpulkan dalam keadaan telanjang kaki, telanjang badan dan tidak berkhitan.” Lalu seorang wanita bertanya: “Apakah sebagian kita akan melihat aurat sebagian yang lain?!” Beliau menjawab: “Wahai Fulanah, setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya!”

Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri (38).

Hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya: Bahwa Allah Ta’ala setelah menyebutkan keadaan hari kiamat dengan segala kedahsyatannya, menjelaskan bahwa orang-orang yang dibebani (dengan kewajiban agama) pada hari itu terbagi menjadi dua golongan: di antara mereka ada orang-orang yang bahagia dan ada orang-orang yang celaka. Maka Allah menggambarkan orang-orang yang bahagia dengan firman-Nya:

Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri (38).

Yakni: wajah-wajah orang-orang beriman pada hari itu bercahaya dan bersinar.

Tertawa dan gembira ria (39).

Yakni: tertawa karena bahagia dan bergembira dengan penuh sukacita.

Sebagaimana Allah berfirman: “Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati.” (Al-Insan: 11).

Dan Allah Subhanahu berfirman: “Dan dia akan kembali kepada keluarganya dengan gembira.” (Al-Insyiqaq: 9).

Dan wajah-wajah pada hari itu tertutup debu (40).

Hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya: Setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan ahli kebahagiaan dari orang-orang beriman, Dia menyebutkan lawannya. Maka Allah berfirman:

Dan wajah-wajah pada hari itu tertutup debu (40).

Yakni: wajah-wajah orang-orang kafir pada hari kiamat diselimuti oleh debu.

Ditutup lagi oleh kegelapan (41).

Yakni: diselimuti oleh kegelapan dan kehitaman.

Sebagaimana Allah berfirman: “Pada hari (ketika) ada wajah-wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah-wajah yang hitam muram. Adapun orang-orang yang berwajah hitam muram (kepada mereka dikatakan), ‘Mengapa kamu kafir setelah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu’.” (Ali Imran: 106).

Dan Allah Subhanahu berfirman: “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan wajah mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. Dan orang-orang yang berbuat kejahatan (akan mendapat) balasan kejahatan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari (azab) Allah, seakan-akan wajah mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Yunus: 26-27).

Mereka itulah orang-orang kafir yang durhaka (42).

Yakni: mereka itulah orang-orang kafir yang hatinya tidak beriman kepada kebenaran, orang-orang durhaka yang melakukan kejahatan dengan berani melakukan hal-hal yang diharamkan.

Faedah-faedah Ilmiah dan Kehalusan Makna:

1- Allah berfirman: “Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dan ibunya dan ayahnya, dan istrinya dan anak-anaknya.” Fakta bahwa manusia lari dari orang-orang terdekatnya menunjukkan betapa dahsyatnya hari itu; sehingga ketika ia melihat azab yang menimpa orang-orang terdekatnya, ia mengira bahwa dengan lari dari mereka akan menyelamatkannya dari kejadian serupa; karena ia tahu bahwa dirinya sama dengan mereka dalam perbuatan-perbuatan yang mereka lakukan. Maka disebutkan di sini berbagai jenis kekerabatan; karena hubungan kekerabatan adalah ikatan yang memiliki tempat istimewa dalam jiwa dan mendorong keinginan untuk menjaga keselamatan dan kehormatan orang yang terkait dengannya, dan keakraban menimbulkan dalam jiwa keinginan untuk terus bersama dan berdampingan. Kedua perasaan ini mencegah seseorang dari berpisah, maka bagaimana menurutmu dengan kengerian yang mengatasi kedua perasaan ini sehingga tidak meninggalkan ruang bagi keduanya dalam jiwa?!

2- Dalam firman Allah: “Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira ria” terdapat kabar gembira yang besar bagi orang beriman; karena tanpa diragukan lagi berita ini akan menjadi kenyataan baginya; karena Allah melanjutkan setelahnya: “Dan wajah-wajah pada hari itu tertutup debu, ditutup lagi oleh kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir yang durhaka.” Maka hal ini diperuntukkan bagi orang kafir, dan itu (kebahagiaan) bagi orang beriman insya Allah; karena Allah tidak menyebutkan golongan ketiga bersama keduanya.

3- Firman Allah Ta’ala: “Mereka itulah orang-orang kafir yang durhaka” mengikuti sifat kekafiran dengan sifat kedurhakaan, meskipun sifat kekafiran lebih besar daripada sifat kedurhakaan; karena makna kedurhakaan mengandung kehinaan perbuatan. Maka disebutkan kedua sifat mereka yang menunjukkan gabungan dari kerusakan keyakinan dan kerusakan perbuatan.

Keindahan Bahasa dalam Ayat-ayat:

1- Firman Allah Ta’ala: “Ketika datang suara yang memekakkan” adalah kalimat yang dimulai kembali untuk memulai penjelasan tentang keadaan hari kebangkitan mereka setelah penjelasan tentang awal penciptaan dan kehidupan mereka. Huruf “fa” (فَ) menunjukkan urutan apa yang ada setelahnya berdasarkan apa yang diisyaratkan oleh kata “kesenangan” tentang cepatnya hilangnya nikmat-nikmat tersebut dan dekatnya kehancurannya.

Ada juga yang mengatakan: Huruf “fa” dalam “Ketika datang suara yang memekakkan” merupakan cabang dari celaan dan teguran dalam firman-Nya: “Celakalah manusia! Alangkah ingkarnya dia!” (Abasa: 17), dan apa yang mengikutinya berupa dalil-dalil terhadap orang-orang musyrik dari firman-Nya: “Dari apakah Dia menciptakannya?” (Abasa: 18) sampai firman-Nya: “Sungguh, Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit)” (Abasa: 25). Maka dari itu, dibuat cabang dari hal tersebut berupa peringatan tentang hari pembalasan, dengan kesesuaian terjadinya peringatan ini setelah isyarat dan pernyataan eksplisit tentang pemberian nikmat dalam firman-Nya: “Kepada makanannya” (Abasa: 24), dan firman-Nya: “(Sebagai) kesenangan bagimu dan untuk hewan ternakmu” (Abasa: 32).

2- Firman Allah Ta’ala: “Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dan ibunya dan ayahnya, dan istrinya dan anak-anaknya”

  • Huruf “min” (مِنْ) dalam firman-Nya: “Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya” boleh bermakna sebab (ta’lil) yang dengannya kata “lari” (firār) dihubungkan dengan penyebab larinya, seperti ketika dikatakan: “Lari dari singa”, “Lari dari musuh”, dan “Lari dari kematian”. Dan boleh juga bermakna meninggalkan (mujāwazah) seperti huruf “‘an” (عَنْ).
  • Dan di dalamnya terdapat kesesuaian yang baik, di mana jenis-jenis kekerabatan dalam ayat ini disusun berdasarkan urutan dari jenis yang lebih rendah ke jenis yang lebih kuat; sebagai tahapan dalam menggambarkan kedahsyatan hari itu. Dimulai dengan saudara karena kuatnya hubungannya dengan saudaranya sejak masa kecil, sehingga timbul keakraban di antara keduanya yang berlangsung sepanjang hidup. Kemudian naik dari saudara ke kedua orang tua, yang lebih dekat kepada anak-anak mereka. Lalu beralih ke istri dan anak-anak, yang merupakan kesatuan keluarga manusia dan orang-orang yang paling dekat dan selalu bersamanya.

Seolah-olah Dia berfirman: “Ia lari dari saudaranya, bahkan dari kedua orang tuanya, bahkan dari istrinya dan anak-anaknya”; karena keterikatan hati kepada istri dan anak-anak lebih kuat daripada keterikatan kepada kedua orang tua. Karena konteksnya adalah tentang lari, maka didahulukan yang lebih rendah tingkatannya dalam kecintaan dan pembelaan, kemudian yang lebih tinggi sebagai bentuk peningkatan, dan diakhirkan yang lebih wajib dalam hal itu lalu yang lebih wajib lagi – berbeda dengan susunan dalam surat Al-Ma’arij.

Maka dikatakan: “dari saudaranya”; karena ia mengakrabinya sejak kecil, dan mungkin bersandar kepadanya saat dewasa, dengan lamanya persahabatan dan kuatnya kedekatan dalam kekerabatan, sehingga sangat berharga baginya.

Dan ketika ibu sama-sama memiliki kedekatan, dan melindunginya lebih diperlukan daripada melindungi saudara, dan ia lebih dekat dengannya, lebih sayang, lebih lembut dan lebih penuh kasih sayang kepadanya; dikatakan: “dan ibunya”.

Dan karena ayah lebih besar dalam hal kedekatan; karena ia lebih dekat dalam jenis, dan anak memiliki rasa kasih sayang kepadanya karena manfaat yang lebih banyak dibandingkan dengan yang sebelumnya; dikatakan: “dan ayahnya”. Dan juga ibu didahulukan untuk menjaga kesesuaian akhir ayat (fashilah).

Dan karena istri – yang layak untuk ditemani – lebih melekat di hati, dan lebih mendalam dalam kasih sayang, dan manusia lebih membela dan melindunginya saat kesulitan; dikatakan: “dan istrinya”. Dan mungkin kata ini disebutkan dalam bentuk tunggal sebagai isyarat bahwa istrinya berada di tingkat tertinggi kasih sayang baginya, sehingga ia tidak mengakrabi yang lain.

Dan karena orang tua memiliki rasa cinta dan kasih sayang kepada anak, berbagi rahasia, dan bermusyawarah dalam urusan yang tidak dimiliki oleh orang lain; dan karena itu ia mengorbankan rezekinya dan umurnya; dikatakan: “dan anak-anaknya”, meskipun termasuk di dalamnya anak kecil yang lebih ia sayangi, dan anak besar yang lebih terhormat di hatinya dan lebih mulia di matanya, dan yang di antara keduanya dari anak laki-laki dan perempuan.

  • Dan juga permulaan dalam setiap konteks sesuai dengan yang cocok untuknya; terkadang menuntut untuk dimulai dengan yang lebih tinggi, dan terkadang dengan yang lebih rendah. Di sini, yang sesuai adalah memulai dengan yang lebih rendah; karena tujuannya adalah menjelaskan pelariannya dari kerabatnya secara terperinci satu per satu. Jika yang lebih dekat disebutkan terlebih dahulu, maka penyebutan yang lebih jauh tidak akan ada manfaat yang berarti; karena sudah diketahui bahwa jika ia lari dari yang lebih dekat, ia juga lari dari yang lebih jauh, dan pendengar tidak akan merasakan kedahsyatan itu secara terperinci.

Maka dimulai dengan menyebutkan yang lebih jauh lalu pindah ke yang lebih dekat. Pertama dikatakan: “Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya”, maka diketahui bahwa ada kedahsyatan yang menyebabkan hal itu. Dan mungkin saja ia lari dari yang lain dan mungkin tidak. Kemudian dikatakan: “dan ibunya dan ayahnya”; maka diketahui bahwa kedahsyatan itu lebih besar dari itu sehingga menyebabkan lari dari kedua orang tua. Kemudian dikatakan: “dan istrinya dan anak-anaknya”; maka diketahui bahwa itu adalah malapetaka besar yang menyebabkan lari dari mereka yang tidak akan dilarikan kecuali dalam kedahsyatan yang paling ekstrem, yaitu istri dan anak-anak.

Dan kata “dan istrinya” (وَصَاحِبَتِهِ) lebih baik daripada “zaujatihi” (زوجتِه/istrinya).

  • Demikian juga dijelaskan secara panjang lebar tentang penghitungan para kerabat ini tanpa dikatakan: (pada hari ketika seseorang lari dari kerabat terdekatnya) sebagai contoh; untuk menghadirkan gambaran kengerian dalam jiwa pendengar. – Masing-masing dari kerabat ini jika Anda memperkirakan dialah yang melarikan diri, maka orang yang disebutkan bersamanya adalah orang yang dihindarkan, kecuali perkataan-Nya: “dan istrinya”; karena jelas bahwa artinya adalah: dan wanita dari suaminya; maka di dalamnya terdapat kecukupan, dan sungguh dia (istri) disebut dengan sifat sahabat yang menunjukkan kedekatan dan kebersamaan daripada sifat suami; karena perempuan bisa jadi tidak baik dalam pergaulan dengan suaminya, sehingga larinya suami darinya bukan kiasan tentang besarnya kengerian, maka dia disebut dengan sifat sahabat. – Dan ketergantungan para kerabat pada tindakan “seseorang melarikan diri” mengharuskan bahwa mereka telah jatuh dalam azab yang mereka takutkan akan menjalar kepada orang yang berhubungan dengan mereka. – Dan telah berkumpul dalam firman-Nya: “pada hari ketika seseorang lari dari saudaranya” … sampai akhir ayat, paling fasih dalam menggambarkan kengerian hari itu, sehingga kengeriannya tidak meninggalkan bagi seseorang sisa akal sehatnya; karena tindakan melarikan diri bagi orang yang takut adalah aib dalam kebiasaan mereka; karena menunjukkan pengecut pemiliknya, dan mereka mencela pengecut, dan fakta bahwa dia meninggalkan orang yang paling dicintainya adalah aib yang besar.

3- Firman Allah Ta’ala: “Setiap orang dari mereka pada hari itu memiliki urusan yang menyibukkannya” adalah kalimat permulaan baru; untuk menambah kengerian hari itu, dan karena larinya seseorang dari lima kerabat mengharuskan larinya setiap kerabat dari mereka dari orang sepertinya, permulaan ini mencakup semuanya, mengklarifikasi persyaratan itu, maka Dia berfirman: “Setiap orang dari mereka pada hari itu memiliki urusan yang menyibukkannya,” yaitu: dari sibuk dengan selain dirinya dari yang disebutkan, apalagi sibuk dengan orang yang lebih rendah dari mereka dalam kekerabatan dan persahabatan. Atau ini adalah permulaan baru untuk menjelaskan sebab lari.

  • Dan tanwin pada kata “urusan” adalah untuk pengagungan. Dan mendahulukan khabar dalam firman-Nya: “bagi setiap orang” atas mubtada’; agar terwujud ketidaktentuan kata “urusan” yang menunjukkan pengagungan. – Firman-Nya: “Setiap orang dari mereka pada hari itu memiliki urusan yang menyibukkannya” asal dari kata “menyibukkan” dan “kecukupan”: tercapainya manfaat yang dibutuhkan, dan telah digunakan di sini dalam arti menyibukkan, dan menyibukkan lebih umum, maka digunakan kata “menyibukkan” yang merupakan manfaat dalam arti menyibukkan yang lebih umum; menunjukkan bahwa orang-orang beriman disibukkan dari kerabat mereka yang musyrik oleh limpahan kenikmatan, dan pengangkatan derajat, sebagaimana ditunjukkan oleh firman-Nya setelah itu: “Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri” sampai akhir surah.

4- Firman Allah Ta’ala: “Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri * tertawa gembira” – Kalimat “Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri” adalah penjelasan tentang akhir urusan orang-orang yang disebutkan dan pembagian mereka menjadi orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang celaka, setelah menyebutkan kejatuhan mereka dalam bencana yang dahsyat.

  • Dan di dalamnya terdapat kesesuaian yang baik, di mana di sini didahulukan penyebutan wajah-wajah ahli kenikmatan atas wajah-wajah ahli neraka, berbeda dengan firman-Nya dalam surat (An-Nazi’at): “Adapun orang yang melampaui batas” [An-Nazi’at: 37], kemudian firman-Nya: “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya” [An-Nazi’at: 40] sampai akhir; karena surat ini dibangun atas dasar penghormatan terhadap kedudukan seorang laki-laki dari kaum mukminin yang utama, dan penghinaan terhadap kedudukan seorang tokoh besar dari para pemimpin musyrikin, maka bagian kedua kelompok ini menjadi tujuan yang dibawa kepadanya pembicaraan, dan bagian orang-orang beriman adalah yang diperhatikan sejak awal, dan itu dari firman-Nya: “Dan tahukah kamu barangkali dia ingin membersihkan dirinya (dari dosa)” [Abasa: 3] sampai akhir, kemudian firman-Nya: “Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya” [Abasa: 5-6]. Adapun surat (An-Nazi’at) dibangun atas ancaman kepada para pengingkar kebangkitan, dimulai dari firman-Nya: “Pada hari (ketika) tiupan pertama menggoncangkan alam, tiupan kedua menyusulnya, hati-hati pada waktu itu sangat ketakutan” [An-Nazi’at: 6-8], maka konteksnya adalah ancaman dan peringatan, dan penggambaran kengerian yang mereka hadapi pada hari pengumpulan, adapun penyebutan bagian orang-orang beriman pada hari itu, maka digabungkan dalam pembicaraan, sesuai kebiasaan Al-Qur’an yang mulia dari mengikuti intimidasi dengan dorongan.
  • Dan penggunaan bentuk nakirah (tak tentu) pada kata “wujuh” (wajah-wajah) yang pertama dan kedua menunjukkan ragam, dan itulah yang membolehkan keduanya menjadi mubtada’ (subjek).
  • Firman-Nya: “tertawa gembira” – “tertawa” adalah kiasan tentang kegembiraan. Dan huruf sin dan ta dalam kata “mustabsyirah” (gembira) dikatakan: adalah untuk penekanan, dan dikatakan: basyara, yaitu: bergembira dan bersuka cita.
  • Dan dalam ayat-ayat ini dan yang mengikutinya terdapat ihtibak (elipsis timbal balik): penyebutan berseri-seri dan gembira pada bagian pertama menunjukkan ketakutan dan kengerian pada bagian kedua, dan penyebutan debu pada bagian kedua menunjukkan kecerahan dan cahaya pada bagian pertama, dan rahasia itu adalah bahwa Dia menyebutkan bukti kesenangan dan bukti kesusahan karena kejelasannya; untuk memberi dorongan dan peringatan.

5- Firman Allah Ta’ala: “Dan wajah-wajah pada hari itu tertutup debu * Tertutup kegelapan (ditimpa kehinaan) * Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka”

  • Firman-Nya: “Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka” adalah tambahan dalam mengexpos keadaan mereka yang mengerikan kepada para pendengar, dan digunakan kata penunjuk untuk menambah kejelasan; untuk memperlihatkan keadaan yang menyebabkan mereka seperti itu; maka “mereka itu” adalah penunjukan kepada pemilik wajah-wajah tersebut, dan makna jarak di dalamnya; untuk menunjukkan jauhnya derajat mereka dalam keburukan keadaan, yaitu: mereka yang disifati dengan wajah-wajah hitam dan lainnya adalah orang-orang kafir lagi durhaka yang menggabungkan antara kekafiran dan kedurjanaan; maka karena itulah Allah Ta’ala menambahkan kepada wajah-wajah hitam mereka debu.
  • Dan dhamir fashl (kata ganti pemisah) “hum” (mereka); untuk memberikan penguatan.
  • Dan penyebutan sifat “fajara” (durhaka) tanpa kata penghubung menunjukkan bahwa mereka menggabungkan antara kekafiran dan kedurjanaan.

۞ ۞ ۞ ۞ ۞

 

 

SURAH AT-TAKWIR

Perhatian: Setiap kalimat berikut memiliki rujukan ilmiah yang belum diterjemahkan. Bagi yang memerlukan, silakan merujuk langsung ke situs web aslinya dalam bahasa Arab di: https://dorar.net/tafseer/81

 

Nama-Nama Surah:

Surah ini dinamakan “Surah At-Takwir”. Dan juga dinamakan “Surah Idza Asy-Syamsu Kuwwirat”: Dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa ingin melihat hari kiamat seakan-akan dengan mata kepala sendiri, maka bacalah: ‘Idza Asy-Syamsu Kuwwirat’, ‘Idza As-Sama’u Infatarat’, dan ‘Idza As-Sama’u Insyaqqat’.”

Keutamaan dan Keistimewaan Surah:

Barangsiapa membacanya, seakan-akan ia melihat hari kiamat dengan mata kepala sendiri: Sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Umar tersebut di atas.

Penjelasan tentang Makkiyah dan Madaniyah:

Surah At-Takwir adalah Makkiyah, dan tidak sedikit dari para mufassir yang menyatakan ijma’ (konsensus) atas hal tersebut.

Tujuan Surah:

Di antara tujuan terpenting surah ini adalah: Menjelaskan kondisi hari kiamat dan kedahsyatannya.

Topik-Topik Surah:

Di antara topik penting yang terkandung dalam surah ini:

  1. Menyebutkan kedahsyatan hari kiamat.
  2. Penegasan bahwa Al-Qur’an yang mulia ini datang dari Allah Ta’ala, bukan perkataan manusia, dan menyebutkan sifat Malaikat yang membawanya, dan Nabi yang menerimanya, serta pembuktian kenabiannya.
  3. Penjelasan bahwa Al-Qur’an adalah nasihat dan peringatan bagi siapa yang ingin mendapat petunjuk.
  4. Menegaskan bahwa kehendak hamba bergantung pada kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala.

۞ ۞ ۞ ۞ ۞

Ayat: 1-14

﴿اِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْۖ ١ وَاِذَا النُّجُوْمُ انْكَدَرَتْۖ ٢ وَاِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْۖ ٣ وَاِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْۖ ٤ وَاِذَا الْوُحُوْشُ حُشِرَتْۖ ٥ وَاِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْۖ ٦ وَاِذَا النُّفُوْسُ زُوِّجَتْۖ ٧ وَاِذَا الْمَوْءٗدَةُ سُىِٕلَتْۖ ٨ بِاَيِّ ذَنْۢبٍ قُتِلَتْۚ ٩ وَاِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْۖ ١٠ وَاِذَا السَّمَاۤءُ كُشِطَتْۖ ١١ وَاِذَا الْجَحِيْمُ سُعِّرَتْۖ ١٢ وَاِذَا الْجَنَّةُ اُزْلِفَتْۖ ١٣ عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّآ اَحْضَرَتْۗ ١٤ ﴾

Kosa Kata Asing:

Kuwwirat: Yakni: Digulung sebagaimana surban digulung, sehingga cahayanya hilang. At-Takwir: Penggulungan dengan cara melingkar, seperti menggulung surban. Asal kata (kawr): menunjukkan putaran dan pengumpulan.

Inkadarat: Yakni: Berguguran dari langit dan jatuh ke bumi. Asal kata (kadar) di sini menunjukkan pergerakan.

Al-‘Isyar ‘Uttilat: Yakni: Unta-unta bunting yang telah mencapai 10 bulan masa kehamilannya: Dibiarkan terlantar tanpa pengembala. Asal kata (‘atala): menunjukkan kekosongan dan kehampaan.

Sujjirat: Yakni: Dinyalakan hingga menjadi api yang berkobar. Ada juga yang mengatakan: Dipenuhi dan sebagiannya menyatu dengan bagian lain, sehingga menjadi satu lautan yang penuh. Asal kata (sajara) menurut pendapat pertama: Penyalaan, dan menurut pendapat kedua: Pengisian.

Al-Maw’udah: Adalah anak perempuan yang dikubur hidup-hidup, dinamakan demikian karena tanah yang ditimbun di atasnya memberatkannya (ya’uduha) hingga mati. Sebagian orang Arab menguburkan anak perempuan hidup-hidup karena takut aib dan kemiskinan! Asal kata (wa’ada): menunjukkan pembebanan sesuatu dengan sesuatu.

Kusyitat: Yakni: Dilepaskan, dilipat, dan dicabut. Al-Kasyt: Pencabutan dari sesuatu yang sangat melekat. Asal kata (kasyata): menunjukkan penggeseran dan pengungkapan sesuatu.

Su’irat: Yakni: Dinyalakan. Asal kata (sa’ara): menunjukkan nyalanya sesuatu dan kobarannya.

Uzlifat: Yakni: Didekatkan. Asal kata (zalafa): menunjukkan kemajuan dalam pendekatan kepada sesuatu.

Makna Umum:

Allah Ta’ala memulai surah yang mulia ini dengan menggambarkan kondisi dan kedahsyatan hari kiamat, Allah berfirman: Ketika matahari digulung dan dihimpun, dan sebagiannya dilipat ke sebagian yang lain sehingga cahayanya hilang; ketika bintang-bintang berjatuhan dan berguguran; ketika gunung-gunung dicabut dari tempatnya dan disingkirkan dari permukaan bumi; ketika unta-unta bunting—yang merupakan harta paling berharga bagi orang Arab—ditinggalkan terbengkalai tanpa pengembala karena mereka dikejutkan oleh peristiwa yang besar; ketika binatang-binatang liar dikumpulkan pada hari kiamat agar Allah Ta’ala memberikan keadilan di antara mereka; ketika lautan dinyalakan sehingga menjadi api yang berkobar; ketika setiap orang dipasangkan dengan orang yang serupa dengannya dalam kebaikan dan keburukan; ketika anak perempuan yang dikubur hidup-hidup dalam tanah ditanyai tentang dosa apa yang membuatnya layak dibunuh; ketika lembaran-lembaran catatan amal manusia diperlihatkan dan dibuka untuk perhitungan; ketika langit dilepaskan dari tempatnya dan dicabut; ketika neraka dinyalakan dengan sangat dahsyat bagi musuh-musuh Allah; dan ketika surga didekatkan kepada para penghuninya yang bertakwa dan beriman agar mereka memasukinya; ketika semua peristiwa mengerikan dan mengejutkan itu terjadi, setiap jiwa akan mengetahui dan meyakini apa yang telah ia kerjakan dari kebaikan atau keburukan yang dilakukannya di dunia.

Tafsir Ayat-Ayat:

إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ (1)

Apabila matahari digulung.

Yakni: Ketika matahari digulung dan dihimpun, dan sebagiannya dilipat ke sebagian yang lain, sehingga cahayanya hilang.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ bersabda: “Matahari dan bulan akan digulung pada hari kiamat.”

وَإِذَا النُّجُومُ انْكَدَرَتْ (2)

Dan apabila bintang-bintang berjatuhan.

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Ketika pengaruh pada yang lebih besar (matahari) menunjukkan adanya pengaruh pada yang di bawahnya dengan cara yang lebih utama, Allah melanjutkan dengan firman-Nya yang bersifat umum setelah yang khusus:

وَإِذَا النُّجُومُ انْكَدَرَتْ (2)

Yakni: Dan ketika bintang-bintang turun dan berjatuhan dari tempatnya dan berguguran.

وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ (3)

Dan apabila gunung-gunung dihancurkan.

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Setelah dimulai dengan tanda-tanda langit karena lebih terkenal dan lebih umum dalam menimbulkan ketakutan dan kengerian, dan disebutkan dua di antaranya yang paling terkenal dan paling bermanfaat, Allah melanjutkan dengan tanda-tanda bumi. Allah berfirman dengan mengulang kata “apabila” untuk lebih menekankan kengerian:

وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ (3)

Yakni: Dan ketika gunung-gunung disingkirkan dari permukaan bumi setelah dicabut dari tempatnya.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan (ingatlah) hari (ketika) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan melihat bumi itu datar.” [Al-Kahf: 47]

Dan Allah Subhanahu berfirman: “Dan gunung-gunung dihancurkan menjadi fatamorgana.” [An-Naba’: 20]

وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ (4)

Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan).

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Setelah menyebutkan tanda-tanda benda mati, Allah melanjutkan dengan tanda-tanda hewan yang bermanfaat yang merupakan harta paling berharga dan paling umum bagi orang Arab – dengan cara yang menunjukkan besarnya kengerian; Allah berfirman:

وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ (4)

Yakni: Dan ketika unta-unta bunting yang telah mencapai masa kehamilan sepuluh bulan ditinggalkan oleh para pemiliknya, dan mereka sibuk dari memperhatikannya meskipun sangat berharga bagi mereka; karena dahsyatnya kengerian hari itu.

وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْ (5)

Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan.

Yakni: Dan ketika hewan-hewan liar yang tidak jinak dengan siapapun, dibangkitkan oleh Allah dan dikumpulkan pada hari kiamat.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.” [Al-An’am: 38]

Dan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Sungguh semua hak akan ditunaikan kepada pemiliknya pada hari kiamat, sampai-sampai kambing yang tidak bertanduk akan dibalas dari kambing yang bertanduk.”

وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ (6)

Dan apabila lautan dipanaskan.

Yakni: Dan ketika lautan-lautan menjadi satu lautan, dan dipenuhi, serta dinyalakan menjadi api.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan demi laut yang di dalam tanahnya ada api.” [At-Tur: 6]

وَإِذَا النُّفُوسُ زُوِّجَتْ (7)

Dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuhnya).

Yakni: Dan ketika manusia dipasangkan masing-masing dengan orang yang serupa dengannya dalam kebaikan dan keburukan.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “(Allah berfirman): ‘Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah, selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.'” [As-Saffat: 22-23]

وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ (8) بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ (9)

Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.

Yakni: Dan ketika anak perempuan yang dikubur dalam tanah hidup-hidup ditanya tentang dosa apa yang membuatnya layak dibunuh!

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” [An-Nahl: 58-59]

وَإِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْ (10)

Dan apabila catatan-catatan amal perbuatan dibuka.

Yakni: Dan ketika lembaran-lembaran catatan amal manusia yang dilipat setelah kematian mereka dibuka untuk mereka, sehingga setiap orang dapat melihat amalnya di dalamnya.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. ‘Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.'” [Al-Isra’: 13-14]

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: ‘Ambillah, bacalah kitabku (ini).'” [Al-Haqqah: 19]

Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: ‘Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini).'” [Al-Haqqah: 25]

وَإِذَا السَّمَاءُ كُشِطَتْ (11)

Dan apabila langit dilenyapkan.

Yakni: Dan ketika langit dilepaskan dari tempatnya, ditarik, dan dicabut dengan kekuatan dan kecepatan, serta dihilangkan.

وَإِذَا الْجَحِيمُ سُعِّرَتْ (12)

Dan apabila neraka Jahim dinyalakan.

Yakni: Dan ketika neraka yang sangat menyala-nyala dipanaskan untuk penghuninya, dan api serta nyalanya semakin kuat.

وَإِذَا الْجَنَّةُ أُزْلِفَتْ (13)

Dan apabila surga didekatkan.

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Setelah menyebutkan tempat tinggal musuh-musuh yang jauh (neraka) untuk menimbulkan rasa takut, Allah melanjutkan dengan menyebutkan tempat tinggal orang-orang yang dekat dan bahagia (surga) untuk menimbulkan keinginan, maka Allah berfirman:

وَإِذَا الْجَنَّةُ أُزْلِفَتْ (13)

Yakni: Dan ketika surga didekatkan dan dibawa mendekat kepada penghuninya.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan didekatkan surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tidak jauh (dari mereka).” [Qaf: 31]

عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا أَحْضَرَتْ (14)

Tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Setelah Allah Ta’ala menyebutkan kedua belas hal tersebut, Allah menyebutkan balasan yang akan diberikan sebagai akibat dari syarat yang merupakan kumpulan dari hal-hal tersebut, Allah berfirman:

عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا أَحْضَرَتْ (14)

Yakni: Ketika peristiwa-peristiwa mengerikan dan mengejutkan itu terjadi, setiap jiwa akan mengetahui dan meyakini apa yang telah ia kerjakan dari kebaikan atau keburukan yang dilakukannya di dunia.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh.” [Ali ‘Imran: 30]

Dan Allah Subhanahu berfirman: “Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya.” [Al-Infitar: 5]

Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Di tempat itu (padang Mahsyar), tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya dahulu.” [Yunus: 30]

Pelajaran-Pelajaran Edukatif:

  1. Dalam firman Allah Ta’ala: “Apabila matahari digulung” hingga akhir konteks, terdapat pemberitahuan tentang hancurnya alam semesta yang nyata; untuk mengurangi keterikatan pada semua yang mengarah kepadanya, dan mendorong untuk tidak mempedulikan dan menjauhkan diri dari keterikatan terhadap apapun penyebabnya.
  2. Allah Ta’ala berfirman: “Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan…” Sifat-sifat yang Allah gunakan untuk menggambarkan hari kiamat ini adalah sifat-sifat yang membuat hati gemetar, kesedihan yang mendalam, tubuh bergetar, ketakutan yang merata, dan mendorong orang-orang berakal untuk mempersiapkan diri menghadapi hari itu, serta mencegah mereka dari segala sesuatu yang menyebabkan penyesalan.
  3. Dalam firman Allah Ta’ala: “Dan apabila ruh-ruh dipertemukan” terdapat dorongan untuk melakukan amal saleh dan berteman dengan orang-orang saleh, agar tidak dipertemukan dengan apa yang akan membuatnya sedih!
  4. Allah berfirman: “Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.” Dari pertanyaan terhadap bayi yang dikubur hidup-hidup ini dapat diambil hukum tentang keharaman kezaliman terhadap siapapun, dan menahan tangan dan lisan dari [menyakiti] setiap manusia.

Manfaat Ilmiah dan Keindahan:

  1. Dalam firman Allah Ta’ala: “Apabila matahari digulung” ada pertanyaan: Bagaimana menggabungkan antara ayat yang mulia ini dengan hadits yang menyatakan “bahwa matahari akan mendekat kepada makhluk pada hari kiamat”?

Jawabannya: Telah disebutkan tentang hari kiamat berbagai hal yang berbeda-beda, tetapi hari kiamat lamanya adalah lima puluh ribu tahun, sehingga hal-hal di dalamnya berubah-ubah; matahari mendekat kepada makhluk, kemudian digulung setelah itu, dan juga dilemparkan ke dalam neraka sebagai penghinaan bagi para penyembahnya. Hari kiamat bukanlah satu hari atau satu bulan atau satu tahun, dan perhatikanlah firman Allah Tabaraka wa Ta’ala: “Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram.” [Ali ‘Imran: 106], dan firman-Nya: “Dan Kami akan mengumpulkan orang-orang yang berdosa pada hari itu dengan mata biru.” [Taha: 102], dan ada perbedaan antara kebiru-biruan dan kehitaman.

Demikian pula Allah memberitakan tentang orang-orang musyrik bahwa mereka akan berkata: “Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah.” [Al-An’am: 23], dan dalam ayat lain Allah berfirman: “Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai rasul, ingin supaya mereka disamaratakan dengan tanah, dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadianpun.” [An-Nisa’: 42]. Pada yang pertama mereka berkata: “Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah.” [Al-An’am: 23], dan pada yang kedua Allah berfirman: “Ingin supaya mereka disamaratakan dengan tanah, dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadianpun.” [An-Nisa’: 42]; karena kejadian-kejadian berubah-ubah. Maka semua perbedaan yang sampai kepadamu tentang hari akhir, sesungguhnya itu karena lamanya waktunya dan berubahnya keadaan di dalamnya.

2- Mengenai firman Allah: “Apabila matahari digulung * Dan apabila bintang-bintang berjatuhan * Dan apabila gunung-gunung dihancurkan.” Pertanyaan: Jika orang-orang mati dibangkitkan untuk penghakiman dan perhitungan, dan jiwa-jiwa dipasangkan dengan temannya untuk balasan dan hukuman; mengapa harus terjadi penghancuran bangunan, pergerakan gunung-gunung, perataan bumi, pembelahan langit, penghambur-hamburan bintang-bintang, dan penggurungan matahari?!

Jawaban: Sesungguhnya Allah membangun dunia ini untuk tempat tinggal dan kesenangan manusia, dan Dia Maha Suci menjadikannya dan segala isinya sebagai sarana untuk mengambil pelajaran dan berpikir, serta sebagai bukti keberadaan-Nya melalui perenungan dan pengingatan yang baik. Maka ketika masa tinggal telah berakhir, dan Dia mengeluarkan mereka dari rumah (dunia); Dia menghancurkannya karena penghuninya telah berpindah darinya. Dalam perubahan keadaan dan penampakan kehebatan-kehebatan itu terdapat penjelasan kekuasaan setelah penjelasan kemuliaan, dan pendustaan terhadap kaum ateis, peramal bintang, penyembah bintang, matahari, bulan dan berhala, sehingga orang-orang kafir mengetahui bahwa mereka adalah pendusta. Ketika mereka melihat tuhan-tuhan mereka telah hancur, sesembahan mereka telah berserakan dan terbelah, dan tempat-tempatnya telah terbelah; maka tampak aib-aib mereka, jelas kebohongan mereka, dan tampak bahwa alam semesta adalah ciptaan yang diatur, yang memiliki Tuhan yang mengaturnya sekehendak-Nya; sebagai pendustaan bagi para filsuf ateis yang mengatakan tentang keabadian. Betapa banyaknya hikmah Allah Ta’ala dalam penghancuran dunia ini! Dan petunjuk atas keagungan kemuliaan-Nya, kekuasaan-Nya dan otoritas-Nya, kesendirian-Nya dalam ketuhanan, dan ketundukan semua makhluk kepada kebesaran-Nya, dan kepatuhan mereka pada kehendak-Nya. Maka Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam!

3- Allah Ta’ala berfirman: “Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan.” Tujuan dari menyebutkan kisah ini di sini memiliki beberapa aspek:

Pertama: Bahwa pada hari kiamat, Allah akan mengumpulkan semua binatang untuk menunjukkan keadilan-Nya, maka bagaimana mungkin dengan ini Dia tidak mengumpulkan makhluk yang dibebani kewajiban dari jenis manusia dan jin?!

Kedua: Binatang-binatang tersebut berkumpul di tempat berdirinya kiamat meskipun mereka sangat takut pada manusia di dunia dan mereka terpencar-pencar di padang pasir; hal ini menunjukkan bahwa berkumpulnya mereka kepada manusia tidak lain karena kedahsyatan hari itu.

Ketiga: Binatang-binatang ini sebagiannya menjadi makanan bagi sebagian yang lain, namun pada hari itu mereka berkumpul dan tidak saling mengganggu, dan itu tidak lain karena dahsyatnya kengerian hari itu.

4- Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hukum yang sama untuk hal-hal yang serupa; untuk ini Dia berfirman: “Dan apabila jiwa-jiwa dipasangkan.” Dia menggabungkan yang serupa dengan sesamanya, dan berfirman: “Apakah orang-orang kafir di antara kamu lebih baik dari mereka?” [Al-Qamar: 43], dan berfirman: “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka” [As-Saffat: 22] artinya: orang-orang yang serupa dengan mereka dan yang setara.

5- Dalam firman Allah Ta’ala: “Dan apabila jiwa-jiwa dipasangkan” bahwa setiap orang yang melakukan suatu amal akan dipasangkan dengan yang serupa dan yang setara dengannya. Maka dipasangkanlah di antara orang-orang yang saling mencintai karena Allah di surga, dan dipasangkanlah di antara orang-orang yang saling mencintai dalam ketaatan kepada setan di neraka Jahim; karena seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya, suka atau tidak suka.

6- Mengenai firman Allah Ta’ala: “Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya.” Pertanyaan: Apa maksud dari pertanyaan kepada bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup tentang dosa yang menyebabkan dia dibunuh? Mengapa tidak bertanya kepada orang yang menguburnya tentang alasan dia membunuhnya?!

Jawaban: Pertanyaan dan jawabannya adalah untuk menghardik pembunuhnya, seperti menghardik orang-orang Nasrani dalam firman Allah kepada Isa: “Apakah engkau mengatakan kepada manusia: ‘Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah’? Dia (Isa) menjawab: ‘Maha Suci Engkau, tidak pantas bagiku mengatakan apa yang bukan hakku'” [Al-Maidah: 116]! Dan contoh serupa adalah jika seseorang melakukan kekerasan terhadap orang lain di dunia, kemudian mereka datang kepada sultan atau amir, lalu dia berkata kepada yang dizalimi: “Karena dosa apa orang ini memukulmu?” padahal dia tahu bahwa orang tersebut dizalimi dan tidak berdosa, tetapi hal itu dilakukan untuk menghardik pelaku zalim. Jadi, bayi yang dikubur hidup-hidup ditanya: “Karena dosa apa dia dibunuh?” sebagai hardikan bagi orang yang menzaliminya, membunuhnya, dan menguburnya, serta untuk menanamkan rasa takut pada siapa yang menguburnya, dan agar jawabannya menjadi kesaksian terhadap siapa yang menguburnya; sehingga dia lebih berhak mendapatkan hukuman yang lebih berat dan jelas. Atau, pertanyaan itu ditujukan kepadanya untuk menghiburnya dan menunjukkan betapa marah dan murkanya terhadap yang menguburnya, serta merendahkan derajat pembunuh dari tingkat percakapan, dan sebagai bentuk berlebihan dalam menghardiknya. Pada hari kiamat, bayi yang dikubur hidup-hidup akan ditanya karena dosa apa dia dibunuh; agar hal itu menjadi ancaman bagi pembunuhnya, karena jika yang dizalimi ditanya, maka bagaimana dengan si pelaku zalim?!

7- Mengenai firman Allah Ta’ala: “Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya.” Ada pertanyaan tentang bagaimana menyatukan ayat ini dengan ayat-ayat yang menafikan pertanyaan pada hari kiamat, seperti firman Allah Ta’ala: “Maka pada hari itu tidak ada yang ditanya tentang dosanya, baik manusia maupun jin” [Ar-Rahman: 39], dan firman-Nya Yang Maha Mulia: “Dan orang-orang yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka” [Al-Qashash: 78]?

Jawaban: Pertanyaan kepada bayi yang dikubur hidup-hidup tidak bertentangan dengan ayat-ayat yang menafikan pertanyaan tentang dosa; karena dia ditanya tentang dosa apa dia dibunuh, dan ini bukan dosanya. Maksud dari pertanyaan kepadanya adalah untuk menghardik dan mencela pembunuhnya; karena dia akan mengatakan: “Aku tidak berdosa!” Maka celaan itu kembali kepada orang yang telah membunuhnya secara zalim.

8- Menggugurkan kandungan adalah haram. Sebagian ulama berkata: Itu termasuk dalam [kategori] penguburan hidup-hidup yang Allah Ta’ala firmankan: “Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya * ‘Karena dosa apakah dia dibunuh?'”

9- Dalam firman Allah Ta’ala: “Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya * ‘Karena dosa apakah dia dibunuh?'” terdapat dalil bahwa tidak boleh membunuh jiwa kecuali karena dosa yang dilakukannya. Maka tidak boleh membunuh anak kecil dan orang gila; karena pena (catatan amal) diangkat dari keduanya, sehingga keduanya tidak berdosa. Alasan ini tidak seharusnya diragukan dalam larangan membunuh anak-anak kaum yang memerangi [Islam], adapun alasan yang sama antara mereka dan kaum wanita adalah karena mereka bukan termasuk orang yang berperang – menurut pendapat yang benar yang merupakan pendapat mayoritas – atau karena mereka akan menjadi milik kaum muslimin. Adapun penjelasan dengan alasan ini saja untuk anak kecil tidak cukup, dan ayat tersebut menunjukkan celaan terhadap pembunuhan setiap orang yang tidak berdosa, baik kecil maupun besar.

10- Allah Ta’ala berfirman: “Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.” Maknanya: Munculnya keyakinan tentang hal-hal yang sebelumnya tidak diketahuinya dari hakikat perbuatan-perbuatan yang pengetahuannya terpisah-pisah; sebagiannya diketahui tidak sebagaimana mestinya, sebagian lain bentuknya diketahui tetapi akibatnya tidak diketahui, dan sebagian lain dilalaikan. Maka pengetahuan yang dimiliki manusia di kehidupan dunia diposisikan seperti ketiadaan pengetahuan, dan pengetahuan baru ditetapkan bagi mereka pada hari itu; pengetahuan tentang amal perbuatan mereka, baik atau buruk. Sehingga manusia akan mengetahui apa yang sebelumnya tidak diketahuinya dari perbuatan-perbuatan yang dia anggap remeh, dan dia mengingat apa yang telah diketahuinya sebelumnya. Mengingat hal yang terlupakan dan terabaikan adalah salah satu bentuk pengetahuan.

11- Mengenai firman Allah Ta’ala: “Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.” Pertanyaan: Bukankah setiap jiwa mengetahui apa yang dikerjakannya; sebagaimana firman-Nya: “Pada hari (ketika) setiap jiwa mendapatkan (balasan) perbuatan baik yang telah dikerjakannya dihadapkan kepadanya” [Ali Imran: 30], lalu apa maksud firman-Nya: “Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui”?

Jawaban dari dua segi: Segi pertama: Ini adalah bentuk pembalikan perkataan mereka yang dimaksudkan untuk menunjukkan berlebihan (meskipun lafaz biasanya digunakan untuk menunjukkan sedikit), seperti firman Allah Ta’ala: “Orang-orang yang kafir itu seringkali menginginkan…” [Al-Hijr: 2], dan seperti seseorang yang bertanya kepada orang berilmu tentang masalah yang jelas, dan berkata: “Apakah kamu memiliki sesuatu tentangnya?” Lalu orang berilmu menjawab: “Barangkali ada sesuatu.” Maksudnya adalah untuk menunjukkan bahwa dia memiliki pendapat tentang masalah tersebut yang tidak dimiliki oleh orang lain; demikian juga di sini.

Segi kedua: Mungkin orang-orang kafir melelahkan diri mereka dalam hal-hal yang mereka yakini sebagai ketaatan, kemudian pada hari kiamat terungkap sebaliknya kepada mereka, dan inilah yang dimaksud dari ayat ini. Maka tanwin pada kata “nafsun” adalah untuk menunjukkan jenis, yaitu: jiwa yang kafir mengetahui bahwa apa yang mereka anggap sebagai ketaatan ternyata menjadi bencana bagi mereka.

 

 

Keindahan retorika ayat-ayat:

1- Firman Allah Ta’ala: “Apabila matahari digulung * Dan apabila bintang-bintang berjatuhan * Dan apabila gunung-gunung dihancurkan * Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan * Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan * Dan apabila lautan dipanaskan * Dan apabila jiwa-jiwa dipasangkan.” Pembukaan dengan huruf “idza” (apabila) adalah pembukaan yang menimbulkan keingintahuan; karena “idza” adalah kata keterangan waktu yang memerlukan sesuatu yang terkait dengannya, dan juga karena ia adalah syarat yang mengindikasikan penyebutan jawaban setelahnya. Ketika pendengar mendengarnya, ia menantikan apa yang akan datang setelahnya, dan ketika ia mendengarnya, hal itu tertanam dalam dirinya dengan sempurna, khususnya dengan penjelasan panjang lebar dengan pengulangan kata “idza”, dan beragamnya kalimat yang ditambahkan kepadanya sebanyak dua belas kali. Pengulangan kata “idza” setelah kata penghubung “waw” dalam kalimat-kalimat yang saling berkaitan ini adalah bentuk penjelasan panjang lebar, dan penjelasan panjang lebar ini diperlukan untuk menunjukkan kehebatan peristiwa, dan kehebatan peristiwa adalah salah satu hal yang memerlukan penjelasan panjang lebar dan pengulangan.

  • Dalam pengulangan kata “idza” (apabila) terdapat isyarat bahwa kandungan setiap kalimat dari kedua belas kalimat ini berdiri sendiri dalam menghasilkan kandungan kalimat jawaban ketika terjadi, terlepas dari perbedaan waktu terjadinya syarat-syarat tersebut. Karena waktu ditanyanya bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup dan disebarnya lembaran-lembaran catatan amal lebih dekat dengan waktu jiwa-jiwa mengetahui apa yang telah mereka kerjakan, dibandingkan dengan waktu digulung matahari dan apa yang mengikutinya, yang terjadi sebelum kebangkitan.
  • Mendahulukan subjek (musnad ilayh) dalam kedua belas kalimat yang diawali dengan kata “idza” dari firman-Nya: “Apabila matahari digulung” hingga firman-Nya: “Dan apabila surga didekatkan”, dan memberitakan tentangnya dengan predikat berbentuk kata kerja (musnad fi’li), padahal mungkin saja dikatakan: “idza kuwwirat asy-syamsu” (apabila digulung matahari), “idza inkadarat an-nujumu” (apabila berjatuhan bintang-bintang)… dan seterusnya; untuk menunjukkan perhatian terhadap berita-berita yang dijadikan tanda-tanda hari kebangkitan. Ini adalah cara untuk mengarahkan perhatian pada tanda-tandanya untuk kemudian memberikan perhatian pada hari kebangkitan itu sendiri dan memastikan kejadiannya; karena memulai dengannya lebih menunjukkan kehebatan dan menimbulkan keingintahuan. Pendahuluan subjek atas predikat berbentuk kata kerja ini juga berfungsi untuk memperkuat dan menegaskan hukum dalam semua kalimat tersebut; sebagai bantahan terhadap orang-orang yang mengingkarinya. Oleh karena itu dikatakan: “idza asy-syamsu kuwwirat” dan tidak dikatakan: “idza kuwwirat asy-syamsu”, dan demikian juga dengan contoh-contoh serupanya.
  • Bentuk kata kerja lampau (madhi) dalam kedua belas kalimat yang menjadi syarat untuk kata syarat “idza” digunakan dalam makna masa depan (istiqbal); sebagai peringatan akan kepastian terjadinya syarat tersebut.
  • Dalam firman-Nya: “Dan apabila lautan dipanaskan” terdapat kesesuaian yang baik, di mana di sini Dia berfirman: “sujjirat” – artinya: dinyalakan hingga menjadi api, atau dipenuhi dengan meledaknya sebagian ke sebagian lain hingga kembali menjadi satu lautan, dari kata: “sajara at-tannura”: ketika dia memenuhinya dengan kayu bakar untuk memanaskannya. Dan dalam surat Al-Infithar Dia berfirman: “Dan apabila lautan dijadikan meluap” [Al-Infithar: 3]: artinya: airnya mengalir ke atas bumi, sehingga menjadi satu lautan, dan bercampurnya air tawar dengan air asin. Hal ini sesuai dengan firman-Nya setelahnya pada ayat pertama: “dinyalakan”; agar terjadi ancaman dengan dipanaskannya lautan dan dinyalakannya api. Dan pada ayat kedua sesuai dengan firman-Nya: “Dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan” [Al-Infithar: 2], artinya: berjatuhan ke bumi. Maka ayat ini sesuai dengan ayat-ayat lainnya; karena maknanya adalah: perubahan sifat-sifat benda-benda tersebut dari kondisinya, dan pergeserannya dari tempatnya, sehingga sesuai dengan meluapnya lautan; karena perubahan kondisinya meskipun tetap ada.

2- Firman Allah Ta’ala: “Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya * ‘Karena dosa apakah dia dibunuh?'” Berkaitan dengan disebutkannya pernikahan (penggabungan) jiwa-jiwa dengan jasad – menurut satu pendapat tentang makna pernikahan – dikhususkan pertanyaan kepada bayi yang dikubur hidup-hidup dalam penyebutan ini tanpa yang lainnya dari apa yang ditanyakan kepada para pendosa pada hari perhitungan. Hal itu karena pengembalian ruh-ruh ke jasad-jasad terjadi setelah perpisahannya melalui kematian, dan kematian bisa disebabkan oleh gangguan fisik seperti kerusakan atau penyakit, atau karena serangan berupa pembunuhan atau peperangan. Di antara bentuk serangan paling kejam terhadap pengambilan nyawa dari jasad adalah serangan para ayah terhadap jiwa anak-anak mereka dengan penguburan hidup-hidup; karena Allah telah menjadikan dalam fitrah keinginan para ayah untuk mempertahankan – yaitu: meminta kehidupan – anak-anak mereka, dan menjadikan kedua orang tua sebagai penyebab keberadaan anak-anak. Maka penguburan hidup-hidup adalah perbuatan paling keji dari kaum musyrik. Dan pertanyaan kepada bayi yang dikubur hidup-hidup adalah pertanyaan yang tidak langsung yang dimaksudkan untuk mengancam orang yang menguburnya dan menakutinya dengan azab.

  • Pertanyaan dalam “Karena dosa apakah” adalah pertanyaan untuk menetapkan fakta, dan dia ditanya tentang jenis dosa yang menyebabkan pembunuhannya, bukan ditanya tentang pembunuhnya; untuk menambah ancaman. Karena pertanyaan tentang penentuan dosa dengan keyakinan orang yang menguburnya (yang mendengar pertanyaan tersebut) bahwa bayi tersebut tidak berdosa, merupakan isyarat kepada yang menguburnya bahwa dia tidak memiliki alasan untuk apa yang telah dilakukannya terhadap bayi tersebut.
  • Firman-Nya: “dibunuh” dibaca dengan tasydid (penggandaan) pada huruf ta’; karena “bayi yang dikubur hidup-hidup” adalah kata yang menunjukkan jenis, sehingga sesuai dengan penggandaan berdasarkan individu-individu, atau mengandung makna: bahwa itu adalah pembunuhan yang sangat kejam dan mengerikan.

3- Firman Allah Ta’ala: “Dan apabila lembaran-lembaran (catatan amal) dibuka * Dan apabila langit dilenyapkan * Dan apabila neraka Jahim dinyalakan * Dan apabila surga didekatkan.”

  • Firman-Nya: “dibuka” dibaca dengan tasydid (penggandaan); untuk menunjukkan intensitas pembukaan, atau banyaknya lembaran yang dibuka, atau hebatnya penyebaran.
  • Firman-Nya: “Dan apabila langit dilenyapkan”, maksudnya: seluruh jenis ini; Dia menyebutkannya secara tunggal karena dengan mengetahui kekuasaan atas sebagiannya diketahui kekuasaan atas sisanya.

“Dilenyapkan”, artinya: dicabut dengan kekuatan yang besar dan kecepatan yang tinggi, dan dihilangkan dari tempatnya yang menutupi dan mengelilinginya, atau dari udara yang mengelilingi permukaannya yang seperti ruh baginya, sebagaimana kulit binatang dikuliti dari apa yang ditutupi dan dikelilinginya meskipun sangat melekat padanya; karena itu adalah hari pengungkapan dan penampakan. “Kasyt” (pengulitan) adalah: menghilangkan kulit dari hewan mati, dan ini lebih umum daripada menyembelih. Yang tampak adalah bahwa langit akan tetap terbelah dan terbuka, para malaikat naik turun di antara langit dan bumi tempat berkumpul sampai perhitungan selesai. Ketika perhitungan telah ditetapkan, langit dihilangkan dari tempatnya; sehingga langit terkuliti, dan yang tersingkap darinya adalah alam keabadian, dan kata “kusyitat” (dilenyapkan) digunakan untuk menggambarkan penghilangan.

  • Firman-Nya: “dinyalakan” dengan tasydid (penggandaan) pada huruf ‘ain untuk menunjukkan intensitas penyalaan, artinya: dinyalakan dengan sangat dahsyat.
  • Firman-Nya: “Dan apabila surga didekatkan”, artinya: didekatkan kepada orang-orang beriman, dan dibuat menyenangkan dengan kehidupan yang tenteram dan tempat tinggal yang baik. Ayat ini termasuk bentuk ihtibak (menghilangkan sesuatu yang telah disebutkan lawannya): Penyebutan “penyalaan” pertama menunjukkan lawannya di surga pada bagian kedua, dan penyebutan “pendekatan” pada bagian kedua menunjukkan hal serupa pada bagian pertama.

4- Firman Allah Ta’ala: “Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya” adalah jawaban dari “idza” (apabila), dengan pengertian bahwa yang dimaksud dengannya adalah: satu waktu yang panjang yang mencakup hal-hal yang disebutkan. Namun, bukan berarti jiwa mengetahui apa yang diketahuinya pada setiap bagian dari waktu yang panjang itu, atau ketika terjadi bencana dari bencana-bencana tersebut, tetapi ketika lembaran-lembaran dibuka. Akan tetapi, ketika sebagian bencana tersebut merupakan permulaan dan sebagian lainnya merupakan pengikut, pengetahuan jiwa tentang hal itu dihubungkan dengan waktu terjadinya semua bencana tersebut; untuk membuat situasi lebih menakutkan dan keadaan lebih mengerikan.

Pengetahuan jiwa-jiwa tentang balasan perbuatan mereka terjadi ketika terkumpulnya semua syarat yang disebutkan dalam kedua belas kalimat; karena sebagian keadaan yang terkandung dalam syarat-syarat tersebut berbarengan dengan munculnya pengetahuan jiwa-jiwa tentang perbuatan mereka, yaitu enam keadaan yang disebutkan terakhir, dan sebagian keadaan terjadi sedikit sebelumnya, yaitu enam keadaan yang disebutkan pertama; maka yang dekat diposisikan seperti yang bersamaan; oleh karena itu semuanya dijadikan syarat untuk kata syarat “idza” (apabila).

  • Ucapannya: “Nafsin” (jiwa) adalah kata yang tidak tertentu (nakirah) dalam konteks syarat, yang dimaksudkan untuk keumuman, artinya: Setiap jiwa mengetahui apa yang telah dipersiapkannya.
  • Juga penggunaan kata “nafs” (jiwa) dalam bentuk nakirah (tidak tertentu) yang menunjukkan tetapnya pengetahuan tersebut bagi setiap individu jiwa atau sebagian darinya; untuk menunjukkan bahwa tetapnya pengetahuan itu bagi semua jiwa adalah hal yang sangat jelas dan nyata sehingga tidak ada keraguan sama sekali, diketahui oleh setiap orang walaupun digunakan ungkapan yang menunjukkan sebaliknya, dan untuk mengisyaratkan bahwa jiwa-jiwa yang mengetahui apa yang telah disebutkan – dengan banyaknya individu dan jumlahnya – adalah sesuatu yang dianggap sedikit dibandingkan dengan keagungan Allah yang telah diisyaratkan melalui sebagian keajaiban urusan-Nya yang menunjukkan kebesaran kekuasaan-Nya.
  • Dan boleh jadi itu untuk menunjukkan bahwa jika saat itu ada satu jiwa yang mengetahui apa yang telah dipersiapkannya, maka wajib bagi setiap jiwa untuk memperbaiki amalnya; karena takut bahwa dialah jiwa yang telah mengetahui apa yang dipersiapkannya; maka bagaimana jika setiap jiwa mengetahuinya?! Seperti ungkapan yang kamu katakan – kepada orang yang kamu nasihati -: “Mungkin kamu akan menyesal atas apa yang telah kamu lakukan, dan barangkali manusia menyesal atas apa yang telah dilakukannya!” Sesungguhnya dengan ucapan itu kamu tidak bermaksud bahwa penyesalannya adalah sesuatu yang diharapkan terjadi bukan sesuatu yang pasti, atau jarang terjadi, tetapi kamu ingin mengatakan bahwa orang yang berakal wajib menjauhi perkara yang dikhawatirkan akan menyebabkan penyesalan, atau sesuatu yang jarang terjadi, bagaimana jika perkara itu pasti terjadi dan sering terjadi?!
  • Ucapannya: “Alimat nafsun maa ahdarat” (Setiap jiwa mengetahui apa yang telah dipersiapkannya), penisbatan persiapan kepada jiwa-jiwa; karena merekalah yang melakukan amal-amal yang balasannya akan tampak pada hari itu, maka penisbatan ini termasuk penisbatan perbuatan sesuatu kepada penyebab perbuatan tersebut.
  • Dan di dalamnya terdapat kesesuaian yang baik, di mana Allah mengakhiri ayat di sini dengan firman-Nya: “Maa ahdarat” (apa yang telah dipersiapkannya), dan mengakhirinya dalam surah Al-Infitar dengan firman-Nya: “Maa qaddamat wa akhkharat” (apa yang telah dikerjakan dan apa yang ditinggalkan) [Al-Infitar: 5]; dikatakan: alasannya adalah bahwa apa yang ada dalam surah ini berhubungan dengan firman-Nya: “Wa idza as-suhufu nusyirat” (Dan ketika kitab-kitab dibuka), lalu para pemiliknya membacanya sehingga mereka mengetahui apa yang telah mereka persiapkan, dan dalam surah Al-Infitar berhubungan dengan firman-Nya: “Wa idza al-quburu bu’thirat” (Dan ketika kuburan-kuburan dibongkar), dan kuburan-kuburan itu ada di dunia, maka mereka mengingat apa yang telah mereka kerjakan di dunia dan apa yang mereka tinggalkan untuk akhirat; sehingga setiap penutup ayat sesuai dengan tempatnya, dan surah ini dari awalnya adalah syarat dan jawab, serta sumpah dan jawabannya.
  • Dan ada alasan lain: yaitu untuk menjaga kesesuaian; karena syarat-syarat jawab di sini panjang karena banyaknya, maka baik untuk meringkasnya agar dapat diketahui, sedangkan syarat-syarat di sana pendek karena sedikitnya, maka baik untuk memperpanjangnya karena mudahnya untuk diketahui saat itu, dan ada pendapat lain.

۞ ۞ ۞ ۞ ۞

Ayat: 15-29

﴿فَلَآ اُقْسِمُ بِالْخُنَّسِۙ ١٥ الْجَوَارِ الْكُنَّسِۙ ١٦ وَالَّيْلِ اِذَا عَسْعَسَۙ ١٧ وَالصُّبْحِ اِذَا تَنَفَّسَۙ ١٨ اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ ١٩ ذِيْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ مَكِيْنٍۙ ٢٠ مُّطَاعٍ ثَمَّ اَمِيْنٍۗ ٢١ وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُوْنٍۚ ٢٢ وَلَقَدْ رَاٰهُ بِالْاُفُقِ الْمُبِيْنِۚ ٢٣ وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِيْنٍۚ ٢٤ وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطٰنٍ رَّجِيْمٍۚ ٢٥ فَاَيْنَ تَذْهَبُوْنَۗ ٢٦ اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَۙ ٢٧ لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ اَنْ يَّسْتَقِيْمَۗ ٢٨ وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ࣖ ٢٩ ﴾

Penjelasan Kata-kata Asing:

بِالْخُنَّسِ [bil-khunnas]: Yaitu bintang-bintang yang tersembunyi di siang hari sehingga tidak terlihat. Al-khunus berarti menarik diri dan bersembunyi. Dikatakan: “khanasa min bayni al-qaum” dan “inkhanasa”, artinya: menarik diri dan bersembunyi. Akar kata (kha-na-sa) menunjukkan makna tersembunyi dan tertutup.

الْجَوَارِ [al-jawari]: Yaitu bintang-bintang yang bergerak di orbitnya dengan cepat, bentuk jamak dari “jariyah”; dari kata “al-jaryu” yang berarti pergerakan yang cepat.

الْكُنَّسِ [al-kunnas]: Yaitu bintang-bintang yang bersembunyi di buruj-burujnya di langit; dari kata: “kanasa al-wahsyu” yang berarti: ketika binatang liar masuk ke dalam sarangnya, yaitu tempat tinggalnya yang ia kembali kepadanya. Akar kata (ka-na-sa) menunjukkan makna tersembunyi.

عَسْعَسَ [‘as’asa]: Artinya: berlalu, pergi dan mundur, atau: datang dengan kegelapannya. Ini termasuk kata yang memiliki makna berlawanan. “‘as’asa” adalah bentuk inversi dari “sa’sa’a” yang berarti: berlalu. Akar kata (sa-‘a-‘a) menunjukkan perginya sesuatu.

تَنَفَّسَ [tanaffasa]: Artinya: bersinar, menjadi terang, cahayanya menyebar, memanjang dan berurutan. Akar kata (na-fa-sa) menunjukkan keluarnya napas dalam bentuk apapun, baik angin atau lainnya.

مَكِينٍ [makin]: Artinya: terhormat di sisi Allah Ta’ala; dari kata: “makuna makanatan” yang berarti: ketika kedudukannya tinggi di sisi orang lain. Akar kata (ma-ka-na) menunjukkan tempat yang menampung sesuatu.

بِالْأُفُقِ [bil-ufuq]: Yaitu ufuk tertinggi dari arah timur tempat matahari terbit. Al-ufuq adalah sudut langit. Akar kata (a-fa-qa) menunjukkan kejauhan antara sisi-sisi sesuatu dan keluasannya.

بِضَنِينٍ [bidhanin]: Artinya: dengan kikir. “Al-dhinnah” adalah kikir dengan sesuatu yang berharga. Akar kata (dha-na-na) menunjukkan makna kikir dengan sesuatu.

رَجِيمٍ [rajim]: Artinya: terkutuk dan terusir. “Al-rajm” berarti kutukan, pengusiran dan pembuangan. Asal kata rajm adalah lemparan dengan batu.

Makna Keseluruhan:

Allah Ta’ala dalam ayat-ayat ini membantah tuduhan-tuduhan kaum Quraisy yang mendustakan kenabian Muhammad ﷺ, dan mereka mengklaim bahwa beliau adalah tukang sihir, dukun, penyair dan orang gila, serta mendustakan wahyu yang diturunkan kepada beliau.

Maka Allah bersumpah dengan bintang-bintang yang agung yang tersembunyi dan tidak terlihat di siang hari, yang bergerak di langit dan bersembunyi, dan Allah bersumpah dengan malam ketika datang dengan kegelapannya dan ketika berlalu, dan dengan pagi ketika datang dan cahayanya menjadi jelas: bahwa Al-Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ adalah penyampaian dari seorang utusan yang mulia di sisi Allah Ta’ala, yaitu Jibril AS, yang memiliki kekuatan yang besar, dan memiliki kedudukan yang tinggi dan derajat yang mulia di sisi Allah Ta’ala, serta dipatuhi di langit di antara para malaikat, dan amanah terhadap apa yang Allah percayakan kepadanya berupa wahyu.

Kemudian Allah Ta’ala menyapa mereka dengan firman-Nya: Dan Nabi kalian Muhammad ﷺ yang telah kalian bergaul dengannya -wahai kaum Quraisy- dan kalian telah mengetahui kejujuran dan amanahnya: bukanlah orang gila seperti yang kalian klaim. Sungguh Muhammad ﷺ telah melihat Jibril dalam bentuk yang Allah ciptakan untuknya, di ufuk matahari tertinggi dari arah timur tempat matahari terbit, dan segala sesuatu terlihat dengan jelas. Dan Muhammad ﷺ bukanlah orang yang kikir terhadap manusia dengan Al-Qur’an, bahkan beliau sangat bersemangat untuk menyampaikan Al-Qur’an kepada seluruh manusia, dan Al-Qur’an ini bukanlah perkataan setan yang terkutuk yang diusir dari rahmat Allah, yang dilempari dengan bintang-bintang.

Kemudian Allah berfirman mencela mereka: Maka ke mana kalian akan pergi -wahai orang-orang musyrik- dari Al-Qur’an ini padahal kebenaran di dalamnya sudah jelas dengan bukti-buktinya?! Dan ke jalan mana kalian berpaling darinya?! Al-Qur’an ini tidak lain adalah peringatan dari Allah Ta’ala bagi seluruh makhluk; bagi siapa saja di antara mereka yang ingin berada di jalan yang lurus dalam kebenaran, sehingga dia mengikutinya dan beriman kepadanya.

Kemudian Allah ﷻ mengakhiri surah yang mulia ini dengan penjelasan bahwa kehendak-Nya adalah yang berlaku, maka Allah berfirman: Dan kalian tidak dapat menghendaki untuk berada di jalan yang lurus dalam kebenaran kecuali jika Allah Tuhan semesta alam menghendaki hal itu untuk kalian.

Tafsir Ayat-ayat:

فَلَا أُقْسِمُ بِالْخُنَّسِ (15).

Artinya: Maka Aku bersumpah dengan bintang-bintang yang besar yang tersembunyi dan menghilang.

الْجَوَارِ الْكُنَّسِ (16).

Artinya: Yang bergerak di langit dan bersembunyi.

وَاللَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَ (17).

Artinya: Dan Aku bersumpah dengan malam ketika datang dengan kegelapannya, dan ketika berlalu.

وَالصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ (18).

Artinya: Dan Aku bersumpah dengan pagi ketika datang dan cahayanya menjadi jelas.

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ (19).

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Setelah menyebutkan hal yang dijadikan sumpah, Allah melanjutkan dengan menyebutkan apa yang dijadikan objek sumpah.

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ (19).

Artinya: Sesungguhnya yang menurunkan Al-Qur’an ini kepada Muhammad ﷺ adalah utusan dari sisi Allah Ta’ala, yang baik penciptaan dan akhlaknya, yaitu Jibril.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, * dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), * ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, * dengan bahasa Arab yang jelas.” [Asy-Syu’ara: 192-195].

ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ (20).

Artinya: Dan dia memiliki kekuatan yang besar, dan memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah Ta’ala, dan derajat yang mulia.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.” [An-Najm: 5].

مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ (21).

Artinya: Dan dia dipatuhi di langit oleh para malaikat, dipercaya terhadap apa yang Allah amanahkan kepadanya, termasuk penyampaian wahyu kepada para nabi-Nya tanpa penambahan atau pengurangan.

وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُونٍ (22).

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Setelah Allah Ta’ala memuji Al-Qur’an bahwa ia adalah perkataan seorang utusan yang diutus dari Allah, dan hal itu mengandung pujian untuk Nabi ﷺ bahwa beliau jujur dalam apa yang beliau sampaikan dari Allah Ta’ala; Allah melanjutkan dengan membatalkan kebohongan kaum musyrikin dalam apa yang mereka ada-adakan tentang Nabi ﷺ dari perkataan mereka: “Dia adalah orang gila yang diberi pelajaran” [Ad-Dukhan: 14], dan perkataan mereka: “Apakah dia mengada-adakan kebohongan terhadap Allah ataukah ada padanya penyakit gila?” [Saba’: 8].

Juga, ketika Allah menyebutkan keutamaan utusan malaikat yang datang dengan Al-Qur’an, Allah menyebutkan keutamaan utusan manusia yang kepadanya Al-Qur’an diturunkan, dan yang mengajak manusia kepadanya, maka Allah berfirman:

وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُونٍ (22).

Artinya: Dan Nabi kalian Muhammad ﷺ -wahai penduduk Mekah-, yang telah kalian bergaul dengannya dan kalian telah mengetahui kejujuran dan amanahnya: bukanlah orang gila seperti yang kalian klaim!

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan apakah mereka tidak memikirkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak memiliki penyakit gila; dia (Muhammad) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang jelas.” [Al-A’raf: 184].

Dan Allah ﷻ berfirman: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu agar kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu pikirkan (tentang Muhammad), tidak ada penyakit gila sedikit pun pada temanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras.'” [Saba’: 46].

وَلَقَدْ رَآَهُ بِالْأُفُقِ الْمُبِينِ (23).

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Ketika kaum musyrikin mendengar bahwa Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa Jibril telah turun kepadanya dengan wahyu sejak peristiwa di Gua Hira dan seterusnya, mereka mengejek dan berkata: “Sesungguhnya yang menampakkan diri kepadanya adalah jin!” Maka Allah membantah mereka dengan menolak tuduhan kegilaan dari beliau, kemudian dengan menegaskan bahwa beliau sungguh telah melihat Jibril yang kuat dan amanah.

Juga, karena orang gila tidak dapat menetapkan dengan benar apa yang didengar dan dilihatnya, maka perkiraan setelah penolakan ini adalah: “Sungguh beliau telah mendengar dari utusan Kami apa yang dikirimkan dengannya dengan pendengaran yang benar, tanpa ada kebenaran yang tercampur dengan kebatilan”; Allah menggabungkan dengan itu pemberitaan tentang kemuliaan kedudukannya dalam melihat apa yang tidak dilihat oleh orang lain, dan amanahnya, serta kedermawanannya; maka Allah berfirman:

وَلَقَدْ رَآَهُ بِالْأُفُقِ الْمُبِينِ (23).

Artinya: Dan sungguh Muhammad ﷺ telah melihat Jibril dalam bentuk yang Allah ciptakan untuknya, dan itu terjadi di langit dari arah timur tempat matahari terbit, dan segala sesuatu terlihat dengan jelas.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, * yang mempunyai keteguhan; maka (Jibril) menampakkan diri dengan rupa yang asli (rupa yang bagus dan perkasa), * sedang dia berada di ufuk yang tinggi. * Kemudian dia mendekat (pada Muhammad), lalu bertambah dekat, * sehingga jarak antara keduanya seperti (jarak) dua busur panah atau lebih dekat, * lalu dia menyampaikan wahyu kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. * Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. * Maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang dilihatnya? * Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, * (yaitu) di Sidratul Muntaha, * di dekatnya ada surga tempat tinggal.” [An-Najm: 5-15].

Dan dari Ibnu Mas’ud: “Bahwa Nabi ﷺ melihat Jibril yang memiliki enam ratus sayap!”

وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِينٍ (24).

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Ketika apa yang diduga tentang kekaburan pendengaran dan penyimpangan penglihatan telah ditolak, maka yang tersisa hanyalah apa yang berkaitan dengan penyampaian; maka Allah menolak dugaan tentang hal itu.

وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِينٍ (24).

Qira’at yang berpengaruh dalam tafsir:

1- Qiraat: بِظَنِينٍ dengan huruf zha’, dari kata الظِّنَّة yang berarti tuduhan, yaitu: Muhammad ﷺ tidak dicurigai dalam apa yang beliau kabarkan kepada mereka dari Allah, melainkan beliau adalah orang yang dapat dipercaya dan jujur dalam hal itu.

2- Qiraat: بِضَنِينٍ dengan huruf dhad, dari kata الضَّنّ yang berarti kikir, yaitu: Muhammad ﷺ bukanlah orang yang kikir terhadap mereka dengan wahyu, bahkan beliau mengajarkan kepada mereka apa yang Allah Ta’ala ajarkan kepadanya dari Al-Qur’an, dan menyampaikannya kepada mereka.

وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِينٍ (24).

Artinya: Dan Muhammad bukanlah orang yang kikir terhadap manusia dengan Al-Qur’an, dan tidak menahan diri untuk mengabarkannya kepada mereka, bahkan beliau sangat bersemangat untuk menyampaikan Al-Qur’an kepada seluruh manusia.

وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطَانٍ رَجِيمٍ (25).

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Setelah Allah menyebutkan keagungan kitab-Nya dan keutamaannya dengan menyebutkan dua utusan yang mulia -yang melalui tangan mereka berdua Al-Qur’an sampai kepada manusia, dan Allah memuji keduanya dengan pujian yang dilimpahkan; Allah menolak segala cacat dan kekurangan yang dapat mencemarkan kebenarannya, maka Allah berfirman:

وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطَانٍ رَجِيمٍ (25).

Artinya: Dan Al-Qur’an ini bukanlah perkataan setan yang terkutuk yang diusir dari rahmat Allah, yang dilempari dengan bintang-bintang.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan Al-Qur’an itu bukanlah dibawa turun oleh setan-setan. * Dan tidaklah pantas bagi mereka dan tidak pula mereka mampu mengerjakannya. * Sesungguhnya mereka dijauhkan dari mendengarnya.” [Asy-Syu’ara: 210-212].

فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ (26).

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah tidak meninggalkan satu sisi pun yang dapat membingungkan orang yang tidak mengetahui keadaan Nabi ﷺ; Allah melanjutkan dengan firman-Nya sebagai teguran dan pengingkaran:

فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ (26).

Artinya: Maka ke mana kalian akan pergi -wahai orang-orang musyrik- dari Al-Qur’an ini padahal kebenaran di dalamnya sudah jelas dengan bukti-buktinya? Dan ke jalan mana kalian berpaling darinya?

إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ (27).

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Setelah membangunkan mereka dari kesesatan mereka; Allah menunjukkan kepada mereka hakikat Al-Qur’an dengan firman-Nya:

إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ (27).

Artinya: Al-Qur’an ini tidak lain adalah peringatan dari Allah Ta’ala untuk seluruh manusia dan jin, agar mereka mengambil pelajaran darinya, mendapatkan ibrah dan manfaat.

لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ (28).

Artinya: Dan hal itu hanya berlaku bagi siapa saja di antara kalian yang ingin berada di jalan yang lurus dalam kebenaran, sehingga dia mengikutinya dan beriman kepadanya, adapun orang yang tidak menginginkan itu maka dia tidak akan mendapatkan manfaat dari Al-Qur’an.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” [Al-Baqarah: 2].

Dan Allah ﷻ berfirman: “Katakanlah: ‘Al-Qur’an adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, dan (Al-Qur’an) itu merupakan kegelapan bagi mereka. Mereka itu (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh.'” [Fussilat: 44].

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (29).

Artinya: Dan kalian tidak dapat menghendaki untuk berada di jalan yang lurus dalam kebenaran kecuali jika Sang Pencipta, Pemilik, dan Pengatur menghendaki hal itu untuk kalian.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan Allah memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus” [Al-Baqarah: 213].

Dan Allah Subhanahu berfirman: “Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah” [Yunus: 100].

Dan Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (Al-Quran). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendaki” [Al-Muddatstsir: 55-56].

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya ini adalah peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) tentu dia mengambil jalan kepada Tuhannya. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dia memasukkan siapa yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya (surga). Dan bagi orang-orang zalim, Dia menyediakan azab yang pedih” [Al-Insan: 29-31].

Manfaat Pendidikan:

  1. Dalam firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (yang disampaikan oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang memiliki kekuatan, kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki Arasy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) dan dipercaya” menunjukkan bahwa kepemimpinan memiliki dua rukun: kekuatan dan amanah. Seperti firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya” [Al-Qashash: 26]. Dan penguasa Mesir berkata kepada Yusuf: “Sesungguhnya engkau (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami” [Yusuf: 54].
  2. Firman Allah Ta’ala: “Bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus” adalah pengganti dari “bagi semesta alam”. Perkiraan maknanya: “Al-Qur’an ini hanyalah peringatan bagi siapa di antara kamu yang ingin lurus”. Manfaat penggantian ini: bahwa orang-orang yang ingin istiqamah dengan masuk Islam adalah mereka yang mendapat manfaat dari peringatan, seakan-akan selain mereka tidak dinasihati dengannya. Artinya: Al-Qur’an hanya bermanfaat bagi siapa yang ingin istiqamah.
  3. Allah Ta’ala berfirman: “Bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus”. Istiqamah adalah keseimbangan, dan tidak ada keadilan yang lebih lurus daripada keadilan Allah Azza wa Jalla dalam syariat-Nya. Dalam syariat-syariat terdahulu, syariat disesuaikan dengan kondisi umat berdasarkan waktu, tempat, dan keadaan. Setelah diutusnya Rasulullah ﷺ, syariatnya sesuai untuk umat yang diutus Nabi ﷺ kepadanya dari awal pengutusan hingga akhir dunia. Karena itu, ungkapan yang terkenal: “Sesungguhnya agama Islam cocok untuk setiap waktu, tempat, dan keadaan”. Jika manusia berpegang teguh padanya, Allah akan memperbaiki makhluk.
  4. Allah Ta’ala berfirman: “Bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus”. Lawan dari istiqamah adalah dua penyimpangan: penyimpangan ke arah berlebihan dan ekstrem, dan penyimpangan ke arah pengabaian dan kekurangan. Oleh karena itu, manusia dalam agama Allah terbagi menjadi tiga bentuk: dua ujung dan tengah. Satu ujung berlebihan, ekstrem dan keras; ujung lainnya lalai, kurang dan abai. Yang ketiga: pertengahan antara berlebihan dan kurang, lurus di atas agama Allah. Inilah yang terpuji. Adapun yang pertama yang berlebihan dan yang kedua yang mengabaikan, keduanya binasa.
  5. Allah Ta’ala berfirman: “Bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus”, artinya: siapa yang menginginkan petunjuk hendaklah berpegang pada Al-Qur’an ini, karena itu adalah keselamatan dan petunjuk baginya, dan tidak ada petunjuk selainnya.
  6. Dalam firman Allah Ta’ala: “Bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus * Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu), kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam”. Kedua ayat ini mencakup penetapan syariat dan takdir, sebab dan akibat, perbuatan hamba dan ketergantungannya kepada perbuatan Tuhan. Masing-masing memiliki penghambaan khusus. Penghambaan ayat pertama: usaha keras dan mengerahkan kemampuan, pilihan dan upaya. Penghambaan ayat kedua: meminta pertolongan kepada Allah, bertawakal kepada-Nya, berlindung kepada-Nya, meminta taufik dan bantuan dari-Nya, dan mengetahui bahwa hamba tidak mungkin berkehendak atau bertindak sampai Allah menjadikannya demikian. Firman-Nya: “Tuhan semesta alam” mencakup semua itu. Siapa yang mengabaikan salah satu dari dua perkara ini, sungguh dia telah mengingkari kesempurnaan rububiyyah dan mengabaikannya.
  7. Firman Allah: “Tuhan semesta alam”, yaitu: yang menciptakan mereka, memiliki mereka, berbuat baik kepada mereka, dan mendidik mereka. Dia lebih mengetahui tentang mereka daripada mereka sendiri. Karena itu, mereka tidak mampu kecuali atas apa yang Dia tetapkan bagi mereka. Setiap dari mereka wajib menaati-Nya, menghadap sepenuhnya kepada-Nya, dan bersyukur kepada-Nya untuk meminta tambahan nikmat.

 

Manfaat Ilmiah dan Keindahan Sastra:

  1. Firman Allah Ta’ala: “Maka Aku bersumpah dengan (bintang-bintang) yang beredar dan terbenam, yang bergerak dan bersembunyi” – Dari rangkaian tiga sifat ini terbentuk semacam teka-teki, sehingga yang disifati bisa dianggap sebagai kijang atau binatang liar, karena sifat-sifat tersebut hakikatnya merupakan keadaan binatang liar. Teka-teki adalah metode yang disukai oleh para ahli balaghah Arab, dan jarang dalam perkataan mereka.
  2. Allah Ta’ala berfirman: “Maka Aku bersumpah dengan (bintang-bintang) yang beredar dan terbenam, yang bergerak dan bersembunyi, dan demi malam ketika telah larut, dan demi fajar ketika mulai menyingsing, sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman (yang disampaikan oleh) utusan yang mulia” – Di sini Allah bersumpah dengan keadaan bintang-bintang dalam kemunculan, tersembunyi, dan pergerakannya, dan dengan “malam ketika telah larut, dan fajar ketika mulai menyingsing,” keduanya merupakan pengaruh dari matahari saat terbenam dan terbit. Yang menjadi objek sumpah adalah bahwa Al-Qur’an adalah firman dari utusan yang mulia. Seakan-akan Allah berfirman: Sesungguhnya Al-Qur’an yang menjadi objek sumpah: keadaannya dalam ketetapan dan kemunculan, dan keadaan manusia dengannya; seperti keadaan bintang-bintang yang tetap bagi kalian dalam kemunculannya sekali waktu dan tersembunyinya di waktu lain, dan seperti keadaan malam dan pagi. Al-Qur’an bagi sebagian orang adalah sumber kepercayaan dan petunjuk, seperti fajar dalam kecerahan sinarnya, hati mereka terbuka kepadanya, dan akal mereka mendapat petunjuk darinya; maka ia adalah ruh dan cahaya bagi mereka. Dan bagi sebagian orang lain, hati mereka gelap terhadapnya, pandangan batin mereka buta darinya, di telinga mereka ada sumbatan, dan Al-Qur’an bagi mereka adalah kebutaan. Ada pula orang-orang yang kadang-kadang demikian, seperti bintang-bintang yang kadang muncul dan kadang tidak; terkadang cahayanya memercik dalam hati mereka, sehingga tanda-tandanya tampak dan mereka berjalan bersamanya, dan terkadang cahayanya menghilang dari mereka, maka akal mereka berpaling darinya dan hati mereka tertutup darinya. Sebagaimana Allah berfirman tentang mereka: “Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah (sinar) nya, dan bila gelap menutupi mereka, mereka berhenti” [Al-Baqarah: 20]. Dan tidak jauh untuk dikatakan: dari sisi lain, bintang-bintang dianggap seperti kitab-kitab terdahulu, yang telah berlalu masa kemunculannya pada waktunya dan tersembunyi setelahnya. “Demi malam ketika telah larut” adalah kegelapan jahiliyyah. “Dan demi fajar ketika mulai menyingsing” diimbangi dengan kemunculan Islam, dan bahwa Islam akan tersebar seperti menyebarnya cahaya siang, tidak ada kekuatan yang mampu menghalanginya, dan akan meliputi seluruh ufuk betapapun mereka menghalanginya: “Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut (ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya” [Ash-Shaff: 8].
  3. Dalam firman Allah Ta’ala: “Maka Aku bersumpah dengan (bintang-bintang) yang beredar dan terbenam, yang bergerak dan bersembunyi, dan demi malam ketika telah larut, dan demi fajar ketika mulai menyingsing”, terdapat kesesuaian antara penyebutan tanda-tanda langit dan cakrawala ini dengan utusan yang disumpahi bahwa Al-Qur’an adalah perkataannya, yaitu Jibril; karena Jibril berada di sisi Allah Azza wa Jalla.
  4. Shubh adalah fajar, sebagaimana Allah berfirman: “Demi fajar ketika mulai bernafas,” dan Allah berfirman: “Sesungguhnya waktu yang dijanjikan kepada mereka adalah waktu Shubh. Bukankah waktu Shubh itu sudah dekat?” [Hud: 81].
  5. Allah berfirman: “Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (yang disampaikan oleh) seorang utusan yang mulia.” Dalam menyebut Jibril dengan sifat “Rasul” (utusan) ada isyarat bahwa perkataan yang disampaikannya adalah pesan dari Allah, yang diperintahkan untuk disampaikan sebagaimana adanya.
  6. Dalam firman Allah tentang Jibril: “Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (yang disampaikan oleh) seorang utusan yang mulia,” dan dalam ayat kedua tentang Muhammad ﷺ: “Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (yang disampaikan oleh) seorang utusan yang mulia, dan bukanlah ia perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya.” [Al-Haqqah: 40-41]. Kata “Rasul” (utusan) digunakan untuk manusia dan malaikat, berbeda dengan kata “Nabi” yang hanya digunakan untuk manusia. Jadi, istilah “Rasul” lebih umum dari segi cakupannya, yaitu: bisa berlaku untuk manusia dan malaikat.
  7. Dalam firman Allah: “Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (yang disampaikan oleh) seorang utusan yang mulia,” perkataan dinisbatkan kepada Rasul, karena perkataan yang datang kepadamu melalui seorang utusan yang menyampaikannya kepadamu dari pengirimnya: benar untuk menisbatkannya kepadanya (pengirim) di satu waktu, dan kepada utusannya di waktu lain, dan keduanya benar. Beberapa orang yang keliru mengira bahwa penisbatan kepada Rasul berarti dia yang menciptakan huruf-hurufnya, dan ini adalah kesalahan; karena jika Jibril atau Muhammad yang menciptakan lafaz dan susunannya, maka tidak mungkin orang lain yang menciptakannya. Ketika Allah menisbatkannya kepada yang ini di satu waktu, dan kepada yang itu di waktu lain; diketahui bahwa Allah menisbatkannya kepadanya karena dia menyampaikan dan menunaikannya, bukan karena dia menciptakan dan memulainya, baik lafaz maupun maknanya; oleh karena itu Allah berfirman: “perkataan seorang utusan yang mulia,” dan tidak berfirman: “perkataan malaikat” atau “nabi,” Allah menyebutnya dengan lafaz “Rasul” untuk menjelaskan bahwa dia menyampaikan dari yang lain, sebagaimana Allah berfirman: “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.” [Al-Maidah: 67].
  8. Dalam ayat-ayat ini: “Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (yang disampaikan oleh) seorang utusan yang mulia, yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arsy,” Allah ﷻ bersumpah bahwa Al-Qur’an ini adalah perkataan Rasul yang mulia yaitu malaikat Jibril. Dan dalam ayat lain, Allah ﷻ menjelaskan dan bersumpah bahwa Al-Qur’an ini adalah perkataan seorang Rasul yang mulia dari kalangan manusia, dalam firman-Nya: “Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat, dan dengan apa yang tidak kamu lihat, sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (yang disampaikan oleh) seorang utusan yang mulia. Dan ia bukanlah perkataan seorang penyair.” [Al-Haqqah: 38-41]. Bagaimana Allah menyifati Al-Qur’an sebagai perkataan Rasul manusia dan Rasul malaikat?

Jawabannya: Ya, Rasul malaikat menyampaikannya kepada Rasul manusia, dan Rasul manusia menyampaikannya kepada umat, sehingga menjadi perkataan Jibril atas nama (Allah), dan perkataan Muhammad atas nama (Allah), dan pembicara pertama adalah Allah ﷻ. Jadi, Al-Qur’an adalah firman Allah secara hakiki, dan perkataan Jibril dengan pertimbangan bahwa dia menyampaikannya kepada Muhammad, dan perkataan Muhammad dengan pertimbangan bahwa dia menyampaikannya kepada umat.

  1. Dalam firman Allah: “Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (yang disampaikan oleh) seorang utusan yang mulia, yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya,” Rasul malaikat dalam surah ini disifati bahwa dia mulia, kuat, memiliki kedudukan tinggi di sisi Tuhan, ditaati di langit, dan amanah. Ini adalah lima sifat yang mencakup kesucian sanad Al-Qur’an, yaitu Muhammad mendengar dari Jibril, dan Jibril mendengar dari Tuhan semesta alam. Cukuplah sanad ini dalam ketinggian dan keagungan! Allah ﷻ sendiri yang mensucikannya.

10- Dalam firman Allah tentang Jibril: “yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arsy,” terdapat penjelasan tentang beberapa hal:

Pertama: Bahwa dengan kekuatannya, dia mencegah setan-setan untuk mendekati Al-Qur’an, menjangkaunya, menambah atau menguranginya. Bahkan jika setan melihatnya, dia akan lari dan tidak akan mendekatinya.

Kedua: Bahwa dia adalah pendukung Rasul yang kalian dustakan, pembantunya, mencintainya dan menolongnya, sebagaimana Allah berfirman: “Dan jika kamu berdua saling membantu untuk menyusahkannya, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.” [At-Tahrim: 4]. Dan siapa yang menjadikan makhluk yang kuat ini sebagai pelindung, penolong, pendukung, dan pengajarnya, maka dia adalah orang yang diberi petunjuk dan ditolong, dan Allah adalah pemberi petunjuk dan penolongnya.

Ketiga: Bahwa siapa yang memusuhi Rasul ini, maka dia telah memusuhi teman dan pelindungnya yaitu Jibril, dan siapa yang memusuhi makhluk yang memiliki kekuatan dan ketegasan, maka dia berisiko binasa.

Keempat: Bahwa dia mampu melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya karena kekuatannya, dan tidak akan lemah dalam melakukannya, dia menunaikannya sesuai dengan yang diperintahkan karena amanahnya. Dia adalah yang kuat lagi amanah. Dan salah seorang dari kalian, ketika menunjuk orang lain untuk suatu urusan berupa pengiriman pesan, kepemimpinan, perwakilan, atau lainnya, maka dia hanya akan menunjuk orang yang kuat untuk melakukannya, yang amanah dalam pelaksanaannya. Dan jika urusan itu termasuk urusan yang paling penting baginya, dia akan menunjuk orang yang kuat, amanah, dihormati, memiliki kedudukan tinggi di sisinya, dan ditaati oleh orang-orang, sebagaimana Allah menyifati hamba-Nya Jibril dengan sifat-sifat ini. Ini menunjukkan keagungan posisi Pengirim (Allah), Rasul, pesan, dan penerima pesan; di mana Allah menunjuk yang mulia, kuat, memiliki kedudukan tinggi di sisi-Nya, ditaati di kalangan tertinggi, benar-benar amanah. Sesungguhnya raja-raja tidak mengutus untuk urusan-urusan penting mereka kecuali orang-orang yang mulia, memiliki nilai dan kedudukan tinggi.

11- Dalam firman Allah: “yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arsy,” menunjukkan bahwa Jibril memiliki kedudukan dan kehormatan di sisi Allah ﷻ, dan dia adalah malaikat yang paling dekat kepada-Nya.

12- Dalam firman Allah: “di sisi Allah yang mempunyai Arsy,” terdapat isyarat tentang ketinggian kedudukan Jibril; karena dia dekat dengan Allah yang memiliki Arsy.

13- Dalam firman Allah tentang Jibril: “yang ditaati di sana lagi dipercaya,” terdapat isyarat bahwa pasukan dan pembantu Jibril menaatinya ketika dia mengerahkan mereka untuk menolong sahabat dan kekasihnya, Muhammad ﷺ.

14- Dalam firman Allah: “yang ditaati di sana lagi dipercaya,” terdapat isyarat bahwa orang yang kalian dustakan dan musuhi ini (Muhammad) akan menjadi ditaati di bumi, sebagaimana Jibril ditaati di langit, dan bahwa masing-masing dari kedua Rasul tersebut ditaati di tempat dan kaumnya.

15- Allah berfirman: “yang ditaati di sana lagi dipercaya.” Ini sangat agung; bahwa Tuhan Yang Maha Perkasa memuji hamba dan Rasul-Nya dari kalangan malaikat, Jibril, sebagaimana Dia memuji hamba dan Rasul-Nya dari kalangan manusia, Muhammad ﷺ, dengan firman-Nya: “Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah orang gila.” [At-Takwir: 22].

16- Dalam firman Allah: “yang ditaati di sana lagi dipercaya,” terdapat pengagungan terhadap Jibril bahwa dia memiliki kedudukan seperti raja-raja yang ditaati oleh kaumnya. Allah tidak menunjuk untuk urusan agung ini kecuali malaikat yang ditaati seperti ini.

17- Allah berfirman: “dipercaya.” Penggambaran Jibril dengan sifat amanah mengisyaratkan bahwa dia menjaga apa yang dia emban dan menyampaikannya dengan sempurna.

18- Ketika Jibril adalah yang membawa risalah, dan dia adalah pembawa wahyu, dan dia gaib dari manusia, mereka tidak melihatnya dengan mata mereka, dan tidak mendengar perkataannya dengan telinga mereka, dan ada yang mengklaim bahwa yang mendatangi Muhammad adalah setan yang mengajarkan apa yang dia katakan, atau bahwa dia hanya diajarkan oleh sebagian manusia – Allah memberitahu hamba-hamba-Nya tentang Rasul yang membawa risalah itu, dan menggambarkannya dengan gambaran terbaik, dan menjelaskan keadaannya dengan penjelasan terbaik. Semua itu adalah untuk memuliakan Muhammad ﷺ, dan menolak tuduhan mereka, serta menegaskan risalah; karena dialah sahabatnya yang datang dengan wahyu. Maka Allah berfirman: “Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (yang disampaikan oleh) seorang utusan yang mulia,” artinya: Rasul dari kalangan manusia tidak mengucapkannya dari dirinya sendiri, tetapi dia hanyalah penyampai yang mengatakan apa yang dikatakan kepadanya. Maka dalam kata “Rasul” terdapat isyarat tentang perantara murni dan usaha, kemudian Allah menggambarkannya dengan sifat-sifat yang menafikan semua kekurangan; dari kekuatan, kemampuan, amanah, dan kedekatan dengan Allah ﷻ. Ketika keadaan Rasul malaikat telah dijelaskan, Allah menerangkan bahwa dia dari sisi-Nya, dan bahwa dia tidak datang kecuali dengan kebaikan. Dan Rasul manusia diketahui penampilan luarnya oleh mereka, dan dialah yang menyampaikan risalah kepada mereka, dan tanpanya mereka tidak akan mampu mengambil dari Rasul malaikat.

19- Allah ﷻ berfirman: “Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah orang gila.” Dalam firman Allah: “temanmu,” terdapat isyarat bahwa dia telah menemani kalian selama bertahun-tahun sebelum itu, dan tidak ada riwayat sebelumnya bahwa dia seperti yang kalian katakan dan tuduhkan kepadanya berupa kegilaan, sihir, dan lainnya! Dan bahwa jika bukan karena rekam jejak dan pertemanannya dengan kalian, kalian tidak akan mampu mengambil darinya. Tidakkah kalian mendengarnya berkata: “Dan sekiranya Kami jadikan rasul itu (dari) malaikat, pasti Kami jadikan dia berupa laki-laki.” [Al-An’am: 9]. Ini merupakan peringatan tentang nikmat-Nya kepada manusia dan kebaikan-Nya kepada mereka; karena Dia mengutus kepada mereka orang yang dapat menemani mereka dan mereka dapat menemaninya, seorang manusia seperti mereka; karena mereka tidak akan mampu mengambil dari malaikat.

20- Allah berfirman: “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihatnya di ufuk yang terang.” Yang tampak – dan Allah yang paling mengetahui – bahwa surah ini turun sebelum malam Isra’; karena Allah tidak menyebutkan di dalamnya kecuali penglihatan ini, yaitu yang pertama. Adapun yang kedua, yaitu yang disebutkan dalam firman-Nya: “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihatnya pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.” [An-Najm: 13-16], maka itu disebutkan dalam surah “An-Najm,” dan surah itu turun setelah surah “Al-Isra'”.

21- Dalam firman Allah: “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihatnya di ufuk yang terang,” dijelaskan bahwa Jibril adalah malaikat yang benar-benar ada di dunia nyata, dapat dilihat dengan mata, dan dapat dirasakan oleh penglihatan, tidak seperti yang dikatakan oleh para filsuf dan orang-orang yang mengikuti mereka: bahwa Jibril adalah Akal Aktif, dan bahwa dia bukanlah sesuatu yang dapat dirasakan oleh penglihatan! Hakikat Jibril menurut mereka hanyalah khayalan yang ada dalam pikiran, bukan dalam wujud nyata! Ini adalah salah satu hal yang membuat mereka berbeda dengan semua Rasul dan pengikut mereka, dan membuat mereka keluar dari semua agama. Oleh karena itu, penegasan bahwa Nabi melihat Jibril lebih penting daripada penegasan bahwa dia melihat Tuhannya; karena penglihatan Nabi terhadap Jibril adalah dasar keimanan yang tidak sempurna kecuali dengan meyakininya, dan siapa yang mengingkarinya pasti kafir. Adapun penglihatan Nabi terhadap Tuhannya, paling jauh hal itu adalah masalah perselisihan yang pengingkarnya tidak dikafirkan berdasarkan kesepakatan. Jadi, kita lebih membutuhkan penegasan tentang penglihatan Nabi terhadap Jibril daripada penegasan tentang penglihatan Nabi terhadap Tuhannya, meskipun melihat Tuhan lebih agung daripada melihat Jibril dan makhluk lainnya; karena kenabian sama sekali tidak bergantung pada penglihatan terhadap Allah.

22- Allah berfirman: “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihatnya di ufuk yang terang.” Ufuk tempat Jibril menampakkan diri kepada Nabi ﷺ digambarkan sebagai ufuk yang jelas dan terang, di mana objek-objek yang dilihat tidak rancu, dan khayalan tidak bisa terjadi di sana. Sifat ini dijadikan tanda bahwa yang dilihat adalah malaikat dan bukan khayalan; karena khayalan yang dibayangkan oleh orang-orang gila biasanya mereka bayangkan di bumi mengikuti mereka, sesuai dengan yang telah mereka alami pada waktu sehat.

23- Firman Allah: “Dan Al-Qur’an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk.” Ini adalah bantahan terhadap perkataan kaum musyrik tentang Rasulullah ﷺ bahwa beliau adalah dukun; karena mereka mengklaim bahwa para dukun didatangi oleh setan dengan kabar-kabar gaib. Allah berfirman: “Dan ia bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran darinya.” [Al-Haqqah: 41-42]. Dan Allah berfirman: “Dan Al-Qur’an itu bukanlah dibawa turun oleh setan-setan. Dan tidaklah patut mereka membawa turun Al-Qur’an itu, dan mereka pun tidak akan mampu.” [Asy-Syu’ara: 210-211]. Dan Allah berfirman: “Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada setiap pendusta lagi yang banyak dosa.” [Asy-Syu’ara: 221-222]. Mereka mengklaim bahwa dukun menerima informasi dari setannya, dan mereka menyebut setannya sebagai “ra’iy” (yang diikuti).

24- Allah berfirman: “bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus.” Sesungguhnya orang-orang yang tidak ingin berjalan lurus adalah orang-orang yang mengingkari Al-Qur’an, dan merekalah yang menjadi tujuan pembicaraan. Dan diikutkan dengan mereka, dengan tingkatan yang berbeda-beda, setiap muslim yang lalai dalam memperoleh petunjuk dari Al-Qur’an; karena dia tidak berkehendak untuk berjalan lurus karena kelalaiannya dalam berbagai keadaan, waktu, atau tempat. Dalam ayat ini terdapat isyarat yang jelas bahwa adalah kesalahan untuk menilai keadaan agama Islam berdasarkan keadaan sebagian atau kebanyakan orang Muslim, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang Barat dan lainnya yang berpandangan dangkal; ketika mereka menjadikan sudut pandang mereka adalah pengamatan terhadap keadaan bangsa-bangsa Islam, lalu mereka menyimpulkan dari penelitian mereka hukum-hukum umum yang mereka jadikan sebagai dasar filsafat mereka tentang hakikat agama Islam!

25- Dalam firman Allah: “bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam,” menunjukkan bahwa sebab-sebab tidak berdiri sendiri dalam memberikan pengaruh pada akibat-akibatnya.

26- Dalam firman Allah: “bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam,” menunjukkan bahwa apa yang menjadi perbuatan makhluk terjadi dengan kehendak Allah.

27- Dalam firman Allah: “bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam,” menunjukkan bahwa kehendak manusia mengikuti kehendak Allah Azza wa Jalla.

28- Dalam firman Allah: “bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam,” menunjukkan bahwa hamba adalah pelaku yang sebenarnya, dan dia memiliki kehendak dan kemampuan.

29- Firman Allah: “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam,” tidak menunjukkan bahwa hamba bukanlah pelaku perbuatan pilihan, atau bahwa dia tidak mampu melakukannya, atau bahwa dia tidak memiliki keinginan, tetapi menunjukkan bahwa dia tidak akan menghendakinya kecuali jika Allah menghendakinya. Ayat ini adalah bantahan terhadap dua kelompok: Jabariyah (fatalis) dari Jahmiyah, dan Mu’tazilah dari Qadariyah. Allah berfirman: “bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus,” dengan ini Allah menetapkan bahwa hamba memiliki kehendak dan perbuatan. Kemudian Allah berfirman: “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam,” dengan ini Allah menjelaskan bahwa kehendak hamba bergantung pada kehendak Allah. Yang pertama adalah bantahan terhadap Jabariyah, dan yang ini adalah bantahan terhadap Qadariyah yang mengatakan: “Terkadang hamba menghendaki sesuatu yang tidak dikehendaki oleh Allah!” sebagaimana mereka mengatakan: “Sesungguhnya Allah menghendaki apa yang tidak mereka kehendaki!” Ayat ini menunjukkan bahwa kehendak Allah berlaku dan tidak mungkin ditentang atau ditolak. Dalam ayat ini dan ayat-ayat sejenisnya terdapat bantahan terhadap kedua kelompok tersebut; karena Allah menetapkan bahwa mereka memiliki kehendak, tetapi dengan penciptaan Allah, bukan dengan penciptaan mereka sendiri.

30- Allah berfirman: “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” Ketika Allah mendeskripsikan diri-Nya bahwa tidak ada sesuatu pun yang keluar dari perintah-Nya, Allah mengikuti deskripsi itu dengan apa yang menjadi sebab untuk itu, maka Allah berfirman: “Tuhan semesta alam.”

31- Firman Allah: “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam”; dalam ayat ini dan ayat dalam surah Al-Insan: “Sesungguhnya (ayat-ayat ini) adalah peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [Al-Insan: 29-30], terdapat penjelasan tentang kemuliaan orang-orang yang berada di jalan yang lurus karena mereka mendapatkan perhatian dari Tuhan mereka; karena Allah menghendaki kelurusan bagi mereka dan mempersiapkan mereka untuk itu.

Keindahan Retorika Ayat-ayat:

1- Firman Allah Ta’ala: “Maka Aku bersumpah dengan bintang-bintang yang beredar dan bersembunyi” (Al-Khunnas, Al-Jawari, Al-Kunnas):

  • Firman-Nya: “Maka Aku bersumpah dengan Al-Khunnas” – Huruf Fa’ di sini berfungsi untuk memperinci sumpah dan jawabannya berdasarkan pembicaraan sebelumnya; untuk menunjukkan bahwa perkataan yang telah lalu merupakan pendahuluan bagi apa yang ada setelah huruf Fa’. Karena pembicaraan sebelumnya menegaskan kepastian terjadinya kebangkitan dan pembalasan, sedangkan mereka mengingkarinya dan mendustakan Al-Qur’an yang telah memperingatkan mereka. Maka setelah hak peringatan disampaikan dan tanda-tandanya disebutkan, diteruskan dengan pembenaran Al-Qur’an yang telah memperingatkan mereka, dan bahwa Al-Qur’an adalah wahyu dari Allah. Jadi, perincian di sini adalah perincian makna dan perincian penyebutan sekaligus.
  • Firman-Nya: “Maka Aku bersumpah dengan Al-Khunnas” – Sumpah di sini dimaksudkan untuk menegaskan dan memastikan berita, dan di dalamnya termasuk sifat-sifat benda yang dijadikan sumpah; untuk menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah Ta’ala.
  • “Al-Khunnas”: bentuk jamak dari “khaanisah”; yaitu yang bersembunyi atau menyingkir. “Al-Jawari”: bentuk jamak dari “jaariyah”; yaitu yang berjalan atau bergerak dengan cepat. “Al-Kunnas”: bentuk jamak dari “kaanisah”, dikatakan: “kanasa adh-dhabyu” (kijang itu masuk ke tempat berlindungnya), yakni ketika masuk ke tempat berlindung (dengan huruf kasrah pada kaf); yaitu rumah yang dibuat untuk bermalam. Yang dimaksud dengan sifat-sifat ini adalah bintang-bintang. Bintang-bintang disifati demikian karena di siang hari tersembunyi dari pandangan, sehingga diumpamakan seperti binatang liar yang bersembunyi di pepohonan dan sejenisnya, maka disebut “Al-Khunnas”, dan ini termasuk perumpamaan yang indah. Karena “khunus” adalah bersembunyinya binatang liar dari pandangan pemburu dan sejenisnya tanpa menetap di tempat berlindung, begitu pula bintang-bintang; karena tidak terlihat pada siang hari akibat dominasi sinar matahari di ufuk, meskipun sebenarnya tetap ada di tempatnya.

Allah menyerupakan apa yang tampak bagi pandangan dari perpindahan bintang-bintang di arah pandangan pengamat terhadap ufuk—berdasarkan perbedaan titik yang berhadapan dengannya dari bagian bola bumi—dengan keluarnya binatang liar. Maka keadaan munculnya bintang setelah tersembunyi, sementara ia seperti bergerak, diserupakan dengan keadaan binatang liar yang berlari setelah bersembunyi sebagai bentuk perumpamaan representatif (tamsil). Ini menunjukkan bahwa bintang-bintang menjadi terlihat; oleh karena itu, selanjutnya Allah menyifatinya dengan “Al-Kunnas”, yaitu ketika terbenam, menyerupakan terbenamnya dengan masuknya kijang atau sapi liar ke tempat berlindungnya setelah berkeliaran dan berlari.

Maka terbitnya bintang diserupakan dengan keluarnya binatang liar dari tempat berlindungnya, perpindahan tampaknya bagi pengamat diserupakan dengan larinya binatang liar ketika keluar dari tempat berlindungnya di pagi hari, dan terbenamnya setelah perjalanannya diserupakan dengan masuknya binatang liar ke tempat berlindungnya. Ini adalah perumpamaan yang indah.

  • Dalam firman-Nya: “Maka Aku bersumpah dengan bintang-bintang yang beredar dan bersembunyi, dan malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya” terdapat gaya bahasa yang indah (ihtibak); penyebutan tentang bersembunyinya bintang-bintang dan masuknya ke tempat berlindung pertama kali menunjukkan kemunculannya kedua kali, dan penyebutan malam kedua kali menunjukkan penghapusan (penyebutan) siang pertama kali.

2- Firman Allah Ta’ala: “Dan malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya * Dan subuh apabila mulai menyingsing”:

  • Firman-Nya: “Dan malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya” – Sumpah dengan malam dihubungkan (ma’thuf) pada sumpah dengan bintang-bintang; karena adanya kesesuaian pergerakan bintang-bintang di malam hari, dan karena pergantian malam dan siang termasuk manifestasi terbesar dari kebijaksanaan Ilahi di alam ini.
  • Kata kerja “as’asa” termasuk kata yang memiliki arti berlawanan (al-adhdad); dikatakan: “as’asa”, ketika kegelapannya datang, dan “as’asa”, ketika kegelapannya pergi. Dengan demikian, pemilihan kata kerja ini untuk menunjukkan kedua keadaan yang sama-sama layak untuk dijadikan sumpah; karena keduanya merupakan manifestasi kekuasaan Allah; ketika kegelapan disusul oleh cahaya, kemudian cahaya disusul oleh kegelapan. Ini adalah bentuk keringkasan (ijaz).
  • Firman-Nya: “Dan subuh apabila mulai menyingsing” – Sumpah dengan subuh ketika mulai bernafas—yakni pecahnya cahayanya—dihubungkan dengan sumpah dengan malam; karena adanya kesesuaian dengan penyebutan malam, dan karena nafas subuh merupakan salah satu manifestasi dari keindahan sistem yang Allah tetapkan di alam ini.

3- Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar firman (yang dibawa oleh) utusan yang mulia * Yang memiliki kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki ‘Arsy * Yang dita’ati di sana (di alam malaikat) dan dipercaya”:

  • Kata ganti (dhamir) pada “Sesungguhnya ia (innahu)” kembali kepada Al-Qur’an, meskipun belum disebutkan sebelumnya, tetapi bisa dipahami dari konteks pembicaraan mengenai terjadinya kebangkitan; karena itu termasuk hal yang telah diberitakan Al-Qur’an kepada mereka, dan mereka mendustakan Al-Qur’an karena hal itu.
  • Yang dimaksud dengan “utusan yang mulia” adalah: Jibril ‘alaihissalam. Jibril disifati sebagai “utusan” karena dia diutus oleh Allah kepada Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa Al-Qur’an. Penyandingan kata “firman” (qaul) dengan “utusan” (rasul) menunjukkan adanya hubungan minimal; karena Jibril menyampaikan lafaz-lafaz Al-Qur’an kepada Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia menceritakannya sebagaimana Allah Ta’ala perintahkan, sehingga dia adalah pengucapnya; maksudnya: lafaz-lafaznya keluar darinya.
  • Di tengah pujian terhadap Al-Qur’an, disebutkan juga pujian terhadap malaikat yang diutus dengan Al-Qur’an; untuk memuliakan Al-Qur’an. Maka penyebutan sifat-sifat pujian pada utusan juga untuk memuliakannya, dan sebagai kinayah (kiasan) bahwa apa yang dia turunkan adalah benar; karena kesempurnaan pembicara menunjukkan kebenaran perkataan.
  • Jibril disifati dengan kata “makin” (yang mempunyai kedudukan tinggi), dan dikhususkan dari sifat-sifat Allah sebagai “Dzi al-‘Arsy” (yang memiliki ‘Arsy); untuk menunjukkan keagungan kedudukan Jibril di sisi Allah dan martabatnya; karena keadaan seseorang berbeda-beda tergantung keadaan orang yang dia memiliki kedudukan padanya. Dan juga beralih dari nama Allah ke “Dzi al-‘Arsy”; untuk menggambarkan keadaan Jibril dan kedudukannya di sisi Allah seperti keadaan seorang panglima yang melaksanakan perintah raja, dan dia berada pada posisi yang dihormati di sisinya.
  • Menempatkan firman-Nya: “di sisi (Allah) yang memiliki ‘Arsy” di antara “yang memiliki kekuatan” dan “yang mempunyai kedudukan tinggi”; agar kedua sifat tersebut bisa merujuk kepadanya sebagai bentuk keringkasan (ijaz).
  • Dalam penyebutan sifat-sifat tersebut pada Jibril dalam konteks ini terdapat pengungkapan tersirat untuk mengagungkan Rasul, dan bahwa beliau telah mencapai kedudukan dan kemuliaan yang tinggi di sisi Yang memiliki ‘Arsy, sehingga Allah menjadikan perantara antara-Nya dan Rasul-Nya adalah malaikat yang dekat, ditaati, dan terpercaya seperti ini.

4- Firman Allah Ta’ala: “Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah orang gila”:

Kalimat ini dihubungkan (ma’thuf) dengan kalimat “Sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar firman (yang dibawa oleh) utusan yang mulia” [Al-Takwir: 19]; sehingga termasuk dalam jawaban sumpah sebagai jawaban kedua, dan maknanya: dan bukanlah ia (yakni: Al-Qur’an) perkataan orang gila—sebagaimana yang kalian klaim—, maka Allah membatalkan perkataan mereka dengan pembatalan yang tegas dan dikuatkan; penegasannya dengan sumpah dan dengan tambahan (huruf Ba’) setelah penafian, dan penguatannya dengan apa yang diisyaratkan oleh sifatnya bahwa yang menyampaikannya adalah teman mereka; karena sifat “shabib” (teman) merupakan kiasan bahwa mereka mengetahui akhlak dan akalnya, dan mereka tahu bahwa dia bukan orang gila; karena seorang teman biasanya tidak tersembunyi detail keadaannya dari teman-temannya. Maknanya: penafian bahwa Al-Qur’an berasal dari bisikan orang-orang gila; karena keselamatan penyampainya dari kegilaan menunjukkan keselamatan perkataannya dari bisikan.

  • Firman-Nya: “Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah orang gila” – Penggunaan kata “teman” adalah untuk menunjukkan bahwa mereka mengetahui secara detail keadaan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan pengalaman, dan mereka tahu bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar bersih dari apa yang mereka tuduhkan kepadanya. Jadi, pengalihan dari nama Nabi kepada “temanmu” adalah karena kata “temanmu” mengisyaratkan bahwa mereka mengetahui keadaannya.
  • Penyebutan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang gila dalam firman-Nya: “Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah orang gila” muncul sebagai bentuk penyesuaian (musyakalah) dan kesesuaian jawaban terhadap apa yang terdengar dari orang-orang kafir Mekah. Ini diperkuat dengan fakta bahwa firman-Nya: “Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah orang gila” adalah jawaban sumpah—menurut suatu pendapat—, artinya: Aku bersumpah dengan hal-hal ini bahwa Al-Qur’an diturunkan oleh Jibril, dan bahwa temanmu bukanlah orang gila; karena mereka berkata: “Hai orang yang diturunkan Al-Qur’an kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila” [Al-Hijr: 6].

5- Firman Allah Ta’ala: “Dan dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib * Dan Al-Qur’an itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk”:

  • Firman-Nya: “Dan dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib” – “Dhanin” artinya: kikir/bakhil, yakni: dan temanmu bukanlah orang yang kikir, maksudnya: dengan apa yang diwahyukan kepadanya, dan apa yang dia beritakan tentang perkara-perkara ghaib dengan tujuan untuk mengambil keuntungan dari apa yang dia beritakan, sehingga dia tidak memberitakan kepada kalian kecuali dengan imbalan yang kalian berikan. Ini adalah kiasan untuk menegasikan bahwa dia adalah dukun atau peramal yang menerima berita dari jin; karena orang-orang musyrik sering mengunjungi para dukun, maka Allah menjelaskan kepada mereka perbedaan antara keadaan para dukun dan keadaan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan menunjukkan bahwa Nabi tidak meminta imbalan atas apa yang dia beritakan kepada mereka, sedangkan dukun mengambil upah atas apa yang diberitakannya yang mereka sebut sebagai “hulwan” (upah/imbalan). Makna ini sejenis dengan firman Allah Ta’ala: “Katakanlah: ‘Aku tidak meminta upah sedikit pun kepadamu untuk menyampaikan (da’wah) itu'” [Al-Furqan: 57], “Katakanlah: ‘Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Qur’an)'” [Al-An’am: 90], dan sejenisnya.

Kata “alal ghaib” (untuk menerangkan yang ghaib) berkaitan dengan kata “bidhanin” (seorang yang bakhil), dan huruf “ala” dalam konteks ini bermakna “ba” (dengan), seperti dalam firman Allah Ta’ala: “Patutlah aku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang hak” [Al-A’raf: 105], yakni: patut bagiku, atau karena kata “dhanin” mengandung makna “haris” (sangat kikir), dan “hirs” adalah kekikiran yang sangat, artinya: dan Muhammad bukanlah orang yang menyembunyikan sesuatu dari perkara ghaib, maka apa yang dia beritakan kepada kalian adalah benar-benar apa yang Kami wahyukan kepadanya. “Bakhil” dalam konteks ini bisa juga merupakan kiasan untuk “penyembunyi”, dan ini adalah kiasan tingkat lanjut untuk ketiadaan perubahan, dan maknanya: dan temanmu bukanlah orang yang menyembunyikan sesuatu dari perkara ghaib, artinya: apa yang dia beritakan kepada kalian adalah kebenaran.

  • Firman-Nya: “Dan Al-Qur’an itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk” – Kalimat ini dihubungkan (ma’thuf) dengan “Sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar firman (yang dibawa oleh) utusan yang mulia” [Al-Takwir: 19], dan ini adalah kembali kepada apa yang Allah sumpahi bahwa Al-Qur’an adalah firman utusan yang mulia, setelah diselingi dengan berbagai penjelasan yang menunjukkan kesempurnaan firman ini melalui kesucian sumbernya, kedudukan pembawanya di sisi Allah, dan kejujuran penerimanya yang melihat secara langsung tanpa khayalan. Maka kembali kepada pensucian Al-Qur’an dengan kesempatan penyebutan hal ghaib dalam firman Allah Ta’ala: “Dan dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib” [Al-Takwir: 24]; karena Al-Qur’an termasuk perkara ghaib yang diwahyukan kepada Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan di dalamnya terdapat banyak berita tentang perkara-perkara ghaib; surga, neraka, dan sebagainya.
  • “Rajim” adalah bentuk fa’il dengan makna maf’ul, yakni: yang dirajam/dilempar, dan “marjum” artinya: yang dijauhkan yang orang-orang menjauh dari keburukannya, maka jika dia mendatangi mereka, mereka akan melemparnya. Ini adalah sifat penjelas bagi syaitan; karena syaitan selalu menjadi sosok yang dijauhkan.

6- Firman Allah Ta’ala: “Maka ke manakah kamu akan pergi?”:

Kalimat ini adalah sisipan antara kalimat “Dan Al-Qur’an itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk” [Al-Takwir: 25] dan firman-Nya: “Al-Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam” [Al-Takwir: 27]. Huruf “fa'” (maka) berfungsi untuk menarik kesimpulan berupa teguran dan pelemahan berdasarkan argumen-argumen sebelumnya yang membuktikan bahwa Al-Qur’an tidak mungkin merupakan perkataan dukun, dan bahwa Al-Qur’an adalah wahyu dari Allah melalui perantara malaikat.

  • “Aina” (ke mana): kata tanya tentang tempat, dan ini adalah pertanyaan pengingkaran tentang tempat perginya mereka, yakni: jalan kesesatan mereka.

Bisa juga pertanyaan di sini digunakan untuk melemahkan upaya mereka mencari jalan yang mereka tempuh untuk tujuan mereka mencela Al-Qur’an. Maknanya: bahwa jalan-jalan kebohongan kalian telah tertutup; karena telah jelas dengan bukti yang kuat kebatilan klaim kalian bahwa Al-Qur’an adalah perkataan orang gila, atau perkataan dukun, maka apa lagi yang akan kalian klaim setelah itu?!

  • Kalimat “Maka ke manakah kamu akan pergi?” telah menjadi sebuah perumpamaan, dan mungkin ini termasuk ungkapan baru yang diciptakan Al-Qur’an. Ditemukan dalam perkataan sebagian orang: “Ke mana kamu akan pergi?” untuk orang yang berada dalam kesalahan dan kebutaan.

7- Firman Allah Ta’ala: “Al-Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam * (Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus”

  • Firman-Nya: “Al-Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam” – Kalimat ini berkedudukan sebagai penguat bagi kalimat “Dan Al-Qur’an itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk” [Al-Takwir: 25]; oleh karena itu, dilepaskan dari kata penghubung. Hal ini karena pembatasan (qasr) yang dipahami dari penafian dan pengecualian dalam firman-Nya: “Al-Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam” memberikan makna pembatasan Al-Qur’an pada sifat sebagai peringatan, yakni: tidak lain dari itu. Ini adalah pembatasan relatif (idafi) yang dimaksudkan untuk membatalkan anggapan bahwa Al-Qur’an adalah perkataan penyair, atau perkataan dukun, atau perkataan orang gila. Di antara makna yang diberikan oleh pembatasan ini adalah penafian bahwa Al-Qur’an adalah perkataan syaitan yang terkutuk, dan dengan demikian menjadi penguat bagi kalimat “Dan Al-Qur’an itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk”.
  • Jika dikatakan: Al-Qur’an mencakup kisah-kisah para nabi dan umat-umat, dan juga merupakan mukjizat bagi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka bagaimana bisa dibatasi hanya sebagai peringatan?

Jawabnya: bahwa pembatasan di sini adalah pembatasan relatif (idafi), dan pembatasan relatif tidak dimaksudkan kecuali untuk mengkhususkan sifat pada yang disifati dibandingkan dengan sifat khusus lainnya. Bisa juga pembatasan ini adalah pembatasan hakiki yang membatasi Al-Qur’an pada fungsi peringatan tanpa sifat-sifat lainnya; karena kisah-kisah dan berita yang terkandung di dalamnya dimaksudkan sebagai nasihat dan pelajaran. Adapun kemukjizatannya memiliki peran besar dalam fungsi peringatan; karena kemukjizatannya adalah bukti bahwa Al-Qur’an bukanlah perkataan buatan manusia, dan ketika hal itu diketahui, timbullah keyakinan bahwa ia adalah kebenaran.

  • Firman-Nya: “(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus” – Ini adalah badal (pengganti) dari “bagi semesta alam”, yakni badal sebagian dari keseluruhan, dan huruf jar (kata depan) diulang bersama badal seperti dalam mubd̄al minhu (yang digantikan) untuk memperkuat faktor yang berpengaruh. Kata “bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus” menjadi badal dari “bagi semesta alam”; karena merekalah yang mendapat manfaat dari peringatan.
  • Lawan bicara dalam firman-Nya: “di antara kamu” adalah orang-orang yang diajak bicara dalam firman-Nya: “Maka ke manakah kamu akan pergi?” [Al-Takwir: 26]. Jika Al-Qur’an adalah peringatan bagi mereka, dan mereka termasuk bagian dari semesta alam, maka penyebutan “bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus” juga mencakup sisa semesta alam berdasarkan qiyas al-musawah (analogi kesetaraan); maka dalam perkataan ini terdapat kiasan tentang hal tersebut.
  • Firman-Nya: “(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus” – Dalam konsep silah (penjelasan) terdapat sindiran bahwa orang-orang yang tidak mengambil pelajaran dari Al-Qur’an, tidak ada yang menghalangi mereka dari mengambil pelajaran darinya kecuali bahwa mereka tidak berkehendak untuk lurus (istiqamah), melainkan mereka rela dengan kebengkokan untuk diri mereka sendiri—yakni: keburukan perbuatan dan keyakinan—; agar para pendengar mengetahui bahwa ketetapan mereka dalam kesesatan bukanlah karena ketidakmampuan Al-Qur’an memberi petunjuk kepada mereka, melainkan karena mereka menolak untuk mendapat petunjuk darinya; baik karena kesombongan, sebagaimana mereka berkata: “Dan mereka berkata: “Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding”” [Fushshilat: 5], atau karena berpaling dari menerimanya; “Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka”” [Fushshilat: 26].

8- Firman Allah ﷻ: “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam” boleh menjadi kesimpulan atau sisipan di akhir kalimat. Dan boleh juga menjadi keterangan hal (haal); yang dimaksudkan sebagai penyempurnaan dan pembatasan dalam makna “bagi siapa di antara kamu yang ingin berlaku lurus”, yaitu: dan bagi siapa yang dikehendaki hal itu dari seluruh alam.

Dan dalam firman-Nya: “Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam” terdapat kesesuaian yang baik, sebagaimana telah disebutkan di akhir Surah Al-Insan firman Allah ﷻ: “Sesungguhnya ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” [Al-Insan: 29-30].

Perbedaan antara keduanya adalah: bahwa dalam ayat ini Allah ﷻ disifati dengan “Tuhan semesta alam”, dan ini memberikan alasan tentang keterkaitan kehendak orang yang ingin berlaku lurus dari semesta alam dengan kehendak Allah; itu karena Dia adalah Tuhan semesta alam; Dialah yang menciptakan dalam diri mereka dorongan-dorongan kehendak, dan sebab-sebab terwujudnya yang berurutan, dan Dialah yang membimbing mereka kepada kelurusan di atas kebenaran. Dan dengan sifat ini tampak hubungan yang lebih erat antara kehendak manusia untuk berlaku lurus dengan Al-Qur’an, dan antara Al-Qur’an sebagai peringatan bagi semesta alam.

Adapun ayat Surah Al-Insan, maka diakhiri dengan firman-Nya: “Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” [Al-Insan: 30], artinya: dengan ilmu dan hikmah-Nya, Dia mengaitkan kehendak-Nya agar mereka berlaku lurus dengan kondisi yang memungkinkan mereka untuk itu. Ini menunjukkan bahwa orang yang tidak menghendaki untuk mengambil jalan kepada Tuhannya, maka Allah ﷻ telah menghalanginya dari kehendak-Nya yang baik karena ilmu dan hikmah-Nya, sebagai kiasan tentang kesengsaraan mereka.

۞ ۞ ۞ ۞ ۞

 

 

SURAH AL-INFITHAR

Perhatian: Setiap kalimat berikut memiliki rujukan ilmiah yang belum diterjemahkan. Bagi yang memerlukan, silakan merujuk langsung ke situs web aslinya dalam bahasa Arab di: https://dorar.net/tafseer/82

 

Nama-nama Surah:

Surah ini dinamakan “Surah Al-Infithar”. Surah ini juga dinamakan “Surah Idza As-Sama’u Infatharat” (Ketika langit terbelah): Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang ingin melihat hari kiamat seakan-akan melihat dengan mata kepala sendiri, maka hendaklah ia membaca: ‘Idza Asy-Syamsu Kuwwirat’ (Ketika matahari digulung), ‘Idza As-Sama’u Infatharat’ (Ketika langit terbelah), dan ‘Idza As-Sama’u Insyaqqat’ (Ketika langit terbelah).” Dan dari Jabir, ia berkata: “Mu’adz berdiri lalu melaksanakan shalat Isya’ yang terakhir, maka ia memperpanjangnya, lalu Nabi ﷺ bersabda: ‘Apakah engkau ingin membuat fitnah wahai Mu’adz?! Apakah engkau ingin membuat fitnah wahai Mu’adz?! Mengapa engkau tidak membaca ‘Sabbihisma Rabbikal A’la’ (Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi), ‘Wadh-Dhuha’ (Demi waktu dhuha), dan ‘Idza As-Sama’u Infatharat’ (Ketika langit terbelah)?'”

Keutamaan dan Keistimewaan Surah:

Barangsiapa membacanya seakan-akan ia melihat hari kiamat dengan mata kepala sendiri: Sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar yang telah disebutkan di atas.

Penjelasan tentang Makkiyah dan Madaniyah:

Surah Al-Infithar adalah Makkiyah (diturunkan di Mekkah), dan tidak sedikit dari para mufassir (ahli tafsir) yang menukil ijma’ (kesepakatan) tentang hal tersebut.

Tujuan Surah:

Di antara tujuan terpenting dari surah ini adalah: Menetapkan adanya kebangkitan, menjelaskan dahsyatnya hari kiamat, dan mengingatkan manusia akan kewajiban bersiap-siap menghadapinya.

Tema-tema Surah:

Di antara tema-tema terpenting yang terkandung dalam surah ini:

  1. Penggambaran tentang dahsyatnya hari kiamat.
  2. Penyebutan beberapa nikmat Allah kepada makhluk-Nya.
  3. Penjelasan bahwa amalan manusia dicatat oleh malaikat-malaikat yang mulia.
  4. Penjelasan tentang baik akibat orang-orang yang berbakti, dan buruknya akibat orang-orang yang durhaka.
  5. Penjelasan tentang betapa agungnya hari perhitungan dan dahsyatnya ketakutan pada hari itu, keadaan jiwa-jiwa yang terlepas dari segala daya upaya, dan hanya Allah ﷻ yang berkuasa pada hari itu.

۞ ۞ ۞ ۞ ۞

Ayat: 1-5

﴿اِذَا السَّمَاۤءُ انْفَطَرَتْۙ ١ وَاِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْۙ ٢ وَاِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْۙ ٣ وَاِذَا الْقُبُوْرُ بُعْثِرَتْۙ ٤ عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ وَاَخَّرَتْۗ ٥ ﴾

Kosa Kata Asing:

انْفَطَرَتْ (Infatharat): Artinya terbelah; akar kata (فطر) menunjukkan makna membuka sesuatu dan menampakkannya.

انْتَثَرَتْ (Intatsarat): Artinya berjatuhan secara terpisah-pisah; penyebaran sesuatu adalah menyebarkannya dan memisah-misahkannya; akar kata (نثر) menunjukkan makna melemparkan sesuatu secara terpisah-pisah.

فُجِّرَتْ (Fujjirat): Artinya dibuka sebagiannya ke sebagian yang lain, sehingga menjadi satu lautan yang penuh; akar kata (فجر) menunjukkan makna terbukanya sesuatu.

بُعْثِرَتْ (Bu’tsirat): Artinya dibangkitkan, tanahnya dibalik, dan dikeluarkan apa yang ada di dalamnya; akar kata (بعثر) tersusun dari: بَعَث (dibangkitkan) dan أُثيرَ (dibangkitkan); karena kata بَعْثرةَ mencakup makna keduanya.

Makna Global:

Allah ﷻ membuka surah yang mulia ini dengan pembicaraan tentang tanda-tanda kiamat, firman-Nya: Ketika langit terbelah dan pecah pada hari kiamat, dan ketika bintang-bintang berjatuhan dan terpisah-pisah, dan ketika lautan-lautan dibuka dan bercampur satu sama lain sehingga semuanya menjadi satu lautan, dan ketika kuburan-kuburan dibangkitkan dan dibalik apa yang ada di dalamnya berupa orang-orang yang mati, lalu mereka dibangkitkan untuk perhitungan – ketika semua hal itu terjadi, setiap jiwa akan mengetahui pada saat itu semua amalannya baik berupa kebaikan maupun keburukan.

Tafsir Ayat-ayat:

إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ (1)

[Ketika langit terbelah]

Artinya: Ketika langit dengan segala kekuatan dan kokohnya akan terbelah pada hari kiamat. Sebagaimana firman Allah: “Langit (pun) menjadi pecah belah pada hari itu.” [Al-Muzzammil: 18].

وَإِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْ (2)

[Dan ketika bintang-bintang berjatuhan]

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Ketika langit terbelah maka pasti mengakibatkan kerusakannya dan tidak lagi dapat menahan apa yang ada padanya; hal ini membuat lebih takut bagi yang berada di bawahnya karena mereka setiap saat menunggu jatuhnya langit atau sebagian darinya ke atas mereka, sehingga mereka berada dalam keadaan tidak stabil; Allah berfirman: وَإِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْ (2)

[Dan ketika bintang-bintang berjatuhan]

Artinya: Dan ketika bintang-bintang berjatuhan dan terpisah-pisah.

وَإِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ (3)

[Dan ketika lautan-lautan meluap]

Artinya: Dan ketika lautan-lautan yang terpisah di bumi ini meluap dengan luapan yang banyak, dan dibuka sebagiannya kepada sebagian yang lain.

وَإِذَا الْقُبُورُ بُعْثِرَتْ (4)

[Dan ketika kuburan-kuburan dibongkar]

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Ketika apa yang telah disebutkan sebelumnya mengharuskan tergenangnya kuburan-kuburan, sehingga menimbulkan kesan bahwa penghuninya tidak akan bangkit – sebagaimana orang-orang Arab dahulu meyakini bahwa siapa yang mati berarti telah lenyap – Allah menolak keyakinan itu dengan gaya bahasa orang-orang yang berkuasa; mengisyaratkan betapa mudahnya hal itu bagi-Nya: وَإِذَا الْقُبُورُ بُعْثِرَتْ (4) [Dan ketika kuburan-kuburan dibongkar]

Artinya: Dan ketika kuburan-kuburan dibangkitkan dan dibalik apa yang ada di dalamnya berupa orang-orang yang mati ke permukaannya, maka Allah ﷻ membangkitkan mereka dalam keadaan hidup. Sebagaimana firman Allah: “Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur” [Al-‘Adiyat: 9].

عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ (5)

[Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya]

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Ketika semua syarat ini – yang dijadikan tanda-tanda kiamat – mewajibkan pengetahuan yang mendalam, dan masing-masing mengungkapkan hal-hal yang menakjubkan, dan semuanya menunjukkan perpindahan dari dunia ini ke dunia lain karena hancurnya dunia ini; maka sesuai bila menjawab kata “إذا” (ketika) dengan firman-Nya: عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ (5) [Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya]

Artinya: Ketika semua hal itu terjadi, setiap jiwa akan mengetahui pada saat itu semua amalannya; yang baik dan yang buruk.

Faedah-faedah Pendidikan:

  1. Dalam firman Allah: عَلِمَتْ نَفْسٌ [Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui], kemungkinan kata “نَفْسٌ” (jiwa) disebutkan dalam bentuk nakirah (tidak tertentu); untuk mengisyaratkan bahwa seharusnya bagi orang yang dianugerahi akal oleh Allah untuk mempertimbangkan bahwa dirinya adalah yang dimaksud, sehingga ia merasa takut.
  2. Dalam firman Allah: عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ [Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya] terdapat larangan dari kemaksiatan, dan dorongan untuk melakukan ketaatan.

Faedah-faedah Ilmiah dan Keindahan-keindahan:

  1. Dalam firman Allah: وَإِذَا الْقُبُورُ بُعْثِرَتْ [Dan ketika kuburan-kuburan dibongkar] terdapat petunjuk tentang cepatnya penyebaran, seperti menyebarnya biji dari telapak tangan, sebagaimana dalam firman Allah: “Pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat” [Al-Ma’arij: 43].
  2. Dalam firman Allah: عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ [Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya] terdapat petunjuk bahwa manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan setelah kematiannya dari kebiasaan baik atau buruk yang ia contohkan, sebagaimana firman Allah: “Diberitakan kepada manusia pada hari itu apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya” [Al-Qiyamah: 13] berdasarkan makna: apa yang ia kerjakan secara langsung, dan apa yang ditinggalkannya yang dilakukan orang lain sepeninggalnya dari kebiasaan baik atau buruk yang ia contohkan.
  3. Dalam firman Allah: عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ [Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya] terdapat pertanyaan: Zhahir ayat yang mulia ini mengesankan bahwa yang mengetahui pada hari kiamat apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya hanyalah satu jiwa saja, padahal terdapat ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan dilalaikannya, seperti firman Allah: “Di sanalah tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya dahulu” [Yunus: 30], dan firman-Nya: “Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka” [Al-Isra’: 13] dan ayat-ayat lainnya. Jawabannya: Yang dimaksud dengan “نَفْسٌ” adalah setiap jiwa, dan nakirah (kata yang tidak determinatif) meskipun tidak bermakna umum kecuali dalam konteks negasi, syarat, atau anugerah, sebagaimana telah ditetapkan dalam ilmu ushul; namun yang benar adalah bahwa terkadang bisa memberi makna umum dengan adanya qarinah (indikasi) dari konteks tanpa perlu negasi, syarat, atau anugerah, seperti dalam firman-Nya: “عَلِمَتْ نَفْسٌ” dalam surat At-Takwir dan Al-Infithar, dan firman-Nya: “Agar jiwa tidak dijerumuskan” [Al-An’am: 70], dan firman-Nya: “Supaya jangan ada jiwa yang mengatakan: “Aduhai, alangkah besar penyesalanku” [Az-Zumar: 56], dan ilmu ada pada Allah Ta’ala.

Keindahan Bahasa dalam Ayat-ayat:

  • Firman Allah:

إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ * وَإِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْ * وَإِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ * وَإِذَا الْقُبُورُ بُعْثِرَتْ * عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ –

Pembukaan dengan kata “إِذَا” (ketika) merupakan pembukaan yang membangkitkan keinginan untuk mengetahui apa yang akan datang setelahnya dari kaitannya yang merupakan jawaban dari makna syarat yang terkandung dalam “إذا”.

  • Bentuk kata kerja lampau yang berulang dalam firman-Nya: “انْفَطَرَتْ” (terbelah) dan kata-kata yang dirangkaikan dengannya, digunakan untuk masa depan; menyerupakan kepastian terjadinya sesuatu di masa depan dengan terjadinya sesuatu di masa lampau.
  • Juga kalimat-kalimat yang ditambahkan pada “إِذَا” dimulai dengan subjek yang diberitakan dengan predikat berupa kata kerja tanpa menggunakan kalimat verbal langsung, dan tanpa perkiraan kata kerja yang dihilangkan sebelum kata benda; dengan maksud memberikan perhatian pada subjek dan memperkuat berita.
  • Dan di dalamnya terdapat keserasian yang baik; karena kalimat-kalimat yang berkaitan yang ditambahkan pada “إِذَا” di sini lebih sedikit daripada yang ada di surat At-Takwir; karena konteksnya tidak menuntut perpanjangan penjelasan seperti yang dituntut oleh konteks di surat At-Takwir, meskipun pada keduanya terdapat tuntutan untuk penjelasan namun berbeda tingkatannya.
  • Firman-Nya: وَإِذَا الْقُبُورُ بُعْثِرَتْ [Dan ketika kuburan-kuburan dibongkar] – Pembongkaran kuburan adalah salah satu keadaan dari perubahan dan kerusakan bumi, disebutkan secara khusus di antara keadaan-keadaan bumi lainnya; karena di dalamnya terdapat ketakutan dengan membayangkan keadaan bumi yang telah mengeluarkan ke permukaannya apa yang ada di dalam kuburan berupa jasad-jasad yang utuh dan tulang belulang.
  • Kata “إذا” (ketika) diulang; untuk menunjukkan betapa dahsyatnya bencana-bencana yang tercakup di dalamnya.
  • Firman-Nya: عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ [Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya] – Pengetahuan ini merupakan kiasan tentang perhitungan atas apa yang telah didahulukan dan ditunda oleh jiwa-jiwa; ini adalah ancaman perhitungan atas semua perbuatan orang-orang musyrik, dan merekalah yang menjadi sasaran surah ini, sebagaimana ditunjukkan oleh firman-Nya setelah ini: “Bukan demikian, sebenarnya kamu mendustakan hari pembalasan” [Al-Infithar: 9], dan janji bagi orang-orang yang bertakwa, serta campuran bagi orang-orang yang melakukan perbuatan baik dan perbuatan buruk.
  • Juga penetapan pengetahuan bagi manusia tentang apa yang telah mereka kerjakan dan yang mereka tunda ketika terjadi syarat-syarat itu إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ * وَإِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْ * وَإِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ * وَإِذَا الْقُبُورُ بُعْثِرَتْ; karena tidak diperhitungkannya pengetahuan mereka tentang hal itu yang ada dalam kehidupan dunia, sehingga dianggap seperti tidak ada pengetahuan.
  • Kata “نَفْسٌ” (jiwa) adalah nakirah (tidak tertentu) yang dimaksudkan untuk menunjukkan keumuman.
  • Yang dimaksud dari firman-Nya: مَا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ [apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya] adalah generalisasi pertanggungjawaban atas semua yang telah dilakukannya.

۞ ۞ ۞ ۞ ۞

Ayat: 6-12

﴿يٰٓاَيُّهَا الْاِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيْمِۙ ٦ الَّذِيْ خَلَقَكَ فَسَوّٰىكَ فَعَدَلَكَۙ ٧ فِيْٓ اَيِّ صُوْرَةٍ مَّا شَاۤءَ رَكَّبَكَۗ ٨ كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُوْنَ بِالدِّيْنِۙ ٩ وَاِنَّ عَلَيْكُمْ لَحٰفِظِيْنَۙ ١٠ كِرَامًا كٰتِبِيْنَۙ ١١ يَعْلَمُوْنَ مَا تَفْعَلُوْنَ ١٢ ﴾

Kosa Kata Asing:

  1. غَرَّكَ (Gharraka): Artinya: menipumu. Dikatakan: “غَررْتُ فُلانًا” (Gharartu fulanan): Aku mendapatkan kelengahannya dan memperoleh darinya apa yang aku inginkan. الغِرَّةُ (Al-ghirrah): kelalaian dalam keadaan sadar. Dikatakan: “غرَّه بفُلانٍ” (Gharrahu bifulan): jika dia membuat seseorang merasa aman dari bahaya dari arah tertentu padahal tidak aman.
  2. فَسَوَّاكَ (Fasawwaka): Artinya: menjadikanmu sempurna dengan anggota tubuh dan kekuatan yang seimbang sesuai dengan hikmah dan kebutuhannya, dalam keadaan selamat. التَّسويةُ (At-taswiyah): menjadikan sesuatu seimbang, yaitu: diatur, ditegakkan dan selamat. Akar kata سوي (sawiy): menunjukkan kelurusan dan keseimbangan antara dua hal.
  3. فَعَدَلَكَ (Fa’adalaka): Artinya: menegakkan penciptaanmu dan menjadikannya seimbang. Akar kata عدل (‘adl): menunjukkan keselarasan.
  4. رَكَّبَكَ (Rakkabaka): Artinya: menempatkanmu dan menyusun komposisi anggota tubuhmu. Akar kata ركب (rakiba): menunjukkan sesuatu yang naik ke atas sesuatu yang lain.
  5. بِالدِّينِ (Bid-din): Artinya: pembalasan dan perhitungan. Dikatakan: “دِنْتُه بما صَنَع” (Dintuhu bima shana’a): Aku membalasnya atas apa yang dia lakukan. Akar kata دين (din): sejenis ketundukan dan kerendahan.

 

 

Penjabaran I’rab (Tata Bahasa):

Firman Allah Ta’ala: فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ [Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu]

فِي أَيِّ: Frasa preposisional (jar dan majrur) terkait dengan رَكَّبَكَ.

Dan مَا: Menurut cara ini adalah tambahan, dan kalimat شَاءَ berada pada posisi jar sebagai sifat untuk صُورَةٍ, dan seluruh kalimat adalah penjelasan untuk firman-Nya: فَعَدَلَكَ, perkiraan maknanya: “Dia menegakkanmu: Dia menyusunmu dalam bentuk apapun yang Dia kehendaki.”

Diperbolehkan juga bahwa frasa preposisional itu berada pada posisi hal (keterangan keadaan), artinya: “Dia menyusunmu dalam keadaan berada dalam bentuk apapun yang Dia kehendaki.”

Diperbolehkan juga bahwa مَا adalah syarat dalam posisi nasab sebagai maf’ul mutlaq (objek penegas), perkiraan maknanya: “Bentuk penyusunan apapun yang Dia kehendaki untuk menyusunmu.” شَاءَ adalah kata kerja syarat, dan رَكَّبَكَ adalah jawabannya, artinya: “Jika Dia menghendaki penyusunanmu dalam bentuk apapun selain bentuk ini, Dia akan menyusunmu padanya.” Dan seluruh kalimat syarat berada pada posisi jar sebagai sifat untuk صُورَةٍ, dan kata ganti yang kembali padanya dihilangkan, perkiraannya (padanya). فِي أَيِّ pada saat itu terkait dengan عَدَلَك, artinya: “Dia menegakkanmu dalam bentuk apapun.” Kemudian syarat dimulai kembali setelahnya, dan mereka tidak memperbolehkan dalam cara ini keterkaitan فِي أَيِّ dengan رَكَّبَكَ; karena objek yang berada dalam lingkup syarat tidak boleh didahulukan.

Makna keseluruhan:

Allah Ta’ala menegur manusia yang lalai dalam hak Tuhannya: “Wahai manusia, apa yang telah menipumu dan mendorongmu untuk berani kufur kepada Tuhanmu Yang Maha Mulia dan bermaksiat kepada-Nya?! Dialah yang menciptakanmu dan menjadikanmu sempurna dengan bentuk yang seimbang, dan membentukmu dalam rupa apapun yang Dia kehendaki!” Kemudian Allah Ta’ala menjelaskan sebab kesombongan dan kelalaian, dengan berfirman: “Tidak! Tidak ada sesuatu pun yang membenarkan kesombonganmu terhadap Allah Ta’ala, tetapi pendustaanmu terhadap kebangkitan dan perhitungan amallah yang mendorongmu kepada kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan.” Kemudian Allah Subhanahu menegaskan bahwa para malaikat mencatat apa yang dilakukan setiap manusia, berfirman: “Dan sesungguhnya bagi kalian -wahai manusia- ada malaikat-malaikat penjaga yang mulia yang mengawasi kalian, dan mencatat amalan-amalan kalian, dan mengetahui apa yang kalian lakukan berupa perkataan atau perbuatan.”

Tafsir Ayat-ayat:

“Wahai manusia, apakah yang telah memperdayamu terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.” (6)

Hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah Subhanahu pada ayat pertama mengabarkan tentang terjadinya pengumpulan dan kebangkitan, Dia melanjutkannya dengan apa yang secara logika menunjukkan kemungkinannya atau kejadiannya. Juga, ketika manusia yang percaya pada kebangkitan mungkin berkata dengan meremehkan beberapa dosa: “Tempat kembali kita adalah kepada Yang Maha Pemurah, dan Dia tidak akan melakukan terhadapku kecuali kebaikan”; Allah Subhanahu wa Ta’ala menghasilkan perkataan yang mengingkari orang yang berkata demikian karena terperdaya oleh tipu daya setan: “Wahai manusia, apakah yang telah memperdayamu terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.” (6)

Artinya: Wahai manusia, apakah yang telah menipumu dan membujukmu untuk berani kufur kepada Tuhanmu atau bermaksiat kepada-Nya, padahal Dia Maha Pemurah yang memiliki kesempurnaan dan keindahan, yang seharusnya disembah dan ditaati sebagai ungkapan syukur atas kebaikan-Nya, dan sebagai balasan atas kemurahan-Nya?!

“Yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.” (7)

Hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah Ta’ala menyifati diri-Nya dengan kemurahan; Dia menyebutkan ketiga hal ini sebagai bukti realisasi kemurahan tersebut.

Qiraat yang berpengaruh dalam tafsir:

  1. Qiraat: “Fa’adalaka” dengan meringankan dal, dikatakan: bermakna Allah memalingkanmu kepada bentuk apapun yang Dia kehendaki. Ada juga yang mengatakan: artinya memalingkanmu dari bentuk makhluk lain kepada bentuk yang baik yang berbeda dari seluruh makhluk. Dan ada yang mengatakan: makna qiraat yang ringan sama seperti qiraat yang berat, yaitu: menyeimbangkan sebagian anggota tubuhmu dengan sebagian lainnya hingga seimbang.
  2. Qiraat: “Fa’addalaka” dengan menguatkan dal, yaitu: menjadikanmu seimbang bentuknya, proporsional anggota tubuhnya.

“Yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.” (7)

Artinya: Yang telah mengadakanmu kemudian menjadikan penciptaanmu sempurna, utuh, dan rapi, sehingga kamu menjadi makhluk dengan bentuk yang seimbang, dengan anggota tubuh yang proporsional.

Sebagaimana Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Kemudian Kami jadikan sperma itu segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” [Al-Mu’minun: 14]

Dan Allah Subhanahu berfirman: “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya.” [As-Sajdah: 7]

Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” [At-Tin: 4]

“Di dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” (8)

Artinya: Allah menyusunmu -wahai manusia- dalam bentuk apapun yang Dia kehendaki untuk kamu berada padanya.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan Dia membentuk kamu lalu membaguskan rupamu.” [Ghafir: 64]

“Sekali-kali jangan begitu! Bahkan kamu mendustakan hari pembalasan.” (9)

Hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah Subhanahu menjelaskan dengan dalil-dalil logika kebenaran perkataan tentang kebangkitan dan pengumpulan secara umum, Dia melanjutkannya dengan penjelasan rinci tentang keadaan-keadaan yang berkaitan dengan hal tersebut.

“Sekali-kali jangan begitu! Bahkan kamu mendustakan hari pembalasan.” (9)

Artinya: Berhentilah dan jauhilah kekufuran terhadap Tuhanmu dan kemaksiatan kepada-Nya, karena yang wajib bagi orang yang telah menciptakanmu, menyempurnakanmu, menjadikanmu seimbang, dan membentukmu: ketaatan dan syukur kepada-Nya; maka tidak ada alasan bagimu untuk meninggalkan hal itu, dan yang mendorongmu untuk meninggalkannya adalah pendustaanmu terhadap hari akhir dimana manusia akan dihisab dan dibalas atas amal-amal mereka.

“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu),” (10)

Artinya: Dan sesungguhnya bagi kalian -wahai manusia- ada malaikat-malaikat penjaga yang mengawasi kalian, dan tidak menyia-nyiakan sedikitpun dari amal-amal kalian.

“Yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (perbuatanmu),” (11)

Hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah menetapkan penjagaan bagi mereka, Dia menyucikan para malaikat dari penambahan dan pengurangan, maka Dia berfirman:

“Yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (perbuatanmu),” (11)

Artinya: Mereka memiliki kesempurnaan dan keindahan dalam sifat-sifat penciptaan dan akhlak mereka, tidak menzalimi kalian, dan mencatat seluruh amal perbuatan kalian.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Ketika dua malaikat mencatat perbuatannya, yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri. Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” [Qaf: 17-18]

“Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (12)

Hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya: Ketika superioritas dan ungkapan dengan sifat -dalam firman-Nya: “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi”- memberikan pemahaman tentang luasnya pengetahuan terhadap perbuatan yang nampak, Allah menegaskannya dengan berfirman:

“Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (12)

Artinya: Para malaikat yang ditugaskan mencatat amal-amal kalian itu mengetahui semua yang kalian lakukan; baik berupa perkataan maupun perbuatan, baik atau buruk, lahir maupun batin.

Manfaat Pendidikan/Pelajaran:

1- Firman Allah Ta’ala: “Wahai manusia, apakah yang telah memperdayamu,” artinya: Wahai orang yang lalai, di belakangmu ada urusan yang berat dan bahaya yang besar, sementara kamu telah terperdaya dengan kemuliaan yang diberikan Tuhanmu kepadamu, ketika Dia menciptakanmu lalu menyempurnakanmu dan menjadikanmu seimbang, dalam bentuk apapun yang Dia kehendaki Dia menyusun tubuhmu, sehingga kamu sibuk dengan itu dan tidak mempersiapkan bekal untuk negeri yang kekal, dan kamu cenderung kepada negeri tipuan. Dan ketika kelalaian manusia menyebabkan terperdaya hingga lupa akan tempat kembali yang asli, Allah menyamakannya dengan pendustaan terhadap hari pembalasan, sehingga Dia berpaling darinya dengan firman-Nya: “Sekali-kali jangan begitu! Bahkan kamu mendustakan hari pembalasan,” dan ini seperti yang kamu lihat dari keadaan orang yang terus-menerus dalam urusan dunia dari kalangan orang-orang yang mengaku Islam, ketika dia mendengar sesuatu tentang urusan akhirat dia merasa tidak nyaman dan muak; karena terlalu asyik dengan kenikmatan dunia. Ini berdasarkan bahwa firman-Nya: “manusia” -di sini- mencakup semua orang yang berbuat maksiat.

2- Dalam firman Allah Ta’ala: “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (perbuatanmu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Bahwa Allah telah menempatkan di atasmu malaikat-malaikat yang mulia yang mencatat ucapan dan perbuatanmu, dan mereka mengetahui perbuatanmu, dan ini mencakup perbuatan hati dan perbuatan anggota tubuh, maka sudah sepatutnya bagi kalian untuk memuliakan, mengagungkan, dan menghormati mereka. Maka bagi seorang muslim ketika dia sendirian dalam suatu urusan dan setan membujuknya untuk melakukan perbuatan keji karena orang-orang tidak melihatnya, dan bahwa tidak ada yang mengawasinya, seperti orang yang berduaan dengan seorang wanita di tempat yang terkunci, merasa aman dari pandangan manusia di dalamnya, lalu setan membujuknya untuk melakukan perbuatan mencurigakan dengannya – hendaklah dia menyadari bahwa Allah mengawasinya, dan bahwa para malaikat yang mulia bersamanya “Maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka)” [Al-A’raf: 7], dan seseorang harus beribadah kepada Allah seakan-akan dia melihat-Nya, dan jika dia tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihatnya.

3- Dari firman Allah Ta’ala: “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (perbuatanmu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan,” dapat diambil kesimpulan bahwa keempat sifat ini adalah pilar sifat-sifat yang disyaratkan bagi setiap orang yang menjalankan tugas untuk umat dalam Islam dari para pemimpin dan selain mereka; karena mereka adalah penjaga kepentingan apa yang dititipkan kepada mereka, dan yang pertama dari penjagaan adalah: amanah dan tidak lalai, dan mereka harus memiliki kemuliaan: yaitu kesucian fitrah, maksudnya kesucian jiwa, dan ketepatan dalam apa yang ada di bawah tanggung jawabnya sehingga kepentingan umum maupun khusus tidak tersia-sia, dengan cara apa yang dikeluarkannya tertulis atau seperti tertulis, terjaga dan tidak bisa diubah, dan memungkinkan bagi setiap orang yang menjalankan tugas tersebut setelah orang yang melaksanakannya atau ketika dia tidak ada untuk mengetahui apa yang telah dilakukan dalam tugas tersebut, dan ini adalah dasar yang agung dalam menyusun arsip untuk peristiwa-peristiwa dan aturan-aturan, dan dari sinilah muncul kantor-kantor para hakim, buku-buku catatan para saksi, surat-surat resmi, dan pengeluaran salinan putusan, wakaf, dan akad nikah; dan dari keluasan ilmu tentang hal-hal yang berkaitan dengan keadaan yang dipercayakan kepada orang yang diberi amanah sehingga tidak seorangpun yang berhubungan dengan suatu jabatan dapat menipunya dengan sesuatu, atau memalsukan kebenaran padanya, sehingga terhindar darinya kesalahan dan kekeliruan dalam membedakan urusan-urusan semaksimal mungkin, dan ilmu yang dibutuhkan berbeda-beda sesuai dengan perbedaan pekerjaan, maka didahulukan dalam setiap jabatan orang yang paling mengetahui tentang apa yang dituntut jabatannya dari pekerjaan, dan apa yang bergantung pada bakat dan pengetahuan; maka syarat yang diterapkan pada hakim tidak sama dengan yang diterapkan pada komandan tentara misalnya, dan sesuai dengan perbedaan sifat-sifat yang dituntut oleh salah satu jabatan itulah penentuan siapa yang lebih diutamakan untuk diberikan jabatan tersebut dibandingkan yang lain; demi menjaga kepentingan umat, maka didahulukan dalam setiap jabatan orang yang lebih kompeten untuk menguasai pekerjaannya, dan lebih mampu untuk menjalankannya.

Maka ayat ini seakan-akan menjadi petunjuk tentang apa yang seharusnya diperhatikan oleh para pemimpin dalam memilih para penulis dan orang-orang yang amanah; karena itulah mereka berkata: hakim harus memilih seorang penulis yang amanah, baik tulisannya, dan memahami.

4- Tidak ada yang lebih hina daripada orang yang tidak malu terhadap Yang Maha Mulia Yang Agung Kedudukannya, dan tidak menghormati-Nya dan tidak memuliakan-Nya, dan Allah Subhanahu telah mengingatkan tentang kewajiban malu terhadap malaikat yang tidak berpisah dari kita dan kewajiban memuliakan mereka dengan firman-Nya: “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (perbuatanmu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan,” artinya: Malulah kalian terhadap para penjaga yang mulia ini, dan muliakanlah mereka dan hormatilah mereka agar mereka tidak melihat dari kalian apa yang kalian merasa malu jika dilihat oleh orang seperti kalian dalam keadaan tersebut, dan para malaikat terganggu oleh apa yang mengganggu anak Adam, dan jika anak Adam merasa terganggu oleh orang yang berbuat maksiat dan durhaka di hadapannya, meskipun dia melakukan seperti perbuatan orang itu, maka bagaimana dengan gangguan terhadap para malaikat yang mulia yang mencatat?! Dan hanya kepada Allah-lah kita memohon pertolongan.

5- Dari ‘Atha bin Abi Rabah: (Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian tidak menyukai perkataan yang berlebihan, dan mereka menganggap sebagai perkataan berlebihan apa saja selain membaca kitab Allah Ta’ala, atau memerintahkan kebaikan atau melarang kemungkaran, atau berbicara tentang kebutuhanmu dalam penghidupanmu yang tidak bisa kamu tinggalkan. Apakah kalian mengingkari “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (perbuatanmu), (yaitu malaikat-malaikat) yang duduk di sebelah kanan dan di sebelah kiri. Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)” [Qaf: 17-18]?! Tidakkah salah seorang dari kalian malu seandainya catatan yang dia dikte di awal siang harinya dibuka dan kebanyakan isinya bukan berkaitan dengan urusan agama atau dunianya?!)

Manfaat Ilmiah dan Hikmah-hikmah:

1- Dalam firman Allah Ta’ala: “Wahai manusia, apakah yang telah memperdayamu terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang,” ada pertanyaan: Bahwa landasan argumentasi ini adalah bahwa Allah Ta’ala Maha Bijaksana; oleh karena itulah Allah berfirman dalam surat At-Tin setelah argumentasi ini: “Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?” [At-Tin: 8], maka mengapa dalam surat ini Dia tidak berfirman: “apa yang telah memperdayamu terhadap Tuhanmu Yang Maha Bijaksana”? Jawabannya: Bahwa Yang Maha Pemurah harus menjadi Yang Maha Bijaksana; karena memberikan nikmat kepada orang lain jika tidak berdasarkan pada motif kebijaksanaan, maka itu adalah pemborosan bukan kemurahan hati, tetapi jika berdasarkan pada motif kebijaksanaan maka pada saat itulah disebut kemurahan hati.

2- Firman Allah Ta’ala: “Wahai manusia, apakah yang telah memperdayamu terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.” Jika ditanyakan: Apa kesesuaian penyebutan sifat Maha Pemurah di sini untuk celaan atas terperdaya? Jawabannya: Bahwa Yang Maha Pemurah sudah sepatutnya disembah dan ditaati; sebagai ungkapan syukur atas kebaikan-Nya, dan sebagai balasan atas kemurahan-Nya, dan barangsiapa tidak melakukan itu maka dia telah mengingkari nikmat, dan menyia-nyiakan syukur yang wajib.

3- Dalam firman Allah Ta’ala: “Wahai manusia, apakah yang telah memperdayamu terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.” Ada pertanyaan: Bahwa keberadaan Allah Subhanahu sebagai Yang Maha Pemurah menuntut agar manusia terperdaya oleh kemurahan-Nya; maka bagaimana di sini menjadikannya sebagai penghalang dari terperdaya oleh-Nya?!

Jawaban dari beberapa segi:

Pertama: Bahwa makna ayat: Ketika engkau melihat kesabaran Allah terhadap makhluk-Nya, engkau menyangka bahwa itu karena tidak ada perhitungan, dan tidak ada negeri kecuali negeri ini, maka apa yang mendorongmu kepada keterperdayaan ini, dan membuatmu berani mengingkari pengumpulan dan kebangkitan?! Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pemurah, maka karena kemurahan-Nya Dia tidak menyegerakan hukuman; untuk memperpanjang masa tobat, dan menunda balasan hingga Dia mengumpulkan manusia di negeri yang Dia jadikan untuk mereka sebagai tempat pembalasan. Kesimpulannya adalah bahwa tidak menyegerakan hukuman adalah karena kemurahan hati, dan itu tidak mengharuskan keterperdayaan bahwa tidak ada negeri setelah negeri ini.

Kedua: Bahwa ketika kemurahan-Nya mencapai hingga tidak mencegah dari orang yang bermaksiat hidangan kelembutan-Nya, maka untuk membalas bagi orang yang dizalimi terhadap yang menzalimi adalah lebih utama, maka dengan demikian, sifat-Nya sebagai Yang Maha Pemurah menuntut ketakutan yang hebat dari pertimbangan ini, dan meninggalkan keberanian dan keterperdayaan.

Ketiga: Bahwa banyaknya kemurahan hati mewajibkan kesungguhan dan keseriusan dalam pelayanan, dan rasa malu dari keterperdayaan dan kemalasan.

4- Allah Ta’ala berfirman: “Sekali-kali jangan begitu! Bahkan kamu mendustakan hari pembalasan.” Menurut pendapat bahwa “kalla” (sekali-kali jangan begitu) adalah bantahan terhadap adanya sesuatu yang memperdaya manusia untuk menyekutukan Allah, maka ayat ini adalah penjelasan tentang apa yang membuat mereka berani untuk menyekutukan Allah, dan bahwa itu bukanlah keterperdayaan; karena tidak ada kesamaran bagi mereka dalam menyekutukan Allah sehingga kesamaran itu menjadi seperti keterperdayaan, tetapi mereka bersikeras dalam menyekutukan karena mereka menganggap diri mereka aman dari akibatnya, sehingga mereka memilih untuk terus melakukannya karena itulah keinginan hawa nafsu mereka, dan mereka tidak peduli bahwa itu adalah kebatilan yang nyata. Mereka mendustakan pembalasan; itulah sebab keteguhan mereka semua untuk melakukan syirik meskipun kemampuan pemahaman mereka berbeda-beda dimana sebagian mereka tidak tersembunyi kebatilan bahwa batu-batu adalah tuhan. Tidakkah kamu lihat bahwa mereka tidak melihat azab kecuali azab dunia?! Dan berdasarkan hal ini, di dalamnya terdapat isyarat bahwa pengingkaran kebangkitan adalah induk dari segala kejahatan.

5- Dalam firman Allah Ta’ala: “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (perbuatanmu),” ada pertanyaan: Apa hikmah bahwa Allah ‘Azza wa Jalla menugaskan kepada kita para malaikat yang mulia yang mencatat, yang mengetahui apa yang kita lakukan, padahal Allah Ta’ala mengetahui segala sesuatu?

Jawabannya: Hikmah dari hal itu adalah untuk menjelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengatur dan menetapkan segala sesuatu, dan menyempurnakannya dengan kesempurnaan yang rapi, sehingga Dia Subhanahu wa Ta’ala menempatkan atas perbuatan dan perkataan anak Adam para malaikat yang mulia yang mencatat yang ditugaskan bagi mereka untuk menulis apa yang mereka lakukan, meskipun Dia Subhanahu wa Ta’ala mengetahui apa yang mereka lakukan sebelum mereka melakukannya, tetapi semua ini untuk menunjukkan kesempurnaan perhatian Allah ‘Azza wa Jalla terhadap manusia, dan kesempurnaan penjagaan-Nya Tabaraka wa Ta’ala, dan bahwa alam semesta ini diatur dengan sistem terbaik, dan disempurnakan dengan kesempurnaan terbaik, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

6- Allah Ta’ala berfirman: “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (perbuatanmu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Bahwa Allah menyifati mereka dengan sifat-sifat ini menunjukkan bahwa Dia Ta’ala memuji mereka, dan mengagungkan kedudukan mereka, dan dalam pengagungan para pencatat dengan pujian atas mereka terdapat pengagungan terhadap urusan balasan, dan bahwa itu di sisi Allah termasuk urusan-urusan yang penting, dan jika bukan karena itu, Dia tidak akan menugaskan para malaikat yang mulia, para penjaga dan para pencatat untuk mencatat apa yang Dia akan menghisab dan membalas dengannya.

7- Telah ditetapkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa siapa yang berniat melakukan kebaikan namun tidak melakukannya, akan dicatat sebagai satu kebaikan, dan siapa yang berniat melakukan keburukan namun tidak melakukannya, juga akan dicatat sebagai satu kebaikan. Yang diketahui bahwa yang mencatat adalah para malaikat; Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi, (yaitu) malaikat-malaikat yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (perbuatan-perbuatanmu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Berdasarkan ini, maka para malaikat memiliki pengetahuan tentang apa yang ada dalam hati, dan hal itu tidak aneh; sebab Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia: “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya” [Qaf: 16]. Dia Maha Mengetahui hal itu, dan Allah boleh memberitahukan kepada para malaikat apa yang Dia ketahui tentang keadaan seseorang, dan pengetahuan mereka tentang hal itu adalah melalui perantara ilmu Allah ‘Azza wa Jalla. Mungkin juga mereka mengetahui hal itu melalui gerakan yang terjadi pada hati; karena niat adalah gerakan hati, yaitu ketika seseorang berniat melakukan sesuatu, hatinya bergerak, dan para malaikat mengetahui apa yang terjadi melalui gerakan hati. Dan jika setan bisa mengalir dalam diri anak Adam seperti mengalirnya darah, dan bisa sampai ke dalam hatinya; maka tidak heran jika para malaikat mengetahui apa yang terjadi dalam hati manusia.

8- Dalam firman Allah Ta’ala: “Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan” bahwa mereka mengetahui perbuatan-perbuatan tersebut sehingga memungkinkan mereka untuk mencatatnya, dan ini merupakan peringatan bahwa manusia tidak boleh memberikan kesaksian kecuali setelah mengetahui.

9- Dalam firman Allah Ta’ala: “Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan”, Al-Husain bin Al-Fadhl berkata: “(Ketika Allah berfirman: “Mereka mengetahui” dan tidak berfirman: “Mereka mencatat”, hal ini menunjukkan bahwa tidak semua dicatat, sehingga tidak termasuk kelupaan, kesalahan, dan apa yang tidak ada konsekuensinya).”

Keindahan ayat-ayat:

1- Firman Allah Ta’ala: “Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah? Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu” – Firman-Nya: “Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah” merupakan permulaan baru, karena apa yang sebelumnya adalah seperti pendahuluan baginya; untuk mempersiapkan pendengar menerima nasihat ini; karena ancaman dan peringatan sebelumnya mempersiapkan jiwa untuk menerima nasihat; karena nasihat akan lebih meresap ke dalam hati pada saat itu; karena perasaan pendengar yang hatinya telah luluh dan lembut, sehingga hilang darinya kesombongan dan pembangkangan, dan muncul dalam jiwa antisipasi terhadap sesuatu setelah itu.

  • Seruan “Wahai manusia” adalah untuk memberikan perhatian yang menunjukkan pentingnya perkataan dan ajakan untuk mendengarkannya. Seruan ini tidak dimaksudkan untuk meminta perhatian, dan tidak ditujukan kepada seseorang tertentu atau kelompok tertentu, melainkan pembicara mengarahkannya kepada setiap orang yang mendengarkannya, baik dengan sengaja maupun tidak.
  • Definisi “manusia” dalam firman-Nya: “Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah”, dikatakan: ini adalah definisi jenis yang dimaksudkan untuk keumuman, dan keumuman ini ditujukan kepada mereka yang mengingkari kebangkitan; berdasarkan kenyataan bahwa ini datang setelah peringatan tentang terjadinya kebangkitan, dan ini dibuktikan oleh firman-Nya setelah itu: “Tetapi kamu mendustakan hari pembalasan” [Al-Infithar: 9]; jadi maknanya adalah: wahai manusia yang mengingkari kebangkitan, dan tidak ada yang mengingkari kebangkitan kecuali orang musyrik; karena pengingkaran kebangkitan dan kesyirikan saling terkait saat itu. Ini adalah contoh pernyataan umum yang dimaksudkan khusus berdasarkan konteks, atau dari generalisasi berdasarkan kebiasaan; karena mayoritas orang yang diajak bicara pada awal dakwah Islam adalah kaum musyrik.

Dan dikatakan: yang dimaksud dengan “manusia” adalah keumuman; karena firman-Nya: “Wahai manusia” sampai firman-Nya: “mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan” adalah seperti sisipan di antara dua bagian yaitu pengumpulan dan klasifikasi; karena firman-Nya: “maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya” adalah umum yang mencakup orang-orang yang berbuat buruk dan orang-orang yang berbuat baik, dan firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (surga), dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka” adalah klasifikasi yang mengandung makna pemisahan; karena ketika Allah Ta’ala menjelaskan keadaan kiamat dengan terbelahnya langit, bertebarannya bintang-bintang, meluapnya lautan, dan kebangkitan dari kubur, kemudian setiap jiwa, baik yang berbuat baik maupun buruk, mengetahui perbuatannya, baik dan buruknya; Dia membangunkan jenis manusia dari kelalaian dan kebodohan dengan firman-Nya: “Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu”.

  • Pemilihan kata “Rabb-mu” untuk menyebut Allah daripada menyebutkan nama “Allah”; karena dalam makna “Rabb” terkandung kepemilikan, penciptaan, dan kelembutan; di dalamnya terdapat pengingat bagi manusia tentang hak Tuhan untuk ditaati oleh hamba-Nya; ini adalah bentuk celaan secara tidak langsung.
  • Penggunaan sifat “Maha Pemurah” daripada sifat-sifat Allah lainnya; untuk mengingatkan tentang nikmat-Nya kepada manusia dan kelembutan-Nya kepada mereka; karena Yang Maha Pemurah berhak mendapatkan syukur dan ketaatan. Juga, penyebutan “Maha Pemurah” dan penunjukan kepada kemuliaan-Nya; untuk menekankan larangan terhadap sikap tertipu; karena kemurahan hati semata tidak mengharuskan mengabaikan orang zalim, menyamakan antara pendukung dan penentang, yang taat dan yang durhaka; ini untuk menunjukkan bahwa hal itu bukanlah sesuatu yang pantas menjadi dasar untuk tertipu; setan membujuknya dan berkata kepadanya: Lakukanlah apa yang kamu inginkan; sesungguhnya Tuhanmu Maha Pemurah, Dia telah memberi karunia kepadamu di dunia, dan Dia akan melakukan hal yang sama di akhirat, dan tidak akan mengazab siapapun dan tidak akan mempercepat hukuman; karena ini adalah analogi yang salah dan harapan yang batil. Sebaliknya, ini justru mewajibkan lebih bersungguh-sungguh dalam iman dan ketaatan, serta menjauhi kekufuran dan kemaksiatan, seolah-olah dikatakan: Apa yang membuatmu bermaksiat kepada Tuhanmu yang memiliki sifat-sifat yang mencegah dari hal itu dan mengajak kepada kebalikannya?! Ini adalah celaan dan teguran, bukan memberikan harapan; maka penunjukan kepada banyaknya kemurahan-Nya menuntut kesungguhan dalam menaati-Nya, bukan tenggelam dalam kemaksiatan kepada-Nya karena tertipu dengan kemurahan-Nya.
  • Firman-Nya: “Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang” adalah sifat kedua yang menegaskan sifat ketuhanan, menjelaskan kemurahan hati, dan mengingatkan bahwa Siapa yang mampu melakukan itu pada awalnya, mampu pula melakukannya kembali.
  • Sifat ketiga yang terkandung dalam sambungan “dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja” mencakup banyak hal yang telah diisyaratkan oleh dua sifat pertama “menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu”; karena penciptaan, penyempurnaan, penyeimbangan, dan memperindah bentuk adalah bentuk kelembutan terhadap makhluk, dan semua itu adalah nikmat baginya. Semua ini merupakan celaan secara tidak langsung atas pengingkaran nikmat-Nya dengan menyembah selain-Nya.
  • Firman-Nya: “Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang” berisi penghitungan sifat-sifat meskipun sebagiannya bisa cukup tanpa menyebutkan yang lain; karena penyempurnaan adalah salah satu keadaan dari penciptaan, dan penyebutannya bisa cukup tanpa menyebutkan penciptaan, seperti firman-Nya: “lalu Dia menyempurnakan tujuh langit” [Al-Baqarah: 29], tetapi tujuannya adalah untuk menunjukkan tingkatan-tingkatan nikmat. Ini adalah bentuk pengulangan yang dimaksudkan untuk mengingatkan akan setiap hubungan dan menjelaskannya secara khusus, dan di antara keharusan pengulangan adalah dalam konteks celaan.
  • Kata “menyempurnakan kejadianmu” dicabangkan dari “menciptakan kamu”, dan kata “menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang” dicabangkan dari “menyempurnakan kejadianmu” sebagai cabang dalam penyebutan; mengingat bahwa makna-maknanya tersusun secara berurutan dalam pertimbangan orang yang mempertimbangkan, meskipun semuanya terjadi dalam satu waktu; karena ini adalah tahapan-tahapan pembentukan dari sejak menjadi gumpalan daging hingga sempurna penciptaannya, sehingga huruf fa’ (lalu) dalam penggabungannya memiliki kesan yang sangat baik.
  • Firman-Nya: “dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang” dibaca dengan tasydid (penekanan) pada huruf dal, dan dibaca juga tanpa tasydid, keduanya berdekatan maknanya, kecuali bahwa tasydid menunjukkan penekanan dalam keseimbangan -yaitu: penyempurnaan- sehingga memberikan makna kesempurnaan pembuatan.
  • Pertanyaan dalam “dalam bentuk apa saja” dimaksudkan sebagai kiasan tentang kekaguman atau membuat kagum tentang keadaan dari apa yang disandarkan pada kata (ayyu/apa saja); karena sesuatu ketika mencapai kesempurnaan dan keagungan pada tingkat yang kuat, orang akan bertanya tentangnya dan mempertanyakan keadaannya, dan dari sinilah muncul makna bahwa kata (ayyu/apa saja) menunjukkan kesempurnaan.
  • Firman-Nya: “dalam bentuk apa saja”, artinya: dalam bentuk yang sempurna dan indah.
  • Huruf (fi/dalam) menunjukkan keterangan tempat yang bermakna keterlibatan, artinya: Dia menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang dalam bentuk yang mengagumkan. Jadi kedudukan “dalam bentuk apa saja” adalah sebagai keterangan keadaan dari kata ganti “kamu”, dan yang mempengaruhi keadaan itu adalah kata “menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang”, atau “menyusun tubuhmu”. Maka bentuk yang mengagumkan dijadikan seperti wadah bagi yang dibentuk dengannya; untuk menunjukkan keteguhannya pada yang disifatinya.
  • Firman-Nya: “yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu” adalah penjelasan; karena ketika dikatakan: “dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja” dengan maksud kekaguman dan untuk memberikan kesan keagungan, maka dikatakanlah: apa itu penyeimbangan yang agung, yang mengagumkan keadaannya? Dan dijawab: penjelasan tidak dapat mencakup hal itu; karena itu sebagaimana Allah kehendaki Dia menyusun tubuhmu, dan tidak ada yang mengetahui hal itu kecuali Dia.
  • Dan (ما) bisa menjadi kata penghubung (mawshulah), yang maknanya: penyusunan, dan ia berada pada posisi nasb sebagai objek mutlak, dan (شاء/kehendaki) adalah hubungan dari (ما), dan kata ganti yang kembali padanya dihilangkan, yang perkiraannya: kehendaki-nya, dan maknanya: Dia menyusun tubuhmu dengan penyusunan yang Dia kehendaki. Ekspresi telah beralih dari menyebutkan dengan jelas kata benda dari kata “menyusun tubuhmu” menjadi penyamaran dengan (ما) yang berfungsi sebagai penghubung; untuk menunjukkan penyisipan kata yang disambungkan dengan (ما) dalam hubungannya yaitu kehendak yang disandarkan pada kata ganti Tuhan Yang Maha Pencipta, Yang Maha Kreator, Yang Maha Bijaksana, dan cukuplah dengan itu. Dan bisa juga kalimat (شاء/kehendaki) menjadi sifat untuk kata (صورة/bentuk), dan kata penghubungnya dihilangkan, dan (ما) ditambahkan untuk penekanan, dan perkiraannya: dalam bentuk yang agung yang Dia kehendaki dengan kehendak tertentu, yaitu: dengan pengaturan dan ketentuan.

2- Firman Allah Ta’ala: “Sekali-kali tidak! Bahkan kamu mendustakan hari pembalasan.”

  • “Sekali-kali tidak” adalah penolakan terhadap sikap tertipu oleh kemurahan Allah Ta’ala, dan menjadikannya sebagai dalih untuk kekufuran dan kemaksiatan, padahal seharusnya itu menjadi kewajiban untuk bersyukur dan taat. Firman-Nya: “Bahkan kamu mendustakan hari pembalasan” adalah perpindahan dari kalimat yang tersirat yang terindikasi dari pembicaraan sebelumnya, seolah-olah dikatakan setelah penolakan sebagai bentuk sisipan: dan kalian tidak berhenti dari itu, bahkan kalian berani melakukan yang lebih besar dari itu, di mana kalian mendustakan pembalasan dan kebangkitan secara keseluruhan, atau agama Islam yang keduanya merupakan bagian dari hukum-hukumnya, maka kalian tidak mempercayai pertanyaan maupun jawaban, tidak mempercayai pahala maupun siksa. Dan dikatakan: seolah-olah dikatakan: kalian tidak berjalan lurus sesuai dengan yang diwajibkan oleh nikmat-nikmat-Ku kepada kalian, dan petunjuk-Ku bagi kalian, bahkan kalian mendustakan… dst. Dan dikatakan: Tidaklah perkara itu seperti yang kalian katakan bahwa tidak ada kebangkitan dan tidak ada dikumpulkan kembali, kemudian dikatakan: kalian tidak menjelaskan dengan penjelasan ini, bahkan kalian mendustakan hari pembalasan. Dan firman-Nya: “Bahkan kamu mendustakan hari pembalasan” di dalamnya terdapat peningkatan dari yang ringan kepada yang lebih berat.

Dan dikatakan: “Sekali-kali tidak” adalah penolakan terhadap apa yang merupakan tipuan terhadap Allah, atau seperti tipuan, dari apa yang terkandung dalam firman-Nya: “apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah” [Al-Infithar: 6] berupa terjadinya apa yang menipu manusia dengan kesyirikan, dan dari keberpalingannya dari nikmat-nikmat Allah Ta’ala dengan kekufuran, atau dari keadaan orang musyrik yang seperti keadaan orang yang tertipu. Maknanya: kesyirikanmu terhadap Penciptamu adalah batil, dan itu adalah tipuan, atau seperti tipuan. Dan firman-Nya: “Bahkan kamu mendustakan hari pembalasan” setelah “Sekali-kali tidak” merupakan perpindahan dari tujuan mencela dan melarang kekufuran kepada penyebutan dosa besar lainnya, yaitu pendustaan terhadap kebangkitan dan pembalasan, dan ini termasuk celaan dengan larangan karena ia terhubung dengan celaan dan larangan. Dan bisa juga “Sekali-kali tidak” adalah pembatalan adanya sesuatu yang menipu manusia untuk menyekutukan Allah, yaitu: tidak ada alasan bagi manusia dalam menyekutukan Allah; karena tidak ada yang menipunya dengan itu. Dan firman-Nya: “Bahkan kamu mendustakan” adalah perpindahan yang membatalkan, dan apa yang ada setelah “bahkan” adalah penjelasan tentang apa yang membuat mereka berani untuk menyekutukan, dan bahwa itu bukanlah tipuan.

  • Dalam bentuk kata kerja present (mudhari’) dari firman-Nya: “kamu mendustakan hari pembalasan” terdapat indikasi bahwa pendustaan mereka terhadap pembalasan terus diperbarui dan mereka tidak berhenti darinya, dan itu adalah penyebab berlanjutnya kekufuran mereka. Dalam bentuk present juga terdapat pemaparan keadaan pendustaan ini yang menuntut kekaguman terhadap pendustaan mereka; karena mereka memiliki bukti-bukti yang seharusnya menghentikan pendustaan mereka terhadap pembalasan.

3- Firman Allah Ta’ala: “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan” adalah sambungan pada kalimat “kamu mendustakan hari pembalasan” [Al-Infithar: 9]; sebagai penegasan adanya pembalasan terhadap perbuatan. Perkataan ini diperkuat dengan huruf (إن/sesungguhnya) dan lam ibtida’; karena mereka mengingkari hal itu dengan pengingkaran yang kuat.

  • Firman-Nya: “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu)” adalah penegasan terhadap apa yang mereka dustakan berupa pembalasan, dan menunjukkan kebatilan pendustaan mereka, artinya: kalian mendustakan pembalasan, padahal para pencatat menulis perbuatan-perbuatan kalian untuk kalian dibalas dengannya.
  • Kata “yang mengawasi” adalah sifat untuk kata yang dihilangkan, yang perkiraannya: sungguh malaikat-malaikat yang mengawasi, yaitu: yang menghitung tanpa melewatkan sesuatu pun dari perbuatan-perbuatan kalian.
  • Malaikat disebutkan dalam bentuk jamak berdasarkan pembagian mereka atas manusia, dan setiap orang memiliki dua malaikat; Allah Ta’ala berfirman: “(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” [Qaf: 17-18].
  • Di dalamnya terdapat peringatan, ancaman, dan rasa malu bagi para pelaku maksiat, serta kelembutan bagi orang-orang beriman.
  • Dan juga firman-Nya: “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu)” dengan makna tersurat memberikan makna tersirat tentang terjadinya pembalasan; karena jika bukan karena pembalasan atas perbuatan, maka perhatian untuk menghitungnya akan menjadi sia-sia.

 

  • Dan para malaikat yang ditugaskan untuk menghitung amal-amal manusia diberi empat sifat; yaitu: penjagaan, kemuliaan, pencatatan, dan pengetahuan tentang apa yang dilakukan manusia. Dimulai dari sifat penjagaan; karena itulah tujuan yang menjadi alasan perkataan tersebut, yaitu menetapkan adanya pembalasan atas semua perbuatan, kemudian disebutkan setelahnya tiga sifat yang melengkapi penjagaan dan penghitungan, dan di dalamnya terdapat penghormatan terhadap kedudukan para malaikat yang menjaga.
  • Penjagaan di sini bermakna pemeliharaan dan pengawasan, dan dengan makna ini kata tersebut memerlukan preposisi untuk objeknya, yaitu (على/atas); karena mengandung makna pengawasan. Al-Hafidz berarti pengawas; Allah Ta’ala berfirman: “Allah adalah Maha Pemelihara terhadap mereka” [Asy-Syura: 6]. Penggunaan ini berbeda dengan penggunaan kata “penjagaan” yang langsung ke objeknya; karena itu bermakna perlindungan, seperti firman-Nya: “mereka menjaganya atas perintah Allah” [Ar-Ra’d: 11]; maka penjagaan dengan penggunaan ini mencakup makna pemeliharaan dan pelaksanaan terhadap apa yang dipercayakan kepada penjaga, dan amanah atas apa yang dipercayakan kepadanya. Huruf (على/atas) di sini menunjukkan ketinggian; karena mengandung makna pengawasan dan otoritas.

۞ ۞ ۞ ۞ ۞

Ayat: 13-19

﴿اِنَّ الْاَبْرَارَ لَفِيْ نَعِيْمٍۙ ١٣ وَّاِنَّ الْفُجَّارَ لَفِيْ جَحِيْمٍ ١٤ يَصْلَوْنَهَا يَوْمَ الدِّيْنِ ١٥ وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَاۤىِٕبِيْنَۗ ١٦ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا يَوْمُ الدِّيْنِۙ ١٧ ثُمَّ مَآ اَدْرٰىكَ مَا يَوْمُ الدِّيْنِۗ ١٨ يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْـًٔا ۗوَالْاَمْرُ يَوْمَىِٕذٍ لِّلّٰهِ ࣖ ١٩ ﴾

Kosa kata yang tidak biasa:

Al-Abrar: yaitu orang-orang beriman, orang-orang yang benar dalam iman mereka, yang patuh kepada Tuhan mereka. Dikatakan: asal kata (barara) di sini adalah kejujuran. Dikatakan: “yabarru rabbahu” artinya menaati-Nya, dan ini termasuk kejujuran. Dikatakan juga: Ketika “al-barr” (daratan) adalah kebalikan dari “al-bahr” (lautan), dan digambarkan sebagai keluasan, maka dari kata ini diturunkan kata “al-birr” yang berarti keluasan dalam berbuat kebaikan. Dikatakan: “barra al-‘abdu rabbahu” artinya memperluas ketaatannya, dan asal kata (barara) di sini – berdasarkan penjelasan tersebut – adalah kebalikan dari lautan.

Al-Fujjar: yaitu orang-orang kafir, bentuk jamak dari “fajir”, yaitu orang yang melampaui batas dalam maksiat dan hal-hal yang diharamkan. Dikatakan: “fajara yafjuru fujuran”, maka dia adalah “fajir”. “Al-fujur” artinya melampaui batas dan membelah diri dalam kemaksiatan. Asal kata (fajara) adalah membelah sesuatu. Dikatakan juga: “Al-fajr” artinya membelah sesuatu dengan belahan yang lebar, dan “al-fujur” artinya membelah tirai keagamaan.

Penjelasan tentang I’rab (tata bahasa):

Firman Allah Ta’ala: “Tsumma ma adraka ma yaumud din * yauma la tamliku nafsun linafsin syai’an” – kata “Yauma” dibaca dengan fathah, dan ini adalah fathah i’rab karena disandarkan pada kata kerja (fi’il) yang mu’rab. Kata ini dinashabkan sebagai objek (maf’ul) dengan menyembunyikan kata “a’ni” (yang saya maksud) atau “udzkur” (ingatlah), atau dinashabkan sebagai keterangan waktu (zharf zaman) dengan perkiraan kata “yujazauna” (mereka akan diberi balasan) atau “yudanuna” (mereka akan dihisab). Atau kata ini dinashabkan sebagai pengganti (badal) dari kata “yauma” dalam firman Allah: “yashlauna yauma din”. Ada yang mengatakan: fathah-nya adalah fathah bina (pembentukan kata) menurut pendapat ulama Kufah, dan dalam hal ini menjadi khabar dari mubtada’ yang dihilangkan, yaitu: “huwa yauma la tamliku” (yaitu pada hari tidak ada satu jiwa pun yang berkuasa). Kata ini dibangun karena disandarkan pada kata kerja “tamliku” meskipun mu’rab, atau kata ini dibangun dalam posisi rafa’ sebagai pengganti (badal) dari kata “yaumu” yang sebelumnya dalam firman-Nya: “wa ma adraka ma yaumud din”.

Makna Keseluruhan:

Allah Ta’ala berfirman menjelaskan keadaan manusia pada hari kiamat: Sesungguhnya orang-orang beriman yang taat berada dalam surga menikmati kenikmatan di dalamnya, dan sesungguhnya orang-orang kafir yang durhaka berada dalam api neraka Jahim, mereka memasukinya dan merasakan panasnya pada hari perhitungan dan pembalasan. Dan mereka tidak akan keluar darinya, melainkan mereka akan tetap berada di dalamnya selamanya. Kemudian Allah Ta’ala berfirman menjelaskan dahsyatnya hari kiamat: Dan apakah yang memberitahukan kepadamu tentang hari perhitungan dan pembalasan, kemudian apakah yang memberitahukan kepadamu tentang hakikat hari yang agung dan mengerikan itu?! Hari itu adalah hari dimana seseorang tidak memiliki kemampuan untuk memberi manfaat kepada orang lain, dan tidak bisa menyelamatkannya dari apa yang sedang dialaminya, dan kekuasaan serta pengaturan pada hari itu hanyalah milik Allah semata.

Tafsir Ayat-ayat:

“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan” (13).

Kesesuaian ayat ini dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah Ta’ala mendeskripsikan para malaikat mulia yang mencatat amal perbuatan hamba-hamba-Nya, Dia menyebutkan keadaan para pelaku amal tersebut dan membagi mereka menjadi dua kelompok. Dan juga karena hasil dari pencatatan amal adalah balasan atasnya, maka hal itu menghasilkan penjelasan tentang tujuan pencatatan tersebut; untuk membedakan antara orang yang berbuat baik dan yang berbuat buruk, yang tidak benar dalam hikmah yang bijaksana atau kemuliaan yang mulia selainnya, dengan firman-Nya sebagai bentuk penegasan karena pendustaan mereka:

“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan” (13).

Artinya: Sesungguhnya orang-orang beriman yang taat, yang selalu melakukan kebaikan dan amal kebajikan serta ihsan, benar-benar berada dalam surga yang mereka nikmati di dalamnya.

“Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka” (14).

Artinya: Dan sesungguhnya orang-orang kafir yang durhaka yang melalaikan hak-hak Allah Ta’ala dan hak-hak hamba-Nya, benar-benar berada dalam api yang sangat dahsyat nyala dan kobaran apinya.

“Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan” (15).

Kesesuaian ayat ini dengan ayat sebelumnya: Ketika konteksnya adalah untuk menakut-nakuti, Allah mendeskripsikan azab bagi orang-orang durhaka, maka Dia berfirman:

“Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan” (15).

Artinya: Mereka dibenamkan ke dalamnya sehingga merasakan panasnya dan terbakar oleh apinya pada hari perhitungan dan pembalasan atas perbuatan-perbuatan, yaitu hari kiamat.

“Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu” (16).

Kesesuaian ayat ini dengan ayat sebelumnya: Ketika azab yang kita ketahui pasti akan berakhir, Allah menjelaskan bahwa azab-Nya tidak demikian, maka Dia berfirman:

“Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu” (16).

Artinya: Dan mereka tidak akan keluar darinya, bahkan mereka akan tetap berada di dalamnya selamanya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka” [Al-Baqarah: 167].

Dan Allah Subhanahu berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam azab neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya * Tidak diringankan azab itu dari mereka dan mereka di dalamnya berputus asa * Dan tidaklah Kami menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri * Dan mereka berseru: ‘Hai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja.’ Dia menjawab: ‘Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini).'” [Az-Zukhruf: 74-77].

“Dan tahukah kamu apa hari pembalasan itu?” (17).

Kesesuaian ayat ini dengan ayat sebelumnya: Ketika diketahui bahwa ancaman terbesar adalah pada hari pembalasan, Allah mengagungkan urusannya dengan pertanyaan tentangnya untuk memberitahukan bahwa hari itu layak untuk dihabiskan umur memperhatikan urusannya, dan bertanya tentang hakikat keadaannya dengan pertanyaan iman dan ketundukan, bukan pertanyaan pengingkaran dan kedurhakaan; agar lebih kokoh dalam ancaman dengannya, maka Dia berfirman:

“Dan tahukah kamu apa hari pembalasan itu?” (17).

Artinya: Allah Ta’ala berfirman dengan mengagungkan dan menggambarkan kehebatan hari kiamat: Dan apakah yang memberitahukan kepadamu tentang hakikat hari itu, yang di dalamnya manusia akan dihisab atas perbuatan-perbuatan mereka, dan diberi balasan sesuai dengan apa yang mereka lakukan?!

“Sekali lagi, tahukah kamu apa hari pembalasan itu?” (18).

Kesesuaian ayat ini dengan ayat sebelumnya: Ketika kengerian-kengeriannya melebihi batas, Allah mengulangi pertanyaan itu untuk keadaan tersebut.

“Sekali lagi, tahukah kamu apa hari pembalasan itu?” (18).

Artinya: Kemudian apakah yang memberitahukan kepadamu tentang hakikat hari yang agung dan mengerikan itu?!

“(Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikit pun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah” (19).

“(Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikit pun untuk menolong orang lain.” Artinya: Hari dimana seseorang tidak memiliki kemampuan untuk memberi manfaat kepada orang lain, dan tidak bisa menyelamatkannya dari apa yang sedang dialaminya!

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan mereka melihat siksa (neraka), dan terputuslah segala hubungan antara mereka” [Al-Baqarah: 166].

Dan Allah Subhanahu berfirman: “(Yaitu) hari yang pada hari itu tidak ada jual beli, persahabatan dan tidak ada syafaat” [Al-Baqarah: 254].

Dan Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Mulia berfirman: “Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah pada hari yang (ketika itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya, dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun” [Luqman: 33].

Dan Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi berfirman: “Dan jika seseorang yang dibebani berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul bebannya itu, tidak akan dipikulkan sedikit pun, meskipun (yang dipanggil itu) kaum kerabatnya” [Fathir: 18].

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Hari (ketika) seorang teman sama sekali tidak dapat memberi manfaat kepada teman lainnya, dan mereka tidak akan mendapat pertolongan” [Ad-Dukhan: 41].

Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Bani Hasyim, selamatkanlah diri kalian dari neraka. Wahai Bani Abdul Muthalib, selamatkanlah diri kalian dari neraka. Wahai Fathimah, selamatkanlah dirimu dari neraka; sesungguhnya aku tidak dapat melindungi kalian sedikit pun dari (siksa) Allah.”

“Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.” Artinya: Kekuasaan dan pengaturan pada hari kiamat hanyalah milik Allah semata, tidak ada seorang pun dari makhluk-Nya yang menentang-Nya dalam hal itu. Dia sendirilah yang akan menghisab semua makhluk dan membalas mereka sesuai dengan amal perbuatan mereka.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Pemilik hari pembalasan” [Al-Fatihah: 4].

Dan Allah Subhanahu berfirman: “Kerajaan yang hak pada hari itu adalah milik Tuhan Yang Maha Pengasih, dan itulah hari yang sulit bagi orang-orang kafir” [Al-Furqan: 26].

Dan Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Yaitu hari (ketika) mereka keluar (dari kubur), tidak satu pun keadaan mereka yang tersembunyi di hadapan Allah. (Lalu Allah berfirman), ‘Milik siapakah kerajaan pada hari ini?’ Milik Allah Yang Maha Esa, Maha Mengalahkan” [Ghafir: 16].

 

 

Pelajaran Edukatif:

1- Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan * Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” Termasuk metode Al-Qur’an Al-Karim adalah menyebutkan secara jelas pahala bagi orang-orang yang berbakti, bertakwa, ikhlas, berbuat baik, dan mereka yang kebaikannya lebih berat; dan menyebutkan hukuman bagi orang-orang kafir, orang-orang durhaka, orang-orang yang menzalimi diri mereka sendiri, dan mereka yang ringan timbangan amalnya. Al-Qur’an diam tentang kelompok ketiga yang memiliki dua macam sifat (campur baik dan buruk). Inilah metode Al-Qur’an, seperti firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan * Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka”, dan firman-Nya: “Maka adapun orang yang melampaui batas * Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia * Maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya * Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya * Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya” [An-Nazi’at: 37-41], dan ini banyak terdapat dalam Al-Qur’an. Mereka berkata: Dalam diamnya Al-Qur’an tentang keadaan orang yang memiliki dua macam sifat (baik dan buruk) terdapat peringatan yang besar dan rasa takut bahwa urusannya ditangguhkan kepada Allah Ta’ala, dan tidak ada jaminan baginya, dan tidak ada janji untuknya. Maka hendaklah dia sangat berhati-hati dan bersegera untuk bertaubat dengan taubat yang tulus yang akan menggabungkannya dengan mereka yang dijamin keselamatan dan keberuntungan.

2- Dalam firman Allah Ta’ala: “Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka” terdapat ancaman yang besar bagi para pendosa.

3- Firman Allah Ta’ala: “Dan tahukah kamu apa hari pembalasan itu? * Sekali lagi, tahukah kamu apa hari pembalasan itu?” Di dalamnya terdapat khitab (pembicaraan) terhadap makhluk yang paling berpengetahuan -berdasarkan salah satu pendapat dalam tafsir- bahwa dia tidak meliputi hakikat hari itu, dan ini diulang, dan digunakan kata (kemudian) untuk menunjukkan peringkat yang berbeda; sebagai isyarat bahwa bagaimanapun seseorang meningkat dalam ilmu, dia tidak akan mencapai pemahaman penuh tentang hari itu.

Manfaat Ilmiah dan Kelembutan:

1- Dalam firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan” terdapat isyarat bahwa kebaikan hati mengharuskan kenikmatan dunia.

2- Bahwa kata “al-abrar” (orang-orang yang berbakti) jika disebutkan secara umum, termasuk di dalamnya setiap orang bertakwa dari kalangan as-sabiqun (orang-orang yang terdahulu) dan al-muqtashidun (orang-orang yang pertengahan), dan jika digabungkan dengan al-muqarrabun (orang-orang yang didekatkan), maka maknanya lebih khusus; Allah Ta’ala berfirman tentang yang pertama: “Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan * Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka”, dan berfirman tentang yang kedua: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti benar-benar tersimpan dalam ‘Illiyyin * Dan tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu? * (Yaitu) kitab yang berisi catatan * Yang disaksikan oleh (malaikat-malaikat) yang didekatkan (kepada Allah)” [Al-Muthaffifin: 18-21].

3- Kata “al-birr” (kebajikan) jika disebutkan secara umum, mencakup semua yang Allah perintahkan, seperti dalam firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan”, dan firman-Nya: “Tetapi kebajikan itu adalah (kebajikan) orang yang bertakwa” [Al-Baqarah: 189], dan firman-Nya: “Bukanlah kebajikan itu menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu adalah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janjinya apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa” [Al-Baqarah: 177]. Maka kebajikan jika disebutkan secara umum, maknanya sama dengan makna takwa, dan takwa jika disebutkan secara umum, maknanya sama dengan makna kebajikan, kemudian terkadang keduanya disebutkan bersama, seperti dalam firman Allah Ta’ala: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa” [Al-Ma’idah: 2].

4- Hati para pelaku bid’ah, orang-orang yang berpaling dari Al-Qur’an, orang-orang yang lalai dari Allah, dan para pelaku maksiat: berada dalam neraka sebelum neraka yang lebih besar, dan hati orang-orang yang baik berada dalam kenikmatan sebelum kenikmatan yang lebih besar; “Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” Hal ini terjadi dalam tiga fase kehidupan mereka (dunia, alam barzakh, dan akhirat); tidak terbatas pada kehidupan akhirat saja, walaupun kesempurnaan dan manifestasinya hanya terjadi di akhirat, dan di alam barzakh kurang dari itu, sebagaimana Allah berfirman: “Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang zalim ada azab selain dari itu” [Ath-Thur: 47], dan Allah berfirman: “Dan mereka berkata: ‘Kapankah datangnya ancaman itu jika kamu adalah orang-orang yang benar?’ Katakanlah: ‘Mungkin sebagian dari yang kamu minta untuk disegerakan itu telah ada di belakangmu'” [An-Naml: 71-72], dan di dunia ini kurang dari yang ada di alam barzakh, tetapi yang mencegah merasakan hal itu adalah tenggelam dalam kemabukan syahwat, mengabaikannya dari hati, dan tidak memikirkannya. Janganlah mengira bahwa firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka” hanya terbatas pada kenikmatan dan neraka akhirat saja, tetapi dalam ketiga fase kehidupan mereka juga demikian. Mereka dalam kenikmatan, dan mereka dalam neraka. Bukankah kenikmatan itu hanyalah kenikmatan hati? Dan bukankah azab itu hanyalah azab hati? Azab apa yang lebih keras daripada ketakutan, kekhawatiran, kesedihan, kesempitan dada, berpaling dari Allah dan akhirat, terikat dengan selain Allah, terputus dari Allah, dengan setiap lembahnya ada cabangnya, dan setiap sesuatu yang dicintai selain Allah akan menimpakan azab yang buruk.

5- Dalam firman Allah: “Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka” terdapat isyarat bahwa kedurhakaan hati mewajibkan neraka dunia.

6- Bahwa istilah “fajir” (pendosa) dalam terminologi Al-Qur’an dan Sunnah mencakup orang kafir secara pasti, seperti firman Allah: “Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.”

7- Dalam firman Allah: “Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya” terdapat dalil mengenai kekalnya orang-orang kafir di neraka, dan yang dimaksud dengan “fujjar” (pendosa) di sini adalah kaum musyrikin; mereka tidak akan absen dari neraka sekejap mata pun, dan itulah yang dinamakan kekekalan. Kami -Ahlus Sunnah- tidak meyakini kekekalan di neraka bagi selain orang kafir. Adapun orang-orang mukmin yang berbuat maksiat, mereka tidak akan dikekalkan di neraka, jika tidak, maka hilanglah faedah dari keimanan.

8- Allah berfirman: “Dan tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikit pun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.” Setiap tempat dalam Al-Qur’an yang menyebutkan “wa maa adraaka” (dan tahukah kamu) pasti diikuti dengan penjelasannya; seperti firman Allah: “Dan tahukah kamu apakah (neraka) itu? (Yaitu) api yang sangat panas” [Al-Qari’ah: 10-11], dan setiap tempat yang disebutkan dengan lafaz “wa maa yudriika” (dan apa yang memberitahukan kepadamu) tidak diikuti dengan penjelasannya, seperti firman Allah: “Dan tahukah kamu, boleh jadi hari kiamat itu sudah dekat waktunya” [Asy-Syura: 17].

9- Allah berfirman: “Hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikit pun untuk menolong orang lain.” Kata “syai’an” (sesuatu) adalah kata benda yang menunjukkan jenis yang ada, dan maknanya: tidak ada seorang pun yang memiliki sesuatu untuk orang lain yang dapat mencukupinya dan memberinya manfaat, artinya: tidak ada dalam kemampuannya sesuatu yang bermanfaat bagi jiwa lain. Ini memberikan keputusasaan bagi orang-orang musyrik bahwa berhala-berhala mereka tidak akan memberi manfaat kepada mereka pada hari itu, sebagaimana Allah berfirman: “Dan Kami tidak melihat besertamu pemberi syafaat yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu (Tuhan) di antara kamu” [Al-An’am: 94].

10- Pada firman Allah: “Hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikit pun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah” terdapat pertanyaan: Bagaimana Dia mengatakan itu, padahal jiwa-jiwa yang diterima syafaatnya memiliki sesuatu untuk orang yang mereka beri syafaat, yaitu syafaat itu sendiri?

Jawabannya: Bahwa yang dinafikan adalah penetapan kepemilikan dengan kekuasaan, dan syafaat bukanlah dengan cara kekuasaan; maka tidak termasuk dalam penafian, dan ini dikuatkan oleh firman-Nya: “Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.” Mereka tidak memiliki itu secara independen, tetapi itu terjadi setelah izin Allah dan kehendak-Nya.

11- Pada firman Allah: “Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah” terdapat pertanyaan: Bahwa secara lahiriah ayat ini membatasi urusan dengan waktu yang disebutkan, tetapi urusan adalah milik Allah pada hari itu dan sebelum hari itu, sebagaimana dalam firman Allah: “Milik Allah segala urusan, sebelum dan sesudah (mereka menang)” [Ar-Rum: 4], dan firman-Nya: “Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah” [Al-A’raf: 54] yaitu: Dia bertindak dalam ciptaan-Nya dengan apa yang Dia kehendaki dari perintah-Nya, tidak ada yang menyekutukan-Nya sebagaimana tidak ada yang menyekutukan-Nya dalam penciptaan-Nya. Maka apa alasan pengkhususan dengan hari kiamat?

Jawabannya: Bahwa urusan itu milik Allah Ta’ala pada hari kiamat dan sebelumnya, dan kerajaan itu milik Allah di dunia dan di akhirat, tetapi penampakan kerajaan Allah ‘Azza wa Jalla dan perintah-Nya pada hari itu jauh lebih banyak daripada penampakan kerajaan Allah dan perintah-Nya di dunia. Maka tidak ada perintah bersama perintah-Nya, dan tidak ada yang mendahuluinya, bahkan tidak dengan satu kata pun, kecuali orang yang diberi izin oleh Yang Maha Pengasih dan dia berkata benar. Ini seperti firman Allah: “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini? Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan” [Ghafir: 16]. Maka menjadi jelas pada hari itu bahwa tidak ada yang memerintah pada hari itu kecuali Allah ‘Azza wa Jalla.

Dan juga, jika urusan itu milik Allah sendiri pada hari yang agung itu, maka yang kurang dari itu lebih layak.

Balaghah (Keindahan Retorika) Ayat-ayat:

1- Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka, mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan, dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya.”

  • Kalimat “Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan” dipisahkan dari kalimat sebelumnya karena merupakan permulaan penjelasan yang menjawab pertanyaan yang mungkin muncul dalam pikiran pendengar, yang ditimbulkan oleh firman-Nya: “Sekali-kali tidak, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan, padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi” [Al-Infithar: 9-10] dan seterusnya; karena jiwa ingin mengetahui balasan ini: apa itu? Dan untuk mengetahui tujuan dari penempatan para malaikat untuk menghitung amalan: apa itu? Maka Dia menjelaskannya dengan firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan” dan seterusnya. Juga, kalimat ini mencakup pembagian pelaku amalan; itu adalah perincian dari kalimat “mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan” [Al-Infithar: 12], dan itu termasuk hal yang mewajibkan pemisahan kalimat dari yang sebelumnya. Jadi firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka” adalah permulaan penjelasan yang disampaikan untuk menjelaskan hasil dari pengawasan dan pencatatan berupa pahala dan hukuman.
  • Kalimat ini datang dengan penekanan menggunakan “inna” dan “lam” awal kalimat; agar penjelasan itu setara dengan yang dijelaskan dalam hal kepastian dan penolakan pengingkaran.
  • Keterangan tempat dalam firman-Nya: “(fi na’im)” menunjukkan perumpamaan keabadian kenikmatan mereka seperti pengepungan wadah terhadap isinya sehingga tidak meninggalkannya.
  • Penekanan diulang dengan kalimat yang dihubungkan “dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka”; untuk memberikan perhatian pada kepastian keberadaan mereka dalam neraka, mereka tidak akan pernah berharap untuk meninggalkannya.
  • Dalam menggunakan bentuk nakirah (tidak definitif) pada kata “na’im” (kenikmatan) dan “jahim” (neraka) terdapat pengagungan dan penakutan yang tidak tersembunyi.
  • Firman-Nya: “mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan” bisa jadi merupakan sifat dari “jahim” (neraka), atau permulaan penjelasan yang dibangun atas pertanyaan yang muncul dari penggambaran neraka tersebut, seolah-olah dikatakan: Bagaimana keadaan mereka di dalamnya? Maka dikatakan: Mereka merasakan panasnya.
  • Dan “yauma al-din” (pada hari pembalasan) adalah keterangan untuk “yashlawnahaa” (mereka masuk ke dalamnya), dan disebutkan untuk menjelaskan bahwa mereka masuk ke dalamnya sebagai balasan atas kedurhakaan mereka; karena “al-din” adalah balasan, dan “yauma al-din” adalah hari pembalasan.
  • Firman-Nya: “dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya”, artinya: mereka tidak absen darinya sekejap mata pun; karena yang dimaksud adalah keabadian tidak adanya keabsenan, bukan tidak adanya keabadian keabsenan; karena kalimat nominal negatif terkadang dimaksudkan untuk menunjukkan kesinambungan negasi, bukan negasi kesinambungan, dengan mempertimbangkan apa yang ditunjukkannya dari keabadian dan stabilitas setelah negasi bukan sebelumnya. Maka kalimat “dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya” datang dalam bentuk nominal dan bukan dikatakan: “dan mereka tidak absen darinya”, atau “dan mereka tidak meninggalkannya”; untuk menunjukkan bahwa bentuk nominal menunjukkan ketetapan, baik dalam penetapan maupun penafian; ketetapan adalah kondisi dari hubungan pemberitaan, baik itu hubungan penetapan atau hubungan penafian, dan penambahan huruf “ba” untuk menekankan penafian.
  • Dan mendahulukan “anhaa” (darinya) dari kata yang berkaitan dengannya; untuk memberikan perhatian pada kata benda majrur, dan untuk menjaga kesesuaian akhir ayat.

2- Firman Allah Ta’ala: “Dan tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikit pun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.”

  • Firman-Nya: “Dan tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?” merupakan pengagungan terhadap kedudukan dan kedahsyatan hari pembalasan yang mereka dustakan, setelah pengagungan dan penggambaran kedahsyatan urusannya yang berulang-ulang, dan bagaimanapun engkau membayangkannya, itu lebih besar dan berlipat ganda dari itu.
  • Ada yang berpendapat: Pertanyaan pertama digunakan sebagai kiasan untuk mengagungkan urusan hari itu dan menggambarkan kedahsyatannya, dan pertanyaan kedua digunakan dalam maknanya, yaitu: pertanyaan penanya tentang hakikat hari pembalasan, seperti engkau berkata: “Tahukah engkau apakah Zaid berdiri?” yaitu: tahukah engkau jawaban pertanyaan ini, dan struktur seperti ini termasuk yang mengikuti pola peribahasa, sehingga lafaznya tidak diubah.
  • Ada juga yang berpendapat: Firman-Nya: “Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?” adalah pengulangan untuk menggambarkan kedahsyatan yang mengindikasikan adanya penambahan, yaitu: melampaui batas penggambaran dan ungkapan, sehingga termasuk penegasan secara lafazh. Dan ada yang mengatakan: yang pertama untuk orang-orang beriman, dan yang kedua untuk orang-orang kafir.
  • Dan Dia menghubungkan ini dengan huruf “tsumma” (kemudian) yang fungsinya -jika menghubungkan satu kalimat dengan kalimat lain- adalah menunjukkan jarak tingkatan, yaitu: jarak tingkatan dalam tujuan yang diinginkan dari perkataan, dan dalam konteks ini adalah tingkatan keagungan dan kedahsyatan, maka jarak tingkatan di dalamnya adalah penambahan.
  • Dan dalam firman-Nya: “Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?” terdapat penyebutan eksplisit “hari pembalasan” pada posisi yang seharusnya menggunakan kata ganti, dan ini adalah penegasan terhadap kedahsyatan dan keagungannya.
  • Firman-Nya: “(Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikit pun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah” adalah penjelasan global tentang keadaan hari pembalasan setelah sebelumnya disebutkan secara samar dan menjelaskan bahwa hari itu berada di luar pengetahuan makhluk sebagai bentuk pemenuhan janji; karena penafian pengetahuan mereka mengisyaratkan janji mulia untuk memberitahu; ini adalah penjelasan tentang kedahsyatan yang agung dan global yang ditunjukkan oleh firman-Nya: “Dan tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?” [Al-Infithar: 17-18]; karena penggambaran kedahsyatan mengisyaratkan terjadinya apa yang ditakuti oleh mereka yang digambarkan kedahsyatannya, maka diikuti dengan penambahan kedahsyatan disertai keputusasaan dari menemukan penolong atau pembantu.
  • Keumuman kata “nafs” (seseorang) yang pertama dan kedua dalam konteks penafian menunjukkan keumuman hukum pada setiap jiwa.
  • Firman-Nya: “Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah” adalah kalimat penutup (tazyil); dan kata “al-amr” (urusan) yang didefinisikan menunjukkan keseluruhan, dan “amr” di sini bermakna: tindakan dan izin, dan itu adalah satu dari kata amr (perintah-perintah), yaitu: tidak ada yang memerintah kecuali Allah. Bisa juga kata “amr” bermakna sama dengan “syai'” (sesuatu), sehingga perubahan ungkapan adalah untuk variasi, dan definisi pada kedua makna tersebut adalah definisi jenis yang digunakan untuk menunjukkan keseluruhan, sehingga mencakup semua urusan, dan dengan keumuman itu kalimat tersebut menjadi tazyil (penutup).
  • Lam (ل) yang menunjukkan pengkhususan dalam “lillah” (milik Allah) -bersama keumuman “amr” (urusan)- menunjukkan bahwa tidak ada urusan pada hari itu kecuali milik Allah semata, tidak ada tindakan yang keluar dari selain-Nya, dan dalam struktur ini tidak ada formula pembatasan, tetapi mengarah pada makna pembatasan.
  • Dalam penutup ini terdapat pengembalian akhir kepada awal; karena awal surah dimulai dengan kabar tentang sebagian keadaan hari pembalasan, dan surah ditutup dengan sebagian keadaannya.

۞ ۞ ۞ ۞ ۞

 

 

SURAH AL-MUTHAFFIFIN

Perhatian: Setiap kalimat berikut memiliki rujukan ilmiah yang belum diterjemahkan. Bagi yang memerlukan, silakan merujuk langsung ke situs web aslinya dalam bahasa Arab di: https://dorar.net/tafseer/83

 

Nama-nama Surah:

Surah ini dinamakan Surah Al-Muthaffifin, diambil dari ayat pertamanya “Wailun lil-muthaffifin” (Celakalah bagi orang-orang yang curang).

Penjelasan tentang Makkiyah dan Madaniyah:

Para ulama berbeda pendapat tentang Surah Al-Muthaffifin; ada yang mengatakan bahwa surah ini Makkiyah (diturunkan di Mekah), dan ada yang mengatakan Madaniyah (diturunkan di Madinah).

Tujuan-tujuan Surah:

Di antara tujuan terpenting surah ini adalah:

  1. Peringatan terhadap perbuatan curang dalam timbangan.
  2. Pembicaraan tentang orang-orang yang durhaka dan orang-orang yang berbakti, serta perbandingan antara nasib masing-masing.

Pokok-pokok Pembahasan Surah:

Di antara pokok pembahasan terpenting yang terkandung dalam surah ini adalah:

  1. Peringatan terhadap kecurangan dalam takaran dan timbangan, ancaman bagi orang-orang yang curang, dan mengingatkan mereka tentang hari kebangkitan, perhitungan, dan pembalasan.
  2. Penjelasan tentang buruknya akibat bagi orang-orang yang durhaka, dan baiknya akibat bagi orang-orang yang berbakti, serta penjelasan bahwa catatan amal orang-orang yang durhaka berada di tempat yang paling rendah (Sijjin), dan catatan amal orang-orang yang berbakti berada di tempat yang paling tinggi (‘Illiyyin).
  3. Menyebutkan apa yang telah dilakukan oleh orang-orang musyrik terhadap orang-orang beriman berupa ejekan dan gangguan.
  4. Kabar gembira bagi orang-orang beriman bahwa pada hari kiamat mereka akan menertawakan orang-orang kafir sebagaimana orang-orang kafir telah menertawakan mereka di dunia.

۞ ۞ ۞ ۞ ۞

Ayat: 1-6

﴿وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَۙ ١ الَّذِيْنَ اِذَا اكْتَالُوْا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُوْنَۖ ٢ وَاِذَا كَالُوْهُمْ اَوْ وَّزَنُوْهُمْ يُخْسِرُوْنَۗ ٣ اَلَا يَظُنُّ اُولٰۤىِٕكَ اَنَّهُمْ مَّبْعُوْثُوْنَۙ ٤ لِيَوْمٍ عَظِيْمٍۙ ٥ يَّوْمَ يَقُوْمُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَۗ ٦ ﴾

Kosa Kata dan Ungkapan yang Tidak Umum:

Wail: Artinya azab dan kebinasaan. Ada yang mengatakan: Wail adalah lembah di dalam neraka Jahannam.

Lil-muthaffifin: Yaitu orang-orang yang mengurangi hak orang lain dalam takaran dan timbangan. “Tathfif” artinya pengurangan, asalnya dari sesuatu yang “thafif” (sedikit), yaitu yang sangat sedikit, dan “muthaffif” hanyalah orang yang mengambil sesuatu yang sedikit dengan timbangan. Asal kata “thafafa” menunjukkan sedikitnya sesuatu.

Iktaluu kaaluhum: Dikatakan: “kiltu fulanan” artinya saya memberi dia (dengan takaran). “Iktaltu ‘alaihi” artinya saya mengambil darinya. “Al-iktiyaal” artinya mengambil dengan takaran.

Yastawfuun: Artinya mereka mengambil hak mereka dengan sempurna dan lengkap. Asal kata “wafaa” menunjukkan penyempurnaan dan penyelesaian.

Makna Umum:

Allah Ta’ala membuka surah yang mulia ini dengan ancaman keras bagi orang-orang yang mengurangi dalam takaran atau timbangan. Allah Ta’ala berfirman: Azab dan kebinasaan bagi orang-orang yang mengurangi hak-hak orang lain dalam takaran dan timbangan; yaitu orang-orang yang apabila membeli dari orang lain, mereka mengambil hak mereka dengan sempurna, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi hak mereka. Kemudian Allah Ta’ala mengancam mereka dengan berfirman: Tidakkah orang-orang yang curang itu menyangka bahwa mereka akan dibangkitkan pada hari perhitungan yang agung; hari ketika manusia berdiri menghadap Allah, Tuhan semesta alam?!

Tafsir Ayat-ayat:

Celakalah bagi orang-orang yang curang (1).

SEBAB TURUNNYA: Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, berkata: “Ketika Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, penduduknya termasuk orang-orang yang paling buruk dalam takaran. Maka Allah Subhanahu menurunkan: ‘Celakalah bagi orang-orang yang curang’; setelah itu mereka memperbaiki takaran mereka.”

Celakalah bagi orang-orang yang curang (1).

Artinya: Azab dan kebinasaan bagi mereka yang mengurangi hak-hak orang dalam takaran dan timbangan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan tegakkanlah timbangan dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca tersebut” [Ar-Rahman: 9].

Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi (2).

Artinya: Mereka yang ketika membeli dari orang lain sesuatu yang dijual dengan takaran, mereka mengambil hak mereka dengan sempurna tanpa kurang.

Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi (3).

Artinya: Dan ketika mereka menakar atau menimbang untuk orang lain saat menjual kepada mereka sesuatu yang ditakar atau ditimbang, mereka mengurangi hak mereka.

Tidakkah orang-orang itu menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan (4).

KESESUAIAN AYAT DENGAN AYAT SEBELUMNYA: Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa mereka telah terbiasa dengan keburukan-keburukan ini hingga menjadi karakter mereka yang terlatih, mereka terbiasa dengannya, dan mereka nyaman dengannya, dan hal itu tidak akan terjadi kecuali dari orang yang merasa aman dari hukuman dan mengingkari perhitungan – maka hal itu menghasilkan pengingkaran terhadap mereka dengan cara yang paling jelas; untuk memberitahukan bahwa keadaan mereka layak untuk diherankan dan dipertanyakan, dan bahwa yang dipertanyakan tentang terjadinya pada mereka adalah prasangka -ini menurut satu pendapat-, adapun keyakinan maka tidak terbayangkan pada mereka; karena jauhnya keadaan mereka yang kasar dan pemahaman mereka yang beku darinya; maka Allah Ta’ala berfirman:

Tidakkah orang-orang itu menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan (4).

Artinya: Tidakkah orang-orang yang curang itu menyangka bahwa mereka akan dibangkitkan dari kubur mereka dalam keadaan hidup setelah kematian mereka?!

Pada suatu hari yang besar (5).

Artinya: Pada hari yang besar perkaranya, dahsyat keganasannya.

Hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam (6).

Artinya: Hari ketika manusia berdiri menghadap Allah, Tuhan semesta alam, maka Dia akan menghisab mereka dan membalas mereka atas perbuatan-perbuatan mereka.

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, bahwa Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam hingga salah seorang dari mereka tenggelam dalam keringatnya sampai setengah telinganya!”

Faedah-faedah Pendidikan:

1- Dalam firman Allah Ta’ala: “Celakalah bagi orang-orang yang curang * Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi * Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi” terdapat celaan terhadap kecurangan dan pengkhianatan dalam takaran dan timbangan. Urusan takaran dan timbangan adalah perkara yang besar; itu karena umumnya makhluk membutuhkan berbagai bentuk transaksi, dan transaksi tersebut dibangun atas dasar takaran dan timbangan; karena sebab inilah Allah mengagungkan perkaranya, dengan berfirman: “Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan * Agar kamu jangan melampaui batas tentang keseimbangan itu * Dan tegakkanlah timbangan dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca tersebut” [Ar-Rahman: 7-9], dan Allah berfirman: “Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka Kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil” [Al-Hadid: 25]. Tidak bermanfaat dalam hal kecurangan yang terjadi dan tidak menyelamatkan pelakunya kecuali dengan taubat, dan mengembalikan hak yang dizalimi kepada pemiliknya. Malik bin Dinar berkata: “Tetangga saya sedang sekarat, lalu dia berkata: ‘Dua gunung dari api.’ Maka saya bertanya kepadanya: ‘Apa ini?’ Dia menjawab: ‘Wahai saudaraku, saya memiliki dua takaran, saya mengambil dengan yang penuh, dan saya memberi dengan yang kurang!'”

2- Allah Ta’ala berfirman: “Celakalah bagi orang-orang yang curang”. Ayat ini adalah peringatan bagi kaum muslimin agar tidak menyepelekan kecurangan dalam takaran, dan cukuplah bagi mereka bahwa kecurangan dalam takaran mengumpulkan kezaliman, pencurian, dan kehinaan. Orang-orang Arab dahulu saling mencela dengan masing-masing sifat buruk ini secara terpisah dan mereka berlepas diri darinya, namun kemudian mereka melakukannya secara bersamaan, dan cukuplah itu sebagai kebodohan!

3- Dalam firman Allah Ta’ala: “Celakalah bagi orang-orang yang curang * Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi * Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi” terdapat ancaman bagi orang yang menuntut pemenuhan akad secara sempurna namun tidak memenuhinya secara sempurna!

4- Firman Allah Ta’ala: “Celakalah bagi orang-orang yang curang * Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi * Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi” ini adalah contoh yang Allah ‘Azza wa Jalla sebutkan dalam hal takaran dan timbangan, dan dapat diqiyaskan (dianalogikan) kepada semua yang serupa dengannya. Maka setiap orang yang menuntut haknya secara penuh dari orang yang berkewajiban memberikannya, namun menahan hak yang menjadi kewajibannya: sesungguhnya dia termasuk dalam ayat yang mulia ini.

Misalnya, suami yang menginginkan istrinya memberikan haknya secara sempurna, dan tidak menoleransi sedikitpun dari haknya, tetapi ketika memberikan hak istrinya dia meremehkan dan tidak memberikan apa yang menjadi hak istrinya! Bahkan mungkin dia mengurangi sebagian besar haknya berupa nafkah, pergaulan yang baik, dan lain sebagainya.

Juga pegawai yang menginginkan diberikan gajinya secara penuh tetapi terlambat hadir atau pulang lebih awal, maka dia termasuk orang-orang yang curang yang Allah ancam dengan kecelakaan; karena tidak ada perbedaan antara seseorang yang menakar atau menimbang untuk orang lain, dengan seseorang yang bekerja yang seharusnya hadir pada jam tertentu dan tidak keluar kecuali pada jam tertentu, kemudian dia terlambat hadir dan lebih awal pulang! Ini adalah kecurangan, dan orang yang curang dalam pekerjaannya ini, jika dikurangi dari gajinya satu riyal dari sepuluh ribu, dia akan berkata: “Mengapa dikurangi!” Ini adalah orang yang curang yang termasuk dalam ancaman ini.

Juga termasuk kezaliman dan ketidakadilan adalah ketika seseorang membicarakan orang lain seperti ulama, pedagang, atau siapa pun, kemudian menyebutkan keburukannya -yang mungkin dia memiliki alasan untuk itu- dan tidak menyebutkan kebaikannya! Ini bukan termasuk keadilan; dia mendatangi seorang ulama yang melakukan kesalahan dalam suatu masalah dan dia memiliki alasan dalam hal itu, lalu menyebarkan masalah yang salah ini, dan melupakan kebaikan ulama ini yang telah memberikan manfaat kepada hamba-hamba dengan banyak ilmunya! Tidak diragukan bahwa ini adalah kecurangan, ketidakadilan, dan kezaliman.

Jika kamu ingin mengevaluasi seseorang maka harus menyebutkan kebaikan dan keburukannya. Adapun jika kamu ingin membicarakan kesalahan tertentu untuk memperingatkan orang-orang darinya, maka ya, sebutkan kesalahannya, tetapi tanpa memperhatikan siapa yang mengatakannya, dan katakan misalnya: “Kami mendengar bahwa sebagian orang mengatakan begini dan begitu, dan itu salah”, kemudian jelaskan kesalahannya. Adapun jika kamu ingin menyebarkan keburukan orang lain tanpa kebaikannya, maka ini adalah kezaliman dan ketidakadilan.

5- Allah Ta’ala berfirman: “Celakalah bagi orang-orang yang curang” dan orang yang curang adalah yang mengurangi takaran dan timbangan, dan yang dimaksud dengan ini adalah mereka yang berinteraksi dengan orang lain; maka ketika mereka mengambil untuk diri mereka sendiri, mereka mengambil secara penuh, dan ketika mereka memberikan kepada orang yang berinteraksi dengan mereka, mereka mengurangi. Hal ini tampak dalam timbangan dan takaran, dalam menjelaskan cacat, dalam menghakimi, membayar, dan menuntut. Barangsiapa tidak menyukai untuk saudaranya sesama muslim apa yang dia sukai untuk dirinya sendiri, maka dia tidak adil.

Orang yang melihat cacat orang lain dan tidak melihat cacat dirinya sendiri, maka dia termasuk golongan ini; golongan orang-orang yang curang, sebagaimana dikatakan:

“Kau memaafkan dirimu jika berbuat salah Namun orang lain tidak kau beri maaf

Kau melihat kotoran di mata orang lain Tapi tak melihat balok kayu di matamu sendiri”

Dan barangsiapa menuntut haknya tanpa menunaikan hak-hak orang lain sebagaimana dia menuntut untuk dirinya sendiri, maka dia termasuk golongan orang-orang yang curang.

6- Dalam firman Allah Ta’ala: “Celakalah bagi orang-orang yang curang” terdapat peringatan bahwa akar dari segala keburukan adalah akhlak yang buruk, yaitu kecintaan terhadap dunia yang menyebabkan pengumpulan harta dengan cara yang tidak benar, bahkan dengan cara yang paling hina; kecurangan yang tidak diridhai oleh orang yang memiliki kehormatan!

7- Permulaan surat ini dengan “Celakalah bagi orang-orang yang curang” menunjukkan besarnya bahaya perbuatan ini, dan memang berbahaya; karena ini adalah ukuran ekonomi dunia dan timbangan dalam bermuamalah. Jika ini rusak maka akan menimbulkan kerusakan dalam ekonomi dan kekacauan dalam bermuamalah, dan ini adalah kerusakan yang besar. Yang lebih besar dari semua ini adalah adanya riba, ketika jenis barang dijual dengan jenis yang sama dan terjadi perbedaan dalam takaran atau timbangan, yang tentangnya Allah Ta’ala berfirman: “Maka ketahuilah, bahwa kamu akan memerangi Allah dan Rasul-Nya” [Al-Baqarah: 279].

8- Dalam firman Allah Ta’ala: “Celakalah bagi orang-orang yang curang * Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi * Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi” terdapat petunjuk bahwa sebagaimana seseorang mengambil dari orang lain apa yang menjadi haknya, wajib baginya untuk memberikan kepada mereka segala yang menjadi hak mereka dari harta dan muamalah. Bahkan termasuk dalam keumuman ini adalah argumentasi dan pernyataan; sebagaimana dua orang yang berdebat biasanya masing-masing dari keduanya berusaha keras untuk menyampaikan argumennya, maka wajib baginya juga untuk menjelaskan argumen-argumen lawan debatnya yang tidak diketahuinya, dan untuk memperhatikan dalil-dalil lawannya sebagaimana ia memperhatikan dalil-dalilnya sendiri. Dalam hal ini diketahui keadilan seseorang dari sikap fanatik dan kesewenang-wenangannya, kerendahan hatinya dari kesombongannya, dan akalnya dari kebodohannya.

9- Para ulama agama berkata: “Kecurangan bisa terjadi dalam segala hal; dalam shalat dan wudhu, takaran dan timbangan”, sebagaimana pencurian bisa terjadi dalam segala hal, dan seburuk-buruk pencuri adalah orang yang mencuri dalam shalatnya; tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.

Diriwayatkan dari Salman Al-Farisi radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: “Shalat adalah takaran, barangsiapa menyempurnakannya maka Allah akan menyempurnakan (balasan) untuknya, dan kalian telah mengetahui apa yang Allah firmankan tentang takaran: ‘Celakalah bagi orang-orang yang curang’.”

Imam Malik berkata: “Dulu dikatakan: dalam segala sesuatu ada penyempurnaan dan pengurangan”, maka jika Allah Subhanahu mengancam dengan kecelakaan bagi para pencurang dalam harta, bagaimana menurut kalian dengan orang-orang yang curang dalam shalat?!

10- Firman Allah Ta’ala: “Tidakkah orang-orang itu menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan” menunjukkan bahwa ketiadaan iman kepada kebangkitan atau keraguan terhadapnya adalah pendorong untuk segala keburukan dan penghilang segala kebaikan, dan bahwa keimanan kepada hari akhir adalah titik tolak untuk segala kebaikan dan pencegah dari segala keburukan. Keimanan kepada kebangkitan adalah titik tolak bagi seluruh amal saleh.

11- Allah Ta’ala berfirman: “Tidakkah orang-orang itu menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan * Pada suatu hari yang besar * Hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam”. Dalam pengingkaran dan keheranan ini, dan kata “menyangka”, dan pendeskripsian hari itu dengan keagungan, dan berdirinya manusia di hadapan Allah dalam keadaan tunduk, dan penyebutan diri-Nya sebagai Tuhan semesta alam: terdapat penjelasan yang mendalam tentang besarnya dosa dan beratnya kesalahan dalam kecurangan, dan dalam hal-hal yang serupa berupa ketidakadilan, dan meninggalkan penegakan keadilan dan beramal dengan persamaan dan keadilan dalam setiap mengambil dan memberi, bahkan dalam setiap perkataan dan perbuatan. Semua itu bukan hanya karena kecurangan itu sendiri, melainkan karena timbangan adalah hukum keadilan dan kejujuran, dan ini adalah hikmah dalam penciptaan dan pembebanan (taklif), dan pengumpulan dan penyebaran manusia (di hari kiamat). Barangsiapa berbuat curang berarti dia mencoba membatalkan hikmah Allah di kedua alam (dunia dan akhirat).

 

 

Faedah-faedah Ilmiah dan Keistimewaan:

1- Dalam firman Allah Ta’ala: “Celakalah bagi orang-orang yang curang” bahwa jika ancaman kecelakaan ini untuk sesuatu yang ringan (kecurangan kecil), maka untuk yang lebih besar tentu lebih layak mendapatkan ancaman!

2- Dalam firman Allah Ta’ala: “Celakalah bagi orang-orang yang curang” bahwa jika ancaman ini untuk mereka yang mengurangi hak orang lain dalam takaran dan timbangan, maka orang yang mengambil harta mereka dengan paksa atau mencuri lebih layak menerima ancaman ini daripada orang-orang yang curang dalam takaran.

3- Dipahami dari maksud firman Allah Ta’ala: “Celakalah bagi orang-orang yang curang” sampai firman-Nya: “Hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam” bahwa ketika mereka dibangkitkan pada hari yang besar itu, dan manusia berdiri di hadapan Tuhan semesta alam, dan seluruh makhluk dari yang pertama hingga yang terakhir berkumpul di satu tempat yang dapat dilihat dan didengar oleh penyeru: bahwa pengkhianat yang mengurangi takaran dan timbangan itu akan dipanggil di hadapan semua saksi, dan dipermalukan di hadapan semua saksi pada hari kiamat, dan kehinaan di hari kiamat tidak sama dengan kehinaan di dunia!

4- Allah Ta’ala berfirman: “Celakalah bagi orang-orang yang curang” sampai firman-Nya: “Hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam”. Dalam ayat-ayat ini terdapat beberapa bentuk penekanan:

Diantaranya: Bahwa kata “Wail” (kecelakaan) hanya disebutkan ketika adanya bencana yang sangat berat.

Diantaranya: Pengingkaran dengan firman Allah Ta’ala: “Tidakkah orang-orang itu menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan”.

Diantaranya: Penggambaran Allah Ta’ala tentang besarnya hari itu.

Diantaranya: Penegasan dengan apa yang disebutkan setelahnya, dan apa yang diisyaratkan oleh itu, dan apa yang dituntut dari kerendahan dan kehinaan mereka. Dalam hal ini terdapat poin penting, yaitu seolah-olah ada yang bertanya: Mengapa ancaman yang keras dan peringatan yang mendalam ini untuk perbuatan curang yang nilainya kecil dan sedikit, sementara Allah Maha Mulia dan Maha Pemberi kebaikan? Maka Allah mengisyaratkan dengan firman-Nya: “Tuhan semesta alam” bahwa Dia adalah Pembimbing mereka dan Penanggung jawab urusan mereka, maka tidak pantas jika Dia mengabaikan sedikit pun dari urusan mereka.

5- Dalam firman Allah Ta’ala: “Tuhan semesta alam” bahwa kata “dzann” (sangkaan) terkadang digunakan dalam arti keyakinan dalam bahasa Arab. Ini menurut salah satu pendapat tentang ayat tersebut.

6- Hari kiamat dinamakan demikian (yaum al-qiyamah) karena tiga alasan:

Alasan pertama: Bahwa manusia berdiri (yaqumu) pada hari itu dari kubur mereka menghadap Allah Azza wa Jalla, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam”.

Kedua: Bahwa keadilan ditegakkan (yuqamu) pada hari itu; berdasarkan firman Allah Ta’ala: “Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit” [Al-Anbiya: 47].

Dan ketiga: Bahwa para saksi berdiri (yaqumu) pada hari itu, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi” [Ghafir: 51].

Keindahan Ayat-Ayat:

1- Firman Allah Ta’ala: “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang), yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.”

  • Firman-Nya: “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang” – Pembukaan surah dengan kata “Wail” (kecelakaan) menunjukkan bahwa surah ini mengandung ancaman. Kata “Wail” merupakan keindahan pembuka.
  • Di dalamnya terdapat kesesuaian yang baik, di mana Allah Ta’ala berfirman di sini: “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang”, dan berfirman di tempat lain: “Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya” [Al-An’am: 152]. Makna ayat ini: Berhati-hatilah sebisa mungkin dari kecurangan walau sedikit dan setelah berusaha keras, “Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya”. Ini merupakan puncak kehati-hatian, dengan peringatan keras dan ancaman kecelakaan.
  • Firman-Nya: “Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi…” dst., merupakan sifat penjelas bagi orang-orang yang curang, yang menjelaskan cara kecurangan mereka yang menyebabkan mereka pantas mendapat celaan dan doa kecelakaan. Boleh juga sebagai sifat pengkhusus, atau berjalan sesuai celaan.
  • Kalimat “Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi” dikatakan: ini adalah penggabungan, disampaikan untuk mengungkap kebiasaan tercela para pedagang kafir, yaitu ketamakan untuk mendapatkan jumlah yang lebih dari yang mereka beli tanpa hak, dan yang dimaksud adalah kalimat yang dirangkaikan dengannya, yaitu kalimat “dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi”; mereka tercela karena gabungan dua kalimat ini.
  • Firman-Nya: “apabila menerima takaran dari orang lain”, yakni: mereka membeli dari orang lain apa yang dijual dengan takaran, maka objeknya dihilangkan karena sudah diketahui dalam kata “iktalu” (menerima takaran), yakni: mereka menerima barang yang ditakar. Dan makna “kaluhum” (menakar untuk mereka): mereka menjual kepada orang lain barang yang ditakar, maka objeknya dihilangkan karena sudah diketahui. Atau tidak disebutkannya barang yang ditakar dan ditimbang dalam kedua kasus “iktalu” (menerima takaran) dan “kaluhum aw wazanuhum” (menakar atau menimbang untuk mereka) karena konteks pembicaraan adalah untuk menjelaskan buruknya perlakuan mereka dalam mengambil dan memberi, bukan pada kekhususan barang yang diambil dan diberikan.
  • Ketika penerimaan takaran mereka dari orang lain adalah penerimaan yang merugikan orang lain dan memberatkan mereka, kata “ala” (atas) digunakan menggantikan “min” (dari) untuk menunjukkan hal tersebut, dengan menyertakan makna pembebanan dalam kata “iktalu”, yakni: memberikan kesulitan kepada orang lain dan menzaliminya; karena sifat dan akhlak pedagang adalah mencari keuntungan yang besar, dan dia adalah tempat kekayaan dan keberadaan harta di tangannya; sehingga dia memanfaatkan kebutuhan orang yang datang dengan barang dagangan. Dan dikatakan: bahwa dua huruf “min” dan “ala” dapat saling menggantikan dalam tempat ini; karena itu adalah hak atasnya, maka ketika dia berkata: “aku menerima takaran atasmu”, seolah-olah dia berkata: “aku mengambil apa yang menjadi hakku atasmu”, dan ketika dia berkata: “aku menerima takaran darimu”, seperti perkataannya: “aku mengambil secara penuh darimu”.
  • Dan Allah berfirman: “Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi” dan tidak berfirman: “(mereka menerima takaran dan timbangan)”, sebagaimana firman-Nya pada lawan katanya: “dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi”; karena kebiasaan orang-orang yang curang adalah tidak mengambil barang yang ditakar dan ditimbang kecuali dengan takaran; karena meminta lebih dengan takaran lebih mudah bagi mereka dan lebih ringan daripada dengan timbangan, dan ketika mereka memberi, mereka menakar dan menimbang; karena mereka dapat mengurangi pada keduanya.
  • Atau Allah tidak berfirman: “(atau menerima timbangan)” sebagaimana dikatakan: “atau menimbang untuk mereka”; karena firman-Nya: “Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran” bisa jadi merupakan sifat pengkhusus, atau penjelas, atau berjalan sesuai celaan. Maka dalam hal pertama, tidak perlu menyebutkan timbangan; karena sebab turunnya ayat adalah untuk kaum tertentu dan perbuatan tertentu, yaitu: takaran; karena makna “tathfif” (kecurangan) adalah pengurangan dalam takaran dan timbangan, sehingga masuk dalam keumuman ini orang-orang yang menjadi sebab turunnya ayat dengan masuk pertama, atau penyebutan timbangan untuk menambah celaan, artinya: jika kadang-kadang terjadi penimbangan dengan standar keadilan -seperti firman Allah Ta’ala: “dan Kami turunkan bersama mereka Kitab dan neraca (timbangan)” [Al-Hadid: 25]- mereka juga menguranginya.
  • Atau pembatasan pada firman-Nya: “apabila menerima takaran” tanpa mengatakan: “(dan apabila menerima timbangan)” sebagaimana Dia berfirman: “dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain”; adalah cukup dengan menyebutkan timbangan pada yang kedua untuk menghindari kata kerja “ittazanu” (menerima timbangan); karena jarangnya penggunaan kata ini dalam percakapan; sehingga ada sedikit beban di dalamnya, dan untuk alasan lain; yaitu: bahwa orang-orang yang curang adalah para pedagang, dan mereka mengambil barang dagangan dari para pemasok umumnya dengan takaran; karena para pemasok membawa kurma, gandum, dan sejenisnya yang ditakar, dan mereka membayar mereka dengan harga berupa emas atau perak yang ditimbang, baik yang dicetak atau tidak; oleh karena itu pembatasan pada pembelian mereka dari para pemasok hanya menyebutkan penerimaan takaran dengan mempertimbangkan yang umum, dan menyebutkan dalam penjualan mereka kepada para pembeli dengan takaran dan timbangan; karena mereka menjual barang-barang dengan takaran, dan menerima pembayaran dengan timbangan, dan dalam hal ini ada isyarat bahwa kecurangan adalah perbuatan para pedagang mereka.
  • Dan “istifa'” (pemenuhan): mengambil sesuatu dengan penuh; maka huruf sin dan ta dalam firman-Nya: “yastawfun” (mereka minta dipenuhi) adalah untuk penekanan dalam perbuatan.
  • Dan dalam firman-Nya: “Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi” terdapat perbandingan yang datang dengan cara terbaik dan teratur, yakni: jika takaran berasal dari pihak lain, mereka minta dipenuhi, dan jika takaran berasal dari pihak mereka sendiri, mereka mengurangi, baik mereka melakukannya langsung atau tidak; kata ganti (dhamir) tidak menunjukkan keterlibatan langsung dan juga tidak memberi kesan tentang hal tersebut. Yang menunjukkan bahwa kata ganti tidak mengindikasikan keterlibatan langsung dalam perbuatan: bahwa diperbolehkan mengatakan: Para pemimpin adalah orang-orang yang menegakkan hukuman, bukan rakyat biasa, dan bukan berarti mereka melakukan itu sendiri, tetapi artinya bahwa pelaksanaan itu berasal dari pihak mereka khususnya.

2- Firman Allah Ta’ala: “Tidakkah orang-orang itu mengira bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?” – Ini merupakan kalimat permulaan baru (istinaf) yang muncul dari ancaman dan celaan terhadap orang-orang yang curang dengan kecelakaan karena kecurangan mereka, dan apa yang telah digambarkan tentang mereka berupa pelanggaran terhadap hak-hak para pembeli; maka ini adalah permulaan baru yang datang untuk menggambarkan betapa mengerikannya kecurangan yang mereka lakukan, dan keanehan keberanian mereka melakukannya.

  • Firman-Nya: “Tidakkah orang-orang itu mengira bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan” – Hamzah (tanda tanya) di sini untuk pertanyaan pengingkaran dan keheranan, di mana penanya bertanya tentang pengetahuan mereka tentang kebangkitan, seolah-olah mereka tidak terpikirkan, dan tidak memperkirakan sama sekali bahwa mereka akan dibangkitkan dan dihisab atas sekecil apapun (sebesar zarrah dan biji sawi)!
  • Kata “orang-orang itu” (ula’ika) adalah isyarat kepada orang-orang yang curang, dan penggunaan kata tunjuk ini sebagai pengganti kata ganti mereka untuk menunjukkan dasar hukum yang merupakan sifat mereka; karena isyarat kepada sesuatu memperlihatkannya dari segi keberadaannya dengan sifatnya, sedangkan kata ganti tidak memperlihatkan sifatnya. Dan untuk memberitahukan bahwa mereka dibedakan dengan sifat buruk itu dari manusia lainnya dengan pembedaan yang sempurna, mereka ditempatkan pada posisi hal-hal yang ditunjuk dengan isyarat indrawi; maka pengalihan dari kata ganti ke kata tunjuk dalam firman-Nya: “Tidakkah orang-orang itu mengira” bertujuan untuk membedakan mereka, dan memperkenalkan sebutan mereka dalam posisi celaan, dan karena isyarat kepada mereka setelah menggambarkan mereka sebagai orang-orang yang curang menunjukkan bahwa sifat tersebut diperhatikan dalam isyarat, sehingga hal itu menunjukkan alasan pengingkaran. Dan makna jauh yang terkandung dalam kata tunjuk itu untuk menunjukkan jauhnya derajat mereka dalam kejahatan dan kerusakan.
  • Huruf Lam dalam firman-Nya: “pada suatu hari yang besar” adalah Lam untuk waktu, dan faedah Lam waktu adalah menyisipkan bantahan terhadap keraguan mereka yang mendorong mereka mengingkari kebangkitan, dengan keyakinan mereka bahwa seandainya ada kebangkitan, tentu orang-orang mati dari generasi-generasi lalu sudah dibangkitkan, maka firman-Nya: “pada suatu hari” mengisyaratkan bahwa kebangkitan memiliki waktu tertentu yang terjadi padanya, bukan sebelumnya.
  • Dan makna “manusia berdiri”: bahwa mereka dalam keadaan berdiri; maka pengungkapan dengan kata kerja present tense (mudhari’) untuk menghadirkan keadaan tersebut.
  • Dan dalam pengkhususan penyebutan “Tuhan semesta alam” di sini di antara sifat-sifat lainnya: menunjukkan kepemilikan dan pendidikan, dan untuk menghadirkan keagungan-Nya bahwa Dia adalah pemilik berbagai jenis makhluk; maka orang zalim yang kuat tidak dapat menghindar dari-Nya, dan Dia tidak meninggalkan hak orang yang dizalimi yang lemah.

۞ ۞ ۞ ۞ ۞

Ayat: 7-17

﴿كَلَّآ اِنَّ كِتٰبَ الْفُجَّارِ لَفِيْ سِجِّيْنٍۗ ٧ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا سِجِّيْنٌۗ ٨ كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ ٩ وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَۙ ١٠ الَّذِيْنَ يُكَذِّبُوْنَ بِيَوْمِ الدِّيْنِۗ ١١ وَمَا يُكَذِّبُ بِهٖٓ اِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ اَثِيْمٍۙ ١٢ اِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِ اٰيٰتُنَا قَالَ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَۗ ١٣ كَلَّا بَلْ ۜرَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ ١٤ كَلَّآ اِنَّهُمْ عَنْ رَّبِّهِمْ يَوْمَىِٕذٍ لَّمَحْجُوْبُوْنَۗ ١٥ ثُمَّ اِنَّهُمْ لَصَالُوا الْجَحِيْمِۗ ١٦ ثُمَّ يُقَالُ هٰذَا الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَۗ ١٧ ﴾

Kata-kata yang Asing:

Sijjin: dalam pola “fi’il” dari akar kata “sijn” (penjara), dikatakan: itu adalah nama untuk bumi yang ketujuh paling bawah, dan dikatakan: itu adalah nama untuk neraka Jahannam, berlawanan dengan “‘Illiyyin”; tempat itu dinamakan “Sijjin” karena tempat itu adalah penjara yang paling keras bagi penghuninya, sehingga ia tidak akan meninggalkannya, dan asal kata “sajana”: menunjukkan penahanan.

Marqum: yaitu: tertulis dengan tulisan yang jelas menyerupai tanda pada kain tenun, dan asal kata “raqama”: menunjukkan garis dan tulisan dan sejenisnya.

Ad-Din: yaitu: pembalasan dan perhitungan, dikatakan: “dintuhu bima sana’a”, artinya: aku membalasnya, dan asal kata “din”: sejenis ketundukan dan kerendahan.

Atsim: yaitu: banyak berbuat dosa, melampaui batas dalam kezaliman, berlarut-larut dalam kekufuran, dan asal kata “atsima”: menunjukkan kelambatan dan keterlambatan; karena orang yang berdosa lambat terhadap kebaikan, terlambat darinya.

Asatir: yaitu: kebatilan-kebatilan, bentuk jamak dari “usturah”, yaitu: apa yang ditulis dari cerita-cerita dan kebohongan orang-orang terdahulu, dan asal kata “satara”: menunjukkan berderetnya sesuatu.

Rana: yaitu: menutupi dan menguasai, dan “ar-rain” seperti karat yang menutupi hati karena banyaknya maksiat dan dosa, dan segala yang mengalahkanmu dan meninggimu maka ia telah “rana bika” (menutupimu), dan “rana ‘alaika” (menguasaimu), dan asal kata “raina”: menunjukkan penutup dan penghalang.

La-salu al-jahim: yaitu: pasti masuk neraka Jahim dan merasakan panasnya, dan “al-jahim”: api neraka, dan “as-sala” asalnya: menyalakan dengan api, dan asal kata “sala” di sini: api, dan asal kata “jahama”: panas dan kerasnya panas.

Makna Keseluruhan:

Allah Ta’ala berfirman dengan ancaman dan peringatan: Hentikanlah -wahai orang-orang jahat yang zalim- apa yang kalian lakukan berupa kecurangan dan kelalaian terhadap kebangkitan dan perhitungan; sesungguhnya catatan amal orang-orang jahat dari para pelaku kecurangan dan lainnya berada di tempat yang sempit di bumi ketujuh, dan tidaklah engkau mengetahui -wahai Muhammad- hakikat Sijjin yang di dalamnya diletakkan kitab amal orang-orang jahat? Kitab orang-orang jahat adalah kitab yang tertulis di dalamnya amal-amal mereka. Azab dan kebinasaan pada hari kiamat bagi orang-orang yang mendustakan yang mengingkari hari perhitungan dan pembalasan.

Kemudian Allah Ta’ala menjelaskan sifat-sifat para pendusta tersebut, seraya berfirman: Dan tidaklah mendustakan hari itu kecuali setiap orang yang melampaui batas-batas Allah, yang banyak berbuat dosa, yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Al-Qur’an, dia berkata dengan mendustakan: “Itu adalah cerita-cerita orang-orang terdahulu dan dongeng-dongeng mereka yang telah ditulis dalam kitab-kitab sebelumnya!”

Kemudian Allah Subhanahu menjelaskan sebab yang mendorong mereka mengatakan tentang Al-Qur’an apa yang mereka katakan, seraya berfirman: Hentikanlah dan cegahlah dari perkataan-perkataan ini; perkara ini tidak seperti yang kalian klaim wahai orang-orang yang melampaui batas lagi berdosa, sesungguhnya sebab fitnah mereka adalah banyaknya dosa dan kesalahan yang menghalangi hati mereka dari beriman kepada Al-Qur’an. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan itu pada hari kiamat akan terhalang dari Tuhan mereka, sehingga mereka tidak akan melihat-Nya selamanya, kemudian mereka akan masuk neraka, dan terbakar di dalamnya, kemudian dikatakan kepada mereka sebagai celaan dan teguran: “Inilah azab neraka yang dulu kalian dustakan di dunia; maka rasakanlah!”

 

 

Tafsir Ayat-Ayat:

Sekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang yang durhaka benar-benar tersimpan dalam sijjin (7).

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Setelah Allah menjelaskan besarnya dosa tersebut, Dia melanjutkan dengan menyebutkan konsekuensi dan hukum-hukumnya.

Sekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang yang durhaka benar-benar tersimpan dalam sijjin (7).

Artinya: Bukanlah perkara seperti yang disangka oleh orang-orang kafir ini bahwa mereka tidak akan dibangkitkan dan tidak akan diazab, maka hendaklah mereka berhenti! Sesungguhnya catatan amal orang-orang durhaka dari para pelaku kecurangan dan lainnya berada di tempat yang sempit di bumi ketujuh paling bawah!

Dari Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam haditsnya yang panjang tentang sifat pencabutan ruh, dan nikmat kubur serta azabnya: ((Maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Tulislah catatannya di Sijjin di bumi paling bawah,” lalu ruhnya dilemparkan)).

Dan tahukah kamu apakah sijjin itu? (8)

Artinya: Dan apakah yang memberitahumu -wahai Muhammad- tentang hakikat Sijjin yang di dalamnya diletakkan catatan amal orang-orang durhaka?

Yaitu kitab yang bertulis (9).

Artinya: Catatan orang-orang durhaka ini adalah kitab yang tertulis di dalamnya amal-amal mereka dengan jelas tanpa tambahan atau pengurangan.

Kecelakaan besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan (10).

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Setelah Allah memberitahukan tentang apa yang terkandung dalam kitab berupa keburukan, Dia melanjutkan dengan memberitahukan apa yang dihasilkannya bagi para pemiliknya; maka Dia berfirman:

Kecelakaan besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan (10).

Artinya: Azab dan kebinasaan pada hari kiamat bagi orang-orang yang mendustakan!

(Yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan (11).

Artinya: Orang-orang yang mendustakan di dunia hari perhitungan dan pembalasan, sehingga mereka mengingkari kebangkitan pada hari kiamat.

Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu kecuali setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa (12).

Artinya: Dan tidaklah mendustakan hari itu kecuali setiap orang yang melampaui batas-batas Allah, zalim terhadap hamba-hamba Allah, sangat tenggelam dalam hal-hal yang diharamkan, banyak dosa dan keburukan.

Yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah dongeng orang-orang dahulu” (13).

Artinya: Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Al-Qur’an, dia berkata dengan mendustakan: “Itu adalah cerita-cerita orang-orang terdahulu dan dongeng-dongeng mereka yang telah ditulis dalam kitab-kitab sebelumnya!”

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan mereka berkata: ‘(Al-Qur’an itu) adalah dongeng-dongeng orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongeng itu kepadanya setiap pagi dan petang'” [Al-Furqan: 5]. Dan Allah Subhanahu berfirman: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Apakah yang telah diturunkan Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Dongeng-dongeng orang-orang dahulu'” [An-Nahl: 24].

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (14).

Kesesuaian ayat ini dengan ayat sebelumnya: Setelah menyebutkan bahwa mereka mengatakan: Sesungguhnya Al-Quran adalah dongeng orang-orang terdahulu, dan bukan wahyu dari Allah – Allah melanjutkan dengan penjelasan bahwa yang membuat mereka berani mengatakan hal itu adalah perbuatan-perbuatan buruk mereka.

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (14).

Artinya: Al-Quran bukanlah dongeng orang-orang terdahulu seperti yang diklaim oleh para pendusta, tetapi yang mendorong mereka untuk mendustakan kebenaran dan meninggalkan keimanan kepadanya adalah bahwa dosa-dosa yang terus-menerus mereka lakukan telah menutupi dan meliputi hati mereka, sehingga hati mereka menjadi hitam dan mereka melihat kebenaran sebagai kebatilan.

Sebagaimana Allah berfirman: “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, lalu dia berpaling darinya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kalaupun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.” [Al-Kahfi: 57].

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya seorang mukmin jika berbuat dosa, maka akan muncul titik hitam di hatinya. Jika dia bertaubat, meninggalkan dosa dan beristighfar, maka hatinya akan dibersihkan. Namun jika dia menambah (dosa), maka akan bertambah pula (titik hitam itu). Itulah ar-raan (noda) yang Allah sebutkan dalam kitab-Nya: ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.”

Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Fitnah-fitnah diperlihatkan kepada hati seperti tikar (yang dianyam) satu demi satu. Hati mana saja yang menerimanya akan ditandai dengan titik hitam, dan hati mana saja yang menolaknya akan ditandai dengan titik putih, sehingga hati manusia menjadi dua macam: hati yang putih seperti batu yang halus, tidak akan terpengaruh oleh fitnah selama langit dan bumi masih ada; dan yang lain adalah hati yang hitam keabu-abuan seperti bejana yang terbalik, tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran kecuali apa yang sesuai dengan hawa nafsunya.”

كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ (15).

Artinya: Sekali-kali tidak! Sesungguhnya para pendusta itu pada hari kiamat akan terhalang dari (melihat) Tuhan mereka, sehingga mereka tidak akan pernah melihat-Nya.

ثُمَّ إِنَّهُمْ لَصَالُو الْجَحِيمِ (16).

Kesesuaian ayat ini dengan ayat sebelumnya: Setelah menjelaskan azab berupa terhalang (dari melihat Allah) yang merupakan azab hati yang tidak ada azab yang lebih keras darinya, karena semua azab bercabang darinya – Allah mulai menjelaskan sebagian azab fisik yang bercabang darinya, dengan penekanan karena pengingkaran mereka, menggunakan kata ‘tsumma’ (kemudian) untuk menunjukkan tingginya tingkatan azab tersebut di antara jenis-jenis azab, maka Allah berfirman:

ثُمَّ إِنَّهُمْ لَصَالُو الْجَحِيمِ (16).

Artinya: Kemudian, di samping terhalang dari melihat Allah, mereka juga akan masuk ke dalam neraka dan terbakar di dalamnya.

كما قال تعالى: وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ * يَصْلَوْنَهَا يَوْمَ الدِّينِ * وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَائِبِينَ [الانفطار: 14 – 16].

Sebagaimana Allah berfirman: “Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan. Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu.” [Al-Infithar: 14-16].

ثُمَّ يُقَالُ هَذَا الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ (17).

Kesesuaian ayat ini dengan ayat sebelumnya: Setelah menjelaskan azab yang menimpa hati dan tubuh mereka, Allah melanjutkan dengan perkataan berupa celaan dan teguran yang merupakan azab jiwa.

ثُمَّ يُقَالُ هَذَا الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ (17).

Artinya: Kemudian akan dikatakan kepada mereka sebagai celaan dan teguran: “Inilah azab neraka yang dahulu kalian dustakan di dunia; maka rasakanlah sekarang di akhirat!”

Sebagaimana Allah berfirman: “(Ingatlah) pada hari (ketika) mereka disiksa di atas api neraka. (Dikatakan kepada mereka): ‘Rasakanlah siksaanmu itu. Inilah azab yang dahulu kamu minta untuk disegerakan.'” [Adz-Dzariyat: 13-14].

Pelajaran dan manfaat edukatif:

  1. Allah berfirman: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya kitab orang-orang yang durhaka benar-benar dalam sijjin”. Allah mencegah para pelaku kecurangan dari apa yang mereka lakukan berupa kecurangan dan kelalaian tentang kebangkitan dan perhitungan, dan mengingatkan mereka bahwa hal itu termasuk yang wajib bertaubat darinya dan menyesalinya dengan firman-Nya: “Sekali-kali tidak!”. Kemudian Allah melanjutkan dengan ancaman terhadap orang-orang durhaka secara umum dengan firman-Nya: “Sesungguhnya kitab orang-orang yang durhaka benar-benar dalam sijjin”.
  2. Dalam firman Allah: “Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka” terdapat peringatan dari dosa-dosa; karena dosa-dosa itu menutupi hati dan menghalanginya sedikit demi sedikit, hingga cahayanya menjadi padam dan mata hatinya mati; sehingga hakikat-hakikat menjadi terbalik baginya, dia melihat kebatilan sebagai kebenaran dan kebenaran sebagai kebatilan! Ini adalah sebagian dari hukuman akibat dosa-dosa.

Melakukan perbuatan buruk menjadi sebab tertutupnya mata hati, tertutupnya (hati) dan munculnya noda pada hati, sebagaimana Allah telah menjelaskannya dalam banyak ayat, di antaranya ayat ini: “Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka”, dan firman Allah: “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit itu” [Al-Baqarah: 10], dan firman-Nya Yang Maha Agung: “Maka ketika mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka” [Ash-Shaff: 5].

3- Allah berfirman: “Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka.”

Allah menggambarkan mereka bahwa perbuatan mereka telah menutupi hati mereka. Ar-raan adalah apa yang menutupi hati dari dosa-dosa berupa kegelapan maksiat dan kerasnya hati. Kemudian Allah menyebutkan balasan atas hal itu, yaitu tiga macam: terhalang dari (melihat) Tuhan mereka, kemudian masuk neraka Jahim, kemudian celaan.

Azab terbesar bagi penghuni neraka adalah mereka terhalang dari (melihat) Tuhan mereka Yang Maha Agung. Dan karena hati mereka di dunia gelap dan keras, tidak ada cahaya iman dan hakikat pengetahuan yang masuk ke dalamnya, maka balasan untuk mereka di akhirat adalah mereka terhalang dari melihat Ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih).

Sebagian ahli makrifat berkata: “Barangsiapa yang mengenal Allah di dunia, dia akan mengenal-Nya sesuai dengan kadar pengenalan dirinya kepada Allah, dan Allah akan menampakkan diri kepadanya di akhirat sesuai dengan kadar pengetahuannya tentang Allah di dunia. Maka dia melihat Allah di dunia dengan penglihatan rahasia (hati), dan akan melihat-Nya di akhirat dengan penglihatan mata. Barangsiapa yang tidak melihat-Nya di dunia dengan rahasia (hati)nya, maka dia tidak akan melihat-Nya di akhirat dengan matanya.” Selesai.

Maka ketakutan para ahli makrifat di dunia adalah terhalangnya mereka dari melihat Allah dengan mata hati mereka, dan di akhirat adalah terhalangnya mereka dari melihat Allah dengan mata kepala mereka.

Manfaat ilmiah dan hal-hal menarik:

1- Dalam firman Allah: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya kitab orang-orang yang durhaka benar-benar dalam sijjin” terdapat isyarat bahwa jika kitab mereka berada dalam penjara yang agung, yaitu: kesempitan yang sangat, maka mereka berada dalam kesempitan yang lebih besar!

2- Dalam firman Allah: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya kitab orang-orang yang durhaka benar-benar dalam sijjin” disebutkan bahwa nama “fajir” (orang durhaka) dalam istilah Al-Quran dan Sunnah mencakup orang kafir secara pasti.

3- Firman Allah: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya kitab orang-orang yang durhaka benar-benar dalam sijjin” dijadikan dalil bahwa neraka berada di bumi, sehingga “sijjin” adalah bumi yang paling bawah. Demikian pula disebutkan dalam hadits tentang orang-orang kafir yang meninggal dan diambil ruhnya; bahwa pintu-pintu langit tidak dibukakan untuk mereka, dan Allah berfirman: “Tulislah kitab hamba-Ku dalam sijjin di bumi yang paling bawah, dan kembalikan dia ke bumi.”

Dan seandainya neraka berada di langit, tentu pintu-pintu langit akan dibukakan untuk mereka agar mereka memasukinya. Dan jika neraka berada di langit, maka masuknya mereka ke dalam neraka -yang berada di langit- mengharuskan dibukanya pintu-pintu langit!

4- Semakin tinggi arah, semakin luas, dan semakin rendah, semakin sempit. Karena itulah yang paling tinggi adalah yang paling luas, dan yang paling bawah adalah yang paling sempit. Oleh karena itu Allah membandingkan antara ‘illiyyin dan sijjin dalam kitab-Nya, dengan berfirman: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti benar-benar dalam ‘illiyyin.” [Al-Muthaffifin: 18] “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya kitab orang-orang yang durhaka benar-benar dalam sijjin.”

Allah tidak mengatakan “dalam sifliin” (tempat yang rendah) sebagaimana Dia tidak mengatakan “dalam wis’iin” (tempat yang luas) di sana; untuk menunjukkan kesempitan dan kesulitan yang ada di tempat itu, sebagaimana Dia menunjukkan kerendahannya dengan membandingkannya dengan “‘illiyyin”, dan juga menunjukkan keluasan “‘illiyyin” dengan membandingkannya dengan “sijjin”. Maka dengan itu Allah telah menunjukkan ketinggian dan keluasan bagi orang-orang berbakti, serta kerendahan dan kesempitan bagi orang-orang durhaka.

5- Allah berfirman: “Kecelakaan besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.”

Pendustaan terhadap hari pembalasan adalah asal-muasal keberanian melakukan keburukan dan kejahatan. Oleh karena itu Allah melanjutkannya dengan firman-Nya: “Dan tidak ada yang mendustakannya kecuali setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa, yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: ‘(Ini adalah) dongeng-dongeng orang-orang dahulu.'”

Maksudnya: Sesungguhnya pendustaan mereka terhadapnya adalah kebodohan tentang hikmah Allah dalam menciptakan manusia dan membebani mereka dengan kewajiban. Karena hikmah dari penciptaan manusia menghendaki perbaikan amal mereka dan menjaga aturan mereka. Karena itulah datang kepada mereka syariat-syariat yang memerintahkan kebaikan dan melarang kerusakan, dan Allah menetapkan balasan atas amal-amal saleh mereka dengan pahala dan kemuliaan, dan atas amal-amal buruk mereka dengan azab dan penghinaan; masing-masing sesuai dengan amalnya.

Seandainya Sang Pencipta mengabaikan pelurusan makhluk-makhluk-Nya, dan mengabaikan balasan bagi orang-orang saleh dan para perusak, niscaya hal itu bukanlah termasuk hikmah penciptaan. Allah berfirman: “Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu secara main-main (tanpa tujuan) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya.” [Al-Mu’minun: 115-116].

6- Dalam firman Allah: “Kecelakaan besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan…” hingga firman-Nya: “Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Kemudian dikatakan (kepada mereka): ‘Inilah azab yang dahulu kamu dustakan.'” Dan firman Allah: “Dan mereka berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, dan kita tidak akan dibangkitkan.’ Dan seandainya kamu melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhannya (tentulah kamu melihat peristiwa yang mengharukan). Dia (Allah) berfirman: ‘Bukankah (kebangkitan) ini benar?’ Mereka menjawab: ‘Benar, demi Tuhan kami.’ Dia (Allah) berfirman: ‘Maka rasakanlah azab ini karena kamu mengingkari(nya).'” [Al-An’am: 29-30]. Ini menunjukkan bahwa siapa saja yang mendustakan kebangkitan, dia adalah orang kafir.

7- Apabila Allah mengunci hati seorang hamba, maka dia akan melihat kebatilan sebagai kebenaran, dan kebenaran sebagai kebatilan, sebagaimana Allah berfirman: “Dan tidak ada yang mendustakannya kecuali setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa, yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: ‘(Ini adalah) dongeng-dongeng orang-orang dahulu.’ Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”

Artinya: Sekali-kali tidak! Al-Quran bukanlah dongeng orang-orang dahulu, tetapi ketika manusia ini telah melakukan maksiat dan dosa-dosa yang menggelapkan hatinya, maka berkumpullah dosa-dosa ini pada hatinya dan dia tidak melihat Al-Quran yang agung kecuali seperti cerita-cerita orang-orang dahulu, tidak merasakan nikmatnya, dan hatinya tidak mendapat cahaya darinya. Kami berlindung kepada Allah.

8- Dalam firman Allah: “Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka” terdapat penjelasan bahwa maksiat-maksiat menghalangi manusia dari pemahaman agama Allah.

9- Dalam firman Allah: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka” menunjukkan bahwa penghuni neraka sebagaimana hati mereka terhalang dari Allah di dunia, mereka juga terhalang di akhirat dari melihat-Nya. Ini berbeda dengan keadaan penghuni surga; Allah berfirman: “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat Allah). Dan wajah mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan.” [Yunus: 26].

Orang-orang yang berbuat baik adalah ahli ihsan, dan ihsan adalah seseorang beribadah kepada Tuhannya seakan-akan dia melihat-Nya, sebagaimana ditafsirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Jibril ‘alaihissalam bertanya kepadanya tentang hal itu. Maka Allah menjadikan balasan ihsan adalah al-husna -yaitu surga-, dan tambahan -yaitu melihat wajah Allah ‘Azza wa Jalla- sebagaimana ditafsirkan demikian oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Shuhaib dan lainnya.

10- Dalam firman Allah: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka” terdapat bantahan terhadap orang yang mengklaim bahwa orang-orang kafir akan melihat Allah pada hari kiamat. Dan pemahaman dari ayat ini adalah bahwa orang-orang beriman akan melihat Tuhan mereka pada hari kiamat dan di surga, dan mereka akan menikmati melihat-Nya lebih besar daripada kenikmatan-kenikmatan lainnya, dan mereka akan berbahagia dengan pembicaraan-Nya, dan mereka akan bergembira dengan kedekatan-Nya.

Imam Syafi’i dan imam-imam lainnya telah berargumen dengan dalil ini. Cara berargumennya adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan salah satu hukuman terbesar bagi orang-orang kafir adalah mereka terhalang dari melihat-Nya dan mendengar firman-Nya. Maka jika orang-orang beriman juga tidak melihat-Nya dan tidak mendengar firman-Nya, berarti mereka juga terhalang dari-Nya!

11- Dikatakan di sini: “terhalang dari (melihat) Tuhan mereka”, bukan dikatakan: “(terhalang dari) melihat Tuhan mereka”, atau “(terhalang dari) wajah Tuhan mereka”; agar kalimatnya mencakup dua makna: terhalang dari Tuhan mereka -hijab adalah penutup- dan penghinaan; karena hijab digunakan untuk mencegah kehadiran di hadapan raja dan di hadapan pemimpin kaum, dan kedua makna ini dimaksudkan di sini; karena orang-orang yang mendustakan hari pembalasan tidak akan melihat Allah pada hari kiamat ketika orang-orang beriman melihat-Nya.

12- Allah berfirman: “Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka.” Barangsiapa yang hatinya tertutup oleh perbuatannya, dan maksiat-maksiatnya menutupinya, maka dia terhalang dari kebenaran. Oleh karena itu dia dibalas dengan dihalangi dari (melihat) Allah sebagaimana hatinya terhalang di dunia dari ayat-ayat Allah.

13- Allah berfirman: “Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka.” Allah mengumpulkan bagi mereka dua macam azab: azab neraka dan azab terhalang dari melihat-Nya Yang Maha Suci, sebagaimana Dia mengumpulkan bagi para wali-Nya dua macam kenikmatan: kenikmatan menikmati apa yang ada di surga, dan kenikmatan menikmati melihat-Nya Yang Maha Tinggi.

Keindahan Ayat-ayat:

1- Firman Allah Ta’ala: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang-orang durhaka benar-benar tersimpan dalam sijjin. Dan tahukah engkau apakah sijjin itu? (Yaitu) Kitab yang tertulis.”

Kata “Kalla” (sekali-kali tidak) merupakan penolakan dan pencegahan terhadap apa yang terkandung dalam kalimat “Tidakkah mereka mengira bahwa mereka akan dibangkitkan” [Al-Muthaffifin: 4] yang mengungkapkan keheranan terhadap perbuatan mereka yang curang dalam timbangan, serta kelalaian mereka terhadap kebangkitan dan perhitungan. Artinya: Sekali-kali tidak, bahkan mereka akan dibangkitkan pada hari yang agung itu, dan untuk menerima keputusan Tuhan semesta alam; ini adalah jawaban untuk apa yang telah disebutkan sebelumnya.

  • Firman-Nya: “Sesungguhnya catatan orang-orang durhaka benar-benar tersimpan dalam sijjin…” dan seterusnya, merupakan permulaan kalimat baru yang berkaitan dengan penyebutan hari kiamat, dan ini adalah ancaman tersirat kepada orang-orang yang curang bahwa perbuatan mereka akan dicatat dalam kitab orang-orang durhaka.
  • Dikatakan pula: Bahwa firman-Nya: “Sesungguhnya catatan orang-orang durhaka benar-benar tersimpan dalam sijjin…” dan seterusnya, merupakan alasan untuk pencegahan atau kewajiban berhenti dari perbuatan curang dengan cara kepastian.
  • Kata definit pada “Al-Fujjar” (orang-orang durhaka) menunjukkan jenis yang dimaksudkan untuk mencakup keseluruhan, yaitu: semua orang musyrik; sehingga mencakup orang-orang yang curang dalam timbangan dan yang bukan. Keumuman kata “Al-Fujjar” yang mencakup semua orang musyrik; baik yang curang dalam timbangan maupun yang tidak, berarti: bahwa orang-orang yang curang dalam timbangan adalah yang dimaksud pertama dari keumuman ini; karena penyebutan sifat ini dan ancaman terhadapnya setelah kata pencegahan dari perbuatan orang-orang yang curang adalah indikasi bahwa ancaman itu ditujukan kepada mereka.
  • Dalam firman-Nya: “Sesungguhnya catatan orang-orang durhaka”, Dia menggunakan kata yang jelas pada tempat yang seharusnya menggunakan kata ganti; untuk menggeneralisasi, dan untuk mengaitkan hukum dengan sifat.
  • Pengertian dari firman-Nya: “benar-benar tersimpan dalam sijjin” jika diambil secara harfiah sebagai keterangan tempat, maka artinya: Sesungguhnya catatan amal perbuatan orang-orang durhaka disimpan di tempat yang bernama sijjin, atau yang sifatnya sijjin, dan itu menunjukkan penghinaan terhadapnya, yaitu: penghinaan terhadap apa yang terkandung di dalamnya dari amal perbuatan mereka yang tertulis di dalamnya. Dan jika keterangan tempat dalam firman-Nya: “benar-benar tersimpan dalam sijjin” diambil tidak secara harfiah, maka menjadikan catatan orang-orang durhaka terkandung dalam sijjin adalah ungkapan tentang menjadikan amal perbuatan yang terhitung di dalamnya dalam sijjin, dan itu adalah kiasan simbolis bahwa orang-orang durhaka berada dalam sijjin.
  • Kalimat “Dan tahukah engkau apakah sijjin itu?” adalah kalimat yang disisipkan antara kalimat “Sesungguhnya catatan orang-orang durhaka benar-benar tersimpan dalam sijjin” dan kalimat “Kitab yang tertulis”, dan ini adalah penggambaran dahsyatnya sijjin sebagai penggambaran yang mengerikan tentang keadaan orang-orang yang berada di dalamnya, yaitu: sijjin berada pada tingkat yang tidak dapat dijangkau oleh pengetahuan siapapun.
  • Firman-Nya: “Dan tahukah engkau apakah sijjin itu?” Pertanyaan di dalamnya adalah dari jenis pengagungan dan pemuliaan perkara, dan demikian pula firman-Nya: “Dan tahukah engkau apakah ‘Illiyyin itu?” [Al-Muthaffifin: 19].
  • Dan firman-Nya: “Kitab yang tertulis” adalah predikat dari subjek tersirat yang merujuk pada “catatan orang-orang durhaka”, perkiraan maknanya: ia -yakni catatan orang-orang durhaka- adalah kitab yang tertulis, dan ini termasuk penghapusan subjek yang mengikuti kebiasaan orang Arab ketika mereka berbicara tentang sesuatu kemudian ingin memberikan informasi baru tentangnya.
  • “Marqūm” (tertulis): yang ditulis dengan tulisan yang jelas menyerupai ukiran pada kain tenun, dan sifat ini: “Marqūm” (tertulis) menegaskan apa yang ditunjukkan oleh kata “Kitāb” (catatan).

2- Firman Allah Ta’ala: “Kecelakaan pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. (Yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.”

  • Kalimat “Kecelakaan pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan” mungkin menjelaskan kandungan kalimat “Tidakkah mereka mengira bahwa mereka akan dibangkitkan, pada hari yang besar” [Al-Muthaffifin: 4-5]; karena firman-Nya: “pada hari itu” tanwinnya menunjukkan kalimat tersirat yang tanwin menggantikannya, perkiraannya: pada hari ketika manusia berdiri (menghadap) Tuhan semesta alam, kecelakaan pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Dan mungkin juga kalimat permulaan baru, dan antara orang-orang yang mendustakan hari pembalasan dan orang-orang yang curang dalam timbangan memiliki hubungan umum-khusus dua arah; sebagian orang yang mendustakan adalah orang yang curang, dan di antara orang yang curang ada yang muslim dan ahli kitab yang tidak mendustakan hari pembalasan; maka kalimat ini menjadi sisipan ancaman bagi orang-orang musyrik yang mendustakan hari pembalasan, meskipun mereka bukan dari orang-orang yang curang dalam timbangan.
  • Dan orang-orang yang mendustakan telah disebutkan secara umum dalam firman-Nya: “bagi orang-orang yang mendustakan”, kemudian disebutkan kembali secara terperinci dengan penjelasan objek pendustaan, yaitu “hari pembalasan”; untuk lebih menekankan pendustaan mereka dalam pikiran para pendengar dari mereka dan dari yang lainnya dari kalangan muslim dan ahli kitab; maka sifat di sini untuk mengancam, dan memperingatkan orang-orang muslim yang curang agar tidak meremehkan kecurangan sehingga mereka seperti orang-orang yang mendustakan pembalasan atasnya.
  • Dalam firman-Nya: “Kecelakaan pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan” terdapat kesesuaian yang baik, di mana ayat ini hanya disebutkan sekali dalam surah ini, dan diulang dalam surah Al-Mursalat sepuluh kali; dikatakan: itu karena firman-Nya: “Kecelakaan bagi mereka” adalah kalimat yang diucapkan untuk setiap orang yang jatuh dalam kebinasaan yang tidak diharapkan keselamatannya darinya, dan dalam surah ini disebutkan sekali saja; karena surah ini terbatas pada pencegahan dari neraka dan penjelasan sifatnya dan hukuman bagi penghuninya, dan pada dorongan untuk surga dan kenikmatan penghuninya; tidak ada dalam surah ini selain dua makna ini, maka ketika surah ini dikhususkan untuk keduanya, kalimat ini disebutkan ketika menyebutkan apa yang dicatat terhadap orang-orang yang mendustakan dan apa yang diberitahukan oleh catatan mereka tentang apa yang akan menjadi nasib mereka, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan catatan orang-orang yang berbakti dan tempatnya serta perbedaan jauh antara balasan mereka dan balasan yang lainnya; maka cukup dengan menyebutkan kalimat itu sekali sesuai dengan ringkasnya surah ini.

Adapun pengulangan dalam surah Al-Mursalat adalah karena setiap kalimat di dalamnya berisi informasi dari Allah Ta’ala tentang berbagai keadaan akhirat dan keterangan-keterangan tentang keadaan dunia, maka sesuai untuk menyebutkan ancaman setelah setiap kalimat bagi orang yang mendustakan dengan “kecelakaan” pada hari akhirat.

  • Firman-Nya: “orang-orang yang mendustakan hari pembalasan” adalah sifat untuk mencela bukan untuk penjelasan, seperti ucapanmu: “Fulan yang fasik yang jahat melakukan itu”, maka firman-Nya: “orang-orang yang mendustakan” bukanlah sifat penjelas untuk orang-orang yang mendustakan; karena mereka sudah diketahui, dan bukan pula pembeda; karena tidak dimaksudkan untuk membedakan mereka dari yang lainnya, tetapi dia adalah marfu’ (nominatif) atau manshub (akusatif) sebagai celaan, dan boleh juga sebagai badal (pengganti); agar berhubungan dengan firman-Nya: “Dan tidak ada yang mendustakannya kecuali setiap orang yang melampaui batas.”

3- Firman Allah Ta’ala: “Dan tidaklah ada yang mendustakannya kecuali setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa, yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata: “(Ini adalah) dongeng-dongeng orang-orang terdahulu.”

  • Firman-Nya: “Dan tidaklah ada yang mendustakannya kecuali setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa” dalam bentuk pembatasan dari penafian dan pengecualian (ma…illa) menunjukkan pembatasan sifat pendustaan terhadap hari pembalasan hanya pada orang-orang yang melampaui batas dan berdosa yang menganggap Al-Qur’an sebagai dongeng orang-orang terdahulu, dan ini adalah pembatasan sifat pada yang disifati, dan ini adalah pembatasan hakiki; karena hari pembalasan tidak didustakan kecuali oleh orang-orang yang tidak beragama; kaum musyrikin, penyembah berhala dan sejenisnya dari orang-orang yang memiliki ketiga sifat tersebut, dan yang paling besar adalah pendustaan terhadap Al-Qur’an; karena ahli kitab dan kaum Shabiah tidak mendustakan hari pembalasan, dan banyak dari orang-orang musyrik tidak mendustakan hari pembalasan seperti penganut agama Koptik; maka orang-orang yang mendustakan hari pembalasan adalah kaum musyrik Arab dan yang serupa dengan mereka seperti kaum materialis; karena pada mereka terdapat dua sifat pertama, yaitu melampaui batas dan dosa, dan itu jelas. Adapun anggapan bahwa Al-Qur’an adalah dongeng-dongeng orang-orang terdahulu, itu adalah perkataan kaum musyrik Arab, dan merekalah yang dimaksud pertama kali, sedangkan selain mereka yang tidak diketahui ucapan ini dari mereka, mereka siap untuk mengatakannya, atau mengatakan yang setara atau yang mengarah kepadanya; karena di antara mereka yang belum diperdengarkan Al-Qur’an, jika Al-Qur’an diperdengarkan kepadanya, dia akan mendustakannya dengan pendustaan yang setara dengan keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah buatan manusia, jadi mereka meskipun tidak mengatakan: “Al-Qur’an adalah dongeng-dongeng orang-orang terdahulu”; anggapan mereka tentang Al-Qur’an setara dengan anggapan kaum musyrik, maka mereka ditempatkan pada posisi orang yang mengatakannya. Dan mungkin juga pembatasan ini bersifat pengandaian, tanpa memperhatikan penempatan posisi bagi yang tidak mengatakan demikian tentang Al-Qur’an, dan makna pengandaian: bahwa orang-orang yang tidak diketahui perkataan mereka tentang Al-Qur’an bahwa itu adalah dongeng-dongeng orang-orang terdahulu, pendustaan mereka terhadap hari pembalasan dianggap seperti tidak ada pendustaan; sebagai bentuk melebih-lebihkan dalam membatalkan pendustaan kaum musyrik terhadap hari pembalasan.
  • “Atsīm” (berdosa) adalah bentuk mubalaghah (intensif) dari “ātsim”, artinya: banyak dosa, tenggelam dalam syahwat yang fana, sehingga menyibukkannya dari kenikmatan sempurna yang kekal di baliknya, dan mendorongnya untuk mengingkarinya.

4- Firman Allah Ta’ala: “Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”

“Kalla” (sekali-kali tidak) adalah sisipan penolakan dan penjelasannya; karena “kalla” adalah penolakan terhadap perkataan mereka: “dongeng-dongeng orang-orang terdahulu”, artinya: sesungguhnya perkataan mereka adalah batil, dan huruf “bal” (bahkan) untuk pembatalan; sebagai penegasan isi dari “kalla”, dan penjelasan dan pengungkapan apa yang mendorong mereka untuk mengatakan tentang Al-Qur’an apa yang mereka katakan, dan bahwa yang membutakan pandangan mereka adalah “rān” (kotoran).

  • Penggunaan kata “yaksibūn” (mereka kerjakan) dalam bentuk kata kerja present tense bukan past tense; untuk menunjukkan perulangan dan banyaknya perbuatan itu di masa lalu.

5- Firman Allah Ta’ala: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka.”

“Kalla” (sekali-kali tidak) adalah penolakan dan pencegahan dari perbuatan yang mengotori. Atau “kalla” di sini adalah penegasan untuk “kalla” yang pertama; sebagai tambahan dalam penolakan sehingga menjadi celaan.

6- Firman Allah Ta’ala: “Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka Jahim.”

Dikatakan: Kalimat ini dihubungkan dengan huruf “tsumma” (kemudian) yang dalam penghubungan kalimat menunjukkan jarak tingkatan, dan ini adalah peningkatan dalam ancaman; karena ini adalah ancaman bahwa mereka termasuk penghuni neraka, dan itu lebih berat daripada kehinaan penghinaan, dan terhalangnya mereka dari Tuhan mereka.

7- Firman Allah Ta’ala: “Kemudian dikatakan (kepada mereka): “Inilah yang dahulu kamu dustakan.”

Ini adalah teguran keras, dengan peniadaan harapan akan keringanan; maka penghubungan kalimat dengan huruf “tsumma” (kemudian) menunjukkan jeda isi kalimat dari isi kalimat sebelumnya, yaitu: jauhnya tingkatan dalam tujuan yang menjadi sasaran pembicaraan. Dan kata penunjuk “hadza” (ini) menunjukkan bahwa mereka telah sampai pada azab. Dan pemberitahuan tentang azab bahwa itulah yang mereka dustakan, menunjukkan bahwa itu adalah azab yang berulang kali mereka diancam dengannya dan mereka mendustakannya, dan itu adalah kekekalan, dan itu adalah tingkatan yang lebih berat dalam ancaman, dan dengan demikian isi kalimat ini lebih tinggi tingkatannya dalam tujuan daripada isi kalimat yang dihubungkan dengannya.

Dan mungkin juga firman-Nya: “Kemudian dikatakan (kepada mereka): “Inilah yang dahulu kamu dustakan” adalah petunjuk kepada jawaban Malik penjaga Jahannam yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala: “Dan mereka berseru: “Wahai Malik! Biarlah Tuhanmu mematikan kami saja.” Dia menjawab: “Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini).” Sungguh, Kami telah datang membawa kebenaran kepadamu, tetapi kebanyakan di antara kamu membenci kebenaran itu” [Az-Zukhruf: 77-78]; maka pertanyaan mereka disembunyikan, dan dibatasi pada jawaban Malik penjaga Jahannam berdasarkan pada indikasi penghubungan kalimat perkataan ini dengan “tsumma” yang menunjukkan jeda.

  • Dan kata kerja “yuqālu” (dikatakan) dibangun dalam bentuk pasif; karena tidak ada tujuan untuk mengetahui siapa yang mengucapkannya, tujuannya adalah: perkataan itu sendiri.
  • Dan digunakan kata penghubung (ism maushul); untuk mengingatkan mereka akan pendustaan mereka terhadapnya di dunia; sebagai penyesalan dan kesedihan bagi mereka.
  • Dan pendahuluan “bihi” (dengannya) atas “tukadzdzibūn” (kamu dustakan); untuk memberikan perhatian pada rujukan kata ganti, dengan memperhatikan akhir ayat (fasilah).

۞ ۞ ۞ ۞ ۞

Ayat: 18-28

﴿كَلَّآ اِنَّ كِتٰبَ الْاَبْرَارِ لَفِيْ عِلِّيِّيْنَۗ ١٨ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا عِلِّيُّوْنَۗ ١٩ كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۙ ٢٠ يَّشْهَدُهُ الْمُقَرَّبُوْنَۗ ٢١ اِنَّ الْاَبْرَارَ لَفِيْ نَعِيْمٍۙ ٢٢ عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِ يَنْظُرُوْنَۙ ٢٣ تَعْرِفُ فِيْ وُجُوْهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيْمِۚ ٢٤ يُسْقَوْنَ مِنْ رَّحِيْقٍ مَّخْتُوْمٍۙ ٢٥ خِتٰمُهٗ مِسْكٌ ۗوَفِيْ ذٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنٰفِسُوْنَۗ ٢٦ وَمِزَاجُهٗ مِنْ تَسْنِيْمٍۙ ٢٧ عَيْنًا يَّشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُوْنَۗ ٢٨ ﴾

Kata-kata Asing:

‘Illiyyīn: Bentuk jamak yang berasal dari “‘illiyy” yang merupakan bentuk fi”īl dari kata “al-‘uluww” (ketinggian), seperti “sijjīn” dari “al-sajn” (penjara). Dikatakan: itu adalah langit ketujuh di bawah ‘Arsy. Dan dikatakan juga: itu adalah nama untuk catatan kebaikan yang berisi semua perbuatan para malaikat dan makhluk yang saleh dari jin dan manusia; dan dinamakan demikian baik karena ia adalah sebab kenaikan ke tingkat-tingkat tertinggi di surga, atau karena ia diangkat di langit ketujuh, dan asal kata (‘uluw): menunjukkan ketinggian.

Al-Arā’ik: Bentuk jamak dari “arīkah”, yaitu dipan dalam kamar, dan penamaan ini baik karena dipan itu di tanah dan terbuat dari pohon “arāk”, atau karena dipan merupakan tempat tinggal, dari ucapan mereka: “araka bil-makān urūkan” (dia tinggal di tempat itu), dan asal kata “urūk”: tinggal untuk menggembalakan di pohon arāk, kemudian digunakan secara metaforis untuk tempat tinggal lainnya, dan (arak) memiliki dua asal kata; pertama: pohon, dan kedua: tempat tinggal.

Narah al-Na’īm: Artinya: keceriaan dan keindahan kenikmatan, dan asal kata (naḍar): menunjukkan keindahan dan kecantikan, dan asal kata (na’am): menunjukkan kemewahan, kehidupan yang baik, dan kebajikan.

Raīq: Ar-Raḥīq: nama untuk minuman keras yang jernih dan baik.

Makhtūm: Artinya: minuman yang dicap dengan aroma kesturi, dan dikatakan: wadahnya tertutup, tidak boleh disentuh tangan sampai orang-orang yang berbakti membuka capnya, dan asal kata (khatam): menunjukkan pencapaian akhir dari sesuatu.

Falyatanāfas al-Mutanāfisūn: Artinya: hendaklah orang-orang yang berhasrat berhasrat (untuk mendapatkannya), dan hendaklah mereka berlomba-lomba dalam mencarinya, dan hendaklah jiwa mereka sangat menginginkannya. Munāfasah: usaha jiwa untuk menyerupai orang-orang yang utama, dan menyusul mereka tanpa mendatangkan bahaya kepada orang lain. Dikatakan: “nāfastu fi al-syay’ munāfasatan wa nifāsan” (aku bersemangat dalam sesuatu dengan semangat dan keinginan), jika kamu menginginkannya dalam kerangka kompetisi, dan dari sini ucapan mereka: “syay’ nafīs” (sesuatu yang berharga), artinya: layak untuk diperebutkan dan diinginkan.

Wa Mizājuhu min Tasnīm: Artinya: apa yang dicampur dan dimasukkan ke dalam minuman itu dari Tasnīm, yaitu: nama mata air di surga yang tinggi derajatnya, dinamakan dengan tasnīm yang merupakan bentuk masdar dari “sannamahu”: jika dia meninggikannya; baik karena ia adalah minuman tertinggi di surga, atau karena ia datang kepada mereka dari atas, dan asal kata (mazaja): menunjukkan percampuran sesuatu dengan yang lainnya, dan asal kata (sanam): menunjukkan ketinggian dan peninggian, termasuk di antaranya punuk unta, dan “tasannamtu al-ḥā’iṭ”: jika aku menaikinya.

 

 

Masalah I’rab:

Firman Allah Ta’ala: “وَمِزَاجُهُ مِنْ تَسْنِيمٍ * عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُونَ”

(Dan campurannya dari Tasnim, yaitu mata air yang diminum oleh orang-orang yang dekat kepada Allah).

Firman Allah: “عَيْنًا” dalam keadaan nashabnya memiliki beberapa aspek:

  1. Pertama: Kata tersebut dinashabkan sebagai hal (keterangan keadaan) dari “تَسْنِيمٍ”, karena ia adalah nama untuk mata air dan nama air di surga. Tidak masalah bahwa ia adalah isim jamid (kata benda yang tidak dapat diderivasi), karena disifati dengan firman-Nya: “يَشْرَبُ بِهَا”, atau karena ditakwilkan dengan kata yang musytaq (dapat diderivasi) seperti “جارية” (mengalir), meskipun derivasi tidak diperlukan.
  2. Kedua: Kata tersebut dinashabkan sebagai pujian atau pengkhususan dengan fi’il (kata kerja) yang diperkirakan.
  3. Ketiga: Kata tersebut dinashabkan sebagai maf’ul (objek) kedua dari kata “يُسْقَونَ” yang diperkirakan.
  4. Keempat: Kata tersebut dinashabkan sebagai maf’ul dari “تَسْنِيمٍ” dengan anggapan bahwa kata itu adalah mashdar (infinitif) yang bertanwin dan diderivasi dari “سَنَّمَه” yang berarti “meninggikannya”.

Dan firman-Nya: “يَشْرَبُ بِهَا”: Huruf “ba” bisa jadi tambahan, artinya “يَشرَبُها” (meminumnya), atau bermakna “من” artinya “يَشرَبُ منها” (minum darinya), atau huruf tersebut tetap pada makna aslinya, dengan mengandung makna “يَرْوَى” (memuaskan dahaga) atau “يَلْتَذُّ” (menikmati).

Makna Keseluruhan:

Allah Ta’ala berfirman: Berhentilah wahai orang-orang yang durhaka dari pendustaan kalian terhadap kebangkitan dan pembalasan. Sesungguhnya catatan amal orang-orang mukmin yang taat berada di tempat yang tinggi dan mulia. Dan tahukah engkau, wahai Muhammad, tentang hakikat ‘Illiyyin yang di dalamnya diletakkan kitab catatan amal orang-orang yang berbakti? Kitab orang-orang yang berbakti adalah kitab yang tertulis amal-amal mereka di dalamnya, disaksikan oleh para malaikat yang dekat kepada Allah.

Kemudian Allah Subhanahu menjelaskan apa yang Dia persiapkan untuk orang-orang yang berbakti, Allah berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang berbakti yang menaati Allah benar-benar berada dalam kenikmatan surga yang abadi, di atas dipan-dipan mereka melihat wajah Allah Yang Mulia, dan melihat kenikmatan yang Allah berikan kepada mereka. Engkau mengenal pada wajah mereka bekas kenikmatan dan kebahagiaan. Mereka diberi minum dari khamer yang lezat, jernih, dan bermeterai misik. Maka hendaklah orang-orang yang berlomba bersungguh-sungguh dan bersegera dalam mencari kenikmatan tersebut.

Dan khamer murni yang bermeterai itu dicampur dan dipadukan dengan minuman yang mulia dari mata air yang tinggi dan luhur bernama Tasnim. Dan mata air itulah yang memuaskan dahaga orang-orang yang dekat kepada Allah (al-Muqarrabun) yang terdahulu.

 

 

Penjelasan Ayat-ayat:

Sekali-kali tidak! Sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu benar-benar tersimpan dalam ‘Illiyyin (18).

Kesesuaian ayat ini dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah Ta’ala menyebutkan tentang catatan amal orang-orang yang durhaka yang berada di tempat terendah dan tersempit, Allah melanjutkan dengan menyebutkan catatan amal kebalikannya yaitu catatan amal orang-orang yang berbakti, yang berada di tempat tertinggi, terluas, dan terlapang; agar perbedaannya menjadi jelas. Dan juga, setelah menyebutkan keadaan orang-orang durhaka yang curang dalam timbangan, Allah melanjutkan dengan menyebutkan keadaan orang-orang berbakti yang tidak melakukan kecurangan.

Sekali-kali tidak! Sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu benar-benar tersimpan dalam ‘Illiyyin (18).

Artinya: Tidaklah perkara itu seperti yang disangka oleh orang-orang durhaka bahwa tidak ada kebangkitan, perhitungan, dan pembalasan; hendaklah mereka berhenti dari mendustakan hal itu! Sesungguhnya lembaran catatan amal orang-orang mukmin yang taat, yang senantiasa melakukan kebaikan dan perbuatan ihsan: berada di tempat yang tinggi dan mulia.

Dari Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhuma dalam hadits panjangnya tentang pencabutan ruh, kenikmatan kubur dan siksanya, di dalamnya disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ((Lalu mereka naik dengan ruh itu, tidaklah mereka melewati sekelompok malaikat kecuali para malaikat itu bertanya: “Ruh siapakah yang baik ini?” Mereka menjawab: “Fulan bin fulan,” dengan menyebut nama terbaiknya yang dikenal di dunia, hingga mereka sampai ke langit dunia, lalu mereka meminta dibukakan pintu, maka dibukakan untuk mereka. Malaikat-malaikat terdekat di setiap langit mengantarkannya hingga ke langit berikutnya, sampai akhirnya ruh itu dibawa ke langit ketujuh. Kemudian Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Tulislah kitab hamba-Ku ini dalam ‘Illiyyin, dan kembalikanlah dia ke bumi; karena dari situlah Aku menciptakan mereka, ke sanalah Aku mengembalikan mereka, dan dari sanalah Aku akan mengeluarkan mereka sekali lagi”)).

Dan tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu? (19).

Kesesuaian ayat ini dengan ayat sebelumnya: Ketika hal ini merupakan perkara yang agung, Allah menambah keagungannya dengan firman-Nya:

Dan tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu? (19).

Artinya: Apa yang memberitahumu -wahai Muhammad- tentang hakikat ‘Illiyyin tempat disimpannya kitab amal orang-orang yang berbakti?

Yaitu kitab yang bertulis (20).

Kesesuaian ayat ini dengan ayat sebelumnya: Setelah mengagungkan tempat tersebut sehingga diketahui keagungan kitabnya, Allah memulai penjelasan tentang kitab itu secara pasti; untuk menambah keagungannya, Allah berfirman:

Yaitu kitab yang bertulis (20).

Artinya: Kitab orang-orang berbakti ini adalah kitab yang tertulis amal-amal mereka di dalamnya dengan jelas tanpa penambahan atau pengurangan.

Yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah) (21).

Kesesuaian ayat ini dengan ayat sebelumnya: Setelah Allah mengagungkan kitab itu pada dirinya sendiri dan pada tempatnya; Allah mengagungkannya dari segi para penyaksinyanya; Allah berfirman:

Yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah) (21).

Artinya: Kitab itu disaksikan oleh hamba-hamba Allah yang didekatkan kepada-Nya.

Sesungguhnya orang-orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan (22).

Kesesuaian ayat ini dengan ayat sebelumnya: Bahwa ini adalah permulaan penjelasan tentang kebaikan-kebaikan kondisi orang-orang yang berbakti setelah penjelasan tentang keadaan kitab mereka, dengan cara seperti yang telah disebutkan dalam perihal orang-orang durhaka. Dan juga, setelah Allah mengagungkan kitab mereka pada ayat sebelumnya; Allah mengagungkan kedudukan mereka dengan ayat ini.

Sesungguhnya orang-orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan (22).

Artinya: Sesungguhnya orang-orang beriman yang menaati Allah, dan berbuat baik kepada hamba-hamba Allah: benar-benar berada dalam kenikmatan surga yang abadi.

Mereka berada di atas dipan-dipan sambil memandang (23).

Kesesuaian ayat ini dengan ayat sebelumnya: Ketika Allah menyebutkan bahwa orang-orang yang berbakti berada dalam kenikmatan, Allah menjelaskan kenikmatan itu dengan tiga hal:

Mereka berada di atas dipan-dipan sambil memandang (23).

Artinya: Mereka berada di atas dipan-dipan yang dihiasi dengan tirai-tirai yang indah, sambil memandang kepada wajah Allah Yang Mulia, dan kepada apa yang telah Allah berikan kepada mereka berupa kenikmatan yang agung.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat [Al-Qiyamah: 22-23].

Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup yang penuh kenikmatan (24).

Kesesuaian ayat ini dengan ayat sebelumnya: Setelah Allah menyifati kenikmatan mereka; Allah memberitahukan bahwa karena mereka sangat menikmati kenikmatan itu, maka setiap orang yang memandang kepada mereka akan mengetahui hal itu.

Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup yang penuh kenikmatan (24).

Artinya: Kamu dapat mengetahui dari wajah-wajah mereka bekas nikmat dan kegembiraan yang tampak; berupa keindahan, kecemerlangan, dan kesegaran.

Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tutupnya) (25).

Laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba (26).

Kesesuaian ayat ini dengan ayat sebelumnya: Ketika majelis kesenangan – terutama di tempat-tempat yang indah – tidak akan menyenangkan kecuali dengan makanan dan minuman, dan minuman menunjukkan adanya makanan; maka Allah hanya menyebutkan minuman saja; karena surah-surah ini pendek, yang dimaksudkan padanya adalah menghimpun dengan ringkas; Allah berfirman:

Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tutupnya) (25).

Laknya adalah kesturi… Artinya: Orang-orang berbakti ini diberi minum dari khamar yang lezat, jernih, tidak ada keruhnya, yang disegel dengan kesturi…

…dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. Artinya: Hendaklah orang-orang yang berlomba bersungguh-sungguh dan bergegas dalam mencari kenikmatan itu, dengan mentaati Allah Ta’ala, menjauhi apa yang membuat-Nya murka, dan hendaklah mereka bersegera; karena keinginan untuk meraih keberuntungan dengannya.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa [Ali ‘Imran: 133].

Dan Allah Subhanahu berfirman: Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya [Al-Hadid: 21].

Dan campurannya adalah dari tasnim (27).

Kesesuaian ayat ini dengan ayat sebelumnya: Setelah Allah menyebutkan minuman, Allah menyebutkan campurannya – sebagaimana yang dikenal oleh penduduk dunia – tetapi dengan apa yang lebih mulia darinya; Allah berfirman untuk menjelaskan keadaan minuman ini:

Dan campurannya adalah dari tasnim (27).

Artinya: Khamar murni yang disegel itu dicampur dan dilarutkan dengan minuman yang mulia dari mata air yang tinggi dan luhur yang bernama Tasnim.

(yaitu) mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah (28).

Artinya: Mata air itu diminum oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah, yaitu para pendahulu (dalam kebaikan), dan mereka lebih tinggi dan lebih utama daripada orang-orang berbakti, mereka minum darinya minuman yang jernih dan murni tanpa dicampur dengan sesuatu apapun.

Faedah Pendidikan:

1- Dalam firman Allah Ta’ala: “Laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba” terdapat petunjuk tentang apa yang seharusnya menjadi perlombaan; dalam ayat yang mulia ini terdapat hubungan dengan awal surah; jika mereka (orang-orang yang curang) berusaha mengumpulkan harta dengan cara curang dalam timbangan, maka bagi mereka kecelakaan pada hari kiamat, dan jika orang-orang yang berbakti berada dalam kenikmatan pada hari kiamat, dan ini adalah minuman mereka; maka inilah yang seharusnya menjadi tempat berlomba-lomba, bukan dalam kecurangan dalam takaran atau timbangan apapun.

2- Dalam firman Allah Ta’ala: “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba” menunjukkan bahwa berlomba-lomba tidak tercela secara mutlak, bahkan terpuji dalam kebaikan.

3- Dalam firman Allah Ta’ala: “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba” menunjukkan bahwa orang yang berakal akan berlomba-lomba dalam ketinggian yang abadi dan kekal yang di dalamnya terdapat keridhaan Allah, kedekatan kepada-Nya, dan berada di sisi-Nya, dan ia akan menjauhkan diri dari ketinggian yang fana dan sementara yang diikuti dengan kemurkaan Allah dan ketidakridhaannya, serta kerendahan dan kehinaan hamba, dan jauh dari Allah serta diusir dari-Nya; inilah ketinggian sementara yang tercela, yaitu kesombongan dan keangkuhan di bumi tanpa hak, adapun ketinggian yang pertama dan keinginan terhadapnya adalah terpuji.

4- Dalam firman Allah Ta’ala: “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba” menunjukkan bahwa Pembuat Syariat tidak menjadikan ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah sebagai tempat untuk mengutamakan orang lain, tetapi tempat untuk berlomba-lomba dan bersaing; oleh karena itu para fuqaha mengatakan: “Tidak disukai mengutamakan orang lain dalam ibadah dan pendekatan diri kepada Allah,” dan rahasianya – Allah yang lebih mengetahui – adalah bahwa mengutamakan orang lain hanya berlaku pada sesuatu yang sempit untuk berbagi, sehingga tidak cukup untuk orang yang mengutamakan dan yang diutamakan, bahkan hanya cukup untuk salah satu dari keduanya, adapun amal-amal kebaikan dan ketaatan tidak ada kesempitan bagi hamba-hamba padanya, seandainya ribuan orang bersama-sama dalam satu ketaatan, tidak akan ada kesempitan dan desak-desakan bagi mereka, dan akan cukup untuk mereka semua, dan jika diperkirakan ada desak-desakan maka dalam tekad dan niat yang kuat untuk melakukannya terdapat pahala seperti orang yang melakukannya, jika diperkirakan kehilangan kesempatan untuk melakukannya secara langsung maka tidak akan hilang darinya tekad dan niatnya untuk melakukannya, dan juga jika itu terlewatkan darinya maka dalam ketaatan dan pendekatan diri yang lain ada ganti darinya, dan juga karena tujuannya adalah keinginan hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah, mencari jalan kepada-Nya, dan berlomba-lomba dalam hal-hal yang dicintai-Nya. Mengutamakan orang lain dalam pendekatan diri ini menunjukkan ketidaktertarikannya terhadapnya, meninggalkannya, dan tidak adanya persaingan di dalamnya, dan ini berbeda dengan apa yang dibutuhkan hamba dari makanan, minuman, dan pakaiannya jika saudaranya membutuhkannya, jika salah satu dari keduanya mengkhususkannya maka yang lain akan kehilangan; maka Allah Subhanahu mendorong hamba-Nya jika ia menemukan dalam dirinya kekuatan dan kesabaran untuk mengutamakan orang lain selama tidak merusak agamanya atau mendatangkan kerusakan padanya.

Faedah Ilmiah dan Keindahan:

1- Penduduk surga terbagi dua macam: Para pendahulu yang didekatkan kepada Allah (as-sabiqun al-muqarrabun), dan orang-orang berbakti yaitu golongan kanan (al-abrar ashabul yamin). Allah Ta’ala berfirman: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu benar-benar tersimpan dalam ‘Illiyyin. Dan tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu? Yaitu kitab yang bertulis. Yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah). Sesungguhnya orang-orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan. Mereka berada di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tutupnya). Laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. Dan campurannya adalah dari tasnim. (Yaitu) mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah.” Ibnu Abbas berkata: “(Tasnim) dicampur untuk golongan kanan, sedangkan orang-orang yang didekatkan (kepada Allah) meminumnya murni, yaitu: tanpa campuran.”

2- Istilah “Al-Abrar” (orang-orang yang berbakti) jika disebutkan secara umum mencakup setiap orang yang bertakwa dari golongan pendahulu (as-sabiqin) dan golongan pertengahan (al-muqtasidin), namun jika disandingkan dengan “Al-Muqarrabin” (orang-orang yang didekatkan kepada Allah) maka maknanya lebih khusus; Allah Ta’ala berfirman tentang yang pertama: “Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan. Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka” [Al-Infitar: 13-14], dan Allah berfirman tentang yang kedua: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu benar-benar tersimpan dalam ‘Illiyyin. Dan tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu? Yaitu kitab yang bertulis. Yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah).”

3- Firman Allah Ta’ala: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu benar-benar tersimpan dalam ‘Illiyyin” dijadikan dalil bahwa surga berada di ‘Illiyyin tertinggi, sebagaimana dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Al-Bara’ bin ‘Azib yang masyhur tentang pencabutan ruh, kenikmatan kubur dan siksanya: “Lalu Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Tulislah kitab hamba-Ku ini dalam ‘Illiyyin, dan kembalikanlah dia ke bumi’.”

4- Dalam firman Allah Ta’ala: “Yaitu kitab yang bertulis” terdapat penegasan bahwa kitab itu benar-benar tertulis dengan penulisan yang hakiki.

5- Dalam firman Allah Ta’ala: “Yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah)”, Allah Ta’ala mengkhususkan kitab orang-orang berbakti bahwa ia ditulis dan dicatat untuk mereka dengan disaksikan oleh orang-orang yang didekatkan dari kalangan malaikat, para nabi, dan pemuka-pemuka orang beriman – ini menurut satu pendapat. Allah tidak menyebutkan kesaksian mereka terhadap kitab orang-orang durhaka; sebagai penghormatan terhadap kitab orang-orang berbakti dan apa yang tercatat bagi mereka di dalamnya, dan sebagai publikasi untuknya, serta sebagai pengumuman di antara hamba-hamba pilihan-Nya; sebagaimana raja-raja menulis tanda tangan mereka bagi orang yang mereka muliakan di hadapan para pangeran dan orang-orang khusus kerajaan; sebagai penghormatan bagi nama orang yang dituliskan untuknya dan pemuliaan dengan menyebutkannya, dan ini adalah sejenis shalawat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan para malaikat-Nya kepada hamba-Nya.

6- Dalam firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan” terdapat isyarat bahwa kebaikan hati akan mengharuskan kenikmatan di dunia.

7- Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan” artinya: Mereka berada dalam kenikmatan di hati, dan dalam kenikmatan di badan, sehingga mereka berada dalam keadaan paling menyenangkan.

8- Dalam firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan. Mereka berada di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tutupnya). Laknya adalah kesturi” terdapat dalil bahwa orang mukmin dianjurkan untuk berharap pada kenikmatan jiwa dan syahwatnya di akhirat, dan berusaha untuk mendapatkannya, dan bahwa sikap berlebihan para sufi sebagaimana yang mereka klaim dengan meninggalkan keinginan terhadapnya, dan hanya fokus pada amal saleh yang diridhai saja, bukan karena mengharap balasan berupa kenikmatan yang Allah janjikan dan sediakan bagi penghuni surga: adalah tercela dari perkataan mereka, dan tidak diridhai dari perbuatan mereka; karena keridhaan Allah Yang Maha Agung meskipun merupakan balasan yang paling mulia dan kenikmatan yang paling agung, tidak menghalangi dari keinginan untuk menikmati kelezatan-kelezatan jiwa, dan menikmati apa yang menjadi bagiannya, dan bahwa hal itu tidak mengurangi derajat para pencari keridhaan Allah. Para pencari keridhaan Allah hanya dilarang dari kenikmatan di dunia, dan dianjurkan untuk zuhud di dalamnya; karena yang terlarang akan membawa mereka kepada yang haram, dan menghasilkan neraka bagi mereka, dan yang mubah akan membawa mereka kepada kelesuan dan kemalasan, dan kecintaan terhadap dunia yang mengalihkan dari kesusahan ibadah, dan mempersulit mereka dalam menelan pahitnya kehidupan, dan menenangkan hati untuk mencari kesenangan dan mengutamakan kelezatan-kelezatan dunia. Namun ketika mereka masuk surga dan berpindah dari negeri ujian, dan diangkat dari mereka ibadah; mereka akan menikmati hal-hal yang disukai jiwa dari makanan dan minuman serta berbagai kenikmatan seperti memeluk bidadari dan wanita-wanita dari keturunan Adam yang taat yang dinikahkan kepada mereka, serta dikembalikan kepada mereka istri-istri yang dulu bersama mereka di dunia, maka hal itu tidak akan membahayakan mereka, mereka tidak takut akan kemurkaan dari Tuhan mereka, dan tidak khawatir akan kemalasan dari ibadah; karena itu adalah balasan bagi mereka atas ketaatan mereka kepada Allah di dunia, dan mereka telah mengutamakan ketaatan kepada-Nya daripada kenikmatan dan kesenangan di dunia. Tidakkah engkau melihat Allah Subhanahu berfirman: “Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu” [Al-Haqqah: 24], dan Al-Qur’an dipenuhi dengan hal serupa; seperti firman-Nya: “Sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan” [As-Sajdah: 17]. Dan bagaimana hal itu bisa tercela sedangkan Allah berfirman: “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba”, mengapa Allah memerintahkan mereka untuk berlomba-lomba jika demikian?! Dan mengapa Allah menggambarkannya dan memenuhi Al-Qur’an dengan penyebutannya?!

9- Dalam firman Allah Ta’ala: “Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tutupnya)” diungkapkan dengan kata kerja “yusqauna” (mereka diberi minum) bukan “yasyrabuna” (mereka minum); untuk menunjukkan bahwa mereka dilayani, makhluk-makhluk di surga melayani mereka untuk hal itu, dan itu adalah kesempurnaan kemuliaan dan kenikmatan istirahat.

10- Allah Ta’ala berfirman: “Laknya adalah kesturi” dikatakan: Yang dimaksud dengan “khitam” (lak/tutup) adalah apa yang tersisa di dasar minuman berupa endapan, dan ini menunjukkan bahwa sungai-sungai surga mengalir di atas kesturi; oleh karena itu kesturi mengendap di wadah pada akhir minuman seperti tanah yang mengendap di wadah air di dunia.

11- Dalam firman Allah Ta’ala: “Dan campurannya adalah dari tasnim. (Yaitu) mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah” menjelaskan bahwa campuran minuman orang-orang berbakti adalah dari tasnim; sedangkan orang-orang yang didekatkan meminumnya tanpa campuran; ini karena balasan adalah sesuai dengan amal, sebagaimana amal orang-orang yang didekatkan semuanya murni untuk Allah, maka minuman mereka pun murni, dan sebagaimana orang-orang berbakti mencampurkan ketaatan dengan hal-hal yang mubah, maka minuman mereka pun dicampurkan; barangsiapa yang murni maka diminumkan minuman yang murni, dan barangsiapa yang mencampur maka diminumkan minuman yang dicampur.

12- Allah Ta’ala berfirman: “Dan campurannya adalah dari tasnim. (Yaitu) mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah” Allah tidak mengatakan: “yasyrabu minha” (minum darinya); karena firman-Nya: “yasyrabu” (minum) mengandung makna “yarwa biha” (merasa puas dengannya); karena orang yang minum terkadang minum namun tidak merasa puas, jika dikatakan: “yasyrabuna minha” (mereka minum darinya) tidak menunjukkan kepuasan, tetapi jika dikatakan: “yasyrabuna biha” (mereka minum dengannya) maknanya: “yarwauna biha” (mereka merasa puas dengannya), jadi orang-orang yang didekatkan merasa puas dengannya sehingga tidak membutuhkan yang lain selain itu; karena itulah mereka meminumnya murni berbeda dengan golongan kanan; karena tasnim dicampurkan untuk mereka, dan ini seperti firman Allah Ta’ala dalam surat (Al-Insan): “Campurannya adalah dari kafur. (Yaitu) mata air yang minum darinya hamba-hamba Allah, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya” [Al-Insan: 5-6], “hamba-hamba Allah” di sini adalah orang-orang yang didekatkan yang disebutkan dalam surat tersebut; ini karena balasan sesuai dengan jenis amal dalam kebaikan dan keburukan.

Keindahan Ayat-ayat:

1- Firman Allah Ta’ala: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti benar-benar dalam ‘Illiyin. Dan tahukah kamu apakah ‘Illiyin itu? (Yaitu) kitab yang bertulis. Yang disaksikan oleh (malaikat-malaikat) yang didekatkan (kepada Allah).” – Kata “Kalla” (sekali-kali tidak) adalah penolakan dan pembatalan terhadap apa yang dikatakan kepada mereka: “Inilah yang dahulu kamu dustakan” [Al-Mutaffifin: 17]. Maka kata “Kalla” bisa menjadi bagian dari apa yang dikatakan kepada mereka bersama dengan kalimat “Inilah yang dahulu kamu dustakan” sebagai penolakan terhadap mereka; sehingga kata tersebut termasuk dalam perkataan yang diceritakan. Dan bisa juga kata tersebut merupakan sisipan dari firman Allah dalam Al-Qur’an, sebagai pembatalan terhadap pendustaan mereka yang telah disebutkan. Dan dikatakan: kata “Kalla” adalah pengulangan, penekanan terhadap penolakan; untuk diikuti dengan janji-janji bagi orang-orang yang berbakti, sebagaimana yang pertama diikuti dengan ancaman bagi orang-orang yang durhaka; sebagai isyarat bahwa mengurangi timbangan adalah kedurhakaan, dan menyempurnakan timbangan adalah kebajikan, atau sebagai penolakan terhadap pendustaan.

  • Firman-Nya: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti benar-benar dalam ‘Illiyin” adalah permulaan kalimat yang ditujukan untuk menjelaskan tempat catatan orang-orang yang berbakti, setelah penjelasan mengenai buruknya keadaan orang-orang yang durhaka, terhubung dengan penjelasan mengenai buruknya keadaan catatan mereka, dan di dalamnya terdapat penekanan terhadap penolakan, dan kewajiban untuk menghentikan (perbuatan buruk).
  • Firman-Nya: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti benar-benar dalam ‘Illiyin” hingga ayat “Yang disaksikan oleh (malaikat-malaikat) yang didekatkan (kepada Allah)”; dikatakan: tampaknya ayat-ayat ini yang berakhir dengan firman-Nya “Yang disaksikan oleh (malaikat-malaikat) yang didekatkan (kepada Allah)” adalah bagian dari kisah, dan bukan bagian dari perkataan yang diceritakan melalui firman-Nya: “Kemudian dikatakan… dst.”; karena keseluruhan kalimat ini menyerupai kalimat “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang-orang yang durhaka benar-benar dalam sijjin” [Al-Mutaffifin: 7] dst., dari segi gaya bahasa dan pertentangan; maka yang tepat adalah bahwa kandungannya merupakan pembagian dari kandungan yang serupa dengannya, sehingga terjadi pertentangan antara ancaman bagi orang-orang yang durhaka dengan janji bagi orang-orang yang berbakti, dan merupakan kebiasaan Al-Qur’an untuk mengikuti peringatan dengan kabar gembira, dan sebaliknya; karena manusia terdiri dari orang yang takut dan orang yang berharap; maka penyebutan kenikmatan orang-orang yang berbakti adalah penyisipan yang dituntut oleh kesesuaian, meskipun konteksnya dari awal surah adalah konteks peringatan, dan pembicara mengenai janji dan ancaman adalah satu, yang mengarahkan perkataannya kepada orang-orang yang durhaka yang tidak menyangka bahwa mereka akan dibangkitkan, dan mengikutinya dengan mengarahkan perkataan kepada orang-orang yang berbakti yang merupakan kebalikan dari itu, sehingga ayat-ayat ini menjadi sisipan yang terhubung dengan kata penolakan. Dan bisa juga ayat-ayat ini merupakan bagian dari perkataan yang diceritakan dalam “Kemudian dikatakan inilah yang dahulu kamu dustakan” [Al-Mutaffifin: 17], sehingga diceritakan melalui perkataan yang disebutkan, terhubung dengan kalimat sebelumnya dan dengan kata pembatalan, dengan asumsi bahwa orang-orang yang berkata kepada mereka “Inilah yang dahulu kamu dustakan” dengan cara mencela; mereka mengikuti celaan mereka dengan menggambarkan kenikmatan orang-orang yang beriman pada kebangkitan untuk membuat orang-orang yang mengingkarinya menyesal, dan menyesal atas kebaikan yang telah mereka lewatkan.
  • Dan dalam firman Allah Ta’ala: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti benar-benar dalam ‘Illiyin” bersama dengan yang pertama: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang-orang yang durhaka benar-benar dalam sijjin” [Al-Mutaffifin: 7] terdapat ihtibak (gaya bahasa elipsis); penyebutan “sijjin” pertama kali menunjukkan keluasan kedua kalinya, dan penyebutan “‘Illiyin” dan “orang-orang yang didekatkan” kedua kalinya menunjukkan “tempat terendah” dan “orang-orang yang dijauhkan” pertama kali.
  • Firman-Nya: “Dan tahukah kamu apakah ‘Illiyin itu?”; (Ma) adalah kata tanya untuk menunjukkan kebesaran dan keagungan.
  • Dan ‘Illiyin: adalah bentuk jamak dari ‘Illiy, dan ‘Illiy mengikuti pola (fi’il) dari kata “ketinggian”, dan ini adalah pola yang menunjukkan intensitas dalam sifat, yang datang dalam bentuk jamak mudzakkar salim (jamak untuk laki-laki yang teratur). Dan dikatakan: bahwa ‘Illiyin bukanlah jamak dari ‘Illiy, tetapi merupakan nama tempat orang-orang yang berbakti di surga, dan dibentuk dengan pola jamak mudzakkar; karena pola tersebut pada asalnya digunakan untuk menjamakkan nama-nama dan sifat-sifat makhluk berakal, sehingga diberikan pola jamak untuk makhluk berakal laki-laki; untuk menyempurnakan kemuliaan makna dengan memberinya pola maskulin.

2- Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan. Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (disegel). Laknya adalah kasturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. Dan campurannya adalah dari tasnim. (Yaitu) mata air yang diminum oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah.”

  • Firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan. Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang” – Kandungan kalimat ini merupakan pasangan dari kandungan kalimat “Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka” [Al-Mutaffifin: 15] sampai akhir ayat; oleh karena itu, kalimat ini datang dengan pola susunan yang sama dengan pasangannya dalam pembukaan, penggambaran, dan pemisahan, dan kalimat ini menjelaskan kalimat “Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti benar-benar dalam ‘Illiyin” [Al-Mutaffifin: 18]; maka posisinya adalah posisi penjelasan, atau posisi pengganti yang mencakup (badal al-isytimal) berdasarkan kedua pendapat mengenai posisi kalimat sebelumnya, dengan catatan bahwa kalimat ini bisa juga merupakan bagian dari perkataan yang dikatakan kepada mereka, yaitu yang diceritakan dengan firman-Nya: “Kemudian dikatakan (kepada mereka): “Inilah yang dahulu kamu dustakan”” [Al-Mutaffifin: 17], sehingga perkataan itu kepada mereka bertujuan untuk membuat mereka menyesal dan menyesal atas kelalaian mereka dalam beriman, dan tidak ada pertentangan antara kedua pendapat ini. Dan dikatakan: kalimat ini adalah kalimat yang dimulai sebagai permulaan penjelasan, seolah-olah dikatakan: ini adalah keadaan catatan mereka, lalu bagaimana keadaan mereka? Maka dijawab dengan apa yang disebutkan, yaitu: sesungguhnya mereka berada dalam kenikmatan yang besar.
  • Dan penyebutan “Al-Abrar” (orang-orang yang berbakti) dengan nama yang jelas tanpa menggunakan kata ganti mereka, berbeda dengan yang terdapat dalam kalimat “Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka” [Al-Mutaffifin: 15]; untuk menonjolkan sifat orang-orang yang berbakti.
  • Dan penghapusan objek dari kata “yanzhuruna” (memandang); bisa karena adanya petunjuk dari kata sebelumnya dalam firman-Nya tentang lawan mereka: “Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka” [Al-Mutaffifin: 15], dan perkiraannya: mereka memandang kepada Tuhan mereka, atau bisa juga untuk maksud generalisasi, yaitu: mereka memandang segala sesuatu yang membuat jiwa mereka gembira dan senang; dengan indikasi konteks janji dan penghormatan.
  • Firman-Nya: “Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup yang penuh kenikmatan” adalah kalimat yang dimulai, yang ditujukan untuk memberitahu orang yang diajak bicara agar memperhatikan mereka, dan merenungkan dampak kenikmatan pada wajah mereka.
  • Firman-Nya: “Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup yang penuh kenikmatan” – kata ganti “kamu” ditujukan kepada setiap orang yang berhak mendapat pembicaraan; untuk memberitahukan bahwa dampak nikmat dan kebahagiaan yang mereka miliki sedemikian rupa sehingga tidak terbatas pada pandangan satu orang saja. Dan penggunaan kata ganti “kamu” seperti ini dalam konteks menggambarkan hal-hal yang agung adalah metode bahasa Arab yang terkenal.
  • Dan “nadrah” (kesenangan): adalah kebahagiaan dan keindahan, dan penambahan kata “nadrah” kepada “an-na’im” (kenikmatan) adalah penambahan akibat kepada sebab, yaitu: kesenangan dan kebahagiaan yang tampak pada wajah orang yang senang dan puas; ketika tanda-tanda kebahagiaan tampak pada wajahnya.
  • Firman-Nya: “Laknya adalah kasturi” adalah sifat untuk “khamar murni”, atau penjelasan rinci dari yang masih global, atau permulaan penjelasan yang muncul dari penggambaran khamar murni yang “dilak” (disegel); seolah-olah ada yang bertanya tentang laknya, apa jenisnya di antara berbagai jenis lak? Karena umumnya lak terbuat dari tanah liat atau penutup. Ini menurut suatu pendapat.
  • Dan kalimat “dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba” adalah sisipan di antara kalimat “Laknya adalah kasturi” dan kalimat “Dan campurannya adalah dari tasnim”, dan susunan struktur dalam kalimat ini halus yang membutuhkan penjelasan; yaitu dengan menjadikan (huruf waw) sebagai sisipan, maka firman-Nya: “dan untuk yang demikian itu” adalah awal kalimat, dan pengutamaan kata yang diawali huruf jarr untuk memberi makna pembatasan, yaitu: dan dalam khamar murni itulah hendaknya manusia berlomba-lomba, bukan dalam khamar dunia yang diperebutkan oleh orang-orang yang bermewah-mewah, yang mereka datangkan dari negeri-negeri jauh, dan mereka menghabiskan harta untuk itu. Dan karena huruf “waw” adalah sisipan, maka tidak ada masalah dengan adanya huruf “fa” jawab setelahnya. Dan huruf “fa” bisa jadi adalah “fa fashihah” (yang menjelaskan) yang menjelaskan syarat yang tersirat, dengan perkiraan: jika kalian mengetahui sifat-sifat khamar murni ini, maka hendaklah orang-orang yang berlomba berlomba di dalamnya, atau perkiraannya: dan dalam hal itu maka berlomba-lombalah kalian, maka hendaklah orang-orang yang berlomba berlomba di dalamnya, sehingga kalimat itu memiliki kekuatan sebagai penutup; karena yang tersirat adalah perlombaan orang-orang yang diajak bicara, dan yang disebutkan secara tegas adalah perlombaan semua orang yang berlomba, sehingga ini adalah generalisasi setelah pengkhususan. Dan bisa juga huruf “fa” adalah huruf jawab untuk syarat yang tersirat dalam kalimat yang ditunjukkan oleh pendahuluan kata berjarr; karena pendahuluan kata berjarr sering diperlakukan seperti syarat, maka perkiraannya: jika kalian mengetahui itu, maka hendaklah orang-orang yang berlomba berlomba di dalamnya. Dan bisa juga huruf “fa” adalah cabang dari hal yang dibuang dengan cara pembuangan dengan syarat penjelasan, dan perkiraannya: dan berlomba-lombalah -bentuk perintah dalam hal itu- maka hendaklah orang-orang yang berlomba berlomba di dalamnya, dan kalimat itu menunjukkan penekanan pada tindakan berlomba; karena itu setara dengan yang disebutkan dua kali, dengan memberikan pengkhususan melalui pendahuluan kata berjarr. Ini menurut suatu pendapat tentang apa yang diperlombakan.
  • Firman-Nya: “dan untuk yang demikian itu” – makna kejauhan di dalamnya; bisa untuk menunjukkan ketinggian derajatnya dan jauhnya kedudukannya, atau karena berada di surga, yaitu: khusus dalam hal itu saja, bukan yang lainnya.
  • Dan huruf “lam” perintah pada “fal-yatanafas” (maka hendaklah berlomba) digunakan untuk mendorong dan menganjurkan.
  • Firman-Nya: “Dan campurannya adalah dari tasnim” merupakan imbuhan pada firman-Nya: “Laknya adalah kasturi”, dan tasnim adalah yang dimaksud dengan minuman yang merupakan minuman tertinggi di surga. Dan firman-Nya: “dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba” termasuk yang seharusnya di belakang; didahulukan karena pentingnya perannya, maka yang ditunjuk dengan kata “itu” adalah semua yang telah disebutkan sebelumnya dari firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan. Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang…” sampai akhir, dan ini menurut suatu pendapat. Dan faedah pendahuluan: untuk membangkitkan keinginan dan dorongan untuk berusaha dan bersungguh-sungguh, dan lebih mengutamakan hal itu daripada mencari kenikmatan dunia, dan berlomba di dalamnya; oleh karena itu, kata keterangan didahulukan -yaitu: “dan untuk yang demikian itu”-, dan dikhususkan kata “at-tanafus” (berlomba) dengan pola “at-tafa’ul” (saling).

۞ ۞ ۞ ۞ ۞

Ayat: 29-36

﴿اِنَّ الَّذِيْنَ اَجْرَمُوْا كَانُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يَضْحَكُوْنَۖ ٢٩ وَاِذَا مَرُّوْا بِهِمْ يَتَغَامَزُوْنَۖ ٣٠ وَاِذَا انْقَلَبُوْٓا اِلٰٓى اَهْلِهِمُ انْقَلَبُوْا فَكِهِيْنَۖ ٣١ وَاِذَا رَاَوْهُمْ قَالُوْٓا اِنَّ هٰٓؤُلَاۤءِ لَضَاۤلُّوْنَۙ ٣٢ وَمَآ اُرْسِلُوْا عَلَيْهِمْ حٰفِظِيْنَۗ ٣٣ فَالْيَوْمَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُوْنَۙ ٣٤ عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِ يَنْظُرُوْنَۗ ٣٥ هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ ࣖ ٣٦ ﴾

Kata-kata Asing:

  • يَتَغَامَزُونَ: Artinya: Mereka saling mengedipkan, memberi isyarat dengan mata mereka dengan cara mengejek. Mengedip adalah isyarat dengan kelopak mata dan alis mata. Mengedip juga dapat berarti mencela. Dikatakan: “dia mengedipkannya” ketika mencela seseorang, dan “tidak ada cacat pada seseorang” artinya tidak ada yang dapat dicela padanya.
  • انْقَلَبُوا: Artinya: Mereka berpaling dan kembali. Akar kata “قلب” menunjukkan pembalikan sesuatu dari satu sisi ke sisi lain, atau mengembalikannya dari satu arah ke arah lain.
  • فَكِهِينَ: Artinya: Gembira, senang, dan kagum dengan merendahkan orang-orang beriman. Akar kata “فكه” menunjukkan kesenangan dan kenikmatan.
  • ثُوِّبَ: Artinya: Diberi balasan dan pahala. Akar kata “ثوب” menunjukkan kembali dan pulang.

 

Permasalahan Tata Bahasa:

Firman Allah Ta’ala: “عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ * هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ”

(Di atas dipan-dipan mereka memandang, apakah orang-orang kafir telah diberi balasan terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan?)

Kalimat tanya ini memiliki beberapa kemungkinan kedudukan dalam i’rab:

  1. Ia berada dalam posisi nashab setelah penghilangan huruf jar “إلى”, sehingga berhubungan dengan kata “يَنْظُرُونَ” sebelumnya, artinya: “Mereka melihat apakah orang-orang kafir telah diberi balasan.”
  2. Ia berada dalam posisi nashab sebagai perkataan yang ditujukan kepada mereka, sebagai hal (keterangan keadaan) dari dhamir (kata ganti) pada “يَنْظُرُونَ”, artinya: “Mereka melihat dalam keadaan dikatakan kepada mereka…”
  3. Ia adalah kalimat baru (isti’nafiyah) yang tidak memiliki kedudukan dalam i’rab.

 

 

Makna Keseluruhan:

Allah Ta’ala berfirman menjelaskan apa yang dilakukan orang-orang kafir terhadap orang-orang beriman: Sesungguhnya orang-orang kafir dahulu di dunia menertawakan orang-orang beriman sebagai ejekan kepada mereka. Ketika mereka melewati orang-orang beriman, mereka saling memberi isyarat dengan mata mereka, mengejek dan merendahkan orang-orang beriman. Dan ketika para penjahat itu kembali kepada keluarga mereka, mereka kembali dengan gembira dan senang karena telah merendahkan orang-orang beriman. Dan ketika mereka melihat orang-orang beriman, mereka berkata: “Sesungguhnya mereka ini benar-benar orang-orang yang sesat dari jalan kebenaran.” Padahal Allah tidak mengutus orang-orang kafir sebagai pengawas atas orang-orang beriman untuk mencatat amal perbuatan mereka!

Kemudian Allah Ta’ala memberikan kabar gembira kepada orang-orang beriman bahwa kesudahan yang baik adalah untuk mereka, Allah berfirman: “Maka pada hari akhir, orang-orang beriman akan menertawakan orang-orang kafir ketika mereka melihat mereka sedang disiksa, sementara orang-orang beriman berada di dalam surga di atas dipan-dipan, memandang wajah Allah Yang Mulia dan melihat nikmat yang telah disiapkan untuk mereka, serta melihat orang-orang kafir yang sedang disiksa. Apakah orang-orang kafir telah dibalas atas apa yang dahulu mereka lakukan terhadap orang-orang beriman di dunia?!”

Tafsir Ayat-ayat:

إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آَمَنُوا يَضْحَكُونَ (29)

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Setelah Allah ﷻ menggambarkan kemuliaan orang-orang baik (abrar) di akhirat, Allah kemudian menyebutkan keburukan perlakuan orang-orang kafir terhadap mereka di dunia dalam bentuk ejekan dan tertawaan. Kemudian Allah menjelaskan bahwa hal itu akan berbalik kepada orang-orang kafir di akhirat. Tujuannya adalah untuk menghibur orang-orang beriman dan menguatkan hati mereka.

Juga, setelah menyebutkan keadaan orang-orang musyrik secara terpisah dan keadaan orang-orang muslim secara terpisah, Allah melanjutkan dengan menyebutkan akibat dari perlakuan orang-orang musyrik terhadap orang-orang beriman di dunia; agar mereka mengetahui balasan bagi kedua kelompok tersebut secara bersamaan.

إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آَمَنُوا يَضْحَكُونَ (29)

Artinya: Sesungguhnya orang-orang kafir di dunia menertawakan orang-orang beriman sebagai bentuk ejekan, cemoohan, dan penghinaan terhadap mereka.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari Kiamat.” [Al-Baqarah: 212]

Dan Allah ﷻ berfirman: “Sesungguhnya, ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdoa (di dunia): ‘Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik.’ Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) mengejek mereka menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan kamu selalu menertawakan mereka. Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang.” [Al-Mu’minun: 109-111]

وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ (30)

Artinya: Dan apabila mereka (orang-orang kafir) melewati orang-orang beriman di jalan mereka, para penjahat itu saling memberi isyarat, sebagian mereka memberi isyarat kepada sebagian yang lain dengan mata mereka sebagai bentuk ejekan terhadap orang-orang beriman dan penghinaan terhadap mereka.

وَإِذَا انْقَلَبُوا إِلَى أَهْلِهِمُ انْقَلَبُوا فَكِهِينَ (31)

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Setelah Allah menggambarkan mereka pada saat bepergian dan berkeliling, Allah menggambarkan mereka di rumah-rumah mereka:

وَإِذَا انْقَلَبُوا إِلَى أَهْلِهِمُ انْقَلَبُوا فَكِهِينَ (31)

Artinya: Dan apabila para penjahat itu kembali kepada keluarga mereka di rumah-rumah mereka, mereka kembali dengan gembira dan senang karena telah merendahkan orang-orang beriman.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Kemudian dia pergi kepada keluarganya dengan sombong.” [Al-Qiyamah: 33]

Dan Allah ﷻ berfirman: “Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan keluarganya.” [Al-Insyiqaq: 13]

وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَؤُلَاءِ لَضَالُّونَ (32)

Kesesuaian ayat dengan ayat sebelumnya: Setelah Allah menyebutkan bahwa orang-orang kafir melewati orang-orang beriman dan saling mengedipkan mata, Allah kemudian menyebutkan pandangan mereka secara umum terhadap orang-orang beriman dan apa yang mereka katakan tentang mereka.

وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَؤُلَاءِ لَضَالُّونَ (32)

Artinya: Dan apabila mereka (orang-orang kafir) melihat orang-orang beriman, mereka berkata: “Sesungguhnya mereka ini benar-benar orang-orang yang sesat dari jalan kebenaran dan perbuatan yang benar!”

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: ‘Sekiranya dia (Islam) adalah suatu yang baik, tentu mereka tidak akan mendahului kami (dalam menerimanya).’ Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: ‘Ini adalah dusta yang lama.'” [Al-Ahqaf: 11]

وَمَا أُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَ (33)

Artinya: Padahal Allah tidak mengutus orang-orang kafir sebagai pengawas atas orang-orang beriman untuk mencatat amal-amal mereka, sibuk mengawasi mereka, dan menghakimi mereka. Sebaliknya, Allah hanya membebani mereka dengan keimanan dan kesibukan dengan amal-amal shaleh.

فَالْيَوْمَ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ (34)

Artinya: Maka pada hari akhirat, orang-orang beriman akan menertawakan orang-orang kafir ketika mereka melihat orang-orang kafir sedang disiksa!

عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ (35)

Artinya: Dan orang-orang beriman berada di dalam surga di atas dipan-dipan yang dilengkapi dengan kelambu-kelambu yang dihiasi, mereka memandang wajah Tuhan mereka Yang Mulia, dan kepada segala kenikmatan yang telah disiapkan untuk mereka, serta kepada orang-orang kafir yang sedang disiksa.

هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (36)

Artinya: Apakah orang-orang kafir telah dibalas atas apa yang dahulu mereka lakukan di dunia ketika Allah menyiksa mereka di neraka?!

Faedah-faedah Pendidikan:

  1. Dalam firman Allah Ta’ala: “إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آَمَنُوا يَضْحَكُونَ” sampai akhir konteks: Bahwa jika ini adalah keadaan sebagian orang yang berbuat dosa terhadap sebagian orang-orang beriman yang lemah, dan begitu pula keadaan sebagian umat terhadap rasul-rasul mereka; maka seorang da’i (pendakwah) kepada Allah Ta’ala wajib untuk tidak terpengaruh oleh ejekan siapapun terhadapnya, dan ia harus mengetahui bahwa ia berada pada jalan yang sama dengan para da’i kepada Allah Ta’ala lainnya, dan bahwa Allah Ta’ala akan menolongnya, baik cepat maupun lambat.
  2. Dalam firman Allah Ta’ala: “إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آَمَنُوا يَضْحَكُونَ” terdapat peringatan keras bagi orang yang menertawakan orang-orang beriman dan orang yang dijadikan bahan tertawaan; karena ini adalah salah satu akhlak orang-orang kafir. Maka jika orang-orang beriman meniru mereka, dikhawatirkan mereka akan menjadi seperti mereka; sebagaimana dalam hadits: “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.”

Dan mereka (orang-orang beriman) tertawa di akhirat – wallahu a’lam – karena itu adalah balasan bagi mereka dan hukuman atas apa yang telah dilakukan orang-orang kafir kepada mereka di dunia. Maka orang-orang kafir akan merasakan kepedihan yang sama seperti yang dirasakan orang-orang beriman di dunia; sehingga ini menjadi seperti qishas (hukuman setimpal). Oleh karena itu, orang yang diejek hendaknya bertakwa kepada Allah dan tidak menempatkan dirinya pada posisi ini, dan orang yang mengejek hendaknya menghindarinya baik dalam keseriusan maupun candaan; karena itu termasuk dosa besar dan perbuatan orang-orang zalim, serta perbuatan orang yang telah melupakan urusan akhiratnya dan tempat kembalinya nanti.

  1. Dalam firman Allah Ta’ala: “وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَؤُلَاءِ لَضَالُّونَ” terdapat kaidah yang tetap bagi para pengikut rasul: “Bahwa para penganut kebatilan memberikan julukan-julukan buruk kepada para penganut kebenaran untuk menjauhkan orang-orang dari menerima mereka.”

Allah Tabaraka wa Ta’ala telah menjadikan bagi setiap nabi musuh dari golongan para penjahat, dan musuh dari golongan para penjahat ini adalah musuh bagi nabi karena kapasitas (sifat)nya. Buktinya adalah bahwa Muhammad ﷺ sebelum menerima risalah (wahyu) dianggap oleh orang-orang Arab sebagai orang yang jujur dan dapat dipercaya (ash-shadiq al-amin), mereka memandangnya sebagai salah satu yang terbaik dari Bani Hasyim dan yang paling teguh dalam keadilan. Namun ketika beliau datang dengan kebenaran, mereka menganggapnya sebagai pengkhianat dan pembohong!

Jika para penjahat ini memusuhi para rasul karena kapasitas (sifat) mereka, maka artinya permusuhan ini akan berlanjut kepada siapa saja yang mengikuti para rasul tersebut. Karena makna yang menyebabkan permusuhan ini juga terdapat pada para pengikut rasul.

Dari sini kita dapat mengambil pelajaran: untuk menenangkan para pengikut rasul dan meneguhkan mereka bahwa mereka akan mendapatkan julukan-julukan buruk dan permusuhan seperti yang dialami oleh para rasul. Maka mereka harus menghadapi hal tersebut dengan kesabaran, keteguhan, dan kekuatan, bukan dengan kelemahan. Mereka harus menjadi seperti yang diikuti (rasul) yang telah diperintahkan oleh Allah dengan firman-Nya: “Maka bersabarlah kamu seperti kesabaran rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang dijanjikan, (mereka merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan hanya sesaat pada siang hari.” [Al-Ahqaf: 35]

Manfaat Ilmiah dan Pesan-pesan Halus:

1- Dalam firman Allah ﷻ: “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa dahulu menertawakan orang-orang yang beriman,” bahwa kata “mujrim” (pendosa) dalam kebanyakan ayat Al-Qur’an berarti “orang kafir”, dan hal ini dipertegas dalam firman-Nya: “Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir.”

2- Dalam firman Allah ﷻ: “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa dahulu menertawakan orang-orang yang beriman,” terdapat larangan mengejek orang-orang beriman, menertawakan mereka, dan menggunjingkan mereka.

3- Allah ﷻ berfirman: “Dan apabila mereka kembali kepada keluarganya, mereka kembali dengan gembira.” Keluarga seseorang adalah istri dan anak-anaknya, dan kata “keluarga” disebutkan di sini karena mereka adalah orang-orang yang biasa diajak berbicara secara terbuka; oleh karena itu dikatakan “kepada keluarga mereka” dan bukan “ke rumah mereka”.

4- Firman Allah ﷻ: “Dan apabila mereka kembali kepada keluarganya, mereka kembali dengan gembira,” maksudnya: mereka kembali dengan menikmati pembicaraan buruk dan ejekan terhadap orang-orang beriman, dan ini mengisyaratkan bahwa mereka tidak melakukan hal itu di hadapan orang-orang yang lewat di dekat mereka, dan pada saat itu mereka hanya cukup saling mengedipkan mata.

5- Dalam firman Allah ﷻ: “Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang,” perhatikan bagaimana Allah ﷻ membalas apa yang dikatakan orang-orang kafir tentang musuh-musuh mereka di dunia dan bagaimana mereka mengejek orang-orang beriman, dengan kebalikannya di hari kiamat; karena orang-orang kafir ketika orang-orang beriman lewat di dekat mereka, mereka saling mengedipkan mata dan menertawakan mereka: “Dan apabila mereka melihat orang-orang beriman, mereka berkata: ‘Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat.'” Maka Allah ﷻ berfirman: “Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir,” sebagai balasan atas ejekan dan tawa mereka terhadap orang-orang beriman. Huruf “fa” (maka) dalam kalimat “Maka pada hari ini” menunjukkan hubungan sebab-akibat, bahwa ejekan mereka terhadap orang-orang beriman di dunia adalah penyebab mereka mendapat balasan serupa di akhirat; karena Allah ﷻ menjadikan orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang musyrik, maka itu adalah balasan yang setimpal.

6- Dalam firman Allah ﷻ: “Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang,” bahwa orang-orang beriman digembirakan dengan siksaan yang diberikan kepada musuh-musuh Allah, maka siksaan terhadap mereka adalah rahmat bagi orang-orang beriman.

7- Pendapat yang mengatakan: “Kata ‘thawab’ (ganjaran) dalam bahasa Arab hanya khusus untuk balasan kebaikan dengan kebaikan” adalah tidak benar, bahkan kata ‘thawab’ juga digunakan untuk balasan kejahatan dengan kejahatan, seperti dalam firman Allah ﷻ: “Apakah orang-orang kafir telah diberi balasan terhadap apa yang telah mereka perbuat?” Maka ‘thawab’ adalah balasan atas perbuatan; jika baik maka balasannya baik, dan jika buruk maka balasannya buruk, bahkan balasan atas kejahatan juga disebut ‘thawab’. Ada juga yang berpendapat: diperbolehkan menafsirkannya di sini bahwa yang dimaksud adalah sindiran.

Keindahan Bahasa Al-Qur’an (Balaghah Ayat-ayat):

1- Firman Allah ﷻ: “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa dahulu menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka berpapasan dengan orang-orang yang beriman, mereka saling mengedipkan mata. Dan apabila mereka kembali kepada keluarganya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang beriman, mereka berkata: ‘Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat.’ Padahal mereka tidak diutus sebagai penjaga bagi orang-orang beriman.”

  • Pernyataan: “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa dahulu menertawakan orang-orang yang beriman” adalah kalimat baru yang bertujuan untuk menghibur orang-orang beriman dan menguatkan hati mereka dengan apa yang telah disiapkan bagi orang-orang baik di surga.
  • Ada juga yang berpendapat: ini adalah kisah tentang sebagian keburukan kaum musyrikin Quraisy, dan ini termasuk bagian dari perkataan yang akan disampaikan pada hari kiamat kepada orang-orang durhaka sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: “Kemudian dikatakan (kepada mereka): ‘Inilah (azab) yang dahulu kamu dustakan'” [Al-Muthaffifin: 17]; karena ayat ini terkait dengan firman-Nya di bagian akhir: “Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir”; disampaikan sebagai pengantar untuk menyebutkan beberapa keadaan orang-orang baik di surga.
  • Dan jika kalimat “Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu benar-benar dalam ‘Illiyyin” [Al-Muthaffifin: 18] dan ayat-ayat selanjutnya merupakan bagian dari perkataan yang terdapat dalam firman Allah ﷻ: “Inilah (azab) yang dahulu kamu dustakan” [Al-Muthaffifin: 17] hingga di sini; maka kalimat “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa dahulu menertawakan orang-orang yang beriman” berhubungan dengan kalimat tersebut, dan penyebutan mereka dengan “orang-orang yang berdosa” menunjukkan pola iltifat (peralihan gaya bahasa) di mana seharusnya dikatakan kepada mereka: “Sesungguhnya kamu dahulu menertawakan orang-orang yang beriman,” dan seterusnya dengan menggunakan cara khitab (komunikasi langsung). Dan jika kalimat “Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu benar-benar dalam ‘Illiyyin” [Al-Muthaffifin: 18] dan sesudahnya dianggap sebagai kalimat sisipan, maka kalimat ini merupakan awal dari perkataan yang berhubungan dengan firman-Nya: “Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka Jahim” [Al-Muthaffifin: 16] yang berfungsi sebagai badal isytimal (penjelasan rinci) dari kalimat “Sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka Jahim” [Al-Muthaffifin: 16], dengan mempertimbangkan apa yang disebutkan di akhir bagian ini dalam firman-Nya: “Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir”; maka ungkapan “orang-orang yang berdosa” dalam konteks ini sesuai dengan pola bahasa yang lazim, dan bukan merupakan iltifat.
  • Pembukaan dengan kalimat “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa” dalam bentuk pernyataan yang ditegaskan (dengan inna) bertujuan untuk menunjukkan pentingnya pesan yang disampaikan, dan ini sering digunakan dalam pembukaan pernyataan yang ingin diumumkan; agar semua pendengar memperhatikan dan mendengarkannya; untuk menunjukkan bahwa ini adalah berita penting.
  • Penggunaan kata penghubung dan keterangan: “orang-orang yang berdosa” untuk mengingatkan bahwa apa yang diberitakan tentang mereka adalah kejahatan, dan untuk memperjelas maksud dari firman-Nya: “Apakah orang-orang kafir telah diberi balasan terhadap apa yang telah mereka perbuat?” [Al-Muthaffifin: 36].
  • Penempatan kata depan dan kata yang diawali dengan kata depan dalam firman-Nya: “Mereka dahulu menertawakan orang-orang yang beriman” (كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آَمَنُوا يَضْحَكُونَ) bisa untuk menunjukkan pembatasan; sebagai isyarat betapa buruknya perbuatan mereka, yakni: mereka menertawakan orang-orang yang beriman, padahal jelas mereka tidak berhak melakukan hal itu. Atau untuk menjaga keserasian antar akhiran ayat.
  • Struktur kalimat “كَانُوا … يَضْحَكُونَ” (mereka dahulu… menertawakan) menunjukkan bahwa kejahatan—yaitu melakukan dosa besar—adalah sifat yang melekat pada mereka di masa lalu. Penggunaan bentuk kata kerja “يَضْحَكُونَ” (menertawakan) dalam bentuk mudhari’ (present tense) untuk menunjukkan berulangnya perbuatan tersebut dari mereka, dan bahwa itu merupakan kebiasaan mereka.
  • Pada firman-Nya: “Dan apabila mereka kembali kepada keluarganya, mereka kembali dengan gembira” (وَإِذَا انْقَلَبُوا إِلَى أَهْلِهِمُ انْقَلَبُوا فَكِهِينَ), pengulangan kata kerja “انْقَلَبُوا” (kembali) merupakan gaya bahasa yang kuat dalam kalimat; sebenarnya cukup dengan mengatakan: “Dan apabila mereka kembali kepada keluarganya, mereka bergembira” atau “Apabila mereka kembali kepada keluarganya, mereka dalam keadaan gembira”; pengulangan kata kerja ini bertujuan untuk lebih menekankan maknanya dalam pikiran pendengar; karena ini adalah hal yang perlu diperhatikan, dan untuk lebih menegaskan makna pembaruan dalam kata kerja tersebut; sehingga dapat menggambarkan keadaan tersebut secara lebih jelas.
  • Pada kata “فَكِهِينَ” (dengan gembira), dan dalam bacaan lain “فَاكِهِينَ”, yang merupakan bentuk isim fa’il dari kata “فَاكِهٍ”, yang berasal dari kata “فَكِهَ” (seperti pola kata “فَرِحَ”) yang berarti bercanda dan berbicara sehingga membuat orang tertawa. Maknanya: mereka bergembira dengan membicarakan orang-orang beriman; objek kata “فَاكِهِينَ” dihilangkan karena sudah diketahui bahwa itu terkait dengan kata kerja yang disebutkan bersamanya.
  • Pada firman-Nya: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat” (إِنَّ هَؤُلَاءِ لَضَالُّونَ), terdapat penekanan pada khabar (predikat) dengan huruf penegas “إِنَّ” dan lam ibtida’ (لَ); dengan maksud untuk memastikan kebenaran pernyataan tersebut, yakni: mereka menisbatkan orang-orang Muslim yang mereka lihat dan yang lainnya kepada kesesatan dengan cara yang tegas.
  • Pada firman-Nya: “Padahal mereka tidak diutus sebagai penjaga bagi orang-orang beriman” (وَمَا أُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَ), maksudnya: mereka mengatakan demikian, padahal mereka tidak diutus oleh Allah ﷻ sebagai pengawas atas orang-orang beriman, yang mengawasi keadaan mereka, mengontrol amal perbuatan mereka, dan memberikan kesaksian tentang petunjuk dan kesesatan mereka. Ini adalah sindiran bagi mereka, dan menunjukkan bahwa apa yang mereka lakukan secara lancang dalam perkataannya adalah tugas orang yang diutus dari sisi Allah ﷻ; karena besarnya semangat mereka untuk mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat” setiap kali melihat orang-orang beriman, menyerupai keadaan orang yang diutus untuk mengikuti keadaan seseorang, dan sudah menjadi sifat seorang utusan untuk bersemangat dalam menyampaikan pesan. Khabar (pernyataan) ini digunakan sebagai sindiran terhadap orang-orang musyrik, yakni: mereka bukanlah orang-orang yang ditugaskan untuk mengawasi orang-orang beriman dan memperhatikan kebaikan mereka. Maka makna “penjaga” di sini adalah pengawasan; oleh karena itu kata ini dihubungkan dengan huruf “على” (atas); agar penafian mencakup pengiriman, penjagaan, dan makna pengawasan yang ditunjukkan oleh huruf “على”, sehingga keadaan mereka yang digambarkan tersebut menjadi terbantah. Ada juga yang memungkinkan bahwa pernyataan ini termasuk dalam perkataan orang-orang yang berdosa, seakan-akan mereka berkata: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat, dan mereka tidak diutus sebagai penjaga atas kami”; sebagai penolakan terhadap larangan mereka dari kesyirikan dan ajakan mereka kepada Islam. Adapun penggunaan kata “عليهم” (atas mereka); adalah untuk menyampaikan maknanya, seperti dalam ucapan: “Dia bersumpah bahwa dia akan melakukan” (حَلَفَ لَيَفعَلَنَّ); bukan untuk menyampaikan ungkapan aslinya, seperti dalam ucapan: “Dia bersumpah: ‘Aku akan melakukan'” (حَلَفَ لأَفعَلَنَّ).
  • Begitu juga dengan penempatan kata yang diawali kata depan sebelum kata yang terkait dengannya dalam firman-Nya: “Padahal mereka tidak diutus sebagai penjaga bagi orang-orang beriman” (وَمَا أُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَ); untuk menunjukkan pentingnya makna kata depan yang menunjukkan pengawasan dan kata yang diawalinya, sekaligus untuk menjaga keserasian akhir ayat.

2- Firman Allah ﷻ: “Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, di atas dipan-dipan sambil memandang. Apakah orang-orang kafir telah diberi balasan terhadap apa yang telah mereka perbuat?”

  • Penempatan kata “الْيَوْمَ” (pada hari ini) sebelum kata “يَضْحَكُونَ” (menertawakan) untuk menunjukkan pentingnya hari tersebut; karena itu adalah hari pembalasan yang agung dan abadi.
  • Pada firman-Nya: “Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir” (فَالْيَوْمَ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ), subjek didahulukan dari predikat berbentuk kata kerja daripada mengatakan: “Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman tertawa”; untuk menunjukkan pembatasan, dan ini adalah pembatasan tambahan yang merupakan balasan atas firman-Nya: “Mereka dahulu menertawakan orang-orang yang beriman” [Al-Muthaffifin: 29], yaitu: ejekan orang-orang musyrik terhadap orang-orang beriman telah hilang, maka pada hari ini orang-orang beriman menertawakan orang-orang kafir, bukan sebaliknya.
  • Penempatan kata “مِنَ الْكُفَّارِ” (terhadap orang-orang kafir) sebelum kata yang terkait dengannya -yaitu “يَضْحَكُونَ” (menertawakan)- untuk menunjukkan pentingnya orang-orang yang ditertawakan; untuk mempercepat penghinaan mereka ketika mendengar teguran ini.

Ada juga yang berpendapat: penempatan kata depan dan kata yang diawalinya “مِنَ الْكُفَّارِ” (terhadap orang-orang kafir) untuk pembatasan; untuk memastikan adanya pembalasan, yaitu: maka pada hari ini mereka menertawakan orang-orang kafir, bukan orang-orang kafir yang menertawakan mereka seperti yang mereka lakukan di dunia.

  • Kata “مِنَ الْكُفَّارِ” (terhadap orang-orang kafir) merupakan penampakan kata dalam konteks yang seharusnya menggunakan kata ganti, beralih dari mengatakan: “menertawakan mereka”; karena dalam sifat yang ditampakkan terdapat celaan bagi orang-orang kafir.
  • Objek kata “يَنْظُرُونَ” (memandang) tidak disebutkan tetapi ditunjukkan oleh perkataan-Nya: “menertawakan orang-orang kafir”, perkiraan maknanya: melihat mereka, yaitu: menyaksikan orang-orang musyrik dalam siksaan dan kehinaan. Ini menurut satu pendapat.
  • Kata “هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ” (Apakah orang-orang kafir telah diberi balasan terhadap apa yang telah mereka perbuat?) merupakan kesimpulan dari apa yang diceritakan tentang pelanggaran orang-orang musyrik terhadap orang-orang beriman, dan pembalasan yang diakibatkannya pada hari kiamat; maknanya adalah: sungguh orang-orang kafir telah dibalas atas apa yang telah mereka lakukan, dan ini merupakan bagian dari panggilan yang diserukan pada hari kiamat.
  • Kata “هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ” (Apakah orang-orang kafir telah diberi balasan terhadap apa yang telah mereka perbuat?) merupakan perkataan yang tidak disebutkan siapa yang mengatakannya, yaitu: mereka berkata: “Apakah telah dibalas?”. Ini adalah pertanyaan yang bermakna penegasan bagi orang-orang beriman, yaitu: apakah mereka telah dibalas atas perbuatan mereka? Jadi ini adalah pertanyaan yang bersifat pengukuhan dan menunjukkan keheranan karena mereka tidak bisa melarikan diri dari balasan itu setelah waktu yang lama. Pertanyaan ini ditujukan kepada yang tidak ditentukan, tetapi kepada setiap orang yang mendengar seruan itu pada hari kiamat.
  • Dalam perkataan-Nya: “هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ” (Apakah orang-orang kafir telah diberi balasan terhadap apa yang telah mereka perbuat?), balasan bukanlah perbuatan yang mereka lakukan, tetapi diekspresikan dengan kalimat ini; untuk menyamakan beratnya dosa mereka melalui pola tasybih baligh (metafora tingkat tinggi), atau dengan menghilangkan kata benda yang seharusnya ada, perkiraan maknanya: seperti, atau balasan, atau hukuman atas apa yang mereka lakukan. Bisa juga dengan menghilangkan kata depan, yaitu: (ba’ sababiyah/karena), yaitu: karena apa yang mereka lakukan.
  • Dan dalam kalimat “هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ” (Apakah orang-orang kafir telah diberi balasan terhadap apa yang telah mereka perbuat?) terdapat keindahan penutup; karena kalimat ini merangkum semua kandungan surah ini.

۞ ۞ ۞ ۞ ۞

 

Alhamdulillah, selesai terjemah jilid 01. In Syaa Alloh dilanjutkan jilid berikutnya.

32. TAFSIR AL-MUHARRAR ALFATIHAH JUZ AMMA JILID 01

Facebook Comments Box

Penulis : Yayasan Ad-Durar As-Saniyyah

Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.

Artikel Terjkait

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT
Kewajiban Mentaati Rasul dan Meninggalkan Semua Perkataan (yang Bertentangan) dan Mengutamakan Perkataannya
Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat
Kewajiban dan Keutamaan Taubat
Keutamaan Tauhid
Keutamaan Puasa Sunnah
Keutamaan Puasa Asyura (Yaitu hari kesepuluh dari bulan Muharram)
Keutamaan Mengajarkan Ilmu dan Menyeru Manusia kepada Kebaikan
Berita ini 3 kali dibaca

Artikel Terjkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 03:47 WIB

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:42 WIB

Kewajiban Mentaati Rasul dan Meninggalkan Semua Perkataan (yang Bertentangan) dan Mengutamakan Perkataannya

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:42 WIB

Kewajiban Menjaga Waktu Dan Larangan Menyia-nyiakannya Pada Perkata Yang Tidak Bermanfaat

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:41 WIB

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:40 WIB

Keutamaan Puasa Sunnah

Artikel Terbaru

Akidah

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:47 WIB

Fatwa Ulama

Akibat Dosa Menyebabkan Bencana Alam – Faedah 10

Sabtu, 24 Jan 2026 - 03:45 WIB

Dakwah

Kewajiban dan Keutamaan Taubat

Kamis, 8 Jan 2026 - 15:41 WIB