بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
PENDAHULUAN
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, serta shalawat dan salam atas utusan yang menjadi rahmat bagi seluruh alam, kepada keluarganya, seluruh sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya hingga hari kiamat.
Selanjutnya…
Saya teringat, ketika membaca sepuluh pertanyaan yang berkaitan dengan “syubhat” yang ditimbulkan oleh musuh-musuh Islam, atau orang-orang yang tidak mengetahui hakikatnya, terhadap Al-Qur’an yang mulia… saya teringat akan sunnatullah yang tidak berubah dan tidak berganti… sunnatullah tentang pergulatan pemikiran antara kebenaran dan kebatilan sepanjang sejarah manusia, melalui berbagai budaya dan peradaban.
Pergulatan pemikiran ini adalah jalan yang mendorong penyampaian dakwah kebenaran, menegakkan hujjah atas kebenarannya, dan menghilangkan syubhat tentangnya… Dalam hal ini terdapat pelaksanaan kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan kepada semua orang yang telah diberi nikmat Islam.
Bahkan pergulatan pemikiran ini adalah jalan untuk mengaktifkan kemampuan dan potensi akal Muslim, agar mengikuti perkembangan dalam medan pergulatan ini… Karena setiap zaman memiliki syubhatnya sendiri, dan setiap mazhab yang sesat memiliki panahnya sendiri yang diarahkan kepada kebenaran dan pendukungnya…
Dan benarlah firman Allah Yang Maha Agung:
﴿وَكَذٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيٰطِيْنَ الْاِنْسِ وَالْجِنِّ يُوْحِيْ بَعْضُهُمْ اِلٰى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوْرًا ۗوَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوْهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُوْنَ ﴾
“Dan demikianlah untuk setiap nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan. Dan kalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya, maka biarkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (Al-An’am: 112)
Jika umat Islam tidak memperhatikan syubhat yang ditimbulkan oleh musuh-musuh – baik yang memiliki tujuan buruk maupun yang tidak – seputar Al-Qur’an dan ilmunya, Sunnah Nabi dan ilmunya, Islam dan peradabannya serta umatnya, maka akal mereka akan menjadi malas dan tumpul, dan mereka akan dikalahkan oleh syubhat yang batil, yang akan menggoyahkan keyakinan iman mereka… Di samping itu, mereka telah mengabaikan kewajiban menegakkan agama, menyampaikan dakwahnya, menegakkan hujjahnya, dan menghilangkan syubhat tentang akidah, syariat, prinsip dan nilai-nilainya…
Al-Qur’an telah mengajarkan kepada kita bahwa pergulatan pemikiran ini adalah jalan menuju kemajuan, kemenangan kebenaran atas kebatilan, dan terwujudnya kebaikan menggantikan kerusakan.
﴿ وَلَوْلَا دَفْعُ اللّٰهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ الْاَرْضُ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ ذُوْ فَضْلٍ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ ﴾
“Dan seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” (Al-Baqarah: 251),
﴿ وَلَوْلَا دَفْعُ اللّٰهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَّصَلَوٰتٌ وَّمَسٰجِدُ يُذْكَرُ فِيْهَا اسْمُ اللّٰهِ كَثِيْرًاۗ وَلَيَنْصُرَنَّ اللّٰهُ مَنْ يَّنْصُرُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ لَقَوِيٌّ عَزِيْزٌ ﴾
“Dan seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Al-Hajj: 40),
﴿وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۗاِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ ﴾
“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, ‘Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?’ (33) Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia.” (Fussilat: 33-34)
Demikian juga Al-Qur’an mengajarkan kita pentingnya memperhatikan apa yang ditimbulkan oleh orang lain tentang Islam, mengkajinya, dan menolak kebatilannya dengan kebenaran yang kita pelajari dari fikih Islam… Al-Qur’an tidak mengabaikan syubhat yang ditimbulkan oleh kaum musyrikin terhadapnya – apalagi menyitanya – tetapi mengikutinya, menyebutkannya dalam surah-surah dan ayat-ayatnya, dan menyanggahnya, bahkan yang lemah sekalipun…
Sama saja dalam hal itu syubhat Ahli Kitab – dari kalangan Yahudi dan Nasrani – dengan syubhat kaum musyrikin dan materialis… Al-Qur’an yang mulia adalah yang berusaha untuk membuat para penentang mengeluarkan apa yang mereka miliki dari “ilmu” atau “sisa ilmu” atau “bukti” atas apa yang mereka yakini:
﴿ قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِّنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوْهُ لَنَاۗ اِنْ تَتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِنْ اَنْتُمْ اِلَّا تَخْرُصُوْنَ ﴾
“Katakanlah: ‘Apakah kamu mempunyai ilmu sehingga dapat mengemukakan-nya kepada kami?’ Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta.” (Al-An’am: 148),
﴿ ائْتُوْنِيْ بِكِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ هٰذَآ اَوْ اَثٰرَةٍ مِّنْ عِلْمٍ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ﴾
“Datangkanlah kepadaku kitab sebelum Al-Qur’an ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu orang-orang yang benar.” (Al-Ahqaf: 4),
﴿ قُلْ هَاتُوْا بُرْهَانَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ﴾
“Katakanlah: ‘Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu orang yang benar’.” (Al-Baqarah: 111).
Sementara mazhab dan metode kaum musyrikin adalah mengabaikan dan tidak mendengarkan serta menghalang-halangi dari mendengarkan Al-Qur’an… Mereka berkata kepada pengikut mereka:
﴿وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَا تَسْمَعُوْا لِهٰذَا الْقُرْاٰنِ وَالْغَوْا فِيْهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُوْنَ ﴾
“Dan orang-orang yang kafir berkata: ‘Janganlah kamu mendengarkan Al-Qur’an ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya, agar kamu dapat mengalahkan (mereka)’.” (Fussilat: 26).
Karena semua itu, kesediaan saya untuk menjawab sepuluh pertanyaan ini – yang menyajikan berbagai contoh syubhat yang ditimbulkan seputar Al-Qur’an yang mulia – merupakan salah satu bentuk pelaksanaan kewajiban yang menggabungkan antara tugas ilmiah dan misi keagamaan sekaligus…
Saya memohon kepada Allah, Subhanahu wa Ta’ala, semoga kebenaran menyertai saya dalam jawaban-jawaban ini… Dan semoga Allah menjadikan usaha yang saya lakukan dalam timbangan kebaikan saya, dan timbangan kebaikan orang-orang yang memahami jawaban-jawaban ini terhadap syubhat tersebut… Sesungguhnya Allah adalah Sebaik-baik yang dimintai dan Semulia-mulia yang mengabulkan. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada junjungan kita Muhammad dan kepada keluarganya serta para sahabatnya yang mengikutinya…
Dr. Muhammad Imarah
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
SYUBHAT PERTAMA
Al-Qur’an memberikan informasi berbeda tentang penciptaan manusia… dari air yang hina (77: 20)[1], dari air (21: 30)… dari nuthfah (36: 77)… dari tanah liat (32: 7)… dari ‘alaq (96: 2)… dari lumpur hitam yang diberi bentuk (15: 27)… dan belum menjadi sesuatu (19: 67).
Bagaimana semua itu bisa benar pada saat yang sama?
Jawaban:
Tidak ada kontradiksi sekecil apapun – bahkan tidak ada syubhat tentang adanya kontradiksi – antara informasi yang terdapat dalam Al-Qur’an tentang penciptaan manusia… Agar hal itu menjadi jelas, perlu ada metode ilmiah dalam melihat informasi-informasi ini, yang terdapat dalam banyak ayat Al-Qur’an… Metode ilmiah ini mengharuskan pengumpulan ayat-ayat tersebut… dan melihatnya dalam keterpaduannya… dengan membedakan antara tahap penciptaan manusia pertama oleh Allah – Adam ‘alaihissalam – dan tahap penciptaan keturunan Adam, yang berlanjut dan berkembang biak setelah penciptaan Hawa, penyatuannya dengan Adam, dan terjadinya reproduksi melalui persatuan dan pernikahan ini.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia pertama – Adam – sehingga ia ada setelah sebelumnya tidak ada… Artinya, ia menjadi “sesuatu” setelah sebelumnya bukan “sesuatu” yang ada… Keberadaannya hanya ada dalam pengetahuan ilahi… Inilah makna ayat yang mulia:
﴿اَوَلَا يَذْكُرُ الْاِنْسَانُ اَنَّا خَلَقْنٰهُ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ يَكُ شَيْـًٔا ﴾
“Dan tidakkah manusia itu mengingat bahwa sebelumnya Kami telah menciptakannya, padahal (sebelumnya) dia belum berwujud sama sekali?” (Maryam: 67).
Adapun tahapan penciptaan Adam oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala… dimulai dengan (tanah) yang ditambahkan kepadanya (air) sehingga menjadi (tanah liat), kemudian tanah liat ini berubah menjadi (lumpur hitam) yaitu hitam berbau busuk, karena telah berubah – dan yang berubah disebut (masnun) – ketika tanah liat ini mengering – tanpa tersentuh api – disebut (shalshal) – karena shalshal adalah tanah liat kering – tanpa tersentuh api – dan disebut shalshal karena berbunyi ketika kering – yaitu memiliki suara dan dengungan…
Setelah tahapan penciptaan ini – tanah… lalu air… lalu tanah liat… lalu lumpur hitam yang diberi bentuk… lalu tanah liat kering… Allah Subhanahu wa Ta’ala meniupkan ruh-Nya ke dalam materi ciptaan ini, sehingga makhluk ini menjadi “manusia” yaitu Adam ‘alaihissalam.
Tentang tahapan-tahapan ini, ayat-ayat Al-Qur’an mengungkapkan dan menggambarkan kesempurnaan tahapan – bukan pertentangan yang diperkirakan dan dikhayalkan – ayat-ayat yang mulia ini mengatakan:
﴿اِنَّ مَثَلَ عِيْسٰى عِنْدَ اللّٰهِ كَمَثَلِ اٰدَمَ ۗ خَلَقَهٗ مِنْ تُرَابٍ ﴾
“Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa di sisi Allah, seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah” (Ali Imran: 59) – dengan tanah adalah permulaan.
﴿الَّذِيْٓ اَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهٗ وَبَدَاَ خَلْقَ الْاِنْسَانِ مِنْ طِيْنٍ ﴾
“Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah liat” (As-Sajdah: 7), yaitu ketika air ditambahkan ke tanah.
﴿فَاسْتَفْتِهِمْ اَهُمْ اَشَدُّ خَلْقًا اَمْ مَّنْ خَلَقْنَا ۗاِنَّا خَلَقْنٰهُمْ مِّنْ طِيْنٍ لَّازِبٍ ﴾
“Maka tanyakanlah kepada mereka (musyrik Mekah): ‘Apakah penciptaan mereka yang lebih sulit ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?’ Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat yang pekat” (Ash-Shaffat: 11) – yaitu ketika kekuatan air hilang dari tanah liat sehingga menjadi “lazib” yaitu padat…
Dan pada tahap perubahan tanah liat, ketika warnanya menghitam dan baunya busuk, itu disebut (hamain masnun/lumpur hitam), karena hamain adalah tanah liat hitam yang berbau busuk.
“Masnun” adalah yang berubah, sedangkan yang “lam yatasannah” adalah yang tidak berubah. Tentang tahap ini, ayat-ayat menyatakan:
﴿وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَاٍ مَّسْنُوْنٍۚ وَالْجَاۤنَّ خَلَقْنٰهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَّارِ السَّمُوْمِ وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ خَالِقٌۢ بَشَرًا مِّنْ صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَاٍ مَّسْنُوْنٍۚ فَاِذَا سَوَّيْتُهٗ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَهٗ سٰجِدِيْنَ فَسَجَدَ الْمَلٰۤىِٕكَةُ كُلُّهُمْ اَجْمَعُوْنَۙ اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اَبٰىٓ اَنْ يَّكُوْنَ مَعَ السّٰجِدِيْنَ قَالَ يٰٓاِبْلِيْسُ مَا لَكَ اَلَّا تَكُوْنَ مَعَ السّٰجِدِيْنَ قَالَ لَمْ اَكُنْ لِّاَسْجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقْتَهٗ مِنْ صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَاٍ مَّسْنُوْنٍ قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَاِنَّكَ رَجِيْمٌۙ وَّاِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ ﴾
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk (26). Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas (27). Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk (28). Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud (29). Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama (30). Kecuali Iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu (31). Allah berfirman: ‘Hai Iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?’ (32). Iblis berkata: ‘Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk’ (33). Allah berfirman: ‘Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk (34). Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat’ (35).” (Al-Hijr: 26-35).[2]
Itulah tahapan penciptaan manusia pertama, di mana istilah-istilah berikut saling berhubungan dan melengkapi: tanah… air… tanah liat… lumpur hitam… tanah liat kering… tanpa adanya pertentangan atau kontradiksi.
Demikian pula keadaan dan metode dengan istilah-istilah yang disebutkan dalam ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang penciptaan keturunan Adam.
Sebagaimana penciptaan manusia pertama—Adam—berkembang dari tanah… menjadi tanah liat… menjadi lumpur hitam… menjadi tanah liat kering… hingga Allah meniupkan ruh-Nya kepadanya… begitu pula tahapan penciptaan keturunan dan keluarga… dimulai dari (nutfah)—yaitu air yang jernih—yang mengacu pada air laki-laki (mani)… menjadi (‘alaqah)—yaitu darah beku, yang darinya anak terbentuk, karena menempel dan melekat pada dinding rahim… menjadi (mudghah)—yaitu segumpal daging yang belum matang, mirip dengan yang dikunyah di mulut… menjadi (tulang)… menjadi (daging) yang menutupi tulang… menjadi (ciptaan lain) yang—dengan kekuasaan Allah—menjadi dalam bentuk yang terbaik.[3]
Di antara ayat-ayat yang berbicara tentang urutan dan kesempurnaan tahapan-tahapan ini dalam penciptaan dan pembentukan keturunan manusia pertama adalah firman Allah:
﴿يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّنَ الْبَعْثِ فَاِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَّغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّنُبَيِّنَ لَكُمْۗ وَنُقِرُّ فِى الْاَرْحَامِ مَا نَشَاۤءُ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوْٓا اَشُدَّكُمْۚ وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّتَوَفّٰى وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّرَدُّ اِلٰٓى اَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْۢ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْـًٔاۗ وَتَرَى الْاَرْضَ هَامِدَةً فَاِذَآ اَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاۤءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَاَنْۢبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍۢ بَهِيْجٍ ﴾
“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya.” (Al-Hajj: 5).
Dan firman-Nya, Maha Suci Allah:
﴿وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍ ۚ ثُمَّ جَعَلْنٰهُ نُطْفَةً فِيْ قَرَارٍ مَّكِيْنٍ ۖ ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ لَحْمًا ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَۗ فَتَبَارَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخٰلِقِيْنَۗ ﴾
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.” (Al-Mu’minun: 12-14).
Dan jika (nutfah) adalah air laki-laki, maka ketika bercampur dengan air perempuan, disebut sebagai (amsyaj) – yaitu campuran – sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:
﴿اِنَّا خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ نُّطْفَةٍ اَمْشَاجٍۖ نَّبْتَلِيْهِ فَجَعَلْنٰهُ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا ﴾
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (Al-Insan: 2).
Begitu juga (nutfah) ini disebut sebagai (air yang hina) karena sedikitnya dan lemahnya. Hal ini ditunjukkan dalam ayat-ayat mulia:
﴿الَّذِيْٓ اَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهٗ وَبَدَاَ خَلْقَ الْاِنْسَانِ مِنْ طِيْنٍ ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهٗ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ مَّاۤءٍ مَّهِيْنٍ ۚ ﴾
“Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (mani).” (As-Sajdah: 7-8).
﴿اَلَمْ نَخْلُقْكُّمْ مِّنْ مَّاۤءٍ مَّهِيْنٍۙ فَجَعَلْنٰهُ فِيْ قَرَارٍ مَّكِيْنٍ اِلٰى قَدَرٍ مَّعْلُوْمٍۙ فَقَدَرْنَاۖ فَنِعْمَ الْقٰدِرُوْنَ ﴾
“Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina (mani), kemudian Kami tempatkan ia dalam tempat yang kokoh (rahim), sampai waktu yang ditentukan, lalu Kami tentukan (bentuknya), Kami adalah sebaik-baik yang menentukan.” (Al-Mursalat: 20-23).
Demikian juga, (nutfah) – yaitu air laki-laki – dideskripsikan sebagai (memancar) karena pancaran dan semburannya, seperti yang disebutkan dalam ayat mulia:
﴿فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ خُلِقَ مِنْ مَّاۤءٍ دَافِقٍۙ يَّخْرُجُ مِنْۢ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَاۤىِٕبِۗ ﴾
“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan. Dia diciptakan dari air (mani) yang terpancar, yang keluar dari antara tulang punggung (sulbi) dan tulang dada.” (At-Tariq: 5-7).
Demikianlah Al-Qur’an yang mulia menjelaskan tentang tahapan penciptaan… penciptaan manusia pertama… dan penciptaan keturunan serta generasi manusia ini… Demikianlah tahapan penciptaan dan istilah-istilah dari tahapan ini menjadi bukti keajaiban ilmiah Al-Qur’an… Ketika ilmu pengetahuan modern datang membenarkan tahapan-tahapan ini dan istilah-istilahnya, hingga para ilmuwan besar terkagum-kagum dan mendapat petunjuk ke Islam.
Maka bagaimana mungkin – setelah dan bersamaan dengan itu – seseorang berbicara tentang adanya kontradiksi antara istilah-istilah ini?
Allah Yang Maha Agung benar berfirman:
﴿اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ ۗ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللّٰهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلَافًا كَثِيْرًا ﴾
“Maka tidakkah mereka menghayati (mendalami) Al-Qur’an? Sekiranya (Al-Qur’an) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.” (An-Nisa’: 82).
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
SYUBHAT KEDUA
Al-Qur’an menjelaskan bahwa Allah tidak mengampuni perbuatan syirik terhadap-Nya (4:48). Namun, Allah mengampuni Ibrahim, alaihissalam, bahkan menjadikannya sebagai nabi meskipun ia pernah menyembah bintang, matahari, dan bulan (6:78-86). Bagaimana penjelasannya?
Jawaban:
Syirik menghapuskan amal:
﴿قُلْ اَفَغَيْرَ اللّٰهِ تَأْمُرُوْۤنِّيْٓ اَعْبُدُ اَيُّهَا الْجٰهِلُوْنَ وَلَقَدْ اُوْحِيَ اِلَيْكَ وَاِلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكَۚ لَىِٕنْ اَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ بَلِ اللّٰهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِّنَ الشّٰكِرِيْنَ ﴾
“Katakanlah: ‘Apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, wahai orang-orang yang tidak berpengetahuan?’ (64) Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu: ‘Sungguh, jika engkau menyekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi (65) Karena itu, hendaklah Allah saja yang engkau sembah dan hendaklah engkau termasuk orang yang bersyukur.'” (Az-Zumar: 64-66).
﴿اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا ﴾
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar.” (An-Nisa: 48).
Para nabi dan rasul adalah pilihan terbaik Allah dari makhluk-Nya. Dia memilih dan menyucikan mereka, membentuk mereka di bawah pengawasan-Nya, dan membersihkan mereka – bahkan sebelum diutus dan menerima wahyu – dari hal-hal yang akan mengurangi kelayakan mereka untuk menjadi nabi dan rasul. Di antaranya adalah syirik, yang jika mereka lakukan dan terlibat di dalamnya akan menjadi alasan bagi orang lain untuk melakukannya juga. Oleh karena itu, tidak ada dalam Al-Qur’an yang secara pasti menunjukkan bahwa salah satu nabi dan rasul pernah berbuat syirik sebelum diutus, termasuk bapak para nabi dan kekasih Allah, Ibrahim alaihissalam.
Mengenai ayat-ayat yang disebutkan dalam pertanyaan, yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim kerajaan langit dan bumi, agar dia termasuk orang-orang yang yakin (75) Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang, lalu dia berkata, ‘Inilah Tuhanku.’ Tetapi ketika bintang itu terbenam, dia berkata, ‘Aku tidak suka kepada yang terbenam.’ (76) Lalu ketika dia melihat bulan terbit, dia berkata, ‘Inilah Tuhanku.’ Tetapi ketika bulan itu terbenam, dia berkata, ‘Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.’ (77) Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, ‘Inilah Tuhanku, ini lebih besar.’ Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.’ (78) Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. (79) Dan kaumnya membantahnya. Dia (Ibrahim) berkata, ‘Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal Dia benar-benar telah memberi petunjuk kepadaku? Aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali Tuhanku menghendaki sesuatu. Ilmu Tuhanku meliputi segala sesuatu. Tidakkah kamu dapat mengambil pelajaran?’ (80) Bagaimana aku takut kepada sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan yang Allah tidak menurunkan keterangan kepadamu untuk menyembahnya. Manakah dari kedua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui? (81) Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka mendapat petunjuk. (82) Dan itulah keterangan Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki. Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana, Maha Mengetahui.” (Al-An’am: 74-83).
Adapun ayat-ayat ini, tidak ada bukti di dalamnya bahwa Ibrahim ‘alaihissalam pernah melalui tahap syirik, dan tidak mungkin dia terjatuh ke dalam hal itu. Ayat-ayat ini hanya menceritakan bagaimana Allah memberikan hujjah kepada Ibrahim terhadap kaumnya… hujjah tentang tauhid dan penolakan syirik. Ini adalah perdebatan dan dialog di mana Ibrahim secara dialektis mengikuti—sebagaimana lazimnya dalam dialog—apa yang mereka persekutukan; untuk membantah syirik ini dan menegakkan hujjah tentang rapuhnya argumen mereka, serta kebenaran tauhid yang tertanam dalam fitrahnya… Untuk kemudian sampai pada kesimpulan dari dialog, perdebatan, dan argumentasi ini bahwa pilihan satu-satunya yang tersisa—setelah pilihan-pilihan yang telah gugur—adalah tauhid… Ini adalah dialog bertahap dari tauhid fitrah menuju tauhid yang didasarkan pada logika, bukti, dan penalaran, yang menyangkal klaim dan argumen lawan… Penalaran yang meyakinkan—”dan agar dia termasuk orang-orang yang yakin”—dan tidak ada perpindahan dari syirik menuju tauhid… Itulah kebenaran yang dipilih oleh para mufassir:
Al-Qurthubi, Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Anshari Al-Qurthubi (671 H/1273 M) mengatakan dalam tafsirnya (Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an)—menyebutkan berbagai pendapat tentang topik ini:
“Firman Allah Ta’ala: ‘Inilah Tuhanku’, terdapat perbedaan pendapat tentang maknanya; ada yang mengatakan: ini terjadi pada masa perenungannya dan masa kanak-kanak sebelum tegaknya hujjah; dan pada kondisi itu tidak ada kekufuran maupun keimanan…
Sekelompok ulama berkata: ini tidak benar; mereka berkata: tidak mungkin Allah Ta’ala memiliki rasul yang pada suatu saat tidak mengesakan Allah Ta’ala dan mengenal-Nya, serta berlepas diri dari semua sesembahan selain-Nya. Mereka berkata: bagaimana mungkin ini terbayangkan pada orang yang telah Allah lindungi dan berikan petunjuk sejak awal, dan diperlihatkan kepadanya kerajaan (Allah) agar dia termasuk orang-orang yang yakin, dan tidak mungkin dia disifati dengan ketiadaan pengetahuan, bahkan dia mengenal Tuhan sejak awal perenungannya.
Az-Zajjaj berkata: Jawaban ini menurut saya salah dan keliru dari orang yang mengatakannya; Allah Ta’ala telah mengabarkan tentang Ibrahim bahwa dia berkata: ‘dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari menyembah berhala-berhala’ (Ibrahim: 35) dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘ketika dia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci’ (Ash-Shaffat: 84), yakni dia tidak pernah menyekutukan Allah sama sekali…
Dia mengatakan ‘Inilah Tuhanku’ berdasarkan perkataan kaumnya; karena mereka menyembah berhala, matahari, dan bulan; serupa dengan ini adalah firman Allah Ta’ala: ‘Di manakah sekutu-sekutu-Ku?’ (An-Nahl: 27) padahal Dia Maha Tinggi dan Maha Agung, Esa tidak ada sekutu bagi-Nya. Maknanya: Tunjukkan sekutu-sekutu-Ku menurut perkataan kalian…
Ada juga yang mengatakan: Dia mengatakan ‘Inilah Tuhanku’ untuk menegakkan hujjah terhadap kaumnya dengan menampakkan persetujuan dengan mereka; ketika bintang itu terbenam, dia menegakkan hujjah dan berkata: sesuatu yang berubah tidak mungkin menjadi Tuhan. Mereka mengagungkan bintang-bintang, menyembahnya, dan menghukumi sesuatu berdasarkannya.
An-Nahhas berkata: Di antara pendapat terbaik tentang hal ini adalah apa yang shahih dari Ibnu Abbas bahwa dia berkata tentang firman Allah ‘Azza wa Jalla: ‘cahaya di atas cahaya’ (An-Nur: 35), dia berkata: Demikianlah hati orang mukmin mengenal Allah ‘Azza wa Jalla dan menunjukkan-Nya dengan hatinya, ketika dia mengenal-Nya, bertambahlah cahaya di atas cahaya; demikian pula Ibrahim ‘alaihissalam mengenal Allah ‘Azza wa Jalla dengan hatinya dan menunjukkan-Nya dengan dalil-dalil-Nya, maka dia tahu bahwa dia memiliki Tuhan dan Pencipta. Ketika Allah ‘Azza wa Jalla memperkenalkan diri-Nya kepadanya, bertambahlah pengetahuannya, maka dia berkata: ‘Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal Dia telah memberi petunjuk kepadaku’ (Al-An’am: 80).
Ada juga yang mengatakan: ungkapan tersebut bermakna pertanyaan dan teguran, mengingkari perbuatan mereka. Maknanya: “Apakah ini Tuhanku?” atau “Mungkinkah yang seperti ini menjadi Tuhan?” dengan menghilangkan huruf hamzah (tanda tanya). Dalam Al-Qur’an disebutkan “Apakah jika engkau mati, mereka akan hidup kekal?” (Al-Anbiya: 34), maksudnya “Apakah mereka akan hidup kekal?”.[4]
Pendapat ini juga dikemukakan oleh Az-Zamakhsyari, Abu Al-Qasim Jarullah Mahmud bin Umar Az-Zamakhsyari Al-Khawarizmi (467-538 H/1075-1144 M) penulis tafsir (Al-Kasysyaf ‘an Haqa’iq At-Tanzil wa ‘Uyun Al-Aqawil fi Wujuh At-Ta’wil)… yang mengatakan dalam menafsirkan ayat-ayat ini:
“Ayahnya, Azar, dan kaumnya menyembah berhala, matahari, bulan, dan bintang-bintang. Ibrahim bermaksud untuk menyadarkan mereka tentang kesalahan dalam agama mereka, dan untuk mengarahkan mereka ke jalan perenungan dan penalaran, serta menunjukkan kepada mereka bahwa perenungan yang benar akan mengarah pada kesimpulan bahwa tidak satupun dari benda-benda ini yang layak menjadi tuhan, karena adanya bukti kejadian pada semua itu, dan bahwa di balik semua itu ada yang menciptakannya, pembuat yang membuatnya, pengatur yang mengatur terbit dan terbenamnya, perpindahan dan pergerakannya, serta semua kondisinya.
‘Inilah Tuhanku’ adalah perkataan seseorang yang bersikap adil terhadap lawannya meskipun dia tahu bahwa lawannya salah, sehingga dia menceritakan perkataan lawannya sebagaimana adanya tanpa fanatik terhadap pendapatnya sendiri. Karena cara ini lebih mengarah pada kebenaran dan lebih terhindar dari kekacauan, kemudian setelah menceritakannya, dia kembali padanya dan membantahnya dengan hujjah.
‘Aku tidak menyukai yang terbenam’ maksudnya aku tidak menyukai penyembahan tuhan-tuhan yang berubah dari satu keadaan ke keadaan lain, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, yang tertutup oleh tabir, karena itu adalah sifat-sifat benda.
‘Jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku’ adalah peringatan kepada kaumnya bahwa siapa yang menjadikan bulan sebagai tuhan padahal bulan itu seperti bintang yang terbenam, maka dia sesat, dan bahwa petunjuk kepada kebenaran adalah dengan taufik dan kelembutan Allah.
‘Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi’ maksudnya kepada (Allah) yang ditunjukkan oleh semua ciptaan ini dan ditunjukkan bahwa Dialah yang memulai dan menciptakannya.”[5]
Pendapat ini juga dianut oleh – dari kalangan ulama modern – Syekh Abdul Wahhab An-Najjar (1278-1360 H/1862-1941 M) – penulis (Qishas Al-Anbiya’) – yang mengatakan: “Ibrahim dalam berargumentasi untuk agamanya dan menunjukkan kesalahan agama kaumnya menggunakan metode bertahap dalam penetapan atau bertahap dalam pembentukan akidah…”[6]
Demikianlah sikap Ibrahim Al-Khalil ‘alaihissalam terhadap syirik… Allah telah melindunginya dari syirik… Ini hanyalah metode dalam berdebat yang dia gunakan secara bertahap dengan kaumnya, berangkat dari titik tolak mereka; untuk mengantar mereka pada penghancuran titik tolak tersebut, dan pada penegakan dalil akal terhadap akidah tauhid fitrah yang tertanam dalam hati.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
SYUBHAT KETIGA
Al-Qur’an menegaskan bahwa malaikat tidak mungkin mendurhakai Allah (66: 6), namun Iblis yang termasuk golongan malaikat telah mendurhakai-Nya, sebagaimana dalam ayat (2: 34). Maka manakah yang benar?
Jawaban:
Malaikat adalah makhluk yang diciptakan untuk taat kepada Allah, beribadah kepada-Nya dan bertasbih kepada-Nya… Mereka tidak mendurhakai Allah Subhanahu wa Ta’ala:
﴿يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6).
Meskipun ayat ini menetapkan bahwa para malaikat yang bertugas di neraka “tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”… Al-Qur’an juga menetapkan bahwa Iblis – yang termasuk golongan malaikat – berada di puncak kedurhakaan dan para penduraka:
﴿وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اَبٰى وَاسْتَكْبَرَۖ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ ﴾
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir.” (Al-Baqarah: 34).
Ada kemungkinan untuk menggabungkan makna kedua ayat tersebut, yaitu dengan mengatakan: Sesungguhnya umumnya malaikat tidak mendurhakai Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka diciptakan dan dijadikan untuk taat… Namun ini tidak menafikan adanya golongan jin – di antaranya Iblis – yang Al-Qur’an masukkan dia dalam sebutan malaikat – sebagaimana malaikat juga disebut “jinnah” – karena tersembunyi dan tertutup… Dan golongan jin ini, ada yang taat dan ada yang durhaka…
Dalam tafsir Imam Muhammad Abduh (1265-1323 H/1849-1905 M) untuk ayat surah Al-Baqarah: 34 – dia berkata:
“Maksudnya mereka sujud kecuali Iblis, dan dia adalah salah satu individu dari para malaikat, sebagaimana dipahami dari ayat dan ayat-ayat serupa dalam kisah tersebut, kecuali ayat Al-Kahfi yang menyebutkan bahwa dia termasuk golongan jin… Tidak ada bukti bagi kita bahwa antara malaikat dan jin terdapat perbedaan mendasar yang membedakan antara keduanya, tetapi itu hanyalah perbedaan jenis, sebagaimana berbedanya sifat-sifat. Yang tampak adalah bahwa jin merupakan salah satu jenis malaikat. Al-Qur’an telah menggunakan kata “jinnah” untuk malaikat, menurut pendapat mayoritas mufassir dalam firman Allah Ta’ala: “Dan mereka mengadakan hubungan nasab antara Dia (Allah) dan jin.” (Ash-Shaffat: 158) dan untuk setan di akhir surah An-Nas” [7].
Kita juga menemukan pendapat ini pada Al-Qurthubi – dalam tafsirnya (Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an) – dia berkata:
“Said bin Jubair berkata: Sesungguhnya jin adalah sebagian dari malaikat yang diciptakan dari api dan Iblis termasuk di antara mereka, sedangkan malaikat lainnya diciptakan dari cahaya… Malaikat kadang disebut jin karena tersembunyi, dan dalam Al-Qur’an: “Dan mereka mengadakan hubungan nasab antara Dia (Allah) dan jin.” (Ash-Shaffat: 158), dan seorang penyair berkata dalam menyebutkan Sulaiman ‘alaihissalam: ‘Dan ditundukkan dari jin para malaikat sembilan. Berdiri di hadapannya bekerja tanpa upah'” [8]
Jadi tidak ada kontradiksi antara kenyataan bahwa malaikat tidak mendurhakai Allah… dengan kedurhakaan Iblis – yang termasuk golongan jin, yang disebut juga sebagai malaikat – dia seperti halnya jin yang sebagian mereka taat dan sebagian lainnya durhaka.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
SYUBHAT KEEMPAT
Semua makhluk di langit dan bumi taat dan patuh kepada Allah Ta’ala (30:26). Namun, kita menemukan banyak kasus ketidaktaatan dari pihak manusia (misalnya: 69:10).
Jawaban:
Semua makhluk, di langit dan di bumi, taat dan patuh kepada Allah, Subhanahu wa Ta’ala:
﴿وَلَهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ كُلٌّ لَّهٗ قٰنِتُوْنَ ﴾
“Dan kepunyaan-Nya-lah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Semuanya hanya kepada-Nya tunduk” (Ar-Rum: 26).
Mereka patuh kepada Allah, artinya tunduk dan taat kepada kehendak-Nya, Subhanahu wa Ta’ala.
Namun, kenyataan menunjukkan, dan banyak ayat Al-Quran menceritakan tentang kasus-kasus ketidaktaatan dan pembangkangan dari pihak manusia. Seperti firman-Nya:
﴿وَجَاۤءَ فِرْعَوْنُ وَمَنْ قَبْلَهٗ وَالْمُؤْتَفِكٰتُ بِالْخَاطِئَةِۚ فَعَصَوْا رَسُوْلَ رَبِّهِمْ فَاَخَذَهُمْ اَخْذَةً رَّابِيَةً ﴾
“Dan telah datang Fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya dan (penduduk) negeri-negeri yang dijungkirbalikkan karena kesalahan yang besar. Maka mereka mendurhakai Rasul Tuhan mereka, lalu Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat keras” (Al-Haqqah: 9-10).
Dalam ayat ini saja ada isyarat tentang kedurhakaan Fir’aun dan kedurhakaan penduduk negeri-negeri yang dijungkirbalikkan sebelumnya – yaitu kaum Luth – yang Allah siksa dengan siksaan yang sangat keras melebihi siksaan lainnya.
Bahkan sejarah kemanusiaan adalah pertarungan antara orang-orang yang taat dan orang-orang yang durhaka. Sampai-sampai hadits Nabi yang mulia menyebutkan bahwa semua anak Adam adalah pembuat kesalahan, dan sebaik-baik pembuat kesalahan adalah mereka yang bertaubat.
Jadi bagaimana mungkin meluasnya kedurhakaan di kalangan manusia bisa sejalan dengan ayat Al-Quran yang menyebutkan bahwa semua yang di langit dan di bumi itu patuh – yaitu tunduk dan taat – kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala?
Kunci jawaban atas pertanyaan ini adalah memahami jenis-jenis kehendak Ilahi dan ketetapan Ilahi. Allah Subhanahu tidak menghendaki kedurhakaan, dan tidak menetapkan keburukan. Namun kehendak dan ketetapan-Nya ada dua macam:
1 – Kehendak dan ketetapan penciptaan yang bersifat pasti bagi makhluk-makhluk yang tidak diberi pilihan. Seperti ketetapan yang disebutkan dalam ayat: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya pantaskah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam’. Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: ‘Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa’. Keduanya menjawab: ‘Kami datang dengan suka hati’. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit dunia dengan bintang-bintang serta Kami memeliharanya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui” (Fussilat: 9-12).
Dan seperti: “Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: ‘Jadilah!’ Lalu jadilah ia” (Al-Baqarah: 117).
Dalam jenis perintah Ilahi dan ketetapan Tuhan ini, makhluk-makhluk yang tidak diberi pilihan telah diciptakan untuk patuh, taat, dan tunduk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
2 – Kehendak dan ketetapan yang disertai dengan pilihan. Ini khusus untuk manusia yang diberi pilihan, yang diberi tanggungjawab, yang bertanggung jawab, dan yang – karena pilihan dan kebebasan ini – akan dihisab dan diberi balasan.
Hal ini ditunjukkan oleh ayat-ayat: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil'” (Al-Isra’: 23-24).
Di sini kita berhadapan dengan ketetapan Ilahi, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berkenan memberikan manusia kebebasan untuk taat atau durhaka, agar yang buruk dapat dibedakan dari yang baik, dan agar balasan sesuai dengan perbuatan, kehendak, dan pilihan. Manusia yang diberi pilihan, yang telah ditunjukkan oleh Allah dua jalan, memiliki kemampuan dan kesanggupan untuk taat dan durhaka. Oleh karena itu, dari jenis manusia ada yang beriman dan yang kafir, yang taat dan yang durhaka, yang mencari keridhaan Allah, dan yang mencari selain agama Allah. Sedangkan makhluk-makhluk yang tidak diberi pilihan telah diciptakan untuk taat dan tunduk.
“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan” (Ali Imran: 83),
“Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari” (Ar-Ra’d: 15),
“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: ‘Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa’. Keduanya menjawab: ‘Kami datang dengan suka hati'” (Fussilat: 11).
Jadi di antara makhluk-makhluk Allah ada yang diciptakan untuk taat dan tunduk. Dan di antara makhluk-makhluk ini, ada yang taat dan ada yang memilih untuk durhaka, sehingga mencari selain agama Allah!
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
SYUBHAT KELIMA
Banyak surah dalam Al-Quran menjelaskan bahwa langit dan bumi telah diciptakan dalam enam hari. Di sini ada dua masalah; pertama, secara ilmiah telah ditetapkan bahwa penciptaan langit dan bumi memerlukan waktu miliaran tahun.
Dan yang kedua: bahwa dalam ungkapan Al-Quran itu sendiri, masa penciptaan adalah delapan hari bukan enam (41: 9-12).
Bagaimana mungkin mengkompromikan antara ayat-ayat ini?
Jawaban:
Dalam banyak surah Al-Quran, banyak ayat berbicara tentang penciptaan Allah, Subhanahu wa Ta’ala, langit dan bumi dan penentuan apa yang ada di dalamnya dalam enam hari. Di antara ayat-ayat ini:
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari” (Al-A’raf: 54 – dan Yunus: 3).
“Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari” (Hud: 7).
“Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari” (Al-Furqan: 59).
“Allah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari” (As-Sajdah: 4).
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari” (Qaf: 38).
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari” (Al-Hadid: 4).
Tidak ada pertentangan antara penentuan waktu penciptaan langit dan bumi dalam enam hari, dengan apa yang dilihat oleh ilmu pengetahuan bahwa penciptaan tersebut memerlukan waktu miliaran tahun, karena rentang waktu dari “satu hari” menurut Allah, Subhanahu wa Ta’ala, bukanlah rentang waktu yang singkat untuk “satu hari” dalam kebiasaan dan penanggalan yang dikenal manusia dalam kehidupan dunia ini.
Dalam Al-Quran ada ayat-ayat yang menjadi saksi atas hal tersebut, di antaranya:
“Atau (apakah kamu tidak memperhatikan) orang yang melewati suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: ‘Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?’ Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: ‘Berapa lama kamu tinggal di sini?’ Ia menjawab: ‘Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.’ Allah berfirman: ‘Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.’ Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: ‘Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu'” (Al-Baqarah: 259).
Jadi sebagian hari, dalam perhitungan manusia – di sini – mencapai seratus tahun, yaitu sekitar 37.000 hari! Begitu juga halnya dalam kisah Ashhabul Kahfi (Penghuni Gua). Apa yang mereka perkirakan sehari atau sebagian hari ternyata telah mencapai tiga ratus tahun menurut penanggalan matahari dan tiga ratus sembilan tahun menurut penanggalan bulan.
“Berkatalah seorang di antara mereka: ‘Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini)?’ Mereka menjawab: ‘Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari’. Berkata (yang lain lagi): ‘Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini)'” (Al-Kahfi: 19).
“Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi). Katakanlah: ‘Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain dari-Nya; dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan'” (Al-Kahfi: 25-26).
Begitu juga halnya pada hari ditiupnya sangkakala – hari kebangkitan – sebagian penjahat mengira bahwa masa tinggal mereka di dunia tidak lebih dari sepuluh malam. Sementara yang lain dari mereka mengira bahwa masa tinggal mereka tidak lebih dari satu hari:
“(Yaitu) hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala dan Kami akan mengumpulkan pada hari itu orang-orang yang berdosa dengan muka yang biru muram; mereka berbisik-bisik di antara mereka: ‘Kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sepuluh (hari)’. Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalannya di antara mereka: ‘Kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sehari saja'” (Taha: 102-104).
Adapun menurut Allah Subhanahu wa Ta’ala, istilah “hari” memiliki rentang waktu yang hakikat panjang dan masanya tidak diketahui kecuali oleh-Nya:
“Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu” (Al-Hajj: 47).
Ayat tersebut tidak menentukannya dengan seribu tahun seperti yang kita hitung dalam penanggalan kita. Tetapi menggunakan alat perumpamaan – kaf – (seperti seribu) – sehingga rentang waktunya tetap tidak diketahui oleh kita dalam kehidupan ini, dan tidak mungkin ditentukan dengan satuan-satuan kita dalam pengukuran waktu. Hari pembalasan – ganjaran – dan hari-hari Allah, serta enam hari di mana Allah menciptakan langit dan bumi, rentangnya – dengan ukuran hari-hari kita – tidak diketahui kecuali oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kemudian, apa yang telah ditemukan oleh ilmu pengetahuan tentang kecepatan suara dan kecepatan cahaya, dan waktu cahaya – tahun cahaya – membuat perbedaan dan keragaman konsep dan ukuran untuk istilah “hari” menjadi suatu hal yang sudah ditetapkan dan biasa.
Ini tentang masalah pertama dari dua masalah dalam pertanyaan.
Adapun masalah kedua – dari dua masalah dalam pertanyaan – yang berkaitan dengan pembicaraan beberapa ayat Al-Quran bahwa penciptaan langit dan bumi dapat dipahami telah memerlukan delapan hari, bukan enam hari – yaitu ayat-ayat surah Fussilat:
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya pantaskah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam’. Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: ‘Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa’. Keduanya menjawab: ‘Kami datang dengan suka hati’. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit dunia dengan bintang-bintang serta Kami memeliharanya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui” (Fussilat: 9-12).
“Masalah” ini tidak ada: tidak ada kontradiksi atau perbedaan antara jangka waktu yang disebutkan dalam ayat-ayat ini dengan ayat-ayat lain yang menyebutkan tentang enam hari.
Dalam ayat-ayat ini – dari surah Fussilat – kita menemukan bahwa Allah memberitahu kita bahwa:
{Dia menciptakan bumi dalam dua hari}
Kemudian {Dia menjadikan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya} dalam waktu total {empat hari}… yaitu dalam dua hari tambahan yang ditambahkan pada dua hari saat Dia menciptakan bumi, sehingga totalnya menjadi empat hari… dan tidak berarti bahwa penciptaan gunung-gunung dan penentuan kadar makanan memakan waktu empat hari.
Mungkin kebingungan – yang muncul dalam pertanyaan – berasal dari sana…
Yaitu dari asumsi keliru bahwa empat hari ditambahkan kepada dua hari penciptaan bumi, sehingga totalnya menjadi enam… Dan jika ditambahkan dua hari saat langit diciptakan – {lalu Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua hari} – totalnya menjadi delapan hari, bukan enam hari… Tetapi kekeliruan ini dapat dihilangkan dengan menghilangkan kesalahpahaman ini… Bumi diciptakan dalam dua hari… Penciptaan gunung-gunung dan penentuan kadar makanan memakan waktu yang melengkapi dua hari pertama menjadi empat hari… Artinya, ini juga memakan waktu dua hari… Kemudian penciptaan tujuh langit memakan waktu dua hari… Sehingga totalnya adalah enam hari dari hari-hari Allah…
Para mufassir (ahli tafsir) telah menekankan kebenaran ini – yang menghilangkan kesalahpahaman ini – Al-Qurthubi berkata:
“(empat hari) artinya dalam total empat hari. Contohnya seperti seseorang berkata: Saya berangkat dari Basrah ke Baghdad dalam sepuluh hari, dan ke Kufah dalam lima belas hari, yaitu dalam total lima belas hari.”[9]
Dan Az-Zamakhsyari berkata:
“‘Dalam empat hari yang sama’ adalah ringkasan dari masa penciptaan Allah terhadap bumi dan apa yang ada di dalamnya, seolah-olah dia berkata: Semua itu dalam empat hari yang lengkap dan sama, tanpa penambahan atau pengurangan…
Az-Zajjaj berkata: dalam empat hari dalam total empat hari, yang dimaksud dengan total adalah dua hari.”[10]
Jadi ayat-ayat dari surah Fussilat ini juga menegaskan bahwa penciptaan langit dan bumi selesai dalam enam hari… Dengan demikian, tidak ada kontradiksi antara ayat-ayat Al-Quran dan tidak ada perbedaan dalam masa penciptaan ilahi untuk langit dan bumi… Dan tidak mungkin ada hal seperti itu dalam Al-Quran yang penuh hikmah.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
SYUBHAT KEENAM
Al-Quran memberikan nama-nama untuk beberapa tokoh sejarah yang berbeda dari nama-nama mereka menurut Kitab Suci (Bible) yang mendahului Al-Quran beberapa abad. Misalnya, ayah Ibrahim bernama Terah atau (Tarakh), namun Al-Quran menyebutnya (Azar). Dan nama orang yang Yusuf tinggal di rumahnya adalah Potifar, sedangkan nama yang diberikan kepadanya dalam Al-Quran adalah (Aziz) [12:30].
Jawaban:
Pertama: Tidaklah benar menjadikan “Kitab Suci” (Bible) sebagai hujjah (argumentasi) terhadap Al-Quran dan rujukan baginya… karena yang telah terbukti—bahkan dalam studi yang dilakukan oleh banyak ilmuwan Yahudi dan Kristen—bahwa Kitab Suci ini telah ditulis ulang dan mengalami distorsi… Selain itu, terjemahannya telah mengalami perubahan dan penyimpangan, terutama dalam nama-nama tempat dan tokoh…
Kedua: Karena Al-Quran memiliki tingkat pelestarian, dokumentasi, dan transmisi yang menjadikannya satu-satunya wahyu yang benar di muka bumi tempat kita hidup… Maka Al-Quran adalah hakim dan rujukan bagi semua teks keagamaan lainnya…
Dalam konteks ini… dan dari dasar pemikiran ini, kita membahas syubhat yang ditimbulkan oleh pertanyaan ini… kita berkata:
Mengenai nama ayah Ibrahim Khalilullah—alaihissalam—sebagian besar sumber Islam—baik tafsir Al-Quran maupun kisah-kisah para nabi—tidak berbeda pendapat bahwa (Azar) bukanlah nama ayah Ibrahim… dan bahwa namanya adalah (Tarakh)…
Ada di antara ulama yang berpendapat bahwa (Azar) adalah nama berhala, dan ayat tersebut merupakan bentuk pengingkaran terhadap penyembahan ayah Ibrahim kepada berhala ini, dengan objek yang didahulukan dalam pernyataan tersebut… Artinya, “Apakah engkau menjadikan Azar sebagai tuhan dan sesembahan?”
Ada juga ulama yang berpendapat bahwa (Azar) adalah gelar yang diberikan kepada (Tarakh) setelah dia bekerja dalam lingkungan raja yang berkuasa pada masa itu…
Kita membaca—mengenai masalah ini—dalam tafsir Al-Qurthubi:
“Firman Allah Ta’ala: (Dan [ingatlah] ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar) para ulama telah membahas hal ini, maka berkata Abu Bakar Muhammad bin Muhammad bin Al-Hasan Al-Juwaini Asy-Syafi’i Al-Asy’ari dalam kitab tafsirnya: Tidak ada perbedaan di antara manusia bahwa nama ayah Ibrahim adalah Tarakh. Dan yang ada dalam Al-Quran menunjukkan bahwa namanya adalah Azar… Ada yang mengatakan: Azar adalah nama berhala. Seolah-olah dia berkata: Dan [ingatlah] ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya, apakah engkau menjadikan Azar sebagai tuhan, apakah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan…”
Aku (yaitu Al-Qurthubi) berkata: Apa yang ia klaim sebagai kesepakatan (ijma’) tidaklah disepakati. Muhammad bin Ishaq, Al-Kalbi, dan Adh-Dhahhak mengatakan: Sesungguhnya Azar adalah ayah Ibrahim dan dia adalah Tarakh, seperti Israel dan Ya’qub. Aku katakan: Maka dia memiliki dua nama. Dan Muqatil berkata: Azar adalah gelar, dan Tarakh adalah nama. Hal ini diceritakan oleh Ats-Tsa’labi dari Ibnu Ishaq Al-Qusyairi. Dan bisa juga sebaliknya…
Al-Jauhari berkata: Azar adalah nama asing (non-Arab), dan itu berasal dari kata “azara fulan fulanan” yang berarti seseorang membantu orang lain, maka dia adalah pendukung kaumnya dalam menyembah berhala…
Mujahid dan Yaman berkata: Azar adalah nama berhala, yaitu “Apakah engkau menjadikan Azar sebagai tuhan, apakah engkau menjadikan berhala-berhala…”…
Ats-Tsa’labi berkata dalam kitab Al-‘Ara’is: Sesungguhnya nama ayah Ibrahim yang diberikan oleh ayahnya adalah Tarakh, namun ketika dia menjadi penjaga khazanah para dewa bagi Namrudz, dia dijuluki Azar.
Mujahid berkata: Sesungguhnya Azar bukanlah nama ayahnya, tetapi itu adalah nama berhala, dan dia adalah Ibrahim bin Tarakh bin Nakhur bin Saru’ bin Arghu bin Falagh bin ‘Abir bin Syalakh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh”. [Al-Qurthubi jilid 7 hal 22, 23]
Penjelasan yang sama tentang syubhat ini kita temukan dalam (Qashash Al-Anbiya) [Kisah Para Nabi]:
“As-Sayyid Al-Murtadha Az-Zabidi berkata, dalam hal 12 jilid 3 (Taj Al-‘Arus): Diriwayatkan dari Mujahid tentang firman Allah Ta’ala: (Azar, pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?) Dia berkata: Bukan ayahnya, tetapi nama Azar adalah nama berhala, maka posisinya adalah nashab (objek) berdasarkan perkiraan kata kerja dan bacaannya seolah-olah dia berkata: Dan [ingatlah] ketika Ibrahim berkata, apakah engkau menjadikan Azar sebagai tuhan, yaitu apakah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan.
Ash-Shaghani berkata: Perkiraan kalimatnya adalah ‘apakah engkau menjadikan Azar sebagai tuhan.’
Syaikh Al-‘Urubah Ahmad Zaki Pasha telah mengutip pernyataan (Taj Al-‘Arus) sebelumnya di awal bukunya (Takmilat Kitab Al-Ashnam li Ibn Al-Kalbi) [Penyempurnaan Kitab Berhala-berhala karya Ibnu Al-Kalbi].
Pendapat yang dikatakan oleh Mujahid ini adalah pendapat yang paling layak diterima menurut saya. Dengan demikian, ayah Ibrahim tidak disebutkan dengan nama aslinya dalam Al-Quran.
Di antara yang mendukung pendapat bahwa (Azar) adalah nama dewa adalah bahwa kita menemukan di antara dewa-dewa kuno Mesir ada dewa (Osiris) yang artinya: Dewa yang kuat lagi penolong. Dan bangsa-bangsa terdahulu saling meniru dalam penamaan dewa-dewa mereka…” [Qashash Al-Anbiya hal 72]
Jadi tidak ada masalah mengenai topik ini…
Adapun syubhat kedua dalam pertanyaan ini yang berkaitan dengan nama orang yang membeli dan menampung Yusuf di rumahnya, yang dalam Al-Quran disebut dengan nama (Aziz) sedangkan dalam Kitab Suci (Bibel) dinamakan Potifar, maka ini juga tidak menimbulkan masalah.
Hal ini karena jabatan orang yang menampung Yusuf adalah (kepala kepolisian) dan namanya adalah (Fotifar)… sedangkan gelarnya adalah (Al-Aziz/Yang Mulia)… Jadi tidak ada kontradiksi antara nama-nama yang mengidentifikasinya ini.
Sumber-sumber Islam telah membahas hal ini… dalam (Kisah Para Nabi):
“Tuannya adalah kepala kepolisian kota, dan namanya (Fotifar), dan jabatannya dalam bahasa Ibrani disebut (Sar ha-Tabbakhim), yaitu kepala kepolisian…” [hal. 122].
Dan dalam tafsir Al-Qurthubi:
“Adh-Dhahhak berkata: Orang yang membelinya ini adalah raja Mesir, dan gelarnya adalah Al-Aziz… Dan namanya adalah Qithfir. Ibnu Ishaq berkata: Ithfir… dia membelinya untuk istrinya… Ibnu Abbas berkata: Yang membelinya adalah Qithfir, menteri raja Mesir… Dan Al-Aziz yang membeli Yusuf ini bertugas atas perbendaharaan raja…” [Al-Qurthubi jilid 9 hal. 158].
Adapun perbedaan kecil dalam pengucapan nama itu wajar terjadi, karena penerjemahan dari satu bahasa ke bahasa lain… dan dari satu dialek ke dialek lain… dan karena penyalinan naskah… serta perubahan dan distorsi… Jadi tidak ada masalah terkait nama-nama ini.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
SYUBHAT KETUJUH
Al-Quran menyebut ibu Isa dengan nama “saudara perempuan Harun” [19:28], dan mungkin Muhammad ﷺ telah mencampuradukkan antara Maryam ibu Al-Masih dengan Maryam lain yang merupakan saudara perempuan Harun, yang adalah saudara laki-laki Musa dan hidup sezaman dengannya, dan tidak ada kontradiksi seperti ini dalam Kitab Suci (Bibel).
Jawaban:
Al-Quran berbicara tentang Maryam ibu Al-Masih dengan sebutan “saudara perempuan Harun”, yaitu dalam surah Maryam, Allah berfirman menyapa Maryam pada ayat 28: “Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina” dan tidak ada penyebutan ini dalam Injil…
Yang terbukti—dalam Al-Quran dan Injil—bahwa Maryam adalah putri Imran “dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya” [At-Tahrim 28]…
Imran ini adalah dari keturunan Daud, yaitu dari suku dan keturunan Yehuda, bukan dari suku dan keturunan Harun (suku Lewi)… Jadi bagaimana Al-Quran menyebutnya “saudara perempuan Harun”?…
Inilah pertanyaan dan keberatan yang diajukan oleh beberapa orang sebagai keraguan terhadap Al-Quran…
Kenyataannya, yang dipahami dari konteks Al-Quran, adalah bahwa penyebutan Maryam sebagai “saudara perempuan Harun” bukanlah sebutan dari Al-Quran, tetapi merupakan penggambaran apa yang dikatakan kaumnya kepadanya, dan bagaimana mereka menyapa dan memanggilnya ketika dia mengandung Isa, ketika mereka mengingkari kehamilan itu, dan menuduhnya tentang kehormatan dan kesuciannya… Mereka berkata kepadanya: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina” [Maryam: 27, 28]…
Mengapa kaumnya menisbatkan (menghubungkan) dia kepada Harun?
Para mufassir berbeda pendapat dalam penjelasan… Di antara mereka ada yang mengatakan: Bahwa Harun—yang dimaksud—adalah seorang laki-laki fasik (tidak bermoral), terkenal dengan kefasikannya, sehingga kaumnya menisbatkan Maryam kepadanya, sebagai pengumuman penghukuman mereka terhadapnya…
Di antara para mufassir ada juga yang mengatakan: Bahwa Harun ini adalah seorang laki-laki saleh yang terkenal dengan kesalehan dan kesuciannya… Maka kaumnya menisbatkan Maryam kepadanya sebagai ejekan terhadapnya, sindiran atas apa yang dia lakukan, dan mengolok-olok klaimnya akan kesalehan, ketakwaan, dan pengabdian dalam ibadah, sementara dia—menurut anggapan mereka—telah hamil karena perzinaan.
Ada juga yang mengatakan: Bahwa dia memiliki saudara laki-laki dari ayahnya bernama Harun, dan dia adalah salah satu ahli ibadah dan orang saleh Bani Israel, maka mereka menisbatkannya kepada saudara laki-lakinya tersebut… Dan nama Harun adalah salah satu nama yang umum di Bani Israel… [Lihat tentang hal ini dalam Qashash Al-Anbiya hal 383, 284, dan Al-Qurthubi jilid 11 hal 100, 101, dan Al-Kasysyaf jilid 2 hal 508]…
Kesimpulan dari semua ini adalah bahwa penyebutan Maryam sebagai “saudara perempuan Harun” bukanlah pernyataan dari Al-Quran, tetapi merupakan penggambaran dari Al-Quran tentang apa yang dikatakan oleh kaumnya… Dan kemungkinan-kemungkinan yang disebutkan oleh para mufassir sebagai penjelasan untuk penyebutan ini adalah ijtihad (upaya penalaran) yang berdasarkan pada tradisi sejarah, kisah-kisah, dan peninggalan-peninggalan masa lalu.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
SYUBHAT KEDELAPAN
Menurut Al-Quran dan perkataan para mufassir, Namrudz melemparkan Ibrahim ke dalam api [21: 68-69], dan tidak masuk akal bahwa Namrudz masih hidup pada zaman Ibrahim [Kitab Suci: Kitab Kejadian: 8: 10-11, 10: 22-25, 11: 13-26].
Jawaban:
Dalam kisah-kisah Al-Quran tentang Ibrahim Khalilullah terdapat banyak adegan… di antaranya mukjizat keselamatannya dari pembakaran api, setelah dia menghancurkan berhala-berhala kaumnya yang mereka sembah:
“Mereka berkata: ‘Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.’ Kami berfirman: ‘Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.’ Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling rugi.” [Al-Anbiya: 68-70].
Al-Quran mengisahkan “perdebatan” Ibrahim dengan raja—dalam surah Al-Baqarah:
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: ‘Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,’ orang itu berkata: ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,’ lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.'” [Al-Baqarah: 258].
Al-Quran tidak menyebutkan nama raja yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya… karena tujuan Al-Quran dalam kisah tersebut adalah isi perdebatan dan pelajaran darinya, sedangkan nama raja itu tidak menambah atau mengurangi isi dan pelajaran tersebut… Adapun penyebutan raja yang berdebat dengan Ibrahim sebagai (Namrudz) dan perbedaan dalam pengucapan namanya, serta lama pemerintahannya… semua itu adalah kisah sejarah yang disebutkan oleh para mufassir… yang tidak mengikat Al-Quran. [Al-Qurthubi jilid 3 hal 283-285, dan Al-Kasysyaf jilid 1 hal 387-389].
Oleh karena itu, tidak tepat untuk mengajukan hal tersebut sebagai keraguan terhadap Al-Quran… Kita tidak memiliki dalam sejarah yang terdokumentasi dan terverifikasi apa yang membuktikan atau menyangkal bahwa nama raja yang berdebat dengan Ibrahim Khalilullah tentang Tuhannya adalah (Namrudz)… Ini hanyalah kisah sejarah yang perlu diverifikasi.
Saya telah memeriksa Perjanjian Lama, di tempat-tempat yang disebutkan dalam pertanyaan [Kitab Kejadian: 8: 10, 11, 10: 22-25, 11: 13-26] yang menceritakan tentang suku-suku Nuh dan keturunan putranya Sam, tetapi saya tidak menemukan penyebutan raja (Namrudz) di dalamnya.
Dalam (Ensiklopedia Islam) yang ditulis oleh para orientalis, dan artikel (Ibrahim) di dalamnya ditulis oleh (J. Eisenberg), disebutkan raja Namrudz dalam kisah Ibrahim tanpa keberatan, dan di dalamnya terdapat referensi ke sumber-sumber Ibrani yang menyebutkan Namrudz, termasuk (Petunjuk Bagi yang Bingung) karya Musa bin Maimon: Bab 29… dan (Kitab Hayashar): Bab Nuh.
Referensi ke raja (Namrudz) muncul dalam Kitab Kejadian—dalam Perjanjian Lama—Bab 10: 8-11 sebagai “yang mulai menjadi orang yang perkasa di bumi”… dan dengannya dibuat perumpamaan dalam kekerasan… “dan permulaan kerajaannya ialah Babel, Erekh, Akad dan Kalneh, di tanah Sinear. Dari negeri itu ia pergi ke Asyur, lalu mendirikan Niniwe…”
Akhirnya… tidak ada yang melarang pengulangan nama—(Namrudz)—untuk lebih dari satu raja di lebih dari satu zaman dan periode… Dan tetap, keraguan ini—jika memang ada keraguan—khusus pada kisah sejarah… dan tidak ada hubungannya dengan Al-Quran.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
SYUBHAT KESEMBILAN
Al-Qur’an memuji Alexander Agung (Dzulkarnain) sebagai hamba yang saleh yang beriman kepada Allah [18:87-88]. Namun, semua sejarawan Yunani sepakat bahwa ia adalah penyembah berhala. Bagaimana hal ini bisa benar?
Jawaban:
Dalam Al-Qur’an Surah Al-Kahfi: 83-98 terdapat kisah Dzulkarnain:
(Dan mereka bertanya kepadamu tentang Dzulkarnain. Katakanlah: “Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya.” Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di muka bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan untuk mencapai segala sesuatu) [83, 84] sampai akhir ayat-ayat tersebut…
Dan melalui ayat-ayat ini terungkap keadilan (Dzulkarnain), dia berkata: (Berkata Dzulkarnain: “Adapun orang yang zalim, maka kami akan menghukumnya, kemudian dia dikembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya. Adapun orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah kami”) [87, 88]…
Itulah nama yang diberikan Al-Qur’an kepada raja ini (Dzulkarnain).
Adapun anggapan bahwa Dzulkarnain ini adalah Alexander Agung dari Makedonia (356-324 SM), itu adalah kisah yang tidak tunduk pada verifikasi sejarah… Bahkan para mufasir yang menyampaikan kisah ini meragukan kebenaran dan keakuratannya…
Misalnya, Ibnu Ishaq (151 H/768 M) meriwayatkan dari “orang-orang yang menyampaikan hadits dari bangsa asing tentang pengetahuan Dzulkarnain yang mereka warisi” bahwa dia berasal dari Mesir, dan namanya adalah “Marzuban bin Mardiyah Al-Yunani”…
Adapun yang menyebutnya “Alexander” adalah Ibnu Hisyam (213 H/828 M) yang meringkas dan melestarikan (Sirah) karya Ibnu Ishaq… dan dia menentukan bahwa dialah Alexander yang membangun kota Alexandria yang kemudian dinisbatkan kepadanya…
Begitu juga riwayat-riwayat yang mengatakan bahwa (Dzulkarnain) adalah Alexander dari Makedonia berasal dari (Wahb bin Munabbih) (34-114 H/654-732 M) [Al-Qurthubi jilid 11 hal. 50]… yang merupakan sumber bagi banyak riwayat Israiliyat dan kisah-kisah mitos.
Ibnu Ishaq – yang dikenal memiliki kesadaran yang jelas dalam mendokumentasikan dan mengkritik kisah sejarah – meragukan apa yang diriwayatkan dari kisah ini seputar penamaan Dzulkarnain sebagai Alexander, atau nama-nama lainnya… Dia juga meragukan kebenaran apa yang dinisbatkan kepada Rasulullah mengenai topik ini… ketika Ibnu Ishaq berkata: “Allah lebih mengetahui mana yang benar… apakah Rasulullah mengatakan demikian atau tidak?”
Al-Qurthubi mendukung keraguan dan skeptisisme Ibnu Ishaq ini, ketika dia mengutipnya, lalu berkata: “Dan yang benar adalah apa yang dia katakan”… Artinya, yang benar adalah keraguan dan skeptisisme Ibnu Ishaq terhadap kisah ini, yang tidak tunduk pada verifikasi dan penelitian, meskipun sikap Ibnu Ishaq ini, dan juga Al-Qurthubi, merupakan bentuk verifikasi dan penelitian…
Dengan demikian, tidak ada bukti bahwa Alexander Agung dari Makedonia, raja penyembah berhala, adalah Dzulkarnain yang adil dan beriman kepada Allah.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
SYUBHAT KESEPULUH
Matahari terbenam di mata air berlumpur menurut Al-Qur’an [18: 86], dan ini bertentangan dengan ilmu pengetahuan yang mapan. Lalu bagaimana bisa dikatakan bahwa Al-Qur’an tidak bertentangan dengan fakta-fakta ilmiah yang mapan?
Jawaban:
Dalam kisah Al-Qur’an tentang (Dzulkarnain), ada cerita bahwa selama perjalanannya “(hingga ketika dia telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihatnya terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di sana suatu kaum)” [Al-Kahfi: 86].
‘Ain hami’ah adalah mata air yang berlumpur, yaitu yang memiliki lumpur hitam yang berbau busuk.
Karena ilmu pengetahuan yang telah mantap memastikan bahwa bumi itu bulat, dan bahwa bumi berputar pada porosnya dan mengelilingi matahari, maka terbenamnya matahari bukanlah menghilang ke dalam mata air atau yang lainnya, berlumpur atau tidak berlumpur… Pertanyaannya: Apakah ada pertentangan antara fakta-fakta ilmu pengetahuan yang mapan ini dengan teks Al-Qur’an?
Tidak ada pertentangan sama sekali – bahkan tidak ada kesamaran pertentangan – antara teks Al-Qur’an dan fakta-fakta ilmiah… Itu karena pembicaraan Al-Qur’an di sini adalah tentang penglihatan visual kaum yang didatangi oleh Dzulkarnain, di mana batas pandangan mereka membuat mereka melihat menghilangnya matahari – terbenamnya – di danau ini (mata air berlumpur)… Itu seperti seseorang di antara kita duduk di pantai saat matahari terbenam, maka batas pandangannya membuatnya melihat piringan matahari tenggelam – perlahan-lahan – ke dalam air laut…
Kisah di sini adalah tentang apa yang dianggap oleh pengamat sebagai terbenamnya matahari di mata air berlumpur, atau di lautan… Kisah ini bukan tentang informasi Al-Qur’an mengenai fakta ilmiah khusus tentang rotasi bumi mengelilingi matahari, dan tentang apa yang dimaksud oleh ilmu pengetahuan dalam masalah terbenamnya matahari.
Al-Qaffal Abu Bakar Al-Syasyi Muhammad bin Ahmad bin Al-Husain bin Umar (429 – 507 H / 1037 – 1114 M) telah menukil dari beberapa ulama tafsir – untuk penglihatan ini – yang sesuai dengan fakta ilmiah, beliau berkata: “Maksudnya bukanlah bahwa dia [yaitu Dzulkarnain] sampai ke matahari di tempat terbit dan terbenamnya hingga mencapai bentuk fisiknya dan menyentuhnya… Matahari terlalu besar untuk masuk ke salah satu mata air di bumi, bahkan matahari jauh lebih besar dari bumi berlipat-lipat, tetapi maksudnya adalah dia sampai ke ujung pemukiman [yaitu daerah yang berpenghuni] dari arah barat dan dari arah timur, maka dia melihat secara kasat mata bahwa matahari terbenam di mata air berlumpur, sebagaimana kita melihatnya di tanah yang rata seolah-olah matahari masuk ke dalam tanah, dan untuk ini dia berkata: (dia mendapatinya terbit menyinari suatu kaum yang tidak Kami buatkan bagi mereka sesuatu perlindungan dari matahari) [Al-Kahfi 90], dan dia tidak bermaksud bahwa matahari terbit atas mereka dengan menyentuh dan menempel pada mereka, tetapi maksudnya mereka adalah orang pertama yang disinari matahari…” [Al-Qurthubi jilid 11 hal. 49, 50].
Jadi, deskripsi tersebut adalah untuk penglihatan mata dan pemahaman budaya pengamat… bukan untuk fakta ilmiah khusus tentang matahari dalam hubungannya dengan bumi dan rotasinya, serta hakikat makna ilmiah tentang terbit dan terbenamnya matahari.
Jadi tidak ada pertentangan antara teks Al-Qur’an dan fakta ilmu pengetahuan yang mapan.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
PENUTUP
Akhirnya… Allah – Maha Suci dan Maha Tinggi – telah memudahkan untuk menjawab sepuluh pertanyaan ini, yang telah menyajikan berbagai model syubhat (keraguan) yang diajukan seputar Al-Qur’an…
Jika harus ada beberapa kata di akhir jawaban-jawaban ini… maka kata-kata ini dapat diringkas dalam beberapa catatan:
Pertama:
Syubhat-syubhat ini telah dimunculkan oleh para penentang Islam di zaman modern, dan tidak ada satu pun di antaranya yang berasal dari masa kenabian, wahyu, dan turunnya Al-Qur’an…
Sebagian besar syubhat ini berusaha mengklaim adanya kontradiksi dan perbedaan antara ayat-ayat Al-Qur’an…
Padahal Al-Qur’an telah menantang para penentang Islam sejak saat diturunkannya, bukan hanya untuk membuat sesuatu yang serupa dengannya, tetapi juga untuk menemukan kontradiksi di dalamnya, sebagaimana firman-Nya: (Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an? Sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya) [An-Nisa’ 82].
Dan karena tidak ada satu pun dari para penentang Islam dan musuh Al-Qur’an – yang ditantang oleh Al-Qur’an dengan tantangan ini – yang mengatakan adanya kontradiksi di antara ayat-ayat Al-Qur’an yang bijaksana, maka semua syubhat ini – oleh karena itu – adalah hal baru, yang dimunculkan dan terus dimunculkan oleh kemenangan-kemenangan Islam dan kemantapan pijakannya dalam pergulatan pemikiran modern dan kontemporer – meskipun umat Islam mengalami kelemahan dan penindasan.
Kedua:
Banyak dari syubhat-syubhat ini hanya mengandalkan pada pembacaan sepotong-sepotong terhadap beberapa ayat Al-Qur’an tanpa memperhatikan ayat-ayat lain yang membahas topik yang sama…
Dalam menjawabnya, perlu mengikuti metodologi ilmiah yang benar dalam memahami dan menafsirkan Al-Qur’an, metodologi yang melihat ayat-ayat yang membahas satu topik secara utuh; karena Al-Qur’an menafsirkan sebagiannya dengan sebagian yang lain, dan menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an adalah cara utama untuk menjawab banyak dari syubhat-syubhat ini.
Ketiga:
Menentukan konsep yang tepat untuk terminologi Al-Qur’an adalah jalan yang lurus dan penting untuk menghilangkan ilusi yang digunakan oleh para penentang untuk memunculkan banyak syubhat…
Mereka sengaja mengaburkan dan membodohi makna yang tepat dan konsep asli dari terminologi Al-Qur’an, agar mereka dapat membuat orang yang tidak tahu percaya bahwa ada kontradiksi antara terminologi-terminologi ini…
Dan jika mereka memerangi kita dengan kebodohan dan pembodohan terhadap makna terminologi Al-Qur’an, maka kewajiban kita adalah mengungkap kepalsuan mereka, dan menjawab syubhat-syubhat mereka dengan menggunakan kamus bahasa dan kamus konsep terminologi Al-Qur’an, untuk menjawab kebodohan dan pembodohan dengan ilmu dan pendidikan…
Keempat:
Kita harus berhati-hati untuk tidak membebani Al-Qur’an dengan kisah-kisah khurafat dan tradisi yang tidak memiliki dasar serta riwayat-riwayat yang tidak masuk akal…
Al-Qur’an adalah hakim dan penghakiman, dan tidak benar jika kita membebaninya dengan mitos-mitos dan isra’iliyat (cerita-cerita dari Bani Israel)… Banyak syubhat yang sumbernya adalah riwayat-riwayat dan cerita-cerita ini, bukan dari Al-Qur’an yang mulia…
Oleh karena itu, kembali kepada teks Al-Qur’an, dan kepada sumber-sumber Islam yang terpercaya dan diakui, adalah jalan untuk mengungkap banyak dari syubhat-syubhat ini…
Kelima:
Keikhlasan niat kepada Allah, dalam pekerjaan seperti ini, adalah pintu pembukaan ilahi yang memudahkan manusia untuk memahami dengan pemahaman yang dengannya ia dapat menjawab syubhat-syubhat ini…
Dan benar Rasulullah – semoga Allah memberinya rahmat dan keselamatan – ketika beliau bersabda: “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Allah akan memahamkannya dalam agama” [Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Ad-Darimi, dan Imam Malik dan Ahmad].
Dan akhir doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam…
Dan semoga Allah memberikan rahmat dan keselamatan kepada tuan kami Muhammad dan kepada keluarga serta seluruh sahabatnya.
SUMBER DAN REFERENSI
- Al-Qur’an Al-Karim.
- Perjanjian Lama.. dan Perjanjian Baru (Kitab Suci) edisi Kairo – Dar Al-Kitab Al-Muqaddas – tahun 1970 M.
- Ibnu Manzur – Jamaluddin Abu Al-Fadl Muhammad bin Mukram: (Lisan Al-Arab) edisi Kairo – Dar Al-Ma’arif – tahun 1401 H / 1981 M.
- Ar-Raghib Al-Asfahani – Abu Al-Qasim Al-Husain bin Muhammad: (Al-Mufradat fi Gharib Al-Qur’an) edisi Kairo – Dar At-Tahrir – tahun 1991 M.
- Az-Zamakhsyari – Jarullah Abu Al-Qasim Mahmud bin Umar: (Al-Kasysyaf ‘an Haqa’iq At-Tanzil wa ‘Uyun Al-Aqawil fi Wujuh At-Ta’wil) edisi Beirut – Dar Al-Fikr Al-Arabi – tanpa tahun.
- Abdul Wahhab An-Najjar: (Qasas Al-Anbiya’) edisi Beirut – Dar Ihya’ At-Turats Al-Arabi – tanpa tahun.
- Al-Qurthubi – Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad Al-Anshari Al-Qurthubi: (Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an) edisi Kairo – Dar Al-Kitab Al-Arabi li Ath-Thiba’ah wa An-Nasyr – tahun 1387 H / 1967 M.
- Muhammad Abduh (Al-Ustadz Al-Imam): Karya Lengkap Imam Muhammad Abduh, Studi dan Penelitian: Dr. Muhammad Imarah – edisi Kairo – Dar Asy-Syuruq – tahun 1414 H / 1993 M.
- Muhammad Fuad Abdul Baqi: (Al-Mu’jam Al-Mufahras li Alfaz Al-Qur’an Al-Karim) edisi Kairo – Dar Asy-Sya’b – tahun 1378 H.
- Wensinck (A.J.) dan lainnya: (Al-Mu’jam Al-Mufahras li Alfaz Al-Hadits An-Nabawi Asy-Syarif) edisi Leiden tahun 1936 – 1969 M.
[[1]] Ayat-ayat yang membahas tentang “air yang hina” terdapat dalam Surah (32: 8) dan (77: 20).
[[2]] Lihat makna istilah-istilah yang terdapat dalam ayat-ayat ini dalam: Ar-Raghib Al-Asfahani, Abu Al-Qasim Al-Husain bin Muhammad (Al-Mufradat fi Gharib Al-Qur’an) terbitan Dar At-Tahrir – Kairo – tahun 1991 M. Dan (Lisan Al-Arab) – karya Ibnu Manzur – terbitan Dar Al-Ma’arif – Kairo
[[3]] Lihat makna istilah-istilah ini dalam (Al-Mufradat fi Gharib Al-Qur’an) – sumber yang telah disebutkan sebelumnya.
[[4]] (Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an) jilid 7 hal. 25, 26. Cetakan Dar Al-Kitab Al-Arabi untuk Percetakan dan Penerbitan – Kairo tahun 1387 H/1967 M.
[[5]] (Al-Kasysyaf) jilid 2 hal. 30, 31 cetakan Dar Al-Fikr – Beirut – tanpa tahun – yang merupakan cetakan fotokopi dari cetakan Tehran “Intisyarat Aftab – Tehran” – yang juga tanpa tahun cetak.
[[6]] (Qishas Al-Anbiya’) hal. 80. Cetakan Dar Ihya’ At-Turats Al-Arabi – Beirut – Lebanon – tanpa tahun cetak.
[[7]] (Al-A’mal Al-Kamilah lil Imam Muhammad Abduh) jilid 4 hal. 133. Kajian dan tahqiq: Dr. Muhammad Imarah. Cetakan Dar Asy-Syuruq. Kairo tahun 1414 H/1993 M.
[[8]] (Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an) jilid 1 hal. 294-295 – sumber yang telah disebutkan sebelumnya -.
[[9]] (Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran) jilid 15 hal 343, sumber sebelumnya.
[[10]] (Al-Kasyaf) jilid 3 hal 444, sumber sebelumnya.
Penulis : Dr. Muhammad 'Imarah Musthafa 'Imarah
Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.







